<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>IMAM ALI BIN ABI THALIB AS</title><description>PANTANG HINA...!!!</description><managingEditor>noreply@blogger.com (ANDIK FN)</managingEditor><pubDate>Tue, 5 Nov 2024 19:01:41 -0800</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">213</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>http://andikfn.blogspot.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>PANTANG HINA...!!!</itunes:subtitle><itunes:category text="Arts"><itunes:category text="Design"/></itunes:category><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><title>Pengakuan Mr. Hempher, Seorang Mata-mata Inggris di Negara-negara Islam </title><link>http://andikfn.blogspot.com/2013/08/pengakuan-mr-hempher-seorang-mata-mata.html</link><category>artikel</category><author>noreply@blogger.com (ANDIK FN)</author><pubDate>Sun, 11 Aug 2013 06:58:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6659801012355790768.post-1007455787869396581</guid><description>&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Bag (1)&lt;/b&gt;&lt;/h3&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh_g4QDU3gZwAipBLMPn_3BqvDjo791fKZmGJYxEAtb3TvTRNb1jWFji4v-hlQ51qzzIl0wgIEMyEUH-wo85BA9mpa5IamA5_SLiPvvGC_abEh2lAQbLDh_tWgipxRMUoEhflmaC0r-uQg/s1600/wahabi_yahudi1.jpg_480_480_0_64000_0_1_0%5B1%5D.jpg" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh_g4QDU3gZwAipBLMPn_3BqvDjo791fKZmGJYxEAtb3TvTRNb1jWFji4v-hlQ51qzzIl0wgIEMyEUH-wo85BA9mpa5IamA5_SLiPvvGC_abEh2lAQbLDh_tWgipxRMUoEhflmaC0r-uQg/s320/wahabi_yahudi1.jpg_480_480_0_64000_0_1_0%5B1%5D.jpg" width="239" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kerajaan Britania Raya, sejak dari masa lampau dan dalam waktu yang 
panjang telah memikirkan tentang kelanggengan imperatur dengan kekuasaan
 yang luas dan besar, sebagaimana keadaannya sekarang dari timur sampai 
barat. Dulu negara kami kecil dibandingkan negara-negara jajahan yang 
kami kuasai sekarang, di India, Cina, Timur Tengah dan lainnya. Kami 
akui bahwa kami tidak pernah berkuasa secara nyata atas bagian-bagian 
besar dari negara-negara tersebut, sebab kekuasaan yang nyata berada di 
tangan para pemiliknya. Hanya saja politik kami di dalam negara-negara 
itu mengalami kesuksesan dan berpengaruh. Dan di tangan kamilah jatuhnya
 negara-negara itu secara menyeluruh, dan yang harus kami tempuh ialah 
memecahkan dua langkah di bawah ini:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1-Bagaimana melestarikan kekuasaan kami dengan kekuasaan yang seutuhnya dan sesungguhnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2-Bagaimana menyempurnakan secara nyata kekuasaan kami yang masih belum sempurna menjadi otoritas dan jajahan kami.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Untuk mempelajari masalah yang penting ini, aku memasuki perwakilan 
di setiap bidang dan komisi di jajahan-jajahan kami. Dan aku sendiri 
sejak kami memasuki perwakilan ini mendapatkan sambutan yang baik, 
dipercaya oleh perdana mentri (India). Ia menyerahkan amanat yang 
penting (sebuah perserikatan di wilayah Timur India) kepadaku, yang mana
 kepentingan kami secara lahir terletak pada murni perniagaan, dan 
secara batin menguatkan tali-tali kekuasaan kami atas India. Yang 
kemudian membuka jalan bagi kami sampai pada wilayah-wilayah yang luas 
seluas benua.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;a href="http://www.blogger.com/null" name="more"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pemerintahan kami di India menjadi kuat, melihat bermacam-macamnya 
kaum, agama, bahasa yang berbeda-beda dan adanya 
perselisihan-perselisihan. Sebagaimana pemerintahan kami di Cina, 
melihat adanya agama Budha dan Konghucu yang menjadi mayoritas di negara
 ini, tidak pernah mengkhawatirkan kami dengan tegaknya dua agama 
tersebut. Sebab dua keyakinan ini adalah dua agama yang mati, yang hanya
 menyibukkan diri dengan masalah-masalah kerohaniaan dan mengesampingkan
 sisi kehidupan dunia. Maka jauhlah bila dalam hati mereka tertanam 
cinta tanah air. Oleh karena itu dua keyakinan ini tidak mengkhawatirkan
 bagi pemerintahan Britania Raya. Jelas, kami tidak akan pernah lupa 
akan perkembangan dan kemajuan di masa datang, dan untuk itu telah kami 
persiapkan langkah-langkah panjang dan tetap untuk penguasaan kami dari 
perpecahan, kebodohan, kemiskinan dan bisa juga masalah penyakit. Dan 
kami tidak merasakan kesulitan dalam memenuhi niat-niat kami dengan 
topeng penyerupaan yang sama dengan mereka di negara ini, menyilaukan di
 luar dan kokoh dalam kenyataan. Kami lakukan itu mempraktekkan pepatah 
Budha kuno “&lt;i&gt;Tinggalkan orang sakit, ia akan merasakan cintanya pada obat meskipun rasanya pahit&lt;/i&gt;”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tetapi yang mengganggu pikiran kami adalah negara-negara Islam. 
Kalaupun kami telah mengadakan kesepakatan dengan seorang laki yang 
sakit (yang dimaksud adalah imperatur usmaniyah), maka beberapa 
perjanjian di dalamnya menguntungkan kami. Dan menurut pengamatan para 
ahli informasi perwakilan negara-negara jajahan kami, bahwa ‘orang laki’
 itu akan mengakhiri dirinya kurang dari satu abad. Kami juga telah 
mengadakan kesepakatan dengan pemerintahan Parsi secara rahasia, dengan 
beberapa perjanjian. Dan kami telah menaruh beberapa mata-mata dan 
pekerja kami di dua negara ini, di samping penyuapan, hasrat yang buruk 
dan sibuknya para pemerintah bermain perempuan-perempuan cantik, telah 
merebah dipermukaan dua negri ini. Tetapi kami masih belum puas dengan 
hasil-hasil yang tampak, dikarenakan beberapa sebab:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1-Kekuatan&amp;nbsp; Islam ada dalam jiwa-jiwa para penganutnya, karena 
seorang laki yang muslim berpegang pada Islam dengan segala 
kekeuatannya, sehingga anda lihat bahwa Islam bagi jiwa seorang muslim 
kedudukannya seperti ajaran Kristen dalam jiwa-jiwa para pendeta, dan 
jiwa-jiwa mereka melebur dalam ajaran Kristen. Sedangkan kaum muslimin 
di negara Parsi (kaum Syi’ah) lebih berbahaya, di mana mereka melihat 
kaum Nasrani adalah kafir dan najis. Seorang nasrani dalam pandangan 
orang syiah, adalah najis. Kedudukannya seperti kotoran busuk yang ada 
di tangan kami dan harus dihilangkan dari tangan mereka. Pernah aku 
tanyakan pada salah seorang dari mereka: “Kenapa kalian memandang 
demikian terhadap seorang kristen?”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Sesungguhnya Nabi Islam adalah seorang laki yang bijak. Beliau ingin
 membatasi setiap orang kafir dengan tekanan etika supaya merasa resah 
dan takut, dan agar menjadi salah satu faktor hidayah baginya kepada 
Allah dan memilih agama yang benar. Sebagaimana suatu pemerintahan jika 
merasakan bahaya dari seseorang, maka pemerintah akan membatasi orang 
itu dengan suatu pembatasan supaya ia kembali taat dan patuh. Dan 
mengenai najis yang anda singgung tadi adalah najis &lt;i&gt;maknawi&lt;/i&gt; 
bukan najis materi dan lahiriyah, dan itu tidak hanya berlaku pada kaum 
masehi saja tetapi meliputi semua orang yang kafir, termasuk kaum majusi
 yang menjadi agama orang-orang Parsi kuno, mereka najis menurut Islam” 
jelasanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aku berkata padanya, “Baiklah! Tetapi kenapa orang-orang kristen 
najis sedangkan mereka mengimani Allah, kerasulan dan hari kebangkitan?”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ia berkata, “Dikarenakan dua perkara: pertama, mereka mengingkari 
Nabi kami (Muhammad saw), kalian mengatakan bahwa Muhammad adalah 
pembohong. Dan kami dalam pandang itu adalah pencelaan, maka kami 
katakan kepada mereka: “Wahai orang-orang kristen! Kalian adalah najis, 
sebagaimana dalil akal yang bijak menyatakan bahwa “Barangsiapa yang 
telah menyakitimu maka anda boleh menyakitinya”. Kedua, mereka menuduh 
para Nabi Allah dengan tuduhan yang tak pantas, seperti pernyataan 
bahwa: “Isa al-Masih pernah minum khamar dan ia dikutuk lantaran 
menggantung di atas kayu”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aku bantah ia dengan mengatakan: “Orang-orang kristen tidak mengatakan demikian?”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ia berkata, “Anda tidak tahu bahwa di dalam kitab suci mereka mengatakan demikian!”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aku terdiam, dan yakin bahwa orang laki itu berdusta soal perkara 
yang kedua, walaupun ia benar pada perkara yang pertama. Dan aku tidak 
pernah ingin berdebat panjang dengannya, karena aku takut diriku 
terpengaruh sehingga ragu.&amp;nbsp; “Ketika aku berada di atribut Islami, aku 
selalu menjauhi keadaan yang tersudutkan”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2-Islam pernah pada suatu hari adalah agama kehidupan dan kekuasaan, 
dan yang memberatkan ialah anda harus mengatakan kepada para pemimpin 
kalian bahwa “kalian adalah para budak”, sebab semangat kepemimpinan 
mendorong manusia pada kepercayaan yang tinggi meskipun keadaannya lemah
 dan terbelakang. Sedangkan kami tidak pernah mampu merubah sejarah 
Islam, supaya kami dapat menyampaikan kepada kaum muslimin bahwa 
kepemimpinan yang mereka anut adalah kepemimpinan yang menciptakan 
kondisi-kondisi khusus yang memalingkan dari kebenaran.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
3-Kami tidak merasa tenang dengan bangkitnya kesadaran dalam 
jiwa-jiwa “keluarga ‘Utsman” dan para ulama Iran, yang menggagalkan 
langkah-langkah kami dalam memperoleh kekuasaan. Menurut pengamatan 
kami, memang benar bahwa dua pemerintahan ini telah mengalami kelemahan 
yang cukup besar, kecuali adanya sebuah basis pemerintahan yang memimpin
 umat, yang mana tampuk kepemimpinan, harat dan senjata ada di 
tangannya, membuat manusia resah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
4-Kami sangat gelisah dengan keberadaan ulama Islam antara lain: 
ulama Azhar (Mesir), ulama Iraq dan ulama Iran. Mereka betul-betul telah
 menghalangi langkah-langkah kami, mereka ini adalah orang-orang yang 
sangat bodoh tentang prinsip-prinsip kehidupan masa kini. Yang mereka 
angan-angankan hanyalah surga yang dijanjikan dalam al-Qur`an. Mereka 
tidak akan menyerahkan prinsip-prinsip mereka sedikitpun. Rakyat 
mengikuti mereka sedangkan seorang raja merasa takut seperti tikus yang 
takut dengan kucing. Memang benar bahwa kaum Ahlus sunnah sangat sedikit
 mengikuti ulama mereka, mereka mengikuti antara seorang raja dan 
seorang syeikh Islam. Sedangkan kaum Syi’ah sangat berpegang pada 
kepemimpinan ulama, karena mereka hanya mau dipimpin oleh seorang alim 
dan tidak percaya kepada seorang raja. Namun adanya perbedaan dua 
kelompok ini tidak cukup meringankan kegelisahan kami sedikitpun, 
kegelisahan yang mencekam perwakilan negara-negara jajahan bahkan para 
pemerintah Britania Raya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kami sudah mengadakan berbagai mu`tamar untuk memecahkan 
problem-problem yang meresahkan ini, namun pada setiap kesempatan kami 
tetap tidak menemukan jalan keluar. Sementara perkiraan-perkiraan yang 
sudah kami susun dengan rapi melalui para pekerja dan mata-mata kami, 
telah merusak harapan kami. Hasilnya nol bahkan di bawah nol. Tetapi 
kami tetap tidak pernah putus asa, selama kami bisa bernafas kami tetap 
bersabar yang tiada batas.&lt;/div&gt;
&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhea5lgMVn8DgB5fnPf0avjPdBKLmK9lS1KbT5lHJwQTeceTCtsEvDvvc6u9b9iJPiX3KT3WWBziGyrCr_WzYe1BOvgwEw18_fHbcMV_TMMHEoHAs1muYsKWRmKiaT8jcNOWXiwBec2g7I/s1600/IbnSaud%5B1%5D.JPG" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhea5lgMVn8DgB5fnPf0avjPdBKLmK9lS1KbT5lHJwQTeceTCtsEvDvvc6u9b9iJPiX3KT3WWBziGyrCr_WzYe1BOvgwEw18_fHbcMV_TMMHEoHAs1muYsKWRmKiaT8jcNOWXiwBec2g7I/s640/IbnSaud%5B1%5D.JPG" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Pasukan Ibn Saud&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aku jadi teringat, pada suatu kesempatan kami mengadakan sebuah 
mu`tamar yang dihadiri perdana mentri, para pendeta dan beberapa 
perwakilan. Jumlah anggota kami saat itu dua puluh orang. Dalam muktamar
 itu terjadi perdebatan yang memakan waktu lebih dari tiga jam, dan 
selesai tanpa membuahkan hasil satu masalah pun. Seorang pendeta 
berkata: “Kalian jangan bingung, Isa al-Masih tidak pernah mencapai 
suatu keputusan kecuali setelah tiga ratus tahun ia bangkit, terusir dan
 terbunuh bersama para pengikutnya. Semoga Al-Masih melihat kita dari 
langit dan mengkaruniakan kita&amp;nbsp; musnahnya orang-orang kafir dari 
basis-basis mereka, meskipun setelah tiga ratus tahun. Kita harus 
bersenjatakan iman yang kokoh dan kesabaran yang panjang, dan kita harus
 mengambil semua sarana dan jalan untuk kekuasaan dan menyebarkanj agama
 Masehi di tempat-tempat yang subur dengan orang-orang Islam, walaupun 
misalnya berhasil setelah beberapa abad. Sesungguhnya nenek moyang kita 
dahulu menanamkan berita-berita”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di kesempatan lain, sebuah muktamar antar perwakilan yang dihadiri 
oleh para tokoh dari Britania, Perancis dan Rusia. Pertemuan saat itu 
menjadi sebuah muktamar tingkat tertinggi, karena yang hadir terdiri 
dari lembaga-lembaga diplomasi dan tokoh-tokoh agama. Dan di waktu itu 
aku bernasib baik, aku hadir muktamar itu lantaran hubunganku yang erat 
dengan perdana mentri. Para peserta muktamar dengan sempurna memaparkan 
problem-problem orang-orang Islam. Mereka menerangkan tentang cara-cara 
memporak-porandakan mereka, dan mengikis keyakinan mereka dan merusak 
iman mereka. Seperti kembalinya Spanyol pada keyakinan semula setelah 
berperang dengan orang-orang Islam yang barbar selama beberapa abad. 
Tetapi hasilnya tetap belum memuaskan, dan aku catat setiap perdebatan 
di dalam muktamar ini dalam buku catatanku (disaksikan al-Masih di 
langit).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kesulitan kami ialah mencabut akar-akar pohon yang mengakar di Timur 
dan Barat Bumi. Tetapi manusia diharuskan menaklukkan 
kesulitan-kesulitan betapapun kadarnya. Dan sesungguhnya ajaran kristen 
tidak turun kecuali agar menyebar dan kami sudah berjanji dengan 
al-Masih sendiri. Adapun Muhammad akan mengalami kondisi kemunduran di 
Timur dan Barat. Dan akhirnya ia akan terpalingkan dan pengikutnya 
musnah bersamanya. Kami yakin bahwa suatu saat akan terbalik, para 
pengikut Muhammad akan jatuh sedangkan negri penganut al-Masih akan 
terangkat. Karena itu sekaranglah waktunya untuk membalas dan 
mengembalikan apa-apa yang hilang selama berabad-abad. Ialah 
pemerintahan kontemporer yang kokoh, yakni Britania Raya yang pada 
gilirannya akan berkuasa.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Bag 2&lt;/b&gt;&lt;/h3&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada tahun 1710 M, perwakilan negara-negara jajahan telah mengutusku 
ke Mesir, Iraq, Tehran, Hijaz dan Astana untuk mengumpulkan 
dokumen-dokumen lengkap yang akan memberi jalan keluar bagi kami untuk 
memporak-porandakan kaum muslimin dan meluaskan kekuasaan kami di atas 
negri-negri Islam. Pada waktu yang sama perwakilan mengutus sembilan 
pejabat yang terpilih, berjiwa patriot, disiplin dan pemberani. Mereka 
diutus untuk kekuasaan pemerintah ke selururuh bagian-bagian imperatur 
dan semua negara Islam. Kami dibekali harta yang cukup oleh perwakilan, 
maklumat yang diperlukan, peta-peta yang memadai dan nama-nama para 
hakim, ulama dan tokoh-tokoh tiap suku. Dan aku tidak senang dengan 
ucapan sekretaris di saat perpisahan ‘dengan nama al-Masih’, yang 
mengatakan: “Masa depan negri kita bergantung pada keberhasilan kalian, 
karena itu berjuanglah dengan sekuat tenaga kalian agar kalian 
berhasil”.&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjcuXRTPnTb7ertksZWnV2EAXPcEMlWDRuU8JAt2J5zgPOeSvEDuLOOoCiWN0Bn-L7xTPw5aMFo-C66ooQ4LEWgzsH0LKcrqc5eWFkX0UXFS0C6s9KoWpGOHuAkZvxpVAse_cZFgxVfZW4/s1600/ibn-saud%5B1%5D.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="376" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjcuXRTPnTb7ertksZWnV2EAXPcEMlWDRuU8JAt2J5zgPOeSvEDuLOOoCiWN0Bn-L7xTPw5aMFo-C66ooQ4LEWgzsH0LKcrqc5eWFkX0UXFS0C6s9KoWpGOHuAkZvxpVAse_cZFgxVfZW4/s640/ibn-saud%5B1%5D.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Ibn Saud Family&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Maka aku berangkat menuju Astana sebuah basis khilafah Islam. Di sana
 ada beberapa pekerjaan pentingku sekaligus, ialah belajar bahasa Turki,
 bahasa kaum muslimin di sana. Di london aku pernah belajar tiga bahasa 
Turki, Arab (bahasa al-Qur`an) dan Parsi (bahasa pahlevi dan rakyat 
Iran). Namun belajar bahasa adalah sebuah perkara, sedangkan menguasai 
bahasa sampai batas mampu berbicara dengan bahasa suatu bangsa adalah 
perkara lain. Di mana perkara yang pertama tidak membutuhkan masa yang 
lama sedangkan perkara yang kedua lebih jauh lama lagi. Aku belajar 
bahasa dengan sedetailnya sehingga orang lain tidak menyangka asalku.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tetapi aku tidak khawatir dengan masalah itu, sebab kaum muslimin 
mempunyai jiwa toleransi, lapang dada dan baik sangka, sebagaimana yang 
diajarkan oleh Nabi mereka. Jadi keraguan mereka tidaklah sama dengan 
keraguan yang ada pada kami. Di sisi lain, pemerintahan Turki belum 
sampai pada tahap yang berkemampuan untuk mengungkap mata-mata dan 
pekerja kami. Dan yang menyenangkan kami bahwa Turki adalah pemerintahan
 yang pasif dan tak serius.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setelah perjalananku itu, kini aku sampai di Astana. Di sana aku 
punya nama Muhammad, dan aku harus pergi masjid (tempat ibadah kaum 
muslimin). Aku harus disiplin, rapi, bersih dan menjadi hamba yang taat 
sebagaimana yang mereka lakukan. Terlintas dalam benakku: “Mengapa kami 
memerangi mereka sebagai umat manusia? Mengapa kami berbuat 
mencerai-beraikan mereka dan mengambil apa yang mereka miliki? Inikah 
yang diajarkan al-Masih?”. Aku cepat-cepat kuasai diriku dan menghindar 
pikiran setan ini. Ku tuang minuman ke dalam gelas dan kuminum.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di sana aku bertemu dengan seorang syeikh yang alim namanya, Ahmad 
Afandam. Dia orang baik, penyabar, tulus dan cinta kebaikan. Aku tidak 
menemukan orang baik sepertinya pada para pendeta kami. Dia selalu 
berusaha siang malamnya mencontoh dan mengikuti sunnah Nabi Muhammad. 
Dan dia selalu menjadikan Nabinya sebagai figur yang luhur. Setiap 
disebut nama Nabinya maka tergenang air matanya. Mujur nasibku karena ia
 tidak pernah -sepatahpun- menanyakan di mana aku berasal dan apa 
bangsaku. Dia memanggilku dengan nama ‘Muhammad Afandi’. Dia selalu 
mengajariku, bila aku bertanya dia menjawab. Dia selalu menyambutku dan 
besar perhatiannya terhadapku, karena menyadari bahwa aku adalah tamu di
 negrinya. Aki datang untuk bekerja dan sebagai orang yang patuh di 
bawah naungan pemerintah, sebagaimana yang diajarkan Nabi Muhammad (ini 
yang aku jadikan alasan di Astana).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pernah aku mengutarakan kepada Syeikh, “Aku seorang pemuda, ayah dan 
ibuku telah meninggal dan aku tak punya saudara. Mereka meninggalkan 
warisan kepadaku. Kemudian aku berfikir, aku bekerja dan belajar 
al-Qur`an dan sunnah. Maka aku mendatangi pusat Islam untuk memperoleh 
ilmu agama dan dunia”. Syeikh sangat gembira dan mendukung niatku itu. 
Lalu ia mengatakan kepadaku -dan aku mencatat kata-katanya-, “Wajib atas
 kami disebabkan beberapa hal:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1-Karena anda seorang muslim, dan antara muslimin adalah saudara.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2-Karena anda seorang tamu, dan Rasulullah saw bersabda, “Muliakanlah tamumu”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
3-Karena anda seorang penuntut ilmu dan Islam, dan memuliakan penuntut ilmu itu ditekankan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
4-Karena anda bermaksud bekerja, dan dalam hadis disebutkan bahwa “Orang yang bekerja adalah kekasih Allah”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sungguh aku takjub dengan keterangannya ini, dan aku katakan pada 
diriku, “andai saja orang-orang nasrani mempunyai jiwa mulia seperti 
ini”. Tetapi aku juga heran, bagaimana Islam yang begitu tinggi ini 
mengalami kelemahan dan terbelakang. Keadaan ini tentunya di tangan 
ulama yang &lt;i&gt;su`&lt;/i&gt;, ulama yang bodoh akan kehidupan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kukatakan pada syeikh, “Aku ingin belajar al-Qur`an!”. Maka ia menyambutku dan mengajariku surat &lt;i&gt;Hamdalah&lt;/i&gt;
 dan menafsirkan makna-maknanya. Aku mengalami kesulitan dalam 
melafazkan sebagian bacaannya dan terkadang saking sulitnya tak mampu 
kuatasi. Aku teringat, bacaan yang selalu kuulangi sampai berpuluh-puluh
 kali dalam seminggu ialah bacaan “&lt;i&gt;wa ‘alâ imamim mimmam ma’ak&lt;/i&gt;”, tapi tetap aku tak bisa melafazkannya dengan benar. Dan syeikh mengatakan padaku, “Anda harus menguasai &lt;i&gt;idghâm&lt;/i&gt; meskipun ada rentetan delapan huruf &lt;i&gt;mim&lt;/i&gt;”.
 Aku membaca al-Qur`an mulai dari awal surat sampai khatam di hadapannya
 dalam masa dua tahun penuh. Dan ketika ia hendak mengajariku cara wudu,
 ia menyuruhku berwudu mengikuti ia berwudu, kemudian kami duduk 
menghadap kiblat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Perlu aku sebutkan bahwa wudu menurut kaum muslimin, ialah membasuh 
dan mengusap. Cara mereka pertama, membasuh muka. Kedua, membasuh tangan
 yang kanan sampai sikut. Ketiga, membasuh tangan yang kiri sampai 
sikut. Keempat, mengusap kepala, telinga dan leher. Dan kelima, membasuh
 dua kaki.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mereka mengatakan dianjurkan&amp;nbsp; sebelum wudu, berkumur dan menghirup air ke dalam hidung.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dan aku sangat meragukan adanya anjuran &lt;i&gt;miswâk&lt;/i&gt;, ialah sebuah amalan (kayu &lt;i&gt;siwâk&lt;/i&gt;)
 yang mereka masukkan ke dalam mulut mereka untuk membersihkan gigi 
wudu. Dan aku yakin bahwa amalan ini merusak gigi dan mulut. Terkadang 
amalan ini melukai mulut dan mengeluarkan darah. Tetapi aku harus 
melakukannya, sebab menurut mereka adalah sunnah muakkadah dari Nabi 
mereka (Muhammad), dan mereka menyebutkan banyak manfaat dan keutamaan 
dari amalan ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hari-hariku di Astana pada waktu itu, aku tidur di kamar penjaga 
masjid dan aku beri ia uang. Ia adalah orang yang berwatak fanatik, 
namanya Marwan Afandi, nama yang diambil dari salah satu nama sahabat 
Nabi Muhammad. Pembantu masjid itu bangga punya nama yang berkah itu. Ia
 pernah mengatakan padaku, “kalau anda punya anak laki namailah Marwan, 
sebab Marwan adalah seorang sahabat besar yang berjuang untuk Islam”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aku tinggal bersamanya, di mana ia selalu menyediakan untukku 
makanan. Dan tiap pada hari jum’at (hari besar kaum muslimin) aku libur 
bekerja. Adapun pada hari-hari biasa aku pergi bekerja sebagai tukang 
kayu. Gajiku kecil dan aku terima mingguan darinya. Dan bila aku bekerja
 di waktu pagi saja maka aku dapatkan separuh gaji. Juragan kayu itu 
bernama Khalid. Di waktu senggangnya ia banyak bicara tentang keutamaan 
Khalid bin Walid, sang pembuka Islam yang bersahabat dengan Nabi 
Muhammad dan mendapatkan nasib yang baik. Tetapi ia memisahkan diri 
ketika Umar bin Khathab menjabat khalifah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sedangkan Khalid si juragan kayu itu buruk perangainya dan sangat 
fanatik. Dan dia sangat percaya padaku, aku tak kenapa. Mungkin dia 
percaya lantaran aku penurut dan mendengarkan kata-katanya. Aku tak 
pernah aku membantahnya jika ia bicara soal agama atau bicara soal 
tokonya. Dan ketika ia berdua denganku (untuk memenuhi nafsu bejatnya), 
ia memintaku melakukan &lt;i&gt;liwath&lt;/i&gt; denganku dan perbuatan ini 
menurut Islam adalah sangat terlarang dan haram hukumnya –seperti yang 
telah diterangkan oleh syeikh. Dan Khalid adalah seorang muslim yang 
baik di luar dan buruk di dalam. Ia bergaul dan hadir salat Jum’at, tapi
 apakah dalam seharinya ia salat lima waktu atau tidak, aku tidak tahu!.
 Aku tolak permintaannya, dan aku kira ia telah melakukan perbuatan keji
 ini dengan sebagian buruhnya. Melihat salah satu pekerjanya, seorang 
anak muda yang tampan wajahnya. Slanik namanya. Seorang Yahudi yang 
kemudian masuk Islam. Terkadang aku melihatnya bersama Khalid di 
belakang tokonya dalam gudang kayu. Mereka berdua menampakkan 
(pura-pura) menata kayu di gudang, tapi aku tahu yang sebenarnya bahwa 
mereka di belakang untuk memenuhi syahwat.&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj-YyOM_NrwXAM9duYgYz0yoiZR-VwnrBxslKC-y_HVYiJht4ASvWQZoOMX60BTpiF6tlgKVJMV2e31eiTSPar8CcpzCApurcAa1OydWE1N64xWLB_uJ2ZF5ryudn1Etkz7jarBgb7J5uw/s1600/Saudi+monarchy+founder+assured+UK+on+Palestine%5B1%5D.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="426" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj-YyOM_NrwXAM9duYgYz0yoiZR-VwnrBxslKC-y_HVYiJht4ASvWQZoOMX60BTpiF6tlgKVJMV2e31eiTSPar8CcpzCApurcAa1OydWE1N64xWLB_uJ2ZF5ryudn1Etkz7jarBgb7J5uw/s640/Saudi+monarchy+founder+assured+UK+on+Palestine%5B1%5D.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="" id="result_box" lang="id"&gt;&lt;span class="hps"&gt;Saya&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;Sultan&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;Abdul&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;Aziz&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;Bin&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;Abdul&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;Rahman&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;Al&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;Saud&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;al&lt;/span&gt;&lt;span class="atn"&gt;-&lt;/span&gt;Faisal &lt;span class="hps"&gt;dan saya&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;mengakui&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;dan mengakui&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;seribu&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;kali untuk&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;Sir&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;Percy&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;Cox&lt;/span&gt;&lt;span class=""&gt;,&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;utusan&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;Inggris&lt;/span&gt;&lt;span class=""&gt;,&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;bahwa saya&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;tidak keberatan&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;untuk&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;memberikan&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;Palestina&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;kepada&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;Yahudi&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;miskin atau&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;bahkan untuk&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;non&lt;/span&gt;&lt;span class="atn"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span class=""&gt;Yahudi&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;,&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;dan saya&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;tidak&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;akan&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;pernah&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;melanggar&lt;/span&gt; perintah &lt;span class="hps"&gt;mereka.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aku makan siang di toko, setelah itu aku pergi ke masjid untuk salat 
Dhuhur dan aku tidak keluar dari masjid sampai waktu Ashar. Usai salat 
Ashar aku pergi ke rumah Syeikh Ahmad untuk belajar al-Qur`an, ebelajar 
bahasa Turki dan bahasa Arab selama dua jam. Dan setiap hari Jum’at aku 
sedekahkan sebagian uang yang aku peroleh dari gaji mingguan. Pada 
hakikatnya sedekah yang aku bayar hanyalah sogokanku supaya hubunganku 
dengannya terus berlangsung dan langgeng. Dan supaya dia mengajariku 
pelajaran yang terpenting. Dia tidak hanya mengajariku al-Qur`an, 
prinsip-prinsip Islam dan bahasa Turki dan Arab saja (tetapi juga 
pelajaran-pelajaran yang lain).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ketika Syeikh Ahmad tahu bahwa aku seorang bujangan, ia memintaku 
agar aku menikahi salah satu putrinya. Tetapi aku menolaknya dengan 
alasan bahwa aku lemah syahwat, tidak mempunyai kemampuan yang 
semestinya dimiliki seorang lelaki. Sebelum aku ungkapkan adanya uzur 
(kelainan), hubungan baikku dengannya nyaris terputus sampai-sampai ia 
mengatakan bahwa menikah itu sunnah Rasul. Dan beliau bersabda, “Barang 
siapa yang membenci sunnahku maka ia bukan dari golonganku”. Saat itu 
aku terpaksa berterus terang (padahal bohong) punya penyakit tersebut. 
Maka Syeikh mengangguk dan selamatlah hubunganku dengannya seperti 
biasanya, dengan kecintaan dan ketulusan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setelah dua tahun lamanya aku tinggal di Astana, aku pamit kepada 
Syeikh untuk pulang ke tanah air. Tetapi ia menghalangiku sambil 
berkata, “Kenapa pulang? Di Astana ini sungguh menyenangkan di hati dan 
mempesona di mata, dan Allah menggabungkan dunia dan agama di sini. 
Bukankah kamu pernah bilang bahwa ayah dan ibumu telah mati dan kamu 
tidak punya saudara kandung? Karena itu jadikanlah Astanah ini tempat 
hidupmu”. Syeikh menyatakan bahwa ia senang sekali bila aku tinggal, dan
 aku juga merasakan demikian. Tetapi&amp;nbsp; negriku memaksa untuk (pertama) 
aku kembali ke London untuk memberikan laporan tentang ihwal 
wilayah-wilayah di ibu kota pemerintahan ini. Kedua utnuk mengambil 
perintah-perintah penting yang selanjutnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Selama aku di Astana, misiku berjalan dengan baik. Setiap bulan aku 
kirim laporan ke kementrian negara-negara jajahan, tentang keadaanku dan
 perkembangan-perkembangan serta apa saja yang aku telah saksikan. Aku 
selipkan dalam catatan laporanku berita tentang juragan kayu yang 
memintaku melakukan &lt;i&gt;liwath&lt;/i&gt;. Kemudian dijawab dengan nada 
protes, “Kenapa itu ditolak, jika perbuatan itu mengantarkan pada 
tujuan, maka no problem!”. Membaca jawaban ini, aku termenung dan 
berfikir, “Mengapa tokoh-tokoh kami tidak malu dengan perbuatan keji dan
 hina ini?”. Aku hanya bisa diam tanpa kata-kata dan tidak beranjak dari
 jamuan makan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di waktu aku berpisah dengan Syeikh, air matanya berlinang dan 
memelukku sambil berkata, “Allah bersamamu wahai anakku! Bila kau 
kembali ke negri ini dan aku telah mati maka ingatlah aku, kelak kita 
akan bertemu dengan Rasulullah saw di padang Mahsyar”. Ia benar-benar 
mengharukan dan menyentuh hatiku, sampai aku menangis, ah..ini perasaan 
yang berlebihan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Bag (3)&lt;/b&gt;&lt;/h3&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi5FQELjiOJcopQjZtNBz7JMtMg3XlHaJUY9OyPiL4kj18mqcRq2FdtLgGw1uPIqsADGb1G_heX67dbG5gk6CQfi70BuED2ClpjChnfKD2Ic6HFc0QwYNieTBeihDrneMjfdLo3GKgULhI/s1600/Ibn+Saud,+Cox,+&amp;amp;+Bell%5B1%5D.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="420" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi5FQELjiOJcopQjZtNBz7JMtMg3XlHaJUY9OyPiL4kj18mqcRq2FdtLgGw1uPIqsADGb1G_heX67dbG5gk6CQfi70BuED2ClpjChnfKD2Ic6HFc0QwYNieTBeihDrneMjfdLo3GKgULhI/s640/Ibn+Saud,+Cox,+&amp;amp;+Bell%5B1%5D.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Ibn Saud, Mr. Piercy Cox &amp;amp; Mr. Bell&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sembilan personel yang ditugasi begitu pula aku, harus kembali ke 
London untuk memberikan laporan kepada kementrian tentang apa saja yang 
mereka peroleh, namun buruknya yang kembali hanya enam orang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sedangkan empat yang tidak kembali, seorang dari mereka telah menjadi
 muslim dan tinggal di Mesir. Tetapi sekretaris nampak senang di 
wajahnya, karena ia tidak membuka rahasia negara. Yang satunya lagi 
kabur ke Rusia, karena ia berasal dari Rusia. Dan sekretaris sakit hati 
sekali dengannya, bukan karena ia kembali tanah airnya tetapi sekrtaris 
menduga bahwa ia seorang mata-mata Rusia yang ditugasi oleh kementrian 
di sana. Dan ketika urusan dan kepentingannya selesai ia kembali ke 
negaranya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Yang ketiga mati di ‘Imarah sebuah negri sebelah Baghdad. Sekretaris 
memberitahu kami bahwa ia mati disebabkan penyakit menular yang 
mematikan. Adapun yang keempat, tidak diketahui jejaknya ketika 
kementrian menghubunginya ke San’a` di Yaman (sebuah negri arab). 
Sebelumnya ia selalu kontak dengan kementrian dalam waktu setahun, tapi 
setelah itu hubungan terputus. Setiap kementrian berusaha melacaknya 
tapi tidak menghasilkan apa-apa tentangnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pihak kementrian rugi besar dan duka berat atas kehilangan empat dari
 sepuluh personilnya, di mana menurut perhitungan kami tiap personelnya 
sangat berarti dan bernilai tinggi. Karena kami ini adalah bangsa yang 
sedikit jumlahnya, namun besar ambisinya. Kehilangan empat personel kami
 sangat menyedihkan hati kami.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setelah sekrtaris mendengarkan laporan-laporanku, ia kemudian 
menugasi kami (kami berenam) untuk membacakan laporan-laporan kami di 
sebuah pertemuan, di hadapan para pejabat tinggi dari kementrian yang 
dipimpin perdana mentri sendiri. Kawan-kawanku telah menyampaikan 
laporan-laporan penting mereka sesuai apa yang menjadi tugas mereka. 
Begitu pula aku dengan laporanku yang dicatat oleh dewan juri.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Perdana mentri, sekrtaris dan sebagian yang hadir memujiku atas 
kerjaku, tetapi dua kawanku lebih hebat dariku. Mereka adalah George 
Blacud yang menjadi terbaik pertama dan Henry Fans yang menjadi terbaik 
kedua, sedangkan aku terbaik yang ketiga.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aku telah benar-benar berhasil bisa menguasai bahasa Turki, bahasa 
arab, al-Quran dan syariat. Tapi belum berhasil dalam memberikan laporan
 kepada kementrian tentang sisi-sisi kelemahan pemerintahan Usmaniah. 
Usai pertemuan yang memakan enam jam, aku tunjukkan kepada sekretaris 
sebuah poin yang bisa melemahkan dengan mengatakan, “Target sementaraku 
ialah mempelajari bahasa, hukum Islam dan al-Qur`an. Karena itu sulit 
sekali bagiku meluangkan waktu untuk mengerjakan apa yang harus kerjakan
 selain ini, dan aku pastikan pada tugas mendatang -jika aku masih 
dipercaya- akan kuserahkan amanat yang anda berikan”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sekretaris berkata, “Aku percaya karena kau berhasil, tapi aku 
berharap kau pertahankan keberhasilanmu ini untuk meraih yang lebih 
lagi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Sesungguhnya tugas pentingmu Mr Hamper..! untuk perjalanan mendatang, ada dua:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1-Menemukan titik kelemahan kaum muslimin. Kita harus mampu menyusup 
ke dalam tubuh mereka dan mencerai beraikan akar-akar mereka. Inilah 
letak kemenangan kita yang mendasar atas musuh-musuh kita.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2-Kau harus berterus terang kepada kami jika tidak mampu menemukan 
‘titik kelemahan’, tapi jika kau merasa mampu menjalankannya 
mudah-mudahan kau akan menjadi yang terbaik dari yang terbaik, dan kau 
layak mendapatkan bintang jasa dari kementrian.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aku tinggal di London selama enam bulan dan aku menikah dengan putri 
pamanku (Mary Shway). Ia lebih tua setahun dariku, saat itu umurku 22 
tahun sedangkan ia berumur 23 tahun. Ia gadis biasa yang cerdas dan 
sangat cantik. Aku bahagia hidup dengannya dan dalam waktu enam bulan 
itu ia mengandung. Dengan penuh sabar aku menanti kelahiran buah hati, 
tiba-tiba aku diberi tugas dari kementrian supaya aku brangkt ke Iqlim 
(Iraq) negri arab yang dijajah sejak dari masa lampau.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sungguh ini hal yang tidak menyenangkan bersamaan menunggu kelahiran 
anakku. Namun negaraku kepentingan negaraku dan cintaku kepada 
kawan-kawan melebihi perasaan cintaku kepada istri dan anakku. Karena 
itu aku terima tugas meskipun istriku memohon agar ditunda sampai anak 
lahir. Dan ketika perpisahanku dengannya kami menangis tersedu-sedu. Dan
 istriku berkata, “Sempatkan kirim surat tentang keadaanmu di sana, dan 
akan kukabarkan bila buah hati lahir dan tentang keadaanku di sini”. 
Kata-katanya begitu mengharukan sampai-sampai aku berniat batal 
berangkat, tetapi aku kuasai diriku dari perasaan ini. Aku memeluknya, 
dan berangkat ke kementrian untuk mengambil pesan-pesan penting.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Enam bulan aku di Bashrah (Iraq), negri &lt;i&gt;‘Asya’iri&lt;/i&gt; yang 
penduduknya bermazhab sunni dan syi’ah, dua mazhab besar Islam. Dan 
sedikit sekali dari mereka yang beragama Nasrani. Mereka terdiri dari 
dua bangsa, Arab dan Persia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku mendapatkan mazhab Syi’ah dan
 bangsa Persia. Syi’ah adalah sebuah mazhab yang dinisbatkan kepada Ali 
bin Abu Thalib, sepupu Nabi Islam sekaligus menantu Nabi Islam atas 
putrinya Fatimah. Syiu’ah meyakini bahwa Nabi mereka Muhammad telah 
memilih Ali sebagai khalifah setelahnya, dan menyatakan bahwa Ali dan 
anak keturunannya yang sebelas adalah khalifah secara berurutan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aku menduga bahwa kebenaran bersama Syi’ah (pengikut khalifah Ali, 
Hasan dan Husein). Sebab yang tetap dalam sejarah -menurut pengamatanku-
 Ali mempunyai sifat yang istimewa dan jiwa yang luhur yang layak 
menduduki kepemimpinan. Dan mendekati kebenarannya bahwa Nabi Muhammad 
pernah berkata bahwa Hasan dan Husein adalah dua imam. Ini pula tidak 
dipungkiri oleh Ahlus sunnah, tetapi pada saat yang sama aku ragu, bahwa
 anak keturunan Husein yang sembilan juga telah dipilih oleh Rasul 
sebagai khulafâ-nya. Bagaimana Rasul bisa tahu masa mendatang? Sedangkan
 ia mati pada saat Husein masih kecil. Bagaimana ia bisa tahu bahwa 
Husein akan mempunyai anak keturunan yang mana secara silsilah mereka 
sampai sembilan?. Kalau memang Muhammad adalah seorang Rasul yang haq, 
maka ia mengetahui semua itu dari petunjuk Allah. Sebagaimana al-Masih 
memberi kabar masa datang. Tetapi menurut kami sebagai kaum Nasrani, 
meragukan akan kenabian Muhammad.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kaum muslimin mengatakan bahwa al-Qur`an adalah dalil kenabian 
Muhammad, tetapi yang aku baca tiada satupun dalilnya dalam al-Qur`an. 
Memang tidak diragukan bahwa al-Qur`an adalah kitab luhur, bahkan 
kedudukannya lebih luhur dari kitab Taurat dan Injil. Di dalam al-Qur`an
 terdapat undang-undang, peraturan dan ajaran akhlak dan lain-lain. 
Tetapi apakah ini sudah cukup merupakan dalil bagi kebenaran Muhammad?.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sesungguhnya aku bingung tentang pribadi Muhammad, bingung sekali. Ia
 seorang laki badui, tidak bisa membaca dan tidak bisa menulis, 
bagaimana ia bisa datang dengan membawa kitab yang suci ini. Ia adalah 
pribadi yang memiliki akhlak dan kecerdasan yang tiada seorang arabpun 
yang berpendidikan di masanya seperti dirinya. Lalu di satu sisi 
mungkinkah seorang arab badui yang tidak membaca dan menulis ini membawa
 kitab yang tinggi itu? Dan di sisi lain apakah ini cukup menjadi bukti 
bahwa ia seorang nabi?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aku selalu mencari dan membaca untuk memecahkan hakikat ini. Pernah 
aku lontarkan masalah ini kepada seorang pendeta di London, tetapi 
jawaban yang diberikannya tidak memuaskan dan ia menjawab dengan 
kefanatikan dan keras kepala. Sama halnya dengan pribadi Syeikh Ahmad 
ketika aku tanyakan masalah ini, dan jawabannya masih mengambang. Tapi 
dengan jujur aku katakan, bila aku bicara terus terang dengan Syeikh, 
aku khawatir akan terbongkar rahasia diriku atau akan meragukan diriku.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Alhasil aku menilai bahwa Muhammad orang besar, dan tidak diragukan 
ia adalah semacam nabi Allah yang diberitakan oleh Para nabi sebelumnya 
-sebagaimana yang aku baca- di dalam kitab-kitab. Hanya saja sampai 
sekarang aku masih belum puas dengan kenabiaannya. Andai kata ia bukan 
seorang nabi, tidak mungkin orang yang mendengarkan nuraninya meyakini 
bahwa ia seperti orang-orang yang dikagumi dan mencengangkan, bahkan 
tidak diragukan ia di atas mereka dan di atas orang-orang yang cerdas 
(jenius).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Adapun Ahlus sunnah meyakini bahwa setelah wafatnya, Abu Bakar 
kemudian Umar lalu Ustman lebih layak menjadi khlaifah (pengganti)nya 
dari Ali. Karena itu mereka melanggar perintah Rasul (Muhammad) dan 
memilih khulafa yang tiga (lalu Ali).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Perselisihan ini ada di setiap agama tak terkecuali agama Masehi 
(Kristen) dengan pandangan yang khusus. Tetapi aku tidak mengerti apa 
yang terbaik dari adanya perselisihan ini, Ali dan Umar telah mati dan 
kaum muslimin -jika mereka berfikir- seharusnya mereka memikirkan hari 
sekarang bukan hari yang telah lampau dan jauh.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada suatu kesempatan pernah aku sampaikan kepada pejabat-pejabat di 
kementrian tentang adanya perselisihan Ahlus sunnah dan Syi’ah. Aku 
katakan kepada mereka, “Jika mereka memahami kehidupan maka mereka 
tinggalkan perselisihan dan bersatu dalam satu kalimah!”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tiba-tiba Bapak kepala membentakku, “Yang harus anda lakukan, ialah 
berusaha memperuncing perselisihan ini bukan berusaha mempersatukan 
muslimin!”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tentang perselisihan ini, di suatu pertemuan sebelum kepergianku ke 
Iraq, aku hadir bersama sekretaris dan ia mengatakan kepadaku, 
“Ketahuilah wahai Mr Hamper! Bahwa perselisihan adalah fenomena yang 
alami antara umat manusia sejak Tuhan menciptakan Habil dan Qabil, dan 
perselisihan ini akan terus terjadi sampai al-Masih kembali (ke dunia 
ini):&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1-Adanya perbedaan warna kulit.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2-Adanya bermacam-macam suku.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
3-Adanya bermacam-macam negeri.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
4-Adanya bermacam-macam kaum.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
5-Adanya perbedaan agama.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Maka tugas penting di perjalananmu nanti yang harus kamu kuasai ialah
 tentang perselisihan dan perbedaan antara kaum muslimin dan titik rawan
 yang menimbulkan gejolak dari perselisihan tersebut. Kementrian akan 
memberimu arahan dan maklumat secara rinci tentang masalah ini, dan jika
 kamu mampu memancarkan api perselisihan ini maka kamu berada di puncak 
pengabdian bagi Britania Raya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kita sebagai bangsa Britania tidak akan hidup dalam kebahagiaan dan 
kesenangan melainkan menebarkan isu-isu fitnah dan perpecahan di seluruh
 negara-negara jajahan. Sebagaimana kita tidak akan mampu menjatuhkan 
raja Ustmani kecuali dengan memfitnah antara pejabat-pejabatnya. Atau 
bagaimana sekiranya bangsa yang kecil ini dapat menguasai bangsa-bangsa 
yang besar? Karena itu berjuanglah sekuat tenaga untuk menemukan peluang
 dan kau gunakan peluang itu, tetapi kau harus mengetahui 
kelemahan-kelemahan kerajaan Turki dan kerajaan Persia. Yang harus kau 
lakukan ialah mempengaruhi rakyat agar menentang pemerintah mereka. 
Sebagaimana orang-orang pergerakan di sepanjang sejarah yang menentang 
para pemerintah. Jika berpecah kalimah mereka dan bercerai berai 
kekuatan mereka, maka kekuasaan mereka dengan mudah dalam genggaman 
kita.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;
Bag 4&lt;/h3&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ketika aku sampai di Bashrah, untuk mencari tempat tinggal aku pergi 
ke salah satu masjid. Di masjid itu ada seorang alim sunni, arab tulen 
namanya Syeikh Umar ath-Thâ`i. Aku perkenalkan diriku dan beramah-tamah 
dengannya. Tetapi sejak pandangan pertama, orang laki ini sudah curiga 
kepadaku. Ia bertanya di mana aku berasal, soal nasab dan keluargaku. Ia
 juga menyelidiki hal-ihwalku. Mungkin karena warna kulit dan logat 
bicaraku yang membuat dirinya ragu. Tetapi aku berusaha meyakinkan 
dirinya bahwa aku dari keturunan Aghdir di Turki, aku murid Syeikh Ahmad
 di Astana, aku pernah bekerja sebagai tukang kayu di juragan Khalid dan
 seterusnya…Apa saja yang aku ketahui dan alami selama aku di Turki dan 
aku sempat bicara beberapa dengan bahasa Turki. Dan berhati-hati ketika 
Syeikh memberi isyarat kepada salah satu hadirin, bahwa aku bicara 
bahasa Turki atau tidak!? Orang yang mencoba mengetesku, mengisyaratkan 
kepadanya dengan jawaban positif. Aku senang sekali bahwa aku berhasil 
meyakinkan Syeikh. Tetapi dugaku, kepercayaannya terhadapku hanya 
siasatnya saja. Aku yakin hal ini ketika setelah beberapa hari, 
diam-diam ia memandangku curiga. Dan menduga bahwa aku seorang mata-mata
 Turki. Aku mengetahui kecurigaannya setelah jelas bahwa Syeikh adalah 
seorang penentang Wali kota yang dipilih pemerintah. Antara keduanya 
saling tuding dan berburuk sangka.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Alhasil mau tidak mau, aku harus hengkang dari masjid milik Syeikh 
Umar pindah ke Khan. Tempat penginapan para turis dan musafir. Di sana 
aku sewa kamar. Dan pemilik penginapan, adalah seorang pandir yang 
setiap pagi rajin mengganggu istirahatku. Awal waktu subuh dia sudah 
mendatangi kamar dan menggedor pintu dengan keras, untuk membangunkanku 
salat subuh. Dan aku harus menuruti cara&amp;nbsp; doktrinnya dan aku bangun 
untuk salat subuh, kemudian ia menyuruhku membaca al-Qur`an sampai 
matahari terbit. Ketrika aku katakan bahwa membaca al-Qur`an itu tidak 
wajib (sunnah), “lalu kenapa memaksaku sedemikian rupa?”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Tidur di waktu pagi akan menyebabkan kemiskinan dan malapetaka bagi 
penginapan dan penghuninya” jawabnya. Maka mau tidak mau aku menuruti 
kata-katanya, salat di awal waktu dan kemudian membaca al-Qur`an selama 
satu jam lebih pada setiap hari. Karena kalau tidak, ia akan mengusirku.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Musykilah tidak berhenti sampai di situ, ketika suatu hari pemilik 
lain penginapan itu yang bernama Mursyid Afandam menemuiku, mengatakan 
padaku, “Sejak anda menginap di sini, banyak problem yang aku hadapi dan
 aku pikiranku hanya tertuju padamu, dan aku pikir kaulah sebabnya. 
Sebab kau seorang bujang sedangkan bujangan itu membawa sial. Maka 
pilihlah salah satu dari dua hal ini: kau menikah atau tinggalkan 
penginapan ini!”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aku jawab, “Aku tidak punya harta untuk persiapan menikah (aku takut 
jika mengatakan bahwa aku tidak punya sesuatu yang semestinya dimiliki 
kaum lelaki umumnya, lalu ia mencoba melihat auratku apakah benar apa 
yang aku katakan?). Jika aku beralasan dengan uzur ini, maka ia pasti 
ingin tahu kebenarannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Afandam berkata kepadaku, “Wahai yang imannya lemah, bukankah anda membaca firman Allah, “&lt;i&gt;Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunianya&lt;/i&gt;”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aku sangat bingung dan bimbang dengan perkara ini, apa yang harus 
kuperbuat? Dengan alasan apa harus kujawab? Akhirnya aku katakan 
kepadanya, “Baiklah, lalu bagaimana aku menikah tanpa harta? Apakah anda
 bersedia membantuku dengan harta yang cukup atau anda temukan untukku 
seorang perempuan yang kunikai tanpa mahar?”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dia berfikir sejenak kemudian mengangkat kepalanya sambil berkata, 
“Aku tidak mengerti ucapanmu! Begini saja aku beri waktu sampai awal 
bulan Rajab, jika anda tidak menikah juga maka anda harus pergi dari 
penginapan ini”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sementara memasuki awal bulan Rajab masih ada dua puluh lima hari lagi, dan waktu itu tanggal lima bulan Jumadil tsani.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Berkenaan dengan nama-nama bulan Islam, secara berurutan pertama 
dimulai bulan: Muharram, lalu Shafar, Rabi’ul awal, Rabi’ul tsani, 
Jumadil awal, Jumadil tsani, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, 
Dzulqa’dah dan Dzulhijjah. Menurut perhitungan &lt;i&gt;Hilal&lt;/i&gt;, yang masyhur tidak lebih dari tiga puluh hari dan tidak kurang dari dua puluh sembilan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Akhirnya aku pecahkan masalah Afandam, ketika aku telah temukan 
sebuah tempat milik seorang tukang kayu. Aku melamar pekerjaan kepadanya
 dan ia menerimaku bekerja dengan gaji kecil, dan aku makan dan tinggal 
di tempatnya. Akhirnya sebelum akhir bulan (Jumadil tsani) aku sudah 
keluar dari penginapan Afandam, dan pindah ke toko kayu milik Abdur 
Ridha, juragan kayu yang berbangsa Parsi dari desa Khurasan. Ia seorang 
syi’i, pintar dan terhormat. Ia perlakukan aku seperti anaknya sendiri. 
Dan tidak aku sia-siakan keberadaan diriku bersamanya untuk belajar 
bahasa Parsi. Setiap waktu Ashar di rumahnya, orang-orang syiah 
berbangsa &lt;i&gt;‘ajam&lt;/i&gt; berkumpul, berbincang-bincang dari soal politik
 sampai masalah ekonomi. Mereka sangat menentang pemerintah mereka 
sebagaimana mereka juga menentang Khalifah di Astana. Namun jika muncul 
perdebatan yang tidak mereka ketahui, mereka berhenti dan mengalihkan ke
 pembicaraan masalah-masalah pribadi mereka.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aku sendiri tidak mengerti, mengapa mereka percaya kepadaku. Akhirnya
 aku tahu bahwa mereka menyangka aku berasal dari Azerbaijan, mendengar 
bahwa aku bicara dengan bahasa Turki. Ditambah warna kulitku yang putih 
seperti kulit bangsa Azerbaijan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Keadaan yang demikian itu, aku berkenalan dengan seorang anak muda 
yang sering datang ke toko, namanya Muhammad bin Abdul Wahab. Ia 
mengerti tiga bahasa: Turki, Parsi dan Arab. Ia pernah belajar ilmu 
agama, seorang pemuda yang angkuh dan keras kepala. Ia anti pemerintah 
Usmaniah, adapun pemerintah Parsi ia tidak berkomentar. Adapun sebab ia 
bersahabat dengan pemilik toko, bahwa mereka sama-sama anti Khalifah. 
Aku tidak tahu, dari mana ia bisa berbahasa Parsi padahal ia seorang 
sunni sedangkan Abdur Ridha adalah seorang syi’i? Di Bashrah adalah hal 
biasa jika orang sunni bergaul dengan orang syi’ah, mereka seperti 
saudara. Dan mayoritas penduduk setempat (Bashrah) mengerti bahasa Parsi
 dan (sudah tentu) Arab. Dan tidak sedikit mereka mengerti bahasa Turki.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Muhammad Abdul Wahab seorang pemuda yang berfikir bebas, tidak 
fanatik terhadap syi’ah -tidak seperti kaum sunni umumnya yang fanatik 
dan anti syi’ah. Hingga sampai pada batas, tokoh-tokoh mereka 
mengkafirkan orang-orang syi’ah dan mengatakan mereka bukan kaum 
muslimin- sebagaimana ia tidak pernah melihat sebuah perbandingan untuk 
mengikuti empat mazhab yang berlaku di antara Ahlus sunnah. Dan ia 
mengatakan, “Sesungguhnya Allah tidak menurunkan empat mazhab melalui 
seorang penguasa”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Adapun riwayat empat mazhab, ialah bahwa muncul sebuah jalan dari 
kaum muslimin sesudah lebih dari satu abad setelah nabi mereka wafat, 
dengan lahirnya dari mereka empat ulama. Mereka adalah Abu Hanifah, 
Ahmad bin Hambal, Malik dan Muhammad bin Idris. Sebagian khulafa 
mewajibkan agar kaum muslimin bertaqlid (mengikuti) salah seorang dari 
empat imam ini. Dan bahwa tiada seorang alim yang berijtihad di dalam 
al-Qur`an dan sunnah, dan pandangan ini pada hakikatnya menutup pintu 
pemahaman mereka dan bahwa pengharaman ijtihad akan menjumudkan kaum 
muslimin. Adapun kaum Syi’ah menggunakan peluang itu dengan 
mengembangkan mazhab (pemikiran) mereka seluas mungkin. Sehingga setelah
 jumlah kaum syi’ah tidak mencapai angka sepuluh dari jumlah Ahlus 
sunnah, kini jumlah mereka lebih banyak dan menyamai jumlah mereka. Dan 
hal yang alami bahwa ijtihad merupakan perkembangan Islam di bidang 
fikih dan memperluas pemahaman al-Qur`an dan sunnah sesuai kebutuhan 
zaman seperti senjata yang canggih. Dan sebaliknya pembatasan mazhab 
dalam metode yang khusus, dan menutup pintu pemahaman dan pendengaran 
dari seruan kebutuhan-kebutuhan zaman, maka itu ibarat senjata yang 
lemah. Seumpama anda punya senjata yang lemah sedangkan musuh anda 
bersenjatakan canggih, maka -cepat atau lambat- anda pasti berusaha 
mengalahkan musuh anda! (Perkiraanku, akan datang dengan dekat di suatu 
masa, orang-orang Ahlus sunnah yang berakal membuka pintu ijtihad. Jika 
tidak, maka aku kabarkan kepada Ahlus sunnah bahwa mereka akan berlalu 
pada masa kurun waktu dengan jumlah yang semakin sedikit dan Syi’ah akan
 menjadi jumlah yang besar!).&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgxhWINTCp1cdilvQ1ul5LixMy8LIYIvH6I4KBS0BA9iS3H3w8szQcWCGeKlpIbFVoRmGLX_cGOdYEByimBaLq7JKOXDjf5_barJy6NYl3QhRtQAQJpbv4v7GTcyi-EE4ZhBEXNzoXMjDU/s1600/534198_472181282813545_234624305_n%255B1%255D.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgxhWINTCp1cdilvQ1ul5LixMy8LIYIvH6I4KBS0BA9iS3H3w8szQcWCGeKlpIbFVoRmGLX_cGOdYEByimBaLq7JKOXDjf5_barJy6NYl3QhRtQAQJpbv4v7GTcyi-EE4ZhBEXNzoXMjDU/s1600/534198_472181282813545_234624305_n%255B1%255D.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Muhammad bin Abdul Wahab, si pemuda angkuh ini mengikuti apa yang ia 
pahami dalam al-Qur`an dan sunnah, dan membandingkan dengan pandangan &lt;i&gt;masyâikh&lt;/i&gt;
 (ulama)nya. Ia tidak mengikuti pandangan ulama zamannya dan tidak pula 
mazhab yang empat. Bahkan ia menolak pandangan Abu Bakar dan Umar, jika 
apa yang ia pahami dari al-Qur`an berbeda dengan apa yang mereka pahami.
 Ia mengatakan, “Bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Aku tinggalkan 
kepada kalian al-Kitab (al-Qur`an) dan Sunnah, dan beliau tidak bersabda
 aku tinggalkan kepada kalian al-Kitab, Sunnah, Sahabat dan 
mazhab-mazhab”. Karena yang wajib diikuti adalah al-Qur`an dan Sunnah 
meskipun pandangan keduanya berbeda dengan pandangan-pandangan 
mazhab-mazhab dan sahabat serta ulama.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pernah ketika ia (dan kami) bertamu di rumah salah satu ulama Persia 
(Abdul Ridha), memenuhi undangan jamuan makan bersama. Kami yang menjadi
 para tamunya, ialah Muhammad Abdul Wahab, Syeikh Jawad al-Qummi 
(Seorang alim syi’i), dan aku bersama sebagian temannya tuan rumah. 
Terjadi perdebatan seru dan serius antara Muhammad dan Syeikh, dan aku 
tidak ingat semuanya dari perdebatan itu, yang aku ingat adalah 
poin-poinnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Syeikh al-Qummi berkata kepadanya, “Jika anda berfikir bebas dan 
berijtihad sebagaimana yang anda nyatakan, kenapa anda tidak mengikuti 
Ali seperti orang syi’ah?”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Karena Ali seperti Umar dan lainnya yang ucapannya bukan &lt;i&gt;hujjah&lt;/i&gt;. Sesungguhnya hanya al-Qur`an dan Sunnah lah yang menjadi hujjah” jawab Muhammad.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Syeikh: “Bukankah Rasulullah pernah bersabda bahwa “Aku kota ilmu dan
 Ali pintunya”? Jika begitu Ali tidak sama dengan sahabat yang lainnya”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Muhammad: “Jika ucapan Ali itu hujjah, lalu mengapa Rasulullah tidak mengatakan Kitabullah dan Ali bin Abu Thalib?”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Syeikh: “Bahkan beliau bersabda, “Kitabullah dan ‘Itrah Ahlul Baitku”, sementara Ali adalah kepala ‘Itrah!”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Muhammad tidak menerima bahwa Rasulullah pernah mengatakan demikian. 
Namun Syeikh memberi jawaban yang memuaskan sehingga Muhammad diam dan 
tidak menjawab. Tetapi ia membantahnya, “Jika Rasulullah mengatakan 
“Kitabullah dan ‘Itrahku” maka di mana sunnahnya?”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Sunnah Rasul adalah syarahnya Kitabullah! Ketika beliau mengatakan 
“Kitabullah dan ‘Itrahku” yang beliau maksud adalah Kitabullah dengan 
syarahnya yaitu Sunnah” jawabnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Muhammad: “Kalau begitu, ucapan Itrah juga merupakan syarah bagi 
Kitabullah! Lalu apa perlunya dengan mereka (karena sudah ada sunnah)?”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Syeikh: “Ketika Rasulullah wafat, umat membutuhkan syarah al-Qur`an, 
sebuah syarah yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan zaman. Karena itu 
Rasulullah mengembalikan umat kepada al-Qur`an sebagaimana asal dan 
kepada Itrah seperti Para pensyarah bagi al-Qur`an yang sesuai dengan 
kebutuhan-kebutuhan zaman”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aku kagum yang tak terhingga dengan pembahasan ini. Melihat Muhammad 
seorang pemuda di hadapan seorang Syeikh yang sudah berumur tua, seperti
 seekor burung kecil yang tidak berkutik dalam gengaman tangan seorang 
pemburu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aku menemukan kebingunganku selama ini ada pada dirinya (Muhammad bin
 Abdul Wahab), kebebasan, keangkuhan dan kekerasannya terhadap masyâikh 
(ulama) zamannya serta kemandirian berfikirnya yang tidak mengikut 
pandangan orang lain jika tidak sesuai dengan apa yang ia pahami dari 
al-Qur`an dan Sunnah, termasuk khulafa yang empat. Inilah titik 
kelemahan yang paling menonjol, yang mana dengan itu aku mampu 
menjatuhkan dirinya. Jelas pemuda yang sesat ini tidak dapat 
dibandingkan dengan Syeikh Turki, yang mana aku pernah belajar dengannya
 sewaktu aku di Turki. Syeikh adalah figur salaf yang kokoh seperti 
gunung. Jika Syeikh (ia pengikut mazhab Hanafi) hendak menyebut nama Abu
 Hanifah, ia akan bangkit dan berwudu kemudian menyebut nama Abu 
Hanifah. Jika ia ingin mengambil kitab al-Bukhari (kitab besar yang amat
 disucikan oleh Ahlus sunnah), ia mengambil wudu terlebih dahulu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Adapun Muhammad bin Abdul Wahab sangat mencela Abu Hanifah, dan ia 
pernah berkata, “Aku lebih paham dari Abu Hanifah”. Dan juga pernah 
berkata, “Sesungguhnya separuh kita al-Bukhari adalah batil”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aku telah menjalin hubungan sangat erat dengannya. Ia selalu aku 
besarkan hatinya dan aku katakan kepadanya bahwa dirinya lebih utama 
dari Ali dan Umar. Jika Rasulullah hadir kembali ke dunia ini, maka ia 
akan memilihmu sebagai khlifahnya. Dan selalu aku katakan padanya, 
“Pikirkanlah, bahwa kemajuan Islam ada di tangnmu! Kau adalah penyelamat
 satu-satunya yang diharapkan oleh Islam yang sedang jatuh ini).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aku telah sepakat dengannya bahwa “kita harus mengkritik penafsiran 
al-Qur`an berdasarkan jalan pemikiran kita, bukan berdasarkan pandangan 
sahabat dan imam mazhab serta ulama. Kita membaca al-Qur`an dan bicara 
tentang poin-poin darinya (aku bermaksud&amp;nbsp; menjerumuskannya ke dalam 
perangkap). Dan ia menunjukkan sependapat dengan pandanganku dan 
menampakkan kepribadiannya yang bebas dan sangat mempercayai aku.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Suatu hari aku berkata kepadanya, “Jihad itu tidak wajib”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Bagaimana dengan firman Allah “&lt;i&gt;dan perangilah orang-orang kafir&lt;/i&gt;”?”, sergahnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aku berkata, “Perangilah orang-orang kafir dan munafiqin”. Jika jihad
 itu wajib, lalu kenapa Rasulullah tidak memerangi kaum munafik?”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Rasulullah memerangi mereka dengan lisannya”, katanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Kalau begitu jihad melawan kuffar adalah wajib dengan lisan!” tambahku.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ia berkata, “Tetapi Rasul berperang dengan Kuffar”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Perangnya Rasul adalah &lt;i&gt;difa’&lt;/i&gt; mempertahankan nyawa, ketika 
mereka hendak membunuhnya maka beliau melawan mereka” kataku. Akhirnya 
Muhammad menganggukkan kepalanya tanda menerima.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pernah suatu hari aku bilang kepadanya, “Kawin mut’ah itu boleh”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Tidak!” sergahnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aku berkata, “Allah berfirman, “&lt;i&gt;Maka istri-istri yang telah kamu 
nikmati (mut’ah) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya 
(dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban&lt;/i&gt;..” (an-Nisa 24)”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Tetapi Umar yang mengharamkan mut’ah! Dengan mengatakan, “Dua mut’ah
 yang berlaku di masa Rasulullah, dan aku yang mengharamkan keduanya dan
 menghukum siapa yang melanggarnya”, katanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aku berkata, “Bukankah kau pernah bilang, “aku (Muhammad bin Abdul 
Wahab) lebih tahu dari Umar, lalu kenapa kau ikut Umar?. Dan jika Umar 
mengharamkan apa yang dihalalkan Rasul, mengapa kau tinggalkan pandangan
 al-Qur`an dan Rasul, dan kau ikuti pandangan Umar?”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ia terdiam. Melihat ia diam bertanda puas dengan keteranganku, 
nampaknya bergejolak kebutuhan biologisnya (sementara ia belum punya 
istri).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aku bilang padanya, “Bukankah kita (aku dan kau) adalah orang bebas dan mengambil halalnya mut’ah dan kita bersenang-senang?”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ia mengangguk setuju, dan aku memanfaatkan sikap setujunya itu. 
Kemudian aku janjikan untuknya seorang wanita untuk dimut’ah olehnya. 
Keinginanku ialah membuyarkan rasa takutnya dari perselisihan antara ia 
dengan orang lain umumnya. Akhirnya ia memberi syarat bahwa ini rahasia 
antara aku dengannya dan tidak memberitahu namanya kepada perempuan yang
 akan dimut’ahinya. Maka aku langsung pergi ke tempat 
perempuan-perempuan Nasrani, yang mana mereka adalah antek-antek 
kementrian kami untuk merusak pemuda muslim. Aku dapatkan seorang wanita
 yang aku panggil dengan nama Shafiyah, dan telah aku ceritakan semuanya
 tentang pemuda ini. Dan pada waktu yang dijanjikan aku pergi bersama 
Muhammad, ke rumah Shafiyah yang saat itu sedang sendirian. Aku bacakan 
akad nikah mut’ah untuk Muhammad dalam waktu seminggu, dengan mahar 
sekian gram emas secara tunai. Aku senangkan hatinya dari luar sedangkan
 Shafiyah dari dalam.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setelah Shafiyah mengambil hatinya dan memberikan manisnya 
kemaksiatan yang dilakukan Muhammad terhadap syariat di bawah naungan 
pemikiran dan kemandirian pandangannya yang bebas. Tiga hari kemudian, 
aku berbincang-bincang panjang dengannya soal bahwa minuman khamar itu 
tidak haram. Aku perdaya dirinya dengan menyertakan dalil-dalil 
al-Qur`an dan hadis, dan pada akhirnya aku bilang padanya, “Dibenarkan 
bahwa Mu’awiyah dan Yazid serta khulafa Bani Umayyah dan Bani Abbas, 
mereka saling menawarkan khamar. Maka mungkinkah mereka itu berada dalam
 kesesatan dan kau sendiri dalam kebenaran? Sesungguhnya tidak syak lagi
 bahwa mereka itu lebih memahami Kitabullah dan Sunnah Rasul, dan 
benarkah mereka tidak mengetahui hal yang haram sementara mereka 
memahami hal yang makruh dan dibenci? Sedangkan di kitab-kitab Yahudi 
dan Nasrani menunjukkan kehalalan khamar, masuk akalkah bila agama yang 
satu mengharamkan khamar sedangkan agama yang lain menghalalkannya? 
Sementara semua agama berasal dari sisi Tuhan Yang Maha esa! Kemudian 
disebutkan dalam riwayat bahwa Umar minum khamar sehingga turun ayat, “&lt;i&gt;Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)&lt;/i&gt;”
 (al-Maidah 91). Bila khamar itu haram maka Rasul akan menghukumnya, 
tetapi ia tidak melakukannya maka ini menunjukkan kehalalannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Muhammad menyimak keteranganku dengan penuh perhatian, kemudian ia 
bangkit sambil mengatakan, “Bahkan dibenarkan dalam riwayat bahwa Umar 
mencampur khamar dengan air lalu meminumnya, dan mengatakan jika mabuk, 
itu haram. Tetapi jika tidak mabuk maka tidak haram”. Kemudian ia 
menambahkan bahwa Umar bvenar dalam masalah ini, sebab al-Qur`an 
mengatakan, “&lt;i&gt;Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan 
permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan 
berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang..&lt;/i&gt;”
 (al-Maidah 91). Maka jika khamar itu tidak memabukkan maka hal tidak 
akan terjadi seperti ayat yang telah aku sebutkan, karena itu khamar 
tidak dilarang jika tidak memabukkan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Shafiyah memberitahu apa yang berlaku, ia berhasil menuangkan khamar 
keras kepada pemuda ini dan memberitahuku bahwa ia telah meminumnya 
sampai mabuk, berkelakuan kasar dan menyetubuhi dirinya beberapa kali di
 malam itu. Dan telah aku lihat badannya lemah dan mengkurus lantaran 
malam itu. Demikianlah aku dan Shafiyah mengendalikan dirinya 
sepenuhnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sungguh ini menggetarkan diriku tentang pesan penting yang dikatakan 
mentri negara-negara jajahan, ketika aku mohon izin berangkat, “Kami 
telah berhasil mengembalikan Spanyol dari tangan orang-orang kafir 
(maksudnya kaum muslimin) dengan khamar dan kesesatan, maka kita harus 
berusaha negara-negara yang menjadi milik kami dengan dua formula itu”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada suatu hari, aku bicara tentang puasa dengan Muhammad, aku katakan, “Sesungguhnya al-Qur`an mengatakan “&lt;i&gt;dan berpuasa lebih baik bagimu&lt;/i&gt;..”
 (al-Baqarah 184) dan tidak mengatakan berpuasa wajib bagimu, maka puasa
 dalam pandangan Islam itu sunnah dan bukan wajib!. Tetapi ia bangkit 
dan mengatakan, Hai Muhammad (nama samaran Mr Hamper), Kau ingin 
mengeluarkanku dari agamaku!?”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Ya Wahab, agama itu kesucian hati, keselamatan jiwa dan tiada 
permusuhan dengan yang lain. Bukankah Rasulullah pernah bersabda, “Agama
 itu cinta”? Bukankah al-Qur`an menyebutkan bahwa “&lt;i&gt;Sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yakin&lt;/i&gt;”
 (al-Hijr 99). Jadi jika manusia mendapati keyakinan akan Allah dan Hari
 Akhir, maka itulah kebajikan hati dan kebersihan amal, dialah orang 
yang paling utama. Tetapi dia menggelengkan kepala tanda menolak dan 
tidak senang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pernah aku bilang kepadanya, “Salat itu tidak wajib”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Kok begitu?” tanyanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aku berkata, “Sebab di dalam al-Qur`an, Allah berfirman, “&lt;i&gt;dan dirikanlah salat untuk mengingatku&lt;/i&gt;” (Thaha 14), maka yang dimaksud salat ialah mengingat Allah swt. Jadi ingatlah Allah swt sebagai ganti salat!”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Wahab berkata, “Ya aku pernah dengar, sebagian ulama mengingat Allah swt di waktu-waktu salat sebagai ganti pekerjaan salat”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Betapa senangnya diriku mendengar perkataanya itu, maka aku bumbui 
pandangannya ini hingga aku perkirakan bahwa aku dapat mengendalikan 
jalan pikirannya. Tak lama kemudian aku melihatnya tidak lagi serius 
dengan perkara salat, terkadang ia salat dan terkadang tidak. Terutama 
di waktu subuh, ia sering meninggalkan salat subuh. Setelah semalam aku 
asyik mengobrol panjang dengannya sampai tengah malam lewat, sehingga 
mendekati subuh ia kelelahan dan tinggalkan salat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Begitulah aku tanggalkan pakaian keimanan dari pundak Wahab sedikit 
demi sedikit. Pernah suatu kali aku mendebatnya seputar Rasul, tiba-tiba
 ia langsung menunjuk wajahku dan melotot, lalu berkata, “Jika kau 
bicara lagi soal ini, maka aku tidak mau berteman lagi denganmu”. Aku 
khawatir ia akan marah dan benci padaku, karena itu aku menahan diri 
untuk bicara soal itu lagi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tetapi minimal aku telah memperdaya dirinya bahwa ia berpegang pada 
pemikiran yang ketiga, yang bukan Ahlus sunnah juga bukan Syi’ah, dan ia
 sangat menerima pemikiran ini dengan sepenuhnya karena dirinya dipenuhi
 dengan kesombongan dan kemandiriannya (yang kelewatan).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ditambah dengan keberadaan Shafiyah yang selalu menemaninya selama 
seminggu, juga dengan akad-akad yang diperbaharuinya, sehingga kami 
benar-benar mengendalikan dirinya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aku bilang pada Wahab, “Banarkah Nabi mempersaudarakan antara sahabatnya?”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Ya”, jawabnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Apakah hukum-hukum Islam itu bersifat temporal atau permanen?”, tanyaku.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ia menjawab, “Permanen, sebab Rasulullah pernah bersabda, “Halalnya 
Muhammad adalah halal sampai hari kiamat dan haramnya Muhammad adalah 
haram sampai hari kiamat”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Jika begitu, mari kita mempersaudarakan antara aku dan kau, maka 
terjalinlah persaudaraan antara ia dan aku. Setelah itu, aku selalu 
bersamanya dan menemaninya ke mana ia pergi. Dan aku bersemangat untuk 
memetik buah hasil dari&amp;nbsp; pohon yang telah aku tanam sebelumnya. Buah 
hasil yang paling berharga di masa mudaku.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setiap bulan, aku tulis hasil kerjaku kepada kementrian sebagaimana 
itu sudah menjadi tugasku sejak aku pergi dari London. Dan jawaban yang 
aku terima cukup memuaskan diriku. Aku dan Wahab berjalan di jalan 
(pemikiran)yang telah kami bangun berdua dengan langkah-langkah yang 
cepat, dan aku tidak pernah meninggalkannya di manapun ia berada. 
Targetku ialah memperkuat jiwanya yang berpikir sangat bebas dan 
memperuncing keraguannya. Dan aku selalu mendukungnya dengan suka cita 
dan memuji jiwanya yang berapi-api. Dan dirinya yang kritis dan 
terkadang aku bersikap lembut padanya dengan mengatakan, “Kemarin malam 
aku mimpi melihat Rasulullah, aku melihatnya seperti yang digambarkan 
oleh para penceramah di mimbar-mimbar. Ia duduk di atas kursi dan di 
sekitarnya sekelompok ulama yang tidak aku kenal seorangpun dari mereka.
 Dan aku melihatmu datang dengan wajahmu yang memancarkan sinar, ketika 
kamu sampai kepada Rasulullah, beliau berdiri memuliakanmu dan memlukmu,
 lalu berkata, “Wahai Muhammad (bin Abdul Wahab), kau adalah namaku, 
mewarisi ilmuku dan menduduki kedudukanku dalam mengatur urusan agama 
dan dunia”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kemudian kamu berkata, “Wahai Rasulullah, aku takut menampakkan ilmuku kepada manusia”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Rasulullah berkata kepadamu, “Janganlah takut, sesungguhnya kedudukanmu itu tinggi”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mendengar kisah mimpiku, dirinya melambung kesenangan, dan bertanya apakah benar mimpimu itu?”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Ya”, kataku. Setiap ia menanyakan hal itu aku jawab dengan positif 
sampai ia yakin. Dan aku kira, mulai saat itu ia berniat untuk 
melaksanakan kewajibannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Bag (5)&lt;/b&gt;&lt;/h3&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Selama aku tinggal di sana (Bashrah), beberapa perintah sampai 
kepadaku dari London supaya aku pergi ke Karbala dan Najaf, tempat 
dambaan hati muslimin syi’ah, basis ilmu dan spiritual mereka. Dan untuk
 dua wilayah ini ceritanya panjang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Adapun kisah Najaf, dimulai dari hari dimakamkannya di situ Ali, 
khalifah keempat menurut Ahlus sunnah dan khalifah pertama menurut 
mazhab Syi’ah. Kota yang jaraknya dari Najaf kira-kira satu farsakh 
(satu jam jalan kakinya seorang laki), di namakan Kufah, pusat 
pemerintahan khilafah Ali. Ketika ia terbunuh, kedua putranya (Hasan dan
 Husein) memakamkannya di luar Kufah, yakni di tempat yang sekarang di 
namakan Najaf. Kemudian Najaf menjadi hidup menyala sedangkan Kufah 
dalam kerusakan. Di Najaf beberapa ulama Syi’ah berkumpul, di sana ada 
rumah-rumah, pasar-pasar dan sekolahan-sekolahan. Sekarang Najaf menjadi
 basis ulama Syi’ah, dan khalifah di Astana memberi sumbangan dan 
menghormati mereka, karena beberapa perkara:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1-Pemerintahan Syi’ah di Persia membantu mereka, dan bila khalifah 
(Astana) menyentuh kehormatan mereka maka hubungan antara kedua 
pemerintahan itu menjadi tegang dan terkadang sampai pada batas perang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2-Di sekitar Najaf banyak kaum &lt;i&gt;‘Asya`irah&lt;/i&gt; yang membantu 
ulama, berupa alat persenjataan. Meskipun bukan senjata canggih dan 
tiada undang-undang bagi mereka kecuali undang-undang &lt;i&gt;‘Asyâiri&lt;/i&gt;. Tetapi yang dimaksud ialah posisi kepemimpinan ulama agar bergabung bersama &lt;i&gt;A’syâirah&lt;/i&gt;
 dalam peperangan yang menumpahkan darah. Dan bagi pemerintah tidak ada 
kepentingan yang serius untuk memaksa menarik penentangan ulama terhadap
 mereka.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
3-Ulama di sana menjadi Para &lt;i&gt;marja’&lt;/i&gt; bagi muslimin Syi’ah di 
dunia, di India, Afrika dan lain-lain. Jadi jika pemerintah menyentuh 
kehormatan mereka maka orang-orang syi’ah di semua tempat akan berontak.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Adapun kisah Karbala, dimulai sejak terbunuhnya cucu Rasulullah 
(al-Husein bin Ali, putra Fatimah binti Rasul). Penduduk Iraq mengundang
 al-Husein untuk datang kepada mereka dan untuk membai’atnya sebagai 
khalifah mereka. Tetapi ketika ia bersama keluarganya sampai di tanah 
Karbala -yang jaraknya dari Kufah sekitar 12 farsakh-, mereka berubah 
(ingkar janji). Mereka keluar untuk membunuh al-Husein atas perintah 
Yazid, anak Mu’awiyah khalifah Umawi yang berkuasa di Syam. Tentara 
Umawi yang berjumlah banyak dengan nekat membunuh al-Husein bin Ali 
bersama keluarganya. Di peperangan itu, tentara Umawi menampakkan semua 
penghinaan mereka terhadap al-Husein dan keluarganya. Sejak itu kaum 
Sy’iah menjadikan tempat itu sebagai basis spiritual, mereka datang dari
 segala tempat dan mereka datang berhimpit-himpitan (penuh semangat) 
tidak seperti spiritualitas Kristen yang ada pada kami.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Inilah kota Karbala, sebuah kota Syi’ah dan di sana terdapat ulama 
Syia’h dan beberapa madrasah. Karbala dan Najaf satu sama lain saling 
mendukung.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ketika aku dapat perintah untuk pergi ke dua kota ini, aku putuskan 
berangkat dari Bashrah ke Baghdad, markas wali kota yang dirampas oleh 
khalifah di Astana. Dan dari situ aku berangkat ke Hullah, sebuah kota 
yang terletak di tepi sungai Furat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Furat dan Dajlah adalah dua sungai besar yang membelah Iraq dari 
Turki dan bermuara ke Laut. Kesuburan pertanian Iraq terletak pada dua 
sungai ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada kepulanganku nanti ke London, aku akan mengusulkan kepada 
kementrian agar menggaris letak kekuasaan atas aliran dua sungai ini, 
supaya Iraq menundukkan rakyat dengan sikap yang lunak. Dan apabila 
aliran air itu terputus maka penduduk akan tunduk dan mematuhi 
kepentingan-kepentingan kementrian.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dari Hullah aku berangkat ke Najaf dengan menyamar sebagai pedagang 
dari Azerbaejan dan aku bergabung dengan orang-orang ruhani, mengikuti 
acara-acara dan majlis-majlis ta’lim mereka. Aku begitu kagum dengan 
kesucian ruhani mereka, luasnya ilmu mereka dan kuatnya ketakwaan 
mereka. Tetapi aku dapati mereka yang tradisional dan tidak berfikir 
tentang pembaharuan urusan mereka.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1-Mereka sangat menentang terhadap pemerintahan di Turki (bukan 
karena mereka Syi’ah dan pemerintah itu Ahlus sunnah), tetapi karena 
tekanan pemerintah terhadap kebebasan mereka secara hebat, mereka tidak 
memikirkan tentang posisi pemerintah dan bagaimana agar bebas dari 
tekanan tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2-Sebagaimana aktifitas mereka terpaku pada ilmu agama, seperti para 
pendeta kami di masa yang jumud. Mereka tinggalkan ilmu dunia dan hanya 
sedikit yang tidak bermanfaat bagi mereka yang diambil.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
3-Mereka tidak berfikir apa yang berlaku dan terjadi di sekitar mereka di dunia ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aku katakan pada diriku sendiri, “Rumah-rumah mereka dalam kelelapan 
sementara dunia dalam berjaga, dan suatu saat akan datang banjir yang 
menenggelamkan mereka. Dan aku berusaha berulang kali menggugah mereka 
untuk bangkit melawan khilafah (pemerintah), tetapi aku tidak menemukan 
kecenderungan mereka untuk itu. Sebagian mereka menghinaku seakan aku 
mengatakan pada mereka bahwa ‘aku akan menghancurkan dunia’. Mereka 
melihat bahwa khilafah (pemerintah mereka) adalah khilafah yang durhaka 
dan tidak mungkin mengatasinya kecuali dhuhurnya Wali al-Amr (Imam 
Mahdi).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Wali al-Amr mereka adalah Imam yang ke dua belas dari &lt;i&gt;dzurriyah&lt;/i&gt;
 Rasul, yang ghaib pada tahun 255 Hijriyah, yakni setelah 255 tahun 
Rasul mereka datang. Ia hidup sampai sekarang dan akan muncul ke dunia 
untuk menegakkan keadilan saat kezaliman merajalela.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aku heran, bagaimana orang-orang meyakini keyakinan yang khurafat 
ini. Keyakinan ini semacam keyakinan yang dianut sebagian kaum Kristen 
yang khurafat, yang yakin bahwa al-Masih akan kembali dari kedudukannya 
yang tinggi untuk menegakkan keadilan di dunia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aku katakan kepada mereka, “Bukankah yang wajib adalah merubah kezaliman sebagaimana yang dilakukan Rasul Islam?”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Sesungguhnya Rasul dibantu Allah, karena itu ia mampu”, jawabnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aku katakan, “Di dalam al-Qur`an dikatakan, “&lt;i&gt;Jika kamu menolong (membela) Allah, maka Allah akan menolong kamu&lt;/i&gt;”. Maka kalian juga akan dibantu oleh Allah, jika kalian bangkit dengan pedang melawan kezaliman pemerintah”.&lt;/div&gt;
“Kau ini pedagang, pemahamanmu ‘cetek’ dan tidak akan menyambung, sedangkan ini masalah yang bersifat ilmiyah.&lt;br /&gt;
Makam Ali bin Abu Thalib dihiasi sangat indah, halamannya elok, kubahnya
 dilapisi emas dan dua menara menjulang tinggi. Setiap hari 
berbondong-bondong orang datang menziarahi makam Ali bin Abu Thalib ini.
 Mereka melakukan ritual keagamaan di dalamnya. Ada aturan bagi peziarah
 ke makam ini. Setiap dari mereka yang mau masuk, berhenti dulu di depan
 pintu masuk, mencium pintu tersebut baru mengucapkan salam, meminta 
izin untuk masuk, baru memasuki ruangan makam. Makam yang mempunyai 
halaman yang cukup luas itu, ada beberapa ruangan yang khusus 
dipergunakan untuk berdoa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada dua makam yang mirip dengan makam 
Ali bin Abu Thalib ini, yaitu makam yang terletak di Karbala. Yang satu 
adalah makam Husain bin Ali sedang satunya lagi Abbas yang juga syahid 
bersama Husain di Karbala. Di Karbala orang-orang Syiah juga melakukan 
ritual keagamaan seperti apa yang mereka lakukan di Najaf. Hanya saja 
kondisi Karbala sedikit lebih menyenangkan dibanding kondisi yang ada di
 Najaf. Karbala dipenuhi dengan perkebunan buah-buahan yang elok dan 
pengaturan irigasi yang apik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama misi saya di Iraq, saya 
menemukan gambaran suasana yang bisa memberi gagasan hati saya. Ada 
sejumlah kejadian yang menunjukkan keinginan masyarakat untuk mengakhiri
 gubernur yang berkuasa di Iraq. Mereka mempunyai alasan bahwa gubernur 
yang ditunjuk Istambul tidak sesuai dengan aspirasi yang berkembang di 
Iraq. Gubernur tersebut tidak mempunyai pengetahuan yang memadai untuk 
menjadi gubernur dan kejam. Dia itu hanya sok bijaksana. Tentu saja 
rakyat tidak menyukainya. Orang Sunni sendiri tidak bisa berbuat banyak 
akan hal ini karena gubernur membatasi gerak mereka, tentu ini sama 
sekali tidak menguntungkan mereka. Pengikut Syi’ah di sisi lain tidak 
puas dengan tindakan Istambul ini karena di antara mereka ada 
S-a-y-i-d(l) dan S-y-a-r-i-e-f,(2) keturunan nabi yang menurut mereka 
lebih berhak untuk dipilih menjadi gubernur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(1) Keturunan Sayyidina Husain radiyalla anhu&lt;br /&gt;
(2) Keturunan Sayyidina Hasan radiyalla anhu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rata-rata
 orang Syi’ah berada dalam kondisi kurang beruntung. Hidup dalam 
lingkungan yang mengenaskan. Lalu lintas jalan kurang nyaman. Para 
preman jalanan sering menyerang para kafilah bila aparat keamanan tidak 
terlihat disana. Karena itu, pemerintah Turki menunjuk seorang detasemen
 yang bertugas khusus mengawal para kafilah saat melewati gerombolan 
preman tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain dari itu, penganut Syi’ah senang 
berperang, saling membunuh dan menjarah. Buta huruf yang merupakan 
potret kebodohan masih menjadi pemandangan yang umum terlihat. Situasi 
semacam ini mengingatkan saat Eropa berada di bawah kekuasaan para 
pendeta. Yang terdidik hanyalah para pemuka agama yang hidup di Najaf 
dan Karbala dan sebagian kecil dari mereka. Hampir bisa dipastikan hanya
 satu dari seribu orang yang tahu tentang baca tulis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat 
ekonomi di Iraq mengalami kemunduran, banyak dari mereka menderita 
kelaparan serta kerja para pejabat tidak beres. Orang Syi’ah mengajukan 
protes terhadap pemerintahan Istambul. Dalam kondisi semacam ini saya 
melihat rakyat Iraq memandang satu sama lain dalam kecurigaan. Dan 
sebagai konsekewensi logis, hubungan di antara mereka tentu saja tidak 
harmonis. Kemudian yang terjadi selanjutnya, para pemuka Syi’ah 
mengeritik pedas orang-orang Sunni yang berada di pemerintahan, 
dikatakan telah mengabaikan pendidikan, perekonomian, agama, dan 
urusan-urusan dunia lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya tinggal di Karbala dan Najaf 
hanya selama empat bulan. Saat di Najaf saya mengalami sakit yang cukup 
serius. Waktu itu rasanya sudah tidak ada harapan lagi untuk sembuh. 
Saya pergi ke dokter lalu diberi resep obat. Beruntung setelah minum 
obat, kesehatanku berangsur pulih kembali. Dalam jangka tiga minggu, 
saya sembuh seperti semula. Selama sakit saya berada di sebuah ruangan 
bawah tanah. Karena saya sakit, tuan rumah yang menyiapkan obat dan 
makanan. Sebagai imbalan atas pelayanannya yang baik, saya memberikan 
sejumlah uang. Masih ingat sewaktu saya sakit, dokter menyarankan hanya 
memekan gajih ayam, entah apa alasannya. Pada minggu ketiga dari sakit, 
saya baru diperbolehkan makan soup dan ayamnya. Saya mengatakan pada 
tuan rumah bahwa saya mau berziarah ke makam Ali bin Abu Thalib.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika
 merasa sudah sembuh betul, saya melanjutkan perjalanan menuju Bagdad. 
Saya mempersiapkan sebuah laporan yang terdiri atas seratus halaman 
terhadap observasi saya tentang kondisi dan situasi Najaf, Hulla dan 
Baghdad. Saya serahkan laporan tersebut kepada perwakilan kementrian 
yang bermarkas di Bagdad. Selanjutnya saya menunggu perintah berikutnya,
 harus tetap di Iraq atau kembali ke London.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya sendiri 
sesungguhnya sudah kepingin betul balik ke London, karena saya sudah 
cukup lama berada di negeri orang. Saya sudah rindu tanah air dan famili
 saya. Terlebih saya ingin melihat Si buah hati, anak saya, Rasputin 
yang lahir setelah keberangkatan saya. Dengan alasan ini saya 
melampirkan dalam laporan saya permohonan izin untuk barang sebentar 
kembali ke London. Saya juga ingin menyampaikan laporan lisan atas 
kesan-kesan saya selama tiga tahun misi saya di wilayah Iraq dan juga 
