<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-8290839845885434705</atom:id><lastBuildDate>Sat, 05 Oct 2024 02:04:49 +0000</lastBuildDate><category>kiat-kiat</category><category>inspirasi</category><category>contoh dosa besar</category><category>apresiasi</category><category>info/pengumuman</category><category>tanya jawab</category><title>Tujuh Dosa Besar (Penggunaan) PowerPoint</title><description>Blog yang menohok berbagai salah kaprah dalam praktik presentasi, terutama anggapan bahwa presentasi = PowerPoint. Presentasi adalah komunikasi ide.</description><link>http://7db.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Isman H. Suryaman)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>32</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8290839845885434705.post-6376622667261092828</guid><pubDate>Sat, 06 Dec 2008 14:25:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-06T07:30:37.646-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">contoh dosa besar</category><title>Kok Bisa Beda?</title><description>Dalam satu acara bernuansa teknologi, saya menjadi pembicara bersama-sama seorang yang jauh lebih senior. Sebut saja namanya A. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum acara mulai, saya berbincang-bincang dengan A terlebih dahulu. Ini kebiasaan saya agar lebih mengenal narasumber lain. Saya bisa tahu latar belakangnya; mengapa ia menjadi pasangan tandem saya dalam acara ini; dan bagaimana agar pembicaraan kami bisa saling berkaitan. Dengan begitu, hadirin juga bisa lebih mudah menarik benang merah antarsesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat bercakap-cakap ini, A sangat memukau saya. Ia memberi banyak pencerahan mengenai topik yang akan ia bawakan. Ia tampak begitu karismatik dan perhatian. Saat berbicara, ia menatap tepat pada mata saya dan sesekali menyentuh bahu saya, tanpa dibuat-buat. Ia menyelipkan banyak lelucon dalam ceritanya, dan tertawa terbahak-bahak saat balik mendengar lelucon saya. Ia membuat saya merasa seperti teman lama, hanya dalam pembicaraan lima belas menit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, tibalah saat kami tampil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya duduk di depan, menunggu-nunggu pembicaraannya. Hadirin juga sama. Ia membuka dengan salam lantas menyorotkan presentasinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampak slide berjejeran bullet point. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, saya masih memaklumi. Ia mungkin sudah terlalu terbiasa melakukannya. Dalam hati, saya berharap ia bisa menambalnya dengan cara berbicara seperti yang ia terapkan pada saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, tidak. Ia menatap slide-nya dan membaca. Semua poin yang sudah tertera jelas di layar itu ia jelaskan. Tanpa memberi penjelasan. Sesekali ia berbalik. Namun, tidak jelas menatap siapa. Dan karena tidak menggunakan pengendali jarak jauh, ia jadi terjebak di balik meja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu terus selama empat puluh menit... dalam sesi yang seharusnya tiga puluh menit. Sang MC sampai harus maju ke depan dan menaruh kertas kecil di dekat meja pembicara. Sebanyak dua kali! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu pun tidak menghentikannya. Ia kembali membaca sejumlah slide terakhir. Dan seakan-akan kurang merusak, ponselnya berbunyi keras. Ia terpaksa berhenti dulu untuk mengambil ponsel dari kantong. Saya sampai berdoa dalam hati, &quot;Jangan dijawab! JANGAN DIJAWAB!&quot; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah tidak. Ia mematikannya. Lantas lanjut membaca sejumlah slide. Panitia tampak saling pandang, khawatir. Mereka baru tampak lega saat ia menutup dengan slide yang bertuliskan besar: &quot;TERIMA KASIH&quot;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh seperti ini memang mencengangkan. Mengapa seseorang yang begitu karismatik dalam pembicaraan empat mata bisa begitu tak peduli pada hadirinnya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan kaget. Banyak sekali orang yang seperti ini. Mereka lupa bahwa presentasi itu sama saja dengan berbicara tatap muka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan seorang teman mengajak Anda berbicara. Lantas Anda bilang, &quot;Sebentar, tunggu dulu. Saya ambil meja dulu.&quot; Anda kemudian menarik sebuah meja di antara kalian. Menyuruhnya mundur beberapa langkah, sebelum mulai bercakap-cakap sambil melihat ke arah lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiX_ngbNLaP-axsvyEYI71U0bbffjE68CPS16dY_l2Ifw55Znf1n3Tj_NBmV7cgR_YeaScpVCsvjX0Oyy6HWKg_yHh7ZHBSD-G4vlK8NRDasYlo58tnhU9PYlwZL7xnO2QkUex0XeuSk_k/s1600-h/meja=net2.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 200px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiX_ngbNLaP-axsvyEYI71U0bbffjE68CPS16dY_l2Ifw55Znf1n3Tj_NBmV7cgR_YeaScpVCsvjX0Oyy6HWKg_yHh7ZHBSD-G4vlK8NRDasYlo58tnhU9PYlwZL7xnO2QkUex0XeuSk_k/s320/meja=net2.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5276698767457393378&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;Jangan ada meja di antara kita--ini yang bisa membuat &lt;i/&gt;mitra&lt;/i&gt; bicara jadi &lt;i&gt;lawan&lt;/i&gt; bicara.&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneh, kan? Tapi itulah yang dilakukan oleh banyak pembicara seperti A. Padahal A tinggal melakukan apa yang biasa ia lakukan dalam percakapan empat mata: membuat mitra bicaranya merasa seperti teman lama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku &lt;a href=&quot;http://7db.blogspot.com&quot;&gt;7 Dosa Besar (Penggunaan) PowerPoint&lt;/a&gt;, saya menulis bahwa sebaiknya kita menganggap hadirin sebagai satu entitas, dengan sejumlah mata. Anggaplah tiga: di kiri, tengah, dan kanan. Dengan begitu, kita tetap ingat untuk memerhatikan hadirin kita.</description><link>http://7db.blogspot.com/2008/12/kok-bisa-beda.html</link><author>noreply@blogger.com (Isman H. Suryaman)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiX_ngbNLaP-axsvyEYI71U0bbffjE68CPS16dY_l2Ifw55Znf1n3Tj_NBmV7cgR_YeaScpVCsvjX0Oyy6HWKg_yHh7ZHBSD-G4vlK8NRDasYlo58tnhU9PYlwZL7xnO2QkUex0XeuSk_k/s72-c/meja=net2.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>3</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8290839845885434705.post-7449851214769333664</guid><pubDate>Mon, 28 Jul 2008 13:28:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-07-28T06:50:30.863-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">inspirasi</category><title>Kematian Akibat PowerPoint...</title><description>...adalah istilah yang saya gunakan sebagai padanan istilah Inggris &quot;&lt;i&gt;Death by PowerPoint&lt;/i&gt;&quot;. Istilah ini mendeskripsikan dampak presentasi yang tidak memedulikan hadirin. Hadirin yang tidak merasa terlibat pun bosan, dan bisa jadi tersiksa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alexei Kapterev dari Real Time Strategy menjelaskan cara menghindari Kematian Akibat Powerpoint ini dalam &lt;a href=&quot;http://www.slideshare.net/thecroaker/death-by-powerpoint/&quot;&gt;presentasinya di SlideShare&lt;/a&gt;.&lt;sup&gt;&lt;b&gt;[1]&lt;/b&gt;&lt;/sup&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alexei menyampaikan bahwa kematian akibat PowerPoint bisa terjadi karena kurangnya: &lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Makna (&lt;i&gt;Significance&lt;/i&gt;)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan makna akan mengobarkan semangat.&lt;/li&gt;  &lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Struktur (&lt;i&gt;Structure&lt;/i&gt;)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Merancang kerangka cerita kita.&lt;/li&gt; &lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Kesederhanaan (&lt;i&gt;Simplicity&lt;/i&gt;)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Cukup satu inti pesan per slide.&lt;/li&gt; &lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Geladi (&lt;i&gt;Rehearsal&lt;/i&gt;)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang bisa sempurna tanpa umpan balik.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;___________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;[1]&lt;/b&gt;: SlideShare sendiri merupakan salah satu wahana yang bagus untuk mendapatkan umpan balik. Bergabunglah. Dan jika sudah, masukkanlah &lt;a href=&quot;http://www.slideshare.net/isman&quot;&gt;saya&lt;/a&gt; sebagai kontak. Mari saling berbagi.</description><link>http://7db.blogspot.com/2008/07/kematian-akibat-powerpoint.html</link><author>noreply@blogger.com (Isman H. Suryaman)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8290839845885434705.post-6258536657027735060</guid><pubDate>Wed, 23 Jul 2008 08:08:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-11T02:41:57.892-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">kiat-kiat</category><title>Tunjukkan Keunikan Kita Pada Dunia</title><description>Saya mendapatkan sejumlah komentar bernada serupa, &quot;Kenapa mesti diatur-atur sih, Man. Presentasi itu kan sebebas-bebasnya kreativitas kita?&quot; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kreativitas? Ya. Sebebas-bebasnya? Tidak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presentasi selalu merupakan komunikasi ide kepada _orang lain_. Karena itu, presentasi perlu mengikuti sejumlah konvensi. Contoh konvensi: sampaikanlah ide kita saat hadirin sudah tertarik untuk mendengarkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ikuti Konvensi, bukan Cara&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah konvensi yang berlaku universal, dari komunikasi empat mata hingga pidato di depan ribuan orang. Bolehkah kita melanggar konvensi ini? Boleh saja. Silakan, misalnya, ngomong arti kehidupan pada seorang remaja yang pikirannya sedang terfokus pada pacarnya. Paparkan slide tentang pentingnya menghargai waktu pada pertemuan lewat jam lima di sebuah kantor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggung konsekuensinya sendiri: bahwa pesan kita bisa jadi tidak melekat. Hanya sekadar lewat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, jika kita bisa bertindak agar konsekuensi itu tidak muncul, mengapa tidak? Menggunakan analogi pacaran pada remaja, misalnya. Atau pemilik perusahaan menjanjikan bahwa setiap menit waktu presentasi yang lewat jam lima akan dikali dua sebagai toleransi waktu keterlambatan besoknya. Buat hadirin jadi mau memerhatikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjGtj4JE2WAUUWJlkbCaLJ0nXKzkgqmeLZ9njuOkwkFmZb0jrxKjvy5Eu6stRJ3pujRNZumnZOz9G-UuZWAJB6HCVB7-b9BoificlOk6ucE1oC4VcJ5iU_9AoYvnEcyOc1zhUw3RBIkeuc/s1600-h/konvensikejurang.JPG&quot;&gt;&lt;img style=&quot;display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjGtj4JE2WAUUWJlkbCaLJ0nXKzkgqmeLZ9njuOkwkFmZb0jrxKjvy5Eu6stRJ3pujRNZumnZOz9G-UuZWAJB6HCVB7-b9BoificlOk6ucE1oC4VcJ5iU_9AoYvnEcyOc1zhUw3RBIkeuc/s320/konvensikejurang.JPG&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5226155435338721778&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Cara boleh berbeda. Asalkan tujuan dari konvensi tetap tercapai.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai hal yang saya bagi di sini juga mengikuti sejumlah konvensi seperti itu. Hindari menuruti detail pelaksanaannya secara buta. Lihat lebih ke dalam, pada konvensinya. Lantas sesuaikan dengan gaya kita masing-masing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Memunculkan Gaya secara Otentik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ya, tiap orang memiliki gaya presentasi sendiri-sendiri, sebagaimana tiap orang memiliki gaya bicara masing-masing. Setiap orang spesial. Kuncinya adalah mencari tahu keunikan diri kita dan menyampaikannya pada dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di deretan tautan sebelah kanan blog ini, kita bisa melihat sejumlah gaya presentasi yang berbeda-beda. Tom Peters, Guy Kawasaki, atau Garr Reynolds. Itu adalah gaya mereka yang muncul secara alamiah setelah berpresentasi selama bertahun-tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaya Guy Kawasaki, sebagai contoh, muncul dari pengalamannya presentasi menggunakan flipchart. Setelah beralih pada alat bantu komputer, muncullah aturan 10:20:30 yang ia terapkan untuk presentasi bisnis. Cukup 10 slide, selama 20 menit, dengan besar huruf minimal 30 poin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latar belakang desain Tom Peters mendorongnya bermain tipografi dan pewarnaan drastis untuk menempelkan pesannya di benak hadirin. Saat bekerja di Apple, Garr Reynolds berpresentasi pada orang-orang yang sangat peduli akan desain informasi. Presentasinya jadi sederhana dan sangat visual. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuncinya satu: mereka tidak berhenti belajar. Setiap presentasi (dari situasi resmi hingga sekadar diskusi dalam lift) merupakan eksperimen untuk mencari tahu dua hal:&lt;br /&gt;a) Apa yang membuat orang jadi lebih mudah paham?  &lt;br /&gt;b) Dan apa yang justru menghasilkan kebalikannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Turutilah konvensi yang dijalani para pakar tersebut. Belajarlah dari tiap kesempatan  kita bertukar pikiran dengan orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhwQCRdzNOQ1tjGmKpj1OPIdXqfUgIo-Lt1xhniK9Ch8_jkT953Ttkfl7KHaXErwoQAtTmtMPsqaASikn4LdmVRCq_CeqtMpivfeYCswtVEkUf_ejtX8OcjID4rpLYbtoXGSOuExNCJ6dU/s1600-h/gayaotentik.JPG&quot;&gt;&lt;img style=&quot;display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhwQCRdzNOQ1tjGmKpj1OPIdXqfUgIo-Lt1xhniK9Ch8_jkT953Ttkfl7KHaXErwoQAtTmtMPsqaASikn4LdmVRCq_CeqtMpivfeYCswtVEkUf_ejtX8OcjID4rpLYbtoXGSOuExNCJ6dU/s320/gayaotentik.JPG&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5226156372667473122&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Namun, satu yang perlu ditekankan kembali: kita semua sudah memiliki keunikan. Kita semua spesial. Tidak perlu menjadi pakar atau berpengalaman bertahun-tahun untuk memiliki gaya otentik. Pengalaman bertahun-tahun itu sebenarnya untuk mengenali diri kita sendiri. Karena dalam perjalanan hidup, kita sering lupa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenalilah keunikan diri kita. Sampaikanlah pada dunia.</description><link>http://7db.blogspot.com/2008/07/tunjukkan-keunikan-kita-pada-dunia.html</link><author>noreply@blogger.com (Isman H. Suryaman)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjGtj4JE2WAUUWJlkbCaLJ0nXKzkgqmeLZ9njuOkwkFmZb0jrxKjvy5Eu6stRJ3pujRNZumnZOz9G-UuZWAJB6HCVB7-b9BoificlOk6ucE1oC4VcJ5iU_9AoYvnEcyOc1zhUw3RBIkeuc/s72-c/konvensikejurang.JPG" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8290839845885434705.post-3638142252916842761</guid><pubDate>Wed, 16 Jul 2008 01:18:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-11T02:41:58.742-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">kiat-kiat</category><title>Berpikir Seperti Pembuat Iklan: Apa Maksudnya?</title><description>Dalam mengatasi dosa besar ketiga: membosankan, saya menyarankan untuk berpikir seperti pembuat iklan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan. Bukan dalam mengulang pesan sampai tiga kali. Itu justru akan menyebalkan. Itu justru akan menyebalkan. Itu justru akan menyebalkan. Seperti mengganti gangguan maag dengan sakit kepala. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau gitu apa? Kreativitas dalam batasan yang sempit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Cutting Edge Advertising, Jim Aitchinson menulis bahwa iklan suatu produk, misalnya, hanya bisa menyampaikan dua macam pesan:&lt;br /&gt;a) Apa manfaatnya jika kita menggunakan produk itu, atau&lt;br /&gt;b) Apa yang terjadi jika kita tidak menggunakan produk tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kita hanya bisa menyampaikannya dalam ruang yang terbatas pula. Satu halaman cetak, lima belas hingga tiga puluh detik tayangan TV, atau batasan media lainnya. Dalam batasan itu, pesan harus sampai pada hadirin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presentasi juga seperti itu. Kalau kita memilih alat bantu, sebaiknya yang memang membantu kita menyampaikan pesan dalam batasan kita. Beranilah untuk merangkul kreativitas kita dalam menyampaikan pesan. Apalagi karena kita memiliki satu keuntungan: komunikasi dua arah. Kita bisa memastikan bahwa pesan kita tidak salah tertangkap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seberapa jauh kita bisa berkreasi? Asalkan tetap relevan dengan budaya hadirin kita. Berikut adalah contoh perbandingan iklan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Produknya adalah bohlam. Pesan yang ingin disampaikan adalah kekuatan terangnya bohlam tersebut. Budaya hadirin meliputi kisah-kisah supernatural. Bagaimana cara Anda menyampaikan pesan ini? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh pertama adalah Osram, yang dibuat agensi lokal. Bisa jadi Anda sudah melihat iklan TV tersebut. Seorang wanita di keremangan malam didekati Drakula (dengan penampilan stereotipikal kuno: potongan rambut Deddy Corbuzier, eye shadow, wajah putih, busana berkerah tinggi, dan taring). Namun sang wanita menyalakan lampu dan Drakula pun berteriak panik, &quot;O... SRAAAAM!&quot; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buatan Indonesia, namun menggunakan tokoh supernatural budaya asing. Kuno, pula. Saat melihatnya, saya hanya mengernyit. Tidak terhibur. Butuh waktu beberapa kali menonton pula untuk menyadari bahwa sang Drakula menggunakan permainan kata nama produknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat menyadari permainan kata itu, saya malah kesal. Karena tidak merasa itu prestasi. Stevie Ray dalam Medium-Sized Book of Comedy menulis bahwa hadirin akan merasa senang saat mereka berhasil menangkap suatu humor cerdas. Itu membuat mereka merasa cerdas pula. Namun, saat humor tersebut tidak cerdas, hadirin justru merasa sebal. Karena merasa buang-buang pikiran untuk hal yang tidak membanggakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu agensi periklanan Thailand mengeksplorasi tema yang serupa untuk bohlam Sylvania. Hasilnya? Bisa dilihat &lt;a href=&quot;http://www.youtube.com/watch?v=z70zNOSZ160&quot;&gt;di sini&lt;/a&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiBSf4v8fCCU6If75rfbd1T1g0XFjZiJyuIVMuJH8Mo-6cPn0G8ywXRCYLVuFYEEXO83m4XUvHtRYykJEYiD-H0wYm_q-pvQYZfO80jY7OVqzYt5vBi-D6Py62ado6lyExV2_w41cYsyT8/s1600-h/sylvania.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiBSf4v8fCCU6If75rfbd1T1g0XFjZiJyuIVMuJH8Mo-6cPn0G8ywXRCYLVuFYEEXO83m4XUvHtRYykJEYiD-H0wYm_q-pvQYZfO80jY7OVqzYt5vBi-D6Py62ado6lyExV2_w41cYsyT8/s320/sylvania.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5223430490849665938&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kepala keluarga yang sedang piknik mengusir salah satu hantu yang tidak lagi terasa menakutkan dalam keadaan terang benderang.&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan yang serupa. Namun, mereka lebih berani untuk eksplorasi nilai lokal. Dan itulah yang membuat iklan ini juga menghibur bahkan bagi penonton yang bukan warga negara Thailand. Kita bisa melihat bahwa setan-setan Thailand ini tinggal diganti dengan figur mistis Indonesia seperti pocong, sundelbolong, kuntilanak--otomatis menjadi iklan yang bernuansa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Tapi itu kan video, Man,&quot; protes Anda. &quot;Alat bantu presentasi kita bisa saja hanya &lt;i&gt;slide&lt;/i&gt;.&quot; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, tinggal alihkan kreativitas kita pada kombinasi gambar dan kata. Inti pesan dua iklan di atas sama: terangnya lampu dapat membuat malam jadi tidak menakutkan. Berikut adalah satu iklan cetak OSRAM (untuk pembaca berbahasa Inggris) yang menyampaikannya secara visual.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjV0-V9K0b-wLnAv3QfmlR4-ZSHOK482EDb2R8Tise48ztJVvZuBvDp881iK7f-Vw9fxrYiRL32_ZtjNW-7gBpo5jtHtUCBNaO65BmZ0mgCyiVzXEMDcs9cKCYgc_82I-kh07rPDs6R2qo/s1600-h/osram.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjV0-V9K0b-wLnAv3QfmlR4-ZSHOK482EDb2R8Tise48ztJVvZuBvDp881iK7f-Vw9fxrYiRL32_ZtjNW-7gBpo5jtHtUCBNaO65BmZ0mgCyiVzXEMDcs9cKCYgc_82I-kh07rPDs6R2qo/s320/osram.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5223430490223641778&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Fight the night.&lt;/center&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tidak perlu sekeren itu. Gambar di atas jelas menggunakan pengolah citra. Sementara kita cukup menggunakan foto yang mewakili pesan kita. Saya ambil kembali contoh dari tulisan tentang &lt;a href=&quot;http://7db.blogspot.com/2007/08/seni-tanya-jawab-ubah-pola-pikir.html&quot;&gt;Seni Tanya Jawab&lt;/a&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgueL2vPX98kJZyF78QgOiRNcnd5N5q9Uiuc5cXFOxnOtdFEDbrRxLe8sKearrj2w7wUxdPRgBbdlFiY5gs_mGY_M8w6_9oIOSBSLwaC40GfsJF8X3ExnVvRobJwTXeFfcnHrDl2gRW_QU/s1600-h/pertanyaanbukanserangan.JPG&quot;&gt;&lt;img style=&quot;display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgueL2vPX98kJZyF78QgOiRNcnd5N5q9Uiuc5cXFOxnOtdFEDbrRxLe8sKearrj2w7wUxdPRgBbdlFiY5gs_mGY_M8w6_9oIOSBSLwaC40GfsJF8X3ExnVvRobJwTXeFfcnHrDl2gRW_QU/s320/pertanyaanbukanserangan.JPG&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5098463709914630786&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjB1dPoUrhyVMC2x2a1PPcoWvPRjQzIGXJiEwXRcLSl39R8g8uP1Nh08sbFaX8_PjBESWunLBF5_NozZWYgFYlS51eKr8BZuTvFYF4eDuTTbMncOvu06ejjahg4oWle8pIdRYR0NQR_LIM/s1600-h/penanyarekanperjalanan.JPG&quot;&gt;&lt;img style=&quot;display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjB1dPoUrhyVMC2x2a1PPcoWvPRjQzIGXJiEwXRcLSl39R8g8uP1Nh08sbFaX8_PjBESWunLBF5_NozZWYgFYlS51eKr8BZuTvFYF4eDuTTbMncOvu06ejjahg4oWle8pIdRYR0NQR_LIM/s320/penanyarekanperjalanan.JPG&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5098463709914630770&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eksplorasilah sisi kreativitas dan sesuaikan dengan budaya hadirin kita.</description><link>http://7db.blogspot.com/2008/07/berpikir-seperti-pembuat-iklan-apa.html</link><author>noreply@blogger.com (Isman H. Suryaman)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiBSf4v8fCCU6If75rfbd1T1g0XFjZiJyuIVMuJH8Mo-6cPn0G8ywXRCYLVuFYEEXO83m4XUvHtRYykJEYiD-H0wYm_q-pvQYZfO80jY7OVqzYt5vBi-D6Py62ado6lyExV2_w41cYsyT8/s72-c/sylvania.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8290839845885434705.post-2175227998568782040</guid><pubDate>Thu, 10 Jul 2008 06:30:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-11T02:41:59.575-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">inspirasi</category><title>Hindari Kebutaan dalam Berpresentasi</title><description>Cobalah penggelitik otak sederhana berikut. Mampir ke &lt;a href=&quot;http://www.dothetest.co.uk/&quot;&gt;situs ini&lt;/a&gt;, lantas tontonlah videonya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silakan. Saya tunggu. (Jika Anda adalah pengunjung setia &lt;a href=&quot;http://bertanyaataumati.blogspot.com&quot;&gt;blog Bertanya atau Mati&lt;/a&gt;, silakan langsung turun ke bawah. Anda tentunya sudah melihat video ini.) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan ada dua tim basket; hitam lawan putih. Kita akan diminta menghitung berapa jumlah operan yang dilakukan tim putih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiTgLbv9TXCq9zTZBNBnn6o8RnH-h6gKrGUzjeEk5XH2ONqMbGVlBbg6o_QZheERC7ifprjiuHasEzdAyE_lokpTwesPZz-FKCFVBURRq-aJoE5pI-WADxXshV5GSu2atWLGNNoOI-YmJU/s1600-h/basket.JPG&quot;&gt;&lt;img style=&quot;display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiTgLbv9TXCq9zTZBNBnn6o8RnH-h6gKrGUzjeEk5XH2ONqMbGVlBbg6o_QZheERC7ifprjiuHasEzdAyE_lokpTwesPZz-FKCFVBURRq-aJoE5pI-WADxXshV5GSu2atWLGNNoOI-YmJU/s320/basket.JPG&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5221266362016801602&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cobalah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sudah, tinggal turun ke tulisan di bawah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;(Bagi yang belum, lebih baik coba dulu tonton videonya. &lt;br /&gt;Akan jauh lebih mencerahkan. Percayalah.)&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke. Berapa jumlah operannya? Antara 10-15? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, bagi yang benar-benar menghitung, apakah Anda memerhatikan ada orang berkostum beruang yang menari mundur?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, ada kok. Di klipnya sendiri jelas terlihat. Dan jika Anda benar-benar menghitung operan tim putih, bisa jadi Anda tidak akan melihatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh2F7HbMqroz6zy_s3f4PEvRzxmRUhrqIQdOWW8presKM4btawuJ4SmXNn7Yu6UjB-itPZ0BzN-aH6WQjFzkwFWOI4LzZe1tAGRWH9liWCjQeKDUQnm8FhHBPqICXbenPAn1fCkT3rr1Ec/s1600-h/beruang.JPG&quot;&gt;&lt;img style=&quot;display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh2F7HbMqroz6zy_s3f4PEvRzxmRUhrqIQdOWW8presKM4btawuJ4SmXNn7Yu6UjB-itPZ0BzN-aH6WQjFzkwFWOI4LzZe1tAGRWH9liWCjQeKDUQnm8FhHBPqICXbenPAn1fCkT3rr1Ec/s320/beruang.JPG&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5221266487114003810&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena ini disebut kebutaan akibat tidak memerhatikan (&lt;a href=&quot;http://en.wikipedia.org/wiki/Inattentional_blindness&quot;&gt;inattentional blindness&lt;/a&gt;). Video iklan itu sendiri mengadopsi video penelitian yang digunakan &lt;a href=&quot;http://viscog.beckman.uiuc.edu/grafs/demos/15.html&quot;&gt;Daniel Simmons dan Christopher Chabris&lt;/a&gt;. Bedanya, mereka menggunakan orang berkostum gorila. Profesor Richard Wiseman dari University of Hertfordshire menunjukkan video tersebut kepada 400 orang. Hasilnya? &lt;a href=&quot;http://www.telegraph.co.uk/connected/main.jhtml?xml=%2Fconnected%2F2004%2F05%2F05%2Fecfgorilla05.xml&quot;&gt;Hanya sepuluh persen&lt;/a&gt; yang melihat gorila itu lewat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkatnya, kalau perhatian kita terfokus pada satu hal, kita bisa terbutakan terhadap hal-hal lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa relevansinya dengan presentasi? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, perhatian pada hadirin. Jika kita terlalu fokus pada apa yang mau kita sampaikan, kita bisa buta terhadap keadaan hadirin. Para pendengar kita. Padahal percuma kita berhasil menyampaikan semua yang ingin kita sampaikan jika mereka tidak berminat mendengar. Dalam &lt;a href=&quot;http://7db.blogspot.com/2007/08/sudah-terbit-tujuh-dosa-besar.html&quot;&gt;7 Dosa Besar (Penggunaan) PowerPoint&lt;/a&gt;, ini termasuk Dosa Besar ke-7: Berlindung di Balik Komputer. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi karena kita terlalu gugup, cari aman, atau memang tidak terbiasa. Apa pun alasannya, akan berbahaya jika kita tidak bisa membedakan apakah hadirin sedang menyimak penuh minat, atau sedang diam-diam berdoa semoga presentasi kita cepat selesai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepaskan diri dari belenggu kebutaan itu. Dekatilah hadirin kita. Jalinlah kontak emosi. Berbicaralah _dengan_ mereka. Bukan _pada_ mereka.