<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1142211349625914890</id><updated>2026-04-04T18:38:17.962+07:00</updated><category term="Islami"/><category term="Kisah Teladan"/><category term="Kewarganegaraan (PKn)"/><category term="Fatwa"/><category term="Wanita"/><category term="Fara&#39;id (Ilmu Waris)"/><category term="Rasulullah"/><category term="Shalat"/><category term="Sahabat Nabi"/><category term="Trik Internet"/><category term="Trik Komputer"/><category term="Software"/><title type='text'>Alfian Muhammad</title><subtitle type='html'>Memberi yang baik dari yang Terbaik</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://hanajadeh.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1142211349625914890/posts/default'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanajadeh.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1142211349625914890/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14590274822924929950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>129</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1142211349625914890.post-4739727599211658421</id><published>2014-04-02T21:24:00.001+07:00</published><updated>2014-04-02T21:24:54.257+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Islami"/><title type='text'>Demi Suara Apapun Dilakukan</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi44EEjDMUx_fR8mcQqyqkxMfIm3MclcaNsGmSHEi_AydEqCtVwWGw0LVI6OViZCFv4WkJ_aXoQMo45k3W7h_2LyWcPqNOGlovBDspnXBNyd_w5669II_Sv9LtWQzPjNtqhZuEOodSNewjf/s1600/riau24_v6yd4_626.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi44EEjDMUx_fR8mcQqyqkxMfIm3MclcaNsGmSHEi_AydEqCtVwWGw0LVI6OViZCFv4WkJ_aXoQMo45k3W7h_2LyWcPqNOGlovBDspnXBNyd_w5669II_Sv9LtWQzPjNtqhZuEOodSNewjf/s1600/riau24_v6yd4_626.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Menjelang pemilu, berbagai wilayah di Republik Indonesia ini diwarnai berbagai atribut partai. Mereka –para peserta pesta demokrasi– berlomba memajang anggota partainya untuk dipilih rakyat. Mereka berlomba meraup suara sebanyak mungkin agar bisa meloloskan anggota partainya menduduki kursi jabatan yang diperebutkan.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Di antara peserta pesta demokrasi itu, terdapat partai-partai yang mengusung nama Islam. Mereka masih berkeyakinan bahwa sentimen agama masih menjadi komoditas yang layak jual. Meskipun senyatanya, kesantunan beragama terkadang tidak melekat dalam pergaulan mereka. Tak sedikit yang berlaga sehingga saling menyerang, baku tikai hanya karena beda partai. Tak sedikit pula yang membujuk rayu masyarakat dengan uang, kaos, atau fasilitas lainnya dengan maksud masyarakat memilihnya. Ini yang sering dimunculkan sebagai isu-isu untuk meruntuhkan partai lawan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Seperti apa wajah partai Islam sekarang? Atau, sebelum pertanyaan ini disodorkan, perlu dipertanyakan terlebih dulu: Adakah partai Islam itu? Partai-partai “Islam” (dalam tanda kutip) cukup variatif. Baik dari sisi konstituen (para pendukung) maupun dari sisi visi yang menjadi dasar perjuangan mereka.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Di antaranya ada yang secara tegas menyatakan diri sebagai partai berazas Islam, berjuang untuk menegakkan hukum Islam ke dalam perundang-undangan Indonesia. Dalam sejarah kepartaian setelah Indonesia merdeka, partai yang memiliki garis perjuangan seperti itu bisa ditemukan pada Partai Masyumi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Bagaimana dengan partai-partai “Islam” masa pascareformasi? Sungguh, partai-partai yang ada sekarang masih sulit untuk disejajarkan dengan Partai Masyumi yang dulu. Walau dengan tingkat “soliditas” yang tinggi dan “handal”, toh dalam pentas sejarah kepartaian, Masyumi masih bisa dijegal kalangan nasionalis sekuler dan kalangan komunis. Perjuangan untuk menegakkan syariat Islam melalui sistem demokrasi kepartaian pun kandas. Presiden Soekarno saat itu menekan Masyumi untuk bubar melalui Keputusan Presiden No. 200/1960. Maka, tidak kurang dari sebulan setelah Keputusan Presiden tersebut, pada tanggal 13 September 1960 Partai Masyumi menyatakan membubarkan diri. Pembubaran diri ini dilakukan setelah Presiden mengancam akan menjadikannya sebagai partai terlarang jika tidak mematuhinya. (Lihat Deliar Noer, Partai Islam di Pentas Nasional, Kisah dan Analisis Perkembangan Politik Indonesia 1945-1965, hal. 414-415). Itulah klimaks memperjuangkan agama melalui alur demokrasi. Berupaya membangun dinding, tapi lupa membangun fondasi. Berupaya agar syariat Islam diberlakukan dalam perundangan, tapi lalai membekali umat dengan pemahaman Islam yang benar.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Bentuk lainnya, terdapat pula partai-partai yang secara tegas menyatakan bukan partai Islam, namun memiliki basis massa dan pengurus partai berasal dari tokoh-tokoh yang dianggap oleh sebagian kalangan sebagai tokoh Islam. Partai-partai ini oleh sebagian kalangan dianggap memiliki akar sejarah keislaman dan memiliki ikatan emosional yang kuat dengan ormas-ormas Islam.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Terlepas dari corak yang ada pada partai-partai “Islam” tersebut, tumbuh keyakinan pada sebagian kalangan bahwa terjun ke gelanggang politik, masuk dalam sistem demokrasi merupakan bentuk perjuangan menegakkan dakwah. Berjuang melalui partai-partai “Islam”, menyuarakan aspirasi umat adalah bagian dari dakwah. Bahkan telah terpatri pada benak sebagian kaum muslimin, bila tidak turut berjuang melalui partai, maka negara akan dipimpin dan dikuasai kaum kafir. Umat Islam akan menjadi kelompok marginal (terpinggirkan), tidak berada dalam arus lingkaran kekuasaan. Seakan-akan keselamatan kaum muslimin hanya bisa dicapai dengan merebut suara terbanyak pada pesta demokrasi. Padahal Allah telah berfirman:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An-Nur: 55)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Abul Fida Ismail Ibnu Katsir t menuturkan, inilah janji Allah kepada Rasul-Nya. Sungguh, Allah akan menjadikan umat-Nya sebagai khalifah di muka bumi. Maksudnya, Allah akan menjadikan umat-Nya sebagai pemimpin-pemimpin masyarakat dan penguasa mereka. Sungguh, benar-benar Allah akan mengganti rasa takut menjadi situasi yang penuh rasa aman dan (tegaknya) hukum. Allah Yang Mahasuci dan Mahatinggi telah membuktikan janji itu dan milik-Nya lah segala puji. Saat Rasulullah belum meninggal dunia, Allah telah membukakan kemenangan kepada kaum muslimin dengan Fathu Makkah, Khaibar, Bahrain, dan seluruh Jazirah Arab serta bumi Yaman secara total. Jizyah (upeti) telah bisa diperoleh dari kalangan Majusi Hajar, sebagian pinggiran Syam. Para raja mengajukan deklarasi damai kepada beliau. Di antaranya Raja Heraklius, Romawi, penguasa Mesir dan Iskandariyah yaitu Muqauqus, Raja Oman, Raja An-Najasyi di Habasyah yang memerintah setelah Ashimah. Kemudian, kala beliau telah wafat, Allah memilih pengganti beliau dengan Abu Bakr Ash-Shiddiq. Semasa pemerintahannya, Abu Bakr Ash-Shiddiq mengirim pasukan di bawah komando Khalid bin Walid ke Persia. Kemenangan pun diperoleh, Persia ditaklukkan dan sebagian tentaranya dibunuh. Abu Bakr Ash-Shiddiq pun mengutus pasukan di bawah pimpinan Abu Ubaidah ke wilayah Syam. Juga mengirim sahabat Amr bin Al-’Ash beserta pasukannya ke Mesir. Allah memberikan kemenangan kepada pasukan kaum muslimin di Syam, berhasil pula menguasai Bashrah, Damaskus, dan yang tersisa adalah sebagian negeri Hauran. Sepeninggal Abu Bakr Ash-Shiddiq, muncul Umar Al-Faruq. Beliau menegakkan pemerintahan secara paripurna, yang belum ada tandingannya dalam sejarah –setelah para nabi– dalam hal kekokohan, kekuatan, dan keadilannya yang sungguh sempurna. Dalam masa pemerintahannya, wilayah Syam dikuasai secara total, beberapa wilayah Mesir lainnya, dan sebagian besar wilayah Persia pun berhasil dikuasai. Begitu pula dengan kekaisaran Kisra, berhasil ditaklukkan dan direndahkan serendah-rendahnya. Raja Kisra lari hingga terusir. Nasib serupa pun menimpa Raja Romawi. Kerajaannya berhasil diruntuhkan, hingga terlepas kekuasaannya di negeri Syam dan dia lari menuju Konstantinopel. Kemudian saat masa Daulah Utsmaniyah, kekuasaan kaum muslimin semakin melebar dari Timur hingga belahan Barat bumi. Wilayah Maghribi berhasil dikuasai hingga batas ujung yaitu Andalusia, Qabras (Cyprus), negeri Qairawan dan Sabtah yang terletak sekitar Laut Atlantik. Dari arah timur hingga ke negeri Cina. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir saat menjelaskan ayat di atas, 3/366)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Demikianlah fakta sejarah. Lantaran kekokohan iman, kebersihan aqidah, ketulusan beramal shalih, Allah menampakkan janjinya. Kata Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz, pertolongan Allah bisa diperoleh dengan mengikuti syariat-Nya dan bersabar (dalam menjalankannya). Sebagaimana firman-Nya:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Muhammad: 7)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ini sebagaimana tersebut dalam pernyataan Rasulullah kepada Abdullah bin Abbas :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;“Jagalah (hukum-hukum) Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah (hukum-hukum) Allah niscaya akan engkau dapati Dia di depanmu.” &lt;/i&gt;(HR. At-Tirmidzi no. 2516, dishahihkan Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’, no. 7957)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Maka, barangsiapa menjaga Allah dengan menjaga agama-Nya, bersikap istiqamah, saling menasihati dan bersabar atasnya, kelak Allah akan menolongnya, mengokohkannya atas musuh-musuhnya serta menjaganya dari tipu daya musuhnya. Allah berfirman:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;“Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.”&lt;/i&gt; (Ar-Rum: 47)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Nampak, betapa keberhasilan yang gilang-gemilang dari generasi utama umat ini karena ketaatan, ketundukan, dan ketulusan mereka dalam menetapi perintah Allah dan Rasul-Nya. Mereka adalah generasi yang senantiasa ittiba’ (mengikuti) apa yang dicontohkan Rasulullah. Inilah kunci keberhasilan mereka. Dengan pertolongan Allah, mereka berhasil menguasai dan memimpin di berbagai belahan dunia. Ke sanalah mesti merujuk. Merekalah yang patut untuk diteladani. Bukan mengikuti langkah-langkah yang telah dicanangkan secara sistematik oleh orang-orang kafir, musuh-musuh Islam. Ketika menukil ayat:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.”&lt;/i&gt; (Al-Ma’idah: 55-56)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdillah Al-Imam menyatakan: “Perhatikan, Allah telah menjanjikan kemenangan kepada orang-orang yang beriman atas musuh-musuh Allah setelah menyebutkan kaidah (prinsip) keimanan, yaitu sikap wala’ (loyalitas) yang kokoh kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman. Sikap wala’ (loyalitas) ini diiringi pula dengan sikap berlepas diri secara total dari musuh-musuh (Allah).” (Tanwir Azh-Zhulumat, hal. 49)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Maka, apa yang akan terjadi jika perjuangan menegakkan Islam tanpa mengindahkan prinsip-prinsip keimanan? Bahkan prinsip-prinsip tersebut dinjak-injak dan dicampakkan demi meraup suara pada pemilu. Wallahul Musta’an.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Bila ditelaah secara cermat, sejauh mana kerusakan yang ditimbulkan akibat mengikuti sistem demokrasi ini, bagaimana sikap para aktivis partai “Islam” setelah mereka berkubang di lumpur demokrasi, maka sudah bukan satu hal yang asing bila terdengar lontaran-lontaran pemikiran aneh dan ganjil dari para politisi partai “Islam”. Dari sekian banyak “Islam”, ada partai “Islam” yang memimpikan keadilan dan kesejahteraan masyarakat, menggeser haluan perjuangan partainya. Menjelang Pemilu 1999 misalnya, Dewan Syariah partai “Islam” ini, selaku lembaga yang bertugas membuat putusan agama untuk anggota dan simpatisan partai, mengeluarkan seruan kepada kader dan pendukungnya agar tak terjebak dalam kesibukan mencari pemilih. Sebab, partai ini didirikan bukan untuk mengejar kekuasaan, tapi guna kepentingan dakwah. Jelang Pemilu 2004, Dewan Syariah partai “Islam” ini mengeluarkan seruan, yang terpenting dilakukan aktivis kader partainya adalah mengajak orang sebanyak-banyaknya memilih partai “Islam” ini. Soal dakwah urusan kemudian. Partai “Islam” ini pun mengalami perubahan dari sebuah partai idealis menjadi pragmatis. Tak heran, bila kemudian muncul pernyataan dari Wakil Sekjen Partai tersebut, bahwa partainya siap menerima anggota non-muslim untuk dijadikan anggota DPR dari partai “Islam”-nya. Bahkan, dikatakannya, bahwa partainya siap berkoalisi dengan partai apapun dan lembaga manapun. Menghadapi Pemilu 2009 ini, Sekjen partai “Islam” ini, saat acara temu muka Tim Delapan partai “Islam” ini dengan sejumlah tokoh non-muslim Makassar, menyatakan bahwa untuk memenuhi target suara 20% dalam Pemilu 2009, partai “Islam” ini berhasrat merangkul semua suku maupun agama. Begitulah pergeseran perilaku politik partai yang didirikan para aktivis bercorak pemahaman Ikhwanul Muslimin.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pergeseran perilaku politik telah mengubah sikap beragama. Idealisme memperjuangkan tegaknya syariat Islam, luntur tercelup kepentingan-kepentingan sesaat. Adagium (pepatah) dalam politik: “Tidak ada lawan atau kawan abadi, yang ada adalah kepentingan abadi” benar-benar diterapkan. Menukil pernyataan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdillah Al-Imam, satu dari sekian banyak kerusakan mengikuti pemilu yaitu tamyi’ al-wala’ wal bara’ (lunturnya sikap loyalitas terhadap al-haq dan ahlul haq, serta berlepas diri dari kebatilan dan pengusungnya). (Lihat Tanwir Azh-Zhulumat hal. 49)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Seorang kafir akan dijadikan teman seiring dalam perjuangan karena menunjukkan sikap loyalitas terhadap partai. Sedangkan seorang muslim yang taat, karena ketaatannya kepada syariat Allah, ia tidak dihiraukannya. Bahkan, bisa jadi seorang muslim tadi disikapi sebagai lawan dengan tingkat permusuhan yang tajam lantaran mengkritisi cara perjuangan berpartai. Padahal Allah berfirman:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.”&lt;/i&gt; (Al-Ma’idah: 55-56)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Firman-Nya:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.”&lt;/i&gt; (Al-Fath: 29)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Selain itu, seseorang, partai atau jamaah yang terjerembab ke dalam kubangan lumpur demokrasi, maka jerat-jerat aturan perundangan akan mengikatnya. Dia harus tunduk dengan segala perundangan yang ada walau perundangan tersebut menyelisihi syariat. Peraturan yang mengharuskan setiap partai mengajukan calon legislatif dengan komposisi (keterwakilan) 30% harus wanita, tentu bukan semata aturan untuk partai peserta pemilu. Peraturan ini harus dilihat pula sebagai bentuk kemenangan para pejuang emansipasi wanita. Sedangkan agenda tersembunyi dari program emansipasi yaitu merobek hijab muslimah dan mengeluarkan kaum muslimah dari tradisi Islam. Bila kaum muslimah sudah duduk di kursi legislatif, maka koyaklah hijab mereka. Mereka akan bercampur dengan laki-laki yang bukan mahram, mendedahkan aurat, bebas berpandangan antarlawan jenis dan keluar rumah dengan sebab yang bukan darurat. Tak cuma itu, akibat mengikuti sistem demokrasi, maka saat kampanye berlangsung, para wanita turut membaur di antara peserta kampanye laki-laki. Di manakah letak pengamalan terhadap syariat? Padahal Allah telah berfirman:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah yang dahulu.”&lt;/i&gt; (Al-Ahzab: 33)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Allah berfirman:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;“Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya’.” &lt;/i&gt;(An-Nur: 31)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pemilihan terhadap wanita untuk menduduki jabatan yang memiliki tanggung jawab dalam kepemimpinan umat, masuk dalam kategori hadits Abu Bakrah :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمُ امْرَأَةً&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;“Tidak akan beruntung satu kaum (bangsa) yang menyerahkan kepemimpinannya kepada seorang wanita.” &lt;/i&gt;(HR. Al-Bukhari no. 4425)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Apa yang dilakukan partai-partai “Islam” kala Megawati dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) maju mencalonkan diri menjadi Presiden? Partai-partai “Islam” nyaring menyuarakan penentangannya. Menjelang Pemilu 1999 kala itu diwarnai persaingan antara kalangan Islam dengan nasionalis sekuler. Partai-partai “Islam” berupaya menjegal Megawati untuk duduk di kursi RI-1. Mereka menggunakan banyak cara, termasuk mencari justifikasi (pembenaran) dari agama bahwa Islam melarang wanita menjadi kepala negara.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setelah melebur dalam ‘poros tengah’, partai-partai “Islam” mengusung nama Gus Dur untuk dicalonkan menjadi Presiden. Upaya ‘poros tengah’ berhasil. Gus Dur menduduki kursi presiden. Namun, kala kinerja Gus Dur morat-marit, ‘poros tengah’ yang didukung partai-partai “Islam” menarik dukungannya kepada Gus Dur. Akhirnya, Gus Dur makzul, lengser dari kursi presiden. Penggantinya adalah Megawati. Posisi Megawati menguat karena mendapat dukungan partai-partai “Islam”.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dulu, partai-partai “Islam” sekuat tenaga menjegal Megawati jadi presiden, tapi setelah itu berbalik mendukungnya. Dalil agama yang melarang wanita jadi kepala negara pun sirna. Tak terdengar lagi gaungnya. Nyata, pernyataan boleh tidaknya wanita jadi kepala negara hanya retorika politik. Para politisi, termasuk dari partai-partai “Islam”, telah melakukan politisasi agama guna memperoleh dukungan kalangan Islam. Agama akan dijunjung sedemikian rupa manakala menguntungkan para politisi atau partai. Namun ketika agama tidak bisa atau menghambat perolehan suara atau kedudukan partai dan politisi, maka agama itu pun dicampakkan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kasus yang nyaris sama terjadi pada sebuah partai “Islam”. Partai satu ini pernah dituding sebagai partai anti tahlilan dan yasinan. Melihat latar belakang pendidikan keagamaan para kader partai “Islam” ini, tudingan seperti itu tidak bisa secara mutlak disalahkan. Artinya, kalau para kader partai “Islam” ini mau jujur, praktik acara tahlilan dan yasinan bukan merupakan tradisi keagamaan yang dianut dan diyakini para kader partai “Islam” ini sebagai sesuatu yang benar. Tahlilan dan yasinan bukan materi yang diajarkan kepada kader-kader partai “Islam” ini di halaqah-halaqah tarbiyah mereka. Bahkan, kalau mereka mau jujur, justru ritual tahlilan dan yasinan dinilai (oleh para kader partai “Islam” ini) sebagai bid’ah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Masalahnya, mengapa tudingan sebagai partai anti tahlilan dan yasinan dibantah? Jawaban untuk pertanyaan ini harus kembali kepada kebijakan petinggi partai. Sebagaimana seruan Dewan Syariah Partai, yang terpenting dilakukan kader adalah mengajak orang pilih partai “Islam” ini. Adapun dakwah, bisa dilakukan setelah itu. Target untuk menggapai perolehan suara sebanyak-banyaknya telah melunturkan idealisme keagamaan. Orientasi kekuasaan telah menjadikan lidah para kader kelu untuk menyuarakan kebenaran yang telah diyakininya. Bahkan yang ekstrem, untuk memupus partai “Islam” ini sebagai partai anti tahlilan dan yasinan, Ketua Majelis Syura sering memimpin tahlilan, yasinan, dan menghadiri peringatan Maulid Nabi. Ini disampaikan di hadapan para kader partai yang salah satu unsur lambangnya dua bulan sabit mengapit padi tersebut saat Mukernas 2008 di Makassar.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Allah menyebut karakteristik umat yang kelak memperoleh kemenangan dan kejayaan, di antaranya menegakkan amar ma’ruf dan mencegah kemungkaran. Firman-Nya:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali ‘Imran: 104)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Rasulullah memerintahkan pula untuk menghapus kemungkaran. Kata Abu Sa’id Al-Khudri, “Saya telah mendengar Rasulullah bersabda:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإْنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيْمَانِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;“Barangsiapa melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangannya. Bila tidak mampu, (ubahlah) dengan lisannya. Bila tidak mampu, dengan hatinya. Yang demikian itu selemah-lemah iman.”&lt;/i&gt; (HR. Muslim no. 49)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Rasulullah memerintahkan pula untuk berkata yang baik. Bila tak bisa, diam. Bukan lantas membuat pernyataan-pernyataan politis yang menghasung umat terjatuh pada praktik-praktik bid’ah. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Rasulullah, beliau bersabda:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berbicaralah yang baik atau diam.”&lt;/i&gt; (HR. Muslim no. 34)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Demokrasi telah menggiring umat untuk terpaku pada perolehan suara, sementara ketentuan syariat ditanggalkan. Patutkah yang demikian ini dikategorikan memperjuangkan Islam dan kaum muslimin? Wallahu a’lam.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;Ditulis oleh: Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;Majalah AsySyariah Edisi 049&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanajadeh.blogspot.com/feeds/4739727599211658421/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hanajadeh.blogspot.com/2014/04/demi-suara-apapun-dilakukan.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1142211349625914890/posts/default/4739727599211658421'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1142211349625914890/posts/default/4739727599211658421'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanajadeh.blogspot.com/2014/04/demi-suara-apapun-dilakukan.html' title='Demi Suara Apapun Dilakukan'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14590274822924929950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi44EEjDMUx_fR8mcQqyqkxMfIm3MclcaNsGmSHEi_AydEqCtVwWGw0LVI6OViZCFv4WkJ_aXoQMo45k3W7h_2LyWcPqNOGlovBDspnXBNyd_w5669II_Sv9LtWQzPjNtqhZuEOodSNewjf/s72-c/riau24_v6yd4_626.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1142211349625914890.post-3597518470536884826</id><published>2014-03-29T19:10:00.000+07:00</published><updated>2014-03-29T19:10:35.377+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Fatwa"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Wanita"/><title type='text'>Da’i Wanita Memberikan Taklim kepada para Wanita di Masjid</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgwd4gjC_ggWJhLvhSSWoa2iYkcI7VrZdX5VM_F76T0fERlF9VlDUW2hoGp0X7FhOmDYFtzyxSzgD-BecwHm9nj4W-q7TvA_voXjTzfAnqzgcYBjuRfEIaBfAVPTghsP3f2Mvr-oUzTooH1/s1600/mentoring1.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgwd4gjC_ggWJhLvhSSWoa2iYkcI7VrZdX5VM_F76T0fERlF9VlDUW2hoGp0X7FhOmDYFtzyxSzgD-BecwHm9nj4W-q7TvA_voXjTzfAnqzgcYBjuRfEIaBfAVPTghsP3f2Mvr-oUzTooH1/s1600/mentoring1.jpg&quot; height=&quot;157&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Tanya: Bolehkah seorang wanita (da’iyah) memberikan pengajaran dan nasihat agama atau yang berhubungan dengan ilmu agama khusus untuk para wanita di masjid-masjid, sebagaimana hal ini biasa dilakukan oleh para da’i (laki-laki)?&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Jawab:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Permasalahan semacam ini terjawab dengan penjelasan yang diberikan oleh Al-Imam Al-Albani t terhadap peristiwa yang terjadi di Damaskus.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Beliau berkata, “Adapun yang marak belakangan ini di sini, di Damaskus, yakni datangnya para wanita ke masjid-masjid pada waktu-waktu tertentu untuk mendengarkan pelajaran dari salah seorang mereka, yang mereka sebut da’iyah maka hal ini termasuk perkara muhdatsah (bid`ah) yang belum pernah ada di masa Nabi, tidak pula di masa as-salafus shalih. Yang ada di masa-masa tersebut, para ulama yang shalih yang memberikan pengajaran (taklim) kepada mereka di tempat yang khusus sebagaimana tampak dalam hadits ini2. Atau para wanita itu ikut dalam pelajaran yang diberikan untuk para lelaki dalam keadaan terpisah dari para lelaki di dalam masjid, apabila hal itu memungkinkan. Karena biasanya para lelaki akan mendominasi majelis, sehingga para wanita tidak bisa mendengarkan ilmu dengan nyaman dan tidak dapat bertanya tentang ilmu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Apabila pada hari ini didapatkan di kalangan wanita ada yang bisa memberikan suatu ilmu dan fiqih yang lurus, yang diambil dari Al-Qur`an dan As-Sunnah, tentunya tidak apa-apa si wanita ini mengadakan majelis khusus untuk para wanita di rumahnya sendiri atau di rumah salah seorang dari mereka. Bahkan taklim di rumah seperti ini lebih baik bagi mereka. Bagaimana tidak, sementara Nabi bersabda tentang shalat berjamaah di masjid bagi para wanita:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;وَبُيُوْتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Dan rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka.”3&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Bila dalam ibadah shalat perkaranya demikian (lebih baik di rumah daripada di masjid, pent.), lalu bagaimana pengajaran ilmu di rumah-rumah tidak dianggap lebih utama bagi mereka (daripada di masjid)? Terlebih lagi sebagian mereka biasa mengangkat suara (bersuara keras). Terkadang temannya juga ikut angkat suara. Terdengarnya suara mereka di masjid tentunya hal yang jelek dan tercela. Dengan sangat disesalkan, hal ini termasuk yang biasa kami dengar dan kami saksikan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kemudian kami melihat bid’ah ini juga sampai ke negeri-negeri lain seperti ‘Umman. Kami mohon kepada Allah keselamatan dari setiap bid’ah muhdatsah (perkara agama yang diada-adakan). (Ash-Shahihah, 6/401)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;hr style=&quot;text-align: justify;&quot; /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Catatan Kaki:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2) Yang beliau maksudkan adalah hadits Abu Hurairah berikut ini:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;جَاءَ نِسْوَةٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ n فَقُلْنَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَا نَقْدِرُ عَلَيْكَ فِي مَجْلِسِكَ مِنَ الرِّجَالِ، فَوَاعِدْنَا مِنْكَ يَوْمًا نَأْتِيْكَ فِيْهِ. قَالَ: مَوْعِدُكُنَّ بَيْتَ فُلاَنٍ. وَأَتَاهُنَّ فِي ذَلِكَ الْيَوْمَ وَلِذَلِكَ الْمَوْعِدِ. قَالَ: فَكَانَ مِمَّا قَالَ لَهُنَّ، يَعْنِي: مَا مِنِ امْرَأَةٍ تُقَدِّمُ ثَلاَثًا مِنَ الْوَلَدِ تَحْتَسِبُهُنَّ إِلاَّ دَخَلَتِ الْجَنَّةَ. فَقَالَتِ امْرَأَةٌ مِنْهُنَّ: أَوِ اثْنَانِ؟ قَالَ: أَوِ اثْنَانِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Datang para wanita kepada Rasulullah. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, kami tidak mampu mendatangi majelismu karena dipenuhi dengan para lelaki. Maka berikanlah waktumu sehari saja untuk kami yang nantinya kami akan mendatangimu guna mendapatkan pengajaranmu.” Beliau menanggapi, “Janji pertemuan dengan kalian adalah di rumah si Fulan.” Beliau lalu mendatangi mereka pada hari tersebut dan untuk janji tersebut. Di antara yang beliau ucapkan kepada mereka adalah, “Tidak ada seorang wanita pun yang tiga putranya mendahuluinya (meninggal dunia) dalam keadaan ia mengharapkan pahala atas musibah tersebut melainkan ia akan masuk surga.” Salah seorang dari wanita yang hadir bertanya, “Bagaimana kalau yang meninggal dua anak?” Beliau menjawab, “Ya, dua juga.” (HR. Ahmad 2/246, kata Asy-Syaikh Al-Albani, “Ini sanadnya shahih di atas syarat Muslim”, lihat Ash-Shahihah, hadits no. 2680)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Al-Imam Al-Albani menyebutkan beberapa faedah dari hadits di atas. Di antaranya:&lt;/div&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Hadits ini menunjukkan keutamaan wanita shahabiyah dan menunjukkan semangat mereka untuk mempelajari perkara-perkara agama mereka.&lt;/li&gt;
&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Hadits ini menunjukkan bolehnya wanita bertanya tentang perkara agama mereka dan mereka boleh berbicara dengan lelaki untuk bertanya tentang agama, serta dalam perkara yang memang mereka butuhkan.&lt;/li&gt;
&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bolehnya mengadakan janji pertemuan (waktu khusus) untuk taklim. Al-Imam Al-Bukhari memberi judul untuk hadits ini dengan: “Apakah boleh menetapkan waktu tertentu untuk memberikan pengajaran ilmu kepada para wanita?”&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
3) Untuk mereka shalat di dalamnya, daripada mereka datang ke masjid untuk menghadiri shalat berjamaah. (–pent)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;Sumber : &lt;i&gt;Majalah AsySyariah Edisi 042&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanajadeh.blogspot.com/feeds/3597518470536884826/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hanajadeh.blogspot.com/2014/03/dai-wanita-memberikan-taklim-kepada.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1142211349625914890/posts/default/3597518470536884826'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1142211349625914890/posts/default/3597518470536884826'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanajadeh.blogspot.com/2014/03/dai-wanita-memberikan-taklim-kepada.html' title='Da’i Wanita Memberikan Taklim kepada para Wanita di Masjid'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14590274822924929950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgwd4gjC_ggWJhLvhSSWoa2iYkcI7VrZdX5VM_F76T0fERlF9VlDUW2hoGp0X7FhOmDYFtzyxSzgD-BecwHm9nj4W-q7TvA_voXjTzfAnqzgcYBjuRfEIaBfAVPTghsP3f2Mvr-oUzTooH1/s72-c/mentoring1.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1142211349625914890.post-409095573015124718</id><published>2014-02-28T18:05:00.000+07:00</published><updated>2014-02-28T18:05:54.447+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Fatwa"/><title type='text'>Bunuh Diri, Benarkah Mati Sebelum Waktunya...?</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgWIB9wwnBiuuD1PDRFv_R32kDKy36iJ5e_Zc9qFIGGi7Ki2awQ-4lS7GE8yKCMBjf_85PQOVIgmCyIRL3jmUvKeL0Tx-TM8wpyT3uNnrE6qcOYuL6yyyLGlCW9GMKQtx6nuuCxKFl9IKph/s1600/gantung-diri-kartun.gif&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgWIB9wwnBiuuD1PDRFv_R32kDKy36iJ5e_Zc9qFIGGi7Ki2awQ-4lS7GE8yKCMBjf_85PQOVIgmCyIRL3jmUvKeL0Tx-TM8wpyT3uNnrE6qcOYuL6yyyLGlCW9GMKQtx6nuuCxKFl9IKph/s1600/gantung-diri-kartun.gif&quot; height=&quot;284&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Katanya mati bunuh diri itu mati sebelum waktunya dan bukan karena Allah, lalu apakah berarti yang mencabut nyawa bukan malaikat Izrail?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dijawab oleh Al-Ustadz As-Sarbini Al-Makassari:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Anggapan bahwa orang yang mati bunuh diri mati sebelum waktunya dan bukan karena Allah adalah aqidah yang batil. Ini adalah aqidah kaum Mu’tazilah yang sesat, yang mengingkari takdir Allah. Oleh karena itu, mereka mengatakan bahwa orang yang mati terbunuh atau bunuh diri, adalah mati sebelum ajal yang diketahui, dikehendaki dan ditetapkan dalam Kitab Lauhul Mahfuzh oleh Allah. Artinya mati di luar takdir Allah. Kalau seandainya dia tidak terbunuh atau bunuh diri, dia akan hidup hingga ajal yang ditakdirkan oleh Allah. Jadi menurut mereka, orang yang mati terbunuh punya dua ajal.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Yang benar menurut aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang sesuai dengan dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah serta ijma’ salaf, bahwa orang yang mati terbunuh atau bunuh diri adalah mati sesuai ajal yang ditakdirkan oleh Allah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Orang yang mati terbunuh sama halnya dengan orang mati lainnya. Tidak ada seorang pun yang mati sebelum ajalnya, dan tidak ada seorang pun yang kematiannya mundur dari ajalnya. Sebab ajal setiap sesuatu adalah batas akhir umurnya, dan umurnya adalah jangka waktu kehidupannya (di dunia). Jadi umur adalah jangka waktu kehidupan (di dunia) dan ajal adalah berakhirnya batas umur/kehidupan.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Syaikhul Islam juga berkata: “Allah Maha Mengetahui segala sesuatu sebelum terjadinya dan Allah telah menulisnya. Jadi Allah telah mengetahui bahwa orang ini akan mati dengan sebab penyakit perut, radang selaput dada, tertimpa reruntuhan, tenggelam dalam air, atau sebab-sebab lainnya. Demikian pula, Allah telah mengetahui bahwa orang ini akan mati terbunuh, apakah dengan pedang, batu, atau dengan sebab-sebab lain yang menjadikan terbunuhnya seseorang.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Jadi Allah yang menakdirkan kematiannya dengan sebab itu. Allah berfirman:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Tidaklah suatu jiwa akan meninggal kecuali dengan seizin Allah (takdir Allah), Allah telah menulis ajal kematian setiap jiwa.” (Ali ‘Imran: 145)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
