<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4681687974444904579</id><updated>2024-09-10T03:23:28.436+07:00</updated><category term="Tasawuf"/><category term="Download"/><category term="BrainCode"/><category term="Hawaiian&#39;s Magic"/><category term="Mind Set"/><category term="TUNG DESEM WARINGIN"/><category term="Suluk Linglung (Sunan Kalijogo)"/><category term="Motivasi"/><category term="Naqsyabandiyah Al-Khalidiah"/><category term="Abu Sangkan"/><category term="Ageng Selo"/><category term="Hindu"/><category term="Kejawen"/><category term="Manajemen"/><category term="Sun Tzu"/><category term="BERANI GAGAL"/><category term="Bali"/><category term="Biography"/><category term="Hikmah"/><category term="KHILAFAH"/><category term="Law of Attraction"/><category term="Oase"/><category term="Wahabi  Salafi"/><category term="A Reiki NAQS"/><category term="Andrie Wongso"/><category term="Aqidah"/><category term="Facebook"/><category term="MOKSHA"/><category term="Muslimah"/><category term="Samurai"/><category term="Tenaga Dalam"/><category term="Yoga"/><category term="Artis"/><category term="Business strategy"/><category term="Entrepreneurship"/><category term="Fikir"/><category term="Hadits"/><category term="Infosiana"/><category term="Kiat Bisnis"/><category term="Komik kartun"/><category term="Qosim nurseha"/><category term="Tazkiyatun Nafs"/><category term="Ukhuwah"/><category term="Vibrasi"/><category term="bisnis online"/><category term="serat"/><title type='text'>Aktivasi Energy</title><subtitle type='html'>Aktivasi Energy Qalbu</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/4681687974444904579/posts/default'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/4681687974444904579/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25'/><author><name>Edi Sugianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14020089984610322057</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGzeexTJJ5-aiaE_2XnxpUrS2D0wSodFfxEARZ9eOUxR9Np3cagCLixSLzkhkGcUwvIUrBg2DituWXBx_GIbXRZzPlECBhFtxqcaVwaR26-gUrt36VprkAx0ni2qR3TQ/s80/Edi+icon+80px.png'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>150</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4681687974444904579.post-2895242783126516046</id><published>2013-08-08T21:53:00.000+07:00</published><updated>2013-08-08T21:53:15.788+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Vibrasi"/><title type='text'>Vibrasi Masa Depan</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhHfOfDivP05uLDtxU9-RTMjK4HvEGXtN_7F3yXkq8CDIQNxEcDZ5B_GihH0WIQlrra2y9XqHNwzHggUj_5J9n3WKGXAdPwWz_POQyuM5ah4hJc6FGj95v2LyUy8e_Ya6tGPb5A2J0y2hLT/s1600/tesla.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;186&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhHfOfDivP05uLDtxU9-RTMjK4HvEGXtN_7F3yXkq8CDIQNxEcDZ5B_GihH0WIQlrra2y9XqHNwzHggUj_5J9n3WKGXAdPwWz_POQyuM5ah4hJc6FGj95v2LyUy8e_Ya6tGPb5A2J0y2hLT/s400/tesla.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Vibrasi  / Getaran adalah gerakan bolak-balik dalam suatu interval waktu tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Vibrasi pikiran akan menciptakan wujud-wujud nyata dalam realita. “Kehidupan yang kita jalani saat ini adalah hasil pikiran di masa lalu, dan pikiran kita saat ini akan menghasilkan kehidupan di masa depan”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aha? Masa depan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah masa depan itu? Apakah masa depan benar-benar ada sehingga banyak orang bilang dan berusaha untuk meraih masa depan lebih baik?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila kita bicara dari sisi ‘present‘ tentang segala kejadian yang ada, maka pikiran kita hanyalah ada untuk saat ini. Artinya yang tersentuh oleh pikiran adalah saat-saat kini yang terjadi. Dalam hal inipun maka masa lalu menjadi tidak ada, ia hanya sebuah ‘kesan’ dari bagian pikiran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terjebaknya manusia dalam anggapan masa lalu yang menjerat dan tidak bisa melepaskannya adalah karena ia menganggap masa lalu sebagai wujud nyata dan bukan sebagai ‘kesan’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memaknai masa lalu sebagai kesan adalah bukan menganggapnya masih sebagai wujud nyata peristiwa, namun belajar dari akibat-akibat yang ditimbulkan oleh sebab tindakan didalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melekatnya masa lalu sebagai gambar yang dianggap masih hidup dalam masa kini karena pikiran kita memang masih mengijinkan ia untuk singgah berlama-lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Vibrasi dari seluruh tindakan masa lalu itulah yang kini mewujud dalam sebuah masa kini yang sedang kita hadapi. Artinya segala hal yang hadir dalam kehidupan masa kini adalah akibat dari akumulasi vibrasi masa lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya menggunakan istilah vibrasi untuk memahami bahwa semua tindakan menghasilkan getaran yang menyebabkan resonansi dari alam semesta. Vibrasi ini memantul dan akan kita terima sebagai wujud realita dari hasil tindakan kita sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam masa sekarang tentu saja akan terwujud banyak tindakan yang bisa kita lakukan. Semua tindakan tersebut akan membawa kita kepada kemungkinannya sendiri-sendiri, yaitu terwujudnya masa depan bagi setiap tindakan. Apabila saat ini kita menyadari bahwa kita mempunyai banyak pilihan untuk bertindak dan merespon sebuah aksi dengan pilihan reaksi, maka masa depan adalah sebuah kemungkinan. Kemungkinan dari masa depan adalah sebanyak pilihan dari respon kita terhadap aksi yang ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Contoh sederhana adalah dua orang yang sama-sama berprofesi sebagai pegawai di sebuah perusahaan. Masa depan mereka menjadi tidak sama karena tergantung dari pilihan tindakan pada masa kini. Pegawai yang satu memilih hidup sederhana dan gemar menabung, sedangkan pegawai yang satu lagi memilih hidup dengan gaya hidup konsumtif. Dari pilihan tindakan tersebut, masing-masing sudah masuk dalam kemungkinannya sendiri-sendiri. Belum lagi apabila mereka menambah tindakan-tindakan lainnya yang tentu saja akan mewujudkan kemungkinan yang berbeda dari sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memahami bahwa seluruh tindakan akan membawa resonansi vibrasi bagi kehidupan yang mewujud menjadi realita bagi diri yang melakukannya, adalah sebuah langkah sadar untuk mewujudkan kemungkinan masa depan bagi dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masa depan adalah sebuah kemungkinan, anda sendirilah yang memilih untuk mewujudkannya dalam kehidupan anda!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Source :&lt;a href=&quot;http://filsafat.kompasiana.com/2012/10/30/masa-depan-adalah-sebuah-kemungkinan-505447.html&quot; target=&quot;blank&quot;&gt;&lt;input type=&quot;submit&quot; value=&quot;Agung Webe&quot; /&gt;&lt;/a&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/feeds/2895242783126516046/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/2013/08/vibrasi-masa-depan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/4681687974444904579/posts/default/2895242783126516046'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/4681687974444904579/posts/default/2895242783126516046'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/2013/08/vibrasi-masa-depan.html' title='Vibrasi Masa Depan'/><author><name>Edi Sugianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14020089984610322057</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGzeexTJJ5-aiaE_2XnxpUrS2D0wSodFfxEARZ9eOUxR9Np3cagCLixSLzkhkGcUwvIUrBg2DituWXBx_GIbXRZzPlECBhFtxqcaVwaR26-gUrt36VprkAx0ni2qR3TQ/s80/Edi+icon+80px.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhHfOfDivP05uLDtxU9-RTMjK4HvEGXtN_7F3yXkq8CDIQNxEcDZ5B_GihH0WIQlrra2y9XqHNwzHggUj_5J9n3WKGXAdPwWz_POQyuM5ah4hJc6FGj95v2LyUy8e_Ya6tGPb5A2J0y2hLT/s72-c/tesla.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4681687974444904579.post-5330806647559637873</id><published>2011-01-16T14:38:00.004+07:00</published><updated>2011-10-01T13:56:02.913+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hindu"/><title type='text'>Kesaktian Mantra Gayatri</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;color: blue; text-align: center;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Om bhur bhuvah svah,&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;color: blue; text-align: center;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;tat savitur varenyam,&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;color: blue; text-align: center;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;bhargo devasya dhimahi,&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;color: blue; text-align: center;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;dhiyo yo nah pracodayat.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhs2U-KGP65kuyxlBQF0FSvipMdijaSTHczn-_Ijt6ICfkH0qcqFc3qO-dQ8CKZhzteOgZaOJNcPIheFasmILLOCAo_PjMk1KUvxRpWXFAH2G7NAEC-WjKs_648_rZRIFss-KP3r8wBx2Ua/s1600/GAYATRI+MANTRA.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhs2U-KGP65kuyxlBQF0FSvipMdijaSTHczn-_Ijt6ICfkH0qcqFc3qO-dQ8CKZhzteOgZaOJNcPIheFasmILLOCAo_PjMk1KUvxRpWXFAH2G7NAEC-WjKs_648_rZRIFss-KP3r8wBx2Ua/s1600/GAYATRI+MANTRA.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;artinya:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
O cahaya bersinar yang telah melahirkan semua loka atau dunia kesadaran, O Tuhan yang muncul melalui sinarnya matahari sinarilah budi kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah makna dari mantra yang memiliki semua bija-mantra yang kesemuanya melambangkan dari kekuasaan Brahman dalam cahaya suciNya. Om melambangkan Tuhan, Bhur mewakili bumi, Bhuvah melingkupi semua bagian dari daerahnya dewata-dewata dan setengah dewata sampai kepada matahari. Sedangkan Svah mewakili dimensi alam ketiga yang diketahui dengan nama svargaloka dan semua loka-loka yang cemerlang dia atasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gayatri mantra ini mempunyai getaran sangat kuat sehingga seseorang dalam pencaran rohaninya apabila tulus mengucapkan Gayatri mantra ini akan membawa kepada pencerahan bathin. Banyak buku yang mengulas bagaimana kehebatan dari Gayatri mantram tersebut, namun tidak ada guru yang bisa memberikan pelajaran secara sistematis sehingga tidak ada pegangan yang kuat bagi murid-murid untuk mencapai kesadaran yang lebih tinggi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gayatri mantram pada dasarnya bekerja secara otomatis dalam kesadaran rohani manusia. Ini di sebabkan mantram tersebut mewakili dari setiap elemen dasar manusia dan alam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Manusia memiliki tiga bagian badan yaitu badan fisik, badan energy (aura atau cahaya) dan badan roh (atma) ketiga bagian badan ini saling terkait satu sama lainnya. Badan fisik berhubungan dengan napas dan prana, dan badan roh berhubungan dengan kesadaran Brahman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dijaman yang serba tidak pasti ini, banyak sekali bermunculan suatu masalah dalam kehidupan seperti contoh agama, ekonomi, sosial dan lain-lain dan yang lebih parah lagi adalah banyaknya kasus penyakit. Tidak bisa disangkal lagi bahwa jaman ini materi menjadi tujuan yang paling utama, karena materi bagi seseorang menjajanjikan sebuah kebahagiaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena pencitraan yang sangat kuat ini, banyak orang pada jaman sekarang melakukan perbuatan yang berorientasi pada harta, segala cara pun dilakukan asalkan terpenuhi nafsunya serta ambisinya. Tidak di dunia ekonomi saja terjadi seperti itu, di dunia energy pun banyak orang menggunakan kekuatan mistik hitam untuk mencelakai secara halus, ini terlepas dari percaya atau tidak dengan hal ilmu hitam. Banyak bermunculan duku-dukun serta paranormal yang menjajanjikan serta menjual berbagai macam kebolehan serta asesories untuk kedigjayaan atau kesaktian. Apabila tidak kuat iman, bisa dipastikan jaman sekarang akan menjadi budak dari sekian pencitraan yang mencekam dalam kehidupan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu haruskah kita lari dari kehidupan ini dan mengasingkan diri untuk pergi ke hutan atau gua dan apakah kita mengambil jalan singkat bunuh diri? Kedua-duanya adalah jalan yang konyol, kita harus menghadapi gelombang badai tersebut, namun dengan cara yang sangat halus serta bijak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang disebut dengan suara karena kita mempunyai otak serta indra mata. Anadaikan saja seseorang buta dan tuli sejak lahir pasti baginya dunia ini tidak ada, inilah yang disebut dengan ikatan indra dengan alam sementa. Untuk bisa terhindar dari masalah tersebut, tidada jalan lain kecuali mencari masalah itu jauh ke dalam hati dan pikiran sebab di sanalah kemelut itu bercokol.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;MEDITASI DENGAN GAYATRI MANTRA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah dikatakan Gayatri mantram mempunyai vibrasi sangat kuat terhadap otak dan batin asalkan tahu bagaimana cara menggunakan mantra tersebut. Meditasi pada hakekatnya berhubungan dengan pikiran, kesadaran, serta spirit dan sangat dibutuhkan guru yang khusus. Apabila anda ingin menjadikan Gayatri Mantra sebagai bagian dari meditasi anda harus melakukan puasa putih(tanpa garam, dan tidak minum susu) selama dua hari untuk memohon berkat kepada Maha Dewi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lakukan puasa mulai hari Rabu (pagi) sampai Jumat (pagi) hanya makan nasi putih dan air putih saja dan lakukan puja Gayatri setiap pagi menghadap matahari terbit, siang hari, dan malam hari. Dalam mengucapkan Gayatri mantra enam kali untuk pagi hari, empat kali untuk siang hari, dan dua puluh sembilan kali untuk malam hari. Lakukan puasa dan puja Gayatri dengan ketulusan hati jangan memohon suatu daya-daya sakti tertentu sebab belum tentu keinginan anda akan terpenuhi. Setelah melakukan puasa dan puja gayatri selama dua hari barulah anda di perkenankan untuk melakukan meditasi ternadap Gayatri mantra sebab api spirit anda sudah menyala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Tambahan:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Dalam penjelasannya puasa putih ini dapat dilakukan sehari saja tapi harus pada hari kelahirannya. Misalnya lahir hari Senen, maka puasa dilakukan pada Senen pagi hingga Selasa pagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;TEORI MEDITASI&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum meditasi cucilah muka, tangan, serta kaki, atau anda mandi untuk membersihkan badan dari kotoran sekaligus membuat badan menjadi segar. Duduklah dengan memakai alas dari kain, tikar, atau selimut, posisi punggung tegak lurus dan tangan diletakkan dipangkuan dalam posisi relek. Pejamkan mata, serta tenangkan pikiran berberapa detik, setelah itu ucapkan mantra &quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;color: red;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;OM Bhur, OM Bhuvah, OM Svah&quot;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
ucapkan dengan suara lambat serta santai jangan tergesa-gesa sebanyak lima kali, ini bertujuan untuk membersihkan lapisan pikiran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat mengucapkan mantra ini arahkan pikiran pada mantra dan suara bukan pada bayangan pikiran. Setelah baca mantra selesai tutuplah mulut serta tenangkan pikiran lalu ucapkan Gayatri mantram&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;color: red;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&quot; OM Bhur, Bhuvah, Svah, tat savitur varenyam, bhargo devasya dimahi, dhiyo yo nah pracodayat&quot;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
dengan lambat dan tenang di dalam hati. Arahkan pikiran serta getaran suara mantra pada jantung, anda cukup meniatkan saja bukan membayangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meditasi dengan Gayatri mantram sangat efektif untuk berbagai macam keperluan seperti melindungi diri dari energy negatif, kecantikan, kekuatan batin, kecerdasan dan lain-lain. Kekuatan Gayatri mantra tidak bisa berfungsi apabila disertai niat kurang baik. Meditasi Gayatri mantra apabila dilakukan dengan baik serta&lt;br /&gt;
tulus akan banyak muncul keajaiban-keajaiban yang tidak bisa kita sangka. Gayatri mantra bukan bekerja pada maksud si meditator namun, karunia, energy, rahmat, dari Maha Devi Gayatri yang berhak menentukan. Bagaikan mobil, sang supirlah yang tahu kemana tujuan dari mobil itu, bukan tujuan dari mobil tersebut yang dituruti sang supir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Energy Gayatri masuk dari ubun-ubun melalui tulang belakang serta menyebar keseluruh tubuh fisik, tubuh energy, dan atma. Banyak guru-guru suci yang tercerahkan mengatakan &quot;pencerahan akan kalian dapatkan pada Gayatri mantra. Pada jaman kali yuga ini tiada yang mampu melepaskan lapisan kekotoran pikiran&lt;br /&gt;
selain getaran halus dari Gayatri mantra.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;TIPS&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa bila anda merasa ada sakit yang disebabkan oleh ulah niat jahat seseorang, dan kalau percaya dengan hal ini anda bisa menggunakan cara berikut ini. Sediakan air bersih , higienis, untuk diminum, lalu jemurlah air tersebut pada cahaya matahari serta cahaya bulan di malam hari. Setelah air tersebut dijemur oleh kedua unsur cahaya tersebut berdoalah pada Tuhan sambil membaca Gayatri mantram 11 kali, setiap habis membaca gayatri mantram tiupkan nafas anda pada air tersebut. Air tersebut bisa diminum atau dipakai campuran obat, mandi dan lain-lainnya. Dengan kekuatan ini segala macam bentuk energy jahat dari seseorang akan hancur oleh kekuatan dari mantra tersebut, hal ini sering terbutkti di daerah-daaerah terpencil. Ada banyak lagi cara-cara yang bisa dijadikan renungan, betapa Gayatri mantra mempu untuk menghadapi dilema dalam hidup ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;TAMBAHAN:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Bapak Mahendra ini adalah anak seorang dukun sakti dan sering memberikan pengobatan. Sejak kecil bapak Mahendra sudah biasa bermain-main dengan ilmu gaib. Setelah besar dia memiliki bergbagai ilmu kesaktian tapi setelah dia masuk ke India, oleh gurunya di India semua ilmu kesaktian itu dihilangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Source :&lt;a href=&quot;http://www.iloveblue.com/bali_gaul_funky/artikel_bali/detail/1277.htm&quot; target=&quot;blank&quot;&gt;&lt;input type=&quot;submit&quot; value=&quot;iloveblue&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;KAJIAN :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjc5iINSgG0opbIrmq6kmocCBP2qlj3o-NIign_TaYjHIa_8qxa848xB23G_V8p1REnq3cVWEFEi37MO_L1yXqKlXBBvjITvZRuhvh9XaRFgwRU_5MSFPso-P8jIDuATpJauTeYhXEBKMiI/s1600/GAYATRI+MANTRA+2.gif&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;320&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjc5iINSgG0opbIrmq6kmocCBP2qlj3o-NIign_TaYjHIa_8qxa848xB23G_V8p1REnq3cVWEFEi37MO_L1yXqKlXBBvjITvZRuhvh9XaRFgwRU_5MSFPso-P8jIDuATpJauTeYhXEBKMiI/s320/GAYATRI+MANTRA+2.gif&quot; width=&quot;231&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Sri Krishna di dalam Bhagavat-Gita bersabda kepada Sri Arjuna, bahwasanya diantara berbagai mantra, maka Gayatri Mantra adalah yang tertinggi sifatnya dan Beliau sendiri adalah pengejawantahan dari esensi mantra ini.  Ada dua versi mantra Gayatri yang paling populer diantara berbagai jenis mantra-mantra Gayatri.  Yang pertama adalah seperti berikut ini : &lt;br /&gt;
&lt;blockquote style=&quot;color: blue;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;OM&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;BHUR, OM BWAH, OM SWAH,&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Om Tat Savetur Varenyam&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Bhargo Devasya Dimahi,&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Dhiyo Yonah Prachodayat &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;
Apakah mantra Gayatri ini sebenarnya dan apakah manfaatnya, sehingga sedemikian agungnya mantra ini?  Konon Gayatri sendiri yang adalah manifestasi dari lima bentuk bunda alam-semesta ini bersifat maha prakriti (Maya, ilusi Ilahi).  Kelima dewi ini adalah Saraswati-Laksmi-Durga-Uma dan Kali, yang membaur menjadi satu bentuk dominan di seluruh alam semesta ini, baik di alam buana-alit maupun buana-agung.  Gayatri lahir dari Sang Pencipta Brahma pada awal penciptaan dunia ini yang tersirat di Veda sebagai  mantra yang bersifat universal, yaitu suatu bentuk Pengagungan dari Yang Maha Kuasa dalam bentuk seorang Bunda alam-semesta itu sendiri dengan kelima bentuk kewajibanNya.  Itulah sebabnya walaupun memiliki hanya satu raga, Beliau berkepala kelima dewi di atas tersebut.  Dewi Saraswati adalah lambang dari ilmu pengetahuan, sastra, agama, literatur, keindahan dan seni budaya.  Tanpa Beliau, manusia hidup seperti ibaratnya fauna yang tidak berbudi-pekerti.  Dewi Laksmi adalah lambang dari kejayaan, kekuatan, kemakmuran dan sebagainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau adalah shaktinya Dewa Vishnu Sang Pemelihara alam semesta ini, sedangkan  Dewi Saraswati adalah shaktinya Dewa Brahma Sang Pencipta.  Durga adalah berkuasa di atas segala bentuk kebatilan,  asuras dan bentuk-bentuk yang bersifat iblis; barang siapa memuja Beliau dipastikan akan dijauhkan dari segala mara-bahaya yang ditimbulkan oleh berbagai asura ini.  Di Indonesia ada konsep yang salah mengenai Durga ini, Beliau dianggap sebagai ratunya para setan-dedemit, padahal Beliau ini menguasai mereka dan tanpa Beliau semua unsur iblis ini akan meraja-lela tidak terkendali.  Di India dan di seluruh dunia Beliau adalah Dewi yang paling dipuja demi mendapatkan imbalan-imbalan duniawi, disamping Laksmi dan Dewa Ganeshya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dewi Uma atau Prathivi, atau Pertiwi adalah juga isteri atau shakti dari Shiva Mahadewa. Beliau adalah ibu Pertiwi ini merupakan Tuhan insan Hindu yang pertama-tama harus dipuja.  Sedangkan Kali, lahir dari Shiva itu sendiri dan akhirnya “membunuh” Shiva dengan kekuatannya. Sebuah simbolisasi dari Sang Waktu (Kala dan Kali), yang maha dominan dan abadi. Dewa-dewi boleh berakhir tugas, tetapi tidak Sang Kala ataupun Sang Kali.  Secara spiritual Gayatri dianggap hadir selama 9 bulan 10 hari di dalam rahim seorang ibu yang sedang mengandung, dan selama itu pula sang jabang bayi belajar akan hakikat Tuhan Yang Maha esa dengan segala fenomenaNya baik di alam  bumi ini maupun di buana-agung dimana Beliau senantiasa maha hadir dimana saja.  Sewaktu seorang jabang bayi lahir, ia menangis pertama kali, dan setiap bayi selalu merneriakkan uah, uah.  Menurut para ahli spiritual Hindu, kata pertama yang keluar dari mulut sang bayi, bangsa apapun ia dan lahir dimanapun, ia adalah : Aum, Aum, Aum, karena tiba-tiba sang jabang bayi kehilangan Gayatri. Oleh karena itu sewaktu dibabtiskan beberapa hari kemudian, versi pertama gayatri ini oleh sang ayah akan dimanterakan di telinga sang jabang bayi, agar ia sadar kembali akan hakikat kehidupannya di dunia ini.  Sayang sekali hampir semua ayah tidak sadar akan makna mantra ini, dan hampir semua pendeta yang melakukan upacara untuk si bayi ini lebih terbius dengan pembayaran yang akan diterimanya.  Lambat-laun hilanglah hakikat sesungguhnya dari mantra yang teramat sakral ini.  Sesungguhnya mantra  yang utama ini diperuntukkan demi majunya jalan spiritual seseorang dan bukan untuk mendapatkan pahala-pahala seperti keselamatan, rezeki dan kekayaan.  Dengan mengulang-ulang mantra ini seseorang akan dibersihkan dari berbagai kekotoran duniawinya, namun itu baru bisa terjadi seandainya pemahaman seseorang akan mantra ini sempurna.  Kalau hanya mengulang-ulang ibarat burung beo, maka yang didapatkannya hanyalah kebodohan belaka.  Pemahaman yang baik akan mantra ini akan mengungkap Sang Jati Diri yang bersemayam di dalam diri kita melalui dhyana yang berkesinambungan dan tanpa pamrih.  Dan dhyana ini seharusnya dibukakan oleh seorang guru yang telah berstatus dwijati dan non-pamrih  dalam segala hal.  Pada saat seseorang berguru, inilah mantra Gayatri versi kedua diberikan kepadanya secara spiritual, dan ini disebutkan kelahiran kembali (kedua kalinya).  Versi kedua akan kami utarakan pada keterangan-keterangan berikutnya.  Biasanya untuk mendapatkan jalan dhyana ini seseorang  akan diminta untuk menyiapkan dirinya menjadi vegetarian total, dan bersikap total ahimsa dan non-pamrih dalam segala hal, walaupun hidup secara duniawi secara wajar-wajar saja. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mantra ini disebut juga dengan nama Savitri Mantra, karena sebenarnya didedikasikan ke seorang dewa yang bernama Savitr. Ada juga sebutan Savitri-gayatri di buku-buku kuno, dan mantra ini ditujukan pada zaman tersebut pada Dewa Surya secara kaidah-kaidah yang terdapat di dalam Veda, dan hal ini juga disebut sebagai Gayatri. Kaidah ini disebut: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote style=&quot;color: red;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;“Om Tat-Savitur-Varenyam&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;Bhargo Devasya Dhimahi&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;Dhiyo yo Nah Pracodayat” &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;
Konon maha mantra ini diturunkan pertama kalinya kepada manusia di bumi ini kepada Resi Visvamitra yang agung di zaman yang teramat silam.  Keseluruhan mantra ini termuat dalam mandala ketiga dari Rig Veda.  Mantra yang sama ini juga hadir Sukla Yajurveda dan Krishna Yajurveda. Di Bhagavat-Gita Sri Krishna bersabda bahwasanya cahaya yang meliputi surya dan chandra adalah CahayaNya semata, jadi menurut para kaum suci, ini berarti Mantra  Gayatri adalah mantra pencerahan akan hakikat Yang Maha Hakiki. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote style=&quot;background-color: #f3f3f3;&quot;&gt;Om  Bhur  berarti ….Wahai Yang Maha Esa, Dikaulah Sang Bhumi.&lt;br /&gt;
Om Bwah berarti ….Wahai Yang Maha Esa, Dikaulah Alam-Semesta.&lt;br /&gt;
Om Svah berarti ….Wahai Yang Maha Esa, Dikaulah  Kehampaan yang menyelimuti bumi dan alam semesta ini. &lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;
Sedangkan tiga baris mantra di atas berarti:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kami bersemedi ke arah Cahaya Ketuhanan Sang Surya, semoga cahaya surgawi ini menerangi aliran pikiran yang ada di dalam budhi (intelek) kami.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biasanya di India mantra ini disertai dengan  japa pranava  dan  Vyahrti-S.  Bagi kaum Hindu, pemujaan sehari-hari mengharuskan japa ini (sandhya-karma) agar pikiran selalau berpikir akan hal-hal yang bersifat jernih. Di Manusmrti 102 tertulis : ”Membaca japa ini di pagi hari sambil berdiri akan menghilangkan semua dosa yang disandang selama malam harinya, dan dengan berjapa di malam hari, maka semua dosa dipagi harinya akan sirna seketika”.  Itulah sebabnya kedua waktu ini harus dipergunakan untuk mengingatNya dan sekaligus menyadarkan diri kita sendiri dengan maha mantra ini, bukan hanya dijapakan pada waktu berkunjung ke kuil atau ke pura saja. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada zaman ini Gayatri-Mantra telah sedemikian populernya diseluruh dunia sehingga selalu berkumandang dalam bentuk ratusan versi lagu, japa dan puja-puji dalam berbagai dialog yang aneh-aneh.  Ada sementara  resi mengatakan pranava “Om Bhur-Bvah-Svah” boleh ditambahkan atau tidakpun tidak apa-apa dalam setiap pemujaan, namun rasanya tidak akan berarti kalau tidak disertakan. Ada dua sandhya dalam sehari. Kata Sandhya berarti titik penghubung antara pagi dan malam. Dengan demikian sandhya yang pertama  adalah subuh dan yang kedua adalah senja hari.  Pemujaan pada pagi hari sekitar jam 4.30 s/d  jam 5 pagi disebut Brahma-mahurta dan di sore hari sebaiknya pukul 6 s/d 7 sore.  Setelah Islam masuk ke India, banyak orang Hindu menambahkan japa dan sembahyang pada siang hari, padahal itu tidak dianjurkan dan juga tidak dilarang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di masa lalu pemujaan pagi hari sambil berdiri dilakukan menghadap ke arah Timur ke Surya dan pada malam hari ke arah Barat, dan sambil memuja,  seseorang akan meletakkan air di kedua tangannya yang terkatub, dan pada akhir ucapan mantranya air tersebut dipersembahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, ini disebut Arghya-Pradana.  Pada saat mengakhiri mantra ini, sang pemuja akan mengucapkan :”Surya adalah Sang Brahman (Asavidityo Brahma)”, kemudian ia akan melaksanakan atma-pradaksina, yaitu memutarkan badannya kearah kanan, ini mengisyaratkan bahwa sang pemuja dalam baktinya mengikuti arah Sang Surya dan dharmanya.  Sekaligus berarti ia akan selalu berada dalam naungan dan tuntunan Sang Atman, Sang Jati Diri yang raganya sendiri.  Pada masa tersebut Gayatri-Mantra diucapkan 10 kali pada setiap sandhya, pada saat ini sudah bebas, walaupun konon mantra ini tidak boleh diucapkan lagi setelah senja lewat.  Saat ini aturan inipun sudah terkesan bebas. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan mengucapkan Gayatri mantra kita sebenarnya memohon agar cahayaNya menerangi dan membebaskan kita  semua dari kebatilan yang selalu mengganggu kita sepanjang hari terus-menerus tanpa henti dalam bentuk godaan-godaan duniawi yang tidak ada habis-habisnya ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ribuan tahun telah  silam semenjak hadirnya berbagai Veda, kemudian muncullah berbagai Sutras dan kemudian hadirlah berbagai pengertian dan penghayatan akan filosif dan ritual yang disebut agama-agama yang berorientasi ke pemujaan Vishnu, Shiva dan Shakti (Durga).  Setiap agama ini menyatakan bahwasanya Gayatri adalah miliknya, dan puja ini ditujukan kepada masing-masing Ishta-dewatanya.  Kemudian berkembanglah konsep Tuhan sebagai Bunda alam-semesta ribuan tahun lalu, dan hadirlah Dewi Gayatri seperti yang kita kenal sekarang ini.  Banyak yang berpendapat dengan melantunkan Gayatri maka seluruh Veda-Veda telah dilantunkan olehnya.  Kemudian mantra yang dianggap teramat sakti ini dipercayai sebagai mantra pembawa proteksi diri segala rintangan dan halangan, itulah sebabnya Gayatri mantra juga disebut sebagai “Mantra yang melindungi seseorang yang melantunkannya”. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kaum Hindu di India percaya bahwa sekiranya timbul kendala atau firasat buruk pada seseorang dikala melakukan suatu usaha atau proyek tertentu, orang tersebut harus duduk berjapa Gayatri-mantra ini sebanyak 11 kali, dan seandainya masih mendapatkan firasat buruk maka dianjurkan mengulangnya sebanyak 16 kali, sesudah itu tidak akan ada aral melintang lagi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di India, seorang anak laki-laki diinisiasi dengan mantra Gayatri sewaktu ia masih berusia muda, dan upacara ini disebut Upanayana yang dihadiri dan diselenggarakan oleh kepala rumah tangga dan pendeta keluarga. Upacara ini di berbagai literatur Vedik disebut gayatri-diksa.  Dengan menjalani upacara ini seorang anak laki-laki diinisiasi menjadi seorang penyandang Hindhu Dharma.  Manu, manusia pertama menganjurkan pendiksaan ini seperti berikut; Usia 5 tahun bagi brahmana, 6 tahun bagi kshtriya, dan 8 tahun bagi seorang vaishya, maksimum usia-usia ini secara masing-masing kategori adalah 16, 22 dan 24 tahun.  Biasanya anak wanita tidak didiksa, karena diksa tersebut akan berlangsung sewaktu ia menikah nanti.  Bagi kaum sudra tidak disebutkan pendiksaan  ini.  tetapi di India masa kini banyak kriteria tersebut di atas  yang telah berubah, kaum sudra sudah boleh mengikuti upacara ini berkat perjuangan Mahatma Gandhi almarhum. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dipercayai secara shahtra vedik bahwasanya Gayatri-Diksa adalah kelahiran kedua.  Orang tua melahirkan putra mereka karena menginginkannya secara bersama-sama, dan lahirnya seseorang  dari rahim bundanya dianggap sebagai kelahiran fisik. Namun kelahiran kedua adalah anugerah melalui Savitri yang telah menguasai Veda-veda secara keseluruhan, dan kelahiran kedua ini dianggap kelahiran sejati, abadi dan tak pernah mati dimakan sang waktu.  Sesudah diinisiasi ini seorang putra laki-laki disebut Dvija. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya mantra ini berisikan kalimat keempat dan kalimat ini dianggap begitu sakralnya sehingga hanya diberikan oleh seorang guru spiritual yang telah betul-betul Dvijati pada saat seseorang memasuki masa sanyasi dan dhyananya. Kalimat keempat ini hadir di Chandogya, Brhadaranyaka dan di Brahma-Sutra.  Kami di Ganeshya Pooja  (Shanti Griya) telah menurunkan Gayatri lengkap ini (disebut juga Maha-Gayatri) kepada sekitar 70 sishya yang menunjukkan tanda-tanda spiritual yang teramat satvik, dari antara ribuan sishya yoga ini. Prosesnya selalu terjadi secara mistis dan otomatis sehingga sang sishya akan menunjukkan gejala-gejala awal  yang sangat menunjang kehadiran Gayatri-Mantra ini di dalam dirinya.  Setelah mendapatkan awal inisiasi,  pemuja ini akan segera menjadi vegetarian  dan ahimsa, lalu mempersiapkan dirinya untuk inisiasi lengkap.  Namun sidang pembaca sebaiknya tidak menghubungi kami untuk yang satu ini, karena mendapatkan Maha-Gayatri adalah proses yang teramat sulit dan sudah banyak yang menjadi gila karenanya. Itulah sebabnya para guru spiritual tidak mau menurunkannya secara sembarangan.  Pada saatnya nanti seorang Hindu atau siapa saja yang telah siap mendapatkannya akan menemukan dimana saja Gayatri (Sang Dharma) berkenan.  Ingat, bukan kita memilih Sang Brahman, tetapi beliaulah yang memilih kita semua. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para wanita di masa lampau seperti di masa kini, selalu melantunkan mantra Gayatri secara bebas, dan pada zaman tersebut merekapun melaksanakan upacara Upayana, namun dewasa ini wanita tidak perlu mengikuti upacara ini karena kelahiran kedua seorang wanita adalah sewaktu ia menikah dengan purushanya.  Menurut para resi  seorang wanita lebih efektif dibandingkan dengan seorang pria seandainya ia berjapa Gayatri-Mantra karena efeknya terasa ke seluruh keluarga dan relasi di rumah-tangganya termasuk janin-janin yang dikandungnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang resi guru Chinmaya pernah menulis dan menyebarkan sebuah karya yang disebut Devaprayaga yang dikomentari oleh Sri Shankara Acharya secara pribadi, karya ini sudah tua dan langka, namun dengan bantuan guru tersebut di atas dapat diterjemahkan seperti berikut ini: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Arti dari wacana Gayatri &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;color: blue;&quot;&gt;&lt;b&gt;Gayatri sudha pratyag-Brahma-aikya-bodhika &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
1.        Mantra Gayatri mengindikasikan ilmu pengetahuan yang terutama akan hakikat penyatuan dengan Sang Atman yang hadir di dalam diri kita dan Yang Maha Hadir di mana saja. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.        Yang mengetahui akan segala bentuk budhi (intelek) yaitu Yang Menerangi semua bentuk pikiran dan hadir di semua bentuk intelek, yang merupakan Saksi dari semua bentuk budhi …. Ialah Sang Jati Diri yang disiratkan oleh Mantra Gayatri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.        Maha Brahma, Realitas transedental yang Hakiki adalah merupakan Sang Jati Diri itu semata-mata, dengan mejapakan Gayatri, Beliau akan bangkit (di dalam diri kita).  Sang Atman ini diindikasikan di Mantra Gayatri sebagai Sang Surya (Savitur). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4.        Kata “tat”  disini mengartikan yang maha hadir, Sang Atman di dalam diri kita, yang bukan tidak dan bukan lain adalah Sang Atman di dalam semuanya, yaitu Yang Maha Atman (Param Brahma). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5.        Kata surya (Savitur) bermakna Tunggal, yaitu satu substratum bagi semua pengalaman delusi yang berbasiskan pruralitas dan juga berbagai permainan ilusi di medan penciptaan ini, termasuk juga dalam tahap pemeliharaan dan penghancurannya (kiamat, pralaya). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6.        Kata “Varenyam” (Yang dipuja-puji, Yang dikagumi) berarti Dia (Itu) yang dituju setiap insan (semuanya), Yang bersifat ananda-rupam (rahmat, berkah yang tidak ada batasnya).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(kata ini pada saat berjapa harus dilantunkan sebagai Varenyam) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
7.        Kata “Bhargah” berarti yang menghancurkan semua bentuk kebodohan, ketidak-sempurnaan yang dipancarkan oleh kekurang-pengetahuan akan pemahaman Sang Ralitas. Dimana hasil-hasil kebodohan tersebut dihancurkan, maka di situ akan hadir kesadaran akan Realitas Yang Maha Esa secara segera. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8.        “Devashya” (Cahaya) di sini bermakna kesadaran yang senantiasa hadir, menerangi baik di dalam maupun di luar, di tiga tahap (alam) ….. kesadaran, alam-mimpi dan alam tidur-lelap. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
9.        Yang adalah sifatKu yang murni, yaitu AtmanKu, adalah tidak lain tetapi Berkah yang terutama, substratum untuk semuanya, jauh diluar berbagai penderitaan dan tragedi, bersinar sendiri, bersifat kesadaran yang murni, yaitu Brahman Itu Sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
10.    Kata “Dhimahi” berarti yang menjadi tujuan meditasi kami, berasal dari konstruksi di Veda. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
11.    Sekarang jelaslah sudah bahwa Mantra-Gayatri ini mengindikasikan kesadaran dan kebangkitan (dalam arti yang dalam) dalam diri kita agar kita faham akan Hakikat Hyang Tunggal yang menghidupi setiap makhluk. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
12.    Di dalam daftar kata-kata vedik, maka kata-kata Bhuh (Bhur), Bhuvah (Bhvah), Svah, Mahah, Janah, Tapah dan  Satyam,  semuanya  berjumlah tujuh disebut “Vyahrti-S”. Dari ke tujuh kata-kata ini, hanya tiga kata pertama dipergunakan untuk pemujaan sehari-harinya. Semuanya pada hakikatnya mengindikasikan Hakikat Brahman Yang Maha Abadi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
13.    “Bhuh” mengindikasikan keabadian. Yaitu Yang Maha Hadir di setiap periode sang waktu, Yang Maha Suci, Yang Senantiasa Merdeka, Yang bersifat eksistensi murni di dalam setiap bentuk. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
14.    Kata “Bhuvah” menyiratkan makna dari kesadaran yang murni, kata ini berasal dari imajinasi, yang menyiratkan akan kehadiran kesadaran yang menerangi berbagai pikiran kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
15.    Kata “Svah” sebagai vyahrti bermakna : realitas terutama dari  seseorang itu sendiri, karena apa yang dituju secara amat sangat oleh setiap ciptaan adalah Sang Jati Diri kita sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
16.    Kata “Mahah” berasal dari kata megah yang berarti Yang Dipuja, yang secara langsung berarti Yang Maha Megah atau Yang Maha  Dipuja yaitu Sang Jati Diri Yang Maha Utama. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
17.    Vyahrti “Janah” bermakna: Mencipta, yang berarti Yang Maha Pencipta dari mana berasal semua bentuk nama dan rupa, baik yang berada di dalam maupun di luar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
18.    Kata “Tapah” bermakna: Penuh dengan terang-benderang, kecemerlangan, yang tak terhingga. Sang Jati Diri sebagai bentuk kesadaran adalah satu-satunya yang merupakan sumber semua cahaya di alam-semesta ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
19.    Kata “Satyam” bermakna:  Sebuah tahap yang jauh sekali  dari jangkauan berbagai keterbatasan seperti penderitaan dan berbagai penyakit. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
20.    Ketujuh Vyahrti-S diterangkan dan disebut sebagai tujuh loka, yaitu tujuh bentuk kesadaran  atau pengalaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(juga berarti 7 cakra utama di raga setiap manusia, ini adalah sendi-sendi buana-alit kita yang berhubungan dengan 7 loka di alam-semesta (buana-agung).  Fenomena ini hanya bisa difahami oleh seorang sishya dibawah bimbingan guru yang telah dwijati secara murni). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
21.    “Etad-uktam bhavati”. Kata-kata ini bermakna: Oleh karena itu semenjak semula kami telah mengindikasikan bahwasanya Gayatri adalah pengejawantahan dari Realitas Yang Maha Utama, yaitu Sang Brahman. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
22.    Sang Jati Diri, Yang adalah eksistensi murni, adalah makna yang disirat dan diindikasikan oleh Mantra-Mantra  Veda OM, yang menunjuk ke Brahman. Ketujuh loka juga menjabarkan  makna dari OM dan yang dimaksud ini adalah Sang Brahman itu sendiri, dan bukan yang lain-lainnya, sebenar-benarnya hanya Beliau satu-satunya yang eksis. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
23.    Demikianlah, ketujuh Vyahrti-S menunjuk, dengan seluruh makna dan isi kandungan mereka, ke arah Sang Brahman, Sang Jati Diri (Atman) dalam kesemuanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
OM SHANTI SHANTI SHANTI&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
OM TAT SAT &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disarikan oleh mohan m. s.&lt;br /&gt;
Source :&lt;a href=&quot;http://shantigriya.tripod.com/sastra/gayatri/gayatri.htm&quot; target=&quot;blank&quot;&gt;&lt;input type=&quot;submit&quot; value=&quot;shantigriya&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;b&gt;VIDEO MANTRA GAYATRI&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;iframe allowfullscreen=&quot;&quot; frameborder=&quot;0&quot; height=&quot;315&quot; src=&quot;http://www.youtube.com/embed/nDnamSM3Z3s&quot; width=&quot;420&quot;&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/feeds/5330806647559637873/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/2011/01/kesaktian-mantra-gayatri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/4681687974444904579/posts/default/5330806647559637873'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/4681687974444904579/posts/default/5330806647559637873'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/2011/01/kesaktian-mantra-gayatri.html' title='Kesaktian Mantra Gayatri'/><author><name>Edi Sugianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14020089984610322057</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGzeexTJJ5-aiaE_2XnxpUrS2D0wSodFfxEARZ9eOUxR9Np3cagCLixSLzkhkGcUwvIUrBg2DituWXBx_GIbXRZzPlECBhFtxqcaVwaR26-gUrt36VprkAx0ni2qR3TQ/s80/Edi+icon+80px.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhs2U-KGP65kuyxlBQF0FSvipMdijaSTHczn-_Ijt6ICfkH0qcqFc3qO-dQ8CKZhzteOgZaOJNcPIheFasmILLOCAo_PjMk1KUvxRpWXFAH2G7NAEC-WjKs_648_rZRIFss-KP3r8wBx2Ua/s72-c/GAYATRI+MANTRA.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4681687974444904579.post-3150633709858056948</id><published>2011-01-13T22:08:00.000+07:00</published><updated>2011-01-13T22:08:40.122+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="A Reiki NAQS"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hikmah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tenaga Dalam"/><title type='text'>POTENSI MATA KETIGA : ILMU TERAWANGAN</title><content type='html'>Ajian ini termasuk ajian tingkat tinggi yg ksaktianya luar biasa dimana pemilik ajian ini dapat melihat dengan mata batinya dimensi gaib(alam gaib).Tatapi kami akan sdikit jelaskan bahwa memiliki aji trawangan tdk lah semudah yg dibyangkan sebab hrs melakukan ritual2.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1.Puasa&lt;br /&gt;
2.melatih daya cipta.&lt;br /&gt;
3.Amalan japa mantra.&lt;br /&gt;
4.Melakukan tapa yoga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mantra :&lt;br /&gt;
“WARNO SALIRO YO DZATING GAIB&lt;br /&gt;
SEJATINING WARNO YO TUMATEK ING NETRO”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Laku ilmu bagi pemula:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
►Puasa sunnah 3 hari dengan niat ikhlas lillahi ta’ala (Mulai hari Selasa Kliwon)&lt;br /&gt;
►Selama ritual baca mantra di atas sebanyak 77x setelah shalat&lt;br /&gt;
►Tutup ritual puasa hari terakhir dengan membaca mantra di atas 177 x jam 12 malam&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
CARA MELATIH TRAWANGAN MATA TERBUKA :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
►Carilah tempat sunyi seperti kamar, kebun, makam atau dekat sungai.&lt;br /&gt;
►Duduk bersila konsentrasi lalu anda&lt;br /&gt;
►bakar kan hio gunung kawi 7 batang&lt;br /&gt;
►Oleskan sedikit minyak misik di kedua tangan anda dan gosokan lalu ibu jari, tangan kanan anda letakkan pada cakra ajna sambil di tekan sedikit&lt;br /&gt;
►Matikan lampu jika anda di kamar atau carilah tempat gelap jika anda di luar.&lt;br /&gt;
►Baca mantra tersebut berulang ulang dengan penuh penghayatan&lt;br /&gt;
►Fokuskan energi pada cakra ajna.&lt;br /&gt;
►Pandang lurus ke depan dan niat kan melihat gaib secepat mungkin&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada beberapa latihan yang di lakukan murid murid kami di padepokan banyak yang melihat sekelebatan sinar atau kepulan asap sebagai salah satu tanda kedatangan gaib. Atau ada yang melihat penampakan tetapi masih kabur atau kurang jelas. Semakin sering anda berlatih semakin cepat anda menguasai ilmu ini. Kunci ilmu ini adalah yakin, ikhlas, sabar, istiqomah niscaya anda akan menemui keberhasilan, semoga sukses dan selamat berlatih.. biidznillah wa ri ridholillah amin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mantra adalah dari Bos Eddy (Ketua Paguyuban Paranormal Indonesia dari Pati - Jawa Tengah)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
CARA 2 :&lt;br /&gt;
“Sir Rasa Cahyaning Rasa&lt;br /&gt;
Mut Maya Tejaning Maya&lt;br /&gt;
Gumawang Tejaning  Maya&lt;br /&gt;
Katon Kang Isun Seja”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
bacalah ilmu diatas sebanyak 500x kemudian hembuskan ke tapak tangan dan sapukan kepelupuk mata, maka seketika akan mengalami keanehan karena tiba tiba dapat melihat ujud mahluk di alam ghaib. Untuk menguasai ilmu iniperlu ketabahan dan ketekunan. apabila belum berhasil sekali maka lakukanlah dilain waktu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika berulang kali dilakukan cara diatas tidak memberikan hasil, maka lakukan mutih selama 3 hari 3 malam, hari ke 4 puasa pati geni 1 hari 1 malam. Mutih dimulai pada hari Jum’at Paing. Selama Mutih mantra dibaca 500x siang dan 500x malam. hari ke empat pati geni mantra dibaca setiap enam jam sekali sebanyak 500x setiap membacanya. Insya Allah akan terkabul. Mata akan mampu menembus alam abstral sewaktu-waktu diinginkan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nb. Bagi yang mengamalkan Ilmu ini, resiko ditanggung anda sendiri.....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Source :&lt;a href=&quot;&quot; target=&quot;blank&quot;&gt;&lt;input type=&quot;submit&quot; value=&quot;&quot;/&gt;&lt;/a&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/feeds/3150633709858056948/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/2011/01/potensi-mata-ketiga-ilmu-terawangan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/4681687974444904579/posts/default/3150633709858056948'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/4681687974444904579/posts/default/3150633709858056948'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/2011/01/potensi-mata-ketiga-ilmu-terawangan.html' title='POTENSI MATA KETIGA : ILMU TERAWANGAN'/><author><name>Edi Sugianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14020089984610322057</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGzeexTJJ5-aiaE_2XnxpUrS2D0wSodFfxEARZ9eOUxR9Np3cagCLixSLzkhkGcUwvIUrBg2DituWXBx_GIbXRZzPlECBhFtxqcaVwaR26-gUrt36VprkAx0ni2qR3TQ/s80/Edi+icon+80px.png'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4681687974444904579.post-8214258935314087510</id><published>2011-01-12T17:56:00.001+07:00</published><updated>2011-01-12T18:00:28.846+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kejawen"/><title type='text'>Ritual Ruwatan dan Rajah Kala Cakra</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhlnoZ_A-lqwOq9q5Ym6g5jm460vBAXW4fpz_r9aCp9-87sxwh8O6_yG_3FLGbIWLTNW2o6N2oFpmlUVzaIfP7RkYMZ19jXDk55GghjJNePbATBFoL4OjsDSxT8tMHMV3nz1nSqAEJsbcI/s1600/rajah-kalacakra.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;150&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhlnoZ_A-lqwOq9q5Ym6g5jm460vBAXW4fpz_r9aCp9-87sxwh8O6_yG_3FLGbIWLTNW2o6N2oFpmlUVzaIfP7RkYMZ19jXDk55GghjJNePbATBFoL4OjsDSxT8tMHMV3nz1nSqAEJsbcI/s200/rajah-kalacakra.jpg&quot; width=&quot;200&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;RITUAL RUWATAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam masyarakat Jawa,ritual ruwat dibedakan dalam tiga golongan besar yaitu :&lt;br /&gt;
1. Ritual ruwat untuk diri sendiri.&lt;br /&gt;
2. Ritual ruwat untuk lingkungan.&lt;br /&gt;
3. Ritual ruwat untuk wilayah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam masyarakat Jawa, ruwatan memiliki ketergantungan pada siapa yang akan melaksanakan. Jika ruwatan dilakukan oleh orang yang memang memiliki kemampuan ekonomi yang memadai, maka biasanya dilakukan secara besar-besaran yaitu dengan mengadakan pagelaran pewayangan. Pagelaran pewayangan ini berbeda dengan pagelaran yang pada umumnya dilakukan. Pagelaran pewayangan dilakukan pada siang hari dan khusus dilakukan oleh dalang ruwat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Ruwatan Diri Sendiri&lt;br /&gt;
Ruwatan diriRuwatan diri sendiri dilakukan dengan cara-cara tertentu seperti melakukan puasa (ajaran sinkretisme), melakukan selamatan, melakukan tapa brata. Dalam masyarakat Jawa, bertapa merupakan bentuk laku atau sering disebut lelaku. Lelaku sebagai wujud untuk membersihkan diri dari hal-hal yang bersifat gaib negatif (buruk) juga termasuk dalam ruwatan. Dengan memasukan kekuatan gaib dalam diri yang bersifat positif (baik), akan memberikan keseimbangan energi dalam tubuh. Hal ini sering dikemukakan oleh para spiritualis Jawa sebagai bentuk nasehat untuk mempelajari hal-hal yang bersifat baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat ini, ruwatan yang dilakukan oleh sebagaian masyarakat Jawa jauh berbeda dengan kebudayaan peninggalan pada zaman Hindu-Budha. Ruwatan lebih cenderung dilakukan dengan tidak mengatasnamakan ruwatan, tetapi pada dasarnya memiliki tujuan yang sama. Lelaku sebagai wujud atau bentuk dari ruwatan bagi diri sendiri ini juga sering dilakukan oleh sebagian mansyarakat Jawa agar mendapatkan kebersihan jiwa.&lt;br /&gt;
Rituan Ruwatan Diri Sendiri Menurut Kitab Primbon Mantrawara III, Mantra Yuda&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika orang yang merasa selalu sial, dalam kepercayaan Jawa harus melakukan upacara ruwatan terhadap diri sendiri. Ritual ruwatan ini memiliki banyak sebutan, antara lain adalah Ruwatan Anggara Kencana. Kesialan yang ada dalam diri manusia dipercaya timbul dari sedulur papat limo pancer atau sebagai pemicunya berasal dari kekuatan lain (makhluk halus). Btempat keberadaan sedulur papat ini dapat dilakukan pendeteksian.&lt;br /&gt;
Pendeteksian yang dilakukan adalah melalui perhitungan (petungan) Jawa yaitu : Ha: 1, Na: 2, Ca: 3, Ra: 4 dan seterusnya. Pendeteksian dilakukan dengan menjumlah neptu orang tuanya dengan orang yang akan melakukan ritual ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumlah keduanya kemudian dibagi 9 dan diambil sisanya. Jika sisa:&lt;br /&gt;
1. Bersemayam di sebelah kiri-kanan mata kanan,&lt;br /&gt;
2. Bersemayam di sebelah kiri-kana mata kiri,&lt;br /&gt;
3. Bersemayam di telinga kanan,&lt;br /&gt;
4. Bersemayam di telinga kiri,&lt;br /&gt;
5. Bersemayam di sebelah hidung kanan,&lt;br /&gt;
6. Bersemayam di sebelah hidung kiri,&lt;br /&gt;
7. Bersemayam di mulut,&lt;br /&gt;
8. Bersemayam di sekeliling pusar,&lt;br /&gt;
9. Bersemayam di kemaluan,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sebagai syarat dari ritual ini adalah mengambil sedikit darah di sekitar tempat keberadaan bersemayamnya. Darah ini akan dilabuh (dilarung). Cara mengambil darah ini adalah dengan mengunakan duri yang kemudian dioleskan pada kapas puti. Duri dan kapas nantinya akan dilabuh bersama-sama dengan syarat yang lain, berupa :&lt;br /&gt;
1. Beras 4 kg,&lt;br /&gt;
2. Slawat 1 Dirham (uang senilai emas 1 gram),&lt;br /&gt;
3. Ayam,&lt;br /&gt;
4. Teklek (sandal dari kayu, atau bisa digantikan sandal biasa),&lt;br /&gt;
5. Benang Lawe satu gulung,&lt;br /&gt;
6. Telur ayam yang baru saja keluar (belum ada sehari),&lt;br /&gt;
7. Gula setangkep (gula Jawa satu pasang), gula pasir 1 kg,&lt;br /&gt;
8. Kelapa 1 buah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelapa, benang lawe, telur ayam, beserta kapas dan duri dilabuh sambil membaca mantera: “Ingsung ora mbuwang klapa lan isine, ananging mbuwang apa kang ndadekake apesing awakku”. (Aku tidak membuang kelapa beserta isinya, tetapi aku membuang apa yang menjadikan kesialan bagiku).&lt;br /&gt;
Selain beberapa benda yang dilarung atau dilabuh tersebut, dikrarkan untuk disedekahkan kepada siap yang dikehendakinya, sebaiknya sodaqoh kepada orang yang membutuhkan.&lt;br /&gt;
2. Ruwatan Untuk Lingkungan&lt;br /&gt;
Ruwatan yang dilakukan untuk lingkup lingkungan biasanya dilakukan dengan sebutan mageri atau memberikan pagar gaib pada sebuah lokasi. Sebagai contoh yang sering kita temui dalam masyarakat sekitar kita adalah memberikan pagar gaib. Hal semacam memberikan pagar gaib pada sebuah lokasi (anggap saja rumah) ditujukan untuk beberapa hal, antara lain :Ruwatan2a. Memberikan daya magis yang bersifat menahan, menolak, atau memindahkan daya (energi) negatif yang berada dalam rumah atau hendak masuk kedalam rumah. Metode semacam ini biasanya dilakukan dengan menanam tumbal yang diperlukan, misalnya kepala kerbau atau kepala kambing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
b. Memberikan pagar agar tidak dimasuki oleh orang yang hendak berniat jahat.&lt;br /&gt;
c. Memberikan kekuatan gaib yang bersifat mengusir atau mengurung makhluk halus yang berbeda dalam lingkup pagar gaib.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbagai cara memberikan pagar gaib ini dapat dilihat pada buku-buku kuno yang menceritakan pemagaran diri manusia, lingkungan dan wilayah yang cukup luas dengan kepercayaan masyarakat Jawa. Tujuan utama dilakukannya pemagaran gaib pada manusia dan pada lingkungannya ini apabila tercapai, menurut kepercayaan Jawa akan menjadikan lingkungan yang aman, sejahtera, jauh dari gangguan makhluk halus.&lt;br /&gt;
Pada saat ini, bentuk pemagaran gaib yang sering ditemui dalam masyarakat Jawa sekitar kita berbentuk menanam rajah, menanam tumbal, membaca doa untuk membuat pagar dan masih banyak metede lainnya. Acara atau ritual ruwatan yang ditujukan untuk memagari sebuah lokasi ini kemudian berubah dalam pelaksanaannya karena sebagian masyarakat Jawa sekarang sudah cenderung mempercayai hal-hal yang bersifat ilmiah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ritual ruwatan dalam masyarakat Jawa yang masih berlaku biasanya adalah pemagaran gaib yang dilakukan dengan menyediakan berbagai jenis sesaji dan melakukan ritual sendiri. Penerapan ritual ruwatan tidak jauh berbeda antara satu tujuan dengan tujuan yang lain. Pelaksanaan yang umum dilakukan dalam masyarakat Jawa adalah dengan menggelar lakon pewayangan yang berisi tentang ruwatan itu sendiri. Dalang dalam menampilkan pagelarannya menyajikan salah satu dari beberapa jenis lakon.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Ruwatan Untuk Desa atau Wilayah Yang Luas&lt;br /&gt;
Disini akan dijelaskan contoh ruwatan di Kepatihan Danurejan, dari Babon Primbon Kagungan Dalem KPH Tjakraningrat (Kanjeng Raden hadipati Danureja IV).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Ruwatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Pada umumnya, pangruwatan Murwa Kala dilakukan dengan pagelaran pewayangan yang membawa cerita Murwa Kala dan dilakukan oleh dalang khusus memiliki kemampuan dalam bidang ruwatan. Pada ritual pangruwatan, bocah sukerta dipotong rambutnya dan menurut kepercayaan masyarakat Jawa, kesialan dan kemalangan sudah menjadi tanggungan dari dalang karena anak sukerta sudah menjadi anak dalang. Karena pagelaran wayang merupakan acara yang dianggap sakral dan memerlukan biaya yang cukup banyak, maka pelaksanaan ruwatan pada zaman sekarang ini dengan pagelaran wayang dilakukan dalam lingkup pedesaan atau pedusunan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Proses ruwatan seperti yang diterangkan ini bisa ditujukan untuk seseorang yang akan diruwat, namun pelaksanaannya pada siang hari. Sedangkang untuk meruwat lingkup lingkungan, biasanya dilakukan pada malam hari. Perbedaan pemilihan waktu pelaksanaan pagelaran ditentukan melalui perhitungan hari dan pasaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Urut-urutan ruwatan sebagai berikut :&lt;br /&gt;
a. Dimulai dengan doa pembuka :&lt;br /&gt;
“Hong ilaheng, tata winanci awignam mastu samas sidhdhem”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
b. Diteruskan dengan pembacaan cerita riwayat Sang Hyang Kala, yang disampaikan dalam bahasa Jawa dan sisampaikan mirip seperti nyanyian, tetapi juga bisa berbentuk seperti kalimat pembukaan sang dalang dalam membuka pagelaran wayang :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sinigeg sakathahing para jawata watak nawa sanga, pada retane Sang Hyang Pramesthi Guru kang tiba ing sela sana sewu, bentar kepara sewu, mila dalah samangka watu, dadi sajagad.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ana sawijine yogane Sang Hyang Pramesthi Guru kang tiba telenging samodra, medal akimplik-kimplik, ing aran Sang Hyang Kamasalah, bisa ngadeg ing aranan Sang Hyang Candhusekti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ing kana kaidenan dening Sang Hyang Pramesthi Guru, sakathahe jawata watak nawasanga, kinen nggunturana marang Kamasalah, sakathahe guntur wedang, guntur watu, apa dene guntur geni, pada nurunake, guntur tanana, kang tumama, nora sangsaya suda, malah sangsaya gedhe kalawun-lawun. Ing kana kocap bebandhem, malar dadi pepak dandananing sarira, nulya minggah marang gagana arsa panggih lawan wong tuwanira, iya Sang Hyang Pramesthi Guru”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
c. Diteruskan dengan membaca Pakem Sontheng. Pakem ini dimulai dilagukan :&lt;br /&gt;
“Hong ilaheng pra yoganira Sang Hyang Kamasalah tengerannya, kang daging Sang Kemala, kadi gerah suwarane, abra lir mustika murub, amarab”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
d. Setelah Pakem Sontheng selesai, dibacakan :&lt;br /&gt;
“Anekak aken prabawa, ketug lindhu lan prahara, geter patertan pantara, alimaku tanpa suku, alembehan tanpa tangan, aningali tanpa netra, amyarsa tanpa karna, ambegan tanpa grana, acelathu tanpa lidah, angan-angan tanpa driya”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
e. Diteruskan dengan pasang tabeik dan membaca Kidung Sastra Pinandhati :&lt;br /&gt;
“Hong Ilaheng Tata winanci awighnam astu nammas siddam. Hong Ilaheng pra yoganira, sang bawana sariraku, randhu kepuh pangadhegku, kidang kancil kor tumaku, raiku lemah paesan, mataku socaning manuk, kupingku sang plempengan, cangkemku sangagunging wong, lambeku sang sarapati, utegku sang watu rejeng, ilatku sang lemah polah, janggutku sang watu sumong, guluku sang lemah dedet, selangku sang darmaraja, bauku sang lemah mraju, geger lemah gigir sapi, cangklekan lemah lempit-lempitan, dadaku sang lungka-lungka, wetengku sang lemah mendhak, susuku sang gunung kembar, penthilku sang asri kembar, wangkungku sang pacul tugel, silitku elenging landhak, kempungku tlaga mambeng, plananganku waja glijenm planangan waja binandung, pringsilan waja malela, uyuhku banyu pancuran, sukerke padhas cecuri, entutku mercu dadari, iduku parang teritis, riyakky pulut bendala, wentisku lemah bajangan, delamakanku lemah seta, paturonku lemah bleberan, tindhakku lindhu prahara, geter pater panebaku, awedi kang buta kabeh, sawedana Durga Kala, sawedana kertidara, tumurun ingsung madya, wowor ing dewata muja, ajiku sang ata ati, amaraja nata wuwusku, amahraja ta ajiku, Ya Yamaraja, Ya Jaramaya, Ya Yamarani, Ya Niramaya, Ya Yasilapa, Ya Palasiya, Ya Yamidora, Ya Rodomiya, Ya Yamidosa, Ya Sadomiya, Ya Yadayuda, Ya Dayudaya, Ya Yasiyaca, Ya Cayasiya, Ya Yasihama, Ya Mahasiya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yanyangsiyu yusinyangya, yanyangasiyu yusinyangya, yajasiyu yusijaya, yadangsiyu yusidangya, yawangsiyu yusiwangya, yasangsiyu yusisangya, yatangisiyu yusitangya, yadangsiyu yusidangya, yakangsiyu yusikangya, arangsiyu yusirangya, yacangsiyu yusicangya, yanangsiyu yusirangya, yacangsiyu yusicangya, yanangsiyu yusinangya, yahangsiyu yusihangya, yahangsiyu yusihangya”.&lt;br /&gt;
Diteruskan dengan membaca atau amateg sastra yang ada di langit-langit mulut (telak) Bethara Kala. Sastra ini menjadi pepingitan (peringatan) di jawata (menjadi hal yang dirahasiakan) tidak boleh dibacakan keras-keras uleh sang dalang. Hal ini dilakukan sambil menundukkan kepala dan tampak seperti mengheningkan cipta dengan menyanyikan lagi dandhanggula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jatiswara, swaraning pamisik, lamun sira miwiti amaca, kawruhana kamulane, kembang cempaka kudhup, sari mulya kang bayu manjing, manjing sang bayu mulya, purnama kang bayu, abali sang bayu mulya, sabda idep-idepa marang kang yogi, ketawang kapigesang”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
f. Diteruskan dengan membaca “Sastra Banyak Dalang” lagu kentrung :&lt;br /&gt;
“Sang raja kumitir-kitir, ing ngendi anggonira linggih, den barung lan keli, mangore lunga ngidul, anelasar sruwa sepi, sumun dukuh ulung kembang, bale anyar ginelaran isi kang sumur bandung, toyane ludira muncar, timbane kepala tugel, taline ususe maling, winarna winantu aji, asri dinulu tingkahe kaya nauta, anauta lara raga, lara geng lara wigena, sampurnaning banyak Dalang”.&lt;br /&gt;
“Hong Ilaheng pra yoganira.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang raja kumitir-kitir anakku si banyak dalang, peksa arep memantuwa kudu bisa angaji, dukuhe ki ulung kembang bale anyar tanpa galar, isi ingkang sumur bandung, toyane ludira muncar, timbane kepala tugel, taline ususe maling, winarna winatu aji, asri dinulu tingkahe, tingkahe kaya nauta, anauta lara raga, lara geng lara wigena, saliring mala trimala, sakehing dendha upata, supatane wong atuwa, ana jaka meneng kembang, denya menek angutapel, wus kebek jejomprangira, dene sekar anelahi, ana ta prawan liwat, dinulu rupane ayu, prawan angaku rara, ya ni mara nini mara, anontana kintel muni, ting caremplung, anggero kang kodok ijo, solahe krangkang rangkang, sedayane kaya nauta, anauta lara raga, lara geng lara wigegna, slirane lara trimala, sakehing dendha upata, supatane wong atuwa, tetangga yen angrung guwa, kidungku si banyak dalang, saben dina pari dadar, sedina yen ana angring yen garing keaadak, ngelu puyeng pilek watuk, kena wisa wutah-wutah, miring murub benceretan, yen angrungu kidung iki, wong asomah padha banyak dalang, miwah yen prawan tuwa, miwah yen jejaka tuwa, dumadakan gelis krama, kang angidung maringa begawan, anonton larung keli, pepitu paring kadulu larunge ki banyak dalang, ajejuluk ki jelarung, garudha cucuke wesi, ora anucuka lara raga, lara geng wigena, salire mala trimala, sakehing dendha upata, supatane wong atuwa, sampurnaning banyak dalang”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
