<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2enclosuresfull.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0"><channel><title>Aksara Kauniyah</title><link>http://aksarakauniyah.blogspot.com/</link><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/AksaraKauniyah" /><description>&lt;small&gt;Tuhan,&lt;br&gt;
ajarkan aku mengenali cinta, seperti yang telah Kau artikan, seperti yang Kau inginkan, seperti yang telah Kau sisipkan di sudut perasaan, yang tak beranjak hilang sejak berkali-kali memandang.
&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/small&gt;</description><language>en</language><managingEditor>noreply@blogger.com (Aksara Kauniyah)</managingEditor><lastBuildDate>Fri, 26 Feb 2010 14:22:37 PST</lastBuildDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/">14</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/">25</openSearch:itemsPerPage><feedburner:info uri="aksarakauniyah" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><media:thumbnail url="http://photos11.flickr.com/14555692_9a000dff9b_m.jpg" /><media:keywords>Aksara,Kauniyah,politik,filsafat,renungan,demokrasi,islam,pluralisme</media:keywords><media:category scheme="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd">News &amp; Politics</media:category><itunes:owner><itunes:email>aksarakauniyah@yahoo.com</itunes:email><itunes:name>Aksara Kauniyah</itunes:name></itunes:owner><itunes:author>Aksara Kauniyah</itunes:author><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:image href="http://photos11.flickr.com/14555692_9a000dff9b_m.jpg" /><itunes:keywords>Aksara,Kauniyah,politik,filsafat,renungan,demokrasi,islam,pluralisme</itunes:keywords><itunes:subtitle>Tuhan, ajarkan aku mengenali cinta, seperti yang telah Kau artikan, seperti yang Kau inginkan, seperti yang telah Kau sisipkan di sudut perasaan, yang tak beranjak hilang sejak berkali-kali memandang. </itunes:subtitle><itunes:summary>Tuhan, ajarkan aku mengenali cinta, seperti yang telah Kau artikan, seperti yang Kau inginkan, seperti yang telah Kau sisipkan di sudut perasaan, yang tak beranjak hilang sejak berkali-kali memandang. </itunes:summary><itunes:category text="News &amp; Politics" /><item><title>Hatta</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/AksaraKauniyah/~3/NGha8KMfzc4/hatta.html</link><author>aksarakauniyah@yahoo.com (Aksara Kauniyah)</author><pubDate>Thu, 22 Nov 2007 05:15:11 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-11630049.post-285630702404238908</guid><description>&lt;center&gt;&lt;em&gt;Oleh&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;Aksara Kauniyah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;embed src="http://www.indonesia.sc/player/music_player.swf" menu="false" quality="high" bgcolor="#000000" name="player" flashvars="url=http://www.indonesia.sc/files/abdd4aca21c2c6fd.mp3&amp;amp;autoplay=1&amp;amp;songname=Hatta" allowscriptaccess="sameDomain" type="application/x-shockwave-flash" pluginspage="http://www.macromedia.com/go/getflashplayer" align="middle" height="45" width="400"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;img style="border: 1px solid silver; padding: 5px; float: left; margin-right: 10px; width: 138px; height: 131px;" src="http://lh3.google.com/agusharyadi/R0V-zFOZoLI/AAAAAAAAADo/YWG5ubDquaM/Hatta.jpg" /&gt;&lt;span style="float: left; line-height: 80px; padding-top: 1px; padding-right: 5px;font-family:arial;font-size:100;color:silver;" arial=""   &gt;&lt;strong&gt;S&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;ahabat,&lt;br /&gt;syahdan, seorang sais yang sedang terpekur di pelataran Stasiun Pasar Bawah dihampiri lelaki setengah baya berpotongan klimis. Tak pernah ia lihat pria ini sebelumnya. Lelaki dengan perawakan sederhana itu berniat menumpang. Pengendali bendi lekas menyebut sejumlah harga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tawar menawar terjadi, dan berlangsung amat alot. Namun, harga tak kunjung cocok. Sang sais yang gusar hilang kesabaran. Ia menghentak dengan suara setengah memekik, "Kalau tak punya uang, jangan tanya-tanya! Tak perlu naik bendi. Jalan kaki saja." Usai menghardik, sais itu buru-buru berlalu. Yang dihardik, cuma menyimpul senyum seraya menuruti perintah si empunya bendi yang geram. Ia berjalan kaki menuju rumah, tanpa amarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali, sais itu selamanya tak pernah tahu. Yang baru saja dibentaknya adalah Mohammad Hatta, wakil presiden yang bersama Sukarno menjeritkan kemerdekaan. Seketika, ingatan kita pun melanglang menandangi sosok yang tak banyak cakap, sederhana, ramah, dan sejak awal mewariskan keteladanan politik yang jarang dipunya: Ia mengogahi korupsi. Ia menampik kolusi. Keseharian kita belakangan ini akan tampak gagap berhadapan dengan sesuatu yang bermuasal dari hal-hal silam, kuno—tapi beraroma amat profetik. Hatta, membikin banyak pemilik takhta dan kuasa menjadi tampak terlalu kerdil dan minder. Ia, adalah teladan dengan gagasan-gagasan besar yang menggetarkan bagi hari-hari ketika hanya uang dihitung dan didengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat,&lt;br /&gt;sejarah adalah bincang-bincang kita dengan masa lalu. Ada yang bertutur, dan kita lamat-lamat belajar dan mengeja. Tak seluruhnya sempurna, sebagaimana sebatang gading yang ditinggal mati seekor gajah yang tak seluruhnya mulus. Pun begitu, kita masih bisa menatah, kita masih bisa merajah gading tersisa. Maka, Hatta mewariskan arti, memberi bentuk, mengusung makna. Seraya generasi tiba dan beranjak pergi, berjuta orang mengais pekerti, memburu rasa malu, mengenali rasa bersalah, belajar bertenggang, belanjar berendah hati dan syukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, Sahabat. Mengenai perihal-perihal baik itu, saya teringat perlbagai peristiwa dari berbilang waktu yang sudah lama lewat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tahu, perseteruan Hatta dengan Sukarno tak cuma sekali. Bahkan sejak era ketika bedil masih berbunyi dan konstitusi belum menjadi resmi. Perselisihan keduanya makin sukar merapat ke lokan negosiasi. Pada waktu Sukarno menampik Maklumat X, Hatta malah membubuhi tanda tangan dan mengesahi multipartai berlaku di negeri yang baru merdeka. Kekesalan Hatta juga sengaja ditunjukkan amat atraktif saat Sukarno mengambil Hartini sebagai istri, selain Fatmawati. Sampai Sukarno wafat, Hatta nyaris tak bertegur sapa dengan Hartini yang ikut diboyong masuk istana. Klimaks ketegangan itu mengganas saat demokrasi terpimpin dicanang. Kejengkelan itu akhirnya tak lagi membisu, Hatta pergi meninggalkan Sukarno yang tardampar di atas tampuk bersama takhta yang kelihatan makin renta, sekaligus hilang kesuciannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita pun akhirnya tahu bagaimana keputusan itu menjadi amat memukau. Terutama bila mengingat, brutus politik menjadi habituasi yang lumrah bagi semua jaman. Hatta memilih minggat ketimbang &lt;em&gt;coup d'etat&lt;/em&gt; sambil menanggung status sebagai pengkhianat. Hatta memilih keluar, ketimbang membusuk di dalam hipokrisi kronis. Ia menorehkan sejenis batas—yang membuatnya terlempar dari gelanggang sebagai pecundang di dunia politik orde lama. Ia beroposisi, dengan menempuh banyak resiko. &lt;em&gt;Demokrasi Kita&lt;/em&gt;, buah pikir Hatta, jadi bacaan terlarang. &lt;em&gt;Pandji Masyarakat&lt;/em&gt; yang memuat tulisan itu ikut dibekap, redaksinya terjengkang ke balik terali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatta yang bukan ahli nujum buru-buru meramal sambil memberi ingat, "Diktator yang bergantung pada kewibawaan orang-seorang tidak lama umurnya" dan "akan roboh dengan sendirinya seperti rumah kartu." Sukarno menutup telinga, hingga turbulensi di 1965 mengobrak-abrik keadaan dan membenarkan banyak hal yang dikhawatirkan Hatta. Sukarno rubuh. Sang pengganti mengisolasinya di sebuah kediaman sunyi. Kawan-kawan yang sebelumnya gempita ramai-ramai menjauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Hatta hidup tanpa dendam menyalak. Ketika banyak orang dilanda cemas disangkutpauti dengan Sukarno, Hattalah yang paling rajin bertandang menjenguk. Ketika Guntur, putera Sukarno, bingung mencari wali, Hatta pula yang langsung menyatakan kesediaan tanpa pikir dan timbang. Hatta tak membangun jarak. Ia mendekat jutru ketika kepengecutan membuat banyak orang terbirit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat, baik Hatta maupun Sukarno, bukanlah nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara para pekerja Tuhan itu sibuk dengan risalah, titah, wahyu, dan kitab suci, maka seorang raja, bangsawan, dan politisi akan lebih banyak berurusan dengan perihal-perihal profan, politik, banal, kuasa, dan juga mungkin, ketololan. Seseorang yang seumur hidupnya barangkali selalu digelayuti cemas dan khawatir berakhir mati dengan sebilah kapak menancap di kepala sebagaimana menimpa Leon Trotsky. Seseorang yang acap ngeri dengan kematian tanpa sayup-sayup doa dan terkirim ke lahat tanpa nisan atau salib seperti nasib Tan Malaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik bagi saya, Hatta bisa tetap hadir tanpa beban. Dengan atapun tanpa kekuasaan tergenggam. Saya berusaha menduga-duga. Barangkali, karena bagi Hatta politik bukan berkisar peta kuasa, konflik antarpuak, apalagi ribut-ribut soal pundi kekayaan. Politik yang diwariskan Hatta bersuara beda: solidaritas. Dan karena itu juga nasionalisme yang ia tempuhi menyiratkan kehendak bersaudara, bukan gemuruh penaklukan ataupun letupan laras berpucuk-pucuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang paling disayangkan, saya dan juga kebanyakan orang, agaknya belum betul-betul terbiasa dengan abstraksi begitu. Entah berapa puluh tahun lagi. Agaknya kita masih akan lama gagap dan malu di depan sejarah. Agaknya kita masih akan lama gagap dan malu mengingat daftar kesewenang-wenangan atas bangsa sendiri yang belum menunjukkan tanda-tanda tamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;________________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;n.b.: Pada &lt;em&gt;ia&lt;/em&gt;, yang selamanya kudesiskan rindu.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11630049-285630702404238908?l=aksarakauniyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-11-22T14:15:11.845+01:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">13</thr:total><feedburner:origLink>http://aksarakauniyah.blogspot.com/2007/11/hatta.html</feedburner:origLink></item><item><title>Creon</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/AksaraKauniyah/~3/VBbSTFKGITg/creon.html</link><author>aksarakauniyah@yahoo.com (Aksara Kauniyah)</author><pubDate>Wed, 17 Oct 2007 10:22:38 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-11630049.post-7082310721983070109</guid><description>&lt;center&gt;&lt;em&gt;Oleh&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;Aksara Kauniyah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/P_eEE12R8Gw" type="application/x-shockwave-flash" wmode="transparent"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Apa yang membuat kediktatoran patut dikecam?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;img style="border: 1px solid silver; padding: 5px; float: left; margin-right: 10px; width: 148px; height: 139px;" src="http://farm3.static.flickr.com/2219/1602199994_05f4a8c4dd_m.jpg" /&gt;&lt;span style="float: left; line-height: 80px; padding-top: 1px; padding-right: 5px;font-family:arial;font-size:100;color:silver;" arial=""   &gt;&lt;strong&gt;S&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;aya mengingat-ingat lagi tragedi dalam bagian terakhir trilogi masyhur Sophocles, &lt;em&gt;Antigone&lt;/em&gt;. Literatur yang berkeras menyajikan perihal amat mengesankan—namun  pada masanya dianggap &lt;em&gt;kurang asem&lt;/em&gt; bagi para kaisar. Legenda itu, berawal ketika Oedipus telanjur menusuk biji matanya dengan peniti emas yang biasa digunakan Iocaste, istri yang ternyata ibu kandungnya. Ia campakkan takhta Thebes. Menghukum diri, akibat gagal membangkang takdir brutal para dewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelak. Creon naik ke atas tampuk. Seorang tua yang punya semelimpah hasrat, namun mengogahi batas. Seorang renta yang berkenan menerabas dan menghadapi siapa-siapa yang dianggap membikin teritori bagi segala kehendak. Seorang bangka yang beranjak menjadi penampik ulung atas kepatutan, pekerti, keluhuran, etik. Hingga sampai di satu masa, ia mesti memurkai Haemon, calon penerusnya sendiri. Tanpa penengah yang berarti, tanpa pendamai yang bisa membujuk keduanya untuk bisa saling mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengerti? Haemon, si putera mahkota sudah lama berkeras memaklumi—tapi selalu tak pernah bisa mengerti: Mengapa ayahnya, Creon, tak pernah merasa perlu mendengar beda. Setiap ritmus dan polah ada dalam titah esanya. Karena itu, irama tak sama selamanya menjadi haram yang perlu dilumat. Dan begitulah, setiap katanya naik pangkat menjadi firman yang meminta diimani. Termasuk ketika dengan nekad Creon mengumumkan tak seorangpun boleh menyentuh jasad Polynescis, anak Oedipus yang memberontak dan berujung tewas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tahu, dalam cerita itu seseorang telah melanggar. Antigone, bukan sekadar menyentuh. Tapi mengurus jenazah itu hingga masuk ke lahat dengan laku hormat. Creon muntab, menulis selembar maklumat: Antigone mesti ikut dikirim ke alam baka. Haemon, si pelanjut mahkota, tak sanggup lagi bersabar. Ia menyanggah, ia menggelengi keputusan sang patriarkh. Begitulah, naskah Sophocles itu meriwayatkan dialog memesona, sekaligus mengilhami pikiran manusia tentang hak, tentang demokrasi, tentang batas kuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Creon: "Kau pun tahu, Haemon. Bukankah Antigone adalah seorang yang (secara sadar) melanggar hukum?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haemon: "Mohon maaf, Paduka. Rakyat Thebes menyelisihi kehendak Yang Mulia. Mereka tak bersepakat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Creon: "Demikian itu yang kau mau, Haemon? Kota ini mau coba-coba mendikteku tentang seluruh perihal yang kufatwakan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haemon: "Mohon maaf, tetapi Paduka kini bertingkah bak bocah balita."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Creon: "Kau pikir aku harus menitah negeri ini menurut kemauan orang lain?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haemon: "Tapi Paduka, negeri yang dititah cuma oleh satu orang sama sekali bukan sebuah negeri. Bukan sama sekali, Yang Mulia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Creon: "Haemon! Bukankah kekaisaran selamanya menjadi milik sultan yang memerintahnya?!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haemon: "Cuma di gurun, Paduka. Cuma di gurun Paduka bisa memerintah sendirian."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terpaku mengenang percakapan yang ditulis bahkan 100 tahun sebelum Aristoteles menulis berbagai risalahnya. Tapi barangkali, kebebasan dan keterbukaan—sebagaimana diktatorial dan penindasan—memang bukan perkara zaman dan ruas-ruas waktu. Hasrat untuk menjadi rakus selalu hadir tanpa kenal &lt;em&gt;passage&lt;/em&gt;. Kita tahu, nyaris dua setengah milenium lalu Yunani menghirukpikuki cikal demokrasi. Namun kita juga tahu, di Burma seorang jenderal justru makin membekuk demokrasi hari-hari ini. Dan seluruhnya berhulu pada bagaimana manusia hidup menghadapi kekuasaan dan senapan berpucuk-pucuk: Sebagai rakyat yang merdeka, atau rakyat yang diperdaya. Rakyat yang bebas menggagas sikap, atau rakyat yang takut mengutarakan pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menakjubkan bagi saya, kemudian, sekumpulan biksu mendesiskan ritual doa-doa di jalan-jalan Kota Yangon. Sesuatu yang agaknya sangat penting telah mengais nyali orang-orang saleh itu, dan mengutus diri mereka sendiri menyambangi poros kuasa junta. Mereka seolah hendak mengulang peringatan Vaclav Havel, sastrawan Cekoslovakia, kepada Husak sang presiden: Pada akhirnya, apa boleh buat. Rakyat yang ditekan berbilang waktu akan meminta harga amat mahal bagi setiap tindakan merendahkan harkat dan memaksa manusia hidup lunta. Dari Burma, kita menyaksikan, doa-doa menggetarkan itu dibalas dengan kegaduhan letupan peluru. Ribuan orang dijeblos ke dalam bui, dan ratusan orang terpelanting sukmanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita, semakin terhenyak. Terutama setelah kita semakin sadar, Jenderal Senior Than Shwe tak ubahnya seperti Pervez Musharraf dari Pakistan yang percaya sepenuh perasaan. Seragam tentara sudah jadi kulit kedua yang mustahil tanggal. Maka, bayonet terhunus dan serentet pelor maut mau tak mau jadi bahasa resmi antara ia yang di pucuk, dan rakyat di gubuk-gubuk. Begitulah. Rejim yang dipimpin, dan mengandalkan, serdadu cuma bakalan merindui satu jenis bau: Amis dari bergalon-galon darah yang muncrat dari kepala dan jantung. Dan kita sah untuk cemas, jengkel, ragu—masih bisakah jenderal dan para prajuritnya itu mengerti apa artinya dialog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu bagaimana akhir cerita di negeri Burma, kelak. Tapi. Saya tahu bagaimana ujung cerita &lt;em&gt;Antigone&lt;/em&gt; setelah disadur Slamet Rahardjo Djarot dalam sebuah teater. Drama perih itu berakhir dengan kematian demi kematian yang pilu. Amat pilu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antigone pergi ke sebuah gua. Di sana ia merobek gaun merahnya dan membelitkannya ke leher. Di situ, ia mati gantung diri sebelum eksekusi dari Creon sempat menjangkau nyawanya. Haemon yang mendengar kabar itu tergopoh-gopoh menemui Antigone yang didapati sudah tak bernyawa. Ia memeluk jasad yang mulai dingin. Ia membenam kepalanya dalam gaun merah Antigone, seraya tiba-tiba mencabut sebilah pedang yang ia tembuskan ke dadanya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang prajurit berlari-lari membawa warta itu kepada Ratu yang diceritainya dengan mimik galau. Tanpa diketahui, sang ratu merajut tali membelit lehernya sendiri—perlahan, semakin kencang—seraya terus mendengar cerita kematian Haemon. Usai si prajurit berkisah, berakhir pula hidup sang ratu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggal Creon seorang diri, yang duduk di singgasana tanpa insyaf. Selebihnya, cuma gerutu dan sepi. Selebihnya, moralitas yang nyeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma di gurun seorang paduka bisa memerintah sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika ribuan orang ditembak mati, kita akhirnya kian mafhum, pimpinan junta tampaknya punya obsesi membikin Burma menjadi gurun. Dan memerintah sendiri dari atas gunung.