</description><link>http://7db.blogspot.com/2008/07/hindari-kebutaan-dalam-berpresentasi.html</link><author>noreply@blogger.com (Isman H. Suryaman)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiTgLbv9TXCq9zTZBNBnn6o8RnH-h6gKrGUzjeEk5XH2ONqMbGVlBbg6o_QZheERC7ifprjiuHasEzdAyE_lokpTwesPZz-FKCFVBURRq-aJoE5pI-WADxXshV5GSu2atWLGNNoOI-YmJU/s72-c/basket.JPG" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8290839845885434705.post-6503679050742694325</guid><pubDate>Wed, 25 Jun 2008 16:56:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-11T02:41:59.728-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">kiat-kiat</category><title>Tombol Hebat yang Terlupakan</title><description>Jika kita menggunakan PowerPoint, ada satu tombol yang sering terlupakan. Padahal kemampuannya hebat: bisa membuat perhatian hadirin otomatis terpusat pada kita, sang pembicara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tombol apakah itu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf &quot;B&quot;, dari &quot;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;blank screen&lt;/span&gt;&quot; atau layar kosong.&lt;sup&gt;&lt;b&gt;[1]&lt;/sup&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tekanlah, dan layar akan jadi kosong. Gelap. Proyektor pun tidak menyorotkan apa-apa. Manfaatkan saja saat kita ingin menjalin interaksi dengan hadirin, menjalankan permainan beregu, atau berbicara cukup panjang tanpa bantuan &lt;i&gt;slide&lt;/i&gt;. Perhatian hadirin tidak akan terpecah oleh tayangan proyektor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEilmobmjZforgEDoBwCmiqxIEc9ZxOj74jzfNS9nCSc8urHELV-fJlZRQj9KvTYInMEuP0b5z0_S6LVBgRtnfiQFRLgvtXPJsr-3LliuW3uEFeUpImu2ifdkNMVEMXCsa6QnjOEy1JhvdI/s1600-h/youarehere.JPG&quot;&gt;&lt;img style=&quot;display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEilmobmjZforgEDoBwCmiqxIEc9ZxOj74jzfNS9nCSc8urHELV-fJlZRQj9KvTYInMEuP0b5z0_S6LVBgRtnfiQFRLgvtXPJsr-3LliuW3uEFeUpImu2ifdkNMVEMXCsa6QnjOEy1JhvdI/s320/youarehere.JPG&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5215871588608628466&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Keluarlah dari batasan &quot;kotak&quot; PPT yang mengandalkan &lt;i&gt;slide&lt;/i&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu selesai, tinggal kembali tekan B. Dan layar pun kembali pada tayangan semula. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cobalah. Saat perhatian hadirin tampak terlalu terfokus pada layar proyektor, ambil alih kendali dengan tombol ini. Saksikan bagaimana seluruh tatapan langsung berpindah pada kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan sulap, bukan sihir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;_________________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;[1]&lt;/b&gt;: Ada juga yang berpendapat bahwa B ini singkatan dari &quot;&lt;i&gt;Black screen&lt;/i&gt;&quot; atau layar hitam. Karena sebagai alternatif, ada juga tombol W, untuk &quot;&lt;i&gt;White screen&lt;/i&gt;&quot; atau menampilkan layar putih.</description><link>http://7db.blogspot.com/2008/06/tombol-hebat-yang-terlupakan.html</link><author>noreply@blogger.com (Isman H. Suryaman)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEilmobmjZforgEDoBwCmiqxIEc9ZxOj74jzfNS9nCSc8urHELV-fJlZRQj9KvTYInMEuP0b5z0_S6LVBgRtnfiQFRLgvtXPJsr-3LliuW3uEFeUpImu2ifdkNMVEMXCsa6QnjOEy1JhvdI/s72-c/youarehere.JPG" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8290839845885434705.post-1930523591419602125</guid><pubDate>Wed, 30 Apr 2008 02:05:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-04-29T19:45:03.720-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">contoh dosa besar</category><title>Akal Sehat yang Sering Dilupakan Dalam Animasi</title><description>Seperti saya tulis dalam bagian belakang buku, tujuh dosa besar (penggunaan) PowerPoint merupakan salah kaprah yang umum dalam praktik presentasi. Saya menghindari membahas hal-hal yang--menurut saya--sudah dapat dinalar sendiri (menggunakan akal sehat atau &lt;i&gt;common sense&lt;/i&gt;). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, setelah menyaksikan sejumlah presentasi rekan-rekan di bidang IT, yang saya anggap &lt;i&gt;common sense&lt;/i&gt; ternyata tidak terlalu &lt;i&gt;common&lt;/i&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan animasi, sebagai contoh, bukanlah sekadar pamer gaya. Melainkan membantu penyajian agar mengalir, sesuai dengan cara hadirin mencerna informasi. Akal sehat, kan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktiknya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada saja yang menganimasikan anak panah dengan cara &lt;b&gt;Fade&lt;/b&gt;, &lt;b&gt;Faded zoom&lt;/b&gt;, atau lebih parah: &lt;b&gt;Fly in&lt;/b&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal anak panah bertujuan untuk menunjukkan satu arah. Secara alamiah, otak manusia akan mencerna bahwa animasi anak panah seharusnya dimulai dari ekor dan berakhir ke kepala (yang menunjuk). Karena itu, yang cocok adalah &lt;b&gt;Wipe&lt;/b&gt;, &lt;b&gt;Peek In&lt;/b&gt;, atau efek lain yang serupa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya, perhatikan pula arah animasi. Untuk anak panah menunjuk kanan, gunakanlah &lt;b&gt;Direction: From Left&lt;/b&gt;, dari kiri menuju ke kanan. Demikian pula sebaliknya. Untuk gambaran lebih jelas, sila unduh PPS (dikompresi dalam zip) di bagian bawah tulisan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda mungkin berkomentar, &quot;Itu sih semua orang juga tahu, Man.&quot; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya saya pikir juga begitu. Tapi cobalah perhatikan presentasi di sekitar Anda. Bisa jadi Anda juga akan terkejut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;_________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sila unduh: &lt;a href=&quot;http://www.divusi.com/blog/wp-content/uploads/2008/04/animasi.zip&quot; title=&quot;PPS Animasi Anak Panah&quot;&gt;PPS Animasi Anak Panah&lt;/a&gt; (30 KB).</description><link>http://7db.blogspot.com/2008/04/akal-sehat-yang-sering-dilupakan-dalam.html</link><author>noreply@blogger.com (Isman H. Suryaman)</author><thr:total>6</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8290839845885434705.post-5950302507136541486</guid><pubDate>Thu, 27 Mar 2008 10:01:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-03-27T07:12:10.439-07:00</atom:updated><title>Perlu Mati Berapa Kali?</title><description>Ada satu bagian penting perusahaan yang sering sekali terlupakan. Padahal dengan mengabaikannya, kita merisikokan kerugian besar. Dalam proyek ratusan juta saja, bisa puluhan hingga ratusan juta melayang karena kekurangan hal ini. Padahal biayanya bisa murah saja.  &lt;br&gt;&lt;br&gt;Apa sih?&lt;br&gt;&lt;br&gt;Manajemen pengetahuan.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Berdasarkan &lt;em&gt;The Chaos Report&lt;/em&gt; oleh Standish Group, pada tahun 1995 saja persentase proyek IT yang tepat waktu dan biaya hanya 16,2%. Dengan kata lain, 83,8% lainnya mulur dan anggarannya membengkak. Lebih parah lagi, anggaran 52,7% proyek IT ternyata membludak hingga 189%.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Lebih dari setengah proyek IT memakan biaya hingga hampir dua kali lipat.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Tanpa manajemen pengetahuan, kita bisa mengulang kesalahan lalu. Bayangkan sendiri kerugiannya.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Padahal seperti saya tulis di atas: manajemen pengetahuan tidak harus mahal. Yang penting adalah membiasakan organisasi untuk berbagi. Hingga kebiasaan itu menjadi budaya. Bahwa pengetahuan yang terkumpul menjadi milik bersama. Bukan hanya individu.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Dan untuk membiasakannya, mulailah dari hal-hal yang termudah. Daripada investasi modul pelatihan elektronik ribuan dolar, misalnya, mulailah dari budaya bercerita. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Dalam buku &lt;em&gt;Around the Corporate Campfire&lt;/em&gt;, Evelyn Clark menunjukkan bagaimana perusahaan sukses seperti Nike atau Southwest Airlines justru mengelola pengetahuan dan budaya perusahaan mereka melalui kebiasaan sederhana: bercerita. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Bisa juga melalui berbagi hal-hal yang tampak remeh.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Sebagai contoh, Januari lalu, Divusi mengadakan Fun Day. Salah satu acaranya adalah bermain perang bola cat (&lt;em&gt;paintball wargame&lt;/em&gt;). Dari beberapa kali main, terlihat sejumlah kesalahan serupa yang mengarah pada kekalahan. Akibatnya, beberapa orang berbeda tewas di medan perang melakukan kesalahan yang sama.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Perlu berapa kali mati &lt;em&gt;sih&lt;/em&gt; sampai seseorang sadar dan berkata kepada yang lain: &quot;Kayaknya kita jangan melakukan ini, deh--DOR!&quot; Gelepak.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Bahkan dari kegiatan seperti ini pun kita bisa mulai menyusun manajemen pengetahuan. Mengapa tidak? Sebagai contohnya seperti di bawah ini, yang saya juduli, &quot;7 Dosa Besar (Bermain) Paintball Wargame&quot;.&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://www.divusi.com/blog/wp-content/uploads/2008/03/dosa1.JPG&quot; height=&quot;225&quot; width=&quot;300&quot;&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align=&quot;left&quot;&gt; Akibatnya....&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://www.divusi.com/blog/wp-content/uploads/2008/03/akibatnya.JPG&quot;&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://www.divusi.com/blog/wp-content/uploads/2008/03/dosa2.JPG&quot; height=&quot;225&quot; width=&quot;300&quot;&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://www.divusi.com/blog/wp-content/uploads/2008/03/dosa3.JPG&quot; align=&quot;middle&quot; height=&quot;225&quot; width=&quot;300&quot;&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt; &lt;img src=&quot;http://www.divusi.com/blog/wp-content/uploads/2008/03/dosa4.JPG&quot; align=&quot;middle&quot;&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt; &lt;img src=&quot;http://www.divusi.com/blog/wp-content/uploads/2008/03/dosa5.JPG&quot; align=&quot;middle&quot; height=&quot;225&quot; width=&quot;300&quot;&gt;&lt;/p&gt;Dan kita tahu akibatnya, bukan?&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://www.divusi.com/blog/wp-content/uploads/2008/03/akibatnya.JPG&quot;&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt; &lt;img src=&quot;http://www.divusi.com/blog/wp-content/uploads/2008/03/dosa6.JPG&quot; align=&quot;middle&quot; height=&quot;225&quot; width=&quot;300&quot;&gt;&lt;/p&gt;Dan dosa besar terakhir adalah...&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt; &lt;img src=&quot;http://www.divusi.com/blog/wp-content/uploads/2008/03/dosa7.JPG&quot; align=&quot;middle&quot; height=&quot;225&quot; width=&quot;300&quot;&gt;&lt;/p&gt;Yang tak perlu lagi diceritakan bagaimana akhirnya.&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://www.divusi.com/blog/wp-content/uploads/2008/03/akibatnya2.JPG&quot; height=&quot;225&quot; width=&quot;300&quot;&gt;&lt;/p&gt;Intinya: rancanglah agar manajemen pengetahuan menjadi kebiasaan sehari-hari di organisasi kita. Salah satu langkah termudah adalah: jadikan berbagi sebagai kegiatan yang menarik.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Berceritalah. Berbagilah.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;____________________&lt;br&gt;&lt;br&gt;*) Tulisan ini aslinya dimuat di &lt;a href=&quot;http://www.divusi.com/blog/?p=38&quot;&gt;blog Divusi&lt;/a&gt;. &lt;br&gt;&lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class=&#39;multiply:no_crosspost&#39;&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://7db.blogspot.com/2008/03/perlu-mati-berapa-kali.html</link><author>noreply@blogger.com (Isman H. Suryaman)</author><thr:total>3</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8290839845885434705.post-7777181041431797417</guid><pubDate>Thu, 06 Mar 2008 06:53:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-03-05T23:27:55.933-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">inspirasi</category><title>Apa Arti Presentasi Bagi Anda?</title><description>Lebih lanjut dari mitos kedua perihal berbicara di depan umum, saya pribadi beranggapan bahwa presentasi adalah cara hidup (&lt;i&gt;way of life&lt;/i&gt;). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa? Karena dalam presentasi, kita perlu mengenali diri dan batas-batas kita. Lantas mendobraknya. Disadari atau tidak, cara kita berpresentasi juga bisa memengaruhi cara kita memandang dunia. Dan sebaliknya, sebagian diri kita pun terpancar dari gaya kita berpresentasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini mirip dengan bela diri. Miyamoto Musashi, sebagai contoh, tidak menganggap seni pedang sebagai kemampuan semata. Atau label samurai sebagai profesi. Baginya seni pedang adalah cara hidup. Dengan pola pikir itu, ia senantiasa setia pada prinsip kehidupannya. Pemikirannya pun ia tuangkan dalam Buku Lima Cincin yang menjadi panutan banyak orang, bukan hanya di bidang bela diri. Melainkan juga di bidang bisnis maupun kesehatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja ada juga orang yang menganggap bela diri sebagai kemampuan semata. Mungkin untuk kompetisi atau merasa lebih aman. Namun, sebagian dari mereka ada yang menyalahgunakan kemampuan tersebut. Ada yang menjadi merasa jumawa dan menjadi sombong. Ada yang menggunakannya untuk menekan orang lain. Padahal dalam bela diri selalu ada filosofi kehidupannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presentasi pun begitu. Saat kita menggunakan kemampuan kita untuk memengaruhi orang lain demi kepentingan kita, yang justru berlawanan dengan kepentingan pendengar, kita telah menyalahgunakan presentasi. Karena hakikat presentasi memang menyampaikan ide. Namun bukan memanipulasi. Saat kita semakin banyak pengalaman berbicara di depan umum, bisa jadi kita juga tergoda untuk merasa jumawa. Sombong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, kenalilah diri. Apakah arti presentasi bagi Anda?</description><link>http://7db.blogspot.com/2008/03/apa-arti-presentasi-bagi-anda.html</link><author>noreply@blogger.com (Isman H. Suryaman)</author><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8290839845885434705.post-3303642334590385797</guid><pubDate>Thu, 06 Mar 2008 01:06:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-03-05T22:49:28.819-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">inspirasi</category><title>Mitos Perihal Berbicara di Depan Umum</title><description>&lt;span class=&quot;insertedphoto&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;insertedphoto&quot;&gt;&lt;/span&gt;Dalam acara workshop Rotaract Jakarta (23 Februari 2008) berjudul &quot;Art of Communication&quot;, sesi pertama diisi oleh Charles Bonar Sirait, presenter dan penulis buku &lt;a href=&quot;http://www.gramedia.com/buku_detail.asp?id=HKVJ3456&amp;kat=3&quot;&gt;The Power of Public Speaking&lt;/a&gt;. &lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;center&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;insertedphoto&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://thefool.multiply.com/photos/hi-res/upload/R8@P6goKCDkAAHRefJs1&quot;&gt;&lt;img class=&quot;alignmiddleb&quot; src=&quot;http://images.thefool.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/R8@P6goKCDkAAHRefJs1/bangcharles.JPG?et=Leulbq4llBRkN8KimEajnA&amp;nmid=&quot; border=&quot;0&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;font size=&quot;2&quot;&gt;(Foto: dokumentasi Rotaract Jakarta)&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;&lt;span class=&quot;insertedphoto&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/center&gt;Ia menyampaikan dua mitos berkaitan presentasi atau berbicara di depan umum:&lt;br&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Berbicara di depan umum adalah suatu kemampuan yang perlu dimiliki untuk menjadi selebritas atau pemasar, yang memang berhadapan dengan orang banyak.&lt;/li&gt;&lt;br&gt;&lt;li&gt;Tidak boleh berbuat kesalahan. Harus bisa terjun praktik dengan hasil sempurna.  &lt;br&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br&gt;&lt;span style=&quot;text-decoration: underline;&quot;&gt;Kenyataannya&lt;/span&gt;: &lt;br&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Berbicara di depan umum perlu dipelajari semua orang. Karena siapa pun kita, apa pun pekerjaan kita, kemungkinan besar kita perlu menyampaikan ide kita kepada orang lain.&lt;/li&gt;&lt;br&gt;&lt;li&gt;Justru pada awalnya, lebih baik kita melakukan kesalahan yang banyak dan belajar dari itu. Karena itu, carilah tempat praktik agar bisa melakukan kesalahan tanpa merusak tujuan berbicara kita secara fatal. &lt;br&gt;   &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;br&gt;Karena itu, manfaatkanlah setiap peluang untuk maju ke depan dan berbicara. Pengalaman maupun kesalahan di situlah yang membantu kita agar bisa praktik dengan baik pada saat-saat penting. &lt;br&gt;&lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class=&#39;multiply:no_crosspost&#39;&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://7db.blogspot.com/2008/03/mitos-perihal-berbicara-di-depan-umum.html</link><author>noreply@blogger.com (Isman H. Suryaman)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8290839845885434705.post-3514546697875157824</guid><pubDate>Mon, 31 Dec 2007 06:41:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-12-30T23:22:30.538-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">apresiasi</category><title>Terima Kasih!</title><description>Kebalikannya tentu berlaku. Saat inti pesan kita adalah &quot;Terima kasih&quot;, pampanglah dengan tegas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengucapkan terima kasih atas kejutan akhir tahun yang menyenangkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Redaksi Ruang Baca Koran Tempo mengadakan jajak pendapat pembaca buku untuk menjawab pertanyaan: &quot;Apakah buku fiksi dan nonfiksi terbaik menurut Anda?&quot; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya diterbitkan dalam Koran Tempo tanggal 30 Desember 2007, dan ternyata &lt;a href=&quot;http://7db.blogspot.com/2007/08/sudah-terbit-tujuh-dosa-besar.html&quot;&gt;7 Dosa Besar (Penggunaan) PowerPoint&lt;/a&gt; menjadi salah satu dari tiga buku nonfiksi terbaik. Kutipan dari situs &lt;a href=&quot;http://www.ruangbaca.com/ruangbaca/?doky=MjAwNw==&amp;dokm=MTI=&amp;dokd=MzE=&amp;dig=YXJjaGl2ZXM=&amp;on=Q1JT&amp;uniq=NjA0&quot;&gt;Ruang Baca&lt;/a&gt;: &lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sedangkan tiga buku nonfiksi terbaik pilihan pembaca adalah 7 Dosa Besar Penggunaan Power Point karya &lt;a href=&quot;http://bertanyaataumati.blogspot.com&quot;&gt;Isman H. Suryaman&lt;/a&gt;, Antologi Drama Indonesia (1895-2000) oleh Sapardi Djoko Damono et.al., dan Cherish Every Moment karya Arvan Pradiansyah.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Saat nama seorang penulis humor bersanding dalam satu kalimat bersama seorang tokoh dunia sastra dan seorang pengamat kepemimpinan, reaksi pertama yang normal adalah memeriksa lagi, &quot;Ini nggak salah cetak, kan?&quot; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat akhirnya teryakinkan, reaksi kedua adalah, &quot;Wow!&quot; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru kemudian, &quot;Terima kasih.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menulis buku ini karena sudah mengalami kedua sisi presentasi; sebagai penyaji maupun hadirin. Saya pernah melakukan ketujuh dosa besar tersebut. Lantas sebagai peserta begitu banyak presentasi, saya menyadari kesalahan-kesalahan tersebut. Ratusan jam berlalu dalam siksaan bullet point yang membosankan, atau animasi yang membuat pusing. Dan saya berpikir, &quot;Jangan sampai orang lain perlu mengalami siksaan begini banyak sebelum akhirnya sadar: ada pilihan lain yang lebih baik.&quot; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan lahirlah buku ini setelah empat tahun penyusunan. Agar Anda, pembaca, tidak perlu tersiksa selama saya sebelum bisa menggebrak meja dan berkata, &quot;Cukup! Mari kita sampaikan pesan kita dengan cara lain--tanpa membuat siapa pun yang hadir menyesal telah berada di sini.&quot; Agar Anda bisa mempraktikkan cara atau pendekatan lain terhadap presentasi. Yang membuat hadirin tertarik untuk mendengarkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau sebagai pegangan untuk menyadarkan teman-teman Anda. Karena Anda sendiri sudah tahu, namun mereka tidak mau mendengarkan Anda. Semakin banyak orang yang sadar, akan semakin menguntungkan Anda juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan dunia di mana setiap kali Anda menghadiri presentasi, Anda tahu bahwa Anda akan memerhatikan dengan penuh minat. Karena tiap sesi akan jelas, informatif, dan menarik. Kita akan selalu mendapatkan hal yang baru. Kalaupun bukan informasi, kita akan mengenal sudut pandang, pendekatan, maupun pengalaman baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu bisa tercapai saat semua penyaji presentasi peduli pada hadirin. Lantas mempersiapkan materi maupun penyajian sepenuh hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang perlu Anda siapkan adalah kepedulian itu. Lantas buku ini akan membantu Anda untuk menyampaikannya. Visi itulah yang saya bayangkan dalam menyusun &lt;a href=&quot;http://7db.blogspot.com/2007/08/sudah-terbit-tujuh-dosa-besar.html&quot;&gt;7 Dosa Besar (Penggunaan) PowerPoint&lt;/a&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berterima kasih karena hasil jajak pendapat Ruang Baca Koran Tempo menunjukkan bahwa banyak pembaca yang juga berpikiran serupa. Itu sangat melegakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita wujudkan dunia di mana presentasi adalah sesuatu yang menarik dan mengasikkan--baik bagi penyaji maupun pesertanya.</description><link>http://7db.blogspot.com/2007/12/terima-kasih.html</link><author>noreply@blogger.com (Isman H. Suryaman)</author><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8290839845885434705.post-5115846401012646880</guid><pubDate>Mon, 31 Dec 2007 06:07:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-12-30T22:40:59.796-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">kiat-kiat</category><title>Dua Kata yang Perlu Dijauhkan Dari Slide Penutup</title><description>Adalah &quot;Terima kasih&quot;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecuali, kalau presentasi kita memang intinya adalah &quot;Terima kasih&quot;. Menyampaikan apresiasi pada rekan kerja di kantor, misalnya. Namun, saat bukan, jauhkan dua kata ini dari slide. Terutama dari slide penutup. Karena tulisan salah tempat itu akan melemahkan inti pesan kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup ucapkan saja. Namun, jangan tempelkan di slide. Slide penutup itu akan terus membekas dalam benak hadirin saat mereka pulang. Sayang sekali kalau mereka hanya mengingat: &quot;Terima kasih&quot; alih-alih &quot;Tulislah setiap ide yang muncul!&quot; (sebagai contoh).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunakanlah slide penutup untuk menyampaikan inti pesan kita yang terkuat.</description><link>http://7db.blogspot.com/2007/12/dua-kata-yang-perlu-dijauhkan-dari.html</link><author>noreply@blogger.com (Isman H. Suryaman)</author><thr:total>4</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8290839845885434705.post-7044338264135070656</guid><pubDate>Wed, 26 Dec 2007 07:44:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-11T02:41:59.970-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">contoh dosa besar</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">kiat-kiat</category><title>Orang Pintar, Terdengar Bodoh</title><description>Jangan sampai terjadi pada kita. Hilangkan kebiasaan mengucapkan kata-kata kosong. Misalnya: &quot;Eum...&quot; atau &quot;Apa namanya...&quot; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah seminar nasional, seorang ahli telekomunikasi sempat berkata seperti ini, &quot;Jadi, apa namanya... Wimax itu tidak, apa namanya... lebih cepat daripada, apa namanya... Wi-fi. Wimax itu hanya, apa namanya... lebih luas jangkauannya karena menggunakan teknologi, apa namanya... microwave.&quot; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat mengganggu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hilangkan kata-kata kosong. Jika kita perlu waktu untuk berpikir, gunakanlah jeda. Atau ajaklah hadirin untuk berpartisipasi mengajukan jawaban. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Amerika Serikat, salah satu contoh kata kosong ini adalah &quot;like&quot;. Saking parahnya, sampai Academy of Linguistic Awareness membuat iklan layanan masyarakat berikut ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgPJ1Lz5QfkTbfi8rJDcls4a7OCIeuzwt-WgeK8k1tNXFrUdq5cAxkgi7WjJ-pACPry0gGlIhHsHuyVKaxd3X2FMIjyL3SxoJWfvmfZKrN0ClPNt5slyiHcSDpWBGRUbaVEbGvIBUyxLys/s1600-h/dontsaylike.JPG&quot;&gt;&lt;img style=&quot;display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgPJ1Lz5QfkTbfi8rJDcls4a7OCIeuzwt-WgeK8k1tNXFrUdq5cAxkgi7WjJ-pACPry0gGlIhHsHuyVKaxd3X2FMIjyL3SxoJWfvmfZKrN0ClPNt5slyiHcSDpWBGRUbaVEbGvIBUyxLys/s400/dontsaylike.JPG&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5148184940569142578&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;Tidak mau terdengar bodoh? Berhentilah mengucapkan &quot;like&quot; (secara berlebihan).&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Saya rasa kita juga perlu mengobarkan kampanye serupa untuk melawan penyalahgunaan &quot;secara&quot;.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;_____________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih pada &lt;a href=&quot;http://ryosaeba.wordpress.com&quot;&gt;Eko&lt;/a&gt; untuk menunjukkan URL gambar di atas.</description><link>http://7db.blogspot.com/2007/12/orang-pintar-terdengar-bodoh.html</link><author>noreply@blogger.com (Isman H. Suryaman)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgPJ1Lz5QfkTbfi8rJDcls4a7OCIeuzwt-WgeK8k1tNXFrUdq5cAxkgi7WjJ-pACPry0gGlIhHsHuyVKaxd3X2FMIjyL3SxoJWfvmfZKrN0ClPNt5slyiHcSDpWBGRUbaVEbGvIBUyxLys/s72-c/dontsaylike.JPG" height="72" width="72"/><thr:total>5</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8290839845885434705.post-2500331015276861096</guid><pubDate>Thu, 22 Nov 2007 05:07:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-11-22T02:36:47.301-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">contoh dosa besar</category><title>Yang Kita Lakukan, Bukan Yang Kita Katakan</title><description>Dalam buku &lt;a style=&quot;font-style: italic;&quot; href=&quot;http://www.amazon.com/Its-Not-What-You-Say-Its/dp/0385510411&quot;&gt;It&#39;s Not What You Say, It&#39;s What You Do&lt;/a&gt;, Laurence Haughton menyampaikan bahwa kita bisa menyabotase pesan melalui tindakan yang bertolak belakang. Sebaliknya, kita juga bisa mengomunikasikan pesan dengan efektif melalui tindakan; tanpa perlu banyak omong. