<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2enclosuresfull.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0">

<channel>
	<title>Blognya Adek Hawa</title>
	
	<link>http://www.koleksihawa.co.cc</link>
	<description>Tempat Untuk Berbagi Koleksi, Artikel, Buku, Dan Yang Lain-Lain</description>
	<lastBuildDate>Wed, 04 Nov 2009 08:11:22 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Tempat Untuk Berbagi Koleksi, Artikel, Buku, Dan Yang Lain-Lain</itunes:subtitle><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" href="http://feeds.feedburner.com/AdekHawa" type="application/rss+xml" /><feedburner:emailServiceId xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0">AdekHawa</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0">http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com" /><item>
		<title>Agar Anak Suka Membaca</title>
		<link>http://www.koleksihawa.co.cc/agar-anak-suka-membaca/</link>
		<comments>http://www.koleksihawa.co.cc/agar-anak-suka-membaca/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 08:11:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ayah Hawa</dc:creator>
				<category><![CDATA[pendidikan anak]]></category>
		<category><![CDATA[agar anak suka membaca]]></category>
		<category><![CDATA[membaca]]></category>
		<category><![CDATA[pertumbuhan anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.koleksihawa.co.cc/agar-anak-suka-membaca/</guid>
		<description><![CDATA[Bisa membaca dan suka membaca, dua hal yang sangat berbeda. Sejauh ini jika diperhatikan, banyak orang tua yang anak-anaknya dalam pertumbuhan hanya berupaya mengarahkan anaknya bisa membaca lebih dini tapi tidak dalam konteks suka membaca.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.koleksihawa.co.cc/wp-content/uploads/2009/11/membaca.jpg"><img style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; margin: 0px 5px 0px 0px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px" title="membaca" border="0" alt="membaca" align="left" src="http://www.koleksihawa.co.cc/wp-content/uploads/2009/11/membaca_thumb.jpg" width="103" height="102" /></a> Bisa membaca dan suka membaca, dua hal yang sangat berbeda. Sejauh ini jika diperhatikan, banyak orang tua yang anak-anaknya dalam pertumbuhan hanya berupaya mengarahkan anaknya bisa membaca lebih dini tapi tidak dalam konteks suka membaca.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Selain itu, ketika anak-anak sudah bisa membaca, kenyataannya mereka tidak diarahkan membaca sebagai suatu kebutuhan yang harus dilakukan setiap waktu. Jika dihubungkan dengan kondisi teknologi audio visual yang makin cangih, bisa jadi masyarakat begitu terbuai dengan sajian informasi yang up to date. Hanya dengan cara mendengar dan melihat, berbagai informasi yang dibutuhkan setiap hari bisa diketahui. Kondisi tersebut banyak membuat orang dewasa mengabaikan kebiasaan membaca. Bagi orang tua yang memiliki anak, disadari atau tidak kondisi tersebut dapat mempengaruhi anak-anak mereka.</p>
<p>&#160;</p>
<p><a href="http://www.koleksihawa.co.cc/wp-content/uploads/2009/11/anak_anak_membaca.jpg"><img style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; margin: 0px 0px 0px 5px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px" title="anak_anak_membaca" border="0" alt="anak_anak_membaca" align="right" src="http://www.koleksihawa.co.cc/wp-content/uploads/2009/11/anak_anak_membaca_thumb.jpg" width="157" height="119" /></a> Sesuai dengan pertumbuhan anak, ada proses bagaimana caranya supaya anak jadi suka membaca. Misalnya, orang tua dapat menumbuhkan minat baca pada anak dengan rajin mendongeng dan memperkenalkan buku-buku cerita yang disesuaikan dengan usianya. Membiasakan memberi hadiah berupa buku pada anak sejak dini juga sangat bagus untuk membiasakan anak terhadap buku.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Selain membiasakan anak dengan buku-buku di rumah, sesekali mengajak anak jalan-jalan ke toko buku, dapat memberikan nuansa yang lain bagi anak untuk mencintai buku.</p>
<p><a href="http://www.koleksihawa.co.cc/wp-content/uploads/2009/11/tokobuku.jpg"><img style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; display: block; float: none; margin-left: auto; border-top: 0px; margin-right: auto; border-right: 0px" title="toko buku" border="0" alt="toko buku" src="http://www.koleksihawa.co.cc/wp-content/uploads/2009/11/tokobuku_thumb.jpg" width="126" height="85" /></a> </p>
<ol>
<li>Ada beberapa cara yang bisa diusahakan agar anak menjadi suka membaca, diantaranya:      <br />Buatlah daftar buku-buku yang dapat Anda baca bersama dengan anak, dan lihatlah seberapa banyak mereka membaca. Apakah itu dua halaman ataupun 200 halaman, catatlah kemajuannya. </li>
<li>Pastikan bahwa anak-anak dapat menjangkau buku-buku yang ada di rumah dengan mudah. Jika buku cerita &quot;Dr Seuss&quot; lebih dekat daripada Digital Video Recorder (DVR), maka anak-anak akan lebih mungkin menggapainya daripada nonton video. </li>
<li>Jadilah contoh dengan membaca sendiri. Anak-anak pasti akan segera mengikuti. </li>
<li>Bukan hanya buku yang dapat dibaca. Seperti halnya Anda suka membaca majalah, ajarkan hal yang sama pada anak-anak untuk membaca apa pun yang mereka suka seperti komik, bahkan buku petunjuk game pun bisa membuat mereka suka membaca. </li>
<li>Sesekali ajaklah anak anda untuk berdiskusi tentang buku yang sedang dibaca, hal ini bisa membantu anak lebih mudah dalam memahami isi buku. </li>
<li>Radio bukan satu-satunya yang dapat anda dengarkan. Mintalah pada anak-anak untuk membaca keras-keras, sehingga Anda bisa mendengarkan. Jadi Anda dapat mengetahui kemajuan yang mereka capai dan mengetahui kesulitan yang mungkin mereka hadapi. </li>
<li>Untuk acara-acara khusus, berikan hadiah buku untuk anak anda dengan bungkus yang menarik. Usahakan memberi buku yang bisa menarik perhatian anak anda, bisa dari pemilihan warna buku misalnya, atau isi buku tersebut disesuaikan dengan kegemaran sang anak. </li>
<li>Anak-anak belajar membaca pada kecepatan yang berbeda. Berikan mereka waktu untuk membaca, dan tidak perlu memberi target per halaman. </li>
<li>Tinggalkan buku disamping tempat tidur anak-anak. Jika anda menganjurkan mereka agar membaca beberapa menit setiap malam sebelum tidur, maka mereka akan menjadi rajin membaca buku tanpa kenal waktu. Akhirnya Anda juga akan diminta membacakan buku dengan suara keras pada mereka. Setelah semuanya itu, apa yang lebih baik selain cerita sebelum tidur? </li>
<li>Saat liburan sekolah, tetap anjurkan anak-anak untuk membaca secara teratur. Hal ini akan membuat mereka lebih pandai saat kembali ke sekolah. Daripada melihat anak-anak bertengkar, lebih baik bersantai sambil membaca. </li>
<li>Semua anak-anak senang berpetualangan. Buatlah petualangan kecil saat pergi ke perpustakaan atau ke toko buku. Hal ini akan sangat menyenangkan mereka sehingga membuat mereka terus ingin pergi ke sana. </li>
</ol>
</p>
<p>&#160; <a href="http://www.koleksihawa.co.cc/wp-content/uploads/2009/11/belajarbareng.jpg"><img style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px" title="belajarbareng" border="0" alt="belajarbareng" src="http://www.koleksihawa.co.cc/wp-content/uploads/2009/11/belajarbareng_thumb.jpg" width="137" height="104" /></a> <a href="http://www.koleksihawa.co.cc/wp-content/uploads/2009/11/bukupaketjadul1.jpg"><img style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px" title="buku-paket-jadul1" border="0" alt="buku-paket-jadul1" src="http://www.koleksihawa.co.cc/wp-content/uploads/2009/11/bukupaketjadul1_thumb.jpg" width="152" height="104" /></a> <a href="http://www.koleksihawa.co.cc/wp-content/uploads/2009/11/KeTokoBuku_medium.jpg"><img style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px" title="Ke-Toko-Buku_medium" border="0" alt="Ke-Toko-Buku_medium" src="http://www.koleksihawa.co.cc/wp-content/uploads/2009/11/KeTokoBuku_medium_thumb.jpg" width="137" height="104" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.koleksihawa.co.cc/agar-anak-suka-membaca/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gold Coins is a Good Idea for Investment</title>
		<link>http://www.koleksihawa.co.cc/gold-coins-is-a-good-idea-for-investment/</link>
		<comments>http://www.koleksihawa.co.cc/gold-coins-is-a-good-idea-for-investment/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Jul 2009 13:58:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ayah Hawa</dc:creator>
				<category><![CDATA[keluarga sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[bullion]]></category>
		<category><![CDATA[gold coins]]></category>
		<category><![CDATA[investment]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.koleksihawa.co.cc/gold-coins-is-a-good-idea-for-investment/</guid>
		<description><![CDATA[Buy gold coins are straightforward and uncomplicated. Everybody can understand why gold is the best commodity to invest. Gold American Eagle are easily confirmed. It is easy to check the spot price of gold.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Consider buy gold as investing is a good idea in times of distress, the smart investor turns to investing in <a href="http://www.goldcoinsgain.com/" target="_blank">gold coins</a>. Diverse portfolio of gold investment will provide a safe haven in turbulent times. In a money market, people will choose gold for security, which makes it more valuable. This should make you think, the best way to protect your assets is to invest in gold bullion. Gold coin is a great invest at this time.</p>
<p align="justify"><a href="http://www.koleksihawa.co.cc/wp-content/uploads/2009/07/GoldAmericanEagle.jpg"><img style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; margin: 0px auto; display: block; float: none; border-top: 0px; border-right: 0px" title="Gold American Eagle" border="0" alt="Gold American Eagle" src="http://www.koleksihawa.co.cc/wp-content/uploads/2009/07/GoldAmericanEagle_thumb.jpg" width="240" height="160" /></a> </p>
<p align="justify">Collectable <a href="http://www.goldcoinsgain.com/" target="_blank">gold coins</a> like the Gold American Eagle is very easy sold. The Gold American Eagle is the number one gold bullion coin choice among investors across the world. Gold Coins like Gold American Eagle are great to protect your assets, and also easily liquidated in times of need. You will be very easy to save the Gold American Eagle because of the small size. So easy to be taken and stored. Part of what makes gold so attractive is how accessible it by each person everyday.</p>
<p align="justify">Buy gold coins are straightforward and uncomplicated. Everybody can understand why <a href="http://www.goldcoinsgain.com/" target="_blank">gold</a> is the best commodity to invest. Gold American Eagle are easily confirmed. It is easy to check the spot price of gold.</p>
<p align="justify">Every other form of money may devalue completely, but learning how to buy <a href="http://www.goldcoinsgain.com/" target="_blank">gold</a> bullion is always good because gold bullion coins is the most secure form of wealth preservation. Protect your own assets, and don’t trust another man to manage you money wisely. The best way to protect your assets is to manage it themselves, can be in control with a safe haven investment like buy <a href="http://www.goldcoinsgain.com/" target="_blank">gold</a> bullion is a best choice.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.koleksihawa.co.cc/gold-coins-is-a-good-idea-for-investment/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Alam Pedesaan untuk Pembelajaran TK</title>
		<link>http://www.koleksihawa.co.cc/alam-pedesaan-untuk-pembelajaran-tk/</link>
		<comments>http://www.koleksihawa.co.cc/alam-pedesaan-untuk-pembelajaran-tk/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 May 2009 07:37:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ayah Hawa</dc:creator>
				<category><![CDATA[pendidikan anak]]></category>
		<category><![CDATA[alam pedesaan]]></category>
		<category><![CDATA[taman kanak-kanak]]></category>
		<category><![CDATA[tk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.koleksihawa.co.cc/alam-pedesaan-untuk-pembelajaran-tk/</guid>
		<description><![CDATA[Dalam kurikulum Taman Kanak Kanak (TK) telah dijelaskan bahwa pembelajaran harus mencakup dua bidang. Yang pertama bidang pengembangan pembiasaan, selanjutnya pengembangan kemampuan dasar. Pengembangan dua bidang itu sesuai dengan fungsi TK yang membentuk sikap dan memberi keterampilan anak didik agar siap memasuki jenjang Sekolah Dasar (SD).]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam kurikulum Taman Kanak Kanak (TK) telah dijelaskan bahwa pembelajaran harus mencakup dua bidang. Yang pertama bidang pengembangan pembiasaan, selanjutnya pengembangan kemampuan dasar. Pengembangan dua bidang itu sesuai dengan fungsi TK yang membentuk sikap dan memberi keterampilan anak didik agar siap memasuki jenjang Sekolah Dasar (SD).</p>
