<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6960063012783797264</id><updated>2024-11-08T07:38:15.963-08:00</updated><category term="PENDIDIKAN &amp; TEKNOLOGI"/><category term="TEOLOGI"/><category term="FILSAFAT"/><category term="Slider"/><category term="BAHASA &amp; SASTRA"/><category term="ALBUM FOTO"/><category term="BUKU &amp; JURNAL"/><category term="HUKUM &amp; KEADILAN"/><category term="SOSIAL &amp; POLITIK"/><category term="VIDEO"/><title type='text'>ABDY BUSTHAN</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='https://abdibusthan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/6960063012783797264/posts/default'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://abdibusthan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/6960063012783797264/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25'/><author><name>Abdy Busthan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08376451895356760186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF1rfIXR-ATHODKdcg-diRoerLe5u_-kqaZXZbYHHAxo9A40slxkXyVqMZpjPS5cvf9c2GnmG-NflzAt3KbNfp6oiLvTVWbD_Yy14AmzsT-aPFNoCGr4-ezhvrNlU5Lg/s220/r56722.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>79</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6960063012783797264.post-6777157137850141133</id><published>2019-10-18T18:39:00.001-07:00</published><updated>2019-10-18T18:39:03.492-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="PENDIDIKAN &amp; TEKNOLOGI"/><title type='text'>Revisi Taksonomi Bloom </title><content type='html'>&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg-18eTJsyLMvgS__xxXRCwz5_pjWBBet7me5A8_mq7y8tGBzlz1XZJw8GqY2G3wUqciffA23NuXNgLTexqZC2gfP-spZtkwrm0BSc3zkbO3YuRs_c-Wgw4hQsorkFf6zm_zDG-xpRvKu0/s640/27752304_1849171575155672_221076805764690953_n.jpg&quot; /&gt;&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang akhir tahun 1990-an, sebuah kelompok psikolog kognitif yang dipelopori oleh bekas murid Bloom, yakni Lorin Anderson dan Sosniak (1994), muncul dan memperbaharui taksonomi Bloom dengan tujuan agar lebih sesuai dengan tuntutan akan kebutuhan belajar pada abad ke-21. Kelompok ini menerbitkan sebuah versi terbaru dari taksonomi Bloom yang mempertimbangkan jangkauan yang lebih luas dari berbagai faktor yang berdampak pada kegiatan belajar dan mengajar. Taksonomi yang diperbaharui ini berusaha memperbaiki beberapa kekeliruan yang ada pada taksonomi yang asli.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Tidak seperti versi 1956, taksonomi yang baru membedakan antara “tahu tentang sesuatu” (&lt;i&gt;knowing what&lt;/i&gt;), isi dari pemikirannya itu sendiri, dan “tahu tentang bagaimana melakukannya” (&lt;i&gt;knowing how&lt;/i&gt;), sebagaimana prosedur yang digunakan dalam menyelesaikan masalah.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Hasil perbaikannya dipublikasikan pada tahun 2001 dengan nama Revisi Taksonomi Bloom dalam bentuk sebuah buku yang berjudul:&amp;nbsp;&lt;i&gt;A Taxonomy for Learning, Teaching, and Assesing: A Revision of Bloom’s Taxonomy of Educatioanl Objectives,&lt;/i&gt;&amp;nbsp;yang di susun oleh Lorin W. Anderson dan David R. Krathwohl.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkatan-tingkatan dalam Taksonomi Bloom memang telah digunakan hampir setengah abad sebagai dasar untuk penyusunan tujuan-tujuan pendidikan, penyusunan tes, dan kurikulum di seluruh dunia. Kerangka pikirnya memudahkan guru memahami, menata, dan mengimplementasikan tujuan-tujuan pendidikan. Berdasarkan hal tersebut, taksonomi Bloom menjadi sesuatu yang penting dan mempunyai pengaruh yang luas dalam waktu yang lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam revisi kemudian, terdapat perubahan kata kunci, dimana masing-masing kategori masih diurutkan secara hirarkis dari urutan terendah ke yang lebih tinggi. Pada ranah kognitif kemampuan berpikir analisis dan sintesis, diintegrasikan menjadi analisis saja.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Dari jumlah enam kategori pada konsep terdahulu, tidak berubah jumlahnya karena Lorin memasukkan kategori baru yaitu &lt;i&gt;creating &lt;/i&gt;yang sebelumnya tidak ada. Taksonomi dari hasil revisi Anderson pada ranah kognitif adalah sebagai berikut:&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Mengingat—kata-kata operasional yang digunakan adalah mengurutkan, menjelaskan, mengidentifikasi, menamai, menempatkan, mengulangi, menemukan kembali.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Memahami—kata-kata operasional yang digunakan adalah menafsirkan, meringkas mengklasifikasikan, membandingkan, menjelaskan, membeberkan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Menerapkan—kata-kata operasional yang digunakan adalah melaksanakan, menggunakan, menjalankan, melakukan, mempraktekan, memilih, menyusun, memulai, menyelesaikan, mendeteksi.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Menganalisis—kata-kata operasional yang digunakan adalah menguraikan, membandingkan, mengorganisir, menyusun ulang, mengubah struktur, mengkerangkakan, menyusun outline, mengintegrasikan, membedakan, menyamakan, membandingkan, mengintegrasikan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Mengevaluasi—kata-kata operasional yang digunakan adalah menyusun hipotesi, mengkritik, memprediksi, menilai, menguji, membenarkan, menyalahkan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Berkreasi—kata-kata operasional yang digunakan adalah merancang, membangun, merencanakan, memproduksi, menemukan, membaharui, menyempurnakan, memperkuat, memperindah, menggubah.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Setelah melalui revisi, taksonomi Bloom tetap menggambarkan suatu proses pembelajaran dengan memproses suatu informasi sehingga dapat dimanfaat khususnya pada proses belajar dan pembelajaran. Beberapa prinsip didalamnya adalah: (1) Sebelum memahami sebuah konsep maka harus mengingatnya terlebih dahulu, (2) Sebelum menerapkan maka harus memahaminya terlebih dahulu, (3) Sebelum mengevaluasi dampaknya maka harus mengukur atau menilai, (4) Sebelum berkreasi sesuatu maka harus mengingat, memahami, mengaplikasikan, menganalisis dan mengevaluasi, serta memperbaharui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Generalisir cara berpikir seperti di atas mungkin sedikitnya agak menyulitkan. Sebab dalam beberapa jenis kegiatan, tidak semua tahap seperti itu diperlukan, dalam arti bahwa menciptakan sesuatu tidak harus juga berdasarkan generalisir tersebut. Karena hal ini lebih kepada bagaimana kreativitas seorang individu.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Proses pembelajaran dapat dimulai dari tahap mana saja. Namun secara terintegrasi, tidak dapat di pungkiri bahwa model generalisir ini sebenarnya melekat pada setiap proses pembelajaran.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Beberapa keberatan mungkin dapat pula muncul di sini, sebagaimana penggeneralisiran berpikir bisa saja tidak sesuai dengan kenyataan bahwa siswa seharusnya berpikir secara holistik. Karena ketika kemampuan itu dipisah-pisahkan, maka siswa dapat kehilangan kemampuannya untuk menyatukan kembali beberapa komponen-komponen yang sudah terpisah.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Dalam hal ini, sebaiknya di berikan kesempatan kepada siswa untuk untuk berpikir secara kritis.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Beberapa hal dapat di lihat disini terkait dengan revisi taksonomi Bloom yang dilakukan Anderson dkk, yaitu sebagai berikut:&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Tingkatan tingkah laku pada taksonomi bloom yang lama menggunakan kata sifat, sedangkan Anderson mengubahnya dengan menggunakan kata kerja.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Tingkatan terendah (C1) Pengetahuan diganti dengan Mengingat.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Tingkatan C5 Sintesa dan tingkatan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Evaluasi dilebur menjadi Mengevaluasi yang berkedudukan pada tingkatan C5.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Tingkatan C6 digantikan menjadi Berkreasi.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;Mengapa Revisi?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Terdapat beberapa alasan mengapa taksonomi Bloom ini perlu di revisi oleh Anderson dkk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, terdapat kebutuhan untuk mengarahkan kembali fokus para pendidik pada handbook taksonomi Bloom, bukan sekedar sebagai dokumen sejarah, melainkan juga sebagai karya yang dalam banyak hal telah “mendahului” zamannya (Rohwer dan Sloane, 1994). Artinya, bahwa banyak gagasan dalam handbook taksonomi Bloom yang dibutuhkan oleh pendidik masa kini karena pendidikan masih terkait dengan masalah-masalah desain pendidikan, penerapan program yang tepat, kurikulum standar, dan asesmen autentik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Kedua&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;, terdapat semacam kebutuhan untuk memadukan pengetahuan-pengetahuan dan pemikiran-pemikiran baru dalam sebuah kerangka kategorisasi tujuan pendidikan. Masyarakat dunia telah banyak berubah sejak tahun 1956, dan perubahan-perubahan ini mempengaruhi cara berpikir dan praktik pendidikan. Kemajuan dalam ilmu pengetahuan ini mendukung keharusan untuk merevisi handbook taksonomi Bloom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Ketiga,&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; bahwa pada prinsipnya, taksonomi merupakan sebuah kerangka berpikir yang sifatnya khusus, sehingga menjadi dasar untuk mengklasifikasikan tujuan-tujuan pendidikan. Sebuah rumusan tujuan pendidikan seharusnya berisikan satu kata kerja dan satu kata benda. Kata kerjanya umumnya mendeskripsikan proses kognitif yang diharapkan dan kata bendanya mendeskripsikan pengetahuan yang diharapkan dapat dengan mudah dikuasai oleh siswa. Nah, dalam hal ini, taksonomi Bloom hanya memiliki satu dimensi yaitu kata benda. Menurut Tyler (1994) rumusan tujuan yang paling bermanfaat adalah rumusan yang dapat dengan mudah menunjukkan jenis perilaku yang akan diajarkan kepada siswa dan isi pembelajaran yang membuat siswa menunjukkan perilaku yang dilakunya. Berdasarkan hal tersebut, menjadi suatu keharusan untuk membuat rumusan tujuan pendidikan yang memuat dua dimensi yaitu dimensi pertama untuk menunjukkan jenis perilaku siswa dengan menggunakan kata kerja dan dimensi kedua untuk menunjukkan isi pembelajaran dengan menggunakan kata benda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Keempat&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, bahwa proporsionalitas pembelajaran merupakan proporsi yang tidak sebanding dalam penggunaan taksonomi pendidikan untuk perencanaan kurikulum dan pembelajaran dengan penggunaan taksonomi pendidikan untuk asesmen. Pada taksonomi Bloom, lebih memfokuskan penggunakan taksonomi pada asesmen saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Kelima&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, terkait dengan dasar kerangka pikir taksonomi Bloom, terdapat penekanan enam kategori (pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi) daripada sub-subkategorinya. Jadi, sebenarnya taksonomi Bloom menjabarkan enam kategori tersebut secara mendetail, namun kurang menjabarkan pada subkategorinya, sehingga sebagian orang akan lupa dengan sub-subkategori taksonomi Bloom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Keenam&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, terdapat ketidakseimbangan proporsi subkategori dari taksonomi Bloom. Kategori pengetahuan dan komprehensinya lebih memiliki banyak subkategori namun empat kategori lainnya hanya memiliki sedikit subkategori.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Ketujuh&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, pada perbandingannya, taksonomi Bloom versi aslinya lebih ditujukan untuk para pengajar, sedangkan dalam perbandingannya dalam dunia pendidikan, tidak hanya dosen yang berperan untuk merencanakan kurikulum, pembelajaran, dan penilaian saja, karena faktor lainnya juga turut berperan. Oleh sebab itu, maka dibutuhkan sebuah revisi taksonomi yang dapat lebih luas menjangkau seluruh pelaku dalam dunia pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin revisi taksonomi ini sudah menjawab permasalahan-permasalahan yang sudah dijelaskan sebelumnya. Akan tetapi menurut Anderson dan Krathwohl (2010), bahwa dalam revisi Taksonomi ini kerangka berpikir yang menjadikan aspek-aspek lebih bermanfaat belum dimasukkan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Sebagian aspek tersebut yang perlu dikaji oleh generasi mendatang adalah sebagai berikut: (1) Perencanaan dan analisis yang lebih matang; (2) Hubungan antara tujuan dan pembelajaran; (3) Format Tes pilihan ganda yang tak kunjung maju; (4) Teori belajar dan kognisi; (5) Hubungan antara ranah kognitif, afektif dan psikomotor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Perencanaan dengan penganalisian yang tepat&lt;/b&gt;—bahwa revisi taksonomi Bloom membantu guru untuk melakukan analisis yang tajam, akurat, tetapi juga kritis, yaitu ketika mata pelajaran yang diajarkan dalam kelas-kelas terjadi proses pengulangan yang cukup signifikan. Dalam pengkategorian kerangka pikir ini, akhirnya mendorong guru untuk meluaskan rentang domain pengetahuan dan proses kognitifnya dalam setiap mata pelajaran mereka yang tentu akan menjadi lebih berkualitas. Artinya bahwa kerangka pikir boleh memberikan suatu manfaat yang lebih baik—untuk kasus-kasus yang lebih sulit dan membutuhkan perencanaan dan analisis yang lebih konkrit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Relevansi antara tujuan dan pembelajaran&lt;/b&gt;—hubungan antara tujuan dan pembelajaran perlu dikaji secara lebih mendalam, agar menciptakan hubungan timbal balik. Revisi taksonomi menunjukkan ciri-ciri aktivitas pembelajaran yang sesuai dengan tujuannya, tetapi spesifikasi tujuan belajar tidak serta merta memunculkan metode pembelajarannya. Sehingga diwajibkan kepada para peneliti untuk menemukan metode pengajaran, strategi pembelajaran, atau kreasi-kreasi guru lainnya, untuk menciptakan proses belajar dan pembelajaran dalam lingkungan-lingkungan tertentu. Kerangka pikir yang bermanfaat bagi guru ialah kerangka pikir yang memudahkan mereka menerjemahkan tujuan-tujuan yang abstrak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Relevansi antar ranah (Kognitif, Afektif, Psikomotor)&lt;/b&gt;—disini tujuan pendidikan di bagi dalam tiga ranah: kognitif, afektif, dan psikomotor. Pembagian ini bisa saja memisahkan aspek-aspek pada sebuah tujuan dan hampir setiap tujuan kognitif mengandung komponen afektif. Misalnya, guru PAK menginginkan siswanya tidak hanya belajar pada tahap mengkritisi materi PAK saja, tetapi juga belajar menghargainya, mengapresiasinya, dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Menjadikan aspek-aspek afektif sebagai bagian dari pembelajaran dimungkinkan jika taksonomi pendidikan mengintegrasikan ketiga ranah ini. Karena hanya merevisi ranah kognitif, revisi taksonomi ini mengesampingkan pemisahan aspek-aspek ketiga ranah itu, tetapi kategori pengetahuan metakognitif dapat menjembatani integrasi ranah kognitif dan afektif. Hauenstein (1998), misalnya, membuat taksonomi afektif, taksonomi kognitif, dan juga taksonomi psikomotor. Akan tetapi, harus dipahami pila, bahwa tak satupun kerangka pikir yang ada mengintegrasikan ketiga ranah itu secara memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penjabaran di atas, maka dapat dapat di sederhanakan beberapa poin-poin penting terkait dengan revisi taksonomi Bloom ini, yaitu sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Dari satu dimensi ke dua dimensi (dimensi pengetahuan pada taksonomi lama, dipisahkan menjadi dimensi pengetahuan dan dimensi proses kognitif pada taksonomi revisi)&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Dimensi pengetahuan (dimensi pengetahuan pada taksonomi lama hanya terdiri atas tiga kategori pokok sedangkan dimensi pengetahuan pada taksonomi revisi terdiri atas empat kategori pokok)&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Dimensi proses kognitif—Jumlah kategori tetap sama yaitu 6, namun terdapat beberapa perubahan penting, yang berupa perubahan nama, perubahan bentuk dari kata benda ke kata kerja, dan perubahan posisi.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Tabel taksonomi dna pemisahan dimensi taksonomi lama menjadi dua dimensi taksonomi revisi yang memunculkan suatu hubungan antara dimensi pengetahuan dan dimensi proses kognitif--yang bisa dituangkan dalam bentuk tabel taksonomi.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;b&gt;&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
Oleh: Abdy Busthan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://abdibusthan.blogspot.com/feeds/6777157137850141133/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://abdibusthan.blogspot.com/2019/10/revisi-taksonomi-bloom.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/6960063012783797264/posts/default/6777157137850141133'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/6960063012783797264/posts/default/6777157137850141133'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://abdibusthan.blogspot.com/2019/10/revisi-taksonomi-bloom.html' title='Revisi Taksonomi Bloom '/><author><name>Abdy Busthan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08376451895356760186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF1rfIXR-ATHODKdcg-diRoerLe5u_-kqaZXZbYHHAxo9A40slxkXyVqMZpjPS5cvf9c2GnmG-NflzAt3KbNfp6oiLvTVWbD_Yy14AmzsT-aPFNoCGr4-ezhvrNlU5Lg/s220/r56722.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg-18eTJsyLMvgS__xxXRCwz5_pjWBBet7me5A8_mq7y8tGBzlz1XZJw8GqY2G3wUqciffA23NuXNgLTexqZC2gfP-spZtkwrm0BSc3zkbO3YuRs_c-Wgw4hQsorkFf6zm_zDG-xpRvKu0/s72-c/27752304_1849171575155672_221076805764690953_n.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6960063012783797264.post-3879176303686384753</id><published>2019-10-18T18:20:00.001-07:00</published><updated>2019-10-18T18:40:11.098-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="PENDIDIKAN &amp; TEKNOLOGI"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Slider"/><title type='text'>Taksonomi Bloom </title><content type='html'>&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;640&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi2ganIKxTVIAbpw7JgA8sM7CSTVTamrr6ezc0h2-74SOjXYf5jMY3ODWc0UvGJNz8AYDjQHzkvqXMh1E68EfzC8P87OJ1AJPy6LXbJubk89L07uj8NqaajWSr1Lmhm6bkyKd6xxO_3fLA/s640/d2bsizq-a2db01a9-7903-433f-89b7-0e64618db53d.jpg&quot; width=&quot;612&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Taksonomi tujuan pendidikan yang di susun oleh Bloom dkk, merupakan sebuah kerangka untuk mengklasifikasikan pernyataan-pernyataan tentang apa yang diharapkan agar bisa dipelajari siswa. Pada awalnya kerangka tersebut disusun dengan maksud untuk memfasilitasi pertukaran soal-soal tes antar fakultas pada berbagai universitas untuk menciptakan bank soal (penyimpan soal)—masing-masing untuk mengukur tujuan pendidikan yang sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi terlepas dari itu, taksonomi Bloom merujuk juga pada taksonomi yang dibuat untuk tujuan pendidikan. Taksonomi ini pertama kali dilakukan oleh Bloom dan kawan-kawan pada tahun 1956. Dalam hal ini, tujuan pendidikan di bagi menjadi beberapa domain (ranah atau kawasan) dan setiap domain tersebut di bagi kembali ke dalam pembagian yang lebih rinci berdasarkan hierarkinya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Tujuan pendidikan dalam taksonomi Bloom di bagi ke dalam tiga domain, yaitu: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;(1)   &lt;i&gt;Cognitive Domain&lt;/i&gt; (Ranah Kognitif)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ranah ini terdiri dari perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir. Kawasan Kognitif adalah kawasan yang lebih membahas tujuan pembelajaran dengan proses mental yang berawal dari tingkat pengetahuan ke tingkat yang lebih tinggi, yakni evaluasi. Kawasan kognitif terdiri dari 6 tingkatan, yaitu:&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Tingkat pengetahuan (&lt;i&gt;knowledge&lt;/i&gt;), merupakan kemampuan seseorang dalam menghafal, mengingat kembali serta dengan mengulang kembali pengetahuan yang pernah diterimanya. Contoh: Siswa dapat menjelaskan kembali tentang ciri khas PAK, yang sudah dipelajarinya. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Pemahaman (&lt;i&gt;comprehension&lt;/i&gt;), merupakan kemampuan seseorang dalam mengartikan, menafsirkan, menerjemahkan, atau menyatakan sesuatu dengan caranya sendiri tentang pengetahuan yang pernah diterimanya. Contoh: Siswa dapat menjelaskan dengan kata-katanya sendiri tentang perbedaan antara dosa dan kasih Kristus&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Tingkat penerapan (&lt;i&gt;application&lt;/i&gt;), merupakan kemampuan untuk menerapkan pengetahuan dalam menyelesaikan persoalam yang muncul dalam realitas kehidupan sehari-hari. Contoh: siswa dapat menerapkan ajaran tentang kasih Kristus seperti dalam menolong orang tua, membantu teman yang sedang susah, dan berbagai macam perbuatan kasih lainnnya&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Tingkat analisis (&lt;i&gt;analysis&lt;/i&gt;), adalah kemampuan untuk membagi serta menguraikan konsep menjadi bagian-bagian yang lebih rinci, dengan merinci, dan mengaitkan hasil rinciannya. Contoh: siswa dapat menentukan hubungan berbagai variabel dalam mata pelajaran PAK, seperti buah-buah roh kuliah, dll&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Tingkat sintetis (&lt;i&gt;synthetis&lt;/i&gt;), diartikan kemampuan menyatukan bagian-bagian secara terintegrasi menjadi suatu bentuk tertentu yang semula belum ada. Contoh: siswa dapat menyusun rencana atau usulan pembelajaran dalam bidang yang diminati pada mata pelajaran PAK&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Tingkat evaluasi (&lt;i&gt;evaluation&lt;/i&gt;), bagaimana membuat penilaian nilai (value) dari pekerjaan siswa untuk memenuhi tujuan pembelajaran yang diinginkan. Contoh: dalam pelajaran PAK, siswa di minta untuk melukiskan gambar tokoh Alkitab Abraham, yang terlihat kurang baik dan tidak teratur&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;(2)   &lt;i&gt;Affective Domain&lt;/i&gt; (Ranah Afektif) &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ranah ini berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri. Sebenarnya, ranah afektif ini kurang mendapat perhatian pada saat itu namun dirumuskan Bloom, Krathwohl, dan Masia tahun 1964 sebagai sesuatu yang berkenaan dengan nilai atau &lt;i&gt;value&lt;/i&gt;.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Ranah afektif mencakup segala sesuatu yang terkait dengan emosi, misalnya perasaan, niai, penghargaan, semangat, motivasi, dan sikap. Kawasan afektif adalah satu domain yang berkaitan dengan sikap, nilai-nilai interest, apresiasi atau penghargaan dan penyesuaian perasaan sosial. Tingkatan afektif ini ada 5, yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;&lt;i style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;Receiving&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt; (Penerimaan)—kemauan menerima, berarti keinginan untuk memperhatikan suatu gejala atau rancangan tertentu seperti keinginan membaca buku, mendengar music, atau bergaul dengan orang yang mempunyai ras berbeda.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;i style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;Responding&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt; (Tanggapan)—kemauan menanggapi, berarti kegiatan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;yang menunjuk pada partisipasi aktif kegiatan tertentu seperti menyelesaikan tugas terstruktur, menaati peraturan, mengikuti diskusi kelas, menyelesaikan tugas dilaboratorium atau menolong orang lain.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;i style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;Valuing&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt; (Penghargaan)—berkeyakinan, berarti kemauan menerima sistem nilai tertentu pada individu seperti menunjukkan kepercayaan terhadap sesuatu, apresiasi atau penghargaan terhadap sesuatu, sikap ilmiah atau kesungguhan untuk melakukan suatu kehidupan sosial.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;i style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;Organizatio&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;n (Pengorganisasian)—atau penerapan karya, berarti penerimaan terhadap berbagai sistem nilai yang berbeda-beda berdasarkan pada suatu sistem nilai yang lebih tinggi, seperti menyadari pentingnya keselarasan antara hak dan tanggung jawab, bertanggung jawab terhadap hal yang telah dilakukan, memahami dan menerima kelebihan dan kekurangan diri sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;i style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;Internalizing values &lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;(Karakterisasi berdasarkan nilai-nilai)—ketekunan dan ketelitian, berarti individu yang sudah memiliki sistem nilai selalu menyelaraskan perilakunya sesuai dengan sistem nilai yang dipegangnya, seperti bersikap objektif terhadap segala hal.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;(3)   &lt;i&gt;Psychomotor Domain&lt;/i&gt; (Ranah Psikomotor) &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Domain psikomotor (Simpson, 1972) mencakup gerakan dan koordinasi jasmani dan pendayagunaan beragam kecakapan motorik. Pengembangan kecakapan-kecakapan tersebut memerlukan adanya latihan yang dapat diukur perkembangannya dilihat dari sudut kecepatan, ketepatan, jarak, tata cara, atau teknik pelaksanaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ranah ini berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang dan mengoperasikan mesin. Ranah psikomotor tidak dilanjutkan kajiannya oleh Bloom, tapi oleh ahli-ahli lain berdasarkan domain yang dibuat oleh Bloom. Kawasan psikomotor berkaitan dengan ketrampilan atau skill yang bersikap manual atau motorik. Tingkatan psikomotor ini meliputi: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;i&gt;Perception&lt;/i&gt;—Persepsi, berkenaan dengan penggunaan indra dalam melakukan kegiatan. Contoh: mengenal kerusakan mesin dari suaranya yang sumbang &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;i&gt;Set&lt;/i&gt; (kesiapan)—Kesiapan melakukan suatu kegiatan, berkenaan dengan melakukan sesuatu kegiatan atau set termasuk di dalamnya metal set atau kesiapan mental, physical set (kesiapan fisik) atau (emotional set) kesiapan emosi perasaan untuk melakukan suatu tindakan &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;i&gt;Mechanism&lt;/i&gt; (mekanisme)—Mekanisme, berkenaan dengan penampilan respon yang sudah dipelajari dan menjadi kebiasan sehingga gerakan yang ditampilkan menunjukkan kepada suatu kemahiran. Contoh: menulis halus, menari, menata laboratorium dan menata kelas. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;i&gt;Guided response&lt;/i&gt; (respon terpimpin)—Respon terbimbing, berkenaan dengan meniru (imitasi) atau mengikuti, mengulangi perbuatan yang diperintahkan atau ditunjukkan oleh orang lain, melakukan kegiatan coba-coba (trial and error). &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;i&gt;Complex overt response&lt;/i&gt; (respon tampak yang kompleks)—Kemahiran, berkenaan dengan penampilan gerakan motorik dengan ketrampilan penuh. Kemahiran yang dipertunjukkan biasanya cepat, dengan hasil yang baik namun menggunakan sedikit tenaga. Contoh: tampilan menyetir kendaran bermotor. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;i&gt;Adaptation&lt;/i&gt; (penyesuaian)—Adaptasi, berkenaan dengan ketrampilan yang sudah berkembang pada diri individu sehingga yang bersangkutan mampu memodifikasi pada pola gerakan sesuai dengan situasi dan kondisi tertentu. Contoh: orang yang bermain tenis, pola-pola gerakan disesuaikan dengan kebutuhan mematahkan permainan lawan. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;i&gt;Origination&lt;/i&gt; (penciptaan)—Organisasi, berkenaan dengan penciptaan pola gerakan baru untuk disesuaikan dengan situasi atau masalah tertentu, biasanya hal ini dapat dilakukan oleh orang yang sudah mempunyai ketrampilan tinggi, seperti menciptakan model pakaian, menciptakan tarian, komposisi musik (Uno, 2008).&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/ol&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;
&lt;/span&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;Kelebihan &amp;amp; Kekurangan Taksonomi Bloom&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan terbesar taksonomi Bloom adalah mengangkat topik yang sangat penting mengenai proses berpikir dan menempatkan sebuah struktur di seputar topik tersebut yang bermanfaat bagi para praktisi. Banyak guru memiliki pertanyaan seputar belajar dan cara mengajar untuk menghubungkannya dengan berbagai tingkat dari taksonomi yang dibuat oleh Bloom, dan dapat dipastikan berdampak positif bagi guru-guru dalam mengajar, khususnya dalam mendorong terwujudnya kemampuan berpikir dengan tingkat keteraturan yang lebih tinggi (berpikir pada level tertinggi)—terutama jika dibandingkan dengan para guru lainnya yang tidak memiliki alat bantu apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahannya, bahwa pada konteks lainnya, taksonomi Bloom, hanya terdapat sedikit kesepakatan tentang pemaknaan sesungguhnya dari analisis atau evaluasi. Di samping itu, ada juga proyek yang bersifat otentik, yang tidak dapat dipetakan ke dalam taksonomi, dan pada akhirnya mengurangi potensinya sebagai sebuah kesempatan belajar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Oleh: Abdy Busthan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://abdibusthan.blogspot.com/feeds/3879176303686384753/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://abdibusthan.blogspot.com/2019/10/taksonomi-bloom.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/6960063012783797264/posts/default/3879176303686384753'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/6960063012783797264/posts/default/3879176303686384753'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://abdibusthan.blogspot.com/2019/10/taksonomi-bloom.html' title='Taksonomi Bloom '/><author><name>Abdy Busthan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08376451895356760186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF1rfIXR-ATHODKdcg-diRoerLe5u_-kqaZXZbYHHAxo9A40slxkXyVqMZpjPS5cvf9c2GnmG-NflzAt3KbNfp6oiLvTVWbD_Yy14AmzsT-aPFNoCGr4-ezhvrNlU5Lg/s220/r56722.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi2ganIKxTVIAbpw7JgA8sM7CSTVTamrr6ezc0h2-74SOjXYf5jMY3ODWc0UvGJNz8AYDjQHzkvqXMh1E68EfzC8P87OJ1AJPy6LXbJubk89L07uj8NqaajWSr1Lmhm6bkyKd6xxO_3fLA/s72-c/d2bsizq-a2db01a9-7903-433f-89b7-0e64618db53d.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6960063012783797264.post-4813923549383568872</id><published>2019-10-18T17:37:00.000-07:00</published><updated>2019-10-18T17:37:04.056-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="PENDIDIKAN &amp; TEKNOLOGI"/><title type='text'>Teori Motivasi dalam Pembelajaran</title><content type='html'>&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiEnVBFeO_gbMRsit75EFVpFc3weeUeJ6VxBDZs09jOY94NzlxaWxQLiitafoHgmnX5mt-znKDUZN8D-uATFrhAB6e82uhhyphenhyphen8-a0vknxUcXRa1FdZAl_3ZpwL0lPvbDz_X2OnJdv4ET8ig/s640/6ca00d7524837f581a3d10ef17db55aa.jpg&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif;&quot;&gt;Teori motivasi mulai berkembang sekitar tahun 1950-an dengan dua konsep motivasi yang menonjol pada masa itu: (1) Hierarki teori kebutuhan Maslow;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif;&quot;&gt;(2) Teori X dan Y.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif;&quot;&gt;Adapun teori-teori kuno (teori X dan Y) dikenal karena merupakan dasar berkembangnya teori yang ada hingga saat ini, yang semula digunakan oleh para manajer pelaksana di organisasi-organisasi dunia dalam menjelaskan motivasi karyawan pada saat itu.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif; font-size: large;&quot;&gt;Disamping itu, terdapat pula beberapa teori motivasi kontemporer.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;Teori&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=&quot;font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;Hierarki&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=&quot;font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;Kebutuhan Maslow&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif;&quot;&gt;Teori motivasi yang paling terkenal adalah hierarki kebutuhan milik Abraham Maslow. Ia membuat hipotesis bahwa dalam setiap diri manusia terdapat hierarki dari lima kebutuhan, yaitu fisiologis (rasa lapar, haus, seksual, dan kebutuhan fisik lainnya), rasa aman (rasa ingin dilindungi dari bahaya fisik dan emosional), sosial (rasa kasih sayang, kepemilikan, penerimaan, dan persahabatan), penghargaan (faktor penghargaan internal dan eksternal), dan aktualisasi diri (pertumbuhan, pencapaian potensi seseorang dan pemenuhan diri sendiri). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maslow memisahkan lima kebutuhan ke dalam urutan-urutannya. Kebutuhan fisiologis dan rasa aman dideskripsikan sebagai kebutuhan tingkat bawah—sedangkan kebutuhan sosial, penghargaan, dantingkatan aktualisasi diri sebagai kebutuhan tingkat atas—seingga perbedaan antara kedua tingkat tersebut adalah dasar pemikiran bahwa kebutuhan tingkat atas dipenuhi secara internal sementara kebutuhan tingkat rendah secara dominan dipenuhi secara eksternal.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;Teori X dan Y &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Douglas McGregor menemukan teori X dan teori Y, yaitu setelah ia mengkaji cara bagaimana para manajer berhubungan dengan karyawannya. Kesimpulan yang didapatkan bahwa pandangan manajer mengenai sifat manusia didasarkan atas beberapa kelompok asumsi tertentu dan cenderung membentuk perilaku mereka terhadap karyawan berdasarkan asumsi-asumsi tersebut.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif;&quot;&gt;Ada 4 (empat) asumsi yang di miliki manajer dalam teori X, yaitu sebagai berikut:&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif;&quot;&gt;Karyawan pada dasarnya tidak menyukai pekerjaan dan sebisa mungkin berusaha untuk menghindarinya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif; font-size: large;&quot;&gt;Karena karyawan tidak menyukai pekerjaan, mereka harus dipakai, dikendalikan, atau diancam dengan hukuman untuk mencapai tujuan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif;&quot;&gt;Karyawan akan mengindari tanggung jawab dan mencari perintah formal, di mana ini adalah asumsi ketiga.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif;&quot;&gt;Sebagian karyawan menempatkan keamanan di atas semua faktor lain terkait pekerjaan dan menunjukkan sedikit ambisi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif;&quot;&gt;Bertentangan dengan pandangan-pandangan negatif mengenai sifat manusia dalam teori X, maka terdapat empat asumsi positif yang disebutkan dalam teori Y, yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif;&quot;&gt;Karyawan menganggap kerja sebagai hal yang menyenangkan, seperti halnya istirahat atau bermain&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif;&quot;&gt;Karyawan akan berlatih mengendalikan diri dan emosi untuk mencapai berbagai tujuan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif;&quot;&gt;Karyawan bersedia belajar untuk menerima, mencari, dan bertanggungjawab.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif;&quot;&gt;Karyawan mampu membuat berbagai keputusan inovatif yang diedarkan ke seluruh populasi, dan bukan hanya bagi mereka yang menduduki posisi manajemen. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Jika teori Y dan X ini diaplikasikan dalam dunia Pendidikan, khususnya dalam proses Pembelajaran, maka terlebih dahulu dipahami bahwa perilaku setiap individu berbeda satu dengan yang lainnya. Maka dari itu, guru harus bisa memahami perilaku tiap-tiap siswa di dalam proses pembelajaran yang dipimpinnya sehingga ia bisa menemukan gaya belajar yang tepat dan proporsional.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif; font-size: large;&quot;&gt;Karena hal ini akan tergantung dari hal-hal yang bisa “memotivasi” siswa-siswi untuk berperilaku dan juga bagaimana siswa-siswi tersebut dapat mengelola dan menindaklanjuti motivasi tersebut.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif; font-size: large;&quot;&gt;Dari perbedaan inilah yang memunculkan adanya perilaku yang bersifat positif dan negatif. Sehingga menghasilkan dua kondisi perilaku siswa, yaitu perilaku individu yang bersifat positif dan yang bersifat negatif, yang nantinya hal tersebut akan pula mempengaruhi proses pembelajaran.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif; font-size: large;&quot;&gt;Untuk itu, dapat di lihat pada implikasi teori perilaku yang dipaparkan oleh Douglas McGregor yaitu teori X dan Y di atas. Teori ini menyebutkan bahwa siswa terbagi menjadi dua karakteristik yang berbeda.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;(1) Teori X--teori ini akan menyatakan bahwa pada dasarnya pebelajar yaitu siswa adalah makhluk pemalas yang tidak suka belajar, serta senang menghindar dari pelajaran dan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Juga pada pendidik yaitu guru memiliki ambisi yang kecil untuk mencapai visi, misi dan tujuan dari tugasnya, namun menginginkan balas jasa serta jaminan hidup yang tinggi. Oleh karena itu, teori X memberikan pengawasan yang ketat, tugas-tugas yang jelas, dan menetapkan imbalan atau hukuman, dan juga diancam serta diarahkan agar dapat bekerja sesuai dengan yang diinginkan oleh lembaga Kependidikan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Teori Y—teori ini memiliki anggapan bahwa pebelajara yaitu siswa adalah kodrat manusia seperti halnya kegiatan sehari-hari lainnya. Siswa tidak perlu terlalu diawasi dan diancam lewat pengawasan, peraturan secara ketat, karena mereka memiliki pengendalian serta pengerahan diri untuk belajar sesuai visi, misi dan tujuan pendidikan. Sementara pendidik yaitu guru juga memiliki kemampuan, kreativitas, imajinasi, kepandaian serta memahami tanggung jawab dan prestasi atas pencapaian tujuan pengajarannya. Guru juga tidak harus mengerahkan segala potensi diri yang dimiliki dalam bekerja.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif;&quot;&gt;Menurut asumsi teori Y, siswa-siswi pada hakikatnya menganggap bahwa:&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;Pertama&lt;/b&gt;. Pekerjaan belajar itu pada hakekatnya seperti bermain, dapat memberikan kepuasan kepada orang lain. Sehingga di antara keduanya tidak ada perbedaan, jika keadaan sama-sama menyenangkan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;Kedua&lt;/b&gt;. Siswa dapat mengawasi diri sendiri, dan hal itu tidak bisa dihindari dalam rangka mencapai tujuan-tujuan pembelajaran&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;Ketiga&lt;/b&gt;. Kemampuan untuk berkreativitas di dalam memecahkan persoalan-persoalan belajar secara luas didistribusikan kepada seluruh pendidik yaitu guru.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;Keempat&lt;/b&gt;. Motivasi tidak saja berlaku pada kebutuhan-kebutuhan sosial, penghargaan dan aktualisasi diri tetapi juga pada tingkat kebutuhan-kebutuhan fisiologi dan keamanan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;Kelima&lt;/b&gt;. Siswa maupun guru dapat mengendalikan diri dan kreatif dalam bekerja jika dimotivasi secara tepat.