<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-7384130124302398532</atom:id><lastBuildDate>Thu, 16 Feb 2012 19:42:41 +0000</lastBuildDate><title>Anan Fauzi's blog</title><description>share with us...</description><link>http://ananfauzi.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Anan Fauzi)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>2</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/AnanFauzisBlog" /><feedburner:info uri="ananfauzisblog" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7384130124302398532.post-4642565924850481523</guid><pubDate>Mon, 04 Apr 2011 19:11:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-04-04T12:11:12.725-07:00</atom:updated><title>Management Emosi (bagian pertama)</title><description>Mungkin diantara kita semua pernah merasa malas, kehilangan gairah, dan semangat didalam menjalani sesuatu. Meskipun sudah berusaha sekuat tenaga untuk memotivasi diri sendiri, tapi tetap saja seolah-olah masih terasa ada sesuatu kurang didalam diri kita. Artikel dan bacaan motivasi sudah dilalap habis, hasilnya sama sekali belum memberikan efek yang diinginkan. Motivasi mungkin muncul diawal, tetapi sulit utuk mempertahankannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisa jadi hal ini dikarenakan inkonsistesi kondisi emosional diri kita, dimana kondisi emosional mudah naik maupun turun (moody). Ketika melakukan suatu hal bergantung kepada mood pada saat itu. Saat mood sedang baik, maka baik pula hasil kerja kita. Sebaliknya, apabila mood sedang buruk, berpengaruh buruk pula terhadap hasil kerja kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Didalam dunia nyata, kita dituntut untuk sekonsisten mungkin didalam melakukan banyak hal. Baik dalam pekerjaan, rumah tangga, hubungan sosial, dan lain sebagainya. Konsistesi didalam memberikan yang terbaik yang bisa kita berikan, adalah suatu bentuk tanggung jawab terhadap komitment yang telah kita buat. Baik komitmen terhadap sebuah organisasi/lembaga, maupun komitmen dengan manusia lainnya. Apabila suatu hal yang kita lakukan bergantung kepada mood (moody), maka hal tersebut dapat dipandang orang lain sebagai rendahnya tanggung jawab kita terhadap sebuah komitmen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum melangkah lebih jauh, mungkin ada baiknya apabila kita mencoba untuk mencari tahu mengenai cara kerja otak kita. Hal ini dikarenakan motivasi, semangat, rasa malas, mood, dan lain sebagainya bersumber dari dalam pikiran kita. Organ tubuh yang paling berkaitan erat dengan pikiran kita, adalah otak kita. Mudah-mudahan dengan mengenal otak kita sendiri, akan membuat kita lebih memahami tentang pikiran kita. Apabila telah faham dengan pikiran kita sendiri, artinya kita dapat memahami tentang diri kita sendiri. Bagaimamapun sebuah perubahan itu harus dimulai dari diri sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Otak manusia, secara umum terbagi menjadi tiga bagian, yaitu;&lt;br /&gt;
• Batang, atau yang biasa disebut otak reptilia.&lt;br /&gt;
• Sistem Limbik, atau yang biasa disebut otak mamalia.&lt;br /&gt;
• Neokorteks, atau yang biasa disebut otak berfikir.&lt;br /&gt;
Otak reptilia itu memiliki fungsi motor sensorik, keinginan untuk mempertahankan hidup, dan mekanisme "hadapi atau lari". Otak mamalia lebih berkaitan dengan perasaan/emosi, memori, bioritmik, dan sistem kekebalan. Sedangkan otak berfikir, lebih menyangkut dengan berfikir intelektual, penalaran, perilaku waras, bahasa, dan hal-hal yang berkaitan dengan tingkat kecerdasan yang lebih tinggi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari sini dapat kita lihat keterkaitan antara emosi/perasaan dengan fisiologis tubuh, seperti daya ingat, sistem kekebalan, ritme kerja tubuh, dll. Semua itu diatur didalam bagian otak yang sama, yaitu sistem limbik atau bagian yang sering disebut sebagai otak mamalia. Oleh karena itu, apabila kita memiliki emosi yang positif hal tersebut akan berpengaruh positif terhadap kerja dari organ tubuh kita. Hal ini akan membuat kita lebih siap didalam menjalani dinamika kehidupan. Sehingga orang-orang yang memiliki emosi positif cenderung memiliki kinerja yang lebih baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Permasalahannya adalah bagaimana mempertahankan emosi yang positif tersebut, sehingga tidak cenderung moody (mudah berubah mood)?&lt;br /&gt;
