<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-6440136158266312576</atom:id><lastBuildDate>Sat, 28 Jan 2012 15:03:21 +0000</lastBuildDate><category>GURAT</category><category>KESAH-KESAH</category><category>CERPEN</category><category>PUISI</category><category>ARTIKEL</category><category>TEATER</category><title>Amrin Zuraidi Rawansyah</title><description>Aku ingin pergi seperti yang lain, meskipun disebut: "Maling," 
sekalipun dicerca: "Anjingggg...!"</description><link>http://amrinzr.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (amrin)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>44</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/AmrinZuraidiRawansyah" /><feedburner:info xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" uri="amrinzuraidirawansyah" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6440136158266312576.post-8283433221274540438</guid><pubDate>Sat, 28 Jan 2012 15:03:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-01-28T22:03:21.674+07:00</atom:updated><title>INB IN MEMORIUM</title><description>Mi, aku yang biasa kau panggil Pi, ingin mengenangmu dalam banyak sisi. Tapi tak bisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari itu pertengahan Desember 2011. Kami rombongan suatu kegiatan pendidikan, baru sampai di salah satu hotel di Singkawang. Cuaca berangin dan basah. Setelah mengirim sandek pada keluarga, kukirim sandek padamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Di rumah sakit," demikian sandek balasan darimu. Saat kutanya lagi tentang siapa yang sakit, sakit apa dan di rumah sakit mana, tak ada balasan. Sandekku seakan terkirim ke angkasa tanpa batas. Aku tak berpikir aneh. Sebab, saat kukunjungi laman beranda fb-mu, hanya mengindikasikan jarang diperbarui si pemilik. Sibuk barangkali. Aku pun lanjut mengikuti agenda pelatihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Padahal aku ingin sekali bertemu keluargamu. Berkenalan dengan suamimu, yang akrab disapa Bung Topas, serta buah hati kalian, Alif. Kemudian bersama keluarga kecilmu menyusuri eksotika Singkawang. Jazirah yang dengan cantik kau lukiskan dalam bait-bait puisimu. Antara tahun 1999 dam 2000, aku pernah khusyuk dengan Singkawang, bersama tim Sanggar Bhinneka saat mementaskan Sam Pek Eng Tay (Naskah Nano Riantiarno, Sutradara Alm. Lukman Ikhsan Ellong). Jadi, aku kangen pada banyak hal. Mulai dari rapinya jejalan raya, landmark, sampai pada keramahan warganya. Ohya, jangan bilang siapa-siapa. Aku belum pernah ke kawasan Sinka Island. Aku ingin lihat pulau terkecil sedunia itu. Aku ingin ajak kalian ke situ.&lt;br /&gt;
Turisnya satu, guide-nya tiga. Kan keren itu? Lantas aku pengen difoto layaknya&amp;nbsp; pertapa agung di pulau terkecil itu. Sayangnya agenda pelatihan rapat-padat. Aku hanya bisa meluangkan waktu sejenak ke pasar Singkawang. Melanggar pantangan dokter, menikmati&amp;nbsp; kopi thiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelatihan empat hari membuat otak dan batin "melumpik" (bhs. Melayu Senganan Sanggau untuk air yang meluap dari batas penampungan). Atas nama agenda kegiatan, kami langsung pulang ke hulu. Kukabarkan kepulanganku. Lagi. Sandekku terkirim ke angkasa luas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Awal Januari 2012. Baru beberapa hari melewatkan malam yang dipenuhi suara terompet Naga Air dan&amp;nbsp; tarian pijar kembang api. Ini status FB-ku pada malam itu:&lt;br /&gt;
"Aku ingin tidur. Karena besok akan berangkat jauh.Aku bersiap menyudahi daring malam ini. Saat refresh beranda FB, status
 adikku, Dian Puspita Sari, mengagetkanku: Tentang penyair perempuan 
dari Singkawang yang lebih dulu "tidur"...yang lebih dulu "berangkat 
jauh"... yang lebih dulu "menyudahi daring-nya" bersama kita...&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;Selamat jalan, Ida Nursanti Basuni...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;(05.01.12, pukul 23.48 WIB"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mi, aku yang biasa kau panggil Pi, ingin mengenangmu dalam banyak hal. Tapi tak bisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertengahan dekade pertama dari alaf millenium. Seorang sahabat, Hatta, sedang merintis sebuah galeri seni di kawasan Sumur Bor, Pontianak. Seorang sahabat yang lain, Pay Jarot Sujarwo (PJS), berjenang Matahari Khatulistiwa, dengan semangat meneleponku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Rin. Kau di galeri Ata, kan? Jangan kemana-mana, ya? Aku bawa kawan. Dari Singkawang. Perempuan. Perempuan luar biasa."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kutunggu di galeri Hatta sampai sore. Sampai senja, tepatnya. Barangkali mereka ada kendala, kupikir. Aku pun memutuskan untuk pulang. Tak jauh meninggalkan galeri Hatta, aku berpapasan dengan PJS. Ia membonceng seorang perempuan. Siapa dia?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mi, aku yang biasa kau panggil Pi, ingin mengenangmu dalam banyak hal. Tapi tak bisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya sekali itu saja pertemuan kita. Sepintas kilas. Sonder sapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita akhirnya bertemu. Tapi di sesusun aksara sandek dan renyah suara di telepon. Juga di beranda, bilik chat dan inbox jejaring sosial. Aku masih ingat kritikmu terhadap buku Wanita Penjaga Api.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Itu salah cetak...atau memang sengaja bikin pembaca bingung?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Yang pertama."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kenapa tak dibetulkan? Pusing tahu membacanya..."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kau juga lugas dan tegas, tapi lembut saat kita "berkelahi" soal puisi. Di antaranya: "Aihhh, Pi. Maaf, idiom yang Pi gunakan udah lazim. Pasaran. Masa' Pi lupa dengan tugas kita sebagai Pejuang Kata-kata?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi yang paling "panas" adalah di kotak komentar catatan FB. Tepatnya di puisi PULAU (http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150198555161491)&lt;br /&gt;
Kita berdebat seru soal EYD. Sampai akhirnya status FB-mu membuat uluhatiku beku. Kuputuskan ber-hibernasi. Saat ada beberapa kerabat FB bertanya soal hibernasi, aku hanya bilang ingin rehat sejenak. Padahal sebenarnya, kutunggau kau bertanya, Mi. Saat yang ditunggu-tunggu itu pun datang. Kuceritakan soal beku hati. Tapi kau malah tertawa... "Aihhh, Pi. Status itu bukan untuk Pi. Tapi untuk seseorang (menyebutkan nama pulau) yang baru punya satu buku, tapi tergila-gila minta dipanggil penyair."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haaaa?... Gedubraaakkk...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mi, aku yang biasa kau panggil Pi, ingin mengenangmu dalam banyak hal. Tapi tak bisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat kau hubungi soal launching buku MIMPI SANG DARE, aku gembiara bukan main. Tapi juga kukatakan: "Mi, Pi tersinggung berat."&lt;br /&gt;
Tentu saja aku tersinggung. Pertama, buku itu diberi kata pengantar oleh salah seorang akademisi sekaligus sastrawan Indonesia, Maman. S. Mahayana. Kedua, tempat launching-nya bukan main-main, PDS HB. Jassin, Jakarta. Bandingkan dengan "buku" pertamaku, Kumpulan Sajak Lelatu. Berupa fotokopian, tanpa kata pengantar, serta hanya di-"launching" dengan malu-malu di meja Wapress Taman Budaya Kalimantan Barat.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 Kau iyakan ketika kutanya apakah akan bertemu langsung dengan Pak Maman. S. Mahayana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Mi, tolong sampaikan salam Pi untuk beliau."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Baik, Pi. Pasti Mi sampaikan. Tapi... kok ngarepdotkomlah kesannye Pi kali nie. Ade ape, Pi?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Beliau termasuk salah satu tokoh yang mbuat Pi memileh jadi penulis dan jadi sorang guru. Ohye. Bise ndak titep oleh-oleh untok beliau? Plis. Misalnye, cinderamata Tugu Khatulistiwa... atau makanan dari Aloe Vera? Eh, kire-kire... beliau suke ape, ye?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Liang Teh." Saat menjawab ini, kurasa intonasimu berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Nah, bise bawa' satu untok beliau? Nanti' Pi ganti ongkosnye..."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diam sejenak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Gini, Pi. Sebenarnye Mi dah siapkan Liang Teh untuk beliau..."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Waduhhh... jadi?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diam lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah bertimbang pada banyak hal: "Gini'&amp;nbsp; ja'lah. Liang Teh nie atas name Pi."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Lho? Nanti' Mi cammane?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tenang, Pi. Mi maseh ade oleh-oleh laen untok beliau."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikianlah KEBENARANNYA. Ia berbesar hati, merelakan oleh-olehnya sebagai oleh-oleh dariku. Jadi, ini sekaligus konfirmasi bahwasanya oleh-oleh Liang Teh itu, bukan semata dariku. Tepatnya dari kami berdua.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mi, aku yang kau panggil Pi, ingin mengenangmu dalam banyak sisi. Tapi tak bisa. Seluruh pengetahuanku hanya berkisar pada satu kata, meskipun tak pernah kau minta: "PENYAIR".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-2vI0PVdGCoI/TyQM3_GonoI/AAAAAAAAAJk/9SZbQ7_XaEQ/s1600/inb.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-2vI0PVdGCoI/TyQM3_GonoI/AAAAAAAAAJk/9SZbQ7_XaEQ/s1600/inb.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
BUMI BATU BERTULIS, 10.01.2012&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6440136158266312576-8283433221274540438?l=amrinzr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://amrinzr.blogspot.com/2012/01/inb-in-memorium.html</link><author>noreply@blogger.com (amrin)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-2vI0PVdGCoI/TyQM3_GonoI/AAAAAAAAAJk/9SZbQ7_XaEQ/s72-c/inb.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6440136158266312576.post-9107514449354466482</guid><pubDate>Wed, 22 Jun 2011 04:31:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-06-22T11:31:11.987+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">PUISI</category><title>REMUDANG-MERUDANG</title><description>;L&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kugapai batang,&lt;br /&gt;
kulilit dahan,&lt;br /&gt;
...kujepit langit biru:&lt;br /&gt;
"seperti engkau terlunta, cari bidari, yg takzim&lt;br /&gt;
menyengat mimpi bungas bujangmu."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6440136158266312576-9107514449354466482?l=amrinzr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://amrinzr.blogspot.com/2011/06/remudang-merudang.html</link><author>noreply@blogger.com (amrin)</author><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6440136158266312576.post-3731940802134214005</guid><pubDate>Sat, 18 Jun 2011 16:55:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-06-18T23:55:49.825+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">GURAT</category><title>JANG MOMA (Bagian 2)</title><description>&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUserXP%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;style&gt;
&lt;!--
 /* Style Definitions */
 p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
	{mso-style-parent:"";
	margin:0in;
	margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:12.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}
span.messagebody
	{mso-style-name:messagebody;}
span.uistreamsource
	{mso-style-name:uistreamsource;}
@page Section1
	{size:8.5in 11.0in;
	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in;
	mso-header-margin:.5in;
	mso-footer-margin:.5in;
	mso-paper-source:0;}
div.Section1
	{page:Section1;}
--
&lt;/style&gt;
&lt;style&gt;
 
&lt;/style&gt;
&lt;style&gt;
 
&lt;/style&gt;
&lt;style&gt;
 
&lt;/style&gt;
&lt;style&gt;
 
&lt;/style&gt;
&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUserXP%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;style&gt;
&lt;!--
 /* Style Definitions */
 p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
	{mso-style-parent:"";
	margin:0in;
	margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:12.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}
span.messagebody
	{mso-style-name:messagebody;}
span.uistreamsource
	{mso-style-name:uistreamsource;}
@page Section1
	{size:8.5in 11.0in;
	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in;
	mso-header-margin:.5in;
	mso-footer-margin:.5in;
	mso-paper-source:0;}
div.Section1
	{page:Section1;}
--&gt;
&lt;/style&gt;



&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Indobarometer
bikin survei yang bikin banyak orang geleng-geleng kepala. Termasuk Jang Moma.
"&lt;i&gt;Margin error&lt;/i&gt; dan
sampelnya..." jawab JM saat kutanyakan kenapa ia menggeleng.
"Tanggung. Kenapa tak sekalian dari esbeye, tarik mundur sampai ke era
kolonialisme? Atau sampai era prasejarah sekalian?!"
"Lha? Kalau sampai sejauh itu, siapa yang jadi sumber datanya, Jang?"
JM diam. Aku senang bukan main. Bisa juga akhirnya aku membuatnya bungkam.
JM senyum: "Kuburan."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;(17.05.11)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Stephen
Hawking&lt;i&gt; nie benar-benar pening&lt;/i&gt;,"
ujarku pada Jang Moma yang baru saja mengangkat jemuran. Siang ini, hujan turun
tiba-tiba.
"&lt;i&gt;Mangnye ngape ngan kawan lama'
aku,tu?"&lt;/i&gt;
"&lt;i&gt;Ha? Kawan lama' kau, Jang&lt;/i&gt;?"
"&lt;i&gt;Yelah. Kawan aku maen guli maen
gasing dolo'... Ha? Ngape kau bilang die pening?&lt;/i&gt;"
"&lt;i&gt;Cammane ndak pening? Masa' die
bilang kalau surge tu dongeng jak&lt;/i&gt;?"
Jang Moma tertawa terbahak-bahak. 
"&lt;i&gt;Ngape, Jang&lt;/i&gt;?"
&lt;i&gt;"Mungken die pening nengok banyak
orang beperang bawa’-bawa’ name agama...&lt;/i&gt;"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;(17.05.11)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sandek masuk
pkl.21.21 Wib: "Ph4q,,,k0ch bK1N 5p4ndUq p3Rph15h4nt cHo3m4ch b3rdUach
jh4n9 Mh0m4...??? knP4 nD4q bW An4q b034ch,,,???"
Aku tunjukkan pada Jang Moma. Jang Moma minta izin membalas sandek itu. Setelah
ku iyakan, jarinya lincah menari pada papan tombol ponsel: "s3bh4b pH4q
4mRh1nh b03khanT Bh4p4q b034cH..."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;(Senin, 16.05.11,
pukul 00:30 Wib)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"&lt;i&gt;Don't-don't..."&lt;/i&gt;
"&lt;i&gt;Ngape kau, Jang?"&lt;/i&gt;
Jang Moma menoleh. Kaget juga aku. Ada ponsel canggil di tangannya. JM punya
ponsel? Hei?! Bukankah itu ponsel anak tetangga sebelah?
"&lt;i&gt;Saye bukan pencuri, ye&lt;/i&gt;.."
kata JM, seolah tahu isi kepalaku, "&lt;i&gt;yang
punye hape nie minta’ tolong ngan saye.&lt;/i&gt;"
"&lt;i&gt;Minta’ tolong ape?”&lt;/i&gt;
"&lt;i&gt;Cowoknye sms pakai bahase Inggres.
Jadi, saye cube nakbantu die mbalasnye.&lt;/i&gt;"
"&lt;i&gt;Teros...? Kau bilang 'don-don' tadi’
tu ape?"&lt;/i&gt;
"&lt;i&gt;Jangan-jangan..."&lt;/i&gt;
"Haaaahhh?"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;(12.05.11, pukul
19:30 Wib)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Hujan kepagian.
Bulan kesiangan. 

"Nah, benarkan kataku?"
"Benar apanya, Jang?"
"Cuaca."
"Kenapa?"
"Seperti manusia."
"Atau manusia yg seperti cuaca?"
"He..."
"Kok?"
"Tergantung kacamata &amp;amp; tanda matematika."
"Jang, soal kacamata, okelah. Aku tau kau menyindirku untuk mngganti kacamata
ini.Tapi soal matematika, maksudmu berkenaan dengan Klimatologi?"
"Ah, aku cuma mau bilang, itulah fungsi manusia membuat beberapa variasi
tanda sama dengan."
"?"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;(12.05.11, pukul
06:32) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Alek Konslet berhitung: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Besok main bowling, seharian. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Lusa, main bulu tangkis, turnamen. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tulat, main polo air, memeriahkan hari keagamaan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Langkat, main bola di Desa Mongko, tarkam. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Empat hari yang menyibukkan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;
&lt;span class="messagebody"&gt;Ia menoleh pada Jang Moma: "Jang, sesibuk itu,
kapan aku istirahat?"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jang Moma
mengangguk-angguk. Berat sekali sepertinya ia mendapat pertanyaan dari Alek
Konslet. Matanya sampai terpejam. Khusuk sekali. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku dan Alek
Konslet harap-harap cemas menanti &lt;i&gt;advice &lt;/i&gt;Jang
Moma.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Alek Konslet
tergerak hatinya memasak air untuk membuat tiga gelas kopi. Sampai air matang,
Jang Moma masih dalam sikap khidmat. Sampai tiga gelas kopi terhidang, masih ia
khidmat. Sampai kusodorkan gelas di depannya dengan harapan hidungnya akan
mengendus aroma minuman kesukaannya itu, masih juga khidmat. Aku dan Alek
Konslet setia menanti. Tak berani bicara. Takut mengusik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saat kopi kami
tinggal setengah gelas, barulah tampak ‘tanda-tanda kehidupan” &amp;nbsp;lagi pada Jang Moma. Caping hidungnya bergetar
halus. Helaan nafasnya dalam dan panjang-panjang. Kemudian kelopak matanya
membuka perlahan. Di susul tarikan garis senyumnya yang subversif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Lek, empat hari
ini sibuk?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Betul, Jang.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Kau bingung
kapan istirahat?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Iya, Jang.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Kau mau tau
saranku, Lek?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Mau, Jang.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Oke. &amp;nbsp;Saranku: istirahatlah sekarang.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;(11.05.11, pukul
18:46 Wib) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kau takkan bisa
membeli kenangan.
(Jang Moma)

"Tapi, Jang...aku kan cuma beli pulsa?"
"Oh, aku kira&lt;span class="messagebody"&gt; kau berusaha untuk menghubungi 'masa
lalumu' itu."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="messagebody"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;(11.05.11, pukul 15:12 Wib)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="uistreamsource"&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dua tahun di
sini. Belum juga kuselesaikan NAGA. 
Padahal kecamuk ini, galibnya, menjadi energi bagiku menjelajah jazirah kekata,
watak dan lain-lain serta peristiwa-peristiwa...

JM: "Kau cedera dalam pertempuran yg tak perlu."
Aku: "Jadi bagaimana?"
JM: "Berhentilah mengeluh."
Aku: "...?"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;(10.05.11, pukul
21:17 Wib)&lt;span class="uistreamsource"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Coba kau
tanyakan mereka," kata Jang Moma, "bersediakah foto mereka dijadikan sebagai
foto profil akunmu?"
"Mereka? Teman FB saya? Untuk apa? Nanti mereka mengira saya tak pede dengan
wajah sendiri..."
"Udah. Tanya saja."

Demikianlah sanak saudara dan sohib-sohib FB yang saya cintai. Bagaimana tanggapan
saudara? Bersediakah saudara, jika foto saudara, saya&amp;nbsp; "pinjam" sebagai foto profil?

"Jang...udah saya umumkan."