As-Sa’di menafsirkan ayat ini dengan berkata: “Kemudian Allah mengabarkan bahwa seluruh jiwa tergantung ajalnya dengan izin Allah, takdir dan ketetapan-Nya. Siapa saja yang Allah tetapkan kematian atasnya dengan takdir-Nya, niscaya dia akan mati meskipun tanpa sebab. Sebaliknya, siapa saja yang dikehendaki-Nya tetap hidup, maka meskipun seluruh sebab yang ada telah mengenainya, hal itu tidak akan memudharatkannya sebelum ajalnya tiba. Karena Allah telah menetapkan, menakdirkan dan menulis hidupnya hingga ajal yang ditentukan. Allah berfirman:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Maka jika ajal mereka telah datang mereka tidak mampu mengundurkannya sesaat pun dan mereka tidak mampu memajukannya (sesaat pun).” (Al-A’raf: 34)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sebaliknya, kaum yang menafikan dan menolak adanya sebab-musabab dalam terjadinya sesuatu yang ditakdirkan oleh Allah mengatakan bahwa seandainya dia tidak terbunuh, maka dia tetap akan mati saat itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Maka hal ini juga batil, dan dibantah oleh Ibnu Taimiyah dengan mengatakan: “Kalau seandainya Allah mengetahui bahwa orang tersebut tidak akan mati terbunuh, maka ada kemungkinan Allah menakdirkan kematiannya pada saat itu dan ada kemungkinan Allah menakdirkan tetap hidupnya dia hingga waktu yang akan datang. Maka penetapan salah satu dari dua kemungkinan tersebut atas takdir yang belum terjadi adalah kejahilan. Hal ini seperti perkataan seseorang: ‘Kalau orang ini tidak makan rezeki yang ditakdirkan Allah untuknya, maka mungkin saja dia akan mati atau dia diberi rezeki yang lain’.” (Majmu’ Al-Fatawa [8/303-304] cet. Darul Wafa’, Syarhu Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah karya Ibnu Abil ‘Izz hal. 143, cet. Al-Maktab Al-Islami, Taisir Al-Karim Ar-Rahman)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Yang mencabut nyawa orang yang mati bunuh diri juga malaikat pencabut nyawa, yaitu Malakul Maut. Adapun penamaan malaikat Izrail, maka penamaan ini tidak tsabit (shahih) dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Oleh karena itu, penamaan ini diingkari oleh para ulama. Al-Imam Al-Muhaddits Al-Albani dalam Syarhu wa Ta’liq Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah (hal. 84, cet. Maktabah Al-Ma’arif) ketika menjelaskan perkataan Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi : “Kita juga beriman dengan Malakul Maut yang diperwakilkan untuk mencabut ruh-ruh alam.” Al-Albani berkata dalam syarahnya: ”Inilah namanya dalam Al-Qur’an. Adapun penamaan Izrail sebagaimana yang tersebar di kalangan manusia, tidak ada dalil (dasar)nya. Hanyalah sesungguhnya hal itu berasal dari cerita Al-Isra’iliyat (cerita Bani Isra’il).”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Al-Imam Al-Faqih Al-‘Utsaimin berkata dalam Syarhu Al-Aqidah Al-Wasitiyyah (hal. 46, cet. Daruts Tsurayyah lin Nasyr): “Demikian pula kita mengetahui bahwa di antara para malaikat ada yang diperwakilkan untuk mencabut ruh-ruh Bani Adam atau ruh-ruh setiap makhluk yang bernyawa. Mereka adalah Malakul Maut dan rekan-rekan malaikat yang membantunya. Malakul Maut tidak bernama Izrail, karena penamaan tersebut tidak tsabit (tetap) dari Nabi.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Wallahu a’lam.&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanajadeh.blogspot.com/feeds/409095573015124718/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hanajadeh.blogspot.com/2014/02/bunuh-diri-benarkah-mati-sebelum.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1142211349625914890/posts/default/409095573015124718'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1142211349625914890/posts/default/409095573015124718'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanajadeh.blogspot.com/2014/02/bunuh-diri-benarkah-mati-sebelum.html' title='Bunuh Diri, Benarkah Mati Sebelum Waktunya...?'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14590274822924929950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgWIB9wwnBiuuD1PDRFv_R32kDKy36iJ5e_Zc9qFIGGi7Ki2awQ-4lS7GE8yKCMBjf_85PQOVIgmCyIRL3jmUvKeL0Tx-TM8wpyT3uNnrE6qcOYuL6yyyLGlCW9GMKQtx6nuuCxKFl9IKph/s72-c/gantung-diri-kartun.gif" height="72" width="72"/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1142211349625914890.post-6083412511295157413</id><published>2013-12-30T22:51:00.001+07:00</published><updated>2013-12-30T22:52:45.130+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Software"/><title type='text'>Download Matrix Screen Locker 1.44 (Pengunci Layar Dekstop)</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEipMT1Rgg3oRqA3_5x7q1345Wy18PUj-HjKMGfBElQvpoX9Hn8gYYANVAN7yIzMEIQCj6k74DM-pfLLwiytbRiwqAk7U19lEwf_aijVH359dT-WU7OmqpOXa6H4kk0wtf8owevxaS6ueSom/s1600/2013-12-30_222555.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEipMT1Rgg3oRqA3_5x7q1345Wy18PUj-HjKMGfBElQvpoX9Hn8gYYANVAN7yIzMEIQCj6k74DM-pfLLwiytbRiwqAk7U19lEwf_aijVH359dT-WU7OmqpOXa6H4kk0wtf8owevxaS6ueSom/s1600/2013-12-30_222555.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sudah lama tidak meng-update blog ini, dikarenakan kesibukan di dunia nyata yang tidak bisa dihindari. Malam ini saya menyempatkan diri untuk membuat satu postingan diakhir tahun 2013 yang mudah-mudahan bisa bermanfaat buat kita semuanya. Langsung aja ke topik postingan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Saat PC/Laptop kita tinggal sebentar untuk mengambil sesuatu/ada keperluan, dan membiarkannya begitu saja. Dan pada saat kita kembali ternyata sudah ada yang mengotak-atikkan PC/Laptop kita, mungkin bisa jadi ulahnya adik, kakak ataupu temen yang jail. Dan yang lebih parahnya ada yang ngerjain PC/Laptop kita. Mungkin diantara teman-teman pernah mengalami hal ini. Tapi sekarang kita tidak perlu khawatir lagi, dengan adanya aplikasi kecil dan ringan ini, kita bisa mengatasi hal itu. Sesuai dengan judulnya, aplikasi ini tergolong ke dalam freeware, jadi bisa digunakan secara gratis tanpa registrasi terlebih dahulu. Jadi, aplikasi ini mempunyai fungsi sebagai pengunci layar dekstop PC/Laptop. Ketika aplikasi ini dijalankan layar dekstop akan layar matrix tanpa mengganggu aktivitas lain yang sedang anda lakukan di PC/Laptop. Layar dekstop anda akan aman dari gangguan tangan-tangan jahil karena untuk menghilangkan layar matrix, anda akan diminta memasukkan kata kunci (password), dan tentunya kat kuncinya harus anda ingat, karena anda memilihnya. Ntah lah, ntah apa-apa yang saya tulis. maaf ya? jika belepotan dan kurang dimengerti. Tanpa banyak cakap lagi. Kalau memang ingin lebih mengerti dicoba aja sendiri. Yang belum punya aplikasinya,&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Silahkan di download aplikasi melalui salah satu link di bawah ini, yang kiranya lebih mudah untuk anda :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://www.mediafire.com/?x3bc2ics4dcagob&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Mediafire&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;http://www.sharebeast.com/ybqqjyaggaub&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Sharebeast&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;http://up.media1fire.com/kmyskimjbxr1&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Media1fire&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;http://www.uploadscenter.com/qad591ktcv1w&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Uploadcenter&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;http://www.4shared.com/rar/Ves6Yk8S/HanajadehblogspotcomMatrix_-_S.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;4shared&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Jika layar matrix screen locker diaktfikan untuk pertama kalinya, anda akan diminta untuk memasukkan password (kata kunci) baru. Saran dari saya jangan panjang-panjang dan yang mudah diingat.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjltjyarmjSVJbcOqJdDa8uTsgx_dl8uuAroOSP20faG3RZnd3xB6d9j6_eV867pXVwmWmTenLURGQpTiBTn5PWCo6zyAFJmpdOhtrbDmbH5utaZSjvG1LmhyBI2MZC6Il84vRVgh_67cbQ/s1600/2013-12-30_215723.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjltjyarmjSVJbcOqJdDa8uTsgx_dl8uuAroOSP20faG3RZnd3xB6d9j6_eV867pXVwmWmTenLURGQpTiBTn5PWCo6zyAFJmpdOhtrbDmbH5utaZSjvG1LmhyBI2MZC6Il84vRVgh_67cbQ/s1600/2013-12-30_215723.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: left;&quot;&gt;
Sampai disini aja ya, postingannya.&lt;/div&gt;
Kalau ada pertanyaan, silahkan ditanya di kolom komentar.&lt;br /&gt;
Terima Kasih sudah berkunjung.&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanajadeh.blogspot.com/feeds/6083412511295157413/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hanajadeh.blogspot.com/2013/12/download-matrix-screen-locker-144.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1142211349625914890/posts/default/6083412511295157413'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1142211349625914890/posts/default/6083412511295157413'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanajadeh.blogspot.com/2013/12/download-matrix-screen-locker-144.html' title='Download Matrix Screen Locker 1.44 (Pengunci Layar Dekstop)'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14590274822924929950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEipMT1Rgg3oRqA3_5x7q1345Wy18PUj-HjKMGfBElQvpoX9Hn8gYYANVAN7yIzMEIQCj6k74DM-pfLLwiytbRiwqAk7U19lEwf_aijVH359dT-WU7OmqpOXa6H4kk0wtf8owevxaS6ueSom/s72-c/2013-12-30_222555.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1142211349625914890.post-5026358103604569927</id><published>2013-10-09T12:07:00.000+07:00</published><updated>2013-10-09T12:07:51.873+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Fatwa"/><title type='text'>Hidup Bersama dengan Pasangan yang Tidak Shalat</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgFCsoTwR1_rQeQpzii2flbcybafIPz2jL0XQ8u_2i1yw2splgBZigBB9HUHx2FECln9WImMZHHt5edym2v9UOC2FCFxCs-XOuYkmq0MQ58pGiGfoYnQpw3dn9HZHPwQ2MOZs0TJXaWxzVk/s1600/483269_430495910356663_160635468_n.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;223&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgFCsoTwR1_rQeQpzii2flbcybafIPz2jL0XQ8u_2i1yw2splgBZigBB9HUHx2FECln9WImMZHHt5edym2v9UOC2FCFxCs-XOuYkmq0MQ58pGiGfoYnQpw3dn9HZHPwQ2MOZs0TJXaWxzVk/s400/483269_430495910356663_160635468_n.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Istri saya tidak menunaikan shalat, puasa, dan kewajiban-kewajiban agama yang lain, demikian pula kewajibannya sebagai istri. Namun saya terus-menerus memberikan pengajaran kepadanya, hanya saja ia tetap tidak mengerjakan shalat lima waktu seluruhnya, bahkan sering meninggalkannya. Ia mengolok-olok saya ketika saya mengajarinya atau menyuruhnya shalat. Lalu apa hukumnya terus hidup bersamanya, sementara sulit untuk menikah dengan wanita lainnya yang shalihah, disebabkan mahar yang mahal dan sungguh ini menjadi penghalang besar dalam pernikahan?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Jawab:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Fadhilatusy Syaikh Shalih ibnu Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah menjawab, “Tidak boleh terus hidup bersama dengan wanita yang demikian sifatnya, ia mengolok-olok shalat, menertawakan orang yang menyuruhnya shalat, dan ia (sendiri) meninggalkan shalat. Wanita seperti itu kafir yang berarti tidak boleh hidup bersamanya, berdasarkan firman Allah :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;“Dan janganlah kalian tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan wanita-wanita kafir.”&lt;/i&gt; (Al-Mumtahanah: 10)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;“Dan janganlah kalian menikahi wanita-wanita musyrik sampai mereka mau beriman. Sesungguhnya budak wanita yang beriman lebih baik daripada wanita musyrik walaupun dia menarik hatimu.”&lt;/i&gt; (Al-Baqarah: 221)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Wanita tersebut kafir selama ia tidak mengerjakan shalat, bahkan mengejek shalat berikut orang yang menyuruhnya shalat. Karenanya, tidak boleh engkau hidup bersamanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Adapun ucapanmu, sulit untuk menikah lagi, maka Allah akan memudahkan hal-hal yang baik. Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah k akan menggantikan yang lebih baik untuknya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kesimpulannya, tidak boleh seorang suami terus hidup bersama dengan istri yang demikian keadaannya, selama ia tidak mau bertaubat kepada Allah dan menjaga shalat. Wanita seperti itu tidak boleh menjadi istri seorang muslim dan tidak boleh seorang muslim terus menahannya dalam ikatan pernikahan.” (Majmu’ Fatawa Fadhilatusy Syaikh Shalih Al Fauzan, 1/337)&lt;br /&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Seorang wanita muslimah menikah dengan seorang lelaki yang sebelumnya tidak dikenalnya. Lelaki itu bekerja di Jerman. Ia meminta kepada ayah si wanita agar memperkenankan dirinya menikahi si wanita. Si wanita itu pun menyetujui pinangan tersebut. Usai pernikahan, si wanita ikut ke Jerman bersama lelaki yang kini telah menjadi suaminya. Setelah hidup berdampingan dengan suaminya, tersingkaplah bagi si istri bahwa suaminya ini tidak mengerjakan shalat dan tidak puasa. Bahkan pernah suaminya memaksanya agar memasakkan makanan untuknya di siang hari Ramadhan. Selain itu si suami terbiasa mengerjakan perbuatan mungkar lainnya. Si istri telah berupaya untuk memperbaiki keadaan suaminya akan tetapi tidak ada pengaruhnya. Itu semua mendorong si istri menuntut cerai dari suaminya dan pada akhirnya terjadilah perceraian. Apakah si wanita itu memang pantas menuntut cerai dari suami yang berperilaku demikian?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kemudian, setelah perceraian si wanita pergi ke Belgia bersama beberapa tetangganya dahulu. Ia bekerja di Belgia untuk menghidupi dirinya dan ayahnya yang fakir. Ia tinggal sendirian bersama satu keluarga di sana. Ia cuma tinggal serumah dengan mereka. Adapun makan dan tidurnya sendirian, tidak bergabung dengan mereka. Keluarga tersebut memberikan kebebasan kepadanya untuk mengamalkan perintah agama berupa shalat, puasa, dan selainnya. Apakah tinggalnya si wanita seorang diri di negeri asing bersama satu keluarga di sana teranggap menyelisihi agama?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Jawab:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Fadhilatusy Syaikh Shalih ibnu Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah menjawab, “Pertama kali, kami bersyukur wahai penanya, dengan berpegangnya engkau terhadap agama ini serta semangatmu untuk melaksanakan syiar-syiar agama ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Adapun pertanyaanmu tentang perceraianmu dengan suami ketika engkau melihat ia tidak berpegang dengan agama, ia tidak mengerjakan shalat dan tidak puasa, maka itu memang wajib engkau lakukan. Engkau tidak boleh terus hidup bersama suami tersebut bila ia tetap demikian keadaannya. Karena, orang yang meninggalkan shalat secara sengaja, ia kafir1, tidak boleh seorang muslimah tetap dalam ikatan pernikahan dengannya. Engkau telah berbuat kebaikan dengan berpisah dari suami yang jelek tersebut dan engkau meninggalkannya karena ingin menyelamatkan agamamu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pertanyaanmu tentang kepergianmu ke Belgia seorang diri dan tinggalmu di sana bersama keluarga yang bukan mahrammu, maka ini tidak boleh.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pertama: Safar seorang wanita tanpa mahram adalah tidak boleh.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kedua: Si wanita tinggal bersama keluarga yang bukan mahramnya dan bersama orang-orang yang bukan mahramnya, ini haram bagi seorang muslimah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Yang aku nasihatkan kepadamu, kembalilah ke negeri asalmu, atau ayahmu pergi menyertaimu bila memang engkau ingin safar ke Belgia atau ke negeri lain. Adapun bila engkau safar sendirian, tinggal sendirian atau bersama satu keluarga yang bukan mahrammu, maka ini perkara yang tidak diakui oleh Islam. Allah k tidak ridha karena wanita itu aurat, dan ia tidak boleh safar tanpa mahram, atau tinggal bersama satu keluarga yang di situ ada laki-laki yang bukan mahramnya, karena hal itu akan menyeret dirinya kepada fitnah, dan orang lain pun akan terfitnah dengannya. Wallahu a’lam. (Majmu’ Fatawa Fadhilatusy Syaikh Shalih Al-Fauzan, 1/337-338)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Times, Times New Roman, serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Times, Times New Roman, serif;&quot;&gt;1 Ulama sepakat tentang kafirnya orang yang menentang kewajiban shalat. Namun, dalam hal hukum orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja, karena malas atau menggampang-gampangkannya, tanpa bermaksud menentang kewajibannya, maka ada perbedaan pendapat di kalangan mereka antara yang mengafirkan dan tidak mengafirkan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: #274e13;&quot;&gt;Sumber: Majalah AsySyariah Edisi 050&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanajadeh.blogspot.com/feeds/5026358103604569927/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hanajadeh.blogspot.com/2013/10/hidup-bersama-dengan-pasangan-yang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1142211349625914890/posts/default/5026358103604569927'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1142211349625914890/posts/default/5026358103604569927'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanajadeh.blogspot.com/2013/10/hidup-bersama-dengan-pasangan-yang.html' title='Hidup Bersama dengan Pasangan yang Tidak Shalat'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14590274822924929950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgFCsoTwR1_rQeQpzii2flbcybafIPz2jL0XQ8u_2i1yw2splgBZigBB9HUHx2FECln9WImMZHHt5edym2v9UOC2FCFxCs-XOuYkmq0MQ58pGiGfoYnQpw3dn9HZHPwQ2MOZs0TJXaWxzVk/s72-c/483269_430495910356663_160635468_n.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1142211349625914890.post-1964052231545407755</id><published>2013-10-01T00:00:00.000+07:00</published><updated>2014-04-02T21:26:45.649+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Islami"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Wanita"/><title type='text'>Wanita yang Meratapi Mayat</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj1Kcv0r6Ezhi91nSX9tVRQb-cwDhLQ5bO0Y8cEcmlBru9QwPwGfHZGl2o-XBjVhWaJf-64PYaUArfVEf1Hol86GfHOgsCJFKcUH8soblXfSawrpRg2qoGAgzKV3uVkwFsW05vO1xzwYJSr/s1600/muslimah-palestine+(1).jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj1Kcv0r6Ezhi91nSX9tVRQb-cwDhLQ5bO0Y8cEcmlBru9QwPwGfHZGl2o-XBjVhWaJf-64PYaUArfVEf1Hol86GfHOgsCJFKcUH8soblXfSawrpRg2qoGAgzKV3uVkwFsW05vO1xzwYJSr/s1600/muslimah-palestine+(1).jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;Bersedih saat mendapat musibah kematian orang yang dicintai merupakan keadaan yang lumrah bagi setiap orang. Yang menjadi masalah adalah ketika kesedihan itu diungkapkan dengan cara yang tidak semestinya, yang menunjukkan ketidaksabaran dalam menerima musibah tersebut. Bagaimana bentuk kesedihan yang dibolehkan saat mendapat musibah kematian orang yang kita cintai? Apakah menangis termasuk bentuk yang dilarang?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;h2&gt;
Dunia Tempat Ujian dan Cobaan&lt;/h2&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sudah menjadi sunnatullah bahwasanya dunia adalah tempat ujian dan cobaan, sehingga datangnya merupakan suatu kepastian. Seorang hamba yang mengaku beriman kepada Allah dan hari akhir mesti bersiap diri menghadapi ujian dan cobaan tersebut, karena seorang hamba tidak dibiarkan dengan pengakuan keimanan dari lisannya sampai datang pembuktian berupa ujian. Dia yang Maha Suci menyatakan dalam Al Qur`an yang agung:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan saja mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka belum diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, agar Allah sungguh-sungguh mengetahui siapa orang-orang yang benar (dalam keimanannya) dan benar-benar mengetahui siapa orang-orang yang dusta.”&lt;/i&gt; (‘Al-Ankabut: 2-3)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ujian dan cobaan yang menghampiri hamba beragam macam dan bentuknya, bisa berupa kekurangan harta, hilangnya jiwa, kelaparan, dan sebagainya. Allah berfirman:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”&lt;/i&gt; (Al-Baqarah: 155)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;h2&gt;
Hikmah Cobaan yang Menimpa Hamba&lt;/h2&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di berkata ketika menafsirkan ayat di atas: “Allah mengabarkan Dia pasti menguji hamba-hamba-Nya agar menjadi jelas orang yang jujur dari orang yang dusta, orang yang berkeluh kesah dari orang yang sabar. Demikianlah sunnatullah kepada hamba-hamba-Nya. Karena kelapangan bila terus-menerus ada pada ahlul iman dan tidak ada ujian serta cobaan bersama kelapangan tersebut, niscaya akan bercampur-baur antara ahlul iman dengan selainnya (tidak dapat dibedakan). Hal ini jelas merupakan kerusakan. Sementara hikmah Allah mengharuskan terpisahnya orang yang baik dari orang yang jelek. Ini merupakan faedah ujian dan cobaan, karena tujuan ujian dan cobaan bukanlah menghilangkan keimanan yang pada kaum mukminin dan bukan pula untuk memurtadkan mereka dari agama mereka. Allah tidaklah menyia-nyiakan iman kaum mukminin. Dia mengabarkan dalam ayat ini bahwa Dia akan menguji hamba-hamba-Nya: “Dengan sedikit ketakutan” dari musuh-musuh mereka, “kelaparan”, yakni sedikit dari rasa takut dan sedikit kelaparan. Karena bila Dia menguji mereka dengan ketakutan seluruhnya atau kelaparan seluruhnya niscaya mereka akan binasa, sementara ujian itu untuk menyaring bukan untuk membinasakan. “Kekurangan harta” meliputi seluruh kekurangan yang menimpa harta berupa bencana yang turun dari langit, tenggelam, hilang, dirampas oleh orang yang zalim dari kalangan raja/penguasa yang zalim dan perampok/pembegal jalanan dan selainnya. “(Kekurangan) jiwa” yakni meninggalnya orang-orang yang dicintai, baik anak-anak, karib kerabat atau sahabat. Temasuk kekurangan jiwa adalah berbagai macam penyakit yang menimpa pada tubuh hamba atau tubuh orang yang dicintainya. “Dan (kekurangan) buah-buahan” berupa biji-bijian, buah kurma, pepohonan seluruhnya, sayur mayur, karena musim dingin yang sangat atau terbakar atau hama yang diturunkan dari langit berupa belalang dan semisalnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Perkara-perkara ini mesti terjadi karena Dzat yang Maha Mengetahui Maha Mengabarkan telah memberitakannya, maka terjadilah sebagaimana diberitakan-Nya. Bila musibah ini terjadi, manusia terbagi dua: orang-orang yang berkeluh kesah dan orang-orang yang sabar. Orang yang berkeluh kesah terjadi pada dirinya dua musibah, yaitu hilangnya apa yang dicintainya karena adanya musibah tersebut dan luput darinya perkara yang lebih besar daripada musibah tersebut yaitu pahala dengan berpegang pada perintah Allah berupa perintah bersabar. Maka dia merugi dengan penyesalan dan terhalang dari pahala ditambah dengan berkurangnya imannya. Terluput dari dirinya kesabaran, keridhaan dan kesyukuran.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Adapun orang yang diberi taufik oleh Allah ketika terjadi musibah, maka ia menahan dirinya dari murka dalam bentuk ucapan dan perbuatan. Dia berharap pahala musibah tersebut di sisi Allah. Dia tahu pahala yang akan diperolehnya dengan kesabarannya lebih besar daripada musibah yang menimpanya. Bahkan musibah menjadi kenikmatan bagi dirinya karena musibah tersebut menjadi jalan untuk memperoleh perkara yang lebih baik baginya dan lebih bermanfaat. Sungguh ia telah berpegang dengan perintah Allah dan beruntung memperoleh pahalanya. Karena itulah Allah berfirman: “ Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Yakni berilah kabar gembira kepada mereka bahwa akan ditunaikan pahala mereka tanpa perhitungan/batasan. Orang-orang yang sabar adalah mereka yang beruntung mendapatkan kabar gembira yang besar ini dan anugerah yang tiada terkira.” (Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 76)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;h2&gt;
Wajib Bersabar ketika Ditimpa Musibah&lt;/h2&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Salah satu ujian/cobaan yang disebutkan dalam ayat Allah di atas adalah hilangnya jiwa atau meninggalnya orang yang dicintai, baik anak, suami, istri, orang tua, karib kerabat atau sahabat yang dekat. Dan ini satu kemestian. Maknanya, seseorang tidak mungkin hidup langgeng selama-lamanya bersama orang-orang yang dicintainya. Bisa jadi dia yang lebih dahulu “meninggalkan” mereka, atau mereka yang “meninggalkan”-nya, karena Allah berfirman:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;“Setiap yang bernyawa mesti akan merasakan mati.” &lt;/i&gt;(Ali ‘Imran: 185)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kewajiban bagi yang ditinggal adalah bertakwa kepada Allah dan bersabar. Anas bin Malik berkata: “Nabi melewati seorang wanita yang sedang menangis di sisi sebuah kuburan. Beliaupun berkata:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Bertakwalah kepada Allah1 dan sabarlah.” Wanita itu menjawab dalam keadaan ia belum mengenali siapa yang menasehatinya: “Biarkan aku karena engkau tidak ditimpa musibah seperti musibahku (tidak merasakan musibah yang aku rasakan –pen.)”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dikatakanlah kepada si wanita: “Yang menasehatimu adalah Nabi.” Wanita itu (terkejut) bergegas mendatangi Nabi dan tidak didapatkannya penjaga pintu di sisi (pintu) Nabi. “Aku tadi tidak mengenalimu”, katanya menyampaikan uzur. Nabi bersabda: “Hanyalah kesabaran itu pada shadmah2 (goncangan) yang pertama.” (HR. Al-Bukhari no. 1283 dan Muslim no. 926)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kesabaran yang dimaksudkan dalam hadits di atas adalah sabar yang sempurna yang membuahkan pahala yang besar karena besar pula kesulitan yang dihadapi. (Syarhu Muslim, 6/227)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Al-Khaththabitberkata: “Maknanya adalah kesabaran yang dipuji pelakunya adalah kesabaran ketika musibah datang tiba-tiba. Beda halnya dengan kesabaran yang ada setelah itu, karena dengan berlalunya hari-hari maka musibah itu akan terlupakan.” (Fathul Bari, 3/185)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Usamah bin Zaid berkata: “Putri Nabi mengirim utusan menemui Nabi untuk mengabarkan bahwa anaknya (yang berarti cucu Nabi –pen.) sedang menjelang ajal dan Nabi dimohon bersedia datang ke rumahnya. Maka Nabi pun mengirim orang untuk menyampaikan salam beliau disertai pesan:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Sesungguhnya milik Allah-lah apa yang diambilnya dan milik-Nyalah apa yang Dia berikan. Dan masing-masing orang di sisi Allah memiliki ajal yang telah ditentukan, maka hendaklah ia bersabar dan mengharap pahala dari Allah.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Putri beliau kembali mengirim orang untuk menemui beliau dan bersumpah agar beliau bersedia datang ke rumahnya. Akhirnya Nabi bangkit menuju rumah putrinya disertai Sa‘d bin Ubadah, Mu‘adz bin Jabal, Ubai bin Ka‘ab, Zaid bin Tsabit dan beberapa orang lainnya. Anak itu lalu diangkat kepada Nabi dalam keadaan napasnya berbunyi tersengal-sengal. Mengalirlah air mata beliau. Melihat hal itu, Sa‘d bertanya: “Wahai Rasulullah, kenapa engkau menangis?3” Beliau menjawab:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Ini adalah kasih sayang dan iba yang Allah berikan di hati-hati para hamba. Allah hanyalah merahmati hamba-hamba-Nya yang punya rasa kasih sayang.” (HR. Al-Bukhari no. 1284 dan Muslim no. 923)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;h2&gt;
Haramnya Niyahah&lt;/h2&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Banyak kita saksikan di masyarakat kita, ketika musibah kematian menimpa suatu keluarga, anggota keluarga yang ditinggalkan khususnya kalangan wanitanya ataupun orang-orang yang dekat dengan si mayit meratapinya, dengan menangis meraung-raung, berteriak-teriak menyebutkan kebaikan orang yang meninggal tersebut, memukul-mukul pipi, merobek baju dan perbuatan jahiliyah semisalnya. Meratapi mayit dengan menangis meraung-raung inilah yang dikenal dengan istilah niyahah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin &amp;nbsp;berkata: “Niyahah ini adalah ratapan yang dilakukan oleh laki-laki dan wanita, akan tetapi hal ini banyak dilakukan oleh wanita.” (Al-Qaulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid, 2/25).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Bahkan di zaman jahiliyah (mungkin juga ada di zaman sekarang), ada di antara wanita yang menjadi tukang ratap bayaran. Ia menyediakan dirinya untuk dipanggil guna meratapi orang yang meninggal. Dan karenanya ia mendapatkan upah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ulama sepakat niyahah ini haram hukumnya (Syarhu Muslim 6/236) bahkan termasuk dosa besar, karena datang nash yang berisi ancaman di akhirat berupa azab bagi pelakunya (Al-Kaba`ir, Al-Imam Adz-Dzahabi, hal. 10).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata: “Dosa niyahah ini tidak akan diampuni kecuali dengan bertaubat. Adapun kebaikan-kebaikan yang dilakukan tidak dapat menghapuskannya, karena niyahah termasuk dosa besar. Sementara dosa besar hanya dihapuskan dengan taubatnya si pelaku.” (Al-Qaulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid, 2/25)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Rasulullah bersabda:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Ada empat hal dari umatku yang termasuk perkara jahiliyah yang mereka tidak meninggalkannya, yaitu berbangga-bangga dengan kebanggaan keluarga, mencela nasab, minta hujan kepada bintang-bintang dan niyahah.” Dan beliau menyatakan: “Wanita yang melakukan niyahah apabila tidak bertaubat sebelum meninggalnya, maka kelak di hari kiamat dia akan diberdirikan dengan memakai pakaian panjang dari ter4 dan pakaian dari kudis.” (HR. Muslim no. 934)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Al-Imam Adz-Dzahabi menyatakan bahwa wanita yang berbuat niyahah mendapatkan azab yang demikian karena ia memerintahkan untuk berkeluh kesah dan melarang dari kesabaran. Sementara Allah dan Rasul-Nya telah memerintahkan untuk bersabar dan mengharap pahala serta melarang dari keluh kesah dan murka ketika datang musibah. (Al-Kaba`ir, hal. 203)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Abdullah bin Mas‘ud berkata: “Nabi bersabda:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Tidak termasuk golongan kami orang yang memukul-mukul pipi (karena meratap ketika ditimpa musibah –pen.), merobek kantung dan menyeru dengan seruan jahiliyah.” (HR. Al-Bukhari no. 1294 dan Muslim no. 103)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Yang dimaksud dengan “menyeru dengan seruan jahiliyah” adalah melakukan niyahah, menyebut-nyebut kebaikan si mayat dan mendoakan kecelakaan menimpa diri. Demikian kata Al-Imam An-Nawawi menukil dari Al-Qadhi ‘Iyadh. (Syarhu Shahih Muslim, 2/110)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Abu Musa pernah menderita sakit yang parah hingga ia pingsan dan kepalanya berada di pangkuan salah seorang wanita dari kalangan keluarganya. Maka menjeritlah wanita tersebut, sementara Abu Musa tidak mampu mengucapkan satu katapun kepada si wanita. Tatkala Abu Musa siuman ia berkata:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Aku berlepas diri terhadap apa yang Rasulullah berlepas diri darinya. Sesungguhnya Rasulullah terlepas diri dari wanita yang meninggikan suaranya (berteriak) ketika terjadi musibah, wanita yang mencukur rambutnya ketika terjadi musibah (untuk berduka, red), dan wanita yang merobek pakaiannya ketika terjadi musibah.” (HR. Al- Bukhari no. 1296 dan Muslim no. 104)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
‘Aisyah mengabarkan: “Tatkala datang berita kematian Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib dan Abdullah bin Rawahah, Nabi duduk dan tampak kesedihan pada diri beliau. Aku melihat hal itu dari celah pintu. Lalu datanglah seseorang menemui beliau dengan membawa kabar: “Wahai Rasulullah, istri dan kerabat wanita Ja’far meratap”, katanya sembari menceritakan bagaimana tangisan mereka. Nabi pun memerintahkan orang itu agar melarang mereka dari berbuat demikian. Orang itu pun pergi untuk menunaikan perintah tersebut. Namun kemudian orang itu kembali lagi dengan berkata: “Demi Allah, sungguh kami tidak mampu mendiamkan mereka.” Nabi berkata:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&quot;Taburkan pasir di mulut-mulut mereka.” (HR. Al-Bukhari no. 1305 dan Muslim no. 935)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam syarahnya terhadap hadits di atas membawakan ucapan Al-Imam Al-Qurthubi berikut ini: “(Adanya perintah Nabi yang demikian –pen.) menunjukkan para wanita itu menangis dengan suara keras, maka ketika mereka tidak berhenti dari perbuatan demikian, beliau memerintahkan agar menyumpal mulut-mulut mereka dengan pasir. Dikhususkan mulut dalam hal ini karena dari mulutlah keluar ratapan tersebut, beda halnya dengan mata misalnya.” (Fathul Bari, 3/207)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Karena haramnya perbuatan niyahah ini maka Rasulullah membai’at para wanita shahabiyah agar tidak melakukannya sebagaimana diceritakan Ummu ‘Athiyyah. Ia berkata:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Nabi mengambil perjanjian dari kami (para wanita) ketika membai’at agar kami tidak melakukan niyahah. Tidak ada seorang wanita pun yang berbai’at ketika itu yang memenuhinya kecuali lima orang yaitu Ummu Sulaim, Ummul ‘Ala`, putri Abu Sabrah istri Mu’adz dan dua wanita lainnya, atau putri Abu Sabrah, istri Mu’adz dan seorang wanita yang lain.”5 (HR. Al-Bukhari no. 1306 dan Muslim no. 936)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;h2&gt;
Niyahah Termasuk Amalan Kekufuran&lt;/h2&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Niyahah termasuk amalan kekufuran karena Rasulullah menggolongkannya ke dalam perbuatan jahiliyah dalam sabdanya:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Ada empat hal dari umatku yang termasuk perkara jahiliyah yang mereka tidak meninggalkannya, yaitu berbangga-bangga dengan kebanggaan keluarga, mencela nasab, minta hujan kepada bintang-bintang dan niyahah.” (HR. Muslim no. 934)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Beliau juga menyatakan:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Ada dua perkara pada manusia yang menyebabkan mereka kufur yaitu mencela nasab dan niyahah terhadap orang yang meninggal.” (HR. Muslim no. 67)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Yang dimaksud dengan kufur di sini adalah kufur ashgar yakni kufur yang tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari agama Islam. (Fathul Majid hal. 424, I‘anatul Mustafid bi Syarhi Kitabit Tauhid, Asy-Syaikh Shalih Fauzan, 2/112)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;h2&gt;
Niyahah akan Menarik Setan&lt;/h2&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ummu Salamah bertutur: “Ketika Abu Salamahzmeninggal, aku berkata: “Dia orang asing dan berada di negeri asing.6 Sungguh-sungguh aku akan menangisinya dengan satu tangisan yang akan diperbincangkan. Maka aku pun telah bersiap-siap untuk menangisinya. Tiba-tiba datang seorang wanita dari ‘Awali Madinah, ia ingin membantuku untuk menangisi Abu Salamah. Lalu datanglah Rasulullah dan berkata:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Apakah engkau ingin memasukkan setan ke rumah yang Allah telah mengeluarkan setan itu darinya?”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Beliau ucapkan hal itu dua kali. Aku menahan diri dari menangis hingga aku pun tidak menangis. (HR. Muslim no. 922)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Boleh Menangisi Mayit&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hadits Usamah bin Zaid cyang telah lewat penyebutannya menunjukkan bolehnya menangisi orang yang meninggal. Dan tidak hanya sekali Rasulullah menangis seperti itu. Ketika putri beliau, Zainab meninggal, beliau menangis di dekat kuburannya. Anas bin Malik berkata:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Kami menghadiri (pemakaman) putri Rasulullah sementara Rasulullah duduk dekat kuburannya. Maka aku melihat air mata beliau mengalir. Beliau bersabda: ‘Adakah salah seorang dari kalian yang tidak menggauli istrinya semalam?’ Abu Thalhah berkata: ‘Saya.’ ‘Turunlah ke dalam kuburnya,’ titah beliau. Maka Abu Thalhah pun turun ke kuburan Zainab dan menguburkannya.” (HR. Al-Bukhari no. 1342)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Demikian pula ketika beliau menyampaikan kepada para shahabatnya berita syahidnya Zaid bin Haritsah, Ja‘far bin Abi Thalib dan Abdullah bin Rawahah g dalam perang Mu‘tah, kedua pelupuk mata beliau basah berlinang air mata. (HR. Al-Bukhari no. 1246)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Semua ini menunjukkan bolehnya menangisi orang yang meninggal, tapi dengan ketentuan tidak dengan suara keras atau tidak disertai dengan perbuatan jahiliyah serta perkataan yang menunjukkan kemarahan dan kemurkaan terhadap apa yang Allah taqdirkan. Rasulullah bersabda ketika meninggalnya putra beliau yang masih balita bernama Ibrahim.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Sungguh air mata ini mengalir dan hati ini bersedih namun kami tidak mengatakan kecuali apa yang diridhai Rabb kami dan sungguh perpisahan denganmu wahai Ibrahim sangatlah menyedihkan kami.” (HR. Al-Bukhari no. 1303 dan Muslim no. 2315)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dan beliau menyatakan:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Sesungguhnya Allah tidak mengazab (seorang hamba) karena tetesan air mata(nya) dan kesedihan hati(nya), akan tetapi Allah mengazab atau merahmati karena ini –beliau mengisyaratkan ke lidahnya.” (HR. Al-Bukhari no. 1304 dan Muslim no. 924)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin menyatakan bahwa menangis yang dibolehkan adalah menangis yang didorong oleh thabi’yah (secara wajar tidak dibuat-buat) bukan karena murka terhadap ketetapan takdir Allah U. Tangisan yang seperti ini tidaklah dicela bila seorang hamba melakukannya. Seperti yang pernah terjadi pada Nabi ketika mendapati cucunya dalam keadaan sakaratul maut, maka beliau menangis karena iba dan kasihan melihat kepayahan anak tersebut ketika menjemput maut. Termasuk pula dalam hal ini menangis karena sedih berpisah dengan orang yang dicintai sebagaimana terjadi pada Nabi ketika meninggal putra beliau yang bernama Ibrahim. (Syarhu Riyadhish Shalihin 4/307-308)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;h2&gt;
