<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>Akhlak Seorang Muslim</title><description>“(Perbuatan) kebajikan (berasal) dari akhlak yang baik, sedang dosa-dosa adalah segala sesuatu yang menyesakkan dadamu dan engkau enggan bila manusia mengetahuinya.” — H.R. Muslim</description><managingEditor>noreply@blogger.com (Amzan)</managingEditor><pubDate>Tue, 24 Sep 2024 19:29:16 +0700</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">61</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>http://akhlakulkariimah.blogspot.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>“(Perbuatan) kebajikan (berasal) dari akhlak yang baik, sedang dosa-dosa adalah segala sesuatu yang menyesakkan dadamu dan engkau enggan bila manusia mengetahuinya.” — H.R. Muslim</itunes:subtitle><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><title>Celaan Dengan Sebutan Binatang</title><link>http://akhlakulkariimah.blogspot.com/2014/03/celaan-dengan-sebutan-binatang.html</link><category>akhlak</category><category>Muslim beradab</category><category>Nasihat</category><author>noreply@blogger.com (Amzan)</author><pubDate>Fri, 21 Mar 2014 06:22:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4988947874884367427.post-1926850406790278675</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiC2-B_y_zSQUt2FLRWkmrDuYPlWdEcDJuOwWDYdEKJ4yCy59z1unuZqFOy307uYXoB9mKF9vmNIfgtfYd8_BbuxgwAdV398wq3fvgVKGV2WgsaN_ZFYw2nur07_fIq05hFK5-saPYUrLE/s1600/Facebook_like_thumb.png" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiC2-B_y_zSQUt2FLRWkmrDuYPlWdEcDJuOwWDYdEKJ4yCy59z1unuZqFOy307uYXoB9mKF9vmNIfgtfYd8_BbuxgwAdV398wq3fvgVKGV2WgsaN_ZFYw2nur07_fIq05hFK5-saPYUrLE/s1600/Facebook_like_thumb.png" height="171" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Ibrahim An Nakha’i rahimahullah mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كَانُوا يَقُولُونَ: إِذَا قَالَ الرَّجُلُ لِلرَّجُلِ: يَا حِمَارُ، يَا كَلْبُ، يَا خِنْزِيرُ؛ قَالَ اللَّهُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: أَتَرَانِي خَلَقْتُ كَلْبًا أَوْ حِمَارًا أَوْ خِنْزِيرًا؟&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“mereka (para tabi’in) dahulu mengatakan, jika seseorang mencela orang lain dengan perkataan ‘wahai keledai‘, ‘wahai anjing‘, ‘wahai babi‘ maka kelak Allah akan bertanya kepadanya di hari kiamat: ‘apakah engkau melihat Aku menciptakan (dia) sebagai anjing atau keledai atau babi?’” (diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf 5/238)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sa’id bin Al Musayyab rahimahullah mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَا تَقُلْ لِصَاحِبِكَ: يَا حِمَارُ، يَا كَلْبُ، يَا خِنْزِيرُ. فَيَقُولَ لَكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: أَتُرَانِي خُلِقْتُ كَلْبًا أَوْ حِمَارًا أَوْ خِنْزِيرًا؟&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan engkau berkata kepada temanmu ‘wahai keledai‘, ‘wahai anjing‘, ‘wahai babi‘. Sehingga kelak di hari kiamat engkan akan ditanya:  ’apakah engkau melihat aku diciptakan sebagai anjing atau keledai atau babi?’” (diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf 5/282)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An Nawawi rahimahullah dalam kitab Al Adzkar (365) mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ومن الألفاظ المذمومة المستعملة في العادة قوله لمن يخاصمه: يا حمار، يا تيس، يا كلب، ونحو ذلك، فهذا قبيح لوجهين: أحدهما: أنه كذب. والآخر: أنه إيذاء&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“diantara lafadz yang tercela yang biasa digunakan orang untuk mencela orang yang berselisih denganya adalah perkataan ‘wahai keledai‘, ‘wahai kambing‘, ‘wahai anjing‘ atau semacamnya. Perkataan ini tercela dari 2 sisi: (1) itu merupakan dusta (2) itu merupakan gangguan terhadap orang lain”&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiC2-B_y_zSQUt2FLRWkmrDuYPlWdEcDJuOwWDYdEKJ4yCy59z1unuZqFOy307uYXoB9mKF9vmNIfgtfYd8_BbuxgwAdV398wq3fvgVKGV2WgsaN_ZFYw2nur07_fIq05hFK5-saPYUrLE/s72-c/Facebook_like_thumb.png" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Kaya Dengan atau Tanpa Harta, Bisa?</title><link>http://akhlakulkariimah.blogspot.com/2013/08/kaya-dengan-atau-tanpa-harta-bisa.html</link><category>Nasihat</category><category>Tazkiyatun Nafs</category><author>noreply@blogger.com (Amzan)</author><pubDate>Wed, 14 Aug 2013 20:17:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4988947874884367427.post-7792537771316157050</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
بسم الله الرحمن الرحيم&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://www.ilawati-apt.com/wp-content/uploads/2012/03/bercita_cita_menjadi_kaya.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://www.ilawati-apt.com/wp-content/uploads/2012/03/bercita_cita_menjadi_kaya.jpg" width="198" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Kalau pertanyaan berikut diajukan kepada kita: mau jadi orang kaya atau miskin? Tentu mayoritas, atau bahkan semua akan memilih jadi orang kaya. Pilihan ini wajar karena kekayaan identik dengan kebahagiaan, kecukupan dan ketenangan hidup, sementara tentu tidak ada seorangpun yang ingin hidupnya sengsara.&lt;br /&gt;
Akan tetapi permasalahan yang sebenarnya adalah dengan apa orang menjadi kaya sehingga dia bisa hidup tenang dan berkecukupan? Apakah dengan harta benda atau pangkat dan jabatan duniawi semata?&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Jawabannya pasti: tidak, karena kenyataan di lapangan membuktikan bahwa banyak orang yang memiliki harta berlimpah dan jabatan yang tinggi tapi hidupnya jauh dari kebahagiaan dan digerogoti berbagai macam penyakit kronis yang bersumber dari hati dan pikirannya yang tidak pernah tenang.&lt;br /&gt;
Kalau demikian, dengan apakah seorang manusia bisa meraih kekayaan, kecukupan dan kebahagiaan hidup sejati?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Temukan jawaban pertanyaan di atas dalam hadits berikut ini::&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan (yang hakiki) adalah kekayaan/kecukupan (dalam) jiwa (hati)”1.&lt;br /&gt;
Inilah jawaban dari hadits Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam yang merupakan wahyu Allah Ta’ala Pencipta alam semesta beserta isinya, termasuk jiwa dan raga manusia. Dialah Yang Maha Mengetahui tentang segala keadaan manusia, tidak terkecuali sebab yang bisa menjadikan mereka meraih kekayaan, kecukupan dan kebahagiaan hidup sejati.&lt;br /&gt;
Maha benar Allah Ta’ala yang berfirman:&lt;br /&gt;
أَلا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ&lt;br /&gt;
“Bukankah Allah yang menciptakan (alam semesta beserta isinya) maha mengetahui (segala sesuatu)? Dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui” (QS al-Mulk:14).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits ini merupakan argumentasi kuat, ditambah bukti nyata di lapangan, yang menunjukkan bahwa kekayaan dan kecukupan dalam hati merupakan sebab kebahagiaan hidup manusia lahir dan batin, meskipun orang tersebut tidak memiliki harta yang berlimpah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging, jika segumpal daging itu baik maka akan baik seluruh tubuh manusia, dan jika segumpal daging itu buruk maka akan buruk seluruh tubuh manusia, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati manusia”2.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, kekayaan yang sejati adalah iman kepada Allah Ta’ala dan ridha terhadap segala ketentuan dan pemberian-Nya, ini akan melahirkan sifat qana’ah (selalu merasa cukup dengan rezki yang diberikan Allah Ta’ala).&lt;br /&gt;
Inilah sifat yang akan membawa keberuntungan besar bagi hamba di dunia dan akhirat. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Sungguh sangat beruntung seorang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rizki yang secukupnya dan Allah menganugrahkan kepadanya sifat qana’ah (merasa cukup dan puas) dengan rezki yang Allah Ta’ala berikan kepadanya”3.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang dijelaskan dalam hadits ini tidaklah mengherankan, karena arti “kaya” yang sesungguhnya adalah merasa cukup dan puas dengan apa yang dimiliki, adapun orang yang tidak pernah puas dan selalu rakus mencari tambahan, meskipun hartanya berlimpah, maka sungguh inilah kemiskinan yang sejati, karena kebutuhannya tidak pernah tercukupi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Ibnu Baththal berkata: “Makna hadits di atas: Bukanlah kekayaan yang hakiki (dirasakan) dengan banyaknya harta, karena banyak orang yang Allah jadikan hartanya berlimpah tidak merasa cukup dengan pemberian Allah tersebut, sehingga dia selalu bekerja keras untuk menambah hartanya dan dia tidak perduli dari manapun harta tersebut berasal (dari cara yang halal atau haram). Maka (dengan ini) dia seperti orang yang sangat miskin karena (sifatnya) yang sangat rakus. Kekayaan yang hakiki adalah kekayaan (dalam) jiwa (hati), yaitu orang yang merasa cukup, qana’ah dan ridha dengan rezki yang Allah limpahkan kepadanya, sehingga dia tidak (terlalu) berambisi untuk menambah harta (karena dia telah merasa cukup) dan tidak ngotot mengejarnya, maka dia seperti orang kaya”4.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, kemiskinan yang sebenarnya adalah sifat rakus dan ambisi yang berlebihan untuk menimbun harta serta tidak pernah merasa cukup dengan pemberian Allah Ta’ala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Padahal kalau saja seorang manusia mau berpikir dengan jernih dan merenungkan, apakah kerakusan dan ketamakannya akan menjadikan rezki yang telah Allah Ta’ala tetapkan baginya bisa bertambah dan semakin luas? Tentu saja tidak, karena segala sesuatu yang telah ditetapkan-Nya tidak akan berubah, bertambah atau berkurang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan lebih dari itu, justru kerakusan dan ambisi yang berlebihan mengejar perhiasan dunia, itulah yang akan menjadikannya semakin menderita dan sengsara. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)nya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya)”5.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesimpulannya, orang yang paling kaya adalah orang yang paling qana’ah (selalu merasa cukup dengan rezki yang diberikan Allah ) dan ridha dengan segala pembagian-Nya. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “…Ridhalah (terimalah) pembagian yang Allah tetapkan bagimu maka kamu akan menjadi orang yang paling kaya (merasa kecukupan)”6.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga tulisan ini bermanfaat untuk semua orang yang membaca dan merenungkannya.&lt;br /&gt;
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kota Kendari, 29 Rabi’ul awal 1434 H&lt;br /&gt;
_________________________________________&lt;br /&gt;
1 HSR al-Bukhari (no. 6081) dan Muslim (no. 1051).&lt;br /&gt;
2 HSR al-Bukhari (no. 52) dan Muslim (no. 1599).&lt;br /&gt;
3 HSR Muslim (no. 1054).&lt;br /&gt;
4 Kitab “Tuhfatul ahwadzi” (7/35).&lt;br /&gt;
5 HR Ibnu Majah (no. 4105), Ahmad (5/183), ad-Daarimi (no. 229), Ibnu Hibban (no. 680) dan lain-lain dengan sanad yang shahih, dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, al-Bushiri dan syaikh al-Albani.&lt;br /&gt;
6 HR at-Tirmidzi (no. 2305) dan Ahmad (2/310), dinyatakan hasan oleh syaikh al-Albani.&lt;br /&gt;
—&lt;br /&gt;
Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA.&lt;br /&gt;
Artikel Muslim.Or.Id&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari artikel 'Kaya Dengan Atau Tanpa Harta, Bisa? — Muslim.Or.Id'&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total></item><item><title>Datangnya Sifat Malas</title><link>http://akhlakulkariimah.blogspot.com/2013/08/datangny-sifat-malas.html</link><category>akhlak</category><category>Nasihat</category><category>Tazkiyatun Nafs</category><author>noreply@blogger.com (Amzan)</author><pubDate>Wed, 14 Aug 2013 20:14:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4988947874884367427.post-2709133177527240990</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://indoblog.co/wp-content/uploads/2013/03/Lagi-Males.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="107" src="http://indoblog.co/wp-content/uploads/2013/03/Lagi-Males.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Setiap muslim ada yang mengalami masa semangat dan ada yang mengalami rasa malas. Namun ada rasa malas yang tercela dan ada yang masih terpuji. Dan rasa malas yang datang ini sifatnya naluri yang bisa jadi ditemukan ketika beramal atau ketika kita belajar ilmu diin.&lt;br /&gt;
Setiap Orang Bisa Futur (Kendor Semangat)&lt;br /&gt;
عَنْ مُجَاهِدٍ قَالَ دَخَلْتُ أَنَا وَيَحْيَى بْنُ جَعْدَةَ عَلَى رَجُلٍ مِنَ الأَنْصَارِ مِنْ أَصْحَابِ الرَّسُولِ قَالَ ذَكَرُوا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَوْلاَةً لِبَنِى عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ إِنَّهَا قَامَتِ اللَّيْلَ وَتَصُومُ النَّهَارَ. قَالَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لَكِنِّى أَنَا أَنَامُ وَأُصَلِّى وَأَصُومُ وَأُفْطِرُ فَمَنِ اقْتَدَى بِى فَهُوَ مِنِّى وَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى فَلَيْسَ مِنِّى إِنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةً ثُمَّ فَتْرَةً فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى بِدْعَةٍ فَقَدْ ضَلَّ وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى سُنَّةٍ فَقَدِ اهْتَدَى »&lt;br /&gt;
Dari Mujahid, ia berkata, aku dan Yahya bin Ja’dah pernah menemui salah seorang Anshor yang merupakan sahabat Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata,&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;para sahabat Rasul membicarakan bekas budak milik Bani ‘Abdul Muthollib. Ia berkata bahwa ia biasa shalat malam (tanpa tidur) dan biasa berpuasa (setiap hari tanpa ada waktu luang untuk tidak puasa). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Akan tetapi aku tidur dan aku shalat malam. Aku pun puasa, namun ada waktu bagiku untuk tidak berpuasa. Siapa yang mencontohiku, maka ia termasuk golonganku. Siapa yang benci terhadap ajaranku, maka ia bukan termasuk golonganku. Setiap amal itu ada masa semangat dan ada masa malasnya. Siapa yang rasa malasnya malah menjerumuskan pada bid’ah, maka ia sungguh telah sesat. Namun siapa yang rasa malasnya masih di atas ajaran Rasul, maka dialah yang mendapat petunjuk.” (HR. Ahmad 5: 409).&lt;br /&gt;
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّهُ تَزَوَّجَ امْرَأَةً مِنْ قُرَيْشٍ فَكَانَ لاَ يَأْتِيهَا كَانَ يَشْغَلُهُ الصَّوْمُ وَالصَّلاَةُ فَذَكَرَ ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ « صُمْ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ ». قَالَ إِنِّى أُطِيقُ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ فَمَا زَالَ بِهِ حَتَّى قَالَ لَهُ « صُمْ يَوْماً وَأَفْطِرْ يَوْماً ». وَقَالَ لَهُ « اقْرَإِ الْقُرْآنَ فِى كُلِّ شَهْرٍ ». قَالَ إِنِّى أُطِيقُ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ قَالَ « اقْرَأْهُ فِى كُلِّ خَمْسَ عَشْرَةَ ». قَالَ إِنِّى أُطِيقُ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ قَالَ « اقْرَأْهُ فِى كُلِّ سَبْعٍ ». حَتَّى قَالَ « اقْرَأْهُ فِى كُلِّ ثَلاَثٍ ». وَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَةً وَلِكُلِّ شِرَةٍ فَتْرَةً فَمَنْ كَانَتْ شِرَتُهُ إِلَى سُنَّتِى فَقَدْ أَفْلَحَ وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَقَدْ هَلَكَ »&lt;br /&gt;
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata bahwa ia telah menikahi wanita dari Quraisy, namun ia tidaklah mendatanginya (menyetubuhinya) karena sibuk puasa dan shalat (malam). Lalu ia menceritakan hal ini kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau bersabda, “Berpuasalah setiap bulannya selama tiga hari.” “Aku mampu lebih daripada itu”, jawabnya. Lalu ia terus menjawab yang sama sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan padanya, “Puasalah sehari dan tidak berpuasa sehari.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berkata padanya, “Khatamkanlah Al Qur’an dalam sebulan sekali.” “Aku mampu lebih daripada itu”, jawabnya. Kalau begitu kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Khatamkanlah Al Qur’an setiap 15 hari.” “Aku mampu lebih daripada itu”, jawabnya. Kalau begitu kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Khatamkanlah Al Qur’an setiap 7 hari.” Lalu ia terus menjawab yang sama sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Khatamkanlah setiap 3 hari.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Ingatlah setiap amalan itu ada masa semangatnya. Siapa yang semangatnya dalam koridor ajaranku, maka ia sungguh beruntung. Namun siapa yang sampai futur (malas) hingga keluar dari ajaranku, maka dialah yang binasa.” (HR. Ahmad 2: 188. Sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim, demikian kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth)&lt;br /&gt;
عَنْ جَعْدَةَ بن هُبَيْرَةَ ، قَالَ : ذُكِرَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَوْلًى لِبَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ يُصَلِّي وَلا يَنَامُ ، وَيَصُومُ وَلا يُفْطِرُ ، فَقَالَ : ” أَنَا أُصَلِّي وَأَنَامُ ، وَأَصُومُ وَأُفْطِرُ ، وَلِكُلِّ عَمِلٍ شِرَّةٌ ، وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةٌ ، فَمَنْ يَكُنْ فَتْرَتُهُ إِلَى السُّنَّةِ ، فَقَدِ اهْتَدَى ، وَمَنْ يَكُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ ، فَقَدْ ضَلَّ “.&lt;br /&gt;
Dari Ja’dah bin Hubairah, ia berkata bahwa disebutkan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai bekas budak milik Bani ‘Abdul Muthollib, ia shalat (malam) namun tidak tidur. Ia puasa setiap hari, tidak ada waktu kosong untuk tidak puasa. Lalu Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku sendiri shalat (malam) namun aku tetap tidur. Aku puasa, namun lain waktu aku tidak berpuasa. Ingatlah, setiap amal itu pasti ada masa semangatnya. Dan setiap masa semangat itu pasti ada masa futur (malasnya). Barangsiapa yang kemalasannya masih dalam sunnah (petunjuk) Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, maka dia berada dalam petunjuk. Namun barangsiapa yang keluar dari petunjuk tersebut, sungguh dia telah menyimpang.” (HR. Thobroni dalam Al Mu’jam Al Kabir 2: 284. Ja’dah bin Hubairah dalam riwayat ini diperselisihkan apakah ia seorang sahabat. Riwayat ini mursal sebagaimana ta’liq atau komentar Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam musnad Imam Ahmad 5: 409)&lt;br /&gt;
Beberapa riwayat di atas menunjukkan bahwa setiap orang akan semangat dalam sesuatu, dan waktu ia kendor semangatnya. Dan di antara sebab mudah futur (malas dalam ibadah) adalah karena terlalu berlebihan dalam suatu amalan. Sehingga sikap yang bagus adalah pertengahan dalam amalan atau belajar, tidak meremehkan dan tidak berlebihan.&lt;br /&gt;
—&lt;br /&gt;
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari artikel 'Datangnya Sifat Malas — Muslim.Or.Id'&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Tata Cara Shalat Malam dan Witir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam</title><link>http://akhlakulkariimah.blogspot.com/2013/07/tata-cara-shalat-malam-dan-witir-nabi.html</link><category>Dunia Islam</category><category>Ibadah</category><category>Ilmu</category><category>Ramadhan</category><category>Sunnah</category><author>noreply@blogger.com (Amzan)</author><pubDate>Mon, 8 Jul 2013 05:50:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4988947874884367427.post-6339627102256792915</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://pengasuhanakyatim.com/99/wp-content/uploads/2012/12/sujud-baju-biru.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="128" src="http://pengasuhanakyatim.com/99/wp-content/uploads/2012/12/sujud-baju-biru.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Tarawih merupakan bentuk jamak dari kata tarwihah. Secara bahasa berarti jalsah (duduk). Kemudian perbuatan duduk pada bulan Ramadhan setelah selesai shalat malam 4 rakaat disebut tarwihah; karena dengan duduk itu orang-orang bisa beristirahat setelah lama melaksanakan qiyam Ramadhan.&lt;/div&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menegakkan Shalat malam atau tahajud atau tarawih dan shalat witir di bulan Ramadhan merupakan amalan yang sunnah. Bahkan orang yang menegakkan malam Ramadhan dilandasi dengan keimanan dan mengharap pahala dari Allah akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sebagaimana dalam hadits shahih yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
«مَنْ قاَمَ رَمَضَانَ إِيـْمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ »&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Siapapun yang menegakkan bulan Ramadhan dengan keimanan dan mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Muslim 1266)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada asalnya shalat sunnah malam hari dan siang hari adalah satu kali salam setiap dua rakaat. Berdasarkan keterangan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah shalat malam itu?” Beliau menjawab:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
« مَثْنىَ مَثْنىَ فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ »&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Dua rakaat – dua rakaat. Apabila kamu khawatir mendapati subuh, maka hendaklah kamu shalat witir satu rakaat.” (HR. Bukhari)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu yang lain dikatakan:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
« صَلاَةُ اللَّيْلِ وَ النَّهَارِ رَكْعَتَانِ رَكْعَتَانِ »&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Shalat malam hari dan siang hari itu dua rakaat – dua rakaat.” (HR Ibn Abi Syaibah) (At-Tamhiid, 5/251; Al-Hawadits, 140-143; Fathul Bari’ 4/250; Al-Muntaqo 4/49-51)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Maka jika ada dalil lain yang shahih yang menerangkan berbeda dengan tata cara yang asal (dasar) tersebut, maka kita mengikuti dalil yang shahih tersebut. Adapun jumlah rakaat shalat malam atau shalat tahajud atau shalat tarawih dan witir yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah lebih dari 11 atau 13 rakaat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Shalat tarawih dianjurkan untuk dilakukan berjamaah di masjid karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melakukan hal yang sama walaupun hanya beberapa hari saja. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits dari Nu’man bin Basyir rahimahullah, ia berkata:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Kami melaksanakan qiyamul lail bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada malam 23 Ramadhan sampai sepertiga malam. Kemudian kami shalat lagi bersama beliau pada malam 25 Ramadhan sampai separuh malam. Kemudian beliau memimpin lagi pada malam 27 Ramadhan sampai kami menyangka tidak akan sempat mendapati sahur.” (HR. Nasa’i, Ahmad, Al-Hakim, Shahih)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Beserta sebuah Hadits dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu dia berkata:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kami puasa tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memimpin kami untuk melakukan shalat (tarawih) hingga Ramadhan tinggal tujuh hari lagi, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami kami shalat sampai lewat sepertiga malam. Kemudian beliau tidak keluar lagi pada malam ke enam (tinggal 6 hari lagi – pent). Dan pada malam ke lima (tinggal 5 hari – pent) beliau memimpin shalat lagi sampai lewat separuh malam. Lalu kami berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Seandainya engkau menambah lagi untuk kami sisa malam kita ini?’, maka beliau bersabda:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
« مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتىَّ يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ »&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Barang siapa shalat tarawih bersama imam sampai selesai maka ditulis baginya shalat malam semalam suntuk.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kemudian beliau tidak memimpin shalat lagi hingga Ramadhan tinggal tiga hari. Maka beliau memimpin kami shalat pada malam ketiga. Beliau mengajak keluarga dan istrinya. Beliau mengimami sampai kami khawatir tidak mendapatkan falah. Saya (perowi) bertanya ‘apa itu falah?’ Dia (Abu Dzar) berkata ‘sahur’. (HR. Nasa’i, Tirmidzi, Ibn Majah, Abu Daud, Ahmad, Shahih)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hadits itu secara gamblang dan tegas menjelaskan bahwa shalat berjamaah bersama imam dari awal sampai selesai itu sama dengan shalat sendirian semalam suntuk. Hadits tersebut juga sebagai dalil dianjurkannya shalat malam dengan berjamaah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bahkan diajurkan pula terhadap kaum perempuan untuk shalat tarawih secara berjamaah, hal ini sebagaimana yang diperintahkan oleh khalifah Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu yaitu beliau memilih Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu untuk menjadi imam untuk kaum lelaki dan memilih Sulaiman bin Abu Hatsmah radhiyallahu ‘anhu untuk menjadi imam bagi kaum wanita.&lt;/div&gt;
&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;
&lt;b&gt;Tata Cara Shalat Malam&lt;/b&gt;&lt;/h4&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Perlu kita ketahui bahwa tata cara shalat malam atau tarawih dan shalat witir yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu ada beberapa macam. Dan tata cara tersebut sudah tercatat dalam buku-buku fikih dan hadits. Tata cara yang beragam tersebut semuanya pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum. Semua tata cara tersebut adalah hukumnya sunnah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Maka sebagai perwujudan mencontoh dan mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka hendaklah kita terkadang melakukan cara ini dan terkadang melakukan cara itu, sehingga semua sunnah akan dihidupkan. Kalau kita hanya memilih salah satu saja berarti kita mengamalkan satu sunnah dan mematikan sunnah yang lainnya. Kita juga tidak perlu membuat-buat tata cara baru yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atau mengikuti tata cara yang tidak ada dalilnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Shalat tarawih sebanyak 13 rakaat dengan perincian sebagai berikut:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Beliau membuka shalatnya dengan shalat 2 rakaat yang ringan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kemudian shalat 2 rakaat dengan bacaan yang panjang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kemudian shalat 2 rakaat dengan bacaan tiap rakaat yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya hingga rakaat ke-12.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kemudian shalat witir 1 rakaat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Zaid bin Kholid al-Juhani, beliau berkata: “Sesungguhnya aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat malam, maka beliau memulai dengan shalat 2 rakaat yang ringan, Kemudian beliau shalat 2 rakaat dengan bacaan yang panjang sekali, kemudian shalat 2 rakaat dengan bacaan yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya, kemudian shalat 2 rakaat dengan bacaan yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya, kemudian shalat 2 rakaat dengan bacaan yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya, kemudian shalat 2 rakaat dengan bacaan yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya, kemudian shalat witir 1 rakaat.” (HR. Muslim)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Faedah, Hadits ini menjadi dalil bolehnya shalat iftitah 2 rakaat sebelum shalat tarawih.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Shalat tarawih sebanyak 13 rakaat dengan perincian sebagai berikut:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Melakukan shalat 8 rakaat dengan sekali salam setiap 2 rakaat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kemudian melakukan shalat witir langsung 5 rakaat sekali salam.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hal ini berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan Aisyah, beliau berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan tidur malam, maka apabila beliau bangun dari tidur langsung bersiwak kemudian berwudhu. Setelah itu beliau shalat delapan rakaat dengan bersalam setiap 2 rakaat kemudian beliau melakukan shalat witir lima rakaat yang tidak melakukan salam kecuali pada rakaat yang kelima.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Shalat tarawih sebanyak 11 rakaat dengan perincian sebagai berikut:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Melakukan shalat 10 rakaat dengan sekali salam setiap 2 rakaat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kemudian melakukan shalat witir 1 rakaat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan Aisyah, beliau berkata:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلّ الله عليه و سلّم يُصَلىِّ فِيْمَا بَيْنَ أَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلاَةِ الْعِشَاءِ – وَ هِيَ الَّتِي يَدْعُوْ النَّاسُ الْعَتَمَةَ – إِلىَ الْفَجْرِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، يُسَلَّمُ بَيْنَ كُلّ رَكْعَتَيْنِ وَيُوْتِرُ بِوَاحِدَةٍ&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat malam atau tarawih setelah shalat Isya’ – Manusia menyebutnya shalat Atamah – hingga fajar sebanyak 11 rakaat. Beliau melakukan salam setiap dua rakaat dan beliau berwitir satu rakaat.” (HR. Muslim)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Shalat tarawih sebanyak 11 rakaat dengan perincian sebagai berikut:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Melakukan shalat 8 rakaat dengan sekali salam setiap 4 rakaat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kemudian shalat witir langsung 3 rakaat dengan sekali salam.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan dari Aisyah, beliau berkata:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
مَا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلّ الله عليه و سلّم يَزِيْدُ فِي رَمَضَانَ وَ لاَ فِي غَيْرِهِ إِحْدَ عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّى أَرْبَعًا، فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَ طُوْلَـهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَ طُوْلَـهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى ثَلاَثاً&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah bilangan pada bulan Ramadhan dan tidak pula pada bulan selain Ramadhan dari 11 Rakaat. Beliau shalat 4 rakaat sekali salam maka jangan ditanya tentang kebagusan dan panjangnya, kemudian shalat 4 rakaat lagi sekali salam maka jangan ditanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian shalat witir 3 rakaat.” (HR Muslim)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tambahan: Tidak ada duduk tahiyat awal pada shalat tarawih maupun shalat witir pada tata cara poin ini, karena tidak ada dalil yang menunjukkan hal tersebut. Bahkan ada larangan menyerupai shalat maghrib.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Shalat tarawih sebanyak 11 rakaat dengan perincian sebagai berikut:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Melakukan shalat langsung sembilan rakaat yaitu shalat langsung 8 rakaat, tidak duduk kecuali pada rakaat yang kedelapan tanpa salam kemudian berdiri 1 rakaat lagi kemudian salam.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kemudian shalat 2 rakaat dalam keadaan duduk.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan Aisyah, beliau berkata:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
كُناَّ نُعِدُّ لَهُ سِوَاكَهُ وَ طَهُوْرَهُ، فَيَـبْعَثُهُ اللهُ مَا شَاءَ أَنْ يَـبْعَثَهُ مِنَ الَّيْلِ، فَيَتَسَوَّكُ وَ يَتَوَضَأُ وَ يُصَلِى تِسْعَ رَكْعَةٍ لاَ يَـجْلِسُ فِيْهَا إِلاَّ فِي الثَّامِنَةِ فَيَذْكُرُ اللهَ وَ يَحْمَدُهُ وَ يَدْعُوْهُ، ثُمَّ يَنْهَضُ وَ لاَ يُسَلِّمُ ثُمَّ يَقُوْمُ فَيُصَلِّى التَّاسِعَةَ، ثُمَّ يَقْعُدُ فَيَذْكُرُ اللهَ وَ يَحْمَدُهُ وَ يَدْعُوْهُ ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيْمًا يُسْمِعْناَ ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ مَا يُسَلِمُ وَ هُوَ قَاعِدٌ (رواه مسلم)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Kami dahulu biasa menyiapkan siwak dan air wudhu untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, atas kehendak Allah beliau selalu bangun malam hari, lantas tatkala beliau bangun tidur langsung bersiwak kemudian berwudhu. Kemudian beliau melakukan shalat malam atau tarawih 9 rakaat yang beliau tidak duduk kecuali pada rakaat yang kedelapan lantas membaca pujian kepada Allah dan shalawat dan berdoa dan tidak salam, kemudian bangkit berdiri untuk rakaat yang kesembilan kemudian duduk tahiyat akhir dengan membaca dzikir, pujian kepada Allah, shalawat dan berdoa terus salam dengan suara yang didengar oleh kami. Kemudian beliau melakukan shalat lagi 2 rakaat dalam keadaan duduk.” (HR. Muslim 1233 marfu’, mutawatir)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Faedah, Hadits ini merupakan dalil atas:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
-Bolehnya shalat lagi setelah shalat witir.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
-Terkadang Nabi shalat witir terlebih dahulu baru melaksanakan shalat genap.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
-Bolehnya berdoa ketika duduk tasyahud awal.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
-Bolehnya shalat malam dengan duduk meski tanpa uzur.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
-Shalat tarawih sebanyak 9 rakaat dengan perincian sebagai berikut:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
-Melakukan shalat dua rakaat dengan bacaan yang panjang baik dalam berdiri, ruku’ maupun sujud kemudian berbaring.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
-Setelah bangun kemudian shalat 2 rakaat lagi dengan bacaan yang panjang baik ketika berdiri, ruku’ maupun sujud kemudian berbaring.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
-Setelah bangun kemudian shalat 2 rakaat lagi dengan bacaan yang panjang baik ketika berdiri, ruku’ maupun sujud kemudian berbaring.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
-Setelah bangun shalat witir 3 rakaat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
…ثُمَّ قَامَ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ فَأَطَالَ فِيْهْمَا الْقِيَامَ وَ الرُّكُوْعَ وَ السُّجُوْدَ ثُمَّ انْصَرَفَ فَنَامَ حَتَّى نَفَغَ ثُمَّ فَعَلَ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ سِتُّ رَكَعَاتٍ كُلُّ ذَلِكَ يَشْتاَكُ وَ يَتَوَضَأُ وَ يَقْرَأُ هَؤُلاَءِ الآيَاتِ ثُمَّ أَوْتَرَ بِثَلاَثٍ&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“…Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri melakukan shalat 2 rakaat maka beliau memanjangkan berdiri, rukuk dan sujudnya dalam 2 rakaat tersebut, kemudian setelah selesai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbaring sampai mendengkur. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulangi hal tersebut sampai 3 kali sehingga semuanya berjumlah 6 rakaat. Dan setiap kali hendak melakukan shalat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersiwak kemudian berwudhu terus membaca ayat (Inna fii kholqis samawati wal ardhi wakhtilafil laili… sampai akhir surat) kemudian berwitir 3 rakaat.” (HR. Muslim)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
