<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0' gd:etag='W/&quot;A0UDQHg4eip7ImA9WhVWEE8.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5653544321661458461</id><updated>2012-04-22T00:27:51.632+07:00</updated><category term='lagi hangat'/><category term='kampus'/><title>Robin Hood Cute</title><subtitle type='html'>No Money, No Cry, and Do Love My Mom</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5653544321661458461/posts/default?redirect=false&amp;v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5653544321661458461/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false&amp;v=2'/><author><name>Adek Risma Dedees</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938309181522934937</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-QhZAhHEOnvo/T03j5yoeuFI/AAAAAAAAAY0/0udNCIkyMT4/s220/10.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>196</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry gd:etag='W/&quot;DUUDQ3w8eCp7ImA9WhVXGUo.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5653544321661458461.post-3769921553336528303</id><published>2012-04-21T09:16:00.000+07:00</published><updated>2012-04-21T10:01:12.270+07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2012-04-21T10:01:12.270+07:00</app:edited><title>[Hari Pejuang Perempuan] Kepada Amak dan Perempuan Pekerja yang Dibentak</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-i1im8_HCMlQ/T5IYcywD__I/AAAAAAAAAd4/clrALvhb5Bw/s1600/ok%2B5.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="240" width="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-i1im8_HCMlQ/T5IYcywD__I/AAAAAAAAAd4/clrALvhb5Bw/s320/ok%2B5.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
April ini, seperti April yang lalu, selalu ada kegiatan, diskusi, acara, dan tulisan di sana-sini menghiasi langit perempuan di negara Indopahit. Warga negara ini, hanya sebagian, merayakan hari pejuang perempuan yang dikenal dengan Hari R.A Kartini. Ini hari khusus mengingatkan akan perjuangan beliau dan kawan-kawan perempuan di pulau manapun di Tanah Air, untuk perempuan yang (pernah) tertindas dan kaum minoritas, sebutlah begitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya pun, seperti dipaksa untuk ikut serta merayakan hari ini walau hanya dengan berkata-kata, yang kadang omong kosong, dengan tulisan di blog tercinta. Apalah yang akan saya bagi, selain cas cis cus saya. Karena, sangat dilarang bukan membagi-bagikan uang gaib dengan motif yang gaib pula di negeri seribu satu genderuwo ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tulisan ini tentu tidak hanya ditujukan kepada Amak saya dan perempuan pekerja saja. Jauh lebih penting tulisan ini ditujukan kepada pembaca yang telah sudi mampir dan rela mengobrak-abrik blog lusuh ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya, selalu berangan-angan agar Amak di hari-hari belakangan ini lebih banyak menghabiskan waktu di rumah saja. Boleh beliau bekerja, hanya saja porsi dan intensitasnya dikurangi. Dan ketika berjumpa dengan perempuan yang kira-kira sebaya Amak di rantau ini, saya kerap terpana-pana. Baik ketika mereka sedang menggendong keranjang, mengayuh sepeda ontel, menimang cucu, atau bahkan turun dari mobil mewah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada semacam ikatan batin bagi saya untuk tetap memperhatikan gerak gerik mereka. Rasanya senang dan punya cerita sendiri di benak. Walau kadang risih, karena bekerja di usia lanjut, selain kurang bagus untuk kesehatan juga agak kurang pas dipandang mata. Apakah ini konstruksi dari batin saya yang memandang perempuan baya atau lanjut harus leha-leha saja di rumah? Mungkin iya, tapi saya sepakat kok. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sosok Amak pun seolah-olah hadir. Saya berharap dan berdoa beliau termasuk perempuan yang beruntung di dunia ini dengan kami sebagai putra putrinya. Walau waktu ini saya sedang berjuang untuk menggapai itu, tapi saya yakin, sang kakak-kakak sudah membangun sedikit demi sedikit istana buat Amak sekarang. Bahkan, mereka rela menunda untuk egois kepada diri sendiri. Ini pelajaran besar bagi saya, betapa saya masih manja dan egois, masih sama pada tahun-tahun lalu. Si bungsu yang agak cerdas namun lihai menyulap parasit dan egois menjadi taman indah yang sedap di mata dan telinga. Saya kadang merasa berdosa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini perjuangan Amak saya sejak 30 tahun lebih merawat dan membesarkan kami putra putrinya. Luar biasa kawan. Tak ada lelah dan tak ada kesal. Sayang kepada sang penerus itu, seperti sayang Tuhan dan kepada ciptaan-Nya. Dogma ini sudah mulai saya telan lahan per lahan. Hingga sebutan kata Amak saya bawa kemana-mana. Kadang memang terkesan mulia dan berbakti, kadang juga munafik dan sok akrab. Kadang malah menjadi monopoli dan tameng dari apa saja. Itulah mukjizat kata Amak bagi saya saat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah, di kamar ini, saya dikelilingi oleh enam perempuan muda pekerja. Mereka bekerja di sebuah perusahaan penyedia pakaian dalam yang semua produknya dijual ke luar negeri. Sejak pagi, pukul 07.00 hingga matahari tenggelam mereka bekerja di sana. Ada yang menjadi mandor, bawahan mandor, tukang gunting pola, dan tukang jahit. Itu mereka kerjakan rata-rata sudah sejak 3-6 tahun lalu. Lumayan lama bukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka bekerja, sebagai bawahan, tentu juga mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan. Dibentak, dikasari, dan diancam merupakan makanan sehari-hari dan menjadi wajar. Saya kaget, ketika dua dari enam itu bercerita tentang perlakuan atasan mereka. "Kita dikatai asuh (Jawa, artinya anjing) sudah biasa mba. Diancam untuk dikeluarkan juga sudah menjadi omongan sehari-hari." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan, pernah suatu ketika salah satu dari enam gadis ini terisak-isak pulang ke kosan karena mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari atasan mereka. Saya penasaran setengah mati. Seperti apa sih tampang dan kualitas kerja mandor atau atasan mereka yang kerap mengeluarkan sumpah serapah kepada bawahan? "Ya, biasa saja mba. Ibu-ibu, kalau tak salah juga tamatan SMA, dan masih orang Jawa kok." Ungkap salah satu teman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang lebih menyakitkan, ini menurut saya, adalah bentakan-bentakan serta kata-kata kasar itu dikeluarkan kepada bawahan ketika berada di tengah-tengah rekan kerja mereka. "Sedang asyik-asyiknya kerja, keliru sedikit, langsung ditegur dan dianggap tidak becus. Kita kan jadi malu pada teman-teman lain yang memperhatikan," kata mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka mendapat perlakuan macam begini bukan karena mereka berniat membakar perusahaan itu. Tapi hanya karena kadang mereka keliru meletakkan produk, muncul satu benang di sela-sela jahitan, agak keluar dari garis pola ketika menggunting, dan seterusnya. Nah, mereka akan mendapat bentakan, cacian, dan perkataan kotor lainnya hingga terisak-isak. Saya benar-benar tidak percaya dengan perlakuan mandor atau atasan mereka. Dan ini diwariskan secara turun-temurun sesuai garis hierarki di perusahaan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Belum lagi dalam sistem penggajian yang kerap tak fair bagi pekerja-pekerja muda ini. Mereka yang kerap lembur, ketika menerima salary melenceng dari keringat yang telah diperas selama sebulan. Biasanya kurang atau bahkan tidak digaji. "Ya, kalau itu kita menyebutnya sebagai loyalitas kepada perusahaan mba," ungkap seorang teman yang kerap lembur hingga pukul sembilan malam. Saya terperangah dan menjadi iba pada mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, mereka bertahan hingga 3-6 tahun bekerja di perusahaan gila itu. Kenapa? Karena mereka harus mandiri dan demi roda kehidupan harus tetap berputar. Tak ada pilihan lain, kecuali mungkin jika kelak mereka menikah dan diboyong oleh suami. Pahit memang, tapi karena sudah menjadi menu sehari-hari, pahit itu berubah menjadi kentut, sebentar saja juga lenyap diterbangkan angin. Mungkin bisa sesimpel itu, tapi bisa juga tidak.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk saat ini, memang saya hanya sebagai teman curhat mereka. Toh, jika saya sarankan mereka untuk membalas bentakan dan caci maki mandor, mereka juga tidak berani. Mereka menerima semua perlakuan kekasaran itu sembari mengurut dada dan berdoa untuk tetap kuat dan sabar. Dan saya dibuat untuk belajar dan bersyukur dengan keadaan ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa kemuliaan kita, acapkali, diukur dengan tingkat pendidikan, cerdas, dan bernama. Sedangkan bagi mereka yang lemah di sana, pelanggaran terhadap kehormatan, perlakuan baik kepada mereka hanyalah mimpi di pagi buta. Memang, karena atasan kebanyakan masih melihat mereka hanya sebagai buruh, tapi sulit untuk melihat mereka sebagai manusia atau bahkan saudara yang nyawanya dan hatinya sama dengan para mandor dan atasan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Amak, aku, dan setiap perempuan pekerja akan selalu berjuang, karena dengan berjuang akan menjauhkanmu dari penyesalan dan keputusasaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selamat Hari Pejuang Perempuan!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5653544321661458461-3769921553336528303?l=dedees-dedees.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/feeds/3769921553336528303/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/2012/04/hari-pejuang-perempuan-kepada-amak-dan.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5653544321661458461/posts/default/3769921553336528303?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5653544321661458461/posts/default/3769921553336528303?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/2012/04/hari-pejuang-perempuan-kepada-amak-dan.html' title='[Hari Pejuang Perempuan] Kepada Amak dan Perempuan Pekerja yang Dibentak'/><author><name>Adek Risma Dedees</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938309181522934937</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-QhZAhHEOnvo/T03j5yoeuFI/AAAAAAAAAY0/0udNCIkyMT4/s220/10.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-i1im8_HCMlQ/T5IYcywD__I/AAAAAAAAAd4/clrALvhb5Bw/s72-c/ok%2B5.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;CEQBRXc7eip7ImA9WhVXEU8.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5653544321661458461.post-891188869904740807</id><published>2012-04-11T12:29:00.000+07:00</published><updated>2012-04-11T12:32:34.902+07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2012-04-11T12:32:34.902+07:00</app:edited><title>[Catatan Mimpi] Berjumpa Mas Andreas Harsono di SKK Ganto</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-ICTfKxEopoU/T4UXbC9mWFI/AAAAAAAAAds/o9IsUMTe5cQ/s1600/karikaturtidur.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 284px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-ICTfKxEopoU/T4UXbC9mWFI/AAAAAAAAAds/o9IsUMTe5cQ/s320/karikaturtidur.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5730011854317967442" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabu, 11 April 2012 sekitar pukul 04.30 WIB karena saya terbangun dari mimpi ini pukul 05.30 WIB. Jadi, saya perkirakan mimpi ini memakan durasi satu jam dengan alur sedikit lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dan teman-teman mengikuti pelatihan yang kurang jelas tentang apa. Namun, saya yakin pelatihan itu tidak melulu mengenai jurnalistik dan tulis menulis yang kerap saya ikuti. Saya di Jogjakarta waktu itu. Di kampus di Padang, tepatnya di sekretariat Surat Kabar Kampus Ganto, ada agenda bertemuan dan diskusi mendadak, ini sering terjadi, karena ada orang hebat datang berkunjung. Tentu saja, biasanya tak jauh-jauh dari jurnalistik, sastra, dan hukum. Nah, datanglah mentor kita dari Yayasan Pantau di Jakarta sekaligus wartawan hak asasi manusia. Ialah pak/mas/om/abang/koko Andreas Harsono yang tidak asing lagi di telinga kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, saya yakin tak akan bisa datang. Selain karena jauh, juga karena sedang ikut pelatihan. Namun, pelatihan kami cepat usai dan tiba-tiba saya sudah berada di sekretariatan SKK Ganto. Tak usah ditanya pesawat apa yang saya tumpangi. Orang sudah ramai di sana. Ada para senior, junior, serta teman-teman seangkatan. Mirip reuni dan iven besar begitu. Saya tertawa-tawa dengan teman yang saya tak ingat lagi. Tiba-tiba seorang teman bersorak, mas AH, begitu kami sering menyingkat nama beliau, sudah datang. Mari segera berkumpul dan menyambut tamu! Orang semakin ramai dan sesak di depan pintu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba seorang junior sangat ingin memeluk beliau. Namun, mas AH agak keberatan. Kalian kan tahu saya kurang tertarik dengan sambutan peluk-pelukan macam begini, kata beliau. Saya tertawa sembari menjabat dan sempat mencium tangannya yang putih dan lembut. Beliau keturunan Tinghoa, makanya putih. Kalau lembut, saya kurang tahu sebabnya. Ia pun bercanda, mengatakan sesuatu yang saya tak ingat lagi ketika saya mencium punggung tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruangan tempat kami berkumpul tidak di sekretariat yang lantainya mlendung karena gempa 30 Sept 2009 lalu. Tapi, sepertinya pertemuan itu terjadi di ruang PKM atau ruang sidang yang kerap dipakai untuk acara-acara. Saya ingat betul, mulai dari tikar lusuh yang dipakai, Teh Botol sebagai penjamu tamu, dan masih ada saja buku berjalan sebagai absensi. Ini benar-benar masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun mas AH datang bersama seorang perempuan muda. Ia berambut ikal, wajah tirus, dan tertawa renyah. Wah, ini kan wartawan foto yang tomboy dan, jderrrrrrrrrr, kata saya kepada mas AH. Mas AH mengangguk dan tertawa lepas. Kita tertawa bersama. Pun dengan perempuan muda itu yang rasanya pernah saya jumpai sebelumnya. Sedangkan yang lain tidak tertawa, karena tak paham apa yang kami tertawakan. Sungguh, hingga saya menuliskan mimpi ini, saya juga tak paham apa yang lucu dari ungkapan saya di dalam mimpi itu. Aneh-aneh saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang hadir di sana cukup banyak. Karena tidak hanya dari keluarga besar SKK Ganto, namun juga ada guru-guru besar di kampus kami. Ada Prof. Mestika Zed, ada Prof. Hasanuddin WS, serta profesor lainnya. Saya juga bingung, kok profesor sastra kami bisa hadir di sana. Ah, mimpi saya mengada-ada. Tapi, begitulah kenyataan mimpi saya subuh ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terbangun dan berpikir lama di depan toilet. Bukan karena mimpi ini, tapi karena menunggu itu sangat tidak enak dan bisa bikin muntah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5653544321661458461-891188869904740807?l=dedees-dedees.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/feeds/891188869904740807/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/2012/04/catatan-mimpi-berjumpa-mas-andreas.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5653544321661458461/posts/default/891188869904740807?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5653544321661458461/posts/default/891188869904740807?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/2012/04/catatan-mimpi-berjumpa-mas-andreas.html' title='[Catatan Mimpi] Berjumpa Mas Andreas Harsono di SKK Ganto'/><author><name>Adek Risma Dedees</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938309181522934937</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-QhZAhHEOnvo/T03j5yoeuFI/AAAAAAAAAY0/0udNCIkyMT4/s220/10.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-ICTfKxEopoU/T4UXbC9mWFI/AAAAAAAAAds/o9IsUMTe5cQ/s72-c/karikaturtidur.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;AkIAQ3w-cCp7ImA9WhVQGU4.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5653544321661458461.post-592046498981679094</id><published>2012-04-09T09:22:00.001+07:00</published><updated>2012-04-09T09:29:02.258+07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2012-04-09T09:29:02.258+07:00</app:edited><title>[TV Kita] Pilih-pilih Mantu dan Penjajahan Sesama Perempuan</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-2RITJvXm4OY/T4JJZuTPx7I/AAAAAAAAAdg/xX6sIyaVe9I/s1600/fS.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 231px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-2RITJvXm4OY/T4JJZuTPx7I/AAAAAAAAAdg/xX6sIyaVe9I/s320/fS.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5729222382243006386" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya suka sama cowok itu, tapi saya sepertinya tidak termasuk dalam kategori menantu pilihan ibunya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya akan coba usaha lagi sehingga masih mendapat kesempatan untuk memperbaiki citra saya di depan ibunya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Karena yang akan memilih istri untuk anak saya, ya saya. Jadi, saya berharap mereka, calon istri anak saya, dapat membahagiakan saya selama proses pendekatan ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga kalimat di atas sering kita dengar ketika teman tak punya pilihan lain untuk mengganti chanel TV ke acara ini. Dalam acara ini, perempuan-perempuan cantik, muda, dan sangat berpeluang untuk cerdas dan sejahtera, mati-matian merebut simpati dari para perempuan gaek, ibu-ibu, yang notabene perempuan yang melahirkan (entah benar entah tidak) dari para lelaki yang mereka dambakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, selanjutnya berbagai cara pun dilakukan oleh para perempuan muda ini. Ada dengan bergelayut manja, seperti anak kera, kepada si ibu setiap berjumpa. Ada pula mencium tangannya berulang-ulang hingga berbau asem itu tangan. Tidak jarang pula menuntun si ibu hingga ke kamar, memijat-mijat, dan menanyakan semua yang dibutuhkan malam itu, layaknya suster di puskesmas, hanya saja yang ini demi seonggok hati lelaki yang pas-pasan. Ini merupakan bayangan liar saya tentang alur acara 'cari muka' ini. Saya dan teman jengah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa? Tak perlu lama-lama memelototi itu monitor TV, karena anda akan melihat tingkah laku, tutur kata, dan ekspresi tubuh yang sangat dibuat-buat dan sungguh basi. Baik oleh perempuan muda maupun oleh perempuan gaek tadi. Bagi yang muda, mencoba berbaik-baik, manut, hormat, dan kadang-kadang menyelinginya dengan satu dua titik air mata. Sungguh, air mata itu keluar karena dipaksa dan diancam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun dengan si ibu yang mau tak mau harus berbaring dan mengikhlaskan kedua tangan calon menantu mereka menggerayangi kaki, tangan, bahu, dan entah apa lagi, untuk dipijat. Lagi, ini bayangan liar saya, karena biasanya perempuan muda yang tengah berharap, tak segan-segan 'mengabdi' hingga ke tempat tidur. Begitu juga dengan apa yang dilakukan kepada para perempuan gaek itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berpikir dan berharap, semoga mereka menyesal mengikuti proses pendekatan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, mungkin tidak. Malah sangat menikmati, baik oleh yang muda maupun oleh yang gaek. Sepertinya nyaman sekali. Yang muda berjuang memperebutkan hati yang gaek, dan yang gaek pun mencoba mempertahankan pilihan hatinya kepada yang muda. Muaranya kemana? Ya untuk para lelaki di rumah sebelah yang tengah ongkang-ongkang kaki, namun kadang juga deg-degan. Dan, mau tak mau, dua kelompok perempuan yang beda usia jauh ini bersaing, menjajah, dan tak jarang pula tersakiti atau menyakiti satu sama lain. Kasihan sekali bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menikmati, eh untuk menonton sajalah (karena saya dan teman tidak terhibur) anda tak perlu harus menjadi seorang feminis jika ingin melihat ketimpangan relasi di sini. Sungguh tak perlu! Karena dengan sangat mudah terbaca pesan apa yang ingin disampaikan oleh acara ini kepada penonton. Kira-kira bunyi pesannya begini,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalian yang wanita di sana, untuk mencari seorang lelaki dan suami, memang harus mati-matian dan berjuang keras. Jangan hiraukan pendapat orang! Gunakan seluruh potensi kewanitaan kalian untuk menggaet calon mertua kalian. Apakah itu dengan lemah lembut, patuh, sopan, berkorban sampai darah dan kesabaran penghabisan, hingga harga diri. Gunakan itu! Karena dengan begitu, inilah wanita sesungguhnya dan kalian layak dapat lelaki pujaan kalian."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, saya enggan sebenarnya menuliskan pesan ini. Hanya akan membuat gerah dan mengeluarkan sumpah serapah. Karena sangat bertentangan dengan hati saya, dan mungkin juga banyak perempuan di muka bumi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua alasan kenapa;&lt;br /&gt;Pertama, jika pernikahan tak terelakkan. Baik untuk perempuan muda, perempuan gaek, anda sekalian tak perlu bersusah-susah seperti ini. Kami saja yang kadang tak sengaja menonton, dibuat selalu mencemooh kalian. Karena tingkah dan pola macam itu berlebihan (over) untuk ukuran budaya kita. Anda yang perempuan tak perlu merayu dan cari muka untuk menggaet pujaan hati anda. Yang realistis saja. Yang termakan oleh otak penonton. Tak usah lebay dan mengada-ada.&lt;br /&gt;Kedua, jika pernikahan tak bermakna. Anda yang perempuan muda, tak perlu menangis dan menyesali diri hanya untuk mendapatkan lelaki pujaan hati. Apa sih yang anda harapkan dari makhluk yang di antara selangkangnya ada seonggok daging bertulang dan bau itu? Apakah dengan itu anda dijamin mendapat kebahagiaan luar dalam dan hidup mati? Jika iya, sungguh ini sangat tidak masuk akal dan tindakan bodoh sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat, saya tak pernah melarang siapa pun untuk menikah. Namun, saya tetap berharap semoga kalian menyesal mengikuti proses pendekatan bahkan acara ini. Tak ketinggalan, cukup satu episode saja acara ini menghiasi malam-malam penonton di Nusantara. Kasihan yang muda dan yang gaek wahai bapak/ibu yang punya acara. Kita tentu saja tak ingin membodohi orang lain dan melakukan ketidakadilan terhadap mereka (baca; laki-laki dan perempuan).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5653544321661458461-592046498981679094?l=dedees-dedees.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/feeds/592046498981679094/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/2012/04/tv-kita-pilih-pilih-mantu-dan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5653544321661458461/posts/default/592046498981679094?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5653544321661458461/posts/default/592046498981679094?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/2012/04/tv-kita-pilih-pilih-mantu-dan.html' title='[TV Kita] Pilih-pilih Mantu dan Penjajahan Sesama Perempuan'/><author><name>Adek Risma Dedees</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938309181522934937</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-QhZAhHEOnvo/T03j5yoeuFI/AAAAAAAAAY0/0udNCIkyMT4/s220/10.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-2RITJvXm4OY/T4JJZuTPx7I/AAAAAAAAAdg/xX6sIyaVe9I/s72-c/fS.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;D0IHQHY4cSp7ImA9WhVRGEw.