<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/atom10full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" gd:etag="W/&quot;DUAERHYzfyp7ImA9WhRaE0U.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5048706539041816714</id><updated>2012-02-16T17:21:45.887+07:00</updated><category term="Agriculture" /><title>AnasKangkung</title><subtitle type="html">come on shar with all people in the world</subtitle><link rel="http://schemas.google.com/g/2005#feed" type="application/atom+xml" href="http://anaskangkung.blogspot.com/feeds/posts/default" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://anaskangkung.blogspot.com/" /><author><name>Azwar Anas</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="27" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/_LrWOPzeUdCg/SrwVkgTnMeI/AAAAAAAAAAw/Bwhsfo2hPZ4/S220/Cute+sWeet.jpg" /></author><generator version="7.00" uri="http://www.blogger.com">Blogger</generator><openSearch:totalResults>8</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/atom+xml" href="http://feeds.feedburner.com/Anaskangkung" /><feedburner:info uri="anaskangkung" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><entry gd:etag="W/&quot;DU8HQXo8eCp7ImA9Wx9VFEg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5048706539041816714.post-4543235465695957714</id><published>2009-11-12T23:05:00.002+07:00</published><updated>2011-01-31T14:10:30.470+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-01-31T14:10:30.470+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Agriculture" /><title>Pengembangan Teknologi Dalam Mendukung Diversivikasi Pertanian</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pertanian merupakan usaha yang terdiri 3 tahap yaitu pra usaha tani, usaha tani, dan pasca usaha tani. Di Indonesia penanganan masalah pra usahatani sudah cukup maju, banyak perlakukan terhadap persiapan lahan, bibit, dan usaha pra tani lain yang sudah menggunakan teknologi sehingga hasilnya cukup baik. Sektor usaha tani juga cukup maju dengan pegembangan berbagai metode dalam memperoleh out put yang berkualitas. Problem terbesar dalam pertanian Indonesia adalah pada tahap pasca panen. &lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hal ini dapat dibuktikan dari data FAO  bahwa harga beras impor dari Thailand yang murah dengan mutu lebih baik dari pada beras lokal, hal ini  dapat mencerminkan penerapan teknologi pascapanen yang lebih maju di Thailand dibandingkan di Indonesia. Hal ini juga tercermin dari indikator daya saing global Thailand yang mencapai peringkat 33 sementara Indonesia pada peringkat 64. Rendahnya produktivitas padi Indonesia tahun 2000 (4,40 t/ha), yang di dunia hanya mencapai urutan ke-29, juga mencerminkan masih relatif rendahnya daya saing global Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Produksi pangan Indonesia masih di bawah rata jika dilihat dari perbandingan dengan jumlah penduduk. Sutrisno dkk  menegaskan Eropa memiliki seperempat (24%) populasi dunia, tetapi menghasilkan hampir separuh (48%) jumlah total persediaan makanan, demikian juga Amerika Utara yang hanya memiliki 8% penduduk dunia, tetapi menghasilkan 20% persediaan makanan dunia. Sebaliknya Timur jauh, termasuk Indonesia yang memiliki 40% penduduk dunia hanya menyediakan 14% persediaan makanan dunia. Hal  ini sangat memprihatinkan. Ada beberapa tahap penerapan teknologi menurut Sutrisno sebagai berikut :&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Pemilihan prioritas: jenis teknologi, skala teknologi &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Perhitungan dampak terhadap: kebutuhan dana, potensi pertanian rakyat, sustainability, potensi ekspor, potensi penyelesaian pengengguran, keterlibatan sektor swasta dan daya serap teknologi oleh rakyat &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Penjadwalan pengembangan teknologi &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Pelaksanaan pengembangan teknologi &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Strategi implementasi teknologi&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Penerapan teknologi pasca panen hendaknya lebih ditingkatkan dalam tahap pasca panen. Banyak kegagalan petani akibat tidak efektif dalam penanganan pasca panen. Pemerintah diharapakn bisa melakukan suatu sosialisasi petani terhadap efisiensi dan efektivitas teknologi dalam penanganan pasca panen. Pemerintah harus lebih mengutamakan petani dalam program kerjanay karena mayoritas penduduk Indonesia adalah petani dan sebagian besar berada di bawah garis kemiskinan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