ingin istirahat sejenak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perwakilan kementrian yang berada di 
Iraq memberi saran kepada saya agar tidak terlalu sering menghubungi. 
Jika tidak, orang-orang akan menaruh curiga. Dia juga menyarankan saya 
untuk menyewa tempat di salah satu penginapan di sepanjang sungai Tigris
 dan berkata, “Nanti akan saya beritahu apa jawaban dari kementrian 
segera setelah saya menerima surat dari London.” Selama tinggal di 
Bagdad, saya sempat mencatat perbedaan spiritual, yang terjadi antara 
Istambul, ibukota kekhalifahan dan Bagdad.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya masih teringat 
kembali saat meninggalkan Basrah menuju Karbala dan Najaf. Ada semacam 
pertanyaan, “Benarkah Muhammad Annajd berada di jalan yang saya 
inginkan?” Karena bagaimanapun dia adalah tipe yang mempunyai jiwa 
kurang stabil dan sedikit gugup. Jangan-jangan semuanya jadi berantakan.
 Ah, tidak. Saat itu dia punya rencana mau pergi ke Istambul. Saya 
sempat menyampaikan pesan agar dia tetap pada pendiriannya. Saya katakan
 pada dia, “Saya khawatir jika Anda sampai di sana, Istambul membuat 
pernyataan yang menjadikan orang di sana menuduhmu sebagai orang murtad 
dan akhirnya membunuhmu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kondisi begini masih menyelimuti hati 
saya. Boleh jadi setelah di Istambul, dia bertemu dengan ulama besar 
yang berbobot dan meluruskan pemikirannya yang ada selama ini dan 
membawa dia kepada paham Sunni yang senenarnya yang tentunya akan 
membuat semua cita-cita saya musnah. Karena Istambul merupakan tempat, 
pusat ilmu pengetahuan Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Muhammad Annajd saya lihat 
sudah tidak ingin lagi tinggal di Basrah, saat itu aku menyarankan agar 
dia pergi ke Isfahan atau Syraz. Dengan alasan dua kota ini cukup nyaman
 dan penduduknya adalah penganut Syi’ah dalam hal ini tidak mungkin ada 
minat mempengaruhi pemikiran Muhammad Annajd. Sehingga dia tidak bakal 
mengubah sesuatu yang telah saya tanamkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika kami berpisah, 
saya katakan padanya, “Kamu ingat apa yang terjadi pada Taqiya?” “Ya 
saya ingat,” jawabnya. Taqiya adalah salah satu sahabat Nabi yang 
disiksa dan orang tuanya dibunuh oleh orang-orang kafir. Peristiwa 
Taqiya bisa diambil sebagai pelajaran. Taqiya secara terbuka menyatakan 
bahwa dia adalah pengikut Nabi. Kendati setelah dia melapor pada Nabi, 
Nabi tidak menyalahkan terhadap yang telah dilakukan oleh Taqiya 
berkenaan dengan kejadian tersebut. Maka saya menyarankan pada Muhammad 
Annadj, “Jangan mengatakan pada Syi’ah bahwa kamu Sunni jika tidak mau 
menjadi sasaran orang Syi’ah. Manfaatkan negara dan ulama mereka! 
Pelajari adat dan tradisi mereka. Mereka itu tak kenal kompromi dan 
keras kepala.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya memberikan dia sejumlah uang atas nama zakat 
saat saya meninggalkannya. Zakat adalah pajak dalam Islam, yang 
dikumpulkan untuk kemudian dibagikan bagi orang yang membutuhkan. Selain
 itu saya memberi kenang-kenangan sebuah pelana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak saat itu, 
saya kehilangan kontak dengan dia. Namun demikian, kami telah membuat 
satu kesepakatan bahwa siapa yang duluan datang ke Basrah dan tidak bisa
 ketemu, agar meninggalkan surat di rumah Abdur Ridla.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;
Bag (6)&lt;/h3&gt;
BAGIAN KE ENAM&lt;br /&gt;
Tidak lama tinggal di Bagdad, kemudian saya menerima 
pesan yang menyuruh saya untuk kembali ke London, kota yang telah saya 
tinggalkan. Di London saya berbincang-bincang dengan Sekretaris dan 
sejumlah pejabat kementrian. Saya ceritakan kepada mereka seluruh 
aktivitas penelitian saya dalam misi panjang di Negeri orang. Mereka 
cukup puas dengan informasi yang saya berikan mengenai situasi dan 
kondisi Iraq. Disisi lain Safiyah, teman wanita Muhammad Annajd juga 
mengirimkan satu laporan yang isinya sama persis dengan apa yang saya 
laporkan. Saya baru saja mengetahui bahwa seluruh misi yang jalankan itu
 dibuntuti oleh seseorang utusan dari kementrian. Orang ini juga 
mengirimkan laporan yang berbarengan dengan laporan yang saya kirim dan 
isinya sama dengan cerita yang telah saya sampaikan pada Sekretaris.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekretaris
 menyuruh saya untuk menemui Mentri. Saat saya menghadap, dia 
menunjukkan satu sikap sepertinya saya belum pernah melaporkan 
kedatangan saya dulu dari Istambul. Saya melihat bahwa sekarang mendapat
 tempat yang istimewa di hatinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mentri sangat senang setelah 
mengetahui bahwa saya telah mendapatkan Muhammad Annajd. Katanya, “Dia 
adalah satu senjata yang dicari Kementrian kita. Berilah janji-janji 
kepadanya. Adalah itu lebih baik waktu yang Anda luangkan bersamanya 
digunakan untuk mendoktrin dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika saya katakan saya khawatir
 akan kondisi Muhammad Annajd yang boleh jadi mengubah haluan 
pemikirannya. Mentri mengatakan, “Jangan khawatir. Dia tetap pada 
pendiriannya saat Anda meninggalkannya. Agen rahasia kementrian kita 
bertemu dia di Isfahan dan memberikan laporannya kepada kementrian kita 
bahwa Muhammad Annajd tetap pada pendiriannya. “Saya menanyakan pada 
diri saya sendiri, “Bagaimana mungkin Muhammad Annajd menyingkap semua 
rahasia itu pada orang lain, orang yang belum dia kenal betul?” Saya 
tidak berani menanyakan perihal ini kepada mentri. Baru setelah saya 
bertemu Muhammad Annajd berikutnya, saya mengetahui bahwa di 
I-s-f-a-h-a-n ada seseorang yang bernama “A-b-d-u-l K-a-r-i-m” bertemu 
dia dan menemukan rahasia tersebut karena adanya kata-kata, “Saya 
saudara Muhammad (maksudnya saya, H-e-m-p-h-er). Muhammad Anajd 
menceritakan kepada saya bahwa dia kenal dekat dengan kamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Muhammad
 Annajd mengatakan pada saya, “S-a-f-i-y-a-h pergi bersama saya ke 
Isfahan dengan status nikah mut’ah selama lebih dari dua bulan. Abdul 
Karim menemani saya pergi ke S-y-i-r-a-z dan mempertemukan saya dengan 
seorang wanita yang bernama A-s-i-y-a-h, yang lebih cantik dan menarik 
dari pada Safiyah. Dengan nikah bersama wanita itu saya benar-benar 
menikmati saat paling menyenangkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berikutnya saya tahu bahwa 
Abdul Karim adalah seorang agen rahasia Kristen yang menetap di Isfahan 
distrik J-e-l-f-a yang bekerja pada kementrian. Sedang Asiyah, seorang 
Yahudi yang tinggal di Syiraz, adalah agen rahasia lain dari kementrian.
 Empat dari kami mengkoordinasi jalan untuk membidik Muhammad Annajd 
menuju satu kondisi yang sedemikian rupa yang di masa mendatang akan 
melakukan sesuatu yang kami inginkan melalui jalan yang tepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat
 saya mengaitkan peristiwa-peristiwa di atas di hadapan Mentri, 
Sekretaris, dan dua anggota dari Kementrian yang tidak saya kenal, 
Mentri berkata kepadaku, “Kamu berhak mendapat hadiah terbesar dari 
Kementrian. Karena kamu masuk daftar terbaik di antara sekian agen 
rahasia terpenting dari Kementrian. Sekretaris akan memberikan sejumlah 
rahasia negara yang nantinya akan banyak membantu misi yang kamu 
jalankan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Habis itu Kementrian memberikan cuti kepada saya 
selama sepuluh hari, di mana saya dapat menjenguk famili. Segera setelah
 saya pulang, saya luangkan kesempatan yang bagus ini bersama anakku, 
yang sangat mirip dengan aku. Anakku sudah sedikit bisa&amp;nbsp; mengucapkan 
beberapa kata dan sudah bisa berjalan, di mana saya melihatnya begitu 
senang sehingga rasanya anakku itu merupakan bagian dari diriku sendiri.
 Sepuluh hari cuti itu benar-benar sangat membawa kebahagiaan besar bagi
 saya. Saya benar-benar merasakan merasakan seakan-akan terbang ke 
angkasa karena sangking senangnya. Saat-saat demikian merupakan 
kebahagiaan besar bisa kembali pulang, bercanda ria bersama keluarga. 
Selama cuti sepuluh hari tersebut saya sempat bertandang ke rumah tante,
 yang sangat mencintai saya. Tentu sangat bijak bagi saya untuk 
bertandang ke rumahnya. Namun sayang, dia meninggal dunia setelah 
keberangkatan saya dalam misi ketiga. Sangat berduka saya saat itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cuti
 sepuluh hari berjalan begitu cepat serasa se jam saja. Bila saja 
hari-hari yang penuh ceria itu berjalan begitu cepat, hari-hari duka 
serasa seperti berabad-abad. Masih ingat saat saya mengalami sakit yang 
cukup serius di Najaf. Rasanya bertahun-tahun saat itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat saya
 mau menghadap Kementrian untuk menerima perintah selanjutnya, saya 
bertemu dengan sekretaris dengan wajah berseri-seri, ceria serta 
menyenangkan. Dia langsung menjabat tanganku, menyambut kedatanganku 
dengan sambutan yang hangat dan dengan penuh keramahan. Dia mengatakan 
pada saya, “Demi perintah mentri dan komite yang membiayai urusan 
kolonial, saya akan mengungkap dua rahasia negara untuk kamu. Yang pasti
 kamu nanti akan banyak bisa mengambil manfaat dari rahasia tersebut. 
Tak seorangpun bisa mengetahui rahasia itu kecuali orang-orang yang 
memang benar-benar bisa menerima kepercayaan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menggandeng
 tanganku, sekretaris membawa saya ke sebuah ruangan Kementrian. Di 
dalam ruangan tersebut saya menemui orang-orang yang cukup menarik 
perhatian saya. S-e-p-u-l-u-h orang duduk mengelilingi meja bundar. 
Orang p-e-r-t-a-m-a menyamar sebagai khalifah Turki Usmani dengan segala
 atribut yang dipakainya. Tentunya sudah menguasai bahasa Turki, bahasa 
kekhilafahan Utsmani dan Inggris karena memang bahasanya sendiri. Yang 
k-e-d-u-a mirip seperti Syaikhul Islam di Istambul, baik dari pakaian, 
cara bicara maupun sikapnya. Yang ke t-i-g-a memakai pakaian serta 
atribut seperti atribut yang dipakai Syah Iran. Yang ke-e-m-p-a-t 
menyamar sebagai Perdana Mentri di Istana Iran. Sedang yang ke-l-i-m-a 
menyamar seperti Ulama besar Syi’ah di Najaf. Tiga orang terakhir ini 
menguasai bahasa Inggris dan Persi. Setiap satu dari lima orang ini 
mempunyai asisten yang duduk di samping mereka dan menulis apa saja yang
 ingin mereka sampaikan. Asisten-asisten ini memberikan informasi yang 
diperlukan oleh lima orang ini dengan mencari tahu secara pasti atas 
tipe-tipe mereka di Istambul, Iran dan Najaf.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekretaris berkata,
 “Lima orang ini mewakili lima orang tipe yang ada di sana. Untuk 
mengetahui tipe pemikiran orang di sana, kami telah mendidik dan melatih
 orang-orang ini dan persis sama dengan tipe, gaya, dan sikap serta 
pemikiran orang di sana. Kami telah mendalami informasi yang kami dapat 
tentang keaslian mereka di sana, Istambul, Teheran dan Najaf terhadap 
orang-orang ini. Dan dalam hal ini lima orang ini, menyerupakan diri, 
membayangkan diri mereka menjadi orang-orang asli daerah tersebut. Kami 
juga telah melakukan gladi bersih terhadap hasil penyamaran ini. Kami 
berani menjamin bahwa penyamaran ini tujuh puluh persen sesuai dengan 
tipe kondisi orang yang ada di sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika perlu, Anda boleh 
memberikan penilaian dengan mengajukan pertanyaan terhadap mereka. Anda 
sendiri telah bertemu Ulama besar Syi’ah di Najaf dan menanyakan 
sejumlah pertanyaan.” Saya mengiakan kata-kata sekretaris tersebut 
karena memang benar bahwa saya&amp;nbsp; bertemu dengan Ulama besar Syi’ah di 
Najaf. Saya mengambil sejumlah pertanyaan yang pernah kuajukan kepada 
Ulama di Najaf dan kemudian saya ajukan kepada orang yang menyamar 
sebagai U-l-a-m-a Najaf tersebut, “Guru, bolehkan kita mengadakan 
perlawanan terhadap pemerintah karena alasan pemerintahan tersebut Sunni
 dan karena mereka itu fanatik?” Dia berfikir sejenak dan kemudian 
menjawab, “Tidak, tidak boleh kita mengadakan perlawanan terhadap 
pemerintah hanya karena alasan mereka itu Sunni. Semua orang Islam itu 
bersaudara. Kita boleh bangkit berperang melawan mereka hanya jika 
mereka melakukaan kezaliman, penganiayaan serta penindasan terhadap Umat
 Islam. Dan bahkan dalam hal ini kita mesti mengacu pada prinsip Amar 
ma’ruf dan Nahyi mungkar. Kita harus mengadakan gencatan senjata segera 
setelah mereka berhenti melakukan penindasan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya bertanya 
lagi, “Guru, bolehkah saya tahu akan pendapat bapak tentang apakah benar
 bahwa orang Yahudi dan Kristen itu curang?” Dia menjawab, “Ya, mereka 
curang,” dia meneruskan kata-katanya, “Perlu bagi kita untuk menjauhi 
mereka semua.” Ketika saya tanyakan alasannya, dia menjawab, “Hal yang 
demikian ini dilakukan adalah sebagai pembalasan atas penghinaan mereka.
 Mereka mencap kita sebagai orang kafir dan mengingkari Nabi kita 
Muhammad. Karena itu, kita mengadakan pembalasan atas sikap mereka.” 
Saya menanyakan permasalahan lain dengan mengatakan, “Guru, bukankah 
kebersihan itu termasuk sebagian dari iman? Kendati pada kenyataan jalan
 utama dan jalan-jalan di sekitar Sahnis-Syarief(1) tidak terjaga 
kebersihannya.&lt;br /&gt;
—————–&lt;br /&gt;
(1) Tempat&amp;nbsp; di sekitar makam Ali bin Abu Thalib.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan
 sekolah, tempat mereka belajar, tidak memenuhi sebagai dikatakan 
bersih.” Dia menjawab, “Ya, itu benar adanya bahwa kebersihan itu 
sebagian dari iman, walaupun orang Syi’ah sendiri banyak yang kurang 
memperhatikan soal kebersihan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar-benar menakjubkan, 
jawaban-jawaban yang diberikan anak buah Kementrian yang ada dalam 
ruangan tersebut benar-benar sesuai dengan jawaban-jawaban yang telah 
saya terima dari Ulama Syi’ah di Najaf. Keakuratan sikap, pemikiran, dan
 identitas yang benar-benar persis ini, yaitu antara orang dari 
Kementrian dan Ulama di Najaf sangat membuat saya terheran-heran. Selain
 itu, orang ini pinter bahasa Persi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekretaris mengatakan, “Jika
 Anda menemukan tipe lain yang belum dimiliki oleh empat orang lain, 
Anda bisa berbincang-bincang dengan orang-orang ini, dan untuk 
memberikan contoh bagaimana tipe kepribadiannya, lalu perlu ditest agar 
orang-orang ini benar-benar bisa menyamarkan diri dengan tipe 
kepribadian orang asli di sana. Ketika saya katakan, “Saya kenal betul 
bagaimana cara berpikir Syaikhul Islam di Istambul. Karena guru saya 
Ahmad Efendi memberikan keterangan yang cukup jelas gambaran- gambaran 
Syaikhul Islam kepada saya.” Kata sekretaris, “Kalau begitu Anda bisa 
berembuk dengan orang dari Kementerian tersebut dan mendiskusikan 
bagaimana baiknya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya mendekat dan bertanya kepada model yang 
menjadi S-y-a-i-k-h-u-l Islam, begini,. “Apakah merupakan kewajiban 
untuk mentaati Khalifah?” “Ya, hal itu wajib,” jawabnya. “Apakah itu 
wajib mentaati Allah dan Nabi?” Ketika saya menanyakan dalil yang 
mendasari akan keharusan menaati Allah dan Nabi ini, dia menjawab, 
“Tidakkah anda pernah mendengar ayat Al-Qur’an yang menyatakan, 
“Taatilah kamu sekalian terhadap Allah, Rasul-Nya dan Ulil amri di 
antara kamu sekalian.”&lt;br /&gt;
————-(1) Surat Annisa, ayat: 59&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya 
katakan, “Apakah ini berarti Allah menyuruh kita untuk taat kepada 
Khalifah Yazid, yang memberi perintah kepada prajuritnya untuk menyerang
 penduduk Kota Madinah dan membunuh cucu Muhammad dan juga Walid yang 
hobi meneguk minuman keras?”&lt;br /&gt;
Jawabannya begini: “Anakku! Yazid adalah
 Amirul mu’minin atas izin Allah. Dia tidak mengeluarkan perintah untuk 
membunuh Husain, cucu Nabi. Jangan percaya kebohongan orang-orang 
Syi’ah! Bacalah buku sejarah dengan benar! Dia memang pernah berbuat 
salah. Tapi kemudian dia bertobat, minta ampunan Allah atas 
kesalahannya. Memang benar Yazid memerintahkan untuk menyerang penduduk 
Madinah. Karena penduduk tidak mau patuh dan tidak bisa dikendalikan. 
Sedang masalah khalifah Walid ya, memang dia itu berdosa. Dalam hal 
minum minuman keras. Kita tidak wajib mengikuti apa yang diperbuat, tapi
 mematuhi perintahnya dengan tuntutan syari’ah itu tetap wajib.” Saya 
telah menanyakan pertanyaan yang sama ini kepada guru saya Muhammad 
Efendi dan jawaban yang saya terima ini hanya terdapat sedikit 
perbedaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian saya bertanya kepada sekretaris, “Apa tujuan 
pokok alasan mempersiapkan model-model orang semacam ini?” Dia menjawab,
 “Dengan metode semacam ini kita bisa membuat satu perkiraan atau 
barometer sampai sejauh kapasitas mental khalifah dari kekhilafahan 
Turki Usmani, Ulama mereka baik itu Sunni maupun Syi’ah. Kita sekarang 
ini sedang mencari satu barometer yang tepat, yang akan bisa membantu 
kita untuk menguasai dan menaklukkan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Contoh sederhana, 
jika saja anda tahu persis dari arah mana datangnya musuh, tentu Anda 
akan bisa membuat persiapan yang benar-benar efektif tanpa harus 
membuang banyak biaya dan tenaga. Segala sesuatu yang sia-sia bisa 
ditekan sekecil mungkin, dan Anda bisa menempatkan pasukan pada posisi 
yang tepat sehingga bisa membikin kocar-kacir pertahanan musuh. Berbeda 
jika Anda tidak mengetahui dari arah mana datangnya serangan musuh, 
tentu Anda menempatkan pasukan sembarangan di sana sini dan pada 
akhirnya bertekuk lutut, kalah. Sama saja jika Anda mengetahui secara 
betul dasar hukum dan dalil-dalil yang membuktikan kebenaran agama yang 
mereka anut, mazhah yang mereka ikuti, akan memungkinkan Anda bisa 
menyiapkan dalil-dalil tandingan yang bisa menangkis argumentasi dalil 
yang mereka pegang dan dengan demikian Anda bisa mengalahkan mereka, 
juga dengan dasar yang mereka pegangi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekretaris memberi saya 
sebuah buku setebal seribu halaman yang berisi tentang hasil dari suatu 
proyek penelitian yang dilaksanakan oleh lima perwakilan di atas 
sejumlah tempat atau departemen, seperti kemiliteran, perekonomian, 
pendidikan dan agama. Sekretaris berkata, “Silakan baca di rumah dan 
bila sudah selesai, segera kembalikan lagi kepada saya.” Saya bawa buku 
tersebut kerumah dan saya baca dengan serius, dengan segenap perhatian 
saya selama masa liburan tiga minggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ternyata buku tersebut 
isinya benar-benar menakjubkan. Dokumen-dokumen penting dalam buku 
tersebut yang merupakan hasil kerja keras yang dalam pelaksanaannya 
banyak mengalami hambatan itu, isinya benar-benar dapat dipertanggung 
jawabkan. Menurut saya sendiri, informasi yang disampaikan oleh lima 
perwakilan yang merupakan copi dari tipe orang di Timur Tengah itu tujuh
 puluh persen sesuai dengan fakta lapangan. Makanya tidak berlebihan 
jika sekretaris mengeluarkan komentarnya bahwa yang dikatakan oleh lima 
perwakilan tersebut 70% benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan membaca buku tersebut, 
sekarang percaya diri yang dimiliki negeri saya semakin bertambah besar 
dan kuat dan mulai saat itu juga saya bisa mengetahui dengan pasti bahwa
 rencana Pemerintahan Kolonial Inggris dalam usaha untuk meruntuhkan, 
memporak porandakan, melumpuhkan, dan menghancurkan kekhilafahan Turki 
Usmani yang direncanakan dalam jangka waktu kurang satu abad tersebut 
benar-benar telah dipersiapkan dengan matang. Sekretaris juga 
mengatakan, “Di ruangan yang sama lainnya, kita juga mempunyai ruangan 
meja bundar serupa yang dimaksudkan untuk negara-negara yang sudah 
dijajah dan negara-negara yang masuk daftar Waiting list untuk dijajah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika
 saya menanyakan kepada Sekretaris di mana ditemukan orang yang begitu 
cerdas dan berbakat tersebut, dia menjawab, “Agen rahasia kita di 
seluruh dunia selalu siap siaga dalam menyiapkan intel yang handal. 
Sebagaimana Anda melihat sendiri, lima perwakilan yang menjadi model ini
 benar-benar expert dalam bidang mereka. Bisa diambil pelajaran, jika 
Anda diberi informasi atau keterangan yang dipunyai oleh orang yang 
memang punya reputasi, Anda mestinya mempunyai cara berpikir seperti 
orang tersebut dan kemudian membuat pernyataan ataupun keputusan seperti
 yang dia buat. Karena Anda sekarang akan mengcopi atau yang akan 
menjiplak tipe cara berpikir dan sikap pribadinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekretaris 
melanjutkan pembicaraannya dengan mengatakan, “Ya begitulah rahasia 
pertama dari negara kita yang bisa saya sampaikan pada Anda. Rahasia ke 
dua akan saya berikan pada Anda nanti bulan depan kalau Anda selesai 
membaca buku yang saya pinjamkan tadi dan mengembalikannya kepada saya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya
 baca buku tersebut bagian demi bagian dari awal hingga akhir, dengan 
melibatkan seluruh perhatian saya. Buku tersebut bisa menambah 
pengetahuan saya tentang siapa sesungguhnya pengikut Muhammad tersebut, 
apa kelemahan mereka, apa kelebihan mereka, apa yang membuat mereka 
berkuasa, punya kekuatan yang begitu hebat dan bagaimana menempatkan 
kekuatan mereka itu satu titik yang paling rawan. Titik kelemahan orang 
Islam sebagaimana yang tertera dalam buku tersebut adalah sebagai 
berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
01. Konflik yang mengakar antara Sunni-Syi’ah, 
perselisihan antara pejabat dan rakyat, ketidak-akuran Pemerintah Turki 
dan Pemerintah Iran, percekcokan antar suku dan permusuhan Ulama dengan 
pemerintahan.&lt;br /&gt;
02. Dengan sedikit pengecualian bahwa orang Islam itu tidak disiplin, tidak patuh, dan tidak terpelajar&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
03. Kekuatan spiritual cukup minim, rendahnya pendidikan, dan tidak mempunyai keseriusan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
04.
 Mereka benar-benar telah hanyut dengan permasalahan yang berkaitan 
dengan akhirat, sementara mengabaikan dan tidak memperhatikan 
urusan-urusan dunia.(1)&lt;br /&gt;
(1)&amp;nbsp; &amp;nbsp; Sesungguhnya apa yang dikatakan 
“Britsh spy” dalam hal ini tidak benar. Dalam hadits (?) dikatakan, 
“Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu hidup selamanya dan 
beribadahlah kamu seakan-akan kamu mati besuk.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
05. Fara khalifah adalah diktator yang zalim.&lt;br /&gt;
06. Jalan-jalannya tidak nyaman dan pengaturan lalu lintas acak-acakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
07.
 Tidak ada tindakan pencegahan yang diambil penyakit menular yang 
mewabah seperti kolera, yang bisa mematikan ribuan rakyat kecil setiap 
tahunnya, serta kebersihan air tidak dijaga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
08. Pengaturan tata kota kurang dan tidak ada pelayanan air bersih untuk minum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
09.
 Tidak ada pasukan yang secara khusus ditugaskan untuk mengatasi para 
pemberontak dan pengacau. Di sana ada kerancuan hukum, tatanan Al-Qur’an
 yang mereka banggakan hampir bisa dikatakan tidak terlihat dalam 
kehidupan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
10. Perekonomian runtuh.&lt;br /&gt;
11. Angkatan 
bersenjata tidak terorganisir secarab rapi, juga tidak punya 
perlengkapan persenjataan yang memadai, kalaupun ada itu adalah 
persenjataan dibilang sudah kuno.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
12. Terjadi pelanggaran hak-hak para wanita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
14. Lingkungan tidak sehat dan tidak bersih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah
 menerangkan tentang kelemahan dan titik rawan yang ada pada orang 
Islam, kemudian buku tersebut memberikan informasi tentang hakikat Islam
 yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
01. Islam menyuruh bersatu dan melarang 
perpecahan serta menganjurkan kerja sama. Hal ini telah dinyatakan dalam
 Al-Qur’an. “Berpeganglah kamu sekalian pada tali Allah dan jangan 
bercerai-berai.” (1)&lt;br /&gt;
02. Islam memerintahkan agar umatnya berpikir 
dan mengadakan penelitian. Sebagaimana tersebut dalam Qur an: 
“Berjalanlah kamu di muka bumi. “(2)&lt;br /&gt;
(2) Surat Ali Imran; ayat: 107.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
03.
 Islam menyuruh umatnya agar menuntut ilmu. Hal ini dinyatakan dalam 
hadits yang berbunyi “Menuntut ilmu itu wajib bagi orang muslim dan 
muslimat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
04. Islam menganjurkan umatnya untuk bekerja giat 
dalam urusan dunia, sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an: “Dan di 
antara mereka ada yang berdoa: Tuhanku berilah bagi kami kebaikan di 
dunia dan akhirat.” (1)&lt;br /&gt;
(1)Surat Albaqarah, ayat: 201&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
05. 
Dalam setiap permasalahan, Islam memerintahkan untuk mengadakan 
musyawarah. Hal ini dinyatakan dalam Al-Qur’an: “Sedang urusan mereka 
diputuskan dengan musya’warah di antara mereka. “(2)&lt;br /&gt;
(2) Surat Asyura, ayat: 38&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
06. Islam memerintahkan untuk membangun jalan. Sebagaimana Al-Qur’an mengatakan: “Berjalanlah kamu sekalian di muka bumi. “(3)&lt;br /&gt;
(3) Surat Almulk, ayat:15&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
07. Orang Islam dituntut agar memperhatikan bidang kesehatan. Hadits meriwayatkan: “llmu itu atas 4 bagian:&lt;br /&gt;
(1) Ilmu fiqih untuk menjaga keimanan,&lt;br /&gt;
(2) Ilmu kedokteran untuk menjaga kesehatan,&lt;br /&gt;
(3) Ilmu nahwu dan shorof untuk menjaga bahasa,&lt;br /&gt;
(4) Ilmu astronomi untuk mengetahui waktu.”&lt;br /&gt;
08.
 Islam memerintahkan adanya perkembangan. Sebagaimana tertera dalam 
Al-Qur’ an: “Allah menciptakan apa-apa yang ada di bumi untuk kamu. “(4)&lt;br /&gt;
(4)&amp;nbsp; &amp;nbsp; Surat Albaqarah, ayat: 29&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
09.
 Islam memerintahkan adanya ketertiban dan kerapian. Al-Qur’an 
menyebutkan: “Dan Kami tumbuhkan segala sesuatu menurut ukurannya. “(1)&lt;br /&gt;
(1) Surat Alhijr, ayat:19&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
10.
 Islam menyerukan untuk membangun ekonomi yang kuat. Dalam Al hadist (?)
 disebutkan: “Bekerjalah untuk duniamu seakan kamu hidup selamanya dan 
beribadahlah untuk akhiratmu seakan kamu mati besuk.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
11. Islam 
menyuruh umatnya agar membangun kekuatan bersenjata yang kuat. Al-Qur’an
 menyatakan: “Persiapkanlah kekuatan sebaik mungkin untuk menghadapi 
mereka. “(2)(2) Surat Al-anfal, ayat: 60&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
12. Islam menyuruh untuk
 memperhatikan hak para wanita. Sebagai mana disebutkan dalam Al-Qur’an:
 “Sebagaimana laki-laki punya hak terhadap para wanita, begitu juga para
 wanita punya hak terhadap laki-laki.”(3)&lt;br /&gt;
(3) Surat Albaqarah ayat: 228&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
13.
 Islam sangat memperhatikan terhadap kebersihan. Hal terseb’ut 
diriwayatkan dalam hadits: “Kebersihan itu adalah sebagian dari iman.”&lt;br /&gt;
Selanjutnya
 dalam buku tersebut menyarankan agar menghancurkan dan sebisa mungkin 
merusak serta menghilangkan kekuatan yang dimiliki orang Islam. Kekuatan
 basis penyangga Islam yang mesti dirusak atau dihapuskan tersebut 
adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
01. Islam tidak mengenal perbedaan ras, bahasa, tradisi, adat, dan kedaerahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
02. Bunga bank, lintah darat, prostitusi, minuman keras dan katak semuanya itu dilarang dalam Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
03. Orang muslim pada dasarnya benar-benar taat terhadap Ulama mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
04.
 Mayoritas orang Sunni bisa menerima keberadaan Khalifah sebagai yang 
mewakili Nabi. Mereka berpendapat bahwa wajib mentaati khalifah 
sebagaimana wajibnya mentaati Allah dan Rasul.&lt;br /&gt;
05. Jihad atau perang membela Islam adalah wajib.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
06. Menurut sebagian orang Syi’ah, semua orang segolongan mereka yaitu Sunni dan non-muslim adalah curang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
07. Semua muslim meyakini bahwa Islam merupakan satu-satunya agama yang benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
08. Mayoritas muslim yakin bahwa wajib hukumnya meng usir orang Yahudi dan Kristen dari Semenanjung Arab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
09. Mereka benar-benar serius dalam melaksanakan ibadah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
10. Orang Syi’ah yakin bahwa haram hukumnya membangun gereja di negara-negara Islam.&lt;br /&gt;
11. Orang Islam rata-rata berpegang kuat terhadap prinsip keimanan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
12. Menurut Syi’ah wajib memberikan seperlima humus, harta yang diperoleh dari rampasan perang kepada Ulama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
13.
 Muslim sangat memperhatikan pendidikan anak-anak mereka, sehingga 
mereka tidak mungkin meninggalkan cara hidup yang ditempuh orang tua 
mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
14. Wanita muslim memakai jilbab yang menutupi badan mereka, sehingga sulit bagi orang yang punya niat jahat terhadap mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
15. Muslim mayoritas melaksanakan shalat secara berjama’ah, yang bisa membawa kebersamaan lima kali dalam sehari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
16. Karena menurut mereka makam Rasul dan makam Ali itu tempat yang keramat, mereka berziarah ke tempat-tempat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
17.
 Ada sejumlah orang yang merupakan keturunan Nabi Muhammad, yang bemama 
Sayid dan Syarief, yang mengingatkan muslim terhadap Nabi dan ini akan 
tetap hadir dalam ingatan muslim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
18. Saat muslim berada dalam satu perkumpulan, para mubalig selalu membarui iman dan menyuruh mereka untuk menambah ketaqwaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
19. Wajib bagi setiap muslim untuk ber’amar-ma’ruf dan nahyi-mungkar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
20. Merupakan anjuran untuk menikahi wanita lebih dari satu orang agar bisa menambah populasi umat Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
21. Mengajak satu orang untuk masuk Islam itu lebih baik dan lebih bernilai dari pada dunia dan isinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
22.
 Hadits mengatakan, “Barang siapa menciptakan suatu kebajikan, maka 
baginya pahala dan pahala orang yang mengikuti melakukan kebajikan 
tersebut” Hadits ini sangat terkenal di kalangan umat Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
23. 
Orang Islam menjadikan Al-Qur’an dan Hadits sebagai rujukan umat dalam 
kehidupan mereka. Mereka meyakinkan betul bahwa hanya berperang pada 
kedua sumber hukum inilah satu-satunya jalan untuk mencapai surga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Informasi
 selanjutnya dari buku setebal seribu halaman tersebut adalah advise 
untuk merobohkan sikap fanatik orang Islam terhadap prinsip yang mereka 
pegangi di mana ini merupakan kekuatan penyangga utama Islam juga saran 
untuk mempopulerkan kelemahan-kelemahan mereka. Ini digambarkan secara 
jelas dan rinci, sekaligus bagaimana hal ini bisa dilaksanakan secara 
baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Langkah-langkah yang perlu diambil untuk menggiring muslim 
menuju satu kondisi yang mudah dihancurkan adalah tertulis seperti 
tersebut di bawah ini.&lt;br /&gt;
0l.&amp;nbsp; Ciptakan konflik dengan memancing rasa 
permusuhan di antara aliran sekte yang berselisih paham, menciptakan 
perasaan saling curiga, dan dengan media massa untuk tindak lanjut 
memperuncing konflik tersebut&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
02. Kapan saja kondisi 
memungkinkan, halangi sekolahan dan media massa yang ada serta bakar 
buku literatur yang mereka punya. Pastikan bahwa anak-anak orang Islam 
tetap dalam kebodohan dengan menimbulkan fitnah pada pribadi pemuka 
agama dan kemudian mencegah orang tua muslim dari mengirim anak-anak 
mereka ke pusat pendidikan agama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
03. Junjung akan pentingnya 
mendapatkan kenikmatan surga di hadapan mereka dan yakinkan bahwa mereka
 tidak perlu banyak mengurusi urusan dunia. Perluas kegiatan-kegiatan 
yang berkaitan dengan tasawuf. Giring mereka agar hanyut dengan 
persoalan akhirat dengan mendorong mereka untuk aktiv membaca buku-buku 
yang menganjurkan zuhud, seperti buku “Ihya Ulumuddien” karangan Imam 
Ghozali, buku “Mesnevi” karangan Maulana dan buku yang sejenis karangan 
Muhyidin Arabi.(1) (1) Zuhud yang dianjurkan dalam buku-buku tasawuf, 
tidak berarti mengabaikan urusan dunia. Tapi itu mempunyai makna bahwa 
orang Islam tidak boleh terlalu mencintai dunia. Dengan kata lain, 
bekerja mencari nafkaah untuk memenuhi kebutuhan hidup adalah termasuk 
ibadah yang berpahala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
04. Bujuk para khalifah agar berbuat 
kezaliman dan dengan hasutan kata-kata seperti ini: Tuan adalah khalifah
 Tuhan di bumi. Pada sesungguhnya Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Bani 
Umayah, dan Bani Abasiah, semuanya bisa berkuasa dengan menggunakan 
kekuatan senjata dan mereka semua bisa berdaulat. Contohnya, Abu Bakar 
menjadi khalifah atas bantuan Umar dan dengan melalui cara membakar 
rumah-rumah orang yang tidak mau mentaatinya, seperti rumah Fatimah.(1)&lt;br /&gt;
(1)
 Saat Abu Bakar diangkat menjadi khalifah, salah seorang sahabat, Abu 
Sufyan datang ke rumah Ali, menawarkan bantuan jika Ali mau menjadi 
khalifah, tapi itu ditolak oleh Ali.&lt;br /&gt;
Dan Umar menjadi khalifah atas 
dasar keputusan dari Abu Bakar. Utsman, di sisi lain, menjadi khalifah 
atas surat perinutah dari Umar Sedang Ali, menjadi khalifah dengan 
dipilih oleh para penyamun. Mu’awiyah menjadi khalifah dengan mengangkat
 senjata. Kemudian pada zaman Bani Umayah berkuasa, kepemimpinan Islam 
berubah menjadi warisan yang diberikan secara turun-temurun. Begitu juga
 halnya dengan Bani Abasiyah. Ini semua merupakan bukti bahwa dalam 
Islam kekuasaan dibentuk melalui keputusan tunggal, kediktatoran, dan 
bukan lewat pemilihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
05. Hapuskan hukum mati dari kitab 
perundang-undangan. Rintangi, cegah aturan yang menghukum para preman 
dan perampok. Pastikan bahwa perjalanan tidak bisa memberi kenyamanan 
bagi musafir dengan cara mempersenjatai para preman dan perampok 
tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
06. Kita bisa menggiring mereka pada kondisi kehidupan yang tidak sehat, dengan program seperti berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segala
 sesuatu itu tergantung pada taqdir Allah. Pengobatan tidak akan 
mempunyai arti dalam menyembuhkan suatu penyakit. Bukankah telah 
dinyatakan dalam Al-Qur’an, “Tuhanku yang memberi makan dan minum saya. 
Dan dialah yang menyembuhkan saya ketika saya sakit. Dan dia sendiri 
mematikan aku, kemudian menghidupkan kembali(1) (1) Surat Asyura, ayat: 
79-80-81&lt;br /&gt;
Jadi tidak ada seorang pun mati tanpa kehendak Allah.&lt;br /&gt;
07.
 Ciptakan pernyataan seperti berikut dalam mendorong kezaliman: Islam 
adalah agama yang amat mengurusi permasalahan ibadah. Urusan negara 
adalah di luar Islam. Nabi Muhammad dan khalifah penggantinya tidak 
pernah mengangkat mentri atau menetapkan hukum-hukum kenegaraan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
08.
 Kemunduran ekonomi adalah konsekwensi logis hasil propaganda tersebut 
nomor 07. Kita bisa menghentikan pertumbuhan ekonomi dengan 
menghancurkan kebun, menenggelamkan kapal yang digunakan sebagai alat 
utama roda perdagangan, membakar pasar, membikin bobol bendungan yang 
digunakan sebagai irigasi dengan serangan, sehingga pusat lahan 
pertanian dan industri yang tertinggal tergenang air, yang pada akhirnya
 mencemari air minum yang dialirkan lewat pipa-pipa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
09. 
Menggiring para pejabat pemerintahan untuk hobi main perempuan, alkohol,
 berjudi, korupsi, kolusi, dan penipuan serta mengajari mereka caranya 
mencuri harta negara untuk kepentingan pribadi. Dorong juga rakyat kecil
 untuk berbuat demikian dan berilah orang-orang ini hadiah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam
 buku tersebut diberikan satu catatan: Agen mata-mata yang melaksanakan 
tugas ini agar benar-benar waspada dan hati-hati agar semua rahasia ini 
tidak bocor ke tangan orang luar, yang bisa berakibat fatal, mata-mata 
bisa saja ditangkap warga muslim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
10. Populerkan macam-macam 
riba. Karena riba tidak hanya meriutuhkan tatanan ekonomi, tapi lebih 
dari itu membiasakan orang Islam dan mengabaikan norma aturan Islam. 
Sekali orang melanggar satu hukum, ini akan mudah baginya untuk 
cenderung melakukan pelanggaran yang lainnya. Mereka harus diberi 
pengertian bahwa bunga uang atau riba itu bisa haram hanya jika 
berlipat. Karena hal itu telah dinyatakan dalam Al-Qur’an: Janganlah 
kamu memakan riba dengan berlipat ganda.(1)&lt;br /&gt;
(1) Surat Ali Imran, Ayat: 130.&lt;br /&gt;
Karena itu, tidak setiap bentuk interest rate (bunga uang) itu haram.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
11.
 Sebarkan sikap terbalik dari warga muslim yaitu, dari menghormati para 
Ulama menjadi membenci mereka&amp;nbsp; dengan cara menimpakan fitnah terhadap 
pribadi Ulama, sehingga umat Islam akan dengan terang-terangan mencaci 
terhadap tingkah laku yang dilakukan para Ulama, yang padahal itu adalah
 sandiwara yang kita buat, agar umat menjauhi pemimpin mereka, yaitu 
para Ulama. Untuk merealisasikan ini kita akan menurunkan beberapa orang
 yang sudah digodok, dilatih yang bertugas menyamar sebagai ulama. 
Kemudian pada gilirannya orang-orang kita ini menyerupakan diri dengan 
sedemikian rupa, sehingga mereka ini benar-benar persis seperti Ulama 
dilihat dari segala sudut. Berikut, orang-orang ini melakukan satu 
tindakan yang tidak sepantasnya dilakukan oleh Ulama. Sehingga 
orang-orang Islam akan bingung dengan tindakan para Ulama, melihat 
kondisi yang ada. Dan setiap Ulama akan memendang satu sama lain dalam 
kecurigaan. Kemudian orang-orang yang menyamar sebagai Ulama, yaitu dari
 mata-mata kita tadi disusupkan masuk ke sentral pendidikan Al-Azhar, 
Istambul, Najaf, dan Karbala. Tindakan selanjutnya, kita membuka 
sekolah-sekolah dan sejumlah universitas dalam rangka menjauhkan muslim 
dari pemuka mereke, Ulama. Di sekolah-sekolah ini kita didik anak-anak 
dari Bizantium, Yunani, dan Armenia. Dan menjadikan mereka semua sebagai
 musuh-musuh orang Islam. Sedang anak-anak orang Islam, kita mesti 
memasukkan satu pemikiran pada mereka ini dengan satu keyakinan bahwa 
orang tua mereka adalah orang-orang yang bodoh. Untuk membawa agar 
anak-anak muslim ini benci terhadap khalifah, ulama, dan pejabat-pejabat
 pemerintahan mereka sendiri. Kita akan memberi penjelasan secara 
gamblang apa yang menjadi kesalahan khalifah, ulama, dan pejabat-pejabat
 mereka, meyakinkan mereka bahwa khalifah, pejabat dan ulama tersebut 
hanya disibukkan dengan apa yang menjadi hobi mereka. Bersenang-senang 
dengan para gundik mereka, menyalahgunakan harta rakyat dan tidak lagi 
memperhatikan bahwa mereka itu adalah penerus Nabi yang mestinya tidak 
berbuat begitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
12. Untuk menyebarluaskan fitnah bahwa Islam 
tidak atau kurang menyukai keberadaan wanita, kita bisa mengambil dasar 
dan ayat Al-Qur’an itu sendiri yang menyatakan “Allah melebihkan 
laki-laki atas perempuan,” (1)&lt;br /&gt;
(1) Surat Annisa, ayat: 34&lt;br /&gt;
dan hadits: “Perempuan adalah sumber kejahatan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
13.
 Kotor adalah sebuah akibat kurangnya air. Maka dari itu, kita berusaha 
sekuat tenaga untuk menghalangi suplai air dengan jumlah yang cukup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Langkah-langkah
 yang perlu diambil yang disarankan oleh buku seribu halaman tersebut 
dalam menghancurkan benteng pertahanan muslim adalah seperti berikut di 
bawah.&lt;br /&gt;
01. Berilah rangsangan seperti membangkitkan jiwa patriotik 
ras dan nasionalis di antara umat Islam, semisal menarik kembali menarik
 perhatian mereka terhadap kepahlawanan jaman pra Islam. Munculkan 
kembali model kepemimpinan Fir’aun saat berkuasa di Mesir, periode Magi 
di Iran, periode orang Babilonia di Iraq, zaman tirani Attila dan 
Dzengiz di Turki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
02 Selanjutnya kemungkaran harus 
dimasyarakatkan baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, 
seperti minum-nimuman keras, judi, prostitusi atau pelacuran, dan daging
 babi. Untuk memastikan agar hal tersebut bisa berhasil dengan baik, 
warga Kristen, Yahudi, penganut leluhur Iran, dan non-muslim 
dimanfaatkan secara maksimal. Bagi mereka yang bekerja dalam bidang ini 
harus digaji dengan bayaran yang lebih tinggi dari gaji yang ada di 
tempat tersebut. Dan tentunya disediakan oleh Kementrian Persemakmuran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
03.
 Tebarkan kerancuan pengertian di kalangan muslim terhadap apa 
sesungguhnya jihad. Tanamkan pada mereka bahwa jihad itu merupakan suatu
 perintah dalam Islam yang bersifat temporer atau sementara, dan untuk 
saat ini tidak berlaku, sudah usang. Hilangkan satu pendapat yang telah 
mengakar di penganut Syi’ah bahwa orang Kristen dan Yahudi adalah 
curang. Untuk meyakinkan bahwa pendapat demikian ini salah, angkat ke 
permukaan ayat Al-Qur’an yang mengatakan, “Pada hari ini dihalalkan 
bagimu yang baik-baik. Makanan orang-orang yang diberi kitab yaitu 
Yahudi dan Kristen itu halal bagimu, dan makanan kamu juga halal pula 
bagi mereka,”(1)&lt;br /&gt;
(1) Surat Almaidah, ayat : 05&lt;br /&gt;
dan tunjukkan pada 
mereka contoh kongkrit dari sejarah bahwa Nabi Muhammad memperistri 
seorang wanita Yahudi yang bernama “Shofiyah” dan wanita Kristen yang 
bernama “Mariya Alqibti” dan isteri Nabi tersebut juga orang-orang yang 
baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
05. Tanamkan keyakinan pada mereka orang muslim bahwa apa 
yang pernah dikatakan Nabi dengan Islam adalah sebuah agama yang 
sempurna, sehingga pengertian ini bisa mencakup keseluruhan agama baik 
itu Yahudi, Kristen maupun Islam. Perkokoh keyakinan tersebut dengan 
alasan dasar berikut: Al-Qur’an itu memberi istilah ‘Muslim’ untuk 
keseluruhan penganut agama samawi. Contohnya, disebutkan dalam riwayat 
Nabi Yusuf Alaihissalam pernah mengajukan permohonan terhadap Allah, “Ya
 Allah, matikan saya dalam keadaan menjadi seorang Muslim,” dan Nabi 
Ibrahim bersama Ismail ketika sedang berdoa mengatakan, “Ya Tuhan kami, 
jadikanlah kami berdua orang Muslim (orang yang tunduk patuh) terhadap 
Mu dan (jadikanlah) anak cucu kami menjadi Muslim (tunduk patuh) kepada 
Engkau dan tunjukkanlah ke pada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah 
haji kami, dan terimalah taubat kami, “(1)&lt;br /&gt;
(1) Surat Al Baqarah, ayat: 128.&lt;br /&gt;
Dan juga Nabi Ya’kub pernah memberi wejangan terhadap anaknya, “Janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam. “(2)&lt;br /&gt;
(2) Surat Al Baqarah, ayat:132.&lt;br /&gt;
Itu semua menunjukkan bahwa yang dicakup dalam istilah ‘Islam’ merujuk kesemua agama samawi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
06.
 Katakanlah kepada mereka berulang-ulang bahwa membangun gereja itu 
tidak haram. Adalah Nabi Muhammad dan Khalifah penggantinya tidak pernah
 menghancurkan gereja malah sebaliknya menghargai keberadaan gereja. 
Dalam Al-qur’an dinyatakan, “Sekiranya saja Allah tiada menolak 
(keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah 
dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah ibadat orang Yahudi
 dan masjid-masjid, yang di dalamnya disebut nama Allah. “(1)&lt;br /&gt;
(1) Surat Alhaj, ayat: 40.&lt;br /&gt;
Ayat
 tersebut menunjuk bahwa Islam menghormati tempat-tempat ibadah, bukan 
mcnghancurkannya, dan Islam menjaga tempat-tempat tersebut dari siapa 
saja yang bermaksud mau menghancurkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
07. Kacaukan pengertian 
tentang hadits yang mengatakan, “Buanglah orang-orang Yahudi dari 
Semenanjung Arab,” dan hadits “Dua agama tidak akan bisa berjalan 
bersama-sama di Semenanjung Arab.” Kata”‘Seandainya dua hadits ini 
memang benar adanya tentu Nabi tidak akan memperisteri orang Yahudi dan 
Kristen. Juga&amp;nbsp; tidak akan membuat suatu perjanjian dengan orang Nasrani 
dari Najran.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
08. Cobalah untuk menghalangi orang-orang Islam 
dari kegiatan peribadatan mereka dan taburkan kebimbangan tentang 
manfaat dan kegunaan ibadah dengan mengatakan, “Allah itu tidak 
membutuhkan ibadah seseorang.” Cegah mereka dari melaksanakan Haji juga 
dari bentuk-bentuk ibadah lainnya yang membawa mereka menuju 
kebersamaan.&amp;nbsp; Demikian juga, cobalah untuk merintangi mereka dari 
membangun masjid-masjid, makam-makam, sekolah-sekolah, dan perbaikan 
Ka’bah.&lt;br /&gt;
09. Kacaukan pengertian yang ada di kalangan orang-orang 
Syi’ah tentang hukum seperlima dari harta ghanimah yang diperoleh dari 
musuh dalam peperangan yang diberikan kepada Ulama dan beri penjelasan 
bahwa seperlima itu milik harta rampasan yang diambil dan Daarul-Harb. 
Dan hal tersebut tidak ada kaitannya dengan harta komersial atau 
perdagangan di mana Ulama dalam hal ini masuk pada golongan fi 
sabilillah yang berhak penerima zakat yang dikeluarkan dari harta 
komersial tersebut. Kemudian tambahkan bahwa humus hanya bisa diberikan 
kepada Nabi atan Khalifah, bukan kepada Ulama karena Ulama sudah diberi 
perumahan, hewan peternakan dan perkebunan. Karena itu, tidak pada 
tempatnya untuk memberikan humus kepada Ulama.&lt;br /&gt;
10. Masukkan bid’ah ke
 dalam ajaran Islam dan berikan kritik yang pedas karena Islam adalah 
agama yang senang melakukan teror. Jelaskan secara tegas bahwa 
Negara-negara Islam berada dalam kondisi sekarat dan sekarang ini sudah 
pada posisi akan runtuh. Kemudian lakukan untuk membuat mereka umat 
Islam keluar dari konsep hukum Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
11. Sangat penting! Jauhkan
 para generasi muda yang dipegangi para orang tua, kemudian asingkan 
pendidikan generasi tua sebelum mereka. Kita didik generasi muslim 
tersebut, dan konskwensinya, pada saatnya nanti mereka itu akan 
benar-benar terpisah dari ajaran pendidikan orang tua mereka. Usahakan 
bagi mereke agar tidak punya lagi waktu untuk menyentuh yang berkaitan 
dengan keimanan, ibadah, dan yang membuat mereka dekat dengan para 
Ulama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
12. Pancinglah para wanitanya untuk bisa membuang 
jauh-jauh adat menutup aurat. Berilah alasan palsu yang seperti, 
“Menutup aurat itu bukan merupakan ajaran Islam yang sesungguhnya. Hal 
itu adalah tradisi yang muncul ke permukaan pada masa pemerintahan 
Abasiah. Dulunya, orang-orang bisa melihat para isteri Nabi dan 
wanita-wanita lain ikut serta dalam segala macam kegiatan sosial dalam 
masyarakat.” Setelah kita bisa menelanjangi para wanita, gadis muslim 
dari tradisi kebiasaan menutup aurat, ciptakan suatu kegiatan yang 
memungkinkan para pemuda Islam bisa berkumpul dan menyatu dengan 
wanita-wanita tersebut, ini akan membuat mereka terdorong untuk menjalin
 hubungan dan berbuat di luar norma-norma aturan Islam. Inilah cara 
paling ampuh dan mujarab untuk menjerat pemuda pemudi Islam sebagai 
jalan untuk meruntuhkan kekuatan penyangga utama Islam. Untuk pertamanya
 sebagai pioner dalam hal ini peralat wanita non-muslim, dalam jangka 
waktu tertentu para wanita muslim secara otomatis akan mengikuti budaya 
pergaulan yang ada dan dekadensi moral barang tentu akan menjadi 
pemandangan yang umum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
13. Pergunakan setiap ada kesempatan untuk
 menghentikan mereka melaksanakan shalat secara berjamaah dengan 
menyebutkan kekurangan para imam masjid, melalui cara mengungkapkan 
kesalahan para imam masjid. Dan dengan cara memancing perselisihan dan 
perpecahan di antara para imam dan para jamaah yang selalu mengikuti 
mereka di belakang saat shalat berjamaah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
14. Tanamkan perasaan 
skeptis di kalangan umat Islam serta bimbang terhadap yang mana 
sesungguhnya yang dikatakan Sayyid, yang merupakan keturunan Nabi 
Muhammad. Campur adukkan para Sayyid yang biasa berpakaian serban hitam 
dan serban hijau tersebut dengan orang non-Sayyid yang sudah dibuat 
sedemikian rupa agar bisa membuat bingung umat Islam, sehingga pada 
gilirannya nanti perlahan tapi pasti, bisa sedikit demi sedikit mengikis
 respek serta kepercayaan mereka terhadap Sayyid tersebut. Lucuti serban
 yang merupakan ciri para pemuka Islam dan ciri khas para Sayyid, 
sehingga dengan demikian bisa mengaburkan silsilah keturunan Nabi 
Muhammad dan yang ada tidak lagi punya pamor di mata rakyat biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(1)
 Sayyid Abdul Hakim Arwasi, dalam bukunya yang berjudul, “Ashhabil 
kiram”, yang beliau tulis di Istambul, Turki mengatakan, “Fatimah, putri
 Rasulullah, dan keturunannya sampai akhir zaman tetap merupakan Ahlu u 
bukan muslim yang taat. Menyintai, membantu dengan segenap jiwa dan raga
 kita serta memperhatikan hak mereka akan bisa menyebabkan mati dalam 
keadaan beriman. Dulu pernah ada sebuah badan hukum yang secara khusus 
mengurusi para Sayyid yang berada di Hama, sebuah kota kecil di Siria. 
Pada masa pemerintahan Kekhalifahan Abbasiyah di Mesir, para keturunan 
Hassan diberi gelar Sarief dan sudah menjadi keputusan bahwa mereka ini 
memakai serban putih. Sedang keturunan Husein diberi gelar Sayyid dengan
 memakai serban hijau. Setiap anak lahir dari dua keturunan ini dicatat 
di hadapan Jaksa dan disaksikan oleh dua orang. Semenjak rezim Sultan 
Abdul Majid Khan, Rasyid Pasha, antek Inggris yang menjadi perdana 
mentri, mencabut badan hukum ini atas saran dari bosnya pemerintah 
Inggris. Orang muslim biasa yang tidak diketahui silsilahnya dipanggil 
Sayyid. Para sayyid palsu dari Iran bermunculan di sana-sini. Juga 
disebutkan dalam buku Fatawa alkhaditsiah bahwa di masa permulaan Islam,
 mereka yang keturunan Nabi diberi gelar Syarif. Hanya ketika Bani 
Fatimiyah berkuasa di Mesir keturunan Husain dan Hasan diberi ciri khas 
tersendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
15. Kampanyekan kepada umat Islam bahwa keberadaan 
bangunan makam yang besar, yang indah dan menara yang ada di 
sekelilingnya seharusnya dihancurkan, serta diratakan dengan tanah. 
Dengan satu alasan bahwa bangunan makam yang besar dan dihias seperti 
itu tidak pernah ada pada zaman Rasulullah. Perbuatan membangun tersebut
 jelas merupakan bid’ah yang ada dalam Islam. Selain itu, cegahlah 
setiap muslim yang ingin berziarah ke makam Nabi makam Khalifah dan 
Ulama dengan mengemukakan kepada mereka bukti-bukti yang meyakinkan 
bahwa ziarah tersebut bukan merupakan ajaran Islam yang sesungguhnya. 
Serta putar balikkan fakta yang sebenarnya seperti dengan mengatakan, 
Sesungguhnya yang benar itu makam Nabi Muhammad berada di dekat makam 
ibunya, sedang makam Abu Bakar dan Umar berada di sebuah pekuburan yang 
bernama Baqi. Makam Utsman, khalifah ketiga umat Islam tidak diketahui 
di mana letaknya. Husain yang merupakan cucu nabi, kepalanya ditanam di 
Hanana. Sedang jasad cucu Nabi tersebut tidak seorangpun tahu di mana 
letaknya. Pekuburan yang berada di daerah Kazimiyah yang diyakini orang 
Syi ‘ah sebagai makam keturunan Nabi yang bernama Syaikh Qasim dan 
Syaikh Jawwad adalah makam dua khalifah. Satu makam yang berada di kota 
Tus, yang menurut mayoritas muslim diyakini sebagai makam Syaikh Ali 
Ridha, itu sesungguhnya hanyalah makam seorang muslim yang bernama 
Harun. Makam-makam yang ada di kota Sammarah adalah pekuburan Bani 
Abasiyah, bukan makam Syaikh Hadi, Syaikh Asy’ari dan Syaikh Mahdi, yang
 disebut-sebut sebagai keturunan Nabi. Semua tindakan membangun 
makam-makam dan menara-menara tersebut adalah tidak mengikuti ajaran 
Islam. Oleh karena itu, keberadaannya harus dihilangkan di seluruh 
wilayah kekuasaan Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
16. Katakan kepada mereka bahwa wajib 
untuk menghancurkan tempat bangunan yang digunakan ritual perkabungan 
masal oleh muslim Syi’ah dengan alasan hal tersebut merupakan 
penyimpangan ajaran Islam. Orang-orang harus dihalangi dari ikut 
menghadiri kegiatan ritual perkabungan masal di tempat tersebut. Jumlah 
penceramah yang biasa memberikan semangat dalam acara tersebut harus 
dikurangi. Untuk mendukung tujuan ini bagi penceramah dan yang mempunyai
 tempat yang digunakan sebagai pusat kegiatan ritual perkabungan masal 
ini harus ditarik pajak. Hal ini sedikit menghambat jalannya kegiatan. 
Yang jelas kegiatan yang bersifat membuat mereka menuju kebersamaan 
harus ditekan atau dikurangi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
17. Dengan menggunakan dalih love 
of freedom (cinta kebebasan), yakinkan kepada setiap muslim bahwa setiap
 orang bebas untuk melakukan apa saja yang ia suka. Tidak wajib hukumnya
 melaksanakan amar-ma’ruf nahyi mungkar atau mengajari prinsip-prinsip 
Islami. Selain itu tanamkan satu pemikiran bahwa orang Kristen akan 
tetap berada pada posisi memeluk agama Kristen dan Yahudi begitu juga 
akan berada pada keimanan mereka dalam beragama Yahudi. Tidak seorangpun
 bisa mempengaruhi hati orang lain. Urusan hati adalah tergantung pada 
Tuhan. Kendati sudah diajak masuk Islam seribu kali, kalau Tuhan tak 
memberi hidayah, hal ini tidak akan bisa terjadi. Dan amar-ma’ruf 
nahyi-mungkar itu sendiri adalah tugas para ulama dan Khalifah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
18.
 Untuk menghambat laju pertambahan populasi umat Islam, kelahiran bayi 
mesti dibatasi dan poligami dilarang. Masalah pernikahan harus tunduk 
terhadap hukum. Misalnya, harus ada aturan suku bangsa Arab tidak boleh 
menikahi suku bangsa dari Iran, sebaliknya orang Iran tidak bolel nikah 
dengan orang Arab juga orang Turki tidak boleh nikah dengan orang Arab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
19.
 Pastikan untuk menghentikan perambatan dan masuknya orang di luar Islam
 ke agama Islam. Siarkan sebuah konsep bahwa Islam adalah agama yang 
hanya dikhususkan untuk suku bangsa Arab saja. Untuk mendukung konsep 
ini angkat ayat Al-Qur’ an berikut ini, Ini adalah sebuah Dzikir (Islam)
 untuk kamu dan orang-orang kamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
20. Lembaga-lembaga pendidikan
 yang mengacu kepada pembentukan iman harus dibatasi melalui hukum dan 
dikurangi, hanya pendidikan dan sekolah negeri yang diizinkan. Orang 
yang bersifat pribadi atau lembaga swasta harus ditekan agar tidak bisa 
mendirikan lembaga pendidikan semacam sekolah-sekolah atau pesantren.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
21.
 Munculkan keraguan akan keautentikan Al-Qur’an dan cetak serta 
publikasikan terjemahan Al-Qur’an yang memuat pembredelan sebagian ayat,
 penambahan dan penyisipan dan katakan pada orang-orang ini, “Copian 
Al-Qur’an yang ada sekarang sudah tidak layak lagi untuk dijadikan 
rujukan. Satu ayat di satu Al- Qur ‘an tidak ada di Al- Qur’an lain. 
Buanglah ayat-ayat yang memojokkan keberadaan Yahudi, Nasrani, dan non 
muslim lainnya dan juga ayat yang memuat perintah jihad, amar-ma’ruf 
nahyi-munkar. Terjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa lain, seperti ke 
dalam bahasa Turki, Persi, dan India. Sehingga, dengan cara begini kita 
bisa mencegah orang di luar Negara Arab mempelajari bahasa Arab. Dan 
dalam hal adzan, sholat dan do’a usahakan untuk tidak menggunakan bahasa
 Arab. Demikian juga, orang-orang Islam harus dibuat ragu akan 
keberadaan hadits-hadits Nabi yang ada. Sejumlah terjemahan, kritik, dan
 penyisipan sebagaimana yang telah dilakukan terhadap Al-Qur’an bisa 
diaplikasikan juga terhadap Hadits.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah saya selesai membaca 
keseluruhan isi buku yang berjudul “How Can We Demolish Islam” (Bagai 
mana cara kita bisa menghancurkan Islam), saya benar-benar kagum dan 
terkesan atas isi yang terkandung di dalamnya. Benar-benar hebat. Buku 
tersebut merupakan yang sangat berharga bagi studi yang akan saya 
jalankan. Saya mengembalikan buku tersebut kepada sekretaris dan 
berterima kasih kepadanya. Saya katakan buku tersebut benar-benar sangat
 membantu misi yang akan saya jalankan. Sekretaris berkata kepada saya, 
“Pasti sekarang Anda yakin bahwa dalam melaksanakan tugas ini Anda tidak
 sendirian. Kami telah merekrat tenaga kerja yang cukup banyak dalam 
melaksanakan satu pekerjaan yang sama, seperti pekerjaan yang akan Anda 
jalankan. Kementrian kita telah menandatangani lebih dari lima ribu 
orang dalam menjalankan misi ini. Kementerian memprediksi ada 
kemungkinan jumlah tersebut akan bertambah dan mencapai seratus ribu 
orang. Bila kita sudah bisa mencapai jumlah tersebut tadi, dipastikan 
kita bisa membawa seluruh wilayah kekuasaan Islam ke dalam payung 
kekuasaan Inggris Raya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa waktu kemudian sekretaris 
mengatakan, ” Ada berita bagus untukmu! Kementrian kita paling lama 
membutuhkan waktu satu abad untuk merealisasi program ini. Kita boleh 
jadi tidak bisa melihat dan menikmati hari-hari yang menyenangkan itu, 
tapi anak-anak kita yang pasti akan menikmati hari-hari yang 
menyenangkan tersebut. Betapa indahnya perkataan ini: “Saya telah 
menikmati apa yang telah orang tua dulu tanam, dan begitu juga sekarang 
saya sedang menanam untuk dinikamti generasi kami selanjutnya.” Program 
yang dilaksanakan pemerintah Inggris ini secara tidak langsung telah 
membuat senang seluruh Umat Nasrani dan telah bisa menyelamatkan mereka 
semua dari abad kedua belas, yaitu abad kegelapan masyarakat Eropa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selanjutnya
 sekretaris memberi komentarnya tentang realita sejarah seperti berikut,
 “Expedisi Pasukan Salib yang berlangsung selama satu abad sama sekali 
tidak menghasilkan sesuatu yang berarti. Begitu juga apa yang telah 
dilakukan Pasukan Mongol dari Timur yang dipimpin oleh Jengis Khan, 
tidak bisa menghancurkan kekuatan Islam. Hal tersebut dikarenakan sistem
 kerja mereka secara tiba-tiba, tidak sistematis dan tidak kuat mengakar
 ke tanah. Sehingga dengan begitu kekuatan musuh masih bisa bangkit. 
Konsekwensinya mereka menjadi kecapekan dalam waktu yang cukup singkat. 
Tetapi kini para pemegang admimstrasi kita yang sudah expert dalam 
bidangnya, sedang merobohkan kekuatan utama penyangga Islam memakai 
taktik planing yang bagus, yang benar-benar disesuaikan dengan situasi 
dan kondisi yang ada dan dengan memerlukan tingkat kesabaran yang 
tinggi. Kita juga harus menggunakan kekuatan militer, namun harus 
digunakan pada episode paling akhir. Yaitu setelah kita benar-benar bisa
 menguasai kekuatan Islam, setelah kita bisa menghalau dan menghadang 
gerak langkah umat Islam dari segenap penjuru dan membuatnya sama sekali
 tidak berdaya dan lumpuh, yang tidak pernah akan sembuh dan bangkit 
melawan kita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata terakhir yang diucapkan sekretaris 
begini: “Para agen intelejen tinggi yang telah kita posisikan di 
Istambul adalah intel yang cerdas dan cekatan. Mereka melaksanakan 
planing kita secara tepat. Anda tahu apa yang mereke lakukan? Mereka 
melebur, menyatukan diri dengan masyarakat muslim yang membangun 
sekolah-sekolah untuk anak-anak mereka. Mereka juga membangun gereja. 
Mereka benar-benar sukses di dalam memasyarakatkan minuman keras, 
perjudian, kemesuman, dan membikin mereka menjadi kelompok-kelompok 
kecil melalui hasutan. Para intel tersebut menanamkan kebimbangan pada 
generasi muda Islam. Mereka membangkitkan khilafiyah yang memang sudah 
ada sebelumnya dan membakar mereka agar melawan pemerintah. Mereka 
menciptakan demonstrasi di mana-mana. Mereka merusak mentalitas pemegang
 administrasi dan para negarawan dengan menggunakan jebakan wanita yang 
diberi tugas merayu dan mengajak menikmati surga dunia. Dengan 
menggunakan pola kerja semacam ini, kekuatan utama ummat Islam hancur 
dan tentu akan meninggalkan ajaran agama yang selama ini mereka jadikan 
pedoman. Dan memecah belah persatuan mereka. Setelah hal itu berhasil, 
saatnya baru menggunakan kekuatan militer.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(1) Pemerintah 
Inggris menggunakan dua puluh satu langkah tersebut dalam program 
menghancurkan dua negara Islam yaitu Kesultanan India dan kekhilafahan 
Turki Utsmani. Mereka mendirikan aliran-aliran Islam seperti: Wahabi, 
Qodiyani, Tabligh Jamaat, dan Jamaatul Islamiyah di India. Kemudian 
dengan mudah mereka menginvasi India, menghancurkan administrasi secara 
keseluruhan, memenjarakan sultan dan menyembelih dua putranya. 
Barang-barang yang berharga serta harta benda lainnya yang telah 
berabad-abad menjadi hak rakyat India dijarah dan dikapalkan ke London. 
Mereka mengambil batu-batu permata seperti berlian, jamrud, merah delima
 dan hiasan dinding makam terkenal Taj mahal yang dibangun oleh Sultan 
Syah Jihan pada tahun 1041 Hijriyah (1631 M) di atas kuburan isterinya, 
Arjumen Beghum di Aghra, yang dilapisi dengan intan. Sebagaimana kata 
Allah, “Barang siapa berbuat makar terhadap Allah, maka Allah juga 
berbuat makar kepada mereka”. Balasan muncul ketika Perang Dunia ke dua 
pecah. Karena takut diinvasi Jerman, para pastur, pejabat negara dan 
sejumlah orang serta harta benda yang cukup banyak dikapalkan. Dalam 
perjalanan menuju Amerika, ranjau diluncurkan dari kapal perang Jerman, 
Graf Von Spee dan dua kapal penyergap sejenis. Serangan itu mampu 
menenggelamkan kapal mereka. Keseluruhan awak kapal dan penumpang serta 
harta benda yang mereka angkut tenggelam masuk ke dasar lautan Atlantik.
 Setelah Perang Dunia kedua berakhir, Perserikatan Bangsa-Bangsa 
mengeluarkan deklarasi Hak Asasi Manusia (The Human Rights Declaration) 
yang menolak adanya penjajahan di seluruh dunia. Deklarasi tersebut 
dikeluarkan di New York. Pemerintah Inggris kehilangan sumber utama 
pemasukan negara yang sudah mereka nikmati selama berabad-abad. 
Akhirnya, mereka mencopot gelar Great Britain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;
Bag (7)&lt;/h3&gt;
&amp;nbsp;Dengan mengetahui rahasia negara yang pertama saya ingin untuk segera 
mengetahui rahasia negara yang ke dua. Akhirnya, pada suatu hari 
sekretaris memberi penjelasan rahasia negara yang ke dua yang telah ia 
janjikan tempo dulu. Rahasia ke dua ini termuat dalam sebuah dokumen 
yang isinya satu rancangan yang terdiri dari lima puluh halaman yang 
dipersiapkan bagi para pejabat teras atas yang bekerja pada kementrian 
yang bertugas menghancurkan Islam secara menyeluruh dalam kurun waktu 
satu abad. Rancangan ini terdiri atas empat belas alinea. Dokumen yang 
berisikan rancangan jamgka panjang tersebut betul-betul disimpan rapi 
agar jangan sampai bocor keluar apa lagi jatuh ke tangan muslim. Berikut
 ini adalah rancangan yang terdiri atas 14 alinea ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1.&amp;nbsp; &amp;nbsp;Kita 
harus membenuk suatu pendirian aliansi yang baik dan perjanjian yang 
saling menguntungkan dengan orang Rusia Tsar untuk menginvasi Bukhoro, 
Tajikistan, Armenia, Khurasan dan tetangganya. Dan lagi genderang 
kesepakatan itu harus didirikan dengan pemerintahan Rusia agar bisa 
menginvasi tetangganya, Turki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.&amp;nbsp; &amp;nbsp;Kita menjalin kerja sama yang baik dengan Perancis dalam menghancurkan dunia Islam, baik dari luar maupun dari dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.&amp;nbsp;
 &amp;nbsp;Kita mesti menyuburkan persengkatan yang ada dan pertikaian 
pemerintahan Turki dan Iran, serta menanamkan fanatik kebangsaan dan 
kesukuan pada kedua negara tersebut. Selain itu, semua suku bangsa dan 
negara muslim yang bertetangga harus dibuat agar saling bermusuhan. 
Keseluruhan sekte-sekte agama, termasuk yang sudah mati dihidupkan lagi 
dan dipancing untuk saling menyerang satu sama lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4.&amp;nbsp; &amp;nbsp;Bagian 
bawah dari pemerintahan negara Islam harus diambil alih oleh masyarakat 
non-muslim. Contohnya, Madinah harus diberikan kepada Yahudi, Alexandria
 kepada Nasrani, Imarah kepada Saiba, Kermansyah kepada sekte 
Nusairiyah, yaitu aliran yang mengkultuskan Ali bin Abu Talib, Mousul 
kepada sekte Yazidis, Teluk Iran kepada Hindus, Kars kepada sekte 
Alawis, Masqat kepada Khawarij. Langkah selanjutnya yang dilakukan 
adalah mempersenjatai kelompok-kelompok tersebut, sehingga setiap dari 
mereka akan menjadi onak dalam tubuh Islam. Wilayah-wilayah mereka harus
 diperluas sampai kekuasaan, pemerintahan Islam berantakan dan kacau 
balau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5.&amp;nbsp; &amp;nbsp;Sebuah jadwal harus dibuat sedemikian rupa untuk 
memecah belah Islam dan Pemerintahan Turki Utsmani menjadi negara-negara
 kecil yang terpisah dari Pemerintahan pusat, yang selalu cekcok satu 
sama lain.&lt;br /&gt;
Contoh kongkrit dari hal ini adalah India saat ini. Dengan
 teori yang sudah tak asing lagi di telinga kita “Break, and you will 
dominate, and break, and you will destroy.” (Dengan memecah belah Anda 
akan bisa menguasai, dan dengan memecah belah juga Anda akan bisa 
menghancur kan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6.&amp;nbsp; &amp;nbsp;Perlu adanya langkah untuk memalsukan 
pokok-pokok ajaran Islam dengan menyisipkan sekte-sekte ke dalamnya. 
Kita harus menempuh dan menggunakan cara-cara yang halus, sehingga 
penyisipan ajaran tersebut benar-benar sesuai dengan nurani dan aspirasi
 dari orang-orang yang akan kita jadikan sasaran. Kita akan menumbuhkan 
perbedaan-perbedaan yang ada dalam aliran Syi’ah:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(1) sekte yang mengagungkan Husain&lt;br /&gt;
(2) sekte yang mengagungkan Syaikh Ja’far Shadiq&lt;br /&gt;
(3) sekte yang mengagungkan Imam Mahdi&lt;br /&gt;
(4) sekte yang mengagungkan Ali Ridha.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang
 pertama sesuai untuk Karbala, yang ke dua untuk Isfahan, yang ketiga 
cocok untuk Sammarah, sedang yang ke empat sesuai untuk Khurasan. Dalam 
waktu yang sama juga kita harus membikin keberadaan empat madzhab yang 
ada menjadi sekte-sekte yang berdiri sendiri bukan dalam satu naungan 
Sunni. Setelah ini semua bisa terlaksana, kita mendirikan satu sekte 
baru dalam Islam di Najd, dan kita kemudian menghasut sekte-sekte yang 
ada tersebut agar terjadi kerusuhan berdarah di antara mereka. Kita 
selanjutnya menghapus keberadaan literatur-literatur milik empat mazhab 
tersebut, sehingga setiap sekte dari sekte-sekte yang ada menganggap 
bahwa dirinyalah satu-satunya kelompok Islam yang benar dan memandang 
serta menganggap sekte lain sebagai ahli bidah yang boleh dibunuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
7.&amp;nbsp;
 &amp;nbsp;Tanamkan kebiasaan yang bisa menimbulkan kejahatan dan kebencian, 
seperti kemesuman, homoseksual, alkohol, dan judi, semua ini harus 
disebarkan di tengah-tengah umat Islam. Non muslim yang tinggal di 
negara-negara muslim bisa dipekerjakan untuk membantu merealisasi tujuan
 ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8.&amp;nbsp; &amp;nbsp;Kita harus mengerahkan segala daya upaya untuk melatih
 dan mendidik para pmimpim yang tegas dan komandan militer yang kejam di
 wilayah kekuasaan Islam, dan menjadika mereka berkuasa, sehingga dengan
 begitu akan mengabaikan hukum syari’ah. Kita meletakkan mereka pada 
posisi di mana mereka akan tmduk terhadap apa yang diperintahkan 
Kementerian Persemakmuran dan sebaliknya apa yang mereke tunut sudah 
sepantasnya dipenuhi oleh Kementrian. Melalui mereka kita harus bisa 
memaksakan kehendak kita kepada orang Islam dengan menggunakan para 
pejabat penegak hukum. Kita harus menciptakan gaya hidup dalam 
masyarakat. Yaitu semacam kegiatan badah yang keluar dari ajaran Islam 
yang sebenarnya, sebagai langkah mundur praktek keagamaan mereka. Kita 
jebak mereka agar memasuki kedalam pemilihan pemimpin yang kandidatnya 
berasal dari non muslim. Untuk mencapai tujuan ini, kita harus 
menyamarkan sejumlah intel sebagai Ulama dan meletakkan mereka menduduki
 posisi pemerintahan yang memungkinkan mereke bisa melaksanakan 
planing-planing kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
9.&amp;nbsp; &amp;nbsp;Lakukanlah sebisa mungkin untuk 
mencegah mereka mempelajari Bahasa Arab. Masyarakat bahasa-bahasa selain
 Arab seperti Parsi, Kurdi, dan Pashto. Populerkan bahasa-bahasa 
tersebut di negara-negara Arab dan dialek-dialek lokal yang ada untuk 
menghapus keberadaan literatur dan sastra Arab yang menjadi bahasa 
Al-Qur’an dan Hadits.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
10. Tempatkan orang-orang kita untuk duduk 
di sekitar pejabat-pejabat pemerintahan. Kita nanti secara 
berangsur-angsur bisa mendudukkan mereka menjadi sekretaris pejabat 
negara tersebut dan melalui mereka kita bisa melaksanakan apa yang 
menjadi program kementrian kita. Cara termudah dalam hal ini adalah 
dengan siasat perdagangan budak. Pertama-tama kita harus memberikan 
latihan yang cukup terhadap mata-mata yang akan dikirim yang disamarkan 
sebagai para budak dan para gundik. Kemudia kita menjual mereka itu 
kepada keluarga-keluarga terdekat para pejabat pemerintahan. Contohnya 
kepada anak-anak mereka, isteri-isteri mereka, orang-orang yang disukai 
para pejabat dan orang-orang yang terpandang. Budak-budak ini setelah 
kita jual kepada mereka, akan secara perlahan mendekati para pejabat 
negara. Dengan adanya mereka menjadi ibu-ibu yang mengasuh dan mengajari
 anak-anak mereka, benar-benar akan bisa mengepung para pejabat muslim 
seperti gelang yang sudah terpasang di pergelangan tangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
11. 
Areal lapangan para missionaris harus diperluas sehingga bisa menembus 
sampai ke seluruh tingkatan kelas atas, menengah maupun kelas bawah dan 
ke seluruh departeman, khususnya kedokteran, permesinan dan media massa.
 Kita harus membuka pusat-pusat propaganda dan penerbitan di bawah 
lindungan nama gereja, sekolah, rumah sakit, perpustakaan dan 
lembaga-lembaga sosial di negara-negara Islam dan menyebarluaskan mereka
 ke seluruh penjuru. Kita mesti mendistribusikan sejumlah bukti tentang 
agama Kristen secara cuma-cuma. Kita harus menerbitkan sejarah tentang 
agama Kristen dan hukum-hukum kenegaraan di samping sejarah Islam. Kita 
harus harus menyamarkan mata-mata kita sebagai pastur dan biarawati yang
 ada. Kita angkat mereka semua menjadi pimpinan-pimpinan pergerakan 
nasrani. Orang ini pada saat yang bersamaan punya tugas mendeteksi 
seluruh pergerakan dan kecenderungan perubahan yang terjadi pada dunia 
Islam. Kita harus membentuk satu pasukan dari orang-orang asrani di 
bawah naungan embel-embel nama&amp;nbsp; Profesor, Ahli science. Peneliti, yang 
akan membelokkan dan memutar balikkan sejarah Islam, mempelajari yang 
sebenar cara hidup orang Islam, akhlaq dan prinsip-prinsip agama yang 
mereka pegangi dan kemudian membumi hanguskan keseluruhan buku-buku 
penting mereka serta membasmi pengajaran Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
12. Kita harus 
membuat bimbang dan bingung otak-otak generasi muda Islam dan membangun 
keraguan pada mereka tentang Islam. Kita harus benar-benar bisa 
menguliti moral yang Islami dari badan mereka lewat sekolah, buku-buku, 
majalah-majalah. Dan dalam hal ini, intel yang melasanakan tugas berat 
ini harus benar-benar terlatih dengan matang. Adalah suatu prasarat 
dalam membuka kegiatan bawah tanah untuk mendidik dan melatih warga 
Yahudi, Nasrani dan generasi muda non muslim lainnya, dan menjadikan 
mereka sebagai umpan pemikat untuk menjebak generasi muda Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
13.
 Tindakan provokasi harus diambil untuk memancing timbulnya perang sipil
 dan pemberontakan. Orang Islam dibuat sedemikian rupa agar saling 
berperang, menyerang satu sama lain, bahkan terhadap non muslim lainnya,
 agar energi mereka benar-benar terkuas, terbuang sia-sia sehingga tidak
 mungkin bagi mereka untuk bisa mengadakan perbaikan dan rekonsiliasi. 
Kondisi mental dinamis serta sumber finansial harus dibinasakan. 
Prasarana dan segala sesuatu yang bisa meremajakan dan mengaktifkan 
mereka kembali harus dijauhkan. Ketentraman yang ada pada mereka harus 
diubah menjadi terror dan anarkhi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
14. Perekonomian mereka harus 
benar-benar diruntuhkan sama sekali. Sumber pemasukan utama dan areal 
pertanian harus dirusak. Jaringan irigasi yang mengairi areal pertanian 
dan kanal harus dihancurkan dan bila mungkin sungai dibikin kering. 
Orang-orang harus dibuat enggan dalam melaksanakan shalat dan bekerja. 
Kemalasan harus dimasyarakatkan. Lokasi tempat bermain harus dibuka bagi
 orang-orang yang malas. Narkotik dan alkohol harus dijadikan makanan 
sehari-hari mereka. (1)(1) Dalam alenia ini keterangan dilengkapi dengan
 peta gambar dan grafik.&lt;br /&gt;
Saya sangat berterima kasih atas diberinya salinan dokumen rahasia negara tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah
 selama satu bulan tinggal di London, saya menerima sebuah pesan dari 
Mentri Persemakmuran yang menyuruh saya agar balik ke Iraq untuk kembali
 melihat Muhammad Annajd. Saat saya berpamitan untuk berangkat 
melaksanakan misi saya, sekretaris berpesan , “Jangan sembrono terhadap 
Muhammad Annajd! Sebagaimana diketahui dari lapotan yang dikirim secara 
berantai oleh mata-mata kita sampai sekarang, Muhammad Annajd adalah 
sebuah sosok pribadi yang sangat tepat untuk merealisir tujuan kita”.&lt;br /&gt;
“Katakan
 secara terus terang kepadanya. Intel kita telah berbicara panjang 
dengan dia dan mengatakan secara blak-blakan di Isfahan. Muhannnad 
Annajd bisa menerima sejumlah draft persetujuan yang kita inginkan. Dia 
menyepakati draft tersebut dengan mengajukan prasyarat bahwa dia harus 
disokong dengan biaya yang memadai dan persenjataan yang melindungi dia 
dari ancaman masyarakat dan pemuka Islam yang berniat mau menyerang dia 
karena peluncuran gagasan-gagasan dan pandangannya yang independen 
terhadap Islam. Sebuah kerajaan nantinya akan didirikan kendati dalam 
kala kecil di negerinya. Mentri Persemakmuran bisa menerima apa yang dia
 ajukan sebagai prasasti!&lt;br /&gt;
Mentri Persemakmuran telah menemukan 
program yang tepat yang harus dilaksanakan berkenaan dengan Muhammad 
Annajd. Program-program itu sebagai berikut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1.&amp;nbsp; &amp;nbsp;Dia akan 
mengumumkan bahwa semua orang Islam yang tidak mengikuti alirannya 
adalah kafir , yang halal darahnya dan boleh harta bendanya diambil, 
serta hak kemerdekaannya dihilangkan. Yang laki-laki dijadikan budak 
yang bisa dijual di pasar budak, sedang yang perempuan bisa dijadikan 
jariyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.&amp;nbsp; &amp;nbsp;Dia akan mengeluarkan statemen bahwa Ka’bah adalah 
berhala dan karena itu harus dihacurkan. Untuk menghapus pelaksanaan 
ibadh haji, dia akan memprovokasi sejumlah suku untuk menyerang dan 
menjarah barang milik jamaah muslim yang akan melakukan ibadah haji dan 
membunuh mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.&amp;nbsp; &amp;nbsp;Dia akan berusaha keras menghasut rakyat 
untuk tidak mengindahkan, tidak mentaati khalifah. Dia akan memancing 
mereka agar melawan pemerintah pusat. Untuk tujuan ini dia akan 
mempersiapkan sejumlah pasukan bersenjata. Dia akan menggunakan setiap 
kesempatan untuk menyebarluaskan satu keyakinan bahwa perlunya tindakan 
diambil untuk melawan Ulama terkemuka Hijaz.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4.&amp;nbsp; &amp;nbsp;Dia akan 
mengeluarkan pernyataan bahwa bangunan besar di atas makam, menaranya, 
dan tempat-tempat keramat di wilayah kekuasaan Islam termasuk hal yang 
mengacu kepada tindakan yang menyebabkan seseorang musyrik, dan karena 
itu keberadaan bangunan-bangunan tersebut harus dihancurkan. Dia akan 
melakukan yang terbaik untuk menciptakan setiap kesempatan untuk 
memojokkan posisi Nabi Muhammad, Khalifah penggantinya dan para Ulama 
mazhad terkemuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5.&amp;nbsp; &amp;nbsp;Dia akan melakukan dengan sepenuh hati 
untuk mengadakan pemberontakan, demonstrasi dan perbuatan yang mengarah 
anarkhi di wilayah kekuasaan Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6.&amp;nbsp; &amp;nbsp;Dia akan mencoba untuk 
menerbitkan salinan Qur’an yang telah sebagiannya disisipi, ditambahi 
dan penghilangan sebagian ayat, sebagaimana yang akan juga dilakukan 
terhadap keberadaan hadits.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menerangkan enam pharagrap di atas, sekretaris menambahkan pesan, “Jangan panik dengan&lt;br /&gt;
program
 yang terlihat sangat kontroversi ini. Karena bagaimanapun tujuan kita 
adalah menghancurkan kekuatan Islam. Nanti ada generasi di belakang kita
 yang akan menyempurnakan tugas ini. Pemerintahan Inggris telah 
mendirikan suatu kebiasaan untuk menjadi orang yang sabar dan maju 
selangkah demi selangkah. Bukankah Nabi Muhammad tokoh revolusioner yang
 hebat, yang besar itu juga seorang manusia biasa? Dan dalam hal ini 
Muhamad Annajd mengambil pelajaran dari sejarah Islam dan berjanji akan 
mclakukan sebuah revolusi seperti yang dilakukan Nabi Muhammad.”&lt;br /&gt;
Kemudian
 saya minta permisi kepada Mentri persemakmuran dan sekretaris dan 
mengucapkan salam perpisahan kepada keluarga, teman, dan lalu berangkat 
menuju Basrah. Saat itu anak saya berpesan, “Cepat pulang, ya, Pa!” Air 
mata saya meleleh. Saya tidak bisa menyembunyikan kesedihan saya. 
Setelah melalui perjalanan yang cukup melelahkan ini, akhirnya, aku 
sampai di Basrah pada malam hari. Saya langsung menuju rumah Abdur 
Ridha. Saat itu dia sedang tidur. Ketika bangun dan melihat saya, dia 
sangat&lt;br /&gt;
senang. Dia menyambut kedatangan saya dengan sambutan yang 
hangat dan ramah. Saya tinggal semalam di sana. Pagi harinya ia berkata 
kepada saya, “Muhammad Annajd meningalkan sebuah surat untuk kamu. Ini 
suratnya.” Saya buka surat tersebut. Dia menulis dalam surat itu bahwa 
dia saat ini lagi pulang kampung ke Najd, dan dia meninggalkan 
alamatnya. Saat itu juga saya berangkat ke Najd. Setelah melakukan 
perjalanan cukup panjang, akhirnya saya sampai di sana juga. Saya 
menemukan Muhammad Annajd di rumahnya dalam kondisi cukup kritis. Dia 
banyak kehilangan berat badan. Dalam kondisi seperti itu, saya tidak 
mengatakan apa-apa tentang diri saya. Berikutnya saya mengetahui bahwa 
dia saat itu baru saja menikah.&lt;br /&gt;
Sudah tercapai kesepakatan di antara 
kami agar saya diperkenalkan kepada orang lain sebagai budaknya, yang 
baru saja pulang dari suatu tempat.&lt;br /&gt;
Saya tinggal bersama Muhammad 
Annajd selama dua tahun. Kami membuat suatu program untuk meluncurkan 
gagasannya. Akhirnya, saya mengumumkan deklarasi aliran yang baru dalam 
dunia Islam pada tahun 1143 Hijriyah (1730 Masehi). Dengan jalan 
mengumpulkan penduduk di sekitar lingkungan dia sendiri. Dia mulai 
mendapat pendukung untuk menyebarkan dakwahnya secara sembunyi-sembunyi 
terhadap orang-orang yang akrab dan dekat dengan dia. Hari demi hari, 
cakupan dakwahnya semakin luas. Untuk memastikan agar dakwahnya bisa 
berjalan lancar, saya membentuk suatu badan yang bertugas sebagai Body 
guard untuk melindungi dia dari tindakan orang-orang yang tidak setuju 
dengan apa yang dilakukan Muhammad Annajd. Saya memberikan berapa saja 
uang yang mereka minta. Kapan saja ada musuh yang ingin menyerang 
perjalanan aktivitas Muhammad Annajd, saya selalu memberi semangat dan 
membesarkan hati para body guard tersebut. Seiring dengan dakwahnya yang
 semakin menyebar dan meluas, jumlah lawan-lawannya semakin bertambah. 
Kadang-kadang dia ingin menghentikan ajakannya, dakwahnya, khususnya 
ketika membanjirnya serangan dan intimidasi yang diarahkan ke padanya. 
Saya tidak tidak pernah meninggalkan dia sendirian, sebaliknya selalu 
memberi dorongan moral kepadanya. Saya memberi sedia semangat dia dengan
 mengatakan, “Nabi Muhammad jauh banyak mengalami penderitaan dari pada 
apa yang sejauh ini anda rasakan. Anda tahu, inilah jalan menuju 
kemenangan. Sebagaimana tokoh revolusioner lainnya, Anda tentu harus 
mengalami banyak kesulitan!”&lt;br /&gt;
Para musuh menyerang setiap saat. Saya 
oleh karena itu, mengambil orang bayaran untuk memata-matai lawan-lawan 
Muhammad Annajd. Kapan saja musuh-musuhnya mengganggu dia orang tadi 
melaporkan kepada saya dan saya menetralisir gangguan tersebut. Pernah 
suatu ketika saya dilapori akan ada musuh yang ingin menghabisi Muhammad
 Annajd. Saya dengan segera mengambil tindakan pencegahan untuk 
menggagalkan persiapan mereka. Kapan saja orang di sekitar Muhammad 
Annajd mendengar rencana makar para musuh, mereka segera bergegas 
mengatasi atau menggagalkan rencana makar, tidak segan-segan bertindak 
lebih jauh. Mereka akhirnya masuk ke dalam perangkap yang mereka pasang 
sendiri.&lt;br /&gt;
Muhammad Annajd berjanji akan melaksanakan enam draft 
program dengan memberi satu catatan, “Untuk sementara waktu saya hanya 
bisa melaksanakan dari sebagian draft yang ada.” Dia bagaimanapun benar 
dalam hal ini. Tidak mungkin baginya untuk melaksanakan keseluruhan 
program tersebut.&lt;br /&gt;
Saya mendapatinya tidak mungkin untuk melakukan 
penghancuran Ka’bah. Dan dia juga tidak mau merealisasi satu gagasan 
untuk mengumumkan bahwa Ka’bah itu berhala. Selain itu dia menolak 
dengan tegas untuk menerbitkan salinan Al-Qur’an yang mengalami 
perubahan atau intervensi tangan manusia. Yang paling dia takuti dalam 
hal ini adalah reaksi yang akan muncul dari Syarif Imam Masjidil Haram 
di Mekah dan pemerintah Istambul. Dia mengatakan kepada saya, “Jika saja
 kita melakukan 2 naskah ini, dipastikan kita akan diserang oleh pasukan
 Istambul yang bersenjata lengkap. Saya bisa memahami alasannya. Karena 
dia benar. Situasi dan kondisi sama sekali tidak mendukung.&lt;br /&gt;
Beberapa 
tahun berikutnya, Mentri Persemakmuran berusaha keras untuk membujuk 
Muhammad bin Su’ud, gubemur Dir’iyyah, untuk bergabung dengan jalur 
aliran agama yang kami jalani. Kementrian Persemakmuran mengirim kepada 
saya sebuah utusan yang memberitahu tentang hal ini dan yang akan 
membentuk suatu hubungan kerja sama yang saling menguntungkan di antara 
dua Muhammad, yaitu Muhammad Annajd dan Muhammad bin Su’ud. Untuk bisa 
memperoleh kepercayaan, dan dukungan dari masyarakat muslim, kami 
menempatkan Muhammad Annajd sebagai kekuatan secara moral dan Muhammad 
bin Su’ud dari sisi politik. Merupakan fakta sejarah bahwa suatu negara 
yang didirikan atas dasar agama bisa hidup lama dan lebih kuat serta 
lebih stabil.&lt;br /&gt;
Akhirnya, kami dalam tahap-tahap berikutnya semakin 
menjadi kuat dan mengakar. Kami menjadikan Dir’iyyah sebagai ibukota 
negara dan memberikan nama terhadap aliran baru tersebut Wahhabi. 
Kementrian Persemakmuran mendukung dan memperkuat pemerintahan Wahhabi 
lewat jalan belakang. Dalam pemerintahan baru Inggris melibatkan sekitar
 sebelas ahli dari pemerintahnya. Mereka sudah terbiasa berbahasa Arab 
dan sudah terlatih melakukan perang di gurun pasir Mereka semua 
bersembunyi di balik nama budak. Kami mempercepat program-program kami 
dengan menjalin kerja sama bersama pemerintah. Kedua Muhammad telah 
setuju jalan yang saya tunjukkan. Kapan saja kami tidak menerima 
perintah dari Kementrian Persemakmuran, sedang kami punya suatu 
persoalan, maka kami mengambil keputusan sendiri.&lt;br /&gt;
Kami
 semua menikahi wanita-wanita dari berbagai suku. Kami sangat senang dan
 merasakan bahagia atas&amp;nbsp; sikap setia yang ditunjukkan wanita Islam 
kepada suaminya. Sehingga dengan dernikian kami telah bisa menjalin 
hubungan dengan suku-suku tersebut. Segala sesuatunya lancar. Iklim 
aktivitas kami semakin hari semakin baik. Asal saja segaala sesuatunya 
sesuai dengan rencana, kami akan bisa menikmati apa yang telah kami 
tanam. Kami telah melakukan apa saja yang perlu dilakukan setelah 
menabur benih untuk kemudian nanti kami petik&lt;br /&gt;
Sumber&amp;nbsp; : &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;http://indosyiah.blogspot.com/2012/09/pengakuan-mr-hempher-seorang-mata-mata.html&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;