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5653544321661458461.post-6855448068140568229</id><published>2012-03-27T09:28:00.002+07:00</published><updated>2012-03-27T09:32:11.839+07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2012-03-27T09:32:11.839+07:00</app:edited><title>12 Days Your Shadow Played in My Mind</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-jyDurdQ-yZg/T3EmlufCrXI/AAAAAAAAAcY/1cbkiDGCozo/s1600/pesawat.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 126px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-jyDurdQ-yZg/T3EmlufCrXI/AAAAAAAAAcY/1cbkiDGCozo/s320/pesawat.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5724399030939856242" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"You know, I just wanna say I like you and I hope you to be patient to listen what I told and what I want. No more baby. But, in my opinion you are very skeptic of my story. It's not ok. And you know that but you still leave me alone. It is so painful right. Whatever, I wish you will stop off on my site blog in dedees-dedees.blogspot.com, may it happen you think the reason you loved me before" (My heart always goes with the tide to your heart)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini menjadi kutipan tergalau pada pekan akhir Maret 2012. Entah karena udara semakin panas, demo sana sini, atau bahkan karena hutang semakin menggunung, tak juga kunjung gajian. Pun dengan kutipan ini rasanya, ada yang terlepas dari pundak kanan. Beban 2,5 kg serasa terhempaskan. Meskipun diikuti dengan kesan mengemis cinta. Oh, poor me bro!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah kisah cinta yang malang Adele semakin mengukuhkan betapa kejujuran mencintai seseorang menjadi dualisme kekuatan baru. Pertama, dengan mengemis cinta plus muka penuh derita, kau benar-benar menjadi makhluk yang sangat pantas diibai dan wajib mendapat santunan. Santunan hati yang kadang tak terganti. Kedua, betapa kau hampir mati dengan racun cinta yang kau ramu sendiri kemudian mencekik lehermu dengan sengaja. Namun, lagi-lagi, kau tak berdaya. Layla wa Majnun memang sudah takdir terlahirkan di setiap 100 km2 di tanah bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, I always remember you! Your laugh make me fly.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku di sini tak henti-hentinya membayangkan hal-hal gila tentang masa depan. Benar kata tetua negeri kita. Adalah pikiran sebagai senjata sekaligus racun pembunuh bagi mereka yang abai dengan otak dan insting. Aku di sini tengah begitu. Memikirkan banyak kemungkinan yang menyebabkan kita dikenal oleh orang senegeri dan menjadi isu dunia setidaknya hanya selama tiga hari tiga malam. Adalah itu masa dimana kita tengah melangsungkan pesta pernikahan, perkenalan dua keluarga besar, dan conference press. Kenapa harus ada? Karena kamu dan ibumu sangat menginginkan aku. Dan tak peduli betapa kucel dan bodohnya aku yang berasal dari negara agraris yang rakyatnya selalu beranak banyak. Oh, hayalan ini membuatku sulit memejamkan mata dan kadang terkikik sendiri di kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, I always remember you! Your prciousitis make me crazy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin lama kulamunkan semakin panjang pula cerita itu. Pun dengan melahirkan beragam tokoh yang menyaksikan ritual sakral hubungan kita. Kuharapkan mereka yang menonton menjadi iri dan kecil hati ketika melihat piguraku sebesar pintu rumah tengah dikecup mesra di jidat oleh dirimu yang penuh kharismatik. Sekharismatik lelaki timur dengan stok sperma yang menyebabkan bumi ini penuh sesak oleh anak manusia yang tidak kesemuanya cerdas dan berpotensi korup. Bah! hayalan memiliki anak dibuang, karena ternyata tak enak di telinga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan kamu pun terbang dengan pesawat pribadi menuju negeri yang sangat tertib dan berbelanja tidak dengan IDR [rupiah] lagi. So sorry, we'll use £ to get something. Aku pun senangnya setengah mati. Sayangnya, ibuku yang sangat pencemas dan cinta anak itu ingin juga terbang dan menyaksikan malam pertamaku, bahwa aku bukanlah calon perempuan yang lebam-lebam di dalam berumah tangga. Alhasil, tidak. Tentu saja, hayalan ini tak akan merugikan diriku secuil pun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, I always remember you! Cause your mom is a muslim women.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kota itulah aku melanjutkan mimpi-mimpi yang pernah terjual mahal dan mendapatkan laba hampir 1000 kali lipat. Siapa yang tak sudi kawan? Kau dan keluargamu menjamuku bak aku seorang Maryam yang kelak menurunkan juru selamat, seselamatnya perahu Nabi Nuh yang lolos diterjang gelombang tsunami. Kau dan ibumu pun mengajarkanku bagaimana meramu daging babi seperti daging ayam yang kelak akan kita hidangkan untuk tetangga kita pada malam pergantian tahun baru 2015 Masehi. Aku senang, ibumu apalagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hidup bersamamu bertahun dan berpuluh tahun kemudian. Namun, aku tak bisa menuliskan di sini bagaimana angkuhnya dirimu di depanku dan yang kau inginkan hanyalah no time play around me! You know, you're so lumpy man.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5653544321661458461-6855448068140568229?l=dedees-dedees.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/feeds/6855448068140568229/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/2012/03/12-days-your-shadow-played-in-my-mind.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5653544321661458461/posts/default/6855448068140568229?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5653544321661458461/posts/default/6855448068140568229?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/2012/03/12-days-your-shadow-played-in-my-mind.html' title='12 Days Your Shadow Played in My Mind'/><author><name>Adek Risma Dedees</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938309181522934937</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-QhZAhHEOnvo/T03j5yoeuFI/AAAAAAAAAY0/0udNCIkyMT4/s220/10.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-jyDurdQ-yZg/T3EmlufCrXI/AAAAAAAAAcY/1cbkiDGCozo/s72-c/pesawat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;CkQHRHs-fCp7ImA9WhVRF04.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5653544321661458461.post-5164920208361475263</id><published>2012-03-26T09:50:00.001+07:00</published><updated>2012-03-26T09:52:15.554+07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2012-03-26T09:52:15.554+07:00</app:edited><title>[Cerita di Minggu Pagi] Jogging dengan Seribu Sejarah</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-QillTYLRRU4/T2_ZxGnPgXI/AAAAAAAAAcM/0FK8-wkqA_A/s1600/2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 232px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-QillTYLRRU4/T2_ZxGnPgXI/AAAAAAAAAcM/0FK8-wkqA_A/s320/2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5724033089023213938" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 10 menit perjalanan jogging dari tempat tinggalku ke arah utara, kau akan bertemu dengan tiga jenis batu yakni Batu Gilang, Batu Gatheng, dan Batu Gethong. Sebelumnya, di sini di kota ini kita tentu saja tak mengenal hulu dan hilir kawan, karena kota ini adalah kawasan yang terletak di tepi pesisir/laut serta juga lembah. Masyarakatnya mengenal arah dengan sebutan mata angin yaitu biasanya utara, selatan, barat, dan timur. Dan ketiga jenis batu ini adalah obyek peninggalan sejarah Keraton Mataram 1509. Sangat tua bukan kawan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah bangunan ini dipugar, dicat ulang, dan dirapikan kembali. Letaknya persis di tengah jalan dan di antara dua pohon beringin tua yang akar gantungnya menjuntai kemana-mana. Oiya, waktu kanak-kanak dulu, di Pulau Rose, beringin adalah rumahnya para wewe gombel serta makhluk halus lainnya. Itu cerita di Pulau Rose dan kami meyakini. Akan tetapi, di kota ini, beringin tidak demikian, mereka tumbuh di tengah-tengah kota, sebagai tempat berteduh dan bermainnya anak-anak, serta juga sangat dihormati. Beringin yang kira-kira mencapai 30m dan butuh tiga orang untuk mampu merangkul batangnya, saya kira usianya pun sudah mencapai ratusan tahun. Atau bisa dikatakan beringin menjadi situs sejarah yang hingga kini masih bernyawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena letaknya persis di tengah jalan, jadi bangunan ini pun ditempeli lambang tertib berlalu lintas. Saya tersenyum ketika melihat garis merah dan biru horizontal tertempel di kanan kiri pinggang bangunan. 'Akhirnya kau dipaksa patuh dengan inginnya generasi muda' bisikku sembari mengulum senyum pada bangunan itu. Tak jauh berbeda dengan Kandang Menjangan di Krapyak. Letaknya makin ke barat kota ini, persisnya selatan Keraton Ngayogyakarta. Bangunan yang dulunya dipakai sebagai perangkap ketika berburu rusa, kini menjadi situs sejarah berupa benteng. Letaknya persis di tengah jalan dan ditempeli lambang tertib berlalu lintas. "Di kota ini, apakah sengaja rakyatnya memosisikan situs sejarah menjadi tempat umum agar selalu dilihat dan gratis. Atau merupakan wasiat?" "Entahlah, siapa sangka bangunan ratusan tahun masih kokoh hingga sekarang," ujar teman enggan mengungkit-ungkit sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali kumenyusuri perkampungan kota ini yang tidak hanya asri namun juga penuh warna. Macam-macam, sepanjang jalan kau akan menemukan warung-warung makan yang bangunannya unik serta sangat jadul, kampung-kampung kecil dengan nama dan slogan sesuai RT/RW mereka, pemakaman para ustad atau orang-orang yang dianggap bertuah, panganan industri kreatif, serta mural-mural di sisi kiri kanan tembok-tembok rumah penduduk. Ada yang berbicara tentang gotong royong, memasak bersama, posyandu, pos ronda, dan wayang. Dan tak perlu harus menjadi feminis, karena sudah sangat jelas setiap perempuan dalam mural itu kerjanya hanya berputar-putar di dapur, sulam, dan mengasuh anak. Sedangkan para lelaki, memikul cangkul di sawah, mengasah parang, dll. Pakaian mereka sangat Jawa, berkemben, sarung batik, serta sanggul, sangat Kartini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi akan berbeda dengan mural yang menyuguhkan posyandu, pos ronda, dan PAUD. Para perempuan tak lagi berkemben, tetapi berjilbab serta memakai celana panjang. Serta para lelaki mereka duduk-duduk merokok di pos ronda. Ada banyak cerita dari mural ini yang bisa kita terjemahkan sesuai hasrat kita masing-masing. Tapi, tak usahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar lima menit jogging ke utara dari tiga jenis batu ini, kau akan bersua dengan kompleks pemakaman Raja-raja Mataram (1575-1640), khususnya Mataram Islam yang berdiri pada abad ke-17. Awalnya kau akan disambut dengan sebatang beringin besar dan tinggi menjulang. Lagi, saya yakin usianya sudah mencapai ratusan tahun. Kemudian melewati beberapa benteng yang mirip dengan candi-candi Hindu, dan kau akan bersua dengan Masjid peninggalan Kesultanan Mataram yang dipinpim oleh Panembahan Senopati (Sutawijaya). Semakin ke dalam, kau akan berjumpa dengan pemakaman raja-raja ini dimulai dari yang pertama, ada Sultan Agung, Paku Alam I, Sultan Hamengkubuwono I, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini setiap orang boleh berziarah. Tentunya harus sesuai jadwal dan cukup umur. Ada peraturan yang bagi saya sendiri unik dan membuat berdecak kagum. Jika biasanya kita berziarah lebih kepada agama atau syariat, nah di sini, di pemakaman ini anda berziarah bisa dikatakan tidak lagi menurut syariat, tetapi menurut keraton. Sebelum memasuki makam, anda yang laki-laki harus dan wajib mengenakan pakaian bak pada zaman kesultanan atau monarki Mataram tempo dulu. Memakai blankon, baju khas kesultanan (saya lupa namanya), sarung batik, serta sandal. Nah, bagi yang perempuan tentu saja harus memakain kemben, sarung batik, dan tak boleh memakai perhiasan emas. Semua dilepas, termasuk yang memakai jilbab. "Karena ke makam itu kita tidak sedang menjalankan syariat agama, namun ingin 'menghadap' sultan," begitu kata seorang kenalan yang tengah 'bertapa' di sekitar kompleks itu. "Ooooooo" jawabku panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sewa pakaian ini, anda akan dikenakan biaya sebesar Rp 10.000 per stel. Terserah mau berapa lama berziarah di makam para raja itu. Yang jelas harus sepengetahuan pengelola kawasan tersebut. Selain itu, di sini juga disediakan tempat mandi untuk para perempuan dan laki-laki yang letaknya bersebelahan. Air yang digunakan untuk mandi itu, kabarnya berasal dari makam-makam para raja yang tak pernah kering apalagi keruh. Air itu dimuarakan ke dalam beberapa kolam yang juga berisi ikan-ikan. Ada lele sebesar paha orang dewasa, ikan mas, dan jenis ikan lainnya yang enak untuk digoreng. Konon, ikan ini juga berperan dalam menyampaikan 'pesan' dari sultan kepada pertapa-pertapa di kawasan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dengan gaya yang santai, teman kenalan tadi tak begitu menggubris, karena pada dasarnya ikan-ikan yang dipelihara baik di kolam penampungan air mandi, maupun di sekeliling masjid, gunanya agar jentik-jentik nyamuk tak berkembang biak di sekitar kompleks makam dan masjid ini. Masuk akal. Karena, kawasan ini baik siang maupun malam selalu diramaikan oleh para peziarah dari berbagai tempat di nusantara. "Kasihan mereka ketika tidur di balai-balai pada bentol digigit nyamuk," ujarnya sembari tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, kawasan ini juga khas dengan keberadaan pohon tua lainnya yaitu sawo kecik. Ada sekitar sepuluh sawo kecik meneduhi kawasan masjid. Pohon ini juga menjadi salah satu ikon di lambang kerajaan Mataram. Kawasan ini selalu bersih dan riuh oleh suara anak-anak yang bermain di sekitar masjid. Maklum, benteng yang melindungi masjid, makam, dan tempat mandi ini sengaja tidak dipisahkan dengan pemukiman setempat. Pun di kompleks ini disediakan klinik, warung makan, toko kelontong, untuk para pengunjung. Makam raja-raja Mataram tak sekedar sejarah dan tempat berziarah, ia telah terubah menjadi ikon wisata sekaligus menafkahi mereka yang hidup di sekitarnya. Mungkin hal ini tak pernah terpikirkan oleh Sultan sebelumnya. Apa boleh buat, inilah adanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5653544321661458461-5164920208361475263?l=dedees-dedees.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/feeds/5164920208361475263/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/2012/03/cerita-di-minggu-pagi-jogging-dengan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5653544321661458461/posts/default/5164920208361475263?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5653544321661458461/posts/default/5164920208361475263?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/2012/03/cerita-di-minggu-pagi-jogging-dengan.html' title='[Cerita di Minggu Pagi] Jogging dengan Seribu Sejarah'/><author><name>Adek Risma Dedees</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938309181522934937</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-QhZAhHEOnvo/T03j5yoeuFI/AAAAAAAAAY0/0udNCIkyMT4/s220/10.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-QillTYLRRU4/T2_ZxGnPgXI/AAAAAAAAAcM/0FK8-wkqA_A/s72-c/2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;C0AHSHw5eSp7ImA9WhVSGUg.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5653544321661458461.post-2363746790368979565</id><published>2012-03-17T09:33:00.001+07:00</published><updated>2012-03-17T09:35:39.221+07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2012-03-17T09:35:39.221+07:00</app:edited><title>BBM Naik, Matilah Rakyat!</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-9cfgFJ7HArY/T2P4cm5JvRI/AAAAAAAAAcA/mzGB9fUBUYk/s1600/kompor%2Bminyak%2Btanah.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-9cfgFJ7HArY/T2P4cm5JvRI/AAAAAAAAAcA/mzGB9fUBUYk/s320/kompor%2Bminyak%2Btanah.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5720689122050948370" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden dan jajaran orang penting serta berduit di negeri ini kembali ambil kebijakan menaiktinggikan harga BBM, sebagai kebutuhan utama rakyat. Analisa dan pertimbangannya, aku tak mau tahu. Namun, dengan bergemanya jeritan rakyat mulai dari Timur hingga Barat, sudah menjelaskan betapa kebijakan itu sangat ditentang dan menjijikkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah pada bulan ini semakin garang jeritan itu di sana sini. Mulai dari kalangan elit, sebut saja mahasiswa, masyarakat, dan seterusnya. Mereka buka mulut, tak hanya di jalanan, seperti yang sudah-sudah dengan berdemonstrasi, memblokir SPBU, bakar foto-foto pejabat sana sini, serta jika juga tak digubris maki ini itu. Aparat keamanan pun 'bersitungkin' (Minang, artinya bekerja keras) mengamankan jalannya demonstrasi. Media pun ramai orderan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun dengan teman-teman yang tak sempat mengacung-acungkan kepalan tangan di jalan, mereka menulis di hampir setiap jejaring yang tersedia. Riset kecil-kecilan, menyimak berita yang lalu lalang tentunya, sembari mengutip di sana sini, jadilah tulisan pedas mengkritik kenaikan BBM. Tak luput pasti, komentar dari puluhan teman, ada yang pro, dan ada juga kontra. Tergantung kocek dan kepentingan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu-ibu dan Kebimbangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenaikan harga BBM yang kabarnya akan dimulai pada 1 April mendatang, secara pribadi dan menurut kebutuhan sendiri, saya agak tidak bimbang. Pun rasanya saya tak harus kebakaran jenggot dengan keputusan 'tega-tegaan' para pengambil kebijakan itu. Karena, semoga, saya masih bisa bertahan dengan pundi-pundi yang tersedia. Ini terdengar egois, memang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, saya memiliki ibu yang selalu saya pikirkan dan kerap pula saya cemaskan. Beliau, (saya ceritakan) sepertinya tak bisa 'hidup' tanpa minyak tanah. Kadang saya menduga-duga, ibu saya adalah pemakai terbesar minyak tanah di kelurahan kami. Karena, pengakuan ibu, beliau tak mau gosong dimamah ledakan gas. Oh, ini penyebab utama. Sial sekali bukan gas-gas elpiji itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengalaman saya, yang telah beberapa kali merasakan langsung dampak dari kenaikan harga BBM, minyak tanah pasti akan lebih mahal dan sangat langka. Ini aneh, jika dibandingkan dengan premium, solar, dan sejenisnya. Kenaikan BBM menjadikan harga minyak tanah mencapai Rp 10 ribu per liter. Gila bukan? Dan ibu saya, kadang tak mau tahu dengan harga, yang penting minyak tanah. Anda bayangkanlah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saya tak tega menyalahkan ibu saya dengan keputusannya seperti itu. Bagi beliau, kebijakan pemerintah 'memindahpaksakan' masyarakat dari pemakai minyak tanah ke gas itu hanya sia-sia. Sia-sia jika setiap pagi beliau menonton televisi, di sana sini gas sialan itu meledak dan membuat ibu-ibu melepuh. Oh, berhentilah makan, kata beliau suatu waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami, saya dan para saudara, juga tak kuasa egois. Ibu masih setia dengan minyak tanah dan kompor tuanya. Kami tak dapat memberikan lebih, setidaknya kami mampu menjamin rasa aman bagi ibu. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, saya yakin, ada puluhan ribu ibu di Tanah Air ini yang pemikirannya mirip dengan ibu kami di rumah. Dengan kenaikan BBM, mungkin kecemasan beliau tidak akan 'semembabi buta' kita para anak muda. Beliau-beliau akan berpikir ulang ikut berdemonstrasi dan cuap sana sini. Beliau akan lebih legowo sambil mengurut dada dengan putusan asal-asalan ini. Karena, memang begitulah para ibu kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, di balik legowo itu, pasti ada setitik harapan, bahwa kalau dapat janganlah dinaikkan harga BBM itu. Ingatlah kami, para ibu tua, yang mengurus dapur mulai dari pagi ke pagi lagi, yang berjualan panganan di pasar-pasar dengan harga Rp 2000-5000 an, yang memakan gaji harian di ladang-ladang Rp 20 ribu-30 ribu per hari, namun kami harus mengeluarkan Rp 5000-10 ribu untuk minyak tanah per liternya saja setiap hari. Jika ditimbang-timbang, hanya tenaga yang tersisa di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar, harapan untuk sejahtera seperti termaktub dalam pancasila itu masih sangat jauh, setidaknya jangan 'menghukum' rakyat kecil dengan putusan-putusan yang masih memiliki alternatif untuk tidak diambil. Dengan menuliskan ini, saya menentang kenaikan harga BBM, murni hanya untuk mewakili suara ibu saya dan semoga ,mungkin, juga suara ibu-ibu lain di Bumi Ibu Pertiwi ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5653544321661458461-2363746790368979565?l=dedees-dedees.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/feeds/2363746790368979565/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/2012/03/bbm-naik-matilah-rakyat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5653544321661458461/posts/default/2363746790368979565?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5653544321661458461/posts/default/2363746790368979565?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/2012/03/bbm-naik-matilah-rakyat.html' title='BBM Naik, Matilah Rakyat!'/><author><name>Adek Risma Dedees</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938309181522934937</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-QhZAhHEOnvo/T03j5yoeuFI/AAAAAAAAAY0/0udNCIkyMT4/s220/10.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-9cfgFJ7HArY/T2P4cm5JvRI/AAAAAAAAAcA/mzGB9fUBUYk/s72-c/kompor%2Bminyak%2Btanah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;A0YERHo5fyp7ImA9WhVSFU4.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5653544321661458461.post-1728608569389747272</id><published>2012-03-12T10:36:00.004+07:00</published><updated>2012-03-12T14:58:25.427+07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2012-03-12T14:58:25.427+07:00</app:edited><title>Suatu Pagi Ketika Ibu Mengharap Telepon</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-QxBMvHEgwdg/T11vlWO_2hI/AAAAAAAAAZ8/XcRpYNMgN9E/s1600/1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-QxBMvHEgwdg/T11vlWO_2hI/AAAAAAAAAZ8/XcRpYNMgN9E/s320/1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5718849789244725778" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah cerita tentang keengganan patuh pada hasrat dan mental berbelanja. Tak ingin menguras kantung hanya untuk keperluan yang bisa ditangguhkan. Dan tak juga besemangat memperkaya para kapitalis yang belum tentu anak negeri. Hingga mengisi ulang kartu telepon prabayar pun ditepiskan untuk kesekian waktu. Tentu saja ini tak membuat mereka -para kapitalis- segera kere. Ah, jauh panggang dari api. Belum. Masih jauh. Namun, ada kelegaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar ini pun tersiar kepada kakanda di pulau Rose . Ia mahfum. Dan segera memberi tahu ibu. Tapi apa kata ibu, 'Ini penting! Segera telepon ibu,'. Aku terhenyak. Malam harinya, kakanda bercerita bahwa ibu agak keberatan dengan sikap kami. Dan cerita ibu keberatan ini tersiar ke beberapa kota di pulau Rose. 