Yang Semestinya Dilakukan ketika Terjadi Musibah&lt;/h2&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ketika musibah kematian datang menimpa, seorang hamba wajib untuk bersabar dan mengharapkan pahala dari Allah. Dia ucapkan kalimat istirja’; Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un. Dan berdoa kepada Allah sebagaimana dituntunkan Rasulullah:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Ya Allah, berilah pahala kepadaku dalam musibahku ini dan gantikanlah untukku dengan yang lebih baik dari musibahku ini.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ketika Ummu Salamah ditimpa musibah dengan meninggalnya suaminya, Abu Salamah, ia pun mengucapkan doa ini. Saat masa ‘iddah-nya selesai, Nabi meminangnya dan mempersuntingnya sehingga Ummu Salamah menjadi salah seorang ummahatul mukminin (HR. Muslim no. 918). Allah benar-benar menggantikan untuk Ummu Salamah dengan apa yang lebih baik dari musibah yang menimpanya karena kesabarannya dan keyakinannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Demikianlah… Semoga apa yang tertuang dalam tulisan ini menjadi perhatian bagi para wanita agar mereka meninggalkan niyahah dan perbuatan yang diharamkan lainnya ketika terjadi musibah. Dan sebaliknya, mereka melazimi kesabaran dan berharap pahala dari Rabbul ‘Izzah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Times, Times New Roman, serif;&quot;&gt;1 Al-Imam Al-Qurthubi berkata: “Yang dzahir di sini, tangisan si wanita melebihi perkara yang dibolehkan berupa niyahah dan selainnya. Karena itulah Nabi memerintahkannya untuk bertakwa (kepada Allah).” (Fathul Bari, 3/184)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Times, Times New Roman, serif;&quot;&gt;2 makna asalnya adalah pukulan pada sesuatu yang keras, kemudian digunakan secara majaz pada segala yang dibenci/tidak disukai yang terjadi dengan tiba-tiba. (Syarhu Muslim, 6/227)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Times, Times New Roman, serif;&quot;&gt;3 Sa’d menyangka seluruh macam tangisan (ketika menghadapi musibah kematian –pen.) itu haram, termasuk meneteskan air mata pun haram. Dan Sa’d menyangka Nabi lupa akan hal itu, karenanya ia ingin mengingatkan beliau. Maka Nabi mengajarkan kepada Sa’d bahwa sekedar menangis dan meneteskan air mata tidaklah haram dan tidaklah makruh, bahkan hal itu merupakan rahmat dan keutamaan. Yang diharamkan hanyalah niyahah dan meratap dengan menyebut-nyebut kebaikan si mayit. (Syarhu Muslim, 6/225)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: #274e13; font-family: Georgia, Times New Roman, serif;&quot;&gt;Sumber : Majalah AsySyariah Edisi 016&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanajadeh.blogspot.com/feeds/1964052231545407755/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hanajadeh.blogspot.com/2013/10/wanita-yang-meratapi-mayat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1142211349625914890/posts/default/1964052231545407755'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1142211349625914890/posts/default/1964052231545407755'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanajadeh.blogspot.com/2013/10/wanita-yang-meratapi-mayat.html' title='Wanita yang Meratapi Mayat'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14590274822924929950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj1Kcv0r6Ezhi91nSX9tVRQb-cwDhLQ5bO0Y8cEcmlBru9QwPwGfHZGl2o-XBjVhWaJf-64PYaUArfVEf1Hol86GfHOgsCJFKcUH8soblXfSawrpRg2qoGAgzKV3uVkwFsW05vO1xzwYJSr/s72-c/muslimah-palestine+(1).jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1142211349625914890.post-7441735079369115207</id><published>2013-09-29T01:19:00.003+07:00</published><updated>2013-09-29T01:19:31.206+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Islami"/><title type='text'>Kesurupan dalam Timbangan Islam</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjK6LT23Q0rDtSNzy5fBP5kBgUhRT4E0BVFZvvrUx-4e-U8J811GBbULHOPNAWlWaqOe5NUrPvI68QK99NeM8HmvDAV5FzlyqW0A7hhQ3fdpqySi9ad4M_wLT9kWH1k2cbv96n3ScT03wz-/s1600/images+(2).jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjK6LT23Q0rDtSNzy5fBP5kBgUhRT4E0BVFZvvrUx-4e-U8J811GBbULHOPNAWlWaqOe5NUrPvI68QK99NeM8HmvDAV5FzlyqW0A7hhQ3fdpqySi9ad4M_wLT9kWH1k2cbv96n3ScT03wz-/s1600/images+(2).jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Fenomena kesurupan masih mengundang perdebatan hingga saat ini. Kalangan yang menolak, (lagi-lagi) masih menggunakan alasan klasik yakni “tidak bisa diterima akal”. Semoga, kajian berikut bisa membuka kesadaran kita bahwa syariat Islam sejatinya dibangun di atas dalil, bukan penilaian pribadi atau logika orang per orang.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;b&gt;Muqaddimah&lt;/b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;
&lt;/b&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Peristiwa masuknya jin ke dalam tubuh manusia masih menjadi teka-teki bagi sebagian orang. Peristiwa yang lebih dikenal dengan istilah kesurupan atau kerasukan jin (baca: setan) ini acap kali menjadi polemik di tengah masyarakat kita yang heterogen. Sehingga sekian persepsi bahkan kontroversi sikap pun meruak dan bermunculan ke permukaan. Ada yang membenarkan dan ada pula yang mengingkari. Bahkan ada pula yang menganggapnya sebagai perkara dusta dan termasuk dari kesyirikan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Para pembaca yang mulia, sebagai muslim sejati yang berupaya meniti jejak Rasulullah dan para shahabatnya, tentunya prinsip ‘berpegang teguh dan merujuk kepada Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah dalam berbeda pendapat’ haruslah selalu dikedepankan. Sebagaimana bimbingan Allah dalam kalam-Nya nan suci:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;“Dan berpegang teguhlah kalian semua dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai.” &lt;/i&gt;(Ali ‘Imran: 103)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Al-Imam Al-Qurthubi berkata: “Allah mewajibkan kepada kita agar berpegang teguh dengan Kitab-Nya (Al-Qur`an) dan Sunnah Nabi-Nya, serta merujuk kepada keduanya ketika terjadi perselisihan. Ia (juga) memerintahkan kepada kita agar bersatu di atas Al-Qur`an dan As-Sunnah secara keyakinan dan amalan…” (Tafsir Al-Qurthubi, 4/105)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Demikianlah timbangan adil yang dijunjung tinggi oleh Islam. Berangkat dari sini, maka kami bermaksud menyajikan –di tengah-tengah anda– beberapa sajian ilmiah berupa keterangan atau fatwa dari Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz dan Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin seputar permasalahan kesurupan atau kerasukan jin ini. Dengan harapan, ini bisa menjadi pelita dalam gelapnya permasalahan dan pem-buka bagi cakrawala berpikir kita semua. Amiin ya Rabbal ‘Alamin …&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;b&gt;Penjelasan Asy-Syaikh Abdul Azizbin Abdullah bin Baz&lt;/b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;
&lt;/b&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz berkata:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Segala puji hanyalah milik Allah semata. Shalawat dan salam semoga tercurahkan keharibaan Rasulullah, keluarganya, para shahabatnya, dan orang-orang yang haus akan petunjuknya. Amma ba’du:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pada bulan Sya’ban tahun 1407 H, sejumlah surat kabar lokal dan nasional telah memuat berita –ada yang ringkas dan ada yang detail– tentang masuk Islamnya sejumlah jin di hadapanku di kota Riyadh, yang sedang merasuki tubuh salah seorang wanita muslimah. Sebelumnya, jin tersebut telah mengumumkan keislamannya di hadapan saudara Abdullah bin Musyarraf Al-‘Amri, seorang penduduk kota Riyadh. Setelah dibacakan ayat-ayat Al-Qur`an kepada wanita yang kerasukan itu dan berdialog dengan jin itu serta mengingatkan bahwa perbuatannya itu merupakan dosa besar dan kedzaliman yang diharamkan, saudara Abdullah pun menyuruhnya agar keluar dari tubuh si wanita. Jin itu pun patuh, kemudian menyatakan keislamannya di hadapan saudara Abdullah ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Abdullah dan para wali wanita itu ingin membawa si wanita kepadaku, agar aku turut menyaksikan keislaman jin tersebut. Mereka pun datang kepadaku.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Aku menanyai jin tersebut tentang sebab-sebab dia masuk ke dalam tubuh si wanita. Dia pun menceritakan kepadaku beberapa faktor penyebabnya. Dia berbicara melalui mulut si wanita itu, akan tetapi suaranya adalah suara seorang laki-laki dan bukan suara wanita yang ketika itu sedang duduk di kursi bersama-sama dengan saudara laki-lakinya, saudara perempuan-nya, dan Abdullah bin Musyarraf yang tidak jauh dari tempat dudukku.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sebagian masyayikh (para ulama ) pun menyaksikan kejadian ini dan mendengarkan secara langsung ucapan jin tersebut yang telah menyatakan keislamannya. Dia menjelaskan bahwa asalnya dari India dan beragama Budha. Aku pun menasehatinya dan berwasiat kepadanya agar bertakwa kepada Allah, dan memintanya keluar dari tubuh si wanita serta tidak menzalimi-nya. Dia pun menyambut ajakanku itu seraya mengatakan: “Aku merasa puas dengan agama Islam.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Aku wasiatkan pula kepadanya agar mengajak kaumnya untuk masuk Islam setelah Allah memberinya hidayah. Dia menjanjikan hal itu, lalu ia pun keluar dari tubuh si wanita. Ucapan terakhir yang dia katakan ketika itu: “Assalamu’alaikum”. Setelah itu, barulah si wanita mulai berbicara dengan suara aslinya dan benar-benar merasakan kesembuhan serta kebugaran pada tubuhnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Selang sebulan atau lebih, si wanita ini datang kembali kepadaku bersama dua saudara laki-laki, paman, dan saudarinya. Dia mengabarkan bahwa keadaannya sehat wal afiat dan syukur alhamdulillah jin itu tidak mendatanginya lagi. Aku bertanya kepada wanita tersebut tentang kondisinya saat kemasukan jin. Dia menjawab bahwa saat itu merasa selalu dihantui oleh pikiran-pikiran kotor yang bertentangan dengan syariat. Pikirannya selalu condong kepada agama Budha serta antusias untuk mempelajari buku-buku agama tersebut. Kini, setelah Allah menyelamatkannya dari gangguan jin tersebut, sirnalah berbagai pikiran yang menyimpang itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kemudian sampailah berita kepadaku bahwa Asy-Syaikh ‘Ali Ath-Thanthawi mengingkari peristiwa ini seraya menyatakan bahwa ini adalah penipuan dan kedustaan. Bisa jadi itu rekayasa rekaman yang dibawa oleh si wanita dan bukan dari ucapan jin sama sekali. (Seketika itu juga –pen.), kuminta kaset rekaman tentang dialogku dengan jin tersebut. Setelah kudengarkan secara seksama, aku pun yakin bahwa suara itu adalah suara jin. Sungguh aku sangat heran dengan pernyataan yang dilontarkan Asy-Syaikh ‘Ali Ath-Thanthawi, bahwa itu adalah rekayasa rekaman belaka. Karena aku berulang kali mengajukan pertanyaan kepada jin tersebut dan dia pun selalu menjawabnya. Bagaimana mungkin akal sehat bisa membenarkan adanya sebuah tape/alat rekam yang bisa ditanya dan bisa menjawab?! Sungguh ini merupakan kesalahan fatal dan statement yang sulit untuk diterima.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Asy-Syaikh ‘Ali Ath-Thanthawi juga menyatakan bahwa masuk Islamnya se-orang jin oleh seorang manusia bertentangan dengan firman Allah tentang Nabi Sulaiman :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;“Dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki seorang pun sesudahku.” &lt;/i&gt;(Shad: 35)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tidak diragukan lagi, pernyataan di atas merupakan kesalahan dan pemahaman yang keliru, semoga Allah memberinya hidayah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Masuk Islamnya seorang jin oleh manusia tidaklah menyelisihi doa Nabi Sulaiman (di atas). Karena sungguh telah banyak jin yang masuk Islam (dalam jumlah besar) melalui Nabi Muhammad. Hal ini telah dijelaskan oleh Allah dalam surat Al-Ahqaf dan Al-Jin. Demikian pula telah disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari hadits Abu Hurairah dari Nabi, beliau bersabda:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Sesungguhnya setan telah menam-pakkan diri di hadapanku untuk memutus shalatku. Namun Allah memberikan kekuatan kepadaku untuk menghadapinya (baca: mengalahkannya), sehingga aku dapat mendorongnya dengan kuat. Sungguh, sebenarnya aku ingin mengikatnya di sebuah tiang hingga kalian dapat menontonnya di pagi harinya. Tapi aku teringat akan ucapan saudaraku Nabi Sulaiman : ‘Ya Rabbi, anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki seorang pun sesudahku’. Maka Allah mengusirnya dalam keadaan hina.” Demikianlah lafadz yang diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari. Adapun lafadz Al-Imam Muslim adalah sebagai berikut:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Sesungguhnya ‘Ifrit dari kalangan jin telah menampakkan diri di hadapanku tadi malam untuk memutus shalatku. Namun Allah memberikan kekuatan kepadaku untuk menghadapinya (baca: mengalah-kannya), sehingga aku dapat mendorongnya dengan kuat. Sungguh, sebenarnya aku ingin mengikatnya di salah satu tiang masjid hingga kalian semua dapat menontonnya di pagi harinya. Tapi aku teringat akan ucapan saudaraku Nabi Sulaiman : ‘Ya Rabbi, anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki seorang pun sesudahku’. Maka Allah mengusirnya dalam keadaan hina.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Para pembaca yang budiman, peristiwa masuknya jin ke dalam tubuh manusia hingga membuatnya kesurupan, telah ada keterangannya di dalam Kitabullah (Al-Qur`an), Sunnah Rasulullah, dan ijma’ (kesepakatan) umat ini. Maka tidak bisa dibenarkan bagi orang yang tergolong intelek (berpendidikan) untuk mengingkarinya tanpa berlandaskan ilmu dan petunjuk ilahi. Bahkan karena semata-mata taqlid kepada sebagian ahli bid’ah yang berseberangan dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Wallahul musta’an walaa haula walaa quwwata illa billah. Akan aku sajikan untuk anda –wahai pembaca– beberapa perkataan ahlul ilmi tentang masalah ini, insya Allah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Berikut ini pernyataan para mufassir (ahli tafsir) berkenaan dengan firman Allah :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;“Orang-orang yang makan riba itu tidaklah berdiri (bangkit dari kuburnya) melainkan seperti berdirinya orang yang kerasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila.”&lt;/i&gt; (Al-Baqarah: 275)&lt;/div&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Al-Imam Abu Ja’far Ibnu Jarir Ath-Thabari berkata: “Yang dimaksud dengan ayat tersebut adalah orang yang kesurupan di dunia, yang mana setan merasukinya hingga menjadi gila (rusak akalnya).”&lt;/li&gt;
&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Al-Imam Al-Baghawi berkata tentang makna al-massu: “Yaitu gila/hilang akal. Seseorang disebut (gila/hilang akal) jika dia menjadi gila atau rusak akalnya.”&lt;/li&gt;
&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Al-Imam Ibnu Katsir berkata: “Orang-orang pemakan riba itu tidaklah dibangkitkan dari kubur mereka di hari kiamat melainkan seperti bangkitnya orang yang kesurupan saat setan merasukinya, yaitu berdiri dalam keadaan sempoyongan. Shahabat Abdullah bin ‘Abbas c berkata: ‘Seorang pemakan riba akan dibangkitkan (dari kuburnya) di hari kiamat dalam keadaan gila (rusak akalnya).’ (Diriwayatkan oleh Al-Imam Ibnu Abi Hatim). Seperti itu pula yang diriwayatkannya dari Auf bin Malik, Sa’id bin Jubair, As-Suddi, Rabi’ bin Anas, Qatadah, dan Muqatil bin Hayyan (tentang ayat tersebut).”&lt;/li&gt;
&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Al-Imam Al-Qurthubi berkata: “Di dalam ayat ini terdapat argumen tentang rusaknya pendapat orang yang mengingkari adanya kesurupan jin. Juga argumen tentang rusaknya anggapan bahwa itu hanyalah proses alamiah yang terjadi pada tubuh manusia, serta rusaknya anggapan bahwa setan tidak dapat merasuki tubuh manusia.”&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Perkataan para ahli tafsir yang semak-na dengan ini cukup banyak. Barangsiapa yang mencari, insya Allah akan mendapat-kannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Idhah Ad-Dilalah Fi ‘Umumir Risalah Lits-tsaqalain yang terdapat dalam Majmu’ Fatawa (19/9-65), –setelah berbicara beberapa hal– berkata: “Oleh karena itu, sekelompok orang dari kalangan Mu’tazilah semacam Al-Jubba’i, Abu Bakr Ar-Razi, dan yang semisalnya, mengingkari peristiwa masuknya jin ke dalam tubuh orang yang kesurupan, namun tidak mengingkari adanya jin. Hal itu (menurut mereka) karena dalil dari Rasulullah tentang peristiwa masuknya jin ke dalam tubuh orang yang kesurupan tidak sejelas dalil yang menunjukkan tentang adanya jin, walaupun sesungguhnya (pendapat) mereka itu keliru. Karena itu, Al-Imam Abul Hasan Al-Asy’ari menyebutkan dalam Maqalat Ahlis Sunnah Wal Jama’ah bahwasanya mereka (yakni Ahlus Sunnah) menyatakan: “Sesungguhnya jin itu dapat masuk ke dalam tubuh orang yang kesurupan, sebagaimana firman Allah :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;“Orang-orang yang makan riba itu tidaklah berdiri (bangkit dari kuburnya) melainkan seperti berdirinya orang yang kerasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila.”&lt;/i&gt; (Al-Baqarah: 275)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata: “Aku pernah berkata pada ayahku: ‘Sesungguhnya ada sekelompok orang yang mengatakan bahwa jin itu tidak dapat masuk ke dalam tubuh manusia.’ Maka ayahku berkata: ‘Wahai anakku, mereka itu berdusta. Bahkan jin dapat berbicara melalui mulut orang yang kesurupan.’ Permasalahan ini telah dijelaskan secara panjang lebar pada tempatnya.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawa (24/276-277) juga mengatakan: “Keberadaan jin merupakan perkara yang benar menurut Kitabullah dan Sunnah Rasulullah serta kesepakatan salaful ummah (para pendahulu umat ini) dan para ulamanya. Demikian pula masuknya jin ke dalam tubuh manusia, juga merupakan perkara yang benar sesuai dengan kesepakatan para imam Ahlus Sunnah wal Jamaah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Allah berfirman:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;“Orang-orang yang makan riba itu tidaklah dapat berdiri (bangkit dari kuburnya) melainkan seperti berdirinya orang yang kerasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila.” &lt;/i&gt;(Al-Baqarah: 275)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Di dalam kitab Ash-Shahih dari Nabi, beliau bersabda:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Sesungguhnya setan itu dapat berjalan pada tubuh anak cucu Adam melalui aliran darah.” (HR. Al-Bukhari, Kitab Al-Ahkam no. 7171 dan Muslim, Kitab As-Salam no. 2175)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata: “Aku pernah berkata pada ayahku: ‘Sesungguhnya ada sekelompok orang yang mengatakan bahwa jin itu tidak dapat masuk ke dalam tubuh manusia.’ Maka ayahku berkata: ‘Wahai anakku, mereka itu berdusta. Bahkan jin dapat berbicara melalui mulut orang yang kesurupan.’&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Apa yang Al-Imam Ahmad katakan ini adalah perkara yang masyhur. Sangat mungkin seseorang yang mengalami kesurupan berbicara dengan sesuatu yang tidak dipahaminya. Ketika tubuhnya dipukul dengan keras pun ia tidak merasakannya. Padahal bila pukulan itu ditimpakan kepada unta jantan, niscaya akan kesakitan. Seba-gaimana ia tidak menyadari pula apa yang diucapkannya. Seorang yang kesurupan, terkadang dapat menarik tubuh orang lain yang sehat. Dia juga dapat menarik alas duduk yang didudukinya, serta dapat memindahkan berbagai macam benda dari satu tempat ke tempat yang lain, dsb. Siapa saja yang menyaksikannya, niscaya meya-kini bahwa yang berbicara melalui mulut orang yang kesurupan itu dan yang menggerakkan benda-benda tadi bukanlah diri orang yang kesurupan tersebut. Tidak ada para imam yang mengingkari masuknya jin ke dalam tubuh orang yang kesurupan. Barangsiapa mengklaim bahwa syariat ini telah mendustakan peristiwa tersebut berarti dia telah berdusta atas nama syariat. Dan sesungguhnya tidak ada dalil-dalil syar’i yang menafikannya.”-sekian nukilan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah-&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Al-Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya Zadul Ma’ad Fi Hadyi Khairil ‘Ibad (4/66-69) berkata: “Kesurupan ada dua macam:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1. Kesurupan yang disebabkan oleh gangguan roh jahat yang ada di muka bumi ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2. Kesurupan yang disebabkan oleh gangguan fisik yang amat buruk.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Jenis kedua inilah yang dibahas oleh para dokter, berikut faktor penyebab dan cara pengobatannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Adapun kesurupan yang disebabkan oleh gangguan roh jahat (di antaranya jin/setan, -pen), para pemuka dan ahli kedokteran juga mengakui eksistensinya. Menurut mereka, pengobatannya harus dengan roh-roh yang mulia lagi baik agar dapat melawan roh-roh yang jahat lagi jelek itu. Sehingga dapat mengatasi pengaruh-pengaruh buruknya, bahkan dapat memba-talkan tindak kejahatannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Keyakinan semacam ini telah dinyatakan oleh Buqrath (Hipocrates) dalam beberapa bukunya, berikut beberapa jenis pengobatan untuk kesurupan. Buqrath mengatakan: ‘Pengobatan ini hanya ber-fungsi untuk kesurupan yang disebabkan oleh gangguan fisik dan masuknya zat-zat tertentu ke dalam tubuh. Sedangkan kesurupan yang disebabkan oleh gangguan roh-roh jahat (termasuk jin/setan), maka pengobatan di atas tidaklah bermanfaat.’&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Adapun sebagian dokter yang bodoh dan rendah –terlebih yang mengagungkan paham zandaqah (zindiq/kafir, tidak percaya pada Allah)– mengingkari kesurupan. Mereka juga tidak mengakui adanya efek buruk roh-roh tersebut terhadap tubuh orang yang kesurupan. Mereka sesungguhnya telah dikuasai oleh kebodohan. Sebab menurut ilmu kedokteran sendiri, jenis kesurupan semacam ini benar-benar ada dan tidak ada alasan untuk mengingkarinya. Terlebih bila keberadaannya dapat dibuktikan pula oleh panca indra dan realita.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Berkenaan dengan klaim para dokter tersebut bahwa kesurupan itu diakibatkan oleh gangguan fisik, memang bisa dibenarkan. Namun hal ini berlaku pada sebagian jenis kesurupan saja dan tidak secara keseluruhan.” –Hingga perkataan beliau–: “Kemudian datanglah para dokter dari kalangan zanadiqah yang tidak mengakui adanya kesurupan kecuali yang diakibatkan oleh gangguan fisik saja. Orang yang berakal dan mengetahui (hal ihwal) roh berikut gangguannya, akan tertawa melihat kebodohan dan lemahnya akal mereka (para dokter) itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Untuk mengobati kesurupan jenis ini, perlu memperhatikan dua hal:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1. Berkaitan dengan diri orang yang kesurupan itu sendiri.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2. Berkaitan dengan orang yang mengobatinya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Adapun yang berkaitan dengan diri orang yang kesurupan itu sendiri, maka dengan kekuatan jiwanya dan kemantapan-nya dalam menghadap Pencipta roh-roh tersebut (yakni Allah) serta kesungguhan-nya dalam meminta perlindungan kepada Allah, yang berpadu antara hati dan lisannya. Karena kondisinya ibarat pertem-puran, yang mana seseorang tidak akan mampu menundukkan musuhnya dengan senjata yang dimilikinya kecuali bila terpenuhi dua hal: senjatanya benar-benar tajam, dan ayunan tangannya benar-benar kuat. Di saat kurang salah satunya, maka senjata itu pun kurang berfungsi. Lalu bagaimana jika tidak didapati kedua hal tersebut?! Di mana hatinya kosong dari tauhid, tawakkal, takwa, dan kemantapan dalam menghadap Allah. Tentu lebih dari itu, yakni dia tidak memiliki senjata.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sedangkan yang berkaitan dengan orang yang mengobati, dia pun harus memiliki dua hal yang telah disebutkan di atas. Sampai;bekam-sampai (ketika kedua hal tersebut telah terpenuhi, -pent.) di antara orang yang mengobati itu ada yang cukup mengatakan (kepada jin/setan tersebut): ‘Keluarlah darinya!’ atau ‘Bismillah’ atau ‘Laahaula wala quwwata illa billah.’ Nabi pun pernah mengatakan: ‘Keluarlah wahai musuh Allah! Aku adalah Rasulullah.’&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Aku (Ibnul Qayyim, -pent.) pernah menyaksikan Syaikh kami (yakni Ibnu Taimiyyah, -pent.) mengutus seseorang kepada orang yang sedang kesurupan, untuk menyampaikan kepada roh (jin) yang ada pada diri orang yang kesurupan itu: “Syaikh menyuruhmu untuk keluar (dari tubuh orang ini), karena perbuatan itu tidak halal bagimu!” Seketika itu sadarlah orang yang kesurupan tersebut. Dan terkadang beliau menanganinya sendiri. Ada kalanya roh itu jahat, sehingga untuk mengusirnya pun harus dengan pukulan. Ketika orang yang kesurupan itu tersadar, dia tidak merasakan rasa sakit akibat pukulan tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sungguh kami dan yang lainnya sering kali menyaksikan beliau melakukan pengobatan semacam itu.” –Hingga perkataan beliau–: “Secara garis besar, kesurupan jenis ini berikut pengobatannya tidaklah diingkari kecuali oleh orang yang minim ilmu, akal, dan pengetahuannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kebanyakan masuknya roh-roh jahat ini ke dalam tubuh seseorang disebabkan minimnya agama dan kosongnya hati serta lisan dari hakekat dzikir, permintaan perlin-dungan kepada Allah, serta pemben-tengan keimanan yang diajarkan oleh Rasulullah. Sehingga ketika ia tidak lagi memiliki senjata dan kosong sama sekali dari pembentengan diri, masuklah roh-roh jahat itu kepadanya.” -sekian nukilan dari Ibnul Qayyim-&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dari beberapa dalil syar’i yang telah kami sebutkan dan juga ijma’ ahlul ilmi dari kalangan Ahlus Sunnah Wal Jamaah tentang kemungkinan masuknya jin ke dalam tubuh manusia (kesurupan), maka menjadi jelaslah bagi para pembaca akan batilnya pernyataan orang-orang yang mengingkari permasalahan ini. Menjadi jelas pula kekeliruan Asy-Syaikh ‘Ali Ath-Thanthawi dalam pengingkarannya tersebut. Dia berjanji untuk rujuk kepada kebenaran kapan pun tampak baginya. Maka dari itu, hendaknya dia kembali kepada kebenaran setelah membaca keterangan kami. Semoga Allah mengaruniakan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua.” (Dikutip dan diterjemahkan dari kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah fil Masa`il Al-‘Ashriyyah min Fatawa ‘Ulama Al-Balad Al-Haram, hal. 1586-1595)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;b&gt;Penjelasan Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin&lt;/b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;
&lt;/b&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Suatu hari Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin ditanya: “Adakah dalil yang menunjukkan bahwa jin dapat masuk ke dalam tubuh manusia?”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Beliau menjawab: “Ya. Ada dalil dari Al-Qur`an dan As-Sunnah yang menunjuk-kan bahwa jin dapat masuk ke dalam tubuh manusia.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dari Al-Qur`anul Karim, adalah firman Allah :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Orang-orang yang makan riba itu tidaklah dapat berdiri (bangkit dari kuburnya) melainkan seperti berdirinya orang yang kerasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila.” (Al-Baqarah: 275)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Al-Imam Ibnu Katsir berkata: “Orang-orang pemakan riba itu tidaklah dibangkitkan dari kubur mereka di hari kiamat melainkan seperti bangkitnya orang yang kesurupan saat setan merasukinya.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sedangkan dalil dari As-Sunnah adalah sabda Nabi :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Sesungguhnya setan itu dapat berjalan pada tubuh anak cucu Adam melalui aliran darah.” (HR. Al-Bukhari, Kitab Al-Ahkam no.7171 dan Muslim, Kitab As-Salam no. 2175)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Abul Hasan Al-Asy’ari dalam Maqalat Ahlis Sunnah Wal Jama’ah berkata: “Bahwasanya mereka –yakni Ahlus Sunnah– menyatakan: ‘Sesungguhnya jin dapat masuk ke dalam tubuh orang yang kesurupan’.” Beliau berdalil dengan ayat (275 dari surat Al-Baqarah) di atas.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Abdullah bin Al-Imam Ahmad berkata: “Aku pernah berkata pada ayahku: ‘Sesungguhnya ada sekelompok orang yang mengatakan bahwa jin itu tidak dapat masuk ke dalam tubuh manusia.’ Maka ayahku berkata: ‘Wahai anakku, mereka itu berdusta. Bahkan jin dapat berbicara melalui mulut orang yang kesurupan.’&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ada beberapa hadits dari Rasulullah yang diriwayatkan Al-Imam Ahmad dan Al-Baihaqi: “Bahwasanya seorang bocah gila didatangkan di hadapan Nabi, lalu beliau n berkata (kepada jin yang merasukinya, -pent) :Keluarlah wahai musuh Allah! Aku adalah Rasulullah.’ Maka sembuhlah bocah tersebut.” (Al-Musnad, no. 17098, 1713)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dari sini engkau dapat mengetahui bahwa permasalahan masuknya jin ke dalam tubuh manusia ada dalilnya dari Al-Qur`anul Karim dan juga dua dalil dari As-Sunnah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Inilah sesungguhnya pendapat Ahlus Sunnah Wal Jamaah dan para imam dari kalangan as-salafush shalih. Realita pun membuktikannya. Walaupun demikian kami tidak mengingkari adanya penyebab lain bagi penyakit gila seperti lemahnya syaraf atau rusaknya jaringan otak, dll.” (Dikutip dan diterjemahkan dari kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah fil Masa`il Al-‘Ashriyyah Min Fatawa ‘Ulama Al-Balad Al-Haram, hal. 1563-1564)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;b&gt;Penutup&lt;/b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;
&lt;/b&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pembaca yang budiman, demikianlah sajian ilmu dari dua ulama besar Ahlus Sunnah Wal Jamaah jaman ini seputar permasalahan kesurupan atau kerasukan jin (baca: setan), yang berpijak di atas dalil dari Al-Qur`an, As-Sunnah, dan ijma’ para ulama terpercaya umat Islam. Adapun kesimpulannya, sebagai berikut:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1. Keberadaan jin merupakan perkara yang benar menurut Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah serta kesepakatan salaful ummah dan para ulamanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2. Masuknya jin ke dalam tubuh manusia (kesurupan/ kerasukan setan), benar pula adanya menurut Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah,,,, , kesepakatan salaful ummah dan para ulamanya serta realita pun membuktikannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
3. Para pemuka dan ahli kedokteran pun mengakui adanya peristiwa kesurupan jin, sebagaimana keterangan Al-Imam Ibnul Qayyim di atas. Sehingga, barangsiapa mengklaim bahwasanya syariat ini telah mendustakan adanya kesurupan jin berarti dia telah berdusta atas nama syariat itu sendiri.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
4. Masuk Islamnya jin melalui seorang manusia, diperbolehkan dalam syariat Islam. Hal ini sama sekali tidak bertentangan dengan doa Nabi Sulaiman :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki seorang pun sesudahku.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Wallahu a’lam.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;
Majalah AsySyariah Edisi 024&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;
(ditulis oleh: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi)&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanajadeh.blogspot.com/feeds/7441735079369115207/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hanajadeh.blogspot.com/2013/09/kesurupan-dalam-timbangan-islam.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1142211349625914890/posts/default/7441735079369115207'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1142211349625914890/posts/default/7441735079369115207'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanajadeh.blogspot.com/2013/09/kesurupan-dalam-timbangan-islam.html' title='Kesurupan dalam Timbangan Islam'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14590274822924929950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjK6LT23Q0rDtSNzy5fBP5kBgUhRT4E0BVFZvvrUx-4e-U8J811GBbULHOPNAWlWaqOe5NUrPvI68QK99NeM8HmvDAV5FzlyqW0A7hhQ3fdpqySi9ad4M_wLT9kWH1k2cbv96n3ScT03wz-/s72-c/images+(2).jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1142211349625914890.post-2914263004239166735</id><published>2013-09-26T20:58:00.001+07:00</published><updated>2013-09-26T20:58:23.481+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kisah Teladan"/><title type='text'>Menghukum Akar Kejahatan</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiVI3OKGDHOyfO0t50FnDpkpfIG3Zv9AMmHH-MGJUQbEsARjq9R-kbDa4e3P_Z52lwdSJkC9e4SdwvU2Q-SsUbH_VlYHIfFBIMOypDMG28bbFv6p9kE2kJrfyxgSXy_CgQejueoDTUGK8P0/s1600/images+(6).jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiVI3OKGDHOyfO0t50FnDpkpfIG3Zv9AMmHH-MGJUQbEsARjq9R-kbDa4e3P_Z52lwdSJkC9e4SdwvU2Q-SsUbH_VlYHIfFBIMOypDMG28bbFv6p9kE2kJrfyxgSXy_CgQejueoDTUGK8P0/s1600/images+(6).jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dalam sebuah sidang pengadilan, kepada Amirul Mukminin Umar bin Khatab dihadapkan beberapa pelayan (pembantu) yang dituduh melakukan pencuiran seekora unta milik lelaki Bani Muzainah untuk dimakan. Para pembantu itu, lelaki muda usia. Tetapi badannya terlihat sangat kurus dan bermuka pucat. Tampak sekali, penyesalan dan kekhawatiran terbayang dari wajah-wajah lusuh mereka, mengingat hukum pencurian dalam Islam tergolong keras potong tangan. Terbayang dalam pikiran mereka , mungkinkah dirinya akan kehilangan salah satu tangan? Padahal, buruh kasar model mereka, tangan menjadi modal utama atau barangkali satu-satunya untuk mengarungi dunia fana?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tak lama Umar memecahkan keheningan, membuka persidangan dengan mengajukan pertanyaan: “Kenapa kalian mencuri?” “Kami kelaparan wahai Amirul Mukminin,” para pelayan itu menjawab kompak, serentak.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Umar terdiam sejenak, lantas mengarahkan tatapannya kepada hadirin sidang, “Siapakah majikan dari para pembantu ini?”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mereka yang hadir dalam persidangan menjawab, “Hathib bin Ali Balta’ah.” Umar segera mengeluarkan perintah agar hathib dihadapkan pula dalam persidangan. Tak lama kemudian, hathib telah menghadap, dan Umar pun segera bertanya, “Wahai Hathib, apakah benar engkau majikan dari para pembantu ini?”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dengan agak gugup Hathib menjawab, “Ya, wahai Amirul Mukminin.” Umar berkata, “Hampir saja aku menimpakan hukuman atas mereka, kalau saja aku tidak dapat kabar bahwa engkau telah mempekerjakan mereka, namun membiarkan mereka kelaparan, sehingga memaksa mereka untuk melakukan pencurian.” Kemudian Umar mengalihkan pandangannya ke arah pemilik unta, lantas kembali bicara, “Berapa harga untamu?”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Orang itu menjawab, “Empa ratus dirham.” Ummar kembali menatap Hathib tajam seolah hendak menghunjam dalam hati majikan pelit bin bakhil alias kikir itu. Yang ditatao menunduk.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Umar lantas mengeluarkan keputusan yang bijaksana, “Pergilah kamu dan berilah kepada pemilik unta delapan ratus dirham, dua kali lipat dari harga yang semestinya.” Kemudian Umar ganti menatap para pembantu yang mencuri. Yang ditatap menunduk. Umar kembali membuat keputusan, “Kalian pergilah dan jangan ulangi lagi perbuatan seperti itu.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Para pelayan itu, menarik nafas lega. Barangkali dalam hati berkata, betapa lelaki yang terkena tegas keras dalam soal agama ini, membuat sebuah keputusan yang amat bijaksana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Hikmah yang dapat di ambil:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Peristiwa peradilan Islam ini kembali memberi pelajaran berharga, bahwa hukum Islam memang keras dan tegas, tetapi tujuannya bukan kekerasan itu sendiri, tetapi sebagai langkah preventif untuk mencegah terjadinya kriminalitas. Barangkali pencuri akan berpikir, “Untuk apa mencuri, jika tertangkap akan kehilangan tangan?”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ketika peristiwa sudah terlanjur terjadi, bukan serta merta hukum potong tangan langsung diterapkan. Hakim perlu menyelidiki akar permasalahan dari penyebab pencurian. Akar penyebab itulah yang hakekatnya mesti dipotong. Potong tangan dalam konteks ini bisa berarti riil dengan memotong tangan pencurinya, tetapi sekaligus bermakna kias memotong alasan penyebab pencurian. Jika penyebabnya adalah akibat hobi dan kemalasan, maka tangan pencuri enar-benar dipotong. Jika penyebabnya adalah kelaparan, atau untuk berobat tak punya uang, maka penyebab sebenarnya adalah kemiskinan. Kemiskinan itulah yang mesti dipotong, dengan memberi pekerjaan atau tunjangan kesejahteraan. Itulah substabsi agung agama Islam, yang keras, tegas, namun tanpa mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Referensi :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dhurorudin Mashad, 2001. Kisah dan Hikmah 3. Penerbit Erlangga: Jakarta&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanajadeh.blogspot.com/feeds/2914263004239166735/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hanajadeh.blogspot.com/2013/09/menghukum-akar-kejahatan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1142211349625914890/posts/default/2914263004239166735'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1142211349625914890/posts/default/2914263004239166735'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanajadeh.blogspot.com/2013/09/menghukum-akar-kejahatan.html' title='Menghukum Akar Kejahatan'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14590274822924929950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiVI3OKGDHOyfO0t50FnDpkpfIG3Zv9AMmHH-MGJUQbEsARjq9R-kbDa4e3P_Z52lwdSJkC9e4SdwvU2Q-SsUbH_VlYHIfFBIMOypDMG28bbFv6p9kE2kJrfyxgSXy_CgQejueoDTUGK8P0/s72-c/images+(6).jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1142211349625914890.post-3064977203007528287</id><published>2013-09-12T21:50:00.004+07:00</published><updated>2013-09-12T21:50:54.538+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kewarganegaraan (PKn)"/><title type='text'>Pengertian Hukum Menurut Para Ahli</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgGyJKLmxPyxwHdZgnj1ktjgPWEjCXIuzQR44BDMJWqTVzjE03ABQb2QndqEM6HFGk2q5Yiwozg-5fD5GhbSKAIrYyjwnSmrBOSNdVWgHPKS1hkhDSYS1rV2HGyzc8p0zq-i2cJQiYQxQ-c/s1600/pengertian-hukum.