    &lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh_g4QDU3gZwAipBLMPn_3BqvDjo791fKZmGJYxEAtb3TvTRNb1jWFji4v-hlQ51qzzIl0wgIEMyEUH-wo85BA9mpa5IamA5_SLiPvvGC_abEh2lAQbLDh_tWgipxRMUoEhflmaC0r-uQg/s72-c/wahabi_yahudi1.jpg_480_480_0_64000_0_1_0%5B1%5D.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Pengaruh dan Keuntungan Keyakinan</title><link>http://andikfn.blogspot.com/2012/08/pengaruh-dan-keuntungan-keyakinan.html</link><category>artikel</category><author>noreply@blogger.com (ANDIK FN)</author><pubDate>Thu, 2 Aug 2012 08:09:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6659801012355790768.post-4274794609953393482</guid><description>&lt;span class="fullpost"&gt;


    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
Pengaruh keyakinan 
religius sudah kami singgung. Namun, untuk lebih menjelaskan keuntungan 
dari aset kehidupan yang bernilai ini dan kekayaan spiritual, kami akan 
membahasnya dengan lebih terperinci.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tolstoy, seorang 
penulis yang sekaligus Filosof Rusia, berkata: "Keyakinan adalah sesuatu
 yang dibutuhkan dalam hidup manusia." Seorang penyair sekaligus pemikir
 Iran, Hakim Nasir Khusrow, berkata kepada putranya: "Aku telah 
berpaling kepada agama, karena bagiku dunia tanpa agama laksana penjara.
 Aku tak mau alam hatiku porak-poranda." Banyak pengaruh positif yang 
diberikan oleh keyakinan religius. Keyakinan religius mewujudkan 
kebahagian dan kegembiraan, mengembangkan hubungan sosial, dan 
mengurangi serta menghilangkan kecemasan yang menjadi ciri pokok dunia 
material ini. Kami akan menjelaskan pengaruh keyakinan religius dari 
ketiga sudut pandang ini;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Kebahagiaan dan Kegembiraan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengaruh
 pertama keyakinan religius, dilihat dari sudut pandang kebahagiaan dan 
kegembiraan, adalah optimisme. Seorang yang memiliki keyakinan religius 
selalu optimis sikapnya terhadap dunia, kehidupan dan alam semesta. 
Keyakinan religius memberikan bentuk tersendiri kepada sikap manusia 
terhadap dunia. Karena menurut agama, alam semesta itu ada tujuannya dan
 bahwa tujuannya itu adalah perbaikan (kemajuan) dan evolusi, maka 
keyakinan religius tentu saja mempengaruhi pandangan manusia dan membuat
 manusia optimis dengan sistem alam semesta dan hukum yang mengatur alam
 semesta. Sikap seorang yang berkeyakinan religius terhadap alam semesta
 adalah sama dengan sikap seorang yang tinggal di sebuah negara yang 
meyakini bahwa sistem, hukum dan formasi negara tersebut bagus, bahwa 
pemimpin negara tersebut tulus dan bermaksud baik, dan bahwa di negara 
tersebut setiap warganya, termasuk dirinya, berpeluang membuat prestasi.
 Orang seperti itu tentu saja akan berpendapat bahwa penyebab tetap 
terkebelakangnya dirinya atau orang lain, tak lain adalah kemalasan dan 
tak berpengalamannya orang bersangkutan, dan bahwa dirinya dan warga 
lain bertanggung jawab dan di tun tut untuk menunaikan tugas mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang
 yang memiliki keyakinan religius akan bertanggung jawab atas 
keterbelakangan dirinya dan tak akan menyalahkan negaranya dan 
pemerintahannya atas keterbelakangannya tersebut. Dia percaya bahwa jika
 ada yang tidak beres, hal itu karena dirinya dan warga lain seperti 
dirinya tidak dapat menunaikan tugas dengan baik. Tentu saja perasaan 
seperti ini akan membangkitkan rasa harga dirinya, dan mendorong dirinya
 melangkah ke depan dengan penuh optimisme.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebaliknya, 
orang yang tidak memiliki keyakinan religius adalah seperti orang yang 
tinggal di sebuah negara yang sistem, hukum dan formasinya dia yakini 
zalim, dan orang tersebut terpaksa menerima, meski tidak sesuai dengan 
kata hatinya, sistem, hukum dan formasi negara tersebut. Hati orang 
seperti itu akan selalu dipenuhi rasa benci dan dendam. Sedikit pun dia 
tak akan pernah berencana meningkatkan kualitas dirinya. Menurutnya, 
kalau segalanya sudah tidak beres, kejujuran dan ketulusan dirinya tak 
akan ada gunanya. Orang seperti itu tak akan pernah menikmati dunia ini.
 Bagi dirinya, dunia ini akan selalu seperti penjara yang menakutkan. 
Itulah sebabnya Al-Qur'an memfirmankan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit. (QS. Thaha: 124)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesungguhnya,
 keyakinan religiuslah yang membuat kehidupan kita lapang secara 
spiritual, dan yang menyelamatkan kita dari tekanan faktor-faktor 
spiritual. Dari sudut pandang penciptaan kebahagiaan dan kegembiraan, 
pengaruh kedua dari keyakinan religius adalah tercerahkannya had. Kalau 
manusia melihat dunia dicerahkan oleh cahaya kebenaran, maka hati dan 
jiwanya juga tercerahkan. Keyakinan religius adalah laksana lentera yang
 menerangi rohaninya. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki keyakinan 
religius melihat dunia gelap gulita, kotor dan tak ada artinya, dan 
akibatnya hati orang tersebut tetap gelap gulita di dunia yang 
dianggapnya gelap gulita itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengaruh ketiga dari 
keyakinan religius, dari sudut pandang kebahagiaan dan kegembiraan, 
adalah pandangan bahwa upaya yang baik membawa hasil yang baik pula. 
Dari sudut pandang material murni, dunia fana ini tak peduli siapa yang 
lurus dan benar jalannya, dan siapa yang salah jalannya. Hasil dari 
suatu upaya ditentukan semata-mata oleh satu hal, yaitu seberapa keras 
upaya tersebut dilakukan. Namun, menurut sudut pandang orang yang 
memiliki keyakinan religius, dunia fana ini tidak acuh dan tidak netral 
terhadap upaya orang-orang yang berbuat benar dan salah. Reaksi dunia 
terhadap upaya dua kelompok ini tidak sama. Sistem alam semesta 
mendukung orang-orang yang berbuat untuk kebenaran, keadilan dan 
integritas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al-Qur'an memfirmankan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kamu menolong (agama) Allah, Dia akan menolongmu. (QS. Muhammad: 7)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berniat baik. (QS. at-Taubah: 120, Hud: 115, Yusuf: 90)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengaruh
 keempat dari keyakinan religius, dilihat dari sudut pandang penciptaan 
kebahagiaan dan kegembiraan, adalah kepuasan mental. Pada dasarnya 
manusia berusaha untuk sukses, dan rencana untuk meraih kesuksesan 
tersebut membuat hatinya berbunga-bunga. Ketakutan akan masa depan yang 
gelap membuat dirinya merasa ngeri dan mengusik ketenangannya. Ada dua 
hal yang membuat orang bahagia dan puas: (1) upaya; (2) kepuasan 
terhadap kondisi-kondisi yang lazim di lingkungannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesuksesan
 seorang pelajar ditentukan oleh dua hal: Pertama, upayanya sendiri. 
Kedua, kondusif atau tidak atmosfer di sekolahnya, dan dorongan dari 
pihak sekolah. Jika seorang pelajar yang pekerja keras tidak percaya 
dengan atmosfer sekolahnya dan guru-gurunya, sepanjang tahun belajarnya 
dia akan khawatir akan adanya perlakuan yang tidak adil dan akan dicekam
 rasa cemas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Manusia mengetahui tugasnya terhadap dirinya 
sendiri. Aspek ini tidak membuatnya khawatir, karena yang mengusik 
manusia adalah perasaan ragu dan tidak pasti. Manusia yakin dengan semua
 yang penting bagi dirinya. Yang mengusik manusia dan yang tidak jelas 
bagi manusia adalah tugasnya terhadap dunia. Pertanyaan yang paling 
mengusiknya adalah: Apakah perbuatan baik itu ada gunanya? Apakah 
kebenaran dan kejujuran itu membantu mencapai tujuan? Apakah akhir dari 
penunaian tugas adalah kesia-siaan? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang 
menimbulkan kecemasan dalam bentuknya yang paling mengerikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keyakinan
 religius mengembalikan rasa percaya manusia kepada dunia, dan 
menghilangkan rasa tidak percayanya kepada perilaku dunia terhadap 
dirinya. Itulah sebabnya kami katakan bahwa salah satu pengaruh 
keyakinan religius adalah ketenangan mental. Pengaruh lain dari 
keyakinan religius, dari sudut pandang kegembiraan dan kebahagiaan, 
adalah lebih menikmati kenikmatan yang dikenal sebagai kenikmatan 
spiritual. Ada dua macam kenikmatan yang dapat dirasakan oleh manusia. 
Kenikmatan macam pertama berkaitan dengan salah satu dari panca indera. 
Kenikmatan seperti ini dirasakan berkat terjadinya kontak antara organ 
tubuh manusia dan objek tertentu. Mata memperoleh kenikmatan melalui 
melihat, telinga melalui mendengar, mulut melalui merasakan, dan indera 
peraba melalui meraba atau menyentuh. Kenikmatan jenis lain adalah 
kenikmatan yang berkaitan dengan jiwa dan indera batiniah manusia. 
Kenikmatan seperti ini tak ada hubungannya dengan organ tubuh, dan tidak
 diperoleh melalui kontak dengan objek tertentu. Kenikmatan seperti ini 
diperoleh bila kita berbuat baik kepada orang atau makhluk lain, bila 
kita dihormati dan menjadi popular, atau bila kita sukses atau bila anak
 kita sukses. Kenikmatan seperti ini khususnya tidak berkaitan dengan 
organ tubuh, juga tidak dipengaruhi langsung oleh faktor material.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenikmatan
 spiritual lebih kuat dan lebih abadi ketinabang kenikmatan material. 
Kenikmatan yang dirasakan oleh orang-orang yang tulus beribadah kepada 
Allah dengan ibadah mereka yang khusyuk adalah kenikmatan spiritual. 
Dalam bahasa agama, kenikmatan spiritual digambarkan sebagai "Nikmatnya 
Iman" dan "Rasanya Iman". Rasanya iman lebih lezat ketimbang—dan 
melebihi—rasa-rasa yang lain. Kenikmatan spiritual akan semakin 
bertambah bila kita berbuat bajik, misalnya menuntut ilmu pengetahuan, 
membantu orang atau makhluk lain, atau sukses melaksanakan tugas yang 
digerakkan oleh rasa keagamaan. Setiap perbuatan yang dilakukan karena 
Allah SWT, merupakan perbuatan ibadah dan mendatangkan kenikmatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Peran Keyakinan Religius dalam Meningkatkan Hubungan Sosial&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti
 sebagian binatang lainnya, manusia suka hidup berkelompok. Tak seorang 
manusia pun yang seorang diri dapat memenuhi semua kebutuhannya. Dalam 
hidup ini mutlak diperlukan kerja sama. Harus ada give and take (saling 
memberi dan menerima) dan pembagian kerja. Namun demikian, ada satu 
perbedaan antara manusia dan binatang lain yang juga suka hidup 
berkelompok, seperti lebah misalnya. Binatang lain secara naluriah 
menjalankan prinsip pembagian kerja. Binatang ini tak kuasa untuk tidak 
mengikuti hukum ini. Sebaliknya, manusia leluasa. Manusia memiliki kuasa
 untuk memilih. Manusia dapat mengerjakan pekerjaan yang disukainya, dan
 memandang pekerjaan ini sebagai tugasnya. Dengan kata lain, pada 
binatang lain yang juga suka hidup berkelompok, naluri sosial 
dipaksakan. Meskipun kebutuhan manusia bersifat sosial, namun pada 
manusia naluri sosial tersebut tidak dipaksakan. Naluri sosial pada diri
 manusia ada dalam bentuk dorongan yang dapat ditumbuh-kembangkan 
melalui pendidikan dan pelatihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehidupan sosial dapat 
dikatakan baik kalau semua individunya menghormati hukum dan hak 
masing-masing, memperlihatkan rasa bersahabat terhadap satu sama lain, 
dan menganggap suci keadilan. Dalam masyarakat yang sehat, setiap orang 
menghendaki untuk orang lain apa yang dikehendaki untuk dirinya dan 
tidak menghendaki untuk orang lain apa yang tidak dikehendaki untuk 
dirinya. Semua individunya saling percaya, dan dasar dari saling percaya
 ini adalah kualitas spiritual mereka. Setiap orang merasa 
bertanggungjawab terhadap masyarakatnya, juga memperlihatkan kualitas 
ketakwaan dan kebajikan ketika sendirian maupun ketika berada di tengah 
masyarakat, dan berbuat baik kepada orang lain dengan tulus. Semua 
anggota masyarakat menentang tirani dan kezaliman, dan tidak membiarkan 
penindas berbuat kerusakan atau kejahatan. Semua anggota masyarakat 
menghormati nilai-nilai moral dan hidup bersama dalam kesatuan dan 
harmoni yang sempurna seperti organ-organ pada satu tubuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keyakinan
 religius sajalah yang, terutama sekali, menghargai kebenaran, 
menghormati keadilan, mendorong kebajikan dan saling percaya, menanamkan
 semangat ketakwaan, mengakui nilai-nilai moral, menyemangati individu 
untuk menentang tirani dan mempersatukan individu menjadi satu tubuh 
yang solid. Kebanyakan tokoh yang cemerlang dan termasyhur di dunia dan 
dalam sejarah mendapat ilham dari perasaan religius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Mengurangi Kecemasan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehidupan
 manusia berkisar antara kesuksesan, prestasi, kesenangan, kegembiraan 
dan kegagalan, penderitaan, dan kecemasan. Banyak penderitaan dan 
kegagalan dapat dicegah atau diobati, tentu saja dengan upaya keras. 
Jelaslah, manusia bertanggungjawab menundukkan alam dan mengubah 
kemalangan hidup menjadi keberuntungan hidup. Namun demikian, banyak 
kejadian pahit tak dapat dicegah atau juga tak dapat ditentang. Misal, 
ambil contoh usia lanjut. Berangsur-angsur orang pasti berusia lanjut 
dan pasti mengalami kemerosotan kondisi jasmani akibat usia lanjut. Usia
 lanjut, kemunduran kondisi tubuh dan penyakit membuat hidup orang 
lanjut usia terasa sulit. Takut mati dan takut mewariskan dunia fana ini
 kepada orang lain selalu terasa menyakitkan hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keyakinan
 religius memberikan kepada manusia kekuatan untuk menentang dan 
kekuatan bertahan serta mengubah kepahitan hidup menjadi terasa manis. 
Orang yang memiliki keyakinan religius tahu bahwa segala yang ada di 
dunia ini ada skemanya. Seandainya orang tersebut tidak mungkin keluar 
dari kepahitan hidup, maka Allah akan memberinya kompensasi dengan cara 
lain, dengan catatan dia menunjukkan reaksi yang baik terhadap 
kemalangan hidupnya. Bagi orang yang takwa, usia lanjut itu menyenangkan
 dan lebih nikmat ketimbang usia muda karena dua alasan: Pertama, dia 
tidak percaya kalau usia lanjut merupakan akhir segalanya; kedua, waktu 
yang masih ada dimanfaatkannya dengan asyik memuja dan mengingat Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sikap
 orang beriman terhadap kematian beda dengan sikap orang tak beriman. 
Bagi orang beriman, kematian bukanlah berarti kehancuran total, 
melainkan hanyalah peralihan dari dunia fana yang kecil ini ke alam 
abadi yang agung. Kematian berarti meninggalkan "dunia kerja" menuju 
"dunia hasil." Karena itu orang beriman menyikapi rasa takut matinya 
dengan menyibukkan diri berbuat baik, dan perbuatan baik ini oleh agama 
disebut dengan "amal saleh."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para psikiater mengakui bahwa
 merupakan suatu fakta yang tak terbantahkan bahwa kebanyakan penyakit 
jiwa diakibatkan oleh kecemasan mental dan kepahitan hidup, dan penyakit
 ini lazim dijumpai di kalangan orang-orang nonreligius. Penyakit zaman 
modern ini, yang muncul akibat lemahnya keyakinan religius, berupa 
semakin meluasnya penyakit jiwa dan saraf.•&lt;br /&gt; =======&lt;br /&gt;
manusia dan alam semesta&lt;br /&gt;
murtadho muthahari&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Agama dan Kosmologi</title><link>http://andikfn.blogspot.com/2012/08/agama-dan-kosmologi.html</link><category>artikel</category><author>noreply@blogger.com (ANDIK FN)</author><pubDate>Thu, 2 Aug 2012 07:59:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6659801012355790768.post-2435341486163230309</guid><description>&lt;div class="MsoPlainText" style="color: white; direction: ltr; text-align: center; text-indent: 36pt; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman; font-size: 26pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoPlainText" style="color: white; direction: ltr; text-align: justify; text-indent: 36pt; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;b&gt;
      &lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman; font-size: 11pt; font-style: italic;"&gt;Kosmologi 
      yang benar adalah fondasi yang harus dibangun oleh setiap insan 
      beragama.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dengan metode epistemologis apakah kosmologi ini 
      bisa dibangun?&amp;nbsp; Mungkinkan pengetahuan empiris dapat memecahkan 
      masalah-masalah prinsipal kosmologis?&amp;nbsp; Dimanakah posisi tasawwuf 
      dalam perfeksi dan perjalanan spiritual manusia?&amp;nbsp; Artikel&amp;nbsp; ini 
      akan menjawabnya dengan penjelasan&amp;nbsp; yang lugas dan sesederhana 
      mungkin.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoPlainText" style="color: white; direction: ltr; text-align: justify; text-indent: 36pt; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;Definisi Agama&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoPlainText" style="color: white; direction: ltr; text-align: justify; text-indent: 36pt; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;&amp;nbsp;Bicara soal agama, tidak bisa 
      tidak kita harus memahami terlebih dahulu devinisi agama.&amp;nbsp; Dalam 
      bahasa Arab agama disebut ‘Din’ yang secara bahasa berarti ketataan, 
      pahala dsb.&amp;nbsp; Dalam istilah, Din berarti&amp;nbsp; keyakinan kepada Sang 
      Pencipta manusia dan alam semesta serta ajaran-ajaran amaliah yang sesuai 
      dengan keyakinan ini.&amp;nbsp; Atas dasar ini orang yang tidak meyakini 
      adanya Sang Pencita dan menganggap segala fenomena alam ini sebagai 
      kejadian spontan atau semata-mata terjadi karena interaksi alam natural 
      disebut sebagai orang yang tak beragama (ateis).&amp;nbsp; Sebalik orang&amp;nbsp; 
      yang meyakini adanya Sang Pencipta semesta alam disebut sebagai orang yang 
      beragama, sekalipun keyakinannya atau ritus-ritus agamanya mengalami 
      penyimpangan dan khurafat.&amp;nbsp; Maka dari itu, agama terbagi menjadi hak 
      dan batil. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="color: white;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoPlainText" style="color: white; direction: ltr; text-align: justify; text-indent: 36pt; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;Agama 
      yang hak adalah agama yang mengandung keyakinan yang sesuai dengan 
      kenyataan serta membawa petunjuk kepada perilaku-perilaku yang memiliki 
      jaminan yang valid untuk menggapai kebenaran. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoPlainText" style="color: white; direction: ltr; text-align: justify; text-indent: 36pt; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;Ushul 
      dan Furu’&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoPlainText" style="color: white; direction: ltr; text-align: justify; text-indent: 36pt; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;Dengan pengertian terminologis agama 
      tadi jelaslah bahwa agama setidaknya terdiri dari dua elemen.&amp;nbsp; 
      &lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, akidah atau keyakinan-keyakinan yang dilandasi dengan 
      prinsip dan dasar yang valid.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, hukum atau 
      perintah-perintah amaliah yang sesuai dengan dasar-dasar 
      akidah.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dengan demikian, tepatlah kiranya jika elemen akidah 
      setiap agama disebut ‘ushul’&amp;nbsp; (pokok-pokok) sedangkan elemen hukum 
      amaliahnya disebut furu’ (cabang).&amp;nbsp; Dua istilah ini oleh para ulama 
      Islam juga lazim disebut akidah Islam dan hukum Islam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoPlainText" style="color: white; direction: ltr; text-align: justify; text-indent: 36pt; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;Kosmologi dan 
      Ideologi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoPlainText" style="color: white; direction: ltr; text-align: justify; text-indent: 36pt; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;&amp;nbsp;Istilah kosmologi dan ideologi 
      artinya tak jauh berbeda satu dengan yang lain.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Arti kosmologi 
      antara lain ialah serangkaian keyakinan dan pandangan universal yang 
      tersistematis mengenai manusia dan alam semesta, atau secara umum mengenai 
      ‘ke-ada-an’ (wujud).&amp;nbsp; Sedangkan arti ideologi antara lain ialah 
      serangkaian pandangan universal yang tersistematis mengenai perilaku 
      manusia.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoPlainText" style="color: white; direction: ltr; text-align: justify; text-indent: 36pt; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;Sesuai 
      dua pengertian ini bisa dikatakan bahwa rangkaian akidah dan ushul setiap 
      agama adalah kosmologi agama ini sendiri, sementara sistem universal 
      hukum-hukum amaliahnya adalah ideologinya, dan keduanya diterapkan sesuai 
      ushul dan furu’ agama ini.&amp;nbsp; Patut diingat bahwa istilah ideologi 
      tidak mencakup hukum-hukum parsial sebagaimana kosmologi juga tidak 
      mencakup keyakinan-keyakinan parsial.&amp;nbsp; Selain itu, kata ideologi juga 
      sering diterapkan pada pengertian umum yang mencakup 
      kosmologi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoPlainText" style="color: white; direction: ltr; text-align: justify; text-indent: 36pt; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;Kosmologi Teisme dan Kosmologi 
      Materialisme&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoPlainText" style="color: white; direction: ltr; text-align: justify; text-indent: 36pt; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;Di tengah umat manusia terdapat aneka 
      ragam kosmologi.&amp;nbsp; Toh demikian, dengan pertimbangan diterima atau 
      tidaknya alam immateri atau supranatural semuanya bisa dibagi dalam 
      dikotomi kosmologi ketuhanan (teisme) dan kosmologi materialisme.&amp;nbsp; 
      Penganut kosmologi materialisme dulu disebut zindiq atau mulhid (ateis), 
      sedangkan sekarang lazim disebut materialis. Ada banyak paham yang 
      membidani lahirnya materialisme, dan diantaranya yang paling kesohor ialah 
      Materialisme Dialektik yang menjadi elemen filosofis ajaran 
      Marxisme.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoPlainText" style="color: white; direction: ltr; text-align: justify; text-indent: 36pt; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;Dari 
      keterangan di atas jelas bahwa penerapan istilah kosmologi lebih luas 
      daripada istilah keyakinan atau akidah agama, karena kosmologi juga 
      meliputi paham-paham ateisme dan materialisme sedangkan akidah agama tidak 
      mencakupnya.&amp;nbsp; Ini serupa dengan istilah ideologi yang sebenarnya 
      hanya mencakup rangkaian hukum-hukum agama.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoPlainText" style="color: white; direction: ltr; text-align: justify; text-indent: 36pt; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;Agama Samawi dan 
      Ushulnya&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoPlainText" style="color: white; direction: ltr; text-align: justify; text-indent: 36pt; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;Tentang proses munculnya berbagai 
      agama para ahli sejarah agama dan sosiolog berbeda pendapat.&amp;nbsp; Namun, 
      berdasarkan apa yang bisa dipahami dari teks-teks keislaman (nash), agama 
      muncul sejak manusia itu ada.&amp;nbsp; Manusia pertama adalah Nabi Adam as 
      yang merupakan nabi penyeru Tauhid (monoteisme), sedangkan keberadaan 
      agama–agama yang mengandung paham-paham syirik (politeisme) tak lain 
      adalah akibat penyelewengan, distorsi, dan tendensi-tendensi individual 
      maupun kelompok.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoPlainText" style="color: white; direction: ltr; text-align: justify; text-indent: 36pt; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;Agama-agama monoteisme yang merupakan 
      agama samawi dan hakiki memiliki tiga prinsip universal yang 
      kolektif.&amp;nbsp; &lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, keyakinan kepada Tuhan Yang Esa. 
      &lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, keyakinan kepada kehidupan yang abadi untuk setiap manusia 
      di alam akhirat serta ganjaran dan pahala untuk setiap perbuatannya ketika 
      hidup di alam dunia.&amp;nbsp; &lt;i&gt;Ketiga&lt;/i&gt;, keyakinan kepada 
      pengutusan&amp;nbsp; para Nabi oleh Allah SWT untuk menuntun umat manusia 
      kepada kesempurnaan dan kebahagiaan dunia dan akhirat. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoPlainText" style="color: white; direction: ltr; text-align: justify; text-indent: 36pt; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;Tiga 
      prinsip ini pada hakikatnya adalah jawaban untuk beberapa pertanyaan 
      fundamental untuk setiap orang yang arif dan bijak yaitu, apa dan siapakah 
      kausa prima atau sumber pertama wujud alam semesta ini?&amp;nbsp; Apakah akhir 
      dari kehidupan ini?&amp;nbsp; Dan apakah yang bisa dijadikan sebagai jalur 
      terbaik untuk menjalani program hidup?&amp;nbsp; Adapun kandungan program yang 
      dapat dipelajari dari jalur wahyu yang terjamin kebenarannya tak lain 
      ialah ideologi religius yang terbangun berlandaskan kosmologi 
      teisme.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoPlainText" style="color: white; direction: ltr; text-align: justify; text-indent: 36pt; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;Keyakinan-keyakinan prinsipal 
      memiliki berbagai konsekwensi, korelasi, akses, dan rincian-rincian yang 
      keseluruhannya membentuk konsetalasi keyakinan religius.&amp;nbsp; 
      Perselisihan dalam hal-hal inilah yang menumbuh-biakkan berbagai aliran 
      keagamaan, mazhab, dan sekte.&amp;nbsp; Perselisihan mengenai status kenabian 
      sebagian nabi serta penentuan kitab suci yang valid, misalnya, telah 
      memicu perselisihan antara agama-agama Yahudi, Kristen, dan Islam.&amp;nbsp; 
      Perselisihan ini kemudian membawa akses berupa perselisihan-perselihan 
      lain dalam keyakinan dan tradisi yang sebagian diantaranya tidak sejalan 
      dengan keyakinan-keyakinan prinsipal.&amp;nbsp; Contohnya adalah keyakinan 
      trinitas dalam agama Kristen yang jelas-jelas berseberangan dengan paham 
      monoteisme, walaupun umat Kristiani tetap berusaha mengemas keyakinan 
      trinitas ini dengan penjelasan-penjelasannya sendiri.&amp;nbsp; Dalam 
      Islampun, umat Nabi Besar Muhammad saww juga terpecah menjadi Ahlussunnah 
      dan Syiah akibat perselisihan mengenai mekanisme penentuan para pengganti 
      Rasul saww.&amp;nbsp; Syiah meyakini bahwa yang berhak menentukannya hanyalah 
      Allah SWT, sementara Ahlussunnah meyakini bahwa yang menentukannya adalah 
      umat Islam sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoPlainText" style="color: white; direction: ltr; text-align: justify; text-indent: 36pt; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;Alhasil, 
      Tauhid, kenabian, dan hari kebangkitan adalah keyakinan yang paling 
      fundamental dan prinsipal dalam semua ajaran agama 
      samawi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoPlainText" style="color: white; direction: ltr; text-align: justify; text-indent: 36pt; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;Masalah Masalah Prinsipal 
      Kosmologis&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoPlainText" style="color: white; direction: ltr; text-align: justify; text-indent: 36pt; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;Ketika manusia berniat memecahkan 
      berbagai persoalan fundamental kosmologis dan mengenal ushuluddin yang 
      benar, pertanyaan yang pertama kali mencuat ialah apakah jalan pemecahan 
      masalah-masalah ini?&amp;nbsp; Bagaimanakah pengetahuan-pengetahuan yang 
      fundamental bisa diserap dengan benar? Di tengah berbagai metode yang ada, 
      metode manakah yang valid untuk memperoleh pengatahuan-pengetahuan ini? 
      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoPlainText" style="color: white; direction: ltr; text-align: justify; text-indent: 36pt; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;Semua 
      pertanyaan ini dibahas secara rinci dalam epistemologi, yaitu satu 
      disiplin ilmu yang menganalisis dan mengevaluasi berbagai pengetahuan dan 
      metode penalaran manusia dalam memperoleh pengetahuan.&amp;nbsp; Kita di sini 
      akan membicarakan masalah ini sekadarnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoPlainText" style="color: white; direction: ltr; text-align: justify; text-indent: 36pt; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;Berbagai Jenis 
      Pengetahuan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoPlainText" style="color: white; direction: ltr; text-align: justify; text-indent: 36pt; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;Dari satu aspek tertentu 
      pengetahuan-pengetahuan manusia bisa diklasifikasikan ke dalam empat 
      kategori:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoPlainText" style="color: white; direction: ltr; text-align: justify; text-indent: 36pt; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;, pengetahuan empiris. Pengetahuan 
      ini diperoleh manusia dengan mengandalkan organ-organ inderawi, kendati 
      akal juga berperan dalam eksepsi dan generalisasi pengetahuan-pengetahuan 
      empiris.&amp;nbsp; Pengetahuan empiris difungsikan dalam ilmu-ilmu empiris 
      semisal kimia, fisika, dan biologi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoPlainText" style="color: white; direction: ltr; text-align: justify; text-indent: 36pt; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;, pengetahuan rasional.&amp;nbsp; 
      Pengetahuan ini dibentuk oleh konsepsi-konsepsi yang diserap oleh akal 
      pikiran.&amp;nbsp; Dalam pengetahuan ini peranan akal sangat fundamental 
      kendati adakalanya persepsi-persepsi empiris masih digunakan sebagai 
      sumber serapan konsepsi atau digunakan sebagai bagian dari premis dalam 
      silogisme.&amp;nbsp; Ruang gerak pengetahuan ini meliputi ilmu logika, ilmu 
      filsafat, dan ilmu matematika.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoPlainText" style="color: white; direction: ltr; text-align: justify; text-indent: 36pt; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;,&amp;nbsp; pengetahuan yang diterima 
      begitu saja (&lt;i&gt;ta’abbudi)&lt;/i&gt;.&amp;nbsp; Pengetahuan ini memiliki aspek 
      sekunder dengan pengertian bahwa ilmu ini didapat berdasarkan 
      pengetahuan-pengetahuan sebelumnya yang sudah dibuktikan sebagai sumber 
      yang valid dan punya otoritas. Dengan kata lain pengetahuan ini diperoleh 
      dari berita yang disampaikan oleh pembawa kabar yang terbukti bisa 
      dipercaya. Contoh kongretnya adalah pengetahuan yang diperoleh para 
      penganut agama dari pemuka agamanya.&amp;nbsp; Pengetahuan ini adakalanya 
      membentuk keyakinan yang jauh lebih kuat daripada keyakinan-keyakinan yang 
      diperolehnya dari pengalaman-pengalaman empiris.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoPlainText" style="color: white; direction: ltr; text-align: justify; text-indent: 36pt; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;Keempat, 
      pengetahuan intuitif (&lt;i&gt;syuhudi&lt;/i&gt;).&amp;nbsp; Tak seperti&amp;nbsp; tiga 
      kategori pengetahuan di atas, pengetahuan ini bersentuhan langsung dengan 
      obyeknya tanpa perantara gambaran subyetif.&amp;nbsp; Karena itu, ilmu atau 
      pengetahuan ini tidak mungkin salah.&amp;nbsp; Namun demikian, biasanya apa 
      diklaim sebagai ilmu syuhudi atau irfani pada hakikatnya adalah 
      interpretasi subyektif dari sesuatu yang telah disaksikan.&amp;nbsp; 
      Interpretasi inilah yang bisa salah.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoPlainText" style="color: white; direction: ltr; text-align: justify; text-indent: 36pt; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;Berbagai Jenis 
      Kosmologi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoPlainText" style="color: white; direction: ltr; text-align: justify; text-indent: 36pt; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;Berdasarkan klasifikasi di atas, 
      kosmologi bisa dibagi dalam empat bagian sebagai 
berikut:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoPlainText" style="color: white; direction: ltr; text-align: justify; text-indent: 36pt; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;, kosmologi ilmiah.&amp;nbsp; Maksudnya 
      ialah manusia membangun kosmologi universalnya mengenai alam semesta 
      berdasarkan hasil-hasil ilmu pengetahuan empiris.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoPlainText" style="color: white; direction: ltr; text-align: justify; text-indent: 36pt; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;, kosmologi filosofis yang dicapai 
      melalui proses argumentasi-argumentasi rasional.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoPlainText" style="color: white; direction: ltr; text-align: justify; text-indent: 36pt; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;, kosmologi yang diperoleh melalui 
      keimanan kepada para pemimpin agama sehingga semua kata-kata mereka 
      diyakini sebagai kebenaran.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoPlainText" style="color: white; direction: ltr; text-align: justify; text-indent: 36pt; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;Keempat&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;, kosmologi irfani yang diperoleh 
      melalui jalur intuisi atau &lt;i&gt;mukasyafah, syuhud, dan isyraq&lt;/i&gt;. 
      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoPlainText" style="color: white; direction: ltr; text-align: justify; text-indent: 36pt; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;Pertanyaannya sekarang ialah apakah 
      semua masalah fundamental kosmologis bisa dipecahkan secara seimbang 
      melalui semua bagian kosmologi di atas?&amp;nbsp; Ataukah ada satu diantaranya 
      yang harus diprioritaskan atas yang lain?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoPlainText" style="color: white; direction: ltr; text-align: justify; text-indent: 36pt; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;Evaluasi dan Tinjauan 
      Kritis&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoPlainText" style="color: white; direction: ltr; text-align: justify; text-indent: 36pt; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;Seperti diketahui, ruang gerak 
      pengetahuan empiris hanya terbatas pada fenomena-fenomena alam materi. 
      Maka dari itu, hasil-hasil ilmu empiris tidak bisa mengenal 
      fondasi-fondasi kosmologi dan menyelesaikan masalah-masalah kosmologis 
      yang letaknya berada di luar peta ilmu pengetahuan empiris.&amp;nbsp; Ilmu 
      empiris tidak bisa mengisbatkan atau menafikannya. Hasil-hasil riset di 
      laboratorium, misalnya, tidak akan bisa mengkonfirmasikan atau menolak 
      keberadaan Tuhan.&amp;nbsp; Ini tak lain karena pengalaman empiris sama sekali 
      tidak akan bisa menjangkau alam immateri dan oleh sebab itu pengalaman ini 
      jelas tidak akan bisa mengisbatkan atau menafikan sesuatu yang berada di 
      luar zona alam materi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoPlainText" style="color: white; direction: ltr; text-align: justify; text-indent: 36pt; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;Dengan 
      demikian, kosmologi empiris lebih menyerupai fatamorgana.&amp;nbsp; Karenanya, 
      kata-kata ‘kosmologi’ dalam pengertian yang sebenarnya tidak bisa 
      diterapkan pada pandangan-pandangan universal empiris.&amp;nbsp; Kita hanya 
      bisa menyebutnya sebagai&amp;nbsp; Ilmu Pengetahuan Alam Materi.&amp;nbsp; Jadi, 
      ilmu ini tidak akan bisa menjawab berbagai persoalan prinsipal menyangkut 
      kosmologi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoPlainText" style="color: white; direction: ltr; text-align: justify; text-indent: 36pt; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;Pengetahuan-pengetahuan&amp;nbsp; 
      ta’abbudi juga demikian.&amp;nbsp; Sebagaimana yang dijelaskan tadi, 
      pengetahuan ta’abbudi bersifat sekunder dalam pengertian bahwa pengetahuan 
      ini bisa diyakini setelah sumbernya bisa dibuktikan valid 
      sebelumnya.&amp;nbsp; Jadi, sebelumnya harus bisa dibuktikan kenabian 
      seseorang yang menjadi nara sumber pengetahuan itu.&amp;nbsp; Sebelum ini pun 
      harus pula dibuktikan keberadaan Tuhan, Zat yang mengutus nabi untuk 
      membawa kabar (baca: pengetahuan).&amp;nbsp; Dan keberadaan Pengutus nabi 
      serta kenabian orang yang diutus-Nya jelas tidak bisa dibuktikan dengan 
      pesan (baca: pengetahuan) yang dibawa oleh nabi.&amp;nbsp; Misalnya, 
      keberadaan Tuhan tidak bisa kita buktikan dengan pernyataan 
      Al-Quran:“Tuhan itu ada”. Dengan demikian, metode ta’abbudi juga tidak 
      bisa menyelesaikan masalah-masalah prinsipal kosmologis.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoPlainText" style="color: white; direction: ltr; text-align: justify; text-indent: 36pt; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;Adapun 
      berkenaan dengan motode irfani, syuhudi, intiusi, atau yang juga disebut 
      mistis kita perlu memberikan penjelasan secara agak detail melalui 
      beberapa poin sbb:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoPlainText" style="color: white; direction: ltr; text-align: justify; text-indent: 36pt; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;,&amp;nbsp; Kosmologi adalah pengetahuan 
      yang terdiri dari konsepsi-konsepsi subyektif (&lt;i&gt;mafahim dzihniah&lt;/i&gt;), 
      sementara dalam intuisi sama sekali tidak ada &lt;i&gt;mafahim 
      dzihniah&lt;/i&gt;.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoPlainText" style="color: white; direction: ltr; text-align: justify; text-indent: 36pt; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;, untuk menjelaskan dan 
      menginterpretasi apa yang diketahui seseorang dengan jalan intuisi 
      sangatlah memerlukan kepiawaian yang besar dalam berpikir, dan ini tidak 
      akan bisa dicapai kecuali dengan latar belakang jerih payah berpikir dan 
      analisis-analisis filosofis yang panjang.&amp;nbsp; Jika tidak, maka seseorang 
      yang mengalami intuisi akan terjebak pada penggunaan kata-kata yang ambigu 
      sehingga bisa menjadi penyebab timbulnya kesesatan dan 
      penyelewenangan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoPlainText" style="color: white; direction: ltr; text-align: justify; text-indent: 36pt; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;, dalam banyak kasus, hakikat yang 
      diketahui seseorang melalui intuisi bisa mengundang kebingungan bagi orang 
      ini sendiri manakala dia mencoba memberikan refleksi dan interpretasi 
      subyektif.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoPlainText" style="color: white; direction: ltr; text-align: justify; text-indent: 36pt; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;Keempat&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;, diketahuinya hakikat-hakikat yang 
      setelah diinterpretasikan oleh pikiran bisa kita sebut kosmologi 
      bergantung kepada proses penempuhan jalan suluk, sedangkan penerimaan 
      metode suluk ini sendiri juga memerlukan teori-teori dasar dan 
      masalah-masalah prinsipal dalam kosmologi.&amp;nbsp; Jadi, masalah-masalah ini 
      harus terpecahkan terlebih dahulu sebelum dimulai perjalanan suluk, 
      sedangkan pengetahuan-pengetahuan intiusi berada pada tahap yang paling 
      akhir. Suluk, irfan, atau yang disebut tasawwuf hanya akan bisa dialami 
      oleh seseorang jika dia benar-benar ikhlas berusaha menempuh jalan Allah 
      SWT,&amp;nbsp; dan usaha ini hanya bisa ditempuh oleh yang orang yang memiliki 
      pengetahuan sebelumnya tentang Allah dan jalan pengabdian 
      kepada-Nya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoPlainText" style="color: white; direction: ltr; text-align: justify; text-indent: 36pt; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;Kesimpulan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoPlainText" style="color: white; direction: ltr; text-align: justify; text-indent: 36pt; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;Setelah 
      semua metode di atas terbukti tidak bisa difungsikan dalam penyelesaian 
      masalah-masalah prinsipal kosmologis, maka tinggallah satu jalan yang bisa 
      dijadikan alternatif, dan itu ialah jalan penalaran rasional.&amp;nbsp; Dengan 
      begitu, maka kosmologi yang yang valid dan realistis ialah kosmologi 
      filosofis.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoPlainText" style="color: white; direction: ltr; text-align: justify; text-indent: 36pt; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;Sungguhpun demikian, ini bukan 
      berarti bahwa untuk menemukan kosmologi&amp;nbsp; yang benar semua 
      persoalan-persoalan filosofis harus bisa dipecahkan.&amp;nbsp; Sebaliknya, 
      pemecahan beberapa persoalan filosofis yang sederhana dan mendekati 
      aksiomatis sudah cukup untuk membuktikan keberadaan Tuhan yang merupakan 
      masalah yang paling fundamental dalam kosmologi.&amp;nbsp; Selain itu, 
      menjadikan metode penalaran rasional (&lt;i&gt;ta’aqqul&lt;/i&gt;)&amp;nbsp; sebagai 
      satu-satunya alternatif&amp;nbsp; bukan berarti bahwa&amp;nbsp; metode-metode lain 
      tidak bisa dimanfaatkan untuk menyelesaikan masalah-masalah kosmologis, 
      karena banyak sekali argumentasi-argumentasi rasional yang bisa 
      dikemukakan melalui premis-premis yang didapat dari ilmu-ilmu empiris dsb. 
      (Artikel ini disadur dari buku Amuzashe Aqaid yang ditulis&amp;nbsp; Ayatullah 
      Misbah Yazdi untuk para pemula pelajar akidah.)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoPlainText" style="color: white; direction: ltr; text-align: justify; text-indent: 36pt; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoPlainText" style="color: white; direction: ltr; text-align: justify; text-indent: 36pt; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: Times New Roman;"&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://www2.irib.ir/worldservice/melayuRADIO/islamalogi/kosmologi.htm"&gt;Sumber : irib.ir&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>LOGIKA TINDAKAN; Membangun Sistem Nilai Religius</title><link>http://andikfn.blogspot.com/2012/08/logika-tindakan-membangun-sistem-nilai.html</link><category>artikel</category><author>noreply@blogger.com (ANDIK FN)</author><pubDate>Thu, 2 Aug 2012 07:48:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6659801012355790768.post-5052113915179447583</guid><description>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Iman bukan pengetahuan.
 Iman adalah produk pengetahuan, yaitu pengetahuan yang demonstratif. 
Pengetahuan tanpa dalil masih perlu diproses akal atau piranti kognitif 
lainnya. Hanya pengetahuan yang terbuktikan yang siap hadir di kalbu. 
Namun, kesiapan (objektif) pengetahuan ini tidak cukup membuat kalbu 
menyambut kehadirannya. Ada sebagian dokter jantung yang merokok dan 
tahu dampak buruk tindakan itu. Hanya kalbu yang tulus dan insaf yang 
bisa menerima kehadiran pengetahuan argumentatif. Ketika itulah lahir 
iman di kalbu.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
——————————————-&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;LOGIKA TINDAKAN; Membangun Sistem Nilai Religius&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;
Ammar Fauzi Heryadi&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;em&gt;Tidak sekedar berbuat, lalu mati&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;em&gt;Tapi, Anda mesti tahu ! Mengapa?&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;em&gt;Alfred Lord Tennyson (1892)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;

