<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Ambon Kaart</title>
	<atom:link href="https://ambonkaart.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://ambonkaart.wordpress.com</link>
	<description>Thoughts &#38; Feelings</description>
	<lastBuildDate>Wed, 20 Apr 2011 18:07:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">11908570</site><cloud domain='ambonkaart.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>https://secure.gravatar.com/blavatar/9952b5c6c967c137d694abf473a75de847243ec9fb2b9a111208a89ea8150a53?s=96&#038;d=https%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fwebclip.png</url>
		<title>Ambon Kaart</title>
		<link>https://ambonkaart.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="https://ambonkaart.wordpress.com/osd.xml" title="Ambon Kaart" />
	<atom:link rel='hub' href='https://ambonkaart.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
	<item>
		<title>Setahun Kemarin</title>
		<link>https://ambonkaart.wordpress.com/2011/04/21/setahun-kemarin/</link>
					<comments>https://ambonkaart.wordpress.com/2011/04/21/setahun-kemarin/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[bradley]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 20 Apr 2011 18:07:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hari-hari]]></category>
		<category><![CDATA[ambon kaart]]></category>
		<category><![CDATA[indobrad]]></category>
		<category><![CDATA[online identity]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://ambonkaart.wordpress.com/?p=628</guid>

					<description><![CDATA[Dear friends, Tak terasa sudah hampir setahun saya tidak menulis di blog ini. Bukannya saya lalu hiatus ngeblog; justru sebaliknya banyak sudah pengalaman yang didapat. Semuanya berawal ketika saya memutuskan untuk membeli domain baru indobrad.web.id dan mempercayakan hosting pada sebuah perusahaan lokal berbasis komunitas blogger. Perjalanan dengan hosting company dapat dikatakan tidak mulus bahkan setelah [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="https://ambonkaart.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/04/id.jpg"><img data-attachment-id="631" data-permalink="https://ambonkaart.wordpress.com/2011/04/21/setahun-kemarin/id/" data-orig-file="https://ambonkaart.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/04/id.jpg" data-orig-size="350,300" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="id" data-image-description="" data-image-caption="" data-large-file="https://ambonkaart.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/04/id.jpg?w=350" class="alignleft size-medium wp-image-631" title="id" src="https://ambonkaart.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/04/id.jpg?w=300&#038;h=257" alt=""   srcset="https://ambonkaart.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/04/id.jpg?w=300 300w, https://ambonkaart.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/04/id.jpg?w=210 210w, https://ambonkaart.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/04/id.jpg?w=150 150w, https://ambonkaart.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/04/id.jpg 350w" sizes="(max-width: 210px) 100vw, 210px" /></a>Dear friends,</p>
<p style="text-align:justify;">Tak terasa sudah hampir setahun saya tidak menulis di blog ini. Bukannya saya lalu hiatus ngeblog; justru sebaliknya banyak sudah pengalaman yang didapat. Semuanya berawal ketika saya memutuskan untuk membeli domain baru <a href="http://indobrad.web.id" target="_blank">indobrad.web.id</a> dan mempercayakan hosting pada sebuah perusahaan lokal berbasis komunitas blogger. Perjalanan dengan hosting company dapat dikatakan tidak mulus bahkan setelah berganti layanan sehingga kemudian saya putuskan untuk kembali ke layanan blog gratisan dengan alamat <a href="http://indobrad.wordpress.com" target="_blank">http://indobrad.wordpress.com</a>.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu apa yang terjadi dengan nama <strong>Ambon Kaart</strong>?</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-628"></span>Ah, ini adalah sebuah persoalan identitas yang cukup pelik sebenarnya. Setelah sempat meluncurkan identitas blog <strong>Ambon Kaart</strong> di awal tahun 2010, seiring dengan perjalanan waktu saya merasa tidak nyaman karena orang-orang tidak mengenal nama dan cenderung mengasosiasikan saya dengan &#8216;Ambon&#8217;. Jadilah saya dipanggil Oom Ambon, Mas Ambon, bahkan &#8216;Bon&#8217; saja dan meski saya sadar bahwa tidak ada maksud negatif dari semua panggilan itu, saya merasa kurang enak. Oleh karena itulah saya sempat memutuskan mengganti identitas menjadi &#8216;indobrad&#8217;.</p>
<p style="text-align:justify;">Sungguh sayang sebenarnya membuang nama <strong>Ambon Kaart</strong> begitu saja. Saya masih ingat ketika pertama kali blog ini diluncurkan, saya menjabarkan arti nama <strong>Ambon Kaart</strong> dalam konteks pribadi dan keluarga dengan begitu rincinya (sayang postingan asli sempat saya hapus namun lihat keterangannya di <a href="https://ambonkaart.wordpress.com/about/" target="_blank">sini</a>).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#ff6600;">Lalu mengapa sekarang saya kembali ke mari?</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ini adalah hasil dari percakapan riuh-rendah di milis <a href="http://angingmammiri.org" target="_blank">Anging Mammiri</a> kemarin yang menyarankan agar saya kembali menggunakan nama <strong>Ambon Kaart</strong> sebagai kendaraan menuju status seleblog. <img src="https://s0.wp.com/wp-content/mu-plugins/wpcom-smileys/twemoji/2/72x72/1f600.png" alt="😀" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> Sebuah pernyataan yang sinting! Namun saya memahami maksudnya: <strong>Ambon Kaart</strong> memiliki keunikan tersendiri dalam khazanah kebudayaan Maluku di mana orang-orang seperti saya harus berjuang memahami budaya tanah leluhur dari jauh tanpa pernah sekali pun menginjakkan kaki ke sana dan bagaimana kami mengaktualisasikan identitas kami di tempat kami berada sekarang. Jadi <strong>Ambon Kaart</strong> ternyata unik. <img src="https://s0.wp.com/wp-content/mu-plugins/wpcom-smileys/twemoji/2/72x72/1f600.png" alt="😀" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#ff6600;">Jadi, blog ini hidup lagi?</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Wah, ini pertanyaan sulit. Saya merasa sayang membuang blog ini begitu saja namun tetap berat jikalau harus mengelola dua blog sekaligus. Apalagi menulis di sini bagaikan membangun semuanya dari awal lagi. Jadi saya mengambil keputusan:</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">1. Sehari-hari saya tetap menulis di indobrad</p>
<p style="text-align:justify;">2. Blog ini dipakai untuk mengisi tulisan khusus tentang budaya Maluku, paling tidak yang saya ketahui.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Paling tidak itu dulu yang tergambar di pikiran; segala sesuatu masih dapat berubah lagi. Namun saya ingin berterima kasih kepada rekan-rekan AM terutama <a href="http://daenggassing.com" target="_blank">Ipul</a> dan <a href="http://baidoeri.com" target="_blank">Intan</a> yang kembali mencetuskan nama ini. Saya mungkin belum dapat memaksimalkan blog ini untuk sekarang namun paling tidak tetap akan dipelihara. Terima kasih atas dorongan semangatnya! <img src="https://s0.wp.com/wp-content/mu-plugins/wpcom-smileys/twemoji/2/72x72/1f600.png" alt="😀" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
<p style="text-align:justify;">===</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Sumber gambar: accommod8.net</em></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://ambonkaart.wordpress.com/2011/04/21/setahun-kemarin/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>9</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">628</post-id>