g. Diteruskan dengan membaca Sastra Gumbalageni, Geni, atau api yang datang dari berbagai penjuru angin, yaitu timur, selatan, barat dan utara, disatukan dan ditolak kekuatan negatifnya dan diubah menjadi sesuatu yang bermanfaat dengan melakukan pembacaan mantera :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hong ilaheng pra yoganira.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Ana geni tekane saka wetan, putih rupane geni, apa pakaryaning geni, angleburna lara ageng lara wigegna, saliring lara trimala, tujuh teluh taregnyana, budhug edan ayan buyan, wus lebur dening si geni, geni teka aneng wetan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hong ilaheng pra yoganira.&lt;br /&gt;
Ana geni teka saka kidul, abang rupane geni, apa pakaryaning geni, angleburna lara ageng lara wigegna, saliring lara trimala, tujuh teluh taregnyana, budhug edan ayan buyan, wus lebur dening si geni, geni teka ana kidul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hong ilaheng pra yoganira.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Ana geni teka saka kulon, kuning rupane geni, apa pakaryaning geni, angleburna lara ageng lara wigegna, saliring lara trimala, tujuh teluh taregnyana, budhug edan ayan buyan, wus lebur dening si geni, geni teka ana kulon.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hong ilaheng pra yoganira.&lt;br /&gt;
Ana geni teka saka elor, ireng rupane geni, apa pakaryaning geni, angleburna lara ageng lara wigegna, saliring lara trimala, tujuh teluh taregnyana, budhug edan ayan buyan, wus lebur dening si geni, geni teka ana elor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hong ilaheng pra yoganira.&lt;br /&gt;
Ana geni teka saka tengah, lelima rupane geni, apa pakaryaning geni, angleburna lara ageng lara wigegna, saliring lara trimala, tujuh teluh taregnyana, budhug edan ayan buyan, wus lebur dening si geni, geni teka ana tengah”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
h. Diteruskan dengan Kidung Sastra Puji Bayu :&lt;br /&gt;
“Sang Hyang sekti naga nila warna, dadaku sang naga peksa telaleku pembebet jagad, asabung kulinting liman, abebed kuliting singa, acawet angga genitri, liyanan catur wisa, rinejegan rejeg wesi, pinayungan kala akra, kinemiting panca resi, sinongsongan asih-asih, premanaku ing sulasih”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
i. Diteruskan dengan Kidung Sastra Mandalagiri :&lt;br /&gt;
“Hong ilaheng pra yoganira.&lt;br /&gt;
Sang Hyang Tangkep Bapa kasa, kaliyan ibu pertiwi, mijil yogyanira Sang Hyang Kamasalah, tengerannya kadi daging, swarane kadi gerah, abra lir mustikamurub, urube amarab arab, anekakaken prabawa, ketuk lindhu lan prahara, geter pater tan pantara, kagyat Sang Hyang Amarta arannya, wus ruwat pedhasamengko, yen ana gering kedadak, ngelu puyeng watuk, kena wisa wutah-wutah, miring murup benceretan, kudu lumaku rinuwat iki, anata senajata singwang, aranemandalagiri, Sang Hyang Amarta arannya, wus ruwat padha samengko”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ruwatan dadi pagagan, bale mas sakane dhomas, pinucukan manik putih, rinawe-rawe kumala marbuk miging gandanira cendhana kara, gandhane jebat kasturi, kuning sira kocapa Bethara, ijil Bathara kusika, sang gagra mesi kurusa, umijil Sang Hyang Kuwera, ana sira rupa buta, ana sira rupa ula, kudu lumaku rinuwat anata sanjata ngngwang arane panji kumala, pinaputrakaken gunung, arane mandalagiri, Sang Hyang Ngamarta arannya, wus ruwat padha samengko”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
j. Diteruskan dengan Sastra Kakancingan :&lt;br /&gt;
“Kunci nira kunci putih, angruwata metuwa sang, mentu sampir lare kresna, kakrasa kama dindi, langkir tambir pakoninjog, untuing-untuing matu tingting, tunggaking kayu aren, miwah temu pamipisan, tumunem pega pagase, miwah kerubuhan lumbung dandang tanen, kudu lumaku rinuwat, anata sanjataning wang, arane panji kumala, pinaputrak-akengunung arane, Mandalagiri, Sang Hyang Ngamarta arannya, wus ruwat padha samengko”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada proses ini merupakan penguncian kekuatan gaib yang ditimbulkan dengan cara atau ritual ruwat.&lt;br /&gt;
k. Diteruskan dengan Sastra Panulak, pada proses ini, kekuatan gaib dari Bethara Kala dibacakan mantera sehingga menurut kepercayaan masyarakat Jawa, kekuatan gaib tersebut akan musnah :&lt;br /&gt;
“Tolak tunggul ing dhadhaku, macam putih ing raiku, singa barong ing gigirku, baya nyasar ing cangkemku, sarpa naga ing tanganku, raja tuwa ing sikilku, surya candhra ing paningalku, swaraku lir gelap sewu, nulak sakabehing bilahi, setan balio padha adoh, wong saleksa padha lunga, wong sakethi padha mati, rep sirep sajagad kabeh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kuneng Bathara kalawan sira Sang Hyang Bethari Durga, kudu lumaku rinuwat, anata sanjataningwang, arane panji kumala, pinaputrekken gunung, arane Mandhalagir, Sang Hyang Ngamarta arannya, wus ruwat padha samangko.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nora sira rupa kala, nora sira rupa Durga, atemahan Uma-uma, arep ageweya bala, ana lanang ana wadon, si betapasi betapi, sibrenggala si brenggali, si rahmaya si rahmayi, si kuntara si kuntari, kudu lumaku rinuwat, anata senjataning wang arane panji kumala, pina putrakaken gunung, Mandalagiri, Sang Hyang Ngamarta arannya, wus ruwat padha samengko.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kala atemahan Guru, Durga atemahan Uma, Umayana umayini, widadara widadari, arep mantuk mring khayangan, Hyang Kala Bethara reswara, amediya swara wija, aweha urip sarasa”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
l. Diteruskan dengan Sastra Ruwat Panggung, dengan dinyanyikan lagu dandhanggula :&lt;br /&gt;
“Hong ilaheng prayogganatara.&lt;br /&gt;
Sang Hyang Galinggang kalawan sira Sang Hyang Damarjati, kelire Hyang Tinjomaya, Peluntur alimun, kekuping Sang Hyng Kuwera, peracik Sang Retna Adi, deboge Sang Hyang Gebohan, Cangkoke Bethara Gana, alinggih pang kayu Tera Sumbu, awune Bethara Brama, arenge Bethara Wisnu, kewala anonton wayang, Sang Hyang Eyang Guru kang amayang, widadari kang nggameli, anyangang iyang ayine, suu tegang ora wangewang, sehamana maya, katon kang anonton nora katon, kabruk-kabruk katung, pralambe yang ana maya katon, kang tinonton nora katon, kang anonton nora katon”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diteruskan dengan Sastra Panengeran, dengan dinyanyikan lagu Dandhanggula :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hong ilaheng prayogganatara.&lt;br /&gt;
Kang minangka tangeranku, sakti guna nila warna, turuku lindur buwana, salonjorku lungguh wesi, amunjung kayu perbatang, sedhakepku oyod nimang, candi sewu ing dhadhaku, adegku katu kastuba, randhu kepuh ing jengkengku, naga mulat ing guluku, naga peksa tulaleku, gadhingku warna curiga, cangkemku mas untu manik, siyungku Hyang pancanaka, lidahku sang sara sekti, brajapati ning wuwusku, arupa wil panca warna, Sang Hyang Siwah ginugonku, ula minangka alisku, Durga Durgi ngiringaku, netraku Sang Hyang Surya Candhra,sumuluh ing rat bawana, awedi kang buta dengen, awedi kang manungsa kabeh, awedi raksasa kabeh, undun ngudu aliweran, lemah paran lungka-lungka, liman watu rejeng, alas agung anderkara, tetegale angyangan, songing landhak garung-gungan, ajarat lemah tendhesan, slirane kang lemah aeng, paomahane durga yekti, lemah wates jejebangan, lemah setra akil ing wang, kang katungkul manut ingwang, dandang bango salirane, anauta lara raga, lara geng wigena, salire mala trimala, tuju teluh teregnyana, budug edan ayan buyan, tuju teluh tarangyana, supata lawan sengsara, supatane wong atuwa, supatane adi guru, yoga ruwat dening aku, budug ayan buyan, lumpuh wuta tuli bisu, tak usapi tangan kiwa, pan aku pangruwat mala, geter pater pangucapku, ketuk lindhu prabawaku, kilat cleret ing kendhepku, lebda wara mandi sebda, japa mantra kasektenku, kurdaku galudhug gelap, aku kang Hyang Candra sekti, aku Sang Hyang Raja Polah, aku Sang Hyang Nawa Krendha, aku Sang Hyang Sikara Jala, aku Sang Sikara basu, aku Sang Hyang dhundhung mungsuh, aku Sang Hyang ila-ila, aku Sang Hyang Tunjung putih, aku surak tanpa mungsuh, aku tengeraning angin, lesus agung aliweran, prahara kalawan tambur, pangleburan rajamala, ila-ila upadarwa, supata lawan sengsara, supatane wong atuwa, tan tumama saliraku, tuju teluh taragnyana, budhug edan ayan buyan, lebur kabeh musna ilang, aku Sang Hyang Candhusekti, turun sira sakareng, rijajegan rejeg wesi pinayungan kalacakra, kinemiting widadara, kinemiting widadari, Resi dewa sogataku, aku Sang Hyang Jaya pamurus”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diteruskan dengan Kidung Panengeran lanjutan, dengan dinyanyikan lagu dandhanggula :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hong ilaheng prayogganatara.&lt;br /&gt;
Kang minangka tangeranku, Sang Hyang Tiga Pelunguhku, dadaku Sang Ula Naga, Naga Raja selasangku, Naga Mulet ing guluku, Naga Pulet tulaleku, gadhing warna curiga, cangkemku mas untu manik, siyungku mas pancanaka, lidahku sang rasa sekti, brajapatining wuwusku, arupa wil panca warna, Sang Hyang Siwah ginugonku, ula minangka alisku, Durga Durgi ngiringaku, netraku Sang Hyang Surya Candhra, sumuluh ing rat bawono, awedi kang buta dengen, tumingal ing kasektenku, udung-udung ulur-ulur, pilinglung watu tinumpuk, paran limang watu rejeng, lungka-lungka watu putih, sirate lemah tandhesan, agerat kang lemah sangar, alang-alang amelakang, tetegal kang ameyangan, lemah amunuking lembu, lemah aguluning manuk, lemah anggiring sapi, lemah anjilinthing kendhil, lemah ambara bathari, sakehe kang lemah aeng, akehe kang watu aeng, teja-teja ing ulatku, kuwung-kuwung lelathiku, durga galudhug gelap, aku Sang Hyang Nawa Krendha, aku Sang Sikara Jala, aku Sang Sikara basu, aku Sang Hyang dhundhung mungsuh, aku Sang Hyang ila-ila, aku Sang Hyang Tunjung Putih, aku Naganilawarna, aku Sang Hyang Naga Pamolah, aku tengeraning angin, sindhung lesus leliweran, prahara kalawan geter, udang braja salah mangsa, angagem dendha trisula, musala kalawan gadha, senjataku luwih sewu, ngongdokaken mungsuhku bubar, kabeh dewata tumingal kasektenku, aku sang bala sewu, aku Sang Hyang Guru Taya, tumurun aku sekareng, angadheg ing nggonku ring windhu, ajamang akarawistha, asesep angga genitri, trinaya catur bujangga, rinajegan rejen wesi, pinayungan kalacakra, kinemiting pancaresi, sang kusika gagra mestri kurasa, sang Pritanjala, surenggana, surenggini, kinemiting widadara, kinemiting widadari, kinemiting catur loka, endra baruna kuwera, yama luwan bismawana, nguniweh butawilaksa, padha ngreksa padha kemit, rumeksaa mring aku, angastuti maring mami, ya ingsung Sang Hyang Dewa Murti, papaku jati yuswa, sampurna dak tampa mala, niruga nirupa darwa, ya minamuna mas wahak”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
o. Diteruskan dengan Kidung Sastra Pangruwatan, dengan dinyanyikan lagu dandhanggula :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hong ilaheng prayogganatara.&lt;br /&gt;
Ilanga Sanga Dyrga Durgi, sakehe kang alas seng, randhu kepuh karangan kroya waringin ageng, lemah seta tangkeling wang, kang katungkul manut ing wang, dandang bango salirane, anglebura lara raga, lara geng lara wigegna, slirane lara trimala, supatane wong atuwa, tetangga yen angrung guwa, supata lawan sengsara, supatane Sang Hyang Dewata, supatane awak dhewe, nguni wah buta wiyaksa, kalawan buta wiyaksi, ila-ila upadarwa, budhug edan ayan buyan, budhug edan buyan, mumet mules bencretan, ngelu puyeng pilek watuk, sarta ingkang kena welak, nguni weh padha rawe, tak usapi tangan kiwa, cakra lepas ing tanganku, ke ka ruwat mala, geter pater pangucapku, gerah minangka sabdaku, sabda wara japa mantra, apan iku kasektenku, Sang Hyang Permana ing senenku, ilanga rupa Kala, ilanga sang rupa buta, ilanga sang rupa sasap, ilanga sang rupa jugil, ilanga sang rupa jakat, ilangan sang rupa gendruwa, ilanga sang rupa dusta, durjana kawisayan ulun, durga uta paripurna, nuraga ni rupa dewa, ya minamuna maswahak”.&lt;br /&gt;
p. Diteruskan dengan Kidung Pangruwat Pamungkas, dengan dinyanyikan lagu dandhanggula :&lt;br /&gt;
“Hong ilaheng prayogganatara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruwata Sang Rupa Durga, ruwata sang rupa Buta, ruwata sang rupa Sasab, ruwata sang rupa Jugil, ruwata sang rupa Jakat, ruwata sang rupa Mercu, ruwata sang rupa Taya, ruwata sang rupa Dusta, ulun ingkang angruwata, ulun ingkang angilangna, Durga yuta paripurna, nuraga nirupa darwa, ya minamuna maswahak”.&lt;br /&gt;
Setelah selesai melantunkan Kidung Ruwat Muewakala, rambut anak sukerta dipotong sebagai syarat yang nantinya akan dilarung. Kemudian anak Sukerta tersebut dimandikan air bubga setaman oleh yang meruwat. Setelah itu wong sukerta tadi menjadi anak angkat bagi yang meruwat (dalang). Segala sesaji, kain putih menjadi milik orang yang meruwat (dalang ruwat).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila orang yang diruwat adalah orang yang mengalami gangguan kejiwaan (gila), atau sudah lama mengalami kesurupan, maka harus dibacakan Kidung Rumaya, sekar sinom yang menyebutkan adanya lelembut di tanah Jawa sebagai berikut :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tembang Sinom&lt;br /&gt;
Apuranen sun angetang, lelembut ing tanah Jawi, kang rumeksa ing nagara, para ratuning dhedhemit, agung sawahe ugi, yen apal sadayanipun, kena ginawe tulak, kinarya tunggu wong sakit, kayu aeng lemah sangar dadi tawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kang rumiyin ing mbang wetan, Durganeluh Maospahit, lawan Raja Baureksa, iku ratuning dhedhemit, Blambangan winarni, awasta Sang Balabatu, kang rumeksa Blambangan, Buta Locaya Kediri, Prabu Yeksa kang rumeksa Giripura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sidakare ing Pacitan, Keduwang si Klentingmungil, Hendrjeksa, ing Magetan, Jenggal si Tunjungpuri, Prangmuka Surabanggi, ing Punggung si Abur-abur, Sapujagad ing Jipang, Madiyun sang Kalasekti, pan si Koreg lelembut ing Panaraga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Singabarong Jagaraga, Majenang Trenggiling wesi, Macan guguh ing Grobogan, Kaljohar Singasari, Srengat si Barukuping, Balitar si Kalakatung, Buta Kroda ing Rawa, Kalangbret si Sekargambir, Carub awor kang rumeksa ing Lamongan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gurnita ing Puspalaya, Si Lengkur ing Tilamputih, si Lancuk aneng Balora, Gambiran sang sang Kaladurgi, Kedunggede Ni Jenggi, ing Batang si Klewr iku, Nglasem Kalaprahara, Sidayu si Dandangmurti, Widalangkah ing Candi kayanganira.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semarang baratkatiga, Pekalongan Gunturgeni, Pemalang Ki Sembungyuda, Suwarda ing Sokawati, ing Tandes Nyai Ragil, Jayalelana ing Suruh, Buta Tringgiling Tanggal, ing Kendal si Gunting geni, Kaliwungu Gutuk-api kang rumeksa.&lt;br /&gt;
Magelang Ki Samaita, Dadung Awuk Brebes nenggih, ing Pajang Buta Salewah, Manda-manda ing Matawis, Paleret Rajeg-wesi, Kutagede Nyai Panggung, Pragota Kartasura, Carebon Setan Kaberi, Jurutaman ingkang aneng Tegallajang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Genawati ing Siluman, Kemandang Waringin-putih, si Kareteg Pajajran, Sapuregol ing Batawi, waru Suli Waringin, ingkang aneng Gunung Agung, Kalekah Ngawang-awang, Parlapa ardi Merapi, Ni Taluki ingkang aneng ing Tunjungbang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setan Karetek ing Sendang, Pamasuhan Sapu Angin, Kres apada ing Rangkutan, Wandansari ing Tarisig, kang aneng Wanapeti, Malangkarsa namanipun, Sawahan Ki Sandungan, Pelabuhan Dudukwarih, Buta Tukang ingkang aneng Pelajangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rara Amis aneng Tawang, ing Tidar si Kalasekti, Maduretna ing Sundara, Jelela ing ardi Sumbing, Ngungrungan Sidamurti, Terapa ardi Merbabu, Lirbangsan ardi Kombang, Prabu Jaka ardi Kelir, Aji Dipa ardi Kendeng kang den reksa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ing pasisir Buta Kala, Telacap Ki Kala Sekti, Kala Nadah ing Tojamas, Segaluh aran si Rendil, Banjaran Ki Wesasi, si Korok aneng Lowange, gunung Duk Geniyara, Bok Bereng Parangtaritis, Drembamoa ingkang aneng Purbalingga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si Kreta karangbolongan, Kedung Winong Andongsari, ing Jenu si Karungkala, ing Pengging Banjaransari, Pagelan kang winarni, aran Kyai Candralatu, ardi Kendali Sada, Ketek putih kang nenggani, Buta Glemboh ing Ngayah kajanganira.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rara Denok aneng Demak, si Batitit aneng Tubin, Juwal-pajal ing Talsinga, ing Tremas Kuyang nenggani, Trenggalek Ni Daruni, si Kuncung Cemarasewu, Kala-dadung Bentongan, si Asmara aneng Taji, Bagus-anom ing Kudus kayanganira.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Magiri si Manglar Munga, ing Gading si Puspakati, Cucuk Dandang ing Kartika, Kulawarga Tasikwedi, kali Opak winarni, Sangga Buwana ranipun, Pak Kecek Pejarakan, Cing-cing Goling Kalibening, ing Dahrama Karawelang kang rumeksa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kang aneng Warulandeyan, Ki Daruna Ni Daruni, Bagus Karang aneng Roban, Pasujayan Udan riris, Widanangga Dalepih, si Gadung Kedung Garunggung, kang aneng Kabareyan, Citranaya kang neggani, Ganepura ingkang aneng Majaraga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Logenjang aneng Juwana, ing Rembang si Bajulbali, si Londir ing Wirasaba, Madura Buta Garigis, kang aneng ing Matesih, Jaranpanolih ranipun, si Gober Pecangakan, Danapi ing Jatisari, Abar-abir ingkang aneng Jatimalang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Arya Tiron ing Lodaya, Sarpabangsa aneng Pening, Parangtandang ing Kesanga, ing Kuwu si Ondar-andir, Setan Telaga pasir, ingkang aran si Jalilung, Kala Ngadang ing Tuntang, Bancuri Kala Bancuring, kang angreksa sukuning ardi Baita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rara Dungik Randu Lawang, ing Sendang Retna Pangasih, Buta Kepala Prambanan, Bok Sampur neng ardi Wilis, Raden Galanggang Jati, aneng ardi Gajah Mungkur, si Gendruk ing Talpegat, ing Ngembel Rahaden Panji, Pager Waja Rahaden Kusumayuda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si Pentul aneng Kacangan, Pecabakan Dodol Kawit, kalangkung kasektenira, titihane jaran panolih, kalacakra payung neki, larwaja kekemulipun, pan samya rinajegan, respati rajege wesi, cametine pat-upate ula lanang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sinabetaken mangetan, ana lara teka bali, tinulak bali mangetan, mangidul panyabet neki, ana lara teka bali, tinulak bali mangidul, ngulon panyabetira, ana lara teka bali, pan tinulak bali mangandap kang lara.&lt;br /&gt;
mangalor panyabetira, ana lara teka bali, tinulak ngalor parannya, manginggil panyabet neki, ana lara teka bali, tinulak bali manduwur, mangisor panyabetnya, ana lara teka bali, pan tinulak bali mangandap kang lara.&lt;br /&gt;
Demit kang aneng Jepara, kalwan kang aneng Pati, kalangkung kasektenira, keringan samaning demit, ing Ngrema Tambaksuli, Yudapeksa ing Delanggu, si Kluntung ing Jepara, Gambir Anom aneng Pti, si Kecebung Kadilangu kang den reksa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rara Duleg ing Mancingan, Guwa Langse Raja Putri, kang rumeksa Parang Wedang, Raden Arya Jayengwesti, kabeh urut pasisir, kula warga Nyai Kidul, sampun pepak sadaya, para pramukaning demit, nungsa Jawa paugeran kang rumeksa, Titi Tamat Angidung Rajah Rumaya”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah doa yang dibacakan pada saat melakukan ritual ruwat secara lengkap dan menurut KPH Tjakraningrat (Kanjeng Raden Hadipati Danureja IV).&lt;br /&gt;
Selesai menyanyikan kidung untuk Ruwat Murwakala, selanjutnya dibuatlah Rajah Kalacakra yang ditempelkan pada pintu-pintu rumah yang diruwat. Pembuatan Rajah Kalacakra Balik adalah menulis huruf hanacaraka secara terbalik urutan nya,dimulai dengan nga ta ba ga ma sampai ka ra ca na ha dilakukan dengan cara sebagai berikut :&lt;br /&gt;
* Ditulis melingkar diatas lempengan emas,&lt;br /&gt;
* Sebelumnya melakukan puasa selama 40 hari, hanya berbuka sekali pada tengah malam saja,&lt;br /&gt;
* Pati geni selama sehari semalam penuh,&lt;br /&gt;
* Lempengan emas yang sudah menjadi rajah di tanam pada tembok atau ditanam pada tanah. Penanaman ini dilakukan dengan cara sunduk sate.&lt;br /&gt;
* Penulisan huruf dengan aksara Jawa.&lt;br /&gt;
Rajah Kalacakra ditulis pada kain atau kertas yang berwarna putih kemudian ditempel pada tembok atau pintu depan rumah. Penggunaan warna tinta dengan menggunakan dua warna, misalnya hitam dan merah. Dalam menulis rajah ini, dengan syarat-syarat sebagai berikut :&lt;br /&gt;
* Melakukan puasa selama 21 hari,&lt;br /&gt;
* Setiap jam 1 malam harus membakar dupa selama puasa,&lt;br /&gt;
Contoh Rajah Kalacakra, seperti dibawah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;rajah-kalacakra:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Yamaraja-Jaramaya,Yamarani-Niramaya,Yasilapa-Palasiya,Yamidara-Radamiya,Yamidasa-Sadamiya,Yadayuda-Dayudaya,Yasiyaca-Cayasiya,Yasihama-Mahasiya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
RUWATAN&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah Tradisi ritual Jawa sebagai sarana pembebasan dan penyucian, atas dosa/kesalahannya yang diperkirakan bisa berdampak kesialan didalam hidupnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebudayaan Jawa sebagai subkultur Kebudayaan Nasional Indonesia, telah mengakar bertahun-tahun menjadi pandangan hidup dan sikap hidup umumnya orang Jawa. Sikap hidup masyarakat Jawa memiliki identitas dan karakter yang menonjol yang dilandasi direferensi nasehat-nasehat nenek moyang sampai turun temurun, hormat kepada sesama serta berbagai perlambang dalam ungkapan Jawa, menjadi isian jiwa seni dan budaya Jawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam ungkapan ” Crah Agawe Bubrah – Rukun Agawe Santosa ” menghendaki keserasian dan keselarasan dengan pola pikir hidup saling menghormati. Perlambang dan ungkapan-ungkapan halus yang mengandung pendidikan moral, banyak kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, misalnya :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
§ Ojo Dumeh : Merasa dirinya lebih&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
§ Mulat sarira, Hangrasa wani : Mawas diri, instropeksi diri&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
§ Mikul Duwur, Mendem Jero : Menghargai dan menghormati serta menyimpan – rahasia orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
§ Jer Basuki Mawa Beya : Kesuksesan perlu atau butuh pengorbanan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
§ Ajining diri saka obahing lati : Harga diri tergantung ucapannya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Prinsip pengendalian diri dengan ” Mulat Sarira ” suatu sikap bijaksana untuk selalu berusaha tidak menyakiti perasaan orang lain, serta ” Aja Dumeh ” adalah peringatan kepada kita bahwa jangan takabur dan jangan sombong, tidak mementingkan diri sendiri dan lain sebagainya yang masih mempunyai arti sangat luas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepercayaan terhadap keberadaan roh nenek moyang, menyatu dengan kepercayaan terhadap kekuatan alam yang mempunyai pengaruh terhadap kehidupan manusia, menjadi ciri utama dan bahkan memberi warna khususu dalam kehidupan religiusitas serta adat istiadat masyarakat Jawa, yaiku : Sinkretisme, Tantularisme dan Kejawen yang bersifat Toleran, Akomodatif serta Optimistik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbagai ungkapan dan ungkapan Jawa, merupakan cara penyampaian terselubung yang bisa bermakna ” Piwulang ” atau pendidikan moral, karena adanya pertalian budi pekerti dengan kehidupan spiritual, menjadi petunjuk jalan dan arah terhadap kehidupan sejati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkemas hampir sempurna dalam seni budaya gamelan dan gending-gending serta kesenian wayang kulit purwa yang perkembanganya mempunyai warna yang unik, yaitu dari akar yang kuat, berpegang pada kepercayaan terhadap roh nenek moyang, kemudian bertambah maju setelah mengenal segala bentuk kesenian dari India dan menjadi sempurna begitu masuk agama Islam di Pulau Jawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paham mistik Jawa yang berpokok ” Manunggaling Kawula Gusti ” ( persatuan manusia dengan Tuhan ) dan ” Sangkan Paraning Dumadi ” ( asal dan tujuan ciptaan ) bersumber pada pengalaman religius, berawal dari sana manusia itu rindu untuk bersatu dengan yang Illahi, ingin menelusuri arus kehidupan sampai ke sumber muaranya. Perumusan pengalaman religius Jawa dalam sejarahnya tidak lepas dari pengaruh-pengaruh agama besar seperti Hindu, Budha dan Islam beserta dengan mistiknya yang khas, seperti terlihat dalam kitab-kitab Tutur, Kidung dan Suluk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wayang sebagai pertunjukan, merupakan ungkapan-ungkapan dan pengalaman religius yang merangkum bermacam-macam unsur lambang, bahasa gerak,suara, warna dan rupa. Dalam wayang terekam ungkapan pengalaman religius yang ” kuno ” seperti tampak bahwa pada tahap perkembangannya dewasa ini, masih berperan pula mitos dan ritus, misalkan pada lakon Ruwat atau Murwa Kala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara tradisional, wayang merupakan intisari kebudayaan masyarakat Jawa yang diwarisi secara turun temurun, tidak hanya sekedar tontonan dan tuntunan bagaimana manusia harus bertingkah laku dalam kehidupannya, namun juga merupakan tatanan yang harus dititeni kanti titis. ( merupakan hukum alam yang maha teratur yang harus diketahui dan disikapi secara bijaksana ) untuk menuju kasunyatan serta mencapai kehidupan sejati. Bagi manusia jawa ( manusia yang mengerti sejati ) wayang merupakan pedoman hidup, bagaimana mereka bertingkah laku dengan sesama dan bagaimana menyadari hakekatnya sebagai manusia serta bagaimana dapat berhubungan dengan sang penciptanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tradisi “upacara /ritual ruwatan” hingga kini masih dipergunakan orang jawa, sebagai sarana pembebasan dan penyucian manusia atas dosanya/kesalahannya yang berdampak kesialan didalam hidupnya. Dalam cerita “wayang“ dengan lakon Murwakala pada tradisi ruwatan di jawa ( jawa tengah) awalnya diperkirakan berkembang didalam cerita jawa kuno, yang isi pokoknya memuat masalah pensucian, yaitu pembebasan dewa yang telah ternoda, agar menjadi suci kembali, atau meruwat berarti: mengatasi atau menghindari sesuatu kesusahan bathin dengan cara mengadakan pertunjukan/ritual dengan media wayang kulit yang mengambil tema/cerita Murwakala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam tradisi jawa orang yang keberadaannya dianggap mengalami nandang sukerto/berada dalam dosa, maka untuk mensucikan kembali, perlu mengadakan ritual tersebut. Menurut ceriteranya, orang yang manandang sukerto ini, diyakini akan menjadi mangsanya Batara Kala. Tokoh ini adalah anak Batara Guru (dalam cerita wayang) yang lahir karena nafsu yang tidak bisa dikendalikannya atas diri DewiUma, yang kemudian sepermanya jatuh ketengah laut, akhirnya menjelma menjadi raksasa, yang dalam tradisi pewayangan disebut “Kama salah kendang gumulung “. Ketika raksasa ini menghadap ayahnya (Batara guru) untuk meminta makan, oleh Batara guru diberitahukan agar memakan manusia yang berdosa atau sukerta. Atas dasar inilah yang kemudian dicarikan solosi, agar tak termakan Sang Batara Kala ini diperlukan ritual ruwatan. Kata Murwakala/purwakala berasal dari kata purwa (asalmuasal manusia) ,dan pada lakon ini, yang menjadi titik pandangnya adalah kesadaran : atas ketidak sempurnanya diri manusia, yang selalu terlibat dalam kesalahan serta bisa berdampak timbulnya bencana (salah kedaden).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk pagelaran wayang kulit dengan lakon Murwakala biasanya diperlukan perlengkapan sebagai berikut :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Alat musik jawa ( Gamelan )&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Wayang kulit satu kotak ( komplit )&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Kelir atau layar kain&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Blencong atau lampu dari minyak&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain peralatan tersebut diatas masih diperlukan sesajian yang berupa:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Tuwuhan, yang terdiri dari pisang raja setudun, yang sudah matang dan baik, yang ditebang dengan batangnya disertai cengkir gading (kelapa muda), pohon tebu dengan daunnya, daun beringin, daun elo, daun dadap serep, daun apa-apa, daun alang-alang, daun meja, daun kara, dan daun kluwih yang semuanya itu diikat berdiri pada tiang pintu depan sekaligus juga berfungsi sebagai hiasan/pajangan dan permohonan. Dua kembang mayang yang telah dihias diletakkan dibelakang kelir (layar) kanan kiri, bunga setaman dalam bokor di tempat di muka dalang, yang akan digunakan untuk memandikan Batara Kala, orang yang diruwat dan lain-lainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Api (batu arang) di dalam anglo, kipas beserta kemenyan (ratus wangi) yang akan dipergunakan Kyai Dalang selama pertunjukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Kain mori putih kurang lebih panjangnya 3 meter, direntangkan dibawah debog (batang pisang) panggungan dari muka layar (kelir) sampai di belakang layar dan ditaburi bunga mawar dimuka kelir sebagai alas duduk Ki Dalang, sedangkan di belakang layar sebagai tempat duduk orang yang diruwat dengan memakai selimut kain mori putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Gawangan kelir bagian atas (kayu bambu yang merentang diatas layar) dihias dengan kain batik yang baru 5 (lima) buah, diantaranya kain sindur, kain bango tulak dan dilengkapi dengan padi segedeng (4 ikat pada sebelah menyebelah).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Bermacam-macam nasi antara lain :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
a. Nasi golong dengan perlengkapannya, goreng-gorengan, pindang kluwih, pecel ayam, sayur menir, dan sebagainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
b. Nasi wuduk dilengkapi dengan; ikan lembaran, lalaban, mentimun, cabe besar merah dan hijau brambang, kedele hitam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
c. Nasi kuning dengan perlengkapan; telur ayam yang didadar tiga biji. Srundeng asmaradana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Bermacam-macam jenang (bubur) yaitu: jenang merah, putih, jenang kaleh, jenang baro-baro (aneka bubur).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
7. Jajan pasar (buah-buahan yang bermacam-macam) seperti : pisang raja, jambu, salak, sirih yang diberi uang, gula jawa, kelapa, makanan kecil berupa blingo yang diberi warna merah, kemenyan bunga, air yang ditempatkan pada cupu, jarum dan benang hitam-putih, kaca kecil, kendi yang berisi air, empluk (periuk yang berisi kacang hijau, kedele, kluwak, kemiri, ikan asin, telur ayam dan uang satu sen).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8. Benang lawe, minyak kelapa yang dipergunakan untuk lampu blencong, sebab walaupun siang tetap memakai lampu blencong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
9. Yang berupa hewan seperti burung dara satu pasang ayam jawa sepasang, bebek sepasang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
10. Yang berupa sajen antara lain : rujak ditempatkan pada bumbung, rujak edan (rujak dari pisang klutuk ang dicampur dengan air tanpa garam), bambu gading linma ros. Kesemuanya itu diletakan ditampah yang berisi nasi tumpeng, dengan lauk pauknya seperti kuluban panggang telur ayam yang direbus, sambel gepeng, ikan sungai/laut dimasak anpa garam dan ditempatkan di belakang layar tepat pada muka Kyai Dalang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
11. Sajen buangan yang ditunjukkan kepada dhayang yang berupa takir besar atau kroso yang berisi nasi tumpeng kecil dengan lauk-pauk, jajan pasar (berupa buah-buahan mentah serta uang satu sen. ). Sajen itu dibuang di tempat angker disertai doa (puji/mantra) mohon keselematan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
12. Sumur atau sendang diambil airnya dan dimasuki kelapa. Kamar mandi yang untuk mandi orang yang diruwat dimasuki kelapa utuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai upacara ngruwat, bambu gading yang berjumlah lima ros ditanam pada kempat ujung rumah disertai empluk (tempayan kecil) yang berisi kacang hijau , kedelai hitam, ikan asin, kluwak, kemiri, telur ayam dan uang dengan diiringi doa mohon keselamatan dan kesejahteraan serta agar tercapai apa yang dicita citakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang perlu atau harus di Ruwat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut kepustakaan ” Pakem Ruwatan Murwa Kala “ Javanologi gabungan dari beberapa sumber, antara lain dari Serat Centhini ( Sri Paku Buwana V ), bahwa orang yang harus diruwat disebut anak atau orang ” Sukerta ” ada 60 macam penyebab malapetaka, yaitu sebagai berikut :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Ontang-Anting, yaitu anak tunggal laki-laki atau perempuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Uger-Uger Lawang, yaitu dua orang anak yang kedua-duanya laki-laki dengan catatan tidak anak yang meninggal&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Sendhang Kapit Pancuran, yaitu 3 orang anak, yang sulung dan yang bungsu laki-laki sedang anak yang ke 2 perempuan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Pancuran Kapit Sendhang, yaitu 3 orang anak, yang sulung dan yang bungsu perempuan sedang anak yang ke 2 laki-laki&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Anak Bungkus, yaitu anak yang ketika lahirnya masih terbungkus oleh selaput pembungkus bayi ( placenta )&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Anak Kembar, yaitu dua orang kembar putra atau kembar putri atau kembar “dampit” yaitu seorang laki-laki dan seorang perempuan ( yang lahir pada saat bersamaan )&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
7. Kembang Sepasang, yaitu sepasang bunga yaitu dua orang anak yang kedua-duanya perempuan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8. Kendhana-Kendhini, yaitu dua orang anak sekandung terdiri dari seorang laki-laki dan seorang perempuan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
9. Saramba, yaitu 4 orang anak yang semuanya laki-laki&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
10. Srimpi, yaitu 4 orang anak yang semuanya perempuan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
11. Mancalaputra atau Pandawa, yaitu 5 orang anakyang semuanya laki-laki&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
12. Mancalaputri, yaitu 5 orang anak yang semuanya perempuan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
13. Pipilan, yaitu 5 orang anak yang terdiri dari 4 orang anak perempuan dan 1 orang anak laki-laki&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
14. Padangan, yaitu 5 orang anak yang terdiri dari 4 orang laki-laki dan 1 orang anak perempuan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
15. Julung Pujud, yaitu anak yang lahir saat matahari terbenam&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
16. Julung Wangi, yaitu anak yang lahir bersamaan dengan terbitnya matahari&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
17. Julung Sungsang, yaitu anak yang lahir tepat jam 12 siang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
18. Tiba Ungker, yaitu anak yang lahir, kemudian meninggal&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
19. Jempina, yaitu anak yang baru berumur 7 bulan dalam kandungan sudah lahir&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
20. Tiba Sampir, yaitu anak yang lahir berkalung usus&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
21. Margana, yaitu anak yang lahir dalam perjalanan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
22. Wahana, yaitu anak yang lahir dihalaman atau pekarangan rumah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
23. Siwah atau Salewah, yaitu anak yang dilahirkan dengan memiliki kulit dua macem warna, misalnya hitam dan putih&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
24. Bule, yaitu anak yang dilahirkan berkulit dan berambut putih ” bule ”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
25. Kresna, yaitu anak yang dilahirkan memiliki kulit hitam&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
26. Walika, yaitu anak yang dilahirkan berwujud bajang atau kerdil&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
27. Wungkuk, yaitu anak yang dilahirkan dengan punggung bengkok&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
28. Dengkak, yaitu anak yang dilahirkan dengan punggung menonjol, seperti punggung onta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
29. Wujil, yaitu anak yang lahir dengan badan cebol atau pendek&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
30. Lawang Menga, yaitu anak yang dilahirkan bersamaan keluarnya ” Candikala ” yaitu ketika warna langit merah kekuning-kuningan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
31. Made, yaitu anak yang lahir tanpa alas ( tikar )&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
32. Orang yang ketika menanak nasi, merobohkan ” Dandhang “ ( tempat menanak nasi )&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
33. Memecahkan ” Pipisan ” dan mematahkan ” Gandik “ ( alat landasan dan batu penggiling untuk menghaluskan ramu-ramuan obat tradisional).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
34. Orang yang bertempat tinggal di dalam rumah yang tak ada ” tutup keyongnya “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
35. Orang tidur di atas kasur tanpa sprei ( penutup kasur ).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
36. Orang yang membuat pepajangan atau dekorasi tanpa samir atau daun pisang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
37. Orang yang memiliki lumbung atau gudang tempat penyimpanan padi dan kopra tanpa diberi alas dan atap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
38. Orang yang menempatkan barang di suatu tempat ( dandhang – misalnya ) tanpa ada tutupnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
39. Orang yang membuat kutu masih hidup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
40. Orang yang berdiri ditengah-tengah pintu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
41. Orang yang duduk didepan ( ambang ) pintu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
42. Orang yang selalu bertopang dagu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
43. Orang yang gemar membakar kulit bawang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
44. Orang yang mengadu suatu wadah atau tempat ( misalnya dandhang diadu dengan dandhang )&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
45. Orang yang senang membakar rambut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
46. Orang yang senang membakar tikar dengan bambu ( galar ).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
47. Orang yang senang membakar kayu pohon ” kelor “.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
48. Orang yang senang membakar tulang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
49. Orang yang senang menyapu sampah tanpa dibuang atau dibakar sekaligus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
50. Orang yang suka membuang garam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
51. Orang yang senang membuang sampah lewat jendela.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
52. Orang yang senang membuang sampah atau kotoran dibawah ( dikolong ) tempat tidur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
53. Orang yang tidur pada waktu matahari terbit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
54. Orang yang tidur pada waktu matahari terbenam ( wayah surup ).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
55. Orang yang memanjat pohon disiang hari bolong atau jam 12 siang ( wayah bedhug )&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
56. Orang yang tidur diwaktu siang hari bolong jam 12 siang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
57. Orang yang menanak nasi, kemudian ditinggal pergi ketetangga&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
58. Orang yang suka mengaku hak orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
59. Orang yang suka meninggalkan beras di dalam ” lesung ” ( tempat penumbuk nasi )&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
60. Orang yang lengah, sehingga merobohkan jemuran ” wijen ” ( biji-bijian )&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikainlah 60 jenis ” Sukerta ” yaitu jenis-jenis manusia yang telah dijanjikan oleh Sang Hyang Betara Guru kepada Batara Kala untuk menjadi santapan atau makananya, bahkan menurut Pustaka Raja Purwa ( jilid I halaman 194 ) karya pujangga R.Ng Ranggawarsito disebutkan ada 136 macam Sukerta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut mereka yang percaya, orang-orang yang tergolong di dalam kriteria tersebut di atas dapat menghindarkan diri dari malapetaka ( menjadi makanan Betara Kala ) tersebut, jika ia mempergelarkan wayangan atau ruwatan dengan cerita Murwakala.Ada juga lakon ruwatan yang misalanya : Baratayuda, Sudamala,Kunjarakarna dan lain-lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain Sukerta, terdapat juga ” Ruwat Sengkala atau Sang Kala “ yang artinya menjadi mangsa Sangkala yaitu jalan kehidupannya sudah terbelenggu serta penuh kesulitan,tidak bisa sejalan dengan alur hukum alam ( ruang dan waktu ) ini disebabkan oleh kesalahan-kesalahan perbuatan atau tingkah lakunya pada masa lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Source :&lt;a href=&quot;http://indoghaib.blogspot.com/2010/04/metafisika-syekh-siti-jenar.html&quot; target=&quot;blank&quot;&gt;&lt;input type=&quot;submit&quot; value=&quot;indoghaib&quot; /&gt;&lt;/a&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/feeds/8214258935314087510/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/2011/01/ritual-ruwatan-dan-rajah-kala-cakra.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/4681687974444904579/posts/default/8214258935314087510'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/4681687974444904579/posts/default/8214258935314087510'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/2011/01/ritual-ruwatan-dan-rajah-kala-cakra.html' title='Ritual Ruwatan dan Rajah Kala Cakra'/><author><name>Edi Sugianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14020089984610322057</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGzeexTJJ5-aiaE_2XnxpUrS2D0wSodFfxEARZ9eOUxR9Np3cagCLixSLzkhkGcUwvIUrBg2DituWXBx_GIbXRZzPlECBhFtxqcaVwaR26-gUrt36VprkAx0ni2qR3TQ/s80/Edi+icon+80px.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhlnoZ_A-lqwOq9q5Ym6g5jm460vBAXW4fpz_r9aCp9-87sxwh8O6_yG_3FLGbIWLTNW2o6N2oFpmlUVzaIfP7RkYMZ19jXDk55GghjJNePbATBFoL4OjsDSxT8tMHMV3nz1nSqAEJsbcI/s72-c/rajah-kalacakra.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4681687974444904579.post-1142955676002517902</id><published>2011-01-08T06:17:00.002+07:00</published><updated>2011-01-08T06:30:58.418+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="A Reiki NAQS"/><title type='text'>Reiki Energi Kultivasi N-AQS Methode®: Getaran Hati</title><content type='html'>&lt;a href=&quot;http://reikinaqs.blogspot.com/2011/01/getaran-hati.html?spref=bl&quot;&gt;Reiki Energi Kultivasi N-AQS Methode®: Getaran Hati&lt;/a&gt;: Apa jadinya dunia, kalau tidak ada getaran. Bunyi-bunyian adalah produk dari getaran yang simultan. Semakin lemah getaran, semakin longgar frekuensi getarannya. Semain keras getaran, semakin rapat frekuensinya. Maka kita berterima kasih kepada Heinrich Hertz (1857-1894), Macaroni yang mampu membuat teori getaran sehingga para pakar gelombang suara mampu menghasilkan berbagai temuannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konon, energi terpancar melalui getaran. Manfaatnya dapat memberikan tenaga gerak pada segala sesuatu. Misalnya matahari sebagai sumber energi. Getaran hasil reaksi fusi di dalam matahari mampu memancarkan foton-foton yang membentuk cahaya. Lalu ia mampu menumbuhkan tanaman. Kemudian daun-daun hijau (klorofil) menghasilkan oksigen. Gerakan oksigen yang terpancar di udara inipun kemudian dimanfaatkan manusia dan mesin-mesin untuk bernafas sehingga menggerakan energi berikutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;http://reikinaqs.blogspot.com/&quot;&gt;Getaran Listrik&lt;/a&gt; juga demikian. Gaya gerak listik (GGL) yang tercipta dari hasil fluktuasi magnet pada generator menghasilkan ion positif dan negatif. Dari keduanya kemudian mengalir dengan deras ke selang-selang kabel sehingga mampu menghidupi mesin-mesin listrik dan lampu-lampu. Sehingga dunia menjadi ramai dan memakmurkan penduduk bumi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bunyi-bunyian tercipta dari getaran. Suara yang keluarkan mulut seseorang, dihasilkan dari getaran pita suaranya. Lalu udara sekitarnya bergetar dan gelombangnya ditangkap membrane dalam genderang telinga sehinggalah segala ucap dimengerti. Begitu pula suara yang dikeluarkan dari audio stereo digetarkan oleh membrane yang terdapat dalam speaker dan digetarkan ke udara lewat foton dan ditangkap lagi oleh genderang telinga yang bergetar. Sehinggalah dari getaran ini pula semua kata/lagu dimengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keimanan (rasa beragama) juga timbul dari getaran. Getaran ini mirip gelombang sinus istilah Nabi saw: kadang yazid kadang yankus ( naik turun). Namun demikian seperti contoh di atas, orang masih ada keimanannya (rasa keberagamaanya) saat waktu kritis pun masih maumengerjakan misalnya shalat. Getaran sosial pun juga. Ketika melihat ada tetangga membutuhkan, ia tergerak untuk membantu tanpa ingin dipuji atau semisalnya. Bagi pemimpin yang bergetara rasa keagamaanya, ia tidak mau sedikitpun untuk korupsi dan lain-lain. &lt;span style=&quot;font-size: xx-small;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://reikinaqs.blogspot.com/2011/01/getaran-hati.html?spref=bl&quot;&gt;Reiki Energi Kultivasi N-AQS Methode®&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hati adalah tempat terjadinya getaran yang bersumber dari kehendak jiwa. Hati manusia merupakan tempat terjadinya resonansi. Apakah resonansi? Secara sederhana resonansi adalah ‘penularan’ getaran (gema) kepada benda lain. Artinya, jika kita menggetarkan suatu benda, lantas ada benda lain yang ikut bergetar, maka dapat dikatakan benda lain tersebut terkena resonansi yaitu ‘tertular’ getaran alias frekuensi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Contohlah sebuah gitar akustik, yang memiliki tabung resonansi dan lubangnya menghadap ke arah deretan senarnya. Jika senar itu digetarkan dengan cara dipetik, maka udara di dalam ruang resonansinya akan ikut bergetar. Inilah yang menyebabkan suara senar gitar itu terdengar keras dan merdu. Namun apa yang terjadi jika lubang gitar tersebut disumpal dengan kain? Maka dapat dipastikan tidak akan terjadi resonansi di dalam gitar itu dan suara gitarpun terdengar sangat pelan bahkan sumbang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hati atau jantung manusia bagaikan sebuah tabung resonansi gitar. Setiap kita berbuat sesuatu, baik pada taraf berpikir maupun berbuat, selalu terjadi getaran di hati kita. Getaran tersebut bisa kasar, bisa juga lembut. Dapat bergetar karena bahagia, karena rindu maupun karena marah atau bersedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara umum getaran tersebut berasal dari dua sumber, Hawa Nafsu dan Getaran Ilahiah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hawa Nafsu adalah keinginan untuk melampiaskan segala kebutuhan diri yang bertentangan dengan nurani. Getarannya cendereng kasar dan bergejolak tak beraturan, misalnya disaat kita marah, benci, dendam, iri, dengki, berbohong, menipu, merasa sombong dan sebagainya. Dalam tinjauan fisika, getaran semacam ini disebut memiliki frekuensi rendah, dengan amplitudo yang besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Contoh gamblangnya ketika seseorang sedang marah, dia sedang mengeluarkan getaran kasar hawa nafsu dari hatinya. Jantung hatinya akan bergejolak dan berdetak-detak tidak beraturan, wajahnya merah, matanya melotot, telinganya panas, dan tangannya gemetaran. Frekuensinya rendah dan kasar, dengan amplitudo yang besar. Jika dilihat pada alat pengukur getaran jantung (ECG-Electric Cardio Graph), akan dilihat betapa grafik yang dihasilkan sangatlah kasar dan bergejolak. Getaran yang seperti ini memiliki efek negatif pada tubuh kita. Sebuah benda yang dikenai getaran kasar terus-menerus akan mengalami kekakuan dan kemudian mengeras, dan bisa mengakibatkan penyakit jantung. Oleh karena itu jagalah amarah anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang yang terlalu sering melakukan kejahatan, secara psikologis juga dikatakan hatinya semakin mengeras dan tidak mudah bergetar karena kebajikan. Hal ini dapat dibuktikan, misalnya orang yang suka berbohong dan menipu. Pada awalnya, orang yang berbohong akan bergetar hatinya, akan tetapi kalau ia sering berbohong, maka hatinya tidak akan bergetar lagi pada saat ia berbohong. Hatinya semakin lama akan semakin keras dan sulit untuk bergetar lagi. Pada kondisi ini hati seperti tertutup karena tidak mampu lagi beresonansi. Bagaikan lubang gitar yang telah disumpal oleh kain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan Getaran Ilahiah, adalah dorongan untuk mencapai tingkatan kualitas yang lebih tinggi. Getarannya cenderung lembut dan halus, dengan frekuensi getaran yang sangat tinggi dan teratur. Misalnya saat seseorang sedang membaca Al-Qur’an, sholat yang khusyu, berdoa, berdzikir, menolong orang yang sedang kesusahan, serta melakukan kebaikan-kebaikan lainnya, secara tidak sadar dia telah melembutkan getaran jiwanya, membersihkan noda-noda dihatinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;http://reikinaqs.blogspot.com/&quot;&gt;Hati atau jiwa&lt;/a&gt; yang baik adalah yang lembut, yaitu hati yang gampang bergetar. Bagaikan buluh perindu yang menghasilkan suara yang merdu ketika ditiup. Mengapa bisa begitu?... Karena hati yang lembut bagaikan sebuah tabung resonansi yang bagus. Getarannya menghasilkan frekuensi yang semakin lama semakin tinggi. Semakin lembut hati seseorang, semakin tinggi pula frekuensinya. Pada frekuensi 10 pangkat delapan akan menghasilkan gelombang radio. Dan jika lebih tinggi lagi, pada frekuensi 10 pangkat 14 akan menghasilkan gelombang cahaya. Subhanallah… Seseorang yang hatinya lembut akan bisa menghasilkan cahaya di dalam hatinya, ketika cahaya itu semakin menguat, maka cahaya itu akan ‘merembet’ keluar menggetarkan seluruh bio-elektron didalam tubuhnya untuk mengikuti frekuensi cahaya tersebut. Hasilnya tubuhnya akan mengeluarkan cahaya alias aura yang jernih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah sebabnya bila kita berdekatan dengan orang-orang yang ikhlas dan penuh kesabaran, hati kita juga tenang dan damai. Sebab hati kita teresonansi oleh getaran frekuensi tinggi yang bersumber dari aura tubuhnya. Sebaliknya bila kita berdekatan dengan seseorang yang pemarah, maka hati kita akan ikut merasa ‘panas’ dan gelisah. Semua itu akibat adanya resonansi gelombang elektromagnetik yang memancar dari tubuh seseorang kepada lingkungan sekitarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika sedang &lt;a href=&quot;http://reikinaqs.blogspot.com/&quot;&gt;berdzikir&lt;/a&gt;, hati kita akan bergetar lembut. Hal ini dikemukan oleh Allah, bahwa orang yang berdzikir hatinya akan tenang dan tenteram.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
QS. Ar Ra&#39;d (13) : 28&lt;br /&gt;
&quot;(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah lah hati menjadi tenteram.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika seseorang dalam keadaan tenteram, getaran hatinya demikian lembut. Amplitudonya kecil, tetapi frekuensinya sangat tinggi. Semakin tenteram dan damai hati seseorang maka semakin tinggi pula frekuensinya. Dan pada, suatu ketika, pada frekuensi 10 pangkat 13 sampai pangkat 15,&lt;br /&gt;
akan menghasilkan frekuensi cahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, ketika kita berdzikir menyebut nama Allah itu, tiba-tiba hati kita bisa bercahaya. &lt;a href=&quot;http://reikinaqs.blogspot.com/&quot;&gt;Cahaya&lt;/a&gt; itu muncul disebabkan terkena resonansi kalimat dzikir yang kita baca. lbaratnya, hati kita adalah sebuah batang besi biasa, ketika kita gesek dengan besi magnet maka ia akan berubah menjadi besi magnetik juga. Semakin sering besi itu kita gesek maka semakin kuat kemagnetan yang muncul daripadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikianlah dengan hati kita. Dzikrullah itu menghasilkan getaran-getaran gelombang elektromagnetik dengan frekuensi cahaya yang terus menerus menggesek hati kita. Maka, hati kita pun akan memancarkan cahaya. Kuncinya, sekali lagi, hati harus khusyuk dan tergetar oleh bacaan itu. Bahkan, kalau sampai meneteskan air mata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Unsur yang kedua adalah ayat-ayat Qur&#39;an. Dengan sangat gamblang Allah mengatakan bahwa Al Qur&#39;an ada cahaya. Bahkan, bukan hanya Al Qur&#39;an, melainkan seluruh kitab-kitab yang pernah diturunkan kepada para rasul itu mengandung cahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
QS. An Nisaa&#39; (4) : 174&lt;br /&gt;
&quot;Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Qur&#39;an).&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
QS. Al Maa&#39;idah (5 ) : 44&lt;br /&gt;
&quot;Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat, di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya .&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
QS Al Maa&#39;idah (5 ) : 46&lt;br /&gt;
&quot;Dan Kami telah memberikan kepadanya kitab Injil, sedang di dalamnya ada petunjuk dan cahaya . .&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Artinya, ketika kita membaca kalimat-kalimat Allah itu kita juga sedang mengucapkan getaran-getaran cahaya yang meresonansi hati kita. Asalkan kita membacanya dengan pengertian dan pemahaman. Kuncinya, hati sampai bergetar. Jika tidak mengetarkan hati, maka proses dzikir atau baca Al Qur&#39;an itu tidak memberikan efek apa-apa kepada jiwa kita. Yang demikian itu tidak akan menghasilkan cahaya di hati kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah perlunya menghasilkan cahaya di hati kita lewat kegiatan dzikir, shalat dan ibadah-ibadah lainnya itu? Supaya, pancaran cahaya di hati kita mengimbas ke seluruh bio elektron di tubuh kita. Ketika cahaya tersebut mengimbas ke miliaran bio elektron di tubuh kita, maka tiba-tiba badan kita akan memancarkan cahaya tipis yang disebut &#39;Aura&#39;. Termasuk akan terpancar di wajah kita.&lt;span style=&quot;font-size: xx-small;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://reikinaqs.blogspot.com/2011/01/getaran-hati.html?spref=bl&quot;&gt;Reiki Energi Kultivasi N-AQS Methode®&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cahaya itulah yang terlihat di wajah orang-orang beriman pada hari kiamat nanti. Aura yang muncul akibat praktek peribadatan yang panjang selama hidupnya, dalam kkhusyukan yang sangat intens. Maka Allah menyejajarkan atau bahkan menyamakan antara pahala dan cahaya, sebagaimana firman berikut ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
QS. Al Hadiid (57) : 19&lt;br /&gt;
&quot;... bagi mereka pahala dan cahaya mereka.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan ternyata cahaya itu dibutuhkan agar kita tidak tersesat di Akhirat nanti. Orang-orang yang memililki cahaya tersebut dapat berjalan dengan mudah, serta memperoleh petunjuk dan ampunan Allah. Akan tetapi orang-orang yang tidak memiliki cahaya, kebingungan dan berusaha mendapatkan cahaya untuk menerangi jalannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
QS. Al Hadiid (57) : 28&lt;br /&gt;
&quot;.dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
QS. Al Hadiid (57) 13&lt;br /&gt;
&quot;Pada hati ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman : &quot;Tunggulah kami, supaya kami bisa mengambil cahayamu.&quot; Dikatakan (kepada mereka): &quot;Kembalilah kamu ke belakang, dan carilah sendiri cahaya (untukmu). &quot;Lalu diadakanlah di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya ada siksa.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
QS. Ali lmraan (3) : 106 - 107&lt;br /&gt;
&quot;Pada hari yang di waktu itu ada muka yang menjadi putih berseri dan ada Pula yang menjadi hitam muram. &#39;Ada pun orang-orang yang hitam muram mukanya, (dikatakan kepada mereka) : kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada di dalam rahmat Allah, mereka kekal di dalamnya.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, selain wajah yang memancarkan cahaya, Allah juga memberikan informasi tentang orang-orang kafir yang berwajah hitam muram. Bahkan di QS. 10 : 27 dikatakan Allah, wajah mereka gelap gulita seperti tertutup oleh potongan-potongan malam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam konteks ini memang bisa dimengerti bahwa orang -orang kafir yang tidak pernah beribadah kepada Allah itu wajahnya tidak memancarkan aura. Sebab hatinya memang tidak pernah bergetar lembut. Yang ada ialah getaran-getaran kasar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semakin kasar getaran hati seseorang, maka semakin rendah pula frekuensi yang dihasilkan. Dan semakin rendah frekuensi itu, maka ia tidak bisa menghasilkan cahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan kata Allah, di dalam berbagai firmanNya, hati yang semakin jelek adalah hati yang semakin keras, tidak bisa bergetar. Tingkatan hati yang jelek itu ada 5, yaitu :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Hati yang berpenyakit (suka bohong, menipu, marah, dendam, iri, dengki dsb),&lt;br /&gt;
2. Hati yang mengeras.&lt;br /&gt;
3. Hati yang membatu.&lt;br /&gt;
4. Hati yang tertutup. dan&lt;br /&gt;
5. Hati yang dikunci mati oleh Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka, semakin kafir seseorang, ia akan semakin keras hatinya. Dan akhirnya tidak bisa bergetar lagi, dikunci mati oleh Allah. Naudzu billahi min dzalik. Hati yang:seperti itulah yang tidak bisa memancarkan aura. Wajah mereka gelap dan muram.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
QS. Az Zumaar (39) : 60&lt;br /&gt;
&quot;Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta kepada Allah, mukanya menjadi hitam.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
QS. Al An&#39;aam (6) : 39&lt;br /&gt;
&quot;Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami adalah pekak, bisu dan berada dalam gelap gulita.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti yang telah saya kemukakan di depan, bahwa ternyata kegelapan itu ada kaitannya dengan kemampuan indera seseorang ketika dibangkitkan. Di sini kelihatan bahwa orang-orang kafir itu dibangkitkan dalam keadaan tuli, bisu, buta, dan sekaligus berada di dalam kegelapan. Sehingga mereka kebingungan. Dan kalau kita simpulkan semua itu disebabkan oleh hati mereka yang tertutup dari petunjuk-petunjuk Allah swt.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
QS. Al Hajj (22) : 8&lt;br /&gt;
&quot;Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab yang bercahaya.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
QS. Al Maa&#39;idah (5 ) : 16&lt;br /&gt;
&quot;.dan (dengan kitab itu) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizinNya.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
QS. Al A&#39;raaf (7) : 157&lt;br /&gt;
&quot;.dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur&#39;an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
QS. An Nuur (24) : 40&lt;br /&gt;
&quot;.dan barangsiapa tidak diberi cahaya oleh Allah, tidaklah ia memiliki cahaya sedikit pun.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
QS. At Tahriim (66) : 8&lt;br /&gt;