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Sebagai contoh, dalam lokakarya teknik presentasi, saya menyampaikan pentingnya menatap mata hadirin dan &quot;menguasai panggung&quot; (alias bergerak dalam ruangan secara efektif--menjangkau hadirin). Namun, bayangkan jika saya menyampaikannya dengan meringkuk di balik komputer. Atau terus-menerus menatap layar proyektor. Pesan yang sampai pada hadirin adalah, &quot;Kalian lakukanlah itu, aku sih malas.&quot; &lt;br&gt;&lt;br&gt;Jelas, itu tidak akan menggugah siapa pun. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Contoh yang lebih global adalah Dirjen Pajak. Akhir-akhir ini, mereka semakin gencar berkampanye, &quot;Milikilah NPWP!&quot; Saking bersemangatnya, mereka sampai mencuri &lt;i&gt;catchphrase&lt;/i&gt; Naga Bonar (Jadi) 2: &quot;Apa kata dunia?&quot; &lt;br&gt;&lt;br&gt;Tapi, ternyata, &lt;a href=&quot;http://www.detikfinance.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/11/tgl/22/time/155315/idnews/856207/idkanal/4&quot;&gt;Ditjen Pajak Darmin Nasution sendiri tidak memiliki NPWP&lt;/a&gt;. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Bandingkan dengan John Latham, seorang kepala sekolah negeri di Inggris. Seperti diungkapkan di buku &lt;a style=&quot;font-style: italic;&quot; href=&quot;http://www.amazon.com/Why-Should-Anyone-Led-You/dp/1578519713&quot;&gt;Why Should Anyone Be Led By You?&lt;/a&gt; karya Rob Goffee dan Gareth Jones, John mulai menjabat posisinya dengan hemat berkata-kata. Ia hanya mendengarkan para rekan kerjanya. Lantas bertindak. Alih-alih berkata, &quot;Mari buat perubahan, mulai dari hal yang terkecil!&quot; ia langsung mendatangi tiap kelas, ikut mengganti jam yang rusak. Atau penghapus yang sudah buluk. Ia bahkan memunguti sampah yang berserakan di halaman. Lambat laun, dari keadaan yang terpuruk, sekolah itu akhirnya menjadi sekolah percontohan nasional. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Sering kali, kata-kata menjadi tidak efektif. Apalagi saat diobral murah. Kala itu, lakukanlah. Jangan katakan.&lt;br&gt;&lt;br&gt;_________________&lt;br&gt;&lt;br&gt;Terima kasih pada &lt;a href=&quot;http://first-things-first.blogspot.com&quot;&gt;Yudi&lt;/a&gt;.  &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class=&#39;multiply:no_crosspost&#39;&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://7db.blogspot.com/2007/11/yang-kita-lakukan-bukan-yang-kita.html</link><author>noreply@blogger.com (Isman H. Suryaman)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8290839845885434705.post-3940611974151821911</guid><pubDate>Tue, 20 Nov 2007 05:59:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-11-19T22:00:17.707-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">apresiasi</category><title>Kejutan dari Paman</title><description>Salah satu penulis favorit saya, Paman Tyo, membahas buku &lt;a href=&quot;http://7db.blogspot.com/2007/08/sudah-terbit-tujuh-dosa-besar.html&quot;&gt;Tujuh Dosa Besar (Penggunaan) PowerPoint&lt;/a&gt; dalam judul yang kompletnya sih &lt;a href=&quot;http://blogombal.org/2007/11/19/buku-yang-menghina-pembaca/&quot;&gt;Buku yang Menghina Pembaca (Tapi Layak Beli)&lt;/a&gt;. &lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;PANDUAN PRAKTIS DAN LUCU UNTUK PRESENTASI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya betul-betul terhina oleh buku ini. Sudah keluar duit, eh setelah membaca saya merasa ditelanjangi. Sialnya saya tak dapat menyangkal atau berdalih karena yang dia nyatakan memang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis buku ini, seorang blogger, memang semaunya sendiri. Untunglah dia cukup menelanjangi tanpa mempermalukan. Bahwa si pembaca akan malu sendiri, itu ibarat beli cermin di depan gedung parlemen lantas setibanya di kamar dicoba untuk memeriksa panu. Si penjual cermin tak bersalah. Dosanya tak sebesar pemasang kamera pengintip di kamar kecil dan kamar ganti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih sial lagi, si penulis menelanjangi pembacanya secara cengengesan. Kesalahan orang lain** dia anggap menggelikan. Saya ingin tahu apa saja asupan harian dia sehingga bisa menulis lucu, dan jadilah buku panduan presentasi dengan PowerPoint...&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Selengkapnya &lt;a href=&quot;http://blogombal.org/2007/11/19/buku-yang-menghina-pembaca/&quot;&gt;di sini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih atas apresiasinya, Paman. Ternyata satu hikmah menulis buku adalah: bisa kenalan dan ngobrol dengan idola, haha. Karena selama ini mampir di blog beliau, baru sekarang akhirnya bisa ngobrol (sok) akrab.</description><link>http://7db.blogspot.com/2007/11/kejutan-dari-paman_19.html</link><author>noreply@blogger.com (Isman H. Suryaman)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8290839845885434705.post-4779988295491105636</guid><pubDate>Tue, 20 Nov 2007 05:42:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-11-19T21:57:08.168-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">apresiasi</category><title>Salam Sayang dari Teman (Maya)</title><description>Seorang bijak (yang sudah lama meninggal--sehingga bisa membuat kita mempertanyakan seberapa bijak sebenarnya dia) pernah berkata bahwa jika membutuhkan masukan yang jujur, tanyalah teman. Tentunya, saat itu belum ada &lt;a href=&quot;http://www.friendster.com&quot;&gt;Friendster&lt;/a&gt;--media yang membuktikan sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, setidaknya sebagian kata-kata itu masih berlaku. Setidaknya itu yang saya tangkap dari obrolan Snydez mengenai &lt;a href=&quot;http://7db.blogspot.com/2007/08/sudah-terbit-tujuh-dosa-besar.html&quot;&gt;Tujuh Dosa Besar (Penggunaan) PowerPoint&lt;/a&gt;. Kesan pertama dia adalah: bingung--&quot;Apakah ini benar buku humor?&quot; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meminjam kata &lt;a href=&quot;http://richoz.multiply.com&quot;&gt;Richoz&lt;/a&gt;: baiklah. Di sampul belakang buku, memang tertulis &quot;Teknik Presentasi&quot;. Namun, untuk cetakan berikut akan saya usulkan pada &lt;a href=&quot;http://www.gramedia.com&quot;&gt;GPU&lt;/a&gt; agar menambahkan, &quot;Bukan Buku Humor--Serius!&quot;&lt;sup&gt;&lt;b&gt;[1]&lt;/b&gt;&lt;/sup&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut sebagian masukannya lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;setelah membaca mengenai bab penggunaan bullet, gue agak kurang setuju. lha emang itu khan gunanya powerpoint, supaya jadi ringkes. kalo emang mau mempunyai jalan cerita, apa engga lebih baik pake microsoft word?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu membaca bab mengenai tata letak ruangan dan layar. halah! ini paling susah, karena yang namanya ruang meeting, kemungkinan besar layout nya udah baku bentuk dan posisinya. yang bisa berubah adalah penontonnya, boleh dikiri boleh di kanan, boleh dibelakang, tapi layar dan proyektor kemungkinan udah baku.&lt;br /&gt;jadi bab tersebut hanya untuk proyektor dan layar tenteng yang bisa dipindah bawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yah, paling itu yang aga nge ganjel *wink*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengenai cara menuliskannya, isman ternyata masih menggunakan humor. jadi biarpun inti tulisannya serius tapi cara menuliskannya bisa dibilang agak semi-formil. sehingga gak terlalu bosen...&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;br /&gt;Selengkapnya &lt;a href=&quot;http://jurnal.snydez.com/id/1279/7+dosa+besar+28penggunaan29+powerpoint&quot;&gt;di sini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih, Snydez!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;_____________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;[1]&lt;/b&gt;: Usul yang--saya yakin--akan segera ditolak.</description><link>http://7db.blogspot.com/2007/11/salam-sayang-dari-teman-maya.html</link><author>noreply@blogger.com (Isman H. Suryaman)</author><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8290839845885434705.post-8891272268032039247</guid><pubDate>Fri, 16 Nov 2007 02:38:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-11-16T00:18:49.005-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">contoh dosa besar</category><title>Fatal: Ketidakacuhan Semantik dalam Presentasi</title><description>&lt;span class=&quot;insertedphoto&quot;&gt;&lt;center&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;insertedphoto&quot;&gt;&lt;/span&gt;Dalam perjalanan ke kantor, saya bertemu mobil kijang yang dicat khusus. Di bagian sampingnya tertulis, &quot;Kampanye Ketertiban Pelaksanaan Aturan Lalu Lintas&quot;. Sedangkan di bagian belakang, tertempel stiker miring yang sepertinya ingin menyampaikan dua kalimat: &quot;Stop pelanggaran! Disiplin itu indah.&quot; &lt;br&gt;&lt;br&gt;Sayangnya, peletakan tanda bacanya meleset. Jadinya kira-kira seperti ini. &lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;&lt;img class=&quot;alignmiddle&quot; src=&quot;http://images.thefool.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/Rz1JKQoKCrMAAGHDZYM1/stop.JPG?et=V6PMejAdXbmtGo654twMmw&quot; border=&quot;0&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;font size=&quot;2&quot;&gt;Banyak sekali penganut slogan ini yang meramaikan lalu lintas Jakarta dan Bandung. &lt;/font&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;br&gt;Moral cerita ini berlaku juga untuk presentasi. Jika kita ingin menayangkan sesuatu pada layar besar: periksa dulu tulisan maupun gambarnya. Kesalahan tulis maupun ambiguitas makna bisa berakibat fatal.&lt;br&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;Sekaligus: jika Anda tidak tahu fungsi yang namanya SpellCheck (dalam MS PowerPoint bisa diakses dengan menekan tombol F7), jangan gunakan istilah Inggris. Bahkan itu pun tidak cukup. Karena ada saja tulisan yang sintaksnya sudah benar. Namun menggelikan secara semantik. Cukup sekali dalam seumur hidup sajalah saya menghadiri presentasi jasa &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;e-commerce&lt;/span&gt; yang menyajikan &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;slide&lt;/span&gt; penutup bertuliskan kalimat berikut.  &lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;span class=&quot;insertedphoto&quot;&gt;&lt;span class=&quot;insertedphoto&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href=&quot;http://thefool.multiply.com/photos/hi-res/upload/Rz1OWQoKCrMAAFZmg2k1&quot;&gt;&lt;center&gt;&lt;img class=&quot;alignmiddle&quot; src=&quot;http://images.thefool.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/Rz1OWQoKCrMAAFZmg2k1/onsale.JPG?et=LKCGI0s0wzA7DeK6UTiuKQ&quot; border=&quot;0&quot;&gt;&lt;/center&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;font size=&quot;2&quot;&gt;Berarti, dengan menulis blog, saya baru saja menawarkan diri dengan diskon sampai 50%. Yay!&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/center&gt;&lt;/span&gt;&lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class=&#39;multiply:no_crosspost&#39;&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain bisa Anda lihat di &lt;a href=&quot;http://thefool.multiply.com/photos&quot;&gt;Galeri Ketidakacuhan Semantik Nasional&lt;/a&gt;.</description><link>http://7db.blogspot.com/2007/11/fatal-ketidakacuhan-semantik-dalam.html</link><author>noreply@blogger.com (Isman H. Suryaman)</author><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8290839845885434705.post-2302932867617443144</guid><pubDate>Tue, 06 Nov 2007 04:40:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-11-06T02:08:10.965-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">tanya jawab</category><title>Tanya Jawab: Dosa Besar (Penggunaan) PowerPoint #6?</title><description>&lt;span class=&quot;insertedphoto&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Tanya (via Forum):&lt;/span&gt; Mengapa mengukur lamanya presentasi berdasarkan jumlah &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;slide&lt;/span&gt; adalah Dosa Besar? Biasanya, setiap &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;slide&lt;/span&gt; yang saya buat akan saya tambahkan juga sebuah narasi yang harus dibaca jadi saya bisa menghitung lamanya waktu presentasi tersebut.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Jawab:&lt;/span&gt; Seperti saya ungkapkan dalam buku &lt;a href=&quot;http://7db.blogspot.com/2007/08/sudah-terbit-tujuh-dosa-besar.html&quot;&gt;Tujuh Dosa Besar (Penggunaan) PowerPoint&lt;/a&gt;, &quot;Dosa Besar&quot; adalah istilah yang saya gunakan untuk mengacu kesalahkaprahan dalam praktik presentasi. Bisa jadi yang Mas lakukan memang bukan Dosa Besar #6. Karena ada garis halus antara &quot;mengetahui secara naluriah berapa lama waktu membawakan keseluruhan presentasi&quot; dan &quot;menyamaratakan waktu pembacaan seluruh &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;slide&lt;/span&gt;&quot;. Yang salah kaprah adalah yang kedua, bukan yang pertama.