'Hmm, ibu terlalu khawatir akan tanah Bulb ini,' kataku pada kakanda. Ia setuju. 'Sebagai anak perempuan kita telah berdosa'. Aku menolak. Kujelaskan, setelah kuperdengarkan suaraku pada ibu, ibu terdengar riang dan mulai belajar mengurangi kecemasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enam jam sebelumnya, aku berjuang bagaimana memperpanjang usia sepatu beludru ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah para lelaki yang mengabdikan hidup sebagai pahlawan-pahlawan sepatu. Tepatnya pengrajin yang dengan gigih memperbaiki barang-barang lusuh untuk disulap menjadi lebih bertenaga, tapi bukan baru. Di tengah kota 32,5 km persegi ini hanya dalam hitungan jari ada orang-orang yang rela bekerja macam begini. Apalagi di akhir pekan; setengah mati, berkeringat asin, dan hendak menyumpah dibuatnya, amat sangat sulit sekali menyaksikan mereka lembur, membuka jasa permak sepatu. 'Tukang sol juga kenal hari minggu,' teman membujuk. Oooooooo,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, tapi adalah sesuatu yang menarik jika dapat menemukan para pahlawan ini lembur menjahit sepatu pada hari minggu. Di antara 388 ribu jiwa ini, sungguh sangat sulit menjumpai para pahlawan ini. Setelah berkeliling 3-4 jam, barulah menemukan mereka dengan sangat khas. Meja dilapisi terpal-terpal keras dan bekas, di kiri kanan pahlawan penuh dengan sepatu, benang-benang berwarna gelap, kaleng brisi sabun bewe [merek sabun batangan yang sangat terkenal waktu saya SD, kira-kira 10-15 tahun lalu], jarum-jarum dengan ukuran sejengkal, kresek, serta kain-kain lusuh. Pahlawan kita ini duduk di tengahnya sembari mengapitkan sepatu di antara kedua belah paha. Masih begitu saja model duduk dan cara orang sini menjahit sepatu, ungkapku. Memangnya macam apalagi? kata temanku menganggapku aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2012 ini, ketika orang-orang masih setia mengalasi kaki mereka, maka pahlawan pempermak sepatu ini akan selalu eksis. Meskipun jumlah mereka semakin berkurang dan langka. Mereka tahu betul, di tengah gaungan konsumsi model sepatu, tas, dan seterusnya, bahwa pada hakikat karakter 'cangok' [cangok, bahasa Minang artinya rakus/tamak] akan selalu melekat hingga nyawa melayang di tubuh manusia. Mereka tak akan ingin melepaskan begitu saja sepatu-sepatu yang telah dibeli hanya karena mulut sepatu menganga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sebenarnya tidak hanya 'cangok', kikir juga termasuk di sini. Menurut survei mata sendiri, bahkan sepatu-sepatu yang telah dijahit itu tidak dipakai kembali, karena modelnya telah terciderai oleh jalinan benang di pinggir atau di telapak sepatu. Ah, alasan apa lagi ini? Nah, sepatu ini pun dipaksa memenuhi rak sepatu lusuh dan bau. Dibuang sayang, dihibahkan apa lagi. Mana tahu suatu hari kelak berguna. Padahal sepatu yang telah berjahit itu sudah empat kali lebaran haji. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bisa saja ini penulis di pulau Rose yang tengah berada di tanah Bulb. Sedang mempergunjingkan diri atau orang lain, serta memperingati diri dan orang lain. Begitulah, yang jelas, sepatu beludru sudah tak menganga dan beberapa lembar dollar dengan sangat rela bagi saya dikantungi oleh pahlawan sepatu tempo hari. Sepintas, sangat tak ada yang dirugikan. Dua pintas, kami-kami adalah hamba-Mu yang memiliki tujuan hidup sama, sama-sama ingin eksis.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5653544321661458461-1728608569389747272?l=dedees-dedees.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/feeds/1728608569389747272/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/2012/03/suatu-pagi-ketika-ibu-mengharap-telepon.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5653544321661458461/posts/default/1728608569389747272?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5653544321661458461/posts/default/1728608569389747272?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/2012/03/suatu-pagi-ketika-ibu-mengharap-telepon.html' title='Suatu Pagi Ketika Ibu Mengharap Telepon'/><author><name>Adek Risma Dedees</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938309181522934937</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-QhZAhHEOnvo/T03j5yoeuFI/AAAAAAAAAY0/0udNCIkyMT4/s220/10.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-QxBMvHEgwdg/T11vlWO_2hI/AAAAAAAAAZ8/XcRpYNMgN9E/s72-c/1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;DUMAQ3g-eSp7ImA9WhVSEko.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5653544321661458461.post-4850480221793073239</id><published>2012-03-09T14:15:00.001+07:00</published><updated>2012-03-09T14:17:22.651+07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2012-03-09T14:17:22.651+07:00</app:edited><title>[Membantu Si Gundul Hitam] Belai Daku dan Bawalah Berlari!</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-0-9KprEwC5k/T1mudviz2AI/AAAAAAAAAZw/OMJvxLAeG0Q/s1600/1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 236px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-0-9KprEwC5k/T1mudviz2AI/AAAAAAAAAZw/OMJvxLAeG0Q/s320/1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5717793027925465090" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun hujan deras begini, tidak berarti tabungan air di kamar melimpah. Persediaan air putih yang sedia semakin menipis. Untungnya para teman tak keberatan berbagi minuman. Walau begitu, tentu saja tidak boleh boros. Karena menyulitkan orang lain itu tidak enak. Dihemat-hematlah minum air putih. Pun dengan berbicara agar tak lekas haus. Selain cangkirnya ditutup, agar tak masuh benda-benda aneh, diawasi juga agar tak tersenggol kaki yang kadang tak terkontrol. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, penyakit lupa yang meletakkan begitu saja roti tak jauh dari cangkir, telah mengundang sekitar lima kepala keluarga semut ke sana. Alhasil, berkerubunglah mereka. Ada yang sedang sibuk mencari celah membobol roti, ada pula yang tengah bermain-main di bibir cangkir. Ini bukanlah pemadangan bagus. Harus segera diungsikan roti dan cangkir dari serangga-serangga lapar itu. Usahapun dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niatnya ingin mengeluarkan seekor semut yang terlanjur jatuh dan basah kuyup di dalam cangkir. Ternyata serangga satu ini bodohnya minta ampun. Seringkali semut yang terjerembab ke dalam cangkir berisi air biasanya mengapung-apung di permukaan. Mengais-ngais ke dinding cangkir, dan segera menjauh. Eh, yang ini ternyata terbenam seperti batu kali. Jika tidak karena bodoh, mungkin karena terlalu kenyang. Si gundul hitam pun naik turun mengikuti riaknya air ketika cangkir digoyang-goyangkan. Harapnya agar segera ke permukaan, eh malah semakin menuju dasar cangkir. Sial!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terpaksalah telunjuk mengais-ngais, membantu serangga gundul satu ini agar segera keluar dari satu-satunya minuman yang tersisa malam ini. Beberapa kali kais, telunjuk tak mampu menangkapnya. Gravitasi bumi sepertinya tengah tertarik dengan si gundul hitam. Dan berpacu dengan telunjuk 22 tahun ini. Singkatnya, sang talunjuk memenangkan perpacuan. Tak ingin melukai, si gundul hitam diletakkan di lantai. Hati-hati. Basah kuyup dan tak bergerak lagi. Mati? Oh, semua akan sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah mengapa, tiba-tiba sangat ingin menyaksikan si gundul hitam kembali berdiri dan berlari menuju teman-teman dan keluarga. Namun, tak kunjung juga. Masih basah. Inisiatif pun berdatangan. Dilaplah si gundul hitam dengan pembesih lubang telinga. Kapas ini akan cepat menyerap air di badannya, pikirku. Dan benar. Mulai kering. Detik berikutnya ia mulai bergerak, menggeliat mungkin. Ditunggu-tunggu, kembali tergolek. Lemas. Masih menunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, entah sahabat, entah pacar, atau entah ayahnya, si gundul hitam 2 datang. Menciumi, tepatnya membaui. Berkali-kali dan tak ingin menjauh. Menjilati air yang masih melekat, mungkin juga. Menarik-narik kaki-kaki si gundul hitam. Tak juga berdiri, si gundul hitam 2 pun kelihatan panik. Ia bergegas, separuh berlari mengelilingi si gundul hitam. Pikirnya mungkin si gundul hitam akan mati jika tak segera dibawa ke dukun para semut. Bisa jadi kaki atau lehernya patah hingga tak kuat berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hilang sabar atau sebuah keputusan matang, si gundul hitam 2 mengangkat si gundul hitam di kepala dan membawanya berlari. Menuju kresek, melintasi ubin, menjauh lagi, memanjat dinding, berkeliling, belok kanan, panjat lagi, kali ini mencapai semeter, dua meter, mencari-cari celah, jeda sejenak dan jreppp -saya memotret- kemudian lenyap di antara pertemuan loteng dan dinding. Mungkin akan segera bertemu dukun ahli patah tulang, harapku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Next, I'm in a musing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa sepele tadi, saya yakin ada kuasa Ilahi di sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah cerita hidup yang bagi banyak orang tak penting dan buang waktu saja. Begitu juga denganku. Apa itu? Membantu serangga jahil kemudian menyimpan albumnya di netbok? Ah, sejak merantau kau terlihat arif, perhatian, dan alim sekali. Benar kau mampu bertahan? Entahlah, batinku cepat menyergah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, dalam kesendirian yang panjang, otakku tak bisa diawasi untuk berpikir aneh-aneh. Termasuk menghormati hak hidup serangga-serangga itu. Sejak 15 tahun belakangan hingga sore kemarin, hasrat membunuh serangga itu tinggi sekali kawan, terutama nyamuk. Rasanya menambah harga dan derajat diri ketika berhasil menangkap dan meratakan tubuh mereka di telapak tangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm, yummie!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa benci dan dendam kepada serangga-serangga itu sudah ditanam dan dipupuk dari dulu. Mekar dan berseri. Hingga tak layak memberi maaf pada mereka jika berpapasan. Langsung saja tepok!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, malam ini, mungkin aku agak kemayu, -selain krisis air minum. Kehadiran mereka adalah jawaban dari kebesaran Ilahi di muka bumi. Pertolongan yang kuberikan, bukanlah jaminan seuntas nyawa -nyawa serangga- akan pasti selamat. Pertolongan itu harus diikuti dengan pertolongan selanjutnya agar si hitam gundul dapat terus bernapas. Ini bukti, bahwa aku -manusia- tak begitu punya banyak daya dan kuasa. Untuk menyelamatkan hidup seekor semut saja kau belum mampu? Apalagi dirimu? Ibumu? Saudaramu? Bahkan bangsamu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bah, cerita ini jadi membelit diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, untaian pertolongan rajutlah selalu. Karena, sepertinya rajutan yang panjang dan bertingkat itu, mungkin justru untuk dirimu sendiri nantinya. Bukankah itu menyenangkan kawan? Kau ditolong ketika susah. Kau dihibur ketika duka. Dan kau dipuji ketika jaya. Semoga saja.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5653544321661458461-4850480221793073239?l=dedees-dedees.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/feeds/4850480221793073239/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/2012/03/membantu-si-gundul-hitam-belai-daku-dan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5653544321661458461/posts/default/4850480221793073239?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5653544321661458461/posts/default/4850480221793073239?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/2012/03/membantu-si-gundul-hitam-belai-daku-dan.html' title='[Membantu Si Gundul Hitam] Belai Daku dan Bawalah Berlari!'/><author><name>Adek Risma Dedees</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938309181522934937</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-QhZAhHEOnvo/T03j5yoeuFI/AAAAAAAAAY0/0udNCIkyMT4/s220/10.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-0-9KprEwC5k/T1mudviz2AI/AAAAAAAAAZw/OMJvxLAeG0Q/s72-c/1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;DUAHSHk_eip7ImA9WhVSEEU.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5653544321661458461.post-3646811715560033117</id><published>2012-03-07T09:31:00.001+07:00</published><updated>2012-03-07T09:35:39.742+07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2012-03-07T09:35:39.742+07:00</app:edited><title>Kaum Wangi-wangi Pool dan Rendang Padang</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-yKk6zzER7bM/T1bJWCK8jiI/AAAAAAAAAZk/jDMPX_R83MQ/s1600/rendang%2Bpadang.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-yKk6zzER7bM/T1bJWCK8jiI/AAAAAAAAAZk/jDMPX_R83MQ/s320/rendang%2Bpadang.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5716978157370510882" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tengah enak-enaknya makan malam di warung nasi langganan, tiba-tiba si bapak Sumbawa nyeletuk, bahwa perempuan cantik yang berteduh setengah menit tadi, super wangi dan renyah. Saya terbahak dan berhenti menyuap. Si bapak ngotot kemudian mengatakan bahwa saya tidak menyimak wewangiannya. Kali ini saya cengengesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang wangi begitu, sambung bapak Sumbawa, didapatkan memang sudah 'turunan' dari langit. Sudah digariskan bahwa mereka kemana-mana pakai sedan antik dan mahal. Tidak akan bersusah payah dan harus kere dalam mencari makan, seperti kebanyakan penjual makanan di kota ini. Saban hari, lanjut bapak Sumbawa, kerja mereka ya cuma ngumpul-ngumpul sembari tanda tangan ini itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya memang tak pernah mimpi hidup seperti itu, tapi saya memimpikan untuk anak saya kelak mba," lanjut bapak Sumbawa. Untung ini suapan terakhir, jadi saya bisa mengiyakan angan si bapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembari menyiapkan teh hangat buat dirinya sendiri, si bapak melanjutkan cerita. Luarnya saja Muntilan dan Singosaren ini sepi, kalau sudah kenal, dimana-mana ya kayak gitu. Si bapak menunjuk rumah beton berpagar tinggi dengan lampu lima watt di setiap sudut rumahnya. Sangat klasik namun terkesan mewah. Di depan pagar, berjejer lima hingga sepuluh sedan, mulai dari yang antik hingga yang mutakhir. Sangat mewakili dari gelak tawa dan suara-suara di balik pagar. Ada pesta kecil-kecilan mungkin di sana mba, lanjut bapak Sumbawa, seolah tahu apa yang kupikirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantas saja, perempuan muda dan mulus tadi sibuk mencari tempat parkir untuk mobil antiknya. Pun demikian dengan laki-laki agak tambun dengan sedan keluaran terbaru itu. Tak keberatan, bapak Sumbawa mengatur arus jalan kampung yang mulai sesak oleh kendaraan mewah. Saya hanya menonton dan mereka-reka. Kira-kira para tamu ini anggota dewankah? Pengusahakah? Atau generasi kedua atau ketiga yang mendapat warisan milyaran dollar dari mbah-mbah mereka?   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, itu tadi mba. Semua itu datang dari 'langit' dan tinggal pakai kok, jawab bapak Sumbawa. Lagi-lagi, saya kecolongan pikiran oleh si bapak. Ah, bapak bisa saja, kataku agak canggung. Mata dan telinga ini pun masih saja mempel pada celah-celah pagar tembok, terlihat satu, dua orang berlalu lalang dan saling menjabat kemudian merangkul. Sepertinya enak hidup seperti itu ya pak? Tanyaku. Kayaknya iya mba, tapi saya belum pernah coba mba, he he he, kata bapak Sumbawa sembari menghenyakkan bokongnya di kursi bambu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak satu dua pesta kecil-kecilan diadakan di rumah-rumah yang tergolong jetset di kampung ini. Kalau tidak malam Minggu, ya malam Selasa, atau malam Kamis. Motifnya juga macam-macam. Ada yang memang hanya untuk kumpul-kumpul, nyanyi-nyanyi, makan-makan, atau bahkan awalnya pengajian. Kemudian, ya terserah yang punya hajatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di sini mba, setiap orang bebas membuat perkumpulan. Dan hampir setiap orang pula yang senang atau takkan ada gangguan," ujar bapak Sumbawa. Saya mengiyakan dan melirik buku tulis setengah halaman yang penuh dengan tulisan resep Rendang Padang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu tulisan tangan saya sendiri tempo hari. Bapak Sumbawa sangat ingin tahu dan akan mencoba memasak Rendang Padang yang sangat populer itu. "Saya terheran-heran, kok bisa ya rendang seenak itu mba. Kalau saya makan di rumah makan Padang, saya pasti ambil kuah rendang." Begitu alasan bapak Sumbawa agar saya berkenan menuliskan resep Rendang di buku tulis anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Suatu saat nanti saya akan coba buat Rendang Padang, dan saya nggak akan lupa jasa mba sudah kasih saya resep ini," lanjut si bapak. Saya terbahak sambil mengaminkan niat bapak Sumbawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah lelaki setengah abad lebih yang memutuskan hidup di tanah Jawa bersama istri, anak, menantu, dan cucu. Ia datang dari timur sana, Sumbawa, yang terkenal dengan ribuan kuda liar yang melintasi tanah penuh rumput hijau itu sepanjang tahun. Sang istri yang memang berdarah Jawa, enggan diajak kembali hidup di tanah Sumbawa. Alasannya di sini, di kampung ini, adalah surga yang tak mungkin tergantikan. Ia mendapat banyak cinta, walaupun pernah direnggut oleh ayah kandung sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Istri saya diusir dari rumah beberapa tahun lalu oleh ayahnya mba. Karena hal anak-anak, sepele sekali, bukan? Saya sedih dan sakit hati. Karena kami telah membangun rumah permanen di sana. Untung kami sudah memiliki lahan di jalan lintas itu. Kami mendirikan pondok dan hidup bersama anak di sana."  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkara itu menjadi semangat bagi saya untuk mengembangkan usaha rumah makan, lanjut bapak Sumbawa. Walaupun saya tidak dari Padang, saya sangat ingin memasak masakan khas orang sana mba. Mba bantu saya ya? Pinta bapak Sumbawa. Tak ada alasan saya untuk menolak pinta itu. Selagi saya tahu dan pernah mempraktikkan bersama ibu di rumah dulu, tentu saja saya akan bagi resep itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sudah begitu, saya merenung betapa ilmu memasak yang ibu berikan dulu sangat penting dan mulia. Bukan semua untuk saya, tapi lebih kepada pertanggungjawaban saya sebagai anak muda Minang yang perkara selera di kampung kami menjadi primadona dunia. Mungkin saya tidak akan memasak Rendang Padang di sini, tapi saya tidak mungkin merahasiakan tanah tumpah darah saya, Minang. Dan sangat tidak cool, kalau saya mengaku dari Suriname hanya karena saya tak tahu resep Rendang Padang. Saya tak ingin mengecewakan ibu dan tanah tumpah darah saya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5653544321661458461-3646811715560033117?l=dedees-dedees.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/feeds/3646811715560033117/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/2012/03/kaum-wangi-wangi-pool-dan-rendang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5653544321661458461/posts/default/3646811715560033117?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5653544321661458461/posts/default/3646811715560033117?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/2012/03/kaum-wangi-wangi-pool-dan-rendang.html' title='Kaum Wangi-wangi Pool dan Rendang Padang'/><author><name>Adek Risma Dedees</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938309181522934937</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-QhZAhHEOnvo/T03j5yoeuFI/AAAAAAAAAY0/0udNCIkyMT4/s220/10.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-yKk6zzER7bM/T1bJWCK8jiI/AAAAAAAAAZk/jDMPX_R83MQ/s72-c/rendang%2Bpadang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;DkMMQHkyeSp7ImA9WhVTFEU.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5653544321661458461.post-6304841633129731383</id><published>2012-02-29T09:37:00.003+07:00</published><updated>2012-02-29T10:01:21.791+07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2012-02-29T10:01:21.791+07:00</app:edited><title>Kerjakan 'Batu Besar' Pertama Kali dalam Hidupmu!</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-avrxmc6aCEk/T02UJdG6GCI/AAAAAAAAAXo/Bh3OzlwGcaQ/s1600/justabrickinthewallbyjavu3.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 246px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-avrxmc6aCEk/T02UJdG6GCI/AAAAAAAAAXo/Bh3OzlwGcaQ/s320/justabrickinthewallbyjavu3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5714386392356362274" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Did you know, it's fervency to run towards the sun'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang perjalanan waktu, kita disibukkan dengan beragam hal yang menyita waktu, tenaga, dan perasaan. Acap kali kita lupa dan tidak sadar bahwa banyak hal dari semua itu tidak penting dan tidak perlu dikerjakan atau ditunda sementara waktu. Namun, manajemen yang buruk membuat kita menjalaninya tanpa beban dan tanpa rencana yang matang. Padahal ini bisa merugikan kuantitas dan kualitas dalam hidup kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengerjakan 'batu besar' pertama kali dalam hidup, maksudnya mengerjakan hal-hal pokok yang membuat hidup jauh berkualitas. Bukan sebaliknya, terjebak pada rutinitas kecil yang menjadikan hidup biasa-biasa saja. Kita kerap menilai, apa-apa yang kita kerjakan adalah hal yang paling luar biasa dan penting. Padahal belum tentu begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, menjalani hidup apa adanya banyak dielu-elukan orang. Filosofi menjalani hidup seperti air mengalir tidak hanya banyak dianut orang, namun juga dikampanyekan pagi dan petang dengan cara mereka masing-masing. Pledoinya, mengapa harus menjebak diri dengan beragam angan-angan? Yang justru hanya terukir di dalam mimpi dan agenda sehari-hari. Jalani saja, maka kau akan merasakannya. Begitu kata orang banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlahir dari latar belakang keluarga kebanyakan serta lingkungan masyarakat dengan kesosialan yang tinggi, kerap membuat kita tidak banyak menuntut dalam hidup. Bukan apa-apa, karena budaya tuntut dan target masih belum terbiasa di tengah kampung kelahiran kita. Belum lagi ditambah dengan budaya masyarakat yang enggan untuk berpikir lebih dan pelik tentang hidup. Manajemen waktu dan tenaga pun tidak dihiraukan dan tidak menentukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, setelah kesana kemari, setelah mendengar ini itu, setelah berjumpa dengan si A, si B, dan seterusnya, manajemen waktu dan tenaga menjadi penting. Baik untuk dituliskan maupun untuk dikerjakan. Dan melakukan hal-hal penting dalam hidup adalah menjadi perlu. Karena itu merupakan modal, aset, dan jaminan hari esok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut sumber suara yang disimak, banyak 'batu besar' yang mesti dikerjakan terlebih dahulu, misalnya, anak-anak bagi para orang tua, pasangan bagi yang telah berpasangan, pendidikan, kesehatan, dan sebagainya. Manajemenlah hal-hal itu dengan apik dan rancak. Karena dengan begitu, hidup akan menjadi lebih hidup dan berkualitas. Kita tak lagi terjebak dengan hal-hal kecil yang melenakan sekaligus mematikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerap memang, kita tersentuh oleh pihak lain yang padahaln kita juga sering disentuh oleh orang-orang terdekat kita. Sentuhan dari pihak lain menjadi berbeda dan lebih berkesan daripada oleh orang-orang terdekat. Begitu juga dengan manajemen waktu yang dimaksudkan ini. Jika kutilik-tilik dan menyusuri memori masa lalu, manajemen waktu telah diajarkan oleh Ayah ketika beliau masih sangat sehat. Tentu saja berbeda baik dari cara penyampaian, kondisi psikis kami waktu itu dan seterusnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih ingat sampai sekarang, "Bahwa pendidikan, jika kau mampu, maka kejarlah," kata Ayah. Ungkapan ini diulang-ulang dan aku sudah lupa berapa kali diulang. Aku dan saudara kandung, kerap dipasak kupingnya agar tidak mengesampingkan pendidikan. Bagaimanapun juga, pendidikan menjadi eskalator bagimu untuk maju dan mulia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan menafikan, bahwa pekerjaan juga sama pentingnya. Namun, posisi pendidikan belum ada yang menggantikan urutannya. Dan menurut suara-suara yang kusimak pagi ini, memang tak ada kata menyesal -karena pada hakikatnya kata ini sangat menyayat, kawan- namun jika kita terus bermain-main dengan waktu dan 'batu besar atau batu kecil' sesal itu juga akan menghampiri. Trust Me!