Langkah pertama, kita harus menumbuhkan emosi positif. Pertama marilah sejenak, kita mencoba mengingat hal-hal yang telah kita lalui. Mulai dari saat kita kecil, sampai dengan saat ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adakah sebuah peristiwa masa kecil, yang kita masih mengingatnya hingga saat ini? Sewaktu kita mulai memasuki dunia sekolah, baik itu TK ataupun SD. Kejadian-kejadian apa saja yang sudah kita lalui didalamnya? Siapa saja teman-teman yang satu kelas dengan kita? Masihkah kita mengenal nama-nama mereka? Sewaktu kita seusia itu, permainan apa saja yang sering kita lakukan? Dengan siapa? Setelah itu kita mulai menginjak SMP, diantara dari kita mungkin mulai belajar menyukai lawan jenis. Ada banyak kisah yang kita lalui disana. Setelah itu kita memasuki masa-masa putih abu, atau menurut sebagian orang adalah masa-masa terindah yang pernah mereka lalui. Yupz, itulah masa-masa SMA. Kuliah,berkerja dst..., sampai dengan saat ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah memori milik kita sendiri, hanya milik kita sendiri. Setiap orang memiliki memorinya  masing-masing, karena setiap orang memiliki perjalanan hidupnya masing-masing. Perjalanan hidup yang dilalui seseorang, sangat berperan bagi orang tersebut untuk menilai dirinya sendiri. Keyakinan, pandangan, penilaian seseorang terhadap dirinya sendiri, dinamakan sebagai konsep diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konsep diri yang dimiliki seseorang sangat berpengaruh terhadap emosi yang dimilikinya. Seseorang yang memiliki konsep diri positif, cenderung memiliki emosi yang positif. Begitupula sebaliknya, seseorang yang memiliki konsep diri negatif, cenderung memiliki emosi negatif. Jadi, hal pertama yang harus dilakukan agar memiliki emosi yang positif, adalah dengan memiliki konsep diri yang positif. Bagaimana bisa kita memiliki emosi yang positif, apabila kita menilai diri kita sendiri negatif?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apabila terlanjur memiliki konsep diri yang negative, apa yang harus kita lakukan? Sedangkan konsep diri itu terbentuk dari perjalanan hidup yang kita lalui. Ada RAHASIA BESAR yang harus kita ketahui, bahwa ternyata konsep diri itu sifatnya dinamis. Artinya, ia tidak luput dari yang namanya perubahan. Oleh karena itu kita tidak perlu menyalahkan siapa-siapa terkait dengan perjalanan hidup yang telah lalui. Yang harus kita lakukan adalah mulai membangun konsep diri yang positif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana cara membangun konsep diri yang positif?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lihat talenta, bakat, dan potensi yang dimiliki. Ingat kembali pengalaman positif dan keberhasilan sekecil apapun yang pernah dicapai. Mulai dari sekarang, mari kita mencoba menghargai diri sendiri, karena dengan menghargai diri sendiri, kitapun mulai dapat menghargai orang lain, dan pada akhirnya orang lainpun akan menghargai kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedapat mungkin hindari apa yang namanya pertentangan batin, karena hal ini akan mengakibatkan kelelahan secara mental, dan berujung pada rasa frustasi yang dalam. Hal ini biasanya diakibatkan oleh kesenjangan yang terjadi antara harapan dengan kenyataan yang terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mulai dari sekarang mari kita mencoba mengendalikan pikiran kita. Cobalah memandang sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Ada satu hal yang pasti, yaitu dibalik semua peristiwa yang menimpa kita terkandung hikmah didalamnya. Terkadang kita baru dapat memahami hikmah dari suatu peristiwa, apabila kita mencoba melihat dari sudut pandang yang berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menumbuhkan konsep diri yang positif, hal pertama yang harus dilakukan adalah mencoba melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang positif. Nah..., selamat mencoba. ^_^&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7384130124302398532-4642565924850481523?l=ananfauzi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/AnanFauzisBlog/~4/o48YHuuXny4" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/AnanFauzisBlog/~3/o48YHuuXny4/management-emosi-bagian-pertama.html</link><author>noreply@blogger.com (Anan Fauzi)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://ananfauzi.blogspot.com/2011/04/management-emosi-bagian-pertama.