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Gambarannya begini: Guy Kawasaki menggunakan praktik &lt;a href=&quot;http://blog.guykawasaki.com/2005/12/the_102030_rule.html&quot;&gt;10/20&lt;/a&gt;: 10 &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;slide&lt;/span&gt; yang disajikan tidak lebih dari 20 menit. Tapi, ia tidak menyajikan masing-masing slide secara saklek harus 2 menit. Bagian yang singkat ia bicarakan pendek saja. Yang perlu detail akan ia bahas lebih panjang. Ini adalah praktik umum. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Namun, jika kita menyamaratakan bahwa, &quot;Ah, tiap &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;slide&lt;/span&gt; paling kubacakan lima menit saja.&quot; Jadi untuk presentasi 2 jam, kita selalu membawakan 120/5 = 24 &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;slide&lt;/span&gt;. Setengah jam selalu 30/5 = 6 &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;slide&lt;/span&gt;. Dan seterusnya. Ini yang salah kaprah. Karena kita jadi terpaksa memanjang-manjangkan pembahasan poin/pesan yang sudah dipahami oleh hadirin. Atau sebaliknya, memburu-buru waktu dengan mempercepat pembahasan satu &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;slide&lt;/span&gt; yang terlalu berjubel informasi, jadinya hadirin nggak sempat menangkap inti pesan kita.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Bayangkan saja misalnya saya sedang berbicara mengenai teknik penulisan. Lantas sampai pada &lt;i&gt;slide&lt;/i&gt; analogi berikut yang menjelaskan pencarian inspirasi. &lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;span class=&quot;insertedphoto&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://thefool.multiply.com/photos/hi-res/upload/RzA3tgoKCrMAAB79qcE1&quot;&gt;&lt;center&gt;&lt;img class=&quot;alignmiddle&quot; src=&quot;http://images.thefool.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/RzA3tgoKCrMAAB79qcE1/inspirasi.JPG?et=hGx1zePjYOpwAHwXPryh7A&quot; border=&quot;0&quot;&gt;&lt;/center&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;font size=&quot;2&quot;&gt;&quot;Genggamlah inspirasi bagaikan peselancar mencari ombak: raihlah yang ada, jangan hanya menunggu yang besar. Tak jarang, ombak kecil justru berujung menjadi besar dan hebat. Uh... hmm, baru semenit, ya? Ngomong apa lagi--ah, iya, celana pria di gambar itu bagus, ya? Aku pengin beli yang seperti itu, tapi nyarinya susah da--lho, kok pada tidur?&quot; &lt;/font&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;Anda mungkin tertawa, &quot;Masa sih ada yang kayak gitu?&quot; &lt;br&gt;&lt;br&gt;Jangan salah. Banyak yang berlaku seperti itu. Ciri-cirinya mudah: mereka membahas poin-poin &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;slide&lt;/span&gt; seakan membaca kata per kata. Lantas berusaha menjelaskannya lebih lanjut, dengan mengulang kata-kata itu. Atau malah menerangkan sesuatu yang sama sekali tidak berhubungan. Intinya: mereka memanjang-manjangkan berbicara karena berasumsi bahwa kira-kira satu slide harus dibacakan beberapa menit.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Dosa Besar #6 ini memang paling sering terjadi pada orang-orang yang bikin presentasi sembarang, lalu tidak melatih penyampaiannya terlebih dahulu. Lebih parah lagi jika presentasi itu pun bukan mereka sendiri yang buat. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Ubahlah kebiasaan buruk ini, demi kepentingan hadirin kita juga. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Cara paling mudah menghindari salah praktik ini sederhana saja: susun sendiri presentasi kita dan latihlah penyampaiannya. Saat kita mencoba menyajikan presentasi yang sudah kita susun terlebih dahulu, otomatis kita jadi tahu: mana yang perlu kita tekankan, mana yang cukup dibahas selintas. Bahkan kita bisa menyadari beberapa rangkaian logika yang tidak alami. Sering kali saat menyusun, kita salah membayangkan cara penyampaiannya.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Singkatnya:&lt;/span&gt;&lt;br&gt;----------------&lt;br&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Salah kaprah dalam Dosa Besar #6 menyangkut pelaku yang menyamaratakan waktu penyajian &lt;i&gt;slide&lt;/i&gt;. Bukan yang dapat mengukur secara alamiah berapa lama presentasinya. Panduannya: jika kita tahu mana &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;slide&lt;/span&gt; yang harus disajikan secara cepat dan mana yang perlu dibahas lebih lama, itu bukan salah praktik. Tapi kalau cara penyampaian kita sampai didikte oleh asumsi sama rata (contoh: tiap &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;slide&lt;/span&gt; tiga menit, lah) kita sendiri, itulah yang salah kaprah.&lt;/li&gt;&lt;br&gt;&lt;li&gt;Susunlah sendiri materi presentasi kita. Lantas latihlah menyampaikan presentasi tersebut secara utuh. Itu akan membantu kita menghindari Dosa Besar #6.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class=&#39;multiply:no_crosspost&#39;&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://7db.blogspot.com/2007/11/tanya-jawab-dosa-besar-penggunaan.html</link><author>noreply@blogger.com (Isman H. Suryaman)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8290839845885434705.post-3226628824645723203</guid><pubDate>Fri, 02 Nov 2007 03:37:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-11-02T02:06:34.024-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">contoh dosa besar</category><title>Celah Dosa Besar: Slide Transition</title><description>&lt;span class=&quot;insertedphoto&quot;&gt;Berkat &lt;a href=&quot;http://yayajanuary.multiply.com/&quot;&gt;Yaya&lt;/a&gt;, saya kini bisa mengulik MS PowerPoint 2007. Terima kasih! &lt;br&gt;&lt;br&gt;Dibandingkan PowerPoint 2003 (atau sebelumnya), antarmuka baru memang sekilas lebih enak digunakan. Namun, sebenarnya perubahan ini lebih banyak membantu bagi orang yang belum terbiasa mengulik PowerPoint versi sebelumnya.  Bagi yang sudah, sebagian perubahan ini malah menambah kerja. Untuk mengakses Custom Animation, misalnya, kini harus mengklik submenu atas dua kali. Padahal dulu tinggal klik kanan di objek yang ingin kita animasikan. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Tentu saja, sebagian lain memang menghemat energi. Pilihan mengubah-ubah objek maupun latar belakang &lt;i&gt;slide&lt;/i&gt;, misalnya, bisa ditemukan di submenu atas dengan mudah.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Lebih penting lagi&lt;/span&gt;: anggaplah submenu Slide Transition seperti wabah pes. Dan hindari sekarang juga. &lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;insertedphoto&quot;&gt;&lt;br&gt; &lt;a href=&quot;http://thefool.multiply.com/photos/hi-res/upload/RyrT2QoKCrMAAFVyGw81&quot;&gt;&lt;center&gt;&lt;img class=&quot;alignmiddle&quot; src=&quot;http://images.thefool.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/RyrT2QoKCrMAAFVyGw81/hindari.JPG?et=vdh0EPARjv7qn0ioXxnQyg&quot; border=&quot;0&quot;&gt;&lt;/center&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;font size=&quot;2&quot;&gt;&lt;span class=&quot;insertedphoto&quot;&gt;Hampir semua Slide Transition hanyalah efek sok keren yang membuat laju presentasi jadi gagap. &lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;br&gt;&lt;span class=&quot;insertedphoto&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class=&quot;insertedphoto&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;span class=&quot;insertedphoto&quot;&gt;&lt;br&gt;Mengapa begitu? Karena transisi &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;slide&lt;/span&gt; itu hampir selalu tidak berguna. Lebih sering mengganggu, malah. Sebagai hadirin, saya tidak merasa perlu melihat tiap &lt;i&gt;slide&lt;/i&gt; muncul garis demi garis, membentuk pola-pola geometrik yang memusingkan, atau berputar-putar. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Apalagi kalau pembicara jadi terpaksa diam dulu...&lt;br&gt;...beberapa...&lt;br&gt;...saat...&lt;br&gt;...berhubung...&lt;br&gt;...&lt;i&gt;slide&lt;/i&gt;-nya...&lt;br&gt;...masih...&lt;br&gt;...sibuk...&lt;br&gt;...berputar-putar.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Lebih baik gunakan saja Custom Animation untuk objek-objek &lt;i&gt;slide&lt;/i&gt; berikutnya. &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;insertedphoto&quot;&gt;Di gambar atas, misalnya, daripada saya membuat transisi antar-&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;slide&lt;/span&gt; penuh gambar, lebih baik menganimasikan gambarnya untuk muncul dengan Fade atau Faded Zoom berkecepatan Very Fast. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Apa bedanya? &lt;br&gt;&lt;br&gt;Karena praktik ini mensimulasikan kehidupan nyata. Kalau kita ingin menunjukkan sesuatu, kita mengeluarkan barang itu, misalnya, dari saku. Kita tidak meneleportasi para hadirin ke ruangan yang ada barangnya. Praktik kedua ini hanya dilakukan oleh orang yang menyombongkan kekuatan sihir (atau teknologi) dalam konteks yang sama sekali tidak berguna. Sama saja dengan transisi slide. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Jadi, animasikanlah objeknya. Bukan &lt;i&gt;slide&lt;/i&gt;-nya. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Kalau ada banyak objek dalam &lt;i&gt;slide&lt;/i&gt;? &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;insertedphoto&quot;&gt;Atur agar mereka muncul pada urutan yang sesuai dengan cara penyampaian. Jika hadirin perlu melihat gambar dulu baru teks, ya munculkan gambar dulu. Lantas teks dimunculkan setelah itu. Kalau tidak penting urutannya, ya munculkan berbarengan. &lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Dan ingat&lt;/span&gt;: sebisa mungkin atur agar kecepatan animasinya &lt;a href=&quot;http://7db.blogspot.com/2007/09/tanya-jawab-kecepatan-custom-animation.html&quot;&gt;Very Fast&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;  &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class=&#39;multiply:no_crosspost&#39;&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://7db.blogspot.com/2007/11/celah-dosa-besar-slide-transition.html</link><author>noreply@blogger.com (Isman H. Suryaman)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8290839845885434705.post-7884106115235038084</guid><pubDate>Tue, 16 Oct 2007 07:06:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-10-16T00:07:20.839-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">info/pengumuman</category><title>Terima Kasih: Author of the Week</title><description>Terima kasih atas apresiasi teman dan rekan semua dalam satu setengah bulan terakhir. Karena saya yakin berkat dukungan kalian semua jugalah saya jadi menerima tiga kabar baik terakhir:&lt;ol&gt; &lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;a href=&quot;http://7db.blogspot.com/2007/08/sudah-terbit-tujuh-dosa-besar.html&quot;&gt;Tujuh Dosa Besar (Penggunaan) PowerPoint&lt;/a&gt; masuk daftar &lt;b&gt;Bestseller&lt;/b&gt; di &lt;a href=&quot;http://bukabuku.com/browse/bookdetail/27246&quot;&gt;BukaBuku.com&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Profil saya menjadi &lt;b&gt;Author of the Week&lt;/b&gt; di &lt;a href=&quot;http://www.gramedia.com/&quot;&gt;Gramedia.com&lt;/a&gt;&lt;/li&gt; &lt;br /&gt;&lt;li&gt;Satu karya &lt;i&gt;flash fiction&lt;/i&gt; saya berjudul &quot;Do not disturb: Suicide in progress&quot; juga masuk dalam &lt;a href=&quot;http://www.asialiteraryreview.com/&quot;&gt;The Asia Literary Review&lt;/a&gt; jild 5, musim gugur 2007.&lt;/li&gt; &lt;br /&gt;Bagi yang belum tahu &lt;i&gt;flash fiction&lt;/i&gt; atau fiksi kilat itu apa, bentuk penceritaan ini juga dikenal sebagai cerpen pendek atau cermin (cerita mini). Lebih singkat daripada cerita pendek, sehingga dalam dasawarsa terakhir populer sebagai karya online--di mana orang memiliki ambang kenyamanan membaca yang lebih kecil dibandingkan buku fisik. Namun, kekuatan fiksi kilat sendiri dalam mengejutkan pembaca atau menampilkan bayangan visual menjadikan bentuk ini populer juga di dunia nyata. Terutama bagi para pembaca yang sibuk (selagi bertapa di kamar kecil, bisa menghabiskan hingga sepuluh cerita). Atau bagi penulis yang memiliki banyak gagasan untuk diwujudkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Versi Indonesia &quot;Do not disturb: Suicide in progress&quot; sendiri dimuat dalam antologi &lt;a href=&quot;http://bertanyaataumati.blogspot.com/2006/04/terbit-april-2006-ini.html&quot;&gt;Jangan Berkedip&lt;/a&gt;, yang ditulis saya bersama mitra hidup saya, &lt;a href=&quot;http://www.goodreads.com/author/show/621891.Primadonna_Angela&quot;&gt;Primadonna Angela&lt;/a&gt;.&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;Sekalian dalam masa pasca Lebaran, saya mengucapkan terima kasih lahir dan batin! Mari terus berkarya dalam bidang yang kita tekuni. Dan berikhtiar dalam apa yang kita bisa lakukan.