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11630049-7082310721983070109?l=aksarakauniyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-10-17T19:22:38.718+02:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><media:content url="http://feedproxy.google.com/~r/AksaraKauniyah/~5/eb9JPfA5_g8/P_eEE12R8Gw" fileSize="1034" type="application/x-shockwave-flash" /><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Oleh Aksara Kauniyah Apa yang membuat kediktatoran patut dikecam? Saya mengingat-ingat lagi tragedi dalam bagian terakhir trilogi masyhur Sophocles, Antigone. Literatur yang berkeras menyajikan perihal amat mengesankan—namun pada masanya dianggap kurang a</itunes:subtitle><itunes:author>Aksara Kauniyah</itunes:author><itunes:summary>Oleh Aksara Kauniyah Apa yang membuat kediktatoran patut dikecam? Saya mengingat-ingat lagi tragedi dalam bagian terakhir trilogi masyhur Sophocles, Antigone. Literatur yang berkeras menyajikan perihal amat mengesankan—namun pada masanya dianggap kurang asem bagi para kaisar. Legenda itu, berawal ketika Oedipus telanjur menusuk biji matanya dengan peniti emas yang biasa digunakan Iocaste, istri yang ternyata ibu kandungnya. Ia campakkan takhta Thebes. Menghukum diri, akibat gagal membangkang takdir brutal para dewa. Kelak. Creon naik ke atas tampuk. Seorang tua yang punya semelimpah hasrat, namun mengogahi batas. Seorang renta yang berkenan menerabas dan menghadapi siapa-siapa yang dianggap membikin teritori bagi segala kehendak. Seorang bangka yang beranjak menjadi penampik ulung atas kepatutan, pekerti, keluhuran, etik. Hingga sampai di satu masa, ia mesti memurkai Haemon, calon penerusnya sendiri. Tanpa penengah yang berarti, tanpa pendamai yang bisa membujuk keduanya untuk bisa saling mengerti. Mengerti? Haemon, si putera mahkota sudah lama berkeras memaklumi—tapi selalu tak pernah bisa mengerti: Mengapa ayahnya, Creon, tak pernah merasa perlu mendengar beda. Setiap ritmus dan polah ada dalam titah esanya. Karena itu, irama tak sama selamanya menjadi haram yang perlu dilumat. Dan begitulah, setiap katanya naik pangkat menjadi firman yang meminta diimani. Termasuk ketika dengan nekad Creon mengumumkan tak seorangpun boleh menyentuh jasad Polynescis, anak Oedipus yang memberontak dan berujung tewas. Kita tahu, dalam cerita itu seseorang telah melanggar. Antigone, bukan sekadar menyentuh. Tapi mengurus jenazah itu hingga masuk ke lahat dengan laku hormat. Creon muntab, menulis selembar maklumat: Antigone mesti ikut dikirim ke alam baka. Haemon, si pelanjut mahkota, tak sanggup lagi bersabar. Ia menyanggah, ia menggelengi keputusan sang patriarkh. Begitulah, naskah Sophocles itu meriwayatkan dialog memesona, sekaligus mengilhami pikiran manusia tentang hak, tentang demokrasi, tentang batas kuasa. Creon: "Kau pun tahu, Haemon. Bukankah Antigone adalah seorang yang (secara sadar) melanggar hukum?" Haemon: "Mohon maaf, Paduka. Rakyat Thebes menyelisihi kehendak Yang Mulia. Mereka tak bersepakat." Creon: "Demikian itu yang kau mau, Haemon? Kota ini mau coba-coba mendikteku tentang seluruh perihal yang kufatwakan?" Haemon: "Mohon maaf, tetapi Paduka kini bertingkah bak bocah balita." Creon: "Kau pikir aku harus menitah negeri ini menurut kemauan orang lain?" Haemon: "Tapi Paduka, negeri yang dititah cuma oleh satu orang sama sekali bukan sebuah negeri. Bukan sama sekali, Yang Mulia." Creon: "Haemon! Bukankah kekaisaran selamanya menjadi milik sultan yang memerintahnya?!" Haemon: "Cuma di gurun, Paduka. Cuma di gurun Paduka bisa memerintah sendirian." Saya terpaku mengenang percakapan yang ditulis bahkan 100 tahun sebelum Aristoteles menulis berbagai risalahnya. Tapi barangkali, kebebasan dan keterbukaan—sebagaimana diktatorial dan penindasan—memang bukan perkara zaman dan ruas-ruas waktu. Hasrat untuk menjadi rakus selalu hadir tanpa kenal passage. Kita tahu, nyaris dua setengah milenium lalu Yunani menghirukpikuki cikal demokrasi. Namun kita juga tahu, di Burma seorang jenderal justru makin membekuk demokrasi hari-hari ini. Dan seluruhnya berhulu pada bagaimana manusia hidup menghadapi kekuasaan dan senapan berpucuk-pucuk: Sebagai rakyat yang merdeka, atau rakyat yang diperdaya. Rakyat yang bebas menggagas sikap, atau rakyat yang takut mengutarakan pikiran. Yang menakjubkan bagi saya, kemudian, sekumpulan biksu mendesiskan ritual doa-doa di jalan-jalan Kota Yangon. Sesuatu yang agaknya sangat penting telah mengais nyali orang-orang saleh itu, dan mengutus diri mereka sendiri menyambangi poros kuasa junta. Mereka seolah hendak mengulang peringatan Vaclav Havel, sastrawan Cekoslovakia, kepada Husak sang presiden: Pada akhirnya, apa boleh buat. Rakyat yang ditekan berbilang waktu akan meminta harga amat mahal bagi setiap tindakan mer</itunes:summary><itunes:keywords>Aksara,Kauniyah,politik,filsafat,renungan,demokrasi,islam,pluralisme</itunes:keywords><feedburner:origLink>http://aksarakauniyah.blogspot.com/2007/10/creon.html</feedburner:origLink><enclosure url="http://feedproxy.google.com/~r/AksaraKauniyah/~5/eb9JPfA5_g8/P_eEE12R8Gw" length="1034" type="application/x-shockwave-flash" /><feedburner:origEnclosureLink>http://www.youtube.com/v/P_eEE12R8Gw</feedburner:origEnclosureLink></item><item><title>Surat Kepada Kawan Di Suatu Petang</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/AksaraKauniyah/~3/LQx1loRcr0M/surat-kepada-kawan-di-suatu-petang.html</link><author>aksarakauniyah@yahoo.com (Aksara Kauniyah)</author><pubDate>Sat, 13 Oct 2007 13:44:07 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-11630049.post-5399158653024528311</guid><description>&lt;center&gt;&lt;em&gt;Oleh&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;Aksara Kauniyah&lt;/strong&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;embed src="http://www.indonesia.sc/player/music_player.swf" menu="false" quality="high" bgcolor="#000000" width="400" height="45" name="player" align="middle" FlashVars="url=http://www.indonesia.sc/files/e476028aff34b5c6.mp3&amp;autoplay=1&amp;songname=New Age - Bach" allowScriptAccess="sameDomain" type="application/x-shockwave-flash" pluginspage="http://www.macromedia.com/go/getflashplayer" /&gt;&lt;/embed&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;img style="border: 1px solid silver; padding: 5px; float: left; margin-right: 10px; width: 223px; height: 123px;" src="http://farm3.static.flickr.com/2104/1545643327_a9c218f044_m.jpg" /&gt;&lt;span style="float: left; line-height: 80px; padding-top: 1px; padding-right: 5px;font-family:arial;font-size:100;color:silver;" arial=""   &gt;&lt;strong&gt;K&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;awan, perjumpaan kita, barangkali, sebuah kebetulan yang tak pernah diniatkan. Tapi, begitulah hidup sering mengajarkan: Kerap ada perihal misterius yang mencemooh ikhtiar untuk menjabarkan, setiap kali kita berlagak rasional. Maka, Tuhan pun menautkan kita dalam cara yang amat sahaja, lugu, tak kebanyakan tingkah. Hingga pada suatu ketika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau bertandang sambil menyuguhkan sepotong paras khas pemikir letih. Kau tiba-tiba ingin berhenti—atau setidaknya membikin interupsi—atas hidup yang bergerak menuju renta. Kau masih memanjakan kecewa dengan koar yang, sejujurnya, tak seluruhnya kumengerti benar. Tapi kau meneruskan muntab, setengah mengutuk. Tentang perselisihan, silap, khilaf, kalap, onar. Tentang dosa, dan salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan, saya pun tidak mafhum mengapa perihal-perihal banal seringkali kekal dan kental bersahabat dengan kita. Sekurangnya, karena kita tahu, di semua jazirah para nabi pernah diutus dan firman sempat bergema. Adakah dengan begitu para aulia gagal mewariskan pekerti? Adakah dengan begitu kita boleh bertanya-tanya, apa gunanya wahyu bagi hidup manusia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tiba-tiba teringat pada cerita lama Ibrahim bin Adham yang hidup di abad ke-8. Seorang alim rendah hati yang tak pernah merasa lebih taat dan lebih dekat dengan Tuhan. Ia mengumpul kayu bakar dan pergi berladang. Penghasilannya, diderma pada orang yang tertimpa malang. Syahdan, ia menjenguk Ka’bah di sebuah malam ketika gemuruh guntur dan hujan deras datang berbarengan. Usai tawaf panjang ia mengangkat tangan, mengajukan permohonan. "Tuhan, jaga aku dari berbuat dosa terhadap-Mu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon, sebersit suara tiba-tiba membisik. "Ibrahim, bila Kupenuhi doamu dan doa semua hamba-Ku yang serupa denganmu, pada siapa gerangan Kulimpah belas-Ku, kemaafan-Ku, ampunan-Ku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan, entah apa yang melintasi benakmu ketika kututurkan cerita itu. Kisah sufi itu, bagi banyak orang terasa amat menggetarkan. Bukan karena bersitan suara yang tiba-tiba saja membisik telinga Ibrahim. Melainkan betapa Tuhan berkenan menerima kenyataan manusia, apa adanya. Yang tak seluruhnya mampu luruh dari silap dan khilaf yang mungkin. Kita dituntun ke pucuk kesadaran, betapa Tuhan, adalah rahman. Adalah rahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun kadang lupa akan hal itu. Yang kerap memaksa manusia lain tersungkur dalam kemustahilan sebuah itikad: menjadi si suci yang bebas dosa 24 jam sehari. Padahal kita gemar membolak-balik kitab-kitab sejarah seraya mendapati: Manusia yang memaksa manusia lainnya tak pernah berbuat salah justru karam dalam penindasan maha hebat. Ada indoktrinasi  bertalu-talu, dan cemeti yang siap merobek kulit di setiap salah ucap. Kau tiba-tiba mendesiskan nama Pol Pot, Gulag, Hitler, Aurangzeb, dan entah siapa lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuntutan kesempurnaan yang serba bulat itu justru tiba-tiba dihadapkan dengan realitas yang sama sekali lain: penghinadinaan atas harkat manusia. Sebuah degradasi kontras tentang nilai-nilai. Dan karenanya, terasa sangat tak pantas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah, khilaf, dosa. Pada akhirnya kita mengerti akan batas. Mengerti akan kelemahan. Mengerti akan ketidaksempurnaan. Mengerti akan pentingnya rendah hati. Dan pongah serta merta tumpas, tersungkur di ambang haribaan-Nya dengan jantung yang hampir lepas. Paras dan Laku-Nya yang sempurna. Kita selamanya tak akan menjadi Dia. Lantaran itulah firman bergema. Lantaran Tuhan sajalah yang paling mengerti batas ciptaan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;salah, khilaf, dosa. Pada akhirnya kita belajar berendah hati, berikhtiar tulus, menyisipkan itikad ikhlas ke ruas hati. Manusia yang sadar akan batas, manusia yang sadar akan lemah diri. Ketidaksempurnaan adalah monopoli kita, dan Tuhan tak pernah kapok menyuguhkan pengampunan. Maka, kita menemukan sebuah alasan untuk selalu menghaturkan maaf, atas segala ketidakbecusan, kebanalan, khilaf, salah, dosa yang bertalu-talu pernah kita perbuat. Sebagaimana kini kita menemukan alasan untuk tak lagi kikir memberi kemaafan dan pengampunan bagi semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan, selamat berlebaran di tahun ke-1428. Maafkan saya, mohon maafkan khilaf saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11630049-5399158653024528311?l=aksarakauniyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-10-13T22:44:07.254+02:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total><feedburner:origLink>http://aksarakauniyah.blogspot.com/2007/10/surat-kepada-kawan-di-suatu-petang.html</feedburner:origLink></item><item><title>K u a s a</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/AksaraKauniyah/~3/dokjKHtYKZY/k-u-s.html</link><author>aksarakauniyah@yahoo.com (Aksara Kauniyah)</author><pubDate>Thu, 04 Oct 2007 06:15:59 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-11630049.post-3688539231512793333</guid><description>&lt;center&gt;&lt;em&gt;Oleh&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;Aksara Kauniyah&lt;/strong&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Barangkali, lantaran watak takhta yang memang selalu begitu. Sengit, degil, ricuh, licik, cadas, sarat ambisi, banal, paranoia. Rotasinya cuma beredar di situ.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;img style="border: 1px solid silver; padding: 5px; float: left; margin-right: 10px; width: 157px; height: 118px;" src="http://lh3.google.com/agusharyadi/RwTih2drUvI/AAAAAAAAADI/mAdYxiOChxI/dictator.jpg" /&gt;&lt;span style="float: left; line-height: 80px; padding-top: 1px; padding-right: 5px;font-family:arial;font-size:100;color:silver;" arial=""   &gt;&lt;strong&gt;S&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;hah Jehan naik singgasana usai menaklukkan perasaannya sendiri: ia mengudeta sang ayah dan membinasakan semua saudara sekandung demi mengamankan singgasana. Sejak itu kendali kuasa tegak, tapi dengan cemas yang gaduh dan perang bertalu-talu. Ketika isterinya tewas, ia membangun kemegahan demi sepetak ikhtiar buat mengenang, Taj Mahal. Dua puluh dua tahun tarikh pembangunan, dengan tak kurang 22000 pekerja yang koyak, dan pajak melonjak. Konon, sang arsitek dicungkil matanya, ditebas pula sepasang tangannya. Sang sultan tak ingin ada bangunan serupa Taj Mahal di tempat lain—dan ia membinasakan kecurigaan itu dengan jalannya sendiri: membutakan dan melumpuhkan si arsitek malang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara waktu bergegas. Anak-anak dari rahim Mumtaz Mahal, yang rasa-rasanya baru kemarin dilahirkan, saling tebas. Semua putera Shah Jehan bertikai, merasa paling layak jadi pewaris Dinasti Moughal. Aurangzeb, putera keempat yang menekuni titah agama dengan taat, mengulang laku Jehan. Ia sukses menjungkal sukma seluruh saudara sekandung, dan mengurung sang ayah, sang patriarkh, di ujung menara hingga maut mengetuk pintu. Ia berkuasa, tapi dengan kesepian yang tak pernah surut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agak-agaknya kekuasaan terlalu risih bersekutu dengan moral sejak dulu. Atau barangkali, memang akan selamanya heboh dan tak pernah akur. Nero dari Romawi tega meracuni ayah angkatnya, Claudius I, dan memutus nyawa ibu, saudara, hingga isterinya sendiri, dan para pemuka Kristen yang dicemaskan mengancam. Amangkurat I dari Mataram menamatkan tak kurang 6000 kauman dalam tempo kurang dari 60 menit. Puteranya, Amangkurat II, merobek dada Raden Trunojoyo dengan sebilah parang, mencincang hatinya, dan memerintahkan lurah dan bupati menelan mentah-mentah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara. Tak kurang lima ratus ribu diumumkan pemerintah. Dua juta, kabar media massa. Tiga juta, tukas seorang jenderal. Adalah angka-angka yang bertebaran seputar jumlah sukma yang terjungkal dalam tragedi 1 Oktober empat puluh dua tahun silam. Dan kita paham dengan batas paling sahaja, yang sedang dipentaskan adalah drama tentang ambisi dan paranoia. Tentang keserakahan dan kelicikan. Tentang perampasan dan penaklukan. Ia yang tiba-tiba terjerembab ke atas tampuk tak pernah merasa perlu bertanya soal alasan moral kekuasaan dan apa perlunya menyusun &lt;em&gt;draft&lt;/em&gt; kematian banyak orang. Kekuasaan yang lahir tiba-tiba dari sebuah pergolakan akan menyusun alasan konyolnya sendiri demi legitimasi dengan banyak terminologi. Hukum. Sejarah. Konstitusi. Atau bahkan, takdir dari Yang Maha Suci. Meski alasan sesungguhnya kerap cuma sekadar keganasan syahwat, yang amat fana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu pulalah, barangkali. Rejim yang lahir dari amis darah dan pembunuhan massal merasa perlu terus menjaga rasa was-was, teror, rasa takut, seraya terus menghunus sangkur berbilah-bilah. Kecurigaan--juga dengan demikian: teror, disebar sebagai upacara dan dinas yang memestikan kepatuhan. Setan yang mesti terus diburu pun tak pernah berubah. Namanya selalu sama, komunis, kiri, PKI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana? "Bagaimana" memang telanjur jadi tanda tanya besar buat kita. Sekurangnya setelah kita sadar, bahwa ternyata hidup tanpa konflik adalah sebuah harapan yang terlalu elok. Mungkin cuma di surga kita bisa mendengar hidup tanpa cekcok. Karena itu, orang bisa-bisa saja gotong royong memilih jalan bebal dengan merumuskan teologi permusuhan. Sementara di pihak sana mendisain struktur dan ideologi kebencian. Labirin permusuhan dibangun, dan banyak yang sengaja memerangkapkan diri di dalamnya. Menara-menara dibangun untuk saling mengintai, menyeringai, menghasut, menunggu waktu yang tepat untuk meluncurkan lembing, menarik pelatuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi. Beruntunglah bahwa ternyata sejarah tak melulu mewariskan perihal-perihal tragis dan ngeri. Perkara baik itu terjadi di India, ketika Mohandas Gandhi yang keluar masuk penjara tak serta merta muntab dan menggelorakan dendam setelah kemerdekaan digapai. Atau ketika Mugabe yang melancarkan gerilya terhadap rejim apartheid sama sekali tak mengogahi orang berkulit putih jadi panglima perang Zimbabwe setelah pasukannya berhasil meneguhkan kemenangan di tanah Rhodesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita-cerita semacam itu memang sangat indah, meski sangat jarang terjadi. Kisah yang hendak menyampaikan bahwa, kemampuan mengelola rasa sakit dan benci ternyata menyimpan pesan yang amat kudus. Di tengah kesanggupan dan ketangguhan untuk membasmi, untuk membalas, untuk meneror. Dan kita tiba-tiba teringat, bahwa manusia pelan-pelan beranjak makin bertambah renta. Akan ada anak dan cucu yang kita gelayuti kecemasan. Kita bisa memilih untuk tak menceburkan mereka dalam labirin dendam, kecemasan, rasa takut, dan siklus kekerasan yang tak putus-putus. Kita memilih kekuasaan yang bukan lahir dari darah terkucur, meski cuma sepercik. Karena akhirnya kita teringat pesan si Kurdi Saladin--lelaki yang kenyang dengan perang dan penaklukan--pada anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan sekali-kali tumpahkan darah, sebab darah yang terpercik tak akan pernah tertidur."