_________________&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tastra, I Ketut. 2003. Strategi Penerapan Alsintan Pascapanen Tanaman Pangan Di Jawa Timur Dalam Memasuki Afta 2003. Jurnal Litbang Pertanian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sutsino dkk. 2007. Pengembangan Teknologi Pasca Panen. lemlit.ugm.ac.id.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5048706539041816714-4543235465695957714?l=anaskangkung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/JPGEm6q9Q63Sg9m2j7cAiscdky8/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/JPGEm6q9Q63Sg9m2j7cAiscdky8/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/JPGEm6q9Q63Sg9m2j7cAiscdky8/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/JPGEm6q9Q63Sg9m2j7cAiscdky8/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Anaskangkung/~4/0yI-jvn6edQ" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://anaskangkung.blogspot.com/feeds/4543235465695957714/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5048706539041816714&amp;postID=4543235465695957714" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5048706539041816714/posts/default/4543235465695957714?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5048706539041816714/posts/default/4543235465695957714?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Anaskangkung/~3/0yI-jvn6edQ/pengembangan-teknologi-dalam-mendukung.html" title="Pengembangan Teknologi Dalam Mendukung Diversivikasi Pertanian" /><author><name>Azwar Anas</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="27" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/_LrWOPzeUdCg/SrwVkgTnMeI/AAAAAAAAAAw/Bwhsfo2hPZ4/S220/Cute+sWeet.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://anaskangkung.blogspot.com/2009/11/pengembangan-teknologi-dalam-mendukung.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DU8ERXgzcSp7ImA9Wx9VFEg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5048706539041816714.post-5736599966372609818</id><published>2009-11-12T23:02:00.004+07:00</published><updated>2011-01-31T14:10:04.689+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-01-31T14:10:04.689+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Agriculture" /><title>Pola Adaptasi Ekologi</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kebakaran hutan merupakan masalah yang tak kunjung selesai, padahal banyak dampak buruk dari kebakaran hutan. Dampak buruk kebakaran hutan antara lain penghilangan ekosistem bagi fauna yang mendiami hutan, asap dari kebakaran hutan juga dapat menyebabkan penyakit seperti ISPA, selain itu dampak negatif yang paling memperihatinkan yaitu terjadinya bencana banjir dan tanah longsor akibat tidak adanya faktor penyerap dan penahan air pada musim penghujan. Adapun penyebab kebakaran antara lain karena rendahnya kesadaran terhadap bahaya kebakaran saat menyiapkan lahan, faktor alam, perubahan status kawasan, degradasi hutan, hingga iklim. &lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Menurut Rully Syumanda , pembakaran hutan merefleksikan bahwa kebakaran hutan dilakukan secara sengaja dan menjadi salah satu bagian penting dari masalah kehutanan dan perkebunan Indonesia. Hutan Indonesia sebenarnya masuk dalam kategori hutan hujan basah yang sebenarnya kecil kemungkinan terjadi kebakaran dengan sendirinya atau yang disebabkan karena faktor alam. Faktanya kawasan yang terbakar adalah kawasan yang telah telah dibersihkan memalui proses land clearing sebagai salah satu persiapan pembangunan kawasan perkebunan. Artinya kebakaran hutan secara nyata dipicu oleh api yang sengaja dimunculkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Faktor manusia sangat berpengaruh besar terhadap kelangsungan kehidupan hutan. Manusia yang secara harfiah memanfaatkan alam haruslah bisa memanfaatkan sumber daya alam ini dengan baik, namun jika salah dalam pengelolaannya ini berdampak buruk. Dalam konteks ini kerja sama antara pihak-pihak terkait sangat dibutuhkan untuk menekan laju kebakaran hutan di Indonesia akibat ulah manusia. Seperti yang dijelaskan oleh MS Kaban dalam  Lokarya Pengendalian Kebakaran Hutan Serta Penanggulangan Bencana Asap di Jambi , peraturan perundangan yang mengatur pengendalian kebakaran hutan dan lahan telah cukup tersedia. Tapi, bila masih ada kebakaran hutan dan lahan, hal itu terjadi karena kurang kuatnya komitmen seluruh instansi dalam melaksanakan peraturan perundangan. Untuk itu, diperlukan komitmen kuat juga integrasi pengendalian oleh semua pihak. Pemerintah hendaknya bisa turun tangan dalam masalah ini dengan melakukan penyuluhan atau bimibingan sejak dini pada masyarakat luas terutama masyarakat sekitar hutan tentang pentingnya ekosistem hutan sebagai penyeimbang alam yang harus di jaga, sedangkan untuk pihak pemegang hak penguasaan hutan (HPH) harus diberi ketegasan hukum untuk menjaga kelestrian hutan dari penyalah gunaan hak yang telah diberikan. Dari permasalahan diatas dapat disimpulkan bahwa dalam penanganan kebakaran hutan perlu kerja sama banyak pihak. Selain itu, komitmen kuat berikut integrasi pengendalian pun diperlukan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
___________________&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syumanda,Rully.2007. &lt;i&gt;Kebakaran Hutan dan lahan - Kebutuhan Akan Kebijakan Yang Mengatur Tanggung Jawab Perusahaan&lt;/i&gt;. http://rully-syumanda.blogspot.com/2007/06/kebakaran-hutan-dan-lahan-kebutuhan.html.