"Hehe..."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;(08.05.11, pukul
19:19 Wib)&lt;span class="uistreamsource"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;
&lt;span class="uistreamsource"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6440136158266312576-3731940802134214005?l=amrinzr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://amrinzr.blogspot.com/2011/06/jang-moma-bagian-2.html</link><author>noreply@blogger.com (amrin)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6440136158266312576.post-7681438174723646902</guid><pubDate>Sat, 18 Jun 2011 16:43:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-06-18T23:43:34.566+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">GURAT</category><title>JANG MOMA (Bagian 1)</title><description>&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Anak Mami: Jang, udah tau Ibas foto mesra?&lt;br /&gt;
Jang Moma: Memangnya kenapa?&lt;br /&gt;
AM: Kok orang-orang sampai segitu hebohnya, ya? Padahal cuma foto sama CBL&lt;br /&gt;
JM: Memangnya kenapa?&lt;br /&gt;
AM: Aku foto mesra, gak ada yg heboh..&lt;br /&gt;
JM: Mmgnya kenapa?&lt;br /&gt;
AM: Pdhl aku foto sama CLBK.&lt;br /&gt;
JM: ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;(08.05.11, pukul 15:43)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Mungkin kau takkan percaya..." ujar Jang Moma, saat kami berangkat mandi tadi pagi. Aku heran. Percaya tidak percaya tentang apa? Sepertinya &amp;nbsp;Jang sedangg dlm 'mode gazebo'.&lt;br /&gt;
"Nama mereka, " lanjut Jang, "adalah simbol oksigen."&lt;br /&gt;
Wah... makin 'gazebo' nih... &lt;br /&gt;
Demikianlah. (Tp sebelumnya, sori-menyori saya pake term 'gazebo',yang mungkin bagi sebagian kawan udah jadul). Sampai sesiang ini baru saya paham, rupanya yang Jang maksud adalah Obama &amp;amp; Osama.&lt;span style="display: none;"&gt;&lt;input name="charset_test" type="hidden" value="€,´,€,´,水,Д,Є" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="display: none;"&gt;&lt;input name="post_form_id" type="hidden" value="616643e5cd6ee48d2b6d353783b55427" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="display: none;"&gt;&lt;input name="fb_dtsg" type="hidden" value="AQB3rwGK" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="display: none;"&gt;&lt;input name="feedback_params" type="hidden" value="{" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;(08.05.11, pukul 12:49 Wib)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jam segini barulah Jang Moma pulang. Belum kuputar anak kunci, dari balik pintu kudengar kata-katanya. Jelas brkenaan dengan pertanyaanku sebelum ia keluar petang tadi, tentang siapa yg "Habil" dan "Kabil" antara Osama &amp;amp; Obama.&lt;br /&gt;
"Kawan, sdh kau baca celoteh Michael Moore?"&lt;br /&gt;
"Siapa dia?"&lt;br /&gt;
"Ampunnn..kau tak tahu?! Ah..jangankan apa celotehnya, tentang Obama, tentang siapa ia sebenarnya pun kau tak tahu... bakar sajalah ijazahmu!"&lt;br /&gt;
Busyet. Panas hatiku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;(07.05.11, pukul 01:38 Wib)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Osama dan Obama. Siapa yang 'Habil' dan siapa yang "Kabil'?"&lt;br /&gt;
Jang Moma diam. Tak mau menjawab pertanyaanku. Namun nafasnya kulihat memberat. Ia bangkit, membalikkan badan, kemudian menuju pintu. Sambil mengenakan sendal, ia menoleh padaku.&lt;br /&gt;
"Kau pakai kacamata, kan?"&lt;br /&gt;
Aku mengangguk.&lt;br /&gt;
"Ganti kacamatamu."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;(06.05.11, pukul 23:00 Wib)&lt;span style="display: none;"&gt;&lt;input name="charset_test" type="hidden" value="€,´,€,´,水,Д,Є" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="display: none;"&gt;&lt;input name="post_form_id" type="hidden" value="616643e5cd6ee48d2b6d353783b55427" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="display: none;"&gt;&lt;input name="fb_dtsg" type="hidden" value="AQB3rwGK" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="display: none;"&gt;&lt;input name="feedback_params" type="hidden" value="{" /&gt;&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Jang," ujarku seraya menatap layar monitor, "mau pakai nama e-mail yg bagaimana?"&lt;br /&gt;
Jang Moma berteriak lantang: "komisi delapan tiga enam nol et yahu dot kom...!!!"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;(05.05.11, pukul 16:04 Wib)&lt;span style="display: none;"&gt;&lt;input name="charset_test" type="hidden" value="€,´,€,´,水,Д,Є" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="display: none;"&gt;&lt;input name="post_form_id" type="hidden" value="616643e5cd6ee48d2b6d353783b55427" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="display: none;"&gt;&lt;input name="fb_dtsg" type="hidden" value="AQB3rwGK" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="display: none;"&gt;&lt;input name="feedback_params" type="hidden" value="{" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Gara-gara Jang Moma aku terpaksa bangun sepagi ini. Dengan heroik ia mengguncang-guncang bahuku. Suaranya penuh patriotisme: "Kawan, kau harus mendukung gedung dpr baru itu."&lt;br /&gt;
"Kok?!" &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku curiga, jangan-jangan ia terinfeksi virus yg diderita banyak orang-orang penting negeri ini, yakni virus mengkhianati cita-citanyanya sendiri.&lt;br /&gt;
"Harus, kawan. Harus. Sebab, meskipun tetap biaya tinggi, gedung baru itu dilengkapi ruangan khusus untuk anggotanya cuci otak."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;(05.05.11, pukul 05:35 Wib)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pulang mandi, anak tetangga teriak-teriak padaku mengabarkan bahwa Jang Moma ada di tipi: menghadiri pernikahan Will dan Kate.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;(29.04.11, pukul 16:46 Wib)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Meskipun kalah (dengan angka tipis) aku tetap BANGGA dgn PERJUANGAN Daud "Cino" Yordan.&lt;br /&gt;
Sprtinya akan banyak pembahasan dengan Jang Moma nieh. Tapi... eh... mana dia?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;(17.04.11, pukul 23:48 Wib)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sejak bakda Isya, Jang Moma sudah ternganga di depan tipi tetangga. Bahkan ia ringan tangan mengeluarkan isi dompetnya membantu tuan rumah membeli bensin untuk mengidupkan genset.&lt;br /&gt;
"Iklan terus," celoteh seseorang disampingnya.&lt;br /&gt;
"Ndak apa-apa," jawab JM, ini tanda negara ini kapitalis, bukan sosialis.&lt;br /&gt;
"Komentar terus," keluh yang lain.&lt;br /&gt;
"Ndak apa-apa. Kita kan memang juara dunianya... juara dunia komentator."&lt;br /&gt;
"PLN mati,"&lt;br /&gt;
"Tanda kita di NKRI."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;(17.04.11, pukul 22:16 Wib)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jang Moma marah besar. Padahal aku cuma bilang bahwa jangan-jangan aparat lengah lantaran lagi Demam Norman.&lt;br /&gt;
"Seribu kematian hanya statistik," ujarnya geram smbil menuruni tangga, "satu kematian adalah tragedi."&lt;br /&gt;
Aku terkesima. "Mantap kata-katamu, Jang.."&lt;br /&gt;
"Aku cuma mengutip, kawan. Itu ujar-ujar filosof terkenal."&lt;br /&gt;
"Siapa, Jang?"&lt;br /&gt;
Ia menyeringai: "Pe-er utkmu."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;(15.04.11, pukul 19:43 Wib)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jang Moma selalu punya alasan untuk ke Jakarta. Setelah gagal nonton Kitaro, kali ini ia mengajakku ke ibukota republik dengan alasan menghadiri resepsi pernikahan.&lt;br /&gt;
Pernikahan di 1 Mei nanti, tak sembarangan. Mempelainya adalah Super”Gayus”man dan Melinda "supertoge" Dee...&lt;br /&gt;
Ad yg mau ikut?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;(08.04.11, pukul 13:53 Wib)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ada partai yang menolak gedung mengangkang itu. Ada yg menerima. Emhh.. padahal, kalau dipikir-pikir, partai-partai yang menerima itu telah melukai rakyat kebanyakan. Nah, apakah mereka akan laku lagi di pemilu 2014 nanti?&lt;br /&gt;
"Mereka takkan khawatir," ujar Jang Moma, "sebab mereka tahu, kita adalah bangsa yang 'forgiven' sekaligus 'forgotten'..."&lt;br /&gt;
Ssst.. jgn kuat2, Jang...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;(08.04.11, pukul 00:36 Wib)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kitaro akn tmpil d Indonesia.&lt;br /&gt;
"Berapapun tiketnya, sy harus nonton!" ujar JM antusias. JM mmg br bs tenang klw brdiam dr smbil dngr Orochi atawa Silk Road atw yg lain2 dr Kitaro.&lt;br /&gt;
"Kpn Jang brgkt k Jakarta?"&lt;br /&gt;
"Hah???!!! Di Jakarta? Kok bkn d lapangan sepak bola desa kita, ya?"&lt;br /&gt;
Aku kasihan melihatnya. &lt;br /&gt;
...Tb2 ia menggumam: "Iya, ya. Org2 kan taunya Indonesia cm Jakarta?"&lt;br /&gt;
Hushhh... sssttt... jangan kuat2, Jang...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;(07.04.11, pukul 14:14 Wib)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;#1. Saat istana wapress hampir tutup, Jang Moma datang. Ia dibonceng seorang pemuda berwajah mirip pesohor yang gemar menjajakan aibnya di infotainment. Keadaan mereka sungguh payah. Bercak lumpur bahkan sampai ke rambut. Sepeda motor mereka, jangan dikata lagi. Nyaris kehilangan cat asli. Tanda bahwa mereka sah melewati jejalan republik, yang mana para wakil rakyatnya gemar belajar etika ke mancanegara serta...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;(03.04.11, pukul 02:37 Wib)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;#2. ...mengidap sindrom aneh: terobsesi membangun gedung megah mengangkang.&lt;br /&gt;
Aku dan JM saling tabik. Sedangkan si pesohor penjual aib itu hanya tersenyum simpatik. Dari lehernya terkilas kemilau unik. Kupikir kalung, ternyata jakunnya bertindik.&lt;br /&gt;
"Kapan datang?" tanyaku.&lt;br /&gt;
"Sekitar 4 tahun lagilah.." jawab JM sambil mempersilakan dirinya sendiri untuk duduk.&lt;br /&gt;
Tak ayal, kursi plastik yg didudukinya kotor.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;(03.04.11, pukul 02:51 Wib)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;‎#3. Aku memesan 3 gelas kopi lagi. Kawan JM sudah bergabung, setelah tadi memarkir sepeda motornya dekat riol. Sambil berhadap-hadapan, JM memperkenalkan kawan barunya yg bernama Hadapi. H.I.&lt;br /&gt;
Awalnya kusangka ujung namanya adalah semacam gelar akademis atau nama keluarga. Ternyata merupakan singkatan dari Hidup Ini. &lt;br /&gt;
Kami berbincang hangat. Sampailah pada topik tentang: kemana sajakah JM selama ini?&lt;br /&gt;
(03.04.11, pukul 3:10 Wib)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;#4. Dengan senyum khasnya yang subversif, ia menjawab bahwa ia tak kemana-mana selama ini.&lt;br /&gt;
"Pak Uteh Tungkal bilang Jang ke Jakarta. Benar?" tanyaku sambil menjangkau sebungkus keronceng keladi.&lt;br /&gt;
Jang terperanjat dan berseru: "Bocorrr...!!!"&lt;br /&gt;
"Ha? Jadi Pak Uteh benar? Dan Jang tadi bohong? Baguss.."&lt;br /&gt;
"Eitt.. Jangan vonis sembarangan. Aku belun jawab apa-apa, kok?"&lt;br /&gt;
"Lha? Tadi Jang bilang info bocor?"&lt;br /&gt;
"Duhh..sekolahmu..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;(03.04.11, pukul 03:25 Wib)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;‎#5. ..yg bertahun-tahun itu hanya menjadikanmu sebagai seorang penuduh? Alamakkk.. Dengar baik-baik. Yang bocor itu keronceng di tanganmu."&lt;br /&gt;
Haaa???&lt;br /&gt;
Benar. Daging umbi keladi, yang dirajang sebesar batang korek api dan diolah sebagai kudapan di tanganku ini, bungkus plastiknya memang bocor. Untuk memastikan, kupatah-patahkan beberapa potongan dari luar pembungkus. &lt;i&gt;Lemau&lt;/i&gt;. &lt;i&gt;Domun. Demun&lt;/i&gt;. Masuk angin.&lt;br /&gt;
"Ya, sudah..tak apa-apa," ujar..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;(03.04.11, pukul 03:36 &amp;nbsp;Wib)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;#6. ..ku seraya menaruh keronceng ke atas meja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Intinya, benarkah Jang ke Ibukota negara?"&lt;br /&gt;
"Siapa yang bilang?"&lt;br /&gt;
"Sudah kubilang tadi, aku tahunya dari Pak Uteh Tungkal."&lt;br /&gt;
"Siapa itu? Apakah aku mengenalnya? Dan apakah ia mengenalku? Jangan sembarangan, kawan. Jelang duaribu duabelas dan duaribu limabelas, jangan sembarangan menelan informasi."&lt;br /&gt;
"Jang...ada apa dengan tahun-tahun itu?"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;(03.04.11, pukul 03:43 Wib)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ia membuatku kecewa. Setelah beberapa minggu raib, yang katanya mau ngobrol sama SBY, ia ternyata akan kembali malam ini dengan cara yang biasa-biasa saja. Harusnya, ia kembali dengan &lt;i&gt;surprise&lt;/i&gt; luar biasa. Misal, aku buka pintu, tiba-tiba ia sudah ada berdiri, lengkap dengan senyumnya yang kadang subversif itu. Tapi...yaaa... biasa2 saja. Ia pinjam ponsel ponakanku, kirim sandek: "Aku pulang. JM."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;(02.04.11, pukul 19:24 Wib)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Akhirnya jejak Jang Moma terendus. Dari Usu Tungkal, yang hari-harinya &lt;i&gt;standby&lt;/i&gt; di warkop TERANG BULAN TERANG SEKALI, aku mendapat info berharga: "Jang Moma mau ke Jakarta."&lt;br /&gt;
"Plesiran?"&lt;br /&gt;
"Bukan.." jawab Usu, sambil memberi kode pada Tauke Amung untuk menambah segelas kopi lagi. Ditambah kode susulan bahwa pembayar kopi yang baru dipesan adalah aku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Baru akan kudekatkan telinga pada tangannya (karena sikap tubuh menegaskan akan berbisik), Usu kembali memberi kode pada tauke. Kali ini kodenya berarti: tak hanya kopi barusan dipesan yang menjadi tanggunganku, tapi semua kopinya dari pagi. Busyet. Udah kayak wakil rakyat, nih? Aku menguatkan hati. Inilah konsekuensi hidup di alaf informasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Usu kemudian kembali menatapku. Memposisikan tubuhnya untuk membisikkan sesuatu yang teramat berharga padaku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dan inilah informasi yang teramat berharga itu: "Jang mau ketemu esbeye...sst...jangan bilang siapa-siapa."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku garuk2 kepala.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;(16.03.11, pukul 15:17 Wib)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;REG spasi DICARI spasi JANG spasi MOMA spasi USIA spasi TIDAK-DIKETAHUI kirim ke... ke... ke... kemana, ya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;(15.03.11, pukul 14:22 Wib)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Mana muka saya???!!!" jerit Jang Moma di depan cermin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;(12.03.11, pukul 19:34 Wib)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Syukurlah dinda miyabi tidak kenapa-kenapa," ujar Jang Moma berbaring di ruang tamu sambil memeluk guling.&lt;br /&gt;
Aku pindah ke ruang tengah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Baring.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Berusaha utk tidur siang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tp sulit.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Masih memikirkan "hep".&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;(12.03.11, pukul 14:46 Wib)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Setelah &amp;nbsp;insiden "hep" yg masih belum bisa saya mengerti, Jang Moma mendekatiku. &lt;br /&gt;
"Apa yg kau pikirkan?"&lt;br /&gt;
Ketika aku hendak menjawab, ia sudah berujar : "Jangan kau pikirkan 'kok bisa, ya, langit endak ada tiangnya'..."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;(11.03.11, pukul 20:26 Wib)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Heppp...!!!" jerit Jang Moma saat lampu menyala. Ia yang sedang &amp;nbsp;terbaring di tengah ruang, bergegas bangkit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tercenung. Hep? Kata apa itu?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;(11.03.11, pukul 19:40 Wib)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Makan, yuk.." ajakku pd Jang Moma.&lt;br /&gt;
"Lauk?" tanyanya antusias.&lt;br /&gt;
"Telor."&lt;br /&gt;
"Sayur?"&lt;br /&gt;
"Tumis terung campur irisan sosis, lalap mentimun."&lt;br /&gt;
"Ihhh...Terima kasih. Saya endak jd ikut makan. Hiii..."&lt;br /&gt;
"Lho? Bukannya menu ini favoritmu, Jang?"&lt;br /&gt;
"Favorit? Omong lain jak. Menumu hari ini membuatku seakan MEMAKAN DIRI SENDIRI."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;(10.03.11, pukul 13:09 Wib)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Ini berita gembira, Jang Moma. Kembaranku akhirnya manggung di Jakarta."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Siapa kembaranmu?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Justin Bieber..."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;(08.03.11, pukul 18:25 Wib) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6440136158266312576-7681438174723646902?l=amrinzr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://amrinzr.blogspot.com/2011/06/jang-moma-bagian-1_18.html</link><author>noreply@blogger.com (amrin)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6440136158266312576.post-4394923363179852513</guid><pubDate>Fri, 03 Jun 2011 15:57:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-06-03T22:57:59.166+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">PUISI</category><title>CERAMAH CEMARA CEMAS</title><description>; Deni Kiswanto&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cemara-cemara, yang dulu setia menyongsong kedatangan para pelancong, kini tak ada lagi, kawan.&lt;br /&gt;
Meskipun angin dan aroma pantai ini, tetap saja mengajak (sebenarnya kita enggan), menyelinap ke dalam rongga-rongga peristiwa yang terserak di sepanjang tanjung.&lt;br /&gt;
Belum. Belum kujawab tantanganmu untuk berkelahi dengan waktu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6440136158266312576-4394923363179852513?l=amrinzr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://amrinzr.blogspot.com/2011/06/ceramah-cemara-cemas.html</link><author>noreply@blogger.com (amrin)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6440136158266312576.post-6318070689952132341</guid><pubDate>Thu, 02 Jun 2011 15:47:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-06-02T22:47:05.771+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">GURAT</category><title>RACAU (1)</title><description>Jadi? Menurutmu perkara kita selesai begitu saja sampai di sini? No. No. No. Tidak semudah itu. Maaf, aku bukannya mempersulit. Hanya saja, tidakkah kau berpikir mereka akan membalas? Kau tahu kita sekarang di mana? Nah. Itu dia. Kita hidup d negeri dan jaman yg sedang brengsek. Iya, aku tahu. Niatmu baik. Tapi hidup ini ternyata tak melulu berisi kebaikan. Hah? Apa? Kau bilang aku anti-hero? Terserahmulah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6440136158266312576-6318070689952132341?l=amrinzr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://amrinzr.blogspot.com/2011/06/racau-1.html</link><author>noreply@blogger.com (amrin)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6440136158266312576.post-5841018361582821284</guid><pubDate>Thu, 02 Jun 2011 09:46:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-06-02T16:46:36.217+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">PUISI</category><title>Pulau</title><description>My Lovely Sist... Kita&lt;br /&gt;
hidup di dunia lekas, jd gegaslah, sambil merobek&lt;br /&gt;
kalender, melepas arloji, mencampakkan&lt;br /&gt;
serbaneka gadget, menuju pulau rahasia.&lt;br /&gt;
Angin sedang baik.&lt;br /&gt;
Kutunggu kau di pelabuhan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6440136158266312576-5841018361582821284?l=amrinzr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://amrinzr.blogspot.com/2011/06/pulau.html</link><author>noreply@blogger.com (amrin)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6440136158266312576.post-5103973277234587778</guid><pubDate>Wed, 18 May 2011 15:45:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-05-18T22:45:27.400+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">PUISI</category><title>#005</title><description>Tak hanya tentang puja-puja, dara-dara, serta pura-pura.. tapi sampai pada kura-kura dan lupa-lupa. Demikianlah pagi yang rontok bersama bulu matamu :"Ada yang menahan rindu tak tertanggungkan..."&lt;br /&gt;
Setelah itu, telat.&lt;br /&gt;