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Teori Motivasi Kontemporer &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Teori motivasi kontemporer dikembangkan dengan menggambarkan kondisi pemikiran saat ini dalam menjelaskan motivasi karyawan, yang mencakup:&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Teori Kebutuhan McClelland&lt;/b&gt;—dikembangkan oleh David McClelland dan teman-temannya. Teori kebutuhan McClelland berfokus pada tiga kebutuhan yang didefinisikan sebagai berikut: 1) kebutuhan berprestasi: dorongan untuk melebihi, mencapai standar-standar, berusaha keras untuk berhasil, 2) kebutuhan berkuasa: kebutuhan untuk membuat individu lain berperilaku sedemikian rupa sehingga mereka tidak akan berperilaku sebaliknya, 3) kebutuhan berafiliasi: keinginan untuk menjalin suatu hubungan antarpersonal yang ramah dan akrab.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Teori Evaluasi Kognitif&lt;/b&gt;—teori yang menyatakan bahwa pemberian penghargaan-penghargaan dalam bentuk ekstrinsik untuk perilaku yang sebelumnya memuaskan, secara intrinsik cenderung mengurangi tingkat motivasi secara keseluruhan. Teori evaluasi kognitif telah di teliti secara eksensif dan ada banyak studi yang mendukung. Berdasarkan pada sudut pandang kognitif, mengutip pendapat Ames (1984); dalam Suciawati (2003), mendefinisikan bahwa motivasi sebagai perspektif yang dimiliki seseorang mengenai dirinya sendiri dan lingkungannya, dimana hal itu diberikan contoh, bahwa jika seseorang merasa memiliki kemampuan, maka orang tersebut akan mampu memiliki kemauan dan dapat menyelesaikan tugasnya. Kemampuan yang dimaksudkan disini akan dapat menjadi motor penggerak dari kemauannya sendiri.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Sementara itu, terdapat juga motif kognitif (&lt;i&gt;cognitive motivies&lt;/i&gt;) yang merujuk pada gejala instrinsik, dalam hal kepuasan, individual, motif ekspresi diri (&lt;i&gt;self Expression&lt;/i&gt;) yang merupakan sebagian dari perilaku manusia, serta motif untuk maju (&lt;i&gt;self-enhancement&lt;/i&gt;). Sardiman (1995) kemudian mencatat berbagai varian motivasi, dari dasar pembentukan, serta motivasi yang dibedakan menjadi motivasi bawaan, yang diperoleh dari sejak lahir seperti dorongan untuk minum dan makan, atau motif yang didasarkan oleh dorongan afiliasi.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Teori Penentuan Tujuan&lt;/b&gt;—merupakan teori yang mengemukakan bahwa niat untuk mencapai tujuan merupakan sumber motivasi kerja yang utama. Artinya, tujuan memberitahu seorang karyawan apa yang harus dilakukan dan berapa banyak usaha yang harus dikeluarkan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Teori Penguatan&lt;/b&gt;—di sini perilaku merupakan sebuah fungsi dari konsekuensi-konsekuensinya jadi teori tersebut mengabaikan keadaan batin individu dan hanya terpusat pada apa yang terjadi pada seseorang ketika ia melakukan tindakan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Teori Keadilan&lt;/b&gt;—di sini individu membandingkan masukan-masukan dan hasil pekerjaan mereka dengan masukan-masukan dan hasil pekerjaan orang lain, dan kemudian merespons untuk menghilangkan ketidakadilan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Teori Harapan&lt;/b&gt;—merupakan kekuatan dari suatu kecenderungan untuk bertindak dalam cara tertentu bergantung pada kekuatan dari suatu harapan bahwa tindakan tersebut akan diikuti dengan hasil yang ada dan pada daya tarik dari hasil itu terhadap individu tersebut&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Oleh: Abdy Busthan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://abdibusthan.blogspot.com/feeds/4813923549383568872/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://abdibusthan.blogspot.com/2019/10/teori-motivasi-dalam-pembelajaran.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/6960063012783797264/posts/default/4813923549383568872'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/6960063012783797264/posts/default/4813923549383568872'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://abdibusthan.blogspot.com/2019/10/teori-motivasi-dalam-pembelajaran.html' title='Teori Motivasi dalam Pembelajaran'/><author><name>Abdy Busthan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08376451895356760186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF1rfIXR-ATHODKdcg-diRoerLe5u_-kqaZXZbYHHAxo9A40slxkXyVqMZpjPS5cvf9c2GnmG-NflzAt3KbNfp6oiLvTVWbD_Yy14AmzsT-aPFNoCGr4-ezhvrNlU5Lg/s220/r56722.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiEnVBFeO_gbMRsit75EFVpFc3weeUeJ6VxBDZs09jOY94NzlxaWxQLiitafoHgmnX5mt-znKDUZN8D-uATFrhAB6e82uhhyphenhyphen8-a0vknxUcXRa1FdZAl_3ZpwL0lPvbDz_X2OnJdv4ET8ig/s72-c/6ca00d7524837f581a3d10ef17db55aa.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6960063012783797264.post-1411821267044544607</id><published>2019-10-15T19:34:00.001-07:00</published><updated>2019-10-15T19:39:59.503-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="PENDIDIKAN &amp; TEKNOLOGI"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Slider"/><title type='text'>Psikologi Belajar: Kognitif Versus Behavioristik </title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;444&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjgimA7Rqv2EJjGKCUUUlqy2a3avjbIMOvAbxk2IKwTJ0KE5hgDBYiT-wpFZGNCxSpuujqmrEjVWutchVXqbMLAgXHjFQac-WcxvzkdH7m4e6lcFC2SBwQQy868SoDKNpnovNcq4-17iWY/s640/surrealartworks29.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Meskipun dalam berbagai pendekatan psikologi teori kognitif sering dipertentangkan dengan pendekatan behavioristik, namun tidak berarti psikologi kognitif anti terhadap aliran behavioristik. Hanya saja, menurut kebanyakan para ahli psikologi kognitif, aliran behavioristik itu tidak lengkap sebagai sebuah teori psikologi, sebab tidak memperhatikan proses kejiwaan pada dimensi ranah cipta, seperti: berpikir, mempertimbangkan pilihan, dan mengambil keputusan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana pandangan belajar dalam teori behavioristik yang memandang belajar sebagai kegiatan yang bersifat mekanistik, yaitu hubungan antara stimulus dan respon, maka aliran kognitif memandang kegiatan belajar bukanlah sekedar stimulus dan respon yang bersifat mekanistik saja, tetapi lebih daripada itu, merupakan suatu kegiatan belajar yang melibatkan kegiatan mental yang ada di dalam diri setiap individu yang sedang belajar.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Selain itu, aliran behavioristik juga sangat mengesampingkan ranah tentang “rasa”, sementara menurut perspektif psikologi kognitif, belajar pada asasnya adalah peristiwa mental, bukan peristiwa behavioral yang bersifat jasmaniah&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;—&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;meskipun hal-hal yang bersifat behavioral tampak lebih nyata di dalam hampir setiap peristiwa belajar siswa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara lahiriah, seorang anak yang sedang belajar membaca dan menulis, tentu bisa menggunakan perangkat jasmaniahnya (misalnya dengan mulut dan tangan, dll) untuk mengucapkan kata dan menuliskan sesuatu dengan pena. Akan tetapi, perilaku untuk mengucapkan kata-kata dan menggoreskan pena yang dilakukan anak, bukanlah semata-mata respons atas stimulus (rangsangan) yang ada, melainkan lebih dari pada itu, karena dorongan mental yang di atur oleh otak anak itu sendiri.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Meskipun aliran kognitif ini dipandang sebagai golongan teori sintesis, namun dalam perkembangannya, teori ini justru mampu menunjukkan substansi kajian yang sama sekali berbeda dengan paham behavioristik.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Bahkan dalam derajad tertentu, justru teori belajar kognitif dipandang sebagai anti tesis dari paham belajar behavioristik yang cenderung mekanistik dan tidak mampu digunakan sebagai teori yang representatif dalam menjelaskan fenomena belajar.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perspektif teori belajar kognitif, stimulus bukanlah variabel tunggal yang menyebabkan dapat terjadinya respons, karena terdapat variabel moderator tertentu yang juga dapat mempengaruhi kemunculan respons dan tindakan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Dan variabel moderator inilah yang kemudian disebutkan sebagai faktor internal—seperti: emosi, mental, persepsi, motivasi dan sebagainya. Tentu hal ini didasarkan pada pemahaman awal, dimana para penganut teori kognitif lebih membangun argumentasinya dengan menempatkan rumusan mendasar bahwa antara stimulus dan respons terdapat suatu dimensi psikologis yang bisa menyebabkan terjadinya perubahan mental, sekaligus juga menyebabkan seseorang merespons suatu stimulus yang diberikan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Mengacu pada penjelasan singkat di atas, maka teori belajar kognitif rupanya memandang bahwa belajar merupakan proses pembentukan dan perubahan persepsi sebagai akibat dari interaksi yang “&lt;i&gt;sustainable&lt;/i&gt;” antara individu dengan lingkungannya (Busthan Abdy, 2016:125).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;(&lt;b&gt;Oleh: Abdy busthan&lt;/b&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;**********&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka:&lt;br /&gt;Busthan Abdy (2016). &lt;b&gt;&lt;i&gt;Teori Belajar dan Pembelajaran: Behavioristik, Kognitivistik, Konstruktivistik, Humanistik&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. Kupang: Desna Live Ministry&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://abdibusthan.blogspot.com/feeds/1411821267044544607/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://abdibusthan.blogspot.com/2019/10/psikologi-belajar-kognitif-versus.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/6960063012783797264/posts/default/1411821267044544607'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/6960063012783797264/posts/default/1411821267044544607'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://abdibusthan.blogspot.com/2019/10/psikologi-belajar-kognitif-versus.html' title='Psikologi Belajar: Kognitif Versus Behavioristik '/><author><name>Abdy Busthan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08376451895356760186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF1rfIXR-ATHODKdcg-diRoerLe5u_-kqaZXZbYHHAxo9A40slxkXyVqMZpjPS5cvf9c2GnmG-NflzAt3KbNfp6oiLvTVWbD_Yy14AmzsT-aPFNoCGr4-ezhvrNlU5Lg/s220/r56722.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjgimA7Rqv2EJjGKCUUUlqy2a3avjbIMOvAbxk2IKwTJ0KE5hgDBYiT-wpFZGNCxSpuujqmrEjVWutchVXqbMLAgXHjFQac-WcxvzkdH7m4e6lcFC2SBwQQy868SoDKNpnovNcq4-17iWY/s72-c/surrealartworks29.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6960063012783797264.post-4599454806528650066</id><published>2019-10-10T17:13:00.001-07:00</published><updated>2019-10-10T17:13:23.736-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="PENDIDIKAN &amp; TEKNOLOGI"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Slider"/><title type='text'>Pengertian dan Pembatasan Definisi &quot;Statistik&quot;</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;303&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiWai14tekVW56Ct1pjyZLWEqcb8q7sJjFKW3caVhnxgq6o8JA8nlt1L2Kc5kbt_jDm6kIOpd6GCP-dJDvp2vf0IDtlUuVb431DjGCD2pW-QrkI-k6TmY0qT5Q4zDK3mnZ1U6B3893UF38/s400/f3ca571690301502a04fdf0f7ad84172.jpg&quot; style=&quot;font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif; font-size: x-large;&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa Belanda, istilah “statistik” ditulis dengan kata “&lt;i&gt;staat&lt;/i&gt;”, adalah kata serapan dari bahasa Latin “&lt;i&gt;status&lt;/i&gt;”. Kata ini memiliki pengertian yang sama dengan pengertian kata “&lt;i&gt;state&lt;/i&gt;” yang digunakan dalam Bahasa Inggris, dimana dalam Bahasa Indonesia diartikan sebagai “negara”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gottfried Achenwall (1749) dalam Busthan Abdy (2017:11), menggunakan istilah statistik dalam bahasa Jerman untuk pertama kalinya sebagai nama bagi sebuah kegiatan analisis data kenegaraan, yaitu dengan mengartikannya sebagai “ilmu tentang negara (&lt;i&gt;state&lt;/i&gt;)”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pada awal abad ke-19 telah terjadi pergeseran arti menjadi “ilmu mengenai pengumpulan dan klasifikasi data”. Sir John Sinclair memperkenalkan nama (&lt;i&gt;statistics&lt;/i&gt;) dan pengertian ini ke dalam bahasa Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi statistik secara prinsip, awalnya berkaitan dengan persoalan-persoalan pengurusan data yang dipakai lembaga-lembaga administratif dan pemerintahan dalam sebuah negara. Pengumpulan data terus berlanjut, khususnya melalui sensus yang dilakukan secara teratur untuk memberi informasi kependudukan yang berubah-ubah setiap saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, istilah statistika mulai banyak digunakan dalam bidang matematika, terutama mengenai persoalan peluang. Cabang statistika yang pada saat ini sangat luas digunakan untuk mendukung metode ilmiah adalah statistika inferensi, yang dikembangkan pada paruh kedua abad ke-19 dan awal abad ke-20, oleh beberapa pakar statistik seperti: Ronald Fisher (peletak dasar statistika inferensi), Karl Pearson (metode regresi linear), dan William Sealey Gosset (meneliti problem sampel berukuran kecil). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pembatasan Definisi Statistik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Secara universal, definisi statistik dapat dibatasi ke dalam dua rumpun pengertiannya, yaitu: 1) batasan umum; dan 2) batasan khusus. Penjelasannya sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Batasan Umum&lt;/b&gt;. Kata statistik (&lt;i&gt;statistic&lt;/i&gt;) telah banyak digunakan membatasi cara-cara ilmiah untuk hal-hal seperti: mengumpulkan, menyusun, meringkas, dan menyajikan data penyelidikan. Lebih lanjut, bahwa &lt;i&gt;statistic&lt;/i&gt; merupakan cara untuk mengolah data tersebut dan menarik kesimpulan-kesimpulan yang diteliti dan keputusan-keputusan logis dari pengolahan data tersebut (Hadi, 2004). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Batasan Khusus&lt;/b&gt;. Kata statistik juga digunakan untuk menunjuk kepada angka-angka pencatatan dari suatu kejadian atau kasus tertentu seperti misalnya:&lt;/span&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif; font-size: large;&quot;&gt;Statistik bentuk badan Miss universe: 38 – 22 – 36 (dada – pinggang – pinggul).&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif; font-size: large;&quot;&gt;Statistik kecelakaan lalu lintas: januari 6, februari 38, Maret 21,....&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif; font-size: large;&quot;&gt;Statistik tinggi badan rata-rata: rata-rata T = 164 cm, dst..&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Secara terminologi, kata statistik ini dapat diberikan pengertian yang beragam, dan masing-masing pengertian tergantung pada pemakaian atau penggunaan kata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Busthan Abdy (2017:12-14), secara universal, terminologi kata &quot;statistik&quot; bisa di bagi menjadi 5 bagian, yaitu sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pertama.&lt;/b&gt; Kata statistik dengan pengertian sebagai data statistik. Data Statistik ialah bahan-bahan keterangan yang berupa angka atau bilangan dengan persyaratan-persyaratan tertentu. Misalnya: apabila kita menyebut statistik NTCR, maka kata statistik dalam ungkapan kata ini mengandung pengertian: bahan-bahan keterangan mengenai (yang berhubungan dengan) peristiwa-peristiwa NTCR, yaitu: Nikah, Talak, Cerai dan Rujuk, yang tertuang dalam bentuk angka-angka atau bilangan-bilangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kedua.&lt;/b&gt; Kata statistik dengan pengertian sebagai daftar (tabel) atau keadaan. Misalnya: di halaman-halaman surat kabar misalnya, sering dijumpai kata-kata Statistik ke-9 Bahan Pokok Kebutuhan Hidup Sehari-hari (Beras, gula pasir, garam, minyak tanah, minyak goreng, kain blaco dan lain sebagainya). Kata Statistik di sini mengandung pengertian sebagai sebuah daftar atau tabel yang  dalamnya dilukiskan atau disajikan bahan-bahan keterangan mengenai keadaan harga-harga sembilan macam bahan pokok kebutuhan sehari-hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ketiga&lt;/b&gt;. Kata statistik, dengan pengertian sebagai Kegiatan Perstatistikan atau Kegiatan Penstatistikan. Misalnya: Biro Pusat Statistik, adalah sebuah biro (Unit Kerja) pada suatu instansi yang bidang kegiatannya atau tugas pokoknya adalah menangani kegiatan-kegiatan perstatistikan atau penstatistikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Keempat&lt;/b&gt;. Kata Statistik dengan pengertian sebagai Metode Statistik. Tidak jarang pula kata statistik diberi pengertian sebagai Metode Statistik. Yang dimaksud dengan Metoe Statistik ialah cara-cara mengumpulkan, mengolah, menyajikan dan menganalisa data angka dengan secara teratur, ringkas dan jelas, dengan tujuan agar dapat memberikan deskripsi (pelukisan atau penggambaran) tentang keadaan data dimaksud. Misalnya, seorang dosen memberikan petunjuk atau bimbingan kepada salah seorang mahasiswa yang sedang menyusun Skripsi Sarjana, agar analisa datanya dilakukan secara Statistik. Ini mengandung pengertian bahwa mahasiswa tersebut diminta Dosen Pembimbingnya untuk mempergunakan Metode Statistik dalam rangka penganalisaan datanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kelima&lt;/b&gt;. Kata Statistik dengan pengertian Ilmu Statistik. Dimaksud dengan Ilmu Statistik ialah Ilmu pengetahuan yang membahas atau mempelajari tentang cara-cara pengumpulan data, pengolahan, penyajian, penganalisaan dan penarikan kesimpulan-kesimpulan terhadap data yang berwujud angka (bilangan), serta menyusun ramalan-ramalan secara ilmiah (&lt;i&gt;prediction&lt;/i&gt;) atas dasar angka tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif; font-size: large;&quot;&gt;Rujukan Buku:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif; font-size: large;&quot;&gt;Busthan Abdy. (2017). &lt;b&gt;Pengantar Dasar Statistik Pendidikan.&lt;/b&gt; (hal.10-14). Kupang: Desna Life Ministry&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://abdibusthan.blogspot.com/feeds/4599454806528650066/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://abdibusthan.blogspot.com/2019/10/pengertian-dan-pembatasan-definisi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/6960063012783797264/posts/default/4599454806528650066'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/6960063012783797264/posts/default/4599454806528650066'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://abdibusthan.blogspot.com/2019/10/pengertian-dan-pembatasan-definisi.html' title='Pengertian dan Pembatasan Definisi &quot;Statistik&quot;'/><author><name>Abdy Busthan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08376451895356760186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF1rfIXR-ATHODKdcg-diRoerLe5u_-kqaZXZbYHHAxo9A40slxkXyVqMZpjPS5cvf9c2GnmG-NflzAt3KbNfp6oiLvTVWbD_Yy14AmzsT-aPFNoCGr4-ezhvrNlU5Lg/s220/r56722.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiWai14tekVW56Ct1pjyZLWEqcb8q7sJjFKW3caVhnxgq6o8JA8nlt1L2Kc5kbt_jDm6kIOpd6GCP-dJDvp2vf0IDtlUuVb431DjGCD2pW-QrkI-k6TmY0qT5Q4zDK3mnZ1U6B3893UF38/s72-c/f3ca571690301502a04fdf0f7ad84172.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6960063012783797264.post-6935624960276736438</id><published>2019-10-10T16:17:00.002-07:00</published><updated>2019-10-10T16:17:54.955-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="PENDIDIKAN &amp; TEKNOLOGI"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Slider"/><title type='text'>Pengertian Statistik dan Statistika</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;468&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjaGVSJYqeIXTnCX4zpYE04KH8ZXMBBUutTvkUUAdfUw4Jb3ipeJgdnPYF63STrlySwy2dwwpkbL0faBaznOcY7lIW7yiznL8dNVZs8lsjpA6KNZs-G3nWwY5cCGx1RFjPd64r_JhLEjK8/s640/5d129af5d04df545f85ea1d578a9b659.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kamus Bahasa Inggris, terdapat dua istilah yang kerapkali muncul terkait dengan istilah “statistik”, yaitu: &lt;i&gt;statistic&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;statistics&lt;/i&gt;, atau bisa dikatakan &quot;statistik&quot; dan &quot;statistika&quot;. Kedua istilah ini memiliki makna yang berbeda. Istilah ‟statistika‟ (dalam bahasa Inggris: &lt;i&gt;statistics&lt;/i&gt;) berbeda dengan istilah &quot;statistik&quot; (dalam bahasa Inggris: &lt;i&gt;statistic&lt;/i&gt;). Berikut pengertian kedua istilah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Statistika&lt;/b&gt; adalah ilmu yang mempelajari bagaimana merencanakan, mengumpulkan, menganalisis, menginterpretasi, dan mempresentasikan data. Singkatnya, statistika adalah ilmu yang berkenaan dengan data. Statistika banyak diterapkan dalam berbagai disiplin ilmu, baik ilmu-ilmu alam (misalnya&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;astronomi dan biologi maupun ilmu-ilmu sosial (termasuk sosiologi dan psikologi), maupun di bidang bahasa, bisnis, ekonomi, dan industri.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Statistika juga digunakan dalam pemerintahan untuk berbagai macam tujuan; sensus penduduk merupakan salah satu prosedur yang paling dikenal. Aplikasi statistika lainnya yang sekarang popular adalah prosedur jajak pendapat atau polling (misalnya dilakukan sebelum pemilihan umum), serta jajak cepat (perhitungan cepat hasil pemilu) atau quick count. Di bidang komputasi, statistika dapat pula diterapkan dalam pengenalan pola maupun kecerdasan buatan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Statistik&lt;/b&gt;, adalah data statistik. Artinya bahwa, statistik merupakan kumpulan bahan keterangan yang berupa angka atau bilangan, atau dengan istilah lain, deretan atau kumpulan angka yang menunjukkan keterangan mengenai cabang kegiatan hidup tertentu.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Sehingga statistik dengan pengertian data kuantitatif (yang disebut: data statistik), adalah data angka yang dapat memberikan gambaran mengenai keadaan, peristiwa, atau gejala tertentu (Sudijono Anas, 2010:2-3). Jadi, statistik bisa dipahami sebagai rekapitulasi dari fakta yang berbentuk angka-angka yang disusun bisa dalam bentuk tabel dan diagram, untuk mendeskripsikan suatu permasalahan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Misalnya digunakan untuk ukuran sebagai wakil dari kelompok fakta, seperti nilai rata-rata mahasiswa, rerata produktivitas kerja satu perusahaan, presentase dari keberhasilan belajar, ramalan kemampuan mahasiswa dalam memprediksi hasil produksi pertanian dan sebagainya (Riduwan dan Sunarto, 2010:10-11).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Secara kebahasaan, statistik berarti catatan angka-angka (bilangan), perangkaan, data yang berupa angka-angka yang dikumpulkan, ditabulasi, dikelompokkan, sehingga dapat memberi informasi yang berarti mengenai suatu masalah, gejala, atau peristiwa (depdikbud, 1994).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Menurut Sutrisno Hadi (1995) Statistik adalah untuk menunjukkan kepada pencatatan angka-angka dari suatu kejadian atau kasus tertentu.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Hal ini juga selaras dengan apa yang didefinisikan oleh Sudjana (1992) bahwa statistik adalah kumpulan fakta berbentuk angka yang di susun dalam daftar atau tabel dan atau diagram, yang melukiskan atau menggambarkan suatu persoalan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Dari penjelasan kedua istilah ini: statistika (&lt;i&gt;statistics&lt;/i&gt;) dan statistik (&lt;i&gt;statistic&lt;/i&gt;), maka dapat dipahami bahwa sesungguhnya kedua istilah ini memiliki perbedaan. Statistika merupakan ilmu yang berkenaan dengan data, sedangkan statistik adalah data, informasi, atau hasil penerapan algoritma statistika pada suatu data itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kumpulan data, statistika dapatlah digunakan untuk menyimpulkan atau mendeskripsikan data; ini dinamakan statistika deskriptif. Sebagian besar konsep dasar statistika mengasumsikan teori probabilitas. Beberapa istilah statistika antara lain: populasi, sampel, unit sampel, dan probabilitas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Rujukan Buku:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Busthan Abdy. (2017). &lt;b&gt;Pengantar Dasar Statistik Pendidikan&lt;/b&gt;. (hal.8-10)&lt;b&gt;.&lt;/b&gt; Kupang: Desna Life Ministry&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://abdibusthan.blogspot.com/feeds/6935624960276736438/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://abdibusthan.blogspot.com/2019/10/pengertian-statistik-dan-statistika.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/6960063012783797264/posts/default/6935624960276736438'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/6960063012783797264/posts/default/6935624960276736438'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://abdibusthan.blogspot.com/2019/10/pengertian-statistik-dan-statistika.html' title='Pengertian Statistik dan Statistika'/><author><name>Abdy Busthan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08376451895356760186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF1rfIXR-ATHODKdcg-diRoerLe5u_-kqaZXZbYHHAxo9A40slxkXyVqMZpjPS5cvf9c2GnmG-NflzAt3KbNfp6oiLvTVWbD_Yy14AmzsT-aPFNoCGr4-ezhvrNlU5Lg/s220/r56722.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjaGVSJYqeIXTnCX4zpYE04KH8ZXMBBUutTvkUUAdfUw4Jb3ipeJgdnPYF63STrlySwy2dwwpkbL0faBaznOcY7lIW7yiznL8dNVZs8lsjpA6KNZs-G3nWwY5cCGx1RFjPd64r_JhLEjK8/s72-c/5d129af5d04df545f85ea1d578a9b659.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6960063012783797264.post-894701832527615895</id><published>2019-09-23T07:52:00.001-07:00</published><updated>2019-09-23T08:03:43.121-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="HUKUM &amp; KEADILAN"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Slider"/><title type='text'>Rasa Nasionalisme yang Getol Membela Tuhan</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiSRHlQQQN0v1bA7As8zcQoaQwBHYDF2uWdQ0pQWxuPOtv1l8oZAMpwEeGYzPez-2KGAvqUbrTr_OLkN1eZx_gvyqDwiv83s73xUomYVHGyPNmKZIlxWtWkYtb19q7_RxBBgGxANQL4vxo/s1600/1a5cce7427527e7cece0b2f8cf29be29.jpg&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks kontemporer, rasa “nasionalisme” sudah tak lagi sekuat dentuman syair Proklamasi. Nasionalisme bahkan tak semerdu lantunan lagu Indonesia Raya. Rasa nasionalisme sepertinya memang sudah menjadi redup dalam bayang-bayang religiusitas yang salah kapra.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Ya, rasa nasionalisme sudah tidak lagi bisa diwujudkan sebagai semangat membela NKRI, tetapi ia justru berubah wujud menjadi semangat untuk “membela Tuhan”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membela Tuhan! Ini adalah semangat segelintir orang di medan merdeka ini yang mengatasnamakan agama, demi menonjolkan rasa nasionalis buta dan brutal. Sikap membela Tuhan semestinya tidak bisa dipersandingkan dengan konsep nasionalis. Mengapa? Sebab agama dan negara adalah dua hal yang sangat berbeda.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Seharusnya, dengan berlindung kepada Tuhan, maka umat secara ekslusif, sudah dapat membela Tuhannya melalui kehidupan agama yang penuh cinta kasih dan damai sejahtera, tanpa ia harus berbenturan dengan kekerasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap nasionalis, memang suatu wilayah yang amat berpotensi untuk bercokolnya kelompok-kelompok agamis demi mempertahankan ideologi suatu agama dengan cara-cara keji. ISIS misalnya, berjuang atas nama Islam dengan tujuan utamanya untuk membangun negara khilafah melalui pemberontakan pada semua sistem negara.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Mereka pun membunuh orang-orang yang tak berdaya atas nama Tuhan. Pelaku-pelaku bom bunuh diri, yang kerapkali merongrong ketentraman dunia internasional, bahkan sampai memecah-belah persatuan berbangsa di Indonesia (kasus bom Bali, Samarinda, Jakarta, Poso, Ambon, Aceh, Papua, dll), semua perbuatannya itu dilakukan dengan tanpa henti-hentinya membela Tuhan dan mengatasnamakan ajaran Islam, demi untuk mendirikan sebuah negara Islam di muka bumi ini. Tentu saja, kedua bentuk gerakan ini lebih diakibatkan oleh rasa nasionalis dan fanatisme agama secara simultan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Membela Sekaligus Mengadili Tuhan &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dalam iklim demokrasi kita saat ini, tampak bahwa beragam konflik horizontal yang terjadi diantara umat beragama, sering berujung pada tindakan kekerasan. Dan secara teologis, selalu berakar kepada pembenaran dan perebutan istilah Tuhan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Tuhan Sang Absolut dimonopoli oleh kelompok-kelompok radikal agama secara kaku dan cenderung menjadikan Tuhan yang personifikatif. Padahal, Tuhan merupakan sesuatu yang sangat &lt;i&gt;Absolute&lt;/i&gt; (mutlak), &lt;i&gt;Distinc&lt;/i&gt; (berbeda dari yang lainya) dan &lt;i&gt;Unique&lt;/i&gt; (Maha Esa). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin persoalan perbedaan persepsi dari masing-masing umat beragama haruslah dihargai, karena memang manusia tidak mampu memonopoli sebuah perspektif atau bahkan memonopoli kebenaran (&lt;i&gt;truth claim&lt;/i&gt;).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Bagi iman Kristiani, tentu paham tentang “Trinitas” atau “Trimurti” dalam umat Hindu, tak bisa disalahkan oleh penganut agama lain, sebab ini menyangkut hal pokok dalam beragama (teologis) dari kedua agama ini. Kunci permasalahannya, terletak pada munculnya sikap yang selalu merasa benar atau monopoli kebenaran agama lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika manusia memonopoli kebenaran agama lain, yang sebenarnya tidak dipahaminya, maka manusia telah berani memonopoli pengertian Tuhan, bahkan menjadi Tuhan itu sendiri. Cara berpikir seperti ini, selanjutnya diterjemahkan ke dalam berbagai bentuk-bentuk sikap hidup dalam masyarakat.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Akhirnya otoritas sang Tuhan yang Maha Absolut seakan diwakilkan oleh sekelompok manusia agama yang terus-menerus mengklaim agamanya sebagai wakil Tuhan, yang meskipun pembahasan akan tema-tema teologis seperti ini cenderung “tandus” dan sangat “gersang” maknanya, sebab Tuhan dipersonifikasikan—bahkan dilimitasi sebagai sosok langit yang bertakhta di sebuah tempat yang unlimited. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, atribut kemanusiaan kemudian digunakan kepada Tuhan, yang sebenarnya manusia takkan sanggup menggapai absolutisme Tuhan. Tapi bagaimanapun, manusia juga selalu berusaha untuk menghadirkan Tuhan ke ranah kemanusiaannya, agar ia lebih mengenal, lebih dekat dan merasa sebagai umat-Nya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Rasa kemanusiaan kita sebagai makhluk Tuhan, memang haus akan kehadiran Tuhan (&lt;i&gt;Omni Present&lt;/i&gt;) dengan kasih sayang dan kelembutan-Nya. Inilah watak dasar manusia sebenarnya yang telah ditiupkan ruh (&lt;i&gt;soul&lt;/i&gt;) oleh Tuhan. Seharusnya, rasa inilah yang dimunculkan umat manusia dalam hal menerjemahkan kebertuhanannya di setiap aspek kehidupan yang berada dalam masyarakat plural. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia pada dasarnya sangat butuh kepada Tuhan dan selalu bergantung pada-Nya. Jika posisi manusia itu adalah makhluk yang mutlak bergantung (dependen) pada Tuhan, maka manusia tidak harus bersikap seperti “mewakili Tuhan”.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Sangat paradoks tampaknya jika Yang Maha Kuasa butuh wakil di muka bumi, dengan segala relativitas yang melekat kepada yang merasa mewakili tadi. Mewakili dalam artian kita seakan menjadi penerjemah dan penafsir tunggal kemauan Tuhan. Sungguh, Tuhan Maha Kuasa dan manusia penuh dengan kesalahan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Agama Islam misalnya, sebagai simbol &lt;i&gt;rahmatan lil’alamin&lt;/i&gt;, janganlah dijadikan hanya sebatas doktrin teologis-sosial saja, tapi mesti diterjemahkan secara ril dan konsisten. Karena Tuhan adalah Maha Lembut dan para Nabi dan Rasul juga adalah pribadi-pribadi yang lembut. Para Nabi adalah pribadi yang selalu menjadi “primus inter pares” di zamannya, yang dengan kepribadian lembut sesuai perintah Tuhan, mereka mampu membawa umat kepada Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekerasan atas nama agama tidak lebih daripada cara-cara hewani layaknya istilah “&lt;i&gt;leviathan&lt;/i&gt;” (makhluk raksasa) yang pernah dituliskan Thomas Hobbes. Bagaimanapun juga, perbuatan kekerasan yang membawa dan mengatasnamakan kelompok agama, apalagi mengatasnamakan Tuhan, adalah tindakan yang selalu menihilkan rasa kemanusiaan dan kebertuhanan kita sebagi manusia. Karena Tuhan adalah entitas yang tidak membutuhkan pembelaan—manusia lah yang sebenarnya membutuhkan pembelaan dari Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu disadari bahwa, relasi antara manusia dan Tuhan adalah relasi “ketergantungan”—sebagaimana dalam filsafat Thomas Aquino dan teologi Kristiani (juga dalam teologi monoteistik)—diungkapkan dengan distingsi bahwa, Tuhan adalah &lt;i&gt;Necessarium&lt;/i&gt; dan manusia adalah &lt;i&gt;contingens&lt;/i&gt;.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Tuhan adalah prinsip “Harus” dari segala apa yang ada, sementara manusia sebagai ciptaan yang “bisa ada” dan “bisa tidak ada”. Manusia tidak mungkin ada, tanpa sang prinsip “Harus Ada” tersebut. Tuhanlah yang mengadakan manusia. Pada tataran penghayatan spiritual-religius dalam hidup konkret sehari-hari, Tuhan adalah Dia yang kita sembah. Dia adalah Awal dan Tujuan Akhir dari hidup manusia (Riyanto Armada, 2011:152). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tuhan dalam Wacana Demokrasi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dalam realitas kehidupan demokrasi yang dijalankan di negara ini, Tuhan terlihat justru semakin babak belur. Tampak bahwa relasi antara Tuhan dan manusia tidak dimulai dari siapa Tuhan. Melainkan dari pengertian mendalam tentang siapakah manusia. Menurut Derrida, hal ini dinamakan pemahaman dekonstruktif, yaitu sebuah penelaahan ulang wacana tradisional. Seperti juga yang pernah ditegaskan oleh Feuerbach bahwa, “bukan” Tuhan yang menciptakan manusia, tetapi manusialah yang menciptakan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya berbagai persoalan dalam kehidupan berdemokrasi di negara kita ini bukan saja menggeser paham doktrinal tentang Tuhan, tetapi lebih daripada itu, justru mengelaborasi teologi dari antropologi. Pada titik ini, maka pengalaman manusia adalah segalanya, pengalaman manusia adalah titik berangkat refleksi teologis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pengalaman manusia yang begitu plural di alam demokrasi, maka pluralisme dijadikan dasar munculnya gelombang cara berpikir khas postmodern, dimana refleksi dari relasi antara Tuhan dan manusia menjadi sulit untuk diseragamkan dalam satu bahasa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Armstrong (1993), kemudian menggagas kemungkinan untuk segera menggelar sebuah ‘pengadilan’ terhadap Tuhan. Pada titik ini Armstrong mengukir pergeseran konsep tentang Tuhan! Tuhan harus di adili. Mengapa? Karena Ia telah membiarkan sekian juta manusia menderita tanpa jejak dan sebab pasti, demikian dikatakan Amstrong melalui karya fenomenalnya “&lt;i&gt;A History of God&lt;/i&gt;”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya iklim demokrasi yang seharusnya menghargai perbedaan justru tampil sebagai “pemberontakan” tanpa syarat, atas relasi Tuhan dan manusia. Tuhan tidak lagi menjadi Dia yang &lt;i&gt;Encompassing&lt;/i&gt; (pelindung dan mengatasi segala), tetapi Tuhan menjadi suatu pribadi yang semakin babak belur akibat Dia dapat dimaki, dituduh, dan diadili.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Oleh: Abdy Busthan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://abdibusthan.blogspot.com/feeds/894701832527615895/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://abdibusthan.blogspot.com/2019/09/rasa-nasionalisme-yang-getol-membela.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/6960063012783797264/posts/default/894701832527615895'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/6960063012783797264/posts/default/894701832527615895'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://abdibusthan.blogspot.com/2019/09/rasa-nasionalisme-yang-getol-membela.html' title='Rasa Nasionalisme yang Getol Membela Tuhan'/><author><name>Abdy Busthan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08376451895356760186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF1rfIXR-ATHODKdcg-diRoerLe5u_-kqaZXZbYHHAxo9A40slxkXyVqMZpjPS5cvf9c2GnmG-NflzAt3KbNfp6oiLvTVWbD_Yy14AmzsT-aPFNoCGr4-ezhvrNlU5Lg/s220/r56722.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiSRHlQQQN0v1bA7As8zcQoaQwBHYDF2uWdQ0pQWxuPOtv1l8oZAMpwEeGYzPez-2KGAvqUbrTr_OLkN1eZx_gvyqDwiv83s73xUomYVHGyPNmKZIlxWtWkYtb19q7_RxBBgGxANQL4vxo/s72-c/1a5cce7427527e7cece0b2f8cf29be29.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6960063012783797264.post-6459710451163345031</id><published>2019-09-20T06:59:00.003-07:00</published><updated>2019-09-20T06:59:43.346-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="PENDIDIKAN &amp; TEKNOLOGI"/><title type='text'>Psikologi Gestalt dan Max Wertheimer</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;640&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg2ri4A7IHJdTbaIpDV9-dPpSRyKmgNU7IwVex8kDPRM2MslTDscyd4St8iKK33P8x3zqWU7BhOdBTGdZorSXQuRcwMxvrKiEHHMes5kgCmU7Ml6vBq7H45NfDSHYjyi6G37JjPvMausTg/s640/Biografi+Max+Wertheimer.jpg&quot; width=&quot;614&quot; /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Abdy Busthan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1912 (tepatnya di Jerman) peradaban ilmu pengetahuan digemparkan oleh sebuah artikel tentang konsep “gerakan ilusi” oleh Max Wertheimer, seorang Psikolog berkebangsaan Austria-Hungary. Artikel tersebut sekaligus pula menandai awal dimulainya suatu gerakan psikologi berkelas dunia yang disebutkan dengan &quot;Psikologi Gestalt&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Max Wertheimer (1980-1943) memang dianggap sebagai pendiri Psikologi Gestalt ini. Namun sebenarnya dia tidak sendirian. Sebab awalnya ia bekerja sama dengan dua tokoh yang juga dianggap sebagai “bapak” pendiri Psikologi Gestalt, yaitu: Wolfgang Kohler (1887-1967) dan Kurt Koffka (1886-1941). Dalam hal ini Kohler dan Koffka juga sangat memiliki andil dalam eksperimen pertama yang dilakukan Wertheimer (Busthan Abdy, 2016:14).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah gestalt berasal dari kata Jerman yang berarti “pola” atau “konfigurasi”. Aliran ini berpendapat bahwa seseorang mengalami dunia secara menyuluruh dan bermakna. Individu tidak melihat stimuli yang terpisah-pisah namun stimuli tersebut selalu dikelompokkan bersama (diorganisasikan) ke dalam satu konfigurasi yang bermakna atau Gestalten (bentuk jamak dari Gestalt).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hergenhann B. R &amp;amp; Olson H. Matthew dalam Busthan Abdy (2016) menjelaskan bahwa kita melihat orang, kursi, mobil, pohon, dan bunga, namun kita tidak melihatnya sebagai deretan dan kontur dan serpihan warna.