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Primus.2007. &lt;i&gt;Penanganan Kebakaran Hutan Perlu Kerja Sama Banyak Pihak&lt;/i&gt;. http://64.203.71.11/kompas-cetak/0306/16/iptek/372746.htm.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5048706539041816714-5736599966372609818?l=anaskangkung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/2BBPw8luk3ZWh5WWo-ABVrtU4FE/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/2BBPw8luk3ZWh5WWo-ABVrtU4FE/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/2BBPw8luk3ZWh5WWo-ABVrtU4FE/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/2BBPw8luk3ZWh5WWo-ABVrtU4FE/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Anaskangkung/~4/fZeYyeWIT7g" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://anaskangkung.blogspot.com/feeds/5736599966372609818/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5048706539041816714&amp;postID=5736599966372609818" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5048706539041816714/posts/default/5736599966372609818?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5048706539041816714/posts/default/5736599966372609818?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Anaskangkung/~3/fZeYyeWIT7g/pola-adaptasi-ekologi.html" title="Pola Adaptasi Ekologi" /><author><name>Azwar Anas</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="27" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/_LrWOPzeUdCg/SrwVkgTnMeI/AAAAAAAAAAw/Bwhsfo2hPZ4/S220/Cute+sWeet.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://anaskangkung.blogspot.com/2009/11/pola-adaptasi-ekologi.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUACQXc5eip7ImA9Wx9VFEg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5048706539041816714.post-8494211026250728123</id><published>2009-11-12T21:26:00.004+07:00</published><updated>2011-01-31T14:09:20.922+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-01-31T14:09:20.922+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Agriculture" /><title>Subak Dalam Masyarakat dan Kebudayaan Agraris</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Subak menurut I Made Semada merupakan suatu tradisi turun temurun dikalangan masyarakat Bali, didalam pengelolaan irigasi dan pertanian sawah. Subak merupakan perkumpulan petani pemakai air, mengatur dirinya sendiri didalam pembangunan dan pengelolaan irigasi dan pertanian diwilayahnya secara otonom dan demokrasi. Subak telah dipelajari oleh Clifford Geertz, sedangkan J. Stephen Lansing telah menarik perhatian umum tentang pentingnya sistem irigasi tradisional. &lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ia mempelajari pura-pura di Bali, terutama yang diperuntukkan bagi pertanian, yang biasa dilupakan oleh orang asing. Pada tahun 1987 Lansing bekerja sama dengan petani-petani Bali untuk mengembangkan model komputer sistem irigasi Subak. Dengan itu ia membuktikan keefektifan Subak serta pentingnya sistem ini Namun keberadaan subak sangat terancam. Banyak lahan-lahan pertanian yang dialih fungsikan menjadi obyek wisata atau fasilitas wisata. Banyaknya pembangunan ini berakibat tidak hanya subak yang terancam tapi juga masyarakat adat  dan petani sebagai pemegang atau petugas yang mengurus subak dan pengguna sarana subak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Prof. Dr Nyoman Sutawan dalam makalah seminar "Sistem Subak di Bali  menghadapi Era Globalisasi" di Universitas Udayana, Denpasar, (16/8) menyebutkan, menjadi petani bukanlah pilihan generasi muda di Bali. Penduduk Bali, terutama pemuda, cenderung ingin bekerja di sektor pariwisata karena lebih bergengsi dan menjanjikan penghasilan yang jauh melebihi pekerjaan bertani. Pertanian merupaka sektor penting, tapi karena kurangnya penyuluhan kepada masyarakat akan pentingnya pertanian, pemerintah hendaknya ikut andil dalam melestarikan pertanian sekaligus budaya subak yang telah turun temurun yang terancam punah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Mengingat subak merupakan suatu sistem efektif banyak hal yang bisa dilakukan pemerintah untuk tetap melestarikan subak. Pemerintah bisa menjadikan subak menjadi sebuah lembaga yang dilindungi oleh badan hukum sehingga perihal yang mengancam pertanian atau pun subak bisa mudah dihadapi. Kerjasama antara pemerintah, petani dan masyarakat adat sangatlah penting untuk mempertahankan subak serta memajukan pertanian. Pendapatan pemerintah dari sektor pariwisata sangatlah melimpah ruah, alangkah baiknya jika pendapatan atau simpanan daerah digunakan untuk memajukan sektor pertanian. Pertanian jika ditangani dengan baik sangatlah menjanjikan. Bukan tidak mungkin jika penangan masalah ini ditangani dengan serius dan tidak setengah hati Bali bisa menjadi provinsi yang tidak hanya di kenal karena wisata tapi juga pertaniannya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Semada, I Made. 2000.Peran Subak Gede Caguh Dalam Pengelolaan Jaringan Irigasi.http://air.bappenas.go.id. &lt;br /&gt;
2008. Subak (Irigasi).Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. &lt;br /&gt;
2004.Tradisi Subak Dalam Nuansa Metropolitan.KCM. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5048706539041816714-8494211026250728123?l=anaskangkung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/NPxndKr6trSku1HAH2WE6lwl5Us/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/NPxndKr6trSku1HAH2WE6lwl5Us/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/NPxndKr6trSku1HAH2WE6lwl5Us/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/NPxndKr6trSku1HAH2WE6lwl5Us/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Anaskangkung/~4/8QzWmbavfyE" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://anaskangkung.blogspot.com/feeds/8494211026250728123/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5048706539041816714&amp;postID=8494211026250728123" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5048706539041816714/posts/default/8494211026250728123?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5048706539041816714/posts/default/8494211026250728123?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Anaskangkung/~3/8QzWmbavfyE/subak-dalam-masyarakat-dan-kebudayaan.html" title="Subak Dalam Masyarakat dan Kebudayaan Agraris" /><author><name>Azwar Anas</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="27" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/_LrWOPzeUdCg/SrwVkgTnMeI/AAAAAAAAAAw/Bwhsfo2hPZ4/S220/Cute+sWeet.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://anaskangkung.blogspot.com/2009/11/subak-dalam-masyarakat-dan-kebudayaan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUAER3c4eyp7ImA9Wx9VFEg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5048706539041816714.post-2333523913678100098</id><published>2009-11-05T21:26:00.006+07:00</published><updated>2011-01-31T14:08:26.933+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-01-31T14:08:26.933+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Agriculture" /><title>Unsur-unsur dan Ciri-ciri Pertanian</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kemiskinan merupakan masalah bangsa Indonesia yang tak kunjung usai. Kemiskinan merpakan faktor yang dapat berdampak negatif bagi kehidupan. Kemiskinan bisa menyebabkan terjadinya hal kriminal, gizi buruk, kebodohan dan masih banyak lagi. Indonesia merpakan negara agraris yang sangat besar namun mayoritas penduduknya sebagian besar berada di bawah garis kemiskinan. Saat ini 70 persen masyarakat miskin Indonesia adalah petani. Hal ini bertentangan dengan anggapan bahwan Indonesia merupakan negara agraris tapi justru faktor fundamental agraria sebagian besar miskin. Petani yang miskin cenderung petani desa.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dari hasil penelitihan Tim Yusuf gayo , bisa disimpulkan ada beberapa faktor utama penyebab semakin terpuruknya kondisi ekonomi masyarakat desa itu(petani, nelayan, perajin, peternak dan buruh), sebagai berikut :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Kuatnya posisi pedagang perantara yang didukung oleh birokrat perdesaan yang juga turut menikmati sebagian keuntungana dari mekanisme pasar yang tidak berpihak pada petani&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Seluruh pasar baik lokal, regional maupun eksport umumnya telah dikuasai pedagang dengan distribusi income yang semakin tidak adil bagi produsen di perdesaan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bantuan-bantuan pemerintah seperti JPS sangat kecil yang benar-benar sampai kepada masyarakat yang menjadi target.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tingkat pendidikan masyarakat desa yang relatif rendah sehingga tidak mampu menerima modernisasi dalam upaya meningkatkan teknologi untuk mengefisiensikana kegiatan ekonomi mereka.