Lepas itu, lemas.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6440136158266312576-5103973277234587778?l=amrinzr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://amrinzr.blogspot.com/2011/05/005.html</link><author>noreply@blogger.com (amrin)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6440136158266312576.post-3494865940630272093</guid><pubDate>Wed, 18 May 2011 14:07:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-05-18T21:07:09.636+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">PUISI</category><title>IZINKAN AKU MENJADI WARAS</title><description>Izinkan aku menjadi waras, Bapak. Ketika melihat sosok ringkih yang  setiap pukul setengah empat sore, melewati kampus, memikul rupa-rupa  barang, potongan kayu, seng rombeng, kadang ban luar sepeda motor yang  telah kehilangan bunga, kadang seikat kangkung atau pakis ikan. Topi,  baju, celana dan sepatu yang selalu sama. Pukul setengah empat sore yang  selalu sama. Cara berjalan yang selalu sama. Selalu muncul dan hilang  dengan cara yang sama. Celakanya, selalu meninggalkan jejak memar di  sukma yang selalu sama. &lt;br /&gt;
Kemana pemerintah dan negara? Apa  saja kerja mereka?&lt;br /&gt;
Kemana para insan intelektual yang berbuih  mulutnya menerangkan teori-teori keilmuan?&lt;br /&gt;
Kemana agama?&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Izinkan  aku menjadi waras, Mak. Melihat ibu-ibu yang menggendong anaknya,  histeris mempertahankan lapak pisang gorengnya yang diamuk aparat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Izinkan   aku menjadi waras, Kak. Ketika &amp;nbsp;turut menggendong perempuan muda tak  kukenal yang tumbang di pintu diskotik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Izinkan aku menjadi  waras, Bang. Saat hendak kulayangkan tinju pada seorang pengangguran  yang terpaksa jadi copet di Pasar Tengah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Izinkan aku  menjadi waras, Dik. Waktu melihat kanak-kanak melahap donat basi dari  tong sampah dekat gerbang sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(21.02.09)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6440136158266312576-3494865940630272093?l=amrinzr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://amrinzr.blogspot.com/2011/05/izinkan-aku-menjadi-waras.html</link><author>noreply@blogger.com (amrin)</author><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6440136158266312576.post-7642146181171955834</guid><pubDate>Thu, 31 Mar 2011 15:51:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-03-31T22:51:50.250+07:00</atom:updated><title>SETELAH ITU</title><description>Malam ini, sambil mendengarkan lagu Udine Sedunie di konter ponsel seorang kawan, aku menulis lagi di blog ini.&lt;br /&gt;
Di sudut kanan ponsel yg kupakai ini, tertulis angka 512 yg dipisahkan oleh garis miring dengan sederet angka yang lainnya, yang jumlahnya menaik setiap kutekan tuts ponsel. &lt;br /&gt;
Terbatas.&lt;br /&gt;
Berarti, melatih untuk menulis efektif.&lt;br /&gt;
Lagu sudah berganti dengan Aku Papua-nya Edo. K. Di meja sebelah, kawanku yg punya konter ini asyik main PS 2. Emhhh... coba posting. Angka sudah 492.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6440136158266312576-7642146181171955834?l=amrinzr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://amrinzr.blogspot.com/2011/03/setelah-itu.html</link><author>noreply@blogger.com (amrin)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6440136158266312576.post-1981851916377570621</guid><pubDate>Tue, 11 May 2010 17:43:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-05-12T00:48:41.365+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">GURAT</category><title>BERCAKAP-CAKAP DENGAN BATU</title><description>&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span id="profile_status"&gt;&lt;span id="status_text"&gt;Bercakap-cakap dengan batu. Kasihan juga, lantaran hujan yang sporadis mengguyur Bumi Borneo Raya, melongsorkan tebing jalan, memaksanya meloncat dari pertapaan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span id="profile_status"&gt;&lt;span id="status_text"&gt;&lt;br /&gt;
"Sebentar lagi tapaku selesai, tapa untuk bisa bersua dengannya. Mengatasi ketakterhinggan godaan. Kumulai sejak sebermula &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="profile_status"&gt;&lt;span id="status_text"&gt;zaman, ketika atom-atom saling menarik dan melempar diri dalam semesta penciptaan...tapi, lihat kini, aku tronggok sia-sia, yang sebentar lagi 'kan kau luluhlantakkan, kembali menjadi debu."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span id="profile_status"&gt;&lt;span id="status_text"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span id="profile_status"&gt;&lt;span id="status_text"&gt;"Tapa untuk bersua siapa?"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span id="profile_status"&gt;&lt;span id="status_text"&gt;Ia diam. Tak hendak kuulangi pertanyaan. Hanya menatap saksama permukaanya yang basah, berbedak lumpur kuning. Ia rupanya telah menyiapkan diri untuk upacara bernama perjumpaan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span id="profile_status"&gt;&lt;span id="status_text"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span id="profile_status"&gt;&lt;span id="status_text"&gt;"Cinta pertama?"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span id="profile_status"&gt;&lt;span id="status_text"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span id="profile_status"&gt;&lt;span id="status_text"&gt;"Menurutmu?"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span id="profile_status"&gt;&lt;span id="status_text"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span id="profile_status"&gt;&lt;span id="status_text"&gt;"Apa yang lebih dahsyat dari cinta pertama?"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span id="profile_status"&gt;&lt;span id="status_text"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span id="profile_status"&gt;&lt;span id="status_text"&gt;"Kau menuduhku memberhalakan cinta pertama?"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span id="profile_status"&gt;&lt;span id="status_text"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span id="profile_status"&gt;&lt;span id="status_text"&gt;"Lantas apa kekuatan hebat yang membuatmu sanggup bertapa?"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span id="profile_status"&gt;&lt;span id="status_text"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span id="profile_status"&gt;&lt;span id="status_text"&gt;"Tapi tapaku gagal, bukan?"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span id="profile_status"&gt;&lt;span id="status_text"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span id="profile_status"&gt;&lt;span id="status_text"&gt;"Kau hendak menyalahkan hujan?"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span id="profile_status"&gt;&lt;span id="status_text"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span id="profile_status"&gt;&lt;span id="status_text"&gt;Kami sama terdiam. Kalimat-kalimat kami seperti menempuh dua arah sekaligus, satu memantul, dua berkejaran di ruang hampa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span id="profile_status"&gt;&lt;span id="status_text"&gt;Kami sama tersenyum. Mengerti bahwa sama-sama tak mengerti.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6440136158266312576-1981851916377570621?l=amrinzr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://amrinzr.blogspot.com/2010/05/bercakap-cakap-dengan-batu.html</link><author>noreply@blogger.com (amrin)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6440136158266312576.post-1241465832797433657</guid><pubDate>Thu, 29 Apr 2010 16:01:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-04-29T23:01:37.401+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">KESAH-KESAH</category><title>KESAH-KESAH BEBASA SANGAU: PAK ALUI ILAKNG PERAWAU (3) Serota posatn-posatn moral di dalam ah</title><description>&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;  &lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;NGABAK:&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;Ngapai gala nebiak nang pulakng belimur, pas niti panti tetiba engkabur?... okehhh… saja betol am jawab Menyadik'. Gosa’ ngeronong Umak Alui nurutnh tanga’ kenamikng.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;Nah, enti’ kula nanya’ lagi’, apai pasal Umak Alui nang nurutnh tanga’ kenaminkng tawu molah sida’ engkabur?... Awu’. Saja bonar lagi’ am jawab menyadi’. Gosa’ Umak Alui temasok pekara nang tawu molah Pak Alui tebangun dari tidu’ ah.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;Numur beropai, Menyadik' ?... Ennn… Kona’ lagi’ am. Saja pemanai-manai ah deh. Dari tujuh puluh tiga pekara nang tawu molah Pak Alui tebangun, Umak Alui pas tepat dinumur keramatnh: TIGA BELASSS…&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;KESAH:&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;Jadi piya’ em tih, Menyadik'…&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;Ari masih panas jejolak. Mata ari memang dah beginser sikit ke ili’, dah tawu molah kemayakng gala jolu. Urakng-urakng di lobuh pun siku’ dua’ masih ada nang lalu lintu. Spet panyakng beterpal ijau, bemesetnh empat puluh peka, dipasakng begimar, laju mudik ke ulu. Gelumakngh ah bosar, beunyar-unyar ngaga’ ke pantai. Gala jamatnh beguncakng. Sengirikng kiba’, sengirikng kanan. Tegelek-gelek. Untokng kuat gala paku-memaku, kobat- mengobat sampai ke gala sapat-menyapat ah… entik mada, rempe’.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;!--more--&gt;  &lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;Umak Alui bediri di pala’ tanga’ kenamikng. Ramut ah nang panyakng, nang biasa rapi disangul atau bekobat gotah golakng, tu’ rinsai remuai. Empadai ciup angin dari arah sungai, ramut ah bekibar-kibar upa poca’ rangkai di kelompai.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;Tapih anyokngh ah warna cekelat. Dah agak pudar. Biar piya’, motip ah masih keronong, motip bunga torokng. Come’ empadai tanah. (Sekedar ngingat ja’ em, Umak Alui dangan Alui saja baru’ am nalaw Dabalyubus yang engkasak idak gosa’ ngerudu kayu’ kelotok di belakakng rumah. Sompat betiga’ terajakng ga’ am sida’ nyanak nya’. Koti ajom nak betiga’ terajakng, pas sida’ nyanak nalaw Dabalyubus, Kelinton malar ngeraru. Lengah sikik, ada ja’ em enya nerai na’ ngetal idokng ah ke burik…)&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;Baju nang dipakai Umak Alui baju kaus mirah kangah. (Untokng dah lalu sonta mangkas: “Campoi’…!!!”). Baju ah nya’, di adap, ada gamar urakng ngerenyeng. Di bawah gamar, ada tetulis nama urakng nang ngerenyeng nya’.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Nama ah si’ penek am. Saja setotak. Tapiii… piak kanan tana koma… rebbanalerrr… yang nama ah gelar, mada tawu nak madah gi’, Menyadik': betepe’-tepe’. Ada es-ha, es-e, es-sos, es-pe, es-pede, es-age, es-te dan seteros ah sampai ke es-kampel. Nya’ baru totay gelar be-urup es, Menyadik'. Totay gelar be-urup em ada lagi’. Mulai dari em-ha, em-e, em-te, em-em dan seteros ah sampai ke gelar paling tingi’: em-pitaw.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;Di belakankng baju, ada gamar kotak-kotak, kotak-kotak nya’ be-isi’ numur-numur dangan nama-nama. Suti’ numur di kotak kiba’, bepasakng dangan suti’ nama di kotak kanan. Nama si ngerenyeng, upa-upa ah ditulis palikng luncit. Biar luncit, Menyadik', tapi urup ah palikng bosar. Di kotak kiba’ nama enya, numur ah dicoret dangan tana contekng. (Contekng kah contReng, no’? Ah, apai ji Om am kah. Enti’ ji Om contreng, ji kami’ sihhh…contekng…)&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;Awu’ am Om, eh, Menyadik'. Saja bonar bin tepat binti mada ngelipar, pekira’ Menyadik'. Sentuwa ngerenyeng di baju Umak Alui nya’, jeman pilih memilih tih, ngelaba’ diri’ ah jadi wakel rakeyat. Tepilih jopmh? Awuk-awuklah…masa’ awuk-awuk dong. Berkat apai? Upa cereta si Lebe’ Bembeng, berkat napser tidu’ Pak Alui. Nah, baju nang dipakai Umak Alui nya’ adalah tana terima kasih. Ganal-ganal suti’ nya’ ja’ em petana. Lain mada. Kenyenyaman dudok di kuresi wakel rakeyat, lupa’ ah dangan Pak Alui. Lupa’ ah dangan rakeyat nang bededorupmh nyontekng nama enya. Masih kasa Pak Su Sila Bembeng. Selain&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;mori’ tiga iku’ kamikng ke Pak Alui, masih malar begaul dan ngorah masyarakat&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;– mulai dari Pak Migu’, Long Toyat, Omok Jenah, Ci’ Mamot, Ngah Loren, Uju Asmara sampai ke Ocel Kan, poko’ah&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;semua-semua urakng nang luas dan dalam pemiker, serota awas dan angas gala kelaku kerja’ – bepaham dan bepolah kay ngemaju kampokng.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;Padahal Umak Alui, pas si Ngerenyeng tepilih, amu’ ati ah na’ bole’ makai baju mirah kangah pebori’ sentuwa nya’. Amper ja’ am dipajak ah dalam peti bosi di atas para’, si’ jadi barakng pesaka kay anak ucuk. Atau paling ajopmh, dipasak ke dininkng ruang tamu: kay nangkal gala antu jolu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;Pi Umak Alui kala’ ninga, si Ngerenyeng nya’ madah: “Kula tu’ mesi’ penawu kay jadi wakel mewakel. Saja beniat na’ nginser burik ja’ em bah…” Selain nya’, Umak Alui entawu, si Ngerenyeng nya’ saja berubah tabeat ah sejak jadi wakel. Lupa temunik dikubur di putnh tebodak. Lupa’ ngemaju daerah diri’ ah. Penawu ah koti notak gala anggaran pembangunan, besimat kiba’ kanan enti’ ada proyek, medo sampai nito’ pala’ urakng nang protes. Rumah ah kalah-kalah estana tuan Takur di pelam-pelam India.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;Anak-anak ah sekolah, mesi’ nang di kamat situ’. Nun an kamat jawa Melaka. Siku’ anak ah malah sekolah di luar negeri, di kutub utara. Kalau ajopmh salah, sekolah penajuran enternasional.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Bini ah, kalah-kalah artis holiwut. Tiap ari ke salon. Mulai dari notak ramut, krimbet, pesyel, pedikur, medikur, botok, sampai minta’ pala’ ah di catok. Belanya, tobat haram ah kamat sentral atau pasar senggol. Paling hina bagi enya, belanja di Megamol pentanak nun an. Tiap mingu peleser belanya ke singapur. Domam sikik atau hanya bebadal kona’ kotup soputnh, berobat ke kucing melesia. Masih di kampokng mari’ tih, besapa laki bini apak umak ja’ em. Tu’…&lt;em&gt; tepapa-papa…temama-mama… papa nggak pulang beibe…&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;Entawu piya’, ngangat ati Umak Alui. Amu’ ati ngeramatnh baju kampanye, aher ah di pakai ah jadi poca’ baju pemogi ja’ em. Kala’ Alui mawa’ pulang lima uti’ bendera partai sentuwa ngerenyeng nyak. Niat Alui kay molah kumu’ atau sarong bantal. Tapi Umak Alui nang masih ngangat, empu’ rencana nang lobih mulia. Semua bendera nya’ di polah ah jadi poca’ pengurapmh. Ennn… ngajar ah, no’?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;Jadi piya’ em tih, Menyadik'. Umak Alui kalau dah ngangat, aneh menganeh kelaku ah. Maka ajom heran gala nebiak engkabur ngeliat enya bediri di pala’ tanga’ kenamikng. Entik’ Menyadik' masih ingat pelam nebiak yang dipolah jepang mari’ tih, urakng&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;jagor benama MEGALOMAN, nang kibas ramut ah tawu jadi api, molah salokng gala monster, kurang lobih piya’ em angar ah baka umakng Umak Alui di mata nebiak nang engkabur nya’. Kosal&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;bedabal ati megaloman mantau monster tidu’ di lantinkng jamatnh. Eh, maksud kula, kosal bedabal Umak Alui alui mantau Pak Alui nang tetidu’ di jamatnh. Ajomkah tadi’, piker Umak Alui, laki kuh nya’ ku minta’ rela moli se-hap bences antokng toke Amiau? Ngapai tau jadi tidu’ di jamatnh? Ngokap amikngh lagi’… dah ga’ penda ilakng lonyap kopa’ nalaw dabalyubus, ati ah menjadi ngangat ngeliat laki ah tidu’ ajom moli bences, tu’ makin parah, ati ah manas gosa’ Pak Alui tidu’ samel ngokap amikngh. Dada ah terasa ponuh ai’ engkurak. Ati ah ngemuru. Pantas… dah beberopai lama’ tuk Pak Alui ajom upa mari’-mari’ tih.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;Mari’, sikik-sikik, tecinta-cinta…&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;tekasih-kasih… tesayang-sayang… dangan enya. Enti’ enya meraju’, Pak Alui segera moli kuyum podas. Enti’ enya nangis, mada dudi Pak Alui ngipok dengan beribu bejuta cara, mulai dari ngamik beropai uti’ anok sampai dangan nantay ai’ mata ah ke dalam derom. Enti’ enya corat nonton pelam, sangup Pak Alui bekayoh mudik ke Sangau. Nonton pelam di gedokng Theatre Daranante. (Sekadar pemadahan, sekitar tautnh lapatnh puluhan, gedokng Theatre Daranante nya’ dirubuh. Tu’, antokng nya’ dah berubah menjadi pujasera).&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Enti’ enya kona’ ensibatnh, segera Pak Alui nyungkik ah, mori’ obat merah, molah pereban, ngelo enya ke penidu’, beari-ari ngawan enya di penidu’ samel begesah, bekuti’, ngipas… nyuap ah enti’ enya corat makan. Mori’ minum enti’ enya aus. Padahal ajom ga’ parah upa koti ensibatnh ah nya’. Tapi kasih sayang Pak Alui saja ponuh melumpi’. Tap kini tu’…dah loju’ kah sampai-sampai harus selingkuh? Tapi nang molah ati Umak Alui asa te-iris, Pak Alui ajopm selingkuh dangan jeloma. Tapi dangan amikng!!! Sampai ati laki ah upa piya’. Mada sebela diri’ ah harus dibanikng-banikng dangan amikng yang ajom tawu apai awai nya’, ajom tawu engketek engkobut…&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;Jadi piya’ em tih Menyadik'. Dangan perasa mada tontu rudu, Umak Alui nurutnh tanga’ kenamikng. Belubah. Suti’ demi suti’…&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;NUTUP: &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;Sepiya’ ja’ em dolu’, Menyadik'. Kelanyut&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“tubikontinyut” ah masih diketak-ketek. Kula minta’ maap dan minta’ ampun gosa’ agak lat ngirum gesah nang tu’. Bukan apai, gosa’ kula lagi’ molah tapai. Eh, gosa’ kula sibuk (yarab! Sibuk? Capede…) ngerintu gala pengidup di pelaman.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;Dan lagi’-lagi’ soal sinyal, tu’ kula ouw-el dari pucok keloweh. Sinyal ah ‘sayup-sayup tak sampai’. Kula nerai ngirum gesah tu’. Upa nang udah-udah, ajom setogal. Piak ga’ enti’ ada menyadi’ nang mada kona tigu’ (Kona’ jom tarjamah “tagged” menjadi tigu’?), mohon bayah murka bayah meraju’. Kula mesik kuyum podas kay ngipok. Kesalahan tidak pada layar televisi anda. Kesalahan ada pada pucok keloweh.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;POSANTH MORAL:&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;Aminkgh, sebagai asel karya cipta gala leluhur kita, dirancang kay naroh gala babatnh borat enti’ bejalan jauh. Istilah jeman tu’, tas bekpeker. Jadi, ajom kalah dangan leluhur urakng-urakng barat. Sida’ boleh ke bulan, tapi tawu jopmh sida’ ah be-anyam? Hik2… jadi, bayah nukar pungsi amikngh nang dielo menjadi bahan pengokapan. Posanth moral yang nyata: “Amikngh bisa merusak rumah tangga.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;(Emhhh… inang-inang, rumah tanga’ gala artis ditipi nya’ rorak empaday aminkngh? Ba’ Menyadik' nanya dangan KD…)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6440136158266312576-1241465832797433657?l=amrinzr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://amrinzr.blogspot.com/2010/04/kesah-kesah-bebasa-sangau-pak-alui.html</link><author>noreply@blogger.com (amrin)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6440136158266312576.post-7453145532032265440</guid><pubDate>Sat, 10 Apr 2010 01:43:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-04-10T08:43:48.811+07:00</atom:updated><title>MONOLOG: RECHT</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(Seorang pria setengah baya duduk di sebuah sofa. Kaki kanannya ditumpangkan pada lutut kiri. Sepatu kanannya yang hitam mengkilat, sesekali bergoyang. Tangan kirinya dibentangkan pada punggung sofa. Tangan kanannya memegang telepon selular keluaran terbaru vendor terkenal, dengan jempol yang sesekali tampak memencet tombol. Wajahnya yang simpatik berkali-kali tersenyum puas).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalau sudah begini, siapa yang tidak akan bangga…siapa yang tidak akan bahagia…coba lihat ini (membaca SMS dengan lantang dan penuh keharuan): “Boss, kami sekeluarga mengucapkan trima kasih yang sebesar-besarnya atas pertolongan Boss. Berkat pertolongan Boss, anak kami yang tertua sekarang telah menjadi aparat. Meskipun bertugas di pelosok, berkat petuah-petuah bijak dari Boss, anak kami belum lama ini telah membuatkan untuk kami sebuah rumah baru. Sekali lagi, Boss, tanpa pernah merasa lelah, kami ucapkan terima kasih.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Saya masih ingat betul bagaimana si Bapak ini bersama anaknya datang ke sini pertama kali. Sebagaimana kebanyakan orang yang datang menemui saya untuk keperluan serupa, raut muka mereka menunjukkan harapan dan kesungguhan. Sebagai orang yang dididik menurut kaiah-kaidah agama dan adab ketimuran, tentu, hati saya tergerak menolong. Apalagi, ada satu hal unik yang membedakan si Bapak dan anaknya ini dengan tamu-tamu saya yang lain. Si Bapak dan anaknya ini, masing-masing memikul sebuah tempayan besar. Luar biasa semangat mereka. Hati saya semakin terenyuh ketika sang Bapak menjelaskan perihal tempayan yang mereka bawa itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