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/569309e5140bb35af80bec9d8e4fbd57c8ec5d1b78a907dd2f39c1a46411400d?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ambonkaart</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://ambonkaart.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/04/id.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">id</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kecepirit</title>
		<link>https://ambonkaart.wordpress.com/2010/05/13/kecepirit/</link>
					<comments>https://ambonkaart.wordpress.com/2010/05/13/kecepirit/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[bradley]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 12 May 2010 19:01:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hari-hari]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://ambonkaart.wordpress.com/?p=607</guid>

					<description><![CDATA[Tau kan arti &#8220;kecepirit&#8221; di atas? Kalau belum tahu, silahkan terus baca. Kalau sudah tau dan kira-kira bisa membayangkan apa isi postingan saya ini kemudian Anda langsung mengkeret kecepirit juga, mending baca tulisan lainnya aja deh. Hari Minggu yang cerah ini diriku mendapatkan undangan menarik dari seorang kawan karib untuk menghadiri pesta ulang tahunnya. Ada [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Tau kan arti &#8220;kecepirit&#8221; di atas? Kalau belum tahu, silahkan terus baca. Kalau sudah tau dan kira-kira bisa membayangkan apa isi postingan saya ini kemudian Anda langsung <em>mengkeret</em> kecepirit juga, mending baca tulisan lainnya aja deh.</p>
<p><span id="more-607"></span>Hari Minggu yang cerah ini diriku mendapatkan undangan menarik dari seorang kawan karib untuk menghadiri pesta ulang tahunnya. Ada godaan khusus untuk saya kalau mau hadir di acara itu. Maaf saya tidak bisa mengatakan apa persisnya godaan itu di sini, tapi yang jelas godaan itu sungguh sulit ditolak. Maka jadilah saya bertandang ke Jakarta pada Minggu malam meski macet mendera (yup, teteup macet) dan harus janjian naik motor dengan teman yang cukup menyiksa. Namun kemacetan dan penyiksaan itu terbayar oleh meriahnya acara (walaupun cuma 20 orang yang datang tapi hebohnya sekampung) dan lezatnya makanan.</p>
<p>Hari sudah berganti ketika saya memasuki kamar dan beranjak tidur. Ketika bangun di pagi hari, saya melakukan &#8216;ritual&#8217; biasa saja, salah satunya adalah ke kamar mandi. Hmm, kok sekresi yang keluar bukannya padat tapi cair ya?! <em>(Maaf, ini juga sudah berpikir keras menghaluskan bahasanya)</em>. Masih dianggap sepele. Lalu mulas lagi 10 menit kemudian. Masih cuek. Lalu mulas lagi setengah jam kemudian, mulai curiga. Dan akhirnya beruntunlah rasa mulas itu menerjang, saya sampai sudah <em>lost count</em> berapa kali saya ke kamar mandi sepagian itu. Mungkin ada sampai 10 kali. Dan cairan semua! Bayangin dong! <em>(Berani gak?!)</em>. Seharian itu sampai malam, kerjaan saya cuma bolak-balik ke kamar mandi. Aktivitas selebihnya yang bisa dilakukan cuma duduk, termenung, liatin HP, pegang perut, dan mengutuki lampu mati. Ah, lengkap sudah!</p>
<p>Jadi intinya saya kena diare. Itu berlangsung sampai 2 hari. Terus terang saya panik oleh karena dulu saya pernah masuk rumah sakit karena tifus, dan oleh dokter dinasihati supaya berhati-hati karena sewaktu-waktu tifus bisa menyerang kembali jika saya lalai memperhatikan kondisi kesehatan dan makanan. Wah, bayangan saya udah macem-macem aja. Apalagi waktu sempat browsing di internet, ada sebuah postingan blog yang kalimat pertamanya <em>&#8220;penyebab orang mati karena diare adalah&#8230;&#8221;</em>; waduh tambah horor.</p>
<p>Tapi postingan blog itulah yang justru menolong saya. Karena saya bersikukuh tidak mau ke dokter dengan alasan mahal dan toh obat yang diberikan sama saja dengan yang tersedia di apotik, saya mencoba mencari jawaban di internet. Narablog tersebut menceritakan pengalamannya terkena diare dan dia meminum obat Imodium. Namun rekomendasi dia atas Imodium tersebut dibarengi peringatan tingkat tinggi: waspada overdosis yang bisa mengakibatkan sakit parah bahkan kematian. Jadi imodium ini adalah obat diare ampuh yang bisa langsung mengikat cairan sehingga tidak bocor keluar. Efek sampingnya justru yang dahsyat. Kalau kita analogikan diare itu seperti keran bocor, Imodium itu bukan hanya menyumbat si keran bocor, tapi kalau salah dosis malah bisa mencabut saluran air ledengnya sekalian! Karena itulah si narablog menyarankan agar Imodium diminum dalam interval sekian jam dengan dosis yang dipotong setengah. Setelah lama berpikir, saya turuti saran tersebut. Akhirnya diare saya berhenti setelah 1 1/2 hari.</p>
<p><strong><em>Lessons learned:</em></strong></p>
<p>1) Perbanyak minum air putih kalau terkena diare. Setelah kecepirit, kita harus segera mengganti cairan yang hilang dengan air, atau bisa juga dengan Pocari Sweat untuk mengganti ion tubuh. Ada juga yang menyarankan minum Yakult dan niscaya diare akan sembuh dengan sendirinya. Cara ini tidak saya coba, jadi terserah Anda.</p>
<p>2) Jangan makan makanan keras karena lambung belum mampu mengolahnya. Makanlah bubur atau nasi lemas untuk energi. Boleh ditambah telur.  Hindari sayur dan buah-buahan karena itu justru memperparah diare Anda. Apalagi sambal!</p>
<p>3) Minum obat anti diare. Ada beberapa merk yang tersedia di apotik, namun kalau sudah parah diarenya, memang mesti minum Imodium. Perhatikan aturan minumnya. Lalu minum juga antibiotik untuk membereskan sisa virus/kuman yang ada di lambung<em> (virus apa kuman ya?)</em>.</p>
<p>4) Istirahat yang banyak. Udah tenang aja, jangan pake <em>mewek</em> mengharu-biru kayak gue :((</p>
<p>Sebenarnya penyakit saya ini bisa terhindar kalau saya memperhatikan kondisi badan saya ketika memutuskan menghadiri undangan teman tersebut. Jadi supaya Anda tidak bernasib seperti saya, ya jaga kesehatan lah ya! <img src="https://s0.wp.com/wp-content/mu-plugins/wpcom-smileys/twemoji/2/72x72/1f642.png" alt="🙂" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://ambonkaart.wordpress.com/2010/05/13/kecepirit/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>21</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">607</post-id>
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/569309e5140bb35af80bec9d8e4fbd57c8ec5d1b78a907dd2f39c1a46411400d?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ambonkaart</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Satu Langkah Sudah Selesai</title>
		<link>https://ambonkaart.wordpress.com/2010/05/04/satu-langkah-sudah-selesai/</link>
					<comments>https://ambonkaart.wordpress.com/2010/05/04/satu-langkah-sudah-selesai/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[bradley]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 04 May 2010 12:52:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Depok]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[miladeBlogger]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://ambonkaart.wordpress.com/?p=604</guid>

					<description><![CDATA[Akhirnya, Community Gathering deBlogger telah terlaksana dengan sukses pada hari Minggu 2 Mei 2010 kemarin. Ketegangan menjelang acara yang mencapai puncaknya pada H-2 dan H-1 terbayar sudah oleh kegirangan ketika berkenalan dengan teman-teman baru, riuh-rendah permainan kelompok, dan kacau-balaunya perjalanan trekking akibat tersesat. Lalu, sekarang apa? Rangkaian acara miladeBlogger sudah tersusun rapi oleh panitia dan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Akhirnya, Community Gathering deBlogger telah terlaksana dengan sukses pada hari Minggu 2 Mei 2010 kemarin. Ketegangan menjelang acara yang mencapai puncaknya pada H-2 dan H-1 terbayar sudah oleh kegirangan ketika berkenalan dengan teman-teman baru, riuh-rendah permainan kelompok, dan kacau-balaunya perjalanan trekking akibat tersesat. Lalu, sekarang apa?</p>