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari beberapa alternatif tersebut kita bisa mengetahui apa penyebab kemisikinan petani. Seperti yang dilansir TARGET MDGs – Indonesia, Kemiskinan petani, terutama petani padi, sudah terekam lama. Setelah krisis, nilai tukar petani terus merosot. Artinya, perbandingan harga yang diterima dan dibayarkan petani kian menurun. Ini menjadi petunjuk, kesejahteraan mereka kian merosot dan miskin. Kini tingkat Kemiskinan di pedesaan lebih tinggi sebelum krisis dan keadaan sebaliknya terjadi di perkotaan. Hal itu menandakan pengentasan Kemiskinan di pedesaan lebih lamban. Kebijakan antipedesaan, seperti impor beras,penurunan harga pembelian gabah dan bea impor, hanya akan memperdalam tingkat Kemiskinan. Yang diperlukan adalah beleid yang mempromosikan pedesaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dalam pemecahan masalah ini perlu diadakan kajian, seperti yang diungkapkan Yusuf gayo, pengembangan perdesaan yang merupakan usaha untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat perdesaan secara bertahap  melalui :&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Pembentukan lembaga koperasi oleh masyarakat, agar masyarakat mampu melaksanakan prosesing, pemasaran dan melindungi dirinya dari ulah para spekulan,&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Pengembangan produk pertanian unggulan yang berkualitas dan berdaya saing,&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Peningkatan kesempatan berusaha dan bekerja guna peningkatan pendapatan,&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Pengembangan lembaga-lembaga Pemerintah untuk memfasilitasi kebutuhan modal, kegiatan usaha dan pengembangan SDM di perdesaan.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;___________________________&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gayo,yusuf. 2003. Menelusuri Simpul Penyebab Kemiskinan Masyarakat Desa. www.pu.go.id.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
TARGET MDGs Indonesia. Petani, Kemiskinan dan Reforma Agraria. www.targetmdgs.org. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gayo,yusuf. 2003. Menelusuri Simpul Penyebab Kemiskinan Masyarakat Desa. www.pu.go.id.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5048706539041816714-2333523913678100098?l=anaskangkung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/sdcIsUagjOZE7pI5jHbGB7uu50Q/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/sdcIsUagjOZE7pI5jHbGB7uu50Q/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/sdcIsUagjOZE7pI5jHbGB7uu50Q/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/sdcIsUagjOZE7pI5jHbGB7uu50Q/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Anaskangkung/~4/Y7QhCqWgMQs" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://anaskangkung.blogspot.com/feeds/2333523913678100098/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5048706539041816714&amp;postID=2333523913678100098" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5048706539041816714/posts/default/2333523913678100098?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5048706539041816714/posts/default/2333523913678100098?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Anaskangkung/~3/Y7QhCqWgMQs/unsur-unsur-dan-ciri-ciri-pertanian.html" title="Unsur-unsur dan Ciri-ciri Pertanian" /><author><name>Azwar Anas</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="27" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/_LrWOPzeUdCg/SrwVkgTnMeI/AAAAAAAAAAw/Bwhsfo2hPZ4/S220/Cute+sWeet.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://anaskangkung.blogspot.com/2009/11/unsur-unsur-dan-ciri-ciri-pertanian.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUEDQXY8eSp7ImA9Wx9VFEg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5048706539041816714.post-166934836012780117</id><published>2009-10-28T19:50:00.003+07:00</published><updated>2011-01-31T14:07:50.871+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-01-31T14:07:50.871+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Agriculture" /><title>Fenomena Gula Indonesia</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Impor gula saat ini mencapai 47% dari kebutuhan gula di Indonesia. Dapat diartika separuh dari satu sendok gula yang kita gunakan adalah gula impor. Hal ini dirasa kurang menguntungkan bagi petani. Denga adanya impor gula, tebu mereka hanya laku murah. Industri-industri gula di Indonesia sudah banyak yang melemah. Sejarah pernah mencatat bahwa Indonesia pernah menjadi negara pengekspor gula terbesar kedua di dunia. &lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="fullpost" style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Saat ini Indonesia menjadi negara pengimpor gula terbesar kedua di dunia. Kenapa hal ini bisa terjadi. Kebijakan pemerintah yang ada dinilai oleh petani masih belum bisa secara adil. Pemerintah lebih menitik beratkan pada konsumen, tanpa melihat aspek lain. Impor gula besar-besaran beberapa tahun yang lalu mengakibatkan banyak pabrik gula gulung tikar. Petani membakar tebu mereka sebagai wujud kekecewaan terhadap pemerintahan.