&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;________________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber gambar: www.bruteprop.com&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11630049-3688539231512793333?l=aksarakauniyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-10-04T15:15:59.526+02:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://aksarakauniyah.blogspot.com/2007/10/k-u-s.html</feedburner:origLink></item><item><title>M e r d e k a</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/AksaraKauniyah/~3/NtVRGc9yTUk/m-e-r-d-e-k.html</link><author>aksarakauniyah@yahoo.com (Aksara Kauniyah)</author><pubDate>Thu, 16 Aug 2007 11:13:08 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-11630049.post-6442212991159672778</guid><description>&lt;center&gt;&lt;em&gt;Oleh&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;Aksara Kauniyah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/6QvyLkdl1_s" type="application/x-shockwave-flash" wmode="transparent"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;img style="border: 1px solid silver; padding: 5px; float: left; margin-right: 10px;" src="http://farm2.static.flickr.com/1064/1010716693_a1d2aa048b_m.jpg" /&gt;&lt;span style="float: left; line-height: 80px; padding-top: 1px; padding-right: 5px;font-family:arial;font-size:100;color:silver;" arial=""&gt;&lt;strong&gt;D&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;ari dalam bui, tak selamanya yang datang adalah warta kriminal dan pokok yang menjijikan. Penjara di Yunani menyebarkan asap dupa dari sesuatu yang amat kudus. Sesuatu yang terasa memesona dan menyentuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulanya adalah para kolonel yang beringas, merampas, menduduki tampuk dalam serangkai peristiwa kudeta. Yunani. Negeri yang menghebohi demokrasi sejak lebih 2 milenium lalu, hendak membekuk demokrasi, membikinnya jadi alien di rahim kelahirannya sendiri. Dan Panagoulis, penyair yang menyekutui kemerdekaan, memutuskan tak mau jadi figuran. Ia mengambil peran, sebagai sang pembangkang agung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, siksa yang durjana mulai bertandang. Jari-jari terkepal menandaskan wajah, Panagoulis berkali-kali terjengkang bersama serapah dan sesumbar para sersan yang kawakan mementaskan aniaya. Mulutnya dilibas, diinjak, dihantam. Punggungnya digebuk, kemaluannya dialiri listrik, kakinya digantung, dan dipaksa terus berdiri dalam kerangkeng sempit berhari-hari. Dan ia tetap menulis dari dalam bui. Di atas tembok atau kertas seadanya dengan darah selepas siksa sepanjang hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tak bermaksud menuai simpati dengan menulis sajak, atau menggandrungi gempita dari orang-orang yang mengelu-elu di sebalik tembok. Ia sekadar sadar akan harga diri dan kebebasan yang elok. Saat keluar dari sel tahanan, ia muncul sebagai seorang muda yang berwajah amat tua, sekaligus pilu. Fallaci, jurnalis terkemuka mengomentari. "Hari ketika pembebasan tiba, ia menyandang paras Yesus yang disalib berpuluh kali. Berpuluh kali."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebebasan tak cuma dirindu di ketika itu. Terutama sewaktu tiadanya kebebasan diberi arti, seperti yang coba diyakinkan Amartya Sen, sebagai tiadanya ruang buat memilih. Ada banyak hal yang semestinya menyajikan unggunan harap justru kandas lantaran, ternyata, ada banyak manusia yang tak bisa lain kecuali menjadi miskin. Rongga perubahan sengaja dibikin tamat—dan tak ada jalan mencicipi secuil kemakmuran. Tiadanya jalan, tiadanya pilihan, tiadanya kebebasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img style="border: 1px solid silver; padding: 5px; float: left; margin-right: 10px;" src="http://farm2.static.flickr.com/1177/1010716705_ce5faacda1_m.jpg" /&gt;Drama sinting mulai bekerja di banyak pagi. Anak-anak kecil yang terbungkuk mengangkut kaleng sepanjang trotoar kering di bawah terik. Sebagian yang lain berdesak-desak dengan maut saat jermal-jermal di lepas pantai memaksa mereka terus menenggak laut. Teman-teman mereka di tempat berbeda memelas di hadapan tamu-tamu restauran agar menyodorkan sepatu untuk sekadar dilap dan disemir. Sejumlah lainnya baku cakar demi memperebutkan beberapa botol bekas minuman di tepian Ciliwung untuk dijual kembali. Sementara malam, menjadi ancaman paling perih ketika banyak mata nanar mengintai, tangan-tangan gatal menggerayang, sibuk memaksa adegan-adegan seksual, dan tak jarang berakhir dengan kematian yang lugas. Di tengah drama semacam inilah, Tagore terdengar setengah justa ketika percaya, "Every child comes with the message that God is not yet discouraged of man." Tiap bayi yang terlahir ke dunia tiba dengan selembar pesan: Tuhan masih belum jera dengan manusia. Tuhan belum kapok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebebasan—bebas dari kemelaratan—terasa amat jauh. Tak semuanya seberuntung pendomisili Permata Hijau dan Pondok Indah di kawasan sebelah selatan Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, sebagaimana Panagoulis, orang seperti Mohandas Gandhi yang juga acap diganjar bui buru-buru membisik pesan. "Poverty is the worst form of violence." Karena seorang anak di tepian Sungai Gangga, India, ternyata berperawakan lebih ceking dibanding seekor anjing di Kota Sidney. Karena selembar sukma terjungkal 3 detik sekali setelah tak ada lagi nasi bisa mengganjal lambung yang merintih. Dan seandainya Anda membutuhkan waktu tak kurang dari 4 menit untuk menuntaskan esai ini, mohon diingat: Kelaparan baru saja membekuk tak kurang 80 nyawa manusia di waktu yang sama. Dan kematian itu—mohon maaf, saya tak bermaksud membangkitkan rasa bersalah—bisa bermula dari sebutir nasi yang tak kita acuhkan waktu sarapan tadi pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaman lekas bergegas, barangkali juga terengah-engah. Tapi sesuatu yang terekam dari fragmen itu ialah pelajaran yang buruk: hilangnya kebersamaan, lumatnya rasa syukur, alpanya kita berbagi. Sejenis gelombang rasa tak acuh telah membuat manusia terlibat dalam labirin penindasan yang ngeri. Ribuan angka kematian hanya akan ditatap tak lebih dari seonggok angka-angka statistik yang bosan. Dan kita masih tetap membiasakan hidup dalam rasa nyaman yang, sebetulnya, amat rapuh. Amat semu. Sejarah, agaknya, selalu begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu, adakah kita masih bisa terhibur dengan lagu kemerdekaan yang dikumandang setiap bulan Agustus. Karena jangan-jangan, kita pun sebenarnya tak betul-betul tahu apa yang ingin dirayakan: kemerdekaan, atau malah hilangnya kebebasan. Karena yang miskin bertambah banyak, sementara kemakmuran cuma ada dalam legenda Penataran P4. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum genap 8 windu, tapi rasanya masih susah untuk berhenti menangis. "Merdeka!" cetus ia yang sedang duduk di singgasana. Tapi apakah sebetulnya arti merdeka? Sekali waktu ada perlunya bertanya pada Budi kecil*. Yang hingga malam menjaja koran di kawasan Tugu Pancoran. Dalam hujan tak redup, yang membikinnya menggigil kuyup. Lelaki kecil yang dengan mulut bisunya akan berkata, "Kita (sebetulnya) belum merdeka." Lelaki kecil yang masih hidup petang ini, dan mati esok pagi. Karena tertindas. Setelah komplotan polisi pamong praja—yang demi menyambut hari kemerdekaan ingin menjadikan kawasan ibu kota terlihat lebih apik—menggebukinya hingga tewas. Yang demi merayakan kemerdekaan, menghalalkan terjadinya pembantaian dan memperpanjang riwayat penyiksaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kekejaman itu dikemas dalam sebuah dinas yang sopan seraya tetap bersemangat menyanyikan mars buah karya Wage Rudolf Supratman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Indonesia Raya&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Merdeka&lt;/em&gt;. &lt;em&gt;Merdeka&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;__________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Budi kecil adalah tokoh dalam lagu bertajuk Sore Tugu Pancoran yang disenandungkan Iwan Fals pada 1985.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber video  : You Tube&lt;br /&gt;Sumber photo 1: New Mexico State University&lt;br /&gt;Sumber photo 2: Human Rights Watch&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11630049-6442212991159672778?l=aksarakauniyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-08-16T20:13:08.084+02:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><media:content url="http://feedproxy.google.com/~r/AksaraKauniyah/~5/Q0UeVgNz1Qo/6QvyLkdl1_s" fileSize="1004" type="application/x-shockwave-flash" /><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Oleh Aksara Kauniyah Dari dalam bui, tak selamanya yang datang adalah warta kriminal dan pokok yang menjijikan. Penjara di Yunani menyebarkan asap dupa dari sesuatu yang amat kudus. Sesuatu yang terasa memesona dan menyentuh. Mulanya adalah para kolonel y</itunes:subtitle><itunes:author>Aksara Kauniyah</itunes:author><itunes:summary>Oleh Aksara Kauniyah Dari dalam bui, tak selamanya yang datang adalah warta kriminal dan pokok yang menjijikan. Penjara di Yunani menyebarkan asap dupa dari sesuatu yang amat kudus. Sesuatu yang terasa memesona dan menyentuh. Mulanya adalah para kolonel yang beringas, merampas, menduduki tampuk dalam serangkai peristiwa kudeta. Yunani. Negeri yang menghebohi demokrasi sejak lebih 2 milenium lalu, hendak membekuk demokrasi, membikinnya jadi alien di rahim kelahirannya sendiri. Dan Panagoulis, penyair yang menyekutui kemerdekaan, memutuskan tak mau jadi figuran. Ia mengambil peran, sebagai sang pembangkang agung. Maka, siksa yang durjana mulai bertandang. Jari-jari terkepal menandaskan wajah, Panagoulis berkali-kali terjengkang bersama serapah dan sesumbar para sersan yang kawakan mementaskan aniaya. Mulutnya dilibas, diinjak, dihantam. Punggungnya digebuk, kemaluannya dialiri listrik, kakinya digantung, dan dipaksa terus berdiri dalam kerangkeng sempit berhari-hari. Dan ia tetap menulis dari dalam bui. Di atas tembok atau kertas seadanya dengan darah selepas siksa sepanjang hari. Ia tak bermaksud menuai simpati dengan menulis sajak, atau menggandrungi gempita dari orang-orang yang mengelu-elu di sebalik tembok. Ia sekadar sadar akan harga diri dan kebebasan yang elok. Saat keluar dari sel tahanan, ia muncul sebagai seorang muda yang berwajah amat tua, sekaligus pilu. Fallaci, jurnalis terkemuka mengomentari. "Hari ketika pembebasan tiba, ia menyandang paras Yesus yang disalib berpuluh kali. Berpuluh kali." Kebebasan tak cuma dirindu di ketika itu. Terutama sewaktu tiadanya kebebasan diberi arti, seperti yang coba diyakinkan Amartya Sen, sebagai tiadanya ruang buat memilih. Ada banyak hal yang semestinya menyajikan unggunan harap justru kandas lantaran, ternyata, ada banyak manusia yang tak bisa lain kecuali menjadi miskin. Rongga perubahan sengaja dibikin tamat—dan tak ada jalan mencicipi secuil kemakmuran. Tiadanya jalan, tiadanya pilihan, tiadanya kebebasan. Drama sinting mulai bekerja di banyak pagi. Anak-anak kecil yang terbungkuk mengangkut kaleng sepanjang trotoar kering di bawah terik. Sebagian yang lain berdesak-desak dengan maut saat jermal-jermal di lepas pantai memaksa mereka terus menenggak laut. Teman-teman mereka di tempat berbeda memelas di hadapan tamu-tamu restauran agar menyodorkan sepatu untuk sekadar dilap dan disemir. Sejumlah lainnya baku cakar demi memperebutkan beberapa botol bekas minuman di tepian Ciliwung untuk dijual kembali. Sementara malam, menjadi ancaman paling perih ketika banyak mata nanar mengintai, tangan-tangan gatal menggerayang, sibuk memaksa adegan-adegan seksual, dan tak jarang berakhir dengan kematian yang lugas. Di tengah drama semacam inilah, Tagore terdengar setengah justa ketika percaya, "Every child comes with the message that God is not yet discouraged of man." Tiap bayi yang terlahir ke dunia tiba dengan selembar pesan: Tuhan masih belum jera dengan manusia. Tuhan belum kapok. Kebebasan—bebas dari kemelaratan—terasa amat jauh. Tak semuanya seberuntung pendomisili Permata Hijau dan Pondok Indah di kawasan sebelah selatan Jakarta. Maka, sebagaimana Panagoulis, orang seperti Mohandas Gandhi yang juga acap diganjar bui buru-buru membisik pesan. "Poverty is the worst form of violence." Karena seorang anak di tepian Sungai Gangga, India, ternyata berperawakan lebih ceking dibanding seekor anjing di Kota Sidney. Karena selembar sukma terjungkal 3 detik sekali setelah tak ada lagi nasi bisa mengganjal lambung yang merintih. Dan seandainya Anda membutuhkan waktu tak kurang dari 4 menit untuk menuntaskan esai ini, mohon diingat: Kelaparan baru saja membekuk tak kurang 80 nyawa manusia di waktu yang sama. Dan kematian itu—mohon maaf, saya tak bermaksud membangkitkan rasa bersalah—bisa bermula dari sebutir nasi yang tak kita acuhkan waktu sarapan tadi pagi. Jaman lekas bergegas, barangkali juga terengah-engah. Tapi sesuatu yang terekam dari fragmen itu ialah pelajaran yang buruk: hilangnya k</itunes:summary><itunes:keywords>Aksara,Kauniyah,politik,filsafat,renungan,demokrasi,islam,pluralisme</itunes:keywords><feedburner:origLink>http://aksarakauniyah.blogspot.com/2007/08/m-e-r-d-e-k.html</feedburner:origLink><enclosure url="http://feedproxy.google.com/~r/AksaraKauniyah/~5/Q0UeVgNz1Qo/6QvyLkdl1_s" length="1004" type="application/x-shockwave-flash" /><feedburner:origEnclosureLink>http://www.youtube.com/v/6QvyLkdl1_s</feedburner:origEnclosureLink></item><item><title>Rais</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/AksaraKauniyah/~3/Y9kByorPSHg/rais.html</link><author>aksarakauniyah@yahoo.com (Aksara Kauniyah)</author><pubDate>Thu, 14 Jun 2007 07:51:52 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-11630049.post-1636097178614780030</guid><description>&lt;center&gt;&lt;em&gt;Oleh&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;Aksara Kauniyah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/A-CTsNdqzdc" type="application/x-shockwave-flash" wmode="transparent"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pengalaman ini menyisa sebagai ingatan, turbulensi politik 9 tahun silam&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img style="border: 1px solid silver; padding: 5px; float: left; margin-right: 10px;" src="http://farm2.static.flickr.com/1059/547976474_dca5626456_m.jpg" /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="float: left; line-height: 80px; padding-top: 1px; padding-right: 5px;font-family:arial;font-size:100;color:silver;" arial=""&gt;&lt;strong&gt;B&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;erawal dari pertengahan 1997 ketika Asia dibekuk krisis, dan yang mapan belakangan bimbang. Demonstrasi yang semula cuma dianggap gerombolan tengik beranjak mengganas sejak Oktober di tahun yang sama. Jalan-jalan protokol di waktu malam tak lagi senyap. Bisik-bisik suksesi berkelindan dari dalam kantor-kantor megah sepanjang Sudirman-Kuningan, hingga pelayan warteg di sudut Terminal Kampung Rambutan. Aksentuasi kemarahan menggumpal dan mulai menemukan bentuk seraya membiarkan semua telunjuk mengacung marah. Pak Tua yang di pucuk hendak dipaksa ambruk. Mahameru oligarki siap meletus, memorakporandakan stabilitas yang perawakannya kelihatan kian renta dan miskin wibawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu tak tersedia waktu lebih banyak untuk terpekur. Dan membiarkan ketidakpedulian berkuasa saat paras khalayak semakin gerah dan berkeringat darah. Tapi, di semua lembaga pendidikan tinggi, politik telanjur diogahi. Obyektifitas kongruen artinya dengan mencipta jarak, atau jembatan yang gerbangnya digelayuti gembok. Tak ada pintu masuk buat jelata untuk sekadar mencelotehkan keluh. Mahasiswa di kampus Orba telanjur patuh pada struktur yang dingin, &lt;em&gt;cuek&lt;/em&gt; pada sekitar. Semua atas nama obyektifitas, dan politik yang selalu dikampanyekan dengan ngeri. Dosen yang bertingkah setengah tuhan gemar mewariskan kepandaian tentang stabilitas, dan kadang-kadang trilogi pembangunan yang tak jelas arah. Dari lokus itulah kaum terdidik mengintip sedikit-sedikit. Menara kaum terpelajar—candradimuka bagi manusia-manusia pasrah. Kapele persembahan spesies manusia fatalis yang membiarkan diri diubah menjadi hamba-hamba taat bagi raksasa korporasi, ataupun komprador masa depan elit birokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbulan-bulan lewat, waktu berjalan terlalu lekas. Detik demi detik yang tak bisa ditambatkan akhirnya menumpas kesabaran yang cuma secuil menyisa. Perlawanan kian membelukar, hingga akhirnya menumbangkan korban di kampus Trisakti. Kegeraman makin sengit, dan banyak yang merasa: labirin ketidakpastian harus lekas diamputasi sumbernya. Gedung parlemen diduduki. Gelombang massa bergerak sejak Senin, 18 Mei 1998. Tiga hari setelahnya, tanpa diduga Soeharto memilih berhenti. Habibie bersumpah di atas tampuk dan menjadi ahli waris semata wayang yang kesepian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu. Akademisi terlalu banyak menyendiri, hidup nyaman, berumah di atas awan, dan tak sedikit yang menjadi pelumas kekuasaan. Amat sedikit yang bersuara, lebih sedikit lagi yang mau berpeluh, menyusun rencana dan kerja-kerja. Tetapi, kegersangan itu punah, prasangka itu terbantah. Segera, setelah lelaki serampang asal Yogya berlogat Jawa mengusik kuasa. Amien Rais menabuh beduk, memanggil orang-orang datang, dari lokus paling feodal di &lt;em&gt;archiepilago&lt;/em&gt; sebelah tenggara asia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan kali ini tentang dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amien bukan tak mengerti kalau ancaman kematian meradang setiap kali. Sewaktu katup mata terbuka, dia adalah yang paling tahu bagaimana merayakan hidup. Syukur itu bisa dimafhum, karena amis darah yang diberitakan televisi petang itu bisa menceritakan tentang dirinya di hari lain kali. Bukan tanpa cemas, tapi hasrat menyelamatkan biduk berpenumpang 250 juta sukma, apa boleh buat, harus bisa meredup takut yang acap menggelayut. Ia menaruh jasad sendiri, menerobos badai yang belum berhenti menggebuk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali memang cuma dia yang dengan &lt;em&gt;pede&lt;/em&gt; menunjuk diri sebagai calon presiden pengganti ketika Soeharto masih menggenggam kuasa. Ketika itu, sebagaimana babi, suksesi adalah najis &lt;em&gt;untouchable&lt;/em&gt;. Haram disentuh. Ia menantang, dan akibat itu pula didesas-desusi yang bukan-bukan. Kekuasaan amat menggoda. Buntutnya, seribu prasangka purba dialamatkan pada dia yang tengah ketiban amanat sejarah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kita mengenal drama itu. Ketika Dewan Reformasi yang tergesa-gesa di bawah kendali penguasa lama mau dibentuk. Episode sebuah drama politik yang menyirati alih kendali yang samar-samar, suksesi yang sebisanya dibikin &lt;em&gt;soft&lt;/em&gt;. Ia dilamar, dan ia menolak kesempatan terdampar ke atas tampuk. Amien tetap setia di luar pekarangan. Buatnya, jalan demokrasi adalah kepatuhan bulat pada agenda elektoral. Dari pentas itu kita bukan cuma mencium nafas seorang demokrat yang menaati prosedur, melainkan seorang yang juga mengogahi kerakusan hidup. Seseorang yang terus mengasah keterampilan menghindari kolusi, perselingkuhan politik, dan tentu saja, korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adegan itu belum berhenti, dalam klimaks geger di gedung parlemen setahun kemudian. Habibie tak tertolong. MPR mengeluarkan kartu merah untuk pertanggungjawaban yang disodor. Banyak faksi bergegas ke Kuningan. Habibie memohon agar Amien bersedia dicalonkan. Nyaris semua pimpinan partai mendesak, setengah meminta-minta. Wiranto yang masih jadi panglima memeluk, berkeras meyakinkan. Hampir-hampir tak ada yang menyengketai Amien dari kaukus yang sudah berembuk. Amien mesti maju. Dia termenung dan tak menjawab. Hanya buru-buru pulang, dan salat subuh. Hasilnya, ia menelpon pagi-pagi sekali, menolak pencalonan kali itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuasaan memang bisa sangat konyol, &lt;em&gt;crazy&lt;/em&gt;, banal, tengik, jijik, &lt;em&gt;shit&lt;/em&gt;. Utamanya ketika nyaris semua orang diajak untuk merangsek, berlomba, dan lantas berpikir: Dengan cara itulah semua hal bisa ditekuk. Banyak kerongkongan akhirnya berseru sumbang. Gelombang amarah dan kekecewaan yang, mau bagaimana lagi, menjulang amat tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi justru karena itulah, saya menjauhi kegegabahan untuk buru-buru mengatakan reformasi telanjur mati di hari kelahirannya. Sekurangnya bila mengingat penabuh beduknya, Amien Rais, yang ketika disinyalir menerima aliran dana DKP (yang tidak diketahuinya sebagai hasil korupsi), meminta negara lekas mengadili dirinya. Amien hendak mengajarkan terapi yang bisa menghindarkan semua penghuni biduk bisa lepas dari kesalahan-kesalahan menahun: korupsi tanpa kendali. Meski cara yang ia ungguli kali ini beresiko mencampakkannya ke dalam bui, atau menamatkan karir politiknya hancur berkeping-keping.