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5653544321661458461-6304841633129731383?l=dedees-dedees.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/feeds/6304841633129731383/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/2012/02/kerjakan-batu-besar-pertama-kali-dalam.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5653544321661458461/posts/default/6304841633129731383?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5653544321661458461/posts/default/6304841633129731383?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/2012/02/kerjakan-batu-besar-pertama-kali-dalam.html' title='Kerjakan &apos;Batu Besar&apos; Pertama Kali dalam Hidupmu!'/><author><name>Adek Risma Dedees</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938309181522934937</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-QhZAhHEOnvo/T03j5yoeuFI/AAAAAAAAAY0/0udNCIkyMT4/s220/10.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-avrxmc6aCEk/T02UJdG6GCI/AAAAAAAAAXo/Bh3OzlwGcaQ/s72-c/justabrickinthewallbyjavu3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;CEUDRng5eip7ImA9WhVTFE8.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5653544321661458461.post-199869224341101424</id><published>2012-02-28T09:04:00.007+07:00</published><updated>2012-02-28T16:44:37.622+07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2012-02-28T16:44:37.622+07:00</app:edited><title>Jakarta Undercover, Seksualitas Membabi Buta Orang-orang Ibu Kota Negara</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-8rOHcHAVRl0/T0w7J6uaP9I/AAAAAAAAAXc/QFjiNN0zysU/s1600/3.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 213px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-8rOHcHAVRl0/T0w7J6uaP9I/AAAAAAAAAXc/QFjiNN0zysU/s320/3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5714007068795092946" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-5Vx1ZyjSEfg/T0w7Bke3EJI/AAAAAAAAAXQ/J8utd6PejRw/s1600/4.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 216px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-5Vx1ZyjSEfg/T0w7Bke3EJI/AAAAAAAAAXQ/J8utd6PejRw/s320/4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5714006925385339026" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-h5E_HgERuAg/T0w63xAMiZI/AAAAAAAAAXE/1wnZyaT9l6Q/s1600/1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 210px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-h5E_HgERuAg/T0w63xAMiZI/AAAAAAAAAXE/1wnZyaT9l6Q/s320/1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5714006756947691922" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul  : Jakarta Undercover 3 Jilid (Sex 'n the city, Karnaval Malam, Forbidden City)&lt;br /&gt;Pengarang : Moammar Emka&lt;br /&gt;Penerbit : GagasMedia &lt;br /&gt;Tebal  : 488/394/382 halaman&lt;br /&gt;Cetakan  : 2005/2003/2006&lt;br /&gt;Harga  : Mohon konfirmasi ke penerbit&lt;br /&gt;Resensiator  : Adek Risma Dedees, penikmat buku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta Undercover, buku yang membuat geger Tanah Air beberapa tahun silam, pantas diacungi empat jempol, jika dua jempol masih kurang. Buku ini menyuguhkan beragam peristiwa dan cerita malam yang kebanyakan membuat kita ternganga tak percaya. Kebiasaan atau budaya orang-orang malam Jakarta yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Ini bukan perihal percaya atau tidak, namun merupakan tamparan fenomena dari kemajuan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pengakuan penulis dalam bukunya, Moammar Emka (ME), yang seorang jurnalis di beberapa media lokal Ibu Kota, tentu saja cerita ini didapatkan tidak jauh-jauh dari pergulatan kegiatan liputannya sehari-hari. Tidak kurang enam tahun menekuni dunia tulis menulis, ME pun menelurkan berbagai buku, yang lebih banyak menguak kehidupan orang-orang kelas menengah atas di sana. Memang ia khusus meliput hal-hal berbau kehidupan malam di Ibu Kota yang selama ini tidak banyak diketahui orang. ME pun memasuki dunia itu, siap tidak siap, tentunya harus siap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bukunya, ME menuliskan tidak kurang 400 tempat hiburan -private party- yang tersebar di Jakarta. Semakin kesini, nominal ini pun menggunung dengan beragam kedok, mulai dari karaoke, hotel, kelap, spa, sauna, hingga panti pijat. Tidak sedikit pula private party ini diadakan di 'bawah tanah' yang lebih liar dan tak terduga belumnya. Pelakunya, tentu saja mereka, baik laki-laki maupun perempuan serta kaum heteroseksual dari kelas menengah atas. Kebanyakan dari mereka adalah para pelaku usaha yang tersebar di Indonesia. Mereka adalah para bule kesepian dan kegalauan, serta para perempuan yang terang-terangan melakoni kehidupan macam begini. Menghabiskan puluhan juta rupiah per malam untuk mengikuti pesta, bukanlah soal, jika semua keinginan terpenuhi dan tak ada lagi beban di kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ME pun, dengan hidden identity, menampilkan cerita tentang para perempuan muda yang menjajakan cinta semalam kepada siapa siapa saja yang berkocek tebal. Rata-rata usia mereka tak lebih dari kepala tiga dan masih cantik menawan. Para perempuan muda menjadi obyek pemuas nafsu binal para tamu. Pada beberapa tempat hiburan, mereka kadang dipajang di etalase dan pengunjung dipersilahkan memilih sesuka hati, yang kemudian memboking  mereka. Biasanya, menurut ME, para gadis ini akan dibawa berkeliling Jakarta, pesta hingga pagi di hotel, dan seterusnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia prostitusi Jakarta pun dikuak lebar oleh ME. Ia menjabarkan itu semua, mulai dari A, B hingga X, Y, Z dengan gamblang, tapi dengan tidak melupakan etika penulisan identitas nara sumber di sana. Sehingga, anda akan menemukan nama-nama gadis yang khas dengan nama bunga. Sangat berita bukan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta Undercover Sex 'n the city sendiri tak kurang menawarkan 24 tulisan yang membahas dunia seksualitas Jakarta yang sangat bebas dan berani. Sedangkan Jakarta Undercover Karnaval Malam menyuguhkan 24 pula cerita yang tak kalah mengejutkan pembaca tentang Ibu Kota Negara ini. Pun dengan Jakarta Undercover Forbidden City yang menyuguhkan liputan investigasi penulis tentang Sexual Lifestyle dan Entertainment orang-orang Ibu Kota. Anda akan tercengang sekaligus tak ingin melepaskan buku ini dari mata anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ME menyuguhkan kepada pembaca, bagaimana ia mulai membaui gaya hidup seperti ini, mencari kawan agar dapat mengakses komunitas tersebut, masuk dan merasakan sendiri. ME pun menjabarkan dengan gamblang, tanpa harus berporno-porno ria tentunya, bagaimana kegiatan ini dimulai dan diakhiri. Sangat menarik dan mengundang banyak tanya di benak. Separah inikah -jika kata parah masih relevan untuk gaya hidup demikian- kehidupan metropolitan anak bangsa ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas ME ikut serta 'mencicipi' kehidupan yang ia investigasi, pastinya ME sangat berani mengambil putusan dan resiko untuk masuk ke dalamnya. Dengan buku Jakarta Undercover ini, ME membuka mata kita tentang kehidupan seksualitas di Bumi Ibu Pertiwi. Ia menguak segala tabir yang terkesan ditutupi. Membuka dan mungkin juga mempersilahkan kepada siapa saja untuk terlibat atau hanya ingin membuktikan benar tidaknya kehidupan macam begini. Sehingga, tak berlebihan mungkin jika Arswendo Atmowiloto, budayawan yang mengendors Forbidden City, bahwa ME adalah temuan yang menyenangkan serta membanggakan baik bagi perempuan, laki-laki, maupun bagi waria. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yup, ME memang tak hanya menyoroti kehidupan seksualitas yang bebas dari kaum adam dan hawa. Tak ketinggalan bagi mereka -masih saudara kita- yang memiliki orientasi seks berbeda. Mereka kaum gay, waria, lesbi, dan jika masih ada lainnya, tak luput dari sorotan ME dalam ketiga Jakarta Undercovernya. Belum lagi kehidupan para janda-janda muda serta gigolo-gigolo muda yang haus rupiah dan dollar. Semua menyatu dengan tak meninggalkan wine dan ekstasi tentunya. Semua membaur dalam tulisan ME yang diracik ala liputan jurnalistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, gaya penulisan dan penyampaian hasil liputan ME monoton. Sangat jurnalistik. Gaya penuturan yang sangat 'berita' ini kadang membosankan. Dan dengan mudah pula ditebak dari cerita atau liputan. Tapi, substansi dari apa yang tertuang dalam Jakarta Undercover 1, 2, dan 3 jauh lebih bermakna dan berkesan bagi pembaca. Penasaran? Silahkan temukan buku-bukunya. Selamat membaca!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5653544321661458461-199869224341101424?l=dedees-dedees.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/feeds/199869224341101424/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/2012/02/jakarta-undercover-seksualitas-membabi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5653544321661458461/posts/default/199869224341101424?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5653544321661458461/posts/default/199869224341101424?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/2012/02/jakarta-undercover-seksualitas-membabi.html' title='Jakarta Undercover, Seksualitas Membabi Buta Orang-orang Ibu Kota Negara'/><author><name>Adek Risma Dedees</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938309181522934937</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-QhZAhHEOnvo/T03j5yoeuFI/AAAAAAAAAY0/0udNCIkyMT4/s220/10.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-8rOHcHAVRl0/T0w7J6uaP9I/AAAAAAAAAXc/QFjiNN0zysU/s72-c/3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;DkIGQXc7eip7ImA9WhVTE0Q.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5653544321661458461.post-4948249974658306546</id><published>2012-02-28T08:59:00.001+07:00</published><updated>2012-02-28T09:02:00.902+07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2012-02-28T09:02:00.902+07:00</app:edited><title>Akhir Pekan Dipenuhi oleh Mereka dari Padang</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-I4ROFsZG05k/T0w1izSNOPI/AAAAAAAAAWs/G5rwco3Am6U/s1600/3.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 250px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-I4ROFsZG05k/T0w1izSNOPI/AAAAAAAAAWs/G5rwco3Am6U/s320/3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5714000899224713458" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Hai, para saudariku yang di Padang, hingga kapan kita selalu mencari-cari seperti ini?'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak pagi sekali, pesan singkat membangunkanku. Pesan pertama ini datang dari para sahabat yang masih bermukim di pulau seberang, Sumatera. Tepatnya Kota Padang yang pernah kutinggali sekitar empat tahun lebih. Entah apa gerangan, tiba-tiba pesan kedua, ketiga, keempat, dan selanjutnya terkirim dari mereka yang tak mungkin dilupakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan dari rumah pertama -kos- datang dari adik-adik yang sekonyong-konyong menanyakan banyak hal tentang aku di perantauan. Kalau hanya pertanyaan kapan makan bersama lagi, ini pertanyaan mudah dengan jawaban yang mudah pula. Kujawab saja, 'Kapan aja boleh', sembari menyisipkan kata-kata 'Hehehe' di akhir pesan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dari sekian banyak tanya, tentu saja pertanyaan yang amat sulit dijawab adalah tanya 'Kapan lagi menginap di kamar-kamar mereka yang sumpek dan berantakan?' Aku kembali mencoba dewasa dan berwibawa. 'Insyallah ya cinta, kita akan kumpul-kumpul lagi'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu bukan jawaban yang mudah kuketik dan kirimkan pada mereka. Namun, tentu aku harus menjawab tanya itu dengan tidak menunda waktu. Ada semacam hutang yang harus kulunasi ketika menuliskan jawaban itu. Tak tahu kenapa. Oleh karenanyalah, aku pun memberikan jawaban yang benar-benar terbuka untuk didebatkusirkan, bagi siapa yang mau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah rantau begini, hidup -khususnya hidupku- tidak senyaman ketika menjadi mahasiswa, ataupun masa remaja SMA dulu. Peran keluarga besar, Ibu, Ayah, serta para saudara sekandung, sangat terasa dan lengket sekali. Apa-apa tentu saja mereka tahu dan ikut merasakan. Termasuk ketika aku baru mengenal cinta -cinta monyet- serta pergaulan anak remaja. Tak ada yang luput dari mereka, meskipun itu tidak pernah mereka utarakan langsung kepadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun demikian ketika aku di Padang. Rasanya, kota itu memang jauh berbeda dari kota asal dimana aku dibesarkan dan banyak mendapat cinta. Kota yang penuh dengan hiruk pikuk perdagangan, rebut sana sini jabatan, dan dialog-dialog kebudayaan yang tak tahu ujung pangkalnya. Kota yang memberiku banyak ilmu, kenangan, keluarga, cemburu, dan rasa sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau begitu, kota itu adalah kota yang menyaksikan bagaimana seorang bungsu yang keras kepala dan ceroboh dengan emosi tumbuh, berkembang, hingga mampu memutuskan untuk kembali terbang ke langit berbeda. Kota itu, kini menjadi kota dengan jutaan kenangan. Kau merasakan ini setelah kau meninggalkannya. Begitulah, setiap waktu akan digantikan dengan waktu berikutnya. Bak lumut, setiap musim banyak yang busuk dan mati, namun setiap musim pula banyak yang bersemi dan menghijaukan kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan pendek dua gadis kecil dari kos di Padang, telah membawaku menguliti kembali kenangan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan pendek selanjutnya, masih dari gadis kecil di Padang, yang satu guru menulis denganku. Sore itu, ia mengagetkanku dengan pesannya yang akrab dan rasanya hendak memelukku jika saja kami berhadapan. Dengan hati-hati -tak ingin mengabaikan pesan dari siapa saja- aku membalas dengan tidak mengurangi kehangatan pesan darinya. Bertukar kabar, sebelumnya juga berkenalan -lagi, mungkin takut aku tak mengenalinya- kemudian mengundangku dalam acara pelatihan jurnalistik. Ia dari kampus. Tentu saja, pelatihan yang akan diadakan khas dengan pelatihan jurnalistik yang kerap sangat aku ikuti dulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubalaslah pesan itu dengan tak lupa mengabari keberadaanku sekarang yang jauh dari tanah Minang. Ia terpana -sepertinya begitu menurut pesan yang kuterima- dan sepertinya juga senang. Kembali aku membalas dengan sehangat mungkin. Ia dan aku senang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenangannya dengannya merupakan kenalan yang istimewa. Kami diperkenalkan oleh seorang budayawan -yang cukup besar- dari tanah Minang, Wisran Hadi (alm), semoga beliau mendapat tempat terbaik di sisi-Nya. Sejak perkenalan hingga usai acara pelatihan menulis dengan sang guru, kami kerap berjumpa dan bertukar cerita. Cerita apa saja. Ia begitu cerdik, karena kerap mencuri ilmuku. Dan aku tidak keberatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini kenangan dari dia yang sepertinya sangat senang kepadaku. Terima kasih. Aku pun begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian masuk lagi pesan pendek. Kali ini dari seorang lelaki, sekaligus teman baru bagiku. Ia telah bekerja dan sepertinya sangat menyukai pekerjaannya. Memberiku pesan pendek yang hanya dengan satu kata, 'Ciangk'. Aku geli, dan tak lekas membalas pesannya. Sengaja kutunda, karena ada sesuatu hal yang dikerjakan. Seperti biasa, ketika malam menjelang, aku akan membalas pesan-pesan pendek yang tak terbalas tepat waktu. Hal ini kulakukan, karena aku tengah belajar menghormati hakikat dasar sebuah pesan pendek di telepon genggam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan ini merupakan sapaan dari seseorang yang baik, dan ingin menjadi teman baik bagimu. Walaupun itu hanya dalam bentuk pesan pendek -bagiku- tidak mengurangi maknanya ketika ia berpapasan dan menyapamu langsung. Sekali lagi, aku tengah belajar cara menyapa di telepon genggam. Sayang, malam itu ia tak langsung membalas pesan balasanku, mungkin sudah beristirahat dan sibuk pada esok harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan masih banyak ternyata pesan pendek yang masuk pada akhir pekan lalu ke telepon genggamku. Yang justru datang dari para sahabat dan saudara di kota tempatku menimba ilmu dulu, kota Padang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sangat senang dan akhir pekan ini menjadi sangat singkat. Moga di akhir pekan ke depan, ada lagi cerita yang mewarnai langkah di rantau ini. Terima kasih. Aku senang menerima pesan pendek kalian.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5653544321661458461-4948249974658306546?l=dedees-dedees.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/feeds/4948249974658306546/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/2012/02/akhir-pekan-dipenuhi-oleh-mereka-dari.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5653544321661458461/posts/default/4948249974658306546?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5653544321661458461/posts/default/4948249974658306546?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/2012/02/akhir-pekan-dipenuhi-oleh-mereka-dari.html' title='Akhir Pekan Dipenuhi oleh Mereka dari Padang'/><author><name>Adek Risma Dedees</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938309181522934937</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-QhZAhHEOnvo/T03j5yoeuFI/AAAAAAAAAY0/0udNCIkyMT4/s220/10.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-I4ROFsZG05k/T0w1izSNOPI/AAAAAAAAAWs/G5rwco3Am6U/s72-c/3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;A0EBSXs-cSp7ImA9WhRaGUs.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5653544321661458461.post-54241448942812978</id><published>2012-02-23T10:55:00.001+07:00</published><updated>2012-02-23T11:00:58.559+07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2012-02-23T11:00:58.559+07:00</app:edited><title>Pada Gadis Kecil dan Rintik Hujan di Pagi Buta (2)</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-fEHbKdD_hgM/T0W584eacYI/AAAAAAAAAWU/QRyZWtx3dyA/s1600/gadis%2Bkecil.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 256px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-fEHbKdD_hgM/T0W584eacYI/AAAAAAAAAWU/QRyZWtx3dyA/s320/gadis%2Bkecil.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5712176157992579458" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, kalau dilihat-lihat, sang ibu sebaya denganku yang tengah mengadu nasib di tanah seberang pulau ini. Di wajahnya, sangat jelas sekali gurat-gurat wajah yang belum aus dimakan usia. Ia masih sangat hijau untuk berkeliling kampung dan memiliki gadis kecil yang lincah dan riang gembira itu. Dari guratan jemari tangannya yang lemah dan hati-hati meracik sate tusuk serta kuah kacang juga menampilkan kemudaan yang tak kalah kuatnya. Toh, jika ada beberapa flek hitam di kuku-kuku tangannya, itu mungkin hanya dikarenakan bumbu-bumbu sate tusuk atau bumbu masak yang menempel di sana. Namun, darah kemudaan masih sangat membekas kawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, dari jauh kau akan melihatnya persis seperti perempuan-perempuan setengah abad yang perlahan-lahan susut dimakan waktu. Karena perawakan ibu muda ini memang tinggi semampai dengan tubuh padat berisi. Selain itu, cara ia berpakaian juga ikut serta dan memaksa ia untuk terlihat lebih tua beberapa tahun dari usia aslinya. Mulai dari kebaya serta sarung yang ia kenakan. Memang sangat asli, baik model maupun warna pakaian tersebut. Jilbab yang membungkus kepala hingga dadanya juga biasa-biasa saja. Tak jauh beda dengan jilbab yang banyak dikenakan oleh ibu-ibu lain di kampung ini. Dan karena hidup tak memberimu banyak pilihan kawan, kata hatiku. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dan benar saja, selain mata yang tak bisa kupalingkan dari ibu muda dan gadis kecil di bawah gerimis malam itu, hati dan pikiran ini juga tak kuasa dikendalikan untuk tidak banyak mengoceh. Namun, ia tetap mengoceh dan kembali, aku kalah. Sembari membungkus empat tusuk sate seharga Rp 2000, ia sesekali memandangku dengan senyum tak lepas dibibirnya yang masih menyisakan pewarna bibir tadi sore. Pun ketika ia harus menjawab beberapa pertanyaan seputar gadis kecilnya yang sangat manis itu. Tak banyak bacot (baca;tak suka mengoceh) ia menjawab seperlunya tanpa mengurangi keakraban dengan pelanggannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati dan pikiranku kembali mengoceh, kalau keikutsertaan gadis kecil itu merupakan pemanis jualan ibunya. Pemanis ini beragam maknanya kawan. Pemanis sebagai penambah topik pembicaraan ketika sang ibu melayani pembeli. Serta pemanis agar pembeli semakin banyak membeli sate tusuk. Mereka tentu banyak sedikitnya akan merasa kasihan, dan membeli sate tusuk. Dengan membeli sate tusuk barang seribu atau dua ribu, setidaknya mereka, para pembeli, telah menunaikan rasa kewajiban mereka meneruskan dan pikiranku yang benar-benar sok tahu ini.