&quot;Hai orang-orang yang beriman bertaubatlah kepada Allah, dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan para nabi dan orang-orang beriman yang bersama dengan dia, sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan : Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami, dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wallahu alam Bishawawab..&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: xx-small;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://reikinaqs.blogspot.com/2011/01/getaran-hati.html?spref=bl&quot;&gt;Reiki Energi Kultivasi N-AQS Methode®&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/feeds/1142955676002517902/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/2011/01/reiki-energi-kultivasi-n-aqs-methode.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/4681687974444904579/posts/default/1142955676002517902'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/4681687974444904579/posts/default/1142955676002517902'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/2011/01/reiki-energi-kultivasi-n-aqs-methode.html' title='Reiki Energi Kultivasi N-AQS Methode®: Getaran Hati'/><author><name>Edi Sugianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14020089984610322057</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGzeexTJJ5-aiaE_2XnxpUrS2D0wSodFfxEARZ9eOUxR9Np3cagCLixSLzkhkGcUwvIUrBg2DituWXBx_GIbXRZzPlECBhFtxqcaVwaR26-gUrt36VprkAx0ni2qR3TQ/s80/Edi+icon+80px.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4681687974444904579.post-8148867375502833633</id><published>2010-12-02T22:19:00.000+07:00</published><updated>2010-12-02T22:19:19.944+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Abu Sangkan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Facebook"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hikmah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Law of Attraction"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Manajemen"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Yoga"/><title type='text'>REIKI NAQS (ISLAMIC REIKI)</title><content type='html'>&lt;b&gt;Sekilas tentang REIKI USUI (Reiki Jepang)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reiki, sebuah kata dalam bahasa Jepang berarti kekuatan universal, atau  energi Ilahi, dan merupakan sistem penyembuhan yang dianggap kebanyakan  orang berasal dari Tibet . Praktik ini dipercaya telah diturunkan dari  pengajaran Veda kuno, kumpulan tulisan yang diberikan pada Rishi besar  (orang bijak) beberapa ribu tahun yang lalu. Teks tertua yang masih  tersimpan berumur lebih dari 5.000 tahun. Reiki bukanlah agama. Walaupun  praktik penyembuhan ini dikenal di semua kebudayaan di seluruh dunia,  sistem ini memiliki dimensi spiritual. Reiki adalah konsep penyatuan  karena sekarang ini telah diterima secara global. Reiki mengajarkan  penyatuan dan harmoni. Reiki adalah harmoni dengan alam dan dapat  digunakan untuk menyembuhkan pepohonan, manusia, dan binatang, dan  bahkan dapat digunakan untuk membantu memurnikan dan mengharmonisasikan  air dan udara. Reiki ditemukan di awal abad ke dua puluh oleh seorang  Jepang bernama Mikao Usui. Di kemudian hari, dia mengembangkannya  menjadi suatu sistem penyembuhan yang dia berikan pada orang lain  melalui attunement (dalam bahasa Jepang disebut reiju, yang artinya  &quot;menerima energi/spirit&quot;). Pada saat ini, sistem ini dipraktikkan oleh  berjuta-juta orang di seluruh dunia.﻿&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;b&gt;REIKI N-AQS&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi2L_Kb2_XBtIrN8Z8OitTMWNDnXurxvvu5yer40_TR_XpPxF09twrMrFeQ13a6o2CMfdU_lH_nkw7XgcFneRzaRiC5f6dqdhVlhvcTrHJF_Gyd4ST3b-B1E9V-elFsyfQzT0wJOZhd5wM_/s1600/BE1.jpg&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;174&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi2L_Kb2_XBtIrN8Z8OitTMWNDnXurxvvu5yer40_TR_XpPxF09twrMrFeQ13a6o2CMfdU_lH_nkw7XgcFneRzaRiC5f6dqdhVlhvcTrHJF_Gyd4ST3b-B1E9V-elFsyfQzT0wJOZhd5wM_/s200/BE1.jpg&quot; width=&quot;200&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Reiki  N-AQS adalah varian baru dari Aliran reiki yang ada, dan tidak terkait  dengan reiki dari tibet maupun Jepang. Konsep aslinya berasal dari  khasanah ilmu Metafisika yang dikembangkan oleh kalangan Spiritualis  Islam (TASAWUF dan THAREKAT). Yang tujuan aslinya adalah untuk mengolah  spiritualitas manusia agar memperoleh Ridlo Tuhan serta mencapai derajat  yang luhur baik di mata manusia maupun di mata Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reiki N-AQS menawarkan konsep energi metafisika dan olah spiritual versi  Islam tanpa harus berkolaborasi dg JIN dan Khodam. Serta jauh dari  tahayul, klenik, dan mistik. Serta bisa digunakan oleh siapa saja tanpa  memandang suku, agama, dan ras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Manfa&#39;at Reiki N-AQS&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1. Membuat Tubuh Menjadi Lebih Sehat Dan Bersih &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Untuk membersihkan tubuh agar tetap sehat dan lebih bersih, praktisi  dapat menggunakan energi N-AQS. Jadi, N-AQS bisa menjadi “sabun  pembersih” sekaligus sumber daya tahan tubuh. Seseorang seringkali tidak  merasakan dan tidak menyadari hadirnya gejala penyakit dalam tubuhnya  hingga kondisinya bertambah parah bahkan terlambat ditangani.  Bagaimanapun, mencegah lebih baik daripada menyembuhkan/mengobati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2. Menyembuhkan Penyakit &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Energi N-AQS sangat baik digunakan untuk menyembuhkan penyakit. Di zaman  sekarang ini, di mana biaya hidup makin mahal dan harga pengobatan  medis sulit terjangkau, bila seseorang memiliki kemampuan N-AQS, beban  hidupnya bisa menjadi lebih ringan. Biaya pengobatan dapat diminimalkan,  jika tubuh bisa lebih cepat sembuh dari penyakit. Bahkan pada banyak  kasus, penyembuhan penyakit menggunakan obat-obatan memiliki banyak efek  samping yang membahayakan. Nah, dengan energi  N-AQS, efek tersebut  dapat diminimalisasi bahkan dinetralisasi. Dalam hal ini, penyembuhan  dengan metode N-AQS dapat digabungkan dengan metode medis untuk dapat  saling melengkapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3. Melatih Lathaif Qalbu &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Lathaif Qalbu merupakan Titik energi spiritualitas yang merupakan  sentral dari spiritualitas seorang manusia. Energi Lathaif Qalbu yang  telah terkultivasi oleh N-AQS akan memancarkan energi Kultivasi yang  sangat baik untuk proses pembersihan dan pemurnian diri. Efek dari  melatih Lathaif Qalbu selain pembersihan adalah munculnya  kemampuan-kemampuan psikis yang sebenarnya telah ada pada diri setiap  orang. Tujuan akhir dari melatih Lathaif Qalbu adalah mencapai pemurnian  diri dan kesempurnaan diri sebagai manusia yang sempurna lahir bathin.  Menjadi manusia luhur yang berderajat Insan Kamil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lathaif Qalbu berada di titik kepala jantung (Dua jari di sisi bawah  agak kekiri dari puting susu). Setelah Lathaif Qalbu diaktifkan, energi  Lathaif Qalbu mulai melakukan pembersihan setiap saat. Untuk  membangkitkan Lathaif Qalbu dengan teknik konvensional, dibutuhkan waktu  cukup lama serta latihan yang sangat berat dan rumit agar Lathaif Qalbu  dapat aktif. Akan tetapi, dengan menggunakan teknik N-AQS, melatih  Lathaif Qalbu  menjadi sangat mudah dan hasil yang diperoleh sangat luar  biasa dalam waktu yang cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;&quot; name=&quot;more&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Nur Atomic Quark System (N-AQS)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEirqj5SagLk4jAr2IVIYlXmxLyYfILKWik2Cawncb241TGFM-lyWzwlqhJRKQ01M8GltDAPQIl0AH8FdjnpqugroccvaD1fW0UrFl64r5v-h-dqakXbBRJN-6G186pg2GsooyszA2VOKSYg/s1600/Atomic+Quark+N-AQS.jpg&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;294&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEirqj5SagLk4jAr2IVIYlXmxLyYfILKWik2Cawncb241TGFM-lyWzwlqhJRKQ01M8GltDAPQIl0AH8FdjnpqugroccvaD1fW0UrFl64r5v-h-dqakXbBRJN-6G186pg2GsooyszA2VOKSYg/s320/Atomic+Quark+N-AQS.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Nur Atomic Quark System (N-AQS) adalah salah satu teknik untuk mengakses  energi Kultivasi Ilahiah (Nur &#39;Ala Nuurin) yang memiliki energi yang  sangat halus dan densitas (kepadatan) energi yang sangat tinggi hingga  mencapai level quark atom. Quark Atomic merupakan partikel elementer  paling dasar yang menyusun alam semesta ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nur Atomic Quark System (N-AQS) meliputi semua bidang energi di alam  semesta yang berada pada level Quark Atomic. Jika bola energi yang dapat  diakses oleh metode Nur Atomic Quark System (N-AQS) dihitung, maka akan  mencapai lebih dari 1 x 10 pangkat 25 bola energi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nur Atomic Quark System (N-AQS) tidak berhubungan dengan Agama atau  praktek ibadah tertentu, tapi murni teknik penyembuhan alami dari energi  alam semesta. Mempelajari N-AQS bahkan dapat dikatakan sebagai berkah  karena mampu meningkatkan spiritualitas Praktisi dan jauh dari unsur  tahayyul dan mistik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesehatan Terletak di Kedua Telapak Tangan Anda ! Sejak dulu, banyak  orang menyakini bahwa sentuhan tangan dapat menyembuhkan. Hal ini dapat  dibuktikan misalnya saat bayi sedang gelisah, tidak dapat tidur,  tindakan ibu untuk membuat bayi menjadi tenang biasanya dengan mengusap  kepala bayi secara lembut sehingga membuat bayi menjadi tenang, dan  tertidur. Begitupun saat orang masuk angin, kedua tangan digosokan  hingga terasa hangat, lalu ditempelkan ke perut yang masuk angin, dan  dalam beberapa saat, perut terasa lebih nyaman dan membaik. Sebenarnya  yang dilakukan tadi adalah cara untuk menyalurkan energi alam semesta  yang ada dalam diri ke bagian tubuh yang sakit tanpa kita sadari. Namun  karena energi yang ada dalam tubuh jumlahnya terbatas, bila digunakan  untuk menyembuhkan diri sendiri/orang lain maka energi akan terkuras dan  mengakibatkan kelelahan bagi kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk itulah dengan dibukanya kemampuan N-AQS, maka seseorang akan dapat  mengakses energi alam semesta dengan lebih mudah dalam jumlah yang  banyak sehingga sangat efisien untuk digunakan dalam hal penyembuhan dan  untuk tujuan lainnya. Jadi reiki merupakan tehnik yang sangat alamiah  yang dapat dimiliki semua orang tanpa harus menguras tenaga. Inilah yang  membedakan N-AQS dengan Tenaga Dalam. Kalau tenaga dalam semakin sering  digunakan maka energi semakin terkuras, tapi dengan N-AQS, semakin  sering digunakan, tubuh justru semakin sehat dan bugar karena terjadi  sirkulasi energi positif yang masuk dan keluar melalui Cakra-cakra yang  ada dalam tubuh kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemampuan Reiki didapat melalui proses yang dinamakan  inisiasi/attunement yang hanya dapat dilakukan oleh seorang Master  Reiki. Dalam inisiasi, seorang Master Reiki membuka pintu keluar  masuknya energi dan jalur energi pada diri seseorang dengan cara  membornya kemudian menyelaraskan jalur energi yang telah terbentuk  dengan vibrasi reiki. Setelah itu setiap Praktisi N-AQS secara permanent  dapat mengakses Energi Semesta melalui Cakra Mahkota (ubun-ubun kepala)  dan langsung bisa digunakan untuk menyembuhkan diri sendiri dan orang  lain&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teknik N-AQS terbukti mampu menyembuhkan 4 (empat) lapisan tubuh manusia  yaitu menyembuhkan penyakit tubuh fisik (baik ringan atau kronis  seperti Tumor, Kanker, Ginjal, Diabetes, Jantung, Hepatitis, Stroke,  Leukimia, HIV, Asma, Kista, Gangguan Reproduksi, dll), tubuh psikis  (frustasi, gugup, khawatir, marah, dll), tubuh mental (stress, depresi,  trauma, dll), dan tubuh spiritual (suka membenci, iri hati, dendam dll,)  serta Membersihkan sifat dan akhlak buruk menuju transformasi psikis  dan mental yang seimbang, tegar dan terkendali. Selain itu energi N-AQS  dapat juga digunakan untuk Menangkal dan Mengatasi pengaruh energi  negatif seperti santet, sihir, kesurupan, gangguan jin, dll.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;N-AQS merupakan system kultivasi berbasis system energi Nurun &#39;Ala Nuurin&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nurun &#39;Ala Nuurin adalah energi kultivasi yang kami warisi dari The  Great Kultivator Terakhir Yaitu Nabi Muhammad SAW. Pencapaian  spiritualnya adalah yang paling sempurna diantara semua kultivator. Ini  dibuktikan dalam perjalanan beliau dalam Isra&#39; Mi&#39;raj yang mana dalam  keyakinan kami, beliau bermi&#39;raj dengan tubuh jasmani dan ruhaninya. Hal  itu dimungkinkan terjadi karena tubuh jasmani beliau telah mengalami  pencapaian kultivasi yang tertinggi, sehingga bisa berubah menjadi tubuh  energi (Cahaya).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nurun &#39;Ala Nuurin merupakan energi kultivasi. Hal ini berbeda dengan  energi reiki pada umumnya yang merupakan energi natural. Karena energi  Nurun &#39;Ala Nuurin merupakan energi kultivasi maka energi Nurun &#39;Ala  Nuurin sangat baik digunakan untuk berkultivasi. Untuk membuat diri  menjadi murni dan semakin murni, memperluas kesadaran pada multi  dimensi, menyatukan diri dengan alam dan Ilahi. Diri yang murni, bebas  dari kendali apapun akan memudahkan seseorang mencapai pengetahuan  spiritual yang tinggi. Kebenaran itu relatif dan kebenaran yang absolut  dan tertinggi adalah Tuhan itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena metode N-AQS berlandaskan System Energi Nurun &#39;Ala Nuurin, maka  praktek tekhnis dari metode N-AQS tidak sama dengan praktek Reiki atau  olah spiritual yang lain. Kami tidak menggunakan sistem meditasi  Kundalini dan Chakra dalam mengolah energi kultivasi ini. Inti dari  system N-AQS adalah ada pada System Energi Nurun &#39;Ala Nuurin itu  sendiri, yang bekerja secara cerdas dan mandiri mengkultivasi praktisi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kultivasi sama dengan evolusi atau transformasi. Pada kupu-kupu disebut      juga metamorfosis. Energi Kultivasi adalah energi natural yang      berevolusi menjadi energi pemurnian. Energi kultivasi memiliki fungsi      untuk memurnikan tujuh lapis tubuh manusia ; tubuh fisik, psikis, atau      emosi, mental, intuisi, atma, cahaya (monade) maupun tubuh  spiritual.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Apa itu Attunement?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Attunement adalah cara membuka diri untuk menerima getaran energi   Ilahiah Nurun ‘Ala Nuurin yang sangat tinggi dan halus vibrasinya untuk   keperluan penyembuhan pribadi. Dengan kata lain, ini  adalah cara   membuka jalur dalam tubuh mental, emosional, spiritual dan  eterik untuk   membiarkan getaran yang anda sesuaikan, membantu anda dalam  proses   penyembuhan anda. Attunement hanya dapat diberikan oleh Master  Reiki   NAQS yang resmi dan memiliki kemampuan untuk itu. Kemampuan  tersebut   didapat dari proses attunement Master Reiki NAQS sebelumnya.  Karena   itu, dapat dikatakan bahwa attunement mewakili sesuatu yang  memiliki   karakter energi Ilahiah Nurun ‘Ala Nuurin dari generasi ke generasi. Hal   ini dapat  dibuktikan dari asal usul turunan ENERGI KULTIVASI NUURUN   ‘ALA NUURIN sampai ke The Great Kultivator  yaitu Nabi Muhammad SAW.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah anda menerima attunement dari Reiki Master, anda telah terhubung  dan berharmoni dengan sumber energi Reiki sehingga anda dapat mengakses  dan menyalurkan energi Reiki, juga untuk obyek lain. Proses attunement  juga berarti &quot;menghubungkan kembali&quot; dan &quot;mengharmonikan&quot; manusia  sebagai mikrokosmos dengan alam sebagai makrokosmos. Dalam waktu 2-4  minggu setelah menerika attunement Reiki, sistem tubuh menyesuaikan diri  dengan Reiki baru yang anda terima dan menyatukannya dengan anda secara  utuh dan sempurna. Anda mengalami proses penyembuhan baik secara fisik,  emosional maupun spiritual. Banyak orang merasa aliran hangat dalam  tubuhnya ketika Reiki membersihkan dan menyeimbangkan sistem energi  baru. Kadang-kadang efek yang muncul memiliki karakter emosional dan  anda dapat mengingat hal-hal yang telah anda lupakan, atu merasa santai  atau menyesal, atau tidak ingin menyentuh alkohol atau rokok lagi. Ada  orang yang merasa kebahagiaan mendalam ketika melakukan pelayanan  religius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Reiki memilik beberapa kelebihan dibandingkan dengan teknik penyembuhan lain,&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
diantaranya adalah :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Mudah dipelajari, membutuhkan pengetahuan minimal&lt;br /&gt;
* Tidak memerlukan latihan fisik yang melelahkan&lt;br /&gt;
* Getarannya lebih halus, lebih efektif untuk penyembuhan&lt;br /&gt;
* Membuat penghubung kepada sumber kesulitan atau penyakit&lt;br /&gt;
* Energi tidak akan pernah habis dan aliran akan sesuai dengan kebutuhan&lt;br /&gt;
* Menyembuhkan masalah fisik, emosi, dan spiritual&lt;br /&gt;
* Mudah didapatkan, hanya dengan attunement selama 20 menit &lt;br /&gt;
* Dapat digunakan untuk membuat perlindungan&lt;br /&gt;
* Bersifat permanen selama tidak digunakan untuk hal-hal yang negatif&lt;br /&gt;
* Penyembuhan dapat dilakukan dari jarak jauh&lt;br /&gt;
* Energi negatif dari pasien tidak akan masuk ke dalam tubuh penyembuh&lt;br /&gt;
* Energi penyembuh tidak akan pernah habis&lt;br /&gt;
* Dapat dilakukan oleh tim penyembuh&lt;br /&gt;
* Energi penyembuhan dapat bertambah baik secara kuantitas maupun kualitas tiap kali menyalurkan energi&lt;br /&gt;
* Beberapa penyembuh dapat menggabungkan energi Reiki dengan energi lain untuk penyembuhan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Beberapa kegunaan Reiki, di antaranya adalah:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Meningkatkan tingkat energi dan vitalitas anda&lt;br /&gt;
* Meningkatkan intuisi dan kedamaian&lt;br /&gt;
* Meningkatkan kesehatan, kualitas hidup dan pengembangan pribadi&lt;br /&gt;
* Mempercepat penyembuhan luka, kesulitan/penolakan, migren, asma dan banyak masalah kesehatan secara efektif.&lt;br /&gt;
* Mengurangi stres secara dramatis&lt;br /&gt;
* Mempercepat proses penyembuhan&lt;br /&gt;
* Mengurangi rasa sakit dan efek samping dari obat yang dimakan&lt;br /&gt;
* Membantu menyembuhkan penyakit, trauma dan operasi&lt;br /&gt;
* Menghilangkan racun dalam tubuh&lt;br /&gt;
* Mempercepat proses penyembuhan secara alami dengan cara mengharmonisasikan energi tubuh&lt;br /&gt;
* Membuat tangan anda sebagai pelengkap dokter&lt;br /&gt;
* Dapat digunakan untuk binatang and tumbuhan&lt;br /&gt;
* Memperbaiki tingkat kesesuaian dan keseimbangan seseorang&lt;br /&gt;
* Memperpanjang umur sel tubuh dan memperbaiki kulit&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kondisi apa yang dapat dibantu oleh Reiki?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reiki adalah sistem alami untuk penyembuhan, mengurangi stress dan  relaksasi. Sistem ini didasarkan pada keyakinan bahwa energi kehidupan  atau Ki dapat dimanfaatkan dan digunakan untuk penyembuhan. Reiki  menyingkirkan hambatan dalam sistem energi sehingga energi kehidupan  dapat kembali mengalir dan memperbaiki keseimbangan penerima dan  meningkatkan kemampuan alami tubuh untuk menyembuhkan diri sendiri.  Reiki mengalir ke daerah yang paling memerlukan bantuan, bukan hanya  pada gejalanya, karena itu dapat digunakan pada setiap tingkatan: fisik,  mental, emosional dan spiritual.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika mengikuti penyembuhan dengan cara Reiki, pasien dapat merasa  lebih seimbang dan rileks atau lebih energetic dan sadar. Mereka dapat  merasa lebih kreatif atau kurang emosional atau lebih tidak stress,  dengan perasaan lebih baik. Reiki sangat berguna untuk mereka yang  sedang menghadapi kesulitan atau tantangan dalam hidup. Luka parah dapat  dibantu untuk sembuh lebih cepat tapi penyakit yang lebih kronis akan  memerlukan waktu yang lebih lama. Kondisi seperti eksim, asma, alergi,  sakit kepala, migren, sakit punggung, arthritis dan shok, sudah  dipastikan memberikan respon yang baik terhadap Reiki. Beberapa orang  melaporkan mengalami kesembuhan atau berkurang sakitnya setelah  mengikuti sesi penyembuhan dan beberapa melaporkan kemudahan bergerak  atau kemampuan untuk tidur dengan lebih baik. Kebaikan ini biasanya  bertahan sekitar 3 sampai 10 hari dan seringkali masalahnya tidak muncul  kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Apa yang terjadi selama penyembuhan Reiki?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menerima penyembuhan secara Reiki adalah proses yang sangat sederhana  dan tidak mengganggu, namun sangat kuat. Para praktisi biasanya akan  memberikan penjelasan singkat tentang cara penyembuhan ini dan  mengajukan beberapa pertanyaan tentang riwayat kesehatan pasien.  Kerahasiaan dijamin sebagai persyaratan standar etis asosiasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesi penyembuhan berlangsung sekitar satu jam dengan pasien dalam  kondisi berbaring, dengan pakaian lengkap, di atas matras. Jika pasien  tidak dapat berbaring, proses dapat dilakukan dalam kondisi duduk atau  berdiri. Barang-barang seperti sepatu atau perhiasan biasanya dilepas.  Ruangan penyembuhan biasanya hangat, bersih dan nyaman. Musik lembut,  lilin dan selimut disediakan untuk menambah kenyamanan pasien. Tidak ada  manipulasi karena Reiki bukanlah pijatan. Praktisi akan menyalurkan  energi ke pasien melalui beberapa urutan posisi tangan di punggung dan  tubuh bagian depan dan kepala. Praktisi akan menempatkan tangan pada  posisi tertentu selama beberapa waktu dan lebih banyak waktu pada daerah  yang lebih memerlukan. Reiki akan mengalir pada tempat yang paling  dibutuhkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Apa yang akan saya rasakan selama proses penyembuhan?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama proses penyembuhan, banyak orang melaporkan sesansi seperti rasa  panas, tingling, sejuk atau denyut atau melihat beberapa warna. Tapi  banyak orang hanya merasakan kedamaian dan relaksasi: beberapa malah  tertidur! Atau kadang proses penyembuhan dapat memberikan energi: tidak  ada cara benar atau salah dalam pengalaman Reiki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Apa yang dapat diharapkan setelah proses penyembuhan?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segera setelah sesi Reiki, anda harus menyediakan sedikit waktu untuk  kembali pada kesadaran anda. Anda dapat merasa sangat relaks sehingga  anda sedikit bingung. Disarankan anda duduk sebentar dan minum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian anda mungkin merasa bahwa tubuh anda melakukan detoksifikasi.  Anda harus menambah jumlah air atau teh herbal yang anda minum supaya  racun dapat dikeluarkan dengan lebih mudah. Anda juga mungkin ingin  lebih banyak beristirahat. Banyak orang merasa rasa sakit berkurang dan  rasa nyaman semakin dirasakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anda mungkin mulai merasa lebih baik setelah sesi pertama. Jumlah dan  frekwensi penyembuhan bervariasi untuk tiap-tiap orang. Secara umum,  penyakit akut sembuh lebih cepat daripada penyakit kronis. Kalau  penyakit anda sudah lama, anda membutuhkan proses penyembuhan lebih  lama. Namun, anda bebas menentukan jenis pengobatan seperti apa yang  anda inginkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Apakah Reiki merupakan suatu tindakan yang holistik?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reiki sungguh holistic karena menyembuhkan keseluruhan manusia, bukan  hanya gejalanya saja. Semua penyakit fisik, mental, emosional dan  spiritual dapat disembuhkan. Reiki mengalir pada tempat yang paling  membutuhkannya. Reiki adalah terapi yang dapat digunakan sendiri maupun  sebagai pelengkap tindakan yang lain. Sangat disarankan anda tidak  menghentikan pengobatan medis atau penyembuhan holistik cara apapun yang  dibutuhkan, kecuali setelah anda mendiskusikannya dengan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;TINGKATAN REIKI N-AQS :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;LEVEL 1 :&lt;/b&gt; &lt;b&gt;BEGINNING OF THE AWAKENING ► Healing &amp;amp; Spirituality&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
(&lt;i&gt;Free Training, bisa jarak jauh via telfon&lt;/i&gt;)&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Inisiasi (Aktivasi dan Attunement System N-AQS)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Meditasi (Tafakkur, Tawajjuh, Zero Mind Process)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Healing (Penyembuhan untuk diri sendiri dan orang lain)&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Manfaat level 1 : &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
1. God Oriented, Tuhan menjadi sentral kehidupannya. Karena kehadiran Tuhan betul-betul bisa dirasakan dalam kehidupannya.&lt;br /&gt;
2. Self Improvement, pengembangan Potensi diri &amp;amp; Good Behaviour Transformation (AKHLAKUL KARIMAH : IKHLAS &amp;amp; SABAR).&lt;br /&gt;
3. Healer Skill, ketrampilan menggunakan energi Reiki ...utk penyembuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;LEVEL 2 : TOTAL SOLUTION&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
(&lt;i&gt;Free Training - Harus datang bertemu langsung dengan Pengasuh Majelis N-AQS&lt;/i&gt;)&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Harus sudah menguasai dasar System N-AQS (Getaran di Lathaif Qalbu telah cukup kuat serta kondisinya terjaga selama 24 jam)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Penggunaan simbol Reiki N-AQS&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Penggunaan Bola Energi Husada&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Penggunaan Bola Energi Sapu Jagad&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Manfaat level 2 :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
1. Peningkatan energi 10 kali level 1.&lt;br /&gt;
2. TOTAL SOLUTION, mengatasi segala problematika kehidupan. Meraih kejaya&#39;an dunia dan kebahagia&#39;an akherat.&lt;br /&gt;
3. Mendapat izin utk menggunakan simbol reiki.&lt;br /&gt;
4. Mendapat izin untuk menggunakan bola energi Husada dan Sapu Jagad.&lt;br /&gt;
5. Penyembuhan jarak jauh dan programming.&lt;br /&gt;
Bonus : Ilmu Totok Jari EFT (Emotional Freedom Technic).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;FOUNDER REIKI N-AQS :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgAeW6JOtlNSDSad1ZdAgdFbeDLzE_Zd_Sg95dTpBVm7McxLRKL8fqdcuMT6tJUsa_lN9O1jMKcE_MU9VSnSNFc48QmMpxN48lrqE2JZn32rc19rRV3Gi7AUbFrzAyPt9SllmBuhVFa5i0g/s1600/mas-eddy-sugianto-.jpg&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;320&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgAeW6JOtlNSDSad1ZdAgdFbeDLzE_Zd_Sg95dTpBVm7McxLRKL8fqdcuMT6tJUsa_lN9O1jMKcE_MU9VSnSNFc48QmMpxN48lrqE2JZn32rc19rRV3Gi7AUbFrzAyPt9SllmBuhVFa5i0g/s320/mas-eddy-sugianto-.jpg&quot; width=&quot;174&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;b&gt;Mas Eddy Sugianto Wong Gresik&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Alamat : Desa Sekapuk Rt : 02 / Rw : 01&lt;br /&gt;
Kecamatan Ujung Pangkah&lt;br /&gt;
Kabupaten Gresik&lt;br /&gt;
JAWA TIMUR - INDONESIA&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
HP : 081231649477&lt;br /&gt;
Tlp : 031-3940577&lt;br /&gt;
email : semutraja@ymail.com&lt;br /&gt;
Facebook Profile : http://www.facebook.com/wongsedayu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
WEBSITE MAJELIS NAQS :&lt;br /&gt;
http://majelisnaqs.blogspot.com/&lt;br /&gt;
http://reikinaqs.blogspot.com/</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/feeds/8148867375502833633/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/2010/12/reiki-naqs-islamic-reiki.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/4681687974444904579/posts/default/8148867375502833633'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/4681687974444904579/posts/default/8148867375502833633'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/2010/12/reiki-naqs-islamic-reiki.html' title='REIKI NAQS (ISLAMIC REIKI)'/><author><name>Edi Sugianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14020089984610322057</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGzeexTJJ5-aiaE_2XnxpUrS2D0wSodFfxEARZ9eOUxR9Np3cagCLixSLzkhkGcUwvIUrBg2DituWXBx_GIbXRZzPlECBhFtxqcaVwaR26-gUrt36VprkAx0ni2qR3TQ/s80/Edi+icon+80px.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi2L_Kb2_XBtIrN8Z8OitTMWNDnXurxvvu5yer40_TR_XpPxF09twrMrFeQ13a6o2CMfdU_lH_nkw7XgcFneRzaRiC5f6dqdhVlhvcTrHJF_Gyd4ST3b-B1E9V-elFsyfQzT0wJOZhd5wM_/s72-c/BE1.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4681687974444904579.post-2518320840456745074</id><published>2010-09-02T15:46:00.000+07:00</published><updated>2010-09-02T15:46:31.917+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tasawuf"/><title type='text'>Ilmu Tasawuf</title><content type='html'>Pendapat KH Siradjuddin Abbas, dalam buku beliau “40 Masalah Agama” Jilid 3, hal 30.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ilmu Tasawuf adalah salah satu cabang dari ilmu-ilmu Islam utama, yaitu ilmu Tauhid (Usuluddin), ilmu Fiqih dan  ilmu Tasawuf.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ilmu Tauhid untuk bertugas membahas soal-soal i’tiqad, seperti i’tiqad mengenai keTuhanan, keRasulan, hari akhirat dan lain-lain sebagainya .&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ilmu Fiqih bertugas membahas soal-soal ibadat lahir, seperti sholat, puasa, zakat, naik haji dan lain&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ilmu Tasawuf bertugas membahas soal-soal yang bertalian dengan akhlak dan budi pekerti, bertalian dengan hati, yaitu cara-cara ikhlas, khusyu, tawadhu, muraqabah, mujahadah, sabar, ridha, tawakal dan lain-lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ringkasnya: tauhid ta’luk kepada i’tiqad, fiqih ta’luk kepada ibadat, dan tasawuf ta’kluk kepada akhlak&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepada setiap orang Islam dianjurkan supaya beri’tiqad sebagaimana yang diatur dalam ilmu tauhid (usuluddin), supaya beribadat sebagaimana yang diatur dalam ilmu fiqih dan supaya berakhlak sesuai dengan ilmu tasawuf.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Agama kita meliputi 3 (tiga) unsur terpenting yaitu, Islam, Iman dan Ihsan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah hadits menguraikan sebagai berikut:&lt;br /&gt;
Pada suatu hari kami (Umar Ra dan para sahabat Ra) duduk-duduk bersama Rasulullah Saw. Lalu muncul di hadapan kami seorang yang berpakaian putih. Rambutnya hitam sekali dan tidak tampak tanda-tanda bekas perjalanan. Tidak seorangpun dari kami yang mengenalnya. Dia langsung duduk menghadap Rasulullah Saw. Kedua kakinya menghempit kedua kaki Rasulullah, dari kedua telapak tangannya diletakkan di atas paha Rasulullah Saw, seraya berkata,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;“Ya Muhammad, beritahu aku tentang Islam.”&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Lalu Rasulullah Saw menjawab, “Islam ialah bersyahadat bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan Muhammad Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan mengerjakan haji apabila mampu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kemudian dia bertanya lagi, “Kini beritahu aku tentang iman.”&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Rasulullah Saw menjawab, “Beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir dan beriman kepada Qodar baik dan buruknya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Orang itu lantas berkata, “Benar. Kini beritahu aku tentang ihsan.”&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Rasulullah berkata, “Beribadah kepada Allah seolah-olah anda melihat-Nya walaupun anda tidak melihat-Nya, karena sesungguhnya Allah melihat anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bertanya lagi, “Beritahu aku tentang Assa’ah (azab kiamat).”&lt;br /&gt;
Rasulullah menjawab, “Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya.” Kemudian dia bertanya lagi, “Beritahu aku tentang tanda-tandanya.” Rasulullah menjawab, “Seorang budak wanita melahirkan nyonya besarnya. Orang-orang tanpa sandal, setengah telanjang, melarat dan penggembala unta masing-masing berlomba membangun gedung-gedung bertingkat.” Kemudian orang itu pergi menghilang dari pandangan mata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu Rasulullah Saw bertanya kepada Umar, “Hai Umar, tahukah kamu siapa orang yang bertanya tadi?” Lalu aku (Umar) menjawab, “Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui.” Rasulullah Saw lantas berkata, “Itulah Jibril datang untuk mengajarkan agama kepada kalian.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentang Islam kita dapat temukan dalam ilmu fiqih, sasarannya syari’at lahir, umpanya, sholat, puasa, zakat, naik haji, perdagangan, perkawinan, peradilan, peperangan, perdamaian dll.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentang Iman kita dapat temukan dalam ilmu tauhid (usuluddin), sasarannya  i’tiqad (akidah / kepercayaan), umpamanya bagaimana kita (keyakinan dalam hati) terhadap Tuhan, Malaikat-Malaikat,  Rasul-Rasul, Kitab-kitab suci, kampung akhirat, hari bangkit, surga, neraka, qada dan qadar (takdir).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentang Ihsan kita dapat temukan dalam ilmu tasauf, sasarannya akhlak, budi pekerti, bathin yang bersih, bagaimana menghadapi Tuhan, bagaimana muraqabah dengan Tuhan, bagaimana membuang kotoran yang melengket dalam hati yang mendinding (hijab) kita dengan Tuhan, bagaimana Takhalli, Tahalli dan Tajalli. Inilah yang dinamakan sekarang dengan Tasawuf.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap Muslim harus mengetahui 3 (tiga) unsur ini sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya dan memegang serta mengamalkannya sehari-hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelajarilah ketiga ilmu itu dengan guru-guru, dari buku-buku, tulisan  atau dalam jama’ah / manhaj / metode / jalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waspadalah jika jama’ah / manhaj / metode / jalan yang “menolak” salah satu dari ketiga ilmu itu karena itu memungkinkan ketidak sempurnaan hasil yang akan dicapai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ilmu Tasawuf itu  tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi dan bahkan Qur’an dan Sunnah Nabi itulah yang menjadi sumbernya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Andaikata ada kelihatan orang-orang Tasawuf yang menyalahi syari’at, umpamanya ia tidak sholat, tidak sholat jum’at ke mesjid atau sholat tidak berpakaian, makan siang hari pada bulan puasa, maka itu bukanlah orang Tasawuf dan jangan kita dengarkan ocehannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkata Imam Abu Yazid al Busthami yang artinya, “Kalau kamu melihat seseorang yang diberi keramat sampai ia terbang di udara, jangan kamu tertarik kepadanya, kecuali kalau ia melaksanakan suruhan agama dan menghentikan larangan agama dan membayarkan sekalian kewajiban syari’at”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendapat syaikh  Abu Al Hasan Asy-Syadzili, ” Jika pendapat atau temuanmu bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits, maka tetaplah berpegang dengan hal-hal yang ada pada Al-Qur’an dan Hadits. Dengan demikian engkau tidak akan menerima resiko dalam penemuanmu, sebab dalam masalah seperti itu tidak ada ilham atau musyahadah, kecuali setelah bersesuaian dengan Al-Qur’an dan Hadits“.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi syarat untuk mendalami ilmu Tasawuf (tentang Ihsan) terlebih dahulu harus mengetahui ilmu fiqih (tentang Islam) dan ilmu tauhid / usuluddin (tentang Iman).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan ketiga ilmu itu kita mengharapkan meningkat derajat/kualitas ketaqwaan kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mulai sebagai muslim menjadi mukmin dan kemudian muhsin atau yang kita ketahui sebagai implementasi Islam, Iman dan Ihsan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang-orang yang paham dan mengamalkan ilmu Tasawuf dikenal dengan nama orang sufi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syekh Abu al-Abbas r.a mengatakan bahwa orang-orang berbeda pendapat tentang asal kata sufi. Ada yang berpendapat bahwa kata itu berkaitan dengan kata shuf (bulu domba atau kain wol) karena pakaian orang-orang shaleh terbuat dari wol. Ada pula yang berpendapat bahwa kata sufi berasal dari shuffah, yaitu teras masjid Rasulullah saw. yang didiami para ahli shuffah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurutnya kedua definisi ini tidak tepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syekh mengatakan bahwa kata sufi dinisbatkan kepada perbuatan Allah pada manusia. Maksudnya, shafahu Allah, yakni Allah menyucikannya sehingga ia menjadi seorang sufi. Dari situlah kata sufi berasal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih lanjut Syekh Abu al Abbas r.a. mengatakan bahwa kata sufi (al-shufi)&lt;br /&gt;
terbentuk dari empat huruf: shad, waw, fa, dan ya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Huruf shad berarti shabruhu (kebesarannya), shidquhu (kejujuran), dan shafa’uhu(kesuciannya)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Huruf waw berarti wajduhu (kerinduannya), wudduhu (cintanya), dan wafa’uhu(kesetiaannya)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Huruf fa’ berarti fadquhu (kehilangannya), faqruhu (kepapaannya), dan fana’uhu(kefanaannya).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Huruf ya’ adalah huruf nisbat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apabila semua sifat itu telah sempurna pada diri seseorang, ia layak untuk menghadap ke hadirat Tuhannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kaum sufi telah menyerahkan kendali mereka pada Allah. Mereka mempersembahkan diri mereka di hadapanNya. Mereka tidak mau membela diri karena malu terhadap rububiyah-Nya dan merasa cukup dengan sifat qayyum-Nya. Karenanya, Allah memberi mereka sesuatu yang lebih daripada apa yang mereka berikan untuk diri mereka sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Firman Allah yang artinya,&lt;br /&gt;
[38:46] Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat.&lt;br /&gt;
[38:47] Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.&lt;br /&gt;
(QS Shaad [38]:46-47)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
********&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Catatan tentang tasawuf dari link lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
http://ummatiummati.wordpress.com/2010/03/08/kisah-taubatnya-salafy-tobat/&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam Thareqat bukan hanya diajarkan wirid saja. Tapi diajar banyak sekali ilmu-ilmu utk mendekatkan diri kepada Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena ilmu dan dzikir adalah dua perkara yang tak boleh dipisahkan, keduanya sama2 untuk mendekatkan diri kpd Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tharekat adalah untuk mengangkat ilmu2 islam (aqidah, fiqh, muamalat, mu’asyarat, ahlaq) dari teori kedalam amal perbuatan yang dilakukan secara istiqamah, ikhlas dan ikut sunnah nabi sehingga menjadi sifat hakikat dalam dirinya….&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Harus pake ijazah/izin dari guru dalam thareqat ini…..untuk membimbing kita dan agar tidak tersesat…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini juga disebut bai’ah sufiyah (kita berbaiat kepad mursyid untuk memegang teguh ajaran islam yg diajarkan kepadanya).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ini sangat penting dlm belajar thareqat, selain utk menjaga sanad thareqat (jika sanad ilmu terputus berarti ia tidak sambung lagi)…..juga sunnah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ingat Nabi memberikan macam2 ba’iah. dalam kitab asyari’ah wa thareqah syaikul hadits maulana zakariya alkhandahlawi rah berkata : Bai’ah thareqat bukanlah bai’ah untuk jihad tapi bai’ah untuk mengamalkan ajaran islam dengan sempurna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan ikut thareqat bukan berarti kita berhenti menuntut ilmu, justru dgn ikut thareqat kita tingkatkan belajar kita. Karena klo kita ikut thareqat hati akan menjadi bersih shg ilmu akan begitu mudah masuk kedalam hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ingat nasihat imam maliki dan imam syafei :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Nasihat imam syafei :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
فقيها و صوفيا فكن ليس واحدا * فإني و حـــق الله إيـــاك أنــــصح&lt;br /&gt;
فذالك قاس لم يـــذق قـلــبه تقى * وهذا جهول كيف ذوالجهل يصلح&lt;br /&gt;
Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya.&lt;br /&gt;
Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mahu menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelazatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mahu mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik?&lt;br /&gt;
[Diwan Al-Imam Asy-Syafi&#39;i, hal. 47]&lt;br /&gt;
sayang bait dari diwan ini telah dihilangkan oleh wahabi dalam kitab diwan safei yg dicetak oleh percetakan wahabi…..&lt;br /&gt;
2. . Nashihat IMAM MALIK RA:&lt;br /&gt;
و من تصوف و لم يتفقه فقد تزندق&lt;br /&gt;
من تفقه و لم يتصوف فقد تفسق&lt;br /&gt;
و من جمع بينهما فقد تخقق&lt;br /&gt;
“ dia yang sedang Tasawuf tanpa mempelajari fikih rusak keimanannya , sementara dia yang belajar fikih tanpa mengamalkan Tasawuf rusaklah dia . hanya dia siapa memadukan keduannya terjamin benar .&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
***********************************&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Definisi Tasawuf&lt;br /&gt;
by : Ust Wahfiudin&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pandangan paling monumental tentang Tasawuf muncul dari Abul Qasim Al-Qusyairy an-Naisabury, seorang ulama sufi abad ke-4 hijriyah. Al-Qusyairy sebenarnya lebih menyimpulkan dari seluruh pandangan Ulama Sufi sebelumnya, sekaligus menepis bahwa Tasawuf atau Sufi muncul dari akar-akar historis, bahasa, intelektual dan filsafat di luar Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam buku Ar-Risalatul Qusyairiyah ia menegaskan bahwa kesalahpahaman banyak orang terhadap tasawuf semata-mata karena ketidaktahuan mereka terhadap hakikat Tasawuf itu sendiri. Menurutnya Tasawuf merupakan bentuk amaliyah, ruh, rasa dan pekerti dalam Islam itu sendiri. Ruhnya adalah firman Allah swt:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* “Dan jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang-orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 7-8)&lt;br /&gt;
* ”Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang membersihkan diri dan dia mendzikirkan nama Tuhannya lalu dia shalat.” (QS. Al-A’laa: 14-15)&lt;br /&gt;
* “Dan ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang alpa” (QS. Al-A’raf: 205)&lt;br /&gt;
* “Dan bertqawalah kepada Allah; dan Allah mengajarimu (memberi ilmu); dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu” (QS. Al-Baqarah: 282)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sabda Nabi saw:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* “Ihsan adalah hendaknya engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, maka apabila engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu”. (HR. Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud dan Nasa’i)&lt;br /&gt;
* Tasawuf pada prinsipnya bukanlah tambahan terhadap Al-Qur’an dan hadits, justru Tasawuf adalah implementasi dari sebuah kerangka agung Islam. Secara lebih rinci, Al-Qusyairy meyebutkan beberapa definisi dari para Sufi besar:&lt;br /&gt;
1. Muhammad al-Jurairy:&lt;br /&gt;
“Tasawuf berarti memasuki setiap akhlak yang mulia dan keluar dari setiap akhlak yang tercela.”&lt;br /&gt;
2. Al-Junaid al-Baghdady:&lt;br /&gt;
“Tasawuf artinya Allah mematikan dirimu dari dirimu dan menghidupkan dirimu bersama dengan-Nya.”&lt;br /&gt;
“Tasawuf adalah engkau berada semata-mata bersama Allah swt. Tanpa keterikatan dengan apa pun.”&lt;br /&gt;
“Tasawuf adalah perang tanpa kompromi.”&lt;br /&gt;
“Tasawuf adalah anggota dari satu keluarga yang tidak bisa dimasuki oleh orang-orang selain mereka.”&lt;br /&gt;
“Tasawuf adalah dzikir bersama, ekstase yang diserta sama’ dan tindakan yang didasari Sunnah Nabi.”&lt;br /&gt;
“Kaum Sufi seperti bumi, yang diinjak oleh orang saleh maupun pendosa; juga seperti mendung, yang memayungi segala yang ada; seperti air hujan, mengairi segala sesuatu.”&lt;br /&gt;
“ Jika engkau meliuhat Sufi menaruh kepedulian kepada penampilan lahiriyahnya, maka ketahuilah bahwa wujud batinnya rusak.”&lt;br /&gt;
3. Al-Husain bin Manshur al-Hallaj:&lt;br /&gt;
“Sufi adalah kesendirianku dengan Dzat, tak seorang pun menerimanya dan juga tidak menerima siapa pun.”&lt;br /&gt;
4. Abu Hamzah Al-Baghdady:&lt;br /&gt;
“Tanda Sufi yang benar adalah dia menjadi miskin setelah kaya, hina setelah mulia, bersembunyi setelah terkenal. Sedang tanda Sufi yang palsu adalah dia menjadi kaya setelah miskin, menjadi obyek penghormatan tertinggi setelah mengalami kehinaan, menjadi masyhur setelah tersem, bunyi.”&lt;br /&gt;
5. Amr bin Utsman Al-Makky:&lt;br /&gt;
“Tasawuf adalah si hamba berbuat sesuai dengan apa yang paling baik saat itu.”&lt;br /&gt;
6. Mohammad bin Ali al-Qashshab:&lt;br /&gt;
“Tasawuf adalah akhlak mulia, dari orang yang mulia di tengah-tengah kaum yang mulia.”&lt;br /&gt;
7. Samnun:&lt;br /&gt;
“Tasawuf berarti engkau tidak memiliki apa pun, tidak pula dimiliki apapun.”&lt;br /&gt;
8. Ruwaim bin Ahmad:&lt;br /&gt;
“Tasawuf artinya menyerahkan diri kepada Allah dalam setiap keadaan apa pun yang dikehendaki-Nya.”&lt;br /&gt;
“Tasawuf didasarkan pada tiga sifat: memeluk kemiskinan dan kefakiran, mencapai sifat hakikat dengan memberi, dengan mendahulukan kepentingan orang lain atas kepentingan diri sendiri dan meninggalkan sikap kontra dan memilih.”&lt;br /&gt;
9. Ma’ruf Al-Karkhy:&lt;br /&gt;
“Tasawuf artinya, memihak pada hakikat-hakikat dan memutuskan harapan dari semua yang ada pada makhluk”.&lt;br /&gt;
10. Hamdun al-Qashshsar:&lt;br /&gt;
“Bersahabatlah dengan para Sufi, karena mereka melihat dengan alasan-alasan untuk mermaafkan perbuatan-perbuatan yang tak baik dan bagi mereka perbuatan-perbuatan baik pun bukan suatu yang besar, bahklan mereka bukan menganggapmu besar karena mengerjakan kebaikan itu.”&lt;br /&gt;
11. Al-Kharraz:&lt;br /&gt;
“Mereka adalah kelompok manusia yang mengalami kelapangan jiwa yang mencampakkan segala milik mereka sampai mereka kehilangan segala-galanya. Mereka diseru oleh rahasia-rahasia yang lebih dekat di hatinya, ingatlah, menangislah kalian karena kami.”&lt;br /&gt;
12. Sahl bin Abdullah:&lt;br /&gt;
“Sufi adalah orang yang memandang darah dan hartanya tumpah secara gratis.”&lt;br /&gt;
13. Ahmad an-Nuury:&lt;br /&gt;
“Tanda orang Sufi adalah ia rela manakala tidak punya dan peduli orang lain ketika ada.”&lt;br /&gt;
14. Muhammad bin Ali Kattany:&lt;br /&gt;
“Tasawuf adalah akhlak yang baik, barangsiapa yang melebihimu dalam akhlak yang baik, berarti ia melebihimu dalam Tasawuf.”&lt;br /&gt;
15. Ahmad bin Muhammad ar-Rudzbary:&lt;br /&gt;
“Tasawuf adalah tinggal di pintu Sang Kekasih, sekali pun engklau diusir.”&lt;br /&gt;
“Tasawuf adalah Sucinya Taqarrub, setelah kotornya berjauhan denganya.”&lt;br /&gt;
16. Abu Bakr asy-Syibly:&lt;br /&gt;
“Tasawuf adalah duduk bersama Allah swt tanpa hasrat.”&lt;br /&gt;
“Sufi terpisah dari manusia dan bersambung dengan Allah swt sebagaimana difirmankan Allah swt, kepada Musa, ‘Dan Aku telah memilihmu untuk Diri-Ku’ (Thoha: 41) dan memisahkanmu dari yang lain. Kemudian Allah swt berfirman kepadanya, ‘Engkau tak akan bisa melihat-Ku’.”&lt;br /&gt;
“Para Sufi adalah anak-anak di pangkuan Tuhan Yang Haq.”&lt;br /&gt;
“Tasawuf adalah kilat yang menyala dan Tasawuf terlindung dari memandang makhluk.”&lt;br /&gt;
“Sufi disebut Sufi karena adanya sesuatu yang membekas pada jiwa mereka. Jika bukan demikian halnya, niscaya tidak akan ada nama yang dilekatkan pada mereka.”&lt;br /&gt;
17. Al-Jurairy:&lt;br /&gt;
“Tasawuf berarti kesadaran atas keadaaan diri sendiri dan berpegang pada adab.”&lt;br /&gt;
18. Al-Muzayyin:&lt;br /&gt;
“Tasawuf adalah kepasrahan kepada Al-Haq.”&lt;br /&gt;
19. Askar an-Nakhsyaby:&lt;br /&gt;
“Orang Sufi tidaklah dikotori suatu apa pun, tetapi menyucikan segalanya.”&lt;br /&gt;
20. Dzun Nuun Al-Mishry:&lt;br /&gt;
“Kaum Sufi adalah mereka yang mengutamakan Allah swt. diatas segala-galanya dan yang diutamakan oleh Allah di atas segala makhluk yang ada.”&lt;br /&gt;
21. Muhammad al-Wasithy:&lt;br /&gt;
“Mula-mula para Sufi diberi isyarat, kemudian menjadi gerakan-gerakan dan sekarang tak ada sesuatu pun yang tinggal selain kesedihan.”&lt;br /&gt;
22. Abu Nashr as-Sarraj ath-Thusy:&lt;br /&gt;
“Aku bertanya kepada Ali al-Hushry, ‘siapakah, yang menurutmu Sufi itu?’ Lalu ia menjawab, ‘Yang tidak di bawa bumi dan tidak dinaungi langit’. Dengan ucapannya menurut saya, ia merujuk kepada keleburan.”&lt;br /&gt;
23. Ahmad ibnul Jalla’:&lt;br /&gt;
“Kita tidak mengenal mereka melalui prasyarat ilmiyah, namun kita tahu bahwa mereka adalah orang-orang yang miskin, sama sekali tidak memiliki sarana-sarana duniawi. Mereka bersama Allah swt tanpa terikat pada suatu tempat tetapi Allah swt, tidak menghalanginya dari mengenal semua tempat. Karenanya disebut Sufi.”&lt;br /&gt;
24. Abu Ya’qub al-Madzabily:&lt;br /&gt;
“Tasawuf adalah keadaan dimana semua atribut kemanusiaan terhapus.”&lt;br /&gt;
25. Abul Hasan as-Sirwany:&lt;br /&gt;
“Sufi yang bersama ilham, bukan dengan wirid yang mehyertainya.”&lt;br /&gt;
26. Abu Ali Ad-Daqqaq:&lt;br /&gt;
“Yang terbaik untuk diucapkan tentang masalah ini adalah, ‘Inilah jalan yang tidak cocok kecuali bagi kaum yang jiwanya telah digunakan Allah swt, untuk menyapu kotoran binatang’.”&lt;br /&gt;
“Seandainya sang fakir tak punya apa-apa lagi kecuali hanya ruhnya dan ruhnya ditawarkannya pada anjing-anjing di pintu ini, niscaya tak seekor pun yang menaruh perhatian padanya.”&lt;br /&gt;
27. Abu Sahl ash-Sha’luki:&lt;br /&gt;
“Tasawuf adalah berpaling dari sikap menentang ketetapan Allah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari seluruh pandangan para Sufi itulah akhirnya Al-Qusayiry menyimpulkan bahwa Sufi dan Tasawuf memiliki terminologi tersendiri, sama sekali tidak berawal dari etimologi, karena standar gramatika Arab untuk akar kata tersebut gagal membuktikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alhasil, dari seluruh definisi itu, semuanya membuktikan adanya adab hubungan antara hamba dengan Allah swt dan hubungan antara hamba dengan sesamanya. Dengan kata lain, Tasawuf merupakan wujud cinta seorang hamba kepada Allah dan Rasul-Nya, pengakuan diri akan haknya sebagai hama dan haknya terhadap sesama di dalam amal kehidupan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sumber = www.qalbu.net&lt;br /&gt;
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/12/ilmu-tasawuf/</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/feeds/2518320840456745074/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/2010/09/ilmu-tasawuf.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/4681687974444904579/posts/default/2518320840456745074'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/4681687974444904579/posts/default/2518320840456745074'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/2010/09/ilmu-tasawuf.html' title='Ilmu Tasawuf'/><author><name>Edi Sugianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14020089984610322057</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGzeexTJJ5-aiaE_2XnxpUrS2D0wSodFfxEARZ9eOUxR9Np3cagCLixSLzkhkGcUwvIUrBg2DituWXBx_GIbXRZzPlECBhFtxqcaVwaR26-gUrt36VprkAx0ni2qR3TQ/s80/Edi+icon+80px.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4681687974444904579.post-3749704744728108623</id><published>2010-08-13T02:48:00.002+07:00</published><updated>2010-08-13T02:55:06.026+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tasawuf"/><title type='text'>Tasawuf, Jihad, dan Politik</title><content type='html'>&lt;i&gt;Delapanbelas harinya Sabtu&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;bulan Sya`ban ketika waktu&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;pukul empat jamnya itu&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;haji berzikir di pemarakan tentu&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Haji ratib di pengadapan&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;berkampung bagai mengadap ayapan&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;tidaklah ada malu dan sopan&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;ratib berdiri berhadapan&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;La ilaha illa&#39;llahu dipalukan ke kiri&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;kepada hati nama sanubari&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;datanglah opsir meriksa berdiri&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;haji berangkat opsirpun lari&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;......&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Haji berteriak Allahu akbar&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;datang mengamuk tak lagi sabar&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;dengan tolong Tuhan Malik al-Jabbar&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;serdadu Menteng habislah bubar&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;......&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Haji berteriak sambil memandang&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;hai kafir marilah tandang&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;syurga bernaung di mata pedang&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;bidadari hadir dengan selendang&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Di situlah haji lama terdiri&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;dikerubungi serdadu Holanda pencuri&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;lukanya tidak lagi terperi&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;fanalah haji lupakan diri&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa bait ini, dari Syair Perang Menteng,[1] menceritakan perlawanan orang Palembang terhadap pasukan Belanda yang dikirim untuk menaklukkan kota mereka pada tahun 1819. Perang ini dikenal dengan nama komandan pasukan Belanda, Muntinghe, yang dimelayukan menjadi Menteng. Sang penyair Melayu menggambarkan bagaimana kaum putihan (&quot;haji&quot;) mempersiapkan diri untuk berjihad fi sabillillah. Mereka membaca asma (al-Malik, al-Jabbar), berzikir dan beratib dengan suara keras sampai &quot;fana&quot;. Dalam keadaan tak sadar (&quot;mabuk zikir&quot;) mereka menyerang tentara Belanda. Mereka berani mati, mungkin juga merasa kebal dan sakti lantaran amalan tadi, dan dibalut semangat dan keberanian mereka berhasil mengalahkan serangan pertama pasukan Belanda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kaum haji mujahid yang dipotret dalam syair ini jelas adalah orang tarekat. Walaupun sang penyair tidak menyebut nama tarekat, tidaklah sulit untuk menarik kesimpulan bahwa mereka mengamalkan amalan tarekat Sammaniyah. Tarekat tersebut memang telah berkembang di Palembang, dan dibawa dari tanah suci oleh murid-murid Abdussamad al-Palimbani pada penghujung abad ke-18.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh Abdussamad dikenal terutama sebagai pengarang Sair Al-Salikin dan Hidayat Al-Salikin, dua karya sastra tasawwuf Melayu yang penting. Dua karya ini berdasarkan Ihya dan Bidayat Al-Hidayah&#39;nya Ghazali, dengan tambahan bahan dari berbagai kitab tasawwuf lainnya.[2] Ia lama sekali menetap di Makkah, dan barangkali orang Indonesia pertama yang mendapat ijaza untuk mengajar tarekat Sammaniyah. Setelah mendapat ijazah dari pendiri tarekat, Syaikh Samman sendiri, ia kemudian mengajarkannya kepada orang Indonesia lainnya yang berada di Makkah, terutama kepada orang yang berasal dari kota kelahirannya Palembang. Uraian mengenai tarekat Sammaniyah terdapat dalam Hidayat Al-Salikin dan dalam Ratib `Abd Al-Samad yang ia karang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Syaikh Abdussamad ternyata tidak menulis karya tasawwuf saja. Ia pula mengarang sebuah risalah berbahasa Arab mengenai jihad, Nashihat Al-Muslimin wa Tadzkirat al-Mu&#39;minin fi Fadha&#39;il Al-Jihad fi Sabil Allah. Yang lebih menarik lagi, ia juga telah menulis surat kepada Sultan Mataram (Hamengkubuwono I) dan Susuhunan Prabu Jaka (putra Amangkurat IV) yang dapat dianggap dorongan untuk terus berjihad melawan orang kafir, sebagaimana dilakukan para sultan Mataram sebelumnya.[3] Syaikh Abdussamad, rupanya, seorang sufi yang tidak mengabaikan urusan dunia, bahkan mungkin boleh disebut militan. Tidak mengherankan kalau murid-muridnya yang ahli tarekat juga siap untuk berjihad fisik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh Abdussamad bukan ahli tarekat Indonesia pertama yang bersemangat jihad melawan penjajah non-Muslim. Lebih dari satu abad sebelumnya, terdapat seorang ahli tarekat berpengaruh yang pernah berperan sebagai pemimpin gerilya melawan Kompeni. Tidak lain, tokoh ini adalah Syaikh Yusuf Makassar, yang mendapat gelar &quot;al-Taj al-Khalwati&quot;. Hingga kini, tarekat Khalwatiyah yang ia bawa ke Nusantara masih tetap berakar di Sulawesi Selatan. Syaikh Yusuf lahir di kerajaan Goa dan pada usia muda merambah ke tanah Arab untuk mencari ilmu. Ia berguru kepada berbagai guru kenamaan dan menerima ijazah untuk mengamalkan dan mengajar sejumlah tarekat - selain tarekat Khalwatiyah juga Syattariyah, Naqsyabandiyah, Qadiriyah dan Ba&#39;alawiyah. Sekembalinya dari Timur Tengah, Syaikh Yusuf tidak mau menetap di Goa, yang telah ditaklukkan oleh Kompeni Belanda, melainkan memilih hidup di Banten, yang belum dikuasai Belanda dan kala itu merupakan salah satu pusat budaya Islam terpenting di Nusantara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam rentang waktu pendek Syaikh Yusuf telah menebarkan pengaruh luar biasa di Banten. Ia menjadi penasehat utama Sultan Ageng Tirtayasa dan diambil menantu olehnya. Kedudukannya bertambah kokoh dengan adanya ratusan orang Bugis dan Makassar di Banten, yang menjadi tulang punggung tentara dan armada Banten pada saat itu. Mereka membanggakan putra daerah mereka yang dianggap waliyullah dan menjadi pengikutnya yang fanatik. Tidak semua orang di Banten senang melihat pengaruh begitu besar Syaikh Yusuf. Hubungan antara syaikh dengan putra mahkota, yang bergelar Sultan Haji, lantaran pernah ke Makkah, kian memburuk. Pada tahun 1682 Sultan Haji memberontak dan berusaha menggeser ayahnya. Ia dibantu oleh pasukan Kompeni Belanda dari Betawi, yang tentu saja mempunyai alasan tersendiri untuk campur tangan dalam urusan kerajaan tetangga, mana pada waktu itu merupakan pesaing kuat dalam perdagangan. Sultan Ageng ditangkap, tetapi Syaikh Yusuf dengan pengikut-pengikutnya berhijrah ke pegunungan. Nyaris dua tahun mereka mampu bertahan kendati diburu oleh pasukan Kompeni yang jauh lebih kuat. Syaikh Yusuf akhirnya ditangkap dan dibuang ke Ceylon, sedangkan pengikut-pengikutnya dikembalikan ke Sulawesi.[4]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Kaum tarekat: militan atau apolitik?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Dua kasus di atas menunjukkan keterlibatan tarekat dalam peperangan fisik melawan agresi penjajah. Jumlah kasus seperti ini, jika dikehendaki, dapat dideret lebih banyak lagi. Pertanyaan patut diajukan: apakah sikap militan itu memang melekat pada tarekat, atau hubungan itu kebetulan saja? Apakah ada faktor dalam ajaran, amalan dan organisasi tarekat yang mendorong kepada militansi politik? Atau contoh-contoh tadi mesti dipahami sebagai kekecualian, disebabkan situasi luar biasa, sedangkan kaum tarekat biasanya cenderung untuk menjauhkan diri dari urusan politik?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ikhwal tasawwuf dan tarekat memang terdapat dua persepsi yang bertolak belakang. Para pejabat jajahan Belanda, Perancis, Italia dan Inggeris lazim mencurigai tarekat karena - dalam pandangan mereka - fanatisme kepada guru dengan mudah berubah menjadi fanatisme politik. Untuk ini, bukan suatu kebetulan jika kajian-kajian Barat yang pertama mengenai tarekat lebih mirip laporan penyelidikan intel daripada penelitian ilmiah.[5] Oleh karena bahaya politik yang mereka cerna, banyak pejabat telah menganjurkan larangan atau pembatasan terhadap kegiatan tarekat. Meskipun kecurigaan terhadap tarekat bukanlah monopoli pejabat kolonial. Di Republik Turki, misalnya, pada tahun 1925 semua tarekat dilarang setelah terjadi pemberontakan nasionalis Kurdi yang dipimpin oleh syaikh-syaikh tarekat Naqsyabandiyah. Larangan resmi sampai sekarang masih tetap berlaku - walaupun belakangan ini kegiatan tarekat mengalami perkembangan baru. Larangan yang lebih ketat lagi telah berlaku di (almarhum) Uni Soviet; dan di republik-republik bagian Uni Soviet yang Muslim jaringan tarekat memang telah merupakan oposisi bawah tanah yang paling penting.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Persepsi kedua, sebaliknya, menganggap perkembangan tarekat sebagai suatu gejala depolitisasi, sebagai pelarian dari tanggungjawab sosial dan politik. Dalam pandangan ini, tarekat lebih berorientasi kepada urusan ukhrawi ketimbang masalah dunia. Para pengkritik tarekat menekankan aspek asketis (zuhd) dan orientasi ukhrawi; dalam usaha mendekatkan diri kepada Tuhan kaum tarekat konon lazim menjauhkan diri dari masyarakat (khalwah, uzlah). Kalau kalangan Islam &quot;tradisional&quot; (Aswaja) dianggap lebih kolot, akomodatif dan apolitik dibandingkan dengan kalangan Islam modernis, kaum tarekat dianggap paling kolot di antara yang kolot, dan yang paling menghindar dari sikap politik. Pandangan ini, seperti akan kita lihat, terlalu sederhana. Tetapi tidak dapat diingkari bahwa ada kaitan erat antara proses depolitisasi Islam (seperti yang terlihat di Indonesia selama tiga dasawarsa terakhir) dan suburnya proses perkembangan para tarekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai pengamatan awal kita bisa mencatat bahwa dua persepsi tentang tarekat ini berkenaan dengan situasi-situasi yang berbeda. Hampir semua kasus perlawanan fisik oleh kaum tarekat yang telah dikenal berlangsung terhadap penguasa yang bukan Muslim atau sekuler (Turki). Dalam negara Muslim merdeka jarang terjadi pemberontakan atau sikap oposisi radikal dari kalangan tarekat. Dalam hal ini, kaum tarekat tidak berbeda dari kalangan Islam &quot;tradisional&quot; pada umumnya. Malahan - ini merupakan pengamatan kedua - orang tarekat seringkali begitu dekat kepada penguasa. Daripada menjauhi urusan politik, syaikh-syaikh tarekat cenderung mendekati penguasa. Syaikh Yusuf Makassar menjadi penasehat dan menantu Sultan Ageng Banten; Syaikh Abdussamad melalui surat menasehati Sultan Mataram. Dan para penguasa, sebaliknya, tidak jarang mencari dukungan moral dan spiritual dari syaikh tarekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Syaikh dan Sultan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tarekat Naqsyabandiyah merupakan salah satu tarekat yang paling besar, dengan cabang-cabangnya di hampir seluruh dunia Islam, menyebar dari Yugoslavia dan Mesir sampai Cina dan Indonesia. Hasil pengamatan yang telah dilakukan banyak sarjana menunjukkan bahwa syaikh-syaikh tarekat ini cenderung mendekati penguasa dan mencari pengikut di kalangan elit politik. Contoh klasik adalah Syaikh `Ubaidallah Ahrar (Khwajah Ahrar, 1404-1490), khalifah angkatan kedua dari pendiri tarekat Baha&#39;uddin Naqsyaband. Sumber sejarah lokal menggambarkan Khwajah Ahrar sebagai seorang syaikh yang kaya raya dan sangat berpengaruh di istana dinasti Timurid di Herat (di Afghanistan sekarang). Jumlah muridnya banyak, dan mereka berasal dari semua lapisan masyarakat, secara demikian memperkokoh bobot politiknya. Ketika pada masa suksesi terjadi peperangan antara beberapa calon pengganti Sultan, pemenangnya adalah pangeran yang didukung oleh Khwajah Ahrar, Abu Sa`id. Syaikh kemudian tetap sebagi guru, penasehat dan pelindung spiritual raja Abu Sa`id dan kemudian penggantinya `Abd al-Lathif.[6] Pengaruhnya dimanfaatkan, antara lain, demi islamisasi lanjutan pemerintahan; atas desakan Khwajah Ahrarlah Abu Sa`id konon telah mengubah beberapa aturan `urfi (adat) sehingga lebih sesuai dengan syari`ah. Khalifah-khalifah Khwajah Ahrar berusaha memainkan peranan yang sama pada dinasti-dinasti lokal. Bahkan ada keturunan spiritualnya yang berhasil menjadi penguasa di Yarkand, salah satu kerajaan lokal di Asia Tengah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Asia Tengah tarekat Naqsyabandiah kemudian menyebar ke Barat (Turki Usmani) dan ke Tenggara (India Moghul), dan banyak di antara syaikhnya yang mempunyai pengaruh kuat di kalangan elit, terkadang sampai Sultan sendiri. Di Turki, Sultan Bayezid II (akhir abad ke-15) terkenal sebagai penguasa yang memiliki hubungan akrab dengan berbagai guru tarekat, sedangkan di India Sultan Aurangzeb (pertengahan abad ke-17) sedikit banyak juga dipengaruhi oleh beberapa syaikh Naqsyabandiyah. Merekalah yang punya andil dalam perubahan besar kehidupan beragama di bawah Sultan ini. Agama resmi yang diciptakan Sultan Akbar, Din-i Ilahi, yang merupakan perpaduan Islam dan Hindu, digantikan dengan Islam yang murni dan berorientasi syari`ah. Dalam salah satu surat kepada Sultan Aurangzeb, Syaikh Muhammad Ma`sum menganjurkannya untuk menunaikan jihad dalam dua dimensinya, yaitu perang melawan kafir (dalam hal ini negara tetangga Qandahar yang Syi`i) dan perang melawan nafsu.[7]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika tarekat Naqsyabandiyah masuk Indonesia, terlihat pendekatan yang mirip. Syaikh Isma`il Minangkabawi, yang telah menjadi khalifah Naqsyabandiah di Makkah, kembali ke Nusantara sekitar tahun 1850 dan menjadi guru dan penasehat raja muda Riau (Yang Dipertuan Muda), Raja Ali. Waktu Syaikh Isma`il pulang ke Makkah, adik Raja Ali, Raja Abdullah, menjadi khalifahnya. Raja Abdullah kemudian menggantikan kakaknya sebagai penguasa. Setelah Raja Abdullah meninggal penggantinya, Raja Muhammad Yusuf ingin memperkuat legitimasinya sebagai penguasa dan pergi ke Makkah untuk minta ijazah khalifah Naqsyabandiyah dari Syaikh Muhammad Salih al-Zawawi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan halnya sultan-sultan Pontianak, pernah menjadi murid Syaikh Muhammad Salih dan putranya Abdullah al-Zawawi. Syaikh Abdullah al-Zawawi pernah datang ke Indonesia dan tinggal di istana Pontianak dan Kutai. Di Sumatera Utara, Sultan Deli dan Pangeran Langkat pada tahun 1880-an dikenal sebagai murid tarekat Naqsyabandiyah. Syaikh Abdul Wahhab, yang berasal dari Rokan (Riau), mendirikan desa Naqsyabandiyah Babussalam di Langkat dan senantiasa mendapat perlindungan oleh istana Langkat. Di pulau Jawa tarekat Naqsyabandiyah gagal merangkul raja-raja, tetapi ada beberapa bupati yang menjadi pengikut setia. Laporan Belanda abad ke-19 mencatat bahwa guru-guru tarekat Naqsyabandiyah sengaja pada awalnya mendekati kaum bangsawan dan pamong praja, sehingga mendapat restu dari atas, dan barulah kemudian menaruh perhatian kepada lapisan masyarakat lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendekatan guru-guru tarekat ini terhadap sultan dan penguasa lainnya sangat bermanfaat dari sudut pandangan sang syaikh. Salah seorang ulama penentang tarekat menulis dengan nada sinis mengenai keberhasilan Syaikh Isma`il Minangkabawi di Riau: &quot;dan itu Haji Isma`il sudah balik kembali ke negeri Makkah dengan bawa uwang terlalu banyak adanya&quot;.[8] Komentar senada sering pula terdengar terhadap ulama-ulama yang dekat pada penguasa. Dan memang saya jarang sekali bertemu dengan syaikh tarekat yang miskin. Tetapi di samping itu ada dampak lain juga. Semua syaikh yang disebut di atas juga berhasil mempengaruhi sikap beragama penguasa yang mereka dekati. Riau, Pontianak, Deli dan Langkat menjadi wilayah tempat syari`ah diindahkan, atau dalam bahasa para pejabat Hindia Belanda, penguasa setempat cenderung kepada &quot;fanatisme&quot;. Di Cianjur masjid tiba-tiba mulai dikunjungi khalayak ramai pada tahun 1885-an setelah bupatinya masuk tarekat Naqsyabandiyah (sehingga ada pejabat yang panik dan mencurigai ada persiapan untuk pemberontakan). Di Kutai, yang budayanya masih campuran, kalangan istana dianjurkan berhenti minum minuman keras oleh Abdullah al-Zawawi, dan seterusnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa para sultan seringkali mengembangkan hubungan akrab dengan seorang (atau beberapa orang) syaikh tarekat dan bersedia mendengarkan nasehat-nasehatnya? Kita memang jauh lebih sering melihat ulama tarekat daripada kaum fuqaha sebagai penasehat sultan dan raja. Alasannya bermacam-macam, tapi salah satu yang penting adalah karamahnya syaikh tarekat. Kekuatan spiritual syaikh diharapkan bisa melindungi dan melestarikan kerajaan. Syaikh yang ahl al-kasyf bisa menunjukkan kapan harus perang dan kapan damai, apa hari terbaik untuk sebuah keputusan dan apa hari naas. Raja yang sadar bahwa ia telah berbuat banyak dosa mendapat ketenangan hati berkat bimbingan ruhani oleh syaikh. Kehadiran orang yang dianggap &quot;kramat&quot; di lingkungan istana diharapkan dengan sendirinya akan membawa berkah. Yang tidak kalah pentingnya, kehadiran syaikh bisa memperkokoh legitimasi penguasa di mata rakyat. Dalam kenyataannya, peranan syaikh di istana bisa bervariasi dari guru agama sampai jimat hidup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Tasawwuf sebagai legitimasi politik dan sumber kesaktian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Seperti diketahui, setiap kerajaan di Nusantara memiliki dan sangat menghargai pusaka, benda-benda yang dianggap sakti. Raja-raja juga mengumpulkan orang maupun binatang yang &quot;aneh&quot; di sekitar mereka untuk meningkatkan kesaktian dan keabadian kerajaan. Agaknya, bukan suatu kebetulan kalau kerajaan-kerajaan Nusantara baru mulai masuk agama Islam setelah Islam mulai diwarnai ajaran tasawwuf wahdatul wujud dan tarekat-tarekat. Karya sejarah legendaris seperti Sejarah Melayu dan Babad Tanah Jawi menunjukkan bahwa raja-raja sangat tertarik kepada ajaran tasawwuf dan mempunyai penasehat yang ahli tasawwuf. Dari tasawwuf diharapkan, antara lain, kesaktian yang lebih hebat daripada kesaktian pra-Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teori tasawwuf mengenai kewalian diadaptasi sehingga banyak raja dulu mengklaim diri sebagai wali dan al-insan al-kamil. Dengan demikian konsep-konsep yang diambil dari tasawwuf digunakan sebagai pengganti legitimasi pra-Islam yang menyatakan raja sebagai Siva-Buddha atau bodhisattva.[9] Di kerajaan Buton (Sulawesi Tenggara), ajaran tasawwuf mengenai martabat tujuh (yang merupakan penyederhanaan dari teori tajalli&#39;nya Ibnul Arabi) telah dipakai sebagai legitimasi sistim politik kerajaan itu. Proses emanasi (tajalli) diidentikkan dengan stratifikasi masyarakat. Menurut teori sufi martabat tujuh, pada tiga tahap pertama proses tajalli Tuhan bersifat tanzih (transendental, secara mutlak berbeda dari sifat-sifat alam), sedangkan empat tahap berikut (dengan sifat tasybih, immanen) merupakan manifestasiNya dalam alam semesta. Di Buton, tiga golongan bangsawan (yang dulu, agaknya, dianggap berasal dari dewata) diserupakan dengan tiga tahap tanzih itu, sedangkan empat tahap tasybih diidentikkan dengan empat lapisan masyarakat: raja, bangsawan, orang awam dan budak. Ini barangkali merupakan contoh yang paling ekstrim dari &quot;pribumisasi&quot; ajaran tasawwuf di Indonesia.[10]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam proses islamisasi kerajaan-kerajaan Nusantara, tasawwuf dan tarekat memainkan peranan penting - walaupun dalam proses itu, ajaran tasawwuf kadang-kadang diubah. Ajaran kosmologi versi Ibn al-`Arabi dan Al-Jili, misalnya, diterapkan sebagai legitimasi tatanan masyarakat. Amalan tarekat - dzikir, wirid, ratib dan sebagainya - juga diterapkan dengan tujuan di luar tasawwuf. Orang Nusantara masa dulu sangat menaruh perhatian kepada kemampuan supranatural - kesaktian, kekebalan, kadigdayan, kanuragan dan segala ilmu gaib lainnya. Dapat dimengerti jika pada awalnya mereka menganggap amalan tarekat sebagai salah satu cara baru untuk mengembangkan kemampuan supranatural itu. Sehingga terkadang sulit membedakan antara tasawwuf dan magi. Sampai sekarang banyak aliran silat menggunakan amalan yang berasal dari tarekat-tarekat guna mengembangkan &quot;tenaga dalam&quot;, tujuan yang sesungguhnya tidak ada sangkut pautnya dengan agama lagi. Permainan debus, yang dulu juga terkait dengan persilatan, nampak berasal dari amalan tarekat Rifa`iyah dan Qadiriyah. Dalam dunia perdukunan juga dapat ditemukan bacaan-bacaan dan cara meditasi (mujahadah, muraqabah, dsb) yang berasal dari amalan tarekat, walaupun pengetrapannya tidak jarang dikritik oleh kalangan tarekat masa kini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, tarekat tidak bisa diidentikkan dengan kegiatan magi itu sendiri. Dalam sejarah tarekat terlihat, seperti dalam sejarah Islam pada umumnya, gelombang demi gelombang pemurnian. Syaikh-syaikh yang disebut di bagian depan artikel ini semuanya pada zamannya merupakan pemurni agama, dalam arti bahwa mereka berusaha menggantikan praktek-praktek lokal dengan ajaran dan amalan yang mereka peroleh di tanah Arab - termasuk penekanan kepada syari`ah. Tuntutan masyarakatlah yang senantiasa mendorong kepada penerapan &quot;praktis&quot; yang berbau magi. Ambillah, sebagai contoh, perkembangan tarekat Naqsyabandiyah, yang selalu syari`ah-oriented, di pulau Lombok. Pada abad lalu tarekat ini punya pengaruh besar di Lombok; penganutnya berkiblat kepada Syaikh Muhammad Salih al-Zawawi di Makkah, guru yang paling ortodoks. Sekarang tarekat ini hampir tidak dikenal lagi; tetapi waktu saya melakukan pelacakan sejarahnya, akhirnya saya bertemu dengan dua orang keturunan guru Naqsyabandiyah yang pertama. Mereka sekarang tidak dikenal lagi sebagai guru agama tetapi sebagai guru kekebalan. Amalan-amalan yang mereka ajarkan kepada pemain silat perisai di sana, ternyata tetap merupakan amalan-amalan Naqsyabandiyah!&lt;br /&gt;
