<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/atom10full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" gd:etag="W/&quot;DEQHQnwzcCp7ImA9WhRaFE8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1413456690919827167</id><updated>2012-02-17T04:05:33.288+07:00</updated><title>akibasret</title><subtitle type="html" /><link rel="http://schemas.google.com/g/2005#feed" type="application/atom+xml" href="http://www.akibasret.co.cc/feeds/posts/default" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.akibasret.co.cc/" /><link rel="next" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1413456690919827167/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false&amp;v=2" /><author><name>alfa RS</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/_Omd-GgEPNxg/SbWSM9w55XI/AAAAAAAAABc/S2LB9inkVXQ/S220/Aku.jpg" /></author><generator version="7.00" uri="http://www.blogger.com">Blogger</generator><openSearch:totalResults>42</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/atom+xml" href="http://feeds.feedburner.com/Akibasret" /><feedburner:info uri="akibasret" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><entry gd:etag="W/&quot;AkUCRH87fip7ImA9WxNbFkQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1413456690919827167.post-7893628188701661006</id><published>2009-11-20T13:24:00.000+07:00</published><updated>2009-11-20T13:24:25.106+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-11-20T13:24:25.106+07:00</app:edited><title>Maha Besar</title><content type="html">Oleh: Alfa&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
#Maha Besar Allah Tuhan semesta alam. Kebesaran yang terlalu besar sehingga kadang kita tidak mampu melihatannya besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
#Maha Besar Ia. Yang jauh dari logika membesarkan Ismail. Menumbuhkan besarnya jiwa Hajar merawat Ismail mungil.&lt;br /&gt;
&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
#Maha Besar tanpa tandingan. Membesarkan gerombolan dari berbagai kalangan. Kalangan yang kadang selalu merasa besar, walau selepas bergerombol di Arafah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
#Wahai Dzat Maha Besar, besarkan keyakinanku bahwa Kau memang besar.&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1413456690919827167-7893628188701661006?l=www.akibasret.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Akibasret/~4/AmbbQDdUxQs" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.akibasret.co.cc/feeds/7893628188701661006/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.akibasret.co.cc/2009/11/maha-besar.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1413456690919827167/posts/default/7893628188701661006?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1413456690919827167/posts/default/7893628188701661006?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Akibasret/~3/AmbbQDdUxQs/maha-besar.html" title="Maha Besar" /><author><name>alfa RS</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/_Omd-GgEPNxg/SbWSM9w55XI/AAAAAAAAABc/S2LB9inkVXQ/S220/Aku.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.akibasret.co.cc/2009/11/maha-besar.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkcBRn8_fyp7ImA9WxNbFkQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1413456690919827167.post-5347153072717163837</id><published>2009-11-20T13:20:00.000+07:00</published><updated>2009-11-20T13:20:57.147+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-11-20T13:20:57.147+07:00</app:edited><title>Polemik Idul Adha</title><content type="html">Oleh: Alfa RS&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa hari lagi kita akan merayakan Idul Adha, suasana yang kadang tidak dapat kita rasakan kebahagiaannya karena keadaan. Ya,  bagaimana mau bahagia, kalau makan saja masih seperti biasa, seadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terlepas dari semua itu, penulis mencoba menyajikan hal lain yang tentunya lebih dari sekedar perasaan bahagia atau tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila kita tengok beberapa tahun kebelakang, kita akan menjumpai tahun-tahun dimana ada perbedaan penentuan awal bulan Dzulijjah antara pemerintah Arab Saudi dan Indonesia. Contohnya pada Dzulhijjah 1427 H/ 2006 M. dimana Saudi menetapkan Awal Dzulhijjah pada hari Kamis (21 Desember 2006) dan Indonesia menetapkan hari Jum'at (22 Desember 2006) maka untuk umat Islam Indonesia melaksanakan puasa Arafah dan Tarwiyah sesuai dengan ketetapan pemerintah setempat, yakni tanggal 8-9 Dzulhijjah (29-30 Desember 2006).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahun berikutnya, perbedaan itu kembali terjadi. Dalam penetapan hari Idul Adha 1428 H./ 2007 M. pemerintah melalui Departemen Agama menetapkan bahwa Idul Adha 1428 H jatuh pada hari Kamis, 20 Desember 2007. Bila Idul Adha adalah 10 Dzulhijjah, maka 9 Dzulhijjah-nya atau Hari Arafah, hari dimana jamaah haji wukuf di Arafah, mestinya jatuh sehari sebelumnya, yakni Rabu, 19 Desember 2007. Sedang Mahkamah Agung Kerajaan Arab Saudi mengumumkan bahwa wukuf atau hari Arafah (9 Dzulhijjah) jatuh pada Selasa, 18 Desember 2007. Dengan demikian Idul Adha (10 Dzulhijjah) akan jatuh pada hari Rabu, 19 Desember 2007, bukan hari Kamis, 20 Desember 2007 seperti yang telah ditetapkan oleh pemerintah Indonesia.[1]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu keadaan ini mengundang tanya, bagaimana umat harus bersikap?&lt;br /&gt;
&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
Bila ingin puasa hari Arafah, kapan harus dilakukan: Selasa, 18 Desember sesuai dengan hari ketika jamaah haji wukuf di Arafah, atau Rabu, 19 Desember sesuai dengan ketentuan pemerintah Indonesia? Bila memilih Rabu, 19 Desember, pertanyaannya, betulkah hari itu adalah hari Arafah, mengingat jamaah haji di sana hari itu justru tengah merayakan Idul Adha dan sudah melakukan wukuf sehari sebelumnya? Bila benar seperti ketetapan pemerintah bahwa hari Arafah jatuh pada hari Rabu tanggal 19 Desember, bukankah berpuasa pada Rabu, 19 Desember berarti berpuasa di hari yang justru dilarang untuk berpuasa karena pada faktanya hari Arafah yang sesungguhnya – saat para jamaah haji melakukan wukuf di Arafah - terjadi pada Selasa, 18 Desember? Bila pemerintah bersikeras bahwa hari Arafah jatuh pada Rabu 19 Desember, lantas Arafah mana yang dimaksud oleh pemerintah, mengingat Arafah hanya ada satu, yakni di tanah suci, tempat para jamaah haji melakukan wukuf. Dan bila memilih puasa di hari Selasa 18 Desember, kapan harus shalat Idul Adha-nya? Rabu, 19 Desember atau Kamis, 20 Desember?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin kita akan beranggapan peristiwa ini sangat menyedihkan sekaligus memalukan bagi umat Islam. Namun sebenarnya, ini hanya masalah sepele yang tidak perlu kita pusingkan. Karena ini semata didasarkan pada perbedaan posisi geografis antara Negara kita dan Arab Saudi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelaksanaan Idul Adha di Arab Saudi sehari setelah wukuf adalah suatu kepastian, namun untuk wilayah lain perlu diperjelas lagi, sebab bumi ini tidaklah datar. Ada yang secara mudah mendefinisikan bila wukuf di Arafah jatuh hari Jumat maka Idul Adha jatuh hari Sabtu untuk seluruh dunia dan termasuk di Indonesia tanpa memperhatikan hari itu 10 Dzulhijjah atau bukan. Sejauh ini, belum ada keterangan pasti yang dapat dijadikan landasan pendapat ini, selain mengikuti kelaziman hari dalam definisi syamsiyah dalam kalender umum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang perlu diperhatikan, jika kita dipaksakan melaksanakan Idul Adha bersamaan dengan Arab Saudi, kita malah akan disebut mendahului, bukan mengikuti Arab Saudi. Karena dari segi waktu shalat Idul Adha pasti mendahului. Sebab ketika di Indonesia melaksanakan shalat Idul Adha pukul 07.00 WIB, di Arab Saudi masih sekitar pukul 03.00 dini hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, perbedaan itu akan kita rasakan kesemuannya bila melihat dua aspek. Pertama aspek astronomis penentuan awal Dzulhijjah, dan kedua aspek syari'ah (fikih) yang berkaitan dengan puasa hari Arafah. Seperti yang telah dijelaskan sekilas di atas, perbedaan itu bermula dari letak geografis yang mengharuskan Indonesia dan Arab Saudi berbeda dalam waktu. Hal ini tidak dapat kita tampik, selamanya Indonesia tidak akan pernah sama dengan Arab Saudi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari perbedaan waktu itu, otomatis secara fikih kita tidak bisa mengikuti Idul Adhanya Arab Saudi. Karena ketika shalat ied digelar di sana, kita belum masuk waktu diperbolehkannya melakukan shalat ied, yang secara fikih harus dilakukan setelah matahari terbit atau masuknya waktu shalat dhuha.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ide untuk menyamakan Idul Adha di Indonesia sama dengan Arab Saudi bahkan diseluruh dunia pada dasarnya akan mengingkari bundarnya bumi, Idul Adha bisa dilaksanakan sama diseluruh dunia jika kita mampu merubah bumi menjadi datar seperti datarnya lapangan sepak bola.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daya Tarik Makkah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umat Islam Indonesia, bahkan dunia, yang menunaikan ibadat haji tiap tahun terus meningkat. Timbul pertanyaan, mengapa minat masyarakat begitu besar. Jawabannya, paling kurang dua hal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama, ketakwaan umat makin meningkat, walau di sana-sini banyak menimbulkan pertanyaan. Kedua, daya tarik Tanah Suci (Makkah dan Madinah). Daya tarik itu paling kurang dua hal pula. Pertama, Tanah suci itu relatif aman. Kebiasaan culik-menculik dan bunuh-membunuh di zaman jahiliah memang kenyataan, tetapi itu tidak mungkin terjadi di Tanah Suci, karena semua suku Arab menghormatinya. “Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, sedang manusia sekitarnya rampok-merampok. Maka mengapa (sesudah nyata kebenaran) mereka masih percaya kepada yang bathil dan ingkar kepada nikmat Allah?” (QS. Al 'Ankabuut: 67).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan sekalipun Ka'bah pernah rusak dihantam peluru pada zaman Khalifah Yazid bin Mu'awiyah, Tanah Suci relatif aman. Bahkan keamanan itu dapat dilihat pada kawasan Saudi Arabia pada umumnya sampai sekarang, dibanding kawasan-kawasan sekelilingnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua, adanya keistimewaan pada Masjidil Haram dan Ka'bah sendiri. Masjidil Haram, di samping istimewa dengan besarnya nilai ibadah yang dikerjakan di dalamnya, paling kurang istimewa pula karena menjadi kiblat, yaitu titik pusat ibadat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepergian seorang muslim ke Tanah Suci, di samping untuk menyempurnakan keislamannya, yaitu mengerjakan rukun Islam kelima, memperoleh damainya Tanah Suci, seperti yang telah Allah firmankan, meraup laba beribadat di dalam Masjidil Haram, serta harapan doanya akan terkabul di bawah naungan martabat ka'bah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semangat Dzulhijjah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut penulis, dua peristiwa besar yang terjadi di bulan ini tidak bisa disamaratakan. Ada perbedaan pokok antara Idul Adha dan pelaksanaan ibadah haji. Esensi Idul Adha bukan semata ritual penyembelihan kurban, melainkan lebih dari itu. Begitu juga pelaksanaan haji, bukan sekedar pengguguran kewajiban rukun Islam bagi yang mampu melaksanakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Idul Adha artinya kembali kepada semangat berkurban. Berbeda dengan Idul Fitri yang artinya kembali kepada fitrah, Idul Adha lebih berupa kesadaran sejarah akan kehambaan yang dicapai Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail AS. Bagaimana kehambaan itu dapat kita kenang dan esensinya mampu untuk kita aplikasikan dalam keseharian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam QS. Ash Shaaffaat 100-111, Allah swt. menggambarkan kejujuran Nabi Ibrahim dalam melaksanakan ibadah kurban. Indikatornya dua hal:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama, al istijabah al fauriyah yakni kesigapannya dalam melaksanakan perintah Allah sampai pun harus menyembelih putra kesayangannya. Ini nampak ketika Nabi Ibrahim langsung menemui putranya Ismail begitu mendapatkan perintah untuk menyembelihnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua, shidqul istislam yakni kejujuran dalam melaksanakan perintah. Allah berfirman:“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya).” (QS. Ash Shaaffaat: 103).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah pemandangan yang sangat menegangkan. Bayangkan, seorang ayah dengan jujur sedang siap-siap melakukan penyembelihan. Tanpa sedikitpun ragu. Kata aslamaa yang artinya keduanya berserah diri menunjukkan makna bahwa penyerahan diri tersebut tidak hanya terjadi sepihak, melainkan kedua belah pihak, baik dari Ibrahim maupun Ismail.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari sini nampak bahwa untuk mencapai derajat kehambaan sejati, tidak ada lain kecuali dengan membuktikan al istijabah al fauriyyah dan shidqul istislam. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail telah membuktikan kedua hal tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedang ritual haji lebih kepada penyadaran bahwa manusia adalah makhluk yang tak punya apa-apa. Kain ihram yang putih dan sederhana menyimbolkan kesucian dan pelucutan keduniawian dari manusia. Tiadalah yang pantas manusia sombongkan di hadapan Yang Maha Kuasa. Pangkat, suku, dan kekayaan tidak lagi terlihat. Begitu juga thawaf yang menggambarkan kebebasan manusia beraktifitas. Namun aktifitas itu tetaplah harus berada dalam orbit aturan Allah, mengelilingi ka’bah. Lewat ritual sa’i, kita diajarkan untuk gigih dalam upaya mendapatkan karunia Allah. Sebagaimana kegigihan Siti Hajar mencari mata air.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wukuf di Arafah atau berdiam diri di Padang Arafah bermakna pengenalan. Saat inilah seorang muslim diharapkan bisa lebih mengenali dirinya dan Allah Swt sebagai Rabbnya dengan berdiam, merenung, introspeksi dan bertaubat. Hal ini menggambarkan bagaimana manusia di padang Mahsyar, diam, cemas dan penuh harap saat menunggu keputusan Allah Swt: Surga atau Neraka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahalul yang berarti halal yaitu menggunting/ mencukur rambut. Setelah bertahalullul, sesuatu yang semula tidak diperbolehkan menjadi boleh. Karena itu, muslim hanya melakukan yang dihalalkan Allah. Sehingga diharapkan, mereka akan lebih baik menjalankan ajaran agama ketika telah kembali ke kampung halamannya. Wallahu A'lam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Footnote: &lt;br /&gt;
[1]. Republika, 12 Desember 2007.&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1413456690919827167-5347153072717163837?l=www.akibasret.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Akibasret/~4/DXKx0Ew5UZk" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.akibasret.co.cc/feeds/5347153072717163837/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.akibasret.co.cc/2009/11/polemik-idul-adha_20.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1413456690919827167/posts/default/5347153072717163837?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1413456690919827167/posts/default/5347153072717163837?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Akibasret/~3/DXKx0Ew5UZk/polemik-idul-adha_20.html" title="Polemik Idul Adha" /><author><name>alfa RS</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/_Omd-GgEPNxg/SbWSM9w55XI/AAAAAAAAABc/S2LB9inkVXQ/S220/Aku.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.akibasret.co.cc/2009/11/polemik-idul-adha_20.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkAHQH8-eCp7ImA9WxNUF0Q.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1413456690919827167.post-7002355618096155186</id><published>2009-11-10T03:29:00.002+07:00</published><updated>2009-11-10T03:32:11.150+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-11-10T03:32:11.150+07:00</app:edited><title>Merdeka!</title><content type="html">Oleh: Alfa RS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enam puluh empat tahun silam saudara kita dengan gigih mempertahankan martabatnya. Harga diri sebagai bangsa, terlebih martabat sebagai jiwa yang merdeka. Namun ketika semangat itu hanya menggema saat seremonial peringatan sejarah tanpa merenungkan kandungannya, masihkah kita bangga mewarisi mereka?&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sejarah mencatat, lebih dari dua puluh ribu jiwa korban meninggal akibat konflik Inggris dan arek-arek Surabaya. Sulit rasanya kita bayangkan bagaimana situasi  waktu itu. Yang jelas, itulah sejarah pendahulu kita yang penuh dengan pelajaran. Pesan tak tertulis yang kadang tidak muncul saat upacara peringatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deklarasi Komunitas Seduluran Suroboyo, launcing Nada Sambung Pribadi (NSP) Bung Tomo atau juga acara reli napak tilas pertempuran sepuluh Nopember yang kemarin (07/11) digelar, membuktikan betapa kita jauh dari perenungan pengorbanan para pahlawan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mestinya, kegiatan mengingat mereka tidak terlihat adanya kesan glamour. Mungkin itulah potret budaya kita yang kian hari makin terjajah. Semoga besok kita benar-benar merdeka.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1413456690919827167-7002355618096155186?l=www.akibasret.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Akibasret/~4/517Jui_F-Gs" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.akibasret.co.cc/feeds/7002355618096155186/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.akibasret.co.cc/2009/11/merdeka.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1413456690919827167/posts/default/7002355618096155186?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1413456690919827167/posts/default/7002355618096155186?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Akibasret/~3/517Jui_F-Gs/merdeka.html" title="Merdeka!" /><author><name>alfa RS</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/_Omd-GgEPNxg/SbWSM9w55XI/AAAAAAAAABc/S2LB9inkVXQ/S220/Aku.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.akibasret.co.cc/2009/11/merdeka.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CU4EQHY8eip7ImA9WxNUFks.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1413456690919827167.post-7499135021550859658</id><published>2009-11-08T14:02:00.002+07:00</published><updated>2009-11-08T14:05:01.872+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-11-08T14:05:01.872+07:00</app:edited><title>Keresahan Jiwa?</title><content type="html">Oleh; Alfa RS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ribut gara-gara aliran sesat kian hari makin sering terjadi. Jika harus disalahkan, entah siapa yang mesti bertanggung jawab. Ataukah ini hanya sebuah fenomena kehidupan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah. Di sini tidak akan berkomentar sesat atau tidak kelompok Santriloka dan kelompok-kelompok sejenisnya. Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan ’kecerdasan’ masyarakat Jawa Timur, kami kira sudah mampu menjawabnya. Namun, dari sana setidaknya ada beberapa poin yang dapat kita tarik pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pertama, secara umum mencuatnya fenomena aliran menunjukkan ’keresahan’ dan ’kekosongan’ jiwa masyarakat kian meningkat. Masyarakat yang katanya kian modern, secara tidak langsung mereka sedang mengakui ada yang kurang dalam kehidupannya. Kalau mau jujur, kasarnya kita memang butuh sebuah keyakinan yang menenangkan jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencuatnya aliran semacam Santriloka adalah sebuah pilihan, karena memang masyarakat lebih menyukai sesuatu yang praktis. Perbedaan ritual mereka dengan muslim Indonesia adalah buktinya. Bayangkan saja, secara akal, maksimal manakah kegiatan di bulan Ramadhan jika dikerjakan sambil berpuasa dengan yang tidak? Berapa pekerjaankah yang tertuntaskan jika kita harus melakukan ritual keyakinan empat atau lima kali dalam sehari? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kedua, sebagai basis Nahdlatul Ulama (NU), tentu mencuatnya Mbah Aan yang diklaim sesat beberapa waktu lalu menjadi pukulan telak bagi NU, terlebih dia lahir di kota Jombang. Ini menjadi tanda tanya besar, sejauh manakah dakwah yang digemborkan NU berjalan. Atau seefesien apakah bentuk kegiatan tersebut sehingga kelompok seperti Santriloka mampu berkembang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga waktu menjawab keduanya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1413456690919827167-7499135021550859658?l=www.akibasret.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Akibasret/~4/yni6ih9jmAM" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.akibasret.co.cc/feeds/7499135021550859658/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.akibasret.co.cc/2009/11/keresahan-jiwa.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1413456690919827167/posts/default/7499135021550859658?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1413456690919827167/posts/default/7499135021550859658?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Akibasret/~3/yni6ih9jmAM/keresahan-jiwa.html" title="Keresahan Jiwa?" /><author><name>alfa RS</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/_Omd-GgEPNxg/SbWSM9w55XI/AAAAAAAAABc/S2LB9inkVXQ/S220/Aku.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.akibasret.co.cc/2009/11/keresahan-jiwa.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEIDQX0_fip7ImA9WxNUEEg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1413456690919827167.post-2521018727432019757</id><published>2009-11-01T13:20:00.000+07:00</published><updated>2009-11-01T13:22:50.346+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-11-01T13:22:50.346+07:00</app:edited><title>Kiamat?</title><content type="html">Oleh: Alfa RS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin judul tulisan ini terlalu singkat dan mengagetkan. Kenapa? Siapa sih yang mau menemui kiamat. Hari yang pasti akan datang, saat dimana gunung-gunung berhamburan, suasana yang tidak pernah dapat kita bayangkan kedahsyatannya, sampai-sampai manusia berkata, “Mengapa bumi jadi begini?” Begitulah kira-kira al Quran mengabarkan. [1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara kiamat, mungkin bagi kalangan kita (pesantren) terkesan biasa, tidak berbobot. Karena kita memang ‘mengerti’ apa, kapan dan bagaimanakah kiamat itu. Namun seperti kita ketahui dari beberapa media, pasca beberapa tragedi menimpa bangsa kita, ramalan tentang kiamat sudah dekat kian hari tambah mencuat. Apalagi setelah gempa Padang pertama, di salah satu stasiun televisi terkemuka pada acara yang katanya memiliki rating tinggi, ada paranormal yang sedang naik daun mengatakan kiamat akan terjadi pada tahun 2012, tidak sedikit masyarakat yang dirundung was-was. Apakah benar kiamat akan terjadi beberapa tahun kedepan saja?