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berat hati, aku pun menuruti apa yang dimau hati dan pikiranku ini. Bagaimana tidak sepanjang malam, mereka mengoceh tak karuan hingga dini hari. Dengan gaya mereka yang khas, bayang-bayang ibu muda dan gadis kecil diputar kembali dengan nuansa hitam putih. Bak film-film tempo dulu yang penuh dengan pesakitan. Bagaimana aku tidak terjaga dan terganjal untuk tak kembali menautkan kelopak mata. Rasa-rasanya, di tengah hujan rintik-rintik malam ini, ibu anak itu masih saja berkeliling kampung yang mulai larut dan sepi. Apalagi hujan-hujan begini, orang-orang lebih memilih meringkuk di dalam rumah dan menutup semua pintu dan jendela. Dan toh jika ada yang nekat mencari camilan malam, lebih banyak dari mereka tentu memilih makanan atau minuman yang anget-anget. Katakanlah itu bakso, mi ayam, mi pangsit, miso, serta sejenisnya. Jarang sekalilah di tengah malam dingin-dingin begini orang memilih sate tusuk yang tidak anget sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, ibu muda ini tak patah semangat kawan. Terlepas ia meniti sebuah rumah tangga yang sulit, namun ia adalah ibu yang sangat amat peduli terhadap diri dan gadis kecilnya itu. Mungkin saja ia mengalami kehidupan dengan kondisi ekonomi yang susah. Mungkin saja ia adalah sosok perempuan mandiri dan tak ingin diam duduk di rumah sepanjang hari dan malam. Atau jangan-jangan ia adalah seorang istri yang belum beruntung dalam berumah tangga. Ia harus menghidupi gadis kecilnya sendirian karena sang suami tidak di sampingnya lagi. Dan masih banyak kemungkinan tentang dirinya jika ingin dituliskan di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi ini hanyalah ocehan hati dan pikiranku yang tak menentu. Kadang ia sok arif dan peduli dengan lingkungan yang ia tidak tahu semuanya. Aku tak bisa banyak berbuat untuk menghentikan mereka mengoceh yang tak karuan. Persis kali ini, aku hanya menuruti arus dan jalinan permainan mereka yang garing dan di luar koridor yang pernah kami sepakati. Tapi, lagi-lagi aku tak berdaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring banyaknya kata-kata yang kutuangkan sesuai keinginan hati dan pikiran, aku mulai gerah dan sulit berkonsentrasi. Dari pada mereka terus mengoceh hal yang aneh-aneh dan tak disensor, lebih baik aku sudahi obrolan mereka itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah gadis kecil dan ibu muda pun kubiarkan beterbangan bersama angin. Satu-satunya hal yang dapat aku perbuat untuk mereka adalah mendoakan gadis kecil semoga tidak kehilangan masa kecil yang sangat bahagia. Dan bagi ibu muda, ketabahan, kata orang bijak, merupakan kunci untuk menghadapi hidup yang sangat keras untuk orang-orang seperti dia, aku, dan mungkin Saun sekalian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amin, kata hati dan pikiranku serempak. Benar bukan? Mereka selalu saja mencampuri urusanku, termasuk dalam berdoa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5653544321661458461-54241448942812978?l=dedees-dedees.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/feeds/54241448942812978/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/2012/02/pada-gadis-kecil-dan-rintik-hujan-di_23.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5653544321661458461/posts/default/54241448942812978?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5653544321661458461/posts/default/54241448942812978?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/2012/02/pada-gadis-kecil-dan-rintik-hujan-di_23.html' title='Pada Gadis Kecil dan Rintik Hujan di Pagi Buta (2)'/><author><name>Adek Risma Dedees</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938309181522934937</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-QhZAhHEOnvo/T03j5yoeuFI/AAAAAAAAAY0/0udNCIkyMT4/s220/10.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-fEHbKdD_hgM/T0W584eacYI/AAAAAAAAAWU/QRyZWtx3dyA/s72-c/gadis%2Bkecil.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;CEIBQHgzfSp7ImA9WhRaGEQ.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5653544321661458461.post-2846147532422958524</id><published>2012-02-22T13:29:00.002+07:00</published><updated>2012-02-22T13:35:51.685+07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2012-02-22T13:35:51.685+07:00</app:edited><title>Pada Gadis Kecil dan Rintik Hujan di Pagi Buta (1)</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/--cUpJOiTLJE/T0SMte7fEuI/AAAAAAAAAWI/u0H_7k6Ck3o/s1600/14.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 239px;" src="http://3.bp.blogspot.com/--cUpJOiTLJE/T0SMte7fEuI/AAAAAAAAAWI/u0H_7k6Ck3o/s320/14.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5711844940437197538" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ia tak punya teman di rumah, atau sang ibu tidak mempercayakan gadis kecilnya di rumah sendirian. Oleh karena, dibawalah gadis mungil itu berkeliling desa berjualan sate tusuk. Bukan tak peduli pada kesehatannya sehingga rintik-rintik gerimis ini, gadis kecilnya tetap sedia berjalan, sesekali melompat dan berlari kecil di depan sang ibu yang tengah menjunjung sate-sate tusuk dan perlengkapan jualan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rambut yang dikepang dua berpita kuning muda itu ikut pula meloncat-loncat ketika ia meloncat dan berlari kecil menghindari genangan air bekas hujan tadi sore. Sembari memainkan kancing jaketnya, ia pun berkata-kata, entah bernyanyi, entah bercerita. Yang jelas tampaknya gadis kecil ini tak rewel pada ibunya yang tengah berjualan keliling sate tusuk itu. Sesekali ia pun ditanyai oleh langganan ibunya. Sudah makan belom? Tadi di sekolah buat gambar apa aja? Si gadis kecil, mungkin malu, dan mungkin lebih sibuk dengan kancing jaketnya, ia tetap saja berkata-kata, entah bernyanyi, entah bercerita, tak menghiraukan tanya tadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibunya hanya tersenyum, dan gantian menjawab pertanyaan pelanggan. Kalau di sekolah tadi, gadis kecil menggambar kupu-kupu, makhluk kesukaannya. Wah pintar, balas ibu penanya sembari mengecup pipinya yang penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjualan pun keliling diteruskan. Sang ibu terlebih dahulu menggulung kain yang akan dijadikan alas kepala untuk menjunjung nampan besar berisi sate tusuk. Kemudian merapikan sarung di pinggang dan jilbabnya. Ia pun membawa nampan besar itu ke kepala dan menjinjing satu keranjang di tangan kirinya yang berisi bangku kecil. Bangku ini ia gunakan ketika meladeni pembeli sebagai tempat duduknya. Dan gadis kecil masih saja sibuk dengan kancing jaketnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua ibu dan anak ini pun berjalan menyusuri jalan kampung dan hilang di kegelapan. Hati saya mulai berkata-kata. Seperti biasa, ia kadang sok tahu dan sok suci dari saya sendiri. Ia mulai mengaitkan-ngaitkan perihal ibu muda dan gadis kecil itu dengan kehidupan saya. Bagaimana jika saya adalah ibu muda itu? Saya yang punya suami pemalas hingga bekerja larut malam begini dengan anak sebagai kawan berjualan. Bagaimana? Bagaimana? Saya benar-benar kesal. Ia pun mulai menyusun kalimat demi kalimat dan menancapkan di pikiran saya tentang hidup dan kehidupan perempuan di tengah semakin majunya zaman dan peradaban. Bermacam-macam. Mulai dari nikah muda, punya anak muda, kawin cerai, kawin siri, kawin lari. Pikiran saya pun mulai tak sehat, segala kawin dibahas hanya karena melihat ibu muda dan gadis kecil tadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kesal sekali jika diajak berpikir aneh-aneh begitu oleh hati dan pikiran saya. Hendak rasanya saya menampar mereka dan menceburkannya ke dalam bak mandi atau membawanya ke dalam masjid untuk dirukiyah. Ada-ada saja. Malam-malam begini ngomongin segala kawin dan emansipasi. Ah saya malas. Saya capek. Saya lapar. Benar-benar gila mereka berdua itu. Saya tinggalkan mereka dengan kesal dan mulai menyendok nasi dan menyeruput teh anget racikan ibu baik di pertigaan jalan ini. Bodoh! Sergah saya pada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30 menit kemudian,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar saja, hati dan pikiranku kembali meraung-raung tak tentu arah. Mereka meracau agar aku memikirkan dan memahami ibu muda dan gadis kecil itu. Mereka adalah korban dari zaman yang tidak selalu akrab dan baik hati kawan, kata hatiku perlahan. Ia mulai meracuni, gumamku. Mereka adalah subyek yang menjadi obyek dari budaya yang sangat patriarki di lingkungan dimana mereka dilahirkan dan dibesarkan. Sekali lagi, mereka adalah kekejaman dunia dan tingginya hasrat yang membara. Sekalipun mereka memang mendapatkan cinta yang besar dan sekalipun mereka tetap ingin mati di tanah yang patriarki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kau di sana, kata pikiranku mulai mengada-ada, bahwa kau sejak setahun lalu fokus memikirkan bagaimana peran perempuan serta anak perempuan, betapa mereka telah dinomorduakan karena hidup kawan. Pikiranku yang kejam kembali meracau tentang dunia perempuan, kekuatan perempuan Jawa bahkan Indonesia dan dunia, kelemahan mereka, serta welas asih mereka yang kerap membuat mereka ditindas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berang dan segera membayar uang makan. Segera kuambil payung yang tergeletak. Kutinggalkan warung makan itu dengan hati dan pikiran risau. Apalagi kalau bukan ulah pikiranku yang kacau ini. Sejak dua hari lalu, sejak kedatanganku di sini, hati dan pikiranku hampir setiap jam berkutbah. Entah apa yang mereka kutbahkan. Seperti bibir tetangga saja. Omong sana sini. Obral ini itu. Yang entah apa yang mereka dapat dari obrolan tak jelas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku benar-benar jengkel dan kesal. Apakah mereka tengah dilanda galau, sehingga begitu berhasratnya membicarakan dunia perempuan, ekonomi, serta perihal kawin. Entahlah aku tak tahu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5653544321661458461-2846147532422958524?l=dedees-dedees.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/feeds/2846147532422958524/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/2012/02/pada-gadis-kecil-dan-rintik-hujan-di.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5653544321661458461/posts/default/2846147532422958524?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5653544321661458461/posts/default/2846147532422958524?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/2012/02/pada-gadis-kecil-dan-rintik-hujan-di.html' title='Pada Gadis Kecil dan Rintik Hujan di Pagi Buta (1)'/><author><name>Adek Risma Dedees</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938309181522934937</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-QhZAhHEOnvo/T03j5yoeuFI/AAAAAAAAAY0/0udNCIkyMT4/s220/10.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/--cUpJOiTLJE/T0SMte7fEuI/AAAAAAAAAWI/u0H_7k6Ck3o/s72-c/14.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;A0ABQH8-fip7ImA9WhRaGUs.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5653544321661458461.post-3888664199908431787</id><published>2012-02-21T10:07:00.004+07:00</published><updated>2012-02-23T11:02:31.156+07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2012-02-23T11:02:31.156+07:00</app:edited><title>Aku dan Witer Bercerita Tentang Kutu di Bibir Saun</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-fPFRWvhuA34/T0W6TNIqD_I/AAAAAAAAAWg/_jyZNpoKtcQ/s1600/6.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 246px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-fPFRWvhuA34/T0W6TNIqD_I/AAAAAAAAAWg/_jyZNpoKtcQ/s320/6.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5712176541495594994" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, tak pernah terpikirkan akan secepat ini. Apa-apa yang diinginkan tentu saja harus dengan kerja keras yang bercucuran keringat. Jika tidak di badan, maka di otak keringat itu akan bercucuran. Itu harus, karena sukses adalah 10+1. Artinya, engkau harus sakit setelah banyak bekerja atau berusaha, barulah berhak menerima imbalan sesuai dari usaha dan sakit ini. Tentu saja, teori ini bukan penulis yang merumuskannya, tapi Mbah Mario Teguh yang super duper serta luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu senja di awal musim hujan di kota ini, ketika menguakkan pintu kamar kos, seonggok netbok terbungkus plastik putih, enak saja tidur di kasur lusuh itu. Kebetulan, kamar kos ini juga baru untuk aku dan Saun. Sejurus kuperhatikan, tentu saja sangat baru dan aneh. Kok bisa? Ya bisa, buktinya ada, tidak absurd seperti yang aku dan Saun dengung-dengungkan selama ini tentang janji-janji dan alamat-alamat palsu. Soal janji dan alamat palsu itu, tak perlulah dibahas dalam cerita baru ini. Cukup aku, Saun, dan Tuhan yang alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena piranti ini berada di dalam kamar kami, maka segeralah aku membuka, lahan demi perlahan. Takut kalau-kalau meledak dan menggosongkan kedua sisi muka yang sudah berantakan. Saun, tentu saja tak berani menyentuh barang ini. Dia menyerahkan segalanya padaku. Dasar cemen! Ucapku padanya yang hanya telentang itu. Dan, benar saja. Sebuah netbok lengkap dengan tagihan perbulan yang akan disetor. Gila! Masa aku -kali ini tidak kami lagi, karena Saun parasit padaku- dirayu berutang, dan, aku tersenyum simpul, seperti tengah ditaksir. Benar-benar gila! Jualan macam apa ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, kami tidak bisa menolak begitu saja. Karena memang, kami masih membutuhkan satu teman lagi di kamar ini. Aku dan Saun, akan sangat garing dalam menghabiskan malam-malam. Karena aku, seharian tidak di kosan. Makanya, ketika Saun tahu ada teman baru, cepat-cepat ia memeriksa dan menyunggingkan senyum penuh sensi. Maknanya, bahwa aku harus menerima dengan lapang dada, jika tidak, Saun gila ini akan menceburkan diri ke dalam sumur tua di sebelah kamar kami. Aku pun merangkul piranti ini dengan darah berhenti mengalir, karena terbayang nominal rupiah yang akan disetor dengan nama 'Dana Sosial'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya sudahlah, aku menerima, walau rasanya seperti kehilangan harga diri. Dan secepat kilat dan petir menyambar, Saun memberi nama piranti ini yakni Witer. Terpaksalah aku memanggilnya Witer dan harus lebih banyak dipangku. Karena begitu cara memakainya. Jika tidak, ia akan mematahkan lehermu dan membuat jumlah lemak katarak semakin ramai di matamu. Percayalah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai partner, kami memperlakukannya profesional. Saun dan aku memperlakukannya bak pelengkap yang harus sedia setiap saat. Hanya dengan satu syarat, asupan gizi harus dipenuhi setiap hari. Tenang saja, soal ini kami tak punya kendala apa-apa. Bahkan bisa dikatakan lebih, jika hanya untuk urusan sejengkal perut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saun dan aku menemani Witer hampir setiap malam dan jam-jam kosong di kantor. Tak pandang bulu, ini kerja teman, dan dunia yang sangat amat nyata, kau harus tahu diri dan diri orang lain. Ungkapan ini, hanya sebagai reminder, karena Saun telah berteriak-teriak pada Witer perihal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ternyata banyak benar manfaatnya. Witer tak banyak perangai. Ia tentu saja, tak beda jauh dengan teman-teman kotaknya, harus patuh padaku dan pada Saun. Karena bagi dua makluk ini, urusan perut adalah segalanya. Mereka benar-benar primitif dan sepertinya kurang cocok dijadikan sebagai team work. Saya tak ambil pusing. Yang penting mereka selalu baik hati dan sedia menemani saya beristirahat dan bercengkerama tentang apa saja. Sungguh susah melepaskan diri dari hutang piutang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa boleh buat, saya telah berjanji pada Saun dan Witer, jika tak lunas-lunas juga dalam tempo 10 tahun, mereka berdualah sebagai tebusan dan melengkapi kepercayaan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Si Witer, kau harus tahu, bahwa kau bersama aku dan Saun akan melewati hari-hari sulit di Tanah Java ini. Ingat itu!'&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5653544321661458461-3888664199908431787?l=dedees-dedees.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/feeds/3888664199908431787/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/2012/02/aku-dan-witer-bercerita-tentang-kutu-di.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5653544321661458461/posts/default/3888664199908431787?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5653544321661458461/posts/default/3888664199908431787?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/2012/02/aku-dan-witer-bercerita-tentang-kutu-di.html' title='Aku dan Witer Bercerita Tentang Kutu di Bibir Saun'/><author><name>Adek Risma Dedees</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938309181522934937</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-QhZAhHEOnvo/T03j5yoeuFI/AAAAAAAAAY0/0udNCIkyMT4/s220/10.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-fPFRWvhuA34/T0W6TNIqD_I/AAAAAAAAAWg/_jyZNpoKtcQ/s72-c/6.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;C08BRXszeCp7ImA9WhRaFEo.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5653544321661458461.post-2447072209608858669</id><published>2012-02-17T16:38:00.001+07:00</published><updated>2012-02-17T16:44:14.580+07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2012-02-17T16:44:14.580+07:00</app:edited><title>Sepanjang Ring Road Kau Hantarkanku</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-DsvFw9jVwbI/Tz4hZCc3N6I/AAAAAAAAAVw/z6G4T6YFzWo/s1600/ring%2Broad%2Bselatan.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-DsvFw9jVwbI/Tz4hZCc3N6I/AAAAAAAAAVw/z6G4T6YFzWo/s320/ring%2Broad%2Bselatan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5710038091590743970" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Hai Ken, darimanakah ilham kisah tak bersudut ini bermula?'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang jalan lingkar kota ini, kau kenalkan aku pada Saun yang dulu kau ceritakan. Waktu itu, hampir setiap malam kau berkisah akan diri, spiritual, dan bunga-bunga layu. Apapun itu, bagimu akan lebih mudah jika dilihat dengan mata menyala dan penuh harap. Karena yang demikian akan jauh lebih menenangkan dan menghibur kelana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu, kau bercerita tentang masa remaja. Dan waktu itu, sang ayah masih setia menemani. Di tengah kota metropolitan kau tumbuh bersama Saun dan rerumputan beton. Hingga kau mengira, kalau masa depan adalah hari-hari yang dilalui bersama karib dan keluarga. Selebihnya, adalah milik para penguasa beton dan suara itu. Dan kau sebagai bocah waktu itu, tak dibiarkan melihat banyak dari semestinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, tiba-tiba ayah tercintamu mangkat dalam usia yang sangat muda sebagai kepala keluarga dan pria teladan. Kau pun menjadi kepala keluarga dengan modal mental dan materi yang tidak pas-pasan. Kurang malah. Namun, kau tak bisa menampik. Pekerjaanmu yang banyak bergulat di tengah ibu kota memahatmu menjadi laki-laki kuat seperti Hulk. Akan tetapi kau penuh dengan sentimentil asmara. Kau sangat tidak laki-laki jika berjodoh dengan yang satu ini. Buktinya kau cukup 'mati rasa' dalam beberapa waktu. Bagimu, kekasih atau jodoh tak sebanding dengan kelahiran serta kematian, yang kata orang sudah garis tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau pun membuktikan hal itu. Ternyata memang iya. Jodoh atau kekasih hanya bisa kaudapatakan jika kau berusaha menggaetnya. Sedangkan kelahiran dan kematian tentu dengan hipotesa berbeda untuk memperoleh atau mendapatinya. Detik per detik kau terus mengayuh roda kehidupan. Hingga mampir ke berbagai kota di Bumi Ibu Pertiwi, kau tak pernah lelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan alur yang sangat panjang, berbelit-belit, maju mundur, serta campur tak karuan, kau akhirnya menghantarkan aku pada jalan lingkar yang kerap kau ceritakan dulu. Jalan lingkar yang memudahkan kau berkelana di tengah rimba kota ini. Dijamin sayang, kau takkan tersesat. Dan takkan ada lelaki brengsek atau perempuan culas yang menipumu di kota ini. Sedangkan jalan lingkar ini adalah pintu rahmat dan keadilan bagi orang-orang yang gemar bermurah hati ini. Posisimu adalah objek yang masuk dari pintu itu, dan kamu adalah sumber rahmat bagi mereka. Kau mengerti apa yang aku katakan bukan? Begitu kau kerap mengingatkanku pada jalan lingkar yang bersih dan berkelok-kelok ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acap pula, ketika pulang mengadu nasib seharian di kampung jauh, kau memboncengku berputar-putar jalan lingkar. Di sepanjang jalan, kau perkenalkan padaku garmen-garmen, rumah sakit, sekolah, terminal, hotel, dan studio musik sebagai bangunan yang menyaksikan perjalanan kita. Baik malam maupun siang, kerap kau sebutkan satu-satu bangunan itu padaku. Dan sialnya, selalu saja aku lupa bahwa kau telah membisikkan seribu kali perihal itu. Namun, tentu saja kau tak pernah bosan. Karena kau memang tidak pembosan, apalagi pada hujan yang kerap, baik kau dan aku, hadiahkan sebagai curahan jiwa pada perjalanan hidup yang mungkin tidak akan panjang dan tidak selalu mengundang tawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah. Kadang, hanya dengan melihat rambutmu yang belum disampo, aku terhenyak. Kadang, hanya dengan melihat kau begitu lelah di dalam tidur, aku tercekat. Kadang, hanya dengan melihat kau dengan matamu yang berkantung karena begadang, aku meringis. Henyak, cekat, dan ringis ini cepat sekali mengundang sejuta alasan untuk kita saling menitikkan air mata dan enggan untuk bercakap banyak. Betapa bodohnya kita waktu itu kan? Seperti remaja yang tengah dilanda api asmara membara saja, dan tiba-tiba mereka dipisahkan oleh orang tua yang pindah bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, sekarang kau kembali membawaku berkeliling jalan lingkar di sore hari. Bau aspal yang sedikit amis karena disiram hujan sesaat, ikut serta menambah warna dari perjalanan ini. Kau kadang tak peduli dengan bau amis itu, karena makna terbesar bagimu adalah bagaimana aku nyaman di boncenganmu hingga magrib menjelang. Selebihnya hanyalah khayalanku yang bejibun. Begitu katamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, kadang kau sangat puitis dan sangat Gibranis. Apapun akan kau ubah menjadi makna lebih dengan kata-kata sederhana. Itu membuatku menjadi tidak tenang dan kerap tersimpul geli. Karena, ternyata kau sangat 70-an dan aku sangat 2000-an. Ah itu hanya keterangan waktu yang tak perlu kau perdebatkan. Begitu katamu perihal batasan usia itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, namanya orang sedang dilanda virus merah jambu, baik 70-an maupun 2000-an, sepertinya sama saja. Tak jadi soal dan tak perlu membuang waktu untuk hal kecil itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kau hantarkan aku berkeliling jalan lingkar, dengan nada berat aku harus menerima kau pulangkan ke rumah, yang kadang sangat membuatku gerah. Entah kenapa. Akan tetapi, cepat-cepat kau membujukku dengan sepotong kata, seulas senyuman, dan seberkas harapan akan hari esok yang lebih cerah, panjang, dan penuh warna. Aku langsung percaya. Karena hanya dengan percaya aku dapat menatap hari esok dengan tidak kembali gamang serta berkeliling jalan lingkar seperti yang kerap kau suguhkan padaku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5653544321661458461-2447072209608858669?l=dedees-dedees.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/feeds/2447072209608858669/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/2012/02/sepanjang-ring-road-kau-hantarkanku.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5653544321661458461/posts/default/2447072209608858669?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5653544321661458461/posts/default/2447072209608858669?