-Faedah, Hadits ini juga menjadi dalil kalau tidur membatalkan wudhu&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Shalat tarawih sebanyak 9 rakaat dengan perincian sebagai berikut:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Melakukan shalat langsung 7 rakaat yaitu shalat langsung 6 rakaat, tidak duduk kecuali pada rakaat yang ke-6 tanpa salam kemudian berdiri 1 rakaat lagi kemudian salam. Maka sudah shalat 7 rakaat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kemudian shalat 2 rakaat dalam keadaan duduk.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan Aisyah yang merupakan kelanjutan hadits no.5 beliau berkata:&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Maka tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah tua dan mulai kurus maka beliau melakukan shalat malam atau tarawih 7 rakaat. Dan beliau melakukan shalat 2 rakaat yang terakhir sebagaimana yang beliau melakukannya pada tata cara yang pertama (dengan duduk). Sehingga jumlah seluruhnya 9 rakaat.” (HR. Muslim 1233)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Disunnahkan pada shalat witir membaca surat “Sabbihisma…” pada rakaat yang pertama dan membaca surat al-Ikhlas pada rakaat yang kedua dan membaca surat al-Falaq atau an-Naas pada rakaat yang ketiga. Atau membaca surat “Sabbihisma…” pada rakaat yang pertama dan membaca surat al-Kafirun pada rakaat yang kedua dan membaca al-Ikhlas pada rakaat yang ketiga.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tata cara tersebut di atas semua benar. Boleh melakukan shalat malam atau tahajud atau tarawih dan witir dengan cara yang dia sukai, tetapi yang lebih afdhol adalah mengerjakan semua tata cara tersebut dengan berganti-ganti. Karena bila hanya memilih satu cara berarti menghidupkan satu sunnah tetapi mematikan sunnah yang lainnya. Bila melakukan semua tata cara tersebut dengan berganti-ganti berarti telah menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang banyak ditinggalkan oleh kaum Muslimin.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Adapun pada zaman Khalifah Umar radhiyallahu ‘anhu Kaum muslimin melaksanakan shalat tarawih sebanyak 11 rakaat, 13 rakaat, 21 rakaat dan 23 rakaat. Kemudian 39 rakaat pada zaman khulafaur rosyidin setelah Umar radhiyallahu ‘anhu tetapi hal ini khusus di Madinah. Hal ini bukanlah bid’ah (sehingga sama sekali tidak bisa dijadikan dalil untuk adanya bid’ah hasanah) karena para sahabat memiliki dalil untuk melakukan hal ini (shalat tarawih lebih dari 13 rakaat). Dalil tersebut telah disebutkan di atas ketika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang shalat malam, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
« مَثْنىَ مَثْنىَ فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ »&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Dua rakaat – dua rakaat. Apabila kamu khawatir mendapati subuh, maka hendaklah kamu shalat witir satu rakaat.” (HR. Bukhari)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada hadits tersebut jelas tidak disebutkan adanya batasan rakaat pada shalat malam baik di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan. Batasannya adalah datangnya waktu subuh maka diperintahkan untuk menutup shalat malam dengan witir.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Para ulama berbeda sikap dalam menanggapi perbedaan jumlah rakaat tersebut. Jumhur ulama mendekati riwayat-riwayat tersebut dengan metode al-Jam’u bukan metode at-Tarjih (Metode tarjih adalah memilih dan memakai riwayat yang shahih serta meninggalkan riwayat yang lain atau dengan kata lain memilih satu pendapat dan meninggalkan pendapat yang lain. Hal ini dipakai oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam menyikapi perbedaan jumlah rakaat ini. Metode al-Jam’u adalah menggabungkan yaitu memakai semua riwayat tanpa meninggalkan dan memilih satu riwayat tertentu. Metode ini dipilih oleh jumhur ulama dalam permasalahan ini). Berikut ini beberapa komentar ulama yang menggunakan metode penggabungan (al-Jam’u) tentang perbedaan jumlah rakaat tersebut:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Ia boleh shalat 20 rakaat sebagaimana yang masyhur dalam mazhab Ahmad dan Syafi’i. Boleh shalat 36 rakaat sebagaimana yang ada dalam mazhab Malik. Boleh shalat 11 dan 13 rakaat. Semuanya baik, jadi banyak atau sedikitnya rakaat tergantung lamanya bacaan atau pendeknya.” (Majmu’ al-Fatawa 23/113)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ath-Thartusi berkata: “Para sahabat kami (malikiyyah) menjawab dengan jawaban yang benar, yang bisa menyatukan semua riwayat. Mereka berkata mungkin Umar pertama kali memerintahkan kepada mereka 11 rakaat dengan bacaan yang amat panjang. Pada rakaat pertama imam membaca 200 ayat karena berdiri lama adalah yang terbaik dalam shalat. Tatkala masyarakat tidak kuat lagi menanggung hal itu maka Umar memerintahkan 23 rakaat demi meringankan lamanya bacaan. Dia menutupi kurangnya keutamaan dengan tambahan rakaat. Maka mereka membaca surat Al-Baqarah dalam 8 rakaat atau 12 rakaat.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Imam Malik rahimahullah berkata: “Yang saya pilih untuk diri saya dalam qiyam Ramadhan adalah shalat yang diperintahkan Umar yaitu 11 rakaat itulah cara shalat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun 11 dekat dengan 13.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Syaikh Abdul ‘Aziz bin Bazz berkata: “Sebagian mereka mengira bahwa tarawih tidak boleh kurang dari 20 rakaat. Sebagian lain mengira bahwa tarawih tidak boleh lebih dari 11 atau 13 rakaat. Ini semua adalah persangkaan yang tidak pada tempatnya, BAHKAN SALAH. Bertentangan dengan hadits-hadits shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan bahwa shalat malam itu muwassa’ (leluasa, lentur, fleksibel). Tidak ada batasan tertentu yang kaku yang tidak boleh dilanggar.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Adapun kaum muslimin akhir jaman di saat ini khususnya di Indonesia adalah umat yang paling lemah. Kita shalat 11 rakaat (Paling sedikit) dengan bacaan yang pendek dan ada yang shalat 23 rakaat dengan bacaan pendek bahkan tanpa tu’maninah sama sekali!!!&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Doa Qunut dalam Shalat Witir&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Doa qunut nafilah yakni doa qunut dalam shalat witir termasuk amalan sunnah yang banyak kaum muslimin tidak mengetahuinya. Karena tidak mengetahuinya banyak kaum muslimin yang membid’ahkan imam yang membaca doa qunut witir. Kadang-kadang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memakai qunut dalam shalat witir dan terkadang tidak. Hal ini berdasarkan hadits:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَقْنُتُ فِي رَكْعَةِ الْوِتْرِ&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang membaca qunut dalam shalat witir.” (HR. Ibnu Nashr dan Daraquthni dengan sanad shahih)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
يَجْعَلُهُ قَبْلَ الرُّكُوْعِ&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Beliau membaca qunut itu sebelum ruku.” (HR. Ibnu Abi Syaibah, Abu Dawud dan An-Nasa’i dalam kitab Sunanul Qubro, Ahmad, Thobroni, Baihaqi dan Ibnu ‘Asakir dengan sanad shahih)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Adapun doa qunut tersebut dilakukan setelah ruku’ atau boleh juga sebelum ruku’. Doa tersebut dibaca keras oleh imam dan diaminkan oleh para makmumnya. Dan boleh mengangkat tangan ketika membaca doa qunut tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di antara doa qunut witir yang disyariatkan adalah:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
« الَلَّهُمَّ اهْدِناَ فِيْمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِناَ فِيْمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّناَ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَباَرِكْ لَناَ فِيْماَ أَعْطَيْتَ، وَقِناَ شَرَّ ماَ قَضَيْتَ، فَإِنَّكَ تَقْضِى وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ، وَإِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّناَ وَتَعَالَيْتَ، لاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ »&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Maraji’:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Shohih Muslim&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Qiyaamur Ramadhan li Syaikh Al-Albanyrahimahullah&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sifat Tarawih Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sifat Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Majalah As-Sunnah Edisi 07/1424H/2003M&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tata Cara Shalat Malam Nabi oleh Ustadz Arif Syarifuddin, Lc.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Timika, 3 Ramadhan 1428 H&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
***&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Penulis: R. Handanawirya (Alumni Ma’had Ilmi)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Muroja’ah: Ustadz Aris Munandar&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Menyikapi Perselisihan Dalam Penentuan Awal Dan Akhir Ramadhan</title><link>http://akhlakulkariimah.blogspot.com/2013/07/menyikapi-perselisihan-dalam-penentuan.html</link><category>Dakwah</category><category>Dunia Islam</category><category>Ibadah</category><category>Ilmu</category><category>Ramadhan</category><author>noreply@blogger.com (Amzan)</author><pubDate>Sun, 7 Jul 2013 14:18:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4988947874884367427.post-1802365162678864044</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://www.antarasumbar.com/id/foto/fotoutama/210712122342_prosesi-melihat-bulan-iggoy-200712-2portal.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="196" src="http://www.antarasumbar.com/id/foto/fotoutama/210712122342_prosesi-melihat-bulan-iggoy-200712-2portal.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Di negeri yang kita cintai ini, hampir setiap tahunnya datangnya bulan suci Ramadhan dibarengi dengan adanya perselisihan diantara kaum muslimin mengenai penentuan awal dan juga akhir Ramadhan. Sebagian orang menggunakan metode ru’yatul hilal dan sebagian lagi lebih mempercayai hisab falaki atau perhitungan astronomis. Debat dan diskusi hampir selalu bergulir setiap tahunnya, bahkan lebih dari itu, sebagian orang menjadikan masalah ini sebagai patokan wala’ wal bara’, masing-masing mengunggulkan golongan dan ormasnya. Sebagiannya lagi menjadikan hal ini sebagai bahan pertengkaran dan caci-maki. Bagaimana sebenarnya sikap yang benar?&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3 style="text-align: left;"&gt;
&lt;b&gt;Mengenal Ijma’&lt;/b&gt;&lt;/h3&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelumnya membahas inti permasalahan, sudah semestinya kita membahas sedikit tenttang ijma’, karena memiliki kaitan erat dalam persoalan ini. Al Ijma’ (الإجماع) secara bahasa artinya kesepakatan. Sedangkan secara istilah,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
اتفاق مجتهدي عصرٍ من العصور من أمة محمد – صلى الله عليه وسلم – بعد وفاته على أمر ديني&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ijma’ adalah kesepakatan para ulama mujtahid dari beberapa generasi umat Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam setelah wafatnya beliau dalam masalah agama” (lihat Ma’alim Ushul Fiqh, 156).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para ulama sepakat bahwa ijma’ adalah hujjah (dalil ) dalam syari’at yang wajib diikuti dan diamalkan. Diantara dalil yang mendasari bahwa ijma’ adalah dalil diantaranya,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
firman Allah Ta’ala:&lt;br /&gt;
وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali” (QS. An Nisa: 115)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inti pendalilan dari ayat ini adalah pada kalimat وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ (dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin). Ibnu Katsir menyatakan: “sifat ini dengan sifat yang pertama (menentang rasul) saling berkonsekuensi. Namun yang termasuk dalam sifat ini terkadang bentuknya berupa penyelisihan terhadap nash syar’i atau terkadang berupa penyelisihan terhadap hal yang sudah disepakati oleh umat yang mengikut jalan Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam. Jika telah diketahui bahwa mereka bersepakat dalam suatu hal maka dalam kesepatakan itu ada al ishmah, yaitu kemustahilan dari kesalahan. Ini pemuliaan terhadap mereka dan pengagungan terhadap Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Hadits-hadits yang berbicara masalah ini banyak sekali…” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/412-413).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
firman Allah Ta’ala:&lt;br /&gt;
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بالله&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah” (QS. Al Imran: 110).&lt;br /&gt;
Allah Ta’ala menyifati umat Muhammad sebagai umat yang menyuruh pada semua kebaikan dan mengingkari semua kemungkaran. Jika umat ini bersepakat untuk menyatakan suatu kesesatan maka Allah tidak akan menyifati demikian. Sehingga apa-apa yang disepakati oleh umat ini adalah sebuah kebenaran. Selain itu umat ini juga tidak akan mungkin bersepakat dalam kesesatan (Ma’alim Ushul Fiqh, 161).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:&lt;br /&gt;
عليكمْ بالجماعةِ، وإياكم والفرقةَ، فإنَّ الشيطانَ مع الواحدِ وهو من الاثنينِ أبعدُ . من أراد بحبوحةَ الجنةِ فلْيلزمِ الجماعةَ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berpeganglah pada Al Jama’ah dan tinggalkan kekelompokan. Karena setan itu bersama orang yang bersendirian dan setan akan berada lebih jauh jika orang tersebut berdua. Barangsiapa yang menginginkan bagian tengah surga, maka berpeganglah pada Al Jama’ah” (HR. Tirmidzi no.2165, ia berkata: “Hasan shahih gharib dengan sanad ini”)&lt;br /&gt;
Hadits ini memerintahkan kita untuk berpegang pada Al Jama’ah. Dan diantara makna Al Jama’ah adalah kaum muslimin jika sepakat pada suatu perkara. Akan dirinci nanti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:&lt;br /&gt;
إن أمتي لا تجتمع على ضلالة&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sesungguhnya umatku tidak akan bersatu dalam kesesatan” (HR. At Tirmidzi 2166, ia berkata: ‘hasan gharib’).&lt;br /&gt;
Hadits ini jelas menunjukkan bahwa kesepakatan umat adalah kebenaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perihal ketetapan ijma’ sebagai dalil yang dipakai dalam syariat, cukup gamblang dan banyak dijelaskan di buku-buku ushul fiqih semua madzhab. Maka ijma adalah dalil, dan seorang mukmin tidak boleh menyelisihi dalil. Bahkan jika merujuk pada surat An Nisa ayat 115, keras sekali ancaman bagi orang yang menyelisihi ijma. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
وإذا ثبت إجماع الأمة على حكم من الأحكام لم يكن لأحد أن يخرج عن إجماعهم&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika telah diketahui secara valid bahwa umat ini menyepakati hukum suatu perkara, maka tidak diperkenankan bagi siapa pun untuk keluar dari ijma tersebut” (Majmu’ Fatawa 10/20, dinukil dari Ma’alim Ushul Fiqh, 173)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu apakah boleh ulama di zaman sekarang menyelisihi ijma para ulama terdahulu yang sudah disepakati? Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan menjawab: “hal-hal yang sudah terdapat ijma para ulama terdahulu tidak boleh diselisihi bahkan wajib berdalil dengannya. Adapun masalah-masalah yang belum ada ijma sebelumnya maka ulama zaman sekarang dapat ber-ijtihad dalam hal tersebut. Jika mereka bersepakat, maka kita bisa katakan bahwa ulama zaman sekarang telah sepakat dalam hal ini dan itu” (sumber lihat di sini).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3 style="text-align: left;"&gt;
&lt;b&gt;Para Ulama Ijma’ Mengenai Penentuan Awal Dan Akhir Ramadhan&lt;/b&gt;&lt;/h3&gt;
&lt;br /&gt;
Syariat telah menetapkan bahwa untuk menentukan awal dan akhir bulan Ramadhan itu dengan 2 cara: ru’yatul hilal atau menggenapkan Sya’ban 30 hari. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
صوموا لرؤيَتِهِ وأفطِروا لرؤيتِهِ ، فإنْ غبِّيَ عليكم فأكملوا عدةَ شعبانَ ثلاثينَ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berpuasalah karena melihatnya (hilal), berbukalah karena melihatnya (hilal), jika penglihatan kalian terhalang maka sempurnakan bulan Sya’ban jadi 30 hari” (HR. Bukhari 1909, Muslim 1081)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan para ulama telah ber-ijma’ bahwa dalam hal ini. Ibnu Hajar Al Asqalani dalam kitab beliau Fathul Baari (4/123) mengatakan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
وقال ابن الصباغ أما بالحساب فلا يلزمه بلا خلاف بين أصحابنا قلت ونقل بن المنذر قبله الإجماع على ذلك فقال في الأشراف صوم يوم الثلاثين من شعبان إذا لم ير الهلال مع الصحو لا يجب بإجماع الأمة&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ibnu As Sabbagh berkata: ‘Adapun metode hisab, tidak ada ulama mazhab kami (Maliki) yang membolehkannya tanpa adanya perselisihan’. Sebelum beliau, juga telah dinukil dari Ibnul Mundzir dalam Al Asyraf: ‘Puasa di hari ketiga puluh bulan Sya’ban tidaklah wajib jika hilal belum terlihat ketika cuaca cerah, menurut ijma para ulama’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa (25/132) berkata:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
فإنا نعلم بالاضطرار من دين الإسلام أن العمل في رؤية هلال الصوم أو الحج أو العدة أو الإبلاء أو غير ذلك من الأحكام المعلقة بالهلال بخبر الحاسب أنه يرى أو لا يرى لا يجوز . والنصوص المستفيضة عن النبي صلى الله عليه وسلم بذلك كثيرة . وقد أجمع المسلمون عليه . ولا يعرف فيه خلاف قديم أصلاً ولا خلاف حديث ؛ إلا أن بعض المتأخرين من المتفقهة الحادثين بعد المائة الثالثة زعم أنه إذا غم الهلال جاز للحاسب أن يعمل في حق نفسه بالحساب فإن كان الحساب دل على الرؤية صام وإلا فلا . وهذا القول وإن كان مقيداً بالإغمام ومختصاً بالحاسب فهو شاذ مسبوق بالإجماع على خلافه . فأما اتباع ذلك في الصحو أو تعليق عموم الحكم العام به فما قاله مسلم ا.هـ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita semua, secara gamblang sudah mengetahui bersama bahwa dalam Islam, penentuan awal puasa, haji, iddah, batas bulan, atau hal lain yang berkaitan dengan hilal, jika digunakan metode hisab dalam kondisi hilal terlihat maupun tidak, hukumnya adalah haram. Banyak nash dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang mendasari hal ini. Para ulama pun telah bersepakat akan hal ini. Tidak ada perselisihan diantara para ulama terdahulu maupun di masa sesudahnya, kecuali sebagian ulama fiqih mutaakhirin setelah tahun 300H yang menganggap bolehnya menggunakan hisab jika hilal tidak nampak, untuk keperluan diri sendiri. Menurut mereka, jika sekiranya perhitungan hisab sesuai dengan ru’yah maka mereka puasa, jika tidak maka tidak. Pendapat ini, jika memang hanya digunakan ketika hilal tidak nampak dan hanya untuk diri sendiri, ini tetaplah merupakan pendapat nyeleneh yang tidak teranggap karena sudah adanya ijma’. Adapun menggunakan perhitungan hisab secara mutlak, padahal cuaca cerah, dan digunakan untuk masyarakat secara umum, tidak ada seorang ulama pun yang berpendapat demikian”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu Hajar dalam Fathul Baari (4/127) juga mengatakan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
وقد ذهب قوم إلى الرجوع إلى أهل التسيير في ذلك وهم الروافض، ونقل عن بعض الفقهاء موافقتهم. قال الباجي: وإجماع السلف الصالح حجة عليهم ا.هـ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebagian orang ada yang merujuk pada para ahlut tas-yir (penjelajah) dalam masalah ini, yaitu kaum syi’ah rafidhah. Sebagian ahli fiqih pun ada yang membeo kepada mereka. Al Baaji berkata: ‘Ijma salafus shalih sudah cukup sebagai bantahan bagi mereka’”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan masih banyak nukilan ijma’ dalam mengenai hal ini. Menunjukkan bahwa masalah ini bukanlah masalah yang diperselisihkan para ulama, atau dengan kata lain bukan masalah khilafiyah diantara para ulama. Dengan demikian sebagaimana sudah dijelaskan di atas mengenai wajibnya berpegang pada ijma’, hendaknya setiap muslim tidak menyelisihi ijma’ para ulama dalam masalah penentuan awal dan akhir Ramadhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3 style="text-align: left;"&gt;
Perselisihan Itu Banyak, Solusinya Kembali Kepada Dalil&lt;/h3&gt;
&lt;br /&gt;
Ketahuilah bahwa khilafiyah (perselisihan) dalam masalah agama itu banyak, tidak hanya masalah penentuan awal Ramadhan saja. Dari segi siapa yang berselisih, khilafiyah dapat kita kelompokkan menjadi 2:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Khilafiyah diantara ulama.&lt;br /&gt;
Khilafiyah diantara orang awwam (umat secara umum)&lt;br /&gt;
Sehingga kita sering dapati masalah-masalah yang para ulama tidak berselisih tentangnya, namun orang-orang awam memperselisihkannya. Demikian juga masalah-masalah yang sudah terdapat dalil yang terang benderang, namun ternyata di tengah masyarakat menjadi perselisihan juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian masalah khilafiyah itu menjadi sangat banyak, karena bagi orang awam hampir tidak ada masalah yang lepas dari perselisihan. Bahkan perkara-perkara yang sudah diterima secara luas kebenarannya pun masih ada saja segelintir orang yang memperselisihkan. Contohnya mengenai wajibnya shalat dan wajibnya memakai jilbab, ada saja sebagian orang awam yang memperselisihkannya. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وإن عبدا حبشيا ، فإنه من يعش منكم بعدي فسيرى اختلافا كثيرا ، فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء المهديين الراشدين تمسكوا بها ، وعضوا عليها بًالنواجذ ، وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة ، وكل بدعة ضلالة&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah, juga agar mendengar dan taat kepada pemimpin walaupun ia budak Habasyah. Karena barangsiapa yang hidup sepeninggalku nanti akan melihat banyak perselisihan. Maka hendaknya kalian berpegang pada sunnah-ku dan sunnah Khulafa Ar Rasyidin yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Peganglah dengan erat-erat, gigitlah dengan gigi geraham. Dan hendaknya kalian menjauhi perkara yang diada-adakan, karena yang diada-adakan dalam agama itu bid’ah dan semua bid’ah itu sesat” (HR. Abu Daud, 4607, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 2735)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ternyata perselisihan yang banyak ini sudah dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, dan beliau sudah memberikan solusinya. Allah Ta’ala juga berfiman:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS. An Nisa: 59)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika demikian solusi yang ditawarkan oleh Allah dan Rasul-Nya ketika terjadi perselisihan yaitu :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kembali kepada Al Qur’an&lt;br /&gt;
Kembali kepada sunnah Nabi melalui hadits-haditsnya,&lt;br /&gt;
Kembali kepada pemahaman para Khulafa Ar Rasyidin dan juga para sahabat Nabi&lt;br /&gt;
Meninggalkan perkara bid’ah&lt;br /&gt;
Maka, terkait perselisihan kaum muslimin dalam masalah penentuan awal dan akhir Ramadhan, solusinya adalah kembali kepada dalil-dalil syar’i sesuai apa yang dipahami oleh para sahabat Nabi dan disepakati oleh para ulama Islam yang memerintahkan untuk menggunakan ru’yatul hilal dalam penentuan awal dan akhir ramadhan. Jadi, bukan kembali kepada keyakinan masing-masing, bukan kembali pada pendapat ormas, pendapat partai atau pendapat tokoh agama. Setiap mukmin hendaknya tasliim, menerima dengan lapang dada dalil-dalil yang telah ditetapkan syariat dalam masalah ini serta menerima dengan lapang dada ijma-nya para ulama Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3 style="text-align: left;"&gt;
Mentoleransi Semua Pendapat, Demi Persatuan?&lt;/h3&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagian orang mengajak kaum muslimin untuk tidak mengindahkan perselisihan yang ada dan lebih mengedepankan persatuan secara fisik. Dengan kata lain, mereka menginginkan apapun keyakinan dan penyimpangan yang ada di tengah kaum muslimin, entah benar atau salah, tidak perlu di gugat dan tidak perlu dipermasalahkan demi terciptanya persatuan secara fisik. Tentu bukan demikian persatuan yang diajarkan oleh Islam. Bahkan demikianlah persatuan ala Yahudi. Allah Ta’ala menceritakan tentang kaum Yahudi:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
بَأْسُهُمْ بَيْنَهُمْ شَدِيدٌ تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّى ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْقِلُونَ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah belah. &amp;nbsp;Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti” (QS. Al Hasyr: 14).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja persatuan secara fisik itu perlu dan penting. Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh” (QS. Ash Shaf: 4)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun persatuan yang Islami adalah persatuan yang di dalamnya ada sikap saling menasehati, karena Islam adalah agama nasehat dan mengajarkan untuk mengingkari kemungkaran. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ن رأى مِنكُم مُنكرًا فليغيِّرهُ بيدِهِ ، فإن لَم يَستَطِع فبِلسانِهِ ، فإن لم يستَطِعْ فبقَلبِهِ . وذلِكَ أضعَفُ الإيمانِ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Barangsiapa yang melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, jika tidak mampu maka dengan hatinya dan itulah selemah-lemahnya iman” (HR. Muslim 49)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Andai berbagai keyakinan batil dan penyimpangan syariat ditengah umat kita toleransi, tidak diingkari, tidak diperbaiki, demi persatuan secara fisik, maka mau kita kemanakan hadits Nabi yang mulia ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesama muslim adalah auliya bagi muslim yang lain. Namun renungkanlah firman Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi wali bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar” (Qs. At Taubah: 71)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Auliya dalam bentuk jamak dari wali (ولي) yaitu orang yang lebih dicenderungi untuk diberikan pertolongan, rasa sayang dan dukungan (Aysar At Tafasir, 305). Lihatlah dalam ayat ini, sesama muslim adalah auliya, namun mereka juga saling menyuruh pada yang ma’ruf dan mencegah pada yang munkar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengikuti Ijma Dan Taat Penguasa, Tuntutan Persatuan Kaum Muslimin&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Persatuan yang diajarkan Islam adalah bersatu dalam Al Jama’ah, yaitu bersatunya umat Islam dalam kebenaran. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عليكم بالجماعة ، وإياكم والفرقة ، فإن الشيطان مع الواحد وهو من الاثنين أبعد .من أراد بحبوحة الجنة فليلزم الجماعة .ن سرته حسنته وساءته سيئته فذلكم المؤمن&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berpeganglah pada Al Jama’ah dan tinggalkan kekelompokan. Karena setan itu bersama orang yang bersendirian dan setan akan berada lebih jauh jika orang tersebut berdua. Barangsiapa yang menginginkan bagian tengah surga, maka berpeganglah pada Al Jama’ah. Barangsiapa merasa senang bisa melakukan amal kebajikan dan bersusah hati manakala berbuat maksiat maka itulah seorang mu’min” (HR. Tirmidzi no.2165, ia berkata: “Hasan shahih gharib dengan sanad ini”)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al Jama’ah bukanlah nama sekte, nama ormas, nama partai atau madzhab tertentu. Sahabat Nabi, Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu’anhu, menafsirkan istilah Al Jama’ah:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
الجماعة ما وافق الحق وإن كنت وحدك&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Al Jama’ah adalah siapa saja yang sesuai dengan kebenaran walaupun engkau sendirian”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Dinukil dari Ighatsatul Lahfan Min Mashayid Asy Syaithan, 1/70)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan salah satu makna dan ciri dari Al Jama’ah adalah orang-orang yang mengikuti ijma’ dan bersatu dibawah penguasa kaum muslimin yang sah. Dengan kata lain, mengikuti ijma’ dan taat pada penguasa adalah tuntutan untuk mewujudkan persatuan yang benar. Ini dijelaskan oleh Imam Asy Syathibi rahimahullah: “Para ulama berbeda pendapat mengenai makna Al Jama’ah yang ada dalam hadits-hadits dalam lima pendapat:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
As sawadul a’zham dari umat Islam. Termasuk dalam makna ini para imam mujtahid, para ulama, serta ahli syariah yang mengamalkan ilmunya. Adapun selain mereka juga dimasukkan dalam makna ini karena diasumsikan hanya mengikuti orang-orang tadi”&lt;br /&gt;
Para imam mujtahid. Dalam makna ini, tidak termasuk orang-orang yang bukan imam mujtahid karena mereka hakikatnya adalah ahli taqlid. Maka barangsiapa yang beramal dengan keluar dari pendapat para imam mujtahid, lalu mati, maka matinya sebagai bangkai jahiliyah. Dalam makna ini tidak termasuk juga seorang pun dari ahlul bid’ah (artinya, adanya pendapat yang beda dari ahli bidah tidaklah mempengaruhi keabsahan ijma, ed).&lt;br /&gt;
Para sahabat Nabi saja. Makna ini sesuai dengan riwayat dari Nabi yang menafsirkan makna Al Jama’ah, yaitu:&lt;br /&gt;
ما أنا عليه وأصحابي&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa saja yang berpegang padaku dan para sahabatku”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umat Islam jika bersepakat dalam sebuah perkara (baca: ijma’). Maka wajib bagi orang-orang yang menyimpang untuk mengikuti mereka. Asy Syathibi lalu memberi catatan: “Makna ini sebenarnya kembali pada makna kedua (para imam mujtahid), dan berkonsekuensi sama seperti konsekuensi dari makna kedua. Atau kembali pada makna pertama, dan inilah yang lebih nampak. Dan secara makna pun, sama seperti makna pertama. Karena sudah pasti butuh peran para imam mujtahid di antara mereka barulah bisa terwujud umat tidak akan bersatu dalam kesesatan, bahkan merekalah golongan yang selamat”&lt;br /&gt;
Pendapat yang dipilih Imam Ath Thabari, yaitu bahwa Al Jama’ah adalah jama’ah kaum muslimin yang berkumpul di bawah pemerintahan. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan ummat untuk berpegang pada pemerintahnya dan melarang memecah belah apa yang telah dipersatukan oleh umat sebelumnya.&lt;br /&gt;
Dengan demikian, jika memang tulus ikhlas ingin mewujudkan persatuan kaum muslimin dan menjaga keutuhan kaum muslimin dalam masalah penentuan awal dan akhir Ramadhan, hendaknya kaum muslimin semuanya tasliim (berlapang dada) untuk mengikuti ijma’ ulama dalam masalah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu, hendaknya kaum muslimin mendengar dan taat kepada pemerintah kaum Muslimin yang sah selama dalam perkara yang ma’ruf. Dan alhamdulillah pemerintah kita dalam hal ini sejalan dengan ijma’ ulama. Dan para ulama juga menjelaskan bahwa penentuan awal dan akhir Ramadhan adalah urusan penguasa, keputusannya di tangan penguasa. Berdasarkan hadits:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالْأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hari puasa adalah hari ketika orang-orang berpuasa, Idul Fitri adalah hari ketika orang-orang berbuka, dan Idul Adha adalah hari ketika orang-orang menyembelih” (HR. Tirmidzi 632, Ad Daruquthni 385)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
As Sindi menjelaskan, “Nampak dari hadits ini bahwa urusan waktu puasa, lebaran dan idul adha, bukanlah urusan masing-masing individu, dan tidak boleh bersendiri dalam hal ini. Namun ini adalah urusan imam (pemerintah) dan al jama’ah. Oleh karena itu wajib bagi setiap orang untuk tunduk kepada imam dan al jama’ah dalam urusan ini. Dari hadits ini juga, jika seseorang melihat hilal namun imam menolak persaksiannya, maka hendaknya orang itu tidak menetapkan sesuatu bagi dirinya sendiri, melainkan ia hendaknya mengikuti al jama’ah” (Hasyiah As Sindi, 1/509). Silakan simak artikel ini untuk pemaparan lebih lengkapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;
Perselisihan bukan alasan untuk berbuat zhalim&lt;/h4&gt;
‘Ala kulli haal, apapun perselisihan yang terjadi di antara kaum muslimin, tidak dibenarkan menjadikannya alasan untuk berbuat zhalim. Misalnya dalam masalah penentuan awal dan akhir Ramadhan, walaupun telah jelas kesalahan sebagian orang yang menggunakan metode hisab falaki, tetap tidak dibenarkan berbuat kezhaliman kepada orang-orang yang berpendapat demikian. Ataupun sebaliknya, orang-orang yang menggunakan metode hisab falaki pun tidak boleh berbuat zhalim kepada selainnya. Zhalim itu haram hukumnya. Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Allah tidak mencintai orang-orang yang zhalim” (QS. Al Imran: 57)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah Ta’ala juga berfirman dalam sebuah hadits qudsi:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
يا عبادي ! إني حرَّمتُ الظلمَ على نفسي وجعلتُه بينكم محرَّمًا . فلا تظَّالموا&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wahai hamba-Ku, Aku haramkan bagiku kezhaliman, dan juga telah Aku jadikan itu haram bagi kalian. Maka janganlah kalian saling berbuat zhalim” (HR. Muslim 2577).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Zhalim artinya menempatkan sesuai bukan pada tempatnya, berbuat sesuatu tanpa hak. Yang termasuk perbuatan zhalim terkait masalah ini diantaranya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdebat kusir yang didasari fanatik golongan tanpa dasar ilmu agama&lt;br /&gt;
Saling mencela dan mencaci&lt;br /&gt;
Saling memboikot, tidak mau saling bicara, tidak mau saling bermuamalah&lt;br /&gt;
Saling bertengkar dan melukai&lt;br /&gt;
Atau bahkan saling mengkafirkan&lt;br /&gt;
Perselisihan, sebagaimana sudah dijelaskan, itu banyak dan banyak pula jenisnya. Ada perselisihan yang wajib ditoleransi masing-masing pendapatnya, ada pula perselisihan yang tidak bisa ditoleransi karena kebenarannya sudah jelas. Perselihan pun bertingkat-tingkat tingkat kesalahan dan tingkat pengingkarannya. Dan dalam semuanya itu tidak diperkenankan berbuat kezhaliman. Orang yang mempelajari ilmu agama dengan mendalam akan mengetahui bagaimana menyikapi suatu perselisihan dengan sikap yang benar dan porsi yang pas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hendaknya dalam perselisihan kita saling menasehati dengan mengedepankan kasih sayang, saling menginginkan kebaikan pada diri orang yang dinasehati. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabbmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. An-Nahl:125)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangankan dalam perselisihan masalah hilal-hisab yang notabene merupakan syubhat dikalangan orang pada umumnya, bahkan terhadap perkara-pekara yang jelas kebenaran pun semisal menasehati orang-orang yang meninggalkan shalat, tidak mau memakai jilbab, sering melakukan kesyirikan, sering melakukan kebid’ahan kita tetap mengedepankan cara-cara yang santun, penuh kasih sayang, dan menginginkan kebaikan atas mereka. Bukan cara-cara kasar, sembrono, yang menimbulkan pertikaian atau kezhaliman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
من أحب لله ، وأبغض لله ، وأعطى لله ، ومنع لله ، فقد استكمل الإيمان&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Orang yang yang mencintai sesuatu karena Allah, membenci sesuatu karena Allah, memberi karena Allah, melarang sesuatu karena Allah, imannya telah sempurna” (HR. Abu Daud no. 4681, di-shahih-kan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Boleh jadi dalam satu sisi kita membenci saudara kita karena satu hal, namun di sisi lain banyak hal-hal lain yang menjadi alasan kita untuk mencintainya. Boleh jadi kita membenci saudara kita karena penyimpangan dan kemungkaran yang ia lakukan, namun kita masih memiliki porsi cinta terhadapnya karena ia beriman kepada Allah, karena ibadahnya kepada Allah, karena ketaatannya dalam hal lain kepada Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga apa yang sedikit ini bermanfaat, semoga kaum muslimin tetap bersatu padu dalam kebenaran, saling mendukung dan menjunjung satu sama lain. Saling menopang dan bertumpu bagaikan satu jasad.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