<p>Di lapangan, banyak guru TK menyalahtafsirkan istilah &quot;menyiapkan anak didik memasuki SD&quot;. Akibatnya, materi-materi pembelajaran yang dikembangkan lebih menekankan pada kemampuan baca, tulis, dan hitung. Harapannya, ketika anak memasuki SD, mereka mampu membaca dengan lancar, menulis dengan baik, dan mampu mengerjakan konsep matematika sederhana. Semakin banyak anak TK yang memiliki kemampuan mmebaca dan menulis dengan baik, sekolah tersebut dianggap lebih berhasil dalam menyiapkan anak memasuki SD.</p>
<p>Anggapan tersebut harus diluruskan. Sebab, kemampuan yang dikembangkan di TK bukan hanya sebatas baca, tulis, dan hitung. Sesuai teori Bloom, pengembangan itu harus meliputi pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Lebih gampangnya, potensi yang bisa dikembangkan adalah aspek kognitif, bahasa, fisik/motorik, dan seni.</p>
<p>Saat ini, beberapa TK di perkotaan sudah mulai membenahi program-program kegiatan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Mereka membekali anak didik dengan hal-hal yang bersifat alam. Misalnya berkebun, mengajak anak-anak ke lingkungan persawahan, pantai, kawasan industri, mendaur ulang barang-barang bekas menjadi sesuatu yang bermanfaat, memasak, dan lain-lain. Itu merupakan program inovatif untuk pendidikan TK, meski harus ditunjang dana yang tidak sedikit.</p>
<p>Di pedesaan, pembelajaran TK dengan memanfaatkan lingkungan tidak memerlukan biaya yang besar. Alam pedesaan telah menyediakan sarana dan prasarana yang berlimpah untuk menunjang program inovatif tersebut. Berbagai jenis tanaman di sekitar sekolah, areal persawahan, dan tegalan (kebun) merupakan modal besar untuk bisa dimanfaatkan seoptimal mungkin. Dengan menggunakan pendekatan lingkungan, ruangan kelas bukan lagi menjadi satu-satunya pusat kegiatan belajar mengajar.</p>
<p><strong>Aspek Kognitif</strong>    </p>
<p>Pengembangan aspek ini bertujuan meningkatkan kemampuan berpikir anak. Mereka didorong untuk mampu menemukan bermacam-macam alternatif pemecahan masalah, mengembangkan kemampuan logika matematika, pengetahuan ruang dan waktu. Tak hanya itu, anak juga diarahkan untuk mempunyai kemampuan memilah, mengelompokkan, serta mempersiapkan pengembangan kemampuan berpikir teliti.</p>
<p>Jean Piaget menjelaskan bahwa perkembangan kognitif anak usia TK masuk pada tahap praoperasional. Anak mulai dapat belajar dengan menggunakan pemikirannya, mengenal konsep sederhana di lingkungannya, dan mengingat kembali simbol, serta membayangkan benda yang tidak tampak secara fisik.</p>
<p>Di kebun, anak bisa dikenalkan bagian-bagian tanaman. Mulai dari akar, batang, ranting, daun, bunga, dan buah. Lebih jauh lagi, mereka bisa diajari mengenal beberapa jenis tanaman, kemudian mengelompokkan tanaman yang sejenis.</p>
<p>Anak juga bisa diajak mengamati berbagai binatang yang menjadi bagian ekosistem kebun, Misalnya cacing, belalang, jangkerik, dan berbagai hama tanaman. Di samping itu, anak juga bisa dikenalkan proses metamorphose kupu-kupu yang dimulai dari telur-ulat-kepompong, dan akhirnya menjadi kupu-kupu. Rangkaian kegiatan tersebut secara langsung mengarah pada kegiatan sain yang saat ini mulai dikembangkan di TK. Untuk mengerjakan matematika sederhana (penjumlahan maupun pengurangan) bisa menggunakan biji-bijian sebagai alat bantu.</p>
<p><strong>Aspek Bahasa</strong>    </p>
<p>Pengembangan aspek ini bertujuan agar anak mampu mengungkapkan pikiran melalui bahasa yang sederhana secara tepat, mampu berkomunikasi secara efektif, dan membangkitkan minat untuk berbahasa Indonesia.</p>
<p>Salah satu metode yang dianggap efektif adalah metode bermain peran. Ada dua cara untuk melaksanakannya. Pertama, bermain peran besar yang memerlukan kostum dan perlengkapan sesuai yang diperankan anak. Kedua, bermain peran kecil yang memerlukan peralatan tiruan (mainan). Misalnya boneka, peralatan dapur mainan, kendaraan mainan, dan lain-lain.    </p>
<p>Bahan dan perlengkapan bermain peran sangat mudah didapat di pedesaan. Misalnya untuk bermain peran besar. Anak bisa menggunakan daun sukun atau daun nangka yang dibentuk menjadi topi dan topeng. Membuat pedang, kuda, dan bedil pun bisa dari pelepah pisang.</p>
<p>Begitu banyaknya bahan-bahan di pedesaan, sehingga kegiatan bermain peran bisa dilaksanakan dengan melibatkan anak dalam jumlah besar. Misalnya, bermain peran jual-beli di pasar. Guru dan anak didik bisa secara bersama-sama menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan.</p>
<p>Satu hal yang perlu digaris-bawahi, dalam permainan tersebut, guru hanya menjelaskan tentang aturan-aturan permainan. Tidak diperlukan pengarahan secara terus-menerus. Semakin sering guru mengarahkan, anak merasa terkekang dan kurang berani memunculkan kreatifitas dan ekspresinya.</p>
<p><strong>Aspek Fisik</strong></p>
<p>Tujuan pengembangan aspek ini adalah mengenalkan dan melatih gerakan kasar maupun halus, meningkatkan kemampuan mengontrol gerakan dan koordinasi tubuh, serta meningkatkan keterampilan tubuh dan cara hidup sehat.</p>
<p>Tersedianya lahan yang luas di sekitar sekolah sangat memudahkan guru TK di pedesaan untuk membuat permainan yang menarik dan menantang. Salah satu kegiatan yang mulai digalakkan adalah out bound. Biaya out bound bagi TK di pedesaan jauh lebih murah dibandingkan TK di perkotaan. Sebab, mereka tidak dibebani biaya transportasi, sewa lahan, atau jasa pelaksana out bound. Lahan-lahan di sekitar sekolah bisa dimanfaatkan untuk melaksanakan permainan kerjasama (team work) dan permainan halang rintang.</p>
<p>Bahan-bahan alam di pedesaan juga sangat memungkinkan bagi guru dalam menyediakan materi untuk mengembangkan kemampuan motorik halus anak. Misalnya melipat, menjahit, menggunting, menempel, mencocok, meremas, menjiplak, dan lain-lain. Semua itu bisa dikerjakan dengan memanfaatkan dedaunan, akar, batang, bunga, dan biji-bijian.</p>
<p><strong>Aspek Seni</strong></p>
<p>Pengembangan aspek ini diarahkan agar anak mampu menciptakan sesuatu berdasarkan hasil imajinasinya, mengembangkan kepekaan, dan dapat menghargai hasil karya yang kredit.</p>
<p>Di samping peralatan tulis (kertas, crayon, pensil, dll) bahan-bahan alam di pedesaan juga banyak tersedia untuk mengembangkan kemampuan ini. Misalnya daun pisang dan kelapa untuk menganyam, bunga dan dedaunan untuk membuat pewarna, dedaunan-lidi-ranting kering dan tanah liat untuk mencipta bentuk. Untuk membuat alat perkusi sederhana bisa digunakan bambu, batang padi, pelepah daun papaya, dan lain-lain.</p>
<p>Hakikat pembelajaran di TK adalah belajar seraya bermain. Melalui bermain, anak diajak bereksplorasi, menemukan dan manfaatkan objek-objek di dekat mereka, sehingga pembelajaran menjadi bermakna. Tugas guru adalah memanfaatkan alam tersebut untuk menciptakan pembelajaran yang kreatif dan inovatif. (*)</p>
<p>&#160;</p>
<p><b>Oleh: Budi Witono SPd     <br />Guru TK Intan, Waru, Sidoarjo</b></p>
<p><b></b></p>
<p><b>Sumber:</b>    <br /><a href="http://jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&amp;id=324257">http://jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&amp;id=324257</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.koleksihawa.co.cc/alam-pedesaan-untuk-pembelajaran-tk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memilih TK Yang Tepat</title>
		<link>http://www.koleksihawa.co.cc/memilih-tk-yang-tepat/</link>
		<comments>http://www.koleksihawa.co.cc/memilih-tk-yang-tepat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 May 2009 06:25:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ayah Hawa</dc:creator>
				<category><![CDATA[pendidikan anak]]></category>
		<category><![CDATA[Bermain sambil belajar]]></category>
		<category><![CDATA[memilih TK yang tepat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.koleksihawa.co.cc/memilih-tk-yang-tepat/</guid>
		<description><![CDATA[Hari-hari ini, kesibukan orangtua bertambah satu lagi: mencari dan memasukkan anak ke Taman Kanak-kanak alias TK. TK seperti apa, sih, yang bagus untuk anak?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari-hari ini, kesibukan orangtua bertambah satu lagi: mencari dan memasukkan anak ke Taman Kanak-kanak alias TK. TK seperti apa, sih, yang bagus untuk anak?</p>
<p>&quot;Anak saya sudah 4 tahun. Rencananya tahun ini mau saya sekolahkan. Tapi di mana, sih, TK yang bagus?&quot; Bingung! Umumnya itu yang dialami para orangtua saat hendak menyekolahkan anaknya. Jangankan mereka yang belum berpengalaman. Yang sudah berpengalaman menyekolahkan anaknya pun, masih sering bingung, kok!</p>
<p>Tapi itu wajar, kok. Maklum, orangtua selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Termasuk soal pendidikan/sekolah. Apalagi menentukan si anak akan masuk TK mana. Soalnya, biasanya TK merupakan &quot;sekolah&quot; yang pertama bagi anak. &quot;Kalau di TK saja anak sudah punya pengalaman jelek, bisa-bisa dia mogok sekolah selamanya,&quot; begitu alasan orangtua. Apalagi, jika anak tak memperoleh apa yang seharusnya ia terima selama di TK, orangtua cemas, anaknya mengalami kesulitan saat masuk Sekolah Dasar (SD).</p>
<p>&#160;</p>
<p><b>BERMAIN SAMBIL BELAJAR</b></p>
<p>Jadi, TK macam apa yang harus dipilih? Pilihannya terlalu beragam. Masing-masing TK menawarkan fasilitas yang menggiurkan. Tentu saja dengan konsekuensi biaya yang lebih tinggi. Toh, orangtua cenderung melupakan soal biaya dan tetap mengejar kelengkapan fasilitas yang disediakan TK. Padahal, kelengkapan fasilitas bukan faktor yang paling menentukan. Program kegiatan belajar, materi pembelajaran, dan seperti apa guru-gurunya, seharusnya juga jadi bahan pertimbangan bagi orangtua.</p>
<p>Untuk metoda, menurut Laurentia Tridjaja yang sudah 23 tahun menjadi kepala TK, &quot;Pilih yang lebih banyak menerapkan metode bermain sambil belajar ketimbang yang mengajar secara klasikal.&quot; Bermain, kata Laurentia, merupakan cara belajar yang paling efektif. Sebab, dunia anak adalah dunia bermain. Lewat bermain, anak bukan hanya bisa mengembangkan otot-ototnya, baik otot besar maupun otot halus seperti perkembangan motorik kasar dan halus, tapi juga bisa berfantasi dan mengekspresikan diri.</p>
<p>Lewat bermain pula, sambung Laurentia, anak juga bisa berkomunikasi satu dengan lainnya, bersosialisasi, dan kelak dapat bermasyarakat. &quot;Jadi, bermainnya harus yang punya arti buat anak. Dia bisa mengembangkan imajinasinya, selain bisa melihat bagaimana, sih, dunia yang sesungguhnya. Dia bisa memahami keberadaan di lingkungannya bahwa ia tak sama dengan anak lain, bisa mengikuti peraturan, tata tertib dalam bermain, dan disiplin-disiplin yang diberikan,&quot; terang mantan Kepala TK Strada Tamansari, Jakarta Barat ini.</p>
<p>Keunggulan lain metoda bermain sambil belajar adalah seluruh aspek pancaindera anak dipakai dan dikembangkan dalam bermain. Bagaimana pengamatan dia, penciumannya, perabaannya, dan lainnya. &quot;Jangan salah, lo, di TK juga ada pengajaran mengenalkan anak pada bermacam-macam bau sehingga ia bisa membedakan bau minyak kayu putih, jahe, dan lainnya. Jadi, di rumah, ia tahu soal bumbu dapur, misalnya,&quot; sambung Laurentia.</p>
<p>&#160;</p>
<p><b>SAMBIL CERITA</b></p>
<p>Nah, semua itu, kata Laurentia, sesuai dengan tujuan pendidikan di TK. Yakni, membantu meletakkan dasar ke arah perkembangan sikap, pengetahuan, keterampilan, serta daya cipta yang diperlukan anak didik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan untuk pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya. &quot;Jadi, orangtua jangan berharap bahwa di TK itu anaknya nanti diajari baca-tulis dan matematika seperti di SD. Tidak. Karena TK bukan SD mini. Yang kita lakukan adalah pembentukan perilaku melalui pembiasaan-pembiasaan dan peningkatan kemampuan dasar,&quot; terang mantan Kepala TK Strada St. John Berchmans, Jakarta Pusat ini.</p>
<p>Contoh pembiasaan, lanjutnya, antara lain moral Pancasila, agama, disiplin, perasaan atau emosi, dan kemampuan bermasyarakat. &quot;Jadi, melalui pembiasaan ini, anak dievaluasi bagaimana emosinya, bagaimana dia bermain di dalam kelompoknya atau kemampuan bersosialisasinya,&quot; jelas Laurentia. Sementara melalui peningkatan kemampuan dasar, anak dikembangkan bidang bahasa dan daya pikirnya.</p>
