<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-3238030562185134049</atom:id><lastBuildDate>Wed, 06 Nov 2024 03:08:19 +0000</lastBuildDate><category>Opini</category><category>Cerpen</category><category>Sinopsis</category><category>Berita</category><category>Profil</category><title>Ahmad Tohari Society</title><description>Powered by www.ahmadtohari.com</description><link>http://ahmadtoharisociety.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Mas Nunu)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>41</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Powered by www.ahmadtohari.com</itunes:subtitle><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3238030562185134049.post-60836128923235326</guid><pubDate>Sat, 07 Nov 2015 00:31:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-11-06T16:31:00.347-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Opini</category><title>Filsafat, Sastra dan Kebenaran</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Indah Noviariesta – aktivis Gema Nusa, alumni Universitas Tirtayasa, Banten.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bila meneropong karya-karya para pemenang nobel sastra dari zaman ke zaman, kita bisa melihat karakter manusia Barat yang cenderung ekstrim dalam segala hal. Tetapi di samping kaum atheis maupun sekularisme radikal, sastra Barat tidak pernah kering dari jenis-jenis roman, drama dan puisi yang penuh cita-rasa keimanan dan dambaan pada nilai-nilai Ilahiyah yang sejati. Tentu saja kualitas dan cita-rasa keimanan manusia di zaman Nabi Ibrahim memiliki konteks yang berbeda – meski esensinya sama – dengan manusia zaman Einstein sekarang ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pergulatan pemikiran dan religiusitas manusia Barat lebih terdapat pada sikap sang pencari, eksplorator, bagaikan ketelitian dan ketekunan sarjana dalam ruang laboratorium. Mereka bertanya dan bertanya, kemudian menemukan jawaban, meskipun jawabannya itu tak lain dari mata-rantai pertanyaan baru lagi. Sastrawan terkemuka kelahiran Cekoslowakia, Franz Kafka (1883-1924), pernah memberikan garis besar bahwa sosok sang pencari, berkat ketekunan dan kegigihannya, pada waktunya akan sampai pada pertemuan di depan pintu gerbang intimitas Tuhan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pandangan religiusitas dari Kierkegaard (filosof Denmark) sangat mempengaruhi alam pemikiran Kafka. Keseriusannya menggeluti filsafat dan sastra membuat kepribadian Kafka dikenal sebagai sastrawan yang berani mengungkap kedalaman psikologis di masa-masa pencarian identitas dirinya. Hingga cenderung menolak segala hal yang bersifat dangkal dan urik belaka. Tapi kemudian, ketika sampai pada puncak pencarian kebenaran tersebut, sikap rendah-hati menjadi keharusan setelah manusia Barat mengalami pahit getir dan asam-garam perjuangan yang mereka tekuni. Sebagian mereka mengakui dengan jujur tentang keterbatasan antara kebebasan sang eksplorator dengan kekuasaan Yang Maha Absolut Yang Tak Terbatas.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Eksplorasi Orang Indonesia&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Peran filsafat eksistensialisme Barat harus diakui begitu mengurat-mengakar dalam khazanah kesusastraan Indonesia. Bebarapa seniman yang saya kenal, terkadang membuat saya tersenyum setelah membaca karya-karyanya bahwa apa yang ditulisnya itu sebenarnya hanya modifikasi belaka dari karya-karya Albert Camus maupun Sartre, sastrawan dan filosof Prancis yang terkenal dengan ucapannya, “Neraka adalah orang lain!”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tidak jauh berbeda dengan karya-karya T.S. Elliot yang membongkar karakter manusia hedonis, dengan watak serakah dan korupnya yang kadang tidak malu-malu dipertontonkan, meskipun dia menyadari bahwa eksistensi yang dipertahankan itu kelak akan menjerat dirinya sendiri. Para penulis Eropa, khususnya Prancis, memang tidak pernah kering menghasilkan karya-karya adihulung, sebagai epos ciptaan jiwa manusia modern, yang pada hakikatnya diilhami pula dari para perintis dan pendahulunya, misalnya “Kisah Doktor Faust” karya Wolfgang Goethe.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kisah Doktor Faust sangat populer di negeri-negeri Barat sejak masa abad pertengahan, dan terus diperbaharui dan dimodifikasi hingga hari ini. Berkisah tentang seorang intelektual dan doktor yang berambisi keras untuk merebut kembali pohon larangan Firdaus yang pernah lepas dari tangan Nabi Adam. Buah terlarang itu dapat pula ditafsirkan sebagai “kunci pengetahuan” tentang kebaikan dan keburukan. Jadi hanya Tuhan yang berdaulat penuh memegang kunci rahasia tersebut. Tetapi karena tabiat dan watak Doktor Faust yang ambisius, serta menyadari kemampuan intelektual manusia yang terbatas, dia merelakan diri untuk menjual jiwanya pada Iblis Mefisto (Raja Jin). Keduanya menyetujui kesepakatan perjanjian, bahwa ketika wafat kelak Doktor Faust akan memasrahkan jiwanya pada Mefisto.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Terserah apapun namanya, bisa Iblis Mefisto, Lucifer, Jin Putih, Jin Islam atau silakan diberi nama yang bagus-bagus semau kita. Dan ketika sampai pada puncak tangga yang kesembilan, Mefisto pun memberikan kunci rahasia sebagai simbol pengetahuan (ilmu gaib) dengan daya teknologi Raja Jin yang dianggapnya hebat itu. Doktor Faust pun mengetahui banyak hal yang tak bisa diketahui orang biasa, bahkan memahami apa yang tak bisa dipahami orang awam. Sang penjual jiwa itu akhirnya dapat berbuat sesuatu mengenai hal-hal yang tak bisa diperbuat orang pada umumnya. Dia pun menjadi kaya-raya, bahkan berkuasa dan ditakuti oleh banyak orang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kemudian Doktor Faust tak bisa menghindari umur manusia yang terus berjalan, ruang dan waktu berproses tak mungkin dielakkan, hingga sampailah di usia senjanya yang tua-renta. Dia berusaha untuk mengulur-ulur waktu, bahkan mencoba menghindar dari cengkeraman Raja Jin tersebut. Dia terus mencari akal dan siasat agar dapat keluar dari renggutan Sang Iblis Mefisto. Dia berjuang untuk menentukan nasibnya sendiri, menggapai-gapai cara untuk mencapai rahmat Ilahi, tetapi toh pada akhirnya…&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Kalaupun ada mantra-mantra yang sanggup membuat gunung meletus, sanggup membikin tanah terbelah (gempa bumi), bahkan bisa membuat orang-orang mati bangkit dan bicara kembali, tapi ketahuilah, semuanya itu tak ada yang lepas dari manajemen dan kekuasaan Allah!”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ayat Quran yang saya kutip dari surat Ar-Ra’du (13:31) ini paralel dan sehaluan dengan kata-kata mutiara yang pernah diucapkan sastrawan Franz Kafka di usia senja dan puncak keletihannya. Terutama saat dia mengakui keterbatasan eksplorasi dan pencarian manusia akan makna kebenaran, “Bukan kita manusia yang sanggup menggapai Tuhan, tetapi Tuhan sendirilah, berkat kasih-sayang-Nya Yang akan meraih kita yang serba terbatas ini.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ungkapan bersayap dari sastrawan sekaligus filosof itu meluncur begitu fasih seakan-akan dia pernah membaca Al-Quran dan Al-Hadits. Meskipun dia tidak terlampau mengikatkan diri pada teks harfiyah dari Al-Kitab (agama formal), namun berinti religius dan percaya pada kebaikan abadi. Bahkan Pearl S. Buck dalam novelnya “The Good Earth” secara implisit menggugat ketundukan para penulis Asia pada ideologi Eropa setelah abad pertengahan hingga zaman neokolonialisme ini. “Mengapa mereka begitu mudah menganut ajaran yang didakwahkan oleh para pemikir dan filosof Eropa. Padahal tidak sedikit dari orang-orang seperti kami, para penulis Eropa yang merasakan keterpurukan manusia-manusia Faust sebagai pahlawan dan ksatria menyedihkan, dengan hati dan jiwa-jiwa muram dan gersang.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di zaman rasionalisme Eropa, kisah Doktor Faust memang pernah dipuji-puji sebagai lambang manusia progresif yang berani mengambil risiko besar demi kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan tata perdagangan yang menjadi demam orang-orang Eropa dan Amerika imperialis. Tetapi di zaman post-industrial ini, transformasi sosial kian mengglobal, dan manusia modern semakin membuka mata-hatinya untuk menyadari kekhilafan masalalunya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Tidak semua yang terjangkau oleh kekuatan otak dan keinginan hawa nafsu manusia, boleh dilakukan sekehendak hatinya,” demikian peringatan Albert Einstein untuk manusia hiper modern saat ini. Dalam drama Paul Claudel (Prancis) yang berkisah tentang orang-orang Spanyol yang mewarisi kebudayaan Arab di akhir abad ke-16 lalu, disampaikan pula kesimpulan bahwa perjuangan manusia untuk mencari kebenaran akan bermuara di puncak keletihannya, hingga pada waktunya ia pun mampu menemukan Tuhannya. Tapi ketahuilah bahwa “perjumpaan” dengan Tuhan itu bukan atas dasar jasa-jasanya sendiri, tetapi karena pemberian, anugerah dan kasih sayang Allah kepada manusia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Karenanya kita tak perlu sewot dan mencak-mencak ketika disentil oleh novel “Perasaan Orang Banten” bahwa memang beginilah adanya kita, yang harus terus bermuhasabah dan mengevaluasi diri. Sebab seintelek-inteleknya orang Indonesia kerapkali kita tak berdaya menghadapi petuah-petuah leluhur yang sudah kadung “mengongkosi” perjalanan hidup kita. Bagaimanapun kita harus jujur mengakui, karena seringkali manusia terlena pada kedaulatan pribadi hingga mengabaikan hal paling krusial bahwa sehebat-hebatnya rahasia disimpan oleh manusia, tak mungkin dia lepas dari pemantauan dan manajemen Tuhan Yang Maha Melihat. (*)&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>http://ahmadtoharisociety.blogspot.com/2015/11/filsafat-sastra-dan-kebenaran.html</link><author>noreply@blogger.com (Mas Nunu)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3238030562185134049.post-36785323438897872</guid><pubDate>Tue, 03 Nov 2015 00:25:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-11-02T16:25:00.648-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Opini</category><title>Menyingkap Memori Kolektif Bangsa</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;i&gt;- &amp;nbsp; &amp;nbsp;Muakhor Zakaria&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;i&gt;- &amp;nbsp; &amp;nbsp;Mahasiswa Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP Al-Bayan).&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Persoalan sejarah militerisme Indonesia di seputar tahun 1965 tak terlepas dari konteks politik pada jamannya, yang berhubungan dengan lembaga-lembaga intelijen sebagai kekuasaan dalam kekuasaan, negara dalam negara, yang bergerak di luar kontrol administrasi yang resmi. Dalam buku "Dokumen CIA (Melacak Penggulingan Soekarno)” yang diterbitkan oleh Hasta Mitra, Jakarta (2002) Joesoef Isak selaku mantan Sekjen Persatuan Wartawan Asia-Afrika (PWAA), menyatakan dalam kata pengantarnya bahwa kekuatan intelijen di abad 20 ini telah berkembang menjadi globalisme intelijen yang terus berjalan sebagai realitas mata-rantai interaksi, koordinasi dan koneksitas induk-semang dan para abdinya. Sedangkan di Indonesia selaku abdi-abdi lokal yang mereka sebut "our local army friends" hendaknya jangan dianggap enteng, sebab paradigma perang dingin yang digembar-gemborkan Amerika sebagai "sudah berakhir" itu pada kenyataannya terus berjalan dan esensinya tetap valid hingga saat ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Deklarasi yang telah ditandatangani Presiden Amerika dan Rusia sebagai simbol berakhirnya perang dingin sebenarnya hanyalah satu dari perangkat keras perang dingin yang telah dikurangi, sedangkan perangkat-lunaknya, software-nya, state of mind-nya atau wawasan paradigmanya tetap utuh dan terus berjalan dan berpraktek hingga detik ini. Realitas itu terefleksi sepenuhnya di pentas politik Indonesia hingga hari ini, karena segenap permesinan, aparat hingga ke sel-sel paradigma Orde Baru sebagai pengemban dan pelaksana paradigma perang dingin masih utuh kukuh dan berfungsi dalam seluruh strata kehidupan nasional kita.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sejarah kekuatan militer yang dimanfaatkan Presiden Soekarno, terutama saat penumpasan RMS, PRRI-Permesta dan beberapa gerakan separatis yang bersenjata, perlu secara jujur diakui bahwa untuk mempertahankan stabilitas negara sarta mempererat kesatuan dan persatuan, memang dibutuhkan kekuatan militer. Namun kemudian, karena pembawaan paternalisnya, Soekarno kurang menghiraukan keadaan di lapangan militer bahwa mereka – yang merasa telah berjasa itu – secara diam-diam menggalang kekuatan canggih untuk berambisi merebut kekuasaan, dan pada masanya memang tidak mau dikendalikan oleh kekuatan sipil.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sejak berdirinya kemerdekaan RI, bila memperhatikan komentar-komentar Simatupang maupun Nasution, terbukti bahwa kedua tokoh militer itu terang-terangan merasa kesal dan jengkel kepada partai-partai politik, juga kepada laskar-laskar bersenjata dari unsur Islam, nasionalis maupun komunis. Orang-orang militer itu merasa sangat berjasa dalam mengamankan RI, sementara sikap sentimennya kepada para politisi sipil terus berkembang hingga menganggapnya sebagai pengacau-pengacau belaka.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada tanggal 17 Oktober 1952 gejalanya semakin menampak, terutama sewaktu para anggota dewan mempersoalkan sosok Nasution. Setelah itu meriam-meriam telah dimoncongan ke arah Istana Negara, dan serta-merta disusul oleh tuntutan agar DPR segera dibubarkan. Kemudian setelah penyelesaian konfrontasi Irian Barat dan Malaysia, tentulah mereka merasa sangat berjasa hingga menuntut imbalan berlebihan kepada Presiden Soekarno.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada tahun-tahun itu terbukti ketika Joesoef Isak selaku Sekjen Persatuan Wartawan Asia-Afrika banyak mengadakan kunjungan ke beberapa negara, ia sempat memantau kesejahteraan para atase militer di KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) begitu makmur serba kecukupan, sedangkan para pegawai-pegawai KBRI non-militer sangat minim tingkat kesejahteraan hidupnya. Dengan itu terhimpunlah pembuktian bahwa rupanya di kalangan atase militer telah mendapat jaminan untuk memperoleh jalur tersendiri dalam soal pendanaan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada perkembangan selanjutnya – yang mestinya dianalisis secara cermat oleh Presiden Soekarno – ternyata kekuatan yang semula dikira progresif dan pro-rakyat itu, tahu-tahu menggalang komitmen kerjasama yang akhirnya menjelma menjadi gudang lawannya. Doktrin "tri upaya cakti" yang mereka agendakan sebetulnya adalah ancang-ancang strategis untuk melawan pemerintahan Soekarno. Dalam hal ini Soekarno kurang mengantisipasi kekuatan faksi-faksi militer yang merongrong, bahkan individu-individu yang lihai dan cerdik, yang terus-menerus mengintai kursi kekuasaan. Ternyata sikap paternalisnya Soekarno yang menganggap bahwa semua militer adalah anak-anak buahnya, kurang sanggup memilah-milah kekuatan progresif di kalangan mereka yang mau diajak kerjasama dalam menyuarakan aspirasi serta menyelenggarakan kemakmuran dan keadilan bagi segenap rakyat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kalau saja Soekarno berhasil membangun militer yang progresif dan pro-rakyat, maka sampai sekarang tak perlu masyarakat Indonesia menjadi apatis terhadap militer, berikut slogan-slogan yang diciptakan oleh mereka. Tapi karena disebabkan kelengahan tersebut, para militer kita – khususnya semasa Orde Baru Soeharto – selaku aparat-aparat yang notabene digaji oleh negara dan dibiayai oleh rakyat, justru telah bertindak sebaliknya. Selama puluhan tahun mereka menyelenggarakan ketidakadilan dan kesewenangan yang apabila kelakuan dan kerjaan mereka tiada lain selain merugikan rakyat, maka tentulah mereka akan berhadap-hadapan terus dengan kekuatan rakyatnya sendiri.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Berikut ini penulis kirimkan novel yang sedang ramai menjadi perbincangan publik, berjudul “Pikiran Orang Indonesia”. Novel ini ditulis oleh seorang sastrawan Banten, tentang problem dan lika-liku politik 1965 yang selama ini didiamkan, bahkan sulit untuk dibahasakan. Kini dengan bahasa yang lugas dan sederhana, kita dipandu untuk memasuki memori kolektif kita semua, suatu perpaduan antara fakta dan fiksi yang disampaikan secara apik demi tegaknya nilai-nilai kebenaran bagi bangsa Indonesia…. ***&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>http://ahmadtoharisociety.blogspot.com/2015/11/menyingkap-memori-kolektif-bangsa.html</link><author>noreply@blogger.com (Mas Nunu)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3238030562185134049.post-4923155479529244817</guid><pubDate>Sat, 31 Oct 2015 13:49:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-10-31T06:49:00.283-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Opini</category><title>Ketika Sastra Harus Bicara</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;i&gt;Oleh Pujiah Lestari&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Masyarakat yang berperadaban tinggi pada prinsipnya sepakat bahwa sastra dan jurnalistik adalah wahana penting untuk membangkitkan umat manusia dari ketidaksadarannya, atau dari “tidurnya” yang panjang. Setiap karya literasi yang baik biasanya menampakkan raut-raut yang sama, mengatasi gaya realisme sosialis, yakni ekspresi psikologis yang kompleks dan kadang-kadang melompat dari gatra satu ke dimensi lainnya. Karya-karya simbolis mereka bukanlah cernaan bahan baca yang ringan, karena pembaca akan ditantang memasuki bermacam-macam lembah yang membutuhkan kedewasaan pandangan yang sangat matang. Artinya, seorang pembaca harus sanggup menilai suatu kejadian dalam sebanyak mungkin dimensi, dan pada akhirnya mampu memetik hikmah kebijaksanaan darinya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Misalnya karya seorang novelis Banten berjudul “Pikiran Orang Indonesia” (Fikra Publishing, Jakarta, 2013). Kata demi kata berhasil dirajut oleh penulisnya bagaikan “bara api” yang menjebol intervensi rezim yang menghendaki lestarinya status quo. Begitupun dalam cerpennya yang berjudul “Kuli Tinta” atau “Sang Wartawan” (www.ahmadtohari.com) yang menampilkan nilai-nilai humanitas dan kemanusiaan melalui daya imajinasi yang menyibak kabut-kabut dalam kalbu kita selama ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pewartaan literasi yang digagasnya sanggup membuka kedok-kedok yang dengan rapi disimpan dan dirahasiakan rezim penguasa dari masa ke masa. Seperti ungkapan penulisnya yang pernah disampaikan semasa kekuasaan Orde Baru (1995): “Apabila jurnalisme kesulitan untuk menjadi media dalam mengungkap nilai-nilai kebenaran, maka sastra harus berdiri di baris depan!”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bila kita membuka memori kelam semasa tahun-tahun itu, misalnya pembredelan majalah Tempo, Editor dan Detik. Sebelum itu pun majalah mingguan Jakarta-Jakarta yang dimutasi lantaran melaporkan kerusuhan massal di Santa Cruze, Timor-Timur (1991). Akibatnya hasil reportase yang disiapakan untuk edsisi berikutnya digagalkan oleh rezim. Hingga akhirnya para jurnalis bahkan pemrednya sendiri, Seno Gumira Adjidarma memilih untuk menulis sastra dalam kumpulan cerpennya yang berjudul “Saksi Mata”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ya, ketika jurnalisme dibungkam maka sastra harus berani tampil ke depan. Karena pada prinsipnya karya jurnalistik bicara dengan fakta sedangkan karya sastra bicara dengan kebenaran dan hatinurani umat. Meskipun sebuah fakta dimanipulasi bahkan ditutup dengan tinta hitam, tetapi kebenaran akan tetap tampil ke permukaan. Boleh-boleh saja buku sastra dibredel dan diembargo, bahkan oligarki kesusastraan dikuasai oleh rezim pemodal tertentu, tetapi kualitas sastra yang baik akan menyatu bersama udara, menyibak kabut hingga menembus langit.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Seorang pendakwah agama mungkin saja berdakwah secara radikal bahkan ekstrim, tetapi nilai-nilai kebaikan dalam karya sastra harus disampaikan secara lentur dan bijak demi kualitas dan keabadian karya sastra itu sendiri. Di sini kita akan coba mengupas gaya dakwah melalui karya sastra yang tujuan utamanya membikin manusia lebih manusiawi dan beradab. Misalnya pada pada novel “Pikiran Orang Indonesia” (Hafis Azhari) yang bicara tentang ingatan dan memori kolektif masyarakat Indonesia, ketika mentalitasnya dikuasai oleh belitan doktrin dari penguasa diktator yang tak mau peduli pada kemajuan pendidikan dan kebudayaan rakyatnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sang tokoh kemudian menyadari pentingnya pertumbuhan yang layak bagi seorang anak bangsa, agar tidak dikelabui oleh kepentingan politik Orde Baru yang disusupkan ke dalam otak dan memori rakyat. Dengan demikian kebohongan-kebohongan publik yang direkayasa makin tersingkap dengan jelas, agar rakyat Indonesia tidak lagi terjebak untuk menghormati “sang pahlawan” yang sebenarnya tidak layak diberi penghormatan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pelajaran apa yang bisa kita petik dari karya sastra yang selalu berpikir multidimensional itu? Bagi para birokrat dan politisi kita yang hobinya pencitraan melulu, mungkin akan tergopoh-gopoh memahami karya sastra yang berdimensi mendalam itu. Berbeda dengan kalangan jurnalis yang sanggup berpikir out of the box. Biasanya mereka rela berjuang dan mengabdikan dirinya kepada umat di luar institusi kasatmata, yang merupakan lambang agama formal. Bagi mereka, yang dipentingkan dari tujuan dakwah adalah membuat manusia menjadi bermoral, beradab dan tercerahkan. Terlepas apakah dakwah itu dalam bentuk opini, reportase, sastra maupun ceramah langsung di masjid dan majlis ta’lim.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tentu saja seorang jurnalis dan sastrawan yang ikhlas berkarya, jauh lebih mulia ketimbang seorang penguasa diktator yang tega memeras sumber daya alam maupun sumber daya manusia dari rakyatnya. Logika macam apa yang bisa membenarkan seorang penguasa kaya-raya yang dihasilkan dari merusak dan mengeruk sumber daya alam, meskipun dia bersikeras mengkultuskan dirinya sebagai “bapak pembangunan”? Bukankah kekayaan yang dihasilkan dari iklim yang tidak adil, biasanya harta-harta itu adalah buah dari iklim semacam itu. Dan berapa banyak orang yang rizkinya melimpah dan prestasinya meningkat, namun tidak ada titik kebahagiaan dalam hidupnya? Padahal sasaran yang ingin dicapai dari uang dan kesuksesan itu adalah nilai kebahagiaan dalam hidup.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Novel “Pikiran Orang Indonesia” mengajarkan kita bahwa kemuliaan dan keberkahan hidup tak bisa dibayar oleh materi sebanyak apapun. Generasi masadepan harus terbebas dari kepamrihan kaum birokrat dan politisi yang sibuk dalam pencitraan dan kebohongan publik. Tetapi bukankah karya sastra adalah karangan manusia, yang identik dengan kebohongan juga? Ya, tapi seandainya kebohongan itu mesti diciptakan, apakah kebohongan itu bersifat mendidik dan mendewasakan, atau justru mengkerdilkan dan membodohi rakyat? Di sinilah titik persoalannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Melalui novel yang semakin hangat menjadi perbincangan publik ini, karakter para penguasa yang mewarisi watak Orde Baru, sangat gampang dipahami. Karena yang seringkali mereka omongkan selalu saja berseberangan dengan prinsip kejujuran yang menjadi syarat multak bagi pemimpin yang adil. Dunia sastra dan jurnalistik biasanya dianggap “subversif” oleh mereka, karena dengannya transparansi dan kejujuran akan disingkap dengan baik, hingga memasuki psikologi manusia yang paling terdalam. Selamat membaca (klik attachment!) ***&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
– Penulis adalah alumnus Ponpes Al-Bayan, Rangkasbitung, Lebak, serta aktif di organisasi K2PSI (Kelompok Kerja Perumusan Sejarah Indonesia).&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>http://ahmadtoharisociety.blogspot.com/2015/10/ketika-sastra-harus-bicara.html</link><author>noreply@blogger.com (Mas Nunu)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3238030562185134049.post-58712159320080663</guid><pubDate>Thu, 29 Oct 2015 23:28:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-10-29T16:28:44.834-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Opini</category><title>Konstruksi Imajinasi Bangsa</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Hafis Azhari&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Seorang penguasa diktator seperti Hitler, Mussolini maupun Jengis Khan, tetap mengakui dirinya tidak berdaulat penuh dalam segala hal. Mereka memiliki kepercayaan adanya hubungan kosmos mikro (dunia fana) dengan kosmos makro (dunia baka) yang dianggap sanggup menjawab ketidakpastian hidup seorang pemimpin.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Alkisah nun di kala itu, delapan abad setelah masa kekuasaan Ken Arok yang dilegitimasi oleh sebuah sastra (puisi) berjudul “Lubdhaka”, terjadilah peristiwa yang terulang kembali di tanah Jawa, dalam kaitannya dengan sastra yang memiliki kekuatan untuk melegitimasi kekuasaan yang korup dan sewenang-wenang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kita paparkan di sini sehubungan masih relevannya kisah Pangeran Diponegoro untuk ditarik ke dalam problem politik kekinian dan keindonesiaan. Dimulai dengan tampilnya Sultan Hamengku Buwono V yang menulis Serat Purwakanda (Kakak Sulung) yang sebetulnya tetap merujuk pada sastra Jawa kuno berjudul “Kanda”. Namun Serat Purwakanda menyatakan diri lebih awal dari naskah “Kanda”, bahkan mengkualifikasi diri sebagai “Purwa” seakan-akan lebih asli dan lebih tua dari “Kanda”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Naskah sastra ini bertema tentang hal ihwal keturunan yang sah, hingga keterangan silsilah dewa-dewi Hindu dan Jawa yang dihubung-hubungkan dengan Nabi Adam (Islam). Dinyatakan bahwa Sang Hyang Tunggal memiliki empat putera mahadewa (Sang Hyang Puguh, Punggung, Manan dan Samba). Yang paling tampan dan baik di antara mereka adalah si bungsu Sang Hyang Samba, yang kelak dipastikan oleh Sang Hyang Tunggal sebagai kepala para dewata di Suwargodimulyo, meskipun tidak disukai oleh kakak-kakaknya yang saling bersengketa.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dilukiskan bahwa Sang Hyang Puguh dan Punggung terus bersitegang tak mau damai, maka dihempaskanlah keduanya dari permukaan bumi hingga berwajah buruk rupa. Setelah mereka sadar dan minta ampun mereka pun diampuni tetapi tidak boleh masuk ke Suwargodimulyo. Sang Hyang Puguh dijuluki Togog dan diberi tugas untuk menjaga orang-orang Jawa yang berada di luar negeri, sedangkan Punggung dijuluki Semar dan bertugas menjaga orang-orang Jawa di dalam negeri. Kemudian Samba dinobatkan sebagai kepala para dewata, bergelar Bathara Guru didampingi perdana menteri yang setia (Sang Hyang Manan) yang diberi gelar Bathara Narada.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di sini nampak siasat politik dari Kerajaan Jawa yang dikendalikan Penguasa Hindia Belanda, menghendaki lestarinya sistem kolonialisme sambil menyelenggarakan keamanan dan ketertiban tanah Jawa (Nusantara), memboyong beribu-ribu gulden dari jerih-payah rakyat jelata yang dikerahkan untuk menghasilkan rempah-rempah maupun buah-buah perkebunan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Serat Purwakanda yang merupakan dokumen gaib – dalam bentuk sastra itu – jelas mengandung unsur legitimasi tahta kerajaan (kosmos mikro) untuk mengidentikkan Hamengku Buwono V sebagai Sang Hyang Samba. Padahal HB V masih berumur dua tahun pada saat ayahnya wafat (HB IV). Pangeran Diponegoro yang memahami konsep keadilan dari ajaran Islam, tidak berkenan dengan keputusan Belanda menobatkan seorang balita berumur dua tahun menjadi Raja Jawa. Sebab konsekuensinya, yang berkuasa selaku eksekutif adalah sang perdana menteri, siapa lagi kalau bukan Patih Danurejo yang sejak dini memihak segelintir elit penguasa dan bersekongkol dengan pihak Belanda.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lantas, benarkah Serat Purwakanda adalah hasil ciptaan HB V, ataukah di belakang semua itu pihak penjajah (Belanda) yang bermain? Mungkinkah pihak kerajaan mengerahkan para penulis bayaran sebagaimana para penyair Arab yang dibayar pembesar Qurays untuk menyerang konsep kebenaran dan keadilan yang ditegakkan Muhammad? Bukankah untuk mengibarkan bendera kapitalisme di Indonesia, dana jutaan dollar digelontorkan demi berjalannya progres kebudayaan Barat (melalui CIA) di masa Orde Baru, terutama bagi kalangan seniman dan budayawan yang mau mengabdi pada pesan-pesan neo-kolonialisme dan imperialisme (baca: Dokumen CIA, Hasta Mitra, Jakarta 2002).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Serat Puwakanda bukan saja mengoreksi dokumen sastra Jawa kuno (Kanda) tetapi juga memanipulasi tafsiran Ronggowarsito (Serat Paramayoga) dari istana Surakarta. Karya sastra itu ujung-ujungnya menyampaikan pesan dakwah yang dilegitimasi keraton, bahwa Pangeran Diponegoro identik dengan figur Togog yang berburuk rupa. Sedangkan Sang Hyang Samba mengejawantah dalam diri HB V yang diidentikkan dengan wajah tampan dan baik hati. Kemudian pihak Belanda dan Patih Danurejo, tentu saja dikonotasikan sebagai Semar dan Bathara Narada, karena siapa lagi kalau bukan Semar yang bertugas menjaga orang-orang Jawa di dalam negeri.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada masa itu dunia politik, sastra dan religiusitas merupakan satu paket, sebagai pelaksanaan prarencana Tuhan ke dalam layar duniawi. Bagi orang-orang berpenghayatan mistis, seluruh semesta ini dapat mewahyukan diri sebagai sakralitas kosmik. Jadi setiap peristiwa dalam kosmos mikro yang fana ini hanyalah pengejawantahan lakon kosmos makro yang mengatasi kehendak rakyat jelata, dan merupakan takdir yang harus diterima dan ditaati oleh mereka.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;Menulis Untuk Keabadian&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kisah yang terungap di atas bukanlah semata-mata dongeng fiktif belaka, tetapi dialami langsung oleh seorang figur Pangeran Diponegoro. Dalam kaitan itu pihak keraton dan penjajah Belanda memang telah memenangkan pertempuran, tetapi pada hakekatnya mereka telah kalah dalam peperangan. Karena Tuhan Maha Adil, dan yang abadi dalam benak sejarah dan memori bangsa Indonesia tak lain adalah sosok sang pahlawan nasional kita, Pangeran Diponegoro.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam alam tradisional Jawa, peran rakyat kawula memang hanyalah sekunder belaka, karena yang dianggap primer adalah kedudukan sang penguasa tadi. Jadi citra manusia tradisional – seperti yang tergambar dalam dunia perwayangan – hanyalah kelir jagad cilik yang berfungsi sebagai bayangan yang dianggap tidak sejati, dan karenanya hanya dapat bergerak berkat peran Ki Dalang (jagad gede). Tidak mengherankan apabila segala peristiwa kekuasaan politik didominasi dan diputuskan oleh sang penentu sejati, serta diniscayakan oleh kehendak Sang Dalang belaka.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tetapi sudilah para jurnalis, intelektual dan budayawan Indonesia, agar kita terus menggalakkan kreasi-kreasi kita bukan semata-mata untuk kepentingan pasar yang sesaat tetapi berkaryalah terus untuk sebuah keabadian. Karenanya jangan sampai lekang oleh waktu dan jangan lapuk ditelan zaman. Sudah waktunya kita bermuhasabah dan bercermin diri, bahwa konsep kekuasaan feodal dalam piramida tatanan hirarkis selama ini memang bertentangan dengan ajaran monotheisme yang berpijak pada nilai-nilai humanitas dan keadilan sosial. Manusia tidak boleh melupakan nasibnya untuk menikmati kehidupan dunia ini, karena pada prinsipnya rasa syukur dan kenikmatan hidup di dunia adalah senyawa dan merupakan cikal-bakal untuk meraih kemenangan di akhirat nanti. (*)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