</description><link>http://7db.blogspot.com/2007/10/terima-kasih-author-of-week.html</link><author>noreply@blogger.com (Isman H. Suryaman)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8290839845885434705.post-955601786439683726</guid><pubDate>Tue, 02 Oct 2007 07:44:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-11T02:42:00.138-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">inspirasi</category><title>Melihat Karena Percaya</title><description>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEicYuCn0dCSUzw-TioyxyehKVf1b7lcwgJP7mgT7JYfLOwknD3_vViBQxZRx7t41eO2SYO-cIYKuCWI-uCNh-Rdw4AyazXy0lvGW-HN2ew1UFT_P971TXeXgmlq5b5cXcWMVUmy5XSBVWg/s1600-h/dancer.gif&quot;&gt;&lt;img style=&quot;float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEicYuCn0dCSUzw-TioyxyehKVf1b7lcwgJP7mgT7JYfLOwknD3_vViBQxZRx7t41eO2SYO-cIYKuCWI-uCNh-Rdw4AyazXy0lvGW-HN2ew1UFT_P971TXeXgmlq5b5cXcWMVUmy5XSBVWg/s200/dancer.gif&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5116643492031824530&quot; /&gt;&lt;/a&gt;Gambar penari di sebelah ini menyebar luas di Internet dengan subjek: Apakah Anda dominan otak kiri atau kanan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar seutuhnya sendiri dapat dilihat &lt;a href=&quot;http://www.msantaka.com/bin/image001.gif&quot;&gt;di sini&lt;/a&gt;. (Silakan klik untuk melihat animasinya. Dan terima kasih kepada &lt;a href=&quot;http://www.msantaka.com&quot;&gt;Santa&lt;/a&gt; untuk menyediakan tempat.) Konon, jika kita melihat penarinya berputar searah jarum jam, berarti otak kiri kita yang dominan. Dan sebaliknya, otak kanan yang dominan jika berputar berlawanan jarum jam.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa benar begitu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya tidak. Menurut rekan kerja saya, &lt;a href=&quot;http://first-things-first.blogspot.com&quot;&gt;Wahyudi Pratama&lt;/a&gt;, seorang desainer grafis berpengalaman, gambar ini hanya menggunakan trik untuk menipu mata kita. Animasi gif ini sebenarnya terdiri dari dua bagian, bagian dengan sang penari mengangkat kaki kiri. Dan bagian yang mengangkat kaki kanan. Dengan kata lain, ini sebenarnya gambar yang dibalikkan dengan efek cermin (mirror). Lantas dianimasikan dengan gaya pendulum. Sehingga terasa seakan-akan berputar penuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ini kuncinya&lt;/b&gt;: saat otak kita sudah memutuskan bahwa sang penari berputar berlawanan arah jarum jam seterusnya kita akan melihatnya begitu. Sebaliknya juga berlaku. Ini bukanlah masalah bagian otak yang dominan. Ini lebih ke arah ilusi mata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana cara melihat putaran sebaliknya? Cobalah lihat ke atas layar komputer. Tapi pertahankan gambar tetap terlihat di ujung bawah mata kita. Lantas, paksa otak kita untuk melihat agar gambar tersebut berputar ke arah sebaliknya. Saat berhasil, pelan-pelan turunkan pandangan kita hingga menatap langsung ke gambar. Begitu saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas, ini bukan berarti bahwa dominasi otak kita berubah hanya dengan mengangkat pandangan. Ini hanya menunjukkan bahwa ilusi ini bisa kita lawan dengan trik penangkalnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Satu kunci lagi&lt;/b&gt;: jika kita menyangkal bahwa animasi ini bisa kita lihat berputar ke dua arah berbeda, kita tidak akan bisa melihatnya. Dalam kasus ini, kita tidak percaya dengan melihat. &lt;i&gt;Seeing is not believing&lt;/i&gt;. Justru malah kita melihat karena percaya. &lt;i&gt;Believing is seeing&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perbedaan pendapat, sering kali inilah yang terjadi. Kita dari awal sudah menyangkal kata-kata orang lain. Karena itu, kita otomatis menolak untuk mendengarkan. Kita tidak akan melihat bahwa ada sudut pandang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, kita bisa melihat gambaran secara utuh saat kita mengerti minimal kedua sisi yang bertolak belakang. Seperti pada contoh penari ini. Kita bisa tahu ini adalah ilusi mata, hanya setelah kita bisa menerima bahwa putarannya bisa searah jarum jam, atau berlawanan arah. Tergantung cara kita memandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ada pendapat yang sama sekali bertentangan dengan kita, cobalah telusuri dahulu. Jangan serta-merta menolaknya. Jangan-jangan ada gambaran utuh yang kita lewatkan, hanya karena kita menolak untuk melihatnya.</description><link>http://7db.blogspot.com/2007/10/melihat-karena-percaya.html</link><author>noreply@blogger.com (Isman H. Suryaman)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEicYuCn0dCSUzw-TioyxyehKVf1b7lcwgJP7mgT7JYfLOwknD3_vViBQxZRx7t41eO2SYO-cIYKuCWI-uCNh-Rdw4AyazXy0lvGW-HN2ew1UFT_P971TXeXgmlq5b5cXcWMVUmy5XSBVWg/s72-c/dancer.gif" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8290839845885434705.post-3101020540070700858</guid><pubDate>Sun, 30 Sep 2007 03:48:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-09-29T20:54:23.666-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">kiat-kiat</category><title>Berbicara Efektif: Hilangkan Tiga Kata Saja</title><description>Danny I. Yatim, Media &amp; Communication Adviser dari GRM International, mengadakan lokakarya berpresentasi efektif. Salah satu materinya adalah kesalahpengggunaan tiga kata yang perlu kita hilangkan dari kebiasaan berbicara kita. Penggunaan tiga kata ini berakar pada budaya rendah hati yang pada dasarnya baik. Sayangnya, berdampak buruk pada kekuatan pesan kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa saja tiga kata itu?&lt;ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Kebetulan&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;- &quot;Kebetulan, saya ditunjuk sebagai ketua panitia.&quot; &lt;br /&gt;- &quot;Kebetulan, Pak Danny berada di sini untuk menyampaikan bagaimana cara presentasi yang baik.&quot; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Danny biasanya langsung memberikan faktor kejutan dengan menyampaikan, &quot;Bapak-bapak mungkin kebetulan berada di sini. Tapi saya tidak. Saya tidak kebetulan ada di sini. Saya memang &lt;i&gt;sengaja&lt;/i&gt; ke sini untuk kepentingan Bapak-bapak semua.&quot; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau memang bukan kebetulan, jangan gunakan kata ini. Tunjukkan niat dan keinginan kita sejelas-jelasnya. &quot;Saya dipilih sebagai ketua panitia berdasarkan kesepakatan kita bersama. Karena itu, saya mengharapkan kerja sama Anda semua.&quot; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Mungkin&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;- &quot;Alternatifnya mungkin ada dua...&quot; &lt;br /&gt;- &quot;Solusinya mungkin bisa kita temukan dengan cara...&quot; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hilangkan kata &quot;mungkin&quot; dalam konteks di atas. Yang pasti-pasti saja. Kalau memang penting bagi hadirin untuk mengetahui probabilitas, sampaikan dengan jelas. &quot;Ini adalah solusinya. Berdasarkan pengalaman kita dari tahun 1995, kemungkinan berhasilnya 75%.&quot; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;(Akan) Mencoba&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;- &quot;Saya akan mencoba menyanyikan sebuah lagu.&quot; &lt;br /&gt;- &quot;Saya coba jelaskan dengan diagram berikut...&quot; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang disampaikan Yoda dalam Star Wars, &quot;Lakukan [saja]. Jangan mencoba.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hilangkan semua percobaan dan jadikanlah pesan yang kuat: &lt;br /&gt;+ &quot;Saya akan menyanyikan sebuah lagu.&quot; &lt;br /&gt;+ &quot;Lihat diagram berikut.&quot; &lt;br /&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;Apakah tiga kesalahpenggunaan kata ini sudah Anda hilangkan dari gaya bicara Anda?</description><link>http://7db.blogspot.com/2007/09/berbicara-efektif-hilangkan-tiga-kata.html</link><author>noreply@blogger.com (Isman H. Suryaman)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8290839845885434705.post-4306854647311245218</guid><pubDate>Fri, 21 Sep 2007 18:08:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-11T02:42:00.800-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">tanya jawab</category><title>Tanya Jawab: Kecepatan Custom Animation = Very Fast?</title><description>&lt;b&gt;Tanya:&lt;/b&gt; (via email) &lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Halo mas Isman, kenalkan nama saya Ali. Selain salah satu mahasiswa itb, saya baru saja membeli buku &quot;7 dosa besar penggunaan powerpoint&quot;. Setelah membaca buku anda, ada satu kalimat yang membuat saya ingin bertanya. Pada hal 81 baris ke 2 &quot;...jangan gunakan speed dibawah very fast...&quot; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ini tidak akan membuat kita terlihat seperti sedang &quot;kejar tayang?&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon dibahas lebih lanjut. Terima kasih.&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jawab:&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;Saya senang Anda memutuskan untuk bertanya. Hal itu juga sudah pernah ditanyakan beberapa kali oleh peserta lokakarya saya dulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya tidak. Pilihan Very Fast akan membuat animasi bergerak cepat. Tapi tentunya tidak membuat kecepatan berbicara kita makin tinggi. Kecepatan Very Fast akan membuat hampir tidak ada jeda antara saat kita selesai berbicara satu pesan (dengan kecepatan normal), dan pesan berikut (saat kita mengklik mouse/menekan Pg Dn). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ilustrasikan biar jelas. Misalnya kita ingin menggerakkan anak panah yang menunjuk tiga benda. Kita mengakali ini dengan memunculkan anak panah, menggesernya ke benda pertama dan berhenti. Lantas, On Click, anak panah itu akan hilang. Anak panah baru akan muncul dari tempat anak panah yang lama, dan bergerak ke benda kedua. Hal serupa kita lakukan untuk benda ketiga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjVHTgy6Nu5VSWqzCXp0sTef09UuZdee8JL2kG7mNFcmS-MVcgJ31MoHIPvL6RgxMpiIP4WsQh39mDItI_gVsCrwYtFls2BIWQFtdjwz0wrWuUvMQ35BQ-4_BBGyvprIceGXNpF89ZCt4U/s1600-h/tunjuktas.JPG&quot;&gt;&lt;img style=&quot;display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjVHTgy6Nu5VSWqzCXp0sTef09UuZdee8JL2kG7mNFcmS-MVcgJ31MoHIPvL6RgxMpiIP4WsQh39mDItI_gVsCrwYtFls2BIWQFtdjwz0wrWuUvMQ35BQ-4_BBGyvprIceGXNpF89ZCt4U/s320/tunjuktas.JPG&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5112725365166375410&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saat &lt;i&gt;slide&lt;/i&gt; berjalan, anak panah menunjuk benda satu. Kita berbicara mengenai benda tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhSJ32pv4BslPu3skkfw-Rhmn5wfazlZFdIGJsmC6QWkW5_TbR4R8yDZfh85hml1qIhQTKHgtLO-g16lzdJGEV35xUsdKH4mDeeDmH3W0sYR-RVXi2TbmJlW65mjJvKcvt4h0Ayr-tatp8/s1600-h/tunjuktas2.JPG&quot;&gt;&lt;img style=&quot;display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhSJ32pv4BslPu3skkfw-Rhmn5wfazlZFdIGJsmC6QWkW5_TbR4R8yDZfh85hml1qIhQTKHgtLO-g16lzdJGEV35xUsdKH4mDeeDmH3W0sYR-RVXi2TbmJlW65mjJvKcvt4h0Ayr-tatp8/s320/tunjuktas2.JPG&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5112725369461342722&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Lantas, sambil mengklik &lt;i&gt;mouse/remote clicker&lt;/i&gt;, kita berbicara tentang benda kedua. Nah, jika kecepatan animasinya di bawah Very Fast, akan makan waktu minimal satu detik untuk mencapai benda berikut. Waktu ini menjadi jeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilustrasi lain: kita ingin menampilkan tiga &lt;i&gt;slide&lt;/i&gt; gambar berturutan (yang dianimasikan dengan Fade In). Jika kita menggunakan kecepatan di bawah Very Fast, akan memakan waktu kira-kira dua detik sebelum gambarnya muncul. Ini juga jadi jeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa jeda sedetik dua detik ini masalah? Karena saya sudah terlalu banyak melihat pembicara yang diam dulu, menunggu gerakan selesai (atau gambar muncul), sebelum melanjutkan. Ini adalah jeda yang sia-sia. Dan membuat komunikasi kita jadi kaku, tidak mengalir lancar. Ingatlah bahwa tayangan &lt;i&gt;slide&lt;/i&gt; itu mendukung pembicaraan kita. Bukan kita berbicara mengikuti &lt;i&gt;slide&lt;/i&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj9eFygDJXCK2KW3qLHkA094CAScja2HD8JjoeBT_xCRlsV6_ukAdqDfAt9ahCIRpbU3QXQCuvsQKf96jarU_yMBX_SC6_Y8dkiI42OPt-P5dorMVq_yOIzJRieXrPbU-ATLZ53IlbsiwQ/s1600-h/veryslow.JPG&quot;&gt;&lt;img style=&quot;display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj9eFygDJXCK2KW3qLHkA094CAScja2HD8JjoeBT_xCRlsV6_ukAdqDfAt9ahCIRpbU3QXQCuvsQKf96jarU_yMBX_SC6_Y8dkiI42OPt-P5dorMVq_yOIzJRieXrPbU-ATLZ53IlbsiwQ/s320/veryslow.JPG&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5112732804049732114&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saya juga menulis dalam buku &lt;a href=&quot;http://7db.blogspot.com/2007/08/sudah-terbit-tujuh-dosa-besar.html&quot;&gt;Tujuh Dosa Besar (Penggunaan) PowerPoint&lt;/a&gt;, bahwa variasikanlah jeda saat kita ingin menekankan suatu pesan. Jika kita ingin memastikan hadirin menangkap apa yang kita omongkan sebelum bergerak ke omongan selanjutnya: gunakanlah jeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, jeda di atas itu tipe yang sia-sia. Karena kita tidak sengaja membuatnya. Itu adalah jeda akibat gambar/gerakan yang lambat. Jika ini berlangsung terus-menerus, hadirin bisa kesal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Singkatnya:&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;-------------&lt;ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Secara umum, anjuran kecepatan Very Fast bertujuan meminimasi waktu kemunculan/animasi gambar.