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;316&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgGyJKLmxPyxwHdZgnj1ktjgPWEjCXIuzQR44BDMJWqTVzjE03ABQb2QndqEM6HFGk2q5Yiwozg-5fD5GhbSKAIrYyjwnSmrBOSNdVWgHPKS1hkhDSYS1rV2HGyzc8p0zq-i2cJQiYQxQ-c/s320/pengertian-hukum.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;1. Bambang Sunggono&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hukum adalah sebagai subordinasi atau merupakan produk dari kepentinga-kepentingan politik&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;2. M.H. Tirtaamidjata, S.H.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Bahwa hukum adalah semua aturan (norma) yang harus dituruti dalam tingkah laku tindakan-tindakan dalam pergaulan hidup dengan ancaman mesti mengganti kerugian jika melanggar aturan-aturan itu akan membahayakan diri sendiri atau harta, umpamanya orang akan kehilangan kemerdekaannya, didenda dan sebagainya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;3. J.T.C. Sumorangkir, S.H. dan Woerjo Sastropranoto, S.H.&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hukum itu ialah peraturan-peraturan yang bersifat memaksa, yang menentukan tingkah laku manusia dalam lingkungan masyarakat, yang dibuat oleh badan-badan resmi yang berwajib, pelanggaran mana terhadap peraturan-peraturan tadi berakibat diambilnya tindakan, yaitu dengan hukuman.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;4. Soerojo Wignjodipoero, S.H.&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hukum adalah himpunan peraturan-peraturan hidup yang bersifat memaksa, berisikan suatu perintah larangan atau izin untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu atau dengan maksud untuk mengatur tata tertib dalam kehidupan masyarakat.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;5. Wiryono Kusumo&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hukum adalah keseluruhan peraturan baik yang tertulis maupun tidak tertulis yang mengatur tata tertib dalam masyarakat dan terhadap pelanggarnya umumnya dikenakan sanksi. Sedangkan tujuan dari hukum adalah untuk mengadakan keselamatan, kebahagiaan, dan ketertiban dalam masyarakat.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;6. Mochtar Kusumaatmadja&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hukum merupakan keseluruhan asas-asas dan kaidah-kaidah yang mengatur kehidupan manusia dalam masyarakat, dan juga mencakupi lembaga-lembaga (institutions) dan proses-proses (processes) yang mewujudkan berlakunya kaidah-kaidah itu dalam kenyataan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;7. Lily Rasjidi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hukum bukan sekedar merupakan norma melainkan juga institusi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;8. Soetandyo Wigjosoebroto&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Bahwa tidak ada yang konsep tunggal mengenai apa yang disebut hukum itu. Karena sebenarnya hukum terdiri dari 3 konsep: hukum sebagai asas moralitas, hukum sebagai kaidah-kaidah positif yang berlaku pada waktu dan tempat tertentu, dan yang ketiga, hukum dikonsepkan sebagai institusi yang riil dan fungsional dalam sistem kehidupan bermasyarakat.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;9. S.M. Amir, S.H.&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hukum adalah peraturan, kumpulan peraturan-peraturan yang terdiri dari norma-norma dan sanksi-sanksi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;10. Soetandyo Wigjosoebroto&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Bahwa tidak ada yang konsep tunggal mengenai apa yang disebut hukum itu. Karena sebenarnya hukum terdiri dari 3 konsep: hukum sebagai asas moralitas, hukum sebagai kaidah-kaidah positif yang berlaku pada waktu dan tempat tertentu, dan yang ketiga, hukum dikonsepkan sebagai institusi yang riil dan fungsional dalam sistem kehidupan bermasyarakat.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;11. Plato, dilukiskan dalam bukunya Republik.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hukum adalah sistem peraturan-peraturan yang teratur dan tersusun baik yang mengikat masyarakat.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;12. Aristoteles&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hukum hanya sebagai kumpulan peraturan yang tidak hanya mengikat masyarakat tetapi juga hakim. Undang-undang adalah sesuatu yang berbeda dari bentuk dan isi konstitusi; karena kedudukan itulah undang-undang mengawasi hakim dalam melaksanakan jabatannya dalam menghukum orang-orang yang bersalah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;13. Austin&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hukum adalah sebagai peraturan yang diadakan untuk memberi bimbingan kepada makhluk yang berakal oleh makhluk yang berakal yang berkuasa atasnya (Friedmann, 1993: 149).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;14. Bellfoid&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hukum yang berlaku di suatu masyarakat mengatur tata tertib masyarakat itu didasarkan atas kekuasaan yang ada pada masyarakat.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;15. Mr. E.M. Mayers&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hukum adalah semua aturan yang mengandung pertimbangan kesusilaan ditinjau kepada tingkah laku manusia dalam masyarakat dan yang menjadi pedoman penguasa-penguasa negara dalam melakukan tugasnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;16. Duguit&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hukum adalah tingkah laku para anggota masyarakat, aturan yang daya penggunaannya pada saat tertentu diindahkan oleh suatu masyarakat sebagai jaminan dari kepentingan bersama terhadap orang yang melanggar peraturan itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;17. Immanuel Kant&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hukum adalah keseluruhan syarat-syarat yang dengan ini kehendak dari orang yang satu dapat menyesuaikan dengan kehendak bebas dari orang lain memenuhi peraturan hukum tentang Kemerdekaan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;18. Van Kant&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hukum adalah serumpun peraturan-peraturan yang bersifat memaksa yang diadakan untuk mengatur melindungi kepentingan orang dalam masyarakat.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;19. Van Apeldoorn&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hukum adalah gejala sosial tidak ada masyarakat yang tidak mengenal hukum maka hukum itu menjadi suatu aspek kebudayaan yaitu agama, kesusilaan, adat istiadat, dan kebiasaan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;20. E. Utrecht&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hukum adalah himpunan petunjuk hidup –perintah dan larangan– yang mengatur tata tertib dalam suatu masyarakat, dan seharusnya ditaati oleh seluruh anggota masyarakat yang bersangkutan, oleh karena itu pelanggaran petunjuk hidup tersebut dapat menimbulkan tindakan oleh pemerintah atau penguasa itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;21. Hans Kelsen&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hukum adalah sebuah ketentuan sosial yang mengatur perilaku mutual antar manusia, yaitu sebuah ketentuan tentang serangkaian peraturan yang mengatur perilaku tertentu manusia dan hal ini berarti sebuah sistem norma. Jadi hukum itu sendiri adalah ketentuan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;22. Marx&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hukum adalah pengemban amanat kepentingan ekonomi para kapitalis yang tidak segan memarakkan kehidupannya lewat exploitasi- exploitasi yang luas. Sehingga hukum bukan saja berfungsi sebagai fungsi politik saja akan tetapi juga sebagai fungsi ekonomi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;23. Montesquieu&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hukum merupakan gejala sosial dan bahwa perbedaan hukum disebabkan oleh perbedaan alam, sejarah, etnis, politik, dan faktor-faktor lain dari tatanan masyarakat. Oleh karena itu hukum suatu bangsa harus dibandingkan dengan hukum bangsa lainnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;24. Thomas Aquinas&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hukum adalah perintah yang berasal dari masyarakat, dan jika ada pelanggaran atas hukum, si pelanggar akan dikenai sanksi oleh tetua masyarakat bersama sama dengan seluruh anggota masyarakatnya.&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanajadeh.blogspot.com/feeds/3064977203007528287/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hanajadeh.blogspot.com/2013/09/pengertian-hukum-menurut-para-ahli.html#comment-form' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1142211349625914890/posts/default/3064977203007528287'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1142211349625914890/posts/default/3064977203007528287'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanajadeh.blogspot.com/2013/09/pengertian-hukum-menurut-para-ahli.html' title='Pengertian Hukum Menurut Para Ahli'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14590274822924929950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgGyJKLmxPyxwHdZgnj1ktjgPWEjCXIuzQR44BDMJWqTVzjE03ABQb2QndqEM6HFGk2q5Yiwozg-5fD5GhbSKAIrYyjwnSmrBOSNdVWgHPKS1hkhDSYS1rV2HGyzc8p0zq-i2cJQiYQxQ-c/s72-c/pengertian-hukum.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1142211349625914890.post-7935854783552159071</id><published>2013-08-30T01:06:00.001+07:00</published><updated>2013-08-30T01:06:57.201+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Wanita"/><title type='text'>HIjab</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjMYi3mvCme8XiMHhBzXPdKiYIzL3z4WQuRH52GrxYMHGRcOWvrvVT86hkJLkoT_bnM3RyyLX4rgaKT0-sG1mjRKQp5XmA2_Dwd9tarbeG70MMrhBHYx4B-GEYracXTYnv0QYWrpJjx5I0d/s1600/purdah.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;320&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjMYi3mvCme8XiMHhBzXPdKiYIzL3z4WQuRH52GrxYMHGRcOWvrvVT86hkJLkoT_bnM3RyyLX4rgaKT0-sG1mjRKQp5XmA2_Dwd9tarbeG70MMrhBHYx4B-GEYracXTYnv0QYWrpJjx5I0d/s320/purdah.jpg&quot; width=&quot;200&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hijab adalah sesuatu yang dapat menyembunyikan sesuatu di belakangnya, seperti tabir atau tirai. Sekiranya seorang wanita berada di balik tabir atau tirai itu maka dia dikatakan terhijab (terlindungi) dari pandangan. Dengan demikian dapat dikatakan yang dimaksud dengan hijab adalah penutup, atau pelindung atau penghalang di antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, di mana apabila penutup, pelindung atau penghalang ini ditanggalkan akan menyebabkan haramnya antara keduanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Makna kata hijab sebagaimana tersebut di atas adalah sesuai dengan maksud ayat Al-Qur’an dalam menggunakan kata hijab ketika berbicara tenatang istri Rasulullah Saw dalam kaitan interaksi dengan mereka, di mana harus dilakukan dari belakang hijab, Allah berfirman:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; dir=&quot;RTL&quot; style=&quot;direction: rtl; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph; unicode-bidi: embed;&quot;&gt;
&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB1; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB1;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;#&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB5; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB5;&quot;&gt;s&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB1; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB1;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB4; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB4;&quot;&gt;Î&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB1; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB1;&quot;&gt;)&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB5; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB5;&quot;&gt;u&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-theme-font: minor-bidi; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB4; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB4;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;£&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;`&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB4; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB4;&quot;&gt;è&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;d&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;q&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB4; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB4;&quot;&gt;ß&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;J&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB4; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB4;&quot;&gt;ç&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB1; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB1;&quot;&gt;G&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB4; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB4;&quot;&gt;ø&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;9&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB5; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB5;&quot;&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB1; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB1;&quot;&gt;&#39;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB5; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB5;&quot;&gt;y&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB1; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB1;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-theme-font: minor-bidi; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB1; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB1;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;$&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB4; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB4;&quot;&gt;Y&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB1; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB1;&quot;&gt;è&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;»&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB5; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB5;&quot;&gt;t&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB1; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB1;&quot;&gt;F&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB5; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB5;&quot;&gt;t&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;B&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-theme-font: minor-bidi; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB4; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB4;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;Æ&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB4; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB4;&quot;&gt;è&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;d&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;q&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB4; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB4;&quot;&gt;è&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;=&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB5; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB5;&quot;&gt;t&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;«&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB4; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB4;&quot;&gt;ó&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB1; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB1;&quot;&gt;¡&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB5; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB5;&quot;&gt;s&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB1; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB1;&quot;&gt;ù&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-theme-font: minor-bidi; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;`&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB4; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB4;&quot;&gt;Ï&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;B&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-theme-font: minor-bidi; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB4; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB4;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;Ï&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;ä&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB5; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB5;&quot;&gt;!&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB1; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB1;&quot;&gt;#&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB5; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB5;&quot;&gt;u&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB1; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB1;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB5; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB5;&quot;&gt;u&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-theme-font: minor-bidi; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB4; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB4;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;5&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB1; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB1;&quot;&gt;&amp;gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB1; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB1;&quot;&gt;$&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB5; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB5;&quot;&gt;p&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB1; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB1;&quot;&gt;g&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB4; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB4;&quot;&gt;É&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB1; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB1;&quot;&gt;o&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-theme-font: minor-bidi; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;(normal text)&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-ansi-language: EN-US;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;…&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;AR-SA&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: EN-US; mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-theme-font: minor-bidi; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“…Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri- isteri Nabi), Maka mintalah dari belakang tabir (hijab)….” (QS. Al-Ahzab : 53)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut ayat ini kata hijab berarti tabir penutup, maka ihtijab berarti bahwa pembicaraan lelaki asing kepada istri-istri Nabi Saw harus dilakukan dari balik tabir penutup sehingga dia tidak melihat diri mereka, demikian juga sebaliknya. Meski telah diizinkan kepada mereka keluar untuk keperluan yang penting, namun pada saat yang sama mereka diwajibkan menutupi wajah mereka, apalagi sisa badan yang lainnya. Ini berarti makna asal dari Ihtijab adalah menghalangi istri-istri Nabi Saw dari bertemu dengan lelaki asing tanpa hijab, dan menjauhkan diri mereka dari penglihatan kaum lelaki secara sempurna. Pada waktu yang sama ia juga menghalangi penglihatan kaum wanita terhadap kaum lelaki. Apabila arti hijab seperti yang telah dijelaskan di atas ini khusus berlaku bagi ibu-ibu kaum mukminin; istri-istri Nabi Saw. Apabila mereka keluar rumah untuk suatu kebutuhan dengan mengenakan libas syar’I (busana Islami), keadaan demikian tidak dinamakan hijab dalam arti yang sebenarnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Demikianlah kita melihat bahwa hijab dalam arti yang telah kita jelaskan di atas merupakan adab (tata cara) khusus bagi istri-istri Rasulullah Saw. dalam interaksi mereka dengan kaum lelaki di dalam rumah. Hal itu untuk membedakan mereka dari istri-istri kaum Mukmin yang lainnya, dan menghormati serta memuliakan Rasulullah Saw. Adab ini datang untuk menyempurnakan dan melengkapi adab lain, yaitu tetap tinggal di rumah, yang terukir di dalam firman Allah SWT, “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu” (QS. Al-Ahzab : 33)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Adapun mengenakan penutup seluruh badan termasuk wajah, ketika keluar rumah untuk suatu keperluan maka yang demikian itu bukanlah hijab dalam arti sebenarnya melainkan pengganti sementara dari hijab atau ihtijab yang telah kita jelaskan. Demikianlah hijab mempunyai dua bentuk; bentuk yang asli di dalam rumah, yaitu pembicaraan dengan orang asing dari balik tabir penutup, dan bentuk cabang (alternatif) di luar rumah, yaitu menutup wajah beserta seluruh badan dengan pakaian syar’i.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dalam buku-buku kontemporer, kata hijab telah sangat populer dan lazim digunakan, bahkan kita tidak dapat memisahkan diri dari kata itu. Tetapi, penggunaan kata hijab dalam buku-buku itu tidak mengandung arti penghalang, penutup, atau pemisah antara lelaki dan perempuan, melainkan berarti “penutup aurat”, atau hijab dalam bentuk alternatif. Yaitu sejenis pakaian yang menutupi seluruh tubuh wanita selain muka dan telapak tangan sesuai dengan ketentuan syariat Islam. Sehingga seorang wanita yang menggunakan hijab disebut wanita muhajjabah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Fungsi hijab bagi wanita dalam Islam adalah agar wanita menutup badannya ketika berbaur dengan laki-laki asing, tidak mempertontonkan kecantikan (tabarruj), dan tidak pula menampakkan perhiasan kecuali pada pihak-pihak tertentu. Ini adalah maksud yang paling asasi dari penggunaan busana Islami dalam Islam. Dengan  demikian penggunaan kata hijab sebagai penutup  seluruh tubuh wanita lebih mengena dan lebih populer di kalangan masyarakat Muslim dari pada kata jilbab yang berkonotasi hanya sebagai penutup kepala (kerudung) dalam pemahaman umum.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hijab dalam syariat Islam mempunya ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh para ulama. Di antara ketentuan itu hendaklah dapat menyembunyikan (menutupi) seluruh tubuhnya selain wajah dan kedua telapak tangannya, longgar dan tidak transparan. Seorang wanita tidak boleh keluar rumah tanpa hijab dengan menampakkan perhiasannya, dengan penuh gaya atau dandanan seperti orang-orang Jahiliyyah dahulu. Alhasil, dapat kita simpulkan bahwa mengenakan hijab syar’i identik dengan menggunakan busana Islami beserta segala atributnya.&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanajadeh.blogspot.com/feeds/7935854783552159071/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hanajadeh.blogspot.com/2013/08/hijab.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1142211349625914890/posts/default/7935854783552159071'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1142211349625914890/posts/default/7935854783552159071'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanajadeh.blogspot.com/2013/08/hijab.html' title='HIjab'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14590274822924929950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjMYi3mvCme8XiMHhBzXPdKiYIzL3z4WQuRH52GrxYMHGRcOWvrvVT86hkJLkoT_bnM3RyyLX4rgaKT0-sG1mjRKQp5XmA2_Dwd9tarbeG70MMrhBHYx4B-GEYracXTYnv0QYWrpJjx5I0d/s72-c/purdah.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1142211349625914890.post-3966566057412069632</id><published>2013-08-27T11:34:00.000+07:00</published><updated>2013-08-27T11:35:00.093+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Wanita"/><title type='text'>Aurat Wanita di Hadapan Wanita Muslimah</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjWyCZhDBQ-_Ol0Y0jTcWwr_LXSRbjwT4UVYNxEsZaT2wzQ-NL4nWAzjomjlwqjfwtqHYXiCZSbxjUK7qne_6-B5IYwJhfgxfzfkmNRiiHwULw7lzIggG89DEQrmu7CFG-2etFAos3jpLG6/s1600/images+(4).jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;206&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjWyCZhDBQ-_Ol0Y0jTcWwr_LXSRbjwT4UVYNxEsZaT2wzQ-NL4nWAzjomjlwqjfwtqHYXiCZSbxjUK7qne_6-B5IYwJhfgxfzfkmNRiiHwULw7lzIggG89DEQrmu7CFG-2etFAos3jpLG6/s320/images+(4).jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Aurat wanita di hadapan sesama wanita Muslimah sama seperti aurat mereka di hadapan mahramnya. Mereka boleh saling melihat anggota badan sahabatnya yang biasa tampak saat mereka berada di rumah, seperti: kepala seluruhnya, leher, pergelangan tangan sampai pangkal lengan dan pergelangan kaki sampai lutut. Dengan kata lain boleh terlihat mahaluz zinah, yaitu anggota-anggota badan yang biasa tampak ketika wanita memakai baju rumahan (libas mihnah).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Batasan di atas adalah ukuran normal dan sopan dalam pergaulan sesama Muslimah, namun jika ingin diurai lebih jauh sebenarnya yang tidak boleh terlihat dari padanya adalah bagian anggota yang ada di antara pusat dan lututnya. Itu adalah batas maksimal yang dibenarkan dalam Islam untuk terlihat antara sesama Muslimah. Karena demikian, kaum wanita tidak dibenarkan mandi bareng secara telanjang atau dengan hanya memakai celana pendek dan seumpamanya pakaian dalam saja di kamar mandi. Demikian juga mereka dilarang berenang di kolam renang dengan hanya mengenakan baju renang satu piece walaupun sesama Muslimah. Karena seluruh anggota badan yang berada di antara pusat dan lutut adalah aurat dan tidak boleh terlihat oleh siapapun kecuali suami.&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanajadeh.blogspot.com/feeds/3966566057412069632/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hanajadeh.blogspot.com/2013/08/aurat-wanita-di-hadapan-wanita-muslimah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1142211349625914890/posts/default/3966566057412069632'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1142211349625914890/posts/default/3966566057412069632'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanajadeh.blogspot.com/2013/08/aurat-wanita-di-hadapan-wanita-muslimah.html' title='Aurat Wanita di Hadapan Wanita Muslimah'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14590274822924929950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjWyCZhDBQ-_Ol0Y0jTcWwr_LXSRbjwT4UVYNxEsZaT2wzQ-NL4nWAzjomjlwqjfwtqHYXiCZSbxjUK7qne_6-B5IYwJhfgxfzfkmNRiiHwULw7lzIggG89DEQrmu7CFG-2etFAos3jpLG6/s72-c/images+(4).jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1142211349625914890.post-6084268221812876498</id><published>2013-08-27T11:25:00.000+07:00</published><updated>2013-08-27T11:25:18.984+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Wanita"/><title type='text'>Aurat Wanita di Hadapan Suami</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgf1VSiaU5CDIhQ929CcLqDZIK68RY1TcJ3LULuvA_T_UZeFYDC079xZBfX9kJ80IKv3tWN9X10syvmMEtJZCVbEB5i7gAzvimiC_5wjdKJ13UlG8KS6fp3JeJyHdULws6VOfaICDTEnbr4/s1600/pernikahan-suami-istri.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;213&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgf1VSiaU5CDIhQ929CcLqDZIK68RY1TcJ3LULuvA_T_UZeFYDC079xZBfX9kJ80IKv3tWN9X10syvmMEtJZCVbEB5i7gAzvimiC_5wjdKJ13UlG8KS6fp3JeJyHdULws6VOfaICDTEnbr4/s320/pernikahan-suami-istri.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Para wanita boleh menampakkan seluruh bagian tubuhnya di hadapan suami mereka walaupun tetap dianjurkan untuk tidak telanjang (berdasarkan hadits riwayat Bahz bin Hakim). Pada dasarnya batas aurat wanita di depan suaminya adalah antara pusat dan lutut, karena anggota-anggota badan yang ada di antara pusat dan lutut adalah sesuatu yang tabu bagi manusia, karenanya tetap dianjurkan untuk ditutupi di depan siapapun. Walaupun kemudian dibenarkan dan tidak haram bagi istri untuk menyingkapnya di hadapan suaminya. Sama seperti aurat seseorang dalam keadaan sendirian adalah anggota badan antara pusat dan lutut, dan dianjurkan agar selalu berpakaian yang dapat menutupinya. Namun kemudian dibenarkan dan tidak haram bagi seseorang menyingkapnya dalam kehidupan privat, apalagi jika dibutuhkan untuk melihatnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dalam konteks ini, apa yang berlaku bagi para wanita juga berlaku bagi kaum pria. Suami sebagai seorang pria misalnya, walaupun batas auratnya sangat permanen, yaitu anggota badan antara pusat dan lutut termasuk di hadapan istrinya, dan tetap dianjurkan untuk berpakaian yang dapat menutupinya. Namun kemudian dibenarkan dan tidak berdosa untuk menyingkapnya di hadapan istri-istri mereka.&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanajadeh.blogspot.com/feeds/6084268221812876498/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hanajadeh.blogspot.com/2013/08/aurat-wanita-di-hadapan-suami.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1142211349625914890/posts/default/6084268221812876498'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1142211349625914890/posts/default/6084268221812876498'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanajadeh.blogspot.com/2013/08/aurat-wanita-di-hadapan-suami.html' title='Aurat Wanita di Hadapan Suami'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14590274822924929950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgf1VSiaU5CDIhQ929CcLqDZIK68RY1TcJ3LULuvA_T_UZeFYDC079xZBfX9kJ80IKv3tWN9X10syvmMEtJZCVbEB5i7gAzvimiC_5wjdKJ13UlG8KS6fp3JeJyHdULws6VOfaICDTEnbr4/s72-c/pernikahan-suami-istri.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1142211349625914890.post-4131536350093641111</id><published>2013-08-25T00:39:00.003+07:00</published><updated>2013-08-25T00:39:58.595+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Wanita"/><title type='text'>Aurat Wanita di Hadapan Mahramnya</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjUoK-YlN4DVDbd73KKpOUpsINtlEruDcij3NAM0OYoBRQjAGVDxj-LEIY-aq2DrikaxlT-qEc-0Hy4wuBHp8ZF0HI7zcE79bdnkmanPu5N761p78HiEXxxYrwUQEHmTBaK8HdC1nsvHuP2/s1600/images+(3).jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjUoK-YlN4DVDbd73KKpOUpsINtlEruDcij3NAM0OYoBRQjAGVDxj-LEIY-aq2DrikaxlT-qEc-0Hy4wuBHp8ZF0HI7zcE79bdnkmanPu5N761p78HiEXxxYrwUQEHmTBaK8HdC1nsvHuP2/s1600/images+(3).jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Di hadapan mahram dan orang-orang yang disebut dalam QS. An-Nur : 31 dan QS. An-Nisa’ : 23 para wanita boleh menampilkan bagian tertentu dari anggota tubuhnya yang biasa disebut mahaluz zinah, yaitu anggota badan yang biasanya dijadikan tempat mengenakan kalung (leher), tempat gelang tangan (pergelangan tangan) sampai pangkal lengan dan tempat gelang kaki (pergelangan kaki) sampai lutut. Mahaluz zinah ini biasa tampak ketika wanita memakai baju rumahan (libas misnah). Selain itu, apabila ada hajat maka anggota tubuh lain juga boleh tampak pada mahramnya seperti perut, payudara, kecuali aurat yang ada di antara pusar dan lutut.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pemahaman mahaluz zinah ini diambil dari firman Allah SWT :&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; dir=&quot;RTL&quot; style=&quot;direction: rtl; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph; unicode-bidi: embed;&quot;&gt;
&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB5; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB5;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;w&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB5; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB5;&quot;&gt;u&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-theme-font: minor-bidi; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB5; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB5;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;ú&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;ï&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB4; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB4;&quot;&gt;Ï&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB1; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB1;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB4; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB4;&quot;&gt;ö&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB1; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB1;&quot;&gt;7&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB4; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB4;&quot;&gt;ã&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-theme-font: minor-bidi; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB4; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB4;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;£&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;`&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB4; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB4;&quot;&gt;ß&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;g&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB5; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB5;&quot;&gt;t&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB1; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB1;&quot;&gt;F&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB5; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB5;&quot;&gt;t&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;^&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB4; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB4;&quot;&gt;Î&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB1; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB1;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-theme-font: minor-bidi; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB5; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB5;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;w&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB4; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB4;&quot;&gt;Î&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB1; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB1;&quot;&gt;)&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-theme-font: minor-bidi; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB1; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB1;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;$&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB5; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB5;&quot;&gt;t&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;B&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-theme-font: minor-bidi; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB5; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB5;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;t&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB1; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB1;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB5; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB5;&quot;&gt;y&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;g&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB5; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB5;&quot;&gt;s&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB1; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB1;&quot;&gt;ß&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-theme-font: minor-bidi; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB1; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB1;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;$&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB5; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB5;&quot;&gt;y&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;g&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB4; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB4;&quot;&gt;÷&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;Y&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB4; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB4;&quot;&gt;Ï&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;B&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-theme-font: minor-bidi; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB4; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB4;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-theme-font: minor-bidi; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB5; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB5;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;t&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;û&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB4; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB4;&quot;&gt;ø&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;ó&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB4; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB4;&quot;&gt;Î&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB1; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB1;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB4; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB4;&quot;&gt;ô&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB1; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB1;&quot;&gt;Ø&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB5; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB5;&quot;&gt;u&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB4; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB4;&quot;&gt;ø&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;9&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB5; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB5;&quot;&gt;u&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-theme-font: minor-bidi; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB4; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB4;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;£&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;`&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB4; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB4;&quot;&gt;Ï&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;d&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB4; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB4;&quot;&gt;Ì&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB1; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB1;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB4; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB4;&quot;&gt;ß&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;J&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB4; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB4;&quot;&gt;è&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB1; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB1;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB4; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB4;&quot;&gt;¿&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB1; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB1;&quot;&gt;2&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-theme-font: minor-bidi; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB5; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB5;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;4&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB5; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB5;&quot;&gt;n&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;?