· &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Penulis novel “Perasaan Orang Banten” dan “Pikiran Orang Indonesia”.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>http://ahmadtoharisociety.blogspot.com/2015/10/konstruksi-imajinasi-bangsa.html</link><author>noreply@blogger.com (Mas Nunu)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3238030562185134049.post-5727912823517717546</guid><pubDate>Thu, 29 Oct 2015 13:45:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-10-29T06:45:00.250-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Opini</category><title>Fakta Dan Fiksi Demi Kebenaran</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;i&gt;Oleh Indah Noviariesta&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
(Aktivis Gerakan Membangun Nurani Bangsa, alumni Universitas Tirtayasa, Banten)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Karya-karya Pramoedya Ananta Toer, seperti Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa cukup membangkitkan gelombang kesadaran masyarakat dunia ketiga dari cengkeraman imperialisme dan neokolonialisme, bahkan dari kepentingan ekonomi negeri-negeri industri yang selalu mencari-cari pasar untuk mengorbankan bangsa-bangsa miskin. Lewat perjalanan waktu karya-karya tersebut dinamakan sastra “realisme sosialis”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada prinsipnya Pramoedya sendiri tidak terlampau memusingkan julukan apa yang akan diberikan untuk karya-karyanya. Ia hanya menulis karena suatu keterpanggilan menyaksikan realitas yang ada, dan dengan menulis itu berarti sudah berbuat apa yang bisa diperbuat. Ia menyodorkan kepada khalayak tentang realitas kompleks pada diri manusia mengenai tabiat, karakter dan wataknya. Juga memberikan solusi tentang apa yang sebenarnya, dan apa yang sebaiknya dilakukan terhadap sesamanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Karenanya karya semacam itu dapat digolongkan sebagai sasta yang bersifat multi-religi, bicara tentang manusia dan kemanusiaan secara universal. Ia beritikad membuka mata hati pembaca untuk menyoal ketidakadilan yang seringkali dimanfaatkan para politisi sebagai motor penggeraknya. Ia pun menggugat kepentingan imperialisme dan neokolonialisme yang pada hakikatnya adalah kepanjangan tangan dari sistem penjajahan yang menghendaki lestarinya eksploitasi manusia atas manusia lain.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tentu saja ada penulis yang serampangan menilai secara hitam-putih belaka, mudah menggeneralisir masalah, hingga dengan nekat menjuluki karya Bumi Manusia maupun Pikiran Orang Indonesia sebagai sekularisme. Tetapi siapa pula yang menyangsikan karya sastra yang bicara tentang nasib ribuan Marsinah, Wiji Thukul dan ribuan Udin Syafrudin, yang berjuang menuntut hak-haknya sebagai karyawan dan kuli tinta, lantas digolongkan sebagai sastra sekularisme yang tidak Islami. Kritik sastra semacam itu terlalu prematur dan terlalu mengada-ada, di saat orang itu belum sempat mengetahui duduk perkaranya, belum sempat mengadakan penelitian secara seksama, bahkan ironisnya, belum sempat membaca isi buku tersebut secara utuh dan menyeluruh.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam novel Pikiran Orang Indonesia disampaikan tentang lika-liku perpolitikan Indonesia di seputar tahun 1965, tentang masyarakat dalam suatu republik merdeka yang terbelenggu oleh doktrin-doktrin penguasa dengan memahami istilah politik sesuai tafsirannya. Hingga sang penguasa berhasil mengkultuskan dirinya sebagai "bapak pembangunan". Tapi dalam perjalanannya ia tak sanggup menafsirkan pesan-pesan yang tersirat dalam ajaran setiap agama Samawi, bahwa membunuh satu orang tanpa alasan yang benar, sama artinya dengan membunuh seluruh umat manusia (QS. Al-Maidah: 32).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Masih teringat dalam memori kita bagaimana lihainya kekuasaan itu meluncurkan istilah "Gestapu" untuk menuding pelaku peristiwa G30S. Tujuan politik dari teknik permainan itu sangat jelas, yakni suatu dampak psikologis yang disusupkan &amp;nbsp;ke dalam pikiran rakyat, agar mereka menyejajarkan peristiwa itu dengan konsep "Gestapo" dari partai Nazi Jerman.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setiap orang yang mengasah nuraninya akan kepekaan sejarah, dapat memahami betapa teknik propaganda ini telah berabad lalu diciptakan manusia, yang biasanya dimanfaatkan sekelompok angkatan perang guna mengungkap gambaran-gambaran sang musuh sebagai penitisan kebejatan, membeberkan lambang mengenai penderitaan manusia, bahkan penyebab dan asal-mula kekejian dan pembantaian, sejak kekuasaan diciptakan sampai kapanpun ia sanggup mempertahankan kebohongan yang dibuatnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tak perlu diherankan mengapa di awal-awal kekuasaannya, Soeharto – selaku kepala Kostrad – mengadakan aksi-aksi terobosan untuk mengambil-alih RRI dan kantor telekomunikasi yang letaknya di jalan Medan Merdeka (seberang kantor Kostrad). Setelah itu berkumandanglah peristilahan negatif diciptakan secara serentak, dari kata G30S/PKI, Kopkamtib, Museum Lubang Buaya, Gerakan Pengacau Keamanan, Organisasi Tanpa Bentuk, Ekstrim Tengah dan seterusnya. Segala akronim dan peristilahan itu tentu bukan tercetus dari orang-orang bodoh yang sama sekali tak punya harapan akan masadepan, namun ia telah keluar dari pikiran dan gagasan jitu (namun berhati jahat) dari seorang ahli strategi, demi suatu agitasi dan propaganda yang sudah dirancang sedemikian canggihnya (baca: Bahasa Politik Bung Karno dan Jenderal Soeharto, Hasta Mitra, Jakarta 2002).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada hakikatnya “provokasi” atau “indoktrinasi”, selama hal itu bertujuan baik dan mulia termasuk bagian dari amr ma’ruf dan nahi munkar yang merupakan prinsip seorang beriman. Karena itu suatu agitasi propaganda untuk suatu gerakan revolusioner memang diperlukan. Bung Karno pernah menyampaikan pesan politiknya bahwa, lebih baik "banyak bicara dan banyak bekerja" daripada "sedikit bicara banyak bekerja". Karena setiap pekerjaan mulia dalam menegakkan kebenaran, dibutuhkan bahasa ungkapan untuk disampaikan ke publik, bahkan sebagai perlawanan dan penggugah kesadaran akan adanya ketidakadilan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dengan kepiawaian berpidato, serta kecermatan dalam merangkai kata Soekarno telah sanggup menggugah kesadaran jutaan rakyatnya, yang membuat mereka tersentak dan bangkit dari keadaan nasibnya sebagai bangsa-bangsa terjajah. Setelah peristiwa G30S, dia memilih istilah Gestok (Gerakan Satu Oktober) daripada istilah Gestapu (Gerakan September Tigapuluh) yang dibuat-buat Orde Baru. Secara kesejarahan dapatlah dimengerti bahwa peristiwa itu sudah melewati jam 24.00, yang berarti sudah memasuki tanggal 1 Oktober 1965. Selain itu secara kebahasaan tidaklah kalah pentingnya, karena susunan kata yang dipakai dalam sistem penanggalan kita adalah, kata yang diterangkan mendahului kata yang menerangkan. Jadi tepat sekali, bila anakronisme itu hendak diciptakan mestinya "Tigapuluh September" dan bukan "September Tigapuluh".&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Karena itu berhati-hatilah ketika ada seorang jenderal bermental fasisme menuduh komunisme-marxisme-leninisme, karena belum tentu dia paham apa maksudnya, ketimbang seorang Guru Besar Sosiologi mengajarkan matakuliah Marxisme di kampus perguruan tinggi. Kita pun masih ingat pula akronim "Jas Merah" yang dicetuskan langsung oleh Bung Karno, yang berarti "jangan sekali-kali meninggalkan sejarah". Dengan kecermatannya berbahasa, Soekarno cukup peka dan tanggap dalam menciptakan suatu peristilahan, yang membawa kita pada bayangan pasukan kemeja merah Garibaldi, seorang pemimpin revolusi liberal yang berjuang memerdekakan rakyat Italia pada tahun 1830-an.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tetapi kemudian di negeri ini, teknik propaganda yang bercita-cita mulia itu telah diambil-alih oleh klik kepentingan penguasa totaliter, dengan kembali mengamalkan pola-pola yang dipakai Hitler, Jengis Khan, Franco hingga Musollini, dipraktekkan kembali oleh seorang jenderal bekas tentara KNIL yang pernah mengabdi pada pendudukan Belanda. Teknik propaganda itu dimanfaatkan untuk kepentingan beberapa gelintir elit penguasa yang menghendaki program-program Amerika – dan negeri-negeri industri – berjalan mulus di bumi Indonesia selama 32 tahun, dan terus mengepung keseharian kita hingga hari ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Sepulang dari tahanan politik di Salemba, saya merinding menyaksikan visualisasi kreatif Orde Baru, dengan membikin-bikin cerita tentang adanya kaum wanita yang menari-nari mengelilingi mayat para jenderal. Badan saya merinding bukan lantaran kreatifitas mereka, tapi karena tak pernah menduga mengapa ada manusia Indonesia tega memfitnah saudaranya sendiri, serta membikin-bikin kebohongan sebegitu kejinya!” demikian pernyataan Joesoef Isak, mantan sekjen Persatuan Wartawan Asia-Afrika, mantan pemred Merdeka, bersama ratusan wartawan lainnya yang pernah ditapolkan oleh penguasa Orde Baru.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sebagai penutup tulisan ini, saya akan kirimkan (attach) novel berjudul PIKIRAN ORANG INDONESIA, setelah beberapa waktu lalu saya mendapatkan izin dari penerbit dan penulisnya (Hafis Azhari). Bagi yang ingin menampilkan novel ini dalam media yang Bapak/Ibu pimpin, justru kami ucapkan terimakasih, karena kami meyakini bahwa kebaikan yang disampaikan kelak akan berbuah kebaikan yang berlipatganda, sebagai balasan bagi orang-orang yang konsisten dan sabar dalam memperjuangkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan, selamat membaca…. ***&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>http://ahmadtoharisociety.blogspot.com/2015/10/fakta-dan-fiksi-demi-kebenaran.html</link><author>noreply@blogger.com (Mas Nunu)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3238030562185134049.post-935970945490986977</guid><pubDate>Tue, 27 Oct 2015 13:42:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-10-27T06:42:07.366-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Berita</category><title>Ahmad Tohari Bercerita Kampungnya</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEissiY_Vni5l1KOUdSEmxfIKWddL06JOHXjN6ebWSyxsd6PHFfSA6W-nGp4tXly2Ikz_BqVc4eLMrQngXYEdA5E0UFJpG6fPN3TvcEGCsF2bARcuOVYr8DBCkG9whc2xfVZcOIoGkcSlIdQ/s1600/nh+dini.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEissiY_Vni5l1KOUdSEmxfIKWddL06JOHXjN6ebWSyxsd6PHFfSA6W-nGp4tXly2Ikz_BqVc4eLMrQngXYEdA5E0UFJpG6fPN3TvcEGCsF2bARcuOVYr8DBCkG9whc2xfVZcOIoGkcSlIdQ/s1600/nh+dini.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Frankfurt (ANTARA News) - Sastrawan novelis dan feminis Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin yang dikenal dengan NH Dini bersama penulis buku "Ronggeng Dukuh Paruk", Ahmad Tohari, berbagi cerita tentang Kampung dan "City tales" dalam temu pengarang pada Frankfurt Buchmesse.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kedua penulis andal Indonesia itu tampil dalam acara "In Conversation Kampong and City Tales" di Paviliun Indonesia, Rabu, yang digelar dalam rangkaian pameran buku terbesar di dunia di mana Indonesia menjadi "Guest of Honour", dalam pameran yang berlangsung hingga 18 Oktober mendatang itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
NH Dini mengakui bangga Indonesia akhirnya menjadi tamu kehormatan dalam event terbesar yang diikuti oleh para penerbit kelas dunia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
"Bangga Indonesia bisa menunjukkan karya anak bangsa," ujar NH Dini yang mengaku mulai tertarik menulis sejak kelas tiga SD di mana buku-buku pelajarannya penuh dengan tulisan yang merupakan ungkapan pikiran dan perasaannya sendiri.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
NH Dini yang kini menetap di Panti Wredha Langen Wedharsih, Ungaran, mengaku sempat ragu saat menerima tawaran untuk mengisi acara dalam Frankfurt Book Fair karena dia membutuhkan seorang pendamping yang dapat membantunya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sejak beberapa tahun ini ibu dua anak ini membutuhkan kursi roda dalam melakukan aktivitasnya sehari-hari, tapi akhirnya NH Dini mendapatkan sponsor untuk pendampinginya dan dapat menyaksikan Indonesia dengan menjadi tamu kehormatan dalam Frankfurt Book Fair kali ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sementara itu Ahmad Tohari yang buku "Ronggeng Dukuh Paruk"-nya sudah diterbitkan ke berbagai bahasa dan diangkat dalam film layar lebar berjudul "Sang Penari" menjelaskan latar belakang novel yang dibuatnya. Dia menegaskan tidak ingin terlibat dalam dunia politik namun bersimpati kepada para korban yang ditindas kekuasaan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ahmad mengakui keikutsertaan Indonesia dalam Frankfurt Book Fair dan membuktikan adanya keseriusan pemerintah Indonesia terhadap kesusastraan Indonesia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Berbagai buku Ahmad Tohari ikut meramaikan pameran buku yang menampilkan sekitar 600 acara baik diskusi, pemutaran film, temu pengarang dan juga demo masak oleh koki terkemuka dari Indonesia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Editor: Jafar M Sidik&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
COPYRIGHT © ANTARA 2015&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>http://ahmadtoharisociety.blogspot.com/2015/10/ahmad-tohari-bercerita-kampungnya.html</link><author>noreply@blogger.com (Mas Nunu)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEissiY_Vni5l1KOUdSEmxfIKWddL06JOHXjN6ebWSyxsd6PHFfSA6W-nGp4tXly2Ikz_BqVc4eLMrQngXYEdA5E0UFJpG6fPN3TvcEGCsF2bARcuOVYr8DBCkG9whc2xfVZcOIoGkcSlIdQ/s72-c/nh+dini.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3238030562185134049.post-6082433715514928551</guid><pubDate>Thu, 06 Aug 2015 22:08:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-08-06T15:08:44.779-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Opini</category><title>JIKA AKU CALON BUPATI (Wahana Introspeksi Diri)</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Oleh Pujiah Lestari – Alumni Ponpes Al-Bayan, Rangkasbitung, Lebak, Banten&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Banyak yang telah kupelajari perihal kiat-kiat menjadi penguasa daerah. Cukup banyak strategi kekuasaan yang dapat menjadi acuan, hingga apa yang menjadi puncak harapanku bisa tercapai dengan mulus. Aku membaca kiat-kiat Machiavelli tentang teori mengambil-alih kekuasaan, tapi lebih detil lagi yang diajarkan Penguasa Orde Baru yang menyebar di internet akhir-akhir ini, dengan tema yang sangat interesan: “Catatan Harian Seorang Mantan Presiden”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hal yang penting menggugah pikiranku adalah pemanfaatan media, agar lebih memperkenalkan diri di tengah masyarakat. Akan kupersiapkan anggaran khusus agar sebaran di tengah masyarakat kian merata, misalnya pembuatan kalender, spanduk, banner hingga baliho berukuran raksasa. Untuk suatu desa yang dipandang perlu penyediaan media yang lebih besar lagi aku pun akan mempersiapkan alokasi dana yang ditujukan untuknya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pengadaan ribuan kaos yang sesuai dengan warna favorit dari partai pengusungku, adalah trik yang sudah lama namun masih tetap valid. Ribuan kaos itu akan kubagikan untuk kalangan pemuda, pemilik warung, tukang ojek, sopir angkot hingga ibu-ibu pengajian. Sedangkan untuk menjangkau kalangan menengah ke atas harus kupersiapkan anggaran khusus untuk pembuatan iklan di media cetak hingga elektronik. Kalau perlu akan kutambah biaya tersendiri untuk perpanjangan masa tayang, baik melalui radio maupun televisi lokal.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sebagai pemangku tunggal dari hajat politik ini, tentunya aku sendirilah yang akan mempersiapkan pendanaan itu, bahkan aku sendiri yang menjadi penanggungjawab setiap penyelenggaraan acara. Misalnya acara seminar, talk show, silaturahmi, hingga sambutan di kalangan ibu-ibu pengajian. Karenanya akan kupersiapkan orang berpengalaman yang menjadi juru bicara, hingga event organizer untuk membentuk kepanitiaan. Tentu saja para peserta tidak mungkin hadir pada acara-acara tersebut dengan gratis, manakala tidak dipersiapkan anggaran khusus untuk biaya transportasi, konsumsi, akomodasi dan seterusnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Supaya muncul kesan seolah-olah aku adalah calon pemimpin yang loyal dan dermawan, akan kupersiapkan anggaran tersendiri untuk pemasangan paving block pada beberapa gang di kampung-kampung yang merupakan pendukung setiaku. Jika ada yang mengusulkan pemberian santunan bagi kaum miskin, orang jompo, pembangunan gardu ronda &amp;nbsp;hingga rehabilitasi langgar dan mushola, aku pun harus bersedia untuk memenuhinya. Kalau perlu aku akan kerjasama dengan PMI atau Ormas Kepemudaan untuk acara pengobatan massal hingga donor darah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jikapun saat ini dana mahar dipersoalkan, dan memang tidak ada partai politik yang terang-terangan menentukan jumlah biaya mahar, tetaplah dana untuk itu harus kupersiapkan. Mereka akan menyiasati hal tersebut dengan cara pengadaan survey, sebagai modus operandi untuk menyiasati publik. Biarlah kumaklumi saja, meskipun dana untuk biaya mahar ini terlampau besar. Karena toh mereka sudah lihai dengan pola-pola siasat yang telah kurancang, dan loyalitas mereka pun tiada lain hanya ditujukan untuk uang dan kekuasaanku.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lantas, untuk menyiasati loyalitas mereka agar tidak berpaling ke “lain hati”, akan kuprioritaskan tim inti yang berbaris di bangku depan, kutambahkan bonus-bonus tertentu, agar tidak lirik sana lirik sini seolah-olah rumput tetangga lebih hijau ketimbang rumput di halaman rumahku.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kini yang menjadi batu sandunganku, munculnya berbagai opini yang menyudutkan bahkan menentang pencalonanku nanti, misalnya artikel yang ditulis Nurul Fauziyah, M. Zakaria, Sulaiman Djaya, Irawaty, Encep Abdullah, Noviariesta, Kiai Chudori hingga Hafis Azhari yang pernah menulis wacana bertajuk “Hasrat Penguasa Mengukir Sejarah”. Kalau tidak salah, dia itulah yang pernah menulis sebuah novel “Pikiran Orang Indonesia” yang peluncurannya diadakan di beberapa pesantren dan kampus perguruan tinggi. Sebagai calon penguasa daerah aku tak mau berurusan dengan dunia sastra, literasi maupun tetek-bengek tulis-menulis. Dan setalah aku berkuasa nanti, biar sajalah dunia seni dan sastra berkembang sendiri, biar mengais-ngais berkalang tanah sekalipun.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mengingat problem yang serius ini kelak akan kususun kepanitiaan agar melobi kalangan penulis agar menyatakan pemihakannya dalam rubrik-rubrik opini. Kalau perlu kusediakan anggaran khusus untuk merekrut kalangan jurnalis dan pemred-pemred harian se-Banten. Sekali lagi “se-Banten”. Bahkan untuk membeli halaman khusus opini di seluruh koran-koran adalah alternatif penting yang harus kuperhitungkan. Bagiku mudah sekali menjangkau hal tersebut, baik secara finansial maupun lobi-lobi politik yang kelak kuagendakan. Bahkan kalau perlu akan kukerahkan para seniman lokal agar berkoar-koar menyatakan dukungannya kepadaku.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada momentum Ramadhan seperti ini, perlu juga dimanfaatkan orang-orang yang dianggap terpandang, misalnya seorang ustadz yang sanggup mengumpulkan ribuan massa untuk mengadakan tabligh akbar maupun istighosah kubra. Bukan perkara gratis untuk mengadakan semua itu, karenanya aku pun harus menyediakan anggaran bagi para pendakwah dan mubaligh yang kelak memimpin acara tersebut. Tentu saja konsumsi maupun transportasi untuk para hadirin yang diundang memerlukan anggaran tersendiri.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tetapi yang membikin aku harus punya perhitungan adalah munculnya novel berjudul “Perasaan Orang Banten” yang kabarnya ditulis oleh seorang lulusan UIN Jakarta yang sebelumnya mondok di pesantren Daar El-Qolam pimpinan K.H. Rifa’i Arief. Kabarnya novel tersebut bicara banyak tentang seluk-beluk perpolitikan Banten maupun Indonesia. Kalangan penulis begitu geger menyoal hal tersebut, baik yang menilai positif maupun negatif, dan tentu saja pilihan yang kedua aku harus menentukan pemihakannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Belakangan ini semakin bermunculan opini-opini miring berjudul “Ramalan Budaya Menggelinding”, “Sastra Mendahului Zamannya”, bahkan cerpen berjudul “Poliisi Tua” hingga “Wafatnya Tokoh Politik”. Ada apa ini? Ada persoalan apa di Banten ini? Apakah kiamat semakin nampak di depan mata? Bagaimana aku harus memuluskan langkah-langkahku mencapai cita-cita tertinggi untuk menggapai keberhasilan dalam hidup?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tapi kini aku tersentak kaget saat mendengar wejangan dari seorang Kiai Sufi Banten, bahwa sukses duniawi tidak menjamin adanya hidup tenang dan damai. Kedudukan dan harta melimpah sama sekali tidak identik dengan rizki yang berkah. Seberapa banyak orang kaya berkedudukan namun hidupnya sengsara, tapi tidak sedikit juga orang yang hidupnya sederhana namun selalu ia diliputi oleh ketenangan dan kebahagiaan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Kalaupun tidur yang nikmat itu bisa dibeli dengan harga kasur yang paling empuk dan mahal, mestinya para politisi dan penguasa itulah yang bisa menikmati itu, tapi nyatanya tidak!” tandasnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bahkan setelah berulang kali aku membaca novel “Perasaan Orang Banten” dari seorang relawan Rumah Dunia, betapa aku mempelajari bahwa perkara politik-praktis bukanlah satu-satunya yang substansial untuk membangun peradaban umat. Sungguh menggelikan permainan calon penguasa itu, terutama ketika aku membaca bab 13 halaman 113, bahwa mereka merasa senang dan bangga ketika orasi politiknya dihadiri ribuan pengunjung yang memadati lapangan kampanye. Padahal mereka-mereka itu datang bukanlah inisiatif pribadi, namun karena dibayar oleh sang pemangku hajat. Ironis sekali, bukan?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada akhirnya, aku pun harus berpegang pada prinsip yang diajarkan Rasulullah, bahwa beliau menganjurkan umatnya agar sanggup mengendalikan keinginan dan hawa nafsu, bukan merancang berbagai tipu muslihat agar meraih segala hasrat dan keinginan duniawi. Bagaimanapun seorang pemimpin harus berpikir dan berjiwa lapang. Jika pikirannya dangkal dan sempit ia akan mudah terombang-ambing oleh emosi hingga memutuskan segala kebijakan secara tidak adil dan sewenang-wenang. ***&lt;/div&gt;
</description><link>http://ahmadtoharisociety.blogspot.com/2015/08/jika-aku-calon-bupati-wahana.html</link><author>noreply@blogger.com (Mas Nunu)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3238030562185134049.post-1407531988792300453</guid><pubDate>Sun, 05 Apr 2015 03:20:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-04-04T20:20:00.321-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerpen</category><title>Wafatnya Politisi Tua</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgOpZ7XrAbunizE8ac6UK9_7D_MhZTNDOjQZVpGSb81rY0jIBZBmy_Jgy1yrocEN48RdIUwf9HiEzgvHIVpf6aHxECrN18GPP21JAAIkpSeVB8WC59qsVuUp4rOHbCOBCJer_5uKRpbXqn6/s1600/Cara-menulis-cerpen-dan-novel.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgOpZ7XrAbunizE8ac6UK9_7D_MhZTNDOjQZVpGSb81rY0jIBZBmy_Jgy1yrocEN48RdIUwf9HiEzgvHIVpf6aHxECrN18GPP21JAAIkpSeVB8WC59qsVuUp4rOHbCOBCJer_5uKRpbXqn6/s1600/Cara-menulis-cerpen-dan-novel.jpg" height="200" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;i&gt;Cerpen Hafis Azhari&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 20.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;eusai menandatangani kontrak terakhir dengan seorang pengusaha
Cina, Haji Husen Hafidudin menghempaskan badannya yang kurus di kursi sofa.
Transaksi kali ini cukup tinggi nilainya, hingga membuatnya tersenyum merekah.
Beberapa hari lalu ia pun merasa beruntung telah menjual persediaan besi-besi
tua kepada perusahaan logistik dengan keuntungan berlipat-lipat. Kini ia merasa
selamat dari dugaan-dugaan negatif akibat krisis moneter berkepanjangan yang
menggelisahkan dirinya. Ia pun sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa di
tahun depan ia akan bertarung kembali dalam persaingan politik untuk menduduki
kursi DPR Pusat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Namun
yang menjadi persoalannya adalah kesehatan yang belum pulih untuk bersaing
secara terbuka, hingga terkadang merasa kesal dan mengutuk dirinya sendiri:
“Buat apa kekayaan dan kedudukan tinggi di kursi politik, sementara kesehatanku
hancur dan hidupku menderita seperti ini.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Memang
yang masih tersisa pada Haji Husen di usinya yang menginjak 65-an adalah
tubuhnya yang kurus dan kerempeng. Tapi yang tidak kalah gawat adalah saraf
otaknya yang seakan sudah menjanjikan kematian. Bila ia sedang duduk-duduk
menyendiri di serambi rumahnya, terus-menerus ia dihantui oleh pikiran-pikiran
tentang mati. Ya, persoalan mati itulah yang begitu banyak menyita waktunya
sehari-hari. Suara mobil sirine yang terdengar dari kejauhan pun membuat
otot-ototnya menegang dan jantungnya berdebar-debar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Urat
sarafnya yang begitu keras menyiksanya, membuatnya lupa tentang segala arti
iman dan kasih sayang Tuhan. Yang dipikirkannya hanyalah tentang kapan ajal itu
akan menjemputnya. Ia terkenang peristiwa yang sudah-sudah dan pernah menimpa
beberapa kerabatnya yang juga terjun ke dunia politik. Di masa tuanya mereka
berbaring dalam kesakitan, dada yang naik-turun, mendengkur terputus-putus
serta biji mata yang guram. Di tengah peristiwa itulah nyawa direnggut dan roh
pun lepas meninggalkan jasad. Seperti itukah yang akan terjadi pada dirinya?