<p>Karena itu, metoda pembelajarannya tak melulu secara klasikal di mana guru berdiri di depan kelas sambil menerangkan sesuatu. Sebaliknya, dilakukan dengan cara bercakap-cakap, bercerita dengan menggunakan macam-macam gambar besar, story reading, gambar seri, sandiwara boneka, dan sebagainya. Anak juga diberi tugas atau praktek langsung semisal menirukan suara binatang tertentu atau cara berjalan si binatang. &quot;Atau tugas yang berfungsi mengembangkan daya cipta seperti melukis, melipat, menggunting, dan sebagainya,&quot; kata lulusan SPG-TK St. Maria Jakarta ini.</p>
<p>Meski semua itu dilakukan sambil bermain, tuturnya lebih lanjut, &quot;Bukan asal bermain saja melainkan bermain yang kreatif dan menyenangkan anak. Juga dilengkapi alat peraga sehingga anak jadi lebih mempunyai minat dan lebih tertarik.&quot; Alat peraga, tuturnya, diperlukan karena anak usia TK belum mampu berpikir abstrak. &quot;Kalau kita mengajarkan suatu benda, harus diperlihatkan bendanya,&quot; tukas Laurentia.</p>
<p>&#160;</p>
<p><b>KONSEP RUANG</b></p>
<p>Masih menurut Laurentia, yang pertama-tama perlu dikembangkan pada anak prasekolah ialah konsep ruang. Misalnya, di dalam dan di luar. Itu pun ada alat peraganya, misalnya kotak dan bola. Guru memasukkan bola ke dalam kotak, lalu mengeluarkannya sambil memberikan penjelasan dengan bahasa yang dimengerti anak. &quot;Konsep tata letak kiri dan kanan juga harus diajarkan. Ini bisa diajarkan dalam berbaris. Si A sekarang barisnya di depan siapa, lalu si B di belakangnya siapa. Si C di samping kirinya siapa, dan sebagainya. Dengan cara ini, anak, selain mengenal temannya lebih dekat, juga dia tahu letak posisi,&quot; papar Laurentia.</p>
<p>Konsep tata letak, lanjutnya, sangat berguna untuk anak belajar menulis nantinya. Sebab, dalam menulis, anak pun harus tahu tata letaknya. Misal, menulis huruf b, perutnya harus ada di sebelah kanan dari garisnya. Atau menulis angka 3. &quot;Sering terjadi, anak tak tahu menulis angka 3. Ada yang menulisnya dalam posisi tidur, bahkan ada yang menulisnya ke kanan seperti huruf E,&quot; tambahnya.</p>
<p>Jadi, tandas Laurentia, meski pembelajarannya bukan bersifat kognisi yang mementingkan baca-tulis dan menghitung, tapi tetap berguna untuk perkembangan kognisi anak nantinya. Sebab, &quot;Itu semua merupakan dasar untuk perkembangan selanjutnya,&quot; tandas Sarjana Pendidikan jurusan Psikologi Pendidikan &amp; Bimbingan dari Universitas Atmajaya Jakarta ini. &quot;Jika anak sudah paham betul letak posisi, saya rasa akan dapat menghindarkan dia dari menulis terbalik dan sebagainya. Tentu pengajarannya harus berulang-ulang, nggak bisa hanya sekali diajari terus anak langsung mengerti,&quot; katanya lagi.</p>
<p>Namun begitu, perlu pula diperhatikan orangtua, apakah TK tersebut juga melihat potensi perkembangan anak secara individual atau tidak. Misalnya, di kelas ada seorang anak yang tingkat kecerdasannya di atas rata-rata atau malah sebaliknya. &quot;Untuk anak-anak seperti ini tentunya perlu penanganan khusus. Maksudnya, kita tak boleh menyamaratakan dengan teman-temannya yang lain, karena potensinya berbeda. Jadi, kita harus betul-betul melihat atas keunikan masing-masing anak dan itu harus dijalankan secara individual,&quot; terang Laurentia.</p>
<p>&#160;</p>
<p><b>HARUS KERJASAMA</b></p>
<p>Oleh sebab itu, sambungnya, guru sangat berperan di TK. &quot;Kalau gurunya tak kreatif, tak bisa menciptakan situasi belajar-mengajarkan yang menyenangkan, anak tak akan tertarik dan proses pembelajaran pun jadi tidak optimal,&quot; katanya. Kendati demikian, lanjutnya, &quot;Kita tak bisa mengatakan, sekolah itu bagus karena guru-gurunya &#8216;hebat&#8217;. Sebetulnya, yang membuat si guru &#8216;hebat&#8217; adalah bagaimana dia bisa berkomunikasi dengan orangtua. Jadi, harus ada kerjasama antara guru dan orangtua.&quot;</p>
<p>Laurentia mengingatkan, anak berada di &quot;sekolah&quot; hanya beberapa jam. &quot;Waktu yang paling lama adalah di rumah. Jadi, apa yang sudah diajarkan pihak TK, disiplin y<br />
ang sudah diajarkan, tata tertib, pembiasaan yang baik, dilanjutkan di rumah,&quot; katanya. Baik juga bila pengasuh anak diajak kerjasama. Apalagi jika kedua orangtua bekerja dari pagi dan baru pulang sore atau malam, sehingga anak lebih banyak bersama pengasuhnya. &quot;Pentingnya kerja sama ini bukan hanya sampai ke orangtua tapi juga pengasuh,&quot; tandasnya.</p>
<p>Pendek kata, tegas Laurentia, &quot;Sebagus apa pun TK, jika tak ada kerjasama yang baik dengan orangtua, hasilnya tak akan optimal seperti yang kita harapkan. Kalau anak pintar tapi emosinya kurang baik, kan, tak seperti yang kita harapkan. Karena kita bukan hanya mengembangkan kognisi anak tapi juga bagaimana agar anak tahu aturan, berelasi dengan teman-temannya, bersosialisasi dengan baik, bisa mengekspresikan dirinya.&quot; Ia juga mengingatkan, orangtua tak bisa sepenuhnya mengandalkan sekolah. Sebab, sekolah sebenarnya hanya membantu orangtua dalam mendidik anak. &quot;Tetap kita, sebagai ayah dan ibu, adalah pemeran utama dalam mendidik anak!&quot; tegasnya.</p>
<p>&#160;</p>
<p><b>Masalah Jarak Rumah Ke TK</b></p>
<p>Perjalanan yang jauh membuat anak lelah. Ini akan berpengaruh pada emosinya. Ia jadi mudah tersinggung dan marah, yang tentunya bisa berakibat buruk dalam hubungannya dengan teman-temannya. Ia pun tak bisa mengikuti program pembelajaran dengan optimal.</p>
<p>Selain itu, jarak yang terlalu jauh membuat jadwal harian anak harus berubah. Ia harus tidur lebih sore karena esoknya harus bangun pagi-pagi sekali. Waktu tidur siangnya juga berubah. Di &quot;sekolah&quot;, ada kemungkinan ia akan mengantuk dan ini berarti akan mengganggunya dalam mengikuti berbagai kegiatan.</p>
<p>Belum lagi jika terjadi kemacetan di perjalanan, yang berarti jadwal hariannya kembali berubah. Orangtua perlu melengkapi anak dengan bekal makan siang, baju ganti, mainan, dan sebagainya. Pendeknya, orangtua tambah repot, anak pun semakin jauh dari rasa happy.</p>
<p>&#160;</p>
<p><b>Sudah Siapkah Si Kecil</b></p>
<p>Faktor kesiapan anak cukup berpengaruh terhadap &quot;keberhasilan&quot;nya selama menjalani proses belajar di TK. Selain dari segi usia memang sudah waktunya, si kecil pun harus sudah berkurang ketergantungannya pada orang lain, terutama pada orangtua. Bila tidak, bisa setiap hari Anda harus menungguinya dan bahkan menemaninya di dalam kelas. Padahal, tak setiap TK membolehkan anak ditunggui dan ditemani seperti itu. Kalaupun boleh, hanya selama beberapa hari pertama saja. Selanjutnya, anak sudah harus masuk sendiri ke dalam kelas dan bergabung dengan teman-temannya sekelas.</p>
<p>Selain itu, tambah Laurentia Tridjaja, juga harus ada minat dari si anak sendiri untuk &quot;sekolah&quot;. Nah, tugas orangtua untuk memotivasi anak agar tumbuh minatnya terhadap &quot;sekolah&quot;. Antara lain dengan memberikan masukan positif tentang &quot;sekolah&quot;. Misalnya, si kecil tertarik saat melihat gambar seorang pilot lalu mengatakan ingin jadi pilot. Orangtua bisa mengatakan, &quot;Kalau kamu mau jadi pilot, kamu harus sekolah. Kalau di rumah saja, nggak bisa.&quot;</p>
<p>Kendati demikian, Laurentia mengingatkan, &quot;TK sebetulnya bukan prasyarat untuk masuk SD. Jadi tak apa-apa kalau anak tidak dimasukkan ke TK.&quot; Hanya saja, memang ada bedanya antara anak yang masuk TK dan tidak. &quot;Anak yang masuk TK biasanya sudah biasa ditanamkan sosialisasi yang baik. Keuntungan lain, dia jadi lebih bisa mengendalikan diri karena sudah menyesuaikan diri dengan lingkungan, tak terlalu egois lagi. Dia bisa belajar berbagi. Kemandiriannya juga terbantu,&quot; terangnya. </p>
<p>Namun begitu, kita sebenarnya juga tak perlu cemas jika karena sesuatu hal si kecil tak dapat masuk TK. Sebab, kata Laurentia, &quot;Sebenarnya semua itu bisa diterima anak di rumah asalkan orangtua mau mengajarinya.&quot;</p>
<p>&#160;</p>
<p><i>Julie Erikania</i></p>
<p>Sumber : tabloid-nakita.com</p>
<p>&#160;</p>
<p>Ps.</p>
<p>Semoga artikel ini sesuai dengan yang diminta oleh <a href="http://www.koleksihawa.co.cc/memilih-sekolah-untuk-anak/" target="_blank">Ibu Juliawati Devi pada artikel Memilih Sekolah Untuk Anak</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.koleksihawa.co.cc/memilih-tk-yang-tepat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mendidik Anak Sejak Dalam Kandungan</title>
		<link>http://www.koleksihawa.co.cc/mendidik-anak-sejak-dalam-kandungan/</link>
		<comments>http://www.koleksihawa.co.cc/mendidik-anak-sejak-dalam-kandungan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Apr 2009 01:37:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ayah Hawa</dc:creator>
				<category><![CDATA[pendidikan anak]]></category>
		<category><![CDATA[mendidik anak sejak dalam kandungan]]></category>
		<category><![CDATA[stimulasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.koleksihawa.co.cc/mendidik-anak-sejak-dalam-kandungan/</guid>
		<description><![CDATA[Anak adalah buah hati, belahan jiwa, perhiasan dunia dan kebanggaan orang tua yang merupakan anugerah, karunia dan nikmat Allah SWT terbesar yang harus dijaga. Maka, kewajiban kedua orang tuanya untuk membimbing dan mendidiknya sesuai dengan petunjuk Allah SWT dan Rasulullah SAW. Dan metode pendidikan terbaik adalah pendidikan yang dimulai sejak anak masih berada dalam kandungan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Anak adalah buah hati, belahan jiwa, perhiasan dunia dan kebanggaan orang tua yang merupakan anugerah, karunia dan nikmat Allah SWT terbesar yang harus dijaga. Maka, kewajiban kedua orang tuanya untuk membimbing dan mendidiknya sesuai dengan petunjuk Allah SWT dan Rasulullah SAW. Dan metode pendidikan terbaik adalah pendidikan yang dimulai sejak anak masih berada dalam kandungan.</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify">Berbagai kebiasaan balita sebenarnya sudah terbentuk saat mereka masih dalam kandungan. Soal makan, misalnya, pada usia kehamilan 8 minggu, indera perasa mulai muncul pada lidah bayi. Pada minggu ke-12 bayi sudah dapat menelan, dan mengecap rasa pada usia 20 minggu sebelum kelahiran. Sementara itu, ibu-ibu hamil, demi memanjakan selera makannya yang kadang tidak umum, sering hanya doyan makanan jenis tertentu, misalnya bakso, es krim atau permen coklat.</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify">Dalam buku <strong>Cara Baru Mendidik Anak Sejak dalam Kandungan, tulisan F. Rene van de Carr, M.D. dan Marc Lehrer, Ph.D., Penerbit KAIFA, Bandung, 1999</strong> menunjukkan bahwa beberapa kebiasaan baik yang dibentuk secara konsisten oleh ibu-ibu hamil pada dirinya dan bayinya selama kehamilan dapat mengurangi pelbagai kesulitan yang mungkin timbul ketika sang anak sudah lahir kedunia. Secara teratur mendengar irama musik tertentu (atau mendengarkan suara orang mengaji, misalnya) atau berceritera dan berdendang untuk si jabang bayi dalam kandungannya, atau melakukan relaksasi, akan memungkinkan ibu-ibu hamil bisa menjalin komunikasi dan membina hubungan positif dengan bayinya.</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify">Menurut <strong>dr Sudjatmiko, MD SpA</strong> (seorang dokter spesialis anak yang juga seorang Dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia) seorang anak dapat dididik dan dirangsang kecerdasannya sejak masih dalam kandungan. Malah, sejak masih janin, orang tua dapat melihat perkembangan kecerdasan anaknya. Untuk bisa seperti itu, orang tua harus memperhatikan beberapa aspek, antara lain terpenuhinya kebutuhan biomedis, kasih sayang, dan stimulasi.</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify">Bicara tentang kecerdasan, tentu saja tidak bisa lepas dari masalah kualitas otak, sedangkan kualitas otak itu dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Secara prinsip, menurut Sudjatmiko, perkembangan positif kecerdasan sejak dalam kandungan itu bisa terjadi dengan memperhatikan banyak hal. Pertama, kebutuhan-kebutuhan biologis (fisik) berupa nutrisi bagi ibu hamil harus benar-benar terpenuhi. Seorang ibu hamil, gizinya harus cukup. Artinya, asupan protein, karbohidrat, dan mineralnya terpenuhi dengan baik.</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify">Selain itu, seorang ibu hamil tidak menderita penyakit yang akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak dalam kandungannya. Kebutuhan nutrisi itu sendiri, sebenarnya bukan hanya ketika ibu mengandung, melainkan ketika ia siap untuk mengandung pun sudah harus memperhatikan gizi, makanan, dan komposisi nutrisinya harus lengkap, sehingga ketika ia hamil, dari segi fisik sudah siap dan proses kehamilan akan berlangsung optimal secara nutrisi.</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify">Tapi, memang di Indonesia atau di negara-negara berkembang pada umumnya&#8211;boleh dikatakan sangat jarang ada keluarga yang mempersiapkan kehamilan. Malah, kerap kehamilan dianggap sebagai suatu yang mengejutkan. Berbeda dengan yang terjadi di negara-negara maju. Inilah yang cenderung menjadi penyebab awal mengapa anak-anak yang lahir kemudian tidak berkualitas, karena orang tua seakan tidak siap dalam segala hal untuk memelihara anaknya.