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ia mulai mendidik, seperti yang diajari nabi, dari diri sendiri. Dalam cara yang amat memikat kita menangkap pesan: keadilan itu pertama-tama bukan produk cangkokan yang diambil dari berbagai literatur barat—apalagi sekadar penataran P4. Melainkan sebuah pergulatan dalam masyarakat yang terus melahirkan moralitas dan kearifan. Dan setiap kita bisa salah, bisa tergelincir, bisa khilaf. Tapi salah, khilaf, dan ketergelinciran itu kita tahu, tak diniatkan sejak awal. Kejujuran yang ditampilkan makhluk Tuhan seperti Amienlah yang membuat kita selalu punya alasan untuk menerbitkan harapan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia yang memilih jalan adil, bukan kelindan kelit. &lt;em&gt;Rais&lt;/em&gt; yang baik, &lt;em&gt;rais&lt;/em&gt; yang meninggalkan jejak-jejak kearifan. Seperti yang Anda dan saya lihat, Amien sudah menekuni titah Tuhan itu.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11630049-1636097178614780030?l=aksarakauniyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-06-14T16:51:52.307+02:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><media:content url="http://feedproxy.google.com/~r/AksaraKauniyah/~5/SoHDti75yMI/A-CTsNdqzdc" fileSize="1050" type="application/x-shockwave-flash" /><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Oleh Aksara Kauniyah Pengalaman ini menyisa sebagai ingatan, turbulensi politik 9 tahun silam. Berawal dari pertengahan 1997 ketika Asia dibekuk krisis, dan yang mapan belakangan bimbang. Demonstrasi yang semula cuma dianggap gerombolan tengik beranjak me</itunes:subtitle><itunes:author>Aksara Kauniyah</itunes:author><itunes:summary>Oleh Aksara Kauniyah Pengalaman ini menyisa sebagai ingatan, turbulensi politik 9 tahun silam. Berawal dari pertengahan 1997 ketika Asia dibekuk krisis, dan yang mapan belakangan bimbang. Demonstrasi yang semula cuma dianggap gerombolan tengik beranjak mengganas sejak Oktober di tahun yang sama. Jalan-jalan protokol di waktu malam tak lagi senyap. Bisik-bisik suksesi berkelindan dari dalam kantor-kantor megah sepanjang Sudirman-Kuningan, hingga pelayan warteg di sudut Terminal Kampung Rambutan. Aksentuasi kemarahan menggumpal dan mulai menemukan bentuk seraya membiarkan semua telunjuk mengacung marah. Pak Tua yang di pucuk hendak dipaksa ambruk. Mahameru oligarki siap meletus, memorakporandakan stabilitas yang perawakannya kelihatan kian renta dan miskin wibawa. Saat itu tak tersedia waktu lebih banyak untuk terpekur. Dan membiarkan ketidakpedulian berkuasa saat paras khalayak semakin gerah dan berkeringat darah. Tapi, di semua lembaga pendidikan tinggi, politik telanjur diogahi. Obyektifitas kongruen artinya dengan mencipta jarak, atau jembatan yang gerbangnya digelayuti gembok. Tak ada pintu masuk buat jelata untuk sekadar mencelotehkan keluh. Mahasiswa di kampus Orba telanjur patuh pada struktur yang dingin, cuek pada sekitar. Semua atas nama obyektifitas, dan politik yang selalu dikampanyekan dengan ngeri. Dosen yang bertingkah setengah tuhan gemar mewariskan kepandaian tentang stabilitas, dan kadang-kadang trilogi pembangunan yang tak jelas arah. Dari lokus itulah kaum terdidik mengintip sedikit-sedikit. Menara kaum terpelajar—candradimuka bagi manusia-manusia pasrah. Kapele persembahan spesies manusia fatalis yang membiarkan diri diubah menjadi hamba-hamba taat bagi raksasa korporasi, ataupun komprador masa depan elit birokrasi. Berbulan-bulan lewat, waktu berjalan terlalu lekas. Detik demi detik yang tak bisa ditambatkan akhirnya menumpas kesabaran yang cuma secuil menyisa. Perlawanan kian membelukar, hingga akhirnya menumbangkan korban di kampus Trisakti. Kegeraman makin sengit, dan banyak yang merasa: labirin ketidakpastian harus lekas diamputasi sumbernya. Gedung parlemen diduduki. Gelombang massa bergerak sejak Senin, 18 Mei 1998. Tiga hari setelahnya, tanpa diduga Soeharto memilih berhenti. Habibie bersumpah di atas tampuk dan menjadi ahli waris semata wayang yang kesepian. Sementara itu. Akademisi terlalu banyak menyendiri, hidup nyaman, berumah di atas awan, dan tak sedikit yang menjadi pelumas kekuasaan. Amat sedikit yang bersuara, lebih sedikit lagi yang mau berpeluh, menyusun rencana dan kerja-kerja. Tetapi, kegersangan itu punah, prasangka itu terbantah. Segera, setelah lelaki serampang asal Yogya berlogat Jawa mengusik kuasa. Amien Rais menabuh beduk, memanggil orang-orang datang, dari lokus paling feodal di archiepilago sebelah tenggara asia. Catatan kali ini tentang dia. Amien bukan tak mengerti kalau ancaman kematian meradang setiap kali. Sewaktu katup mata terbuka, dia adalah yang paling tahu bagaimana merayakan hidup. Syukur itu bisa dimafhum, karena amis darah yang diberitakan televisi petang itu bisa menceritakan tentang dirinya di hari lain kali. Bukan tanpa cemas, tapi hasrat menyelamatkan biduk berpenumpang 250 juta sukma, apa boleh buat, harus bisa meredup takut yang acap menggelayut. Ia menaruh jasad sendiri, menerobos badai yang belum berhenti menggebuk. Barangkali memang cuma dia yang dengan pede menunjuk diri sebagai calon presiden pengganti ketika Soeharto masih menggenggam kuasa. Ketika itu, sebagaimana babi, suksesi adalah najis untouchable. Haram disentuh. Ia menantang, dan akibat itu pula didesas-desusi yang bukan-bukan. Kekuasaan amat menggoda. Buntutnya, seribu prasangka purba dialamatkan pada dia yang tengah ketiban amanat sejarah. Dan kita mengenal drama itu. Ketika Dewan Reformasi yang tergesa-gesa di bawah kendali penguasa lama mau dibentuk. Episode sebuah drama politik yang menyirati alih kendali yang samar-samar, suksesi yang sebisanya dibikin soft. Ia dilamar, dan ia menolak kese</itunes:summary><itunes:keywords>Aksara,Kauniyah,politik,filsafat,renungan,demokrasi,islam,pluralisme</itunes:keywords><feedburner:origLink>http://aksarakauniyah.blogspot.com/2007/06/rais.html</feedburner:origLink><enclosure url="http://feedproxy.google.com/~r/AksaraKauniyah/~5/SoHDti75yMI/A-CTsNdqzdc" length="1050" type="application/x-shockwave-flash" /><feedburner:origEnclosureLink>http://www.youtube.com/v/A-CTsNdqzdc</feedburner:origEnclosureLink></item><item><title>Mengenang Kepergian Susan SontagSeni dan Kemanusiaan</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/AksaraKauniyah/~3/FC50VyCs1to/mengenang-kepergian-susan-sontag-seni.html</link><author>aksarakauniyah@yahoo.com (Aksara Kauniyah)</author><pubDate>Tue, 15 May 2007 19:09:15 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-11630049.post-2248068884501030052</guid><description>&lt;center&gt;&lt;em&gt;Oleh&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;Aksara Kauniyah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/81cgYC5056Y" type="application/x-shockwave-flash" wmode="transparent"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img style="border: 1px solid silver; padding: 5px; float: left; margin-right: 10px;" src="http://farm1.static.flickr.com/232/496732769_a2d04fb1e5_m.jpg" /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="float: left; line-height: 80px; padding-top: 1px; padding-right: 5px;font-family:arial;font-size:100;color:silver;" arial=""&gt;&lt;strong&gt;P&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;esimisme pernah mengepung ketika vonis leukimia akhirnya benar-benar jatuh. Surat kabar diogahi karena, "Untuk apa membaca koran, kalau semua dokter sudah menjatuhi hukuman mati." Jawabnya kedengaran ketus, barangkali juga pesimis. Ia boleh jadi putus asa waktu itu. Daya tarungnya sempat kandas akibat rasa takut akan kematian yang terasa ingin lekas-lekas menubruk. Tapi nuraninya masih bening, tetap hidup, dan melulu menjerit untuk tiap kecelakaan yang mengobrak-abrik urusan keadilan. Frustasi dan sikap menyesali diri sendiri berhasil ia taklukkan, kemudian. Ingatannya yang tak putus pada kemanusiaan menjadi ruh baru yang membangkitkan tiap sel dalam tubuhnya untuk terus berontak, untuk terus membangkang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu, Susan Sontag. Sasterawan masyhur yang didaulat harian &lt;em&gt;Le Monde&lt;/em&gt; sebagai tokoh sentral cendikiawan kiri paling terkemuka asal Amerika Serikat. Di usia ke-71 ia meninggalkan dunia dengan tenang di sebuah rumah sakit penanganan kanker, New York. Dunia kehilangan hal-hal besar yang sempat, ataupun belum, ia wariskan. Meski diakui ia telah banyak membangun kebiasaan-kebiasaan baru yang mentradisi bagi peradaban yang muram. Tapi, dunia sungguh-sungguh kehilangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kali ia bertandang ke sepotong kubangan tempat perang tengah dikobar. Ke Sarajevo yang saat itu tengah terkepung dari segala arah. Ia mengendap-endap, menghindari peluru yang sangat mungkin membuatnya tewas dalam sekelebat. Dari jarak dekat, ia pandangi setiap korban yang menemui ajal. Pada wajah-wajah yang mengerang ia mengulur tangan bantuan. Hari itu kian bulat ia beriman: chauvinisme, juga fundamentalisme, adalah virus yang mematikan. Sontag meradang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia begitu setia pada kenyataan. Pada kenyataan tak tersedia ruang untuk berlaku sinis. Yang ada sekadar parade panjang tentang hubungan antarmanusia yang tak mengenal teritorial, ras, agama, ataupun golongan. Pada petaka kemanusiaan ia kerap melempar kesal. Bukan kematian yang tengah ia gugat—melainkan laku serakah yang mengantarkan manusia pada kebinasaan. Moralitas di sebalik sebab kematian yang ia sesalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan juga mengajarkan hal penting di sisinya yang berbeda, kejujuran. Sebagai cendikiawan terkemuka, Sontag memahami sepenuh hati makna sekelindan panggilan. Sangat mungkin untuknya berdiam dalam kemegahan ruang kerja tanpa dibayangi gerilya peluru serdadu yang tengah dipacu syahwat tribal. Berumah di atas awan bukan perkara musykil. Tapi semua itu mengingkari kenyataan, tak bersungguh-sungguh memenuhi panggilan. Rekreasi intelektual adalah haram, karena ilmu tak lantas bebas nilai. Terhadap netralitas yang kabur ia mengejek sebagai sikap pengecut untuk memihaki kebenaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena keyakinannya itu pula, Susan Sontag, seorang perempuan yahudi, menolak penghargaan dengan nilai besar, &lt;em&gt;Jerusalem Prize&lt;/em&gt;. Sebuah penghargaan yang diberikan di Israel bagi sejumlah tokoh yang dianggap banyak berperan dalam menyelamatkan perdamaian dunia. Penolakannya menjadi cikal sensasi waktu itu. "Dapatkah Anda bayangkan," tanyanya, retoris, "saya menerima penghargaan di sana, di mana terjadi unjuk kekuasaan yang menolak kehendak bangsa Palestina membangun negara di atas tanahnya sendiri?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang mencibir ketika itu, tapi ia tegar. Ia memilih bertahan dan menyodorkan keras kepala. Sebagai seorang yahudi tak ada niat untuk menyangkal, namun kebenaran bukan soal nasab atau relasi &lt;em&gt;kinship&lt;/em&gt;. Keberpihakannya jelas tidak membabi buta. Ia sadar, dan menerima semua itu sebagai resiko atas pilihan yang benar. Lantas, tak sedikit pula yang terkesan. Bersama Noam Chomsky dan Edward Said, Susan Sontag berdiri menegakkan kepala meludahi kepongahan yang kelihatan megah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta terhadap tanah air bukan barang haram—apalagi dikenai fatwa najis. Moralitas sejenis itu merupakan perihal wajar dan dapat dimaklumkan. Persoalannya mungkin terletak pada sampai batas mana ekspresi macam itu bisa menempuhi tenggangnya. Manusia tak mungkin membutakan diri terhadap kenyataan-kenyataan brutal, bahwa kebenaran bisa dilanggar dalam nama patriotisme dan kebanggan nasional. Tradisi agung yang diwariskan masa lalu hanya akan mendudukkan George Washington, presiden AS pertama yang dikenal jujur, duduk terpaku sendirian dalam murung yang sangat. Ketika nasionalisme sengit makin sulit dibedakan dari chauvinisme, ketika slogan demokrasi cuma menyajikan kerja-kerja penyeragaman yang membikin darah makin banyak tumpah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit orang yang tak memilih dusta. Dari yang sedikit itu, jauh lebih kecil jumlah orang yang punya keberanian menempuh resiko untuk berkata "tidak" dalam keyakinannya. Susan Sontag satu di antaranya, ketika Presiden Bush mengambil inisiatif untuk melakukan invasi menuju Irak. Pro dan kontra memang tak bisa dihindar. Ada muslihat yang dikemas dalam kado demokrasi bagi Irak. Muaranya diketahui mudah: perkara jatah emas hitam yang membangkitkan syahwat merampok, syahwat memerkosa, syahwat merampas. Demi nominal dolar itu juga, ada banyak korban tewas dan tawanan yang dipermalukan. Gerilya ternyata jauh dari kata habis di negeri seribu satu malam. Pengeboman dan penembak jitu berkeliaran di banyak kawasan, nyaris tak ada persembunyian yang layak. Sementara nyawa manusia, dihitung tak ubahnya seperti mendengar detak jantung. Dalam kesadaran sebagian serdadu, nyawa seekor kucing peliharaan di Amerika Serikat lebih berharga ketimbang manusia Irak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari mana Sontag meliberasi pikiran-pikiran bebasnya? Sejak mula ia diberikan pemahaman sederhana dalam keluarga: sastera sebagai hal yang serius. Keluarga tempat ia dibesarkan mengajarkan keagungan, moralitas, ruh, dan spiritualitas. Tapi itu tak gampang. Sebabnya, lebih karena aksara dan kata-kata kerap kehilangan makna. Saat tercipta senjang yang panjang, kata membuatnya teralienasi dari realita—sebentuk keterasingan yang sukar dipaham. Belakangan ia sadar, perlu daya diri untuk berani melampau. Ia melakukan, ia membebaskan diri. Dan ia, berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maka, ketika saya menulis," tegasnya suatu kali, "saya berharap dapat membawa sesuatu yang lebih fundamental dan lebih dalam mengenai hubungan antarmanusia. Dalam keadaan demikian, saya tenggelam dalam renungan egoistik dan keterasingan." Lebih jauh ia menyimpulkan sendiri, "Saya banyak dirubah oleh sastera."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Notes on Camp&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Against Interpretation&lt;/em&gt; menjadi dua esai paling legendaris dalam riwayat penulisan Sontag. Gagasan yang didendangkan meyuarakan keliaran yang hingar, dalam, menggoda, &lt;em&gt;sexy&lt;/em&gt;—sekaligus mengundang eksotisme yang dipuja, yang tak dipunya sebarang penulis. Ia menggugat interpretasi kelewatan yang dianggap menghindari penalaran intuitif. Penafsiran semacam itu disebutnya sebagai balas dendam, sebuah penaklukan intelektualitas atas seni. Barangkali ini sekaligus menunjukkan kesetiaannya pada kenyataan, sesuatu yang ia patuhi sejak lama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulasannya mengenai Sartre, Camus, dan &lt;a href="http://aksarakauniyah.blogspot.com/2005/04/simone-weil.html"&gt;Simone Weil&lt;/a&gt; ikut menunjukkan posisinya dalam barisan penulis yang dikenang sebagai kiri. Ada hal yang menyisa dalam diri Sontag dari &lt;a href="http://aksarakauniyah.blogspot.com/2005/04/simone-weil.html"&gt;Weil&lt;/a&gt; yang divonis bunuh diri oleh para dokter yang merawat. &lt;a href="http://aksarakauniyah.blogspot.com/2005/04/simone-weil.html"&gt;Weil&lt;/a&gt; sengaja melaparkan diri—menghindar makan karena satu sebab: solidaritas terhadap rakyat Perancis yang tengah diokupasi tentara NAZI. &lt;a href="http://aksarakauniyah.blogspot.com/2005/04/simone-weil.html"&gt;Weil&lt;/a&gt; memang sensitif—dan kearifan itu direinkarnasikan secara sempurna ke dalam jiwa Sontag.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga di satu ketika. Skandal penjara Abu Gharib yang memperlakukan tawanan Irak dalam cara keji akhirnya terbongkar. Tak perlu waktu lama, kritik pedas dilepaskan dari lidah sang penyair terkemuka. Kutukan itu agaknya membekas, mewakili suara langka dari kekuatan kiri di Amerika Serikat. Ada aroma berani, peka, dan daya dobrak yang tercium pekat kali itu. Aroma yang berlawanan dengan arus utama elit politik yang ditimpa &lt;em&gt;paranoid&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya mesti bicara. Saya harus mengartikulasikan pikiran saya terhadap politik dan tindakan pemerintah Amerika—tentang sikap dan krisis kontemporer yang tengah dihadapi negeri ini. Selayaknya saya berbicara dengan nada tinggi!