&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ramalan itu sebenarnya telah terjawab. Menurut Bambang S Tedjasukmana dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), memang benar bahwa pada sekitar tahun 2011-2012 akan terjadi fenomena, namun bukan kiamat yang berarti berakhirnya kehidupan dimuka bumi. Fenomena itu hanya berupa badai matahari. Prediksi ini berdasar pada pemantauan pusat pemantau cuaca antariksa di berbagai negara maju yang sudah dilakukan sejak tahun 1960-an. Sedang negara kita sendiri telah melakukan pantauan itu sejak tahun 1975 yang dilakukan oleh LAPAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut ahli LAPAN, badai matahari akan terjadi ketika adanya flare dan Corona Mass Ejection (CME). Apa itu Flare? Flare adalah ledakan besar di atmosfer matahari yang dahsyatnya menyamai 66 juta kali ledakan bom atom Hiroshima. Bisa kita bayangkan, berapa jiwakah korban yang akan terkena dampak badai matahari, jika bom atom yang dijatuhkan Paul Tibbets, pilot pesawat Amerika Serikat (AS) pada Agustus 1945 saja telah merenggut sekitar 80.000 jiwa manusia. Sedangkan CME adalah sejenis ledakan sangat besar yang menyebabkan lontaran partikel-partikel berkecepatan tinggi, sekitar 400 km/detik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badai matahari inilah yang dikhawatirkan oleh sebagian masyarakat, mereka menganggap kejadian ini sebagai kiamat, karena badai ini dapat mempengaruhi kondisi muatan antariksa hingga mempengaruhi magnet bumi, selanjutnya berdampak pada sistem kelistrikan, transportasi yang mengandalkan satelit navigasi Global Positioning System (GPS), sistem komunikasi yang menggunakan satelit komunikasi dan gelombang frekuensi tinggi (HF), serta dapat membahayakan kesehatan atau kehidupan manusia, misal karena magnet bumi terganggu, maka alat pacu jantung juga akan terganggu. &lt;br /&gt;Sedang menurut keterangan yang lain, ramalan kiamat pada 2012 muncul dari sebuah manuskrip kuno peninggalan suku Maya, suku yang tinggal di selatan Meksiko dan dikenal menguasai ilmu falak. Dari sedikit referensi yang berhasil penulis temukan, adalah Dr. Jose Arguelles seorang sejarawan Amerika, yang meneliti peradaban bangsa ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, secara garis besar kalender bangsa ini menggambarkan siklus hukum benda langit dan hubungannya dengan perubahan manusia. Dalam penanggalan Maya tercatat bahwa sistim galaksi tata surya kita sedang mengalami siklus besar yang berjangka lima ribu dua ratus tahun lebih. Waktunya dari 3113 SM sampai 2012 M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam rentetan siklus besar itu, terjadi tiga belas ‘siklus kecil’ (mereka menyebutnya Baktun) yang dikaitkan oleh mereka dengan perubahan manusia. Ketiga belas siklus itu adalah; pertama, Baktun of the Star Planting, terjadi pada periode 3113-2718 SM. Perubahan pada masa ini adalah; masuknya bumi pada "Galactic Synchronization Beam" tahap awal bumi, masuknya bumi pada siklus "Star Transmission" baru di alam semesta, peradaban manusia baru (generasi ke-5) dimulai, bangsa Mesir kuno muncul 3100 SM, Expansi Sumeria 3000 SM dan Kontruksi awal Pembangunan Stonehenge dimulai 2800 SM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siklus kedua dikatakan dengan, "Baktun of the Pyramids" (Periode 2718-2324 SM). Perubahan pada masa ini adalah; Konstruksi awal pembangunan Great Pyramid Giza 2700-2600 SM, penyebaran peradaban Sumeria di Timur Tengah, pengembangan perkakas perunggu, peradaban Harapa India dimulai dan masa becocok tanam berkembang pesat di China, Mesoamerica, dan Andes. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, "Baktun of the Wheel" (Periode 2324-1930 SM). Perubahan masa ini; roda ditemukan, alat transportasi beroda muncul, kode hukum ditulis, mulainya Imperium Babilonia pertama, era of Legendary Emperors China dan Peradaban Minoa, Crete dimulai. Sedang siklus keempat mereka sebut dengan, "Baktun of the Sacred Mountain" (Periode 1930-1536 SM). Perubahan masa ini adalah; New Kingdom di Mesir, Kerajaan Mesir mengabadikan mengenai kekuasaan keturunan Raja, memperkuat pola defensif territorial sebagai norma untuk kehidupan yang beradab dan hancurnya peradaban Minoan (peradaban Indus) oleh Bangsa Arya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, "Baktun of the Shang" (Periode 1536-1141 SM). Perubahannya; Dinasti Shang China berdiri, doktrin pengucapan Yin Yang, kemajuan pengetahuan akan pengolahan perunggu, peradaban Vidic India dimulai, kemunculan peradaban Chavin, Olmec, Mesoamerica, masa kenabian Ibrahim sampai Musa dan munculnya peradaban Mesopotamia. Keenam, "Baktun of the Imperial Seal" (Periode 1141-747 SM). Perubahan pada masa ini adalah; Imperium Babilonia-Assyirian dimulai, perkenalan persenjataan besi, kenaikan mycenean Yunani di Mediterania, awal Dinasti Chou di China, munculnya pola gemar berperang pada setiap kerajaan dan pertamakalinya kuda digunakan untuk berperang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siklus ketujuh "Baktun of the Mind Teachings" (Periode 747-353 SM). Perubahannya adalah; gelombang periode pertama peradaban Maya di Mesoamerika, Imperium Persia dimulai, zaman-zaman bagi para filusuf Yunani (Plato, Socrates dan Aristoteles), Mahavira dan Budha, kehidupan Confucius, Lao Tze, Chang Tzu di China dan sistem Kalender Bangsa Maya diciptakan. Kedelapan, "Baktun of the Annoited One" (Periode 353 SM - 41 M). Perubahan masa ini; teknologi besi diperkenalkan, permulaan Dinasti Han, konstruksi The Great Wall China, penyebaran Budha sebagai Agama Cosmopolitan di India sampai Central Asia dan masa kenabian Isa Almasih/Yesus Kristus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siklus kesembilan, "Baktun of The Lords of Red and Black" (Periode 41-435 M). Perubahan pada masa ini adalah; konstruksi ahir Piramida Teotihuacan, konsolidasi rezim kebudayaan Mesoamerika, Ajaran Lord and Black pertama muncul di Quetzalcoatl, peradaban Nazca dan Easter Island, ekspansi dan masa kemunduran Kerajaan Romawi, munculnya Kristen sebagai suatu keyakinan/agama, Dinasti Han runtuh dan Budha tersebar ke wilayah Asia Tenggara. Kesepuluh adalah "Baktun of The Maya" (Periode 435-830 M). Perubahannya; gelombang kedua Galactic Maya Civilization, masa kenabian Muhammad SAW dan munculnya Islam sebagai suatu keyakinan/agama, Kristen menyebar ke Eropa, Kristen Romawi di Eropa Barat dan Ortodoks di Eropa Timur, Hindu menjadi agama dominan di India, Ajaran Budha tersebar ke wilayah Korea dan Jepang, kejayaan kerajaan-kerajaan di wilayah Asia Tenggara (termasuk Indonesia) dan munculnya peradaban Polinesia, Oceania dan Nigeria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesebelas,  "Baktun of the Holy Wars" (830-1224 M). Perubahan pada masa antara lain; kehancuran peradaban Maya dan Central Mexico, masa keemasan peradaban Toltecs, munculnya peradaban Chimu di Andes, perang salib, berjayanya peradaban Tibet dan munculnya peradaban Khemer di Asia Tenggara. Siklus kedua belas adalah, "Baktun of Hidden Seed" (1224-1618 M). Perubahannya; penyebaran Islam Ke India, Asia Tenggara, dan Afrika Barat, kejayaan orang-orang Turki, puncak perkembangan Kristen di Eropa Barat, puncak perkembangan Kristen Ortodoks di Eropa Timur dan peradaban Eropa berhasil menaklukkan Bangsa Inca dan Aztec.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang siklus terakhir adalah "Baktun of The Transformation of Matter" (Periode 1618-2012 M). Perubahan masa ini antara lain; zaman Imperialisme dan Kapitalisme, revolusi industri, revolusi Amerika, kolonialisme di Afrika, Amerika Latin dan Asia, revolusi Prancis, industrialisasi di Jepang, paham Marxisme oleh Karl Marx, revolusi komunis Rusia dan China, perang dunia 1 dan 2 meletus, era bom atom, era nuklir dimulai, teror mulai merajalela secara global, kejayaan Islam dan munculnya kekuatan baru di India dan Timur Tengah, mulai tidak stabilnya peradaban di bumi, bumi memasuki era akhir global regeneration, bumi memasuki zona photon tahap ahir dan akan terjadilah Akhir Galactic Synchronization, yang diramalkan akan terjadi pada Desember 2012. [2]  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringkasnya, rentetan benda planet yang dijumpai kita ketika duduk di bangku sekolah dulu, sedang bergerak melintasi sebuah sinar hebat yang diyakini merupakan inti benda planet tersebut. Diameter sinar hebat itu secara horizontal ialah 5125 tahun bumi. Dengan kata lain, kalau bumi melintasi sinar ini akan memakan waktu 5125 tahun lamanya. Dengan kata lain, berhubung titik permulaan siklus adalah pada tahun 3113 SM maka akan mencapai titik puncaknya di tahun 2012 M (3113 + 2012 = 5125).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat fenomena ramalan kiamat ini, ada dua hal pokok yang menurut penulis meski dicermati dan menjadi bahan renungan bersama. Pertama, dikalangan umat Islam sendiri masalah ini sebenarnya sudahlah maklum, karena sejak kecil kita sudah diperkenalkan dengan kiamat. Tidak sedikit orang tua yang menjadikan kiamat itu senjata biar anak-anaknya jadi penurut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sangat disayangkan, fenomena ini membuat kita mempertanyakan keimanan kaum muslimin, khusunya Indonesia. Karena dengan adanya dua penguat ramalan kiamat di atas, banyak masyarakat kebingungan. Hal ini penulis kira merupakan pekerjaan rumah yang sangat berat bagi generasi muslim yang akan datang.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Kedua, kita harus menyadari bahwa merebaknya isu kiamat itu dari media. Hemat penulis, sudah saatnya kita mempertimbangkan untuk berkiprah di dunia media, baik cetak ataupun elektronik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui", QS. Al A'raaf:  187. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Footnote:&lt;br /&gt;[1] Lihat dalam QS. Al Hajj: 7, QS Al Zalzalah: 3 dan QS. al Ma’aarij: 9.&lt;br /&gt;[2] Dr. Jose Arguelles, The Mayan Factor: Path Beyong Technology, Bear &amp; Company: 1973.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1413456690919827167-2521018727432019757?l=www.akibasret.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Akibasret/~4/tkNRRqd8Kzc" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.akibasret.co.cc/feeds/2521018727432019757/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.akibasret.co.cc/2009/11/kiamat.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1413456690919827167/posts/default/2521018727432019757?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1413456690919827167/posts/default/2521018727432019757?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Akibasret/~3/tkNRRqd8Kzc/kiamat.html" title="Kiamat?" /><author><name>alfa RS</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/_Omd-GgEPNxg/SbWSM9w55XI/AAAAAAAAABc/S2LB9inkVXQ/S220/Aku.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.akibasret.co.cc/2009/11/kiamat.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;Ak4FQX4-fyp7ImA9WxJWF0w.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1413456690919827167.post-5152848308071084085</id><published>2009-06-23T08:00:00.000+07:00</published><updated>2009-06-23T08:01:50.057+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-06-23T08:01:50.057+07:00</app:edited><title>Pondasi Dasar Pemimpin Bangsa</title><content type="html">Oleh: Alfa RS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sedikit tersenyum dan bertanya-tanya ketika membaca catatan Dino Pati Djalal, Pasti Bisa, seni memimpin ala SBY. Bagaimana tidak, tokoh sekaliber Yudhoyono berbicara tentang pentingnya akhlak dikancah politik yang “kacau” seperti sekarang ini. Mungkin itulah kejelasan bahwa bangsa ini belum lepas dari belenggu krisis multidimensi. Dan ketika generasi muda kita biarkan terjangkit krisis ini, jangan harap dimasa depan kita akan mempunyai pemimpin yang benar-benar seorang "pemimpin."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepemimpinan berasal dari kata pimpin atau pemimpin yang berarti tuntun, bina atau bimbing. Pimpin berarti menunjukkan jalan yang baik atau benar, dapat pula berarti mengepalai pekerjaan atau kegiatan. Bisa juga seseorang yang berada di depan dan memiliki pengikut, baik orang tersebut menyesatkan atau tidak. Menurut Sarlito Wirawan Sarwono dalam Psikologi Sosial, kepemimpinan adalah suatu proses perilaku atau hubungan yang menyebabkan suatu kelompok dapat bertindak secara bersama-sama atau secara bekerja sama atau sesuai dengan tujuan bersama. Dengan demikian, kepemimpinan adalah hal yang berhubungan dengan proses menggerakkan, memberikan bimbingan, teladan, dan masih banyak lagi arti sebuah kepemimpinan.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kepemimpinan berfungsi untuk menggerakkan orang yang dipimpin menuju tercapainya sebuah tujuan. Supaya dapat menanamkan kepercayaan pada orang yang dipimpinnya dan menyadarkan bahwa mereka mampu berbuat sesuatu dengan baik. Dan ketika membicarakan kepemimpinan, kita tentu tidak lepas dari perbincangan mengenai sifat, sikap/perilaku dan kemampuan seorang pemimpin itu sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencetak para pemimpin yang ideal bukanlah hal mudah. Terbukti ketika kita lihat kasus-kasus yang melibatkan para pemimpin, mulai dari pak camat sampai pak menteri. Siapa sih yang meragukan kemampuan mereka tentang apa yang dipimpinnya? Namun kenyataannya, sejarah membuktikan bahwa hal itu belum cukup. Masih saja kita temukan pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh para pemimpin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun banyak yang mengatakan pengaruh individual seorang pemimpin kurang begitu signifikan daripada faktor kondisi, namun bila melihat realita, kiranya argumen tersebut perlu kita kaji ulang. Karakteristik sebuah watak tetap menjadi hal urgen bagi keefektifitasan sebuah kepemimpinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia adalah makhluk hidup berjenis hewan yang memiliki akal, hati dan nafsu. Untuk menyiasati ketiganya seorang pemimpin membutuhkan kualitas spiritual yang benar-benar matang. Dan ketika kita berbicara seorang pemimpin yang sempurna, jelaslah tiada yang mampu menggantikan sosok Nabi Muhammad saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendapatkan sosok yang –meminjam kata Muhammad Husain Haekal- jutaan bibir setiap hari mengucapkannya, jutaan jantung setiap saat berdenyut, berulang kali. Dengan nama yang mulia, berjuta bibir akan terus mengucapkan, berjuta jantung akan terus berdenyut, sampai akhir zaman, mungkin hanya ada dalam mimpi. Sulit sekali berharap akan adanya pemimpin sekaliber Muhammad. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana yang sudah maklum bagi seorang muslim. Muhammad adalah sosok yang shiddiq (jujur), amanah (terpercaya), tabligh (cerdas) dan fathanah (transparan). Dengan kejujurannya dia digugu dan ditiru, karena memang segala tindakannya sinkron dengan hati nuraninya. Apa yang dilakukannya, maka itulah kata hatinya. Dengan kecerdasannya pula dia berpandangan luas. Pemikirannya tidak hanya sebatas kepentingan sesaat dan segelintir orang-orang di sekelilingnya, tapi demi kepentingan jangka panjang dan untuk sebesar-besar rakyatnya. Muhammad juga membuktikan bahwa dirinya memang benar-benar orang yang dapat dipercaya, mampu mengemban amanat rakyat, serta tidak sedikitpun terlintas dalam benaknya untuk berhianat. Dibawah kepemimpinannya pula, rakyat tidak merasa dibodohi. Muhammad memberikan segala informasi yang memang harus diketahui oleh rakyatnya. Sebuah pemimpin dan kepemimpinan yang sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sulit. Namun untuk mengejar mimpi tersebut, kiranya generasi muda kita perlu mempertimbangkan kembali hal yang sekarang sudah diabaikan. Banyak sekali, bahkan rata-rata, generasi muda kita menjalankan separo-separo kepercayaan, keyakinan, iman. Padahal hanya dengan faktor inilah seseorang akan mampu mengendalikan antara akal, hati dan nafsu. Karena biar bagaimanapun pluralnya bangsa ini tidak ada yang mengarahkan pemeluknya untuk berbuat hal-hal yang merugikan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keyakinan akan menumbuhkan beberapa hal. Pertama, seseorang akan memiliki kepercayaan diri tinggi, penuh optimisme. Konsisten dengan orientasi dan berpandangan jauh kedepan memang perlu, namun tanpa adanya optimisme semua peluang sebaik apapun tidak akan menghasilkna apa-apa. Bangsa kita memang bercita-cita terus maju, bermartabat dan modern, namun ironisnya terhalang dan terbebani sikap pesimis. Padahal sudah kita tahu banyak hal terpecahkan dengan optimisme yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, dengan keyakinan generasi muda akan tumbuh menjadi sosok-sosok bermartabat. Harga diri adalah penopang yang harus digenggam erat oleh para pemimpin untuk merealisasikan segala visinya. Tanpa martabat seseorang akan menempuh segala cara untuk memenuhi keinginannya. Namun dengan semangat keyakinan, para remaja akan tumbuh berkembang menjadi sosok yang bermartabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, iman dalam diri seseorang akan menumbuhkan idealisme, kejelasan dan kematangan visi. Bukan hanya visi sesaat, namun visi yang jauh kedepan, visi yang lebih dari komitmen kepada rakyat, bangsa dan Negaranya. Bila keyakinan menancap kuat di sanubari para remaja, ia akan bercita-cita menjadi anak-anak bangsa yang terbaik dan berfaedah bagi kemajuan bangsa dan kesejahteraan rakyat. Ia bukan generasi yang hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi memikirkan dan memerankan tanggung jawab sebagai anak-anak rakyat dan putra-putra bangsa yang sejati. Merekapun akan mampu menyalurkan kemampuannya dan sanggup untuk mendapatkan peran berdasarkan prestasi dan karya nyata. Bukan bersandar dan bergantung kepada para senior dan orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, tanggungjawab tinggi akan tertanam pada generasi muda. Tanggungjawab adalah salah satu dari mengapa orang akan memilih seorang pemimpin. Tanggungjawab identik dengan sikap konsisten dalam ucapan dan perilaku, juga berkaitan dengan sikap semangat yang stabil sampai masa jabatannya. Jika para remaja memegang keyakinan dengan sebenarnya, ia akan memiliki tanggungjawab lebih. Karena remaja semacam ini akan sadar ia bukan hanya bertanggungjawab pada yang dipimpinnya, tetapi juga punya tanggungjawab pada “atasan” yang telah memberinya kesempatan untuk menjadi pemimpin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, egaliter. Ketika seseorang menjadi pemimpin tentu dia akan merasa lebih dari masyarakat lainnya, dan masyarakat kitapun tentu memaklumi. Namun ketika pola pikir itu semakin menjadi, pemakluman dari masyarakatpun lambat laun kian memudar dan mungkin akan berubah menjadi pertentangan. Untuk mengantisipasi hal ini dibutuhkan sosok yang benar-benar mengakui persamaan. Dengan kekuatan iman, seseorang akan mengakui bahwa dia hanyalah manusia biasa sama seperti rakyat lainnya. Jabatan baginya merupakan hal biasa dan menjadi sesuatu terberat yang harus dia pikul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin semacam ini akan lebih mengutamakan kepentingan umum, bukan hanya golongannya, karena dimatanya semuanya sama. Ia bukan hanya mampu untuk menjungjung tinggi pluralisme, bahkan remaja semacam ini sanggup hidup dalam damai dan penuh kebersamaan. Semangat bhineka tunggal ika ia pegang teguh dalam mengarungi pergaulan nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam, dengan kepercayaan pula generasi muda kita memiliki hal yang diakui atau tidak diharapkan oleh semua lapisan masyarakat, akhlak, moral dan etika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa kita adalah bangsa yang berbudi luhur tinggi. Untuk mencetak kader-kader pemimpin tidak cukup dengan optimisme, bermartabat, idealisme, bertanggungjawab dan egaliter. Akhlak adalah hal yang memang perlu dikedepankan. Akhlak sosial dalam bentuk peduli dan bertanggungjawab kepada rakyat, bangsa dan Negara perlu disertai dengan akhlak pribadi yang terpuji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya keenam poin itulah yang akan tumbuh dalam pribadi generasi muda kita bila mereka mau benar-benar memanfaatkan kekuatan iman. Namun sekali lagi, hal ini butuh tenaga ekstra. Karena kenyataannya para remaja kita sudah jauh dari tradisi dan budaya luhur bangsa ini. Tradisi yang sudah terbukti mengantarkan para pemuda sebagai pelopor pergerakan bangsa. Generasi muda kita kini banyak yang malah terjerumus kedalam kebodohan akibat tidak mampu memilah manfaat teknologi. Melihat semua itu, peranan iman tentu sangat berperan untuk melahirkan pemimpin yang benar-benar "pimpinan." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ketika memegang sebuah kepercayaan telah dianggap ketinggalan jaman oleh generasi muda, entahlah? Hanya sejarah yang mampu menjawabnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1413456690919827167-5152848308071084085?l=www.akibasret.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Akibasret/~4/zxhuFE-Qv3w" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.akibasret.co.cc/feeds/5152848308071084085/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.akibasret.co.cc/2009/06/pondasi-dasar-pemimpin-bangsa.html#comment-form" title="2 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1413456690919827167/posts/default/5152848308071084085?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1413456690919827167/posts/default/5152848308071084085?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Akibasret/~3/zxhuFE-Qv3w/pondasi-dasar-pemimpin-bangsa.html" title="Pondasi Dasar Pemimpin Bangsa" /><author><name>alfa RS</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/_Omd-GgEPNxg/SbWSM9w55XI/AAAAAAAAABc/S2LB9inkVXQ/S220/Aku.jpg" /></author><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://www.akibasret.co.cc/2009/06/pondasi-dasar-pemimpin-bangsa.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0MMQH86eyp7ImA9WxJWE04.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1413456690919827167.post-8377917770329208163</id><published>2009-06-18T21:25:00.001+07:00</published><updated>2009-06-18T21:31:21.113+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-06-18T21:31:21.113+07:00</app:edited><title>Leadership Yang Hilang, Mungkin.</title><content type="html">Oleh: Alfa RS. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan ujian nasional (UN) SMA tidak lepas dari praktik kecurangan. Standarisasi kelulusan UN sering kali dijadikan alasan terjadinya pelanggaran terhadap proses ujian akhir tersebut. Tidak heran jika pelaku kecurangan tidak hanya melibatkan siswa, juga pengelola dari sekolah yang bersangkutan. (Kompas, Selasa, 12/05/2009)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita harus menyalahkan, sebenarnya pihak mana yang lebih bertanggung jawab, pelajar? Ya, pasti. Namun di sini jangan kita sepelehkan peran pengajar, staf sekolah dan sudah barang tentu keluarga. Seorang siswa yang rajin, mungkin saja akibat motivasi yang diberikan keluarga, staf sekolah dan tidak sedikit dari mereka yang memang sudah membawa karakter itu semenjak lahir. Dari sini dapat kita pastikan, sebenarnya setiap pelajar itu memiliki potensi untuk maju. Namun sayangnya banyak di antara mereka yang tidak mengetahui potensi itu. Maka, disinilah fungsi adanya pihak ketiga, pihak yang mampu membangunkan mata hatinya, potensinya.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks sekolah, pihak ketiga disini adalah staf sekolah, pengajar, lebih sakral lagi adalah kepala sekolah. Namun sayangnya fakta menunjukkan, mereka tidak mampu melakukan rotasi iklim belajar mengajar, mereka tidak punya inisiatif yang mampu membangkitkan gairah belajar. Mainstrem yang terbentuk begitu kuat, bahwa mereka selalu bergantung kepada putusan pemerintah, mereka seolah enggan untuk mengambil keputusan, seakan tidak memiliki kemandirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita cermati, lagi-lagi fakta menjawab, staf-staf yang amat sakral justru tidak bisa memberdayakan komponen sekolah, kurang memanfaatkan elemen-elemen yang terkait dengannya. Secara finansialpun mereka terlalu bergantung pada pemerintah, jarang kita temukan kepala sekolah mau merogoh kocek sendiri demi kemajuan sekolah. Dengan kata lain, dapat kita pastikan bahwa, jiwa leadership yang semestinya dimiliki oleh pihak-pihak ketiga, pihak yang mampu memompa pelajar, sangat minim adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saja mereka mau merenung sejenak, pastinya tidak mungkin ditemukan siswa  yang dengan senang hati mau ngendog, anda pasti merasakan, tiga tahun bukanlah waktu yang singkat, masa yang cukup panjang, pun menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Mereka pasti merasakannya, karena dulu mereka juga sekolah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebagai seorang pelajar, dan tentu diharapkan oleh setiap wali murid, mereka tentu mengharapkan akan adanya staf  pengajar yang mumpuni dalam bidangnya. Logikanya, rugikan kalau kita belajar karate sama koki yang hanya pintar masak. Namun, kemapanan dalam suatu bidang belum tentu menjadi modal terbesar guna mengentaskan orang lain dalam bidang yang sama, kita harus yakin itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam diri seorang kepala sekolah, tentunya para staf mengharapkan akan adanya sikap yang mampu mendorong kinerjanya untuk lebih berkembang secara optimal. Merekapun tentu ingin ajudannya seorang yang pandai mencari ide-ide segar demi kemajuan bersama. Seorang kepala sekolahpun lalu dituntut akan adanya sikap pragmatis dalam menetapkan kebijaksanaan, mengarahkan target sesuai dengan kemampuan yang dimiliki sekolah. Orang yang mampu mendelegasikan tugas pada staf yang sesuai dengan kemampuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adaptasi dan fleksibel juga termasuk sikap yang akhir-akhir ini dikesampingkan, situasi kerja yang sebenarnya sangat memudahkan para staf sekolah. Pelajarpun tidak jauh demikian, mereka mengharapkan pimpinan yang mampu mendorong keterlibatan semua pihak dalam setiap kegiatan, seorang bapak kepala yang bisa diajak kerja sama dengan semua elemen, orang yang mampu mengintegrasikan semua kegiatan dan semestinya merekapun butuh akan adanya tindakan ataupun keputusan sekolah yang berdasarkan rasio, mereka selalu mengidamkan sosok yang mampu menjadi teladan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini kitapun harus memasukkan andil keluarga, iklim keluarga yang mampu mendorong pelajar untuk terus belajar dan belajar, karena semangat setinggi apapun, tentunya akan terkikis bila keluarga tidak mendukung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini mungkin kita baru tersadar, gelar, sudah tidak mampu lagi menjadi dasar pihak ketiga. Apalah arti sebuah titel, bila kenyataannya tidak mampu mengisi kekurangan suatu lembaga. Konstruktif, kreatif, partisipatif, delegatif, integrative, rasional dan obyektif, pragmatis dalam menetapkan kebijakan, mungkin semua itu kian menjadi sesuatu yang sakral dalam pengentasan sumber daya manusia yang benar-benar unggul. Kiranya kesakralan itu semua belum berarti banyak bila tidak ditunjang keteladanan, adaptable dan fleksibel dari kepala sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan begitu kita berharap, semoga tidak lagi ditemukan kasus kepala sekolah tertangkap polisi gara-gara mencuri naskah UN dan mata hati pelajar Indonesia terbuka, dapat memupuk potensi-potensi yang mereka miliki sehingga dapat melahirkan sumber daya manusia yang sarat kebudayaan, intelektual, generasi yang dapat mengentaskan pertiwi dari krisis multidimensi yang tidak kunjung usai.