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif; font-size: large;&quot;&gt;Medan persepsi kita adalah komposisi keseluruhan yang tertata atau Gestalten, dan ini seharusnya dijadikan subjek penelitian pskologi. Jadi pandangan Gestaltis (kelompok Gestalt) adalah: “keseluruhan ini berbeda dari penjumlahan bagian-bagiannya” atau bisa dikatakan “membagi-bagi berarti mendistorsi”.&lt;/span&gt;&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, kita tidak bisa mendapatkan kesan penuh dari lukisan Presiden Soekarno dengan hanya melihat gambar tangan kanannya dahulu, lalu gambar tangan kirinya, lalu rambutnya, pecinya, telinganya, hidungnya, mulutnya dan kemudian menyatukan pengalaman untuk melihat ini. Sebagaimana kita juga tidak bisa memahami pengalaman mendengarkan musik dangdut dengan menganalisis kontribusi masing-masing musisinya atau alat musiknya secara terpisah-pisah. Musik yang berada dalam musik dangdut adalah berbeda dengan jumlah pemain musik atau jumlah alat-alat musik yang dimainkan oleh setiap musisi yang terlibat di dalamnya. Melodi dangdut memiliki kualitas sendiri yang berbeda dengan kualitas suara yang dihasilkan oleh berbagai alat musik yang menjadi unsur melodi tersebut (Busthan Abdy, 2016:15).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah kajian mendalam dari psikologi Gestalt yang di gagas Wertheimer ini, yakni dari konsep “gerakan ilusi” atau disebutkan dengan istilah “&lt;i&gt;phi phenomenon&lt;/i&gt;”. Awalnya dalam sebuah perjalanan Wertheimer dengan sebuah kereta api menuju kota Rhineland, yaitu kota bagian negara Jerman yang luas wilayahnya 19.846 km².&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif; font-size: large;&quot;&gt;Dalam perjalanan itu, timbullah gagasan Wertheimer, bahwa jika dua cahaya berkedip-kedip (padam hidup-padam trus hidup) pada tingkat tertentu, maka cahaya itu akan memberikan kesan bagi pengamatnya bahwa satu cahaya bergerak maju dan mundur. Konsep ini selanjutnya diperdalam lagi oleh Wertheimer yang akhirnya menghasilkan pemahaman bahwa, jika mata melihat stimuli dengan cara tertentu, penglihatan itu akan memberikan ilusi gerakan atau seperti disebutkan di atas, &lt;i&gt;phi phenomenon&lt;/i&gt;. Akhirnya penemuan ini menjadi dasar penting terhadap sejarah perkembangan psikologi di dunia (Busthan Abdy, 2016:15-16).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman penting terkait &lt;i&gt;phi phenomenon&lt;/i&gt; ini adalah bahwa fenomena ini berbeda dari elemen atau komponen yang menyebabkannya. Sensasi suatu gerakan tidak dapat dijelaskan dengan menganalisis setiap unsur kedipan cahaya, yakni cahaya padam dan cahaya hidup (padam-hidup); perasaan akan adanya gerakan akan muncul dari kombinasi kedua elemen itu.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif; font-size: large;&quot;&gt;Karena alasan ini maka aliran Gestalt percaya bahwa walaupun pengalaman psikologis berasal dari elemen sensoris (indrawi), namun pengalaman itu berbeda dengan elemen sensoris itu sendiri. Bisa dikatakan dengan kalimat sederhana bahwa, &quot;pengalaman fenomenologis (baca: gerakan yang kelihatan) berasal dari pengalaman sensoris (baca: cahaya)&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi sesungguhnya hal ini tidak bisa dipahami dengan cara menganalisis komponen-komponen pengalaman fenomenal ini. Artinya bahwa, pengalaman fenomenologis adalah berbeda dari bagian-bagian yang menyusunnya tersebut. Jadi pada titik ini para Gestaltis yang mengikuti tradisi Kantian meyakini bahwa organisme menambahkan sesuatu pada pengalaman, di mana sesuatuitu tidak terdapat dalam data yang di indra dan sesuatu itu adalah tindakan menata (organisasi) data (Busthan Abdy, 2016:16-17).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif; font-size: large;&quot;&gt;Referensi Buku:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif; font-size: large;&quot;&gt;Busthan Abdy. (2016). &lt;b&gt;Pembelajaran Kognitif. Kupang&lt;/b&gt;: Desna Life Ministry&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif; font-size: large;&quot;&gt;Kontak: 081333343222 (Hp dan WA)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://abdibusthan.blogspot.com/feeds/6459710451163345031/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://abdibusthan.blogspot.com/2019/09/psikologi-gestalt-dan-max-wertheimer.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/6960063012783797264/posts/default/6459710451163345031'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/6960063012783797264/posts/default/6459710451163345031'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://abdibusthan.blogspot.com/2019/09/psikologi-gestalt-dan-max-wertheimer.html' title='Psikologi Gestalt dan Max Wertheimer'/><author><name>Abdy Busthan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08376451895356760186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF1rfIXR-ATHODKdcg-diRoerLe5u_-kqaZXZbYHHAxo9A40slxkXyVqMZpjPS5cvf9c2GnmG-NflzAt3KbNfp6oiLvTVWbD_Yy14AmzsT-aPFNoCGr4-ezhvrNlU5Lg/s220/r56722.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg2ri4A7IHJdTbaIpDV9-dPpSRyKmgNU7IwVex8kDPRM2MslTDscyd4St8iKK33P8x3zqWU7BhOdBTGdZorSXQuRcwMxvrKiEHHMes5kgCmU7Ml6vBq7H45NfDSHYjyi6G37JjPvMausTg/s72-c/Biografi+Max+Wertheimer.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6960063012783797264.post-8808563894153823985</id><published>2019-09-20T06:50:00.004-07:00</published><updated>2019-09-20T06:50:34.916-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="PENDIDIKAN &amp; TEKNOLOGI"/><title type='text'>Bentuk dan Komponen Multimedia Pembelajaran</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;post-body&quot; id=&quot;post-body-7829677167583601969&quot; itemprop=&quot;description articleBody&quot; style=&quot;border: 0px none; line-height: 1.6em; list-style: none; margin: 0px 0px 0.75em; outline: 0px; padding: 0px;&quot;&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;h1 class=&quot;post-title&quot; style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-image: initial; background-origin: initial; background-position: 0px 0px; background-repeat: initial; background-size: initial; border: 0px; font-family: Poppins, sans-serif; font-size: 25px; font-weight: 400; line-height: 1.6em; list-style: none; margin: 0px 0px 15px; outline: 0px; padding: 0px; position: relative; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhtcvEquuLcb9W0LJ5vc3COnP4RSJrXkl2gwO1dzhSV4HWZuUYJSE5uhbLR_WgJm16VGkcWd0hsyvo0iQpw0Zvq_yjU_1Gqz3cD5VPPMcUVuY6q1NjLqSJkvovcuYSqy3BSm6kRakB4B9w/s640/905802052c81109.jpg&quot; style=&quot;background: 0px 0px; border: none; font-size: 15px; height: auto; list-style: none; margin: 0px; max-width: 100%; outline: 0px; padding: 0px; position: relative; vertical-align: baseline;&quot; /&gt;&lt;/h1&gt;
&lt;div class=&quot;post-body post-content&quot; style=&quot;background: 0px 0px rgb(255, 255, 255); border-bottom-color: initial; border-bottom-style: initial; border-image: initial; border-left-color: initial; border-left-style: initial; border-right-color: initial; border-right-style: initial; border-top-color: rgb(235, 235, 235); border-top-style: solid; border-width: 1px 0px 0px; font-family: Poppins, sans-serif; font-size: 15px; line-height: 1.6em; list-style: none; margin: 20px 0px 0px; outline: 0px; overflow: hidden; padding: 20px 0px 0px; vertical-align: baseline; width: 620px;&quot;&gt;
Secara umum, Busthan Abdy (2017:101) menyatakan bahwa multimedia pembelajaran dapat dibagi menjadi dua bagian utama, yaitu: 1)&amp;nbsp;&lt;i style=&quot;background: 0px 0px; border: 0px; font-size: 14px; list-style: none; margin: 0px 5px 0px 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Multimedia content production&lt;/i&gt;; dan 2)&amp;nbsp;&lt;i style=&quot;background: 0px 0px; border: 0px; font-size: 14px; list-style: none; margin: 0px 5px 0px 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Multimedia communication&lt;/i&gt;.&lt;br style=&quot;border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;div style=&quot;background: 0px 0px; border: 0px; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;br style=&quot;border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background: 0px 0px; border: 0px; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;b style=&quot;background: 0px 0px; border: 0px; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Bentuk Multimedia C&lt;i style=&quot;background: 0px 0px; border: 0px; font-size: 14px; list-style: none; margin: 0px 5px 0px 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;ontent production&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. Pada bagian bentuk ini, multimedia adalah penggunaan beberapa media (misalnya media: teks, audio, grafik, animation, video, dan&amp;nbsp;&lt;i style=&quot;background: 0px 0px; border: 0px; font-size: 14px; list-style: none; margin: 0px 5px 0px 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;interactivity&lt;/i&gt;) yang berbeda untuk menyampaikan informasi dan pesan pembelajaran, serta menghasilkan produk multimedia pembelajaran (musik, video, film, game, entertaiment, dll). Atau dapat pula dikatakan sebagai penggunaan sejumlah teknologi yang berbeda, untuk bisa menggabungkan media (teks, audio, grafik, animation, video, dan&amp;nbsp;&lt;i style=&quot;background: 0px 0px; border: 0px; font-size: 14px; list-style: none; margin: 0px 5px 0px 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;interactivity&lt;/i&gt;) dengan cara yang baru untuk tujuan komunikasi dalan pembelajaran. Dalam kategori ini media yang digunakan adalah: media teks, media audio, media video, media animasi, media grafik atau image.&lt;br style=&quot;border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;b style=&quot;background: 0px 0px; border: 0px; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Bentuk Multimedia C&lt;i style=&quot;background: 0px 0px; border: 0px; font-size: 14px; list-style: none; margin: 0px 5px 0px 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;ommunication&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. Pada bentuk ini, multimedia adalah menggunakan media (masa), seperti siaran TV, siaran radio, handphone, Internet, dll, untuk publikasi, menyiarkan, atau mengkomunikasikan pesan-pesan dan informasi dalam pembelajaran. Media yang digunakan dalam bentuk ini, adalah media: TV; radio; film; cetak; musik; game; entertaiment; tutorial; handpone; ICT (internet)&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background: 0px 0px; border: 0px; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;br style=&quot;border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background: 0px 0px; border: 0px; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
Sementara komponen multimedia dalam pembelajaran, biasanya terdiri atas beberapa komponen-komponen yang dipadukan untuk kepentingan pembelajaran, demi mencapai tujuan pembelajaran. Menurut Busthan Abdy (2017:102-104) beberapa diantaranya sebagai berikut:&lt;br style=&quot;border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;b style=&quot;background: 0px 0px; border: 0px; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Teks&lt;/b&gt;. Hampir semua kalangan mengenal apa itu teks. Apalagi bagi mereka yang dapat menggunakan komputer, sudah terbiasa dengan teks. Teks merupakan dasar dari pengelohan kata dan informasi yang berbasis multimedia. Dalam kenyataannya, multimedia menyajikan informasi kepada audiens dengan cepat, karena tidak diperlukan lagi membaca secara rinci dan teliti.&lt;br style=&quot;border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;b style=&quot;background: 0px 0px; border: 0px; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Grafik&lt;/b&gt;. Grafik adalah gambar atau garis (line drawing). Pembelajarran saat ini, juga sangat berorientasi pada visual (visual oriented) dan gambar merupakan sarana yang sangat baik untuk menyajikan informasi, sehingga grafik merupakan komponen penting dalam multimedia&lt;br style=&quot;border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;b style=&quot;background: 0px 0px; border: 0px; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Image&lt;/b&gt;. Secara umum, image berarti gambar atau raster (&lt;i style=&quot;background: 0px 0px; border: 0px; font-size: 14px; list-style: none; margin: 0px 5px 0px 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;halfone drawing&lt;/i&gt;), seperti foto. Basis data siswa dengan atribut seperti nama, alamat dan lainnya, lebih efektif bila foto siiswa bersangkutan dapat ditampilkan. Demikian juga foto‑foto seperti jenis-jenis tanaman dalam pelajaran pertanian atau bidang biologi, atau foto-foto pahlawan dalam pelajaran sejarah, atau foto gedung dan museum, dll, sangat memerlukan penyimpanan yang besar. Hal inilah yang menyebabkan penyimpanan aplikasi multimedia cukup besar kapasitasnya, seperti misalnya dalam Hardis, CD‑Room, Flesdis, dll.&lt;br style=&quot;border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;b style=&quot;background: 0px 0px; border: 0px; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Animasi&lt;/b&gt;. Inti dari animasi adalah gambar. Yakni gambar yang bergerak. Atau animasi berarti gerakan image atau video, contohnya gerakan orang yang melakukan suatu kegiatan. Alasan utama penggunaan animasi pembelajaran adalah sulitnya menggambarkan informasi dengan satu gambar saja, atau sekumpulan gambar, juga tidak dapat menggunakan teks untuk menerangkan informasi dalam suatu bahasan materi tertentu. Arsip animasi ini juga memerlukan kapasitas penyimpanan yang lebih besar daripada satu gambar.&lt;br style=&quot;border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;b style=&quot;background: 0px 0px; border: 0px; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Suara&lt;/b&gt;. Adapun suara, akan dapat lebih memperjelas pengertian dan maksud yang ditampilkan dalam teks atau video. Contohnya, narasi merupakan kelengkapan dari penjelasan yang dilihat melalui video. Suara juga dapat memberikan kejelasan karakteristik dari suatu gambar, misalnya dengan musik dan suara efek (&lt;i style=&quot;background: 0px 0px; border: 0px; font-size: 14px; list-style: none; margin: 0px 5px 0px 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;sound effect&lt;/i&gt;). Bayangkan saja jika takk ada suara dalaam pembelajaran?&lt;br style=&quot;border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;I&lt;b style=&quot;background: 0px 0px; border: 0px; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;nteraktive Link&lt;/b&gt;. Sebagian dari multimedia adalah interaktif, dimana pengguna dapat menekan mouse atau objek pada screen seperti button atau teks, dan menyebabkan program melakukan perintah tertentu.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background: 0px 0px; border: 0px; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;br style=&quot;border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background: 0px 0px; border: 0px; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
Interaktif link dengan informasi yang dihubungkannya, kerapkali dihubungkan secara keseluruhan, sebagai hypermedia. Secara spesifik, dalam hal ini termasuk hyper-teks (&lt;i style=&quot;background: 0px 0px; border: 0px; font-size: 14px; list-style: none; margin: 0px 5px 0px 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;hotword&lt;/i&gt;), hyper-grafik, dan hyper-sound yang menjelaskan jenis informasi yang dihubungkan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background: 0px 0px; border: 0px; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;br style=&quot;border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background: 0px 0px; border: 0px; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
Interaktif link diperlukan jika pengguna, menunjuk pada suatu objek atau button agar dapat mengakses program tertentu. Interaktif link diperlukan untuk menggabungkan beberapa elemen multimedia sehingga menjadi informasi yang bulat dan terpadu.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background: 0px 0px; border: 0px; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;br style=&quot;border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background: 0px 0px; border: 0px; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
Menurut Busthan Abdy (2017:ibid), cara pengaksesan informasi pada multimedia terdapat dua macam yaitu linier dan non‑linier. Informasi linier adalah informasi yang ditampilkan secara sekuensial, yaitu dari atas ke bawah atau halaman demi halaman. Sedangkan pada informasi non‑linier informasi dapat ditampilkan langsung sesuai dengan kehendak pengguna meski tidak berurutan.&lt;/div&gt;
&lt;br style=&quot;border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Tulisan ini dikutip dari Buku:&lt;br style=&quot;border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&quot;&lt;b style=&quot;background: 0px 0px; border: 0px; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Media &amp;amp; Multimedia dalam Teknologi Pembelajaran: Konsep, Prinsip dan Aplikasi&lt;/b&gt;&quot;&lt;br style=&quot;border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Penulis: Abdy Busthan, S.Pd., M.Pd.&lt;br style=&quot;border: 0px none; list-style: none; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Info Kontak: 081333343222 (Whatsapp)&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://abdibusthan.blogspot.com/feeds/8808563894153823985/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://abdibusthan.blogspot.com/2019/09/bentuk-dan-komponen-multimedia.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/6960063012783797264/posts/default/8808563894153823985'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/6960063012783797264/posts/default/8808563894153823985'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://abdibusthan.blogspot.com/2019/09/bentuk-dan-komponen-multimedia.html' title='Bentuk dan Komponen Multimedia Pembelajaran'/><author><name>Abdy Busthan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08376451895356760186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF1rfIXR-ATHODKdcg-diRoerLe5u_-kqaZXZbYHHAxo9A40slxkXyVqMZpjPS5cvf9c2GnmG-NflzAt3KbNfp6oiLvTVWbD_Yy14AmzsT-aPFNoCGr4-ezhvrNlU5Lg/s220/r56722.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhtcvEquuLcb9W0LJ5vc3COnP4RSJrXkl2gwO1dzhSV4HWZuUYJSE5uhbLR_WgJm16VGkcWd0hsyvo0iQpw0Zvq_yjU_1Gqz3cD5VPPMcUVuY6q1NjLqSJkvovcuYSqy3BSm6kRakB4B9w/s72-c/905802052c81109.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6960063012783797264.post-8804093803710485918</id><published>2019-09-19T22:53:00.005-07:00</published><updated>2019-09-19T22:57:03.040-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="TEOLOGI"/><title type='text'> Iman Versus Pengetahuan</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;post-body entry-content&quot; id=&quot;post-body-3487169342244681765&quot; itemprop=&quot;description articleBody&quot; style=&quot;border: 0px; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 13px; font-stretch: inherit; font-variant-east-asian: inherit; font-variant-numeric: inherit; line-height: 1.6em; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline; width: 638px;&quot;&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border-color: initial; border-image: initial; border-style: initial; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; height: auto; line-height: inherit;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;377&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiadUSRo0Cns4U-P3cIFzFsPBQTq5VaWJAECC4inPQ-ZPgGgGsOfRfvxVjPFZ7JbqMF-i00kWP-8RTzMEYcFLE9S_svit9awAtm7a_zH9hfHUEnTiY3ADgZmUy1UhXWWjWwI1qAp12onjlV/s640/tumblr_inline_mjhfj2lScr1qz4rgp.jpg&quot; style=&quot;border: 0px; font: inherit; height: auto; margin: 0px; max-width: 100%; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: small; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: small; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Dalam rumusan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: x-large; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Fides Quaerens Intellectum&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&amp;nbsp;di abad pertengahan, dikatakan bahwa “iman yang harus berusaha mencari pengertian”. Sebagaimana hal ini juga pernah ditegaskan dalam&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: x-large; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Credo ut Intelligam&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;, bahwa “saya percaya supaya saya boleh mengerti”.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Tentu saja, ke-dua pernyataan di atas menegaskan bahwa hakikat terdalam dari tindakan manusia adalah iman yang diikuti oleh peran akal budi secara benar (pengertian, penalaran, dll). Kita bisa memahami secara mendalam lagi bahwa jika iman muncul terlebih dahulu, maka pengertian akan selalu mengikutinya.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Stong Stephen (2011) menjelaskan bahwa iman yang menjadi penyebab adanya pengertian dan pengetahuan, bukan sebaliknya. Pengertian dan pengetahuan akan ada sesudah iman.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Sebagaimana dalam surat Ibrani 11:1-3, menjelaskan 3 hal mendasar, yatu: (1) dari iman kepada bukti; (2) dari iman kepada saksi; dan (3) dari iman kepada pengertian. Tentunya ini memberikan prinsip mendasar bahwa karena beriman, maka seseorang dapat memperoleh bukti tentang kebenaran; dan karena beriman pula, maka seseorang bersaksi (membuktikan) tentang kebenaran; serta, karena beriman maka seseorang memperoleh pengertian tentang kebenaran.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Jadi jelas bahwa iman melahirkan bukti, bukan bukti yang melahirkan iman. Demikian di tegaskan Stong Stephen (2011) dalam Busthan Abdy (2018:57-58). Dalam pemahaman bahwa iman itu adalah bukti, bukan setelah ada bukti baru beriman.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Sebagaimana pula dijelaskan dalam kitab Ibrani pasal 11, ayat 1 sampai 3, seperti penjelasan di atas, bahwa iman itu sendiri adalah bukti. Iman itu sendiri adalah bukti dari hal-hal yang tidak kelihatan (ayat 1). Jika seseorang beriman kepada Allah, maka ia mendapatkan &quot;saksi&quot; yang dalam istilah aslinya adalah “bukti” (ayat 2). Dan setelah seseorang beriman, maka ia baru bisa &quot;mengerti&quot; (ayat 3). Karena itu, pendapat yang mengatakan perlu bukti dulu baru beriman, adalah pendapat yang bertentangan dengan prinsip-prinsip iman itu sendiri.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Dalam karyanya berjudul “&lt;i style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;From Faith to Faith&lt;/i&gt;” (Dari Iman kepada Iman) Tong Stephen (2011) dalam Busthan Abdy (2018:58-61) menjabarkan tentang 4 (empat) kekeliruan pemahaman iman yang kerapkali muncul, yaitu sebagai berikut:&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Pertama&lt;/b&gt;. Iman berdasarkan penglihatan (Jika saya melihat, saya akan percaya). Jika seseorang dapat melihat Tuhan, maka secara otomatis orang itu akan percaya. Hal ini sesungguhnya adalah kekeliruan. Karena menyatakan bahwa iman dibangun dari penglihatan, yaitu apa yang dapat dilihat secara “kasat mata”.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Sehingga nantinya apa yang tidak dapat terlihat, tidak akan mungkin di percaya lagi. Jika tidak bisa melihat Allah dengan kasat mata, maka tidak percaya Allah itu ada. Padahal sudah jelas sekali perkataan Kristus kepada Thomas dalam Injil Yohanes 20:29b: “Berbahagialah orang yang tidak melihat, namun percaya”.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Kedua&lt;/b&gt;. Iman berdasarkan pengalaman (Jika saya mengalami, saya akan percaya). Prinsip ini adalah akibat dari kejatuhan manusia ke dalam dosa, yaitu iman yang di bangun hanya berdasarkan sebuah “pengalaman”. Dalam hal ini, seseorang tidak percaya karena dia tidak mengalami apa-apa. Atau dengan kata lain, jika ia mengalami, maka ia dapat percaya—seseorang tidak akan percaya, jika ia tidak mengalami apa-apa.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Jika iman didasarkan pada pengalaman, maka iman akan dikendalikan oleh pengalaman. Ketika seseorang berkata: “jika saya mengalami, saya akan beriman” atau “jika saya tidak mengalami, maka saya tidak beriman”, itu berarati iman seseorang didasarkan hanya sebatas pondasi “pengalaman”.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Akibatnya, jika pengalaman seseorang berubah, maka seluruh sendi iman juga akan goncang dan berubah. Seharusnya, iman ditegakkan di atas dasar iman. Mengapa? Karena jika iman yang pertama merupakan dasar, maka iman selanjutnya akan bertumbuh di dalam iman yang kuat.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Ketiga&lt;/b&gt;. Iman berdasarkan bukti (Jika ada bukti, saya akan percaya). Jika seseorang dapat membuktikan adanya Allah, maka ia mau percaya. Jika seseorang mengatakan, “coba buktikan Allah!”, maka bagaimana Allah bisa dibuktikan? Jika Allah bisa dibuktikan, berarti bukti itu bisa melingkupi dan menguasai Allah. Jika bukti bisa melingkupi dan menguasai Allah, maka Allah akan menjadi lebih kecil dari bukti, dan bukti akan menjadi lebih besar dan lebih tinggi kedudukannya dari Allah.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Itu sebabnya, kalimat yang menyatakan “kalau tidak bisa membuktikan Allah, maka tidak mau percaya”, adalah suatu kekeliruan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Misalnya, suatu pagi saudara berjalan ditepi pantai, dan saudara heran mengapa di pagi buta tersebut sudah ada bekas telapak kaki yang berada di pantai. Lalu saudara menyimpulkan bahwa tanda jejak telapak kaki di pasir itu merupakan bukti bahwa sebelum saudara tiba di pantai, sudah ada orang yang berjalan terlebih dahulu di pantai mendahului saudara. Kemudian saudara membuat argumentasi berdasarkan bukti-bukti (evidensi) dari telapak kaki yang ada disitu. Namun, jika harus diargumentasikan, sebenarnya semuanya itu tidak memiliki arti sama sekali, sebab yang ada hanya “fenomena belaka”, dan bukan “barang bukti” itu sendiri.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Tanda jejak kaki tidak sama dengan kaki. Maka, hal ini bukanlah bukti. Tapi fenomena saja. Tanda ini tidak sama dengan bukti. Tidak ada barang bukti yang ditinggalkan pada ilustrasi tadi. Tetapi jika misalnya lagi, saat saudara berjalan menelusuri jejak itu, lalu menemukan sepucuk pistol tergeletak di situ, maka pistol itu adalah “barang bukti”. Jadi, jejak kaki itu hanya menandakan bahwa tadi terdapat seseorang yang lewat, tetapi tidak bisa membuktikan apapun.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Di sini dapat dipahami juga bahwa bagaimanapun pengalaman-pengalaman setiap orang, adalah sesuatu yang terlalu kecil untuk menjadi suatu bukti. Maka sangat tidak mungkin jika meminta bukti dulu, baru percaya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Keempat.&lt;/b&gt;&amp;nbsp;Iman berdasarkan logika (jika masuk akal, saya akan percaya). Artinya, jika cukup logis, barulah orang dapat percaya. Satu hal yang penting di sini bahwa kepercayaan yang berdasarkan pengetahuan logis, akan sangat berbeda dengan pengetahuan logis yang berdasarkan pada kepercayaan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Dalam kitab II Timotius 1:12, Paulus berkata, “Aku tahu kepada siapa aku percaya”. Tentu saja implikasi ayat ini adalah percaya dulu baru mengerti dan mengetahui. Jadi pertanyaannya adalah, bukankah seseorang mau mengerti, setelah belajar dan mengerti baru ia percaya? Ataukah sebenarnya, ia percaya dulu baru bisa mengerti?&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Jelas di sini bagaimana kaitan antara iman dan pengetahuan logis begitu erat. Karena semakin seseorang beriman, maka semakin banyak ia akan mengetahui sesuatu dengan baik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Makin banyak mengerti, maka makin kuat imannya. Kita dapat mengerti karena kita beriman, bukan karena kita mengerti maka kita beriman! Kita dapat mengerti karena kita memiliki iman.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Alangkah hebatnya bila seseorang dapat percaya kepada Tuhan, tetapi alangkah bahagianya lagi jika ia dapat mengerti mengapa ia percaya. Hanya percaya tanpa mengerti, mengapa percaya? Ini akan mengakibatkan orang sedemikian tidak memiliki pegangan, dan tidak mempunyai hak untuk menyatakan imannya kepada orang lain. Tetapi dengan mengerti apa yang menyebabkan kita percaya, kita dapat dengan tegas dan teguh untuk membagi-bagikan iman kepada orang lain.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b&gt;Oleh: Abdy Busthan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; text-align: center; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Rujukan Buku:&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; text-align: center; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Busthan Abdy (2018).&amp;nbsp;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;KRISTUS Versus tuhan-tuhan POSTMO&lt;/b&gt;&amp;nbsp;(hal 57-61). Kupang: Desna Life Ministry&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://abdibusthan.blogspot.com/feeds/8804093803710485918/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://abdibusthan.blogspot.com/2019/09/iman-versus-pengetahuan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/6960063012783797264/posts/default/8804093803710485918'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/6960063012783797264/posts/default/8804093803710485918'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://abdibusthan.blogspot.com/2019/09/iman-versus-pengetahuan.html' title=' Iman Versus Pengetahuan'/><author><name>Abdy Busthan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08376451895356760186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF1rfIXR-ATHODKdcg-diRoerLe5u_-kqaZXZbYHHAxo9A40slxkXyVqMZpjPS5cvf9c2GnmG-NflzAt3KbNfp6oiLvTVWbD_Yy14AmzsT-aPFNoCGr4-ezhvrNlU5Lg/s220/r56722.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiadUSRo0Cns4U-P3cIFzFsPBQTq5VaWJAECC4inPQ-ZPgGgGsOfRfvxVjPFZ7JbqMF-i00kWP-8RTzMEYcFLE9S_svit9awAtm7a_zH9hfHUEnTiY3ADgZmUy1UhXWWjWwI1qAp12onjlV/s72-c/tumblr_inline_mjhfj2lScr1qz4rgp.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6960063012783797264.post-3691865174494665073</id><published>2019-09-19T22:48:00.000-07:00</published><updated>2019-09-19T22:57:11.680-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="TEOLOGI"/><title type='text'> Penyangkalan Simon Petrus</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;post-body entry-content&quot; id=&quot;post-body-7356703462765643189&quot; itemprop=&quot;description articleBody&quot; style=&quot;border: 0px; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 13px; font-stretch: inherit; font-variant-east-asian: inherit; font-variant-numeric: inherit; line-height: 1.6em; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline; width: 638px;&quot;&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border-color: initial; border-image: initial; border-style: initial; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; height: auto; line-height: inherit;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgHFPhrKO-AEHprLz27dnIyqA69VJpEsbvg_kNEHBaDYteXojDce3V6iJDeV3rFMZqgzzH1-GxebyX9MDso1turHeE9KWGVZHdzU1hXqwebuWbK0YPtUIXv92-4eZTnbJLvIgvcB-If5bU/s1600/045eeebf9d031da3ddf97001285415ba.jpg&quot; style=&quot;border: 0px; font: inherit; height: auto; margin: 0px; max-width: 100%; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Penyangkalan Simon Petrus adalah cermin penolakan terhadap Kristus yang sangat sempurna. Betapa tidak, Petrus adalah murid Yesus yang paling menonjol diantara murid lainnya. Dengan karakter batu karang yang teguh, Petrus melakukan “penyangkalan” terhadap Anak Manusia sebanyak 3 kali.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Ini adalah tragedi yang bisa menggambarkan bahwa sehebat apapun karakter seorang hamba Tuhan dalam pelayanannya, jika nantinya ia tidak rendah diri dan waspada dari kesombongan rohani yang melebihi batas, maka ia sendiri akan jatuh ke dalam kesombonganya sendiri.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Latar Belakang Simon Petrus&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Simon Petrus adalah seorang nelayan yang sehari-hariannya mencari ikan di laut Galilea. Dia adalah saudara Andreas yang berasal dari keluarga nelayan di daerah Kapernaum (Markus 1:21, 29), dan diketahui bahwa Simon Petrus memiliki seorang istri (Lukas 4:38 ; I Korintus 9:5).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Petrus merupakan kepala atau pemimpin dari kedua belas rasul. Secara eksplisit, kitab Matius 10:2 menuliskan, ..“&lt;i style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Inilah nama kedua belas rasul itu: pertama Simon, yang disebut Petrus&lt;/i&gt;”. Kata “&lt;i style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;pertama&lt;/i&gt;” dalam bahasa Yunani adalah “&lt;i style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;protos&lt;/i&gt;” yaitu kata yang mengacu pada yang pertama pada daftar yang berbicara tentang “kepala” dan “pemimpin” kelompok.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Nama Petrus paling sering disebutkan dalam Injil dibandingkan Rasul-rasul yang lain. Tidak seorang pun dari kedua belas murid Yesus yang berbicara sesering Petrus, dan tidak seorang murid pun yang dibicarakan Yesus sesering Petrus (Busthan Abdy, 2018:95-96).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Namun Petrus juga adalah murid yang paling banyak di tegur oleh Yesus, dan sebaliknya ia pun sering menegur Yesus (Matius 16:2).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Menurut Busthan Abdy (2018:96), Petrus memang murid yang paling menonjol karena banyak memiliki kelebihan-kelebihan dalam pelayanan. Tidak seorang pun yang pernah mengakui ketuhanan Yesus dengan tegas dan gagah berani selain Petrus; namun tidak seorang pun juga yang pernah menyangkal Yesus dengan tegas dan gagah berani selain Petrus!&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: large; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Penyangkalan Simon Petrus&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Peristiwa penyangkalan Petrus terhadap Yesus di catat dalam ke-empat kitab Injil—Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Tentu fenomena ini merupakan hal tragis, karena Petrus di kenal sebagai murid utama Kristus.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Peristiwa ini dapat disejajarkan dengan pengkhianatan Yudas Iskariot, yaitu salah satu dari dua belas murid utama Yesus, yang menyebabkan penangkapan dan penyaliban Yesus. Namun perbedaan menyolok di akhir kedua peristiwa ini adalah, bahwa Petrus bertobat dan menjadi pemimpin dari murid-murid Yesus, sedangkan Yudas Iskariot mati bunuh diri.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Catatan Keempat Injil&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Pada waktu perjamuan terakhir yang dilakukan Yesus dengan murid-murid-Nya, Yesus telah mengatakan bahwa Petrus akan menyangkalnya &quot;tiga kali sebelum ayam berkokok&quot;. Hal ini di catat oleh keempat kitab Injil dengan keunikan dari detail masing-masing:&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: x-large; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Injil Matius&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;pasal 26:30-35: Sesudah menyanyikan nyanyian pujian, pergilah Yesus dan murid-murid-Nya ke Bukit Zaitun. Maka berkatalah Yesus kepada mereka: &quot;Malam ini kamu semua akan tergoncang imanmu karena Aku. Sebab ada tertulis: Aku akan membunuh gembala dan kawanan domba itu akan tercerai-berai. Akan tetapi sesudah Aku bangkit, Aku akan mendahului kamu ke Galilea&quot;. Petrus menjawab-Nya: &quot;Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak.&quot; Yesus berkata kepadanya: &quot;Aku berkata kepadamu, sesungguhnya malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali&quot;. Kata Petrus kepada-Nya: &quot;Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau.&quot; Semua murid lainpun berkata demikian juga.&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: x-large; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Injil Markus&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;14:26-31: Sesudah mereka menyanyikan nyanyian pujian, pergilah mereka ke Bukit Zaitun. Lalu Yesus berkata kepada mereka: &quot;Kamu semua akan tergoncang imanmu. Sebab ada tertulis: Aku akan memukul gembala dan domba-domba itu akan tercerai-berai. Akan tetapi sesudah Aku bangkit, Aku akan mendahului kamu ke Galilea.&quot; Kata Petrus kepada-Nya: &quot;Biarpun mereka semua tergoncang imannya, aku tidak.&quot; Lalu kata Yesus kepadanya: &quot;Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada hari ini, malam ini juga, sebelum ayam berkokok dua kali, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.&quot; Tetapi dengan lebih bersungguh-sungguh Petrus berkata: &quot;Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau&quot;. Semua yang lainpun berkata demikian juga.&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: x-large; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Injil Lukas&lt;/b&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&amp;nbsp;pasal 22:31-34: Yesus berkata: &quot;Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu&quot;. Jawab Petrus: &quot;Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau!&quot;. Tetapi Yesus berkata: &quot;Aku berkata kepadamu, Petrus, hari ini ayam tidak akan berkokok, sebelum engkau tiga kali menyangkal, bahwa engkau mengenal Aku.&quot;&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: x-large; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Injil Yohanes&lt;/b&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&amp;nbsp;pasal 13:37-38: Kata Petrus kepada-Nya: &quot;Tuhan, mengapa aku tidak dapat mengikuti Engkau sekarang? Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu!&quot; Jawab Yesus: &quot;Nyawamu akan kauberikan bagi-Ku? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.&quot;&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Sedikit catatan penting bahwa dari uraian keempat Injil tentang penyangkalan Petrus di atas, ayam berkokok dua kali hanya di catat dalam Injil Markus. Sekali berkokok menjadi tanda untuk berkokok lagi. Fayum papyrus membenarkan Injil Markus ini dengan adanya kata &quot;dis&quot; (=dua kali). Berkokoknya ayam menjadi tanda mulai waktu jaga pada jam ke-3 di malam hari (Archibald Thomas Robertson, 1960).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Berikut catatan ke-empat Injil tentang penyangkalan Simon Petrus kepada Yesus Kristus sebanyak 3 kali:&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;1. Injil Matius 26:69-75&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Sementara itu Petrus duduk di luar di halaman....&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Pertama.&lt;/b&gt;&amp;nbsp;Maka datanglah seorang hamba perempuan kepadanya, katanya: &quot;Engkau juga selalu bersama-sama dengan Yesus, orang Galilea itu.&quot; Tetapi ia menyangkalnya di depan semua orang, katanya: &quot;Aku tidak tahu, apa yang engkau maksud.&quot;&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Kedua.&lt;/b&gt;&amp;nbsp;Ketika ia pergi ke pintu gerbang, seorang hamba lain melihat dia dan berkata kepada orang-orang yang ada di situ: &quot;Orang ini bersama-sama dengan Yesus, orang Nazaret itu.&quot; Dan ia menyangkalnya pula dengan bersumpah: &quot;Aku tidak kenal orang itu.&quot;&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Ketiga.&lt;/b&gt;&amp;nbsp;Tidak lama kemudian orang-orang yang ada di situ datang kepada Petrus dan berkata: &quot;Pasti engkau juga salah seorang dari mereka, itu nyata dari bahasamu.