</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify">Faktor kedua adalah kebutuhan kasih sayang. Seorang ibu harus menerima kehamilan itu, dalam arti kehamilan yang benar-benar dikehendaki. Tanpa kasih sayang, tumbuh kembangnya bayi tidak akan optimal. &quot;Si ibu hamil harus siap dan dapat menerima risiko dari kehamilannya,&quot; kata mantan Sekretaris Jenderal Ikatan Dokter Anak Indonesia itu. &quot;Risiko itu, misalnya, seorang wanita karier yang hamil, merasa terbebani dan khawatir akan mengganggu pekerjaannya. Ia sebenarnya ingin hamil, tapi juga merasa terganggu dengan kehamilannya itu. Kondisi seperti ini tidak kondusif untuk merangsang perkembangan bayi dalam kandungannya,&quot; tambahnya.</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify">Selain itu, ada faktor psikologis yang memengaruhi perkembangan kecerdasan bayi, yaitu apakah si ibu hamil menikah secara resmi atau kawin lari. Pernikahannya direstui atau tidak, dan apakah ada komitmen antara istri dan suami. Tanpa komitmen di antara keduanya, kehamilan itu bisa dianggap mengganggu.</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify">Juga harus ada support (dukungan). Tanpa support, walaupun ada komitmen dari suami dan orang tua dapat mengurangi perkembangan dan rangsangan kecerdasan bayi dalam kandungan. &quot;Jadi, variabel kasih sayang tadi adalah komitmen dengan suami, serta support dari orang tua dan keluarga, sehingga seorang ibu dapat menerima kehamilannya dengan hati tenteram,&quot; lanjut Sudjatmiko.</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify">Faktor ketiga adalah adanya perhatian penuh dari si ibu hamil terhadap kandungannya. Ia dapat memberikan rangsangan dan sentuhan secara sengaja kepada bayi dalam kandungannya. Karena secara emosional akan terjadi kontak. Jika ibunya gembira dan senang, dalam darahnya akan melepaskan neo transmitter zat-zat rasa senang, sehingga bayi dalam kandungannya juga akan merasa senang.</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify">Sebaliknya, bila si ibu selalu merasa tertekan, terbebani, gelisah, dan stres, ia akan melepaskan zat-zat dalam darahnya yang mengandung rasa tidak nyaman tersebut, sehingga secara tidak sadar bayi akan terstimuli juga ikut gelisah. &quot;Yang paling baik adalah stimuli berupa suara-suara, elusan, dan nyanyian yang disukai si ibu. Hal ini akan merangsang bayi untuk ikut senang. Berbeda jika si ibu melakukan hal-hal yang tidak disukainya, karena itu sama saja memberikan rangsangan negatif pada bayi,&quot; ujar Sudjatmiko.</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify">Tapi, stimuli itu sendiri lebih efektif bila kehamilan sudah menginjak usia di atas enam bulan. Sebab, pada usia tersebut jaringan struktur otak pada bayi sudah mulai bisa berfungsi.</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify">Untuk mendapatkan kondisi-kondisi itulah, seorang ibu hamil harus tetap menjaga nutrisi yang didapat dari makanan sehari-hari. Bahkan, perlu diimunisasi, misalnya dengan suntik TT. Lakukan juga konsultasi rutin dengan dokter secara berkala. Mula-mula sekali sebulan, dan pada bulan terakhir menjelang kelahiran (partus), diperketat menjadi tiga minggu sekali, lalu dua minggu sekali, dan bahkan mendekati partus menjadi setiap minggu.</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify">Sudjatmiko juga menyarankan untuk tidak meminum obat-obatan yang katanya bisa merangsang perkembangan dan kecerdasan otak bayi. Obat-obatan semacam itu hanya omong kosong. &quot;Pemberian obat semacam itu percuma saja, dan tidak berpengaruh apa-apa,&quot; katanya. &quot;Yang penting, ciptakan saja lingkungan mendidik, yaitu tiga faktor tadi.</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify">Disadur dari:</p>
<ul>
<li>
<div align="justify">Resensi buku </div>
</li>
<li>
<div align="justify">Balita Anda (indoglobal) </div>
</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.koleksihawa.co.cc/mendidik-anak-sejak-dalam-kandungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pahala Yang Selalu Mengalir</title>
		<link>http://www.koleksihawa.co.cc/pahala-yang-selalu-mengalir/</link>
		<comments>http://www.koleksihawa.co.cc/pahala-yang-selalu-mengalir/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Feb 2009 08:48:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ayah Hawa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pernak Pernik]]></category>
		<category><![CDATA[anak shaleh]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu yang bermanfaat]]></category>
		<category><![CDATA[mati syahid]]></category>
		<category><![CDATA[pahala yang selalu mengalir]]></category>
		<category><![CDATA[shodaqoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.koleksihawa.co.cc/pahala-yang-selalu-mengalir/</guid>
		<description><![CDATA[Dengan demikian, ternyata untuk meraih kebahagiaan di akhirat bukanlah persoalan sederhana, karena itu diperlukan keseriusan dan kesungguhan menunjukan identitas keislaman kita di manapun kita berada.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><font size="2" face="Verdana">Kehidupan dunia telah kita yakini dan memang telah terbukti sebagai kehidupan yang sementara. Manusia sebagai salah satu makhluk Allah telah dipastikan akan mati. Sebagai muslim, tidaklah penting kapan dan dimana kita akan mati, yang terpenting adalah apakah kita bisa mencapai kematian dalam keadaan tunduk kepada Allah atau tidak. Seperti kita ketahui, Allah memang menghendaki demikian sebagai mana firman-Nya;</font></p>
<p align="justify"><font size="2" face="Verdana">&quot;Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taaqwa kepadaNya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan berserah diri (muslim).&quot; (QS. Ali Imran ; 102).</font></p>
<p align="justify"><font size="2" face="Verdana">Inilah persoalan besar yang harus diperhatikan setiap manusia, tapi sayang sekali banyak manusia yang mengabaikannya. </font></p>
<p align="justify"><font size="2" face="Verdana">Dalam konsepsi Islam, mati bukanlah akhir dari segalanya, tapi justru mati itu merupakan awal kehidupan yang panjang, yaitu kehidupan akhirat dan setiap kita pasti mengiginkan kebahagiaan di akhirat, karenanya di dalam berdo’a tak pernah kita melupakan membaca &quot;Rabbanaa aatina fiddunyaa hasanah wafil aakhirati hasanah, wa qinaa ‘adzaabannaar&quot;.</font></p>
<p align="justify"><font size="2" face="Verdana">Berdo’a saja tidaklah cukup, kebahagiaan di akhirat juga harus dicapai dengan bekal pahala yang banyak dan untuk memperoleh pahalanya yang banyak berarti harus beramal shaleh yang sebanyak-banyaknya. Meskipun begitu, ada perbuatan yang pahalanya akan terus diraih oleh orang yang beramal, mekipun ia sudah meninggal dunia. Dalam hal ini Rasulullah menunjukkan empat perkara sebagaimana sabdanya yang berbunyi : </font></p>
<p align="justify"><font size="2" face="Verdana">&quot;Ada empat perkara yang mengalir pahalanya setelah pelakunya meninggal dunia, yaitu, orang yang meninggal selagi giat-giatnya berjuang di jalan Allah, orang yang mengajarkan ilmunya, senantiasa mengalir pahala baginya, orang yang memberikan sadaqah akan mengalir shadaqah di mana saja shadaqah itu terletak dan orang yang meninggalkan anak yang shaleh dan anak tersebut selalu berdo’a untuk kebahagiaan.&quot; (Hr. Ahmad dan Thabrani). </font></p>
<p align="justify"><font size="2" face="Verdana">Dari hadis di atas, empat perkara yang dimaksud adalah:</font></p>
<p align="justify"><font size="2" face="Verdana">1. Mati syahid </font></p>
<p align="justify"><font size="2" face="Verdana">Mati syahid adalah kematian yang dicapai tatkala seseorang tengah berjuang menegakan kalimat Allah. Begitu mulianya mati syahid sehingga seorang mu’min yang sebenar-benarnya, di manapun ia berada selalu mendambakannya. Para syuhada di dalam akhirat mendapatkan kenikmatan yang luar biasa, mereka pasti meraih syurga yang dijanjikan Allah, sebagaimana firman-Nya yang berbunyi: </font></p>
<p align="justify"><font size="2" face="Verdana">&quot;Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka, mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh, itu telah menjadi janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an&quot;. (QS At-Taubah ayat 111). </font></p>
<p align="justify"><font size="2" face="Verdana">Oleh sebab itu setiap kita seharusnya tidak segan-segan berjuang di jalan Allah untuk menegakkan kalimat-Nya. Manakala seorang punya kedudukan, kesempatan dan kemampuan seharusnya dimanfaatkannya untuk itu. </font></p>
<p align="justify"><font size="2" face="Verdana">2. Mengajar Ilmu </font></p>
<p align="justify"><font size="2" face="Verdana">Ilmu adalah salah satu kunci dan bekal seseorang untuk mencapai kebenaran serta kebahagiaan di dunia dan akhirat. Oleh sebab itu setiap muslim diwajibkan menuntut ilmu untuk selanjutnya ilmu itu diamalkan demi tegaknya Al Haq (kebenaran). Salah satu cara mengamalkan ilmu adalah dengan mengajarkannya pada orang lain sehingga orang lain dengan memahami dan mengamalkan yang kita peroleh. Nabi SAW bersabda: </font></p>
<p align="justify"><font size="2" face="Verdana">&quot;Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar dan mengajarkannya&quot; (HR. Muslim). </font></p>
<p align="justify"><font size="2" face="Verdana">Ilmu itu hendaklah seperti air, ia selalu mengalir dan membersihkan yang kotor serta menyuburkan tanah yang tandus. Dengan mengajarkan ilmu diharapkan orang yang diajarkannya dapat menghilangkan sifat-sifat yang buruk dan menumbuhkan sifat-sifat yang baik. Oleh sebab itu belajar dan mengajar dalam ajaran Islam mendapat keutamaan sendiri. Tapi bila seseorang tidak memanfaatkan ilmunya untuk kebaikan, maka Allah menyediakan siksa untuknya. Nabi SAW, bersabda; </font></p>
<p align="justify"><font size="2" face="Verdana">&quot;Seberat-berat siksaan atas manusia pada hari kiamat adalah orang alim yang tidak mengajarkan ilmunya.&quot; (HR Thabrani). </font></p>
<p align="justify"><font size="2" face="Verdana">Karena orang yang tidak memanfaatkan ilmunya akan diazab Allah, kita juga jangan berpendapat; &quot;kalau begitu lebih baik saya tidak punya ilmu saja dari pada tidak memanfaatkan&quot;. Padahal Allah justru akan mengazab orang-orang yang tidak mau tahu atau tidak mau menuntut ilmu. </font></p>
<p align="justify"><font size="2" face="Verdana">3. Bershadaqah </font></p>
<p align="justify"><font size="2" face="Verdana">Memperbanyak harta merupakan salah satu kesenangan manusia, Allah memang mempersilahkan manusia untuk mencari harta sebanyak mungkin, tapi dari sekian banyak harta yang didapatkan, sebagai muslim kita berkewajiban mengeluarkan sebagian kecilnya untuk kepentingan Islam serta ummatnya. Kasadaran ini harus terus dipupuk karena pembangunan Islam dan ummatnya tidak lepas dari keterikatan pada dana yang didapat dari kesadaran bershadaqah. Oleh sebab itu setiap muslim diwajibkan untuk mewujudkan kesadaran bershadaqah manakala ingin meraih kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat. Tapi bila tetap bermegah-megahan dengan harta dan tidak mau menshadaqahkannya, maka azab Allah menanti, sebagaimana firman-Nya: </font></p>
<p align="justify"><font size="2" face="Verdana">&quot;Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat dan pencela. Yang mengumpulkan harta dan menhitung-hitung. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya. Sekali-kali tidak ! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan kedalam huthomah, Dan tahukah kamu apa huthomah itu, (yaitu) api (yang disediakan) Allah, yang dinyalakan. Yang (naik) sampai ke hati.&quot; (QS al Humazah: 1 &#8211; 7) </font></p>
<p align="justify"><font size="2" face="Verdana">Bila shadaqoh telah dikeluarkan, baik dalam bentuk uang maupun barang, maka orang yang mengeluarkannya manakala betul-betul ikhlas akan meraih pahala, sebab uang serta barangnya itu terus berguna bagi kepentingan Islam dan ummatnya. </font></p>
<p align="justify"><font size="2" face="Verdana">4. Anak Yang Shaleh </font></p>
<p align="justify"><font size="2" face="Verdana">Tiap orang yang menikah, pasti mengiginkan punya anak, dan tiap orang tua yang muslim, pasti ingin agar anaknya menjadi anak yang shaleh. Karena itu pagi siang, sore dan malam kita selalu berdo’a agar Allah menganugerahi keturunan yang shaleh. Namun dalam konsepsi Islam, anak yang shaleh itu bukan sekedar didambakan dan meraihnya hanya dengan do’a. Tapi RasuluLlah pernah menegaskan: </font></p>
<p align="justify"><font size="2" face="Verdana">&quot;Didiklah anak-anakmu dan perbagus adab mereka&quot; (HR. Ibnu Majah) </font></p>