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1413456690919827167-8377917770329208163?l=www.akibasret.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Akibasret/~4/cg6JdW0y0Kc" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.akibasret.co.cc/feeds/8377917770329208163/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.akibasret.co.cc/2009/06/leadership-yang-hilang-mungkin.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1413456690919827167/posts/default/8377917770329208163?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1413456690919827167/posts/default/8377917770329208163?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Akibasret/~3/cg6JdW0y0Kc/leadership-yang-hilang-mungkin.html" title="Leadership Yang Hilang, Mungkin." /><author><name>alfa RS</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/_Omd-GgEPNxg/SbWSM9w55XI/AAAAAAAAABc/S2LB9inkVXQ/S220/Aku.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.akibasret.co.cc/2009/06/leadership-yang-hilang-mungkin.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0YCQ3w7eip7ImA9WxJXEUs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1413456690919827167.post-6195808895262065158</id><published>2009-06-05T09:30:00.001+07:00</published><updated>2009-06-05T09:32:42.202+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-06-05T09:32:42.202+07:00</app:edited><title>Ancaman Bagi Perkawinan Islam dan Demokrasi</title><content type="html">Oleh: Alfa RS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iftitah &lt;br /&gt;“Fundamentalisme memang aneh dan keras dan menakutkan: ia mendasarkan diri pada &lt;br /&gt;perbedaan, tetapi pada gilirannya membunuh perbedaan.” Gunawan Muhammad.[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah fundamentalisme acap kali terdengar dan dipakai, namun makna yang sesungguhnya masih belum jelas, terlalu umum dan rentan akan perubahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata fundamentalisme banyak dipakai untuk makna-makna tertentu, tapi dalam kondisi lain terkadang kehilangan kemampuan memberi batasan secara jelas dari maksud yang dituju, kadang sampai jauh melenceng dari makna aslinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sisi lain, makna fundamentalisme mengalami penyem¬pitan, terbatas pada agama dan kebudayaan dan lebih disempitkan lagi dihubungkan dengan Islam. Maka dengan serta merta kata fundamen¬talisme—bagi orang yang sudah terpengaruh oleh media massa Barat—akan langsung diidentikkan dengan golongan Islam politik. Ringkasnya, fundamentalisme bisa dimaknai; keteguhan dan kekakuan.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Khawarij dan Wahabi&lt;br /&gt;Khawarij yang merupakan aliran klasik, saat ini secara nyata memang sudah hilang. Tidak ada aliran yang mengklaim dirinya sangat membenci Ali ibn Abi Thalib, yang hal ini adalah ciri kaum Khawarij. Namun, karakter-karakternya masih terus abadi mengikuti perjalanan sejarah Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, karakter Khawarij melekat pada salah satu golongan Islam yang begitu mudahnya mengafirkan dan menyesatkan golongan Islam lain yang tidak sependapat dengan mereka. Karakter Khawarij juga akan kita temukan dalam diri orang-orang Islam yang sering menggunakan kekerasan dan melegalkan tindakan terorisme dalam rangka menegakkan agama Allah. Seperti kaum Khawarij, untuk golongan ini, faktornya pun sama, yakni pemahaman sempit dan kaku terhadap nash yang dibungkus dengan fanatisme.[2] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tabiat buruk ini juga menjadi bagian dari tabiat Wahabi yang muncul di jazirah Arab pada abad ke-18. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahabi adalah sebuah sekte keras dan kaku pengikut Muhammad ibn ‘Abdul Wahab. Ayahnya, ‘Abdul Wahab adalah hakim (qadli) ‘Uyaynah (termasuk daerah Najd, sekarang adalah belahan timur Kerajaan Saudi Arabia), pengikut madzhab Ahmad ibn Hanbal. Memang, wahabi tidak bisa dikatakan sebagai penerus Khawarij. Bahkan, ia dianggap sebagai fenomena yang sama sekali baru dan tidak mempunyai pendahulu sebelumnya dalam sejarah Islam. Para peneliti dan sejarawan Islam memandang Wahabi sebagai fenomena khas yang terpisah dari aliran-aliran pemikiran maupun gerakan Islam lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun demikian, setidaknya ada enam sisi kesamaan antara Wahabi dan Khawarij.[3]  Pertama, Sebagaimana kelompok Khawarij, dengan mudahnya golongan Wahabi menuduh seorang muslim dengan sebutan kafir, pelaku syirik, bid’ah dan khurafat. Kedua, kelompok Khawarij telah disifati dengan “Pembantai kaum muslim dan perahmat bagi kaum kafir (non-muslim)”. Maka sejarah telah membuktikan bahwa kelompok Wahabi pun telah melaksanakan prilaku keji tersebut, terkhusus di awal-awal penyebarannya. Sebagaimana yang tercatat dalam kitab-kitab sejarah berupa pembantaian beberapa kabilah Arab muslim yang menolak ajaran sesat Wahabisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, Khawarij dan Wahabi memiliki banyak keyakinan yang aneh dan keluar dari kesepakatan kaum muslimin. Seperti keyakinan bahwa pelaku dosa besar dihukumi kafir yang darahnya halal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, kelompok Khawarij memiliki jiwa Jumud (kaku), mempersulit diri dan mempersempit luang lingkup pemahaman ajaran agama, maka kaum Wahabi pun mempunyai kendala yang sama. Banyak hal mereka anggap bid’ah dan syirik namun dalam penentuannya mereka tidak memiliki tolok ukur yang jelas dan kuat, bahkan mereka tidak berani untuk mempertanggungjawabkan tuduhannya tersebut dengan berdiskusi terbuka dengan kelompok-kelompok yang dianggapnya sesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, golongan Khawarij telah keluar dari Islam dikarenakan ajaran-ajarannya yang telah menyimpang dari agama Islam yang dibawa oleh Muhammad Rasulullah saw, Wahabi pun memiliki penyimpangan yang sama sehingga keislaman mereka pun layak untuk diragukan. Pengkafiran kelompok lain yang selama ini dilakukan oleh kaum Wahaby cukup menjadi bukti konkrit untuk meragukan keislaman mereka. karena dalam banyak riwayat disebutkan bahwa barangsiapa yang mengkafirkan seorang muslim maka ia sendiri yang terkena pengkafiran tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam, Khawarij meyakini bahwa “negara muslim” (Daar al-Salam) jika penduduknya banyak melakukan maksiat dan dosa besar maka mereka kategorikan sebagai “negara zona perang” (Daar al-Harb). Karena menurut mereka, dengan banyaknya perbuatan maksiat berarti penduduk muslim tadi telah keluar dari agama Islam (kafir). Kelompok radikal Wahabi pun meyakini hal yang sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringkasnya, sikap dan kesukaan utama Wahabi sejak awal gerakannya, selain membunuh serta merampas kekayaan dan wanita, juga termasuk menghancurkan kuburan dan peninggalan-peninggalan bersejarah; mengharamkan tawassul, isti’ana dan istighatsah, syafa’at, tabarruk, dan ziarah kubur; membakar buku-buku yang tidak sejalan dengan paham mereka; memvonis musyrik, murtad, dan kafir siapa pun yang melakukan amalan-amalan yang tidak sesuai dengan ajaran Wahabi.[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwanul Muslimin di Indonesia&lt;br /&gt;Perkumpulan yang walaupun "pandangan" tentang "ketidakjelasannya" kian nampak, namun tetap laris manis sampai saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jamaah Ikhwanul Muslimin berdiri di kota Ismailiyah, Mesir, pada Maret 1928 dengan pendiri Hassan al-Banna, bersama keenam tokoh lainnya, yaitu Hafiz Abdul Hamid, Ahmad al-Khusairi, Fuad Ibrahim, Abdurrahman Hasbullah, Ismail Izz dan Zaki al-Maghribi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasan Al-Banna lahir pada Oktober 1906 M. Di kita kecil Mahudiyah, di muara sungai Nil, sembilan puluh mil dari sebelah barat laut Kairo. Ayahnya bernama Ahmad Abdurrahman Banna yang waktu itu lebih terkenal dengan nama Sa'ati, seorang guru fiqh, tauhid dan nahwu. Sang ayah pernah belajar pada Abduh di al-Azhar, dan sempat menulis beberapa karya ilmiyah tentang hadis, fiqih dan tasawuf. Jadi Hasan Al-Banna dibesarkan di tengah keluarga yang religius yang sudah tersentuh oleh paham pembaruan.[5] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Banna memulai pendidikannya di Madrasah Ar-Rasyad Ad-Diniyyah dengan menghafal Al-Qur`an dan sebagian hadis-hadis Nabi serta dasar-dasar ilmu bahasa Arab, di bawah bimbingan Asy-Syaikh Zahran seorang pengikut tarekat shufi Al-Hashafiyyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya ia masuk ke Madrasah I’dadiyyah di Mahmudiyyah, Madrasah Al-Mu’allimin Al-Ula di kota Damanhur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jamaah ini mengajak dan menuntut ditegakkannya syariat Allah, hidup di bawah naungan Islam, seperti yang diturunkan Allah kepada Rasulullah saw. Tujuan Ikhwanul Muslimin adalah mewujudkan terbentuknya sosok individu muslim, rumah tangga Islami, bangsa yang Islami, pemerintahan yang Islami, negara yang dipimpin oleh negara-negara Islam, menyatukan perpecahan kaum muslimin dan negara mereka yang terampas, kemudian membawa bendera jihad dan da’wah kepada Allah sehingga dunia mendapatkan ketentraman dengan ajaran-ajaran Islam. Ikhwanul Muslimin menolak segala bentuk penjajahan dan monarki yang pro-Barat, termasuk bentuk demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencapai tujuannya itu, kelompok ini dalam Muktamar Ikhwan V pada Januari 1939 dengan tegas menyatakan akan terjun ke gelanggang politik. Dalam dunia politik mereka memiliki dua program besar. Pertama, "internasionalisasi" gerakan, yang menekankan perjuangan bukan hanya untuk membebaskan Mesir tetapi juga seluruh "tanah air Islam" dari cengkeraman imperalis. Kedua, menegakkan "pemerintahan Islam" yang merdeka di tanah air tersebut yang mempraktekkan prinsip-prinsip Islam, menerapkan sistem sosialnya, menanamkan landasan-landasan yang kokoh dan menyampaikan dakwahnya yang arif kepada rakyatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dekralasi selanjutnya menambahkan, bahwa selama pemerintahan semacam ini tidak dibentuk, selama itu pula kaum muslimin berdosa dihadapan Allah.[6] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1949 M. mobil yang ditumpangi Al-Banna ketika hendak menghadiri undangan diserang. Walaupun sempat dievakuasi, namun Al-Banna tidak tertolong karena pendarahan yang hebat. Iapun menghembuskan nafas terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar tahun 1930, Ikhwanul Muslimin masuk ke Indonesia melalui jamaah haji dan kaum pendatang Arab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses kemerdekaan Republik Indonesia, Organisasi ini memiliki peran penting. Atas desakan Ikhwanul Muslimin, Negara Mesir menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan Republik Indonesia. Dengan demikian, lengkaplah syarat-syarat sebuah negara berdaulat bagi Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwanul Muslimin kemudian semakin berkembang di Indonesia setelah munculnya partai yang memakai ajaran Ikhwanul Muslimin, Partai Masyumi. Namun kemudian oleh Soekarno partai ini dibredel dan dilarang keberadaannya.&lt;br /&gt;Entah berlatar belakang apa, pada Pemilu tahun 1999 berdiri partai yang menggunakan nama Masyumi, yaitu Partai Masyumi Baru dan Partai Politik Islam Masyumi. Selain itu berdiri juga Partai Bulan Bintang (PBB) yang mendeklarasikan dirinya sebagai keluarga besar pendukung Masyumi dan Partai Keadilan (PK, kini berganti nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera) yang sebelumnya banyak dikenal dengan jamaah atau kelompok Tarbiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain partai diatas, ada beberapa ormas Islam di Indonesia yang disinyalir memiliki hubungan dengan Ikhwanul Muslimin atau terinspirasi darinya, paling tidak itu terlihat dari nama ormas tersebut. Ormas itu antara lain adalah Parmusi (Persaudaraan Muslimin Indonesia) dan Ikhwanul Muslimin Indonesia (IMI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi secara umum, Ikhwanul Muslimin cukup banyak memberikan inspirasi pada organisasi-organisasi di Indonesia. Namun tidak jelas mana yang benar-benar berhubungan secara resmi dengan Ikhwanul Muslimin di Mesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kekakuan ketiganya, kiranya pantas kita katakan bahwa mereka adalah “bersaudara.” Mengenai pemahaman sempit ini ada yang berpendapat karena bermula dari pendahulu mereka yang tidak memiliki ideologi keagamaan yang benar. Bahkan menurut Joel L. Kraemer, para pendahulu Khawarij adalah para perampok.[7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahaya Partai Keadilan Sejahtera &lt;br /&gt;Walaupun jika dilihat dari Piagam Deklarasi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Anggaran Dasar atau Anggaran Rumah Tangga (AD ART) PKS, PKS tidak pernah menyebutkan hubungannya dengan Ikhwanul Muslimin. Namun Menurut Yusuf Qardawi, PKS merupakan perpanjangan tangan dari gerakan Ikhwanul Muslimin Mesir yang mewadahi komunitas terbaik kalangan muda intelektual yang sadar akan agama, negeri, dunia, dan zamannya.[8] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Platform PK menyatakan hal yang sama bahwa, tujuan partai adalah mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur sesuai dengan kehendak Allah. Secara formal, partai ini menyatakan bahwa dasarnya adalah Pancasila dan bukan Negara Islam. Namun, Pancasila adalah prinsip yang longgar, dan, menurut partai ini, terbuka bagi penafsiran. Penerimaan Pancasila secara formal sebagai dasar partai ini tidak menimbulkan kebingungan apakah partai ini partai Islam atau bukan. Dibandingkan partai Islam lainnya, PK merupakan satu-satunya partai yang secara formal memiliki Dewan Syariah dalam strukturnya, yang bertugas memberikan bimbingan dalam mengambil keputusan politik sesuai syariah. Dalam sidang MPR di mana amandemen syariah diperdebatkan, sebagaimana dijelaskan di atas, PK betul-betul memperlihatkan identitas Islamisnya.[9] Bila kita mengamati lebih jauh tulisan Doktor Ilmu Politik dari Ohio-State University ini, jelas inisial PK itu mengarah pada PKS. &lt;br /&gt;penga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterkaitan antara PKS dan Ikhwanul Muslimin Mesir juga diakui oleh Anis Matta, tokoh dan sekjen PKS. Ia mengungkapkan, inspirasi al-Ikhwan al-Muslimin dalam diri partai Partai Keadilan Sejahtera, kalau boleh di garis bawahi di sini, sesunguhnya memberikan kekuatan pada dua dimensi sekaligus. Pertama, inspirasi sdeologis yang –salah satunya- didasarkan kepada prinsip Syumuliyat al-Islam, sesuatu yang bukan hanya menjadi prinsip perjuangan Hasan al-Banna saja, tapi juga pejuang-pejuang yang lain. Kedua, inspirasi historis, semacam mencari model dan maket dari sebentuk perjuangan Islam di era setelah keruntuhan al-Khalifah al-Islamiyyah dan dominasi imperialism Barat atas negeri-negeri Muslim. Tetapi yang mempertemukan dua inspirasi itu pada diri Hasan al-Banna dan al-Ikhwan al-Muslimin, adalah pada aspek denyut pergerakannya. Sebab, pada saat tokoh yang lain menjadi pembaharu dalam lingkup pemikiran, Hasan al-Banna berhasil mengubah pembaharuan itu dari wacana menjadi gerakan. Dan tidak berlebihan, bila inspirasi gerak itu juga yang secara terasa dapat diselami dalam denyut Partai Keadilan Sejahtera.[10] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa rujukan dan temuan di atas, jiwa Khawarij dalam Wahabi, Wahabi dan Ikhwanul Muslimin, kemudian keterkaitan Ikhwabul Muslimin dengan PKS, bila melihat hasil Pemilihan Umun (Pemilu) kemarin, sebagai nahdliyyin, kita pantas bersedih. Mengapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, dengan bertebarannya kalangan kiai dalam jajaran kepengurusan partai politik (Parpol), terlebih bila melihat Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) yang mana hal itu tidak memberikan nilai plus --dalam artian mendongkrak suara—bagi partai,  PKNU sendiri misalnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang bilang hal ini buah demokrasi. Ada yang menyatakan kita (kaum santri) seperti tidak sedikit masyarakat bawah, sudah ngeh dengan politik, karena akhirnya sama saja. Tidak ada yang memperdulikan rakyat. Membangkangkah? Untuk masalah ini penulis kira sudah dicukupkan dengan banyaknya media pasca pemilu legislatif yang memuat tulisan tentang politik kiai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, kita juga harus sedih, bahkan takut, ketika kenyataannya pemilu kemarin berhasil mengantarkan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) masuk lima besar perolehan suara. Karena seperti ulasan di atas, PKS memiliki misi hidden yang sangat mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sayang, kita –meminjam istilah Haedar Nashir- bagaikan kodok dalam tempayan di atas tungku siap direbus. Dan sudah dimasukkan sejak air dingin. Secara perlahan tapi pasti, tanpa menyadari bahwa dirinya sedang menjalani proses pembunuhan, kodok diam saja dan rileks di dalam tempayan.[11] Padahal, sejarah telah mencatat, bagaimana ketentraman Indonesia terusik setelah dideklarasikannya Negara Islam Indonesia (NII) atau Darul Islam (DI) di Jawa Barat, berapa jiwa melayang akibat gerakan ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita harus menerima dikatakan kodok dalam tempayan sebagaimana istilah Haedar, toh kenyataannya demikian. Dari banyaknya kalangan kita yang begitu mudahnya terbawa arus mereka dan masjid-masjid baik itu milik Nahdlatul Ulama ataupun Muhammadiyah yang telah mereka kuasai, ternyata belum mampu meyakinkan akan misi mereka yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah bagaimana Muhammadiyah pada Desember 2006 sampai mengeluarkan Surat Keputusan Pimpinan Pusat (SKPP) Muhammadiyah Nomor: 149/Kep/I.0/B/2006. yang ditandatangani Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. H.M. Din Syamsuddin MA. Dan Sekertaris Umum H.A. Rosyad Sholeh. Sebuah bentuk kekhawatiran akan penyusupan di tubuh Muhammadiyah. Bahkan,  &lt;br /&gt;tokoh-tokoh moderat Muhammadiyah prihatin pada perkembangan bahwa kelompok-kelompok garis keras semakin kuat di Muhammadiyah sehingga mungkin saja mereka akan berhasil merebut Muhammadiyah pada Muktamar 2010.[12]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau tidak sekritis yang dialami Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU) juga merasakan kekhawatiran itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana dilansir NU Online, sebanyak delapan Ketua Pengurus Wilayah Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) se-Indonesia menandatangani maklumat yang berisi, “…kami menyadari dengan sepenuh hati, bahwa dewasa ini telah tumbuh dan berkembang gejala pemikiran dan gerakan ke-Islam-an (al-Harakah al-Islamiyyah) melalui praktik-praktik keagamaan yang dapat melunturkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah ala NU, maka dengan ini kami menyatakan: ‘…Senantiasa menjalankan amaliah ibadah Ahlussunnah wal Jamaah ala NU; melestarikan praktik-praktik dan tradisi keagamaan salafush shalih; seperti salat-salat sunah, salat tarawih 20 rakaat, wirid, salawat, qunut, talqin, ziarah qubur, tahlil, manaqib, ratib, Maulid Nabi, haul dan istighotsah; serta toleran terhadap tradisi budaya yang sesuai dengan nilai-nilai Islam sebagaimana bagian dari dakwah Ahlussunnah wal Jamaah.’”[13]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maklumat ini merupakan respon NU terhadap gerakan kelompok-kelompok garis keras yang menjadikan NU sebagai sasaran penyusupan paham mereka yang radikal dan bertentangan dengan paham Aswaja NU yang moderat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis perlu tambahkan, bahwa pada tahun 2006 saja, menurut Ketua PBNU, jumlah masjid milik warga NU yang disusupi dan diambil alih oleh kelompok-kelompok garis keras yang mengklaim dirinya paling itu mencapai ratusan. Mereka menganggap masjid-masjid NU mempraktikkan bid’ah dan beraliran sesat. Proses pengambilalihan masjid-masjid itu berbentuk penggantian para takmir masjid yang selama ini diisi oleh warga Nahdliyyin. Tradisi-tradisi ritual keagamaan khas NU pun diganti. Parahnya lagi, kelompok garis keras juga telah menyusup ke organisasi generasi muda NU dan organisasi-organisasi majelis taklim di bawah naungan NU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhtimam &lt;br /&gt;Dari uraian singkat di atas, gagasan tentang Negara Islam yang sudah dibuktikan sejarah akan menimbulkan ketidakharmonisan rakyat Indonesia, kiranya tidak kita pandang sebelah mata. Karena kenyataannya sungguh ironis, masih banyak kalangan kita yang “mengagungkan” mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai generasi muda NU, kiranya kita betul-betul memahami apa yang telah diwasiatkan para pendahulu kita. Paling tidak memahami karakter kita, at-Tawassuth wa al-I’tidal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, setidaknya Nahdlatul Ulama memiliki tiga karakter; pertama, Negara nasional (yang didirikan bersama oleh seluruh rakyat) wajib dipelihara dan dipertahankan eksistensinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, penguasa Negara (pemerintah) yang sah harus ditempatkan pada kedudukan yang terhormat dan ditaati, selama tidak menyeleweng, dan/atau memerintah ke arah yang bertentangan dengan hukum dan ketentuan Allah. Ketiga, kalau terjadi kesalahan dari pihak pemerintah, cara memperingatkannya melalui tatacara yang sebaik-baiknya.[14]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari sekedar menjaga keutuhan NKRI, menjaga keyakinan ahli sunnah wal jamaah ala NU harus kita kokohkan. Karena nasi telah menjadi bubur. Mereka (PKS) telah masuk dalam deretan partai besar dalam pemilu legislatif kemarin. Untuk itu, siap-siap saja mengawal “gawang” NU dari serangan mematikan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, penulis hanya bisa mengingatkan, serangan fundamentalis memang benar-benar nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…PKS niku sangat berbahaya…”.[15] Wallahu A’lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Footnote:&lt;br /&gt;1. Majalah Tempo, 27 Januari 2002.&lt;br /&gt;2. KAISAR ’08, Aliran-Aliran Teologi Islam, Purna Siswa Aliyah 2008 Madrasah &lt;br /&gt;   Hidayatul Mubtadi-ien Lirboyo, Kediri, Agustus, Cet I, hal. 107.&lt;br /&gt;3. http://tehranifaisal.blogspot.com/2007/03/persamaan-wahabi-dan-khawarij.html&lt;br /&gt;4. The Wahid Institute, Ilusi Negara Islam; Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di   &lt;br /&gt;   Indonesia, Desantara Utama Media, Jakarta, Cet. I, 2009, hal. 69. &lt;br /&gt;5. Imam Ghazali Said, Ideologi Kaum Fundamentalis, Diantama, Surabaya, 2003, hal. &lt;br /&gt;   152-153.&lt;br /&gt;6. Imam Ghazali Said, Ibid, hal 160.&lt;br /&gt;7. Joel L. Kraemer, diterjemahkan oleh Asep Saefullah, Renaisans Islam; Kebangkitan &lt;br /&gt;   Intelektual dan Budaya Pada Abad Pertengahan, Mizan, Bandung, Cet. I, 2003, hal. &lt;br /&gt;   105. &lt;br /&gt;8. http://id.wikipedia.org/&lt;br /&gt;9. Saiful Mujani, Muslim Demokrat; Islam, Budaya Demokrasi, dan Partisipasi Politik &lt;br /&gt;   di Indonesia Pasca Orde Baru, Gramedia Pustaka utama, Jakarta, hal. 58.&lt;br /&gt;10. Anis Matta, "Kata Pengantar” dalam Aay Muhammad Furkon, Partai Keadilan Sejahtera &lt;br /&gt;    dan Praksis Politik Kaum Muda Muslim Indonesia Kontemporer, Bandung, Teraju, &lt;br /&gt;    2004.&lt;br /&gt;11. Lihat Haedar Nashir, Manifestasi Gerakan Tarbiyah; Bagaimana Sikap Muhammadiyah?, &lt;br /&gt;    Yogyakarta, Suara Muhammadiyah, Cet. Ke-5, 2007, hal. 59.