&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Dalam pengertian 
Arestotelian, logika didefinisikan dengan sejumlah kaidah yang 
me-ma’sum-kan manusia dalam proses berfikir. Kata “berfikir” tersebut di
 akhir tadi, menegaskan bahwa kaidah-kaidah logika yang dikuak 
Arestoteles mengatur satu dimensi kehidupan manusia, yaitu kehidupan 
teoritis.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Secara adil, 
Arestoteles menyusun logika kehidupan praktis manusia, secara lebih 
khusus, dalam magnum opus-nya, Nikomachucian Ethica. Rangkaian 
kaidah-kaidah praktis dirajut dalam bingkai “The Golden Means” yang 
menekankan keseimbangan di antara dua titik ekstrimitas. Tentu, teori 
itu bukan yang terbaru pada masanya. Guru gurunya, Sokrates, malah sibuk
 dan menyibukkan masyarakat Athena dengan mencari-cari kaidah praktis, 
ketimbang mendiskusikan arche atau isu-isu teoritis lainnya.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Dengan demikian, sudah 
dilakukan upaya-upaya menemukan kaidah-kaidah kehidupan praktis manusia 
yang tidak kalah pentingnya dengan kaidah-kaidah kehidupan teoritisnya. 
Kalau kehidupan teoritis berkutat di permasalahan “Bagaimana menemukan 
kebenaran?”, maka kehidupan praktis bertawaf di permasalahan “Bagaimana 
menemukan kebaikan?”. Di sinilah logika praktis mendapatkan ruang 
geraknya.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Permasalahan awal yang 
muncul di sini adalah, “Apakah kehidupan praktis manusia?”. Lebih 
sederhana lagi, “Apakah tindakan manusia?”.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Tindakan Sengaja&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Tindakan adalah proses 
yang dijalani manusia, sebagai pelaku, dalam mencapai suatu tujuan. Ada 
tiga anasir di dalam tindakan; proses, pelaku dan tujuan. Sebagai sebuah
 proses, tindakan punya titik awal dan titik akhir. Titik akhir tindakan
 adalah tujuan itu. Lalu, apakah titik awal tindakan?&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Tindakan manusia akan lahir setelah melalui empat jenjang;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
1. Pengetahuan (hudzuri
 dan husuli). Bahwa manusia mengetahui tujuan tindakannya dan hal-hal 
yang mengarah kepada tujuan tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
2. Motivasi. 
Pengetahuan itu disusul oleh dorongan hasrat (keinginan) dirinya untuk 
mencapai tujuan yang diketahuinya. Hasrat itu beragam, sebanyak 
sumbernya; tuntutan-tuntutan fisiologis, kecenderungan-kecenderungan 
instingsial, kecondongan-kecondongan intuitif, tendensi-tendensi 
emosional, yang semuanya adalah serpihan-serpihan dari sebauh naluri, 
yaitu ingin kekal dan ingin sempurna yang disingkat menjadi cinta diri, 
sebagai naluri induk yang terpatri pada diri manusia. Maka, sesorang 
hanya akan menginginkan sesuatu yang sesuai dengan tuntutan naluri cinta
 diri. Dan sebaliknya, ia tidak akan terdorong untuk melakukan tindakan 
yang mengancam kelanggengan hidupnya, mengurangi atau menjauhkan suatu 
kesempurnaan dari dirinya. (al-maidah, 105- al-hasyr 18).&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
3. Kehendak. Tatkala 
manusia tahu dan termotivasi (oleh cinta diri) untuk bertindak, ketika 
itu pula ia akan menghendaki tindakan itu secara puas, suka rela dan 
bebas.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
4. Kemampuan. Tindakannya bersifat aktif, bukan pasif.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Dengan demikian, 
pertama: asal-usul tindakan manusia adalah pengetahuan, motivasi, 
kehendak dan kemampuan. Inilah yang disebut tindakan sengaja 
(ikhtiyari). Jadi, tindakan sengaja adalah tindakan yang disadari, 
diingini dan dikehendaki pelakunya serta bersifat aktif. Sementara, 
tindakan yang minus satu dari empat jenjang di atas adalah tindakan tak 
sengaja. Ngantuk, ngigau, degup jantung, minum secara terpaksa, 
mendengar secara pasif (terdengarnya sesuatu), adalah sebagian corak 
tindakan tak sengaja. Maka, ada dua macam tindakan manusia; tindakan 
sengaja dan tindakan tak sengaja.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Kedua: ada keterkaitan 
di antara, paling tidak, dua jenjang pertama. Mula-mula manusia tahu dan
 menyadari suatu kekurangan pada dirinya atau suatu kesempurnaan di luar
 dirinya, lalu naluri cinta dirinya membangkitkan hasrat untuk mengatasi
 kekurangan itu atau mengejar kesempurnaan tersebut. Oleh karena itu, 
manusia bertindak karena cinta dirinya atau egoisme.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Ketiga: berdasarkan 
poin kedua tadi, bahwa manusia bertindak demi memenuhi egoismenya. Maka,
 tujuan tindakannya adalah kepentingan diri sendiri. Tegasnya, titik 
akhir atau tujuan tindakan manusia adalah kepentingan diri sendiri 
(self-interested). .&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Keempat: tindakan 
sengaja bermuatan nilai baik atau buruk. Semua contoh di atas tadi tidak
 punya nilai (zero value). Ngigau dan kawan-kawannya itu tidak baik, 
juga tidak buruk.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Permasalahan yang 
muncul di sini adalah “Apakah tindakan sengaja yang baik dan tindakan 
sengaja yang buruk?”. Singkatnya, “Apakah kebaikan dan keburukan?”.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Kebaikan dan Keburukan&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Kebaikan adalah 
tindakan yang tersanjung. Dan, keburukan adalah tindakan yang terhujat. 
Tentu, pengertian ini tidak lebih dari syarhul ism (lexical; penjelasan 
harfiah). Tapi juga, terlalu dini berusaha mencari pengertian yang lebih
 cermat sebelum menuntaskan permasalahan berikut ini; “Adakah kebaikan 
dan adakah keburukan?”&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Dari pengertian di atas
 tadi jelas bahwa kebaikan dan keburukan adalah nilai praktis bagi 
tindakan. Jika dituangkan ke dalam bentuk statemen, maka kebaikan dan 
keburukan akan merebut posisi predikat. Misalnya, menolong adalah baik, 
keadilan adalah baik. Sikap acuh adalah buruk, kezaliman adalah buruk.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Masalahnya, “Bagaimana 
manusia mengetahui tindakan ini baik dan tindakan itu buruk?”. “Mengapa 
keadilan itu dinilai baik, sementara kezaliman itu dinilai buruk?”.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Ada yang memandang 
bahwa kebaikan adalah tindakan yang dikehendaki dan diperintah oleh si 
penyampai. Sedangkan keburukan adalah tindakan yang tidak dikehendaki 
atau dilarangnya. Jadi, keadilan itu baik karena sesuai dengan kehendak 
dan selera si penyampai. Begitupula, kezaliman itu buruk karena tidak 
sesuai dengan kehendak dan seleranya. Kebaikan atau keburukan hanya 
produk selera dan kehendak subjektif. Kedua nilai ini tidak ada 
kaitannya dengan realitas objektif, tetapi bergantung penuh kepada 
selera subjektif. Dan, manusia, dengan perangkat pengetahuan yang 
dimilikinya, tidak bisa mengetahui kebaikan atau keburukan suatu 
tindakan. Maka, ‘keadilan adalah baik’ atau ‘kezaliman adalah buruk’ 
adalah dua statemen afirmatif (khabariyah) yang tidak berfakta, dan 
tentunya tidak pula bisa dinilai benar atau salah. Oleh karena itu, 
statemen di atas semestinya dituangkan ke dalam bentuk normatif 
(insyaiyah); “Bersikap adillah!” dan “Jangan berlaku zalim!”. Dengan 
demikian, pandangan ini menyatakan bahwa kebaikan dan keburukan tidak 
ada objektifitasnya, tidak ada fakta riel di luar. Kebaikan dan 
keburukan bukan kualtias atau atribut faktual yang disandang oleh 
tindakan atau entitas. Dan, akal manusia dengan sendirinya tidak bisa 
mengetahuinya secara objektif, karena kebaikan dan kebuirukan bergantung
 pada kehendak dan selera si penyampai. Pandangan ini menjawab negatif 
atas dua pertanyaan di atas.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Siapakah penyampai itu?
 Kehendak dan selera siapakah yang menentukan nilai tindakan? Adalah 
pertanyaan singkat yang membedah-bedah tubuh pandangan nonkognitif di 
atas. Kaburnya personifikasi penyampai melahirkan sub-sub, mulai dari 
imperativisme, preskriptivisme, hingga volunterisme teologis.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Kekaburan itu lebih 
kabur lagi tatkala kehendak dan hasrat penyampai tidak atau belum 
tertangkap audeins (pelaku). Ketika itu tidak ada tindakan yang bisa 
dinilai baik buruknya oleh si pelaku (?!).&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Akhirnya, pandangan ini
 secara naif menyelaraskan dirinya dengan relatifitas nilai. ketika 
kebaikan dan keburukan ditentukan oleh kehendak dan hasrat penyampai, 
ketika itu pula kedua nilai tindakan itu menjadi tidak menentu dengan 
beragamnya penyampai dan berubah-ubahnya kehendak dan hasrat serta 
berbedanya ruang dan waktu. Ini artinya memberangus nilai-nilai itu 
sendiri.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Sebagai lampiran saja, 
dengan dasar apa harus dipatuhi kehendak subjektifnya? Yang perlu 
disadari di sini adalah bahwa kalimat normatif itu bisa kompromi dengan 
kalimat afirmatif. Ambil sebuah misal dari anjuran dokter! “Pak! 
Minumlah obat ini supaya sembuh!”. Kalimat normatif ini hendak 
menjelaskan hubungan kasualitas (dzarurah bilqiyas; keniscayaan saling) 
antara meminum obat dengan kesembuhan pasien. Artinya, selama tindakan 
meminum (sebab) itu tidak dilakukan, niscaya akibatnya (kesembuhan) 
tidak akan terjadi. Maka, tindakan meminum mesti dan harus dilakukan 
pasien untuk mendapatkan kesembuhan. Jadi, dokter dengan kalimat 
normatif itu tidak dalam rangka memprakarsai, menetapkan kesembuhan pada
 tindakan meminum obat. Ia hanya ingin menjelaskan suatu fakta, yaitu 
hubungan riel dan objektif yang ada di antara tindakan meminum obat dan 
kesembuhan pasien. Sebagai fakta, hubungan ini sudah ada dan nyata. 
Ditetapkan atau tidak, hubungan itu adalah kenyataan yang riel. 
Tentunya, kalimat itu juga bermuatan nilai benar dan salah, yaitu sesuai
 atau tidaknya kalimat tersebut dengan fakta di luar.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Dengan pendekatan di 
atas, maka “Berbuat-adillah!”, “Jangan berbuat zalim!” dan kalimat 
normatif lainnya menjelaskan fakta; hubungan kausalitas yang khas, riel 
dan objektif antara tindakan-tindakan itu dengan dampak-dampaknya 
sebagai tujuan pelaku. ‘Berbuat-adillah!’ menjelaskan bahwa keadilan 
adalah tindakan yang berdampak positif, yaitu mengarahkan pelaku kepada 
tujuan yang diinginkannya. Tindakan yang berdampak positif inilah 
sebagai kebaikan. Maka, ‘Berbuat-adillah!” ungkapan lain dari ‘Keadilan 
adalah baik’. Tentu, sebagaimana ‘keadilan adalah baik’ berfakta; 
bermuatan nilai teoritis (benar; sesuai dengan realitas objektifnya, dan
 salah; tidak sesuai dengan realitas objektif), ‘Berbuat-adillah’ juga 
berfakta. Fakta atau realitas objektif kedua ungkapan itu adalah relasi 
kausalitas (dharurah bilqiyas) yang ada di antara tindakan adil dan 
tujuan pelakunya. Jadi, uraian ini menjawab positif atas pertanyaan 
“Adakah kebaikan?”. Kebaikan itu ada, ia tidak punya ketergantungan 
kepada hasrat dan kehendak subjektif. Dikehendaki atau dibenci, kebaikan
 itu ada, yaitu relasi keniscayaan antara tindakan dengan dampak/tujuan 
yang diinginkan pelaku.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Perlu diingat kembali 
bahwa manusia bertindak karena cinta dirinya (egoisme) dan demi 
keuntungan diri sendiri (self-interest), dan bahwa keuntungan pribadi 
itu adalah tujuan tindakan sengaja. Keuntungan atau tujuan adalah 
sesuatu yang dapat memenuhi tuntutan naluri cinta diri. Di sini, ada 
relasi khas di antara naluri cinta diri dan sesuatu itu. Akal bisa 
memahami relasi khas itu dengan cara komparasi. Jika relasi itu berupa 
pemenuhan dan pemuasan sesuatu atas naluri cinta diri, maka tindakan 
yang mengarahkan si pelaku kepada sesuatu yang memuaskan itu adalah 
tindakan baik. Namun, jika relasi itu berupa pengurangan dan pengecewaan
 atau peniadaan, maka tindakan yang mengarahkan pelaku kepada sesuatu 
yang mengurangkan dan mengecewakan itu adalah tindakan buruk.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Jadi, keadilan itu baik
 (kalimat afirmatif), karena dampak tindakan ini positif; membawa pelaku
 kepada tujuan dan keuntungan pribadinya, yaitu sesuatu yang memuaskan 
naluri cinta diri. Di sini, tampak jelas adanya kompromi di antara 
kalimat afirmatif dan kalimat normatif. “Berbuat-adillah!” bisa 
diungkapkan secara afimatif menjadi “Keadilan adalah baik”, begitupula 
sebaliknya. Maka, sekali lagi, akal menjawab positif atas pertanyaan 
“Adakah kebaikan”.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Dengan uraian ini, 
jelas bahwa kebaikan dan keburukan adalah makna yang ditemukan akal dari
 komparasi dan pengamatannya terhadap hubungan khas antara tindakan 
manusia dan dampak atau tujuannya. Manusia, dengan akalnya, mampu 
mengetahui, secara objektif, baik atau buruknya suatu tindakan lewat 
komparasi dan pengamatan tersebut. Demikianlah uraian ini menjawab 
permasalahan “Bagaimana manusia mampu mengetahui baik buruknya 
tindakan?”.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Permasalahan selanjutnya adalah, “Apakah tujuan manusia?”, “Apakah keuntungan yang diharapkan manusia di balik tindakannya?&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Sebuah Pandangan &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Tentunya, tujuan dan 
keuntungan adalah domain yang membuka lebar site-site pemaknaan, seiring
 dengan hasrat manusia yang berbeda-beda, sebanyak tampilan naluri cinta
 diri pada setiap kepala. Kendati demikian, semua tujuan atau keuntungan
 bisa disederhanakan dalam satu kata; kesempurnaan. Maka, segala tujuan 
yang diharapkan manusia pasti kesempurnaan.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Tiga abad silam, situs 
emosionalisme/emotivisme telah diluncurkan Adam Smith. Di dalamnya, ia 
menekankan tenggang rasa atau cinta sesama (altruisme) sebagai alasan 
dan motivasi bertindak. Motivasi inilah yang bisa memuaskan dan menjaga 
perasaan sesama. Maka, kepuasan orang lain adalah kesempurnaan dan 
tujuan tindakan manusia.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Jadi, tindakan yang 
bermotivasi cinta sesama adalah baik dan tersanjung, karena tindakan 
yang demikian membantu pelaku untuk mencapai tujuannya, yaitu 
membahagiakan perasaan orang lain. Kasih sayang, menghormati, tolong 
menolong, berbuat baik, adalah tindakan-tindakan baik, karena dapat 
menyenangkan memuaskan orang lain. Sebaliknya, tindakan yang bermotivasi
 cinta diri, egoisme, menmentingkan diri sendiri, pasti terhujat dan 
buruk, karena dengan motivasi ini, ia tidak akan bisa menjaga perasaan 
orang. Ini artinya menentang tujuan pelaku.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Smith menegaskan bahwa 
tindakan sengaja ini mesti bersifat sosial, pelakunya di dalam interaksi
 sosial. Maka, tindakan dan kehidupan individual manusia kekosongan 
nilai, tidak ada kebaikan atau keburukan di dalamnya. Lalu, logika apa 
yang diterapkan dalam kehidupan individual? Mungkin anak-anak Smith yang
 menuntaskannya.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Sayangnya, ia tidak 
menjelaskan alasan memilih motif emosional (tenggang rasa, kasih sayang,
 dll.) diangkat sebagai norma pencapaian tujuan, sementara ada 
motif-motif lain seperti insting dan naluri/fitrah pada diri manusia. 
Bahkan, ia pun tidak sempat menuturkan alasannya mengklaim kepuasan 
orang lain sebagai tujuan pelaku.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Ajaibnya, ia malah 
menganjurkan tindakan yang bermotif tengang rasa, padahal Ridhonnaas 
ghoyatun la tudrok. Kepuasaan setaip orang adalah penantian yang tidak 
akan bisa dipenuhi. Ketika Bertrand Russell membedakan manusia dengan 
binatang berdasarkan hasrat batinnya yang tak terbatas, Smith masih 
‘berkhayal’ sanggup mengisi hasrat demikian itu dengan kemampuannya 
yang, tentunya, terbatas. Ingat! Hasrat itu bukan satu warna tok! 
Banyaknya sejumlah sidik jari manusia. Kalau tenggang rasa itu masih 
mungkin di hadapan merah dan orange (?!), maka ia menjadi mustahil di 
hadapan hitam dan putih, untuk tidak bersikap munafik.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Konyolnya, ia bahkan 
menuding motif cinta diri, yang merupakan naluri induk motif-motif lain,
 termasuk motif cinta sesama, sebagai awal keburukan. Jika anak-anak 
Smith itu ditanya “Mengapa anda berjabatan tangan dengan wanita yang 
bukan muhrim?” Ia tangkas menjawab, “Karena cinta sesama, menjaga 
perasaannya supaya tidak terlukai”. Romantis sekali! Namun, jika 
dicecar, “Mengapa perasaannya tidak boleh terlukai?”. Mungkin sebagian 
mereka akan berbisik-bisik satu sama lain, “Ya, kalau perasaan dia 
terluka, perasaan-ku juga terluka”. Sementara sebagian lainnya tampil 
intetektual, “Bukan itu, tapi karena kemanusiaan, setiap manusia 
(termasuk aku) ingin perasaan dirinya terjaga”. Adapula yang tampil 
alim; “Bukan itu, tapi karena agama-Ku, mazhab-Ku, atau akhlak-Ku 
menganjurkannya”. Ternyata, mereka semua terjerat kata ‘ingin diri’ dan 
ku-ku-ku itu. Sedangkan kata kemanusiaan tidak berarti tatkala induk 
ayam mengurung anak-anaknya dengan kedua sayapnya dari intaian elang. 
Cinta sesama masih bisa kita lihat pada binatang.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Akhirnya, pada titik 
yang paling mengenaskan, tidak ada satupun dari mereka yang boleh 
mengomentari kritik apapun, dari siapapun, apalagi mentilawahkan 
ayat-ayat sang bapak, karena akan melukai semua orang yang berbeda 
pandangan. Mereka hanya punya dua pilihan, satu dari Apicurus, sang 
skeptis sejati, untuk bungkam mulut sambil esktasi dalam ataraxia, dan 
satu lagi dari mutasawwif untuk mengeram di menara gading sambil menanti
 nirvana.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Aditujuan&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Dari penyadaran di 
atas, kita temukan bahwa cinta sesama dan kepuasan selain tidak bisa 
dipatok jadi norma nilai tindakan. Cinta diri masih lebih pantas untuk 
diangkat sebagai norma dan tujuan, karena ia menjadi landasan, bukan 
hanya untuk cinta sesama, tetapi untuk emosi dan insting lainnya. Aljam’
 mahma amkan aula. Cinta sesama hanya mampu menempatkan dirinya sebagai 
media-tujuan. Dengan demikian, ada dua macam tujuan; pertama, aditujuan,
 yaitu tujuan akhir di balik semua tindakan sengaja, dan kedua, 
media-tujuan, yaitu tindakan sengaja yang mendekatkan pelaku kepada 
aditujuan.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Maka, pertanyaan yang 
mesti dicermati adalah “Apakah aditujuan hidup manusia?”. Tidak syak 
lagi, bahwa akal manusia mampu mengetahui baik buruknya suatu tindakan 
lewat komparasi dan pengamatannya terhadap relasi tindakan tersebut 
dengan tujuan (baca: aditujuan) pelakunya.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Tanpa lutayya wallati, 
aditujuan itu adalah kesempurnaan terbesar. Sekali lagi, kesempurnaan 
adalah kata yang memberikan peluang pemaknaan beragam. Manakah pemaknaan
 yang benar? Manakah kesempurnaan terbesar manusia? Pertanyaan ini bukan
 lagi praktis, tapi lebih merupakan teoritis. Di sinilah kita temukan 
garis sambung antara tindakan dengan pemikiran, atau -meminjam istilah 
Syariati- antara ideologi dengan pandangan dunia.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Merujuk kepada 
data-data teologis, bahwa kesempurnaan yang hakiki, mutlak dan tak 
terbatas adalah Tuhan (Q. 22/64). Dialah dzat yang maha esa, maha kaya, 
dan pemurah wujud kepada makhluk-Nya (Q.35/15). Dialah rabbul alamiin, 
maha pengatur, maha pemelihara, pemilik mutlak alam semesta, penguasa 
dan pemerintah mutlak alam jagat raya. Maka, perjumpaan dengan Tuhan 
adalah kesempurnaan terbesar manusia (Q.53/42-Q.84/6).&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Secara subjektif, 
manusia cinta diri sendiri. Cinta diri adalah naluri induk bagi 
kecenderungan dan tendensi batin lainnya. Ia adalah sumber hasrat, 
keinginan dan dorongan batin lainnya untuk bertindak dan berusaha meraih
 apa saja yang dituntutnya. Naluri ini tidak pernah puas dengan 
kenikmatan terbatas (Q.70/19-21). Ia selalu menuntut yang lebih dari 
kepuasaan terakhir yang digenggamnya. Seabrek kenikmatan yang diraih 
tidak membuatnya tuwuk. Tuntutannya malah semakin menjadi-jadi, hingga 
menembus langit-langit keterbatasan. Ia membangkitkan penantian dan 
hasrat yang tak terhingga. Ia cenderung kepada kesempurnaan yang absolut
 (Q.100/8). Maka, perjumpaan dengan kesempuranaan demikian itu adalah 
kepuasaan terbesar bagi naluri cinta diri setiap manusia.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Jadi, manusia secara 
objektif dan subjektif, dapat melacak kesempurnaan terbesarnya, yaitu 
perjumpaan dengan sumber wujudnya. Permasalahannya adalah bisakah 
manusia merealisasikan perjumpaan itu? Bisakah ia meraih kepuasan dan 
kesempurnaan terbesar yang diketahuinya itu? Adalah percuma mencari dan 
menentukan sesuatu sebagai aditujuan kalau ternyata tidak bisa diraih. 
Tidak realistis.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Jelas, bahwa mengetahui
 saja, tanpa bisa menikmati hanya akan menyisakan penantian merana, 
hasrat buta dan putus asa. Naluri cinta diri sebagai sarana vital 
kehidupan manusia menjadi sia-sia, fungsinya menjadi sumber penderitaan 
mendalam. Di sini, hikmah dan kepedulian Tuhan menjawab positif 
permasalahan, bahwa manusia bisa menemukan dan menggenggam kesempurnaan 
terbesar yang dikuaknya. Dengan kata lain, ia dapat meraih kesempurnaan 
terbesar dan perjumpaannya dengan sumber wujud. Jadi, manusia tahu 
aditujuannya, dan ada naluri yang memotivasi pencapaian aditujuan, serta
 mampu merealisasikannya. Tentunya, pencapaian demikian ini adalah 
tindakan sengaja yang bernilai baik dan tersanjung.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Dengan demikian, 
perjumpaan dan kedekatan dengan Tuhan (liqoo-ulloh) adalah aditujuan dan
 kesempurnaan nec plus ultra wujudnya. Dan, tindakan sengaja yang 
dampaknya mendongkrak pelaku menjadi lebih dekat dan berjumpa dengan 
Tuhan, adalah tindakan baik. Sebaliknya, tindakan sengaja yang dampaknya
 menjauhkan pelaku dari perjumpaan itu adalah tindakan buruk.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Permasalahannya adalah bagaimana manusia berjumpa dengan kesempurnaan terbesarnya?&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Kehidupan Egoistis&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Mengamati cinta diri 
pada tataran fungsional dan aplikatifnya, naluri ini menjadi sumber 
pergesekan dan benturan, sebanyak komponen umat manusia. Cinta diri 
menciptakan tuntutan, hasrat, kebutuhan, kebebasan yang seluas-luasnya 
pada image manusia. Cinta diri mendorong setiap empunya melibatkan apa 
saja di sekitarnya yang bisa memenuhi kebutuhan dan memuaskan 
tututannya. Sehingga, menjadi mustahil bertahan hidup dalam kesendirian 
dan keterasingan. Kodratnya menghukum dirinya sebagai political animal, 
sehingga ia terpaksa mengadakan kontrak sosial dengan selainnya, dan tak
 segan-segan melibatkan sesamanya demi kepentingan cinta diri sendiri. 
Dari cara yang paling sopan, sampai modus yang paling sadis, layaknya 
Hanibalisme, Vandalisme, hingga Homo momini lupus dalam bentuknya yang 
transparan seperti Macheavellisme, atau bentuk yang licik dan 
terselubung semisal Demokrasi, Liberal, Perdamaian, HAM, dll. Maka, ada 
perebutan kepentingan yang mau tidak mau mesti dijalani umat manusia, 
dimanapun, kapanpun.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Perebutan itu bukan 
hanya antarkomponen umat, tetapi antarumat dan komponennya sendiri. 
Jelas, ada adu dua kepentingan hidup; kepentingan pribadi dan 
kepentingan umum. Berkorban demi kepentingan umum menjadi tidak berarti,
 karena naluri cinta dirinya tidak membiarkan kehilangan kesempurnaan 
sedikitpun dari dirinya. Berdasarkan cinta diri, setiap manusia 
selalunya mendahulukan kepentingan pribadi di atas kepentingan umum. 
Dilema sosial dan egosentrisme ini tidak akan bisa diselesaikan oleh 
atau dinisbahkan kepada institusi sosial atau perangkat kekuasaan, 
karena keduanya produk sekawanan manusia yang masing-masing juga cinta 
diri. Segala chaos yang terjadi di dunia ini adalah berkah kekuatan dan 
kebebasan egoisme, sebuah naluri yang terpatri dalam kodrat manusia. 
Sejarah peradabannya tidak pernah memberikan laporan yang bisa menekan 
tensi anxiety, selain manipulasi dan pembodohan fakta. Ketika Demokrasi,
 Modernitas dan Globalisasi dianggap peradaban manusia terunggul, umat 
manusia, secara sadar atau terpaksa, tengah menyimak variabel pemalsuan 
riwayat hidup mutakhirnya.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Cinta Diri dan Agama&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Apakah manusia 
ditakdirkan menjalani sepanjang hidupnya di atas garis kesengsaraan yang
 disebabkan cinta dirinya sendiri? Adalah standar ganda alami yang 
mengistimewakan semut, lebah atau bahkan serigala di atas manusia? 
Haruskah manusia hancur karena kodrat dan nalurinya sendiri? Adalah 
pertanyaan-pertanyaan yang menggeledah naluri cinta diri itu sendiri, 
untuk segera sadar dan mengekang tuntutan, hasrat, kebutuhan dan 
kebebasannya sampai pada batas yang bisa mempertahankan eksistensinya, 
sebelum memutuskan memilih Nihilisme. Artinya, manusia dengan naluri 
cinta dirinya didudukkan pada tiga pilihan; mengulur tuntutan, hasrat 
dan kebebasan nalurinya tanpa batas yang berarti pemberangusan diri 
sendiri, atau membuang tuntutan dan hasrat itu dengan mencerabut naluri 
cinta diri sebersih-bersihnya dari dalam kodrat manusiawi, atau 
menariknya sampai pada dinding-dinding (baca: Kapitalisme, Sosialisme, 
dll.) yang bisa melindungi diri dari benturan dan kehancuran.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Mungkin bukan 
kegegabahan membiarkan naluri cinta diri mengarahkan kecenderungannya 
kepada pilihan ketiga. Naluri ini masih terpuaskan di bawah bayangan 
teduh dinding itu, kendati harus menahan gelinjang sekian hasrat dan 
ledakan sejumlah tuntutannya.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Namun, kalau hanya 
terpuaskan secara temporal dan terbatas, maka segala kepuasan yang 
didapatkan naluri di balik dinding itu tak ubahnya crack. Sitir Maulana 
Rumi, betapa banyak yang mencapai harapannya, seketika itu mereka sadar 
dengan kesulitan lain. Bagaimanapun dinding itu, dibangun sekokoh, 
seindah dan semegah mungkin, kalau konsrtuktornya adalah manusia yang 
cinta diri dan hanya untuk di dunia yang serba terbatas ini, niscaya 
dinding itu keropos, rapuh dan pasti roboh. Bayangannya tidak akan lama 
menaungi, keteduhannya segera pudar. Keindahan dan kemegahannya jadi 
nihil dan tidak berarti bagi naluri yang cenderung mengejar kepuasan 
yang tak terbatas; yaitu sebuah kepuasan yang realistis yang bisa 
direalisasikannya. Di sini, tampak kegegabahan membiarkan naluri cinta 
diri mengarahkan kecenderungannya kepada pilihan ketiga, apalagi kepada 
dua pilihan konyol sebelumnya. Lalu, di manakah kepuasan tak terbatas 
yang bisa diraih itu?, sampai kapan naluri berlindung di balik dinding 
rapuh? Haruskah manusia hancur karena hancurnya dinding itu? Fa ainaa 
tadzhabuun?&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Di sini kita temukan 
kembali benang sambung antara pandangan dunia sebagai sistem keyakinan 
(belief system) dan ideologi sebagai sistem nilai (value system). Tuhan 
yang maha bijaksana, Rabbul aalamiin, maha pemelihara dan pengatur jagat
 raya, tidak akan menyia-nyiakan kehidupan makhluknya. Dialah dzat yang 
maha peduli atas segala urusan dan perkara. Kekuasaannya lebih hebat 
dari sekedar memelihara hidup masyarakat semut di kedalaman perut 
gunung. Dia turunkan agama untuk manusia, tanpa melecehkan atau membasmi
 naluri cinta dirinya. Agama bahkan mengembangkan naluri itu dengan 
memaknai kepentingan secara lebih luas; kepentingan dunia dan akhirat. 
Addunya mazro’atul akhiroh; dunia adalah ladang, dan akhirat adalah 
hasil. Ada relasi khas yang sangat erat dan kuat antara dunia dan 
akhirat, seerat produk dan pabriknya, sekuat sebab dan akibatnya.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Agama menekankan bahwa 
kepentingan akhirat adalah khoirun wa abqo. Maka, tidak ada alasan lagi 
untuk tidak berkorban demi masyarakat. Tidak ada alasan lagi untuk tidak
 menghormati dan berkorban demi sesama. Karena, pengorbanan dan 
penghormatannya itu bukan lagi kehilangan, tetapi demi keuntungan 
dirinya yang besar, waridhwaanulllohi akbar. Agama memberikan konsep 
tentang untung dan rugi dalam porsinya yang lebih besar daripada ukuran 
materi dan perhitungan bisnis. Di dalamnya, kesulitan jadi jalan 
kemudahan, kerugian demi sesama kaum muslim, sesama umat beragama, 
sesama masyarakat, semua itu jadi jalan keuntungan, dan peduli terhadap 
kepentingan oarng lain adalah jaminan kepentingan dirinya sendiri di 
kehidupan yang lebih sempurna dan unggul. Agama menggugah naluri; 
“janganlah kau mengira mati mereka yang mengorbankan nyawa di jalan 
Allah, mereka bahkan hidup di sisi Tuhan sambil menikmati (limpahan) 
rejeki-Nya”. Agama mampu membuka cakrawala kehidupan yang bisa ditatap 
naluri lebih tajam, lebih dalam, lebih luas, sejauh jangkauan 
tatapannya. Agama mampu mengoptimalkan tuntutan cinta diri yang tak 
terbatas dan meledakkan hulu hasrat dan mengebor habis motivasi dari 
dalam jiwa untuk bertindak enerjik dan mengejar keuntungan yang tak 
terhingga. Kata Syahid Baqir Shadr ra.: Risalatul Islam Tsauriyyatul 
Fikroh.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Di sinilah puncak 
keindahan. Ada ijma di antara akal, naluri dan agama. Ada selisih kecil,
 agama mengganti motivasi itu dengan sebutan ‘niat’. La musyahata fil 
ishthilaah.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Dua Pilar Tindakan Baik &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Jadi, motivasi atau 
niat tindakan yang sesungguhnya adalah meraih keuntungan terbesar bagi 
dirinya sendiri, yaitu liqo-ullah. Dan tindakan sengaja yang dilakukan 
dengan motivasi selain perjumpaan dengan Tuhan, bukanlah kebaikan yang 
baik dan tersanjung, kendati tindakan itu dinyatakan oleh akal sebagai 
kebaikan. Hipokrasi, dalam bentuk riya atau penghianatan, adalah 
keburukan yang terhujat, kendati dzahir tindakan itu (solat, sedekah, 
setia kawan, dll) dinilai akal sebagai kebaikan. Secara dzahir, infak 
dan sogok adalah sama. Yang membedakan keduanya adalah motivasi/niat.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Tidaklah pantas kaum 
kafir itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedang mereka mengakui 
kekafiran mereka sendiri, itulah orang-orang yang sia-sia tindakannya 
dan mereka kekal di neraka. Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid 
Allah merekalah yang beriman kepada Allah dan akherat, serta tetap 
mendirikan salat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) 
selain kepada Allah, maka merekalah oang-orang yang diharapkan termasuk 
golongan yang mendapat hidayah. Apakah (orang-orang) yang memberi 
minuman kepada para panunai haji dan mengurus Masjidil haram, kamu 
samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan akherat serta 
berjuang di jalan Allah? Sungguh mereka tidak sama di sisi Allah, dan 
Allah tidak akan memberikan hidayah kepada kaum zalim. (At-Taubah 
9:17-19)&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Maka, tindakan yang 
baik terdiri atas dua pilar: pertama, secara objektif, diketahui akal 
dapat mendekatkan pelakunya kepada aditujuannya, dan kedua, secara 
subjektif, dimotivasi oleh cinta diri yang tak terbatas, yaitu 
liqo-ulloh. Dengan ungkapan lain, tindakan itu menjadi tersanjung, 
tatkala akal menilainya baik (husn fi’li: baiknya tindakan), dan 
dilakukan berdasarkan motivasi perjumpaan dengan Tuhan sebagai 
penyaluran naluri cinta dirinya yang tak terbatas (hus fa’ili: baiknya 
pelaku).&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Tentu, di sini perlu 
dibubuhkan unsur motivasi ke dalam pengertian tindakan baik dan 
tersanjung atau buruk dan terhujat yang tersebut sebelum dua tema di 
atas. Maka, tindakan baik dan tersanjung adalah tindakan sengaja yang 
lahir dari motivasi ‘liqo-ullah’ dan yang dampaknya dapat mengangkat 
pelakunya menjadi lebih dekat dan berjumpa dengan Tuhan. Sebaliknya, 
tindakan sengaja yang lahir tidak dari motivasi itu atau dampaknya 
menjauhkan pelaku dari perjumpaan itu adalah tindakan terhujat.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Agama menyebut pilar 
objektif tindakan dengan amilus-sholihat, yang selalu membuntuti Amanuu 
sebagai ungkapan dari pilar subjektif tindakan. Ini menegaskan 
kesimpulan bahwa kedua pilar itu tidak bisa dipisahkan dari tindakan 
yang baik dan tersanjung. Kehilangan satu pilar adalah ketiadaan nilai 
tindakan sengaja.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Pilar objektif adalah 
dimensi dzahir tindakan sengaja, dan pilar subjektif adalah dimensi 
batin. Memilih salah satunya, misalnya mendahulukan motivasi cinta 
sesama dan tenggang rasa tanpa peduli dengan dimensi dzahir dan 
implementasinya, ini sama artinya memisahkan kedua pilar itu, yang pada 
gilirannya tindakan sengaja itu kehilangan nilai positifnya. Dimensi 
lahir tindakan adalah perlu, seperlu dimensi batin.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Keserasian Dua Pilar&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Baru saja ditegaskan 
bahwa tindakan baik dan pelaku baik adalah dua pilar tindakan baik yang 
tersanjung; yang mendekatkan pelaku kepada aditujuannya. Keduanya selalu
 bersanding dan intim. Tentu harus ada kesesuaian di antara mereka. Kata
 orang Latin, “Non omnis fert omnio tellus”. Tidak semua tanah 
menghasilkan segala sesuatu. Padi tidak akan tumbuh di padang pasir. 
Begitupula, tidak semua tindakan baik akan terjadi dengan segala niat 
dan motivasi untuk mencapai aditujuan. Juga sebaliknya, tidak semua 
motivasi baik jadi alasan melakukan segala tindakan. Katanya filsuf, 
mesti ada sinkhiyyah; keserasian.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Maka, belajar dengan 
motivasi persaingan duniawi, misalnya, adalah tindakan buruk. Atau, 
motivasi pengalaman ruhani dengan sungkem kepada arca humanisme, 
misalnya, juga tindakan buruk. Annatijah tabiah liakhasshil muqoddimah. 
Rumah panggung akan ambruk hanya dengan keropos satu tiangnya.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Jadi, hanya tindakan 
baik (pilar objektif) dengan motivasi baik (pilar subjektif) yang 
tersanjung, yaitu punya dampak mendekatkan pelaku kepada aditujuan.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Permasalahannya adalah 
“Apakah dampak (mendekatkan) setiap tindakan baik dan setiap motivasi 
itu satu?”. Atau, “Apakah setiap tindakan baik dan motivasi baik 
melahirkan satu kebaikan ataukah beragam?”.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Gradasi Nilai dan Peran Motivasi &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Kebaikan dan keburukan 
adalah dua makna yang menyimpan gradasi (kebertanggaan). Oleh karena 
itu, ada yang baik, lebih baik, lebih lebih baik, hingga yang terbaik. 
Ada yang buruk, lebih buruk, lebih lebih buruk, hingga yang terburuk. 
Perbedaan tingkat ini berpangkal dari perbedaan pilar subjektif 
(tindakan-tindakan baik) juga dari perbedaan pilar objektif 
(motivasi/niat). Dalam misal pilar subjektif, sedekah seratus rupiah 
menjadi lebih bernilai ketimbang sedekah seribu rupiah, karena kualitas 
motivasi dan niat pelaku sedekah pertama itu lebih tinggi, lebih tulus 
dan lebih ikhlas dari niat pelaku kedua. Begitupula, menentang kebenaran
 yang bermotif angkuh menjadi lebih terhujat daripada penentangan dengan
 motivasi gurau, karena pengaruh motif angkuh lebih kuat dalam 
menjauhkan pelakunya dari aditujuan.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Imam Ali as. Pernah 
membagi muslimin di hadapan Tuhan kepada tiga kelompok, budak, pedagang 
dan pecinta. Pembagian ini lebih mengacu kepada motif-motif mereka dalam
 beribadah; budak dengan motif takut (neraka), pedagang dengan motif 
salary (surga), dan pecinta dengan motif kerinduan, inilah motif yang 
termulia.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Gradasi Nilai dan Peran Tindakan Baik &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Peran pilar objektif 
(tindakan-tindakan baik), tidak kurang pentingnya dengan peran pilar 
subjektif atau motivasi/niat pelaku. Misalnya, solat wajib, ia tidak 
sama nilainya dengan solat nafilah, kendati dilakukan oleh satu pelaku 
dengan satu kualitas motivasi (niat qurbatan lillah), karena kewajiban 
lebih besar pengaruhnya dalam pencapaian aditujuan. Sebaliknya, nilai 
keburukan fitnah lebih besar daripada keburukan pembunuhan, karena 
efeknya lebih besar dalam menjauhkan pelakunya dari aditujuan.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Dalam asumsi bahwa 
suatu tindakan baik yang tidak bermotif ilahi, tidak pula bermotif 
iblis, yang tidak berpengaruh positif ataupun negatif terhadap 
pencapaian aditujuan pelakunya, maka tindakan tersebut kopong nilai 
(zero value), ia tidak berpredikat baik dan buruk, seperti; makan karena
 lapar saja, minum karena haus saja, tidur karena ngantuk saja.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Permasalahannya adalah 
“apakah garis merah antara tindakan yang bernilai baik dan tersanjung 
dengan tindakan yang kosong nilai?”. Atau, “hal apa yang bisa mengatrol 
suatu tindakan baik dari titik nol ke titik satu?”&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Anak Tangga Pertama&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Telah disebutkan bahwa 
tindakan yang baik adalah tindakan yang mendekatkan pelaku kepada 
aditujuan dan dilakukan dengan motivasi qorbatan ilallah. Sementara, 
perjumpaan dengan Tuhan melazimkan -pada tahapan belief system 
sebelumnya- penerimaan kalbu akan realitas Tuhan sebagai kesempurnaan 
mutlak, dzat yang maha esa, yang maha bijaksana, maha peduli, maha 
pemelihara, maha pengatur, maha pemilik, maha penguasa, maha pemerintah 
mutlak. Inilah iman. Adalah mustahil motivasi qurbatan ilallah itu 
muncul dari luar iman.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Iman bukan pengetahuan.
 Iman adalah produk pengetahuan, yaitu pengetahuan yang demonstratif. 
Pengetahuan tanpa dalil masih perlu diproses akal atau piranti kognitif 
lainnya. Hanya pengetahuan yang terbuktikan yang siap hadir di kalbu. 
Namun, kesiapan (objektif) pengetahuan ini tidak cukup membuat kalbu 
menyambut kehadirannya. Ada sebagian dokter jantung yang merokok dan 
tahu dampak buruk tindakan itu. Hanya kalbu yang tulus dan insaf yang 
bisa menerima kehadiran pengetahuan argumentatif. Ketika itulah lahir 
iman di kalbu.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Maka, iman itu di 
kalbu. Ia akan lahir dari dua kesiapan; satu, kesiapan objektif berupa 
pengetahuan demonstratif, dan kedua, kesiapan subjektif berupa ketulusan
 kalbu.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Dengan pengertian iman 
diatas, naluri cinta diri yang tak terbatas itu hanya akan menyemburkan 
motivasi/niat qurbatan ilallah jika disertai oleh iman. Tanpa iman, akan
 terjadi kemandulan pada naluri itu; ia tidak bisa melahirkan niat 
demikian itu. Si dokter itu akan menahan nafasnya hanya dengan ketulusan
 hati untuk menerima pembuktian ilmiahnya atas dampak buruk rokok.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Maka, iman merupakan 
garis merah antara tindakan baik yang tersanjung dan tindakan zero 
value. Dan, seseorang bisa mengisi kekosongan nilai pada makannya dengan
 seduhan niat qurbatan ilallah yang didasari oleh iman.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
“Tindakan-tindakan 
mereka yang kafir (tidak beriman) kepada Tuhan ibarat fatamorgana di 
padang pasir, orang yang kehausan menduganya oase, tatkala 
mendatanginya, ia tidak mendapatkan setetes airpun…. (Nur,39)&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Jadi, boleh saja derma,
 senyum manis, atau menghormati perasaan sesama dan kasih sayang kepada 
orang lain adalah tindakan-tindakan baik bagi sebagian orang, namun 
semua itu sia-sia bila tidak dimotivasi oleh iman dan qurbatan ilallah. 
Atau, berfikir, diam, tidur dan tindakan individual lainnya dianggap 
bebas nilai, tapi itu semua jadi berarti dengan sepuhan, sekali lagi, 
iman.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Tangga Iman &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Perlu ditegaskan bahwa 
Iman itu berderajat. Derajat minimal iman adalah menerima dengan 
kepuasan kalbu bahwa Laa ilaha illallah; tidak ada tuhan yang berhak 
disembah selain Allah. Adalah kalimat tauhid yang mencakup rangkaian 
keyakinan kepada Tuhan sebagai Rabul aalamiin, hanya Dia yang 
memelihara, mengatur, memiliki, menguasai dan memerintah alam.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Sesorang yang mengimani
 Tuhan dan memandangnya sebagai sumber siksa dan kekuasaan, ia akan 
menundukkan diri di hadapan pemerintahan-Nya dengan motivasi takut dan 
kuatir. Nilai ketundukkannya jelas berbeda dengan seseorang yang 
mengimani Tuhan dan mengharapkan balasan pahala, ia akan tunduk di bawah
 kepemerintahan-Nya dengan motivasi keberuntungan. Dan, nilai terbesar 
ketundukkan tampak dari seorang hamba yang mengimani Tuhan tanpa 
mempertimbangkan lagi siksa atau pahala, surga atau neraka. 
Ketundukkannya kepada-Nya didasari oleh cinta dan rindu kepada dzat yang
 maha sempurna.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Imam Ali as. 
Mengumpamakan orang pertama itu dengan budak, dan orang kedua itu dengan
 pedagang, serta orang ketiga dengan pecinta. Inilah tiga tangga iman 
yang masing-masing bergradasi, sebayak gradasi makna takut, harap dan 
cinta (borderline cases).&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Permasalahannya, 
“manakah tindakan-tindakan sengaja yang mendekatkan pelakunya kepada 
aditujuannya?”. Pendeknya, “manakah tindakan yang baik dan tersanjung?”&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Akal dan Agama&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Di atas tadi, kita 
cukup mencermati pilar subjektif tindakan tersanjung, yaitu kebaikan 
pelaku. Bahwa derajat kebaikan pelaku itu banyak. kadar minimalnya 
adalah iman, yaitu kepada rububiyyah takwiniyah (Kepengaturan cipta) dan
 Rububiyyah Tasyri’iyyah (Kepengaturan tinta) Tuhan yang terbingkai di 
dalam kalimat tauhid; bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Di sini, kita 
akan menuntaskan pilar objektif tindakan tersanjung, yaitu kebaikan 
tindakan.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Di sepanjang pembahasan
 kita selalu menekankan bahwa akal mampu mengetahui, secara objektif, 
dan melaporkan kepada manusia akan kebaikan tindakan-tindakan. 
Permasalahannya, “manakah tindakan-tindakan sengaja yang benar-benar 
mendekatkan pelakunya kepada aditujuannya?”, “manakah tindakan yang 
dinilai baik oleh akal?”. Lebih jelas lagi, “mampukah manusia -dengan 
akal dan indera- mengetahui seluruh tindakan baik, yang mengantarkan 
kepada aditujuannya?”&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Tidak syak lagi bahwa 
akal dengan tegas menunjukkan sejumlah tindakan yang baik, seperti: 
kerja sama, memilih pemimpin yang adil, mendirikan pemerintahan yang 
bersih sebagai sarana penyempurnaan.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Dibantu oleh indera, 
akal tak segan menjalani trial and error dan check and balance untuk 
menemukan tindakan yang benar-benar baik; yang mengarahkan manusia 
kepada aditujuannya.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Naif, jika menanti dari
 akal lebih dari itu. Akal tidak ma’sum. Kesimpulam dan keputusannya 
bisa disusupi kepentingan pribadi, angan-angan dan penantian-penantian 
manusia. Akal tidak enggan untuk menebarkan perselisihan 
produk-produknya.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Satu lagi yang perlu 
disadari, bahwa akal dan empiris itu terbatas. Ia terlalu lemah untuk 
menyelidiki seluruh efek material dan ma’nawi serta dampak duniawi dan 
ukhrawi, individual dan sosial dari seluruh tindakan sengaja.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Mengatasi kekurangan 
dan keterbatasannya, akal membutuhkan uluran tangan dzat yang maha tahu,
 maha peduli dan maha bijaksana. Aantum a’lamu amillah. “Kalian yang 
lebih tahu ataukah Kami?” Di sini, agama lagi-lagi hadir ditengah 
kehidupan praksis manusia.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Di sini tampak jelas 
fungsi agama. Ia adalah pelengkap dan penggugah akal, sebagaimana ia 
dalam kaitannya dengan naluri. Maka, relasi antara akal dan agama tidak 
mungkin pertentangan (tabayun). Agama bukan lawan akal. Ia adalah kawan 
akal yang diperlukannya. Sebagai pelengkap, agama mampu menunjukkan 
hal-hal di luar sentuhan akal dan indera. Maka, sebagian arahan agama 
bersifat supra sensional dan supra rasional.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Media-tujuan, Sebuah Jalan &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Jadi, manusia -pada 
aspek subjektif dan aspek objektifnya- niscaya lemah. Dari dua aspek itu
 pula, ia membutuhkan instrumen tambahan yang mesti adanya untuk 
menutupi kelemahan dan kekurangannya. Jika ia tidak menemukannya dari 
dalam dirinya, ia harus mencarinya dari luar. Itulah wahyu dan agama.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Agama adalah 
penyempurna fungsi akal dalam menunjukkan tindakan-tindakan baik yang 
mendekatkan manusia kepada aditujuan. Agama adalah hujjah atas manusia 
untuk memilih dan melakukan tindakan-tindakan baik. Wama kunna 
muadzzibina hatta nab’atsa rosula. Selama tidak ada arahan lengkap 
sebagai hujjah yang cukup pada manusia, selama itu pula tindakannya 
bebas nilai, maka iapun bebas tanggungjawab dan siksa.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Tentunya, 
tindakan-tindakan itu menjadi bernilai baik dan dapat mendekatkan pelaku
 kepada aditujuannya jika disertai motivasi iman atau niat qurbatan 
ilallah. Agama menyebut tindakan-tindakan demikian ini sebagai ibadah. 
Maka, ibadah merupakan media-tujuan, sebagai sebuah jalan menuju 
aditujuan manusia. Wa ani’buduunii, haadza shirootum-mustaqiim.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Ibadah berarti segala 
tindakan yang dilandasi oleh pengetahuan akan tindakan yang baik 
(menurut akal dan atau wahyu) dan oleh keyakinan akan hak ketersembahan 
Tuhan semata. Sebagai sebuah media-tujuan, agama menyebut ibadah dengan 
shiroth mushtaqim. Ia adalah sebuah jalan yang lurus. Ihdinash 
shiraathol mustaqim. Ya Allah ! Tunjukkanlah jalan yang lurus kepada 
kami ! Amin!&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Akhirnya, “Sampaikanlah
 (wahai Muhammad)! Tahukah kalian akan orang-orang yang paling rugi 
tindakannya? Merekalah yang sia-sia jerih payahnya di dunia, sementara 
dirinya mengira telah bertindak sebaik-baiknya.” (al-Kahfi, 103-104). 
[islamalternatif.net]&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>DIALOG YOHANES DENGAN PARA ULAMA MAZHAB YANG EMPAT III</title><link>http://andikfn.blogspot.com/2012/07/dialog-yohanes-dengan-para-ulama-mazhab_5353.html</link><category>artikel</category><category>kisah</category><author>noreply@blogger.com (ANDIK FN)</author><pubDate>Sun, 29 Jul 2012 15:53:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6659801012355790768.post-4430192072057172945</guid><description>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;w:WordDocument&gt;
  &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;
  &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;
  &lt;w:TrackMoves/&gt;
  &lt;w:TrackFormatting/&gt;
  &lt;w:PunctuationKerning/&gt;
  &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;
  &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;
  &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;
  &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;
  &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;
  &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;
  &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;
  &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;AR-SA&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;
  &lt;w:Compatibility&gt;
   &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;
   &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;
   &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;
   &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;
   &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;
   &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;
   &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;
   &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;
   &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;
   &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;
   &lt;w:CachedColBalance/&gt;
   &lt;w:UseFELayout/&gt;
  &lt;/w:Compatibility&gt;
  &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;
  &lt;m:mathPr&gt;
   &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;
   &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;
   &lt;m:brkBinSub m:val="--"/&gt;
   &lt;m:smallFrac m:val="off"/&gt;
   &lt;m:dispDef/&gt;
   &lt;m:lMargin m:val="0"/&gt;
   &lt;m:rMargin m:val="0"/&gt;
   &lt;m:defJc m:val="centerGroup"/&gt;
   &lt;m:wrapIndent m:val="1440"/&gt;
   &lt;m:intLim m:val="subSup"/&gt;
   &lt;m:naryLim m:val="undOvr"/&gt;
  &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt;
&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"
  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"
  LatentStyleCount="267"&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;
 &lt;/w:LatentStyles&gt;
&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt;
&lt;style&gt;
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-priority:99;
	mso-style-qformat:yes;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
	mso-para-margin-top:0cm;
	mso-para-margin-right:0cm;
	mso-para-margin-bottom:10.0pt;
	mso-para-margin-left:0cm;
	line-height:115%;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:11.0pt;
	font-family:"Calibri","sans-serif";
	mso-ascii-font-family:Calibri;
	mso-ascii-theme-font:minor-latin;
	mso-hansi-font-family:Calibri;
	mso-hansi-theme-font:minor-latin;}
&lt;/style&gt;
&lt;![endif]--&gt;