“Boss, dua tempayan ini warisan leluhur. Telah beberapa generasi keluarga besar kami menjaganya. Sebagaimana amanat moyang, kami tidak boleh menjual atau memberi tempayan ini pada pihak lain, kecuali keadaan terdesak, terutama menyangkut keselamatan dan masa depan kaum kami.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Saya terenyuh. Sungguh-sungguh terenyuh. Betapa tidak, tempayan yang memiliki arti penting bagi keluarga besar dan kaumnya, mereka berikan kepada saya, dengan harapan saya dapat menolong agar anaknya dapat jadi aparat. Sebenarnya, dalam urusan seperti ini, saya lebih suka ‘mentahnya’ saja. Tapi, mereka memaksa. Mereka kemudian menyatakan sekiranya satu orang saja dari keluarga besarnya ada yang berhasil menjadi aparat, jelas membawa perubahan besar bagi kaumnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
“Setiap hari, sejengkal demi sejengkal tanah dan hutan kami digerogoti. Baik oleh pertambangan, loging, maupun oleh perkebunan-perkebunan. Tujuan semulanya memang untuk menyejahterakan masyarakat. Tapi kenyataannya, yang untung, yang sejahtera hanya segelintir orang. Apakah segelintir orang ini dapat memberi manfaat bagi kebanyakan orang? Mmhhh…yang terjadi adalah kami harus menjadi budak di tanah kami sendiri.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Sang Bapak melanjutkan cerita tentang perjuangan mereka menemui pihak-pihak terkait. Ternyata, mereka hanya menerima janji-janji kosong. Ketika mereka menuntut…(Si Boss mengepalkan tangan, berdemonstrasi. Meneriakkan berulang-ulang: “Kami menuntut janji saudara-saudara!!!)… mereka dibenturkan dengan barisan aparat, dengan dalih bahwa apa mereka perjuangkan dan bagaimana mereka berjuang adalah melanggar hukum. Dari situ pula mereka menyadari bahwa pososi tawar mereka lemah. Mereka hanya dianggap penduduk lokal yang masih terbelakang dan tidak mengerti hukum. Jadi, mereka menyimpulkan bahwa salah satu cara yang masuk akal adalah orang mereka harus ada yang menjadi aparat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Selain itu, jika ada satu orang saja orang mereka yang bisa menjadi aparat, tentu akan semakin sedikit pelajar-pelajar yang berhenti atau tidak melanjutkan sekolah. Sebab, selama ini, orang-orang mereka tidak ada yang menjadi panutan untuk menunjukkan arti penting sekolah. Bahkan tidak sedikit orang-orang tua yang berpandangan: “Sekolah tinggi-tinggi pun kelaknya akan menginjak-injak kepala kita.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Ternyata, usaha mencapai rencana tersebut tidak mudah. Tahun lalu saja, ada lima pemuda mereka yang mendaftar. Dua pemuda gagal pada tes-tes awal. Tiga pemuda melanjutkan dan…gagal di tes akhir. Anehnya, alasan kegagalan ketiga pemuda itu sama, yaitu mata mereka menderita semacan gangguan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Awalnya sanak keluarga menerima alasan itu. Namun di kemudian hari, ada orang yang membisiki bahwa alasan apapun yang digunakan untuk menggagalkan seseorang pada tes akhir, termasuk alasan kesehatan mata, sesungguhnya adalah omong kosong. Karena sesungguhnya alasan adalah…(Si Boss membuat isyarat dengan tangan kirinya, menggesekkan jempol pada telunjuk).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Lantas si Bapak bercerita bahwa orang yang membisiki mereka merekomendasikan seseorang yang bisa membantu, yaitu…saya. Tapi saya tidak mau langsung membantu begitu saja. Saya harus waspada, harus jaga-jaga. Maklum jaman sekarang, tidak seperti dulu lagi. Saya tidak ingin seperti beberapa kolega. Karena terlalu mudah percaya, terlalu mudah menolong, niat yang semula mulia untuk menolong sesama manusia, justru berakhir malapetaka. Beberapa kolega terpaksa harus masuk penjara. Namun lebih banyak lagi kolega, yang meskipun tidak masuk dalam penjara, pun tetap merugi. Menghabiskan banyak biaya agar tidak di-meja-hijau-kan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Jadi, mula-mula, saya harus tahu terlebih dulu identitas orang yang merekomendasikan saya. Maklum, untuk urusan seperti ini, syarat utamanya adalah kepercayaan. Meskipun sang Bapak menyebut sebuah nama yang saya kenal, saya tanya lagi detail lainnya. Apakah orangnya tinggi atau pendek? Gemuk atau kurus? Apakah dia punya tahi lalat di wajahnya? Letak persisnya di mana? Dekat hidung atau dekat bibir? Rambutnya? Caranya berjalan? Cara dia duduk? Cara dia bicara?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Singkat cerita, setelah yakin bahwa orang yang dimaksud adalah kawan baik saat saya bertugas di daerah, saya menelponnya. Memastikan. Ternyata benar. Hanya saja secara berguarau saya utarakan kekecewaan, kenapa dia tidak turut mengantar si Bapak dan anaknya ini. Atau paling tidak, menyertakan semacam surat pengantar.&lt;br /&gt;
Tapi kawan baik saya itu menjawab bahwa dirinya sedang menangani sebuah kasus yang…sensitif. Maksudnya melibatkan orang-orang penting di sana. Sehingga ia benar-benar minta maaf tidak bisa mengantar mereka dan menelpon saya. Tentang surat pernyataan, kawan baik saya itu berseloroh: “Surat pengantar? Waduh, Boss. Jangan-jangan akan menjadi bukti kasus sensitif untuk kita berdua…”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Kemudian, ia juga mengharapkan agar saya sungguh-sungguh menolong si Bapak dan anaknya itu. Karena menurutnya, si Bapak itu pernah menyelamatkan nyawanya dalam suatu peristiwa. Ia juga mengatakan bahwa tempayan yang mereka bawa itu bukan barang biasa. Agar saya yakin, ia menyarankan saya menghubungi seseorang, kawan kami juga, yang sangat paham tentang baran-barang antik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Demikianlah, selesai menelpon, saya berbincang lagi dengan si Bapak dan anaknya. Saya periksa nilai-nilai ijazahnya. Saya perhatikan benar-benar raut muka dan postur anaknya. Setelah itu saya menyilakan mereka istirahat di kamar tidur tamu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Setelah yakin mereka istirahat karena perjalanan jauh yang melelahkan, sebagai warga negara yang baik, saya menelpon ketua RT. Saya lapor ada keluarga yang datang dan menginap. Kemudian, saya menghubungi kawan yang benar-benar paham barang-barang antik. Di luar dugaan, dia sangat anusias. Langsung datang malam itu juga. Tepatnya menjelang tengah malam. Begitu saya tunjukkan dua tempayan itu, saya sendiri sampai terheran-heran melihat reaksinya.&lt;br /&gt;
(Dengan tangan seolah memegang kaca pembesar, si Boss meneliti dengan saksama dua tempayan yang juga seolah-olah ada di ruangan itu).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
“Luar biasa…! Luar biasa…! Ini barang, dicari-cari banyak orang. Luar biasa…! Boss…Boss sungguh beruntung. Jangankan menjadi pemiliknya, menjadi perantara saja, Boss sudah dapat untung besar.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
“Kok bisa?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
“Dua tempayan ini memiliki nilai sejarah tinggi. Dulu, ketika terjadi kontak pertama perdagangan antara saudagar-saudagar China dengan penduduk pribumi, barang-barang inilah yang menjadi komoditas mereka.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
“Ini asli?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
“Percayalah, Boss. Sebagimana yang Boss ketahui, bisnis ini adalah bisnis turun temurun keluarga saya. Bahkan saya sudah terlibat bisnis ini sejak masih dalam kandungan ibu.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
“Tempayan ini benar-benar dicari banyak orang?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
“Sebentar, Boss. Itu tergantung pengertian Boss tentang apa yang dimaksud dengan ‘banyak orang’. Kalau yang dimaksud adalah mereka-mereka yang mengerti dan suka mengoleksi barang-barang antik seperti ini, jelas, rata-rata mereka memburunya. Tapi kalau yang dimaksud adalah keseluruhan orang di dunia, di Indonesia atau keseluruhan orang di propinsi ini, hehe…tentu saja banyak orang yang tidak tahu.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
“Kok?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
“Yeah…maklum sajalah, Boss, bagaimana pengajaran sejarah di negara kita. Anak-anak kita lebih paham sejarah luar negeri dan sejarah di pulau Jawa ketimbang sejarah di tempat sendiri.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
“Edi Soed, Rahmat Kartolo?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
“Kita ambil contoh. Anak-anak kita diajarkan di sekolahnya tentang peradaban Mesir, Mesopotamia, Persia, Inca dan lain sebagainya. Begitu pula tentang Sriwijaya, Majapahit, Mataram, Pajang, Banten dan lain-lain. Tapi apakah mereka tahu tentang kerajaan Tanjungpura, Matan, Sukadana dan kerajaan-kerajaan lain di Kalimantan Barat ini? Apakah mereka tahu bahwa di tanah ini pernah lahir sebuah republik sebelum Republik Indonesia diproklamirkan, bahkan sebelum Amerika Serikat menyatakan kemerdekaan? Apakah mereka juga diajarkan bahwa propinsi ini dulunya pernah menyandang predikat Daerah Istimewa? Apakah mereka juga dijelaskan bahwa pencabutan predikat pada waktu itu adalah akibat konstelasi elit politik di Pusat sana?… Yang tahu sedikit, Boss. Sedikit sekali…Boss, kalau boleh tanya pendapat, menurut Boss apa penyebabnya?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
“Mungkin…karena…orang kita yang menjadi sejarawan masih sedikit…”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
“Setuju! Dan saya pun setuju dengan istilah yang Boss gunakan: ‘masih sedikit’. Setidaknya cukup sopan bagi orang timur seperti kita, untuk menyebut keadaan yang sebenarnya, yaitu: ‘tidak ada!’….Huahaha…”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
(Masih dengan sisa kekehan, si Boss kembali ke sofa).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Saya jadi terobsesi menguliahkan anak nomor dua saya ke jurusan sejarah di pulau Jawa. Celakanya, masih di semester-semester awal, anak saya itu bergaul rapat dengan mahasiswa-mahasiswa aktivis. Maksud saya yang semula agar ia menyelidiki dan menduniakan kesejarahan di tanah ini…ee…tahunya saya yang ia kuliahi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
“Pak, sebaiknya Bapak berhenti membantu orang yang ingin jadi aparat. Sebab, Bapak akan menjadi bagian dari sistem yang bikin kropos negeri ini. Kita harus belajar dari sejarah, Pak. Kenapa Belanda yang sudah tiga setengah abad menjajah kita, ketika diserang Jepang, aparatnya terbirit-birit lari ke ketiak ibunya? Kondisi terkini negara kita, kurang lebih sama dengan keadaan Belanda waktu itu. Warga yang ingin menjadi aparat, bukan karena fungsi, tapi karena statusnya. Akibatnya, segala cara ditempuh demi mencapainya. Yang bikin saya sedih, orang tua saya terlibat secara aktif dalam jaringan itu.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
“Lantas maumu?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
“Bapak berhenti membantu orang-orang itu.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
“Lha…untuk biaya kuliahmu saja dari situ?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, saya berhenti kuliah.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
“Yakin? Apa fasilitasmu di sana kurang? Kamu ingin mobil?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
“Tidak, Pak. Saya tidak mau kuliah saya di biayai dari usaha yang merongrong keutuhan negara yang saya cintai ini!”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
(Air muka si Boss kembali berombak.)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Ada benarnya juga kalau ada orang yang bilang menyekolahkan anak tinggi-tinggi pun akhirnya akan melangkahi kepala kita. Tidak usah jauh-jauh. Anak saya sendiri contohnya. Tapi saya tidak bisa memarahinya. Sebab, satu malam sebelum ia turun demonstrasi, saya sempat menelponnya: “Apa kamu pikir kamu sudah hebat jadi aktivis? Jadi demonstran? Bukankah kalau bukan karena aku, bapakmu ini, yang membiayai kuliahmu, sesungguhnya kamu hanyalah seorang pengangguran?!”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Keesokan harinya, saat demonstrasi ia tertembak. Dan sampai sekarang, aparat tak sanggup mengungkapnya…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
(Si Boss kembali duduk di sofa dengan muka keruh. Memainkan tuts ponselnya secara tak menentu. Lampu fade out.)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
-oOo-&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Kota Hantu, Juli 2007&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Catatan:&lt;br /&gt;
- Recht dalam bahasa Belanda berarti Hukum.&lt;br /&gt;
- Atas saran beberapa sahabat, petunjuk panggung diminimalisir dan deskripsi diperluas dengan tujuan agar memudahkan pembacaan, baik oleh orang yang sudah paham maupun yang masih awam tentang teater.&lt;br /&gt;
- Lampu fade out adalah bagian dari teknik tata cahaya. Lampu berangsur meredup sampai gelap sama sekali.&lt;br /&gt;
- Jika ada pihak yang ingin mementaskan dan mengadakan penyesuaian pada beberapa bagian (yang bersifat teknis, tanpa mengurangi substansi tema), cukup konfirmasi kepada penulis via e-mail: amrin_zr@yahoo.co.id&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6440136158266312576-7453145532032265440?l=amrinzr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://amrinzr.blogspot.com/2010/04/monolog-recht.html</link><author>noreply@blogger.com (amrin)</author><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6440136158266312576.post-314871360613166666</guid><pubDate>Fri, 02 Apr 2010 10:57:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-04-02T17:57:52.253+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">PUISI</category><title>UTERA</title><description>"Cepatlah ke tempatku," telepon seorang sahabat.&lt;br /&gt;
"Ada apa?"&lt;br /&gt;
"Ini tentang ....(menyebut nama)..."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tercenung. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Hoi...bisa ke sini, kan?"&lt;br /&gt;
"Siap!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
oOo&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Kupikir, pertemuan ini akan seperti dua nuklei yang bertumbukan dan pasti menghasilkan reaksi berantai yang dahsyat, seperti fat boy yang meluluhlantakkan sebuah kota. Betapa tidak. Ini adalah pertemuan yang kuhindari sekaligus kurindukan setengah mati. Pertemuan dengan seseorang, yang namanya selalu ada pada setiap lembar diary, dari semua diaryku yang berjumlah lebih dari lima belas buah, ketika masa remaja. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak banyak berubah, secara fisik. Tetap cantik dan ramping. Meski ia mengakui: "Gini-gini dah 'turun mesin' dua kali..." Demikian pula dengan tatapannya, cara bicaranya, cara tertawanya, cara bercandanya...hanya saja, aku mengesan kuat, ada sesuatu yang over dosis...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6440136158266312576-314871360613166666?l=amrinzr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://amrinzr.blogspot.com/2010/02/utera.html</link><author>noreply@blogger.com (amrin)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6440136158266312576.post-7443395332940353343</guid><pubDate>Sun, 28 Feb 2010 08:14:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-02-28T15:24:46.000+07:00</atom:updated><title>HIBERNASI</title><description>Sahabat, konon, menjelang perayaan Cap Go Meh, cuaca memang sering hujan. Konon pula, itu lantaran semesta mengiringi turunnya Sang Naga dari Langit. Tapi sebentar, itu cuma konon. Saya bukan pakar kebudayaan. Jadi, kalau ada yang lebih paham, mohon klarifikasinya. &lt;br /&gt;Tapi yang jelas, musim hujan membuat  saya lebih sering hanya berada di rumah saja. Kebetulan pula, nyaris dua minggu lebih ini, tak masuk kerja. (He...tak masuk kerja diklaim "kebetulan"?!)&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tapi, meskipun sering berada di rumah, pekan-pekan lalu, saya mengadakan perjalanan jauh. Rute Sekadau-Sanggau-Ketapang, via jalan Trans Selatan Kalimantan. Wuihhh...diguyur hujan terus menerus...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6440136158266312576-7443395332940353343?l=amrinzr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://amrinzr.blogspot.com/2010/02/hibernasi.html</link><author>noreply@blogger.com (amrin)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6440136158266312576.post-4826060908618421332</guid><pubDate>Sat, 21 Feb 2009 05:07:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-04-02T10:41:06.492+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">ARTIKEL</category><title>Perjalanan ke Sepuk Laut 3</title><description>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;Oleh: Amrin Zuraidi Rawansyah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumat, 20 Februari 2009&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum membuka tas kecil, mengambil buku agenda dan pulpan, aku mengambil ponsel. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;No Service&lt;/span&gt;. Demikian tertera di layar ponsel. Angka-angka digital menunjukkan sekarang pukul 07.56 Wib. (Semoga guru-guru bahasa Indonesia-ku senang!)&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami berempat sudah di kapal klotok. Hendak kembali ke Pontianak. Aku dan Hamdan di atap, Eman dan Jaka di bawah. Angin cukup kencang. Muka air beriak tenang. Meski matahari tertutup sesusun mega kelabu, cahayanya masih sanggup membuat bayangan sebotol air minuman mineral ukuran 1500ml tampak memanjang. Demikian pula bayangan Hamdan yang duduk di depanku. Juga penumpang-penumpang lain. Sekelompok pemuda merintangi waktu dengan &lt;span class="fullpost"&gt;bermain gaplek. Ada beberapa penumpang yang duduk-duduk sendiri. Melamun menatap kejauhan. Barangkali menyusun rencana-rancana. Beberapa penumpang lain berdiri, berbincang, seraya saksama menatap arah utara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Muara sungai Sepuk Laut sudah tak terlihat. Kiri-kanan sungai (atau selat?) hijau oleh barisan rapi gerumbul nipah. Sesekali terselip bakau. Angin dari haluan membuat kepalaku dingin. Aku menarik nafas seraya mengusap ubun-ubun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ubun-ubunmu masih lembut, Nak,” kalimat itu terngiang begitu saja dalam sukma. Aku bengong. Dari siapa aku pernah mendengarnya? Kapan? Bagaimana peristiwanya kalimat itu bisa terekam dan sekarang diputar ulang? Untukku-kah? Mmmhhh...aku menggeleng tak mengerti. Kualihkan pikiranku pada sosok khas yang baru datan. Eman meloncat dari haluan. Dengan sarung kamera di pinggang kanannya, ia tempak gagah (atau menggagah-gagahkan diri? Menggagahi diri sendiri?)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tadi ngobrol di bawah, dengan Pak Sekdes,” ujar Eman. Aku manggut. Tadi kulihat Pak Sekdes memang naik ke klotok dan sempat aku memberi tabik hangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba aku teringat tadi malam. Bakda Isya, kami bertiga, zonder Jaka, berangkat ke rumah Pak Ismail. Di antara bincang-bincang, rupanya Pak Ismail memiliki rumah di Pontianak. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Adek nie tinggal di mane di Pontianak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebenarnye saye nie, kalau di Pontianak, nomaden Pak. Pindah-pindah. Tidok di rumah-rumah kawan. Tapi di Pontianak, secare resmi saye tinggal di tempat Abang saye.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Di mane tu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jeruju.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Gang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menjawab nama gang tempat Abangku berdomisisili. Tiba-tiba raut wajah Pak Kades yang simpatik itu, sumringah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi Abangmu yang pakai motor besak tu, ye?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hah? Aku terkaget-kaget. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kitak yang dari Sanggau tu, kan?” tanyanya lagi dengan nada yang tak memerlukan jawaban. Tiba-tiba Pak Kades memanggil istrinya. Istrinya keluar dari ruang dalam dengan membawa talam berisikan beberapa teh hangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau kenal ndak ngan orang nie?” tanya Pak Kades pada istrinya seraya mengarahkan pandangannya padaku. Bu Kades mengernyitkan dahi. Mengingat-ingat. Tapi tak menemukan sesuatu. Aku membantu dengan menyebut beberapa detail mengenai Abangku, kakak ipar dan si ponakan. Barulah Bu Kades mengangguk-angguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami diarahkan Pak Kades ke rumah Sekdes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekitar satu kilo dari sini. Setelah pe-el-en,” ujar seorang pemuda di teras rumah Pak Kades. Kami pun kemudian bergerak ke hulu. Siang saja harus berhati-hati karena kami belum terbiasa dengan jalan gertak, apalagi malam? Jadi kami bergerak tak terlalu cepat. Sembari menyapa penduduk, mohon permisi lewat dan berbagai ungkapan ketimuran lainnya, kami selalu diarahkan ke hulu, pokoknye setelah pe-el-en.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai kami berpapasan dengan dua penduduk. Kami jelaskan sedang menuju rumah Pak Agus, Sekdes Sepuk Laut. Ternyata orang yang kami tanya justru Pak Agus yang kami cari. Sambil jalan ke rumahnya kusampaikan preview maksud kedatangan kami. Pembicaraan dilanjutkan dengan lebih hangat di rumahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pak Sekdes Sepuk Laut masih muda. Sama atau malah lebih muda dariku. Energik. Belum menikah. Namun yang pertama dan terutama sekali, Pak Sekdes antusias dengan maksud kedatangan kami. Setelah data-data umum diperoleh (karena kami pra survey), kami undur diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Angin masih bertiup kencang. Kabut tipis tampak di semua arah. Mungkin akan kemarau. Aku tersentak. Aku juga punya kemarau di hatiku. Aku hentikan menulis. Memikirkan dengan saksama kecamuk diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6440136158266312576-4826060908618421332?l=amrinzr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://amrinzr.blogspot.com/2009/02/perjalanan-ke-sepuk-laut-3.html</link><author>noreply@blogger.com (amrin)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6440136158266312576.post-6476772203367893180</guid><pubDate>Sat, 21 Feb 2009 04:56:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-04-02T17:52:51.530+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">ARTIKEL</category><title>Perjalanan ke Sepuk Laut 2</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh: Amrin Zuraidi Rawansyah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Wah, maaf...jika kami mengganggu urusan negara,” ujarku saat di depan pintu rumah Pak Ismail. Seseorang dengan wajah yang menyiratkan kerasnya hati, tampak serius berbincang dengan Pak Kades. Di atas meja tampak beberapa berkas. Dari informasi warga, kami baru tahu ternyata Pak Kades sesungguhnya juga baru datang dari Pontianak, menumpang klotok yang sama dengan kami. Seingatku, orang berwajah keras itu pun teman seperjalanan. Aku mengingatnya, bukan cuma dikarenakan wajahnya yang keras tegas, tapi juga karena ia mengenakan jaket yang kurang lebih sama denganku. Juga sama mengenakan pin keemasan. Jika, aku memakai pin Burung Garuda Pancasila demi menghormati salah seorang Putra Terbaik Kalbar -- Sultan Hamid II yang merancang Lambang Negara, &lt;span class="fullpost"&gt;namun kemudian terdepak oleh konstelasi politik pusat --maka aku tak dapat melihat dengan jelas pin yang ia kenakan. Entah kenapa, saat kami bertiga masuk, pin itu pun tampak seolah ditutupinya.&lt;/span&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Setelah berbasa-basi, kami mengutarakan maksud kedatangan. Singkat cerita, orang nomor satu di Sepuk Laut menyambut baik kedatangan dan maksud kami. Mengingat target realistis yang hanya silaturahmi dan membuat janji pertemuan bakda isya malam nanti, maka kami pun segera mohon diri. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Meski tak lama, beberapa informasi penting kami dapatkan. Misalnya, sebuah PTS di Pontianak telah mengirim surat pada Camat dan memerlukan data penduduk dari setiap desa. Belum jelas apakah programnya akan sama dengan kami. Nanti kami akan gali informasi lebih dalam lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Dari rumah Pak Ismail, kami kembali ke arah Pospol/Kamla. Sebelum pasar, kami tercenung melihat sebuah poster caleg. Orang berwajah keras yang kami temui tadi, ternyata caleg dari sebuah partai baru. Partai yang lumayan banyak memasang umbul-umbul di sepanjan jalan. Sebelum sampai pasar (tempat kami singgah pertama kali), kami sempat ambil pict di plang nama kantor desa. Sampai tikungan gertak, di mana terdapat bangunan Pospol/Kamla dan bangunan Babinsa, kami bertemu sesorang yang saat di klotok tadi kami ketahui merupakan kawan lama Jaka. Akhirnya, dengan diantar orang itu, kami menuju rumah keluarga Jaka, yang kemudian kami ketahui dipanggil dengan nama Mak Long.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Saat suasana mulai gelap, aku mandi dengan meminjam kain basahan keluarga Jaka. Setelah aku, Jaka dan Eman mandi bareng.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; “Man, tustel di mane kau taro’?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; “Dalam tas, Bang-e...” jawab Eman sambil mulai mengguyur badannya dengan air sungai. Byurrrr....Ya, sebelumnya pun aku juga mandi dengan menggunakan gayung. Ingin berenang, air sungai sedang cetek.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; “Boleh Abang ambil, ndak, Man?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; “Sile, Bang-e...”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Byurrrr....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; “Ade ndak barang-barang haram di tas kau nie, Man?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; “Tadaklah, Bang-e’”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Byurrrr...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Aku mengajak Jaka mengambil tustel Ben-Q, yang sesungguhnya merupakan pinjaman dari Pak Hendra, salah satu dosen di kampus. Meski keheranan, Jaka ikut juga dengan kerjaku. Setelah menekan tombol on pada tustel, belalai fokus tustel membuka diri. Kubisikkan sesuatu pada Jaka. Jaka mengangguk penuh semangat. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; “Cammane nyetel kalau nak ngambek gambar malam, Man?” tanyaku serius sambil mendekati tekape. Mereka berdua pun serius mandi. Belum mengendus rencana muliaku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Eman menjelaskan prosedur. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Byurrr....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Aku mendekat....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Byurrr...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Lebih dekat....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Byurrrrr....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; dekat.....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Byurrrr....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; dan....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Klik!!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Kilatan blitz bagai petir membungkam kesadaran mereka. Mereka gaduh. Minta pict dihapus. Tapi...setelah kuambil beberapa pict lagi, mereka mulai terbiasa. Lantas kujelaskan rencana muliaku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; “Beginek Man, juga’ kau Ndan. Abang punye niat mulie. Abang benar-benar mengharapkan kitek beduak maok memenohinye. Abang ndak banyak pintak dengan kitak kan selamak nie, kan? Jadi, semoge, hati kitak beduak tegerak memenohi niat mulie Abang. Cammane? Tulonglah....same siape lagik Abang mengharapkan bantuan. Ndak mungken same Pak Mude Obama. Sebab, Pak Mude tu sedang sibuk biken ladang di tanah Palestin,” ujarku dengan muka memelas, seolah orang yang telah tiga hari berturut tak makan di restoran.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Mereka mengangguk. Lembut. Menenangakan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; “Makaseh yang sebesak-besaknye Abang sampaikan buwat kitak beduak yang telah tesentoh hatinye membela orang-orang yang memerlukan bantuan. Orang-orang semacam kitak nielah yang harosnye jadi pemimpin bangse Borneo. Bukan macam pemimpin-pemimpin yang ade selamak nie, yang mengidap saket parah, yakni suke lupa ingatan. Mereke-mereke tu baru ingat ngan rakyetnye setiap limak taon sekali.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; “Betol, Bang,” sambut Eman dengan memposisikan gagang gayung sebagai microphone.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; “Dan ketahuilah wahai anak-anak mude, calon penerus pemimpin bangse besar Borneo, adepun niat mulie Abang adalah.... nantik, kalau dah sampai di Pontianak, poto kitak beduak nie akan Abang cetak besak-besak. Kalau perlu sebesak baliho caleg kaye raye. Akan kite tarok di gedong UKM. Dengan tulesan besak di bawah gambar kitak: DUA PENGANTIN BARU SEDANG MANDI WAJIB...”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; ***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6440136158266312576-6476772203367893180?l=amrinzr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://amrinzr.blogspot.com/2009/02/perjalanan-ke-sepuk-laut-2.html</link><author>noreply@blogger.com (amrin)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6440136158266312576.post-1276231998736698705</guid><pubDate>Fri, 20 Feb 2009 13:16:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-04-02T17:53:55.990+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">ARTIKEL</category><title>Perjalanan ke Sepuk Laut</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;Oleh: Amrin Zuraidi Rawansyah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kamis, 19.02.09&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Steigher Sungai Kakap. Aku, Eman, Hamdan dan Jaka sudah berada di dalam kapal klotok. Beberapa penumpang, termasuk Jaka, tampak lelap.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Jam tiga kurang dua puluh menit,” jawab Eman, saat kutanyakan waktu. Eman tersenyum, membanggakan jam tangannya, sekaligus memamerkan senyumnya yang menawan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hamdan langsung menanggapi. Dulu, &lt;span class="fullpost"&gt;ketika masih SMA, ia dan kawan-kawan sekelasnya menjawab: “jam sepuluh kurang delapan menit.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; “Berarti min dua!” kata guru bahasa Indonesia mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Semilir angin menerobos lewat pintu dan jendela kapal klotok dengan leluasa. Menyegarkan. Soalnya, matahari awal kemarau, di luar sana, sedang melotot tajam. Setelah memperhatikan penumpang yang berjumlah sekitar duapuluhan, kuarahkan pandangan ke luar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Sebuah kapal klotok, berukuran sedikit lebih kecil, dengan kap bercat hijau daun, yang berada di samping klotok ini, bergoyang pelan. Air sungai kecoklatan, yang membawa lumpur dan jasad renik, berombak kecil. Beberapa klotok lain, bersandar di steigher seberang. Rumah-rumah, beratap daun, seng, terdiam seperti menunggu nasib. Pohon-pohon pisang, kelapa, menari-nari…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Grmhhhh…!!!.. Grmhhhh…!!!.. Grmhhhhhhhh…!!!..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Aku dan Hamdan terperanjat. Kami yang sedang ngobrol tentang kemungkinan Latihan Alam KSJL dan Diksar KSR, terpaksa memutus pembicaraan. Kemudian mengurut dada. Menoleh ke sekeliling. Kemudian saling pandang. Lantas sama-sama tersenyum. Soalnya, dari semua penumpang kapal, hanya kami berdua yang terkaget-kaget saat engine klotok dihidupkan secara otomat oleh driver di balik kemudi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Saat kapal hendak bertolak, kami mencari-cari sosok Eman. Tadi ia kami sarankan mengambil pict dari arah steigher. Dengan pict-pict tersebut, kami berharap akan memudahkan pelaporan tentang perjalanan survey pada Panitia Bina Desa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Hamdan menduga Eman berada di atas atap klotok. Aku menduga lain, jangan-jangan Eman telah menjadi bahan bakar engine. Kami bergerak ke atas atap klotok. Benar dugaan Hamdan. Bak fotografer National Geographic, Eman membidikkan kamera digital Ben-Q kemana-mana. Terbersit dalam benakku, jangan-jangan bukan mengambil pict untuk laporan tapi justru mengambil pict gadis-gadis yang banyak berdiri di steigher. Kita buktikan nanti!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Setelah sempat merunduk tatkala klotok melewati jembatan Kakap, sesi foto-foto dilanjutkan. Sekali ini, kami yang memang tidak berbakat jadi foto model berusaha tampil dengan eksyen terbaik. Tentu dengan style berbeda. Tentu dengan tujuan berbeda. Jika Hamdan terus terang mengatakan foto-foto ini nantinya akan ia masukkan ke FS-nya, maka aku berencana untuk Blog-ku. Eman? Entahlah. Mungkin untuk dibawanya ke dukun supaya mendapatkan ajian pengasihan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Klotok yang kami tumpangi perlahan meninggalkan Sungai Kakap. Membelah muara. Melewati beberapa Ambai dan Rompong yang sunyi, melukiskan perjuangan manusia mengatasi hidup. Pada awak kapal yang masih belia, Husin, kutanyakan tentang cara kerja masing-masing alat penangkap ikan tersebut. Saat menjelaskan Ambai, yang terbayang olehku saat jaring diangkat, bukanlah udang-udang segar, melainkan Eman yang sedang mengenakan celana boxer bajakan. Juga saat menjelaskan Rompong, bukan udang atau ikan yang berenang diarahkan susunan pagar, lagi-lagi Eman yang tergambar dalam benakku sedang berenang memakai google, memamerkan senyum khasnya yang menawan seraya melambaikan tangan, mengisyaratkan tanda minta di foto. (Duh, maafkan aku, Eman, atas bayangan-bayangan “indah” ini…)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Masih di Kamis, 19.02.09.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Aku, Eman dan Hamdan sedang duduk di ruang tamu rumah Mak Long-nya Jaka. Jaka, dalam perjalan ini menjadi guide bagi kami. Sekarang ia sedang temu kangen dengan sanak keluarganya di rumah-rumah sekitar sini. Ada empat gelas kopi. Ada rokok mild BI. Ada perasaan masih berada di kapal klotok. Terasa masih ada angin kencang menampar-nampar muka. Deru mesin masih terngiang di membran telinga. Demikian pula dengan getaran mesin dan ayunan badan klotok serasa masih membuntuti indera.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Sampai juga ke Sepuk Laut, pikirku. Beberapa pekan lalu, saat berbincang dengan Bang Harizan di kantin Wapres Taman Budaya, kami sempat membicarakan perkara asal-usul nama sebuah daerah. Termasuk membicarakan nama Sepuk Laut. Dari dulu aku sudah mendengar nama ini. Kuat sangkaanku, kata “Sepok” identik dengan pemahaman tentang fenomena manusia yang baru tahu tentang sesuatu. Saat berbincang dengan Bang Harizan, baru aku tahu, aku salah. Kata “Sepok” merujuk pada pengertian kondisi tanah yang khas pada daerah pesisir. Aku juga baru tahu, saat tadi melewati kantor desa, penulisan nama desa bukan menggunakan huruf “O”, tetapi “U”, sehingga yang benar adalah “Sepuk Laut”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Sambil membicarakan tentang kesan-kesan pertama saat tiba di sini, aku teruskan menulis. (Tapi, aouw…! Kopi dalam gelasku sudah habis!)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Tadi, kapal klotok memasuki muara Sungai Sepok Laut, ketika formasi jarum di jam tangan Eman menunjuk angka pukul lima kurang belasan menit. (Duh, maafkan aku guru-guru bahasa Indonesia-ku…). Hal pertama yang menarik minatku adalah kesan muaranya yang seolah menyembunyikan sesuatu energi besar. Malamnya aku baru tahu, menurut penuturan Pak Agustiansyah, Sekdes, Desa Sepok Laut memang pernah di teliti oleh sebuah perguruan tinggi dari Jawa (sana) untuk mengetahui kandungan gas bumi. Sepok Laut, diam-diam menyimpan potensi gas metana yang luar biasa. Hal kedua adalah bangunan Pekong yang tepat terletak di muara. Seolah menjadi benteng sekaligus bangunan yang simpatik mengucapkan kalimat “Selamat Datang”.  Berarti di sini banyak orang Tionghoa, pikirku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Dugaanku tak terlalu salah. Setelah melewati bangunan Kamla, klotok merapat pada sebuah bangunan yang kuduga merupakan tempat bongkar muat kapal-kapal nelayan. Jaka, mengisyaratkan untuk naik. Eman sibuk foto-foto.  Kalau tak diingatkan, mungkin ia akan terus saja jepret sana jepret sini. Kami, bersama beberapa penumpang lain, melompat dari atap klotok ke atap kapal nelayan. Setelah melewati tiga kapal nelayan, kami bak pemanjat dinding profesional, naik menuju bagian panggung tempat bongkar muat ikan. Maklum, memang tidak ada tangga. Apalagi kondisi sungai sedang pasang surut. Dengan nafas yang lumayan terengah (maklum jarang olah raga) kami beradaptasi dengan daratan. Eman sesekali tampak oleng. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Kapal klotok, yang didalamnya masih banyak penumpang, meneruskan perjalanan ke bagian hulu sungai. Kami bergerak menuju bangunan Pospol dan Kamla. Melapor diri dan maksud kedatangan. Kemudian, sementara Jaka menuju rumah keluarganya, kami mencari warkop untuk sekadar re-charge. Eman dan Hamdan yang memang bukan “kaki” warkop minum haus. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; “Dari kelas tige esde, warkop memang dah jadi kantor Abang,” jelasku pada Hamdan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; “Kalau Abang kite nie, Ndan, kopi pancong pon bise tahan duak tige jam,” imbuh Eman bak para pakar yang sering berdebat di televisi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Mengingat waktu, kami bertiga memutuskan pergi ke rumah Kades. Maksudnya hanya melapor diri, silaturahmi dan membuat janji pertemuan bakda Isya malam nanti. Rumah Pak Kades mudah di temukan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; “Setelah jembatan, ada toko bangunan. Nah, setelah itulah rumah Pak Ismail,” terang seorang bapak-bapak. “Ingat, ya, rumah Pak Ismail sebalah kanan,” lanjut bapak-bapak itu lagi. Entah kenapa bapak-bapak itu harus memberikan tambahan penjelasan. Padahal telah di ulangnya berkali-kali. Mungkin niat baiknya agar kami tidak lupa. Tapi aku curiga, beliau terpaksa menjelaskan ulang lantaran melihat Eman yang masih kebingungan mana timur mana barat, mana utara mana selatan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Jalan di Sepok Laut rupanya rupanya didominasi gertak (jembatan kayu). Kami bertiga berjalan dengan hati-hati. Pada banyak bagian kondisi gertak memang bagus. Bahkan bisa digunakan sebagai panggung dangdutan Kak Oma. Tapi banyak juga bagian gertak yang memperihatinkan. Harus dilewati dengan hati-hati jika tidak ingin tercebur. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Aku sependapat dengan ungkapan Pak Sekdes, Agustiansyah, saat kami bertamu malam harinya: “Sepok Laut selama ini di anak tirikan.” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; ***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6440136158266312576-1276231998736698705?l=amrinzr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://amrinzr.blogspot.com/2009/02/perjalanan-ke-sepuk-laut.html</link><author>noreply@blogger.com (amrin)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6440136158266312576.post-6312058169103498778</guid><pubDate>Sun, 08 Feb 2009 07:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-02-08T14:10:54.802+07:00</atom:updated><title>Check this out!</title><description>&lt;object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=9,0,0,0" height="350" width="300"&gt;&lt;param name="movie" value="http://bandtools.nabbr.com/bandtools/flash.php?bandId=498&amp;amp;playerId=498&amp;amp;autoPlay=0&amp;amp;affiliateId=24&amp;amp;instanceId=cb056787c4096d59fe52c38a24e01455&amp;amp;network=facebook"&gt;&lt;param name="wmode" value="transparent" /&gt;&lt;param name="allowScriptAccess" value="always"/&gt;&lt;param name="width" value="300"/&gt;&lt;param name="height" value="350"/&gt;&lt;embed src="http://bandtools.nabbr.com/bandtools/flash.php?bandId=498&amp;amp;playerId=498&amp;amp;autoPlay=0&amp;amp;affiliateId=24&amp;amp;instanceId=cb056787c4096d59fe52c38a24e01455&amp;amp;network=facebook" type="application/x-shockwave-flash" wmode="transparent" allowdomain="any" allowscriptaccess="always" height="350" width="300"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;br /&gt;&lt;style&gt;.nabbrstyle{text-decoration: none; color:#FF33CC;}.nabbrstyle:hover {color:#1887CF;}.nabbrstyle:visited{color:#999999;}&lt;/style&gt;&lt;br /&gt;       &lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;a href='http://u.nabbr.com/rf1F80g' class="nabbrstyle" target='_blank'&gt;Myspace Layouts&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6440136158266312576-6312058169103498778?l=amrinzr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://amrinzr.blogspot.com/2009/02/check-this-out.html</link><author>noreply@blogger.com (Syahenim Kojek)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6440136158266312576.post-7598136490302728973</guid><pubDate>Mon, 13 Oct 2008 10:55:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-10-24T14:27:32.944+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">CERPEN</category><title>APARAT</title><description>Oleh: Amrin. Z. R.