&lt;br /&gt;12. Lihat Saiful Mujani, Muslim Demokrat; Islam, Budaya Demokrasi, dan Partisipasi   &lt;br /&gt;    Politik di Indonesia Pasca Orde Baru, Gramedia Pustaka utama, Jakarta, hal. 189.&lt;br /&gt;13. “NU Layani Tantangan Kelompok Islam Garis Keras,”  lihat. NU Online, Selasa, 27 &lt;br /&gt;    Februari 2007. &lt;br /&gt;14. K.H. Achmad Siddiq, Khitthah Nahdliyyah, Khalista, Surabaya, Cet. III, Desember, &lt;br /&gt;    2005, hal. 66.&lt;br /&gt;15. K.H. Ahmad Idris Marzuqi, Pengajian Hikam, Kediri, Kamis, 28 Mei 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1413456690919827167-6195808895262065158?l=www.akibasret.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Akibasret/~4/Yx5TsDj_wYk" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.akibasret.co.cc/feeds/6195808895262065158/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.akibasret.co.cc/2009/06/ancaman-bagi-perkawinan-islam-dan.html#comment-form" title="4 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1413456690919827167/posts/default/6195808895262065158?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1413456690919827167/posts/default/6195808895262065158?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Akibasret/~3/Yx5TsDj_wYk/ancaman-bagi-perkawinan-islam-dan.html" title="Ancaman Bagi Perkawinan Islam dan Demokrasi" /><author><name>alfa RS</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/_Omd-GgEPNxg/SbWSM9w55XI/AAAAAAAAABc/S2LB9inkVXQ/S220/Aku.jpg" /></author><thr:total>4</thr:total><feedburner:origLink>http://www.akibasret.co.cc/2009/06/ancaman-bagi-perkawinan-islam-dan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CkMDRH0zeSp7ImA9WxJRF08.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1413456690919827167.post-4040666332469640008</id><published>2009-05-19T15:07:00.001+07:00</published><updated>2009-05-19T15:07:55.381+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-05-19T15:07:55.381+07:00</app:edited><title>Situ bin Gintung Cirendeu</title><content type="html">Oleh : Alfa RS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia meniduri, tapi tak menyelimutiku. Aku dipandang, namun dilarang melirik. Aku terus dicibir, tak pernah sekalipun aku boleh membela diri. Ah! Kodrat ini tak ku mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu aku istimewa dan benar-benar diistimewakan. Sampai-sampai aku punya bermacam-macam sesuatu untuk lebih membuatku istimewa. Aku bisa dan biasa memainkan riak dengan indah. Menopang tetangga dengan sedikit alunanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini mereka menghimpit, menelanjangi dan menginjakku. Kepedihan ini dulu tidak pernah aku rasakan. Tetangga dan mantan suamiku begitu perhatian. Aku disayang. Bukan tempat pelampiasan dan sarang orasi kelabu. Aku cantik, jauh dari kondisiku seperti sekarang. Namun masa itu harus ku relakan pergi. Katanya suamiku itu palsu. Dia merebutku dari Benten Londoni.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Situ! Aku Cirendeu. Cirendeu, suamimu.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih ingat itu. Ketika pertama kali aku bertemu dia yang begitu gagah perkasa. Dengan sebatang bambu runcing dia terkam suamiku. Dia menghampiri dan mendekapku. Dia mengaku suamiku, suami sebenarnya. Dulu aku percaya begitu saja. Aku tak punya pilihan. Suamiku tewas. Berpangku pada tetangga tak mungkin, karena mereka semuanya dibawah kendali Cirendeu. &lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kini setelah lebih dari tujuh puluh tahun, aku mulai meragukan. Kondisinya kacau. Sibuk dengan urusan ini itu. Dimana-mana ia katakan mencintai dan mempedulikanku. Tapi nyatanya? Aku hanya tempat menimbun kebusukan dan bahan orasinya. Aku lelah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaannya terulang lagi. Dia menamparku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Situ! Kamu gimana sih? Kata tetangga kamu tidak becus mengurus keluarga. Jangan kau anggap karena sering keluar aku tidak memperhatikanmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa kau tidak menghargai aku lagi? Kenapa, kenapa Tu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasa. Walau nadanya begitu tinggi tetap tak mampu menjulurkan lidahku. Mengapa pula aku mesti bicara, sabetan dan irisan saja tak mampu menangiskanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak pernah meminta seperti apa yang diberikan suami tetangga. Aku bukan penggila aksesoris yang penuh warna. Aku hanya mau dia peduli. Peduli dan menghargai akan keberadaanku. Aku takut. Takut kelelahan atas perlakuannya menumbuhkan marah. Marah yang menjalar menjadi benci dan dendam. Dendam yang menuntunku melakukan perbuatan diluar kebiasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun lalu ketakutanku sedikit berkurang. Dia berbeda, sedikit perhatian. Walau tak pernah diungkapkan dia berikan apa-apa yang kuinginkan. Aku senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ternyata kebahagiaanku hanya sementara. Perhatian itu semu. Rekayasa. Dia berikan itu demi orasinya. Orasi yang kian hari makin memanaskan daun dinginku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jeng! Apa tidak sebaiknya cari yang lain saja. Aku yakin Jeng Situ bakal mendapat yang lebih baik. Buat apa terus bersama kalau nyatanya seperti itu” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hampir pernah termakan bujukan itu. Tapi tak tega. Aku terlalu sayang mereka. Walau hanya minoritas, aku sangat menghargai itu. Mereka yang mau peduli dan tulus menyayangiku. Mereka yang bukan hanya berorasi dan berargumentasi. Aku tak bisa membayangkan andai pergi. Bukan masalah kemana dan sama siapa. Aku takut dengan apa mereka akan memberi seyum pada keluarganya. Mereka yang hanya mampu mengandalkanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih ingat ketika dulu aku bertengkar hebat dengannya. Walau aku hanya sedikit marah, kulihat mereka kelimpungan. Ku saksikan keluarga mereka menjerit, menangis.  Aku tak peduli. Tapi bila melirik minoritas yang terkena imbas kemarahanku, aku ikut terharu. Coba Cirendeu mau sedikit mengerti. Andai waktu itu aku tak meredam kemarahan mereka hanya tinggal kenangan. Tapi itu bukan aku. Aku bukan Cirendeu yang hanya pandai berorasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai! Ditanya kok malah bengong”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku ini masih suamimu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi kurasakan manisnya tangan itu. Tangan yang dengan lembut dan halus ketika memegang mikrofon. Suara yang biasanya berbusa hijau diatas podium&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa! Mau nangis”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan. Aku takkan bisa menangis karena kelopakku adalah tangisan. Kau takkan melihatku menitikkan air mata karena pipiku adalah mata air.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau mulai berani melawan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas, aku hanya ingin kau perhatian. Masih ingatkah Mas Cirendeu akan kondisiku saat pertama kita jumpa lagi. Jujur, dengan segala sikap Mas, sekarang aku ragu apakah benar Mas adalah suami asliku.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cirendeu kembali bersiap melayangkan tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ni Mas. Tampar di sini.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku ajukan samudera mata airku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa. Tidak berani. Coba Mas sedikit punya perasaan. Kalau dulu Mas bilang bahwa aku sedang bersama suami palsu, lalu kenapa dia lebih sayang, perhatian dan mempedulikanku. Sedang Mas? Apa yang telah Mas berikan buatku. Hampir tujuh puluh tahun kita bersama Mas. Tapi rasanya semua itu tak ada artinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa kau lupa dengan pemberianku waktu itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku ingat Mas. Tapi itu tak seberapa bila dibandingkan penderitaan yang ku alami.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku lihat rautnya berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi aku memang benar-benar suamimu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi kenapa Mas perlakukan aku seperti ini. Ini tak adil Mas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plak! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Awas kau nanti.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah bertekad hari ini akan melampiaskan semuanya. Namun dengan santainya dia meninggalkanku seorang diri. Mengkrangkengku dalam  peraturan kelabu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam kurasakan telah jauh. Namun entah mengapa kemarahan itu kian menjadi. Kekhawatiranku terbukti, aku marah padanya dan mereka yang tak mau memperdulikanku. Maafkan aku wahai minoritas. Malam ini aku ingin menyudahi semuanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku dengar teriakan mereka. Mengiris hati. Tapi mau bagaimana lagi. Bila aku tak begini selamanya aku akan terus tertindas. Aku tak peduli minoritas berkata apa. Saat ini waktunya aku membuka pelipis mereka. Pelipis yang biasanya hanya melirik. Aku mau mereka melotot. Bukan hanya aku, tapi juga keluargaku. Aku ingin mereka merasakan sakitnya menjadi pajangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jeng…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku rasakan usapan lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masih ingatkah kau denganku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kartini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Syukurlah kalau kau ingat. Mengapa kau setega itu. Kau bukan Situ yang ku kenal dulu. Situ sahabatku sangat peduli sesama. Dia rela berkorban banyak demi tetangga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kartini. Mengapa kau tega berbicara seperti itu. Bukan maksudku menyakiti mereka. Tapi mereka sendiri yang memulainya. Aku hanya ingin mengingatkan mereka betapa sakitnya tidak dipedulikan. Itu saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi tetap saja. Aku juga dulu merasa dikecewakan. Tapi tidak lantas menjadikanku seseorang yang tanpa batas. Kalau mereka sekarang tidak mempedulikan kita, mungkin hanya karena belum merasa benar-benar membutuhkanmu. Coba kau lihat tetanggamu. Seberapa banyakkah yang masih mau berteduh diserambimu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, hanya beberapa. Dan mereka itulah yang selalu memperhatikanku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah. Berarti kau sudah sadar bahwa jagat telah berubah. Jangan pula kau salahkan suamimu. Aku tahu dia sering mengecewakanmu. Tapi yakinlah bahwa semua itu berbeda dengan apa yang ada dalam pikiranmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Situ, pernahkah kau ingat Cibeureum, keluargamu di Lambang Jaya. Kemarin aku mampir kesana dan dia cerita banyak tentang apa yang dialaminya. Dia sangat tertekan. Penderitaannya jauh lebih menyakitkan dari apa yang kau alami. Tapi dia tetap tegar.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, aku tahu dia menderita”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu kenapa kamu melakukan semua ini. Sebagai panutan, mestinya apa yang kau lakukan tidak boleh sembarangan. Gimana kalau mereka nanti meniru kelakuanmu. Habislah sudah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kartini, apa yang kulakukan ini demi mereka. Demi si Cinanangsi, si Legoso, si Lumbu dan semua keluargaku yang telah mereka lantarkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi mereka tidak menginginkan ini bukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kata siapa? Maaf Kartini. Mereka sebenarnya sangat tersiksa dan ingin sekali memberi pelajaran pada suami-suami dan tetangga mereka. Tapi aku larang. Aku berjanji pada mereka bahwa suatu saat nanti aku akan memberi tetangga mereka pelajaran. Dan sekaranglah pelajaran mahal itu aku berikan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat Kartini diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kartini, bukan maksudku mengotori hari kelahiranmu. Aku bahkan berharap mereka mau kembali memikirkan apa yang dulu kau perjuangkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah! Kau memang pandai beralasan.”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi itu kenyataannya. Tidakkah kau lihat mereka dengan santainya mendayung sekolah disaat sekolah hanya tinggal pilih saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudahlah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kartini. Kartini…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kartini berlalu. Kartini, sebelum kulakukan inipun aku sadar aku bersalah. Tapi merekapun banyak salah. Bahkan lebih parah. Mereka bersalah pada sesamanya tapi seakan tak pernah ada yang merasa. Mungkin apa yang kulakukan terlalu salah buatmu Kartini. Tapi sungguh, ini karena keterpaksaanku. Maafkan aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kayaknya apa yang aku rencanakan berhasil. Walau harus menjadikan kalian lebih minoritas. Aku bangga menampar dia dan mereka. Terima kasih buat kalian yang rela ikut tertampar. Bukan maksudku menyakiti kalian, tapi lihatlah. Bagaimana kini semuanya bukan hanya melihatku. Kalian lihat, lihat. Dengan berbagai macam simbol mereka mengelu-elukanku. Resapilah orasi-orasi mereka. Orasi yang mengingatkanku pada mendiang Cirendeu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minoritas. Firasatku mengatakan mereka sama seperti Cirendeu. Tapi, nikmatilah. Kapan lagi mereka mau berselimut dengan kalian. Sementara kalian menikmati orasi mereka aku akan pergi mencari suami sesungguhnya dan mengunjungi sanak saudara. Aku akan memberikan penjelasan pada mereka. Aku tak mau keluargaku meniruku. Cukuplah aku yang memberikan pelajaran. Tapi, aku tak janji mereka tidak memberi pelajaran lain andai materi yang kuberikan tidak merubah kalian. Semoga itu tak terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah Tua, 28 Maret 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1413456690919827167-4040666332469640008?l=www.akibasret.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Akibasret/~4/aWEnR2uiGZw" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.akibasret.co.cc/feeds/4040666332469640008/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.akibasret.co.cc/2009/05/situ-bin-gintung-cirendeu.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1413456690919827167/posts/default/4040666332469640008?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1413456690919827167/posts/default/4040666332469640008?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Akibasret/~3/aWEnR2uiGZw/situ-bin-gintung-cirendeu.html" title="Situ bin Gintung Cirendeu" /><author><name>alfa RS</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/_Omd-GgEPNxg/SbWSM9w55XI/AAAAAAAAABc/S2LB9inkVXQ/S220/Aku.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.akibasret.co.cc/2009/05/situ-bin-gintung-cirendeu.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0MERn49fyp7ImA9WxJREko.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1413456690919827167.post-6447239040841640697</id><published>2009-05-14T10:22:00.000+07:00</published><updated>2009-05-14T10:23:27.067+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-05-14T10:23:27.067+07:00</app:edited><title>PREMANISME, Street Crime Vs White Collar Crime</title><content type="html">PREMANISME,&lt;br /&gt;Street Crime Vs White Collar Crime&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampaknya, sekarang masyarakat sudah bisa sedikit menghela nafas. Pasalnya, razia preman sering dilakukan aparat. Bahkan bulan-bulan kemarin, hampir tiap hari berita razia preman menghiasi layar kaca. Sampai-sampai salah satu jasa pengawalan transportasi ternama di negeri ini ”Gajah Oling” sudah membubarkan diri. Dari program Kapolri ini, perlu ada semacam telaah lebih lanjut mengenai efektifitas dan seberapa besar manfaatnya bagi masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Razia premanisme ini memang menuai banyak komentar. Yang paling banyak dipertanyakan adalah, apakah dengan razia ini lantas premanisme akan benar-benar lenyap atau justru hanya dikuasai oleh oknum aparat? Pasalnya, tak sedikit oknum aparat yang justru menjadi backing premanisme, perjudian, dll. Bahkah ”Gajah Oling”pun dikomandani salah seorang purnawirawan TNI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak yang menghawatirkan pemberantasan ini hanya bersifat sporadis, kegiatan tanpa kelanjutan, kasus-kasus tanpa tepian. Bahkan hanya sebuah program pemulihan nama baik atas kegagalan aparat menyelesaikan kasus-kasus kakap. Kasus sekaliber Munir (aktifis korban premanisme), Tan Edy Tansil (garong yang membobol Bapindo 1.3 T), Maria Pauline Lumowa (preman penggondol uang 1.7 T milik BNI) ataupun penjahat berkerah putih penilap triliyunan uang rakyat lainnya masih menjadi pertanyaan.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berhasil menamatkan episode Amrozi Cs, mungkinkah penyergapan preman-preman sebuah babak baru upaya kepolisian untuk  menyembunyikan kegagalan.&lt;br /&gt;Selama ini tindakan premanisme sangat meresahkan dan merugikan masyarakat. Upaya pemberantasan memang sangat diperlukan untuk menangkal efek negatif premanisme di masa mendatang. Tapi apabila hanya mereka-mereka yang bertato tebal dan sangar, upaya penanganan secara komprehensif tidak akan pernah terwujud. Bukankah semestinya upaya pemberantasan premanisme street crime maupun white collar crime, atas dan bawah, berjalan seimbang sesuai dengan jalurnya masing-masing?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kesan sedang terjadi diskriminasi di Negara kita, khususnya tanah Jawa. Dari pusat ada penggulungan para preman dan pasukan Satpol PP di bawah gencar merobohkan ’istana’ kaum berekonomi rendah. Aparat, apapun itu kewenangannya, semestinya  obyektif dalam bertindak. Terutama menyangkut premanisme. Terlebih aparat KPK (Komoisi Pemberantasan Korupsi), banyak sekali preman berkeliaran di daerah mereka, preman ber’kerah pelangi’.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bila melihat dari sudut substansialnya, preman-preman berdasi adalah pelaku  kejahatan yang lebih besar sekaligus keji. Premanisme versi ini hanya dilakukan guna memperkaya diri para pelakunya. Akibatnya, nilai kerugian dari uang rakyat justru lebih besar. Sebaliknya, premanisme jalanan kebanyakan muncul dikarenakan persoalan untuk bertahan hidup akibat sulitnya perekonomian mereka.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jadi, akan jauh lebih baik jika merebaknya aksi premanisme tidak semata ditangani sebagai kasus pelanggaran hukum. Karena  di sisi yang lain akar masalah premanisme sebetulnya adalah kondisi sosial ekonomi masyarakat yang seringkali tidak adil. Jangan pernah kita berpikir seorang preman yang berhasil ditangkap aparat dan dijebloskan ke penjara karena terbukti melanggar hukum akan kapok dan setelah bebas akan meninggalkan dunia premanisme. Dalam kenyataan, penjara justru menjadi sekolah baru yang makin mematangkan semangat mereka untuk lebih masuk dalam pusaran dunia premanisme, mengembangkan jaringan yang lebih kuat, dan akhirnya membangun sindikat yang lebih solid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dua-tiga dekade silam, kita tentu masih ingat bahwa di tanah air ini pernah dikembangkan aksi petrus (penembakan misterius) untuk memberantas ulah preman dan pelaku kejahatan yang dinilai sudah tidak lagi bisa ditoleransi. Namun demikian, seperti kita lihat, ulah preman ternyata kembali marak dalam beberapa tahun kemudian. Mungkinkah akan ada petrus-petrus lanjutan? Karena ada kesan kuat, ketika ulah preman itu makin ditekan, ternyata dalam perkembangannya ulah mereka justru makin resistan dan taktis menyiasati tekanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, meskipun cara-cara yang dikembangkan polisi belakangan ini terbukti secara temporer membekukan aksi premanisme untuk tidak lagi terlalu pongah dan merugikan masyarakat. Tetapi, untuk memberantas preman hingga ke akar-akarnya, tentu yang dibutuhkan bukan hanya tindakan penghukuman dan sikap represif yang terkadang malah memperbesar daya resistansi mereka. Kita harus mampu membaca akar timbulnya premanisme. Kemiskinan, kelangkaan kesempatan kerja, marginalisasi, dan kekuasaan yang cenderung korup adalah habitat yang subur bagi perkembangan premanisme di tanah air. Ketika itu sudah sanggup kita redam, mungkin dengan sendirinya premanisme sirna dari negeri tercinta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melirik ”Embah”nya Preman &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mendengar kata ”preman”, mungkin bayangan-bayangan buruk langsung menari dibenak kita. Terlebih ketika Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri menggencarkan penjaringan mereka. Namun, pernahkah anda lebih jauh mengenal dunia preman?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Prof. Koentjoro Ph.D. definisi premanisme adalah segala tindakan melawan aturan, vandalisme (perilaku atau perbuatan merusak, menghancurkan secara kasar dan biadab), tindakan brutal, dan merupakan perilaku tidak cerdas yang kebanyakan dengan menggunakan kekuatan (uang, pengaruh, massa, dll.) untuk mendapatkan tujuan tertentu dengan mengabaikan konsensus bersama. Pendapat lain mengatakan, kata Preman berasal dari kata Free Man yang artinya laki-laki penganut gaya hidup bebas seenaknya sendiri, tidak peduli lingkungan, memaksakan kehendak dan lebih jauh lagi mereka adalah pelaku tindakan kriminal. Singkatnya, Preman adalah perilaku seseorang yang membuat resah, tidak aman dan merugikan lingkungan masyarakat.&lt;br /&gt;Ulung Koeshendratmoko berpendapat, ada beberapa kategori Preman yang hidup dan berkembang di masyarakat, mulai Preman tingkat bawah, menengah, atas dan juga kalangan elit. Untuk kelas pertama, penampilannya dekil, bertato dan berambut gondrong. Mereka spesialis tindak kriminal ringan. Untuk kelas menengah lebih rapi dalam berpenampilan dan juga mempunyai pendidikan cukup. Mereka biasanya bekerja dengan suatu organisasi yang rapi dan secara formal organisasi itu legal. Mereka Preman-Preman yang disewa oleh lembaga perbankan untuk menagih hutang nasabah, semisal Agency Debt Collector.