Sedangkan hanya kuku saja yang dicabut, orang bisa merasakan sakit setengah
mati, lalu bagaimana kalau roh atau nyawanya yang akan dicabut? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Sudah
lama ia berharap sekiranya Allah memasukkannya ke dalam golongan orang yang
beruntung, misalnya mati mendadak saat melaksanakan solat. Beruntung sekali
orang yang jantungnya berhenti seketika dalam keadaan ruku maupun sujud, seakan
maut itu bisa mengatur dirinya lantas masuk di saat-saat lengah, hingga
diam-diam menyusup dan mengantarkannya ke pintu gerbang keabadian. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Tetapi
dia merasa kurang yakin dengan pemikiran semacam itu, karena bapaknya dulu, dan
sebelum itu pun seorang pemimpin partai yang dikaguminya, tetap dijadikan
ukuran penting ketika orang-orang menghadapi maut. Kemudian kematian seperti
itu dirasakan oleh hatinya yang sudah kacau bahwa dia pun pasti akan mengalami
sekarat yang lebih parah lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Cukup
lama Haji Husen mengandai-andai perihal kematian, bahkan berfilsafat menurut
caranya sendiri tentang apa yang terjadi sesudah orang itu mati. Pada keadaaan
seperti itu seringkali dadanya terasa sesak, detak jantungnya tersendat-sendat,
badannya dingin dan mukanya basah bermandi keringat. Dia berpikir tentang
apakah yang terjadi nanti: kebangkitan, reinkarnasi, perhitungan dan azab
Allah? Waduh, alangkah jauh (dalam pikirannya) jarak antara kematian dengan
surga itu! &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Ia
masih teringat peristiwa beberapa tahun lalu, ketika ia turut-serta menerima
suap, lantas merancang peraturan daerah yang membolehkan adanya penambangan
pasir, hingga terjadilah bentrokan antara pihak aparat dan masyarakat yang
tidak menghendaki sarana dan infrastruktur jadi rusak akibat maraknya truk-truk
liar yang mengangkuti pasir tersebut. Dalam insiden itu, dua orang mati
tertembak dan tujuh lainnya luka berat dan dilarikan ke rumah sakit. Lantas
bagaimana dengan keluarga dan saudara mereka yang masih menuntut hak? Bagaimana
dengan istri dan anak-anak mereka yang semakin tumbuh menjadi generasi-generasi
baru negeri ini? Waduh celaka, alangkah berat pertanggungjawaban dirinya di
akhirat nanti…!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNoSpacing" style="text-align: center;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Saat
ini ia terus berobat jalan secara rutin seminggu sekali. Dokter tak pernah
memberitahukan apakah ia akan sembuh dari penyakit komplikasi yang
mengakibatkan kejang jantung itu, tetapi hanya menasehati agar ia hidup
berhati-hati dan sederhana. Berkali-kali ia mengeluh kepada dokter langganannya
bahwa ia susah tidur dan pikirannya kacau-balau. Sang dokter menganjurkannya
agar ia pergi ke dokter spesialis saraf. Hingga sejak saat itu ia pun
mondar-mandir mendatangi dokter-dokter spesialis: saraf, jantung, dada, kepala
dan seterusnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Dan
anehnya, orang yang dulunya tak mau percaya kepada ilmu kedokteran, bahkan tak
pernah percaya kepada dokter itu sendiri, setelah sekarang dilanda kegelisahan
dan kecemasan, tiba-tiba berbalik seratus delapan puluh derajat. Barangkali
jalan pikirannya yang berubah-ubah itu pun termasuk bagian dari gejala-gejala
yang menimbulkan sarafnya terganggu. Ketakutannya pada suatu yang akan terjadi
hampir merenggut nyawanya, hingga ia pun terus-menerus bertempur melawan
pikirannya sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Tetapi
ketika ia dapat kesempatan meluangkan waktunya untuk berbagi, justru
dimanfaatkannya untuk bertempur melawan orang lain, seakan-akan semua orang
adalah musuh bebuyutan yang selalu mengincar dan merngusik ketentraman
hidupanya. Beberapa pengurus partai yang menjadi bawahannya menyadari bahwa
atasannya itu sudah menjadi orang yang lain sama sekali. Bahkan wakilnya
sendiri sudah angkat-kaki dari partai tersebut lantas berhijrah ke partai lain,
setelah sembilan tahun lebih ia mendampingi sang majikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Kemudian
istrinya sendiri pun tak lepas dari sasaran pelampiasan amarahnya. Ia menuduh
istrinya itu telah membuat amalan-amalan dengan mengirim kembang tujuh rupa di
makam Sultan Hasanuddin Banten, agar membuat suaminya lemah tak berdaya. Segala
kecurigaannya kepada siapapun dapat berubah menjadi suatu keyakinan. Ia berang
dan mencaci-maki istrinya, meski sang istri berusaha diam dan bersikap sabar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNoSpacing" style="text-align: center;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Segala
perlakuan suaminya itu kemudian diceritakan kepada anak-anaknya, dan mereka pun
turut prihatin. Suatu kali mereka datang dan berkumpul di rumah orang tuanya.
Mereka mengusulkan, untuk menjaga kesehatan bapaknya agar ia bisa istirahat,
sebaiknya rumah besar yang dijadikan kantor DPW di pusat kota itu dijual saja,
meski dengan harga murah. Tetapi sang ayah segera paham apa-apa yang
dianggapnya akan menjadi malapetaka baginya, dan akan menguntungkan buat
anak-anaknya. Dengan sikap dan kata-kata kasar, mereka dicaci-maki
habis-habisan:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Jangan
berunding macam-macam, saya ini belum mati, dan saya masih hidup sampai
kapanpun! Badan saya masih kuat untuk melawan siapapun! Mau apa kalian datang
ke sini, he? Mau cari perkara? Mau merampas hak saya?” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Dengan tatapan sinis ia pun
memandang wajah anak-anaknya dengan penuh curiga. Kemudian sambil menoleh
kepada istrinya ia pun berteriak: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Ibumu
ini sudah cerita macam-macam tentang saya ya? Biarin saja, memang dia
kelakuannya seperti itu! Dari dulu dia suka ngomong ke sana ngomong ke sini!
Dari dulu dia mau mencelakakan saya! Lihat saja nanti, kalau saya sudah sembuh,
lebih baik harta saya dipakai untuk hal-hal yang bermanfaat. Saya sudah tahu
perempuan yang akan bisa menentramkan hati suaminya, yang mengerti kasih
sayang, daripada harta saya dihabiskan untuk orang-orang serakah macam
kalian!”&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Suasana
semakin tegang, tak berapa lama seorang anak sulungnya yang pernah menolak
dicalonkan jadi anggota Dewan, angkat bicara:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Abah,
kami datang dari jauh-jauh mau menengok Abah, mau melihat kesehatan Abah, bukan
untuk tujuan yang macam-macam.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Sudah
diam, kamu semua adalah anak-anak ibumu!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Semua
keluarga undur diri, kemudian berunding kembali di ruang depan. Sang Istri
ketakutan pada rencana suaminya untuk menikah lagi, dan boleh jadi akan
dilaksanakannya dengan nekat. Anak-anaknya merasa prihatin melihat kelakuan
ayahnya. Bahkan ada yang mengusulkan untuk mengambil langkah berjaga-jaga
daripada membiarkannya jatuh ke pangkuan wanita yang hanya mau mengincar
kekayaannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Tapi
belum sempat ia mewujudkan rencana dan cita-citanya ke gelanggang politik yang
lebih jauh lagi, ia pun harus siap menyambut datangnya ajal yang hanya ada
dalam rencana Allah Yang Maha Kuasa. Kejadiannya hanya beberapa menit setelah
pertengkaran itu, ketika Haji Husen memaksakan diri melangkah menuju kamar
mandi, lantas menolak untuk dipapah oleh salah seorang anaknya. Tiba-tiba dari
dalam kamar mandi terdengar bunyi “gedebuk” yang mengagetkan seisi rumah
tersebut. Saat itu juga, seluruh keluarganya menyaksikan sang tokoh politik
terkapar di kamar mandi, setelah ia terpeleset dan terpelanting jatuh dengan
kepalanya yang membentur sisi kolam. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Dalam
perjalanan menuju rumah sakit, Haji Husen pun wafat dengan meninggalkan seorang
istri, enam anak dan delapan cucu, serta beberapa rumah dan lahan tanah yang
pada jamannya turut menunjang bagi proses perjalanan partai yang dipimpinnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 14.0pt; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Keesokan harinya muncullah ucapan-ucapan
belasungkawa dari para birokrat dan pejabat tinggi di seluruh koran-koran
Banten: &lt;i&gt;“Kami turut berduka-cita atas wafatnya Haji Husen Hafidudin yang
telah pulang ke rahmatullah dengan damai.” ***&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>http://ahmadtoharisociety.blogspot.com/2015/04/wafatnya-politisi-tua.html</link><author>noreply@blogger.com (Mas Nunu)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgOpZ7XrAbunizE8ac6UK9_7D_MhZTNDOjQZVpGSb81rY0jIBZBmy_Jgy1yrocEN48RdIUwf9HiEzgvHIVpf6aHxECrN18GPP21JAAIkpSeVB8WC59qsVuUp4rOHbCOBCJer_5uKRpbXqn6/s72-c/Cara-menulis-cerpen-dan-novel.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3238030562185134049.post-544228979610906144</guid><pubDate>Sun, 29 Mar 2015 03:17:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-03-28T20:17:00.743-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerpen</category><title>Banjir Di Masjid Banten</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgOpZ7XrAbunizE8ac6UK9_7D_MhZTNDOjQZVpGSb81rY0jIBZBmy_Jgy1yrocEN48RdIUwf9HiEzgvHIVpf6aHxECrN18GPP21JAAIkpSeVB8WC59qsVuUp4rOHbCOBCJer_5uKRpbXqn6/s1600/Cara-menulis-cerpen-dan-novel.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgOpZ7XrAbunizE8ac6UK9_7D_MhZTNDOjQZVpGSb81rY0jIBZBmy_Jgy1yrocEN48RdIUwf9HiEzgvHIVpf6aHxECrN18GPP21JAAIkpSeVB8WC59qsVuUp4rOHbCOBCJer_5uKRpbXqn6/s1600/Cara-menulis-cerpen-dan-novel.jpg" height="200" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 20pt;"&gt;&lt;i&gt;Cerpen Hafis Azhari&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 20.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 20.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;A&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;ku tak pernah melihat perpaduan mata dan alis yang sebegitu menarik
seperti milik Fauziyah. Matanya yang indah memancar bagaikan pelangi sore di
ufuk timur. Bulu matanya yang lentik memang bukan polesan kosmetik Amerika,
hingga selalu mengiringi sorot matanya yang tajam, sekaligus menyimpan
kelembutan hati seorang ibu yang sedang menyusui anaknya. Aku membayangkan
puting susunya yang ranum dan segar, sedang dihisap oleh anaknya yang baru
menginjak satu tahun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Suasana
banjir di sekitar mesjid Banten membuat Fauziyah terpaksa menitipkan anak
satu-satunya kepada sang ibu. Ia segera mengenakan seragam Gema Nusa Banten,
suatu organisasi yang bergerak di&amp;nbsp; bidang
sosial dan kemasyarakatan. Setelah berpamitan dengan ibunya ia pun bergabung
bersama teman-teman LSM lainnya. Tak terkecuali aku yang satu rombongan
dengannya, meski aku banyak berkiprah di bidang kebudayaan dan penulisan
sastra.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Beberapa
setel baju pengganti ditumpuk di atas peralatan-peralatan medis yang dibawanya
dalam sebuah tas rangsel. Rambutnya yang indah terurai, dibiarkannya terjepit
oleh rangsel yang menggantung di punggungnya. Satuan mobil palang merah sudah
mendahului kami menuju alun-alun Rangkasbitung, di mana posko-posko sudah
didirikan untuk menampung para korban banjir. Kini giliran rombongan kami yang
berjumlah delapan orang, dan siap meluncur menuju mesjid Banten untuk membantu
korban-korban di wilayah itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Fauziyah
melompat ke dalam mobil yang kukendarai dengan penuh sigap. Entah kenapa,
inisiatif untuk membantu korban-korban banjir begitu menyala-nyala dalam diriku,
khususnya bila ditemani seorang aktivis LSM secantik Fauziyah. Padahal belum
tentu ia pun merasakan hal yang sama dengan aku. Rasa kemanusiaannya untuk
membantu orang-orang yang membutuhkan tidak sebanding dengan aku yang sering
tergoda oleh kepentingan dan maksud lain, khususnya dalam mencintai seorang
janda beranak satu yang telah ditinggal oleh suaminya. Menurut sumber yang
dapat dipercaya, kabarnya suami Fauziyah telah menikahi teman sekantornya yang
masih ada garis keturunan ningrat, sampai kemudian ia memilih hidup menjanda,
dan baru diceraikan oleh mantan suaminya beberapa bulan setelah kelahiran
anaknya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNoSpacing" style="text-align: center;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Korban
pertama yang kami tangani adalah seorang anak berusia empat tahun yang
menggigil kedinginan dengan seluruh badannya yang pucat setelah dua hari
terjebak di tengah-tengah banjir. Rumahnya yang terkepung oleh banjir segera
kami hampiri dengan perahu karet yang kami turunkan dari atas mobil. Di dalam
rumah itu masih ada dua orang kakak dan seorang ibunya yang masih meringkuk di
sela-sela atap rumah. Bapaknya segera membantu kami untuk menurunkan semua
anggota keluarganya, lantas menaikkannya di atas perahu karet.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Sesampainya
di tenda, anak berusia empat tahun itu sudah lemah tak berdaya. Tensi darahnya
betul-betul drop hingga nyaris mengancam keselamatan nyawanya. Fauziyah
melingkarkan selimut di tubuhnya yang terus menggigil kemudian memeluknya
erat-erat. Namun anak itu begitu lemah hingga tak sanggup menelan vitamin yang
kami minumkan ke mulutnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Bu,
tolong peluk anak ini,” Fauziyah memerintahkan pada sang ibu yang sejak tadi
diam di hadapan anaknya, kemudian sambungnya seperti menggumam, “Anak ini butuh
pelukan hangat dari orang yang menyayanginya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Tak
berapa lama anak itu perlahan-lahan pulih, kemudian Fauziyah bertanya sambil
tersenyum lembut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Siapa
namanya?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Umar,”
jawab ibunya singkat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Seperti
nama sahabat Nabi?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Bapaknya
yang memberi nama.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Mudah-mudahan
jadi anak yang kuat dan tangguh seperti Umar bin Khattab.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNoSpacing" style="text-align: center;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Wajahku
begitu pucat dan miris bila melihat darah. Tetapi darah itu terus saja mengalir
dari korban kelima yang tertimpa reruntuhan rumahnya yang roboh tersapu banjir.
Dari kening hingga pelipis matanya darah itu sulit untuk dikendalikan, hingga
kami menduga bahwa korban ini memang sudah mengidap suatu penyakit yang
berbahaya sebelum banjir itu datang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Jangan
bicara soal yang lain. Tugas kita adalah menolong semua korban-korban banjir
yang sedang berbaring di tenda ini,” lagi-lagi Fauziyah mengingatkan rombongan
kami.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Jangan-jangan
korban ini dulunya…”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Belum
selesai teman kami bicara, kontan Fauziyah berdiri di hadapannya sambil
berujar:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Kamu
mau bantu koban banjir, atau mau berdebat tentang dosa dan pahala?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Aku
merasa tersindir mendengar itu, meski kata-kata itu ditujukan kepada salah
seorang teman kami. Perlahan-lahan aku mendekati korban yang sedang mengalami
pendarahan itu. Keberanianku tak sebanding dengan kepintaran Fauziyah yang
dengan sigap menolong semua korban tanpa kecuali. Ia memutuskan untuk membalut
kepala seorang korban dengan perban, setelah memborehi obat pada lukanya yang
menganga. Ketika kulihat jari-jari tangan Fauziyah yang ramping, segera
terbayang dalam pikiranku sesosok bidadari cantik yang tergambar dalam
kitab-kitab agamaku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Aku
tidak tahu, apakah Fauziyah punya kepercayaan dan keimanan yang sama dengan
aku, ketika suatu kali kami istirahat di bawah pohon asam sambil
berbincang-bincang:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Apakah
kamu percaya adanya sorga di akhirat nanti?” tanyaku sambil tersenyum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Fauziyah
tidak menjawab, ia hanya menerawang dan menatap ke atas langit.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Apakah
kamu percaya adanya pahala dari apa-apa yang kita lakukan ini?” pancingku lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Kita
harus berbuat apa yang mesti diperbuat, Rahmat,” jawab Fauziyah singkat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Lantas
apakah kamu yakin bahwa kebaikan yang kita lakukan akan dibalas dengan
kebaikan?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Fauziyah
tetap membisu, hanya memandang ke arah tenda yang di dalamnya sedang berbaring
puluhan korban-korban banjir yang sedang kami tangani.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Apakah
kamu percaya bahwa Tuhan campur-tangan dalam peristiwa banjir ini?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ia
tidak menjawab, kemudian melangkah ke arah tenda untuk mengurusi korban-korban
yang datang berikutnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNoSpacing" style="text-align: center;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Beberapa
hari kemudian orang-orang berseragam muncul sambil melempar-lemparkan bantuan
yang terbungkus di kardus-kardus.&amp;nbsp; Mobil
mereka nampak mewah-mewah, meski dibeli dari hasil keringat rakyat yang
membayar pajak setiap tahunnya. Beberapa orang memandang kami dari tanah yang
kering di kejauhan sana. Tak berapa lama seorang pesuruh mendekati tenda sambil
mencatat jumlah korban di atas secarik kertas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Kalian
dari rombongan mana?” ia melontarkan pertanyaan pada Fauziyah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Kami
dari relawan Gema Nusa, Pak.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Apa
itu Gema Nusa? LSM bodong ya? Sumber dana dari mana?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Ia menatap Fauziyah dengan tajam,
kemudian katanya seperti menginterogasi, “Nama Anda?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Fauziyah
Nurul.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Asal
daerah?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Cilegon.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Agama
Anda?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Fauziyah
tidak menjawab. Setelah menyelesaikan beberapa catatan yang diperlukan,
orang-orang berseragam itu kembali menuju kantor-kantor mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNoSpacing" style="text-align: center;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Selama
enam hari kami menangani korban-korban banjir di sekitar mesjid agung Banten.
Kulihat wajah Fauziyah yang pucat karena kelelahan, meski matanya tetap
terlihat sayu dan menawan. Puluhan korban banjir yang ditanganinya mulai
dipindahkan di posko-posko palang merah terdekat. Menjelang hari ketujuh hujan
deras mengguyur tenda kami. Tubuh Fauziyah mulai menggigil kedinginan, ditambah
dengan kelelahan dan kekurangan tidur selama beberapa hari terakhir. Ia
mengajak aku untuk menjauhi tenda lantas berlindung di bawah menara Banten.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Tak
berapa lama hujan mulai mereda. Fauziyah mengajak aku menaiki tangga-tangga
hingga sampailah di puncak menara Banten. Ia berjalan perlahan-lahan mengitari
menara, seakan menyaksikan perkampungan dan pesawahan yang beberapa hari itu
lumpuh karena terendam banjir.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Hari
ini banjir sudah mulai surut,” ujar Fauziyah dengan mulut bergetar. Nampak
sekujur badannya masih menggigil sampai kemudian ia mengangkat wajahnya dan
menatapku: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Peluklah
aku, Rahmat,” tiba-tiba ia menawarkan sesuatu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Aku
tak berani, Fauziyah, kita ini orang beragama.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Peluklah
aku, darahku bisa beku kalau kamu tidak melakukannya.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Ia
semakin menggigil. Aku menatap matanya yang indah, kemudian memeluknya dan
membelai rambutnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Peluklah
aku erat-erat, Mat.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Aku
tidak tahu apa yang dirasakan oleh Fauziyah, ketika sore itu aku memeluknya
erat-erat di atas menara Banten, hingga perlahan-lahan tubuhnya menghangat
setelah seharian ia menggigil kedinginan… ***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>http://ahmadtoharisociety.blogspot.com/2015/03/banjir-di-masjid-banten.html</link><author>noreply@blogger.com (Mas Nunu)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgOpZ7XrAbunizE8ac6UK9_7D_MhZTNDOjQZVpGSb81rY0jIBZBmy_Jgy1yrocEN48RdIUwf9HiEzgvHIVpf6aHxECrN18GPP21JAAIkpSeVB8WC59qsVuUp4rOHbCOBCJer_5uKRpbXqn6/s72-c/Cara-menulis-cerpen-dan-novel.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3238030562185134049.post-3646621864524853600</guid><pubDate>Fri, 27 Mar 2015 23:53:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-03-27T16:53:09.940-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Berita</category><title>Teliti Novel Ahmad Tohari, Dosen Unair Raih Doktor</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg-XBW8G3ck-IBFbm9yzCBUMCGe9cVYrKYULqjx13QMv-KppkjLX1e_Irabu_hRG3bF7-Y0Y4-eBI2RGrJ9mw46pnLDf9RoTaJ7uO_X7OOTUOOXdR2vXQMOCSJtRmwuQhKTAXu3YVMInrE-/s1600/aa.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em; text-align: justify;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg-XBW8G3ck-IBFbm9yzCBUMCGe9cVYrKYULqjx13QMv-KppkjLX1e_Irabu_hRG3bF7-Y0Y4-eBI2RGrJ9mw46pnLDf9RoTaJ7uO_X7OOTUOOXdR2vXQMOCSJtRmwuQhKTAXu3YVMInrE-/s1600/aa.jpg" height="179" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Berita diambil dari laman&amp;nbsp;http://www.ugm.ac.id/&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga, Dra. Purwantini, M.Hum., berhasil meraih gelar doktor usai melaksanakan ujian terbuka program doktor di Fakultas Ilmu Budaya UGM, Kamis (11/9). Dalam kesempatan itu ia mempertahankan disertasi berjudul “Kemiskinan dalam Sastra Indonesia: Kajian Strukturalisme-Genetika Atas Karya-Karya Ahmad Tohari”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Puwantini melakukan penelitian pada sembilan novel dan dua kumpulan cerpen Ahmad Tohari. Novel yang diteliti antara lain Di Kaki Bukit Cibalak (1977), Kubah (1980), Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dini Hari (1985), Jentera Bianglala (1986), Bekisar Merah (1993), Lingkar Tanah Lingkar Air (1995), Belantik (2001), serta Orang-orang Poyek (2004). Sedangkan dua kumpulan cerpen yang dikaji adalah Karyamin (1991) dan Rusmi Ingin Pula (2004).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dari penelitian Purwantini diketahui bahwa karya-karya Ahmad Tohari menggambarkan suara kelas sosial islam modernis. Pengarang yang merupakan wakil dari kelompok sosial pemeluk islam modernis menghendaki hal yang sama seperti kelompoknya yaitu menginginkan pemerintahan yang jujur, adil, tanggap terhadap kemiskinanm dan tanggap terhadap kehidupan anak-anak yatim. Melakukan pembaharuan dan merespon terhadap keterbelakangan serta kemiskinan di bidang ekonomi, pendidikan teknologi, politik, maupun kebudayaan. Islam modernis anti terhadap kultur tradisional karena bisa menimbulkan kemiskinan turunan dan tergolong perbuatan syirik. “Anti komunis, tetapi juga menentang berdirinya Negra Islam Indonesia,” jelasnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Gerakan pembaharuan yang dilakukan kelompok islam modernis ditujukan untuk kemajuan dan kesejahteraan umat islam agar tidak terperosok dalam kemiskinan di berbagai bidang kehidupan. Karenanya gerakan ini menyerukan agar setiap umat islam melaksanakan tiga prinsip dasar yaitu iman, ilmu, dan kerja sebagai pegangan hidup.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Karya-karya Ahmad Tohari dapat mewakili suara kelas sosial islam modernis dan tergolong karya agung sehingga bisa dimasukkan sebagai karya kultural yang besar bersifat filosofis. Sebagai karya filsafat, karya-karyanya ikut berperan dalam perubahan sejarah sosial dari masa orde lama hingga reformasi,” paparnya. (Humas UGM/Ika)&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>http://ahmadtoharisociety.blogspot.com/2015/03/teliti-novel-ahmad-tohari-dosen-unair.html</link><author>noreply@blogger.com (Mas Nunu)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg-XBW8G3ck-IBFbm9yzCBUMCGe9cVYrKYULqjx13QMv-KppkjLX1e_Irabu_hRG3bF7-Y0Y4-eBI2RGrJ9mw46pnLDf9RoTaJ7uO_X7OOTUOOXdR2vXQMOCSJtRmwuQhKTAXu3YVMInrE-/s72-c/aa.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3238030562185134049.post-5231130268643803839</guid><pubDate>Sun, 22 Mar 2015 03:15:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-03-27T16:15:15.685-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerpen</category><title>Masjid Di Kampung Jombang</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgOpZ7XrAbunizE8ac6UK9_7D_MhZTNDOjQZVpGSb81rY0jIBZBmy_Jgy1yrocEN48RdIUwf9HiEzgvHIVpf6aHxECrN18GPP21JAAIkpSeVB8WC59qsVuUp4rOHbCOBCJer_5uKRpbXqn6/s1600/Cara-menulis-cerpen-dan-novel.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgOpZ7XrAbunizE8ac6UK9_7D_MhZTNDOjQZVpGSb81rY0jIBZBmy_Jgy1yrocEN48RdIUwf9HiEzgvHIVpf6aHxECrN18GPP21JAAIkpSeVB8WC59qsVuUp4rOHbCOBCJer_5uKRpbXqn6/s1600/Cara-menulis-cerpen-dan-novel.jpg" height="200" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 18pt;"&gt;&lt;i&gt;Cerpen Hafis Azhari&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 18.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 18.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;T&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;anggul-tanggul yang membatasi aliran sungai ke perkampungan
dibiarkan keropos selama puluhan tahun. Pada musim hujan tahun ini, perairan
untuk irigasi pesawahan pun rusak, karena pemerintah daerah lebih mengutamakan
alokasi dana untuk perhotelan dan tempat-tempat pariwisata.&amp;nbsp; Demikian halnya dengan Lurah Herman yang
tidak mempedulikan jalan-jalan berlubang, bahkan jembatan yang menghubungkan
Kampung Jombang dengan Desa Kalitimbang dibiarkan doyong dan tak terawat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Padahal
di sekitar kampung itulah hilir-mudik beragam kehidupan masyarakat, serta
padatnya jumlah penduduk, baik yang pribumi maupun non-pribumi. Dari kejauhan
nampak rumah tua yang dihuni oleh beberapa wanita tunasusila dari daerah
Indramayu, di sebelahnya sebuah warung kopi, kedai cukur dan warung nasi uduk
yang tiap pagi dikunjungi para pelanggan dari kalangan pelajar, pegawai pabrik,
bahkan ibu-ibu pengajian yang tiap Jumat mengikuti ceramah Ustad Basri di
mesjid Al-Mubarok, yang letaknya di dataran tinggi sebelah timur Jombang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Sekitar
pukul sembilan malam, Sinta seorang wanita tunasusila seperti biasa melintasi
jembatan reot itu menuju warung remang-remang yang terletak di sebelah barat
Kampung Jombang. Pada pagi hari jembatan itu dilintasi pula oleh anak-anak
pelajar, para pegawai negeri hingga para pedagang yang menuju pasar kelapa di
Kota Cilegon.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Suatu
saat jembatan itu pasti ambruk, biar para pelacur itu kapok,” umpat Lurah
Herman di hadapan istrinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Pelacur-pelacur
itu kesulitan mencari penghidupan karena krisis moneter di negeri ini yang
nggak ada habis-habisnya,” timpal sang istri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Tapi
untuk apa mereka beroperasi di sekitar kampung kita, kenapa tidak di desa-desa
lain saja?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Sudahlah
Pak, barangkali suatu saat mereka bisa sadar, buktinya mereka masih mau
menghadiri pengajian, serta mendengar ceramah-ceramah Ustad Basri setiap hari
Jumat.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Alaah,
sadar taik kucing! Orang maksiat tetap saja maksiat! Orang kafir tetap saja
kafir!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Sudahlah,
Pak.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“He,
Bu, kita tidak bisa dipermalukan begitu saja… sedangkan bulan depan desa kita
akan mendapat kunjungan dari Bapak Walikota. Mau ditaruh di mana muka saya,
Bu?” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Sebaiknya
diusulkan saja kepada Walikota supaya memperbaiki tanggul dan jembatan yang
sudah tua itu…”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Sudah,
sudah diam! Pokoknya Ibu jangan singgung-singgung soal jembatan itu lagi. Saya
harus fokus memikirkan pemilihan walikota tahun depan. Biar bagimanapun saya
ini kader partai yang sangat diperhitungkan, Bu. Saya jamin tahun depan banyak
masyarakat yang akan mendukung saya. Dan saya tidak mau pusing dengan
urusan-urusan sepele macam ini.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Pak,
soal memperbaiki jembatan bukan urusan sepele,” si istri terus memberi
peringatan, namun kemudian dibentak oleh sang suami:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Sudah
diam, Bu, jangan banyak cingcong!” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Sang
istri terdiam dengan mata menerawang. Sudah cukup lama ia terheran-heran,
kenapa suaminya selaku kepala daerah, lebih mementingkan urusan lainnya ketimbang
soal-soal yang harus dibenahi di sekitar desanya. Bahkan belakangan ia menjalin
bisnis perumahan dan pertanahan yang tidak ada hubungannya dengan perbaikan
desa dan kemaslahatan warganya sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNoSpacing" style="text-align: center;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Ceramah
Ustad Basri yang disampaikan di mesjid Al-Mubarok kali ini tentang rahasia
“Tobat” yang merupakan anugerah Allah dan diberikan kepada siapapun yang
dikehendaki oleh-Nya. Yang terpenting manusia jangan sampai berputus asa dari
kasih sayang Allah, karena hanya Allah-lah Yang Maha Tahu, kapan waktu dan
kesempatan yang tepat buat seseorang untuk kembali ke jalan-Nya. Tidak ada hak
atas manusia untuk menghakimi manusia lain, karena tugas yang diberikan sebagai
khalifah adalah mengajak ke jalan kebaikan, serta mengingatkan manusia yang
berpaling dari jalan kebenaran, menuju ke jalan yang diridhoi oleh Allah Swt.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Nampak
Sinta meneteskan air mata ketika mendengar uraian ceramah dari Ustad Basri. Di
sebelahnya Ibu Lurah bersama para jamaah pengajian ikut mendengar wejangan sang
Ustad, yang diselingi pula dengan doa-doa agar Allah memberikan cahaya-Nya bagi
orang-orang yang berpaling dari jalan-Nya. Beberapa jamaah dari kalangan
bapak-bapak ikut mendengarkan ceramah dengan khusyuk, di antaranya para pegawai
pabrik, para pedagang dan staf-staf kelurahan, kecuali Lurah Herman yang
berhalangan hadir karena harga-dirinya yang tak mau disejajarkan dengan
bawahannya, terlebih-lebih bila ia duduk sama tinggi dengan kalangan pedagang
dan pelacur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Menurut
kabar dari sumber yang layak dipercaya, konon Lurah Herman tidak sepakat dengan
cara-cara yang ditempuh Ustad Basri, yang gemar menyampaikan ceramah-ceramah di
tempat-tempat prostitusi. Bahkan Lurah itu pun membangun bangunan megah sebagai
mesjid tandingan, karena mesjid Al-Mubarok yang berlokasi di dataran tinggi Kampung
Jombang telah diprakarsai oleh mantan Lurah yang menjabat sebelumnya. Namun
setiap hari Jumat, hanya mesjid Al-Mubaroklah yang dipakai jamaah untuk solat
Jumat, karena mesjid yang dibangun oleh Lurah Herman sangat jauh dari jangkauan
pemukiman penduduk. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Di
musim hujan tahun ini, mesjid Al-Mubarok sering pula dimanfaatkan oleh para
pengungsi yang rumahnya terendam banjir karena tingginya curah hujan serta
pendangkalan aliran sungai. Ustad Basri memberikan peringatan kepada para
jamaah bahwa segala kerusakan yang terjadi di daratan maupun lautan akibat ulah
tangan-tangan manusia sendiri. Suatu kali pernah terjadi perdebatan sengit
dengan Pak Lurah selepas Ustad itu menyampaikan ceramahnya bahwa, ekploitasi
manusia serta eksplorasi alam yang berlebihan adalah penyebab utama terjadinya
kerusakan di mana-mana. Lurah Herman yang sedang sibuk mengurusi bisnis tanah
dan perhotelan merasa terusik mendengar ceramah itu, hingga ia berencana untuk
memposisikan penceramah lain, serta menolak kehadiran Ustad Basri di Kampung
Jombang, beberapa hari menjelang kunjungan walikota di sekitar kampung
tersebut.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNoSpacing" style="text-align: center;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Sepanjang
hari hujan tak henti-henti mencurahkan airnya ke segenap penjuru provinsi
Banten. Beberapa hari kemudian banjir bandang terjadi di mana-mana, hingga melanda
Kampung Jombang dan daerah-daerah yang datarannya rendah. Pada malam Jumat air
bah menghantam perkampungan di sekeliling Jombang, hingga rumah-rumah terendam
banjir. Kegaduhan terjadi di mana-mana, di sana-sini suara orang-orang
berteriak minta tolong, anak-anak menangis menjerit-jerit ketakutan. Harta
benda tak mungkin terselamatkan karena secara tiba-tiba, sekitar pukul 24.00
tanggul-tanggul yang mengitari sungai Kalitimbang jebol secara beruntun.