<p><span id="more-604"></span>Rangkaian acara miladeBlogger sudah tersusun rapi oleh panitia dan direncanakan akan berjalan sepanjang bulan Mei; Community Gathering adalah event pemanasan yang mengawali semuanya itu. Bagi saya pribadi, ini adalah &#8220;kemenangan kecil&#8221; yang patut kita syukuri. Memang kita belum sukses memenangkan keseluruhan &#8220;peperangan&#8221;, namun kesuksesan di tahap pertama ini kiranya cukup menjadi cambuk semangat bagi kita untuk menaklukkan target-target berikutnya. Lalu bagaimanakah kita memandang target-target tersebut?</p>
<p>Terus terang, berat. Yang menjadi kunci utama adalah finansial. Acara miladeBlogger sudah tersusun dengan rapi dan tinggal bergerak untuk mewujudkannya saja. Namun semua itu bisa berubah sekejap menjadi sia-sia jikalau tidak ada dana. Berbagai cara sudah dilakukan, yakni pendekatan ke berbagai sponsor potensial. Namun sejauh ini yang baru terlihat di depan mata adalah sponsor yang tidak signifikan yang bersedia memberikan merchandise. OK, merchandise itu penting juga. Tapi yang <em>urgent</em> sekarang adalah<em> hard cash</em>.</p>
<p>Lalu apakah dana adalah satu-satunya halangan? Menurut saya yang juga tidak kalah kritisnya adalah kohesi panitia. Kerja keras panitia sejauh ini patut diacungi jempol. Memang tidaklah patut kita membanding-bandingkan siapa yang bekerja lebih keras; semua panitia telah bekerja maksimal sesuai porsinya masing-masing. Yang menjadi persoalan adalah apakah kita sudah satu suara? Apakah satu langkah yang kita buat sudah diketahui dan disetujui oleh yang lain? Ataukah masih ada yang bergerak sendiri dan justru akhirnya menjadi batu sandungan bagi semuanya? Saya pikir patutlah saya memberikan peringatan pada kita semua bahwa bibit seperti ini sudah ada.</p>
<p>Terlambatkah untuk bertindak? Oh belum.</p>
<p>Bagaimana cara menghindarinya?</p>
<p>Butuh kebijaksanaan yang tinggi dalam mengambil sikap. Bahwa kesuksesan acara yang dicapai bersama-sama haruslah menjadi fokus utama. Apabila ada gangguan terhadap usaha bersama tersebut, maka patutlah kita mengambil sikap tegas meski pilihan tersebut tidak akan menyenangkan semua orang. Jangan kuatir kita disalahkan dalam mengambil langkah yang sulit. Saya percaya bahwa meski langkah tersebut sulit dan tidak populer, pada akhirnya tetap akan membawa kebaikan bagi semua orang.</p>
<p>Mohon maaf, saya tidak bermaksud membingungkan Anda dengan pemikiran yang &#8220;di awang-awang.&#8221; Biarlah uneg-uneg saya yang sebenarnya tetap berada dalam hati saya. Lagipula itu sekedar uneg-uneg, bukanlah pandangan akhir yang akan berujung pada sikap final terhadap sebuah masalah. Saya masih tetap menaruh kepercayaan yang tinggi terhadap komponen-komponen deBlogger. Saya percaya bahwa rintangan apapun akan mampu kita atasi, asalkan kita berpegang teguh pada keyakinan bahwa miladeBlogger ini membawa misi mulia yang moga-moga menjadi inspirasi bagi banyak orang, dan bahwa langkah kita yang seirama akan melancarkan perjalanan kita mencapai tujuan tersebut.</p>
<p>Semoga sharing singkat ini dapat membawa kebaikan bagi semua.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://ambonkaart.wordpress.com/2010/05/04/satu-langkah-sudah-selesai/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>12</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">604</post-id>
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/569309e5140bb35af80bec9d8e4fbd57c8ec5d1b78a907dd2f39c1a46411400d?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ambonkaart</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tutup Meja</title>
		<link>https://ambonkaart.wordpress.com/2010/04/25/tutup-meja/</link>
					<comments>https://ambonkaart.wordpress.com/2010/04/25/tutup-meja/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[bradley]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 25 Apr 2010 05:07:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ambon]]></category>
		<category><![CDATA[Hari-hari]]></category>
		<category><![CDATA[budaya ambon]]></category>
		<category><![CDATA[tutup meja]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://ambonkaart.wordpress.com/?p=597</guid>

					<description><![CDATA[Beberapa hari yang lalu saya melintasi pasar Cisarua dengan berjalan kaki sambil melihat-lihat berbagai barang yang dijual. Sudah tidak banyak aktivitas pedagang pasar tersebut karena waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Biasanya geliat pasar Cisarua mulai terasa sekitar tengah malam sampai pagi hari. Di malam ini hanya toko-toko kelontong, minimarket, dan penjual pulsa saja yang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div data-shortcode="caption" id="attachment_599" style="width: 310px" class="wp-caption aligncenter"><a href="https://ambonkaart.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/04/alas-piring-batik-tulis-sogan-jogja-ap02js.jpg"><img aria-describedby="caption-attachment-599" data-attachment-id="599" data-permalink="https://ambonkaart.wordpress.com/2010/04/25/tutup-meja/alas-piring-batik-tulis-sogan-jogja-ap02js/" data-orig-file="https://ambonkaart.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/04/alas-piring-batik-tulis-sogan-jogja-ap02js.jpg" data-orig-size="640,480" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;4.8&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;NIKON D80&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;1239989816&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;38&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;200&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0.016666666666667&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="Alas-Piring-Batik-Tulis-Sogan-Jogja-AP02JS" data-image-description="" data-image-caption="&lt;p&gt;source: galeridonita.com&lt;/p&gt;
" data-large-file="https://ambonkaart.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/04/alas-piring-batik-tulis-sogan-jogja-ap02js.jpg?w=560" class="size-medium wp-image-599" title="Alas-Piring-Batik-Tulis-Sogan-Jogja-AP02JS" src="https://ambonkaart.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/04/alas-piring-batik-tulis-sogan-jogja-ap02js.jpg?w=300&#038;h=225" alt=""   srcset="https://ambonkaart.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/04/alas-piring-batik-tulis-sogan-jogja-ap02js.jpg?w=300 300w, https://ambonkaart.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/04/alas-piring-batik-tulis-sogan-jogja-ap02js.jpg?w=200 200w, https://ambonkaart.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/04/alas-piring-batik-tulis-sogan-jogja-ap02js.jpg?w=400 400w, https://ambonkaart.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/04/alas-piring-batik-tulis-sogan-jogja-ap02js.jpg?w=150 150w" sizes="(max-width: 200px) 100vw, 200px" /></a><p id="caption-attachment-599" class="wp-caption-text">source: galeridonita.com</p></div>
<p>Beberapa hari yang lalu saya melintasi pasar Cisarua dengan berjalan kaki sambil melihat-lihat berbagai barang yang dijual. Sudah tidak banyak aktivitas pedagang pasar tersebut karena waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Biasanya geliat pasar Cisarua mulai terasa sekitar tengah malam sampai pagi hari. Di malam ini hanya toko-toko kelontong, minimarket, dan penjual pulsa saja yang tempat usahanya terang-benderang. Ada juga sebuah toko pakaian dan kain yang kebetulan sedang sepi.</p>
<p><span id="more-597"></span>Sambil pelan-pelan menyaksikan aneka dagangan di toko tersebut, mata saya lalu tertumpu pada etalase pernak-pernik kain. Salah satu benda yang terpajang di situ adalah alas piring untuk makan yang terbuat dari anyaman rotan dan terbungkus kain motif bunga. Cantik sekali.</p>
<p>Ingatan saya lalu melayang ke masa silam ketika saya masih duduk di bangku SD. Pada waktu itu saya tinggal bersama Opa &amp; Oma di Bogor. <em>By the way,</em> Oma dan Opa saya ini berasal dari Ambon namun juga pantas disebut Ambon Kaart. Opa saya memang kelahiran Ambon, namun pada usia 18 tahun beliau merantau ke Surabaya dan tidak pernah lagi pulang kampung sampai akhir hidupnya. Sedangkan Oma saya berasal dari keluarga Ambon namun kelahiran Jambi, dan seumur hidup juga tidak pernah pulang ke Ambon.</p>