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan nada tinggi. Sontag memang bertutur dengan nada yang tinggi. Tapi jelas itu bukan emosi—melainkan sebuah penisbatan ofensif terhadap rasionalitas dan kenyataan yang sedari lama ia tekuni. Menginjak usia ke-71 suaranya masih melengking, gramofon tua yang tak kunjung serak. Dan kepergian itu menjadi kehilangan yang terlalu terasa. Sekian lama bertahan dalam riak badai, kini ia mengabdi pada kesunyian. Keabadian yang menyertai dalam damai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di penghujung usia ia masih tetap mengingatkan agar para penguasa di tanah airnya tak lagi membuat propaganda yang hanya berisi 3 perkara: dusta, dusta, dusta. Karena ternyata ia cuma bakal mereproduksi kecewa, kecewa, kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sontag usai pergi. Dunia telanjur kehilangan pribadi yang masih mau membiarkan diri digerakkan kewarasan nurani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11630049-2248068884501030052?l=aksarakauniyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-05-16T04:09:15.419+02:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><media:content url="http://feedproxy.google.com/~r/AksaraKauniyah/~5/NcrYAAwZbAI/81cgYC5056Y" fileSize="1012" type="application/x-shockwave-flash" /><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Oleh Aksara Kauniyah Pesimisme pernah mengepung ketika vonis leukimia akhirnya benar-benar jatuh. Surat kabar diogahi karena, "Untuk apa membaca koran, kalau semua dokter sudah menjatuhi hukuman mati." Jawabnya kedengaran ketus, barangkali juga pesimis. I</itunes:subtitle><itunes:author>Aksara Kauniyah</itunes:author><itunes:summary>Oleh Aksara Kauniyah Pesimisme pernah mengepung ketika vonis leukimia akhirnya benar-benar jatuh. Surat kabar diogahi karena, "Untuk apa membaca koran, kalau semua dokter sudah menjatuhi hukuman mati." Jawabnya kedengaran ketus, barangkali juga pesimis. Ia boleh jadi putus asa waktu itu. Daya tarungnya sempat kandas akibat rasa takut akan kematian yang terasa ingin lekas-lekas menubruk. Tapi nuraninya masih bening, tetap hidup, dan melulu menjerit untuk tiap kecelakaan yang mengobrak-abrik urusan keadilan. Frustasi dan sikap menyesali diri sendiri berhasil ia taklukkan, kemudian. Ingatannya yang tak putus pada kemanusiaan menjadi ruh baru yang membangkitkan tiap sel dalam tubuhnya untuk terus berontak, untuk terus membangkang. Perempuan itu, Susan Sontag. Sasterawan masyhur yang didaulat harian Le Monde sebagai tokoh sentral cendikiawan kiri paling terkemuka asal Amerika Serikat. Di usia ke-71 ia meninggalkan dunia dengan tenang di sebuah rumah sakit penanganan kanker, New York. Dunia kehilangan hal-hal besar yang sempat, ataupun belum, ia wariskan. Meski diakui ia telah banyak membangun kebiasaan-kebiasaan baru yang mentradisi bagi peradaban yang muram. Tapi, dunia sungguh-sungguh kehilangan. Suatu kali ia bertandang ke sepotong kubangan tempat perang tengah dikobar. Ke Sarajevo yang saat itu tengah terkepung dari segala arah. Ia mengendap-endap, menghindari peluru yang sangat mungkin membuatnya tewas dalam sekelebat. Dari jarak dekat, ia pandangi setiap korban yang menemui ajal. Pada wajah-wajah yang mengerang ia mengulur tangan bantuan. Hari itu kian bulat ia beriman: chauvinisme, juga fundamentalisme, adalah virus yang mematikan. Sontag meradang. Ia begitu setia pada kenyataan. Pada kenyataan tak tersedia ruang untuk berlaku sinis. Yang ada sekadar parade panjang tentang hubungan antarmanusia yang tak mengenal teritorial, ras, agama, ataupun golongan. Pada petaka kemanusiaan ia kerap melempar kesal. Bukan kematian yang tengah ia gugat—melainkan laku serakah yang mengantarkan manusia pada kebinasaan. Moralitas di sebalik sebab kematian yang ia sesalkan. Kenyataan juga mengajarkan hal penting di sisinya yang berbeda, kejujuran. Sebagai cendikiawan terkemuka, Sontag memahami sepenuh hati makna sekelindan panggilan. Sangat mungkin untuknya berdiam dalam kemegahan ruang kerja tanpa dibayangi gerilya peluru serdadu yang tengah dipacu syahwat tribal. Berumah di atas awan bukan perkara musykil. Tapi semua itu mengingkari kenyataan, tak bersungguh-sungguh memenuhi panggilan. Rekreasi intelektual adalah haram, karena ilmu tak lantas bebas nilai. Terhadap netralitas yang kabur ia mengejek sebagai sikap pengecut untuk memihaki kebenaran. Karena keyakinannya itu pula, Susan Sontag, seorang perempuan yahudi, menolak penghargaan dengan nilai besar, Jerusalem Prize. Sebuah penghargaan yang diberikan di Israel bagi sejumlah tokoh yang dianggap banyak berperan dalam menyelamatkan perdamaian dunia. Penolakannya menjadi cikal sensasi waktu itu. "Dapatkah Anda bayangkan," tanyanya, retoris, "saya menerima penghargaan di sana, di mana terjadi unjuk kekuasaan yang menolak kehendak bangsa Palestina membangun negara di atas tanahnya sendiri?" Banyak orang mencibir ketika itu, tapi ia tegar. Ia memilih bertahan dan menyodorkan keras kepala. Sebagai seorang yahudi tak ada niat untuk menyangkal, namun kebenaran bukan soal nasab atau relasi kinship. Keberpihakannya jelas tidak membabi buta. Ia sadar, dan menerima semua itu sebagai resiko atas pilihan yang benar. Lantas, tak sedikit pula yang terkesan. Bersama Noam Chomsky dan Edward Said, Susan Sontag berdiri menegakkan kepala meludahi kepongahan yang kelihatan megah. Cinta terhadap tanah air bukan barang haram—apalagi dikenai fatwa najis. Moralitas sejenis itu merupakan perihal wajar dan dapat dimaklumkan. Persoalannya mungkin terletak pada sampai batas mana ekspresi macam itu bisa menempuhi tenggangnya. Manusia tak mungkin membutakan diri terhadap kenyataan-kenyataan brutal, bahwa kebenaran bisa dil</itunes:summary><itunes:keywords>Aksara,Kauniyah,politik,filsafat,renungan,demokrasi,islam,pluralisme</itunes:keywords><feedburner:origLink>http://aksarakauniyah.blogspot.com/2007/05/mengenang-kepergian-susan-sontag-seni.html</feedburner:origLink><enclosure url="http://feedproxy.google.com/~r/AksaraKauniyah/~5/NcrYAAwZbAI/81cgYC5056Y" length="1012" type="application/x-shockwave-flash" /><feedburner:origEnclosureLink>http://www.youtube.com/v/81cgYC5056Y</feedburner:origEnclosureLink></item><item><title>Intervista con la Storia:Katarsis Penghujung Tahun</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/AksaraKauniyah/~3/_PdUW3_vBw8/intervista-con-la-storia-katarsis.html</link><author>aksarakauniyah@yahoo.com (Aksara Kauniyah)</author><pubDate>Sun, 02 Mar 2008 05:31:05 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-11630049.post-7614088205140216689</guid><description>&lt;center&gt;&lt;em&gt;Oleh&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;Aksara Kauniyah&lt;/strong&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="float: left; line-height: 80px; padding-top: 1px; padding-right: 5px;font-family:arial;font-size:100;color:silver;" arial=""   &gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;10&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;Mei 1933 yang gemetar di kota Berlin&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari merayap larut. Kesejukan kali itu tak bernama. Puluhan gagak termangu, mencekam suasana malam yang terasa kian horor. Purnama belum bertandang. Kelelawar memeluk gelap yang muram. Segerombolan tentara dan sejumlah orang muda menggedor gedung utama perpustakaan Humboldt Universitaet di tepian Unter den Linden. Di tempat itu bersemayam ribuan literatur terkemuka. Pengepung itu menyergap, mengemban titah esa: membakar karya-karya utama para pembangkang fasisme. Gelombang pemberontakan yang ditiupkan dari ruang-ruang kuliah digeruduk teror dari seorang yang menyebutnya dirinya &lt;em&gt;Der Führer&lt;/em&gt;. Seorang seniman gagal, Adolf Hitler. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img style="border: 1px solid silver; padding: 5px; float: left; margin-right: 10px;" src="http://farm1.static.flickr.com/200/491184978_29c552d21b_m.jpg" /&gt;Kemarahannya tak bisa makzul. Hitler menyumpahserapahi Friedrich der Große yang &lt;em&gt;kadung&lt;/em&gt; membangun Forum Fridericianum 2 abad silam—pengawal kekar bagi kebebasan ilmu pengetahuan, seni, dan agama. Dalam tempo sekelebat, fatwa kanselir berkumis tanggung mengobrak-abrik keindahan semi Eropa menjadi unggun bertemperatur 451 Farenheit. Aroma menyengat kertas terbakar tak kurang 20.000 buku menandai dimulainya episode pembantaian massal. "Das war nur ein Vorspiel: Dort wo man Bücher verbrennt, verbrennt man am Ende auch Menschen." (Semua sekadar &lt;em&gt;preambule&lt;/em&gt;: ketika orang membakar buku-buku, pada akhirnya akan membakar manusia). Heinrich Heine menyusun ramalan itu. Benar saja, Adolf yang berdarah yahudi menjungkal tak kurang 6 juta sukma ke kubang kematian. Parade masokhisme dikobarkan dengan sambutan meriah untuk sepotong alasan tak waras: kemuliaan ras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja amalan demikian melahirkan banyak kutukan, kemudian. Demi mengenang kelakuan banal itu, Micha Ullman membangun monumen bertajuk &lt;em&gt;Der leere Platz&lt;/em&gt;. Sebuah ruang sunyi bawah tanah beratap kaca. Sengaja dibiarkan hampa dari buku—hanya rak-rak bisu yang tertinggal. Sepenggal kekosongan, namun menyuarakan banyak hal. Nyaris tak ada perubahan berarti seperti saat kali terakhir gerombolan itu akhirnya bergegas pergi. Ruang itu adalah perpustakaan, tempat buku-buku disimpan sebelum dibakar 7 dasawarsa silam. Monumen itu hendak mengingatkan, menumpas perbedaan tak akan pernah menemukan legitimasi yang adil sebagai alasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10 Mei 1933 mewakili sebuah era yang suntuk dan kerdil. &lt;em&gt;Bonfire of liberties&lt;/em&gt;, pencampakan kebebasan atas nama stabilitas dan penaklukan pidana subversif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup memang dihinggapi terlalu banyak soal-soal tak karuan. Tapi, selalu ada hal-hal pasti untuk mengawali interrelasi. Antara lain, kebebasan dan perbedaan. Sejak mula kreasi makhluk pertama telah dijumpai semacam aksioma pada semesta: keseragaman ditakdirkan batal. Keniscayaan demikian tentu mengandaikan kebebasan—jaminan bagi diversitas individual manusia. Tak selamanya mudah. Karena padanya, terdapat iba sebongkah perasaan yang menuntut kesabaran, tenggang, sikap adil dan jujur, keberanian mengucap salam pada rasa takut yang acap memepet .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila tidak, apa boleh buat, sejarah barangkali hanya akan dikisahi dengan cerita amuk dan darah dari manusia digdaya yang lagi berkuasa.  Sekadar pewarisan tentang laku aniaya dan siklus dendam tanpa jeda. Hitler lebih dari sekadar contoh yang cukup untuk didaulat bagi drama pencekalan yang konyol. Saat kebebasan berpikir justru berakhir dengan kematian, atau penjara. Jenis “kejahatan” begitu dalam penglihatan Hitler dilabeli nama, pidana gagasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Der Führer&lt;/em&gt; barangkali saja terlalu ekstrem diangkat menjadi ikon keganasan bagi jaman tiga perempat abad lampau. Namun, tidak terlalu gegabah bila mengingat kesepuluh jari tangannya menggenggam moralitas kuasa untuk berbuat sekehendak perut. Telunjuknya bisa menunjuk, telunjuknya bisa menjelma jadi titah tak patut. Sewaktu kata sekonyong-konyong bisa menjadi murka dan keganasan. Dan stabilitas dipidatokan hanya buat membangun seruan kematian pada semua lawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;*****&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Kufah, Irak, di abad ke-7. Seorang lelaki berperawakan sedang ikut jadi saksi kerakusan raja berkuasa. Dalam dirinya mengalir darah Persia, dikenal sebagai saudagar yang cakap dan penemu batu ubin kali pertama. Pendiam tak banyak bincang, tapi tuturnya dikenal luas amat bijak. Cerdaskah ia dengan begitu? Agaknya tak cuma itu. Ia dikenal hati-hati menjaga diri, ogah pada kompromi, keras memfatwa diri sendiri. Sekali waktu beberapa ekor kambing curian menyelusup di kota Kufah. Warta itu lekas menyebar. Buru-buru lelaki kurus itu bertanya singkat, “Berapa tahun umumnya seekor kambing dapat hidup?” Seorang yang biasa menggembala ternak menjawab, "Tujuh tahun!" Maka, selama tujuh ia mengharamkan diri menyentuh daging kambing. Tak secuilpun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu Abu Hanifah. Lebih dikenal sebagai Imam Hanafi, pendiri salah satu mazhab fiqh Islam. Seorang rendah hati yang menolak pengangkatan dirinya sebagai Hakim Kerajaan. Sebabnya, Amirul Mu’minin dianggap banyak melakukan penyimpangan. Khalifah Abu Ja’far al-Manshur yang tak menerima alasan penolakan Abu Hanifah memutuskan untuk menjebloskannya ke dalam penjara. Di bui ia disiksa setiap hari. Setiap hari. Dicambuk hingga kulit punggungnya menebal beberapa senti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu keras kepalakah? Sepertinya, &lt;em&gt;sih&lt;/em&gt;, tidak. Ia memang keras hati pada diri sendiri. Tapi sepenjuru Kufah tahu, betapa ringannya ia mengajukan fatwa agama. Tak ditemukan satu riwayat pun yang menyebut Abu Hanifah pernah marah akibat pendapatnya dibantah. Tak sekalipun. Sebaliknya, dialah yang melulu berucap tentang fatwanya, “Inilah pendapat Abu Hanifah. Dan ini merupakan sebaik-baiknya pertimbangan yang tersedia. Barang siapa yang datang membawa keterangan lebih baik, maka dia yang lebih utama diikuti dengan benar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, terkenanglah seorang alim yang meneguhi tradisi kemerdekaan berpikir. Sebuah kemerdekaan yang lahir dari ekspresi tauhid yang membebaskan, menegakkan kepala di pelataran penguasa tanpa perasaan diburu oleh cemas. Sekaligus kemerdekaan yang mampu mengendalikan diri dari sikap merasa “serba tahu” dan paling benar sendiri. Ia tak risih dengan keteguhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;*****&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah selalu berulang dalam cara berbeda, demikian konon Edward Gabon bergumam satu kesempatan. Mungkin ada benarnya, terutama bila mengingat bagaimana jalan pikiran para raja, dan mereka yang pernah menggenggam kuasa. Pada sejarah kekuasaan selalu terselip keinginan tak terucap untuk mengabadikan. Ada watak terselubung untuk membuatnya menjadi absolut. Aksara ikut dilibatkan dalam konspirasi dan persekongkolan. Terminologi semacam "stabilitas" dan "keamanan nasional" menghadapi bias kronis sebagai mantra yang kerap dipropagandakan. Satu jenis kebohongan yang 1000 kali dituturkan akhirnya diterima sebagai kebenaran. Tak terhindar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img style="border: 1px solid silver; padding: 5px; float: left; margin-right: 10px;" src="http://farm1.static.flickr.com/218/491192769_372fbbfb7b_m.jpg" /&gt;Ada kalanya ritmus tiba-tiba terdengar berbeda. Barangkali terdengar asing, atau juga bising. Bagi kekuasaan itu bukan sekadar gangguan, melainkan ancaman. Kemajemukan dengan begitu tak pernah jadi barang halal—perbedaan adalah huru hara yang selekasnya mesti dibikin musnah. Maka, sebuah penolakan telah menciptakan penjara-penjara baru bagi ribuan tawanan di banyak negeri. Tersebar pula polisi rahasia, ladang penyiksaan, dan kamp konsentrasi yang mengilhami banyak kisah yang mengharu biru bumi, tempat tinggal bersama manusia. Sebagian besarnya, tewas mengenaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Libya seorang Omar Mochtar dieksekusi mati Benito Mussolini, pemimpin fasis asal Italia. Sederet dafar panjang orang-orang dituduh revisionis-kontrarevolusioner tewas dalam revolusi kebudayaan di China. Aurangzeb mengurung Syah Jehan, pendiri Taj Mahal di India yang juga ayahnya sendiri, hingga mati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima ratus ribu versi pemerintah, 2 juta menurut media, dan 3 juta kata seorang jenderal. Jumlah itu adalah perbedaan angka warga Indonesia yang tewas terbunuh sepanjang tahun 1965 untuk tuduhan yang tak pernah terbukti dalam pengadilan terbuka. Gestapu, tuduh penguasa, menyisakan satu makna: penistaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringkasnya, kekuasaan adalah racun yang tak punya penawar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alexandros Panagoulis asal Yunani melanjutkan cerita pedih sebagai penyair yang dijebloskan dalam penjara atas sajak-sajaknya yang menikam rejim militer yang tengah berkuasa. Demokrasi hendak dimusnahkan di atas tanah kelahirannya sendiri, ketika itu. Dan Alexandros disiksa. Berdarah-darah ia. Tak ada pena dan lembar kertas untuknya. Ia tak kehilangan akal. Di tembok-tembok penjara ia tuliskan syair-syair puisi. Tintanya? Tintanya adalah tetesan darahnya sendiri setiap kali usai disiksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, Oriana Fallaci dengan gemilang mendedikasikan karyanya bertajuk &lt;em&gt;Intervista con la Storia&lt;/em&gt; kepada semua orang yang memandang jijik kekuasaan. &lt;em&gt;Intervista con la Storia&lt;/em&gt;, Dialog Bersama Sejarah, berakhir dengan kesimpulan menyayat tentang kekuasaan dan para pelakunya. &lt;em&gt;Oxi&lt;/em&gt;, yang berarti “tidak” menjadi tanda seru yang diteriakkannya dari bukit hijau dataran tinggi Peloponesus. Ia boleh jadi memang skeptis. Atau bahkan, mungkin, seorang anarkis abadi. Tak ada yang dapat memastikan. Namun, sikapnya sudah jelas sejak awal. Ia menampik, ia meludahi poros-poros kekuasaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, mestikah politik dan kekuasaan selalu bergerak dalam tendensi buruk tanpa probabilitas pertobatan? Mestinya, tidak. Sekurang-kurangnya ada Nehru yang dicintai rakyat begitu rupa, nyaris tanpa cacat. Ini bukan karena sekadar ia seorang pemurah, tapi ia sekaligus tak pernah membangkitkan kebencian yang diarahkan kepada lawan-lawan politiknya. Sepanjang hidupnya tak pernah merasakan kekalahan dalam pemilu. Gaya hidupnya sederhana, membuat rakyat terkesima bukan kepalang. Tapi Nehru sadar, rakyatnya mulai melakukan mistifikasi dan menjadikan dirinya mitos yang &lt;em&gt;ma’shum&lt;/em&gt;, tak mungkin berbuat dosa. Orang-orang mulai mendukungnya membabi buta. Hingga suatu kali, sebuah artikel tanpa nama mengajak rakyat untuk ramai-ramai menghujani kritik bagi Nehru yang dituduh berpotensi mempraktikkan gaya kepemimpinan diktatorial. India geger dan rakyat yang marah mencari tahu penulis artikel itu. Tapi gagal, redaksi menyembunyikannya rapat-rapat. Dan selang berbilang tahun kemudian diketahui, penulisnya adalah Nehru sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reinhold Niebuhr menukaskan, bahwa tugas pedih politik ialah membangun keadilan di dunia yang penuh dosa. Mungkin terdengar ironis, atau bahkan pesimis. Tapi Niebuhr jelas benar, bila politik dan kekuasaan pada mulanya adalah mulia, yang ditopang etika memukau. Dengan demikian, sebetulnya, politik dan kekuasaan tak melulu jorok dan menjengkelkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, yang jadi pertanyaan hari-hari belakangan adalah, di sudut mana masih bisa kita temukan politik yang tak jorok dan menjengkelkan?