Seketika air semakin meninggi, orang-orang berlarian menuju mesjid Al-Mubarok,
termasuk Lurah Herman dan keluarganya.&amp;nbsp;
Sementara itu Ustad Basri beserta keluarganya, baru muncul belakangan
ketika orang-orang sudah berjubel memadati mesjid itu untuk menyelamatkan diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Di
antara para pengungsi yang berpakaian kumal dan basah kuyup itu, nampak Lurah
Herman lebih mencolok dari yang lain-lainnya, mengenakan kemeja batik kuning
berlogo burung garuda, dengan kopiah beludru di kepalanya. Suasana gaduh dan
hiruk-pikuk tiba-tiba terhenti ketika Lurah Herman menatap Sinta dan
teman-temannya sesama tunasusila, lantas memekik-mekik seperti orang kesurupan:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“He,
pelacur-pelacur! Kalian mau apa ke sini? Untuk apa kalian berkumpul di mesjid
ini?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Tolonglah
kami Pak, di mana-mana air semakin meninggi, di tempat kami sudah terendam
banjir,” ujar Sinta membela teman-temannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Itu
urusan kalian! Carilah tempat lain, jangan sampai kalian mengotori mesjid ini…
dasar perempuan sampah!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Melihat
keributan itu Ustad Basri mencoba menengahi, “Sabarlah Pak Lurah… mereka hanya
mencari tempat untuk menyelamatkan diri…”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Tidak
bisa! Sudah lama saya menyangsikan kemampuan Anda sebagai mubaligh. Beberapa
hari lagi kampung kita akan kedatangan walikota, dan mulai saat ini staf saya
sudah mendapatkan orang baru sebagai penceramah di mesjid ini… sedangkan Anda,
mulai detik ini saya pecat!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Ustad
Basri menghela napas dalam-dalam. Ia merasa terharu sambil menatap semua warga
dengan penuh kelembutan. Suasana takut dan panik akibat banjir semakin terobati
bila menyaksikan ketenangan dan kelembutan hati Ustad Basri. Sedangkan Lurah
Herman, tetap saja bersikukuh untuk mengusir Sinta dan teman-temannya agar
mengungsi ke tempat lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Tolonglah
kami Pak, tempat inilah yang paling aman dari kemungkinan banjir yang semakin
besar lagi. Kami hanya berlindung untuk mencari tempat aman.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Jangan
banyak omong, kalian semua sampah masyarakat… kalian semua orang-orang kafir,
dan berhak diazab oleh Allah…!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Tenanglah
Pak Lurah, mereka semua mencari selamat, memang benar apa yang mereka katakan,”
balas Ustad Basri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Sudah
diam! Sebagai ustad, Anda juga bersekongkol dengan mereka… Anda juga termasuk
pembela-pembela pelacuran di negeri ini!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Hati-hati
ngomong, Pak Lurah… jangan tergesa-gesa membikin kesimpulan…”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Diam
kamu! Pokoknya kalau pelacur-pelacur ini tidak mau pergi dari tempat ini,&amp;nbsp; sekarang juga saya yang akan keluar untuk
mencari tempat pengungsian lain…”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Ustad
Basri berusaha menahan kepergian Lurah Herman, karena banjir semakin membesar
dan air bah di mana-mana semakin meninggi. Tetapi Lurah Herman bersikeras
menentang peringatan Ustad Basri hingga kemudian menghilang di kegelapan malam.
&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Bunyi
gemuruh terdengar dari kejauhan menjelang waktu subuh. Orang-orang terperangah
mendengar suara bergemuruh yang terasa asing di telinga mereka. Baru keesokan
harinya setelah matahari terbit, semakin nampak jelas tiga sosok mayat
tergeletak di bawah jembatan yang ambruk. Adapun salah seorang dari mereka
mengenakan kemeja batik kuning berlogo burung garuda, dengan kopiah beludru di
kepalanya…. ***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>http://ahmadtoharisociety.blogspot.com/2015/03/masjid-di-kampung-jombang.html</link><author>noreply@blogger.com (Mas Nunu)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgOpZ7XrAbunizE8ac6UK9_7D_MhZTNDOjQZVpGSb81rY0jIBZBmy_Jgy1yrocEN48RdIUwf9HiEzgvHIVpf6aHxECrN18GPP21JAAIkpSeVB8WC59qsVuUp4rOHbCOBCJer_5uKRpbXqn6/s72-c/Cara-menulis-cerpen-dan-novel.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3238030562185134049.post-496393137692617900</guid><pubDate>Sun, 22 Mar 2015 03:14:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-03-27T16:15:45.621-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerpen</category><title>Kuli Tinta</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgOpZ7XrAbunizE8ac6UK9_7D_MhZTNDOjQZVpGSb81rY0jIBZBmy_Jgy1yrocEN48RdIUwf9HiEzgvHIVpf6aHxECrN18GPP21JAAIkpSeVB8WC59qsVuUp4rOHbCOBCJer_5uKRpbXqn6/s1600/Cara-menulis-cerpen-dan-novel.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgOpZ7XrAbunizE8ac6UK9_7D_MhZTNDOjQZVpGSb81rY0jIBZBmy_Jgy1yrocEN48RdIUwf9HiEzgvHIVpf6aHxECrN18GPP21JAAIkpSeVB8WC59qsVuUp4rOHbCOBCJer_5uKRpbXqn6/s1600/Cara-menulis-cerpen-dan-novel.jpg" height="200" width="200" /&gt;&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 18pt;"&gt;Cerpen Hafis Azhari&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 18pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 18pt;"&gt;”K&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;ita hadapi saja apa yang akan terjadi.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Tapi
Mas dibayar berapa dengan melakukan perlawanan seperti itu?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Ini
bukan perkara uang, Ris, tapi perkara mental kita, kekuatan kita untuk
menghadapi problem hidup.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Alaah
taik kucing! Persoalan apa yang tak bisa diselesaikan dengan uang, Mas?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Untuk
ke sekian kalinya Rista mengeluh dan menggerutu di hadapan Somad suaminya.
Sebagai pemuda yang berkiprah di dunia kewartawanan, Somad memegang
prinsip-prinsip yang berseberangan dengan istrinya dalam beberapa hal. Misalnya
dalam soal kesederhanaan dan hidup bersahaja. Menurut Somad, pantang baginya
untuk bersaing dalam hal-hal yang bersifat kebendaan. Ia berusaha untuk kukuh
memegang prinsip-prinsip jatidirinya sebagai wartawan, apapun konsekuensi yang
akan dihadapi di kemudian hari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Kali
ini ia harus berurusan dengan aparat-aparat perusahaan &lt;i&gt;Stone Engeneering&lt;/i&gt;
yang merupakan anak cabang dari &lt;i&gt;PT. Krakatau Stone.&amp;nbsp; &lt;/i&gt;Pasalnya adalah hasil reportase yang dia
buat seminggu lalu di harian &lt;i&gt;Banten Bangkit&lt;/i&gt;, yang kemudian banyak
menyulut pro-kontra di kalangan masyarakat Cilegon dan karyawan &lt;i&gt;PT. Krakatau
Stone&lt;/i&gt;. Pembuangan limbah dari perusahaan anak cabang itu telah mengaliri
sungai Ciwandan yang dikabarkan sudah melampaui ambang batas. Tetapi pihak
perusahaan menampik pemberitaan tersebut, bahkan dua orang &lt;i&gt;security &lt;/i&gt;berjanji
akan melaporkan Somad kepada pihak yang berwajib sebelum ia menyatakan
permintaan maaf di seluruh koran-koran Banten.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Permintaan
maaf untuk apa?” Somad bersikukuh di hadapan istrinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Emangnya
Mas itu siapa? Apakah Mas itu seorang politisi atau pengusaha besar yang kebal
hukum, begitu?” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Ris,
aku sudah melakukan tugasku apa adanya, bahkan aku pun sudah melakukan riset
bersama mahasiswa Untirta tentang kebenaran limbah itu.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Tapi
Mas terlalu kecil untuk berhadap-hadapan dengan mereka, seperti cicak dan
buaya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Ya
tenang saja, Ris, semua orang tahu aku ini hanya seorang wartawan, tapi biarlah
kebenaran menyatakan dirinya sebagai kebenaran.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNoSpacing" style="text-align: center;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kini
kehamilan Rista sudah memasuki bulan ketujuh, sementara mertua Somad yang dari
Pandeglang mendesak istrinya agar melakukan selamatan “nujuh bulan” di
kampungnya berdasarkan adat Sunda. Bagi Somad sendiri, tak peduli apakah akan
diadakan dengan adat Sunda, Jawa maupun Batak sekalipun. Meski ia pun mengukur
kemampuan finansial yang terbatas untuk penyelenggaraan-penyelenggaraan acara
seperti itu. Tapi ia menyadari betapa pentingnya hal-hal seperti itu bagi
istrinya, dan terutama bagi mertua dan keluarganya di kampung halaman. Ia tak
mau mengadakan konfrontasi lebih jauh, karena ia pun menyadari, di balik
kelemahan seorang wanita terkandung banyak kelebihan yang kadangkala sulit
untuk diakui oleh banyak pria.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Jadi
kita harus bagaimana, Mas? Berapa dana yang kita miliki untuk acara selamatan
itu?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Kita
hadapi saja, Ris, apa yang akan terjadi.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Mas,
aku sudah bosan mendengar kata-kata seperti itu. Aku membutuhkan fakta yang
riil, yang nyata, apa yang harus kita persiapkan untuk acara di kampung nanti.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Tenang
saja, Ris, kita jalani saja apa yang ada di hadapan kita.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Mas?!”
&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNoSpacing" style="text-align: center;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Bisikan-bisikan
itu terus menyelimuti hari-hari Somad untuk menghentikan pemberitaan tentang
limbah perusahaan itu. Beruntung ia mendapat &lt;i&gt;support&lt;/i&gt; dari pemimpin
redaksi &lt;i&gt;Banten Bangkit&lt;/i&gt; untuk terus melakukan langkah-langkah yang ia
tempuh, sambil menjalin kerjasama dengan jurusan Kimia di Untirta. Namun pada
malam harinya ketika ia sedang berbaring di samping istrinya, serta-merta sang
istri bertanya:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Mas,
berapa tawaran mereka untuk kita?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Maksudmu?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Berapa
yang mereka tawarkan untuk menghentikan pemberitaan itu?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Bukan
untuk menghentikan pemberitaan, Ris, tapi untuk suatu permintaan maaf.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Somad
terdiam sesaat. Setelah menghela napasnya ia pun menjawab, “Tawaran mereka
cukup tinggi, Ris.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Somad
pun menyebutkan jumlah penawaran itu di hadapan istrinya, hingga sang istri
menyimpulkan seketika:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Menurutku,
tidak ada salahnya Mas menyatakan maaf.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Maaf
untuk apa? Kesalahan apa yang aku lakukan selama ini?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Jangan
sombong Mas, semua manusia tidak luput dari salah dan dosa.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Ini
bukan perkara kesombongan Ris, tapi kesalahan apa yang aku lakukan terhadap
perusahaan itu? Kenapa aku harus minta maaf karena persoalan yang tak jelas
letak kesalahannya di mana?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Suasana
hening dan tegang. Tak berapa lama Somad berkata sambil mengepalkan kedua
tangannya, “Aku hanya mengungkapkan fakta yang ada di lapangan. Aku hanya
menyampaikan kebenaran, biar terasa pahit sekalipun!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Mereka
saling diam terpaku. Somad merogoh kantongnya untuk mengeluarkan dompet. Ia
mengeluarkan semua uang yang ada dalam dompet itu, kemudian menaruhnya di atas
meja sambil berucap, “Ini ada dana secukupnya untuk selamatan. Tadi pagi aku
menerima honor dari kerjasama yang aku lakukan dengan Untirta. Kita harus
terbiasa mengadakan acara-acara seperti itu dengan cara-cara yang simpel dan
sederhana.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNoSpacing" style="text-align: center;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hari-hari
berikutnya Somad mengerjakan tugas-tugasnya untuk meliput kejadian-kejadian di
lapangan. Dalam beberapa minggu memang tak ada berita yang paling dominan
kecuali santernya berbagai komentar dan tanggapan pembaca mengenai kasus
pembuangan limbah itu. Kabarnya masyarakat Ciwandan melayangkan gugatan kepada
pihak perusahaan yang dikawal oleh sekelompok LSM yang bergerak di bidang
lingkungan hidup. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Somad
tetap konsisten untuk meliput fakta-fakta yang ditemukannya di lapangan, meski
ia menyadari hari-hari yang semakin mendekati persalinan istrinya hingga
memasuki bulan kesembilan. Tawaran pihak perusahaan semakin meninggi agar ia
menghentikan laporan-laporan yang disampaikannya dari hasil penelitian di
lapangan. Kali ini pihak perusahaan tidak berani menyatakan secara terbuka untuk
mengadakan konfrontasi langsung dengan para wartawan. Di samping mereka pun
kewalahan menangani gugatan masyarakat setempat yang disokong oleh kekuatan
LSM.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Detik-detik
terakhir menjelang istrinya melahirkan telah tiba. Somad segera membawa
istrinya ke rumah sakit, meski ia belum mempersiapkan dana yang cukup untuk
biaya persalinan. Di depan pintu gerbang rumah sakit, tiba-tiba dua orang
menghampiri dirinya sambil mengeluarkan cek dengan jumlah uang yang sangat
tinggi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Uang
dari mana ini?” Somad tersentak kaget.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Tenang
saja Pak, kami utusan dari Desa Ciwandan telah memenangkan gugatan di
pengadilan. Uang ini dari patungan semua warga Ciwandan yang menerima
kompensasi dari perusahaan &lt;i&gt;Stone Engeneering&lt;/i&gt;. Sekarang perusahaan itu
sedang membangun &lt;i&gt;water treatment&lt;/i&gt; agar tidak melakukan pembuangan limbah
melalui sungai. Selama beberapa minggu ini, perusahaan itu tutup untuk tidak
berproduksi, sampai &lt;i&gt;water treatment&lt;/i&gt; itu selesai dibangun.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Somad
mengucapkan terimakasih, sambil bergegas mendampingi persalinan istrinya,
lantas menyambut kehadiran sang jabang bayi dengan kata-kata:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-language: AR-SA; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Tenanglah Nak, kita hadapi saja apa
yang akan terjadi…” ***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://ahmadtoharisociety.blogspot.com/2015/03/kuli-tinta.html</link><author>noreply@blogger.com (Mas Nunu)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgOpZ7XrAbunizE8ac6UK9_7D_MhZTNDOjQZVpGSb81rY0jIBZBmy_Jgy1yrocEN48RdIUwf9HiEzgvHIVpf6aHxECrN18GPP21JAAIkpSeVB8WC59qsVuUp4rOHbCOBCJer_5uKRpbXqn6/s72-c/Cara-menulis-cerpen-dan-novel.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3238030562185134049.post-93175641144454750</guid><pubDate>Mon, 23 Feb 2015 23:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-03-27T16:16:11.109-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerpen</category><title>Kampung Abal-abal</title><description>&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgOpZ7XrAbunizE8ac6UK9_7D_MhZTNDOjQZVpGSb81rY0jIBZBmy_Jgy1yrocEN48RdIUwf9HiEzgvHIVpf6aHxECrN18GPP21JAAIkpSeVB8WC59qsVuUp4rOHbCOBCJer_5uKRpbXqn6/s1600/Cara-menulis-cerpen-dan-novel.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgOpZ7XrAbunizE8ac6UK9_7D_MhZTNDOjQZVpGSb81rY0jIBZBmy_Jgy1yrocEN48RdIUwf9HiEzgvHIVpf6aHxECrN18GPP21JAAIkpSeVB8WC59qsVuUp4rOHbCOBCJer_5uKRpbXqn6/s1600/Cara-menulis-cerpen-dan-novel.jpg" height="200" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;Cerpen Hafis Azhari&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 18.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;A&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;ku tak pernah tahu apa yang sebenarnya ada di dalam gundukan tanah
itu sejak limabelas tahun lalu duduk di kelas tiga SD. Saat itu aku bersama
teman sepermainanku, Idrus, melihat adanya warga pendatang di sekitar Kampung
Kalitimbang yang menggali sebuah tanah di pinggir sungai, kemudian mengubur
sebuah benda misterius sebelum ia menimbunnya dengan tanah galian. Tak berapa
lama warga kampungku mempercayai bahwa gundukan tanah itu adalah makam Wali
Surip yang konon dalam sejarah hidupnya pernah terbang di atas sejadahnya untuk
melaksanakan solat Jumat di Masjidil Haram, Kota Mekah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Warga
pendatang itu kemudian memperkenalkan dirinya dengan nama “Ustad Samin”, di
mana setiap malam Jumat menerima berbagai rupa sedekahan dari masyarakat di
sekitar kampung kami. Di rumah yang didirikannya di sebelah makam Wali Surip
itu ia mengumpulkan rupa-rupa sedekahan dari berbagai macam jenis bungkusan,
yang terdiri dari beras, gula, minyak, mie, kopi, rokok, hingga amplop berisi
uang sedekahan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Selama
limabelas tahun aku tak pernah berniat untuk mengusik kepercayaan masyarakat di
sekitarku, bahkan sewaktu SD aku pernah diajak beberapa kali oleh ibuku untuk
mengambil air putih dari sumur yang digali di samping makam Wali Surip, dengan
jaminan dari Ustad Samin bahwa air putih itu berkhasiat untuk menyembuhkan
berbagai jenis penyakit, menangkal bala serta mendatangkan rizki dan barokah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Selama
bertahun-tahun warga Kalitimbang sangat mengagumi kesaktian Ustad Samin, bahkan
rela memberikan berbagai rupa sedekahan, dengan harapan mereka mendapat
cenderamata dari Ustad Samin berupa batu cincin atau biji tasbih, bahkan
sepotong dahan kayu pun sangat diharagai warga Kalitimbang apabila mereka
terima langsung dari tangan sang Ustad, yang konon telah dibacakan
mantra-mantra sambil berpuasa di atas makam Wali Surip.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Dalam
beberapa tahun Ustad Samin semakin mempersolek bangunan rumahnya di samping
makam tersebut, hingga suatu ketika ia pun mengajak seorang istri dan dua
anaknya untuk ikut-serta tinggal di rumah yang didirikan di bantaran sungai
tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Kalau
anak Ibu sakit panas, kalungkan tasbih ini di lehernya, kemudian minumkan air
putih ini setelah makan,” ujar Ustad Samin sambil menyodorkan sebotol air putih
kepada seorang warga yang mengeluh karena anaknya sakit. Warga itu kemudian disuruh
berdoa di depan makam untuk meminta pertolongan pada Wali Surip, sambil
bernazar pula bahwa apabila anaknya pulih dari penyakitnya ia akan mengadakan
selamatan dengan menyembelih kambing yang sepenuhnya diselenggarakan oleh Ustad
Samin bersama istrinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNoSpacing" style="text-align: center;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Limabelas
tahun kemudian, ketika aku duduk di bangku kuliah di IAIN Serang, sementara
Idrus temanku kuliah di Untirta, perasaan ingin tahu dan ingin paham tentang
suatu permasalahan semakin tumbuh pada diri kami. Di Kampung Kalitimbang nyaris
tidak ada yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi kecuali aku dan
Idrus, yang kebetulan dibesarkan dari kelas pedagang yang tidak terlampau
mempedulikan hal-hal mistik yang dihembuskan oleh Ustad Samin dan keluarganya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Apakah
kau percaya bahwa Ustad Samin punya peran penting terhadap nasib masyarakat
kita selama ini?” tanyaku pada Idrus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Aku
tidak tahu, tapi masyarakat sudah kadung percaya,” jawabnya dengan mata
menerawang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Yang
terjadi selama ini, apakah Ustad Samin betul-betul membantu masyarakat kita,
ataukah dia mengambil keuntungan dari kebodohan masyarakat kita?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Menurut
saya, pihak yang membantu justru masyarakat kita, sedangkan dia dan keluarganya
adalah pihak yang diberi bantuan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Bagaimana
kamu bisa berpendapat seperti itu?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Karena
berkat kebodohan warga kampung, data statistik yang menyangkut jumlah
kemiskinan, masyarakat buta huruf hingga jumlah kematian bayi, ternyata tidak
mengalami perubahan di kampung kita.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Ya
tepat sekali, sedangkan rumah yang dibangun Ustad Samin di samping sungai itu
semakin lama semakin mentereng saja.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Pada
akhirnya aku pun membuat kesepakatan bersama Idrus untuk mencari tahu tentang
kebenaran gundukan yang dipercaya masyarakat kami sebagai makam Wali Surip
tersebut. Bagi kami, kepercayaan pada kuburan itulah yang menjadi pangkal
permasalahan yang membuat masyarakat kami tidak berdaya, bahkan taraf hidup
mereka tidak sepadan dengan perkampungan lainnya karena terbelenggu oleh
pendangkalan dan pembodohan yang dibikin-bikin oleh Ustad Samin selama ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Kalau
begitu kita gali saja gundukan tanah yang dipercaya sebagai kuburan wali itu.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Bagaimana
mungkin? Nanti malah kita kepergok sama Babinsa?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Justru
Babinsa kita sudah tunduk sama Ustad Samin, termasuk Lurah kita. Mereka juga
aktif menyetor sedekahan tiap malam Jumat.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“&lt;i&gt;Astaghfirullah
al-adzim&lt;/i&gt;…”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Yang
menjadi problem, Ustad Samin itu tidak punya santri maupun anak-anak asuh yang
menjadi tanggungan hidupnya. Jadi semua barang-barang sedekahan yang dia terima
selama ini murni untuk kepentingan dirinya sendiri dan keluarganya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNoSpacing" style="text-align: center;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Cangkul
dan linggis sudah kami persiapkan untuk pengembaraan kami di malam Minggu itu.
Sepeda motor kumatikan ketika melintasi balai desa untuk kemudian menyusup
masuk ke serambi sebuah rumah penduduk. Dari jembatan sungai kami melihat
sebuah bangunan rumah di kejauhan, dan di belakangnya terlihat sebuah batu
nisan di atas gundukan tanah yang selama ini dianggap sakral oleh masyarakat
Kalitimbang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Kami
menaruh sepeda motor di samping jembatan, kemudian berjalan mengendap-endap
menuju gundukan tanah itu sambil menenteng linggis dan cangkul di pundak.