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7384130124302398532.post-8960311684468362505</guid><pubDate>Fri, 01 Apr 2011 03:11:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-03-31T20:27:29.195-07:00</atom:updated><title>Ketika Harus Memilih...</title><description>Hello my friends, terkadang hidup itu terasa begitu rumit dan aneh. Ketika menjalani kehidupan, banyak hal tidak terduga yang mau tidak mau harus kita hadapi. Kita senantiasa dihadapkan pada berbagai macam pilihan. Dimana setiap pilihan yang kita ambil, mempunyai konsekuensinya masing-masing. Ada sisi yang positif maupun negatif, semua itu adalah sebuah keniscayaan. Tinggal, bagaimana cara kita untuk menghadapinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memilih bukan merupakan suatu perkara yang mudah, butuh waktu dan pertimbangan yang matang. Terkadang kita juga dihadapkan sebuah persoalan, dimana kita harus  mengambil keputusan secara cepat. Cepat disini dalam artian, kita tidak mendapatkan banyak waktu untuk mempertimbangkan sebuah pilihan. Hal ini merupakan sebuah persoalan tersendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari pemaparan diatas timbul sebuah pertanyaan, apa yang sebenarnya dipertimbangkan ketika membuat sebuah pilihan? Seperti yang sudah diutarakan sebelumnya, bahwa setiap pilihan itu memiliki konsekuensinya masing-masing. Ada sisi positif maupun negatif. Pada hakikatnya,ketika membuat sebuah pilihan, hal yang kita pertimbangkan adalah konsekuensi dari pilihan tersebut. Apakah pilihan tersebut, membawa manfaat ataukah sebaliknya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai seorang manusia, kita tidak dapat mengidentifikasi keseluruhan konsekuensi dari sebuah pilihan. Oleh karena itu, merupakan hal yang penting bagi seorang individu untuk mendiskusikan pilihannya dengan individu lain. Dari sana, kita bisa memperoleh cara pandang yang berbeda terhadap suatu permasalahan. Dengan begitu, kita bisa mendapatkan gambaran yang lebih luas mengenai suatu permasalahan, yang pada akhirnya menyangkut kepada pilihan yang akan kita ambil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap manusia memiliki cara yang berlainan ketika merespon dan menterjemahkan sebuah permasalahan. Apabila sebuah permasalahan itu kita ibaratkan sebuah kotak, maka cara merespon dan menterjemahkan permasalahan tersebut, dapat kita ibaratkan cara kita melihat kotak tersebut. Apakah kita melihat kotak tersebut dari sisi kanan, kiri, depan, belakang, atas, bawah, dari sudut kemiringan tertentu, atau mungkin kita melihat dari dalam kotak.Yang terpenting adalah, bagaimana cara kita menempatkan pandangan tersebut sesuai pada tempatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini penting, mengingat tujuan awal dari diskusi kita adalah untuk mendapatkan gambaran yang lebih utuh mengenai sebuah permasalahan. Jangan sampai kita terjebak kepada cara pandang orang lain. Apabila cara pandang orang tersebut, lebih utuh dan lebih lengkap dari cara pandang kita. Tentunya hal itu bukan merupakan sebuah masalah, karena hal tersebut akan melengkapi cara pandang kita. Permasalahannya adalah, apabila hal yang terjadi adalah sebaliknya. Cara pandang orang tersebut lebih sempit dan lebih dangkal dari cara pandang kita. Sudah barang tentu akan mempersulit diri kita ketika akan membuat sebuah pilihan. Oleh karena itu, akan lebih bijak apabila kita memiliki cara pandang kita sendiri. Dan cara pandang orang lain, kita jadikan sebagai pelengkap, untuk melengkapi cara pandang kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak semua cara pandang orang lain, dapat dijadikan pelengkap cara pandang kita. Karena terkadang orang lain mempertimbangkan sebuah permasalahan berdasarkan kondisi yang dia alami,bukan kondisi yang kita alami, sehingga diperlukan sebuah penyesuaian berdasarkan kondisi yang sedang kita alami. Disamping itu, ada juga cara pandang orang lain yang tidak dapat kita gunakan sama sekali, karena cara pandang tersebut bersifat dekstruktif/merusak terhadap diri kita. Untuk itu,&lt;br /&gt;