&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Para imam tersebut
menjawab, "Wahai Yohanes, orang-orang Rafidhi (Syi'ah) menyangka
Rasulullah saw telah mewasiatkan kekhilafahan kepada Ali as, dan telah
menetapkannya baginya. Sedangkan menurut pandangan kami, Rasulullah saw tidak
mewasiatkan kekhilafahan kepada siapa pun."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Yohanes berkata,
"Ini kitab Anda, di dalamnya disebutkan, 'Diwajibkan atas kamu, apabila
seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan
harta yang banyak, berwasiat untuk ibu bapak dan kaum kerabatnya secara
makruf.' (QS. al-Baqarah: 180)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Di dalam Kitab
Bukhari Anda disebutkan bahwa Rasulullah saw telah bersabda, Tidaklah seorang
Muslim berhak tidur kecuali dia meletakkan wasiatnya di bawah kepalanya.'[295]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Apakah Anda
membenarkan Nabi Anda saw memerintahkan sesuatu yang tidak dikerjakannya,
padahal Kitab suci Anda mengecam keras orang yang memerintahkan apa yang tidak
dilakukannya. Allah SWT berfirman, 'Mengapa kamu menyuruh orang lain
(mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu
membaca al-Kitab? Maka tidakkah kamu berpikir?' (QS. al-Baqarah: 44)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;


&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Demi Allah, jika Nabi
Anda meninggal dunia dengan tidak meninggalkan wasiat, berarti dia telah
melanggar perintah Tuhannya, menyalahi ucapannya sendiri, dan tidak mengikuti
jejak nabi-nabi terdahulu yang memberikan wasiat tentang siapa yang akan
meneruskan urusanya sepeninggalnya. Padahal Allah SWT telah berfirman, 'Maka
ikutilah petunjuk mereka.' (QS. al-An'am: 90) Namun, tentunya Nabi Anda tidak
berbuat demikian. Apa yang Anda katakan tidak lain adalah semata-mata karena
kebodohan dan kekeras-kepalaan Anda. Karena, Imam Ahmad bin Hanbal telah
meriwayatkan di dalam kitab Musnadnya, bahwa Salman telah berkata, 'Ya
Rasulullah, siapakah washi Anda?'&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Rasulullah saw
berkata, 'Wahai Salman, siapa washi saudara saya Musa as?'&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Salman menjawab,
'Yusya' bin Nun.'&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Kemudian Rasulullah
saw berkata, 'Sesungguhnya washi dan pewarisku adalah Ali bin Abi Thalib.'&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Di dalam kitab Ibnu
al-Maghazili asy-Syafi’i, dengan sanad yang menyambung kepada Rasulullah saw,
disebutkan bahwa Rasulullah saw telah bersabda, 'Setiap nabi mempunyai washi
dan pewaris. Adapun washi dan pewarisku adalah Ali bin Abi Thalib.'[296]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Inilah Imam
al-Baghawi Muhyis Sunnah ad-Din, salah seorang muhaddis dan mufassir besar
Anda. Dia telah meriwayatkan di dalam kitab tafsirnya yang berjudul Ma'alim
at-Tanzil, pada penafskan firman Allah SWT yang berbunyi, 'Dan berilah
peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.' (QS. asy-Syu'ara: 214) Dia
menyebutkan, 'Dari Ali as yang berkata, 'Ketika ayat ini turun, Rasulullah saw
memerintahkan kepadaku untuk mengumpulkan Bani Abdul Muththalib baginya, maka
aku pun mengumpulkan mereka. Pada saat itu terkumpullah kurang lebih empat
puluh orang dari Bani Abdul Muththalib. Setelah menjamu mereka dengan hidangan
kaki kambing dan susu, Rasulullah saw pun berkata kepada mereka, 'Wahai
putra-putra Abdul Muththalib! Demi Allah, tidak seorang pun pemuda bangsa Arab
yang telah membawa untuk kaumnya sesuatu yang lebih berharga dan lebih utama
dari apa yang aku bawa untuk kamu semua! Aku datang mem-bawa kebaikan dunia dan
akhirat. Dan Allah telah memerintahkan aku menyerukan kepada kalian agar
menerimanya. Maka siapakah di antara kalian yang bersedia memberikan dukungan
bagiku dalam urusan ini; dan sebagai imbalannya, ia akan menjadi saudaraku yang
terdekat, washi (penerima dan pengemban wasiat)ku, serta menjadi khalifah
(pengganti)ku di antara Anda semua?' Tidak ada seorang pun dari mereka yang
menerima tawaran Rasulullah saw.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Ali berkata, 'Lalu
aku pun berdiri dan berkata, 'Aku, wahai Rasulullah, yang akan menjadi
pembantumu.'&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Kemudian Rasulullah
saw berkata kepada Ali, 'lnilah saudaraku, wasbiku dan khalifahku di antara
Anda semua. Dengar lah kata-katanya, dan taatlah kepadanya.' Maka bangkitlah
mereka itu sambil tertawa dan berkata kepada Abu Thalib, 'Lihatlah, betapa ia
telah memerintahkan Anda agar mendengarkan kata-kata anakmu dan taat
kepadanya.'[297]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Riwayat ini juga
telah diriwayatkan oleh Imam Anda Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya,[298]
oleh Muhammad bin Ishaq ath-Thabari di dalam kitab tarikhnya,[299] dan juga
oleh al-Kharkusyi. Jika riwayat ini dusta, maka berarti Anda telah memberikan
kesaksian bahwa para Imam Anda meriwayatkan riwayat dusta atas Allah dan
Rasul-Nya. Padahal Allah SWT telah berfirman, 'lngatlah, kutukan Allah
(ditirnpakan) atas orang-orang yang zalim.' (QS. Hud: 18) 'Yaitu orang-orang
yang mengada-adakan kebohongan atas Allah.' (QS. Yunus: 69 dan 96)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Allah SWT juga
berfirman di dalam Kitab-Nya, 'Dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan
kepada orang-orang yang berdusta.' (QS. Ali 'lmran: 61)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Jika para Imam Anda
tidak berdusta, dan memang demikian perkaranya, lantas, apa dosa orang-orang
rafidhil Jika demikian, takutlah Anda kepada Allah, wahai para Imam Islam. Demi
Allah, apa yang Anda katakan tentang peristiwa al-Ghadir yang dikatakan oleh
orang Syi'ah&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Para Imam tersebut
menjawab, "Para ulama kami sepakat bahwa itu tidak lain hanyalah cerita
dusta yang diada-adakan."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Yohanes berkata,
"Allah Mahabesar. Ini Imam Anda dan sekaligus muhaddis Anda, Ahmad bin
Hanbal meriwayatkan di dalam Musnadnya bahwa Barra bin 'Azib telah berkata,
'Kami bersama-sama Rasulullah saw di dalam perjalanan kami. Lalu kami singgah
di Ghadir Khum, kemudian salah seorang dari kami menyeru kami agar menunaikan
salat jamaah. Seseorang menyapu untuk Rasulullah saw yang sedang berteduh di
bawah dua pohon. Kemudian Rasulullah saw mengerjakan salat Zuhur. Selesai salat
Rasulullah saw mengangkat tangan Ali as seraya bersabda, 'Bukankah kamu semua
mengetahui bahwa aku lebih utama atas seluruh orang Mukmin dibandingkan diri
mereka sendiri?'&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Semua yang hadir
menjawab, 'Benar.' Kemudian Rasulullah saw mengangkat tangan Ali tinggi-tinggi,
sehingga tampak putihnya ketiak keduanya, seraya berkata, 'Barangsiapa yang aku
sebagai pemimpinnya, maka inilah pemimpinnya. Ya Allah, cintailah orang yang
mencintainya dan musuhilah orang yang memusuhinya, tolonglah orang yang
menolongnya dan telantarkanlah orang yang menelantarkannya.'&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Kemudian Umar bin
Khattab berkata, 'Selamat bagi Anda, wahai Putra Abu Thalib. Sekarang, Anda
telah menjadi pemimpin setiap Mukmin laki-laki dan Mukmin perempuan.'&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Ahmad bin Hanbal juga
meriwayatkan riwayat ini di dalam Musnadnya melalui jalan lain, yang bersanad
kepada Abu Thufail; dia juga meriwayatkannya melalui jalan yang ketiga, yang
bersanad kepada Zaid bin Arqam.[300] Ibnu 'Abdu Rabbih juga meriwayatkannya di dalam
kitab al- ‘Iqd al-Farid.[301] Sa'id bin Wahab juga meriwayat-kannya. Begitu
juga ats-Tsa'labi di dalam kitab tafsirnya.[302] Ats-Tsa'labi menguatkan
riwayat ini dengan riwayat yang diriwayatkannya berkenaan dengan penafsiran
ayat 'Seorang peminta telah meminta kedatangan azab yang bakal terjadi.' Dia
mengatakan bahwa Harits bin Nu'man al-Fihri mendatangi Rasulullah saw, yang
sedang berada di tengah sahabat-sahabatnya. Harits bin Nu'man al-Fihri berkata,
'Ya Muhammad, engkau telah menyuruh kami supaya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan
selain Allah dan bahwa engkau adalah utusan Allah, dan kami pun menerimanya.
Engkau juga menyuruh kami untuk mengerjakan salat lima waktu, dan kami pun
menerimanya. Kemudian engkau memerintahkan kami untuk berpuasa di bulan Ramadan,
dan kami pun tetap menerimanya. Selanjutnya engkau memerintahkan kami untuk
menunaikan haji, dan kami pun tetap menerimanya. Namun engkau tidak merasa
cukup dengan itu, hingga akhirnya engkau mengangkat kedua lengan anak pamanmu
dan mengutamakannya atas kami sambil berkata, 'Barangsiapa yang aku adalah
pemimpinnya maka inilah Ali pemimpinnya. 'Apakah ini berasal darimu atau dari
Allah?'&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Rasulullah saw
menjawab, 'Demi Allah, yang tidak ada Tuhan selain Dia, sesungguhnya ini
berasal dari Allah.'&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Kemudian Harits bin
Nu'man al-Fihri meninggalkan Rasulullah saw seraya berkata, 'Ya Allah,
seandainya apa yang dikatakan oleh Muhammad itu benar, maka turunkanlah hujan
batu dari langit ke atas kami.' Belum sempat Harits bin Nu'man al-Fihri sampai
ke tempat dia menambatkan binatang tunggangannya, tiba-tiba Allah SWT
menu-runkan sebuah batu dari langit yang tepat mengenai ubun-ubun kepalanya dan
menembuh keluar dari duburnya, hingga dia pun tersungkur dan mati. Kemudian
turunlah ayat Al-Qur'an yang berbunyi, 'Seorang peminta telah meminta
kedatangan azab yang bakal terjadi.' (QS. al-Ma'arij: 1)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Bagaimana bisa Anda
mengatakan riwayat-riwayat ini dusta dan tidak sahih sementara para Imam Anda
meriwayatkannya?"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Para Imam itu
berkata, "Wahai Yohanes! Benar, para Imam kami telah meriwayatkan itu.
Namun, jika Anda kembali kepada akal dan pikiran Anda, niscaya Anda akan tahu
bahwa mustahil Rasulullah saw menetapkan yang demikian itu atas Ali bin Abi
Thalib as, lalu seluruh sahabat bersepakat untuk menyembunyikan nas ini, dan
kemudian mengalihkannya kepada Abu Bakar at-Timi yang lemah, yang berasal dari
klan yang kecil. Padahal, para sahabat, jika Rasulullah saw memerintahkan
mereka untuk membunuh diri mereka sendiri niscaya mereka akan lakukan.
Bagaimana mungkin seorang yang berakal dapat membenarkan sesuatu yang mustahil
ini?"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Yohanes menjawab,
"Anda jangan merasa heran dari hal ini. Umat Nabi Musa as, yang jumlah
mereka enam kali lipat lebih banyak dari umat Nabi Muhammad saw, manakala Nabi
Musa as mengangkat saudaranya Harun as sebagai khalifah (pengganti)nya atas
mereka, sementara Harun as itu sendiri adalah Nabi mereka, dan mereka lebih
mencintainya dibandingkan Musa as, mereka berpaling kepada Samiri dan menyembah
patung anak sapi. Oleh karena itu, tidaklah begitu mengherankan manakala para
sahabat berpaling dari washi Rasulullah saw, sepeninggal beliau, kepada orang
tua yang Rasulullah saw telah menikahi putrinya. Sepertinya, jika Al-Qur'an
al-Karim tidak menceritakan kisah penyembahan patung anak sapi yang dilakukan
oleh umat Nabi Musa, Anda tidak akan membenarkannya."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Para Imam itu
berkata, "Wahai Yohanes, Ali tidak menentang mereka. Bahkan diam dan
berbait kepada mereka."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Yohanes menjawab,
"Tidak diragukan, bahwa tatkala Rasulullah saw meninggal dunia jumlah kaum
Muslimin sedikit. Di tengah-tengah mereka ada pendusta yang bernama Musailamah
al-Kadzdzab, yang mempunyai pengikut sebanyak delapan puluh ribu orang.
Sementara orang-orang Muslim yang ada di Madinah dipenuhi oleh orang-orang
munafik. Seandainya dia menampakkan perlawanan dengan pedang, niscaya setiap
orang yang anak atau saudaranya pernah dibunuh oleh Ali bin Abi Thalib di medan
perang akan memeranginya. Sementara, hanya sedikit sekali ketika itu orang yang
kabilah, kerabat atau sahabatnya yang tidak pernah dibunuh oleh Ali bin Abi
Thalib di medan perang. Oleh karena itu, Ali bin Abi Thalib lebih memilih
sabar, dan hanya menentang mereka melalui jalan hujjah dan argumentasi selama
enam bulan. Kejadian ini merupakan sesuatu yang tidak diragukan di kalangan
Ahlus Sunnah. Kemudian, salah seorang dari mereka menuntut baiat darinya.
Menurut kalangan Ahlus Sunnah Ali bin Abi Thalib telah berbaiat, sementara
menurut kalangan Rafidhah (Syi'ah) Ali bin Abi Thalib tidak berbaiat. Sementara
Tarikh Thabari[303] mengatakan bahwa Ali tidak berbaiat; hanya saja Abbas,
manakala melihat fitnah ada di depan mata, dia berteriak, "Anak saudaraku
telah memberikan baiat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Abu Bakar tertinggal
dari pasukan Usamah, dan Rasulullah saw telah mengangkat Usamah sebagai
komandan Abu Bakar. Namun, Rasulullah saw tidak pernah sekali pun mengangkat
seseorang sebagai pemimpin atau komandan Ali.[330]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Rasulullah saw belum
pernah sekali pun mengangkat Abu Bakar sebagai pemimpin, kecuali di dalam
membawa surat al-Bara'ah. Namun, tatkala Abu Bakar keluar membawa surat
al-Bara'ah, Allah SWT memerintahkan Rasulullah saw untuk memberhentikannya dari
tugas ini, dan memberikannya kepada Ali.[331]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Abu Bakar tidak
mengetahui hukum syariat, hingga dia memotong tangan kiri seorang pencuri dan
membakarnya secara sekonyong-konyong.[332] Padahal Rasulullah saw telah
bersabda, 'Tidak menyiksa dengan api kecuali Tuhan pemilik api.'[333]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Ketika Abu Bakar
ditanya tentang orang yang tidak punya anak dan ayah (kalalah), dia tidak
mengetahui apa yang harus dia katakan, lalu dia pun berkata, 'Aku akan menjawab
dengan pikiranku. Jika benar maka itu dari Allah, namun jika salah maka itu
dari setan.'&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Seorang nenek
bertanya kepadanya tentang warisan yang diterimanya. Abu Bakar menjawab, 'Saya
tidak menemukan apa pun tentang Anda, baik di dalam Al-Qur'an maupun di dalam
sunah Muhammad. Kembalilah, hingga aku bertanya.' Maka Mughirah bin Syu'bah pun
memberitahunya bahwa Rasulullah saw memberi seperenam bagi bagian nenek. Abu
Bakar sering meminta fatwa kepada para sahabat di dalam masalah hukum.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Abu Bakar tidak
mengecam Khalid bin Walid di dalam membunuh Malik bin Nuwairah, dan di dalam
menikahi istrinya di malam terbunuh suaminya dengan tanpa menanti iddah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Abu Bakar mengutus
sekelompok orang ke rumah Amirul Mukminin as, manakala Amirul Mukminin as
menolak untuk berbaiat. Dia mengancam untuk membakar rumah,[334] sementara di
dalam rumah terdapat Fatimah as dan sekelompok orang dari Bani Hasyim dan
lainnya. Oleh karena itu, mereka mengecam keras perbuatannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Ketika Abu Bakar naik
ke mimbar, datang Hasan dan Husain beserta sekelompok orang dari kalangan Bani
Hasyim dan lainnya. Mereka mengecamnya, lalu Hasan Hasan dan Husain berkata
kepadanya, 'lni maqam kakekku. Kamu tidak layak untuknya.'[335]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Ketika hampir
meninggal dunia, Abu Bakar berkata, 'Oh, seandainya aku meninggalkan rumah
Fatimah dan tidak membukanya paksa. Oh, seandainya dahulu aku menanyakan Rasulullah
saw, apakah kalangan Anshar mempunyai hak dalam urusan ini?'&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Di dalam kitab-kitab
Anda disebutkan bahwa Abu Bakar menyalahi Rasulullah saw di dalam mengangkat
pengganti. Karena dia telah mengangkat Umar sebagai penggantinya. Juga
disebutkan bahwa Rasulullah saw belum pernah sekali pun mengangkatnya sebagai
pemimpin, kecuali dalam perang Khaibar, itu pun dia kembali dengan gagal.
Rasulullah saw mengangkatnya sebagai petugas pengumpul zakat, namun Abbas
memprotesnya, maka Rasulullah saw pun memberhentikannya. Para sahabat mengecam
Abu Bakar di dalam mengangkat Umar sebagai penggantinya. Bahkan Thalhah sampai
berkata, 'Anda telah mengangkat Umar, seorang laki-laki yang bersikap kasar dan
berhati keras.'&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Adapun Umar,
orang-orang membawa seorang wanita yang telah berzina yang sedang hamil ke
hadapannya, dengan serta merta dia memerintahkan supaya wanita itu dirajam. Ali
berkata kepadanya, 'Jika Anda mempunyai alasan untuk merajam wanita tersebut,
namun Anda tidak mempunyai alasan untuk merajam bayi yang sedang dikandungnya.'
Mendengar itu Umar pun mengurungkan niatnya, lalu berkata, 'Seandainya tidak
ada Ali maka celaka lah Umar.'[336]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Umar meragukan
kematian Rasulullah saw seraya berkata, 'Muhammad tidak mati dan tidak akan
mati'. Akhirnya, Abu Bakar membacakan ayat, 'Sesungguhnya kamu akan mati, dan
sesungguhnya mereka akan mati (pula).' (QS. az-Zumar: 3) Setelah itu baru
kemu-dian Umar mengatakan, 'Anda benar.' Umar berkata lagi, 'Sepertinya saya
belum pernah mendengar ayat ini.'[337]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Orang-orang membawa
seorang wanita gila yang telah berzina ke hadapan Umar. Umar memerintahkan
supaya wanita gila itu dirajam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Namun, Ali berkata,
'Pena terangkat dari orang yang gila hingga dia sadar' Mendengar itu Umar pun
mengurungkan niatnya, lalu berkata, 'Seandainya tidak ada Ali maka celaka lah
Umar.'[338]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Di dalam khutbahnya
Umar berkata, 'Barangsiapa yang meninggikan mahar wanitanya, aku akan masukkan
maharnya ke dalam baitul mal. Seorang wanita protes kepadanya, 'Anda mencegah
kami dari apa yang telah Allah SWT halalkan bagi kami. Padahal Allah SWT telah
berfirman,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;'Dan jika kamu ingin
mengganti istrirnu dengan istri yang lain, sedang kamu telah memberikan kepada
seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil
kembali daripadanya barang sedikit pun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali
dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata?'&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Maka, orang-orang pun
berkata, 'Seluruh manusia lebih fakih dari Umar. Bahkan orang-orang yang
terbaring di dalam rumah-rumah sekali pun.'[339]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Dia memberikan kepada
Hafshah dan Aisyah, masing-masingnya sebanyak dua ratus ribu dirham. Dia
mengambil uang dari baitul mal sebanyak dua ratus dirham, lalu kaum Muslimin
mengecamnya, kemudian dia berkata, 'Saya mengambilnya sebagai hutang.'[340]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Dia mencegah Hasan
dan Husain untuk bisa menerima warisan dari Rasulullah saw, dan mencegah
keduanya untuk memperoleh khumus.[341]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Umar memberikan
keputusan di dalam masalah hukum dengan tujuh puluh pendapat. Dia melarang dua
mut'ah. Dia berkata, 'Ada dua mut'ah yang halal pada masa Rasulullah saw, namun
sekarang saya mengharamkannya dan saya akan menghukum orang yang
melakukannya.'[342]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Dia menyalahi
Rasulullah saw dan sekaligus Abu Bakar, di dalam masalah pengangkatan khalifah,
apakah berdasarkan penetapan atau bukan. Dia menjadikan urusan kekhilafahan di
tangan enam orang. Kemudian, dia menyalahi dirinya sendirinya dengan
menjadikannya berada di tangan empat orang. Selanjutnya, di tangan tiga orang.
Berikutnya lagi, di tangan satu orang. Kemudian, Umar menetapkan hak pilih
berada di tarigan Abdurrahman bin 'Auf. Umar berkata, 'Seandainya Ali dan Usman
bersepakat, maka pendapat yang harus dipegang adalah pendapat yang dikatakan
keduanya. Namun, jika suara terpecah kepada tiga suara tiga suara, maka suara
yang harus dipegang adalah suara yang mana di dalamnya terdapat suara
Abdurrahman bin 'Auf. Karena, Umar mengatahui bahwa Ali dan Usman tidak akan
bersepakat dalam sebuah urusan, dan bahwa Abdurrahman tidak akan bersikap adil
berkenaan dengan anak saudara perempuannya, yaitu Usman. Selanjutnya, Umar
memerintahkan supaya memenggal kepala orang yang terlambat memberikan baiat
dalam jangka tiga hari.[343]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Umar juga merobek
kertas tulisan yang ada di tangan Fatimah as. Peristiwa itu terjadi pada saat
terjadi perdebatan panjang antara Fatimah dan Abu Bakar, lalu Abu Bakar
memutuskan untuk mengembalikan tanah fadak kepadanya. Abu Bakar membuat kertas
tulisan untuknya. Lalu, Fatimah pun keluar dengan membawa kertas tulisan
tersebut. Umar mendekati Fatimah, dan menanyakan apa yang terjadi. Fatimah pun
menceritakan apa yang terjadi kepadanya. Mendengar itu dengar serta merta Umar
mengambil kertas tulisan yang ada di tangan Fatimah dan merobeknya.[344]
Melihat itu, Fatimah melaknat Umar atas perbuatannya. Lalu Ali bin Abi Thalib
masuk dan mengecam Umar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Adapun Usman bin
Affan, dia membagikan kekuasaan di antara kaum kerabatnya. Dia mengangkat
Walid, saudaranya seibu, sebagai gubernur Kufah. Walid, seorang laki-laki yang
suka meminum minuman keras, dan dia mengerjakan salat Subuh dalam keadaan
mabuk.[345] Oleh karena itu, penduduk Kufah mengusirnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Usman bin Affan
memberikan uang yang banyak kepada masing-masing suami dari anak perempuannya
yang empat. Dia memberikan kepada masing-masingnya sebanyak seratus ribu
mitsgal emas, yang diambil dari baitul mal kaum Muslimin. Dia memberikan
beribu-ribu dirham kepada Marwan, yang berasal dari khumus negeri-negeri
Afrika.[346]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Utsman melindungi
dirinya dari kaum Muslimin dan mencegah mereka untuk dapat menemuinya.[347]
Banyak sekali terjadi kemunkaran yang berasal darinya yang berkenaan dengan
hak-hak para sahabat. Dia memukuli Ibnu Mas'ud hingga meninggal dunia,[348] dan
membakar mushafnya. Ibnu Mas'ud mengecam Usman dan mengkafirkannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Usman memukuli Ammar
bin Yasir, sahabat Rasulullah saw, hingga patah.[349]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Dia membawa Abu Dzar
dari Syam, atas permintaan Muawiyah, dan lalu memukulinya serta membuangnya ke
Rabadzah.[350] Padahal, Rasulullah saw sangat dekat dengan ketiga orang
tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Usman tidak hadir di
tengah-tengah kaum Muslimin pada saat perang Badar, perang Uhud dan Baiat
ar-Ridhwan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Dialah yang menjadi
peyebab Muawiyah memerangi Ali as di dalam masalah kekhilafahan. Tahap
berikutnya, Bani Umayyah melaknat Ali as di atas mimbar. Mereka meracuni Hasan,
dan membunuh Husain.[351] Selanjutnya, urusan berpindah kepada Hajjaj. Dia
membunuh sebanyak dua belas ribu orang dari keluarga Rasulullah saw. Yang
menjadi penyebab semua ini ialah, karena mereka menjadikan masalah keimamahan
berdasarkan pemilihan dan kehendak mereka. Jika sekiranya mereka mengikuti nas
di dalam masalah ini, dan Umar tidak membangkang Rasulullah saw manakala beliau
berkata, 'Ambilkan aku pena dan kertas, supaya aku tuliskan bagimu sebuah
tulisan yang dengannya kamu tidak akan tersesat sesudahnya', tentu tidak akan
terjadi perselisihan dan kesesatan ini."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Yohanes berkata,
"Wahai para ulama agama, mereka yang dinamakan dengan kelompok Rafidhah,
inilah keyakinan mereka, sebagaimana yang telah kita sebutkan. Adapun keyakinan
Anda adalah ini, sebagaimana yang telah kita nyatakan. Anda telah mendengarkan
dalil-dalil mereka, dan demikian juga Anda telah mengemukakan dalil-dalil Anda.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Demi Allah, mana di
antara dua kelompok ini yang paling benar menurut pandangan Anda?"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Mereka menjawab
dengan serentak, "Demi Allah, sesungguhnya kelompok Rafidhah lah yang
berada di atas kebenaran. Perkataan-perkataan merekalah yang benar. Namun,
keadaan masih seperti se-bagaimana yang sekarang terjadi. Kelompok kebenaran
masih sebagai kelompok yang terkalahkan. Saksikanlah oleh Anda, wahai Yohanes,
sesungguhnya mulai sekarang kami berpegang kepada kepemimpinan keluarga
Muhammad, dan berlepas diri dari musuh-musuh mereka. Hanya saja kami meminta
kepada Anda untuk menyembunyikan urusan kami ini. Karena manusia masih
berpegang kepada agama raja mereka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Yohanes melanjutkan
ceritanya, "Maka saya pun berdiri dari hadapan mereka, dalam keadaan
benar-benar yakin dan berpegang kepada keyakinan saya. Segala puji bagi Allah.
Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah SWT, maka dialah orang yang
mendapat petunjuk.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Kemudian, saya
menuliskan tulisan ini dengan tujuan agar dia menjadi petunjuk bagi orang yang
mencari jalan keselamatan. Barangsiapa yang membacanya dengan penuh kesadaran,
dia akan terbimbing kepada jalan kebenaran, dan akan mendapat pahala.
Barangsiapa yang mengunci hati dan lisannya, maka tidak ada jalan baginya untuk
mendapat petunjuk-Nya. Allah SWT berfirman,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;'Sesungguhnya kamu
tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah
memberi petunjuk kepada orang-orang yang Ia kehendaki.' (QS. al-Qashash: 65)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Namun, kebanyakan
dari mereka adalah orang-orang yang ta'assub,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;'Sama saja bagi
mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidakjuga
akan beriman. Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, serta
penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.' (QS.
al-Baqarah: 6-7)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Ya Allah,
sesungguhnya kami mengucapkan puji kepada-Mu atas segala nikmat yang telah
Engkau limpahkan kepada kami. Kami sampaikan salawat dan salam atas Muhammad
dan keluarganya yang disucikan dari segala dosa, selamanya, dan terus menerus
hingga hari kiamat.●&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>DIALOG YOHANES DENGAN PARA ULAMA MAZHAB YANG EMPAT II</title><link>http://andikfn.blogspot.com/2012/07/dialog-yohanes-dengan-para-ulama-mazhab_9091.html</link><category>artikel</category><category>kisah</category><author>noreply@blogger.com (ANDIK FN)</author><pubDate>Sun, 29 Jul 2012 15:49:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6659801012355790768.post-5453815684776671953</guid><description>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;w:WordDocument&gt;
  &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;
  &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;
  &lt;w:TrackMoves/&gt;
  &lt;w:TrackFormatting/&gt;
  &lt;w:PunctuationKerning/&gt;
  &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;
  &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;
  &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;
  &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;
  &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;
  &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;
  &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;
  &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;AR-SA&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;
  &lt;w:Compatibility&gt;
   &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;
   &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;
   &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;
   &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;
   &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;
   &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;
   &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;
   &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;
   &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;
   &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;
   &lt;w:CachedColBalance/&gt;
   &lt;w:UseFELayout/&gt;
  &lt;/w:Compatibility&gt;
  &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;
  &lt;m:mathPr&gt;
   &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;
   &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;
   &lt;m:brkBinSub m:val="--"/&gt;
   &lt;m:smallFrac m:val="off"/&gt;
   &lt;m:dispDef/&gt;
   &lt;m:lMargin m:val="0"/&gt;
   &lt;m:rMargin m:val="0"/&gt;
   &lt;m:defJc m:val="centerGroup"/&gt;
   &lt;m:wrapIndent m:val="1440"/&gt;
   &lt;m:intLim m:val="subSup"/&gt;
   &lt;m:naryLim m:val="undOvr"/&gt;
  &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt;
&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"
  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"
  LatentStyleCount="267"&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;
 &lt;/w:LatentStyles&gt;
&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt;
&lt;style&gt;
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-priority:99;
	mso-style-qformat:yes;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
	mso-para-margin-top:0cm;
	mso-para-margin-right:0cm;
	mso-para-margin-bottom:10.0pt;
	mso-para-margin-left:0cm;
	line-height:115%;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:11.0pt;
	font-family:"Calibri","sans-serif";
	mso-ascii-font-family:Calibri;
	mso-ascii-theme-font:minor-latin;
	mso-hansi-font-family:Calibri;
	mso-hansi-theme-font:minor-latin;}
&lt;/style&gt;
&lt;![endif]--&gt;

&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Akhthab Kharazmi juga
meriwayatkan hadis ini di dalam kitab al-Manaqib —dia juga termasuk dari ulama
Anda— dari Muadz bin Jabal yang berkata, "Rasulullah saw telah bersabda,
'Wahai Ali, aku mengunggulimu dengan kenabian, karena tidak ada nabi
sepeninggalku; namun kamu mengungguli manusia dengan tujuh hal, yang tidak ada
seorang pun dari bangsa Quraisy yang mendebatmu tentang hal itu: kamu adalah orang
yang pertama kali beriman kepada Allah di antara mereka, orang yang paling
menunaikan perintah Allah dan perjanjian dengan-Nya, orang yang paling rata di
dalam pembagian, orang yang paling adil kepada rakyat, orang yang paling tahu
tentang permasalahan dan orang yang paling besar keutamaannya di sisi Allah
pada hari kiamat."[252]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Penulis kitab Kifayah
ath-Thalib, yang merupakan salah seorang dari ulama Anda berkata, "Hadis
ini hadis hasan yang tinggi, dan al-Hafidz Abu Na'im meriwayatkannya di dalam
kitab Hilyah al-Awliya."[253]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;