Selama berjam-jam kami membongkar gundukan tanah itu, dengan sedapat mungkin
tidak menimbulkan suara-suara yang bakal mencurigakan keluarga Ustad Samin. Tak
lama kemudian kami pun terperangah ketika yang kami temukan di malam itu
hanyalah sebongkah batang kayu yang sudah menjadi fosil, dan kemudian berhasil
kami cungkit dengan memakai linggis yang telah kami persiapkan sebelumnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Berarti
tidak ada yang bernama Wali Surip selama ini,” aku mendengar Idrus sedang
bergumam dengan pandangan menerawang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Ya,
benar Idrus, selama ini masyarakat kita hanya mempercayai sebongkah batang kayu
ini,” kataku sambil mengangkat kayu itu di hadapan Idrus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Jadi
siapa itu Ustad Samin? Manusia sejenis apakah dia hingga masyarakat kita begitu
memujanya?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Dia
adalah sosok yang nyata, dan ada di sekitar kita.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Lantas
siapakah masyarakat kita selama ini? Apakah mereka juga sosok yang nyata,
seperti halnya Ustad Samin?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Ya,
mereka memang nyata, tapi selama ini telah mempercayai sesuatu yang tidak
nyata.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Kami
terdiam sejenak, kemudian aku pun bertanya pada Idrus, “Sobat, selama ini kita
percaya pada Tuhan, apakah Dia sesuatu yang nyata?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Sambil
menghela napas Idrus pun menjawab, “Ya, Tuhan itu sesuatu yang ada, tapi tidak
ada yang dapat menyerupai Dia dengan sesuatu apapun.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Benar,
kalau begitu rendah sekali kualitas keimanan kita bila menyamakan wujud Tuhan
dengan sebongkah kayu, bahkan dengan seorang wali sekalipun.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Setelah
peristiwa itu kami sepakat untuk tidak membuka rahasia kuburan kayu itu kepada
masyarakat kami, hingga ketika memasuki bulan Ramadhan keluarga Ustad Samin
kemudian hengkang meninggalkan kampung Kalitimbang, karena banjir besar telah
melanda perkampungan kami. Saat itu tanggul-tanggul di sekeliling sungai
Kalitimbang jebol secara beruntun, hingga air bah menghantam rumah yang
dibangunnya di bantaran sungai itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Keesokan
harinya ketika banjir mulai reda, aku pun mengajak Idrus untuk melihat bangunan
rumah Ustad Samin yang roboh berantakan, hingga reruntuhan bangunan itu pun
menutupi lubang sumur dan gundukan tanah yang selama ini menjadi tempat
bersandarnya masyarakat kami. ***&amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="text-indent: 36pt;"&gt;CARI KERJA DISNI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="text-indent: 36pt;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="left"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;form action="http://goglejobs.blogspot.com/search" id="searchthis" method="get" style="display: inline;"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;img src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhMYuyQ4kZlCYD1s7mOClwgoUFIfyuXXMbz0ln593gcMftLhwF9yKo1Xn0brpBYLPFdsyt405XgOjgF2tmgnSD3xLYpwTs5kDkl3Tg34305FqghxE6V5SKhl1BaBJYtCAiB-8rFQBJ-c8NQ/h60/head.png" /&gt;&lt;/strong&gt;
&lt;input id="b-query" maxlength="255" name="q" size="20" type="text" /&gt;
&lt;input id="b-searchbtn" type="submit" value="Search Jobs" /&gt;
&lt;/form&gt;
</description><link>http://ahmadtoharisociety.blogspot.com/2015/02/kampung-abal-abal.html</link><author>noreply@blogger.com (Mas Nunu)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgOpZ7XrAbunizE8ac6UK9_7D_MhZTNDOjQZVpGSb81rY0jIBZBmy_Jgy1yrocEN48RdIUwf9HiEzgvHIVpf6aHxECrN18GPP21JAAIkpSeVB8WC59qsVuUp4rOHbCOBCJer_5uKRpbXqn6/s72-c/Cara-menulis-cerpen-dan-novel.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3238030562185134049.post-2391663714694527273</guid><pubDate>Mon, 16 Feb 2015 02:19:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-03-27T16:16:34.110-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerpen</category><title>Banjir di Kampung Jombang</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;

&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgOpZ7XrAbunizE8ac6UK9_7D_MhZTNDOjQZVpGSb81rY0jIBZBmy_Jgy1yrocEN48RdIUwf9HiEzgvHIVpf6aHxECrN18GPP21JAAIkpSeVB8WC59qsVuUp4rOHbCOBCJer_5uKRpbXqn6/s1600/Cara-menulis-cerpen-dan-novel.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgOpZ7XrAbunizE8ac6UK9_7D_MhZTNDOjQZVpGSb81rY0jIBZBmy_Jgy1yrocEN48RdIUwf9HiEzgvHIVpf6aHxECrN18GPP21JAAIkpSeVB8WC59qsVuUp4rOHbCOBCJer_5uKRpbXqn6/s1600/Cara-menulis-cerpen-dan-novel.jpg" height="320" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: Helvetica, sans-serif; font-size: 14pt;"&gt;Cerpen Hafis Azhari&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: Helvetica, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: Helvetica, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;Tanggul-tanggul yang membatasi aliran sungai ke
perkampungan dibiarkan keropos selama puluhan tahun. Pada musim hujan tahun
ini, perairan untuk irigasi pesawahan pun rusak, karena pemerintah daerah lebih
mengutamakan alokasi dana untuk perhotelan dan tempat-tempat pariwisata.&amp;nbsp;
Demikian halnya dengan Lurah Herman yang tidak mempedulikan jalan-jalan berlubang,
bahkan jembatan yang menghubungkan Kampung Jombang dengan Desa Kalitimbang
dibiarkan doyong dan tak terawat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: Helvetica, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;Padahal di sekitar kampung itulah hilir-mudik beragam kehidupan
masyarakat, serta padatnya jumlah penduduk, baik yang pribumi maupun non-pribumi.
Dari kejauhan nampak rumah tua yang dihuni oleh beberapa wanita tunasusila dari
daerah Indramayu, di sebelahnya sebuah warung kopi, kedai cukur dan warung nasi
uduk yang tiap pagi dikunjungi para pelanggan dari kalangan pelajar, pegawai
pabrik, bahkan ibu-ibu pengajian yang tiap Jumat mengikuti ceramah Ustad Basri
di mesjid Al-Mubarok, yang letaknya di dataran tinggi sebelah timur Jombang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: Helvetica, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;Sekitar pukul sembilan malam, Sinta seorang wanita tunasusila
seperti biasa melintasi jembatan reot itu menuju warung remang-remang yang
terletak di sebelah barat Kampung Jombang. Pada pagi hari jembatan itu
dilintasi pula oleh anak-anak pelajar, para pegawai negeri hingga para pedagang
yang menuju pasar kelapa di Kota Cilegon.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: Helvetica, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;“Suatu saat jembatan itu pasti ambruk, biar para pelacur itu
kapok,” umpat Lurah Herman di hadapan istrinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: Helvetica, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;“Pelacur-pelacur itu kesulitan mencari penghidupan karena krisis
moneter di negeri ini yang nggak ada habis-habisnya,” timpal sang istri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: Helvetica, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;“Tapi untuk apa mereka beroperasi di sekitar kampung kita, kenapa
tidak di desa-desa lain saja?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: Helvetica, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;“Sudahlah Pak, barangkali suatu saat mereka bisa sadar, buktinya
mereka masih mau menghadiri pengajian, serta mendengar ceramah-ceramah Ustad
Basri setiap hari Jumat.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: Helvetica, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;“Alaah, sadar taik kucing! Orang maksiat tetap saja maksiat! Orang
kafir tetap saja kafir!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: Helvetica, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;“Sudahlah, Pak.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: Helvetica, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;“He, Bu, kita tidak bisa dipermalukan begitu saja… sedangkan bulan
depan desa kita akan mendapat kunjungan dari Bapak Walikota. Mau ditaruh di
mana muka saya, Bu?” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: Helvetica, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;“Sebaiknya diusulkan saja kepada Walikota supaya memperbaiki
tanggul dan jembatan yang sudah tua itu…”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: Helvetica, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;“Sudah, sudah diam! Pokoknya Ibu jangan singgung-singgung soal
jembatan itu lagi. Saya harus fokus memikirkan pemilihan walikota tahun depan.
Biar bagimanapun saya ini kader partai yang sangat diperhitungkan, Bu. Saya
jamin tahun depan banyak masyarakat yang akan mendukung saya. Dan saya tidak
mau pusing dengan urusan-urusan sepele macam ini,” sambil membetulkan lencana
bergambar pohon beringin pada kantong batiknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: Helvetica, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;“Pak, soal memperbaiki jembatan bukan urusan sepele,” si istri
terus memberi peringatan, namun kemudian dibentak oleh sang suami:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: Helvetica, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;“Sudah diam, Bu, jangan banyak cingcong!” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: Helvetica, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;Sang istri terdiam dengan mata menerawang. Sudah cukup lama ia
terheran-heran, kenapa suaminya selaku kepala daerah, lebih mementingkan urusan
lainnya ketimbang soal-soal yang harus dibenahi di sekitar desanya. Bahkan
belakangan ia menjalin bisnis perumahan dan pertanahan yang tidak ada
hubungannya dengan perbaikan desa dan kemaslahatan warganya sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: Helvetica, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: Helvetica, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;Ceramah Ustad Basri yang disampaikan di mesjid Al-Mubarok kali ini
tentang rahasia “Tobat” yang merupakan anugerah Allah dan diberikan kepada
siapapun yang dikehendaki oleh-Nya. Yang terpenting manusia jangan sampai
berputus asa dari kasih sayang Allah, karena hanya Allah-lah Yang Maha Tahu,
kapan waktu dan kesempatan yang tepat buat seseorang untuk kembali ke
jalan-Nya. Tidak ada hak atas manusia untuk menghakimi manusia lain, karena
tugas yang diberikan sebagai khalifah adalah mengajak ke jalan kebaikan, serta
mengingatkan manusia yang berpaling dari jalan kebenaran, menuju ke jalan yang
diridhoi oleh Allah Swt.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: Helvetica, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;Nampak Sinta meneteskan air mata ketika mendengar uraian ceramah
dari Ustad Basri. Di sebelahnya Ibu Lurah bersama para jamaah pengajian ikut
mendengar wejangan sang Ustad, yang diselingi pula dengan doa-doa agar Allah
memberikan cahaya-Nya bagi orang-orang yang berpaling dari jalan-Nya. Beberapa
jamaah dari kalangan bapak-bapak ikut mendengarkan ceramah dengan khusyuk, di
antaranya para pegawai pabrik, para pedagang dan staf-staf kelurahan, kecuali
Lurah Herman yang berhalangan hadir karena harga-dirinya yang tak mau
disejajarkan dengan bawahannya, terlebih-lebih bila ia duduk sama tinggi dengan
kalangan pedagang dan pelacur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: Helvetica, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;Menurut kabar dari sumber yang layak dipercaya, konon Lurah Herman
tidak sepakat dengan cara-cara yang ditempuh Ustad Basri, yang gemar
menyampaikan ceramah-ceramah di tempat-tempat prostitusi. Bahkan Lurah itu pun
membangun bangunan megah sebagai mesjid tandingan, karena mesjid Al-Mubarok
yang berlokasi di dataran tinggi Kampung Jombang telah diprakarsai oleh mantan
Lurah yang menjabat sebelumnya. Namun setiap hari Jumat, hanya mesjid
Al-Mubaroklah yang dipakai jamaah untuk solat Jumat, karena mesjid yang dibangun
oleh Lurah Herman sangat jauh dari jangkauan pemukiman penduduk. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: Helvetica, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;Di musim hujan tahun ini, mesjid Al-Mubarok sering pula
dimanfaatkan oleh para pengungsi yang rumahnya terendam banjir karena tingginya
curah hujan serta pendangkalan aliran sungai. Ustad Basri memberikan peringatan
kepada para jamaah bahwa segala kerusakan yang terjadi di daratan maupun lautan
akibat ulah tangan-tangan manusia sendiri. Suatu kali pernah terjadi perdebatan
sengit dengan Pak Lurah selepas Ustad itu menyampaikan ceramahnya bahwa,
ekploitasi manusia serta eksplorasi alam yang berlebihan adalah penyebab utama
terjadinya kerusakan di mana-mana. Lurah Herman yang sedang sibuk mengurusi
bisnis tanah dan perhotelan merasa terusik mendengar ceramah itu, hingga ia
berencana untuk memposisikan penceramah lain, serta menolak kehadiran Ustad
Basri di Kampung Jombang, beberapa hari menjelang kunjungan walikota di sekitar
kampung tersebut. &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: Helvetica, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: Helvetica, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;Sepanjang hari hujan tak henti-henti mencurahkan airnya ke segenap
penjuru provinsi Banten. Beberapa hari kemudian banjir bandang terjadi di
mana-mana, hingga melanda Kampung Jombang dan daerah-daerah yang datarannya
rendah. Pada malam Jumat air bah menghantam perkampungan di sekeliling Jombang,
hingga rumah-rumah terendam banjir. Kegaduhan terjadi di mana-mana, di
sana-sini suara orang-orang berteriak minta tolong, anak-anak menangis
menjerit-jerit ketakutan. Harta benda tak mungkin terselamatkan karena secara
tiba-tiba, sekitar pukul 24.00 tanggul-tanggul yang mengitari sungai
Kalitimbang jebol secara beruntun. Seketika air semakin meninggi, orang-orang
berlarian menuju mesjid Al-Mubarok, termasuk Lurah Herman dan keluarganya.
&amp;nbsp;Sementara itu Ustad Basri beserta keluarganya, baru muncul belakangan
ketika orang-orang sudah berjubel memadati mesjid itu untuk menyelamatkan diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: Helvetica, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;Di antara para pengungsi yang berpakaian kumal dan basah kuyup
itu, nampak Lurah Herman lebih mencolok dari yang lain-lainnya, mengenakan
kemeja batik berlencana pohon beringin, dengan kopiah beludru di kepalanya.
Suasana gaduh dan hiruk-pikuk tiba-tiba terhenti ketika Lurah Herman menatap
Sinta dan teman-temannya sesama tunasusila, lantas memekik-mekik seperti orang
kesurupan:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: Helvetica, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;“He, pelacur-pelacur! Kalian mau apa ke sini? Untuk apa kalian
berkumpul di mesjid ini?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: Helvetica, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;“Tolonglah kami Pak, di mana-mana air semakin meninggi, di tempat
kami sudah terendam banjir,” ujar Sinta membela teman-temannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: Helvetica, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;“Itu urusan kalian! Carilah tempat lain, jangan sampai kalian
mengotori mesjid ini… dasar perempuan sampah!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: Helvetica, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;Melihat keributan itu Ustad Basri mencoba menengahi, “Sabarlah Pak
Lurah… mereka hanya mencari tempat untuk menyelamatkan diri…”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: Helvetica, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;“Tidak bisa! Sudah lama saya menyangsikan kemampuan Anda sebagai
mubaligh. Beberapa hari lagi kampung kita akan kedatangan walikota, dan mulai
saat ini staf saya sudah mendapatkan orang baru sebagai penceramah di mesjid
ini… sedangkan Anda, mulai detik ini saya pecat!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: Helvetica, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;Ustad Basri menghela napas dalam-dalam. Ia merasa terharu sambil
menatap semua warga dengan penuh kelembutan. Suasana takut dan panik akibat banjir
semakin terobati bila menyaksikan ketenangan dan kelembutan hati Ustad Basri.
Sedangkan Lurah Herman, tetap saja bersikukuh untuk mengusir Sinta dan
teman-temannya agar mengungsi ke tempat lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: Helvetica, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;“Tolonglah kami Pak, tempat inilah yang paling aman dari kemungkinan
banjir yang semakin besar lagi. Kami hanya berlindung untuk mencari tempat
aman.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: Helvetica, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;“Jangan banyak omong, kalian semua sampah masyarakat… kalian semua
orang-orang kafir, dan berhak diazab oleh Allah!” sambil membetulkan posisi
lencananya yang miring.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: Helvetica, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;“Tenanglah Pak Lurah, mereka semua mencari selamat, memang benar
apa yang mereka katakan,” balas Ustad Basri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: Helvetica, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;“Sudah diam! Sebagai ustad, Anda juga bersekongkol dengan mereka…
Anda juga termasuk pembela-pembela pelacuran di negeri ini!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: Helvetica, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;“Hati-hati ngomong, Pak Lurah… jangan tergesa-gesa membikin
kesimpulan…”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: Helvetica, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;“Diam kamu! Pokoknya kalau pelacur-pelacur ini tidak mau pergi
dari tempat ini,&amp;nbsp; sekarang juga saya yang akan keluar untuk mencari tempat
pengungsian lain…”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: Helvetica, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;Ustad Basri berusaha menahan kepergian Lurah Herman, karena banjir
semakin membesar dan air bah di mana-mana semakin meninggi. Tetapi Lurah Herman
bersikeras menentang peringatan Ustad Basri hingga kemudian menghilang di
kegelapan malam. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: Helvetica, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;Bunyi gemuruh terdengar dari kejauhan menjelang waktu subuh.
Orang-orang terperangah mendengar suara bergemuruh yang terasa asing di telinga
mereka. Baru keesokan harinya setelah matahari terbit, semakin nampak jelas
tiga sosok mayat tergeletak di bawah jembatan yang ambruk. Adapun salah seorang
dari mereka mengenakan kemeja batik berlencana pohon beringin, dengan kopiah
beludru di kepalanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: Helvetica, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: Helvetica, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
Dari penulis novel &lt;i&gt;“Perasaan Orang
Banten”&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;“Pikiran Orang Indonesia”.&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://ahmadtoharisociety.blogspot.com/2015/02/banjir-di-kampung-jombang.html</link><author>noreply@blogger.com (Mas Nunu)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgOpZ7XrAbunizE8ac6UK9_7D_MhZTNDOjQZVpGSb81rY0jIBZBmy_Jgy1yrocEN48RdIUwf9HiEzgvHIVpf6aHxECrN18GPP21JAAIkpSeVB8WC59qsVuUp4rOHbCOBCJer_5uKRpbXqn6/s72-c/Cara-menulis-cerpen-dan-novel.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3238030562185134049.post-8823390736908728561</guid><pubDate>Tue, 27 Jan 2015 23:58:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-03-27T16:17:02.411-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerpen</category><title>Sang Wartawan</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgOpZ7XrAbunizE8ac6UK9_7D_MhZTNDOjQZVpGSb81rY0jIBZBmy_Jgy1yrocEN48RdIUwf9HiEzgvHIVpf6aHxECrN18GPP21JAAIkpSeVB8WC59qsVuUp4rOHbCOBCJer_5uKRpbXqn6/s1600/Cara-menulis-cerpen-dan-novel.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgOpZ7XrAbunizE8ac6UK9_7D_MhZTNDOjQZVpGSb81rY0jIBZBmy_Jgy1yrocEN48RdIUwf9HiEzgvHIVpf6aHxECrN18GPP21JAAIkpSeVB8WC59qsVuUp4rOHbCOBCJer_5uKRpbXqn6/s1600/Cara-menulis-cerpen-dan-novel.jpg" height="200" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;i&gt;Oleh Hafis Azhari&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 18.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“B&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;angun Din, jangan molor terus, ayo bangun!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Jam
berapa sekarang, Mas?” tanya Didin sambil menguap dan mengucek-ucek kedua
matanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Jam
setengah enam,” jawabku singkat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Masih
terlalu pagi, untuk apa bangun?” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Pagi
ini kamu harus bersiap-siap meliput demonstrasi di alun-alun Serang, ayo cepat bangun!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Sebagai
pemimpin redaksi aku pun menunjukkan surat undangan dari Front Jihad Islam
(FJI) yang ditujukan kepada redaksi &lt;i&gt;Banten Bangkit&lt;/i&gt;, sebuah majalah
bulanan yang kupimpin di Provinsi Banten. Undangan itu dikirimkan beberapa hari
lalu, dan aku sudah memberi kewenangan kepada Didin agar meliput semua
rangkaian acara yang akan digelar di alun-alun, bahkan menjanjikan bonus khusus
apabila ia sanggup menampilkan isi ceramah dari Ketua FJI pada rubrik
tersendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Karena
sering bertugas sampai larut malam, seperti biasa Didin sering ketiduran di
kantor redaksi hingga keesokan harinya. Sengaja aku tak pernah memberinya tugas
di waktu pagi, kecuali hari ini, demonstrasi besar-besaran akan digelar oleh
FJI berikut orasi yang akan disampaikan oleh Habib Rojak selaku pimpinannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Setelah
membasuh mukanya di toilet, aku pun sempat menanyakan perihal istrinya yang
tengah hamil, namun beginilah jawab Didin:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Jangan
bicara soal lain, kalau urusan hamil itu tugas perempuan, Mas.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Tapi
sebaiknya kamu sering-sering pulang untuk menemani istrimu, daripada begadang
terus-terusan di kantor redaksi.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Lho?
Saya kan begadang karena mengerjakan tugas?” katanya membela diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Saya
kira semua tugas untuk majalah kita bisa dikerjakan di waktu siang atau sore
hari.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Tak
berapa lama kami saling diam, kemudian sambungku lagi, “Sudah berapa bulan
istrimu hamil?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Sembilan
bulan,” jawabnya singkat, sambil mengamit ransel dan menggendongnya ke pundak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Pandanganku
terus mengikuti kepergian Didin sambil tersenyum. Ketika ia keluar dari kantor
redaksi, aku tak sempat menegurnya agar merapikan kemeja dan menyisir rambutnya
yang gondrong berombak itu. Namun di sisi lain tersimpan kebanggaan tersendiri
pada kelihaian Didin yang dikenal sebagai jurnalis yang pandai merangkai
kata-kata, layaknya seorang seniman yang pintar menempatkan diri dalam
imajinasi pembacanya. Terbukti pada hasil reportase yang ditulisnya beberapa
waktu lalu ia berhasil menampilkan berita tentang nasib kaum buruh, berikut
gambar demonstrasi para buruh yang digiring pihak aparat dari keramaian jalan
raya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Dan
siapa lagi kalau bukan Didin yang berani meliput di tengah-tengah bentrokan
polisi dengan dua kelompok warga Ciomas dalam kasus kepemilikan tanah. Saat itu
pembaca sangat antusias dan oplah majalah kami naik secara drastis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNoSpacing" style="text-align: center;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Peringatan
yang kuberikan agar Didin hidup berhemat dan jangan terlalu boros, tak pernah
diindahkannya. Bahkan setelah kunaikkan pendapatan untuknya tetap saja ia
melampiaskan kegemarannya untuk foya-foya bersama beberapa teman wartawannya,
sambil menyewa villa dan minum-minuman di Pantai Anyer.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Din, sekarang kamu sudah punya
istri, dan sebentar lagi punya anak. Sebaiknya kamu harus merubah gaya
hidupmu,” untuk ke sekian kalinya aku memberi peringatan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Mas
ini sebagai pemred atau mubalig sih?” katanya ketus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Aku
tidak menjawab, hanya tersenyum melihat gerak-geriknya yang cukup legeg. Tak
berapa lama ia pun berkata dengan penuh optimis, “Mau kapan lagi, Mas… mumpung
oplah majalah kita naik terus…”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Tapi
hidup manusia tidak selamanya di atas, Din.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Lagi-lagi
Didin menampik, sambil menganggap peringatanku sebagai kata-kata idealis yang
berseberangan dengan kebebasannya berekspresi. Baginya, kata-kataku tidak layak
dilontarkan buat jurnalis sekelas dia yang sudah banyak makan asam-garam,
bahkan sudah dipandang kawakan di kalangan para wartawan lainnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Tapi
kebiasaan Didin yang gampang meremehkan suatu masalah adalah perkara serius
bagi kehidupan wartawan maupun seniman Banten, khususnya ketika aku
menugaskannya agar meliput demonstrasi di alun-alun Serang, kemudian ia
menerima kabar tentang kelahiran anaknya di rumah Sakit Krakatau Medika.