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Awalnya, saat mendengar abangnya akan mendaftar menjadi anggota polisi, Anwar gembira bukan kepalang. Betapa tidak. Sekiranya nanti sang abang, Ahmad Dani, benar-benar menjadi polisi, tentu bukan hanya kebanggan bagi dirinya, Apak, Umak serta Aneng[1] saja, melainkan kebanggan juga bagi seluruh sanak-menyadik[2] di kampung. Baik itu sanak-menyadik dari kampung Apaknya berasal, yang berada di hulu ibukota kabupaten, maupun dari kampung Umaknya yang terletak di hilir.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanggan Anwar bukan tanpa alasan. Sebab, sejauh pengetahuannya, sebagaimana yang ia dapat dari Apak maupun paman-paman, belum satu orang pun keluarga besarnya ada yang menjadi polisi, aparat penegak hukum, manusia mulia penjaga ketertiban masyarakat. Bahkan, jangankan keluarga besarnya, untuk ukuran ibukota kabupaten, tempat mereka sekarang tinggal, penduduk asli yang menjadi polisi masih dapat dihitung dengan jari.&lt;br /&gt;Dulu, ditahun-tahun terakhirnya di Sekolah Dasar, Anwar pernah bertanya pada gurunya tentang fenomena tersebut. Kenapa sedikit sekali orang kita yang menjadi polisi? Menjadi tentara? Menjadi pejabat? Kenapa kebanyakan justru berasal dari luar pulau? Anwar masih ingat betul betapa hati-hatinya sang guru menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Inilah Nasionalisme!” kata sang guru. Ditambahkan pula penjelasan bahwa ada yang berhasil dalam kariernya, namun bertugas di wilayah lain Indonesia . Begitu pula dengan beliau-beliau yang bertugas di sini. Mereka adalah orang-orang terbaik dari wilayah lain Indonesia . Penempatan tugas seperti ini bertujuan untuk mempererat persatuan dan kesatuan bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana Anwar mendengarnya? Ia manggut-manggut. Meskipun dikemudian hari, tepatnya tahun lalu, ia mendengar penjelasan yang agak berbeda dari Cu[3] Taufik, adik bungsu Umaknya, ia tetap percaya pada penjelasan gurunya.&lt;br /&gt;Tahun lalu itu, saat ia masih kelas 1 SMA, Cu Taufik menjelaskan panjang lebar mengenai dominasi kebudayaan. Pamannya yang masih kuliah di tingkat akhir di ibukota propinsi, yang tas dan jaketnya ada gambar Che[4], bertanya: “Apakah ada jepin dan kondan [5]kita yang ditayangkan rutin oleh televisi nasional?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun pembicaraannya bersama sang paman tak sepenuhnya ia mengerti, apalagi penjelasan-penjelasan yang sarat istilah akademis, namun seiring berjalannya waktu, pelan-pelan ia menyadari bahwa untuk orang-orang sepertinya, seperti keluarganya, seperti orang-orang di kampungnya, di kotanya, di daerahnya, jika ingin menjadi polisi, tentara ataupun pejabat, tetaplah tidak mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berarti, apa yang disampaikan sang paman tidak sepenuhnya keliru bahwa di negeri yang konon gemah ripah loh jinawi ini, diam-diam telah terjadi dominasi kebudayaan.&lt;br /&gt;Namun hati kecilnya berontak. Indonesia yang aku tahu tidaklah seperti itu. Indonesia adalah Indonesia , negara yang memperkenankan siapa saja warganya menggapai cita-cita untuk berbakti dan mengabdi. Apakah untuk orang seperti aku, sebagaimana nenek yang menjadi tabib di kampun sana , tidak boleh menjadi dokter untuk Indonesia ? Apakah untuk orang seperti abangku, tidak boleh mewujudkan cita-citanya menjadi polisi? Apakah untuk orang seperti adik perempuanku, tidak boleh menjadi presiden? Apakah untuk orang seperti pamanku tidak boleh menjadi negarawan? Apakah untuk orang seperti Afuk, sahabatku, tidak boleh menjadi pegawai negeri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan demi pertanyaan yang beranak pinak dalam benaknya, menghantuinya saban malam setiap menjelang tidur. Jadi wajar, ketika tahu abangnya berkesempatan menggapai cita-cita yang sulit itu, ia seakan setengah gila karenanya. Pada sahabat-sahabatnya ia menceritakan dengan kebanggaan yang membuncah di dada. Sahabat-sahabatnya setuju bahwa abangnya memang layak menjadi polisi. Sudah postur tubuhnya atletis (beda dengan dirinya yang agak kerempeng), pintar lagi. Sahabat-sahabatnya kerap meminta bantuan abangnya menyelesaikan tugas-tugas sekolah yang rumit, baik eksak maupun noneksak. Bahkan ia tahu, diam-diam banyak kawan sekolahnya, terutama yang perempuan, mengidolakan abangnya. Sebagai adik, ia kecipratan keberuntungan. Begini, hampir setiap hari ia ditraktir fans-fans abangnya itu. Tugasnya sederhana. Menjawab pertanyaan mereka seputar sang abang. Apakah masih jomblo? Bagaimana sih kepribadiannya? Kalau di rumah bagaimana sih orangnya? Cewek seperti apa yang diidamkannya? Apakah di antara mereka ada yang memenuhi syarat? De el el sampai perkara remeh-temeh pun ditanyakan. Misalnya apakah abangnya kalau tidur memakai kaus kaki?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada guru-gurunya pun ia ceritakan. Tentu sebatas pemberitahuan. Semua guru, kecuali guru baru, masih mengenal abangnya. Dan beliau-beliau sangat mendukung serta turut menyemangati. Soalnya saat abangnya masih bersekolah di situ,  ia adalah sedikit di antara siswa yang berprestasi dan mampu mengharumkan nama sekolah.&lt;br /&gt;Pada sang paman, Cu Taufik, ia tambahkan penjelasan tentang Indonesia yang kini berubah, tidak lagi sentralistik tapi otonomi daerah. Pengetahuan ini jelas ia dapat dari bangku sekolah serta berkat membaca koran dan menonton berita di televisi. Tapi sang paman malah nyengir. Otonomi? Ini namanya otonomi setengah hati. Dan tahukah kau bahwa propinsi kita ini dulunya menyandang status istimewa? Kenapa status itu dicabut? Apakah hal ini dipelajari di sekolahmu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasanya, saat bicara dengan pamannya, ia kerap penasaran. Menggelitik rasa ingin tahunya. Pada akhirnya sang paman mendoakan, semoga ponakannya yang tertua, Ahmad Dani, menjadi aparat negara tidak dengan cara-cara yang tidak benar. Dengan menyogok misalnya. Karena menurut pandangan pamannya, negara Indonesia yang sesungguhnya berpotensi menjadi negara besar, tapi tetap tidak bisa seperti sekarang, salah satu penyebabnya adalah kebiasaan menyogok itu. Bayangkan, Anwar, kata pamannya. Semisalnya engkau atau siapapun warga negara ini yang hendak menjadi abdi negara, untuk dapat mencapai posisi itu harus menempuh jalan menyogok, yang tentunya bukan cuma sejuta dua juta, ketika pun pada akhirnya ketika diterima, tidak dapat total menjalankan profesionalisme, melainkan dihabiskan dengan pikiran bagaimana caranya mengembalikan investasi sogokan itu. Ini sudah menjadi rahasia umum, Anwar, kata pamannya lagi. Namun apa yang akan terjadi, jika seluruh masyarakat memaklumi saja dan menganggapnya sebagai kewajaran hidup? Akan jadi apa Indonesia kita?  Jika terus begini, sejak sekarang kita dapat menghitung dengan jari berapa lama lagi umur negeri yang kita cintai ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengerikan juga pandangan pamannya itu. Tapi benar. Sekiranya keadaan belum berubah, Indonesia akan rapuh. Mudah dihancurkan dari luar maupun dari dalam. Namun Anwar meyakini, dirinya, keluarganya bukan orang-orang yang seperti itu, yang hanya mementingkan diri sendiri. Sebab ia tahu, Apaknya adalah orang yang taat beragama, jujur dan keras hati. Tentu tidak akan menempuh jalan seperti itu, semata agar anaknya bisa menjadi polisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-oOo-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sekarang, hari ini, saat diadakan syukuran atas pelantikan sang abang, dirinya tak lagi sebangga dulu. Keluarga, tetangga dan kenalan yang ramai datang ke rumahnya hanya ia sambut dengan senyum tenang. Padahal hatinya bergemuruh. Ia tidak pernah menceritakan dengan siapapun perkara prahara dalam benaknya. Termasuk pada pacarnya, Tyana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama berbulan-bulan, semenjak keluarganya sibuk dengan urusan pendaftaran sampai pada masa-masa abangnya menjalani pendidikan, ia menyimpan kecamuk itu hati-hati dalam hati. Rapat-rapat. Untuknya sendiri. Ia tidak ingin satu orang pun di dunia ini tahu, bahwa salah seorang paman jauhnya, sepupu Umak, beberapa kali secara diam-diam mendatangi Apaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya tidak ada yang salah dengan kedatangan paman jauhnya itu. Baik sesekali ataupun sering-sering, tak masalah. Namanya saja keluarga. Namun yang membuat Anwar risau, perlakuan yang ia terima dari Apak, Umak dan Abangnya ketika ia bertanya tentang maksud kedatangan pamannya yang berbadan kurus itu. Tidak ada yang mau memberikan penjelasan gamblang. Semuanya terkesan menutup-nutupi. Padahal ia tahu bahwa banyak orang tahu selain sebagi pegawai negeri, profesi sampingan paman jauhnya adalah Bank Empat Tujuh[6]. Apakah ada yang ditutup-tutupi mereka?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia khawatir, orang tuanya menggunakan jasa Bank Empat Tujuh itu. Khawatir itu semakin mengkristal menjadi kecurigaan dan kecurigaan itu semakin kuat ketika ia mendapat jawaban dari Apak, Umak maupun paman jauhnya itu: “Nuar, ini urusan orang dewasa.”&lt;br /&gt;Baiklah. Dengan hati remuk redam ia menanggung sendiri kecurigaan itu, memikul sendiri kemungkinan bahwa abangnya menggapai cita-cita dengan jalan yang tidak benar, jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang mengkeroposkan negeri ini. Aneh juga, pikirnya. Kenapa ketika orang lain melakukan hal tersebut, ia merasa marah bukan main. Tapi ketika hal tersebut dilakukan oleh keluarga sendiri, kenapa semacam ada pemakluman, bahkan dibuatkan acara syukuran seperti ini pun hatinya mencoba berdamai. Padahal kalau dipikir-pikir, tujuan acara yang semula bersyukur atas ridho Sang Khalik, sebenarnya adalah upaya memperolok kebesaran-Nya. Betapa tidak, bukankah acara seperti ini adalah syukur dan terima kasih karena Sang Khalik karena mengizinkan keluarganya menempun jalan-jalan yang tidak benar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anwar tersenyum-senyum sendiri memikirkan kontradiksi itu. Keluarganya memperolok Tuhan? Hatinya berdenyar. Pilu. Inikah kedewasaan? Hatinya berdenyar lebih kencang. Seiring lantunan ayat-ayat suci dari hadirin, denyar di hatinya semakin kuat. Semakin kuat. Semakin kuat. Tubuhnya bergetar. Dadanya mengembang dan mengempis dengan cepat. Ketika lantunan ayat-ayat itu selesai, ia melihat Apaknya beringsut dan permisi pada hadirin menuju ke arah dapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kekuatan darimana yang mendorong Anwar untuk bangkit menyusul. Teguran dari beberapa orang yang berpapasan dengannya tak ia hiraukan. Ia terus menyusul Apaknya. Ia melihat Apak dan Umaknya sedang duduk di salah satu sudut dapur. Berbisik-bisik sambil mengawasi hidangan yang akan dihantar pemuda-pemuda, termasuk beberapa sepupunya, ke ruang tamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Degup jantungnya semakin menjadi. Namun ia kuatkan hati menghampiri kedua orang tuanya. Mereka tampak kaget. Umaknya yang langsung bertanya apakah dirinya sedang sakit. Ia menggeleng. Ketika benar-benar sudah dekat, ia bertanya pelan dengan suara bergetar dugaan-dugaan yang ada dihatinya. Ia menegaskan bahwa dirinya sudah besar. Sudah belajar sedikit banyak tentang hidup. Anehnya, kedua orang tuanya justru saling pandang dan tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau masih ingat, Anwar,” kata Apaknya, “ tentang bagaimana pendapat Apak mengenai hal itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anwar mengangguk pasti. “Kata Apak. Apak tidak akan membiarkan anak istrinya, keturunannya  hidup dengan jalan yang tidak benar seperti itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lantas, apakah menurutmu sekarang Apak sudah berubah, membiarkan abangmu menjadi polisi dengan jalan menyogok?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anwar menggeleng resah. Ia kemudian bertanya perihal paman jauhnya yang beberapa kali datang ke rumah. Tapi Apak dan Umaknya bukan lagi tersenyum, tapi tertawa kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anwar…Anwar…” kata Umaknya, “jadi selama ini dirimu curiga kalau Apakmu meminjam uang dari pamanmu itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi mereka tertawa kecil. Namun, demi melihat raut muka anak nomor duanya yang terheran-heran, mereka kemudian menjelaskan bahwa kecurigaan Anwar itu tidak benar. Abangnya menjadi polisi dengan cara bersih. Perihal paman jauhnya, justru paman jauhnya itulah yang terus menerus berupaya meminjam uang karena usaha sampingannya di tipu orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar penjelasan itu, tiba-tiba saja Anwar menyalami kedua orang tuanya dengan takzim seraya meminta maaf. Setelah itu ia kemudian bangkit, setengah berlari menuju ruang tamu. Mencari  abangnya, kemudian memeluknya kuat-kuat seraya berbisik :” Anwar bangga pada Abang!”&lt;br /&gt;Abangnya dan semua hadirin terheran-heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-oOo-&lt;br /&gt;Kota Hantu, 16 Juni 2007&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Dalam bahasa Melayu Sanggau, Kalimantan Barat,  Apak adalah Bapak/ Ayah; Umak adalah Ibu; Aneng adalah nama panggilan untuk adik, biasanya adik perempuan.&lt;br /&gt;[2] Sanak-menyadik adalah kaum kerabat, handai taulan.&lt;br /&gt;[3] Cu atau Ucu adalah sebutan kesopanan bahasa kepada paman atau bibi bungsu.&lt;br /&gt;[4] Che Guavara, tokoh revolusioner Amerika Latin. Ikon dirinya kerap dijadikan lambang bagi pemuda dan mahasiswa pergerakan.&lt;br /&gt;[5] Jepin adalah tarian tradisional Melayu dan Kondan adalah tarian tradisional Dayak.&lt;br /&gt;[6] Bank Empat Tujuh, gelar lain untuk rentenir. Misalnya meminjam uang empat juta rupiah, mengembalikan tujuh tujuh juta rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6440136158266312576-7598136490302728973?l=amrinzr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://amrinzr.blogspot.com/2008/10/aparat.html</link><author>noreply@blogger.com (amrin)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6440136158266312576.post-6287244499801809007</guid><pubDate>Mon, 13 Oct 2008 10:47:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-10-24T14:32:56.229+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">ARTIKEL</category><title>Resensi Buku: "Ga' Tau Neeh...!!!", karya Isma Resti Pratiwi</title><description>Oleh: Amrin Zuraidi Rawansyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Dunia perbukuan di Kalbar, khususnya Pontianak semakin marak. Kemunculan buku-buku yang diterbitkan oleh penerbit-penerbit independen dalam beberapa tahun terakhir, layak untuk diapresiasi. Demikian pula denganconten -nya (rata-rata karya sastra), serta penulis-penulisnya yang jelas-jelas made in West Borneo. &lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;      Tentu saja harapan kita semua bahwa perkembangan positif ini tidak menjadi fenomena sesaat belaka. Karena sebagaimana dibuktikan oleh sejarah, masyarakat yang maju adalah masyarakat yang menghargai seni budaya, baik karya maupun pelakunya. Dengan demikian, bila kita menginginkan terwujudnya suatu tatanan masyarakat yang maju, hendaknya kita mulai belajar merawat dan mengembangkan "pertanda-pertanda" kemajuan yang telah ada, termasuk perkembangan dunia buku di Kalimantan Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Semua buku yang diterbitkan penerbit-penerbit independen memiliki kekuatan khas. Salah satunya adalah buku "Ga' Tau Neeh...!!!" (GTN). Novel setebal 190 halaman (9x18cm) ini diterbitkan Kitara Creativision yang bermarkas di Jl. Tabrani Ahmad, Gg. Setara 1, Pontianak. Catatan istimewa pertama adalah bahwa penulis GTN ini masih duduk di kelas VIII, Madrasah Tsanawiyah 1 Pontianak. Ketika larut pada lembar-lembar pertama, yang mengisahkan "kerja bakti" pada suatu pagi di sebuah kelas, kita akan terperanjat. Bukan pada istilah kerja bakti itu sendiri  yang berarti nyontek bareng, melainkan karena kelas yang dideskripsikan dengan "sedemikian cantik" adalah sebuah kelas XII sekolah menengah atas. Sampai di sini saja kita sudah acungkan dua jempol. Jempol pertama untuk kemampuan deskripsi yang "cantik". Sedangkan jempol kedua untuk kemampuan observasi "fisik-batiniah" penulis. Maksudnya, penulis mampu menangkap dan menerjemahkan situasi SMA, sedangkan si penulisnya itu sendiri masih SMP. Kemampuan ini jelas merupakan aset berharga Isma selaku penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Sementara itu, perwatakan tokoh-tokohnya sangat hidup. Avel yang menjadi tokoh utama, bener-bener ngegemesin. Cakep, cuek, rada ceriwis dan sukses ditampilkan sebagai Ratu Kelas. Para "figuran" pun tampil dengan keunikan masing-masing. Ada Abe yang baik hati, ada Nicko yang playboy, ada Ndut yang suka makan, ada yang bolot, yang suka ngegosip, ada yang sok seleb, dan lain-lain. Mereka-mereka ini kawan sekolahnya Avel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Sedangkan para guru dilukiskan dengan "kacamata" yang pure sudut pandang siswa. Ini menarik. Apalagi jika dikaitkan dengan kondisi pendidikan di Indonesia. Gelar-gelar khusus kepada guru-guru tertentu yang diberikan siswa, seperti dalam novel GTN, hendaknya dilihat dengan frame tepat. Ini bukan hanya terjadi dalam cerita fiksi, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Gelar-gelar itu bukan bermaksud menghina atau merendahkan martabat pribadi dan profesionalisme sang guru, melainkan suatu bentuk komunikasi sosial komunal antar siswa. Komunikasi komunal ini tidak hanya terbatas dipahami sebagai "saluran" uneg-uneg belaka, tetapi juga mengindiksikan terdapatnya barrier atau penghalang antara siswa dan guru. Artinya, siswa sebagai pebelajar (meskipun kurikulum katanya berganti!) tetap diposisikan sebagai objek belaka. Feedback dari si pebelajar semata berupa nilai-nilai kuantitatif hasil pe-er, ulangan, ujian dlsb. Pebelajar tidak mendapat hak belajar sesuai keinginan dan porsi intelektualismenya. Hal ini disebabkan sistem pendidikan dirancang dan dilaksanakan dengan keyakinan bahwa hal yang sedemikian itulah yang "baik dan benar" untuk siswa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           Cara pandang tersebut analog dengan istilah "Mata Elang"-nya Muhammad Yunus, peraih nobel dari Bangladesh, dalam melukiskan cara kerja ekonom dunia tentang program terbaik bagaimana mengatasi kemiskinan di negara-negara dunia ketiga. Para ekonom dunia ini, menurut M. Yunus, ibarat elang yang berputar-putar di angkasa mencermati hamparan kemiskinan. Lantas, setelah mengamati dari angkasa, ekonom-ekonom ber-"mata elang" ini kemudian menyusun serangkaian program pengentasan kemiskinan. Selanjutnya, bagai peri turun dari kayangan, ekonom-ekonom itu memercikkan program-programnya di wilayah kemiskinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Andai saja hidup ini semudah sulap yang ditawarkan "peri-peri ekonom ber-mata elang", tentu kantong-kantong kemiskinan di seluruh penjuru bumi gampang dientaskan. Ternyata, program-program dari "angkasa" itu tak mampu mengatasi masalah. M. Yunus kemudian merombak cara pandangnya dengan pendekatan "mata cacing". Artinya, sebagai ekonom yang belajar di pusat-pusat peradaban dunia, ia harus mencampakkan "mata elangnya" dengan terjun langsung di kantong-kantong kemiskinan. Program-programnya menjadi nyata karena bersentuhan langsung dengan kebutuhan rakyat miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Demikianlah, penceritaan Isma dalam GTN dengan berani mengabarkan pada dunia tentang kesombongan orang-orang yang menyebut diri sebagai pakar pendidikan. Ternyata postulat-postulat paedagogik-nya tak ubahnya "mata elang". Mudah-mudahan, para pakar pendidikan yang sedang mengangkasa itu, mau menyempatkan diri singgah di sebatang pohon dan membaca GTN. (Yuk, doa bareng-bareng...!