Tetapi dalam budaya Islam Timur Tengah juga terdapat berbagai tradisi &quot;magi Islam&quot;, yang kadangkala disebut dengan istilah hikmah dan thibb. &quot;Ilmu&quot; yang berasal dari budaya pra-Islam (seperti wafaq, rajah, dsb) biasanya disebut hikmah, sedangkan thibb (&quot;pengobatan&quot;) berdasarkan fawa&#39;id ayat Qur&#39;an dan sebagainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dua-duanya oleh kalangan luas dianggap sebagai bagian dari Islam, dan ulama-ulama besar yang ortodoks (seperti Ghazali, Suyuti, Ibn Qayyum al-Jauzi) pernah menulis kitab mengenai ilmu-ilmu ini.[11] Ilmu-ilmu ini sering melekat pada tarekat; banyak guru tarekat sekaligus punya nama sebagai ahli tibb dan/atau hikmah. Menulis jimat dan isim sudah termasuk pekerjaan biasa untuk seorang syaikh tarekat; syaikh yang tidak bisa (atau tidak mau) memberikan muridnya jimat penyelamat dapat dikatakan fenomena langka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Tarekat dan pemberontakan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Jimat-jimat, latihan kekebalan, tenaga dalam dan kesaktian lainnya pada situasi normal hanya merupakan aspek kurang penting dalam pertarekatan (walaupun punya daya tarik kuat). Namun pada situasi tidak aman, dalam perang atau pemberontakan, aspek ini menjadi sangat menonjol. Dalam banyak kasus pemberontakan yang melibatkan tarekat, kelihatannya bukan tarekat yang memelopori pemberontakan melainkan para pemberontak yang masuk tarekat untuk memperoleh kesaktian. Dalam beberapa kasus laporan resmi menyebutkan bahwa menjelang pemberontakan orang berjubel mendatangi syaikh-syaikh tarekat yang punya nama sebagai ahli kesaktian, untuk minta dibaiat oleh mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu kasus yang menarik adalah pemberontakan anti-Belanda di daerah Banjarmasin sekitar tahun 1860-an. Pemberontakan itu sudah berlanjut beberapa tahun ketika seorang guru mulai mengajar amalan yang dinamakan &quot;beratip be`amal&quot; - barangkali suatu varian amalan tarekat Sammaniyah. Orang berbondong-bondong datang dibaiat dan diberikan jimat-jimat. Seperti dalam kasus perlawanan di Palembang, mereka berzikir dan membaca ratib sampai tidak sadar lagi dan kemudian menyerang tanpa mempedulikan bahaya. Tiba-tiba pemberontakan menjadi jauh lebih membahayakan kedudukan Belanda, dan baru mereda setelah para pemimpin serangan dari kaum beratip be`amal tewas tertembak. Dalam kasus ini tampak bahwa ada pemberontakan dulu, dan barulah kemudian tarekat dilibatkan.[12]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada zaman revolusi kita juga melihat fenomena yang sama. Banyak dari pemuda-pemuda yang siap berperang melawan Belanda ikut latihan silat dengan tenaga dalam. Di daerah Sukabumi, misalnya, Kiai Ahmad Sanusi sangat terkenal sebagai guru kekebalan dan silat &quot;sambatan&quot; (yaitu, murid-muridnya secara supranatural menguasai jurus-jurus yang tak pernah mereka pelajari). Banyak dari pemuda-pemuda yang aktif ikut dalam revolusi di daerah itu minta dibaiat olehnya.[13] Kartosuwirjo, pemimpin Darul Islam di Jawa barat, juga pernah belajar kekebalan dan silat gaib pada beberapa guru tarekat, antara lain Kiai Yusuf Tauziri.[14] Di Banten, Kiai Abdurrahim Maja, guru debus yang terkenal, memimpin sebuah lasykar Sabilillah yang konon kebal semuanya (tetapi kemudian gugur di Tangerang). Dari daerah lain kita mendengar cerita serupa.[15]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Tarekat sebagai jaringan sosial&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Ada satu ciri tarekat lagi yang tak boleh diabaikan dalam pembahasan mengenai tarekat dan politik. Amalan tarekat bisa saja dilakukan secara perseorangan, tetapi biasanya murid yang telah dibaiat akan tetap menjaga hubungan khusus dengan gurunya dan juga dengan sesama murid. Kalau tempat tinggal guru tidak terlalu jauh, para murid secara teratur ikut zikir bersama dan juga cenderung bergaul lebih banyak dengan sesama &quot;ikhwan&quot; daripada orang lain. Seorang syaikh besar biasanya punya beberapa orang wakil (khalifah, badal), dan melalui mereka ia bisa memimpin puluhan ribu murid yang tersebar secara luas. Jaringan syaikh-syaikh dengan wakil-wakil mereka merupakan suatu organisasi informal yang kadangkala sangat berpengaruh.&lt;br /&gt;
Contoh klasik dari tarekat sebagai jaringan pemersatu masyarakat adalah tarekat Sanusiyah di Libya. Orang Badui di sana terdiri dari sejumlah suku yang di antaranya terdapat banyak persaingan dan peperangan. Syaikh Muhammad al-Sanusi al-Kabir dan putranya al-Mahdi melantik banyak khalifah, yang biasanya mendirikan zawiyah di perbatasan antara wilayah dua atau tiga suku dan yang sengaja berusaha agar pengikutnya tidak terdiri dari satu suku saja. Ketika terjadi perlawanan terhadap penjajah Perancis dan Italia, guru-guru tarekatlah yang bisa mengkordinir dan mempersatukan semua suku Badui. Negara Libya modern merupakan hasil perjuangan tarekat Sanusiyah (dan syaikh tarekat Sanusiyah yang ke-empat, Sayyid Muhammad Idris, menjadi raja pertama negara Libya).[16]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Kurdistan - wilayah yang sekarang dibagi antara Turki, Irak dan Iran -  peranan pemersatu itu dimainkan oleh tarekat Naqsyabandiyah pada menghujung abad ke-19. Masyarakat Kurdi, seperti halnya masyarakat Badui, terdiri dari sejumlah suku (`asyirah) besar dan kecil. Dulu pernah ada kerajaan-kerajaan Kurdi yang mampu mengendalikan suku-suku dan pertentangan-pertentangannya, namun kerajaan-kerajaan Kurdi terakhir dibubarkan oleh negara Turki Usmani pada awal abad ke-19. Selama beberapa puluhan tahun tidak ada pemimpin Kurdi yang punya wibawa lebih luas daripada sukunya sendiri. Kekosongan itu mulai diisi oleh syaikh-syaikh tarekat. Mereka memang sudah ada sejak lama tetapi dalam situasi politik baru ini mereka mulai memainkan peranan baru. Mereka biasanya mempunyai pengikut dari berbagai suku, sehingga mereka sering menjadi perantara antara suku-suku dan wasit dalam konflik antarsuku. Pemberontakan-pemberontakan nasionalis Kurdi yang pertama, antara tahun 1880 dan 1925, hampir semua dipimpin oleh syaikh tarekat Naqsyabandiyah, karena hanya merekalah yang bisa mengkordinir suku-suku yang terus bersaing dan berkonflik.[17]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masyarakat Indonesia (sekurang-kurangnya sukubangsa besar seperti Jawa dan Sunda) tidak terdiri dari banyak suku yang saling bersaing seperti masyarakat Arab dan Kurdi, sehingga fenomena di atas tidak ditemui dalam bentuk yang sama di sini. Walau demikian, dalam beberapa pemberontakan antikolonial terlihat tarekat memainkan peranan kordinasi dan komunikasi yang mirip. Pemberontakan Banten 1888, yang cukup dikenal berkat kajian Sartono Kartodirdjo, menggambarkan peranan itu.[18] Dalam pemberontakan tersebut tarekat Qadiriyah wan Naqsyabandiyah berperan penting, walaupun khalifah-khalifahnya barangkali tidak bertindak sebagai perencana ataupun pemimpin. Syaikh Abdulkarim Banten, pemimpin utama tarekat ini, menetap di Makkah pada masa itu dan tidak ikut berpolitik. Seorang khalifahnya, Haji Marjuki, memang sangat anti-penjajah, dan pidato-pidatonya ikut memanaskan suasana. Tetapi dalam pemberontakan sendiri Haji Marjuki tidak memainkan peranan yang menonjol. Tarekat berperan sebagai jaringan komunikasi dan kordinasi antara para pemberontak. Sesama ikhwan saling mengenal dan saling mempercayai, dan itulah yang menyebabkan para anggota tarekat menjadi kelompok inti pemberontakan ini. (Di samping itu, tentunya para pemberontak meminta jimat-jimat dan amalan untuk kekebalan pada guru tarekat pada tingkat lokal).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jaringan tarekat, yang lebih luas daripada organisasi informal lainnya, tentu mempunyai potensi politik. Pada zaman kolonial, potensi itu berulang kali muncul dalam bentuk gerakan rakyat. Pada zaman merdeka potensi itu muncul dengan tujuan yang lain. Karena ketaatan para murid kepada syaikh mereka, para syaikh bisa menjanjikan ribuan, puluhan ribu suara menjelang pemilihan. Dengan demikian, seorang syaikh bisa merunding dengan partai-partai politik untuk mendapatkan imbalan yang cukup berarti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Turki, para tarekat sampai sekarang tetap terlarang, tetapi syaikh-syaikh belakangan ini terang-terangan memainkan peranan politik yang menonjol. Demokratisasi sistem politik Turki secara bertahap sejak tahun 1945 memberikan semangat baru kepada tarekat. Dalam istilah politik Turki, tarekat-tarekat merupakan &quot;gudang suara&quot;, dan semua partai memperebutkan gudang-gudang yang penuh suara itu. Dalam posisi tawar-menawar yang begitu kuat, para syaikh berhasil mendapatkan berbagai fasilitas. Beberapa syaikh, atau orang kepercayaan mereka, menjadi anggota parlemen, dan anakbuah-anakbuah mereka ditempatkan dalam jajaran birokrasi. Di berbagai daerah terdapat hubungan cukup erat antara syaikh dengan aparat pemerintahan yang saling menguntungkan. Secara demikian para syaikh dengan mudah memperjuangkan kepentingan-kepentingan pengikutnya dan mendapatkan berbagai jenis fasilitas untuk mereka (tender, pembangunan jalan atau saluran irigasi, listrik, pekerjaan, pendidikan,...). Perkembangan ini, tentu saja, memperkuat posisi syaikh dalam masyarakat, dan jumlah pengikut tarekat kelihatannya kini sedang naik drastis!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Indonesia, Golkar dan para partai politik juga sangat sadar akan potensi tarekat sebagai &quot;gudang suara&quot;. Potensi itu telah menjadi pokok perhatian luas ketika Kiai Musta&#39;in Romly, tokoh tarekat Qadiriyah wan Naqsyabandiyah, menyatakan dukungannya terhadap Golkar pada awal dasawarsa 1970-an. Pernyataan ini menimbulkan reaksi keras dari kiai-kiai lainnya, yang menganggapnya sebagai pengkhianatan terhadap NU (yang waktu itu belum &quot;kembali ke khitthah&quot;). Pesantren Tebuireng memelopori usaha &quot;penggembosan&quot; pengaruh Kiai Musta&#39;in. Sebagai hasil usaha ini, sebagain besar khalifah dan badalnya pindah kiblat kepada Kiai Adlan Ali, sehingga pada pemilu 1977 dan 1982 gudang suara besar itu dapat diserahkan kepada Ka&#39;bah ketimbang pohon Beringin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiai Musta&#39;in bukan guru tarekat pertama yang ikut dalam permainan politik di Indonesia. Pada awal masa kemerdekaan Syaikh Haji Jalaluddin Bukittinggi mendirikan Partai Politik Tharikat Islam (PPTI). Guru Naqsyabandiyah ini sebelumnya adalah anggota Perti tetapi meninggalkan partai itu karena suatu konflik dengan Syaikh Sulaiman Al-Rasuli. Dalam pemilu 1955 PPTI menang 35.000 suara di Sumatera Tengah (2,2%) dan 27.000 di Sumatera Utara (1,3%).[19] Selama dasawarsa berikut, PPTI berkembang terus dan mendirikan perwakilan di berbagai propinsi lainnya. Pada masa Demokrasi Terpimpin, Syaikh Jalaluddin menjadi pendukung presiden Sukarno yang sangat setia. Kelak untuk mengikuti tuntutan keadaan, partainya diubah menjadi ormas (1961), dan kepanjangan dari PPTI diubah pula menjadi Persatuan Pembela Tharikat Islam. Pada permulaan Orde Baru, PPTI masuk Golkar, dan pada tahun 1971 menganjurkan semua anggota dan simpatisannya untuk menusuk tanda gambar Beringin. Semenjak itu PPTI merupakan &quot;onderbouw&quot;nya Golkar untuk tarekat. Syaikh Haji Jalaluddin sendiri meninggal dunia pada tahun 1976; organisasinya (yang pada 1975 telah pecah menjadi dua, &quot;Pembela&quot; dan &quot;Pembina&quot; Tarekat) tetap berjalan tetapi tidak lagi mempunyai pemimpin karismatik sebanding Haji Jalaluddin. PPTI sekarang merupakan organisasi Golkar untuk tarekat daripada organisasi tarekat yang mendukung Golkar.[20]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Organisasi tarekat yang mempunyai massa besar adalah Jam`iyah Ahl Al-Thariqah Al-Mu`tabarah, yang didirikan pada tahun 1957. Anggotanya terutama terdiri dari kiai-kiai tarekat Jawa Timur dan Jawa Tengah, dan rata-rata adalah orang NU. Kiai Musta&#39;in pernah dipilih sebagai ketua organisasi ini, dan setelah penyeberangannya ke Golkar Jam`iyah ini juga pecah menjadi dua. Pada muktamar yang diadakan oleh kubu non-Golkar di Semarang pada tahun 1979, kata Al-Nahdhiyah ditambah kepada nama organisasi. Perpecahan di dalam Jam`iyah tidaklah berlangsung tajam; berbagai kiai tarekat tetap menjalin hubungan dengan kedua kubu. Namun terlihat bahwa Jam`iyah&#39;nya Kiai Musta&#39;in (almarhum) jauh lebih kecil daripada yang Nahdhiyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menarik sekali melihat bahwa ketika NU mengambil keputusan untuk meninggalkan politik praktis, justeru organisasi tarekat ini yang cenderung tetap mendukung PPP. Atau mungkin lebih tepat dikatakan bahwa Jam`iyah Ahl Al-Thariqah Al-Mu`tabarah Al-Nahdhiyah telah menjadi benteng terakhir untuk orang NU yang tetap ingin berpolitik. Kiai yang paling vokal menentang keputusan Situbondo, Syamsuri Badawi dari Tebuireng, memainkan peranan sentral dalam Jam`iyah (walaupun ia sebelumnya tidak dikenal sebagai guru tarekat). Dan politikus NU yang paling berpengalaman, Idham Chalid, aktif juga di Jam`iyah setelah ia digeser dari kepemimpinan NU pada muktamar Situbondo.[21]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Kata penutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Tarekat-tarekat di Indonesia beberapa tahun terakhir mengalami perkembangan pesat, baik di perkotaan maupun di pedesaan. Salah satu faktor penyebabnya adalah perubahan sosial yang terjadi, di mana proses modernisasi diiringi pula oleh memudarnya ikatan sosial tradisional, telah menimbulkan kekosongan emosional dan moral. Tarekat dan aliran mistisisme lain telah mampu memenuhi kebutuhan yang dirasakan orang banyak tersebut. Organisasi informal seperti itu menawarkan suasana emosional dan spiritual yang semakin sulit dicari dalam kehidupan sehari-hari. Di samping itu, proses depolitisasi Islam beberapa dasawarsa ini mendorong umat tidak lagi menaruh perhatian pada cita-cita politik Islam tetapi kepada pengalaman ruhani dan akhlaq pribadi. Perkembangan ini turut pula menambah popularitas tarekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun suburnya perkembangan tarekat untuk sebagian disebabkan oleh depolitisasi Islam, namun sebagai akibat potensi politik tarekat - dalam arti terbatas, tentunya - menjadi semakin nampak. Jumlah pengikut seorang guru tarekat rata-rata jauh lebih banyak daripada pengikut kiai lainnya, dan pengaruhnya terhadap pengikutnya lebih besar. Karena gudang suara yang digenggamnya, kiai tarekat mempunyai posisi tawar menawar (dengan aparat pemerintahan atau dengan partai politik) yang kuat. Peranan mantan politisi NU dalam Jam`iyah Ahl Al-Thariqah dapat dipandang sebagai salah satu gejala depolitisasi - tetapi juga sebagai indikasi potensi politik wadah-wadah kaum tarekat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[1] Syair ini diterbitkan oleh M.O. Woelders dalam bukunya Het Sultanaat Palembang 1811-1825 (&#39;s Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1975). Bait-bait yang dikutip terdapat pada hal. 195-6.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[2] Lihat M. Chatib Quzwain, Mengenal Allah: Suatu Studi mengenai Ajaran Tasawuf Syaikh &#39;Abdus-Samad al-Palimbani (Jakarta: Bulan Bintang, 1985), hal. 25-30.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[3] Quzwain, op.cit., hal. 16-17 dan 22-23.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[4] Uraian lebih lanjut mengenai kegiatan Syaikh Yusuf sebagai guru tarekat dan pemimpin gerilya dalam: Martin van Bruinessen, Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia (Bandung: Mizan, 1992), Bab 3; dan &quot;Tarekat Khalwatiyah di Sulawesi Selatan&quot;, dalam Martin van Bruinessen, Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat (Bandung: Mizan, 1994).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[5] Beberapa kajian &quot;berorientasi keamanan&quot; yang masih sering dikutip merupakan karangan pejabat Perancis di Afrika Utara: Louis Rinn, Marabouts et Khouan (Alger, 1884); A. Le Chatelier, Les Confréries du Hédjaz (Paris, 1887); O. Depont &amp;amp; X. Coppolani, Les Confréries Religieuses Musulmanes (Alger, 1897). Beberapa kajian Snouck Hurgronje, tentu saja, dibuat dengan orientasi sama walaupun lebih seimbang. Lihat E. Gobée &amp;amp; C. Adriaanse (ed), Ambtelijke Adviezen van C. Snouck Hurgronje, jilid II (&#39;s Gravenhage: Nijhoff, 1959), hal. 1182-1221 (terjemahan Indonesia akan diterbitkan dalam seri INIS). Kajian pejabat Belanda lainnya tentang tarekat dibahas dalam Van Bruinessen, Tarekat Naqsyabandiyah, Bab 1. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[6] Jo-Ann Gross, &quot;Multiple Roles and Perceptions of a Sufi Shaikh&quot;, dalam: Marc Gaborieau dkk. (ed), Naqshbandis: Historical Developments and Present Situation of a Muslim Mystical Order (Istanbul &amp;amp; Paris: Isis, 1990), hal. 109-121.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[7] Hamid Algar, &quot;Political aspects of Naqshbandi history&quot;, dalam Gaborieau dkk. (ed), Naqshbandis, hal. 123-52.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[8] Sayyid `Utsman bin `Aqil bin Yahya al-`Alawi, Arti thariqat dengan pendek bicaranya (Betawi, 1889), hal. 9.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[9] Lihat A.C. Milner, &quot;Islam and the Muslim State&quot;, dalam: M.B. Hooker (ed), Islam in South-East Asia (Leiden: Brill, 1983), hal. 23-49, khususnya 39-43.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[10] Lihat Pim Schoorl, &quot;Islam, macht en ontwikkeling in het sultanaat Buton&quot;, dalam: L.B. Venema (ed), Islam en macht (Assen, Belanda: Van Gorcum, 1987), hal. 52-65.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[11] Kitab-kitab ini, tentu saja, dikenal dan dipakai oleh kalangan luas di Indonesia. Ibn Qayyum menulis Al-Thibb Al-Nabawi, Jalaluddin al-Suyuthi Al-Rahmah fi Al-Tibb wa Al-Hikmah, Imam Ghazali Al-Aufaq. Kitab hikmah yang paling terkenal di sini adalah Syams Al-Ma`arif Al-Kubra&#39;nya Syaikh Ahmad al-Buni. Sebagian besar buku Mujarrabat telah meminjam bahan dari kitab tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[12] P.J. Veth, &quot;Het beratip beamal in Bandjermasin&quot;, Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië, seri 3 nomor 1 (1869), hal. 331-49. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[13] Diceritakan oleh beberapa bekas pejuang daerah itu. Lihat juga pengamatan seorang pemimpin pasukan revolusi di sana: Abu Hanifah, Tales of a Revolution (Sydney: Angus and Robertson, 1972), hal. 186. Kiai Ahmad Sanusi, menurut orang setempat, tidak pernah mengajarkan salah satu tarekat tertentu, tetapi ia pernah menulis versi Sunda Manaqib Syaikh Abdulqadir Jailani, dan ilmu kekebalannya barangkali berkaitan dengan tarekat Qadiriyah. Ia juga dikenal sebagai penerjemah Qur&#39;an dalam bahasa Sunda dan sebagai pendiri Persatuan Umat Islam Indonesia. Lihat Mohammad Iskandar, &quot;Kyai Haji Ajengan Ahmad Sanusi: Tokoh Kyai Tradisional Jawa Barat&quot;, Pesantren XXII, no. 2, 1993, hal. 71-86.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[14] Menurut beberapa sumber lisan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[15] Lihat juga kenang-kenangan zaman revolusi seorang anggota Korps Mahasiswa di Jawa Barat, Ir.H. Aten Suwandi, Di Bawah Lindungan Tuhan (tanpa tempat dan tahun terbit, 1984?), bab III: &quot;Latihan untuk kekebalan&quot;. Seperti halnya tarekat-tarekat, aliran-aliran kebatinan pada masa revolusi juga aktif dengan latihan kekebalan dan silat ber&quot;tenaga dalam&quot;. Lihat: Paul Stange, The Sumarah Movement in Javanese Mysticism (Disertasi, Universitas Wisconsin-Madison, 1980), bab 5.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[16] E.E. Evans-Pritchard, The Sanusi of Cyrenaica (Oxford University Press, 1949); Nicola A. Ziadeh, Sanusiyah, a Study of a Revivalist Movement in Islam (Leiden: Brill, 1958).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[17] Martin van Bruinessen, Agha, Shaikh and State, The Social and Political Structures of Kurdistan (London: Zed Books, 1992), bab 4: &quot;Shaikhs: Mystics, Saints and Politicians&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[18] Sartono Kartodirdjo, The Peasants&#39; Revolt of Banten in 1888 (&#39;s Gravenhage: Nijhoff, 1966). Lihat juga analisa saya tentang pemberontakan Lombok 1893 dalam Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[19] Alfian, Hasil Pemilihan Umum 1955 untuk Dewan Perwakilan Rakyat (Djakarta: LEKNAS, 1971). Di daerah tertentu persentase suara untuk PPTI lebih tinggi: 11% di Solok (Minangkabau) dan juga 11% di Tapanuli Selatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[20] Mengenai sejarah PPTI dan konflik-konflik internnya, lihat Djohan Effendi, &quot;PPTI: Eine konfliktreiche Tarekat-Organisation&quot;, dalam: Werner Kraus (ed), Islamische mystische Bruderschaften im heutigen Indonesien (Hamburg: Institut für Asienkunde, 1990), hal. 91-100.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[21] KH. Idham Chalid sebetulnya sejak pertengahan tahun 1970-an sudah duduk sebagai Mudir Aam Jam`iyah, tetapi tidak pernah aktif selama ia masih menjabat sebagai ketua umum NU.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
by :&lt;a href=&quot;http://www.let.uu.nl/%7Emartin.vanbruinessen/personal/publications/tarekat_dan_politik.htm&quot; target=&quot;blank&quot;&gt;&lt;input type=&quot;submit&quot; value=&quot;TAREKAT DAN POLITIK: AMALAN UNTUK DUNIA ATAU AKHERAT? 
Martin van Bruinessen
Dimuat dalam majalah Pesantren vol. IX no. 1 (1992), hal. 3-14.&quot; /&gt;&lt;/a&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/feeds/3749704744728108623/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/2010/08/tasawuf-jihad-dan-politik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/4681687974444904579/posts/default/3749704744728108623'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/4681687974444904579/posts/default/3749704744728108623'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/2010/08/tasawuf-jihad-dan-politik.html' title='Tasawuf, Jihad, dan Politik'/><author><name>Edi Sugianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14020089984610322057</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGzeexTJJ5-aiaE_2XnxpUrS2D0wSodFfxEARZ9eOUxR9Np3cagCLixSLzkhkGcUwvIUrBg2DituWXBx_GIbXRZzPlECBhFtxqcaVwaR26-gUrt36VprkAx0ni2qR3TQ/s80/Edi+icon+80px.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4681687974444904579.post-6434417214997265479</id><published>2010-08-12T00:35:00.003+07:00</published><updated>2010-08-13T05:54:10.926+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hawaiian&#39;s Magic"/><title type='text'>Kahuna &amp; Ho&#39;oponopono</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh_ULg3x2KMpPWd6b-MuscV3wcEgcm2r54goV3jL3RIgos69MsDrdn4Vs8E-OqR3Dv83Gc8v_NjDCVbZvMz1zGoPRKjnjCDsAsr-WlnNty25FPN9yZjPXv-q86GeeF1-Mr0vHwz8eWYUJ6a/s1600/liloetstitch.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh_ULg3x2KMpPWd6b-MuscV3wcEgcm2r54goV3jL3RIgos69MsDrdn4Vs8E-OqR3Dv83Gc8v_NjDCVbZvMz1zGoPRKjnjCDsAsr-WlnNty25FPN9yZjPXv-q86GeeF1-Mr0vHwz8eWYUJ6a/s320/liloetstitch.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dahulu kala di sebuah kepulauan Pasifik, ada para bijak yang menatap dunia, mengamati pola-pola alam, tingkah laku binatang dan tumbuh-tumbuhan, manusia, mereka sampai pada beberapa kesimpulan mengenai kehidupan, tentang apakah sebenarnya kehidupan itu, tentang bagaimana kehidupan ini berjalan. Mereka kemudian memberi nama pengetahuan baru ini, mereka menyebutnya Huna, Ka Huna, Rahasia, Pengetahuan Batiniah, pengetahuan tersembunyi.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dari pengetahuan ini, mereka mengembangkan tujuh gagasan, tujuh prinsip, inilah yang akan dibahas disini. Orang yang melakukan ini, orang yang mempraktekannya disebut Kapua, mungkin sekarang dapat disamakan dengan Dukun. Mereka mempunyai cara yang sangat khas dalam memandang kehidupan ini.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;1. &lt;b&gt;Ike&lt;/b&gt; -&lt;i&gt;gagasan kita menciptakan realitas kita.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;2. &lt;b&gt;Kala&lt;/b&gt; – &lt;i&gt;tidak ada batas&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;3. &lt;b&gt;Makia&lt;/b&gt; – &lt;i&gt;energi mengalir kemana pikiran tertuju&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;4. &lt;b&gt;Manawa&lt;/b&gt; – &lt;i&gt;sekarang inilah saatnya&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;5. &lt;b&gt;Aloha &lt;/b&gt;– &lt;i&gt;mencinta adalah berbahagia bersamanya&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;6. &lt;b&gt;Mana&lt;/b&gt; – &lt;i&gt;semua daya datang dari dalam diri kita&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;7. &lt;b&gt;Pono&lt;/b&gt; – &lt;i&gt;ukuran kebenaran adalah keefektifannya.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sekarang mari kita jabarkan gagasan pertama;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;Prinsip Pertama :&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; IKE&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pada saat ini bisa dikatakan: &lt;i&gt;dunia adalah seperti apa yang kita pikirkan&lt;/i&gt;, kehidupan kita adalah mimpi, mimpi yang kita bagikan juga pada orang lain, yang kita bagikan kepada dunia yang kita sebut dengan kenyataan, muncul dari dalam, muncul dari pikiran kita, gagasan kita, keyakinan kita dan kesenangan kita. Semua hal yang kita pikirkan menghasilkan pengalaman yang kita alami. Bahwa dari malam muncul siang hari, dari pikiran muncul kenyataan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bila kita ingin merubah kenyataan ini, maka kita harus merubah diri kita sendiri. Merupakan pemborosan energi mengubah dunia luar seorang diri, tetapi kalau kita benar-benar ingin mengubah dunia luar, kita harus masuk kedalam diri kita dan menemukan tempat didalam diri kita yang menciptakan dunia luar, ubahlah itu. Ubahlah gagasan itu, ubahlah keyakinan akan kekurangan menjadi keyakinan akan kemakmuran. Ini adalah Ike, bekerja dari dalam untuk menciptakan perubahan diluar. Ini adalah gagasan yang terpenting, dan semua gagasan yang akan kita bahas kemudian berpangkal dari gagasan pertama ini.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;Prinsip Kedua :&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; KALA&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kala, seperti yang sudah disebutkan, &lt;i&gt;tanpa batas&lt;/i&gt;. Berarti kita semua saling terhubung, masing-masing diri kita terhubung satu dengan yang lain, pikiran dan tubuh, roh dan manusia, bumi dan tumbuhan juga binatang dengan awan dan langit dengan samudera. Kita semua adalah satu, kita semua saling terhubung.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kala juga mengatakan bahwa perpecahan adalah ilusi, tetapi karena kita dapat menciptakan realitas kita sendiri dengan pikiran kita, kadang-kadang kita menciptakan pengertian, keyakinan dan perpecahan dan karena kita yakin kita berpisah, kita menciptakan penyakit. Ketika pikiran terpisah dari tubuh, kita berpikir bahwa keduanya terpisah, dengan cara itu kita menciptakan penyakit. Ketika tubuh kita, diri kita terpisah dari orang-orang disekitar kita, ketika kita menciptakan perpisahan seperti itu didalam pikiran kita dan perasaan kita, maka terdapat penyakit didalam hubungan kita. Ketika kita merasa terpisah dari bumi, karena bumi adalah sesuatu diluar diri kita, maka kita menjadi sakit, begitu pula dengan bumi. Tetapi kala mengatakan bahwa sebenarnya dibawah semua pikiran tentang perpisahan, ada kesatuan yang sebenarnya. Dan kita dapat membuang semua gagasan, perasaan dan tindakan, tingkah laku dan pikiran mengenai perpisahan, kesatuan itu muncul bersama-sama. Hubungan itu tercipta lagi, kita menjadi sehat dan utuh didalam diri kita dan dengan dunia disekita kita. Ini adalah kala, ini adalah cara menciptakan hubungan lagi, sebuah pembebasan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Mungkin anda pernah melihatnya di Hawaii, sebagai sebuah isyarat, orang mengatakan ‘gantungkanlah dengan longgar!’ Maksudnya sangat jelas, ini berarti bahwa kalau anda terikat kuat pada sesuatu, ketika anda menciptakan tekanan, berarti anda menciptakan perpisahan, kalau anda kendor, ketika anda santai, ketika anda membiarkan sesuatu mengalir, anda bertambah sehat, hubungan dengan segala sesuatu menjadi lebih baik, dan suatu hal yang menarik terjadi, ketika anda santai dan segala sesuatu mengalir, akan lebih mudah diubah. Kala tidak mengatakan bahwa anda harus menerima sesuatu seperti apa adanya, selamanya, tanpa perubahan; kalau anda santai, anda dapat lebih mudah mengubahnya. Itulah Kala.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;Prinsip Ketiga :&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&amp;nbsp; MAKIA&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Makia, &lt;i&gt;energi mengalir kemana pikiran tertuju.&lt;/i&gt; Manakala ada aliran energi dan perhatian, suatu peristiwa akan terjadi. Manakala anda mengarahkan perhatian anda, dan tetap memperhatikan dengan cara itu kesebuah objek atau gagasan, maka aliran energi akan membawanya. Dan berdasarkan sifat pikiran anda yang seperti itulah aliran balik energi yang akan anda terima. Jadi kalau anda berpikir secara positif mengenai dunia disekitar anda, maka energi positif akan mengalir kembali. Tetapi bila anda mengeluarkan pikiran negatif tentang dunia disekitar anda, maka akibat negatiflah yang akan anda alami. Bila anda menaruh pemikiran mengenai kelimpahan, dan menjaganya dengan konsisten, maka kelimpahan akan mengalir kedalam kehidupan anda.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kalau anda berpikir tentang kebahagiaan dan kegembiraan secara konsisten, maka kegembiraan dan kebahagiaan mengalir kembali kedalam kehidupan anda. Dan bila anda terpaku pada kekhawatiran dan kemarahan, maka kehidupan anda akan berisi dengan kekhawatiran dan kemarahan. Kalau anda terpusat pada kekerasan, kekecewaan dan penyakit, maka kekerasan, kekecewaan dan penyakitlah yang mengalir dalam hidup anda.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Anda mempunyai kemampuan, kemahiran yang mencengangkan, disebutkan dalam ilmu pengetahuan ini, perihal memutuskan bagaimana anda akan memusatkan pikiran anda, energi anda, perhatian anda, sehingga dengan demikian merubah apa yang mengalir kembali kedalam kehidupan anda. Kesemua prinsip dari ilmu pengetahuan ini, mulai dari yang pertama, mengajari anda bagaimana melakukan perubahan dari dalam sehingga akan membuat perubahan di luar.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;Prinsip keempat :&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; MANAWA&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Manawa adalah gagasan bahwa &lt;i&gt;saat ini adalah saat kekuatan atau daya&lt;/i&gt;. Saat ini, disini, bahwa tidak ada daya dimasa lampau, tidak ada daya dimasa mendatang, bahwa masa lalu tidak mempunyai kekuatan atas diri anda, bahwa anda adalah orang yang mempunyai kekuatan pada saat ini untuk mengubah apa yang anda pikirkan, dan kemudian, masa lampau dan pengaruh masa lampau, akan gagal menahan anda. Dari waktu ke waktu anda berjalan maju menempuh kehidupan dengan gagasan tentang diri anda sendiri dan tentang masa lampau, dan gagasan itulah, yang menciptakan realitas anda. Bila kehidupan anda penuh keindahan seperti yang dimiliki kepulauan Hawaii, maka anda menciptakan keindahan itu sekarang. Anda meningkatkan keindahan itu dengan menikmati dan menghargai keindahan itu sekarang. Bila anda berhenti menghargainya, bila anda mulai kehilangan rasa keindahan itu, maka tanah yang penuh keindahan ini juga akan kehilangan keindahannya, seperti yang terjadi di berbagai tempat di bumi kita ini. Tetapi semakin anda menghargai dan menikmatinya, anda semakin menguatkannya, anda semakin meningkatkannya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jadi bukannya akan menjadi apa diri anda nanti, tetapi apakah diri anda sekarang, inilah yang memciptakan apa yang anda punyai nanti pada saatnya, dan nanti, tidak terletak dihadapan anda, menanti anda bergerak maju dan membenturnya. Masa yang akan datang diciptakan pada saat sekarang ini oleh benih pikiran yang anda rencanakan saat ini. Kadang kala kita mempunyai rumput liar masa lampau, tetapi sekarang kita bisa mencabutnya, kemudian menanamkan benih baru dan menciptakan masa depan yang baru. Ketika kita terus berjalan, benih baru sudah tertanam, dan kalau suatu saat kita memutuskan untuk tidak menyukai apa yang akan dihasilkan oleh benih ini, maka setiap saat kita dapat mencabutnya dan menanam benih yang baru yang lain lagi.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;Prinsip kelima :&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; ALOHA&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Satu gagasan yang paling menakjubkan dari ilmu pengetahuan ini adalah Aloha. Aloha yang seringkali diartikan dengan Halo atau selamat berpisah. Kita membicarakan Aloha yang begitu sering digunakan sehubungan dengan persahabatan, tetapi sebenarnya jauh lebih dari itu, lebih dari persahabatan, lebih dari halo dan selamat berpisah, &lt;b&gt;Aloha&lt;/b&gt; berarti &lt;i&gt;cinta, murni dan sederhana&lt;/i&gt;, ini adalah arti sebenarnya dari kata indah itu, cinta.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dan bahkan lebih mendalam lagi adalah menjadi bahagia. Berbahagia bersama sesuatu atau seseorang, ini adalah sebuah temuan yang sangat istimewa, rahasia yang paling mengagumkan dari ilmu pengetahuan yang ditemukan oleh masyarakat Hawaii, bahwa mencinta adalah berbahagia bersama diri anda sendiri, bersama orang lain, dengan alam disekitar anda, anda jatuh cinta, dan cinta harus dinyatakan, dan cinta selalu mengalir. Tetapi pada saat mengkritik, marah, merasa tidak senang, tidak menyukai orang disekitar anda, anda mengurangi cinta. Jadi karena cinta tidak berurusan dengan rasa sakit, cinta tidak berurusan dengan menyakiti orang lain atau merasa disakiti. Cinta adalah kebahagiaan, kegembiraan, persahabatan dan kesenangan dalam setiap hubungan, karena cinta adalah berbahagia bersamanya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;Prinsip keenam :&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; MANA&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Mana adalah sebuah kata yang sering kali disalah artikan, dianggap hanya mempunyai satu arti; energi, tetapi sebenarnya &lt;b&gt;Mana&lt;/b&gt; adalah &lt;i&gt;sebuah gagasan yang berarti daya, kekuatan Illahi, kekuatan kreatif.&lt;/i&gt; Konsep Mana adalah adanya satu sumber dari segala kekuatan, sumber itu mengalir melalui masing-masing diri kita. Tidak hanya melalui kita sebagai makhluk hidup, tetapi melalui bumi sendiri, melalui setiap batu, setiap pohon, setiap awan. Mana adalah kekuatan batin yang memberi segala sesuatu kreatifitas.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Mana adalah kekuatan gelombang laut yang bergulung menuju pantai, mana adalah kekuatan angin yang mendukung awan dan burung-burung, Mana adalah kekuatan bebatuan yang kuat dan seimbang, Mana adalah kekuatan manusia untuk menjadi kreatif, dengan cara mereka sendiri yang unik. Mana adalah sumber kekuatan yang berasal dari luar diri kita yang melampaui kekuatan kita.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Semua keberadaan kita berasal dari sumber yang sama, ketika kita berpikir bahwa segala sesuatu itu mempunyai kekuatan, apakah itu alam, apakah itu orang lain, apakah itu roh, apakah itu yang kita sangka mempunyai kekuatan melebihi hidup yang sedang kita jalani, semua yang sedang kita lakukan, menurut ilmu pengetahuan ini, mengurangi kekuatan kita sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Mana adalah kekuatan untuk melakukan sesuatu, untuk menjadi kreatif. Mana adalah kekuatan didalam setiap benda, didalam setiap orang, dan menjadi dirinya sendiri yang paling potensial. Semakin kita membiarkan diri kita merasakan kekuatan itu, menggunakannya, merasa berhak atasnya, maka kita memiliki kekuatan untuk membuat diri kita menemukan potensinya yang paling tinggi.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;Prinsip ketujuh :&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; PONO&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Disini dikatakan bahwa &lt;i&gt;ukuran kebenaran adalah efektifitasnya&lt;/i&gt;, selalu ada cara lain untuk melakukan segala sesuatu, kita tidak pernah benar-benar tergantung pada suatu cara, tidak ada sebuah cara untuk segala sesuatu, tidak hanya ada satu kebenaran, tidak hanya ada satu metoda, satu teknik, satu jenis obat, satu cara untuk menyembuhkan, satu cara agar bahagia, tidak hanya ada satu orang saja yang bisa membuat kita bahagia. Ada sangat banyak sekali cara untuk mencapai tujuan kita, untuk menjadi bahagia, menikmati hidup. Ini yang disebut Pono. Selalu ada jalan lain untuk melakukan sesuatu.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Gagasan ini kemudian diikuti oleh prinsip bahwa rencana kita bukanlah sesuatu yang keramat. Tujuan kita mungkin saja keramat, tetapi cara mencapainya tidak. Bila kita ingin mencapai suatu tujuan, bagaimanapun anda harus menggunakan cara yang sesuai dengan tujuan tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bila kita ingin menciptakan kedamaian, maka anda harus menciapainya dengan cara yang penuh kedamaian. Karena anda tidak akan pernah memperoleh kedamaian dengan cara kekerasan, dengan kekerasan anda hanya akan memperoleh kekerasan yang lebih parah, sampai nanti suatu saat orang akan bosan dengan kekerasan lalu bersatu dan menggunakan cara yang penuh kedamaian untuk mencapai perdamaian. Tetapi bila kita memulai kedamaian itu didalam diri kita, maka kita akan menuju kedamaian didalam kehidupan kita, ini adalah benar-benar merupakan suatu kebenaran yang praktis. Cara hidup yang praktis, berdamai dengan diri kita sendiri, dan dengan orang lain.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ini semua adalah prinsip-prinsip ilmu pengetahuan yang telah dipraktekkan oleh Kapua, ilmu ini disebut Kahuna, ilmu yang berasal dari kepualauan di Pasifik. Ilmu kebijaksanaan untuk dibagikan kepada yang menghendaki, bila anda ingin mempergunakannya, ambil bagian mana saja yang anda sukai, ambil dan pergunakanlah dalam kehidupan anda. Aloha.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;HO’OPONOPONO&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Proses pengampunan yang paling kuat yang dapat ditemui adalah Ho’oponopono. Secara sederhana, Ho’oponopono berarti ‘&lt;i&gt;membuat sesuatu menjadi benar’ atau ‘memperbaiki suatu kesalahan’,&lt;/i&gt; menurut orang Hawaii kuno, kesalahan berasal dari pikiran yang dinodai oleh ingatan masa lalu yang menyakitkan. Ho’oponopono menawarkan suatu cara untuk melepaskan energi pikiran yang menyakitkan atau kesalahan yang menyebabkan ketidak seimbangan dan penyakit.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Orang Hawaii kuno, psikolog dan psikiater ternama, menambahkan sebuah pendekatan psiko-spiritual unutk membuka kekuatan pikiran yang sangat kuat yang disebut Ho’oponopono. Mereka menggunakan pendekatan dinamis ini untuk melepaskan pengaruh negatif dari tindakan masa lalu dan masa kini dalam hidup dengan membersihkan secara spiritual, mental dan fisik melalui proses pertobatan, pengampunan dan transmutasi.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;Ho’oponopono&lt;/b&gt; merupakan bagian yang tak terpisahkan dari filsafat dan cara hidup mereka. Proses ini menembus setiap jaringan keberadaan mereka – hubungan keluarga dan kegiatan mereka, pendidikan dan pelatihan anak-anak, nilai-nilai sosial, interaksi dan hubungan mereka dengan alam dan kosmos.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Huna adalah istilah Hawaii yang berarti “Tersembunyi” dan berhubungan dengan filsafat dan metoda yang dipergunakan oleh para mistik dan penyembuh sebelum zaman kristen Hawaii. Berasal dari akar kata bahasa Hawaii kuno “Ho’omana mana” yang berarti “menciptakan daya hidup”.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Perjalanan spiritual&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;Ohana &lt;/b&gt;adalah bahasa Hawaii untuk &lt;b&gt;komunitas&lt;/b&gt;, biasanya dihubungkan dengan sebuah komunitas pedesaan. Orang Hawaii jaman dahulu mengembangkan ritual mistik dan teknik penyembuhan untuk kesehatan dan keharmonisan Ohana mereka. Disini akan digambarkan kehidupan sebuah Ohana, tetapi mula-mula, santailah, tarik nafas dalam-dalam, bayangkan Anda berada disuatu zaman dan tempat yang berbeda – bayangkan anda berada di masa lalu – bertahun-tahun yang lampau – disebuah desa kecil di Hawaii, Di mana kita hidup bersama didalam sebuah komunitas kecil, dikelilingi oleh suasana misterius dan samudera yang tanpa batas. Kita telah saling mengenal sejak lahir, dan kebanyakan dari kita adalah kerabat. Kita yakin bahwa kita berasal dari dewa yang sama, kita saling mengetahui kemampuan kita masing-masing didalam Ohana kita, juga kita tahu kesulitan-kesulitan dan persoalan mereka. Tujuan utama kita adalah hidup dalam keharmonisan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;Kebijaksanaan dasar kita adalah Aloha&lt;/b&gt;, yang secara harafiah berarti &lt;b&gt;“kami saling berbagi nafas kehidupan”&lt;/b&gt; – dan kita saling berbagi dalam segala hal. Termasuk dalam Aloha adalah menerima dan menghargai setiap orang dalam komunitas, saling memaafkan (kala) merupakan bagian penting dalam ritual kita sehari-hari.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kita menghormati dan berterima kasih kepada leluhur kita (kupuna), kepada dewa-dewa kita (akua) dan kepada roh pelindung (aumakua) kita atas apa yang telah kita nikmati. Masing-masing kita mempunyai roh pelindung dan setiap roh pelindung merupakan bagian dari roh pelindung Ohana (Po’e aumakua) yang melindungi komunitas dan lingkungan kita.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kadang-kadang kita memohon bantuan pada para leluhur atau roh pelindung, dan mereka seringkali mengunjungi kita dalam mimpi, kita mempunyai para tetua yang bijaksana (kahuna) untuk membantu dan membimbing kita. Kita mendambakan keharmonisan diantara kita sendiri, dengan alam, dengan suku tetangga, dan dengan dunia roh. Pemimpin kita (Ali’i) adalah prajurit yang paling bijaksana dan paling berani, mereka mewakili stabilitas dan ketertiban dalam Ohana kita.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kehidupan sehari-hari kita adalah agama kita, jadi kita menggunakan berbagai ritual untuk melindungi dan menolong diri kita. Kita penuh kehati-hatian agar tidak mengganggu roh-roh, sebaliknya kita berusaha menyenangkannya. Para tetua kita membantu kita dengan memberitahukan mana yang benar dan apa yang dilarang (kapu). Kami membutuhkan energi kehidupan (mana) untuk semua kegiatan, kita menciptakan energi kehidupan ini (ho’o mana) dengan hidup benar. Kita menggunakan upacara khusus untuk mendapatkan energi tertinggi (Ho’omana mana), untuk tugas khusus menyembuhkan dan kekuatan, dengan bimbingan para tetua kita.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kita menghormati tetua kita sebagai pengawal kebijaksanaan kita dan sebagai guru anak-anak kita, dan kita harus dengan teliti mempelajarinya. Para tetua kita juga akan memilih anak-anak kita sesuai dengan bakat khusus mereka untuk dilatih menjadi ahli Kahuna.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kami membuat kebutuhan kita sehari-hari, atau berdagang untuk memperolehnya, tetapi kami membuat Canoe dan rumah dengan gotong royong. Kami sering berburu dan bekerja bersama-sama, dan kami dapat berkomunikasi tanpa kata-kata dengan baik. Kami sangat peka terhadap detail dan mengetahui siapa yang berada disuatu tempat atau kalau ada orang asing lewat. Navigator kahuna kita mengenal setiap bintang dan hal-hal baru lainnya, pada malam yang berawan, jauh ditengah lautan, mereka dapat memandu hanya dengan mengecap air laut. Adanya suatu penyakit menandakan ketidakseimbangan di Ohana kita, mungkin orang yang menderita sakit ini telah menyakiti hati seorang anggota keluarga, seorang leluhur atau roh. Kita menyembuhkan penyakit dengan ramuan tumbuh-tumbuhan dan upacara pengampunan (ho’oponopono) dan pengetahuan terpendam (huna) dari ahli penyembuh kami. Kami ingin diterima dan dihargai oleh anggota Ohana lainnya. Bila kami mengundang anda kedalam Ohana kami, kami mempunyai beberapa peraturan sederhana; jangan menghina seorangpun tetapi hormatilah tradisi kami. Jangan melanggar tabu kami, tetapi ikutilah ritual kami. Jangan membuat roh menjadi marah, tetapi bekerja samalah dengan kami dengan harmonis satu dengan yang lain, dan tentu saja dalam keseimbangan dengan alam.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kami yakin bahwa kami adalah manusia sejati. Anda beradab, dan mungkin bagi anda kami hanyalah manusia biadab yang bodoh, tetapi kami dapat mengajar anda bagaimana hidup dengan harmonis dengan orang lain dan bagaimana anda memperoleh keseimbangan dengan alam dan dengan semesta. Memang jumlah kami tinggal sedikit, karena banyak dari kami telah tersesat kedalam penyakit akal budi, tubuh dan roh yang menyertai peradaban anda. Kami sangat lelah – dan kami hampir punah, memang menyedihkan, karena planet kami membutuhkan cinta dan hormat kami. Kami berjuang agar tetap hidup didalam dunia yang terpencil yang tidak anda kehendaki, tetapi mungkin anda dapat membantu kami untuk pulih kembali.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pusaka kami adalah keharmonisan dan keseimbangan, pusaka anda adalah teknologi dan informasi, dapatkah anda memikirkan untuk menyelaraskannya dengan cara mencintai kehidupan dan makhluk hidup yang ada didunia ini? Mungkin kita dapat belajar hidup berdampingan untuk menciptakan Ohana Global, sekarang belumlah terlambat….&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Source :&lt;a href=&quot;http://pranaindonesia.wordpress.com/artikel-2/penyembuhan-dan-ohana/#comment-1230&quot; target=&quot;blank&quot;&gt;&lt;input type=&quot;submit&quot; value=&quot;Yayasan Prana Nasional Indonesia&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;CENTER&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;http://www.ziddu.com/download/11188148/HawaiansMagic.docx.html&quot; target=&quot;blank&quot;&gt;&lt;input type=&quot;submit&quot; value=&quot;DOWNLOAD ARSIP LENGKAP KAHUNA &amp; HO&#39;OPONOPO WORDSFILE&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;http://www.ziddu.com/download/11188147/HawaiansMagic.pdf.html&quot; target=&quot;blank&quot;&gt;&lt;input type=&quot;submit&quot; value=&quot;DOWNLOAD ARSIP LENGKAP KAHUNA &amp; HO&#39;OPONOPO pdfFILE&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/CENTER&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/feeds/6434417214997265479/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/2010/08/kahuna-hooponono.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/4681687974444904579/posts/default/6434417214997265479'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/4681687974444904579/posts/default/6434417214997265479'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/2010/08/kahuna-hooponono.html' title='Kahuna &amp; Ho&#39;oponopono'/><author><name>Edi Sugianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14020089984610322057</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGzeexTJJ5-aiaE_2XnxpUrS2D0wSodFfxEARZ9eOUxR9Np3cagCLixSLzkhkGcUwvIUrBg2DituWXBx_GIbXRZzPlECBhFtxqcaVwaR26-gUrt36VprkAx0ni2qR3TQ/s80/Edi+icon+80px.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh_ULg3x2KMpPWd6b-MuscV3wcEgcm2r54goV3jL3RIgos69MsDrdn4Vs8E-OqR3Dv83Gc8v_NjDCVbZvMz1zGoPRKjnjCDsAsr-WlnNty25FPN9yZjPXv-q86GeeF1-Mr0vHwz8eWYUJ6a/s72-c/liloetstitch.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4681687974444904579.post-5235129853842235227</id><published>2010-08-10T21:19:00.003+07:00</published><updated>2010-08-10T21:47:57.992+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Mind Set"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tasawuf"/><title type='text'>Struktur Insan Dalam Pandangan Qur’aniyah</title><content type='html'>Oleh Zamzam A. Jamaluddin T dan Tri Boedi Hermawan, Yayasan Paramartha&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Terbatasnya pengetahuan para teoritikus kepribadian Barat tentang struktur internal manusia telah melahirkan banyak mazhab kepribadian. Kerangka keilmiahan telah membatasi mereka dalam proses analisis dan sintesis konsepsi kepribadian manusia seutuhnya. Carl Gustav Jung melakukan terobosan dalam membangun psikologi analitiknya, ia melibatkan data-data mitologi dan simbol-simbol agama ke dalam kerangka analisis ilmiahnya. Dalam alur ini, Kecerdasan Spiritual (SQ) dalam proses perumusannya tidak sekadar meninjau keparalelan antara produk saintifik Barat dengan fenomena mistik Timur, tapi tampak memaksakan melakukan interpretasi atas fenomena metafisik spiritual secara fisika dan sains neural, dan ini melahirkan sejumlah paradoks. Paper ini membahas tentang struktur internal manusia berdasarkan kerangka acuan Al-Qur’an, kemudian akan dilihat persoalan apa yang tersentuh oleh konsepsi individuasi Jung dan status SQ dalam peta ini.&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;1. Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;margin: 5px 20px 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;margin-bottom: 2px;&quot;&gt;&lt;input onclick=&quot;if 
(this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName(&#39;div&#39;)[1].getElementsByTagName(&#39;div&#39;)[0].style.display
 != &#39;&#39;) { 
this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName(&#39;div&#39;)[1].getElementsByTagName(&#39;div&#39;)[0].style.display
 = &#39;&#39;;        this.innerText = &#39;&#39;; this.value = &#39;TUTUP&#39;; } else { 
this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName(&#39;div&#39;)[1].getElementsByTagName(&#39;div&#39;)[0].style.display
 = &#39;none&#39;; this.innerText = &#39;&#39;; this.value = &#39;LIHAT LAGI&#39;; }&quot; style=&quot;font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: 125px;&quot; type=&quot;button&quot; value=&quot;LIHAT&quot; /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;border: 1px inset; margin: 0px; padding: 6px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;display: none;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Terumuskannya sejumlah teori kepribadian merupakan cermin dari upaya ilmiah manusia untuk memahami dirinya sendiri secara menyeluruh. Dewasa ini dikenal tiga teori utama yang satu dengan yang lainnya berbeda, yakni teori kepribadian Psikoanalisa (Freud), teori kepribadian Behaviorisme (Skinner), dan teori kepribadian Humanistik (Maslow)[1]. Istilah kepribadian (personality) memiliki banyak arti, ini disebabkan oleh adanya perbedaan dalam penyusunan teori, penelitian, dan pengukurannya. Di antara para psikolog belum ada kesepakatan tentang arti dan definisi “kepribadian”, sehingga banyaknya definisi kepribadian sebanyak ahli yang mencoba merumuskannya. Melihat asal katanya, personality itu sendiri berasal dari kata latin persona yang berarti topeng.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Setiap penggagas kepribadian mengajukan asumsi-asumsi dasar tertentu tentang manusia, yang kemudian hipotesis-hipotesis tersebut mempengaruhi konstruksi dan isi dari teori kepribadian yang disusunnya. &lt;b&gt;Abraham Harold Maslow&lt;/b&gt; (1908-1970) &lt;i&gt;memperlihatkan komitmen yang tinggi terhadap anggapan dasar tentang manusia sebagai makhluk bebas&lt;/i&gt;, sementara &lt;b&gt;Sigmund Freud&lt;/b&gt; (1856-1939) dan B&lt;b&gt;urrhus Frederic Skinner&lt;/b&gt; (1904-1990) sebagai penganut determinisme berlawanan dengan Maslow, mereka berasumsi bahwa &lt;i&gt;manusia bukanlah makhluk yang bebas melainkan organisme yang tingkah lakunya dideterminasi oleh sejumlah determinan.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Freud menyatakan bahwa determinan manusia berasal dari dalam diri manusia itu sendiri (faktor internal), sementara Skinner menyatakan bahwa faktor-faktor penentu tersebut berasal dari stimulus-stimulus eksternal. Maslow berpendapat bahwa manusia itu makhluk rasional, sementara Freud berpegang pada anggapan dasar bahwa manusia merupakan makhluk yang cenderung irasional, dimana sebagian besar dari tingkah laku manusia didorong oleh kekuatan-kekuatan irasional yang tidak disadari; Skinner dalam hal ini tidak begitu terikat pada hipotesis rasional-irasional.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tentang motivasi, rumusan Freud bertumpu pada konsep homeostatis, yaitu suatu konsep yang diilhami oleh gagasan kesetimbangan (equilibrium) fisis Leibniz, ia menerangkan bahwa tingkah laku manusia terutama dimotivasi oleh upaya pengurangan tegangan-tegangan internal (memuncaknya energi naluri/insting dari id) yang terjadi akibat ketidakseimbangan fisis. Dalam hal ini Skinner berpendapat bahwa tingkah laku manusia tidak digerakkan oleh agen-agen internal yang disebut naluri, melainkan ditentukan oleh kekuatan-kekuatan eksternal. Freud dengan psikoanalisanya percaya bahwa misteri manusia akan bisa diungkap seluruhnya melalui upaya-upaya ilmiah, karena pada dasarnya tubuh manusia mengikuti hukum-hukum fisika; Skinner dan segenap behavioris memiliki anggapan yang sama dengan Freud. Berlawanan dengan pandangan di atas, Maslow sepaham dengan &lt;b&gt;William James&lt;/b&gt; (1842-1910), seorang filsuf dan tokoh psikologi terkemuka Amerika, bahwa&lt;i&gt; manusia tidak akan bisa diungkap sepenuhnya hanya melalui upaya-upaya ilmiah.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pelibatan aspek ketaksadaran (unconsciousness) dalam psikoanalisa telah menarik minat &lt;b&gt;Carl Gustav Jung&lt;/b&gt; (1875-1961) untuk bergabung dengan Freud. Mengikuti alur Freud, konstruksi dasar psikologi Jung juga sangat dipengaruhi oleh perkembangan sains dan filsafat Abad ke-19, seperti teori Evolusi Darwin, temuan-temuan arkeologis, dan studi komparatif tentang masyarakat dari budaya-budaya yang berbeda. Tetapi kemudian terjadi pertentangan mendasar antara kedua tokoh besar tersebut. Jung menolak penekanan Freud yang meletakkan dorongan seksual manusia di atas kebutuhannya terhadap makanan, kehidupan spiritual, atau pengalaman-pengalaman religius tertentu. Dia juga tidak sependapat dengan pandangan mekanistik Freud tentang dunia; bagi Jung, karekter manusia tidak hanya dikondisikan oleh apa-apa yang telah terjadi di masa lampau, tapi juga dipengaruhi oleh visi-visi masa depan. Adapun Freud tidak setuju dengan konsepsi Jung tentang collective unconscious, teori ini bertumpu pada pandangan phylogenetic tentang pengalaman-pengalaman masa lampau dari ras manusia yang diwariskan secara individual melalui memory traces.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Teori kepribadian Freud dan Jung mencakup seluruh aspek sadar dan tak sadar dalam diri manusia, untuk membedakan teorinya dengan &lt;b&gt;psikoanalisa&lt;/b&gt; Freud, maka Jung menamai teori kepribadiannya dengan istilah &lt;b&gt;psikologi analitik&lt;/b&gt;. Individuasi (realisasi diri) merupakan inti ajaran Jung, berkaitan dengan pergeseran titik pusat kesadaran dari ego ke self, dimana gagasan ini dibangun Jung secara transpersonal berdasarkan studi atas simbol-simbol mitologis dan simbol-simbol religius agama Barat maupun Timur. Dengan data-data tersebut, Jung berupaya mencari hubungan antara isi ketaksadaran dalam diri manusia di Barat dengan mite-mite dan ritus-ritus manusia primitif.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam teori Jung, ketika konstruk ego yang terbangun mulai menyadari eksisnya sesuatu selain dirinya yang bersifat irasional, terjadilah konflik batin. Meningkatnya “entropi” psikis di ruang sadar akan direspon oleh permukaan subconscious, dan terjadilah aliran energi psikis (libido), yang arahnya ditentukan oleh prinsip ekivalensi “termodinamika”. Respon dari ‘lautan’ ketaksadaran akan menampakkan diri di level sadar umumnya berbentuk simbol-simbol &lt;b&gt;mandala&lt;/b&gt;, yang pada prinsipnya membawa pesan tentang arah dari tertib diri. Dalam praktek klinisnya, Jung melihat bahwa bagian tak-sadar bukan saja bersifat komplementasi (saling melengkapi), tetapi juga kompensasi (saling mengimbangi). Menurut Jung, proses individuasi ini disebabkan oleh potensi-potensi asli yang mengarah pada tujuan tertentu, menuju ke suatu keutuhan psikis yang lebih kokoh. Energi psikis yang terarah pada suatu tujuan tertentu yang bersifat “final” ini mirip dengan pandangan teleologi &lt;b&gt;Aristoteles&lt;/b&gt; (384-322 SM), dimana ia menggunakan istilah entelecheia (en=dalam diri manusia; telos=tujuan; echein=memiliki) yang berarti: &lt;i&gt;di dalam diri sendiri terdapat sesuatu yang harus dicapai&lt;/i&gt;[2].&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam proses individuasi Jung, yang dititikberatkan bukanlah ego melainkan self. Jika Jung menggunakan data-data kejiwaan dalam banyak agama, maka apa hakikat sebenarnya dari ego dan self ini dipandang dari konsepsi batiniah agama seutuhnya? Apa status menjadi pribadi seutuhnya atau menjadi diri sendiri tersebut dipandang dari kerangka agama itu sendiri?&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;2. Struktur Insan Dalam Pandangan Qur’aniyah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;margin: 5px 20px 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;margin-bottom: 2px;&quot;&gt;&lt;input onclick=&quot;if 