Keesokan harinya aku pun mengucapkan selamat atas kelahiran anak pertamanya,
bersamaan dengan terbitnya majalah &lt;i&gt;Banten Bangkit&lt;/i&gt; edisi kesembilan, yang
memuat berita utama tentang demonstrasi di alun-alun Serang, termasuk foto
Habib Rojak yang sedang berorasi di depan panggung. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Di atas laporan yang dibuat Didin
tentang acara demonstrasi itu terpampang sebuah judul besar: ORASI KETUA FJI
YANG MENGGUNCANG MUSLIMIN BANTEN.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNoSpacing" style="text-align: center;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Suasana
tenang di kantor redaksi tiba-tiba berubah drastis selepas para jamaah
melaksanakan solat Jumat. Ratusan orang berpakaian jubah dan sorban tiba-tiba
menyerbu kantor redaksi &lt;i&gt;Banten Bangkit&lt;/i&gt; sambil menggelar yel-yel dan
melontarkan sumpah-serapahnya. Di depan kantor redaksi ramai-ramai mereka
membakar &lt;i&gt;Banten Bangkit&lt;/i&gt; edisi kesembilan, sambil menggelar yel-yel
berbunyi: &lt;i&gt;Majalah Sesat, Majalah Pembohong, Majalah Kafir, Bredel Majalah
Banten Bangkit.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Aku
sendiri tidak mengerti duduk perkaranya, ketika aku pulang dari mesjid dan
berangkat menuju kantor, tiba-tiba orang-orang berkerumun di pintu masuk,
bahkan suara hiruk-pikuk bersahutan dari sana-sini. Sesaat aku berhasil
menghimpun informasi dari sumber-sumber yang layak dipercaya, kemudian menanyakan
Didin sebagai pihak yang terkait langsung perihal pemberitaan demonstrasi di
alun-alun itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Dari
mana kamu mendapatkan foto-foto demonstrasi itu?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Ia terdiam sesaat, kemudian jawabnya
pelan sambil menundukkan kepala, “Dari internet, Mas.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Lantas
foto-foto Habib Rojak yang sedang orasi itu?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Dari
orasi beliau sebulan lalu di sekitar Monas, Jakarta.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Jadi,
demonstrasi di alun-alun Serang itu, bagaimana?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Tidak
ada demonstrasi di alun-alun, mereka membatalkan acara itu.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Jadi,
berita yang kamu tulis?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Saya
mengarang, Mas.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Seketika
aku menghempaskan badanku di atas kursi. Dengan pandangan menerawang aku pun
bergumam: “Oo, jadi kamu mengarang reportase tentang peristiwa yang sebetulnya
tidak pernah ada di lapangan?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Kami
saling membisu dalam waktu yang cukup lama. Kemudian Didin mengangkat kepalanya
dengan suara memelas, “Mas, saya sedang butuh uang untuk biaya kelahiran anak
saya, jadi mohon maaf saya mengarang semua kejadian yang diberitakan di
alun-alun Serang itu.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Tentang
ceramah Habib Rojak di panggung itu?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;“Fotonya
saya dapatkan dari internet, tapi isi ceramahnya saya karang juga.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Sontak
aku menghela napas dalam-dalam, meski aku pun kesulitan untuk mengklaim
hitam-putihnya persoalan itu, mengingat organisasi FJI tidak pernah mengirimkan
surat pembatalan atas undangan yang pernah dikirimkan ke kantor redaksi kami.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Keesokan
harinya aku menemukan fenomena baru dalam sejarah peradaban Banten, ketika
kasus Didin itu kemudian merebak menjadi &lt;i&gt;headline&lt;/i&gt; di koran-koran Banten,
bahkan menjadi perbincangan umum di siaran televisi, majlis ta’lim hingga
warung-warung kopi. Aku hanya terpana sambil mengernyitkan dahi ketika melihat
acara-acara debat dan diskusi di forum-forum pertemuan yang menyatakan bahwa
majalah &lt;i&gt;Banten Bangkit&lt;/i&gt; dapat menyulut terorisme dan radikalisme di
Banten.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Di
kalangan akademisi begitu cepatnya mereka berkesimpulan bahwa sosok Didin
adalah bentuk dari jurnalisme kiri, liberal dan sekularis. Di kalangan agamawan
Didin pun digolongkan sebagai wartawan penganut paham Mu’tazilah, Qadariyah,
bahkan ada yang menyatakan beraliran Ahmadiyah. Orang NU menjuluki Didin
sebagai sosok yang memiliki garis Muhamadiyah, begitupun orang Muhamadiyah
menjuluki Didin sebagai sosok yang memilikji garis dari NU. Di kalangan seniman
Didin pun dikategorikan sebagai jurnalis beraliran surrealisme,
eksistensialisme, bahkan ada yang menyatakan supra-naturalis dan seterusnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Sementara
mereka sibuk menggelar acara-acara diskusi dan perdebatan, aku bersama
staf-staf redaksi menyempatkan diri bersilaturahmi ke rumah Didin, seraya
tersenyum menyaksikan wartawan Banten yang sedang naik daun itu duduk-duduk di
sebelah istrinya yang sedang menyusui anak kesayangannya. ***&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>http://ahmadtoharisociety.blogspot.com/2015/01/sang-wartawan.html</link><author>noreply@blogger.com (Mas Nunu)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgOpZ7XrAbunizE8ac6UK9_7D_MhZTNDOjQZVpGSb81rY0jIBZBmy_Jgy1yrocEN48RdIUwf9HiEzgvHIVpf6aHxECrN18GPP21JAAIkpSeVB8WC59qsVuUp4rOHbCOBCJer_5uKRpbXqn6/s72-c/Cara-menulis-cerpen-dan-novel.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3238030562185134049.post-1909086055569428628</guid><pubDate>Thu, 15 Jan 2015 10:18:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-03-27T16:17:19.967-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerpen</category><title>Nurani</title><description>
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgOpZ7XrAbunizE8ac6UK9_7D_MhZTNDOjQZVpGSb81rY0jIBZBmy_Jgy1yrocEN48RdIUwf9HiEzgvHIVpf6aHxECrN18GPP21JAAIkpSeVB8WC59qsVuUp4rOHbCOBCJer_5uKRpbXqn6/s1600/Cara-menulis-cerpen-dan-novel.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgOpZ7XrAbunizE8ac6UK9_7D_MhZTNDOjQZVpGSb81rY0jIBZBmy_Jgy1yrocEN48RdIUwf9HiEzgvHIVpf6aHxECrN18GPP21JAAIkpSeVB8WC59qsVuUp4rOHbCOBCJer_5uKRpbXqn6/s1600/Cara-menulis-cerpen-dan-novel.jpg" height="200" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;i&gt;Oleh Hafis Azhari&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nurani Saraswati. Nama yang indah sebetulnya. Meskipun aku tidak pernah terang-terangan memujinya dengan kata “indah”. Persoalannya sederhana saja, waktu umurku menginjak tigabelas tahun, Nurani ikut diboyong ibunya, Fatimah, ketika sang ibu menjadi pembantu di rumahku. Tapi lama kelamaan ada sesuatu yang janggal, khususnya ketika Ibuku lebih menyayangi Nurani ketimbang anaknya sendiri. Itulah yang membuat aku sering mencak-mencak kenapa Ibu lebih mementingkan kebutuhan anak seorang pambantu yang menjengkelkan itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Suatu kali Ibu membelikan Nurani sepeda untuk berangkat sekolah di pagi hari. Aku protes keras mengapa harus sepeda yang warna dan kualitasnya sama dengan sepedaku. Kenapa tidak dibelikan yang butut saja, supaya teman-teman di SMP tidak ada yang tahu bahwa dia adalah gadis yang tinggal serumah dengan aku.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ibu Nurani, Fatimah, mungkin sepantaran Ibuku, sekitar 40-an umurnya. Tapi karena terbiasa hidup di kampung pedalaman kelihatannya lebih tua dari Ibuku. Bapaknya konon sudah meninggal karena kecelakaan waktu menebang kayu di daerah Banten Selatan. Berarti Nurani Saraswati adalah anak yatim, yang kemudian disekolahkan oleh keluarga kami, lalu tinggal di sebelah kanan rumah yang tersekat dengan tembok dinding.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lantas persoalannya, bagaimana dengan teman-teman sekelasku yang kontan mengira bahwa Nurani yang hitam dekil itu adalah saudaraku. Bagaimana pula dengan warna sepeda yang sama, yang siapa tahu akan ada orang menyangka bahwa dia adalah saudara kembarku sendiri.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pernah waktu sepedaku kempes dan pedalnya patah, aku mengusulkan pada Ibu agar mengganti sepedaku dengan milik Nurani, tapi sialnya ditolak oleh Ayah:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Itu masalah perawatan, Asep. Kalau cara merawatmu bagus seperti Nurani, sepeda kamu bisa awet dipakai sampai bertahun-tahun,” kata Ayah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dasar Nurani. Sewaktu dia diajak pergi kondangan ke rumah kerabat Ibu, tahu-tahu dia mengenakan baju baru dengan kerudung berenda-renda. Kontan saya selidiki asal-muasalnya, yang ternyata beberapa hari lalu Ibu telah membelikan dua setelan baju, dan yang satu diberikan kepada Fatimah ibunya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Walah welah, kerudung berenda-renda. Segeralah aku menghampiri Ibu dan menggugat soal ketimpangan dan kesewenangan ini, namun beginilah jawab Ibu:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Asep, beberapa minggu lalu Ibu sudah belikan kemeja untuk kamu, belum lagi bekas lebaran kemarin?”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Apa? Kemeja bekas lebaran? Sekarang model-model pakaian sudah bagus-bagus, Bu.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Sep, yang dibelikan Ibu minggu kemarin itu lebih mahal harganya daripada punya Nurani.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Kalau Nurani dibelikan baju baru, mestinya aku juga dibelikan dong. Itu baru namanya orang tua yang adil!”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Ini bukan perkara keadilan, Sep. Kalau kamu rajin merawat pakaian seperti Nurani, tentu model apapun kemeja atau kaos yang kamu inginkan, pasti Ibu belikan.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Suasana hening dan sendu. Ayah tidak memberi komentar apapun, sepertinya ia berpihak kepada Ibu. Fatimah sedang menyiram tanaman di sekitar kebun, sedangkan Nurani sedang mengepel lantai rumah, meski kemudian aku larang untuk memasuki kamarku dengan dalih bahwa caranya mengepel kampungan, tidak bersih, norak dan seterusnya dan sebagainya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pernah juga waktu ia mengelap jendela kamarku yang berdebu dengan kemoceng, kemudian ia menyentuh mainan yang kurakit dan kususun rapi, kontan aku damprat dengan alasan kalau mainan itu jatuh bagaimana, terus kalau pecah bagaimana, berikut macam-macam alasan yang aku buat agar dia kapok kelimpungan, ke sini salah ke situ salah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tapi dasar Nurani, sepertinya dia tenang-tenang saja. Bahkan ketika dia diutus oleh kepala sekolah untuk mewakili perlombaan baca puisi tingkat SMP, enak saja dia meminjam baju batik milikku. Dasar perempuan tomboy. Kontan saja aku mencak-mencak, bahkan menyuruhnya agar minta pada ibunya sendiri supaya beli batik ke Pekalongan sana. Pergi jauh-jauh.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Nurani itu diutus oleh sekolahmu untuk mengikuti lomba baca puisi, mestinya kamu berbaik hati untuk meminjamkan baju batik kepadanya,” ujar Ibu sambil menisik kerudung di ruang depan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Sebodo amat! Lomba puisi kek, pantun kek, syair kek… kenapa Ibu selalu saja membela dia?”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Ini bukan soal bela membela, Asep… ini soal kebaikan yang harus Ibu ajarkan buat kamu, bahwa kita harus bersikap loyal kepada sesama manusia.”&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Alaah bukan soal bela-membela, bukan perkara keadilan… selama ini Ibu nggak pernah mendukung aku?”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Tentu saja Ibu akan mendukung yang baik dan benar Nak.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Tapi apakah aku belum pernah berbuat baik selama ini?”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Sudah banyak kebaikan yang kamu lakukan, tapi masih ada juga kesalahan-kesalahan yang harus diluruskan.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Semua manusia tidak lepas dari salah dan dosa, Bu!” sanggahku dengan ketus.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Tapi kita tetap harus melakukan yang terbaik, Nak.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Langsung saja aku simpulkan bahwa Ibu terlalu memihak Nurani, hingga aku uring-uringan di dalam kamar, bahkan selama beberapa hari menyalahkan Bapak Kepala Sekolah, kenapa harus memilih Nurani sebagai utusan perlombaan, dan bukan aku yang harus dipilih.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Akhirnya aku memutuskan untuk membiarkan Nurani berbuat semaunya, sesuka hatinya. Sebodo amat, biar mampus sekalipun. Suatu kali ia mengendarai sepeda sepulang sekolah, tapi kemudian terpeleset karena tanah yang becek. Kontan aku biarkan saja, bahkan aku syukurin dia. Pada betis kirinya ada sedikit luka bekas tergores pedal sepeda. Tapi apa yang terjadi kemudian: rupanya si Faisal teman sekelasku yang paling lugu dan polos itu tiba-tiba menolong dia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kurang ajar, sialan! Faisal yang dungu dan bloon itu tahu-tahu berbaik hati padanya? Bahkan mengangkat punggungnya sewaktu Nurani terbangun dari jatuhnya? Walah welah… barangkali dunia ini sudah mau kiamat!&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hari-hari berikutnya aku makin bersikap dingin pada Nurani. Selama beberapa hari aku diamkan saja. Meski dia tersenyum ketika berpapasan dengan aku. Sewaktu dia pulang sekolah dan mencium tangan ibunya dan Ibuku, aku melengos ke arah tembok. Dan sewaktu coba-coba dia menyalami aku, kontan aku tarik tanganku ke belakang, segera aku sumpetin telapak tanganku ke dalam kantong, sambil mendengkus kesal.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Sebagai pelajar yang baik, mestinya kamu harus bisa memaafkan orang lain, Sep,” seperti biasa Ibu berkhotbah di depanku, dan aku pun membalas sebaiknya Ibu jadi penceramah atau mubalighoh sajalah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Kebaikan tetap akan dibalas kebaikan, meskipun dilakukan oleh tukang sampah atau presiden sekalipun,” lagi-lagi Ibu berceramah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Maka tibalah saat ketika anak-anak kelas satu sampai kelas tiga berkumpul di aula, serta dihadiri pula oleh wali murid, para guru dan kepala sekolah. Saat itu digelar acara silaturahmi antar pihak sekolah dan wali murid bersamaan dengan acara “halal bihalal” yang diselenggarakan oleh sekolah kami. Setelah sambutan kepala sekolah, tampillah seorang guru pembimbing membacakan hasil prestasi yang diraih anak-anak sekolah kami, yang telah mengikuti perlombaan-perlombaan antar-sekolah beberapa waktu yang lalu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Seketika nama Nurani Saraswati disebut lantas maju ke depan untuk menerima penghargaan. Tepuk-tangan riuh membahana dari seluruh murid, para guru dan para undangan. Aku baru tahu kalau ternyata si Nurani telah memperoleh juara pertama pada perlombaan baca puisi tingkat SMP yang diadakan di gedung kebudayaan beberapa saat lalu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Nampak ayahku tersenyum gembira, juga Fatimah ibu Nurani. Aku pun melirik ke wajah Ibu yang meneteskan air mata saking bangganya. Ibu membisikkan sesuatu ke telingaku agar berbaik hati pada Nurani serta memohon maaf kepadanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dengan penghargaan di tangan kirinya, setelah turun dari mimbar kontan aku menghambur ke arah Nurani, kemudian memeluknya erat-erat sambil mengucapkan maaf atas kekhilafan yang selama ini aku lakukan kepadanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Nurani Saraswati. Nama yang indah sebetulnya. Kini aku pun harus berani dengan jujur mengakuinya…. ***&lt;/div&gt;
</description><link>http://ahmadtoharisociety.blogspot.com/2015/01/nurani_15.html</link><author>noreply@blogger.com (Mas Nunu)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgOpZ7XrAbunizE8ac6UK9_7D_MhZTNDOjQZVpGSb81rY0jIBZBmy_Jgy1yrocEN48RdIUwf9HiEzgvHIVpf6aHxECrN18GPP21JAAIkpSeVB8WC59qsVuUp4rOHbCOBCJer_5uKRpbXqn6/s72-c/Cara-menulis-cerpen-dan-novel.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3238030562185134049.post-1687052611491744453</guid><pubDate>Wed, 07 Jan 2015 03:23:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-03-27T16:17:36.432-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerpen</category><title>Talenta</title><description>
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgOpZ7XrAbunizE8ac6UK9_7D_MhZTNDOjQZVpGSb81rY0jIBZBmy_Jgy1yrocEN48RdIUwf9HiEzgvHIVpf6aHxECrN18GPP21JAAIkpSeVB8WC59qsVuUp4rOHbCOBCJer_5uKRpbXqn6/s1600/Cara-menulis-cerpen-dan-novel.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgOpZ7XrAbunizE8ac6UK9_7D_MhZTNDOjQZVpGSb81rY0jIBZBmy_Jgy1yrocEN48RdIUwf9HiEzgvHIVpf6aHxECrN18GPP21JAAIkpSeVB8WC59qsVuUp4rOHbCOBCJer_5uKRpbXqn6/s1600/Cara-menulis-cerpen-dan-novel.jpg" height="320" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;i&gt;Oleh Hafis Azhari&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bu Mega merasa khawatir ketika Talenta, anak satu-satunya, terpaksa harus dikeluarkan dari SDN Karang Asem, Cilegon, meskipun dia baru mengikuti pelajaran di kelas I SD. Agak mengherankan memang, baru saja beberapa minggu duduk di kelas satu, tapi kepala sekolah tiba-tiba memutuskan agar dia dikeluarkan, atau dipindahkan ke sekolah lain.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pasalnya beberapa hari lalu ketika Bu Mega diundang ke kantor kepala sekolah, sambil dihadapkan pula dengan Guru wali kelas Talenta, yang langsung bicara dengan nada emosi: “Anak Ibu betul-betul susah diatur, bikin kacau terus di kelas, dia selalu memukul-mukul meja pada saat jam pelajaran berlangsung, mulutnya terus saja nyerocos menyanyikan lagu Iwan Fals yang berjudul ‘Bongkar’ atau ‘Bento’, bahkan kadang-kadang lagu yang berjudul ‘Kesaksian’. Karena itu kami mohon Ibu memindahkannya ke sekolah lain.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bu Mega bertanya pada Guru wali kelas itu, apa yang dia maksud dengan lagu ‘Kesaksian’? Lantas Guru itu pun mengutip sebagian lirik lagu itu, antara lain yang berbunyi: “Orang-orang harus dibangunkan, aku bernyanyi menjadi saksi, kenyataan harus dikabarkan aku bernyanyi menjadi saksi…”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sebagai orang tua Bu Mega tidak terlampau kaget dengan kebiasaan anaknya bernyanyi-nyanyi, tapi dia tak habis pikir, dari mana Talenta bisa menyanyikan lagu berjudul ‘Kesaksian’ itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Dia fasih sekali melagukannya sampai bait terakhir, dengan suara keras pula, sementara suara saya tidak kedengaran anak-anak yang duduk di bangku belakang. Kalau dia bernyanyi pada saat pelajaran kesenian barangkali saya bisa maklum, tapi meskipun pelajaran kesenian,” Guru itu menambahkan dengan suara serak, ”tetap saja dia tidak pantas memukul-mukul meja yang dianggapnya alat musik drum. Emangnya kelas bisa disamakan dengan studio musik?”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Guru itu mendehem beberapa kali, mengedip-ngedipkan matanya yang kusam, dan lanjutnya, “Yah, misalnya waktu pelajaran menulis huruf dan angka, anak Ibu tidak pernah mau memulainya dengan huruf berurutan ‘ABC’ tetapi tiba-tiba dia menulis huruf ‘P’ kemudian berlanjut dengan huruf ‘K’ kemudian dia tulis satu huruf lagi ‘I’. Saya sudah tegaskan bahwa belajar abjad dan huruf itu harus berurutan, tetapi dia tetap saja menolak dan menggeleng-gelengkan kepalanya.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dahi Guru itu mengkerut, bulu matanya agak bergetar, kemudian sambungnya lagi, “Sama saja waktu pelajaran menulis angka, mestinya kan dia nurut seperti anak-anak lainnya menuliskan angka 123, tetapi kenapa anak Ibu melompat menulis empat angka sekaligus 1965, saya tidak habis pikir dari mana dia mengenal angka itu di usianya yang ketujuh tahun, apakah dia pernah mempelajari buku Sejarah Indonesia?”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Omongan sang Guru yang agak ngawur itu tak dihiraukan Bu Mega, meskipun dia bisa mengerti keluhannya sejak semula, karena memang anaknya tak pernah mau diam. Di hari pertama pulang sekolah Bu Mega ingat akan kelakuan anaknya yang tiba-tiba melompat-lompat di atas kursi sofa dengan sepatu masih terpakai di kakinya: “Sekolah itu asyik, Ma, kereeen. Talenta punya kursi baru yang bisa dilipat, juga mejanya bisa dipukul-pukul kayak gendang! Pokonya asyiiik!”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bu Mega membayangkan anak tercintanya yang sedang riang gembira menggeser-geser kursi atau memukul-mukul meja di kelas. Baginya hal itu cuma kenakalan anak-anak yang wajar saja, lagipula kalau dia sudah bosan memukul-mukul nanti juga diam sendiri. Bu Mega mencoba menegahi kekesalan Bu Guru, “Baiklah terimakasih atas masukannya, nanti akan saya peringatkan dia tentang hal itu.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Tapi bukan hanya itu, Bu,” nada Bu Guru semakin meninggi ketika dia menyela, “Kalau cuma itu persoalannya, tidak mungkin kesabaran saya bakal habis.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bu Mega jadi serba salah ketika Guru itu menjulurkan mukanya, “Kalau dia tidak bikin ricuh di kelas, kadang-kadang dia berlari keluar kelas dan bermain ayunan sendirian di halaman. Sewaktu saya tanyakan kenapa tidak mengikuti pelajaran bersama teman-teman lainnya, dia malah tak acuh sambil menjawab bahwa belajar itu di mana saja bisa, tidak harus di ruang kelas. Bayangkan, siapa yang mengajari kata-kata itu, kalau bukan ada yang memulainya?”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bu Mega agak tersinggung mendengar perkataan itu, meski ia berusaha mengendalikan diri, dan terus mendengar ucapan sang Guru:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Suatu hari pada saat jam pelajaran tiba-tiba dia melangkah menuju pintu masuk, sambil menjulurkan kepalanya keluar dia pun berteriak, ‘he, ngapain kamu ke sini?’ Kami tidak menghiraukan ucapannya untuk pertama kali, tapi tiba-tiba dia berteriak lagi, ‘he ngapain kamu ke sekolah, mau cari buku?’ Anak-anak mulai gusar, dan setelah dia berteriak untuk yang ketiga kali, saya pun mencoba melihat dengan siapa dia bicara. Tahu-tahu yang diajaknya bicara hanya seekor anak kucing dengan bulu kotor dan kumal. Anak Ibu mengelus-ngelus dan menggendong anak kucing yang bulukan itu, lalu berlari sekencang-kencangnya keluar halaman sekolah…”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Keluar halaman sekolah?” Bu Mega mulai khawatir, “Mau ke mana dia?”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Nah, Ibu bisa bayangkan, saya bukannya membenci anak-anak yang bicara dengan seekor kucing, dan saya pun bukan mengajarkan anak-anak agar membenci binatang, tapi…”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Tapi Bu Guru belum menjawab pertanyaan saya tadi, lari ke mana dia?”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Ke warung di seberang jalan!” katanya melengking.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Ngapain?”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Dia membeli roti untuk dimakankan pada kucing itu, bayangkan!”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bu Mega menarik napasnya lega. Karena dia menduga Talenta akan melakukan hal-hal yang di luar nalar dan pikiran orang dewasa, tapi belum sempat dia bicara, Bu Guru menambahkan lagi, “Ada lagi satu masalah yang bikin kacau semuanya, yakni waktu pelajaran menggambar. Ketika kami tugaskan anak-anak untuk menggambar bendera merah-putih, anak Ibu justru memakai pensil warna merah untuk memolesi bibir pada wajah seorang wanita yang memakai kerudung…”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Siapa yang dia gambar?”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Saya tidak tahu… sepertinya wajah mantan Gubernur Banten…”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Atut Chosiyah?”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Bisa jadi! Barangkali dia pernah melihat gambar itu di suatu tempat, entah di mana!”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Belum sempat Bu Mega menjawab, Guru itu mulai nyerocos lagi, “Bahkan dia pernah menggambar muka Presiden Soeharto sedang memegang sesuatu di tangannya, tapi karena gambar wajahnya terlalu besar memenuhi halaman buku dia kebingungan untuk menggambar apa yang presiden itu pegang…”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Apa yang dia pegang?”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Pohon beringin!” tatapan Bu Guru semakin nanar, “Dan Ibu bisa bayangkan di mana dia menggambar pohon beringin itu? Di atas meja! Dan gambarnya masih ada sampai sekarang, kalau Ibu mau lihat.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setelah Bu Mega menengahi keadaan sambil meminta maaf, Guru itu menyeka keringat di keningnya yang makin mengkerut, kemudian berkhotbah lagi, “Suatu hari saya terangkan bahwa warna merah pada bendera menunjukkan darah dan warna putih menandakan suci, tahu-tahu anak Ibu mengganti warna merahnya dengan ping. Coba bayangkan, mengganti bendera dengan warna ping! Kemudian dia menggambar bulatan hitam pada sisi warna putihnya. Ketika saya tanyakan mengapa harus ada bulatan, dia menjawab tak acuh bahwa bulatan itu adalah gambar lubang buaya. Ya ampuuun, dari mana dia pernah melihat gambar itu, kalau bukan orang sinting yang menunjukkan gambar aneh semacam itu kepada anak kecil…”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Maksud Ibu?”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Maaf Bu, bukan maksud saya mengatakan Ibu sinting, tapi dari mana seorang anak kelas satu SD melihat gambar lubang buaya?”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bu Mega menghela napasnya, tatapannya menerawang. Dia menceritakan bahwa suatu hari paman Talenta yang tinggal di Jakarta Timur pernah mengajaknya jalan-jalan ke sebuah museum yang dinamakan Lubang Buaya. Entahlah, manusia macam apa yang membikin-bikin museum semacam itu. Sepulang dari jalan-jalan dia menanyakan pada ibunya, apakah lubang yang ada di museum tadi sejenis dengan lubang dan danau buaya yang dilihatnya pada film kartun “Dora”, “Pororo” maupun “Teletubbies”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Terus, apa jawab Ibu?”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Iya, seperti di film-film kartun.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Kenapa ibu bilang begitu? Bukankah itu sejarah?” tanya Bu Guru.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Keadaan menjadi hening, Bu Mega mencoba menahan diri. Dia tidak mau memasuki pembicaraan tentang sejarah politik karena ia pun tidak memahami seluk-beluk perpolitikan Indonesia, terlebih-lebih tentang propaganda yang dibikin kaum politisi untuk membangun pencitraan dan merebut kekuasaan. Ia hanya menginginkan anak tercintanya tumbuh dengan pendidikan yang normal seperti manusia-manusia pada umumnya. Setelah lama mereka saling diam, Bu Mega angkat bicara, “Selain itu, apa lagi yang dilakukan anak saya sampai membuat kelas menjadi ribut?”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Pokoknya banyak, Bu, tidak terhitung! Kalau saja saya bisa menghitung berapa jumlah kesalahan yang anak Ibu lakukan, mungkin saya tidak akan meminta Ibu memindahkannya ke sekolah lain.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Guru itu bangkit dari duduknya sambil menutup pembicaraan, “Saya sudah hubungi bahwa guru-guru lain pun mengalami hal yang sama.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Akhirnya Bu Mega harus melakukan sesuatu untuk mengatasi masalah anaknya. Tentu saja hal itu menjadi kurang adil bagi murid-murid lainnya yang sedang belajar. Sang Ibu harus mencarikan sekolah yang bisa memahami dan mengajari Talenta untuk dapat menyesuaikan diri dengan teman-teman sepantarannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Selama itu Bu Mega tak pernah bilang pada puteri kecilnya mengapa ia dikeluarkan dari SDN Karang Asem. Di sisi lain Talenta pun tak pernah memahami mengapa dirinya telah dipersalahkan, dan Sang Ibu tak ingin anak tersayangnya menderita tekanan batin karena hal itu. Ia memutuskan untuk memberitahunya kelak kalau dia sudah dewasa. Bu Mega hanya berkata sambil tersenyum, “Nak, bagaimana kalau kita mencari sekolah yang lebih bagus lagi?”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Emang ada sekolah yang lebih bagus, Ma?”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Tentu saja ada, dan beberapa hari lagi Mama akan mengantarmu ke sana, bagaimana?”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Tapi, di sekolah Talenta yang baru ada pelajaran menggambarnya nggak?”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Tentu saja ada, dan kamu boleh menggambar apa saja.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Boleh nyanyi lagu Iwan Fals nggak, Ma?”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Ya, kamu boleh menyanyikan lagu apapun di sana.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Bongkar?”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Silakan.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