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;___________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vaals, 18 Desember 2004.&lt;br /&gt;Didedikasikan bagi korban tragedi 1965 dan 50 tahun Solidaritas Asia-Afrika.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11630049-7614088205140216689?l=aksarakauniyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-03-02T14:31:05.514+01:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><feedburner:origLink>http://aksarakauniyah.blogspot.com/2007/05/intervista-con-la-storia-katarsis.html</feedburner:origLink></item><item><title>Republik Petaka</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/AksaraKauniyah/~3/vDCNM5JWpF4/republik-petaka.html</link><author>aksarakauniyah@yahoo.com (Aksara Kauniyah)</author><pubDate>Thu, 06 Mar 2008 02:16:42 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-11630049.post-5424304615019695666</guid><description>&lt;center&gt;&lt;em&gt;Oleh&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;Aksara Kauniyah&lt;/strong&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img style="border: 1px solid silver; padding: 5px; float: left; margin-right: 10px;" src="http://farm1.static.flickr.com/148/430516921_4698827cf6_m.jpg" /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="float: left; line-height: 80px; padding-top: 1px; padding-right: 5px;font-family:arial;font-size:100;color:silver;" arial=""&gt;&lt;strong&gt;D&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;i balik aneka bencana yang menimpa keselamatan bersama barangkali yang ada bukan cuma takdir, melainkan despotisme (kezaliman) yang diam-diam merangsek jadi lazim dan rutin. Menakjubkan luar biasa, memang. Ketidakpastian atas nasib dan kemungkinan hidup esok hari sepenuhnya dipasrahkan pada kemujuran—atau ketidakmujuran—yang mungkin. Tanpa rencana masak, sebuah persiapan di titik senyap. Kekhawatiran itulah yang menimpa sebagian besar kita hari-hari belakangan. Bayang-bayang kematian itu sebagian besarnya mulai dirasakan sebagai represi spesies baru yang mewakili tekstur kuasa yang defisit fatsoen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena kita hidup di negeri yang banyak pengendali kuasanya adalah kumpulan para pelupa. Bahwa, negeri ini bukan milik sendiri, bukan warisan para moyang dari jaman purba. Negara tak lagi sepenggal kesekonyong-konyongan, atau singgasana yang tiba-tiba tersungkur dari atas langit dan jatuh menubruk kepala. Negara lebih merupakan konsensus yang melibatkan warga, negara adalah kesepakatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan asumsi itu, ia memproduksi tafsir yang mewakili kehendak hidup dan kemauan bersama. Usaha itu tentu saja bukan pangkal yang gampang—lebih-lebih sewaktu mesti mempersoalkan apa yang benar-salah, dan baik-buruk bagi semua. &lt;em&gt;Nah&lt;/em&gt;, sementara usaha mengatasi kesulitan itu terus bekerja, sesuatu terus menyalak minta disimak. Yakni, kesadaran atas kefanaan—yang mendamparkan kita di pantai kesimpulan: kita perlu menghargai hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali karena itulah, di sebuah negeri yang jauh dari tempat kita berdomisili, sebuah stasiun televisi merasa perlu membuat reportase soal seekor landak yang mati disiksa. Kejadian itu berlangsung di jalan pinggiran Kota Hannover, Jerman, setahun silam. Dan itu, belum lagi soal kematian manusia, yang bila kedapatan tak wajar bakal jadi bahan investigasi media dengan olok-olok yang menohok: negara kadung gagal menyodorkan rasa aman. Kematian di negeri itu, apa boleh buat, umumnya tersembunyi bak pornografi yang tabu diusik. Tapi di negeri ini, kematian cuma bakalan jadi insiden yang heboh, untuk kemudian lupa karena terlalu lumrah. Dan berangsur-angsur jadi warta biasa. Amat biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambaran suram itu. Bagaimana mungkin kita menghindar dari bicara tentang perubahan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya adalah premis tentang singgasana yang membikin setiap yang duduk merasa sah untuk bertingkah kolokan. Ada terlalu banyak pejabat yang telanjur pilon membedakan &lt;em&gt;melayani&lt;/em&gt; dari &lt;em&gt;dilayani&lt;/em&gt;. Ketidakmampuan itu mungkin berpangkal dari—meminjam Henry Kissinger—kekuasaan yang membikin manusia jadi pandir. Kepandiran itulah, kira-kira, yang menumpulkan kemampuan kerja-kerja akal untuk berpikir lebih serius dan bekerja lebih keras. Kebiasaan menganggap kekuasaan sebagai panggung pertunjukan teater telah menyederhanakan sistem yang kompleks menjadi semacam ritual yang digemuruhi sambutan, gunting pita, tepukan tangan, dan badai pujian. Dan saat petaka bertubi-tubi meletus, yang terdengar adalah kegagapan yang diselingi seloroh tak lucu. Berita kematian, sudah lama jadi penanda ketidakberesan itu. Sementara ratusan nyawa yang terjungkal hanya jadi sekadar tumpukan angka statistik yang jenuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghargaan terhadap sistem dan prosedur sudah lama hampa—sementara kekuasaan melulu bersandar pada patron, tokoh kuat yang punya modal uang banyak dan secuil kharisma, tapi miskin agenda. Mengogahi meritokrasi telah menciptakan labirin persoalan dalam memberi nilai keberhasilan. Yang kemudian berlaku adalah rasa suka, sentimen, benci, serta pemanjaan selera pribadi. Perhitungan paling jauh adalah, kalkulasi keseimbangan kekuatan politik—demi tidak gegabah menyebutnya sebagai politik dagang sapi. Dan di situlah akar turbulensi kekerasan negara mulai bekerja—tidak dengan laras berpucuk-pucuk, melainkan pengabaian atas keselamatan banyak sukma. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa boleh buat, yang tak kita sangka ternyata betul-betul terjadi. Kita hidup tanpa pilihan di sebuah negeri. Yang mau tak mau membuat kita tetap menjalani kenyataan buram di bawah akrobat dan improvisasi para politisi yang enggan serius. Rakyat dipaksa masuk ke dalam satu dari dua gerobak yang tersedia: &lt;em&gt;mengorbankan&lt;/em&gt;, atau &lt;em&gt;dikorbankan&lt;/em&gt;. Nahasnya, kita selalu tak punya kesempatan buat memilih. Dan kita cuma bisa menunggu ketidakmujuran yang akan terus merapat dan membuat lutut gemetar. Rakyat dikorbankan, maka rakyat ada. Cuma gerobak itu yang tersedia, buat kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun begitu. Tetap ada sepotong kearifan yang sempat tertinggal menghadapi realitas begini. Konon, siapa yang tak belajar dari kesalahan masa silam, maka ia akan dihukum untuk mengulangnya kembali. Tapi, maaf, peringatan ini tidak ditujukan bagi para penyelenggara negara. Melainkan rakyat yang punya hak suara untuk tidak membiarkan setiap yang zalim kembali berkuasa lewat pemilihan umum berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara. Buat ia yang berkuasa, ada nasihat yang lebih bermanfaat dari era pencerahan (&lt;em&gt;aufklaerung&lt;/em&gt;) dan revolusi abad pertengahan. Sebagaimana pencerahan yang tak bakalan disuarakan seandainya tak terjadi kemandegan. Maka, revolusi tak bakal digubris seandainya masyarakat tak mengenal kekecewaan yang berulang-ulang. Bila itu sampai terjadi, kita tak perlu menunggu waktu terlalu lama untuk ikut menjadi saksi terciptanya rawa-rawa petaka, setelah seorang raja dimakzulkan paksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal. Kita masih ingin lebih lama tinggal di Republik Indonesia, bukan di republik petaka.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11630049-5424304615019695666?l=aksarakauniyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-03-06T11:16:42.485+01:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://aksarakauniyah.blogspot.com/2007/03/republik-petaka.html</feedburner:origLink></item><item><title>Musuh Perempuan</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/AksaraKauniyah/~3/raUXnTbLnwk/musuh-perempuan.html</link><author>aksarakauniyah@yahoo.com (Aksara Kauniyah)</author><pubDate>Mon, 05 May 2008 03:30:46 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-11630049.post-7086311260942038808</guid><description>&lt;center&gt;&lt;em&gt;Oleh&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;Aksara Kauniyah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/lncdb84qruU" type="application/x-shockwave-flash" wmode="transparent"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img style="border: 1px solid silver; padding: 5px; float: left; margin-right: 10px;" src="http://farm1.static.flickr.com/144/407100675_d80cde352b_m.jpg" /&gt;&lt;em&gt;Siapa musuh perempuan paling utama? Sambil takut-takut seseorang berbisik: agama!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="float: left; line-height: 80px; padding-top: 1px; padding-right: 5px;font-family:arial;font-size:100;color:silver;" arial=""&gt;&lt;strong&gt;K&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;onon, kalau kediktatoran dan fundamentalisme sampai dibiarkan bersetubuh, maka yang kelak lahir adalah penindasan. Itu yang agaknya mau ditegaskan Ahmad Dhani, dan diaminkan dalam kelakuan degil. Hardjono, ayah istrinya, mendesak Dhani membiarkan Maia pergi dari rumah yang makin terasa sumpek. Vokalis Dewa ini malah menepis, dan mengusik-usik ketiak kauman agar mengganjar mereka dengan Quran dan Hadits. "Hal itu tidak dibenarkan, Maia tak saya ijinkan pergi keluar rumah!" Kyai yang dirujuk Dhani coba meyakinkan, istri memang wajib tekuk lutut di ujung jempol kaki suami. Taat, tunduk, tak boleh membantah—adalah fitrah perempuan. "Bahkan, untuk ibadah puasa sunah pun, istri wajib minta ijin suami!" Maka, vonis dijatuhkan. Maia melanggar syariat karena diyakini membangkang perintah tuhan—entah tuhan mana yang sebetulnya dimaksud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuatu yang mencemaskan ikut melekat dalam fatwa yang bertelaah bak nabi yang bebas dosa. Dan yang paling mencengangkan adalah kenyataan bahwa, alibi disuarakan lewat labirin dominasi melalui sepotong atas nama: agama. Perangsekan bertalu-talu telah mengobrak-abrik pekerti Nabi yang, sebetulnya, malah mewariskan sabda: "Ia yang paling mulia adalah ia yang paling memuliakan istrinya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah, sekarang kita berhak membatin: sanggupkah kita terus hidup dalam dusta yang, nahasnya, kerap membaluti iman? Sanggupkah kita terus menyimak ahli agama terpingkal-pingkal menertawakan kita karena percaya 100% suara mereka mewakili kemauan Tuhan di bumi manusia? Masih maukah kita percaya pada fantasi, bahwa pembangkangan terhadap dominasi lelaki adalah pembangkangan terhadap Ia Yang Suci?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu di dan ke mana kita bisa berpegang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan ini wajar karena manusia sejak dulu selalu dipacu buat merancang stabilitas yang tak mudah goncang. Soalnya kemudian adalah, demi kepentingan itu kebenaran dibikin sama artinya dengan kepastian, absolutisme. Yang ketika jaman baru membutuhkan jawaban-jawaban tangkas, malah disodorkan tafsiran dari yang silam. Pemaksaan telah membikin agama jadi sejenis omong kosong yang kering—dan membekuk otak ke dalam klaim kebenaran. Yang lain salah, dan sebisa mungkin dibuat punah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bumi macam begini, Tuhan selamanya maha penting. Tetapi kita juga tahu, sabda-Nya sudah selesai disampaikan melalui para nabi. Sepotong firman yang berbisik sudah sangat dahsyat dan tak perlu diulang-ulang atau diteriakkan dari puncak menara masjid, gereja, ataupun sinagog. Setelah itu adalah, gelombang tafsir yang tak akan pernah selesai. Dan setiap tafsiran berusaha sedekat mungkin menggapai kebenaran. Tapi, selamanya pula tafsir tak sama dengan kalam Tuhan yang selalu memukau. Kita tak perlu dicekoki dengan dogma masa lampau karena setiap tafsir adalah anak jaman masing-masing. Selalu ada resiko terjadi reduksi—dan karenanya tak selalu memadai. Dan karenanya pula, tak ada yang berhak mengklaim sebagai yang paling memiliki otoritas, sebagaimana tak ada yang perlu merasa paling mengerti jalan pikiran Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persinggungan antara teks dan realitas menjeritkan suara pembebasan, dan bukan sebaliknya: pemasungan. Dan pergumulan itu terjadi, sejak lama hingga sekarang di kalangan juris dan cendikiawan islam. Imam Syafii, misalnya, begitu cekatan merombak pendapat-pendapat lama (&lt;em&gt;qaul qadim&lt;/em&gt; menjadi &lt;em&gt;qaul jadid&lt;/em&gt;) yang beliau susun dengan susah payah setelah berhijrah dari Baghdad ke Mesir. Perbedaan paradigma itu tak lepas dari pengaruh realitas ruang—lebih-lebih realitas waktu—dalam amatan yang ia kerjakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalannya yang kita tahu lebih banyak di hari-hari belakangan adalah, stagnasi itu kian memuncak. Mereka yang menyebut sebagai penjaga aqidah merasa berhak mewakili suara tuhan, dan tiba-tiba merasa yakin untuk menutup rapat-rapat pintu pembaharuan, pintu penyegaran, pintu bagi &lt;em&gt;aufklaerung&lt;/em&gt;. Apa yang dianggap benar dalam dogma tidak lagi memerlukan penjelasan logis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan inilah yang sebetulnya juga tengah terjadi ketika agama dimintai pendapatnya soal perempuan. Ternyata agama dan perempuan punya riwayat permusuhan yang panjang. Berkali-kali khotbah dikumandangkan, pada tiap perempuan bercokol empat setan. Dua di antaranya berdiam di dada, dua yang lainnya di sekitar pinggul. Opresi atas tubuh perempuan mengandaikan pergulatan hasil kombinasi adat, sejarah, sosial, politik, ekonomi. Sementara pemuka agama, memberi legitimasi. Tuhan seolah-olah ikut memberi stempel: perempuan ditakdirkan berteman dengan setan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kerja sama yang ketahuan sangat memilukan, bahwa militer dan elit agama selalu memainkan peran penting menyikapi politik tubuh perempuan untuk melanggengkan ideologi dan kekuasaan. Hal inilah yang membuat kita mengerti, tegas DR. Tahmina Rashid asal Pakistan, ribuan orang yang terkena kasus rajam dalam &lt;em&gt;honor killing&lt;/em&gt; di negerinya sebagian besar adalah perempuan. Begitu juga dalam kasus uji keperawanan, telah menempatkan perempuan pada posisi yang selalu dirugikan di Pakistan. Usaha emansipatoris yang berusaha dilakukan salah seorang menteri perempuan di Pakistan bahkan berakhir tragis sepekan silam. Zill-e Huma, Menteri Kesejahteraan Sosial di Profinsi Punjab, tewas dengan peluru menembus kepala karena perjuangannya membela hak-hak kaumnya. Seorang fanatik membabatnya dengan alasan Huma tak mau mengenakan busana muslimah. Ia diyakini berdiri di belakang dua peraturan perundangan yang mengakhiri pernikahan paksa bagi perempuan dan pemberian hak perempuan untuk mendapat warisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;*****&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon, Nietzsche pernah membikin batu nisan dengan filograf &lt;em&gt;God is dead, signed by Nietzsche&lt;/em&gt;. Tapi kita pun tahu yang akhirnya terjadi adalah &lt;em&gt;Nietzsche is dead, signed by God&lt;/em&gt;. Pribadi macam Nietzsche memang penampikan yang radikal, tapi itu tak hadir sekonyong-konyong. Ia kecewa, pada pranata, pada stagnasi yang menimpa agama-agama. Kita tak perlu ikut nyinyir mengekori Nietzsche yang merekabangun definisi sendiri. Al Quran bukan lokan perkara. Tak perlu menghidupkan pertanyaan dengan aroma menggugat posisi logis Al Quran sebagai Sabda. Ia adalah premis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan yang lebih serius pun sebetulnya bukan teronggok di atas kesucian kitab, melainkan pada kesadaran bahwa tafsir atas kitab selalu mewakili realitas jaman ketika tafsir dibukukan. Karena Sabda turun bukan dengan misi penaklukan atas dunia. Dan kita mesti siap menerima kenyataan, bahwa Sabda sebagai teks—dan teks selalu ditafsirkan—adalah sesuatu yang dibentuk arahnya oleh kegelisahan manusia. Namun, cuma dengan cara itulah Sabda memiliki pengaruh atas manusia. Karena, ketika Kalam berhenti diberi arti, ia serta merta berakhir hanya sebagai harapan yang terputus, harapan yang tak berpijak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kita, bakalan jadi makin tak mengerti, apa sebetulnya maunya Tuhan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11630049-7086311260942038808?l=aksarakauniyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-05-05T12:30:46.069+02:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><media:content url="http://feedproxy.google.com/~r/AksaraKauniyah/~5/q6wFxQwSX5M/lncdb84qruU" fileSize="993" type="application/x-shockwave-flash" /><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Oleh Aksara Kauniyah Siapa musuh perempuan paling utama? Sambil takut-takut seseorang berbisik: agama! Konon, kalau kediktatoran dan fundamentalisme sampai dibiarkan bersetubuh, maka yang kelak lahir adalah penindasan. Itu yang agaknya mau ditegaskan Ahma</itunes:subtitle><itunes:author>Aksara Kauniyah</itunes:author><itunes:summary>Oleh Aksara Kauniyah Siapa musuh perempuan paling utama? Sambil takut-takut seseorang berbisik: agama! Konon, kalau kediktatoran dan fundamentalisme sampai dibiarkan bersetubuh, maka yang kelak lahir adalah penindasan. Itu yang agaknya mau ditegaskan Ahmad Dhani, dan diaminkan dalam kelakuan degil. Hardjono, ayah istrinya, mendesak Dhani membiarkan Maia pergi dari rumah yang makin terasa sumpek. Vokalis Dewa ini malah menepis, dan mengusik-usik ketiak kauman agar mengganjar mereka dengan Quran dan Hadits. "Hal itu tidak dibenarkan, Maia tak saya ijinkan pergi keluar rumah!" Kyai yang dirujuk Dhani coba meyakinkan, istri memang wajib tekuk lutut di ujung jempol kaki suami. Taat, tunduk, tak boleh membantah—adalah fitrah perempuan. "Bahkan, untuk ibadah puasa sunah pun, istri wajib minta ijin suami!" Maka, vonis dijatuhkan. Maia melanggar syariat karena diyakini membangkang perintah tuhan—entah tuhan mana yang sebetulnya dimaksud. Sesuatu yang mencemaskan ikut melekat dalam fatwa yang bertelaah bak nabi yang bebas dosa. Dan yang paling mencengangkan adalah kenyataan bahwa, alibi disuarakan lewat labirin dominasi melalui sepotong atas nama: agama. Perangsekan bertalu-talu telah mengobrak-abrik pekerti Nabi yang, sebetulnya, malah mewariskan sabda: "Ia yang paling mulia adalah ia yang paling memuliakan istrinya." Karena itulah, sekarang kita berhak