مَثَلُ المُؤْمِنِيْنَ فِي تَوَادِّهِمْ وَ تَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الجَسَدِ إِذَا اشْتَكىَ مِنْهُ عُضْوٌ تًَدَاعَى سَائِرُ الجَسَدِ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kaum mukminin itu dalam masalah cinta dan kasih sayang mereka bagaikan satu jasad, apabila salah satu anggota badan merasa sakit, maka seluruh badan merasakannya“ (HR Muslim 2586).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wabillahit Taufiiq&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
—&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penulis: Yulian Purnama&lt;br /&gt;
Artikel Muslim.Or.Id&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Mengagungkan Masjid dan Hari Jum’at Dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam</title><link>http://akhlakulkariimah.blogspot.com/2013/07/mengagungkan-masjid-dan-hari-jumat.html</link><category>akhlak</category><category>Ibadah</category><category>Jumat</category><category>Muslim beradab</category><author>noreply@blogger.com (Amzan)</author><pubDate>Fri, 5 Jul 2013 06:47:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4988947874884367427.post-9095279676840920842</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg1NrVOnzXD2NsBv_CfisbMLjayMKzLin6aXiAfnvWR-Aycq4FLib55l78nR5VSnWICLGozRC1qJFZ0IZPqomWIZHWvUzwhopcIOzRKTeKepLvkIDmwGnQzle8b4lF2JSVNw6JGwM9wBQE0/s320/jumat.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="144" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg1NrVOnzXD2NsBv_CfisbMLjayMKzLin6aXiAfnvWR-Aycq4FLib55l78nR5VSnWICLGozRC1qJFZ0IZPqomWIZHWvUzwhopcIOzRKTeKepLvkIDmwGnQzle8b4lF2JSVNw6JGwM9wBQE0/s320/jumat.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
(oleh : Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan)&lt;br /&gt;
Takwa adalah sumber seluruh kebaikan sehingga orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang&lt;br /&gt;
yang menyibukkan dirinya dengan berbagai kebaikan, baik terkait dengan dirinya maupun orang lain. Termasuk kebaikan yang muncul dari ketakwaan adalah amalan yang mengagungkan syiar-syiar Allah Subhanahu wata’ala, sebagaimana firman-Nya,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ذَالِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَآءِرَ اللهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوْبِ۝&lt;br /&gt;
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (al-Hajj: 32)&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang perlu diperhatikan, mengagungkan syiar-syiar Islam harus dengan ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebab, amalan-amalan ini termasuk ibadah yang agung, yang tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu wata’ala selain dengan dua syarat tersebut. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
وَمَآ اُمِرُوْآ اِلَّا لِيَعْبُدُ اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ&lt;br /&gt;
“Padahal mereka tidak disuruh selain untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” (al-Bayyinah: 5)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,&lt;br /&gt;
مَنْ عَمِلَ عَمَ لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ&lt;br /&gt;
“Barang siapa melakukan sebuah amalan yang tidak ada perintah dari kami padanya, amalan itu tertolak.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengagungkan syiar-syiar Allah Subhanahu wata’ala bukan dengan cara-cara yang mengandung syirik, bid’ah, dan mungkar, seperti yang dilakukan oleh ahlul bid’ah dan mayoritas orang-orang jahil. Mereka ingin mengagungkan syiar-syiar Islam, namun dengan cara-cara yang mungkar. Na’udzubillah min dzalik. Allah Subhanahu wata’ala dengan keadilan dan hikmah-Nya yang sempurna menjadikan masjid-masjid dan hari Jumat sebagai bagian dari syiar-syiar yang mulia. Masjid adalah markas dakwah dan ibadah, sedangkan hari Jumat adalah hari raya kaum muslimin setiap pekan, dengan berbagai ibadah dan keutamaan-keutamaan yang khusus. Allah Subhanahu wata’ala mengabarkan kemuliaan masjid di dalam kitab-Nya,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
فِى بُيُوْتٍ اَذِنَ اللهُ اَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيْهَا السْمُهُ ۙ يُسَبِّحُ لَهُ فِيْهَا بِالْغُدُوِّ وَالْاٰصَالِ۝ رِجَالٌ لَاتُلْهِيْهِمْ تِجَا رَةٌ بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَاِقَامِ الصَّلٰوْةِ وَاِتَآءِ الزَّكٰوةِ ۙ يَخَافُوْنَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيْهِ الْقُلُوْبُ وَالْاَبْصَارُ۝&lt;br /&gt;
“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jualbeli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan(dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang.” (an-Nur : 36-37)&lt;br /&gt;
Allah Subhanahu wata’ala juga berfirman,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
مَاكَانَ لِلْمُشْرِكِيْنَ اَنْ يَعْمُرُوْا مَسَاجِدَاللهِ شَاهِدِيْنَ عَلٰى اَنْفُسِهِمْ بِالْكُفْرِ ۗ اُوْلٰئِكَ حَبِطَتْ اَعْمَالُهُمْ ۚ وَفِى النَّارِ هُمْ خَالِدُوْنَ۝اِنَّمَا يَعْمُرُمَسَاجِدَاللهِ مَنْ اٰمَنَ بِااللهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَاَقامَ الصَّلَاةَ وَاٰتى الزَّكٰوةَ وَلَمْ يَخْشَ اِلَّا اللهَ ۗ فَعَسٰى اُولٰئِكَ اَنْ يَكُوْنُوْا مِنَ الْمُهْتَدِيْنَ۝&lt;br /&gt;
“Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedangkan mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka. Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (at-Taubah: 17-18)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah Subhanahu wata’ala juga berfirman tentang ibadah yang khusus pada hari Jumat,&lt;br /&gt;
يَآاَيُّهَاالَّذِيْنَ ءٰمَنُوْآإِذَانُوْدِيَ لِلصَّلٰوةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا اِلٰى ذِكْرِ اللهِ وَذَرُواالْبَيْعَ ۗ ذٰالِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ اِنْكُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ۝&lt;br /&gt;
“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseur untuk menunaikan shalat pada hari Jumat, bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Hal itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”( al-Jumu’ah : 9 )&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun salah satu dalil yang menunjukkan bahwa hari Jumat adalah hari raya pekanan kaum muslimin adalah hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,&lt;br /&gt;
أَضَلَّ اللهُ عَنِ الْجُمُعَةِ مَنْ كَانَ قَبْلَنَا، فَكَانَ لِلْيَهُودِ يَوْمُ السَّبْتِ ، وَكَانَ لِلنَّصَارَ ى يَوْمُ الْأَحَدِ، فَجَاءَ اللهُ بِنَا فَهَدَانَا اللهُ لِيَوْمِ الْجُمُعَةِ&lt;br /&gt;
“Allah Subhanahu wata’ala menjadikan umat-umat sebelum kita tidak mengetahui keutamaan hari Jumat. Orang-orang Yahudi menjadikan hari raya pekanan pada hari Sabtu, sedangkan orang-orang Nasrani mendapatkan hari raya pekanan pada hari Ahad. Kemudian Allah menunjuki kita untuk memilih hari Jumat (sebagai hari raya pekanan).” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami akan menjelaskan beberapa hal terkait dengan tata cara mengagungkan masjid dan hari Jumat sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.&lt;br /&gt;
1. Mengagungkan dan memakmurkan masjid dengan membersihkannya dari berbagai kotoran dan hal-hal yang berbau tidak sedap, memberi pengharum ruangan setiap hari, terkhusus hari Jumat&lt;br /&gt;
a. Disunnahkan menyapu dan membersihkan masjid dari benda-benda najis dan menjijikkan, seperti kencing, kotoran manusia, ludah, ingus, dahak, dan lain-lain. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh beberapa hadits berikut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
• Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,&lt;br /&gt;
أَنَّ امْرَأَةً سَوْدَاءَ كَانَتْ تَقُمُّ الْمَسْجِدَ أَوْ شَابًّا فَفَقَدَهَا رَسُولُ اللهِ صل الله عليه وسلم فَسَأَلَ عَنْهَا أَوْ عَنْهُ فَقَالُوا: مَاتَ. قَالَ: أَفَ كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِي؟ قَالَ: فَكَأَنَّهُمْ صَغَّرُوا أَمْرَهَا أَوْ أَمْرَهُ. فَقَالَ: دُلُّونِي عَلَى قَبْرِهِ. فَدَلُّوهُ فَصَلَّى عَلَيْهَا ثُمَّ قَالَ: إِنَّ هَذِهِ الْقُبُورَ مَمْلُوءَةٌ ظُلْمَةً عَلَى أَهْلِهَا وَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُنَوِّرُهَا لَهُمْ بِصَ تَالِي عَلَيْهِمْ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seorang wanita hitam -atau seorang pemuda- yang biasa membersihkan (menyapu) masjid meninggal. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam merasa kehilangan sehingga bertanya tentangnya. Mereka menjawab, “Dia sudah meninggal.” Beliau berkata,“Mengapa kalian tidak memberitahukannya kepadaku?” Seakan-akan mereka menganggap kecil urusannya. Beliau berkata, “Tunjukkanlah kuburannya kepadaku!” Merekapun menunjukkan kuburannya lantas beliau menshalatkannya. Lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya kuburan-kuburan ini telah dipenuhi oleh kegelapan bagi para penghuninya, dan sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala meneranginya dengan sebab shalatku (ini) atas mereka.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asy-Syaikh bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Termasuk faedah hadits ini adalah bolehnya seorang wanita mengurusi kebersihan masjid dan hal ini tidak terbatas bagi kaum laki-laki saja. Bahkan, siapa saja yang mengharapkan pahala dengan membersihkan masjid, dia akan mendapatkannya. Sama saja, wanita itu sendiri yang membersihkannya atau dia menyuruh orang lain dan dia membayar upahnya.” (Syarh Riyadhus Shalihin, 2/29)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
• Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha,&lt;br /&gt;
أَنَّ رَسُولَ اللهِ صل الله عليه وسلم رَأَى فِي جِدَارِ الْقِبْلَةِ مُخَاطًا أَوْ بُصَاقًا أَوْ نُخَامَةً فَحَكَّهُ&lt;br /&gt;
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melihat ingus, ludah, atau dahak menempel ditembok masjid sebelah kiblat, maka beliau mengeriknya (membersihkannya).” (Muttafaqun ‘alaih)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
• Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,&lt;br /&gt;
الْبُزَاقُ فِي الْمَسْجِدِ خَطِيئَةٌ وَكَفَّارَتُهَا دَفْنُهَا&lt;br /&gt;
“Meludah di masjid adalah sebuah kesalahan dan penghapusnya adalah menimbunnya (membersihkannya).” (Muttafaqun alaih)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
• Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,&lt;br /&gt;
نَّ هَذِهِ الْمَسَاجِدَ تَصْلُحُ لِشَيْءٍ مِنْ هَذَا الْبَوْلِ وَ الْقَذَرِ، إِنَّمَا هِيَ لِذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالصَّ ةَالِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ&lt;br /&gt;
“Sesungguhnya, masjid ini tidak dibenarkan padanya air kencing dan kotoran, tetapi masjid-masjid itu hanyalah untuk dzikrullah, shalat, dan membaca al-Qur’an.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
b. Disunnahkan memberi wangi-wangian atau pengharum ruangan&lt;br /&gt;
Al-‘Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Disunnahkan member pengharum di dalam masjid karena Sa’id bin Manshur menyebutkan dari Nu’aim bin Abdillah al-Mujmir bahwa ‘Umar bin al-Khaththab menyuruh memberi pengharum masjid setiap hari Jumat ketika masuk siang hari.” (Zadul Ma’ad, 1/382)&lt;br /&gt;
2. Adab-adab sebelum dan ketika berangkat ke masjid&lt;br /&gt;
a. Mandi, bersiwak (menggosok gigi), dan memakai minyak wangi&lt;br /&gt;
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,&lt;br /&gt;
الْغُسْلُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ وَأَنْ يَسْتَنَّ وَأَنْ يَمَسَّ طِيبًا إِنْ وَجَدَ&lt;br /&gt;
“Mandi pada hari Jum’at hukumnya wajib bagi tiap orang yang sudah baligh, bersiwak (menggosok gigi), dan memakai minyak wangi apabila dia mendapatkannya.”&lt;br /&gt;
Oleh karena itulah, seorang yang hendak pergi ke masjid tidak boleh memakan dan meminum segala sesuatu yang berbau tidak sedap karena akan mengganggu orang lain, seperti bawang putih, bawang merah, daun bawang, dan lebih-lebih rokok. Sebab, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,&lt;br /&gt;
مَنْ أَكَلَ ثُومًا أَوْ بَصَ فَلْيَعْتَزِلْنَا-أَوْ قَالَ:فَلْيَعْتَزِلْ مَسْجِدَنَا&lt;br /&gt;
“Barangsiapa yang makan bawang putih atau bawang merah, hendaknya dia menjauhi kami atau menjauhi masjid kami.” (Muttafaqun alaih)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah berkhutbah pada hari Jumat dan berkata di dalam khutbahnya,&lt;br /&gt;
ثُمَّ إِنَّكُمْ أَيُّهَا النَّاسُ تَأْكُلُونَ شَجَرَتَيْنِ أَرَاهُمَا إِ خَبِيثَتَيْنِ هَذَا الْبَصَلَ وَالثُّومَ لَقَدْأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صل الله عليه وسلم إِذَا وَجَدَ رِيحَهُمَا مِنَ الرَّجُلِ فِي الْمَسْجِدِ أَمَرَ بِهِ فَأُخْرِجَ إِلَى الْبَقِيعِ فَمَنْ أَكَلَهُمَا فَلْيُمِتْهُمَا طَبْخًا&lt;br /&gt;
“Selanjutnya, kalian, wahai manusia, sungguh telah memakan dua buah tanaman yang tidaklah tampak olehku selain busuk (baunya), yaitu bawang merah dan bawang putih. Sungguh, aku melihat ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mendapati bau busuk keduanya dari seseorang di dalam masjid maka beliau memerintahkan agar orang itu dikeluarkan dari masjid hingga ke Baqi’. Oleh karena itu, barangsiapa ingin memakan keduanya, hendaknya ia menghilangkan bau busuknya dengan memasaknya terlebih dahulu.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun seorang muslimah yang ingin menghadiri shalat Jumat atau shalat berjamaah bersama kaum muslimin, tidak boleh memakai minyak wangi yang menyebabkan orang lain mencium bau wangi darinya sehingga akan menimbulkan godaan. Sebab, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,&lt;br /&gt;
إِذَا شَهِدَتْ إِحْدَاكُنَّ الْمَسْجِدَ فَ تَمَسَّ طِيبًا&lt;br /&gt;
“Apabila salah seorang diantara kalian para wanita ikut shalat berjamaah di masjid, janganlah memakai minyak wangi.” (HR. Muslim dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengancam seorang wanita yang memakai wangi lalu melewati kaum laki-laki agar mereka mencium bau wanginya dalam sabdanya,&lt;br /&gt;
إِذَا اسْتَعْطَرَتْ الْمَرْأَةُ فَمَرَّتْ عَلَى الْقَوْمِ لِيَجِدُوا رِيحَهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ&lt;br /&gt;
“Apabila seorang wanita memakai minyak wangi lalu dia melewati kaum laki-laki agar mereka mencium bau wanginya, dia adalah seorang pezina.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan an-Nasai)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
b. Dianjurkan memakai pakaian bersih yang bagus dan syar’i yang dimilikinya&lt;br /&gt;
Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu ‘anhu pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,&lt;br /&gt;
مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَمَسَّ مِنْ طِيبٍ إِنْ كَانَ عِنْدَهُ وَلَبِسَ مِنْ أَحْسَنِ ثِيَابِهِ ثُمَّ خَرَجَ حَتَّى يَأْتِيَ الْمَسْجِدَ فَيَرْكَعَ إِنْ بَدَا لَهُ وَلَمْ يُؤْذِ أَحَدًا ثُمَّ أَنْصَتَ إِذَا خَرَجَ إِمَامُهُ حَتَّى يُصَلِّيَ كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا بَيْنَهَا وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الْأُخْرَى&lt;br /&gt;
“Barangsiapa mandi pada hari Jumat, memakai minyak wangi (apabila dia memilikinya), memakai pakaian (syar’i) yang paling bagus, kemudian keluar menuju ke masjid, lantas dia shalat dan tidak mengganggu orang lain, kemudian diam (mendengar khutbah) apabila imam berkhutbah sampai dia shalat, hal-hal itu menjadi penghapus dosa-dosanya antara Jumat tersebut dan Jumat berikutnya.” (HR. Ahmad, dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
c. Berdoa ketika keluar dari rumah menuju masjid&lt;br /&gt;
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam keluar (dari rumahnya) untuk shalat dan berdoa,&lt;br /&gt;
اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا، وَفِي لِسَانِي نُورًا، وَاجْعَلْ فِي سَمْعِي نُورًا، وَاجْعَلْ فِي بَصَرِي نُورًا، وَاجْعَلْ مِنْ خَلْفِي نُورًا، وَمِنْ أَمَامِي نُورًا ، وَاجْعَلْ مِنْ فَوْقِي نُورًا ، وَمِنْ تَحْتِي نُورًا، اللَّهُمَّ أَعْطِنِي نُورًا&lt;br /&gt;
“Ya Allah, jadikanlah cahaya di dalam hatiku, jadikanlah cahaya di lisanku, jadikanlah cahaya dibelakangku, jadikanlah cahaya di depanku, jadikanlah cahaya dari atasku, dan jadikanlah cahaya dari bawahku. Ya Allah, berilah aku cahaya.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
d. Berpagi-pagi berangkat, lebih baik dengan berjalan kaki dan tenang&lt;br /&gt;
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,&lt;br /&gt;
مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً، فَإِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ حَضَرَتِ الْمَ ئَالِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ&lt;br /&gt;
“Barangsiapa mandi sebagaimana mandi junub pada hari Jumat kemudian dia berangkat (pada waktu pertama), seakan-akan dia telah berkurban seekor unta. Barangsiapa datang di masjid pada waktu kedua, seakan-akan dia telah berkurban seekor sapi. Barang siapa datang pada waktu ketiga, seakan-akan dia telah berkurban dengan seekor domba yang bertanduk. Barang siapa datang pada waktu keempat, seakan-akan dia telah berkurban seekor ayam. Barangsiapa datang pada waktu kelima, seakan-akan dia telah berkurban sebutir telur. Apabila imam telah keluar, para malaikat menutup (melipat) lembaran-lembaran catatannya lalu (para malaikat) mendengarkan khutbah.” (Muttafaqun ‘alaih)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suri teladan kita, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, telah menjelaskan keutamaan berjalan kaki tatkala pergi ke masjid dengan tenang dan tidak tergesa-gesa dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,&lt;br /&gt;
مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً&lt;br /&gt;
“Barangsiapa bersuci dirumahnya kemudian berjalan menuju ke salah satu masjid Allah Subhanahu wata’ala untuk menunaikan salah satu kewajiban (shalat) yang diwajibkan oleh Allah Subhanahu wata’ala (atasnya), pada setiap dua langkah kakinya, satu langkah akan menggugurkan satu dosa dan satu langkah yang lain akan mengangkat derajat.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,&lt;br /&gt;
إِذَا سَمِعْتُمُ الْإِقَامَةَ فَامْشُوا إِلَى الصَّ ةَالِ وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ وَالْوَقَارِ وَ تُسْرِعُوا، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا&lt;br /&gt;
“Apabila kalian mendengar iqamah, berjalanlah menuju shalat dan wajib atas kalian tenang dan tidak mempercepat jalan. Apa yang kalian dapatkan, shalatlah (bersama imam), sedangkan apa yang kalian tertinggal darinya, sempurnakanlah (setelah imam salam).” (Muttafaqun ‘alaih)&lt;br /&gt;
Apabila seorang muslim pergi ke masjid dengan kendaraan, tetap wajib baginya tenang dan tidak tergesa-gesa dalam perjalanan karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,&lt;br /&gt;
أَيُّهَا النَّاسُ، عَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ، فَإِنَّ الْبِرَّ لَيْسَ باِلْإيِضَاعِ&lt;br /&gt;
“Wahai sekalian umat manusia, wajib atas kalian untuk tenang karena kebaikan itu bukan dengan tergesa-gesa.” (HR. al-Bukhari dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Adab-Adab di Masjid&lt;br /&gt;
a. Doa ketika masuk dan keluar masjid&lt;br /&gt;
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,&lt;br /&gt;
إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ؛ وَإِذَا خَرَجَ فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ&lt;br /&gt;
“Apabila salah seorang diantara kalian masuk masjid maka hendaknya dia berdoa,&lt;br /&gt;
اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ&lt;br /&gt;
“Ya Allah, bukakanlah untukku pintu-pintu rahmat-Mu”. Apabila dia keluar hendaknya dia berdoa,&lt;br /&gt;
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ&lt;br /&gt;
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon keutamaan dari-Mu’.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;
Ketika masuk, dahulukan kaki kanan dan tatkala keluar, dahulukan kaki kiri. Hal ini berdasarkan hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha,&lt;br /&gt;
كَانَ النَّبِيُّ صل الله عليه وسلم يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِي تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ&lt;br /&gt;
“Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam senang mendahulukan sebelah kanan dalam hal memakai sandal, bersisir, bersuci, dan pada seluruh urusannya.” (Muttafaqun‘alaih)&lt;br /&gt;
b. Berusaha mencari tempat di shaf yang paling depan dan dekat dengan imam tanpa memisahkan dua orang yang sedang duduk berdampingan dan tidak melangkahi pundak-pundak jamaah yang telah duduk.&lt;br /&gt;
Dari Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata,&lt;br /&gt;
أَ تَصُفُّونَ كَمَا تَصُفُّ الْمَ ئَالِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا، فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَكَيْفَ تَصُفُّ الْمَ ئَالِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا؟ قَالَ : يُتِمُّونَ الصُّفُوفَ الْأُوَلَ وَيَتَرَاصُّونَ فِي الصَّفِّ&lt;br /&gt;
“Mengapa kalian tidak bershaf sebagaimana para malaikat bershaf disisi Rabbnya?” Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana cara malaikat bershaf disisi Rabbnya?” Beliau menjawab,“Mereka menyempurnakan shaf-shaf di depan dan merapatkannya.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memotivasi umatnya untuk berlomba-lomba mencari shaf yang terdepan dalam sabdanya,&lt;br /&gt;
لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِ أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ سَالْتَهَمُوا&lt;br /&gt;
“Seandainya umat manusia mengetahui keutamaan (menjawab) panggilan azan dan keutamaan shaf terdepan dan mereka tidak bisa mendapatkannya selain dengan berundi, sungguh mereka akan berundi (untuk mendapatkannya).” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membimbing umatnya tentang cara mengatur shaf dalam sabdanya,&lt;br /&gt;
أَتِمُّوا الصَّفَّ الْمُقَدَّمَ ثُمَّ الَّذِي يَلِيهِ، فَمَا كَانَ مِنْ نَقْصٍ فَلْيَكُنْ فِي الصَّفِّ الْمُؤَخَّرِ&lt;br /&gt;
“Sempurnakanlah shaf yang depan kemudian shaf yang berikutnya (di belakangnya). Adapun shaf yang masih kurang hendaknya di akhir .”(HR. Abu Dawud dan an-Nasai dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang memisahkan dua orang yang duduk berdampingan, baik dengan cara duduk di antara keduanya maupun mengusir salah satunya lantas menduduki tempat duduknya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,&lt;br /&gt;
فَلَمْ يُفَرِّقْ بَيْنَ اثْنَيْنِ&lt;br /&gt;
“Kemudian dia tanpa memisahkan dua orang yang duduk berdampingan.” (HR. al-Bukhari dari Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Larangan di atas dikecualikan bagi orang yang mendapatkan izin dari keduanya sebagaimana dalam hadits,&lt;br /&gt;
يَحِلُّ لِرَجُلٍ أَنْ يُفَرِّقَ بَيْنَ اثْنَيْنِ إِ بِإِذْنِهِمَا&lt;br /&gt;
“Tidak halal bagi seorangpun memisahkan dua orang (yang duduk berdampingan) selain dengan izin dari keduanya.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebaik-baik pembimbing umat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, melarang seorang muslim mengusir saudaranya dari tempat duduknya lantas mendudukinya. Dari Ibnu Umar, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,&lt;br /&gt;
أَنَّهُ نَهَى أَنْ يُقَامَ الرَّجُلُ مِنْ مَجْلِسِهِ وَيَجْلِسَ فِيهِ آخَرُ وَلَكِنْ تَفَسَّحُوا وَتَوَسَّعُوا&lt;br /&gt;
“Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang seseorang diusir dari tempat duduknya lantas orang lain mendudukinya. Akan tetapi, (yang boleh dilakukan) mereka bergeser dan berlapang-lapang (supaya orang lain bisa masuk dan duduk).” (Muttafaqun ‘alaih)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apabila seseorang berdiri dan meninggalkan tempat duduknya karena kebutuhannya kemudian kembali, dia paling berhak atas tempat duduknya semula, sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,&lt;br /&gt;
إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ مِنْ مَجْلِسِهِ ثُمَّ رَجَعَ إِلَيْهِ فَهُوَ أَحَقُّ بِهِ&lt;br /&gt;
“Apabila salah seorang diantara kalian berdiri dari tempat duduknya lantas kembali, dia paling berhak atasnya.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Termasuk adab-adab di dalam masjid, tatkala seseorang berusaha mendapatkan shaf awal (depan), ia tidak boleh melangkahi punggung-punggung jamaah yang sedang duduk. Hal ini diterangkan oleh hadits Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu,&lt;br /&gt;
جَاءَ رَجُلٌ يَتَخَطَّى رِقَابَ النَّاسِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالنَّبِيُّ صل الله عليه وسلم يَخْطُبُ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صل الله عليه وسلم : اجْلِسْ فَقَدْ آذَيْتَ وَآنَيْتَ&lt;br /&gt;
“Seorang laki-laki datang pada hari Jumat lalu melangkahi punggung-punggung jamaah yang sedang duduk. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda,‘Duduklah! Sungguh engkau telah mengganggu (menyakiti) dan mengakhirkan (jamaah).” (HR. Abu Dawud dan an-Nasa’i, asy-Syaikh al-Albani menyatakannya sahih dalam Shahih Sunan Abu Dawud)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikhul Islam menjelaskan, seseorang tidak boleh mengisi shaf-shaf di belakang padahal shaf di depan masih longgar. Demikian pula, tidak boleh membuat shaf di jalan-jalan dan toko-toko padahal di dalam masjid masih longgar. Barang siapa melakukan perbuatan seperti itu, dia berhak mendapatkan hukuman. Orang-orang yang datang setelahnya boleh melangkahinya dan masuk menyempurnakan shaf-shaf yang di depan karena hal ini tidak dilarang baginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini sebagaimana tidak bolehnya seseorang meletakkan tempat duduknya terlebih dahulu (misal: sajadah) di masjid namun dia berangkat terlambat (demi mengaveling tempat duduk di shaf awal) sehingga orang lain tidak berhak mendudukinya. Justru tempat duduknya itu (harus dihilangkan), dan boleh dipakai (oleh orang lain) untuk shalat menurut pendapat yang benar.&lt;br /&gt;
Apabila masjid telah penuh dengan shaf, mereka boleh membuat shaf di luar masjid. Apabila shaf-shaf itu bersambung dengan masjid, walaupun di jalan-jalan dan di pasar-pasar, shalat Jumatnya sah. Adapun apabila mereka membuat shaf dalam keadaan ada jarak (jalan) yang memisahkan shaf-shaf mereka dengan shaf-shaf yang ada di masjid, shalatnya tidak sah berdasarkan pendapat yang paling jelas di antara dua pendapat para ulama. (al-Kubra, 1/137)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
c. Shalat sunnah tahiyatul masjid walaupun imam telah berkhutbah&lt;br /&gt;
Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,&lt;br /&gt;
ذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ&lt;br /&gt;
“Apabila salah seorang diantara kalian masuk masjid, hendaknya dia shalat dua rakaat sebelum duduk.” (Muttafaqun ‘alaih)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tatkala imam sudah berkhutbah, hendaknya shalat tahiyatul masjid dikerjakan dengan ringan, sebagaimana bimbingan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,&lt;br /&gt;
إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَلْيَتَجَوَّزْ فِيهِمَا&lt;br /&gt;
“Apabila salah seorang diantara kalian datang dan imam sedang berkhutbah, hendaknya dia shalat dua rakaat dan mengerjakannya dengan ringan.” (Muttafaqun ‘alaih)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
d. Duduk mendengarkan khutbah dan menghadap kepada khatib&lt;br /&gt;
Al-Imam al-Bukhari rahimahullah membuat sebuah bab dalam kitab Shahih-nya Bab “Mendengarkan Khutbah”. Beliau berdalil dengan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila hari Jumat telah tiba, para malaikat berdiri di depan pintu untuk menulis orang-orang yang datang, satu demi satu. Permisalan orang yang berpagi-pagi (berangkat ke masjid) seperti orang yang berkurban seekor unta, kemudian seperti orang yang berkurban seekor sapi, kemudian seekor domba, kemudian seekor ayam, kemudian seekor telur. Apabila imam telah keluar mereka (para malaikat) menutup lembaran-lembaran catatannya dan mendengarkan khutbah.” (HR. al-Bukhari, 929)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan tentang wajibnya seseorang diam mendengarkan khutbah dalam sabdanya,&lt;br /&gt;
إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ&lt;br /&gt;
“Apabila engkau berkata kepada temanmu pada hari Jumat,‘Diam, dengarkanlah (khutbah),’ padahal imam sedang berkhutbah, itu berarti engkau telah berbuat sia-sia.” (Mutttafaqun ‘alaih)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian pula disunnahkan bagi jamaah untuk menghadap kepada imam tatkala dia berkhutbah, sebagaimana perkataan al-Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya “Bab Imam menghadap kaum (hadirin) dan kaum itu menghadap imam tatkala berkhutbah”. Beliau berdalil dengan hadits Abu Sa’id al-Khudri,&lt;br /&gt;
أَنَّ النَّبِيَّ صل الله عليه وسلم جَلَسَ ذَاتَ يَوْمٍ عَلَى الْمِنْبَر وَجَلَسْنَا حَوْلَهُ&lt;br /&gt;
“Pada suatu hari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam duduk di atas mimbar1 dan kami pun duduk di sekelilingnya.”&lt;br /&gt;
e. Apabila mengantuk, hendaknya ia berpindah (bergeser) dari tempat duduknya selama tidak mengganggu orang lain.&lt;br /&gt;
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,&lt;br /&gt;
إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ فِي مَجْلِسِهِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَلْيَتَحَوَّلْ مِنْهُ إِلَى غَيْرِهِ&lt;br /&gt;
“Apabila salah seorang diantara kalian mengantuk di tempat duduknya, hendaknya dia pindah ke tempat lain.” (HR. Ahmad, AbuDawud, dan at-Tirmidzi dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
f. Boleh memakai hibwah2 (melakukan ihtiba) pada hari Jumat ketika mendengarkan khutbah imam karena hadits-hadits yang melarangnya dhaif.&lt;br /&gt;
Banyak ulama salafus shalih yang memakainya, selama tidak menyebabkan auratnya tersingkap dan mengantuk.&lt;br /&gt;
Al-Imam Abu Dawud rahimahullah berkata, “Ibnu Umar memakai hibwah ketika imam berkhutbah, demikian juga Anas bin Malik, Syuraih, Sha’sha’ah bin Shuhan, Sa’id bin al-Musayib, Ibrahim an-Nakha’i, Makhul, dan Ismail bin Muhammad bin Sa’d.”&lt;br /&gt;
Beliau berkata, “Tidak ada yang sampai kepadaku berita dari seorang salaf pun yang membencinya (hibwah), selain Ubadah bin Nusaiya.” (Sunan Abu Dawud, no. 191)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al-Iraqi rahimahullah berkata, “Mayoritas ulama berpendapat bahwa hibwah tidak makruh. Adapun tentang hadits-hadits dalam hal ini, mereka menjawab bahwa seluruh hadits tersebut dhaif.” (Nailul Authar, 2/299)&lt;br /&gt;
Kalaupun dianggap semuanya sahih, larangan itu dimaksudkan agar seseorang tidak mulai memasang hibwah ketika imam sudah berdiri untuk berkhutbah, sampai ia menyelesaikan khutbahnya. (Syarh Musykil al-Atsar, 7/344-345, -ed.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mudah-mudahan Allah Subhanahu wata’ala senantiasa melimpahkan hidayah taufik kepada kita. semua untuk mengikuti sunnah Nabi-Nya, baik dalam ilmu maupun amal, baik secara lahir maupun batin.&lt;br /&gt;
Amin.&lt;br /&gt;
—————————————————————-&lt;br /&gt;
1. Mimbar di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam hanya berupa tiga anak tangga sehingga bisa diduduki. Berbeda halnya dengan mimbar yang ada di zaman sekarang pada umumnya. (-red.)&lt;br /&gt;
2. Al-hibwah yaitu seorang mengikat/mendekatkan kedua lututnya ke perut dengan tali atau pakaiannya, lalu mendekatkan keduanya ke punggungnya. Terkadang, hal ini dilakukan dengan tangan sebagai pengganti tali/pakaian. (an-Nihayah li Ibni Atsir)&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg1NrVOnzXD2NsBv_CfisbMLjayMKzLin6aXiAfnvWR-Aycq4FLib55l78nR5VSnWICLGozRC1qJFZ0IZPqomWIZHWvUzwhopcIOzRKTeKepLvkIDmwGnQzle8b4lF2JSVNw6JGwM9wBQE0/s72-c/jumat.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Shaum Ramadhan dan Hari Raya Bersama Penguasa, Syi’ar Kebersamaan Umat Islam</title><link>http://akhlakulkariimah.blogspot.com/2013/07/shaum-ramadhan-dan-hari-raya-bersama.html</link><category>Dunia Islam</category><category>Ramadhan</category><category>Sunnah</category><author>noreply@blogger.com (Amzan)</author><pubDate>Fri, 5 Jul 2013 06:17:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4988947874884367427.post-820010887249090419</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj5vfdLwILlmP35YVhlo1SleHuahPnv2SLaWJ6vJjug21563bFVfJhD4SOFca75pjqMQ341oSEjOL5cfDc7X2io8KN12E04RGmLoODiqJu8d64OoTShWbykqJqNtyXy0D7diPNITyvxjOhq/s320/Wallpaper+Indah+Ramadhan+%252810%2529.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="125" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj5vfdLwILlmP35YVhlo1SleHuahPnv2SLaWJ6vJjug21563bFVfJhD4SOFca75pjqMQ341oSEjOL5cfDc7X2io8KN12E04RGmLoODiqJu8d64OoTShWbykqJqNtyXy0D7diPNITyvxjOhq/s200/Wallpaper+Indah+Ramadhan+%252810%2529.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;i&gt;Penulis : Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Lc&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taat kepada pemerintah dalam perkara kebaikan. Inilah salah satu prinsip agama yang kini telah banyak dilupakan dan ditinggalkan umat. Yang kini banyak dilakukan justru berupaya mencari keburukan pemerintah sebanyak-banyaknya untuk kemudian disebarkan ke masyarakat. Akibat buruk dari ditinggalkannya prinsip ini sudah banyak kita rasakan. Satu di antaranya adalah munculnya perpecahan di kalangan umat Islam saat menentukan awal Ramadhan atau Hari Raya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Bulan suci Ramadhan merupakan bulan istimewa bagi umat Islam. Hari-harinya diliputi suasana ibadah; shaum, shalat tarawih, bacaan Al-Qur`an, dan sebagainya. Sebuah fenomena yang tak didapati di bulan-bulan selainnya. Tak ayal, bila kedatangannya menjadi dambaan, dan kepergiannya meninggalkan kesan yang mendalam. Tak kalah istimewanya, ternyata bulan suci Ramadhan juga sebagai salah satu syi’ar kebersamaan umat Islam. Secara bersama-sama mereka melakukan shaum Ramadhan; dengan menahan diri dari rasa lapar, dahaga dan dorongan hawa nafsu sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari, serta mengisi malam-malamnya dengan shalat tarawih dan berbagai macam ibadah lainnya. Tak hanya kita umat Islam di Indonesia yang merasakannya. Bahkan seluruh umat Islam di penjuru dunia pun turut merasakan dan memilikinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun syi’ar kebersamaan itu kian hari semakin pudar, manakala elemen-elemen umat Islam di banyak negeri saling berlomba merumuskan keputusan yang berbeda dalam menentukan awal dan akhir bulan Ramadhan. Keputusan itu terkadang atas nama ormas, terkadang atas nama parpol, dan terkadang pula atas nama pribadi. Masing-masing mengklaim, keputusannya yang paling benar. Tak pelak, shaum Ramadhan yang merupakan syi’ar kebersamaan itu (kerap kali) diawali dan diakhiri dengan fenomena perpecahan di tubuh umat Islam sendiri. Tentunya, ini merupakan fenomena menyedihkan bagi siapa pun yang mengidamkan &lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;persatuan umat&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa hal ini bisa terjadi? Mungkin anda akan berkata: “Itu karena adanya perbedaan pendapat di antara elemen umat Islam, apakah awal masuk dan keluarnya bulan Ramadhan itu ditentukan oleh ru`yatul hilal (melihat hilal) ataukah dengan ilmu hisab?”. Bisa juga anda mengatakan: “Karena adanya perbedaan pendapat, apakah di dunia ini hanya berlaku satu mathla’ (tempat keluarnya hilal) ataukah masing-masing negeri mempunyai mathla’ sendiri-sendiri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila kita mau jujur soal penyebab pudarnya syi’ar kebersamaan itu, lepas adanya realita perbedaan pendapat di atas, utamanya disebabkan makin tenggelamnya salah satu prinsip penting agama Islam dari hati sanubari umat Islam. Prinsip itu adalah memuliakan dan menaati penguasa (pemerintah) umat Islam dalam hal yang ma’ruf (kebaikan).&lt;br /&gt;
Mungkin timbul tanda tanya: “Apa hubungannya antara ketaatan terhadap penguasa dengan pelaksanaan shaum Ramadhan?”&lt;br /&gt;
Layak dicatat, hubungan antara keduanya sangat erat. Hal itu karena:&lt;br /&gt;