**** Penulis adalah pengarang novel "Perasaan Orang Banten" dan"Pikiran Orang Indonesia".&lt;/div&gt;
</description><link>http://ahmadtoharisociety.blogspot.com/2015/01/talenta.html</link><author>noreply@blogger.com (Mas Nunu)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgOpZ7XrAbunizE8ac6UK9_7D_MhZTNDOjQZVpGSb81rY0jIBZBmy_Jgy1yrocEN48RdIUwf9HiEzgvHIVpf6aHxECrN18GPP21JAAIkpSeVB8WC59qsVuUp4rOHbCOBCJer_5uKRpbXqn6/s72-c/Cara-menulis-cerpen-dan-novel.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3238030562185134049.post-453965397600708215</guid><pubDate>Sun, 04 Jan 2015 17:34:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-03-27T16:11:54.433-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerpen</category><title>Politisi Tua</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhYB2yl-3IYOdcKaftkoLdzse_vXVa1K8BzM7OfFFQLcEWjSlWeKs0Dpki97nzsZmImcPIm0xYEVnelZqk94r9ry2jWHHG1FGAJqqMjokGktSWRQo8qqr9506bsEe1fn4JprEDIS5_Vhnmn/s1600/Cara-menulis-cerpen-dan-novel.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em; text-align: justify;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhYB2yl-3IYOdcKaftkoLdzse_vXVa1K8BzM7OfFFQLcEWjSlWeKs0Dpki97nzsZmImcPIm0xYEVnelZqk94r9ry2jWHHG1FGAJqqMjokGktSWRQo8qqr9506bsEe1fn4JprEDIS5_Vhnmn/s1600/Cara-menulis-cerpen-dan-novel.jpg" height="200" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;i&gt;Cerpen oleh Hafis Azhari&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sepulang dari rumah sakit, Haji Husen Hafidudin seakan berubah menjadi orang yang lain sama sekali. Perutnya yang dulu gendut bahkan menyembul dari kemeja partai yang dikenakannya, kini berubah menjadi kurus kering seperti orang-orangan sawah. Wajahnya yang bundar kemerah-merahan telah berubah menjadi cekung dan keriput, bahkan tulang pipinya menonjol dan pipinya terbenam ke dalam. Ia nampak pucat sekali. Pandangan matanya sudah kabur dan layu di bawah alis matanya yang memutih dan mengkerut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Alhamdulillah Pak Haji sudah sembuh. Selama Pak Haji di rumah sakit saya turut mendoakan atas kesembuhan Pak Haji. Rupanya doa saya dikabulkan,” kata salah seorang anggota partai sambil mencium tangannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Ya, terimakasih,” balas Haji Husen dengan muka cemberut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ia pun mengambil tongkatnya dan berjalan perlahan-lahan menuju tempat peristirahatan di serambi rumahnya. Semua anggota partai yang menengoknya, ikut duduk-duduk di sana sambil menunggu wejangan-wejangan dari sesepuh mereka yang sekaligus pemimpin partainya. Belum sempat ia nyaman istirahat sepulang dari rumah sakit, ratusan anggota partainya sudah berkerumun dan berebutan, hingga tak ada jalan lain selain memberikan tangannya untuk mereka-mereka yang menciumnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Beberapa pengurus senior dari partai yang dipimpinnya, mencium pipinya yang keriput hingga ia merasa terganggu, gerah dan jengkel. Di dalam hatinya ia pun berkata-kata, “Bangsat! Dasar penjilat… lintah darat… kalian inilah yang menjadi pangkal dari semua komplikasi penyakitku!”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setelah para pengurus dan anggota partainya berpamitan, menyusul rombongan lain yang terdiri dari karyawan-karyawan pabrik yang dipimpinnya. Dari pabrik itulah ia membangun kekuatan politik dengan membayar dan menggelindingkan dana miliaran untuk semua konstituen yang mendukungnya. Selama puluhan tahun pabrik itu memproduksi alat-alat rumah-tangga dalam bentuk apa saja, hingga belakangan ia lebih memusatkan perhatian pada produksi golok, dari yang sifatnya kebutuhan dapur hingga hiasan-hiasan dinding.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Salah seorang kepala rombongan memoncongkan mulutnya ke telinga Haji Husen sambil berujar, “Selamat datang Pak Haji… kami semua bersyukur atas kesembuhan dan kepulangan Pak Haji dari rumah sakit.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Juga dibalas dengan terimakasih sambil berusaha mengendalikan rasa dongkol dan jengkelnya. Setelah semuanya mencium tangannya, ia pun duduk-duduk menyendiri sampai kemudian seorang wakil perusahaannya datang menghadap. Dengan kedatangannya itu ia lupa segala-galanya, kecuali yang teringat hanya soal perhitungan dan pembukuan yang harus menjadi tanggungjawabnya selama ia berbaring di rumah sakit.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Mana pembukuan?” tagihnya kepada sang wakil.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Belum sempat wakilnya bangkit dari tempat duduk, tiba-tiba Haji Husen mengingat sesuatu yang amat penting, kemudian katanya dengan suara melengking:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Mulai hari ini kamu harus umumkan kepada semua karyawan, bahwa saya tidak mau melihat adanya asap rokok di pabrik kita. Tidak boleh lagi ada karyawan yang merokok di dalam pabrik, lantas kasih tahu pada Kodir, kalau saya datang ke pabrik untuk memeriksa pembukuan, saya harus disediakan dua gelas air, yang satu air dingin dan satunya lagi air hangat. Ayo, mana pembukuan!”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sang wakil pergi untuk segera menyampaikan pengumuman mendadak itu pada bawahannya. Dalam hatinya ia menggerutu, karena ia sendiri pun termasuk perokok berat. Tak berapa lama ia muncul lagi sambil menenteng map dan buku-buku. Haji Husen menyadari bahwa saat ini ia sedang menghadapi pemeriksaan laporan yang betul-betul merepotkan. Meskipun ia memang ahli dalam soal yang satu ini, karena telah menekuninya selama bertahun-tahun. Ia pun menghubungi beberapa karyawan lainnya untuk mengecek kesesuaian data serta mencocokkan keterangan mereka dengan apa yang tercatat dalam buku itu. Sang wakil dengan sabar mengikuti, meski mukanya muram dan jantungnya berdebar-debar jangan-jangan terselip adanya data-data palsu yang tak lepas dari pemantauannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam waktu yang cukup lama sang wakil memperhatikan muka Haji Husen yang kurus dan kempot akibat dirusak oleh penyakit komplikasi yang menahun. Sesekali dalam hatinya ia berkata, “Mungkin ada benarnya orang macam itu diazab oleh Allah, karena Allah tidak akan zalim terhadap hamba-hamba-Nya.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setelah berjam-jam memeriksa pembukuan, buku-buku itu pun dikembalikan kepada wakilnya sambil menatapnya dengan pandangan aneh, suatu pandangan yang tetap menaruh kecurigaan yang ada pada dirinya. Bahkan dalam hatinya ia pun berjanji, “Awas, nanti akan saya periksa sekali lagi, bahkan berkali-kali, sampai semua yang tersembunyi dalam pembukuan itu bakal terbongkar. Mereka semuanya anjing, tetapi yang mereka ambil dari sifat anjing adalah kotorannya, lantas meninggalkan kesetiaannya….”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kemudian sekali lagi ia berteriak kepada wakilnya yang sudah meninggalkan tempat itu, “Jangan sampai lupa apa-apa yang sudah saya bilang tadi… masalah rokok dan air hangat!”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
***&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kini ia duduk-duduk menyendiri lagi. Pikirannya yang kacau terus menggodanya. Pada situasi seperti itu muncul dugaan-dugaan bahkan tuduhan kepada semua orang, hingga orang-orangnya yang terdekat yang selalu jadi kena sasaran. Sering terlontar ucapan-ucapan dari mulutnya bahwa mereka semua iri hati kepadanya yang punya kedudukan di panggung politik, serta perusahaan yang mempekerjakan ratusan karyawan. Selama ia sakit selalu saja muncul prasangka-prasangka semacam itu bahwa ia kena guna-guna, santet, teluh, sihir dan sebagainya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kemudian istrinya sendiri sebagai orang terdekat yang dapat giliran paling empuk. Suatu hari ditatapnya istrinya dengan mata berang sambil berkata dalam hatinya:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Setan yang satu ini juga punya andil besar yang selalu membikin pusing kepalaku….”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Haji Husen teringat kembali peristiwa mengerikan ketika beberapa tahun lalu ia mendapat serangan jantung yang cukup gawat. Malam itu ia sudah siap-siap akan tidur, lalu tiba-tiba dadanya terasa ditusuk-tusuk keras sekali. &amp;nbsp;Setiap ia berusaha menarik napas, rasa sakit menusuk-nusuk lebih keras lagi, hingga kemudian ia menyerah dan putus asa. Dokter pun datang dan obat diberikan, tetapi selama beberapa hari ia masih bertengger di antara sadar dan tidak sadar, di antara hidup dan mati.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada saat yang mengerikan itu ingin sekali ia mengucap dua kalimat syahadat tetapi mulutnya begitu lemah dan tenggorokannya terasa kering. Tubuh kasarnya hampir menyerah, tetapi rohnya masih terikat pada dunia dan asesorisnya, sehingga matanya berlinangan serta pandangannya membayangkan jeritan hati dan permintaan tolong. Hanya saja ajalnya masih ditangguhkan, dan saat-saat yang kritis itu pun dilaluinya, dan ia kembali sembuh.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sedikit demi sedikit ia kembali ke gelanggang politik dan bisnis, bahkan bermimpi seandainya ia betul-betul sehat dan segar bugar seperti di masa muda dulu. Tetapi kemudian ia teringat pada pantangan-pantangan yang diberikan dokter yang membuat impiannya jadi suram. Ya memang, ia sudah selamat dari maut, tapi sekarang dia berubah menjadi makhluk baru dengan tubuh yang kurus dan jiwa yang sakit. Bahkan jiwa yang sakit itu semakin meretas menjadi kebosanan, gelisah, rasa benci dan amarah kepada semua orang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sesekali dalam hatinya bertanya-tanya tentang dosa apakah yang dilakukannya hingga Allah memberikan hukuman yang sedemikian pedihnya. Namun belum selesai ia merenungkan persoalan itu pikirannya tergoda kembali oleh urusan-urusan duniawi, karena ia begitu mencintai kedudukannya, harta kekayaannya dan keluarganya. Pada saat seluruh keluarganya berkumpul di sekelilingnya dalam keadaan antara hidup dan mati, ia merasa sedikit nyaman ditemani orang-orang yang mencintainya, tetapi apa untungnya buat si mati meskipun dikerumuni oleh orang-orang yang menangisinya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Seketika muncul lagi pikiran-pikiran aneh bahwa biang keladi dari rasa sakit yang dideritanya itu akibat ulah lawan-lawan politiknya. Di Banten ini memang banyak partai-partai yang saling bertikai, baik yang secara halus maupun terang-terangan, tetapi yang secara halus inilah yang paling memusingkan dirinya daripada yang bersaing secara terang-terangan. Tiba-tiba ia merasa dirinya sebagai orang yang paling bersih di dunia politik, bahkan merasa tidak punya dosa di hadapan Allah. Tetapi mereka-mereka itulah yang banyak dosanya. Mereka itulah yang punya sifat iri dan dengki kepadanya. Belum lagi para staf-staf di pabriknya yang punya sifat korup, licik dan seenaknya memalsukan pembukuan yang dilaporkan kepadanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Begitulah keadaan Haji Husen Hafidudin, hingga ketika diterima laporan terakhir &amp;nbsp;dari sebuah harian Banten, karirnya di panggung politik dan prestasinya di dunia bisnis telah hancur berkeping-keping. Dulu ia termasuk salah seorang tersukses di Banten ini, tetapi wajahnya yang senang itu telah berubah menjadi wajah muram berkepanjangan. Gangguan yang menimpa kesehatannya cukup parah, tapi yang lebih parah lagi adalah gangguan yang menimpa jiwanya. ***&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>http://ahmadtoharisociety.blogspot.com/2015/01/politisi-tua.html</link><author>noreply@blogger.com (Mas Nunu)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhYB2yl-3IYOdcKaftkoLdzse_vXVa1K8BzM7OfFFQLcEWjSlWeKs0Dpki97nzsZmImcPIm0xYEVnelZqk94r9ry2jWHHG1FGAJqqMjokGktSWRQo8qqr9506bsEe1fn4JprEDIS5_Vhnmn/s72-c/Cara-menulis-cerpen-dan-novel.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3238030562185134049.post-4753075400815120362</guid><pubDate>Fri, 02 Jan 2015 07:13:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-03-27T16:23:04.793-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Opini</category><title>Ahmad Tohari: Tema Alam dan Kearifan Lokal Pedesaan</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;
Saudara semua, ini ada artikel dari&amp;nbsp;http://annida-online.com/, silakan anda telaah secara bijak.&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhtJUgqACd1VCmBgUfi6wFV6qnDOtoZNBljkh-g0qqXfNM1nyh-1FmmSUB7D1kgxhmZ123_7_TwJnmrvgXWxyHzHihoIJeK_Ph-5SpYqZiLyiWysNEXryaTozB3BcEAAH5Ay7LCTsTBdPww/s1600/ahmad+tohari+oke-1264264380.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhtJUgqACd1VCmBgUfi6wFV6qnDOtoZNBljkh-g0qqXfNM1nyh-1FmmSUB7D1kgxhmZ123_7_TwJnmrvgXWxyHzHihoIJeK_Ph-5SpYqZiLyiWysNEXryaTozB3BcEAAH5Ay7LCTsTBdPww/s1600/ahmad+tohari+oke-1264264380.jpg" height="228" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ahmad Tohari adalah salah satu sastrawan besar yang dimiliki oleh bangsa Indonesia saat ini. Para pengamat sastra mengakui bahwa karya-karyanya mempunyai nilai sastra yang sangat kental dan tinggi. Oleh karena itu, banyak karyanya telah diteliti oleh para akademisi – baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Bahkan, karya-karya beliau juga telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa asing, seperti bahasa Jepang, bahasa Jerman, bahasa Belanda, dan bahasa Inggris.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Penulis teringat dengan komentar dari beberapa pengamat. Sebagaimana dimuat di Majalah Tempo, 19 Februari 1983, Sapardi Djoko Damono mengatakan, “Dibandingkan dengan Kubah, novelnya yang terdahulu, Ronggeng Dukuh Paruk menunjukkan bahwa Ahmad Tohari bisa sangat lancar mendongeng. Seperti juga dalam Kubah, latar, peristiwa, dan tokoh-tokoh yang terdiri atas orang-orang desa yang sederhana digambarkannya dengan menarik, bahkan tidak jarang, sangat menarik”. Dr. H. J. M. Meier juga mengungkapkan, “Suatu kisah yang disajikan dengan cara yang menggugah perasaan ingin tahu, suatu masalah yang bagi kita pun sangat lazim. Tetapi yang paling mengasyikkan dari kesemua itu adalah gambaran tandas yang berhasil dibangkitkan Ahmad Tohari, yang mengikis khayalan indah kita tentang kehidupan pedesaan di Jawa” (Orion, April 1984). Kedua komentar di atas merupakan sebuah testimoni positif dari Sapardi dan Meier terhadap novel trilogi Ahmad Tohari yang berjudul Ronggeng Dukuh Paruk.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
***&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ahmad Tohari tidak pernah melepaskan diri dari pengalaman hidup kedesaannya. Maka dari itu, warna hampir semua karyanya adalah menceritakan tentang lapisan bawah dengan latar alam, mulai dari Kubah, Novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Di Kaki Bukit Cibalak, sampai pada Lingkar Tanah Lingkar Air. Beliau memiliki kesadaran dan wawasan alam yang sangat luas, sebagaimana terlihat jelas dalam tulisan-tulisannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Seperti halnya yang pernah beliau tulis dalam sebuah makalah ketika saya menghadiri Silaturrahmi Nasional Forum Lingkar Pena (Silnas FLP) di Jakarta, 11-13 Juli 2008 lalu, Beliau menulis begini, “Barangsiapa tidak menjenguk tetangga yang sakit, nerakalah akibatnya. Secara luas tetangga yang sakit bisa diartikan sebagai kaum dhuafa, kaum miskin, kaum yang tertindas, dan terpinggirkan yang ada di mana-mana. Nah, merekalah sumber tenaga kreativitas saya karena pada merekalah pemikul-pemikul alamat ke mana saya bisa mendekatkan diri kepada Allah dan memberi ujud taqarrub ila Allah secara konkret. Dengan demikian, mudah dipahami mengapa dalam seluruh karya saya terlihat penghayatan dan pembelaan terhadap masyarakat bawah”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Boleh jadi karena rasa ketertarikannya dengan keaslian alam, maka Ahmad Tohari tidak betah hidup di kota. Jabatannya dalam staf redaksi kelompok Merdeka, Jakarta, yang dipegangnya selama dua tahun akhirnya ditinggalkannya. Kini dia kembali berada di tengah sawah di antara lumpur dan katak, di antara lumut dan batu cadas di desanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Secara tidak langsung, karya sastra mempunyai fungsi sosial yaitu mentransfer informasi dari penulis kepada para pembaca (masyarakat umum atau khalayak). Dengan tulisan-tulisan dari para penulis, para pembaca dapat mengetahui tentang suatu informasi atau peristiwa tertentu yang belum diketahui oleh mereka.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Selain itu, karya sastra juga berfungsi memengaruhi perasaan para pembacanya. Oleh karena itu, sangat diperlukan kontribusi yang maksimal dari para penulis untuk menyampaikan pesan-pesan yang positif kepada para pembaca karya-karyanya agar memberikan teladan yang baik kepada masyarakat luas.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dengan demikian, sesuatu yang dilakukan oleh Ahmad Tohari melalui karya-karyanya sudah memberikan pesan moral yang positif dan sangat berharga bagi para pembaca, terutama bagi “orang-orang atas”. Karya-karyanya telah menyebarkan informasi kepada para pembaca mengenai pentingnya bersikap tenggang rasa dan toleransi kepada masyarakat bawah (orang miskin). Sebagaimana telah diketahui bahwa pengorbanan masyarakat bawah tersebut begitu menggebu-gebu dan sangat mengharukan. Akan tetapi, yang tampak di masyarakat dewasa ini, ada beberapa golongan masyarakat yang tidak peka kepada mereka, seolah-olah tidak peduli dengan kehadiran mereka di lingkungan sekitar kita. Dengan karya sastra, semoga dapat memberikan kesadaran transenden kepada masyarakat luas, khususnya kepada orang-orang atas, mengenai hadirnya masyarakat bawah di tengah-tengah kita selama ini. Semoga dapat memberikan kesadaran kepada mereka bahwa berbagi dengan sesama itu sungguh indah.***************&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://ahmadtoharisociety.blogspot.com/2015/01/ahmad-tohari-tema-alam-dan-kearifan.html</link><author>noreply@blogger.com (Mas Nunu)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhtJUgqACd1VCmBgUfi6wFV6qnDOtoZNBljkh-g0qqXfNM1nyh-1FmmSUB7D1kgxhmZ123_7_TwJnmrvgXWxyHzHihoIJeK_Ph-5SpYqZiLyiWysNEXryaTozB3BcEAAH5Ay7LCTsTBdPww/s72-c/ahmad+tohari+oke-1264264380.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3238030562185134049.post-2822694355963429710</guid><pubDate>Mon, 22 Dec 2014 22:38:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-03-27T16:24:37.843-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Opini</category><title>Andrea Hirata Seyogianya Belajar Pada Ahmad Tohari</title><description>
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiD3l_Slejk5NBWVt0-nhV0MFGTU2l6iSbG15z3xa6vGDG6uUcNz_ah1IkfgAkmatAeBrE3q2hO9ABNGoOH1qYqsPOOZmGU9n3zxdr_533gcFXo3jNEOABMxFKw78RzLv1YsdVd0nw56t8_/s1600/13614311561686463604.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiD3l_Slejk5NBWVt0-nhV0MFGTU2l6iSbG15z3xa6vGDG6uUcNz_ah1IkfgAkmatAeBrE3q2hO9ABNGoOH1qYqsPOOZmGU9n3zxdr_533gcFXo3jNEOABMxFKw78RzLv1YsdVd0nw56t8_/s1600/13614311561686463604.jpg" height="150" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="line-height: 18.3999996185303px;"&gt;Oleh Agus Pribadi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 18.3999996185303px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 18.3999996185303px;"&gt;Membaca polemik antara Damar Juniarto dengan Andrea Hirata di berbagai media. Saya menjadi teringat pada polemik antara F Rahardi dengan Ahmad Tohari di majalah Horison pada tahun 1984 lalu, berarti 29 tahun sebelum polemik yang akhir-akhir ini sedang hangat itu. Perbedaannya, Ahmad Tohari membalas tulisan F Rahardi dengan tulisan juga. Sementara Andrea Hirata berencana melakukan gugatan hukum atas tulisan Damar Juniarto tersebut, sebagaimana diberitakan berbagai media. Padahal menurut saya F Rahardi lebih pedas dalam memberi kritik daripada Damar Juniarto. Membaca kritik F Rahardi, kuping saya terasa merah. Saya tak bisa membayangkan bagaimana dengan penulisnya sendiri, yakni Ahmad Tohari. Namun Ahmad Tohari tetap tegar, ia membalas tulisan F Rahardi dengan tulisan yang dimuat juga di majalah Horison pada tahun yang sama.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 18.3999996185303px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-weight: normal; line-height: 18.3999996185303px;"&gt;Kritik tajam F Rahardi berjudul “Ronggeng Dukuh Paruk : Cacat Latar yang Fatal”. Saya tidak bisa membayangkan kalau saya yang mendapat kritik itu. Namun Ahmad Tohari tetap tegar. Dan terbukti Novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk tetap digemari sampai saat ini, diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing, dijadikan bahan penelitian, dan difilmkan.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-weight: normal; line-height: 18.3999996185303px;"&gt;Ahmad Tohari membalas kritikan F Rahardi dengan tulisan dan salam, berjudul “Kecongkakan Akademik&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 18.3999996185303px;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-weight: normal; line-height: 18.3999996185303px;"&gt;Dalam Kritik Sastra&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 18.3999996185303px;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-weight: normal; line-height: 18.3999996185303px;"&gt;Salam buat Pak Guru Biologi”. Di sinilah pengedepanan kepenulisan Ahmad Tohari menggunakan olah kata juga untuk menanggapi kata-kata. Bukannya berencana melakukan langkah lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-weight: normal; line-height: 18.3999996185303px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-weight: normal; line-height: 18.3999996185303px;"&gt;F Rahardi kembali menanggapi tulisan Ahmad Tohari dengan judul “Masih Sekitar Ronggeng Dukuh Paruk&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 18.3999996185303px;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-weight: normal; line-height: 18.3999996185303px;"&gt;Hantam Kromo Bikin Keqi”. Ini seperti sebuah pertarungan kata-kata dua pendekar menulis. Bertarung dengan kata-kata, dan pembaca yang akan menilainya.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-weight: normal; line-height: 18.3999996185303px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-weight: normal; line-height: 18.3999996185303px;"&gt;Tulisan-tulisan tersebut dapat dibaca di :&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 18.3999996185303px;"&gt;&lt;a href="http://frahardi.wordpress.com/polemik/ronggeng-dukuh-paruk/"&gt;http://frahardi.wordpress.com/polemik/ronggeng-dukuh-paruk/&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 18.3999996185303px;"&gt;Karya Ronggeng Dukuh Paruk sendiri terlahir dari kritik atas Novel Kubah, karya sebelumnya yang ditulis Ahmad Tohari. Bukannya larut dalam kritik, Ahmad Tohari membuktikannya dengan berkarya yang lebih baik lagi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 18.3999996185303px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 18.3999996185303px;"&gt;&lt;b&gt;Belajar pada Ahmad Tohari.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 18.3999996185303px;"&gt;Dalam menghadapi kritik, seyogianya Andrea Hirata belajar pada Ahmad Tohari. Seyogianya Andrea Hirata menulis tanggapan atas tulisan Damar Juniarto di Kompasiana, atau media lainnya. Seiring dengan itu, lebih baik Andrea Hirata sibuk menulis dan menulis lagi untuk karya yang lebih baik. Dan biarkan pembaca yang menilainya. Sebagaimana Ronggeng Dukuh Paruk, saya yakin Laskar Pelangi akan tetap bersinar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 18.3999996185303px;"&gt;Dalam membaca tulisan, termasuk tulisan Damar Juniarto, saya yakin pembaca akan cukup dewasa dalam merespon dan menyikapinya. Karya Andrea Hirata tidak akan tenggelam begitu saja hanya karena sebuah kritik. ****&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 18.3999996185303px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 18.3999996185303px;"&gt;Diambil dari artikel di&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: transparent; line-height: 18.3999996185303px;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;http://media.kompasiana.com/&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://ahmadtoharisociety.blogspot.com/2014/12/andrea-hirata-seyogianya-belajar-pada.html</link><author>noreply@blogger.com (Mas Nunu)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiD3l_Slejk5NBWVt0-nhV0MFGTU2l6iSbG15z3xa6vGDG6uUcNz_ah1IkfgAkmatAeBrE3q2hO9ABNGoOH1qYqsPOOZmGU9n3zxdr_533gcFXo3jNEOABMxFKw78RzLv1YsdVd0nw56t8_/s72-c/13614311561686463604.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3238030562185134049.post-8132522118606158419</guid><pubDate>Sat, 20 Dec 2014 03:41:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-01-01T17:20:57.122-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Berita</category><title>Ahmad Tohari Setahun Terjemahkan Al Quran dalam Bahasa Banyumasan</title><description>&lt;!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --&gt;
&lt;script src="http://adsensecamp.com/show/?id=uVuhwih1w0w%3D&amp;cid=1mKE6FR8OXo%3D&amp;chan=tTUcJk0PYtg%3D&amp;type=2&amp;title=3D81EE&amp;text=000000&amp;background=FFFFFF&amp;border=000000&amp;url=2BA94F" type="text/javascript"&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;!-- End: http://adsensecamp.com/ --&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiwjNbPxKpu2qKmWOLfdtPGFizNCUv3NukHk4L-b4psdrowA2TVyUuERm7ME_CooArt886fUr4b1VLzDykM2ZrVqQ4KjZXa8UxnokFLHX_XZU0rYy_u5wHCvwjCyb62c60fspwkr8rC13kN/s1600/ahmad-tohari1.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiwjNbPxKpu2qKmWOLfdtPGFizNCUv3NukHk4L-b4psdrowA2TVyUuERm7ME_CooArt886fUr4b1VLzDykM2ZrVqQ4KjZXa8UxnokFLHX_XZU0rYy_u5wHCvwjCyb62c60fspwkr8rC13kN/s1600/ahmad-tohari1.jpg" height="305" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pengarang novel fenomenal Trilogi Ronggeng Dukuhparuk KH Ahmad Tohari telah selesai menerjemahkan Al Quran dalam bahasa Banyumasan. Dia berkeyakinan, dengan hasil terjemahannya bisa memudahkan warga Banyumas dalam menyerap dan mengimplementasikan isi kandungan Al Quran dalam kehidupan sehari-hari. Meski mengaku kesulitan dalam mencari padanan kata Banyumas, tetapi mampu diselesaikan dalam jangka waktu setahun.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&#147;Alhamdulillah, kini dalam tahap pra validasi Kementerian Agama,&#148; tutur budayawan Banyumas yang karya-karyanya diterjemahkan dalam berbagai bahasa Internasional di rumahnya, Desa Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, Purwokerto, Sabtu (14/9) lalu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Putra Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah, 13 Juni 1948 itu mengaku sangat gelisah hati dengan minimnya pemahaman Al Quran dan pengimplementasiannya dalam kehidupan bermasyarakat. Untuk itu, dirinya bertekad mendekatkan Al Quran ke dalam bahasa lokal. Dengan harapan makin mudah memahaminya, meskipun dirinya sempat kelimpungan mencari padanan kata yang teramat sulit bahasa Quran ke dalam bahasa daerah Banyumasan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sebagai sastrawan, Ia menamatkan SMA di Purwokerto. Namun demikian, ia pernah mengenyam bangku kuliah, yakni Fakultas Ilmu Kedokteran Ibnu Khaldun, Jakarta (1967-1970), Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto (1974-1975), dan Fakultas Ilmu Sosial &amp;amp; Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman (1975-1976).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam dunia jurnalistik, Ahmad Tohari pernah menjadi staf redaktur harian Merdeka, majalah Keluargadan, majalah Amanah, di Jakarta.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam karier kepengarangannya, penulis yang berlatar kehidupan pesantren ini telah melahirkan novel dan kumpulan cerita pendek.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Beberapa karya fiksinya antara lain trilogi ”Ronggeng Dukuh Paruk” telah terbit dalam edisi Jepang, Jerman, Belanda dan Inggris. Tahun 1990 pengarang yang punya hobi mancing ini mengikuti International Writing Programme di Iowa City, Amerika Serikat dan memperoleh penghargaan The Fellow of The University of Iowa.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Cerpennya berjudul Jasa-jasa buat Sanwirya mendapat Hadiah Hiburan Sayembara Kincir Emas 1975 yang diselenggarakan Radio Nederlands Wereldomroep. Novelnya Kubah (1980) memenangkan hadiah Yayasan Buku Utama tahun 1980. Ronggeng Dukuh Paruk(1982), Lintang Kemukus Dini Hari (1985), Jentera Bianglala (1986) meraih hadiah Yayasan Buku Utama tahun 1986. Novelnya Di Kaki Bukit Cibalak (1986) menjadi pemenang salah satu hadiah Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta tahun 1979. Pada tahun 1995 Ahmad Tohari menerima Hadiah Sastra Asean, SEA Write Award. Sekitar tahun 2007 Ahmad Tohari menerima Hadiah Sastra Rancage.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Karya Kang Tohari diterbitkan dalam bahasa Jepang, Tionghoa, Belanda dan Jerman. Edisi bahasa Inggris Ronggeng Dukuh Paruk , Lintang Kemukus Dini Hari , Jantera Bianglala diterbitkan oleh Lontar Foundation dalam satu buku berjudul The Dancer diterjemahkan oleh Rene T.A. Lysloff.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada tahun 2011, trilogi dari novel Ronggeng Dukuh Paruk diadaptasi menjadi sebuah film fitur yang berjudul Sang Penari yang disutradarai Ifa Isfansyah. Film ini memenangkan 4 Piala Citra dalam Festival Film Indonesia 2011.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Budayawan Pantura Drs Atmo Tan Sidik yang menyertai wawancara berharap, dengan terlahirnya karya Ahmad Tohari menterjemahakan Al Quran ke dalam bahasa Banyumasan. Mudah-mudahan akan terlahir penerjemah-penerjemah daerah yang melakukan hal serupa. Sehingga ada ikatan emosional dan kedekatan Illahiyah dengan memakai bahasa ibunya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam catatan 21 Februari 2000 Unesco telah mencanangkan sebagai hari bahasa Ibu. Sebab dalam satu abad 720 bahasa yang hilang. &#147;Dengan lahirnya penerjemahan kitab suci ke dalam bahasa ibu, akan turut serta melestarikannya,&#148; tambah Atmo yang juga Kepala Bagian Humas dan Protokol Setda Brebes.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dari ratusan ragam bahasa daerah di tanah air, 139 di antaranya terancam punah. Bahkan, tercatat 15 bahasa daerah telah punah. Memang, ancaman punahnya bahasa daerah tadi justru lebih besar terjadi di luar pulau jawa. Ke 15 bahasa yang punah adalah 11 bahasa daerah di Maluku, dan masing-masing satu di Sumatera, Sulawesi, Papua Barat dan Kepulauan Halmahera.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Atmo menjelaskan, ke-139 bahasa daerah yang terancam punah, di antaranya adalah 22 bahasa daerah di Maluku, 67 bahasa di Kepulauan Halmahera, 36 bahasa di Sulawesi, 11 bahasa di Sumbawa, dan dua bahasa di Sumatera. Begitu pula di tataran lokal kabupaten kita. Brebes sebagai perbatasan antara provinsi Jawa Tengah dan Jawa Barat, memiliki cukup banyak ragam bahasa ibu. &#147;Bahasa daerah, mulai dari Banyumasan, Jawa hingga Sunda,&#148; tegasnya. (wsd/topfm)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Diambil dari berita:&amp;nbsp;http://www.diradio.net/2013/09/20/ahmad-tohari-setahun-terjemahkan-al-quran-dalam-bahasa-banyumasan/&lt;/div&gt;</description><link>http://ahmadtoharisociety.blogspot.com/2014/12/ahmad-tohari-setahun-terjemahkan-al.html</link><author>noreply@blogger.com (Mas Nunu)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiwjNbPxKpu2qKmWOLfdtPGFizNCUv3NukHk4L-b4psdrowA2TVyUuERm7ME_CooArt886fUr4b1VLzDykM2ZrVqQ4KjZXa8UxnokFLHX_XZU0rYy_u5wHCvwjCyb62c60fspwkr8rC13kN/s72-c/ahmad-tohari1.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3238030562185134049.post-4734902749784981852</guid><pubDate>Fri, 19 Dec 2014 21:48:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-01-01T17:20:54.304-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Berita</category><title>Pidato: Membela Dengan Sastra</title><description>&lt;!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --&gt;
&lt;script src="http://adsensecamp.com/show/?id=uVuhwih1w0w%3D&amp;cid=1mKE6FR8OXo%3D&amp;chan=tTUcJk0PYtg%3D&amp;type=2&amp;title=3D81EE&amp;text=000000&amp;background=FFFFFF&amp;border=000000&amp;url=2BA94F" type="text/javascript"&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;!-- End: http://adsensecamp.com/ --&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjBo7qwg_cjX0g8I_IytfiwhrGZsQRawJZW2Vy6xaBtcqQBK5pOU0_pm4TV-D5VHbd5hUC8VpcijyhiCdRTyCO8GOfuE3gg3X1OlbiJjq-KjHb-uLdIDwyGJdJtBFWA1rnveTf7yX2-G1ZL/s1600/1396057667.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjBo7qwg_cjX0g8I_IytfiwhrGZsQRawJZW2Vy6xaBtcqQBK5pOU0_pm4TV-D5VHbd5hUC8VpcijyhiCdRTyCO8GOfuE3gg3X1OlbiJjq-KjHb-uLdIDwyGJdJtBFWA1rnveTf7yX2-G1ZL/s1600/1396057667.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hadirin yang saya hormati... &amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