&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Yohanes berkata,
"Wahai para pemimpin Islam, hadis-hadis yang sahih ini yang diriwayatkan
oleh para Imam Anda, dengan jelas mengatakan kelebih-utamaan dan kelebih-baikan
Ali atas seluruh manusia. Lantas, apa dosa kaum Rafidhahl Sesungguhnya ini
adalah semata-mata dosa dari para ulama Anda dan orang-orang yang meriwayatkan
dengan tidak benar serta membuat-buat kebohongan atas Allah dan
Rasul-Nya."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Mereka berkata,
"Wahai Yohanes, sesungguhnya mereka tidak meriwayatkan dengan tidak benar,
dan juga tidak membuat-buat kebohongan, hanya saja hadis-hadis ini mempunyai
takwil dan pertentangan."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Yohanes berkata,
"Takwil yang mana yang dapat diterima terhadap hadis-hadis yang ditujukan
secara khusus kepada manusia tertentu. Karena nas hadis-hadis ini secara
eksplisit mengatakan bahwa Ali lebih baik dari Abu Bakar, dan ini tidak dapat
ditakwilkan kecuali jika Anda mengeluarkan Abu Bakar dari kelompok manusia.
Kalaupun seumpamanya kita menerima bahwa hadis-hadis ini tidak menunjukkan
kepada makna di atas, namun coba beritahukan kepada saya mana di antara mereka
berdua yang paling banyak berjihad?"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Mereka menjawab,
"Ali."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Yohanes berkata,
"Allah SWT telah berfirman, 'Allah melebihkan orang-orang yang berjihad
atas orang-orang yang duduk dengan pahala yang besar.' (QS. an-Nisa: 95)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Bunyi nas ini begitu
amat jelas."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Mereka berkata,
"Abu Bakar juga seorang mujahid. Maka Oleh karena itu, tidak harus Ali
lebih utama dari Abu Bakar."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Yohanes berkata,
"Jihad yang lebih sedikit apabila dibandingkan kepada jihad yang lebih
banyak, maka dianggap duduk. Kalaupun seumpamanya maknanya demikian, lantas apa
yang dimaksud oleh Anda dengan 'orang yang lebih utama'?"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Mereka menjawab,
"Yaitu orang yang terkumpul pada dirinya berbagai kesempurnaan dan
keutamaan, baik yang berupa bawaan maupun yang diperoleh karena jerih payah
usaha, seperti kemuliaan asal-usul, keilmuan, kezuhudan, keberanian, dan
sifat-sifat lainnya yang merupakan cabang dari sifat-sifat ini."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Yohanes berkata,
"Seluruh keutamaan ini ada pada diri Ali as, dalam bentuk yang lebih baik
dibandingkan yang lainnya."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Yohanes berkata,
"Adapun dari segi kemuliaan asal (nasab), dia adalah putra paman
Rasulullah saw, suami dari putrinya dan ayah dari kedua cucunya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Adapun dari sisi
ilmu, Rasulullah saw telah bersabda, 'Saya adalah kota ilmu dan Ali adalah
pintunya.'[254] Akal dapat memahami bahwa seseorang tidak dapat mengambil
manfaat sedikit pun dari sebuah kota kecuali jika dia mengambil dari pintunya.
Sehingga dengan begitu maka jalan untuk mengambil manfaat dari Rasulullah saw
hanya melalui Ali as. Ini adalah kedudukan yang tinggi. Rasulullah saw juga
telah bersabda, 'Orang yang paling mengetahui di antara kamu adalah Ali.'[255]
Kepadanyalah dinisbatkan seluruh permasalahan, berhentinya seluruh golongan,
dan berpihaknya seluruh kelompok. Dia adalah pemuka dan sumber keutamaan, serta
pemenang yang memenangkan arenanya. Setiap orang yang unggul di dalamnya
semuanya mengambil darinya, mengikuti jejaknya dan meniru contohnya. Anda tentu
telah mengetahui bahwa semulia-mulianya ilmu adalah tentang Ketuhanan. Ilmu ini
dikutip dari perkataannya, dinukil darinya dan bermula dari dirinya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Sesungguhnya kelompok
Mu'tazilah, mereka itu adalah ahli fikir. Dari mereka inilah manusia belajar
tentang ilmu ini, dan mereka itu adalah murid-muridnya. Karena guru besar
mereka yang bernama Washil bin 'Atha adalah murid Abi Hasyim Abdullah bin
Muhammad ibn al-Hanafiyyah,[256] sementara Abi Hasyim Abdullah adalah murid
ayahnya, dan ayahnya adalah murid Ali bin Abi Thalib as.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Adapun kelompok
Asy'ari, mereka itu berakhir kepada Abu Hasan al-Asy'ari. Dia adalah murid dari
Abu Ali al-Juba'i, dan Abu Ali al-Juba'i adalah murid Washil bin 'Atha.[257]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Adapun kelompok
Imamiyyah dan Zaidiyyah, bermuaranya mereka kepadanya amat jelas sekali.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Adapun dalam bidang
ilmu fikih, dia itu adalah pokok dan dasarnya. Seluruh fakih di dalam Islam
menisbatkan diri mereka kepadanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Adapun Malik, dia
mengambil fikih dari Rabi'ah ar-Ra'y, sementara Rabi'ah ar-Ra'y mengambil dari
'lkrimah, 'lkrimah mengambilnya dari Abdullah, dan Abdullah mengambilnya dari
Ali.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Adapun Abu Hanifah
mengambil fikih dari Imam Ja'far ash-Shadiq as. Sementara Syafi’i adalah murid
Malik, dan Hanbali adalah murid Syafi’i.[258] Adapun tentang merujuknya para
fukaha Syi'ah kepadanya adalah sesuatu yang jelas sekali. Begitu juga tentang
merujuknya para fukaha dari kalangan para sahabat kepadanya adalah sesuatu yang
jelas, seperti Ibnu Abbas dan yang lainnya. Berikut ini adalah perkataan Umar
yang diucapkannya tidak hanya sekali, 'Aku tidak dilanda masalah selama masih
ada Abul Hasan.'[259] Umar juga mengatakan, 'Seandainya tidak ada Ali maka
celakalah Umar."[260]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Turmudzi telah
berkata di dalam kitab sahihnya, dan begitu juga al-Baghawi telah berkata dari
Abu Bakar, 'Rasulullah saw telah bersabda, 'Barangsiapa yang hendak melihat
kepada Adam di dalam keilmuannya, kepada Nuh di dalam pemahamannya, kepada
Yahya bin Zakaria di dalam kezuhudannya, dan kepada Musa bin Imran di dalam
kekuatannya, maka hendaklah dia melihat kepada Ali bin Abi Thalib.'[261]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Baihaqi telah
berkata, 'Rasulullah saw telah bersabda, 'Barangsiapa yang hendak melihat
kepada Adam di dalam keilmuannya, kepada Nuh di dalam ketakwaannya, kepada
Ibrahim di dalam kesabarannya, kepada Musa di dalam kewibawaannya, dan kepada
Isa di dalam ibadahnya, maka hendaklah dia melihat kepada Ali bin Abi
Thalib.'[262] Dialah yang telah menjelaskan hukuman meminum minum-an
keras,[263] yang telah memberikan fatwa berkenaan dengan seorang wanita yang
melahirkan pada usia enam bulan kandungannya.[264] Dialah yang telah
menyelesaikan pembagian uang dirham kepada pemilik adonan roti.[265] Dia juga
yang telah memerintahkan untuk membelah seorang anak menjadi dua bagian.[266]
Dialah yang telah memerintahkan untuk memenggal leher seorang hamba sahaya, dan
yang bertindak sebagai hakim pada kasus orang yang mempunyai dua
kepala."[267] Dia juga yang telah menjelaskan hukum makar (bughat),[268]
dan dia juga yang telah memberi fatwa berkenaan dengan seorang wanita yang
hamil karena zina.[269]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Salah satu di antara
cabang ilmu adalah ilmu tafsir. Manusia telah mengetahui kedudukan Ibnu Abbas
di dalam ilmu tafsir. Dia adalah murid Ali. Dia telah ditanya, 'Bagaimana
kedudukan ilmumu dibandingkan ilmu putra pamanmu?' Ibnu Abbas menjawab,
'Laksana setetes air hujan di lautan yang sangat luas.'"[270]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Salah satu cabang
ilmu yang lain adalah ilmu tarekat dan ilmu hakikat. Anda mengetahui bahwa
tokoh-tokoh ilmu ini yang ada di seluruh negeri Islam, mereka semua berakhir
kepadanya, dan berhenti di sisinya. Asy-Syibli, al-Hambali, Sirri as-Saqathi,
Abu Zaid al-Busthami, Abu Mahfudz, yang dikenal dengan sebutan al-Kurkhi, dan
yang lain-nya, dengan tegas mengakui hal ini. Cukup menjadi bukti bagi yang
demikian itu, sobekan-sobekan yang menjadi slogan mereka, dan mereka
menisbatkan sobekan-sobekan tersebut —melalui sanad mu'an'an— kepadanya, dan
mengatakan bahwa dialah yang telah menuliskannya.[271]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Di antara cabang ilmu
berikutnya adalah ilmu nahwu. Seluruh manusia telah mengetahui bahwa Ali as lah
yang telah menciptakannya. Dia telah mendiktekan berbagai kumpulan yang hampir
mendekati katagori mukjizat kepada Abul Aswad ad-Du`ali. Karena kemampuan
manusia biasa tidak cukup untuk dapat menghasilkan penemuan yang seperti ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Bagaimana bisa
memiliki sifat seperti ini seorang laki-laki yang manakala ditanya, apa arti
kata abban, dia berkata, 'Aku tidak akan mengatakan tentang Kitab Allah
berdasarkan pikiranku', dan memberikan putusan tentang bagian warisan yang
diterima kakek dengan seratus perkataan yang berbeda satu sama lainnya. Dia
mengatakan, 'Jika aku menyimpang maka luruskanlah, dan jika aku berada pada
jalan yang benar maka ikutilah aku.'[272] Apakah seorang yang berakal akan
membandingkan orang yang seperti ini dengan orang yang me-ngatakan, 'Tanyailah
aku sebelum kalian kehilanganku',[273] 'Tanyailah aku tentang jalan-jalan yang
ada di langit. Karena sesungguhnya demi —Allah— aku lebih mengetahui
jalan-jalan yang ada di langit dibandingkan jalan-jalan yang ada di bumi.' Ali
as juga berkata, 'Sesungguhnya di sini, sambil dia menunjuk ke arah dadanya,
terdapat ilmu yang banyak.' Dia juga mengatakan, 'Sekiranya terbuka tirai
penutup, tidak akan bertambah keyakinanku.'[274]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Adapun dalam masalah
zuhud, dia adalah penghulu orang-orang zuhud. Tidak pernah sekali pun dia makan
sampai kenyang. Dia adalah orang yang paling keras di dalam masalah pakaian dan
makanan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Abdullah bin Abi
Rafi' berkata, 'Saya masuk menemui Ali bin Abi Thalib pada hari raya. Lalu dia
mengambil sebuah kantong tertutup yang berisi roti kering yang telah hancur,
kemudian dia pun memakannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Saya berkata, 'Wahai
Amirul Mukminin, kenapa Anda menutup kantong tersebut, padahal hanya berisi
roti yang telah kering ?'&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Ali bin Abi Thalib
menjawab, 'Saya takut kedua anak saya akan membubuhinya dengan minyak atau
mentega.'"[275]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Pakaian yang
dikenakannya selalu bertambalkan kulit atau sabut. Kedua sendalnya terbuat dari
sabut. Dia biasa memakai pakaian yang kasar, dan jika kepanjangan, dia
memotongnya dengan pisau dan tidak menjahitnya kembali. Makanan yang dimakannya
hanya berbumbukan garam atau cuka. Kalaupun lebih dari itu, dia cukup
menambahkannya dengan tanaman hasil bumi. Kalaupun lebih baik lagi, dia hanya
menambahkan dengan sedikit susu unta. Dia tidak memakan daging kecuali hanya
sedikit. Dia berkata, 'Jangan engkau jadikan perutmu menjadi kuburan binatang',
meskipun demikian dia adalah manusia yang paling kuat dan paling kokoh.[276]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Adapun dari sisi
ibadah, dari dialah manusia belajar salat malam, dawam membaca wirid dan
melakukan ibadah-ibadah nafilah. Bagaimana pendapat Anda tentang seorang
laki-laki yang dahinya kapalan tidak ubahnya seperti lutut unta. Salah satu
bukti bagaimana dia begitu menjaga kewajiban agamanya, dia membentangkan tikar
sajadah yang terbuat dari kulit pada saat perang Shiffin. Dia tetap mengerjakan
salatnya pada saat anak-anak panah berjatuhan di hadapannya dan melewati kedua
telinganya. Dia tidak gentar, dan terus melanjutkan salatnya hingga selesai.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Jika Anda menyimak
dan memperhatikan berbagai doa dan munajatnya, serta melihat pengagungan Allah
yang terdapat di dalam doanya, dan begitu juga ketundukan akan kebesaran-Nya
dan kekhusyukan akan keagungan-Nya, niscaya Anda akan mengetahui betapa besar keikhlasan
yang terkandung di dalamnya. Imam Ali Zainal Abidin, setiap malamnya
mengerjakan salat sebanyak seribu rakaat, namun dia masih mengatakan, 'Aku
tertinggal apabila dibandingkan dengan ibadah Ali.'[277]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Adapun dalam masalah
keberanian, Ali bin Abi Thalib adalah tokohnya. Dia adalah seorang pemberani
yang tidak pernah lari dari medan perang, dan tidak pernah gentar menghadapi
sekelompok pasukan. Tidak ada seorang pun yang datang menantang kecuali pasti
dibunuhnya. Tebasan pedangnya hanya sekali tebasan, dan tidak memerlukan kepada
tebasan yang kedua.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Di dalam hadis
disebutkan bahwa pukulan-pukulan pedangnya ganjil.[278] Orang-orang musyrik,
jika melihat Ali di dalam medan peperangan mereka berwasiat kepada satu sama
lainnya. Dengan pedangnyalah bangunan agama menjadi kokoh, dan para malaikat
merasa kagum akan kehebatan serangan dan pukulan pedangnnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Di dalam perang
Badar, yang merupakan cobaan berat atas kaum Muslimin, Ali bin Abi Thalib
berhasil membunuh pahlawan-pahlawan Quraisy, seperti Walid bin 'Utbah, 'Ash bin
Sa'id, dan Naufal bin Khuwailid, yang menahan Abu Bakar dan Thalhah sebelum
hijrah. Rasulullah saw telah bersabda, 'Segala puji bagi Allah yang telah
memperkenankan doaku berkenaan dengannya.'[279] Ali bin Abi Thalib terus
membunuhi pahlawan-pahlawan Quraisy satu demi satu, sehingga dia berhasil
membunuh setengah dari keseluruhan jumlah kaum musyrik yang terbunuh di perang
Badar, yang jumlah keseluruhannya sebanyak tujuh puluh orang. Sementara seluruh
kaum Muslimin yang lainnya, beserta tiga ribu malaikat, berhasil membunuh
setengah yang lainnya.[280] Di sini lah Jibril berkata,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;'Tidak ada pedang
kecuali Dzul Fiqar, dan tidak ada pemuda kecuali Ali."[281]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Pada saat perang
Uhud, manakala kaum Muslimin tercerai berai dari Rasulullah saw, dan Rasulullah
saw dibanting ke tanah dan dipukuli dengan tombak dan pedang oleh orang-orang
musyrik, Ali as berdiri kokoh di hadapan Rasulullah saw sambil menghunus
pedang. Ketika Rasulullah saw melihat kepadanya, setelah siuman dari
pingsannya, Rasulullah saw bertanya, 'Wahai Ali, apa yang telah dilakukan oleh
kaum Muslimin?'&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Ali bin Abi Thalib as
menjawab, 'Mereka telah melanggar sumpah dan telah lari dari medan peperangan.'&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Rasulullah saw
berkata, 'Lindungi aku.' Maka Ali pun membuka kepungan mereka, dan menghadapi
sekelompok pasukan demi sekelompok pasukan musuh, sambil memanggil kaum
Muslimin, hingga akhirnya mereka kembali berkumpul. Jibril as berkata kepada
Rasulullah saw, 'Sungguh ini merupakan pembelaan. Para malaikat merasa kagum
dengan pembelaan yang dilakukan oleh Ali untukmu.'&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Rasulullah saw
berkata, 'Tidak ada yang mencegahnya melakukan itu. Karena dia adalah bagian
dariku dan aku bagian darinya.'[282] Karena keteguhan Ali itulah akhirnya
sebagian kaum Muslimin kembali lagi, termasuk Usman, yang baru kembali setelah
tiga hari. Rasulullah saw berkata kepada Usman. 'Engkau pergi membawa
peringatan.'[283]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Pada perang Khandaq,
pada saat kaum musyrikin mengepung kota Madinah, sebagaimana yang dikatakan
oleh Allah SWT di dalam Al-Qur'an, '(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari
atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatanmu dan hatimu
naik menyesak sampai ketenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan
berbagai macam sangkaan' (QS. Al-Ahzab: 10), dan Amr bin Abdul Wudd berhasil
mendobrak parit kaum Muslimin, serta menantang duel kepada kaum Muslimin,
sementara tidak ada seorang pun dari kaum Muslimin yang berani menghadapinya,
maka tampillah Ali bin Abi Thalib dengan mengenakan sorban Rasulullah saw,
sementara tangannya menenteng sebilah pedang. Dengan cepat Ali bin Abi Thalib
memukulkan pedangnya kepada Amr bin Abdi Wudd, dengan sebuah pukulan pedang
yang menyamai amal perbuatan seluruh jin dan manusia hingga hari kiamat.[284]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Di mana Abu Bakar,
Umar dan Utsman pada saat itu?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Orang yang membaca
kitab peperangan karya al-Waqidi dan kitab sejarah karya al-Baladzari, niscaya
akan mengetahui bagaimana kedudukan Ali di sisi Rasulullah, dari sisi jihad dan
keberaniannya pada perang Ahzab, perang Bani Musthaliq, pada saat mengangkat
pintu benteng khaibar, dan pada saat perang khaibar. Peristiwa-peristiwa ini
merupakan peristiwa-peristiwa yang amat terkenal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Abu Bakar al-Anbari
meriwayatkan di dalam kitabnya al-Amali, Ali duduk di sisi Umar di mesjid,
sementara di samping mereka banyak orang yang hadir. Pada saat Ali berdiri dan
meninggalkan majlis, salah seorang dari mereka yang hadir mengatakan bahwa Ali
itu sombong.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Umar berkata, 'Orang
sepertinya berhak untuk sombong. Kalau bukan karena pedangnya tidak akan tegak
berdiri pilar-pilar agama. Dia adalah orang yang paling mengetahui di antara
umat ini, dan paling mempunyai kedudukan.'&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Orang itu bertanya
kepada Umar, 'Lantas, apa yang mencegah Anda darinya, wahai Amirul Mukminin?'&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Umar menjawab, 'Tidak
ada yang kami tidak sukai darinya kecuali karena umurnya yang masih muda,
kecintaannya kepada Bani Abdul Muththalib, dan dia yang membawa surat
al-Bara'ah ke kota Mekkah.'&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Ketika Ali bin Abi
Thalib mengajak Muawiyah untuk berduel hingga terbunuh salah seorang dari
mereka, guna menghentikan peperangan di antara umat, Amr bin Ash berkata kepada
Muawiyah, 'Laki-laki itu telah bertindak adil kepadamu.'&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Muawiyah berkata
kepada Amr bin Ash, 'Belum pernah sekali pun engkau menipuku di dalam
memberikan nasihat kepadaku kecuali pada hari ini. Engkau menyuruhku untuk
berduel dengan Abul Hasan, padahal engkau tahu dia adalah seorang pemberani
yang perkasa? Aku lihat, tampaknya engkau menginginkan kekuasaan negeri Syam
sepeninggalku.'[285]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Orang Arab merasa
bangga apabila berhadapan dengan Ali bin Abi Thalib as di dalam medan
peperangan. Kabilah mereka merasa bangga apabila yang membunuh mereka adalah
Ali. Hal ini tampak jelas sekali dalam ucapan-ucapan mereka. Ummu Kultsum[286]
berkata berkenaan dengan terbunuhnya Amr bin Abdul Wudd,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;'Seandainya pembunuh
Amr bukanlah pembunuhnya, niscaya aku akan menangisinya selamanya, dan sekejap
pun aku tidak mau hidup. Namun, pembunuhnya adalah orang yang tidak ada
tandingannya, yang ayahnya telah menganggapnya sebagai orang yang
terpandang.'[287]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Adapun tentang
kedermawanannya, dialah yang telah menyelesaikan puasanya hingga tiga hari
berturut-turut dengan menyedekahkan makanan untuk buka puasanya kepada
peminta-minta setiap malamnya. Hingga Allah SWT menurunkan ayat berkenaan
dengannya, 'Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia
ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?' (QS. Al-Insan: 1)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Kemudian dia
menyedekahkan cincinnya ketika ruku, maka turunlah ayat yang berbunyi,
'Sesungguhnya pemimpin kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang
beriman, yang mendirikan salat dan menunaikan zakat dalam keadaan ruku.' (QS.
Al-Maidah: 55)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Dia juga bersedekah
dengan empat dirham, lalu Allah SWT menurunkan ayat yang berbunyi, 'Orang-orang
yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara sembunyi-sembunyi
dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada
kekhawatiran terhadap mereka dan tidakpula mereka bersedih hati.' (QS.
Al-Baqarah: 274)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Dialah orang yang
menyiram kebun pohon korma dengan tangannya dan kemudian menyedekahkan uang
upah yang diperoleh darinya. Muawiyah bin Abi Sufyan, yang merupakan musuhnya,
manakala Mahjan adh-Dhibbi berkata kepadanya, 'Saya telah datang dari sisi
manusia yang paling kikir', mengatakan, 'Celaka engkau, apa yang engkau
katakan? Engkau mengatakan dia manusia yang paling kikir? Tidak, seandainya dia
mempunyai sebuah rumah yang terbuat dari lempengan emas dan sebuah rumah lagi
yang terbuat dari jerami, niscaya terlebih dahulu dia akan menginfakkan
rumahnya yang terbuat dari emas, sebelum rumahnya yang terbuat dari
jerami.'[288]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Dialah yang telah
mengatakan, 'Wahai kuning (emas), wahai putih (perak), bujuklah selain aku.
Jauhlah, jauhlah engkau dariku. Sesungguhnya aku telah memberimu talak tiga,
yang tidak ada kemungkinan untuk kembali.'[289]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Dialah yang telah
merelakan jiwanya dengan tidur di ranjang Rasulullah saw pada malam ketika
rumah Rasulullah saw dikepung orang-orang musyrik Quraisy. Hingga Allah SWT
menurunkan ayat berkenaan dengannya, Dan di antara manusia ada orang yang
mengorbasnkan dirinya karena mencari keridaan Allah; dan Allah Maha Penyantun
kepada hamba-hamba-Nya.'" (QS. Al-Baqarah: 207)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Yohanes berkata,
"Ketika mendengar perkataan ini, tidak ada seorang pun dari mereka yang
mengingkarinya. Mereka mengatakan, 'Anda benar. Apa yang Anda katakan ini, kami
telah membacanya di dalam kitab-kitab kami, dan kami telah menukilnya dari
imam-imam kami. Akan tetapi, kecintaan Allah dan Rasul-Nya dan juga perhatian
keduanya adalah sesuatu yang ada di belakang semua ini. Mungkin saja Allah SWT
mempunyai perhatian yang lebih besar dibandingkan perhatian yang diberikan-Nya
kepada Ali.'&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Yohanes berkata, 'Sesungguhnya
kita tidak mengetahui yang ghaib, dan tidak ada yang mengetahui yang ghaib
selain Allah. Apa yang Anda katakan ini adalah sebuah kebohongan, padahal Allah
SWT telah berfirman, 'Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta.' (QS.
adz-Dzariyat: 10) Kita semata-mata hanya menghukumi berdasarkan bukti-bukti
yang menunjukkan kelebih-utamaan Ali, dan kemudian kita pun mengemukakan
bukti-bukti tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Adapun mengenai
perhatian Allah terhadap Ali as, keutamaan-keutamaan di atas merupakan dalil
yang pasti akan besarnya perhatian Allah SWT terhadapnya. Perhatian mana yang
lebih baik dari dijadikannya dia oleh Allah SWT sebagai manusia yang paling
mulia nasabnya setelah Rasulullah, sebagai manusia yang paling besar
kesabarannya, sebagai manusia yang paling berani hatinya, sebagai manusia yang
paling banyak jihadnya, paling banyak kezuhudannya, paling banyak ibadahnya,
paling tinggi kedermawanannya, paling tinggi kewarakannya, dan sifat-sifat
kesempurnaan lainnya yang telah disebutkan. Ini adalah perhatian dari Allah SWT
terhadapnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Adapun mengenai
kecintaan Allah SWT dan Rasul-Nya kepadanya, Rasulullah saw telah memberikan
kesaksian tentang hal itu pada banyak kesempatan. Salah satunya adalah apa yang
telah dikatakan oleh Rasulullah saw pada saat perang khaibar, yang tidak ada
seorang pun dapat mengingkarinya. Rasulullah saw berkata, 'Besok, saya akan
memberikan panji ini kepada seorang laki-laki yang mencintai Allah dan
Rasul-Nya dan dicintai oleh Allah SWT dan Rasul-Nya.'[290] Kemudian Rasulullah
saw memberikan panji tersebut kepada Ali.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Seorang ulama Anda
yang bernama Akhthab Kharazmi meriwayatkan di dalam kitabnya yang berjudul
al-Manaqib, bahwa Rasulullah saw telah bersabda, 'Ya Ali, sekiranya seorang
hamba beribadah kepada Allah SWT sebagaimana yang telah dilakukan oleh Nuh
kepada kaumnya, dan dia mempunyai emas sebanyak gunung Uhud, lalu diinfakkannya
di jalan Allah, serta mempunyai umur yang panjang sehingga dapat menunaikan
ibadah haji sebanyak seribu kali, kemudian dia terbunuh di antara Shafa dan
Marwa secara teraniaya, namun dia tidak menjadikan kamu sebagai pemimpin,
niscaya dia tidak akan bisa mencium baunya surga dan tidak akan bisa
memasukinya.'[291]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Di dalam kitab yang
sama juga disebutkan bahwa Rasulullah saw telah bersabda, 'Sekiranya manusia
sepakat di dalam mencintai Ali bin Abi Thalib, niscaya Allah SWT tidak akan
menciptakan neraka.'[292]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Di dalam kitab
al-Firdaus disebutkan, 'Kecintaan kepada Ali adalah kebaikan yang bersamanya
tidak ada satu pun keburukan yang dapat mendatangkan bahaya, dan kebencian
kepadanya adalah keburukan yang bersamanya tidak ada satu pun kebaikan yang
dapat mendatangkan manfaat.'[293]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Di dalam kitab Ibnu
Khaluyah, dari Hudzaifah bin Yaman yang berkata, 'Rasulullah saw telah
bersabda, 'Barangsiapa yang hendak bersedekah dengan batu cincin yakut yang
telah Allah SWT ciptakan dengan tangan-Nya, dan kemudian Allah SWT katakan
kepadanya, 'jadilah', lalu kemudian batu cincin yakut itu pun jadi, maka
hendak-nya dia menjadikan Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin sepeninggalku'&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Pada Musnad Ahmad bin
Hanbal, di dalam jilid pertama disebutkan bahwa Rasulullah saw memegang tangan
Hasan dan Husain seraya berkata, 'Barangsiapa yang mencintaiku dan mencintai
kedua anak ini serta mencintai ayah keduanya, niscaya pada hari kiamat dia akan
berada dalam derajatku."'[294]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;"&gt;Yohanes berkata,
"Wahai para imam Islam, apakah setelah semua ini masih terdapat
pembicaraan tentang perkataan Allah SWT dan Rasul-Nya yang berkaitan dengan
kecintaan kepadanya dan pelebihannya atas orang-orang yang tidak memiliki
keutamaan-keutamaan ini?'&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>DIALOG YOHANES DENGAN PARA ULAMA MAZHAB YANG EMPAT I</title><link>http://andikfn.blogspot.com/2012/07/dialog-yohanes-dengan-para-ulama-mazhab.html</link><category>artikel</category><category>kisah</category><author>noreply@blogger.com (ANDIK FN)</author><pubDate>Sun, 29 Jul 2012 15:45:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6659801012355790768.post-5285419178758338014</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Kita akhiri pasal ini
dengan dialog yang terjadi di antara Yohanes dengan ulama mazhab yang empat.
Ini merupakan dialog yang paling indah di dalam bab ini. Para pembaca hendaknya
merenungi berbagai hujjah yang kokoh dan bijaksana yang terdapat di dalam dialog
ini. Saya menukil dialog ini dari kitab Munadzarah fi al-Imamah, karya Abdullah
Hasan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Yohanes berkata,
"Ketika saya melihat berbagai perselisihan di kalangan para sahabat besar,
yang nama-nama mereka disebut bersama nama Rasulullah di atas mimbar, hati saya
menjadi resah dan gelisah, dan hampir saya mendapat musibah dalam agama saya.
Maka saya pun bertekad untuk pergi ke Baghdad, yang merupakan kubah Islam,
untuk menanyakan berbagai perselisihan yang terjadi di antara para ulama kaum
Muslimin yang saya lihat, supaya saya dapat mengetahui kebenaran dan
mengikutinya. Ketika saya berkumpul dengan para ulama dari mazhab yang empat
saya berkata kepada mereka, 'Saya adalah seorang dzimmi, dan Allah SWT telah
menunjukkan saya kepada Islam, maka saya pun memeluk Islam. Sekarang, saya
datang kepada Anda untuk mendapatkan ajaran agama, syariat Islam dan hadis dari
Anda, supaya bertambah pengetahuan saya di dalam agama saya.'&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Yang tertua dari
mereka —yang merupakan seorang ulama Hanafi— berkata, 'Wahai Yohanes, mazhab
Islam itu ada empat. Oleh karena itu, pilihlah salah satu darinya, dan kemudian
mulailah baca kitab yang kamu kehendaki.'&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Saya berkata
kepadanya, 'Saya melihat terdapat perselisihan, namun saya tahu bahwa kebenaran
ada pada salah satu di antaranya. Maka Oleh karena itu, pilihkanlah bagi saya
—menurut yang Anda ketahui— kebenaran sebagaimana yang dipegang oleh Nabi
Anda.'&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Ulama Hanafi itu
berkata, 'Sesungguhnya kami tidak mengetahui dengan pasti kebenaran mana yang
dipegang oleh Nabi kami, namun kami yakin bahwa jalannya tidak keluar dari
salah satu kelompok Islam yang ada. Masing-masing dari kami yang empat
mengatakan bahwa kamilah yang benar namun mungkin juga salah. Masing-masing
mereka juga mengatakan bahwa selainnya salah namun mungkin juga benar.
Singkatnya, sesungguhnya mazhab Hanafi adalah mazhab yang paling dekat dan
paling sesuai dengan sunah. Mazhab yang paling masuk akal dan mazhab yang
paling tinggi di kalangan manusia. Mazhab Hanafi adalah mazhab yang paling
banyak dipilih oleh umat, dan bahkan mazhab pilihan para sultan. Kamu harus
berpegang kepadanya, niscaya kamu selamat.'"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Yohanes berkata,
"Maka berteriaklah Imam dari mazhab Syafi’i, dan saya kira terdapat
perselisihan di antara Syafi’i dan Hanafi. Imam mazhab Syafi’i itu berkata
kepada ulama Hanafi tersebut, 'Diam, jangan kamu bicara. Demi Allah, kamu telah
membual dan telah berdusta. Dari mana kamu mengistimewakan suatu mazhab atas
mazhab-mazhab yang lain, dan dari mana kamu menguatkan (tarjih) seorang
mujtahid atas mujtahid-mujtahid yang lain? Celaka kamu. Di mana kamu telah
mempelajari apa yang telah dikatakan oleh Abu Hanifah, dan apa-apa yang telah
diqiyaskan dengan ra'yunya? Sesungguhnya dia (Abu Hanifah)lah orang yang
disebut dengan sebutan 'tuan ra'yu', yang berijtihad dengan sesuatu yang
bertentangan dengan nas, yang menggunakan istihsan di dalam agama Allah.
Sampai-sampai dia meletakkan pendapatnya yang lemah dengan mengatakan, 'Jika
seorang laki-laki yang berada di India menikahi seorang wanita yang ada di
Romawi dengan akad syar'i. Lalu, setelah beberapa tahun kemudian laki-laki itu
mendatangi istrinya dan mendapatinya dalam keadaan hamil dan menggendong anak.
Laki-laki itu bertanya kepada istrinya, 'Siapa mereka ini?' Wanita itu
menjawab, 'Anak-anakmu'. Kemudian laki-laki itu mengadukan masalah itu kepada
seorang qadhi Hanafi, maka qadhi Hanafi itu akan menetapkan bahwa anak-anak
tersebut adalah berasal dari tulang sulbinya, dan dinisbahkan kepadanya baik
secara zahir maupun secara batin. Dia mewariskan kepada mereka dan mereka pun
mewariskan kepadanya.' Laki-laki itu protes, 'Bagaimana mungkin, padahal saya
belum pernah menyentuhnya sama sekali?' Maka qadhi Hanafi itu menjawab,
'Mungkin saja Anda pernah berjunub, atau Anda pernah keluar mani lalu air mani
Anda terbang dan jatuh ke dalam kemaluan wanita ini.'[224] Wahai Hanafi, apakah
ini sesuai dengan Kitab dan sunah?'"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Ulama Hanafi
menjawab, 'Benar, anak-anak itu dinisbahkan kepadanya. Karena wanita itu adalah
tempat tidurnya, dan tempat tidur dinisbahkan kepada seorang laki-laki melalui
akad syar'i, serta tidak disyaratkan harus adanya jimak. Rasulullah saw telah
bersabda, 'Anak milik tempat tidur (istri), sedangkan batu milik pelacur.'
Ulama Syafi’i itu tetap bersikeras menolak terjadinya tempat tidur dengan tanpa
jimak, dan dia pun berhasil mengalahkan ulama Hanafi di atas dengan berbagai
Hujjah yang dikeluarkan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Ulama Syafi’i berkata
lebih lanjut, 'Abu Hanifah juga berkata, 'Jika seorang wanita dibawa ke rumah
suaminya; lalu seorang laki-laki lain menggaulinya. Kemudian laki-laki lain itu
mengaku di hadapan qadhi Hanafi bahwa dirinya telah menikahi wanita tersebut
sebelum wanita itu dinikahi oleh laki-laki yang membawanya ke rumahnya, lalu
laki-laki yang mengaku itu mengajukan dua orang fasik untuk memberikan
kesaksian palsu atas pengakuannya itu. Maka qadhi Hanafi itu akan memutuskan
bahwa wanita itu haram bagi suaminya yang pertama (yang membawanya ke rumahnya
—penerj.), baik secara zahir maupun batin, tertetapkannya ikatan pernikahan di
antara wanita itu dengan laki-laki yang kedua, dan wanita itu halal baginya
baik secara zahir maupun batin.'[225] Lihatlah, wahai manusia, apakah ini
mazhab orang yang mengenal kaidah-kaidah Islam?'&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Ulama Hanafi itu
berkata, 'Anda tidak berhak mengkritik. Karena dalam pandangan kami hukum qadhi
berlaku baik secara zahir maupun batin, dan ini merupakan cabang darinya.'
Ulama Syafi’i berhasil mengalahkannya, dan melarang berlakunya hukum qadhi baik
secara zahir maupun batin dengan firman Allah SWT yang berbunyi,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;'Dan hendak lah kamu
memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang telah diturunkan Allah'
(QS. al-Maidah: 49)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Ulama Syafi’i
berkata, 'Abu Hanifah telah berkata, 'Jika seorang laki-laki ghaib dari
istrinya, dan terputus khabar mengenainya, lalu datang seorang laki-laki lain
berkata kepada wanita itu, 'Sesungguhnya suami kamu telah mati, maka oleh
karena itu, tinggalkanlah dia.' Lalu wanita itu pun meninggalkan suaminya yang
ghaib itu. Kemudian, setelah habis masa iddah, datanglah seorang laki-laki
menikahinya dan menggaulinya, dan kemudian wanita itu melahirkan beberapa orang
anak. Setelah itu, laki-laki yang kedua itu ghaib, dan kemudian laki-laki yang
pertama muncul di sisi wanita itu, maka seluruh anak dari laki-laki yang kedua
menjadi anak dari laki-laki yang pertama. Dia menerima waris dari mereka dan
mereka menerima waris darinya.'[226]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Wahai orang-orang
yang berakal, apakah orang yang pandai dan mengerti akan mau berpegang kepada
perkataan ini?'&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Ulama Hanafi
menjawab, 'Abu Hanifah mengambil perkataan ini dari sabda Rasulullah saw yang
berbunyi, 'Anak milik ranjang (istri) dan batu milik pelacur.' Maka ulama
Syafi’i memprotes dengan mengatakan bahwa istri disyarati dengan adanya dukhul
(disetubuhi), dan dia mampu mengalahkan ulama Hanafi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Kemudian ulama
Syafi’i berkata, 'lmam kamu Abu Hanifah telah berkata, 'Laki-laki mana saja
yang melihat seorang wanita Muslim, lalu dia mengklaim bahwa suami wanita
tersebut telah menceraikannya, dan kemudian dia mendatangkan dua orang saksi
yang memberikan kesaksian palsu yang menguntungkan baginya, maka qadhi
memutuskan terjadinya talak atas wanita tersebut, dan wanita itu menjadi haram
bagi suaminya, sehingga dengan begitu boleh bagi laki-laki yang mengklaim itu
menikahinya, dan begitu juga bagi saksi.'[227] Dia menyangka hukum qadhi
berlaku baik secara zahir maupun batin.'&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Ulama Syafi’i
melanjutkan kata-katanya, 'lmam kamu Abu Hanifah mengatakan, 'Jika empat orang
laki-laki bersaksi bahwa seorang laki-laki telah berzina, jika laki-laki itu
membenarkan mereka, maka gugurlah hadd (hukuman), namun jika dia menyangkal
mereka maka tertetapkanlah hukuman baginya.'[228] Ambillah pelajaran, wahai
orang-orang yang memiliki penglihatan.'&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Kemudian ulama
Syafi’i berkata lagi, 'Abu Hanifah telah berkata, 'Jika seorang laki-laki
mensodomi seorang anak laki-laki dan kemudian membenamkannnya, maka tidak ada
hadd baginya kecuali hanya ditegur.'[229]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Padahal Rasulullah
saw telah bersabda, 'Barangsiapa yang melakukan perbuatan kaum Luth, maka
bunuhlah pelakunya (al-fa'il) dan orang yang menjadi objeknya
(al-maf'ul).'[230] Abu Hanifah berkata, 'Jika seseorang merampas biji gandum
lalu dia menggilingnya, maka biji gandum itu menjadi miliknya karena telah
menggilingnya. Jika kemudian pemilik biji gandum itu hendak mengambil biji
gandum yang telah digiling itu dengan cara memberikan upah menggiling kepada
orang yang merampas, maka tidak wajib orang yang merampas itu memenuhi
permintaannya dan dia boleh menolaknya. Jika pemilik gandum itu terbunuh maka
darahnya terbuang dengan sia-sia, sedangkan jika perampas itu terbunuh maka
pemilik gandum itu harus dibunuh karena telah membunuhnya.'[231]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Abu Hanifah juga
berkata, 'Jika seorang pencuri mencuri seribu dinar dari seseorang lalu dia
juga mencuri seribu dinar berikutnya dari yang lain, kemudian dia
menggabungkannya, maka semuanya menjadi miliknya, namun dia wajib memberi ganti
atasnya.'&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Abu Hanifah juga
berkata, 'Jika seorang Muslim yang bertakwa dan berilmu membunuh seorang kafir
yang bodoh maka orang Muslim itu wajib dibunuh. Karena Allah SWT telah
berfirman, 'Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang
kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.' (QS. an-Nisa: 141)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Abu Hanifah berkata,
'Jika seseorang membeli ibunya atau saudara perempuannya, lalu dia menikahi
keduanya, maka tidak berlaku hukuman (hadd) atasnya, meskipun dia mengetahui
dan sengaja melakukannya.'[232]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Abu Hanifah berkata,
'Jika seseorang menikahi ibu atau saudara perempuannya dalam keadaan dia
mengetahui bahwa mereka itu adalah ibu atau saudara perempuannya, dan kemudian
dia menggauli mereka, maka tidak ada hukuman atasnya, disebabkan akad nikah
tersebut akad syubhat.'[233]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Abu Hanifah berkata,
'Jika seseorang tidur dalam keadaan junub di sisi kolam yang berisi minuman
keras, lalu dia berbalik di dalam tidurnya dan kemudian jatuh ke kolam, maka
hilang junubnya dan dia menjadi suci.'&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Abu Hanifah juga
berkata, 'Tidak wajib niat di dalam wudu[234], dan juga di dalam
mandi.'[235][236] Padahal di dalam kitab sahih disebutkan, 'Sesungguhnya amal
perbuatan itu (terlaksana) dengan niat.'&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Abu Hanifah berkata,
'Tidak wajib membaca basmalah di dalam Fatihah[237], dan dia mengeluarkannya
dari surat al-Fatihah, padahal para khalifah telah menuliskannya di dalam
mushaf-mushaf setelah dilakukan pengeditan terhadap Al-Qur'an.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Abu Hanifah juga
berkata, 'Jika bangkai anjing yang sudah mati diambil kulitnya, lalu kulitnya
itu disamak, maka kulit anjing itu menjadi suci, meskipun digunakan untuk
tempat minum dan hamparan di dalam salat.'[238] Ini bertentangan dengan nas
yang menyatakan najisnya 'ain najasah, yang berarti haramnya pemanfaatannya.'&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Kemudian ulama
Syafi’i itu berkata, 'Wahai Hanafi, di dalam mazhabmu seorang Muslim tatkala
hendak salat boleh berwudu dengan menggunakan minuman keras, dan memulainya
dengan membasuh kaki serta mengakhirinya dengan membasuh kedua tangan.[239]
Kemudian memakai pakaian yang terbuat dari kulit bangkai anjing yang telah
disamak,[240] sujud di atas kotoran yang telah mengering, bertakbir dengan
menggunakan bahasa India, membaca surat al-Fatihah dengan bahasa Ibrani[241],
dan kemudian setelah al-Fatihah membaca 'du bargeh-ye sabz' —yaitu kata mudhammatan
(dua daun hijau), kemudian ruku, lalu tidak mengangkat kepalanya dari ruku
melainkan langsung sujud, serta dua sujud hanya dipisah dengan jeda waktu yang
sangat tipis tidak ubahnya seperti pemisah di antara dua mata pedang. Dan
apabila sebelum salam dia sengaja buang angin, maka salatnya sah, namun jika
dia tidak sengaja buang angin, maka salatnya batal.'[242]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Ulama Syafi’i kembali
berkata, 'Ambillah pelajaran, wahai orang-orang yang memiliki penglihatan.
Apakah seseorang boleh beribadah dengan ibadah yang seperti ini? Apakah boleh
bagi Nabi saw memerintahkan umatnya dengan ibadah yang seperti ini, yang tidak
lain hanya merupakan kebohongan yang dibuat-buat atas Allah SWT dan Rasul-Nya?'&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Ulama Hanafi
membantah, dan dengan penuh emosi dia berkata, 'Berhenti! Wahai Syafi’i. Semoga
Allah merobek mulutmu. Kamu kira kamu ini siapa sehingga berani mengecam Abu
Hanifah, mazhab kamu tidak ada apa-apanya dibandingkan mazhabnya. Mazhab kamu
lebih layak disebut mazhab Majusi. Karena di dalam mazhabmu seorang laki-laki
boleh menikahi anak perempuan dan saudara perempuannya hasil zina, dan boleh
mengumpulkan dua orang saudara perempuan hasil zina, dan begitu juga boleh
menikahi ibunya hasil zina, begitu juga bibinya hasil zina.[243] Padahal Allah
SWT telah berfirman,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;'Diharamkan atas kamu
menikahi ibumu, anak-anak perempuanmu, saudara-saudara perempuanmu,
saudara-saudara perempuan bapakmu dan saudara-saudara perempuan ibumu.' (QS.
an-Nisa' 23)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Sifat-sifat hakiki
ini tidak berubah dengan terjadinya perubahan syariat dan agama. Jangan kamu
mengira, wahai Syafi’i, wahai dungu, bahwa terlarangnya mereka dari menerima
waris berarti mengeluarkan mereka dari sifat-sifat hakiki ini. Oleh karena itu,
sifat-sifat tersebut di-idhafah-kan kepadanya, sehingga dikatakan 'anak
perempuan dan saudara perempuannya dari hasil zina'. Pembatasan (taqyid) ini
tidak menyebabkannya menjadi majazi (kiasan), sebagaimana kata-kata kita yang
berbunyi, 'saudara perempuannya yang berasal dari nasab', melainkan hanya untuk
memerinci. Sesungguhnya pengharaman di atas mencakup segala sesuatu yang
terkena lafaz di atas, baik yang hakiki maupun yang majazi, berdasarkan
kesepakatan. Berdasarkan kesepakatan, nenek termasuk ke dalam kategori ibu, dan
begitu juga cucu perempuan dari anak perempuan, maka Oleh karena itu, tidak
diragukan haramnya keduanya dinikahi berdasarkan ayat ini. Perhati-kanlah,
wahai orang-orang yang berpikir, bukankah mazhab ini tidak lain mazhab Majusi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Hai Syafi’i, Imam
kamu membolehkan manusia bermain catur,[244] padahal Rasulullah saw telah
bersabda, 'Tidak menyukai permainan catur kecuali seorang penyembah berhala.'&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Hai Syafi’i, Imam
kamu membolehkan berjoged, memukul rebana dan meniup seruling[245] bagi manusia.
Allah memburukkan mazhabmu, di mana di dalamnya seorang laki-laki menikahi ibu
dan saudara perempuannya, bermain catur, berjoged dan memukul rebana. Tidaklah
ini semua kecuali kebohongan yang dibuat-buat atas Allah SWT dan Rasul-Nya saw.
Tidak akan ada orang yang berpegang kepada mazhab ini kecuali orang yang buta
hatinya dari kebenaran."'&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Yohanes berkata,
"Perdebatan panjang terjadi di antara mereka berdua, lalu ulama Hanbali
membela ulama Syafi’i sedangkan ulama Maliki membela ulama Hanafi, sehingga
terjadilah perselisihan di antara ulama Maliki dan ulama Hanbali. Ulama Hanbali
berkata, 'Sesungguhnya Malik telah membuat suatu bid'ah di dalam agama, yang
karena bid'ah itu Allah SWT telah membinasakan umat-umat terdahulu, namun Malik
malah membolehkannya. Yaitu perbuatan mensodomi hamba sahaya. Padahal
Rasulullah saw telah bersabda, 'Barangsiapa yang mensodomi budak laki-laki,
maka bunuhlah pelaku (al-fa'il) dan orang yang menjadi objeknya
(al-maf'ul).'[246]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Saya pernah melihat
seorang bermazhab Maliki mengadukan seseorang kepada qadhi, bahwa dia telah
menjual budak laki-laki kepadanya namun budak itu tidak dapat digauli. Maka
qadhi itu memutuskan ada kekurangan pada budak laki-laki itu, dan Oleh karena
itu, pembelinya dapat mengembalikannya kembali kepada penjualnya. Apakah kamu
tidak malu kepada Allah, hai Maliki, mempunyai mazhab yang seperti ini,
sementara kamu mengaku-ngaku bahwa mazhabmu adalah sebagus-bagusnya mazhab?!
Imam kamu menghalalkan daging anjing. Allah pasti memburukkan mazhab dan keyakinanmu.'&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dengan serta merta
ulama Maliki menghardik dan berteriak, 'Dia kamu, hai mujassim (orang yang
mengatakan Allah berjisim). Justru mazhab kamu yang lebih layak untuk dilaknat
dan dijauhi. Karena dalam pandangan Imam kamu, Ahmad bin Hanbal, Allah itu
jisim yang duduk di atas 'arasy. Pada setiap malam Jumat Allah SWT turun dari
langit dunia ke atap-atap mesjid dalam bentuk wajah yang tidak berjanggut,
rambut yang keriting, mempunyai dua sandal yang talinya terbuat dari bunga
kurma, serta mengendarai keledai yang diiringi beberapa serigala.'"[247]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Yohanes berkata,
"Maka terjadilah perselisihan antara Hanbali dengan Maliki serta Syafi’i
dengan Hanafi. Mereka saling meninggikan suara mereka dan menelanjangi keaiban
mereka masing-masing, hingga menjengkelkan semua orang yang mendengarkan
perbincangan mereka, lalu orang-orang yang hadir pun mencela dan mengecam
mereka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Lalu saya berkata
kepada mereka, 'Demi Allah, saya bersumpah, saya tidak senang dengan
keyakinan-keyakinan Anda. Jika Islam benar sebagaimana yang Anda katakan, maka
sungguh celaka. Demi Allah, saya bersumpah kepada Anda, supaya Anda menutup
pembahasan ini dan pergi. Karena sekarang masyarakat umum telah mencela dan
mengecam Anda."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Yohanes berkata,
"Maka mereka pun berdiri, lalu berpisah dan kemudian tidak keluar dari
rumah masing-masing selama seminggu. Tatkala mereka keluar rumah, masyarakat
mengecam mereka. Setelah beberapa hari kemudian mereka pun berdamai dan
berkumpul di mustanshiriyyah, dan saya pun duduk dan berbincang-bincang kembali
bersama mereka. Saya berkata kepada mereka, 'Saya menginginkan seorang ulama
dari kalangan ulama rafidhi, supaya kita berdialog dengannya tentang mazhabnya.
Apakah Anda bersedia mendatangkan seorang dari mereka untuk kita berdialog
dengannya?'&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Ulama-ulama mazhab
empat itu berkata, "Wahai Yohanes, kelompok Rafidhah itu jumlahnya
sedikit. Mereka tidak bisa menampakkan diri di tengah-tengah kaum Muslimin,
karena sedikitnya jumlah mereka, dan juga karena banyaknya musuh mereka. Mereka
tidak akan menampakkan diri, apalagi dapat berdebat dengan kita tentang mazhab
mereka. Mereka itu sangat sedikit jumlahnya dan sangat banyak musuhnya."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Yohanes berkata,
"Ini merupakan pujian buat mereka, karena Allah SWT telah memuji kelompok
yang sedikit dan mencela kelompok yang banyak. Allah SWT berfirman,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;'Dan sedikit sekali
dari hamba-hambaKu yang bersyukur.' (QS. Saba: 13)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;'Dan tidaklah beriman
bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.'(QS. Hud: 40)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;'Dan jika kamu
menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan
menyesatkanmu dari jalan Allah.'(QS. al-An'am: 116)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;'Dan Engkau tidak
akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.' (QS. al-A'raf: 17)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;'Akan tetapi
kebanyakan manusia tidak bersyukur.' (QS. al-Baqarah: 243)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;'Akan tetapi
kebanyakan mereka tidak mengetahui.' (QS. al-An'am: 37)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;'Akan tetapi
kebanyakan manusia tidak beriman.' (QS. ar-Ra'd: 1)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dan ayat-ayat
lainnya."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Para ulama tersebut
berkata, "Wahai Yohanes, keadaan mereka lebih besar dari yang disifatkan.
Karena, jika kami mengenal salah seorang dari mereka, maka kami akan terus
membuntutinya hingga kami membunuhnya. Karena dalam pandangan kami, mereka itu
kafir dan halal darahnya. Bahkan, di kalangan para ulama kita ada yang
memberikan fatwa bahwa harta dan wanita mereka halal."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Yohanes berkata,
"Allah Mahabesar. Ini perkara yang besar sekali. Anda memandang mereka
berhak mendapatkan semua ini, apakah karena mereka mengingkari syahadatain?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Para ulama menjawab,
"Tidak."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Yohanes bertanya
lagi, "Apakah karena mereka tidak menghadap kiblat kaum Muslimin?"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Mereka menjawab,
"Tidak."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Yohanes bertanya
sekali lagi, "Apakah karena mereka mengingkari salat, puasa, haji, zakat
atau jihad?"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Mereka menjawab,
"Tidak. Bahkan mereka mengerjakan salat, puasa, zakat, haji dan
jihad."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Yohanes kembali
bertanya, "Apakah karena mereka mengingkari hari kebangkitan, shirat,
timbangan dan syafaat?"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Para ulama menjawab,
"Tidak. Bahkan mereka mengakui yang demikian dengan sebaik-baiknya
pengakuan."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Yohanes bertanya
lagi, "Apakah karena mereka membolehkan perbuatan zina, sodomi, meminum
khamar, riba, alat musik dan alat-alat hiburan lainnya?"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Mereka menjawab,
"Tidak. Bahkan mereka menjauhi dan mengharamkannya."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Yohanes berkata,
"Demi Allah, sungguh mengherankan, bagaimana mungkin sebuah kaum yang
bersaksi dengan dua syahadat (syahadatain), mengerjakan salat dengan menghadap
kiblat, berpuasa di bulan Ramadan, pergi haji ke Baitul Haram, meyakini hari
kebangkitan dan rincian perhitungan, dihalalkan darahnya, hartanya dan
wanitanya, padahal Nabi Anda sendiri telah bersabda, 'Saya diperintahkan untuk
memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan
bahwa Muhammad utusan Allah. Jika mereka mengatakan itu, maka terjagalah dariku
darahnya, hartanya dan wanitanya. Adapun perhitungan mereka berada di tangan
Allah."[248]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Para ulama itu
berkata, "Wahai Yohanes, sesungguhnya mereka telah membuat bid'ah di dalam
agama. Salah satunya ialah, mereka mengatakan bahwa Ali as adalah manusia
paling utama setelah Rasulullah saw, dan mereka lebih mengutamakannya atas para
khalifah yang tiga, padahal generasi pertama telah sepakat bahwa khalifah yang
paling utama adalah khalifah yang pertama."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Yohanes berkata,
"Bagaimana pendapat Anda jika ada orang yang mengatakan bahwa Ali lebih
baik dan lebih utama dari Abu Bakar, apakah Anda akan mengkafirkannya?"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Mereka menjawab,
"Ya. Karena dia telah menyalahi ijma'."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Yohanes bertanya
lagi, "Bagaimana pendapat Anda tentang muhaddis Anda yang bernama al-Hafidz
Abu Bakar Ahmad bin Musa bin Mardawaih?"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Para ulama menjawab,
"Dia orang yang dapat dipercaya. Diterima riwayatnya dan lurus
sifatnya."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Yohanes berkata,
"Ini kitabnya yang berjudul Kitab al-Manaqib. Di dalam kitab ini dia
meriwayatkan bahwa Rasulullah saw telah bersabda, 'Ali adalah sebaik-baiknya
manusia, barangsiapa yang enggan menerimanya, maka dia telah kafir.'&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Di dalam kitab ini
juga disebutkan, dari Salman, dari Rasulullah saw yang bersabda, "Ali bin
Abi Thalib adalah sebaik-baiknya orang yang aku jadikan pengganti
sepeninggalku."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Di dalam kitab ini
juga disebutkan, dari Anas bin Malik yang berkata bahwa Rasulullah saw telah
bersabda, "Saudaraku, pembantuku dan sebaik-baiknya orang yang aku jadikan
pengganti sepeninggalku adalah Ali bin Abi Thalib."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dari Imam Anda, Ahmad
bin Hanbal, dia meriwayatkan di dalam musnadnya bahwa Rasulullah saw telah
bersabda kepada Fatimah, "Tidakkah engkau rida aku nikahkan engkau dengan
orang yang paling pertama masuk Islam dari umatku, dan orang yang paling banyak
ilmunya serta paling besar kebijaksanaannya."[249]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-autospace: none;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Ahmad juga
meriwayatkan di dalam musnadnya bahwa Rasulullah telah bersabda, "Ya
Allah, datangkanlah kepadaku hamba-Mu yang paling Kamu cintai."[250] Lalu
datanglah Ali bin Abi Thalib. Hadis ini juga disebutkan oleh Nasa'i dan
Turmudzi di dalam kitab sahih mereka.[251] Mereka berdua juga termasuk ulama
Anda.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Zaranggi [Part. IV]</title><link>http://andikfn.blogspot.com/2012/07/zaranggi-part-iv.html</link><category>artikel</category><category>kisah</category><author>noreply@blogger.com (ANDIK FN)</author><pubDate>Sun, 29 Jul 2012 07:59:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6659801012355790768.post-8542194771171731456</guid><description>&lt;span class="fullpost"&gt;


    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;h2&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/h2&gt;
&lt;h1&gt;
&lt;span style="color: #ff6600;"&gt;Renungan Terbuka&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Terperanjat juga sang tokoh kita ini 
mendengar kata-kata Zaranggi. Tapi ia belum paham benar apa maksud 
Zaranggi. Maka, dengan sedikit heran, karena ia memang berusaha 
menutupinya, ia bertanya:&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Kenapa Nabi tidak boleh menyusunnya?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Lho… Anda 
tadi, di waktu menjelaskan rukun Islam dan rukun Iman, mengatakan bahwa 
Nabi itu adalah wakil Tuhan, bukankah begitu?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Benar” jawab sang tokoh pendek.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;

&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Nah… kalau 
begitu, karena ia wakil Tuhan, maka bolehkah ia mengatur dan menyusun 
sendiri firman-firman Tuhan itu Tuan? Bolehkah wakil Tuhan mengatur dan 
menyusun firman Tuhan?” Zaranggi terus mendesak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;&lt;span id="more-19"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Katakanlah 
tidak boleh, tapi dalam penyusunan itu tak akan mempengaruhi isinya dan 
tujuan diturunkannya al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia, Tuan”
 sang tokoh berusaha menjelaskan posisi al-Qur’an.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Aneh… aneh 
juga agama Tuan ini (desah Zaranggi). Kenapa Tuhan Anda tidak melakukan 
penyusunan itu dan mengesahkannya pada manusia.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Yah… katakanlah itu sebagai tugas manusia,” sang tokoh ingin lebih meyakinkan Zaranggi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Tuan! Dari 
mana Anda tahu bahwa itu adalah tugas manusia. Sebab, jangankan perintah
 untuk itu, dalil pembolehannya saja, dari agama, Anda tadi tidak dapat 
menunjukkan kepada saya. Lalu dari mana Anda dapat memahami itu?” 
Zaranggi terus mendesak tokoh kita. Dan tokoh kita tidak memberikan 
jawaban. Akhirnya Zaranggi meneruskan pertanyaannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Atau begini 
Tuan! (Zaranggi berusaha memberikan argumen lagi). Menyusun kitab tentu 
tidak mudah, sebab mana yang harus diletakkan di depan, di tengah dan di
 belakang. Dan dalam hal ini tidak ada petunjuk dari Tuhan Tuan. 
Sekarang saya mau bertanya, bagaimana kalau surat-surat itu tersusun 
tidak sesuai dengan apa yang Tuhan Anda kehendaki. Dan saya yakin 
susunan manusia itu tidak akan sama dengan yang ia kehendaki. Sebab, 
sebagaimana Anda katakan tadi, dalam hal tersebut tidak ada petunjuk 
dari-Nya.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Sudah saya 
katakan tadi (sang tokoh mengingatkan Zaranggi) bahwa tidak adanya 
petunjuk itu berarti penyusunannya itu terserah kepada kita. Dan hal itu
 berarti tidak merubah essensi al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Baiklah! (kata
 Zaranggi). Sekarang, saya mau bertanya apakah boleh seorang menulis 
al-Qur’an dalam bentuk lain dari al-Qur’an yang ada ini, Tuan. Artinya 
surat-surat yang di depan ditukar tempatnya dengan surat-surat yang ada 
di tengah atau di belakang?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Ah… itu tidak boleh dilakukan Tuan!” kata sang tokoh dengan sedikit gusar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Kenapa?” tanya Zaranggi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Karena akan menimbulkan ketidakseragaman di antara kaum muslimin,” jelas sang tokoh.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Apakah ketidakseragaman itu tidak baik Tuan?” Zaranggi terus bertanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Yah… kurang baik atau bahkan tidak baik sama sekali,” jawab sang tokoh.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Lho… (Zaranggi
 terkejut), apakah Tuhan Tuan tidak menyadari tentang hal ini Tuan, 
sehingga tidak menyusunnya, sehingga orang-orang akan memahami, seperti 
yang Anda katakan, bahwa tidak samanya susunan manusia dengan Tuhan 
tidak merubah essensi al-Qur’an? Atau berangkat dari namanya saja, yaitu
 kitab suci, yang menAndakan suci dari segala-galanya, akan menjadi 
tidak suci lagi kalau ada campur tangan manusia.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Kenapa begitu?” tanya tokoh kita yang semakin kebingungan ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Sebab bagi 
saya kitab suci termasuk berarti suci dari campur tangan manusia yang 
hina ini. Kitab suci haruslah hanya disusun oleh Tuhan sendiri. Dan 
al-Qur’an sulit untuk dipercaya oleh kami sebagai firman-Nya yang murni,
 seAndainya Ia lalai mewahyukan kepada Nabi-Nya untuk menyusun kitab-Nya
 itu. Lebih-lebih firman-Nya atau sunnah Nabi-Nya tidak ada yang 
menyuruh untuk itu, sesuai dengan apa yang tadi Anda katakan. Bagi saya 
kalau memang agama Islam ini benar, tidak adanya perintah dalam 
firman-Nya dan sunnah digabung dengan mustahilnya Tuhan membiarkan 
firman-Nya berserakan di daun-daun, kulit-kulit kayu, tulang-tulang dan 
lain-lain, menunjukkan bahwa ia telah menyusun semua firman-Nya itu 
dengan membimbing Nabi-Nya. Tapi yah… sekarang belum bisa kami yakini 
kebenaran Islam ini sebelum janji untuk menyelesaikan diskusi ini dapat 
Anda penuhi nantinya.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Dengan perasaan
 malu tapi ia berusaha untuk tetap tenang tokoh kita ini terpaksa 
berjanji untuk kesekian kalinya pada Zaranggi. Ia berkata:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Apa yang Anda katakan, semuanya tadi ada rada benarnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Saya kagum 
kepada kecemerlangan Tuan. Semoga saya dapat segera membantu Tuan dalam 
hal ini setelah saya memperdalam lagi. Dan sekali lagi maafkanlah kami 
dalam keterbatasan kami ini. Dan karena sekarang sudah tengah hari saya 
pikir untuk hari ini kita cukupkan sekian dulu. Untuk besok dan 
seterusnya, sementara, tidak ada pertemuan, sampai saya kembali nanti. 
Dan sekali lagi saya ucapkan maaf untuk ini serta terima kasih saya 
ucapkan untuk kedatangan dan perhatiannya selama ini&lt;/span&gt;&lt;span&gt;,” kata tokoh kita ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Setelah 
bersalam-salaman dengan penuh akrab, pertemuan pada hari itu, yang mana 
sebagai hari terakhir, telah berakhir. Dan tinggallah sang tokoh dengan 
beberapa muridnya untuk melakukan shalat zhuhur berjamaah. Setelah 
shalat sang tokoh sejenak melamun dan memikirkan kejadian besar yang 
baru pertamakali ia alami selama ia menyebarkan agama Islam. ia sedih 
dan menyesal serta memohon beribu-ribu ampunan dari Tuhan, ia minta 
petunjuk kepada Allah agar ia membimbingnya ke jalan yang benar (Shirath
 al-mustaqim).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Setelah itu ia 
menghadap murid-muridnya yang nampak semakin tegang melihat gurunya 
tidak bisa menjawab beberapa pertanyaan Zaranggi tadi. Dengan suara 
lirih dan penuh kasih sayang tokoh kita ini mengatakan:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Murid-muridku!
 Gurumu ini adalah ibarat setetes dari lautan luas pengetahuan Islam. 
Yakinkanlah bahwa kelemahan itu ada pada gurumu ini. Bukan pada Islam. 
Memang sekarang aku baru sadar bahwa apa yang dilakukan oleh sebagian 
muslimin, yaitu memperdalam logika dan filsafat, yang kami di pesantren 
dulu menganggap hal itu telah mengotori agama karena telah memasukkan 
unsur akal ke dalamnya, ternyata sangat bermanfaat untuk mempertahankan 
Islam. Bahkan tanpa akal, seperti yang terjadi tadi, kita tidak dapat 
mempertahankan kesuciannya. Terus terang, kami dulu waktu belajar di 
pesantren, kami merasa bahagia (bangga) dan sangat bersyukur kepada 
Allah karena ia telah membimbing kami kepada Islam murni. Artinya, 
karena kami hanya berpegang kepada al-Qur’an dan al-Hadits. Kami tidak 
menerima segala macam takwilan yang bersifat akli terhadap keduanya. 
Kami mengira hanya dengan kembali kepada keduanya kita akan selamat dan 
tidak akan terpecah seperti yang diisyaratkan dalam hadits (yaitu yang 
menjadi 73 bagian).”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Ee… maaf guru,” celetuk salah seorang murid.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Ah… tak apa, ada apa?” kata sang guru.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Bolehkah saya menanyakan satu hal?” jawab sang murid.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Boleh saja. Tanyakanlah!” si guru mempersilahkan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Guru! Apakah 
dalam al-Qur’an atau hadits tidak ada yang menganjurkan menggunakan akal
 dan mencerdaskannya dalam agama atau dalam mencari Tuhan?” ia 
menanyakan hal itu karena dalam dialog tadi, ketika ditanya mengenai 
apakah Tuhan ada dan Esa, ia perhatikan, gurunya hanya berdalil dengan 
al-Qur’an. Maka dari itu ketika dikejar, al-Qur’an pun, akhirnya, tak 
dapat dipertahankan sebagaimana Anda ketahui tadi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Ada, bahkan 
banyak (jawab gurunya). Misalnya ada yang mengatakan bahwa sebenarnya 
kalau engkau menggunakan akal maka akan mengerti kebenaran ada-Nya; 
Allah akan tunjukkan bukti kebenaran-Nya pada kita melalui alam 
ciptaan-Nya dan dari diri kita sendiri; Sesungguhnya penciptaan langit 
dan bumi dan seisinya adalah bukti-bukti bagi orang yang berilmu. Bahkan
 dikatakan dalam suatu ayat yang mengecam orang-orang bodoh, seperti, &lt;span&gt;“Sesungguhnya kebanyakan mereka tidak menggunakan akalnya (bodoh)”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Guru! (tanya 
sang murid lagi). Lalu mengapa guru katakan bahwa dalam Islam tidak 
boleh menggunakan akal dalam agama, khususnya dalam mengenal-Nya?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Itulah yang 
sedang kupikirkan. Dulu guruku dalam hal-hal tertentu menggunakan akal 
dan mencemooh orang yang tidak menggunakannya. Akan tetapi dalam bab-bab
 lain, misalnya ke-Esaan-Nya, al-Qur’an makhluk apa bukan, perjumpaan 
kita dengan-Nya di surga, rukun Iman ke-6, mukjizat merusak tatanan 
sunnah Allah apa tidak, orang shaleh bisa saja dimasukkan Allah ke 
neraka kalau ia berkehendak, dan lain-lain, guruku tidak mau menerima 
uraian golongan lain yang menggunakan akal di samping al-Qur’an. Guruku 
mengatakan bahwa agama tidak bisa di akal-akali. Berapa banyak perbedaan
 di antara kaum muslimin. Barangkali inilah yang dimaksud Nabi dengan 
perpecahan 73 golongan itu. Yah… (desah sang guru sambil menatap 
kejauhan yang seakan tak berbatas) yang mana yang benar, susah sekali 
mencarinya.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Guru! (kata 
sang murid lagi), masihkah ada perbedaan seAndainya kita kembali ke 
al-Qur’an dan hadits, sebagaimana yang diamalkan di pesantren guru?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Oh… ada, masih ada,” jawab sang guru dengan serta merta.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Barangkali hanya furu’ guru?” sang murid melanjutkan pertanyaannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Ah… tidak. 
Tidak muridku (jawab sang guru). Bahkan sampai ke’ syirik-mensyirikkan. 
Hal mana syirik adalah dosa yang paling besar dan menyangkut masalah 
keimanan. Dan walaupun sebagiannya adalah masalah furu’, akan tetapi 
kalau sudah sampai bid’ah-membid’ahkan, ini adalah masalah besar. Sebab 
setiap bid’ah adalah dhalalah, dan setiap dhalalah tempatnya di neraka. 
Jadi, shalat orang yang ada bid’ahnya, menurut yang membid’ahkan, bukan 
hanya shalatnya tidak diterima, akan tetapi bahkan menyebabkan mereka 
masuk neraka.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Guru! (lanjut 
sang murid), dulu guru pernah berkata bahwa di pesantren guru adalah 
termasuk golongan yang. kembali ke al-Qur’an dan hadits secara murni. 
Masihkah di sana ada perbedaan pendapat dalam agama, guru?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Wah… banyak, 
banyak sekali (jawab sang guru), kami hanya bersepakat dalam masalah 
bid’ah, khurafat, tahyul dan masalah-masalah kesyirikan. Akan tetapi 
dalam masalah ekonomi, sosial, politik dan lain-lain kami mempunyai 
setumpuk perbedaan.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Tapi itu kan tidak termasuk haram-mengharamkan guru,” kata sang murid.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Wah… siapa 
bilang (sergah si guru). Misalnya masalah bunga. Kita berbeda pendapat 
mengenainya. Ada yang tetap mengharamkan walaupun bunganya untuk 
kepentingan umum dan ada yang tidak. Atau katakanlah pada sebagian yang 
lain tidak dengan kata haram-mengharamkan. Akan tetapi seringkali kita 
dengar, misalnya, kurang Islami, dalam keadaan begini, Islam tidak boleh
 begini atau begitu, yang itu salah yang ini benar dan lain-lain, yang 
kata-kata itu acapkali saling kita lemparkan di antara sesama kita.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Kok bisa 
begitu guru?” kata salah seorang murid yang sejak tadi bengong saja. 
“Bukankah mereka sudah kembali ke al-Qur’an dan hadits?” lanjutnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Yah… sekarang 
aku baru sadar (kata sang guru), sejak perdebatanku dengan Zaranggi 
tadi, aku mulai mengerti bahwa al-Qur’an dan hadits yang dipakai adalah 
al-Qur’an dan al-Hadits yang kita pahami. Bukankah jelas sekali bahwa 
al-Qur’an dan hadits yang kita pahami belum tentu benar? Seandainya kita
 kembali ke al-Qur’an atau hadits, tapi yang benar-benar sesuai dengan 
keduanya, maka dapat dipastikan bahwa kita tidak akan bercerai-berai 
seperti sekarang ini. Karena di dalam al-Qur’an tidak terdapat 
kontradiksi sehingga bisa menimbulkan perpecahan ini.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Guru! (salah 
seorang dari mereka menyambung), apakah mungkin al-Qur’an dapat dipahami
 sebenar-benarnya, sehingga kalau kita kembali kepadanya pasti tidak 
akan bercerai-berai?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Itulah salah 
satu yang akan saya cari jawabannya. Sebab, saya sekarang memahami, dari
 kejadian tadi, bahwa karena mengingat agama Islam ini adalah agama 
akhir zaman, dan ia diturunkan untuk dijadikan pedoman, maka 
sesungguhnya mestilah al-Qur’an ini dapat dipahami sebenar-benar 
pemahaman.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Guru! (kata 
salah seorang muridnya yang lain), dulu guru pernah mengatakan bahwa 
Qur’an itu mengandung ayat-ayat yang jelas dan mutasyabihat. Sedang yang
 mutasyabihat (samar) tidak diketahui takwilnya kecuali Allah?” (Q.S. 
Ali Imran: 7).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Yah… dulu 
memang demikian (jawab sang guru). Tapi sekarang tidak lagi. Sebab, 
kalau al-Qur’an, walau sebagiannya, tidak dipahami kecuali Allah, maka 
buat apa al-Qur’an diturunkan untuk manusia? Bukankah al-Qur’an ini 
diturunkan supaya manusia mengambil petunjuk daripadanya? Nah, kalau 
sebagian ayatnya yang mutasyabihat tadi tidak dapat dipahami, lalu buat 
apa ayat itu diturunkan?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Maaf guru! 
(lanjut sang murid tadi), bukankah dengan mengatakan demikian berarti 
guru telah keluar dari makna ayat tadi, karena di ayat itu, untuk 
ayat-ayat yang mutasyabihat dikatakan bahwa, ‘…tidak ada yang tahu 
takwilnya kecuali Allah’?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Muridku (jawab
 sang guru dengan bijaksana) al-Qur’an itu ada titik komanya. Kaum 
muslimin berbeda pendapat dalam meletakkan koma pada ayat itu. Dan dulu 
aku meletakkan seperti yang engkau katakan itu. Akan tetapi, sekarang, 
setelah dialog tadi, dan karena alasan-alasan tadi, yaitu al-Qur’an 
diturunkan untuk diikuti yang mana sudah tentu harus dipahami terlebih 
dahulu, maka saya yakin bahwa koma pada ayat itu tidak terletak setelah 
Allah. Dan makna ayat itu sedikit berubah. Coba perhatikan! (katanya). 
Kalau komanya setelah Allah, maka ayat itu akan menjadi ‘…tidaklah ada 
yang tahu takwilnya kecuali Allah, dan orang-orang yang berpengetahuan 
mengatakan bahwa; semua dari Allah’. Akan tetapi kalau komanya 
diletakkan setelah orang-orang yang berpengetahuan, akan menjadi sebagai
 berikut, ‘…tidaklah ada yang tahu takwilnya kecuali Allah dan 
orang-orang yang berpengetahuan, yang mana mereka mengatakan semua dari 
Allah’. Sekarang aku yakin (tambahnya), bahwa peletakan koma yang kedua 
itulah yang benar.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Lalu, (kata sang murid seterusnya) siapakah orang-orang yang berpengetahuan atau al-rasyikhun itu guru?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Itulah yang harus saya selidiki. Dan saya rasa dalam hadits akan dapat dijumpai,” jawab sang guru dengan penuh harap.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Guru! (lanjut 
sang murid), barangkali perbedaan pendapat itu adalah rahmat. Sebab, 
dulu guru pernah membacakan sebuah hadits pada kami bahwa Nabi pernah 
bersabda: &lt;span&gt;Perbedaan pendapat umatku adalah rahmat&lt;/span&gt;.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Wah… itu dulu 
(kata sang guru) sekarang kita harus pikirkan lagi tentang hadits itu. 
Apakah hadits itu shahih atau tidak, atau bahkan mengandung makna yang 
lain”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Kenapa begitu guru?” si bengong terus bertanya dan semakin penasaran.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Muridku! (kata
 sang guru) apakah mungkin dikatakan sebagai suatu rahmat kalau 
segolongan dengan segolongan yang lain saling mensyirikkan, 
membid’ahkan, menyesatkan, mentidakIslamikan, menyalahkan dan 
sebagainya? Apakah agama yang satu dan suci mengandung hal-hal semacam 
itu? Tidak, tentu tidak, agama Islam hanya satu suara. Kalau haram ya 
haram, kalau bid’ah ya bid’ah dan seterusnya. Agama Islam tidak akan 
suci lagi kalau dinodai semacam tadi, apalagi di banggakan dengan 
kata-kata rahmat tadi.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Guru! (kata sang murid), apakah mungkin Islam satu suara dan kaum muslimin menyuarakannya?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Bukan mungkin 
lagi (kata sang guru) tapi bahkan mesti. Dan bagi saya tak perduli 
orang-orang, baik kafir atau muslim, mengikutinya atau tidak.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Lalu, bagaimana caranya guru?” tanyanya lagi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Saya pikir, sebagai langkah pertama, kita harus cari siapa yang dimaksud dengan ‘&lt;span&gt;Orang-orang yang berpengetahuan’&lt;/span&gt;
 dalam ayat tadi,” jawab sang guru dengan mantap. Tapi pada wajahnya 
yang sudah mulai keriput itu nampak bahwa ia dalam keadaan sedih dan 
cemas. Yah… cemas karena takut tidak dapat menemukan yang akan ia cari 
itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Begitulah, pada
 pagi hari pada beberapa hari setelah dialog dengan Zaranggi, sang guru 
atau sang tokoh kita ini disertai murid-muridnya pergi meninggalkan kota
 Hamadan. Padang pasir panas dan ganas yang terbentang luas di hadapan 
mereka tidak menjadi penghalang bagi kepergian mereka. Yah…mereka pergi 
untuk mencari, mencari dan mencari, sesuatu yang dapat menyelamatkan 
mereka dari gurun akhirat (mahsyar) yang jauh lebih panas dan 
menyeramkan. Di hari yang pada hari itu tidak lagi kita dapat 
memperbaiki kekeliruan kita seperti tokoh kita ini.[]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;