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Preman kelas atas adalah kelompok organisasi yang berlindung di balik parpol atau organisasi massa, bahkan berlindung di balik agama tertentu. Untuk tingkat elit ditempati oleh oknum aparat yang menjadi beking perilaku premanisme. Ke-Preman-an mereka biasanya tidak nampak, karena mereka adalah aktor intelektual premanisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejahatan Masa Lalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena kekerasan dalam masyarakat sudah menjalar dari dahulu kala. Ken Arok, sang pendiri kerajaan Singosari, bisa dibilang tadinya juga preman. Ia memulai karir sebagai bandit dan jawara. Tentu, dia bukanlah orang pertama yang membuka akses ke kekuasaan lewat jalur ”bawah tanah.” Hal itu terbukti melalui kajian arkeologi yang bersumber pada tulisan-tulisan Jawa Kuno dalam prasasti. Para penelitipun berhasil menemukan hukum-hukum tertulis era abad  ke 9-15 Masehi, mulai kurunnya Raja Dyah Balitung di Jawa Tengah sampai masa pasca Majapahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa di antaranya adalah, pertama, prasasti Balingawan berangka tahun 891 M (disimpan di Museum Pusat Jakarta). Prasasti ini memuat penetapan sebidang tanah di Desa Balingawan menjadi sima (daerah perdikan/otonom). Prasasti itu lahir karena rakyatnya ketakutan, menderita, dan melarat lantaran senantiasa harus membayar pajak denda atas rah kasawur (darah tersebar berceceran) dan wankay kabunan (mayat kena embun). Hal itu terjadi karena dalam hukum Jawa kuno, desa-desa yang menjadi tempat kejadian peristiwa (TKP) mendapat sanksi harus membayar pajak pada raja. Setelah prasasti itu dibuat, barulah Desa Balingawan menjadi sebuah sima, keamanan di jalan besar terjamin, rakyat desa dan dukuh-dukuhnya tidak lagi merasa ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, prasasti Mantyasih (907 M). Di tulis dalam tiga versi berbeda, dua diantaranya di tulis di atas lempengan perunggu dan satu di atas batu. Isi prasasti berkisar tentang penetapan sima dari Raja Rakai Watukura Dyah Balitung kepada 5 patih yang telah berjasa mengerahkan rakyat Desa Mantyasih pada waktu diselenggarakan pesta perkawinan raja. Pada suatu ketika, rakyat desa merasa ketakutan oleh ulah para penjahat dan mereka tidak dapat mengatasinya. Kelima patih diberi tugas untuk menumpas dan menjaga keamanan di jalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, prasasti Kaladi (909 M). Prasasti ini juga bermasa dari Raja Rakai Watukura Dyah Balitung. Isinya tentang pemberian sima atas permohonan pejabat daerah yang bernama Dapunta Suddhara dan Dapunta Dampi karena ada hutan arapan yang memisahkan (desa-desa) itu menyebarkan ketakutan. Mereka senantiasa mendapat serangan dari Mariwun yang membuat para pedagang dan penangkap ikan merasa resah dan ketakutan siang dan malam. Maka diputuskan bersama, hutan itu dijadikan sawah agar penduduk tidak lagi merasa ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, prasasti Sanguran (928 M). Berisikan beberapa hal yang menyangkut kejahatan, diantaranya: wipati wankay kabunan (kejatuhan mayat yang terkena embun), rah kasawur in dalan (darah yang terhambur di jalan), wakcapala (memaki-maki), duhilatan (menuduh), hidu kasirat (meludahi), hastacapala (memukul dengan tangan), mamijilakan turuh nin kikir (mengeluarkan senjata tajam), mamuk (mengamuk), mamumpan (tindak kekerasan terhadap wanita), ludan (perkelahian?), tutan (mengejar lawan yang kalah?), danda kudanda (pukul-memukul), bhandihaladi (kejahatan dengan menggunakan kekuatan magis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, naskah Purwwadhigama. Sistem pengadilan zaman klasik membagi segala macam tindak pidana dan perdata ke dalam 18 jenis kejahatan yang disebut astadasawyawahara. Penulisan ke-18 hukum tersebut tidak selalu lengkap, kadang hanya garis besarnya, mungkin beberapa hal yang dianggap penting/sesuai dengan kondisi saat itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum tersebut berisikan: tan kasahuranin pihutan (tidak membayar lagi utang), tan kawahanin patuwawa (tidak membayar uang jaminan), adwal tan drwya (menjual barang yang bukan miliknya), tan kaduman ulihin kinabehan (tidak kebagian hasil kerja sama), karuddhanin huwus winehakan (minta kembali apa yang telah diberikan), tan kawehanin upahan (tidak memberi upah atau imbalan), adwa rin samaya (ingkar janji), alarambaknyan pamalinya (pembatalan transaksi jual-beli), wiwadanin pinanwaken mwan manwan (persengketaan antara pemilik ternak dan penggembalanya), kahucapanin watas (persengketaan mengenai batas-batas tanah), dandanin saharsa wakparusya (hukuman atas penghinaan dan makian), pawrttinin malin (pencurian), ulah sahasa (tindak kekerasan), ulah tan yogya rin laki stri (perbuatan tidak pantas terhadap suami-istri), kadumanin drwya (pembagian hak milik atau pembagian warisan), totohan prani dan totohan tan prani (taruhan dan perjudian &lt;br /&gt;Dengan melihat 18 aturan hukum pidana tersebut, jelaslah bahwa masyarakat Jawa Kuno bukanlah suatu masyarakat yang senantiasa aman, tenteram, damai dan jauh dari segala tindak kejahatan. Dan setidaknya untuk saat sekarang ini ada tiga hal yang sedang marak terjadi saat ini, seperti ulah sahasa (tindak kekerasan), ulah tan yogya rin laki stri (perbuatan tidak pantas terhadap suami istri), serta totohan prani dan totohan tan prani (taruhan dan perjudian).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian di era Hindia Belanda berjaya, premanisme semakin tumbuh subur. Pada masa ini, para preman semakin tampil ke permukaan. Di Batavia misalnya, para jagoan menguasai jaringan tenaga kerja. Mereka juga menjalin hubungan dengan jaringan pedagang Arab, guru-guru mengaji, serta pentolan-pentolan rampok di kampung-kampung pantai utara Karawang dan hutan-hutan di kaki gunung sebelah selatan. Hubungan tersebut kerap dimanfaatkan untuk menggerogoti kekuasaan kolonial. Karenanya, penguasa kolonial perlu mengerahkan Marsose dan Veldpolitie (polisi kota) untuk menghadapi para jagoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Premanisme Hari Esok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perilaku premanisme dan kejahatan jalanan merupakan problematika sosial yang berawal dari sikap mental masyarakat yang kurang siap menerima pekerjaan yang dianggap kurang bergengsi, kurang memiliki prestise. Menurut psikolog dan dosen Fakultas Psikologi Universitas Medan Area (UMA), Anna WD Puba S.Psi. MSi, penanganan premanisme tidak cukup melalui proses hukum, tetapi harus melibatkan institusi yang berfungsi dalam pembinaan mental. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perilaku premanisme dan kejahatan jalanan, adalah penyakit masyarakat yang berasal dari belum tertatanya pola pikir dan kesiapan mental dalam menghadapi problematika hidup. Diperlukan formulasi yang tepat untuk mengatasinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun toh jenis preman terbagi dalam dua jenis, preman kecil dan preman berdasi, namun sebagian besar dari aktifitas premanisme dipicu desakan ekonomi. Lapangan kerja minim dan semakin tingginya biaya kebutuhan hidup sehari-hari, menuntut mereka menggunakan premanisme. Menurut Sosiolog Universitas Negeri Medan (Unimed), Prof Dr Bungaran Antonius Simanjuntak, solusi untuk masalah preman adalah menciptakan lapangan kerja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun begitu, masalah mental sesungguhnya adalah hal yang lebih pokok. Jika mereka belum mampu memopol premanismenya, niscaya apapun tempat dan di manapun mereka berdiri, preman akan lahir kembali. Enam puluh tiga tahun sudah kemerdekaan kita, tapi selama itu pula premanisme mencekik kita. Terlebih punggawa-punggawa White Collar Crime, preman berdasi. Kapankah mereka mampu kita brangus? Semoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1413456690919827167-6447239040841640697?l=www.akibasret.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Akibasret/~4/bG_RYZtJlYI" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.akibasret.co.cc/feeds/6447239040841640697/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.akibasret.co.cc/2009/05/premanisme-street-crime-vs-white-collar.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1413456690919827167/posts/default/6447239040841640697?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1413456690919827167/posts/default/6447239040841640697?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Akibasret/~3/bG_RYZtJlYI/premanisme-street-crime-vs-white-collar.html" title="PREMANISME, Street Crime Vs White Collar Crime" /><author><name>alfa RS</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/_Omd-GgEPNxg/SbWSM9w55XI/AAAAAAAAABc/S2LB9inkVXQ/S220/Aku.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.akibasret.co.cc/2009/05/premanisme-street-crime-vs-white-collar.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CkYAR3Y4fSp7ImA9WxJTE00.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1413456690919827167.post-1938869643944145148</id><published>2009-04-21T14:46:00.002+07:00</published><updated>2009-04-21T14:49:06.835+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-04-21T14:49:06.835+07:00</app:edited><title>Memetik Perang Salib, Mampukah?</title><content type="html">Oleh: Alfa RS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) agama itu hanya untuk Allah belaka. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim,” (QS. al-Baqarah: 193).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas,” (QS. al-Baqarah: 190). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua dari beberapa ayat yang jelas menerangkan bahwa peperangan dalam kerangka jihad bisa terjadi karena, 1) Kaum muslimin diserang; 2) Untuk melenyapkan fitnah (kekufuran) dan permusuhan; 3) Demi membela yang tertindas tanpa melihat agama mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hubungannya dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani, meski terdapat ayat; “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti millah mereka...,” (QS. al-Baqarah: 120). Namun ayat ini tak pernah dipakai kaum muslimin sebagai legitimasi memerangi Yahudi dan Nasrani, hanya karena agama mereka. Justru sebaliknya, kaum Yahudi dan Nasrani di dalam Darul Islam menikmati perlindungan yang tidak mereka temukan di negara lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun perang salib, yang lama maupun yang baru, justru makin menunjukkan bahwa kekufuran adalah musuh kita.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta-fakta Perang Salib &lt;br /&gt;Tidak terlalu mudah mendapatkan gambaran yang akurat tentang peristiwa Perang salib yang sesungguhnya. Beberapa penulis sejarah menggambarkannya berbeda-beda, dan sebagian tampak berlebih-lebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesulitan lainnya adalah mengenai nama-nama tempat atau kerajaan dalam buku-buku sejarah lama yang tidak dilengkapi peta, sehingga sulit dipastikan nama dan lokasinya di zaman modern ini. Apalagi bila buku-buku tersebut ditulis dalam bahasa yang berbeda-beda, misalnya dari sumber berbahasa Arab atau Latin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tulisan ini sengaja dicari fakta-fakta dari sumber-sumber Islam dan non Islam, agar didapatkan keseimbangan informasi, terutama mengenai kondisi front masing-masing. Secara keseluruhan perang salib berlangsung selama hampir dua abad, dengan momen-momen penting sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Clermont Perancis, Paus Urbanus II (1088-1099) memulai inisiatif mempersatukan dunia Kristen (yang saat itu terbelah antara Romawi Barat di Roma dan Romawi Timur atau Byzantium di Konstantinopel). Kebetulan saat itu raja Byzantium sedang merasa terancam oleh ekspansi kekuasaan Saljuk, yakni orang-orang Turki yang sudah memeluk Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika terasa cukup sulit untuk mempersatukan para pemimpin dunia Kristen dengan ego dan ambisinya masing-masing, maka dicarilah suatu musuh bersama. Dan musuh itu ditemukan: umat Islam. Sasaran jangka pendeknyapun didefinisikan; pembebasan tempat-tempat suci Kristen di bumi Islam, termasuk Baitul Maqdis. Sedang sasaran jangka panjangnya adalah melumat umat Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasukan salib tidak berencana membunuh Khalifah. Yang mereka rencanakan adalah membunuh Islam, menghapus khilafah dan menghancurkan umat yang melindunginya dan hidup untuknya. Apa artinya seorang Khalifah jika lembaga Khilafah tidak ada lagi? Apa yang bisa dikerjakan Khalifah jika umat yang dipimpinnya tewas semua? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1096 – Serangan Salib Pertama&lt;br /&gt;Diberangkatkan untuk merebut Yerusalem. Pada 1099 pasukan di bawah Gottfried von Bouillon merebut Yerusalem. Mereka mendirikan negara-negara salib, yakni negara-negara boneka di wilayah-wilayah yang diduduki tentara salib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun karena kelemahan Byzantium dan perpecahan dikalangan muslim sendiri, negara-negara boneka ini berkembang sebagai negara-negara latin yang feodalistis (menguasai wilayah) dan tirani (sewenang-wenang), dimana seluruh penduduk yahudi dan muslim dihabisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Serangan Salib Kedua (1147-1149)  &lt;br /&gt;Pasukan salib berusaha merebut wilayah-wilayah di sepanjang pantai laut tengah, baik yang dikuasai muslim maupun bukan, seperti misalnya wilayah Athena, Korinthia dan beberapa pulau-pulau Yunani. Ini menunjukkan bahwa serangan salib sebenarnya tidak spesifik ditujukan hanya kepada umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serangan Salib Ketiga (1189-1192) &lt;br /&gt;Terjadi setelah Sholahuddin al Ayyubi berhasil mempersatukan kembali wilayah-wilayah Islam di Mesir dan Syiria. Pada 1171 Sholahuddin berhasil menyingkirkan kekuasaan Fathimiyah di Mesir yang merupakan separatisme dari Khilafah di Bagdad, dan mendirikan pemerintahan Ayyubiah yang loyal kepada Khalifah. Pada 1187 al-Ayyubi berhasil merebut kembali Yerusalem. Serangan salib ketiga ini dipimpin oleh tokoh-tokoh Eropa yang paling terkenal; Friedrich I Barbarosa dari Jerman, Richard I Lionheart dari Inggris dan Phillip II dari Perancis. Namun di antara mereka ini sendiri terjadi perselisihan dan persaingan yang tidak sehat, sehingga Friedrich mati tenggelam, Richard tertawan (akhirnya dibebaskan setelah memberi tebusan yang mahal), sedang Phillip bergegas kembali ke Perancis untuk merebut Inggris justru selama Richard tertawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serangan Salib Keempat (1202-1204)&lt;br /&gt;Terjadi ketika pasukan salib dari Eropa Barat ingin mendirikan kerajaan Norman (Eropa Barat) diatas puing-puing Yunani. Paus Innocentius III menyatakan pasukan salib telah murtad (excommuned). Di Konstantinopel permintaan-permintaan tentara salib menimbulkan perlawanan rakyat, yang dibalas tentara salib dengan membakar kota itu serta mendudukkan kaisar latin serta padri latin. Sebelumnya, kaisar dan padri Konstantinopel selatan Yunani. Tahun 1212, ribuan pemuda Perancis diberangkatkan dengan kapal untuk bergabung dengan pasukan salib, namun oleh kapten kapal mereka justru dijual sebagai budak ke Afrika Utara. Reputasi pasukan salib dan respek atasnya sudah semakin pudar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serangan Salib Kelima (1218-1221)  &lt;br /&gt;Diumumkan oleh Paus Innocentius dan Konzil Lateran IV, yang juga menetapkan undang-undang inkuisisi (pemeriksaan dengan sistem pengisian keterangan/blangko) dan berbagai aturan anti yahudi. Untuk mendapatkan kembali kontrol atas pasukan salib, jabatan raja Yerusalem digantikan oleh wakil Paus. Jabatan raja Yerusalem ini hanyalah formalitas idealis, tanpa kekuasaan sesungguhnya, karena de fakto (menurut kenyataan) Yerusalem telah direbut kembali oleh al-Ayyubi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serangan Salib Keenam (1228-1229) &lt;br /&gt;Dipimpin oleh kaisar Jerman Freidrich II. Sebagai orang yang dimurtadkan (excommuned) dia berhasil merebut kembali Jerusalem. Paus terpaksa mengakui dia sebagai raja Yerusalem. Sepuluh tahun kemudian Yerusalem berhasil direbut kembali oleh kaum muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serangan Salib Ketujuh (1248-1254) &lt;br /&gt;Dipimpin oleh Ludwig IX dari Perancis yang telah dinobatkan sebagai "orang suci" oleh Paus Bonifatius VIII. Meski di negerinya Ludwig dikenal sebagai penegak hukum yang baik, namun ia memimpin sebuah organisasi yang amburadul sehingga justru tertangkap di Mesir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pada masa Paus Gregorius X (1274) dan juga setelah jatuhnya Konstantinopel (1453), perang salib pernah diserukan kembali, namun tak pernah dimulai. Sejak perang salib keempat, perang ini sudah jatuh popularitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, tanpa dibawah lambang pasukan salib, pada 1236 Cordoba, pusat Daulah Islam di Andalusia direbut kembali oleh pasukan Katolik Kastilia. Pada 1258 Bagdad –pusat Khilafah– dihancurkan oleh Mongol-Tartar. Kedua serangan ini juga punya akibat yang sangat fatal pada sejarah umat Islam selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Eropa, hasil positif perang salib yang utama adalah motivasi yang dalam banyak hal ikut memajukan Eropa. Ini karena perang salib mempertemukan bangsa Eropa dengan peradaban yang lebih tinggi. Efek negatifnya adalah secara teologis Eropa makin terpolarisasi (menentang). Dunia Kristen Barat makin membentengi diri dan bersikap memusuhi terhadap segala yang berasal dari luar. Dan ini berjalan hingga abad 20. Mentalitas perang salib ini juga pernah digunakan beberapa penguasa Barat untuk menekan kaum protestan. Dan pada Perang Dunia II, Hitler memotivasi pasukannya ketika melawan Rusia sebagai "Perang salib melawan Atheisme."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, bila George W. Bush "kelepasan" menyebut-nyebut perang salib demi minyak, senjata dan ideologi kapitalisme, hal itu tak perlu mengherankan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis Perang Salib&lt;br /&gt;Al-Wakil menuliskan bahwa sebab-sebab yang mendorong orang-orang Kristen terjun ke medan perang bertahun-tahun adalah QS. Ali-Imran: 165;&lt;br /&gt;1. Penyebab utama perang salib adalah kedengkian orang-orang Kristen kepada Islam dan umatnya. Umat Islam berhasil merebut wilayah-wilayah strategis yang sebelumnya mereka kuasai (terutama di Timur Tengah). Mereka menunggu kesempatan yang tepat untuk meraih apa yang hilang dari tangannya, balas dendam terhadap umat yang mengalahkannya. Kesempatan itu datang ketika umat Islam lemah dan kehilangan jati dirinya yang kuat yang sebelumnya meredam perpecahan dan menyatukan langkah. &lt;br /&gt;   Para tokoh agamawan Kristen bangkit menyerukan pembersihan tanah-tanah suci di Palestina dari tangan-tangan kaum muslimin dan membangun gereja dan pemerintahan Eropa di dunia Timur. Perang mereka dinamakan perang salib karena tentara-tentara Kristen menjadikan salib sebagai simbol obsesi suci mereka dan meletakkannya di pundak masing-masing.&lt;br /&gt;2. Perasaan keagamaan yang kuat. Orang-orang Kristen meyakini kekuatan gereja dan kemampuannya untuk menghapus dosa walau setinggi langit.&lt;br /&gt;3. Perlakuan in-toleran orang-orang Saljuk terhadap orang-orang Kristen dan para peziarah Kristen yang menuju Yerusalem. Orang-orang Saljuk adalah penguasa wilayah Turki yang relatif belum lama memeluk Islam dan belum begitu memahami syariat Islam dalam memperlakukan agama lain.&lt;br /&gt;4. Ambisi Sri Paus yang ingin menggabungkan gereja Timur (ortodoks) dengan gereja Katolik Roma. Paus ingin menjadikan dunia Kristen seluruhnya menjadi satu negara agama yang dipimpin langsung Sri Paus.&lt;br /&gt;5. Kegemaran tokoh-tokoh dan tentara Kristen untuk berpetualang ke negara lain dan mendirikan pemerintahan boneka di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi para pemimpin Kristen, kondisi waktu itu sangat tepat untuk memulai serangan ke dunia Islam, karena;&lt;br /&gt;1. Ada kelemahan dinasti Saljuk, sehingga front terdepan dunia Islam terpecah belah.&lt;br /&gt;2. Tidak adanya orang kuat yang menyatukan perpecahan umat Islam. Khilafah de facto terbagi sedikitnya menjadi tiga negara; Abbasiyyah di Bagdad, Umayyah di Cordoba dan Fathimiyyah di Kairo.&lt;br /&gt;3. Beberapa kabilah pesisir telah masuk agama Kristen seperti Genoa dan Venezia, inilah yang memuluskan jalan antara Eropa dan negara-negara Timur.&lt;br /&gt;4. Kemenangan Sri Paus atas raja sehingga Sri Paus memiliki kekuatan mengendalikan para raja dan gubernur di Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak Perang Salib&lt;br /&gt;Bangsa Eropa belajar berbagai disiplin ilmu yang saat itu berkembang di dunia Islam lalu mengarangnya dalam buku-buku yang bagi dunia Barat tetap terasa mencerahkan. Mereka juga mentransfer industri dan teknologi konstruksi dari kaum muslimin, sehingga pasca perang salib terjadi pembangunan yang besar-besaran di Eropa. Gustav Lebon berkata: "Jika dikaji hasil perang salib dengan lebih mendalam, maka didapati banyak hal yang sangat positif dan urgen (penting). Interaksi bangsa Eropa selama dua abad masa keberadaan pasukan salib di dunia Islam boleh dikatakan faktor dominan terhadap kemajuan peradaban di Eropa. Perang salib membuahkan hasil gemilang yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa yang didapat oleh kaum muslimin? Tidak ada. Perang salib menghabiskan aset umat baik harta benda maupun putra-putra terbaik. Kemiskinan terjadi karena seluruh kekayaan negara dialokasikan untuk perang. Dekadensi (kemerosotan) moral terjadi karena perang memakan habis orang laki-laki dan pemuda. Kemunduran ilmu pengetahuan terjadi karena umat menghabiskan seluruh waktunya untuk memikirkan perang sehingga para ulama tidak punya waktu untuk mengadakan penemuan-penemuan dan karya-karya baru kecuali yang berhubungan dengan dunia perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perang salib merupakan salah satu titik balik dari sejarah keemasan umat Islam. Perang salib yang melelahkan telah ikut berkontribusi atas proses hancurnya Khilafah Abbasiyyah, sehingga serangan Tartar atas Bagdad pada 1258 hanya sekedar finalisasi dari proses tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghadapi Perang Salib Baru&lt;br /&gt;Dengan melihat fakta-fakta serta analisis diatas, tampak bahwa dari sisi kaum muslimin perang salib, apapun motif sesungguhnya, selalu hanya berdampak negatif. Namun demikian, jangankan bila diserang, umat Islam memang harus memikul amanah al-Quran untuk melawan fitnah (kekufuran) dan kezaliman. Dan kapitalisme pimpinan Amerika Serikat adalah bentuk termodern dari kekufuran dan kezaliman itu. Sedang Israel di Palestina adalah front terdepan perang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi orang-orang Barat, istilah perang salib dihadapi dengan beragam. Pada masyarakat Barat yang sekuler, motivasi religius seperti pada abad 11-13 sudah tak ada lagi. Istilah itu hanya dilontarkan sebagai "penyatu opini" bahwa mereka sama-sama terancam oleh Islam (maka dibuat skenario serangan teror 9/11 atas WTC), seakan-akan perang salib dimulai oleh kaum muslimin, dan secara militer umat Islam memang masih memiliki kekuatan yang mampu menggoyang kedigdayaan Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktanya, dari sisi manapun, ekonomi, teknologi, militer, umat Islam sekarang ini berbeda dengan umat Islam abad 11-13, yang masih memiliki khilafah yang berfungsi baik, serta ekonomi dan teknologi yang lebih maju dari Barat. Kini dunia Islam terpecah dalam puluhan negara, yang kesemuanya dipimpin oleh para diktator yang ‘membebek’ pada Barat. Mereka tergantung pada ekonomi dan teknologi Barat. Sedang rakyatnya hidup dengan berorientasi pada budaya Barat dan gandrung mengkonsumsi produk industri Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alfa bukan bermaksud mengarahkan untuk kembali pada sistem khilafah, karena sudah jelas bahwa NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) adalah bentuk final. Sekarang, bagaimanakah kita dengan segala apa yang kita miliki mampu melawan atau setidaknya mencegah perang salib baru. Wallahu ‘alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1413456690919827167-1938869643944145148?l=www.akibasret.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Akibasret/~4/KZaYUI4Pwf8" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.akibasret.co.cc/feeds/1938869643944145148/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.akibasret.co.cc/2009/04/memetik-perang-salib-mampukah.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1413456690919827167/posts/default/1938869643944145148?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1413456690919827167/posts/default/1938869643944145148?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Akibasret/~3/KZaYUI4Pwf8/memetik-perang-salib-mampukah.html" title="Memetik Perang Salib, Mampukah?" /><author><name>alfa RS</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/_Omd-GgEPNxg/SbWSM9w55XI/AAAAAAAAABc/S2LB9inkVXQ/S220/Aku.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.akibasret.co.cc/2009/04/memetik-perang-salib-mampukah.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0EMQ3g8fyp7ImA9WxJTEkQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1413456690919827167.post-4297040998913512899</id><published>2009-04-21T14:38:00.000+07:00</published><updated>2009-04-21T14:41:22.677+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-04-21T14:41:22.677+07:00</app:edited><title>Kejoraku</title><content type="html">Alfa RS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kejora!&lt;br /&gt;kau sedang apa,&lt;br /&gt;berduakah kau di sana?&lt;br /&gt;ataukah seperti hamba,&lt;br /&gt;merana.&lt;br /&gt;tanpa tahu apa dan kenapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kejora!&lt;br /&gt;menurutku kau besar dan hebat&lt;br /&gt;mungkin dalam langit ke tujuh kau singgah.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;namun kata orang aku salah,&lt;br /&gt;benarkah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kejora!&lt;br /&gt;bolehkah aku mampir,&lt;br /&gt;sebentar&lt;br /&gt;temani harimu walau  dalam samar&lt;br /&gt;seperti mercusuar yang nampak sangar dari luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kejora!&lt;br /&gt;selamat berakhir pekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1413456690919827167-4297040998913512899?l=www.akibasret.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Akibasret/~4/CjPK0CJuer0" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.akibasret.co.cc/feeds/4297040998913512899/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.akibasret.co.cc/2009/04/kejoraku.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1413456690919827167/posts/default/4297040998913512899?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1413456690919827167/posts/default/4297040998913512899?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Akibasret/~3/CjPK0CJuer0/kejoraku.html" title="Kejoraku" /><author><name>alfa RS</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/_Omd-GgEPNxg/SbWSM9w55XI/AAAAAAAAABc/S2LB9inkVXQ/S220/Aku.