SEJAK Indonesia merdeka pada tahun 1945 telah muncul tiga dokumen yang berisi konsep kebudayaan Indonesia. Ketiga dokumen kebudayaan itu adalah Surat Kepercayaan Gelanggang (1951); Mukaddimah Lembaga Kesesenian Rakyat (LEKRA,1956); dan Manifest Kebudayaan (1963).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Konsep kebudayaan yang dicitakan dalam Surat Kepercayaan Gelanggang mengacu ke arah kebudayaan Barat yang bersifat sekuler, antroposenstris serta elitis. Agaknya para pemikir kebudayaan saat itu masih sangat terpesona oleh kemajuan Barat sehingga mereka mencitakan kebudayaan Indonesia berkiblat ke Barat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Situasi perang dingin yang mulai menghangat menjelang tahun 1960-an menyeret Indonesia ke dalam &amp;nbsp;tarik-menarik antara pengaruh blok Barat dan blok Timur, juga di bidang pemikiran kebudayaan. Maka sebagai tandingan atas lahirnya Surat Kepercayaan Gelanggang yang mengarah ke Barat, lahirlah Mukaddimah Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra) yang &amp;nbsp;mengarah ke blok sosialis di Timur, sama-sama sekuler, antroposentris, tapi punya kecenderungan populis. Meskipun begitu, polemik kebudayaan pun berkecamuk sengit &amp;nbsp;di antara pendudukung kedua kubu tersebut. &amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di tengah sengitnya polemik antara pengikut “kebudayaan Barat” dan pengikut “kebudayaan Timur” yang sama-sama sekuler itu muncullah pada tahun 1963 Manifest Kebudayaan yang seolah-olah hadir sebagai konsep alternatif kebudayaan Indonesia. Tetapi ternyata Manifest Kebudayaan, yang pada kalimat terakhirnya berbunyi “Pancasila adalah falsafah kebudayaan kami”, disanggah dan dicerca habis-habisan oleh para pengikut Mukadimah Lekra.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bagi para budayawan Lekra, baik SKG maupun MK mereka anggap sebagai konsep kebudayaan yang sama-sama borjuis. Dan pembantaian kebudayaan ini baru berakhir pada tahun 1965 setelah PKI dibubarkan, dan Lekra pun gulung tikar.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hadirin yang saya muliakan..&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Saya mulai berkarya sastra pada tahun 1971. Sebagai pribadi yang dekat dengan orang-orang Lesbumi saya memilih dengan sadar konsep kebudayaan yang berfalsafah Pancasila sebagai yang tercantum dalam Manifest Kebudayaan. Karena mengakui Pancasila sebagai falsafah kebudayaan Indonesia maka dalam berkarya saya punya niatan yang lebih tinggi daripada sekadar kepentingan pribadi maupun kepentingan kesusastraan semata.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Demikianlah, maka selalu ada pertanyaan yang mendasar yang muncul ketika saya akan memulai menulis sebuah karya. Pertanyaan itu:&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pertama, “Mengapa kamu menulis karya sastra?”&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kedua, “Apa niatmu melakukan hal itu?”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mengapa seorang sastrawan, dalam hal ini saya menulis karya sastra, jawabnya sederhana. Yakni, karena saya punya kegelisahan jiwa dan ingin melahirkan kegelisahan itu. Setelah kegelisahan itu lahir sebagai karya sastra, maka terserah kepada masyarakat; mau membaca, lalu menangkap kandungan nilai yang terkandung dalam karya sastra itu, atau membiarkan karya saya tersimpan di rak-rak buku. Dalam hal ini saya sebagai penulis sudah menyelesaikan bagian saya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tentang niat menulis karya sastra jawabannya banyak. Adalah sah apabila karya sastra ditulis dengan niat mengaktualisasikan diri. Siapa saja boleh membangun eksistensi dirinya dengan jalan menulis karya sastra. Bahkan boleh saja sebuah karya sastra ditulis dengan niat mendapatkan uang, dan mengarahkan karya itu agar laris di pasaran. Ada lagi jawaban yang sering terdengar bahwa sastra ditulis demi kesusastraan itu sendiri.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sebagai orang biasa dalam dunia kesusastraan Indonesia, saya merasa semua penjelasan itu ada benarnya. Tetapi buat saya semua itu tidak menjadi jawaban yang tuntas. Memang karena menulis karya sastra maka saya mendapat uang, dan nama saya dikenal di tengah masyarakat. Namun masih ada yang belum terwakili melalui penjelasan itu. Uang dan nama bukan segalanya. Atau, apakah saya bersastra untuk kesusastraan semata? Tidak cukup juga. Penjelasan ini seperti membawa saya ke arah jalan buntu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hadirin yang saya hormati;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setiap karya sastra lahir dari seorang yang berada dalam keadaan sadar. Dengan demikian karya sastra lahir dengan sebuah motivasi atau maksud. Dan bila maksud itu bukan hanya untuk pemenuhan kepentingan sempit (cari uang, cari nama, atau sastra untuk sastra) maka adakah sesuatu yang lebih mendasar?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Saya termasuk orang yang percaya bahwa setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban. Maka niat harus ditata dan dibangun dengan baik agar setiap karya sastra yang saya tulis bisa dipertanggungjawabkan. Jadi apa niat saya bersastra?&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Seluruh karya sastra saya ditulis dengan niat menjalankan perintah, “Hai orang-orang beriman jadilah kalian pemebela-pembela Tuhan”.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Apakah Tuhan butuh pembelaan? Tuhan Mahaperkasa, Mahamandiri Mahakuasa, jadi Tuhan sama sekali tidak butuh pembelaan. Meyakini pribadi Tuhan butuh pembelaan adalah kekonyolan yang nyata. Maka kewajiban menjadi pembela Tuhan sesungguhnya adalah kewajiban membela amanat dan “alamat”-Nya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Amanat Tuhan kepada manusia tidak lain adalah keadaban kehidupan, yang dibangun melalui penegakan nilai-nilai keadaban seperti keadilan, kebenaran, kasih sayang, martabat kemanusiaan, pranata sosial yang baik, dan seterusnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jelasnya, amanat Tuhan kepada manusia adalah penyebaran kasih sayang kepada seluruh isi alam. Melalui karya sastra yang semuanya menyangkut kehidupan orang-orang terpinggirkan saya bermaksud memberikan kasih sayang kepada mereka. Tentu, pembelaan secara sastrawi melalui persaksian dan pewartaan tidak akan serta merta mengubah keadaan orang-orang teraniaya itu. Sastra hanya punya tugas mengetuk nurani masyarakat bila terjadi gejala yang menandai adanya pelanggaran terhadap nilai keadaban.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Maka apakah pembelaan terhadap nilai-nilai keadaban melalui karya sastra bisa berhasil?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sastra hanya menyampaikan nilai-niai yang terkandung dalam suatu narasi cerita kepada pembaca. Sastra hanya menyapa jiwa. Maka pembaca sendiri yang, kalau mau, mengolah penghayatan nilai-nilai itu menjadi kesadaran dalam jiwanya. Dan bila perkembangannya berlanjut maka kesadaran itu akan bergerak menjadi perilaku nyata. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Para hadirin yang baik..&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pemberdayaan sastra sebagai “pembelaan” terhadan Tuhan juga bisa diarahkan kepada (alamat-alamat) Tuhan. Tuhan Yang Mahabijaksana tentu mahatahu bahwa kita adalah ciptaan yang begitu lemah dan nisbi. Oleh karena kita tidak akan mampu mencapai Dirinya Yang Mahakuat dan Mutlak. Maka dengan kasih-sayang-Nya, Tuhan ‘menuliskan alamat-alamant-Nya’ di bumi yang bisa dan mudah kita capai. Demikian, maka orangtua kita, kaum miskin, anak yatim, mereka yang tertindas adalah orang-orang yang pantas kita yakini menjadi “alamat-alamat” Tuhan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
(Kita juga percaya tentang &amp;nbsp;adanya percakapan antara seorang penghuni neraka yang bertanya. “Ya Tuhan, mengapa aku Engkau masukkan ke dalam neraka ini?” dan Tuhan menjawab, “Karena kamu tidak menjenguk ketika Aku sakit.” Si penghuni neraka bertanya lagi, “Bagaimana Engkau Yang Mahakuasa sakit?” Tuhan menjawab, “Tetanggamu yang sakit, dan kau tidak menjenguknya.”)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Istilah ‘tetangga yang sakit” tentu bisa ditafsir secara lebih luas menjadi orang-orang di sekeliling kita yang menderita, baik secara badani, batini, maupun sosial. Mereka bisa berwujud sebagai kaum gelandangan, anak-anak yang tak sempat bersekolah, mereka yang dihukum secara zalim dan sebagainya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dan sastra yang bertanggung jawab kepada keadaban punya kewajiban membela mereka. Tentu sesuai dengan kodratnya, pembelaan yang yang bisa dilakukan oleh sastra terhadap “Aku yang sakit” yakni kaum miskin, mereka yang tertindas, dan sebagainya, adalah pembelaan yang bersifat moral-sastrawi. Demikian, karena sastra tidak punya kekuatan apapun kecuali sesuatu yang diharapkan bisa menyentuh kesadaran dan jwa manusia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hadirin yang mulia..&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Karya sastra hanya bisa dilahirkan oleh mereka yang lebih dulu telah cukup membaca. Dan tentu bukan suatu kebetulan bila membaca merupakan perintah pertama Tuhan dalam kitab suci kita: “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan ...”.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sasaran apakah kiranya yang diperintahkan Tuhan untuk dibaca oleh manusia?&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tentu bukan hanya kitab melainkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi yang semuanya adalah milik Tuhan semata. Orang Minang bilang, alam takambang jadi guru, orang Jawa bilang, meguru maca sastra kang gumelar. Kedua ungkapan itu mempunyai maksud yang sama, bahwa manusia diperintahkan membaca seluruh ciptaan Tuhan yang ada di langit dan di bumi. Karena, tidak ada kesia-siaan dalam penciptaan setiap makhluk; semuanya hadir membawa bukti-bukti kebesarannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bila manusia &amp;nbsp;membaca dengan nama Tuhan terhadap sasaran yang baik maupun sasaran buruk, dia akan mendapat berkah ilmu dan kearifan. Membaca sejarah atau perilaku orang baik akan didapat pengetahuan dan kesadaran untuk menirunya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sebaliknya, membaca dengan nama Tuhan perilaku orang-orang yang mungkar maka akan dapat pengetahuan dan kesadaran untuk tidak menolaknya. Bahkan pembacaan yang ikhlas atas benda-benda yang kotor pun kita akan sampai kepada tanda-tanda kebesaran Tuhan. Misalnya, di bawah lensa mikroskop kita akan melihat kehidupan mahluk ciptaan Tuhan yang berwujud jutaan bakteria dalam secuil tinja manusia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hadirin yang terhormat...&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam pengalaman pribadi sebagai sastrawan, saya pernah menghadapi kondisi batin yang berat yakni ketika hendak menulis novel Ronggeng Dukuh Paruk pada tahun 1980.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Novel tersebut menceritakan kehidupan seorang ronggeng yang dituduh terlibat dalam pemberontakan PKI tahun 1965. Dua kata kunci “ronggeng” dan “PKI” adalah dua hal &amp;nbsp;yang sering dianggap berada di luar batas wilayah kesantrian dari mana saya berasal. Selain itu, hal-hal yang berbau PKI adalah isu yang amat sensitif pada era Suharto terutama di mata aparat keamanan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Maka ketika novel ini selesai terbit pada tahun 1984, sebagian masyarakat menanggapinya dengan bertanya bernada menggugat, mengapa sasaran yang saya pilih adalah dunia ronggeng, yang terlibat PKI pula? Ya, semua orang tahu ronggeng adalah perempuan penari kesenian radisi yang mengobral birahi. Maka pantas para santri dicegah untuk menjauhinya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tetapi pada sisi lain, sejak saya masih ingusan dan ikut tahlilan selalu dibacakan ayat, “Kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi..”.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Maka saya pun berpikir dan percaya perwujudan ronggeng pun merupakan gejala &amp;nbsp;yang harus dibaca (dengan nama Allah); dari mana, bagaimana, mengapa. Dengan demikian &amp;nbsp;kita bisa menyikapinya dengan pengetahuan cukup.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hadirin yang saya muliakan...&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mulai tahun 1960 PKI mulai membangun kekuatan fisik untuk melakukan makar. Di daerah saya, Banyumas, mereka membentuk kekuatan bersenjata di bawah tanah. Pasukan ini sering melakukan perampokan untuk merampas harta sekaligus menciptakan kerawanan sosial. Kurang ajarnya mereka mengaku sebagai pasukan DI/TII ketika melakukan penggarongan dan pembunuhan. Kami baru tahu siapa mereka sebenarnya setelah mereka tertangkap. Di antara pasukan yang mengaku DI/TII itu ada guru saya yang menjadi aktivis PKI.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam dunia sastra, saya membaca karya-karya penulis kiri di Harian Bintang Timur dan Harian Rakyat serta buletin Indonesia Baru. Mereka suka sekali menista para tokoh agama; terutama kiai dan haji. Keluarga kami sendiri dinistakan oleh Barisan Tani Indonesia (di bawah PKI) sebagai tuan tanah dan setan desa yang harus diganyang hanya karena kami memiliki 1,5 hektar sawah. Maka tak kurang-kurang rasa sakit saya karena ulah orang-orang komunis.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Maka saya senang ketika PKI ternyata kalah dalam kudeta tahun 1965. Tetapi kemudian saya melihat gejala yang luar biasa. Rumah mereka dibakar massa. Bahkan mereka ditembak mati di depan umum, di depan mata saya. Di seluruh Indonesia ratusan ribu dibunuh. Keluarga mereka dilucuti hak-hak sipilnya hingga tiga atau empat generasi. Ini gejala kemanusiaan yang dahsyat, dan muncul pertanyaan dalam jiwa saya; apakah kekejaman massif ini tidak melanggar keadaban? Dan, bagaimana saya harus memahami sabda Tuhan bahwa Dirinya adalah Zat Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Demikian, maka dalam novel RDP terasa ada empati saya terhadap mereka, terutama terhadap orang-orang biasa yang dibunuh karena dituduh terlibat PKI. Dalam keyakinan saya, empati ini adalah pembelaan terhadap keadaban yang menjadi amanat Tuhan. Sayangnya, pihak aparat keamanan memandang sikap saya ini sebagai bukti kedekatan saya dengan kaum komunis sehingga saya diinterograsi selama lima hari di Jakarta. Lima hari yang berat. Untung pada hari kelima ada interogrator yang bertanya kepada saya, adakah orang yang bisa menjamin bahwa saya bukan simpatisan komunis.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pertanyaan tersebut terasa indah di telinga saya. Maka kemudian saya menulis sebuah nama dengan nomor telponnya. Saya menyilakan para interogrator menghubungi si empunya. Nama yang saya tulis: Abdurrahman Wahid.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mereka ternyata membeku saja, dan saya boleh pulang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hadirin yang saya hormati...&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Saya mengakhiri pidato ini dengan permohonan ampunan kepada Tuhan atas segala kesalahan saya, serta permohonan maaf kepada para hadirin atas segala kelancangan saya. Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jakarta, 28 Maret 2014,&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ahmad Tohari&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;i&gt;Dikutip dari nu.or.id&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://ahmadtoharisociety.blogspot.com/2014/12/pidato-membela-dengan-sastra.html</link><author>noreply@blogger.com (Mas Nunu)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjBo7qwg_cjX0g8I_IytfiwhrGZsQRawJZW2Vy6xaBtcqQBK5pOU0_pm4TV-D5VHbd5hUC8VpcijyhiCdRTyCO8GOfuE3gg3X1OlbiJjq-KjHb-uLdIDwyGJdJtBFWA1rnveTf7yX2-G1ZL/s72-c/1396057667.JPG" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3238030562185134049.post-5711732497912796320</guid><pubDate>Tue, 26 Feb 2013 07:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-03-27T16:25:44.679-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Berita</category><title>Ahmad Tohari tidak Suka Ngapak-Ngapak Banyumas!</title><description>
&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEirOO_o0WkADK82yUp-wPLkBh8xU9dmxi1Bqeedouj_bWA2dx2hJN6NgIW6zMAhsBi8FjSVgS15cKjNeFZTCDM92IOp85DP-21pfki9xkPwQIvpvjscFXmIFvkI6pouufxZ4Su-bKw8AuRo/s1600/aku.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em; text-align: justify;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEirOO_o0WkADK82yUp-wPLkBh8xU9dmxi1Bqeedouj_bWA2dx2hJN6NgIW6zMAhsBi8FjSVgS15cKjNeFZTCDM92IOp85DP-21pfki9xkPwQIvpvjscFXmIFvkI6pouufxZ4Su-bKw8AuRo/s1600/aku.jpg" height="240" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Wasis Darmadi – Penyiar Radio Pop FM&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Teman Reporter dari Banyumas TV BBM ke saya; hari ini Ahmad Tohari jadi Pembicara di Acara Dialog Pemuda Menyambut Pemilukada Banyumas di Gedung Korpri. Teman saya itu tahu saya terobsesi untuk bertemu dengan Ahmad Tohari. Oke! Kali ini saya tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan untuk bertemu dengan Ahmad Tohari!&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sebenarnya tidak susah untuk bertemu dengan Ahmad Tohari, Budayawan, Orang Tua Kandung Srintil Sang Penari Ronggeng Dukuh Paruk. Saya kerja di salah satu media di Purwokerto dan Ahmad Tohari tingggal di Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas. Tidak sampai sejam untuk sampai ke rumahnya. Yang jadi masalah, saya sibuk, Pak Ahmad Tohari lebih sibuk lagi! Belum tentu saya ke rumah Pak Tohari beliau ada di rumah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bahkan Pak Tohari sudah di depan mata saya pun belum tentu bertemu. Beneran. Saya sudah meliput acara di mana Pak Tohari hadir, tapi kesempatan untuk bertemu belum juga diijinkan Tuhan. Pertama waktu Pak Tohari diundang di peletakan batu pertama salah satu Mall di Purwokerto, lalu saat Pak Tohari jadi Pembicara yang diselenggarakan MPR RI di Hotel Horison, dan terakhir saat Pak Tohari jadi pembicara di Seminar Bahasa Banyumas.&lt;/div&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tapi saya gagal menemui Pak Ahmad Tohari, macam macamlah penyebabnya. Karena Pak Ahmad Tohari meninggalkan tempat acara tanpa sepengetahuan saya, atau acara terlalu lama hingga saya gantian yang terpaksa harus meninggalkan acara karena harus liputan di tempat lain.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tapi kali ini TIDAK! Saya HARUS bertemu dengan Pak Ahmad Tohari. Saya sudah lama mengidolakan beliau. Saya sudah sejak SMP membaca karya-karyanya. Ronggeng Dukuh Paruk dan Triloginya. Bekisar Merah. Kumpulan Cerpen Senyum Karyamin. Saya juga menonton film SANG PENARI. Sampai berkali-kali, malah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Saya bagai terbang menuju ke tempat acara. Tidak lupa saya bawa buku SENYUM KARYAMIN untuk dibubuhi tanda tangannya. Saya bersabar untuk mengikuti acara dialog yang diselenggarakan Mahasiswa STAIN Purwokerto.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Begitu acara selesai saya dengan sok akrab mendekati Pak Ahmad Tohari yang masih duduk di Mimbar. Saya menyalaminya, lalu menyodorkan buku Senyum Karyamin meminta tanda tangan, Pak Ahmad Tohari menyambut ramah. Sangat ramah malah. Setelah selesai membubuhkan tanda tangan di buku saya dan juga beberapa mahasiswi STAIN, saya meminta foto bersama.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Wah, kayak artis saja minta foto-foto….” &amp;nbsp;itu komentar Pak Ahmad Tohari.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Selesai foto-foto saya tetap mengikuti Pak Ahmad Tohari keluar dari ruangan. Nah, saat saya bertanya begini; ’saya penyiar dan reporter radio di Radio Pop yang siarannya gaya ngapak-ngapak Banyumas….’ tidak saya duga tiba-tiba Pak Ahmad Tohari menghentikan langkahnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Saya tidak suka dengan sebutan NGAPAK-NGAPAK buat istilah Bahasa Banyumas. Itu penghinaan terhadap Bahasa Banyumas. Karena apa? Kata NGAPAK-NGAPAK itu memang seloroh buat orang Jakarta atau luar daerah yang bermaksud untuk mengolok-ngolok bahasa kita yang didengarnya kasar….”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Saya manggut-manggut saja. Antara tidak enak mengatakan kata ‘ngapak-ngapak’ dan membuat Pak Ahmad Tohari tiba-tiba bereaksi, juga antara tidak menyangka kata-kata yang keluar bermaksud untuk membuka percakapan direspon Pak Ahmad Tohari.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tidak hanya ketersinggungan soal kata ‘NGAPAK-NGAPAK’ tapi juga soal Bahasa Banyumas yang setiap dilontarkan oleh komedian, artis, penyiar di Ibukota jadi bahan ketawaan. Jadi bahan untuk memancing tawa malah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lalu sebelum sampai mobil Pak Ahmad Tohari bicara soal Film Ronggeng Dukuh Paruk yang diubah judulnya jadi SANG PENARI. Padahal pada era 80-an buku Ronggeng Dukuh Paruk pernah difilmkan dengan Ray Sahetapy jadi Rasus saat itu dan Eni Betrix jadi Srintil, tapi Pak Ahmad Tohari kecewa dengan film pertama itu….&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Kalau SANG PENARI? Yang beda banget dengan bukunya?” tanya saya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pak Ahmad Tohari mengacungkan jempol lalu buru-buru masuk mobil karena sudah ditunggu untuk Rapat Redaksi Majalah ANCHAS, di Majalah Bulanan berbahasa Banyumas itu Pak Ahmad Tohari adalah Kepala Redaksinya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sumber: artikel di Kompasiana.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://ahmadtoharisociety.blogspot.com/2013/02/ahmad-tohari-tidak-suka-ngapak-ngapak.html</link><author>noreply@blogger.com (Mas Nunu)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEirOO_o0WkADK82yUp-wPLkBh8xU9dmxi1Bqeedouj_bWA2dx2hJN6NgIW6zMAhsBi8FjSVgS15cKjNeFZTCDM92IOp85DP-21pfki9xkPwQIvpvjscFXmIFvkI6pouufxZ4Su-bKw8AuRo/s72-c/aku.jpg" width="72"/><thr:total>6</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3238030562185134049.post-7886302853396488318</guid><pubDate>Thu, 14 Feb 2013 21:07:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-03-27T16:28:02.478-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Opini</category><title>Sisi Lain Sosok Ahmad Tohari</title><description>
&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiwjNbPxKpu2qKmWOLfdtPGFizNCUv3NukHk4L-b4psdrowA2TVyUuERm7ME_CooArt886fUr4b1VLzDykM2ZrVqQ4KjZXa8UxnokFLHX_XZU0rYy_u5wHCvwjCyb62c60fspwkr8rC13kN/s1600/ahmad-tohari1.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; display: inline !important; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em; text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiwjNbPxKpu2qKmWOLfdtPGFizNCUv3NukHk4L-b4psdrowA2TVyUuERm7ME_CooArt886fUr4b1VLzDykM2ZrVqQ4KjZXa8UxnokFLHX_XZU0rYy_u5wHCvwjCyb62c60fspwkr8rC13kN/s1600/ahmad-tohari1.jpg" height="191" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Nama Ahmad Tohari sebagai seorang sastrawan sudah lama dikenal. Kreativitas dan produktivitasnya dalam berkarya sungguh layak dikagumi. Puluhan novel, ratusan cerpen, dan berbagai tulisan genre nonfiksi sudah lahir dari tangannya. Sosok Ahmad Tohari sesungguhnya tak hanya menarik dibicarakan berdasarkan karya-karyanya, tetapi juga kesantunan dan kesederhanaan gaya hidupnya. Ia dikenal sangat alergi terhadap simbol-simbol feodalisme dan kapitalisme yang konon sudah demikian kuat membelit sendi-sendi kehidupan bangsa. Sungguh beruntung saya bersama beberapa pengurus Agupena Jawa Tengah yang lain bisa sedikit ngobrol dengan novelis trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Jentera Bianglala, dan Lintang Kemukus Dini Haridi sela-sela acara menjelang seminar nasional yang digelar di LPMP Semarang pada hari Kamis, 25 Juni 2009, itu.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Saya sangat marah ketika pembangunan hanya menguntungkan segelintir orang saja. Sebagian kemarahan saya tercermin dalam novel Blantik itu,” katanya. Lebih lanjut, sastrawan yang sering disapa dengan “Ramane Srintil” itu mempertanyakan tentang keadiluhungan budaya Jawa yang gencar digembar-gemborkan itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Adiluhung yang mana? Bisakah itu disebut adilihung kalau dibangun berdasarkan nilai-nilai feodalisme yang justru mematikan hak rakyat kecil dalam memperjuangkan eksistensi hidupnya!” ungkapnya dengan nada getir. Dalam masyarakat Jawa, katanya, dikenal strata berlapis tujuh yang menunjukkan status sosial seseorang. Hal itu terlihat dari undha-usuking bahasa, mulai dari sapaan “Sampeyan Dalem” sampai “Kowe”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Sekadar untuk menyampaikan pendapat saja kepada “Sampeyan Dalem”, orang Jawa yang menduduki strata “kowe” harus melewati tujuh lapis. Kapan rakyat kecil bisa memiliki kedudukan yang egaliter?” tanyanya sambil mengernyitkan dahi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ya, ya, ya, begitulah sisi lain yang tampak jelas tercermin di balik sosoknya yang bersahaja. Kang Tohari bisa demikian marah dan geram ketika menyaksikan wong cilik diperlakukan secara tidak adil. Dia tak hanya sekadar beretorika, tetapi benar-benar menyatu dan meleburkan hidupnya di tengah-tengah kehidupan wong cilik. Tak heran kalau dia tetap merasa betah dan nyaman hidup di desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, yang jauh dari ingar-bingar dan dinamika masyarakat urban.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam menggelar perhelatan pernikahan putri bungsunya, dokter Din Alfina binti Ahmad Tohari dan Wiwid Ardhianto SE pun, sejak Jumat hingga Minggu (21/6), Kang Tohari sengaja mengambil tema “Kembali ke Kampung” yang menggambarkan “pemberontakan kultural” terhadap menguatnya akar feodalisme dan kapitalisme itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sebagaimana dilaporkan Suara Merdeka, Kang Tohari sengaja membuat setting perhelatan pernikahan dalam nuansa kampung orang gaplek. Tamu yang hadir silih berganti mengaku gumun memasuki halaman belakang rumah yang menjadi panggung utama dalam pagelaran mantenan itu. Pelataran belakang rumah yang sekaligus menjadi halaman musala Al Hidayah itu disulap menjadi suatu perkampungan, seperti tergambar dalam novel masterpiece Tohari itu. ”Kiye tah mantene wong gaplek (Ini dia perkawinan orang gaplek),” seru Edhi Romadhon, penggerak Komunitas Gethek.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tohari lantas menunjukkan sekumpulan ketela pohon yang sudah dikupas dan disebar di atap rumah welit (atap ilalang) yang menjadi tempat pengantin jejer. Singkong yang dibiarkan terkena hujan dan panas selama berbulan-bulan itulah yang disebut gaplek. Di masa paceklik, singkong yang sudah ditumbuhi jamur itu jadi makanan pokok warga. Cermin kemiskinan itu selaras dengan gubuk bambu yang dinaunginya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Seperti seniman lain saat punya gawe, suami Samsiah yang kerap disapa kiai ini rupanya juga sedang bermain simbol. Selain gaplek, tamu-tamu juga tercengang ketika mantenan ini menampilkan apa-apa yang serba ndesa.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
”Suasana ini menjadi akar budaya saya, termasuk orang-orang yang kini sudah keluar dari kemiskinan. Sambil mantenan, sah-sah saja dong saya mengajak mereka untuk mengingat orang yang masih kelaparan, di tengah kebahagiaan kita,” kata Tohari.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hmmm … Begitulah sisi lain sosok Ahmad Tohari yang tidak hanya gencar menyuarakan nasib wong cilik yang terpinggir dan dipinggirkan ke dalam teks sastra, tetapi juga menyelaraskan dan menyatukan “darah kehidupan”-nya di tengah-tengah kehidupan wong cilik yang kesrakat dan bersahaja. Meminjam istilah Bakdi Sumanto, Ahmad Tohari bisa dibilang sebagai seorang resi yang “tapa ngrame”, bertapa di tengah keramaian kehidupan rakyat kecil yang sederhana, jauh dari hiruk-pikuk kehidupan modern dan kosmopolit yang sejatinya dengan mudah bisa dia nikmati dalam kemegahan yang sarat dengan sentuhan gebyar duniawi dan godaan nilai-nilai hedonisme. ***&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sumber: www.sawali.info&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://ahmadtoharisociety.blogspot.com/2013/02/sisi-lain-sosok-ahmad-tohari.html</link><author>noreply@blogger.com (Mas Nunu)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiwjNbPxKpu2qKmWOLfdtPGFizNCUv3NukHk4L-b4psdrowA2TVyUuERm7ME_CooArt886fUr4b1VLzDykM2ZrVqQ4KjZXa8UxnokFLHX_XZU0rYy_u5wHCvwjCyb62c60fspwkr8rC13kN/s72-c/ahmad-tohari1.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3238030562185134049.post-4070284143881890450</guid><pubDate>Thu, 14 Feb 2013 11:30:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-03-27T16:28:33.924-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Berita</category><title>Ahmad Tohari, Editor Banyumasan</title><description>
&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj3J0zZ6QNIM9TCQtsJXpq9KHb6RzNrjh7-q1I0fGX4hd1yW1lz7-47Y7DLqXTYjSY8_cclrYyCNC81GjSWKUZMK9LoekZy3xHwDxb-GGaalbs6oF___KPLfiZmX4OkRCyL0qKxKaV39E6O/s1600/ahmad+tohari.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj3J0zZ6QNIM9TCQtsJXpq9KHb6RzNrjh7-q1I0fGX4hd1yW1lz7-47Y7DLqXTYjSY8_cclrYyCNC81GjSWKUZMK9LoekZy3xHwDxb-GGaalbs6oF___KPLfiZmX4OkRCyL0qKxKaV39E6O/s1600/ahmad+tohari.jpg" height="200" width="144" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Pengarang novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari (64), kini menghadapi tantangan baru dalam dunia tulis menulis. Kini dia diberi kepercayaan menjadi editor sekaligus penyelaras bahasa untuk penerbit Al Qur’an dalam dialek Banyumas.&lt;/div&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Saat ditemui seusai Sarasehan Budaya Banyumasan di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Jawa Tengah, pekan lalu, pria kelahiran desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Banyumas, tersebut mengaku sudah hampir setahun terakhir berkutat dalam kesibukan baru itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sekarang saya merasakan sulitnya jadi editor. Apalagi mengedit untuk sebuah kitab suci. “Satu persatu ayat harus saya cari makna dan konteksnya”, ujar peraih Southeast Asian Writers Award pada 1995 tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Penerjemah Al Qur’an dalam dialek bayumasan itu merupakan program Kementrian Agama dan ditargetkan selesasi akhir 2013. Selain dialek banyumasan ayat-ayat Al Qur’an juga diterjemahkan dalam sejumlah bahasa ibu di tanah air, seperti bahasa jawa, bugis, dan sunda.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Tentunya banyak perdebatan dalam proses pengeditan . Sebab tidak semua anggota tim editing memahami bahasa banyumas”, ujar pria yang kini aktif mengasuh tabloid Ancas yang merupakan tabloid berbahasa banyumasan itu. []&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sumber: Kompas, 18 Januari 2013 halaman 32.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://ahmadtoharisociety.blogspot.com/2013/02/ahmad-tohari-editor-banyumasan.html</link><author>noreply@blogger.com (Mas Nunu)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj3J0zZ6QNIM9TCQtsJXpq9KHb6RzNrjh7-q1I0fGX4hd1yW1lz7-47Y7DLqXTYjSY8_cclrYyCNC81GjSWKUZMK9LoekZy3xHwDxb-GGaalbs6oF___KPLfiZmX4OkRCyL0qKxKaV39E6O/s72-c/ahmad+tohari.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item></channel></rss>