<p>Nah, di rumah ini kami masih memelihara beberapa kebiasaan lama orang Ambon, dan sampai batas tertentu, kebiasaan orang Belanda. Salah satunya adalah &#8220;<strong>tutup meja</strong>&#8220;, yaitu kebiasaan membersihkan dan menata meja sebelum digunakan untuk makan bersama-sama keluarga. Peralatan untuk <strong>tutup meja</strong> ini tentulah peralatan makan biasa seperti piring, sendok-garpu, dan gelas. Namun yang tidak pernah ketinggalan adalah si alas piring tadi. Alas piring yang kami pergunakan dahulu terbuat dari kulit, berbentuk persegi panjang, berwarna coklat, dan di sisi kanannya terdapat kantung untuk menaruh sendok dan garpu. Kantung ini berbentuk bunga berwarna merah-kuning-hijau. Lalu ada pula alas kecil untuk tatakan gelas. Sekitar 15 menit sebelum jam makan, Oma-Opa menyuruh saya dan adik saya untuk menutup meja. Maka kami mengambil semua peralatan makan yang diperlukan untuk menutup meja tersebut sebelum makanan dikeluarkan. Pada waktu itu saya berbagi tugas menutup meja dengan adik saya. Giliran saya adalah waktu makan siang hari, sedangkan adik saya malam hari. Karena saya bersekolah di siang hari, maka meja tersebut sudah saya siapkan sebelum saya berangkat ke sekolah. Ada kalanya saya malas menutup meja, namun Oma melarang saya berangkat sebelum pekerjaan selesai. Maka menggerutulah saya ketika melakukan pekerjaan itu karena saya takut terlambat. Ketika malam tiba, giliran adik saya yang menggerutu karena jadual tutup meja tersebut biasanya bertepatan dengan film anak-anak di tv kegemarannya.</p>
<p>Alas piring dan gelas yang digunakan tersebut bukan hanya berfungsi sebagai penadah peralatan makan saja. Benda-benda tersebut sudah menjadi salah satu budaya yang wajib dilestarikan sebagai penyambut makanan yang diberikan Tuhan kepada kita. Seorang sejarawan mencatat bahwa kebiasaan ini umum dilakukan oleh orang-orang Ambon yang terpengaruh budaya Belanda (saya sudah lupa sumber bacaannya).</p>
<p>Ah, indahnya masa kecil. Penuh dengan pemikiran sederhana. Menutup meja terburu-buru hanya karena ingin cepat ke sekolah atau bermain-main <img src="https://s0.wp.com/wp-content/mu-plugins/wpcom-smileys/twemoji/2/72x72/1f642.png" alt="🙂" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://ambonkaart.wordpress.com/2010/04/25/tutup-meja/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>12</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">597</post-id>
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/569309e5140bb35af80bec9d8e4fbd57c8ec5d1b78a907dd2f39c1a46411400d?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ambonkaart</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://ambonkaart.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/04/alas-piring-batik-tulis-sogan-jogja-ap02js.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Alas-Piring-Batik-Tulis-Sogan-Jogja-AP02JS</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memandang Maluku Dari Jauh</title>
		<link>https://ambonkaart.wordpress.com/2010/04/18/memandang-maluku-dari-jauh/</link>
					<comments>https://ambonkaart.wordpress.com/2010/04/18/memandang-maluku-dari-jauh/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[bradley]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 18 Apr 2010 05:47:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ambon]]></category>
		<category><![CDATA[Maluku]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://ambonkaart.wordpress.com/?p=592</guid>

					<description><![CDATA[Sebagai seorang yang belum pernah ke Ambon, menarik juga untuk meraba-raba perkembangan terakhir di provinsi asal saya tersebut. Semenjak sejarah kelamnya sekitar tahun 1999-2000 yang kerap diwarnai kerusuhan antarwarga, pelan-pelan kota Ambon mulai menata kembali kehidupannya. Berikut beberapa milestones perkembangan kota Ambon dan provinsi Maluku yang sempat saya catat dalam beberapa bulan terakhir: 1) Gong [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div data-shortcode="caption" id="attachment_593" style="width: 310px" class="wp-caption alignleft"><a href="https://ambonkaart.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/04/kota-ambon-victor-ralahalu.jpg"><img aria-describedby="caption-attachment-593" data-attachment-id="593" data-permalink="https://ambonkaart.wordpress.com/2010/04/18/memandang-maluku-dari-jauh/kota-ambon-victor-ralahalu/" data-orig-file="https://ambonkaart.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/04/kota-ambon-victor-ralahalu.jpg" data-orig-size="400,220" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="Kota Ambon- Victor Ralahalu" data-image-description="" data-image-caption="&lt;p&gt;Source: cjproduction.blogspot.com&lt;/p&gt;
" data-large-file="https://ambonkaart.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/04/kota-ambon-victor-ralahalu.jpg?w=400" class="size-medium wp-image-593" title="Kota Ambon- Victor Ralahalu" src="https://ambonkaart.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/04/kota-ambon-victor-ralahalu.jpg?w=300&#038;h=160" alt=""   /></a><p id="caption-attachment-593" class="wp-caption-text">cjproduction.blogspot.com</p></div>
<p>Sebagai seorang yang belum pernah ke Ambon, menarik juga untuk meraba-raba perkembangan terakhir di provinsi asal saya tersebut. Semenjak sejarah kelamnya sekitar tahun 1999-2000 yang kerap diwarnai kerusuhan antarwarga, pelan-pelan kota Ambon mulai menata kembali kehidupannya. Berikut beberapa <em>milestones</em> perkembangan kota Ambon dan provinsi Maluku yang sempat saya catat dalam beberapa bulan terakhir:</p>
<p><span id="more-592"></span>1) Gong Perdamaian Dunia</p>
<p>Gong Perdamaian Dunia ini adalah sebuah gagasan dari <em>World Peace Committee</em> yang merupakan simbolisasi harapan akan perdamaian dunia. Gong dipilih karena secara tradisi, pemukulan gong dilakukan pada saat berakhirnya sebuah lagu perang, pertanda bahwa perang sudah selesai. Gong ini adalah karya asli putra-putri Indonesia yang dibuat di Jepara, Jawa Tengah, dan kota Ambon dipilih sebagai lokasi ke-35 dan telah diresmikan oleh Presiden RI pada tanggal 25 November 2009. Gong aslinya sendiri akan diarak ke berbagai negara di seluruh dunia. Cerita selanjutnya dapat dilihat di sini.</p>
<p>2) Pemadaman Listrik</p>
<p>Setelah kenyang dengan pemadaman listrik sampai belasan jam setiap hari, warga Ambon sempat mendapat kabar gembira pada awal tahun 2010 bahwa pemadaman listrik sudah dapat diatasi dengan selesainya perbaikan pada beberapa sarana pembangkit listrik di Ambon. Namun tampaknya sampai sekarang pemadaman listrik masih menjadi &#8220;bagian keseharian&#8221; warga. Sudah tak terhitung banyaknya usaha yang mengalami krisis bahkan bangkrut karena problem listrik ini. Masyarakat juga sudah tak terhitung berapa kali melakukan aksi demonstrasi ke kantor PLN, kantor walikota, gubernur, DPRD, dll. Namun tampaknya persoalan ini belum menemukan titik terangnya. Sampai beberapa waktu ke depan, warga Ambon masih harus bertahan hidup dengan listrik byar-pet.</p>
<p>3) Maluku Investment Day</p>
<p>Event penting bagi perekonomian Maluku ini digagas oleh Bank Mandiri yang berinisiatif mempertemukan perusahaan-perusahaan besar dengan para pemangku pemerintahan di Maluku. Perhelatan ini telah berlangsung di Ambon pada tanggal 13 April 2010. Apakah daerah ini cukup potensial untuk dijadikan lokasi investasi? Tentu kalau kita membandingkan dengan pulau Jawa atau bahkan Makassar, maka provinsi kepulauan ini masih harus mengejar banyak ketertinggalan dalam hal infrastruktur, peraturan daerah, pendidikan, dan sarana pendukung lainnya. Namun demikian saya masih tetap salut dengan langkah Bank Mandiri yang berusaha membuka peluang bisnis baru di Maluku. Menurut kabar yang beredar, pihak swasta Australia tengah menjajaki kemungkinan membuka beberapa penerbangan perintis langsung dari Darwin menuju Saumlaki, Tual, dan Langgur. Penerbangan Ambon-Darwin memang pernah dilakukan oleh Merpati pada tahun 1990-an namun kemudian dihentikan. Diharapkan pembukaan jalur penerbangan ini dapat mengangkat perekonomian masyarakat.</p>