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.akibasret.co.cc/2009/04/kejoraku.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkQFQXg6eip7ImA9WxVbGEU.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1413456690919827167.post-6624463679623778029</id><published>2009-04-05T05:23:00.003+07:00</published><updated>2009-04-05T05:31:50.612+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-04-05T05:31:50.612+07:00</app:edited><title>Muhammad disembilan April, Andai</title><content type="html">Oleh: Alfa RS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa dua puluh Januari lalu, Amerika Serikat menapaki sejarah baru setelah Barack Obama diambil sumpahnya sebagai presiden ke-44 Amerika Serikat. Fenomena yang mendorong munculnya tokoh muda Indonesia bertarung pada sembilan April nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaca pada Wiliam Riker (1982) dalam Political Men, “Keunikan demokrasi adalah karena adanya perpaduan tujuan dan cara. Bukan sekedar tujuan harus baik, tapi juga cara untuk mencapainya”, maka, putusan Mahkamah Konstitusi (MK) delapan belas Pebruari lalu adalah satu dari sekian banyak keunikan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar apa yang dijadikan pertimbangan hukum MK mencekal calon perseorangan, syarat 20 persen kursi dan 25 persen suara sah untuk pencalonan presiden dan wapres itu tidak berpotensi menyebabkan pemilu yang tidak demokratis, langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil. Diantara keduanyapun tidak ada korelasi logis. Namun, apakah 25 persen suara itu harga mati?&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari kinerja Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang diragukan banyak kalangan, (Kompas, Selasa, 9/1/09), melihat indikasi adanya kendala kekuasaan oleh kerumunan, tentu duapuluh lima persen merupakan hal kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencari tokoh yang konstruktif, kreatif, partisipatif, integratif, rasional, objektif, dan pragmatis dalam menetapkan kebijakan, sangatlah sulit. Terlebih dengan kondisi politik Indonesia sekarang. Sebelum menjadi liar, dunia politik sudah waktunya memasuki sendi keruhanian yang sarat akan kebenaran dan keadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara demokrasi, tentu kita tidak akan lepas dari peran Nabi Muhammad. Lewat piagam Madinah ia tuangkan ide adanya suatu tatanan sosial-politik yang diperintahkan bukan oleh kemauan pribadi, melainkan secara bersama-sama; bukan oleh prinsip-prinsip ad hoc yang dapat berubah sejalan dengan keinginan pemimpin, melainkan oleh prinsip-prinsip yang dilembagakan dalam dokumen kesepakatan dasar semua anggota masyarakat, yaitu sebuah undang-undang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Muhammad Arkoun, eksperimen Madinah itu telah menyajikan kepada umat manusia contoh tatanan sosial-politik yang mengenal pendelegasian wewenang (artinya, kekuasaan tidak memusat pada tangan satu orang seperti sistem diktatoral, melainkan kepada orang banyak melalui musyawarah) dan kehidupan berkonstitusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip partisipatif-egaliter juga nampak dalam pidato penerimaan pengangkatan Abu Bakar menjadi pengganti pertama Muhammad. Pidato pertama tentang statemen politik yang amat maju, begitu anggapan banyak ahli sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pidato itu merupakan manifesto politik secara singkat dan padat menggambarkan kontinuitas prinsip-prinsip tatanan masyarakat yang telah diletakkan oleh Muhammad. Abu Bakar mengakui bahwa ia adalah “orang kebanyakan”, mengharap rakyat membantunya jika bertindak benar dan meluruskannya bila keliru, menyerukan agar semua pihak menepati etika kejujuran sebagai amanat, menegaskan atas persamaan prinsip kemanusiaan (egalitarianisme), keadilan sosial, dan memelihara jiwa perjuangan (sikap hidup penuh cita-cita luhur dan melihat jauh ke masa depan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah demokrasi berjalan lebih dari 10 tahun, masih kita temukan “kursi-kursi” disalah gunakan. Meminjam istlahnya Michael H. Hart, seorang pemimpin yang tangguh, tulen, dan efektif, kiranya sosok Muhammad patut kita rindukan setelah lebih dari seribu tiga ratus tahun yang lalu tiada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1413456690919827167-6624463679623778029?l=www.akibasret.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Akibasret/~4/FuizxADhybA" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.akibasret.co.cc/feeds/6624463679623778029/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.akibasret.co.cc/2009/04/muhammad-dalam-pemilu.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1413456690919827167/posts/default/6624463679623778029?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1413456690919827167/posts/default/6624463679623778029?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Akibasret/~3/FuizxADhybA/muhammad-dalam-pemilu.html" title="Muhammad disembilan April, Andai" /><author><name>alfa RS</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/_Omd-GgEPNxg/SbWSM9w55XI/AAAAAAAAABc/S2LB9inkVXQ/S220/Aku.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.akibasret.co.cc/2009/04/muhammad-dalam-pemilu.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkUERn49eSp7ImA9WxVbEko.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1413456690919827167.post-3150736443715184837</id><published>2009-03-29T04:02:00.000+07:00</published><updated>2009-03-29T04:03:27.061+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-03-29T04:03:27.061+07:00</app:edited><title>Haruskah Pemilu?</title><content type="html">Oleh; Alfa RS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilu, menurut sebagian merupakan syarat sebuah demokrasi. Demokrasi, mungkin bagi sebagian hal ini biasa. Namun bagi penulis, melihat semarak Pemilu yang kian ‘meriah’ dan membingungkan -terutama bagi mereka yang hanya tinggal memilih- kiranya perlu kita suguhkan, bisa juga dikatakan ‘penyegaran’ kembali akan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara bahasa, demokrasi berasal dari bahasa Yunani Demokratia. Demos artinya rakyat (people) dan cratos artinya pemerintahan atau kekuasaan (rule), berarti demokrasi mengandung makna suatu sistem politik dimana rakyat memegang kekuasaan tertinggi, bukan kekuasaan oleh raja atau kaum bangsawan. Secara etimologi, demokrasi adalah bentuk pemerintahan atau kekuasaan negara yang tertinggi, dimana sumber kekuasaan tertinggi adalah kekuasaan (ke) rakyat (an) yang terhimpun melalui majelis yang dinamakan Majelis Pemusyawaratan Rakyat.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam kamus besar bahasa Indonesia, di sebutkan bahwa demokrasi adalah (bentuk atau sistem) pemerintahan yang seluruh rakyatnya turut serta memerintah dengan perantara wakilnya. Untuk menjalankannya, ada kekuasaan legislatif (dipegang oleh MPR [Majelis Permusyawatan Rakyat] yang terdiri dari dua badan; DPR (anggotanya terdiri dari wakil-wakil Partai Politik, saat ini berjumlah 550 orang) dan DPD (anggotanya mewakili provinsi yang ada di Indonesia, sekarang beranggotakan 128 orang), kekuasaan eksekutif (berpusat pada presiden, wakil presiden, dan kabinet) dan kekuasaan yudikatif (sejak masa reformasi dijalankan oleh Mahkamah Agung, Komisi Yudisial, dan Mahkamah Konstitusi.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sana mungkin kita akan bertanya, sebegitu njlimetnyakah bentuk Negara kita? Mungkin juga dan itulah demokrasi. Artinya, ‘dalam bentuk’ Negara kita memang benar-benar menjadikan rakyat segalanya, pemerintahan kita berkedaulatan (kekuasaan tertinggi) rakyat yang dipimpin oleh seorang presiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, menuju ke arah sana (kekuasaan tertinggi berada pada rakyat) maka sembilan April nanti kita menggelar Pemilihan Umum (Pemilu). Hari itu kita akan memilih anggota legislatif (DPR dan DPD) yang tampangnya sudah jauh-jauh hari menghiasi jalan raya. Mereka, dengan berbagai simbol dan lambang inilah yang akan mewakili kita mengurus Negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, untuk mengajukan seorang calon pemimpin kita (presiden), sebuah ‘simbol’ harus memiliki 25 persen suara sah, suara kita pada 9 April nanti. Mudahnya, kalau ‘simbol’ kita gugur, kurang dari 25 persen perolehan suaranya, maka kita tidak berkesempatan memberikan calon presiden. Setelah presiden terpilih, dia akan menentukan siapa-siapa saja yang akan mendampinginya mengatur Negara, orang inilah yang disebut dengan kabinet atau menteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah mencatat, bangsa Indonesia untuk pertama kalinya menggelar Pemilu pada pada tahun 1955, sepuluh tahun setelah kita merdeka. Pemilupun dilakukan dua kali; 29 September 1955 dan 15 Desember 1955 setelah lahirnya UU No.7 tahun 1953 tentang Pemilu. UU yang menjadi payung hukum Pemilu secara langsung, umum, bebas dan rahasia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena memandang demokrasi dari sisi yang lain; melawan monopoli kaum politisi, pejabat dan teknokrat untuk begitu saja menentukan apa yang baik bagi masyarakat, menambah makin banyaknya ‘relawan’ yang hendak memikul Indonesia. Entah dari visi dan misi bagaimana, yang jelas menurut penulis keberadaan peserta Pemilu kali ini begitu memalukan. Khususnya bagi muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara kita berpenduduk terbesar keempat di dunia (perk. 24 Januari 2009 jumlahnya 237,512,352 jiwa) dan mayoritas memeluk agama Islam (sekitar 85,2%) yang menjadikan kita Negara Muslim terbesar di dunia. Sedangkan partai politik adalah sebuah organisasi yang mencalonkan kandidat untuk ‘santai’ di DPR dan mewakilkan sejumlah prinsip, teori dari ide-ide khusus yang diusung oleh mayoritas anggotanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau melihat prinsip dan ideologi parpol di Amerika, orang paling bodoh berpolitik pun paling tidak bisa membedakan, bahwa Partai Republik arah kebijakannya lebih konservatif; sementara Demokrat lebih ke arah perubahan. Perbedaan yang jelas ini bisa dijadikan dasar bagi pemilih untuk mengambil sikap. Misalnya, jika warga itu pro-aborsi, maka dia akan mendukung Partai Demokrat; sementara jika ia mendukung hak kepemilikan senjata bagi individu, maka akan mencoblos Partai Republik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang di Indonesia, pada pemilu 1999 dan 2004, ada beberapa prinsip dan ideologi parpol; Pancasila, Islam, dan Marhaenisme. Penulis belum begitu mengetahui tentang ideologi dan prinsip seluruh parpol yang akan bertanding nanti. Namun, parpol yang menggaruk pemilih lewat ‘celah agama’ -khususnya Islam- kurang lebih sama dalam prinsip-prinsipnya. Jika begini, kenapa harus bangun banyak parpol? Bukankah lebih gampang menyatukan parpol yang serupa, sehingga kesempatan meraih kursi dan merepresentasikan ideologi dan prinsipnya di parlemen lebih terbuka? Ataukah slogan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat telah membingungkan rakyat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rujukan:&lt;br /&gt;Yan Pranadya Puspa, Kamus Hukum, Aneka Ilmu, Semarang. Cetakan pertama 1977. hlm. 295.&lt;br /&gt;Saifullah Yusuf dan Fachruddin Salim, Pergulatan Indonesia Membangun Demokrasi, Penerbit PP Gerakan Pemuda Ansor, cetakan pertama, 2000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1413456690919827167-3150736443715184837?l=www.akibasret.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Akibasret/~4/JroQ4S6-034" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.akibasret.co.cc/feeds/3150736443715184837/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.akibasret.co.cc/2009/03/haruskah-pemilu_29.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1413456690919827167/posts/default/3150736443715184837?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1413456690919827167/posts/default/3150736443715184837?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Akibasret/~3/JroQ4S6-034/haruskah-pemilu_29.html" title="Haruskah Pemilu?" /><author><name>alfa RS</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/_Omd-GgEPNxg/SbWSM9w55XI/AAAAAAAAABc/S2LB9inkVXQ/S220/Aku.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.akibasret.co.cc/2009/03/haruskah-pemilu_29.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUICQX0ycCp7ImA9WxVUGUs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1413456690919827167.post-1121426904175281288</id><published>2009-03-25T14:51:00.000+07:00</published><updated>2009-03-25T14:52:40.398+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-03-25T14:52:40.398+07:00</app:edited><title>Konsekuensi Pilihan</title><content type="html">Oleh: Alfa RS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Imah, tak ada yang saya salahkan...,” suaranya mengambang, seakan datang dari negeri yang jauh. “Kecuali diri saya sendiri!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terdiam, tenang mendengarkan. Sementara mata kami melanglang buana, melahap semua keindahan ciptaan Ilahi yang terpampang hingga batas cakrawala. Punggung bukit yang berhias kerlap-kerlip lampu berwarna jingga, kemerahan, kebiruan, oranye dan kuning itu membawa sensasi luar biasa bagi pupil mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kondisi yang harus saya jalani saat ini, adalah konsekuensi dari pilihan hidup saya sendiri,” suaranya terdengar lagi. Aku masih khusyuk memperhatikan, sambil menikmati udara senja pegunungan yang menyelusup ke seluruh pori-poriku. Sejuk menyegarkan. Kawasan puncak menjelang malam, indah nian.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ketika saya baru lulus kuliah dulu, sebenarnya saya sudah ditawari untuk menikah. Namun waktu itu tegas-tegas saya menolak dengan alasan saya mau bekerja dulu, mencoba mempersembahkan sedikit bakti bagi orang tua, meskipun saya tahu itu semua tak akan pernah dapat membalas jasa mereka. Juga karena saya merasa masih ada dalam diri saya yang harus dibenahi. Harus saya akui, saya adalah tipe wanita dengan jiwa yang selalu gelisah. Rasanya saat itu, saya belum siap untuk berumahtangga, karena masih begitu banyak yang ingin saya lakukan, bagi diri sendiri dan bagi orang lain,” sahabatku tersenyum kecil, matanya tak lepas dari kejauhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dua tahun kemudian, kembali datang tawaran menikah. Kebetulan saat itu saya memang sudah mulai berpikir untuk menikah. Dari banyak tawaran yang datang, yang paling serius adalah seorang pemuda biasa, tetangga kampung. Sementara saat itu saya adalah seorang gadis muda dengan semangat keislaman yang sangat tinggi. Saya mensyaratkan dia harus mau ngaji dulu sebelum menikah dengan saya. Dia tak sanggup. ‘Aku mencari istri, bukan mencari orang yang menyuruhku ngaji,’ kata pemuda itu. Sedang saya tetap berkeras pada syarat yang saya minta. Maka proses pun berhenti di langkah itu dan hidup pun kembali berjalan pada pilihan masing-masing. Perasaan saya biasa saja saat itu. Waktu itu saya berpikir, toh saya masih sangat muda, dua puluh empat tahun. Jadi, enjoy aja,” temanku menarik napas ringan sebelum melanjutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menjelang usia dua puluh lima, datang lamaran lagi dari seorang laki-laki yang cukup saya kenal. Kali ini saya suka. Dia adalah pemuda tipe ideal saya. Maka serta merta saya terima. Tapi ternyata proses ini pun gagal lagi pada akhirnya. Orang tuanya menginginkan dia menikah dengan orang yang sesuku,” suaranya bergetar. Ada jeda kesedihan yang tiba-tiba menyeruak diantara kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Saya sangat terluka dengan penolakan ini, hingga memilih melarikan diri pada aktifitas sosial yang sangat banyak. Mendampingi anak jalanan, mengadakan berbagai bakti sosial, dan ikut menjadi relawan dalam penanganan bencana-bencana di kota saya. Saya nyaris tak pernah di rumah. Karena selain aktifitas-aktifitas tadi, saya juga tetap bekerja. Bahkan kemudian saya sangat menikmati aktifitas yang mulanya pelarian ini. Saya seperti menemukan apa yang pernah saya inginkan selama ini.”&lt;br /&gt;Kulihat bara semangat itu pada sorot matanya, pada wajah yang ditegakkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di tengah gelora semangat itu, menjelang usiaku dua puluh enam, datang lagi sebuah lamaran. Kali ini dari seorang pemuda shalih yang baik, kalem dan pendiam, meskipun dia bukan aktifis. Seseorang yang belum pernah saya kenal sebelumnya. Saya yang tak mau kehilangan aktifitas yang sedang saya jalani, kembali mengajukan syarat, agar diijinkan tetap beraktifitas seperti semula. Sebenarnya dia tak menghalangi sepenuhnya. Dia hanya mengatakan, boleh saja beraktifitas, tetapi sebagai seorang istri harus mendahulukan kepentingan keluarga dan minta izin suami jika akan keluar rumah. Pernyataan itu saya tangkap sebagai 'larangan' waktu itu. Barangkali karena saya memimpikan mendapat pasangan sesama aktifis, seperti maraknya beberapa teman organisasi yang menikah dengan kalangan sendiri. Hhhh..., ” kali ini temanku menarik napas panjang. “Saya menolaknya!” Suaranya kembali tergetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Inilah proses yang paling saya sesali, hingga saat ini. Saya merasa bersalah sekali. Saya merasa sangat kekanak-kanakan. Sebenarnya apa sih yang saya inginkan? Dulu ketika baru lulus, saya beralasan hendak bekerja dulu dan beraktifitas. Itu sudah saya jalani semua. Ketika ada laki-laki biasa melamar, saya bilang saya ingin mendapat seorang ikhwan, dan kini Allah pun menghadirkannya. Sekarang? Saya menginginkan menikah dengan sesama aktifis yang benar-benar bisa memahami aktifitas publik saya. Sepertinya saya tidak bersyukur dan terus menerus mencari yang seperti saya inginkan saat itu.” Dalam temaram lampu taman, aku dapat melihat kaca di bola matanya. Kugenggam tangannya, memberi kekuatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kesadaran bahwa pilihan dan sikap saya adalah kekeliruan, muncul tak lama kemudian. Hanya dua bulan setelah dia melamar. Kepada comblang yang mempertemukan kami, saya mengatakan ingin mencoba memperbaiki keputusan yang telah lalu. Namun semua sudah terlambat. Laki-laki itu tak lama lagi akan menikah.” Kaca itu pecah, menjadi butiran-butiran kristal yang mengaliri pipinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rasa bersalah itu pun kian mendera perasaan. Saya mencoba menebus rasa bersalah itu dengan bersilaturahmi kepada sebanyak mungkin orang. Kepada kaum kerabat yang jarang saya kunjungi, kepada teman-teman lama yang mulai terlupakan karena aktifitas-aktifitas baru saya. Juga kepada guru-guru masa kecil. Saya tak tahu mengapa itu cara yang saya lakukan untuk menebus rasa bersalah, yang pasti saya hanya berharap, silaturahmi-silaturahmi itu dapat menjadi kafarat.” Sahabat cantikku tersenyum lagi. Ada kelegaan tergambar di wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Peristiwa itu membuat saya menjadi lebih dewasa. Saya mulai bersungguh-sungguh mencari pasangan hidup. Saya menghargai setiap tawaran yang datang. Bahkan saya juga minta tolong pada teman-teman untuk mencarikan.” Wajahnya meredup lagi. “Saya tak pernah menolak lagi siapapun yang diajukan kepada saya, baik oleh guru ngaji, lewat teman-teman. Ataupun calon dari orang tua. Namun yang terjadi kemudian adalah bagai karma! Kali ini giliran saya yang terus menerus ditolak. Telah belasan orang dalam tiga tahun terakhir sejak saya menolak lamaran pemuda shalih itu. Bahkan termasuk teman-teman dekat saya sendiri, mereka menolak dengan halus tawaran saya untuk menikah dengan mereka.” Suaranya begitu lirih, tercekat menahan tangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akhirnya saya merasakan juga sakitnya ditolak. Berkali-kali!” Perempuan itu kini tergugu. Lama. Dia menelungkupkan wajahnya di bangku taman. Aku tak dapat berbuat apa-apa, kecuali mengelus kepalanya yang terbungkus jilbab biru. Waktu terus berlalu dalam keheningan. Hanya isak tangis tertahannya yang terdengar, ditingkahi lolong anjing di kejauhan. Aku tak menghitung berapa lama dia menuntaskan gundahnya sampai kemudian dia bangkit, menuju serumpun mawar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin orang akan mengatakan, itulah akibat dari menolak-nolak orang. Jadi perawan tua. Itu adalah konsekuensi yang tak hendak saya ingkari. Saya harus menerima predikat itu. Karena memang demikianlah adanya. Dan kini saya mendapatkan sudut pandang yang lain: bisa jadi sikap-sikap saya dulu, dan pilihan-pilihan itu memang sebuah kesalahan.” Dia menghela napas. Tegar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi ada satu hal yang saya syukuri Mah, Semua peristiwa itu menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi saya. Sungguh-sungguh berharga. Kini saya tahu seperti apa perihnya ditolak. Kini saya sangat paham, manusia hanya dapat berencana, sedang Allah lah yang Maha Penentu. Kini saya mengerti, sangat mengerti bahwa Allah tahu yang terbaik untuk kita. Apa yang diberikan-Nya adalah selalu yang kita butuhkan, meski mungkin bukan yang kita inginkan. Kini saya juga jadi lebih dapat menghargai setiap orang. Bahwa siapapun dia, setiap orang selalu memiliki kelebihan dan kekurangan. Penghargaan kita yang tulus padanya akan berbalas perhatian pula.” Wanita itu tersenyum. Kedamaian mengaura pada dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya tak menyesali apa yang telah terjadi di masa lalu. Saya mungkin kehilangan kesempatan-kesempatan itu, namun saya tidak kehilangan hikmah dan pelajarannya. Barangkali memang harus demikian pergolakan jiwa dan perjalanan batin saya. Barangkali memang harus dengan cara itu saya dapat menjadi lebih matang. Kalau waktu itu saya menikah dengan jiwa yang seperti itu, mungkin juga tidak baik hasilnya. Saya mungkin menikah dengan kondisi terpaksa, dan saya tak tahu apa yang akan terjadi pada rumah tangga seperti itu. Mungkin saya tak akan pernah mendapat hikmah-hikmah ini. Saya bahagia sekarang karena saya dapat merasakan ketulusan itu. Kini saya sangat siap untuk menerima pasangan hidup, siapapun dia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan! Bukan, Mah. Sama sekali bukan berarti saya banting harga karena saya sudah 30 tahun, hingga segala idealita yang dulu digugurkan,” dia buru-buru menambahkan. Seakan-akan takut kalimatnya akan langsung dipersepsikan lain olehku. Aku mengerti karena kebanyakan anggapan masyarakat seperti itu terhadap para wanita lajang yang sudah beranjak lewat dari usia dua puluhan. Mereka seakan berlomba mengobral dirinya agar dapat segera menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tetapi karena pengalaman telah mengajarkan saya banyak hal. Tetapi karena sekarang saya tidak lagi emosional. Bukan karena kehilangan idealita. Dan itu membuat saya bisa menerima siapa saja sekarang, karena saya kini mengerti arti sebuah ketulusan. Hingga saya dapat menghargai setiap orang, lebih dan kurangnya. Juga, saya pun tahu dan berlapang dada, jika Allah masih menimpakan akibat dari sikap-sikap saya di masa lalu. Semoga kesadaran ini akan menjadi kafarat dosa-dosa saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Imah, kamu masih muda. Saya berharap kamu bisa mengambil pelajaran dari apa yang telah menimpa saya.” Sahabat baikku mengakhiri kisahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Insya Allah mbak, terima kasih. Yang sabar ya, mungkin Allah sedang mempersiapkan calon terbaik buat mbak,” ujarku menenangkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Amin...Makasih juga ya Mah, malam ini kamu mau menemani saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu kini menatapku lembut. Wajahnya bercahaya tertimpa sinar lampu taman. Dia tersenyum, dengan senyuman bagai rembulan. Aku membalas senyumnya. Sementara angin malam makin menggigit tulang. Bulan sepasi yang menggantung di langit menandakan bahwa tengah malam telah jauh berlalu. Pemandangan puncak diwaktu malam makin indah, namun kini tiba saatnya kami harus beristirahat. Hidup harus terus berjalan, dan kami tak boleh terlampau sering menoleh ke belakang, kecuali sekedar mengambil pelajaran. Bukan untuk bersedih atas semua yang telah lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergandengan tangan, kami bangkit dan melangkah masuk rumah. Sekali lagi lolong anjing terdengar di kejauhan. Namun itu tak berarti apa-apa. Yang kami punya sekarang tekat, untuk terus memperbaiki diri dan jiwa. Orang muslim yang paling baik bukanlah mereka yang tak pernah berbuat kesalahan. Namun mereka yang tiap kali berbuat kesalahan dia sadar dan berusaha bertaubat, kemudian memperbaikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1413456690919827167-1121426904175281288?l=www.akibasret.