1. Shaum Ramadhan merupakan syi’ar &lt;b&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;kebersamaan umat Islam&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;, dan suatu kebersamaan umat tidaklah mungkin terwujud tanpa adanya ketaatan terhadap penguasa.&lt;br /&gt;
2. Penentuan pelaksanaan shaum Ramadhan merupakan perkara yang ma’ruf (kebaikan) dan bukan kemaksiatan. Sehingga menaati penguasa dalam hal ini termasuk perkara yang diperintahkan dalam agama Islam. Terlebih ketika penentuannya setelah melalui sekian proses, dari pengerahan tim ru‘yatul hilal di sejumlah titik di negerinya hingga digelarnya sidang-sidang istimewa.&lt;br /&gt;
3. Realita juga membuktikan, dengan menaati keputusan penguasa dalam hal pelaksanaan shaum Ramadhan dan penentuan hari raya ‘Idul Fithri, benar-benar tercipta suasana persatuan dan kebersamaan umat. Sebaliknya, ketika umat Islam berseberangan dengan penguasanya, perpecahan di tubuh mereka pun sangat mencolok. Maka dari itu, menaati penguasa dalam hal ini termasuk perkara yang diperintahkan dalam agama Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَىاللهَ، وَمَنْ أَطَاعَ أَمِيْرِي فَقَدْ أَطَاعَنِي، وَمَنْ عَصَى أَمِيْرِي فَقَدْ عَصَانِي&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;i&gt;“Barangsiapa menaatiku berarti telah menaati Allah. Barangsiapa menentangku berarti telah menentang Allah. Barangsiapa menaati pemimpin (umat)ku berarti telah menaatiku, dan barangsiapa menentang pemimpin (umat)ku berarti telah menentangku.”&lt;/i&gt; (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
-Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani berkata: “Di dalam hadits ini terdapat keterangan tentang kewajiban menaati para penguasa dalam perkara-perkara yang bukan kemaksiatan. Adapun hikmahnya adalah untuk menjaga persatuan dan kebersamaan (umat Islam), karena di dalam perpecahan terdapat kerusakan.” (Fathul Bari, juz 13, hal. 120)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin ada yang bertanya, “Adakah untaian fatwa dari para ulama seputar permasalahan ini?” Maka jawabnya ada, sebagaimana berikut ini:&lt;br /&gt;
&lt;h3 style="text-align: left;"&gt;
&lt;b&gt;Fatwa Para Ulama Seputar Shaum Ramadhan Bersama Penguasa&lt;/b&gt;&lt;/h3&gt;
-Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Seseorang (hendaknya) bershaum bersama penguasa dan jamaah (mayoritas) umat Islam, baik ketika cuaca cerah ataupun mendung.” Beliau juga berkata: “Tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala bersama Al-Jama’ah.” (Majmu’ Fatawa, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah juz 25, hal. 117)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Al-Imam At-Tirmidzi berkata: “Sebagian ahlul ilmi menafsirkan hadits ini1 dengan ucapan (mereka): ‘Sesungguhnya shaum dan berbukanya itu (dilaksanakan) bersama Al-Jama’ah dan mayoritas umat Islam’.” (Tuhfatul Ahwadzi juz 2, hal. 37. Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah jilid 2, hal. 443)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Al-Imam Abul Hasan As-Sindi berkata: “Yang jelas, makna hadits ini adalah bahwasanya perkara-perkara semacam ini (menentukan pelaksanaan shaum Ramadhan, berbuka puasa/Iedul Fithri dan Iedul Adha, -pen.) keputusannya bukanlah di tangan individu. Tidak ada hak bagi mereka untuk melakukannya sendiri-sendiri. Bahkan permasalahan semacam ini dikembalikan kepada penguasa dan mayoritas umat Islam. Dalam hal ini, setiap individu pun wajib untuk mengikuti penguasa dan mayoritas umat Islam. Maka dari itu, jika ada seseorang yang melihat hilal (bulan sabit) namun penguasa menolak persaksiannya, sudah sepatutnya untuk tidak dianggap persaksian tersebut dan wajib baginya untuk mengikuti mayoritas umat Islam dalam permasalahan itu.” (Hasyiyah ‘ala Ibni Majah, lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah jilid 2, hal. 443)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Asy-Syaikh Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani berkata: “Dan selama belum (terwujud) bersatunya negeri-negeri Islam di atas satu mathla’ (dalam menentukan pelaksanaan shaum Ramadhan, -pen.), aku berpendapat bahwa setiap warga negara hendaknya melaksanakan shaum Ramadhan bersama negaranya (pemerintahnya) masing-masing dan tidak bercerai-berai dalam perkara ini, yakni shaum bersama pemerintah dan sebagian lainnya shaum bersama negara lain, baik mendahului pemerintahnya atau pun belakangan. Karena yang demikian itu dapat mempertajam perselisihan di tengah masyarakat muslim sendiri. Sebagaimana yang terjadi di sebagian negara Arab sejak beberapa tahun yang lalu. Wallahul Musta’an.” (Tamamul Minnah hal. 398)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Beliau juga berkata: “Inilah yang sesuai dengan syariat (Islam) yang toleran, yang di antara misinya adalah mempersatukan umat manusia, menyatukan barisan mereka serta menjauhkan mereka dari segala pendapat pribadi yang memicu perpecahan. Syariat ini tidak mengakui pendapat pribadi –meski menurut yang bersangkutan benar– dalam ibadah yang bersifat kebersamaan seperti; shaum, Ied, dan shalat berjamaah. Tidakkah engkau melihat bahwa sebagian shahabat radhiallahu ‘anhum shalat bermakmum di belakang shahabat lainnya, padahal sebagian mereka ada yang berpendapat bahwa menyentuh wanita, menyentuh kemaluan, dan keluarnya darah dari tubuh termasuk pembatal wudhu, sementara yang lainnya tidak berpendapat demikian?! Sebagian mereka ada yang shalat secara sempurna (4 rakaat) dalam safar dan di antara mereka pula ada yang mengqasharnya (2 rakaat). Namun perbedaan itu tidaklah menghalangi mereka untuk melakukan shalat berjamaah di belakang seorang imam (walaupun berbeda pendapat dengannya, -pen.) dan tetap berkeyakinan bahwa shalat tersebut sah. Hal itu karena adanya pengetahuan mereka bahwa bercerai-berai dalam urusan agama lebih buruk daripada sekedar berbeda pendapat. Bahkan sebagian mereka mendahulukan pendapat penguasa daripada pendapat pribadinya pada momen berkumpulnya manusia seperti di Mina. Hal itu semata-mata untuk menghindari kesudahan buruk (terjadinya perpecahan) bila dia tetap mempertahankan pendapatnya. Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Imam Abu Dawud (1/307), bahwasanya Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu shalat di Mina 4 rakaat (Zhuhur, ‘Ashar, dan Isya’ -pen). Maka shahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu mengingkarinya seraya berkata: “Aku telah shalat (di Mina/hari-hari haji, -pen.) bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakr, ‘Umar dan di awal pemerintahan ‘Utsman 2 rakaat, dan setelah itu ‘Utsman shalat 4 rakaat. Kemudian terjadilah perbedaan di antara kalian (sebagian shalat 4 rakaat dan sebagian lagi 2 rakaat, -pen.), dan harapanku dari 4 rakaat shalat itu yang diterima adalah yang 2 rakaat darinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun ketika di Mina, shahabat Abdullah bin Mas’ud justru shalat 4 rakaat. Maka dikatakanlah kepada beliau: “Engkau telah mengingkari ‘Utsman atas shalatnya yang 4 rakaat, (mengapa) kemudian engkau shalat 4 rakaat pula?!” Abdullah bin Mas’ud berkata: “Perselisihan itu jelek.” Sanadnya shahih. Diriwayatkan pula oleh Al-Imam Ahmad (5/155) seperti riwayat di atas dari shahabat Abu Dzar radhiallahu ‘anhu.&lt;br /&gt;
Maka dari itu, hendaknya hadits dan atsar ini benar-benar dijadikan bahan renungan oleh orang-orang yang (hobi, -pen.) berpecah-belah dalam urusan shalat mereka serta tidak mau bermakmum kepada sebagian imam masjid, khususnya shalat witir di bulan Ramadhan dengan dalih beda madzhab. Demikian pula orang-orang yang bershaum dan berbuka sendiri, baik mendahului mayoritas kaum muslimin atau pun mengakhirkannya dengan dalih mengerti ilmu falaq, tanpa peduli harus berseberangan dengan mayoritas kaum muslimin. Hendaknya mereka semua mau merenungkan ilmu yang telah kami sampaikan ini. Dan semoga ini bisa menjadi obat bagi kebodohan dan kesombongan yang ada pada diri mereka. Dengan harapan agar mereka selalu dalam satu barisan bersama saudara-saudara mereka kaum muslimin, karena tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala bersama Al-Jama’ah.” (Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah jilid 2, hal. 444-445)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Asy-Syaikh Al-Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullahu pernah ditanya: “Jika awal masuknya bulan Ramadhan telah diumumkan di salah satu negeri Islam semisal kerajaan Saudi Arabia, namun di negeri kami belum diumumkan, bagaimanakah hukumnya? Apakah kami bershaum bersama kerajaan Saudi Arabia ataukah bershaum dan berbuka bersama penduduk negeri kami, manakala ada pengumuman? Demikian pula halnya dengan masuknya Iedul Fithri, apa yang harus kami lakukan bila terjadi perbedaan antara negeri kami dengan negeri yang lainnya? Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas engkau dengan kebaikan.”&lt;br /&gt;
Beliau menjawab: “Setiap muslim hendaknya bershaum dan berbuka bersama (pemerintah) negerinya masing-masing. Hal itu berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;
الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُوْمُوْنَ، وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُوْنَ، وَاْلأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّوْنَ&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
“Waktu shaum itu di hari kalian (umat Islam) bershaum, (waktu) berbuka adalah pada saat kalian berbuka, dan (waktu) berkurban/Iedul Adha di hari kalian berkurban.”&lt;/div&gt;
Wabillahit taufiq. (Lihat Fatawa Ramadhan hal. 112)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu ditanya: “Umat Islam di luar dunia Islam sering berselisih dalam menyikapi berbagai macam permasalahan seperti (penentuan) masuk dan keluarnya bulan Ramadhan, serta saling berebut jabatan di bidang dakwah. Fenomena ini terjadi setiap tahun. Hanya saja tingkat ketajamannya berbeda-beda tiap tahunnya. Penyebab utamanya adalah minimnya ilmu agama, mengikuti hawa nafsu dan terkadang fanatisme madzhab atau partai, tanpa mempedulikan rambu-rambu syariat Islam dan bimbingan para ulama yang kesohor akan ilmu dan wara’-nya. Maka, adakah sebuah nasehat yang kiranya bermanfaat dan dapat mencegah (terjadinya) sekian kejelekan? Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan taufiq dan penjagaan-Nya kepada engkau.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau berkata: “Umat Islam wajib bersatu dan tidak boleh berpecah-belah dalam beragama. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّيْنِ مَا وَصَّى بِهِ نُوْحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيْمَ وَمُوْسَى وَعِيْسَى أَنْ أَقِيْمُوا الدِّيْنَ وَلاَ تَتَفَرَّقُوا فِيْهِ&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
“Dia telah mensyariatkan bagi kalian tentang agama, apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wasiatkan kepadamu, Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu:’ Tegakkanlah agama dan janganlah kalian berpecah-belah tentangnya’.” (Asy-Syura: 13)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
“Dan berpegang-teguhlah kalian semua dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai.” (Ali ‘Imran: 103)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
وَلاَ تَكُوْنُوا كَالَّذِيْنَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُوْلَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang berpecah-belah dan berselisih setelah keterangan datang kepada mereka, dan bagi mereka adzab yang pedih.” (Ali ‘Imran: 105)&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Sehingga umat Islam wajib untuk menjadi umat yang satu dan tidak berpecah-belah dalam beragama. Hendaknya waktu shaum dan berbuka mereka satu, dengan mengikuti keputusan lembaga/departemen yang menangani urusan umat Islam dan tidak bercerai-berai (dalam masalah ini), walaupun harus lebih tertinggal dari shaum kerajaan Saudi Arabia atau negeri Islam lainnya.” (Fatawa Fi Ahkamish Shiyam, hal. 51-52)&lt;br /&gt;
-Fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah Lil-Buhuts Al-‘Ilmiyyah wal-Ifta`: “…Dan tidak mengapa bagi penduduk negeri manapun, jika tidak melihat hilal (bulan tsabit) di tempat tinggalnya pada malam ke-30, untuk mengambil hasil ru`yatul hilal dari tempat lain di negerinya. Jika umat Islam di negeri tersebut berbeda pendapat dalam hal penentuannya, maka yang harus diikuti adalah keputusan penguasa di negeri tersebut bila ia seorang muslim, karena (dengan mengikuti) keputusannya akan sirnalah perbedaan pendapat itu. Dan jika si penguasa bukan seorang muslim, maka hendaknya mengikuti keputusan majelis/departemen pusat yang membidangi urusan umat Islam di negeri tersebut. Hal ini semata-mata untuk menjaga kebersamaan umat Islam dalam menjalankan shaum Ramadhan dan shalat Id di negeri mereka. Wabillahit taufiq, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wasallam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemberi fatwa: Asy-Syaikh Abdur Razzaq ‘Afifi, Asy-Syaikh Abdullah bin Ghudayyan, dan Asy-Syaikh Abdullah bin Mani’. (Lihat Fatawa Ramadhan hal. 117)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikianlah beberapa fatwa para ulama terdahulu dan masa kini seputar kewajiban bershaum bersama penguasa dan mayoritas umat Islam di negerinya. Semoga menjadi pelita dalam kegelapan dan ibrah bagi orang-orang yang mendambakan persatuan umat Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin masih ada yang mengatakan bahwasanya kewajiban menaati penguasa dalam perkara semacam ini hanya berlaku untuk seorang penguasa yang adil. Adapun bila penguasanya dzalim atau seorang koruptor, tidak wajib taat kepadanya walaupun dalam perkara-perkara kebaikan dan bukan kemaksiatan, termasuk dalam hal penentuan masuk dan keluarnya bulan Ramadhan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu hal yang perlu digarisbawahi dalam hal ini, jika umat dihadapkan pada polemik atau perbedaan pendapat, prinsip ‘berpegang teguh dan merujuk kepada Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam’ haruslah senantiasa dikedepankan. Sebagaimana bimbingan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kalam-Nya nan suci:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
“Dan berpegang-teguhlah kalian semua dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai.” (Ali ‘Imran: 103)&lt;/div&gt;
Al-Imam Al-Qurthubi berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan kepada kita agar berpegang teguh dengan Kitab-Nya (Al-Qur`an) dan Sunnah Nabi-Nya, serta merujuk kepada keduanya di saat terjadi perselisihan. Sebagaimana Dia (juga) memerintahkan kepada kita agar bersatu di atas Al-Qur`an dan As-Sunnah baik secara keyakinan atau pun amalan…” (Tafsir Al-Qurthubi, 4/105)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para pembaca yang mulia, bila anda telah siap untuk merujuk kepada Al-Qur`an dan As-Sunnah maka simaklah bimbingan dari Al-Qur`an dan As-Sunnah berikut ini:&lt;br /&gt;
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
يَا أَيَّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا أَطِيْعُوا اللهَ وَأَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَأُوْلِي اْلأَمْرِ مِنْكُمْ&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan &lt;b&gt;Ulil Amri di antara kalian&lt;/b&gt;.” (An-Nisa`: 59)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
-Al-Imam An-Nawawi berkata: “&lt;b&gt;Yang dimaksud dengan Ulil Amri adalah orang-orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala wajibkan untuk ditaati dari kalangan para penguasa dan pemimpin umat. Inilah pendapat mayoritas ulama terdahulu dan sekarang dari kalangan ahli tafsir dan fiqih serta yang lainnya&lt;/b&gt;.”(Syarh Shahih Muslim, juz 12, hal. 222)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun baginda Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau seringkali mengingatkan umatnya seputar permasalahan ini. Di antaranya dalam hadits-hadits beliau berikut ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Shahabat ‘Adi bin Hatim radhiallahu ‘anhu berkata:&lt;br /&gt;
يَا رَسُوْلَ اللهِ! لاَ نَسْأَلُكَ عَنْ طَاعَةِ مَنِ اتَّقَى، وَلَكِنْ مَنْ فَعَلَ وَفَعَلَ- فَذَكَرَ الشَّرَّ- فَقَالَ: اتَّقُوا اللهَ وَاسْمَعُوا وَأَطِيْعُوا&lt;br /&gt;
“Wahai Rasulullah, kami tidak bertanya kepadamu tentang ketaatan (terhadap penguasa) yang bertakwa. Yang kami tanyakan adalah ketaatan terhadap penguasa yang berbuat demikian dan demikian (ia sebutkan kejelekan-kejelekannya).” Maka Rasulullah bersabda: “Bertakwalah kalian kepada Allah, dengarlah dan taatilah (penguasa tersebut).” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam Kitab As-Sunnah, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Zhilalul Jannah Fitakhrijis Sunnah, 2/494, no. 1064)&lt;br /&gt;
2. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
يَكُوْنُ بَعْدِيْ أَئِمَّةٌ، لاَيَهْتَدُوْنَ بِهُدَايَ، وَلاَ يَسْتَنُّوْنَ بِسُنَّتِيْ، وَسَيَقُوْمُ فِيْهِمْ رِجَالٌ، قُلُوْبُهُمْ قُلُوْبُ الشَّيَاطِيْنِ فِيْ جُثْمَانِ إِنْسٍ. قَالَ (حُذَيْفَةُ): قُلْتُ: كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ؟ قَالَ: تَسْمَعُ وَتُطِيْعُ لِلأَمِيْرِ، وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ، فَاسْمَعْ وَأَطِعْ!&lt;br /&gt;
“Akan ada sepeninggalku nanti para imam/penguasa yang mereka itu tidak berpegang dengan petunjukku dan tidak mengikuti cara/jalanku. Dan akan ada di antara para penguasa tersebut orang-orang yang berhati setan namun berbadan manusia.” Hudzaifah berkata: “Apa yang kuperbuat bila aku mendapatinya?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hendaknya engkau mendengar dan menaati penguasa tersebut walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu dirampas olehnya, maka dengarkanlah (perintahnya) dan taatilah (dia).” (HR. Muslim dari shahabat Hudzaifah bin Al-Yaman, 3/1476, no. 1847)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
شِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِيْنَ تُبْغِضُوْنَهُمْ وَيُبْغِضُوْنَكُمْ وَتَلْعَنُوْنَهُمْ وَيَلْعَنُوْنَكُمْ. قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهُ! أَفَلاَ نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ؟ فَقَالَ: لاَ، مَا أَقَامُوا فِيْكُمُ الصَّلاَةَ، وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلاَتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُوْنَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلاَ تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ&lt;br /&gt;
“Seburuk-buruk penguasa kalian adalah yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian, kalian mencaci mereka dan mereka pun mencaci kalian.” Lalu dikatakan kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, bolehkah kami memerangi mereka dengan pedang (memberontak)?” Beliau bersabda: “Jangan, selama mereka masih mendirikan shalat di tengah-tengah kalian. Dan jika kalian melihat mereka mengerjakan perbuatan yang tidak kalian sukai, maka bencilah perbuatannya dan jangan mencabut/meninggalkan ketaatan (darinya).” (HR. Muslim, dari shahabat ‘Auf bin Malik, 3/1481, no. 1855)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para ulama kita pun demikian adanya. Mereka (dengan latar belakang daerah, pengalaman dan generasi yang berbeda-beda) telah menyampaikan arahan dan bimbingannya yang amat berharga seputar permasalahan ini, sebagaimana berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Shahabat Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata: “Urusan kaum muslimin tidaklah stabil tanpa adanya penguasa, yang baik atau yang jahat sekalipun.” Orang-orang berkata: “Wahai Amirul Mukminin, kalau penguasa yang baik kami bisa menerimanya, lalu bagaimana dengan yang jahat?” Ali bin Abi Thalib berkata: “Sesungguhnya (walaupun) penguasa itu jahat namun Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap memerankannya sebagai pengawas keamanan di jalan-jalan dan pemimpin dalam jihad…” (Syu’abul Iman, karya Al-Imam Al-Baihaqi juz 13, hal.187, dinukil dari kitab Mu’amalatul Hukkam, karya Asy-Syaikh Abdus Salam bin Barjas hal. 57)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Al-Imam Ibnu Abil ‘Iz Al-Hanafi berkata: “Adapun kewajiban menaati mereka (penguasa) tetaplah berlaku walaupun mereka berbuat jahat. Karena tidak menaati mereka dalam hal yang ma’ruf akan mengakibatkan kerusakan yang jauh lebih besar dari apa yang ada selama ini. Dan di dalam kesabaran terhadap kejahatan mereka itu terdapat ampunan dari dosa-dosa serta (mendatangkan) pahala yang berlipat.” (Syarh Al-’Aqidah Ath-Thahawiyah hal. 368)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Al-Imam Al-Barbahari berkata: “Ketahuilah bahwa kejahatan penguasa tidaklah menghapuskan kewajiban (menaati mereka, -pen.) yang Allah Subhanahu wa Ta’ala wajibkan melalui lisan Nabi-Nya. Kejahatannya akan kembali kepada dirinya sendiri, sedangkan kebaikan-kebaikan yang engkau kerjakan bersamanya akan mendapat pahala yang sempurna insya Allah. Yakni kerjakanlah shalat berjamaah, shalat Jum’at dan jihad bersama mereka, dan juga berpartisipasilah bersamanya dalam semua jenis ketaatan (yang dipimpinnya).” (Thabaqat Al-Hanabilah karya Ibnu Abi Ya’la, 2/36, dinukil dari Qa’idah Mukhtasharah, hal. 14)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Al-Imam Ibnu Baththah Al-Ukbari berkata: “Telah sepakat para ulama ahli fiqh, ilmu, dan ahli ibadah, dan juga dari kalangan Ubbad (ahli ibadah) dan Zuhhad (orang-orang zuhud) sejak generasi pertama umat ini hingga masa kita ini: bahwa shalat Jum’at, Idul Fitri dan Idul Adha, hari-hari Mina dan Arafah, jihad, haji, serta penyembelihan qurban dilakukan bersama penguasa, yang baik ataupun yang jahat.” (Al-Ibanah, hal. 276-281, dinukil dari Qa’idah Mukhtasharah hal. 16)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Al-Imam Al-Bukhari berkata: “Aku telah bertemu dengan 1.000 orang lebih dari ulama Hijaz (Makkah dan Madinah), Kufah, Bashrah, Wasith, Baghdad, Syam dan Mesir….” Kemudian beliau berkata: “Aku tidak melihat adanya perbedaan di antara mereka tentang perkara berikut ini –beliau lalu menyebutkan sekian perkara, di antaranya kewajiban menaati penguasa (dalam hal yang ma’ruf)–.” (Syarh Ushulil I’tiqad Al-Lalika`i, 1/194-197)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani berkata: “Di dalam hadits ini (riwayat Al-Bukhari dan Muslim, dari shahabat Abu Hurairah di atas, -pen.) terdapat keterangan tentang kewajiban menaati para penguasa dalam perkara-perkara yang bukan kemaksiatan. Adapun hikmahnya adalah untuk menjaga persatuan dan kebersamaan (umat Islam), karena di dalam perpecahan terdapat kerusakan.” (Fathul Bari, juz 13, hal. 120)&lt;br /&gt;
Para pembaca yang mulia, dari bahasan di atas dapatlah diambil suatu kesimpulan bahwasanya:&lt;br /&gt;
1. Shaum Ramadhan merupakan syi’ar kebersamaan umat Islam yang harus dipelihara.&lt;br /&gt;
2. Syi’ar kebersamaan tersebut akan pudar manakala umat Islam di masing-masing negeri bercerai-berai dalam mengawali dan mengakhiri shaum Ramadhannya.&lt;br /&gt;
3. Ibadah yang bersifat kebersamaan semacam ini keputusannya berada di tangan penguasa umat Islam di masing-masing negeri, bukan di tangan individu.&lt;br /&gt;
4. Shaum Ramadhan bersama penguasa dan mayoritas umat Islam merupakan salah satu prinsip agama Islam yang dapat memperkokoh persatuan mereka, baik si penguasa tersebut seorang yang adil ataupun jahat. Karena kebersamaan umat tidaklah mungkin terwujud tanpa adanya ketaatan terhadap penguasa. Terlebih manakala ketentuannya itu melalui proses ru‘yatul hilal di sejumlah titik negerinya dan sidang-sidang istimewa.&lt;br /&gt;
5. Realita membuktikan, bahwa dengan bershaum Ramadhan dan berhari-raya bersama penguasa (dan mayoritas umat Islam) benar-benar tercipta suasana persatuan dan kebersamaan umat. Sebaliknya ketika umat Islam berseberangan dengan penguasanya, suasana perpecahan di tubuh umat pun demikian mencolok. Yang demikian ini semakin menguatkan akan kewajiban bershaum Ramadhan dan berhari-raya bersama penguasa (dan mayoritas umat Islam).&lt;br /&gt;
Wallahu a’lam bish-shawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1 Hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:&lt;br /&gt;
الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُوْمُوْنَ, وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُوْنَ, وَاْلأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّوْنَ&lt;br /&gt;
“Shaum itu di hari kalian (umat Islam) bershaum, (waktu) berbuka adalah pada saat kalian berbuka, dan (waktu) berkurban/ Iedul Adha di hari kalian berkurban.”&lt;br /&gt;
2 Beliau merupakan salah satu ulama yang berpendapat bahwasanya pelaksanaan shaum Ramadhan dan Idul Fithri di dunia ini hanya dengan satu mathla’ saja, sebagaimana yang beliau rinci dalam kitab Tamamul Minnah hal. 398. Walaupun demikian, beliau sangat getol mengajak umat Islam (saat ini) untuk melakukan shaum Ramadhan dan Iedul Fithri bersama penguasanya, sebagaimana perkataan beliau di atas.&lt;br /&gt;
Sumber : &amp;nbsp;http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&amp;amp;id_online=370&lt;br /&gt;
&lt;h3 style="text-align: left;"&gt;
&lt;b&gt;Fatwa Ulama Islam Tentang Penentuan Awal Ramadhan dan Ied&lt;/b&gt;&lt;b&gt;Redaksi Buletin Al Atsariyah&lt;/b&gt;&lt;/h3&gt;
Sudah menjadi polemik berkepanjangan di negeri kita, adanya khilaf sepanjang tahun tentang penentuan hilal (awal) bulan Romadhon. Karenanya, kita akan menyaksikan keanehan ketika kaum muslimin terkotak, dan terpecah dalam urusan ibadah mereka. Ada yang berpuasa –misalnya- tanggal 12 September karena mengikuti negeri lain; ada yang puasa tanggal 13 karena mengikuti pemerintah; ada yang berpuasa tanggal 14, karena mengikuti negeri yang lain lagi, sehingga terkadang muncul beberapa versi. Semua ini timbul karena jahilnya kaum muslimin tentang agamanya, dan kurangnya mereka bertanya kepada ahli ilmu.&lt;br /&gt;
Nah, manakah versi yang benar, dan sikap yang lurus bagi seorang muslim dalam menghadapi khilaf seperti ini? Menjawab masalah ini, tak ada salahnya –dan memang seyogyanya- kita kembali kepada petunjuk ulama’ kita, karena merekalah yang lebih paham agama.&lt;br /&gt;
Pada kesempatan ini, kami akan mengangkat fatwa para ulama’ Islam yang tergabung dalam Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts Al-Ilmiyyah wa Al-Ifta’, yang beranggotakan: Syaikh Abdul Aziz bin Baz (Ketua), Abdur Razzaq Afifiy (Wakil Ketua), Abdullah bin Ghudayyan (staf), Abdullah bin Mani’ (Staf), dan Abdullah bin Qu’ud (Staf). Fatwa berikut ini kami nukilkan dari kitab yang berjudul “Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah”, (hal. 94-), kecuali fatwa Syaikh Nashir Al-Albaniy.&lt;br /&gt;
Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah (no. 10973)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Soal: ” Ada sekelompok orang yang multazim, dan berjenggot di negeri kami; mereka menyelisihi kami dalam sebagian perkara, contohnya puasa Romadhon. Mereka tak puasa, kecuali jika telah melihat hilal (bulan sabit kecil yang muncul di awal bulan) dengan mata kepala. Pada sebagian waktu, kami puasa satu atau dua hari sebelum mereka di bulan Romadhon. Mereka juga berbuka satu atau dua hari setelah (masuknya) hari raya…”&lt;br /&gt;
Al-Lajnah Ad-Da’imah menjawab: “Wajib mereka berpuasa bersama kaum manusia, dan sholat ied bersama kaum muslimin di negeri mereka berdasarkan sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- (yang artinya), “Berpuasalah kalian karena melihat hilal, dan berbukalah (berhari raya) karena melihatnya. Jika ada mendung pada kalian, maka sempurnakanlah jumlah (Sya’ban 30 hari, pen)”.Muttafaqun alaihi [HR. Al-Bukhoriy (1810), dan Muslim (1081)]&lt;br /&gt;
Maksudnya disini adalah perintah puasa dan berbuka (berhari raya), jika nyata adanya ru’yah (melihat hilal) dengan mata telanjang, atau dengan menggunakan alat yang membantu ru’yah (melihat hilal) berdasarkan sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- (yang artinya), “(Waktu)Puasa pada hari mereka berpuasa, dan berbuka (berhari raya) pada hari mereka berbuka (berhari raya), dan berkurban pada hari mereka berkurban”.[HR. Abu Dawud (2324), At-Tirmidziy (697), dan Ibnu Majah (1660). Lihat Ash-Shohihah (224)]&lt;br /&gt;
Hanya kepada Allah kita meminta taufiq dan semoga Allah memberi sholawat kepada Nabi klta -Shollallahu ‘alaihi wasallam-,keluarga serta para sahabatnya”.&lt;br /&gt;
Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah (no. 313)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Soal: “Kami mendengar dari siaran radio berita permulaan masuknya puasa di Kerajaan Saudi Arabia, di waktu kami tidak melihat adanya hilal di Negeri Sahil Al-Aaj, Guinea, Mali, dan Senegal; walaupun telah ada perhatian untuk melihat hilal. Oleh sebab itu, terjadi perselisihan diantara kami. Maka diantara kami ada yang berpuasa, karena bersandar kepada berita yang ia dengar dari siaran radio, namun jumlah mereka sedikit.diantara kami; Ada yang menunggu sampai la melihat hilal di negerinya, karena mengamalkan firman Allah-Subhanahu wa Ta’la- (yang artinya), “Barang siapa diantara kalian yang hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu”;&lt;br /&gt;
sabda Nabi–Shollallahu ‘alaihi wasallam- (yang artinya), “Berpuasalah kalian karena melihat hilal, dan berbukalah (berhari raya) karena melihatnya”.&lt;br /&gt;
dan sabda Nabi–Shollallahu ‘alaihi wasallam- (yang artinya), “Bagi setiap daerah ada ru’yahnya”. sungguh telah terjadi perdebatan yang sengit antara dua kelompok ini.maka berilah fatwa kepada kami tentang hal tersebut.&lt;br /&gt;
Al-Lajnah Ad-Da’imah menjawab: “Tatkala orang-orang dahulu dari kalangan para ahli fiqhi berselisih di dalam masalah ini; setiap orang diantara mereka memiliki dalil, maka -jika telah nyata terlihatnya hilal, baik melalui radio, atau yang lainnya di selain tempatmu-, wajib bagi kalian untuk mengembalikan masalah puasa atau tidak kepada penguasa umum (tertinggi) di negara kalian. jika ia (pemerintah) telah memutuskan berpuasa atau tidak, maka wajib atas kalian untuk mentaatinya, karena sesungguhnya keputusan penguasa akan menghilangkan adanya perselisihan didalam masalah seperti ini. Atas dasar ini, pendapat untuk berpuasa atau tidak akan bersatu, karena mengikuti keputusan kepala negara kalian; masalah akhirnya bisa terselesaikan.&lt;br /&gt;
Adapun kalimat yang berbunyi, “bagi setiap tempat memiliki ru’yah”, ini bukanlah hadits dari Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-. Itu hanyalah merupakan ucapan kelompok yang menganggap berbedanya matla’ (waktu &amp;amp; tempat munculnya) hilal dalam memulai puasa Ramadhan dan akhirnya.&lt;br /&gt;
Hanya kepada Allah kita meminta taufiq dan semoga Allah memberi sholawat kepada Nabi klta–Shollallahu ‘alaihi wasallam-,keluarga serta para sahabatnya”.&lt;br /&gt;
Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah (no. 313)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Soal : Diantara perkara yang tak mungkin untuk melihat hilal dengan mata telanjang sebelum umurnya mencapai 30 jam. Setelah itu, tidak mungkin melihatnya, karena kondisi cuaca. Dengan memandang kondisi seperti ini, apakah mungkin bagi penduduk Inggris untuk menggunakan ilmu falak bagi negeri ini dalam menghitung waktu yang memungkinkan untuk melihat bulan baru (hilal), dan waktu masuknya bulan Romadhon, ataukah wajib bagi kami melihat bulan baru (hilal) sebelum kami memulai puasa Ramadhan yang penuh berkah?&lt;br /&gt;
Jawab: “Boleh menggunakan alat-alat pengintai (teropong) untuk melihat hilal; namun tidak boleh bersandar kepadailmu-ilmu falaq untuk menetapkan awal bulan ramadhan yang suci dan idul fitri, karena sesungguhnya Allah -Subhanahu wa Ta’la- tidak men-syari’at-kan bagi kita hal tersebut, baik dalam Kitab-Nya, maupun sunnah Nabi-Nya -Shollallahu ‘alaihi wasallam-. Hanyalah disyariatkan bagi kita untuk menetapkan awal bulan Ramadhan dan akhirnya dengan melihat hilal bulan ramadhan pada awal puasa; Demikian pula melihat hilal Syawwal untuk berbuka dan bersatu dalam melaksanakan sholat idul fitri. Allah–Subhanahu wa Ta’la- telah menjadikan bulan sabit (hilal) itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji. Maka tidak boleh bagi seorang muslim untuk menenntukan waktu ibadah dengan cara apapun, selain dengan melihat hilal dari ibadah-ibadah, seperti puasa Ramadhan, hari ‘ied, ibadah haji, puasa untuk kaffarah (tebusan) membunuh, puasa kaffarah zhihar, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;
Allah -Ta’ala-’ berfirman (yang artinya), “Barang siapa diantara kalian yang hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu”. [(QS. Al-Baqoroh: 185)]&lt;br /&gt;
“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit (hilal) itu, maka katakanlah, “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia, dan haji”.[(QS. Al-Baqoroh: 189)]&lt;br /&gt;
Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda (yang artinya), “Berpuasalah kalian karena melihat hilal, dan berbukalah (berhari raya) karena melihatnya. Jika ada mendung di atas kalian, maka sempurnakanlah jumlah (Sya’ban) 30 hari”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan hal itu, orang yang tak melihat hilal di tempatnya, baik ketika kondisi cuaca cerah, atau pun cuaca mendung, maka wajib baginya untuk menyempurnakan bilangan hari menjadi 30 hari, jika orang lain di tempat lain tak melihat hilal. Apabila telah nyata bagi mereka terlihatnya hilal di luar negeri mereka, maka harus bagi mereka mengikuti sesuatu yang telah diputuskan oleh pimpinan umum (penguasa tertinggi) yang muslim di negeri mereka tentang bolehnya puasa, dan berhari raya, karena keputusan penguasa dalam masalah seperti ini, akan menghilangkan khilaf diantara para ahli fiqih dalam memandang perbedaan tempat atau tidak”. H&lt;br /&gt;
Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah (no. 388)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Soal: “Bagaimana pandangan Islam tentang perbedaan hari raya kaum muslimin: Iedul Fithri, dan Iedul Adhha. Di samping itu, telah diketahui bahwa hal itu bisa mengantarkan kepada pelaksanaan puasa pada hari yang haram puasa padanya, yaitu hari ied; mengantarkan kepada pelaksanaan buka puasa (hari raya) pada hari yang masih wajib berpuasa di dalamnya? Kami mengharapkan jawaban yang memuaskan dalam masalah penting ini agar menjadi hujjah di sisi Allah”.&lt;br /&gt;
Jawab: “Jika mereka berselisih dalam perkara yang ada diantara mereka, maka mereka (harus) berpegang dengan keputusan penguasa di negara mereka, jika penguasanya adalah muslim, karena keputusan penguasa ini akan menghilangkan khilaf, dan mengharuskan ummat untuk mengamalkannnya. Jika penguasa bukan muslim, maka mereka harus memegang keputusan Mejelis Islamic Centre di negeri mereka, demi menjaga persatuan dalam puasa mereka di bulan Romadhon, dan pelaksanaan sholat ied di negeri mereka”.&lt;br /&gt;
Fatwa Syaikh Nashir Al-Albaniy -rahimahullah-&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh Nashir Al-Albaniy-rahimahullah- berkata dalam Tamam Al-Minnah (hal. 398-399), “Sampai nanti negeri-negeri Islam bisa bersatu di atas hal itu (puasa &amp;amp; hari raya, ed), maka sesungguhnya sekarang aku memandang wajib bagi rakyat di setiap negara untuk berpuasa bersama negara (pemerintah)nya; tidak berpuasa sendiri-sendiri. Akhirnya, sebagian rakyat berpuasa bersama negara (pemerintah)nya, dan sebagian lagi puasa bersama negara lain”; negara (pemerintah) lebih dahulu berpuasa ataukah terlambat, karena di dalam hal ini terdapat sesuatu yang bisa memperluas perselisihan di sebuah rakyat sebagaimana yang terjadi di sebagian negeri-negeri Arab sejak beberapa tahun yang silam, Wallahul Musta’an”.&lt;br /&gt;
Inilah beberapa fatwa ulama kita yang menjelaskan bahwa seorang muslim seharusnya berpuasa dan berhari raya ied bersama pemerintah demi menyatukan langkah. Di lain sisi, ia merupakan jalan Ahlus Sunnah sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikhul Islam dalam Al-Aqidah Al-Wasithiyyah.&lt;br /&gt;