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Namun GTN sebagai sebuah cerita, terdapat di dalamnya sejumlah perkara kecil yang menurut hemat saya, patut disayangkan. Misalnya pada teknik solusi dan resolusi yang pada beberapa bagian melemahkan bangunan cerita yang sebelumnya sudah disusun kuat. Misalnya pada bagian Pak Beo yang akan memberikan hukuman pada hari Jumat. Motif tiap pelaku logis. Deskripsi sangat apik membangun konflik. Suspens-nya keren. Sayangnya, ketika sampai di titik menentukan, Pak Beo-nya tiba-tiba saja membatalkan hukumannya dengan alasan moodnya lagi hepi. Tanpa maksud men-justifikasi, penyelesaian seperti ini terkesan terlalu digampang-gampangkan. Sayang sekali, bukan? Padahal dengan nafas batin dan nafas imajinya, seandainya Isma mau meluangkan sedikit waktu untuk menangani perkara remeh ini, kita percaya bahwa GTN akan semakin "berwibawa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Meski demikian, GTN tetap menggigit dengan plot "besar"-nya yang memelihara keingintahuan pembaca untuk terus melahap baris demi baris, alinea demi alinea, bab demi bab sampai selesai. Untuk pelajar,  GTN jelas gue banget!. Untuk ortu, guru (plus calon guru), GTN sangat informatif sebagai sarana membaca ulang hubungan mileau pendidikan. Untuk pakar pendidikan: "Sudikah sekiranya Paduka berhenti sejanak mengangkasa?". Untuk masyarakat umum, Pontianak dan Kalbar, GTN dan penulisnya jelas merupakan aset dalam menyongsong Generasi Emas Kalimantan Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Terakhir, kepada mereka-mereka yang sudah memiliki dan membaca GTN, mudah-mudahan ada pihak yang mau mengadakan bedah buku. Sehingga kita bisa saling tukar pikiran. Sedangkan kepada yang belum memiliki dan membaca Ga' Tau Neeh...!, apakah ga' nyesel neeh...?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Salam Perubahan Menuju Kebaikan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6440136158266312576-6287244499801809007?l=amrinzr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://amrinzr.blogspot.com/2008/10/resensi-buku-ga-tau-neeh-karya-isma.html</link><author>noreply@blogger.com (amrin)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6440136158266312576.post-847025907705605130</guid><pubDate>Mon, 13 Oct 2008 10:36:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-24T22:49:44.518+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">ARTIKEL</category><title>DICARI: NEGARA DAN PEMERINTAH</title><description>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oleh: Amrin Zuraidi Rawnsyah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Para Pendiri Bangsa (Founding Fathers)  yang  visioner telah mengamanatkan bahwa salah satu tujuan  berdirinya republik ini adalah "memajukan kesejahteraan umum" bagi seluruh rakyat dan tumpah darah Indonesia. Hal ini sejalan dengan pandangan banyak Teori Negara bahwasanya kesejahteraan bagi rakyat merupakan prioritas utama adanya suatu negara.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Namun dalam konteks kekinian dan ke-Indonesia-an, tanpa perlu menjulurkan kepala tinggi-tinggi untuk melihat tempat yang jauh-jauh (jika dikaitkan dengan Evolusi-nya Darwin, bisa-bisa akan jadi jerapah(?)), cukup dengan melihat sekeliling, kita akan mengetahui betapa cita-cita mulia Indonesia ber-negara menjadi semacam utopia belaka. Lihat saja fasilitas publik, jalan misalnya, banyak lubang yang jika diperbaiki pun polanya tambal sulam. Seorang rekan penulis yang merupakan penulis di negeri jiran pernah dengan nada membanyol memberikan komentar. Katanya, ia bisa membedakan apakah masih berada di negaranya ataukah sudah masuk wilayah Indon saat berada di dalam bus. Jika saya tertidur, katanya, ia masih di negaranya. Namun ia segera tahu bahwa dirinya sudah masuk negara yang konon gemah ripah loh jinawi ini jika dirinya terbangun oleh ban bus yang terantuk lobang. Duh, betapa marwah sebagai anak bangsa tersayat oleh joke yang sungguh-sungguh nyata itu. Dengan senyum yang tak sempurna, penulis tinggal berkomentar: "Rights or Wrongs, it is My Country!"     &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      Untunglah (untung terus!) si sahabat dari jiran itu belum mengunjungi wilayah lain di propinsi yang pernah mengenyam status Daerah Istimewa ini, yang akses jalannya jauh lebih "indah". Misalnya di perhuluan Kapuas ataupun perhuluan Ketapang. Penulis yang dalam beberapa tahun terakhir, untuk urusan keluarga, sering berkunjung ke wilayah perhuluan Ketapang, merasakan betapa "dahsyatnya" layanan republik ini kepada warga negaranya dalam aspek infrastruktur jalan. Terutama ruas Siduk-Sungai Kelik yang notabene merupakan jalan propinsi. Medannya, barangkali, sangat dicintai para off roader sejati. Aspal yang terkelupas, berbatu, tanah liat, berlubang dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Musim kemarau, laju kendara mengakibatkan jalanan berdebu. Daun-daun pohon yang pada beberapa bagian masih menjulang, berubah menjadi daun-daun tambaga. Sedangkan dimusim penghujan, lubang-lubang jalan berubah menjadi kubangan lumpur yang siap "menelan" pengendara yang tak mahir dan kurang awas. Kondisi ini bagi sebagian masyarakat merupakan ladang rezeki. Misalnya jasa pencucian motor dan mobil yang tumbuh bagai jamur dimusim penghujan di daerah Siduk dan sekitarnya. Bagi sebagian masyarakat yang lain, memperbaiki jalan yang hancur berantakan dapat dijdikan lahan bisnis. Caranya, masyarakat bergotong royong membuat jembatan atau membuatkan jalan alternatif, lantas bagi pengendara akan dikenakan tarif tertentu jika ingin lewat. Hal ini lazim disebut meting atau meteng. Sepeda motor yang melewati meting  dikenakan tarif seribu rupiah. Mobil biasanya lima atau sepuluh ribu rupiah. Sedangkan truk bermuatan dikenakan tarif yang lebih tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Bagi sebagian pengguna jalan, hal ini dianggap lumrah. Karena perbaikan jalan membutuhkan modal tenaga, waktu dan biaya, jadi wajar jika orang-orang yang memperbaiki jalan memungut bayaran. Namun, bagi sebagian yang lain, kondisi ini adalah "hil yang mustahal" terjadi di sebuah negara yang konon berdasarkan Pancasila dengan semangat kekeluargaan dan kegotongroyongan di dalamnya. Sebagian pengguna jalan yang lain mencoba arif. Wajar tidaknya suatu meting bersifat kasuistik. Jika kondisi jalan benar-benar hancur berantakan dan dibuatkan jalan alternatif, maka wajar para pembuatnya mendapat reward. "Anggap saja jalan tol," ujar seorang kawan. Ketika disusul dengan pertanyaan tentang perizinan dan transparansi pungutan, kawan tersebut berkomentar: "Di negara yang serba maklum ini, ya, maklum-maklum sajalah."&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      Namun kasusnya berbeda jika perbaikan itu dilakukan pada badan jalan yang &lt;br /&gt;sudah dibangun pemerintah. Logikanya, kerusakan jalan tersebut merupakan tanggung jawab pemerintah, dalam hal ini propinsi dan pusat. Jika pun ada perbaikan oleh masyarakat, maka dalam perspektif nilai-nilai ketimuran, agama dan PPKn yang diajarkan di sekolah-sekolah, maka perbaikan itu merupakan kegiatan gotong royong demi kepentingan bersama. Jika sudah begini keadaanya, dalam hati kita akan bertanya: Di mana nilai-nilai ketimuran yang diagung-agungkan itu? Di mana nilai-nilai agama yang disemai para pemuka agama? Di mana nilai-nilai PPKn yang konon merupakan mata pelajaran wajib  di setiap jalur, jenjang dan tingkat pendidikan di tanah air kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Penulis sepakat bahwa persoalan infrastruktur jalan dan mental meting merupakan sesuatu yang bersifat kompleks. Mulai dari sistem kenegaraan dan pemerintahan, supermasi hukum, otonomi daerah yang setengah hati, tatanan masyarakat yang berubah seiring gerak dinamis peradaban mundial, sampai pada persoalan teknis lapangan misalnya dugaan korupsi setiap pengerjan proyek dan over dosis-nya muatan kendaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Hanya saja, sebagai warga sah dari sebuah negara bernama Indonesia, yang menurut sejarawan Muhammad Yamin, merupakan proyek besar Nusantara III (setelah Sriwijaya dan Majapahit), kita akan mengajukan banyak pertanyaan: "Di mana sih sesuatu bernama negara dan pemerintah itu ketika warganya terjebak kubangan lumpur?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siduk-Sandai, Medio Desember 2007&lt;br /&gt;Amrin Zuraidi Rawansyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6440136158266312576-847025907705605130?l=amrinzr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://amrinzr.blogspot.com/2008/10/dicari-negara-dan-pemerintah.html</link><author>noreply@blogger.com (amrin)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6440136158266312576.post-1201480309982701075</guid><pubDate>Mon, 13 Oct 2008 04:58:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-10-24T14:35:34.895+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">ARTIKEL</category><title>PILKADA  DAN KEBENARAN YANG GAMANG</title><description>Oleh: Amrin ZR&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam upaya mewujudkan keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan dalam suatu masyarakat, pemimpin  memegang peranan yang sangat penting. Demikian pula halnya dengan masyarakat Kalimantan Barat, Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang akan berlangsung dalam tahun 2007 ini, merupakan peristiwa bersejarah untuk menentukan siapakah sesungguhnya pemimpin yang akan membawa keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Menjelang detik-detik yang sangat menentukan tersebut, konstelasi politik mulai menghangat. Isu-isu politik secara perlahan mengisi ranah komunikasi lisan. Mulai dari pembicaraan bisik-bisik kamar tidur, obrolan hangat ruang tamu, teras, warung kopi, demonstrasi dan lain-lain, sampai pada debat argumen canggih dalam ruang-ruang seminar. Dalam ranah komunikasi tulisan, pesan-pesan politik secara terselubung maupun blak-blakan ditanam, mulai dari  SMS, kartu nama, kalender, pojok koran, spanduk dan lain-lain sampai pada baliho-baliho di pingir-pinggir jalan.&lt;br /&gt;Atas nama pendidikan politik, gambaran di atas dapat disebut sebagai upaya sang tokoh yang didampingi sekelompok think tank untuk merebut hati para konstituen. Terkadang, isu yang dipakai bersifat tunggal, yaitu semata puja-puji terhadap kehebatan sang tokoh atau sebaliknya hanya menyerang tokoh-tokoh kompetitor yang lain. Di kadang yang lain, isu yang digunakan adalah racikan yang menggabungkan antara unsur puja-puji yang tak peduli dianggap narsis dan sekaligus serangan terhadap kompetitor. Aspek lainnya adalah subyek, suatu ketika sang tokoh itu sendiri yang menjadi pelaku, di ketika yang lain sang tokoh “meminjam” mulut orang lain.&lt;br /&gt;Dalam beberapa waktu terakhir, isu yang berkembang adalah dugaan korupsi yang disematkan pada tokoh-tokoh kontestan calon gubernur dan calon wakil gubernur. Pemuda dan mahasiswa bersikap, mulai dari gerakan soft yang hanya menuntut para aparatur hukum untuk tidak impoten dalam mengusut kasus dugaan korupsi “orang-orang kuat” tersebut, sampai pada gerakan hard yang dengan lantang berteriak agar Pilkada ditunda.&lt;br /&gt;Para praktisi dan akademisi pun angkat bicara. Kata mereka, para kontestan tetap memiliki hak untuk melaju dalam bursa pemilihan kepala daerah, karena isu korupsi tersebut masih dugaan, belum terbukti di pengadilan dan belum memiliki kekuatan hukum yang bersifat mengikat. Kata mereka pula, Pilkada tak mungkin ditunda. Sebab sesuai undang-undang yang berlaku di republik yang konon bercita-cita menuju suatu “masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera”  ini, Pilkada baru dapat ditunda jika terjadi bencana alam dan kerusuhan. Bahkan antitesis yang paling sangar adalah tanggapan, sebagaimana dilansir di beberapa media lokal, yang mengatakan bahwa belum ada sejarah pilkada ditunda hanya karena tuntutan mahasiswa.&lt;br /&gt;Gambaran kontradiksi antara harapan (das sein) tentang sosok pemimpin yang mampu membawa masyarakatnya menuju cita-cita bersama dan kenyataan (das sollen) tentang isu korupsi para kandidat cagub, melahirkan banyak pertanyaan. Tanpa mengabaikan kata-kata tanya yang lain yang kerap digunakan kaum asketis (apa, siapa, kenapa, bagaimana, di mana dan kapan), cukup dengan kata tanya “apa” dan “kenapa”, kita sudah menemukan lumayan banyak varian pertanyaan terhadap kontradiksi di atas. Dua di antaranya adalah: pertama, apakah para kandidat cagub Kalbar benar-benar korupsi?; dan kedua, kenapa isu korupsi menerpa para kandidat cagub Kalbar?&lt;br /&gt;Untuk pertanyaan pertama, yang paling berhak menjawabnya adalah aparat penegak hukum dan para kandidat itu sendiri. Dalam masa pasca reformasi yang salah satu konsekuensinya adalah melemahnya kepercayaan terhadap fungsi dan proses penegakan hukum di tanah air, peran lembaga-lembaga yang berkompeten (kepolisian, kejaksaan dan kehakiman) benar-benar diuji. Sejauh mana ketangguhan masing-masing lembaga menyikapi masalah sesuai status dan fungsinya. Dalam hal ini, pengerahan dan pengelolaan seluruh sumber daya yang dimiliki setiap lembaga harus didukung itikad manusia-manusia yang ada di dalamnya. Jika tidak, harapan perbaikan arah perjalanan kebangsaan dan kenegaraan bertitel Indonesia , hanya akan menjadi impian kosong semata.&lt;br /&gt;Sedangkan untuk pertanyaan kedua, banyak kemungkinan jawaban yang tersedia. Bisa obyektif, bisa subyektif. Misalnya, beliau-beliau itu memang benar-benar bersalah. Lantas, ketika orang-orang yang tahu kebenaran dan duduk perkaranya mencoba mengungkapkan, ternyata terkendala masalah kapasitas sekaligus power yang dimiliki beliau-beliau tersebut. Akhirnya, mereka hanya bisa bisik-bisik dari satu telinga ke telinga yang lain.  Misalnya pula, isu tersebut dilontarkan ke khalayak oleh para kompetitor. Misal yang lain, pelakunya adalah barisan orang-orang sakit hati, orang iseng atau barangkali oleh orang gila. Misal yang lainnya lagi, hal tersebut adalah jangan-jangan justru merupakan rekayasa yang bersangkutan. Motifnya bisa jadi adalah upaya untuk mempertahankan popularitas. Tokh, jika ada pihak-pihak yang coba mengusik, jawabannya gampang: “Sekiranya saya bersalah, buktikan.” &lt;br /&gt;Bisa jadi pula, yang bersangkutan menganut prinsip jagoan yang selalu kalah di adegan-adegan awal. Menjelang akhir cerita, sang jagoan mengeluarkan jurus-jurus pamungkas untuk mengalahkan lawan-lawannya. Maksudnya, pencitraan sebagai subjek penderita memang disengaja untuk menarik simpati sekaligus memperlama efek “dikenal” dalam benak orang banyak. Sehingga, memperbesar kemungkinan dipilih jika waktunya tiba. Persoalan pembuktian diri tidak bersalah, demi lebih menarik simpati, bisa dilakukan all out menjelang detik-detik terakhir pertarungan.&lt;br /&gt;Dugaan-dugaan, mulai dari yang masuk akal sampai pada yang suuzan sebagaimana yang penulis ungkapkan di atas, bukan mustahil akan semakin parah dan berpeluang menjadi picu kekisruhan di Bumi Khatulistiwa yang kita cintai ini. Sinyal warning-nya sudah tampak. Akademisi-akademisi sudah memperingatkan agar penanganan masalah kasus dugaan korupsi yang melibatkan para cagub, harus ditangani secara bijak. Misalnya hipotesis tentang akan bereaksinya massa basis masing-masing cagub, jika cagub jagoan mereka mulai diutak-atik oleh pasal-pasal hukum positif. Akademisi-akademisi pun mengingatkan tentang kesejarahan dan peluang konflik yang disebabkan oleh aspek multikultural yang ada di provinsi ini.&lt;br /&gt;Menurut hemat penulis, jika kondisi di atas dibiarkan berlarut-larut, maka orientasi proses pendidikan politik yang berusaha mencerdaskan masyarakat berubah haluan menjadi upaya pembodohan. Betapa tidak, masyarkat disuguhi kegamangan kebenaran. Akibatnya, masyarakat menjadi rabun, penuh prasangka atau justru masa bodoh saat menentukan pilihan tentang siapa figur pemimpin di antara mereka yang paling layak. Dengan tipikal masyarakat pemilih seperti ini, kita patut mempertanyakan kualitas output Pilkada yang bukan hanya perkara “siapa” yang akan menjadi pemenang pemilihan, tetapi juga kemenangan bersama yang ditandai peningkatan kesadaran masyarakat dalam menggunakan hak-hak politiknya.&lt;br /&gt;Sementara itu, dari seluruh teori kepemimpinan dan manajemen, mulai dari era baheula sampai era kesejagatan, dari pendekatan klasik tradisional sampai pada pendekatan dan trik-trik yang diajarkan para motivator kelas dunia dewasa ini, dari organisasi-organisasi yang memang bertujuan membentuk karakter (character buildings) sampai pada pribadi-pribadi sukses yang berangkat secara otodidak, pemahaman mendasar mengenai kepemimpinan sekurang-kurangnya memuat dua hal, yaitu keteladanan dan keunggulan. Lantas, dengan kegamangan kebenaran tentang isu korupsi, bagaimanakah sesungguhya keteladanan dan keunggulan pemimpin-pemimpin yang akan bertarung dalam pilkada nanti?&lt;br /&gt;Dalam hal ini, penulis meyakini asas praduga tak bersalah serta menghormati Hak Asasi Manusia, termasuk kemerdekaan para kandidat Cagub memilih sikap saat dirinya diterpa isu korupsi. Akan tetapi, ketika pemilihan sikap itu berdampak luas dan mempengaruhi arah perjalanan tatanan sosial suatu masyarakat, kenapa pemimpin-peminpin yang sangat kita hormati tersebut tidak memperlihatkan itikad dan dan sikap elegan untuk menunjukan kebenaran tentang dugaan korupsi yang menerpa dirinya? Artinya,jika memang tidak bersalah, kenapa tidak melakukan pembuktian terbalik?&lt;br /&gt;Sekiranya penulis adalah satu orang dari kaum yang gencar menuduh semata, maka penulis layak mendapat kata-kata: “Sekiranya saya bersalah, buktikan.”  Tapi, jika penulis adalah bagian dari khalayak yang merasa gamang dengan kondisi yang ada, dengan itikad untuk belajar untuk lebih melek politik, ditambah mulai berkecambahnya kesadaran bahwa satu suara dalam pemilihan tak sekadar angka statistik belaka, ketika bertanya tantang dugaan korupsi tersebut, apakah juga akan mendapat ucapan yang sama? Semoga saja jawabannya tidak. Karena jika jawabannya iya, jelas akan sangat mengecewkan. Sebab, secara tersirat ada kemungkinan jawaban itu dapat ditafsirkan sebagai pembenaran isu korupsi. Bisa pula ditafsirkan sebagai sikap memberikan kesempatan untuk difitnah. Memberikan kesempatan untuk difitnah sama artinya memberikan kesempatan untuk dianiaya. Lantas, apa yang bisa diharapkan dari pemimpin yang tak berdaya melawan aniaya atas dirinya?&lt;br /&gt;Semoga tak terlambat bagi kita untuk mengucapkan: “ Wahai para kandidat Cagub Kalbar, jika ada di antara saudara yang dituduh korupsi, jika saudara benar-benar tidak bersalah, buktikan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pontianak, 25 Pebruari 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6440136158266312576-1201480309982701075?l=amrinzr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://amrinzr.blogspot.com/2008/10/pilkada-dan-kebenaran-yang-gamang.html</link><author>noreply@blogger.com (amrin)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6440136158266312576.post-5098985257420619016</guid><pubDate>Mon, 13 Oct 2008 04:49:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-10-24T14:36:33.009+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">ARTIKEL</category><title>KUDA NIL DI SUNGAI KAPUAS</title><description>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Menyambut seminar pendidikan: Guru Vs Pergaulan Bebas Remaja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Amrin, Spd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh menyentuh dialog antara Fachri dan Maria tentang jodoh, dalam Ayat-Ayat Cinta, baik versi novel maupun filmnya. Mereka membandingkan jodoh antara pasangan umat manusia dengan jodoh antara kejayaan peradaban Mesir dan Sungai Nil. Namun tulisan ini tidak membahas aspek sastra maupun filmis, pun bukan pada masalah jodoh cinta manusia, melainkan terinspirasi oleh perkara "jodoh" Mesir dan Sungai Nil. Perkara ini membawa pemikiran penulis pada perbandingan yang lebih membumi, apakah Kalimantan Barat umumnya dan Pontianak khususnya "berjodoh" dengan sungai Kapuas yang merupakan sungai terpanjang di Indonesia?