<p>4) Garuda terbang lagi ke Ambon</p>
<p>Setelah lama tak menginjakkan kakinya di Ambon, akhirnya mulai 1 Juni 2010 maskapai Garuda Indonesia akan kembali mendarat di Ambon. Ini adalah lanjutan dari perubahan konsep bisnis Garuda yang sebelumnya konsen di rute internasional dan beberapa rute domestik. Oleh karena peluang di pasar domestik yang cukup besar, maka Garuda kembali membuka jalur-jalur yang sebelumnya pernah diterbangi.</p>
<p>5) Sail Banda 2010</p>
<p>Inilah event nasional terbesar yang akan dilaksanakan di Maluku pada tahun ini. Setelah sukses menggelar Sail Bunaken 2009, kembali Indonesia menyelenggarakan event parade maritim dan wisata bahari dan Kepulauan Banda dengan taman lautnya yang eksotis menjadi pilihan. Rangkaian kegiatan sudah dimulai sejak 16 April 2010 dengan acara <em>Soft Launching</em> di pelataran Gong Perdamaian Dunia Ambon, dan akan mencapai puncaknya pada 24 Juli hingga 17 Agustus 2010.</p>
<p>Geliat masyarakat yang tidak cukup hanya dilihat dari jauh saja <img src="https://s0.wp.com/wp-content/mu-plugins/wpcom-smileys/twemoji/2/72x72/1f642.png" alt="🙂" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://ambonkaart.wordpress.com/2010/04/18/memandang-maluku-dari-jauh/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>12</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">592</post-id>
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/569309e5140bb35af80bec9d8e4fbd57c8ec5d1b78a907dd2f39c1a46411400d?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ambonkaart</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://ambonkaart.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/04/kota-ambon-victor-ralahalu.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Kota Ambon- Victor Ralahalu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Milad, Perlukah?</title>
		<link>https://ambonkaart.wordpress.com/2010/04/07/milad-perlukah/</link>
					<comments>https://ambonkaart.wordpress.com/2010/04/07/milad-perlukah/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[bradley]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Apr 2010 15:33:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Depok]]></category>
		<category><![CDATA[blogger depok]]></category>
		<category><![CDATA[deblogger]]></category>
		<category><![CDATA[milad]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://ambonkaart.wordpress.com/?p=586</guid>

					<description><![CDATA[Milad. Saya baru mengenal kata ini 2 minggu terakhir seiring persiapan Komunitas Blogger Depok mengadakan event besarnya bulan depan. Mulanya kata ini begitu asing bagi saya. Setelah saya telusuri, kata yang berasal dari Bahasa Arab ini ternyata berarti &#8220;ulang tahun&#8221; (at least begitulah kata beberapa narablog). OK, kita memang sudah sering merayakan ulang tahun, namun [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://ambonkaart.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/04/logo-deblogger-200-60.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="587" data-permalink="https://ambonkaart.wordpress.com/2010/04/07/milad-perlukah/logo-deblogger-200-60/" data-orig-file="https://ambonkaart.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/04/logo-deblogger-200-60.jpg" data-orig-size="200,60" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="logo-deblogger-200-60" data-image-description="" data-image-caption="" data-large-file="https://ambonkaart.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/04/logo-deblogger-200-60.jpg?w=200" class="aligncenter size-full wp-image-587" title="logo-deblogger-200-60" src="https://ambonkaart.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/04/logo-deblogger-200-60.jpg?w=560" alt=""   srcset="https://ambonkaart.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/04/logo-deblogger-200-60.jpg 200w, https://ambonkaart.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/04/logo-deblogger-200-60.jpg?w=150&amp;h=45 150w" sizes="(max-width: 200px) 100vw, 200px" /></a><em>Milad. </em>Saya baru mengenal kata ini 2 minggu terakhir seiring persiapan<a href="http://deblogger.org" target="_blank"> Komunitas Blogger Depok</a> mengadakan event besarnya bulan depan. Mulanya kata ini begitu asing bagi saya. Setelah saya telusuri, kata yang berasal dari Bahasa Arab ini ternyata berarti &#8220;ulang tahun&#8221; (<em>at least</em> begitulah kata beberapa narablog). OK, kita memang sudah sering merayakan ulang tahun, namun apakah makna milad bagi sebuah komunitas?</p>
<p><span id="more-586"></span>Komunitas Blogger Depok sendiri didirikan hampir setahun yang lalu oleh beberapa narablog. Sejarahnya belum berumur panjang namun sudah mulai berbuah manis, baik bagi anggota-anggotanya, bagi masyarakat sekitar yang sempat bersentuhan langsung, maupun bagi para <em>onliners</em> umumnya. Di mata para penggiat dunia blog di Indonesia, <strong>deBlogger</strong> (begitu mereka menyebut diri) tidak ubahnya sebuah komunitas narablog yang berasal dari suatu daerah dan berjiwa kedaerahan. Dan memang label itu tidak salah. Namun jika kita menilik populasi Depok yang banyak diisi oleh mahasiswa yang notabene adalah penggiat internet, maka profil <strong>deBlogger</strong> lebih dari sekedar wajah kedaerahan. Dalam profilnya, <strong>deBlogger</strong> menyambut orang-orang yang lahir, tinggal, menuntut ilmu, meniti karir, sampai memiliki ikatan emosi dengan Depok. Maka beragam alasan pulalah yang membuat orang masuk ke sini, mulai dari yang masuk deretan kategori tersebut, sampai pada yang menulis <em>&#8220;pacar di Depok&#8221;</em> pada kolom alasannya masuk ke <strong>deBlogger</strong>. Meskipun demikian, nyata terlihat bahwa para mahasiswalah yang menjadi motor penggerak <strong>deBlogger</strong>. Ini tercermin dari kegiatan-kegiatan yang pernah dilakukan setahun terakhir ini: memancing, olahraga, traktir bulanan, nonton bareng, karaoke, sampai acara kumpul-kumpul <em>gak jelas</em>.  Namun bukan berarti para anggota <strong>deBlogger</strong> kerjanya hanya <em>having fun</em> tanpa ada juntrungannya. Coba lihat deretan karya yang sudah dihasilkan anak-anak <span style="text-decoration:line-through;">jalanan</span> muda ini: Lomba Penulisan Artikel, gerakan pengumpulan koin, pengumpulan buku bacaan anak, pelatihan ngeblog, bakti sosial, jurnalisme warga, sampai hadir di acara-acara blogger lainnya di Indonesia. Akan tetapi ketika saya masuk ke komunitas ini pada bulan Maret yang lalu, cuma satu kata tentang <em>first impression</em> saya terhadap deBlogger: <em>asyik</em>. Asyik karena di tengah aktivitas para anggotanya yang kebanyakan mahasiswa dan pekerja kantoran yang segudang ini, masih ada waktu untuk kopdaran, jalan-jalan, foto-foto, dan berbuat sesuatu bagi bangsa ini <em>dengan cara mereka</em>. Lalu atmosfer pergaulan yang terbuka dan keceriaannya menyambut teman baru juga membuat siapa pun pasti betah.</p>
<p>Sampai akhirnya tercetuslah  Milad ini. Apa artinya Milad bagi <strong>deBlogger</strong>? Usia setahun bagi <strong>deBlogger</strong> layaknya bayi yang baru belajar berjalan. Semangat juangnya tinggi luar biasa, namun kakinya masih sempoyongan dan badannya masih belum sanggup bertahan berdiri. Setelah hampir setahun, meski sudah banyak yang dikerjakan, <strong>deBlogger</strong> merasa masih belum cukup berbuat dan perlu bertindak lebih banyak, lebih dalam, dan lebih jauh lagi. Kegalauan para anggotanya dengan nama yang mirip dengan nama komunitas blogger lain juga menjadikannya ragu akan identitasnya sendiri; ini tercermin dari suara-suara yang mendukung pergantian nama. Bayangkan betapa bingungnya bila seorang bayi yang mulai mengenal namanya ketika dipanggil oleh ayah-ibunya, kini harus dipanggil dengan nama lain! Lalu ketika persiapan Milad dimulai, terbayang betapa besarnya dana yang harus disiapkan, sponsor yang mesti dikejar, acara yang mesti digodok, dan promosi yang mesti jatuh-bangun. Setimpalkah?</p>