Sumber: Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 30 Tahun I&lt;br /&gt;
Untuk Risalah lengkap dengan tulisan Arab, Klik http://almakassari.com/?p=170&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj5vfdLwILlmP35YVhlo1SleHuahPnv2SLaWJ6vJjug21563bFVfJhD4SOFca75pjqMQ341oSEjOL5cfDc7X2io8KN12E04RGmLoODiqJu8d64OoTShWbykqJqNtyXy0D7diPNITyvxjOhq/s72-c/Wallpaper+Indah+Ramadhan+%252810%2529.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Hukum Mendengarkan Ghibah, Bertaubat Dari Ghibah dan Ghibah yang Dibolehkan</title><link>http://akhlakulkariimah.blogspot.com/2013/07/hukum-mendengarkan-ghibah-bertaubat_856.html</link><category>akhlak</category><category>Muslim beradab</category><category>Sunnah</category><author>noreply@blogger.com (Amzan)</author><pubDate>Mon, 1 Jul 2013 14:03:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4988947874884367427.post-7785664301541859265</guid><description>&lt;a href="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/02/1329699316145190471.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="188" src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/02/1329699316145190471.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh: Ustadz Ibnu Abidin As-Soronji&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
HUKUM MENDENGARKAN GHIBAH&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Nawawi berkata di dalam Al-Adzkar: ”Ketahuilah bahwasanya ghibah itu sebagaimana diharamkan bagi orang yang menggibahi, diharamkan juga bagi orang yang mendengarkannya dan menyetujuinya. Maka wajib bagi siapa saja yang mendengar seseorang mulai menggibahi (saudaranya yang lain) untuk melarang orang itu, kalau dia tidak takut kepada mudhorot yang jelas. Dan jika dia takut kepada orang itu, maka wajib baginya untuk mengingkari dengan hatinya dan meninggalkan majelis tempat ghibah tersebut jika hal itu memungkinkan.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Jika dia mampu untuk mengingkari dengan lisannya atau dengan memotong pembicaraan ghibah tadi dengan pembicaraan yang lain, maka wajib baginya untuk melakukannya. Jika dia tidak melakukannya berarti dia telah bermaksiat.&lt;br /&gt;
Jika dia berkata dengan lisannya: ”Diamlah”, namun hatinya ingin pembicaraan gibah tersebut dilanjutkan, maka hal itu adalah kemunafikan yang tidak bisa membebaskan dia dari dosa. Dia harus membenci gibah tersebut dengan hatinya (agar bisa bebas dari dosa-pent).&lt;br /&gt;
Jika dia terpaksa di majelis yang ada ghibahnya dan dia tidak mampu untuk mengingkari ghibah itu, atau dia telah mengingkari namun tidak diterima, serta tidak memungkinkan baginya untuk meninggalkan majelis tersebut, maka harom baginya untuk istima’(mendengarkan) dan isgho’ (mendengarkan dengan seksama) pembicaraan ghibah itu. Yang dia lakukan adalah hendaklah dia berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan lisannya dan hatinya, atau dengan hatinya, atau dia memikirkan perkara yang lain, agar dia bisa melepaskan diri dari mendengarkan gibah itu. Setelah itu maka tidak dosa baginya mendengar ghibah (yaitu sekedar mendengar namun tidak memperhatikan dan tidak faham dengan apa yang didengar –pent), tanpa mendengarkan dengan baik ghibah itu, jika memang keadaannya seperti ini (karena terpaksa tidak bisa meninggalkan majelis gibah itu –pent). Namun jika (beberapa waktu) kemudian memungkinkan dia untuk meninggalkan majelis dan mereka masih terus melanjutkan ghibah, maka wajib baginya untuk meninggalkan majelis” [1]20) . Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :&lt;br /&gt;
وَإذَا رَأَيْتَ الَّذِيْنَ يَخُوْضُوْنَ فِيْ آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوْضُوْا فِيْ حَدِيْثٍ غَيْرِهِ, وَ إِمَّ يُنْسِيَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ فَلاَ تَقْعُدْ بَعْدَ الذِكْرِ مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ&lt;br /&gt;
“Dan apabila kalian melihat orang-orang yang mengejek ayat Kami, maka berpalinglah dari mereka hingga mereka mebicarakan pembicaraan yang lainnya. Dan apabila kalian dilupakan oleh Syaithon, maka janganlah kalian duduk bersama kaum yang dzolim setelah kalian ingat”. [Al-An’am : 68]&lt;br /&gt;
Benarlah perkataan seorang penyair…&lt;br /&gt;
وَسَمْعَكَ صُنْ عَنْ سَمَاعِ الْقَبِيْحِ كَصَوْنِ اللِّسَانِ عَنِ النُّطْقِ بِهْ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
فَإِنَّكَ عِنْدَ سَمَاعِ الْقَبِيْحِ شَرِيْكٌ لِقَائِلِهِ فَانْتَبِهْ&lt;br /&gt;
Dan pendengaranmu, jagalah ia dari mendengarkan kejelekan&lt;br /&gt;
Sebagaimana engkau menjaga lisanmu dari mengucapkan kejelekan itu.&lt;br /&gt;
Sesungguhnya ketika engkau mendengarkan kejelekan,&lt;br /&gt;
Engkau telah sama dengan orang yang mengucapkannya, maka waspadalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan meninggalkan majelis ghibah merupakan sifat-sifat orang yang beriman, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:وَإِذَا سَمِعُوْا اللَّغْوَ أَعْرَضُوْا عَنْهُ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan apabila mereka mendengar lagwu (kata-kata yang tidak bermanfaat) mereka berpaling darinya”. [Al-Qashash : 55]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
وَالَّذِيْنَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضِيْنَ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna”. [Al-Mu’minun :3]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan sangat dianjurkan bagi seseorang yang mendengar saudaranya dighibahi bukan hanya sekedar mencegah gibah tersebut, tetapi untuk membela kehormatan saudaranya tersebut, sebagaimana sabda Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :&lt;br /&gt;
عَنْ أَبِيْ الدَّرْدَاءِ عَنِ النَّبِيِّ قَالَ : مَنْ رَدَّ عَنْ عِرْضِ أَخِيْهِ, رَدَّ اللهُ وَجْهَهُ النَّارَ&lt;br /&gt;
“Dari Abu Darda’ Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang mempertahankan kehormatan saudaranya yang akan dicemarkan orang, maka Allah akan menolak api neraka dari mukanya pada hari kiamat” [2]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian juga pengamalan para salaf ketika ada saudaranya yang dighibahi, mereka akan membelanya, sebagaimana dalam hadits-hadits berikut:&lt;br /&gt;
عَنْ عِتْبَانَ بْنِ مَالِكٍ قَالَ : قَامَ النَّبِيُّ يُصَلِّي فَقَالَ : أَيْنَ مَلِكُ بْنُ الدُّخْشُنِ؟ فَقَالَ رَجُلٌ : ذَلِكَ مُنَافِقٌ, لاَ يُحِبُّ اللهَ وَ رَسُوْلَهُ, فَقَالَ النَّبِيُّ : لاَ تَقُلْ ذَلِكَ, أَلاَ تَرَاهُ قَدْ قَالَ لاَ إِلِهَ إِلاَّ اللهُ يُرِيْدُ بِذَلِكَ وَجْهَ اللهِ وَإِنَّ اللهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلِهَ إِلاَّ اللهُ يَبْتَغِيْ بِذَلِكَ وَجْهَ اللهِ&lt;br /&gt;
“Dari ‘Itban bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegakkan sholat, lalu (setelah selesai sholat) beliau berkata: “Di manakah Malik bin Addukhsyum?”, lalu ada seorang laki-laki menjawab: ”Ia munafik, tidak cinta kepada Allah dan Rasul-Nya”, Maka Nabi r berkata: “Janganlah engkau berkata demikian, tidakkah engkau lihat bahwa ia telah mengucapkan la ila ha illallah dengan ikhlash karena Allah?, dan Allah telah mengharamkan api neraka atas orang yang mengucapkan la ilaha illallah dengan ikhlash karena Allah”. [Bukhari dan Muslim]&lt;br /&gt;
حَتَّى بَلَغَ (رَسُولُ الهِر ) تَبُوكَ فَقَالَ وَهُوَ جَالِسٌ فِي الْقَوْمِ بِتَبُوكَ مَا فَعَلَ كَعْبُ بْنُ مَالِكٍ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ بَنِى سَلَمَةَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ حَبَسَهُ بُرْدَاهُ وَ النَّظَرُ فِيْ عِطْفَيْهِ. فَقَالَ لَهُ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ : بِئْسَ مَا قُلْتَ, وَاللهِ يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا عَلِمْنَا عَلَيْهِ إِلاَّ خَيْرًا, فَسَكَتَ رَسُوْلُ اللهِ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dari Ka’ab bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah sampai di Tabuk, dan sambil duduk beliau bertanya: “Apa yang dilakukan Ka’ab?”, (Yakni mengapa dia tidak keluar berjihad ke Tabuk ini-Red.) maka ada seorang laki-laki dari Bani Salamah menjawab: ”Wahai Rasulullah, ia telah tertahan oleh mantel dan selendangnya”. Lalu Mu’adz bin Jabal t berkata: “Buruk sekali perkataanmu itu, demi Allah wahai Rasulullah, kami tidak mengetahui sesuatupun dari dia melainkan hanya kebaikan”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun diam”. [Bukhori dan Muslim]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
BERTAUBAT DARI GHIBAH&lt;br /&gt;
Berkata Syaikh Utsaimin : “…Ghibah yaitu engkau membicarakannya dalam keadaan dia tidak ada, dan engkau merendahkannya di hadapan manusia sedangkan dia tidak ada. Untuk masalah (bertaubat dari ghibah) ini para ulama berselisih. Di antara ulama ada yang berkata (bahwasanya) engkau (yang menggibah) harus datang kepadanya (yang dighibahi) lalu berkata kepadanya: “Wahai fulan sesungguhnya aku telah membicarakan-mu di hadapan orang lain, maka aku mengharapkan-mu memaafkan-ku dan merelakan (perbuatan)ku”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagian ulama (yang lainnya) mengatakan (bahwasanya) engkau jangan datang kepadanya, tetapi ada perincian: Jika yang dighibahi telah mengetahui bahwa engkau telah mengghibahinya, maka engkau harus datang kepadanya dan meminta agar dia merelakan perbuatanmu. Namun jika dia tidak tahu, maka janganlah engkau mendatanginya (tetapi hendaknya) engkau memohon ampun untuknya dan engkau membicarakan kebaikan-kebaikannya di tempat-tempat yang engkau mengghibahinya. Karena sesungguhnya kebaikan-kebaikan bisa menghilangkan kejelekan-kejelekan. Pendapat kedua ini lebih benar, yaitu bahwasanya ghibah itu, jika yang dighibahi tidak mengetahui bahwa engkau telah mengghibahinya, maka cukuplah engkau menyebutkan kebaikan-kebaikannya di tempat-tempat yang kamu mengghibahinya dan engkau memohon ampun untuknya. Engkau bisa berkata: “Ya Allah ampunilah dia”, sebagaimana yang terdapat dalam hadits:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
كَفَّارَةُ مَنِ اغْتَبْتَهُ أَنْ تَسْتَغْفِرْ لَهُ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kafarah (penebus dosa) untuk orang yang kau ghibahi adalah engkau memohon ampunan untuknya” [3].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu Katsir berkata: “…para ulama lain berkata: “Tidaklah disyaratkan baginya (yang mengghibah) meminta penghalalan (perelaan dosa ghibahnya-pent) dari orang yang dia ghibahi. Karena jika dia memberitahu orang yang dia ghibahi tersebut bahwa dia telah mengghibahinya, maka terkadang malah orang yang dighibahi tersebut lebih tersakiti dibandingkan jika dia belum tahu, maka jalan keluarnya yaitu dia (si pengghibah) hendaknya memuji orang itu dengan kebaikan-kebaikan yang dimiliki orang itu di tempat-tempat yang dia telah mencela orang itu…” [4]&lt;br /&gt;
CARA MENGHINDARKAN DIRI DARI GHIBAH&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menghindari ghibah kita harus sadar bahwa segala apa yang kita ucapkan semuanya akan dicatat dan akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلاَّ لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir”. [Qaf : 18]&lt;br /&gt;
وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُوْلاً&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan janganlah kalian mengikuti apa yang kalian tidak mengetahuinya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati itu semua akan ditanyai (dimintai pertanggungjawaban)” [Al-Isra’: 36]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kita tidak menjaga lisan kita -sehingga berbicara seenaknya tanpa ditimbang-timbang dahulu, yang akhirnya mengakibatkan kita terjatuh pada ghibah atau yang lainnya- maka hal ini akibatnya sangat fatal. Sebab lisan termasuk sarana yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : وَ هَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِيْ النَّارِ عَلَى وُجُوْهِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ ؟&lt;br /&gt;
“Bukankah tidak ada yang menjerumuskan manusia ke dalam neraka melainkan akibat lisan-lisan mereka ?”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian juga sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :&lt;br /&gt;
أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ الأَجْوَفَانِ : الفَمُ و الْفَرَجُ&lt;br /&gt;
“Yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka adalah dua lubang: mulut dan kemaluan”. [5]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ n يَقُوْلُ : إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَة مِنْ سَخَطِ اللهِ لاَ يُلْقِيْ لَهَا بَالاً يَهْوِيْ بِهَا فِيْ جَهَنَّمَ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya beliau mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Sesungguhnya seorang hamba benar-benar akan mengatakan suatu kalimat yang mendatangkan murka Allah, yang dia tidak menganggap penting kalimat itu, akibatnya dia terjerumus ke dalam neraka Jahannam gara-gara kalimat itu”. [Bukhari]&lt;br /&gt;
Sehingga karena saking sulitnya menjaga lisan, Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :&lt;br /&gt;
عَنْ سَهْلٍ بْنِ سَعْدٍ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ الله ِ : مَنْ يَضْمَنْ لِيْ مَا بَيْنَ لِحْيَيْهِ وَ مَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dari Sahl bin Sa’d Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Barangsiapa yang menjamin kepadaku (keselamatan) apa yang ada di antara dua bibirnya (yaitu lisannya), dan apa yang ada di antara kedua kakinya (yaitu kemaluannya), maka aku jamin surga baginya”. [Bukhari dan Muslim]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Nawawi berkata: “Ketahuilah, bahwasanya ghibah adalah seburuk-buruknya hal yang buruk, dan ghibah merupakan keburukan yang paling tersebar pada manusia, sehingga tidak ada yang selamat dari ghibah ini kecuali hanya segelintir manusia” [6]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Syafi’i berkata:&lt;br /&gt;
الـذَّمُّ لَيْـسَ بِغِيْبَةٍٍ فِيْ سِتـَّةٍ مُتَظَلِّمٍ وَ مـُعَرِّفٍ وَ مُـحَذَِّرٍ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
وَ لِمُظْهِرٍ فِسـْقًا وَ مُسْتَفْـتٍ وَمَنْ طَلَبَ الإِعَانَةِ فِيْ إِزَالَةِ مُنْكَرٍ&lt;br /&gt;
“Jagalah lisanmu wahai manusia Janganlah lisanmu sampai menyengat-mu, sesungguhnya dia seperti ular&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa banyak penghuni kubur yang terbunuh oleh lisannya Padahal dulu orang-orang yang pemberani takut bertemu dengannya”&lt;br /&gt;
GHIBAH YANG DIBOLEHKAN&lt;br /&gt;
Syaikh Salim Al-Hilali berkata: “Ketahuilah bahwasanya ghibah dibolehkan untuk tujuan yang benar, yang sesuai syari’at, yang tujuan tersebut tidak mungkin bisa dicapai kecuali dengan ghibah itu”. [7]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal-hal yang membolehkan ghibah itu ada enam (sebagaimana disebutkan oleh An-Nawawi dalam Al-Adzkar), sebagaimana tergabung dalam suatu syair :&lt;br /&gt;
الـذَّمُّ لَيْـسَ بِغِيْبَةٍٍ فِيْ سِتـَّةٍ مُتَظَلِّمٍ وَ مـُعَرِّفٍ وَ مُـحَذَِّرٍ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
وَ لِمُظْهِرٍ فِسـْقًا وَ مُسْتَفْـتٍ وَمَنْ طَلَبَ الإِعَانَةِ فِيْ إِزَالَةِ مُنْكَرٍ&lt;br /&gt;
“Celaan bukanlah ghibah pada enam kelompok Pengadu, orang yang mengenalkan, dan orang yang memperingatkan Dan terhadap orang yang menampakkan kefasikan, dan peminta fatwa Dan orang yang mencari bantuan untuk menghilangkan kemungkaran”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama : Pengaduan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka dibolehkan bagi orang yang teraniaya mengadu kepada sultan (penguasa) atau hakim dan yang lainnya, yang memiliki kekuasaan dan kemampuan untuk mengadili orang yang menganiaya dirinya. Maka dia (boleh) berkata: “Si fulan telah menganiaya saya demikian dan demikian”. Dalilnya firman Allah:&lt;br /&gt;
لاَ يُحِبُّ اللهُ الْجهْرَ بِالسُّوْءِ إِلاَّ مَنْ ظُلِمَ&lt;br /&gt;
“Allah tidak menyukai ucapan yang buruk (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiyaya”. [An-Nisa’ : 148].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengecualian yang terdapat dalam ayat ini menunjukkan bolehnya orang yang didzholimi mengghibahi orang yang mendzoliminya, dengan hal-hal yang menjelaskan kepada manusia tentang kedzoliman yang telah dialaminya dari orang yang mendzoliminya, dan dia mengeraskan suaranya dengan hal itu dan menampakkannya di tempat-tempat berkumpulnya manusia. Sama saja apakah dia nampakkan kepada orang-orang yang diharapkan bantuan mereka kepadanya, atau dia nampakkan kepada orang-orang yang dia tidak mengharapkan bantuan mereka.[8]&lt;br /&gt;
Kedua : Minta Bantuan Untuk Mengubah Kemungkaran Dan Mengembalikan Pelaku Kemaksiatan Kepada Kebenaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka seseorang (boleh) berkata kepada orang yang diharapkan kemampuannya bisa menghilangkan kemungkaran: “Si fulan telah berbuat demikian, maka hentikanlah dia dari perbuatannya itu” dan yang selainnya. Dan hendaknya tujuannya adalah sebagai sarana untuk menghilangkan kemungkaran, jika niatnya tidak demikian maka hal ini adalah haram.&lt;br /&gt;
Ketiga : Meminta Fatwa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misalnya seseorang berkata kepada seorang mufti: “Bapakku telah berbuat dzolim padaku”, atau “Saudaraku, atau suamiku, atau si fulan telah mendzolimiku, apakah hukuman yang dia dapatkan?, dan bagaimanakah jalan keluar dari hal ini, agar hakku bisa aku peroleh dan terhindar dari kedzoliman?”, dan yang semisalnya. Tetapi yang yang lebih hati-hati dan lebih baik adalah hendaknya dia berkata (kepada si mufti): “Bagaimana pendapatmu tentang seseorang atau seorang suami yang telah melakukan demikian ..?”. Maka dengan cara ini tujuan bisa diperoleh tanpa harus menyebutkan orang tertentu, namun menyebutkan orang tertentupun boleh sebagaimana dalam hadits Hindun.&lt;br /&gt;
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : قَالَتْ هِنْدٌ امْرَأَةُ أَبِيْ سُفْيَانَ لِلنَّبِيِّ : إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيْحٌ وَلَيْسَ يُعْطِيْنِيْ مَا يَكْفِيْنِيْ وَوَلَدِِيْ إِلاَّ مَا أَخَذْتُ مِنْهُ وَهُوَ لاَ يَعْلَمُ, قَالَ : خُذِيْ مَا يَكْفِيْكِ وَوَلَدِكِ بِالْمَعْرُوْفِ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dari ‘Aisyah berkata: Hindun, istri Abu Sofyan, berkata kepada Nabi Shallallahu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya Abu Sufyan seorang yang kikir dan tidak memberi belanja yang cukup untukku dan untuk anak-anakku, kecuali jika saya ambil tanpa pengetahuannya”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “Ambillah apa yang cukup untukmu dan untuk anak-anakmu dengan cara yang baik” (jangan terlalu banyak dan jangan terlalu sedikit)” [9]&lt;br /&gt;
Keempat : Memperingatkan Kaum Muslimin Dari Kejelekan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini diantaranya: Jarh wa ta’dil (celaan dan pujian terhadap seseorang) yang telah dilakukan oleh para Ahlul Hadits. Mereka berdalil dengan ijma’ tentang bolehnya, bahkan wajibnya hal ini. Karena para salaf umat ini senantiasa menjarh (mencela) orang-orang yang berhak mendapatkannya, dalam rangka untuk menjaga keutuhan syari’at. Seperti perkataan ahlul hadits: “Si fulan pendusta”, “Si fulan lemah hafalannya”, “Si fulan munkarul hadits”, dan lain-lainnya. [10]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Contoh yang lain yaitu mengghibahi seseorang ketika musyawarah untuk mencari nasehat. Dan tidak mengapa dengan menta’yin (menyebutkan dengan jelas) orang yang dighibahi tersebut. Dalilnya sebagaimana hadits Fatimah.&lt;br /&gt;
عَنْ فَاطِمَةَ بِنْتِ قَيْسٍ قَالَتْ : أَتَيْتُ النَّبِيَّ فَقُلْتُ : إِنَّ أَبَا الْجَهْمِ وَ مُعَاوِيَةَ خَطَبَانِ, فَقَالَ رَسُوْلُ الله : أَمَّا مُعَاوِيَةُ فَصُعْلُوْكٌ لاَ مَالَ لَهُ. وَأَمَّا أَبُوْا الْجَهْمِ فَلاَ يَضَعُ الْعَصَا عَنْ عَاتِقِهِ.(وَفِيْ رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ : وَأَمَّا أَبُوْا الْجَهْمِ فَضَرَّابُ لِلنِّسَاءِ).&lt;br /&gt;
“Fatimah binti Qois berkata: “Saya datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Sesungguhnya Abul Jahm dan Mu’awiyah meminang saya”. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “Adapun Mu’awiyah maka ia seorang miskin adapun Abul Jahm maka ia tidak pernah melepaskan tongkatnya dari bahunya”. (Bukhori dan Muslim). Dan dalam riwayat yang lain di Muslim (no 1480) :”Adapun Abul Jahm maka ia tukang pukul para wanita (istri-istrinya)”. [11]&lt;br /&gt;
Kelima : Ghibah Dibolehkan Kepada Seseorang Yang Terang-Terangan Menampakkan Kefasikannya Atau Kebid’ahannya.&lt;br /&gt;
Seperti orang yang terang-terangan meminum khamer, mengambil harta manusia dengan dzolim, dan lain sebagainya. Maka boleh menyebutkan kejelekan-kejelekannya. Dalilnya :&lt;br /&gt;
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَجُلاً اسْتَأْذَنَ عَلَى النَّبِيِّ فَقَالَ ائْذَنُوْا لَهُ, بِئْسَ أَخُوْا الْعَشِيْرَةِ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“‘Aisyah berkata: “Seseorang datang minta idzin kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Izinkankanlah ia, ia adalah sejahat-jahat orang yang ditengah kaumnya”. [12]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun diharomkan menyebutkan aib-aibnya yang lain yang tidak ia nampakkan, kecuali ada sebab lain yang membolehkannya. [13]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keenam : Untuk Pengenalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika seseorang terkenal dengan suatu laqob (gelar) seperti Al-A’masy (si rabun) atau Al-A’roj (si pincang) atau Al-A’ma (si buta) dan yang selainnya, maka boleh untuk disebutkan. Dan diharomkan menyebutkannya dalam rangka untuk merendahkan. Adapun jika ada cara lain untuk untuk mengenali mereka (tanpa harus menyebutkan cacat mereka) maka cara tersebut lebih baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PERHATIAN&lt;br /&gt;
Syaikh Salim Al-Hilali berkata:&lt;br /&gt;
1. Bolehnya ghibah untuk hal-hal di atas adalah hukum yang menyusul (bukan hukum asal), maka jika telah hilang ‘illatnya (sebab-sebab yang membolehkan ghibah -pent), maka dikembalikan hukumnya kepada hukum asal, yaitu haramnya ghibah.&lt;br /&gt;
2. Dibolehkannya ghibah ini adalah karena darurat. Oleh karena itu ghibah tersebut diukur sesuai dengan ukurannya (seperlunya saja –pent). Maka tidak boleh memperluas terhadap bentuk-bentuk di atas (ghibah yang dibolehkan). Bahkan orang yang mendapatkan keadaan darurat ini (sehingga dia dibolehkan ghibah –pent) hendaknya bertaqwa kepada Allah, dan janganlah dia menjadi termasuk orang-orang yang melampaui batas. [14]&lt;br /&gt;
Maraji’ :&lt;br /&gt;
1. Kitab As-Samt, karya Ibnu Abi Dunya tahqiq Syaikh Abu Ishaq Al-Huwainy&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Syarah Riadlus Solihin, karya Syaikh Utsaimin, jilid 1, Bab Taubat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Taisir Karimir Rohman, karya Syaikh Nasir As-Sa’di&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Bahjatun Nadzirin Syarah Riadlus Sholihin, Karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaly, jilid 3&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Tafsir Ibnu Katsir, jilid 4, tafsir surat Al-Hujurot&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Al-Muntaqo Al-Mukhtar Min Kitab Al-Adzkar (Nawawi), karya Muhammad Ali As-Shobuni, bab tahrimul ghibah&lt;br /&gt;
7. Tuhfatul Ahwadzi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8. Kitabuz Zuhud, karya Imam Waki’ bin Jarroh, tahqiq Abdul Jabbar Al-Fariwai, jilid 3&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
9. Subulus Salam, karya As-Shon’ani, jilid 4 bab tarhib min masawiil akhlaq.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
10. Taudlihul Ahkam, karya Syaikh Ali Bassam, jilid 6&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
11. Hajrul Mubtadi’, karya Syaikh Bakr Abu Zaid&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun V/1422/2001M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-7574821]&lt;br /&gt;
_______&lt;br /&gt;
Footnote&lt;br /&gt;
[1]. Bahjatun Nadzirin 3/29,30&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[2]. Riwayat At-Tirmidzi 1931 dan Ahmad 6/450, berkata Syaikh Salim Al-Hilali : “Shohih atau hasan”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[3]. Syarah Riyadlus Sholihin 1/78) (Sedangkan hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam kitab Ash-Shomt no 291, Syaikh Abu Ishaq berkata: “Maudlu’”, As-Subki berkata: “Dalam sanad hadits ini ada perowi yang tidak bisa dijadikan hujjah, dan kaidah-kaidah fiqh telah menolak (isi) hadits ini, karena ghibah itu (menyangkut) hak manusia, maka tidak bisa gugur kecuali dengan melepaskan diri, oleh karena itu dia (si pengghibah) harus meminta penghalalan/perelaan dari yang dighibahi. Namun jika yang dighibahi telah mati dan tidak bisa dilaksanakan (permohonan penghalalan tersebut), maka sebagian ulama berkata: “Dia (si pengghibah) memohon ampunan untuk yang dighibahi”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[4]. Tafsir Ibnu Katsir 4/276&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[5]. Riwayat Tirmidzi 2004, Ahmad (2/291,292), dan lain-lain. Syaikh Salim Al-Hilali berkata: “Isnadnya hasan”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[6]. Tuhfatul Ahwadzi hal 63&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[7]. Bahjatun Nadzirin 3/33.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[8]. Ini adalah perkataan As-Syaukani. Namun hal ini dibantah oleh Syaikh Salim, yaitu bahwasanya ayat ini (An-Nisa’ 148) menunjukan hanyalah dibolehkan orang yang didzolimi mencela orang yang mendzoliminya jika dihadapan orang tersebut. Adapun mengghibahnya (mencelanya dihadapan manusia, tidak dihadapannya) maka ini tidak boleh karena bertentangan dengan ayat Al-Hujurot 12 dan hadits-hadits yang shohih yang jelas melarang ghibah. Karena ghibah hanya dibolehkan jika dalam dhorurot. (Bahjatun Nadzirin 3/36,37&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[9]. Riwayat Bukhori dalam Al-Fath 9/504,507, dan Muslim no 1714)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[10]. Sebagaimana yang dilakukan oelh para salaf ketika memperingatkan umat dari bahaya para ahlul bid’ah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata tentang penjelasan wajibnya nasihat untuk memperbaiki Islam dan kaum muslimin: “Seperti para imam kebid’ahan yaitu orang-orang yang mengucapkan perkataan-perkataan yang menyimpang dari Kitab dan Sunnah atau yang telah melakukan ibadah-ibadah yang menyimpang dari Kitab dan Sunnah, maka menjelaskan keadaan mereka dan memperingatkan umat dari (bahaya) mereka adalah wajib dengan kesepakatan kaum muslimin. Hingga Imam Ahmad pernah ditanya:.”Seorang laki-laki puasa dan sholat dan beri’tikaf lebih engkau sukai atau membicarakan tentang (kejelekan) ahlul bid’ah (yang lebih engkau sukai)?”. Maka beliau menjawab: “Jika laki-laki itu sholat dan i’tikaf maka hal itu (kemanfaaatannya) adalah untuk dirinya sendiri, dan jika dia membicarakan (kejelekan) ahlul bid’ah maka hal ini adalah demi kaum muslimin, maka hal ini (membicarkan kejelekan ahlul bid’ah) lebih baik.” Maka Imam Ahmad telah menjelaskan bahwasanya hal ini (membicarakan ahlul bid’ah) bermanfaat umum bagi kaum muslimin dalam agama mereka dan termasuk jihad fi sabilillah dan pada agama-Nya dan manhaj-Nya serta syari’at-Nya. Dan menolak kekejian dan permusuhan ahlul bid’ah atas hal itu adalah wajib kifayah dengan kesepakatan kaum muslimin. Kalaulah bukan karena orang-orang yang telah Allah tegakkan untuk menghilangkan kemudhorotan para ahlul bid’ah ini, maka akan rusak agama ini, yang kerusakannya lebih parah dari pada kerusakan (yang timbul) akibat dikuasai musuh dari ahlul harbi (orang kafir yang menyerang-pent). Karena musuh-musuh tersebut tidaklah merusak hati dan agama yang (telah tertanam) dalam hati kecuali hanya belakangan. Sedangkan para ahlul bid’ah mereka merusak hati sejak semula. (Al-Fatawa 26/131,232, lihat Hajrul Mubtadi’ hal 9)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[11]. Dan ini merupakan tafsir dari riwayat &amp;nbsp;ia tidak pernah melepaskan tongkatnya dari bahunya&lt;br /&gt;
[12]. Riwayat Bukhori dan Muslim no 2591), As-Syaukani menjelaskan bahwasanya dalil ini tidaklah tepat untuk membolehkan menggibahi orang yang menampakkan kefasikannya. Sebab ucapan (ia adalah sejahat-jahat orang yang ditengah kaumnya) berasal dari Nabi r, kalau benar ini adalah ghibah maka tidak boleh kita mengikutinya sebab Allah dan Nabi r telah melarang ghibah dalam hadits-hadits yang banyak. Dan karena kita tidak mengetahui hakikat dan inti dari perkara ini. Dan juga, pria yang disinggung oleh Nabi r tersebut ternyata hanya melakukan Islam secara dzohir, sedangkan keadaannya goncang dan masih ada bekas jahiliah pada dirinya. (Penjelasan yang lebih lengkap lihat Bahjatun Nadzirin 3/46&lt;br /&gt;
[13]. Bahjatun Nadzirin 3/35). As-Syaukani menjelaskan :Jika tujuan menyebutkan aib-aib orang yang berbuat dzolim ini untuk memperingatkan manusia dari bahayanya, maka telah masuk dalam bagian ke empat. Dan kalau tujuannya adalah untuk mencari bantuan dalam rangka menghilangkan kemungkaran, maka inipun telah masuk dalam bagian ke dua. Sehingga menjadikan bagian kelima ini menjadi bagian tersendiri adalah kurang tepat.(Bahjatun Nadzirin 3/45,46&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[14]. Bahjatun Nadzirin 4/35,36&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber : http://www.almanhaj.or.id/content/2851/slash/0</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Menjaga Lisan Mendatangkan Kebaikan</title><link>http://akhlakulkariimah.blogspot.com/2013/05/menjaga-lisan-mendatangkan-kebaikan.html</link><category>akhlak</category><category>Dakwah</category><category>Muslim beradab</category><category>Nasihat</category><author>noreply@blogger.com (Amzan)</author><pubDate>Sun, 5 May 2013 07:00:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4988947874884367427.post-7493731388390823209</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://www.cintaquran.com/wp-content/uploads/2012/11/bahaya-lisan.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="134" src="http://www.cintaquran.com/wp-content/uploads/2012/11/bahaya-lisan.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;Banyak orang merasa bangga dengan kemampuan lisannya (lidah) yang begitu fasih berbicara. Bahkan tak sedikit orang yang belajar khusus agar memiliki kemampuan bicara yang bagus. Lisan memang karunia Allah &lt;br /&gt;
yang demikian besar. Dan ia harus selalu disyukuri dengan sebenar-benarnya. Caranya adalah dengan menggunakan lisan untuk bicara yang baik atau diam. Bukan dengan mengumbar pembicaraan semau sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang yang banyak bicara bila tidak diimbangi dengan ilmu agama yang baik, akan banyak terjerumus ke dalam kesalahan. &lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Karena itu Allah dan Rasul-Nya memerintahkan agar kita lebih banyak diam. Atau kalaupun harus berbicara maka dengan pembicaraan yang baik. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.” (Al-Ahzab: 70)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Al-Imam Al-Bukhari hadits no. 6089 dan Al-Imam Muslim hadits no. 46 dari Abu Hurairah)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lisan (lidah) memang tak bertulang, sekali engkau gerakkan sulit untuk kembali pada posisi semula. Demikian berbahayanya lisan, hingga Allah dan Rasul-Nya mengingatkan kita agar berhati-hati dalam menggunakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dua orang yang berteman penuh keakraban bisa dipisahkan dengan lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa dipisahkan karena lisan. Suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa dipisahkan dengan cepat karena lisan. Bahkan darah seorang muslim dan mukmin yang suci serta bertauhid dapat tertumpah karena lisan. Sungguh betapa besar bahaya lisan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang dibenci oleh Allah yang dia tidak merenungi (akibatnya), maka dia terjatuh dalam neraka Jahannam.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6092)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sesungguhnya seorang hamba apabila berbicara dengan satu kalimat yang tidak benar (baik atau buruk), hal itu menggelincirkan dia ke dalam neraka yang lebih jauh antara timur dan barat.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6091 dan Muslim no. 6988 dari Abu Hurairah Rad. )&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al-Imam An-Nawawi mengatakan: “Hadits ini (yakni hadits Abu Hurairah yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim) teramat jelas menerangkan bahwa sepantasnya bagi seseorang untuk tidak berbicara kecuali dengan pembicaraaan yang baik, yaitu pembicaraan yang sudah jelas maslahatnya dan kapan saja dia ragu terhadap maslahatnya, janganlah dia berbicara.” (Al-Adzkar hal. 280, Riyadhus Shalihin no. 1011)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al-Imam Asy-Syafi’i mengatakan: “Apabila dia ingin berbicara hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga nampak maslahatnya.” (Al-Adzkar hal. 284)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Al-Imam An-Nawawi mengatakan: “Ketahuilah, setiap orang yang telah mendapatkan beban syariat, seharusnya menjaga lisannya dari semua pembicaraan, kecuali pembicaraan yang sudah jelas maslahatnya. Bila keadaan berbicara dan diam sama maslahatnya, maka sunnahnya adalah menahan lisan untuk tidak berbicara. Karena pembicaraan yang mubah bisa menarik kepada pembicaraan yang haram atau dibenci, dan hal seperti ini banyak terjadi. Keselamatan itu tidak bisa dibandingkan dengan apapun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keutamaan Menjaga Lisan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang lisan tidak bertulang. Apabila keliru menggerakkannya akan mencampakkan kita dalam murka Allah yang berakhir dengan neraka-Nya. Lisan akan memberikan ta’bir (mengungkapkan) tentang baik-buruk pemiliknya. Inilah ucapan beberapa ulama tentang bahaya lisan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Anas bin Malik : “Segala sesuatu akan bermanfaat dengan kadar lebihnya, kecuali perkataan. Sesungguhnya berlebihnya perkataan akan membahayakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Abu Ad-Darda’ : “Tidak ada kebaikan dalam hidup ini kecuali salah satu dari dua orang yaitu orang yang diam namun berpikir atau orang yang berbicara dengan ilmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Al-Fudhail : “Dua perkara yang akan bisa mengeraskan hati seseorang adalah banyak berbicara dan banyak makan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Sufyan Ats-Tsauri : “Awal ibadah adalah diam, kemudian menuntut ilmu, kemudian mengamalkannya, kemudian menghafalnya lantas menyebarkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Al-Ahnaf bin Qais : “Diam akan menjaga seseorang dari kesalahan lafadz (ucapan), memelihara dari penyelewangan dalam pembicaraan, dan menyelamatkan dari pembicaraan yang tidak berguna, serta memberikan kewibawaan terhadap dirinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Abu Hatim : “Lisan orang yang berakal berada di belakang hatinya. Bila dia ingin berbicara, dia mengembalikan ke hatinya terlebih dulu, jika terdapat (maslahat) baginya maka dia akan berbicara. Dan bila tidak ada (maslahat) dia tidak (berbicara). Adapun orang yang jahil (bodoh), hatinya berada di ujung lisannya sehingga apa saja yang menyentuh lisannya dia akan (cepat) berbicara. Seseorang tidak (dianggap) mengetahui agamanya hingga dia mengetahui lisannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