&quot; Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah: &quot;Aku tidak kenal orang itu.&quot; Dan pada saat itu berkokoklah ayam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus kepadanya: &quot;Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.&quot; Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya.&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;2. Injil Markus 14:66-72&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Pada waktu itu Petrus masih ada di bawah, di halaman...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Pertama.&lt;/b&gt;&amp;nbsp;Datanglah seorang hamba perempuan Imam Besar, dan ketika perempuan itu melihat Petrus sedang berdiang, ia menatap mukanya dan berkata: &quot;Engkau juga selalu bersama-sama dengan Yesus, orang Nazaret itu.&quot; Tetapi ia menyangkalnya dan berkata: &quot;Aku tidak tahu dan tidak mengerti apa yang engkau maksud”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Kedua&lt;/b&gt;. Lalu ia pergi ke serambi muka (dan berkokoklah ayam). Ketika hamba perempuan itu melihat Petrus lagi, berkatalah ia pula kepada orang-orang yang ada di situ: &quot;Orang ini adalah salah seorang dari mereka.&quot; Tetapi Petrus menyangkalnya pula.&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Ketiga&lt;/b&gt;. Tidak lama kemudian orang-orang yang ada di situ berkata juga kepada Petrus: &quot;Engkau ini pasti salah seorang dari mereka, apalagi engkau seorang Galilea!&quot; Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah: &quot;Aku tidak kenal orang yang kamu sebut-sebut ini!&quot; Dan pada saat itu berkokoklah ayam untuk kedua kalinya.&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Maka teringatlah Petrus, bahwa Yesus telah berkata kepadanya: &quot;Sebelum ayam berkokok dua kali, engkau telah menyangkal Aku tiga kali&quot;. Lalu menangislah ia tersedu-sedu.&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;3. Injil Lukas pasal 22:54-62&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Lalu Yesus ditangkap dan dibawa dari tempat itu. Ia digiring ke rumah Imam Besar. Dan Petrus mengikut dari jauh. Di tengah-tengah halaman rumah itu orang memasang api dan mereka duduk mengelilinginya. Petrus juga duduk di tengah-tengah mereka.&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Pertama.&lt;/b&gt;&amp;nbsp;Seorang hamba perempuan melihat dia duduk dekat api; ia mengamat-amatinya lalu berkata: &quot;Juga orang ini bersama-sama dengan Dia.&quot; Tetapi Petrus menyangkal, katanya: &quot;Bukan, aku tidak kenal Dia!&quot;.&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Kedua&lt;/b&gt;. Tidak berapa lama kemudian seorang lain melihat dia lalu berkata: &quot;Engkau juga seorang dari mereka!&quot; Tetapi Petrus berkata: &quot;Bukan, aku tidak!&quot;.&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Ketiga&lt;/b&gt;. Dan kira-kira sejam kemudian seorang lain berkata dengan tegas: &quot;Sungguh, orang ini juga bersama-sama dengan Dia, sebab ia juga orang Galilea.&quot; Tetapi Petrus berkata: &quot;Bukan, aku tidak tahu apa yang engkau katakan.&quot; Seketika itu juga, sementara ia berkata, berkokoklah ayam.&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Lalu berpalinglah Tuhan memandang Petrus. Maka teringatlah Petrus bahwa Tuhan telah berkata kepadanya: &quot;Sebelum ayam berkokok pada hari ini, engkau telah tiga kali menyangkal Aku&quot;. Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya.&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;4. Injil Yohanes pasal 18:13-27:&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Lalu mereka membawa-Nya mula-mula kepada Hanas, karena Hanas adalah mertua Kayafas, yang pada tahun itu menjadi Imam Besar; dan Kayafas yang telah menasihatkan orang-orang Yahudi: &quot;Adalah lebih berguna jika satu orang mati untuk seluruh bangsa.&quot; Simon Petrus dan seorang murid lain mengikuti Yesus. Murid itu mengenal Imam Besar dan ia masuk bersama-sama dengan Yesus ke halaman istana Imam Besar, tetapi Petrus tinggal di luar dekat pintu. Maka murid lain tadi, yang mengenal Imam Besar, kembali ke luar, bercakap-cakap dengan perempuan penjaga pintu lalu membawa Petrus masuk.&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Pertama&lt;/b&gt;. Maka kata hamba perempuan penjaga pintu kepada Petrus: &quot;Bukankah engkau juga murid orang itu?&quot; Jawab Petrus: &quot;Bukan!&quot; Sementara itu hamba-hamba dan penjaga-penjaga Bait Allah telah memasang api arang, sebab hawa dingin waktu itu, dan mereka berdiri berdiang di situ. Juga Petrus berdiri berdiang bersama-sama dengan mereka. Maka mulailah Imam Besar menanyai Yesus tentang murid-murid-Nya dan tentang ajaran-Nya. Jawab Yesus kepadanya: &quot;Aku berbicara terus terang kepada dunia: Aku selalu mengajar di rumah-rumah ibadat dan di Bait Allah, tempat semua orang Yahudi berkumpul; Aku tidak pernah berbicara sembunyi-sembunyi. Mengapakah engkau menanyai Aku? Tanyailah mereka, yang telah mendengar apa yang Kukatakan kepada mereka; sungguh, mereka tahu apa yang telah Kukatakan.&quot; Ketika Ia mengatakan hal itu, seorang penjaga yang berdiri di situ, menampar muka-Nya sambil berkata: &quot;Begitukah jawab-Mu kepada Imam Besar?&quot; Jawab Yesus kepadanya: &quot;Jikalau kata-Ku itu salah, tunjukkanlah salahnya, tetapi jikalau kata-Ku itu benar, mengapakah engkau menampar Aku?&quot; Maka Hanas mengirim Dia terbelenggu kepada Kayafas, Imam Besar itu.&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Kedua.&amp;nbsp;&lt;/b&gt;Simon Petrus masih berdiri berdiang. Kata orang-orang disitu kepadanya: &quot;Bukankah engkau juga seorang murid-Nya?&quot; Ia menyangkalnya, katanya: &quot;Bukan&quot;.&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Ketiga.&amp;nbsp;&lt;/b&gt;Kata seorang hamba Imam Besar, seorang keluarga dari hamba yang telinganya dipotong Petrus: &quot;Bukankah engkau kulihat di taman itu bersama-sama dengan Dia?&quot; Maka Petrus menyangkalnya pula dan ketika itu berkokoklah ayam.&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Akhirnya, setelah Yesus Kristus bangkit dari kematian-Nya, Ia menunjukkan kepada Petrus bahwa pertobatannya diterima dan Petrus dipulihkan lagi menjadi murid dan rasul Yesus Kristus.&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Keempat Injil mencatat pemulihan Petrus dari berbagai segi berbeda. Penyesalan dan pertobatan Petrus atas penyangkalannya kemudian ditandai dengan tangisan yang &quot;tersedu-sedu&quot; dan &quot;dengan sedihnya&quot; (Peter, 2000).&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Pada pertemuan di tepi danau Galilea setelah kebangkitan Yesus dari kematian, Injil Yohanes mencatat bagaimana Yesus menanyai Simon Petrus tiga kali: &quot;Apakah engkau mengasihi Aku?&quot;, yang menunjukkan kepada pemulihan Petrus atas tiga kali penyangkalannya, bahwa ia mengenal Yesus (Busthan Abdy, 2018:102).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; text-align: center; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Rujukan Buku:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; text-align: center; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Busthan Abdy (2018).&amp;nbsp;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Mesias dalam Progeni&lt;/b&gt;&amp;nbsp;(hal. 95-102). Kupang: Desna Life Ministry&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://abdibusthan.blogspot.com/feeds/3691865174494665073/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://abdibusthan.blogspot.com/2019/09/penyangkalan-simon-petrus.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/6960063012783797264/posts/default/3691865174494665073'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/6960063012783797264/posts/default/3691865174494665073'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://abdibusthan.blogspot.com/2019/09/penyangkalan-simon-petrus.html' title=' Penyangkalan Simon Petrus'/><author><name>Abdy Busthan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08376451895356760186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF1rfIXR-ATHODKdcg-diRoerLe5u_-kqaZXZbYHHAxo9A40slxkXyVqMZpjPS5cvf9c2GnmG-NflzAt3KbNfp6oiLvTVWbD_Yy14AmzsT-aPFNoCGr4-ezhvrNlU5Lg/s220/r56722.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgHFPhrKO-AEHprLz27dnIyqA69VJpEsbvg_kNEHBaDYteXojDce3V6iJDeV3rFMZqgzzH1-GxebyX9MDso1turHeE9KWGVZHdzU1hXqwebuWbK0YPtUIXv92-4eZTnbJLvIgvcB-If5bU/s72-c/045eeebf9d031da3ddf97001285415ba.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6960063012783797264.post-3607935708622554030</id><published>2019-09-19T22:44:00.002-07:00</published><updated>2019-09-19T22:57:19.489-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="TEOLOGI"/><title type='text'> Nubuat Daniel Tentang Mesias </title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;post-body entry-content&quot; id=&quot;post-body-3789105324080827376&quot; itemprop=&quot;description articleBody&quot; style=&quot;border: 0px; font-stretch: inherit; font-variant-east-asian: inherit; font-variant-numeric: inherit; line-height: 1.6em; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline; width: 638px;&quot;&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;border: 0px; font-stretch: inherit; font-variant-east-asian: inherit; font-variant-numeric: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgDpdCJA1YVPS-Qc6oNfrlG9mrWwz4QxcZAyRCJae229ogEmFEBwEO0ciYZKrbxbOiwNnz4IurYFH4uIt5Pv8QgsKaaaF54aICHEhTEQxHEa_BGk1Jy22sKx78ZFdZ4iveAhqgyLKaJwkg/s640/e8a7781da2bfa95aaa52b210c092e590.jpg&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: small; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Daniel hidup lebih dari 500 tahun sebelum Yesus lahir. Tetapi Allah menyingkapkan kepada Daniel keterangan yang memungkinkan kita mengetahui kapan persisnya Yesus diurapi sebagai Mesias.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Sebagaimana Daniel diberitahukan: ”Hendaklah engkau tahu dan memiliki pemahaman bahwa sejak keluarnya firman untuk memulihkan dan membangun kembali Yerusalem sampai datangnya Mesias, sang Pemimpin, akan ada tujuh minggu, juga enam puluh dua minggu.”—Daniel 9:25.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Untuk menentukan saat kedatangan Mesias, pertama-tama harus mengetahui titik awal periode yang mengarah kepada kedatangan Mesias itu sendiri, yang menurut nubuat dalam kitab Daniel adalah ”&lt;i style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;sejak keluarnya firman untuk memulihkan dan membangun kembali Yerusalem&lt;/i&gt;”.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Kapan firman itu keluar? Menurut penulis kitab Nehemia, firman untuk membangun kembali tembok-tembok di sekeliling Yerusalem dikeluarkan pada tahun &#39;kedua puluh&#39; pemerintahan Raja Artahsasta (Nehemia 2:1, 5-8).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Para sejarawan kemudian meneguhkan bahwa pemerintahan Artahsasta dimulai pada tahun 475 SM. Maka tahun ke-20 masa pemerintahannya jatuh pada tahun 455 SM. Jadi titik awal digenapinya nubuat Daniel tentang Mesias adalah tahun 455 SM.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Daniel menunjukkan berapa lama periode waktu yang mengarah kepada kedatangan Mesias sang “Pemimpin” itu. Nubuatnya menyebutkan ”&lt;i style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;tujuh minggu&lt;/i&gt;”, juga “&lt;i style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;enam puluh dua minggu&lt;/i&gt;”—seluruhnya 69 minggu.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Berapa lamakah periode waktu itu? Beberapa terjemahan Alkitab menyatakan bahwa itu bukan minggu yang masing-masing panjangnya tujuh hari, tetapi minggu dalam hitungan tahun. Artinya, setiap minggu panjangnya tujuh tahun.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Konsep tentang minggu-tahun atau unit-unit tujuh tahun, di kenal baik oleh orang Yahudi pada zaman dahulu. Contohnya, tujuh tahun sekali mereka menjalani tahun Sabat (Keluaran 23:10, 11). Jadi, 69 minggu dalam nubuat itu berarti 69 unit yang masing-masing lamanya 7 tahun, atau seluruhnya 483 tahun.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Jika titik awalnya adalah tahun 455 SM, maka 483 tahun kemudian jatuh pada tahun 29 M. Itulah persisnya tahun ketika Yesus Kristus di baptis dan menjadi Mesias (Lukas 3:1, 2, 21, 22).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Rujukan Buku&lt;/b&gt;:&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Busthan Abdy (2018).&amp;nbsp;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Mesias dalam Progeni&lt;/b&gt;&amp;nbsp;(hal. 40-42). Kupang: Desna Life Ministry&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://abdibusthan.blogspot.com/feeds/3607935708622554030/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://abdibusthan.blogspot.com/2019/09/nubuat-daniel-tentang-mesias.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/6960063012783797264/posts/default/3607935708622554030'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/6960063012783797264/posts/default/3607935708622554030'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://abdibusthan.blogspot.com/2019/09/nubuat-daniel-tentang-mesias.html' title=' Nubuat Daniel Tentang Mesias '/><author><name>Abdy Busthan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08376451895356760186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF1rfIXR-ATHODKdcg-diRoerLe5u_-kqaZXZbYHHAxo9A40slxkXyVqMZpjPS5cvf9c2GnmG-NflzAt3KbNfp6oiLvTVWbD_Yy14AmzsT-aPFNoCGr4-ezhvrNlU5Lg/s220/r56722.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgDpdCJA1YVPS-Qc6oNfrlG9mrWwz4QxcZAyRCJae229ogEmFEBwEO0ciYZKrbxbOiwNnz4IurYFH4uIt5Pv8QgsKaaaF54aICHEhTEQxHEa_BGk1Jy22sKx78ZFdZ4iveAhqgyLKaJwkg/s72-c/e8a7781da2bfa95aaa52b210c092e590.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6960063012783797264.post-9049598440380489585</id><published>2019-09-19T22:41:00.003-07:00</published><updated>2019-09-19T22:57:29.461-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="TEOLOGI"/><title type='text'> Jenis dan Sifat Nubuatan Tentang Mesias</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;post-body entry-content&quot; id=&quot;post-body-2498458321547547231&quot; itemprop=&quot;description articleBody&quot; style=&quot;border: 0px; font-stretch: inherit; font-variant-east-asian: inherit; font-variant-numeric: inherit; line-height: 1.6em; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline; width: 638px;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-stretch: inherit; font-variant-east-asian: inherit; font-variant-numeric: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: #333333; font-family: inherit; font-size: inherit; font-style: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border-color: initial; border-image: initial; border-style: initial; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; height: auto; line-height: inherit;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;576&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi-himYY6-ePnNtIbnpN8-X5ISIpaxgfjuIv2H9gmP3Yh-PCJf4uBWM25fiPh8Bue-UVB0T1O4x0V5UuSxHqc5RmhtOSjBaIZGFT6tAUUBRj1Sa08_n6idKFwdx2tGcZwxx-NlGmEZBClr9/s640/dc931986dad0302aea870799ddb95c1addd.jpg&quot; style=&quot;border: 0px; font: inherit; height: auto; margin: 0px; max-width: 100%; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #222222; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;helvetica neue&amp;quot; , &amp;quot;arial&amp;quot; , &amp;quot;helvetica&amp;quot; , sans-serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Oleh: Abdy Busthan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-stretch: inherit; font-variant-east-asian: inherit; font-variant-numeric: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Nubuat tentang Mesias memiliki jenis dan sifat tertentu. Untuk jenisnya, nubuat tentang Mesias terdiri dari dua jenis, yaitu: (1) Nubuatan umum, dan (2) Nubuatan khusus.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-stretch: inherit; font-variant-east-asian: inherit; font-variant-numeric: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Sementara untuk sifat-sifat nubuatan tentang Mesias, menurut ahli Theologia Injili Amerika, Walvoord John (1969), terdiri dari empat sifat-sifat utama, yaitu: (1) Bahasanya sering sama-samar; (2) Bahasanya bersifat kiasan, (3) Mesias masa depan dianggap sebagai masa lalu dan masa sekarang, (4) Dapat dilihat sebagai sesuatu secara horisontal dan bukan vertikal&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-stretch: inherit; font-variant-east-asian: inherit; font-variant-numeric: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-stretch: inherit; font-variant-east-asian: inherit; font-variant-numeric: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Jenis Nubuatan Mesias&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Menurut Busthan Abdy (2018:32), dalam Perjanjian Lama (PL), terdapat banyak sekali nubuat tentang Mesias yang disampaikan melalui ragam bahasa dan konsep. Namun hanya terdapat dua jenis nubuat tentang sosok Mesias ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-stretch: inherit; font-variant-east-asian: inherit; font-variant-numeric: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pertama&lt;/b&gt;. Nubuatan tentang Mesias secara umum. Yaitu nubuat yang diungkapkan dalam bahasa yang hanya dapat digenapkan oleh Mesias sendiri. Misalnya dalam kitab 1 Samuel 2:35 dikatakan bahwa,.. “&lt;i&gt;Aku akan mengangkat bagi-Ku seorang imam kepercayaan, yang berlaku sesuai dengan hatiKu, dan jiwaKu, dan Aku akan membangunkan baginya keturunan yang teguh setia, sehingga Ia selalu hidup di hadapan orang yang Kuurapi&lt;/i&gt;”.&lt;br /&gt;Walaupun penggenapan segera dari nubuat ini barangkali dipenuhi langsung oleh Samuel, namun memiliki penggenapan lain di luar Samuel—yang menunjuk kepada penggenapan akhir dalam Kristus. Meskipun nantinya keimaman Samuel dan garis keturunannya berakhir, tetapi keimaman kekal yang diramalkan dalam nubuatan ini akan sepenuhnya digenapi di dalam Kristus.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-stretch: inherit; font-variant-east-asian: inherit; font-variant-numeric: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-stretch: inherit; font-variant-east-asian: inherit; font-variant-numeric: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Kedua&lt;/b&gt;. Nubuatan tentang Mesias secara pribadi. Jenis ini seringkali ditemukan dalam Perjanjian Lama dan dapat pula diketahui dari istilah-itilah khusus. Misalnya saja dalam Yesaya 7:14 dikatakan bahwa Mesias diketahui dari istilah yang tak biasa dipakai yaitu “Imanuel” yang artinya “Allah menyertai kita”. Bagian ini secara istimewa membicarakan tentang Mesias yang akan datang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-stretch: inherit; font-variant-east-asian: inherit; font-variant-numeric: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sifat-sifat Nubuatan Mesias&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Banyak nubuatan Mesias cukup jelas, khususnya bila dipandang berdasarkan pernyataan Perjanjian Baru (PB) yang penggenapannya memberikan keterangan tentang isi nubuatan di dalam Perjanjian Lama (PL).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-stretch: inherit; font-variant-east-asian: inherit; font-variant-numeric: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Menurut Walvoord John (1969) dalam Busthan Abdy (2018:33-35), nubuatan tentang Mesias umumnya memiliki sifat-sifat sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-stretch: inherit; font-variant-east-asian: inherit; font-variant-numeric: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pertama.&lt;/b&gt; Bahasa dari nubuatan tentang Mesias sering samar-samar. Maksud Allah dari kesamaran ini adalah untuk menjadikan nubuatan itu dapat dimengerti hanya oleh orang-orang percaya sejati yang diajarkan oleh Roh Kudus dan oleh karena itu, ia dapat membedakan mana bagian-bagian yang merupakan nubuatan tentang Mesias, dan bagian-bagian yang bukan. Banyak diantara bagian-bagian itu tidak dapat ditafsirkan, kecuali diterangi oleh seluruh isi firman Allah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-stretch: inherit; font-variant-east-asian: inherit; font-variant-numeric: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kedua.&lt;/b&gt; Bahasa dari nubuatan tentang Mesias sering bersifat kiasan. Dalam artian bahwa arti dari kiasan itu tidak perlu tak berketentuan, karena sering kiasan itu memberikan maksud yang sangat jelas bahkan walaupun bagian tersebut barangkali perlu untuk ditafsirkan. Misalnya nubuatannya berbunyi, “&lt;i&gt;Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah&lt;/i&gt;” (Yesaya 11:1). Ayat ini menunjuk kepada Mesias sebagai Seorang yang akan diturunkan dari Isai. Dalam konteks ini, meskipun nubuatan itu memakai bahasa kiasan, namun kebenaran yang dikandungnya jelas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-stretch: inherit; font-variant-east-asian: inherit; font-variant-numeric: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ketiga&lt;/b&gt;. Dalam nubuatan tentang Mesias masa depan, sering dianggap sebagai masa lalu atau masa sekarang. Dalam bahasa Ibrani sering memakai pengertian “sudah” dalam menulis nubuatan. Misalnya nubuat-nubuat agung dari kitab Yesaya 53 yang ditulis seakan-akan sudah terjadi. Gaya bahasa seperti ini menunjukkan bahwa peristiwa yangg diramalkan dalam Perjanjian Lama tersebut pasti digenapi, walaupun terjadi di masa depan dan bukan di masa lalu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-stretch: inherit; font-variant-east-asian: inherit; font-variant-numeric: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Keempat.&lt;/b&gt; Seperti bentuk-bentuk nubuatan yang lain, nubuatan tentang Mesias sering dilihat secara horisontal dan bukan vertikal. Dengan perkataan lain, walaupun urutan peristiwa dalam nubuatan itu pada umumnya dinyatakan dalam Kitab Suci, tetapi nubuatan-nubuatan tersebut tidak selalu memberikan jarak waktu yang mestinya ada diantara dua peristiwa besar yang disebutnya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-stretch: inherit; font-variant-east-asian: inherit; font-variant-numeric: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-stretch: inherit; font-variant-east-asian: inherit; font-variant-numeric: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Sebagaimana biasa dinyatakan puncak-puncak gunung nubuatan dinyatakan begitu saja tanpa menyebutkan adanya lembah-lembah yang terdapat diantaranya. &lt;br /&gt;Oleh karena itu, nubuatan Perjanjian Lama bisa saja melompat dari peristiwa penderitaan Kristus langsung kepada kemuliaan-Nya tanpa menyebutkan jangka waktu yang terbukti dari sejarah memisahkan kedua peristiwa besar itu.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-stretch: inherit; font-variant-east-asian: inherit; font-variant-numeric: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-stretch: inherit; font-variant-east-asian: inherit; font-variant-numeric: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Fakta bahwa nubuatan tentang Mesias tidak selalu menyebutkan jangka waktu diantara beberapa peristiwa, digambarkan dalam kutipan Kristus dari Yesaya 61:1-2 di dalam Lukas 4:18-19, dimana ayat-ayat dalam Yesaya menghubungkan kedatangan pertama dan kedua dari Kristus tanpa sesuatu petunjuk bahwa diantara keduanya terbentang jarak waktu yang lebar.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-stretch: inherit; font-variant-east-asian: inherit; font-variant-numeric: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Tetapi sejarah telah membuktikan bahwa keduanya dipisahkan oleh jangka waktu paling sedikit lebih dari 1900 tahun. Yesus Kristus dalam kutipan-Nya menyebutkan aspek-aspek kedatangan pertama-Nya. Tetapi kemudian tiba-tiba berhenti tanpa menyebutkan ayat selanjutnya mengenai “hari pembalasan Allah” yang menunjuk kepada hukuman disaat kedatangan kedua kali-Nya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-stretch: inherit; font-variant-east-asian: inherit; font-variant-numeric: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Apabila dimengerti benar-benar masalah dalm menafsirkan nubuatan tentang Mesias ini tidak begitu sulit. Tetapi si penafsir harus teliti untuk mengambil kesimpulan tentang maksud dari penulis.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-stretch: inherit; font-variant-east-asian: inherit; font-variant-numeric: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-stretch: inherit; font-variant-east-asian: inherit; font-variant-numeric: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Daftar Pustaka:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Busthan Abdy (2018). &lt;b&gt;Mesias dalam Progeni&lt;/b&gt; (hal. 31-35). Kupang: Desna Life Ministry&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://abdibusthan.blogspot.com/feeds/9049598440380489585/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://abdibusthan.blogspot.com/2019/09/jenis-dan-sifat-nubuatan-tentang-mesias.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/6960063012783797264/posts/default/9049598440380489585'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/6960063012783797264/posts/default/9049598440380489585'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://abdibusthan.blogspot.com/2019/09/jenis-dan-sifat-nubuatan-tentang-mesias.html' title=' Jenis dan Sifat Nubuatan Tentang Mesias'/><author><name>Abdy Busthan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08376451895356760186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF1rfIXR-ATHODKdcg-diRoerLe5u_-kqaZXZbYHHAxo9A40slxkXyVqMZpjPS5cvf9c2GnmG-NflzAt3KbNfp6oiLvTVWbD_Yy14AmzsT-aPFNoCGr4-ezhvrNlU5Lg/s220/r56722.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi-himYY6-ePnNtIbnpN8-X5ISIpaxgfjuIv2H9gmP3Yh-PCJf4uBWM25fiPh8Bue-UVB0T1O4x0V5UuSxHqc5RmhtOSjBaIZGFT6tAUUBRj1Sa08_n6idKFwdx2tGcZwxx-NlGmEZBClr9/s72-c/dc931986dad0302aea870799ddb95c1addd.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6960063012783797264.post-5794585195728514816</id><published>2019-09-19T22:32:00.001-07:00</published><updated>2019-09-19T22:57:40.228-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="TEOLOGI"/><title type='text'> Filsafat Pendidikan Agama Kristen (PAK) </title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;post-body entry-content&quot; id=&quot;post-body-5059507781134638301&quot; itemprop=&quot;description articleBody&quot; style=&quot;border: 0px; font-stretch: inherit; font-variant-east-asian: inherit; font-variant-numeric: inherit; line-height: 1.6em; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline; width: 638px;&quot;&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;border: 0px; font-stretch: inherit; font-variant-east-asian: inherit; font-variant-numeric: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; text-align: center; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;640&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjQYZ20POXMQibrfXIXDU4gt-MLDsRbcPWvfafdZVZJgkQjnz_d99LGx8ZC6-OE1rZoxPWM_eyoZSdRUkH5ELsh0Uuf4ZyUkWtOlwwarWN9fDQIXdLNxNn0lJHzPv2R6LriqEQGmv0iOPZA/s640/ae3a2e97af9ff67f76fe213fd18bba12.jpg&quot; style=&quot;border: 0px; font: inherit; height: auto; margin: 0px; max-width: 100%; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot; width=&quot;510&quot; /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Filsafat, merupakan alasan mengapa sebuah situasi bisa menghasilkan tanggapan yang berbeda bagi tiap-tiap orang. Filsafat seseorang akan menyaring setiap pengalamana dan setiap informasi yang ia dapatkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Tentu jauh hari sebelumnya, Rasul Paulus menekankan kebenaran ini saat dia menasehati jemaat untuk waspada terhadap orang-orang yang “menawan” (atau merusak) diri mereka lewat filsafatnya. Artinya bahwa, filsafat yang salah akan menghasilkan tanggapan yang salah pula dalam menghadapi sebuah situasi, dan hal itu akan berakibat pada seseorang dalam mengambil kesimpulan yang salah mengenai kejadian-kejadian dan informasi dalam hidup ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Karena itu, setiap orang Kristen memerlukan sebuah filsafat yang berlandaskan pada Kristus, dan bukan berlandaskan pada ajaran turun-temurun, tipu daya yang sia-sia, atau prinsip-prinsip dunia ini (Wommack Andrew, 2013:1-2). Sebagaimana cara umat Kristen berfilsafat, Rasul Paulus sudah menekankannya dalam kitab Kolose 2:8 yang tertulis:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;i style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Dalam konteks itu, jemaat di Kolose pada saat itu, belajar mengenai Kristus dari Epfras, dan bukan dari Paulus. Dan saat Paulus menulis surat itu (ayat di atas), Paulus pada posisinya belum pernah menginjili mereka dan bertemu muka dengan muka (Kolose 2:1). Jadi, sebelumnya jemaat Kolose belum pernah menerima ajaran Paulus. Sehingga Paulus ingin memastikan pemahaman mereka yang mendalam tentang pengajaran Kristus.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Implikasinya terhadap PAK bahwa Paulus dalam hal ini, mengingatkan setiap orang Kristen untuk berwaspada terhadap segala filsafat agama, dan tradisi yang menekankan usaha manusia yang sesungguhnya sudah terlepas dari Allah dan semua ajaran Kristen yang benar. Sekarang ini salah satu ancaman filsafat yang terbesar terhadap kekristenan yang berdasarkan Alkitab adalah &quot;humanisme sekular&quot;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Paham ini telah menjadi filsafat yang mendasar dan agama yang diterima dalam kebanyakan pendidikan sekular, pemerintahan, dan masyarakat pada umumnya. Paham ini juga merupakan segi pandangan yang tetap dari kebanyakan media berita dan hiburan di seluruh dunia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Sehingga lewat iman yang cerdas dan berpegang pada keyakinan akan kebenaran ajaran Kristus, maka sejatinya PAK menolak paham-paham yang berbau filsafat humanisme tersebut. Apakah yang diajarkan oleh filsafat humanisme?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Berikut akan diuraikan doktrin dari filsafat humanisme, seperti dikutip melalui penjelasan Alkitab Sabda (YLSA, 2014), yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;ol style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: medium; font-style: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;Filsafat humanisme mengajar bahwa umat manusia, alam semesta, dan segala sesuatu yang ada hanya terdiri atas zat dan tenaga yang terbentuk secara kebetulan dalam wujudnya yang sekarang&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: medium; font-style: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;Filsafat humanisme mengajar bahwa manusia tidak diciptakan oleh Allah yang berkepribadian, tetapi adalah hasil suatu proses evolusi yang untung-untunga&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: medium; font-style: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;Filsafat humanisme mengajar bahwa paham ini menolak kepercayaan kepada Allah yang berkepribadian dan tak terbatas serta menyangkal bahwa Alkitab adalah penyataan yang diilham oleh Allah kepada umat manusia.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: medium; font-style: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;Filsafat humanisme mengajar bahwa pengetahuan tidak ada terlepas dari penemuan manusia dan bahwa nalar manusialah yang menentukan etika yang tepat bagi masyarakat, dan dengan demikian menjadikan manusia sebagai otoritas yang tertinggi&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: medium; font-style: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;Filsafat humanisme berusaha untuk mengubah atau memperbaiki perilaku manusia melalui pendidikan, redistribusi ekonomi, psikologi modern atau hikmat manusia&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: medium; font-style: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;Filsafat humanisme mengajar bahwa standar moral tidaklah mutlak, melainkan nisbi, ditetapkan oleh apa yang membahagiakan orang, membuatnya senang, atau dianggap baik untuk masyarakat sesuai dengan tujuan-tujuan yang ditentukan oleh para pemimpinnya; nilai-nilai dan moralitas alkitabiah ditolak.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: medium; font-style: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;Filsafat humanisme mengajar bahwa rasa nyaman-diri, kepuasan, dan kesenangan dianggapnya sebagai keuntungan yang tertinggi dalam hidup.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: medium; font-style: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;Filsafat humanisme mengajar bahwa manusia harus belajar untuk menanggulangi kematian dan segala kesukaran dalam hidup tanpa percaya kepada atau bergantung pada Allah.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Filsafat humanisme dimulai dengan pekerjaan Iblis dan merupakan perwujudan kebohongan Iblis bahwa manusia dapat menjadi seperti Allah (Kejadian 3:5).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Alkitab menyebut para penganut humanisme sebagai orang yang telah &quot;menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya...&quot; (Roma 1:25).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Sehingga PAK harus berusaha semampunya untuk melindungi siswa mereka dari indoktrinasi humanisme dengan menyingkapkan kesalahan ajaran ini, serta menanam nilai-nilai Iman Kristen yang berporos pada kehidupan dan ajaran Kristus saja. (Roma 1:20-32; 2 Korintus 10:4-5; 2 Timotius 3:1-10; Yudas 1:4-20; lihat. 1 Korintus 1:20; lihat 2 Petrus 2:19). atau (1 Korintus 1:20; 2 Petrus 2:19).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Dengan demikian maka ditegaskan lagi oleh Wommack Andrew (2013) bahwa ajaran filsafat PAK harus menyadari bahwa Allah telah memberikan kepada manusia segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh lewat mengenal dan memiliki hubungan yang intim dengan Yesus Kristus (2 Petrus 1:3-4), tetapi orang Kristen tidak akan mengalami semua itu bila tetap membiarkan dunia menggoda unuk tetap memandang hidup dengan cara pandang yang tidak alkitabiah dan Ilahi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Dunia ini, bahkan juga gereja, telah di penuhi dengan berbagai macam filsafat dan ajaran kosong serta palsu, juga adat istiadat manusia yang siap menawan orang Kristen sebagai tawanannya. Dan hal-hal tersebut jika dibiarkan terus terjadi, maka akan merampas berkat-berkat yang Yesus telah beli dengan lunas lewat penebusan-Nya di kayu salib.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-stretch: inherit; font-variant-east-asian: inherit; font-variant-numeric: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Karena adat istiadat sekuler maupun agama telah merusak cara berpikir orang Kristen sejati, maka segala sesuatu dalam kehidupan PAK haruslah berporos pada cara berpikir dalam Amsal 23:7 (KJV), yang berbunyi: &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;i&gt;Sebab seperti yang dipikirkan seseorang dalam hatinya, demikianlah ia .....&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-stretch: inherit; font-variant-east-asian: inherit; font-variant-numeric: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Berangkat dari pemikiran di atas, dalam kajiannya tentang filsafat agama, Pranata Magdalena (2009) menyatakan bahwa filsafat agama adalah pemikiran reflektif yang mendalam dan kritis terhadap masalah krusial keagamaan dan Iman.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Karena itu, filsafat agama selalu mempelajari konsep serta sistim kepercayaan dalam berbagai agama untuk direfleksikan juga dalam fenomena agama. Dari pengertian ini, maka dalam konteks Kekristenan, pendidikan memiliki dua pusat utama, yaitu pendidikan budaya yang bersifat antroposentris dan pendidikan gereja yang Teosentris.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Terkait dengan hal itu, pendidikan budaya mengingatkan orang akan nilainya selaku manusia dan potensi-potensinya untuk mencapai sesuatu, yang penekanannya adalah kemajuan-kemajuan yang telah dicapai oleh ilmu pengetahuan dan estetika ketika orang dikalangan Gereja gagal mencapai karunia-karunia kepada umat manusia itu (Cully Iris, 2011).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Apabila humanisme terlalu mengutamakan aspek-aspek intelektual kehidupan, maka Gereja dalam hal ini PAK bertugas untuk mengaplikasikan “Pendidikan Gereja yang Teosentris”, dengan menegaskan bahwa manusia tidak diselamatkan hanya karena intelektual semata, melainkan pada keseluruhan pribadinya yang dipanggil Allah untuk meresponnya melalui ‘ketaatan’ dan ‘kesetiaan’ kepada Sang pencipta, yakni Allah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Dengan demikian, pendidikan Gereja yang Teosentris di panggil untuk menegaskan kembali ‘nilai’ setiap manusia yang diciptakan segambar dengan Allah. Dalam pemahamannya bahwa apabila “manusia” menjadi suatu abstraksi, maka Alkitab berkata: “Tuhan engkau menyelidiki dan mengenal aku” (Mazmur 139:1). Sehingga terbentuklah suatu falsafah dalam pandangan tentang manusia sebagai suatu oknum pribadi yang bergantung sepenuhnya kepada Allah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Maka menjadi jelas adanya terdapat perbedaan yang signifikan antara filsafat Kristen yang berpusat pada pendidikan Teokrasi dengan pendidikan yang pada umumnya berpusat pada budaya yang bersifat antroposentris tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Jadi, penting untuk dipahami disini, bahwa tiap pendidikan mempunyai pusat utama. Dan pusat berkembangnya pendidikan Kristen adalah yang berpusat melalui diri Allah di dalam Kristus. Sedangkan pusat berkembangnya pendidikan budaya atau antroposentris adalah manusia, yang lebih merupakan fokus penting dalam masyarakat yang humanistis dan sejajar dengan tradisi besar yang berakar pada kebudayaan Yunani klasik, dan memasuki dunia modern melalui renaissance—mengilhami kemajuan baik dalam kesenian maupun dalam ilmu pengetahuan. Dan intinya adalah sumber kebebasan manusia ada pada dirinya sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Dari pemaparan di atas, dapat dipahami bahwa Pendidikan Kristen memiliki warna dan nilai-nilai kekristenan. Sehingga untuk memiliki warna yang berbeda, maka pendidikan Kristen terbentuk dari filosofi Kristen yang berdasarkan kepada kebenaran Alkitab.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Kemudian, filosofi inilah yang akan menjadi dasar bagi jalannya sebuah pendidikan Kristen. Dalam kaitannya dengan pembelajaran PAK ini, maka terdapat 5 (lima) pemahaman mendasar yang berhubungan dengan konteks “penciptaan” (Kejadian 1), dan perlu untuk dipahami lebih baik, sehingga dapat di jadikan pedoman untuk memulai praktek penyelenggaraan pendidikan Kristen, yaitu sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;1) Pemahaman tentang Allah&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Allah yang diberitakan dalam Alkitab adalah Allah Pencipta segala sesuatunya. Oleh sebab itu, sangatlah tepat jika digunakan kata “Maha” kepada Allah. Karena Dia adalah Allah yang Maha Kuasa, Maha Kasih, Maha Adil, Maha Benar, Maha Tahu, Maha hadir, Maha Kekal, Maha Sempurna, Maha Kudus, dan Maha-Maha lainnya. Di sini manusia dapat mengenal Allah di dalam diri Yesus Kristus, yang merupakan sebuah pribadi yang tak terpisahkan dari Allah Tritunggal, yakni Tuhan yang menjadi manusia. Di dalam dan melalui Yesus Kristus manusia beroleh pendamaian dan keselamatan dari Allah serta mengalami kelahiran baru oleh Roh Kudus.