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Akibat dari impor gula tersebut, Negara kita tidak bisa lepas dari ketergantungan gula impor. Produksi gula dalam negeri turun drastis karena adanya impor gula murah. Tercatat di Indonesia hanya ada 10 pabrik gula yang layak untuk industri gula. Berkaca dari hal tersebut kebijakan pemerintah harus melihat banyak aspek. Tahun 2009 pemerintah membuka peluang untuk impor. Impor gula tahun depan akan ditarik untuk menutup kebutuhan stok sampai akhir 2009 ini. Pemerintah melihat adanya indikasi produksi gula tahun ini akan meleset dari proyeksi awal. "Sekarang kita sedang kumpulkan stok dengan cara menambah dan mempercepat impor," ujar Deputi Menko Perekonomian Bidang Pertanian dan Kelautan Bayu Krishnamurti. Menurut mereka, jumlah gula yang akan diimpor dalam waktu dekat ini sebanyak 220 ribu ton atau sekitar 10 persen dari target impor 2010. Dari jumlah impor 220 ribu ton itu sebanyak 180 ribu ton diantaranya merupakan jatah impor tahun ini.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Usaha pengurangan impor oleh pemerintah masih belum menuai hasil. Ada beberapa pendapat yang menyatan bahwa impoberas dikurangi.  Perbandingan penerapan tarif impor  Uni Eropa menetapkan  240 persen, Bangladesh 200 persen, Amerika Serikat 155 persen, India 150 persen, Filipina 133 persen, Kolombia 130 persen dan Thailand 104 persen.  Negara kita relatif tidak ada subsidi untuk petani tebu  sejak 1998 dan hanya  menerapkan tarif impor yang rendah untuk melindungi industri gula nasional yakni hanya 25 persen.  Dengan demikian, menurut pendapat ini tidak mengherankan kalau gula impor lebih murah harganya dibanding gula domestik.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pemeritah harus mulai beranjak berpikir dan bertindak denga melihat banyak aspek. Petani juga harus ikut andil tidak hanya mengeluh dan menyalahkan pemerintah. Jika kerjasama bisa terjadi keterpurukan akan gula bisa terlewati. Dari Kongres IKAGI di Yogyakarta tahun  lalu, kalangan industri gula nasional memprediksi Indonesia akan mencapai swasembada gula pada 2009 dengan produksi mencapai 3,05 juta ton dan meningkat menjadi 3,35 juta ton pada 2010. Jika kita bersatu dalam mengahadipi masalah indonesia yang maju bisa tercapai. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5048706539041816714-166934836012780117?l=anaskangkung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/1YaJhz1hJ37MAijspbqflOjkaUU/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/1YaJhz1hJ37MAijspbqflOjkaUU/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/1YaJhz1hJ37MAijspbqflOjkaUU/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/1YaJhz1hJ37MAijspbqflOjkaUU/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Anaskangkung/~4/D_WvEekmuj8" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://anaskangkung.blogspot.com/feeds/166934836012780117/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5048706539041816714&amp;postID=166934836012780117" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5048706539041816714/posts/default/166934836012780117?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5048706539041816714/posts/default/166934836012780117?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Anaskangkung/~3/D_WvEekmuj8/gula-saat-ini.html" title="Fenomena Gula Indonesia" /><author><name>Azwar Anas</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="27" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/_LrWOPzeUdCg/SrwVkgTnMeI/AAAAAAAAAAw/Bwhsfo2hPZ4/S220/Cute+sWeet.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://anaskangkung.blogspot.com/2009/10/gula-saat-ini.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUIDQXc7cCp7ImA9Wx9VFEg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5048706539041816714.post-3623392660135245993</id><published>2009-10-08T06:47:00.005+07:00</published><updated>2011-01-31T14:06:10.908+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-01-31T14:06:10.908+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Agriculture" /><title>Syarat Pelancar Pembangunan menurut Mosher</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dalam pembangunan pertanian terdapat syarat-syarat yang harus dilakukan. Menurut Mosher dalam pembangunan pertanian harus ada syarat pokok antara lain, adalah tersedianya pasar untuk hasil usaha tani, adanya teknologi&amp;nbsp; yang selalu berubah, tersedianya sarana produksi (saprodi) setempat yang selalu lancar, adanya perangsang produksi dan adanya sarana pengangkutan . Syarat pokok akan ditunjang dengan syarat pelancar yang meliputi meliputi (1) Pendidikan pembangunan; (2) Kredit produksi; (3) Kegiatan gotong-royong petani; (4) Perbaikan dan peluasan tanah pertanian; dan (5) Perencanaan nasional pembangunan pertanian.