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Akibasret/~4/lNYqa_Gtr5c" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.akibasret.co.cc/feeds/1121426904175281288/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.akibasret.co.cc/2009/03/konsekuensi-pilihan_25.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1413456690919827167/posts/default/1121426904175281288?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1413456690919827167/posts/default/1121426904175281288?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Akibasret/~3/lNYqa_Gtr5c/konsekuensi-pilihan_25.html" title="Konsekuensi Pilihan" /><author><name>alfa RS</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/_Omd-GgEPNxg/SbWSM9w55XI/AAAAAAAAABc/S2LB9inkVXQ/S220/Aku.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.akibasret.co.cc/2009/03/konsekuensi-pilihan_25.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUQCSXg7eSp7ImA9WxVUGUs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1413456690919827167.post-7611747404236122044</id><published>2009-03-25T14:48:00.000+07:00</published><updated>2009-03-25T14:49:28.601+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-03-25T14:49:28.601+07:00</app:edited><title>PKL, Kerikil Padang Pasir</title><content type="html">Oleh; alfa RS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seabad sudah Negara kita bangkit, katanya. Pancasila, banyak yang membicarakannya. Kemanusiaan yang adil dan beradab, masih dihafal menjadi sila kedua. Bukan itu saja, pada tanggal 13 Agustus 2003, pemerintah menetapkan setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya. Lalu pada BAB XIV Pasal 34 ayat 1, pemerintah menjamin kehidupan para fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh Negara. Namun, sudahkah semua konsep itu terlaksana setelah sekian lama kita merdeka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara tentang kemiskinan, tentu kita tidak bisa lepas dari yang namanya Pedagang Kaki Lima (PKL), yang akhir-akhir ini semakin dikambinghitamkan oleh Pemerintah Kota (Pemkot), khususnya di pulau Jawa. PKL dituduh menjadi penyebab kebobrokan tatanan kota, perusak keindahan dan ketertiban kota. Padahal, apabila kita mau mengaca pada daerah-daerah yang menjadi objek pariwisata, kehadiran PKL justru sangat dibutuhkan untuk memberikan kepuasan pada para wisatawan. Dengan adanya mereka di sekitar tempat wisata, secara tidak langsung, merekalah yang memperkenalkan keindonesiaan kita dengan beragam bentuk pakaian daerah ataupun juga masakan misalnya.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Lebih parahnya lagi, Pemkot seakan-akan buta akan segala hal tentang orang-orang miskin, yang dalam undang-undang sudah jelas dilindungi. Terbukti apabila ada penertiban, aparat seolah-olah tidak punya jiwa kemanusiaan. Mereka dengan semena-mena mengangkut bahkan menghancurkan satu-satunya harapan fakir miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar memang, apabila PKL melanggar undang-undang NO 38 tahun 2004 tentang fungsi jalan. Namun, tidak adakah cara yang lebih manusiawi, yang lebih menegakkan hak asasi manusia (HAM) yang selama ini ramai diperbincangkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait masalah PKL, pemerintah pusat semestinya turun tangan, jangan hanya mengelu-elukan fakir miskin dalam undang-undang, yang dijaminlah, dilindungi, dipelihara dan, entah besok apa lagi yang mereka sematkan dalam undang-undang terkait fakir dan miskin. Tapi kanyataannya mana? Solusi relokasi, kami kira kurang tepat. Mengapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, kita harus sadar, para PKL hanya mempunyai modal pas-pasan dan penghasilan yang tidak seberapa. Kita harus mengakui bahwa penghasilan yang minim itu mereka dapatkan setelah mereka mencoba dari tempat satu ke tempat yang lainnya. Kalau ada tempat yang lebih menjanjikan, tentu mereka akan pindah dengan sendirinya. Siapasih yang tidak mau berpenghasilan banyak, mampu menutupi kehidupan keluarga, membahagiankan istri dan anak-anaknya? Orang yang berpendidikan saja, seperti bapak-bapak menteri kita, yang sudah dapat jatah tiap bulannya, masih banyak yang goyang sana goyang sini mencari tambahan materi, seperti kasus-kasus korupsi yang tidak pernah sepi. Iya kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, kitapun harus tahu bahwa di kota bukan hanya ada orang-orang berdasi. Walau ada sebagian orang berdasi yang tidak gengsi nongkrong di lapak-lapak PKL, tapi kebanyakan orang-orang yang tidak berdasilah yang menjadi langganan PKL. Dari kenyataan itu, Pemkot mestinya perlu mempertimbangkan apabila nanti para pedagang kaki lima itu dipindahkan, terus orang-orang miskinnya mau belanja dimana? Ke tempat relokasi? Kayaknya tidak mungkin. Wong kalau di PKL saja kadang-kadang ngutang dulu, lalu dari mana uang untuk ongkos ketempat relokasinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut hemat Alfa, pemerintah pusat harus memberikan aturan tegas kepada pemerintah kota agar mereka tidak lagi main kasar pada para PKL. Mereka mengerti akan maksud Pemkot mengalihkan tempat mereka berjualan. Tapi, mereka juga kecewa kepada Pemkot yang tidak mau mengerti kebutuhan mereka. Lahan yang mereka tempati sekarang adalah satu-satunya lahan mereka mengais rezeqi, tempat anak-anak mereka menaruh asa dari bangku sekolah. Kalau mereka sampai dibrangus, akan lebih banyak lagi anak-anak yang berkeliaran dijalan raya. Kalau sudah begitu, mana bentuk pemeliharaan pemerintah terhadap kaum bawah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut hematku, solusi yang selama ini diterapkan sudah waktunya dirubah. Karena biar bagaimanapun kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah. Sikap saling pengertian antara Pemkot dan para PKL lah yang sebenarnya justru akan menambah ketertiban kota. Mereka tidak perlu diusir, yang penting bagaimana lapak-lapak mereka tidak mengganggu jalan raya, bisa diupayakan dengan melakukan pelebaran dan bagaimana pula mereka menjaga kebersihan kota. Hal ini bisa dengan memberlakukan aturan bahwa, setiap PKL yang tidak buang sampah pada tempatnya maka lapaknya akan langsung dibrangus. Mungkin dengan itu semua akan terciptalah komunitas yang saling menguntungkan, masyarakat yang rapih, adil dan makmur tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana basic penulis yang belajar di pesantren, kami hanya mau mengingatkan pemerintah sekali lagi, bahwa yang namanya kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah. Malah, kekerasan yang dilakukan oleh aparat pada para pedagang kaki lima akan menjadi sebuah bomerang bagi pejabat yang berwenang. Karena dalam hal ini mereka didzolimi. Dan orang yang didzolimi itu segala doanya akan dikabulkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau, pernahkah kita lihat PKL yang digusur malah mendoakan pejabat biar sukses? Saya kira tidak ada. Yang ada justru makian, hinaah dan mendoakan pejabat yang terkait akan segera lengser. Bila sudah begitu, sanggupkah para wakil rakyat dikepengurusan kota menanggalkan jabatannya terlalu cepat? Pemerintah juga harus tahu diri, hal yang menjadikan bobroknya sebuah kota bukan hanya para PKL. Para anggota harus sadar bahwa sampai saat ini moral para anggota dewanpun belum tertata rapi, bobroknya masih menempel dimana-mana. Jadi, kasihanilah orang bawah, jangan tambah kesusahan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"permintaannya orang yang didzalimi itu ampuh (mudah terkabul) walaupun ia itu bukanlah ahli ibadah, karena masalah ibadah adalah urusan dia dan Tuhannya" seperti itulah kira-kira pesan Muhammad kepada ummatnya agar tidak mudah menyakiti orang lain. Oleh karenanya pikirkan kembali jika PKL benar-benar mau ditertibkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1413456690919827167-7611747404236122044?l=www.akibasret.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Akibasret/~4/dMX83fIJGrg" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.akibasret.co.cc/feeds/7611747404236122044/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.akibasret.co.cc/2009/03/pkl-kerikil-padang-pasir_25.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1413456690919827167/posts/default/7611747404236122044?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1413456690919827167/posts/default/7611747404236122044?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Akibasret/~3/dMX83fIJGrg/pkl-kerikil-padang-pasir_25.html" title="PKL, Kerikil Padang Pasir" /><author><name>alfa RS</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/_Omd-GgEPNxg/SbWSM9w55XI/AAAAAAAAABc/S2LB9inkVXQ/S220/Aku.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.akibasret.co.cc/2009/03/pkl-kerikil-padang-pasir_25.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUUNSXkyfCp7ImA9WxVUGUs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1413456690919827167.post-3696490200676741274</id><published>2009-03-25T14:47:00.000+07:00</published><updated>2009-03-25T14:48:18.794+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-03-25T14:48:18.794+07:00</app:edited><title>Aku dan Siapa</title><content type="html">alfa RS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku, kamu dan dia bukanlah mereka&lt;br /&gt;Tentu.&lt;br /&gt;Merekapun bukan kita.&lt;br /&gt;Ya.&lt;br /&gt;Lantas…&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Siapa kita ?&lt;br /&gt;Mereka bisa kawan.&lt;br /&gt;Memang.&lt;br /&gt;Kitapun harus bisa!&lt;br /&gt;Itulah aku, dia dan kamu.&lt;br /&gt;Semoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1413456690919827167-3696490200676741274?l=www.akibasret.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Akibasret/~4/h6zVbZR6qIM" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.akibasret.co.cc/feeds/3696490200676741274/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.akibasret.co.cc/2009/03/aku-dan-siapa_25.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1413456690919827167/posts/default/3696490200676741274?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1413456690919827167/posts/default/3696490200676741274?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Akibasret/~3/h6zVbZR6qIM/aku-dan-siapa_25.html" title="Aku dan Siapa" /><author><name>alfa RS</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/_Omd-GgEPNxg/SbWSM9w55XI/AAAAAAAAABc/S2LB9inkVXQ/S220/Aku.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.akibasret.co.cc/2009/03/aku-dan-siapa_25.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUUFQnY-eCp7ImA9WxVUGUs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1413456690919827167.post-3525076490385849539</id><published>2009-03-25T14:46:00.001+07:00</published><updated>2009-03-25T14:46:53.850+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-03-25T14:46:53.850+07:00</app:edited><title>Kopiah, Tipuan Yang di Suka</title><content type="html">Oleh: alfa RS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zaman sekarang sebuah kemasan, merek, bahasa pesantrennya bentuk dhahir, dianggap jauh lebih penting ketimbang sebuah isi. Perkembangan zaman telah berhasil menanamkan kemasan menjadi sesutau yang penting, mengabaikan kwalitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Ta'lim al-Muta'alim, buah pena Syeikh Zarnuji yang menurut sebagian kalangan sudah tidak relevan, ada penekakan untuk selalu memakai tutup kepala dalam setiap aktifitas. Kemudian oleh pesantren hal itu tidak diterjemahkan dalam bentuk serban atau tutup kepala lainnya, tetapi diwujudkan dalam bentuk kopiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pandangan mereka, memakai kopiah merupakan bentuk kewiraian atau kezuhudan seseorang, paling tidak sebagai bentuk kelaziman. Oleh karenanya, seorang santri tidak diperbolehkan melepas peci dalam kesehariannya. Santri yang berani menanggalkan kopiah diidentikkan dengan santri badung yang sering melangar tatakrama dan aturan.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tradisi ini menjalar ke masyarakat, dengan berkopiah seseorang dianggap memiliki nilai plus, kurang utama bila menanggalkan kopiah saat menunaikan shalat, dan lain sebagainya, termasuk ketika sekarang banyak orang mencari simpati untuk meraih suara. Namun ironis, akibat penekanannya atas bentuk lahir, pemahaman akan tradisi pesantrenpun menjadi keliru. Banyak masyarakat memakan mentah-mentah tradisi ini, contoh kecil ketika mereka salah kaprah memakai kopiah dalam shalat, terbukti masih banyak yang malah menutup bagian yang mestinya terbuka waktu melakukan sujud, tidak sedikit yang keliru memakai kopiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tutup kepala yang terbuat dari beludru warna gelap dengan ketinggian antara 6-12 cm ini, ada yang mengatakan, bila dipandang dari segi bentuk merupakan modifikasi antara torbus Turki dengan peci India, ada pula yang menyatakan bahwa kopiah memang asli kreasi nusantara. Penutup kepala, entah apakah bentuknya sama seperti kopiah-kopiah Indonesia sekarang, memang telah ada sejak dulu kala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, menurut sejarah pada awal pergerakan Nasional 1908-an, kebanyakan para aktivis masih memakai daster dan tutup kepala blangkon, yang lebih dekat ke tradisi priyayi dan aristokrat. Seiring meluasnya gerakan sama rata sama rasa dan penolakan terhadap feodalisme -paham dan pola sikap yang mengagung-agungkan pangkat dan jabatan tanpa mengagungkan prestasi kerjanya- termasuk dalam berpakaian dan berbahasa, tokoh idola panutan kaum pergerakan waktu itu, Tjokroaminoto yang sering berkopiah, dengan sendirinya kopiah menjalar dikalangan aktifis, termasuk muridnya, Soekarno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu kopiah yang semula merupakan tradisi pesantren dijadikan sebagai songkok nasional, identitas ke Indonesiaan, yang dipelopori kaum pergerakan. Ada yang bilang, berkat pesona seorang Soekarno, para aktivis dan priyayi waktu itu mulai menggunakan kopiah. Disamping menjadi simbol Islamisme, kopiah waktu itu juga sebagai simbol patriotisme dan nasionalisme, yang mampu membedakan mana priyayi pro rakyat dan priyayi kolaborator Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Muktamar NU ke 10 di Banjarmasin, saat Nahdlatul Ulama (NU) mulai sangat aktif melibatkan diri untuk merespon perkembangan dunia luar, baik nasional maupun internasional. NU mengakui Nasioalisme Hindia Belanda dan mulai memperbolehkan warganya memakai pantaloon (celana panjang), namun identitas kesantrian harus tetap terlihat. Salah satu bentuknya adalah memakai kopiah, sehingga masih bisa dibedakan dengan kolonial Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kini, kopiah bukan hanya identifikasi bagi seorang muslim, pembeda dengan penjajah, patriotisme, ataupun simbol nasionalisme. Lihat saja upacara–upacara pelantikan pejabat Negara, meskipun dia bukan seorang muslim, tidak sedikit yang memakai penutup berbahan beludru ini. Sering pula kita saksikan, bahkan kebanyakan, para perusak Negara memakai kopiah ketika tersudut di depan meja hijau. Berubah fungsikah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahan kopiah seperti di atas mestinya ‘menghina’ kecerdasan kita sebagai muslim, khususnya kalangan pesantren. Bagaimana mungkin cuma dengan modal kopiah, orang sudah dipercaya ‘pindah agama’. Segampang itukah? Bagaimana bisa ketaatan beragama hanya muncul sebagai penutup kepala, sebuah keputusan yang perlu dipertanyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, mari kita hargai keputusan ini, sebab kita memang masyarakat yang gampang ditipu. Apalagi bila tipuan itu memuat unsur-unsur yang kita suka, simbol dan atribut, kopiah misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu besar minat kita pada atribut, keindahan kemasan, hingga mendorong orang dengan mudahnya merubah kepribadian. Jika ia telah berdandan sedemikian rupa, merasa telah menjadi orang bertakwa. Untuk menjadi seorang nasionalis, kita cukup hanya dengan mengganti nama saja dan kalau mau jadi seniman, orang cukup bermodal memanjangkan rambut dan mengacak-acak dandanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, zaman telah begini maju, tapi kita masih dengan mudahnya tertipu dengan ‘merek’. Bila kita tidak segera berbenah, jangan heran bila ke depan makin banyak kita temui para penipu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mewaspadai hal itu, mulai sekarang kita harus menekan ambisi yang kelewatan atas sebuah simbol dan atribut. Perlu juga ada semacan ‘penelaahan kembali’ oleh setiap muslim. Bagi kalangan pesantren, tentu penelaahan tentang perkopiahan juga perlu ada penekanan, karena ketika imej sebuah kopiah telah tercoreng, secara tidak langsung pesantrenpun terkena imbasnya. Dengan itu, semoga saja penipu-penipu handal sekarang adalah generasi terakhir mereka. Semoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#Buhyatul Mustarsyidin, Dar al Fikr, hal. 143-144.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1413456690919827167-3525076490385849539?l=www.akibasret.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Akibasret/~4/grGMtbi-Vsg" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.akibasret.co.cc/feeds/3525076490385849539/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.akibasret.co.cc/2009/03/kopiah-tipuan-yang-di-suka.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1413456690919827167/posts/default/3525076490385849539?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1413456690919827167/posts/default/3525076490385849539?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Akibasret/~3/grGMtbi-Vsg/kopiah-tipuan-yang-di-suka.html" title="Kopiah, Tipuan Yang di Suka" /><author><name>alfa RS</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/_Omd-GgEPNxg/SbWSM9w55XI/AAAAAAAAABc/S2LB9inkVXQ/S220/Aku.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.akibasret.co.cc/2009/03/kopiah-tipuan-yang-di-suka.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUcBQ3c6eCp7ImA9WxVUGUs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1413456690919827167.post-3639983677365872960</id><published>2009-03-25T14:43:00.000+07:00</published><updated>2009-03-25T14:44:12.910+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-03-25T14:44:12.910+07:00</app:edited><title>"Embuh"</title><content type="html">alfa RS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Garing dan kering&lt;br /&gt;Memang itu yang tersisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kacamata minus-Mu telah ku pakai bertahun-tahun&lt;br /&gt;Namun…&lt;br /&gt;Sungguh ampunku hanya pada-Mu&lt;br /&gt;Hamba masih buta gajah sekecil itu.&lt;br /&gt;Akankah aku menanti sampai semuanya retak&lt;br /&gt;Berderai&lt;br /&gt;Lalu hancur berkeping-keping?&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak!&lt;br /&gt;Gusti…&lt;br /&gt;Lingkarang itu harus berguna&lt;br /&gt;Bagiku dan mereka.&lt;br /&gt;Mereka yang tak mampu untuk bicara&lt;br /&gt;Raih kami sebelum topannya menghempas&lt;br /&gt;Memberai dalam sudut samudra.&lt;br /&gt;Amin…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah Tua, November 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1413456690919827167-3639983677365872960?l=www.akibasret.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Akibasret/~4/vUNqadjubtM" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.akibasret.co.cc/feeds/3639983677365872960/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.akibasret.co.cc/2009/03/embuh_25.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1413456690919827167/posts/default/3639983677365872960?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1413456690919827167/posts/default/3639983677365872960?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Akibasret/~3/vUNqadjubtM/embuh_25.html" title="&quot;Embuh&quot;" /><author><name>alfa RS</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/_Omd-GgEPNxg/SbWSM9w55XI/AAAAAAAAABc/S2LB9inkVXQ/S220/Aku.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.akibasret.co.cc/2009/03/embuh_25.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DE4BSX8zfSp7ImA9WxVUGUs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1413456690919827167.post-4392643469058375196</id><published>2009-03-25T14:41:00.000+07:00</published><updated>2009-03-25T14:42:38.185+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-03-25T14:42:38.185+07:00</app:edited><title>Pacaran Boleh Nda' Ya</title><content type="html">Oleh: Alfa RS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini kita menganggap bahwa pacaran itu adalah metode untuk melakukan pendekatan untuk mengenal lebih dekat. Namun kenyataannya tujuan itu jarang yang tercapai. Karena umumnya alih-alih melakukan pendekatan, yang terjadi justru melakukan sekian banyak bentuk ketidakadilan, kalau tidak dikatakan kemaksiatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buktinya, berapa banyak pasangan muda yang sempat pacaran bertahun-tahun, namun begitu mereka menikah langsung cerai dan hancur berantakan rumah tangganya. Juga meningkatnya kasus hamil diluar nikah, yang kebanyakan akibat ulah sang pacar.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pacaran sudah menjadi kelaziman ditengah masyarakat, realita ditengah masyarakat sudah mengenal persis aktifitas pacaran. Pacaran yang dikenal masyarakat adalah pengertian yang menurut mereka biasa, sah-sah saja. Entah pengertian dari mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini tidak akan membicarakan tentang haram dan halal. Semuanya sudah habis dibahas dalam pengajian. Dari peringatan Islam akan larangan menyepi, berduaan, antara pria dan wanita yang bukan mahram, karena yang ketiganya adalah setan, sampai penafsiran Imam Qurthubi pada firman Allah yang berkenaan dengan isteri-isteri baginda Nabi, Q.S. al-Ahzab ayat 53, yang intinya untuk meminimalisir timbulnya perasaan dari laki-laki pada perempuan ataupun sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah apa sebenarnya istilah pacaran sebenarnya, namun umumnya yang namanya pacaran itu tidak lain adalah hubungan lain jenis yang sifatnya terpaksa. Mengapa terpaksa. Karena sebagai makhluk yang baru, kita tentu merindukan sebuah penyejuk jiwa, penentu arah, sesuatu yang akan menuntun kita menyikap hal baru tadi. Dan pacaran kita anggap mampu mengatasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sekian banyak penelitian, umumnya mereka menyesal. Yang pacarannya baik-baik saja menyesal karena ada yang tidak pacaran tapi tetap bisa sukses seperti dia. Ada semacam rasa bersalah ketika sudah berumah tangga, perasaan kurang memberikan yang terbaik bagi pasangannya. Sedang yang dikecewakan sang pacar menyesal mengapa dulu dia mau pacaran. Apalagi yang sampai kebablasan. Alfa yakin mereka lebih merasa terpaksa, terpaksa akan hal yang tidak mereka mengerti sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dus, hampir bisa dikatakan bahwa pacaran itu tidak lain adalah hal negatif, kegiatan yang sengaja kita ada-adakan kalau tidak mau dikatakan larangan semua agama. Kalau toh ada seseorang yang menjadikan si dia sebagai motifasinya, yakinlah bahwa suatu saat nanti dia akan tersadar bahwa ada sebuah inspirasi yang lebih dari dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1413456690919827167-4392643469058375196?l=www.akibasret.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Akibasret/~4/dwFaBhLgeRM" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.akibasret.co.cc/feeds/4392643469058375196/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.akibasret.co.cc/2009/03/pacaran-boleh-nda-ya.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1413456690919827167/posts/default/4392643469058375196?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1413456690919827167/posts/default/4392643469058375196?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Akibasret/~3/dwFaBhLgeRM/pacaran-boleh-nda-ya.html" title="Pacaran Boleh Nda' Ya" /><author><name>alfa RS</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/_Omd-GgEPNxg/SbWSM9w55XI/AAAAAAAAABc/S2LB9inkVXQ/S220/Aku.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.akibasret.co.cc/2009/03/pacaran-boleh-nda-ya.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEEARHk-eCp7ImA9WxVUGUs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1413456690919827167.post-3147834244627295133</id><published>2009-03-25T14:36:00.000+07:00</published><updated>2009-03-25T14:37:25.750+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-03-25T14:37:25.750+07:00</app:edited><title>Untuk Yang di Luar Kota</title><content type="html">Oleh: Alfa RS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun baru telah dimulai, gundah gelisah kembali merasuk dada, pening, penat, pusing memenuhi tengkorak kita. ‘Budaya aneh’ dan ‘jadi-jadian’ semakin menjelma dalam aktivitas kita. Sudah siapkah, mampukah, sanggupkah kita menjalaninya?