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;2) Pemahaman tentang Manusia&lt;/b&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;i style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Ciptaan yang Unik dan Istimewa&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;—di sini manusia merupakan salah satu ciptaan Allah yang unik dan istimewa. Dikatakan unik dan istimewa, karena manusia merupakan ciptaan yang mendapat hak istimewa dari Allah untuk dapat menikmati hubungan yang intim denganNya. Bahkan pada awal penciptaan pun, bila diadakan tingkatan (ordo), maka manusia berada pada satu tingkat atau posisi di bawah Allah. Hal yang berikut, bahwa manusia itu diciptakan dalam gambar dan rupa Allah, yang merupakan cerminan dan pantulan dari Allah. Hanya manusia yang Allah berikan kemampuan serta kapasitas untuk mendapatkan: anugerah Allah, mengenal Allah, berpikir, merasakan, berkreatifitas, dan lain-lain. Disamping itu, setiap manusia juga Allah ciptakan dengan unik, dalam artian bahwa Allah menciptakan manusia dengan kemampuan-kemampuan yang berbeda-beda sesuai dengan tujuan yang telah Allah tetapkan sebelumnya. Dengan demikian maka tujuan utama manusia adalah memuliakan Allah, Sang Pencipta.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;i style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Ciptaan yang telah Berdosa&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;—bahwa ketika manusia pertama kali diciptakan, manusia memiliki hubungan yang sangat baik dengan Allah. Manusia juga diberikan hak untuk memilih yang baik dan yang benar, hal ini membuat manusia memiliki kebebasan untuk dapat berbuat dosa dan tidak dapat berbuat dosa. Namun, hubungan yang sangat baik dengan Allah tersebut menjadi rusak karena manusia lebih memilih untuk berbuat dosa, melawan, dan memberontak kepada Allah. Sejak saat itu manusia memiliki natur yang menjadi sifat manusia, yaitu: kecenderungan untuk berbuat dosa. Semua manusia terpolusi oleh dosa. Semua hubungan yang terbina dengan baik menjadi rusak. Manusia menjadi berdosa, bahkan jika digambarkan secara tingkatannya, maka posisi manusia telah jatuh ke tingkatan atau posisi yang paling bawah. Manusia berada di bawah malaikat, iblis, bahkan alam. Manusia menjadi kehilangan kemuliaan Allah. Manusia menjadi egois, materialistis, hedonis, dan jauh terpisahkan dari Allah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;i style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Ciptaan yang di Tebus&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;—dengan maksud bahwa, karena Allah sangat mengasihi manusia, maka Dia tidak membiarkan milik-Nya yang paling berharga terus hidup dalam kegelapan dosa. Allah yang penuh kasih, kerelaan, dan pengorbanan telah memberikan AnakNya yang tunggal Yesus Kristus untuk menebus, mendamaikan, dan menyelematkan manusia. Disini Allah telah mengembalikan tingkatan atau posisi (reposisi) manusia ke pada posisi semula. Tentu saja, bahwa barang siapa percaya Yesus adalah Tuhan dan Juru selamat, maka ia akan mengalami kelahiran baru. Meskipun demikian manusia yang telah ditebus tetap hidup atau tinggal di dalam dunia yang penuh dosa, oleh sebab itu, manusia harus tetap berjuang melawan dosa dan tetap bergantung penuh kepada kuasa, kasih, dan anugerah Allah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;3) Tentang Alam Semesta&lt;/b&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Alam merupakan ciptaan Allah, yang artinya Allah menciptakan alam dengan teratur dan seimbang sesuai dengan hukum-hukum alam yang telah Allah ciptakan. Alam diciptakan untuk kelangsungan hidup manusia. Karena itu manusia harus tetap menjaga dan memelihara alam ciptaan Allah. Apalagi ketika manusia berdosa, alam pun ikut terpolusi oleh dosa. Hubungan antara manusia dan alam pun menjadi rusak. Namun, hingga sekarang Allah tetap memelihara kelanjutan ciptaan-Nya. Allah tidak menciptakan alam lalu meninggalkannya begitu saja tapi Allah masih dan tetap berperan dalam alam ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;4) Tentang Kebenaran&lt;/b&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Semua kebenaran yang ada adalah bersumber dari kebenaran Allah, Karena Allah Sang pemberi kebenaran yang sejati. Sumber dari kebenaran Allah adalah Firman Allah yang tercantum dalam Alkitab. Seluruh kebenaran dunia harus diuji oleh kebenaran Allah. Manusia sangatlah sulit memahami kebenaran yang benar-benar benar kecuali ia mau bersunguh-sungguh berjuang memahaminya dan meminta Allah untuk mengaruniakan pemahaman kepada manusia. Kebenaran yang benar-benar benar dapat digunakan untuk memuliakan nama Allah dan peningkatan kualitas hidup manusia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;5) Tentang Etika&lt;/b&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Bagi seorang Kristen, standar etika yang digunakan adalah Firman Allah. Nilai-nilai etika yang benar untuk setiap tindakan harus berdasarkan kepada Firman Allah dan karakter Yesus Kristus. Dalam etika Kristen dikembangkan norma-norma yang bertujuan untuk mengoptimalkan karakter Yesus dalam hidup seorang Kristen. Etika Kristen juga mengembangkan sikap “dalam hal-hal prinsip atau pokok agar terdapat kesatuan, dalam hal-hal yang tidak prinsip atau pokok biarlah ada kebebasan, dan dalam segala hal dan perkara biarlah terdapat kasih. Karena itu etika pelayan Kristen, haruslah bertumpu pada pemahaman yang benar tentang panggilan pelayanan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Berdasarkan 5 (lima) pemahaman di atas, maka dapat dihubungkan dengan praktek penyelenggaraan PAK di sekolah, khususnya dalam pembelajaran, yaitu sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;1) Sifat Dasar Siswa&lt;/b&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Siswa adalah juga manusia berdosa yang butuh penebusan dan pendamaian dari Allah. Oleh sebab itu siswa harus terlebih dahulu dibimbing untuk mengalami perjumpaan dengan Tuhan dan kelahiran baru. Dengan kelahiran baru, siswa akan lebih mudah–walaupun tetap dengan perjuangan dan anugerah Tuhan untuk mengetahui, memahami, dan menerapkan kebenaran yang sebenarnya (kebenaran Allah). Siswa diciptakan Tuhan dengan sangat unik dan istimewa, sehingga setiap siswa berbeda-beda, karena setiap siswa memiliki kemampuan, kecerdasan, bakat, minat, dan gaya belajar yang berbeda dengan yang lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;2) Peran Guru&lt;/b&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Integritas seorang pelayan Kristen, tidaklah sederhana atau otomatis. Standar kesempurnaan moral pelayan, dalam hal ini guru PAK adalah integritasnya itu sendiri. Sebab setiap pelayan Kristen, harus bertanya pada dirinya sendiri, “Siapa yang kulayani, Kristus atau jemaat/siswa? Atau dengan rumusan lainnya, Apakah dengan melayani jemaat/siswa, aku melayani Kristus?”. Membangun pelayanan berdasarkan integritas, selalu mensyaratkan bahwa pemahaman tentang panggilan pelayan dan konsep pelayanannya itu alkitabiah, etis, dan serupa dengan Kristus (Christlike). Karena itu, prasyarat pelayanan yang etis, adalah pemahaman yang jelas tentang panggilan pelayan (Trull Joe &amp;amp; James Carter, 2012:17-19).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Dengan pemahaman di atas, maka peran guru PAK akan merajuk pada asas bahwa guru adalah manusia berdosa, oleh sebab itu guru harus terlebih dahulu mengalami perjumpaan dengan Tuhan dan kelahiran baru. Setelah itu barulah dia dapat melakukan peran sebagai guru PAK.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Adapun peran sebagai guru Kristen, antara lain:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Pembimbing&lt;/b&gt;, yaitu seorang guru PAK harus membimbing siswa untuk dapat mengalami perjumpaan dengan Tuhan dan kelahiran baru. Guru Kristen harus membimbing siswa untuk mengenal Allah dalam setiap kegiatan pembelajaran dan memuliakan Allah. Guru Kristen juga harus dapat membimbing siswa untuk memahami kebenaran yang sejati, serta membimbing mereka kepada tujuan utama, yakni hidup di dunia dengan menjadikan Alkitab sebagai pedoman dalam setiap aspek kehidupan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Pelatih&lt;/b&gt;, di sini guru PAK harus dapat berperan sebagai pelatih. Ia harus dapat melatih siswa untuk terus bergantung penuh kepada Allah dalam kehidupan yang penuh dengan dosa. Guru Kristen harus melatih siswa untuk menemukan dan memahami kebenaran yang sejati (kebenaran dalam Kristus), serta bersaksi tentang kebenaran tersebut. Selain itu, guru Kristen harus melatih siswa bagaimana ia dapat berjuang untuk tetap hidup di dalam Yesus Kristus di tengah dunia yang penuh dengan dosa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Perancang&lt;/b&gt;, yang dalam hal ini, seorang guru PAK harus dapat berperan sebagai perancang, seperti misalnya arsitek. Dimana Guru Kristen harus merencanakan kurikulum dengan baik dan terarah yang berdasarkan kebenaran Alkitab. Guru Kristen harus membuat perencanaan yang baik dalam pembelajaran. Setelah merencanakan, guru Kristen juga harus dapat melakukan perencanaan itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Teladan&lt;/b&gt;, yaitu guru PAK harus menjadi teladan yang baik bagi para siswanya. Seorang siswa terutama yang masih kecil adalah seorang yang mudah percaya, sekaligus mudah disesatkan oleh sebuah ajaran yang salah. Karena itu, harus berhati-hati dalam membimbing dan mengajarkan para siswa. Dalam hal ini, harus disesuaikan dengan tingkat kebutuhan belajar siswa, sesuai dengan fase perkembangannya (usia, lingkungan, karakter pertumbuhannya dan lain-lain). Karena Siswa akan mudah menyerap contoh atau teladan yang dilihatnya. Oleh sebab itu guru Kristen harus dapat berperan sebagai teladan (role model) bagi para siswanya dalam segala hal (perkataan, pikiran, perbuatan, iman, dan lain-lain).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Mitra kerja Allah&lt;/b&gt;, bahwa sebagai mitra Allah, maka seorang guru PAK juga harus menyadari bahwa dirinya adalah rekan kerja Allah dalam mengajar dan mendidik para siswa. Guru Kristen harus menyadari hak mengajar dan mendidik yang telah diberikan oleh Allah, sehingga dia harus bertanggung jawab kepada Allah. Guru Kristen harus berusaha dengan sungguh-sungguh mengajar dan mendidik para siswanya tapi dia juga harus menyadari bahwa segala sesuatunya adalah milik dan pemberian Allahlah. Oleh sebab itu, dia juga harus berdoa, bekerja sungguh-sungguh, dan menjalin kerja sama yang baik dengan Allah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;3) Penekanan Kurikulum&lt;/b&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Kurikulum bertindak sebagai desain atau blue print dari proses pembelajaran dan keseluruhan kegiatan dalam lingkup pendidikan. Karena itu, harus dibuat sedemikian rupa agar dapat diwarnai oleh nilai-nilai Kristen. Kurikulum juga harus dapat melakukan integrasi antara Firman Allah sebagai kebenaran dengan ilmu dan pengetahuan yang diajarkan. Berikut ini adalah beberapa mandat yang harus diperhatikan:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;ol style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: medium; font-style: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;Mandat penyembahan, bahwa segala sesuatu termasuk manusia Allah ciptakan untuk dapat memuliakan-Nya dalam roh dan kebenaran. Oleh sebab itu segala bentuk pembelajaran atau pendidikan tujuan akhirnya harus dapat membawa siswa memuliakan Allah sebagai pencipta segala sesuatu yang berpusat kepada Kristus.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: medium; font-style: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;Mandat penciptaan, bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dengan baik dan memelihara kelanjutan ciptaanNYa. Allah juga memberi tanggung jawab kepada manusia untuk memelihara ciptaanNya. Oleh sebab itu proses pembelajaran dan pendidikan harus mencantumkan tanggung jawab manusia untuk memelihara ciptaan Allah.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: medium; font-style: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;Mandat Kasih, bahwa sebelum manusia berdosa, hubungan antara Allah dengan manusia dan hubungan manusia dengan manusia terjalin dengan sangat baik. Dan ketika manusia jatuh ke dalam dosa pun, Allah tetap mengasihi manusia, melalui kasih Anak-Nya Yesus Kristus. Oleh sebab itu, proses pembelajaran dan pendidikan harus mengembangkan sikap mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: medium; font-style: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;Mandat Kesaksian, yaitu ketika seorang Kristen di tebus, didamaikan, dan diselamatkan, ia harus mengalami pengalaman yang menakjubkan. Ketika dia menjalani kehidupan sebagai seorang Kristen, ia juga mengalami tuntunan dan penyertaan Allah dalam menjalani kehidupan yang penuh dosa. Seorang Kristen, yang atas anugerah Allah itu, harus juga selalu memahami kebenaran yang sejati di dalam Kristus. Oleh sebab itu, proses pembelajaran dan pendidikan harus dapat memberikan kesaksian kepada dunia yang penuh dengan dosa tentang kebenaran yang sejati didalam Yesus Kristus. Tentu saja, agar melalui kesaksian itu, maka banyak jiwa dimenangkan.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;4) Metode Pembelajaran&lt;/b&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Dalam pemahamannya tentang diri siswa sebagai manusia yang terdiri dari berbagai ciri dan kemampuannya yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya, maka metodologi pembelajaran yang digunakan harus dapat mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Jadi, metode pembelajaran digunakan tidak hanya untuk mencapai segi kognitif saja, tidak hanya memberikan pengetahuan saja, tetapi juga mengajarkan dan mengoptimalkan aspek sikap dan keterampilan siswa, tetapi juga membuat siswa tidak hanya memiliki pengetahuan tapi juga memiliki keterampilan-keterampilan dalam menjalani kehidupan di dunia. Selain itu, metodologi pembelajaran juga harus dapat membawa siswa untuk memuliakan Allah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;5) Fungsi Sosial Sekolah&lt;/b&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Dalam hal ini PAK di lingkup sekolah harus dapat menjadi dan membentuk komunitas alternatif bagi masyarakat disekelilingnya. Ajaran Kristen harus menjadi terang dan garam bagi sekelilingnya. Di sekolah kristen harus di tanamkan dan dikembangkan nilai-nilai Kristen, sehingga masyarakat sekitar dapat melihat perbedaan yang ada dan mereka menjadi tertarik dan percaya kepada Yesus.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Individu-individu dari sekolah Kristen harus dapat membentuk dan memengaruhi masyarakat, dan bukan sebaliknya. Sekolah Kristen harus membentuk dan memengaruhi masyarakat dengan tindakan-tindakan yang nyata. Tindakan-tindakan yang nyata ini dapat berupa kegiatan sosial kepada masyarakat sekelilingnya maupun dengan teladan yang diberikan oleh individu-individu sekolah Kristen ketika mereka bermasyarakat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Demikian sedikitnya gambaran filosofi dan praktek PAK di sekolah. Singkatnya mendidik dapat diumpamakan seperti menabur benih. Pendidikan Kristen tentunya harus menabur benih-benih yang sesuai dengan nilai-nilai Kristiani. Dimana menjadi seorang penabur butuh kerja keras, perencanaan yang matang, proses yang panjang, kesabaran, dan lain-lainnya. Di sadari pula bahwa hasil yang diperoleh dari pendidikan tidaklah secepat kilat, tapi Allah akan turut berperan dalam pertumbuhan benih yang ditaburkan itu.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Oleh: Abdy Busthan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://abdibusthan.blogspot.com/feeds/5794585195728514816/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://abdibusthan.blogspot.com/2019/09/filsafat-pendidikan-agama-kristen-pak.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/6960063012783797264/posts/default/5794585195728514816'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/6960063012783797264/posts/default/5794585195728514816'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://abdibusthan.blogspot.com/2019/09/filsafat-pendidikan-agama-kristen-pak.html' title=' Filsafat Pendidikan Agama Kristen (PAK) '/><author><name>Abdy Busthan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08376451895356760186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF1rfIXR-ATHODKdcg-diRoerLe5u_-kqaZXZbYHHAxo9A40slxkXyVqMZpjPS5cvf9c2GnmG-NflzAt3KbNfp6oiLvTVWbD_Yy14AmzsT-aPFNoCGr4-ezhvrNlU5Lg/s220/r56722.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjQYZ20POXMQibrfXIXDU4gt-MLDsRbcPWvfafdZVZJgkQjnz_d99LGx8ZC6-OE1rZoxPWM_eyoZSdRUkH5ELsh0Uuf4ZyUkWtOlwwarWN9fDQIXdLNxNn0lJHzPv2R6LriqEQGmv0iOPZA/s72-c/ae3a2e97af9ff67f76fe213fd18bba12.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6960063012783797264.post-1229589258747927989</id><published>2019-09-19T22:17:00.003-07:00</published><updated>2019-09-19T22:57:50.625-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="TEOLOGI"/><title type='text'> Konsep &quot;Shiloh&quot; dalam Kejadian 49:10</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;post-body entry-content&quot; id=&quot;post-body-6361925386657373701&quot; itemprop=&quot;description articleBody&quot; style=&quot;border: 0px; font-stretch: inherit; font-variant-east-asian: inherit; font-variant-numeric: inherit; line-height: 1.6em; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline; width: 638px;&quot;&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;border: 0px; font-stretch: inherit; font-variant-east-asian: inherit; font-variant-numeric: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;font-variant-caps: inherit; font-variant-ligatures: inherit;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: inherit; font-style: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border-color: initial; border-image: initial; border-style: initial; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; height: auto; line-height: inherit;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;390&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjohVz16xbEM27NkO9aw_rQWnZy2rKjuM8Ys1pdRt_xYQrLPmwJpIAojEzPbyfK6Hfwmnt6abb_FmNs_nbWY_uoaGIPN4eCBQdhPEGHU08SQR2InFGDmQX5HOGoHA0VAZkfmEZ3u_pXj8yP/s640/b64c79a4ff6959643534d1e44582a8cc.jpg&quot; style=&quot;border: 0px; font: inherit; height: auto; margin: 0px; max-width: 100%; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;trebuchet ms&amp;quot; , sans-serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-variant-caps: inherit; font-variant-ligatures: inherit;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-style: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Kitab Kejadian 49:10 menulis,..&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;“Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda ataupun lambang pemerintahan dari antara kakinya, sampai dia datang yang berhak atasnya, maka kepadanya akan takluk bangsa-bangsa”.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Istilah&amp;nbsp;&lt;i style=&quot;border: 0px; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Shiloh&amp;nbsp;&lt;/i&gt;adalah gelar yang pernah diberikan pada Mesias. Sebagaimana nubuat menyatakan bahwa suku Yehuda akan tetap menjadi pemimpin bangsa di Israel, secara khusus menghasilkan Raja-Raja, dari Raja Daud sampai pada kedatangan Mesias. Nubuat ini sudah digenapi sebelum kehancuran Yehuda dan Yerusalem pada tahun 70 Masehi, ketika semua tongkat kerajaan telah meninggalkan Yehuda.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;Menurut Busthan Abdy (2018:16), kata&amp;nbsp;&lt;i style=&quot;border: 0px; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Shiloh&lt;/i&gt;&amp;nbsp;diturunkan dari kata Ibrani: Shalah yang berarti&amp;nbsp;&lt;i style=&quot;border: 0px; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;to be quiet&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(= tenang),&amp;nbsp;&lt;i style=&quot;border: 0px; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;to enjoy rest&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(= menikmati ketenangan),&amp;nbsp;&lt;i style=&quot;border: 0px; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;security&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(= keamanan). Istilah&amp;nbsp;&lt;i style=&quot;border: 0px; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Syiloh&lt;/i&gt;&amp;nbsp;atau&amp;nbsp;&lt;i style=&quot;border: 0px; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Shiloh&lt;/i&gt;&amp;nbsp;tidak harus menunjuk kepada tempat (&lt;i style=&quot;border: 0px; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;a place of rest&lt;/i&gt;) tetapi bisa juga menunjuk kepada orang, yaitu&amp;nbsp;&lt;i style=&quot;border: 0px; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;the man of rest&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(= manusia damai) atau ‘&lt;i style=&quot;border: 0px; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;the bearer of rest&lt;/i&gt;’ (= pembawa damai).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;Kitab Yesaya menegaskan bahwa Mesias yang dijanjikan adalah &quot;Sang Raja Damai&quot; (Yesaya 9:5). Jadi kata&amp;nbsp;&lt;i style=&quot;border: 0px; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Shiloh&lt;/i&gt;&amp;nbsp;memiliki 3 pengertian berikut:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;ol style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;i style=&quot;border: 0px; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Tranquility&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: inherit; font-variant-caps: inherit; font-variant-ligatures: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;&amp;nbsp;(ketenangan/kesentosaan).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;i style=&quot;border: 0px; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;The Peaceable One&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: inherit; font-variant-caps: inherit; font-variant-ligatures: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;(Orang yang suka damai).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;i style=&quot;border: 0px; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;The Pacifier&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: inherit; font-variant-caps: inherit; font-variant-ligatures: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;&amp;nbsp;(Pembawa damai/perdamaian).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-stretch: inherit; font-variant-east-asian: inherit; font-variant-numeric: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style=&quot;font-size: inherit; font-style: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Sementara dalam Kejadian 49:10 muncul dalam stanza (sajak delapan baris) yang sebenarnya berisikan nubuat Yakub tentang kedua belas anak laki-lakinya (Suku Yehuda dibicarakan di ayat 8-12). Sebagaimana hal ini jelas dikatakan dalam kitab Kejadian 49:8-12, yang menulis ....&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-size: inherit; font-style: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: inherit; font-style: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-size: inherit; font-style: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: inherit; font-style: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;49:8 Yehuda, engkau akan dipuji oleh saudara-saudaramu, tanganmu akan menekan tengkuk musuhmu, kepadamu akan sujud anak-anak ayahmu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-size: inherit; font-style: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;49:9 Yehuda adalah seperti anak singa: setelah menerkam, engkau naik ke suatu tempat yang tinggi, hai anakku; ia meniarap dan berbaring seperti singa jantan atau seperti singa betina; siapakah yang berani membangunkannya?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-size: inherit; font-style: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;49:10 Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda ataupun lambang pemerintahan dari antara kakinya, sampai dia datang yang berhak atasnya, maka kepadanya akan takluk bangsa-bangsa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-size: inherit; font-style: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;49:11 Ia akan menambatkan keledainya pada pohon anggur dan anak keledainya pada pohon anggur pilihan; ia akan mencuci pakaiannya dengan anggur dan bajunya dengan darah buah anggur.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-size: inherit; font-style: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;49:12 Matanya akan merah karena anggur dan giginya akan putih karena susu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-stretch: inherit; font-variant-east-asian: inherit; font-variant-numeric: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-style: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-stretch: inherit; font-variant-east-asian: inherit; font-variant-numeric: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-style: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;Pada ayat-ayat di atas terlihat bahwa suku Yehuda ditampilkan, terutama penekanannya pada hal ‘peperangan’, yang disertai ciri-ciri seperti “tanganmu akan menekan tengkuk musuhmu” (ayat 8), dan&quot;Yehuda adalah seperti anak singa... seperti singa jantan atau seperti singa betina, siapakah yang berani membangunkannya?&quot; (ayat 9).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;Sementara pada ayatnya yang ke-10, berbicara tentang peran Yehuda sebagai Raja yang akan datang dan yang akan memimpin seluruh suku Israel—kemungkinan juga atas bangsa-bangsa asing. Ayat itu berbunyi: &quot;Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda ataupun lambang pemerintahan dari antara kakinya, sampai dia (שִׁילֹה—Shiloh) datang yang berhak atasnya, maka kepadanya akan takluk bangsa-bangsa (עַםִים—&#39;&lt;i style=&quot;border: 0px; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Amim&#39;&lt;/i&gt;)&quot;.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;Jelas penekanannya terletak pada bagaimana keberaniannya dalam berperang, serta status rajani dari suku Yehuda. Tetapi ada penegasan jelas, bahwa status raja ini kemudian berlanjut sampai pada tokoh kunci yang disebutkan sebagai &quot;Shiloh&quot;. Jadi, tongkat kerajaan dan lambang pemerintahan (Mekhoqeq) akan di pegang suku Yehuda sampai Shiloh sendiri datang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;Dalam konteks ayat 10, pengertian Shiloh dalam versi targum bahasa Aram, adalah &quot;Sampai Mesias datang”, yaitu “Yang empunya Kerajaan”. Jadi, sebenarnya ayat 10 tampaknya memperkenalkan Shiloh sebagai satu gelar dari Mesias, tetapi menunjuk pada tafsiran dari nama itu yang berkaitan dengan frasa &quot;yang kepadanya&quot; atau &quot;kepada siapa.&quot;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;Dalam Septuaginta dari abad ke-3 SM, menerjemahkan klausa itu sebagai: &quot;sampai datang perkara-perkara yang tersimpan (apokeimena) baginya.&quot; Namun kebanyakan dari otoritas modern, baik yang konservatif maupun bukan konservatif, cenderung memilih terjemahan &quot;oknum” atau terjemahan “dia” (yang empunya), dan menjadikan penguasa yang akan datang itu sebagai antesedennya, dengan memahami &quot;tongkat kerajaan&quot; sebagai benda miliknya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;Dengan perkataan lain: &quot;Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda, sampai Dia yang empunya (pemiliknya) datang, yang kepada-Nyalah bangsa-bangsa menjadi tunduk&quot;.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;Pertanyaannya, apakah kata tersebut dipahami sebagai nama kiasan untuk Mesias seperti nama Yesyurun untuk bangsa Israel? (Ulangan 32:15), ataukah itu merupakan frasa penghubung &quot;yang kepadanya&quot; (Shelo)? Jelas kata tersebut menunjuk pada Mesias, dan kemungkinan juga kepada Daud, yaitu leluhur dalam arti kiasan dari Kristus, Sang Raja.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;Namun timbul persoalan, bahwa dengan mengaitkan janji ini kepada Daud, maka sejatinya akan menimbulkan kesulitan yang besar, sebab kenyataannya tongkat kerajaan tidak berpindah dari Yehuda ketika Daud datang, hanya mulai dipegang oleh Yehuda ketika dia menerima takhta dan mahkota kerajaan Israel.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;Mari kita lihat sebuah ayat paralel yang paling menarik untuk diketahui yaitu Yehezkiel 21:27 (dalam versi bahasa Ibrani, ayat 32), yang tampaknya merupakan sebuah refleksi dari konteks dalam Kejadian 49:10.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;Kitab Yehezkiel 21:27 menyatakan,... “Puing, puing, puing akan Kujadikan dia! Ini pun tidak akan tetap. Sampai ia datang yang berhak atasnya, dan kepadanya akan Kuberikan itu”.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-style: inherit;&quot;&gt;Kalimat: “puing, puing, puing akan Kujadikan dia!”, memiliki makna bahwa kota Yerusalem akan diserbu oleh Nebukadnezar pada tahun 588 SM). Ini pun tidak akan tetap atau &quot;tidak akan terjadi&quot; (&lt;/span&gt;&lt;i&gt;Lo Hayah&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: inherit;&quot;&gt;), sampai Ia datang yang berhak atasnya (dalam arti harfiah adalah &quot;yang padanya ada penghakiman&quot;—&lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;border: 0px; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Asher-Lo&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: inherit;&quot;&gt;&#39;—&lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;border: 0px; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Hamish&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: inherit;&quot;&gt;’&lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;border: 0px; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;pat&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: inherit;&quot;&gt;, dan yang kepadanya akan Kuberikan itu&quot;).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;Kesamaan susunan kata-kata yang sangat langka terjadi secara kebetulan.&amp;nbsp;&lt;i style=&quot;border: 0px; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Asher Lo&lt;/i&gt;&#39; adalah bentuk prosa yang lazim dan setara dengan Sheloh (&quot;yang kepadanya&quot;).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;Jadi, dalam pernyataan kitab Yehezkiel, kata Hamish’pat (yaitu &quot;hak melakukan penghakiman&quot;) yang menggantikan konsep serupa yaitu &quot;tongkat kerajaan&quot; (&lt;i style=&quot;border: 0px; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Shevet&lt;/i&gt;) yang terdapat pada kitab Kejadian 49:10.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: inherit;&quot;&gt;Sehingga bisa pula dipahami bahwa jika Yehezkiel 21:27 dimaksudkan untuk mengembangkan gagasan dasar dari Kejadian 49:10 dan menyatakan bahwa frasa itu dipakai hanya untuk Mesias—sebagaimana terlihat jelas dalam kitab Yehezkiel, yang akan berasal dari istana Raja Yehuda—maka konteks Kejadian 49:10 seperti yang dimaksudkan Allah, mengacu kepada Anak-Nya yang ilahi, keturunan Daud yang menjadi Mesias.&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;b&gt;Oleh: Abdy Busthan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; text-align: center; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;Rujukan Buku:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-style: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;Busthan Abdy (2018).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: georgia, &amp;quot;times new roman&amp;quot;, serif; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Mesias dalam Progeni.&lt;/b&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-style: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;&amp;nbsp;Kupang: Desna Life Ministry&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://abdibusthan.blogspot.com/feeds/1229589258747927989/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://abdibusthan.blogspot.com/2019/09/konsep-shiloh-dalam-kejadian-4910.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/6960063012783797264/posts/default/1229589258747927989'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/6960063012783797264/posts/default/1229589258747927989'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://abdibusthan.blogspot.com/2019/09/konsep-shiloh-dalam-kejadian-4910.html' title=' Konsep &quot;Shiloh&quot; dalam Kejadian 49:10'/><author><name>Abdy Busthan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08376451895356760186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF1rfIXR-ATHODKdcg-diRoerLe5u_-kqaZXZbYHHAxo9A40slxkXyVqMZpjPS5cvf9c2GnmG-NflzAt3KbNfp6oiLvTVWbD_Yy14AmzsT-aPFNoCGr4-ezhvrNlU5Lg/s220/r56722.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjohVz16xbEM27NkO9aw_rQWnZy2rKjuM8Ys1pdRt_xYQrLPmwJpIAojEzPbyfK6Hfwmnt6abb_FmNs_nbWY_uoaGIPN4eCBQdhPEGHU08SQR2InFGDmQX5HOGoHA0VAZkfmEZ3u_pXj8yP/s72-c/b64c79a4ff6959643534d1e44582a8cc.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6960063012783797264.post-8579538195792007224</id><published>2019-09-19T22:13:00.006-07:00</published><updated>2019-09-19T22:58:02.850-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="TEOLOGI"/><title type='text'> Konsep Mesias Perjanjian Lama</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;post-body entry-content&quot; id=&quot;post-body-9108157185899964835&quot; itemprop=&quot;description articleBody&quot; style=&quot;border: 0px; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 13px; font-stretch: inherit; font-variant-east-asian: inherit; font-variant-numeric: inherit; line-height: 1.6em; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline; width: 638px;&quot;&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border-color: initial; border-image: initial; border-style: initial; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; height: auto; line-height: inherit;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiFGAIe8i-mWxD8f6Fv8yzxXrBoF4rbAicBqAO0ZzBZudUypDB4yKqwZOQoax2TZKEunG8ifreXdI-lgo1QR_qWEk8YPsD8joLP0MrOuKMCzhDV6FOw23ZdchpWtz2qqrpQih1Idor1Ha8/s640/b1a11bf905b54805d43d6f1741ba8a6e.jpg&quot; style=&quot;border: 0px; font: inherit; height: auto; margin: 0px; max-width: 100%; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Dalam arti umum, istilah&amp;nbsp;&lt;i style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;mesias&lt;/i&gt;&amp;nbsp;merupakan gelar yang diberikan kepada Raja-Raja dan Imam-Imam bangsa Israel . Kata &quot;&lt;i style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Sang Mesias&lt;/i&gt;&quot; yang digunakan dalam bahasa Ibrani adalah&amp;nbsp;&lt;i style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Hamashiakh&lt;/i&gt;, yang cenderung menggunakan dialek&amp;nbsp;&lt;i style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Asykenazik&lt;/i&gt;—&lt;i style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Hamoshiak&lt;/i&gt;—&lt;i style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Hamoshia&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(yaitu: Sang Penyelamat)—“&lt;i style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Mosha’ah&lt;/i&gt;” (keselamatan). Kedua kata ini memang sering digunakan bersama-sama untuk menunjukkan peristiwa “&lt;i style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;yang diurapi&lt;/i&gt;”.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Misalnya dalam konteks Raja Israel yang dikatakan akan &quot;menyelamatkan&quot; umatnya. Sebagaimana dalam 1 Samuel 9:16 dikatakan: ”Besok kira-kira waktu ini Aku akan menyuruh kepadamu seorang laki-laki dari tanah Benyamin; engkau akan mengurapi (&#39;Mashakh&#39;) dia menjadi raja atas umat-Ku Israel dan ia akan menyelamatkan (&#39;Yasha&#39;) umat-Ku dari tangan orang Filistin. Sebab Aku telah memperhatikan sengsara umat-Ku itu, karena teriakannya telah sampai kepada-Ku”.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Bahkan ini juga diberikan kepada Koresh, Raja Persia, seperti dalam Kitab Yesaya 45:1: “Beginilah firman TUHAN: &quot;Inilah firman-Ku kepada orang yang Kuurapi, kepada Koresh yang tangan kanannya Kupegang supaya Aku menundukkan bangsa-bangsa di depannya dan melucuti raja-raja, supaya Aku membuka pintu-pintu di depannya dan supaya pintu-pintu gerbang tidak tinggal tertutup”.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Jadi kalimat &quot;Yang Kuurapi&quot; adalah dasar gelar Mesias, tetapi penggunaannya dalam Perjanjian Lama (PL) lebih bersifat umum, terutama diberikan bagi Raja-Raja yang diurapi oleh Allah sendiri (misalnya Saul dalam 1 Samuel 24:6-7).&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Ditekankan bahwa Koresh diangkat dan diperlengkapi untuk tugas yang agung dan mengalahkan Raja-Raja. Pada konteks Yesaya 45:1 tersebut, urapan itu diberikan kepada orang-orang yang sudah di pilih langsung oleh Allah untuk melakukan penyelamatan bagi umat Allah.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Sebagaimana dalam Mazmur 2:2 dikatakan .. “Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar bermufakat bersama-sama melawan Tuhan dan yang diurapi-Nya”.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Namun Mesias yang telah dijanjikan bukan raja Koresh ataupun Raja-Raja Israel yang ada. Mesias yang dinubuatkan dalam Alkitab jelas seseorang yang lahir dari kalangan Israel sendiri, yang kebesarannya melebihi Daud, dimana Daud menyebut bahwa Dia adalah tuannya.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Mazmur 110:1: “Demikianlah firman Tuhan kepada tuanku: &quot;Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu.&quot; (Bandingkan Matius 22:41-46).&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Dalam pemahaman masyarakat Yahudi, Mesias yang dijanjikan adalah Musa baru, yakni seorang pemimpin besar bangsa Yahudi. Bagi bangsa Yahudi, Mesias dikaitkan dengan nasionalisme mereka sendiri.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Namun perlu dipahami bahwa pada zaman Yesus, negara Israel sudah tidak ada lagi. Bahkan 10 suku Israel pun sudah hilang. Kerajaan Yehuda atau Israel sudah lenyap akibat penjajahan bangsa Babel, bangsa Asyur, Makedonia, sampai dengan bangsa Romawi. Sehingga Mesias (Yang Diurapi) dipakai sebagai gelar resmi dari tokoh utama yang dinanti-nantikan oleh orang Yahudi, yaitu Juruselamat.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Berdasarkan Tanakh Ibrani (Perjanjian Lama), Mesias yang dijanjikan adalah orang yang dipilih dan ditetapkan oleh Allah untuk menggenapi seluruh tujuan penyelamatan umat Allah, dan yang datang untuk menggenapi hukuman terhadap musuh-musuhnya. Kepada Mesias ini diberikan kuasa untuk memerintah bangsa-bangsa, dan dalam semua tindakan-Nya, yang bertindak adalah Allah.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Namun menurut Busthan Abdy (2018:15-16), dalam pemahaman orang Yahudi, Mesias yang dijanjikan adalah sosok yang memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ol style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: inherit; font-style: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;Membebaskan bangsa Yahudi dari penjajahan (Romawi).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: inherit; font-style: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;Mengumpulkan kembali bangsa Israel dari segala penjuru bumi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: inherit; font-style: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;Memimpin penyembahan pada Tuhan Allah yang benar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: inherit; font-style: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;Membawa era perdamaian.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: inherit; font-style: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;Mendirikan kembali negara Israel&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/ol&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; text-align: center; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; text-align: center; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