<p align="justify"><font size="2" face="Verdana">Dengan begitu, orang tua yang ingin anaknya shaleh, seharusnya dialah yang mendidiknya secara langsung. Kalau kemudian ada lembaga pendidikan Islam. guru ngaji dan sebagainya yang ikut serta mendidik sang anak, itu hanyalah pelengkap, maka orang tua tidak boleh merasa kewajibannya mendidik anak telah gugur karena telah menyekolahkan anaknya di sekolah Islam atau memanggil guru ngaji ke rumah. Ini perlu dipertegas mengingat banyak orang tua yang berprinsip demikian. </font></p>
<p align="justify"><font size="2" face="Verdana">Persoalan lain dalam hal pendidikan anak adalah, banyak orang tua yang seolah-olah kehabisan cara menghadapi anak-anaknya. Karena itu, perlu kita simak petunjuk Dr. Abdullah Nashih Ulwan dalam bukunya &quot;Tarbiyatul Aulad Fil Islam&quot;. Beliau menyebutkan lima metode dalam mendidik anak. Pertama, mendidik dengan keteladanan, dalam arti orang tua harus memberikan teladan atau contoh yang baik kepada anak-anaknya, ini berarti, kalau orang tua ingin anaknya menjadi shaleh, orang tuanyalah yang harus lebih dulu shaleh. </font></p>
<p align="justify"><font size="2" face="Verdana">Kedua, mendidik anak dengan pembiasaan yang baik, dalam arti orang tua harus menanamkan kebiasaan-kebiasaan baik kepada anak-anaknya, orang tua tidak bisa pakai prinsip, &quot;ah nanti juga kalau sudah besar mereka tahu mana yang baik dan mana yang tidak.&quot; Mungkin mereka bisa tahu mana yang baik dan mana yang buruk, tapi mereka tidak mampu melaksanakan yang baik dan meninggalkan yang tidak baik manakala tidak dibiasakan sejak kecil, inilah pentingnya membiasakan hal-hal yang baik kepada anak sejak anak itu kecil. </font></p>
<p align="justify"><font size="2" face="Verdana">Ketiga, mendidik dengan mengajarkan ilmu pengetahuan dan dialog tentang berbagai persoalan. Dalam hal ini amat penting orang tua mampu menanamkan pengertian kepada anak-anaknya, dan dialog merupakan cara yang paling tepat, apalagi menghadapi anak yang sudah memasuki usia remaja. Namun sayang sekali, karena kesibukan orang tua, justru suasana yang dialogis jarang tercipta pada keluarga-keluarga kita sekarang ini. </font></p>
<p align="justify"><font size="2" face="Verdana">Keempat, mendidik dengan memberikan pengawasan dan nasehat. Dalam era sekarang. Pengawasan dari orang tua terhadap anak-anaknya sangat diperlukan, sehingga orang tua tahu perkembangan jiwa atau kepribadian anaknya dari waktu kewaktu. Kalau orang tua tahu perkembangan jiwa anaknya, maka ia tahu nasihat apa yang harus diberikan kepada mereka. </font></p>
<p align="justify"><font size="2" face="Verdana">Kelima, mendidik dengan memberikan hukuman, ini dilakukan bila cara-cara yang lemah lembut tidak membuat si anak berubah ke arah yang lebih baik. Namun menghukum anak tidak selalu dalam bentuk hukuman fisik, tapi lakukanlah dengan cara-cara yang sifatnya edukatif (mendidik), misalnya biasanya si anak di beri uang jajan sehari Rp. 500,- tapi karena si anak bagun tidurnya kesiangan dan tidak shalat shubuh, maka uang jajannya dipotong menjadi Rp. 250,- Tiap orang tua tentu lebih tahu, hukuman apa yang lebih tepat untuk anak-anaknya. </font></p>
<p align="justify"><font size="2" face="Verdana">Dengan demikian, ternyata untuk meraih kebahagiaan di akhirat bukanlah persoalan sederhana, karena itu diperlukan keseriusan dan kesungguhan menunjukan identitas keislaman kita di manapun kita berada.     <br />Oleh :      <br />Drs. H. Ahmad Yani</font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.koleksihawa.co.cc/pahala-yang-selalu-mengalir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bakat Anak</title>
		<link>http://www.koleksihawa.co.cc/bakat-anak/</link>
		<comments>http://www.koleksihawa.co.cc/bakat-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Jan 2009 07:10:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ayah Hawa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan anak]]></category>
		<category><![CDATA[bakat anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.koleksihawa.co.cc/bakat-anak/</guid>
		<description><![CDATA[Paradigma ini bukan saja mengurai dan mencakup aspek sifat, bakat dan kemampuan sekaligus, melainkan juga mengarahkan agar pengembangan aspek-aspek ini terus memelihara perspektif tentang tujuan akhir dari semua upaya, yakni kejahteraan dan kebahagiaan anak.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cukup banyak teori tentang bakat dan anak berbakat yang bisa kita baca dari berbagai buku. Salah satunya bakat anak yang dibagi dalam 5 bidang, yaitu bakat intelektual umum, akademik khusus (sepeti sastra, matematik dan lainnya), kreatif produktif, psikososial atau motorik (seperti dalam olahraga dan menari).</p>
<p>Namun yang paling populer adalah pengenalan bakat berdasarkan kecerdasan majemuk atau multiple intelligence yang dikembangkan Howard Gardner.</p>
<p>Paradigma ini bukan saja mengurai dan mencakup aspek sifat, bakat dan kemampuan sekaligus, melainkan juga mengarahkan agar pengembangan aspek-aspek ini terus memelihara perspektif tentang tujuan akhir dari semua upaya, yakni kejahteraan dan kebahagiaan anak.</p>
<p>Gardner menggunakan kata kecerdasan (intelligence) sebagai pengganti kata “bakat”. Ada sembilan kecerdasan yang diidentifikasi oleh Gardner: kecerdassan logis-matematis, linguistik-verbal (kebahasaan), spasial-visual, musikal, kinetetik-ragawi, naturalis, intrapersonal, interpersonal, eksistensal. Kecerdasan pertama dan kedua dianggap sebagai ukuran kecerdasan konvensional yang biasa disebut IQ (Intelligence Quotient). Jenis-jenis kecerdasan yang belakangan populer disebut seagai Emotional Quotient (EQ) dalam teori Gardner ditunjukkan dengan kecedasan intrapersonal dan interpersonal. Serta Spiritual Quotient (SQ) disebut sebagai kecerdasan eksistensial.</p>
<p>Nah, keenam kecerdasan pertama dapat dikelompokkan ke dalam kategori keterampilan (life skill) yang dibutuhkan sebagai bekal bagi keberhasilan dalam mendapatkan tempat di percaturan pean dan dunia kerja. Kecerdasan ketujuh dan kedelapan merupakan sifat-sifat yang penting bukan hanya bagi kesejahteraan emosional, melainkan juga jaminan bagi kemampuan memanfaatkan keterampilan-keterampilan tersebut untuk mengantar kepada kesuksesan karier. Sedangkan kecerdasan eksistensial mutlak dibutuhkan sebagai jaminan bahwa semua kesuksesan hidup yang bisa dicapai dapat benar-benar mendatangkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup itu sendiri.</p>
<p><strong>1. LINGUISTIK-VERBAL (KEBAHASAAN)</strong></p>
<p><a href="http://koleksihawa.co.cc/wp-content/uploads/2009/01/membaca1.jpg"><img style="border-right-width: 0px; margin: 0px 5px 0px 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="membaca" src="http://koleksihawa.co.cc/wp-content/uploads/2009/01/membaca-thumb1.jpg" border="0" alt="membaca" width="172" height="117" align="left" /></a> * Menaruh minat pada orang yang berbicara dengannya di usia 3 bulan<br />
* Mengucapkan kata “ma&#8230;”, “pa&#8230;”, atau “num” pada usia sekitar 6 bulanan<br />
* Mampu mengikuti perintah sederhana pada usia 6 bulanan, semisal, “Ayo, tunjukkan mana hidungmu pada Mama.”<br />
* Punya lebih dari 200 perbendaharaan kata di usia 1 tahun<br />
* Menggunakan 2 kata kombinasi yang diucapkan dengan jelas seperti, “Mau minum” di usia 1 tahun dan kalimat pendek pada usia 3 tahun.<br />
* Anda mengerti apa yang dibicarakannya pada usia 2 tahun dengan artikulasi yang jelas.<br />
* Pada usia 4 tahun sudah mampu membuat kalimat lengkap dengan penempatan subjek, predikat, dan objek yang sempurna.<br />
* Di usia 5 tahun, ia mampu merangkai cerita sederhana beberapa anak bahkan menuliskannya.<br />
* Diusia 6 tahun, biasanya menyenangi kegiatan yang berkaitan dengan penggunaan bahasa seperti membaca, menulis karangan, membuat puisi, menyusun kata-kata mutiara dan sebagainya. Anak-anak seperti ini juga cenderung memiliki daya ingat yang kuat dan mempunyai argumentasi yang menonjol.</p>
<p><strong>2. LOGIS-MATEMATIS</strong></p>
<p><a href="http://koleksihawa.co.cc/wp-content/uploads/2009/01/organ1.jpg"><img style="border-right-width: 0px; margin: 0px 5px 0px 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="organ" src="http://koleksihawa.co.cc/wp-content/uploads/2009/01/organ-thumb1.jpg" border="0" alt="organ" width="170" height="115" align="left" /></a> Kecerdasan logis-matematis terlihat dari ketertarikan anak mengolah hal-hal yang berhubungan dengan matematika dan peristiwa ilmiah. Bedanya dengan kecerdasan lain, kecerdasan ini mempunyai suatu komponen khas, yakni sebagai kepekaan dan kemampuan untuk membedakan pola logika atau numerik, dan kemampuan menangani rangkaian penalaran yang panjang.</p>
<p>Contoh, anak usia 2 – 4 tahun senang sekali menghitung-hitung benda-benda sekelilingnya. Karenanya, lingkungan bisa dijadikan sebagai sarana untuk menstimulasi. Hitunglah sama-sama ada berapa kuntum bunga di sebuah cabang pohon di depan rumah, misal.</p>
<p><strong>3. SPASIAL-VISUAL</strong></p>
<p><a href="http://koleksihawa.co.cc/wp-content/uploads/2009/01/montir1.jpg"><img style="border-right-width: 0px; margin: 0px 5px 0px 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="montir" src="http://koleksihawa.co.cc/wp-content/uploads/2009/01/montir-thumb1.jpg" border="0" alt="montir" width="154" height="134" align="left" /></a> * Sangat senang bermain dengan bentuk dan ruang (rancang bangun), seperti pasel dan balok.<br />
* Hafal sekali jalan yang pernah dilewati. Ia akan protes kalau jalan yang dilewatinya berbeda, padahal maksudnya agar terhindar dari kemacetan saat mengantarnya ke rumah sakit, misal. Tak jarang, ia memandu pengemudi untuk melalui jalan yang dikenalnya.<br />
* Tak banyak bicara, melainkan lebih aktif mengerjakan hal-hal yang berkaitan dengan abstraksi ruang seperti mencoret-coret, mewarnai, bermain pasel, menyusun balok, dan sebagainya. Kegiatan ini jauh lebih diminati anak dibandingkan dengan minat verbalnya.<br />
* Memiliki problem solving yang lebih baik dibandingkan anak lain karena dia bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelahnya.<br />
* Senang mengukur-ukur mana yang lebih panjang dan pendek, besar dan kecil, atau jauh dan dekat dengan alat-alat sederhana yang ditemukannya di rumah atau dengan anggota tubuhnya sendiri seperti menjengkal atau melangkah.<br />
* Bisa menangkap perkiraan atau jarak. Jika berlari, misal, ia bisa mengantisipasi diri dengan ruang hingga tak menabrak.<br />
* Memiliki perhatian yang tinggi terhadap detail, seperti gradasi atau ukuran yang berbeda-beda tipis seumpama dua benda yang sama persis hanya beda sekian milimeter, misal.</p>
<p><strong>4. MUSIKAL</strong></p>
<p><a href="http://koleksihawa.co.cc/wp-content/uploads/2009/01/musisi1.jpg"><img style="border-right-width: 0px; margin: 0px 5px 0px 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="musisi" src="http://koleksihawa.co.cc/wp-content/uploads/2009/01/musisi-thumb1.jpg" border="0" alt="musisi" width="155" height="155" align="left" /></a> * Memiliki kepekaan terhadap suaru, nada dan irama.<br />
* Terlihat menikmati saat bermain musik.<br />
* Sangat suka mendengarkan lagu &amp; musik.<br />
* Suka bersenandung atau bernyanyi.<br />
* Saat bersedih, tampak langsung berbahagia kala mendengarkan lagu atau musik.<br />
* Dapat menyebutkan dengan tepat kunci nada saat mendengarkan musik.<br />
* Memiliki suara yang merdu.<br />
* Mampu mengingat syair dengan baik.</p>
<p><strong>5. KINESTETIK RAGAWI</strong></p>
<p><a href="http://koleksihawa.co.cc/wp-content/uploads/2009/01/penari1.png"><img style="border-right-width: 0px; margin: 0px 5px 0px 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="penari" src="http://koleksihawa.co.cc/wp-content/uploads/2009/01/penari-thumb1.png" border="0" alt="penari" width="114" height="140" align="left" /></a> * Terlihat tak bisa diam, selalu ingin melakukan sesuatu, bergerak-gerak aktif ketika duduk. Deteksi ini bisa terlihat sejak bayi.<br />
* Senang kegiatan fisik, seperti berlompat-lompat, olah raga atau permainan fisik, semisal kejar-kejaran, bersepeda, gulat-gulatan, dan sebagainya.<br />
* Anak perlu menyentuh objek yang sedang dipelajari. Misal, guru menerangkan dengan alat peraga. Nah, si body smart biasanya akan maju ke depan karena ingin menyentuh alat peraga tersebut.<br />
* Terampil mengerjakan kerajinan tangan seperti menjahit, membuat bentuk-bentuk dari lilin mainan, dan sebagainya.<br />
* Suka dan bisa menirukan perilaku/gerakan orang lain dengan baik. Contoh, sekali menyaksikan artis berlenggak-lenggok di layar kaca, anak sudah bisa menirukannya.<br />
* Suka bekerja dengan tanah liat, melukis dengan tangan atau bekerja dengan menggunakan anggota tubuh lainnya.<br />