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/2012/02/sepanjang-ring-road-kau-hantarkanku.html' title='Sepanjang Ring Road Kau Hantarkanku'/><author><name>Adek Risma Dedees</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938309181522934937</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-QhZAhHEOnvo/T03j5yoeuFI/AAAAAAAAAY0/0udNCIkyMT4/s220/10.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-DsvFw9jVwbI/Tz4hZCc3N6I/AAAAAAAAAVw/z6G4T6YFzWo/s72-c/ring%2Broad%2Bselatan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;D04DRXY9cSp7ImA9WhRaE0U.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5653544321661458461.post-925350264070665929</id><published>2012-02-16T16:51:00.002+07:00</published><updated>2012-02-16T16:52:54.869+07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2012-02-16T16:52:54.869+07:00</app:edited><title>Jangan di Bumi, Hiduplah di Langit!</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-Bf-a0uBxyC0/TzzR7_4x1lI/AAAAAAAAAVk/_8Y1jkfdLWc/s1600/pinocchio.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-Bf-a0uBxyC0/TzzR7_4x1lI/AAAAAAAAAVk/_8Y1jkfdLWc/s320/pinocchio.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5709669256291014226" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena apa? Karena di bumi kau hanya akan menerima segala dosa. Dosa dengan segala ketidakenakan terhadap dirimu. Karena dosa, seperti yang diceritakan oleh para tetua dulu, adalah laknat bagi mereka yang melawan. Dan ternyata, dosa tidak selalu datang dari dirimu sendiri, namun juga dari orang-orang yang kadang sangat kau cintai. Begitulah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pikiran ini terkristalisasi, jika tak ingin menyebutnya terinspirasi, dari tentu saja pengalaman yang sudah-sudah kawan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada inginnya, seseorang tak berniat mencaci dan memaki. Namun, ekspresi ini, sengaja atau tidak, tercurahkan begitu saja ketika melihat 'penampakan' yang mengakibatkan dia harus mencaci dan memaki. Tak tertutup bagi Saun. Awalnya sangat tak ingin, namun ada semacam request, terpaksalah harus memaki dan mencaci. Dengan rasa penyesalan belakangan. Sadis memang, jika harus mencaci dan memaki kepada orang-orang yang seharusnya tidak demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakanlah ia seorang gay dan teman karib. Gay, tidak menjadi masalah. Karena memang orientasi kami berbeda. Dan itu merupakan haknya sebagai ciptaan Sang Khalik. Lagi, Saun tak merasa memiliki masalah dengan mereka yang memutuskan hidup sementara sebagai gay, kaum homo, dan sejenisnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sebagai karib, ini menjadi masalah. Kenapa? Karena kita berteman, bercengkerama banyak hal-yang kerap kali itu dusta belaka-serta menikmati beragam tontonan dengan terpingkal-pingkal. Tentu saja Saun tak ingin mengatakan apa yang kita alami hanyalah sebuah kicauan tak berharga dan mudahnya disapu angin sore. Ketika ia memberi banyak janji dan nasihat bak seorang tua kepada anak, ini menjadi faktor kedua, untuk memaki dan mencaci. Tentu saja tidak begitu teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bukan karena ia gay, sekali lagi, menyebabkan Saun harus memaki dan mencaci. Karena ia terlalu banyak cakap dan semuanya hampa belaka. Benar kata teman yang Saun ceritakan tempo hari. Tidak semua orang atau teman yang sudi diperbanyakcakapkan. Tidak semua orang mau menikmati kebohongan-kebohongan yang sangat kentara kalau itu dusta belaka. Karena kamu, Saun dan kita, terlahir sebagai manusia cerdas. Cerdas untuk tidak dikibuli, dikampanyekan dengan banyak janji. Dan kemudian dengan seperti tak bersalah, mengeluarkan air mata tersedu-sedu dan tiba-tiba memeluk dengan sesenggukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, hantu belau lah itu semua!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya, Saun tak sanggu lagi harus mendengar berbagai ocehan yang penuh dengan ketimpangan dan dusta semua. Cerita di sana sini, ketika ditanyakan ulang menghasilkan jawaban yang tak terduga dan ngawur semua. Ini fiktif yang dibungkus dengan sangat buruk dan jorok. Tak semua Saun ikhlas dibohongi dan dijadikan kambing hitam dari segala kemunafikan dan kebusukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, oke, oke kita memang teman dan karib. Tapi sebagai karib, Saun memiliki hak untuk menolak dan berkronfontasi dengan dusta itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah-kisah cinta, petualangan birahi yang binal, dan 'Apel Malang' sekali dua kalau diceritakan mungkin masih menarik dan enak di telingan. Tapi jika setiap hari dan itu hanya sebagai pengisi kekosongan jiwa yang renta, maaf, Saun tentu tak bisa. Mata Saun telah terbuka lebar pada kampung ini dan kota ini. Mata Saun, sejak lima tahun terakhir, bukanlah mata remaja apalagi mata kanak-kanak. Mata Suan telah dewasa dan penuh dengan 'nano-nano' hidup. Tak mudah dan tak rela jika Saun harus menerima segala ketidakenakan itu dengan ia tersenyum manja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, otak kotor apalagi memenuhi rongga kepalanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan karena itulah Saun, rasanya ingin tinggal di bumi dengan belahan lain. Karena pada belahan ini, Saun tidak menggenggam kebebasan hidup dengan sempurna. Jajahan demi jajahan dengan cara yang sangat busuk, masih membekas. Saun tak lagi sanggup menikmati jajahan kerdil itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian topeng hanyalah topeng dengan jutaan makna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan di bumi, hiduplah di langit! Dengan catatan, langit yang berbeda.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5653544321661458461-925350264070665929?l=dedees-dedees.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/feeds/925350264070665929/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/2012/02/jangan-di-bumi-hiduplah-di-langit.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5653544321661458461/posts/default/925350264070665929?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5653544321661458461/posts/default/925350264070665929?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/2012/02/jangan-di-bumi-hiduplah-di-langit.html' title='Jangan di Bumi, Hiduplah di Langit!'/><author><name>Adek Risma Dedees</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938309181522934937</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-QhZAhHEOnvo/T03j5yoeuFI/AAAAAAAAAY0/0udNCIkyMT4/s220/10.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-Bf-a0uBxyC0/TzzR7_4x1lI/AAAAAAAAAVk/_8Y1jkfdLWc/s72-c/pinocchio.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;CUUMQHgycSp7ImA9WhRaEkw.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5653544321661458461.post-5102463558972754681</id><published>2012-02-14T16:53:00.001+07:00</published><updated>2012-02-14T16:54:41.699+07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2012-02-14T16:54:41.699+07:00</app:edited><title>Engkaulah Si Penawar Itu</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-c1ibs3y5RGc/TzovWtJburI/AAAAAAAAAVY/tpl4uC-WWd4/s1600/tumblr_lo731sdjPh1qao3py.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-c1ibs3y5RGc/TzovWtJburI/AAAAAAAAAVY/tpl4uC-WWd4/s320/tumblr_lo731sdjPh1qao3py.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5708927544768314034" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pagi ke pagi, rasa jenuh, iba, dan tertekan kerap mendatangi. Beginilah sesungguhnya hidup di bawah tekanan. Tekanan yang tidak begitu menggigit sebenarnya. Namun, karena melakoni baru-baru ini, jadi semua terasa asing dan menjemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerap pula ketika hendak membasahkan kepala ini, rasa sedih dan iba hati merajalela. Ooo, jadi begini hidup orang dewasa itu ya. Menjalankan rutinitas tanpa pernah berpikir dan bermimpi akan menyetop diri dari semua itu. Ya, ini hidup orang dewasa anakku. Beginilah kehidupan yang dilakoni oleh orang tua, abang-abang dan one sejak jauh hari dahulu. Dan engkau, bungsu, baru seumur jagung. Ternyata sudah merasa jenuh dan iba hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba pula kau lihat di teve-teve, betapa orang-orang itu setiap pagi dan sore menjelang, lalu lalang di sepanjang kota. Mereka hilir mudik hendak ke mana saja, tentu saja ke tempat dimana mereka mampu mandiri. Hidup, katanya, secara normal begitu. Bekerja dari pagi hingga petang. Awal atau akhir bulan berhak menerima salary sesuai perjanjian kerja, libur di akhir pekan, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah hidup sesungguhnya wahai cinta yang mungil. Kau kini ditempa oleh dunia yang benar-benar keras. Jika kekerasan yang kau rasa selama ini hanya dalam lingkup keluarga, sekarang kau mandiri dengan jerih payahmu sendiri bukan? Kau mandiri cinta yang mungil. Dan kau harus berhadapan dengan lingkungan macam begini. Terimalah agar kau bisa tumbuh lebih besar dan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kata-kata ini kembali mencuat di pikiran dan menari-nari di telinga, tak ada lagi penawar selain selalu mengingat Engkau. Hidup memang tak selalu ditempa dengan pahatan-pahatan yang halus dan teratur cinta. Kadang, pahatan itu sungguh amat kasar dan menyayat. Kadang pahatan itu amat pahit dan melukai. Begitulah hidup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa-apa yang kau terima dan rasai ketika di bangku kuliah dan di pangkuan ibu tempo dulu, adalah surga yang takkan pernah kau lupakan, meskipun kau tak berkunjung lagi. Bangku kuliah memberimu pemikiran yang luar biasa dalam memandang hidup yang komplek ini cinta. Dan pangkuan ibu menunjukkan kepadamu bahwa segala permasalahan dan kerumitan, selalu bisa diatasi dengan tidak meng-keraskan masalah itu. Kau peluk ia dengan erat, niscaya ia akan melunak dan mengikutimu dengan halus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sembah sujud, adalah cara yang sangat melenakan. Engkau datang dengan gumpalan-gumpalan tajwid yang dilafalkan. Engkau tebarkan segala cinta dan ketenangan. Benar, kepercayaan yang tulus ini membawamu cinta pada jalan yang tak begitu mulus namun kau bisa melaluinya dengan selamat. Percayalah, esok hari titik embun akan datang dan menyegarkan pikiran dan hatimu dengan caranya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, kau cinta, takkan sanggup menumpahkan segala resah dan sedihmu di laman ini. Itu sama saja kau membaginya kepada orang lain dan membuat mereka resah. Tak perlu. Bagilah kepada Dia yang Maha Tahu dan Maha Penawar itu. Kau takkan rugi dan berdosa. Dengan Tangan-tanganNya, Ia akan membawamu pada suasana yang baik dan menenangkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau kau butuh seseorang teladan yang akan membuat dirimu selalu siap dalam kondisi apapun cinta? Bukanlah Ibu dan mendiang Ayahmu adalah teladan yang sangat besar dan mulia cinta? Beliauberduanya biji matamu untuk bertahan di tanah rantau yang keras ini. Beliau berdualah yang menitiskan darah merah segar dan kuat di dalam tubuhmu. Beliau berdualah yang patut menjadi teladanmu pagi, siang, petang, dan malam cinta. Tak ada yang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tak perlu kau tuliskan bagaimana teladan beliau berdua mengarungi tanah rantau, mungkin lebih pahit dari yang kau rasakan sekarang. Sungguh, kau hanya perlu memutar balik sedikit memorimu tentang teladan beliau berdua di dalam hidupmu cinta. Jika telah kau putar, jangan lagi kau merasa sendiri, sedih, iba hati, dan nelangsa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimana tanah kau pijak, di sana selalu ada berkah Sang Penawar untukmu, Insyallah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan Amak,&lt;br /&gt;Hidup di tanah rantau Nak, &lt;br /&gt;Mandi di hilia-hilia&lt;br /&gt;Bajalan di tapi-tapi&lt;br /&gt;Dan mangecek di bawah-bawah&lt;br /&gt;Tak perlu kau sombong dengan apa yang kau miliki&lt;br /&gt;Percayalah itu hanya titipan Tuhan kepadamu yang dipercayaiNya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jangan sekali-kali kau menyakiti orang-orang di sekelilingmu&lt;br /&gt;Mereka adalah keluarga terdekatmu di rantau&lt;br /&gt;Jangan kau sakiti mereka&lt;br /&gt;Toh ketika mereka, tak sengaja, menyakitimu&lt;br /&gt;Jangan pula sekali-kali kau balas perbuatan itu&lt;br /&gt;Tak perlu Nak, &lt;br /&gt;Sungguh tak perlu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya di rantau&lt;br /&gt;Biarlah kita disakiti orang, tapi tidak sebaliknya&lt;br /&gt;Karena yang demikian jauh lebih baik bagimu&lt;br /&gt;Percayalah Nak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali mendengar -saya menyebutnya Gurindam 20- ini, merasa tenang dan senang. Selalu berbuat baik pun menjadi salah satu cita-cita yang selalu dan selalu ditunaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga detik ini, kerap pula danau mengambang di pelupuk mata jika mengingat-ngingat pesan Amak. Betapa hidup harus kau lalui cinta dengan penuh perhitungan dan tidak main-main dengan waktu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada selaksa cerita yang terberi dalam kisah ini. Selaksa makna hidup yang mungkin oleh sebagian besar orang tidak merasakannya. Ya karena hidup kadang memberi warna berbeda dalam hati kita cinta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat pagi Amak,&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5653544321661458461-5102463558972754681?l=dedees-dedees.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/feeds/5102463558972754681/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/2012/02/engkaulah-si-penawar-itu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5653544321661458461/posts/default/5102463558972754681?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5653544321661458461/posts/default/5102463558972754681?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/2012/02/engkaulah-si-penawar-itu.html' title='Engkaulah Si Penawar Itu'/><author><name>Adek Risma Dedees</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938309181522934937</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-QhZAhHEOnvo/T03j5yoeuFI/AAAAAAAAAY0/0udNCIkyMT4/s220/10.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-c1ibs3y5RGc/TzovWtJburI/AAAAAAAAAVY/tpl4uC-WWd4/s72-c/tumblr_lo731sdjPh1qao3py.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;DUEGR3w5eyp7ImA9WhRbGEs.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5653544321661458461.post-3276492541824914811</id><published>2012-02-10T16:52:00.000+07:00</published><updated>2012-02-10T16:53:46.223+07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2012-02-10T16:53:46.223+07:00</app:edited><title>Di Sini, Jiwa Dagang Itu Membludak</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-5zCi3JWQo7s/TzTpHZTnD9I/AAAAAAAAAVM/kHEJC9sM6hw/s1600/mr-krabs-spongebob.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 239px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-5zCi3JWQo7s/TzTpHZTnD9I/AAAAAAAAAVM/kHEJC9sM6hw/s320/mr-krabs-spongebob.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5707442941046755282" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak langkah pertama menginjakkan kaki di kota budaya ini, dimana-mana orang berjualan selalu lebih banyak. Apa saja. Mulai dari makanan, ini yang paling banyak, kemudian merembes ke produk-produk kreatif seperti kaos oblong, pernak pernik, tas, sepatu, dan masih banyak lagi. Orang muda dan tua di sini memang suka berjualan. Awalnya memang kecil-kecilan dulu, setelahnya bakal lebih besar lagi jika mampu menakklukan kendala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa teman dekat, sangat membabi buta untuk membuka berbagai bidang usaha. Misal, mulai dari makanan, jasa, penerbit, usaha foto copy, dan tak ketinggalan order ini itu kecil-kecilan yang berbuah besar. Pokoknya apa saja diharapkan mampu menghasilkan uang. Tak pikir lama-lama, apa saja. Tentu saja dominan dari teman saya harus mengkaji ulang kembali jenis dan ketersediaan modal dalam menjalankan ritual itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga menit lalu, ketika saya menuliskan uneg-uneg ini, saya berkenalan dengan laki-laki padat berisi yang menurut saya, hampir sebagian besar masa dewasanya dihabiskan dengan usaha ini itu. Kalau di sini orang-orang muda sini menyebut dengan mudairs yang enterpreneur. Sumpah deh, mati-matian orang sini menjadi mudairs yang enterpreneur itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, saya bukan menyindir bahkan tidak berniat menertawai. Tidak sama sekali. Bahkan saya salut dengan jiwa dagang itu. Jujur, tidak mau sombong, sejak saya mengenal dunia, saya sudah berkubang dengan dagang-dagang itu. Jadi saya tak heran jika mudairs ini ngebet banget menjadi enterpreneur muda yang sukses luar biasa. Yang bikin saya tertantang menuliskan uneg-uneg ini karena, ternyata, setelah kuliah 4, 5, 6, bahkan 7 tahun, para mudairs ini lebih enjoy dengan dagang-dagang sana sini. Itu yang bikin saya berpikir puluhan kali. Banak saya cenat cenut dan menuliskan kata-kata, "Apa enaknya dagang sana sini?" Hahaha, saya jadi nggak enak kalau-kalau teman saya yang suka dagang baca uneg-uneg ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sumpah bro, gua nggak mikir macem-macem kok. Gua cuma ingin menuliskan apa yang gua pikir dan rasakan. Gua  nggak niat bikin niat mulia dagang kalian terhambat dan merasa direndahkan. Sumpah gua nggak niat begitu. Karena  lu-lu pada tahu kan kalau nyokap gua di Lubuk Sanai, Bengkulu sana juga dagang. Dan, lu-lu pada tahu, kalau gua  dibesarkan dengan duit hasil dagang. Maap kalau gua, nyinggung. Tapi, gua mau nerusin tulisan ini, hee.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak wirausaha muda digembar gemborkan tahun 2009 dan 2010, setiap kampus dan anak muda berlomba-lomba pulalah membangun wirausaha dengan cara mereka sendiri-sendiri. Tak tanggung-tanggung, milyaran rupiah dikucurkan oleh pemerintah untuk menyukseskan program ini. Memang ada para muda yang menjalankan dengan baik. Namun, tak sedikit pula yang menjadikannya aji mumpung, ya nambah kantung kuliah. Ini kelemahan dan menjadi tak sehat bagi mudairs yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, teman-teman saya yang suka dagang ini memang pinter banget ngomong. Kalau soal omong, mereka nomor uno, nggak ada tandingnya. Rasa-rasanya semua yang direncanakan bakal berjalan semua dan lancar-lancar saja. Jika berada di depannya dan mendengar mereka bercakap-cakap, rasanya masa depan hidup itu akan sangat bagus dan tidak membuat hidup susah. Tak punya uang pensiun, dengan dagang kalian akan memperoleh lebih dari pensiun. Tak punya asuransi, dengan dagang, penyedia jasa asuransi akan lebih pede dan semangat memberikan asuransi kepada mereka yang dagang ketimbang pada mereka yang pegawai negeri, hee. Entah benar, entah tidak, simpulan ini saya petik dari percakapan selama waktu Ashar itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri-cirinya, ngomongnya cepat, matanya nanar kemana-mana, tangan berayun-ayun kiri kanan, dan kadang kaki naik ke atas sebelah, ya setingkat dagulah. Tentu tak ketinggalan tekanan suara yang sangat stabil dan padat berisi. Sumpah, kalau jumpa orang begini, kau punya uang Rp 100 ribu saja, kau takkan pikir panjang untuk ikut serta membantu dan bahasa merekanya, berinvestasi. Teman, kalau kau tidak jeli, bisa saja ini adalah penipuan. Uangmu ditilap di depan matamu dan kau tersenyum menyaksinkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah mereka. Namun, sekali lagi, tidak semua mereka sama dan keji. Masih banyak juga yang pure membantu dan berwirausaha dengan baik dan tak menyakitkan. Dan teman-temanku di sini tidak begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdagang, sudah sangat lama diungguli dan digadang-gadangkan oleh orang Minang. Dimana mereka hidup dan tinggal, di sana mereka akan berdagang untuk bertahan hidup. Namun, tak dinyana, filosofi berdagang ini merebak ke bidang pemerintah dan dibuatlah sebuah program untuk berdagang. Jujur, saya bangga. Karena saya orang Minang, dan saya saat ini kurang untuk berdagang. Tapi, tentu saja saya tidak menampik jika suatu saat nanti saya justru dibesarkan untuk kedua kalinya dengan berbagai bidang usaha berdagang. Siapa tahu kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa tertarik berdagang? Alasannya, lagi-lagi menurut saya yang kurang pandai berdagang ini, ketika memperoleh uang, kamu akan merasakan betapa nikmatnya. Uang hasil dari kristalisasi keringat sendiri. Luar biasa rasanya. Perolehan uang ini menjadi candu yang susah untuk diputuskan. Kau bisa lihat betapa Tn. Krabs di Bikini Bottom tergila-gila pada uang dan memutuskan untuk tak menikah lagi. Sedangkan anaknya tidak dibiarkan tinggal bersamanya, hanya akan menyusutkan uang-uang simpanannya. Bagi Tn. Krept, kawan terbaik adalah uang-uang itu. Tidak Spongebob. Tidak Squidward Tentakel. Dan tidak pula Nyonya Puff. Ini bukti teman, yang walaupun fiktif dan animasi, kita dapat belajar dari sana. Bukankah dunia kartun, animasi, maya, dan atau hiper realitas ini sudah menjadi dunia kita sehari-hari, yang kita tak sadar kita paksakan untuk kita cocokkan dan sangat amat kita nikmati.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, teman-teman yang ingin berdagang, teruskanlah. Saya tak berniat dan takkan sanggup menghadang. Karena saya bukan pemilik modal dan bukan Tuhan .&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5653544321661458461-3276492541824914811?l=dedees-dedees.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/feeds/3276492541824914811/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/2012/02/di-sini-jiwa-dagang-itu-membludak.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5653544321661458461/posts/default/3276492541824914811?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5653544321661458461/posts/default/3276492541824914811?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/2012/02/di-sini-jiwa-dagang-itu-membludak.html' title='Di Sini, Jiwa Dagang Itu Membludak'/><author><name>Adek Risma Dedees</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938309181522934937</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-QhZAhHEOnvo/T03j5yoeuFI/AAAAAAAAAY0/0udNCIkyMT4/s220/10.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-5zCi3JWQo7s/TzTpHZTnD9I/AAAAAAAAAVM/kHEJC9sM6hw/s72-c/mr-krabs-spongebob.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;A0QEQH0ycSp7ImA9WhRbGEg.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5653544321661458461.post-8726507375379692107</id><published>2012-02-10T14:33:00.002+07:00</published><updated>2012-02-10T14:35:01.399+07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2012-02-10T14:35:01.399+07:00</app:edited><title>Butuh Boncengan Ke Milan?</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-0HJ8Jxt1yaQ/TzTIe8BIUTI/AAAAAAAAAVA/YQtBk2Cfpgw/s1600/SmurfIceCream.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 280px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-0HJ8Jxt1yaQ/TzTIe8BIUTI/AAAAAAAAAVA/YQtBk2Cfpgw/s320/SmurfIceCream.