Rujukan Buku&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; text-align: center; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
Busthan Abdy (2018).&amp;nbsp;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Mesias dalam Progeni&lt;/b&gt;. Kupang: Desna Life Ministry&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://abdibusthan.blogspot.com/feeds/8579538195792007224/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://abdibusthan.blogspot.com/2019/09/konsep-mesias-perjanjian-lama.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/6960063012783797264/posts/default/8579538195792007224'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/6960063012783797264/posts/default/8579538195792007224'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://abdibusthan.blogspot.com/2019/09/konsep-mesias-perjanjian-lama.html' title=' Konsep Mesias Perjanjian Lama'/><author><name>Abdy Busthan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08376451895356760186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF1rfIXR-ATHODKdcg-diRoerLe5u_-kqaZXZbYHHAxo9A40slxkXyVqMZpjPS5cvf9c2GnmG-NflzAt3KbNfp6oiLvTVWbD_Yy14AmzsT-aPFNoCGr4-ezhvrNlU5Lg/s220/r56722.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiFGAIe8i-mWxD8f6Fv8yzxXrBoF4rbAicBqAO0ZzBZudUypDB4yKqwZOQoax2TZKEunG8ifreXdI-lgo1QR_qWEk8YPsD8joLP0MrOuKMCzhDV6FOw23ZdchpWtz2qqrpQih1Idor1Ha8/s72-c/b1a11bf905b54805d43d6f1741ba8a6e.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6960063012783797264.post-7544635889929237277</id><published>2019-09-19T21:43:00.003-07:00</published><updated>2019-09-19T21:43:42.764-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="FILSAFAT"/><title type='text'>Postmodernisme</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;post-body entry-content&quot; id=&quot;post-body-7402950491688807542&quot; itemprop=&quot;description articleBody&quot; style=&quot;border: 0px; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 13px; font-stretch: inherit; font-variant-east-asian: inherit; font-variant-numeric: inherit; line-height: 1.6em; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline; width: 638px;&quot;&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border-color: initial; border-image: initial; border-style: initial; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; height: auto; line-height: inherit;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;364&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEinauzV-sv9y-7d09F0_aqoBBccUDOtDQFZMtzjYPIdMr8jOrSXgP8n0aa20R1-Z7OSaSdn0xzlXlVYfHSf-8v16WZKNZV142-Mw01j95LAItrsPRGrUz7_6lp7Fau22znMRKdpA7FavazN/s640/90e1cc1d5d41521a985d4ae6b2688912.jpg&quot; style=&quot;border: 0px; font: inherit; height: auto; margin: 0px; max-width: 100%; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Secara teoritis, setiap orang akan merasa kesulitan untuk memulai darimana, bagaimana, seperti apa, dan dengan cara apa, ia dapat mendefenisikan istilah postmodern---istilah ini sangat bertendensi memunculkan berbagai macam pluralistis makna yang tidak dapat disepakati bersama.&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Tung Yao Khoe dalam Busthan Abdy (2016) berpendapat bahwa postmodernisme adalah reaksi dari modernisme yang adalah hasrat untuk memahami dunia dengan menggunakan rasio. Tetapi harus dipahami, bahwa keberadaan postmodernisme bukanlah untuk mengakhiri masa modern. Sebab keduanya masih tetap berlangsung, sama seperti berlakunya filsafat-filsafat lain.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Selanjutnya Gene E Veith dalam Busthan Abdy (2016) juga menyatakan bahwa, postmodernisme merupakan respons dari kegagalan-kegagalan masa pencerahan, sekaligus menyingkirkan kebenarannya. Di sini, intelektualitas kemudian digantikan dengan keinginan, sedangkan penyebab digantikan emosi, dan moralitas digantikan dengan relativisme, sementara realitas digantikan pula dengan konstruksi sosial.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Senada dengan itu, O&#39;Donnell Kevin (2003) dalam buku berjudul &quot;Postmodernism&quot;, menyatakan bahwa kita tidak dapat memahami istilah postmodern ini tanpa terlebih dahulu melihat ke modernisme, di mana modernisme ini berasal dari gerakan terdahulu yang membuat temuan baru atau menemukan kembali pengetahuan lama. Sehingga untuk memahami postmodernisme, kita harus menelusuri kembali leluhurnya melalui sejarah dan melihat terhadap apa postmodernisme ini bereaksi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Sehingga menurut Busthan Abdy (2016), jika era atau masa &quot;modernisme&quot; di rujuk kembali ke belakang, maka orang akan mengenang kembali masa atau era &quot;pra-modernisme&quot;. Sebaliknya, jika dilihat ke depan, maka orang pun akan diperhadapkan pada suatu era baru, yang biasanya di kenal dengan istilah &quot;post-modernisme&quot;. Karena itu maka dalam peradaban insan manusia, terdapat 3 (tiga) era yang memiliki ciri khasnya masing-masing, yaitu era: pra-modern, modern dan postmodern.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: large; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Era Pra-modernisme&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Era ini adalah masa awal yang bermula dari middle age atau masa reinassance. Pada masa ini, kekuasaan penuh dipegang oleh agama yang menjadi puncak dari segala hierarki kehidupan manusia. Dalam hal ini, semua hal yang tidak berhubungan dengan gereja (seperti: sains, ilmu kesehatan, dll) kemudian dianggap sebagai sihir jahat dan harus dihancurkan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Urutan hierarki zaman pra-modern, diawali dengan: 1) Pemuka Agama; 2) Raja atau Bangsawan; dan 3) Rakyat. Dalam zaman ini, semua pekerjaan dilakukan oleh rakyat, yang ditujukan untuk kebutuhan dan kepentingan gereja. Dengan minimnya teknologi di zaman tersebut, semua barang dibuat secara manual oleh rakyat yang merupakan tingkatan terbawah dari hierarki.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Pada zaman ini, tingkat pengetahuan dan peradaban manusia terbagi dalam beberapa level, mulai dari era pemburu dan peramu, hortikultur sederhana, hortikultur sederhana kontemporer, hortikultur intensif, masyarakat agraris, hingga masyarakat pastoralis.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Desain yang diciptakan untuk keperluan metafisis atau spiritual pada masa ini, lebih menekankan pada aspek simbol dan tanda dari suatu figur atau unsur-unsur tertentu. Itulah sebabnya, maka desain era pra sejarah hingga sebelum modernisme, lebih banyak bersifat &quot;Form Follow Meaning&quot; yaitu bentuk terikat oleh konsep-konsep pertandaan yang bermuara pada spiritualitas.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Sistem produksi di masa ini, dilakukan secara manual. Semua produk seperti halnya baju, biasanya diproduksi sendiri. Kemudian muncul sistem barter, yaitu misalnya baju ditukar dengan hasil pertanian. Jika diberi skala, maka skala yang ada yaitu kecil.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Sehingga terjadi pemberontakan berkepanjangan yang melahirkan kejadian besar dalam masa ini yaitu &quot;perang salib&quot; (terjadi dari abad ke-11-abad-13). Dalam perang ini, para ksatria (crusader) berjuang demi mempertahankan keyakinan agamanya, serta berjuang untuk dapat mempertahankan pemerintahan Eropa dari desakan pengaruh pemerintahan Islam dari Timur Tengah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Beberapa teori yang bermuara dari sejarah perkembangan kebudayaan pada masa ini, diantaranya adalah teori &quot;masa poros&quot; dari Karl Jaspers, yang menurut Busthan Abdy (2016:23) terdiri dari pembagian lima periode hingga memasuki masa modernisme, yaitu sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Pertama&lt;/b&gt;. Pendapat Jaspers tentang periode pertama adalah, 1) Manusia telah menggunakan api dan alat bantu sederhana, seperti: kapak, kulit pohon, atau kulit binatang; 2) Telah digunakan bahasa sebagai alat komunikasi. Suara telah berperan sebagai simbol; 3) Terbentuk kesadaran sebagai manusia, dan orang mulai membentuk kelompok-kelompok atau suku-suku yang mempunyai struktur sosial; dan 4) Kesadaran sebagai manusia telah menghasilkan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Kedua&lt;/b&gt;. Periode kedua merupakan perkembangan lanjut dari kebudayaan tua di sekitar sungai Nil, Hoang Ho ataupun dari kebudayaan India. Hal-hal yang terjadi adalah: 1) Timbulnya struktur sosial dan pengaturan organisasi kemasyarakatan yang lebih rumit; 2) Ditemukannya sistem komunikasi dengan tulisan (Hrozny 3300 SM, sumeria 3000 SM, Mesir 2000 SM, dan China 2000 SM); dan 3) Tumbuhnya bangsa-bangsa yang memiliki struktur bahasa dan mitologi yang sama dan serupa; 4) Timbulnya kolonialisme; serta 5) Penggunaan tenaga hewan, khususnya kuda sebagai alat transportasi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Ketiga&lt;/b&gt;.Periode ketiga ditandai dengan kemampuan melepaskan diri dari kontinuitas sejarah masa lalu. Mulai timbulnya agama-agama besar dunia, dan timbul pula pertarungan antara rasionalitas dan mitos.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Keempat&lt;/b&gt;. Pada periode keempat, ilmu pengetahuan (sains) mulai berkembang seiring dengan bermunculnya filosof dan pemikir besar, seperti: Descartes, Hegel, Keppler, Galilei, James Watt dsb.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Kelima&lt;/b&gt;.Periode kelima, lahirlah era &quot;modernisme&quot; yang setidaknya dipengaruhi oleh 3 faktor utama, yaitu: 1) Ilmu pengetahuan Alam; 2) Semangat eksplorasi; dan 3) Organisasi kerja.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: large; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Era Modernisme&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Zaman ini ditandai dengan afirmasi diri manusia sebagai subjek total. Era modern adalah zaman di mana kalimat &quot;&lt;i style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Cogito Ergo Sum&lt;/i&gt;&quot; menjadi realitas---nyata. Dalam zaman modern, manusia diminta untuk berpikir sendiri, karena sumber dari segala sesuatu adalah manusia. Sehingga era ini banyak sekali menghasilkan penemuan (&lt;i style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;age of discoveries&lt;/i&gt;).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Apalagi setelah pernyataan sang filsuf Rene Descartes: &quot;&lt;i style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Cogito ergo sum&lt;/i&gt;&quot;, yang artinya &#39;aku berpikir maka aku ada&#39;---melalui pernyataan ini---manusia kemudian dibimbing oleh rasionya sebagai subjek yang berorientasi pada dirinya sendiri, sehingga rasio atau akal budi manusia menjadi pengendali manusia terutama tingkah lakunya sendiri. Sehingga pada masa ini, muncullah berbagai macam teori yang berlaku sampai sekarang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Menurut Busthan Abdy (2016), dalam zaman modern muncul pula janji-janji (pemberontakan) modernisme &quot;pencerahan&quot;, yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;ol style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: medium; font-style: inherit; font-variant-caps: inherit; font-variant-ligatures: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;Kemerdekaan bagi manusia, yang tidak ada lagi dalam kungkungan agama bagi manusia.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: medium; font-style: inherit; font-variant-caps: inherit; font-variant-ligatures: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;Keadilan bagi manusia, yang tidak ada lagi hierarki, sebab semua orang memiliki kekuatan atau hak yang sama&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: medium; font-style: inherit; font-variant-caps: inherit; font-variant-ligatures: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;Kemakmuran bagi manusia, yaitu dengan adanya mesin-mesin dari hasil penemuan sains dan teknologi, produksi manufaktur meningkat, manusia bisa lebih makmur dengan hasil penjualan massal.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: medium; font-style: inherit; font-variant-caps: inherit; font-variant-ligatures: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;Kemajuan bagi manusia, yang ditandai dengan kebebasan berpikir, tanpa dihalang-halangi oleh gereja, manusia akan lebih maju, karena bisa &#39;bebas&#39; memperoleh ilmu pengetahuan&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
Disamping ke-empat hal di atas, beberapa peristiwa juga terjadi pada masa ini, yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;ol style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: medium; font-style: inherit; font-variant-caps: inherit; font-variant-ligatures: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;Terjadinya industri massal akibat ditemukannya mesin uap oleh James Watt pada saat revolusi industri.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: medium; font-style: inherit; font-variant-caps: inherit; font-variant-ligatures: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;Penjajahan terhadap koloni bangsa lain untuk mencari SDA dan SDM yang dibutuhkan akibat munculnya pabrik dan manufaktur.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: medium; font-style: inherit; font-variant-caps: inherit; font-variant-ligatures: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;Terjadi perusakan lingkungan karena dieksploitasi secara terus menerus demi kemajuan produksi.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: medium; font-style: inherit; font-variant-caps: inherit; font-variant-ligatures: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;Tidak terdapat karakter dan perbedaan karena mengikuti &quot;Form Follow Function&quot;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: medium; font-style: inherit; font-variant-caps: inherit; font-variant-ligatures: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;Terjadilah perang yang memanfaatkan kemajuan teknologi dan sains.Sehingga, muncullah kapitalisme yang menekan orang bawah karena masalah keuangan.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Menurut Anthony Giddens (2004), modernitas pada dasarnya bersifat global, dan sejumlah konsekuensi tidak menentu dari fenomena ini, kemudian menyatu dengan sirkularitas karakter refleksif untuk membentuk suatu jagad peristiwa dimana resiko dan bahaya memiliki bentuk yang baru. Kecenderungan global modernitas bersifat ekstensional sekaligus intensional.&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;ol style=&quot;border: 0px; font: inherit; list-style-image: initial; list-style-position: outside; margin: 1.5em 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;/ol&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Dua citra yang terkait bagaimana rasanya hidup di dunia modernitas adalah, bagaimana menurut pendapat Max Weber dan Karl Marx.---Menurut Weber, dalam masa ini, ikatan rasionalitas makin ketat dari hari ke hari, sehingga cukup untuk memenjarakan manusia di dalam jeruji yang tak tampak rutinitas birokrasi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Sementara menurut Karl Marx, modernitas adalah &quot;monster&quot; yang merusak kehidupan dan tak dapat diperbaiki. Modernitas bagi Marx adalah seperti apa yang dikatakan Habermas dengan &quot;proyek tak terselesaikan&quot;. Bagi Marx, monster ini memang dapat dijinakkan, karena hal-hal yang telah diciptakan manusia selalu dapat ditempatkan dibawah kontrol mereka sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Sehingga &quot;kapitalisme&quot; ala Marx, adalah salah satu cara irasional untuk menjalankan dunia modern, karena Marx menggantikan godaan pasar dengan pemenuhan kebutuhan manusia secara terkendali. Itu sebabnya, banyak kalangan menganggap bahwa zaman modern tidak ada bedanya dengan zaman pra-modern. Karena setelah lolos dari jajahan gereja di zaman pra-modern, mereka pun kembali dijajah oleh ilmu pengetahuan dan kapitalisme.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: large; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Era Post-Modernisme&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Mungkin lebih tepatnya dikatakan bahwa zaman ini adalah &quot;saat ini&quot; dan &quot;di sini&quot;--dimana kita berada sekarang. Pemikiran pada periode ini menamakan dirinya dengan istilah &quot;postmodern&quot;, yang lebih memfokuskan diri pada teori kritis, yaitu yang berbasis pada kemajuan dan emansipasi.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Kemajuan dan emansipasi dalam konteks ini, adalah dua hal yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya, seperti yang dinyatakan oleh Habermas, bahwa keberadaan demokrasi ditunjang oleh sains dan teknologi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Era postmodern adalah anti-thesis dari era modern. Dalam era postmodern, ada ungkapan, &quot;Siapapun orangnya, selama ia menghasilkan &quot;sesuatu&quot; maka akan dianggap dan didengar&quot;. Selain itu, era postmodern, ditandai juga dengan kembalinya &quot;identitas&quot; yang pernah hilang pada zaman modern, di mana saat itu manusia dianggap sebagai robot yang tidak memiliki emosi dan perasaan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Namun, tidak hanya terjadi pada manusia saja, hal ini juga terjadi dengan ditandainya identitas yang banyak bermunculan pada produk-produk yang dapat membedakan suatu produk dengan produk lainnya, sehingga masing--masing dari produk tersebut, kemudian memiliki kelebihan dan kekurangannya masing--masing.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Beberapa karakteristik terpenting dalam budaya postmodern antara lain adalah:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;ol style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: medium; font-style: inherit; font-variant-caps: inherit; font-variant-ligatures: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;Ketidakmenentuan, dimana pada waktu itu masyarakat diberi kebebasan untuk melakukan apa yang ia mau&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: medium; font-style: inherit; font-variant-caps: inherit; font-variant-ligatures: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;Terbagi-bagi (terfragmentasi), dimana tidak adanya titik pusat yang menentukan segala sesuatu (pluralisme)&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: medium; font-style: inherit; font-variant-caps: inherit; font-variant-ligatures: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;Relativisme bermunculan, sehingga tidak mempercayai semua hal yang bersifat universal, karena semuanya menjadi sangat relatif.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: medium; font-style: inherit; font-variant-caps: inherit; font-variant-ligatures: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;Era ini terjadi ketika batas antara seni dan kehidupan sehari-hari menjadi hilang.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: medium; font-style: inherit; font-variant-caps: inherit; font-variant-ligatures: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;Kebebasan mengubah hidup menjadi karya seni, yaitu dengan mengindah-indahkan segala sesuatu dalam kehidupan.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: medium; font-style: inherit; font-variant-caps: inherit; font-variant-ligatures: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;Kemunculan citra-citra tertentu dalam masyarakat, seperti dalam diri seniman, pencinta lingkungan, vegetarian, dan anti kemapanan, dsb.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: large; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Titik Awal Potmodernisme&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Menurut Busthan Abdy (2016), berdasarkan asal usul dari katanya, post-modern-isme berasal dari bahasa Inggris yang artinya paham (isme) yang berkembang setelah (post) modern. Terdapat 4 (empat) anggapan penting mengenai kemunculan istilah postmodern ini, yaitu sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Pertama&lt;/b&gt;, beberapa kalangan menganggap istilah ini digunakan pertama kali oleh para seniman pada tahun 1930 (akhir abad-19 dan awal abad ke-20) yaitu dalam bidang seni oleh seorang Federico de Onis, sebagai tujuannya adalah untuk menunjukkan reaksi dari masa sebelumnya, yaitu moderninisme. Kemudian pada bidang sejarah oleh Toyn Bee dalam bukunya Study of History pada tahun 1947. Setelah itu maka berkembang dalam bidang-bidang lain dan mengusung kritik atas modernisme pada bidang-bidangnya sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Kedua&lt;/b&gt;, beberapa kalangan lagi beranggapan bahwa, postmodernisme lahir di St. Louis, Missouri, pada tanggal 15 Juli, tahun 1972, tepatnya pukul 3:32 sore. Saat itu, pertama kali didirikan proyek rumah Pruitt-Igoe di St. Louis, yang dianggap sebagai lambang arsitektur modern. Yang lebih penting, ia berdiri sebagai gambaran modernisme, yang menggunakan teknologi untuk menciptakan masyarakat utopia demi kesejahteraan manusia. Tetapi selanjutnya, para penghuninya justru menghancurkan bangunan itu dengan sengaja.Akhirnya, pemerintah mencurahkan banyak dana untuk merenovasi kembali bangunan itu. Namun akhirnya, setelah banyak menghabiskan jutaan dollar, pemerintah pun menyerah. Pada sore hari di bulan Juli 1972, bangunan itu akhirnya diledakkan dengan dinamit. Menurut Charles Jencks---yang dianggap sebagai arsitek postmodern paling berpengaruh---peristiwa dari peledakan itu selanjutnya menandai akan kematian modernism, dan menandakan kelahiran postmodernisme.&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Ketiga&lt;/b&gt;,berdasarkan perspektif filsafat, maka karakter yang khas dari modernisme adalah, bahwa ia selalu berusaha untuk mencari dasar &quot;pengetahuan&quot; (episteme, Wissenschaft) tentang &quot;apa&quot; nya (ta onta) realitas, yaitu dengan cara kembali ke subjek yang mengetahui (dipahami secara psikologis dan transendental). Di sana diharapkan dapat ditemukannya suatu &quot;kepastian&quot; yang sangat mendasar bagi pengetahuan manusia tentang &quot;realitas&quot;, yaitu realitas yang dibayangkan sebagai realitas luar (Sugiharto Bambang, 1996: 33). Sebab itu, maka dalam postmodernisme, pemahaman manusia kemudian dibangun berdasarkan pada perspektif masyarakat dengan &quot;subjektifitas&quot; dan &quot;bahasa&quot;. Pada titik ini, kebenaran tidak ada yang absolut, sebab kebenaran bersifat relatif dan diragukan.&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Keempat&lt;/b&gt;,sebagian kalangan dari golongan akademisi, mengklaim bahwa masa porstmodernisme dimulai dengan dihancurkannya tembok Berlin ditahun 1989, yaitu setelah 21 tahun dibangun. Ada pula yang menyebutkan bahwa pada tahun 1960 telah terjadi pemberontakkan besar-besaran yang dilakukan oleh para anak muda terhadap kemapanan pada periode tersebut (Greene Albert, 1995).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Terlepas dari keempat anggapan di atas, di tahun 1975, Charles Jenks dalam karya berjudul &quot;&lt;i style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;The Language of Post-ModernArchitecture&lt;/i&gt;&quot; (2002), yang selanjutnya dijelaskan kembali dalam bukunya berjudul &quot;&lt;i style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;What is Postmodernism&lt;/i&gt;&quot; (1986) tentang rumusan unsur kunci dalam realitas postmodern, yang mana dia menyatakan bahwa simplikasi modernis, gaya minimalis, dan gaya ber-tren secara universal, di olah kembali secara dekoratif.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Dalam hal ini---secara ironis---berbagai gaya dan zaman sengaja dicampuradukkan, sebab para arsitek tidak lagi percaya pada gaya yang dominan. Mereka tidak lagi hanya berfokus pada gaya di zaman mereka saja, tetapi dengan melangkah memandang bahwa semua gaya terdahulu adalah sesuatu yang dapat di akses.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Selanjutnya di tahun 1970-an, para filsuf postmodern kontinental muncul dan menjadi populer dari AS, yang sekaligus mengantarkan istilah postmodern ini semakin terkenal bahkan populer untuk dapat digunakan dimana-mana. Timbul pertanyaan mendasar, apa itu &quot;sesudah&quot; (post)? Dan apa itu modern? Semua &quot;sesudah&quot; yang kita dengar, sebagian ditentukan oleh apa yang datang sebelumnya, mereka tergantung dan bereaksi terhadap gerakan terdahulu.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Jadi untuk bisa mengetahui titik awal kemunculan era postmodernisme ini, maka seseorang tidak dapat memahami postmodernisme tanpa terlebih dahulu melihat ke modernisme yang berasal dari gerakan terdahulu yang membuat temuan baru atau yang menemukan kembali pengetahuan lama. Sehingga untuk memahami lebih dalam tentang dunia postmodernisme, kita harus menelusuri kembali leluhurnya melalui perjalanan sejarah dengan melihat terhadap apa postmodernisme bereaksi (0&#39;Donnell Kevin, dalam Busthan Abdy, 2016).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; text-align: center; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Sumber buku:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; text-align: center; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Busthan Abdy. (2016).&amp;nbsp;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Kristus versus tuhan-tuhan Postmo&lt;/b&gt;. Kupang: Desna Life Ministry. (ISBN:978-602-74103-8-1)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://abdibusthan.blogspot.com/feeds/7544635889929237277/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://abdibusthan.blogspot.com/2019/09/postmodernisme.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/6960063012783797264/posts/default/7544635889929237277'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/6960063012783797264/posts/default/7544635889929237277'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://abdibusthan.blogspot.com/2019/09/postmodernisme.html' title='Postmodernisme'/><author><name>Abdy Busthan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08376451895356760186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF1rfIXR-ATHODKdcg-diRoerLe5u_-kqaZXZbYHHAxo9A40slxkXyVqMZpjPS5cvf9c2GnmG-NflzAt3KbNfp6oiLvTVWbD_Yy14AmzsT-aPFNoCGr4-ezhvrNlU5Lg/s220/r56722.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEinauzV-sv9y-7d09F0_aqoBBccUDOtDQFZMtzjYPIdMr8jOrSXgP8n0aa20R1-Z7OSaSdn0xzlXlVYfHSf-8v16WZKNZV142-Mw01j95LAItrsPRGrUz7_6lp7Fau22znMRKdpA7FavazN/s72-c/90e1cc1d5d41521a985d4ae6b2688912.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6960063012783797264.post-901468466834939577</id><published>2019-09-19T21:39:00.005-07:00</published><updated>2019-09-19T21:39:54.539-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="FILSAFAT"/><title type='text'>Penafsiran Kembali Makna Humanisme</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;post-body entry-content&quot; id=&quot;post-body-6289237619025718170&quot; itemprop=&quot;description articleBody&quot; style=&quot;border: 0px; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 13px; font-stretch: inherit; font-variant-east-asian: inherit; font-variant-numeric: inherit; line-height: 1.6em; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline; width: 638px;&quot;&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;374&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgvuCYFdOjPhSxL4V3tPsDdeeZ8-2cbxd2ol8c7VcKp0vH0HPc2blCi-IboOhRIi5Q8kbiBsWrUXRaKMFVOsqiodNXxalWaZ2IQfyRe7vLuTFjV_Gu9kIPtJnIUspAp2tTMof6yEV9G4LMF/s640/f45b3fe73ea230d703bbf3bb58185dff.jpg&quot; style=&quot;border: 0px; font: inherit; height: auto; margin: 0px; max-width: 100%; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: times, &amp;quot;times new roman&amp;quot;, serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: times, &amp;quot;times new roman&amp;quot;, serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Oleh: Abdy Busthan&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Humanisme sebagai sebuah gerakan kemanusiaan telah banyak mengalami proses penafsiran dan penuntunan kata yang relatif panjang. Makna kata tersebut perlu ditelusuri dalam perspektif etimologis dan historis.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Menurut Busthan Abdy (2017:20), secara etimologis, istilah humanisme sangat erat kaitannya dengan kata latin klasik, yakni&amp;nbsp;&lt;i style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;humus&lt;/i&gt;, yang berarti ‘tanah’ atau ‘bumi’. Dari istilah ini muncul kata&amp;nbsp;&lt;i style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;homo&lt;/i&gt;&amp;nbsp;yang berarti &#39;manusia&#39; serta&amp;nbsp;&lt;i style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;humanus&lt;/i&gt;&amp;nbsp;yang menunjukkan sifat “membumi” dan “manusiawi”. Istilah yang senada dengannya adalah kata Latin “&lt;i style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;humilis&lt;/i&gt;”, yaitu kesederhanaan dan kerendahan hati.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Pada abad pertengahan, kaum terpelajar dan Klerikus yang terpengaruh dari pandangan filosofis dan teologis Agustinus serta Thomas Aquinas, sepaham juga dengan St. Agustinus yang memandang manusia tidak sekedar hanya makhluk kodrati saja, tapi juga makhluk Ilahi, yaitu dengan mengembangkan pembedaan antara divinitas dan humanitas yang dipahami sebagai suatu praksis kehidupan manusia dalam dunianya yang khas.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Bisa disimpulkan bahwa perspektif humanisme pada masa Yunani klasik berangkat dari pertimbangan-pertimbangan yang kodrati tentang manusia. Sedangkan perspektif humanisme pada abad pertengahan, berawal dari keyakinan dasar tentang manusia sebagai makhluk kodrati dan adikodrati.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Namun, gerakan humanisme yang dipahami secara spesifik dan secara murni sebagai gerakan kemanusiaan, sebetulnya baru berkembang pada zaman “renaissance”, terutama berkaitan dengan menurunnya minat kaum terpelajar (&lt;i style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;umanisti&lt;/i&gt;) untuk mempelajari tulisan-tulisan klasik (Yunani-Romawi)—bahkan karya-karya klasik pada saat itu justru dimodifikasi dengan gerakan kesadaran intelektual untuk bisa menghidupkan kembali literatur-literatur Yunani-Romawi.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Dalam bukunya yang berjudul “&lt;i style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Humanisme dan Sesudahnya&lt;/i&gt;”, seorang Doktor lulusan Hochschule fur Philosophie Munchen, Jerman, Hardiman Budi (2012), kemudian menghadirkan pemahaman baru tentang humanisme melalui penjelasannya yang mendalam dan mendetail, bahwa ketika humanisme dibicarakan kembali saat-saat sekarang ini (sesudah masa humanisme), bukan dalam arti bahwa kemanusiaan itu memang telah usang dan tidak perlu diperjuangkan lagi.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Dalam memahami makna &quot;humanisme&quot; sesudah masa humanisme, maka perlu dipahami ke-13 poin humanisme berikut:&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Pertama&lt;/b&gt;. Paham yang mengatakan bahwa gagasan besar tentang manusia perlu untuk ditinjau lagi dan dibebaskan dari metafisika kemanusiaan yang bercokol didalamnya, adalah semata-mata merupakan sebuah jeda kecil dalam gelombang perbincangan yang selama ini telah menjadi hegemonial. Alasan peninjauan kembali paham ini adalah pada kejadian-kejadian di Auschwitz, Hiroshima, Gulag, Killing Fields, Sebrenica, dan puluhan tempat pembunuhan massal lain pada abad ke-20. Sebab tragedi kemanusiaan yang telah terjadi pada tempat-tempat ini, sesungguhnya menyingkapkan bagaimana kemanusiaan tanpa Tuhan, yaitu suatu kondisi dimana manusia bermain sebagai Tuhan, dan berakhir pada kemanusiaan tanpa manusia—suatu keadaan dimana manusia konret dianggap berlebihan dihadapan konsep abstrak kemanusiaan.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Kedua.&lt;/b&gt;&amp;nbsp;Ketika manusia menjadi ukuran bagi segala sesuatu, oleh pikiran manusia sendiri, maka kemanusiaan manusia berubah menjadi instansi abstrak yang tidak tertanggungkan oleh manusia kongkrit. Kondisi seperti ini ditandai dengan pudarnya rasa “takut akan Tuhan” yang di dalam tradisi kuno masih dianggap sebagai sumber kebijaksanaan—keadaan berubah menjadi takut akan manusia lain yang merupakan pangkal segala perversi (kelainan seksual).&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Ketiga.&lt;/b&gt;&amp;nbsp;Alasan lain di abad-21 ini, dalam mendesak untuk memikirkan kembali humanisme sekuler adalah serangan terorisme internasional atas menara kembar World Trade Center di Manhattan USA pada tanggal 11 September 2001 atau yang dikenal dengan kode 9/11. Dalam kaitannya dengan tragedi ini, topik hubungan antara Iman dan Nalar, perlu diperdalam lagi untuk memahami tentang kemanusiaan yang sesungguhnya. Artinya bahwa, membela manusia tidak lagi dapat dilakukan dengan menyingkirkan dan mengabaikan agama, seperti yang telah dilakukan oleh humanisme sekuler modern pada tragedi 9/11 tersebut. Karena pada tragedi 9/11 sudah menyingkapkan bahwa “fideisme” yang merupakan doktrin bahwa kepercayaan (fides) religius adalah satu-satunya sumber kebenaran, tidak pernah sungguh-sungguh diatasi. Sementara peradaban sekuler hanyalah membungkam aspirasi-aspirasi religius ke dalam tembok-tembok ruang privat saja. Karena masyarakat tidak pernah sungguh-sungguh untuk saling mengerti.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Keempat.&amp;nbsp;&lt;/b&gt;Toleransi biasanya dibangun hanyalah bersifat semu, yang juga dilakukan hanya dengan sebatas gencatan senjata saja, yaitu dengan pengalihan perhatian berlebihan ke arah pertumbuhan pasar kapitalistis.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Kelima&lt;/b&gt;. Antroposentris (berpusat pada manusia) dalam humanisme Barat, sebenarnya sudah ditantang secara teoritis oleh postmodernisme, yaitu dalam tatanan praksisnya tampak pada krisis ekologis dalam bentuk pemanasan global dan berbagai bencana lingkungan, seperti Tsunami di Aceh dan Jepang. Sehingga dengan tragedi 9/11, antroposentris ditantang oleh kebangkitan kembali fideisme dan cara-cara berpikir teosentris.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Keenam.&lt;/b&gt;&amp;nbsp;Relativisme dan Nihilisme yang dibawa dalam rasio sekular—dengan tanpa dimaksudkannya sendiri/tanpa di sengaja, justru telah menyediakan ruang bagi fundamentalisme agama. Karena di tengah-tengah krisis dan disorientasi nilai, sikap-sikap fundamentalistis memiliki daya tarik tersendiri dalam jiwa yang mencari kepastian dan koherensi.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Ketujuh.&lt;/b&gt;&amp;nbsp;Dasar “intelektual” bagi paham deisme dan ateisme adalah hukum naturalisme yang merupakan suatu keyakinan bahwa kehidupan manusia sepenuhnya dikendalikan oleh hukum-hukum alam dan naluri-naluri alamiah yang bersifat non-spiritual dan material belaka. Sehingga dalam perkembangannya, naturalisme dan evolusionisme Darwin banyak mendominasi sains modern dan juga dalam praksis mengusir berbagai segi-segi misterius dan sakral dalam diri manusia&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Kedelapan.&lt;/b&gt;&amp;nbsp;Berangkat dari tragedi berdarah 9/11, maka sesudah 9/11 adalah era yang menyadari berbagai patologi akal dan kepercayaan manusia, sehingga humanisme pada era ini harus dimaknai dengan melihat kembali aspek ganda di dalamnya—yaitu aspek negatif-kritis dan positif-konstruktifnya. Maka dari kedua aspek ini, humanisme tetap merupakan sebuah jawaban yang diperlukan dewasa ini.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Kesembilan.&lt;/b&gt;&amp;nbsp;Agama, khususnya otoritas-otoritas di dalamnya, menuntut sikap percaya sambil—jika perlu—bisa memadamkan nalar yang “berlebihan’, karena bisa menjadi godaan bagi seseorang untuk tidak percaya. Karena tak ada pihak yang lebih diuntungkan daripada mereka yang berhasil mengusir akal demi meraih loyalitas dari sesamanya.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Kesepuluh.&lt;/b&gt;&amp;nbsp;Sebenarnya sejak awal, bukanlah iman kepada Tuhan yang dipersoalkan dalam humanisme, melainkan perversi (penyimpangan paham) kepercayaan religius. Hal ini timbul dikarenakan agama menyediakan rasa takut berlebihan yang dapat mencapai ciri-ciri patologis; agama membuat manusia justru lari dari nasibnya sendiri; agama memasung kebebasan berpikir dan banyak mengklaim kekuasaan total yang membuat perwujudan diri pribadi manusia menjadi tidak mungkin, dan seterusnya.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Keseblas.&lt;/b&gt;&amp;nbsp;Dibutuhkan kejernihan dan keteguhan dalam menggunakan nalar, tanpa harus tergelincir masuk ke dalam para penghujat iman. Dimana “hermeneutuc of suspicion” tetap dipraktikkan ketika kebenaran agama sedang didekati. Karena cahaya nalar menjangkau sumber-sumber inspirasi yang paling profetis dalam iman religius untuk dibiarkan bicara bagi kemanusiaan. Sebab sesungguhnya kemanusiaan yang otentik berkembang dalam kesadaran akan batas-batasnya, yaitu dalam kontras dengan Yang tak Terbatas. Siapakah Yang Tak Terbatas? Dialah sang pemilik nalar dan kemanusiaan autentik&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Keduabelas.&lt;/b&gt;&amp;nbsp;Belajar dari kebenaran agama tidak harus sama dengan menganut agama itu. Sebagaimana nampak pada pernyataan sang ‘humanis lentur’, Driyarkara, bahwa: ..“menerima adanya orang-orang yang percaya kepada Tuhan, tetapi tidak ikut agama tertentu”, karena pengenalan akan ketuhanan tidak dapat dikerangkeng dalam terali-terali institusional dan sangkar-sangkar konseptual.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Ketigabelas&lt;/b&gt;. Nilai intrinsik yang dimiliki manusia, tidaklah diasalkan dari dalam diri manusia itu sendiri, melainkan dari segala sesuatu yang sama sekali lain daripada dirinya, kepada—mengutip kembali Anselmus—aliquid quo maius nihil cogitari (sesuatu yang lebih besar daripadanya tidak bisa dipikirkan), dan di dalam sekularitas, Yang Selalu Lebih Akbar daripada Segalanya ini, tetap akan tinggal tidak bernama (Hardiman, 2012).&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: times, &amp;quot;times new roman&amp;quot;, serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; text-align: center; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Rujukan Buku:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; text-align: center; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Busthan Abdy (2017).&amp;nbsp;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Teori Pembelajaran Humanistik: Maslow, Dewey, Rogers, Fromm&lt;/b&gt;. Kupang: Desna Life Ministry&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://abdibusthan.blogspot.com/feeds/901468466834939577/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://abdibusthan.blogspot.com/2019/09/penafsiran-kembali-makna-humanisme.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/6960063012783797264/posts/default/901468466834939577'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/6960063012783797264/posts/default/901468466834939577'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://abdibusthan.blogspot.com/2019/09/penafsiran-kembali-makna-humanisme.html' title='Penafsiran Kembali Makna Humanisme'/><author><name>Abdy Busthan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08376451895356760186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF1rfIXR-ATHODKdcg-diRoerLe5u_-kqaZXZbYHHAxo9A40slxkXyVqMZpjPS5cvf9c2GnmG-NflzAt3KbNfp6oiLvTVWbD_Yy14AmzsT-aPFNoCGr4-ezhvrNlU5Lg/s220/r56722.