<p>Milad bukan hanya sekedar ulang tahun. Milad adalah momen untuk berkaca, duduk diam merenung, hingga bersujud. Bersyukur pada Yang Kuasa atas penyertaan-Nya hingga hari ini, lalu bersyukur lagi untuk jalan yang terbentang di depan; meski bercabang namun tuntunan-Nya pasti. Pengorbanan, kita semua tahu, mahal harganya. Kita harus berkorban banyak untuk sebuah event besar yang menghabiskan banyak uang, bahkan untuk mengganti identitas. Namun kalau memang Tuhan menghendaki jalan itu kita tempuh untuk sebuah kebaikan di masa depan, maka jadilah.</p>
<p>Lalu apa harapan sesudah Milad dilaksanakan? Komunitas Blogger (yang sempat disangka hobinya <em>chetting-chetting</em>) termasuk <strong>deBlogger</strong> perlu menjawab tantangan ini. Internet memang telah mengubah dunia kita, namun internet hanyalah sebuah kendaraan. Apa yang kita lakukan dengan menggunakan internet itulah yang akan dilihat oleh banyak orang. Sebagai komunitas blogger yang mengemban visi  jurnalisme warga dan misi menjadi media informasi, komunikasi, dan sosialisasi, <strong>deBlogger</strong> dapat menjadi corong masyarakat yang mumpuni melalui perilaku dan tindakannya. Dan Milad adalah sarana yang tepat untuk mengumpulkan energi guna menjalani semua tantangan itu.</p>
<p>Selamat menyambut Milad!</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://ambonkaart.wordpress.com/2010/04/07/milad-perlukah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>26</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">586</post-id>
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/569309e5140bb35af80bec9d8e4fbd57c8ec5d1b78a907dd2f39c1a46411400d?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ambonkaart</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://ambonkaart.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/04/logo-deblogger-200-60.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">logo-deblogger-200-60</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Selamat Paskah</title>
		<link>https://ambonkaart.wordpress.com/2010/04/07/selamat-paskah-2/</link>
					<comments>https://ambonkaart.wordpress.com/2010/04/07/selamat-paskah-2/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[bradley]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Apr 2010 04:58:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Paskah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://ambonkaart.wordpress.com/?p=583</guid>

					<description><![CDATA[Orang Kristen punya beberapa perayaan. Dari semua itu, manakah yang terbesar? Kalau soal seremonial pasti jawabannya Natal. Tapi dari segi makna, maka yang terbesar haruslah Paskah. Lalu apa yang saya lakukan di Paskah ini? Adakah perhatian khusus dibandingkan ketika Natal kemarin? 1. Natal: saya sudah tegang sejak awal Desember. Paskah: baru ingat ketika melihat ada [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Orang Kristen punya beberapa perayaan. Dari semua itu, manakah yang terbesar? Kalau soal seremonial pasti jawabannya Natal. Tapi dari segi makna, maka yang terbesar haruslah Paskah. Lalu apa yang saya lakukan di Paskah ini? Adakah perhatian khusus dibandingkan ketika Natal kemarin?</p>
<p><span id="more-583"></span>1. Natal: saya sudah tegang sejak awal Desember. Paskah: baru ingat ketika melihat ada <em>long weekend </em>dari mencari tahu libur apa itu.</p>
<p>2. Natal: udah pasti kesibukan di rumah mulai dari pasang pohon Natal sampai bersih2 dan masak2 menyita perhatian. Paskah: cuma setel alarm jam 3 pagi biar Minggu pagi gak kebablasan tidurnya.</p>
<p>3. Natal: ada banyak acara pesta Natal gereja, sekolah, kampus, keluarga ini-itu, kampung ini-itu. Paskah: ??</p>
<p>Jadi sudahkah kita benar-benar menyadari bahwa sesungguhnya Paskah adalah perayaan terbesar kita? Bukan berarti saya mengajak kita untuk banyak berpesta. Saya justru mengajak kita untuk bersyukur dalam-dalam.</p>
<p>Selamat Paskah!</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://ambonkaart.wordpress.com/2010/04/07/selamat-paskah-2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>4</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">583</post-id>
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/569309e5140bb35af80bec9d8e4fbd57c8ec5d1b78a907dd2f39c1a46411400d?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ambonkaart</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rindu Pulang</title>
		<link>https://ambonkaart.wordpress.com/2010/03/30/rindu-pulang/</link>
					<comments>https://ambonkaart.wordpress.com/2010/03/30/rindu-pulang/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[bradley]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 29 Mar 2010 18:19:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ambon]]></category>
		<category><![CDATA[rindu pulang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://ambonkaart.wordpress.com/?p=578</guid>

					<description><![CDATA[Pernahkah Anda merasa rindu pulang? Saya pikir itu adalah perasaan yang sangat wajar dialami oleh kita semua. Mulai dari rindu pulang ke rumah sampai rindu pulang kampung. Rumah, kampung, pulau, daerah, negara, adalah tempat kita mengidentifikasi keberadaan kita sekaligus tempat mengakar dan bertumbuh. Identifikasi ini membuat kita merasa dimiliki dan memiliki sesuatu. Lalu apa jadinya [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div data-shortcode="caption" id="attachment_579" style="width: 310px" class="wp-caption alignleft"><a href="https://ambonkaart.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/03/pulauambon.jpg"><img aria-describedby="caption-attachment-579" loading="lazy" data-attachment-id="579" data-permalink="https://ambonkaart.wordpress.com/2010/03/30/rindu-pulang/pulauambon/" data-orig-file="https://ambonkaart.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/03/pulauambon.jpg" data-orig-size="560,420" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="pulau ambon" data-image-description="" data-image-caption="&lt;p&gt;source: virtualtourist.com&lt;/p&gt;
" data-large-file="https://ambonkaart.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/03/pulauambon.jpg?w=560" class="size-medium wp-image-579" title="pulau ambon" src="https://ambonkaart.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/03/pulauambon.jpg?w=300&#038;h=224" alt=""   srcset="https://ambonkaart.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/03/pulauambon.jpg?w=300 300w, https://ambonkaart.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/03/pulauambon.jpg?w=206 206w, https://ambonkaart.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/03/pulauambon.jpg?w=412 412w, https://ambonkaart.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/03/pulauambon.jpg?w=150 150w" sizes="(max-width: 206px) 100vw, 206px" /></a><p id="caption-attachment-579" class="wp-caption-text">source: virtualtourist.com</p></div>
<p>Pernahkah Anda merasa rindu pulang? Saya pikir itu adalah perasaan yang sangat wajar dialami oleh kita semua. Mulai dari rindu pulang ke rumah sampai rindu pulang kampung.</p>
<p>Rumah, kampung, pulau, daerah, negara, adalah tempat kita mengidentifikasi keberadaan kita sekaligus tempat mengakar dan bertumbuh. Identifikasi ini membuat kita merasa dimiliki dan memiliki sesuatu. Lalu apa jadinya bila kita kehilangan rumah atau kampung sebagai identitas kita? Coba perhatikan orang-orang yang digusur rumahnya atau warga desa yang terpaksa mengungsi karena kampungnya hancur terkena bencana. Bukan hanya sandang dan pangan yang mereka perlukan, namun yang terlebih penting adalah: mereka perlu rumah sebagai tempat berteduh dan membangun budaya.</p>