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5707407061617758514" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Hati-hati dengan mata anda yang mudah ditipu'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika selama ini yang namanya dibonceng hanya untuk kawasan yang berdekatan, kali ini kamu akan dibonceng menuju Milan. Siapakah yang bersedia memboncengmu ke sana? Dan dalam keperluan apa sehingga ia mau memboncengmu ke sana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide bonceng membonceng ini tak terlepas dari kegemaran menonton televisi. Milan, menjadi tujuan akhir boncengan berhenti. Kenapa Milan? Katanya Milan itu adalah selain kota surga belanja juga kota dengan penuh daya tarik. Konon di sana goresan tempo dulu, sebelum masehi, sejarah Yunani atau Romawi kuno sempat mampir di sana. Dalam benakku yang dangkal ini, sesampinya di sana, mungkin kamu akan seperti memasuki zaman before century dengan sangat memukau. Mulai dari warna kota yang kuning tanah, bangunan dan benteng kuno besar-besar, serta peradaban lainnya, termasuk pakaian dan cara menikmati hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, kau tentu ingat dengan gaetan iklan es krim yang membuatmu bak berada di istana dan dilayani bak ratu itu? Iklan ini sudah jelas penuh dengan kelebayan dan dusta 1000 persen. Tapi efek jauh di balik itu adalah betapa kapitalisme merambah dan meracuni konsumen dengan terang-terangan. Kita kerap dibohongi terang-terangan oleh para pemilik media dan pemilik modal. Dan parahnya kok kita nrimo begitu saja. Penerimaan ini ya, kok mau bela-belain beli produk-produk yang diiklankan bohong itu. Saya tak habis pikir. Disuruh minum racun kok mau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dengan kota Milan, salah satu kota yang akan dikunjungi jika kamu banyak membeli es krim sialan itu dan tentu saja jika kamu menang. Sebelum menang, tentu saja diundi dulu. Hokimu bagus atau sekarat. Jika kamu menang, katanya dalam iklan itu, kamu akan dibawa ke beberapa kota besar di Eropa sana dan didanai berbelanja apa saja. Dan saya tak habis pikir, eh tiba-tiba Jakarta disebut-sebut walau yang terakhir. Kesannya kasian ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mulai berpikir, setiap kota yang pernah mengiklankan produk itu juga akan diiming-imingi berbelanja dan singgah berkunjung ke kota tersebut. Jelaskan, kalau otak kota itu berputar-putar seputar perkara uang saja. Benar-benar kebablasan itu, karena ternyata si kota, demi uang, ya monggo dikibuli anak-anak bangsa yang tengah candu kokain ini. Betapa, kota (kita) tak lagi menjamin keamanan dan perlindungan dari racun universal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam iklan itu dibuatlah dan dipajanglah perempuan kurus dengan tonjolan tulang dimana-mana, rambut pirang kering berombak, kulit seperti udang rebus, dan menggigit es krim dengan ekspresi muka dibuat-buat. Garing. Bukan tahayul, malah lebih parah dan meracuni sekujur tubuh. Gila! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, ketika seorang bapak-bapak pengayuh becak menawari boncengan ke depan gang, saya terhenyak. Saya teringat akan ke Milan, walaupun saya tak pernah membeli es krim hitam pekat itu. Tentu unik sekali jika saya diboncengi becak ke Milan sana. Dan saya yakin, sesampainya di sana, mujur-mujur ditawari berbelanja, jangan-jangan rambut saya yang kering berombak ini akan disulap lebih pirang lagi. Jelas saya tak sudi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan akhirnya, setelah saya kaji-kaji, banyak juga faedahnya saya menonton iklan di chanel-chanel teve yang kurang mutu itu. Otak saya jadinya makin banyak mikir dan teriak-teriak. Mikir karena saya tak terima dipaksa membeli ini itu yang tidak menjadi idaman saya. Teriak-teriak karena, kebanyakan saya tidak mampu membeli salah satu dari salah ribuan produk yang diklankan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astaga, sebenarnyalah saya juga siap diracuni oleh iklan keparat itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5653544321661458461-8726507375379692107?l=dedees-dedees.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/feeds/8726507375379692107/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/2012/02/butuh-boncengan-ke-milan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5653544321661458461/posts/default/8726507375379692107?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5653544321661458461/posts/default/8726507375379692107?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/2012/02/butuh-boncengan-ke-milan.html' title='Butuh Boncengan Ke Milan?'/><author><name>Adek Risma Dedees</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938309181522934937</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-QhZAhHEOnvo/T03j5yoeuFI/AAAAAAAAAY0/0udNCIkyMT4/s220/10.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-0HJ8Jxt1yaQ/TzTIe8BIUTI/AAAAAAAAAVA/YQtBk2Cfpgw/s72-c/SmurfIceCream.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;CEEMQ3k5fSp7ImA9WhRbF0U.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5653544321661458461.post-6871874913551280620</id><published>2012-02-09T17:13:00.001+07:00</published><updated>2012-02-09T17:18:02.725+07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2012-02-09T17:18:02.725+07:00</app:edited><title>Tegakkan Kepala, Berlarilah Muridku!</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-RI5MaVq9794/TzOdU9R4UCI/AAAAAAAAAU0/hhTlsPPHFIQ/s1600/guru.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 250px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-RI5MaVq9794/TzOdU9R4UCI/AAAAAAAAAU0/hhTlsPPHFIQ/s320/guru.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5707078136181051426" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sikap masa bodoh hanya akan membuat diri kita bodoh dan tak berarti apa-apa.&lt;br /&gt;Sikap ini jauhkan dari diri kalian. Kalian anak cerdas yang punya masa depan jauh lebih&lt;br /&gt;baik daripada Bapak. Ingat selalu kebaikan-kebaikan orang tua yang sekarang di sawah,&lt;br /&gt;di pasar, dan dimana saja. Tak ada alasan bagi kita, anak-anakku, untuk membuat&lt;br /&gt;mereka sedih dan kecewa.” Begitulah sepenggal ceramah dari guru kelasku sewaktu di&lt;br /&gt;SD dulu. Ceramah ini akan selalu beliau berikan kepada kami, murid-muridnya,&lt;br /&gt;sebelum sekolah bubar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau adalah Pak Wama. Guru muda dengan perawakan tinggi semampai,&lt;br /&gt;rambut hitam lurus, kulit sawo matang, khas orang khatulistiwa, namun telah beristri.&lt;br /&gt;Hingga sekarang aku masih gelap, Pak Wama tamatan sekolah tinggi mana. Namun,&lt;br /&gt;sekitar 11 tahun lalu, beliau menurutku adalah guru tercerdas serta baik hati yang&lt;br /&gt;pernah ku’miliki’ di sekolah. Beliau berbeda dari guru lainnya. Cara beliau menegur,&lt;br /&gt;mengajar, terbahak, dan tersenyum, adalah hal luar biasa bagiku dan bagi masa depanku&lt;br /&gt;saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Wama merupakan putra pribumi dimana aku dan orang tua merantau. Aku&lt;br /&gt;yang dibesarkan di salah satu kawasan transmigrasi di provinsi Bengkulu, sudah&lt;br /&gt;terbiasa hidup berbaur dengan suku lain. Di sekeliling tempat tinggalku ada beberapa&lt;br /&gt;suku bangsa, yakni Minang, Batak, Jawa, dan penduduk asli di sana. Penduduk asli ini&lt;br /&gt;berada di perbatasan provinsi Bengkulu dan Sumatera Barat. Secara administrasi&lt;br /&gt;mereka berada di provinsi Bengkulu, namun bahasa yang mereka gunakan bercampur.&lt;br /&gt;Pun demikian dengan budaya mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu itu, perbedaan latar belakang budaya dan negeri asal menjadi&lt;br /&gt;penting. Penting ketika orang tua mengurus KTP. Penting ketika keluarga menginduk&lt;br /&gt;ke kaum mana. Penting ketika mendaftarkan anak-anak mereka ke sekolah apa. Di&lt;br /&gt;tengah masyarakat yang beragam, heterogen, kampung tempat tinggalku berubah&lt;br /&gt;menjadi kampung yang tidak hanya ramai, tetapi jauh lebih maju dari kampung&lt;br /&gt;induk, kampung dimana dominan dihuni penduduk asli setempat. Perbedaan ini&lt;br /&gt;menimbulkan ‘strata’ sosial yang tidak kumengerti waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yang dilahirkan dan dibesarkan oleh keluarga pedagang bersekolah di SDN&lt;br /&gt;58. Dua orang temanku, yang orang tuanya petani dan penambal ban, juga bersekolah&lt;br /&gt;di sana. SDN 58 menjadi SD satu-satunya bagi anak pedagang, petani, dan buruh,&lt;br /&gt;namun tidak untuk anak guru dan putra pribumi. Di SD ini siswa-siswinya kebanyakan&lt;br /&gt;dipenuhi oleh anak-anak petani transmigrasi, biasanya dari Jawa, serta anak-anak&lt;br /&gt;pedagang rantau, dari Minang dan Batak. Hanya hitungan jari SDN 58 memiliki anak&lt;br /&gt;didik dari masyarakat pribumi. Orang tua anak pribumi ini mungkin ketinggalan berita&lt;br /&gt;kampung. Dan Pak Wama tampil di antara kami. Beliau mengajarkan mengenal huruf,&lt;br /&gt;mengeja, membaca, dan berhitung kepada setiap anak dari Jawa, Minang, dan Batak,&lt;br /&gt;tentu juga putra pribumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Wama pada waktu itu tidak egois. Kupikir bisa saja beliau tidak mengajar&lt;br /&gt;di SDN 58 dan pindah ke SD sebelah, yang kebanyakan dipenuhi oleh para guru dan&lt;br /&gt;anak didik dari kampungnya sendiri. Di SD itu tampaknya beliau bisa lebih leluasa dan&lt;br /&gt;tak perlu banyak trik untuk mengajar putra putri yang sebuyut dengan beliau. Beliau&lt;br /&gt;bisa saja menggunakan bahasa asli daerah itu untuk mengajar dan membuat anak&lt;br /&gt;didik beliau mudah mengerti pelajaran. Pun demikian dengan para guru yang kurasa&lt;br /&gt;bertetangga dengan Pak Wama. Interaksi antarguru akan jauh lebih mudah dan lancar.&lt;br /&gt;Sehingga Pak Wama tak perlu pusing dan semaput menghadapi aku dan teman-teman&lt;br /&gt;ketika tiba-tiba sibuk dengan perangai serta bahasa kami masing-masing, yang mungkin&lt;br /&gt;aneh di telinga beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Pak Wama tak melakukan semua itu. Beliau memilih SDN 58 sebagai&lt;br /&gt;tempat mengabdi. Beliau memutuskan diri untuk berjumpa denganku dan temanteman&lt;br /&gt;dari budaya dan negeri asal yang berbeda. Beliau mengorbankan banyak waktu&lt;br /&gt;untuk mendidikku dan teman-teman dengan cara beliau sendiri. Tak perlu neko-neko.&lt;br /&gt;Tak perlu sangsi akan kemampuan sendiri. Toh, pada akhirnya Pak Wama mampu&lt;br /&gt;menikmati kebersamaan denganku dan teman-teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Wama menjadi guru kelasku. Beliau mengajarkan berbagai pelajaran, selain&lt;br /&gt;mata pelajaran agama Islam dan kesenian. Untuk dua mata pelajaran ini, diajarkan&lt;br /&gt;langsung oleh Pak Abu. Guru senior dari Pak Wama ini kerap menegur ulahku di kelas.&lt;br /&gt;Pak Abu di mataku tidak semenarik Pak Wama ketika mengajar. Mungkin beliau capek&lt;br /&gt;menghadapi anak-anak SD yang tidak hanya susah diatur, tetapi juga bau amis. Karena&lt;br /&gt;itu pula mungkin Pak Abu tidak memilih menjadi guru kelas. Beliau menjadi penjaga&lt;br /&gt;sekolah dan hanya memegang dua mata pelajaran di SD ku dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seingatku, waktu SD hingga kelas tiga, aku hanya memiliki empat mata&lt;br /&gt;pelajaran. Ada Bahasa Indonesia, Matematika, Agama Islam, dan Kesenian. Sedangkan&lt;br /&gt;menginjak kelas empat hingga kelas enam, mata pelajaranku pun bertambah. Kalau&lt;br /&gt;tidak salah aku dan teman-teman juga dibekali dengan mata pelajaran PMP, IPA,&lt;br /&gt;IPS, Olahraga, dan tentu tak ketinggalan mata pelajaran terdahulu. Nah, semua mata&lt;br /&gt;pelajaran dari kelas empat hingga kelas enam ini, diajarkan langsung oleh Pak Wama.&lt;br /&gt;“Pak Wama benar-benar hebat,” pikirku dari balik meja waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun semakin kagum dan hormat kepada beliau, Pak Wama. Kepintaran&lt;br /&gt;beliau memotivasiku agar pada suatu hari kelak, aku pun bisa seperti beliau. Berdiri di&lt;br /&gt;depan banyak anak, menyampaikan pelajaran dengan suara teratur, berjalan hilir mudik&lt;br /&gt;menghampiri meja para siswa, dan sekali-sekali diselingi senyum dan tawa. Aku dan&lt;br /&gt;teman-teman sangat menikmati ketika belajar dengan Pak Wama. Ada-ada saja yang&lt;br /&gt;disampaikan Pak Wama agar kami selalu memperhatikan setiap ujaran yang beliau&lt;br /&gt;keluarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika salah satu temanku mengantuk ketika jam pelajaran, dengan sabar Pak&lt;br /&gt;Wama menghampiri temanku, mengusap bahunya dan mempersilahkan temanku keluar&lt;br /&gt;untuk mencuci muka. Jika mata pelajaran PMP, IPA, atau IPS, beliau kerap menyuruh&lt;br /&gt;kami membacakan materi dari buku panduan, membetulkan bacaan kami yang salah,&lt;br /&gt;dan kadang menertawai bacaan cadel yang dibuat-buat siswa.&lt;br /&gt;“Ucaha-ucaha (aslinya usaha-usaha) apa?” kata Pak Wama menirukan ucapan&lt;br /&gt;teman yang lidahnya keseleo ketika membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontan saja seisi kelas juga ikut tertawa. Namun, aku dan teman-teman tidak&lt;br /&gt;marah kepada beliau. Paling-paling teman yang diledeki memberengut dan melanjutkan&lt;br /&gt;bahan bacaannya. Aku dan teman-teman tahu dan paham bagaimana Pak Wama dalam&lt;br /&gt;keseharian bersama kami. Beliau tak pernah marah dengan kasar. Teguran yang beliau&lt;br /&gt;sampaikan, bukan membuat kami meradang justru membuat kami malu dan merasa&lt;br /&gt;bersalah. Di sinilah letak keistimewaan guru SD ku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku dan teman-teman menginjak kelas enam, artinya bulan-bulan terakhir&lt;br /&gt;kami di sekolah itu, Pak Wama semakin dekat dengan kami. Seperti kebanyakan&lt;br /&gt;sekolah, sekolahku juga memberlakukan kelas tambahan pada siang hingga sore hari.&lt;br /&gt;Biasanya kelas ini dimulai pada Senin hingga Kamis. Selepas sekolah pagi, aku dan&lt;br /&gt;teman-teman kembali bersemangat ke sekolah dengan jarak hampir mencapai 1,5 km&lt;br /&gt;dari kampung kami. Sedangkan Pak Wama harus menempuh jarak 2 km dari rumahnya&lt;br /&gt;ke SDN 58 yang letaknya di pelosok kampung. Kadang beliau menempuh jarak itu&lt;br /&gt;dengan bersepeda, dan tak jarang pula berjalan kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini, pikiranku kembali berkata-kata. Pak Wama setelah sekian tahun&lt;br /&gt;mengabdi ke SDN 58, tampaknya beliau tak pernah jenuh dan bad mood menghadapi&lt;br /&gt;aku dan teman-teman, baik pada pagi hari maupun pada siang hingga sore hari. Kadang&lt;br /&gt;kala, pada sekolah sore, beliau juga mengikutsertakan anak sulung beliau, seingatku&lt;br /&gt;namanya Yoga. Yoga kadang didudukkan di atas meja, atau sengaja diajak bermain&lt;br /&gt;keluar oleh murid lain yang tidak sekolah sore. Pada jam istirahat, aku dan temanteman&lt;br /&gt;bergantian menggendong Yoga yang pada waktu itu usianya sekitar tiga tahun.&lt;br /&gt;Sekarang, mungkin bocah laki-laki itu telah menginjak masa paling indah di SMA.&lt;br /&gt;Hampir disetiap kesempatan Pak Wama selalu memberi nasehat-nasehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasehat dari beliau jauh berbeda dari nasehat yang diberikan oleh guru-guru lain di SD&lt;br /&gt;ku. Pak Wama, di mataku sangat menentang cita-citaku dan mungkin juga kebanyakan&lt;br /&gt;cita-cita temanku serta orang tua kami. Pak Wama mewanti-wanti agar jika kelak kami&lt;br /&gt;dewasa dan bisa menentukan jalan hidup sendiri, janganlah sekali-sekali memimpikan&lt;br /&gt;menjadi pegawai negeri. Janganlah memimpikan menjadi dirinya yang terikat profesi&lt;br /&gt;sebagai guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mandirilah anak muridku! Jangan berharap besar pada pegawai negeri, jika&lt;br /&gt;kelak kau tak ingin menyesal,” ungkap Pak Wama di suatu sore sebelum kelas bubar.&lt;br /&gt;Aku terheran-heran. Kenapa kami dilarang menjadi seperti Pak Wama? Padahal&lt;br /&gt;beliau sendiri memilih menjadi guru, dan sungguh, hingga sekarang aku tak tahu,&lt;br /&gt;apakah Pak Wama seorang pegawai negeri sipil atau bagaimana. Yang jelas, kata-kata&lt;br /&gt;beliau, ‘Buang jauh-jauh memimpikan pegawai negeri’ sudah mewakili kalau beliau&lt;br /&gt;berada dalam kehidupan yang pelik. Mungkin pelik secara keuangan, dan juga pelik&lt;br /&gt;secara kebijakan, dalam hal ini relasi antara atasan dan bawahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan teman-teman yang berlatar belakang dari keluarga pedagang,&lt;br /&gt;petani, dan buruh, entah mengapa, kerap menjadi pujian. Beberapa kali Pak Wama&lt;br /&gt;membanggakan para orang tua kami yang bertahan hidup dengan tidak menjadi ‘anak&lt;br /&gt;buah’ negara atau menggantungkan hidup dari pendapatan negara. Pak Wama pun&lt;br /&gt;kerap mengambil salah satu orang tua kami sebagai contoh yang perlu diteladani kelak.&lt;br /&gt;Teladani semangat mereka, teladani keberanian mereka, dan teladani cara kerja mereka&lt;br /&gt;yang mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bapak Tutri wiraswasta kan? Selain uangnya banyak, juga tak perlu kerja&lt;br /&gt;seharian seperti Bapak ini,” ujar Pak Wama mencontohkan pekerjaan orang tua dari&lt;br /&gt;Tutri, salah satu temanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian, anak-anakku akan memiliki kehidupan jauh lebih bebas, mandiri,&lt;br /&gt;tak diatur-atur orang jika mampu berwiraswasta. Mau ini ayo! Mau itu ayo! Maka&lt;br /&gt;belajarlah yang rajin dan bagus. Cari ilmu sebanyak-banyaknya. Jika telah banyak&lt;br /&gt;ilmu, kita yang akan ciptakan lapangan kerja. Mulai sekarang, tegakkan kepalamu&lt;br /&gt;Nak, berlarilah yang kencang. Jangan seperti Bapak ini,” ungkap Pak Wama dengan&lt;br /&gt;semangat berapi-api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya, aku dan teman-teman hanya terdiam dan terpana-pana. Apa benar&lt;br /&gt;orang tua kami yang pedagang, petani, serta buruh itu jauh lebih hebat dari guru? Apa&lt;br /&gt;benar orang tua kami yang kurang perhatian atas sekolah kami itu jauh lebih cerdas&lt;br /&gt;dari para pegawai negeri di kampung ini? Apa benar? Pertanyaan-pertanyaan ini kerap&lt;br /&gt;menghinggapi benakku. Dan jika terlampau banyak Pak Wama berceramah perihal&lt;br /&gt;pegawai negeri, tidak sedikit pula dari kami diam, belum dan mungkin tak mengerti.&lt;br /&gt;Begitulah Pak Wama. Terserah. Apakah anak didiknya mengerti, setengah&lt;br /&gt;mengerti, atau bahkan belum mengerti apa yang beliau utarakan tentang hidup mandiri,&lt;br /&gt;tak ambil pusing. Dalam pikiranku, waktu itu sepertinya Pak Wama menanamkan&lt;br /&gt;sebuah dogma ke dalam kepalaku dan teman-teman perihal jangan mau jadi orang&lt;br /&gt;gajian. Walaupun beliau merupakan salah satu dari golongan tersebut, tampaknya beliau&lt;br /&gt;tak ingin apa yang beliau rasakan juga terjadi pada anak didik beliau kelaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dogma ini sepertinya singgah pada diriku, setidaknya hingga SMA lalu. Ketika&lt;br /&gt;teman-temanku membicarakan cita-cita, seiring dengan jurusan dan kampus mana yang&lt;br /&gt;akan dimasuki selepas SMA, dominan mereka memilih jurusan keguruan. Tak lain&lt;br /&gt;dan tak bukan karena tenaga guru sangat amat banyak dibutuhkan oleh bangsa ini ke&lt;br /&gt;depan. Sayup-sayup suara dan seraut wajah Pak Wama membayangiku ketika memilihmilih&lt;br /&gt;jurusan apa yang akan diambil ketika kuliah kelak. Ketika teman-teman lebih&lt;br /&gt;banyak memutuskan memasuki keguruan, akhirnya aku berani memutuskan mengambil&lt;br /&gt;sastra. Jurusan yang notabene jauh melenceng dari apa yang kuharapkan, teman-teman&lt;br /&gt;harapkan, dan mungkin Pak Wama harapkan. Tak apa. Akan kujalani dengan semangat&lt;br /&gt;yang tidak sedikit pun surut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah Pak Wama. Guru muda yang menjadi idolaku hingga sekarang. Walaupun&lt;br /&gt;selepas SD, ketika aku memasuki SMP, SMA, dan bahkan kuliah di kota lain, tak&lt;br /&gt;sampai lima kali aku berjumpa beliau. Namun, Pak Wama menjadi satu-satunya guru&lt;br /&gt;yang tak bisa kulupakan dengan mudah. Tak jarang, ketika aku membuat email, salah&lt;br /&gt;satu pertanyaan kunci tentang guru favorit, nama Pak Wama selalu menghiasi jawaban&lt;br /&gt;pertanyaan itu. Aku bangga sekaligus puas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok Pak Wama berkesan di hatiku, mungkin juga dikarenakan ada kemiripan&lt;br /&gt;karakter dengan mendiang Ayah yang telah tiada. Ayah yang menjadi sosok inspirasiku&lt;br /&gt;dengan karakternya yang kuat, konsisten, dan mandiri, kadang terlihat juga pada diri&lt;br /&gt;Pak Wama. Imbauan-imbauan Pak Wama agar tak menjadi orang gajian, acap kali&lt;br /&gt;dilontarkan mendiang Ayah kepadaku dulu. Agar aku dan saudara-saudaraku mandiri,&lt;br /&gt;merupakan bahan utama perbincangan di tengah makan malam keluarga. Agar aku dan&lt;br /&gt;saudara-saudaraku menjadi orang yang mampu menciptakan lapangan kerja buat orang&lt;br /&gt;lain, juga topik hangat yang tak habis-habisnya dibincangkan mendiang Ayah. Aku pun&lt;br /&gt;tumbuh dengan karakter sedikit liberal dan lebih berani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah cerita tentang Pak Wama, the unforgetable teacher of my life.&lt;br /&gt;Beliau, sekarang mulai senja dengan beberapa orang putra putri yang menginjak remaja.&lt;br /&gt;Kehidupan beliau yang sederhana dan apa adanya menjadi teladan tersendiri bagiku.&lt;br /&gt;Aku senang menulis cerita ini. Ada sesuatu yang kembali bersemi di dalam sanubari,&lt;br /&gt;yakni masa kanak-kanakku yang penuh makna dan cerita. Dan Pak Wama adalah salah&lt;br /&gt;seorang yang menyaksikan bagaimana aku tumbuh dan berkembang. Jika ada waktu,&lt;br /&gt;ingin sekali aku mengirimkan cerita ini kepada beliau yang sangat kuhormati. Akhir&lt;br /&gt;kata, terima kasih guruku Pak Wama.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5653544321661458461-6871874913551280620?l=dedees-dedees.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/feeds/6871874913551280620/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/2012/02/tegakkan-kepala-berlarilah-muridku.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5653544321661458461/posts/default/6871874913551280620?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5653544321661458461/posts/default/6871874913551280620?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/2012/02/tegakkan-kepala-berlarilah-muridku.html' title='Tegakkan Kepala, Berlarilah Muridku!'/><author><name>Adek Risma Dedees</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938309181522934937</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-QhZAhHEOnvo/T03j5yoeuFI/AAAAAAAAAY0/0udNCIkyMT4/s220/10.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-RI5MaVq9794/TzOdU9R4UCI/AAAAAAAAAU0/hhTlsPPHFIQ/s72-c/guru.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;DEcNQnc4eSp7ImA9WhRbF0g.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5653544321661458461.post-5293207285814426085</id><published>2012-02-09T09:50:00.000+07:00</published><updated>2012-02-09T09:54:53.931+07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2012-02-09T09:54:53.931+07:00</app:edited><title>Meniti Awan dan Menyeberang Senja</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-cSzKfVD4K0Y/TzM1d4DmDSI/AAAAAAAAAUo/f2bJLM3QE1M/s1600/langit-biru.