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgvuCYFdOjPhSxL4V3tPsDdeeZ8-2cbxd2ol8c7VcKp0vH0HPc2blCi-IboOhRIi5Q8kbiBsWrUXRaKMFVOsqiodNXxalWaZ2IQfyRe7vLuTFjV_Gu9kIPtJnIUspAp2tTMof6yEV9G4LMF/s72-c/f45b3fe73ea230d703bbf3bb58185dff.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6960063012783797264.post-8663569144337413605</id><published>2019-09-19T21:36:00.001-07:00</published><updated>2019-09-19T21:36:14.956-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="FILSAFAT"/><title type='text'> Filsafat Ilmu Pengetahuan</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;post-body entry-content&quot; id=&quot;post-body-889299920284083760&quot; itemprop=&quot;description articleBody&quot; style=&quot;border: 0px; color: #333333; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 13px; font-stretch: inherit; font-variant-east-asian: inherit; font-variant-numeric: inherit; line-height: 1.6em; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline; width: 638px;&quot;&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;310&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjJFAq4UsqnuGGJ1Qr_hILA_w_oVNkSxaif4m_zziJ_l8v_CfUzxmc3z6DQgptjFdRhrGGctXET8R-dc1rgOqwyZzDwkHQTPrqWGSereAFwe767SNpdIWWNH0wWgRExABmSCplisRpcI0p6/s640/aaecd33c946bd5f798fcba30c40bae09.jpg&quot; style=&quot;border: 0px; font: inherit; height: auto; margin: 0px; max-width: 100%; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: georgia, &amp;quot;times new roman&amp;quot;, serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: georgia, &amp;quot;times new roman&amp;quot;, serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Berdasarkan sudut pandang filosofis, filsafat ilmu pengetahuan dapat dipahami berdasarkan empat pendekatan dengan menggunakan empat pertanyaan ilmiah berikut ini:&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: georgia, &amp;quot;times new roman&amp;quot;, serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: georgia, &amp;quot;times new roman&amp;quot;, serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Pertama&lt;/b&gt;. Apakah pengetahuan itu? Pertanyaan jenis ini membutuhkan jawaban berupa “hakikat” (isi arti hakiki) yaitu sebuah bentuk “pengetahuan subtansial” tentang apa dan bagaimana itu ilmu pengetahuan.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Kedua&lt;/b&gt;. Mengapa ilmu pengetahuan itu ada? Bahwa pertanyaan ini membutuhkan jawaban tentang sebab-akibat dari keberadaan atau “pengetahuan kausal” ilmu pengetahuan.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Ketiga&lt;/b&gt;. Bagaimana ilmu pengetahuan itu bisa ada? Pertanyaan seperti ini memerlukan jawaban mengenai “metode” untuk dapat mengetahui objek yang berupa “pengetahuan metodis” ilmu pengetahuan.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Keempat&lt;/b&gt;. Untuk apa ilmu pengetahuan itu ada? Bahwa pertanyaan ini membutuhkan jawaban berupa “manfaat” ilmu pengetahuan untuk kehidupan manusia sebagai makhluk yang berpikir, yaitu berbentuk “pengetahuan normatif” ilmu pengetahuan.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Dari keempat pertanyaan di atas, jika dirunut berdasarkan susunan kata, maka dapat dipahami bahwa filsafat ilmu pengetahuan adalah suatu bidang studi filsafat yang objek materinya berupa ilmu pengetahuan dalam berbagai jenis, bentuk, dan sifatnya. Dapatlah meliputi pluralitas ilmu pengetahuan (ragam ilmu pengetahuan). Sedangkan objek formanya adalah “hakikat” (intisari) ilmu pengetahuan.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Sebagaimana menurut Suparlan Suhartono (2011) bahwa filsafat ilmu pengetahuan adalah suatu bidang studi filsafat yang mempelajari segala macam jenis, bentuk, dan sifat dari ilmu pengetahuan.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Senada dengan hal di atas, Sonny Keraf &amp;amp; Mikhael Dua (2013) juga menyatakan bahwa filsafat ilmu pengetahuan adalah cabang filsafat yang mempersoalkan dan mengkaji segala persoalan yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Dalam hal ini, tema yang dipersoalkan adalah apa itu kebenaran? Apa metode ilmu pengetahuan? Manakah metode yang paling bisa diandalkan? Apa kelemahan metode yang yang ada? Apa itu teori? Apa itu hipotesis? Apa itu hukum ilmiah?&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Pengertian Pengetahuan&lt;/b&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online, pengetahuan berarti segala sesuatu yg diketahui; kepandaian: atau segala sesuatu yg diketahui berkenaan dengan hal (mata pelajaran).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: georgia, &amp;quot;times new roman&amp;quot;, serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: georgia, &amp;quot;times new roman&amp;quot;, serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Sonny Keraf &amp;amp; Mikhael Dua (2013) menyatakan bahwa, pengetahuan adalah keseluruhan pemikiran, gagasan, ide, konsep dan pemahaman yang dimiliki manusia tentang dunia dan segala isinya, termasuk manusia dan kehidupannya.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Pengetahuan mencakup penalaran, penjelasan dan pemahaman manusia tentang segala sesuatu. Juga mencakup praktik atau kemampuan teknis dalam memecahkan berbagai persoalan hidup yang belum dibakukan secara sistematis dan metodis.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Karena itu, filsafat pengetahuan berkaitan dengan upaya mengkaji segala sesuatu yang berkaitan dengan pengetahuan manusia pada umumnya, terutama menyangkut gejala pengetahuan dan segala sumber pengetahuan manusia.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Sehingga timbul beberapa pertanyaan tentang bagaimana manusia bisa tahu? Apakah manusia bisa sampai pada pengetahuan yang bersifat pasti? Apakah pengetahuan yang pasti itu mungkin? Apa artinya mengetahui sesuatu? Bagaimana manusia bisa tahu bahwa ia tahu? Dari mana asal dan sumber pengetahuan manusia itu? Apakah pengetahuan sama dengan keyakinan? Dimana letak perbedaannya?&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Dari uraian di atas, dapatlah disimpulkan bahwa pengetahuan merupakan segala sesuatu yang diketahui dan yang diperoleh dari persentuhan panca indera terhadap objek tertentu.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Pengetahuan pada dasarnya merupakan hasil dari proses melihat, mendengar, merasakan, dan berfikir yang menjadi dasar manusia bersikap dan bertindak. Jadi, pengetahuan lebih dikaitkan dengan segala sesuatu yang diketahui oleh manusia berkaitan dengan proses mempelajari sesuatu.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Pengertian Ilmu pengetahuan&lt;/b&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Ilmu Pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia, dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Segi-segi yang dimaksudkan di atas, dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan pasti. Ilmu dalam hal ini memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu yang ditelusuri, diperoleh dari keterbatasan yang ada.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Ilmu bukan sekadar pengetahuan (&lt;i style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;knowledge&lt;/i&gt;), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih dalam dan lebih jauh tentang pengetahuan yang dimilikinya. Ilmu pengetahuan adalah produk dari istemologepi.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Menurut Sonny Keraf &amp;amp; Mikhael Dua (2013), bahwa ilmu pengetahuan adalah merupakan keseluruhan sistem pengetahuan manusia yang telah dibakukan secara sistematis.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Ilmu pengetahuan dalam hal ini dapat dilihat sebagai upaya untuk menjelaskan hubungan antara berbagai hal dan peristiwa dalam alam semesta ini secara sistematis dan rasional (masuk akal).&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Misalnya ilmu Alam hanya bisa menjadi pasti setelah lapangannya dibatasi ke dalam hal yang bahani (materiil saja). Ilmu-ilmu alam menjawab pertanyaan tentang berapa jarak matahari.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Demikan dengan halnya dengan ilmu psikologi yang hanya bisa meramalkan perilaku setiap manusia jika lingkup pandangannya dibatasi ke dalam segi umum dari perilaku manusia yang konkret. Ilmu psikologi menjawab apakah seorang pemudi cocok menjadi perawat.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Oleh: Abdy Busthan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://abdibusthan.blogspot.com/feeds/8663569144337413605/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://abdibusthan.blogspot.com/2019/09/filsafat-ilmu-pengetahuan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/6960063012783797264/posts/default/8663569144337413605'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/6960063012783797264/posts/default/8663569144337413605'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://abdibusthan.blogspot.com/2019/09/filsafat-ilmu-pengetahuan.html' title=' Filsafat Ilmu Pengetahuan'/><author><name>Abdy Busthan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08376451895356760186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF1rfIXR-ATHODKdcg-diRoerLe5u_-kqaZXZbYHHAxo9A40slxkXyVqMZpjPS5cvf9c2GnmG-NflzAt3KbNfp6oiLvTVWbD_Yy14AmzsT-aPFNoCGr4-ezhvrNlU5Lg/s220/r56722.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjJFAq4UsqnuGGJ1Qr_hILA_w_oVNkSxaif4m_zziJ_l8v_CfUzxmc3z6DQgptjFdRhrGGctXET8R-dc1rgOqwyZzDwkHQTPrqWGSereAFwe767SNpdIWWNH0wWgRExABmSCplisRpcI0p6/s72-c/aaecd33c946bd5f798fcba30c40bae09.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6960063012783797264.post-3875775013397640800</id><published>2019-09-19T21:32:00.002-07:00</published><updated>2019-09-19T21:32:32.494-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="FILSAFAT"/><title type='text'>Dalil-Dalil Psikologi Humanistik Pertama</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;post-body entry-content&quot; id=&quot;post-body-5736354160401525251&quot; itemprop=&quot;description articleBody&quot; style=&quot;border: 0px; color: #333333; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 13px; font-stretch: inherit; font-variant-east-asian: inherit; font-variant-numeric: inherit; line-height: 1.6em; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline; width: 638px;&quot;&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;640&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgU2pnGP2HhJs4rD5VngMO_ogUUygD-642aw0VHppTpbze3_WHp64bLpA413NHH7pkaXf4CjrOwL3kei1Y1L4iLQlO2sWf9febkBQTKE3OgjJjkdqSUo19yqujGsjmFnSiw5cJ3Ntqfk8fz/s640/0a1311d96184678b9f29c38c56cda157.jpg&quot; style=&quot;border: 0px; font: inherit; height: auto; margin: 0px; max-width: 100%; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: georgia, &amp;quot;times new roman&amp;quot;, serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: georgia, &amp;quot;times new roman&amp;quot;, serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Pada perkembangan awal, perspektif psikologi humanistik dapat di ringkas ke dalam 5 (lima) prinsip utama atau biasa disebutkan dengan “dalil-dalil psikologi humanistik pertama” yang diartikulasikan dalam sebuah artikel James Bugental tahun 1964, dan selanjutnya diadaptasi oleh Tom Greening, seorang psikolog dan editor lama dari&amp;nbsp;&lt;i style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Journal of Humanistic Psychology&lt;/i&gt;, dengan menyatakan kelima prinsip dasar psikologi humanistik sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;ol style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: georgia, &amp;quot;times new roman&amp;quot;, serif; font-size: medium; font-style: inherit; font-variant-caps: inherit; font-variant-ligatures: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;Manusia, sebagai manusia, mewakili jumlah bagian mereka—manusia. Dimana mereka tidak bisa direduksi menjadi komponen.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: georgia, &amp;quot;times new roman&amp;quot;, serif; font-size: medium; font-style: inherit; font-variant-caps: inherit; font-variant-ligatures: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;Manusia memiliki eksistensi mereka dalam konteks unik manusia, serta dalam ekologi kosmik.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: georgia, &amp;quot;times new roman&amp;quot;, serif; font-size: medium; font-style: inherit; font-variant-caps: inherit; font-variant-ligatures: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;Manusia sadar dan sadar menjadi sadar—yaitu, mereka sadar. Kesadaran manusia selalu mencakup kesadaran diri sendiri dalam konteks orang lain.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: georgia, &amp;quot;times new roman&amp;quot;, serif; font-size: medium; font-style: inherit; font-variant-caps: inherit; font-variant-ligatures: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;Manusia memiliki beberapa pilihan dan dengan itu, bertanggung jawab.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: georgia, &amp;quot;times new roman&amp;quot;, serif; font-size: medium; font-style: inherit; font-variant-caps: inherit; font-variant-ligatures: inherit; font-weight: inherit;&quot;&gt;Manusia adalah disengaja, memiliki tujuan, sadar bahwa mereka menyebabkan peristiwa masa depan, dan mencari makna, nilai, dan kreativitas.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: georgia, &amp;quot;times new roman&amp;quot;, serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Berdasarkan pada dalil-dalil di atas, kemudian di adopsi pendekatan holistik demi eksistensi manusia dan memberikan perhatian khusus terhadap fenomena seperti: kreativitas, kehendak bebas, dan potensi dalam diri manusia. Hal ini di dorong dengan melihat pribadi manusia sebagai “manusia seutuhnya&quot; yang juga lebih besar daripada jumlah bagiannya, dan mendorong eksplorasi diri dari pada studi perilaku pada orang lain.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Maka, kajian bidang psikologi humanistik kemudian mengakui aspirasi spiritual sebagai bagian integral dari jiwa manusia, yang tentunya berhubungan dengan bidang yang muncul dari psikologi transpersonal.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Karena itu, humanisme merupakan paradigma pendekatan pedagogis, yang percaya bahwa proses kegiatan belajar dipandang sebagai “tindakan pribadi” untuk memenuhi “potensi” seseorang. Sebab sebagai paradigma berlajar, humanisme muncul pada tahun 1960, yang berfokus pada kebebasan, martabat, dan potensi yang terdapat dalam diri insan manusia, dengan asumsi sentralnya bahwa manusia bertindak dengan intensionalitas dan nilai-nilai (Huitt, 2001).&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Term atau istilah pendidikan humanistik umumnya digunakan untuk menunjuk berbagai teori pendidikan dan praktek yang berkomitmen untuk pandangan dunia dan kode etik humanisme, yaitu positing peningkatan pembangunan manusia, kesejahteraan dan martabat sebagai tujuan akhir dari semua pemikiran dan tindakan manusia—di luar agama, ideologi, atau cita-cita nasional dan nilai-nilai.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Pokok Ajaran Humanisme&lt;/b&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Berdasarkan kajian panjang filosofis dan moral yang merupakan tradisi dari Nabi-Nabi Alkitab, dan untuk filsuf Yunani, selanjutnya Deklarasi Universal PBB tentang Hak Asasi Manusia dan Hak Anak, merumuskan komitmen humanisme lebih lanjut, yang menyiratkan pembinaan 3 (tiga) pokok ajaran fundamentalnya, yaitu sebagai berikut:&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Filosofis, yang terdiri dari konsepsi manusia—pria dan wanita—sebagai makhluk otonom dan rasional dan rasa hormat yang mendasar bagi semua individu manusia berdasarkan yang diberkahi dengan kebebasan kehendak, berpikir rasional, kesadaran moral, imajinatif dan kekuatan kreatif.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Sosial-politik, yang terdiri dari etika universal kesetaraan manusia, timbal balik, solidaritas dan tatanan politik yang pluralistik, adil dan demokrasi manusiawi.&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Pedagogis, yang terdiri dalam komitmen untuk membantu semua individu untuk mewujudkan dan menyempurnakan potensi mereka dan &quot;menikmati&quot;. Di mana dalam kata-kata Mortimer Adler (2015), berbunyi.. &quot;&lt;i style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;As fully as possible all the goods that make a human life as good as it can be&lt;/i&gt;” (semua barang semaksimal mungkin akan membuat kehidupan manusia menjadi baik).&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;Oleh: Abdy Busthan&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: georgia, &amp;quot;times new roman&amp;quot;, serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; text-align: center; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: georgia, &amp;quot;times new roman&amp;quot;, serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Rujukan Buku:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border: 0px; font: inherit; margin: 0px; padding: 0px; text-align: center; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; font-family: georgia, &amp;quot;times new roman&amp;quot;, serif; font-size: medium; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Busthan Abdy (2017).&amp;nbsp;&lt;b style=&quot;border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-stretch: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Teori Pembelajaran Humanistik: Maslow, Dewey, Rogers, Fromm&lt;/b&gt;. Kupang: Desna Life Ministry&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://abdibusthan.blogspot.com/feeds/3875775013397640800/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://abdibusthan.blogspot.com/2019/09/dalil-dalil-psikologi-humanistik-pertama.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/6960063012783797264/posts/default/3875775013397640800'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/6960063012783797264/posts/default/3875775013397640800'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://abdibusthan.blogspot.com/2019/09/dalil-dalil-psikologi-humanistik-pertama.html' title='Dalil-Dalil Psikologi Humanistik Pertama'/><author><name>Abdy Busthan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08376451895356760186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF1rfIXR-ATHODKdcg-diRoerLe5u_-kqaZXZbYHHAxo9A40slxkXyVqMZpjPS5cvf9c2GnmG-NflzAt3KbNfp6oiLvTVWbD_Yy14AmzsT-aPFNoCGr4-ezhvrNlU5Lg/s220/r56722.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgU2pnGP2HhJs4rD5VngMO_ogUUygD-642aw0VHppTpbze3_WHp64bLpA413NHH7pkaXf4CjrOwL3kei1Y1L4iLQlO2sWf9febkBQTKE3OgjJjkdqSUo19yqujGsjmFnSiw5cJ3Ntqfk8fz/s72-c/0a1311d96184678b9f29c38c56cda157.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6960063012783797264.post-5687057715805546420</id><published>2019-09-19T21:29:00.000-07:00</published><updated>2019-10-07T19:08:29.850-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="FILSAFAT"/><title type='text'>Cabang Filsafat (Oleh: Abdy Busthan)</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhE0QHZkdInpiZiIJnpPEZPiEa0Erv3VZY2u1V8_Mewcr1LGS2FMV-n_GRV3mLNlPDR3h0fO-zRoj06Fa_znapZ_o0sLw05MdCiW358J5-oyWbazm2xZTFvdJoRRTFsiJIlbxQSR5amn0I5/s640/1aaf67b51c4dc50e309208ac3d4ce5bc.jpg&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Mempelajari aliran filsafat berarti merujuk pada bagaimana mengembangkan filsafat ilmu pengetahuan. Secara universal, cabang ilmu filsafat itu terdiri dari enam bagian, yaitu: epistemologi, estetika, etika, filsafat politik, logika dan metafisika.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;(1) Epistemologi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Epistemologi berasal dari dua kata bahasa Yunani, yaitu kata: &lt;i&gt;epistime&lt;/i&gt; yang artinya pengetahuan, dan akhiran &lt;i&gt;-logi&lt;/i&gt; yang berarti &quot;wacana&quot; (berasal dari bahasa yunani &quot;logos&quot; yang berarti &quot;wacana&quot;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Epistemologi adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan asal, sifat, karakter dan jenis pengetahuan. Topik ini termasuk salah satu yang paling sering diperdebatkan dan dibahas dalam bidang filsafat, misalnya tentang apa itu pengetahuan? bagaimana karakteristik dari pengetahuan? Bagaimana macam-macam pengetahuan? Bagaimanakah hubungan pengetahuan dengan kebenaran dan keyakinan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kajian tentang ilmu pengetahuan disebutkan dengan epistemologi. Pengetahuan dapat diperoleh melalui pengalaman data-data indra, benda-benda memori, keadaan internal, diri kita sendiri, orang lain atau benda-benda fisik. Pada titik ini, filsafat ilmu merupakan alat untuk melakukan tela&#39;haan tentang struktur ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmiah adalah ilmu. Jadi, berpikir ilmiah adalah proses atau aktivitas manusia untuk menemukan atau mendapatkan ilmu yang bercirikan dengan adanya kausalitas, analisis, dan sintesis. Dalam epistemologi atau perkembangan untuk mendapatkan ilmu, diperlukan adanya sarana berpikir ilmiah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarana berpikir ilmiah ini adalah alat bagi metode ilmiah dalam melakukan fungsinya secara baik. Jadi, fungsi sarana berpikir ilmiah adalah membantu proses metode ilmiah untuk mendapat ilmu atau teori yang lain (Daito Apollo, 2011).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelaslah bahwa epistemologi adalah teori pengetahuan yang lebih banyaknya berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya, serta bagaimana pertanggungjawaban segala pernyataan-pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan tersebut diperoleh melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode seperti berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Empirisme&lt;/b&gt;, adalah suatu metode dalam filsafat yang mendasarkan cara-cara memperoleh pengetahuan melalui pengalaman. John Locke, bapak empirisme Britania, mengatakan bahwa pada waktu manusia di lahirkan, akalnya merupakan jenis catatan yang kosong (tabula rasa), dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman-pengalaman inderawi manusia dengan dunianya. Akal sebagai tempat penampungan, yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. Ini berarti, semua pengetahuan kita betapapun rumitnya, dapat dilacak kembali sampai kepada pengalaman-pengalaman inderawi yang pertama-tama, yang dapat diibaratkan sebagai atom-atom yang menyusun objek-objek material. Apa yang tidak dapat atau tidak perlu di lacak kembali secara demikian, itu bukan pengetahuan, atau setidak-tidaknya bukanlah pengetahuan mengenai hal-hal yang faktual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Rasionalisme&lt;/b&gt;, menegaskan bahwa setiap sumber pengetahuan, terletak pada akal budi. Bukan karena rasionalisme mengingkari nilai pengalaman, melainkan pengalaman setidaknya dapat dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran. Para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak di dalam ide kita, dan bukannya di dalam barang atau diri sesuatu. Jika kebenaran mengandung makna mempunyai ide yang sesuai dengan atau menunjuk kepada kenyataan, maka kebenaran hanya dapat ada di dalam pikiran manusia dan hanya diperoleh dengan akal budi saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Fenomenalisme&lt;/b&gt;, Raja Fenomenalisme atau Bapak Fenomenalisme adalah Immanuel Kant yang membuat uraian tentang pengalaman. Barang sesuatu sebagaimana terdapat dalam dirinya sendiri, merangsang alat inderawi manusia dan diterima oleh akal, dalam bentuk-bentuk pengalaman yang disusun secara sistematis dengan jalan penalaran. Karenanya, manusia tidak pernah mempunyai pengetahuan tentang barang sesuatu seperti keadaannya sendiri, melainkan hanya tentang sesuatu seperti yang nampak kepada kita. Artinya, pengetahuan adalah tentang sebuah gejala (Phenomenon). Menurut Kant, penganut empirisme bisa benar bila berpendapat bahwa semua pengetahuan didasarkan pengalaman—meskipun benarnya hanya untuk sebagian. Tetapi para penganut rasionalisme juga bisa benar, karena akal memaksakan bentuk-bentuknya sendiri, terhadap barang sesuatu serta pengalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Intusionisme&lt;/b&gt;, merupakan sarana mengetahui secara langsung. Analisa, atau suatu pengetahuan yang diperoleh dengan pelukisan, tidak dapat menggantikan hasil pengenalan secara langsung dari pengetahuan intuitif. Salah satu di antara unsur-unsur yang berharga dalam intuisionisme ialah, paham ini memungkinkan adanya bentuk pengalaman di samping pengalaman yang dihayati indera. Data yang dihasilkannya merupakan tambahan bagi pengetahuan, di samping pengetahuan yang dihasilkan oleh penginderaan. Kant benar dengan mengatakan bahwa pengetahuan didasarkan pada pengalaman, tetapi dengan demikian, pengalaman harus meliputi baik pengalaman inderawi maupun pengalaman intuitif. Intusionisme tidak mengingkari nilai pengalaman inderawi yang biasa dan pengetahuan yang disimpulkan darinya. Intusionisme—setidak-tidaknya dalam beberapa bentuk—hanya mengatakan bahwa, pengetahuan yang lengkap adalah yang di peroleh melalui intuisi, sebagai lawan pengetahuan yang nisbi—yang meliputi sebagian saja—yang diberikan oleh analisis. Apa yang diberikan oleh indera, hanyalah apa yang tampak saja, sebagai lawan dari yang diberikan oleh intuisi, yaitu kenyataan. Barang sesuatu tidak pernah merupakan sesuatu seperti yang tampak pada manusia, karena hanya intuisilah yang dapat menyingkapkan keadaannya secara nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dialektis&lt;/b&gt;, merupakan tahapan logika yang banyak mengajarkan kaidah-kaidah dan metode penuturan serta analisis sistematik tentang ide-ide untuk mencapai apa yang terkandung dalam pandangan. Dalam kehidupan sehari-hari, dialektika adalah kecakapan dalam melakukan perdebatan. Teori pengetahuannya lebih berbentuk pemikiran yang tidak tersusun dari satu pikiran saja, tetapi pemikiran seperti sebuah percakapan yang bertolak dari dua kutub. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;(2) Estetika &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Estetika berasal dari bahasa Yunani &lt;i&gt;aisthetikos&lt;/i&gt;, yang artinya &quot;keindahan” atau sensitivitas kesadaran yang berkaitan dengan persepsi sensorik, dan merupakan turunan dari kata aisthanomai, yang berarti saya melihat, meraba, dan merasakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali istilah ini digunakan oleh filsuf Alexander Gottlieb Baumgarten pada tahun 1735 untuk pengertian ilmu tentang hal yang bisa dirasakan lewat perasaan. Itu sebabnya estetika adalah salah satu cabang filsafat yang membahas tentang keindahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Estetika merupakan ilmu membahas bagaimana keindahan bisa terbentuk, dan bagaimana supaya dapat merasakannya. Pembahasan lebih lanjut mengenai estetika adalah sebuah filosofi yang mempelajari nilai-nilai sensoris yang kadang dianggap sebagai penilaian terhadap sentimen dan rasa. Estetika merupakan cabang yang sangat dekat dengan filosofi seni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keindahan seharusnya sudah dinilai saat karya seni pertama kali dibuat, namun rumusan keindahan pertama kali didokumentasi oleh filsuf Plato yang menentukan keindahan dari proporsi, keharmonisan, dan kesatuan. Sementara Aristoteles menilai keindahan datang dari aturan-aturan, kesimetrisan, dan keberadaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun awalnya sesuatu yang indah dinilai dari aspek teknis dalam membentuk suatu karya, namun perubahan pola pikir dalam masyarakat akan turut memengaruhi penilaian terhadap keindahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya pada masa romantisme di Perancis, keindahan berarti kemampuan menyajikan sebuah keagungan. Pada masa realisme, keindahan berarti kemampuan menyajikan sesuatu dalam keadaan apa adanya. Pada masa-masa populernya “de Stijl” di negara Belanda, ‘keindahan’ berarti kemampuan memadukan warna dan ruang serta kemampuan mengabstraksi benda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada perkembangan lebih lanjut menyadarkan bahwa keindahan tidak selalu memiliki rumusan tertentu. Ia berkembang sesuai penerimaan masyarakat terhadap ide yang dimunculkan oleh pembuat karya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah selalu dikenal dua hal dalam penilaian keindahan, yaitu&lt;i&gt; the beauty&lt;/i&gt;, suatu karya yang memang diakui banyak pihak memenuhi standar keindahan, dan the ugly, suatu karya yang sama sekali tidak memenuhi standar keindahan dan oleh masyarakat banyak biasanya di nilai buruk, namun jika dipandang dari banyak hal ternyata memperlihatkan keindahan tertentu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;(3) Etika &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Istilah etika berasal dari bahasa Yunani Kuno: &quot;&lt;i&gt;ethikos&lt;/i&gt;&quot;, yang berarti &quot;timbul dari kebiasaan&quot;. Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk, dan tanggung jawab. St. John of Damascus (abad ke-7 Masehi) menempatkan etika di dalam kajian filsafat praktis (practical philosophy).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Etika dimulai bila manusia merefleksikan unsur-unsur etis dari dalam pendapat-pendapat spontannya. Kebutuhan akan refleksi itu akan dirasakan, antara lain karena pendapat etis seseorang tidak jarang berbeda dengan pendapat orang lain. Untuk itulah diperlukan etika, yaitu mencari tahu apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia terhadap perbedaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Etika terbagi menjadi tiga bagian utama: meta-etika (studi konsep etika), etika normatif (studi penentuan nilai etika), dan etika terapan (studi penggunaan nilai-nilai etika). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara metodologis, tidak setiap hal menilai perbuatan dapat dikatakan sebagai etika. Sebab itu, etika memerlukan sikap kritis, metodis, dan sistematis dalam melakukan refleksi. Karena itulah etika merupakan suatu ilmu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai suatu ilmu, objek dari etika adalah tingkah laku manusia. Akan tetapi, berbeda dengan ilmu-ilmu lain yang meneliti juga tingkah laku manusia, etika memiliki sudut pandang normatif. Maksudnya etika melihat dari sudut baik dan buruk terhadap perbuatan manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;(4) Filsafat Politik &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Filsafat Politik adalah cabang ilmu dari filsafat yang mempelajari tema-tema seperti: politik, kebebasan, keadilan, hak milik, hak, hukum, pemerintahan, dan penegakan hukum oleh otoritas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pertanyaan utama dalam ilmu filsafat politik antara lain adalah: apa yang melegitimasi otoritas suatu pemerintahan? Hak-hak dan kebebasan apa saja yang dimiliki warga negara dan harus dilindungi oleh pemerintah? Dan apa saja tugas warga negara dalam pemerintahan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa filsuf dalam bidang filsafat politik yang penting pada era modern adalah Thomas Hobbes, Machiavelli, John Locke, Jean-Jacques Rousseau, John Rawls, dan Jurgen Habermas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;(5) Logika &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Logika berasal dari kata Yunani kuno: “&lt;i&gt;logos&lt;/i&gt;”, yang berarti hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Karena itu, logika adalah salah satu cabang filsafat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai ilmu, logika disebut dengan &lt;i&gt;logike episteme&lt;/i&gt; (bahasa Latin: &lt;i&gt;logica scientia&lt;/i&gt;) atau ilmu logika (ilmu pengetahuan) yang mempelajari kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur. Ilmu di sini mengacu pada kemampuan rasional seseorang untuk mengetahui; dan kecakapan mengacu pada kesanggupan akal budi untuk mewujudkan pengetahuan ke dalam tindakan. Kata logis yang dipergunakan tersebut bisa juga diartikan dengan “masuk akal”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Logika adalah ilmu pengetahuan dengan objek materialnya adalah berpikir (khususnya penalaran/proses penalaran) dan objek formal logika adalah berpikir atau suatu penalaran yang ditinjau dari segi ketepatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sebabnya logika merupakan sebuah cabang filsafat yang praktis. Praktis di sini berarti logika dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti sudah dijelaskan sebelumnya bahwa logika lahir bersama-sama dengan lahirnya filsafat di Yunani. Dalam usaha untuk menaruh pikiran-pikirannya serta pendapat-pendapatnya, filsuf-filsuf Yunani kuno tidak jarang mencoba membantah pikiran orang lain dengan menunjukkan kesesatan penalarannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini logika digunakan untuk melakukan pembuktian. Logika mengatakan bentuk inferensi yang berlaku dan yang tidak. Secara tradisional, logika dipelajari sebagai cabang filosofi, tetapi juga bisa dianggap sebagai cabang matematika. Logika tidak bisa dihindarkan dalam proses hidup mencari kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep bentuk logis adalah inti dari logika. Konsep itu menyatakan bahwa kesahihan (validitas) sebuah argumen ditentukan oleh bentuk logisnya, bukan oleh isinya. Dalam hal ini logika menjadi alat menganalisis argumen, yakni hubungan antara kesimpulan dan bukti atau bukti-bukti yang diberikan (premis). Logika silogistik tradisional Aristoteles dan logika simbolik modern adalah contoh-contoh dari logika formal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar dari penalaran dalam logika ada dua, yakni deduktif dan induktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Penalaran deduktif&lt;/b&gt;. Kadang disebutkan logika deduktif, yaitu suatu penalaran yang membangun atau mengevaluasi argumen deduktif. Argumen dinyatakan deduktif jika kebenaran dari kesimpulan ditarik atau merupakan konsekuensi logis dari premis-premisnya. Argumen deduktif dinyatakan valid atau tidak valid, bukan benar atau salah. Sebuah argumen deduktif dinyatakan valid jika dan hanya jika kesimpulannya merupakan konsekuensi logis dari premis-premisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;u&gt;Contoh argumen deduktif&lt;/u&gt;:&lt;br /&gt;Setiap mamalia punya sebuah jantung&lt;br /&gt;Semua kuda adalah mamalia&lt;br /&gt;∴ Setiap kuda punya sebuah jantung &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Penalaran induktif&lt;/b&gt;. Kadang disebutkan dengan logika induktif, yaitu penalaran yang berangkat dari serangkaian fakta-fakta khusus untuk dapat mencapai kesimpulan umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;u&gt;Contoh argumen induktif&lt;/u&gt;:&lt;br /&gt;1. Babi Soe punya sebuah jantung&lt;br /&gt;2. Babi Rote punya sebuah jantung&lt;br /&gt;3. Babi Flores punya sebuah jantung&lt;br /&gt;4. Babi Alor punya sebuah jantung &lt;br /&gt;5. ∴ Setiap Babi punya sebuah jantung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;(6) Metafisika &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Metafisika adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan proses analitis terhadap hakikat fundamental mengenai keberadaan dan realitas yang menyertainya. Kajian mengenai metafisika umumnya berporos pada pertanyaan mendasar mengenai keberadaan dan sifat-sifat, meliputi realitas yang di kaji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemaknaan mengenai metafisika bervariasi, dan setiap masa dan filsuf, tentu memiliki pandangan yang berbeda. Secara umum topik analisis metafisika meliputi pembahasan mengenai eksistensi, keberadaan aktual dan karakteristik yang menyertai, ruang dan waktu, relasi antar keberadaan seperti pembahasan mengenai kausalitas, posibilitas, dan pembahasan metafisis lainnya (Wikipedia, 2017).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat jangkauan kajian yang dipusatkannya, maka metafisika menjadi disiplin ilmu yang fundamental dalam kajian filsafat. Sepanjang sejarah kefilsafatan, metafisika banyak menjangkau problem-problem klasik dalam filsafat teoretis. Umumnya, kajian metafisika menjadi &quot;batu pijakan&quot; atas struktur gagasan kefilsafatan dan prinsip lebih kompleks untuk menjelaskan problem lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga, dalam pemahaman metafisika klasik, metafisika membahas pertanyaan-pertanyaan mendasar yang jawaban-jawaban atasnya dapat digunakan menjadi dasar bagi pertanyaan yang lebih kompleks. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, adakah maksud utama dalam beradanya dunia ini? Apakah keberadaannya sebatas keberadaan yang &quot;mengada&quot; atau dependen terhadap keberadaan lainnya? Apakah tuhan itu? Apakah tuhan-tuhan ada? Lalu, jika ada, apa saja hal-hal yang bisa manusia tahu atau tidak tahu tentangnya? Benarkah terdapat hal semacam intellectus, terutama dalam pembahasan mengenai pembedaan antara problem pemisahan entitas jiwa–badan? Apakah jiwa sesuatu yang nyata, dan apakah ia berkehendak bebas? Apakah segalanya tetap atau berubah? Apakah terdapat hal atau relasi yang selalu bersifat tetap, yang bekerja dalam berbagai fenomena?, dan pertanyaan-pertanyaan lain yang sejenis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Objek bahasan metafisika bukan semata-mata hal-hal empiris atau hal-hal yang dapat dijangkau oleh pengamatan individual, melainkan hal-hal atau aspek-aspek yang menjadi dasar atas realitas itu sendiri. Klaim-klaim atas metode dan objek kajian metafisika telah menjadi problem perenial kefilsafatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sebabnya, pembahasan mengenai metafisika memiliki berbagai sub bahasan. Misalnya pembahasan sentral metafisika adalah ontologi, yaitu proses analitis dan klasifikasi berdasarkan prinsip-prinsip kategori keberadaan dan relasi di antaranya. Bahasan sentral lainnya seperti tentang kosmologi metafisik, yaitu kajian mendalam atas prinsip keberadaan dunia, realitas, asal mula, dan makna keberadaan atasnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Oleh: Abdy Busthan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://abdibusthan.blogspot.com/feeds/5687057715805546420/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://abdibusthan.blogspot.com/2019/09/cabang-filsafat-oleh-abdy-busthan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/6960063012783797264/posts/default/5687057715805546420'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/6960063012783797264/posts/default/5687057715805546420'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://abdibusthan.blogspot.com/2019/09/cabang-filsafat-oleh-abdy-busthan.html' title='Cabang Filsafat (Oleh: Abdy Busthan)'/><author><name>Abdy Busthan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08376451895356760186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF1rfIXR-ATHODKdcg-diRoerLe5u_-kqaZXZbYHHAxo9A40slxkXyVqMZpjPS5cvf9c2GnmG-NflzAt3KbNfp6oiLvTVWbD_Yy14AmzsT-aPFNoCGr4-ezhvrNlU5Lg/s220/r56722.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhE0QHZkdInpiZiIJnpPEZPiEa0Erv3VZY2u1V8_Mewcr1LGS2FMV-n_GRV3mLNlPDR3h0fO-zRoj06Fa_znapZ_o0sLw05MdCiW358J5-oyWbazm2xZTFvdJoRRTFsiJIlbxQSR5amn0I5/s72-c/1aaf67b51c4dc50e309208ac3d4ce5bc.