[&lt;em&gt;tamat&lt;/em&gt;...]&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Zaranggi [Part. III]</title><link>http://andikfn.blogspot.com/2012/07/zaranggi-part-iii.html</link><author>noreply@blogger.com (ANDIK FN)</author><pubDate>Sun, 29 Jul 2012 07:57:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6659801012355790768.post-3933521171676812917</guid><description>&lt;span class="fullpost"&gt;


    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;h2&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/h2&gt;
&lt;h1&gt;
&lt;span style="color: #ff6600;"&gt;Renungan Terbuka&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Yah… memang demikian” kata sang tokoh 
tidak dapat menolak kata-kata Zaranggi. Karena ia sadar perbedaan 
pendapat dalam banyak hal dalam Islam terjadi. Bahkan sampai kepada 
saling syirik-menyirikkan atau sesat-menyesatkan. “Akan tetapi 
(sambungnya) asal tidak bertentangan dengan Qur’an, kita dapat 
mengambilnya. Lagi pula walaupun penentu utama keshalehan adalah batin, 
akan tetapi hal itu dapat dipantau melalui amal-amal lahirnya. Dan 
amal-amal lahir itu ibarat sinar matahari. Artinya karena sinar matahari
 itu menunjukkan adanya matahari itu sendiri, maka amal-amal shaleh itu 
dapat menunjukkan keimanan seseorang.”&lt;/div&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;

&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Kini Zaranggi 
betul-betul ingin membuktikan kebenaran Islam yang dibawa tokoh kita 
ini. Maka dari itu, ia terus mendesak tokoh kita. ia berkata:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Apa yang Tuan 
sampaikan tidak dapat mengangkat kerelatifan dalam agama Islam yang 
dipahami oleh umatnya. Dan tidak menutup kemungkinan akan adanya 
penyelewengan-penyelewengan.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;&lt;span id="more-12"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Kenapa 
begitu?” Sergah tokoh kita yang sudah mulai tidak sabaran ini. Dan 
segera ingin mengetahui alasan yang kelihatannya sengaja ditunda-tunda 
oleh Zaranggi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Sebab pertama 
(jawab Zaranggi) adalah, menurut saya dalam memahami kitab suci Tuan 
tidak berbeda seperti memahami buku-buku atau kitab-kitab suci agama 
lain. Yang saya maksudkan dalam artian kerelatifan dalam memahaminya. 
Jadi, bisa saja satu hadits bertentangan dengan al-Qur’an menurut 
sebagian orang dan tidak bertentangan menurut sebagian yang lain. &lt;span&gt;Sebab kedua&lt;/span&gt;
 adalah pemantauan terhadap batin melalui amal lahir sangat tidak 
memadai. Sebab, tidak mungkin dalam pemantauan itu dapat dilakukan 
sepanjang hidup mereka dan dalam segala keadaan mereka sebelum kemudian 
hadits mereka dituliskan. Jadi, bisa saja mereka itu baik di pasar tapi 
tidak baik di rumah. Atau baik kemarin tapi besok, minggu depan, bulan 
depan, tahun depan, dan seterusnya atau tahun sebelumnya, mungkin 
tergolong orang-orang yang tidak baik. Atau pemantau (penulis) hadits 
itu sendiri bagaimana? Apakah mereka baik, jujur, dalam pekerjaan 
mereka? Siapa yang menjamin mereka? Dan siapa yang menjamin orang yang 
menjamin mereka itu dan seterusnya? &lt;span&gt;Sebab ketiga&lt;/span&gt; adalah, 
Anda mengatakan bahwa memantau batin melalui amal-amal lahir ibarat 
memantau matahari lewat sinarnya. Padahal Anda juga mengatakan bahwa 
munafik itu ada dan barangkali ia melakukan itu untuk merusak Islam dari
 dalam. Kalau begitu sudah tentu para munafik itu selalu beramal baik 
untuk menutupi niat buruknya. Sebab tak akan ada orang yang mengaku 
pencuri ketika ia ingin mencuri. &lt;span&gt;Sebab keempat&lt;/span&gt; adalah, Anda
 tadi pernah menyebutkan istilah sahabat besar. Bagaimana kalau ada 
hadits yang menyebutkan bahwa sebagian sahabat-sahabat besar atau sekian
 ribu sahabat umpamanya, munafik? Apakah hadits itu dapat Anda katakan 
bertentangan dengan al-Qur’an? Sebab Anda katakan tadi bahwa sebagian 
orang-orang desa dan yang ada di sekeliling Nabi terdapat orang-orang 
munafik, yang tidak diketahui oleh Nabi sekalipun. &lt;span&gt;Sebab kelima&lt;/span&gt;
 adalah, Anda mengatakan bahwa hadits yang diriwayatkan oleh orang yang 
tak baik atau shaleh, misalnya orang yang tidak shalat atau suka 
berdusta, tidak bakalan diterima. Nah, kalau demikian halnya maka Anda 
tidak akan menerima dari orang-orang yang suka membunuh bukan? Padahal 
Anda sendiri pernah mengatakan kepada kami pada suatu hari bahwa setelah
 Nabi wafat telah terjadi peristiwa yang sangat menyedihkan. Yaitu 
adanya beberapa peperangan antara puluhan ribu sahabat dengan puluhan 
ribu yang lainnya. Sedang perawi utama sebuah hadits adalah mereka. 
Bagaimana Anda dapat mempertahankan konsep Anda?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Tokoh kita sama
 sekali tidak mengira dengan apa yang akan diucapkan oleh orang yang 
bernama Zaranggi itu. ia salah tingkah, ia emosi dan tersinggung dengan 
ceplas-ceplosnya pertanyaan Zaranggi yang mempermasalahkan dasar-dasar 
nilai Islam yang tersebar. Dan yang lebih membuat tokoh kita itu seakan 
ingin menampar orang yang di depannya itu adalah ketidaksungkanan 
Zaranggi terhadap semua sahabat-sahabat Nabi yang diyakininya sebagai 
penolong-penolong Islam, mujahid dan mendapat keridhaan Allah. Tapi di 
lain pihak ia sadar bahwa ia tidak dapat melakukan apa-apa selain harus 
berkonsentrasi terhadap pertanyaan Zaranggi. Sebab selain ia akan malu 
sekali kalau mempertahankan Islam dengan otot dan paksaan juga dengan 
kebodohan. ia melihat kejujuran dalam diri Zaranggi yang menurutnya ia 
benar-benar ingin tahu agama Islam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Tanpa ia 
sadari, ia yang dulunya yakin berjalan di atas al-Qur’an, sekarang 
merasa ragu. Pertanyaan Zaranggi itu benar-benar telah menyadarkannya 
bahwa siapa tahu, barangkali selama ini ia berjalan di atas al-Qur’an 
yang bukan al-Qur’an. Artinya, ia berjalan di atas al-Qur’an yang 
relatif, yaitu al-Qur’an yang ia dan madzhabnya atau golongannya pahami.
 Sebab, menurut kata hatinya, tidak mungkin al-Qur’an dengan al-Qur’an 
menyesatkan. Apalagi saling menyuruh pengikutnya untuk berbunuh-bunuhan.
 Padahal kenyataannya sesama kaum muslimin saling menyesatkan. Bahkan 
muslimin gelombang pertama, yaitu sahabat Nabi, saling bertumpah darah 
dalam beberapa peperangan sepeninggal Nabi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Tak kalah 
terperanjatnya hati sang tokoh ketika Zaranggi mempermasalahkan 
keabsahan pemilihan keshalehan atau kejujuran dari seseorang yang 
menjadi perawi suatu hadits. Untung ia mempunyai banyak pengetahuan 
tentang hadits, sehingga ia dapat menerima yang dikatakannya itu. Sebab 
kalau tidak, barangkali ia akan mengusir Zaranggi dari rumahnya. Tapi 
karena ia tahu bahwa yang dikatakan Zaranggi itu memang masuk akal dan 
merupakan salah satu kelemahan ilmu hadits, maka ia tidak melakukan 
pekerjaan yang hina itu. Dan di samping itu, ia, sesuai dengan ilmunya 
yang cukup lumayan tentang hadits itu, memang mengetahui bahwa dalam 
menilai perawi hadits terdapat berpuluh-puluh perbedaan. Seorang penilai
 perawi hadits yang bermadzhab tertentu akan melemahkan seorang perawi 
hadits yang bermadzhab lain. Apalagi penilaian terhadap seorang perawi 
hadits tidak mungkin sempurna. Sebab, umur seorang penulis hadits atau 
umur penilai perawi hadits tidak akan cukup untuk digunakan meneliti 
seorang saja dari sekian perawi dari sebuah hadits. Apalagi untuk 
meneliti semua perawi hadits yang berjumlah ribuan atau bahkan puluhan 
ribu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Sahabat. ia 
sadar. Sekali lagi ia sadar dan baru sadar. Selama ini, selama ia 
belajar hadits, selama ia meneliti dengan seksama perawi-perawi suatu 
hadits memang ia mengenal suatu kaum perawi yang kebal terhadap 
penelitian. Bahkan tidak boleh diteliti. Semua perawi hadits diteliti 
dengan seksama. Tapi kalau sudah sampai ke kaum itu, kaum yang menukil 
langsung dari Rasulullah, mikroskop yang digunakan para ahli peneliti 
perawi hadits menjadi pecah berantakan. Sebab, teropong itu tidak mampu 
meneropong kaum yang penuh fadhilah itu. Dan kini, ketika ia berhadapan 
dengan orang yang masih suci pikiran dari aliran-aliran Islam, karena ia
 memang masih kafir, ia tidak dapat berbuat apa-apa. Namun ia agak 
berlega hati karena ia ingat suatu ayat dalam surat al-Taubah ayat 100. 
Oleh sebab itu, sembari menarik napas sedikit lega ia berharap akan 
mampu menyelamatkan salah satu khazanah Islam. Yaitu mengenai sahabat. 
Sebab, rasa-rasanya ia tidak mampu menjawab tuduhan Zaranggi yang 
merelatifkan Islam yang dipahami umat. Bukan Islam sebagaimana ia. Maka 
dengan lirih tapi dengan penuh rasa tanggung jawab ia berucap:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Tuan Zaranggi!
 Saya merasa kagum terhadap pertanyaan-pertanyaan Tuan. Dan saya sadar 
akan keterbatasan atau, barangkali tepatnya, atas kesalahan saya dalam 
memilih alur pemikiran Islam dari alur-alur yang ada. Memang Nabi telah 
mengisyaratkan akan adanya jalur-jalur yang banyak, sedangkan yang benar
 hanya satu. Saya berjanji akan memperdalam lagi dan akan kembali ke 
sini untuk mempertanggungjawabkan pekerjaan saya ini suatu hari, insya 
Allah. Dan untuk ini, saya minta maaf yang sebesar-besarnya.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Orang-orang 
terperangah. Orang yang selama ini mereka kenal sebagai orang yang 
cekatan dalam menjawab berbagai pertanyaan yang menyangkut Islam, kini 
tersimpuh lemah di hadapan Zaranggi. Zaranggi tak bisa dipersalahkan 
walaupun ia, yang berbekal sedikit filsafat itu, mempertanyakan hal-hal 
yang sangat mendasar dalam Islam. ia tidak bertanya apa dan bagaimana 
keadilan, sosial, kemanusiaan, peranan kaum pria dan wanita dalam 
masyarakat dan semacamnya menurut Islam. Bahkan dengan apa Islam 
memAndang semua itu yang biasanya bagi seorang Islam yang segolongan 
dengan tokoh kita ini, pertanyaan semacam itu adalah pertanyaan yang 
tabu untuk mereka tanyakan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Namun (lanjut 
sang tokoh) mengenai sahabat Nabi yang mana mereka dalam kaitannya 
dengan hadits Islam merupakan mata rantai pertama dalam susunan 
perawi-perawi hadits, adalah merupakan suatu kaum yang telah mendapat 
keridhaan Allah. Hal mana terdapat dalam firman-Nya dalam surat 
al-Taubah ayat 100, yang artinya,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Mereka para 
pendahulu dari kaum muhajirin dan anshar, dan yang mengikuti mereka 
dengan sebaik-baiknya maka mereka diridhai Allah dan mereka juga ridha 
terhadap-Nya.” &lt;/span&gt;&lt;span&gt;(Q.S. al-Taubah : 100)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Jadi, dengan 
ayat ini posisi mereka di dalam Islam adalah sangat terhormat. Dengan 
jasa mereka pulalah Islam sampai kepada kita, maka umat Islam harus 
berterima kasih terhadap mereka, bukan malah mempertanyakan keadaan 
mereka.&lt;/span&gt;&lt;span&gt;”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Setelah selesai
 sang tokoh menyampaikan rasa penyesalan dan maafnya, hal mana sangat 
dikagumi oleh Zaranggi atas keterbukaan dan kejujurannya itu, walaupun 
di sisi lain Zaranggi belum puas karena ternyata yang selama ini ia 
ingin ketahui dari agama Islam, tidak mendapatkan jawaban yang 
memuaskan. Sebab Zaranggi sendiri mengira bahwa Islam sangat dapat 
diAndalkan. Hal itu ia ketahui karena beberapa filosof besar dari 
kalangan kaum muslimin. Tapi Zaranggi tidak menyadari bahwa tokoh kita 
ini adalah termasuk dari golongan orang-orang yang melarang menggunakan 
akal dalam agama. Alias suatu golongan yang kembali pada al-Qur’an dan 
al-Hadits secara leterlek. Artinya tidak membolehkan akal untuk menakwil
 suatu ayat atau hadits. Bahkan orang-orang yang suka menakwil dikatakan
 oleh mereka sebagai orang-orang yang sakit. Karena, katanya, mereka 
mengikuti yang mutasyabihat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Terima kasih 
atas janji dan kesediaan Tuan dalam menjanjikan jawaban untuk kami (kata
 Zaranggi). Sekali lagi terima kasih. Dan saya pribadi kagum terhadap 
kejujuran dan keterbukaan serta penghormatan Anda pada norma-norma 
ilmiah, dan tidak menjadi marah kepada saya sebagaimana pernah saya 
alami sebelumnya.” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Memang, karena 
pertanyaan Zaranggi yang kelihatannya kurang sopan terhadap Islam dan 
tokoh-tokoh Islam, walaupun sebenarnya pertanyaan-pertanyaan itu 
mengandung kejujuran seorang pencari kebenaran hakiki, pada suatu hari 
ia pernah dimarahi oleh seorang tokoh lain yang memang sudah mulai 
kepepet dengan pertanyaan-pertanyaan Zaranggi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Dari 
gelagatnya, jawaban terakhir tokoh kita ini, bagi Zaranggi adalah 
merupakan jawaban yang asal comot saja, tanpa dipikir lebih jauh. ia 
dapat memperkirakan bahwa pertanyaannya yang berikut akan membuat tokoh 
kita ini tidak dapat menjawab lagi. “Namun (kata Zaranggi dalam hati) 
biar ia cari nanti jawabannya dan kemudian ia memberikan jawabannya 
kepada saya. Toh ia bersedia untuk itu. Dan saya akan mendapat kepuasan 
dalam menatap agama Islam.” Karena pikirannya itu, Zaranggi memohon 
supaya ia dapat menanyakan beberapa hal lagi. Maka dari itu ia 
melanjutkan perkataannya:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Tuan! Bolehkan saya meneruskan pertanyaan saya dalam diskusi ini Tuan?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Yah… boleh saja Tuan Zaranggi. Apa itu?” kata sang tokoh.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Begini Tuan 
(kata Zaranggi yang kemudian ia teruskan) Tuan tadi mengatakan bahwa 
sahabat-sahabat Nabi dan yang mengikuti mereka itu telah mendapat ridha 
Tuhan sesuai dengan ayat yang Tuan bawakan tadi. Akan tetapi di sini ada
 keganjilannya Tuan.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Apa 
keganjilannya Tuan Zaranggi?” Sang tokoh mulai penasaran lagi. Sebab 
permasalahan itu adalah satu-satunya permasalahan yang ia yakini dapat 
mempertahankannya. Tapi ternyata, lagi-lagi masih saja dipertanyakan 
kebenarannya. Maka, ia benar-benar memperhatikan apa-apa yang dijadikan 
alasan Zaranggi ketika ia berucap:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Eee… sebelum 
saya ajukan alasan-alasan, ada yang ingin saya sampaikan. Yaitu 
seandainya saya seorang muslim maka selayaknyalah saya berterima kasih 
kepada generasi Islam pertama. Yaitu yang dikatakan sahabat-sahabat Nabi
 itu. Tapi karena saya belum mengimani agama Islam saya berhak bertanya 
mengenai mutu mereka itu. Bahkan saya rasa, saya wajib 
mempertanyakannya. Sebab Islam yang ada ini tidak bisa tidak akan 
dicoraki oleh mutu mereka. Sebab dari merekalah generasi penerus 
memahami Islam. Maka dari itu kecerdasan, kejujuran dan lain-lainnya 
dari setiap individu mereka sangat menentukan kemurnian Islam di masa 
datang .setelah mereka. Barangkali hal mereka sudah berlalu, tapi justru
 karena keberlaluan mereka itulah mereka harus dinilai karena 
sebab-sebab tadi. Dan bagi saya amatlah janggal untuk menyamaratakan 
kedudukan mereka. Sebab selama ini belum ada suatu umat yang tidak ada 
pencurinya, orang-orang jahatnya atau orang-orang bodohnya sekalipun 
baik. Bahkan biasanya yang paling banyak adalah orang-orang yang bukan 
intelek. Dan justru dari Tuan dan kitab Tuan sendiri saya dapat 
mengatakan bahwa sahabat-sahabat Nabi Tuan tidak berbeda dengan 
umat-umat yang lain dari segi adanya orang-orang yang tidak baik dalam 
lingkungannya.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Apa yang Anda 
ketahui dari saya dan kitab saya?” Potong tokoh kita yang semakin tidak 
sabaran ini. Sambil mencari-cari gerangan apa yang telah dikatakannya, 
sebagaimana disinggung Zaranggi tadi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Alasan pertama
 (kata Zaranggi), Anda tadi menukil beberapa ayat yang intinya 
menyatakan dan memberitahukan kepada Nabi bahwa di sekeliling beliau ada
 orang-orang munafik, yaitu orang-orang yang sama-sama melakukan apa 
yang mesti dilakukan oleh orang-orang muslim. Dan karena Nabi dalam ayat
 itu, tidak mengetahui siapa mereka, apalagi orang-orang muslim yang 
lain. Dan dari ayat itu juga bisa diambil pengertian bahwa orang-orang 
munafik itu begitu taat dan shalehnya sehingga Nabi sendiri tidak dapat 
membaca mereka. Barangkali karena kecanggihan mereka itulah ayat-ayat 
yang Anda nukil tadi mengatakan bahwa mereka sangat keterlaluan dalam 
kemunafikan mereka. &lt;span&gt;Alasan kedua&lt;/span&gt; adalah, dalam kenyataan 
sejarah Islam yang menyedihkan, kata Anda, adalah adanya beberapa 
peperangan yang terjadi di kalangan sahabat-sahabat Nabi sepeninggal 
beliau. Dan sudah tentu ratusan atau ribuan korban telah jatuh dalam 
kejadian-kejadian itu. Menurut saya, mustahil golongan yang sama-sama 
benar, berperang. Dan kalau logika saya ini masuk, maka setiap dua 
golongan yang bertikai (bertentangan) mestilah yang satu dari mereka 
salah, atau semuanya salah. Sebab sesama golongan sesat bisa saja 
berperang. Dan peperangan itu, kata Anda, telah terjadi dalam beberapa 
kali. Kalau demikian halnya maka Islam ini telah ditransfer oleh 
orang-orang yang sama sekali tidak bisa dipertanggungjawabkan. Sebab 
mereka bukan lagi pencuri, pembohong atau orang-orang yang makan berdiri
 dan semacamnya, sehingga hadits mereka adalah lemah atau tertolak. Akan
 tetapi mereka adalah pembunuh. Dan bahkan mereka adalah pembunuh yang 
membanggakan diri. Sebab dalam peperangan apapun, membunuh adalah salah 
satu kemenangan yang membanggakan. Kalau yang membawa Islam pertama kali
 sedemikian keadaannya maka seshaleh apapun perawi berikutnya masih 
sulit untuk diterima kebenarannya. Apalagi sudah saya katakan bahwa 
perawi-perawi berikutnya pun tidak dapat dikatakan shaleh dengan 
sebenar-benarnya–seratus persen–sebab sebagai-mana maklum, kata agama 
Anda, yang tahu masalah lahir dan batin adalah hanya Tuhan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Dengan dua 
dalil ini saja, kalau agama Anda dan kitab Anda benar, maka barangkali 
ada suatu pemahaman lain tentang ayat yang Anda nukil tadi, yaitu yang 
mengatakan bahwa mereka atau para sahabat itu telah diridhai Tuhan&lt;/span&gt;&lt;span&gt;.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Kepepet! Wah tokoh kita kepepet lagi, dan tak bisa berkata apa-apa. Karena ia terdiam, maka Zaranggi meneruskan kata-katanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Tuan! Ada satu
 lagi, tapi sebelum saya utarakan apakah Tuan tidak marah kalau saya, 
dari kata-kata Anda, mengajukan suatu keganjilan yang dilakukan sahabat 
besar seperti yang Anda ucapkan?” Sejenak Zaranggi berhenti dan ia 
menunggu jawaban sang tokoh yang walaupun agak terlambat, akhirnya ia 
mempersilahkan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Silahkan saja 
Tuan Zaranggi!” kata sang tokoh yang sedikit tersendat. Zaranggi tak 
perduli lagi, dia terus saja nyelonong dengan iskal-iskalnya 
(Pertanyaan-pertanyaan).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Baik, terima 
kasih. Sebenarnya keganjilan itu ada di antara dua alternatif. Kesalahan
 Anda dalam memantau sejarah al-Qur’an, atau memang, seperti yang saya 
ucapkan, adalah suatu keganjilan yang dilakukan sahabat Nabi.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Eh… maaf (potong sang tokoh), coba Anda terangkan secara lebih jelas, apa maksud Anda sebenarnya.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Begini Tuan (jawab Zaranggi) Anda mengatakan bahwa Islam berdasarkan al-Qur’an dan hadits Nabi. Bukankah begitu?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Benar” jawab tokoh kita.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Akan tetapi 
(lanjut Zaranggi), ketika saya tanyakan kepada Anda apa al-Qur’an itu, 
Anda mengatakan bahwa ia adalah kumpulan firman-firman Tuhan yang 
diwahyukan kepada Nabi dan disusun oleh–atau disusun atas ide–Utsman bin
 Affan sebagai salah satu sahabat besar. Bukankah begitu?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Benar” kata sang tokoh membenarkan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Nah, sekarang saya mau bertanya. Apakah Nabi tidak menyusunnya?” tanya Zaranggi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Tidak” kata 
sang tokoh. Dan ia tak mungkin menjawab bahwa Nabi telah menyusunnya. 
Sebab, yang ia kenal al-Qur’an yang ada sekarang ini adalah mushhaf 
Utsmani bukan mushhaf Muhammadi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Nah kalau 
begitu, yakni kalau Nabi tidak mengumpulkan, berarti salah satu dasar 
dari agama Islam, yakni hadits, tidak menyuruh untuk menyusunnya. Lalu 
kenapa sahabat besar beliau menyusunnya? Bukankah hal itu bertentangan 
dengan sunnah sendiri? Dan juga bahkan bertentangan dengan kehendak 
Tuhan. Sebab ketika Nabi tidak menyusunnya berarti tak ada perintah dari
 Tuhan, sebab Nabi adalah duta (wakil/utusan) Tuhan?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Oh… tidak, tidak, tidak Tuan Zaranggi, tidak demikian permasalahannya” sergah tokoh kita.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Kenapa?” tanya Zaranggi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Sebab, hal itu baik dan tak ada larangannya” jawab sang tokoh pendek.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Tapi kan tak ada dalil bolehnya Tuan?” Zaranggi mendesak terus.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Walhasil baik 
dan tak ada larangannya” jawab sang tokoh. Memang tokoh kita ini akan 
menjawab ada. Sebab dia teringat sebuah hadits yang menyuruh kaum 
muslimin mengikuti sunnah Nabi dan para Khulafa’u al-Rasyidin. Akan 
tetapi terpikir olehnya sendiri bahwa hal itu tidak mungkin, sebab akan 
ada sesuatu selain al-Qur’an dan Hadits, sebagai dasar Islam. Yang tentu
 akan dijadikan masalah oleh Zaranggi, yaitu soal Khulafa’u al-Rasyidin 
itu. Lebih-lebih sekarang ia dipertemukan kepada dua perbuatan yang 
berbeda yang datang dari Nabi dan Khulafa’u al-Rasyidin.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Bukan begitu 
Tuan (kata Zaranggi), di sini saya melihat suatu keanehan. Sebab bagi 
pengertian saya, yang namanya kitab suci, tidak mungkin tidak tersusun 
dan tetap berserakan di antara dedaunan, kulit-kulit kayu atau tulang.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Yah… barangkali Nabi belum sempat menyusunnya” sang tokoh beralasan dengan sedikit ragu terhadap jawabannya itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Sebenarnya 
saya tidak berhak untuk mempermasalahkan agama Tuan. Mau benar atau 
tidak. Akan tetapi semua yang saya lakukan ini adalah semata-mata saya 
ingin tahu kebenaran agama Tuan. Jadi maaf, kalau dari pertanyaan saya 
ini terkesan kurang sopan terhadap agama Tuan.” Kembali Zaranggi 
menjelaskan maksud baiknya. Sebab, dia khawatir sang tokoh di depannya 
akan mulai tidak sabaran dan mengusirnya, seperti yang ia alami beberapa
 tahun yang lalu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Oh… tidak 
apa-apa, itu biasa dan orang yang ingin tahu Islam mestilah ia 
menanyakannya secara tuntas” kata sang tokoh membesarkan hati sambil 
memberikan gambaran bahwa Islam bukanlah agama yang asal paksa. ia 
adalah agama besar dan suci. Yah… tapi malang sang tokoh tak dapat 
membuktikan semua itu pada Zaranggi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Bolehkah saya lanjutkan pertanyaan saya sedikit lagi Tuan?” pinta Zaranggi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Ya, ya, silahkan” sang tokoh mempersilahkan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Begini Tuan 
(jelas Zaranggi), bagi pengertian saya, seorang Nabi pun tidak berhak 
untuk menyusun kitab suci semaunya sendiri. Kalau al-Qur’an itu memang 
benar dari Tuhan, maka siapa pun tidak boleh ikut campur dalam urusan 
itu. Lalu mengapa Anda katakan bahwa barangkali Nabi belum sempat?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;div class="MsoNormal"&gt;
[&lt;em&gt;bersambung&lt;/em&gt;...]&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Zaranggi [Part. II]</title><link>http://andikfn.blogspot.com/2012/07/zaranggi-part-ii.html</link><category>artikel</category><category>kisah</category><author>noreply@blogger.com (ANDIK FN)</author><pubDate>Sun, 29 Jul 2012 07:56:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6659801012355790768.post-5129940916998298525</guid><description>&lt;span class="fullpost"&gt;


    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;h2&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/h2&gt;
&lt;h1&gt;
&lt;span style="color: #ff6600;"&gt;Renungan Terbuka&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Tapi baiklah, Anda tak perlu 
menjawabnya. Sekarang, bolehkah saya bertanya masalah lainnya?” Zaranggi
 mengalihkan pembicaraan karena dia melihat tokoh kita betul-betul 
kebingungan.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Si… si… i… 
silahkan” sang tokoh memaksakan diri untuk mempersilahkan Zaranggi untuk
 bertanya. Walaupun sebenarnya ia sudah mulai kewalahan menghadapinya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Tadi Anda 
katakan bahwa agama adalah penentu segala-galanya, dan manusia tidak 
boleh mempersoalkannya. Apakah masuk akal atau tidak? Pertanyaan saya, 
kepada siapa, atau apa, Anda merujuk kebenaran agama (tolok ukur 
kebenaran agama)?” Zaranggi mulai membuka masalah baru.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;&lt;span id="more-8"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Kami merujuk kepada al-Qur’an dan al-Hadits” jawab sang tokoh sambil berusaha membaca pikiran Zaranggi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;

&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Oh… benar! 
saya lupa untuk menanyakannya. Apa al-Qur’an dan al-Hadits itu?” 
Zaranggi bertanya setelah ia merubah posisi duduknya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Karena sang 
tokoh menyadari siapa orang yang lebih muda yang duduk didepannya ini, 
maka ia mulai berhati-hati dalam menjawab pertanyaannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Al-Qur’an 
adalah berasal dari firman-firman Tuhan yang 
diwahyukan–dibisikkan–kepada Nabi Muhammad, yang kemudian didiktekan 
kepada para sahabatnya, yang menuliskannya ke tulang-tulang atau ke 
kulit-kulit kayu dan lain-lain. Dan setelah beliau wafat, firman-firman 
itu dikumpulkan dan disusun menjadi suatu kitab oleh atau atas ide 
sahabat besar beliau yang bernama Utsman ibn Affan. Sedangkan al-Hadits 
adalah kumpulan kata-kata Nabi atau perbuatannya” jawab sang tokoh.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Aneh juga 
agama Tuan ini!” Zaranggi menyeletuk. Memang, dengan kecerdasannya, ia 
dapat merasakan keanehan itu sebelum sang tokoh menyadarinya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Apa… apa kata Tuan, aneh?” Sang Tokoh sedikit tersinggung dan juga bingung.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Benar Tuan” 
Zaranggi terpaksa menjawab, walaupun ia tahu bahwa tokoh kita itu sudah 
mulai tersinggung. Sebab ia sudah terlanjur mengatakan kata-kata itu 
tadi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Kenapa begitu?” tanya sang tokoh ingin tahu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Begini Tuan. 
Anda tadi mengatakan, bahwa Anda mengetahui dari al-Qur’an bahwa alam 
ini ada penciptanya, dan penciptanya hanya satu. Sementara Anda 
mengatakan bahwa al-Qur’an adalah kumpulan firman-firmanNya. Yah… bagi 
saya hal itu cukup aneh Tuan” Zaranggi menjelaskan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Rupanya tokoh kita ini belum paham juga. Maka dari itu ia berkata: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Kenapa aneh Tuan?” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Dengan semua 
itu, yaitu al-Qur’an adalah ukuran segala-galanya, termasuk ada dan 
satunya Tuhan dan tidak bisa dengan jalan lain (jadi keberadaan dan 
ke-Esa-an Tuhan mau tidak mau harus dibuktikan dengan al-Qur’an), 
menandakan bahwa manusia harus beriman terlebih dahulu kepada al-Qur’an 
itu, sebelum mereka mengimani Tuhan itu sendiri. Bukankah hal itu cukup 
aneh Tuan?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Ee…e… maaf, 
Tuan Zaranggi, saya masih belum paham maksud Tuan” sang tokoh ingin 
penjelasan yang lebih rinci dari kata-kata Zaranggi itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Tuan! Apakah 
tidak aneh kalau manusia disuruh mengimani kata-kata Tuhan sebelum 
mengimani adanya Tuhan itu sendiri? Atau mereka disuruh mengimani 
al-Qur’an terlebih dahulu sebelum mengimani adanya pengirim al-Qur’an?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Tokoh kita 
tertegun sejenak, karena ia sudah paham maksud Zaranggi. Tapi ia masih 
punya jawaban untuk itu. Maka dari itu ia berkata:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Katakanlah itu
 aneh akan tetapi yah… memang harus begitulah pada kenyataannya. Sebab, 
seperti yang saya katakan tadi bahwa akal kita terbatas. Yakni kita 
tidak akan dapat mengenalinya dengan akal. Maka dari itu kita harus 
kembali ke firman-firmannya.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Baik! (kata 
Zaranggi) berarti manusia disuruh percaya kepada al-Qur’an terlebih 
dahulu sebelum mempercayai Tuhan karena keterbatasan akal mereka. 
Sekarang saya mau bertanya kepada Anda, bagaimanakah caranya supaya 
manusia mempercayai al-Qur’an?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Yah… kita harus melihat bukti-buktinya” jawab sang tokoh.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Kalau begitu kita harus membuktikan kebenaran ayat-ayatnya bukan?” Tanya Zaranggi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Benar” kata sang tokoh pendek.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Wah… 
permasalahannya sekarang kok tambah rumit” Zaranggi mengeluh. Memang, 
dengan kecerdasannya ia dapat merasakan semua itu sebelum tokoh kita ini
 memahaminya. Oleh karena itu sang tokoh bertanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Apanya yang rumit Tuan?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Tadi Anda 
mengatakan bahwa akal terbatas (kata Zaranggi) dan Anda mengatakan pula 
bahwa Tuhan ada dan Esa dari al-Qur’an, sementara sekarang Anda 
mengatakan bahwa kebenaran al-Qur’an harus dibuktikan sebelum kemudian 
mengimaninya. Lho… kalau akal terbatas maka bagaimana caranya 
membuktikan kebenaran ayat-ayat al-Qur’an yang mengatakan bahwa ‘Tuhan 
itu ada’ atau ‘Tuhan itu Esa dan lain-lain’?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Terperangah 
juga sang tokoh mendengar jawaban Zaranggi itu. Dia bingung harus 
berkata apa. Tapi  Ia berusaha untuk menutupi kebingungannya itu, 
walaupun tidak begitu berhasil. Dia bingung karena permasalahannya kok 
begitu peliknya, padahal sebelumnya ia tak pernah mempermasalahkan semua
 itu. Dan satu-satunya yang menjadi alat pembuktian kebenaran al-Qur’an 
selama ini karena tidak adanya orang yang mampu membuat satu ayat pun 
seperti al-Qur’an. Ia tidak tahu mengapa dulu tidak mempermasalahkan 
al-Qur’an seperti Zaranggi. Tapi seandainya ia pernah kafir atau 
dilahirkan dari ibu seorang kafir, maka ia akan tahu bahwa pertanyaan 
Zaranggi itu mestilah wajar-wajar saja, dan mesti pula ada jawabannya. 
Tapi apa boleh buat dia telah terlanjur memasuki aliran “Anti Akal” 
dalam memahami agama. Maka, tinggal satu lagi jawaban yang ia harap 
mampu memberikan penjelasan mengenai kebenaran al-Qur’an kepada 
Zaranggi. Oleh karenanya ia segera berucap:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Tuan Zaranggi!
 Dalam al-Qur’an Allah berfirman, bahwa kalau manusia manapun tidak 
pecaya dan ingin membuktikan kebenaran al-Qur’an maka hendaknya ia 
membuat satu ayat saja seperti ayat al-Qur’an. Tapi nyatanya sudah 
berabad-abad tidak seorangpun yang mampu melakukannya. Apalagi sampai 
satu surat, satu juz atau bahkan satu kitab. Dengan bukti ini dapat 
ditarik suatu kesimpulan bahwa al-Qur’an memang datang dari-Nya.’’ &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Baik! (kata 
Zaranggi), dalil Anda tadi hanya membuktikan bahwa al-Qur’an dari Tuhan 
bukan dari manusia. Tapi hal tersebut tidak dapat membuktikan bahwa 
Tuhan hanya satu. Sebab, seperti agama kami, Zoroaster, ada tiga Tuhan, 
yaitu Ahuramazda, Yozdan dan Ahriman. Nah, barangkali al-Qur’an itu 
datang dari salah satu dari mereka. Apa jawab Tuan tentang hal ini?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Ah… itu tidak mungkin Tuan!” sergah sang tokoh.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Kenapa?” Zaranggi ingin tahu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Sebab di dalam
 al-Qur’an dinyatakan bahwa Tuhan hanyalah satu dan Dia adalah Allah, 
bukan Ahuramazda, Yozdan dan Ahriman” jawab tokoh kita sambil wajahnya 
berseri-seri karena ia merasa dapat mempertahankan kesucian al-Qur’an 
dengan ucapannya itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Tuan! (Kata 
Zaranggi) Anda tidak dapat berdalil dengan ayat yang mengatakan bahwa 
Tuhan hanya satu itu, lalu Anda menutup kemungkinan bahwa Tuhan lebih 
dari satu.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Kenapa?” tanya sang tokoh sedikit heran.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Sebab Anda 
sendiri tidak dapat membuktikan, kebenaran ayat itu Tuan, karena 
keterbatasan akal sebagaimana tadi Anda katakan. Dan mengenai al-Qur’an 
yang tidak bisa ditiru bukankah telah saya katakan bahwa hal itu hanya 
membuktikan bahwa al-Qur’an datang dari Tuhan. Karena ia mempunyai 
kekuatan yang tak bisa dijangkau manusia. Tapi tidak dapat dijadikan 
bukti akan adanya satu Tuhan.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Pusing. Tokoh 
kita jadi pusing. ia tidak mengira sama sekali permasalahannya akan jadi
 sedemikian rumit. Bahkan belasan tahun ia belajar, tidak pernah 
menghadapi masalah seperti itu. Dan kitab yang dibawa oleh beberapa onta
 itu pun tidak dapat menjawab beberapa pertanyaan Zaranggi ini. Yah 
maklumlah, tokoh kita ini selama belasan tahun hanya belajar di pusat 
ilmu pengetahuan dari kalangan yang mengharamkan akal dalam agama. 
Kasihan sekali. Akhirnya karena ia bingung, maka ia ganti bertanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Apakah hal itu
 mungkin Tuan? Apakah mungkin salah satu di antara Tuhan Tuan menurunkan
 al-Qur’an dan ia merubah nama serta mengaku hanya sendirian?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Yah kalau 
hanya dari jawaban-jawaban Anda, hal itu mungkin saja Tuan. Apalagi Anda
 pernah suatu hari menjelaskan kepada kami bahwa seandainya ada dua 
Tuhan atau lebih, maka dunia ini akan hancur karena mereka akan 
bersaing. Yah…barangkali mereka bersaing khususnya yang satu ini, 
mungkin ia ingin mendapatkan pengaruh dari manusia, maka dari itu ia 
mengaku sendirian dan menurunkan al-Qur’an. Dan tiga Tuhan itu 
sebenarnya sekedar contoh, sesuai keyakinan kami. Akan tetapi barangkali
 sebenarnya Tuhan mungkin malah lebih dari itu.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Itu tidak mungkin Tuan” kata sang tokoh.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Kenapa Tuan?” Zaranggi balik bertanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Sebab kalau 
Tuhan yang satu itu bersaing dengan melakukan apa yang Anda katakan ini 
maka pastilah Tuhan yang lain tidak akan membiarkannya. Dan pasti akan 
timbul pertengkaran yang akan membawa kehancuran alam semesta ini Tuan.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Tuan! Bagi 
saya pertengkaran itu belum tentu membawa kehancuran. Sebab, Tuhan-Tuhan
 itu kan berkuasa untuk tidak membuat kehancuran. Lagi pula bisa saja 
Tuhan-Tuhan yang lain itu membiarkan tingkah Tuhan yang satu itu karena 
mereka tidak memerlukan pengaruh dari manusia, Tuan.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Ah… hal itu tidak mungkin Tuan (jawab tokoh kita), masa ada Tuhan begitu. Ada yang bikin masalah tapi ada pula yang mengalah.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Lho… kenapa tidak mungkin Tuan, apa alasannya?” Zaranggi berusaha mendesak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Sebab, Tuhan 
itu Maha Sempurna (kata sang tokoh), oleh karena itu tidak mungkin ada 
yang lebih bijak dari-Nya sehingga ada yang mengalah atas kelakuan-Nya; 
atau Tuhan itu Maha Suci, sehingga tak mungkin Tuhan itu akan saling 
berebut pengaruh; atau Tuhan itu Maha Berkuasa dan Kuat, sehingga tak 
mungkin ia membiarkan yang lain menganiayai-Nya.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Dari mana Anda
 tahu bahwa Tuhan mempunyai sifat-sifat semacam itu? Dan bukankah Anda 
sendiri yang mengatakan bahwa kalau ada lebih dari satu Tuhan akan 
timbul persaingan? Lagi pula kalau Anda boleh mengatakan bahwa 
Tuhan-Tuhan itu akan bersaing, mengapa saya tidak boleh mengatakan bahwa
 sebagian dari mereka ada yang mengalah? Bukankah yang saya katakan 
masih lebih baik dari apa yang Anda katakan, sebab masih ada sebagian 
yang lain yang masih mempunyai sifat kesempurnaan? Dan kalau saya salah 
dalam perkataan saya itu, apa yang Anda jadikan dalil untuk menyalahkan 
saya itu?” Zaranggi terus mendesak dan tokoh kita tak lagi mampu 
menjawab. Dia bahkan hanyut dalam lamunan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Mentok! Tokoh 
kita semakin bingung. Kata-kata Zaranggi, sekilas, nampak lucu dan 
mengada-ada. Tapi… bagaimana menjawabnya (bisik sang tokoh dalam hati). 
Kalau dijawab bahwa dalilnya al-Qur’an, dalam hal ini al-Qur’an masih 
belum dapat dibuktikan kebenarannya. Dan justru sekarang ini dalam 
rangka membuktikan kebenaran al-Qur’an. Dan kalau dijawab semacam itu 
berarti untuk membuktikan kebenaran satu ayat perlu ditunjang dengan 
ayat yang lain yang masih akan dipertanyakan kebenarannya, dan akan 
begitu seterusnya sampai akhir ayat al-Qur’an. Memang… ia pernah 
mendengar golongan kaum muslimin yang membolehkan menggunakan akal dalam
 agama walaupun dalam batas-batas tertentu. Tapi dia tidak dapat 
memanfaatkan ilmu mereka, sebab ia tidak sealiran dan memang belum 
mempelajarinya. Walaupun ia telah berpuluh-puluh tahun belajar di 
pendidikan Islam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Selagi sang tokoh melamun, Zaranggi nyeletuk lagi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Baiklah Tuan, 
katakanlah Tuhan Maha Sempurna, Suci dan Kuat sehingga tak ada yang 
lebih bijak atau lebih kuat. Tapi itu kan kalau dihubungkan dengan kita 
sebagai makhluk. Tapi kalau dihubungkan dengan sesama Tuhan bukankah hal
 itu mungkin-mungkin saja Tuan. Dan kalau tidak mungkin apa dalilnya? 
Atau bisa saja malah di antara sesama Tuhan tidak bertengkar. Bisa saja 
mereka bahkan hidup rukun dan bekerjasama dalam penciptaan. Sehingga 
dengan demikian tidak akan ada perselisihan seperti yang Anda katakan 
atau khawatirkan tadi. Sebab kalau kita saja suka kepada kerukunan 
apalagi Tuhan. Dan kalau Anda katakan ‘tidak mungkin’, karena Tuhan 
tidak boleh bekerjasama karena hal itu akan menunjukkan kekurangannya, 
apa dalilnya. Kita sesama makhluk bekerjasama, mengapa tidak mungkin 
sesama Tuhan bekerjasama? Bukankah hal itu tidak bisa dikatakan bahwa 
Tuhan bersifat seperti makhluk-Nya yang kekurangan? Sebab makhluk 
bekerjasama dengan makhluk dan minta tolong kepada Tuhan, tapi Tuhan 
bekerja sama dengan Tuhan dan mereka tidak perlu banTuan makhluk? Atau, 
katakanlah Tuhan mempunyai kesamaan sifat dengan makhluk, lalu kenapa? 
Misalnya Anda katakan bahwa Tuhan mempunyai sifat wujud, hidup. Bukankah
 kita juga hidup dan wujud?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Waduh repot 
juga (pikir sang tokoh kita). Yang satu belum terjawab datang lagi 
berondongan pertanyaan yang tak kalah repotnya. Ingin ia mengusir 
Zaranggi atau meninggalkannya pergi atau bahkan mengajaknya berkelahi, 
tapi (ia pikir) apakah begitu seorang yang mengaku pembela Islam? 
Membela Islam dengan kekurangan dan kebodohannya? Ah… tidak… tidak… aku 
tidak boleh melakukannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Kini ia semakin
 sadar bahwa ilmunya tidak dapat dengan baik menolong orang lain yang 
ingin mengetahui Islam. Maka dari itu ia segera memutuskan untuk meminta
 maaf atas kekurangannya itu dengan ucapannya:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Maaf Tuan Zaranggi, dalam hal ini saya tidak bisa menjawab.” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Baiklah Tuan 
(kata Zaranggi) bolehkah saya menanyakan hal-hal yang lain? Dan saya 
minta maaf telah mendesak Anda. Tapi hal itu saya lakukan karena saya 
ingin mengetahui sejauh mana kebenaran Islam. Dan kalau memang terbukti 
benar tentu saja saya berniat memasukinya.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Yah… tidak 
apa-apa Tuan Zaranggi. Memang sudah semestinya Anda menanyakan sebelum 
Anda memasukinya. Saya kagum kepada ketelitian dan ketulusan Tuan. 
Bahkan sekali lagi saya minta maaf kepada Anda, karena saya tidak dapat 
banyak menolong Anda. Dan mengenai pertanyaan Anda, saya pikir silahkan 
saja, semoga saya dapat membantu Anda.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Terima kasih 
Tuan. Pertanyaan saya menyangkut dasar Islam yang lain. Yaitu hadits, 
sebagaimana Anda terangkan tadi” kata Zaranggi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Oh… silahkan saja!” sang tokoh mempersilahkan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Baik, terima kasih. Pertanyaan saya adalah siapa pengumpul kata-kata atau perbuatan Nabi itu Tuan? Apakah juga Utsman?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Oh! Tidak (jawab sang tokoh). Pengumpulnya banyak. Misalnya Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Abu Daud, Nasai dan lain-lain.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Apakah mereka itu juga sahabat-sahabat besar Nabi Tuan?” Zaranggi bertanya sambil penuh perhatian.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Bukan! (jawab 
tokoh kita ini). Mereka adalah orang-orang besar yang rata-rata lahir 
sekitar akhir atau setelah abad kedua setelah wafatnya Nabi.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Setelah tokoh 
kita menjawab, dalam hatinya ada rasa keheranan. Karena ia melihat 
Zaranggi yang duduk di depannya mengerutkan alisnya. Pertanda ada 
sesuatu yang ia pikirkan atau ada sesuatu yang ia anggap aneh lagi. Tapi
 apa ya? (pikirnya).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Setelah Zaranggi manggut-manggut sejenak, ia meneruskan pertanyaannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Bagaimana caranya mereka menuliskan Tuan. Bukankah jarak mereka dengan Nabi Anda sangat jauh?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Tokoh kita 
tersenyum, karena ia sudah memperkirakan pertanyaan Zaranggi itu dan ia 
sudah pula mempersiapkan jawabannya. Maka langsung saja ia menjawab 
tanpa ia sadari bahwa ia akan terjepit lagi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Mereka itu menulis dari orang-orang yang pernah mendengar suatu hadits melalui orang-orang lain, sampai kepada Nabi.” jawabnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Sampai berapa orang kira-kira, sehingga menyambung kepada Nabi?” tanya Zaranggi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Yah… bisa lima atau lebih” jawab sang tokoh yang masih belum menyadari bahwa ia akan terjepit lagi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Apakah mereka dapat dipercaya Tuan?” Zaranggi mulai mempermasalahkan keabsahan salah satu dasar agama Islam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Oh… dapat, 
dapat. Mereka itu dapat dipercaya. Mereka diteliti melalui sejarah. 
Yah…yang memang terbukti tidak dapat dipercaya atau bukan orang-orang 
yang shaleh, haditsnya akan digugurkan” kata sang tokoh meyakinkan 
Zaranggi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Tapi dasar 
Zaranggi orang kafir, maka ia tidak terikat dengan ini dan itu. Maka ia 
tanyakan apa saja yang ingin ia tanyakan. Dan sudah tentu dengan bahasa 
yang polos. Maka ia bertanya sambil mulai mendesak tokoh kita lagi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Tuan! (katanya) kalau demikian halnya maka agama Tuan yang Anda pahami dan bawa ini belum tentu benar (relatif).”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Kenapa begitu?” Tokoh kita mulai penasaran.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Hal itu ada beberapa alasan. &lt;span&gt;Pertama&lt;/span&gt;,
 dalam mempercayai seseorang, setiap satu orang di antara kita akan 
timbul perbedaan (relatifitas). Bisa saja sekelompok orang percaya 
terhadap seseorang, tapi kelompok yang lain mendustakannya. Dan saya 
pikir hal itu wajar. Artinya, bukanlah suatu keanehan kalau dalam 
mempercayai seseorang ada perbedaan. &lt;span&gt;Kedua&lt;/span&gt;, keshalehan 
seseorang, tidak dapat diketahui oleh orang lain. Karena, seperti yang 
Tuan jelaskan, masalah hati tidak dapat kita pantau. Jadi bisa saja 
seseorang dianggap shaleh bagi sebagian orang, dan tidak bagi sebagian 
yang lain. Yah… masih relatif juga. &lt;span&gt;Ketiga&lt;/span&gt;, Anda mengatakan
 bahwa orang-orang munafik ada. Sebagian mereka memang diketahui 
sehingga bisa kita pantau melalui penulisan sejarah. Akan tetapi sesuai 
dengan yang Anda jelaskan kepada saya tadi, dalam al-Qur’an 
mengisyaratkan adanya orang-orang munafik yang mereka tinggal di 
desa-desa dan juga di kota serta di sekitar Nabi, yang tidak diketahui 
oleh Nabi sekalipun. Lalu bagaimana kalau hadits-hadits itu datang dari 
mereka?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Kasihan, tokoh 
kita ini mulai bingung lagi. Tapi karena ia yakin bahwa Islam harus 
dibela, maka ia berusaha menjawabnya, walaupun sebenarnya ia tidak sadar
 bahwa Islam tidak serakah terhadap pembelaan. ia hanya mau dibela 
dengan pembelaan yang Islamis pula. Tidak dengan pembelaan yang tidak 
Islamis.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;div class="MsoBodyText"&gt;
[&lt;em&gt;bersambung&lt;/em&gt;...]&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Zaranggi [Part. I]</title><link>http://andikfn.blogspot.com/2012/07/zaranggi-part-i.html</link><category>artikel</category><category>kisah</category><author>noreply@blogger.com (ANDIK FN)</author><pubDate>Sun, 29 Jul 2012 07:54:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6659801012355790768.post-5145076376278153897</guid><description>&lt;h2&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/h2&gt;
&lt;h1&gt;
&lt;span style="color: #ff6600;"&gt;Renungan Terbuka&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Cerita ini terjadi pada beberapa abad 
yang lalu. Bermula dari pertemuan seorang ulama muslim dengan seorang 
kafir, yang kemudian berkelanjutan dengan dialog yang perlu kita 
renungkan. Sebagaimana yang kita ketahui dalam sejarah Islam, terdapat 
beberapa aliran pada waktu itu, dan bahkan sekarang. Salah satu dari 
perbedaan itu adalah bagaimana cara seorang muslim sejati menilai suatu 
“Kebaikan” dan “Keburukan”. Perbedaan itu sebenarnya menyangkut masalah 
fundamental keIslaman. Kubu Imam Ali as. dan Khawarij merupakan sumber 
utama perbedaan itu. Dan dari kedua kubu itulah kemudian menyusup masuk 
kedalam golongan-golongan lain, yang walaupun tidak memakai nama 
golongan keduanya. Pengikut Ahlulbait dan Khawarij.&lt;/div&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;

&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;&lt;span id="more-3"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Sebagian kaum 
muslimin mengatakan bahwa “Kebaikan” dan “Keburukan” hanya dapat 
ditentukan oleh Sunnah. Yaitu sunnah Allah (Al-Qur’an) dan sunnah-Nabi 
(Hadits). Akal tidak mempunyai dan tidak boleh mempunyai saham dalam 
menentukan keduanya. Sebab, akal sangat terbatas kemampuannya. Maka dari
 itu barangsiapa menggunakan akalnya dalam agama, maka ia sesat dan 
berada diluar jalur Islam. Seperti orang-orang yang bertanya “Mengapa 
ayat itu atau hadits itu demikian”. Mereka mengatakan bahwa kita harus 
menerima dan tidak boleh menggugat apa-apa yang ada dalam ayat dan 
hadits.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Lain dengan apa
 yang diyakini oleh kelompok muslimin yang lain. Yang mana sangat 
mengkristal dalam golongan Pengikut Ahlulbait. Walaupun seabad setelah 
itu keyakinan tersebut mengkristal pula dalam diri golongan Mu’tazilah. 
Keyakinan itu adalah suatu keyakinan yang mengatakan bahwa akal manusia 
dapat mengetahui sebagian kebaikan dan keburukan walaupun tanpa melalui 
Syariat. Dan akal mempunyai saham untuk itu. Seperti dalam menentukan 
agama apakah yang paling baik. Hal ini akan kami jelaskan secara lebih 
rinci pada bab yang menyangkut “Posisi al-Qur’an Terhadap Keimanan”, 
Insya Allah. Mereka mengatakan bahwa akal boleh bertanya mengapa suatu 
ayat atau hadits sedemikian rupa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Dalil dari 
golongan kedua ini akan kami rinci dalam bab tersendiri, Insya Allah. 
Namun harus diketahui sebagai inti dari keyakinan golongan ini 
bahwasanya pertanyaan akal terhadap syariat itu dilakukan demi mencapai 
syariat yang sebenarnya, bukan syariat yang semu atau diatasnamakan. 
Sebab, banyak sekali kaum yang sesat yang, sengaja atau tidak, telah 
bersembunyi di harakat-harakat atau lafat-lafat al-Qur’an dan hadits. 
Mereka menyeru dengan gigih supaya kaum muslimin kembali ke al-Qur’an 
dan hadits sebagaimana mereka. Sementara mereka meyakini bahwa tidak 
akan ada orang yang mampu memahami maksud sebenarnya dari al-Qur’an dan 
hadits. Lalu, kemanakah mereka menyeru? Ke al-Qur’ankah atau semi 
al-Qur’an? Ke makna dan maksudnya atau keharakat atau titik komanya?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Kembali ke 
al-Qur’an dan hadits bukan merupakan pekerjaan mudah yang bisa dicapai 
dengan hanya belajar agama dalam beberapa tahun. Lebih-lebih dengan 
hanya melihat dan membeli buku di trotoar jalan. Sebab, ternyata, sesama
 penganut al-Qur’an saling menyesatkan dan memasukkan kedalam dhalalah, 
dan yang paling ngeri ke neraka. Yang lebih aneh lagi, dalam pada itu, 
mereka mengatakan bahwa neraka dan surga adalah urusan Allah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Memang aneh 
kalau kita lihat kehidupan orang-orang yang hanya berloncatan dari 
harakat ayat yang satu ke harakat ayat yang lainnya sambil mengikat erat
 akalnya. Biasanya tidak lebih, hanya sekedar Ba… Ba… Ba, Bi… Bi… Bi… 
dan Bu… Bu… Bu… Mereka tidak lagi menatap kedalam ayat-ayatnya dengan 
pancaran obor akalnya. Apalagi untuk menatap hadits-hadits, yang kata 
mereka keluar dari sekedar manusia seperti kita. Sungguh kultur Islam 
yang sebenarnya terporakporAndakan dengan itu semua. Bahkan mereka, 
dengan membawa kantongan harakat-harakat itu, dengan penuh semangat, 
siap berjuang sampai titik darah penghabisan. Dan memaksa golongan lain 
mengikuti mereka. Walaupun mereka tahu bahwa agama tidak dapat 
dipaksakan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Tokoh ulama 
yang akan diceritakan dalam tulisan ini adalah yang mewakili golongan 
pertama. Yaitu yang mengharamkan menggunakan akal dalam agama. Tokoh ini
 mewajibkan dirinya untuk menyebarkan agama Islam di negerinya, Persia, 
setelah ia belajar Islam dinegeri arab. Sebab waktu itu, walaupun bangsa
 Persia sudah tergolong kaum muslimin, namun sementara itu ada di 
beberapa bagian lainnya, yang belum mendapatkan penjelasan agama Islam 
secara merata, dan masih dalam kekafiran. Salah satunya adalah sebuah 
kota yang sekarang bernama Hamadan. Dengan semangat jihad dan 
pengabdian, tokoh kita ini tidak surut karena rintangan. Ia mulai 
menginjakkan kakinya di kota Hamadan itu lalu mulai menyiarkan Islam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Dengan 
kehadiran tokoh tersebut, yang penuh wibawa dan tanpa pamrih serta 
dengan bekal kitab yang diangkut dengan beberapa ekor unta, membuat 
suasana kota Hamadan sedikit berubah. Orang-orang yang memang sudah 
masuk Islam membicarakannya di masjid-masjid. Sementara yang lain, yang 
masih meragukan kebenaran Islam (kafir), membicarakannya di pasar-pasar.
 Walhasil situasi kota Hamadan hampir dipenuhi dengan pembicaraan 
mengenainya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Pada suatu 
pagi, datanglah seorang yang nampak pAndai dirumah tokoh itu. Dan memang
 pada pagi itu pula datang beberapa orang lainnya. Sebab, sang tokoh itu
 setiap pagi sampai menjelang zhuhur selalu menerima tamu yang, 
khususnya ingin memperdalam Islam. Orang yang nampak pAndai itu memang 
salah seorang terpAndang dalam ilmu pengetahuan di kala dan di kota itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Seperti biasa, 
sang tokoh berpakaian rapi dan berwarna putih bersih dengan sorban 
melilit dikepala, selalu tersenyum ramah dalam menerima tamu-tamunya. 
Ruang tamunya yang sedikit luas terpenuhi dengan hamparan hambal. Para 
tamu segera mengambil posisi sendiri-sendiri ketika memasuki ruangan 
itu. Memang didepan pintu ada yang menjaga yang bertugas menerima tamu. 
Dia adalah salah satu murid terdekat sang tokoh. Mungkin memang karena 
namanya, orang yang nampak pAndai itu sedikit melebihi orang-orang pada 
umumya dalam pengetahuan dan mempunyai kelincahan lidah dalam 
pembicaraan. “Zaranggi”, adalah nama yang cukup lucu dalam bahasa 
Persia. “Zaranggi” artinya “cerdik”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Pada pagi itu 
dengan penuh semangat Zaraggi duduk tepat dihadapan sang tokoh yang 
sembari menyiapkan beberapa bukunya melirik ke arahnya dan tersenyum. 
Dan, Zaranggi pun membalas senyuman sang tokoh.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Setelah ruangan
 hampir penuh, barulah majelis Tanya-jawab itu dibuka. Dengan penuh 
welas asih dan dengan ucapan basmalah serta beberapa kutipan ayat 
al-Qur’an sang tokoh membuka majelis. Kemudian ia berucap:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Saudara-saudara
 sekalian, seperti biasa, mari kita bersihkan hati kita dari segala 
macam keburukan dan kedengkian serta kemalasan dalam mencari kebenaran. 
Semoga pada pagi yang cerah ini menjadi pertanda tercerahnya kebenaran 
agama suci Islam bagi hati kita sekalian. Dan saya harap Anda jangan 
sungkan-sungkan dalam bertanya. Silahkan!”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Sang tokoh 
memandangi satu persatu tamunya dengan penuh perhatian. Dan terakhir 
pandangannya tertumpu pada orang yang duduk didekatnya. Lalu dia 
bertanya dengan penuh persahabatan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormalIndent" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Siapakah nama Tuan?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormalIndent" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Yang ditanya balas menjawab dengan ramah pula.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormalIndent" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Nama saya Zaranggi Tuan.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormalIndent" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Terima kasih. Apakah Anda punya pertanyaan?” Tanya sang tokoh.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyTextIndent" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Benar,” ia menjawab, “Apakah saya boleh bertanya apa saja mengenai agama Tuan?” lanjutnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyTextIndent" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Ya, boleh saja dan saya senang sekali. Apakah pertanyaan Anda itu Tuan?” Tanya sang tokoh.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Terimakasih. 
Pertanyaan saya yang pertama adalah apa nama agama Tuan, dan apa saja 
ajaran umumnya, serta apa dasar-dasarnya?” Tanya Zaranggi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Dengan penuh 
hidmat dan hati-hati sang tokoh menjawab: “Agama kami adalah ‘Islam”. 
Ajaran umumnya adalah menganjurkan kebaikan dan melarang berbuat munkar 
(keburukan), sehingga dunia ini dipenuhi dengan rasa aman (salamah) dan 
tentram. Dasar-dasarnya ada dua macam. Yang pertama, yang bersangkutan 
dengan lahiriah manusia. Yaitu membaca syahadatain, shalat lima waktu 
dalam sehari, membayar zakat bagi yang mampu, puasa di bulan Ramadhan 
dan pergi haji bagi yang mampu. Yang ini disebut ‘rukun Islam’. 
Sedangkan yang kedua adalah yang menyangkut hati nurani manusia. Yaitu, 
Iman kepada Allah, Malaikat, kitab-kitab Allah (Al-Qur’an), 
utusan-utusan Allah (Rasulullah), Hari Kebangkitan setelah kematian dan 
mengimani takdir Allah. Yang kedua ini disebut dengan ‘Rukun Iman’.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Bisakah Anda merinci dengan lebih jelas lagi tentang maksud masing-masing rukun Islam dan rukun Iman itu?” Zaranggi memohon.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Oh tentu,” 
kata sang tokoh yang kemudian melanjutkan uraiannya terhadap satu 
persatu dari masing-masing rukun dari kedua rukun tersebut. Dan Zaranggi
 mendengarkannya secara seksama dan penuh rasa ingin tahu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyTextIndent" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Setelah sang tokoh merinci poin-poin rukun Islam dan rukun Iman, Zaranggi bertanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Sesuai dengan 
penjelasan Tuan, rasa-rasanya tersirat suatu pengertian bahwa yang masuk
 Islam atau mengamalkan rukun Islam belum tentu masuk Iman. Bukankah 
demikian?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Benar, memang 
demikian kenyataannya, dan mereka disebut munafik. Yaitu yang 
mengamalkan Islam tapi tidak mengimaninya dalam hati” jawab sang tokoh.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Apa benar 
munafik itu ada Tuan? Sebab dengan demikian, mereka berlelah-lelah 
mengerjakan sesuatu yang tidak mereka yakini?” Tanya Zaranggi dengan 
sedikit keheranan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Menurut 
sejarah dan al-Qur’an (jawab sang tokoh), mereka itu benar-benar ada. 
Bahkan sejak zaman Nabi. Yang menunjukkan hal itu adalah adanya satu 
surat dalam al-Qur’an yang diberi nama ‘Surat Munafiqun’ yang artinya 
‘orang-orang munafik’. Atau dalam ayat 101 surat al-Taubah. Di sini 
bahkan dikatakan bahwa Nabi tidak mengetahui keadaan mereka itu. Ayat 
yang dikasudkan tadi itu mempunyai inti demikian:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Dan sebagian 
orang-orang desa yang ada di sekelilingmu adalah orang-orang munafik. 
Dan begitu pula sebagian orang-orang Madinah. Mereka keterlaluan dalam 
kemunafikan. Engkau (Muhammad) tidak mengetahui mereka. Sedang kami 
mengetahui mereka.” &lt;/span&gt;&lt;span&gt;(Q.S. al-Taubah : 101)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Lalu, untuk apa mereka melakukan itu Tuan?” tanya Zaranggi keheranan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Yah, kami 
tidak tahu Tuan. Mungkin saja mereka mempunyai maksud-maksud 
tersembunyi, misalnya untuk merusak Islam dari dalam atau untuk 
mendapatkan kepentingan duniawi lainnya” jawab sang tokoh.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Apa betul mereka tidak ketahuan Tuan?” lagi-lagi Zaranggi bertanya penuh keheranan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Betul, yah… 
maklumlah namanya saja sudah munafik, lain dimulut lain pula dihati. 
Dalamnya laut dapat diterka tapi dalamnya hati siapa yang tahu. Masalah 
hati hanya Allahlah yang tahu” sang tokoh menjawab sambil menghela nafas
 panjang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Siapa Allah yang dapat mengetahui isi hati itu Tuan?” tanya Zaranggi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Allah itu adalah Tuhan Pencipta kita dan alam semesta ini, Tuan Zaranggi” Jawabnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Dari mana Anda tahu Tuan bahwa alam ini ada penciptanya dan Dia adalah Allah?” selidik Zaranggi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Dari al-Qur’an” jawab sang tokoh pendek.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Apakah Ia satu-satunya Tuhan bagi sekalian alam ini Tuan? Sebab dalam agama kami ada tiga Tuhan” tanya Zaranggi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Benar Tuan 
Zaranggi. Dialah satu-satunya Tuhan bagi sekalian alam ini. Dan mustahil
 adanya dua Tuhan atau lebih” jawab sang tokoh dengan tegas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Dari mana Anda tahu itu Tuan?” tanya Zaranggi yang memang nampak ingin tahu argumen tokoh kita ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Dari al-Qur’an dan al-Hadits” jawab tokoh kita dengan mantap.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Apakah tidak 
ada pembuktian lain selain al-Qur’an dan al-Hadits Tuan? Sebagaimana 
filosof-filosof Yunani atau Parsi. Walaupun hasil pembuktian mereka 
memang ada yang berbeda” tanya Zaranggi yang memang banyak tahu tentang 
ilmu pengetahuan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Tidak ada 
Tuan. Para filosof berusaha mengenal-Nya dengan akal mereka. Sedangkan 
akal sangatlah terbatas kemampuannya. Oleh sebab itu dalam agama kami 
dilarang menggunakan akal dalam mengenali-Nya, dan juga dalam menentukan
 baik buruknya sesuatu kami harus kembali kepada apa yang dikatakan 
al-Qur’an dan al-Hadits saja” jawab sang tokoh memantapkan posisinya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Apakah agama 
Tuan mengunci mati akal?” tanya Zaranggi dengan sedikit keheranan. Sebab
 menurut orang-orang yang ia dengar, orang-orang muslim justru banyak 
yang pandai.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Tidak” sergah 
sang tokoh. “Agama kami (lanjutnya) tidak mengunci mati akal. Akan 
tetapi yang menyangkut agama kami, mesti mengambil apa-apa yang ada 
dalam al-Qur’an dan al-Hadits tanpa boleh bertanya kenapa demikian, 
misalnya. Sebab sudah kami katakan bahwa akal manusia terbatas. Artinya,
 tidak bisa menjangkau kebenaran hakiki (absolut). Berbeda dengan agama 
yang dapat menjangkaunya.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Baik” kata 
Zaranggi. “Lalu dengan apa Anda membenarkan agama Anda? Apakah dengan 
agama Anda pula? Dan tidak dengan akal?” Zaranggi mulai mendesak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Be… be… benar”
 jawab sang tokoh agak memaksa, karena tidak ada pilihan lain, dan 
sedikit tergagap. Sebab yang selama ini ia pelajari adalah dalam 
menentukan segala sesuatu harus dengan agama, tidak boleh dengan akal. 
Lha! Sekarang ditanya dengan apa mengatakan agama Islam benar? Susah 
menjawabnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Tuan! Harap 
Anda ketahui, bahwa dalam agama kami dan agama-agama lain, masing-masing
 mengajarkan bahwa agama-agama itulah yang benar dan yang lainnya salah.
 Lalu mengapa Tuan tidak memilih agama kami saja dan meninggalkan 
Islam?” tanya Zaranggi sedikit memojokkan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Muka tokoh kita
 mulai memerah. Lebih-lebih setelah beberapa tamu lainnya tertawa 
tertahan. Tapi apa boleh buat, memang dia sendirilah yang menyuruh 
orang-orang untuk bertanya apa saja.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Tidak, tidak. 
Hal itu tidak mungkin kami lakukan” jawab sang tokoh sambil berpikir 
keras untuk mencari jalan keluar dari berondongan pertanyaan Zaranggi 
yang nampak ceplas-ceplos itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Kenapa Tuan?” tanya Zaranggi lagi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Karena hal itu merupakan dosa yang paling besar” jawab sang tokoh yang memang nampak merupakan jawaban asal comot saja.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Kalau keluar 
dari agama Tuan Anda katakan dosa atau dapat murka Tuhan, apakah Anda 
tidak berfikir bahwa kalau kami keluar dari agama kami, kamipun akan 
mendapat murka dari Tuhan kami?” tanyanya lagi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Dan tokoh kita tak bisa menjawab.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;div class="MsoBodyText"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
[&lt;em&gt;bersambung.&lt;/em&gt;..]&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;a href="http://rusya.wordpress.com/2008/10/22/zaranggi-part-i/"&gt;source&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Tasbih az-Zahra</title><link>http://andikfn.blogspot.com/2012/05/tasbih-az-zahra.html</link><category>Angkasa</category><category>artikel</category><author>noreply@blogger.com (ANDIK FN)</author><pubDate>Mon, 14 May 2012 01:05:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6659801012355790768.post-4757472617048953610</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Secara umum, doa-doa, zikir-zikir dan amal ibadah kita, sekalipun 
memiliki landasan rasional dan argumentatif, namun bentuk dan caranya 
berlandaskan teks-teks. Untuk itu masalah tasbih az-Zahra yang diucapkan
 setelah selesai shalat akan dikaji dalam bingkai ini. &lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
  &lt;strong&gt;Sejarah Tasbih az-Zahra&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
 