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pendidikan pembangunan adalah suatu bentuk pemberian atau peningkatan pengetahuan SDM yang untuk mencapai pembangunan pertanian. Langkah ini dapat ditunjang dengan penyuluhan pada petani. Dengan adanya upaya untuk meningkatkan pengetahuan wawasan dalam pertanian akan lebih terbuka.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kredit produksi merupakan bentuk bantuan sokongan finansial bagi pertanian terutama petani. Dengan adanya kredit produksi petani menjadi lebih leluasa dalam melakukan produksi pertanian dan dapat membuka peluang untuk lebih meningkatkan kualitas pertanian mereka. Kredit produksi biasanya berupa pinjaman tanpa bunga dan peminjaman alat produksi dengan biaya terjangkau dsb.&lt;br /&gt;
Kegiatan gotong royong petani adalah wujud ikatan sosial yang tinggi yang ada pada kaum petani. Umumnya jika petani individual kemakmuran dunia pertanian hanya akan terjadi pada beberapa individu saja. Namun dengan gotong royong makna kemakmuran dalam pertanian bisa lebih merata.&lt;br /&gt;
Perbaikan dan perluasan tanah pertanian adalah suatu bentuk untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pertanian. Perbaikan lahan ditujukan agar lahan yang terlalu sering ditanami lebih bisa berpotensi lagi. Hal ini dapat dilakukan dengan pemupukan atau pergiliran tanaman. Perluasan tanah pertanian bertujuan agar peluang kuantitas hasil produksi pertanian lebih besar sehingga bisa tercapai suatu swasembada pertanian.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Perencanaan nasional pembangunan pertanian harus dipikirkan matang-matang. Sebelum melakukan realisasi dari syarat-syarat atau usaha pembangunan pertanian pemerintah harus memikirkan jalan terbaik bagaimana pertanian ini agar lebih maju. Perencanaan biasanya dalam jangka panjang untuk mencapai tujuan.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dengan memperhatikan aspek productivity, stability, sustainability dan equality (produktivitas, stabilitas, berkelanjutan dan dapat disebarluaskan) dan empat aspek lainnya, yaitu pemanfaatan sumberdaya yang efisien, teknologi yang senantiasa berubah, institusi dan budaya yang mendukung program pembangunan pertanian maka keberhasilan pembangunan pertanian pertanian yang berkelanjutan akan tercapai. &lt;br /&gt;
Pembangunan pertanian di Indonesia bisa tercapai jika syarat-syarat pembangunan bisa terpenuhi. Kendala tidak lengkapnya syarat yang ada akan menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua. Mencari solusi dari banyak sudut pandang sehingga kita bisa mencapai pembangunan pertanian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Daftar Pustaka&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Drs Gatot Marsono MM, 2009. Bali Desa mBangun Desa-nya Bibit Waluyo ; Jateng Menuju Peradaban Baru. http://222.124.164.132/web/detail.php?sid=188257&amp;amp;actmenu=39&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ansor, 2008. Peranan Pertanian Dalam Pembangunan Nasional http://tjitamiank.blog.friendster.com&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ika Radiastuti, 2009. Pengembangan Agribisnis Dalam Perspektif Pembangunan Pertanian Yang Berkelanjutan enaisans-unibo.blogspot.com&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5048706539041816714-3623392660135245993?l=anaskangkung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/y6zBWkTIWR9sEv418V9xCzUBOvU/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/y6zBWkTIWR9sEv418V9xCzUBOvU/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/y6zBWkTIWR9sEv418V9xCzUBOvU/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/y6zBWkTIWR9sEv418V9xCzUBOvU/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Anaskangkung/~4/Nm6iqWSBkfQ" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://anaskangkung.blogspot.com/feeds/3623392660135245993/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5048706539041816714&amp;postID=3623392660135245993" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5048706539041816714/posts/default/3623392660135245993?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5048706539041816714/posts/default/3623392660135245993?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Anaskangkung/~3/Nm6iqWSBkfQ/syarat-pelancar-pembangunan-menurut.html" title="Syarat Pelancar Pembangunan menurut Mosher" /><author><name>Azwar Anas</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="27" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/_LrWOPzeUdCg/SrwVkgTnMeI/AAAAAAAAAAw/Bwhsfo2hPZ4/S220/Cute+sWeet.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://anaskangkung.blogspot.com/2009/10/syarat-pelancar-pembangunan-menurut.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkACRX8zfip7ImA9WxNbE0o.