(this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName(&#39;div&#39;)[1].getElementsByTagName(&#39;div&#39;)[0].style.display
 != &#39;&#39;) { 
this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName(&#39;div&#39;)[1].getElementsByTagName(&#39;div&#39;)[0].style.display
 = &#39;&#39;;        this.innerText = &#39;&#39;; this.value = &#39;TUTUP&#39;; } else { 
this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName(&#39;div&#39;)[1].getElementsByTagName(&#39;div&#39;)[0].style.display
 = &#39;none&#39;; this.innerText = &#39;&#39;; this.value = &#39;LIHAT LAGI&#39;; }&quot; style=&quot;font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: 125px;&quot; type=&quot;button&quot; value=&quot;LIHAT&quot; /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;border: 1px inset; margin: 0px; padding: 6px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;display: none;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Peta kejiwaan dan mekanisme interaksi antar modus-modus jiwa, dalam kerangka psikologi yang dibangun secara ilmiah, tampak tidak jelas dan banyak menyisakan lubang-lubang di sana sini. Dalam literatur barat sendiri penggunaan istilah-istilah seperti soul, spirit, heart, mind, dan intellect sering campur aduk ketika mengidentifikasi persoalan-persoalan yang bersentuhan dengan konsepsi kejiwaan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Istilah psycho sendiri yang dipakai dalam konstruk kata psikologi (psychology) berasal dari kata Yunani psyché (Ynch) yang artinya “nafas kehidupan”, dalam mitologi Yunani digambarkan sebagai kupu-kupu. Dalam hal ini, kupu-kupu merupakan perlambang jiwa yang bebas terbang setelah menempa diri dengan “puasa”, keluar dari bungkus kepompongnya. Dua sayap kupu-kupu yang membawa dirinya terbang meninggalkan “bumi” melambangkan dua akal, akal jiwa dan akal raga; dua akal tersebut eksis secara potensial di dalam tubuhnya saat ia sebagai “ulat”, persoalan yang sama dalam representasi yang berbeda bisa dikaji dalam “Alegori Gua” Plato (428-347 SM)[3].&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam konsepsi pramodern, manusia dibagi atas tiga entitas, corpus, animus, dan spiritus[3]. Animus berasal dari bahasa Yunani anemos yang bermakna sesuatu yang hidup (bernafas) yang ditiupkan ke dalam corpus (wadah atau bungkus). Maka corpus adalah body (raga/jasad); dan spiritus adalah spirit (ruh); dan animus identik dengan psyche yang bermakna soul (jiwa/nafs). Dewasa ini istilah jiwa yang dipakai dalam psikologi telah mengalami penyempitan makna. Jiwa dalam terminologi psikologi modern lebih ke aspek psikis, dimana aspek psikis ini lebih merupakan riak gelombang permukaan di atas lautan dalam yang disebut jiwa. Fungsi ruh terhadap jiwa dan fungsi ruh terhadap jasad bisa dilihat dalam referensi[4].&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam terminologi Qur’aniyah, struktur manusia dirancang sesuai dengan tujuan penciptaan itu sendiri, dimana jiwa (soul) yang dalam istilah Al-Quran disebut nafs menjadi target pendidikan Ilahi. Istilah nafs didalam Islam sering dikacaukan dengan apa yang dalam bahasa Indonesia disebut hawa nafsu, padahal istilah hawa dalam konteks Qur’ani memiliki wujud dan hakekat tersendiri. Aspek hawa dalam diri manusia berpasangan dengan apa yang disebut sebagai syahwat. Sedangkan apa yang dimaksud dengan an-nafs amara bissu’ dalam surat (Yusuf [12]: 53) adalah nafs (jiwa) yang belum dirahmati Allah SWT:&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Dan aku tidak membebaskan nafsku, sesungguhnya nafs itu cenderung mengarah kepada kejahatan, kecuali yang dirahmati oleh Rabb-ku.”&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Hawa merupakan kecenderungan kepada yang lebih bersifat non-material, yang berkaitan dengan eksistensi dan harga diri, persoalan-persoalan yang wujudnya lebih abstrak. Hawa merupakan entitas, produk persentuhan antara nafs dan jasad. Sedangkan syahwat merupakan kecenderungan manusia pada aspek-aspek material (AliImran [3]: 14), dan ini bersumber pada jasad insan yang wujudnya memang disusun berdasarkan unsur-unsur material bumi (air, tanah, udara, api).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Nafs manusia diuji bolak-balik di antara dua kutub, kutub jasmaniah yang berpusat di jasad dan kutub ruhaniyah yang berpusat di Ruh al-Quds. Ar-Ruh ini beserta tiupan dayanya (nafakh ruh) merupakan wujud yang nisbatnya ke Martabat Ilahi dan mengikuti hukum-hukum alam Jabarut. Aspek ruh ini (jamak arwah) tetap suci dan tidak tersentuh oleh kelemahan-kelemahan material dan dosa, spektrum ruh merupakan sumber dari segala yang maujud di alam syahadah ini—maka tak ada istilah tazkiyyatur-ruhiyyah atau mi’raj ruhani.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Al-Ghazali dalam Kitab Ajaaibul Qulub[5] jelas membedakan istilah-istilah seperti qalb (rasa jiwa, bukan rasa jasadiah/psikis), nafs, ruh, dan ‘aql; dimana istilah-istilah ini dalam konsepsi psikologi modern tak terpetakan dengan tegas karena berada pada tataran jiwa yang bersifat malakut, atau secara psikologi analitik berada di ruang ketaksadaran.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Prinsipnya, apa yang disebut sebagai manusia sempurna (insan kamil) dalam terminologi Al-Qur’an, minimal manusia yang sudah memiliki struktur seperti tercantum dalam An-Nur [24]: 35, seorang Insan Ilahi. Manusia dikatakan sebagai khalifatullah (wakil Allah) di bumi jika ia telah mencapai state tersebut, ia membawa kuasa Allah dan bercitra Ar-Rahman.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Allah cahaya petala langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya bagaikan sebuah misykat yang didalamnya terdapat pelita terang. Pelita tersebut di dalam kaca, kaca itu seolah kaukab yang berkilau dinyalakan oleh (minyak) dari pohon yang banyak berkahnya, pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat, yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi walau tanpa disentuh api. Cahaya di atas cahaya, Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa-siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhrOpKsAdtknFisGQrUVXfxb9WmUHHQmZgmNf0VLvoQlgF3RuESqLjcuW45rYTnrfRmfLOhq4mmGumtWV2gA2caKJ1MaQaE8Yfk9Vk-OTyxF-5yefz9_FBIh9K1oJjd9-huTflpEFjC9QHi/s1600/misykat_struktur_insan.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;218&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhrOpKsAdtknFisGQrUVXfxb9WmUHHQmZgmNf0VLvoQlgF3RuESqLjcuW45rYTnrfRmfLOhq4mmGumtWV2gA2caKJ1MaQaE8Yfk9Vk-OTyxF-5yefz9_FBIh9K1oJjd9-huTflpEFjC9QHi/s400/misykat_struktur_insan.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ayat tersebut mengisyaratkan tentang manusia, dimana di dalam jasad (misykat)-nya terdapat nafs (jiwa) yang qalb (zujajah)-nya bercahaya seperti bintang karena telah dinyalakan dari dalam dengan api Ruh al-Quds (misbah). Adapun misykat sifatnya kusam dan tak tembus pandang, sebagai perlambang jasad yang berasal dari alam mulk (ardhiyah), merupakan manifestasi terendah dari kehadiran Al-Haq dalam alam syahadah.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bola kaca zujajah yang jernih tembus pandang melambangkan qalb, merupakan aspek rasa dari si nafs yang berasal dari alam malakut. Si nafs melakukan serangkaian proses tazkiyyatun-nafs (pensucian jiwa) sehingga jernihlah qalbnya dan tampaklah titik-apinya menyala di inti jiwa. Jika insan dapat mencapai state seperti digambarkan An-Nur [24]: 35, maka insan tersebut dinamai syuhada (saksi Allah sejati) karena telah berperan sebagai cahaya yang menampakkan khazanah Ilahi sebagai Harta Terpendam (Kanzun Makhfiyan)[6]. Ayat di atas menyatakan struktur target yang harus manusia capai walau sulit.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Rasulullah SAW menyinggung tentang eksistensi jiwa (nafs) yang qalbnya telah diperkuat oleh api Ruh al-Quds, sebagai berikut: &lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;“Qalb itu ada empat macam, pertama, qalb yang bersih, di dalamnya terdapat pelita yang bersinar cemerlang, itulah qalb al-mu’min; kedua, qalb yang hitam terbalik, itulah qalb orang kafir; ketiga, yang terbungkus dan terikat pada bungkusnya, itulah qalb orang yang munafik; dan keempat, qalb yang tercampur, di dalamnya terdapat iman dan nifaq.”&lt;/blockquote&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ruh al-Quds yang dilambangkan oleh pelita yang menyala di dalam qalb, merupakan utusan-Nya di dalam diri, yang membawa ketetapan-ketetapan hidup (amr) si nafs di dunia ini. Pengutusan rasul yang batin ke dalam inti dari nafs ini lebih dari sekedar simbol bahwa pengabdiannya diterima (diridhai). Ruh al-Quds merupakan juru nasehat si nafs dari dalam qalb, dan nafs yang telah diperkuat dengan ruh ini, selain disebut sebagai an-nafs an-natiqah (jiwa yang berkata-kata disebabkan adanya juru nasehat dari dalam qalbnya), juga disebut sebagai an-nafs al-muthmainah. Disebut muthmainnah karena si nafs tersebut telah stabil dalam orbit dirinya (qudrah diri/swadharma), di sini ruh tadi disebut pula sebagai sakinah (syekinah dalam bahasa Ibrani) yang diturunkan ke qalb yang memperoleh kemenangan (al-fath) amr.&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;“Dialah yang telah menurunkan as-sakinah ke dalam qalb orang-orang al-mu’min, agar keimanan mereka bertambah di samping keimanan yang telah ada” (Al-Fath [48]: 4).&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;“Apabila Allah menghendaki kebaikan (khairan) atas seorang hamba, maka diadakannya pemberi pelajaran dari qalb-nya” (Rasulullah SAW).&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;“Barang siapa memiliki juru-nasehat dari dalam qalbnya, berarti Allah telah memberi seorang penjaga (hafidh) atasnya” (Rasulullah SAW).&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;“Seandainya syaithan-syaithan tidak mengelilingi qalb anak Adam, niscaya mereka dapat melihat ke malakut langit” (Rasulullah SAW).&lt;/blockquote&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Qalb menjadi hitam dan terbalik jika ia mempertuhankan hawa nafsu, mengingkari dan mendustakan kebenaran (al-haq). Hati yang seperti ini akan memandang bagus atas segala yang mereka kerjakan, karena tertutup ilusi dan waham syaithan. Adapun qalb si munafik terikat pada bungkus jasadiyah, merupakan qalb yang terlalu mencintai dunia (terikat kepada syahwat jasmaniah); pandangan batinnya tertipu oleh nilai-nilai estetik fisik dengan tanpa melihat hakikatnya, maka ia bisa ‘menjual’ agamanya demi kesenangan sesaat.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Seperti telah diulas tadi, bahwa si nafslah yang menjadi fokus pendidikan Ilahi. Alam dunia ini bagi nafs sebenarnya hanya sebuah jenjang ’sekolah dasar’, Rasulullah SAW berkata bahwa alam dunia ini hanyalah sebuah jembatan kecil yang menghubungkan dua alam besar, dan si nafs diuji dalam pengembaraannya di ‘oase’ ini; sementara ia harus menyelesaikan sejumlah jenjang ’sekolah lanjutan’ lagi. Di alam dunia, jasad atau raga insan berperan sebagai kendaraan bagi si nafs untuk menemukan al-haq di bumi jagat ini sebagai pelajaran pertamanya. Si nafs harus mengembara di muka bumi hingga terbuka kepadanya malakut langit, atau hakikat dari segala yang wujud (khalq) di alam syahadah, dan hakikat dari setiap khalq adalah al-haq.&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;“Akan Kami perlihatkan ayat-ayat Kami di ufuk (semesta) dan di dalam nafs masing-masing, hingga jelaslah bagi mereka itu bahwa itu adalah al-haq” (Al-Fushshilat [41]: 53).&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;“Tiap segala sesuatu pasti binasa, kecuali Wajah-Nya” (Al-Qashash [28]: 88).&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiLC9LdEUqbtq5fCgUcDeTIvPaMO0kk6Yot420ZpVm5fNNh-LKryQsBkNeLXZ8XzxQnqGsNcyKIVI2yUjxK5yc2WxW9o1dMy9IsHU8DuJ6DUMo6BfwL9GkJt1hWPmhMth9vN_YGzQ0XdMy8/s1600/2_Insan_ufuk.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;325&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiLC9LdEUqbtq5fCgUcDeTIvPaMO0kk6Yot420ZpVm5fNNh-LKryQsBkNeLXZ8XzxQnqGsNcyKIVI2yUjxK5yc2WxW9o1dMy9IsHU8DuJ6DUMo6BfwL9GkJt1hWPmhMth9vN_YGzQ0XdMy8/s400/2_Insan_ufuk.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sebelum memahami bahwa Dia ada di mana-mana dan Dia lebih dekat dari urat leher, maka si nafs harus melihat kepada aspek wajah-Nya berupa Al-Haq; ia harus melihat bahwa hakikat dari segala sesuatu di alam semesta, berupa ayat-ayat Kauniyyah, adalah al-haq; juga hakikat dari apa yang ada di dalam nafs-nya tak lain adalah al-haq yang mengalir dari Martabat Ilahi. Sebelum si nafs dimasukkan ke dalam kurungan jasad (corpus) janin di dalam rahim ibu, maka si nafs dipanggil terlebih dulu ke hadapan Allah SWT, katakanlah ini adalah status nafs ketika di alam Nur atau alam Alastu.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Dan ketika Rabb-mu hendak mengeluarkan keturunan bani Adam dari sulbi mereka, dan Allah telah mengambil kesaksian atas nafs-nafs mereka, ‘Bukankah Aku ini Rabb-mu?’ mereka menjawab ‘Benar! Kami menyaksikan’ Agar di hari kiamat kamu tidak berkata: ‘Sesungguhnya kami lengah (atas kesaksian) ini’” (Al-Araf [7]: 172).&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sebelum nafs diturunkan di alam dunia, maka dalam kesaksian ini qadha dan qadarnya ditetapkan terlebih dahulu: “amal-amal insan dikalungkan pada ‘leher’nya” (Q.S Al-Isra’ [17]:13). Ketetapan-ketetapan ini berupa misi hidup (swadharma) yang harus dimanifestasikan di muka bumi, ini merupakan amanah Allah yang telah digariskan sesuai dengan bakat langit si nafs (swabhawa), misi hidup setiap insan bersifat unik tidak ada yang sama satu dengan lainnya. Misi (dharma) si nafs harus ditemukan dan dijalankan di bumi ini, tidak ada perubahan dalam dharma si nafs, karena bakat langit (swabhawa) si nafs merupakan fitrah yang tidak berubah, dan sebagian besar manusia tidak mengetahui ketetapan dirinya karena qalb-nya terpendam dosa.&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada ad-Din. Fitrah Allah, yang Dia telah menciptakan manusia menurut fitrah ini, tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Inilah ad-Diin yang teguh, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (Ar-Ruum [30]: 30).&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jika tanpa Rahmat Allah SWT, ketetapan-ketetapan Allah yang tertulis di dada si nafs tidak akan terbuka, dan ini merupakan rizqi batin manusia yang kuncinya ada di dalam nafs. Sementara untuk mencapai ini sulit karena harus menggeser pusat kesadaran dari ego ke nafs (self).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dari alam Nuur, setelah 120 hari penyusunan janin bayi, maka nafs yang telah diamanahi qudratullah beserta ruh yang akan mengisi jasad si bayi diturunkan. Di sini si nafs berada dalam tiga kegelapan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Kemudian Dia menyempurnakan (janin), dan meniupkan kedalamnya ruh-Nya, dan Dia menjadikan bagimu, pendengaran, penglihatan, dan fu’ad, tapi sedikit di antara kamu yang bersyukur” (As-Sajdah [32]: 9). &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu tahap demi tahap dalam tiga kegelapan” (Az-Zumar [39]: 6). &lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bagi si nafs sewaktu masih di dalam rahim, kegelapan pertama adalah wadah jasadnya sendiri, lapis kegelapan kedua adalah jasad ibunya, dan kegelapan ketiga adalah penjara alam dunia yang bersifat material.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Maka ketika nafs dilahirkan via jasmani raganya ke alam dunia, nafs yang sudah terpenjara oleh tabiat-tabiat jasadnya kemudian harus bertumbukan pula dengan cakrawala dunia ‘bawah’. Maka nafs yang berasal dari cahaya Ilahi (bersifat metafisika) fu’ad-nya menjadi cenderung senang untuk di-rule dan diracuni oleh tabiat-tabiat dan implikasi-implikasi hukum fisis.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Merujuk ke Al-Ghazali[5], dimana beliau menggunakan terminologi qalb sebagai modus nafs, bahwa nafs memiliki dua jenis tentara, tentara lahir dan tentara batin. Tentara lahir adalah jasad, khususnya indera-indera yang secara langsung mencerap alam syahadah. Perangkat jasadiyah ini merupakan delapan pasang aspek ‘ternak’ yang harus digembalakan; ingat bahwa jasad merupakan ‘kuda’ tunggangan bagi nafs yang terlebih dulu harus ditundukkan dan digembalakan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Dia menciptakan dari nafs wahidah, kemudian mengadakan darinya pasangannya, dan menurunkan bagimu delapan ternak yang berpasang-pasangan.” (Az-Zumar [39]: 6).&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kedelapan aspek ‘ternak’ yang harus dikendalikan si nafs meliputi :&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;1. sepasang mata untuk penglihatan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;2. sepasang telinga untuk pendengaran.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;3. sepasang lubang hidung untuk penciuman.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;4. sepasang tangan untuk memegang.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;5. sepasang kaki untuk berjalan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;6. indera pengecap pada lidah yang dipasangkan dengan perut untuk syahwat makan dan minum.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;7. pasangan fungsi mulut dan laring untuk bersuara dan berkata-kata.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;8. pasangan farji dan indera peraba untuk reproduksi.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Setiap ternak (an’aam) pada prinsipnya memiliki delapan aspek di atas sebagaimana dimiliki manusia, yang difungsikan oleh aspek ‘otak’ yang secara fisis dibuat berpasangan pula. Hewan ini memiliki daya (nafas Ruh) yang menghidupkan tubuhnya, tapi mereka tidak memiliki nafs yang harus mempertanggungjawabkan perbuatan dirinya. Karena nafs manusia membawa fu’ad (mind, aspek akal jiwa), maka bagi manusia sepasang otaknya (yang wujud fisiknya tak berbeda dengan ternak) selain menjadi pusat syaraf untuk mengkoordinasi tubuh, juga menjadi pusat pikiran yang ini justru sering menjadi faktor utama yang membawa ‘kejatuhan’ manusia. Faktor pikiran ini (yang merupakan aspek permukaan dari fu’ad) yang akan secara efektif mengkonstruk apa yang secara psikologis disebut ego.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Apa yang disebut ego ini merupakan ‘kepala’, bagi apa yang disebut oleh Al-Ghazali sebagai tentara batin. Apa yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai hawa (hawa nafsu) adalah keluar dari tentara batin ini; karena sifatnya plural, bersifat non-material, melekat pada nafs (seperti minyak di atas permukaan air), dan mengeluarkan hawa (kecenderungan-kecenderungan yang tidak sejalan dengan orbit jiwa), maka diberi istilah nufusul-hawiyyah.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhaLyU81v6AkNGkhQFi2vRXPHVoCBAhET9_zUhJrji6xpyVqNcT6d6DOjjDTyUtYWd7cuxW9zhxc5wA9qgGMS-Jr8wIYJ_V5DVsAYBdN4CGVjEFenIOBfHv_ovDCdSJbsulGVCCe_9UaF0d/s1600/3_insan_akal.gif&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;230&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhaLyU81v6AkNGkhQFi2vRXPHVoCBAhET9_zUhJrji6xpyVqNcT6d6DOjjDTyUtYWd7cuxW9zhxc5wA9qgGMS-Jr8wIYJ_V5DVsAYBdN4CGVjEFenIOBfHv_ovDCdSJbsulGVCCe_9UaF0d/s400/3_insan_akal.gif&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jika si nafs lumpuh karena dosa-dosa yang dimasukkan jasad lewat pintu-pintu indera dan pikiran, maka kepribadian insan dipegang oleh ‘kepala’ dari tentara batin: ego.  Ego ini jika dikendalikan nafs sebenarnya merupakan perangkat yang sangat penting bagi nafs untuk menjalankan kodrat dirinya. Jika nafs disembuhkan dengan Rahmat Allah Ta’ala, maka pusat kesadaran dan kepribadian secara bertahap akan bergeser dari ego ke nafs; konstruk ego yang salah-bentuk akan segera diruntuhkan nafs untuk dikonstruk ulang menjadi bentuk baru yang lebih sesuai dengan kepentingan dharma si nafs. Karena entitas nufusul-hawiyyah ini berasal dari kekuatan amr yang dibawa si nafs yang menemukan padanannya di hissiyah jasadiyyah secara unik, maka rekonstruksi ego dari setiap manusia akan berbeda satu sama lain.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhX42vi3uYCBo-T3sQhcfd4EGiXLHmf1jEdKrEICXKFNBkjiEH_cv00V5b5D8U7YXqAOwz76j0obYCjk2ij2PkFGbwIleX1afBpf-Eg5hYm4DCiZFYfoD01icPOJ-cwZMIxuzsg2agOrIdy/s1600/4_insan_interaksi.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;357&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhX42vi3uYCBo-T3sQhcfd4EGiXLHmf1jEdKrEICXKFNBkjiEH_cv00V5b5D8U7YXqAOwz76j0obYCjk2ij2PkFGbwIleX1afBpf-Eg5hYm4DCiZFYfoD01icPOJ-cwZMIxuzsg2agOrIdy/s400/4_insan_interaksi.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ego dibentuk dan ditumbuhkan melalui fikiran oleh dua kekuatan, pertama persepsi inderawi yang bersifat syahwati, dan kedua oleh hawa nafs. Interaksi timbal balik dua kekuatan ini melalui link ego menjadi cenderung memperkuat satu sama lain dan membangun kompleks-kompleks sayyi’ah jiwa. Manusia digelapkan qalb-nya dan dilumpuhkan nafs-nya oleh dua perkara yaitu cinta dunia dan mempertuhankan hawa.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Berkata ia,’Ya Rabbi, mengapa Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dulu (di dunia) adalah seorang yang melihat?’” (Thaha [20]: 125). &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Karena sesungguhnya bukanlah matanya yang buta tetapi qalb yang di dalam dada” (Al-Hajj [22]: 46).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Yang demikian itu disebabkan oleh karena mereka mencintai kehidupan dunia di atas akhirat… Mereka itulah yang qalb, pendengaran, dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka adalah orang-orang yang lalai” (An-Nahl [16]: 107-108).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawanya sebagai tuhannya, maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami? Mereka itu tidak lain bagaikan ternak bahkan lebih tersesat jalannya” (Al-Furqaan [25]: 43-44). &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Dan barang siapa buta di dunia ini, maka di akhirat akan buta pula dan lebih tersesat jalannya” (Al-Isra [17]: 72). &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bila nafs dirahmati Allah Ta’ala, maka secara bertahap indera-indera batinnya mulai bangun dan menguat, karena hijab-hijab dosa di qalb-nya mulai tanggal. Si nafs yang telah tumbuh kuat akan segera melakukan proses penggembalaan dan pendidikan atas tentara lahir dan tentara batinnya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Dan adapun mereka yang takut akan maqam Rabb-nya dan menahan nafsnya dari hawa” (An-Naazi’at [79]: 40).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jika ego tidak dikonstruksi-baru oleh nafs, maka akan menjadi pabrik penghasil sayyiah, dimana ‘racun’ hati ini secara efektif dapat mematikan qalb. Kesadaran, secara psikologis, berpusat di ego, sementara qalb dan nafs berada di bawah level kesadaran atau di ketaksadaran (unconsciousness).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jika hijab kompleks dan sayyiah lenyap, maka ego akan mengorbit ke nafs dan memperluas bidang kesadaran. Ketika ego di bawah kontrol nafs maka kekuatan syahwat dan hawa akan berada di bawah kendali amr si nafs, dan ketika pusat kesadaran berpindah ke nafs maka nafs menjadi pusat kepribadian yang bersifat utuh mencakup baik level sadar maupun level tak sadar. Dengan berkiblatnya ego ke nafs maka seluruh indera jasad berada di bawah kontrol nafs dan qalb, disini inderawi dan pikiran memperoleh kekuatan tambahan berupa aspek ruhani yang berpusat di qalb, manusia menjadi berfikir dan ber-‘aql dengan qalb-nya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Qalb bagaikan raja, jika shalih rajanya maka shalih pula tentara-tentaranya, dan jika jahat rajanya maka jahat pula tentara-tentaranya.” (Rasulullah SAW)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jika cahaya qalb tidak menyentuh ego dan pikiran, maka pada hakikatnya manusia belum mengenal qalb-nya apalagi memfungsikannya. Karena qalb tak berfungsi, maka manusia tersebut dikatakan belum memiliki qalb (buta hati) kecuali hati jasmaniahnya saja, dan hanya memiliki satu akal yaitu pikirannya saja.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Mereka memiliki qalb tetapi tidak digunakan untuk memahami, mereka memiliki mata tetapi tidak digunakannya untuk melihat, dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak digunakannya untuk mendengar, mereka seperti ternak bahkan lebih tersesat” (Al-A’raf [7]: 179).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dengan transformasi akal dari ego ke lubb, maka kesadaran seseorang ditransformasi terus-menerus hingga menyentuh Lathifah Ilahiyah, sehingga qalb-nya “melihat” al-haq dimana-mana (Al-Fushshilat [41]: 53). Dalam dunia tashawwuf, hirarki ‘uruj kesadaran batin mencakup tujuh proses&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEism3d_rqi_mqHIyhFTBbaXEBs2U4nw5eKORoRlY-8yG4zusWZhmd8olWeuGs6_8N_N8S8Okk561l7bMmrV3VSN84gGvGg_UcnvEXEkJTxgQMre184-VF0_f4Y6keYw6JvTKSkNhKhyT3_m/s1600/5.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;55&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEism3d_rqi_mqHIyhFTBbaXEBs2U4nw5eKORoRlY-8yG4zusWZhmd8olWeuGs6_8N_N8S8Okk561l7bMmrV3VSN84gGvGg_UcnvEXEkJTxgQMre184-VF0_f4Y6keYw6JvTKSkNhKhyT3_m/s400/5.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam proses ini, tahapan insan untuk memenuhi struktur yang dituntut oleh An-Nuur [24]: 35 menjadi terlampaui. Ini adalah proses manusia untuk mengenal Rabb-nya, yang harus diawali dengan kesadaran atas keberadaan nafs dalam jasadnya sebagai jati diri yang sebenarnya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Barangsiapa mengenal nafsnya maka akan mengenal Rabb-nya.” (Rasulullah SAW)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dengan bermujahadah pada proses tazkiyyatun-nafs maka instrumen mata dan telinga batin (nafs) akan mulai bangun secara bertahap. Seperti bangunnya akal jasadi pada bayi oleh tumbukan terus menerus citra alam dunia melalui indera mata dan telinganya, maka pengendalian mata dan telinga jasmani dari hal-hal yang diharamkan Allah Ta’ala akan mencergaskan kembali penglihatan dan pendengaran si nafs, dan dengan sehatnya dua indera batin tersebut akan mulai mengaktivasi akal jiwa (lubb). Manusia yang lubb-nya hidup dinamai sebagai Ulul-Albaab, dan hanya Ulul-Albaab yang bisa memahami kalimah Ilahiyah di alam semesta.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa diberi hikmah, sungguh ia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali Ulul-Albaab” (Al Baqarah [2]: 269).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Proses ‘uruj tadi merupakan proses taubat, dimana makna taubat adalah perjalanan kembali menuju Allah, merupakan proses ditariknya si hamba mendekat kepada-Nya, dan ini akan melampaui semesta alam-alam, karena jarak antara si hamba dengan Dia adalah tak hingga. Dan tidak ada alam yang ia lampaui, kecuali lubb-nya akan menguasai urusan-urusan di alam tersebut. Siapa yang bertaubat (kembali kepada Allah) maka itu baru awal dari hidayah (pemberian petunjuk), dan siapa yang tidak mencari Allah (tidak bertaubat) maka mendzalimi dirinya sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Dialah yang memperlihatkan kepadamu ayat-ayat-Nya dan menurunkan kepadamu rizki dari langit (jiwa). Dan tidak ada yang bisa mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang bertaubat(kembali).” (Al-Mu’min [40]: 13)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Dan sesungguhnya Aku menjadi Maha Pengampun bagi mereka yang bertaubat, beriman, dan beramal shalih, kemudian atasnya petunjuk” (Thaha [20]: 82).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim” (Al-Hujurat [49]: 11).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;=================================================================&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;3. Apa Yang Tersentuh Oleh Psikologi Analitik&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;margin: 5px 20px 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;margin-bottom: 2px;&quot;&gt;&lt;input onclick=&quot;if 
(this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName(&#39;div&#39;)[1].getElementsByTagName(&#39;div&#39;)[0].style.display
 != &#39;&#39;) { 
this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName(&#39;div&#39;)[1].getElementsByTagName(&#39;div&#39;)[0].style.display
 = &#39;&#39;;        this.innerText = &#39;&#39;; this.value = &#39;TUTUP&#39;; } else { 
this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName(&#39;div&#39;)[1].getElementsByTagName(&#39;div&#39;)[0].style.display
 = &#39;none&#39;; this.innerText = &#39;&#39;; this.value = &#39;LIHAT LAGI&#39;; }&quot; style=&quot;font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: 125px;&quot; type=&quot;button&quot; value=&quot;LIHAT&quot; /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;border: 1px inset; margin: 0px; padding: 6px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;display: none;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Seperti yang telah diulas tadi bahwa yang menarik dari psikologi analitik C.G. Jung terutama konsep individuasinya, suatu proses menjadi diri sendiri atau realisasi diri. Konsepsi ini dibangun Jung secara transpersonal dengan melibatkan khususnya simbol-simbol religius dari mitologi-mitologi kuno dan terutama agama-agama Timur.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Wajar Jung memperoleh inspirasi individuasi ini dari simbol-simbol agama karena tidak ada satu agama besar pun yang meluputkan aspek spiritual penemuan-diri. Aspek batin dari setiap agama dalam upaya mencari kebenaran sejati dan kedekatan dengan Sang Pencipta selalu melalui proses transformasi diri. Tidak ada satu kaum atau suatu peradaban pun, baik besar maupun kecil, kecuali diturunkan di situ rasul-rasul-Nya (Ibrahim [14]: 4), meski representasi ritualnya berbeda-beda tapi esensi dan tujuan sejati dari setiap agama yang diturunkan Dia selalu sama. Proses pengenalan kepada Tuhan selalu diawali dengan proses pengenalan-diri, bahkan tujuan pengetahuan itu sendiri adalah untuk mengenal-diri.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Beberapa agama (terutama Hindu dan Buddha) terkadang sangat menonjolkan proses transformasi kejiwaan ini, agama Kristen lebih menonjolkan oknum spiritualnya (Ruh al-Quds), dan agama Islam menonjol dalam implementasi dharma; singkatnya tidak ada satu agamapun (sepanjang berasal dari Sang Pencipta) kecuali membawa ajaran terpenting, yaitu amr penemuan-diri [7]. Agama-agama itu berhubungan satu dengan lainnya, dalam hal ini kitab-kitabnya, masing-masing memiliki peran yang berbeda dan saling berkompelemen satu sama lain dan membentuk suatu bangunan utuh; seperti diisyaratkan Nabi Muhammad SAW bahwa beliau merupakan batu-bata terakhir yang melengkapi dan menggenapi Ka’bah, sementara batu-bata yang lain dalam bangunan melambangkan Nabi-Nabi bagi umat-umat yang lain, agama telah tertutup dan Islam adalah agama terakhir sebagai penyempurna.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Dan mereka yang beriman kepada (Kitab) yang telah diturunkan kepadamu dan kepada (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan akhirat.” (Al-Baqarah[2]:4)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bagi Jung, kepribadian (personality) itu harus mencakup keseluruhan aspek sadar (consciousness) dan tak sadar (unconsciousness) yang ada di dalam diri manusia, maka jelas ego bukanlah perwakilan dari kepribadian total yang ia sebut sebagai psyche. Dalam psikologinya, ego merupakan pusat bidang kesadaran sekaligus subjek bidang kesadaran. Sebagai subjek, maka ia berfungsi aktif dalam menghubungkan isi-isi psikis sehingga dapat disadari. Seluruh pengalaman kita menyangkut dunia luar maupun dalam harus melalui ego agar disadari. Ego tidaklah mencakup seluruh bidang kesadaran, ego hanyalah ‘titik referensi’ bagi ruang tersebut. Jadi, ego merupakan bagian dari kepribadian dan bukan seluruh kepribadian.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Menurut Jung, manusia dilahirkan dengan membawa ketotalan (wholeness), atau dengan membawa potensi untuk menjadi total, dan tujuan akhir dari hidup setiap manusia adalah untuk mencapai kondisi optimal dari ketotalan:&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Personality is the supreme realization of the innate idiosyncrasy of a living being, it is an act of high courage flung in the face of live, the absolute affirmation of all that constitutes the individual, the most successful adaptation to the universal conditions of existence coupled with the greatest possible freedom for self-determination. [8]&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhVivEswh-Lt2LAb5Sc55LLwONcoXDc5_6T5jJXqDk__X2l-uCZBhizDtc5HqzpLxHyAWQoFE5RJVR1w8rPh-6uSTVMHlThhocFpdwY4aokw8AGPKEJdRr9jGkm8W71wSHhc6mOf9a7BGMq/s1600/6_insan_cons.gif&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;158&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhVivEswh-Lt2LAb5Sc55LLwONcoXDc5_6T5jJXqDk__X2l-uCZBhizDtc5HqzpLxHyAWQoFE5RJVR1w8rPh-6uSTVMHlThhocFpdwY4aokw8AGPKEJdRr9jGkm8W71wSHhc6mOf9a7BGMq/s400/6_insan_cons.gif&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jung mendefinisikan bahwa di dalam ruang ketaksadaran itu sendiri terdapat dua jenis ketaksadaran, pertama ketaksadaran pribadi (personal unconscious), dan kedua adalah ketaksadaran kolektif (collective unconscious).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pengalaman-pengalaman yang ditekan (suppressed) atau berusaha dilupakan akan mengendap di personal unconscious. Di dalam personal unconscious, segala apa yang diendapkan tadi saling berinteraksi membentuk ide-ide baru, grup dari beberapa ide bisa meng-cluster bersama membentuk apa yang oleh Jung disebut kompleks (complex). Secara umum kompleks ini bersifat unconscious walaupun elemen-elemennya dapat menjadi conscious sewaktu-waktu.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Adapun collective unconscious merupakan konsepsi yang kontroversial. Ini merupakan cetak biru yang diwariskan bukan saja secara fisik (genetik) tapi juga secara psikis.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;The collective unconscious is composed of primordial images (thought-forms or memory traces from our ancestral past) not only our human past but also our pre-human, animal ancestry. [8]&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Apa yang diwariskan bukan berupa memori-memori atau ide-ide spesifik, tapi lebih ke prediposisi atau potensial-potensial dari ide-ide tertentu. Collective unconscious mengandung hampir sejumlah tak terbatas citra-citra (images), atau bentuk-bentuk pemikiran. Isi dari collective unconscious ini disebut Jung sebagai arketipe-arketipe (archetypes). Jung mengidentifikasi dan mendeskripsikan banyak arketipe, misalkan: ide kelahiran, ide kematian, ide kepahlawanan, ide iblis, ide Tuhan, ide orang bijak, ide binatang, dan sebagainya. Di antara banyak arketipe, yang terpenting dalam membentuk kepribadian dan tingkah laku adalah persona, anima dan animus (syzygy), shadow, dan self.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kondisi fisik seseorang yang tidak sesuai dengan harapan syahwatnya sering mempengaruhi watak dan tingkah lakunya, sehingga membentuk kompleks baru yang secara bawah sadar men-drive ego-nya semakin menjauhi self. Psikoanalisa Freud banyak menganalisis dampak psikis dari persoalan ini. Bentuk fisik diturunkan secara genetik dan problem psikis yang sama bisa terulang kembali, dan seterusnya. Tampak terjadi interaksi dan konflik antara struktur internal yang masih gelap dalam psikologi dengan faktor eksternal yang terukur, perwatakan dan tingkah laku manusia yang terlihat lebih mencerminkan sisa-sisa perang di interface psikis atau di ego. Secara psikologis, minimal ada tiga faktor yang berinteraksi yang produknya tampak di aspek psikis, pertama faktor yang terkait fisik, kedua kondisi atau warna lingkungan eksternal, dan ketiga faktor internal. Meski dampak psikisnya terukur, oknum dari aspek psikis ini tampak lebih terletak di personal unconsious dan di batas antara sadar dan tak sadar.&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhUNFavPggxXChNWqMYexEa9v6H2VKEhcV2W0y3SlPa0kG_X07ynqaQAIS-e8SopsjKFpeZhroLHqpWquUaR0vGASmqlHV6iyGmN6Zffrk_o_nLdTHEMBvdTbpkNmWhdtWhzQppTTVrWyEA/s1600/7_insan_person.gif&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;161&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhUNFavPggxXChNWqMYexEa9v6H2VKEhcV2W0y3SlPa0kG_X07ynqaQAIS-e8SopsjKFpeZhroLHqpWquUaR0vGASmqlHV6iyGmN6Zffrk_o_nLdTHEMBvdTbpkNmWhdtWhzQppTTVrWyEA/s400/7_insan_person.gif&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sebagai catatan, menurut Jung terdapat dua aspek penting kepribadian yang bekerja di level sadar (consiousness), attitudes dan functions. Attitudes, atau orientasi, secara umum terbagi dua, yaitu ekstraversi (extaversion) dan introversi (introversion). Orang yang bertipe ekstravert lebih dipengaruhi oleh dunia objektif, dunia di luar dirinya. Orientasinya tertuju ke luar, ditentukan oleh lingkungannya, baik lingkungan sosial maupun non-sosial. Sebaliknya, orang introvert lebih dipengaruhi oleh dunia subjektif, yaitu dunia di dalam dirinya sendiri. Orientasinya ditentukan oleh faktor-faktor subjektif. Menurut Jung, antara ekstraversi dan introversi terdapat hubungan yang saling mengimbangi (kompensatoris). Tentang functions (”fungsi jiwa”), Jung membagi empat, yaitu: thinking, feeling, sensing, dan intuiting.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jika aspek genetik fisik itu diwariskan, apakah aspek psikis juga diwariskan? Apakah aspek psikis seseorang beresonansi atau mempengaruhi struktur genetik sehingga terwariskan? Secara fenomenologis karakter dan perwatakan seseorang bisa diprediksi dari bentuk fisiknya. Dalam lingkup metafisika Timur, misalnya dalam konsepsi I Ching (Kitab Perubahan) Taoisme dan Hindu, kepribadian seseorang bukan hanya berinteraksi dengan bentuk fisiknya tetapi juga berhubungan dengan ruang dan waktu tempat ia dilahirkan. Sekali lagi, yang menjadi kuncinya adalah pengetahuan tentang struktur internal.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Gelapnya pengetahuan manusia tentang struktur internal dan lemahnya metode ilmiah untuk melakukan pemetaan aspek ini memunculkan berbagai madzhab psikologi kepribadian. Freud dan Jung menempatkan faktor internal ini sebagai ‘lautan’ ketaksadaran. Freud membuat hipotesis tentang id, dan ego lebih merupakan alat id untuk menyalurkan hasrat-hasrat internal yang tak jelas bentuk dan sumbernya, ego juga mengambil nilai-nilai eksternal untuk membangun superego agar kepribadian totalnya bisa ’survive’ tanpa konflik. Meski gelap bagi Freud, tetapi ia sangat melihat betapa besarnya pengaruh dari faktor internal ini.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jung berani untuk melakukan pemetaan faktor internal ini dengan mengajukan gagasan kontroversial collective unconscious. Dengan data fenomenologis yang lebih ‘terbuka’, Jung membangun hipotesis ini dengan mencoba menyulam data-data produk saintifik dengan aspek-aspek metafisik. Maka seperti halnya Freud, tentang naluri-naluri (insting) hewani, arketipe shadow-nya Jung sangat mencerminkan masuknya gagasan evolusi Darwin dan informasi-informasi ilmiah dari sains zamannya, terutama fisika. Arketipe Jung sepintas mirip dengan pengetahuan recollection dari alam idea-nya Plato[3], atau ilmu tashawwur-nya Ibnu ‘Arabi (1165-1240) yang berkaitan dengan alam ‘khayal’ dari nafs. Tetapi konstruksi Jung tidak menyentuh aspek nafs (soul) dalam arti yang sebenarnya, selain meletakkan data-data fenomena spiritual dalam kerangka psikologi psikis.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam paradigma tashawwuf, karena subjek pendidikan Ilahi adalah si nafs dan konstruk jasad insan hanyalah perpanjangan atau bayangan terbatas dari nafs ini, maka kepribadian si nafs tidak boleh terberangus oleh aspek jasadiah (tentara dzahir qalb), juga oleh aspek psikis yang bertautan dengan tentara batin qalb. Kepribadian nafs adalah kepribadian insan yang sebenarnya yang menjadi cermin bagi khazanah Ilahi, maka ia harus bisa lepas dari kurungan syahwat dan hawa.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam terminologi Al-Qur’an, nafs bukanlah “kertas putih” yang diturunkan, tapi dalam dadanya telah membawa catatan amr yang mesti ia ejawantahkan, dan catatan ini berkaitan dengan persoalan alam idea-nya Plato atau alam khayal-nya Ibnu ‘Arabi. Yang pasti terdapat hubungan antara pengetahuan bawaan si nafs dengan alam tempat ia menjalankan dharma-nya. Fungsi alam syahadah adalah untuk memancing amr yang ‘tertulis’ dalam dada nafs itu keluar dan termanifestasi di tingkat amaliah jasad, dan yang ia manifestasikan pada dasarnya ‘perkara besar’ karena merupakan Harta Terpendam Ilahi. Ini adalah amanah Ilahi yang sesungguhnya, dan proses menjadi saksi Allah dalam arti yang haq. Dan apa yang disebut bakat atau kemampuan seseorang secara psikologis hanyalah gaung dari urusan spesifik yang si nafs bawa. Indra tubuh, ego dan aspek psikisnya, juga fikiran hanyalah alat bagi si nafs untuk menjalankan urusannya. Apa yang Jung lihat secara fenomenologis dan ia definisikan sebagai syzygy, atau aspek anima dan animus dalam pribadi manusia, juga berkaitan dengan konsepsi ummul-kitab dan kitabul-mubin dari persoalan nafs dengan ‘aql-nya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Arketipe (archetype) yang terlibat langsung dalam proses individuasi atau realisasi diri adalah self, dimana arketipe ini dengan aksi jarak jauhnya (fungsi transenden) memotivasi ego untuk menjadi pribadi yang utuh, yang meliputi sisi sadar dan sisi tak sadar. Fungsi transenden adalah fungsi kunci dalam proses individuasi dan merupakan cara khas bagaimana arketipe self mulai mewujudkan diri. Fungsi transenden bekerja lewat lambang-lambang, dimana lambang merupakan unsur paling pokok dalam psikologi analitik, dan dengan cara seperti ini manusia mulai kontak dengan ketaksadarannya (unconsciousness)[2]. Maka fenomenologi tentang self adalah fenomenologi tentang lambang-lambang dari self. Menurut Jung, fungsi pokok dari lambang adalah bahwa lambang menggabungkan yang sadar dan tak sadar sebagai conjunxio oppositorum (perpaduan unsur-unsur yang berlawanan). Lambang adalah sarana untuk mencapai “tepi laut seberang” (pantai yang lain). Lambang menunjuk ke sesuatu yang belum dikenal yang untuk sementara tidak dapat diungkapkan kecuali lewat lambang. Yang dititikberatkan Jung adalah bahwa lambang itu mengandung arah waktu, menunjuk kepada proses-proses yang masih tersembunyi dan yang ingin menjadi tampak dan terwujud.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Lambang paling istimewa bagi self adalah apa yang dalam bahasa Sanskerta disebut mandala. Jung meneliti lambang-lambang ini selama hampir empat belas tahun, sebelum ia memberanikan diri menafsirkannya. Jung melakukan penelitian-penelitian ekstensif tentang mandala yang ia temukan di dalam semua kebudayaan, dalam agama-agama Barat dan Timur, juga pada pasien-pasiennya, khususnya lambang-lambang mandala ini muncul pada pasien-pasiennya yang berusia 40 tahun. Konstruk mandala merupakan susunan konsentris dari bangun-bangun geometris, bisa berupa bangun lingkaran-lingkaran konsentris, atau segiempat-segiempat konsentris, atau perpaduannya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Banyak kebudayaan arkais menunjukkan struktur mandala dalam tarian-tariannya, upacara-upacara, bangunan-bangunan rumah, dan tempat-tempat religiusnya. Mandala yang paling indah dan paling sempurna terdapat pada kebudayaan Timur, khususnya dalam Buddhisme Tibet, juga pada candi-candi Hindu dan Buddha. Pada umumnya pada pusat mandala terdapat tokoh-tokoh agama tertentu, seperti Siwa, Buddha, dan Kristus. Jung berpendapat bahwa mandala mempunyai arti ‘metafisis’ dan merupakan simbol transformasi atau jendela menuju Keabadian. Karena mandala melambangkan self, maka self, kata Jung, merupakan Imago Dei (Citra Tuhan).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam dunia tashawwuf, konstruk mandala telah lazim dikenal oleh para Shufi, bentuknya bisa berupa tujuh lingkaran konsentris, empat lingkaran konsentris atau empat bujur sangkar konsentris, atau bisa lebih rumit dari itu. Tujuh lingkaran melambangkan tujuh langit jiwa dengan titik pusatnya melambangkan Ruh al-Quds. Empat lingkaran konsentris melambangkan tingkatan jiwa jasmaniah, jiwa ruhaniah, jiwa rahmaniah, dan jiwa rabbaniah yang duduk di lantai keempat[12]. Makna Rabbaniyah identik dengan makna Brahmana pada agama Hindu yang telah mengalami pergeseran makna dari kasta (maqamat) kejiwaan menjadi kasta sosial. Dalam dunia suluk, hanya tingkat Rabbaniyah yang bisa bertemu Ruh al-Quds tanpa termusnahkan oleh kuat cahayanya [4].&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhTaHbirqIqQWDguGD4s2LoJ8exj6VeROJDblLLBNi5CU-BNbQagKpWcz0ZgqrEdSSGmiOXWCcd9QhLg9UZofCfr4he8_ziaEG6mlZ1RWNQwNxLV57WyJAwkOrI1NLqbVRCmE-YGQtg2Ri4/s1600/8a_insan_langit.gif&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;281&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhTaHbirqIqQWDguGD4s2LoJ8exj6VeROJDblLLBNi5CU-BNbQagKpWcz0ZgqrEdSSGmiOXWCcd9QhLg9UZofCfr4he8_ziaEG6mlZ1RWNQwNxLV57WyJAwkOrI1NLqbVRCmE-YGQtg2Ri4/s400/8a_insan_langit.gif&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi4wcb-rZ2EgVZ4cuGPezzMzfEeGauBkNqVgTQNfi5LlD4tdclm-4hUj4htxe_9Vfy2B8-Wtno4Jgb0Qr5139HcQH2YDhS-Ex9DDBquoCsza37wz832PmsOrXVJupfscQa1-mZpyHpgoV7j/s1600/8b_insan_langit.gif&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;347&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi4wcb-rZ2EgVZ4cuGPezzMzfEeGauBkNqVgTQNfi5LlD4tdclm-4hUj4htxe_9Vfy2B8-Wtno4Jgb0Qr5139HcQH2YDhS-Ex9DDBquoCsza37wz832PmsOrXVJupfscQa1-mZpyHpgoV7j/s400/8b_insan_langit.gif&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Intinya, pusat mandala merupakan kutub alam semesta zamannya, seseorang yang telah diperkuat dengan Ruh al-Quds di tingkat Rabbani dan memegang jabatan Quthb. Dan seperti telah kita bahas bahwa manusia yang memenuhi struktur An-Nuur [24]: 35, artinya yang telah diperkuat dengan Ruh al-Quds, merupakan Citra Ar-Rahman.&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhhIgfxFAEG8sVn7gMqcHBxTvM49amVR0_z4GXzoGsfWQRf7wpCojBPHaj-wHM4KAEVSuXivaGd2iy9yIxt8vBtN0kxkFN9HbdxICDfwoCQta4w8YZTOt0a9XsKfPFgDc75oyPxmkvhZHde/s1600/9_insaninti.gif&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;327&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhhIgfxFAEG8sVn7gMqcHBxTvM49amVR0_z4GXzoGsfWQRf7wpCojBPHaj-wHM4KAEVSuXivaGd2iy9yIxt8vBtN0kxkFN9HbdxICDfwoCQta4w8YZTOt0a9XsKfPFgDc75oyPxmkvhZHde/s400/9_insaninti.gif&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dari sini bisa ditarik kesimpulan bahwa self yang didefinisikan Jung tak lain adalah nafs (jiwa, soul), ini berarti tidak semua self menyandang pangkat Imago Dei, kecuali self yang sudah duduk di pusat mandala. Dan dengan terputusnya data agama, konsepsi Jung tentang self berhenti di Imago Dei.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Konsepsi transformasi kejiwaan dalam khazanah Islam sebagai agama penyempurna, bisa membantu membuka kembali arah dari persoalan ini dalam khazanah batin agama-agama pra-Islam. Bagi Jung, gagasan individuasi bisa membantu memberi arah pada terapi pasien-pasiennya, tapi simbol-simbol mandala yang dilihat dalam ruang kesadaran (consious) pasien sebagai isyarat dari nafs atau self di ruang bawah sadar (unconscious), menjanjikan suatu kesadaran dan kebahagiaan yang jauh lebih tinggi dari apa yang Jung dan si pasien sadari. Metode terapi Jung tidak memadai untuk memenuhi apa yang diseru dan dituntut oleh self, juga tidak memiliki perangkat ukur untuk melihat tahapan-tahapan pengorbitan ego menuju self (nafs). Tetapi Jung berpendapat benar bahwa kepribadian yang utuh terletak di self atau jiwa (nafs), dan bukan di ego. Dan pengenalan atas nafs adalah awal pengenalan kepada Tuhan.&lt;br /&gt;
================================================================== &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;4. Status Kecerdasan Spiritual SQ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;margin: 5px 20px 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;margin-bottom: 2px;&quot;&gt;&lt;input onclick=&quot;if 
(this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName(&#39;div&#39;)[1].getElementsByTagName(&#39;div&#39;)[0].style.display
 != &#39;&#39;) { 
this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName(&#39;div&#39;)[1].getElementsByTagName(&#39;div&#39;)[0].style.display
 = &#39;&#39;;        this.innerText = &#39;&#39;; this.value = &#39;TUTUP&#39;; } else { 
this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName(&#39;div&#39;)[1].getElementsByTagName(&#39;div&#39;)[0].style.display
 = &#39;none&#39;; this.innerText = &#39;&#39;; this.value = &#39;LIHAT LAGI&#39;; }&quot; style=&quot;font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: 125px;&quot; type=&quot;button&quot; value=&quot;LIHAT&quot; /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;border: 1px inset; margin: 0px; padding: 6px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;display: none;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Seperti halnya dalam kasus psikologi analitik, SQ merupakan salah satu produk yang mencerminkan samarnya pengetahuan manusia Barat tentang aspek internal manusia yang terfokus di self atau nafs, dan SQ sendiri tampak dipengaruhi kuat konstruksi-konstruksi C.G.Jung yang dibangun secara transpersonal. Seperti telah dibahas tadi bahwa urusan yang dibawa setiap nafs berbeda satu dengan lainnya, maka potensi-potensi yang Sang Pencipta berikan kepada tiap-tiap manusia yang meliputi seluruh aspek lahir dan batinnya tidak pernah ada yang sama. Ada kaitan erat memang antara bakat fisik manusia dengan amr jiwanya, karena memang si jasad tak lain merupakan perpanjangan jiwanya, maka urusan si jiwa akan memanjang ke jasad.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Manusia itu dimudahkan atas suatu yang untuk itu ia dicipta.” (Rasulullah SAW)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Carilah pekerjaan yang kamu tidak bekerja.” (Confucius)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Manusia dimudahkan dalam jalannya masing-masing dan tidak diberi beban melainkan apa yang mampu ia pikul, tapi ego manusia cenderung memilih jalan yang justru ia menjadi bekerja keras di situ, tidak berjalan dengan energi minimalnya. Bukankah alam semesta itu hadir/wujud dalam energi minimalnya? Dharma atau misi hidup setiap manusia itu bekerja dalam energi minimalnya, dimudahkan untuk apa ia dicipta. Gagasan Lao Tzu tentang jalan Tao adalah bicara tentang ini; dan alam semesta hidup mengalir mengikuti sungai Tao, ini adalah tasbih, dan setiap insan diwajibkan bertasbih. Hal yang sama demikian kentara dalam ajaran Zen (ordo Buddha) dan Baghavad Gita (Veda Hindu) misalnya, demikian pula apa yang diseru dalam setiap agama yang lain termasuk Islam.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kalimah aslama konstruk dasar dari Al-Islam bermakna berserah-diri mengikuti kehendak-Nya; kalimah sabaha konstruk dasar dari tasbih bermakna mengalirkan diri atau menghanyutkan diri dalam sungai Kuasa-Nya. Jika manusia mengerjakan dharma-nya, maka segala sesuatu yang menyangkut urusannya akan dimudahkan di tangannya, dimana itu sulit bagi selain dirinya. Seperti sabda Rasulullah saw.:&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Bila urusan diserahkan bukan pada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya”.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Swadharma setiap insan itu terkait dengan shirathal-mustaqiim-nya masing-masing. Rabb yang dicari berada di atas jalan itu (Hud [11]: 56), dan yang menjadi kuncinya ada dalam diri nafs-nya sendiri. Setiap manusia akan menemukan Tuhannya lewat pintu jiwanya masing-masing, karena di dalam nafs terdapat Kuasa-Nya, Qudrah-Nya; man ‘arafa nafsahu fa qad ‘arafa rabbahu. Jika manusia bertemu dharma-nya atau kodrat-dirinya, maka kehidupannya dimudahkan. Ini adalah aqabah, jalan mendaki lagi sukar, karena ia harus membebaskan diri dari perbudakan syahwat dan hawa nafsunya. Jika ego manusia tunduk kepada kehendak Allah maka terbuka pintu pengenalan ke nafs (self) nya, dan jika Ruh al-Quds telah Allah nyalakan di dalam qalb si nafs maka terang apinya akan menampakkan amr si nafs yang tertulis dalam dadanya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Apa yang terdeteksi secara fisik berupa gelombang otak, cahaya aura, atau akumulasi energi di cakra-cakra tubuh, berasal dari cahaya jasadi dan psikis, belum sampai menyentuh ke cahaya jiwa (nafs). Fisik manusia dibangun dari material alam mulk, nafs berasal dari alam malakut, dan aspek psikis manusia berasal dari entitas barzakh antara kedua alam tadi. Cahaya dan energi psikis di atas merupakan permukaan dari esensi cahaya nafs. Karena itu kesehatan yang bersifat fisik dan psikis semata akan cukup tercermin di aura, cakra-cakra dan gelombang-gelombang otak tertentu. Penyakit fisik datang dari pikiran yang tidak jernih. Dalam ajaran Buddha, pikiran tidak akan jernih jika ada kekhawatiran, dan kekhawatiran itu datang dari hawa nafsu dan syahwat. Pikiran itu terkait mind (fu’ad), dan Plato mengatakan bahwa hal pertama yang harus dilakukan dalam terapi medis adalah memperbaiki mind-nya dan cara berpikirnya lebih dahulu.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pikiran yang tak jernih bisa mematikan qalb, dan jika qalb mati berarti qalb kehilangan Cahaya Jabarut-nya dan ini berdampak lumpuhnya si nafs dalam diri manusia. Jika nafs dalam diri manusia lumpuh maka lumpuh pula kekuatan amr dalam dirinya, sehingga aksi fungsi transenden ke ruang kesadaran tidak terjadi. Orang yang sehat qalb-nya dari dosa-dosa dan penyakit hati akan sehat pula nafs-nya, dan jika si nafs sehat ia akan membimbing raga untuk menemukan obat bagi penyakit fisiknya, dan ini perlu waktu:&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Barang siapa sehat qalb-nya maka akan sehat jasmaninya” (Rasulullah SAW).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Arah dari setiap agama itu pada hakikatnya adalah demi transformasi aspek batin. Demikian pula dengan dharma insan yang bermakna mengerjakan urusan-urusan dunia yang cocok dengan jiwanya agar tak terjadi konflik batin, dan kebersihan batin yang jernih tanpa distorsi nafsu itu akan sangat berguna dalam melihat kebenaran Ilahiah dan sekaligus membuka jalan. Berdharma artinya menyelamatkan qalb: jika seseorang telah bekerja pada dharma-nya (pada orbitnya) maka di situ tidak ada pertentangan antara mana urusan dunia dan mana urusan akhirat; semua menjadi bermakna akhirat dan menyenangkan bathinnya. Orang yang menjalankan dharma-nya, kebahagiaannya tidak bisa dinilai dari luar dirinya, apalagi diukur oleh kacamata syahwat dan pikiran yang telah terbius oleh waham kelezatan duniawi. Orang bisa memandang bahwa ia tengah bekerja keras dan menderita, padahal bagi dirinya merupakan berkah dan kebahagiaan, bagi ia penderitaan hidup itu pada hakikatnya tidak ada.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dengan mengerjakan misi hidupnya atau qudrah dirinya (dharma yoga) maka qalb orang itu terselamatkan dari penyakit fikiran, dan jika qalb selamat (qalbun salim) ia akan ‘melihat’ Tuhannya. Kata Al-Ghazali, satu-satunya perangkat dalam diri manusia untuk ber-ma’rifatullah adalah qalb-nya. Qalb adalah rasa si jiwa (nafs) dan bukan rasa psikis (emosi) yang dapat tersentuh oleh observasi psikologis, ia adalah makhluk ruhani. Lebih jauh Al-Ghazali berkata bahwa jika seseorang tidak mengenal qalb-nya maka tidak akan mengenal nafs-nya; jika nafs tidak dikenal maka dharma tak dikenal; jika dharma tak dijalankan maka terputus jalan untuk menuju Sang Pencipta; dan jika ia terputus jalan maka kesadarannya tidak akan melampaui alam-alam, sehingga kebijakan-kebijakan Ilahi dalam kehidupan semesta tak terpahami (oleh akal bawahnya). Maka dikatakan Allah SWT bahwa hanya Ulul-Albaab (orang yang memiliki akal jiwa/lubb) yang bisa memahami ayat-ayat-Nya, dan lubb itu tidak menyala jika cahaya qalb padam.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Inteligensia atau kecerdasan fisik kekuatannya hanya menyentuh sejauh alam fisik. Jika kita mencoba menggunakan kecerdasan fisik untuk menggeneralisasi atau menginduksi imajinasi ke alam malakut, maka hal ini seperti nasib elemen-elemen vektor yang jika dioperasikan bagaimanapun dengan hukum-hukum ruang vektor, tidak akan melompat keluar dari ruang vektornya. Akibatnya “pantai yang lain” selalu tak diketemukan. Kecerdasan ‘bawah’ hanyalah bayangan dari kecerdasan jiwa (kecerdasan ‘atas’) yang mestinya bisa dilahirkan dengan jalan mujahadah dalam tazkiyyatun-nafs.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Lantas apa sebenarnya kecerdasan itu? Apa makna dari IQ, EQ, dan sekarang SQ? Dan jika melihat struktur dasar manusia yang terdiri dari jasad, jiwa, dan Ruh al-Quds, apakah seseorang bisa langsung mengklasifikasi adanya kecerdasan jasadi, kecerdasan jiwa, dan kecerdasan Ruh al-Quds?&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Menurut Ibnu ‘Arabi dan beberapa shufi yang lainnya, bahwa alam semesta itu “mengenal” Allah SWT, alam memahami status dirinya di depan Tuhan. Maka kita melihat bahwa apa pun yang mewujud di alam syahadah ini memandang kepada Sang Pewujud, ini sebuah “kesadaran” dan sebuah “kecerdasan”.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sebenarnya yang membuat materi itu memiliki kecerdasan karena di dalam dirinya hadir Kuasa Tuhan, sentuhan ‘jari’-Nya terhadap ‘ain segala sesuatu itulah yang membuat segala sesuatu menjadi memiliki wujud, baik di alam mulk ini, terlebih wujud-wujud yang eksis di alam malakut. Maka semua yang Dia wujudkan akan memiliki kecerdasan karena di dalam dirinya ada al-haq, bukankah hakikat segala sesuatu itu al-haq? Secara fisis saja sebuah batu itu mati tampaknya, padahal jika diteropong secara sub atomik maka tampak penuh dinamika, penuh kehidupan, masing-masing partikel bergerak pada orbitnya, memiliki energi, mereka hidup dalam dharma-nya masing-masing, mereka melihat kepada Penciptanya dan mereka mengerjakan itu demi ridha-Nya. Secara fisika, hanya dalam suhu nol mutlak (nol derajat Kelvin = -273 C) maka semua aktivitas terhenti, tapi adakah dimensi di situ? Otak kita adalah materi yang secara intrinsik memiliki “kecerdasan”, tapi pada orang yang mati (hilang ruh dan nafs-nya) apakah otaknya memiliki kecerdasan insani? Seperti halnya pada binatang, yang membuat menjadi memiliki kecerdasan karena adanya ruh hewani, tapi apakah seekor ternak memiliki kecerdasan insani yang kita maksud?&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kecerdasan jasadiah sendiri pada dasarnya berasal dari cahaya nafs dalam tubuh jasad yang bertemu dengan aspek ruh yang menghidupkan jasad. Pertemuan nafs yang hidup dengan potensi kecerdasan lubb-nya dengan potensi kecerdasan lubb-nya dengan tubuh yang memiliki ruh, selain melahirkan “akal bawah” juga melahirkan sejumlah entitas yang lain dengan modus kecerdasan yang berbeda-beda.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kecerdasan jiwa berkait erat dengan akal-jiwa (lubb) sebagai kecerdasan ‘atas’ atau akal ‘atas’. Apa yang terukur dengan IQ tidaklah berkaitan dengan akal ini melainkan kecerdasan ‘bawah’ belaka. Artinya jika jiwa atau nafs seseorang lumpuh karena dosa-dosa menutup qalb, maka ia masih memiliki akal ‘bawah’. Adapun jika jiwa ‘hidup’ dan akalnya (lubb) sudah tumbuh, maka dikatakan orang tersebut hidup dengan ‘dua akal’, sebagaimana psyche yang diberi lambang kupu-kupu bersayap dua, atau makna dua sayap pada gambaran malaikat. Ilustrasi tentang dua akal ini juga bisa dikenali dalam “Suara Sayap Jibril”, Suhrawardi Al-Maqtul [10].&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Adapun makna kecerdasan Ruh al-Quds adalah di luar jangkauan makhluk karena nisbatnya ke Martabat Ilahi. Antara Ruh al-Quds dengan ruh yang menghidupkan jasad insan, perumpamaannya seperti perbandingan antara api dengan terangnya (nyala api), atau ruh yang menghidupkan jasad bagaikan hanya hembusan nafas Ruh al-Quds. Nabi Isa a.s. adalah seorang yang di dalam tubuhnya selain memiliki nafs juga memiliki Ruh al-Quds, maka ketika ia membuat bentuk burung dari tanah liat dengan tangannya, kemudian ia tiupkan melalui mulutnya nafas dari Ruh al-Quds, maka jadilah burung itu hidup dan terbang. Hakikat dari spiritus ini bersifat metafisik dan tak terukur, sementara dayanya tampil di dunia fenomena dalam bentuk-bentuk yang tak terbatas.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Status spirit (ruh) yang samar dalam struktur manusia membawa dampak penyempitan bahkan penyimpangan makna dari arti yang sesungguhnya. Ruh Al-Quds merupakan oknum rahasia (sirr) Ilahi dalam diri manusia, yang tinggal di inti jiwa (nafs, soul), al-insaanu sirriy wa Anaa sirruhu (Al-Hadits). Daya atau nafas dari Ruh Al-Quds yang berdampak menghidupkan jasad (body) manusia kerap menimbulkan kebingungan dalam mengidentifikasi yang mana jiwa dan yang mana ruh. Istilah nyawa dalam literal masyarakat tidak lain adalah nafas dari sukma (ruh), dan kata arwah (ruh-ruh) sering secara keliru dimaknai sebagai nafs (jiwa) yang akan diadili di alam Barzakh. Ruh Al-Quds adalah ruh al-arwaah, yang nafasnya merupakan al-kimiya (alkemis) yang menghidupkan jasad insan, suatu entitas yang pada prinsipnya sama dengan entitas yang menghidupkan tubuh seekor kambing atau burung tanah Isa Al-Masih a.s. Sementara istilah jiwa sering menyempit maknanya menjadi sekadar gejala-gejala psikis.&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgn9OB-xNqKOd5dap0bfsRbo7oK3yxPW4nh3qypBRukNVCoy_CMxCPfOKARc66OCdyaF1uAhlypa2ZfjeXM1ZLtRKAkgSndhR60LevcFOg76Fo1mdWc9VZ6jAGgti5hBrXYMKWZ1OKDYhCD/s1600/10.gif&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;325&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgn9OB-xNqKOd5dap0bfsRbo7oK3yxPW4nh3qypBRukNVCoy_CMxCPfOKARc66OCdyaF1uAhlypa2ZfjeXM1ZLtRKAkgSndhR60LevcFOg76Fo1mdWc9VZ6jAGgti5hBrXYMKWZ1OKDYhCD/s400/10.gif&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Konsep Ruh Al-Quds dalam Al-Quran identik dengan konsep ‘Holy Spirit (Holy Ghost)‘ dalam Bible, sebagai entitas yang hadir dari Alam Jabarut, dan ini sering dipertukarkan dengan entitas yang hadir dari alam malakut tertinggi yaitu Jibril a.s. sebagai Ruh Al-Amin (Asy-Syu’araa [26]: 193) yang membawa anugrah-anugrah tertinggi bagi manusia.