&lt;br /&gt;Genderang perang telah bergemuruh di sudut-sudut kehidupan, memekik kala pagi dan petang, meraung di bawah teriknya matahari dan sendunya rembulan. Perang yang sebenarnya. Perang yang mengajak kita raup ribuan kenikmatan, walau kadang kita tidak sadar. Perang antara jiwa dan raga. Perang antara nafsu dan hati kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tentu masih ingat dengan jelas ketika sanak famili, teman, kerabat-kerabat kita melambaikan salam perpisahan di ujung desa, terminal, stasiun, atau bahkan bandara. Betapa kita tahu tatapan harapan mereka tentang kita, harapan ketika kita pulang. Harapan setiap orang tua pada anaknya, harapan anak pada orang tuanya. Kita masih sadar apa yang kita emban, mengerti yang kita cari, ingat akan asa kita, visi, misi kita berkelana meninggalkan kampung tercinta. Namun… entahlah.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang pasti berkeinginan berubah untuk lebih baik, jaya, berprilaku baik, namun dalam praktiknya sedikit sekali yang mampu, contoh, para pelajar. Tentu kita mau diberi kepandaian, pergaulannya baik dan giat berkarya. Namun faktanya, berapa persen pelajar yang nggak hobi sama belajar, malas berdiskusi, bahkan lebih parah lagi ada yang sukanya hanya nongkrong, meninggalkan pelajaran sekolah. Coba kita renungkan, benarkah kalau kita seperti itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum pelajar, yang katanya penampuk masa depan bangsa, pengganti para tokoh ternama, kandidat figur bangsa, golongan yang mendahulukan kepentingan bersama, mestinya mempunyai nilai plus mulai dari sekarang. Baik itu masalah perut, persoalan dagu ataupun ‘lutut’. Bukan sebaliknya, mengisi perut dengan yang bukan haknya. Meletakkan dagu bukan pada tempatnya, melangkahkan kaki tak tentu arah. Masa pelajar terlibat pencurian, apalagi berbuat asusila, keterlaluan.&lt;br /&gt;Teman, ini abad modern, era yang menuntut kita agresif, cekatan dalam segala bidang. Terutama masalah bekal kita di hari esok, pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, kekurangan kita adalah, seperti kata mas Aristoteles bahwa pengasahan otak tanpa adanya pengarahan hati tidak ada artinya sebuah edukasi. Kita harus sadar akan pentingnya sebuah hati. Kalau saya pernah mendengar kata pak Ustad, “baginda Nabi mengutarakan tidak ada artinya segala sesuatu tanpa didasari peranan hati, sebuah niat. Dalam diri kita ada se-onggok daging yang apabila ia baik kita pun baik, namun kalau ia rusak kita pun sama, rusak.” Itu ingatan elpe. Sekarang, masihkah kita sadar kita ini berhati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai yang sedang dinanti keluarga, mumpung masih awal tahun, selagi masih ada waktu, mari kita sama-sama merenung, menyadari kembali visi dan misi kita. Mengingat-ingat asa dan cita. Menemukan arti pelajar, orang tua, anak, yang sebenarnya. Kita tentu tahu pula, seperti kata Pak Ustad juga, “Tuhan tidak memperhitungkan jasad kita namun melihat hati kita.” Mari, kita sama-sama waspada, gunakan hati untuk menjelajah pikiran kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, hati-hati dengan hatimu. He...he…he…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1413456690919827167-3147834244627295133?l=www.akibasret.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Akibasret/~4/UZgIvmev7Rk" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.akibasret.co.cc/feeds/3147834244627295133/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.akibasret.co.cc/2009/03/untuk-yang-di-luar-kota_25.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1413456690919827167/posts/default/3147834244627295133?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1413456690919827167/posts/default/3147834244627295133?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Akibasret/~3/UZgIvmev7Rk/untuk-yang-di-luar-kota_25.html" title="Untuk Yang di Luar Kota" /><author><name>alfa RS</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/_Omd-GgEPNxg/SbWSM9w55XI/AAAAAAAAABc/S2LB9inkVXQ/S220/Aku.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.akibasret.co.cc/2009/03/untuk-yang-di-luar-kota_25.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEIMQHs8eip7ImA9WxVUGUs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1413456690919827167.post-8514003616714802247</id><published>2009-03-25T14:35:00.000+07:00</published><updated>2009-03-25T14:36:21.572+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-03-25T14:36:21.572+07:00</app:edited><title>Tanda Tanya</title><content type="html">alfa RS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan…&lt;br /&gt;Thank’s&lt;br /&gt;Atas hidayah-Mu&lt;br /&gt;Berkat cinta-Mu&lt;br /&gt;But…&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ngapunten&lt;br /&gt;Ada yang aneh dengan hamba&lt;br /&gt;Ada sesuatu yang menggebu&lt;br /&gt;Mulai ada cinta baru.&lt;br /&gt;Tuhan…&lt;br /&gt;Ampuni aku.&lt;br /&gt;Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1413456690919827167-8514003616714802247?l=www.akibasret.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Akibasret/~4/wDYiOSAellk" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.akibasret.co.cc/feeds/8514003616714802247/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.akibasret.co.cc/2009/03/tanda-tanya_25.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1413456690919827167/posts/default/8514003616714802247?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1413456690919827167/posts/default/8514003616714802247?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Akibasret/~3/wDYiOSAellk/tanda-tanya_25.html" title="Tanda Tanya" /><author><name>alfa RS</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/_Omd-GgEPNxg/SbWSM9w55XI/AAAAAAAAABc/S2LB9inkVXQ/S220/Aku.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.akibasret.co.cc/2009/03/tanda-tanya_25.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEIEQH8_eyp7ImA9WxVUGUs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1413456690919827167.post-1503180694137094326</id><published>2009-03-25T14:34:00.000+07:00</published><updated>2009-03-25T14:35:01.143+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-03-25T14:35:01.143+07:00</app:edited><title>Cinta, Apa Cinta?</title><content type="html">Oleh: Alfa RS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” QS. Arrum: 21.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta dan kasih sayang, entah sebatas mana perisainya. Yang jelas, rasanya kita semua pernah mengalami gejolak itu, entah cinta dalam bentuk apa dan bagaimana. Apalagi saat Pebruari, bagi sebagian kita yang dimabuk cinta, menjadikannya bulan spesial, agung, bulan kasih sayang, katanya. Entah apa yang dimaksud kasih, cinta dan sayang oleh pemabuk cinta, mungkin karena ‘mabuk’ itulah mereka belum sepenuhnya mengerti akan cinta, meskipun cinta pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasih, cinta dan sayang yang pertama sungguh spesial, namun nyatanya? Hanya beberapa yang masih mau mengagungkannya, bahkan disaat spesial seperti kata mereka, berapakah yang masih ingat akan cinta pertamanya? Cinta pertama, kenangan SLTP, sekolah lanjutan atas, atau masa-masa saat kita ditingkat dasar sekolah? Mungkin itulah bersitan kita. Namun, saat kita sedang benar-benar ‘meraba’, rasanya semua itu biasa saja. Tidak percaya, coba renungkan.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah, apa pendapat kamu? Bila memang ya, semuanya biasa, terus adakah cinta yang benar-benar cinta? Andai itu juga ada, kemudian dimanakah cinta tulus nan suci kita, kasih dan sayang yang murni tanpa pamrih. Sesuatu yang kadang-kadang membuat kita ragu, pasrah, penuh tanda tanya. Benarkah apa yang ‘si dia’ katakan, kalau ‘dia’ memang cinta kita? Kamu sendirilah yang tahu menjawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, menurut ‘mimpi’nya Alfa, cinta yang benar-benar ‘cinta’ itu ada, sebuah cinta yang suci mulia, kasih dan sayang tanpa pamrih, cinta pertama, and... semuanya selalu terhatur pada seseorang yang selalu ada di samping kita, tempat curahan suka dan duka. Ketika lapar, dengan tangan tulusnya menyuapkan makanan, diberikannya air susu kala kita haus, sampai diajarkannya kita akan hakikat dunia. Cinta pertama yang sangat indah, cinta dan kasih sayang seorang ibu tentunya. Adakah cinta yang paling indah daripada cinta pertama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ‘mimpi-mimpi’ Alfa terkesan biasa. Namun, ketika Pebruari banyak yang menjadikanya spesial, bulan kasih sayang, saat dengan mudahnya kita menemukan muda mudi berduaan, di jalan, mall, kampus, di mana-mana. Agaknya apa yang di ‘impikan’ Alfa patut diperhitungkan. Mengapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, bagi mereka yang sekarang mungkin sedang ber-‘pebruarian’, agaknya hanya beberapa saja dari mereka yang ‘masih ingat’ akan cinta pertamanya. Terbukti, sebagian ada yang acara ‘Pebruarian’nya tanpa melalui persetujuan sang ibu tercinta. Dan banyak juga yang persetujuan itu didapatkan akibat keterpaksaaan orang tua, terlalu cintanya pada sang anak, beliau rela diduakan oleh kita. Sesuatu yang kadang kita lupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pacaran, entah apa arti dan maksud sebenarnya. Biasanya, kalau ada cowok dan cewek saling suka, satunya nyatain dan yang lainnya terima, buat sebagian orang isinya jalan berdua, makan, nonton, curhat-curhatan, just for fun abis lah, itukah pacaran, mungkin? Yang pasti, itulah yang telah menyakitkan cinta pertama kita, menduakan ibu. Orang tua manasih yang tidak ingin putra putrinya bahagia. Nah, demi hal itu, tentunya di sanubari seorang ibu yang paling dalamnya, menurut ‘mimpi’ Alfa, tidak menginginkan apa yang kita namakan ‘pebruarian’. Karena memang hampa manfaat.&lt;br /&gt;Dalam ‘mimpi’ Alfa, hati orang tua agaknya akan lebih memilih yang namanya ta’aruf, perkenalan, itupun kalau memang maksud dari pacaran mengarah ke ‘sana’, pernikahan. Karena memang ternyata ta’aruf memiliki nilai plus dari pada pacaran, disamping unsur kelegalan dari agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbandingannya, pertama, buat yang lagi pacaran katanya mau berdua terus, iya apa iya? Sehari tidak dihubungi sudah kangen berat. Begitu ketemu inginnya memandang wajah sang kekasih terus, pokoknya dunia serasa berbunga-bunga, katanya. Kedua, mereka yang pacaran lupa hal lainnya. Yang ada hanya si dia, dunia serasa milik mereka berdua, yang lainnya ngontrak. Ketiga, bukan rahasia lagi di jaman serba permisif ini, seks menjadi bumbu penyedap dalam pacaran. Seperti riset yang dulu pernah di lakukan pada lima universitas terbesar di Jakarta, 67,1% mengaku pernah melakukan aktivitas seksual yang pertama kali mereka lakukan dengan pacarnya. Keempat, ternyata pacaran bukan jaminan akan berlanjut ke jenjang perkawinan. Banyak orang di sekitar kita yang sudah bertahun-tahun pacaran ternyata kandas di tengah jalan. Pacaran pun tidak menjadikan kita tahu segalanya tentang si dia. Banyak yang sikapnya berubah setelah menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang dalam ta’aruf kita akan menemukan, pertama, dalam ta'aruf tetap dijaga adab berhubungan antara laki-laki dan perempuan. Biasanya ada pihak ketiga yang memperkenalkan. Jadi kehawatiran orang tua sedikit berkurang akibat berkhalwat. Orang tua kita tentu tidak ingin kita berpatner dengan ‘musuh bebuyutan’, syaitan, sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Tiada bersepi-sepian seorang lelaki dan perempuan, melainkan syetan merupakan orang ketiga diantara mereka,” ataukah ibu-ibu jaman sekarang mendukung hubungan antara anaknya dengan syaitan? Entahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, dalam firman-Nya QS 51:56, kita tahu tujuan Allah menciptakan kita (manusia) untuk beribadah kepada-Nya. Nah, ta'aruf tidak menduakan tujuan tersebut dengan terus berduan dan mengkonsentrasikan pikiran kita dengan si dia. Ta’aruf hanya untuk penjajagan sebelum menikah, kalau ada kecocokan alhamdulillah, dan kalau salah satu atau keduanya nggak merasa sreg, dengan pertimbangan hati dan pikiran yang sehat ia bisa menyudahi ta'arufnya. Karena dengan ta'aruf kita boleh mengajukan kriteria calon yang diinginkan dan keputusan akhir pun harus tetap berdasar pada dialog dengan Allah melalui sholat istikharah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini lebih baik daripada orang yang pacaran lalu putus. Biasanya, orang yang pacaran hatinya sudah bertaut sehingga kalau tidak cocok sulit putus, walau kadang-kadang pacarnya memiliki hal buruk, misalnya suka memukul, tidurnya ngorok, tapi terpaksa tetap menerima dengan dalih ‘cinta’, padahal hati kecilnya mengingkari hal itu. Menyakitkan bukan, tapi dengan ta'aruf, insya Allah kita akan lebih mudah bertawakkal seumpama tidak ada kecocokan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, kalau memang ada kecocokan, biasanya jangka waktu ta'aruf ke khitbah (lamaran) dan ke akad nikah tidak terlalu lama. Ini bisa menghindarkan kita dari berbagai macam bentuk perzinahan. Selain itu tidak ada perasaan ‘digantung’ pada pihak perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke empat, ta'aruf itu lebih fair. Masa penjajakan diisi dengan saling tukar informasi mengenai diri masing-masing, baik kebaikan maupun keburukannya. Bahkan sampai masalah kesukaan kita pada semur jengkol, misalnya, sebaiknya diberitahukan kepada calon kita agar tidak menimbukan kekecewaan di kemudian hari. Begitu pula dengan kekurangan-kekurangan lainnya, seperti mengidap penyakit tertentu, tidak bisa masak, atau yang lainnya. Dengan ta'aruf kita bisa berusaha mengenal si dia dan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, informasipun bukan cuma dari si dia langsung, tapi juga dari orang-orang yang mengenalnya, bisa sahabat, guru ngaji, ataupun orang tuanya. Dengan ta’aruf dia tidak bisa ngaku-ngaku dirinya baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan orang pacaran yang biasanya semu, penuh kepura-puraan. Yang perempuan akan dandan habis-habisan dan malu-malu, sampai makan pun jadi sedikit gara-gara takut dibilang rakus. Yang laki-laki biarpun lagi bokek tetap berlagak kaya, traktir ini dan itu. Sedang karena tujuannya sudah jelas untuk memenuhi sunnah Rasulullah, menikah, dalam ta’aruf mereka lebih mudah membuka diri, baik kelebihan maupun kekurangan. Tidak ada kepura-puraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun masalahnya, banyak diantara kita yang masih menganggap pacaran sebagai hal yang inti dalam meniti masa muda, kurang gaul, atau apalah. Padahal, banyak sekali pasangan yang sudah lama berpacaran, tetap merasa belum bisa mengenal pasangannya. Banyak juga yang episode akhirnya menyedihkan, bukankah itu sia-sia belaka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah apa maksud ‘mimpi’ Alfa, mungkin terlalu kolot, semu, penuh ego, yang jelas itu mimpi. Dan, entah cinta, apa cinta yang sedang kita dan mereka rasakan, semoga cinta pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1413456690919827167-1503180694137094326?l=www.akibasret.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Akibasret/~4/ZqQhsMPNHGw" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.akibasret.co.cc/feeds/1503180694137094326/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.akibasret.co.cc/2009/03/cinta-apa-cinta_25.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1413456690919827167/posts/default/1503180694137094326?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1413456690919827167/posts/default/1503180694137094326?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Akibasret/~3/ZqQhsMPNHGw/cinta-apa-cinta_25.html" title="Cinta, Apa Cinta?" /><author><name>alfa RS</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/_Omd-GgEPNxg/SbWSM9w55XI/AAAAAAAAABc/S2LB9inkVXQ/S220/Aku.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.akibasret.co.cc/2009/03/cinta-apa-cinta_25.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEMFRXw5eCp7ImA9WxVUGUs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1413456690919827167.post-3847108956933252251</id><published>2009-03-25T14:33:00.001+07:00</published><updated>2009-03-25T14:33:34.220+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-03-25T14:33:34.220+07:00</app:edited><title>Sejarah Pesantren</title><content type="html">Oleh: Alfa RS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara terminologis dapat dijelaskan bahwa pendidikan pesantren, dilihat dari segi bentuk dan sistemnya berasal dari India. Sebelum proses penyebaran Islam di Indonesia, sistem tersebut telah dipergunakan secara umum untuk pendidikan dan pengajaran agama Hindu di Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Islam masuk dan tersebar di Jawa, sistem tersebut kemudian diambil oleh Islam. Istilah pesantren sendiri seperti halnya istilah mengaji, langgar, atau surau di Minangkabau, Rangkang di Aceh bukan berasal dari istilah Arab, melainkan India (Karel A Steenbrink, 1986).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bila kita menengok waktu sebelum tahun 60-an, pusat-pusat pendidikan tradisioanal di Jawa dan Madura lebih dikenal dengan sebutan pondok, barangkali istilah pondok berasal dari kata Arab funduq, yang berarti pesangrahan atau penginapan bagi para musafir.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Perkataan pesantren sendiri berasal dari akar kata santri dengan awalan "Pe" dan akhiran "an" berarti tempat tinggal para santri. Profesor John (Zamakhsari;1983) berpendapat bahwa istilah santri berasal dari bahasa Tamil, yang berarti guru mengaji, sedangkan CC Berg (dalam buku yang sama) berpendapat bahwa istilah tersebut berasal dari kata Shastri yang dalam bahasa India adalah orang-orang yang tahu buku-buku suci Agama Hindu, atau seorang sarjana ahli kitab suci Agama Hindu. Kata Shastri sendiri berasal dari kata shastra yang berarti buku-buku suci, buku-buku agama atau pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potret Pesantren pada dasarnya adalah sebuah asrama pendidikan Islam tradisional dimana para siswanya tinggal bersama dan belajar ilmu-ilmu keagamaan di bawah bimbingan guru yang lebih dikenal dengan sebutan kyai. Asrama untuk para siswa tersebut berada dalam komplek pesantren dimana kyai bertempat tinggal. Disamping itu juga ada fasilitas ibadah berupa masjid. Biasanya komplek pesantren dikelilingi dengan tembok untuk dapat mengawasi arus keluar masuknya santri. Dari aspek kepemimpinan pesantren kyai memegang kekuasaan yang hampir-hampir mutlak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pondok, Masjid, santri, kyai dan pengajaran kitab-kitab klasik merupakan lima elemen dasar yang dapat menjelaskan secara sederhana apa sesungguhnya hakikat pesantren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa pesantren dapat survive sampai hari ini. Ketika lembaga-lembaga pendidikan Islam tradisional seperti pesantren di Dunia Islam tidak dapat bertahan menghadapi perubahan atau modernitas sistem pendidikannya. Secara implisit pertanyaan tadi mengisyaratkan bahwa ada tradisi lama yang hidup ditengah-tengah masyarakat Islam dalam segi-segi tertentu masih tetap relevan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu, bertahannya pesantren karena ia tidak hanya identik dengan makna ke-Islaman tetapi karakter eksistensialnya mengandung arti keaslian Indonesia (indigenous). Sebagai indigenous, pesantren muncul dan berkembang dari pengalaman sosiologis masyarakat lingkungannya. Ada satu hipotesa bahwa jika kita tidak mengalami penjajahan, mungkin pertumbuhan sistem pendidikannya akan mengikuti jalur-jalur yang ditempuh pesantren-pesantren. Sehingga perguruan-perguruan tinggi yang ada sekarang ini tidak akan berupa ITB, UI, IPB, UGM, UNAIR ataupun lainnya tetapi mungkin namanya Universitas Lirboyo, Tremas, Krapyak, Tebuireng, Bangkalan, Lasem, dan seterusnya. Kemungkinan ini bisa kita tarik setelah melihat dan membandingkan dengan sistem pendidikan di Barat sendiri. Dimana hampir semua Universitas terkenal cikal bakalnya adalah perguruan-perguruan yang semula berorientasi keagamaan. Mungkin juga bila kita tidak pernah dijajah, kebanyakan pesantren tidak akan berada jauh terpencil di pedesaaan seperti kita lihat sekarang.&lt;br /&gt;Dari keterangan sederhana ini saja kita dapat menarik garis linear tentang apa peranan pesantren dan dimana letak pendidikan pesantren dalam masyarakat Indonesia merdeka. Untuk bangsa yang lebih berkepribadian. Gambaran konkretnya dapat dianalogikan sebuah pesantren Indonesia (ambil sebagai misal Tebuireng) sebagai sebuah kelanjutan pesantren di Amerika Serikat (ambil sebagai missal "pesantren" yang didirikan oleh pendeta Harvard di dekat Boston): Tebuireng menghasilkan apa yang dapat dilihat oleh bangsa Indonesia sekarang ini. Dan pesantrennya Pendeta Harvard telah tumbuh menjadi universitas yang paling prestigious di Amerika modern. (Nurcholish Majid, 1997).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini di tengah-tengah sistem Pendidikan Nasional yang selalu berubah-rubah dalam jeda waktu yang tidak lama, apresiasi masyarakat Islam Indonesia terhadap pesantren makin hari makin besar, pesantren yang asalnya sebagai Rural Based Institusion kemudian berkembang menjadi lembaga pendidikan urban. Lihatlah kemunculan sejumlah pesantren kota seperti di Jakarta, Bandung, Medan, Pekanbaru, Jogjakarta, Malang, Semarang, Ujung Pandang, atau sub-urban Jakarta seperti Parung, Cilangkap. Atau misalnya pesantren yang muncul pada tahun 1980-an seperti Pesantren Darun Najah, Ciganjur, dan Ashidiqiyah di Jakarta; Pesantren Nurul hakim, al-Kautsar, Darul Arafah di Medan, Darul Hikmah di Pekan Baru dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#Kiriman dari Dz dengan sedikit editan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1413456690919827167-3847108956933252251?l=www.akibasret.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Akibasret/~4/U2I4idbUJWk" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.akibasret.co.cc/feeds/3847108956933252251/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.akibasret.co.cc/2009/03/sejarah-pesantren_25.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1413456690919827167/posts/default/3847108956933252251?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1413456690919827167/posts/default/3847108956933252251?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Akibasret/~3/U2I4idbUJWk/sejarah-pesantren_25.html" title="Sejarah Pesantren" /><author><name>alfa RS</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/_Omd-GgEPNxg/SbWSM9w55XI/AAAAAAAAABc/S2LB9inkVXQ/S220/Aku.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.akibasret.co.cc/2009/03/sejarah-pesantren_25.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEQGSXYzeCp7ImA9WxVUGUs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1413456690919827167.post-4569358556593558626</id><published>2009-03-25T14:31:00.000+07:00</published><updated>2009-03-25T14:32:08.880+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-03-25T14:32:08.880+07:00</app:edited><title>Ganti Lagi</title><content type="html">alfa RS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kembali kau berganti&lt;br /&gt;kembali kau mengulangi&lt;br /&gt;kembali dan kembali&lt;br /&gt;entah kapan kau tak lagi kembali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku selalu menertawai&lt;br /&gt;menghina dan mencaci&lt;br /&gt;mengapa kau tak juga mengerti?&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;akankah kembalinya kau membawa arti&lt;br /&gt;memberiku senyum penuh empati&lt;br /&gt;ah! kau terlalu suci&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;embun pagi,&lt;br /&gt;benarkah ia berganti?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desember 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1413456690919827167-4569358556593558626?l=www.akibasret.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Akibasret/~4/Cix_dQnO5oE" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.akibasret.co.cc/feeds/4569358556593558626/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.akibasret.co.cc/2009/03/ganti-lagi_25.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1413456690919827167/posts/default/4569358556593558626?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1413456690919827167/posts/default/4569358556593558626?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Akibasret/~3/Cix_dQnO5oE/ganti-lagi_25.html" title="Ganti Lagi" /><author><name>alfa RS</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/_Omd-GgEPNxg/SbWSM9w55XI/AAAAAAAAABc/S2LB9inkVXQ/S220/Aku.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.akibasret.co.cc/2009/03/ganti-lagi_25.html</feedburner:origLink></entry></feed>