7. Yahya bin ‘Uqbah: “Aku mendengar Ibnu Mas’ud berkata: ‘Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang benar selain-Nya, tidak ada sesuatu yang lebih pantas untuk lama dipenjarakan dari pada lisan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8. Mu’arrifh Al-‘Ijli : “Ada satu hal yang aku terus mencarinya semenjak 10 tahun dan aku tidak berhenti untuk mencarinya.” Seseorang bertanya kepadanya: “Apakah itu wahai Abu Al-Mu’tamir?” Mua’arrif menjawab: “Diam dari segala hal yang tidak berfaidah bagiku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Lihat Raudhatul ‘Uqala wa Nuzhatul Fudhala karya Abu Hatim Muhamad bin Hibban Al-Busti, hal. 37-42)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Buah Menjaga Lisan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menjaga lisan jelas akan memberikan banyak manfaat. Di antaranya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Akan mendapat keutamaan dalam melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya. Abu Hurairah Rad. meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6090 dan Muslim no. 48)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Akan menjadi orang yang memiliki kedudukan dalam agamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam hadits Abu Musa Al-Asy’ari, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam ketika ditanya tentang orang yang paling utama dari orang-orang Islam, beliau menjawab:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“(Orang Islam yang paling utama adalah) orang yang orang lain selamat dari kejahatan tangan dan lisannya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 11 dan Muslim no. 42)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asy-Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali mengatakan: “Hadits ini menjelaskan larangan mengganggu orang Islam baik dengan perkataan ataupun perbuatan.” (Bahjatun Nazhirin, 3/8)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Mendapat jaminan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam untuk masuk ke surga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda dalam hadits dari Sahl bin Sa’d :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Barangsiapa yang menjamin untukku apa yang berada di antara dua rahangnya dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan) maka aku akan menjamin baginya al-jannah (surga).” (HR. Al-Bukhari no. 6088)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam riwayat Al-Imam At-Tirmidzi no. 2411 dan Ibnu Hibban no. 2546, dari shahabat Abu Hurairah Rad. , Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Barangsiapa yang dijaga oleh Allah dari kejahatan apa yang ada di antara dua rahangnya dan kejahatan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan) maka dia akan masuk surga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Allah akan mengangkat derajat-Nya dan memberikan ridha-Nya kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda dalam hadits dari Abu Hurairah Rad. :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat dari apa yang diridhai Allah yang dia tidak menganggapnya (bernilai) ternyata Allah mengangkat derajatnya karenanya.” (HR. Al-Bukhari no. 6092)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam riwayat Al-Imam Malik, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali dalam Bahjatun Nazhirin (3/11), dari shahabat Bilal bin Al-Harits Al-Muzani bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sesungguhnya seseorang berbicara dengan satu kalimat yang diridhai oleh Allah dan dia tidak menyangka akan sampai kepada apa (yang ditentukan oleh Allah), lalu Allah mencatat keridhaan baginya pada hari dia berjumpa dengan Allah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikianlah beberapa keutamaan menjaga lisan. Semoga kita diberi kemampuan oleh Allah untuk melaksanakan perintah-Nya dan perintah Rasul-Nya dan diberi kemampuan untuk mengejar keutamaan tersebut. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Dikutip dari http://asysyariah.com Penulis: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi, Judul :Lidah Tak Bertulang&lt;br /&gt;dan artikel ini diambil dari&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://qurandansunnah.wordpress.com/"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;http://qurandansunnah.wordpress.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>76 Dosa Besar yang Dianggap Biasa</title><link>http://akhlakulkariimah.blogspot.com/2013/03/76-dosa-besar-yang-dianggap-biasa.html</link><category>Ibadah</category><category>Tazkiyatun Nafs</category><category>Tinggalkan Maksiat</category><author>noreply@blogger.com (Amzan)</author><pubDate>Tue, 12 Mar 2013 06:37:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4988947874884367427.post-1908334486182694467</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhicEqgkOb9uoDSJ9ttCnx_N2fAJ6xTL9e8X08hzveNvuuuD3YdXwSZxQ__PdX8YWK9oDFvUsesOQFNp3fXaSxG9axVUJJrIjpzXZQ_zCmdsQ8kSj421ZecPIwzbwQv1cA9ny1l6shXGe4/s1600/76.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhicEqgkOb9uoDSJ9ttCnx_N2fAJ6xTL9e8X08hzveNvuuuD3YdXwSZxQ__PdX8YWK9oDFvUsesOQFNp3fXaSxG9axVUJJrIjpzXZQ_zCmdsQ8kSj421ZecPIwzbwQv1cA9ny1l6shXGe4/s200/76.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Alhamdulillah, berikut ini kami sampaikan dosa-dosa besar yang ditulis di Kitab Al Kabair karya Imam Adz-Dzahabi -rahimahullah-&lt;br /&gt;
(edisi Indonesia: 76 Dosa Besar yg Dianggap Biasa). Mudah-mudahan kita diberi kekuatan untuk menjauhinya, aamiin...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Syirik (menyekutukan Allah)&lt;br /&gt;
2. Membunuh&lt;br /&gt;
3. Sihir&lt;br /&gt;
4. Meninggalkan shalat&lt;br /&gt;
5. Tidak membayar zakat&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Durhaka kepada ortu&lt;br /&gt;
7. Memakan riba&lt;br /&gt;
8. Memakan harta anak yatim secara dzalim&lt;br /&gt;
9. Dusta atas nama Nabi -shalallahu 'alaihi wasallam-&lt;br /&gt;
10. Tdk berpuasa pada bulan Ramadhan tanpa udzur dan tanpa rukhshah&lt;br /&gt;
11. Melarikan diri dari pertempuran&lt;br /&gt;
12. Sebagian zina lebih besar dosanya daripada sebagian lainnya&lt;br /&gt;
13. Pemimpin yg berkhianat, dzalim, dan bengis kepada rakyatnya&lt;br /&gt;
14. Minum khamr walaupun tidak sampai mabuk&lt;br /&gt;
15. Sombong, bangga diri, angkuh, ujub, dan congkak&lt;br /&gt;
16. Kesaksian palsu&lt;br /&gt;
17. Homo seksual&lt;br /&gt;
18. Menuduh wanita baik-baik melakukan zina&lt;br /&gt;
19. Berkhianat mengambil harta ghanimah, baitul mal, dan zakat&lt;br /&gt;
20. Berbuat dzalim dengan mengambil harta orang lain secara bathil&lt;br /&gt;
21. Mencuri&lt;br /&gt;
22. Merampok di jalanan&lt;br /&gt;
23. Sumpah dusta&lt;br /&gt;
24. Gemar berkata bohong&lt;br /&gt;
25. Bunuh diri&lt;br /&gt;
26. Hakim yang jahat&lt;br /&gt;
27. Membiarkan perbuatan keji pada istrinya&lt;br /&gt;
28. Perempuan menyerupai laki-laki dan laki-laki menyerupai perempuan&lt;br /&gt;
29. Al-muhallil (orang yang menikahi seorang perempuan yang ditalak tiga oleh suami sebelumnya, dia menikahinya bukan untuk membina rmh tangga, tapi untuk dia ceraikan kembali setelah menggaulinya, agar suami pertamanya tersebut halal untuk menikahinya kembali) dan al-muhallal lahu (suami sebelumnya yang nikah tahlil dilakukan untuknya, agar dia dapat kembali menikahi istrinya yang telah diceraikannya dengan talak tiga tersebut)&lt;br /&gt;
30. Memakan bangkai, darah, dan daging babi&lt;br /&gt;
31. Tidak bersuci dari buang air kecil padahal itu adalah syiar kaum Nasrani&lt;br /&gt;
32. Melakukan pungutan liar&lt;br /&gt;
33. Riya' termasuk bentuk kemunafikan&lt;br /&gt;
34. Berkhianat&lt;br /&gt;
35. Menuntut ilmu (hanya) untuk dunia dan menyembunyikan ilmu&lt;br /&gt;
36. Menyebut-nyebut kebaikan yang pernah diberikan pada orang lain&lt;br /&gt;
37. Mendustakan qadar&lt;br /&gt;
38. Menguping omongan rahasia orang lain&lt;br /&gt;
39. Melaknat&lt;br /&gt;
40. Mengkhianati pemimpin dan lainnya&lt;br /&gt;
41. Membenarkan dukun dan ahli nujum&lt;br /&gt;
42. Pembangkangan istri kpd suaminya&lt;br /&gt;
43. Memutuskan silaturahim (dengan kerabat dekat)&lt;br /&gt;
44. Menggambar (makhluk hidup) di pakaian, dinding, dan semacamnya&lt;br /&gt;
45. Mengadu domba&lt;br /&gt;
46. Meratapi dan menampar pipi (saat musibah kematian menimpa)&lt;br /&gt;
47. Menghina nasab&lt;br /&gt;
48. Perbuatan melampaui batas (berbuat kerusakan)&lt;br /&gt;
49. Memberontak dengan senjata dan mengkafirkan karena dosa-dosa besar&lt;br /&gt;
50. Menyakiti kaum muslimin dan mencaci mereka&lt;br /&gt;
51. Menyakiti para kekasih Allah dan memusuhi mereka&lt;br /&gt;
52. Menjulurkan pakaian melebihi mata kaki sbg bentuk keangkuhan dan semacamnya&lt;br /&gt;
53. Memakai kain sutera dan emas bagi laki-laki&lt;br /&gt;
54. Budak yg melarikan diri (dari tuannya) dan semisalnya&lt;br /&gt;
55. Menyembelih untuk selain Allah seperti mengatakan, "Dengan nama Tuanku Syaikh"&lt;br /&gt;
56. Merubah patok-patok tanah&lt;br /&gt;
57. Mencela para tokoh shahabat -radhiyallahu 'anhum-&lt;br /&gt;
58. Mencela kaum Anshar secara umum&lt;br /&gt;
59. Mengajak kepada kesesatan dan memberikan contoh jalan hidup yang buruk&lt;br /&gt;
60. Perempuan yang menyambung rambut (hair extension), merenggangkan gigi, dan bertato&lt;br /&gt;
61. Orang yg menunjuk saudaranya (sesama muslim) dengan sebatang besi&lt;br /&gt;
62. Orang yg mengklaim (penisbatan dirinya) kpd selain bapaknya&lt;br /&gt;
63. Thiyarah (merasa pesimis krn burung dan semacamnya)&lt;br /&gt;
64. Minum menggunakan wadah emas dan perak&lt;br /&gt;
65. Jidal (debat), berbantah-bantahan, dan bertengkar&lt;br /&gt;
66. Mengebiri hamba sahaya atau memotong hidungnya atau menyiksanya secara dzalim dan semena-mena&lt;br /&gt;
67. Mencurangi timbangan dan takaran (dalam jual-beli)&lt;br /&gt;
68. Merasa aman dari makar (pembalasan) Allah&lt;br /&gt;
69. Putus asa dari rahmat Allah&lt;br /&gt;
70. Mengingkari kebaikan orang lain kepadanya&lt;br /&gt;
71. Menahan kelebihan air&lt;br /&gt;
72. Mencap wajah hewan ternak dengan besi panas&lt;br /&gt;
73. Berjudi&lt;br /&gt;
74. Berbuat kekufuran (kedzaliman) di daerah haram&lt;br /&gt;
75. Meninggalkan shalat Jumat agar shalat sendirian&lt;br /&gt;
76. Memata-matai kaum muslimin dan menyebarkan aib mereka&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-- Demikian ringkasannya. Untuk keterangan yang lebih jelasnya bisa langsung merujuk ke kitabnya langsung (baik asli maupun terjemahan).&lt;br /&gt;
Mudah-mudahan bermanfaat...&lt;br /&gt;
Barokallohufiikum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari - Status Nasehat _&lt;br /&gt;
&lt;a href="https://www.facebook.com/langkahmenujukebahagiaan?ref=stream" target="_blank"&gt;sumber&amp;nbsp;1&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="https://www.facebook.com/photo.php?fbid=441212572620289&amp;amp;set=at.376141965794017.85395.321904261217788.100002994106182&amp;amp;type=1&amp;amp;relevant_count=1&amp;amp;ref=nf" target="_blank"&gt;sumber 2&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhicEqgkOb9uoDSJ9ttCnx_N2fAJ6xTL9e8X08hzveNvuuuD3YdXwSZxQ__PdX8YWK9oDFvUsesOQFNp3fXaSxG9axVUJJrIjpzXZQ_zCmdsQ8kSj421ZecPIwzbwQv1cA9ny1l6shXGe4/s72-c/76.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Agar Tidak Dendam</title><link>http://akhlakulkariimah.blogspot.com/2013/03/agar-tidak-dendam.html</link><category>akhlak</category><category>Tazkiyatun Nafs</category><author>noreply@blogger.com (Amzan)</author><pubDate>Tue, 5 Mar 2013 06:18:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4988947874884367427.post-3076364830424610511</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgIjJ89nFB1hjVdW7DuMTOIem8IEmXgGta5BnlkRaU1bWrFPDbp1udofUGIxNYKNUByDPctJIbVmUIjKs6rGOiKnKgEMYneMgT7ib-c1jBXzHfAfyjbAZPcEo4rnj_8UyJMg96RXI8FvTYV/s1600/menghilangkan-dendam-downest.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgIjJ89nFB1hjVdW7DuMTOIem8IEmXgGta5BnlkRaU1bWrFPDbp1udofUGIxNYKNUByDPctJIbVmUIjKs6rGOiKnKgEMYneMgT7ib-c1jBXzHfAfyjbAZPcEo4rnj_8UyJMg96RXI8FvTYV/s200/menghilangkan-dendam-downest.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Berikut adalah sejumlah kesadaran yang dapat kita hadirkan dalam hati kita saat seseorang telah berprilaku buruk kepada kita, agar tidak ada dendam yang berkembang dalam hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Ingatlah bahwa perbuatan orang itu kepada kita tidak keluar dari kehendak Allah. Allah menginginkannya itu terjadi dan ada hikmah dibalik itu.&lt;br /&gt;
- Ingatlah dosa-dosa kita. Karena tidaklah keburukan menimpa kita melainkan karena sebab dosa-dosa kita. Sibuklah dengan tobat dan istighfar, dari pada sibuk mencela dan mencari-cari cara untuk membalasnya.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
- Ingatlah pahala yang sungguh besar bagi orang yang mau memaafkan dan bersabar. “Barangsiapa yang memberi maaf dan melakukan kebaikan, maka pahalanya di sisi Allah.” (QS. Asy Syuuraa: 40)&lt;br /&gt;
- Ingatlah bahwa memaafkan dan berbuat baik akan membuat hati kita bersih dari keinginan-keinginan buruk, hasad dan dendam. Dengan itu hati akan merasakan kelezatan yang jauh lebih lezat dari kelezatan melampiaskan dendam.&lt;br /&gt;
- Ingatlah bahwa dendam akan membuat jiwa menjadi hina, sedangkan memaafkan akan membuat jiwa menjadi mulia. “Tidaklah Allah menambah kepada seorang hamba dengan sikap memaafkan melainkan kemuliaan” (HR Muslim)&lt;br /&gt;
- Ingatlah bahwa balasan yang kita akan dapatkan sesuai dengan perbuatan yang kita lakukan. Kita pun pasti pernah berbuat zalam dan dosa. Jika kita memaafkan, Allah pun akan memaafkan kita.&lt;br /&gt;
- Ingatlah bahwa menyibukkan diri dengan dendam akan menghabiskan waktu dan membuat hati menjadi tidak fokus. Sehingga banyak hal-hal bermanfaat kita lewatkan. Maka jangan sampai musibah lebih besar menimpa kita.&lt;br /&gt;
- Ingatlah bahwa Rasulullah tidak pernah sekali pun dendam karena urusan pribadinya. Jika itu terjadi kepada orang yang paling mulia, bagaimana dengan kita?&lt;br /&gt;
- Ingatlah bahwa sabar adalah setengah dari keimanan. Jika kita bersabar, maka kita berarti sedang menjaga keimanan kita.&lt;br /&gt;
- Ingatlah bahwa dengan bersabar berarti kita telah mengalahkan dan mengendalikan jiwa kita. Karena jiwa yang tidak dapat kita taklukan akan mengajak kita pada kebinasaan.&lt;br /&gt;
- Ingatlah bahwa jika kita bersabar, maka Allah pasti akan menolong kita.&lt;br /&gt;
- Ingatlah jika kita bersabar, maka itu akan menjadi sebab orang yang telah berbuat zalim kepada kita menyesal dengan tindakannya, malu dan bisa jadi malah mencintai kita, setelah sebelumnya membenci kita. “Balaslah keburukan itu dengan yang labih baik, maka tiba-tiba orang yang tadinya antara kamu dan dia ada permusukan, menjadi seolah-olah seperti teman yang dekat.” (QS. Fushilat: 34)&lt;br /&gt;
- Ingatlah bisa jadi jika kita membalas perbuatan buruknya kepada kita, hal itu akan membuatnya semakin bertambah buruk.&lt;br /&gt;
- Ingatlah bahwa orang yang biasa mendendam, ia pasti akan terjerumus pada kezaliman. Karena jiwa sulit untuk berbuat adil.&lt;br /&gt;
- Ingatlah bahwa kesabaran itu akan menjadi penggugur dosa kita atau pengangkat derajat kita. Dan itu tidak akan kita dapatkan jika kita tidak bersabar dan melampiaskan dendam.&lt;br /&gt;
- Ingatlah bahwa sabar dan tidak membalas adalah kebaikan yang akan melahirkan kebaikan yang lain, dan kebaikan itu akan melahirkan kebaikan lagi dan begitu seterusnya. Karena diantara balasan kebaikan itu adalah kebaikan berikutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Disarikan dari risalah "Qaa`idatun fish shabri" Karya Syaikhul Islam Ibnu Tamiyyah -rahimahullah-, "Jaami'ul Masaa`il" vol. 1, hal. 177-181]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penulis: Ustadz Abu Khaleed Resa Gunarsa, Lc&lt;br /&gt;
Artikel Muslim.Or.Id&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari artikel 'Agar Tidak Dendam — Muslim.Or.Id'&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgIjJ89nFB1hjVdW7DuMTOIem8IEmXgGta5BnlkRaU1bWrFPDbp1udofUGIxNYKNUByDPctJIbVmUIjKs6rGOiKnKgEMYneMgT7ib-c1jBXzHfAfyjbAZPcEo4rnj_8UyJMg96RXI8FvTYV/s72-c/menghilangkan-dendam-downest.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Bermuka Manis Di Hadapan Orang Lain</title><link>http://akhlakulkariimah.blogspot.com/2013/03/bermuka-manis-di-hadapan-orang-lain.html</link><category>akhlak</category><category>Nasihat</category><author>noreply@blogger.com (Amzan)</author><pubDate>Tue, 5 Mar 2013 06:14:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4988947874884367427.post-2320097667393761301</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://www.inspirationalreminders.com/images/friendship.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://www.inspirationalreminders.com/images/friendship.jpg" width="166" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Di antara bentuk akhlak mulia yang diajarkan oleh Islam adalah senantiasa bermuka manis di hadapan orang lain. Bahkan hal ini dikatakan oleh Syaikh Musthafa Al ‘Adawi menunjukkan sifat tawadhu’ seseorang. Namun sayangnya sedikit di antara kita yang mau memperhatikan akhlak mulia ini. Padahal di antara cara untuk menarik hati orang lain dalam berdakwah adalah dengan akhlak mulia.&lt;br /&gt;
Lihatlah bagaimana akhlak mulia ini diwasiatkan oleh Luqman pada anaknya,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS. Lukman: 18).&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu Katsir menjelaskan mengenai ayat tersebut, “Janganlah palingkan wajahmu dari orang lain ketika engkau berbicara dengannya atau diajak bicara. Muliakanlah lawan bicaramu dan jangan bersifat sombong. Bersikap lemah lembutlah dan &amp;nbsp;berwajah cerialah di hadapan orang lain” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 11: 56).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari sahabat Abu Dzar radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun juga walau engkau bertemu saudaramu dengan wajah berseri” (HR. Muslim no. 2626).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu pula dengan wajah ceria dan berseri akan mudah menarik hati orang lain ketika diajak pada Islam dan kepada kebaikan. Senyum manis adalah di antara modal ketika berdakwah. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إنَّكُمْ لَا تَسَعُونَ النَّاسَ بِأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ لِيَسَعْهُمْ مِنْكُمْ بَسْطُ الْوَجْهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sesungguhnya kalian tidak bisa menarik hati manusia dengan harta kalian. Akan tetapi kalian bisa menarik hati mereka dengan wajah berseri dan akhlak yang mulia” (HR. Al Hakim dalam Mustadrak-nya. Al Hakim mengatakan bahwa hadits ini shahih).&lt;br /&gt;
Dari Jarir radhiallahu’anhu, ia berkata,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
مَا حَجَبَنِى النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – مُنْذُ أَسْلَمْتُ ، وَلاَ رَآنِى إِلاَّ تَبَسَّمَ فِى وَجْهِى&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menghalangiku sejak aku memberi salam dan beliau selalu menampakkan senyum padaku” (HR. Bukhari no. 6089 dan Muslim no. 2475).&lt;br /&gt;
Wajah berseri dan tersenyum termasuk bagian dari akhlak mulia. Ibnul Mubarak berkata bahwa makna ‘husnul khuluq’ (akhlak mulia) adalah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
طَلاَقَةُ الوَجه ، وَبَذْلُ المَعروف ، وَكَفُّ الأذَى&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wajah berseri, berbuat kebaikan (secara umum) dan menghilangkan gangguan” (Dinukil dari Riyadhus Shalihin karya Imam Nawawi rahimahullah).&lt;br /&gt;
Sedangkan orang yang berakhlak mulia disebutkan dalam hadits dari Jabir radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَىَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّى مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلاَقًا&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Orang yang paling dicintai di antara kalian dan yang paling dekat duduk denganku di hari kiamat adalah yang paling bagus akhlaknya” (HR. Tirmidzi no. 2018. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun wajah berseri ini tidaklah setiap saat dan tidak ditujukan pada setiap orang. Ketika menghadapi orang yang lebih pantas dimarahi (bukan diberi senyuman), juga di hadapan orang kafir maka kita tidak menyikapi seperti itu sebagaimana diterangkan oleh Ash Shan’ani dalam Subulus Salam. Juga amat bahaya jika seorang gadis memberi senyuman kepada laki-laki karena godaannya amat besar.&lt;br /&gt;
Ya Allah, berikanlah kami anugerah dengan akhlak yang mulia dan selalu berwajah ceria di hadapan saudara-saudara kami.&lt;br /&gt;
Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Referensi:&lt;br /&gt;
Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, terbitan Muassasah Qurthubah, cetakan pertama, 1421 H.&lt;br /&gt;
At Tawadhu’, Abu ‘Abdillah Musthafa bin Al ‘Adawi, terbitan Maktabah Makkah.&lt;br /&gt;
Subulus Salam, Ash Shan’ani.&lt;br /&gt;
Riyadhush Shalihin, Imam Nawawi.&lt;br /&gt;
—&lt;br /&gt;
Penulis: M. Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;
Artikel Muslim.Or.Id&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari artikel 'Bermuka Manis Di Hadapan Orang Lain — Muslim.Or.Id'&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Hajr, Pengertian dan Penerapannya</title><link>http://akhlakulkariimah.blogspot.com/2013/03/hajr-pengertian-dan-penerapannya.html</link><category>akhlak</category><category>Nasihat</category><author>noreply@blogger.com (Amzan)</author><pubDate>Tue, 5 Mar 2013 05:54:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4988947874884367427.post-2067733302104722305</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEipICJwYrGg4AsAWhO5IQOAieEv7WrKzLPTuREzAVI0h_QIX_cnVKWRQv8SrXB0FPFMQOWqmkY7RpjEdbTVBPSPsrz01vslk9obHAgwlGYFE2TXqBxTX8oBy4pqgisf7MYwFDLtLk3hLIc/s1600/berpisah.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEipICJwYrGg4AsAWhO5IQOAieEv7WrKzLPTuREzAVI0h_QIX_cnVKWRQv8SrXB0FPFMQOWqmkY7RpjEdbTVBPSPsrz01vslk9obHAgwlGYFE2TXqBxTX8oBy4pqgisf7MYwFDLtLk3hLIc/s200/berpisah.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="color: red;"&gt;Definisi Hajr&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hajr adalah antonim dari Washl (menyambung) (lihat Lisaanul ‘arab V/250), Tahaajur (saling melakukkan hajr) maknanya adalah Taqaathu’ , yaitu saling memutuskan hubungan (Mukhtaar ash-Shihaah hal 288)&lt;br /&gt;
Imam Ibnu Hajar berkata “ Hajr adalah seseoarang tidak berbicara dengan yang lain tatkala bertemu” (Fathul Baari X/492)&lt;br /&gt;
Imam al ‘Aini berkata :”Hajr adalah tidak berbicara denagn saudaranya sesama mukmin tatkala bertemu, dan masing masing dari keduanya berpaling dari yang lain tatkala &amp;nbsp; berkumpul” (Umdatul Qaari XXII/141)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: red;"&gt;Hukum asal Hajr adalah dosa besar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata “ Hukum asal meng-hajr sesama muslim adalah haram, bahkan termasuk dosa besar jika lebih dari tiga hari” (Majmuu Fatawa Ibnu Utsaimin III/16, soal no 4915)&lt;br /&gt;
Diantara dalil dalil yang menunjukkan bahwa hukum asal dari hajr adalah dosa besar adalah sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ Barangsiapa yang meng-hajr saudaranya selama setahun maka ia seperti menumpahkan darah saudaranya tersebut” (HR. Abu Dawud IV/279 dishahihkan oleh syaikh Albani dalam ash Shahihah II/599,no.928)&lt;br /&gt;
“Tidak halal bagi seorang muslim untuk meng-hajr saudaranya lebih dari tiga hari.1 Barangsiapa yang meng-hajr lebih dari tiga hari lalu meninggal maka ia masuk neraka (HR.Abu Dawud IV/279, no.4914, dan dishahihkan oleh Syaikh Albani)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pantaslah kiranya sikap meng-hajr seorang muslim lebih dari tiga hari termasuk dosa besar, mengingat hajr sangat bertentangan dengan prinsip islam yang menyeru kepada persatuan dan persaudaraan.&lt;br /&gt;
Islam adalah nasehat, sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam :&lt;br /&gt;
“Agama ini adalah nasehat’ ( HR Muslim I/74, no.35) sedangkan tidak diragukan lagi bahwa hajr menafikan nasehat sebab dua orang yang saling meng-hajr tidak mungkin bisa saling menasehati (lihat Al-Hajr fil Kitaab was Sunnah hal 142) Hajr juga menghilangkan hak hak seorang muslim sehingga pelakunya tidak memberi salam kepada selainnya, juga sebaliknya. Jika salah satu dari dua orang yang saling menghajr menderita sakit, maka yang lain tidak mengunjunginya. Masih banyak lagi hak hak lainnya yang menjadi terabaikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: red;"&gt;Penerapan hajr menurut syariat islam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kendati demikian, terkadang boleh, disyari’atkan, atau bahkan siwajibkan bagi seorang muslim untuk keluar dari hukum asal ini, yaitu melakukan hajr dan boikot kepada muslim lainnya, apabila kondisi memang menuntut demikian. Sebagaimana halnya Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam pernah meng-hajr Ka’b bin Malik dan kedua sahabatnya karena tidak ikut dalam perang Tabuk tanpa alasan yang syar’i. Begitu juga dengan sikap para Salaf yang meng-hajr ahli bid’ah dan men-tahdzir (memperingatkan ummat dari) mereka agar ummat tidak terkena dampak buruk mereka (lihat atsar salaf dalam hal ini dalam risalah imam as Suyuthi yang berjudul Hijraan Ahlil Bid’ah awiz Zajr bil Hajr)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, perlu diperhatikan, mengingat penerapan hajr adalah keluar dari hukum asalnya -yaitu terlarang- maka seseorang tidak boleh keluar dengan hukum asal kecuali disertai dengan dalil dan argumen yang kuat. Sebab, kaidah syari’at menyatakan bahwa kita tidak boleh keluar dari hukum asal melainkan dibarengi oleh dalil yang kuat. Terlebih hukum asal tersebut dibangun diatas dalil yang sangat banyak baik dalil dalil yang menunjukkan hukum asal wajibnya persaudaraan dan persatuan maupun dalil dalil yang menunjukan hukum asal haramnya hajr.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apabila seseorang keluar dari hukum asal tersebut dengan argumen yang tidak kuat atau bahkan masih berupa prasangka semata, berarti ia telah melawan sekian banyak dalil yang mendukung hukum asal tersebut di atas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang sangat menyedihkan, di antara penuntut ilmu di sekitar kita, banyak sekali terjadi praktek hajr yang tidak dibangun di atas dalil yang jelas. Bahkan banyak penerapan hajr yang hanya dibangun di atas prasangka belaka, atau diterapkan pada perkara perkara yang sebenarnya tidak boleh ada pengingkaran apalagi sampai tahapan tahdzir dan hajr. Seperti perkara perkara yang merupakan masalah ijtihadiyah yang masih diperselisihkan para ulama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih menyedihkan lagi, sebagian orang yang menerapkan hajr hanya karena masalah pribadi, lalu dikait kaitkan dengan manhaj. Masalah masalah yang menyangkut keduniaan digembor gemborkan dengan label manhaj. Mereka ini menerapkan hajr karena mengikuti hawa nafsunya. Selanjutnya syaithan menghiasi amalan mereka tersebut sehingga mereka menyangka bahwa perbuatan mereka adalah ibadah.&lt;br /&gt;
Sebagian lagi menerapkan hajr tanpa kaidah dan batasan batasan. Tanpa menimbang maslahat dan mudharat, sehingga mereka terjatuh dalam kemaksiatan dan menyelisihi hukum asal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penerapan hajr secara membabi buta, tanpa menimbang mudharat dan maslahat merupakan suatu kemaksiatan, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata :&lt;br /&gt;
“……atau jika tidak dapat dirajihkan antarakerusakan dan maslahat maka yang lebih dekat (kepada kebenaran) adalah dilarangnya penerapan hajr, mengingat keumuman sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam “Tidak halal bagi seorang muslim untuk meng-hajr (memboikot) saudaranya lebih dari tiga hari” (HR. Al Bukhari V/2302, no.5879)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terlebih lagi jika penerpan hajr tersebut jelas jelas menimbulkan kerusakan, fitnah, terhambatnya dakwah, dan lainnya, maka tentunya lebih haram lagi.&lt;br /&gt;
Maka, benarlah penilaian Syaikhul islam Ibnu Taimiyyah tentang kebanyakan praktek hajr yang tidak sesuai dengan syari’at, sementara mayoritas pelakunya mnenyangka bahwa mereka telah berbuat ketaatan kepada Allah ta’ala dengan praktek hajrtersebut tetapi hakekatnya karena mengikuti hawa nafsu. Beliau berkata “ Barangsiapa yang menerapkan hajr karena hawa nafsunya atau menerapkan hajr yang tidak diperintahkan untuk dilakukan maka dia telah keluar dari hajr yang syar’i. Betapa banyak manusia melakukan apa yang diinginkan nafsunya, tetapi mereka mengira bahwa mereka melakukannya karena Allah ta’ala.” (Majmuu’ Fataawa syaikh Ibnu ‘Utsaimin (III/17, soal no. 385)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Praktek hajr yang tidak sesuai syari’at efeknya sangat berbahaya bagi pelakunya karena hukum asal hajr adalah dosa besar. Oleh karena itu, barangsiapa yang ingin menerapkan hajr maka hendaknya ia benar benar diatas bayyinah bahwa ia memang berhak untuk melakukan hajr.&lt;br /&gt;
Allahu ta’ala a’lam&lt;br /&gt;
————————————————————–&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;1.Imam An Nawawi berkata dalam al Minhaaj (XVI/117), “ Para ulama menyatakan bahwa hadits tersebut menunjukkan diharamkannya hajr lebih dari tiga hari diantara kaum muslimin juga menunjukkan bolehnya hajr selama tiga hari…..Mereka menyatakan bahwasanya di maafkannya hajr selama tiga hari karena seorang manusia diciptakan dengan tabiat mudah marah, akhlak yang buruk dan yang semisalnya. Maka dimaafkan menghajr selama tiga hari agar sifat tersebut hilang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;disalin dari Lerai Pertikaian Sudahi Permusuhan hal 11-16 oleh Abu abdil Muhsin Firanda Ibnu ‘Abidin, penerbit Pustaka Cahaya Islam, bogor cetakan kedua agustus 2006 dengan sedikit penyesuaian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;a href="http://nurussunnah.com/" target="_blank"&gt;Sumber&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEipICJwYrGg4AsAWhO5IQOAieEv7WrKzLPTuREzAVI0h_QIX_cnVKWRQv8SrXB0FPFMQOWqmkY7RpjEdbTVBPSPsrz01vslk9obHAgwlGYFE2TXqBxTX8oBy4pqgisf7MYwFDLtLk3hLIc/s72-c/berpisah.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Ceramah Singkat : Beginilah Kepribadian Seorang Muslim (Video)</title><link>http://akhlakulkariimah.blogspot.com/2013/02/ceramah-singkat-beginilah-kepribadian.html</link><category>akhlak</category><category>Menuju Kemuliaan</category><category>Nasihat</category><author>noreply@blogger.com (Amzan)</author><pubDate>Sun, 3 Feb 2013 11:15:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4988947874884367427.post-6319386178327127000</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;iframe allowfullscreen='allowfullscreen' webkitallowfullscreen='webkitallowfullscreen' mozallowfullscreen='mozallowfullscreen' width='320' height='266' src='https://www.youtube.com/embed/U5SmeRROqSo?feature=player_embedded' frameborder='0'&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Ustadz Afifi Abdul Wadud&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Ebook : 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah (PDF)</title><link>http://akhlakulkariimah.blogspot.com/2013/02/ebook-14-contoh-praktek-hikmah-dalam.html</link><category>akhlak</category><category>Dakwah</category><category>Ilmu</category><category>Muslim beradab</category><category>Nasihat</category><category>Sunnah</category><author>noreply@blogger.com (Amzan)</author><pubDate>Sun, 3 Feb 2013 08:31:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4988947874884367427.post-891115121844481156</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
Bismillah&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
kini telah hadir Artikel 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah yang ditulis oleh Ustadz Abdullah Zaen, Lc. Hafidzahullah dalam versi Pdf.&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
Mudah-mudahan bisa bermanfaat untuk kaum muslimin semua.&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://archive.org/download/AmzanEbook14Contoh/14ContohPraktekHikmahDalamBerdakwah.pdf" target="_blank"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjDMLBel5sMfKvy_UzmDLORZ1S2PTknICgrbrUOMDcdr-MAsflFAgJFKY62vysAF3i_22RXtsYVsTKKmfBg_Oboh1hTP3iJyqOeqkyVGDuEfezqSD2xKeE8YBQngOp4WKKFU5K0FfgdEWg/s400/14+Contoh+praktek+hikmah+dalam+berdakwah.png" width="246" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;(Klik gambar di atas untuk mengunduh)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Ebook ini Gratis dan boleh disebarluaskan&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Kami meminta maaf apabila terjadi kesalahan dalam penyusunan ebook ini,&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
kritik dan saran bisa dituliskan di kotak komentar postingan ini atau ke email fauzan.ammar@gmail.com.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Terimakasih&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
Download juga kajian audio pembahasan kitab ini :&lt;br /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #4e4e4e; font-family: 'Myriad Pro', 'Trebuchet MS', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 21px;"&gt;kajian ini disampaikan oleh Ustadz Muslim Atsari&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;a href="http://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abu%20Isma%27il%20Muslim%20Al%20Atsari/14%20Contoh%20Praktek%20Hikmah%20dalam%20Berdakwah/14%20Contoh%20Praktek%20Hikmah%20dalam%20Berdakwah_01.mp3?l=12" target="_blank"&gt;Pembahasan 1&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;a href="http://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abu%20Isma%27il%20Muslim%20Al%20Atsari/14%20Contoh%20Praktek%20Hikmah%20dalam%20Berdakwah/14%20Contoh%20Praktek%20Hikmah%20dalam%20Berdakwah_02.mp3?l=12" target="_blank"&gt;Pembahasan 2&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;a href="http://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abu%20Isma%27il%20Muslim%20Al%20Atsari/14%20Contoh%20Praktek%20Hikmah%20dalam%20Berdakwah/14%20Contoh%20Praktek%20Hikmah%20dalam%20Berdakwah_03.mp3?l=12" target="_blank"&gt;Pembahasan 3&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;a href="http://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abu%20Isma%27il%20Muslim%20Al%20Atsari/14%20Contoh%20Praktek%20Hikmah%20dalam%20Berdakwah/14%20Contoh%20Praktek%20Hikmah%20dalam%20Berdakwah_04.mp3?l=12" target="_blank"&gt;Pembahasan 4&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
__________________________________________________&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;blockquote&gt;
PENDAHULUAN&lt;/blockquote&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;
Oleh: Abu Abdirrahman Abdullah Zaen&lt;/blockquote&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;
Segala puji bagi Allah ta'ala, shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam.&lt;br /&gt;
Di suatu rumah: "Pokoknya mulai hari ini bapak dan ibu tidak boleh lagi pergi ke dukun dan tidak boleh lagi sedekah bumi, tidak boleh ikut maulidan dan tahlilan, tidak boleh nonton tv, bapak harus memendekkan celana panjang di atas mata kaki, dan ibu harus memakai cadar!!", demikian 'instruksi' seorang pemuda yang baru 'ngaji' kepada bapak dan ibunya. "Memang kenapa?!" tanya orang tuanya dengan nada tinggi. "Karena itu syirik, bid'ah dan maksiat!" jawab si anak berargumentasi. "Kamu itu anak kemarin sore, tahu apa?! Tidak usah macam-macam, kalau tidak mau tinggal di rumah ini keluar saja!!" si bapak dan ibu menutup perdebatan dalam rumah kecil itu.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Salah seorang sahabat pemuda tadi yang telah lebih lama ngaji dan telah lebih banyak makan asam garam, menasehati temannya yang tengah bersemangat empat lima dalam menasehati orang tuanya, "Bertahaplah akhi dalam mengingkari kemungkaran-kemungkaran yang ada di rumah antum…[1] Antum harus bersikap lebih hikmah…". "Lho, bukankah kita harus menyampaikan yang haq meskipun itu pahit?!" jawab si pemuda itu dengan penuh tanda tanya.&lt;br /&gt;