&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB5; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB5;&quot;&gt;t&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB1; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB1;&quot;&gt;ã&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-theme-font: minor-bidi; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB4; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB4;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;£&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;`&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB4; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB4;&quot;&gt;Í&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;k&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB4; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB4;&quot;&gt;Í&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB1; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB1;&quot;&gt;5&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;q&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB4; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB4;&quot;&gt;ã&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB4; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB4;&quot;&gt;ã&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB1; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB1;&quot;&gt;_&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-theme-font: minor-bidi; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB4; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB4;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-theme-font: minor-bidi; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB5; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB5;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;w&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB5; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB5;&quot;&gt;u&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-theme-font: minor-bidi; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB5; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB5;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;ú&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;ï&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB4; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB4;&quot;&gt;Ï&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB1; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB1;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB4; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB4;&quot;&gt;ö&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB1; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB1;&quot;&gt;7&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB4; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB4;&quot;&gt;ã&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-theme-font: minor-bidi; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB4; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB4;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;£&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;`&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB4; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB4;&quot;&gt;ß&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;g&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB5; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB5;&quot;&gt;t&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB1; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB1;&quot;&gt;F&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB5; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB5;&quot;&gt;t&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;^&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB4; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB4;&quot;&gt;Î&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB1; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB1;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-theme-font: minor-bidi; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB5; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB5;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB2; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB2;&quot;&gt;w&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB4; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB4;&quot;&gt;Î&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: HQPB1; font-size: 14.0pt; line-height: 115%; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: HQPB1;&quot;&gt;)&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-theme-font: minor-bidi; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;RTL&quot;&gt;&lt;/span&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;(normal text)&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-ansi-language: EN-US;&quot;&gt;&lt;span dir=&quot;LTR&quot;&gt;&lt;/span&gt;….&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;AR-SA&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: EN-US; mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-theme-font: minor-bidi; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“…dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah Menampakkan perhiasannya kecuali…” (QS. An-Nur : 31).&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Adapun yang dimaksud dengan mahram bagi kaum wanita selain suami adalah orang-orang yang disebutkan dalam ayat di atas, yaitu ayah mereka, termasuk kakek sebelah ayah dan ibu, ayah suami mereka, putra-putra mereka, termasuk cucu laki dari anak laki-laki maupun anak perempuan, putra-putra suami mereka, saudara-saudara laki-laki mereka, baik sekandung seayah, maupun seibu, putra-putra saudara lelaki mereka, atau putra-putra suadara perempuan mereka.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Selain mereka yang disamakan kedudukan dengan mahram dalam kaitannya dengan batasan aurat perempuan adalah sesama wanita Muslimah, aik ada hubungan kerabat ataupun tidak, hamba sahaya, pelayan yang tidak ada nafsu syahwat dan anak-anak kecil yang belum mengerti aurat dan belum mempunyai syahwat terhadap wanita. Walau pun begitu, bagi kanak-kanak yang telah mempunyai syahwat tetapi belum baligh, wanita dilarang menampakkan aurat terhadap mereka.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Barangkali tidak dapat di bantah bahwa pakaian perempuan yang sempurna dan menutup seluruh tubuhnya dapat menekan gelora syahwat kaum lelaki. Karena demikian, walaupun sedang berada bersama mahram (selain suami) dan orang-orang yang disebutkan di atas, namun bagi perempuan tetap digalakkan untuk berpakaian yang sopan , rapi dan menutupi seluruh tubuhnya. Karena zaman sudah jauh berubah, dan prilaku manusia sudah melenceng dari tuntutan agama, maka berbagai kemungkinan yang tidak dapat diterima oleh logika bahkan dikecam oleh agama pun dapat terjadi kapan saja pada zaman in. kejahatan demi kejahatan yang kera terjadi di bumi ini bukan karena ada rencana, tetapi lebih karena ada peluang yang terbuka. Karena itu perlu ada kehati-hatian dan tetap waspada.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanajadeh.blogspot.com/feeds/4131536350093641111/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hanajadeh.blogspot.com/2013/08/aurat-wanita-di-hadapan-mahramnya.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1142211349625914890/posts/default/4131536350093641111'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1142211349625914890/posts/default/4131536350093641111'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanajadeh.blogspot.com/2013/08/aurat-wanita-di-hadapan-mahramnya.html' title='Aurat Wanita di Hadapan Mahramnya'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14590274822924929950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjUoK-YlN4DVDbd73KKpOUpsINtlEruDcij3NAM0OYoBRQjAGVDxj-LEIY-aq2DrikaxlT-qEc-0Hy4wuBHp8ZF0HI7zcE79bdnkmanPu5N761p78HiEXxxYrwUQEHmTBaK8HdC1nsvHuP2/s72-c/images+(3).jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1142211349625914890.post-8098458769414784855</id><published>2013-08-23T17:28:00.000+07:00</published><updated>2013-08-23T17:28:56.866+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Islami"/><title type='text'> Ancaman Bagi Yang Membuka Aurat</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhjJ-ejsQNPKdxAs6dcoMMoeev2weCioljiR0jlX50ZfdW_hrpX2KiR2vUgNsuIVyWne9tEcPYefhsJpiExEExwWJBFISo90ZTeKjUvR82p2gnLfKtL3VpNy8sH4wtOwksvCBbRJAoJDvZC/s1600/41798_113886428661298_6201_n.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhjJ-ejsQNPKdxAs6dcoMMoeev2weCioljiR0jlX50ZfdW_hrpX2KiR2vUgNsuIVyWne9tEcPYefhsJpiExEExwWJBFISo90ZTeKjUvR82p2gnLfKtL3VpNy8sH4wtOwksvCBbRJAoJDvZC/s1600/41798_113886428661298_6201_n.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Di antara ancaman berat bagi yang tidak menutup aurat adalah tidak dapat mencium bau surga apalagi masuk ke dalamnya, sebaliknya mereka justru disediakan tempat kembalinya yang paling hina yaitu neraka. Na’uzubillah! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Saw bersabda: &lt;br /&gt;“Ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya, yaitu orang-orang yang menggenggam campuk yang mirip ekor sapi untuk memukuli orang lain, dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang, dan (yang berjalan) berlenggak-lenggok. Kepalanya bergoyang-goyang bak punuk unta. Mereka itu tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. Padahal sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian”. (HR. Muslim) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hadits di atas jelas bahwa tidak akan mencium bau surga orang yang suka memukul orang lain dan wanita-wanita yang mengumbar aurat atau berpakaian seksi. Bayangkan, menciumnya saja tidak dapat apalagi masuk surga. Padahal bau surga itu dapat tercium dari jarak yang sangat jauh. Sebagai konsekuensi dari diharamkannya aroma bau surga bagi yang bersangkutan adalah nerakalah tempat kembalinya yang telah disiapkan Allah yang Maha Perkasa. Na’uzubillah! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka dikatakan berpakaian, menurut Imam Qurthubi, karena memang ada pakaian di badannya dan pada waktu yang sama disifati dengan telanjang karena pakaian yang mereka pakai menampakkan apa yang sapatutnya tidak tampak. Jika masih tampak juga apa yang ditutup itu berarti sama dengan orang telanjang walaupun berpakaian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ibnu Abdil Barr “Yang dimaksud Nabi Saw adalah kaum wanita yang mengenakan pakaian yang tipis, yang dapat mengambarkan bentuk tubuhnya dan tidak dapat menutup atau menyembunyikan lekuknya. Meskipun mereka itu disebut berpakaian, akan tetapi pada hakekatnya mereka telanjang”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Ummu Alqamah bin Abu Alqamah bahwa ia berkata: “Saya pernah melihat Hafsah bin Abdurrahman bin Abu Bakar mengunjungi Aisyah dengan mengenakan khimar (kerudung) tipis yang dapat menggambarkan pelipisnya, lalu Aisyah pun tak berkenan melihatnya seraya berkata: “Apakah kamu tidak tahu apa yang telah diturunkan oleh Allah SWT dalam surat An-Nur?!” Kemudian Aisyah mengambilkan khimar untuk dipakaikan kepadanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Syaikh Albani pernyataan Aisyah r.a di atas mengisyaratkan bahwa wanita yang menutupi tubuhnyaa dengan pakaian yang tipis pada hakikatnya ia belum menutupi tubuhnya dan juga belum melaksanakan firman Allah SWT yang ditunjukkan Aisyah r.a yaitu “Dan hendaklah kaum wanita menutupkan khimar/kerudung pada bagian dada mereka.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Ibnu Taimiyyah dalam menafsirkan sabda Nabi Saw di atas berkata: “Bahwa perempuan itu memakai pakaian yang tidak menutupinya. Dia berpakaian tapi sebenarnya telanjang. Seperti wanita yang memakai pakaian yang tipis sehingga menggambarkan posur tubuh (kewanitaan)-nya atau pakaian yang sempit yang memperlihatkan lekuk tubuhnya, seperti pinggul, lengan , dan sejenisnya”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, sangat disayangkan wanita-wanita Muslimah yang senang berpakaian tipis atau seksi dan tidak mau memakai jilbab. Padahal itu diperintahkan Allah dalam Al-Quran dan Hadits dalam formulasi yang qath’i (tegas dan pasti). Karena itu mari kita ajak keluarga dan saudara kita yang perempuan agar senantiasa menjada dan menutup aurat atau memakai busana Muslimah agar mereka terhindar dan tidak termasuk golongan orang-orang yang tidak dapat mencium bau surga. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanajadeh.blogspot.com/feeds/8098458769414784855/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hanajadeh.blogspot.com/2013/08/ancaman-bagi-yang-membuka-aurat.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1142211349625914890/posts/default/8098458769414784855'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1142211349625914890/posts/default/8098458769414784855'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanajadeh.blogspot.com/2013/08/ancaman-bagi-yang-membuka-aurat.html' title=' Ancaman Bagi Yang Membuka Aurat'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14590274822924929950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhjJ-ejsQNPKdxAs6dcoMMoeev2weCioljiR0jlX50ZfdW_hrpX2KiR2vUgNsuIVyWne9tEcPYefhsJpiExEExwWJBFISo90ZTeKjUvR82p2gnLfKtL3VpNy8sH4wtOwksvCBbRJAoJDvZC/s72-c/41798_113886428661298_6201_n.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1142211349625914890.post-7710091730828015818</id><published>2013-07-30T00:56:00.000+07:00</published><updated>2013-07-30T00:56:30.886+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Islami"/><title type='text'>Tidur Siang</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgQnJM7LDWLOaHSdXIh8TMnNhuocfrQjOzPRcdMcNBM7o9tx9bu5f82xOiHiFiy8Q8dDxqBgFGYPdjulox_tDe-KIG9z8eB5f8P4LjVIsC-hPvBX9QyCKc9TwFfrqaOef1JbeKFHrqufyuw/s1600/tdr.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;234&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgQnJM7LDWLOaHSdXIh8TMnNhuocfrQjOzPRcdMcNBM7o9tx9bu5f82xOiHiFiy8Q8dDxqBgFGYPdjulox_tDe-KIG9z8eB5f8P4LjVIsC-hPvBX9QyCKc9TwFfrqaOef1JbeKFHrqufyuw/s320/tdr.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Masa anak-anak masa penuh aktivitas. Anak-anak seolah tak berhenti bergerak, dari satu aktivitas ke aktivitas yang lain. Lebih-lebih lagi bermain, sebuah aktivitas yang menjadi favorit dalam dunia anak. Kadang karena asyik bermain atau melakukan aktivitas yang lain, anak jadi susah diminta tidur siang. Bahkan tidur siang menjadi sesuatu yang menjengkelkan karena memutuskannya dari kegembiraan aktivitas yang dilakukannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ternyata faktor yang menghalangi anak-anak istirahat di siang hari bukan hanya datang dari diri mereka sendiri. Bahkan terkadang, ada orangtua yang justru menghasung anak-anak untuk menyibukkan waktunya dengan segudang kegiatan, tanpa istirahat siang. Les ini, les itu, kegiatan ini dan itu, bersiap menyongsong ini dan itu, sehingga anak tak berhenti dari satu kesibukan ke kesibukan yang lain.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kita –orangtua– seyogianya tidak membiarkan anak-anak tanpa tidur siang ataupun sekadar beristirahat di siang hari. Dari sisi kesehatan, tentu hal ini banyak manfaatnya, mengistirahatkan tubuh sejenak dari aktivitas agar bugar kembali untuk menyambut aktivitas berikutnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tak hanya dari sisi kesehatan tinjauannya. Jauh lebih penting lagi, tidur siang adalah sunnah yang diajarkan dan dilakukan oleh Rasulullah. Beliau memerintahkan kita untuk tidur siang dalam sabda beliau yang dinukilkan oleh Anas bin Malik :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;
قِيْلُوا فَإِنَّ الشَّيَاطِيْنَ لاَ تَقِيْلُ&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Qailulah-lah (istirahat sianglah) kalian, sesungguhnya setan-setan itu tidak pernah istirahat siang.” (HR. Abu Nu’aim dalam Ath-Thibb, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1637: isnadnya shahih)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Yang dimaksud dengan qailulah adalah istirahat di tengah hari, walaupun tidak disertai tidur. (An-Nihayah fi Gharibil Hadits)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Apa yang dilakukan dan dihasung oleh Rasulullah ini juga diikuti oleh para sahabat. Di antaranya ‘Abdullah bin Mas’ud dalam riwayat dari ‘Umar ibnul Khaththab :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;
رُبَّمَا قَعَدَ عَلَى بَابِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رِجَالٌ مِنْ قُرَيْشٍ، فَإِذَا فَاءَ الْفَيْءُ قَالَ: قُوْمُوا فَمَا بَقِيَ فَهُوَ لِلشَّيْطَانِ. ثُمَّ لاَ يَمُرُّ عَلَى أَحَدٍ إِلاَّ أَقَامَهُ&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pernah suatu ketika ada orang-orang Quraisy yang duduk di depan pintu Ibnu Mas’ud. Ketika tengah hari, Ibnu Mas’ud mengatakan, “Bangkitlah kalian (untuk istirahat siang, pent.)! Yang tertinggal hanyalah bagian untuk setan.” Kemudian tidaklah Umar melewati seorang pun kecuali menyuruhnya bangkit.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no.1238, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 939: hasanul isnad)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dalam riwayat yang lainnya disebutkan:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;
كَانَ عُمَرُ z يَمُرُّ بِنَا نِصْفَ النَّهَارِ –أَوْ قَرِيْبًا مِنْهُ – فَيَقُوْلُ: قُوْمُوا فَقِيْلُوا، فَمَا بَقِيَ فَلِلشَّيْطَانِ&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Biasanya ’Umar bila melewati kami pada tengah hari atau mendekati tengah hari mengatakan, “Bangkitlah kalian! Istirahat sianglah! Yang tertinggal menjadi bagian untuk setan.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no.1239, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 939: hasanul isnad)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Begitulah kebiasaan para sahabat. Diceritakan oleh Anas bin Malik, ketika datang pengharaman khamr, para sahabat sedang duduk-duduk minum khamr di rumah Abu Thalhah. Dengan segera mereka menuangkan isi bejana khamr, lalu mereka istirahat siang di rumah Ummu Sulaim, istri Abu Thalhah. Anas menuturkan:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;
مَا كَانَ لِأَهْلِ الْمَدِيْنَةِ شَرَابٌ– حَيْثُ حُرِّمَتِ الْخَمْرُ –أَعْجَبُ إِلَيْهِمْ مِنَ التَّمْرِ وَالْبُسْرِ، فَإِنِّي لَأُسْقِي أَصْحَابَ رَسُوْلِ اللهِ n وَهُمْ عِنْدَ أَبِي طَلْحَةَ، مَرَّ رَجُلٌ قَالَ: إِنَّ الْخَمْرَ قَدْ حُرِّمَتْ. فَمَا قَالُوا: مَتَى؟ أَوْ حَتَّى نَنْظُرَ. قَالُوا: يَا أَنَسُ، أَهْرِقْهَا، ثُمَّ قَالُوا عِنْدَ أُمِّ سُلَيْمٍ حَتَّى أَبْرَدُوا وَاغْتَسَلُوا، ثُمَّ طَيَّبَتْهُمْ أُمُّ سُلَيْمٍ ثُمَّ رَاحُوا إِلَى النَّبِيِّ n فَإِذَا الْخَبَرُ كَمَا قَالَ الرَّجُلُ. قَالَ أَنَسٌ: فَمَا طَعِمُوهَا بَعْدُ&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Tidak ada minuman yang paling disukai penduduk Madinah tatkala diharamkannya khamr, selain (khamr dari) rendaman kurma. Sungguh waktu itu aku sedang menghidangkan minuman itu kepada para sahabat Rasulullah yang sedang berada di rumah Abu Thalhah. Tiba-tiba lewat seseorang, dia mengatakan, “Sesungguhnya khamr telah diharamkan!” Sama sekali para sahabat tidak menanyakan, “Kapan?” atau “Kami lihat dulu.” Mereka justru langsung mengatakan, “Wahai Anas, tumpahkan khamr itu!” Lalu mereka pun beristirahat siang di rumah Ummu Sulaim sampai hari agak dingin, setelah itu mereka mandi. Kemudian Ummu Sulaim memberi mereka minyak wangi. Setelah itu mereka beranjak menuju ke hadapan Nabi. Ternyata beritanya memang seperti yang dikatakan orang tadi. Maka mereka tak pernah lagi meminumnya setelah itu.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no.1241, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 940: shahihul isnad)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Anas bin Malik mengabarkan kebiasaan para sahabat Rasulullah dahulunya:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;
كَانُوا يُجَمِّعُوْنَ ثُمَّ يَقِيْلُوْنَ&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Mereka (para sahabat) dulu biasa melaksanakan shalat Jum’at, kemudian istirahat siang.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no.1240, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 939: shahihul isnad)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Jika para sahabat saja bersemangat mengikuti perintah Rasulullah serta mengajak yang lainnya melakukan kebaikan ini, tentu kita tak pantas meninggalkannya. Kita melakukan dan kita ajak anak-anak kita untuk melakukannya pula.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Manfaat yang besar akan mereka dapatkan; tubuh akan terasa segar untuk melaksanakan berbagai ketaatan kepada Allah l, juga menyelisihi kebiasaan setan yang tak pernah istirahat di siang hari. Lebih penting lagi, membiasakan diri mereka untuk meneladani sunnah Rasulullah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Wallahu a’lamu bish-shawab.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;
*Majalah AsySyariah Edisi 050&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanajadeh.blogspot.com/feeds/7710091730828015818/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hanajadeh.blogspot.com/2013/07/tidur-siang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1142211349625914890/posts/default/7710091730828015818'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1142211349625914890/posts/default/7710091730828015818'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanajadeh.blogspot.com/2013/07/tidur-siang.html' title='Tidur Siang'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14590274822924929950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgQnJM7LDWLOaHSdXIh8TMnNhuocfrQjOzPRcdMcNBM7o9tx9bu5f82xOiHiFiy8Q8dDxqBgFGYPdjulox_tDe-KIG9z8eB5f8P4LjVIsC-hPvBX9QyCKc9TwFfrqaOef1JbeKFHrqufyuw/s72-c/tdr.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1142211349625914890.post-8288320659609181754</id><published>2013-07-30T00:40:00.001+07:00</published><updated>2013-07-30T00:40:41.717+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kisah Teladan"/><title type='text'>Kasih Sayang dalam Hukum Islam</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh_6AbCXikOg2O79EEYYIzd3_Oi_hlihy95xAhz_UKBgJQQwpIOA4Fx9oNJdQiee734UpaldJu6EkvwS-YK33Nb26RQmWK6xsmgqVKc8lMPAFg9ZzsH_wmMKcRjxLr5lp2Y4FQRkb8dzK6D/s1600/images.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh_6AbCXikOg2O79EEYYIzd3_Oi_hlihy95xAhz_UKBgJQQwpIOA4Fx9oNJdQiee734UpaldJu6EkvwS-YK33Nb26RQmWK6xsmgqVKc8lMPAFg9ZzsH_wmMKcRjxLr5lp2Y4FQRkb8dzK6D/s1600/images.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Alkisah, adalah seorang lelaki pengembala yang kebetulan agak lengah, sehingga unta gembalaannnya memasuki kebun anggur milik orang. Menyadari peristiwa itu, si pengembala lantas bersegera menghalau unta-unta agar keluar dari kebun anggur dan kembali ke padang gembalaan. Namun, si pengembala tampaknya kalah cepat dibanding pemilik kebun, yang telah keburu marah akibat kerusakan tanamannya. Dia telah keburu mengangkat batu besar, dilemparkannya, dan tepat mengenai kepala unta. “Prakk!!!” Kontan, binatang unta menggelepar dan tak lama lantas diam diri, mati.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Melihat peristiwa itu si pengembala menjadi panik, bingung, karena binatang unta memang bukan miliknya. Dirinya hanya upahan belaka. Di tengah kemarahannya, dan di tengah gejolak darah mudanya, si pengembala ganti mengangkat bati yang semula ditimpakan pada kepala unta, lantas di lempar balik ke si empunya kebun. Sekali kena lemparan, “Bukk!!” Kontan, lelaki tua pemilik kebun menggelepar dan tak lama berikutnya diam diri, juga mati.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Akibat peristiwa itu, anak pemilik kebun meradang kemarahan. Ia bersegera melaporkan peristiwa kematian sang ayah pada Amirul Mukminin, Umar bin Khattab. Singkat kata, persidangan pun di mulai. Umar bertanya kepada pengembala, “Benarkan engkau telah membunuh Bapak pemilik kebun?”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dengan wajah menyesal tiada terhingga, sang pengembala membenarkan tuduhan dengan mengungkapkan segala alasan dan kronologis dari pembunuhan. Umar lantas mengalihkan pandangannya kepada anak pemilik kebun, lantas melontarkan pertanyaan, “Dia telah mengakui pembunuhan itu dan secara gamblang telah menjelaskan kronologis penyebab pembunuhan. Apakah kalian mau memaafkan si pengembala, sehingga dia dapat tercegah dari hukum qisash? Ketahuilah saudaraku ampunan itu tetap lebih baik dibanding hukuman.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mendengar pertanyaan itu, anak korban cepatt menukas tangkas, “Tidak bisa wahai Amirul Mukminin, darah harus dibayar dengan darah.” Terlihat mata si anak korban memerah menahan amarah. Tampangnya merah padam, memperlihatkan emosi tinggi akibat dibakar sakit hati dan dendam tak terperi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dalam Islam memang berlaku hukum qisash, orang yang membunuh harus dihukum bunuh, orang yang memukul harus ganti pukul. Namun, bila ahli waris memaafkan dan sepakat cukup ganti dengan diyat alias ganti rugi, maka hukum mati memang dapat dihindari. Tapi, secara manusiawi kemungkinan pemaafan memang sangat kecil sekali, sehingga orang tetap berpikir seribu kali untuk berlaku keji, membuat orang mati.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Melihat kuatnya tekad dan dalamnya dendam di ahli waris agar pengembala dihukum mati, maka tak ada pilihan bagi Umar, kecuali memutuskan hukum qisash tadi. Sebelum qisash dilaksanakan, Umar memberi satu kesempatan agar terhukum mengajukan satu permintaan ataukah pesan. “Wahai fulan, adakah satu hal yang engkau ingin sampaikan sebelum kamu dihukum mati?”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mendengar tawaran ini, pengembala tadi langsung meminta agar hukuman ditunda untuk sementara. Pengembala mohon agar diberi kesempatan untuk mengembalikan harta anak yatim yang telah dititipkan kepadanya. “Wahai Amirul Mukminin, selama ini aku dipercaya menyimpan harta waris tiga anak yatim yang dalam asuhanku. Selama ini, aka memang dipercaya untuk meyimpan, terutama selama mereka belum mampu mengelolanya. Setelah mereka dewasa, harta itu sedianya akan kuserahkan agar dapat dikelola dengan baik dan bermanfaat untuk kepentingan hidup mereka. Kini, aku harus menjalani hukuman mati. Oleh karena itu, wahai Amirul Mukminin, izinkan aku mengembalikan amanah itu, atau barangkali meminta orang lain menggantikan tugasku. Demi Allah, aku sama sekali tak ingin mati, sementara masih menyimpan amanah di tanganku sendiri. Mohon berikan kepadaku penundaan hukuman selama tiga hari saja agar aku dapat menyelesaikan amanah dengan sebaik-baiknya.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ahli waris merasa keberatan, karena tak ada jaminan si terhukum akan menepati janji untuk menjalani hukuman ati. Adalah sangat manusiawi jika orang yang terancam qisash mati berusaha untuk melarikan diri. Namun, si pengembala kembali memohon agar keinginan terakhirnya dapat dikabulkan. Berkali-kali ia bersumpah untuk menepati janji.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mereka yang hadir di persidangan tampak bersimpatik kepada si pengembala ini. Alasan mereka bukan semata karena emosi, tetapi si pengembala memang dikenal sebagai lelaki jujur dan memegang taguh janji. Umar mengajukan sebuah pertanyaan, “Adakah di antara kalian mau memberi jaminan? Jika ada yang menjamin, niscaya aku mengijinkannya pergi selama tiga hari untuk menyelesaikan urusannya yang suci. Namun, jika ia tak kembali, maka si penjamin akan menjadi penggantinya.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Suasana hening sejenak. Tetapi sejurus kemudian, kebekuan itu dicairkan oleh seorang pemuda, mengacungkan tangan untuk bicara, “Saya bersedia menjadi penjaminnya, wahai Amirul Mukminin.” Ternyata lelaki usia baya itu memang sahabat si pengembala. Mereka lahir dan tumbuh di kampung yang sama. Mereka selama bertahun-tahun menjadi pengembala di padang rumput yang sama pula. Ia mengenal akhlak si pengembala, sehingga sangat yakin bahwa dia tak akan mengingkari janji dan sumpahnya. Singkat cerita, si pengembala akhirnya pulang guna menyelesaikan amanah yang diembannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tiga hari telh berlalu, dan hukuman qisash siap dilaksanakan. Namun, si pengembala belum menampakkan batang hidungnya. Berbagai rasa curiga mulai muncul di hati mereka, kecuali pemuda yang menjaminkan dirinya. Dia telah mengenal siapa jati diri dari si pengembala. Dalam waktu penantian yang terbilang menit, dari kejauhan tampak seseorang menunggang kuda begitu kencangnya. Debu berterbangan, membumbung ke udara, akibat disapu kaki-kaki kuda. Makin lama, kian dekat. Makin lama, kian nyata. Si pengembala terbukti datang untuk memenuhi janjinya. Ia bukannya berjalan lambat, tetapi melangkah cepat, guna menyongsong hukuman qisash menuju kehidupan akhirat. Ia ingin menepati janjinya, dan tak ingin menyakiti temannya yang baik hati.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kuda belum sempurna berhenti, si pengembala telah melompat nekat, turun ke bumi untuk menyongsong hukuman mati. Nafasnya tersengal-sengal, wajahnya menyiratkan gambar kecapaian. Namun, tanpa menghitung lagi nafas satu duanya, ia langsung memeluk rekannya yang dengan tulus siap menggantikan posisinya. Ucapan terima kasih di ucapkan, dan permohonan maaf tak lupa ia haturkan. Sebab hampir saja ia terlambat memenuhi janjinya. Seolah rasa capai tak ia rasakan, oleh karenanya ucapan kesiapan langsung ia ajukan: menjalani hukuman mati, menghadap Allah azza wajalla.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Justru, pada detik-detik terakhir pelaksanaan qisash itulah, si ahli waris mendadak mengubah sikapnya. Ahli waris telah menyaksikan betapa jujur pengembala. Ia melihat betap agung akhlak pengembala memegang teguh janjinya. Berpijak pada ketulusan si pengembala itulah, si ahli waris menarik tuntutannya, bahkan menjadikannya saudara. Qisash pun akhirnya tak jadi dilaksanakan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;h3&gt;
Hikmah :&lt;/h3&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ada sementara orang mensosialisasikan pemikiran distortif bahwa Islam memiliki ajaran hukum sangat kejam dan tak sesuai peradaban dan azas kemanusiaan. Hukuman mati disebutnya keji, melanggar hak asasi. Mereka berargumentasi bahaw pencabutan nyawa adalah prerogatif Ilahi, sesuatu yang tak layak dilakukan oleh siapa pun manusia di bumi. Tanpa bermaksud mengajukan pemikiran apologetis, catatan historis tadi secara substantif mengajari kita untuk berpikir bijak berlandas pada nurani kejujuran dan ruh keadilan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
(1) Hukuman mati bagi pembunuh, secara substansial filosofis justru menjadi satu-satunya alat pencegah (preventif) terjadinya pembunuhan lainnya. Sehubungan dengan logika ini, ada sebuah anekdot unik, yakni: “Ketika dua penjual daging di Arab Saudi berkelahi mereka akan melempar pisau yang ada di tangannya, lantas keduanya berbaku hantam. Sebaliknya, dua orang berkelahi di Indonesia, keduanya berlari dahulu ke rumah, mengambil pisau, untuk dijadikan alat perkelahian.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Apa sebab? Karena orang Saudi secara rasional berkalkulasi, seandainya ia dapat mengalahkan lawan, membunuh lawan, dirinya segera mengalami peristiwa serupa, mati karena dihukum qisash. Lantas apalah arti dari kemenangan yang diraihnya?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Jawabannya: Nol besar.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hal ini sangat berbeda dengan konteks hukum di Indonesia yang ringan, yang justru mendorong orang untuk tampil bangga sebagai pembunuh sebagai lambang kemenangannya. Dari dua gambaran tadi terlihat, betapa hukuman mati bagi pembunuh dalam Islam secara substansial justru sebagai terapi pencegahan agar orang tak gampang membunuh. Hal ini persis seperti firman Allah yang menyebutkan, bahwa “Dengan hukuman mati itu, hakekatnya Allah telah memelihara kehidupan.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
(2) Bicara hukum yang berkeadilan, siapa pun orang yang memakai akal kebijakannya, niscaya akan sepakat: orang memukul hidung hendaknya ganti dipukul di hidung, orang membunuh sepantasnya ganti dihukum bunuh. Itulah keadilan yang paling adil, sepadan, dengan berat timbangan serupa. Adalah terlalu naif bila hukuman mati bagi pembunuh dianggap melanggar hak asasi, sementara pada saat yang mengabaikan hak asasi dari pihak yang terbunuh tadi. Inilah logika keadilan yang nyata-nyata mengingkari logika keadilan dan ruh kebijakan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
(3) Mencabut nyawa memang merupakan hak prerogatif Tuhan, tetapi lantaran penyebabnya dapat beraneka ragam. Orang membunuh orang lain adalah lantaran. Sebaliknya, hukuman mati oleh pemerintah atas si pembunuh adalah salah satu lantaran pula. Apalagi, hak penghukuman mati itu telah pula mendapat legitimasi dan justru perintah dari Tuhan sendiri. Apakah menjalankan amanah Tuhan dapa disebut mengingkari hak Tuhan? Naudzubillah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
(4) Sekeras dan setegas apa pun, hukum Islam secara substantitatif mengajarkan kasih sayang. Islam menghukum mati adalah lambang kasih sayang, karena mencegah peristiwa pembunuhan lainnya, karena orang lain pasti takut dihukum mati. Bahkan bila peristiwa pembunuhan terlanjur terjadi, Islam tetap membuka peluang pemaafan dari ahli waris kepada pembunuhnya, agak tak muncul dendam berkesinambungan. Jika pencegahan hukuman mati dilakukan karena bukan pemaafan maka kemungkinan balas-membalas pembunuhan (oleh ahli waris) mungkintidak dapat dihindarkan. Sebaliknya, jika pencegahan hukuman mati dilandaskan pada pemaafan dari si pewaris, maka kejadian kelabu pasti berhenti pada peristiwa itu saja.&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanajadeh.blogspot.com/feeds/8288320659609181754/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hanajadeh.blogspot.com/2013/07/kasih-sayang-dalam-hukum-islam.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1142211349625914890/posts/default/8288320659609181754'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1142211349625914890/posts/default/8288320659609181754'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanajadeh.blogspot.com/2013/07/kasih-sayang-dalam-hukum-islam.html' title='Kasih Sayang dalam Hukum Islam'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14590274822924929950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh_6AbCXikOg2O79EEYYIzd3_Oi_hlihy95xAhz_UKBgJQQwpIOA4Fx9oNJdQiee734UpaldJu6EkvwS-YK33Nb26RQmWK6xsmgqVKc8lMPAFg9ZzsH_wmMKcRjxLr5lp2Y4FQRkb8dzK6D/s72-c/images.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1142211349625914890.post-5249645290840985680</id><published>2013-07-26T01:52:00.002+07:00</published><updated>2013-07-26T01:52:27.026+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kisah Teladan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Rasulullah"/><title type='text'>Mari Memuliakan dan Melindungi Anak Yatim</title><content type='html'>&lt;div&gt;