<p><span id="more-578"></span>Di posting <a href="https://ambonkaart.wordpress.com/2010/02/02/ambon-kaart-2/">terdahulu</a> saya sudah menceritakan sedikit mengenai pergumulan identitas saya. Setelah cukup lama hal ini terlupakan, kemarin siang pemikiran ini bangun lagi sewaktu diadakan acara keluarga di rumah. Seorang saudara yang datang menceritakan <span style="text-decoration:line-through;">gosip</span> kabar terbaru mengenai keluarga-keluarga lain dan juga mengenang kembali akan orang-orang yang sudah tiada. Dilanjutkan pula dengan melihat album foto dan dokumen-dokumen lama.</p>
<p>Tiba-tiba terbersit rasa ingin pulang di hati ini. Namun pertanyaan selanjutnya menyusul: mau pulang ke mana? Yang katanya disebut rumah itu sebenarnya adalah sebuah pulau asing dimana saya tidak memiliki harta apa pun atau saudara seorang pun. Saya juga tidak mengetahui tempat-tempat bersejarah yang pernah didiami keluarga saya sehingga kalau pun saya sampai ke sana, saya akan menjadi wisatawan saja.</p>
<p>Tak terasa meluncurlah kalimat: <em>&#8220;Mau pulang ke Ambon, ah!&#8221; </em>Namun tak disangka malah peringatan yang saya terima. <em>&#8220;Jangan ngomong janji untuk pulang ke Ambon. Itu pantang!&#8221; </em>Loh kenapa? Ternyata ada semacam kepercayaan untuk tidak memberikan janji untuk pulang ke Ambon kalau tidak yakin janji itu bisa ditepati. Apa dasar pemikirannya, saya tidak tahu. Namanya juga kepercayaan lama. Tapi ternyata kalau sekedar <em>ingin,</em> tidak apa-apa katanya.</p>
<p>Itulah intinya. Ke mana pun kita pergi, kita tidak akan tahan terus-menerus menjadi musafir. Akan ada satu titik dimana kita akan merasa perlu untuk pulang, kembali pada akar kita. Beruntung sekali teman-teman yang masih ada keluarga atau sanak saudara di kampung halaman, yang bisa didatangi setiap Natal atau Lebaran. Sedangkan saya, apabila saya pulang, yang saya temukan adalah sebuah kota asing. Akar itu mesti dicari lagi.</p>
<p>Kelihatannya harus menetapkan hati untuk pulang. Saya akan menyusun rencana, tapi maaf belum bisa kasih tahu kapan, soalnya pantang. <em>Wakakakakakakak&#8230;</em></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://ambonkaart.wordpress.com/2010/03/30/rindu-pulang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>17</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">578</post-id>
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/569309e5140bb35af80bec9d8e4fbd57c8ec5d1b78a907dd2f39c1a46411400d?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ambonkaart</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://ambonkaart.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/03/pulauambon.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">pulau ambon</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Salah Bantal</title>
		<link>https://ambonkaart.wordpress.com/2010/03/23/salah-bantal/</link>
					<comments>https://ambonkaart.wordpress.com/2010/03/23/salah-bantal/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[bradley]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 23 Mar 2010 03:22:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hari-hari]]></category>
		<category><![CDATA[salah bantal]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://ambonkaart.wordpress.com/?p=574</guid>

					<description><![CDATA[Nama yang lucu memang. Seorang narablog menyebut istilah ini adalah kebiasaan orang Indonesia yang paling suka mencari kambing hitam. Ya benar juga, apa salahnya si bantal malang itu sehingga mendapat caci-maki dan menjadi topik pembicaraan banyak orang, mulai dari ibu rumah tangga sampai para dokter? Beberapa hari yang lalu saya juga ikut mencicipi salah bantal [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div data-shortcode="caption" id="attachment_575" style="width: 160px" class="wp-caption alignleft"><a href="https://ambonkaart.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/03/neck-muscle-pain.jpg"><img aria-describedby="caption-attachment-575" loading="lazy" data-attachment-id="575" data-permalink="https://ambonkaart.wordpress.com/2010/03/23/salah-bantal/neck-muscle-pain/" data-orig-file="https://ambonkaart.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/03/neck-muscle-pain.jpg" data-orig-size="250,249" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="Neck-Muscle-Pain" data-image-description="" data-image-caption="&lt;p&gt;Source: topnews.in&lt;/p&gt;
" data-large-file="https://ambonkaart.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/03/neck-muscle-pain.jpg?w=250" class="size-full wp-image-575" title="Neck-Muscle-Pain" src="https://ambonkaart.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/03/neck-muscle-pain.jpg?w=560" alt=""   srcset="https://ambonkaart.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/03/neck-muscle-pain.jpg?w=150&amp;h=149 150w, https://ambonkaart.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/03/neck-muscle-pain.jpg 250w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" /></a><p id="caption-attachment-575" class="wp-caption-text">Source: topnews.in</p></div>
<p>Nama yang lucu memang. Seorang <a href="http://armantjandrawidjaja.wordpress.com/2009/11/03/salah-bantal-salah-siapa/" target="_blank">narablog</a> menyebut istilah ini adalah kebiasaan orang Indonesia yang paling suka mencari kambing hitam. Ya benar juga, apa salahnya si bantal malang itu sehingga mendapat caci-maki dan menjadi topik pembicaraan banyak orang, mulai dari ibu rumah tangga sampai para dokter?</p>
<p>Beberapa hari yang lalu saya juga ikut mencicipi <strong>salah bantal</strong> ini. Berkat semalaman tidur sambil menekuk leher, jadilah pagi hari saya bangun dengan rasa sakit yang luar biasa pada leher sebelah kiri dan menjalar sampai ke bahu kiri. Kepala saya tidak bisa menengok ke kiri dan kanan karena begitu leher bergerak sedikit saja, saya langsung meringis. Lalu apa sebaiknya yang saya lakukan? Setelah coba gugling ke sana ke mari, saya sampai pada beberapa rekomendasi. Namun berhubung saya cuma membaca beberapa postingan blog orang dan malas membuka situs kesehatan, maka rekomendasi berikut ini semua berdasarkan “katanya”:<span id="more-574"></span></p>
<ol>
<li><strong>Katanya:</strong> bantal tidur saya mesti dijemur di bawah sinar matahari lalu digebuk-gebuk. OK, anak kecil juga tahu kalau ini sama sekali tidak ada hubungannya. Tapi coba saya ambil positifnya saja: bantal<strong> </strong>yang dijemur akan memberikan rasa nyaman karena lebih empuk. Tidak masuk akal, tapi patut dicoba.</li>
<li><strong>Katanya:</strong> mesti dikompres air panas dan dingin. Kalau air panas mungkin saya bisa paham karena gunanya adalah melancarkan aliran darah di sekitar daerah yang sakit. Tapi kalau air dingin, wah saya tidak percaya. Kompres air dingin berguna untuk meredakan pembengkakan, sedangkan <strong>salah bantal</strong> <em>kan</em> tidak ada pembengkakan. Atau ada yang punya pendapat lain?</li>
<li><strong>Katanya:</strong> mandi dengan shower air panas dan dingin secara bergantian dan bagian tubuh yang sakit diguyur air untuk waktu yang lama. Ini mungkin mirip dengan poin kedua. Boleh dicoba, hanya saja saya sendiri merasa lebih nyaman kalau mandinya pakai air panas saja.</li>
<li><strong>Katanya:</strong> pijat. Setuju sih. Tapi mesti hati-hati juga. Pengalaman pribadi saya, kalau pemijatan yang enak itu mesti dilakukan pelan-pelan tapi untuk waktu yang lebih lama. Bukannya main pukul-pukul saja. Yang ada malah tambah sakit.</li>
<li><strong>Katanya:</strong> oleskan Counterpain. Ini sudah saya lakukan. Hasilnya lumayan meski harus dioleskan beberapa kali.</li>
</ol>
<p>Ketegangan di leher ini butuh waktu 2 hari untuk hilang. Hari ini pun saya masih merasakan ada yang tidak beres ketika menengok ke kiri meski sudah tidak sakit lagi. Mungkin setelah rasa sakit ini reda, saya mesti menjalankan satu rekomendasi lagi yang manjur dan bukan “katanya”, yaitu OLAHRAGA.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://ambonkaart.wordpress.com/2010/03/23/salah-bantal/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>22</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">574</post-id>