Di tempat lain, seorang 'juru dakwah' namun minim ilmu, kerap ikut larut dalam ritual-ritual syirik dan acara-acara bid'ah, sambil sesekali bermusik ria dengan dalih pendekatan masyarakat sebelum mendakwahi mereka. Ketika ada seorang yang komplain padanya, "Akhi, itu khan acara-acara syirik, bid'ah dan maksiat? Kenapa antum ikut hanyut di dalamnya?". "Kita harus bersikap hikmah dalam berdakwah, kalau kita tidak mengikuti acara-acara itu terlebih dahulu, masyarakat akan lari dan menjauhi kita! Bukankah Islam itu rohmatan lil 'alamien?" jawab si 'juru dakwah' tadi dengan ringan.&lt;br /&gt;
Mungkin dua kisah di atas bisa mewakili dua kelompok yang amat bertolak belakang dalam memahami kata hikmah saat berdakwah.&lt;br /&gt;
3 Golongan Manusia dalam Menyikapi Istilah Hikmah:&lt;br /&gt;
(1) Golongan yang tidak mempedulikan sikap hikmah dalam berdakwah, sehingga terkesan agak ngawur dalam berdakwah.&lt;br /&gt;
(2) Golongan yang terlalu longgar dalam memahami istilah hikmah, sehingga kerap 'mengorbankan' beberapa syari'at Islam dengan alasan hikmah dalam berdakwah, sebagaimana telah kita singgung sedikit di atas.&lt;br /&gt;
(3) Golongan yang tengah, yaitu golongan yang memahami kata hikmah dengan benar dan senantiasa menerapkan sikap hikmah dalam dakwahnya; sehingga dia selalu mempertimbangkan segala gerak-gerik serta cara dia berdakwah dengan timbangan ini.&lt;br /&gt;
Kalau begitu, lantas apa definisi yang benar dari kata hikmah?&lt;br /&gt;
Definisi Hikmah:&lt;br /&gt;
Kata hikmah di dalam al-Qur'an ada dua macam[2]:&lt;br /&gt;
(1) Disebutkan berdampingan dengan kata al-Qur'an.&lt;br /&gt;
(2) Tidak berdampingan dengan kata al-Qur'an, namun disebutkan sendirian.&lt;br /&gt;
Jika bergandengan dengan kata al-Qur'an maka hikmah berarti: hadits Rasul shallallahu’alaihiwasallam. Contohnya: firman Allah ta'ala,&lt;br /&gt;
ﭽلقد من الله على المؤمنين إذ بعث فيهم رسولاً من أنفسهم يتلو عليهم آياته ويزكيهم ويعلمهم الكتاب والحكمة وإن كانوا من قبل لفي ضلال مبين ﭼ آل عمران: ١٦٤&lt;br /&gt;
Artinya: "Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab (al-Qur'an) dan al-Hikmah (hadits). Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata". QS. Ali Imran: 164.&lt;br /&gt;
Namun jika kata hikmah disebutkan sendirian tanpa didampingkan dengan kata al-Qur'an maka maknanya adalah: Tepat dalam perkataan, perbuatan dan keyakinan, serta meletakkan sesuatu pada tempatnya yang sesuai[3].&lt;br /&gt;
Di antara contoh penafsiran kata hikmah dengan makna kedua ini[4] adalah firman Allah ta'ala,&lt;br /&gt;
ﭽيؤتي الحكمة من يشاء ومن يؤت الحكمة فقد أوتي خيراً كثيراً وما يذكر إلا أولوا الألبابﭼ البقرة: ٢٦٩&lt;br /&gt;
Artinya: "Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang dikehendaki. Dan barang siapa yang dianugerahi hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)". QS. Al-Baqarah: 269.&lt;br /&gt;
Perintah untuk bersikap hikmah dalam berdakwah:&lt;br /&gt;
Di antara dalil-dalil yang memerintahkan kita untuk bersikap hikmah dalam berdakwah: firman Allah ta'ala,&lt;br /&gt;
ﭽادع إلى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم بالتي هي أحسن إن ربك هو أعلم بمن ضل عن سبيله وهو أعلم بالمهتدين ﭼ النحل: ١٢٥&lt;br /&gt;
Artinya: "Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan nasehat yang baik, serta bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabb-mu Dialah Yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapatkan petunjuk". QS. An-Nahl: 125.&lt;br /&gt;
Imam Abdurrahman as-Sa'di rahimahullah menafsirkan ayat di atas: Ajaklah para manusia -baik mereka yang beragama Islam maupun mereka yang non muslim- kepada jalan Allah yang lurus dengan hikmah; yang berarti masing-masing sesuai dengan kondisi, tingkat pemahaman, perkataan dan taraf ketaatannya. Juga dengan nasehat yang baik yaitu: perintah dan larangan yang dibarengi dengan hasungan dan ancaman. Adapun jika yang didakwahi tersebut menganggap bahwa apa yang dia kerjakan atau dia yakini selama ini adalah benar, -padahal sebenarnya salah- maka debatlah mereka dengan cara yang baik berlandaskan dalil-dalil syar'i maupun akal[5].&lt;br /&gt;
Al-'Allamah Shalih al-Fauzan hafizhahullah memaparkan dengan gamblang bahwa sikap hikmah ini "merupakan salah satu sikap yang kurang dimiliki oleh banyak para juru dakwah, sehingga mengakibatkan dakwah mereka kacau; dikarenakan mereka tidak kembali kepada metode dakwah Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam"[6].&lt;br /&gt;
Pilar-Pilar Hikmah:&lt;br /&gt;
Sikap hikmah dibangun di atas tiga pilar:&lt;br /&gt;
(1) Ilmu.&lt;br /&gt;
(2) Al-hilmu (bijaksana).&lt;br /&gt;
(3) Al-anaah (tidak tergesa-gesa)[7].&lt;br /&gt;
Di antara tiga pilar ini, pilar yang paling utama dan yang paling penting adalah pilar pertama yaitu ilmu. Dan ilmu yang dimaksud di sini adalah al-Qur'an dan hadits serta pemahaman generasi terbaik umat ini (baca: salaf ash-shalih)[8].&lt;br /&gt;
Maka seseorang tidak akan bisa bersikap hikmah dalam berdakwah, melainkan jika dia melandaskan sikap-sikapnya di atas dalil-dalil dari kitab dan sunnah serta pemahaman salaf ash-shalih. Dari sinilah terlihat jelas kekeliruan sebagian orang yang 'mengesampingkan' perintah-perintah Allah, apalagi perintah yang paling penting yaitu tauhid, atau ikut 'larut terbawa arus' adat masyarakat yang menyelisihi syari'at, semua itu dengan alasan hikmah dalam berdakwah!&lt;br /&gt;
14 CONTOH PRAKTEK HIKMAH DALAM BERDAKWAH*:&lt;br /&gt;
Berikut, penulis bawakan beberapa contoh sikap hikmah dalam berdakwah, karena dengan membawakan contoh praktek nyata dari sikap hikmah inilah, banyak orang bisa memahami teori-teori sikap hikmah yang biasa kita dengar dalam ceramah-ceramah, atau kajian-kajian Islam.&lt;br /&gt;
Berhubung definisi dari hikmah adalah: "Tepat dalam perkataan, perbuatan dan keyakinan, serta meletakkan sesuatu pada tempatnya yang sesuai", dan hal itu tidak akan tercapai melainkan dengan membangunnya di atas pilar-pilarnya, dan pilar yang paling utama adalah ilmu yang dilandaskan di atas al-Qur'an dan hadits dengan pemahaman generasi terbaik umat ini dan para ulama yang setia meniti jalan mereka; maka penulis akan berusaha semampunya -dengan segala keterbatasan yang ada- untuk melandaskan setiap contoh di atas dalil-dalil dari al-Qur'an dan hadits, serta menghiasinya dengan perkataan atau praktek para ulama Ahlus Sunnah zaman dulu maupun sekarang.&lt;br /&gt;
Semoga penulis diberi taufiq oleh Allah ta'ala untuk menyampaikan yang haq, amien.&lt;br /&gt;
-----&lt;br /&gt;
Footnote&lt;br /&gt;
[1] InsyaAllah akan kami jelaskan dengan lebih luas masalah bertahap dalam mengingkari kemungkaran pada contoh kesembilan dari tulisan ini.&lt;br /&gt;
[2] Lihat: Madarij as-Salikin karya Imam Ibn al-Qayyim (II/478).&lt;br /&gt;
[3] Lihat: Al-Hikmah fi ad-Da'wah ila Allah karya Sa'id bin Ali al-Qahthani (hal. 30) dan Ashnaf al-Mad'uwwin wa Kaifiyatu Da'watihim karya Prof. Dr. Hamud bin Ahmad ar-Ruhaili (hal. 33).&lt;br /&gt;
[4] Lihat: Tafsir ath-Thabari (V/576 ayat 269 dari surat al-Baqarah -cet Mu'assasah ar-Risalah).&lt;br /&gt;
[5] Lihat: Tafsir as-Sa'di (hal. 404).&lt;br /&gt;
[6] Kata pengantar beliau untuk kitab at-Tadarruj fi Da'wah an-Nabi shallallahu’alaihiwasallam, karya Ibrahim bin Abdullah al-Muthlaq (hal. 8).&lt;br /&gt;
[7] Madarij as-Salikin (II/480).&lt;br /&gt;
[8] Lihat: Ad-Da'wah ila Allah wa Akhlaq ad-Du'at oleh Syaikh al-'Allamah Abdul Aziz bin Baz (hal. 25-26).&lt;br /&gt;
* Pada asalnya makalah ini merupakan bab terakhir dari sepuluh bab dalam buku yang sedang kami susun yang berjudul "MENJELASKAN SIKAP (Sikap Yang Benar dalam Menghadapi Problema di Barisan Ikhwah Salafiyyin di Indonesia)". Namun karena penulis diminta untuk mengisi daurah pada bulan Juli 2007 dengan tema "Hikmah dalam Berdakwah" dan diminta untuk menulis makalah, maka 'terpaksa' makalah ini disebarkan terlebih dahulu sebelum bab-bab lain yang telah dipersiapkan untuk buku "Menjelaskan Sikap". Semoga kelak Allah memberikan taufiq-Nya kepada penulis untuk menyelesaikan tulisan "Menjelaskan Sikap" tersebut secara sempurna dan semoga bermanfaat, amien.&lt;br /&gt;
Karena ilmu dan pengalaman penulis yang amat terbatas, maka penulis berusaha sekuat tenaga agar inti tulisan ini bisa dikoreksi oleh para masyayikh Ahlus Sunnah yang insyaAllah tidak diragukan lagi keilmuan mereka. Alhamdulillah setelah tulisan ini kami ringkas ke dalam bahasa Arab, ada beberapa masyayikh yang berkenan meluangkan waktu untuk mengoreksi ringkasan tersebut. Antara lain: Syaikh Dr. Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaili hafizhahullah (Dosen Aqidah Universitas Islam Madinah) pada tanggal 4/1/1428, 5/1/1428 dan 20/1/1428 H, Syaikh Dr. Ali bin Ghazi at-Tuwaijiri hafizhahullah (Dosen Tafsir Universitas Islam Madinah) pada tanggal 4/1/1428 H, Syaikh Dr. Muhammad bin Abdul Wahab al-‘Aqil hafizhahullah (Dosen Aqidah Universitas Islam Madinah) pada tanggal 4/1/1428, 8/1/1428 dan 8/2/1428 H, Syaikh Abdul Malik bin Ahmad Ramadhani hafizhahullah (Da’i di kota Madinah dan penulis buku Madarik an-Nazhar (Pandangan Tajam terhadap Politik) pada tanggal 17/1/1428 H, Syaikh Dr. Yusuf bin Muhammad ad-Dakhil hafizhahullah (Dosen Hadits Universitas Islam Madinah) pada tanggal 19/1/1428 H dan Syaikh Dr. Abu Ibrahim bin Sulthan al-'Adnani hafizhahullah (Dosen Ushul Fiqh Universitas Islam Madinah dan penulis buku al-Quthbiyyah Hiya al-Fitnah) pada tanggal 15/3/1428 H. Alhamdulillah semua syaikh di atas -selain Syaikh Abdul Malik dan Syaikh Yusuf- berkenan untuk membaca sendiri ringkasan tersebut. Adapun Syaikh Abdul Malik, maka kami yang membacakan ringkasan tersebut di hadapan beliau, sedangkan Syaikh Yusuf maka beliau menugaskan salah seorang muridnya untuk membacanya. Alhamdulillah mereka banyak memberi masukan kepada kami dan menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang ada di dalamnya, serta mendo’akan agar buku itu mendatangkan manfaat, amien. Jazahumullah ahsanal jaza’...&lt;/blockquote&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjDMLBel5sMfKvy_UzmDLORZ1S2PTknICgrbrUOMDcdr-MAsflFAgJFKY62vysAF3i_22RXtsYVsTKKmfBg_Oboh1hTP3iJyqOeqkyVGDuEfezqSD2xKeE8YBQngOp4WKKFU5K0FfgdEWg/s72-c/14+Contoh+praktek+hikmah+dalam+berdakwah.png" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><enclosure length="49933554" type="application/pdf" url="http://archive.org/download/AmzanEbook14Contoh/14ContohPraktekHikmahDalamBerdakwah.pdf"/><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Bismillah kini telah hadir Artikel 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah yang ditulis oleh Ustadz Abdullah Zaen, Lc. Hafidzahullah dalam versi Pdf. Mudah-mudahan bisa bermanfaat untuk kaum muslimin semua. (Klik gambar di atas untuk mengunduh) Ebook ini Gratis dan boleh disebarluaskan&amp;nbsp; Kami meminta maaf apabila terjadi kesalahan dalam penyusunan ebook ini, kritik dan saran bisa dituliskan di kotak komentar postingan ini atau ke email fauzan.ammar@gmail.com. Terimakasih Download juga kajian audio pembahasan kitab ini : kajian ini disampaikan oleh Ustadz Muslim Atsari&amp;nbsp; Pembahasan 1 Pembahasan 2 Pembahasan 3 Pembahasan 4 __________________________________________________ PENDAHULUAN Oleh: Abu Abdirrahman Abdullah Zaen Segala puji bagi Allah ta'ala, shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam. Di suatu rumah: "Pokoknya mulai hari ini bapak dan ibu tidak boleh lagi pergi ke dukun dan tidak boleh lagi sedekah bumi, tidak boleh ikut maulidan dan tahlilan, tidak boleh nonton tv, bapak harus memendekkan celana panjang di atas mata kaki, dan ibu harus memakai cadar!!", demikian 'instruksi' seorang pemuda yang baru 'ngaji' kepada bapak dan ibunya. "Memang kenapa?!" tanya orang tuanya dengan nada tinggi. "Karena itu syirik, bid'ah dan maksiat!" jawab si anak berargumentasi. "Kamu itu anak kemarin sore, tahu apa?! Tidak usah macam-macam, kalau tidak mau tinggal di rumah ini keluar saja!!" si bapak dan ibu menutup perdebatan dalam rumah kecil itu. Salah seorang sahabat pemuda tadi yang telah lebih lama ngaji dan telah lebih banyak makan asam garam, menasehati temannya yang tengah bersemangat empat lima dalam menasehati orang tuanya, "Bertahaplah akhi dalam mengingkari kemungkaran-kemungkaran yang ada di rumah antum…[1] Antum harus bersikap lebih hikmah…". "Lho, bukankah kita harus menyampaikan yang haq meskipun itu pahit?!" jawab si pemuda itu dengan penuh tanda tanya. Di tempat lain, seorang 'juru dakwah' namun minim ilmu, kerap ikut larut dalam ritual-ritual syirik dan acara-acara bid'ah, sambil sesekali bermusik ria dengan dalih pendekatan masyarakat sebelum mendakwahi mereka. Ketika ada seorang yang komplain padanya, "Akhi, itu khan acara-acara syirik, bid'ah dan maksiat? Kenapa antum ikut hanyut di dalamnya?". "Kita harus bersikap hikmah dalam berdakwah, kalau kita tidak mengikuti acara-acara itu terlebih dahulu, masyarakat akan lari dan menjauhi kita! Bukankah Islam itu rohmatan lil 'alamien?" jawab si 'juru dakwah' tadi dengan ringan. Mungkin dua kisah di atas bisa mewakili dua kelompok yang amat bertolak belakang dalam memahami kata hikmah saat berdakwah. 3 Golongan Manusia dalam Menyikapi Istilah Hikmah: (1) Golongan yang tidak mempedulikan sikap hikmah dalam berdakwah, sehingga terkesan agak ngawur dalam berdakwah. (2) Golongan yang terlalu longgar dalam memahami istilah hikmah, sehingga kerap 'mengorbankan' beberapa syari'at Islam dengan alasan hikmah dalam berdakwah, sebagaimana telah kita singgung sedikit di atas. (3) Golongan yang tengah, yaitu golongan yang memahami kata hikmah dengan benar dan senantiasa menerapkan sikap hikmah dalam dakwahnya; sehingga dia selalu mempertimbangkan segala gerak-gerik serta cara dia berdakwah dengan timbangan ini. Kalau begitu, lantas apa definisi yang benar dari kata hikmah? Definisi Hikmah: Kata hikmah di dalam al-Qur'an ada dua macam[2]: (1) Disebutkan berdampingan dengan kata al-Qur'an. (2) Tidak berdampingan dengan kata al-Qur'an, namun disebutkan sendirian. Jika bergandengan dengan kata al-Qur'an maka hikmah berarti: hadits Rasul shallallahu’alaihiwasallam. Contohnya: firman Allah ta'ala, ﭽلقد من الله على المؤمنين إذ بعث فيهم رسولاً من أنفسهم يتلو عليهم آياته ويزكيهم ويعلمهم الكتاب والحكمة وإن كانوا من قبل لفي ضلال مبين ﭼ آل عمران: ١٦٤ Artinya: "Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab (al-Qur'an) dan al-Hikmah (hadits). Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata". QS. Ali Imran: 164. Namun jika kata hikmah disebutkan sendirian tanpa didampingkan dengan kata al-Qur'an maka maknanya adalah: Tepat dalam perkataan, perbuatan dan keyakinan, serta meletakkan sesuatu pada tempatnya yang sesuai[3]. Di antara contoh penafsiran kata hikmah dengan makna kedua ini[4] adalah firman Allah ta'ala, ﭽيؤتي الحكمة من يشاء ومن يؤت الحكمة فقد أوتي خيراً كثيراً وما يذكر إلا أولوا الألبابﭼ البقرة: ٢٦٩ Artinya: "Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang dikehendaki. Dan barang siapa yang dianugerahi hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)". QS. Al-Baqarah: 269. Perintah untuk bersikap hikmah dalam berdakwah: Di antara dalil-dalil yang memerintahkan kita untuk bersikap hikmah dalam berdakwah: firman Allah ta'ala, ﭽادع إلى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم بالتي هي أحسن إن ربك هو أعلم بمن ضل عن سبيله وهو أعلم بالمهتدين ﭼ النحل: ١٢٥ Artinya: "Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan nasehat yang baik, serta bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabb-mu Dialah Yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapatkan petunjuk". QS. An-Nahl: 125. Imam Abdurrahman as-Sa'di rahimahullah menafsirkan ayat di atas: Ajaklah para manusia -baik mereka yang beragama Islam maupun mereka yang non muslim- kepada jalan Allah yang lurus dengan hikmah; yang berarti masing-masing sesuai dengan kondisi, tingkat pemahaman, perkataan dan taraf ketaatannya. Juga dengan nasehat yang baik yaitu: perintah dan larangan yang dibarengi dengan hasungan dan ancaman. Adapun jika yang didakwahi tersebut menganggap bahwa apa yang dia kerjakan atau dia yakini selama ini adalah benar, -padahal sebenarnya salah- maka debatlah mereka dengan cara yang baik berlandaskan dalil-dalil syar'i maupun akal[5]. Al-'Allamah Shalih al-Fauzan hafizhahullah memaparkan dengan gamblang bahwa sikap hikmah ini "merupakan salah satu sikap yang kurang dimiliki oleh banyak para juru dakwah, sehingga mengakibatkan dakwah mereka kacau; dikarenakan mereka tidak kembali kepada metode dakwah Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam"[6]. Pilar-Pilar Hikmah: Sikap hikmah dibangun di atas tiga pilar: (1) Ilmu. (2) Al-hilmu (bijaksana). (3) Al-anaah (tidak tergesa-gesa)[7]. Di antara tiga pilar ini, pilar yang paling utama dan yang paling penting adalah pilar pertama yaitu ilmu. Dan ilmu yang dimaksud di sini adalah al-Qur'an dan hadits serta pemahaman generasi terbaik umat ini (baca: salaf ash-shalih)[8]. Maka seseorang tidak akan bisa bersikap hikmah dalam berdakwah, melainkan jika dia melandaskan sikap-sikapnya di atas dalil-dalil dari kitab dan sunnah serta pemahaman salaf ash-shalih. Dari sinilah terlihat jelas kekeliruan sebagian orang yang 'mengesampingkan' perintah-perintah Allah, apalagi perintah yang paling penting yaitu tauhid, atau ikut 'larut terbawa arus' adat masyarakat yang menyelisihi syari'at, semua itu dengan alasan hikmah dalam berdakwah! 14 CONTOH PRAKTEK HIKMAH DALAM BERDAKWAH*: Berikut, penulis bawakan beberapa contoh sikap hikmah dalam berdakwah, karena dengan membawakan contoh praktek nyata dari sikap hikmah inilah, banyak orang bisa memahami teori-teori sikap hikmah yang biasa kita dengar dalam ceramah-ceramah, atau kajian-kajian Islam. Berhubung definisi dari hikmah adalah: "Tepat dalam perkataan, perbuatan dan keyakinan, serta meletakkan sesuatu pada tempatnya yang sesuai", dan hal itu tidak akan tercapai melainkan dengan membangunnya di atas pilar-pilarnya, dan pilar yang paling utama adalah ilmu yang dilandaskan di atas al-Qur'an dan hadits dengan pemahaman generasi terbaik umat ini dan para ulama yang setia meniti jalan mereka; maka penulis akan berusaha semampunya -dengan segala keterbatasan yang ada- untuk melandaskan setiap contoh di atas dalil-dalil dari al-Qur'an dan hadits, serta menghiasinya dengan perkataan atau praktek para ulama Ahlus Sunnah zaman dulu maupun sekarang. Semoga penulis diberi taufiq oleh Allah ta'ala untuk menyampaikan yang haq, amien. ----- Footnote [1] InsyaAllah akan kami jelaskan dengan lebih luas masalah bertahap dalam mengingkari kemungkaran pada contoh kesembilan dari tulisan ini. [2] Lihat: Madarij as-Salikin karya Imam Ibn al-Qayyim (II/478). [3] Lihat: Al-Hikmah fi ad-Da'wah ila Allah karya Sa'id bin Ali al-Qahthani (hal. 30) dan Ashnaf al-Mad'uwwin wa Kaifiyatu Da'watihim karya Prof. Dr. Hamud bin Ahmad ar-Ruhaili (hal. 33). [4] Lihat: Tafsir ath-Thabari (V/576 ayat 269 dari surat al-Baqarah -cet Mu'assasah ar-Risalah). [5] Lihat: Tafsir as-Sa'di (hal. 404). [6] Kata pengantar beliau untuk kitab at-Tadarruj fi Da'wah an-Nabi shallallahu’alaihiwasallam, karya Ibrahim bin Abdullah al-Muthlaq (hal. 8). [7] Madarij as-Salikin (II/480). [8] Lihat: Ad-Da'wah ila Allah wa Akhlaq ad-Du'at oleh Syaikh al-'Allamah Abdul Aziz bin Baz (hal. 25-26). * Pada asalnya makalah ini merupakan bab terakhir dari sepuluh bab dalam buku yang sedang kami susun yang berjudul "MENJELASKAN SIKAP (Sikap Yang Benar dalam Menghadapi Problema di Barisan Ikhwah Salafiyyin di Indonesia)". Namun karena penulis diminta untuk mengisi daurah pada bulan Juli 2007 dengan tema "Hikmah dalam Berdakwah" dan diminta untuk menulis makalah, maka 'terpaksa' makalah ini disebarkan terlebih dahulu sebelum bab-bab lain yang telah dipersiapkan untuk buku "Menjelaskan Sikap". Semoga kelak Allah memberikan taufiq-Nya kepada penulis untuk menyelesaikan tulisan "Menjelaskan Sikap" tersebut secara sempurna dan semoga bermanfaat, amien. Karena ilmu dan pengalaman penulis yang amat terbatas, maka penulis berusaha sekuat tenaga agar inti tulisan ini bisa dikoreksi oleh para masyayikh Ahlus Sunnah yang insyaAllah tidak diragukan lagi keilmuan mereka. Alhamdulillah setelah tulisan ini kami ringkas ke dalam bahasa Arab, ada beberapa masyayikh yang berkenan meluangkan waktu untuk mengoreksi ringkasan tersebut. Antara lain: Syaikh Dr. Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaili hafizhahullah (Dosen Aqidah Universitas Islam Madinah) pada tanggal 4/1/1428, 5/1/1428 dan 20/1/1428 H, Syaikh Dr. Ali bin Ghazi at-Tuwaijiri hafizhahullah (Dosen Tafsir Universitas Islam Madinah) pada tanggal 4/1/1428 H, Syaikh Dr. Muhammad bin Abdul Wahab al-‘Aqil hafizhahullah (Dosen Aqidah Universitas Islam Madinah) pada tanggal 4/1/1428, 8/1/1428 dan 8/2/1428 H, Syaikh Abdul Malik bin Ahmad Ramadhani hafizhahullah (Da’i di kota Madinah dan penulis buku Madarik an-Nazhar (Pandangan Tajam terhadap Politik) pada tanggal 17/1/1428 H, Syaikh Dr. Yusuf bin Muhammad ad-Dakhil hafizhahullah (Dosen Hadits Universitas Islam Madinah) pada tanggal 19/1/1428 H dan Syaikh Dr. Abu Ibrahim bin Sulthan al-'Adnani hafizhahullah (Dosen Ushul Fiqh Universitas Islam Madinah dan penulis buku al-Quthbiyyah Hiya al-Fitnah) pada tanggal 15/3/1428 H. Alhamdulillah semua syaikh di atas -selain Syaikh Abdul Malik dan Syaikh Yusuf- berkenan untuk membaca sendiri ringkasan tersebut. Adapun Syaikh Abdul Malik, maka kami yang membacakan ringkasan tersebut di hadapan beliau, sedangkan Syaikh Yusuf maka beliau menugaskan salah seorang muridnya untuk membacanya. Alhamdulillah mereka banyak memberi masukan kepada kami dan menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang ada di dalamnya, serta mendo’akan agar buku itu mendatangkan manfaat, amien. Jazahumullah ahsanal jaza’...</itunes:subtitle><itunes:author>noreply@blogger.com (Amzan)</itunes:author><itunes:summary>Bismillah kini telah hadir Artikel 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah yang ditulis oleh Ustadz Abdullah Zaen, Lc. Hafidzahullah dalam versi Pdf. Mudah-mudahan bisa bermanfaat untuk kaum muslimin semua. (Klik gambar di atas untuk mengunduh) Ebook ini Gratis dan boleh disebarluaskan&amp;nbsp; Kami meminta maaf apabila terjadi kesalahan dalam penyusunan ebook ini, kritik dan saran bisa dituliskan di kotak komentar postingan ini atau ke email fauzan.ammar@gmail.com. Terimakasih Download juga kajian audio pembahasan kitab ini : kajian ini disampaikan oleh Ustadz Muslim Atsari&amp;nbsp; Pembahasan 1 Pembahasan 2 Pembahasan 3 Pembahasan 4 __________________________________________________ PENDAHULUAN Oleh: Abu Abdirrahman Abdullah Zaen Segala puji bagi Allah ta'ala, shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam. Di suatu rumah: "Pokoknya mulai hari ini bapak dan ibu tidak boleh lagi pergi ke dukun dan tidak boleh lagi sedekah bumi, tidak boleh ikut maulidan dan tahlilan, tidak boleh nonton tv, bapak harus memendekkan celana panjang di atas mata kaki, dan ibu harus memakai cadar!!", demikian 'instruksi' seorang pemuda yang baru 'ngaji' kepada bapak dan ibunya. "Memang kenapa?!" tanya orang tuanya dengan nada tinggi. "Karena itu syirik, bid'ah dan maksiat!" jawab si anak berargumentasi. "Kamu itu anak kemarin sore, tahu apa?! Tidak usah macam-macam, kalau tidak mau tinggal di rumah ini keluar saja!!" si bapak dan ibu menutup perdebatan dalam rumah kecil itu. Salah seorang sahabat pemuda tadi yang telah lebih lama ngaji dan telah lebih banyak makan asam garam, menasehati temannya yang tengah bersemangat empat lima dalam menasehati orang tuanya, "Bertahaplah akhi dalam mengingkari kemungkaran-kemungkaran yang ada di rumah antum…[1] Antum harus bersikap lebih hikmah…". "Lho, bukankah kita harus menyampaikan yang haq meskipun itu pahit?!" jawab si pemuda itu dengan penuh tanda tanya. Di tempat lain, seorang 'juru dakwah' namun minim ilmu, kerap ikut larut dalam ritual-ritual syirik dan acara-acara bid'ah, sambil sesekali bermusik ria dengan dalih pendekatan masyarakat sebelum mendakwahi mereka. Ketika ada seorang yang komplain padanya, "Akhi, itu khan acara-acara syirik, bid'ah dan maksiat? Kenapa antum ikut hanyut di dalamnya?". "Kita harus bersikap hikmah dalam berdakwah, kalau kita tidak mengikuti acara-acara itu terlebih dahulu, masyarakat akan lari dan menjauhi kita! Bukankah Islam itu rohmatan lil 'alamien?" jawab si 'juru dakwah' tadi dengan ringan. Mungkin dua kisah di atas bisa mewakili dua kelompok yang amat bertolak belakang dalam memahami kata hikmah saat berdakwah. 3 Golongan Manusia dalam Menyikapi Istilah Hikmah: (1) Golongan yang tidak mempedulikan sikap hikmah dalam berdakwah, sehingga terkesan agak ngawur dalam berdakwah. (2) Golongan yang terlalu longgar dalam memahami istilah hikmah, sehingga kerap 'mengorbankan' beberapa syari'at Islam dengan alasan hikmah dalam berdakwah, sebagaimana telah kita singgung sedikit di atas. (3) Golongan yang tengah, yaitu golongan yang memahami kata hikmah dengan benar dan senantiasa menerapkan sikap hikmah dalam dakwahnya; sehingga dia selalu mempertimbangkan segala gerak-gerik serta cara dia berdakwah dengan timbangan ini. Kalau begitu, lantas apa definisi yang benar dari kata hikmah? Definisi Hikmah: Kata hikmah di dalam al-Qur'an ada dua macam[2]: (1) Disebutkan berdampingan dengan kata al-Qur'an. (2) Tidak berdampingan dengan kata al-Qur'an, namun disebutkan sendirian. Jika bergandengan dengan kata al-Qur'an maka hikmah berarti: hadits Rasul shallallahu’alaihiwasallam. Contohnya: firman Allah ta'ala, ﭽلقد من الله على المؤمنين إذ بعث فيهم رسولاً من أنفسهم يتلو عليهم آياته ويزكيهم ويعلمهم الكتاب والحكمة وإن كانوا من قبل لفي ضلال مبين ﭼ آل عمران: ١٦٤ Artinya: "Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab (al-Qur'an) dan al-Hikmah (hadits). Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata". QS. Ali Imran: 164. Namun jika kata hikmah disebutkan sendirian tanpa didampingkan dengan kata al-Qur'an maka maknanya adalah: Tepat dalam perkataan, perbuatan dan keyakinan, serta meletakkan sesuatu pada tempatnya yang sesuai[3]. Di antara contoh penafsiran kata hikmah dengan makna kedua ini[4] adalah firman Allah ta'ala, ﭽيؤتي الحكمة من يشاء ومن يؤت الحكمة فقد أوتي خيراً كثيراً وما يذكر إلا أولوا الألبابﭼ البقرة: ٢٦٩ Artinya: "Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang dikehendaki. Dan barang siapa yang dianugerahi hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)". QS. Al-Baqarah: 269. Perintah untuk bersikap hikmah dalam berdakwah: Di antara dalil-dalil yang memerintahkan kita untuk bersikap hikmah dalam berdakwah: firman Allah ta'ala, ﭽادع إلى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم بالتي هي أحسن إن ربك هو أعلم بمن ضل عن سبيله وهو أعلم بالمهتدين ﭼ النحل: ١٢٥ Artinya: "Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan nasehat yang baik, serta bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabb-mu Dialah Yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapatkan petunjuk". QS. An-Nahl: 125. Imam Abdurrahman as-Sa'di rahimahullah menafsirkan ayat di atas: Ajaklah para manusia -baik mereka yang beragama Islam maupun mereka yang non muslim- kepada jalan Allah yang lurus dengan hikmah; yang berarti masing-masing sesuai dengan kondisi, tingkat pemahaman, perkataan dan taraf ketaatannya. Juga dengan nasehat yang baik yaitu: perintah dan larangan yang dibarengi dengan hasungan dan ancaman. Adapun jika yang didakwahi tersebut menganggap bahwa apa yang dia kerjakan atau dia yakini selama ini adalah benar, -padahal sebenarnya salah- maka debatlah mereka dengan cara yang baik berlandaskan dalil-dalil syar'i maupun akal[5]. Al-'Allamah Shalih al-Fauzan hafizhahullah memaparkan dengan gamblang bahwa sikap hikmah ini "merupakan salah satu sikap yang kurang dimiliki oleh banyak para juru dakwah, sehingga mengakibatkan dakwah mereka kacau; dikarenakan mereka tidak kembali kepada metode dakwah Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam"[6]. Pilar-Pilar Hikmah: Sikap hikmah dibangun di atas tiga pilar: (1) Ilmu. (2) Al-hilmu (bijaksana). (3) Al-anaah (tidak tergesa-gesa)[7]. Di antara tiga pilar ini, pilar yang paling utama dan yang paling penting adalah pilar pertama yaitu ilmu. Dan ilmu yang dimaksud di sini adalah al-Qur'an dan hadits serta pemahaman generasi terbaik umat ini (baca: salaf ash-shalih)[8]. Maka seseorang tidak akan bisa bersikap hikmah dalam berdakwah, melainkan jika dia melandaskan sikap-sikapnya di atas dalil-dalil dari kitab dan sunnah serta pemahaman salaf ash-shalih. Dari sinilah terlihat jelas kekeliruan sebagian orang yang 'mengesampingkan' perintah-perintah Allah, apalagi perintah yang paling penting yaitu tauhid, atau ikut 'larut terbawa arus' adat masyarakat yang menyelisihi syari'at, semua itu dengan alasan hikmah dalam berdakwah! 14 CONTOH PRAKTEK HIKMAH DALAM BERDAKWAH*: Berikut, penulis bawakan beberapa contoh sikap hikmah dalam berdakwah, karena dengan membawakan contoh praktek nyata dari sikap hikmah inilah, banyak orang bisa memahami teori-teori sikap hikmah yang biasa kita dengar dalam ceramah-ceramah, atau kajian-kajian Islam. Berhubung definisi dari hikmah adalah: "Tepat dalam perkataan, perbuatan dan keyakinan, serta meletakkan sesuatu pada tempatnya yang sesuai", dan hal itu tidak akan tercapai melainkan dengan membangunnya di atas pilar-pilarnya, dan pilar yang paling utama adalah ilmu yang dilandaskan di atas al-Qur'an dan hadits dengan pemahaman generasi terbaik umat ini dan para ulama yang setia meniti jalan mereka; maka penulis akan berusaha semampunya -dengan segala keterbatasan yang ada- untuk melandaskan setiap contoh di atas dalil-dalil dari al-Qur'an dan hadits, serta menghiasinya dengan perkataan atau praktek para ulama Ahlus Sunnah zaman dulu maupun sekarang. Semoga penulis diberi taufiq oleh Allah ta'ala untuk menyampaikan yang haq, amien. ----- Footnote [1] InsyaAllah akan kami jelaskan dengan lebih luas masalah bertahap dalam mengingkari kemungkaran pada contoh kesembilan dari tulisan ini. [2] Lihat: Madarij as-Salikin karya Imam Ibn al-Qayyim (II/478). [3] Lihat: Al-Hikmah fi ad-Da'wah ila Allah karya Sa'id bin Ali al-Qahthani (hal. 30) dan Ashnaf al-Mad'uwwin wa Kaifiyatu Da'watihim karya Prof. Dr. Hamud bin Ahmad ar-Ruhaili (hal. 33). [4] Lihat: Tafsir ath-Thabari (V/576 ayat 269 dari surat al-Baqarah -cet Mu'assasah ar-Risalah). [5] Lihat: Tafsir as-Sa'di (hal. 404). [6] Kata pengantar beliau untuk kitab at-Tadarruj fi Da'wah an-Nabi shallallahu’alaihiwasallam, karya Ibrahim bin Abdullah al-Muthlaq (hal. 8). [7] Madarij as-Salikin (II/480). [8] Lihat: Ad-Da'wah ila Allah wa Akhlaq ad-Du'at oleh Syaikh al-'Allamah Abdul Aziz bin Baz (hal. 25-26). * Pada asalnya makalah ini merupakan bab terakhir dari sepuluh bab dalam buku yang sedang kami susun yang berjudul "MENJELASKAN SIKAP (Sikap Yang Benar dalam Menghadapi Problema di Barisan Ikhwah Salafiyyin di Indonesia)". Namun karena penulis diminta untuk mengisi daurah pada bulan Juli 2007 dengan tema "Hikmah dalam Berdakwah" dan diminta untuk menulis makalah, maka 'terpaksa' makalah ini disebarkan terlebih dahulu sebelum bab-bab lain yang telah dipersiapkan untuk buku "Menjelaskan Sikap". Semoga kelak Allah memberikan taufiq-Nya kepada penulis untuk menyelesaikan tulisan "Menjelaskan Sikap" tersebut secara sempurna dan semoga bermanfaat, amien. Karena ilmu dan pengalaman penulis yang amat terbatas, maka penulis berusaha sekuat tenaga agar inti tulisan ini bisa dikoreksi oleh para masyayikh Ahlus Sunnah yang insyaAllah tidak diragukan lagi keilmuan mereka. Alhamdulillah setelah tulisan ini kami ringkas ke dalam bahasa Arab, ada beberapa masyayikh yang berkenan meluangkan waktu untuk mengoreksi ringkasan tersebut. Antara lain: Syaikh Dr. Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaili hafizhahullah (Dosen Aqidah Universitas Islam Madinah) pada tanggal 4/1/1428, 5/1/1428 dan 20/1/1428 H, Syaikh Dr. Ali bin Ghazi at-Tuwaijiri hafizhahullah (Dosen Tafsir Universitas Islam Madinah) pada tanggal 4/1/1428 H, Syaikh Dr. Muhammad bin Abdul Wahab al-‘Aqil hafizhahullah (Dosen Aqidah Universitas Islam Madinah) pada tanggal 4/1/1428, 8/1/1428 dan 8/2/1428 H, Syaikh Abdul Malik bin Ahmad Ramadhani hafizhahullah (Da’i di kota Madinah dan penulis buku Madarik an-Nazhar (Pandangan Tajam terhadap Politik) pada tanggal 17/1/1428 H, Syaikh Dr. Yusuf bin Muhammad ad-Dakhil hafizhahullah (Dosen Hadits Universitas Islam Madinah) pada tanggal 19/1/1428 H dan Syaikh Dr. Abu Ibrahim bin Sulthan al-'Adnani hafizhahullah (Dosen Ushul Fiqh Universitas Islam Madinah dan penulis buku al-Quthbiyyah Hiya al-Fitnah) pada tanggal 15/3/1428 H. Alhamdulillah semua syaikh di atas -selain Syaikh Abdul Malik dan Syaikh Yusuf- berkenan untuk membaca sendiri ringkasan tersebut. Adapun Syaikh Abdul Malik, maka kami yang membacakan ringkasan tersebut di hadapan beliau, sedangkan Syaikh Yusuf maka beliau menugaskan salah seorang muridnya untuk membacanya. Alhamdulillah mereka banyak memberi masukan kepada kami dan menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang ada di dalamnya, serta mendo’akan agar buku itu mendatangkan manfaat, amien. Jazahumullah ahsanal jaza’...</itunes:summary><itunes:keywords>akhlak, Dakwah, Ilmu, Muslim beradab, Nasihat, Sunnah</itunes:keywords></item><item><title>Beginilah Kepribadian Seorang Muslim</title><link>http://akhlakulkariimah.blogspot.com/2012/12/beginilah-kepribadian-seorang-muslim.html</link><category>akhlak</category><category>Muslim beradab</category><category>Nasihat</category><author>noreply@blogger.com (Amzan)</author><pubDate>Thu, 27 Dec 2012 07:43:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4988947874884367427.post-3557384904295081217</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;iframe allowfullscreen='allowfullscreen' webkitallowfullscreen='webkitallowfullscreen' mozallowfullscreen='mozallowfullscreen' width='320' height='266' src='https://www.youtube.com/embed/GeKATqCMFuQ?feature=player_embedded' frameborder='0'&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