membatin: sanggupkah kita terus hidup dalam dusta yang, nahasnya, kerap membaluti iman? Sanggupkah kita terus menyimak ahli agama terpingkal-pingkal menertawakan kita karena percaya 100% suara mereka mewakili kemauan Tuhan di bumi manusia? Masih maukah kita percaya pada fantasi, bahwa pembangkangan terhadap dominasi lelaki adalah pembangkangan terhadap Ia Yang Suci? Lalu di dan ke mana kita bisa berpegang? Pertanyaan ini wajar karena manusia sejak dulu selalu dipacu buat merancang stabilitas yang tak mudah goncang. Soalnya kemudian adalah, demi kepentingan itu kebenaran dibikin sama artinya dengan kepastian, absolutisme. Yang ketika jaman baru membutuhkan jawaban-jawaban tangkas, malah disodorkan tafsiran dari yang silam. Pemaksaan telah membikin agama jadi sejenis omong kosong yang kering—dan membekuk otak ke dalam klaim kebenaran. Yang lain salah, dan sebisa mungkin dibuat punah. Di bumi macam begini, Tuhan selamanya maha penting. Tetapi kita juga tahu, sabda-Nya sudah selesai disampaikan melalui para nabi. Sepotong firman yang berbisik sudah sangat dahsyat dan tak perlu diulang-ulang atau diteriakkan dari puncak menara masjid, gereja, ataupun sinagog. Setelah itu adalah, gelombang tafsir yang tak akan pernah selesai. Dan setiap tafsiran berusaha sedekat mungkin menggapai kebenaran. Tapi, selamanya pula tafsir tak sama dengan kalam Tuhan yang selalu memukau. Kita tak perlu dicekoki dengan dogma masa lampau karena setiap tafsir adalah anak jaman masing-masing. Selalu ada resiko terjadi reduksi—dan karenanya tak selalu memadai. Dan karenanya pula, tak ada yang berhak mengklaim sebagai yang paling memiliki otoritas, sebagaimana tak ada yang perlu merasa paling mengerti jalan pikiran Tuhan. Persinggungan antara teks dan realitas menjeritkan suara pembebasan, dan bukan sebaliknya: pemasungan. Dan pergumulan itu terjadi, sejak lama hingga sekarang di kalangan juris dan cendikiawan islam. Imam Syafii, misalnya, begitu cekatan merombak pendapat-pendapat lama (qaul qadim menjadi qaul jadid) yang beliau susun dengan susah payah setelah berhijrah dari Baghdad ke Mesir. Perbedaan paradigma itu tak lepas dari pengaruh realitas ruang—lebih-lebih realitas waktu—dalam amatan yang ia kerjakan. Persoalannya yang kita tahu lebih banyak di hari-hari belakangan adalah, stagnasi itu kian memuncak. Mereka yang menyebut sebagai penjaga aqidah merasa berhak mewakili suara tuhan, dan tiba-tiba merasa yakin untuk menutup rapat-rapat pintu pembaharuan, pintu penyegaran, pintu bagi aufklaerung. Apa yang dianggap benar dalam dogma tidak lagi memerlukan penjelasan logis. Keadaan inilah yang sebetulnya juga tengah t</itunes:summary><itunes:keywords>Aksara,Kauniyah,politik,filsafat,renungan,demokrasi,islam,pluralisme</itunes:keywords><feedburner:origLink>http://aksarakauniyah.blogspot.com/2007/03/musuh-perempuan.html</feedburner:origLink><enclosure url="http://feedproxy.google.com/~r/AksaraKauniyah/~5/q6wFxQwSX5M/lncdb84qruU" length="993" type="application/x-shockwave-flash" /><feedburner:origEnclosureLink>http://www.youtube.com/v/lncdb84qruU</feedburner:origEnclosureLink></item><item><title>Poligami</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/AksaraKauniyah/~3/M2W3Ux8xFfA/poligami.html</link><author>aksarakauniyah@yahoo.com (Aksara Kauniyah)</author><pubDate>Sat, 01 Mar 2008 13:30:19 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-11630049.post-116549597049724066</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;center&gt;&lt;em&gt;Oleh&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;Aksara Kauniyah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/2LAi10sv33w" type="application/x-shockwave-flash" wmode="transparent"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img style="border: 1px solid silver; padding: 5px; float: left; margin-right: 10px;" src="http://static.flickr.com/110/316388587_6a3556aa7c_m.jpg" /&gt;&lt;span style="float: left; line-height: 80px; padding-top: 1px; padding-right: 5px;font-family:arial;font-size:100;color:silver;" arial=""   &gt;&lt;strong&gt;A&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;degan memikat. Tiap kali buku-buku sejarah mengungkit jerit para pelaku perang dalam banyak pertempuran, sesuatu yang terasa heroik menjalar. “Merdeka, atau mati!” Tidak ada bau-bau eufimisme, karena memang tak perlu. Kata “mati”, tak ujug-ujug berganti jadi “meninggal dunia” atau “wafat”. Sukar rasanya membayangkan reaksi para serdadu yang menerima perintah perang seraya membiarkan sang jenderal berteriak-teriak, “Merdeka, atau meninggal dunia!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penampikan atas eufimisme, pada satu waktu, adalah penampikan atas kepalsuan. Ketelanjangan makna tidak dimaksudkan untuk menjejalkan sarkasme dalam peristiwa komunikasi. Yang terasa janggal baru akan mencuat kalau kelaparan yang berakibat pada kematian diekspos sebagai rawan gizi. Atau penertiban menggantikan frase penggusuran. Sementara yang miskin disebut-sebut masih dalam tahap perkembangan. Di situ, bukan saja eufimisme yang terjadi, melainkan penipuan yang direncanakan lewat rekayasa makna. Yang ditengarai bukan saja keahlian mengolah kata, melainkan ketidakmauan dan berlarinya institusi dari tanggung jawab yang mesti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa adalah lorong gelap yang marak dengan lubang-lubang prasangka. Ada ambigu dan ambivalensi yang melulu, sadar atau tidak, terjadi. Laiknya belantara, ia bisa menyesatkan para pembaca dari realitas yang sungguh. Eufimisme ada waktunya bermanfaat. Pada kolega yang baru kehilangan ibu, kita tak bisa berbela sungkawa dengan sapaan, “Wah, akhirnya ibumu mampus juga, ya!” Percayalah, kalau Anda berkata demikian, dalam hitungan detik bisa-bisa Anda pun akan ikut menyusul ke alam baka. Di situ, eufimisme perlu dipelihara, dengan begitu kita bisa menjaga rasa dan meluweskan percakapan. Juga ketika hendak mengatakan hal-hal yang terasa jengah. Kemaluan, buang air, kamar kecil, hubungan badan. Berkutat dengan eufimisme dalam konteks begini adalah bentuk keterampilan komunikasi demi penghargaan, kesopanan, menghibahi empati—tak mengandung praktik yang mencelakakan, atau sarat manipulasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah. Sewaktu Bush menyarangkan berpucuk-pucuk rudal ke ladang-ladang pertempuran seraya menyebut penduduk sipil yang terjungkal sebagai &lt;em&gt;collateral damage&lt;/em&gt;—kerusakan yang tak disengaja—kita pun dibuat jengkel habis-habisan. Eufimisme itu dirasakan sebagai olok-olok yang keterlaluan. Yang awam sekalipun paham, seloroh kekonyolan sedang dipentaskan di atas drama kematian ribuan orang. Pun demikian. Kata-kata tetap memiliki batas gugah ketika memaknai sepotong perihal. Batasnya, tentu saja kenyataan itu sendiri. Semenawan apapun sepenggal terminologi pembinasaan, kematian yang tak wajar itu tetap saja bernama kematian. Tak akan beranjak menjadi lebih indah, atau sekejap mata jadi lebih terhormat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kedua pendulum yang berjarak itu kita akhirnya mengerti, eufimisme adalah mata pisau dengan dua bilah kemungkinan: menyelamatkan, atau menebas nyawa. Di tangan seorang dokter bedah, pisau jadi kelengkapan bagi penghargaan atas hidup. Sebaliknya, di genggaman sekawanan perompak, pisau bisa menghidangkan kematian bagi banyak korban yang ketiban sial di atas perairan Selat Malaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img style="border: 1px solid silver; padding: 5px; float: left; margin-right: 10px;" src="http://static.flickr.com/127/318275159_af5f4297d3_m.jpg" /&gt;Pada suatu hari di abad ini. Indonesia masih diisi dengan warta tentang kekejian dominasi. Episode penindasan manusia atas manusia lain. Perkara pokoknya serupa dengan eufimisme yang sebetulnya bertendensi melindungi penuturnya sendiri. Eufimisme telah dimanfaatkan sebagai solusi terselubung demi menyingkirkan diri dari tanggung jawab yang tak pernah sepi. Itu juga yang sebetulnya terjadi ketika seorang lelaki memutuskan poligami tanpa mesti merasa bersalah. Eufimisme membantu menyelamatkan dengan cara yang jeli: menyesatkan khalayak dengan kepalsuan. Ringkasnya, pengkhianatan tulen pada kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa boleh buat, dibutuhkan korban yang bisa mengambil alih kekeliruan. Ada yang dicari-cari supaya bisa diteriaki sebagai “si maling” dengan ujung telunjuk berlumur maki. Yang bisa digemborkan pun pada akhirnya mudah ditemukan di gorong-gorong prostitusi pinggiran jalan: zina dan pelacuran mengetengahkan kemelut jauh lebih mencekam. Poligami, karena itu, jadi mantra merdu yang meringkus sekerumun carut marut itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang justru terasa binal adalah isyarat penyelesaian itu. Seolah-olah: Zina dan pelacuran sirna seketika lantaran para lelaki beramai-ramai diberi instruksi mengambil lebih dari satu perempuan jadi isteri. Sementara kegagalan struktur, institusi, dan negara dianggap menduduki porsi tak penting sebagai segala musabab soal-soal ini. Akan tetapi, seanggun apapun, bukankah penghalusan tetap memiliki teritori? Eufimisme itu telah memaksakan sebuah pengabaian atas dua soal besar yang tak bisa disangkal: &lt;em&gt;patriarki yang gandrung&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;kegagalan mengendalikan organ bawah pusar&lt;/em&gt;. Di sinilah eufimisme menubruk batas, di sinilah mimpi-mimpi yang lancang dibatalkan. Sehalus apapun, realitas yang kusut tak bisa dialihbahasakan dari seputar nafsu, nafsu, dan nafsu. Eufimisme yang hendak memainkan peran penyelamat telah berujung gagal total akibat kemandulan akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masyarakat patriarki yang radikal, memang, sulit membedakan dialog dari monolog. Sekurangnya dikarenakan perempuan acap cuma sekadar instrumen pelengkap dalam pranata perkawinan—aksesoris yang ditujukan bagi kepuasan seksual dan pemenuhan tuntutan estetika sosial. Perempuan kehilangan hak untuk ikut memberi makna pada kesetiaan. Perempuan dibikin bisu—lisannya dilumpuhkan dari berkata “tidak”. Termasuk berkata “tidak” terhadap poligami yang dilakukan oleh lelaki yang menjadi lokus cinta tunggalnya dalam perkawinan. Dalam masyarakat patriarki radikal, membedakan dialog dari monolog sesulit membedakan diktator dari suami. Juga sesulit membedakan tiran dari dunia seorang lelaki. Dunia perkawinan adalah prosa panjang tentang derita, tindas, kelesuan, dan kesedihan yang, nahasnya, kadung dimonopoli kaum hawa saban hari. Sejak ratusan tahun silam. Juga barangkali, ratusan tahun yang akan tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu melimpah kepiawaian menyembunyikan nafsu di sebalik martabat dan harga diri. Kalau pernikahan cuma sekadar tilas menghindari zina, maka memang betul yang dibilang Soe Hok Gie: Pernikahan sekadar ajang pelacuran legal yang dibekali surat-surat resmi. Aturan &lt;em&gt;fiqh&lt;/em&gt; bisa diangkut jadi argumentasi, tapi Tuhan tak terjangkau untuk dibawa-bawa ke atas pentas diskusi bagi ia yang gagal berdamai dengan syahwat dan nafsu diri. Hipokrit sejati tak pernah merasa punya saksi: sejenis Mata Tuhan yang seumur hidup terus menguntit. Mata yang lebih rapat ketimbang urat nadi di leher, lebih sigap membikin degup jantung tersungkur. Selepas turun dari atas panggung pentas, usai topeng-topeng yang menutup paras itu ditanggalkan, di hadapan cermin yang renta ia akan tahu dan mengerti: ia bukan seorang adil. Ia bukan Muhammad, juga bukan seorang Ibrahim. Ia bukan yang suci.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11630049-116549597049724066?l=aksarakauniyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-03-01T22:30:19.745+01:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">8</thr:total><media:content url="http://feedproxy.google.com/~r/AksaraKauniyah/~5/BtcTT4UIRp4/2LAi10sv33w" fileSize="985" type="application/x-shockwave-flash" /><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Oleh Aksara Kauniyah Adegan memikat. Tiap kali buku-buku sejarah mengungkit jerit para pelaku perang dalam banyak pertempuran, sesuatu yang terasa heroik menjalar. “Merdeka, atau mati!” Tidak ada bau-bau eufimisme, karena memang tak perlu. Kata “mati”, ta</itunes:subtitle><itunes:author>Aksara Kauniyah</itunes:author><itunes:summary>Oleh Aksara Kauniyah Adegan memikat. Tiap kali buku-buku sejarah mengungkit jerit para pelaku perang dalam banyak pertempuran, sesuatu yang terasa heroik menjalar. “Merdeka, atau mati!” Tidak ada bau-bau eufimisme, karena memang tak perlu. Kata “mati”, tak ujug-ujug berganti jadi “meninggal dunia” atau “wafat”. Sukar rasanya membayangkan reaksi para serdadu yang menerima perintah perang seraya membiarkan sang jenderal berteriak-teriak, “Merdeka, atau meninggal dunia!” Penampikan atas eufimisme, pada satu waktu, adalah penampikan atas kepalsuan. Ketelanjangan makna tidak dimaksudkan untuk menjejalkan sarkasme dalam peristiwa komunikasi. Yang terasa janggal baru akan mencuat kalau kelaparan yang berakibat pada kematian diekspos sebagai rawan gizi. Atau penertiban menggantikan frase penggusuran. Sementara yang miskin disebut-sebut masih dalam tahap perkembangan. Di situ, bukan saja eufimisme yang terjadi, melainkan penipuan yang direncanakan lewat rekayasa makna. Yang ditengarai bukan saja keahlian mengolah kata, melainkan ketidakmauan dan berlarinya institusi dari tanggung jawab yang mesti. Bahasa adalah lorong gelap yang marak dengan lubang-lubang prasangka. Ada ambigu dan ambivalensi yang melulu, sadar atau tidak, terjadi. Laiknya belantara, ia bisa menyesatkan para pembaca dari realitas yang sungguh. Eufimisme ada waktunya bermanfaat. Pada kolega yang baru kehilangan ibu, kita tak bisa berbela sungkawa dengan sapaan, “Wah, akhirnya ibumu mampus juga, ya!” Percayalah, kalau Anda berkata demikian, dalam hitungan detik bisa-bisa Anda pun akan ikut menyusul ke alam baka. Di situ, eufimisme perlu dipelihara, dengan begitu kita bisa menjaga rasa dan meluweskan percakapan. Juga ketika hendak mengatakan hal-hal yang terasa jengah. Kemaluan, buang air, kamar kecil, hubungan badan. Berkutat dengan eufimisme dalam konteks begini adalah bentuk keterampilan komunikasi demi penghargaan, kesopanan, menghibahi empati—tak mengandung praktik yang mencelakakan, atau sarat manipulasi. Karena itulah. Sewaktu Bush menyarangkan berpucuk-pucuk rudal ke ladang-ladang pertempuran seraya menyebut penduduk sipil yang terjungkal sebagai collateral damage—kerusakan yang tak disengaja—kita pun dibuat jengkel habis-habisan. Eufimisme itu dirasakan sebagai olok-olok yang keterlaluan. Yang awam sekalipun paham, seloroh kekonyolan sedang dipentaskan di atas drama kematian ribuan orang. Pun demikian. Kata-kata tetap memiliki batas gugah ketika memaknai sepotong perihal. Batasnya, tentu saja kenyataan itu sendiri. Semenawan apapun sepenggal terminologi pembinasaan, kematian yang tak wajar itu tetap saja bernama kematian. Tak akan beranjak menjadi lebih indah, atau sekejap mata jadi lebih terhormat. Dari kedua pendulum yang berjarak itu kita akhirnya mengerti, eufimisme adalah mata pisau dengan dua bilah kemungkinan: menyelamatkan, atau menebas nyawa. Di tangan seorang dokter bedah, pisau jadi kelengkapan bagi penghargaan atas hidup. Sebaliknya, di genggaman sekawanan perompak, pisau bisa menghidangkan kematian bagi banyak korban yang ketiban sial di atas perairan Selat Malaka. Pada suatu hari di abad ini. Indonesia masih diisi dengan warta tentang kekejian dominasi. Episode penindasan manusia atas manusia lain. Perkara pokoknya serupa dengan eufimisme yang sebetulnya bertendensi melindungi penuturnya sendiri. Eufimisme telah dimanfaatkan sebagai solusi terselubung demi menyingkirkan diri dari tanggung jawab yang tak pernah sepi. Itu juga yang sebetulnya terjadi ketika seorang lelaki memutuskan poligami tanpa mesti merasa bersalah. Eufimisme membantu menyelamatkan dengan cara yang jeli: menyesatkan khalayak dengan kepalsuan. Ringkasnya, pengkhianatan tulen pada kebenaran. Apa boleh buat, dibutuhkan korban yang bisa mengambil alih kekeliruan. Ada yang dicari-cari supaya bisa diteriaki sebagai “si maling” dengan ujung telunjuk berlumur maki. Yang bisa digemborkan pun pada akhirnya mudah ditemukan di gorong-gorong prostitusi pinggiran jalan: zina dan pelacuran menge</itunes:summary><itunes:keywords>Aksara,Kauniyah,politik,filsafat,renungan,demokrasi,islam,pluralisme</itunes:keywords><feedburner:origLink>http://aksarakauniyah.blogspot.com/2006/12/poligami.html</feedburner:origLink><enclosure url="http://feedproxy.google.com/~r/AksaraKauniyah/~5/BtcTT4UIRp4/2LAi10sv33w" length="985" type="application/x-shockwave-flash" /><feedburner:origEnclosureLink>http://www.youtube.com/v/2LAi10sv33w</feedburner:origEnclosureLink></item><item><title>Nun</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/AksaraKauniyah/~3/xfdZ3KSXOYY/nun.html</link><author>aksarakauniyah@yahoo.com (Aksara Kauniyah)</author><pubDate>Thu, 06 Mar 2008 02:31:21 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-11630049.post-113508553318257272</guid><description>Lalu lalang cerita kunang-kunang menjelang petang&lt;br /&gt;Pergi datang angin menggerutu di balik tembok legam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tenggelam matahari diam-diam&lt;br /&gt;bimbang, tergelincir juga senja nun itu kali ke tepi jurang&lt;br /&gt;Gerutu pelangi pada kelam yang cepat datang keterlaluan&lt;br /&gt;Jangan salahkan kepak camar menerjang Selatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada ia yang meninggalkan, &lt;br /&gt;tak usah meludah ke dalam karangan&lt;br /&gt;Hiruk pikuk alam tak kekal dibikin Tuhan&lt;br /&gt;Ada ujung di segala senyum, &lt;br /&gt;tersisa sesimpul diberi perempuan penghabisan&lt;br /&gt;Jangan sesalkan kenangan yang menjelma menjadi arang-arang patah&lt;br /&gt;Ikrar, lumrah dilarung buat yang berpaling dari lelaki terlarang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tiada, kesendirian adalah tafakur di puncak Thursina&lt;br /&gt;menyibak tabir demi perjumpaan maha luhur di hari terakhir&lt;br /&gt;kurindu Engkau dari jelaga bumi&lt;br /&gt;dengan cinta kecamuk di siang di malam&lt;br /&gt;aksara-Mu terlafaz patah-patah&lt;br /&gt;tersungkur, dan kuulang sayup dalam kalimat-kalimat tasbih&lt;br /&gt;getar-Mu indah di malam perjamuan syahadah&lt;br /&gt;kesaksian tentang Engkau Yang Satu dan Muhammad di ujung waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bintang melesat masih, rembulan gelagatnya merih&lt;br /&gt;Malam yang bising oleh doa dari malaikat &lt;br /&gt;buat ia yang menyentuh tanah dengan hidung dan dahi&lt;br /&gt;Gelap membobol batas karena Tuhan yang tengah merapat&lt;br /&gt;buat ia yang berdiri sambil mengingat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katalog dosa digelar melampaui yang berbilang dari segala&lt;br /&gt;Pasir-pasir pesisir, buih-buih samudera, bintang-bintang semesta&lt;br /&gt;adalah sekujur khilaf, demikian Atid mencatat dengan qalam berjuta-juta&lt;br /&gt;Sampai hati mencabik gelisah lelaki suci yang matinya memanggil ummati&lt;br /&gt;testimoni kini bukan kilah begini bersilat lidah begitu&lt;br /&gt;tak silap di hari ketika kaki bicara, mata berucap, telinga mendendang dosa&lt;br /&gt;sendiri berdiri dengan lutut gemetar tak mau dipaksa sembunyi&lt;br /&gt;luruh sudah semua sapa pada siapa cinta berbagi pernah&lt;br /&gt;berharap kini pada mati yang tak bisa lagi&lt;br /&gt;cemas berkali-kali untuk kitab di sebelah kiri dengan neraka tersibak seraya&lt;br /&gt;Kecup neraka  di kening kusam&lt;br /&gt;murka yang tiba bersama kepastian&lt;br /&gt;Peluk jahanam buat raut yang ingkar&lt;br /&gt;pada hari kejadian dan kebangkitan yang niscaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilahi, Yang tanpa sekutu menahan langit&lt;br /&gt;utus malaikat-Mu dekat-dekat ke tepi sajadahku tiap kali&lt;br /&gt;Di atas sepuluh jari yang menengadah dan wajah menghadap Ka´bah&lt;br /&gt;bawa ini doa pada Ia Yang di singgasana&lt;br /&gt;Ijinkan bibir basahi ini malam dengan percumbuan rahasia&lt;br /&gt;dengan cemburu menggila&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kucinta Engkau bagaimana lagi&lt;br /&gt;larik-larik kidung membisik hari&lt;br /&gt;senandung tak putus tentang rindu yang tak kelu&lt;br /&gt;dan perjumpaan bisu pada Engkau Yang menguasai tali nasib di hari penghujung&lt;br /&gt;Cemasku, tak menyisa cinta-Mu untuk lelaki pendosa di terik Masyhar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kuteguhi kini,&lt;br /&gt;ada ampun di setiap bulir khilaf&lt;br /&gt;pada setiap lupa, bijaksana-Mu tak mengenal tepi&lt;br /&gt;pemurah-Mu menyusutkan setiap dosa dan zhalim yang kerap tak henti dibuat lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas sepuluh jari yang menengadah dan wajah menghadap Ka´bah&lt;br /&gt;bawa ini doa pada Ia Yang di singgasana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabbighfirli,&lt;br /&gt;aku mau mendekat&lt;br /&gt;sampai tak berjarak&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11630049-113508553318257272?l=aksarakauniyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-03-06T11:31:21.434+01:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">8</thr:total><feedburner:origLink>http://aksarakauniyah.blogspot.com/2005/12/nun.html</feedburner:origLink></item><item><title>Modern</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/AksaraKauniyah/~3/DMkO2UN8h7Y/modern.html</link><author>aksarakauniyah@yahoo.com (Aksara Kauniyah)</author><pubDate>Sun, 13 Apr 2008 11:38:45 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-11630049.post-111471649677111853</guid><description>&lt;em&gt;Oleh&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;Aksara Kauniyah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Apa sebetulnya arti modernisasi?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img style="float:left;border:solid 1px silver;padding:5px;margin-right:10px;"  src="http://photos7.flickr.com/11392565_c233883f18_m.jpg"&gt;Adalah John J. MacDougall, lewat wawancaranya dengan 60 teknokrat Indonesia di tahun 1969-1970, menggamblangkannya dalam sebuah makalah, &lt;em&gt;The Technocrat's Ideology of Modernity&lt;/em&gt;. Bagian besar dari para teknokrat itu (70%), menghubungkannya dengan &lt;em&gt;mental enlightment&lt;/em&gt;--pembaruan mental. Delapan persen di antaranya bicara soal kemajuan ekonomi--yang ketibaannya dibarengi oleh teknologi modern dan perkembangan ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang mengagetkan adalah, satu orang di antara mereka justru menghendaki modernisasi sebagai ajang pembebasan. Liberasi--bukan liberalisasi. Modernisasi diartikulasikan jadi sejenis emansipasi total, radikal sekeras-kerasnya. Dengan demikian, manusia tidak hidup di alam yang canggung, ataupun masygul akibat kebingungan yang tak luruh. Merdeka, begitulah ringkasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, merdeka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, demi modernisasi yang diatasnamakan, Syah Reza Khan dari Persia memaksa warga berpakaian seperti yang lazim digunakan di Barat. Jilbab dan cadar dibuang ke tepian, tradisi dijungkirbalikkan sejadi-jadinya. Seorang sayid terkemuka coba-coba menantang. Akibatnya ia ditangkap, digunduli, dan diganduli topi khas Eropa. Esoknya, ia ditemukan mati di atas pembaringan. Menanggung malu, juga amarah yang tak sempat berubah kelamin jadi dendam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tempat lain. Mustafa Kemal Pasya menang, menggulung dinasti Utsmaniyah. Didaulat jadi orang nomor satu di Turki, mengendalikan penuh parlemen, sekaligus mengetuai partai tunggal di negeri itu. Setengah berseloroh, kerabatnya menyebut Kemal sudah berubah jadi sejenis trinitas baru. Kemal cengengesan, sambil lekas-lekas mengujar, "Betul juga, tapi please, jangan bilang siapa-siapa, ya!" Mustafa Kemal nangkring di pucuk, dan ia mau Turki jadi canggih, modern, &lt;em&gt;wah&lt;/em&gt;. Tapi apa arti modernitas buat Kemal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memulainya dari Kastamonu, profinsi paling udik. "Saudara-saudara," katanya, "inilah pakaian yang beradab. Trendi, lho! Membanggakan kalau dipakai, layak banget dikenakan! Sepatu untuk telapak, pantolan buat kaki--juga kemeja, dasi, dan penutup kepala ini. Namanya, 'topi'." Turbus, peci kupluk khas Turki serta merta jadi kuno, dibuang sia-sia ke selokan. Azan dialihbahasakan, sementara jilbab dilempar jauh-jauh ke ngarai. Huru-hara sempat meletus, tapi sekelebat padam di bawah seringai bayonet dan artileri berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu. UNDP sempat bikin ukuran desa sejahtera lewat jumlah televisi yang dimiliki setiap 1000 warga. Indonesia &lt;em&gt;'gak&lt;/em&gt; mau ketinggalan. Seorang menteri penerangan menitahkan pengiriman ribuan televisi ke Timor-timur--yang waktu itu masih jadi bagian Indonesia, dan paling terbelakang--demi puji, prestasi, dan terutama, gengsi yang tak jelas arah. Hingga dalam satu kunjungan dinas, presiden pun dibuat terperanjat. "Wah, Timtim sudah modern." Menteri itu manggut-manggut, senyum yang dikulum malu-malu. Bangga? &lt;em&gt;Narcissism&lt;/em&gt;. &lt;em&gt;Pseudo-success&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu, mungkin kini dikenang dengan cemooh. Kadang terbahak, ada keberanian untuk menertawakan sesuatu yang silam, tapi lupa: ada gajah jongkok di depan pelupuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, merdeka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modernisasi, dalam kasus Khan, Kemal, dan Harmo..., maaf maksudnya menteri penerangan asal Indonesia itu, dengan demikian justru mengambil peran sebagai beban bagi kemerdekaan. Tapi celakanya, penyembelihan terhadap kemerdekaan bisa punya banyak mimik dan kans. Tidak melulu bersangkut paut dengan kekuasaan, kekuatan, koersi, atau mocong bedil dengan peluru yang siap dimuntahkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari belakangan tengah marak halusinasi yag merangsek, namun lamat tak berasa. Sejenis kehidupan yang begitu rapat dengan &lt;em&gt;trend&lt;/em&gt;, mewah, menterang. Sekelompok orang terlibat dalam ajang gaul yang mewartakan cemas dalam ruang permisif yang berekspansi militan. Budaya pop, yang nahasnya bersembunyi di balik slogan kebebasan, secara mengerikan malah mengemban misi eksploitasi diam-diam. Perampokan atas kemerdekaan dengan suara diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hedonism. Telah mengelabui pikiran dalam sekapan konsumerisme. Kapital, menjabat jadi sipir dengan cemeti di tangan. Kekerasan budaya tak bisa disangkal, berlangsung ajeg di lapangan terbuka. Liberalisme tak bermuara jadi liberasi. Kali ini, modernitas masih mangkir dari kemerdekaan yang agung, dalam cara yang paling terselubung. Generasi kristal lahir dari rahim sejarah. Tujuannya? Tak jelas. Kesepian? Mestikah kristal mengalami kesepian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali, inilah peradaban yang disebut Betrand de Jouvenel sebagai &lt;em&gt;une civilisation de toujours plus&lt;/em&gt;. Dalam keadaan ini manusia tiba-tiba jadi anomi, terasing--bahkan terhadap keinginannya sendiri. Ia tak mau--sekaligus bahkan tak mampu, merumuskan apa maunya. Kecuali, setelah melihat tayangan iklan bersliweran, memamah biak fantasi dan imajinasi. Kenikmatan jadi ganjil, alias janggal. Dan sekaligus mungkin, maaf, onani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa boleh buat, kemerdekaan tak cuma perkara kebebasan, &lt;em&gt;an sich&lt;/em&gt;. Ada benang merah yang membedakan laku anarki. Di dalamnya terlibat akal sehat dan pikiran yang masih mau diajak jalan, tidak gagu. Untuk itu, selalu ada beda antara &lt;em&gt;ittiba`&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;taqlid&lt;/em&gt;. Sebuah keikutsertaan tidak bersimpangsiur sejauh rasionalitas dan &lt;em&gt;consciousness&lt;/em&gt; menjadi konsiderans. Tidak linglung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, perkara modernitas tak bisa semena-mena berurat akar pada apa yang membelit sebentuk produk budaya--ketika lokalitas, partikularitas, dan masa mengikat. Jilbab dan rok mini, atau topi dan turbus--adalah aksara yang sepatutnya ditelanjangi bulat-bulat, demi menangkap pesan yang tak terungkap dengan hanya menatap sebuah simbol. Pakaian bisa bersubstitusi, tapi makna, tidak. Modernitas, tak punya hubungan dengan apa yang tengah menjadi musim. Karena, kesadaran yang sepenuh hati tentang kebebasan adalah kunci masuk untuk mafhum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modernisasi, tak bisa dielakkan, merupakan arena pertarungan yang bengis. Akan selalu ada yang minggir, dipinggirkan. Sebaliknya, ada yang menghalau garang. Akan selalu berdiri kuasa yang menang. Apa boleh buat, ada yang mesti terlantar dan kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang semula dianggap simbol kemajuan, modernitas, dan kemegahan, pada suatu waktu bisa dianggap kolot. Sebuah atribut--jilbab atau rok mini, topi atau peci turbus--bisa ikut beku jika pikiran membeku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan anak-anak dari masa depan akan menjenguk hari ini dengan bibir penuh cemooh. Akal sehat, lagi-lagi, alpa diolah guna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katanya, modern. Peradaban? &lt;em&gt;He, he, he,&lt;/em&gt; cuma pepesan kosong.&lt;br /&gt;&lt;div style="clear:both;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11630049-111471649677111853?l=aksarakauniyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-04-13T20:38:45.238+02:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">4</thr:total><feedburner:origLink>http://aksarakauniyah.blogspot.com/2005/04/modern.html</feedburner:origLink></item><item><title>Mandeg</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/AksaraKauniyah/~3/mtRx6p2gxsg/mandeg_03.html</link><author>aksarakauniyah@yahoo.com (Aksara Kauniyah)</author><pubDate>Sun, 02 Mar 2008 04:50:45 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-11630049.post-111234214402245171</guid><description>&lt;em&gt;Oleh&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;Aksara Kauniyah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;img style="float:left;border:solid 1px silver;padding:5px;margin-right:10px;"  src="http://photos6.flickr.com/8079554_d8f08d8b8b_m.jpg"&gt;Louis Mountbatten. Digunjingkan bukan karena perangainya yang buruk. Seperti sudah digariskan, ia selalu duduk di jabatan tinggi. Sebagai bangsawan ia punya hubungan dengan, nyaris, semua raja Eropa. Entah lewat darah, ataupun pernikahan. Karena itu, barangkali  tidak sedikit orang yang iri. Pun begitu, banyak orang tahu, ia cukup rendah hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rendah hati?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdana Menteri Churchil, ketika musim gugur merontokkan daun-daun sepenjuru hutan Eropa, menawari Mountbatten suatu jabatan. Ia ditunjuk jadi Panglima Tertinggi Tentara Sekutu, membawahi seluruh area tenggara benua Asia. Mountbatten tak lekas menjawab. Ia minta waktu 24 jam untuk menimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa?" kejar Churchil penasaran, "Apa Anda mengira tak sanggup melakukannya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan. Bukan, begitu." Mountbatten setengah bergumam melanjutkan, "Saya menderita kelemahan sejak kecil. Mungkin ini penyakit yang buruk. Yakni, saya selalu menyangka kalau saya bisa melakukan apa saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;*****&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1960, Albert Camus tewas dalam sebuah kecelakaan mobil. Ada kehilangan, bahkan dari seorang lawan, yang juga teman. Sartre menulis, "Pada tiap hidup yang terputus, adalah sebundaran piringan hitam yang bukan lagi retak, melainkan pecah. Tapi, dengan begitu, sekaligus sebuah kehidupan jadi lengkap dan sempurna."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Camus, seorang penulis Perancis, bicara banyak tentang penindasan yang silih berganti datang mengusap bumi. Dan Sartre, saxophone tua itu masih coba berbunyi--meski parau, atau nyaris mengganggu. "Momen sejarah asa itu," ujar Sartre, "menghendaki penulis macam Camus bisa hidup terus."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup terus? Abadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sartre seorang eksistensialis paling memukau. Rimba intelektual memujanya jadi manusia setengah dewa. Nahas, Sartre menampik Tuhan, eksistensialis mengharamkan semua jenis "gejala" di luar manusia. Manusia, disembelih kebebasannya, ketika Tuhan datang. Konyol memang, Tuhan tak pernah masuk hitungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, di luar sana ada banyak orang bergerak dengan pedoman tak pasti. Menggelisahkan, karena kian tak sedikit yang berpikir bisa mencapai misteri ujung terowongan kematian. Dan Sartre bukannya tak tahu, ujung terowongan itu justru membatalkan semua jawaban yang paling pintar sekalipun. Tak urung ada banyak hipotesa menyemarakkan hiruk pikuk perdebatan ilmiah--juga yang bukan ilmiah. Kian gaduh seminar digelar, jawaban terasa kian jauh dari yang benar. Kehidupan menantang arogansi klasik adagium Feurbach tentang lelaki ateis. Nyatanya, misteri itu cuma sekadar mengulang tragedi Fir'aun di tepi samudera. Sesuatu yang menyapu bersih manusia dungu yang tengah meludah di muka sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali, ada baiknya mengulang-ulang gumam seorang Parts Pups. Kunci keberhasilan manusia adalah, mengetahui sejak dini, bahwa manusia bukanlah Tuhan. Maka, semestinya penyakit Mountbatten tidak menjangkit. Sementara Sartre, tak perlu menantang semua kewenangan ekstra teritorial, yang transendental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gawatnya, justru kian banyak manusia biasa, yang dalam prosesnya, berkembang (merasa) jadi luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;*****&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pengetahuan telanjur mandeg," ujarnya, "karena suatu perpecahan di dunia filsafat. Semuanya akibat teori yang terus-terusan ditolak oleh berbagai jenis tindakan di lain pihak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuturan itu mungkin terdengar lebih sebagai keputusasaan yang menampar. Ada teori yang berpaling dari kenyataan. Pahit? Pastinya. Tapi, sebuah pengakuan dosa yang jujur, bukankah lebih luhur ketimbang sederet dusta? Maka, selangkah kemudian yang perlu dilakukan adalah, pencarian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang seringkali lupa disadari kini justru adalah, kebenaran yang mestinya tidak terperangkap dalam sekat-sekat masa. Dengan demikian, Islam bukan sebuah terminologi periodesasi perkembangan jaman di satu masa silam, ataupun sejenis produk kebudayaan. Kompatibalitas Islam tentu adaptif di semua lokalitas, namun ada sesuatu yang terus mengekal, senantiasa. Salah satunya yang paling esensial berdiri di atas kepasrahan diri terhadap Yang Maha Tunggal, tanpa sedikitpun ruang persekutuan bagi yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penunggalan mengantarkan manusia pada kepatuhan yang tidak berbelah. Bukan sekadar ritualitas, agaknya. Melainkan semacam totalitas yang melibatkan semua jenis aktifitas, semua gerakan anggota badan. Karenanya, tidak ditemukan polaritas yang menyembelih kehidupan yang sekarang, dari datangnya Hari Kemudian. Islam mengatur unifikasi--antara profan dan transendental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dengan segala kerendahan hati, saya dapat berkata bahwa mereka yang menganggap tidak ada sangkut paut antara politik dan agama, sebenarnya tidak mengerti apa artinya agama bagi manusia." Adapun tuturan ini tidak disitir dari Hasan al Banna--melainkan Mohandas Gandhi dari India. Sementara Gandhi sendiri mengaku percaya, Tuhan itu ada. Tapi ia tak memeluk agama. Ia terbunuh di tangan seorang fundamentalis Hindu yang menganggapnya terlalu berpihak kepada orang-orang Islam dalam satu riwayat konflik di India.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;*****&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat yang paling fundamental, dengan demikian, menaruh Islam sebagai penimbang hidup yang diliput banyak rahasia. Dan tak seperti kelinglungan kumpulan manusia yang masih menerawang, kita terus berharap di ujung pendahuluan kematian ada sapa hangat, "Wahai jiwa yang tenang, kembalilah pada Rabbmu dalam ridha dan diridhai."~Allah SWT, di dalam Qur'an surat Al Fajr, ayat 27 dan 28.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita pun tunduk berdoa kian dalam. Sebab dalam doa kita tahu, kita cuma sebutir debu.&lt;/p&gt;&lt;div style="clear:both;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11630049-111234214402245171?l=aksarakauniyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-03-02T13:50:45.394+01:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://aksarakauniyah.blogspot.com/2005/03/mandeg_03.html</feedburner:origLink></item><media:credit role="author">Aksara Kauniyah</media:credit><media:rating>nonadult</media:rating></channel></rss>