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 232px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-cSzKfVD4K0Y/TzM1d4DmDSI/AAAAAAAAAUo/f2bJLM3QE1M/s320/langit-biru.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5706963940188491042" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Ibu, awan gemawan ikut serta membesarkanmu&lt;br /&gt;Persis pula dengan yang dikatakan Ayah&lt;br /&gt;Dengan putih dan beraraknya, kau diayun, dilena, dan disenangi setiap siang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena awan menginangmu&lt;br /&gt;Karena Ibu dan Ayah mengais rezeki&lt;br /&gt;Karena saudaramu juga belajar air, udara, dan waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biar kau bersama awan hingga senja&lt;br /&gt;Dan senja takkan penatkan kami&lt;br /&gt;Ibu, Ayah, serta saudara tumbuhkanmu hingga kau tahu panasnya api, mentari, dan ucapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai biji mataku, berria rianglah di atas sana&lt;br /&gt;Tunggu Ibu Ayah menjemputmu ke pelukan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5653544321661458461-5293207285814426085?l=dedees-dedees.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/feeds/5293207285814426085/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/2012/02/meniti-awan-dan-menyeberang-senja.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5653544321661458461/posts/default/5293207285814426085?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5653544321661458461/posts/default/5293207285814426085?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/2012/02/meniti-awan-dan-menyeberang-senja.html' title='Meniti Awan dan Menyeberang Senja'/><author><name>Adek Risma Dedees</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938309181522934937</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-QhZAhHEOnvo/T03j5yoeuFI/AAAAAAAAAY0/0udNCIkyMT4/s220/10.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-cSzKfVD4K0Y/TzM1d4DmDSI/AAAAAAAAAUo/f2bJLM3QE1M/s72-c/langit-biru.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;DE4FRH4-eSp7ImA9WhRbFkQ.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5653544321661458461.post-213057281064553175</id><published>2012-02-08T17:23:00.000+07:00</published><updated>2012-02-08T17:28:35.051+07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2012-02-08T17:28:35.051+07:00</app:edited><title>Dan Semua Bintang Berseru Nakal</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-oP-BnSwg6Rs/TzJOTfQyoUI/AAAAAAAAAUQ/e227eejoLxU/s1600/kantor-pos-office-night-by-misbah-fotografer-jogja.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 201px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-oP-BnSwg6Rs/TzJOTfQyoUI/AAAAAAAAAUQ/e227eejoLxU/s320/kantor-pos-office-night-by-misbah-fotografer-jogja.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5706709774548246850" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu kau membelikan aku boneka Shaun, tidak yang gembrot itu, sedanglah ukurannya untuk pelukanku yang mungil. Tentu aku tertawa-tawa senang memeluknya. "Andai aku yang jadi Shaun, bakal seru nih," katamu waktu itu. Dasar pacar jelek, jawabku dengan sebal dibuat-buat. Kita pun makan malam di tempat biasa. Itu, angkringan yang super ramai dengan dinding ditempeli kalimat perintah 'Mohon Bayar Dimuka'. Setiap kami makan malam di angkringan itu, pacar saya yang super jelek tadi, mengusili mba-mba yang menghitung harga makan kami. "Mana mukanya mba, sini tak tempelin duit," katanya sambil terkekeh. Si mba-mba pun tak dapat menyurukkan muka merah padamnya di malam temaran itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, walau namanya angkringan, engkau akan berjumpa banyak orang, baik masyarakat pribumi maupun anak-anak muda perantauan, ya seperti kami. Tak sedikit pula si londo-londo yang belajar makan masakan Jawa yang super manis pedas di sana. Semuanya berbaur di bawah temaran lampu neon kekuningan. Satu-satunya sudut dimana kau dapat memandang tanpa rasa takut adalah teve usang 17 in yang selalu menayangkan gambar-gambar bergerak. Selebihnya adalah para orang dewasa yang sedang makan, minum, berbincang, tertawa atau pun bermain gaplek dengan beragam minuman panas mengelilingi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan pacarku menempati kursi kayu panjang tak jauh dari teve usang itu. Duduk berhadapan dan saling menyantap makanan masing-masing. Sesekali suapan kami diikuti dengan perbincangan seputar hari tadi dan akan dilakukan esok hari. Tak jarang pula kami berdebat pendapat tentang suatu hal yang menurutku atau baginya sepele. Ya, apalagi kerjaan kami ketika berjumpa selain berdebat dan kekeuh dengan pendapat masing-masing. Namun, semua harus usai, karena kejanggalan itu membuat kesal dan tidak enak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kota ini, kau akan menemukan tidak hanya beragam manusia, namun juga budaya malam hari yang bisa penuh dengan kenakalan, dan juga bisa penuh hukum-hukum positif lainnya. Di sini kau akan menemukan setiap malam adalah malam minggu, kata pacarku dengan pedenya. Apa iya? Jawabku. Saksikan saja sendiri. Setiap malam kita mengeliling kota ini, apakah kau melihat kesunyian dan ke-sepi-an? Tidak bukan? Jawabmu sendiri. Kota ini memang selalu ramai. Apalagi di pusat-pusat keramaian dan jalan-jalan perempatan. Jika kau ke kota ini, dari pagi ke pagi, coba kau berdiri di kawasan Nol Kilometer, perempatan jalan, salah satunya Jalan Malioboro yang sangat fenomenal itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ujung jalan itu, tepatnya Jalan A. Yani, sangat amat diramaikan oleh pengunjung. Orang-orang tidak takut duduk-duduk di pinggir jalan, berfoto ria dan berburu foto di bibir jalan ini. Dan sepertinya, tragedi Suzuki Xenia yang menelan 9 korban jiwa di trotoar Jakarta itu tidak berlaku di kota ini. Semua serba sibuk dengan urusan wisata masing-masing. Dan jangan kau heran dengan para pramuwisma yang mereka juga heran melihat sikapmu nanti yang sangat ceria melihat keramaian unik itu. Mereka, para pramuwisma itu, juga akan menemanimu duduk-duduk di tempat-tempat santai terbuat dari beton di sekitar kawasan sini. Coba saja nanti ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jika senja tiba, dan kau masih duduk di sana, kau akan menyaksikan puluhan ribu burung gereja terbang di atas kawasan ini. Arah Timur dari kawasan ini adalah Istana Presiden yang berpagar besi. Kau hanya bisa melihat dari seberang jalan. Di depan bangunan tua dan besar ini tertancap pohon-pohon besar tempat bersarangnya burung-burung tadi. Sore itu kau akan menyaksikan para burung ini urban ke tengah-tengah kota setelah sekian jam mereka terbang dan hinggap di mana-mana. Suara mereka cukup mengalahkan bisingnya kendaraan yang lalu lalang di depanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kota yang penuh dengan bangunan tua ini, kau seolah-olah berada pada zaman sewaktu kota ini dibangun. Kau tahu kantor Bank BNI? Jika kau singgah di sini, usahakanlah memotret dirimu di bangunan tua dan eksotis ini. Percayalah, dari kajauhan gedung ini seolah-olah mewakili para menir Holand yang pernah berkunjung atau berkuasa di kota ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika malam perlahan merangkak menghampiri kaki-kakimu, maka bertengadahlah, di layar jagat raya Andromeda itu akan kau lihat betapa bintang-bintang juga tak ingin melewatkan keramaian dan kesempurnaan malam di kawasan Nol Kilometer itu. Percayalah padaku, jika kau kesini, kau akan menyaksikan hal itu dengan sempurna. Galaksi terbesar ini menyuguhkan pemandangan langit malam membentang dengan luar biasa. "Hal semacam ini yang menguatkan kalau setiap malam di kota ini adalah malam minggu, jelek," kata pacarku yang jelek tadi. Memang ia sengaja menekankan kata jelek kapadaku. Itu telah menjadi panggilan yang kurang kusuka, namun akrab di telingku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita ini memang jauh melenceng dari judul yang kugoreskan. Acap kali aku memberi judul tulisan tidak sesuai dengan isi yang disampaikan. Ya, itulah aku. Kegalauan dan ketakjelasan masih saja membayangi. Bersama bintang yang juga kerap kupandangi lama-lama, membuatku hilang akal dan kendali. Dan semua bintang berseru nakal adalah kata-kata yang kuselipkan tidak sengaja di hatimu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5653544321661458461-213057281064553175?l=dedees-dedees.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/feeds/213057281064553175/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/2012/02/dan-semua-bintang-berseru-nakal.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5653544321661458461/posts/default/213057281064553175?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5653544321661458461/posts/default/213057281064553175?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/2012/02/dan-semua-bintang-berseru-nakal.html' title='Dan Semua Bintang Berseru Nakal'/><author><name>Adek Risma Dedees</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938309181522934937</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-QhZAhHEOnvo/T03j5yoeuFI/AAAAAAAAAY0/0udNCIkyMT4/s220/10.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-oP-BnSwg6Rs/TzJOTfQyoUI/AAAAAAAAAUQ/e227eejoLxU/s72-c/kantor-pos-office-night-by-misbah-fotografer-jogja.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;A0YBRncyeyp7ImA9WhRbFko.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5653544321661458461.post-2347753164007868344</id><published>2012-02-08T12:26:00.000+07:00</published><updated>2012-02-08T12:32:37.993+07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2012-02-08T12:32:37.993+07:00</app:edited><title>Kepada Angin di Februari Kabisat</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-SM3reZ9v42c/TzII8HXupFI/AAAAAAAAAUE/faab0ucDK18/s1600/IMG_0267.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-SM3reZ9v42c/TzII8HXupFI/AAAAAAAAAUE/faab0ucDK18/s320/IMG_0267.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5706633506695586898" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak Februari ini angin sepoi-sepoi semakin berhasrat menimpa wajahku. Wajah yang dilanda beribu-ribu kebingungan ini semakin dekil dan tak terurus. Di tengah terpaan itu kusampaikan pula salam kebebasan dan kejayaan. Mungkin ini waktu dimana aku menghindar dari kemapanan. Kami, aku dan teman di Andalas, pernah berseloroh bahwa kami adalah generasi anti kemapanan. Sembari terkekeh, temanku mengiyakan gombalanku yang gila dan garing itu. Pada waktu itu memang hanya sebagai obrolan biasa lewat telepon genggam. Generasi digital yang mudah hilang kendali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada angin di Februari Kabisat, entah iya kabisat atau tidak, hanya saja saya sangat menyukai menuliskannya. Februari ini, angin-angin kadang garang kadang juga sepoi mengiringi pagi kami hingga malam merangkak. Hujan hanya sekali-sekali. Itu pun tak lama. Namun selalu diikuti angin, kadang angin kencang, kadang juga tidak. Kepada angin Februari Kabisat ini pula ingin kubisikkan seribu kata dan helaan napas. Kepada angin ini pula, kutuangkan segala cerita dari pagi ke pagi. Andainya angin Februari ini merentangkan segala untaian kalimat dariku, entah bagaimana jadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepercayaanku kepada angin, tak pernah pudar. Angin-angin ini pun kadang berbisik manja padaku. Mereka cukup senang bisa terbang kemana-mana dan membawa berbagai hal yang akan disinggahkan pada tempat berbeda. Termasuk menyinggahkan debu-debu di wajahku yang membuatnya semakin kusam. Tak apalah, kata mereka, toh kami selalu merelakan kekuasaan kami menyimpan segala rahasia yang kau rentangkan setiap pagi, kata angin. Aku mengangguk, sepakat. Wajahku pun berlumpur debu setebal telunjuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin Februari Kabisat ini kurasakan cukup panas dan menggerahkan. Sama ketika aku menonton televisi yang isinya lebih banyak membuat gerah ketimbang menghibur diri. Kuakui, hampir setiap hari, pagi dan petang, tontonanku tak lepas dari Spongebob dan Shaun serta teman-teman mereka. Kemudian tontonan ini, jika tak membosankan, berlanjut ke hal-hal yang menggelitik perut. Aku tak bisa lagi memilih tontonan yang lain, katakanlah itu semacam 'Dunia Dalam Berita' yang pernah kita tonton di zaman Orde Baru bahkan Reformasi setiap hari pukul 7 dan 9 malam, bukan? Bagiku itu membosankan dan membuat kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, tontonan macam begini semakin menjamur dan dapat kau temui disetiap chanel tevemu. Begitu juga chanel teve di rumah tempatku bernaung. Hanya saja, lama-lama, tontonan itu membuat resah dan geram. Bagaimana tidak, sebanyak aku tahu kalau negara ini semakin digerogoti koruptor dan keadilan sangat susah didapatkan, aku semakin lesu dan tak bernafsu makan. Agar aku tak lesu dan tetap sehat, maka aku menghindarkan tontonan itu sebisa aku. Jika sudah kepepet, dalam artian hanya ingin mengetahui apa kabar terhangat hari itu, maka tak lebih dari tiga menit, boleh aku menyimak kabar-kabar itu. Sungguh, sangat susah lebih dari tiga menit. Karena kehilangan tiga menit menonton Spongebob atau Shaun, aku bisa bertanya-tanya hingga mata terpejam di larut malam. Aneh dan lebay ya. Ya, begitulah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis cerita ini, aku ditemani oleh Sandaran Hatinya Letto. Suara vokalisnya yang serak dan lembut itu, membawaku pada nuansa yang sangat amat menyayat. Lirik-lirik lagunya yang jika ditilik-tilik lagi adalah ungkapan kepada Sang Khalik. Hal ini berkaitan dengan acara Cak Nun dan orkes Kiai Kanjeng baru-baru ini yang aku hadiri di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Cak Nun yang terkenal dengan religiutasnya, mampu membuatku terpesona dan kagum. Acap pula Cak Nun dan Kian Kanjeng membawakan lagu-lagu Letto, tidak hanya sebagai hiburan, namun kedalaman makna, coba kau hayati, dan tunggulah hatimu bergetar hebat. Dasarnya, hakikat Tuhan, dapat kau peroleh kapan dan dimana saja kawan. Tanpa tedeng aling-aling aku memaknainya begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kepada angin pula, ia tidak hanya berwujud, seperti yang kita kenal sebagai angin. Namun ia lebih dari sekedar angin. Ia tak hanya sebagai penyejuk, namun kerap pula sebagai penolong sebagai perpanjangan tangan (kuasa) Sang Pencipta kepada kita. Dan kepada angin aku berterima kasih karena telah mempu menuliskan cerita singkat ini sebagai ungkapan hatiku, yang untuk kesekian kalinya kadang sok tahu dan sering nyebelin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada angin di Februari Kabisat, ketahuilah cerah dan gembiranya hantarkan beragam kupu-kupu beterbangan di atas kepalaku ketika menuliskan kisah ini. Oh, untuk berbahagia, buatlah peristiwa bahagia kecil itu menjadi besar dan maknai lebih. Karena hanya dengan demikian kita dapat tersenyum tanpa berharap lebih pada orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada angin di Februari Kabisat, sampai jumpa lagi. Tetaplah ayunkan dedaunan pepohonan di atas kepalaku ini tanpa kau pernah berharap lebih, karena aku selalu tahu apa yang kau bisikkan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5653544321661458461-2347753164007868344?l=dedees-dedees.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/feeds/2347753164007868344/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/2012/02/kepada-angin-di-februari-kabisat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5653544321661458461/posts/default/2347753164007868344?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5653544321661458461/posts/default/2347753164007868344?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/2012/02/kepada-angin-di-februari-kabisat.html' title='Kepada Angin di Februari Kabisat'/><author><name>Adek Risma Dedees</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938309181522934937</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-QhZAhHEOnvo/T03j5yoeuFI/AAAAAAAAAY0/0udNCIkyMT4/s220/10.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-SM3reZ9v42c/TzII8HXupFI/AAAAAAAAAUE/faab0ucDK18/s72-c/IMG_0267.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;CUIFSXo-fip7ImA9WhRbFko.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5653544321661458461.post-7532050824319083656</id><published>2012-02-08T10:49:00.000+07:00</published><updated>2012-02-08T10:58:38.456+07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2012-02-08T10:58:38.456+07:00</app:edited><title>Perjalanan Rindu pada Langit Andalas</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-kPz7NfvIKDM/TzHxBE0QpPI/AAAAAAAAAT4/ud51QjiokZw/s1600/tanah%2Bandalas%2B1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 299px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-kPz7NfvIKDM/TzHxBE0QpPI/AAAAAAAAAT4/ud51QjiokZw/s320/tanah%2Bandalas%2B1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5706607203630228722" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;120 pekan tak cukup membuatku mengeluh dan balik kanan pada terpaan angin dan padai di jantung kota ini. Masa itu, adalah masa dimana kau tumbuh lebih besar, kata seorang teman sembari mengunyah suir-suir ayam gorengnya. Tak sampai di sana, pada masa ini kau juga harus banyak belajar tentang kehidupan yang benar-benar begini adanya. Tidak seperti kehidupan selama ini kau di Andalas. Kau pasti pahamlah maksudku, katanya, kali ini mulai menyeruput es tehku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul di atas, bukan rindu tepatnya, tapi kegamangan dan ketakutan, yang kadang saya lebih-lebihkan. Kau itu, suka menakut-nakuti diri sendiri, kata temanku ini. Jalani nasibmu di sini, dan kita bersama teman-teman di rumah kedua itu, mencoba merubah, apakah akan lebih baik atau semakin kecele. Kita lihat nanti, katamu lagi. Memang, temanku satu ini melihat hidup sangat simpel dan tak perlu merepotkan diri. Ia persis abangku di Andalas. "Kau jangan bingung di sana. Jangan dipersulit hidup. Jalani kehidupan seperti alur yang telah diberikan. Jangan mikir aneh-aneh," katanya dalam telepon dari seberang. Jujur, saya sangat terhibur dan seolah-olah beban berkwintal di pundak seketika terlepas. Begitu juga teman satu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama dia, kehidupan ini jauh lebih mudah dan aman kawan. Kau tak percaya? Suatu saat nanti jika ada waktu, akan aku perkenalkan kau dengan dia. Dalam benakku, ia memiliki konsep kehidupan yang sangat simpel namun bukan berarti tidak terpetakan. Kebijakan melihat hidup ini sangat saya hormati. Lambat laun saya memang harus banyak belajar. Kali ini bukan ilmu-ilmu praktis, namun ilmu kehidupan yang super duper harus dipraktikkan. Ya, katakanlah tak perlu bersusah payah menonton Golden Waysnya Mario Teguh, atau menyimak Salam Luar Biasanya Pri GS di radio-radio. Tak perlu. Cukup kau rela mendengarkan banyak ulasan dari kawanku satu ini. Atau ini jangan-jangan hanya tulisan tak mutu tentang kegalauan yang akut di diriku. Dan aku memaksamu membaca curhat ini hingga paragraf terakhir. Terserahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pekerjaan ini cukup membuatku menghilangkan segala kepanikan, sifatnya tentu temporary. Tak permanen. Pekerjaan yang memberiku banyak luang belajar dan bergaul dengan banyak orang. Kau banyak bersyukur dengan pekerjaan barumu ini, kata temanku itu. Menjalani adalah proses yang luar biasa yang akan menentukan siapa dirimu. Sekarang kau hanya menjalani dan menjalani. Katanya setiap pagi, siang, sore, dan malam. Kesediaan ia sebagai sahabat sekaligus saudara, sungguh anugerah yang luar biasa. Sekali lagi, jika ada waktu, akan kuperkenalkan kau padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak SMP, SMA, duduk di kuliah, hingga lepas darinya, aku memang harus bekerja keras untuk mendapatkan sesuatu. Memang, siapa saja harus bekerja keras untuk mendapatkan apa yang ia inginkan dan itu terbaik. Tapi bagiku, tidak sejelas itu. Maksudku begini, dalam meraih sesuatu, kadang aku mampu menakar, apakah hal itu akan aku peroleh atau tidak. Takarannya ini sudah aku tahu, walaupun aku tak dapat menentukan. Perjuanganku mendapatkan kesibukan, harus sebanding dengan apa-apa yang telah kukorbankan. Semakin banyak aku berkorban, maka semakin dekat pula kesibukan yang kucari menghampiri. Begitu juga sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengorbanan ini kawan, tidak tanggung-tanggung. Tidak hanya berkorban materi, tetapi juga berkorban hati dan nurani. Tak perlulah kutuangkan bagaimana pengorbanan ini kulalui. Karena itu hanya akan membuatmu sedih dan bersimpati dalam padaku. Apalagi jika tuangan curhat ini sampai ke telinga Ibu, Abang, dan Uniku di Andalas. Bisa-bisa aku dibentak untuk kembali ke tanah itu selama-lamanya. Tak perlu terjadi. Memalukan itu. Aku tak perlu disimpatikan. Cukup dijadikan teman yang dapat dipercaya dan menyenangkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, pengorbanan inilah yang menggerakkan tanganku untuk menuliskan kata rindu kepada Andalas. Bagaimanapun juga, ketika engkau ditimpa derita dan kesusahan, benak dan hati ini langsung menampilkan bayangan dan suasana kota kecilmu, jika aku, maka Andalas. Semakin jelas dan terang, dan semakin nelangsalah aku. Namun, buru-buru aku hapus semua bayangan itu. Sekuat tenaga dan hati pula aku berdiri menuju kamar mandi. Mengguyur kepala dengan air pagi, cukup membuatku meninggalkan sedikit akan bayangan dan kenangan itu. Dan kembali membawa pikiran yang berisi kesadaran akan hari ini dan apa yang semestinya dikerjakan. Begitulah, caraku mengobati hati yang luka. Luka bukan karena cinta, seperti pada yang banyak terjadi. Namun luka karena perantauan, heee.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andalas, dalam ulasan ini, rasa rindu itu sedikit-sedikit tersalurkan. Walau tak mesti menginjakkan kaki di tanah itu. Memang, kadang musuhku terbesar adalah hatiku yang banyak bercakap-cakap yang kadang sok tahu dan tak realistis. Membosankan memang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5653544321661458461-7532050824319083656?l=dedees-dedees.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/feeds/7532050824319083656/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/2012/02/perjalanan-rindu-pada-langit-andalas.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5653544321661458461/posts/default/7532050824319083656?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5653544321661458461/posts/default/7532050824319083656?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dedees-dedees.blogspot.com/2012/02/perjalanan-rindu-pada-langit-andalas.html' title='Perjalanan Rindu pada Langit Andalas'/><author><name>Adek Risma Dedees</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938309181522934937</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-QhZAhHEOnvo/T03j5yoeuFI/AAAAAAAAAY0/0udNCIkyMT4/s220/10.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-kPz7NfvIKDM/TzHxBE0QpPI/AAAAAAAAAT4/ud51QjiokZw/s72-c/tanah%2Bandalas%2B1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>