* Suka mengutak-atik benda yang menarik baginya. Umpama, membongkar pasang mainan. Orang tua yang kurang peka akan menganggap anak ini nakal karena suka “merusak” mainannya.</p>
<p><strong>6. NATURALIS</strong></p>
<p><a href="http://koleksihawa.co.cc/wp-content/uploads/2009/01/peneliti1.jpg"><img style="border-right-width: 0px; margin: 0px 5px 0px 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="peneliti" src="http://koleksihawa.co.cc/wp-content/uploads/2009/01/peneliti-thumb1.jpg" border="0" alt="peneliti" width="169" height="135" align="left" /></a>* Sangat tertarik dengan berbagai kegiatan yang dilakukan di luar rumah. Begitu juga dengan sistem pembelajaran di sekolah, dia lebih menyenangi aktifitas belajar dilakukan di luar ruangan atau kelas dengan mengobservasi alam.</p>
<p>* Senang bermain di taman, kebun, serta akrab dengan berbagai binatang peliharaan seperti kucing, kelinci, anjing dan sebagainya.</p>
<p>* Sering mempertanyakan berbagai gejala alam, entah itu mengenai gempa, tsunami, dan sebagainya.</p>
<p>* Menyukai aktifitas berkemah, hiking, memancing, dan kegiatan rekreasi lain yang berhubungan dengan alam, seperti pantai, laut, hutan, dan sebagainya.</p>
<p>* Senang mengoleksi berbagai benda dari alam, seperti kerang-kerangan, batu-batuan, dan lainnya.</p>
<p><strong>7. INTERPERSONAL</strong></p>
<p><strong><em>- Memiliki Empati</em></strong></p>
<p><a href="http://koleksihawa.co.cc/wp-content/uploads/2009/01/empati1.jpg"><img style="border-right-width: 0px; margin: 0px 5px 0px 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="empati" src="http://koleksihawa.co.cc/wp-content/uploads/2009/01/empati-thumb1.jpg" border="0" alt="empati" width="145" height="98" align="left" /></a> Anak memiliki kemampuan memahami perasaan orang lain. Dia begitu peka dengan situasi dan kondisi yang ada dan tahu tindakan dan sikap yang mesti dilakukan pada masing-masing kondisi. Saat temannya sedih karena kehilangan boneka, misal, dia berusaha menghiburnya dengan meminjamkan boneka miliknya.</p>
<p><strong><em>- Bersikap Asertif</em></strong></p>
<p><a href="http://koleksihawa.co.cc/wp-content/uploads/2009/01/asertif1.jpg"><img style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; margin: 0px 5px 0px 0px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px" title="asertif" src="http://koleksihawa.co.cc/wp-content/uploads/2009/01/asertif-thumb1.jpg" border="0" alt="asertif" width="103" height="104" align="left" /></a> Saat orang lain mencoba merampas haknya, dia tahu apa yang mesti dilakukan. Dia bisa mengemukakan kepentingan dan hak-haknya tanpa merugikan orang lain, I am OK you are OK. Anak tidak pasif dengan selalu mengalah, tapi dia juga menjauhkan sikap egois yang menempatkan semua keinginannya di tingkat tertinggi. Dia bisa bertindak di antara ke dua sifat tersebut. Saat mobil mainannya direbut, da tidak diam atau menangis tetapi juga tidak langsung memukul si perebut, melainkan berkata, “Jangan ambil mainanku sembarangan. Kamu boleh memainkannya setelah aku.”</p>
<p><strong><em>- Bisa Bekerja Sama</em></strong></p>
<p><a href="http://koleksihawa.co.cc/wp-content/uploads/2009/01/kerjasama1.jpg"><img style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; margin: 0px 5px 0px 0px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px" src="http://koleksihawa.co.cc/wp-content/uploads/2009/01/kerjasama-thumb1.jpg" border="0" alt="" width="146" height="193" align="left" /></a> Anak bisa mengetahui dengan jelas mana yang menjadi tugasnya dan mana tugas orang lain. Dia juga tak punya masalah hubungan dengan masing-masing anggota kelompok. Tak jarang, kemampuannya bekerja sama membuat anak dipercaya memimpin kelompok tersebut.</p>
<p>Jiwa kepemimpinannya memang terlihat jelas. Inisiatifnya mengambil keputusannya sangatlah baik. Setelah memahami tugas yang di embaninya, dia bisa mengatur dan mengendalikan teman-temannya untuk mencapai suatu tujuan. Bak permainan sepak bola, ia mampu mengatur para pemainnya agar memenangkan pertandingan.</p>
<p>Ini juga diperkuat oleh kemampuannya yang dimiliki orang lain. Lewat cara itulah anak bisa menempatkan sesorang dalam posisi yang tepat. Saat diberi tugas mendirikan tenda di perkemahan, misal, dia bisa mengatur siapa yang memasang tali, menancapkan pondasi, memasang tiang, dan sebagainya.</p>
<p><strong><em>- Mediator dalam Konflik</em></strong></p>
<p><a href="http://koleksihawa.co.cc/wp-content/uploads/2009/01/maaf1.jpg"><img style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; margin: 0px 5px 0px 0px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px" title="maaf" src="http://koleksihawa.co.cc/wp-content/uploads/2009/01/maaf-thumb1.jpg" border="0" alt="maaf" width="106" height="72" align="left" /></a> Jiwa kepemimpinan yang dimiliki membuat anak lihai dalam menyelesaikan konflik antar teman. Terlebih jika anak mengenal dengan jelas kedua belah pihak yang bertentangan. Dengan kemampuan komunikasinya yang baik, dia bisa mengajak keduanya untuk menyelesaikan masalah dengan keputusan saling menguntungkan.</p>
<p><strong><em>- Gampang Berteman</em></strong></p>
<p><a href="http://koleksihawa.co.cc/wp-content/uploads/2009/01/berteman1.jpg"><img style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; margin: 0px 5px 0px 0px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px" title="berteman" src="http://koleksihawa.co.cc/wp-content/uploads/2009/01/berteman-thumb1.jpg" border="0" alt="berteman" width="104" height="79" align="left" /></a> Fleksibel, mudah bergaul, dan tidak pilih-pilih teman. Ia pun tak alergi pada teman atau orang baru. Bahkan tak jarang, ia menganggap sosok yang baru dikenalnya tersebut sebagai teman lama.</p>
<p><strong>8. INTRAPERSONAL</strong></p>
<p>Penting diperhatikan, kecerdasan intrapersonal harus dibarengi pula dengan kecerdasan interpersonal. Pasalnya, dalam kehidupan sehari-hari, di sekolah, misalnya, anak-anak yang mempunyai kecerdasan intrapersonal kelewat menonjol, kesannya sulit diarahkan. Ini disebabkan, mereka memiliki prinsip diri yang kokoh. Mereka juga sangat keras kemauannya, sehinggga kalau dia sudah punya argumen atau pendapat, orang lain sering kali susah untuk mematahkannya. Tak heran di mata teman-temannya ia terkesan egois, mau menang sendiri, agak sulit bekerja sama dengan orang lain, inginnya selalu dipahami bukan memahami, juga penampilannya sering kali eksentrik. Mereka juga terkesan tak butuh teman. Jika orang lain membencinya, mereka tak akan merasa sedih, kecewa, apalagi sampai meninggalkan keyakinannya hanya untuk bisa diterima bergabung dengan orang lain. Sebagian besar dari anak-anak ini juga mempunyai pribadi yang tertutup. Maksudnya, jika mereka mempunyai hobi, pendapat atau sesuatu hal, mereka tak pernah bicara kepada orang lain, kecuali pada segelintir teman dekat yang sangat dipercayainya. Itulah mengapa, anak-anak yang cerdas diri ini harus juga cerdas sosial, sehingga mereka bisa sensitif terhadap perasaan orang lain atau lingkungan sekitarnya.</p>
<p><strong>9. EKSISTENSIA (SPIRITUAL)</strong></p>
<p>Ciri anak yang memiliki SQ yang menonjol adalah baik pada sesama dan rajin menjalankan ibadah. biasanya ini terlihat saat dia berinteraksi dengan sesama dan lingkungannya. Ramah dan baik pada siapa pun, tak pernah membuka aib (kejelekan, kekurangan, dan kekhilafan) orang lain apabila menyebarkanya, dan mampu menangkap esensi dari agama yang dia anut, misalnya.</p>
<p>Ditulis oleh Subiyanto</p>
<p>Diambil dari Web Departemen Sosial dengan sedikit modifikasi dan tambahan ilustrasi gambar.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.koleksihawa.co.cc/bakat-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tarbiyah Imaniyah Buat Anak</title>
		<link>http://www.koleksihawa.co.cc/tarbiyah-imaniyah-buat-anak/</link>
		<comments>http://www.koleksihawa.co.cc/tarbiyah-imaniyah-buat-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Dec 2008 03:21:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ayah Hawa</dc:creator>
				<category><![CDATA[pendidikan anak]]></category>
		<category><![CDATA[tarbiyah imaniyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.koleksihawa.co.cc/tarbiyah-imaniyah-buat-anak/</guid>
		<description><![CDATA[Iman merupakan hak asasi dalam kehidupan seorang muslim, sedang tarbiyah merupakan kebutuhan pokok setiap insan. Tarbiyah imaniyah adalah tarbiyah yang ditujukan untuk meningkatkan iman, ma’nawiyah (mentalitas), akhlaq (moralitas), dan syakhsyiyah (kepribadian) daripada mutarobiyyin (anak didik).]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu aspek yang sering kita lupakan dalam mendidik anak-anak adalah tarbiyah ruhiyah. Jangankan untuk anak, untuk diri sendiri pun kita sering lupa dengan tarbiyah bentuk ini. Padahal, seperti halnya akal dan pikiran perlu mendapat pendidikan, ruh kitapun wajib mendapatkan haknya.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Untuk mendidik akal dan meningkatkan kapasitas intelektual orang tua menyekolahkan anak ke sekolah-sekolah favorit. Tetapi dalam masalah pendidikan keimanan seringkali enggan memberi porsi yang cukup. Bahkan tidak perduli walaupun sekolah tersebut tidak memberikan pendidikan Islam yang memadai.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Iman merupakan hak asasi dalam kehidupan seorang muslim, sedang tarbiyah merupakan kebutuhan pokok setiap insan. Tarbiyah imaniyah adalah tarbiyah yang ditujukan untuk meningkatkan iman, ma’nawiyah (mentalitas), akhlaq (moralitas), dan syakhsyiyah (kepribadian) daripada mutarobiyyin (anak didik).</p>
<p>&#160;</p>
<p>Iman kepada Allah dan hari akhir wajib mendapat pupuk yang menyegarkan, disiram dengan air agar terus menerus tumbuh di lahannya secara bertahap dan tawazun (seimbang) menuju kesempurnaan. Iman tumbuh subur karena didasari hubungan yang intens dengan Allah dalam berbagai bentuknya. Cobalah simak hasil tarbiyah pada seorang anak di masa salaf dahulu.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Abdullah bin Dinar berkisah tentang perjalanannya bersama Khalifah Umar bin Khattab. Beliau mengatakan, &quot;Saya bersama Umar bin Khattab r.a. pergi ke Makkah dan beristirahat di suatu tempat. Lalu terlihatlah anak gembala dengan membawa banyak gembalaannya turun dari gunung dan berjumpa dengan kami. Umar bin Khattab berkata, &quot;Hai penggembala, juallah seekor kambingmu itu kepadaku!&quot;</p>
<p>Anak kecil penggembala itu menjawab, &quot;Aku bukan pemilik kambing ini, aku hanya seorang budaknya.&quot; Umar menguji anak itu, &quot;Katakanlah kepada tuanmu bahwa salah seekor kambingnya dimakan srigala.&quot;</p>
<p>Anak itu termenung lalu menatap wajah Umar, dan berkata, &quot;Maka di manakah Allah?&quot;</p>
<p>Mendengar kata-kata yang terlontar dari anak kecil ini, menangislah Umar. Kemudian beliau mengajak budak itu kepada tuannya kemudian memerdekakannya. Beliau berkata pada anak itu, &quot;Kalimat yang telah engkau ucapkan tadi telah membebaskanmu di dunia ini, aku harap kalimat-kalimat tersebut juga akan membebaskanmu kelak di akhirat.&quot;</p>
<p>&#160;</p>
<p>Kejadian di atas menunjukkan salah satu pengaruh dari pengenalan terhadap Allah. Kejadian serupa itu sudah sangat jarang terjadi saat ini. Sekarang ini, di masyarakat kita kejujuran dan kebenaran seolah sudah tak ada harganya. Coba bandingkan dengan sikap Umar yang menghargai anak tersebut dengan membebaskannya dari perbudakan.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Mungkin timbul pertanyaan: bagaimanakah seorang anak kecil di masa itu bisa menjadi begitu yakin dengan pengawasan Allah (muroqobatullah) yang berlaku pada setiap manusia?</p>
<p>&#160;</p>
<p>Keyakinan lahir dari suatu pendidikan dan latihan yang benar. Di mana kekhalifahan Umar, masyarakat Islam sudah terbentuk dan masyarakat ini menghasilkan bi’ah (lingkungan) yang baik bagi anak tersebut, kendati ia berada di gurun. Pengaruh sistem pendidikan Islam telah merembes ke berbagai tempat sehingga setiap orang benar-benar meyakini dan menghayati syariat Allah.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Tarbiyah imaniyah untuk anak-anak merupakan satu pendidikan yang meliputi hal-hal berikut: </p>
<p>&#160;</p>
<p>1. Upaya melaksanakan dan menghayati nilai-nilai ibadah kepada Allah dalam arti yang seluas-luasnya sesuai dengan bimbingan Rasulullah SAW.</p>
<ol>
<li>2. Pembiasaan dalam mengingat Allah (dzikrullah) dengan membaca ayat-ayat Al Qur’an atau dengan menyebut-nyebut nama Allah dengan cara yang tepat di saat-saat tertentu.     <br />3. Membiasakan merasakan adanya bimbingan Allah dalam melaksanakan kebaikan dan pengawasan Allah dalam setiap aspek kehidupan. Yaitu dengan menghubungkan kejadian-kejadian sehari-hari yang dialaminya dengan kekuasaan Allah.</li>