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Makna api sebagai pelita dalam An-Nuur [24]: 35 sama dengan makna kehadiran lidah-lidah api di Hari Pentakosta dalam Perjanjian Baru (Kisah Para Rasul 2: 1-13) yang membaptis dua-belas sahabat Isa Al-Masih a.s. sebagai para utusan bagi kenabiannya, sesuai dengan yang beliau alaihis-salam janjikan (Yohanes 14: 15-17). Apa yang dinisbatkan kepada martabat insan adalah aspek nafs dan jasadnya, adapun sekali lagi, aspek Ar-Ruh bernisbat ke martabat Ilahi. Trilogi Tuhan, Ruh-Al-Quds, dan an-nafs, menggambarkan turunnya (tanazzul) urusan Ilahi atas manusia-manusia terpilih, dimana urusan (amr dharma) tersebut oleh Ruh Al-Quds dibawa dan diletakkan di inti jiwa, bukan di aspek psikis terlebih di pikiran jasadiyyah.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Penggunaan istilah spiritual pada konstruksi SQ (Spiritual Quotient) sebagai suatu ratio atau ukuran yang brain-based tampak menjadi paradoks, karena entitas spiritual yang bersifat immaterial dan tak terbatas diukur oleh kecerdasan yang bersifat material (neurological basis) dan terbatas.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Konsepsi self Jung berbeda dengan konsepsi self SQ. Jung meletakan self sebagai sub ordinat manusia yang harus direalisasi, merupakan arketipe terpenting di kedalaman unconsiousness yang harus disadari agar kepribadian total (psychê) sebagai “kepribadian target” menjadi terwujud. Adapun SQ meletakan self sebagai psychê yang hadir sejak awal dan terus-menerus melakukan penyempurnaan diri. SQ melihat adanya paradoks dalam konsep individuasi Jung:&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jung after thought the Self only become accessible to people after the mid-life crisis. At that point, in conjunction with his ‘transcedent function’, the self archetype synthesized opposites in the personality, such as thinking and feeling. The Self archetype and the transcendent function were the symbol and process of self-transformation. But Jung thought self-transformation most appropriate to later life, whereas associate it with spiritual intelligence and think it potentially active throughout life. In terms very similar to what I have been saying about SQ, Jung felt the Self archetype could not be dissociated from the psychologically integrating role played by the pursuit of meaning and purpose in life.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Konsep self dan proses individuasi dalam psikologi analitik Jung secara umum sejalan dengan proses realisasi-nafs (jiwa) dalam terminologi quraniyyah. Adalah wajar terjadi kesesuaian karena Jung melakukan studi 14 tahun atas simbol mandala berdasarkan literatur-literatur dimensi batin banyak agama, dimana faktanya Jung menemukan bahwa simbol-simbol mandala ini sering muncul pada pasien-pasien yang mengalami konflik batin (konflik jati-diri) pada usia 40-tahunan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Al-Quran menyinggung ihwal pertumbuhan pribadi insan hingga baligh-nya dan ihwal usia 40-tahunan, dimana manusia sudah harus melakukan proses taubat (Al-Ahqaaf [46]: 15). Dengan proses taubat maka fitrah insani dalam arti yang haqiqi akan terbuka (Ar-Ruum [30]: 30-31), dimana fitrah ini terkait dengan persoalan swabhawa-swadharma dan qadha-qadar, dan ini terletak di nafs manusia yang harus direalisasi. Jika manusia melupakan Allah SWT, atau menomorduakan urusan Tuhannya, maka Dia akan membuat si manusia tersebut lupa akan nafsnya (Al-Hasyr [59]: 18-19), dan lumpuhlah si nafs itu dari berkata-kata (nathiqah) ihwal fitrah dirinya padahal kesaksian tentang perkara “misi hidup” ini telah diambil si nafs sebelum ia dimasukkan ke rahim ibu (Al-’Araaf [7]: 172).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ibnu ‘Arabi rahimahullah menyinggung ihwal usia 40 tahun ini ketika beliau menafsirkan makna dari “sapi betina” yang tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda, dan yang berwarna kuning tua (Al-Baqarah [2]: 68-71):&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kuning tua adalah warna insan (Bani Israil, pada waktu itu). Yang dimaksud dengan tidak terlalu tua artinya tidak melewati “umur kesiapan” (istidaad), karena si nafs telah terpadati oleh waham-waham, kebiasaan-kebiasaan, dan keyakinan-keyakinan lama yang melekat kuat, sebagaimana dikatakan bahwa seorang shufi di atas 40 tahun telah “dingin”. Juga tidak terlalu muda, artinya masih belum matang dan belum memiliki “kesiapan”, masih sulit untuk mendapatkan didikan yang ada dalam riyadhah karena tabiat keanakan masih melekat kuat dalam dirinya.[11]&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Seperti telah dibahas, bahwa Jung tidak berani melakukan identifikasi psikologis lebih lanjut atas selfnya kecuali menyematkan pangkat paripurna terhadap self sebagai Imago Dei. Jung kehilangan elemen penghubung yang mengkaitkan antara self sebagai makhluk dengan Dei (Tuhan) sebagai pencipta self. Meskipun Jung menunjuk figur Kristus dan Buddha sebagai contoh dari Imago Dei, ia tidak menemukan konsepsi yang menghubungkan status holy Spirit dengan self dan Tuhan. Di titik ini proses-proses rekonstruksi tentang “hakikat manusia” menjadi terhenti ketika data-data agama yang digunakannya dalam proses analisis-sintesis, terbatas. Jika struktur insan sebagai Cahaya Ilahi, atau “struktur status” yang menampakkan rahasia Ilahi tidak dipahami, maka persoalan hubungan spirit-self dan psikis-self menjadi tidak jelas. Samarnya persoalan ini pada konstruksi SQ menimbulkan paradoks seperti kalimat “spiritual intelligence is the soul’s intelligence” sementara pengukuran-pengukuran dilakukan di tingkat psikis bukan di fundamennya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Zohar dan Marshall menggunakan mandala teratai atau lotus sebagai model bagi self, di mana dalam filsafat Timur lotus merupakan lambang integrasi, simbol tertinggi dari ketotalan (wholeness). Mereka mengklaim bahwa esensi dari SQ yang mereka konstruk merupakan kecerdasan tertinggi (the ultimate intelligence) yang merepresentasikan suatu dinamika pencapaian ketotalan self. Konsepsi SQ membagi self kedalam tiga bagian (tiga lapis) mandala lotus :&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;(1) Lapis terluar dari self (outer petals) mereka identifikasi berdasarkan pemahaman barat modern, yaitu dalam persepektif ego sadar (conscious ego). Cara pandang ego yang bersifat rasional dikaitkan dengan tract-tract neural otak dan program-program yang bersifat serial. Pada prinsipnya, lapis terluar ini mereka identifikasi dengan attitudes dan functions psikologi analitik Jung, dan enam tipe kepribadian dari psikolog Amerika J.L.Holland.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;(2) Lapis menengah lotus (lapis transisi) merupakan associative unconscious yang dihubungkan dengan konsepsi Jung tentang personal dan collective unconscious. Mereka menghubungkan aspek ini dengan geometri paralel dari jaringan neural otak, suatu proses pemahaman yang tidak berfikir secara rasional. Adapun faktor penghubung antara lapis terluar self (conscious ego) dengan associative middle (unconsciousness) adalah motivasi. Ego tidak bisa memperbaiki dan mentransformasi dirinya sendiri, ego merupakan sumber daya bagi lapis terdalam ketaksadaran. Bagi mereka, proses transformasi ego terjadi melalui energi psikis, dimana energi ini terkait dengan konsentrasi energi di cakra-cakra tubuh dalam konsepsi Yoga Kundalini Hindu. Energi psikis ini merespons motivasi-motivasi personal. Maka motif-motif menjadi elemen penting dalam membangkitkan kecerdasan spiritual SQ. Cakra-cakra energi ini juga menghubungkan lapisan unconscious dengan pusat (centre) terdalam dari self. Lapis menengah ini merupakan kolam motif-motif, energi-energi, citra-citra, asosiasi-asosiasi, dan arketipe-arketipe yang mempengaruhi pola pikir, kepribadian, dan tingkah laku, dari arah “dalam”. Bagi mereka , lingkup ego berkaitan dengan IQ dan bagaimana cara kita mengidentifikasi sesuatu. Adapun lingkup associative middle berkaitan dengan EQ dan bagaimana cara kita merasakan sesuatu.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;(3) Bagian pusat dari lotus disebut ‘bud‘. Pusat dari self ini merupakan fokus utama dari konstruksi SQ, karena berkaitan dengan pengalaman-pengalaman tentang penyatuan realitas-realitas. Pengalaman-pengalaman tersebut, menurut Zohar dan Marshall, berkaitan dengan hadirnya osilasi simultan 40 Hz yang melintas di neural-neural otak, dimana osilasi pada frekuensi ini berfungsi menyatukan pikiran-pikiran, emosi-emosi, simbol-simbol, asosiasi-asosiasi, dan persepsi-persepsi, sehingga self dalam kondisi terintegrasi. Menurut mereka, berdasarkan seluruh tradisi-tradisi mistik Timur dan Barat, bahwa ada aspek self yang berada diluar lingkup bentuk-bentuk, ini disebut sebagai sumber (source), atau Tuhan. Segala apa yang manifest di self-SQ, baik itu berwujud fisik maupun psikis yang tak disadari, berasal dari suatu sumber yang berada di balik semua yang manifest. Sumber ini dalam kerangka sains abad duapuluh dikaitkan dengan Quantum Vacuum yang merupakan ground state dari energi alam semesta. Secara fisika kuantum, self merupakan ko-sumber dari segala yang manifes di realitas fisik.&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiJIphy0eli-3IPxLscK5o0OWFTOQfQbh1xKkGBQU5FPqRwjXdACVpIvqnx1WeBF8nwZHORQE0pevPE4gFTeWRZmsjqu85vpHDeCYy3e00P8WAEChvucCPHGv8YnxJgXDBGbTbYKtkE_4cW/s1600/11_insan_lotus.gif&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiJIphy0eli-3IPxLscK5o0OWFTOQfQbh1xKkGBQU5FPqRwjXdACVpIvqnx1WeBF8nwZHORQE0pevPE4gFTeWRZmsjqu85vpHDeCYy3e00P8WAEChvucCPHGv8YnxJgXDBGbTbYKtkE_4cW/s400/11_insan_lotus.gif&quot; width=&quot;326&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Apa yang Zohar dan Marshall sebut sebagai kecerdasan spiritual (SQ) adalah suatu status kecerdasan manusia ketika ketiga aspek dari self tersebut (ego, unconsciousness, dan centre) mengalami integrasi dan menyatu secara psikis. Bagi mereka, pengetahuan tentang pusat self merupakan kunci untuk membangkitkan dan menggunakan SQ, sebaliknya ketidakmengenalan ihwal pusat ini merupakan sebab utama dari ketumpulan spiritual. Dan, proses individuasi Jung yang bernuansa spiritual merupakan tujuan dari SQ. Energi psikis terdalam dari pusat lotus berkaitan dengan Cakra Hindu ke-tujuh, cakra mahkota:&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;The Crown Chakra, located outside the body, above the head, it is often depicted in religious paintings of the Western tradition as halo. It is pure, luminous energy, sheer light, one light, beyond names and forms, beyond thought and experience, beyond even concepts of “being” and “non-being”. Represented by a thousand-petalled lotus shedding rays of lunar light, the crown chakra realizes the pure union of the human soul with whatever we call ‘God’.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Thought the energies of the crown chakra can create new symbols and forms, this chakra itself is beyond all existing symbol and form. We can experience this pure energy in spontaneous mystical experience of Unity, and it is very commonly reported in near death experiences. Dante describes such an experience in his Paradiso.( [9], p.158 )&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sebenarnya yang terobservasi secara fisik berupa cakra mahkota dan aura tubuh masih terkait sirkulasi chi (Qi) tubuh yang sangat dipengaruhi dan dikendalikan oleh jalan pikiran jasadiah. Aura masih dalam lingkup cahaya material jasad yang teramplifikasi, karena itu wajar jika konsentrasi energi cakra-cakra tubuh akan terintensifikasi oleh emosi-emosi. Jadi cakra mahkota belum menyentuh cahaya jiwa (nafs) yang sebenarnya, yang bersifat malakut. Dalam ajaran Budhisme Zen, bahwa pusat terdalam dari lotus merupakan suatu tempat diluar kemungkinan apapun yang bisa kita bayangkan (a place beyond all imagining).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Makna pusat spiritual dari mandala lotus Zen semakin dipersempit lagi ketika diukur berdasarkan basis neurologi. Dalam membangun model selfnya, Zohar &amp;amp; Marshall memaksakan suatu identifikasi sains atas atribut-atribut dan entitas metafisika atau malakut.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;I believe this fuller model of self can be described only by combining the insights of modern Western psychology, those of the Eastern philosophies, and many from twentieth century science, ( [9], p.124)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Until the late twentieth century only this kind of language desribed the unitive energy found at the centre of the self and of the existence. But such accounts don’t speak to the modern mind. Today such questions demand ’scientific’ answers, brain phenomena that we can ‘weight and measure’, experiments that we can read about.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Neurologically, that the brain’s unitive experience emanates from synchronous 40 Hz neural ascillations that travel across the whole brain. They provide a ‘pond’ or ‘background’ on which more excited brain waves can ‘ripple’, to generate the rich panoply of our conscious and unconscious mental experience. These oscillations are the ‘centre’ of the self, the neurological source from which “I” emerge. They are the neurological ground of our unifying, contextualizing, transforming spiritual intelligence. It is through these oscillations that we place our experience within a framework of meaning and value, and determine a purpose for our lives. They are a unifying source of psychic energy running through all our disparate mental experience ([9], p. 159)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;For the physics that best describes the centre of the cosmos we must turn to quantum field theory, the late twentieth century adaptation of quantum physics. Quantum field theory describes all existing things as being states or patterns of dynamic, oscillating energy. The grounds state of all being is a still ‘ocean’ or background state of unexcited energy called the quantum vacuum.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;This vacuum is scientific version of the Buddha’s handkerchief, the One Thing which, when tied into many knots, appears as many manifestations. All things that exist are excitations of the quantum vacuum, and the vacuum therefore exists as the centre within all things. Vacuum energy both underlies and permeates the cosmos. Because we ourselves are a part of this cosmos, vacuum energy ultimately underlies and permeates the self. We are ‘waves’ on the ‘ocean’ of the vacuum; the vacuum is the ultimate centre and source of the self. When the self is trully centred, it is centred in the gorund of all being. On our lotus of the Self diagram, the quantum vacuum is the ‘mud’ out of which the stem of the lotus grows. ([9], p. 160).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;5. Resume dan Kesimpulan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;margin: 5px 20px 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;margin-bottom: 2px;&quot;&gt;&lt;input onclick=&quot;if 
(this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName(&#39;div&#39;)[1].getElementsByTagName(&#39;div&#39;)[0].style.display
 != &#39;&#39;) { 
this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName(&#39;div&#39;)[1].getElementsByTagName(&#39;div&#39;)[0].style.display
 = &#39;&#39;;        this.innerText = &#39;&#39;; this.value = &#39;TUTUP&#39;; } else { 
this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName(&#39;div&#39;)[1].getElementsByTagName(&#39;div&#39;)[0].style.display
 = &#39;none&#39;; this.innerText = &#39;&#39;; this.value = &#39;LIHAT LAGI&#39;; }&quot; style=&quot;font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: 125px;&quot; type=&quot;button&quot; value=&quot;LIHAT&quot; /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;border: 1px inset; margin: 0px; padding: 6px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;display: none;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Terapi-terapi klinis dalam lingkup psikologi Barat lebih banyak bergerak di tingkat ego, umumnya mencoba untuk menata gejala-gejala psikis di tingkat fenomenal bukan di sumbernya. Sumber penyakit psikis merupakan medan kontinum yang dibangun oleh dua kutub, kutub atas berpusat di ego sadar dan kutub bawah berpusat di dasar ketaksadaran yang paling dalam. Dua kutub ini saling menginduksi sehingga cenderung saling menguatkan dan saling membesarkan satu sama lain. Beberapa alat psikologi modern mencoba merecall sumber-sumber penyakit psikis dari kedalaman ketaksadaran. Freud dan Jung menyadari dan “melihat” bahwa kekuatan “penghancur” terbesar justru berasal dari sumber-sumber tertentu di kedalaman ketaksadaran.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Samarnya pengetahuan tentang struktur manusia di peradaban Barat modern mengakibatkan para psikolog Barat hingga dewasa ini belum mampu merumuskan konsepsi terapi di tingkat bawah sadar. Apa yang menjadi sumber penyakit di kedalaman ketaksadaran merupakan konstruksi dari produk interaksi antara kontaminan-kontaminan yang ditenggelamkan ego ke lautan ketaksadaran dengan daya dari memori psikis tertentu yang dibawa jiwa (nafs). Jung mengaitkan memori psikis ini terutama dengan arketipe shadow, meskipun Freud tidak setuju dengan gagasan Jung tentang collective unconscious tapi ia setuju dengan ide racial memory.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Konsep fitrah dalam Al-Qur’an bukan berarti setiap bayi seperti kertas putih yang sama, mereka memang tidak mewarisi dosa tetapi daya-daya psikis orang tuanya secara potensial di bawa si bayi. Kondisi psikis kedua orang tuanya saat terjadi pembuahan hingga pertumbuhan janin di rahim si ibu diwariskan di lapis psikis si bayi. Struktur genetik (material) akan beresonansi dengan fluktuasi psikis dan pikiran (non material), elemen penghubung sisi material dengan non material dalam hal ini adalah entitas chi dan cahaya material. Sebagai catatan, cahaya material (terkait aura tubuh) merupakan elemen kelima (the fifth elemen) produk penyatuan keempat elemen dasar (tanah, api, air, udara) oleh nafas ruh. Dan apa yang disebut fitrah itu sendiri, seperti telah kita bahas, berkaitan dengan swabhawa si nafs.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Aspek olah jiwa (suluk) atau dimensi batin dari agama-agama sebenarnya untuk tujuan transformasi dari “arah dalam,” mengubah sayyi’ah-sayyi’ah menjadi hasanah-hasanah (Al-Furqaan [25]: 70-71). Apa yang disebut dengan kecerdasan, di tingkat apapun merupakan produk dari transformasi-transformasi diri, terutama transformasi jiwa. Dalam konsep Al-Qur’an, kecerdasan seseorang dalam suatu lingkup dharma berbanding lurus dengan tingkat kesucian jiwa yang diperoleh lewat jalan taubat (Al-Mu’min [40]: 13). Jika jiwa tumbuh maka akal jiwa (lubb) akan tumbuh juga, sehingga hiduplah akal luar dan akal dalamnya, sejalan dengan apa yang dikatakan Rasulullah SAW:&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Jika seorang manusia berbuat dosa maka akan hilanglah sebagian akalnya dan tak kembali lagi untuk selama-lamanya” (Al-Hadits)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Menurut Zohar dan Marshall, adalah tidak mungkin untuk dapat memahami secara dalam ihwal kecerdasan spiritual (SQ) tanpa meninjau isu-isu seperti: Where do we come from? What is our origin in time? How big is the story of which we are a part? What are we rooted in? How long do we last? Where are the ultimate boundaries of our human existence? What is the source of our intelligence? ([9], p. 115). Mereka membangun model self (versi SQ) yang diharapkan bisa paralel dengan isu-isu di atas. Kecerobohan terjadi ketika mereka mengidentifikasi entitas pusat (centre) dari self dengan quantum vacuum.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Keadaan vakum merupakan ‘lautan’ energi dasar yang berkaitan dengan manisfestasi dan kristalisasi wujud-wujud di alam syahadah (mulk) sebagai realitas-realitas eksternal, boleh dikatakan sebagai hakikat dari segala apa yang manifes secara fisik (alam semesta fisik). Sementara hakikat dari jiwa (nafs atau self dalam arti yang sebenarnya) merupakan “quantum vacuum” yang terletak di alam malakut, bukan di alam mulk. Simbol lotus dalam terminologi Zen merupakan sumber dari segala yang manifes, mencakup seluruh ‘langit’ dan ‘bumi’.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam konsepsi agama, yang disebut dengan semesta alam mencakup jabarut, malakut, dan mulk. Bunga lotus melambangkan manifestasi malakut dan mulk sebagai aspek yang “tampak”, sementara aspek “tak tampak”nya berupa air yang mengalir di dalam tubuh lotus, melambangkan alam jabarut yang bernisbat ke Martabat Ilahi. Pusat dari lotus merupakan “aspek langit” atau aspek malakut yang memang berhadap-hadapan dan dipasangkan dengan “aspek bumi” atau aspek fisik. Dan yang disebut dengan Tao oleh Lao Tzu dalam Kitab Tao Tee Ching merupakan aliran Hukum Ilahi yang menganak sungai alam semesta dan sekaligus mengsinkronkan antara hukum-hukum yang bekerja di alam malakut dengan hukum-hukum yang bekerja di alam fisik. Dan tampaklah bahwa segala sesuatu yang manifes di alam fisik merupakan fraktal dari persoalan langit dan bumi, perempuan dan laki-laki, yin dan yang.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jika isu-isu yang dikemukakan Zohar dan Marshall diatas sebagai syarat untuk membangkitkan kecerdasan spiritual (SQ), maka sains yang hanya menyentuh alam fisik secara terbatas tidak bisa berbuat banyak. Isu-isu yang diangkat tersebut hanya bisa dijawab sepenuhnya oleh dimensi batin agama, dan ini memerlukan kesucian batin berdasarkan rahmat Allah SWT, karena sisi batin agama atau aspek batin dari kitab-kitab agama termasuk Al-Qur’an tidak akan tersentuh kecuali dengan kebersihan jiwa.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Itu adalah Al-Qur’an yang Mulia, di dalam Kitab yang terpelihara, tidak ada yang bisa menyentuhnya kecuali orang-orang yang dibersihkan (al-muthaharun)” (Al-Waqi’ah [56]: 77-79).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Arti dari dvijottama atau dwi-jati-utama dalam Bhagavad-Gita adalah jiwa yang telah dilahirkan dua kali, yang pertama dilahirkan secara jasmani dan yang kedua secara ruhani. Dalam kultur Hindu, hanya orang yang telah mengalami kelahiran dua kali yang diizinkan membaca kitab suci Weda, dan tujuan pendidikan dalam agama Hindu adalah upaya ke arah penghidupan batin. Nabi Isa Al-Masih a.s. dalam Injil Barnabas juga menyinggung ihwal dua kelahiran tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam konsepsi Islam, si nafs dilahirkan atau dihadirkan ke alam fisik secara “virtual reality” melalui jasmaninya, dan kelak si nafs harus mengejawantahkan atau melahirkan isi ruhaninya. Isi ruhani yang harus diejawantahkan hingga ke tingkat jasmani ini merupakan dharma atau amal shalih si nafs (jiwa) yang sesuai dengan Kehendak-Nya. Aspek ruhani ini merupakan ketetapan jiwa yang diperkuat oleh Ruh Al-Quds sebagai utusan Allah SWT di dalam diri. Dan Ar-Ruh ini yang akan mengajari insan tersebut tentang kebenaran dan hakikat-hakikat dari Kitabullah[12].&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Tidak memuat-Ku langit-Ku dan bumi-Ku, yang memuat-Ku hanyalah qalb hamba-hamba-Ku yang mu’min” (Hadits Qudsi). &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Kerajaan Tuhan ada di dalam dirimu” (Al-Masih a.s.).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Daud a.s. dikatakan sebagai seorang yang berhati Tuhan, beberapa kutipan dari Mazmurnya sebagai berikut:&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Aku memuji Tuhan yang telah memberi nasihat kepadaku, bahkan di waktu malam hati nuraniku mengajari aku. Aku senantiasa memandang Tuhan, karena Ia berdiri di sebelah kananku” (Mazmur 16: 7-8).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Karena Engkaulah yang telah membuat pelitaku menjadi menyala” (Mazmur 18: 29). &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Dia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang dan hakmu seperti siang” (Mazmur 37: 6).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pengetahuan tentang Ar-Ruh ini sedikit dipahami karena berkaitan dengan alam Amr di Martabat Ilahi, dan rahasia ihwal perkara ini di alam syahadah (fisik) tidak banyak dibuka.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dan oknum spiritus ini, ketika struktur manusia tidak dipahami, sering menjadi sumber kekacauan utama dalam proses identifikasi manusia, baik itu dalam lingkup filsafat, psikologi, maupun dimensi luar dari agama. Seperti berenang ke dalam laut yang dalam untuk mencari sebab air laut pasang dan surut, sementara rembulan, sang fungsi transenden, tak tampak.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Tiap-tiap sesuatu bekerja menurut caranya (orbitnya) masing-masing, maka Rabbmu mengetahui siapa-siapa yang terpimpin jalannya (huwa ahda sabiila). Dan mereka bertanya kepadamu ihwal Ar-Ruh, katakanlah bahwa Ar-Ruh itu dari amr Rabbku, dan tidak kamu diberi pengetahuan tentang ini kecuali sedikit” (Al-Israa [17]: 84-85).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dari ayat di atas, jelas bahwa aspek Ar-Ruh atau Ruh Al-Quds (Holy Spirit) dihubungkan dengan orbit diri atau misi hidup tiap-tiap insan yang unik satu sama lain. Dan rahasia dari Ar-Ruh ini terletak di nafs, dan seperti Al-Ghazali katakan bahwa jika qalb tak dikenal maka nafs tak dikenal. Siapa yang seolah-olah melupakan Allah, maka Allah buat dia lupa akan nafsnya, sehingga tertutuplah jalan untuk mengenal Dia. Barang siapa tidak mengenal nafsnya maka ia tidak akan mengenal Tuhannya.[]&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Referensi&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;[1] Koswara, E., (1991). Teori-teori Kepribadian. Eresco, Bandung.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;[2] Jung, C.G., (1987). Menjadi Diri Sendiri, Pendekatan Psikologi Analitis. Terjemahan A. Cremers, Gramedia, Jakarta.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;[3] Adlin, A., dan I. Suryolaksono, (2000). Reduksi Konsepsi Manusia: Tinjauan Umum Pada Era Pramodernisme, Modernisme, dan Postmodernisme. Journal of Psyché, 1, 15-50.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;[4] Jamaluddin-T., Z.A., (1992). Catatan Kuliah Serambi Suluk. PICTS-YPP, Bandung.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;[5] Al-Ghazali, (1985). Kitab Ajaibul Qulub, Ihya Ulumuddin, Terjemah Ismail Ya’qub, Faizan, Jakarta.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;[6] Jamaluddin-T., Z.A., (1997). Misykat Cahaya-cahaya. PICTS-YPP, Bandung.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;[7] Jamaluddin-T., Z.A., (1994). Mata Air Agama-agama. PICTS-YPP, Bandung.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;[8] Hall, C.S., dan G. Lindzey, (1985). Theories of Personality. John Willey &amp;amp; Sons, New York.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;[9] Zohar, D., dan I. Marshall, (2000). SQ, Spiritual Intelligence, The Ultimate Intelligence. Bloomsbury, London.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;[10] Suhrawardi, S.Y., (1992). Hikayat-hikayat Mistis Suhrawardi Al-Maqtul. Terjemahan Mizan, Bandung.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;[11] Tafsir Al-Qur’an Ibnu ‘Arabi.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;[12] Sastra Jendra, PICTS-YPP, Bandung.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;source : &lt;a href=&quot;http://suluk.blogsome.com/2005/06/21/struktur-insan-dalam-al-quran-apa-yang-tersentuh-oleh-psikologi-analitik-dan-status-kecerdasan-spiritual-sq&quot; target=&quot;blank&quot;&gt;SULUK&lt;/a&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/feeds/5235129853842235227/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/2010/08/struktur-insan-dalam-pandangan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/4681687974444904579/posts/default/5235129853842235227'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/4681687974444904579/posts/default/5235129853842235227'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/2010/08/struktur-insan-dalam-pandangan.html' title='Struktur Insan Dalam Pandangan Qur’aniyah'/><author><name>Edi Sugianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14020089984610322057</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGzeexTJJ5-aiaE_2XnxpUrS2D0wSodFfxEARZ9eOUxR9Np3cagCLixSLzkhkGcUwvIUrBg2DituWXBx_GIbXRZzPlECBhFtxqcaVwaR26-gUrt36VprkAx0ni2qR3TQ/s80/Edi+icon+80px.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhrOpKsAdtknFisGQrUVXfxb9WmUHHQmZgmNf0VLvoQlgF3RuESqLjcuW45rYTnrfRmfLOhq4mmGumtWV2gA2caKJ1MaQaE8Yfk9Vk-OTyxF-5yefz9_FBIh9K1oJjd9-huTflpEFjC9QHi/s72-c/misykat_struktur_insan.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4681687974444904579.post-6002170815978476347</id><published>2010-07-31T05:09:00.001+07:00</published><updated>2010-08-08T19:08:25.365+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tasawuf"/><title type='text'>Pohon Kebajikan</title><content type='html'>Oleh &lt;b&gt;&lt;a href=&quot;http://surrender2god.wordpress.com/mengenal-m-r-bawa-muhaiyaddeen/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Muhammad Raheem Bawa Muhaiyaddeen&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
(diterjemahkan oleh &lt;a href=&quot;http://surrender2god.wordpress.com/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Dimas Tandayu&lt;/a&gt; dan &lt;a href=&quot;http://suluk.blogsome.com/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Herry Mardian&lt;/a&gt;).&lt;br /&gt;
SEORANG MURID bertanya pada &lt;a href=&quot;http://www.bmf.org/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Bawa Muhaiyaddeen&lt;/a&gt;, “Bisakah Guru menjelaskan kondisi spiritualku, di mana aku sedang berada saat ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang Guru menjawab, “Sebuah benih haruslah ditanam di saat yang  tepat. Ketika ia mulai tumbuh, akarnya menyelusup jauh ke dalam tanah,  memeluk dari semua penjuru. Segera benihnya tumbuh menjadi sebuah pohon.  Seiring perjalanan waktu, pohonnya akan semakin membesar, lalu berbunga  dan berbuah. Tatkala berbuah, buahnya tampak tidak lagi memiliki ikatan  dengan tanah. Walaupun pohonnya terikat ke tanah, namun buahnya justru  terhubung kepada manusia dan seluruh makhluk hidup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anakku, hidupmu pun demikian. Walaupun kau telah tumbuh begitu  tinggi, sama seperti pohon: keterikatan akalmu, pemikiranmu, dan  hasratmu masih pada bumi dan keduniaan. Seperti itulah kondisimu saat  ini.&lt;br /&gt;
Tapi anakku, kau memiliki sebuah penghubung dalam qalb-mu, di dalam  hatimu, yang berfikir tentang Tuhan dan mencari-Nya. Akan aku jelaskan  cara mengembangkan hubungan tersebut. Ikutilah arahan ini baik-baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebanyak apa pun keterikatanmu pada dunia, jika kau ingin menemukan  Tuhan, jika kau ingin menapaki jalan menuju-Nya; engkau, doa-doamu dan  ibadahmu harus seperti pohon. Walaupun sebuah pohon terikat ke tanah, ia  memberikan buahnya untuk semua mahluk. Walaupun kau terikat pada dunia  seperti pohon, niatmu harus seperti niat sebuah pohon terhadap buahnya:  doa-doamu, pengabdianmu, ibadah-ibadahmu, keunggulan-keunggulanmu maupun  semua yang kau lakukan harus terhubung dengan Tuhan, dan kau harus  melakukan pekerjaanmu dengan diniatkan untuk kemaslahatan semua makhluk,  bukan untuk dirimu sendiri. Maka setelah itu, barulah kau akan berjalan  dengan baik ketika menapaki jalan menuju-Nya.”&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;-=-=-=-=-=-=-&lt;/div&gt;:: &lt;a href=&quot;http://www.bmf.org/wisdom/golden-words-637.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;English Version (A Seed Must Be Planted At The Correct Time By &lt;b&gt;M. R. Bawa Muhaiyaddeen&lt;/b&gt;)&lt;/a&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/feeds/6002170815978476347/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/2010/07/pojon-kebajikan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/4681687974444904579/posts/default/6002170815978476347'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/4681687974444904579/posts/default/6002170815978476347'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/2010/07/pojon-kebajikan.html' title='Pohon Kebajikan'/><author><name>Edi Sugianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14020089984610322057</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGzeexTJJ5-aiaE_2XnxpUrS2D0wSodFfxEARZ9eOUxR9Np3cagCLixSLzkhkGcUwvIUrBg2DituWXBx_GIbXRZzPlECBhFtxqcaVwaR26-gUrt36VprkAx0ni2qR3TQ/s80/Edi+icon+80px.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4681687974444904579.post-5522483219296183325</id><published>2010-07-31T04:55:00.000+07:00</published><updated>2010-07-31T04:55:51.240+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Naqsyabandiyah Al-Khalidiah"/><title type='text'>Negeri Seribu Rumah Suluk Naqsyabandiyah</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhsL4XiYUQ1lDYDHdSzRW1Wf9dXYfsXiuQDXXMSKhuN5PdJ3iitJv_pmDmeqqYc6klEqetK7ciWkpZ-BraMuh5eC5SpRg63E1X7sww3zjnnvahyphenhyphenXMsJQDCqB6yIM3BsiY5ymhLObHDciKQd/s1600/Jalan-jalan-Suluk+Rokan.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;200&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhsL4XiYUQ1lDYDHdSzRW1Wf9dXYfsXiuQDXXMSKhuN5PdJ3iitJv_pmDmeqqYc6klEqetK7ciWkpZ-BraMuh5eC5SpRg63E1X7sww3zjnnvahyphenhyphenXMsJQDCqB6yIM3BsiY5ymhLObHDciKQd/s200/Jalan-jalan-Suluk+Rokan.jpg&quot; width=&quot;152&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class=&quot;jam&quot;&gt;&lt;b&gt;Padang&lt;span style=&quot;color: #ce0000;&quot;&gt;Kini.com&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;                 &lt;br /&gt;
Aliran tarekat Naqsyabandiyah yang lebih 1.000  pengikutnya terdapat di Sumatera Barat memiliki ‘keunikan&#39; dengan  berpuasa dan Idul Fitri lebih awal 2 hari dari jadwal Pemerintah.&lt;br /&gt;
Seperti apa suasana tarekat ini? Kami membawa Anda ke kantong aliran  tarekat Naqsyabandiyah di sepanjang tepian Sungai Rokan, Provinsi Riau.  Di sini tempat ribuan rumah suluk yang didirikan jemaah Naqsyabandiyah.  Abdul Wahab Rokan, tokoh yang membawa aliran Naqsabandiayah ke Asia  Tenggara lahir di situ. Tulisan ini hasil liputan Febrianti dari  PadangKini.com beberapa bulan lalu. (Redaksi)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;BERSAMA angin yang berhembus,&amp;nbsp;irama puja-puji&amp;nbsp;salawat nabi terdengar  merdu memenuhi udara&amp;nbsp; kampung Rantau Bais di tepian Sungai  Rokan.Menghidupkan suasana kampung yang terkesan sunyi.&lt;br /&gt;
Salawat yang dinamakan tarahum itu&amp;nbsp; dilantunkan laki-laki dari  sebuah rumah suluk dan sudah menjadi tradisi orang-orang Rokan untuk  menjaga waktu salat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rumah Suluk Rantau Bais siang itu ramai  tidak seperti biasanya. Di halaman rumah suluk, ibu-ibu sibuk memasak  dalam kancah besar di atas tungku. Ada yang menanak nasi, mengaduk  rendang daging kambing, membuat sup kambing dan gulai nangka.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
Usai salat sebuah pesta kenduri akan dilangsungkan.&amp;nbsp;Makan-makan  bersama itu untuk mengakhiri kegiatan suluk yang berlangsung selama 10  hari di rumah suluk itu. Suluk yang dilangsungkan kali ini adalah  memperingati maulid Nabi Besar Muhammad SAW, Maret 2008.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum azan, kaum ibu menyelesaikan tugas masak-memasak dan bergegas mandi ke sungai.&lt;br /&gt;
&quot;Nanti ikut kenduri suluk kaki, jangan sampai tidak datang,&quot; kata ibu  Asmah, tuan rumah kepada saya. Ia adalah istri Khalifah Ruslan Muhammad  Khotib, yang menjadi mursid atau guru di rumah suluk itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suluk  sudah menjadi tradisi yang berkembang subur di perkampungan tepian  Sungai Rokan. Setiap kampung memiliki lebih dari tiga rumah suluk. Tidak  salah bila Rokan dijuluki negeri dengan seribu rumah suluk karena ada  lebih seratus kampung yang ada di tepi sungai Rokan.&lt;br /&gt;
Yang membawa suluk ke Sungai Rokan adalah Syekh Abdul Wahab Rokan,  satu abad yang lalu. Ia lahir pada 28 September 1811 di Kampung Danau  Runda, Rantau Binuang Sakti, Rokan Hulu, Riau.&amp;nbsp;Ia penganut aliran  Tarekat&amp;nbsp; Naqsyahbandi yang didapatnya setelah belajar di Mekkah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat di Mekkah, Abdul Wahab Rokan diangkat sebagai khalifah  besar. Penabalan itu diiringi dengan bai&#39;at dan pemberian silsilah  tarekat Naqsyabandiyah yang berasal dari Nabi Muhammad SAW hingga  kemudian diteruskan kepada Abdul Wahab Rokan urutan penerima silsilah  yang kedua puluh lima. Ia pun mendapat gelar Al Khalidi Naqsyabandi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah kembali ke Riau, Abdul Wahab Rokan&amp;nbsp;mendirikan Kampung  Mesjid. Ia mengembangkan syiar agama dan tarekat yang dianutnya, hingga  Sumatera Utara dan Malaysia. Ia juga mendirikan kampung Babussalam di  Langkat, Sumatera Utara di atas tanah yang diserahkan Sultan Musa  Al-Muazzamsyah dari Kerajaan Langkat.&lt;br /&gt;
Hingga saat ini Babussalam menjadi pusat pengembangan Tarekat  Naqsyahbandiah. Namun, walaupun Abdul Wahap Rokan akhirnya menetap dan  meninggal dunia di Langkat, Suluk di Rokan tetap hidup di tengah  masyarakat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: green;&quot;&gt;Persiapan Menghadapi Mati&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bangunan  rumah suluk Rantau Bais itu bertingkat dua. Di lantai dua, ada beberapa  perempuan tua yang terlihat sibuk mengemasi barang, menggulung dan  mengikat erat kasur kapuk dengan selimut dan memasukkan baju-baju mereka  ke dalam tas. Kain tirai pembatas tempat tidur&amp;nbsp; belum dibuka, begitu  juga kelambu di dalamnya tempat peserta suluk tidur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Ini namanya  kubur, jadi di dalamnya kita bisa merenung membayangkan seperti inilah  dalam kubur nanti, sendirian, makanya untuk saya&amp;nbsp;ikut suluk adalah  mempersiapkan diri menghadapi mati,&quot; kata&amp;nbsp; Nurlia, 68 tahun, menunjukkan  kasur tempat tidurnya yang masih ditutup kelambu putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia  menunjukkan posisi tidur peserta suluk dalam ‘kubur&#39;, tubuh dalam posisi  miring dan kaki dilipatkan ke dada, untuk mendapatkan posisi seperta  dalam rahim ibu.&lt;br /&gt;
&quot;Tempat tidur ini bisa dipakai untuk merenung seusai zikir malam,  agar kita merasa benar-benar sendiri dan hanya berserah diri pada Allah,  juga membayangkan saat dalam rahim ibu dulu,&quot; katanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ikut  suluk punya persyaratan yang cukup berat. Bagi peserta baru, harus ikut  tarikat lebih dahulu. Setelah itu sebelum suluk&amp;nbsp; akan ada sederet&amp;nbsp;  ritual. Awalnya melakukan ‘registrasi&#39; membawa sebuah limau kapas (jeruk  nipis)&amp;nbsp;dan beberapa lembar uang yang sekadarnya yang akan diserahkan ke  mursid atau guru suluk.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah itu peserta mandi di sungai  dengan perasan air jeruk untuk mensucikan diri yang disebut mandi tobat.  Selama suluk berlangsung tidak boleh pulang ke rumah, termasuk saat  sakit. Bila sakit, biasanya keluarga dari&amp;nbsp; peserta suluk yang datang  merawat dan ikut tinggal di sekitar rumah suluk.&lt;br /&gt;
Untuk peserta yang ikut pertama kalinya juga tidak boleh menampakkan  diri di muka umum, bila hendak keluar mandi ke sungai, kepalanya tubuh  dan&amp;nbsp; wajah harus ditutupi kain.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu selama suluk juga  tidak boleh memakan hewan bernyawa, mulai dari daging, ikan, ayam,  termasuk telurnya. Makanan peserta suluk hanya dari tumbuh-tumbuhan,  nasi, sayur, tahu, dan tempe. Makanan yang bernyawa dianggap tidak baik  karena membuat pikiran tidak khusuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kegiatan peserta Suluk mulai  dari salat subuh, salat sunat, salat tobat berzikir, salat lagi, malam  berzikir bersama, mursid atau guru, tahajud bersama dan tidur. Lalu apa  lagi yang dikerjakan peserta suluk?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Itu rahasia, tidak boleh diceritakan semua, cukup kulitnya saja, kalau ingin tahu harus ikut tarekat dan suluk,&quot; kata Asmah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun tidak dibatasi umur, kebanyakan yang ikut suluk  orang-orang yang telah berusia 40 tahun ke atas. Setiap ada kegiatan  suluk, diikuti puluhan hingga ratusan orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Tapi jangan bilang  kami nenek-nenek, kami ini gadis semua,&quot; kata Nenek Toyah, 72 tahun  terkekeh dan disambut tawa teman-temannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Kami memang di sini sudah janda semua, ditinggal suami, jadi ya sudah seperti anak-anak gadis,&quot; sahut Nurlia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena  hari terakhir bersama-sama, peserta suluk yang biasa berkawan akrab  sejak semasa kecil hingga gadis dan masa tua, tampak berat hati  mengakhiri kebersamaan.&lt;br /&gt;
&quot;Mudah-mudahan kita bertemu lagi di suluk yang akan datang, kalau  umur saya masih panjang,&quot; kata Toyah pada teman-temannya yang sedang  mengemasi barang.&lt;br /&gt;
Untuk orang-orang tua itu, suluk sudah seperti kebutuhan, dalam  setahun ada empat kali suluk diadakan, dan mereka selalu ikut kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi  Khalifah Ruslan Muhammad Khotib, guru suluk di Rantau Bais, suluk  adalah wisata kalbu untuk ketenangan jiwa agar tidak selalu memikirkan  duniawi. &quot;Orang yang mengikuti suluk ini penuh kedamaian,&quot; katanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Source :&lt;a href=&quot;http://www.padangkini.com/wisata/single.php?id=3780&quot; target=&quot;blank&quot;&gt;&lt;input type=&quot;submit&quot; value=&quot;febrianti/padangkini.com&quot; /&gt;&lt;/a&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/feeds/5522483219296183325/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/2010/07/negeri-seribu-rumah-suluk.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/4681687974444904579/posts/default/5522483219296183325'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/4681687974444904579/posts/default/5522483219296183325'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/2010/07/negeri-seribu-rumah-suluk.html' title='Negeri Seribu Rumah Suluk Naqsyabandiyah'/><author><name>Edi Sugianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14020089984610322057</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGzeexTJJ5-aiaE_2XnxpUrS2D0wSodFfxEARZ9eOUxR9Np3cagCLixSLzkhkGcUwvIUrBg2DituWXBx_GIbXRZzPlECBhFtxqcaVwaR26-gUrt36VprkAx0ni2qR3TQ/s80/Edi+icon+80px.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhsL4XiYUQ1lDYDHdSzRW1Wf9dXYfsXiuQDXXMSKhuN5PdJ3iitJv_pmDmeqqYc6klEqetK7ciWkpZ-BraMuh5eC5SpRg63E1X7sww3zjnnvahyphenhyphenXMsJQDCqB6yIM3BsiY5ymhLObHDciKQd/s72-c/Jalan-jalan-Suluk+Rokan.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4681687974444904579.post-1568922859766176644</id><published>2010-07-27T21:21:00.001+07:00</published><updated>2010-07-27T21:25:04.624+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tasawuf"/><title type='text'>Panteisme dan Wahdatul Wujud</title><content type='html'>Dunia tasawuf maupun irfan erat kaitannya dengan istilah-istilah. Istilah-istilah ini sangatlah penting demi tercapainya pemahaman yang menyeluruh serta komplit dari suatu pembahasan tasawuf atau pun irfan. Apabila pemahaman kita akan suatu istilah itu salah, konsekuensinya hal itu akan berdampak pada pemahaman kita selanjutnya yang akan membawa kita jauh dari arti yang sebenarnya diinginkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berangkat dari asumsi di atas, pada tulisan ini akan dipaparkan dua istilah atau konsep yang sering digunakan dalam dunia tasawuf, yakni panteisme dan wahdat al-Wujud. Dalam penggunaannya, kedua konsep ini oleh beberapa orang diartikan memiliki arti yang sama. Namun apakah benar kedua konsep ini memiliki arti yang sama? Tulisan di bawah ini mencoba menjelaskan dan membedakan antara kedua konsep tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Panteisme&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Panteisme adalah &lt;i&gt;doktrin yang mengidentikkan Tuhan dengan manusia atau alam&lt;/i&gt;. Dengan kata lain bahwa doktrin ini menghilangkan perbedaan antara Tuhan dengan ciptaan-Nya, dan lebih jauh lagi meniadakan transendensi makhluk dengan khalik. Doktrin ini memahami bahwa antara Tuhan dengan makhluk merupakan suatu keserupaan bahkan kesatuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Panteisme merupakan istilah yang berasal dari Barat. Istilah ini digunakan oleh mereka guna memahami makna doktrin-doktrin ittihad, hulul, dan wahdat al-wujud. Sebenarnya istilah ini sampai kepada mereka akibat &lt;i&gt;pemahaman yang salah&lt;/i&gt; dari &lt;i&gt;sekelompok sarjana seperti Ibn Taymiyyah, al-Biqa’i dan Abd al-Rahman al-Wakil&lt;/i&gt; yang menafsirkan wahdat al-wujud sebagai menyamakan Tuhan dengan alam, yakni bahwa wujud Tuhan adalah wujud alam dan wujud alam adalah wujud Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Panteisme berasal dari pemahaman tidak lengkap tentang wahdat al-wujud yang terutama hanya melihat satu dari dua sisi dari konsep ini. Sebagaimana yang nanti akan dijelaskan, wahdatul wujud memiliki dua sisi penting, yakni sisi &lt;b&gt;tasybih&lt;/b&gt; (&lt;i&gt;keserupaan&lt;/i&gt;) dan sisi &lt;b&gt;tanzih&lt;/b&gt; (&lt;i&gt;ketidakdapatdibandingkan&lt;/i&gt;). Sedangkan panteisme dikatakan tidak lengkap karena hanya melihat sisi tasybih saja , tanpa melihat sisi yang lainnya, yakni sisi tanzih .&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Wahdat al-Wujud&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wahdat al-Wujud yang merupakan sebuah doktrin dari Ibn Arabi, secara bahasa bermakna kesatuan wujud. Adapun makna terminologisnya adalah bahwa tidak ada sesuatu pun dalam wujud kecuali Tuhan dan bahwa wujud selain-Nya hanyalah ada dikarenakan manifestasi wujud-Nya. Dengan kata lain bahwa wujud selain-Nya adalah refleksi atau berasal dari wujud Tuhan. Satu-satunya eksistensi sejati adalah milik Yang Satu dan Yang Satu inilah yang tampak dalam semua manifestasi.[1]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibn Arabi memandang bahwa dunia dan ciptaan Tuhan yang lainnya merupakan panggung tempat berbagai nama Tuhan dapat mementaskan perannya. Ciptaan ini sengaja Tuhan ciptakan agar manusia tahu betapa berperan dan berkuasanya Ia. Dalam hadits disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda: “Aku (Allah) adalah wadah tersembunyi, dan aku cinta untuk diketahui, maka aku ciptakan suatu ciptaan.” Dalam bahasa yang lebih sederhana, Allah ingin melihat diri-Nya dari luar diri-Nya, oleh karena itu Allah menciptakan alam ini. Dengan kata lain bahwa alam ini ibarat cermin yang merefleksikan Tuhan. Sehingga dengan asumsi yang demikian, tak heran jika Ibn Arabi secara positif memandang bahwa alam dan manusia adalah manifestasi (tajalli) Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berangkat dari pemahaman ini, maka timbullah wahdah (kesatuan) wujud. Yakni bahwa walaupun di dalam alam ini terdapat banyak wujud, namun sebenarnya adalah satu, karena kesemuanya berasal dan ada disebabkan wujud-Nya. Oleh karena itu, dalam hal ini yang merupakan wujud hakiki adalah wujud Tuhan, dan selain-Nya hanyalah bayangan-Nya saja. Dan dengan pergertian yang demikian, Ibn Arabi berusaha menyampaikan kita pada sebuah kesimpulan bahwa Tuhan sangatlah dekat dengan makhluknya walaupun tanpa menghilangkan perbedaan antara keduanya. Tentunya hal ini sangatlah berbeda dengan panteisme yang secara jelas dan terang-terangan menghilangkan perbedaan antara keduanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih jauh lagi, sebagimana yang sempat disinggung di atas, dalam wahdat al-wujud terdapat tasybih (keserupaan) dan tanzih (ketidakdapatdibandingkan). Keduanya merupakan istilah penting dalam doktrin wahdat al-wujud Ibn Arabi. Tasybih yakni bahwa Tuhan adalah identik, atau lebih tepatnya serupa dan satu dengan alam ~walaupun keduanya tidak setara~ karena Dia, melalui nama-nama-Nya, menampakkan diri-Nya dari dalam. Akan tetapi dilihat dari sisi tanzih, Tuhan sama sekali berbeda dengan alam karena Dia adalah Zat Mutlak yang tidak terbatas di luar alam nisbi yang terbatas.[2] Terkait hal ini, Ibn Arabi memiliki suatu ungkapan yang sarat akan makna, huwa la huwa (Dia dan bukan Dia).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kesimpulan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya pangkal yang menyebabkan terjadinya dua penafsiran terhadap wahdat al-wujud adalah tidak lengkap dan sempurnanya pandangan beberapa orang terhadap doktrin ini. Yakni bahwa mereka melihat doktrin ini tidak secara utuh dan hanya secara partikular saja. Seperti sempat disinggung di atas, bahwa konsep wahdat al-wujud memiliki dua sisi, yakni; tasybih dan tanzih. Namun mereka hanya melihat satu sisi, yakni sisi tasybih saja. Oleh karena itu, tak heran jika kemudian ~disebabkan hanya berangkat dari pemahaman ini saja~, maka muncul penafsiran yang berbeda. Penafsiran inilah yang kemudian dikenal dengan panteisme.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih jauh lagi, dari sedikit pemaparan di atas, setidaknya kita sudah memperoleh perbedaan esensial dan mendasar antara panteisme dan wahdat al-wujud. Sebagaimana disebutkan di atas, panteisme menafikan transendensi Tuhan dengan meniadakan perbedaan antara Tuhan dengan makhluk, dan pada saat yang sama mengidentikkan antara keduanya. Sedangkan wahdat al-wujud, sebaliknya justru mempertahankan transendensi Tuhan. Perlu diketahui bahwa doktrin wahdat al-wujud menekankan tidak hanya imanensi Tuhan, tetapi juga transendensi-Nya.[3]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesatuan antara tasybih dan tanzih yang dalam istilah Ibn Arabi dikenal dengan al-Jam’ bayna al-adhdhad merupakan pemahaman yang benar serta utuh terhadap doktrin wahdat al-wujud, sedangkan pemahaman yang hanya melihat satu sisi, yakni tasybih serta mengabaikan sisi lainnya (tanzih) adalah pemahaman yang cacat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[1] Stephen Hirtenstein, Dari Keragaman Ke Kesatuan Wujud, PT Raja Grafindo Persada, 2001, h. 27.&lt;br /&gt;
[2] Kautsar Azhari Noer, Tasawuf Perenial, Serambi, 2003, h. 27.&lt;br /&gt;
[3] Ibid, h. 27.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daftar Pustaka&lt;br /&gt;
Noer, Kautsar Azhari. 2003, Tasawuf Perenial, Jakarta: Serambi.&lt;br /&gt;
Hirtenstein, Stephen. 2001, Dari Keragaman Ke Kesatuan Wujud, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.&lt;br /&gt;
Burckhardt, Titus. 1984, Mengenal Ajaran Tasawuf, Jakarta: PT. Dunia Pustaka Jaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
by :&lt;a href=&quot;http://www.bidin10.co.cc/2009/12/panteisme-atau-wahdatul-wujud.html&quot; target=&quot;blank&quot;&gt;&lt;input type=&quot;submit&quot; value=&quot;Bidina Ali&quot; /&gt;&lt;/a&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/feeds/1568922859766176644/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/2010/07/panteisme-dan-wahdatul-wujud.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/4681687974444904579/posts/default/1568922859766176644'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/4681687974444904579/posts/default/1568922859766176644'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/2010/07/panteisme-dan-wahdatul-wujud.html' title='Panteisme dan Wahdatul Wujud'/><author><name>Edi Sugianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14020089984610322057</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGzeexTJJ5-aiaE_2XnxpUrS2D0wSodFfxEARZ9eOUxR9Np3cagCLixSLzkhkGcUwvIUrBg2DituWXBx_GIbXRZzPlECBhFtxqcaVwaR26-gUrt36VprkAx0ni2qR3TQ/s80/Edi+icon+80px.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4681687974444904579.post-7068063754210384481</id><published>2010-07-13T21:35:00.000+07:00</published><updated>2010-07-13T21:35:13.901+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tasawuf"/><title type='text'>Takhalli, Tahalli, dan Tajalli</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgQTn53OHEVFx49oePsuRoAu-kZZosL-cqrzs3snkVvYtvOpEDZqcGS8wCwil-e_HZ_XQl-xLML2TCYRHpB9ZhokAqw-1dbwy0CdYcEdTfQL4ITtAG2GsrHA9hwL_ZsWLjlvlLaEyrPWfJP/s1600/Allah+daun.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;200&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgQTn53OHEVFx49oePsuRoAu-kZZosL-cqrzs3snkVvYtvOpEDZqcGS8wCwil-e_HZ_XQl-xLML2TCYRHpB9ZhokAqw-1dbwy0CdYcEdTfQL4ITtAG2GsrHA9hwL_ZsWLjlvlLaEyrPWfJP/s200/Allah+daun.jpg&quot; width=&quot;143&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Ditulis oleh Dewan Asatidz    &lt;br /&gt;
Manusia dilengkapi oleh Allah dua hal pokok, yaitu jasmani dan rohani. Dua hal ini memiliki keperluan masing-masing. Jasmani membutuhkan makan, minum, pelampiasan syahwat, keindahan, pakaian, perhiasan-perhiasan dan kemasyhuran. Rohani, pada sisi lain, membutuhkan kedamaian, ketenteraman, kasih-sayang dan cinta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para sufi menegaskan bahwa hakekat sesungguhnya manusia adalah rohaninya. Ia adalah muara segala kebajikan. Kebahagiaan badani sangat tergantung pada kebahagiaan rohani. Sedang, kebahagiaan rohani tidak terikat pada wujud luar jasmani manusia. Sebagai inti hidup, rohani harus ditempatkan pada posisi yang lebih tinggi. Semakin tinggi rohani diletakkan, kedudukan manusia akan semakin agung. Jika rohani berada pada tempat rendah, hina pulalah hidup manusia. Fitrah rohani adalah kemuliaan, jasmani pada kerendahan. Badan yang tidak memiliki rohani tinggi, akan selalu menuntut pemenuhan kebutuhan-kebutuhan rendah hewani. Rohani hendaknya dibebaskan dari ikatan keinginan hewani, yaitu kecintaan pada pemenuhan syahwat dan keduniaan. Hati manusia yang terpenuhi dengan cinta pada dunia, akan melahirkan kegelisahan dan kebimbangan yang tidak berujung. Hati adalah cerminan ruh. Kebutuhan ruh akan cinta bukan untuk dipenuhi dengan kesibukan pada dunia. Ia harus bersih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam rangkaian metode pembersihan hati, para sufi menetapkan dengan tiga tahap : Takhalli, Tahalli, dan Tajalli.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Takhalli&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;, sebagai tahap pertama dalam mengurus hati, adalah membersihkan hati dari keterikatan pada dunia. Hati, sebagai langkah pertama, harus dikosongkan. Ia disyaratkan terbebas dari kecintaan terhadap dunia, anak, istri, harta dan segala keinginan duniawi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dunia dan isinya, oleh para sufi, dipandang rendah. Ia bukan hakekat tujuan manusia. Manakala kita meninggalkan dunia ini, harta akan sirna dan lenyap. Hati yang sibuk pada dunia, saat ditinggalkannya, akan dihinggapi kesedihan, kekecewaan, kepedihan dan penderitaan. Untuk melepaskan diri dari segala bentuk kesedihan, lanjut para saleh sufi, seorang manusia harus terlebih dulu melepaskan hatinya dari kecintaan pada dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Tahalli&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;, sebagai tahap kedua berikutnya, adalah upaya pengisian hati yang telah dikosongkan dengan isi yang lain, yaitu Allah (swt). Pada tahap ini, hati harus selalu disibukkan dengan dzikir dan mengingat Allah. Dengan mengingat Allah, melepas selain-Nya, akan mendatangkan kedamaian. Tidak ada yang ditakutkan selain lepasnya Allah dari dalam hatinya. Hilangnya dunia, bagi hati yang telah tahalli, tidak akan mengecewakan. Waktunya sibuk hanya untuk Allah, bersenandung dalam dzikir. Pada saat tahalli, lantaran kesibukan dengan mengingat dan berdzikir kepada Allah dalam hatinya, anggota tubuh lainnya tergerak dengan sendirinya ikut bersenandung dzikir. Lidahnya basah dengan lafadz kebesaran Allah yang tidak henti-hentinya didengungkan setiap saat. Tangannya berdzikir untuk kebesaran Tuhannya dalam berbuat. Begitu pula, mata, kaki, dan anggota tubuh yang lain. Pada tahap ini, hati akan merasai ketenangan. Kegelisahannya bukan lagi pada dunia yang menipu. Kesedihannya bukan pada anak dan istri yang tidak akan menyertai kita saat maut menjemput. Kepedihannya bukan pada syahwat badani yang seringkali memperosokkan pada kebinatangan. Tapi hanya kepada Allah. Hatinya sedih jika tidak mengingat Allah dalam setiap detik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah tahap pengosongan dan pengisian, sebagai tahap ketiga adalah &lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Tajalli&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;. Yaitu, tahapan dimana kebahagian sejati telah datang. Ia lenyap dalam wilayah Jalla Jalaluh, Allah subhanahu wataala. Ia lebur bersama Allah dalam kenikmatan yang tidak bisa dilukiskan. Ia bahagia dalam keridhoan-Nya. Pada tahap ini, para sufi menyebutnya sebagai maâ&#39;rifah, orang yang sempurna sebagai manusia luhur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syekh Abdul Qadir Jaelani menyebutnya sebagai insan kamil, manusia sempurna. Ia bukan lagi hewan, tapi seorang malaikat yang berbadan manusia. Rohaninya telah mencapai ketinggian kebahagiaan. Tradisi sufi menyebut orang yang telah masuk pada tahap ketiga ini sebagai waliyullah, kekasih Allah. Orang-orang yang telah memasuki tahapan Tajalli ini, ia telah mencapai derajat tertinggi kerohanian manusia. Derajat ini pernah dilalui oleh Hasan Basri, Imam Junaidi al-Baghdadi, Sirri Singkiti, Imam Ghazali, Rabiah al-Adawiyyah, Maâ&#39;ruf al-Karkhi, Imam Qusyairi, Ibrahim Ad-ham, Abu Nasr Sarraj, Abu Bakar Kalabadhi, Abu Talib Makki, Sayyid Ali Hujweri, Syekh Abdul Qadir Jaelani, dan lain sebagainya. Tahap inilah hakekat hidup dapat ditemui, yaitu kebahagiaan sejati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wallahu a&#39;lam&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rizqon Khamami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Source :&lt;a href=&quot;http://www.pesantrenvirtual.com/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=919&amp;amp;Itemid=4&quot; target=&quot;blank&quot;&gt;&lt;input type=&quot;submit&quot; value=&quot;PESANTREN VIRTUAL&quot; /&gt;&lt;/a&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/feeds/7068063754210384481/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/2010/07/takhalli-tahalli-dan-tajalli.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/4681687974444904579/posts/default/7068063754210384481'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/4681687974444904579/posts/default/7068063754210384481'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/2010/07/takhalli-tahalli-dan-tajalli.html' title='Takhalli, Tahalli, dan Tajalli'/><author><name>Edi Sugianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14020089984610322057</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGzeexTJJ5-aiaE_2XnxpUrS2D0wSodFfxEARZ9eOUxR9Np3cagCLixSLzkhkGcUwvIUrBg2DituWXBx_GIbXRZzPlECBhFtxqcaVwaR26-gUrt36VprkAx0ni2qR3TQ/s80/Edi+icon+80px.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgQTn53OHEVFx49oePsuRoAu-kZZosL-cqrzs3snkVvYtvOpEDZqcGS8wCwil-e_HZ_XQl-xLML2TCYRHpB9ZhokAqw-1dbwy0CdYcEdTfQL4ITtAG2GsrHA9hwL_ZsWLjlvlLaEyrPWfJP/s72-c/Allah+daun.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4681687974444904579.post-6022811112246309328</id><published>2010-07-13T04:12:00.001+07:00</published><updated>2010-07-13T04:36:15.559+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tenaga Dalam"/><title type='text'>Cakra-Cakra Dalam Tubuh Tenaga Dalam</title><content type='html'>Dalam pengenalan dasar belajar ilmu tenaga dalam, biasanya akan diajarkan tentang berbagai letak pusat energi tubuh serta fungsi-fungsinya. &lt;b&gt;Pusat-pusat energi&lt;/b&gt; dalam tubuh manusia ini biasa disebut dengan &lt;b&gt;cakra&lt;/b&gt; (chakra). Cakra dianggap juga sebagai pusat simpul-simpul urat syaraf yang membentuk lingkaran dan menyerupai cakram.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut para ahli Tenaga Dalam, berbagai Cakra atau pusat energi tubuh manusia ini mempunyai fungsi untuk dapat mengalirkan atau memancarkan berbagai  energi hidup (energi positive) manusia dalam bentuk gelombang-gelombang elektromaknetik yang selanjutnya disebut sebagai Aura tubuh manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selanjutnya ada pertanyaan tentang ada berapa cakra dan di mana letaknya di dalam tubuh manusia?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Beberapa ahli atau guru Tenaga Dalam, ada yang mengatakan kalau tubuh manusia mempunyai 7 cakra utama sebagai pusat energi psikis manusia yang disebut The Seven Chakra of body fisical power, antara lain:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;margin: 5px 20px 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;margin-bottom: 2px;&quot;&gt;&lt;b&gt;Spoiler&lt;/b&gt; for &lt;i&gt;CHAKRA&lt;/i&gt;: &lt;input onclick=&quot;if 
(this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName(&#39;div&#39;)[1].getElementsByTagName(&#39;div&#39;)[0].style.display
 != &#39;&#39;) { 
this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName(&#39;div&#39;)[1].getElementsByTagName(&#39;div&#39;)[0].style.display
 = &#39;&#39;;        this.innerText = &#39;&#39;; this.value = &#39;Hide&#39;; } else { 
this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName(&#39;div&#39;)[1].getElementsByTagName(&#39;div&#39;)[0].style.display
 = &#39;none&#39;; this.innerText = &#39;&#39;; this.value = &#39;Show&#39;; }&quot; style=&quot;font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: 60px;&quot; type=&quot;button&quot; value=&quot;Show&quot; /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;border: 1px inset; margin: 0px; padding: 6px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;display: none;&quot;&gt;1. Cakra Dasar (Basic Chakra). Cakra ini terletak diujung sumsum tulang belakang (dekat tulang Coccygeus), merupakan pusat energi yang dapat menyebar kesetiap Cakra di dalam tubuh manusia. Ada yang menyebut cakra ini sebagai pusat energi kundalini manusia.&lt;br /&gt;
2. Cakra Pusar (Navel Chakra) Terletak di daerah pusar. Cakra ini juga disebut-sebut sebagi pusat energi kundalini.&lt;br /&gt;
3. Cakra Pankreas Terletak di daerah Pankreas.&lt;br /&gt;
4. Cakra Jantung ( depan dan belakang ) terletak di daerah jantung.&lt;br /&gt;
5. Cakra Tenggorokan (Larynx Cakra) terletak di daerah tenggorokan.&lt;br /&gt;
6. Cakra Adjna Terletak didaerah antara kedua alis.&lt;br /&gt;