&lt;div style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;
&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg6Leudiokn7HxwxzLKc5UoorU0Vd5kt0k2rkfNe3kmMRkPu5_tH1s1A9mY3_v-BDJAjufxyXzJ_Y074_4UjaoG2VZNRdBNrkNSP8S0yy8Z9pzZvcWul-gEK5D90kWQ-r4xk5skZokDgCvR/s1600/Sayang_Anak_Yatim.jpg&quot; /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dalam sejarah, Rasulullah Saw dikisahkan punya kedekatan hubungan dengan “orang-orang miskin, termasuk anak-anak. Bahkan, ketika masuk ke dalam suatu majelis, Rasulullah memilih duduk dalam kelompok orang-orang miskin.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Rasulullah bersabda, “Siapa yang memakaikan seorang anak pakaian yang indah dan mendandaninya pada hari raya, maka Allah SWT akan mendandani/menghiasinya pada hari kiamat. Allah mencintai terutma setiap rumah, yang di dalamnya memelihara anak yatim dan banyak membagi-bagikan hadiah. Barang siapa yang memelihara anak yatim dan melindunginya, maka ia akan bersamaku di surga.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Suatu ketika, pada Hari Raya Idul Fitri, Rasulullah seperti berkunjung ke rumah-rumah warga. Dalam kunjungan itu, Rasulullah melihat semua orang bahagia.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Anak-anak bermain dengan mengenakan pakaian hari raya. Namun, tiba-tiba Rasulullah tertuju pada seorang anak kecil yang sedang duduk bersedih.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Anak kecil ini memakai pakaian penuh tambalan dan sepatu rusak. Rasulullah lalu bergegas menghampirinya. Melihat kedatangan Rasulullah, anak kecil itu menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya dan menangis tersedu-sedu. Rasulullah lantas meletakkan tangannya di atas kepala anak kecil itu dan dengan penuh kasih sayang, lalu bertanya, “Anakku, mengapa engkau menangis? Hari ini adalah hari raya bukan?”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Anak itu menjawab, “Pada hari raya yang suci ini semua anak menginginkan agar dapat merayakan bersama orang tuanya dengan bahagia. Anak-anak bermain dengan riang gembira. Aku lalu teringat pada ayahku, itu sebabnya aku menangis.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ketika itu hari raya terakhir bersamanya. Ia membelikanku sebuah gaun berwarna hijau dan sepatu baru. Waktu itu aku sangat bahagia. Lalu suatu hari ayahku pergi berperang bersama Rasulullah. Ia bertarung bersama Rasulullah bahu membahu dan kemudian ia meninggal. Sekarang ayahku tidak ada lagi. Aku telah menjadi seorang anak yatim. Jika aku tidak menangis untuknya, lalu siapa lagi?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mendengar cerita itu, seketika hati Rasulullah diliputi kesedihan. Dengan penuh kasih sayang ia lalu membelai kepala anak kecil itu dan berkata, Anakku, hapuslah air matamu. Angkatlah kepalamu dang dengarkan apa yang akan kukatakan kepadamu. Apakah kamu ingin agar aku menjadi ayahmu? Dan apakah kamu juga ingin agar Fatimah menjadi kakak perempuanmu dan Aisyah menjadi ibumu? Bagaimana pendapatmu tentang usul dariku ini?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Anak itu langsung berhenti menangis. Ia memandang dengan penuh takjub orang yang berada tepat dihadapannya. Namun, entah mengapa ia tidak bisa berkata apa-apa.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ia hanya dapat menganggukkan kepalanya sebagai tanda menerima tawaran Rasulullah. Kemudian anak kecil itu bergandengan tangan dengan Rasulullah pulang menuju rumah beliau.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sesampainya di rumah, wajah dan kedua tangan anak kecil itu lalu dibersihkan. Ia kemudian diberi pakaian yang indah dan makanan, serta uang. Lalu diantar keluar agar dapat bermain bersama anak-anak lainnya. Sikap Rasulullah ini menunjukkan Islam sangat menonjolkan kepedulian sosial.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;h3&gt;
Defenisi Anak Yatim&lt;/h3&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ibnu Manzhur berkata, “Yatim adalah anak yang ditinggal mati oleh ayahnya sebelum ia baliqh.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Rasulullah Saw bersabda : “Tidaklah dinamakan yatim setelah dia baligh”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Anak yang belum baligh, bila yang meninggal dunia ayahnya disebut yatim, bila yang meninggal dunia ayah dan ibunya disebut lathim (yatim-piatu bila dalam bahasa Indonesia). Dan bila yang meninggal ibunya saja disebut ‘ujm. Definisi ini perlu kita pahami agar kita tidak dalah di dalam mengemban amanat dan mencari sumbangan yang mengatas namakan anak yatim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;h3&gt;
Keutamaan Memelihara dan Menyantuni Anak Yatim&lt;/h3&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setiap perintah Allah Ta’ala bila diamalkan dengan penuh keikhlasan dan sesuai dengan sunnah Rasulullah pasti ada keutamaannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Orang yang menyantuni dan memelihara anak yatim karena ingin melaksanakan perintah Allah akan meraih keuntungan yang banyak, diantaranya:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1. Menjadi teman Rasulullah di surga&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2. Menumbuhkan sikap lemah lembut&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
3. Menjauhkan diri dari sifat kikir&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
4. Menjadi pengikut setia Rasulullah&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
5. Bertambah rezekinya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;h3&gt;
Bagaimana Mendidik dan Menyantuninya&lt;/h3&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Anak kecil biasanya banyak tingkah. Mereka perlu mendapatkan pendidikan dan pengarahan agar selamay lahir dan bathinnya. Begitu pula anak yatim, sangat butuh pemeliharaan karena dia kehilangan kekasih yang senantiasa mengurusi dana untuk memenuhi kebutuhannya. Karena itu, wajar jika dia banyak tingkah dan berbuat salah. Lalu bagaimana mendidik mereka&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1. Pendidik hendaknya ikhlas karena mencari ridha Allah Ta’ala&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2. Menganggap sebagai anaknya sendiri&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
3. Merasa diawasi Allah&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
4. Sopan dan lembut ketika menghadapi tingkah lakunya yang salah&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
5. Senyum dan menyayanginya serta tidak mengganggu fisik dan kehormatannya&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
6. Mendidik sampai baligh dan siap menikah&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
7. Mendidik agar menjadi ahli ibadah&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
8. Jangan mengurusi hartanya bila khawatir tidak amanat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;h3&gt;
Bahaya Menelantarkan Anak Yatim&lt;/h3&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menelantarkan anak yatim termasuk dosa besar, demikian juga mengambil hartanya tanpa alasan yang benar. Mengurusi anak yatim adalah bagian dari din (agama). Hukumnya fardhu kifayah. Jika waliyul amri (pemerintah) tidak mengurus dan tidak ada seorang pun yang mengurus dia maka kaum muslimin semuanya berdosa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Times, Times New Roman, serif;&quot;&gt;Referensi :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Times, Times New Roman, serif;&quot;&gt;Rinaldi, Sofnir. 2013, Mari Memuliakan dan Melindungi Anak Yatim. Buletin Dakwah Al-Adzkia Masjid Baiturrahim Ulhee Lheue. Banda Aceh. 21 Juni 2013&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanajadeh.blogspot.com/feeds/5249645290840985680/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hanajadeh.blogspot.com/2013/07/mari-memuliakan-dan-melindungi-anak.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1142211349625914890/posts/default/5249645290840985680'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1142211349625914890/posts/default/5249645290840985680'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanajadeh.blogspot.com/2013/07/mari-memuliakan-dan-melindungi-anak.html' title='Mari Memuliakan dan Melindungi Anak Yatim'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14590274822924929950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg6Leudiokn7HxwxzLKc5UoorU0Vd5kt0k2rkfNe3kmMRkPu5_tH1s1A9mY3_v-BDJAjufxyXzJ_Y074_4UjaoG2VZNRdBNrkNSP8S0yy8Z9pzZvcWul-gEK5D90kWQ-r4xk5skZokDgCvR/s72-c/Sayang_Anak_Yatim.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1142211349625914890.post-7560575727836648196</id><published>2013-07-14T07:05:00.000+07:00</published><updated>2013-07-14T07:05:59.736+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Islami"/><title type='text'>Penyakit Hati Lebih Berbahaya Dibandingkan Penyakit Tubuh</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhVUmcz5uoUuBghesw8EQBla89av-5rFl0PSDnJ8bCPdmca2cy76gI-SiRVt_gjbA5aSa_ikR7t2c_W7bMKF0KLIXwilM0XCMQyVP5GrvKxNg2i6YkuJAVpHbl9dyOAU6K6aIESpzUnnwfC/s1600/PenyakitHati1-739493.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhVUmcz5uoUuBghesw8EQBla89av-5rFl0PSDnJ8bCPdmca2cy76gI-SiRVt_gjbA5aSa_ikR7t2c_W7bMKF0KLIXwilM0XCMQyVP5GrvKxNg2i6YkuJAVpHbl9dyOAU6K6aIESpzUnnwfC/s1600/PenyakitHati1-739493.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Penyakit-penyakit hati lebih mengganggu dan lebih berbahaya, lebih parah dan lebih buruk daripada penyakit-penyakit tubuh ditinjau dari berbagai segi dan arah. Yang paling merugikan dan paling besar bahayanya ialah karena penyakit hati mendatangkan mudarat atas seseorang dalam agamanya, yaitu modal kebahagiaannya di dunia dan akhirat; dan bermudarat bagi akhiratnya, yaitu tempat kediaman yang baka, kekal, dan abadi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Adapun penyakit tubuh tidaklah mendatangkan mudarat atas seseorang kecuali dunianya yang fana yang segera sirna, serta tubuhnya yang menjadi sasaran penyakit akan hancur luluh dalam waktu yang cepat. Apalagi penyakit tubuh itu amat berfaedah bagi seseorang dalam agama dan akhiratnya. Sebab, Allah SWT menyediakan pahala besar bagi si penderita sakit, di samping banyak faedah dan manfaat lainnya yang segera ataupun pada waktu mendatang, sesuai dengan yang disebutkan dalam berbagai ayat dan hadits tentang pahala yang disediakan pada penyakit dan bencana yang menimpa tubuh.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kemudian, karena penyakit hati tidak terjangkau secara indrawi dan tidak menimbulkan rasa sakit, sulitlah ia diketahui dan ditemukan. Perhatian padanya amat sedikit dan daya upaya untuk mengobatinya pun lemah sekali, seperti yang disebutkan oleh Imam Al-Ghazali, “Penyakit hati itu laksana penyakit sopak (belang) di wajah seseorang yang tak memiliki cermin. Jika ia diberi tahu orang lain pun, mungkin ia tak memercayainya.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Selain itu, berbagai azab dan hukuman yang diancamkan atas diri seseorang sebagai akibat penyakit-penyakit hati, kelak di akhirat, adalah sesuatu yang sulit diterima oleh kaum yang lalai. Atau, mereka melihatnya sebagai sesuatu yang masih lama sekali datangnya. Adakalanya mereka bahkan meragukankannya. (Semoga Allah SWT melindungi kita darinya.) Atau, berangan-angan akan diselamatkan darinya dengan berbagai harapan yang menipu, semata-mata karena terlalu “berani” kepada Allah. Sehingga, ampunan dan keselamatan meski tanpa berusaha untuk memperolehnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Disebabkan hal-hal seperti itu, banyak penyakit hati yang terus tersembunyi, bahkan makin kuat mencengkeram, sementara orang-orang yang lalai selalu teledor untuk mengobatinya sehingga makin lama makin sulit diobati. Bahkan, adakalanya seseorang dari mereka mengetahui bersemayamnya sesuatu penyakit di hatinya, tetapi ia tidak peduli dan tak menghiraukannya. Padahal, sekiranya ia mengetahui adanya suatu penyakit di tubuhnya ataupun orang lain memberi tahunya tentang hal itu, pasti besar sekali perhatian yang ditujukan kepadanya. Ia akan menjadi sangat takut, lalu bersungguh-sungguh berdaya upaya untuk mengobatinya dengan mengerahkan apa saja yang dapat dilakukannya. Sebab, seperti yang telah kami sebutkan, penyakit hati itu tak terjangkau secara indriawi dan tidak ada rasa sakit yang menyertainya segera. Juga, hukuman-hukuman yang diancamkan terhadap itu tidak tampak, dan kalaupun ada, ia baru akan terwujud kelak setelah mati dan berada di akhirat. Sedangkan orang yang lalai menganggap maut dan segala yang datang sesudahnya sebagai sesuatu yang amat jauh. Padahal, sekiranya menggunakan akalnya dan keyakinannya, niscaya ia akan mengetahui bahwa maut adalah sesuatu perkara ghaib yang paling cepat datangnya. Seperti disabdakan oleh Rasulullah Saw. Dan sebagaimana juga belilau pernah bersabda, “Surga itu lebih dekat kepada seorang di antara kalian daripada tali sandalnya.” Demikian pula neraka.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Penyakit hati sungguh banyak ragamnya. Yang paling berbahaya dan paling mudarat ialah kebimbangan dalam agaman. Selain itu, lemahnya keimanan kepada Allah, Rasul-Nya, serta kediaman di akhirat. Juga, sifat riya (ingin dipuji oleh manusia) dalam berbuat kebajikan. Angkuh terhadap hamba-hamba Allah, bakhil, iri hati, dengki, curang, cinta akan dunia dan sangat ingin mempertahankannya, panjang angan-angan (yang menyebabkan selalu menunda tobat), lupa akan maut, lalai akan akhirat, mengabaikan persiapan untuknya, serta berbagai macam penyakit hati lainnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mengingat bahwa hati manusia tertutup dari perasaan indriawi, sedangkan penyakit-penyakit hati tidak disertai rasa sakit yang dapat dijangkau dengan alat-alat lahiriyah, wajiblah atas manusia berakal, yang prihatin akan agamanya serta keselamatan akhiratnya, untuk sungguh-sungguh berusaha menyelidikinya sehingga ia dapat segera menangani dan mengobatinya sebelum maut datang mendadak dan ia pun menuju Tuhannya, lalu berhadapan dengan-Nya dengan hati yang tak sehat – yang karena itu ia akan merugi, binasa bersama dengan orang-orang yang binasa lainnya.&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanajadeh.blogspot.com/feeds/7560575727836648196/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hanajadeh.blogspot.com/2013/07/penyakit-hati-lebih-berbahaya.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1142211349625914890/posts/default/7560575727836648196'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1142211349625914890/posts/default/7560575727836648196'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanajadeh.blogspot.com/2013/07/penyakit-hati-lebih-berbahaya.html' title='Penyakit Hati Lebih Berbahaya Dibandingkan Penyakit Tubuh'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14590274822924929950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhVUmcz5uoUuBghesw8EQBla89av-5rFl0PSDnJ8bCPdmca2cy76gI-SiRVt_gjbA5aSa_ikR7t2c_W7bMKF0KLIXwilM0XCMQyVP5GrvKxNg2i6YkuJAVpHbl9dyOAU6K6aIESpzUnnwfC/s72-c/PenyakitHati1-739493.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1142211349625914890.post-2458330338077569467</id><published>2013-07-10T23:39:00.000+07:00</published><updated>2013-07-10T23:39:12.332+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Islami"/><title type='text'>Bahasa Ahli Surga</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjEZn0eKGCojAz2XfkKdV2BEK7K5dL0XentirnCQFjf0c7J67cVanK-rAJ-xVJQ2xf282N-BFip-xx5ioJe_CRH3uk8xPpdzdZIf0FPdidQ4Qe2gw52koz-1oF0SrvAxkpqDWa3BSa1qT0m/s1600/Arabic_by_x5pal.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;226&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjEZn0eKGCojAz2XfkKdV2BEK7K5dL0XentirnCQFjf0c7J67cVanK-rAJ-xVJQ2xf282N-BFip-xx5ioJe_CRH3uk8xPpdzdZIf0FPdidQ4Qe2gw52koz-1oF0SrvAxkpqDWa3BSa1qT0m/s320/Arabic_by_x5pal.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Dalam suatu kesempatan, syaikh al-Islam Ibn Taymiyyah pernah ditanya, “Bagaimana umat manusia akan dipanggil pada hari kebangkitan? Apakah Allah akan memanggil mereka dengan bahasa Arab? Bernahkan bahasa penghuni neraka adalah bahasa Persia dan bahasa Arab adalah bahasa surge? Secara ringkas ia menjawab, “Tak seorang pun yang mengetahui bahasa apa yang digunakan umat manusia pada saat itu, begitu juga bahasa yang digunakan Allah, karena Dia tidak pernah menyampaikan sesuatu pun mengenai hal tersebut, begitu pula Nabi-Nya (Muhammad Saw.). Tidak benar bahasa penghuni neraka adalah bahasa Persia dan bahasa penghuni surge adalah bahasa Arab. Para sahabat pun menghindari diskusi yang berhubungan dengan hal tersebut karena dianggap tidak bermanfaat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Coba bayangkan seandainya Ibn Taymiyyah mengiyakan pertanyaan di atas! Konsekuensinya mungkin akan beragam. Yang pasti, orang Persia (Iran) akan sangat marah sementara orang Arab sendiri akan tersenyum dan merasa orang paling bahagia dan mulia dunia akhirat. Lalu, kita yang bahasanya tidak masuk dalam pembicaraan di atas paling tidak akan merasa diabaikan oleh Islam yang konon katanya agama universal dan rahmat bagi seluruh alam. Untung saja, sebagaimana bukunya “Majm?’ al-Fatw?”, ulama ini memberikan jawaban yang bukan saja bijaksana, melainkan juga logis, ilmiah serta selaras dengan nilai-nilai kebenaran Islam. Oleh karena itu, pembaca penutur non-Arab atau yang tidak bisa berbahasa Arab tidak perlu mengkhawatirkan situasi kebahasaan di surge. Selain tidak tepat karena kekhwatiran dan ketakutan bersifat khas duniawi, bukanlah Allah juga telah menjanjikan bahwa orang-orang yang beriman dan beramal shaleh tidak akan memiliki sedikit pun ketakutan dan kesedihan pada diri mereka? Jadi, persoalannya bukan mengenai situasi surge, melainkan jalan menuju surge atau dengan kata lain cara agar bisa sampai disana dan selamat dari neraka. Apakah menjadi orang Arab atau bisa berbahasa Arar merupakan bagian dari cara tersebut? Lalu, bagaimana sebenarnya pandangan Islam terhadap bahasa Arab di antara bahasa-bahasa tersebut? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terlepas dari beberapa teori asal-usul bahasa, Islam memandang bahasa merupakan bagian dari ciptaan Allah dan Dia pulalah yang mengajarkannya pertama sekali kepada manusia pertama yaitu Adam a.s (al-Qur’an, 2:31). Bahasa merupakan perangkat kesempurnaan manusia yang tidak dianugerahkan kepada makhluk lain. Tumbuh dan berkembangnya bahasa-bahasa diperkirakan berlangsung secara alamiah mengikuti proses terbentuknya suku-suku bangsa sebagaimana scenario ilahiah yang disebut dalam al-Qur’an (49:13). Dalam konteks ini, secara umum semua bahasa memiliki dimensi religious dan spiritual. Namun demikian, harus diakui, suka atau tidak suka, bahasa tertentu memang memiliki kedudukan dan status spesial dalam sebuah agama. Dalam Islam, bahasa tersebut adalah bahasa Arab. Mengapa? Karena bahasa Arab merupakan bahasa nabi dan rasul terakhir Muhammad Saw. Yang notabene orang Arab sekaligus sebagai bahasa wahyu yang diturunkan kepadanya, yaitu Al-Qur’an, kitab suci umat Islam. Satu hal lagi yang membuat bahasa ini istimewa adalah statusnya sebagai bahasa ibadah mahdah yang tidak bisa digantikan oleh bahasa lain. Selain itu, bahasa ini juga merupakan bahasa hadits Nabi serta kitab-kitab utama mengenai ajaran Islam. Oleh karena itu, mustahil memisahkan bahasa Arab dari Islam. Ibn Taymiyyah dalam irat al-Mustaqim bahkan berkesimpulan bahwa bahasaArab merupakan bagian Islam dan mempelajarinya merupakan salah satu tugas wajib. Mengacu pada prinsip jurisprudesi Islam (kaidah usul fikih) mengenai kesamaan hukum alat dan tujuan, ia berargumen, “Jika memahami Al-Qur’an dan hadits merupakan kewajiban, sementara keduanya tak mungkin dipahami tanpa memahami bahasa Arab, maka memahami bahasa Arab juga merupakan kewajiban”. Singkatnya, jika belajar Al-Qur’an dan Hadits wajib, maka belajar bahasa Arab pun hukumnya juga wajib. Jadi, keistimewaan bahasa Arab terletak pada peran dan fungsinya dalam memahami ajaran Islam. Dengan demikian, menjadi penutur Arab atau menguasai bahasa Arab tidak lantas membuat seseorang otomatis masuk surga. Rasulullah dalam sebuah hadits mengingatkan bahwa kualitas seseorang buka ditentukan oleh bahasa maupun asal-usul etniknya, melainkan ketakwaannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;Oleh Baun Thoib Soaloon SGR &lt;br /&gt;Staf Teknis Balai Bahasa Bahasa Banda Aceh &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanajadeh.blogspot.com/feeds/2458330338077569467/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hanajadeh.blogspot.com/2013/07/bahasa-ahli-surga.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1142211349625914890/posts/default/2458330338077569467'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1142211349625914890/posts/default/2458330338077569467'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanajadeh.blogspot.com/2013/07/bahasa-ahli-surga.html' title='Bahasa Ahli Surga'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14590274822924929950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjEZn0eKGCojAz2XfkKdV2BEK7K5dL0XentirnCQFjf0c7J67cVanK-rAJ-xVJQ2xf282N-BFip-xx5ioJe_CRH3uk8xPpdzdZIf0FPdidQ4Qe2gw52koz-1oF0SrvAxkpqDWa3BSa1qT0m/s72-c/Arabic_by_x5pal.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1142211349625914890.post-747860324364594306</id><published>2013-07-04T11:31:00.001+07:00</published><updated>2013-07-04T11:31:50.267+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Islami"/><title type='text'>Skema Mahram</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgeHgNWzOo5IYlRzPQo18VqQacawwTN7D3ivW_0chuXvHV3HdztXjcwZTQRmvrHMuu96sO6_6TeoIeDmkNexIH90xv-KCsa3dF4BEUXbkGbBYqlm6T6mpwvjqy9l9GWgAAoOZPxmVbYR8Ur/s1600/mahram.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;235&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgeHgNWzOo5IYlRzPQo18VqQacawwTN7D3ivW_0chuXvHV3HdztXjcwZTQRmvrHMuu96sO6_6TeoIeDmkNexIH90xv-KCsa3dF4BEUXbkGbBYqlm6T6mpwvjqy9l9GWgAAoOZPxmVbYR8Ur/s320/mahram.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://hanajadeh.blogspot.com/2013/06/siapa-saja-mahram-itu.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Jika pada postingan sebelumnya&lt;/a&gt; kita telah membahas mengenai mahram melalui kalimat-kalimat yang panjang. Pasti banyak dari teman2 yang masih kebingungan, bahwa siapa saja mahram kita? Hal itu terjadi karena kita tidak melihat secara langsung gambarannya. Oke... Mari kita lihat gambar di bawah ini!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjf2_gNTnfPNOIBT6rTZWbnMV7T_9PrTqnMH0W08HswsdIgBpQ9QobUOwnNcwgjEk6-3iV9nFHDjnFoJts5fqFOPyMzqwBRShn4NHWXEsF_KCgpnI_FkPEvGdwEoEGOG17rrHAK7zU6I6Zx/s1600/skema-mahram.png&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;338&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjf2_gNTnfPNOIBT6rTZWbnMV7T_9PrTqnMH0W08HswsdIgBpQ9QobUOwnNcwgjEk6-3iV9nFHDjnFoJts5fqFOPyMzqwBRShn4NHWXEsF_KCgpnI_FkPEvGdwEoEGOG17rrHAK7zU6I6Zx/s640/skema-mahram.png&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;klik gambar untuk memperbesar&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;kalau masih bingung, atau belum mengerti....silahkan lihat skema yang di bawah ini...Yukkk kita lihat!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiFbh6gGUzCofqJNCdXzCUUPIVKsFskxW_ND-oVM63FAIXojhs9w0THVsO9IV8fBnoXTVa66BqcDIITsFA52bewuLt_9FLARe3rcq1bo0z3M3hPYh_FT35nlWiUYQQIbbIQRqjEcI-MtG1P/s1600/skema-mahram.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;448&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiFbh6gGUzCofqJNCdXzCUUPIVKsFskxW_ND-oVM63FAIXojhs9w0THVsO9IV8fBnoXTVa66BqcDIITsFA52bewuLt_9FLARe3rcq1bo0z3M3hPYh_FT35nlWiUYQQIbbIQRqjEcI-MtG1P/s640/skema-mahram.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;klik gambar untuk memperbesar&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Nah, gimana? udah pada paham apa belum siapa-siapa saja yang menjadi mahram kita?&lt;br /&gt;
saya kira sudah tergambar dan tersimpan di memory kita masing-masing. ntar kalau lupa...silahkan mampir lagi di blog ini ya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tapi ne...ada dua gambar lagi yang di khususkan. Maksudnya antara skema mahram laki-laki dan perempuan dipisahkan skemanya. pasti lebih menarik dan mudah dicerna. (&lt;strike&gt;macam makanan aja&lt;/strike&gt;)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Lihat baik2 ya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ne dia, skema untuk laki-laki.....&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiAQkHW4e2jEroj351V-me9AG9J7rYMqZGOJLBua_D7FVpWAVgHR6kMaYj-Ty4rFDbYiZwWP3nZu-30k7211kB67GzryZd9HekmQZXm_EEWyNEGrQJJpyH77YLP1vrQCI5itJoDn6-EGiLq/s1600/poster+mahram+bagi+lelaki+dan+batas+pergaulan.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiAQkHW4e2jEroj351V-me9AG9J7rYMqZGOJLBua_D7FVpWAVgHR6kMaYj-Ty4rFDbYiZwWP3nZu-30k7211kB67GzryZd9HekmQZXm_EEWyNEGrQJJpyH77YLP1vrQCI5itJoDn6-EGiLq/s1600/poster+mahram+bagi+lelaki+dan+batas+pergaulan.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dan kemudian, skema untuk kaum hawa... Yah...perempuan maksudnya saya, hehe&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEinjcegZYcI5ZuqxGvi1-8yDjqesGyJQL7B65-G2jymWR65mfAbs6koCUtF2DHO5S_cpt80xKJrSnM9Ke_cYU6DnsnVjOZDkfWTeuRkNZOZoeAZILBciVU0vDlMDQXS1yW826fuhxBFQ-3i/s1600/poster+mahram+bagi+wanita+dan+batas+pergaulan.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEinjcegZYcI5ZuqxGvi1-8yDjqesGyJQL7B65-G2jymWR65mfAbs6koCUtF2DHO5S_cpt80xKJrSnM9Ke_cYU6DnsnVjOZDkfWTeuRkNZOZoeAZILBciVU0vDlMDQXS1yW826fuhxBFQ-3i/s1600/poster+mahram+bagi+wanita+dan+batas+pergaulan.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Oke kan?&lt;br /&gt;
Mudah-mudahan, gambar di atas dapat membantu anda semua memahami tentang mahram, dan untuk para pendesain gambar...semoga Allah memberikan yang terbaik bagi mereka. Amien&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekian. Maaf kalo ada kesalahan.&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanajadeh.blogspot.com/feeds/747860324364594306/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hanajadeh.blogspot.com/2013/07/skema-mahram.html#comment-form' title='36 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1142211349625914890/posts/default/747860324364594306'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1142211349625914890/posts/default/747860324364594306'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanajadeh.blogspot.com/2013/07/skema-mahram.html' title='Skema Mahram'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14590274822924929950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgeHgNWzOo5IYlRzPQo18VqQacawwTN7D3ivW_0chuXvHV3HdztXjcwZTQRmvrHMuu96sO6_6TeoIeDmkNexIH90xv-KCsa3dF4BEUXbkGbBYqlm6T6mpwvjqy9l9GWgAAoOZPxmVbYR8Ur/s72-c/mahram.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>36</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1142211349625914890.post-2363807104377663240</id><published>2013-06-29T23:29:00.000+07:00</published><updated>2013-06-29T23:44:55.666+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kewarganegaraan (PKn)"/><title type='text'>Pengertian Sosialisasi </title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg9rMfX0Lw8TWlHn6jYapq52gDHP2eWkb7jnvL3V6TfmWRiBkJN0CfgOH4vRydZcft5maJB25GhYqeIRHehxxQuNryop6br_q1SvC3smoKwuUgSuxGnazi9xOI1hz-Q5MhhSsa5MaDJM0MV/s400/agen+sosialisasi.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;320&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg9rMfX0Lw8TWlHn6jYapq52gDHP2eWkb7jnvL3V6TfmWRiBkJN0CfgOH4vRydZcft5maJB25GhYqeIRHehxxQuNryop6br_q1SvC3smoKwuUgSuxGnazi9xOI1hz-Q5MhhSsa5MaDJM0MV/s320/agen+sosialisasi.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Sosialisasi adalah proses-proses manusia mempelajari tata cara kehidupan dalam masyarakat untuk memperoleh kepribadian dan membangun kapasitasnya agar berfungsi dengan baik sebagai individu maupun sebagai anggota.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut Sejumlah sosiolog menyebut sosialisasi sebagai teori mengenai peranan (role theory). Karena dalam proses sosialisasi diajarkan peran-peran yang harus diajarkan oleh individu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Secara sederhana, sosialisasi merupakan suatu proses dimana seseorang mempelajari pola-pola hidup dalam masyarakat sesuai dengan nilai, norma dan kebiasaan yang berlaku untuk berkembang sebagai anggota masyarakat dan sebagai individu (pribadi). Manusia merupakan makhluk sosial sehingga sejak lahir memiliki hasrat sosial. Hasrat ini diantaranya adalah hasrat menyatu dengan masyarakat atau manusia lain yang berbeda di sekitarnya, hasrat menyatu dengan alam di sekitarnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dalam arti luas, sosialisasi adalah proses pembelajaran masyarakat “menghantar” warganya kedalam kebudayaan. Sedangkan arti secara sempit, sosialisasi merupakan seperangkat kegiatan masyarakat , yang di dalamnya individu-individu belajar dan diajar memahirkan diri dalam peranan sosial sesuai dengan bakatnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Berikut beberapa definisi/pengertian sosiologi, menurut beberapa sumber:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;1. Kamus Besar Bahasa Indonesia&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sosialisasi artinya suatu proses belajar seorang anggota masyarakat untuk mengenal dan menghayati kebudayaan masyarakat di lingkungannya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;2. Wikipedia bahasa Indonesia&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
sosialisasi adalah sebuah proses penanaman atau transfer kebiasaan atau nilai dan aturan dari stau generasi ke generasi lainnya dalam sebuah kelompok atau masyarakat.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;3. Koentjaraningrat&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sosialisasi adalah seluruh proses di mana seorang individu sejak masa kanak-kanak sampai dewasa, berkembang, berhubungan, mengenal, dan menyesuaikan diri dengan individu-individu lain yang hidup dalam masyarakat sekitarnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;4. Soerjono Soekanto&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sosialisasi adalah proses sosial tempat seorang individu mendapatkan pembentukan sikap untuk berperilaku yang sesuai dengan perilaku orang-orang di sekitarnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Contoh: Bu Tina mengajarkan anaknya mengucapkan kata “terima kasih” setelah diberi sesuatu oleh orang lain dengan tujuan agar anaknya bisa menghargai orang lain.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;5. Prof. Dr. Nasution, SH&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sosialisasi adalah proses membimbing individu ke dunia sosial.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;6. Sukandar Wiraatmaja, M. A&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sosialisasi adalah suatu proses yang dimulai sejak seseorang itu dilahirkan untuk dapat mengetahui dan memperoleh sikap, pengertian, gagasan dan pola tingkah laku yang disetujui dalam masyarakat.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;7. Drs. Suprapto&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sosialisasi adalah suatu proses belajar berinteraksi dalam masyarakat sesuai dengan peranan yang dijalankan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;8. Hasan Shalidy&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sosialisasi adalah proses dimana seseorang mulai menerima dan menyesuaikan diri terhadap adat istiadat suatu golongan. Dimana lambat daun ia akan merasa sebagai golongan itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;9. Bruce J. Cohen&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sosialisasi adalah proses-proses manusia mempelajari tata cara kehidupan dalam masyarakat untuk memperoleh kepribadian dan membangun kapasitasnya agar dapat berfungsi dengan baik sebagai individu maupun sebagai anggota suatu kelompok.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;10. Macionis&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pengalaman sosial sepanjang hidup yang memungkinkan seseorang mengembangkan potensi kemanusiannya dan mempelajari pola-pola kebudayaan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;11. Broom &amp;amp; Selznic&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Proses membangun/menanamkan nilai2 kelompok pada diri seseorang.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;12. Stewart&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Proses memperoleh kepercayaan, sikap, nilai, &amp;amp; kebiasaan dalam kebudayaannya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;13. Horton &amp;amp; Hunt&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Proses dimana seseorang menginternalisasikan norma-norma kelompok tempat ia hidup sehingga berkembang menjadi satu pribadi yang unik.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;14. Karel J.Veeger&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sosialisasi adalah suatu proses belajar mengajar.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;15. Charlotte Buehler&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sosialisasi adalah proses yang membantu individu untuk belajar dan menyesuaikan diri tentang bagaimana cara hidup dan cara berpikir kelompoknya agar dapat berperan dan berfungsi dalam kelompoknya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;16. Bruce J.Cohen&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sosialisasi adalah proses manusia mempelajari tata cara kehidupan dalam masyarakatnya untuk memperoleh kepribadian dan membangun kapasitas untuk berfungsi, baik sebagai individu maupun sebagai anggota kelompok.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;17. Robert M.Z. Lawang&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sosialisasi adalah proses mempelajari norma, nilai, peran, dan semua persyaratan lainnya yang diperlukan untuk memungkinkan partisipasi yang efektif dalam kehidupan sosial.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;18. Ritcher JR (1987 : 139)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sosialisasi adalah proses seseorang memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diperlakukannya agar dapat berfungsi sebagai orang dewasa dan sekaligus sebagai pemeran aktif dalam suatu kedudukan atau peranan tertentu di masyarakat.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;19. Giddens (1994/60)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sosialisasi sebagai sebuah proses yang terjadi ketikaseorang bayi yang lemah berkembang secara aktif melalui tahap demi tahap sampai akhirnya menjadi pribadi yang sadar akan dirinya sendiri pribadi yang berpengetahuan dan terampil akan cara hidupnya dalam kebudayaan tempat ia tinggal.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;20. Paul B. Horton&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sosialisasi adalah suatu proses dimana seseorang menghayati serta memahami norma-norma dalam masyarakat tempat tinggalnya sehingga akan membentuk kepribadiannya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;21. WrightWright&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sosialisasi sebagai proses ketika individu mendapatkan kebudayaan kelompoknya dan menginternalisasikan (sampai tingkat tertentu) norma-norma sosialnya, sehingga membimbing orang itu untuk memperhitungkan harapan-harapan orang lain.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;22. Edward Shils (1968)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sosialisasi adalah proses sosial yang dijalankan seseorang atau sepanjang umur yang perlu dilalui seorang individu untuk menjadi seorang anggota kelompok dan masyarakatnya melalui pembelajaran kebudayaan dari kelompok dan masyarakat itu.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;23. Nursal Luth&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sosialisasi adalah suatu proses ketika individu menerima dan menyesuaikan diri dengan masyarakat.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;24. Peter L. Berger&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sosialisasi adalah proses belajar seorang anak untuk menjadi anggota yang dapat berpartisipasi dalam masyarakat.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;25. David Gaslin&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sosialisai adalah proses belajar seorang anak untuk memperoleh pengetahuan tentang nilai dan norma-norma agar ia dapat berpartisipasi sebagai anggota kelompok masyarakat.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;26. Jack Levin dan James L. Spates&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sosialisasi adalah proses dimana kebudayaan di teruskan dan diinternalasikan oleh kebudayaan individu.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;27. Edward A. Ross&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sosialisasi adalah pertumbuhan perasaan “kita”. Dimana perasaan ini akan menimbulkan tindakan segolongan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;28. James L. Sprates&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sosialisasi adalah proses dimana kebudayaan di teruskan dan diinternalasikan oleh kebudayaan individu.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;29. Laurence&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sosialisasi adalah proses pendidikan atau latihan seseorang yang belum berpengalaman dalam suatu kebudayaan dan berusaha menguasai kebudyaan sebagai aspeknya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 0cm; text-align: left;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Berdasarkan definisi-definisi tersebut dapat ditarik 4 hal pokok yang terdapat dalam sosialisasi:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sosialisasi merupakan proses yang berlangsung hidup manusia.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Di dalam sosialisasi terdapat saling pengaruh antara individu beserta potensi kemanusiaannya , dengan masyaraka beserta kebudayaannya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Melalui proses sosialisasi , individu menyerap pengetahuan , kepercayaan, nilai-nilai, norma-norma, sikap dan keterampilan-keterampilan dari kebudayaan masyarakatnya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pada sosialisasi akan menghasilkan perkembangan kepribadian seseorang menjadi satu pribadi yang unik.    &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;text-align: justify; text-indent: 0cm;&quot;&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dan berdasarkan pengertian sosialisasi yang dikemukakan di atas, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Sosialisasi ditempuh seorang individu melalui proses belajar untuk memahami, menghayati, menyesuaikan, dan melaksanakan suatu tindakan sosial yang sesuai dengan pola perilaku masyarakatnya.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Sosialisasi ditempuh seorang individu secara bertahap dan berkesinambungan, sejak ia dilahirkan hingga akhir hayatnya.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Pada sosialisasi akan menghasilkan perkembangan kepribadian seseorang menjadi satu pribadi yang unik.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Di dalam sosialisasi terdapat saling pengaruh antara individu beserta potensi kemanusiaannya dengan masyarakat beserta kebudayaannya.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Sosialisasi erat sekali kaitannya dengan enkulturasi atau proses pembudayaan, yaitu suatu proses belajar seorang individu untuk belajar mengenal, menghayati, dan menyesuaikan alam pikiran serta sikapnya terhadap sistem adat, nilai, sikap, keterampilan-keterampilan, dan norma, serta semua peraturan dan pendirian yang hidup dalam lingkungan kebudayaan masyarakatnya.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;hr /&gt;