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5048706539041816714.post-5741764198115962344</id><published>2009-09-01T13:02:00.000+07:00</published><updated>2009-11-16T20:39:24.186+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-11-16T20:39:24.186+07:00</app:edited><title>BOX</title><content type="html">&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_LrWOPzeUdCg/SvZg4JsSF3I/AAAAAAAAACA/TOa65NqAjGg/s1600-h/OmbaK.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_LrWOPzeUdCg/SvZg4JsSF3I/AAAAAAAAACA/TOa65NqAjGg/s200/OmbaK.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;b&gt;sea on the morning&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Location&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Pasir Putih Situbondo&lt;br /&gt;
Camera&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : HP&lt;br /&gt;
Status&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; : nothing to do&lt;br /&gt;
atmosphere : easy going&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5048706539041816714-5741764198115962344?l=anaskangkung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Kl5MonwmFCNWljXOZ7S4mTVQR3E/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Kl5MonwmFCNWljXOZ7S4mTVQR3E/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Kl5MonwmFCNWljXOZ7S4mTVQR3E/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Kl5MonwmFCNWljXOZ7S4mTVQR3E/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Anaskangkung/~4/SjowWMbl58E" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://anaskangkung.blogspot.com/feeds/5741764198115962344/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5048706539041816714&amp;postID=5741764198115962344" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5048706539041816714/posts/default/5741764198115962344?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5048706539041816714/posts/default/5741764198115962344?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Anaskangkung/~3/SjowWMbl58E/box.html" title="BOX" /><author><name>Azwar Anas</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="27" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/_LrWOPzeUdCg/SrwVkgTnMeI/AAAAAAAAAAw/Bwhsfo2hPZ4/S220/Cute+sWeet.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_LrWOPzeUdCg/SvZg4JsSF3I/AAAAAAAAACA/TOa65NqAjGg/s72-c/OmbaK.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://anaskangkung.blogspot.com/2001/01/box.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkQGQX44eSp7ImA9WxNbE0o.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5048706539041816714.post-6959069162393521209</id><published>2009-09-01T00:00:00.000+07:00</published><updated>2009-11-16T20:32:00.031+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-11-16T20:32:00.031+07:00</app:edited><title>Room</title><content type="html">&lt;i&gt;&lt;b&gt;welcome to my blog&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;this my first blog&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;I need your criticize and suggestion&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;write down your comment&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;ok guys thanks for coming&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;dont forget follow me,,,&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
^o^&lt;i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
__________________________________________&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5048706539041816714-6959069162393521209?l=anaskangkung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/4J3oy2kA691zJRo_AQP3Ed6vIjs/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/4J3oy2kA691zJRo_AQP3Ed6vIjs/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/4J3oy2kA691zJRo_AQP3Ed6vIjs/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/4J3oy2kA691zJRo_AQP3Ed6vIjs/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Anaskangkung/~4/6_Gns1LIdNg" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://anaskangkung.blogspot.com/feeds/6959069162393521209/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5048706539041816714&amp;postID=6959069162393521209" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5048706539041816714/posts/default/6959069162393521209?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5048706539041816714/posts/default/6959069162393521209?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Anaskangkung/~3/6_Gns1LIdNg/room.html" title="Room" /><author><name>Azwar Anas</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="27" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/_LrWOPzeUdCg/SrwVkgTnMeI/AAAAAAAAAAw/Bwhsfo2hPZ4/S220/Cute+sWeet.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://anaskangkung.blogspot.com/2001/01/room.html</feedburner:origLink></entry></feed>