</ol>
<p>4. Membiasakan menggantungkan diri kepada Allah misalnya dengan berdo’a dalam berbagai situasi dan kondisi.</p>
<p>5. Meningkatkan akhlak (perilaku) yang baik dengan mencontohkan tindakan-tindakan baik dan memperbaiki perilakunya pada saat anak melakukan keburukan.</p>
<p>6. Memberikan motivasi dan rangsangan dengan memuji atau memberi hadiah ketika anak berbuat baik, memberi manfaat kepada orang lain, atau menyenangkan orang lain kendati orang tersebut tidak menyadarinya.</p>
<p>7. Membimbing hal-hal lain untuk yang berhubungan dengan pendekatan diri kepada Allah.</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>Metode Tarbiyah</strong></p>
<p>&#160;</p>
<p>Pembekalan keimanan bagi anak-anak berorientasi pada penyiapan pemahaman dan pembiasaan berbagai hal yang kelak dapat menolong anak untuk melakukan sendiri berbagai kegiatan yang dapat memelihara ruhiyahnya.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Anak-anak sebenarnya lebih mudah menerima hal-hal yang bersifat teoritis kendati bersumber dari alam ghaib (tidak nampak). Karena secara fitrah mereka mudah mempercayai orang tua, guru, atau kawan dekatnya. Anak-anak senantiasa jujur dan tidak mau didustai seperti pada kisah Umar bin Khattab di atas. Ini menunjukkan bahwa kejujuran mereka amat mudah mendekatkan mereka kepada Allah.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Tarbiyah imaniyah untuk anak-anak dapat diberikan dengan jalan:</p>
<p>&#160;</p>
<p>1. Dengan Contoh dan Keteladanan</p>
<p>Anak-anak adalah makhluk yang paling senang meniru. Orang tuanya merupakan figur dan idolanya. Bila mereka melihat kebiasaan baik dari ayah ibunya, maka mereka pun akan dengan cepat mencontohnya. Orang tua yang berperilaku buruk akan ditiru perilakunya oleh anak-anak. Anak paling mudah mengikuti kata-kata yang keluar dari mulut kita. Misalnya dalam mensyukuri segala nikmat yang diperoleh dalam keluarga. Kepada anak harus senantiasa diingatkan betapa semua rezeki bersumber dari Allah. Apabila kita memberi pisang kepada anak misalnya, sempatkanlah bertanya , &quot;Darimana pisang ini, Nak?&quot; &quot;Dari Umi,&quot; jawab si anak. &quot;Ya. Tetapi sebenarnya pisang ini pemberian Allah kepada kita. Allah menyampaikannya melalui Umi.&quot;</p>
<p>Dengan cara demikian, dalam peristiwa sederhana ini kita mencontohkan bagaimana mengingatkan Allah dan mensyukuri pemberian-Nya. Mengucapkan hamdalah ketika menerima sesuatu dan menjelaskan kepada mereka bahwa semuanya merupakan kasih sayang Allah dan merupakan suatu kewajiban yang tidak dapat dipungkiri.&#160; Demikian pula mengucapkan insya Allah, subhanallah, dan berbagai ungkapan tasbih lainnya akan dicontohkan oleh anak.</p>
<p>&#160;</p>
<p>2. Dengan Latihan dan Pembiasaan</p>
<p>Banyak pembiasaan ibadah harus dilakukan pada anak. Misalnya pembacaan do’a pada tiap-tiap kesempatan dan menguraikan maksud dan isi do’a tersebut. Di setiap munasabah, ada do’a yang pantas diucapkan. Mau makan, minum, tidur, mau belajar, mau berwudhu, menaiki kendaraan, dan lain-lain ada do’a yang khas untuknya. Anak-anak sangat mudah menghafalkan do’a-do’a ini. Apalagi bila di sekolah mereka mendapat program khusus mengenai do’a ini. Tetapi pengamalan do’a-do’a tersebut sangat tergantung pada pengawasan orang tua.&#160; Biar pun anak mampu menghafal seratus do’a di sekolah atau madrasahnya, dia tidak akan mampu meningkatkan imannya bila tidak ada pengamalan dan penghayatannya. Secara rutin dan teratur ayah atau ibu hendaknya membimbing anak membiasakan pembacaan do’a ini, menjelaskan dan memberi pengertian tentang nilai-nilai kandungannya.</p>
<p>Pembiasaan lain yang perlu dilakukan semenjak dini antara lain:</p>
<p>- Membawa anak-anak ke masjid, beri’tikaf, serta mencintai dan menghormati jamaahnya.</p>
<p>- Memberikan perhatian khusus agar anak senantiasa membaca Al Qur’an secara rutin.</p>
<p>&#160;</p>
<p>3. Dengan Nasihat dan Bimbingan</p>
<p>Orientasi nasihat dan bimbingan bertujuan mengingatkan anak terhadap pengawasan Allah di mana pun mereka berada. Ibnu Abbas r.a. menceritakan bahwa sewaktu masih anak-anak, beliau pernah dibonceng Rasulullah di atas untanya. Perjalan<br />
an yang mengasyikkan ini digunakan Rasulullah untuk menasihati Ibnu Abbas. Waktu itu Rasulullah SAW berkata, &quot;Hai anak, jagalah semua perintah Allah, niscaya Allah memeliharamu. Periharalah semua perintah Allah, niscaya engkau dapati Dia di hadapanmu. Apabila engkau memohon sesuatu, mohonlah hal itu kepada Allah, dan bila meminta pertolongan, mintalah kepada Allah. Dan ketahuilah, sekiranya seluruh masyarakat sepakat berbuat sesuatu yang bermanfaat bagimu, maka semua manfaat itu hanyalah Allah yang menentukannya, dan bila mereka akan berbuat jahat kepadamu, maka kejahatan itu tidak akan menimpamu kecuali yang telah ditetapkan Allah pula. Terangkat qalam dan keringlah pena.&quot; (At-Turmudzi)</p>
<p>&#160;</p>
<p>4. Dengan Pengarahan dan Pengajaran</p>
<p>Bila nasihat disampaikan di mana saja, di tempat-tempat di mana orang tua (murobbi) berinteraksi dengan anak didiknya, maka pengarahan dan bimbingan mengambil waktu dan tempat tertentu misalnya seusai shalat Shubuh atau Maghrib berjamaah. Rasulullah pernah memberi pengajaran kepada Ibnu Abbas sebagai berikut, &quot;Periharalah perintah Allah, engkau dapatkan Allah di hadapanmu. Kenalkan dirimu kepada Allah di waktu senang, niscaya Allah akan mengingatmu di saat kesukaran. Ketahuilah bahwa sesuatu yang terlepas darimu tidak akan mengenaimu, dan yang menjadi bagianmu tidak akan terlepas darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu beserta keshabaran, dan kegembiraan itu setelah kesukaran, dan setiap ada kesukaran akan ada kelapangan.&quot;</p>
<p>Anak-anak pra sekolah dapat mulai dimasukkan ke TPA di mana mereka mendapatkan arahan dan pengajaran dari guru-guru yang sudah memahami metoda pendidikan keimanan kepada balita.</p>
<p>&#160;</p>
<p>5. Dengan Bercerita dan Berkisah</p>
<p>Anak-anak sangat senang pada cerita-cerita dan kisah-kisah masa lampau. Apalagi di dalamnya terkandung unsur-unsur heroik dan semangat perjuangan. Islam memiliki khazanah kekayaan sejarah yang sangat besar. Mulai zaman nabi-nabi, Nabi Muhammad dan para sahabat beliau, serta sejarah umat Islamnya. Ibnu Mas’ud berkata, &quot;Kami (generasi sahabat) mengajarkan perang-perang Rasulullah kepada anak-anak kami sebagaimana kami mengajarkan Al Qur’an.&quot;</p>
<p>Ayah dan ibu yang bercerita kepada anaknya akan lebih melekatkan anak-anak pada keteladanan dan ibroh (pelajaran) yang dapat diambil oleh anak. Sesungguhnya apabila kita mampu bercerita dengan baik, kisah dari seorang ibu yang lembut dan penuh keakraban Insya Allah dapat lebih disukai anak tenimbang acara-acara telivisi. Karena pendekatan cerita sebelum tidur bersifat timbal balik dan mempunyai dampak psikologis yang dibutuhkan anak.</p>
<p>&#160;</p>
<p>6. Dengan Dorongan, Rangsangan dan Penghargaan</p>
<p>Usia kanak-kanak sangat memerlukan dorongan dan penghargaan ketika meraih sesuatu kendati sangat sederhana. Jangan segan-segan mengucapkan terima kasih kepada anak yang berhasil nilai yang bagus, atau memberi hadiah ketika berhasil dalam salah satu kegiatan. Di dalam hadiah tercermin kasih sayang, karena Rasulullah bersabda, &quot;Saling beri hadiahlah kalian dengan demikian kalian akan saling mencintai.&quot; (Al-Hadits)</p>
<p>Bagi seorang anak, perhatian, ciuman, dekapan yang mesra, atau gendongan dapat dipahami sebagai hadiah. Anak yang lebih besar ingin hadiah yang lebih kongkrit. Tak ada salahnya ayah memberi sesuatu ketika anak telah berprestasi dalam peningkatan pribadinya. Misalnya, ketika berhasil menghafal satu surat di antara surat-surat Al Qur’an.</p>
<p>&#160;</p>
<p>(Dikutip dari Majalah Ummi, No. 9/VIII Tahun 1417H/1997)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.koleksihawa.co.cc/tarbiyah-imaniyah-buat-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memilih Sekolah Untuk Anak</title>
		<link>http://www.koleksihawa.co.cc/memilih-sekolah-untuk-anak/</link>
		<comments>http://www.koleksihawa.co.cc/memilih-sekolah-untuk-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Nov 2008 10:32:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ayah Hawa</dc:creator>
				<category><![CDATA[pendidikan anak]]></category>
		<category><![CDATA[memilih sekolah untuk anak]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.koleksihawa.co.cc/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[BELAKANGAN ini, di Indonesia ada banyak sekali tawaran program pendidikan bagi anak-anak usia prasekolah, seperti kelompok bermain (play group) dan taman kanak-kanak (TK). Orangtua harus memilihkan anaknya pendidikan prasekolah yang tepat.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Tiap orang tua tentu akan berusaha memberikan pendidikan yang terbaik buat putra-putrinya bahkan sejak usia prasekolah. Peranan pendidikan prasekolah dianggap makin penting karena diyakini bisa memberikan landasan yang kuat untuk tingkatan sekolah selanjutnya.</p>
<p>BELAKANGAN ini, di Indonesia ada banyak sekali tawaran program pendidikan bagi anak-anak <a href="http://koleksihawa.co.cc/wp-content/uploads/2008/11/playgroup107145105_std1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-25" title="Play Group" src="http://koleksihawa.co.cc/wp-content/uploads/2008/11/playgroup107145105_std1.jpg" alt="" width="138" height="128" /></a>usia prasekolah, seperti kelompok bermain (play group) dan taman kanak-kanak (TK). Orangtua harus memilihkan anaknya pendidikan prasekolah yang tepat. Karena, jika keliru memilih tempat, tak hanya berarti kerugian secara finansial, juga risiko mempertaruhkan anak menghadapi masa depannya. Lalu, bagaimanakah memilih tempat pendidikan prasekolah yang tepat yang sesuai dengan keinginan dan juga kemampuan keuangan keluarga?</p>
<p>Berikut ini adalah beberapa pertimbangan praktis dalam memilih prasekolah yang tepat. Sebelum memutuskan memilih tempat pendidikan prasekolah, orangtua bisa mempertanyakan beberapa hal berikut.</p>
<p>* Kurikulum yang digunakan. Apakah kurikulum yang digunakan sudah tepat? Sudahkah program dalam kurikulum yang diterapkan terarah sesuai dengan kelompok umur, berdasarkan minat anak sehingga dapat meningkatkan perkembangan fisik, intelektual, sosial emosional dan kemampuan berkomunikasi untuk mengemukakan pendapatnya. Sebaiknya kegiatan dirancang dengan konsep &#8220;belajar sambil bermain&#8221; sehingga anak-anak dapat betah &#8220;belajar&#8221;, dan merangsang keterlibatan anak secara aktif dalam segala aktivitas sehingga dapat meningkatkan kemandirian anak.<br />
<a href="http://koleksihawa.co.cc/wp-content/uploads/2008/11/guruplaygroup1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-26" title="Play Group" src="http://koleksihawa.co.cc/wp-content/uploads/2008/11/guruplaygroup1.jpg" alt="" width="264" height="226" /></a><br />
* Adanya Rancangan Aktivitas yang menarik dan patut. Sebaiknya aktivitas anak dirancang sebagai pelaksanaan dari rencana program yang telah disebutkan di atas. Aktivitas harus bervariasi sehingga anak-anak tak merasa cepat bosan. Tiap aktivitas seharusnya dilengkapi alat bantu/peraga yang menarik bagi anak. Misalnya untuk pengenalan huruf dan angka, sebaiknya menggunakan balok-balok huruf dan angka yang berukuran agak besar dengan warna-warni. Anak-anak dibiasakan mengikuti pembacaan cerita oleh guru untuk merangsang minat baca anak. Buku cerita sebaiknya bergambar jelas dengan warna menarik. Aktivitas lain yang biasa diberikan untuk mencegah kebosanan anak, antara lain memasang balok-balok (lego), melukis, bernyanyi, menari yang diiringi lagu/musik, bermain komputer dan menonton (video) program anak-anak. Anak-anak juga perlu diajak bermain di luar ruangan seperti menggunakan ayunan, prosotan, bermain air dan pasir. Jenis mainan harus sesuai dengan kelompok umur agar tidak membahayakan.</p>
<p>* Lama sekolah. Pengalaman menunjukkan, makin pendek waktu sekolah anak dan/atau makin jarang mereka mengikuti program dalam seminggu, makin stres anak mengikuti program prasekolah. Ini terjadi karena secara psikologis anak mengalami proses adaptasi dengan lingkungan sekolahnya setelah hampir seharian penuh di rumah bersama orangtua atau pengasuh. Proses adaptasi ini perlu waktu yang tak cepat sesuai dengan pribadi masing-masing anak. Hanya sedikit anak yang dapat cepat beradaptasi dengan lingkungannya. Faktor yang menghambat proses adaptasi anak dalam aktivitas prasekolah adalah rasa kedekatan yang berlebihan dengan orangtua atau pengasuhnya. Anak umumnya minta ditunggui pada saat mengikuti prasekolah. Tak jarang orangtua atau pengasuhnya harus ikut masuk kelas menunggu si anak. Proses berpisah antara anak dengan orangtua atau pengasuh pada saat mengikuti prasekolah inilah yang sangat menghambat keberanian dan kemandirian anak.</p>