&lt;/li&gt; &lt;br /&gt;&lt;li&gt;Kata kuncinya &quot;umum&quot;. Karena ini bukan aturan mati. Saya sudah mencontohkan dalam perbandingan Proses Perizinan (hal. 36-39), bahwa kita bisa mengatur dalam kecepatan animasi yang lebih rendah, seperti Fast, Medium, atau bahkan Slow untuk tujuan tertentu (kecuali untuk membuat hadirin sakit kepala).&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Jika kita menganimasi serangkaian panjang animasi, kendalikanlah pacunya dengan mengeset On Click pada beberapa poin penghentian penting. Ini akan membantu kita untuk menyesuaikan pembahasan. Bisa saja kita ingin menambah informasi di poin tertentu.&lt;/li&gt; &lt;br /&gt;&lt;li&gt;Yang paling penting: ingatlah bahwa kendali kecepatan presentasi itu ada pada kita. Bukan pada animasi.&lt;/li&gt; &lt;br /&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;Semoga menjelaskan. Silakan jika ada pertanyaan lagi atau masukan. Saya juga akan menghargai jika Anda ingin berbagi pengalaman berpresentasi.</description><link>http://7db.blogspot.com/2007/09/tanya-jawab-kecepatan-custom-animation.html</link><author>noreply@blogger.com (Isman H. Suryaman)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjVHTgy6Nu5VSWqzCXp0sTef09UuZdee8JL2kG7mNFcmS-MVcgJ31MoHIPvL6RgxMpiIP4WsQh39mDItI_gVsCrwYtFls2BIWQFtdjwz0wrWuUvMQ35BQ-4_BBGyvprIceGXNpF89ZCt4U/s72-c/tunjuktas.JPG" height="72" width="72"/><thr:total>6</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8290839845885434705.post-4303223791102600867</guid><pubDate>Fri, 21 Sep 2007 09:13:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-09-21T09:20:04.402-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">inspirasi</category><title>Kunci Menghilangkan Rasa Gugup Saat Berbicara</title><description>Rabu kemarin, saya diundang untuk berbicara di depan para penulis Kompas di Grha Kompas Gramedia Bandung, mengenai penyusunan dan penerbitan naskah buku. Jadwal acaranya sendiri? Kamis besoknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Waduh,&quot; adalah pikiran pertama saya yang muncul. Saya harus berbicara berkaitan penulisan di depan para penulis profesional. Dan hanya punya waktu sehari untuk mempersiapkannya. Satu tantangan lagi: saya juga sedang dalam proses pemulihan diri akibat reaksi alergi. Mata saya bengkak sebelah. Dan kulit muka saya begitu kering, sehingga pinggiran bibir, hidung, dan mata sedikit terbelah. Kalau senyum saja sakit. Bagaimana kalau berbicara? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Maaf mendadak, Mas,&quot; ujar Mas Rinto, Manajer Pemasaran Gramedia Pustaka Utama (GPU) Bandung. &quot;Bisa nggak, dengan jadwal begitu?&quot; tanyanya lagi via telepon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Bisa, Mas!&quot; sambut saya sigap, sebelum keraguan kembali muncul. Dan dengan begitu, saya sudah &lt;a href=&quot;http://7db.blogspot.com/2007/09/necessity-is-mother-of-action.html&quot;&gt;menyudutkan diri sendiri&lt;/a&gt;. Saya pun meneguhkan diri untuk melakukan persiapan hidup-mati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari korespondensi SMS, saya menanyakan berbagai informasi berkaitan calon hadirin dan kesediaan alat. Ternyata saya akan membawakan materi tersebut bersama &lt;a href=&quot;http://berajasenja.multiply.com/&quot;&gt;Anjar&lt;/a&gt; (novelis). Sementara Kang Dedi Muhtadi (Kepala Biro Kompas Jawa Barat) berbagi mengenai penerbitan artikel di Kompas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kembali ragu. Berbicara mengenai kepenulisan di hadapan para penulis profesional? Apa bukan seperti--meminjam istilah Kang Dedi--mengajari bebek berenang? Gugup kembali menyerang. Bibir dan kelopak mata saya mendadak terasa perih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, saya teringat bagaimana &lt;a href=&quot;http://www.diresta.com/&quot;&gt;Diane DiResta&lt;/a&gt; menulis di buku &lt;i&gt;Knockout Presentations&lt;/i&gt; bahwa ia pernah mengalami keraguan serupa. Saat itu, ia harus berbicara mengenai teknik presentasi di hadapan para pembicara profesional, yang tergabung dalam &lt;a href=&quot;http://www.nsaspeaker.org/&quot;&gt;National Speaker Association&lt;/a&gt;. Saking gugupnya, ia sering memeriksa kembali busananya, takut salah mengancingkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kegugupannya mendadak hilang saat ia menyadari satu hal: ia terjebak dalam pola pikir yang salah. Ia terlalu sibuk memikirkan bagaimana membuat hadirinnya terkagum-kagum. Teknik apa yang harus ia lakukan. Kata-kata apa yang harus diucapkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justru karena itulah ia melupakan bahwa ia hadir untuk berbagi sesuatu: karakter dan pengalaman pribadinya yang unik. Semua orang yang hadir adalah pembicara sukses dan berpengalaman. Namun masing-masing memiliki karakteristik unik. Dan sebagaimana dirinya, mereka adalah orang-orang yang selalu berkeinginan belajar. Mereka ingin mendapatkan sesuatu dari sesi ini. Dan itu hanya bisa mereka dapatkan kalau Diane bertujuan untuk berbagi. Bukan untuk membuat kagum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah itu juga yang menyadarkan saya. Presentasi bukanlah tentang &quot;saya&quot;. Tapi tentang &quot;Anda&quot;. Terlalu banyak memikirkan &quot;saya&quot; akan membuat diri terjebak oleh rasa gugup. Tapi sebaliknya, begitu kita memikirkan bagaimana membuat &quot;Anda&quot; (atau hadirin) mengerti, yang muncul justru semangat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berhenti mengkhawatirkan kendala fisik saya. Dan memilih fokus ke apa kira-kira yang ingin diketahui para hadirin. Saya memutuskan untuk menunjukkan beberapa hal kepenulisan dengan cara yang segar. Daripada berlama-lama membahas teknik penulisan, saya menyajikan berbagai contoh penulis yang menerbitkan buku dari latar belakang seperti para hadirin. Berlanjut ke pengalaman dan interaksi dengan penerbit. Hingga kunci-kunci rahasia seperti uji premis naskah, surat pengantar yang menarik, atau kiat memilih rekan penerbit yang cocok. Berhubung acaranya menjelang buka puasa, saya pun memvariasikan tayangan bantu: kutipan, gambar, humor, dan klip video. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, sesi itu berjalan lancar. Sakitnya tidak terasa. Tayangan slide diiringi tawa dan sambutan hangat. Saat saya menayangkan slide yang memuat kutipan Burton Rascoe, &quot;Istri seorang penulis tidak akan pernah mengerti bahwa ketika [sang suami] sedang bengong, ia sebenarnya sedang bekerja,&quot; dua orang laki-laki peserta langsung memfotonya dengan bersemangat. Jangan-jangan mau ditunjukkan ke istri di rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesi tanya jawab pun sangat marak. Terutama karena pembicara lain juga berbagi macam-macam tips. Dan untunglah saya sudah menyiapkan dokumen teks penuh untuk dibagikan setelah acara. Karena para hadirin sampai mengantre untuk menyalin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;http://sobirin-xyz.blogspot.com/&quot;&gt;Pak Sobirin&lt;/a&gt;, seorang penulis artikel berkaitan lingkungan hidup, pun berkomentar, &quot;Tadi presentasinya pake Flash, Mas?&quot; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Bukan, kok,&quot; geleng saya. &quot;Itu PowerPoint.&quot; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Kok bisa bersih, ya?&quot; tanyanya lagi, heran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya balik bertanya karena tidak mengerti apa yang dimaksud dengan bersih. Ternyata yang dimaksud Beliau adalah bebas dari bullet point. Minim teks. Animasi transisi antar objek halus. Dan penggunaan gambar maupun warna yang serasi. Intinya: hampir tidak terlihat bahwa yang saya gunakan sebenarnya adalah gabungan slide dan video yang ditayangkan secara berurutan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Alhamdulillah,&quot; ujar saya. &quot;Memang itu tujuan saya.&quot; Karena berkat teringat kisah Diane, saya jadi kembali meluruskan niat. Presentasi adalah komunikasi ide. Dan penyampaian yang mengalir lancar akan mempermudah hadirin untuk menangkap pesan kita.</description><link>http://7db.blogspot.com/2007/09/kunci-menghilangkan-rasa-gugup-saat.html</link><author>noreply@blogger.com (Isman H. Suryaman)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8290839845885434705.post-622249983197109086</guid><pubDate>Tue, 04 Sep 2007 09:33:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-09-10T02:34:19.848-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">inspirasi</category><title>Necessity is the Mother of Action</title><description>Anda pernah ikut program &lt;i&gt;outbound&lt;/i&gt;? Salah satu kegiatan yang biasanya masuk dalam program ini adalah &lt;a href=&quot;http://en.wikipedia.org/wiki/Flying_fox_%28cablecar%29&quot;&gt;flying fox&lt;/a&gt;. Intinya, kita akan menyeberangi jurang atau sungai dengan meluncuri tali dari ujung ke ujung. Tubuh kita diikat pada sebuah katrol beroda. Dan tangan kita memegang batang gantungan untuk menyeimbangkan tubuh saat meluncur. Titik pendaratan biasanya lebih rendah dari titik pemberangkatan. Jadi asalkan kita berani meloncat maju, gravitasi akan membantu kita sampai dalam beberapa detik saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetap saja, ini adalah pengalaman yang menegangkan bagi banyak orang. Ada saja yang akhirnya menolak atau batal meluncur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa takut itu wajar. Siapa yang bisa menjamin bahwa semua ini benar-benar aman? Bukankah risiko terjadi sesuatu di luar dugaan itu akan selalu ada? Dan juga, kenapa kita harus melakukan ini? Bukankah selama ini baik-baik saja? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, mari kita beralih ribuan kilometer, ke Lembah Besar Nujiang. Di sini, anak-anak dari usia tujuh tahun &lt;a href=&quot;http://spluch.blogspot.com/2007/07/nujiangs-kids-fly-over-river.html&quot;&gt;berangkat ke sekolah dengan menggunakan &quot;flying fox&quot;&lt;/a&gt;. Sebuah sungai lebar dan deras menghalangi jalan mereka. Dan satu-satunya cara adalah mengikat diri pada kerekan lantas meniti tali ke seberang. Gravitasi hanya menolong mereka hingga tengah sungai. Setelah itu, mereka harus menarik tubuh mereka sendiri sampai ujung. Satu-satunya pengaman hanyalah sabuk yang diikatkan di pinggang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bukan contoh satu-satunya. &lt;a href=&quot;http://spluch.blogspot.com/2007/08/kids-riding-zip-line-to-school.html&quot;&gt;Anak-anak di salah satu desa terpencil Kolombia&lt;/a&gt; juga melakukan hal serupa. Dan mereka melakukannya pada ketinggian 365 meter. Seorang perempuan bernama Daisy bahkan meniti tali sambil menggendong keranjang berisi anaknya yang berusia tujuh tahun. Sekitar enam puluh orang menggunakan metoda transportasi ini tiap hari. Dan untungnya, tidak pernah terjadi kecelakaan berat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang membedakan kita dengan mereka? Tuntutan dan kebutuhan. Ketika ada berbagai jalur lain yang tampak lebih aman, kita cenderung memilih itu. Ini karakteristik dasar manusia. Mereka berani dan membiasakan diri meniti jurang atau sungai karena memang tak ada alternatif lain. Saya yakin bahwa pada dasarnya tiap manusia pun memiliki potensi semangat juang dan adaptasi yang sama. Kalau kita terlahir di situ, kita pun akan seperti mereka. Memacu diri untuk maju, walau harus mempertaruhkan nyawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, pada situasi tertentu, cobalah sudutkan diri kita sendiri. Misalnya, dalam berbicara. Kita tahu bahwa kemampuan berbicara di depan umum itu baik. Dan semakin banyak praktik semakin baik. Namun, kita enggan memulai. Muncullah alasan, &quot;Kan ada yang lebih jago.&quot; Atau, &quot;Kesempatannya juga nggak ada tuh. Kalau ada yang tiba-tiba nelepon minta sih boleh-boleh aja.&quot; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu materi panggung Jerry Seinfeld yang paling terkenal adalah saat ia membahas survei nasional tentang apa yang paling ditakuti warga negara Amerika. Peringkat nomor dua adalah kematian. Dan yang pertama adalah bicara di depan umum. &quot;Kalau begitu,&quot; simpulnya, &quot;saat menghadiri pemakaman, kita lebih suka berada di dalam peti mati daripada membawakan &lt;i&gt;eulogy&lt;/i&gt; (pidato tribut bagi yang meninggal).&quot; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat seperti ini, berhentilah membuat alasan. Sudutkanlah diri kita sendiri. Katakan pada rekan kerja bahwa presentasi berikut kita yang akan membawakannya. Saat ada tawaran berbicara di depan umum, langsunglah bilang, &quot;Ya!&quot; sebelum otak kita menciptakan alasan. Jangan tunggu telepon. Kitalah yang menelepon duluan menawarkan suatu materi. Saat diterima, segera akhiri pembicaraan sebelum kita mulai ragu dan bertanya, &quot;Lho, kok mau sih? Yakin nih?&quot; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dengan begitu, kita pun tersudutkan. Tanggal sudah ada. Topik sudah ditentukan. Hadirin akan datang dan menunggu kedatangan Anda. Jurang itu sudah di depan mata. Dan kita perlu menyeberanginya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susunlah materi kita seakan-akan nyawa kita taruhannya. Siapkan tali, pengaman, dan cek ulang semua. Pada hari-H, tariklah napas panjang. Pandangi langsung jurang tersebut. Dan meluncurlah.</description><link>http://7db.blogspot.com/2007/09/necessity-is-mother-of-action.html</link><author>noreply@blogger.com (Isman H. Suryaman)</author><thr:total>0</thr:total></item></channel></rss>