7. Cakra Mahkota terletak di ujung ubun-ubun (Crown Head) yang merupakan pusat inti kesadaran tertinggi di dalam tubuh manusia.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;Ke-7 pusat cakra utama tubuh manusia di atas juga dianggap sebagai tempat lalu lintas pikiran dan perasaan manusia dan memiliki peran  secara langsung mempengaruhi dan mengatur seluruh fungsi tubuh manusia seperti: metabolisme, sirkulasi, eliminasi, reproduksi, dan lain sebagainya. Karenanya, kalau ke-7  pusat cakra utama tubuh manusia  ini dapat berfungsi sebagaimana mestinya, maka seluruh energi positive dalam cakra tubuh akan mengalir secara bebas dan terbuka yang akan menciptakan suatu keadaan seimbang (equilibrium)  yang sehat dalam sistem metabolisme peredaran energi hidup tubuh manusia baik jasmani maupun ruhani.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar atau pun tidaknya pemahaman di atas, silahkan anda mendalaminya secara langsung melalui beberapa guru Tenaga Dalam yang membuka kursus pengajaran Tenaga Dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut kami sendiri, Jika melihat letak-letaknya dalam tubuh, maka ke-7 cakra utama yang disebutkan di atas tidak jauh bedanya dengan organ-organ penting tubuh manusia dalam istilah kedokteran medis, hanya saja berbeda dalam istilah atau nama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu, dalam pembelajaran dasar Ilmu Tenaga Dalam, ke-7 cakra utama manusia di atas, lebih diartikan sebagai makna-makna psikis yang tentunya tiap perguruan akan berbeda sesuai pengalaman psikologis masing-masing. Misal, satu perguruan Tenaga Dalam mengatakan kalau cakra jantung akan mengeluarkan energi aura berwarna putih, maka perguruan Tenaga Dalam lainnya, mungkin akan mengatakan dengan warna yang berbeda, bisa kuning, bisa hijau, dan seterusnya. Intinya adalah jika organ tubuh anda sehat, maka dimungkin jiwa anda juga akan sehat. Karenanya, dengan belajar dan mendalami Ilmu Tenaga Dalam, anda mendapatkan kesempatan untuk hidup lebih sehat baik jasmani maupun ruhani.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Source :&lt;a href=&quot;http://tenagadalamindonesia.wordpress.com&quot; target=&quot;blank&quot;&gt;&lt;input type=&quot;button&quot; value=&quot;TENAGA DALAM INDONESIA&quot; /&gt;&lt;/a&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/feeds/6022811112246309328/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/2010/07/cakra-cakra-dalam-tubuh-tenaga-dalam.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/4681687974444904579/posts/default/6022811112246309328'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/4681687974444904579/posts/default/6022811112246309328'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/2010/07/cakra-cakra-dalam-tubuh-tenaga-dalam.html' title='Cakra-Cakra Dalam Tubuh Tenaga Dalam'/><author><name>Edi Sugianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14020089984610322057</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGzeexTJJ5-aiaE_2XnxpUrS2D0wSodFfxEARZ9eOUxR9Np3cagCLixSLzkhkGcUwvIUrBg2DituWXBx_GIbXRZzPlECBhFtxqcaVwaR26-gUrt36VprkAx0ni2qR3TQ/s80/Edi+icon+80px.png'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4681687974444904579.post-3716132495863709246</id><published>2010-07-12T16:47:00.000+07:00</published><updated>2010-07-12T16:47:12.378+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tasawuf"/><title type='text'>Rahasia Do’a 999% Mustajab</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjerVLRmgI27keUaX0Tj1yN50TgFU9QeKr4-IF0IV9SL1AKKOWLHt2sRsgPGp4WDYTX9o9kAQBie2L0PpY3CZZkY_uSxHp-ETPvVe4DcCLEDErhDbI3m-0K5bEiiHt1TOB1kmmIgg4Jqq7F/s1600/asma.gif&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjerVLRmgI27keUaX0Tj1yN50TgFU9QeKr4-IF0IV9SL1AKKOWLHt2sRsgPGp4WDYTX9o9kAQBie2L0PpY3CZZkY_uSxHp-ETPvVe4DcCLEDErhDbI3m-0K5bEiiHt1TOB1kmmIgg4Jqq7F/s320/asma.gif&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Do’a atau berdo’a tidak asing lagi bagi telinga kita. Hampir semua agama dan kepercayaan mengajarkan kepada pengikutnya untuk senantiasa bedo’a. sebab do’a adalah pengingat ketika keberhasilan dapat diraih,maka kita sadar itu merupakan karunia Alloh, jika kegagalan yang datang, maka do’a sebagai benteng dari putus asa, karena dari situ kita tahu betapa lemahnya kita,tanpa pertolongan-Nya mustahil kita mampu menjalani hidup ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagian orang menggap do’a sebagai “pesugihan” yang halal, mungkin anda sudah mencari do’a manjur,do’a paling mujarab,do’a paling ampuh, atau juga mendatangi tempat berdo’a yang maqbul, mungkin juga sudah menyempatkan waktu untuk memasuki waktu mustajabnya do’a.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Pernahkah kita merasa kalau do’a kita ditolak oleh Alloh?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbagai do’a sudah dilantunkan, bermacam cara bahkan tidak jarang kita meluangkan waktu, mencari saat dan tempat yang konon mustajab untuk berdo’a, namun semua itu nyaris tidak membawa hasil, bahkan yang lebih tragis, nikmat yang kita harapkan malah laknat yang datang. Kehidupan yang layak, rejeki yang melimpah,isteri yang cantik,kendaraan mewah selalu kita panjatkan agar itu berpihak pada kita, namun bukannya mendekat, malah menjauh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* &lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Rahasia do’a makbul&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah bertahun-tahun terombang-ambung diantara harapan dan putus asa, kadang pertanyaan- pertanyaan datang bertubi-tubi. Kenapa Alloh masih enggan mengabulkan do’aku? Apa salahku? Kurang apalagi? Puasa sudah,berdo’a sudah,beramal sudah, tapi koq masih begini saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Ada 3 tahapan yang harus kita lakukan agar do’a kita maqbul, bahkan dijamin pasti insya Alloh manjur&lt;/b&gt; &lt;b&gt;:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;color: #0b5394;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;*Syukur&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Mungkin kita bertanya, hidup saja susah apa yang mau disyukuri? Inilah kesalahan kita. Coba kita renumgkan ! andai kita mempunyai anak, anak kita minta mobil-mobilan, karena kita sayang kita kasih, tapi anak itu lupa membawa pulang mainannya ketika bermain dengan kawan-kawannya. Hilanglah mainan itu. Keesokan harinya dia merengek minta dibelikan lagi,kita pun membelikannya, dan kejadian pertama terulang lagi. Lantas jika anak kita itu minta lagi apa jawab kita? Apa akan langsung membelikannya? Tentu kita akan marah bukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang Alloh tidak seperti kita, namun kita hendaknya tahu diri, bagaimana Alloh akan mengabulkan do’a kita jika nikmat yang sudah ada saja tidak pernah disyukuri, ini namanya tidak tahu berterima kasih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan yang paling penting adalah ; do’a itu bisa di ijabah atau ditolak oleh Alloh, tapi syukur pasti akan diterima ( bagaimana syukur yang benar? akan dilanjutkan dalam tulisan berikutnya , insya Alloh).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kita bersyukur, maka Alloh akan menambahi anugerah-Nya kepada kita tanpa kita minta sekalipun. Alloh berfirman ; “Jika kamu menghitung-menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan dapat menentukan jumlahnya (menghitungnya). Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang.” QS. An Nahl : 18.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;color: #0b5394;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;*Malu&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Sepantasnya kita malu, mungkin kita tidak diberi harta lebih, tapi kita masih diberi akal, tangan, kaki dan yang lebih penting kita masih hidup, tapi kenikmatan2 itu sekan tidak berarti apa-apa bagi kita, kita mendefinisikan nikmat itu hanya berupa harta,tahta,wanita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;color: #0b5394;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;*Istighfar&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
mohonlah ampun kepada Alloh, atas kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan dengan sebenar-benarnya.&lt;br /&gt;
Insya Alloh dengan di awali dan dilandasi 3 hal tersebut do’a kita akan di kabulkan oleh Alloh. Dengan catatan semua itu dilakukan dengan benar tanpa direkayasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Source :&lt;a href=&quot;http://tanbihun.com/tasawwuf/tasawuf/rahasia-doa-999-mustajab/&quot; target=&quot;blank&quot;&gt;&lt;input type=&quot;submit&quot; value=&quot;MEDIA DAKWAH RIFA&#39;IYAH&quot; /&gt;&lt;/a&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/feeds/3716132495863709246/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/2010/07/rahasia-doa-999-mustajab.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/4681687974444904579/posts/default/3716132495863709246'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/4681687974444904579/posts/default/3716132495863709246'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/2010/07/rahasia-doa-999-mustajab.html' title='Rahasia Do’a 999% Mustajab'/><author><name>Edi Sugianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14020089984610322057</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGzeexTJJ5-aiaE_2XnxpUrS2D0wSodFfxEARZ9eOUxR9Np3cagCLixSLzkhkGcUwvIUrBg2DituWXBx_GIbXRZzPlECBhFtxqcaVwaR26-gUrt36VprkAx0ni2qR3TQ/s80/Edi+icon+80px.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjerVLRmgI27keUaX0Tj1yN50TgFU9QeKr4-IF0IV9SL1AKKOWLHt2sRsgPGp4WDYTX9o9kAQBie2L0PpY3CZZkY_uSxHp-ETPvVe4DcCLEDErhDbI3m-0K5bEiiHt1TOB1kmmIgg4Jqq7F/s72-c/asma.gif" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4681687974444904579.post-512950300455380207</id><published>2010-07-12T00:59:00.000+07:00</published><updated>2010-07-12T00:59:24.515+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tasawuf"/><title type='text'>Hizib Dalam Tasawuf</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgWQxpfmNuvmigQMsyT-EE7-g8M9xGRCejB6FJZTa_bxDiulHW_VHMHjMGLp6rk5pwgDlwAHvCmmbAiicXKByf55yoBLCvxAj9wUPF-w7JUYa5q81fdPDeoyucd0PycQ0yEZN3WTpcunASG/s1600/Allah+9.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;150&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgWQxpfmNuvmigQMsyT-EE7-g8M9xGRCejB6FJZTa_bxDiulHW_VHMHjMGLp6rk5pwgDlwAHvCmmbAiicXKByf55yoBLCvxAj9wUPF-w7JUYa5q81fdPDeoyucd0PycQ0yEZN3WTpcunASG/s200/Allah+9.jpg&quot; width=&quot;200&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Secara harfiah Hizib dapat diartikan sebagai golongan, atau kelompok bahkan ada yang mengartikan sebgai tentara, Kata Hizib muncul di Al-Quran sebanyak beberapa kali yaitu :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Surat Al Maaidah ayat 56 :&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;Dan barang siapa yang menjadikan Allah ta’ala, RosulNya dan orang-orang yang beriman sebagai pemimpin, maka sesungguhnya Golongan (Hizbu) Alloh-lah sebagai pemenang.&lt;/blockquote&gt;2. Surat Al Kahfi ayat 12 :&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;Kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah diantara kedua golongan (Al hizbaini) itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal didalam gua itu&lt;/blockquote&gt;3. Surat Ar Ruum ayat 32 :&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;dari orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan (HIzbin) mereka&lt;/blockquote&gt;4. Surat Al Fathiir ayat 6 :&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;Sungguh setan itu membawa permusuhan bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh, sesungguhnya mereka mengajak Golongannya (Hizbuhu) agar menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.&lt;/blockquote&gt;5. Surat Al Mujaadilah ayat 19 :&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Alloh ta’ala; mereka itulah golongan (Hizbu) setan. Ketahuilah bahwa golongan (Hizba) setan lah yang merugi.&lt;/blockquote&gt;6. Surat Mujadiilaah ayat 22 :&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;Engkau tidak akan mendapatkan satu kaum yang beriman kepada Allah ta’ala dan kepada hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya, saudaranya atau keluarganya. Mereka itulah orang-orang yang didalam hatinya telah ditanamkan Allah keimanan dan Allah telah menguatkan mereka dengan pertolongan/ ruh yang datang dari Dia. Lalu dimasukkannya mereka kedalam syurga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha. Merekalah golongan (Hizbu) Allah. Ingatlah sesungguhnya golongan (Hizba) Allah-lah yang beruntung.&lt;/blockquote&gt;Masih segar dalam ingatan kita, ketika Nabi dan para sahabat bertempur melawan kaum musyrikin dalam perang badar, Allah sengaja mendatangkan 5000 pasukan sebagai bala bantuan yang bertandakan putih, mereka adalah para malaikat (Hizbullah), kata Hizib sendiri terkadang juga digunakan untuk menyebut “mendung yang berarak” atau “mendung yang tersisa”. Semisal hizbun min al-ghumum (sebagian atau sekelompok mendung).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ternyata untuk selanjutnya perkembangan kata hizib dalam tradisi thariqah atau yang berkembang di pesantren adalah untuk “menandai” sebuah bacaan-bacaan tertentu. Misalnya hizib yang dibaca hari jum’at; yang dimaksud adalah wirid-wirid tertentu yang dibaca hari jum’at.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk selanjutnya, makna hizib adalah wirid itu sendiri. Atau juga bisa bermakna munajat, ada hizib Ghazaly, Hizib Bukhori, Hizib Nawawi, Hizib Bahri, Hizib Syeikh Abdul Qadir Jailani, Ratib Al-Ahdad, yang masing-masing memiliki sejarah sendiri-sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hizib adalah himpunan sejumlah ayat-ayat Al-Qur’anul karim dan untaian kalimat-kalimat zikir dan do’a yang lazim diwiridkan atau diucapkan berulang-ulang sebagai salah satu bentuk ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
As Syaikh Abul Hasan Asy Syadzily terkenal sebagai seorang yang memiliki banyak rangkaian doa yang halus dan indah, disamping kekayaan berupa khazanah hizib-hizibnya. Salah satu hizib beliau yang terkenal sejak dulu hingga sekarang adalah hizib Bahr dan hizib Nashor. Kedua hizib tersebut banyak diamalkan oleh kaum muslimin diseluruh dunia, terlebih ulama-ulama besar, kendati sebagian dari mereka tidak mengikuti thoriqot asy syaikh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hizib Bahr adalah hizib yang di terima Syaikh Abu Hasan asy Syadzili langsung dari Rasulullah SAW berkaitan dengan lautan yang tidak ada anginnya. Sejarah diterima hizib bahri adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;
Pada waktu itu asy syaikh Abul Hasan Asy Syadzili tengah melakukan perjalan ibadah haji ke tanah suci. Perjalanan itu diantaranya harus menyeberangi laut merah. Untuk menyeberangi lautan itu sedianya beliau akan menumpang perahu milik seseorang yang beragama nasrani. Orang itu juga akan berlayar walaupun berbeda tujuan dengan asy syaikh. Akan tetapi keadaan laut pada waku itu sedang tidak ada angin yang cukup untuk menjalankan kapal. Keadaan seperti itu terjadi sampai berhari-hari, sehingga perjalannapun menjadi tertunda. Sampai akhirnya pada suatu hari, asy syaikh bertemu dengan baginda Rasulullah SAW. Dalam perjumpaan itu, Rasulullah SAW secara langsung mengajarkan hizib Bahri secara imla’ (dikte) kepada syaikh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah hizib Bahri yang baru beliau terima dari Rasulululah SAW itu beliau baca, kemudian beliau menyuruh si pemilik perahu itu supaya berangkat dan menjalankan perahunya. Mengetahui keadaan yang tidak memungkinkan, karena angin yang diperlukan untuk menjalankan perahu tetap tidak ada, orang itupun tidak mau menuruti perintah asy syaikh. Namun asy syaikh tetap menyuruh agar perahu diberangkatkan. “Ayo, berangkat dan jalankan perahumu ! sekarang angin sudah waktunya datang “, ucap asy syaikh kepada orang itu. Dan memang benar kenyataannya, angin secara perlahan-lahan mulai berhembus, dan perahupun akhirnya bisa berjalan. Singkat cerita alkisah kemudian si nasrani itupun lalu menyatakan masuk islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkata syaikh Abdurrahman al Busthomi, “Hizbul Bahri ini sudah digelar di permukaan bumi. Bendera hizbul bahri berkibar dan tersebar di masjid-masjid. Para ulama sudah mengatakan bahwa hizbul bahri mengandung Ismullohil ‘adhom dan beberapa rahasia yang sangat agung.&lt;br /&gt;
Dalam kitab Kasyf al-Zhunun `an Asami al-Kutub wa al-Funun, Haji Khalifah seorang pustakawan terkenal asal Konstantinopel (Istanbul Turki) menulis berbagai jaminan yang diberikan asy Syaikh Abul Hasan Syadzili dengan Hizib Bahrinya ini. Di antaranya, menurut Haji Khalifah, Asy Syaikh Syadzili pernah berkata: Seandainya hizibku (Hizib Bahri, Red.) ini dibaca di Baghdad, niscaya daerah itu tidak akan jatuh. Mungkin yang dimaksud Asy Syaikh Syadzili dengan kejatuhan di situ adalah kejatuhan Baghdad ke tangan Tartar,Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila Hizib Bahri dibaca di sebuah tempat, maka termpat itu akan terhindar dari malapetaka, ujar Syaikh Abul al-Hasan, seperti ditulis Haji Khalifah dalam Kasyf al-Zhunun.&lt;br /&gt;
Haji Khalifah juga mengutip komentar ulama-ulama lain tentang Hizib Bahri ini. Ada yang mengatakan, bahwa orang yang istiqamah membaca Hizib Bahar, ia tidak mati terbakar atau tenggelam. Bila Hizib Bahri ditulis di pintu gerbang atau tembok rumah, maka akan terjaga dari maksud jelek orang dan seterusnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konon, orang yang mengamalkan Hizib Bahri dengan kontinu, akan mendapat perlindungan dari segala bala’. Bahkan, bila ada orang yang bermaksud jahat mau menyatroni rumahnya, ia akan melihat lautan air yang sangat luas. Si penyatron akan melakukan gerak renang layaknya orang yang akan menyelamatkan diri dari daya telan samudera. Bila di waktu malam, ia akan terus melakukan gerak renang sampai pagi tiba dan pemilik rumah menegurnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak komentar-komentar, baik dari Asy Syaikh Syadzili maupun ulama lain tentang keampuhan Hizib Bahri yang ditulis Haji Khalifah dalam Kasyf al-Zhunun jilid 1 (pada entri kata Hizb). Selain itu, Haji Khalifah juga menyatakan bahwa Hizib Bahri telah disyarahi oleh banyak ulama, diantaranya Syaikh Abu Sulayman al-Syadzili, Syaikh Zarruq, dan Ibnu Sulthan al-Harawi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti yang telah disampaikan dalam manaqib Asy Syaikh Syadzili, bahwa menjelang akhir hayat beliau, asy syaikh telah berwasiat kepada murid-murid beliau agar anak-anak mereka, maksudnya para murid thariqah syadziliyah, supaya mengamalkan hizib Bahri. Namun untuk mengamalkan Hizib ini seyogyanya harus melalui talqin atau ijazah dari seorang guru yang memiliki wewenang untuk mengajarkannya. Seseorang yang tidak mempunyai wewenang tidak berhak mengajarkannya ataupun memberikan hizib ini kepada orang lain. Hal ini merupakan adabiyah atau etika dilingkungan dunia thariqah.&lt;br /&gt;
Source :&lt;a href=&quot;http://filsafat.kompasiana.com/2009/12/05/hizib-dalam-tasawuf&quot; target=&quot;blank&quot;&gt;&lt;input type=&quot;submit&quot; value=&quot;KOMPASIANA.COM&quot; /&gt;&lt;/a&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/feeds/512950300455380207/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/2010/07/hizib-dalam-tasawuf.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/4681687974444904579/posts/default/512950300455380207'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/4681687974444904579/posts/default/512950300455380207'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/2010/07/hizib-dalam-tasawuf.html' title='Hizib Dalam Tasawuf'/><author><name>Edi Sugianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14020089984610322057</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGzeexTJJ5-aiaE_2XnxpUrS2D0wSodFfxEARZ9eOUxR9Np3cagCLixSLzkhkGcUwvIUrBg2DituWXBx_GIbXRZzPlECBhFtxqcaVwaR26-gUrt36VprkAx0ni2qR3TQ/s80/Edi+icon+80px.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgWQxpfmNuvmigQMsyT-EE7-g8M9xGRCejB6FJZTa_bxDiulHW_VHMHjMGLp6rk5pwgDlwAHvCmmbAiicXKByf55yoBLCvxAj9wUPF-w7JUYa5q81fdPDeoyucd0PycQ0yEZN3WTpcunASG/s72-c/Allah+9.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4681687974444904579.post-195889978157966124</id><published>2010-07-11T15:10:00.000+07:00</published><updated>2010-07-11T15:10:51.713+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tasawuf"/><title type='text'>Orang Sufi anti Syurga dan Tidak Takut Neraka?</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg6ku4ZwDaSMVTHKGbYZWayHX6DEfRza7HYiMMjmauzoR8unyN23EKU670FjDT2coqa0iE3xJ0plhwnzDYRyBnsUAPRG4ZbonDA0k5_1078M7rPXYsBhVGRc9zjXceGj51ukKB7BlNwvBPE/s1600/Allah+3.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;150&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg6ku4ZwDaSMVTHKGbYZWayHX6DEfRza7HYiMMjmauzoR8unyN23EKU670FjDT2coqa0iE3xJ0plhwnzDYRyBnsUAPRG4ZbonDA0k5_1078M7rPXYsBhVGRc9zjXceGj51ukKB7BlNwvBPE/s200/Allah+3.jpg&quot; width=&quot;200&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Diantara tuduhan yang dilontarkan kepada kaum Sufi, bahawa dalam tasawuf, seorang Sufi itu tidak mau syurga dan tidak takut neraka. Padahal Rasulullah pernah berharap syurga dan dihindarkan dari neraka. Rasulullah masih demikian, kenapa kaum Sufi enggan dengan syurga dan tidak takut neraka?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuduhan dan pertanyaan berikutnya seputar syurga dan neraka, bahawa kaum Sufi dalam tujuannya untuk beribadah hanya kepada Allah, tidak menuju syurga dan tidak menghindar dari neraka, dianggap sebagai akidah yang salah. Padahal dalam ayat Al-Qur’an disebutkan, “Makan dan minumlah (di syurga) dengan nikmat yang disebabkan oleh amal yang telah kamu kerjakan di hari-hari yang lampau….” (al-Haaqqah, 24) . Jadi kaum Sufi pandangannya bertentangan dengan ayat tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;JAWAPAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Dalam Al-Qur’an dan Hadits soal syurga dan neraka disebut berkali-kali dalam berbagai ayat dan surah. Tentu saja, sebagai janji dan peringatan Allah swt. Namun memahami ayat tersebut atau pun hadits Nabi saw, harus dilihat dari berbagai sudut pandang, tidak sekadar ayat atau teks hadits saja.&lt;br /&gt;
Contoh soal rasa takut. Dalam Al-Qur’an disebut beberapa kali bentuk takut itu. Ada yang menggunakan kata Taqwa, ada yang menggunakan kata Khauf dan ada pula Khasyyah, dan berbagai bentuk kata yang ditampilkan Allah Ta’ala yang memiliki hubungan erat dengan bentuk takut itu sendiri, sesuai dengan kapasitas hamba dengan Allah Ta’ala. Makna takut dengan penyebutan yang berbeza-beza itu pasti memiliki dimensi yang berbeza pula, khususnya dalam responsi psikhologi keimanan yang berbeza-beza antara satu dengan yang lainnya, berkaitan dengan getaran dan darjat keimanan seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu juga kata Jannah dan Naar, syurga dan neraka. Penekanan-penekanan kata Naar dalam Al-Qur’an juga memiliki struktur hubungan yang berbeza. Naar disebutkan untuk orang kafir, memiliki tekanan berbeza dengan orang munafik, orang fasik, dan orang beriman yang ahli maksiat. Itu bererti berhubungan dengan kata Naar, yang disandarkan pada macam-macam ruang neraka: Ada Neraka Jahim, Neraka Jahanam, Neraka Sa’ir, Neraka Saqar, Neraka Abadi, dan penyebutan kata Naar yang tidak disandarkan pada sifat neraka tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika Naar kita maknakan secara umum, justeru menjadi zalim, kerana faktanya tidak demikian. Hal yang sama jika para Sufi memahami Naar dari segi hakikatnya neraka, juga tidak boleh disalahkan. Apalagi jika seseorang memahami neraka itu sebagai api yang berkobar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalimat Naar tanpa disandari oleh Azab, juga berbeza dengan Neraka yang ansickh belaka. Misalnya kalimat dalam ayat di surah Al-Baqarah, “Wattaqun Naar al-llaty waquduhannaasu wal-Hijarah” dengan ayat yang sering kita baca, “Waqinaa ‘adzaban-Naar,” memiliki dimensi berbeza. Ayat pertama, menunjukkan betapa pada umumnya manusia, kerana didahului dengan panggilan Ilahi ”Wahai manusia”. Maka Allah langsung membuat ancaman serius dengan menyebutkan kata Naar. Tetapi pada doa seorang beriman, “Lindungi kami dari siksa neraka,” maknanya sangat berbeza. Kerana yang terakhir ini berhubungan dengan kelayakan keimanan hamba kepada Allah, bahawa yang ditakuti adalah Azabnya neraka, bukan apinya. Sebab api tanpa azab, jelas tidak panas, seperti api yang membakar Ibrahim as.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh sebab itu, jika seorang Sufi menegaskan keikhlasan ubudiyahnya hanya kepada Allah, memang demikian perintah dan kehendak Allah. Bahawa seorang mukmin menyembah Allah dengan harapan syurga dan ingin dijauhkan neraka, dengan perpekstifnya sendiri, tentu kelayakan keikhlasannya di bawah yang pertama. Dalam berbagai ayat mengenai Ikhlas, sebagai Roh amal, disebutkan agar kita hanya menyembah Lillahi Ta’ala. Tetapi kalau punya harapan lain selain Allah termasuk di sana harapan syurga dan neraka, sebagai bentuk kenikmatan fizik dan siksa fizik, itu juga diterima oleh Allah. Namun, kelayakannya adalah bentuk responsi mukmin pada syurga dan neraka paling rendah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua mengenal bagaimana Allah membangun contoh dan perumpamaan, baik untuk menjelaskan dirinya, syurga mahupun neraka. Kaum Sufi memilih perumpamaan paling hakiki, kerana perumpamaan neraka yang paling rendah sudah dilampauinya. Sebagaimana kualiti moral seorang pekerja di tempat kerja juga berbeza-beza, walau pun teknik dan cara kerjanya sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang yang bekerja hanya mencari wang dan untung, tidak boleh mencaci dan mengecam orang yang bekerja dengan mencintai pekerjaan dan mencintai ketuanya tersebut. Walau pun cara bekerjanya sama, namun kualiti moral dan jadual kerjanya yang berbeza. Bagi seorang ketua yang bijaksana, pasti ia lebih mencintai pekerja yang didasari oleh motivasi cinta yang luhur pada pekerjaan, perusahaan dan mencintai dirinya, dibandingkan dengan para pekerja yang hanya mencari untung belaka, sehingga mereka bekerja tanpa roh dan spirit yang luhur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kerana itu syurga pun demikian. Persepsi syurga bagi kaum Sufi memiliki kelayakan rohani dan spiritual yang berbeza dengan persepsi syurga kaum awam biasa. Hal yang sama persepsi mengenai bidadari. Bagi kaum Sufi bidadari yang digambarkan oleh Al-Qur’an dan Sunnah, adalah Tajalli (penampakan) sifat-sfat dan Asma Kemahaindahan Ilahi, yang tentu saja berbeza dengan kaum awam yang dipersepsi sebagai kenikmatan biologi seksual haiwan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syurga bagi kaum Sufi adalah Ma’rifatullah dengan darjat kema’rifatan yang berbeza-beza. Kerana nikmat tertinggi di syurga adalah Ma’rifat Dzatullah. Jadi kalimat Rabi’ah Adawiyah tentang ibadah tanpa keinginan syurga adalah syurga fizik dengan kenikmatan fizik yang selama ini kita persepsikan. Dan hal demikian memang boleh menjadi penghalang (hijab) antara hamba dengan Allah dalam proses kema’rifatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan Allah pun membagi-bagi syurga dengan simbol berbeza-beza, ada Jannatul Ma’wa, Jannatul Khuldi, Jannatun Na’im, Jannatul Firdaus, yang tentu saja menunjukkan kelayakan yang bersifat lahiriyah mahupun bathiniyah. Bagi orang beriman yang masih bergelimang dengan nafsunya, maka persepsi tentang nikmat syurga, adalah pantulan nafsu haiwaninya dan syahwatnya, lalu persepsi kesenangan duniawi ingin dikorelasikan dengan rasa nikmat syurgawi yang ideal dengan syahwatiyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rabi’ah Adawiyah dan para Sufi lainnya ingin membersihkan jiwa dan hatinya dari segala bentuk dan motivasi selain Allah yang boleh menghambat perjalanan menuju kepada Allah. Dengan bahasa seni yang indah dan tajam, mereka hanya menginginkan Allah, bukan menginginkan makhluk Allah. Amaliyah di dunia sebagi visa syurga hanyalah untuk menentukan kelayakan syurgawnya, bukan sebagai kunci masuk syurganya. Kerana hanya Fadhal dan RahmatNya saja yang menyebabkan kita masuk syurga. “kerana Fadhal dan Rahmat itulah kamu sekalian bergembira…” Demikian dalam Al-Qur’an. Bukan gembira kerana syurgaNya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syurga dan neraka adalah makhluk Allah. Apakah seseorang boleh wushul (sampai kepada) Allah, manakala perjalanannya dari makhluk menuju makhluk? Apakah itu tidak lebih dari sapi atau khimar yang menjalankan roda gilingan, yang berputar-putar terus menerus tanpa tujuan?&lt;br /&gt;
Nah anda boleh merenungkan sendiri, betapa tundingan-tundingan mereka yang anti tasawuf soal persepsi syurga dan neraka ini, boleh terbantahkan dengan sendirinya, tanpa harus berdebat lebih panjang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya mereka yang tolol dan bodoh saja, jika ada ucapan seperti ini dikecam habis, “Tuhanku, hanya engkau tujuanku, dan hanya ridloMulah yang kucari. Limpahkan Cinta dan Ma’rifatMu kepadaku…” Ucapan yang menjadi munajat para Sufi. Lalu mereka mengecam ucapan ini, sebagai bentuk anti syurga dan tak takut neraka?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Source :&lt;a href=&quot;http://jalansufi.com/laman-utama/orang-sufi-anti-syurga-dan-tidak-takut-neraka&quot; target=&quot;blank&quot;&gt;&lt;input type=&quot;submit&quot; value=&quot;JALAN SUFI.COM&quot; /&gt;&lt;/a&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/feeds/195889978157966124/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/2010/07/orang-sufi-anti-syurga-dan-tidak-takut.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/4681687974444904579/posts/default/195889978157966124'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/4681687974444904579/posts/default/195889978157966124'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/2010/07/orang-sufi-anti-syurga-dan-tidak-takut.html' title='Orang Sufi anti Syurga dan Tidak Takut Neraka?'/><author><name>Edi Sugianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14020089984610322057</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGzeexTJJ5-aiaE_2XnxpUrS2D0wSodFfxEARZ9eOUxR9Np3cagCLixSLzkhkGcUwvIUrBg2DituWXBx_GIbXRZzPlECBhFtxqcaVwaR26-gUrt36VprkAx0ni2qR3TQ/s80/Edi+icon+80px.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg6ku4ZwDaSMVTHKGbYZWayHX6DEfRza7HYiMMjmauzoR8unyN23EKU670FjDT2coqa0iE3xJ0plhwnzDYRyBnsUAPRG4ZbonDA0k5_1078M7rPXYsBhVGRc9zjXceGj51ukKB7BlNwvBPE/s72-c/Allah+3.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4681687974444904579.post-6556403386078437155</id><published>2010-07-11T14:58:00.000+07:00</published><updated>2010-07-11T14:58:16.348+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tasawuf"/><title type='text'>Tarekat Awam Dan Tarekat Khas</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjnUsBgAIPVoJ_JZ996lJbZYPdQvUvTV88t01lT3ohyphenhyphen1e5UgMGaCJ1piBfEVJNeEDoGFA8EtYKg2CiQPlJlBbX0zmEH7YL00E586HXJsEaIDsr907ze7wwEg6iq6PzIihs56LI5cFNV4fFr/s1600/Allah+2.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;150&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjnUsBgAIPVoJ_JZ996lJbZYPdQvUvTV88t01lT3ohyphenhyphen1e5UgMGaCJ1piBfEVJNeEDoGFA8EtYKg2CiQPlJlBbX0zmEH7YL00E586HXJsEaIDsr907ze7wwEg6iq6PzIihs56LI5cFNV4fFr/s200/Allah+2.jpg&quot; width=&quot;200&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Dalam wancana Syadziliyah ada tahap dimana, para penempuh jalan Sufi melakukan melalui dua cara:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara pertama melalui cara yang ditempuh khalayak awam (umum) dan ada pula yang ditempuh oleh khalayak khusus (Khas). Pandangan awam mahupun Khas di sini, tidak bersifat sosiologi mahupun intelektual. Tetapi bersifat spiritual. Penentuan seseorang melalui sistem Awam atau pun Khas, hanyalah bentuk penempuhan itu sendiri. Sebagaimana dalam Al-Qur&#39;an ada istilah al-Muhibbin dan Al-Mahbubin, ada ash-Shiddiqin dan ada pula ash-Shadiqin. Konteks lain dari istilah Sufi, ada proses yang bersifat Al-Murid ada juga dengan proses Al-Murad. Jadi kategori di atas hanyalah kategori proses penempuhannya. Kerana itu disarankan Mursyid Kamil Mukammil untuk membimbing, masing-masing terhadap kedua proses di atas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam Al-Mafakhir, dikutip ucapan asy-Syadzily tentang kategori penempuhan di atas, beliau mengatakan secara panjang lebar:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Perlu diketahui bahawa pengetahuan yang menurut pemiliknya dianggap terpuji, hal itu dianggap gelap bagi ahli hakikat. Ahli hakikat ini adalah mereka yang yang menyelami Lautan Dzat dan kedalaman Sifat-sifat. Di sana, mereka tanpa memiliki hasrat. Dan mereka itulah kalangan elit atau Khas yang Luhur. Yaitu mereka yang menyertai martabat para Nabi dan Rasul, walaupun martabat para Nabi dan Rasul itu lebih mulia. Sebab mereka ini mempunyai bahagian dari martabat itu, kerana baik Nabi mahupun para Rasul dari ummat ini, pasti mempunyai pewaris, dan setiap pewaris mempunyai bahagian dari peninggalan warisannya. Nabi saw, bersabda, &quot; Para Ulama itu adalah pewaris para Nabi.&quot; Dan tentunya para pewaris itu memiliki kedudukan yang diketahui dari yang mewariskannya, dari segi pewarisan ilmu pengetahuan dan hikmah. Namun bukan dari segi perwujudan martabat dan keadaan anugerah rohani (al-maqam wal-haal). Sebab maqam para Nabi itu terlalu luhur untuk diraih oleh selain para Nabi sendiri, sementara setiap pewaris mendapatkan sebahagian maqam itu menurut warisan yang diterimanya. Kerana Allah swt, sudah berfirman, &quot;Niscaya benar-benar Kami utamakan sebahagian Nabi atas sebahagian yang lainnya&quot;. Begitu juga Allah memberikan posisi keutamaan para wali satu sama lainnya berbeza.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para Nabi sentiasa menyertai Pandangan Allah, dan setiap pandangan yang melimpah dari pandangan para Nabi akan tertuang menurut kadarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Sementara setiap Wali memiliki muatan yang spesifik, sehingga dunia Wali terbahagi menjadi dua:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;Satu bahagian disebut sebagai para Abdal (pengganti) bagi para Nabi Bahagian kedua, adalah pengganti para Rasul.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;
Abdal para Nabi disebut sebagai kalangan Shalihun, sedangkan Abdal para Rasul disebut ash-Shiddiqun. Antara Shalihun dengan Shiddiqun, posisi keutamaannya sama dengan antara para Nabi dan Rasul. Maka dari mereka, dan dari mereka pula. Hanya saja diantara mereka itu adala kelompok khusus yang mendapatkan substansi materi langsung dari Rasulullah saw, yang mereka saksikan dengan pandangan keyakinan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi jumlah kelompok sedikit, namun dalam jumlah perwujudan hakikatnya cukup banyak. Setiap Nabi dan Wali selalu bermula dari substansi Rasulullah saw,. Karena diantara para Wali itu ada yang menyaksikan dengan pandangannya, dan sebahgian mereka yang ada yang tersembunyikan pandangan dan substansi materinya. Mereka malah fana&#39; dalam anugerah yang turun padanya dan tidak tersibukkan dengan mencari substansi materinya itu, bahkan , mereka itu tenggelam dalam anugerah rohani (hal) sampai tidak lagi melihat kecuali hanya pada &quot;waktunya&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diantara mereka ada yang terlimpahi melalui Nur Ilahi, sehingga mereka dapat memandang melalui cahaya itu, dan mengenal urusannya secara hakikat. Dan yang demikian itu merupakan karomah bagi mereka, yang tidak boleh diingkari kecuali oleh mereka yang memang mengingkari karomah para Wali. Kita semua mohon perlindungan dari keingkaran terhadap sesuatu setelah kita mengenal sesuatu itu. Mereka itu menempuh Thariqat yang tidak ditempuh oleh yang lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebab jalan penempuhan (Thariqat) itu ada dua. Thariqat bagi kalangan Khas, dan Thariqat bagi kalangan publik (umum). Dimaksud dengan Thariqat Khos itu, adalah jalan yang ditempuh oleh kalangan yang Dicintai Allah (al-Mahbubin), yang merupakan Abdal para Rasul. Sedangkan Thariqat Umum adalah Thariqat yang ditempuh oleh para pecinta Allah (al-Muhibbin), yaitu Abdal para Nabi. Semoga Salam Sejahtera bagi mereka semua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Thariqat Khas adalah Thariqat yang sangat elit yang sulit dicerna akal biasa, dan jauh sekali yang mampu menguraikan isinya. Bagi anda cukup dengan Thariqat Umum, yaitu jalan penempuhan melalui satu tahap ke tahap lainnya yang lebih luhur hingga sampai pada suatu tahap tertentu, yaitu , &quot;tempat duduk yang benar di sisi Raja Yang Maha Berkuasa&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jejak pertama yang harus dtempuh oleh seorang pecinta (al-Muhibb) adalah menaiki suatu tahap ke tahap yang lebih tinggi, yaitu Nafsu. Ia tersibukkan oleh sebab akibat di sana dan bagaimana seseorang mengolah nafsunya (mengendalikannya) sampai tangga kema&#39;rifatan, Manakala ia telah mencapai tahap ma&#39;rifat dan meraih hakikat di sana, ia akan mendapatkan pencerahan cahaya di tahap kedua, iaitu Kalbu. Dalam tahap ini ia berada dalam kesibukan &quot;bersiasat&quot; dalam dunia ma&#39;rifatnya. Manakala tidak ada lagi yang tersisa tahapnya, ia menaiki tangga ketiga, yaitu Ruh. Lalu ia bersibuk diri dengan Siasat Ruh dan kema&#39;rifatannya. Apabila ma&#39;rifatnya sudah sempurna maka sedikit demi sedikit mengalirlah cahaya-caha keyakinan, sampai pandangannya lupa dengan luapan-luapan cahaya itu, sampai keyakinannya benar-benar jelas, sehingga ia tidak lagi mampu berfikir terhadap pencahayaan tiga tahap yang berlalu itu. Maka disanalah ia bebas berhasrat sesuai dengan kehendak Allah . Lalu Allah melimpahkan melalui Nur Akaly yang asli dalam Nur keyakinan. Maka ia menyaksikan adanya yang dimaujudkan tanpa batas dan pangkal, jika disandarkan pada si hamba tersebut. Sehingga lenyaplah seluruh jasad ini didalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kadang-kadang seperti tabung yang terlihat di udara melalui cahaya matahari, maka, ketika cahaya matahari itu membakar, tabung itu tidak lagi tampak bekasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matahari itu adalah akal yang lazim, yang bisa memperlihatkan obyek, setelah terpenuhi oleh materi cahaya keyakinan. Apabila seluruh cahaya itu lenyap, maka seluruh jagad itu sirna pula, dan yang ada hanyalah yang maujud ini. Kadang tampak ada, kadang sirna, sampai ketika ia menghendaki kesempurnaan, ia dipanggil oleh panggilan yang lembut, tanpa suara, yang hanya bisa difahami saja. Hanya saja yang bisa menyaksikan selain Allah, tiada sesuatu yang lain selain Allah. Maka, disitulah ia bangun dan sedar dari &quot;mabuk&quot;nya. Lalu bermunajat, &quot;Oh Tuhan, tolonglah daku....,, tolonglah aku...sungguh aku telah musnah...&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari sana ia tahu dengan seyakin-yakinnya, bahawa siapapun tidak boleh selamat dari lautan itu melainkan kerana pertolongan Allah. Disaat seperti itu dikatakan padanya, &quot;Maujud ini adalah Akal, seperti yang disabdakan Rasulullah saw, bahawa yang pertamakali diciptakan oleh Allah adalah akal.&quot; Pada hadits lain dijelaskan, &quot;Allah berfirman pada akal itu, ‘Menghadaplah!&#39; dan akal itu pun menghadap.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hamba ini lantas dianugerahkan rasa hina dan keselamatan melalui Cahaya Maujud itu, sebab batas dan ukurannya tiada terkira, sehingga ia tak mampu mengenalnya. Dikatakan padanya, &quot;Betapa jauhnya, batas itu tidak bisa dikenal kecuali bersama Allah.&quot; Lantas Allah Yang Maha Agung nan Luhur memberikan petunjuk melalui Cahaya Asma&#39;-Nya, muncullah bagai sekelebat kedipan mata, atau seperti yang dikehendaki-Nya (Kami mengangkat darjat orang yang Kami kehendaki), kemudian Allah melimpahkannya melalui Cahaya Ruh Rabbany, lalu ia pun mengenal Maujud ini. Hamba tadi naik ke medan Ruh Rabbany, tiba-tiba sinar seluruh hiasan keindahan yang menyertainya, lalu secara sendirinya ia tersunyikan, tinggalah segala yang ada ini menjadi Maujud. Kemudian Allah menghidupkannya melalui Cahaya Sifat-sifatNya, lalu dengan kehidupan itu Allah menaikkan ke dalam pengenalan Maujud Rabbany itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika hamba terurai dari dasar-dasar SifatNya, hampir-hampir ia sebutkan, &quot;Dialah Allah&quot;. Tiba-tiba ia ditemui oleh Pertolongan Azaly, lalu muncul panggilan, &quot;Ingatlah! Bahawa maujud itu adalah yang tiada boleh disifati oleh siapa pun, tidak boleh pula dimengerti melalui ibarat apa pun melalui Sifat-sifatNya melainkan oleh ahlinya, namun melalui cahaya lain yang mengenalnya.&quot; Kemudian Allah melimpahkannya melalui Cahaya Sirr Ruh (rahsia batin Ruh), tiba-tiba ia sudah duduk di pintu medan Sirr.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hasratnya mengembang untuk mengenal Maujud itu yang tidak lain adalah Sirr itu sendiri. Namun, ia telah buta untuk mengenalnya, lalu seluruh sifat-sifatnya sirnya, seakan-akan tak ada sesuatu pun padanya. Kemudian Allah melimpahkan Cahaya DzatNya, dengan limpahan Kehidupan Keabadian yang tiada hingga. Semua yang diketahui memandang dengan Cahaya Kehidupan ini, lantas seluruh penghuni Maujud ini menjadi Cahaya yang memancar pada segala yang ada, tidak lagi ada yang bisa disaksikan selain Dia. Muncullah panggilan dari jarak yang sangat dekat saat itu: &quot;Janganlah terpedaya dengan Allah, kerana yang Dicintai justru dari tirai (hijab), dari Allah, beserta Allah. Sebab mustahil Allah dihijabi oleh selain Allah.&quot; Lalu ia hidup dengan kehidupan yang dititipkan oleh Allah di dalamnya. Hamba itu lalu berkata, &quot;Aduh, Tuhanku....BesertaMu, DariMu, KepadaMu, betapa tak berdayanya daku. Sesungguhnya aku memohon perlindungan padaMu dariMu, sampai aku tidak melihat lagi selain DiriMu.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah jalan yang tanjakannya menuju Hadirat Allah Yang Luhur, yaitu jalan ditempuh oleh para pecinta Allah (al-Muhibbin) , sebagai para Badal Nabi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan yang dianugerahkan pada salah seorang dari mereka setelah itu, tak satu pun orang yang boleh mengukur atau mendeskripsikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segala Puji hanya bagi Allah, atas segala nikmat-nikmatNya, dan shalawat serta salam semoga terlimpah padaMuhammad pengunci para NabiNya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan Thariqat kalangan Mahbubin (mereka yang dicintai-Nya) adalah langsung dari Allah, kepada Allah. Sebab mencapai jalan ini mustahil selain dari Allah Sendiri. Pijakan pertamanya, adalah tanpa pijakan itu sendiri, untuk mendapatkan Cahaya DzatNya. Mereka ini disembunyikan dari hamba-hamba-Nya, kerana ia dianugerahi rasa cinta terhadap ketersembunyian. Segala amal-amal yang shaleh sangat kecil di matanya, sementara yang terlihat besar adalah Tuhannya bumi dan langit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika dalam keadaan demikian itu, tiba-tiba mereka mendapati dirinya berpakaian baju ilmu. Lalu mereka memandang, tetapi yang tampak, mereka itu bukan mereka. Lantas ia tertimpa suatu kegelapan yang menyembunyikan pandangan mereka, bahkan wahananya menjadi wahana tiada, tanpa sebab-akibat. Seluruh aturan sebab akibat terhempas, dan seluruh yang disebut sebagai yang baru sirna tanpa sesuatu yang baru, bahkan tak ada wujud lagi. Yang jelas justru tiada lagi, kecuali hanya Ketiadaan Murni itu sendiri, tanpa sebab dan akibat. Dan segala yang tanpa sebab langsung, berarti tidak ada obyek yang bisa dikenalnya. Segala yang yang bisa diketahui telah sirna, dan segala rumus telah musnah, sirna yang tidak diketahui kenapa dan bagaimana. Yang ada hanyalah &quot;Substansi&quot; yang ditunjukkan, bahwa Dia tiada bisa disifati dan tiada Sifat itu sendiri, bahkan tiada lagi Dzat. Segala Predikat, Asma&#39; dan Sifat telah sirna, maka tiada Nama, tiada Sifat dan tiada Dzat. Maka, muncullah &quot;Yang&quot; senantiasa Muncul, tiada sebab-akibat. Tetapi Dia menampakkan Rasia BatinNya, bagi DzatNya di dalam DzatNya, melalui pemunculan yang tiada awalnya. Namun Dia memandang dari DzatNya, bagi DzatNya, dengan DzatNya di dalam DzatNya. Para hamba itu hidup melalui PemumunculanNya dengan kehidupan yang tiada sebab-akibat di dalamnya. Lalu tampillah dengan seluruh Sifat-sifat yang Indah, yang tiada tahu mengapa dan bagaimana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadilah ia yang pertama muncul, tiada kemunculan sebelumnya. Lantas menemukan segala sesuatu bersama Sifat-sifat-Nya, kemudian muncullah cahayaNya di dalam cahayaNya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama-tama yang muncul adalah SirrNya (rahasia batin), lalu muncullah (melalaui Sirr itu) kalbuNya, lantas muncul AmarNya melalui SirrNya di dalam SirrNya. Lalu muncullah segala dzat melalaui AmarNya di dalam Cahaya al-Qalam melalui Cahaya al-Qalam. Kemudian muncullah AkalNya dengan AmarNya dalam AmarNya, dan muncullah (dengan itu ) ArasyNya di dalam Cahaya LauhNya dengan Cahaya Lauh itu sendiri. Lantas muncullah RuhNya melalui AkalNya, dan melalui RuhNya muncullah KursiNya di dalam Cahaya ArasyNya melalui Cahaya Arasy itu sendiri. Lalu muncul jiwanya melalui kalbuNya, lalu muncullah melalui jiwaNya, orbit bagi kebajikan dan keburukan di dalam Cahaya HijabNya melalui Caha Hijab itu sendiri. Lalu muncul Jisim melalui JiwaNya di dalam JiwaNya, maka muncullulah melalui Jisim itu seluruh Jisim Alam Kasar baik di bumi maupun di langit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesimpulannya, setiap alam kasar berada dalam Cahaya orbit melalui Cahaya orbit. Sehingga pijakan pertamanya bagi hamba tercinta yang sunyi ini adalah membuang jiwanya pada ketiadaan, yaitu pembuangan dalam wahana tiada sebab akibat. Yaitu menghadap pada ketiadaan melalui pengguguran sifat awwaliyah, akhiriyah, dzahiriyah dan bathiniyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sehingga yang terjadi adalah menghadapkan sifat ketiadaan pada ketiadaan itu sendiri. Erti sifat ketiadaan bagi ketiadaan itu adalah segala hal yang berakhir pada pangkal tiada aksioma sebab akibat. Yaitu menyaksikan Allah Ta&#39;ala seperti tiada penyaksian yang berhubungan, tetapi tidak terpisah. Penyaksiaan yang tiada sedikitpun adanya peluang kealpaan, dimana dalil pembuktiannya tidak ada aksioma sebab akibat di dalamnya mahupun baginya, yaitu penyaksian Ketiadaan Murni.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Erti dari tidak adanya pembuktian sebab akibat yaitu kelaziman tiadanya penyaksiaan terhadap makhluk-makhluk yang bisa disaksikan, kemudian secara berurutan, dari ketiadaan murni itu, yaitu Mabuk dalam Lupa yang abadi, bahkan lupa terhadap kehidupan yang ditunjukkan dalam wacana pada posisi ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ternyata, jalan hamba ini adalah Jalan Luhur, atau apa yang disebut dengan terlempar ke dalam Lautan Dzat, lantas ia tiada, lalu dihidupkan dengan kehidupan yang baik, kemudian dipindahkan - tanpa harus pindah - ke Lautan Sifat, kemudian Lautan Amar Rabbany, kemudian Lautan Sirri, lalu Lautan al-Qalam yang masih asli , lantas Lautan Ruh, kemudian Lautan Kalbu, lalu Lautan Nafsu, lantas Lautan Kebajikan , kemudian ia ditemukan dengan Lautan Sirri, lalu dilempar ke Lautan Qolamiyah, lalu Lautan Lauhiyah, kemudian Lautan Arsyiyah, lantas Lautan Kursy, kemudian Lautan Hijabiyah, kemudian Lautan Falakiyah. Ia dipertemukan dengan Lautan Sirri yang meliputi, kemudian dilempar ke Lautan Malakiyah, lalu ke Lautan Abalisah (keiblisan), kemudian Lautan Jinsiyah, baru ke Lautan Unsiyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disana ia bertemu dengan Lautan Sirri, lalu dilemparkan ke Lautan Syurgawi, lalu Lautan Nirani (kenerakaan), kemudian dilempar ke Lautan Ihathah (keseluruhan yang meliputi) yaitu Lautan Sirri, lalu tenggelamlah di sana dalam ketenggelaman yang tidak keluar lagi selama-lamanya kecuali atas Izin-Nya. Bila Allah menghendaki ia diutus sebagai ganti dari Rasul yang menghidupkan para hambaNya. Jika Dia berkehendak lain, Dia menutupinya. Dia bertindak sesuai dengan kehendakNya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap Lautan dari Lautan-lautan itu, meliputi berbagai Lautan di sana, dimana jika orang yang Shaleh pengganti Rasul masuk di dalam Lautan paling kecil saja dari Lautan-lautan itu, pasti ia tenggelam di dalamnya dan tidak akan selamat lagi (mentas).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua itu merupakan gambaran Thariqat Umum dan Khusus. Hanya Allah Sendiri yang Terpuji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Proyeksi yang dijadikan ilustrasi di atas sekaligus menggambarkan bagaimana tahapan spiritual, namun sekaligus juga maqam dan haal ruhani para Sufi. Lebih dari itu menggambarkan peta dunia metafisis dan struktur Wujud itu sendiri dalam perspektif teosofis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Source :&lt;a href=&quot;http://jalansufi.com/islam/tarekat/awam-dan-khas&quot; target=&quot;blank&quot;&gt;&lt;input type=&quot;submit&quot; value=&quot;JALAN SUFI.COM&quot;/&gt;&lt;/a&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/feeds/6556403386078437155/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/2010/07/tarekat-awam-dan-tarekat-khas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/4681687974444904579/posts/default/6556403386078437155'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/4681687974444904579/posts/default/6556403386078437155'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/2010/07/tarekat-awam-dan-tarekat-khas.html' title='Tarekat Awam Dan Tarekat Khas'/><author><name>Edi Sugianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14020089984610322057</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGzeexTJJ5-aiaE_2XnxpUrS2D0wSodFfxEARZ9eOUxR9Np3cagCLixSLzkhkGcUwvIUrBg2DituWXBx_GIbXRZzPlECBhFtxqcaVwaR26-gUrt36VprkAx0ni2qR3TQ/s80/Edi+icon+80px.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjnUsBgAIPVoJ_JZ996lJbZYPdQvUvTV88t01lT3ohyphenhyphen1e5UgMGaCJ1piBfEVJNeEDoGFA8EtYKg2CiQPlJlBbX0zmEH7YL00E586HXJsEaIDsr907ze7wwEg6iq6PzIihs56LI5cFNV4fFr/s72-c/Allah+2.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4681687974444904579.post-4644809000269363791</id><published>2010-07-10T23:30:00.003+07:00</published><updated>2010-07-10T23:34:24.590+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sun Tzu"/><title type='text'>Filsafat Jalan Miyamoto Musashi</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhfxIO0RYygOAX6ZJkczXdI-JRffHjsNEekn_1NwXxXvqJdxF95jkw7ubxy19JA6knqRRJVD8-rh11xXaNOlJGmWehtmpAPkF_j1_ANHl3znxFPSU21_nGk0rkL_rzcsH3k9-8HwPgHit-n/s1600/kojiro.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhfxIO0RYygOAX6ZJkczXdI-JRffHjsNEekn_1NwXxXvqJdxF95jkw7ubxy19JA6knqRRJVD8-rh11xXaNOlJGmWehtmpAPkF_j1_ANHl3znxFPSU21_nGk0rkL_rzcsH3k9-8HwPgHit-n/s320/kojiro.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;oleh Lazuardi  Adipradana Hasyim&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dilahirkan di  sebuah desa yang bernamaMiyamoto di tahun 1584, Musashi terlahir sebagai  Munasai Takezo. Masa kanak-kanak Takezo tidaklah bahagia. Ia tidak akur  dengan ayah kandungnya, Munasai Hirata seorang samurai pemilik tanah.  Takezo selalu melontarkan kritik pedas terhadap seni bela diri ayahnya,  hingga menyebabkan ketiak akuran diantara ayah dan anak ini. Situasi  yang demikian membuat Takezo kabur memilih meninggalkan rumah untuk  hidup bersama pamannya yang saat itu usianya belum mencapai 13 tahun.&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tapi di usianya yang  13 tahun tersebut, Takezo sudah mampu menaklukkan seorang pendekar  pedang Shito-ryu yang bernama Arima Kihei. Lawannya itu dirobohkan dan  dipukulinya dengan tongkat hingga tewas. Kemudian pada usia 16 tahun,  Takezo bertarung dengan seorang samurai tangguh dan kembali muncul  sebagai pemenang. Mulai saat itu, Takezo memutuskan pergi bertualang  mengikuti “Jalan Pedang”. Tak lama kemudian Takezo terlibat dalam perang  habis-habisan antara kubu daimyo (tuan tanah) Ieyasu melawan klan  Hideyori dengan para pengikutnya di pertempuran besar di  Sekigahara.Dalam pertempuran selama tiga hari itu tercatat 70.000 orang  tewas, Takezo sendiri di pihak pasukan yang kalah berhasil meloloskan  diri.&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Takezo kemudian  bertemu dengan Soho Takuan, seorang pendeta Zen dengan kecerdikannya  kemudian berhasil “menawan” Takezo di sebuah sel gelap di puri milik  Ikeda. Di sana selama tiga tahun, Takezo ditahan untuk mendalami  bertumpuk-tumpuk dan beragam buku. Mulai dari seni perang dari Sun Tzu,  Taoisme, buku-buku mengenai Zen hingga ke berjilid-jilid kitab mengenai  sejarah Jepang. Pendeta Takuan, selalu bersikap keras itu menasihati  Takezo yang terkenal bandel dan liar itu hingga mau patuh menjalani  penggemblengan berat tersebut. Salah satu nasehatnya adalah;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin: 0in 0.25in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;“Anggaplah kamar ini sebagai rahim ibumu dan  bersiaplah untuk lahir kembali. Kalau kau melihatnya hanya dengan  matamu, tak akan kau melihat apa-apa kecuali sel yang tak berlampu dan  tertutup. Tapi pandanglah lebih saksama, lihatlah dengan akalmu dan  berpikirlah. Kamar ini dapat menjadi sumber pencerahan, pancuran  pengetahuan yang ditemukan dan diperkaya oleh orang-orang bijak di masa  lalu. Terserah padamu, apakah kamar ini menjadi kamar kegelapan ataukah  kamar penuh cahaya”.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Setelah melewati masa  pembelajaran tiga tahun, Takezo mendapatkan pencerahan dan dibebaskan  dan boleh berkelana lagi. Saat itu usianya 21 tahun, Takezo memulai  kehidupannya kembali sebagai Miyamoto Musashi.&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam pengembaraannya  Musashi kembali bertemu dengan lawan tarung yang bukan sembarang  pendekar samurai, mereka adalah para pendekar samurai terkemuka dari  berbagai aliran yang mempunyai keistimewaan sendiri-sendiri. Musashi  dapat mengatasi mereka satu per satu walaupun ia tidak mempunyai guru  atau mewarisi ilmu pedang dari satu aliran tertentu. Ilmu pedang Musashi  diperoleh secara otodidak dan bakat alami yang sangat istimewa yang  diasah melalui kekuatan observasi, intuisinya dan disiplin yang kuat.&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Beberapa duel yang  dimenangkan oleh Musashi, banyak terdapat duel yang dianggapnya  “main-main”, yaitu duel antara Musashi dan pemain pedang yang  dianggapnya tidak seimbang, yang sering dimenangkannya tanpa mencabut  pedang atau hanya membalas tebasan lawan dengan pukulan tangan yang  tentunya tidak mematikan. Musashi meyakini, adalah sia-sia jika berduel  dengan lawan yang kemampuannya jauh dibawah Musashi, lebih sia-sia lagi  jika dia sampai membunuhnya. Karena boleh jadi seseorang yang tidak  pandai bermain pedang adalah seseorang yang sangat pandai dengan bakat  yang lain sehingga biarlah dia mengisi hidup ini dengan bakatnya yang  lain yang belum ia temukan, yang mungkin bermanfaat bagi orang lain.&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pertarungan puncak  bagi Musashi adalah saat menghadapi Sasaki Kojiro, saingan terberatnya  yang masih muda dan sangat tangguh. Kojiro pada zaman itu sosok pemain  pedang yang ideal: garis keturunannya tidak ada aib dan guru-gurunya  ternama; dan dengan pelatihan yang penuh disiplin, ia berhasil  menciptakan teknik permainan pedang yang mengagumkan. Tapi pada akhirnya  kepala Kojiro pecah oleh tebasan pedang Musashi pada pertarungan di  Pulau Ganryu, 13 April 1612.&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pertarungan Musashi  melawan Sasaki Kojiro merupakan titik balik baginya. Sebelum itu, dia  menyakini bahwa kemampuan seni berperang adalah kunci kemenangan dalam  setiap pertarungan. Tetapi setelah mengalahkan Kojiro, Musashi menyadari  bahwa kekuatan dan ketrampilan bukan satu-satunya yang bisa diandalkan  untuk menentukan kemenangan;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin: 0in 0.25in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;“Ketika umurku sudah lewat tiga puluh tahun dan  merenungkan kembali hidupku, aku sadar bahwa aku menjadi pemenang bukan  karena kemampuan luar biasa dalam seni bela diri. Mungkin saja aku  mempunyai bakat alami atau tidak menyimpang dari prinsip alami. Atau,  bisa jadikah seni bela diri lawan itu yang memang mengandung suatu  cacat? Setelah itu, dengan tekad jauh lebih besar untuk mencapai  pemahaman yang lebih jelas mengenai prinsip-prinsip yang dalam, aku  berlatih siang malam”.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Lalu, apa yang  memungkinkan Musashi mengalahkan Kojiro jika bukan karena penguasan  ketrampilan bertarung? Bagi Musashi, kemenangan sebuah pertarungan  terletak pada prinsip atau semangat, bukan tipuan dan ketidakjujuran. Di  dalam Kitab Lima Lingkaran, Musashi menulis:&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin: 0in 19.35pt 10pt 0.25in; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;“Jalan seni adalah langsung dan benar, jadi kau harus  dengan tegas berusaha mengejar orang-orang lain dan menundukkan mereka  dengan prinsip-prinsip sejati”.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Setelah pertarungan  itu Musashi memutuskan mundur dari pertarungan, karena rasa bersalahnya  sampai membawa kematian lawannya. Musashi kemudian menetap di pulau  Kyushu dan tidak pernah meninggalkannya lagi, untuk menyepi dan mencari  pemahaman sejati dengan menapaki paruh kedua kehidupannya untuk menjadi  seorang seniman dan menjadi terfokus untuk mendalami semua seni. Di masa  tuanya Musashi dikenal sebagai seniman dengan banyak kebisaan. Melukis  dengan tinta india, kaligrafi, hingga membuat patung. Lagi-lagi seperti  kemampuannya bermain pedang, kematangan seninya pun diperolehnya dengan  tanpa guru. Buah karyanya dianggap hidup dan indah, hasil dari  penyaluran energi batin yang terfokus. Sepertinya kalau inti dasar  kehidupan sudah diketahui, kerja yang lain juga dapat dipahami.&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam kehidupannya  sebagai seorang seniman, ia menulis puisi, mendesain taman, aktif dalam  upacara minum teh, mempelajari drama Noh, dan terutama menciptakan  lukisan-lukisan tinta dan kaligrafi. Karya seni Musashi berkelas tinggi,  menunjukkan bahwa di bidang ini ia juga berbakat istimewa sekalipun  menurut pengakuannya lukisan dia belumlah setara dengan teknik  pedangnya. Jelas ada upaya mempertautkan antara seni rupa dan seni bela  diri, hingga dikatakan, Musashi melukis dengan pikiran pedang. Intens,  terkonsentrasi, dan penuh getaran chi. Ia mempunyai keyakinan dan  melihat adanya kesejajaran, seperti dalam ucapannya, Dengan  prinsip-prinsip seni bela diri, orang membuka jalan bagi seni serta  pencapaian lain dan tidak akan keliru memahami keduanya. Pedang, seni,  Zen, dan meditasi menjadi satu kesatuan yang saling mengisi, menggenapi,  dan karenanya tak terpisahkan.&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Musashi juga kembali  mendalami ajaran Zen yang nampak dari prinsip dasar satu ini, Musashi  senantiasa menekankan mutlaknya memperoleh pengetahuan nyata lewat  pengalaman langsung. Tidak dapat disangkal lagi, pengetahuan nyata lewat  pengalaman langsung merupakan salah satu sendi utama yang dijunjung  tinggi Zen, jauh di atas yang lain, misalnya teori. Juga ungkapan  pikiran sehari-hari yang alami adalah khas Zen;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin: 0in 0.25in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;“Bebaskanlah pikiranmu, maka niscaya pikiranmu akan  menjadi alami.”&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Selain Zen, Musashi  tampak sekali menghargai tetapi mempertanyakan ajaran Sun Tzu, yang  merupakan ahli strategi terbesar sepanjang masa. Terdapat perbedaan  pendapat menurut Musashi dan Sun Tzu, dimana Musashi lebih mengutamakan  strategi permainan bersih-sekalipun keras dan tegas, tetapi tidak licik  atau kotor, menyimpulkan;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin: 0in 0.25in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;“Berpikirlah dengan membuang semua ketidakjujuran.”&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Musashi adalah seorang  penyendiri, karena sampai akhir hayatnya ia memilih untuk hidup  membujang, bahkan memilih jalan kematiannya sendiri. Menurut Musashi  kematian adalah sebuah konsekwensi bagi setiap kehidupan. Karena itu  saat menyadari bahwa maut akan segera mendatanginya, Musashimemilih Gua  Reigan sebagai tempat tuk menyambut kematiannya dengan damai dan  sendirian. Saat itu, awal musim semi tahun 1645, Musashi tidak lagi  sebagai orang yang kuat, upaya pendakian bukit menuju ke gua itu  dicapainya dengan tubuh sangat kesakitan. Suatu hari salah seorang  mengirim tabib ke Gua itu, tetapi Musashi tetap berkeras untuk menyambut  kematian dengan gayanya sendiri. Tak tega akan keadaan kesehatannya  gurunya itu, sang murid kemudian berangkat kepegunungan, pura-pura  berburu dengan burung rajawali, dan mampir ke Gua Reigan. Disana dia  telah mendapati Musashi dalam kondisi yang sangat lemah dan dia tidak  mampu melakukan perlawanan sedikitpun. Akhirnya, tanpa mempedulikan  protes-protes Musashi, sang murid berhasil “membujuk” gurunya itu pulang  ke rumah.&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam penyepian  sebelum kematiannya itu Musashi berhasil menyelesaikan bukunya yang  berjudul Kitab Lima Cincin (Go Rin no Sho) yang menunjukkan semua  pencarian dan pencapaian spiritual serta jawabannya tentang bagaimana  menemukan dan mengamalkan jalan. Ada sembilan sila yang ditawarkan  Musashi untuk kita semua :&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpFirst&quot; style=&quot;margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;&lt;b&gt;1.Berpikirlah  dengan membuang semua ketidakjujuran.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;&lt;b&gt;2.Bentuklah  dirimu sendiri di jalan (yang benar).&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;&lt;b&gt;3.Pelajarilah  semua seni.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;&lt;b&gt;4.Pahamilah  jalan semua pekerjaan.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;&lt;b&gt;5.Pahamilah  keunggulan dan kelemahan dari segala sesuatu.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;&lt;b&gt;6.Kembangkan  mata yang tajam dalam segala hal.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;&lt;b&gt;7.Pahamilah  apa yang tidak terlihat oleh mata.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;&lt;b&gt;8.Berikan  perhatian bahkan pada hal-hal terkecil sekalipun.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpLast&quot; style=&quot;margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;&lt;b&gt;9.Jangan  melibatkan diri dalam hal-hal yang tidak realistis.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam 62 tahun,  tanggal 19 Mei 1645, Musashi menutup mata untuk selamanya di komplek  Puri Chiba yang tua. Seperti yang di pinta pada detik-detik terakhirnya,  tubuhnya didandani dengan seragam dan helm tempur, dilengkapi dengan  enam tanda kebesaran militer, dan ditempatkan dalam peti. Sesuai dengan  janji sebelumnya, Musashi kemudian dikebumikan di Kyushu tempat  penyepiannya yang terakhir. Setelah selesainya upacara pemakaman yang di  pimpin oleh Biksu Kepala Shunzan, terdengar suara guntur bergema di  langit yang cerah sebanyak satu kali. Dan entah adakah itu pertanda  bahwa Musashi sedang bertarung melawan malaikat maut di sana? Atau sang  maestro pedang itu kembali bertarung kembali melawan roh musuh-musuhnya  di alam sana?&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kesimpulan :&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoListParagraph&quot; style=&quot;margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;1.Menemukan  dan Menciptakan Jalan&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 0.25in; text-align: justify;&quot;&gt;”Jalan”  dalam bahasa Cina disebut dengan “Tao” dan dalam bahasa Jepang disebut  “Do”. Seperti halnya akhiran –do yang biasa ada di aliran-aliran bela  diri seperti kendo, aikido, karate-do, dan lainnya. Itu menandakan bahwa  bela diri tersebut bukan sekadar bela diri saja, tapi juga disiplin dan  jalan hidup. Makanya rata-rata beladiri tersebut filosofinya sangat  dalam. Akhiran –do banyak dipakai di bela diri yang juga menunjukkan  cara hidup. Sering disebut hidup sesuai jalannya, akan mengantar pada  kebahagiaan dan sebuah petunjuk untuk hidup yang benar.&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 0.25in; text-align: justify;&quot;&gt;Bagaimana  caranya menemukan jalan? Jalan dapat ditemukan dengan meniru, mencari,  dan menemukan. Tetapi jika memodifikasi dan mencampurnya dengan elemen  diri, dan jadilah jalan kreasi kita. Musashi, yang tak punya guru dan  tak pernah belajar secara khusus pada seorang guru pun, menempuh  jalannya sendiri, juga ternyata terpengaruh oleh Sun Tzu, biksu Zen  Takuan Soho, samurai hebat Yagyu Munenori, dan kitab hsinhsinming. Jadi,  yang ditemukan Musashi (the book of five rings) sepertinya adalah  campuran ajaran Zen dari Takuan dan kitab Hsinhsinming, seni perang Sun  Tzu dan keahlian Yagyu, ditambah, diaduk-aduk, dieksperimenkan dengan  keseluruhan pengalaman pribadinya.&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 0.25in; text-align: justify;&quot;&gt;Musashi  sebenarnya lebih layak untuk disebut sebagai seorang otodidak. Musashi  membimbing dirinya sendiri untuk mendalami berbagai macam ilmu. Salah  satu sumber yang banyak ditimbanya niscaya adalah buah pikiran Sun  Tzu.Dikenal sebagai ahli strategi besar-kalau bukan yang terbesar-Sun  Tzu hidup hampir 2000 tahun mendahului Musashi (400-320 tahun sebelum  Masehi);&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin: 0in 0.5in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;“Saya suka berpikir betapa hebatnya orang-orang kuno  seperti Lao Tse, Konfusius, Socrates, Sun Tzu, sementara kebanyakan dari  kita yang hidup pada milenium ketiga ini cuma segini-gini saja.”&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 0.25in; text-align: justify;&quot;&gt;Kalau  Musashi mendekati strategi melalui contoh-contoh dari tarung-tanding  (duel), Sun Tzu lebih membahasnya lewat skenario peperangan. Ada  beberapa kalimat dari kitab Seni Berperang (The Art of War) Sun Tzu yang  amat membekas di hati Musashi. Selama tiga tahun dalam masa penempaan,  Musashi kerap membacanya secara lantang berulang-ulang dengan alunan  bagaikan nyanyian;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin: 0in 0.5in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;“Barangsiapa mengenal seni perang, tak akan  serampangan ia dalam gerakannya. Ia kaya karsa dalam membatasi  kemungkinan.”&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin: 0in 0.5in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;“Barangsiapa mengenal dirinya sendiri dan mengenal  musuhnya, ia senantiasa menang dengan mudah. Barangsiapa mengenal langit  dan bumi, ia menang atas segalanya.”&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin: 0in 0.5in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;“Kenali musuhmu, kenali dirimu sendiri dan  kemenanganmu tak akan terancam. Kenali medan, kenali iklim, maka  kemenanganmu akan lengkap.”&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 0.25in; text-align: justify;&quot;&gt;Yang  lebih menarik lagi, dalam kemampuannya untuk membaca waktu. Setelah  mencapai usia 29 tahun, ia memutuskan untuk berhenti menjadi petarung.  Kemudian Musashi mentransformasikan dirinya menjadi seniman dan pada  usia yang lebih lanjut Musashi kembali memutuskan untuk menjadi pemikir  mengenai Jalan Strategi. Keputusannya untuk pindah jalur dan beralih  profesi pada saat yang tepat itu memang memerlukan ketajaman intuisi  yang luar biasa. Agaknya, ini juga yang membuat Musashi menjadi petarung  kehidupan yang tak terkalahkan. Musashi mengatur dan bukannya diatur  oleh waktu kehidupan.&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoListParagraph&quot; style=&quot;margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;2.Keteguhan  Hati Mengamalkan dan Menjaga Jalan&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 0.25in; text-align: justify;&quot;&gt;Memang  lebih mudah untuk menjadi peka, menjadi arif dan penuh perenungan  ketika kita dalam posisi yang penuh kesusahan dimana sendi-sendi harga  diri kita dibenamkan dan segala kesombongan diruntuhkan. Mudah untuk  memahami bentuk-bentuk pemikiran, perasaan, benda-benda dan penghargaan  kita akan arti hidup itu sendiri. Mudah pula untuk menyadari akan  kebeningan cita-cita.&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 0.25in; text-align: justify;&quot;&gt;Yang  tidak mudah adalah untuk tetap konsisten pada pencapaian nurani  tersebut. Tidak mudah untuk terus menjaga visi kita yang paling  menggebu-gebu sekalipun. Perubahan lingkungan, kemudahan-kemudahan,  orang-orang yang berbeda lambat laun dapat melunturkan pencapaian  nurani. Pada prosesnya, akan muncul riak-riak yang mengganggu yang  mengurangi kadar pemikiran dan tindakan kita.&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 0.25in; text-align: justify;&quot;&gt;Musashi  pun mengalami naik turunnya semangat dalam mewujudkan jalan pedangnya.  Cita-cita yang menjadi visi hidupnya. Musashi sempat terjebak dalam  kesombongan sesaat ketika bertemu orang-orang yang terlihat lebih lemah.  Jalan pedang seolah-olah menjadi jalan paling berarti dan dalam  perjalanannya Musashi banyak mengabaikan unsur-unsur lain di luar  dirinya. Musashi kemudian sadar dan berusaha membentuk jalan pedang  dengan lurus-lurus pada keyakinan dirinya, menekan segala perasaan  lembutnya dan satu hal yang menyelamatkannya dari bahaya keangkuhan  adalah keinginannya untuk membuka pintu-pintu ilmu dan belajar dari  segala macam orang, segala macam bentuk dan alam semesta.&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 0.25in; text-align: justify;&quot;&gt;Dalam  kehidupan ini, bukan sekali kita merasakan naik turunnya iman, naik  turunnya semangat baik dalam bekerja, menjaga hubungan, dan meraih  mimpi-mimpi kita. Bukan sekali dua kali pula kita terjatuh dan kembali  pada kebeningan pencapaian nurani. Terlalu dini untuk menyimpulkan jalan  pencapain nurani, ada banyak visi dan lebih banyak konsistensi yang  akan diperlukan.&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 0.25in; text-align: justify;&quot;&gt;Walaupun  begitu, ada hal-hal menarik yang agaknya dapat dipelajari dari Musashi.  Musashi adalah seorang yang sederhana, rendah hati yang bermain bersih  tanpa kecurangan. Musashi keras hati dalam melatih diri dan dalam  menimba ilmu berbagai aliran, karena Musashi menyadari bukannya tak  mungkin terkalahkan. Musashi selalu menekankan pentingnya timing  (ketepatan waktu) dan ritme dalam segala hal. Masuk terlalu cepat atau  terlalu lambat dalam pertarungan dipandangnya dapat mengundang persoalan  tersendiri. Kemudian perubahan yang terjadi di “langit” dan “bumi”  bukan saja harus dicermati melainkan mesti pula diadaptasi untuk  keselamatan diri. Juga baginya ilmu pengetahuan itu adalah sebuah  “lingkaran bulat”. Artinya, kalau kita bermula dari titik A, setelah  melingkar penuh kita akan kembali ke titik A semula. Apa yang dianggap  paling elementer adalah juga pelajaran yang paling penting.&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sumber Bacaan:&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpFirst&quot; style=&quot;margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;1.Musashi,  Eiji Yoshikawa, Gramedia – Jakarta&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;2.The  Lone Samurai, William Scott Wilson, Gramedia – Jakarta&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpLast&quot; style=&quot;margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;3.The  Book of Five Rings, William Scott Wilson, Gramedia – Jakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