&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, kita dapat membuat kesepakatan awal bahwa antara Mesir-Sungai Nil dan Kalbar, Pontianak-Sungai Kapuas tidak dapat diperbandingkan begitu saja. Sebab dari segi kesejarahan saja, menganga jurang perbedaan. Mesir telah dimulai jauh sebelum noktah nol Masehi dibuat orang-orang Romawi. Orang-orang kuat Mesir pada jaman dahulu kala, telah berjuang mempersatukan anak-anak bangsanya yang terserak untuk kemudian menjadikannya sebagai imperium besar, yang pernah menjadi pusat dominasi kebudayaan pada masanya. Pada saat bersamaan, maksudnya dalam skala waktu geologi yang sama, apa yang terjadi di tanah kita ini? Ketika orang-orang di sana sudah merampungkan banyak piramida dan melebarkan sayap kekuasaan, apa yang dilakukan oleh datuk nenek moyang kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara teoritis kita tidak punya banyak literatur untuk mengungkap kejatidirian asal muasal. Paling-paling kita punya tinjauan antropologi umum yang salah satunya menyatakan bahwa nenek moyang kita berasal dari sekitar selatan benua Asia. Kedatangan ini terjadi dalam dua periode. Orang-orang yang datang pada periode pertama, mendiami pesisir. Ketika orang-orang pada periode kedua datang, orang-orang periode pertama menyingkir ke pedalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari segi empiris, kita pun tidak memiliki banyak jejak-jejak sejarah. Maaf, penulis perbaiki kalimatnya: kita hanya memiliki sedikit jejak-jejak sejarah yang disebabkan sedikitnya upaya untuk menggalinya. Apakah ini disebabkan minimnya apresiasi masyarakat kita terhadap sejarah sendiri? Jika iya, kenapa sedemikian kontradiktif dengan kenyataan primordial dalam masyarakat kita? Misalnya pencantuman nama yang menisbatkan pada orang atau keluarga tertentu yang memiliki pengaruh kuat di masa lalu. Demikian pula dengan eklusivitas etnik yang kerap dijadikan komoditas politikus picik, serta masih banyak contoh lain termasuk penegasan terhadap hak-hak ulayat yang ber-efek pada kengerian investor menanamkan sahamnya di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal berbekal adagium terkenal dalam dunia arkeologi, antropologi, sejarah dan cabang-cabang keilmuan humaniora lainnya, yaitu: "Apa yang tidak kita ketahui, bukan berarti tidak ada", kita akan memiliki spirit dan perspektif yang progresif, yaitu tidak hanya berpangku tangan melihat fenomena yang ada, melainkan berjuang untuk menyikapinya. Dengan fenomena yang ada kita dapat melihat berbagai elemen telah bergerak. Misalnya dibukanya progam studi sejarah di STKIP PGRI Pontianak. Harapan kita, semoga saja alumni-alumninya nanti tidak semata bertugas selaku pendidik dan pengajar yang menanamkan kesadaran terhadap sejarah, melainkan terlibat aktif dalam proses kesejarahan. Demikian pula penyikapan yang dilakukan oleh dua orang luar biasa berikut ini, yaitu Syafaruddin Usman dan Turiman. Jika Syafaruddin Usman terus bergerak meneliti dan membuat buku-buku bertemakan sejarah, maka Turiman telah sedemikian gigih berjuang menyingkap kebenaran sejarah tentang peran salah seorang putra terbaik Kalbar, Sultan Hamid II, yang merancang lambang NKRI.Bagaimana dengan kita sendiri? Termasuk tipe penonton fenomena dan korban sejarah, ataukah tergolong orang-orang yang bergerak berjuang menyikapi dan berani aktif dalam sejarah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada fenomena lain dalam masyarakat kita yang perlu penyikapan tegas. Fenomena ini berkait erat, bahkan lengket dengan sejarah. Seperti yang kita ketahui bersama, garis halus pembatas sejarah dan prasejarah adalah pencapaian tertinggi umat manusia, yaitu tulisan. Baiklah lagi, karena untuk sementara kita bersepakat lagi: dalam kenyataannya, kita adalah masyarakat yang tidak memiliki aksara sendiri. Dikatakan sementara karena tokh belum ada penelitian ilmiah mengenai hal ini. Semoga saja anak-anak cerdas kita nanti "terangsang" untuk menelitinya. Jika terbukti ada, kita patut bersyukur. Jika pun tidak, tetap patut disyukuri, karena mereka jauh lebih baik dari kita sebab mau berjuang menyingkap kebenaran. Siapa tahu, setelah provinsi ini kehilangan generasi emasnya dalam peristiwa Mandor, suatu hari kelak, akan muncul generasi-generasi emas yang di antara pencapaian terbaiknya mampu menyusun aksara baru, serta sistem kebahasaan yang baru pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari harapan-harapan tersebut di atas, kenyataan bahwa kita tidak diwariskan sistem aksara sendiri, bukan merupakan sebab mendasar bahwa kita tidak bisa mengembangkan kemampuan dasar manusia untuk maju, yaitu membaca, menulis dan berdiskusi. Tiga serangkai inilah senjata utama menelaah dan menyikapi keadaan. Kita layak bersyukur, dalam beberapa dekade terakhir tersirat kegelisahan atas minimnya minat baca tulis yang mewabah ke segenap sendi masyarakat. Masalahnya, kegelisahan ini hanya menjadi topik pembicaraan perintang hari. Siapa yang berani tampil ke depan menyikapi kegelisahan ini dengan tindakan nyata?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena lainnya adalah kegalauan atas pergaulan remaja kita. Konon ini pengaruh globalisasi yang mencerabut generasi muda dari akar budaya sendiri. Konon ini akibat multikrisis yang melanda negeri, terutama krisis pendidikan. Krisis pendidikan, karena para pendidik terpaksa meringkuk dalam pasungan kurikulum nasional. Akibatnya peserta didik terabaikan dalam pembinaan moral dan kepribadian. Sedangkan di sisi lain, peserta didik dituntut mampu berprestasi, dibebankan bermacam tugas yang entah berguna atau tidak dalam kehidupan sehari-hari maupun masa depannya, serta wajib "menjadi orang" setelah selesai studi, misalnya harus meraih cita-cita tertinggi pribumi, yaitu menjadi pegawai negeri. Idem dito dengan fenomena baca, tulis dan diskusi, fenomena pergaulan bebas remaja hanya sekadar "bisik-bisik tetangga" tanpa ada penyikapan nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kenyataan yang sedemikian memiriskan hati, muncul banyak harapan. Terutama harapan-harapan baik yang merupakan akibat sepak terjang kaum muda kita yang tak mau berdiam diri. Berkenaan dengan sejarah dalam kaitannya dengan penyikapan terhadap fenomena menumbuhkan minat baca, tulis dan diskusi, serta fenomena pergaulan bebas remaja, maka penulis angkat topi terhadap terbitnya buku Pontianak ‘teenager’ Under Cover, karya penulis muda Kalimantan Barat, Pay Jarot Sujarwo. Angkat topi pula atas kerjasama BEM STAIN Pontianak, Pijar Publishing dan Kitara Creativision yang akan menggelar Seminar Pendidikan: Guru Vs Pergaulan Bebas Remaja, yang akan digelar di Aula STAIN Pontianak, pada hari Rabu (12 Maret 2008) pukul 13.30 s/d 15.30 WIB. Berdasarkan informasi yang penulis peroleh dari panitia, narasumber dalam kegiatan tersebut adalah Dr. Bumbunan Sitorus (Motivator, Dokter RSJ Kalbar), Pay Jarot Sujarwo (Penulis buku Pontianak Teenager Undercover) dan Yuni Djuachiriaty, S. Psi, M, Si (Psikolog).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis mencoba menduga, apakah kegiatan seminar ini akan menarik perhatian guru-guru, terutama guru-guru di kota Pontianak dan sekitarnya? Pertama, jika iya, apa sajakah hasil seminar itu selain pesertanya memperoleh serifikat? Apakah ada yang berubah dengan pola interaksi guru-siswa-keluarga-masyarakat dan pemerintah? Apakah akan ada yang berubah dengan pergaulan remaja Pontianak? Apakah juga akan muncul hujanan tulisan dari kaum guru di media massa Kalimantan Barat? Apakah peserta didik akan termotivasi untuk memaksimalkan upaya pengembangan diri? Apakah dari sekian banyak siswa akan muncul sejarawan tingkat dunia? Apakah, apakah dan masih banyak apakah lainnya lagi. Namun yang jelas, harapan-harapan baik layak muncul dari sebuah kegiatan bersejarah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, jika ternyata kegiatan ini kurang menarik minat kaum guru, maka bisa jadi Sungai Kapuas dengan Kalimantan umumnya dan kota Pontianak khususnya, memang tidak "berjodoh".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekiranya memang kemungkinan kedua yang terjadi, serta jika tanpa sungai Nil tidak akan ada Mesir yang berperadaban tinggi, maka sepertinya ada saran menarik agar masyarakat, provinsi dan negeri ini bisa maju dengan cara mudah. Caranya, kita mengupayakan impor kuda nil untuk dipelihara atau dibiarkan hidup bebas di sungai Kapuas. Apakah ada yang setuju? Jika ada yang setuju, pasti kuda nil.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pontianak, 09 Maret 2008&lt;br /&gt;Penulis adalah alumni STKIP-PGRI Pontianak.&lt;br /&gt;Telah dipublikasikan di Borneo Tribune, 11 Maret 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6440136158266312576-5098985257420619016?l=amrinzr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://amrinzr.blogspot.com/2008/10/kuda-nil-di-sungai-kapuas.html</link><author>noreply@blogger.com (amrin)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6440136158266312576.post-2766699304812253726</guid><pubDate>Sun, 12 Oct 2008 12:26:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-10-24T14:37:27.856+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">CERPEN</category><title>TANDA</title><description>Oleh: Amrin Zuraidi Rawansyah  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bo menahan napas. Perlahan tangannya menjangkau rok Un. Sedikit gemetar. Meski demikian, ia mencoba tersenyum. Kemudian dengan saksama menatap mata Un, seolah algojo yang sedang menantikan sang terpidana mati telah menunaikan permintaan terakhir.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau justru dirinyalah yang sekarang pesakitan? Entahlah. Namun, sepasang mata indah yang balas menatapnya mengerdip yakin. Baiklah, Bo membatin. Aku harus melakukannya. Akan. Harus.Ya, harus. Aku harus melakukannya. Bo terpejam sesaat.Mengatur napas.Lalu,tangannya mulai bergerak menyingkap rok Un ke atas. Sedikit demi sedikit. &lt;br /&gt;*** &lt;br /&gt;”Berdasarkan terawangan Datuk Kelabu,”kata Pak Uteh sambil mengisap kreteknya dalam-dalam, ”Orang yang tepat untuk membuang tanda itu adalah engkau, Nak Bo.” Untung gelas kopi Bo baru menyentuh ujung bibir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian detik saja terlambat, bukan mustahil, ucapan Pak Uteh itu dapat membuatnya tersedak. Membayangkan hal tersebut, ia menelan ludah.Sekian jenak berikutnya,barulah ia menyeruput kopinya pelan-pelan. &lt;br /&gt;”Harus saya, Pak Uteh? Kenapa?” tanya Bo hati-hati, sembari meletakkan gelas kopinya ke meja. Diam-diam ia mencermati ekspresi Pak Uteh. Lelaki tua itu,yang sudah dianggapnya sebagai orangtua sendiri semenjak ayahnya meninggal ketika masih SD, tampak menarik napas seraya mengatupkan rahang kuat-kuat. Keriput di wajahnya menjelas. Bergetar-getar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matanya menyipit. Seakan punggungnya menanggung gunung-gunung. Tiba-tiba Bo merasa tidak enak dengan pertanyaan barusan. Beberapa menit yang lalu, setelah bermain catur, mereka masih berbincang lepas. Tentang kondisi terkini ibu kota kabupaten mereka, yang terletak di perhuluan sungai Kapuas dan sekarang dijamuri pembangunan ruko-ruko dan swalayan baru.Tentang kepulangannya kemarin, di mana ia sempat membawa kardus orang sampai ke rumah. Juga tentang rencana wisudanya bulan depan. Sekaligus juga membicarakan dengan penuh semangat tawaran Pak Mukti, agar ia nanti bekerja sebagai guru honorer di sebuah SMA swasta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, topik pembicaraan berubah, semenjak Bo bertanya tentang kakek tua yang siang tadi dilihatnya berjalan bersama Pak Uteh. Datuk Kelabu, demikian nama kakek itu, sengaja Pak Uteh undang untuk melihat kondisi dan mengobati Un. Awalnya Pak Uteh agak berat menjawab ketika ia bertanya tentang sakit apa yang sedang Un derita. Karena di matanya,Un sehat-sehat saja.Bukankah kemarin Un menyambutnya di muara gang dengan histeris? Bahkan mengambil paksa kardus yang sedang dijinjingnya, yang kemudian diketahui ternyata milik orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu-satunya penyakit Un yang ia ketahui adalah sering mencubitinya tanpa alasan.Tapi,sekalipun cubitan-cubitan itu berbisa, sungguh, ia tak ingin ”penyakit” itu disembuhkan. Mungkin karena samasama anak tunggal, selalu bersama sejak kecil, sehingga cubitan-cubitan itu telah menjadi semacam lambang persaudaraan antara mereka berdua. Lalu, Pak Uteh bercerita mengenai kunjungan Pak Usman seminggu yang lewat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Uteh meyakini, maksud kedatangan calon besannya itu tak lain tak bukan adalah untuk membicarakan lebih lanjut perihal pertunangan anak mereka. Pak Uteh sendiri sudah menyiapkan beberapa pilihan ”hari baik bulan baik” berdasarkan perhitungannya bersama orang-orang tua di kampung. Tak dinyana, Pak Usman justru datang membicarakan baik-baik mengenai pembatalan pertunangan! Menurut Pak Usman, hal demikianlah yang terbaik untuk masa depan masing-masing anak mereka. Bukan lantaran karena ketidakcocokan karakter antara Un dan Febrian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga bukan disebabkan latar belakang ekonomi keluarga. Namun, karena Un memiliki sebuah tanda di tubuhnya. Tanda itu berupa tahi lalat sebesar ibu jari, terletak pada bagian tertentu di tubuh Un, menurut keyakinan keluarga Pak Usman dapat membawa sial bagi masa depan Febrian. &lt;br /&gt;”Apa Nak Bo keberatan?” tanya Pak Uteh tiba-tiba, membuyarkan lamunan Bo.&lt;br /&gt; ”Bu….Bukan, Pak Uteh. Bukan begitu. Saya hanya ingin tahu.Kenapa Datuk Kelabu memilih saya?” &lt;br /&gt;”Tidak sembarang orang dapat membuang tanda itu, Nak Bo,” kata Pak Uteh seraya mengambil sebatang kretek lagi dan menyulutnya.”Bahkan,orang pintar sekelas Datuk Kelabu pun tidak. Beliau hanya bisa melihat siapa orang yang berjodoh dengan jarum emasnya, alat khusus pembuang tanda celaka itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tadi siang,”lanjut Pak Uteh,”Setelah melihatmu, Datuk Kelabu mengatakan pada Bapak bahwa Nak Bo berjodoh dengan jarum emasnya.Untuk memastikan, Datuk Kelabu mengajak Bapak mengunjungi kuburan leluhurnya di luar kota. Padahal tujuan kami semula, Nak Bo, adalah menjemput cucunya yang menurut Datuk Kelabu pun berjodoh dengan jarum emas miliknya. Namun setelah mendapat petunjuk saat bersemedi di kuburan, Datuk Kelabu menegaskan bahwa untuk kasus Un, Nak Bo jauh lebih tepat dibanding cucunya.” &lt;br /&gt;Bo melongo.&lt;br /&gt;”Bapak mengerti,”kata Pak Uteh lagi, ”hal seperti ini bukan perkara yang bisa diterima begitu saja dengan nalar.Apalagi bagi Nak Bo yang anak kuliahan.” &lt;br /&gt;”Jadi?”tanya Nak Bo sekenanya. &lt;br /&gt;”Terserah pada Nak Bo. Bapak tidak memaksa. Kalaupun Nak Bo tidak bersedia, tidak apa-apa,” ujar Pak Uteh menyandarkan punggungnya dan menerawang pada langit-langit ruang tamu, ”mungkin memang demikian garis Un, adikmu itu.” &lt;br /&gt;”Lalu ... cucu Datuk Kelabu?” &lt;br /&gt;”Kata Datuk Kelabu, cucu perempuannya baru berjodoh dengan jarum emas itu jika tanda sial itu ada di tubuh laki-laki.” Bo tercenung. Teringat akan segala kebaikan Pak Uteh sekeluarga selama ini.... &lt;br /&gt;”Saya bersedia,Pak Uteh.” &lt;br /&gt;”Engkau yakin, Nak Bo”&lt;br /&gt; ”Yakin,Pak Uteh.” &lt;br /&gt;*** &lt;br /&gt;Bo terpejam sesaat. Mengatur napas. Lalu, tangannya mulai bergerak menyingkap ujung rok Un ke atas. Sedikit demi sedikit. Sedikit demi sedikit pula matanya terbuka, yang kemudian terpacak pada panorama yang terhampar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jantungnya berdegup kencang. Jakunnya naik-turun. Berkali-kali ia menelan ludah. Sebuah peta putih dengan jalurjalur hijau urat darah yang menuntunnya ke sebuah masa, lebih dari sepuluh tahun lalu. Ketika itu, untuk pertama kalinya, mereka saling belajar tentang apa perbedaan laki-laki dan perempuan. Aroma setanggi memenuhi ruang. Peluh mulai lahir dari pori-pori kulit Bo. Sementara itu,Pak Uteh,Mak Uteh,dan Emak Bo yang duduk di salah satu sudut ruang tampak gelisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tadi sesekali mereka saling pandang.Kadang melihat Un dan Bo di dipan,kadang pula melihat Datuk Kelabu yang takzim bersimpuh di depan sebuah kotak kecil merah berisi jarum emas. Datuk Kelabu bangkit tiba-tiba,kemudian duduk di belakang Bo.Sambil komat-kamit, dua telapak tangannya menempel pada punggung Bo. Setelah sesaat berlaku demikian, Datuk Kelabu menarik tangannya. Kemudian, membisikkan sesuatu di telinga Bo. Bo mengangguk-angguk. Setelah meletakkan kotak jarum emas di samping Bo, Datuk Kelabu mendekati Pak Uteh, Mak Uteh,dan Emak Bo. Pada ketiga orangtua itu, Datuk Kelabu menjelaskan bahwa Bo bertarung akan kekuatan tanda sial di tubuh Un. Agar tidak mengganggu Bo, Datuk Kelabu mengajak mereka meninggalkan kamar. &lt;br /&gt;”Kenapa, Bang? Kok, ragu-ragu? ” tanya Un setelah memastikan pintu kamarnya tertutup rapat. &lt;br /&gt;”Kok seperti dulu, ya? Dan, di kamar ini lagi,” ujar Bo dengan tatapan mengitari ruang. &lt;br /&gt;Ketika Bo hendak mengembalikan ujung rok ke tempat semula,Un malah mencegah. &lt;br /&gt;”Buanglah tanda ini, Bang,” kata Un seraya membimbing tangan Bo menyingkap roknya, sampai kurang lebih sejengkal dari pangkal paha.Jidat Bo bekernyit saat melihat sebuah tahi lalat yang ternyata tidak sebesar jempol jari, tapi cuma seukuran dua kepala korek api. Un mengambil jarum emas dan menyerahkan pada Bo. Bo menyambut ragu. &lt;br /&gt;”Un,Abang akan menusuk tahi lalatmu tiga kali, sesuai pesan Datuk, tapi Abang penasaran Un. Seingat Abang, dulu, tahi lalat ini tidak ada,kan?” &lt;br /&gt;”Sebenarnya ada, Bang. Cuma kecil. Sejak kapannya,Un tidak tahu,tahi lalat ini mulai membesar sampai seukuran sekarang.Yang Un tahu, kira-kira sejak tiga tahun lalu, ukurannya tidak berubah lagi.” &lt;br /&gt;”Katanya seukuran ini?”tanya Bo mengacungkan jempol kirinya. Tapi Un menjawab dengan senyum asing. Bo menyipitkan mata.Tajam menatap mata Un. &lt;br /&gt;”Mereka lelaki pengecut,” kata Un sembari menghindari tatapan Bo. &lt;br /&gt;”Hanya karena Un ceritakan tanda ini, mereka kabur.” Dengan ibu jari kanan, Un mengelus tahi lalat di pahanya.Kemudian,bercerita tentang beberapa pria yang pernah dekat dengannya, termasuk si mantan tunangan. Mereka semua munafik, keluh Un. Mula-mula mereka bilang mau menerima Un apa adanya. Mereka juga dengan gagah mengatakan bahwa keperawanan bukanlah syarat utama dalam membina rumah tangga. Tapi sekian waktu, ketika Un mengatakan bahwa mungkin saja dirinya sudah tidak perawan, pelan-pelan mereka mundur. Lalu, persoalan tahi lalat pun dibesar-besarkan. &lt;br /&gt;”Abang belum mengerti,” potong Bo, ”Apa Un memang sudah tidak...” &lt;br /&gt;Un menggeleng dan tersenyum, ”Un hanya menguji mereka.Ternyata cinta mereka cuma seperti itu.” &lt;br /&gt;”Nekat!” kata Bo tanpa sadar, “Bagaimana jika mereka menyebarkannya pada orang lain? Abang benar-benar tak habis pikir...” &lt;br /&gt;”Iya sih.Terus terang Un sedikit menyesal, karena hal ini menyangkut citra Un. Tapi Un lebih bersyukur karena bisa jauh dari laki-laki picik seperti mereka. Selain itu,Un melakukannya karena Un sebenarnya sangat mencintai seseorang...” &lt;br /&gt;”Siapa, Un? Boleh Abang tahu?” &lt;br /&gt;”Orangnya baik dan sangat menyayangi Un?”&lt;br /&gt; ”Siapa sih, Un? Cerita, dong...” &lt;br /&gt;”Malu,ahhh...” &lt;br /&gt;”Cerita dong, Un. Dengan Abang sendiri kok malu ?”&lt;br /&gt;”Itulah masalahnya,” desah Un, ”Orang itu hanya menganggap Un sebagai adik,” sambung Un tertunduk. &lt;br /&gt;Hening sejenak.Bo merasa ada debar lain di dadanya. Debar yang selama ini mati-matian ia tahan, yang rapi ia sembunyikan ke dalam sebuah peti kedap suara jauh di relung hatinya. Sekarang, tutup peti itu telah terbuka.&lt;br /&gt;”Un...” kata Bo bergetar. &lt;br /&gt;Un mengangkat wajah.Mereka bertatapan.Tanpa berkata- kata,sekarang mereka saling tahu isi hati masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kekuatan aneh yang mendorong wajah mereka saling mendekat.Mendekat.Mendekat dan... ”Aouww…..!” Un menjerit, tapi cepat-cepat menutup mulutnya.Wajah Bo tersurut beberapa jengkal. Ternyata, jarum emas yang entah sejak kapan terlepas dari tangan Bo telah mengenai kaki Un. &lt;br /&gt;Orang-orangtua, yang resah menunggu di ruang depan, ketika mendengar jeritan Un, bergegas masuk. Mereka merubung Bo dan Un. Meski sebelumnya, tidak satu pun dari keempat orang tua itu yang pernah melihat tanda sial Un, yang katanya sebesar jempol jari, yang jelas sekarang mereka telah melihat ukurannya hanya sebesar dua kepala korek api. Karena itu, mereka kemudian saling pandang dan tersenyum puas. &lt;br /&gt;Mereka luput mengamati, sepasang tangan yang saling genggam.Erat. &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di Seputar Indonesia 09/02/2007&lt;br /&gt;(http://www.sriti.com/story_view.php?key=2533)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6440136158266312576-2766699304812253726?l=amrinzr.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://amrinzr.blogspot.com/2008/10/tanda.html</link><author>noreply@blogger.com (amrin)</author><thr:total>0</thr:total></item></channel></rss>