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/569309e5140bb35af80bec9d8e4fbd57c8ec5d1b78a907dd2f39c1a46411400d?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ambonkaart</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://ambonkaart.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/03/neck-muscle-pain.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Neck-Muscle-Pain</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bank Syariah di Mata Seorang Non-Muslim</title>
		<link>https://ambonkaart.wordpress.com/2010/03/16/bank-syariah-di-mata-seorang-non-muslim/</link>
					<comments>https://ambonkaart.wordpress.com/2010/03/16/bank-syariah-di-mata-seorang-non-muslim/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[bradley]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 16 Mar 2010 07:06:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[bank syariah]]></category>
		<category><![CDATA[ib blogger competition]]></category>
		<category><![CDATA[non muslim]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://ambonkaart.wordpress.com/?p=571</guid>

					<description><![CDATA[Geliat perbankan syariah semakin terasa di seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Eh, benarkah seluruhnya? Coba kita renungkan lagi. Target pasar bank syariah memang sudah jelas: penduduk Indonesia yang beragama Islam. Namun dengan komposisi masyarakat Indonesia yang beraneka ragam ini, tentunya ada pula yang merasa dilupakan. Saya salah satunya. Sebagai seorang Kristen, saya tidak mengenal bank syariah [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Geliat perbankan syariah semakin terasa di seluruh lapisan masyarakat Indonesia. <em>Eh,</em> benarkah seluruhnya? Coba kita renungkan lagi.</p>
<p><span id="more-571"></span>Target pasar bank syariah memang sudah jelas: penduduk Indonesia yang beragama Islam. Namun dengan komposisi masyarakat Indonesia yang beraneka ragam ini, tentunya ada pula yang merasa dilupakan. Saya salah satunya. Sebagai seorang Kristen, saya tidak mengenal bank syariah  dan merasa tidak perlu mengenalnya. Setiap kali melihat iklan bank syariah di media atau ketika kebetulan melewati sebuah kantor bank syariah, maka mata ini otomatis beralih ke pemandangan lain dan insting saya langsung berkata, “Tidak perlu diperhatikan, itu bukan buat saya.”</p>
<p>Namun paradigma ini berubah tatkala saya <em>blogwalking </em>di tahun 2008 dan menemukan <em>posting</em> seorang narablog mengenai produk salah satu bank syariah yang menjelaskan fitur produk secara mendetil termasuk keunggulannya (yaitu gratis, tanpa biaya administrasi bulanan). Oleh karena gaya penulisannya yang bersahabat dan tidak banyak menggunakan simbol agama Islam, saya langsung tertarik. Saya pun memutuskan menelaah sistem perbankan syariah, utamanya sistem bagi hasil, hingga akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa produk itu patut dicoba.</p>
<p>Maka dengan sedikit <em>nervous</em> saya datang ke kantor cabang bank syariah tersebut. Meski kagok dengan nuansa islami di dalam kantor lalu <em>celingak-celinguk</em> sampai akhirnya dibantu satpam, saya sukses membuka tabungan. Saya tidak melihat perbedaan antara tabungan ini dengan tabungan di bank konvensional. Ketika di akhir bulan pun saya cukup senang dengan sistem bagi hasil yang kebetulan lebih tinggi dari bunga bank lain (pada akhir bulan tersebut). Saya meneruskan aktivitas menabung saya hingga tahun 2009 dimana saya memutuskan untuk menutup tabungan tersebut. Alasannya sederhana: bank syariah tersebut tiba-tiba mengenakan biaya administrasi bulanan sehingga tidak gratis lagi. Jadi lebih baik saya tutup saja agar ongkos keseluruhan untuk memelihara tabungan di bank tidak terlalu mahal. Lalu faktor-faktor lain seperti jauhnya kantor cabang dan layanan perbankan yang kurang lengkap juga membuat saya menarik diri.</p>
<p><strong>Mengapa bank syariah?</strong></p>
<p>Dari beberapa artikel yang saya baca, saya memahami bahwa sistem perbankan syariah adalah baik menurut agama Islam. Sebagai non-muslim, secara insting saya memang tidak memperhatikan ayat-ayat Al-Quran pendukung dalam artikel-artikel tersebut karena lagi-lagi merasa “tidak ada hubungannya dengan saya.” Saya menghindar dari simbol-simbol agama dan meneliti kebaikan sistem bagi hasil, resiko, dan manfaat lainnya bagi nasabah. Faktor-faktor inilah yang menjadi penentu keputusan saya untuk menabung di bank tersebut.</p>
<p><strong>Mengapa tidak bank syariah?</strong></p>
<p>Pada masa-masa saya menjadi nasabah bank syariah, ada kalanya saya tidak mendapat keuntungan apa pun pada akhir bulan. Hal ini memang menjadi kerugian bagi saya. Namun kembali lagi mengacu pada sistem bagi hasil, <em>return</em> yang nihil ini dapat saya terima sebagai resiko. Nah, pada waktu bank tersebut memutuskan untuk menarik biaya administrasilah maka saya bereaksi dengan cara menutup tabungan. Alasannya jelas: biaya administrasi justru mengurangi saldo saya yang tidak banyak. Lalu bagaimana dengan sistem bagi hasil tadi? Hal tersebut tidak menjadi pertimbangan saya, karena <em>toh </em>saya tetap tidak mementingkan pandangan agama Islam dalam sebuah keputusan investasi.</p>
<p><strong>Sebaiknya bank syariah…</strong></p>
<p>Saya paham bahwa perbankan syariah (mungkin) sudah melakukan hal yang maksimal dalam menjangkau nasabah non-muslim. Hal ini terlihat dari sebuah bank syariah milik swasta yang menggunakan seorang pebulutangkis dari suku Tionghoa sebagai model iklannya. Namun sepertinya promosi seperti ini berjalan setengah hati karena masyarakat non-muslim yang minoritas belum menjadi fokus pemasaran. Jargon-jargon agama yang digunakan bank syariah dalam mengedukasi masyarakat dipandang oleh masyarakat non-muslim (setidaknya saya) sebagai sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan mereka. Saya memang mendalami lebih jauh tentang sistem bagi hasil, tapi ada berapa orang <em>sih</em> yang mau bersusah-susah seperti saya? Alih-alih mendalami sistem bagi hasil, melihat simbol-simbol agama saja mereka sudah lebih dulu tidak perduli.</p>
<p>Jika memang perbankan syariah serius dalam menggarap pasar non-muslim, atau masyarakat muslim yang belum menggunakan jasa mereka, maka ada baiknya bank syariah sejenak meninggalkan atribut keislamannya. <em>Don’t get me wrong!</em> Atribut keagamaan memang baik dan saya percaya maksudnya pun baik. Namun stigma eksklusif yang melekat pada atribut itulah yang membuat orang lain tidak tertarik untuk sekedar memperhatikan. Dengan sejenak meninggalkan simbol keagamaan dan mengedepankan fitur perbankan, saya percaya bahwa para calon nasabah akan lebih tertarik dan merasa nyaman untuk menaruh uang mereka di sana. Ada sebuah contoh iklan yang baik dari Bank BRI Syariah (dengan hormat saya sebutkan namanya di sini) yang mengedepankan fitur perbankan dalam iklannya di televisi tanpa embel-embel syariah, kecuali logo perusahaan yang ditampilkan di akhir iklan. Iklan seperti ini justru mengena; orang mengenal fiturnya dulu sebelum nama banknya. Ketika sadar bahwa itu bank syariah pun, informasi fitur perbankannya sudah sampai duluan kan?!</p>
<p><strong>Catatan akhir</strong></p>
<p>Saya percaya banyak masyarakat non-muslim yang menyambut baik perbankan syariah. Hanya saja karakter eksklusivitas kita dalam komunitas masing-masing masih menjadi kendala dalam mengedukasi orang lain. Jikalau perbankan syariah lebih menampilkan layanan mereka dengan jelas tanpa “beban” argumentasi keagamaan, saya percaya bank syariah akan lebih menarik lagi di mata masyarakat.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://ambonkaart.wordpress.com/2010/03/16/bank-syariah-di-mata-seorang-non-muslim/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>25</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">571</post-id>
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/569309e5140bb35af80bec9d8e4fbd57c8ec5d1b78a907dd2f39c1a46411400d?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ambonkaart</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