lazuardism.blog.friendster.com/2008/10/filsafat-jalan-miyamoto-musashi/ &lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/feeds/4644809000269363791/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/2010/07/filsafat-jalan-miyamoto-musashi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/4681687974444904579/posts/default/4644809000269363791'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/4681687974444904579/posts/default/4644809000269363791'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/2010/07/filsafat-jalan-miyamoto-musashi.html' title='Filsafat Jalan Miyamoto Musashi'/><author><name>Edi Sugianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14020089984610322057</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGzeexTJJ5-aiaE_2XnxpUrS2D0wSodFfxEARZ9eOUxR9Np3cagCLixSLzkhkGcUwvIUrBg2DituWXBx_GIbXRZzPlECBhFtxqcaVwaR26-gUrt36VprkAx0ni2qR3TQ/s80/Edi+icon+80px.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhfxIO0RYygOAX6ZJkczXdI-JRffHjsNEekn_1NwXxXvqJdxF95jkw7ubxy19JA6knqRRJVD8-rh11xXaNOlJGmWehtmpAPkF_j1_ANHl3znxFPSU21_nGk0rkL_rzcsH3k9-8HwPgHit-n/s72-c/kojiro.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4681687974444904579.post-391680162793238735</id><published>2010-07-03T11:20:00.001+07:00</published><updated>2010-07-04T19:49:01.923+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hindu"/><title type='text'>Moksa : Tujuan Agama Hindu Vs Teori Bola Lampu</title><content type='html'>&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgK-htVU9Nb-vj9hBLqs_i0UgW_Vk20MQon1AGQk6fLFHo1XXJYPPQcn0-_k4gsZG6IdH2FnO4QCDSFfAbNCihZcQfnDUzhkZudUdyjW-edTLIn242MDfeKVak8Ux3ImZrDG_J_kopNZ8MC/s1600/hindu-logo.gif&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;200&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgK-htVU9Nb-vj9hBLqs_i0UgW_Vk20MQon1AGQk6fLFHo1XXJYPPQcn0-_k4gsZG6IdH2FnO4QCDSFfAbNCihZcQfnDUzhkZudUdyjW-edTLIn242MDfeKVak8Ux3ImZrDG_J_kopNZ8MC/s200/hindu-logo.gif&quot; width=&quot;198&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Tujuan akhir agama hindu adalah untuk mencapai moksa. Moksa berarti kebahagiaan yang kekal abadi, artinya terbebas dari siklus reinkarnasi, terbebas dari pengaruh nafsu material, dan terbebas dari suka-duka. Ketika manusia mencapai moksa maka bisa dikatakan ia telah menjadi dewa. Dewa berasal dari kata ‘div’ yang artinya cahaya / sinar suci Tuhan. Manusia hidup di dunia selalu berada pada dua kutub yang berbeda, positif-negatif, suka-duka, baik-buruk, lahir-mati, dst. Untuk dapat menyatu dengan sinar suci Tuhan, manusia harus mampu melepaskan diri dari ikatan positif-negatif tersebut. Artinya kejadian apapun yang dialaminya, tidak akan menimbulkan reaksi positif maupun negatif, tetapi berada diantaranya. Orang yang berlatih yoga atau meditasi dapat merasakan hal ini. Ketika bermeditasi, pikiran berada pada satu fokus perhatian sehingga pikiran dan badan dapat beristirahat total. Saat itu yang ada hanyalah kehampaan, ketenangan, dan itu bukanlah sifat material yang positif maupun negatif. Ketika kondisi itu tercapai badan akan terasa hangat. Konon, jika saat meninggal kita mampu mencapai kondisi tersebut, maka kita akan mampu menyatu dengan cahaya / sinar suci Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEga5ruSgXjnGoxB3n-Jrpa8wm0eF3MDwV6e78IDOWa0SPUt8nUc828cjIjKHNqm_Wk8XOLjYEqvWIqiut5pGsjfgXtaUQK64FHDsiq2iuz5OlGqs49URwMfXPVsJVmnNsMr0jJ2u7QMEoLk/s1600/bola-lampu.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;200&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEga5ruSgXjnGoxB3n-Jrpa8wm0eF3MDwV6e78IDOWa0SPUt8nUc828cjIjKHNqm_Wk8XOLjYEqvWIqiut5pGsjfgXtaUQK64FHDsiq2iuz5OlGqs49URwMfXPVsJVmnNsMr0jJ2u7QMEoLk/s200/bola-lampu.jpg&quot; width=&quot;121&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Lalu apa hubungannya dengan teori bola lampu Thomas Alfa Edison ?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Thomas Alfa Edison melakukan ribuan kali percobaan untuk menciptakan bola lampu pijar. Bola lampu supaya dapat menyala harus dialiri listrik yang bersifat positif dan negatif. Dalam bola lampu terdapat komponen berupa dua buah kawat yang pada kedua bagian ujungnya dihubungkan ke sirkuit listrik. Kedua kawat tersebut dihubungkan oleh sebuah filamen berbentuk gulungan kumparan. Kawat dan filamen ini diselubungi oleh bola kaca pada ruangan hampa yang didalamnya dipenuhi gas argon, neon, nitrogen (inert gas). Inert gas ini bertekanan rendah dan tidak dapat menghantarkan listrik. Ketika lampu dinyalakan, arus listrik akan melewati kawat penghubung menuju filamen, dan listrik akan memanaskan atom-atom yang terdapat pada filamen. Atom-atom ini jika dipanaskan pada temperatur tertentu akan menghasilkan sinar infrared, dan sinar / cahaya muncul pada gulungan filamen diantara dua kawat positif-negatif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitulah kira-kira hubungan antara tujuan agama hindu dengan teori bola lampu pijar, nyambung gak yaa.. ? :) Soalnya ini bisa-bisanya aku saja yang menghubung-hubungkannya sendiri. :( Sorry kalau ada salah-salah, hehehe…. ( © komangwiratma )&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sumber artikel : komangwiratma.web.id/category/proud-to-be-hindu/</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/feeds/391680162793238735/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/2010/07/moksa-tujuan-agama-hindu-vs-teori-bola.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/4681687974444904579/posts/default/391680162793238735'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/4681687974444904579/posts/default/391680162793238735'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/2010/07/moksa-tujuan-agama-hindu-vs-teori-bola.html' title='Moksa : Tujuan Agama Hindu Vs Teori Bola Lampu'/><author><name>Edi Sugianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14020089984610322057</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGzeexTJJ5-aiaE_2XnxpUrS2D0wSodFfxEARZ9eOUxR9Np3cagCLixSLzkhkGcUwvIUrBg2DituWXBx_GIbXRZzPlECBhFtxqcaVwaR26-gUrt36VprkAx0ni2qR3TQ/s80/Edi+icon+80px.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgK-htVU9Nb-vj9hBLqs_i0UgW_Vk20MQon1AGQk6fLFHo1XXJYPPQcn0-_k4gsZG6IdH2FnO4QCDSFfAbNCihZcQfnDUzhkZudUdyjW-edTLIn242MDfeKVak8Ux3ImZrDG_J_kopNZ8MC/s72-c/hindu-logo.gif" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4681687974444904579.post-4875741228057904824</id><published>2010-07-03T11:16:00.003+07:00</published><updated>2010-07-04T19:49:32.075+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hindu"/><title type='text'>Moksa</title><content type='html'>&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjoZ_32o5eVzJSbIU2bqcQ3oSKB0k8x-T_HiCEA9zE5R2YkiR2-A2GZLtF2tid-qk81W3fkxrGJwRXxltTMnu8XDAb1zPF5vebee1cZTSyV8XTKghyphenhyphen3nO0IwmJZzqv1g9-Sbqwvahw1gS64/s1600/meditation.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;155&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjoZ_32o5eVzJSbIU2bqcQ3oSKB0k8x-T_HiCEA9zE5R2YkiR2-A2GZLtF2tid-qk81W3fkxrGJwRXxltTMnu8XDAb1zPF5vebee1cZTSyV8XTKghyphenhyphen3nO0IwmJZzqv1g9-Sbqwvahw1gS64/s200/meditation.jpg&quot; width=&quot;200&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;color: #0b5394;&quot;&gt;&lt;b&gt;Percaya Adanya Moksa&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Sebagaimana tujuan agama Hindu yang tersurat di dalam Weda: “Moksartham Jagadhitaya ca itu dharma”, maka Moksa merupakan tujuan yang tertinggi. Moksa ialah kebebasan dari keterikatan benda-benda yang bersifat duniawi dan terlepasnya Atman danri pengaruh maya serta bersatu kembali dengan sumber-Nya, yaitu Brahman (Hyang Widhi) dan mencapai kebenaran tertinggi, mengalami kesadaran dan kebahagiaan yang kekal abadi yang disebut Sat Cit Ananda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;Orang yang telah mencapai moksa, tidak lahir lagi kedunia, karena tidak ada apapun yang mengikatnya. Ia telah bersatu dengan Paramatman. Bila air sungai telah menyatu dengan air laut, maka air ungai yang ada di laut itu akan kehilangan identitasnya. Tidak ada perbedaan lagi antara air sungai dengan air laut. Demikianlah juga halnya, Atman yang mencapai Moksa. Ia akan kembali dan menyatu dengan sumbernya yaitu Brahman.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;
Bahunam janmanam ante,&lt;br /&gt;
jnanavan mam prapadyate,&lt;br /&gt;
vasudevah sarvam iti,&lt;br /&gt;
sa mahatma sadurlabhah. (Bh. G. VII. 19)&lt;br /&gt;
Pada banyak akhir kelahiran manusia, orang yang berbudi (orang yang tidak lagi terikat oleh keduniawian) datang kepada-Ku, karena tahu Tuhan adalah sealanya; sungguh sukar dijumpai jiwa agung serupa itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgfkpae_Sz8ndrMP6Cfvh9DeIaX3d8f-bB9dR5Lh408AGMdsU2atj4nFHFSxo-EDHkndYeOOhqZOVsFvAoX2YlxRk-7mXBa-t1ufCfgm0NFm6JnhzoyzpzNUItcG6l74h7dkEqI4tU1CpIy/s1600/hindu-logo.gif&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgfkpae_Sz8ndrMP6Cfvh9DeIaX3d8f-bB9dR5Lh408AGMdsU2atj4nFHFSxo-EDHkndYeOOhqZOVsFvAoX2YlxRk-7mXBa-t1ufCfgm0NFm6JnhzoyzpzNUItcG6l74h7dkEqI4tU1CpIy/s320/hindu-logo.gif&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Mam upetya punarjanma&lt;br /&gt;
duhkhata yam asasvatam,&lt;br /&gt;
na pnuvanti mahatmanah,&lt;br /&gt;
samsiddhim paramam gatah. (Bh. G. VIII.15)&lt;br /&gt;
Setelah sampai kepada-Ku, mereka yang berjiwa agung ini tidak lagi menjelma ke dunia yang penuh duka dan tak kekal ini dan mereka tiba pada kesempurnaan tertinggi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di samping setelah di dunia akhirat, Moksa juga dapat dicapai semasa hidup didunia ini, namun terbatas kepada orang-orang yang sudah bebas dari keterikatan duniawian dan pasang surut serta duka-dukanya gelombang hidup. Sebagaimana halnya Maharsi yang telah bebas dari keinginan-keinginan menikmati keduniawian dan bekerja tanpa pamerih untuk kesejahteraan dunia. Moksa semasa hidup disebut dengan “Jiwan Mukti”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sumber:&lt;br /&gt;
Tuntunan Dasar Agama Hindu (milik Depag)&lt;br /&gt;
Disusun oleh Anak Agung Gde Oka Netra&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sumber : singaraja.wordpress.com/2008/02/05/mengenal-agama-hindu-edisi-10/</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/feeds/4875741228057904824/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/2010/07/moksa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/4681687974444904579/posts/default/4875741228057904824'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/4681687974444904579/posts/default/4875741228057904824'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/2010/07/moksa.html' title='Moksa'/><author><name>Edi Sugianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14020089984610322057</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGzeexTJJ5-aiaE_2XnxpUrS2D0wSodFfxEARZ9eOUxR9Np3cagCLixSLzkhkGcUwvIUrBg2DituWXBx_GIbXRZzPlECBhFtxqcaVwaR26-gUrt36VprkAx0ni2qR3TQ/s80/Edi+icon+80px.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjoZ_32o5eVzJSbIU2bqcQ3oSKB0k8x-T_HiCEA9zE5R2YkiR2-A2GZLtF2tid-qk81W3fkxrGJwRXxltTMnu8XDAb1zPF5vebee1cZTSyV8XTKghyphenhyphen3nO0IwmJZzqv1g9-Sbqwvahw1gS64/s72-c/meditation.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4681687974444904579.post-1945029172908514591</id><published>2010-07-03T10:06:00.000+07:00</published><updated>2010-07-03T10:06:03.064+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hindu"/><title type='text'>CATUR WARNA dan KASTA</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhjx-bN4mqHzzwJFWTmcEhiQGzB-CTI5SL5ol1Fz2LaJTQQOORzDQNWiZpHjlVgmoYCJWyC8FDLDNQmVNxLeA8PJC6YeMksh_HtYqIFWKaC0ef-GnBY8bXL8atZIrhb7Rdrr7-Em0u_j8rF/s1600/bali.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;194&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhjx-bN4mqHzzwJFWTmcEhiQGzB-CTI5SL5ol1Fz2LaJTQQOORzDQNWiZpHjlVgmoYCJWyC8FDLDNQmVNxLeA8PJC6YeMksh_HtYqIFWKaC0ef-GnBY8bXL8atZIrhb7Rdrr7-Em0u_j8rF/s200/bali.jpg&quot; width=&quot;200&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;color: #3d85c6;&quot;&gt;CATUR WARNA dan KASTA, Bagaimana proses penyimpangan Catur Warna menjadi Kasta di Bali.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Seperti yang saya posting pada edisi sebelumnya, bahwa dalam Agama Hindu tidak diajarkan sistim Kasta, yang ada adalah Sistem Warna; yaitu klasifikasi masyarakat menjadi empat kelompok sesuai guna/bakat/talenta dan karma/profesi/pekerjaannya. Namun kenyataan di dalam masyarakat Hindu di Bali, pelaksaan Catur Warna sempat mengalami penyimpangan. Catur warna berubah menjadi sistim kasta yang berdasar pada Catur Wangsa (klasifikasi masyarakat sesuai keturunan), bagaimana hal ini bisa terjadi?…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Marilah kita tengok sejarah di masa lalu, kata Bung Karno; salah satu pendiri negeri Indonesia tercinta ini mengatakan: “Jangan pernah lupakan sejarah, belajarlah dari sejarah..”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tulisan Pak Nyoman Sukadana di bawah ini akan menjelaskan secara rinci bagaimana proses penyimpangan ini terjadi dan akhirnya dilakukan pelurusan oleh lembaga tertinggi Hindu, Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI), kembali ke sistim warna sesuai kitab suci Weda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
AJARAN CATUR WARNA DAN APLIKASINYA DI BALI&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh:Nyoman Sukadana&lt;br /&gt;
Catur Warna adalah ajaran agama Hindu tentang pembagian tugas dan kewajiban masyarakat atas „guna” dan „karma” dan tidak terkait dengan kasta atau wangsa. Catur Warna adalah ajaran agama Hindu tentang pembagian tugas dan kewajiban masyarakat atas „guna” dan „karma” dan tidak terkait dengan kasta atau wangsa. Sumber-sumber ajaran Catur Warna diantaranya :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mantra Yajur Weda XXX.11. dinyatakan :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Brahmana Varna diciptakan dari kepala Brahman, Ksatria dari lengan Brahman, Vaisya dari perut-Nya, dan Sudra dari kaki Brahman. Jadi semua warna itu diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mantra Yajur Weda XVIII.48. dinyatakan :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk memanjatkan puja kepada Tuhan Yang Maha Esa, Brahmana, Ksatriya, Vaisya, dan Sudra sama-sama diberikan kemuliaan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Keempat warna ini akan mulia kalau sudah mentaati swadarmanya masing-masing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bhagawadgita IV.13 dan XVIII.41&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Varna seseorang didadasarkan pada guna dan karmanya.Guna artinya minat dan bakat sebagai landasan terbentuknya profesi seseorang. Jadi yang menentukan Varna seseorang adalah profesinya bukan berdasarkan keturunannya.Sedangkan Karma artinya perbuatan dan pekerjaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Manawa Dharmasastra X.4 dan Sarasamuscaya 55.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya mereka yang tergolong Brahmana, Ksatriya, dan Vaisya Varna saja yang boleh menjadi Dwijati (Pandita) Sudra tidak diperkenankan menjadi Dwijati karena mereka dianggap hanya mampu bekerja dengan mengandalkan tenaga jasmaninya saja, tanpa memiliki kecerdasan.&lt;br /&gt;
Yajur Weda XXV.2&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Varna seseorang tidak dilihat dari keturunannya, misalnya ke-Brahmanaan seseorang bukan dilihat dari sudut ayah dan ibunya .&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kitab Mahabharata XII.CCCXII.108&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ke Dwijatian seseorang tidak ditentukan oleh ke-wangsaannya (nayonih), yang menentukan adalah perbuatannya yang luhur dan pekerjaannya yang memberi bimbingan rohani kepada masyarakat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika digali lebih jauh kitab suci agama Hindu yang menjadi pegangan bagi umat, maka akan banyak ditemui penjelasan-penjelasan tentang Catur Warna ini yang intinya sama, bahwa “Warna seseorang disesuaikan dengan Profesinya”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selanjutnya bagaimana Aplikasi ajaran Catur Warna ini di Bali yang merupakan basis bagi perkembangan agama Hindu di Nusantara, apakah sudah dijalankan sesuai dengan yang digariskan dalam kitab suci? Untuk mengetahui hal itu mari kita mundur dahulu ke-beberapa ratus tahun yang lalu pada saat masa leuhur-leluhur orang Bali hidup dan berinteraksi dalam kehidupan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita mulai saja sekitar abad XI. Dimana masa itu Bali dipimpin oleh suami istri Sri Gunaprya Dharmapatni &amp;amp; Udayana Warmadewa yang berkuasa di Bali dari tahun saka 910 Kita mulai saja sekitar abad XI. Dimana masa itu Bali dipimpin oleh suami istri Sri Gunaprya Dharmapatni &amp;amp; Udayana Warmadewa yang berkuasa di Bali dari tahun saka 910 sampai dengan 933 (tahun 988 – 1011 Masehi). Sri Gunaprya Darmapatni adalah putri dari Sri Dharmawangsa Teguh Anantha Wikrama Tungga Dewa Raja Daha-Jawa Timur. Sebelum dipersunting oleh Udayana Warmadewa bernama Mahendradatta, sedangkan kakaknya Sri Kameswara menggantikan ayahnya menjadi Raja Daha.. Pada jaman pemerintahan Raja suami istri ini di Bali terjadi perubahan hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat. Pada jaman ini dapat dikatakan jaman perubahan yang memberi corak dan warna bagi kehidupan masyarakat, dari situasi perselisihan dan pertentangan menjadi situasi persatuan dan kesatuan. Terjadinya perselisihan dan pertentangan ini akibat adanya perbedaan kepercayaan yang dianut oleh penduduk pulau Bali yang mayoritas terdiri dari orang-orang Bali Mula dan Bali Aga. Tatkala itu penduduk pulau Bali menganut Sad Paksa (Enam sekte agama ) yaitu: Sambhu, Khala, Brahma, Wisnu, Iswara, dan Bhayu, yang mana dalam pelaksanaannya sering menimbulkan keresahan didalam masyarakat sehingga keamanan dan ketertiban menjadi terganggu. Kemelut ini tidak bisa diatasi oleh Baginda Raja suami istri. Untuk itu maka didatangkan dari Jawa Timur Catur Sanak (empat bersaudara) dari Panca Tirta yang masing-masing telah dikenal keahliannya dalam berbagai bidang aspek kehidupan. Setelah di Bali beliau membantu Raja memperbaiki keadaan masyarakat. Panca Tirta ini adalah lima bersaudara yang merupakan Mpu (Brahmana) semuanya, beliau adalah dari yang tertua : Mpu Gnijaya, Mpu Semeru, Mpu Ghana, Mpu Kuturan, dan Mpu Bharadah/Pradah. Kedatangan mereka ke Bali tidak bersamaan tetapi secara bertahap dimulai oleh :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Mpu Semeru (Mpu Mahameru)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemeluk agama Siwa tiba di Bali pada hari Jum,at kliwon, wara pujut hari purnamaning sasih kawulu, tahun saka 921 (tahun 999 Masehi). Beliau berparahyangan di Besakih dan menjalani hidup brahmacari (tidak kawin seumur hidup), namun beliu mengangkat putra dharma dari penduduk Bali Mula, yang sesudah pudgala bergelar Mpu Kamareka atau Mpu Dryakah. Selanjutnya Mpu Dryakah ini menurunkan Warga Pasek Kayuselem (Kayu Selem, Celagi, Tarunyan, dan Kayuan). Bekas parahyangan Mpu Semeru sekarang sudah berdiri sebuah Pura diberi nama Pura Ratu Pasek (Caturlawa Besakih).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Mpu Ghana&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penganut aliran Ghanapatya, tiba di Bali pada hari senin kliwon, wara kuningan tahun saka 922 (tahun 1000 Masehi). Beliau berparahyangan di Gelgel Klungkung dan menjalani kehidupan Brahmacari (tidak kawin seumur hidup). Pada tahun saka 1198 (tahun 1267 Masehi) tempat ini oleh Mpu Dwijaksara keturunan beberapa tingkat dari Mpu Withadarma ( Mpu Withadarma adalah yang ketiga dari Sapta Resi)/Sapta Pandita leluhur Pasek Gelgel) dibangun sebuah Pura yang disebut Babaturan Penganggih. Pada masa pemerintahan Dalem Gelgel Sri Smara Kepakisan yang dinobatkan tahun saka 1302 (tahun 1380 Masehi) Pura ini ditingkatkan menjadi Pura Penyungsungan Jagat dengan nama “Pura Dasar Bhuwana Gelgel. Disamping menjadi Pura Penyungsungan Jagat juga menjadi penyungsungan pusat 3 (tiga) warga, yaitu : Warga Pasek (Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Resi), Warga Satrya Dalem, dan Warga Pande (Maha Semaya Warga Pande). Pada masa pemerintahan Dalem Gelgel Sri Waturenggong yang dinobatkan pada saka 1382 (tahun 1460 Masehi) tiba di Bali pada tahun saka 1411 (tahun 1489 Masehi) Danghyang Nirartha (Pedanda Sakti Wawu Rauh) dan setelah menjadi Purohita kerajaan Gelgel, kemudian Pura Dasar Bhuwana Gelgel ditambah lagi satu Pelinggih (Bangunan suci) untuk Danhyang Nirartha dan keturunannya, sehingga menjadi Pusat Penyungsungan empat Warga. ( Mengenai Danghyang Nirartha akan dijelaskan kemudian yang sangat terkait dengan aplikasi Ajaran Catur Warna di Bali.).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Mpu Kuturan atau Mpu Rajakretha&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemeluk agama Budha Mahayana, tiba di Bali pada hari Rabu Kliwon, wara pahang, tahun saka 923 (tahun 1001 Masehi). Beliau berparhyangan di Padang. Beliau hidup sewala brahmacari (selama hidup kawin hanya sekali dan berpisah dengan istrinya yang tetap di Jawa yang dikenal dengan Rangda/janda dari Girah penganut ilmu hitam) Beliau mempunyai seorang putri Dyah Ratna Menggali yang kemudian kawin dengan Mpu Bahula putra dari Mpu Bharadah, jadi masih sepupu. Ditempat Parahyangan Mpu Kuturan telah berdiri sebuah Pura yang bernama Pura Silayukti yang artinya tempat Mpu Kuturan mengajarkan kebenaran. Mpu Kuturan adalah ahli ilmu pemerintahan/tata Negara dan ahli strategi, dan atas keahliannya berhasil mengadakan pertemuan tiga aliran terbesar dari enam sekte yang hidup di Bali yang sebelumnya selalu bertentangan, tempat pertemuannya sekarang disebut Samuan-Tiga yang dulu bermakna Pertemuan tiga sekte terbesar. Beliau juga menciptakan Pelinggih (Bangunan suci) tempat memuja Brahmana, Wisnu, Siwa, yang disebut : Kemulan/ Rong Tiga sehingga aliran yang berbeda-beda itu memuja melalui satu tempat yang sama, yaitu Rong Tiga, sehingga damailah masyarakat waktu itu. Pada masa Mpu Kuturan ini juga banyak dibangun Pura-Pura seperti : Uluwatu, dll, yang pada masa Danghyang Nirartha dan sesudahnya terjadi kekeliruan dengan menganggap itu adalah tempat Pemujaan Danghyang Nirartha oleh keturunannya. Kesalahan serupa ini banyak terjadi pada Pura-Pura lainnya.&lt;br /&gt;
4. Mpu Gnijaya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemeluk Brahmaisme, tiba di Bali pada pada hari kamis kliwon, wara dungulan, sasih kedasa, tahun saka 971 (tahun 1049 Masehi). Beliau berparhyangan di Bisbis (Gunung Lempuyang), sekarang tempat parahyangan beliau telah berdiri sebuah Pura yang bernama “Pura Lempuyangan Madya”. Mpu Gnijaya dari perkawinannya dengan Dewi Manik Geni, selanjutnya menurunkan : Sapta (Tujuh) Pandita yang tidak menetap di Bali tetapi di Kuntuliku Desa, Jawa Timur, walaupun mereka sering ke Bali memuja leluhurnya. Sapta Pandita ini kemudian menurunkan : Warga Pasek di Bali (Pasek, Bendesa, Tangkas) yang jumlahnya sangat besar. Ketujuh Mpu tersebut adalah :&lt;br /&gt;
a. Mpu Ketek : Keturunannya dikenal dengan sebutan Pasek Toh Jiwa, termasuk disini adalah “Kyayi I Gusti Ageng Pemacekan” yang petilsasnnya ada di Karangpandan, Karanganyar, Solo, Jateng. Keturunan Mpu Ketek yang bernama “Kyayi Agung Pasek Subadra” dan Kyayi Pasek Toh Jiwa” berperan besar pada jaman Samplangan, yaitu pada awal Gelgel. Putra Kyayi Pasek Toh Jiwa, yaitu Pasek Toh Jiwa menjadi Tabeng Wijeng Kerajaan Gelgel, sedangkan Putra Kyayi Agung Pasek Subadra. Yaitu : Pasek Subadra menjadi Pandita dengan gelar “Dukuh Suladri”. Keturunan-keturunan Dukuh Suladri ada yang diambil oleh : Sri Angga Tirta Ksatrya Tirta Arum, Dalem Dimadya, dan ada juga oleh Anglurah Pinatih (leluhur Warga Wang Bang Pinatih)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
b. Mpu Kananda : salah seorang keturunannya adalah Ki Dukuh Sorga yang kemudian menurunkan Pemangku Kul Putih di Bali. Materi kepemangkuan Kul Putih ini banyak menjadi pegangan para Pemangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
c. Mpu Wiradnyana : Mpu Wiradnyana berputra Mpu Wiranatha yang juga bergelar Mpu Purwanatha, berasrama di Hutan Tumapel. Beliau berputra : Mpu Purwa dan Ken Dedes. Mpu Purwanatha pernah menghukum rakyat desa Panawijen karena tidak jujur mengenai putrinya Ken Dedes yang diculik oleh Tunggul Ametung dengan keringnya sumur desa, walaupun akhirnya diampuni. Ken dedes selanjutnya menurunkan Raja-Raja di Tanah Jawa, seperti : Paku Bhuwono, Mangku Negaran, Hamengku Bhuwono, Paku Alam, dll. Mpu Purwa keturunannya di Bali dikenal dengan “Pasek Tatar”, termasuk disini adalah Ibunda Presiden Sukarno, Nyoman Rai Srimben.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
d. Mpu Witadharma : keturunan Mpu Witadharma terbanyak dibanding saudaranya yang lain, yang di Bali dikenal dengan sebutan : Pasek Gelgel, Pasek Bendesa, Pasek Bendesa Mas, dan Pasek Tangkas Kori Agung (lain Ibu). Keturunan Mpu Witadharma yang berjasa menata Parhyangan di Bali adalah Mpu Dwijaksara yang membangun “Pura Dasar Bhuwana Gelgel-Klungkung” yang sebelumnya bernama “Babaturan Penganggih”. Putra Mpu Dwijaksara yang terkenal pada jaman pemerintahan di Bali adalah “Ki Patih Ulung”. Kyayi I Gusti Agung Pasek Gelgel keturunan Ki Patih Ulung pernah menjadi Raja Bali setelah Majapahit menguasai Bali sebelum dynasty Dalem.&lt;br /&gt;
e. Mpu Ragarunting : Keturunannya beliau dikenal di Bali dengan sebutan : Pasek Salahin, Kubayan, dan Tuttwan. De Pasek Lurah Tuttwan kawin dengan putri Arya Timbul/ Arya Buru putra Prabu Airlangga dengan seorang gadis gunung.&lt;br /&gt;
f. Mpu Preteka : Keturunannya dikenal dengan Ki Dukuh Gamongan Sakti, Ki Dukuh Prateka Batusesa, dan di Bali dikenal dengan „Pasek Kubakal”.&lt;br /&gt;
g. Mpu Dangka : Keturunannya dikenal dengan „Pasek Gaduh, Ngukuhin, Kadangkan”. Keturunan Mpu Dangka Kyayi Lurah Dangka pernah memimpin pasukan menyerang Blambangan menyertai Kriyan Ularan (Jelantik) sehingga karena keperwiraannya diberi gelar „Sang Wira Dangka”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mpu Bharadah/Mpu Pradah adalah yang terkecil dari “Panca Tirta” beliau tetap tinggal di Jawa menjadi Purohita kerajaan Daha, berparahyangan di Lemahtulis-Pejarakan. Beliau menganut Budha Mahayana. Mpu Bharadah sering ke Bali menengok kakak-kakaknya terutama Mpu Kuturan dan sering berdiskusi masalah kerohanian , sehingga sekarang bekas peristirahatan beliau di Padang masih ada.&lt;br /&gt;
Kita kembali kepada Raja suami istri Sri Gunaprya Dharmapatni &amp;amp; Udayana Warmadewa. Dari perkawinannya berputra : Sri Airlangga dan Sri Anak Wungsu. Sri Airlangga diundang ke Daha Jawa Timur oleh pamannya Sri Kameswara pada usia muda (16 tahun) yang tujuannya untuk menjadi raja di Daha. Tetapi saat diadakan suatu perayaan ada pemberontakan Sri Wurawuri sehingga Sri Airlangga mengungsi kehutan. Singkatnya akhirnya Sri Airlangga berhasil menjadi Raja Daha pada saka 941 – 1007 (1019 – 1085 Masehi) dan beliau berputra Sri Jayabhaya (yang dikemudian hari terkenal dengan Jangka Jayabaya) dan Sri Jayasabha. Pada masa ini yang menjadi Bhagawanta (Rohaniawan) kerajaan adalah Mpu Bharadah/Pradah. Sehubungan dengan Sri Airlangga berputra dua orang, maka karena khawatir akan menimbulkan perselisihan kedua putra, maka diutus Mpu Bharadah untuk mendatangi saudaranya Mpu Kuturan di Bali dan membujuk agar salah seorang putra Sri Airlangga bisa menjadi Raja di Bali. Oleh Mpu Kuturan permintaan Sri Airlangga lewat Mpu Bharadah ditolak karena Sri Airlangga dianggap telah melepaskan hak tahta kerajaan di Bali dengan menjadi Raja Daha dan menghilangkan gelar Warmadewa. Disamping itu rakyat Bali tetap menginginkan kepemimpinan dinasti raja-raja Bali. Oleh karena itu, maka diangkat adik Sri Airlangga, yaitu Sri Anak Wungsu menjadi Raja Bali. Sedangkan Daha atas keahlian Mpu Bharadah dibagi menjadi dua, menjadi Daha dan Kediri, sehingga tidak terjadi perselihan kedua putra Sri Airlangga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesudah itu terjadi beberapa kali pergantian pemerintahan Raja-Raja di Bali, sampai akhirnya suatu saat Bali dikalahkan oleh Majapahit . Sehubungan dengan Majapahit belum dapat menunjuk Raja di Bali, maka diangkat I Gusti Pasek Gelgel menjadi Raja di Bali bergelar “Kyayi I Gusti Agung Pasek Gelgel” pada saka 1265 – 1272 (tahun 1343 – 1350 Masehi). Pada saka 1272 (tahun 1350 Masehi) oleh Majapahit diangkat Sri Kresna Kepakisan menjadi Adhipati (wakil Raja) di Bali. Pada awal pemerintahan Sri Kresna Kepakisan terjadi pemberontakan di Bali terutama oleh Wong Bali Mula, sehingga Kyayi I Gusti Agung Pasek Gelgel yang sudah meninggalkan kerajaan diminta untuk hadir oleh Sri Kresna Kepakisan untuk menasehati penduduk Bali karena mereka masih tunduk kepada I Gusti Agung Pasek gelgel, setalah Kyayi I Gusti Agung Pasek Gelgel menasehati rakyat Bali, maka amanlah di Bali dan Sri Kresna Kepakisan dapat melanjutkan kepemimpinannya. Untuk membalas jasa Pasek Gelgel dan juga strategi merangkul masyarakat, maka keluarga Pasek Gelgel dan keturunannya menjadi Bendesa (Banda=Pengikat, dan Desa=Tempat) diseluruh Bali. Siapakah Sri Kresna Kepakisan ?. Beliau adalah putra Mpu Soma Kepakisan yang juga keturunan dari Mpu Bharadah.&lt;br /&gt;
Berlanjut kemudian Dinasti Sri Kresna Kepakisan secara turun temurun menjadi Adipati di Bali dengan memakai nama “Dalem”. Kejadian penting adalah pada masa pemerintahan Dalem Gelgel Sri Waturenggong yang berkuasa di Bali pada saka 1382 – 1472 (tahun 1460-1550 Masehi). Pada masa ini datang dari Jawa pada saka 1411 (tahun 1489 Masehi) Danghyang Nirartha / Pedanda Sakti Wawu Rawuh, yang kemudian berhasil menjadi Purohita (Rohaniawan) Kerajaan Gelgel dibawah Sri Waturenggong. Danghyang Nirartha adalah Putra Mpu Smaranatha yang juga keturunan Mpu Bharadah. Mpu Bharadah berputra Mpu Siwagandu dan Mpu Bahula. Mpu Bahula kawin dengan Ratna Menggali (Putri Mpu Kuturan dengan Rangdeng Girah) menurunkan Mpu Tantular yang mengarang Kakawin Sutasoma. . Mpu Tantular menurunkan 4 orang Putra , yaitu :&lt;br /&gt;
1. Mpu Siddhimantra : menurunkan Manik Angkeran, yang selanjutnya keturunannya dikenal dengan : Arya Sidemen, Arya Wang Bang Pinatih, Arya Dauh.&lt;br /&gt;
2. Mpu Panawasikan : yang hanya mempunyai seorang putri bernama Dyah Sanggarwati, (selanjutnya dikawinkan dengan sepupunya Danghyang Nirartha.).&lt;br /&gt;
3. Mpu Smaranatha : yang menjadi Purohita di Majapahit pada masa pemerintahan Sri Hayam Wuruk Saka 1272 – 1311 (tahun 1350- 1389 Masehi) dengan Maha Patih Gajah Mada. Mpu Smaranatha berputra Ida Angsoka dan Ida Nirartha (Danghyang Nirartha).&lt;br /&gt;
4. Mpu Kepakisan : beliau adalah guru Mahapatih Gajah Mada. Beliau berputra 4 orang yang semuanya menjadi Adipati (wakil Raja), yaitu : di Blambangan, Pasuruan, Sumbawa (putri), dan di Bali (Sri Kresna Kepakisan).&lt;br /&gt;
Kembali kepada „Danghyang Nirartha” putra Mpu Smaranatha, pada tahun 1489 beliau ke Bali, pada saat itu di Majapahit sudah mulai masuk agama baru (Islam). Apakah Danghyang Nirartha pernah mempelajari agama Islam tidak jelas, tetapi di Lombok Danghyang Nirartha mengajarkan „Islam Kala Tiga (Waktu Tiga). Danghyang Nirartha beristri 6 orang tiga diantaranya di Jawa dan tiga lagi sewaktu beliau ke Bali. Istri pertama dari Kediri Jawa Timur yang keturunannya dikenal dengan „Kemenuh”, Di Pasuruan beliau kawin lagi dan keturunannya dikenal dengan „Manuaba”. Yang ketiga adalah di Blambangan, dari perkawinannya menurunkan „Kaniten”. Setelah di Bali yaitu ketika beliau singgah di Gadingwangi, dimana yang menjadi Bendesa adalah „Pasek Bendesa Mas” (Keturunan Kyayi I Gusti Agung Pasek Gelgel), beliau mengawini Ni Luh Nyoman Manik Mas putri Pasek Bendesa Mas, sehingga keturunannya dikenal dengan „Mas”. Danghyang Nirartha juga mengawini Panjeroan (abdi) Ni Luh Nyoman Manik Mas dan keturunannya dikenal dengan „Petapan/Antapan”. Istri yang keenam Danghyang Nirarta adalah Ni Berit (sahayanya) ketika beliau di Bali Barat baru tiba dari Jawa, dari sini keturunannya dikenal dengan „Temesi/Bindu”. Selanjutnya karena kemampuannya, maka Danghyang Nirartha diangkat oleh Dalem Sri Waturenggong menjadi Purohita/Bahagawanta kerajaan Gelgel mewakili aliran „Siwa”. Dalem juga ingin mengangkat Danghyang Angsoka (kakak Danghyang Nirartha) menjadi Purohita, tetapi tidak terjadi karena tua dan juga sudah ada adiknya Danghyang Nirartha, maka diganti putranya „Danghyang Astapaka” mewakili „Budha Mahayana”. Danghyang Astapaka berasrama di Budakeling. Sejak itu kedudukan Para Mpu (keturunan Mpu Gnijaya) yang mewakili „Siwa Budha” dan Rsi Bujangga yang mewakili „Waisnawa”, digantikan oleh mereka berdua. Bahkan dalam bidang kemasyrakatan, Danghyang Nirartha dengan restu Dalem Waturenggong membenahi struktur pelapisan masyarakat Bali.&lt;br /&gt;
Pada mulanya masyarakat Bali menganut sistim warna lalu disusun berdasarkan Wangsa. Danghyang Astapaka dan Danghyang Nirartha serta keluarga menduduki pos sebagai „Brahmana Wangsa”, „Ksatrya Wangsa” diisi oleh keluarga Dalem. Para Arya (I Gusti) mengisi „Wesya Wangsa”. Ketiga ini juga disebut „Tri Wangsa”. Selanjutnya diluar itu menjadi “Sudra Wangsa”. Sudra ini juga disebut Jaba. Secara turun temurun keluarga Danghyang Nirartha dan Danghyang Astapaka mengambil porsi Brahmana dan jika di Pudgala jati/Dwi Jati bergelar “Pedanda”. Penyimpangan system Warna menjadi Wangsa (Jaman Portugis menjadi Kasta) ini berjalan ratusan tahun dan membawa dampak tidak baik pada kehidupan masyarakat karena wangsa yang seharusnya menjadi pengikat keluarga menjadi kelompok-kelompok (soroh) dimana ada yang merasa lebih tinggi dari soroh lainnya. Usaha pelurusan ini sudah dimulai sejak lama. Pada tahun 1920 di Singaraja (Bali) muncul Organisasi “Surya Kanta” yang anti feodalisme dengan system Wangsa/Kasta bahkan menerbitkan Majalah/Surat kabar. Kemudian mendapat jawaban dari kelompok status quo (mempertahankan Kasta) dengan terbitnya “Bali Adnyana”. Kedua penerbitan tersebut gulung tikar dan juga hilang karena semangat kebangsaan dengan berdirinya Budi Utomo (1928). Pada jaman Kemerdekaan (1945) hal ini juga tenggelam karena bangsa sedang menikmati kemerdekaannya, termasuk juga pada jaman Suharto (Orde Baru) yang sangat mementingkan stabilitas nasional. Pada jaman Reformasi hal ini bangkit kembali dengan disuarakannya dimana-mana termasuk di koran/Majalah. Belakangan ini ada 2 PHDI Bali, yaitu : PHDI Campuan dan PHDI Besakih. Apakah munculnya dua PHDI Bali ini merupakan bentuk pertentangan system feodalisme di Bali ? kita lihat sama-sama.&lt;br /&gt;
Dari semua hal-hal diatas, maka ada beberapa materi penting yang ingin penulis sampaikan, sbb :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Leluhur kita Panca Tirta datang ke Bali untuk memperbaiki masyarakat Bali pada masa pemerintahan Gunaprya Darmapatni/Udayana Warmadewa. Hal ini berhasil dilakukan dengan terjadinya perbaikan prikehidupan masyarakat. Strata masyarakat menganut Catur Warna yang merupakan ajaran Weda.&lt;br /&gt;
2. Pada jaman Mpu Kuturan banyak dibangun Pura di Bali yang banyak terjadi kesalahan pemahaman sehingga dianggap didirikan oleh Danghyang Nirarta , seperti misalnya : Pura Uluwatu yang didirikan Mpu Kuturan untuk memuja Baruna, diangggap didirikan Danghyang Nirartha. Untuk keperluan meluruskan sejarah pembangunan Pura-Pura di Bali, maka Gubernur Bali menunjuk Jro Mangku Gde Ktut Subandi menjadi “Ketua Penelitian Pura-Pura di Bali”. Hal ini diceritrakan almarhum kepada penulis ketika beliau ke Petilasan Kyayi I Gusti Ageng Pemacekan di Karanganyar beberapa bulan sebelum meninggal..&lt;br /&gt;
3. Pada masa Pemerintahan “Dalem Waturenggong” dengan Purohita Kerajaan Gelgel “Danghyang Nirartha” dan Danghyang Astapaka” terjadi perubahan strata masyarakat dari system Warna menjadi Wangsa/ Kasta. Hal ini berlanjut ratusan tahun sejak abad ke-15. Pelurusan baik dengan munculnya Surya Kanta atau bentuk lainnya dijaman moderen ini terus berlangsung.&lt;br /&gt;
4. Masyarakat khususnya di Bali harus ikut meluruskan kesalahan masa lalu dengan menjalankan dan mempublikasikan “Catur Warna” yang bersumber dari Weda sebagai pelurusan kesalahan system Warna/Kasta. Untuk itu telah keluar Bhisama Parisadha Hindu Dharma Pusat tahun 2002, oleh : Ida Pedanda Gede Ketut Sebali Tianyar Arimbawa (Dharma Adhyaksa) dan Ida Pandita Mpu Jaya Dangka Suta Reka (Wakil Dharma Adhyaksa).&lt;br /&gt;
5. Masyarakat tidak perlu mengambil posisi bertentangan untuk meluruskan kesalahan ini seperti : Surya Kanta vs Bali Adnyana atau yang lain, tetapi tetap menyadari, bahwa kita bersaudara dan tujuan pelurusan ini adalah untuk membawa kebaikan nama Hindu dimata masyarakat dan dunia&lt;br /&gt;
6. Orang tua kita terutama di Bali yang masih larut dalam kesalahan ini tidak perlu ditentang, tetapi diberi pengertian dengan cara bijaksana dan penuh rasa hormat, yang lebih penting lagi adalah mulailah dari diri kita sendiri.&lt;br /&gt;
7. Pada akhirnya perlu saya sampaikan, bahwa “Perjalanan masih panjang” dan masalah pemurnian aplikasi ajaran weda di masyarakat bukan hanya masalah Penyimpangan Catur Warna, tetapi masih banyak hali lain, untuk itu jalankan swadharma masing-masing sesuai dengan Warna masing-masing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sumber : singaraja.wordpress.com/2008/02/06/mengenal-agama-hindu-edisi-13</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/feeds/1945029172908514591/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/2010/07/catur-warna-dan-kasta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/4681687974444904579/posts/default/1945029172908514591'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/4681687974444904579/posts/default/1945029172908514591'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/2010/07/catur-warna-dan-kasta.html' title='CATUR WARNA dan KASTA'/><author><name>Edi Sugianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14020089984610322057</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGzeexTJJ5-aiaE_2XnxpUrS2D0wSodFfxEARZ9eOUxR9Np3cagCLixSLzkhkGcUwvIUrBg2DituWXBx_GIbXRZzPlECBhFtxqcaVwaR26-gUrt36VprkAx0ni2qR3TQ/s80/Edi+icon+80px.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhjx-bN4mqHzzwJFWTmcEhiQGzB-CTI5SL5ol1Fz2LaJTQQOORzDQNWiZpHjlVgmoYCJWyC8FDLDNQmVNxLeA8PJC6YeMksh_HtYqIFWKaC0ef-GnBY8bXL8atZIrhb7Rdrr7-Em0u_j8rF/s72-c/bali.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4681687974444904579.post-3330228391087602136</id><published>2010-07-01T09:34:00.000+07:00</published><updated>2010-07-01T09:34:38.372+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Andrie Wongso"/><title type='text'>Jangan Hanya Jadi Penonton, Jadilah Pemain</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgJ0wV1E1F8O-h_7WCe8WdInE48uD-pyFKBfsdekJCdQG19lnbCVCtnKTE0Rh_EH0v_j7TOZzwJAcwmOxXzFEr4DHie6Ho6EE2J-LexVwIjhyphenhyphenikSRcZ0jCKoIoMFXcizIdwJ2pJP3v5ung5/s1600/winner_vs_loser1.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;200&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgJ0wV1E1F8O-h_7WCe8WdInE48uD-pyFKBfsdekJCdQG19lnbCVCtnKTE0Rh_EH0v_j7TOZzwJAcwmOxXzFEr4DHie6Ho6EE2J-LexVwIjhyphenhyphenikSRcZ0jCKoIoMFXcizIdwJ2pJP3v5ung5/s200/winner_vs_loser1.jpg&quot; width=&quot;168&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Suatu hari, seorang pemuda diajak oleh salah seorang temannya untuk  menghadiri &lt;b&gt;sebuah pertemuan besar untuk merayakan kemenangan  atau prestasi yang sudah dicapai seseorang&lt;/b&gt;. Banyak orang yang  berduyun-duyun menghadiri pertemuan itu. Dalam pertemuan akbar itu,  banyak orang dari berbagai jenis profesi maju ke atas panggung untuk  bercerita tentang kisah sukses mereka. &lt;br /&gt;
Setelah sampai di ruang pertemuan, mereka mengambil tempat duduk agak di  depan. Acara yang dinanti-nantikan akhirnya dimulai. Para hadirin  terlihat begitu antusias menyambut acara tersebut karena acara ini dapat  memberikan motivasi dan inspirasi yang besar bagi mereka. Dengan  mendengarkan kisah sukses mereka yang telah berhasil, mereka berharap  dapat mengikuti jejak sukses seorang pemenang. &lt;br /&gt;
Tidak lama kemudian, muncul seorang pemuda. Ia naik ke panggung dengan  disambut dengan tepuk tangan meriah dari para hadirin. Pemuda ini sukses  karena bisnis komputer. Ia menceritakan kisahnya yang berasal dari  keluarga yang serba kekurangan yang membuatnya tidak pernah duduk di  bangku sekolah. Akan tetapi sekarang dirinya bisa sukses di bisnisnya  karena kemauannya untuk belajar. Walaupun tidak berpendidikan, ia tidak  mau kalah dengan yang lain sampai akhirnya berhasil seperti sekarang. &lt;br /&gt;
Mendengar pengakuan pemuda sukses tersebut, pemuda yang duduk sebagai  hadirin tadi berkata pada temannya, &quot;Ahh, zaman sekarang kalau tidak  sekolah mana mungkin bisa berhasil. Menurut saya, dia cuma beruntung  saja, atau mungkin dibantu temannya.&quot; Temannya tidak berkomentar  apa-apa, hanya diam saja. &lt;br /&gt;
Berikutnya, tampil seorang ibu rumah tangga yang sukses berkat bisnis  pakaian. Ibu ini menceritakan bahwa ia bertekad untuk memperoleh  penghasilan sendiri karena ingin membantu ekonomi &lt;br /&gt;
&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;keluarganya.  Penghasilan dari suaminya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan  keluarganya. Pada mulanya ia hanya menjahit pakaian. Karena hasil  jahitannya bagus dan berkualitas, pesanan semakin banyak yang  berdatangan. Bisnisnya semakin besar ketika ia akhirnya membuka butik  besar yang menjual pakaian hasil jahitannya sendiri serta pakaian impor  merek ternama. Bisnis yang ditekuninya memberikan penghasilan yang cukup  banyak bahkan berlebih sehingga kehidupan keluarganya menjadi makmur.  Ibu inipun menjadi kaya raya karena berhasil membuka beberapa cabang. &lt;br /&gt;
Begitu mendengar kisah sukses ibu tersebut, pemuda tadi lagi-lagi  mengkritik, &quot;Ahhh, bagaimana tidak sukses! Ibu-ibu kan memang pandai  bicara...&quot; Pemuda ini terus saja mengatakan hal-hal yang negatif dan  lagi-lagi, temannya hanya diam. &lt;br /&gt;
Berikutnya tampil seorang cacat tanpa kedua tangan yang sukses sebagai  seorang salesman terbaik. Banyak orang terharu mendengar kisahnya yang  fenomenal. Akan tetapi pemuda itu malah berkata, &quot;Ahhh, saya yakin dia  sukses karena orang lain kasihan terhadap dirinya. Melihat dirinya  cacat, orang-orang tidak tega menolak apa yang dijualnya, sehingga  terpaksa membeli walaupun sebenarnya tidak perlu.&quot; &lt;br /&gt;
Satu demi satu orang sukses tampil di panggung untuk memberikan  kesaksian dan semangat kepada hadirin. Tapi kritikan demi kritikan terus  keluar dari mulut si pemuda itu, seolah-olah semuanya tidak ada yang  benar. &lt;br /&gt;
Hal ini membuat temannya buka mulut. Temannya langsung berkata, &quot;Tidak  peduli seberapa banyak kritikan yang kamu berikan atas kesuksesan yang  mereka raih, yang terpenting mereka telah berhasil menjadi pemenang  dalam hidup mereka. Tidak seperti kamu yang hanya bisa berkomentar dan  mengkritik tapi tidak berbuat apa-apa. Buktikan kamu bisa seperti  mereka, jangan hanya jadi penonton saja.&quot; &lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;u&gt;Pesan kepada pembaca:&lt;/u&gt;&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
Mengkritik jauh lebih mudah dilakukan daripada berbuat. Namun, orang  yang selalu mengkritik dan memberikan komentar negatif akan tetap selalu  menjadi seorang penonton di sepanjang hidupnya. Mereka hanya bisa  melihat kesuksesan orang lain, tetapi tidak mampu menciptakan kesuksesan  mereka sendiri. &lt;br /&gt;
Lain halnya seorang pemain yang selalu take action untuk meraih  kesuksesan. Mereka tahu resiko yang harus mereka hadapi. Ketika mereka  gagal, mereka tahu bahwa mereka akan mendapat kritikan pedas dari orang  lain. Tapi mereka tidak pernah peduli dengan kritikan tersebut. Mereka  tetap fokus dan bangkit kembali sampai berhasil. &lt;br /&gt;
Contoh paling mudah adalah pertandingan sepak bola. Misalkan ada adegan  penalti yang dilakukan oleh Cristiano Ronaldo. Sayang, tendangannya  meleset. Pasti banyak penonton, mungkin Anda, yang mengkritik dan  memberi cercaan padanya. Mungkin Anda bilang, &quot;Ahhh, bodoh sekali  Ronaldo. Masa begitu saja tidak bisa, padahal anak kecil pun bisa.&quot; &lt;br /&gt;
Cobalah tanya diri Anda sendiri apakah kritikan dan cercaan para  penonton membuat gajinya dipotong? Apakah makian terhadap dirinya  membuat gelar-gelar internasionalnya harus dicopot? Apakah komentar  negatif orang lain membuat dirinya miskin? &lt;br /&gt;
Sadarilah, meskipun dirinya mendapat ribuan cacian, cemoohan, kritik,  dan komentar negatif, Cristiano Ronaldo tetaplah seorang pemain termahal  di dunia, tetap memperoleh gaji super besar, tetap menjadi seorang mega  bintang sepak bola, tetap kaya raya dan tetap digilai banyak wanita  cantik. Ia adalah seorang pemain, bukan penonton yang hanya bisa  mengkritik, tetapi tidak pernah mengkritik dirinya sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Sudah saatnya Anda menjadi seorang pemain. Jangan hanya menjadi  penonton yang terpesona dengan kesuksesan orang lain. Jadilah seorang  pemain yang suatu saat nanti merayakan kemenangan Anda sendiri. Jangan  hanya memilih untuk menjadi penonton yang bersuka cita karena GOL,  tetapi jadilah pemain yang berteriak kegirangan karena berhasil mencetak  GOL.&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
-------------- &lt;br /&gt;
Penulis : Suhardi &lt;br /&gt;
E-mail Contact : csd_suhardi@yahoo.com&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
SUMBER ARTIKEL : www.andriewongso.com/artikel/artikel_tetap/3453/Jangan_Hanya_Jadi_Penonton/</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/feeds/3330228391087602136/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/2010/07/jangan-hanya-jadi-penonton-jadilah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/4681687974444904579/posts/default/3330228391087602136'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/4681687974444904579/posts/default/3330228391087602136'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/2010/07/jangan-hanya-jadi-penonton-jadilah.html' title='Jangan Hanya Jadi Penonton, Jadilah Pemain'/><author><name>Edi Sugianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14020089984610322057</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGzeexTJJ5-aiaE_2XnxpUrS2D0wSodFfxEARZ9eOUxR9Np3cagCLixSLzkhkGcUwvIUrBg2DituWXBx_GIbXRZzPlECBhFtxqcaVwaR26-gUrt36VprkAx0ni2qR3TQ/s80/Edi+icon+80px.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgJ0wV1E1F8O-h_7WCe8WdInE48uD-pyFKBfsdekJCdQG19lnbCVCtnKTE0Rh_EH0v_j7TOZzwJAcwmOxXzFEr4DHie6Ho6EE2J-LexVwIjhyphenhyphenikSRcZ0jCKoIoMFXcizIdwJ2pJP3v5ung5/s72-c/winner_vs_loser1.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4681687974444904579.post-2021914468812943350</id><published>2010-07-01T08:52:00.000+07:00</published><updated>2010-07-01T08:52:41.632+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Andrie Wongso"/><title type='text'>Kekuatan spionase Ala Sun Tzu by Andrie Wongso</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;text_11 link6&quot;&gt;&lt;b&gt;Penulis&lt;/b&gt; : Andrie Wongso  &lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;text_11&quot; style=&quot;padding-top: 5px;&quot;&gt;Rating Artikel : &lt;img align=&quot;absmiddle&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;15&quot; src=&quot;http://www.andriewongso.com/img/fullstars.gif&quot; width=&quot;15&quot; /&gt;&lt;img align=&quot;absmiddle&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;15&quot; src=&quot;http://www.andriewongso.com/img/fullstars.gif&quot; width=&quot;15&quot; /&gt;&lt;img align=&quot;absmiddle&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;15&quot; src=&quot;http://www.andriewongso.com/img/fullstars.gif&quot; width=&quot;15&quot; /&gt;&lt;img align=&quot;absmiddle&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;15&quot; src=&quot;http://www.andriewongso.com/img/fullstars.gif&quot; width=&quot;15&quot; /&gt;&lt;img align=&quot;absmiddle&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;15&quot; src=&quot;http://www.andriewongso.com/img/fullstars.gif&quot; width=&quot;15&quot; /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;text_11&quot;&gt;Rabu, 30-Juni-2010&lt;/div&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Kekuatan spionase adalah salah satu kunci  keberhasilan menggali informasi. Hal sekecil apa pun akan sangat  berguna jika kita bisa memaksimalkannya.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;  Salah satu faktor penting untuk meraih kemenangan adalah dengan  penguasaan informasi. Karena itu, dalam Kitab Perang-nya yang  legendaris, Sun Tzu menekankan pentingnya kekuatan intelijen.  &lt;br /&gt;
Sekadar mengingatkan, menurut Sun Tzu ada lima jenis agen rahasia,  yakni: agen lokal (orang biasa dari negara musuh yang dipekerjakan  sebagai intelijen kita), agen dalam (pejabat musuh yang direkrut dan  dipekerjakan sebagai intelijen kita), agen ganda (mata-mata musuh yang  telah kita ubah agar mau bekerja sebagai intelijen kita), agen celaka  (mata-mata kita sendiri yang sengaja dibekali dengan informasi palsu  supaya dapat mengelabui musuh), agen hidup (mata-mata kita sendiri yang  kembali dengan selamat dari wilayah musuh dengan membawa informasi  berharga).  &lt;br /&gt;
Kelima jenis intelijen tersebut pada zaman sekarang telah menjelma dalam  berbagai hal. Baik yang diwujudkan dalam nilai-nilai yang tetap  berdasarkan etika dan moral, namun ada pula yang kemudian-atas nama  persaingan-justru menghalalkan segala macam cara untuk menggali  informasi demi meraih kemenangan. Sudah tentu, hal yang terakhir ini,  jika diteruskan hanya akan melahirkan persaingan tidak sehat, yang  lama-kelamaan akan terbongkar dan ujungnya, merusak reputasi perusahaan  itu sendiri.  &lt;br /&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; height=&quot;173&quot; src=&quot;http://www.andriewongso.com/otherimage/0-0000asunt.jpg&quot; width=&quot;294&quot; /&gt; &lt;/div&gt;Namun, di atas itu semua, apa pun bentuk intelijen yang dilakukan, semua  berujung pada masalah informasi. Siapa yang menguasai informasi paling  banyak, paling luas, paling tajam, dan paling terpercaya, serta mampu  memaksimalkan dalam bentuk strategi dan tindakan yang matang, dialah  yang akan jadi pemenang sesungguhnya. Kemampuan penguasaan informasi dan  analisis yang matang akan membuat sebuah perusahaan mampu menjalankan  berbagai program perencanaan yang akan menghasilkan kesuksesan.  &lt;br /&gt;
&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;Contoh Kasus&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;
Menilik pentingnya informasi ini, ada sebuah kasus cukup menarik yang  saya lihat belakangan ini. Dalam bisnis makanan cepat saji-yang di  Indonesia salah satunya dikuasai oleh jaringan Kentucky Fried Chicken  (KFC) dan McDonald&#39;s (McD)-ada satu hal yang menggelitik saya untuk  melihatnya dari sudut pandang strategi Sun tzu. &lt;br /&gt;
Beberapa waktu lalu, ada sebuah informasi berkaitan tentang  pengambilalihan McDonald&#39;s oleh produsen yang selama ini dikenal dengan  tehnya, yakni Sosro. Produsen teh terbesar di Indonesia itu mengakuisisi  hampir semua cabang McDonald&#39;s dari tangan pemilik lama, Bambang  Rachmadi.  &lt;br /&gt;
Uniknya, setelah beberapa saat McD dipegang Sosro-yang membuat semua  minuman teh di McD juga harus menggunakan semua produk Sosro-restoran  KFC tak lama kemudian mengganti minuman tehnya. Jika selama ini KFC  menggunakan teh Botol Sosro, kini mereka menggantinya dengan Frestea  yang berasal dari grup Coca Cola Company.&lt;br /&gt;
Jika mendasari dari apa yang saya pahami dari strategi intelijen Sun  tzu, apa yang dilakukan KFC ini sangat bisa dimengerti. Sebab, jika  selama ini Sosro terus mengirimkan ribuan atau jutaan minumannya ke KFC,  dengan data yang ada, kemungkinan Sosro bisa menganalisis bagaimana  perkembangan &quot;dapur&quot; KFC. Seperti berapa minuman yang laku, berapa yang  kembali, berapa cabang, di mana cabang yang paling ramai, dan berbagai  informasi lainnya mungkin bisa digali dari adanya kerja sama selama ini.   &lt;br /&gt;
Karena itu, apa yang dilakukan KFC dengan mengganti kerja sama-entah  karena memang sudah habis kontrak atau karena soal kepemilikan McD oleh  Sosro-kali ini dengan Frestea, bisa dikatakan langkah yang sangat  beralasan. Sebab, informasi yang bisa digali dengan adanya kerja sama  semacam itu memang cukup penting untuk perkembangan usaha.  &lt;br /&gt;
Hal semacam itu memang sangat lazim terjadi. Karena itu, tak jarang,  akuisisi sebuah perusahaan akan mengakibatkan terputusnya kerja sama  yang sudah dijalin sejak lama. Bukan hanya itu. Perekrutan seseorang  dari sebuah perusahaan untuk pindah ke perusahaan pesaing juga acap  terjadi. Dengan iming-iming gaji dan fasilitas lebih besar, jika mau  pindah, orang tersebut sudah pasti memiliki banyak informasi berharga  dari perusahaan lama ke perusahaan baru.  &lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;Utamakan Etika dan Moralitas&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;
Begitulah, pentingnya informasi sudah sangat disadari oleh Sun Tzu sejak  lebih dari 2400 tahun silam. Maka, sangat mutlak bagi kita yang ingin  sukses untuk mengumpulkan sebanyak mungkin informasi yang berguna bagi  perkembangan usaha. Dan sebaliknya, sangat penting juga untuk menjaga  informasi agar tidak bocor ke pesaing atau ke pihak lain yang mungkin  dapat menjegal langkah kita.  &lt;br /&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; height=&quot;185&quot; src=&quot;http://www.andriewongso.com/otherimage/0-0000row.jpg&quot; width=&quot;297&quot; /&gt; &lt;/div&gt;Namun, jangan lupa, &lt;b&gt;tetap utamakan etika dan moralitas dalam  usaha untuk mendapatkan semua data dan fakta&lt;/b&gt;. Sebab, di sanalah  integritas kita sebagai pribadi atau perusahaan terpercaya akan diuji!  Jangan sampai, reputasi yang sudah dibangun sekian lama, jadi ternoda  hanya karena menghalalkan segala cara.  &lt;br /&gt;
Nari, &lt;b&gt;gali dan jaga informasi. analisis dan olah sebaik mungkin  untuk menciptakan kreasi-kreasi tindakan positif yang akan membangun  kejayaan bersama&lt;/b&gt;.  &lt;br /&gt;
_______________________ &lt;br /&gt;
&lt;u&gt;&lt;b&gt;Catatan: &lt;/b&gt;&lt;/u&gt; &lt;br /&gt;
&lt;i&gt;1. Kehidupan sehari-hari, khususnya dunia bisnis, tidak jauh berbeda dengan medan pertempuran. &lt;b&gt;Jika ingin sukses, kita perlu strategi  yang  tepat&lt;/b&gt;! Maka secara rutin setiap bulan, saya dan tim menurunkan  tulisan  yang membahas strategi perang Sun Tzu, ditambah dengan aplikasinya  secara singkat dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam bidang  bisnis. Selamat menikmati. Salam sukses, luar biasa!! &lt;br /&gt;
&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;
&lt;i&gt; 2. Tulisan ini, dan juga tulisan-tulisan menarik &amp;amp; inspiratif  lainnya, &lt;b&gt;dapat dibaca secara penuh di majalah motivasi LuarBiasa&lt;/b&gt;.   Dapatkan majalahnya di AW Success Shops, Jakarta dan toko-toko buku  besar lainnya. Info: (021) 6339523 dan (021) 30303017. &lt;br /&gt;
&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;
&lt;i&gt;3. Tayangan &quot;Sun Tzu, The Greatest War Strategist&quot; akan hadir di &lt;b&gt;Duta  TV, Banjarmasin&lt;/b&gt; mulai 1 Juli 2010, setiap Kamis dan Minggu  pukul 20.00-21.00 WITA. Saya akan tampil pada awal dan akhir acara untuk  memberikan komentar/ulasan singkat. Bagi teman-teman yang berada di  sana, saksikan ya. Tentunya banyak manfaat atau pesan yang bisa kita  ambil dan praktikkan sesuai dengan situasi dan kondisi saat ini.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Sumber Artikel :www.andriewongso.com/artikel/artikel_tetap/3457/Kekuatan_Spionase_ala_Sun_Tzu/ &lt;/i&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/feeds/2021914468812943350/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/2010/07/kekuatan-spionase-ala-sun-tzu-by-andrie.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/4681687974444904579/posts/default/2021914468812943350'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/4681687974444904579/posts/default/2021914468812943350'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://aktivasienergy.blogspot.com/2010/07/kekuatan-spionase-ala-sun-tzu-by-andrie.html' title='Kekuatan spionase Ala Sun Tzu by Andrie Wongso'/><author><name>Edi Sugianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14020089984610322057</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGzeexTJJ5-aiaE_2XnxpUrS2D0wSodFfxEARZ9eOUxR9Np3cagCLixSLzkhkGcUwvIUrBg2DituWXBx_GIbXRZzPlECBhFtxqcaVwaR26-gUrt36VprkAx0ni2qR3TQ/s80/Edi+icon+80px.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>