<p>Jika program pendidikan prasekolah hanya dilaksanakan dalam waktu 2 jam sehari, maka pada saat naluri keberanian anak mulai muncul ternyata anak sudah harus pulang karena bel tanda pulang sudah berbunyi. Demikian juga halnya dengan program prasekolah yang hanya tiga kali seminggu menyebabkan anak harus mengulangi proses adaptasinya tiap kali datang ke sekolah karena kemarinnya seharian anak bersama orangtua atau pengasuh di rumah. Kedua hal di atas akan menghambat keberanian anak sehinggga kelihatannya tak ada kemajuan yang menyenangkan terhadap keberanian dan kemandirian anak. Hal ini seringkali memusingkan dan membuat para orangtua frustrasi dan menganggap si anak belum siap untuk mengikuti program prasekolah.</p>
<p>Kalau program prasekolah dibuat lebih lama dan rutin, misalnya 4 jam dalam sehari selama 5 &#8211; 6 kali seminggu, maka anak akan lebih mudah mengikuti program yang direncanakan dan lebih leluasa mengekspresikan dirinya, karena mereka sudah melewati masa adaptasi dengan lingkungan sekolahnya. Belajar dari pengalaman bahwa sampai kurun waktu tertentu, anak justru tidak mau pulang karena mereka telah &#8220;menemukan&#8221; dirinya dalam lingkungannya, yaitu punya teman bermain dan sudah beradaptasi dengan lingkungan sekolahnya (guru-guru). Anak pada kondisi ini sudah mulai bisa menguasai dirinya sendiri, punya rasa percaya diri yang pada akhirnya anak akan berani dan mandiri. Hal ini akan dapat dicapai apabila didukung oleh program-program yang menarik yang mampu merangsang anak untuk tergabung dan larut dalam kelompoknya.</p>
<p>* Rasio jumlah guru dan anak. Rasio antara jumlah guru dan anak sangat ditentukan usia anak. Jika tempat prasekolah itu menyediakan fasilitas penitipan bayi, maka rasio yang baik adalah satu orang pengasuh menangani maksimum empat bayi (0-2 tahun). Jumlah bayi dalam satu kelompok berkisar 8-10 bayi. Agar efektif, satu kelompok terdiri dari 10 bayi dan diasuh oleh 3 orang pengasuh. Untuk program Kelompok Bermain/Playgroup (2-4 tahun), maksimum rasionya adalah satu guru menangani 10 anak. Satu kelas yang efektif berisi 20-25 anak, diasuh 2 guru dan seorang asisten. Sedangkan untuk TK (5-6 tahun), rasio ideal adalah satu guru menangani 10 anak. Untuk dapat efektif, jumlah anak maksimum tiap kelas TK adalah 25-30 anak (tergantung besar/kecilnya ruangan yang digunakan), diasuh 2 guru dan seorang asisten.</p>
<p>* Kenyamanan dan keamanan anak. Perhatikan fasilitas yang dimiliki seperti gedung, ruang kelas, sarana dan prasarana yang mendukung aktivitas anak seperti media pengajaran dan tempat untuk bermain. Walau tidak selalu harus memilih sekolah dengan gedung bagus, namun aspek nyaman, bersih, indah dan aman harus terdapat di sekolah yang akan kita pilih. Telitilah media pengajaran yang dipergunakan seperti buku-buku dan alat bantu belajar lainnya. Perhatikan alat permainan yang dimiliki — aktivitas dalam ruangan (indoor) maupun luar ruangan (outdoor)<br />
<a href="http://koleksihawa.co.cc/wp-content/uploads/2008/11/playgroup31.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-27" title="Play Group" src="http://www.koleksihawa.co.cc/wp-content/uploads/2008/11/playgroup3-300x228.jpg" alt="" width="230" height="174" /></a><br />
– apakah sudah sesuai dengan harapan? Aspek keamanan dan kenyamanan dalam aktivitas anak sangat penting diperhatikan untuk menghindari kejadian-kejadian yang tidak diinginkan. Misalnya untuk aktivitas outdoor, apakah dilakukan di atas tanah yang telah ditanami rumput atau diatas pasir putih atau ditutup dengan karpet untuk mengurangi efek benturan seandainya ada anak yang terbentur ke tanah akibat terjatuh dari tempat mainannya? Perhatikan pula jenis mainan yang disediakan, ukuran dan bahan yang digunakan harus aman dan tidak membahayakan kesehatan dan keselamatan anak.</p>
<p>* Kenali Guru yang akan mendidik anak kita karena ini terkait dengan figur atau model kedua yang sedang diamati oleh sang anak. Usahakan untuk memilih sekolah dengan Guru yang memiliki karakter baik dan kuat. Selain itu, kenali juga lingkungan sekolahnya karena iklim sekolah akan berpengaruh juga terhadap anak-anak kita.</p>
<p>* Penerapan disiplin. Guru atau pengasuh sebaiknya memakai pendekatan positif dalam memberikan pengarahan dan menerapkan disiplin terhadap anak. Memberikan contoh kepada anak adalah cara yang terbaik sehingga anak-anak tidak akan merasa stres dan terbebani untuk mengikuti disiplin yang ditetapkan.</p>
<p>* Pemeriksaan kesehatan. Kesehatan anak berpengaruh besar tehadap perkembangan anak. Carilah kejelasan, apakah tempat prasekolah itu menyediakan sarana pemeriksaan kesehatan secara rutin oleh tenaga medis (dokter/perawat).</p>
<p>* Program kunjungan. Kunjungan ke tempat-tempat yang menarik dan penting akan menambah wawasan bagi anak-anak anda. Apakah kunjungan tersebut dilakukan secara berkala dan terorganisasi dengan baik? Apakah diperlukan persetujuan orangtua untuk mengikutsertakan anak mereka dalam kegiatan ini dan bagaimana peranan orangtua dalam kegiatan ini? Apakah perlu mambayar untuk kegiatan ekstra atau biayanya sudah termasuk dalam uang sekolah?</p>
<p>* Perbedaan budaya dan agama. Perlu ditanyakan apakah sekolah/guru akan memberikan perlakuan yang sama terhadap semua anak? Ini penting untuk meyakinkan bahwa semua anak akan memperoleh perhatian dan perlakuan yang sama dengan menghargai perbedaan agama dan latar belakang budaya. Ini barangkali juga akan diperlukan bagi orangtua yang menyekolahkan anaknya di luar negeri.</p>
<p>Sejumlah informasi ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam memilih tempat pendidikan prasekolah yang terbaik bagi anak. Tentunya harus tetap memperhatikan kondisi keuangan keluarga karena makin berkualitas fasilitas dan program yang ditawarkan maka makin mahal biayanya.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>oleh Rika Yuana Kusumah Dewi<br />
</em></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://koleksihawa.co.cc/wp-content/uploads/2008/11/preschool1.gif"><img class="aligncenter size-medium wp-image-28" title="Pre School" src="http://www.koleksihawa.co.cc/wp-content/uploads/2008/11/preschool-300x126.gif" alt="" width="300" height="126" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.koleksihawa.co.cc/memilih-sekolah-untuk-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar Menghargai Anak</title>
		<link>http://www.koleksihawa.co.cc/belajar-menghargai-anak/</link>
		<comments>http://www.koleksihawa.co.cc/belajar-menghargai-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Nov 2008 06:02:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ayah Hawa</dc:creator>
				<category><![CDATA[pendidikan anak]]></category>
		<category><![CDATA[Al Falah]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[menghargai anak]]></category>
		<category><![CDATA[ydsf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.koleksihawa.co.cc/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Banyak orang tua saat ini masih cenderung untuk mengedepankan konsekuensi logis (hukuman) dibandingkan dengan pernghargaan. Padahal penghargaan mempunyai pengaruh positif bagi anak pada masa yang panjang.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>A</strong></span>ndi sedang asyik bermain dengan bongkar pasangnya, tiba-tiba azan Maghrib berkumandang. Bocah usia 7 tahun itu mengambil air wudlu tanpa memedulikan mainannya yang masih berserakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Apakah respon pertama kita terhadap sikap Andi? Menegurnya karena mainannya berserakan kemudian menghargainya atau menghargai atas kesadarannya bersegera pergi ke masjid kemudian menegurnya?</p>
<p style="text-align: justify;">Banyak orang tua saat ini masih cenderung untuk mengedepankan konsekuensi logis (hukuman) dibandingkan dengan pernghargaan. Padahal penghargaan mempunyai pengaruh positif bagi anak pada masa yang panjang. Ada beberapa alasan munculnya kecenderungan ini:</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">a. Orang tua lebih mudah dan cepat melihat <em>impact</em> (hasil) konsekuensi daripada <em>impact</em> penghargaan.</span><br />
Seorang anak membutuhkan berkali-kali penghargaan untuk menetapkan suatu perilaku yang baik pada dirinya. Namun, ia hanya perlu satu kali teguran untuk melihat hasil teguran tersebut.<br />
<span style="color: #0000ff;">b. Orang tua masih menganggap penghargaan sebagai <em>sogokan</em> yang diberikan orang dewasa terhadap anak-anak.</span><br />
Padahal definisi sogokan selalu diberikan sebelum sebuah perilaku terjadi.<br />
<span style="color: #0000ff;">c. Orang tua khawatir jika anak selalu diberi penghargaan membuat anak tergantung untuk mendapatkannya.</span></p>
<p style="text-align: justify;">Ketiga alasan di atas sebenarnya muncul dari pengalaman yang kurang baik mereka saat memberikan penghargaan putra-putri. Itu semua bermula dari teknik yang kurang baik di dalam memberikan penghargaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Padahal dengan cara yang baik di dalam memberikan penghargaan kepada anak, terdapat lebih banyak manfaat yang di dapat orang tua dibandingkan konsekuensi (hukuman). Dengan penghargaan, anak akan mempunyai konsep diri yang baik. Motivasi yang muncul adalah motivasi positif dan ia lebih mudah menghargai kebaikan orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk itu, orang tua harus mampu mengorientasi penghargaan sebagai proses membangun perilaku positif secara permanen yang didorong motivasi internal anak. Dengan tidak saja menghargai pada hasil tetapi juga menghargai pada tercapainya proses perilaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada beberapa <strong>kesalahan</strong> yang sering dilakukan orang tua di dalam memberikan penghargaan kepada anak, antara lain:</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #800080;">a. Orang tua cenderung berorientasi pada hasil dan kurang melihat proses.</span><br />
Acap kali penghargaan diberikan kepada tingkatan hasil yang diperoleh oleh anak bukan pada keberhasilan anak melewati seluruh proses sehingga ia berhasil.<br />
<span style="color: #800080;">b. Penghargaan tidak bersifat pribadi. Sehingga anak kurang merasakan penghargaan tersebut secara individual.</span><br />
<span style="color: #800080;">c. Penghargaan selalu berupa hadiah barang.</span><br />
Ucapan <em>terima kasih, kamu hebat, anak mama memang shalih,</em> dsb. merupakan penghargaan secara verbal. Bisa juga dengan isyarat tubuh seperti membelai, mencium, dsb.</p>
<p style="text-align: justify;">Berangkat dari beberapa kesalahan di atas, ada beberapa panduan yang dapat dipegang orang tua. Sehingga penghargaan yang diberikan kepada anak lebih efektif, yaitu:<br />
<span style="color: #008000;">1. Penghargaan harus bersifat pribadi.</span><br />
Sebuah penghargaan mungkin berpengaruh untuk seorang anak tetapi tidak untuk yang lainnya. Kita harus mempertimbangkan kebutuhan, minat, dan kebiasaan pribadi masing-masing anak.<br />
<span style="color: #008000;">2. Penghargaan diberikan setelah sebuah perilaku dilakukan.</span><br />
Penghargaan yang diberikan sebelum perilaku akan menjadikan anak tidak melakukan dengan memuaskan.<br />
<span style="color: #008000;">3. Penghargaan lebih diberikan langsung sesudah perilaku dilakukan oleh anak.</span><br />
Menunda pemberian penghargaan akan menghilangkan momen yang baik bagi pembangunan konsep diri anak.<br />
<span style="color: #008000;">4. Perbaikan harus mendapat penghargaan.</span><br />
Sering kali orang tua hanya berorientasi pada munculnya perilaku baru dan tidak pada perbaikan-perbaikan dari perilaku yang telah ada.<br />
<span style="color: #008000;">5. Penghargaan perlu variasi.</span><br />
Karena penghargaan yang awalnya sangat berharga mungkin menjadi kurang efektif lagi di kemudian hari.<br />
<span style="color: #008000;">6. Penghargaan hendaknya mudah dicapai anak.</span><br />
Penghargaan yang dicapai dengan mudah akan membuat anak termotivasi untuk melakukan perilaku tersebut berulang kali. Tinggal orang tua membuat perpindahan motivasi anak, dari motivasi untuk mendapatkan penghargaan menjadi motivasi untuk menikmati hasil.<br />
<span style="color: #008000;">7. Penghargaan harus diberikan dengan penuh keikhlasan,</span> bukan karena tekanan dari anak untuk mendapatkan suatu penghargaan. (<em>tim parenting</em>)</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Source : Majalah Al-Falah</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.koleksihawa.co.cc/belajar-menghargai-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	<media:rating>nonadult</media:rating></channel>
</rss>