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6960063012783797264.post-1636399040946096009</id><published>2019-09-19T21:13:00.002-07:00</published><updated>2019-09-19T21:13:48.453-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="FILSAFAT"/><title type='text'>Keyakinan Mendahului Pengetahuan</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhNDpiaqy6Zs9rRdDKA6UsaK05w2JEGRa9_ricu5Cy-Tm4iQ39xVfnw_LX6ECMOmQDp134GkyU4v4RI4intSKf6N0WZvnclsWMNZODtMuoAuePAF88bIx-zAb0QCsyvFV9WRA_ZBlo2yynq/s640/b544c2cdb5188ad7de027a9d0b76cc19.jpg&quot; /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif; font-size: large;&quot;&gt;Ada pertanyaan sederhana, apakah keyakinan kita terhadap sesuatu bisa menjawab segala hal yg tidak kita ketahui terlebih dahulu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan kita akan sesuatu dimulai dengan keyakinan kita terhadap sesuatu itu sendiri. Jika kita tidak meyakini sesuatu, maka kita tdk mungkin mengetahui sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua penelitian dan pengajuan ilmiah dalam bentuk apapun, akan selalu didasarkan pada &quot;keyakinan&quot;. Sebelum ilmuwan menyelediki ilmu apapun yang ada di alam ini, maka ia akan memiliki satu set praanggapan yang didasarkan pada keyakinan terdalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika seseorang menyelidiki suatu hal, maka terlebih dahulu ia yakin dan memiliki kepercayaan bahwa nantinya ia pun dapat mengetahui. Sehingga dengan dorongan itu, maka ia mulai menyelediki sesuatu. Pada titik ini, maka keyakinan mendahului pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap siapa saja yang melakukan studi dan kajian ilmu (baik itu para ilmuwan, peneliti, filsuf, dan kaum terpelajar, tanpa terkecuali), entah ia menggunakan metode ilmiah apa saja, seperti metode induksi maupun deduksi, maka tanpa ia sadari, ia pun akan masuk pada hakikat dasar (yang terdalam) yaitu &quot;keyakinan-nya&quot; terhadap sesuatu. Artinya bahwa di dalam melakukan penyelidikan, seseorang pasti akan menginginkan bukti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ingat bahwa sebelum bukti itu muncul, orang tersebut telah memulainya dengan suatu praanggapan yaitu keyakinan (meyakini).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya metode deduksi dan silogisme dari filsuf Aristoteles yang menggunakan 3 (tiga) tahap silogisme dalam hal menemukan kebenaran dengan rasio: yang pertama, disebutkan sebagai &quot;premis mayor&quot;, kedua &quot;premis minor&quot; dan ketiga adalah &quot;kesimpulan&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contohnya:&lt;br /&gt;Semua manusia bisa mati (premis mayor)&lt;br /&gt;Budi adalah manusia (premis minor)&lt;br /&gt;Maka Budi bisa mati (kesimpulan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Premis minor dalam silogisme seperti kalimat di atas, sebenarnya telah dimulai dengan suatu keyakinan. Kalimat yang menyatakan &quot;semua manusia bisa mati&quot;, adalah keyakinan yang belum pernah dibuktikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika seseorang mengatakan bahwa, &quot;Saya melihat memang semua manusia akhirnya mati&quot;, maka kalimat ini bukanlah suatu kebenaran, karena yang melihat sendiri belum mati. Berarti, belum &quot;semua&quot; manusia mati. Jika diri yang melihat sudah mati, maka sebenarnya ia sendiri tidak akan dapat membuktikan apa-apa, sebab ia sudah mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, jika seseorang melihat semua orang yang sudah mati, tetapi ia belum pernah melihat kematian orang yang sesudah ia mati, maka teori ini belum dapat terbukti dengan benar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dalam hal ini premis mayor (semua manusia bisa mati) yang dijadikan dasar untuk rasio berpijak untuk dapat mencari suatu pembenaran, belum dapat dibuktikan sama sekali, maka hal ini bukan bukti, tetapi sebuah &quot;keyakinan&quot;. Maka dapatlah dipahami bahwa apapun bentuk ilmu pengetahuan dan rasio, maka ia tidak akan bisa terlepas dari &quot;keyakinan&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya kalimat yang mengatakan: &quot;Buktikan baru saya percaya&quot;, adalah kalimat yang juga sebenarnya menunjukkan &quot;keyakinan&quot; itu sendiri. Jika terbukti baru dapat dipercaya, adalah hal yang belum pernah dibuktikan, sehingga untuk meyakinkan perlunya bukti untuk dapat mempercayai sesuatu, maka ini adalah Keyakinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, jawaban terhadap pertanyaan di atas adalah, bahwa keyakinan kita terhadap sesuatu tentu akan menjawab segala hal yg tidak perlu kita ketahui terlebih dahulu....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam Wassalam.. Hormat di bri.&lt;br /&gt;(Ditulis oleh: Abdy Busthan)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://abdibusthan.blogspot.com/feeds/1636399040946096009/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://abdibusthan.blogspot.com/2019/09/keyakinan-mendahului-pengetahuan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/6960063012783797264/posts/default/1636399040946096009'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/6960063012783797264/posts/default/1636399040946096009'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://abdibusthan.blogspot.com/2019/09/keyakinan-mendahului-pengetahuan.html' title='Keyakinan Mendahului Pengetahuan'/><author><name>Abdy Busthan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08376451895356760186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF1rfIXR-ATHODKdcg-diRoerLe5u_-kqaZXZbYHHAxo9A40slxkXyVqMZpjPS5cvf9c2GnmG-NflzAt3KbNfp6oiLvTVWbD_Yy14AmzsT-aPFNoCGr4-ezhvrNlU5Lg/s220/r56722.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhNDpiaqy6Zs9rRdDKA6UsaK05w2JEGRa9_ricu5Cy-Tm4iQ39xVfnw_LX6ECMOmQDp134GkyU4v4RI4intSKf6N0WZvnclsWMNZODtMuoAuePAF88bIx-zAb0QCsyvFV9WRA_ZBlo2yynq/s72-c/b544c2cdb5188ad7de027a9d0b76cc19.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6960063012783797264.post-1646416391384967822</id><published>2019-09-19T21:10:00.000-07:00</published><updated>2019-09-19T21:10:15.362-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="FILSAFAT"/><title type='text'>Filsafat Manusia</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhPwSny29zjXEfaSJDZw5MApmnW6gbAdZpVnD6bumwNniQY4cmVcrVL-7ePtUvA2Xarn5ff0mZf-JYnvMhO5CPycHfMqmmyffnL2Ueqe9MD-oiINcTSWZndKLMmQwy7Ffp3ZXucQdDlHUGp/s640/d151aad2a1c41608b9efbecc3e7694d4.jpg&quot; /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif; font-size: large;&quot;&gt;Filsafat manusia merupakan cabang ilmu filsafat yang membahas makna menjadi manusia (Louis Leahy, 1984). Filsafat manusia menjadikan manusia sebagai objek studinya (Baharrudin Salam, 1988). Pembahasan dalam cabang ilmu filsafat manusia ini adalah tentang bagaimana manusia selalu mengajukan pertanyaan mengenai dirinya sebagai manusia.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif; font-size: large;&quot;&gt;Filsafat manusia terus berkembang karena manusia adalah objek yang penuh dengan misteri. Titik tolak filsafat manusia adalah pengetahuan dan pengalaman manusia, serta dunia yang melingkupinya. Dalam sejarah, ada beberapa istilah yang mendahului filsafat manusia, yaitu psikologi filsafat, psikologi rasional, eksperimental dan empiris. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Apakah Manusia Itu?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Filsafat manusia adalah filsafat yang mengupas apa arti manusia. Pertanyaan pokoknya adalah apakah kekhasan manusia di tengah makhluk yang lain? Inilah pertanyaan yang terus-menerus terulang dalam sejarah, bahkan dalam kehidupan manusia secara pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia adalah makhluk yang multidimensional, paradoksal, dan dinamis. Maka tidak mengherankan jika pandangan terhadap manusia menjadi beraneka ragam. Sehingga keanekaragaman pandangan ini tampak pula dalam keanekaragaman definisi tentang manusia. Mungkin yang paling terkenal adalah definisi dari Aristoteles yang mengatakan: “Manusia adalah &lt;i&gt;animal rationale&lt;/i&gt;” (hewan berakal budi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan filsafat lainnya juga merumuskan bahwa manusia adalah &lt;i&gt;animal loquens&lt;/i&gt; (makhluk yang berbicara). Keunggulan manusia dalam hal bahasa, sangatlah nyata, di mana bahasa manusia berebda dengan bahasa hewan. Manusia mampu berbicara dalam bahasa lisan dan mampu mengembangkannya dalam bahasa tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa filsuf lainnya juga merumuskan manusia sebaga “&lt;i&gt;a symbolic animal&lt;/i&gt;“. Sebuah simbol bersifat multidimensional. Bahasa simbol sangat khusus berperan dalam bahasa cinta dan bahasa religius. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain hal lagi dengan Karl Marx. Ia menemukan keunggulan manusia dalam pekerjaannya. Maka, manusia juga disebut makhluk yang bekerja. Banyak definisi-definisi lainnya yang juga muncul merumuskan kekhasan manusia di tengah makhluk lainnya di dunia ini. Misalnya, manusia dirumuskan sebagai &lt;i&gt;an ethical being&lt;/i&gt;, sebagai &lt;i&gt;an aesthetical being, dan a metaphysical being&lt;/i&gt;, serta &lt;i&gt;a religious being&lt;/i&gt;, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sesungguhnya definisi-definisi yang telah dilontarkan banyak filsuf ini, masih saja membawa berbagai keambiguan dan kesulitannya sendiri-sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya Aristoteles yang mengatakan bahwa ciri khas manusia adalah sebagai animal rationale atau dikuasai oleh kekuatan rasionya dan bukan oleh nafsu atau naluri, maka sulit dimengerti untuk bisa menjelaskan terjadinya suatu keserakahan kapitalisme, peperangan dunia, terorisme yang selalu memakan banyak korban dan membunuh ibu dan anak-anak dalam peradaban kita sekarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saja, seseorang bisa mengatakan bahwa itu semuanya terjadi justru karena penggunaan sebuah rasio yang semakin canggih, yang disalahgunakan dan diselewengkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;a. Manusia &amp;amp; Kemampuan Refleksi Diri&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Teilhard de Chardin dalam “&lt;i&gt;The Phenomenon of Man&lt;/i&gt;” (Anthony Pattipo&#39;s, 2012), menjawab kesulitan definisi dari ciri khas manusia ini. Ia mengatakan bahwa “Hewan mengetahui, tetapi hanya manusia mengetahui bahwa ia mengetahui.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia memiliki kemampuan refleksi diri atau kesadaran reflektif. Hewan di sisi lain, tidak mampu untuk berefleksi tentang dirinya. Mereka tidak memiliki kemampuan refleksi mengenai tindakan berpikir itu sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran diri atau refleksi diri itu merupakan ciri khas manusia yang menentukan. Refleksi diri juga merupakan aktivitas manusia yang membedakan dirinya dengan orang lain. Dengan menjadikan dirinya sebagai pusat refleksi, manusia menarik diri dari lingkungan dan dari orang lain yang berada dalam lingkungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan refleksi diri yang menjadi kekhasan manusia ini, juga menjadi sumber dari berbagai ciri lainnya: rasionalitas, ingatan kembali, kesadaran akan kematian, kemampuan bunuh diri, aspirasi religius dan lain-lain. Refleksi-diri juga merupakan aktivitas yang membedakan diri manusia sendiri dengan orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kemampuan refleksi-nya, maka manusia memiliki keterbukaan terhadap dunia (&lt;i&gt;openness to the world&lt;/i&gt;), dan tidak dibatasi oleh naluri dan stimulus spesifiknya. Sehingga manusia menjadi mampu untuk mengimbangi kelemahan nalurinya dengan kebebasan dan rasionalitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan reflektif membuat manusia mampu menghadapi dirinya dan realitas lainnya sebagai objek. Manusia akan dapat mengambil atau mengatur jarak terhadap lingkungannya. Dengan demikian kemampuan refleksi diri manusia merupakan dasar dari perbedaan-perbedaan yang lain dengan binatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;b. Manusia dalam Teori Evolusi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tradisi Kristiani dan metafisik, menempatkan kekhasan manusia pada jiwa yang tidak dapat mati, yang membuat martabat manusia mengatasi seluruh kosmos. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkembangannya, filsafat modern tidak lagi mencari kekhasan manusia menurut tradisi Kristiani yaitu dalam kerangka hubungan manusia dengan kosmos atau Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada abad ke-19 diusahakan untuk mengatasi dualisme badan-jiwa dengan melihat keunikan manusia dalam kejasmaniannya. Kekhasan manusia itu di cari melalui refleksi mengenai tempat manusia di dalam alam semesta dan terutama dalam perbandingan manusia dengan binatang. Pendekatan ini seolah-olah kembali pada pendekatan kaum Stoa yang memahami manusia dalam kerangka tertib kosmik sebagai mikrokosmos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selaras dengan teori evolusi Darwin, antropologi mengandaikan kontinuitas hewan dan manusia, yang kemudian mencoba menentukan tempat khas manusia dalam kontinuitas ini dan bukannya memasukkan prinsip asing ke dalam alam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan ini dipelopori oleh J.G. Herder dan Friederich Nietzsche serta pendekatan psikologi yang tidak lagi mempelajari psyche melalui introspeksi tetapi melalui observasi perilaku ekstrim. Cara pandang seperti ini disebut perspektif “antropo-biologi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara sederhana, dapatlah dikatakan bahwa, pendekatan ini merupakan cara pandang fenomenologis yang mencari kekhasan manusia sebagaimana terlihat dalam perilaku dan kejasmaniannya. Pendekatan ini lebih-lebih dilakukan oleh behaviourisme Amerika di satu sisi, dan sisi lain oleh penelitian “antropologi filsafat” yang bertolak dari penelitian biologis atas prilaku manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;c. Manusia &amp;amp; Teori Behavioristik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan behaviouristik yang digagas oleh para ahlinya seperti: J. B. Watson, B. F. Skinner, dan Ivan P. Pavlov, dalam menggambarkan perilaku sebagai adaptasi terhadap lingkungan yang didasarkan pada hukum stimulus-respons, sebenarnya mereduksi kegiatan manusia hanya sebatas pada perilaku terobservasi yang dirangsang dari luar (eksternal). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan behavioristik Pavlov misalnya, dengan melakukan pengujian terhadap seekor anjing, kemudian ia mendapatkan banyak kritik sebab menyamakan kedudukan manusia dan hewan dalam belajar. Diantaranya adalah kritik dari Jurgen Habermas yang mengatakan bahwa “stimulus yang sama dapat menghasilkan respons yang berbeda bila diinterpretasikan secara berbeda oleh yang memberi respons.” Hal ini membawa pergeseran dari pendekatan yang melului empiristik kepada suatu interpretasi perilaku yang didasarkan pada adanya apriori atau skema perilaku bawaan yang disebut ”apriori”, karena skema itu telah ada sebelum suatu pengalaman terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Interpretasi ini berkembang dalam tradisi filsafat Jerman yang dipengaruhi oleh Imanuel Kant, di mana ia berpendapat bahwa semua pengalaman tergantung pada forma apriori. Pandangan Kant ini mempengaruhi Lorenz yang berusaha menunjukkan bahwa forma atau kategori apriori yang memungkinkan semua pengalaman manusia terkait dengan forma organ tubuh kita (internal). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;d. Manusia &amp;amp; Humanisme &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Filsuf Heidegger, memandang konsepsi manusia dalam kerangka paham humanisme. Humanisme menolak suatu asumsi mengenai manusia yang naturalistik dalam artian, bahwa “esensi manusia merupakan organisme binatang”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Humanisme memandang manusia terutama sebagai suatu entitas yang berada di dalam dunia bersamaan dengan entitas yang lain, dan kemudian dari situ dicarikan ciri-cirinya yang khas. Humanisme mencari definisi mengenai manusia yang tidak memadai itu dengan merangkaikan “jiwa” dengan “badan”, dan akal budi dengan jiwa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heidegger berpendapat bahwa selama filsafat modern menjadikan kesadaran sebagai titik tolak, maka konsepsi manusia akan tetap didasari oleh humanisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam semua bentuk humanisme, manusia ditempatkan di antara berbagai realitas dunia lainnya; manusia sebagai animal rationale juga dipandang dalam hubungannya dengan entitas dan justru bukan di dalam hubungannya dengan “kebenaran Ada”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah maksudnya jika dikatakan bahwa esensi manusia terletak pada eksistensinya. Tubuh manusia secara esensial berbeda dari organisme hewan. Menurut Heidegger apa yang kita anggap sebagai animalitas pada manusia tidak dapat diperbandingkan dengan hewan, tetapi harus didasarkan pada esensi dari eksistensinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia tidak seperti entitas lainnya. Entitas lain hanyalah ada. Entitas itu hadir, tetapi tidak “mencapai” dirinya, artinya “tidak memiliki kesadaran-diri”; entitas lain tidak “hadir pada dirinya”. Hanya atas dasar “kehadiran-pada-dirinya-sendiri” dari eksistensi, maka entitas lainnya dapat hadir. Inilah yang bagi kaum eksistensialis, menjadi semacam pengalaman asasi yang menunjukkan kedudukan khas manusia di tengah-tengah makhluk yang lain.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Georgia, Times New Roman, serif; font-size: large;&quot;&gt;Oleh: Abdy Busthan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://abdibusthan.blogspot.com/feeds/1646416391384967822/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://abdibusthan.blogspot.com/2019/09/filsafat-manusia.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/6960063012783797264/posts/default/1646416391384967822'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/6960063012783797264/posts/default/1646416391384967822'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://abdibusthan.blogspot.com/2019/09/filsafat-manusia.html' title='Filsafat Manusia'/><author><name>Abdy Busthan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08376451895356760186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF1rfIXR-ATHODKdcg-diRoerLe5u_-kqaZXZbYHHAxo9A40slxkXyVqMZpjPS5cvf9c2GnmG-NflzAt3KbNfp6oiLvTVWbD_Yy14AmzsT-aPFNoCGr4-ezhvrNlU5Lg/s220/r56722.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhPwSny29zjXEfaSJDZw5MApmnW6gbAdZpVnD6bumwNniQY4cmVcrVL-7ePtUvA2Xarn5ff0mZf-JYnvMhO5CPycHfMqmmyffnL2Ueqe9MD-oiINcTSWZndKLMmQwy7Ffp3ZXucQdDlHUGp/s72-c/d151aad2a1c41608b9efbecc3e7694d4.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6960063012783797264.post-8577007560899004078</id><published>2019-09-19T21:00:00.000-07:00</published><updated>2019-09-19T21:14:54.732-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="PENDIDIKAN &amp; TEKNOLOGI"/><title type='text'>Model Pembelajaran SASKRIM 5 IS</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgr0FDZknAAVnj8HyQt0Z17hdOtl9-C_lJt7Dz-YoRjlV8r7AFXWWecKaa4OjbS6hemGqridKa47e2Gj56LD-TeMz8fDnNgnpelZvZQjk16KXR9kh6i5XbP6A6JMDy3DbLSkTkjNoujgDrW/s640/c1f9f2aab80645d2ae0ca2304f937f2b.jpg&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;SASKRIM 5 IS adalah model pembelajaran yang di runut berdasarkan hukum-hukum pembelajaran discovery learning dari Jerome Bruner (1915).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Bruner menjadi sangat terkenal, ketika dia peduli terhadap proses belajar daripada hasil belajar. Metode yang digunakannya adalah ‘metode penemuan’ (&lt;i&gt;discovery learning&lt;/i&gt;). Metode &lt;i&gt;discovery learning&lt;/i&gt; dari Bruner ini merupakan model pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan pandangan kognitif tentang pembelajaran, tetapi menggunakan prinsip-prinsip konstruktivitas, dimana dalam proses belajar, dibedakan tiga fase, yakni (1) informasi, (2) transformasi, dan (3) evaluasi (pengkajian pengetahuan).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Berdasarkan 3 (tiga) tahapan pembelajaran yang dijabarkan Bruner di atas, maka model SASKRIM 5 IS kemudian mengembangkan 3 tahapan tersebut secara lebih sistematis dan efektif, dimana pada fase pertama, yakni tahap informasi, dikembangkan menjadi satu bagian yaitu ‘strategis’. Sementara untuk fase kedua, yaitu transformasi, dikembangkan menjadi tiga bagian penting yaitu ‘analisis’, ‘skeptis’ dan ‘kritis’—sebab setiap aktivitas transformasi selalu dilakukan analisis yang sifatnya skeptis dan bernilai kritis.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Sehingga pada fase terakhir yaitu evaluasi, dikembangkan menjadi ‘pragmatis’, dengan maksud bahwa segala sesuatunya dapat di evaluasi secara singkat, padat dan tepat guna.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Berikut kelima bagian penting dari model “SASKRIM 5 – is” dalam pembelajaran, sebagaimana dikutip dari Busthan Abdy (2016:5-9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Strategis&lt;/b&gt;, merupakan &lt;i&gt;a plan, method, or series of activities designed to achieves a particular education goal&lt;/i&gt;. Artinya bahwa, strategi dalam lingkup pembelajaran, merupakan sebuah perencanaan yang tersusun dengan baik, dalam rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Dalam hal ini, segala bentuk pembelajaran, apapun bentuknya, setidaknya dimulai dengan rancangan terlebih dahulu. Rancangan yang baik, tentunya akan menghasilkan hasil yang baik, jika dibalik juga sama dengan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Analisis,&lt;/b&gt; adalah langkah pertama setelah proses strategis (perencanaan), yang merupakan penguraian suatu persoalan (tema) atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri, serta menghubungkan antar bagian untuk memperoleh pengertian yang tepat, guna pemahaman arti keseluruhan. Dalam pembelajaran, aktivitas menganalisis merupakan sesuatu yang aksiomatis untuk memecahkan persoalan-persoalan belajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Skeptis,&lt;/b&gt; merupakan suatu konsep yang merujuk pada “meragukan segala sesuatu”. Ketika mendengar satu pernyataan, seseorang tidak langsung menelan bulat-bulat pernyataan tersebut. Dengan kata lain, skeptis artinya sifat meragukan sesuatu. Tidak mau menerima dengan mudah apa adanya. Selalu meragukan sesuatu jika belum ada bukti yang benar-benar jelas. Sifat semacam ini penting dalam pembelajaran agar ditemukan suatu kepastian yang akurat dan seimbang. Jika guru menyatakan sebuah teori misalnya “Gelap itu hitam!”, maka siswa harus bertanya, mana buktinya? Sebab Ilmu selalu mempertanyakan bukti. Jika komunitas ilmuwan langsung mempercayai segala sesuatu yang didengar dan dilihatnya tanpa bukti, maka ilmu pengetahuan akan dipenuhi hal-hal yang tidak bisa dipercaya kebenarannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kritis&lt;/b&gt;, adalah ketajaman dalam menganalisis. Kemampaun berpikir kristis merupakan kegiatan penalaran yang reflektif dan kreatif, sehingga berorientasi pada proses intelektual yang melibatkan pembentukan konsep (&lt;i&gt;conceptualizing&lt;/i&gt;), juga aplikatif dalam menilai informasi yang terkumpul (sintesis) atau yang dihasilkan melalui pengamatan, pengalaman, refleksi, serta komunikasi sebagai landasan terhadap keyakinan (kepercayaan) dan tindakan. Dalam proses pembelajaran, berpikir kritis adalah suatu keaktifan siswa yang berdampak pada penemuan ide dan gagasan baru terhadap tujuan tertentu. Siswa berpikir kritis untuk menemukan pemahaman yang dikehendakinya. Agar komunikasi dalam proses belajat-mengajar terjadi secara andragogik (bersifat dua arah) serta ambigu, maka sikap kritis ini memiliki 3 (tiga) prinsip, yaitu 1) sikap tidak mudah percaya, 2) berusaha selalu menemukan kesalahan, dan 3) rasa ingin tahu yang tajam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pragmatis&lt;/b&gt;, adalah bagian evaluasi yang harus bersifat praktis dan berguna secara universal. Dalam pembelajaran, tahap ini dilakukan pada bagian akhir dari proses pembelajaran. Tahapan ini lebih mengutamakan penilaian yang berdasarkan pada segi kepraktisan dan kegunaan atau kemanfaatan yang dilakukan berhubungan dengan nilai-nilai praktis (pragmatisme). Seperti dikatakan.......“&lt;i&gt;pragmatism is thinking about or treating things in a practical way rather than according to general theories&lt;/i&gt;”. Dalam pemahamannya bahwa, setiap proses belajar-mengajar, seharusnya diakhiri dengan menempatkan segala sesuatunya dalam ranah praktik daripada hanya berdasarkan teori semata. Sebab hal ini akan menghindari penilaian yang sifatnya subjektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Oleh Abdy Busthan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Untuk jelasnya, ke-lima bagian dalam model pembelajaran SASKRIM 5–is sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, dapat  dipelajari secara mendetail dalam buku ini.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;(Kontak HP/WhatsApp: 081333343222)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhNsTzgA2Lu5xJ2of3zbr67f_BlH4JutEp2mttwhx7JdmSIGJfgyoJrLpfXWiSBrVm-SfgalkgK2yKO1dKRIhbjJBMS540XLqHvfITAQVpvUzA0MxRG6zwjmluKvq_kjCxMjWNkrNTBa7Ir/s1600/sskrim++5+isvv.png&quot; /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://abdibusthan.blogspot.com/feeds/8577007560899004078/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://abdibusthan.blogspot.com/2019/09/model-pembelajaran-saskrim-5-is.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/6960063012783797264/posts/default/8577007560899004078'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/6960063012783797264/posts/default/8577007560899004078'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://abdibusthan.blogspot.com/2019/09/model-pembelajaran-saskrim-5-is.html' title='Model Pembelajaran SASKRIM 5 IS'/><author><name>Abdy Busthan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08376451895356760186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF1rfIXR-ATHODKdcg-diRoerLe5u_-kqaZXZbYHHAxo9A40slxkXyVqMZpjPS5cvf9c2GnmG-NflzAt3KbNfp6oiLvTVWbD_Yy14AmzsT-aPFNoCGr4-ezhvrNlU5Lg/s220/r56722.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgr0FDZknAAVnj8HyQt0Z17hdOtl9-C_lJt7Dz-YoRjlV8r7AFXWWecKaa4OjbS6hemGqridKa47e2Gj56LD-TeMz8fDnNgnpelZvZQjk16KXR9kh6i5XbP6A6JMDy3DbLSkTkjNoujgDrW/s72-c/c1f9f2aab80645d2ae0ca2304f937f2b.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6960063012783797264.post-1721935335463138335</id><published>2019-09-11T05:32:00.001-07:00</published><updated>2020-05-05T17:12:42.642-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="PENDIDIKAN &amp; TEKNOLOGI"/><title type='text'>Ranah Pendidikan: Afektif, Psikomotorik dan Kognitif </title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;640&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh8nILxd3wTlE4o2MUuXyErG0zBJvaM7qlsiXIaA3lNDVV4xTSwAO_chUm_KmwisLRsmPa1qTbZj6Rux1mKOXJZrwCsv3wG7zVKK83KGeEC_m7xzH7xUqA33toninvWgTu11xoJtjD5vhY/s640/040f01e8516e6f744e032c6b7f77b20d.jpg&quot; width=&quot;426&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Secara lebih sederhana, ranah pendidikan dapat dipahami sebagai ragam perilaku pendidikan dalam diri manusia.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: times, &amp;quot;times new roman&amp;quot;, serif; font-size: large;&quot;&gt;Sebagai bagian dari perilaku manusia, maka ranah pendidikan ini dapat dikelompokkan menjadi 3 ranah, yakni: Afektif, Psikomotorik dan Kognitif.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ranah Afektif&lt;/b&gt;, adalah suatu ranah perilaku manusia yang berhubungan dengan hati dan perasaan. Ranah ini biasanya terwujud dalam karakter dan moral seseorang.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Hati dan perasaan, merupakan pengalaman afektif yang disertai penyesuaian dari dalam diri individu tentang keadaan mental dan fisik, yang berwujud suatu tingkah laku yang tampak.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Karenanya, emosi merupakan salah satu aspek berpengaruh besar terhadap sikap dan perilaku manusia. Dalam diri manusia, semua aktifitas bermuara di sini. Mungkinkah kita melakukan dan mengambil sesuatu, jika hati dan perasaan kita tidak menginginkannya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ranah Psikomotorik,&lt;/b&gt; adalah ranah perilaku manusia yang berhubungan dengan ‘kerja otot’ yang menjadi penggerak tubuh dan bagian-bagiannya, mulai dari gerak yang sederhana seperti gerakan-gerakan halus, sampai gerakan-gerakan yang kompleks.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Ranah psikomotorik menyangkut dengan gerakan tubuh, misalnya gerakan tangan, seperti jenis genggaman, gerakan menjepit (pincer); serta koordinasi antara gerakan berbagai anggota tubuh pada olahragawan, penari atau pemain alat musik, pengendalian gerakan motorik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ranah Kognitif&lt;/b&gt;, merupakan ranah perilaku manusia yang berhubungan dengan pikiran (kognisi), intelektual atau proses berpikir. Biasanya ranah ini identik dengan kecerdasan berpikir, yang ukurannya adalah tingkat IQ seseorang.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Semakin tinggi IQ, maka akan semakin cerdas seseorang berpikir. Menurut Eggen Paul &amp;amp; Kauchak Don (2012:8), istilah kognitif lebih merujuk pada aktivitas berpikir dalam berbagai bentuk. Pemikiran ini bisa dimulai dengan hal sederhana hingga hal yang kompleks, seperti mengingat nomor telepon, hingga hal yang kompleks seperti pemecahan masalah rumit dalam bidang apapun. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;Ranah Afektif Paling Utama&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Ketiga ranah di atas, masing-masing memiliki peranan yang sangat penting dalam perilaku pendidikan setiap individu.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Namun, ada pertanyaan penting yang perlu di bahas lebih dalam lagi tentang ketiga ranah ini.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Pertanyaannya, manakah dari antara ketiga ranah ini (afektif, psikomotorik dan kognitif) yang paling di utama dan pertama dalam kehidupan?&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Jawabannya adalah ranah afektif! Mengapa? Sebab tidak ada satu penemuan apapun di dalam bidang ilmu apapun, yang tidak didasarkan pada pra anggapan dari keyakinan hati dan  “perasaan” yang terdalam (afektif).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Ranah afektif dalam hal ini lebih utama dan pertama dari kognitif. Ketika seseorang menyelidiki sesuatu hal misalnya, maka terlebih dahulu ia yakin dalam hatinya dan memiliki kepercayaan dalam hatinya bahwa nantinya ia dapat mengetahui, sehingga dengan dorongan keyakinan itu, maka ia mulai menyelediki sesuatu.  Maka pada titik ini, keyakinan dalam hati dan perasaan pun mendahului pengetahuannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak pendapat ahli yang mengatakan bahwa yang paling utama dan utama adalah kognitif. Pendapat semacam ini sangat keliru, sebab sudah banyak bukti orang yang hanya cerdas intelektualnya saja, justru seringkali menemukan kegagalan dalam hidup karena melakukan hal-hal yang jauh dari prinsip-prinsip pedagogik (didikan).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Memang secara intelektual, mereka bisa dikatakan pintar dan jenius, namun jika kepintaran yang mereka miliki hanya digunakan untuk hal-hal yang merusak sesama manusia dan diri sendiri, maka sudah dapat dipastikan mereka pasti akan menemukan kegagalan dalam hidup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, hal terpenting dan utama dalam setiap aspek kehidupan apa saja adalah “ranah afektif”. Semua pendidikan, akan dimulai dari tingkatan hati dan perasaan. Sementara perasaan seseorang tidak terletak di dalam otaknya, melainkan dalam hatinya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Setiap orang akan menerima apa yang mereka rasa harus diterima, dan menolak apa yang mereka rasa untuk di tolak. Jika sikap mereka positif, mereka cenderung menerima yang mereka dengar. Jika sikap mereka negatif, maka mereka cenderung menolak.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Jika saya memiliki perasaan negatif terhadap Anda, saya pasti akan menolak apa yang Anda katakan, karena saya menolak Anda (Hedricks G Howard 1987). Itulah sebabnya, tangan seseorang tidak mungkin meraih sesuatu, jika hatinya tidak menginginkan. Bahkan kemampuan berpikir dalam berpikir tidak akan mungkin dapat dilakukan, jika hati tidak menggerakkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, anggapan bahwa jika perilaku kognitif bekerja, maka perilaku afektif seseorang tidak diperlukan, adalah anggapan yang sangat konyol!&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Bahkan dalam kajian bidang ilmu apapun, anggapan seperti ini sangat antagonistik dengan kebenaran alias tidak benar dan tidak mungkin dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Sebab semua penelitian dan pengajuan ilmiah dalam bentuk apapun, akan selalu didasarkan pada satu set &quot;keyakinan&quot;. Sebelum para ilmuwan menyelediki ilmu apapun yang ada di alam ini, maka ia akan selalu memiliki satu set praanggapan yang didasarkan pada keyakinan di dalam hati dan perasaannya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Setiap siapa saja yang melakukan studi dan kajian ilmu—baik itu para ilmuwan, peneliti, filsuf, dan semua kaum terpelajar, tanpa terkecuali—baik ia menggunakan metode ilmiah apa saja seperti metode induksi maupun deduksi, maka tanpa sadar, ia akan masuk pada hakikat dasar dan terdalam yaitu &#39;keyakinan&#39; hatinya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Artinya bahwa di dalam melakukan penyelidikan, seseorang pasti akan menginginkan bukti. Tetapi ingat bahwa, sebelum bukti itu muncul, orang tersebut telah memulainya dengan suatu praanggapan yang bersifat imaniah melalui hati dan perasaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, maka apapun bentuknya, semua ilmu pengetahuan dan rasio, tidak akan bisa terlepas dari keyakinan dalam hati dan jiwa (ranah afektif).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Misalnya kalimat yang mengatakan “&lt;i&gt;Buktikan baru saya percaya&lt;/i&gt;”, adalah kalimat yang menunjukkan keyakinan itu sendiri. Jika terbukti baru dapat dipercaya, adalah hal yang belum pernah dibuktikan, sehingga untuk meyakinkan perlunya bukti untuk dapat mempercayai sesuatu, maka ini adalah keyakinan dalam hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan saja jika terdapat seseorang yang memiliki IQ (intelektual) yang tinggi, tetapi tidak didasarkan dengan EQ (hati) yang bagus? Maka orang tersebut dapat disejajarkan dengan setan yang paling jenius.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Sebagai bukti nyata adalah kehidupan William James Sidis yaitu manusia yang memiliki tingkatan IQ tertinggi di dunia. Dengan pencapaian IQ lebih dari 250, Sidis merupakan orang yang paling cerdas di dunia. Namun kecerdasan yang dimilikinya itu tidak seimbang dengan penderitaan kehidupan yang dialaminya, dimana akhir kehidupannya, ia justru hidup ditempat pengasingan, bahkan kehidupannya berakhir dengan tragis (Busthan Abdy, 2016:27).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Karena itu, seseorang dapat dikatakan cerdas dan bijaksana, ketika ranah afektifnya terbentuk dengan baik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Coba kita lihat dasar ranah pendidikan yang diajarkan oleh Yesus Kristus dalam kutipan pada Injil Lukas 10: 27:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&quot; &lt;i&gt;Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan &lt;b&gt;segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu&lt;/b&gt; dan dengan &lt;b&gt;segenap kekuatanmu &lt;/b&gt;dan dengan &lt;b&gt;segenap akal budimu&lt;/b&gt;, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri&lt;/i&gt;&quot;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Kutipan ayat di atas tidak dapat kita bolak-balik. Jelas susunan&amp;nbsp; yang utama dan pertama adalah &quot;segenap hati&quot; dan &quot;segenap jiwa&quot; yang merupakan wilayah afektif.&amp;nbsp; Kemudian yang kedua adalah &quot;segenap kekuatan&quot; yang merupakan ranah psikomotorik, dan diakhiri oleh ranah kognitif, yaitu &quot;segenap akal budi&quot;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Dasar hierarki pendidikan yang sesungguhnya haruslah berpatokan pada ayat di atas!&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Sebab ingat bahwa: “&lt;b&gt;Pembelajaran yang paling berdampak adalah bukan dari tangan ke tangan, bukan dari kepala ke kepala, dan bukan pula dari kaki ke kaki, tapi dari hati ke hati&lt;/b&gt;”.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Ya, ungkapan di atas haruslah menjadi acuan untuk mendidik anak-anak kita. Dengan hati, kita mampu memaafkan kesalahan terbesar orang lain terhadap kita. Rasio, bahkan kekuatan Anda tidak akan pernah mampu untuk memaafkan! Hanya hati yang mengasihilah yang mampu melakukan itu!&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Dalam pendidikan, kita akan mampu mengasihi siswa/i hanya dengan segenap hati. Dan dengan hati kita pun bisa mengerti kekurangan bahkan kelebihan dari siswa/i kita. Dengan hati kita juga mampu membimbing dan menyatu dengan dunia anak-anak!&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Ingat bahwa kebijaksanaan sejati hanya berlandaskan pada &quot;segenap hati&quot; dan &quot;segenap jiwa&quot;. Kita tidak mungkin mampu memecahkan persoalan-persoalan seperti yang pernah dilakukan oleh Raja Salomo, tanpa kita menggunakan hikmat yang bertumpu dari hati nurani kita.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Oleh: Abdy Busthan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;*****&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Tulisan di atas di kutip dari buku:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;&quot;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Pengantar Pendidikan:&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Konsep &amp;amp; Dasar Pelaksanaan Pendidikan&quot;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Halaman 42-45)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Penulis: Abdy Busthan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Penerbit: Desna Life Ministry&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Tahun Terbit: 2016&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Alamat Penerbit: Kupang&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://abdibusthan.blogspot.com/feeds/1721935335463138335/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://abdibusthan.blogspot.com/2019/09/ranah-pendidikan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/6960063012783797264/posts/default/1721935335463138335'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/6960063012783797264/posts/default/1721935335463138335'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://abdibusthan.blogspot.com/2019/09/ranah-pendidikan.html' title='Ranah Pendidikan: Afektif, Psikomotorik dan Kognitif '/><author><name>Abdy Busthan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08376451895356760186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF1rfIXR-ATHODKdcg-diRoerLe5u_-kqaZXZbYHHAxo9A40slxkXyVqMZpjPS5cvf9c2GnmG-NflzAt3KbNfp6oiLvTVWbD_Yy14AmzsT-aPFNoCGr4-ezhvrNlU5Lg/s220/r56722.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh8nILxd3wTlE4o2MUuXyErG0zBJvaM7qlsiXIaA3lNDVV4xTSwAO_chUm_KmwisLRsmPa1qTbZj6Rux1mKOXJZrwCsv3wG7zVKK83KGeEC_m7xzH7xUqA33toninvWgTu11xoJtjD5vhY/s72-c/040f01e8516e6f744e032c6b7f77b20d.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>