Sumber :&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style=&quot;margin-top: 5px; margin: 20px;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;smallfont&quot; style=&quot;margin-bottom: 2px;&quot;&gt;
&lt;input onclick=&quot;if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName(&#39;div&#39;)[1].getElementsByTagName(&#39;div&#39;)[0].style.display != &#39;&#39;){ this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName(&#39;div&#39;)[1].getElementsByTagName(&#39;div&#39;)[0].style.display = &#39;&#39;; this.innerText = &#39;&#39;; this.value = &#39;Hidden&#39;; }else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName(&#39;div&#39;)[1].getElementsByTagName(&#39;div&#39;)[0].style.display = &#39;none&#39;; this.innerText = &#39;&#39;; this.value = &#39;Show&#39;; }&quot; style=&quot;margin: 0px; padding: 5px; width: auto;&quot; type=&quot;button&quot; value=&quot;Show&quot; /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;alt2&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;display: none;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: none; border: none; color: none; padding: 10px; text-align: left;&quot;&gt;
http://stevenkiprek97.blogspot.com,  http://anggundm.blogspot.com,  http://lilyistigfaiyah.blogspot.com, http://adayangbaruni.blogspot.com,  http://ika11fatmahwati.wordpress.com,  http://hedisasrawan.blogspot.com,  http://kum-tugas.blogspot.com&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanajadeh.blogspot.com/feeds/2363807104377663240/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hanajadeh.blogspot.com/2013/06/pengertian-sosialisasi.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1142211349625914890/posts/default/2363807104377663240'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1142211349625914890/posts/default/2363807104377663240'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanajadeh.blogspot.com/2013/06/pengertian-sosialisasi.html' title='Pengertian Sosialisasi '/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14590274822924929950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg9rMfX0Lw8TWlHn6jYapq52gDHP2eWkb7jnvL3V6TfmWRiBkJN0CfgOH4vRydZcft5maJB25GhYqeIRHehxxQuNryop6br_q1SvC3smoKwuUgSuxGnazi9xOI1hz-Q5MhhSsa5MaDJM0MV/s72-c/agen+sosialisasi.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1142211349625914890.post-8828649529830134176</id><published>2013-06-26T21:28:00.000+07:00</published><updated>2013-06-26T21:28:26.131+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Fatwa"/><title type='text'>Status Anak Zina</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjMX5ud15gw8iM86HjR_edtiiPYZg_4NXEglpfrYzrxsKCTyYNXaz8UPJiJCmnnguvZgyi7j_j9tek2FxtOQ9yZcB8RiTD74TbSPztMe4Jq8tg_NHNoSJhgx9kWN5RA06OMKD7OqJRBVCxD/s1600/foto-bayi-menangis-2.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;240&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjMX5ud15gw8iM86HjR_edtiiPYZg_4NXEglpfrYzrxsKCTyYNXaz8UPJiJCmnnguvZgyi7j_j9tek2FxtOQ9yZcB8RiTD74TbSPztMe4Jq8tg_NHNoSJhgx9kWN5RA06OMKD7OqJRBVCxD/s320/foto-bayi-menangis-2.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;h3&gt;
Kami ingin mengajukan beberapa pertanyaan terkait dengan jawaban Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Al-Makassari tentang “Taubat dari Perbuatan Zina”, sebagai berikut:&lt;/h3&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1. Apa dalil wajibnya istibra` ar-rahim dari bibit seseorang atas seorang wanita yang berzina jika hendak dinikahi?&lt;br /&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2. Apa dalil tidak bolehnya menasabkan anak hasil zina tersebut kepada lelaki yang berzina dengan ibunya? Apa dalil tidak bolehnya lelaki tersebut menjadi wali pernikahan anak itu dan bahwa lelaki tersebut bukan mahram anak itu (jika wanita)?&lt;br /&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
3. Jika kedua orang yang berzina tersebut menikah dalam keadaan wanitanya hamil, bagaimana hukumnya dan bagaimana status anak-anak mereka yang dihasilkan setelah pernikahan? Apakah mereka merupakan mahram bagi anak zina tadi dan bisa menjadi wali pernikahannya?&lt;br /&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
4. Siapa saja yang bisa menjadi wali pernikahan anak zina tersebut?&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;
Jawab:&lt;/h3&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Alhamdulillah, wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi waman walah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;1. Seorang wanita yang berzina dengan seorang lelaki, keduanya berstatus pezina selama belum bertaubat dari perzinaan itu. Maka wanita itu tidak boleh dinikahi oleh siapapun sampai terpenuhi dua syarat berikut:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
a. Wanita itu bertaubat kepada Allah, dan jika yang hendak menikahinya adalah lelaki yang berzina dengannya maka juga dipersyaratkan laki-laki tersebut telah bertaubat. Hal ini berdasarkan firman Allah dalam surat An-Nur: 3:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Laki-laki pezina tidaklah menikahi selain wanita pezina atau wanita musyrik, dan wanita pezina tidaklah menikahi selain lelaki pezina atau lelaki musyrik, dan hal itu diharamkan atas kaum mukminin.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
b. Wanita tersebut melakukan istibra` yaitu pembebasan rahim dari bibit lelaki yang telah berzina dengannya. Karena dikhawatirkan lelaki tersebut telah menanam bibitnya dalam rahim wanita itu. Artinya, wanita itu hamil akibat perzinaan itu. Maka wanita itu harus melakukan istibra` untuk memastikan bahwa rahimnya kosong (tidak hamil), yaitu menunggu sampai dia mengalami haid satu kali karena dengan demikian berarti dia tidak hamil. Apabila diketahui bahwa dia hamil maka istibra`-nya dengan cara menunggu sampai dia melahirkan anaknya. Kita tidak mempersyaratkan wanita itu melakukan ‘iddah1 karena sebagaimana kata Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam Asy-Syarhul Mumti’ (5/215, cet. Darul Atsar): “’Iddah adalah hak seorang suami yang menceraikan istrinya. Sedangkan lelaki yang berzina dengannya statusnya bukan suami melainkan fajir/pezina.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam Majmu’ Fatawa (32/112): “Al-Istibra` bukan karena hak kehormatan mani lelaki pertama (yang menzinainya). Akan tetapi untuk hak kehormatan mani lelaki yang kedua (yang hendak menikahinya), karena tidak dibenarkan baginya untuk mengakui seseorang sebagai anaknya dan dinasabkan kepadanya padahal bukan anaknya.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Demikian pula jika ditinjau dari sisi qiyas, Syaikhul Islam berkata (32/111): “Seorang wanita yang khulu’2 -karena dia bukan wanita yang dicerai-, dia tidak ber-’iddah dengan ‘iddah wanita yang dicerai. Bahkan dia harus melakukan istibra` (membebaskan rahimnya) dan istibra` juga disebut iddah. Maka, wanita yang digauli dengan nikah syubhat dan wanita yang berzina lebih utama untuk melakukan istibra`.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Syaikhul Islam (32/110) juga berkata: “Karena wanita yang berzina bukanlah istri (yang ditalak) yang wajib untuk melakukan ‘iddah. Dan tidaklah keadaan wanita berzina melebihi keadaan budak wanita yang harus melakukan istibra` sebelum digauli oleh tuannya yang baru. Padahal seandainya dia telah dihamili oleh bekas tuannya maka anaknya dinasabkan kepada bekas tuannya itu. Maka wanita yang berzina (yang seandainya hamil maka anaknya tidak dinasabkan kepada laki-laki yang mezinainya) lebih wajib untuk melakukan istibra`.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Adapun dalil-dalil tentang istibra` pada budak wanita adalah:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
a. Hadits Ruwaifi’ bin Tsabit, bahwa Rasulullah bersabda tentang sabaya (para wanita tawanan perang) pada perang Khaibar:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;لَا يَحِلُّ لِامْرِئٍ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ يَسْقِيَ مَاءَهُ زَرْعَ غَيْرِهِ –يَعْنِي إِتْيَانَ الْحُبْلَى مِنَ السَّبَايَا- وَأَنْ يُصِيبَ اْمَرْأَةً ثَيِّبًا مِنَ السَّبْيِ حَتَّى يَسْتَبْرِئَهَا&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Tidak halal bagi seorang lelaki yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menyiramkan air maninya di ladang orang –yakni menggauli wanita sabaya yang hamil– dan menggauli wanita sabaya yang telah bersuami sampai wanita itu melakukan istibra`.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan dihasankan oleh Al-Bazzar serta Asy-Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa` 1/201, 5/141, no. 2137. Hadits ini memiliki syawahid/penguat-penguat)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
b. Hadits Abu Sa’id Al-Khudri bahwa Rasulullah bersabda tentang para sabaya Authas:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;لاَ تُؤْطَأُ حَامِلٌ حَتَّى تَضَعَ وَلَا غَيْرُ ذَاتِ حَمْلٍ حَتَّى تَحِيضَ حَيْضَةً&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Yang hamil tidak boleh digauli sampai melahirkan, demikian pula yang tidak hamil sampai haid satu kali.” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Al-Hakim dan Adz-Dzahabi. Namun yang benar sanadnya lemah karena Syarik bin Abdillah Al-Qadhi hafalannya jelek. Akan tetapi hadits ini memiliki syawahid/penguat-penguat sehingga dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa` no. 187 dan no. 1302)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;2. Anak hasil zina tidak dinasabkan kepada lelaki yang menzinai ibu anak tersebut meskipun kita mengetahui bahwa secara hukum kauni qadari anak zina tersebut adalah anaknya. Dalam arti, Allah menakdirkan terciptanya anak zina tersebut sebagai hasil percampuran air mani laki-laki itu dengan wanita yang dizinainya. Akan tetapi secara hukum syar’i, anak itu bukan anaknya karena tercipta dengan sebab yang tidak dibenarkan oleh syariat, yaitu perzinaan.&lt;/b&gt; Permasalahan ini masuk dalam keumuman sabda Rasulullah :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;الْوَلَدُ لِلْفِرَاشِ وَلِلْعَاهِرِ الْحَجَرُ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Anak yang lahir untuk pemilik kasur (artinya, anak yang dilahirkan oleh istri seseorang atau budak wanitanya adalah miliknya), dan seorang pezina tidak punya hak pada anak hasil perzinaannya.” (Muttafaq ‘alaih dari Abu Hurairah dan ‘Aisyah c)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dengan demikian, jika seorang lelaki menghamili seorang wanita dengan perzinaan kemudian dia bermaksud menikahinya dengan alasan untuk menutup aib dan menyelamatkan nasab anak tersebut, maka hal itu haram atasnya dan pernikahannya tidak sah. Karena anak tersebut bukan anaknya menurut hukum syar’i. Ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama sebagaimana dalam Al-Mughni (6/184-185) dan Syarah Bulughul Maram karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin pada Bab ‘Iddah wal ihdad wal istibra`. Dan ini yang difatwakan oleh Al-Lajnah Ad-Da`imah dalam Fatawa mereka (20/387-389).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Berdasarkan hal ini, seluruh hukum nasab antara keduanya pun tidak berlaku. Di antaranya:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
a. Keduanya tidak saling mewarisi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
b. Lelaki tersebut tidak wajib memberi nafkah kepadanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
c. Lelaki tersebut bukan mahram bagi anak itu (jika dia wanita) kecuali apabila lelaki tersebut menikah dengan ibu anak itu dan telah melakukan hubungan (sah) suami-istri, yang tentunya hal ini setelah keduanya bertaubat dan setelah anak itu lahir, maka anak ini menjadi rabibah-nya sehingga menjadi mahram.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
d. Lelaki tersebut tidak bisa menjadi wali anak itu dalam pernikahan (jika dia wanita).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Namun bukan berarti laki-laki tersebut boleh menikahi putri zinanya. Yang benar dalam masalah ini, dia tidak boleh menikahinya, sebagaimana pendapat jumhur yang dipilih oleh Syaikhul Islam dan Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin. Karena anak itu adalah putrinya secara hukum kauni qadari berasal dari air maninya, sehingga merupakan darah dagingnya sendiri. Dalil yang paling kuat dalam hal ini adalah bahwasanya seorang laki-laki tidak boleh menikahi anak susuannya yang disusui oleh istrinya dengan air susu yang diproduksi dengan sebab digauli olehnya sehingga hamil dan melahirkan. Kalau anak susuan seseorang saja haram atasnya, tentu seorang anak zina yang berasal dari air maninya dan merupakan darah dagingnya sendiri lebih pantas untuk dinyatakan haram atasnya. (Lihat Majmu’ Fatawa, 32/134-137, 138-140, Asy-Syarhul Mumti’, 5/170)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Para ulama menyatakan bahwa seorang anak zina dinasabkan kepada ibu yang melahirkannya, dan keduanya saling mewarisi. Jadi nasab anak tersebut dari jalur ayah tidak ada. Yang ada hanyalah nasab dari jalur ibunya. Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah bahwasanya suami istri yang melakukan li’an3 di hadapan hakim karena suaminya menuduh bahwa anak yang dikandung istrinya adalah hasil perzinaan sedangkan istrinya tidak mengaku lalu keduanya dipisahkan oleh hakim, maka anak yang dikandung wanita itu dinasabkan kepada ibunya dan terputus nasabnya dari jalur ayah. Sebagaimana dalam hadits Sahl bin Sa’d As-Sa’idi yang muttafaq ‘alaih.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;3. Jika kedua orang yang berzina tersebut menikah dalam keadaan wanitanya hamil maka pernikahan itu tidak sah berdasarkan apa yang telah dijelaskan pada jawaban pertama dan kedua. &lt;/b&gt;Hanya saja, kalau pernikahan itu dilangsungkan dengan anggapan bahwa hal itu boleh dan sah sebagaimana mazhab sebagian ulama yang berpendapat: “Boleh bagi seorang lelaki yang menghamili seorang wanita dengan perzinaan untuk menyelamatkan nasab anak itu dengan cara menikahinya dalam keadaan hamil, dengan syarat keduanya telah bertaubat dari perzinaan dan diketahui dengan pasti/yakin bahwa yang menghamilinya adalah laki-laki itu”, maka pernikahan itu dikategorikan sebagai nikah syubhat. Artinya, pernikahan itu berlangsung dengan anggapan bahwa hal itu boleh menurut syariat, padahal sebenarnya tidak boleh. Berarti pernikahan itu tidak mengubah status anak hasil perzinaan tersebut sebagai anak zina, dia tetap dinasabkan kepada ibunya dan tidak sah dinasabkan kepada lelaki tersebut. Adapun anak-anak yang dihasilkan setelah nikah syubhat, status mereka sah sebagai anak-anak keduanya4. Akan tetapi wajib atas keduanya untuk berpisah ketika mengetahui hakikat sebenarnya bahwa pernikahan itu tidak sah, sampai keduanya menikah kembali dengan akad nikah yang benar dan sah, tanpa harus melakukan istibra` ar-rahim. Ini adalah jawaban Syaikhuna Al-Faqih Abdurrahman Al-‘Adni hafizhahullah wa syafahu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dengan demikian, diketahuilah bahwa hubungan antara anak zina tersebut dengan anak-anak yang lahir dengan nikah syubhat tersebut adalah saudara seibu tidak seayah, yang berarti mereka adalah mahramnya. Namun tidak bisa menjadi wali pernikahannya menurut pendapat jumhur, yang menyatakan bahwa wali pernikahan seorang wanita adalah setiap lelaki yang merupakan ‘ashabah5 wanita itu, seperti ayahnya, kakeknya dari jalur ayah, putranya, anak laki-laki putranya, saudara laki-lakinya yang sekandung atau seayah, pamannya dari jalur ayah dan ‘ashabah lainnya6.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;4. Yang menjadi walinya adalah sulthan. &lt;/b&gt;Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata dalam Asy-Syarhul Mumti’ (5/154): “Yang dimaksud dengan sulthan adalah imam (amir) atau perwakilannya…. Adapun sekarang, urusan perwalian ini dilimpahkan oleh pemerintah kepada petugas khusus.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Di negeri kita, mereka adalah para petugas (penghulu) Kantor Urusan Agama (KUA). Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah, Rasulullah bersabda:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;أَيُّمَا امْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ … فَإِنِ اشْتَجَرُوا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لَا وَلِيَّ لَهُ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Siapa saja wanita yang menikah tanpa izin dari walinya maka pernikahannya batil…, dan jika para wali berselisih untuk menikahkannya maka sulthan adalah wali bagi seorang wanita yang tidak punya wali.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Abu ‘Awanah, Ibnu Hibban, Al-Hakim, Al-Albani dalam Al-Irwa` (no. 1840) dan guru besar kami Al-Wadi’i dalam Ash-Shahihul Musnad (2/493))&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ash-Shan’ani berkata dalam Subulus Salam (3/187): “Hadits ini menunjukkan bahwa sulthan adalah wali bagi seorang wanita yang tidak punya wali dalam pernikahan, baik karena memang tidak ada walinya atau walinya ada namun tidak mau menikahkannya7.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Jika ada yang bertanya: Bukankah ibu seorang anak zina dan ‘ashabah ibunya merupakan ‘ashabah bagi anak zina itu sebagaimana pendapat sebagian ulama? Tidakkah mereka dianggap sebagai wali?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Jawabannya: Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni (6/183) menerangkan bahwa kedudukan mereka sebagai ‘ashabah anak zina itu hanya dalam hal waris semata dan tidak berlaku dalam perkara perwalian nikah. Karena hubungan nasab mereka hanya melalui jalur ibu, sehingga tidak ada hak perwalian untuk mereka.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Wallahu a’lam bish-shawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Catatan Kaki:&lt;br /&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Times, Times New Roman, serif;&quot;&gt;1 ‘Iddah adalah masa penantian yang diatur oleh syariat bagi seorang wanita yang diceraikan oleh suaminya, yaitu selama tiga kali masa haid. Adapun jika diceraikan dalam keadaan hamil maka ‘iddah-nya sampai melahirkan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Times, Times New Roman, serif;&quot;&gt;2 Khulu’ adalah perpisahan suami-istri karena permintaan istri yang disertai dengan pembayaran ganti (harta) dari pihak istri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Times, Times New Roman, serif;&quot;&gt;3 Li’an adalah persaksian demi Allah yang diucapkan empat kali oleh masing-masing suami dan istri yang dikuatkan dengan sumpah untuk pembelaan diri masing-masing, kemudian yang kelima kalinya: disertai pernyataan dari suami bahwa laknat Allah atas dirinya jika dia berdusta menuduh istrinya berzina, dan disertai pernyataan dari istri bahwa murka Allah atasnya dirinya jika suaminya benar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Times, Times New Roman, serif;&quot;&gt;4 Pendapat bahwa anak hasil nikah syubhat sah sebagai anak adalah pendapat Al-Imam Ahmad, Al-Imam Asy-Syafi’i, dan yang lainnya, dipilih oleh Syaikhul Islam, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, dan Al-Lajnah Ad-Da`imah. Lihat Al-Mughni (7/288), Majmu’ Fatawa (32/66-67), Asy-Syarhul Mumti’ (5/641, cet. Darul Atsar) dan Fatawa Al-Lajnah (28/387).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Times, Times New Roman, serif;&quot;&gt;5 Yaitu seluruh lelaki yang mewarisi harta wanita itu tanpa ada ketetapan bagian tertentu, melainkan mewarisi secara ta’shib. Artinya jika ahlul fardh (ahli waris yang telah ditentukan bagiannya) telah mengambil haknya maka harta warisan yang tersisa akan diwarisi oleh ‘ashabah, atau jika tidak ada ahlul fardh maka mereka yang mewarisi seluruh hartanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Times, Times New Roman, serif;&quot;&gt;6 Lihat mazhab jumhur tentang wali pernikahan seorang wanita dalam Mukhtasar Al-Khiraqi bersama Al-Mughni (6/319-322), Fathul Bari (9/187), Nailul Authar (6/120), Subulus Salam (3/185), Asy-Syarhul Mumti’, (5/145-154).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Times, Times New Roman, serif;&quot;&gt;7 Yaitu tanpa alasan yang dibenarkan oleh syariat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;
**Majalah AsySyariah Edisi 039&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanajadeh.blogspot.com/feeds/8828649529830134176/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hanajadeh.blogspot.com/2013/06/status-anak-zina.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1142211349625914890/posts/default/8828649529830134176'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1142211349625914890/posts/default/8828649529830134176'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanajadeh.blogspot.com/2013/06/status-anak-zina.html' title='Status Anak Zina'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14590274822924929950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjMX5ud15gw8iM86HjR_edtiiPYZg_4NXEglpfrYzrxsKCTyYNXaz8UPJiJCmnnguvZgyi7j_j9tek2FxtOQ9yZcB8RiTD74TbSPztMe4Jq8tg_NHNoSJhgx9kWN5RA06OMKD7OqJRBVCxD/s72-c/foto-bayi-menangis-2.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1142211349625914890.post-2167994053031606914</id><published>2013-06-26T15:50:00.000+07:00</published><updated>2013-06-26T21:35:21.786+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Fatwa"/><title type='text'>Taubat dari Perbuatan Zina</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhICHGwLMPuqVRgusebB9x6szECG0vdvqQiuW3uk-poqd3QXlxOVuxglhcKApSTeMMAEZHkRmVYfbkD72c7l5YFFmTms163d5QoxL288YwosQGCEyRPZ9VHU9qIv86oq59qfJlbgJF_Tvgq/s1600/tobat.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;293&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhICHGwLMPuqVRgusebB9x6szECG0vdvqQiuW3uk-poqd3QXlxOVuxglhcKApSTeMMAEZHkRmVYfbkD72c7l5YFFmTms163d5QoxL288YwosQGCEyRPZ9VHU9qIv86oq59qfJlbgJF_Tvgq/s320/tobat.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Ada pemuda-pemudi melakukan zina beberapa waktu yang lalu. Keduanya ingin bertaubat. Pertanyaan:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
a. Bagaimana taubatnya?&lt;br /&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
b. Haruskah keduanya menikah?&lt;br /&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
c. Bagaimana kalau orang tua wanita tetap tidak setuju?&lt;br /&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
d. Bagaimana nanti status anak keduanya?&lt;br /&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Jawab:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Oleh Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Al-Makassari&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;h2&gt;
Cara Taubatnya&lt;/h2&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Keduanya bertaubat kepada Allah dengan taubat nasuha yaitu dengan memenuhi tiga syarat taubat yang disebut-kan oleh para ulama. Tiga syarat ini disimpulkan oleh para ulama dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pertama, Keduanya harus menyesali perbuatan tersebut. Rasulullah n bersabda:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Sesungguhnya penyesalan itu adalah taubat.”1&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Karena itu hendaklah keduanya menyesali apa yang telah mereka lakukan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kedua, melepaskan diri dan menjauh-kan diri sejauh-jauhnya dari perbuatan yang seperti itu. Tidak lagi mengulangi maupun mendekati apa-apa yang akan menyeret dan mengantar kepada perzinaan, seperti pergaulan bebas dengan wanita (pacaran), berbincang-bincang secara bebas dengan wanita yang bukan mahram, bercengke-rama, ikhtilath/ bercampurbaur. Semuanya adalah perkara yang diharamkan syariat untuk menutupi pintu perzinaan. Hendaknya keduanya menjauh-kan diri dari itu semua.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ketiga, kemudian keduanya ber-’azam/ bertekad kuat untuk tidak mengulangi kembali perbuatannya tersebut. Juga beristighfar kepada Allah, memohon ampunan-Nya. Dalam hal ini ada hadits Abu Bakr Ash-Shiddiq tentang disyariat-kannya seseorang yang telah melakukan perbuatan maksiat untuk shalat dua rakaat lalu memohon ampunan kepada Allah.2&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;h2&gt;
Haruskah Keduanya Menikah?&lt;/h2&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Keduanya tidak harus menikah. Namun tidak mengapa keduanya menikah dengan syarat: apabila wanita yang telah dizinai tersebut hamil karena perzinaan itu, maka tidak boleh menikahinya pada masa wanita itu masih hamil. Mereka harus menunggu sampai si wanita melahirkan bayinya, baru boleh menikahinya. Inilah pendapat yang benar yang disebutkan oleh ulama, yaitu bahwa wanita yang hamil karena perzinaan tidak boleh dinikahi sampai melahirkan. Karena di sana ada dalil yang menuntut adanya istibra` ar-rahim (pembebasan rahim) dari bibit seseorang. Karena itu rahim harus dibebaskan terlebih dahulu dengan cara menunggu sampai lahir, sehingga rahimnya bebas tidak ada lagi bibit di dalamnya. Setelah itu baru bisa meni-kahinya. Itu pun apabila keduanya bertaubat dari perzinaan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Apabila wanita yang dizinainya tidak sampai hamil, maka pembebasan rahimnya dengan cara menunggu haid berikutnya. Setelah melakukan perzinaan kemudian dia haid. Dalam kasus yang seperti ini, boleh menikahinya setelah melewati satu kali masa haid, yang menunjukkan bahwa memang tidak ada bibit yang tersimpan dalam rahimnya. Dan tentunya ini apabila keduanya bertaubat dari perzinaan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Adapun jika salah satu dari keduanya belum bertaubat dari perzinaan tersebut, sehingga salah satu dari keduanya masih berlaku padanya nama zaani (pezina) maka keduanya tidak boleh menikah. Dalilnya adalah firman Allah :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang mukmin.” (An-Nur: 3)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Maksudnya, seorang pezina diharam-kan menikah dan sebaliknya wanita pezina juga haram dinikahi. Jadi bolehnya menikah adalah apabila keduanya memang sudah bertaubat dari perzinaan tersebut, sehingga tidak lagi dinamakan lelaki pezina atau wanita pezina.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;h2&gt;
Bagaimana Status Anak Keduanya?&lt;/h2&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ini tentunya kalau ditakdirkan bahwa wanita yang dizinai tersebut hamil akibat perzinaan tersebut. Status anak tersebut adalah anak yang lahir karena perzinaan. Anak ini tidak boleh dinasabkan pada lelaki yang berzina dengan ibunya, karena dia bukanlah ayahnya secara syariat. Oleh karena itu, sang anak dinasabkan kepada ibunya. Demikian pula tidak boleh saling waris-mewarisi. Juga seandainya anak tersebut wanita, maka laki-laki tersebut tidak boleh menjadi walinya dalam pernikahan dan juga bukan mahramnya sehingga tidak berlaku padanya hukum-hukum mahram. Sehingga laki-laki itu tidak boleh berkhalwat dengannya, tidak boleh melihat wajahnya, tidak boleh berjabat tangan dengannya, dan seterusnya. Satu-satunya hukum yang berlaku adalah bahwa si laki-laki tidak boleh menikahi anak hasil perzinaan tersebut, karena anak wanita itu berasal dari air maninya. Hanya ini satu-satunya hukum yang berlaku, sebagaimana diterangkan oleh para ulama. Lebih lengkapnya silahkan baca &quot;&lt;b&gt;&lt;a href=&quot;http://hanajadeh.blogspot.com/2013/06/status-anak-zina.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;STATUS ANAK ZINA&quot;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Catatan Kaki:&lt;br /&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Times, Times New Roman, serif;&quot;&gt;1 HR. Ahmad, Ibnu Majah, Al-Hakim dan yang lainnya dari Abdullah ibnu Mas’ud z, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Ibni Majah (4252).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Times, Times New Roman, serif;&quot;&gt;2 HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan yang lainnya, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud (1021).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;