diperlukan kembali yang namanya kejernihan pikiran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pikiran yang jernih adalah pikiran yang mampu menimbang segala sesuatunya secara proposional. Proposional disini dalam artian, sesuai dengan nilai-nilai yang kita yakini dan menunjang kearah pencapaian tujuan hidup kita. Bagaimanapun, setiap manusia mempunyai tujuan dan cita-cita yang ingin ia raih didalam kehidupannya, sehingga setiap saran dan masukan dari orang lain harus kita sesuaikan dengan nilai-nilai yang kita yakini, tujuan hidup kita, dengan tetap mempertimbangkan kondisi kita saat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agar pikiran kita jernih dan mampu menimbang segala sesuatunya secara proposional, diperlukan kejujuran terhadap diri sendiri. Jangan sampai kita dipengaruhi oleh ambisi,kesombongan, dan ego yang berlebihan, karena kesemuanya itu dapat mempersempit cara pandang kita, atau bahkan mungkin malah membutakan mata hati kita. Untuk dapat jujur kepada sendiri, merupakan sebuah persoalan lain, yang mungkin lebih sulit daripada memilih, karena ini merupakan salah satu persoalan manusia yang fundamental. Kita dituntut harus mampu secara utuh menerima dan mensyukuri diri kita apa adanya, baik itu kelebihan dan kekurangan kita. Untuk selanjutnya, memberikan yang terbaik dari apa yang bisa kita berikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika harus memilih, sudah barang tentu kita mengharapkan konsekuensi yang lebih baik bagi diri kita. Untuk itu diperlukan sebuah pemahaman yang utuh, mengenai diri kita sendiri dan persoalan apa yang kita hadapi. Salah satu caranya adalah dengan sharing, atau berdiskusi dengan orang lain. Dengan saling berbagi kita bisa mendapatkan gambaran yang lebih utuh mengenai diri kita, dan permasalahan yang kita hadapi. Hal yang terpenting adalah, kita mampu menyesuaikan saran, masukan, dan cara pandang orang lain, dengan nilai-nilai yang kita yakini, tujuan hidup, dan&lt;br /&gt;
kondisi kita saat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk dapat menyesuaikan kesemuanya itu diperlukan sebuah pikiran yang jernih. Dan pikiran yang jernih hanya bisa didapatkan apabila kita sudah mampu untuk jujur kepada diri kita sendiri. Dimana untuk jujur kepada diri sendiri, merupakan sebuah persoalan tersendiri yang lebih sulit daripada memilih itu sendiri. Kejujuran diri merupakan sebuah hal yang fundamental yang dapat membentuk secara utuh pemahaman individu mengenai diri sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak peduli apakah kita dituntut untuk membuat pilihan secara cepat maupun tidak. Apabila kita ingin membuat pilihan yang lebih baik, syaratnya tetap sama. Kita harus mampu memahami secara utuh diri kita dan permasalahan yang sedang kita hadapi. Perbedaannya adalah untuk pilihan yang harus dibuat secara cepat, intuisi kita akan lebih banyak mengambil peran. Sedangkan yang namanya intuisi itu bisa dilatih, semakin banyak jam terbang kita menghadapi suatu permasalahan, semakin tajam pula intuisi kita. Oleh karena itu apabila kita perhatikan, seorang pebisnis yang sudah malang melintang umumnya memiliki intuisi bisnis yang lebih peka  dibandingkan seseorang yang baru terjun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada satu hal lagi yang hampir saya lupakan. Ketika kita harus memilih, kita juga harus siap menghadapi semua konsekuensi dan resiko dari pilihan yang kita ambil. Mau tidak mau, kita harus menjalani proses dari pilihan yang kita ambil. Disinilah ketahanan dan daya juang kita diuji, apakah kita dapat menyelesaikan sesuatu yang telah kita mulai? Mungkin boleh dibilang, ini adalah proses tersulit didalam kehidupan manusia, yaitu menjalani kehidupan itu sendiri. Untuk tetap konsistent dan bertanggung jawab terhadap kehidupan yang dijalani, bagi saya pribadi adalah proses tersulit yang harus dijalani. Lantas, bagaimana dengan anda?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun begitu, kita sama-sama berjuang. Meskipun terkadang rasanya ingin menyerah, tetapi bukan itu akhir yang kita inginkan. Saya percaya semua orang ingin memiliki akhir yang indah didalam kehidupannya, dan berjuang untuk mendapatkan akhir yang indah didalam kehidupannya. So..., jangan menyerah dan tetap semangat. ^_^&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7384130124302398532-8960311684468362505?l=ananfauzi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/AnanFauzisBlog/~4/KCHvrPvNZnY" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/AnanFauzisBlog/~3/KCHvrPvNZnY/ketika-harus-memilih.html</link><author>noreply@blogger.com (Anan Fauzi)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://ananfauzi.blogspot.com/2011/03/ketika-harus-memilih.html</feedburner:origLink></item></channel></rss>