Ustadz Abu Qotadah&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Mulailah dari Dirimu Sendiri</title><link>http://akhlakulkariimah.blogspot.com/2012/11/mulailah-dari-dirimu-sendiri.html</link><category>akhlak</category><category>Menuju Kemuliaan</category><category>Nasihat</category><author>noreply@blogger.com (Amzan)</author><pubDate>Wed, 21 Nov 2012 09:00:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4988947874884367427.post-1251280007338063993</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://islamadinafifa.files.wordpress.com/2012/03/cermin.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://islamadinafifa.files.wordpress.com/2012/03/cermin.jpg" width="231" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="SV" style="font-family: Verdana;"&gt;Seorang tokoh memberikan sebuah&amp;nbsp;&lt;b&gt;kisah simbolik (permisalan)&lt;/b&gt;&amp;nbsp;yang cukup menarik. Dan ini merupakan kisah favorit saya semenjak beberapa tahun yang lalu (yang saya baca dari sebuah buku yang saya beli di Gunung Agung, Bogor). Saya lihat, satu dua blog telah mengutipnya, namun tidak apalah saya ulangi di sini untuk satu faedah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="SV" style="font-family: Verdana;"&gt;Kisah ini adalah kisah seorang raja dan sesendok madu.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: Verdana;"&gt;Alkisah, pada suatu ketika seorang raja ingin menguji kesadaran warga kotanya. Raja memerintahkan agar setiap orang, pada suatu malam yang telah ditetapkan, membawa sesendok madu untuk dituangkan dalam sebuah bejana yang telah disediakan di puncak bukit di tengah kota. Seluruh warga kota pun memahami benar perintah tersebut dan menyatakan kesediaan mereka untuk melaksanakannya.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="FI" style="font-family: Verdana;"&gt;Tetapi, dalam pikiran seorang warga kota (katakanlah si A) terlintas suatu cara untuk mengelak&lt;i&gt;,”Aku akan membawa sesendok penuh, tetapi bukan madu.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Verdana;"&gt;Aku akan membawa air. Kegelapan malam akan melindungi dari pandangan mata seseorang. Sesendok air pun tidak akan mempengaruhi bejana yang kelak akan diisi madu oleh seluruh warga kota”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Verdana;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost"&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="SV" style="font-family: Verdana;"&gt;Tibalah waktu yang telah ditetapkan. Apa yang kemudian terjadi ? Seluruh bejana ternyata penuh dengan air. Rupanya, semua warga kota berpikiran sama dengan si A. Mereka mengharapkan warga kota yang lain membawa madu sambil membebaskan diri dari tanggung jawab. [selesai]&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="SV" style="font-family: Verdana;"&gt;Kisah simbolik ini dapat terjadi, dan bahkan mungkin telah terjadi. Banyak orang di antara kita selalu mengandalkan kerja dan usaha orang lain. Sementara itu, kita hanya duduk termangu menunggu hasil. Kita ingin perubahan menuju kebaikan, namun tidak sepeserpun saham kita ikut andil dalam mewujudkannya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: Verdana;"&gt;Kita sangat senang menuntut orang lain melakukan sesuatu sesuai keinginan kita. Bahkan seringkali kita memaksakannya. Namun jika kita bercermin balik,.... apa yang telah kita lakukan ? Ada atau tidak ada ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="FI" style="font-family: Verdana;"&gt;Perubahan menuju kemajuan dan perbaikan mustahil diwujudkan melalui asas ’menggantungkan diri’ kepada yang lainnya. Allah telah berfirman :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="right" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: right;"&gt;
&lt;span dir="RTL" lang="AR-SA" style="font-family: Tahoma;"&gt;إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: Tahoma;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: Verdana;"&gt;”Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga&amp;nbsp;&lt;u&gt;mereka&lt;/u&gt;&amp;nbsp;mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: Verdana;"&gt;&amp;nbsp;[QS. Ar-Ra’d : 11].&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="FI" style="font-family: Verdana;"&gt;Pada ayat di atas Allah telah menegaskan bahwa perubahan itu hanya berlaku jika ada ikhtiyar dari orang yang bersangkutan. Allah tidak berfirman :&amp;nbsp;&lt;i&gt;”sehingga&amp;nbsp;&lt;u&gt;orang lain&lt;/u&gt;&amp;nbsp;mengubah keadaan yang ada pada diri mereka”&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="SV" style="font-family: Verdana;"&gt;Islam sangat menganjurkan kepada pemeluknya untuk produktif. Apa yang telah kita berikan pada Islam ? Apa yang telah kita berikan pada dakwah ? Apa yang telah kita berikan pada kaum muslimin ?&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: Verdana;"&gt;Jika ilmu kita sedikit, harta kita minim,... sumbangan tenaga atau pikiran pun masih membuka peluang kita untuk berpartisipasi. Jika itu pun tidak bisa kita lakukan, bermuamalah dan memperlihatkan akhlaq yang baik kepada masyarakat sudah merupakan investasi penting untuk memberikan citra yang baik bagi dakwah salaf – yang sering rusak oleh perilaku segelintir manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="FI" style="font-family: Verdana;"&gt;Mulailah pada diri kita (dan keluarga kita) !! Sekarang juga !!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana;"&gt;Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/03/mulailah-dari-dirimu-sendiri.html"&gt;http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/03/mulailah-dari-dirimu-sendiri.html&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Jangan Sampai Mencela Waktu</title><link>http://akhlakulkariimah.blogspot.com/2012/08/jangan-sampai-mencela-waktu.html</link><category>akhlak</category><category>Muslim beradab</category><category>Nasihat</category><category>Sunnah</category><author>noreply@blogger.com (Amzan)</author><pubDate>Wed, 15 Aug 2012 16:23:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4988947874884367427.post-480876231968941170</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://kiosjamtangan.com/wp-content/uploads/2011/10/jam-pasir.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://kiosjamtangan.com/wp-content/uploads/2011/10/jam-pasir.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;"Sial banget hari ini, kami selalu kalah jika bertanding pas hari Rabu?", ujar seseorang ketika kalah bertanding futsal.&lt;br /&gt;
"Bulan Suro, bulan penuh petaka!", kata seseorang yang sering menaruh sial pada bulan Suro ketika ia dapati berbagai musibah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bolehkah mencela waktu seperti itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlu kita ketahui bersama bahwa mencela waktu adalah kebiasaan orang-orang musyrik. &lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Mereka menyatakan bahwa yang membinasakan dan mencelakakan mereka adalah waktu. Allah pun mencela perbuatan mereka ini. Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Dan mereka berkata: "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa (waktu)", dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (QS. Al Jatsiyah [45] : 24). Jadi, mencela waktu adalah sesuatu yang tidak disenangi oleh Allah. Itulah kebiasan orang musyrik dan hal ini berarti kebiasaan yang jelek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu juga dalam berbagai hadits disebutkan mengenai larangan mencela waktu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam shohih Muslim, dibawakan Bab dengan judul ’larangan mencela waktu (ad-dahr)’. Di antaranya terdapat hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Allah ’Azza wa Jalla berfirman,’Aku disakiti oleh anak Adam. Dia mencela waktu, padahal Aku adalah (pengatur) waktu, Akulah yang membolak-balikkan malam dan siang.” (HR. Muslim no. 6000)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam lafadz yang lain, beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ يَقُولُ يَا خَيْبَةَ الدَّهْرِ. فَلاَ يَقُولَنَّ أَحَدُكُمْ يَا خَيْبَةَ الدَّهْرِ. فَإِنِّى أَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ لَيْلَهُ وَنَهَارَهُ فَإِذَا شِئْتُ قَبَضْتُهُمَا&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Allah ’Azza wa Jalla berfirman,’Aku disakiti oleh anak Adam. Dia mengatakan ’Ya khoybah dahr’ [ungkapan mencela waktu, pen]. Janganlah seseorang di antara kalian mengatakan ’Ya khoybah dahr’ (dalam rangka mencela waktu, pen). Karena Aku adalah (pengatur) waktu. Aku-lah yang membalikkan malam dan siang. Jika suka, Aku akan menggenggam keduanya.” (HR. Muslim no. 6001)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
An Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shohih Muslim (7/419) mengatakan bahwa orang Arab dahulu biasanya mencela masa (waktu) ketika tertimpa berbagai macam musibah seperti kematian, kepikunan, hilang (rusak)-nya harta dan lain sebagainya sehingga mereka mengucapkan ’Ya khoybah dahr’ (ungkapan mencela waktu, pen) dan ucapan celaan lainnya yang ditujukan kepada waktu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah dikuatkan dengan berbagai dalil di atas, jelaslah bahwa mencela waktu adalah sesuatu yang telarang. Kenapa demikian? Karena Allah sendiri mengatakan bahwa Dia-lah yang mengatur siang dan malam. Apabila seseorang mencela waktu dengan menyatakan bahwa bulan ini adalah bulan sial atau bulan ini selalu membuat celaka, maka sama saja dia mencela Pengatur Waktu, yaitu Allah ’Azza wa Jalla.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlu diketahui bahwa mencela waktu bisa membuat kita terjerumus dalam dosa bahkan bisa membuat kita terjerumus dalam syirik akbar (syirik yang mengekuarka pelakunya dari Islam). Perhatikanlah rincian Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah dalam Al Qoulul Mufid ’ala Kitabit Tauhid berikut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mencela waktu itu terbagi menjadi tiga macam:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama; jika dimaksudkan hanya sekedar berita dan bukanlah celaan, kasus semacam ini diperbolehkan. Misalnya ucapan, ”Kita sangat kelelahan karena hari ini sangat panas” atau semacamnya. Hal ini diperbolehkan karena setiap amalan tergantung pada niatnya. Hal ini juga dapat dilihat pada perkataan Nabi Luth ’alaihis salam,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
هَـذَا يَوْمٌ عَصِيبٌ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Ini adalah hari yang amat sulit." (QS. Hud [11] : 77)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua; jika menganggap bahwa waktulah pelaku yaitu yang membolak-balikkan perkara menjadi baik dan buruk, maka ini bisa termasuk syirik akbar. Karena hal ini berarti kita meyakini bahwa ada pencipta bersama Allah yaitu kita menyandarkan berbagai kejadian pada selain Allah. Barangsiapa meyakini ada pencipta selain Allah maka dia kafir. Sebagaimana seseorang meyakini bahwa ada sesembahan selain Allah, maka dia juga kafir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketiga; jika mencela waktu karena waktu adalah tempat terjadinya perkara yang dibenci, maka ini adalah haram dan tidak sampai derajat syirik. Tindakan semacam ini termasuk tindakan bodoh (alias ’dungu’) yang menunjukkan kurangnya akal dan agama. Hakikat mencela waktu, sama saja dengan mencela Allah karena Dia-lah yang mengatur waktu, di waktu tersebut Dia menghendaki adanya kebaikan maupun kejelekan. Maka waktu bukanlah pelaku. Tindakan mencela waktu semacam ini bukanlah bentuk kekafiran karena orang yang melakukannya tidaklah mencela Allah secara langsung. –Demikianlah rincian dari beliau rahimahullah yang sengaja kami ringkas-&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka perhatikanlah saudaraku, mengatakan bahwa waktu tertentu atau bulan tertentu adalah bulan sial atau bulan celaka atau bulan penuh bala bencana, ini sama saja dengan mencela waktu dan ini adalah sesuatu yang terlarang. Mencela waktu bisa jadi haram, bahkan bisa termasuk perbuatan syirik. Hati-hatilah dengan melakukan perbuatan semacam ini. Oleh karena itu, jagalah selalu lisan ini dari banyak mencela. Jagalah hati yang selalu merasa gusar dan tidak tenang ketika bertemu dengan satu waktu atau bulan yang kita anggap membawa malapetaka. Ingatlah di sisi kita selalu ada malaikat yang akan mengawasi tindak-tanduk kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ (16) إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ (17)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan para malaikat Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.” (QS. Qaaf [50] : 16-17)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga Allah memberi taufik untuk menjaga lisan ini dari murka-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Artikel www.rumaysho.com&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Muhammad Abduh Tuasikal&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Tawakal Melindungi Diri Dari Penyakit Ujub dan Takabur</title><link>http://akhlakulkariimah.blogspot.com/2012/08/tawakal-melindungi-diri-dari-penyakit.html</link><category>Nasihat</category><category>Tazkiyatun Nafs</category><author>noreply@blogger.com (Amzan)</author><pubDate>Mon, 13 Aug 2012 06:02:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4988947874884367427.post-4908767189894228705</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXBJLeEp3xlawjvj5Iat149eXBKVbjHGnEIUztgupWYG-_3PHPJMfH07D52Rn_-jIeny320nnwjgBg5Jg8fqZWgNkuRwgn_XeoOuH10gDrFnKlNkViRF_T9qEEn7gdo0-SdAtHZjoCx5M/s1600/Riya'.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXBJLeEp3xlawjvj5Iat149eXBKVbjHGnEIUztgupWYG-_3PHPJMfH07D52Rn_-jIeny320nnwjgBg5Jg8fqZWgNkuRwgn_XeoOuH10gDrFnKlNkViRF_T9qEEn7gdo0-SdAtHZjoCx5M/s400/Riya'.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Oleh : Dr. Abdullah bin Umar Ad-Dumaiji&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesungguhnya penyakit yang paling besar serta mematikan yang menimpa hati manusia, serta dapat menjadikan amalan-amalan sia-sia, juga merusak seluruh perbuatan manusia serta melahirkan kekerasan dan kekejian adalah ; Riya dan Ujub.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Riya : adalah bagian dari perbuatan syirik mensekutukan Allah, sementara Ujub (Al-'Alamah As-Safarini menyebutkan perbedaan yang mendetail antara ujub dan takabur, bagi yang berkeinginan lihat bukunya Ghadza ' Al-Albab 2/222) : adalah bagian dari perbuatan syirik terhadap diri sendiri, kedua sikap ini menyatu pada diri orang yang takabur. [Majmu 'Al-Fatawa 10/277]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak nash-nash yang mencela kedua sikap ini antara lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits Haritsah bin Wahab :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Artinya : Maukah kalian aku beritakan tentang penghuni neraka ; yaitu setiap orang yang berperangai jahat serta kasar (Lihat An-Nihayah 3/180), orang gemuk yang berlebih-lebihan dalam berjalannya (Lihat pula An-Nihayah 1/416), dan orang-orang yang sombong". [Hadits Riwayat Al-Bukhari dalam Tafsir surat Al-Qalam 4918 8/530, At-Tirmidzi bab Jahannam 13, Ibnu Majah bab Zuhud 4, Ahmad dalam Musnadnya 2/169, 214 dan 4/175-306]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan dari Ibnu Mas'ud dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Artinya : Tidaklah masuk surga barang siapa yang di dalam hatinya terdapat kesombongan yang sebesar biji dzarah (atom) sekalipun". [Hadist Riwayat Muslim bab Imam 91 1/93 dan At-Tirmidzi bab Al-Birru was-shilah 1998-1999 4/360-361]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan dalam satu hadits disebutkan :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Artinya : Ada tiga hal yang dapat membinasakan diri seseorang yaitu : Kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti serta seseorang yang membanggakan dirinya sendiri". [Hadits ini disebutkan oleh Al-Mundziry dalam kitab At-Targhib wa Tarhib 1/162 yang diriwayatkan oleh Al-Bazzar dan Al-Baihaqi serta dibenarkan oleh Al-Albany]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Said bin Jabir berkata : "Sesungguhnya seorang hamba melakukan perbuatan kebaikan lalu perbuatan baiknya itu menyebabkan ia masuk neraka, dan sesungguhnya seorang hamba melakukan perbuatan buruk lalu perbuatan buruknya itu menyebabkan dia masuk neraka, hal itu dikarenakan perbuatan baiknya itu manjadikan ia bangga pada dirinya sendiri sementara perbuatan buruknya menjadikan ia memohon ampun serta bertobat kepada Allah karena perbuatan buruknya itu". [Majmu 'Al-Fatawa 10/277]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyembah kepada Allah dan bersikap tawakal kepada-Nya adalah merupakan obat penawar untuk mencegah kedua penyakit yang buruk ini yaitu Ujub dan Takabur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : "Seseorang yang melakukan riya' pada hakekatnya ia tak melakukan firman Allah : (Hanya kepada-Mu aku menyembah), dan orang yang bersikap ujub (bangga kepada diri sendiri) pada hakekatnya ia tak melakukan firman Allah : (Hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan) dan barangsiapa yang melaksanakan firman Allah : (Hanya kepada-Mu kami menyembah), maka ia telah keluar dari sikap riya, dan barang siapa yang melaksanakan firman Allah (Hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan), maka ia telah keluar dari sikap ujub". [Majmu Al-Fatawa 10/277]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itulah Ibnul Qayyim berkata : "Sesungguhnya hati manusia dihadapi oleh dua macam penyakit yang amat besar jika orang itu tidak menyadari adanya kedua penyakit itu akan melemparkan dirinya kedalam kehancuran dan itu adalah pasti, kedua penyakit itu adalah riya dan takabur, maka obat dari pada riya adalah : (Hanya kepada-Mu kami menyembah) dan obat dari penyakit takabur adalah : (Hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan)". [Madarijus Salikin 1/54]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Disalin dari buku At-Tawakkul 'Alallah wa 'Alaqatuhu bil Asbab oleh Dr Abdullah bin Umar Ad-Dumaiji dengan edisi Indonesia Rahasia Tawakal dan Sebab Akibat hal.116-117 bab Buah Tawakal terbitan Pustaka Azzam,Th 1999. Penerjemah Drs Kamaluddin Sa'diatulharamaini dan Farizal Tarmizi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
disalin dari&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://griya-ilmu-bisnis.blogspot.com/"&gt;http://griya-ilmu-bisnis.blogspot.com&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXBJLeEp3xlawjvj5Iat149eXBKVbjHGnEIUztgupWYG-_3PHPJMfH07D52Rn_-jIeny320nnwjgBg5Jg8fqZWgNkuRwgn_XeoOuH10gDrFnKlNkViRF_T9qEEn7gdo0-SdAtHZjoCx5M/s72-c/Riya'.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Pemberi Nasihat</title><link>http://akhlakulkariimah.blogspot.com/2012/07/pemberi-nasihat.html</link><category>Nasihat</category><author>noreply@blogger.com (Amzan)</author><pubDate>Sat, 21 Jul 2012 07:19:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4988947874884367427.post-6810206577322512713</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://nubageur.files.wordpress.com/2011/04/gulungan.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="141" src="http://nubageur.files.wordpress.com/2011/04/gulungan.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Bismillaah....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al-Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah&amp;nbsp;berkata :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Wahai manusia, sesungguhnya aku tengah&amp;nbsp;menasihati kalian, dan bukan berarti aku&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;orang yang terbaik di antara kalian, bukan pula&amp;nbsp;orang&amp;nbsp;yang paling shalih di antara kalian. Sungguh,&amp;nbsp;akupun telah banyak melampaui batas&amp;nbsp;terhadap&amp;nbsp;diriku. Aku tidak sanggup mengekangnya dengan&amp;nbsp;sempurna, tidak pula membawanya sesuai&amp;nbsp;dengan&amp;nbsp;kewajiban dalam menaati Rabb-nya.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;i&gt;Andaikata&amp;nbsp;seorang muslim tidak memberi nasihat kepada&amp;nbsp;saudaranya kecuali setelah dirinya menjadi&amp;nbsp;orang&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;yang sempurna, niscaya tidak akan ada para&amp;nbsp;pemberi nasihat."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Mawai’zh lilImam Al-Hasan Al-Bashri, hal.185)&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Teknik Mengkhatamkan Al-Qur'an</title><link>http://akhlakulkariimah.blogspot.com/2012/07/teknik-mengkhatamkan-al-quran.html</link><category>Menuju Kemuliaan</category><author>noreply@blogger.com (Amzan)</author><pubDate>Sat, 21 Jul 2012 04:38:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4988947874884367427.post-8802407700032529430</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjVkETDsC0Rbq-kcIhaGJgkoNsKG8PW8q9XEpRGPitwuVI9ucplyps-tgSinTk5C-knHULryr1gVId3Sl5LC0pUfYfUumzj81BKC62HGrNKcIHUbqYYfd4-MlBWO8nFYO3wwUaI2Q_uwz0/s1600/tantangan.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjVkETDsC0Rbq-kcIhaGJgkoNsKG8PW8q9XEpRGPitwuVI9ucplyps-tgSinTk5C-knHULryr1gVId3Sl5LC0pUfYfUumzj81BKC62HGrNKcIHUbqYYfd4-MlBWO8nFYO3wwUaI2Q_uwz0/s400/tantangan.jpg" width="265" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Bulan Ramadhan, di mana di dalamnya Al Qur'an diturunkan sebagai petunjuk bagi umat manusia. Bulan yang penuh berkah ini alangkah baiknya kita isi dengan membaca dan memahami Al Qur'an. Bukan karena sebatas pahala yang didapat darinya, namun lebih dari itu kita harapkan Allah meridhoi kita untuk digolongkan sebagai hambaNya yang bertaqwa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah salah satu teknik mengkhatamkan Al Qur'an yang sangat sederhana, saya dapat teknik ini dari teman saya di facebook. Mudah-mudahan bermanfaat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;.:.:.:.:..:.:.:.:..:.:.:.:..:.:.:.:..:.:.:.:..:.:.:.:..:.:.:.:.&lt;br /&gt;
Al-Qur'an itu kurang lebih terdiri dari 600 halaman. Jika Anda bagi &amp;nbsp;untuk 30 hari, maka hasilnya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
20 halaman per-hari&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Awalnya mungkin terkesat agak keberatan. Target konsisten 20 halaman per-hari itu di luar kebiasaan. Tapi, ternyata jika Anda bagi untuk setiap waktu shalat fardhu, maka beban berat itu akan menjadi terasa ringan insya Allah. Berarti 20 dibagi 5, kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
20:5 = 4&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berarti 2 LEMBAR [4 halaman] sebelum/setelah shalat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Boleh 1 lembar sebelum shalat dan 1 lembar setelah shalat, atau 2 lembar sekaligus setelah shalat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seandainya Anda konsisten melakukannya, maka sebuah kepastian bahwa Anda akan mengkhatamkannya. Betul betul betul?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selamat mengamalkan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx&lt;br /&gt;
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai? Belum. Trik di atas bagi yang ingin mengkhatamkannya SEKALI. Jika ingin khatam DUA KALI, maka lipat duakan caranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bayangkan jika setiap orang membaca trik ini dan mereka berhasil mengkhatamkan Al-Qur'an...bayangkan pahala yang akan Anda raih nantinya...dengan segala kelipatannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi yang berkenan, dipersilahkan co-pas cara di atas, dishare, disebarkan. KARENA:&lt;br /&gt;
Jika Anda menyebarkan pesan di atas, dan satu orang mengikuti cara tersebut [ia membaca Al-Qur'an 30 juz], maka insya Allah pahala si pembaca masuk dalam akun tabungan/investasi Anda untuk hari nanti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan jangan sia-siakan kesempatan beramal di Ramadhan; yang pahalanya berlipat-lipat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya." [HR Muslim, 3509]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hasan Al-Munajjid, 3 Agustus 2011&lt;br /&gt;
Hasan Al-Jaizy, 20 Juli 2012&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
http://www.facebook.com/notes/dil-dul-abdillah-syarda/solusi-mudah-mengkhatamkan-al-quran-di-bulan-ramadhan/230498270319277&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah kutipan dari apa yang saya dapatkan. Mudah-mudahan memberikan pencerahan bagi anda yang kesusahan untuk mengkhatamkan Alqur'an.&lt;br /&gt;
Mengkhatamkan AlQur'an tidak hanya membaca saja, cobalah dengan membaca terjemahannya, misal, membaca 4 lembar setelah sholat, maka bacalah terjemahan dari ayat-ayat yang telah dibaca. Sehingga Al Qur'an bisa kita resapi dan kita amalkan apa yang ada di dalamnya.&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjVkETDsC0Rbq-kcIhaGJgkoNsKG8PW8q9XEpRGPitwuVI9ucplyps-tgSinTk5C-knHULryr1gVId3Sl5LC0pUfYfUumzj81BKC62HGrNKcIHUbqYYfd4-MlBWO8nFYO3wwUaI2Q_uwz0/s72-c/tantangan.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>[Kisah] Bercocok Tanam di Surga</title><link>http://akhlakulkariimah.blogspot.com/2012/07/kisah-bercocok-tanam-di-surga.html</link><category>Kisah Inspiratif</category><author>noreply@blogger.com (Amzan)</author><pubDate>Fri, 20 Jul 2012 06:04:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4988947874884367427.post-927989315745816247</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjZT9aNmqUF2FPNPhWP7hCxqj4HZrK-zM3qCFzsToBwrviQ0wBjgZaST-JQd84SvpOuXBLqbEzCIYqxVApIB96nbkHTzWnpHnCToItAft4FwlfmFu8nbBVKGp7nBaNVNwhC1VgNoQuiU8M/s400/sawah.png" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="159" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjZT9aNmqUF2FPNPhWP7hCxqj4HZrK-zM3qCFzsToBwrviQ0wBjgZaST-JQd84SvpOuXBLqbEzCIYqxVApIB96nbkHTzWnpHnCToItAft4FwlfmFu8nbBVKGp7nBaNVNwhC1VgNoQuiU8M/s200/sawah.png" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Pada suatu hari Rosulullah shallallahu'alaihi wa sallam berbincang-bincang (dengan para sahabatnya. -pen) sedang di sisinya ada seorang laki-laki Arab Badui (ndeso. -pen). Beliau Shallallahu'alaihi wa sallam bercerita :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Sesungguhnya ada seorang penduduk surga yang meminta kepada RobbNya untuk bertani. Maka Allah berfirman : "Bukankah engkau sudah mendapatkan apa yang engkau inginkan?" Orang itu menjawab: "Iya, tetapi aku senang bercocok tanam." Allah subhanahu wa ta'ala mengizinkannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Kemudian ia pun segera menebar benih, dan dalam waktu sekejap, (benih itu) tumbuh, berbuah, meranum, dan (dalam waktu sekejap itu) tibalah waktunya panen. Hasilnya pun (menumpuk) seperti gunung. Kemudian Allah mengatakan: "Wahai anak Adam, ambillah (semuanya), sesungguhnya hal itu tidak akan mengenyangkanmu sedikitpun."&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Maka dia (laki-laki Arab Badui itu) berkata : "Demi Allah, tidaklah engkau jumpai mereka melainkan (mereka adalah) orang-orang Quraisy atau orang-orang Anshor, karena mereka adalah orang-orang yang suka bertani. (Sedangkan kami bukan orang-orang yang suka bercocok tanam, Red)." Maka nabi shallallahu'alaihi wa sallam pun tertawa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;(kisah di atas diriwayatkan oleh Imam al-Bukhori dalam Kitabul-Hartsi wal--Muzaro'ah: 2348 dan juga oleh Imam Ahmad: 2/512)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjZT9aNmqUF2FPNPhWP7hCxqj4HZrK-zM3qCFzsToBwrviQ0wBjgZaST-JQd84SvpOuXBLqbEzCIYqxVApIB96nbkHTzWnpHnCToItAft4FwlfmFu8nbBVKGp7nBaNVNwhC1VgNoQuiU8M/s72-c/sawah.png" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>[Rekaman] Kedermawanan Sang Fakir Faidah Dari Siroh Shahabat Ulbah bin Zaid - Ustadz Armen Halim</title><link>http://akhlakulkariimah.blogspot.com/2012/06/rekaman-kedermawanan-sang-fakir-faidah.html</link><category>Menuju Kemuliaan</category><author>noreply@blogger.com (Amzan)</author><pubDate>Sun, 10 Jun 2012 05:34:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4988947874884367427.post-7983976358941803933</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: -webkit-auto;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://27victory.files.wordpress.com/2011/11/jihad.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="246" src="http://27victory.files.wordpress.com/2011/11/jihad.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="line-height: 18px;"&gt;&lt;i&gt;...Ulbah bin Zaid Radhialloohu 'Anhu adalah salah seorang shahabat yang sangat bersedih karena tidak diizinkan Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam untuk ikut berperang. Beliau sangat sedih melihat para shahabat yang lain datang membawa sedekahnya masing- masing kepada Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam sedangkan dirinya tidak mampu berbuat apa- apa. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="line-height: 18px;"&gt;&lt;i&gt;Jangankan untuk disedekahkan, untuk makan sendiri pun ia tidak punya. Akhirnya Ulbah kembali dengan menahan air mata yang makin lama makin tak kuasa untuk dibendung...&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: -webkit-auto;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="line-height: 18px;"&gt;&lt;b&gt;Play : &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: -webkit-auto;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;embed allowfullscreen="true" allowscriptaccess="always" height="250" src="http://www.4shared.com/embed/68322105/838fb268" width="420"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>MENGAPA BUKAN AYAH SAJA YANG MENINGGAL?</title><link>http://akhlakulkariimah.blogspot.com/2012/05/mengapa-bukan-ayah-saja-yang-meninggal.html</link><author>noreply@blogger.com (Amzan)</author><pubDate>Wed, 30 May 2012 10:31:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4988947874884367427.post-2282738932176540626</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash3/s320x320/545965_436834243000652_100000222418620_1892424_1555197125_n.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="127" src="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash3/s320x320/545965_436834243000652_100000222418620_1892424_1555197125_n.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;(Kisah anak yg menyadarkan kealpaan ayahnya…subhanallah!)&lt;br /&gt;
Ia masih bocah, masih duduk di bangku kelas 3 SD. Pada suatu hari ustadz di kelasnya memotivasi para siswa untuk menjaga shalat jamaah shubuh. Bagi si anak, Shubuh merupakan sesuatu yg sulit bagi sang bocah, Namun sang bocah telah bertekad untuk menjalankan shalat shubuh di masjid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu dengan cara bagaimana anak ini memulainya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dibangunkan ayah? ibu? dengan alarm?…&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Bukan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang anak nekat tak tidur semalaman lantaran takut bangun kesiangan. Semalaman anak begadang, hingga tatkala adzan berkumadang, iapun ingin segera keluar menuju masjid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tatkala ia membuka pintu rumahnya suasana sangat gelap, pekat, sunyi, senyap…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Membuat nyalinya menjadi ciut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahukah Anda, apa yg ia lakukan kemudian?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tatkala itu, sang bocah mendengar langkah kaki kecil dan pelan, dengan diiringi suara tongkat memukul tanah…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada kakek-kakek berjalan dengan tongkatnya. Sang bocah yakin, kakek itu sedang berjalan menuju masjid, maka ia mengikuti di belakangnya, tanpa sepengetahuan sang kakek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitupula cara ia pulang dari masjid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bocah itu menjadikan perbuatannya itu sebagai kebiasaan begadang malam, shalat shubuh mengikuti kakek-kakek. Dan ia tidur setelah shubuh hingga menjelang sekolah. Tak ada org tuanya yg tahu, selain hanya melihat sang bocah lebih banyak tidur di siang hari daripada bermain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semuanya dilakukan sang bocah agar ia bisa begadang malam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hingga suatu kali…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terdengar kabar olehnya, kakek2 itu meninggal. Sontak, si bocah menangis sesenggukan….&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang ayah heran…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa kamu menangis, nak? Ia bukan kakekmu…bukan siapa-siapa kamu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat si ayah mengorek sebabnya, sang bocah justru berkata,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“kenapa bukan ayah saja yang meninggal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A’udzu billah…, kenapa kamu berbicara seperti itu?” kata sang ayah heran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si bocah berkata,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mendingan ayah saja yang meninggal, karena ayah tidak pernah membangunkan aku shalat Shubuh, dan mengajakkku ke masjid. ..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara kakek itu….&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
setiap pagi saya bisa berjalan di belakangnya untuk shalat jamaah Shubuh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ALLAHU AKBAR!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menjadi kelu lidah sang ayah, hingga tak kuat menahan tangisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata anak tersebut mampu merubah sikap dan pandangan sang ayah, hingga membuat sang ayah sadar sebagai pendidik dari anaknya, dan lebih dari itu sebagai hamba dari Pencipta-Nya yang semestinya taat menjalankan perintah-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya sang ayah rajin shalat berjamaah karena dakwah dari anaknya…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wadzurriyyaatinaa qurrata a’yuniw-waj’alnaa lil-muttaqiina imaamaa..”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sumber : http://www.facebook.com/photo.php?fbid=436834243000652&amp;amp;set=at.297115090305902.90801.100000222418620.100000978562272&amp;amp;type=1&amp;amp;ref=nf&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Keutamaan Meninggalkan Perkara Haram</title><link>http://akhlakulkariimah.blogspot.com/2012/05/keutamaan-meninggalkan-perkara-haram.html</link><category>Menuju Kemuliaan</category><category>Tinggalkan Maksiat</category><author>noreply@blogger.com (Amzan)</author><pubDate>Sun, 20 May 2012 05:44:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4988947874884367427.post-8401783984616149887</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://images.detik.com/content/2012/05/07/1148/ilustrasi-miras-DLM.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://images.detik.com/content/2012/05/07/1148/ilustrasi-miras-DLM.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Maimun bin Mihran rahimahullah mengatakan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan lisan adalah kebaikan. Yang lebih dari itu adalah seorang hamba mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala tatkala bermaksiat, kemudian dia menahan diri darinya.”&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umar bin Abdil ‘Aziz rahimahullah berkata:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukanlah takwa itu dengan (amalan sunnah seperti) bangun di waktu malam (bertahajjud, pen.) dan berpuasa di siang hari. Bukan pula dengan menghubungkan antara keduanya. Akan tetapi takwa adalah menunaikan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala wajibkan dan meninggalkan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala haramkan. Jika bersamaan dengan itu terdapat suatu amalan (sunnah, pen.) maka itu adalah kebaikan di atas kebaikan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu mengatakan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sesungguhnya mengembalikan 1/6 dirham (uang perak) dari harta yang haram itu lebih utama dari 100.000 dirham yang diinfaqkan (sebagai amalan sunnah) di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah berkata:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diriwayatkan dari sebagian salaf: “Meninggalkan 1/6 dirham dari hal-hal yang dibenci Allah Subhanahu wa Ta’ala itu lebih utama daripada 500 kali haji.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu Rajab rahimahullah berkata: “Kesimpulan dari ucapan-ucapan tersebut menunjukkan bahwa menjauhi &amp;nbsp;perkara-perkara yang haram meskipun sedikit adalah lebih utama daripada memperbanyak amalan-amalan yang sifatnya sunnah. Karena meninggalkan keharaman-keharaman adalah wajib, sedangkan amalan-amalan tersebut hukumnya sunnah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, jilid 1 hal. 247-248)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber: Majalah Asy Syari’ah, no.47/IV/1430 H/2009, rubrik Permata Salaf.&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item></channel></rss>