*Majalah AsySyariah Edisi 026&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanajadeh.blogspot.com/feeds/2167994053031606914/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hanajadeh.blogspot.com/2013/06/taubat-dari-perbuatan-zina.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1142211349625914890/posts/default/2167994053031606914'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1142211349625914890/posts/default/2167994053031606914'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanajadeh.blogspot.com/2013/06/taubat-dari-perbuatan-zina.html' title='Taubat dari Perbuatan Zina'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14590274822924929950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhICHGwLMPuqVRgusebB9x6szECG0vdvqQiuW3uk-poqd3QXlxOVuxglhcKApSTeMMAEZHkRmVYfbkD72c7l5YFFmTms163d5QoxL288YwosQGCEyRPZ9VHU9qIv86oq59qfJlbgJF_Tvgq/s72-c/tobat.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1142211349625914890.post-8395882736481571836</id><published>2013-06-23T16:16:00.000+07:00</published><updated>2013-06-23T16:18:04.939+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Fatwa"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Islami"/><title type='text'>Sihir di Sekitar Kita</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhSjfkvunUSbbn3Feldg09HWoBaiqwSBtefYaKk8Mjf5uvaMoGZswQZNKpGSPtSUjR36Rc-k3OEnCjW2IE8dfUZIZ5QEgcy7UL7nsyIew72vN-hy41_f-lpRaChWBbIH7-1g-aWCJM2bMXz/s1600/witch-300x242.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhSjfkvunUSbbn3Feldg09HWoBaiqwSBtefYaKk8Mjf5uvaMoGZswQZNKpGSPtSUjR36Rc-k3OEnCjW2IE8dfUZIZ5QEgcy7UL7nsyIew72vN-hy41_f-lpRaChWBbIH7-1g-aWCJM2bMXz/s1600/witch-300x242.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Sihir berkedok ‘pengobatan spiriritual’, ‘transfer bioenergi’, ‘penggalian jatidiri’, ‘ruwat’, ‘ilmu khodam’, ‘daya laduni’, dan sejenisnya, kian menjamur di negeri ini. Sebutan untuk sang pakar pun kian ‘ilmiah’, bukan lagi dukun/ orang pintar, tetapi juga supranaturalis, ahli metafisika dan geopati, paranormal, penghusada, dan sebagainya. Bahkan tak sedikit yang menyandang gelar doktor walau cuma honoris causa -itupun diduga palsu-. Meski tak semua bentuk pengobatan alternatif yang ada menggunakan klenik-mistis, tetapi kehati-hatian tetap harus kita kedepankan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sihir dan sejenisnya dari lingkup ilmu-ilmu hitam makin populer saja belakangan ini. Para ‘pakar’ berikut iklan ‘pengobatan’-nya hampir tak pernah absen mengisi halaman media. Merekalah yang disebut dan diagung-agungkan sebagai ‘penguasa alam’, seakan-akan hanya merekalah yang mengetahui dan menguasai rahasia kehidupan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Eksistensi mereka kian diperkuat dengan dongeng-dongeng takhayul khas nenek moyang, utamanya yang berkaitan dengan kerajaan-kerajaan nusantara di masa lampau. Jadilah semua itu sebagai sebuah ajaran dan aliran tersendiri yang dibahasakan sebagai bagian dari agama.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ironinya, sebagian masyarakat muslim kian terbentuk akal dan pikirannya dengan semua itu. Lahirlah kemudian keyakinan yang berasal dari akal yang jumud yang tergantung dan menggantungkan segala-galanya kepada orang-orang ‘sakti’ itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Bahagia atau sengsara, senang-susah, sehat-sakit, berhasil atau gagal, maju atau mundur, seolah-olah ditentukan oleh mereka. Umat pun mulai lupa akan kekuasaan dan ketentuan Allah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Definisi Sihir&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Secara etimologis atau bahasa, sihir diartikan sebagai sesuatu yang halus dan tersembunyi sebabnya (Mukhtar Ash-Shihah, hal. 208 dan Al-Qamus, hal. 519). Oleh karena itu waktu sahur di malam hari disebut dengan sahur karena aktivitas-aktivitas yang dilakukan pada waktu itu tersembunyi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Adapun secara terminologis (istilah), terjadi perbedaan pendapat di antara ulama dalam mengungkapkan dan mendefinisikan sihir. Di antara mereka ada yang mendefinisikan sihir sebagai jimat-jimat, jampi-jampi, dan buhul-buhul yang berpengaruh pada hati dan badan, yang mengakibatkan sakit, mati, terpisahkannya antara suami dan isteri atas izin Allah. Di antara mereka adalah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul ‘Aziz Sulaiman Al-Qar’awi dalam kitab Al-Jadid fi Syarah Kitabut Tauhid (hal. 153), Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin di dalamkitab Al-Qaulul Mufid (2/5), dan Asy-Syaikh Shalih Fauzan Al-Fauzan dalam kitab At-Tauhid.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Asy-Syaikh Muhammad Amin Asy-Syinqithi mengatakan: “Ketahuilah bahwa sihir tidak akan bisa didefinisikan dengan definisi yang menyeluruh dan lengkap karena terkandung banyak permasalahan. Dan dari sinilah berbeda ungkapan para ulama dalam mendefinisikan dan perselisihan yang jelas.” (Adhwa-ul Bayan, 4/444)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Namun dari kedua tinjauan ini, sangat jelas bahwa sihir memiliki hakikat dan pengaruh dalam kehidupan manusia. Sihir merupakan bentuk perbuatan tersembunyi yang akan memberi pengaruh terhadap badan, pikiran, dan hati seseorang dengan bantuan ‘makhluk halus’ baik melalui jampi-jampi, ikatan-ikatan buhul yang berakibat merusak badan, pikiran, dan hati seseorang.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Hakikat Sihir&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Merupakan akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah bahwa sihir itu hakiki dan mempunyai pengaruh pada seseorang yang disihir. Keyakinan ini dibangun di atas dalil-dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah. Allah berfirman:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: blue;&quot;&gt;“Dan mereka mengikuti apa-apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu yang mengerjakan sihir). Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir), dan mereka mengajarkan sihir kepada manusia.”&lt;/span&gt; &lt;/i&gt;(Al-Baqarah: 102)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: blue;&quot;&gt;“Mereka berkata: Sesungguhnya dua orang ini (Musa dan Harun) adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kalian dari negeri kalian dengan sihirnya, serta hendak melenyapkan kedudukan kalian yang utama. Maka himpunkanlah segala daya (sihir) kalian kemudian datanglah dengan berbaris dan sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang menang pada hari ini. Setelah mereka berkumpul, mereka berkata: ‘Hai Musa, (pilihlah) apakah kamu yang melempar dahulu atau kamilah yang mula-mula melemparkan?’ Musa berkata: ‘Silakan kalian melemparkan.’ Maka tiba-tiba tali dan tongkat mereka terbayang kepada Musa seakan-akan dia merayap dengan cepat lantaran sihir mereka. Maka Musa merasa takut dalam hatinya. Kami (Allah) berkata: ‘Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu, niscaya dia akan menelan apa yang mereka perbuat. Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka) dan tidak akan menang tukang sihir itu dari mana pun dia datang’.”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; (Thaha: 63-69)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: blue;&quot;&gt;“Maka tatkala melemparkan, mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut serta mereka mendatangkan sihir yang besar.”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; (Al-A’raf: 116)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjaso9sBMN6g7DB3n6p1IaSig4E8hq_j_-cIhzFrhy4gDlRJPh8KDnunDItI5TsNlTgTrKRdRuf5-11vyWJw0FGWybdhLIZce0aqC4UK7K724KuVKKnrnhL0xtWUHW0-eFNl_J5wCkeWLHO/s1600/images.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em; text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;Dan masih banyak ayat-ayat lain yang menjelaskan hakikat sihir tersebut. Adapun dalil dari As Sunnah adalah sebagai berikut. Abu Hurairah berkata, Rasulullah bersabda:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Jauhilah tujuh perkara yang akan membinasakan.” Para shahabat bertanya: “Apa itu?” Beliau bersabda: “Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa tanpa alasan yang haq, makan riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan perang, dan menuduh orang-orang yang beriman yang menjaga diri dari maksiat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Masih banyak dalil lain yang menunjukkan bahwa sihir itu hakiki dan mempunyai pengaruh. Asy-Syaikh Hafidz bin Ahmad Al-Hakami mengatakan: “Sihir adalah sesuatu yang benar-benar ada dan pengaruhnya tidak terlepas dari takdir Allah sebagaimana Allah berfirman: Mereka belajar dari keduanya perkara yang akan memecah belah hubungan suami istri dan mereka tidak akan bisa berbuat mudharat kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah (Al-Baqarah: 102). Dan pengaruhnya ada sebagaimana dalam hadits-hadits yang shahih.” (A’lamus Sunnah Al-Mansyurah hal. 153)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Musthafa Abu Nashr Asy-Syabli dalam ta’liqnya terhadap kitab di atas mengatakan: “Pengaruh sihir itu ada. Dan tidak ada yang mengingkari kecuali orang yang sombong atau mengingkari apa yang diturunkan kepada Rasulullah. Beliau sebagai sebaik-baik manusia dan sayyid anak Adam pernah terkena sihir seorang Yahudi dari Bani Zuraiq yang bernama Labid bin Al-A’sham dan beliau terus dalam sihir tersebut selama 6 bulan.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (10/226) mengatakan: “Al-Maziri berkata: Sebagian ahli bid’ah mengingkari sihir yang menimpa Rasulullah ini. Mereka menyangka bahwa hal ini akan menjatuhkan kedudukan nubuwwah dan akan memberi keraguan. Mereka berkata: Siapa saja yang berkata demikian maka itu adalah pengakuan batil.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan mengatakan: “Dinamakan sihir karena terjadi dengan perkara yang sangat tersembunyi yang tidak akan bisa dilihat oleh mata. Yaitu berbentuk jimat-jimat, jampi-jampi, pembicaraan-pembicaraan, atau melalui asap-asap. Sihir memiliki hakikat dan di antaranya berpengaruh terhadap hati dan badan sehingga bisa menyebabkan sakit, terbunuh, dan memisahkan antara suami istri.” (At-Tauhid, hal. 21)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Abu Muhammad Al-Maqdisi di dalam kitab Al-Kafi (3/164) mengatakan: “Sihir adalah jimat-jimat, jampi-jampi, dan ikatan-ikatan buhul yang berpengaruh pada hati dan badan yang akhirnya menyebabkan sakit dan mati, serta akan memisahkan suami istri. Allah berfirman: “Lalu mereka belajar dari keduanya (Harut dan Marut) sesuatu yang akan bisa memisahkan antara seorang suami dengan istrinya.” (Al-Baqarah: 102). Allah juga berfirman: “Dan kejahatan wanita-wanita yang meniupkan buhul-buhul.” (Al-Falaq: 4). Yaitu tukang-tukang sihir dari kaum wanita yang mereka mengikat buhul-buhul dalam sihirnya lalu menjampinya. Jika sihir itu hakikatnya tidak ada, niscaya Allah tidak menyuruh untuk berlindung darinya.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Hukum Mempelajari Sihir&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Para ulama berselisih pendapat mengenai hukum mempelajari sihir ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjaso9sBMN6g7DB3n6p1IaSig4E8hq_j_-cIhzFrhy4gDlRJPh8KDnunDItI5TsNlTgTrKRdRuf5-11vyWJw0FGWybdhLIZce0aqC4UK7K724KuVKKnrnhL0xtWUHW0-eFNl_J5wCkeWLHO/s1600/images.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em; text-align: center;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjaso9sBMN6g7DB3n6p1IaSig4E8hq_j_-cIhzFrhy4gDlRJPh8KDnunDItI5TsNlTgTrKRdRuf5-11vyWJw0FGWybdhLIZce0aqC4UK7K724KuVKKnrnhL0xtWUHW0-eFNl_J5wCkeWLHO/s1600/images.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;Pendapat pertama, Al-Imam Malik berkata bahwa belajar sihir atau mengajarkannya menyebabkan&amp;nbsp;pelakunya kafir meskipun dia tidak menggunakannya. Karena, pada sihir terdapat unsur pengagungan terhadap setan dan mengaitkan semua kejadian yang ada di alam ini kepada mereka. Dan tidak akan dikatakan oleh orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir bahwa mereka tidak kafir.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pernyataan ini juga diucapkan oleh Al-Imam Ahmad dalam riwayat darinya yang lebih masyhur, dinukil dari shahabat ‘Ali dan dikuatkan oleh Ibnu Qudamah dalam kitab Al-Mughni.Pendapat kedua adalah pendapat Al-Hanafiyyah. Mereka merinci hal yang demikian. Apabila mempelajari sihir untuk melindungi dirinya, maka dia tidak kafir. Bila dia mempelajarinya dengan keyakinan bahwa hal tersebut dibolehkan atau akan memberi manfaat baginya, maka ini adalah kufur. Yang berpendapat demikian juga adalah Asy-Syafi’i dan mayoritas pengikut beliau, serta dikuatkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar, Al-Qurafi, dan Asy-Syinqithi. (Al-Fath, 10/224 dan Adhwa-ul Bayan, 4/44)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pendapat ketiga, belajar sihir tidak kafir. Ini merupakan salah satu pendapat Al-Imam Ahmad yang tidak kuat, dan dicela pendapat ini oleh Ibnu Hazm. (Lihat Fathul Bari, 10/224, Adhwa-ul Bayan, 4/44, Tafsir Ibnu Katsir, 1/128, Tafsir Al-Qurthubi, 2/43, Fathul Qadir, 1/151, dan Tafsir As-Sa’di, hal. 42)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ash-Shan’ani dalam kitab Tath-hir Al-I’tiqad (hal. 44) mengatakan: “Belajar ilmu sihir bukan perkara yang sulit, bahkan pintunya yang paling besar adalah kufur kepada Allah dan menghinakan apa-apa yang diagungkan oleh Allah seperti meletakkan mushaf di WC dan sebagainya.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pendapat yang terkuat adalah sebagaimana yang akan dijelaskan pada pembahasan berikut.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Sihir dalam Pandangan Agama&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ibnu ‘Allan dalam kitab Dalilul Falihin (8/284) mengatakan: “Sihir adalah hal-hal di luar kebiasaan yang terjadi melalui ucapan-ucapan dan perbuatan. Dan memungkinkan untuk dilawan dengan yang sepertinya. Dan sihir itu adalah haram termasuk dari dosa besar.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Allah berfirman:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: blue;&quot;&gt;“Sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukar (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah keuntungan baginya di akhirat.”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; (Al-Baqarah: 102)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEile0T_r1cfRF-5cqK_VI3ClNpZD4WaX_9KtoM2PCS-oNe7FmNvPUdXY-8N2Wr8YfRPp9KqwqpSZN2VTO_6g2ON3_f2YZm9f8tFSSebzKRiFC1p6HtwvLEFnfCDR5Gb_YngiNVrdeC2_FCZ/s1600/blackMagic.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em; text-align: center;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;297&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEile0T_r1cfRF-5cqK_VI3ClNpZD4WaX_9KtoM2PCS-oNe7FmNvPUdXY-8N2Wr8YfRPp9KqwqpSZN2VTO_6g2ON3_f2YZm9f8tFSSebzKRiFC1p6HtwvLEFnfCDR5Gb_YngiNVrdeC2_FCZ/s320/blackMagic.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alusy-Syaikh mengatakan: “Ayat ini menunjukkan atas haramnya sihir&amp;nbsp;dan juga haram dalam agama seluruh para rasul sebagaimana firman Allah: ‘Dan tidak akan beruntung tukang sihir dari mana saja dia datang’. (Thaha: 69). Pengikut Al-Imam Ahmad telah menjelaskan tentang kafirnya belajar sihir dan mengajarkannya.” (Fathul Majid, hal. 336)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Asy-Syaikh Shalih Fauzan dalam ta’liq beliau terhadap kitab Al-’Aqidah Ath-Thahawiyyah mengatakan: “Sihir adalah satu bentuk perbuatan setan dan termasuk dari kekufuran kepada Allah, maka janganlah kamu tertipu dengan mereka.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ibnu Abil ‘Izzi dalam Syarah Al-’Aqidah Ath-Thahawiyyah (hal. 505) mengatakan: “Para ulama telah sepakat bahwa jika sihir itu dalam bentuk meminta kepada bintang yang tujuh atau selainnya, mengajak berbicara atau sujud kepadanya, dan mendekatkan diri kepadanya baik dengan bentuk pakaian, atau cincin, asap-asap, sesajen, atau yang sejenisnya, maka ini termasuk jenis kekufuran dan pintu kesyirikan yang paling besar. Oleh karena itu wajib ditutup.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
As-Sa’di dalam Tafsir beliau (hal. 44) mengatakan: “Jangan kamu belajar sihir karena yang demikian itu termasuk dari kekufuran.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Semua ucapan para ulama tersebut terambil dari dalil-dalil Al Qur’an dan As Sunnah sebagaimana dalam firman Allah:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: blue;&quot;&gt;“Tidaklah keduanya mengajarkan sesuatu kepada seorang pun melainkan keduanya mengatakan: Sesungguhnya kami hanya cobaan bagimu, maka janganlah kamu kafir.” &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;(Al-Baqarah: 102)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab mengatakan: “Dari sini sangat jelas bahwa seseorang tidak mungkin mempelajari sihir melainkan dia harus kafir. Dan bila dia telah kafir maka dia akan mempelajarinya. Berdasarkan ayat ini maka tukang sihir hukumnya adalah kafir.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
Adz-Dzahabi dalam kitab beliau Al-Kabair (hal. 21-22) mengatakan: “Tukang sihir harus dikafirkan berdasarkan firman Allah: “Akan tetapi setan-setan yang kafir dan mengajarkan manusia sihir”. Setan tidak memiliki tujuan dalam mengajarkan manusia ilmu sihir melainkan agar Allah disekutukan. Kamu melihat kebanyakan orang sesat karena mempelajari ilmu sihir tersebut dan mereka menyangka hanya sebatas haram dan mereka tidak mengira kalau yang demikian itu adalah wujud kekafiran. Hukuman bagi tukang sihir adalah dibunuh karena dia kufur kepada Allah. Hendaklah setiap hamba bertakwa kepada Allah dan jangan sekali-kali dia masuk kepada perkara-perkara yang akan mencelakakan dirinya di dunia dan akhirat.” (Al-Qaulul Mufid, Asy-Syaikh Muhammad bin Abdulwahhab Al-Yamani, hal. 137)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Adapun dari Sunnah Rasulullah adalah hadits Abu Hurairah di atas yang dikeluarkan oleh Al-Imam Bukhari dan Al-Imam Muslim: “Jauhilah oleh kalian tujuh perkara yang akan membinasakan…” di antaranya adalah sihir.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Al-Lajnah Ad-Daimah mengatakan: “Diharamkan untuk belajar sihir apakah belajarnya untuk diamalkan atau untuk mempertahankan diri. Allah telah menjelaskan dalam Al Qur’an tentang mempelajarinya adalah kekufuran. Allah berfirman: “Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut. Sedang keduanya tidak mengajarkan kepada seorang pun melainkan mengatakan: Sesungguhnya kami hanya cobaan bagi kamu, maka janganlah kafir.” (Al-Baqarah: 102). Sungguh Rasulullah telah menjelaskan bahwa sihir merupakan salah satu dari dosa-dosa besar dan memerintahkan agar menjauhinya dengan sabdanya: “Jauhilah oleh kalian tujuh perkara yang akan membinasakan…”, kemudian beliau menyebutkan di antaranya: “Sihir.” Dan di dalam Sunan An-Nasai disebutkan: “Barangsiapa yang mengikat buhul lalu meniupkan padanya, maka sungguh dia telah melakukan sihir. Dan barangsiapa yang telah melakukan sihir, maka sungguh dia telah melakukan kesyirikan.” (Fatawa Al-Lajnah, 1/367/368)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Hukuman bagi Tukang Sihir1&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama apakah tukang sihir itu dihukumi kafir atau tidak. Kemudian, bagaimana dengan hukuman bagi mereka di dunia ini, apakah dibunuh atau tidak.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Jumhur ulama berpendapat bahwa tukang sihir adalah kafir secara mutlak. Di antara mereka adalah Malik, Abu Hanifah, pengikut Al-Imam Ahmad, dan selain mereka. (Adhwa-ul Bayan, 4/455)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Di antara mereka ada yang mengatakan perlu dirinci. Apabila di dalam sihir tersebut terkandung pengagungan terhadap selain Allah seperti bintang-bintang, jiwa-jiwa dan selainnya yang akan bisa mengantarkan kepada kekafiran, maka pelaku sihir tersebut kafir tanpa ada perselisihan. Apabila sihir itu tidak mengandung kekufuran, seperti menggunakan benda-benda tertentu sejenis minyak dan selainnya, ini adalah haram dengan keharaman yang keras meski pelakunya tidak bisa dikatakan kafir. (Adhwa-ul Bayan, 4/456)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pendapat kedua ini yang dikuatkan oleh Asy-Syinqithi dalam kitab Adhwa-ul Bayan (4/456) dengan menyatakan: “Inilah yang benar insya Allah dari perbedaan-perbedaan para ulama tersebut.” Dan ini pula yang dirajihkan oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin dalam kitab Al-Qaulul Mufid (2/6).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Di antara para ulama ada yang menggabungkan kedua pendapat tersebut seperti yang dilakukan oleh Asy-Syaikh Sulaiman dalam kitab Taisir Al-’Azizil Hamid (hal. 384): “Sebenarnya kedua pernyataan tersebut tidaklah berbeda. Adapun yang menyatakan tidak kafir dia menyangka bahwa sihir itu terjadi tanpa ada unsur kesyirikan. Padahal tidak demikian, bahkan sihir yang datang dari sisi setan tidak lepas dari kesyirikan dan penyembahan kepada setan. Oleh karena itulah Allah mengkafirkan mereka dengan firman-Nya: “Sesungguhnya kami adalah cobaan, maka janganlah kamu kafir.” (Al-Baqarah: 102). Adapun sihir yang berasal dari obat-obatan atau asap-asap maka ini bukan sihir. Hal ini dinamakan sihir majaz sebagaimana penamaan ucapan yang memukau dan namimah (mengadu domba) dengan sihir, namun hal yang demikian ini haram karena mengandung mudharat dan pelakunya harus diberi pelajaran.” (lihat Syarah Nawaqidhul Islam, hal. 26)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setelah kita mengetahui hukum dalam pandangan agama terhadap tukang sihir, pelakunya bisa disebut kafir atau hanyasebagai pelaku maksiat, lalu bagaimana hukuman di dunia, haruskah dibunuh?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya mengatakan: Ibnu Hubairah berkata: “Apakah dibunuh orang yang hanya melakukan perbuatan sihir atau tidak?” Malik dan Ahmad menyatakan ya (dibunuh), Asy-Syafi’i dan Abu Hanifah mengatakan tidak. Adapun apabila dia membunuh seseorang dengan sihirnya maka dia harus dibunuh menurut pendapat Malik, Asy-Syafi’i dan Ahmad.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Telah ada riwayat dari ulama salaf yang membunuh pelaku sihir. Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari  dalam Shahih beliau dari Bajalah bin ‘Abdah, berkata ‘Umar bin Al-Khaththab: “…agar membunuh para tukang sihir.” Makakami membunuh tiga tukang sihir.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdulwahab dalam Kitab At-Tauhid berkata: “Telah shahih dari Hafshah bahwa beliau memerintahkan untuk membunuh budak yang menyihirnya.” Dan telah shahih pula dari Jundub.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan dalam Fathul Majid (hal. 343) berkata: “Diriwayatkan pula yang mengatakan (tukang sihir harus dibunuh) dari ‘Umar, ‘Utsman, Ibnu ‘Umar, Hafshah, Jundub bin Abdullah, Jundub bin Ka’ab, Qais bin Sa’d, dan ‘Umar bin Abdul ‘Aziz.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Adapun Asy-Syafi’i tidak berpendapat dibunuh hanya karena sekedar menyihir, kecuali apabila di dalam sihirnya itu telah sampai pada tingkat kufur. Demikian pula yang dikatakan oleh Ibnul Mundzir dan sebuah riwayat dari Al-Imam Ahmad. Pendapat pertama lebih kuat berdasar hadits dari Anas dari Ibnu ‘Umar dan orang-orang melakukan di masa pemerintahan beliau dan beliau tidak mengingkarinya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawa (29/384) berkata: “Sungguh telah diketahui bahwa sihir adalah haram berdasarkan Al Qur’an, As Sunnah, dan ijma’ umat. Kebanyakan ulama berpendapat bahwa tukang sihir adalah kafir dan telah shahih dari ‘Umar bin Al-Khaththab tentang keharusan membunuhnya. Dan juga dari ‘Utsman bin ‘Affan, Hafshah bintu ‘Umar, Abdullah bin ‘Umar, dan dari Jundub bin Abdillah dan telah diriwayatkan secara marfu’ (sampai sanadnya kepada Rasulullah).”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dari semua pendapat para ulama ini, jelas bahwa sihir merupakan sesuatu yang sangat berbahaya baik ditinjau dari sisi dunia maupun akhirat. Oleh karena itu, telah shahih riwayat dari ulama salaf tentang keharusan membunuh mereka. Lalu apakah hukuman mati ini terhadap mereka sebagai hukuman ta’zir1 atau karena murtad?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Para ulama sepakat, jika sihirnya itu sampai kepada batas kekufuran dan syirik, maka membunuhnya sebagai hukuman murtad. Dan terjadi perbedaan pendapat apabila sihirnya itu tidak sampai pada tingkatan kufur. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa dibunuh sebagai hukuman (had) dan ada yang mengatakan dia dibunuh sebagai satu bentuk ta’zir baginya dan bagi orang lain.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Asy-Syaikh Muhammad bin Amin Asy-Syinqithi dalam kitab Adhwa-ul Bayan (4/462) berkata: “Yang benar menurutku adalah bahwa penyihir yang sihirnya belum sampai ke tingkat kufur dan dia tidak membunuh dengan sihirnya itu, maka dia tidak boleh dibunuh berdasarkan dalil-dalil yang qath’i (kuat) dan ijma’ tentang terpeliharanya darah orang-orang Islam secara umum kecuali apabila datang dalil yang jelas. Membunuh tukang sihir yang belum sampai pada tingkatan kufur dengan sihirnya, tidak ada dalil yang shahih dari Rasulullah. Dan menumpahkan darah seorang muslim tanpa ada dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah yang shahih, belum jelas pembolehannya menurutku.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dan ilmunya di sisi Allah. Sementara itu yang mengatakan harus dibunuh secara mutlak merupakan pendapat yang sangat kuat berdasarkan perbuatan para shahabat tanpa ada pengingkaran.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Apakah mereka harus dimintai taubat ataukah langsung dibunuh? Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Dan pendapat yang kuat berdasarkan tarjih Asy-Syinqithi dalam Adhwa-ul Bayan: “Kalau dia bertaubat maka taubatnya diterima, karena sihir tidak lebih besar daripada dosa syirik dan Allah menerima taubat tukang sihir Fir’aun dan menjadikan mereka ketika itu sebagai walinya.” (lihat Syarah Nawaqidhul Islam, hal. 28). Wallahu a’lam.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1 Hukuman ini dilakukan oleh penguasa, bukan oleh individu atau kelompok. (ed)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1 Hukuman ta’zir adalah hukuman yang tidak tertentu ukurannya (dalam syariat) dan tergantung kepada ijtihad hakim.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;
#Majalah AsySyariah Edisi 008&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanajadeh.blogspot.com/feeds/8395882736481571836/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hanajadeh.blogspot.com/2013/06/sihir-di-sekitar-kita.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1142211349625914890/posts/default/8395882736481571836'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1142211349625914890/posts/default/8395882736481571836'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanajadeh.blogspot.com/2013/06/sihir-di-sekitar-kita.html' title='Sihir di Sekitar Kita'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14590274822924929950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhSjfkvunUSbbn3Feldg09HWoBaiqwSBtefYaKk8Mjf5uvaMoGZswQZNKpGSPtSUjR36Rc-k3OEnCjW2IE8dfUZIZ5QEgcy7UL7nsyIew72vN-hy41_f-lpRaChWBbIH7-1g-aWCJM2bMXz/s72-c/witch-300x242.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1142211349625914890.post-8357848091924023556</id><published>2013-06-22T23:07:00.000+07:00</published><updated>2013-09-30T23:45:53.127+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Islami"/><title type='text'>Menjenguk Orang yang Sakit</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEioSn1N8TYxr3JIygqONHWQ8QYIf29uh-z5Fp5hLYhcaB2s3rKHRHhKWF1GgAeUtaCCFhwrHbTNrvMV1lw0vtRBxzEP1oJQUPaduZVri97GF6aY-7mssOvaI_fi53ilXiTDskK4xj4t6IiG/s1600/images+(4).jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;200&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEioSn1N8TYxr3JIygqONHWQ8QYIf29uh-z5Fp5hLYhcaB2s3rKHRHhKWF1GgAeUtaCCFhwrHbTNrvMV1lw0vtRBxzEP1oJQUPaduZVri97GF6aY-7mssOvaI_fi53ilXiTDskK4xj4t6IiG/s200/images+(4).jpg&quot; width=&quot;183&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Syariat Islam yang mulia ini datang dengan kesempurnaan. Tidak ada satu sisi kehidupan pun yang luput dari perhatiannya. Semua permasalahan didapatkan aturannya dalam Islam, sampai-sampai dalam perkara buang hajat ada adabnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Satu perkara yang juga tidak lepas dari pengaturan Islam adalah masalah menjenguk orang sakit, yang dijadikan sebagai salah satu hak muslim terhadap muslim yang lain. Sebagaimana sabda Rasulullah :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ خَمْسٌ: رَدُّ السَّلاَمِ، وَعِيَادَةُ الْمَرِيْضِ، وَاتِّبَاعُ الْجَنَائِزِ، وَإِجَابَةُ الدَّعْوَةِ، وَتَشْمِيْتُ الْعَاطِسِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Hak seorang muslim terhadap muslim yang lain ada lima yaitu menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengikuti jenazah, memenuhi undangan, dan mendoakan orang yang bersin (bila yang bersin mengucapkan hamdalah, pent.).” (HR. Al-Bukhari no. 1240 dan Muslim no. 5615)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hukum menjenguk orang sakit adalah fardhu kifayah. Artinya, bila ada sebagian orang yang melakukannya maka gugur kewajiban dari yang lain. Bila tidak ada seorang pun yang melakukannya, maka wajib bagi orang yang mengetahui keberadaan si sakit untuk menjenguknya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kemudian yang perlu diketahui, orang sakit yang dituntunkan untuk dijenguk adalah yang terbaring di rumahnya (atau di rumah sakit) dan tidak keluar darinya. Adapun orang yang menderita sakit yang ringan, yang tidak menghalanginya untuk keluar dari rumah dan bergaul dengan orang-orang, maka tidak perlu dijenguk. Namun bagi orang yang mengetahui sakitnya hendaknya menanyakan keadaannya. Demikian penjelasan Syaikh yang mulia Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam kitabnya Syarhu Riyadhish Shalihin (3/55).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Keutamaan yang besar dijanjikan bagi seorang muslim yang menjenguk saudaranya yang sakit seperti ditunjukkan dalam hadits-hadits berikut ini:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tsauban mengabarkan dari Nabi, sabda beliau:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;إِنَّ الْمُسْلِمَ إِذَا عَادَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ لَمْ يَزَلْ فِي خُرْفَةِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَرْجِعَ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Sesungguhnya seorang muslim bila menjenguk saudaranya sesama muslim maka ia terus menerus berada di khurfatil jannah hingga ia pulang (kembali).” (HR. Muslim no. 6498)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dalam lafadz lain (no. 6499):&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;مَنْ عَادَ مَرِيْضًا، لَمْ يَزَلْ فِي خُرْفَةِ الْجَنَّةِ. قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَمَا خُرْفَةِ الْجَنَّةِ؟ قَالَ: جَنَاهَا&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Siapa yang menjenguk seorang yang sakit maka ia terus menerus berada di khurfatil jannah.” Ditanyakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah khurfatil jannah itu?”. Beliau menjawab, “Buah-buahan yang dipetik dari surga.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ali berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعُوْدُ مُسْلِمًا غُدْوَةً إِلاَّ صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِيَ، وَإِنْ عَادَهُ عَشِيَّةً إِلاَّ صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ، وَكَانَ لَهُ خَرِيْفٌ فِي الْجَنَّةِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Tidaklah seorang muslim menjenguk muslim yang lain di pagi hari melainkan 70.000 malaikat bershalawat atasnya (memintakan ampun untuknya) hingga ia berada di sore hari. Dan jika ia menjenguknya di sore hari maka 70.000 malaikat bershalawat atasnya (memintakan ampun untuknya) hingga ia berada di pagi hari. Dan ia memiliki buah-buahan yang dipetik di dalam surga.” (HR. At-Tirmidzi no. 969, dishahihkan Al-Imam Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir no. 5767 dan Ash-Shahihah no. 1367)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ada beberapa adab yang perlu diperhatikan oleh seseorang bila hendak menjenguk orang sakit, sebagaimana disebutkan Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin. Di antaranya:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1. Ia melakukan amalan tersebut dengan niat menjalankan perintah Nabi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2. Ia meniatkan untuk berbuat baik kepada saudaranya dengan menjenguknya, karena seorang yang sakit bila dijenguk saudaranya akan merasa senang dan menjadi lapang hatinya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
3. Ia gunakan kesempatan membesuk tersebut untuk memberikan arahan kepada si sakit dalam perkara yang bermanfaat baginya, seperti menyuruhnya bertaubat, istighfar, dan menyelesaikan hak-hak orang yang lain yang belum dipenuhinya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
4. Bisa jadi si sakit memiliki permasalahan tentang bagaimana tata cara thaharah atau shalat selama sakitnya atau yang semisalnya, maka bila si penjenguk punya ilmu tentangnya hendaknyalah ia mengajarkan kepada si sakit.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
5. Ia melihat mana yang maslahat bagi si sakit, apakah dengan ia lama berada di sisi si sakit atau cukup sebentar saja. Bila ia melihat si sakit senang, terlihat gembira dan menyukai bila ia berlama-lama di tempat tersebut, hendaknya ia pun menahan dirinya lebih lama bersama si sakit dalam rangka membagi kebahagiaan kepada saudaranya. Namun bila ia melihat yang sebaliknya, hendaklah ia tidak berlama-lama di tempat tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
6. Hendaknya ia mengingat nikmat Allah berupa kesehatan yang sedang dinikmatinya, karena biasanya seseorang tidak mengetahui kadar nikmat Allah kepadanya kecuali bila ia melihat orang yang ditimpa musibah berupa kehilangan nikmat tersebut. Dengan nikmat tersebut, ia memuji Allah k dan memohon agar melanggengkannya. (Syarhu Riyadhish Shalihin, hal. 55-56)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Wanita tidaklah berbeda dengan lelaki dalam pensyariatan menjenguk orang sakit ini. Artinya, wanita pun disenangi menjenguk orang sakit. Tentunya ia keluar dari rumahnya menuju tempat si sakit dengan memerhatikan adab-adab syar’i, seperti menutup aurat, tidak memakai wangi-wangian, menjaga rasa malu, menjaga diri dari fitnah, dan sebagainya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ummul Mukminin Aisyah, istri Rasulullah yang mulia pernah menjenguk ayahnya, Abu Bakr Ash-Shiddiq dan Bilal yang sedang sakit. Aisyah mengabarkan:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;لمَاَّ قَدِمَ رَسُوْلُ اللهِ &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: xx-small;&quot;&gt;n&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt; الْمَدِيْنَةَ وُعِكَ أَبُوْ بَكْرٍ وَبِلاَلٌ&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: xx-small;&quot;&gt;c&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&amp;nbsp; قَالَتْ: فَدَخَلْتُ عَلَيْهِمَا، قُلْتُ: يَا أَبَتِ، كَيْفَ تَجِدُكَ؟ وَيَا بِلاَلُ، كَيْفَ تَجِدُكَ؟ قَالَتْ: وَأَبُوْ بَكْرٍ إِذَا أخَذَتْهُ الْحُمَّى يَقُوْلُ:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;كُلُّ امْرِئٍ مُصَبَّحٌ فِي أَهْلِهِ وَالْمَوْتُ أَدْنَى مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;وَكَانَ بِلاَلٌ إِذَا أَقْلَعَ عَنْهُ الْحُمَى يَرْفَعُ عَقِيْرَتَهُ وَيَقُوْلُ:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;أَلاَ لَيْتَ شَعْرِي هَلْ أُبَيِّتُنَّ لَيْلَةً بِوَادٍ وَحَوَلَي إِذْخِرٍ وَجَلِيْلُ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;وَهَلْ أَرِدَن يَوْمًا مِيَاهَ مِجَنَّةٍ وَهَلْ تَبْدُوْنَ لِي شَامةٌ وَطَفِيلُ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;قاَلَتْ عَائِشَةُ: فَجِئْتُ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: xx-small;&quot;&gt;n&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt; فَأَخْبَرْتُهُ، فَقَالَ: اللَّهُمَّ، حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِيْنَةَ، كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ، اللَّهُمَّ وَصَحِّحْهَا وَبَارِكْ لَنَا فِي مُدِّهَا وَصَاعِهَا، وَانْقُلْ حُمَّاهَا فَاجْعَلْهَا بِالْجُحْفَةِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tatkala Rasulullah tiba di Madinah (awal hijrah beliau ke Madinah), Abu Bakr dan Bilal ditimpa penyakit huma (demam dengan panas yang sangat tinggi). Aku pun masuk menemui keduanya. Aku katakan, “Wahai ayahku, bagaimana engkau dapatkan keadaan dirimu? Dan engkau, wahai Bilal, bagaimana engkau dapatkan keadaan dirimu?”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kata Aisyah: “Adalah Abu Bakr bila demam yang tinggi menyerangnya, ia berkata:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
‘Setiap orang ditimpa kematian di pagi hari dalam keadaan ia berada di tengah keluarganya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dan kematian lebih dekat dengannya daripada tali sandalnya.’&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Adapun Bilal, bila sakit telah hilang darinya, ia mengangkat suaranya sembari menangis dan berkata:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
‘Aduhai apa kiranya suatu malam aku sungguh-sungguh akan bermalam di suatu lembah dan di sekitarku ada tumbuhan idzkhir dan jalil&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Adakah suatu hari aku sungguh akan mendatangi Miyah Mijannah&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dan adakah akan tampak bagiku Syamah dan Thafil.’1&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Aisyah berkata, “Aku mendatangi Rasulullah lalu mengabarkan kepada beliau tentang hal itu. Beliau pun berdoa, ‘Ya Allah, cintakanlah kepada kami Madinah, sebagaimana kecintaan kami kepada Makkah atau lebih. Ya Allah, sehat/baikkanlah kota ini dan berkahi kami dalam mud dan sha’-nya, dan pindahkanlah huma-nya, lalu letakkanlah huma ini di Juhfah’.” (HR. Al-Bukhari no. 3926. Dalam riwayat Muslim no. 3329 hanya lafadz: Aisyah berkata, “Aku mendatangi Rasulullah … dst)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Bila yang dijenguk si wanita adalah sesama wanita atau lelaki dari kalangan mahramnya, maka tidak ada permasalahan. Yang jadi masalah bagaimana bila yang sakit adalah lelaki ajnabi (bukan mahram), bolehkah seorang wanita ajnabiyah menjenguknya?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Masalah ini terjawab dari hadits Aisyah di atas, di mana Aisyah menjenguk Bilal. Wallahu a’lam bish-shawab, tentunya selama aman dari fitnah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Rasulullah selain menjenguk para sahabatnya yang sedang sakit, beliau juga pernah menjenguk para sahabiyah sebagaimana ditunjukkan dalam dua hadits berikut ini:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Jabir bin Abdillah memberitakan:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: xx-small;&quot;&gt;n&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt; دَخَلَ عَلَى أُمِّ السَّائِبِ– أَوْ أُمَّ الْمُسَيِّبِ- فَقَالَ: مَا لَكَ يَا أُمَّ السَّائِبِ– أَوْ: يَا أُمَّ الْمُسَيِّب- تُزَفْزِفِيْنَ؟ قَالَتْ: الْحُمَّى، لاَ بَارَكَ اللهُ فِيْهَا. فَقَالَ: لاَ تَسُبِّي الْحُمَى، فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِي آدَمَ، كَمَا يُذْهِبُ الْكِيْرُ خَبثَ الْحَدِيْدِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Rasulullah membesuk Ummus Sa`ib –atau Ummul Musayyib–, beliau berkata, “Kenapa engkau wahai Ummus Sa`ib –atau Ummul Musayyib– terlihat gemetaran?” Dia menjawab, “Saya sakit humma, semoga Allah tidak memberkahi penyakit ini.” Rasulullah bersabda, “Jangan engkau mencaci humma, karena penyakit ini akan menghilangkan kesalahan-kesalahan anak Adam sebagaimana alat peniup api menghilangkan kotoran besi.” (HR. Muslim no. 6515)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ummul ‘Ala’ mengabarkan:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;عَادَنِي رَسُوْلُ الله &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: xx-small;&quot;&gt;n&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt; وَأَنَا مَرِيْضَةٌ، فَقَالَ: أَبْشِرِيْ يَا أُمَّ الْعَلاَءِ، فَإِنَّ مَرَضَ الْـمُسْلِمِ يُذْهِبُ اللهُ بِهِ خَطاَياَ كَمَا تُذْهِبُ النَّارُ خَبَثَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Rasulullah menjengukku dalam keadaan aku ditimpa sakit. Beliau bersabda, “Bergembiralah wahai Ummul ‘Ala’2, karena dengan sakitnya seorang muslim Allah akan menghilangkan darinya kesalahan-kesalahan sebagaimana api menghilangkan kotoran dari emas dan perak (yang ditempa).” (HR. Abu Dawud no. 3092, dishahihkan Al-Imam Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud dan Ash-Shahihah no. 714)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hadits di atas diberi judul oleh Al-Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya dengan: bab ‘Iyadatun Nisa’ (bab menjenguk wanita yang sakit). Tentunya hal ini dilakukan selama aman dari fitnah (godaan).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1 Nama dua gunung dekat Makkah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2 Ummul ‘Ala’ Al-Anshariyyah adalah ‘ammah (bibi dari pihak ayah) Hizam bin Hakim bin Hizam.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;
#Majalah AsySyariah Edisi 046&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanajadeh.blogspot.com/feeds/8357848091924023556/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hanajadeh.blogspot.com/2013/06/menjenguk-orang-yang-sakit.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1142211349625914890/posts/default/8357848091924023556'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1142211349625914890/posts/default/8357848091924023556'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanajadeh.blogspot.com/2013/06/menjenguk-orang-yang-sakit.html' title='Menjenguk Orang yang Sakit'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14590274822924929950</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEioSn1N8TYxr3JIygqONHWQ8QYIf29uh-z5Fp5hLYhcaB2s3rKHRHhKWF1GgAeUtaCCFhwrHbTNrvMV1lw0vtRBxzEP1oJQUPaduZVri97GF6aY-7mssOvaI_fi53ilXiTDskK4xj4t6IiG/s72-c/images+(4).jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>