 Sekaitan dengan masalah tasbih az-Zahra banyak riwayat yang menjelaskan
 bahwa Sayidah Fathimah Zahra as menemui ayahnya Rasulullah Saw. Tujuan 
kedatangannya menemui Rasulullah untuk meminta seorang pembantu yang 
dapat meringankan kerjanya. Rasulullah Saw bersabda,"Wahai anakku! 
Apakah engkau mau menerima yang lebih baik dari itu?"&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
  
Dalam riwayat disebutkan Ali dan Fathimah as serempak berkata, Iya, 
wahai Rasulullah! Berikan yang lebih baik dari seorang pembantu."&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
 
 Rasulullah Saw bersabda, "Setiap hari bacalah 33 kali Subhanallah, 33 
kali Alhamdulillah dan 34 kali Allah Akbar. 100 kali ucapan tasbih ini 
memberikan ribuan pahala yang dapat memberatkan timbangan amal perbuatan
 manusia. (Bait al-Ahzan, hal 63) Wahai Fathimah! Bila tasbih ini engkau
 ucapkan setiap hari pada waktu pagi, niscaya Allah akan mencukupkan 
keinginan duniawi dan ukhrawimu.&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
  &lt;strong&gt;Keutamaan dan pahala tasbih az-Zahra&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
 
 Muhaddis Qummi ahli hadis menyebutkan sejumlah riwayat dalam masalah 
ini. Pada kesempatan kali ini hadis-hadis paling penting akan dimuat 
sebagaimana berikut:&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
  Imam Muhammad Baqir as 
berkata,"Setelah selesai melaksanakan shalat wajib, tidak ada yang lebih
 baik selain membaca tasbih az-Zahra." (Rayyahin, jilid 1, hal 196)&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
 
 Imam Shadiq as berkata, "Tasbih az-Zahra lebih kusukai dari mengerjakan
 shalat sebanyak seribu rakaat dalam setiap hari." (Mahajjah al-Baidha' 
jilid 2, hal 348)&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
  Di tempat lain Imam Shadiq as 
berkata, "Ajarkan kepada anak-anak kita untuk tidak meninggalkan 
mengucapkan tasbih az-Zahra sebagaimana kita mengajarkan kepada mereka 
untuk tidak meninggalkan shalat. Siapa saja yang membacanya secara 
kontinyu tidak akan bernasib buruk."&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
  Dalam riwayat lain disebutkan, maksud dari &lt;em&gt;Zikir Katsir&lt;/em&gt;
 dalam ayat al-Quran adalah tasbih az-Zahra. Barang siapa yang 
mengucapkan tasbih az-Zahra secara kontinyu setelah selesai shalat, maka
 ia telah mengamalkan ayat al-Quran yang menyebutkan,"Dan ingatlah Allah
 dengan &lt;em&gt;Zikir&lt;/em&gt; yang banyak."&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
  Imam Muhammad 
Baqir as berkata,"Bila ada yang lebih baik dari tasbih az-Zahra, niscaya
 Rasulullah Saw akan mengajarkannya kepada Fathimah as."&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
  &lt;strong&gt;Bentuk tasbih az-Zahra&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
 
 Dalam penjelasan bentuk pembacaan tasbih az-Zahra ada beberapa riwayat 
yang menyebutkan caranya dalam bentuk yang berbeda-beda. Namun, yang 
paling masyhur adalah 34 kali Allah Akbar, 33 kali Alhamdulillah dan 33 
kali Subhanallah. Jumlah keseluruhannya menjadi 100. Dalam riwayat 
disebutkan, bila seseorang selesai shalat mengucapkan tasbih az-Zahra 
secara lengkap dan menutup bacaannya dengan Laa Ilaaha Illallah, niscaya
 Allah akan mengampuni dosanya. (IRIB Indonesia)</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>Nafisa: Mempelajari Pribadi Imam Ali as Membuat Saya Serasa Hidup Kembali</title><link>http://andikfn.blogspot.com/2012/05/nafisa-mempelajari-pribadi-imam-ali-as.html</link><category>Angkasa</category><author>noreply@blogger.com (ANDIK FN)</author><pubDate>Thu, 3 May 2012 02:07:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6659801012355790768.post-5975994006144211445</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Saya dilahirkan di Republik Cheko dan dibaptis di sebuah gereja Katolik.
 Keluarga kami bukanlah sebuah keluarga yang agamis, namun kami 
mempercayai adanya Tuhan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Ibu saya meninggal dunia saat saya 
berusia 14 tahun. Pada usia 18 tahun, saya menikah dan dianugerahi 
seorang anak lelaki. Pernikahan saya kandas, namun boleh dikata itu 
merupakan keputusan terbaik untuk saya.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Ayah bekerja keras 
untuk mendidik saya. Namun kematian ibu membuat segalanya berubah. Ayah 
menjadi seorang pemabuk. Saya berusaha mengubahnya, tapi tidak dapat 
berbuat apa-apa. Beberapa kali kami terlibat ribut besar, tapi saya tahu
 betul ia amat mencintai saya dan anak-anak saya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Suatu hari 
saya menemukan ayah meninggal dan peristiwa itu benar-benar membuat saya
 kecewa. Hati saya hancur. Dalam kondisi demikian, saya meminta agar 
Tuhan juga mengambil nyawa saya. Waktu itu saya masih bersuami dan taka 
lama setelah itu kami bercerai. Pasca perceraian, saya harus melalui 
kehidupan yang berat dengan anak saya. Kami akhirnya pindah ke sebuah 
penginapan khusus untuk perempuan milik orang Kristen. Saya sering 
meluangkan waktu untuk bertekuk lutut sambil berdoa kepada Tuhan. 
Sekalipun jauh di sudut hatiku saya merasakan ada sesuatu yang kurang, 
tapi Tuhan tidak pernah memberikan jawaban yang memuaskan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Pada
 waktu itu, saya bekerja dengan orang-orang Arab muslim dan saya banyak 
belajar dari budaya baik mereka. Budaya yang tidak pernah saya temui 
dalam cara hidup Eropa yang dingin dan kaku. Saya mula belajar mengenai 
Islam. Pada mulanya ini merupakan sesuatu yang amat aneh dan baru. Untuk
 pertama kalinya saya menerima al-Quran. Saya menemui seorang mualaf 
baru yang baik dan dialah yang mengajarkan Islam kepada saya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; 
Saya tidak menyadari bahwa umat Islam menyembah Tuhan yang sama seperti 
yang dilakukan oleh umat Kristen dan Nabi Muhammad Saw adalah nabi 
terakhir. Tidak lama mempelajari agama Islam, saya mengucapkan dua 
kalimat syahadat dan menjadi seorang muslim. Saya mula membaca al-Quran 
dan saya merasakan begitu gembira setelah menemukan kebenaran. Ketika 
melewati periode ini, saya turut meneliti Injil dan cukup puas, karena 
masih terdapat kebenaran di celah-celahnya berkaitan Islam dan nabi 
terakhir.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Islam merupakan sesuatu yang saya cari selama ini. Ia
 merupakan jalan yang benar buat saya. Islam hilang dalam kehidupan 
saya, sayangnya saya tidak dapat melihatnya dari dulu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Saya 
mula mengajak anak saya mengenai Tuhan dan ia mempercayai apa saja yang 
saya sampaikan. Akhirnya saya tidak lagi merasa sendiri dan kami punya 
Tuhan. Namun, saya merasakan keluarga kami tidak lengkap. Bertahun-tahun
 berlalu dan saya merasa sendirian. Ini merupakan ujian buat saya 
setelah menemukan Islam dan mula belajar berkenaan Islam. Tahun-tahun 
sendirian telah membantu saya untuk membina keimanan saya dan menjadikan
 saya bertambah kuat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Saya mulai belajar untuk menerima segala 
yang menimpa saya sebagai kehendak Tuhan dan semuanya mempunyai 
maslahat. Selain membaca al-Quran, saya turut membaca sumber-sumber lain
 seperti hadis dari Sahih Bukhari. Saya merasa tidak puas, lalu saya 
mula mencari informasi yang lebih berkaitan mazhab Islam yang lain.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;
 Saya bertemu dengan mazhab Ahlul Bait dan mula membaca bagian sejarah 
yang benar-benar menyedihkan saya. Seperti yang saya katakan, kita akan 
bertemu beberapa kebenaran dalam Injil dan di sana kita akan bertemu 
pada bukti Ahlul Bait. Saya menemui beberapa hadis yang telah diolah 
pada masa lampau untuk membuat orang lupa pada Ahlul Bait. Sejarah 
tersebut ditulis oleh mereka yang berkuasa. Hakikat yang sebenarnya 
terkait sejarah pasca kematian Rasulullah Saw akan muncul bila diteliti 
lebih lanjut. Hakikat tentang keutamaan dan ilmu pengetahuan Imam Ali as
 masih dapat ditemui dan ini menjadi penting untuk mengikuti Ahlul Bait.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;
 Saya begitu sedih dan setiap kali mulai melakukan penelitian, saya 
mundur, karena saya merasa tidak mungkin untuk menemui hakikat. Ada 
kalanya saya berdebat dengan orang Muslim Sunni mengenai Syiah, tetapi 
mereka tidak dapat merasakan apa yang saya rasa saat mencari kebenaran 
dalam sejarah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Malah sebagian merasakan Syiah sebagai 
pembohong. Malah ramai dari kalangan mereka yang percaya pembohongan 
yang dilakukan keatas syiah, contohnya bahwa al-Quran telah diubah, 
malah sebagian pembohongan begitu menjijikkan sekali. Andai saja mereka 
mau melihat lebih mendalam di celah-celah buku sejarah? Andai saja 
mereka mengambil ruang waktu untuk melihat pada kebenaran?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Pada
 waktu saya melakukan penelitian inilah, saya bertemu dan akhirnya 
menikah dengan seorang Muslim Sunni. Ia lelaki idaman saya dan menjadi 
jawaban atas doa saya selama ini. Kami sama-sama membesarkan anak saya 
dan kini menjadi anggota baru dalam keluarga. Alhamdulillah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; 
Semakin jauh saya belajar dari sumber-sumber sunni, semakin ia membuat 
saya sedih. Saya mendapati bahwa banyak persoalan yang tidak dapat 
dijawab, seperti:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Mengapa seorang pahlawan dalam Islam, cucu baginda Rasulullah Saw Imam Husein diabaikan?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Mengapa saya tidak pernah bertemu ajaran dan hadis dari Sayyidah Fatimah as, wanita sempurna alam ini?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;
 Mengapa kita tidak mendengar khotbah di masjid tentang anak-anak Imam 
Ali dan Fatimah Zahra yang mengorbankan nyawa mereka demi Allah di 
Karbala?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Mengapa orang-orang Syiah dibunuh?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Mengapa hanya Imam Ali as yang memandikan jasad Nabi kita dan mengebumikannya?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Mengapa Fatimah Zahra marah dengan Abu Bakar sebelum kematiannya?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;
 Bagaimana anda menjawab perilaku Aisya saat Perang Jamal, ketika dia 
merencana untuk menentang Imam Ali dan menyebabkan ribuan muslim mati 
dan ia dianggap sebagai seorang muslimah yang ideal?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Saya 
berdoa semoga Allah memberi petunjuk kepada saya, karena saya tidak 
dapat menahannya lagi. Ya Allah, bimbinglah saya kearah ajaran mereka 
yang saya cintai, Ahlul Bait karena saya tidak mampu menemuinya sendiri.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;
 Setelah melakukan penelitian yang begitu banyak, dan disertai doa, 
akhirnya saya mengakui bahwa Imam Ali adalah sinar matahari Islam dan 
pengganti sebenarnya Rasulullah yang telah dipilih Allah. Dialah Imam, 
yang harus kita cintai dan panuti.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Kisah mana yang lebih baik 
selain kisah hidup seorang lelaki yang hidupnya diabadikan untuk 
menyebarkan agama Allah dan melakukan yang terbaik demi membimbing 
orang-orangnya ke jalan yang benar dan pada masa yang sama ia tidak 
menolak untuk membimbing kalifah dizamannya seperti Abu Bakar dan Umar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;
 Secara jujur, sebenarnya dunia hari ini memerlukan pengetahuan tentang 
tokoh ini, menjadikan perilaku dan kehidupannya sebagai panutan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;
 Suami saya dan saya belajar dari ajaran-ajaran Ahlul Bait dan kami 
tidak menemui pengetahuan dan kebijaksanaan serta kesucian dalam 
buku-buku sunni.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Saya merasakan seolah-olah saya telah lahir kembali dalam Islam. Alhamdulillah. (IRIB Indonesia/revertmuslims.com)&lt;/div&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;


    &lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Fatimah Az-Zahra as, Figur Perempuan Sejati</title><link>http://andikfn.blogspot.com/2012/05/fatimah-az-zahra-as-figur-perempuan.html</link><category>Angkasa</category><author>noreply@blogger.com (ANDIK FN)</author><pubDate>Thu, 3 May 2012 01:37:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6659801012355790768.post-8223675812770890452</guid><description>&lt;span class="fullpost"&gt;


    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kesedihan luar biasa meliput Madinah. Gang-gang kota itu benar-benar 
senyap diliputi kesedihan. Putri kesayangan Rasulullah Saw pada hari itu
 meninggal dunia. Imam Ali as, suami Sayidah Fatimah az-Zahra as, 
tenggelam dalam kesedihan yang luar biasa. Hanya Allah Swt yang 
mengetahui apa yang terlintas dalam benak Imam Ali as saat istrinya yang
 juga putri kesayangan Rasululah Saw meninggal dunia.  &lt;br /&gt;
  
Saat Rasulullah Saw meninggal dunia, Sayidah Fatimah as benar-benar 
kehilangan dan sangat sedih. Kondisi pasca wafat Rasulullah Saw, 
tidaklah ramah. Fenomena inilah yang membuat kesedihan berlarut-larut 
Sayidah Fatimah az-Zahra as. Tak lama setelah Rasulullah Saw meninggal 
dunia, Sayidah Fatimah menyusul ayahnya.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
  Menjelang 
wafat Sayidah Fatimah as, anak-anak Imam Ali as menangis memandang 
ibunda tercinta yang akan menemui ajalnya. Sayidah Fatimah setiap kali 
membuka matanya, ketenangan hati meliputi anak-anaknya. Kali ini, 
Sayidah Fatimah az-Zahra as membuka mata dan meminta Asma, salah satu 
pendamping setianya, untuk mengambil air untuk berwudhu. Sayidah Fatimah
 az-Zahra as berwudhu bersiap-siap menemui kekasih sejatinya, Allah Swt.
 Sayidah Fatimah memandang anak-anaknya dengan penuh kegelisahan, dan 
kemudian menyampaikan pesan-pesannya kepada suaminya, Imam Ali as.&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
 
 Imam Ali as adalah orang yang paling sedih setelah wafatnya Sayidah 
Fatimah az-Zahra as. Imam Ali as setiap kali melihat Sayidah Fatimah 
az-Zahra as, lupa akan seluruh kegelisahan dunia. Sayidah Fatimah 
az-Zahra as benar-benar menjadi sumber kebahagiaan bagi Imam Ali as. 
Akan tetapi bagi Imam Ali as, kondisi itu akan berubah drastis tanpa 
kehadiran Sayidah Fatimah az-Zahra as.&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
  &lt;strong&gt;Wasiat Az-Zahra as&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
 
 Sayidah Fatimah Az-Zahra setelah menyampaikan pesannya kepada Imam Ali 
as, menutup mata dan menemui kekasih sejatinya, Allah Swt. Imam Ali as 
saat itu benar-benar kehilangan. Di hadapan jenazah suci Sayidah Fatimah
 az-Zahra as, Imam Ali as merintih.&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
  Setelah itu, Imam 
Ali as menatap wasiat Sayidah Fatimah az-Zahra as dan membacanya, 
"Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ini adalah 
wasiat putri Rasulullah Saw yang menulis dalam kondisi bersyahadat 
kepada Allah Swt dan bersaksi bahwa Muhammad Saw adalah utusan Allah 
Swt, surga dan neraka itu benar-benar ada, hari kiamat pasti akan tiba. 
Wahai Ali, aku adalah putri Rasulullah Saw. Allah Swt memerintahkanku 
untuk menikahimu sehingga aku akan mendampingimu di dunia dan akherat. 
Kamu adalah orang yang lebih layak dari orang lain. Wahai Ali, 
mandikanlah aku pada malam hari dan kuburkanlah aku pada malam hari itu 
juga. Jangan beritahukan penguburanku kepada siapapun. Aku pasrahkan 
kamu kepada Allah Swt dan aku sampaikan salam kepada anak-anakku hingga 
hari akhir."&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
  &lt;strong&gt;Keagungan Az-Zahra as&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
 
 Terkait kebesaran Sayidah Fatimah az-Zahra as, Rasulullah Saw bersabda,
 "Keimanan kepada Allah Swt melekat dalam hati dan jiwa mendalam 
az-Zahra as yang mampu menyingkirkan segalanya saat beribadah kepada 
Allah Swt. Fatimah adalah bagian dari hati dan jiwaku. Barangsiapa yang 
menyakitinya sama halnya ia menyakitiku dan membuat Allah Swt tidak 
rela."&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
  Hadis di atas itu diucapkan oleh manusia 
terbaik di alam semesta dan pilihan Allah Swt, Muhammad Rasulullah Saw. 
Tak diragukan lagi, keagungan Sayidah Fatimah az-Zahra as menghantarkan 
ke derajat yang luar biasa di sisi Rasulullah Saw.&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
  
Dalam hadis lain, Rasulullah Saw bersabda, "Putriku yang mulia, Fatimah 
adalah pemimpin perempuan dunia di seluruh zaman dan generasi. Ia adalah
 bidadari berwajah manusia. Setiap kali Fatimah beribadah di mihrab di 
hadapan Tuhannya, cahaya wujudnya menyinari malaikat. Layaknya 
bintang-gemintang yang bersinar menerangi bumi."&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
  
Keutamaan dan keistimewaan yang dimiliki Sayidah Fatimah as bukan hanya 
disebabkan ia adalah putri Rasulullah. Apa yang membuat pribadinya 
menjadi begitu luhur dan dihormati, lantaran akhlak dan kepribadiannya 
yang sangat mulia. Di samping itu, kesempurnaan dan keutamaan yang 
dimiliki Sayidah Zahra as mengungkapkan sebuah hakikat bahwa masalah 
gender bukanlah faktor yang bisa menghambat seseorang untuk mencapai 
puncak kesempurnaan. Setiap manusia, baik laki-laki maupun perempuan, 
memiliki potensi yang sama untuk meraih kesempurnaan.&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
  
Kepribadian Sayidah Fatimah yang begitu mulia, baik secara personal, 
maupun di lingkungan keluarga dan sosialnya menjadikan dirinya sebagai 
manifestasi nyata nilai-nilai Islam. Ia adalah contoh manusia teladan, 
seorang istri dan ibu yang penuh pengorbanan. Ia adalah contoh manusia 
sempurna yang seluruh wujudnya penuh dengan cinta, iman, dan makrifah.&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
 
 Jiwa dan pribadi Fatimah mengenal konsepsi kehidupan yang paling luhur 
di rumah wahyu, di sisi pribadi agung Rasulullah Saw. Setiap kali 
Rasulullah memperoleh wahyu, dengan penuh seksama Sayidah Fatimah 
mendengarkan ajaran hikmah yang disampaikan oleh sang Ayah kepadanya. 
Sebegitu mendalamnya cinta kepada Allah dalam diri Fatimah, 
sampai-sampai tak ada apapun yang diinginkannya kecuali keridhoan Allah 
swt. Ketika Rasulullah Saw berkata kepadanya, "Wahai Fatimah, apapun 
yang kamu pinta saat ini, katakanlah. Sebab Malaikat pembawa wahyu 
tengah berada di sisiku". Namun Fatimah menjawab, "Kelezatan yang aku 
peroleh dari berkhidmat kepada Allah, membuat diriku tak menginginkan 
apapun kecuali agar aku selalu bisa memandang keindahan Allah swt".&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
  &lt;strong&gt;Az-Zahra as dan Al-Quran&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
 
 Sayidah Fatimah Az-Zahra juga sangat mencintai al-Quran. Beliau 
berkata, " Ada tiga hal yang aku cintai di dunia ini. Ketiga hal itu 
adalah membaca al-Quran, memandang wajah Rasulullah Saw dan berinfak di 
jalan Allah Swt."&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
  Salman al-Farisi, sahabat besar 
Rasulullah Saw, meriwayatkan bahwa ia pernah mendapat perintah dari 
Rasulullah Saw untuk mengerjakan sesuatu di rumah Sayidah Fatimah 
az-Zahra as. Ketika tiba di rumah Sayidah Fatimah, saya meminta izin 
untuk masuk. Saat itu, saya melihat Sayidah Fatimah tengah menggiling 
gandum sambil membaca al-Quran.&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
  Pada suatu hari, Imam 
Ali as masuk ke rumahnya dan mendengar bahwa Sayidah Fatimah az-Zahra 
tengah melantunkan ayat yang baru turun kepada Rasulullah Saw. Imam Ali 
dengan takjub bertanya, "Bagaimana kamu bisa mengetahuinya? Sayidah 
Fatimah az-Zahra as menjawab, "Putra kita, Hasan, hari ini membacakan 
ayat yang baru turun pada Rasulullah Saw, kepadaku." Sayidah Fatimah 
az-Zahra as sangat mencintai ayat-ayat al-Quran.&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
  
Sayidah Fatimah az-Zahra as dalam khutbah yang disampaikan pasca 
wafatnya Rasulullah Saw, mengkritisi kondisi yang ada dengan pandangan 
komprehensif yang bersandarkan pada ayat-ayat al-Quran. Dalam khutbah 
itu, Sayidah Fatimah memperingatakan kepada masyarakat bahaya 
penyimpangan. Di pembukaan khutbah, Sayidah Fatimah az-Zahra as 
menjelaskan al-Quran dan perannya di tengah kehidupan, dan mengatakan, 
"Allah Swt mempersembahkan kepada kalian sebuah ikatan yang kuat. Itu 
adalah al-Quran Berbicara. al-Quran adalah kitab kebenaran yang 
memancarkan cahaya dan kitab argumentasi yang mengungkap &lt;em&gt;batin&lt;/em&gt; (internal) dan &lt;em&gt;dzahir&lt;/em&gt; (eksternal)."&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
 
 Sayidah Fatimah az-Zahra as dengan jelas menyatakan bahwa masyarakat, 
khususnya kalangan cendekia, harus memperhatikan kandungan al-Quran dan 
sejarah Rasulullah Saw sebagai sumber utama hukum dan syariat. Untuk 
itu, Sayidah Fatimah menekankan penyimpulan yang benar dari kitab suci 
dan hadis. Saat itu, Sayidah Fatimah berupaya menghalangi penyalahgunaan
 sekelompok orang atas nama agama. Sayidah Fatimah az-Zahra as 
menekankan perhatian pada al-Quran untuk mengantisipasi semua upaya 
busuk dari sekelompok orang.&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
  Dalam khutbahnya, Sayidah
 Fatimah az-Zahra as berkata, "Mengapa kalian tersesat? Padahal ada 
kitab suci di tengah kalian. Di dalam kitab itu sangatlah jelas berbagai
 masalah dan hukum-hukumnya. Jalan petunjuk sangat jelas dan 
peringatan-peringatan pun sangat transparan. Apakah kalian menghendaki 
al-Quran? Mengapa kalian mencari penengah selain al-Quran?&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
  &lt;strong&gt;Umur Pendek Az-Zahra as&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
 
 Di umur pendek, Sayidah Fatimah mengalami berbagai peristiwa. Meski 
berumur pendek, putri kesayangan Rasulullah Saw mempunyai peran luar 
biasa. Pesan-pesan yang disampaikan oleh Sayidah Fatimah sarat dengan 
pesan keluarga, politik dan sosial.&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
  Selain itu, 
Sayidah Fatimah az-Zahra as juga mencerminkan seorang hamba yang luar 
biasa di hadapan Allah Swt. Ibadah yang dirasakannya sama sekali tak 
tergantikan dengan segala kenikmatan dunia. Dalam riwayat disebutkan, 
Sayidah Fatimah as dan keluarganya berpuasa tiga hari berturut-turut dan
 cukup berbuka dengan air karena ingin bersedekah kepada orang-orang 
miskin. Kehidupan Sayidah Fatimah as penuh dengan kedermawanan. Beliau 
juga beribadah dari malam hingga pagi. Beribadah kepada Allah Swt 
merupakan kerinduan tersendiri bagi Sayidah Fatimah az-Zahra as.&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
 
 Kehidupan Sayidah Fatimah az-Zahra dan Imam Ali as sangat sederhana. 
Meski hidup sederhana, keluarga putri kesayangan Rasulullah Saw diliputi
 rasa kebahagiaan yang melimpah. Rumah kecilnya penuh dengan aura 
spiritual yang juga menjadi tempat bertumpunya orang-orang yang tidak 
mampu.&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
  Di penghujung umurnya, Sayidah Fatimah az-Zahra
 as hanya menyampaikan wasiatnya kepada suaminya, Imam Ali as. Ini 
menunjukkan ketulusan dan ketaatan Sayidah Fatimah az-Zahra kepada 
suaminya, Imam Ali as. Ketulusan dan pengorbanan Sayidah Fatimah 
az-Zahra atas suaminya telah menciptakan keluarga ideal dan 
manusia-manusia besar dalam sejarah manusia.(IRIB Indonesia)&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Rahasia Penciptaan Sayidah Fatimah Az-Zahra</title><link>http://andikfn.blogspot.com/2012/05/rahasia-penciptaan-sayidah-fatimah-az.html</link><category>Angkasa</category><author>noreply@blogger.com (ANDIK FN)</author><pubDate>Thu, 3 May 2012 01:31:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6659801012355790768.post-3821673191639175516</guid><description>&lt;span class="fullpost"&gt;


    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Berbagai riwayat yang menjelaskan tentang kedudukan Sayidah Fatimah 
az-Zahra sa membuktikan keagungan posisi beliau yang salah satunya 
dijelaskan dalam hadis Qudsi &lt;span dir="RTL"&gt;" لولا فاطمه"&lt;/span&gt;. Dalam hadis itu dijelaskan posisi risalah kenabian dan imamah.  &lt;br /&gt;
Riwayat tentang derajat dan kedudukan Sayidah Fatimah sa sangat banyak 
yang kandungan dari riwayat-riwayat tersebut menjelaskan keagungan 
posisi insan mulia ini. Berdasarkan riwayat, salah satu makna Fatimah 
adalah orang yang derajat makrifatnya tidak akan pernah dapat dicapai 
oleh siapa pun dan mereka tidak akan dapat mengenalnya secara sempurna. 
Seakan Allah Swt telah menyimpan sebuah rahasia besar dalam diri Sayidah
 Fatimah sa. Makrifat tentang Allah Swt dan irfan sangat berkaitan erat 
dengan makrifat tentang Sayid Fatimah sa.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita 
mengetahui bahwa Sayidah Fatimah bukan nabi atau imam, lalu apa yang 
membuat derajat dan posisi beliau sedemikian tinggi selain kenabian atau
 imamah. Yang jelas, seberapa pun kita berusaha kita tidak akan mampu 
mencapai makrifatnya permata langit ini. Akan tetapi kita dapat 
menyebutnya sebagai pokok penghambaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penghambaan 
berarti tidak memiliki apapun kecuali semuanya dari Allah Swt, dengan 
demikian seorang hamba sejati adalah cermin dari Sang Pencipta. Oleh 
karena itu, Imam Ja'far as-Shadiq as berkata mengatakan bahwa 
penghambaan adalah sebuah pokok yang intinya adalah ketuhanan. Pokok itu
 adalah yang hilang dari diri manusia dan rahasia irfan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam riwayat disebutkan bahwa mengenal Sayidah Fatimah sa berarti mengenal &lt;i&gt;Lailatul Qadr&lt;/i&gt;, ketika tujuan dari seluruh irfan adalah memahami hakikat &lt;i&gt;Lailatul Qadr&lt;/i&gt;, dan sesungguhnya seorang arif sejati adalah orang yang menyaksikan dan merasakan peristiwa penurunan al-Quran pada malam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang tersingkap untuk umat manusia adalah mengenai kedudukan 
kenabian dan imamah sebagi penyempurna agama yang disampaikan oleh 
kenabian. Hanya sebagian kelompok yang memahami bahwa apa yang tersisa 
dari derajat imamah yang juga termasuk dalam rahasia langit, adalah 
rahasia wujud Sayidah Fatimah sa itu sendiri yang tersembunyi di balik 
kemaksuman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian imamah adalah penyermpurna
 kenabian dan inti dari penghambaan adalah penyempurna imamah, namun 
justru di sini letak tiga tahapan dan derajat itu menyatu secara utuh 
dan sempurna dalam wujud Rasulullah dan bahwa kedudukan Rasulullah Saw 
lebih tinggi dari para imam maksum. Kedudukan imamah termanifestasi 
dalam pribadi Imam Ali as sementara kedudukan penghambaan termanifestasi
 pada pribadi Sayidah Fatimah sa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, 
terkait perjalanan kemunculan hakikat wujud Rasulullah Saw harus 
dikatakan bahwa tahapan penghambaan lebih tinggi dari derajat kenabian 
dan imamah, oleh sebab itu pula apa yang terdapat dalam diri Sayidah 
Fatimah sa merupakan tahapan tertinggi untuk manusia yang juga menjadi 
tujuan dari kenabian dan imamah itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak 
riwayat yang dinukil dari Rasulullah Saw dan para imam maksum dan juga 
hadis-hadis qudsi yang menjelaskan kedudukan Sayidah Fatimah sa di 
antaranya hadis qudsi yang ditujukan kepada Rasulullah;&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" dir="RTL"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div align="center" dir="RTL"&gt;
« لولاک لما خلقت الافلاک . و لولا علی لما خلقتک . و لو فاطمه لما خلقتکما»&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
"Jika bukan karena kamu [Muhammad] maka tidak akan Aku ciptakan 
semesta. Jika bukan karena Ali maka tidak akan Aku menciptakanmu. Dan 
jika bukan karena Fatimah maka tidak akan Aku ciptakan kalian berdua."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam menjelaskan makna hadis tersebut harus dikatakan bahwa ada tiga 
hal yang dijelaskan dalam hadis qudsi itu yaitu tujuan penciptaan alam 
semesta, keunggulan derajat imamah di atas kenabian, dan keunggulan 
derajat penghambaan di atas dua derajat tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada
 bagian pertama Allah Swt berfirman "Jika bukan karena kamu [Muhammad] 
maka tidak akan Aku ciptakan alam semesta" berarti bahwa manusia 
sempurna adalah tujuan utama penciptaan alam semesta dan merupakan 
penekanan Allah Swt terhadap faktor utama dalam penciptaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun dalam bagian kedua disebutkan, "Jika bukan karena Ali, maka Aku 
tidak akan menciptakanmu [Muhammad]." Pada bagian riwayat ini disebutkan
 keunggulan posisi imamah di atas kenabian. Kita tahu bahwa makna 
kenabian adalah penyampai pesan, akan tetapi derajat imamah lebih tinggi
 dan derajat itu adalah pencapaian ketauhidan yang sempuna setelah fana 
dari diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan ayat-ayat al-Quran, Nabi 
Ibrahim setelah melalui berbagai tahapan beliau sampai pada derajat 
imamah meski pada saat yang sama beliau adalh seorang nabi. Rasulullah 
Saw juga telah mencapai derajat imamah, akan tetapi ciri utama Imam Ali 
adalah imamah sementara ciri lahiriyah Rasulullah adalah kenabian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu di sini yang dibahas bukan masalah keunggulan Imam Ali 
as di atas Rasulullah Saw, melainkan keunggulan posisi imamah 
dibandingkan kenabian, karena tidak diragukan lagi bahwa Rasulullah Saw 
lebih mulia dan unggul dibandingkan Imam Ali as. Imam Ali sendiri dalam 
sebuah riwayat mengatakan,&lt;br /&gt;
&lt;div dir="RTL"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div align="center" dir="RTL"&gt;
«انا عبد من عبید محمد»&lt;/div&gt;
"Aku hanya seorang hamba (budak) di antara hambah-hamba Muhammad"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun pada bagian ketiga dari riwayat tersebut Allah Swt berfirman, 
"Jika bukan karena Fatimah maka Aku tidak akan menciptakan kalian 
berdua." Bagian ini mengisyaratkan bahwa meski derajat tersebut telah 
sampai pada tingkat kesempurnaan, akan tetapi derajat tersebut menjadi 
cici khas Sayidah Fatimah sa, yaitu penghambaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu ungkapan &lt;span dir="RTL"&gt;«لولا فاطمه لما خلقتکما» &lt;/span&gt;&amp;nbsp;berarti
 bahwa tanpa penghambaan maka Allah tidak akan menciptakan Nabi Muhammad
 dan Imam Ali karena keduanya tidak akan sempurna tanpa penghambaan. Dan
 ini menjelaskan bahwa kenabian dan imamah merupakan mukaddimah dari 
penghambaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski unsur penghambaan itu telah 
sempurna dalam diri Rasulullah dan juga Imam Ali as, akan tetapi unsur 
tersebut menjelma secara khusus pada diri Sayidah Fatimah. Dengan 
demikian, jelas bahwa jika seseorang dapat mencapai derajat penghambaan 
dengan sempurna maka derajatnya lebih tinggi dari kenabian dan imamah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena sesungguhnya nabi dan imam pun memikul tanggung jawab kenabian 
dan imamah mereka karena penghambaan. Ini berarti derajat tertinggi di 
sisi Allah Swt adalah penghambaan. Dengan kata lain, kenabian dan imamah
 adalah predikat yang berkaitan dengan umat sementara penghambaan atau &lt;i&gt;ubudiyah&lt;/i&gt; menjelaskan arah dan tujuan hakiki yang jelas lebih tinggi dari kenabian dan imamah. (IRIB Indonesia/MZ) &lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Sayidah Zainab, Manifestasi Utuh Perjuangan</title><link>http://andikfn.blogspot.com/2012/05/sayidah-zainab-manifestasi-utuh.html</link><category>Angkasa</category><author>noreply@blogger.com (ANDIK FN)</author><pubDate>Thu, 3 May 2012 01:27:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6659801012355790768.post-2044399431676075690</guid><description>&lt;span class="fullpost"&gt;


    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tanggal 5 Jumadil Awal 5 Hijriah merupakan hari yang istimewa. Karena
 saat itu, Sayidah Zainab as lahir di kota Madinah. Pada hari ini 
sekitar 14 abad yang lalu, rumah Imam Ali bin Abi Thalib as dan Sayidah 
Fatimah az-Zahra as diliputi kebahagiaan luar biasa karena terlahir 
seorang putri yang kelak akan menjadi srikandi perempuan.  &lt;br /&gt;
Ketika Zainab as lahir ke dunia, Nabi Muhammad Saw sedang berada di 
perjalanan. Sayidah Fatimah kemudian meminta kepada suaminya Imam Ali as
 untuk memberi nama putri yang baru lahir itu. Namun Imam Ali as 
memutuskan untuk menunggu Nabi Muhammad Saw kembali dari perjalanan dan 
memberinya nama.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Rasulullah Saw tiba di 
Madinah, beliau begitu gembira saat dikabarkan kelahiran cucunya ini, 
dan berkata, "Allah Swt memerintah agar nama anak perempuan ini diberi 
nama Zainab yang artinya hiasan ayahnya." Rasulullah Saw kemudian 
menggendong Zainab dan menciumnya lalu berkata, "Saya mewasiatkan kepada
 kalian semua agar menghormati anak perempuan ini, karena ia mirip 
Sayidah Khadijah as."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejarah kemudian menjadi bukti 
bahwa Sayidah Zainab as sama seperti Sayidah Khadijah yang menanggung 
banyak kesulitan demi memperjuangkan Islam. Dengan kesabaran dan 
pengorbanannya ia mempersiapkan sarana demi pertumbuhan dan kesempurnaan
 agama ilahi ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayidah Zainab as adalah sosok 
perempuan yang dijadikan sebagai simbol keberanian dan ketegaran dalam 
membela kebenaran. Perannya di Asyura menjadi catatan tersendiri dalam 
sejarah Islam dan kemanusiaan sepanjang masa. Di tengah puncak kepedihan
 dan ujian berat, Sayidah Zainab tetap tegar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rahasia 
ketegaran itu adalah keimanan kepada Allah Swt. Apalagi Sayidah Zainab 
lahir di tengah keluarga suci. Pendidikan suci yang didapatkannya dari 
kakeknya, Rasulullah Saw, ayahnya, Imam Ali as dan ibunya, Sayidah 
Fatimah az-Zahra as menjadikan Sayidah Zainab sebagai sosok pemberani 
dan tegar yang namanya selalu dikenang sepanjang sejarah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayidah Zainab as hidup di tengah keluarga manusia-manusia suci. Di 
masa hidupnya, putri Imam Ali as dan Fatimah Az-Zahra as mendapat kasih 
sayang melimpah dari kakeknya, Rasulullah Saw. Beliau juga melihat 
langsung pengorbanan ibunya, Sayidah Fatimah az-Zahra as dalam 
menciptakan ketenangan, spiritual dan kasih sayang. Sayidah Zainab pada 
umur empat tahun menyaksikan pengorbanan keluarganya yang harus menahan 
lapar dan memberikan makanan ke orang-orang yang membutuhkan demi 
kerelaan Allah Swt. Ketika dewasa, Sayidah Zainab mempunyai peran 
penting dalam peristiwa Karbala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedudukan mulia 
Sayidah Zainab hanya dapat diraih melalui makrifat yang mendalam kepada 
Allah Swt. Beliau adalah murid ayahnya, Imam Ali as. Sayidah Zainab 
menyaksikan perilaku mulia Imam Ali as dari dekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika seseorang berkeyakinan bahwa Allah Swt itu Maha Agung, maka segala 
sesuatu selainnya adalah kecil. Pandangan ketuhanan Sayidah Zainab 
seperti inilah yang menyebabkannya tidak ada yang lebih besar dari 
keagungan ilahi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Sayidah Zainab as mencapai 
usia perkawinan, beliau kemudian menikah dengan Abdullah bin Jakfar, 
saudara sepupunya. Abdullah dikenal sebagai orang kaya Arab. Namun 
Sayidah Zainab as menjadi istrinya bukan karena hartanya. Ketinggian 
derajat Sayidah Zainab membuat beliau tidak membatasi dirinya dalam 
kehidupan lahiriah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk itu, Sayidah Zainab dalam 
pernikahannya dengan Abdullah yang kaya raya, mensyaratkan untuk tetap 
bisa mendampingi Imam Husein as di seluruh perjalanannya. Karena 
persyaratan ini, Sayidah Zainab as berada di samping Imam Husein as saat
 terjadi peristiwa Asyura. Beliaupun menjadi pembela dan penyambung misi
 Imam Husein as di Karbala. Tanpa peran Sayidah Zainab as, misi Karbala 
sulit tersampaikan kepada umat saat itu. Bahkan kunci kemenangan gerakan
 Imam Husein as terletak pada Sayidah Zainab as.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayidah Zainab mampu menyampaikan pesan-pesan gerakan Imam Husein as 
dengan bahasa lugas dan jelas. Dengan berbagai statemennya, Sayidah 
Zainab mampu menciptakan revolusi di Kufah dan Syam. Kecerdasan dan 
kepiawaian Sayidah Zainab as merupakan faktor keberhasilan misi dan 
visinya dalam melanjutkan perjuangan Imam Husein as.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa Sayidah Zainab as mendapat 
makrifat dan ilmu langsung dari Allah Swt. Imam Ali Zainal Abidin as 
dalam satu perkataannya kepada Sayidah Zainab as mengatakan, "Wahai 
saudari ayahku, engkau adalah seorang alim tanpa pernah belajar dari 
seorang guru. Engkau telah memiliki pemahaman hakikat."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketauhidan selalu menjadi pijakan kehidupan Sayidah Zainab as, dan 
kemudian menghantarkan beliau sebagai sosok yang pasrah dan rela di 
hadapan Allah Swt. Tak salah, ketegaran Sayidah Zainab tak pernah surut 
dalam kondisi apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pasca Karbala, Ibnu Ziyad, 
penguasa Kufah saat itu, kepada Sayidah Zainab, mengatakan, "Apa yang 
kamu saksikan dari perilaku Tuhan kepada saudaramu, Husein?" Sayidah 
Zainab menjawab, "Saya hanya menyaksikan keindahan semata." Kemudian 
Sayidah Zainab mengatakan, "Mereka (para syuhada Karbala) adalah 
manusia-manusia yang Allah Swt mencatat mereka sebagai orang-orang yang 
gugur syahid. Mereka sekarang ini telah pergi ke tempat yang haqiqi."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayidah Zainab dikenal sebagai Aqilah Bani Hasyim karena makrifatnya 
yang luar biasa. Aqilah itu adalah sebutan untuk cendekia perempuan. Di 
masa kanak-kanak, Sayidah Zainab mampu menghafal seluruh khutbah 
monumental Sayidah Fatimah az-Zahra as.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pencerahan 
Sayidah Zainab dalam perjalanan dari kota Sham hingga Madinah bukan 
hanya karena kehilangan saudara-saudaranya di padang Karbala. Akan 
tetapi gerakan Sayidah Zainab mencerminkan tekad besar putri Imam Ali as
 dalam menghidupkan kembali nilai-nilai mulia agama yang terlupakan dan 
posisi keluarga Rasulullah Saw. Sayidah Zainab benar-benar memanfaatkan 
kehadiran masyarakat yang membludak di sepanjang jalan yang dilewati 
rombongan Ahlul Bait as. Seruan Sayidah Zainab sa telah terdengar oleh 
semua pihak. Tidak ada alasan lagi bagi umat saat itu untuk bersikap 
diam dalam menghadapi kebatilan dan arogansi para penguasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rombongan keluarga Rasulullah Saw juga digiring oleh pasukan musuh 
Allah Swt di jalan-jalan Kufah, kota yang pernah berada di bawah 
pimpinan ayahnya, Ali bin Abi Thalib as. Menggiring rombongan Sayidah 
Zainab di kota Kufah kian mempercepat tercapainya target gerakan 
pencerahan Sayidah Zainab as. Di kota Kufah yang pernah menjadi pusat 
pemerintahan Imam Ali as, keluarga Rasulullah Saw sangat terhormat. Akan
 tetapi umat saat itu menghancurkan kehormatan keluarga mulia Rasulullah
 Saw. Sayidah Zainab dengan pidatonya berupaya menyampaikan pencerahan 
kepada masyarakat yang tidak tahu. Melalui pencerahan Sayidah Zainab as,
 masyarakat yang jahil atau tidak tahu akan menyadari posisi mulia 
keluarga Rasulullah Saw. Kondisi saat itu menunjukkan bahwa masyarakat 
sudah menyimpang jauh dari garis yang ditetapkan Rasulullah Saw.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peran Sayidah Zainab as merupakan manifestasi utuh &lt;i&gt;amar makruf &lt;/i&gt;dan&lt;i&gt;nahi munkar&lt;/i&gt;.
 Ketika berhadapan dengan penguasa lalim saat itu, Yazid bin Muawiyah, 
Sayidah dengan lantang mengatakan, "Wahai Yazid, kekuasaan dan dinasti 
telah menghilangkan kemanusiaanmu. Kamu adalah penghuni neraka. Laknat 
atas kamu!!! Kamu telah memerangi ajaran Rasulullah Saw. Ketahuilah, 
meski sudah mengerahkan semua upayamu, tapi agama tak akan sirna dan 
akan kekal. Namun kamu akan hancur dan sirna."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wanita 
mulia ini menerima tanggung jawab berat dan sulit, namun kesabarannya 
seperti permata yang menghiasi jiwanya. Bagi Sayidah Zainab as, 
ketegaran di jalan kebenaran dan pengorbanan di jalan Allah senantiasa 
indah. Demikianlah setelah peristiwa Asyura, Sayidah Zainab as kepada 
orang-orang zalim beliau berkata, "Saya tidak menyaksikan sesuatu 
kecuali keindahan." (IRIB Indonesia)&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Perspektif Rahbar tentang Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib (a.s)</title><link>http://andikfn.blogspot.com/2012/05/perspektif-rahbar-tentang-amirul.html</link><category>artikel</category><author>noreply@blogger.com (ANDIK FN)</author><pubDate>Thu, 3 May 2012 01:22:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6659801012355790768.post-6021214212162033074</guid><description>&lt;strong&gt;Imam Ali as Teladan Sejati Umat Manusia&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Derajat Suci Imam Ali as.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Pada
 dimensi spiritual dan malakut, ada serangkaian keagungan Imam Ali as 
yang tentu sulit bagi kita untuk menjangkaunya dengan pemahaman kita 
yang terbatas. Pengetahuan kita tidak akan dapat meliput secara memadai 
hakikat-hakikat yang terpendam di kedalaman batin dan jatidirinya, yaitu
 hakikat-hakikat yang memancar dan kemudian mengalir dari lisannya yang 
mulia, hakikat kedekatannya dengan Allah, kekuatan zikirnya kepada Allah
 yang telah menata semua perilaku, tutur kata, dan segenap keadaanya. 
Meski begitu, kami tetap meyakini adanya hakikat tersebut, dan kami 
bangga dengan ini karena keberadaannya telah kami dengar dari 
sumber-sumber yang sudah terbukti kejujurannya. &lt;/div&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Dari
 sisi lain, ada pula serangkaian keutamaan Amirul Mukminin Ali bin Abi 
Thalib as yang memang merupakan contoh dan teladan yang sudah menjadi 
pusat perhatian segenap masyarakat sejarah. Keutamaan ini menjadi 
barometer dan tolok ukur bagi manusia dalam berbuat sesuatu. Ia teladan 
bukan hanya bagi kelompok tertentu, bahkan bukan pula teladan di mata 
umat Islam saja. Amirul Mukminin memiliki daya tarik sedemikian besar di
 atas panggung sejarah tak lain karena keutamaan-keutamaan tersebut. 
Sebab itu, orang yang tidak menerima Islam atau pun tidak mempercayai 
kepemimpinan (imamah)-nya tetap terkesima dan kagum terhadap keagungan 
karakteristik Imam Ali as.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Atas dasar ini, 
karakteristik Imam Ali as adalah teladan bagi semua orang, terutama bagi
 kita yang sekarang memiliki pemerintahan Islam dan kita klaim sebagai 
sebuah pemerintahan Alawi. Ungkapan rasa cinta dan kagum kepada Imam Ali
 tak cukup dengan hanya menyebut Ali adalah Amirul Mukminin tanpa 
mengikuti perilaku yang telah beliau ajarkan kepada kita dengan lisan 
dan amal. Saya dan orang-orang seperti saya sebagai orang-orang yang 
duduk di pemerintahan ini, kami jelas memiliki tanggungjawab yang lebih 
besar, karena kami harus benar-benar meneladani Imam Ali as dan menjauhi
 perbuatan yang dibencinya.  &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Bisa jadi orang 
membanding-bandingkan siapa kamu dan siapa Amirul Mukminin; Kekuatan 
beliau, kemampuan, keimanan, kesabaran, dan kekuatan ruhaninya, 
sedangkan kamu siapa? Kata-kata seperti ini tentu saja benar. Kita jelas
 bukan apa-apa bagi Imam Ali as. Bahkan kita tidak patut mengatakan 
bahwa beliau lebih baik dan lebih mulia, sedangkan kita lebih rendah. 
Pembandingan ini jelas salah. Imam Ali berada di atas bintang yang 
tertinggi, sedangkan kita terperosok dalam kubangan lumpur yang kotor. 
Dari segi apa saja kita melihat, akan tetap terlihat betapa jauhnya 
jarak antara kita dan beliau. Namun begitu, kita tetap bisa memilih 
arah, jejak, dan tujuan yang telah ditempuh dan ditunjukkan oleh beliau.
 &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Keseimbangan Dalam Kepribadian Imam Ali as&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Dari
 aspek manapun kepribadian Imam Ali as dilihat pasti menyuguhkan 
keajaiban. Ini bukan ungkapan eksesif, melainkan ekspresi dari ketidak 
berdayaan seseorang yang selama bertahun-tahun menghayati riwayat hidup 
Amirul Mukminin Ali bin Thalib as. Ini adalah perasaan yang mengalir 
dari dalam lubuk batin manusia ketika tidak berdaya menyelam jauh ke 
dalam kepribadian agung beliau dengan hanya menggunakan media akal, 
pikiran, dan penalaran biasa. Beliau adalah keajaiban dari segenap sisi.
 Imam Ali as pada dasarnya adalah miniatur dari gurunya, Nabi Besar 
Muhammad saw.  Sungguhpun begitu, pribadi agung Imam Ali yang terpampang
 di depan kita, Imam yang merasa kerdil dan hina di depan gurunya ini, 
ketika kita tatap dengan penalaran manusiawi maka yang terlihat ternyata
 adalah suatu kepribadian dengan level yang berada di atas manusia. &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Salah
 satu poin yang menarik untuk dibicarakan menyangkut Amirul Mukminin as 
ialah keseimbangan dalam kepribadian Amirul Mukminin as. Dalam diri 
beliau terdapat berbagai karakter yang sepintas lalu tampak paradoksal 
atau saling bertentangan satu sama lain. Sedemikian harmonisnya 
karakter-karakter ini sehingga menyuguhkan nuansa keindahan yang amat 
sangat. Manusia sulit membayangkan karakter-karakter ini bisa 
berintegrasi dalam satu pribadi. Banyak sekali karakter-karakter seperti
 ini yang tertanam dalam diri Imam Ali as, bukan hanya satu atau dua 
karakter saja. Dan kita di sini hanya akan menyebut beberapa karakter 
saja.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Sekedar contoh, kelembutan dan kasih sayang 
jelas tidak singkrun dengan keteguhan dan ketegasan. Namun, dalam diri 
Imam Ali, kelembutan dan rasa kasih sayang tertanam sedemikian sempurna 
sehingga sulit untuk mencari tandingannya. Hal ini antara lain tergambar
 dalam kisah Imam Ali as ketika mendatangi rumah seorang janda yang 
memiliki seorang anak kecil. Di rumah itu beliau sudi membantu janda itu
 menghidupkan tungku api, membuatkan roti dan makanan. Usai itu beliau 
tak segan-segan menyuapi anak kecil janda itu dengan tangannya sendiri. 
Tak cukup dengan itu, beliau selalu mengajak anak yatim itu bercanda dan
 bermain agar terhibur. Beliau memanggul dan membawanya berjalan keluar 
sehingga anak yatim itu benar-benar terhibur.  &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Sedemikian
 penyayangnya Imam Ali as sehingga seorang tokoh besar saat itu berkata:
 "Aku melihat sendiri bagaimana beliau menyuapkan madu ke mulut 
anak-anak yatim dan fakir dengan jemari beliau sendiri sehingga aku 
berkata dalam hati betapa senangnya seandainya aku adalah anak yatim. 
(Biharul Anwar juz 41 hal.29) &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Karakter beliau 
juga tergambar dalam peristiwa Nahrawan. Saat itu ada sejumlah orang 
berniat melakukan aksi makar untuk menggulingkan pemerintahan Imam Ali 
as dengan berbagai macam dalih yang mengada-ada. Ketika mereka berada di
 hadapan Imam Ali as, beliau bernasihat kepada mereka, tetapi ternyata 
sia-sia. Argumentasi beliau juga tak didengar. Mediator pun didatangkan,
 tetapi hasilnya tetap nihil. Beliau lalu memberikan bantuan keuangan 
disertai janji menarik, tetapi hasilnya juga nol. &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Suasana
 tetap panas dan berujung pada kondisi frontal. Imam Ali as lagi-lagi 
mencoba memberi nasihat, tetapi hasilnya masih saja nol. Di situ Imam 
Ali as akhirnya tak menemukan cara lain kecuali tindakan tegas, karena 
lawan-lawannya sudah terbukti berniat makar dan busuk. Mereka adalah 
kaum Khawarij. Khawarij seringkali digambarkan secara tidak tepat. Saya 
prihatin ketika dalam berbagai diskusi, syair, pidato, film, dan lain 
sebagainya, Khawarij digambarkan sebagai kelompok yang mengindahkan 
kesucian yang kering. Ini jelas salah. Kesucian apa yang bisa didapat 
dari mereka. Di zaman Imam Ali as banyak orang yang bekerja hanya untuk 
dirinya sendiri. Kalau ingin mengetahui siapa Khawarij, maka contohnya 
ada di zaman kita sekarang, yaitu kelompok Munafikin Khalq. Anda tentu 
ingat.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Kenali Khawarij secara lebih baik. Mereka 
adalah orang-orang yang hanya menampilkan kulit luar agama, ayat-ayat 
Al-Quran, menghafal Al-Quran dan Nahjul Balaghah. Mereka terkesan 
berpegang teguh pada bagian-bagian internal agama, tetapi kenyataannya 
menolak hakikat dan prinsip dari agama itu sendiri. Mereka fanatik pada 
cara ini. Mereka menyebut-nyebut nama Allah, tetapi kenyataannya mereka 
diperbudak oleh setan. Kelompok Munafikin juga demikian. Pada saat 
tertentu mengaku konsisten pada agama, tetapi ketika ada kesempatan 
untuk merongrong revolusi, melawan Imam Khomaini dan pemerintahan 
Republik Islam, mereka tak segan-segan bekerjasama dengan AS, Zionis, 
Saddam, dan siapa saja yang mau bekerja dan melayani ambisi mereka. 
Khawarij adalah manusia jenis ini.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Amirul Mukminin
 bertindak tegas di depan mereka, dan inilah sosok Ali as; "Keras 
terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka." 
(QS:48:29) &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Dua karakter yang berbeda telah 
tertuang dalam diri Imam Ali as dengan begitu indah. Sosok manusia 
dengan kelembutan dan kasih sayang sedemikian rupa tidak sampai hati 
menyaksikan nasib anak yatim sehingga berkata: "Aku tidak akan pergi 
sebelum aku dapat membuat anak ini tertawa." Namun, ketika berhadapan 
dengan manusia-manusia pandir yang jahat dan tak segan-segan membunuh 
orang yang tak berdosa, beliau berdiri tegak menghadang. &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Contoh
 lain ialah menyangkut wara' dan pemerintahannya. Ini sungguh 
menakjubkan. Apa arti wara'? Wara' ialah orang yang senantiasa 
menghindari segala syubhat yang menebar aroma penentangan terhadap 
ajaran agama. Bertolak dari sini, apa lantas arti pemerintahan? Apa 
mungkin orang yang berada dalam pemerintahan bisa menjadi orang yang 
wara'?  Kita sendiri sekarang berada dalam pemerintahan, sehingga terasa
 penting sekali ketika karakteristik ini tertanam dalam diri seseorang. 
Secara umum, orang yang berada dalam pemerintahan selalu mengadapi 
berbagai macam persoalan. UU yang dijalankan sudah pasti membawa banyak 
keuntungan, tetapi bukan tak mungkin seseorang akan terjebak pada 
perbuatan zalim terhadap orang lain. Bagaimana seorang manusia dapat 
menjaga ketakwaan sedemikian rupa di depan persoalan-persoalan rumit dan
 tak terkirakan itu? &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Sepintas lalu pemerintahan 
tidak akan pernah harmoni dengan ketakwaan. Tapi Amirul Mukminin 
ternyata dapat memadukan keduanya dengan sempurna, dan ini sungguh 
menakjubkan. Beliau tidak pernah terikat pada orang. Beliau dapat dengan
 mudah mencopot bawahannya jika memang dinilai lemah dan tidak layak. 
Muhammad bin Abu Bakar, anak tirinya, beliau perlakukan seperti anak 
sendiri dan sangat beliau cintai. Muhammad bin Abu Bakar juga memandang 
Imam Ali as seperti ayahnya sendiri. Muhammad adalah putera bungsu Abu 
Bakar dan merupakan salah satu murid dan pengikut setia Imam Ali. Dia 
besar di bawah asuhan Imam Ali as.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Imam Ali as 
pernah mengirim Muhammad ke Mesir sebagai gubernur wilayah ini. Tetapi 
di kemudian hari beliau melayangkan surat kepada Muhammad berisikan 
pernyataan sebagai berikut; "Puteraku, aku menilai kamu tidak layak 
menjabat di Mesir. Karena itu kamu aku tarik lagi dan aku gantikan 
dengan Malik al-Asytar." Muhammad bin Abu Bakar tentu saja kecewa dengan
 keputusan ini. Tapi ini tidak dipedulikan oleh Imam Ali as, walaupun 
Muhammad adalah salah satu pribadi besar, cukup berjasa dalam Perang 
Jamal, antusias dalam membaiat Imam Ali, serta merupakan putera Abu 
Bakar dan adik Ummul Mukminin ‘Aisyah.  Ketokohan Muhammad bukannya tak 
bernilai di mata Imam Ali a, tetapi beliau tetap tidak mementingkan 
masalah kekecewaan Muhammad bin Abu Bakar.  Inilah bentuk ketakwaan dan 
kewara'an dalam memerintah. Ketakwaan seperti ini sangat diperlukan bagi
 manusia dan penting sekali bagi mentalitas pejabat pemerintah. Imam Ali
 as telah memperagakan sifat wara' ini dengan sedemikian sempurna.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Contoh
 lain ialah kekuatan di sisi keteraniayaannya. Pada zamannya, tak ada 
orang yang lebih perkasa dan pemberani di banding Imam Ali as. Sampai 
akhir hayatnya, tak ada satupun orang yang mengaku berani berhadapan 
dengan Imam Ali. Namun demikian, beliau ternyata adalah orang yang 
paling teraniaya pada zamannya. Bahkan ada yang mengatakan bahwa dia 
adalah orang yang paling teraniaya sepanjang sejarah Islam. Keperkasaan 
dan keteraniayaan adalah dua karakter yang bertolak belakang satu sama 
lain. Orang kuat sepertinya mustahil akan teraniaya, tetapi beliau 
ternyata malah teraniaya.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Contoh berikutnya adalah
 kezuhudan di sisi progresifitas dan antusiasme untuk menggalang 
pembangunan dan kemakmuran. -Mungkin dalam kitab Nahjul Balaghah masalah
 zuhud adalag tema yang paling menonjol- Imam Ali a.s  adalah sosok yang
 paling zuhud dan tak berminat kepada kenikmatan duniawi. Tetapi di saat
 yang sama, sepanjang 25 tahun kehidupannya sejak sepeninggal Rasulullah
 saw sampai masa pemerintahannya, Imam Ali as tak jarang mengucurkan 
uang pribadinya untuk menggalang kemakmuran. Beliau menggalakkan 
perkebunan, pertanian, dan pengairan. Ajaibnya, semua itu beliau lakukan
 hanya di jalan Allah SWT. &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Patut diketahui, Imam 
Ali as pada zamannya adalah salah satu orang yang paling besar 
penghasilannya. Beliau sendiri pernah berkata, "Sedekahku hari ini 
seandainya aku bagi-bagikan kepada Bani Hasyim niscaya akan menjangkau 
seluruh anggotanya."  (Biharul Anwar juz 41 hal. 43).&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Keadilan
 Imam Ali as juga sangat patut diteladani. Ketika kita mengatakan 
keadilan melekat pada diri Imam Ali as, maka makna awalnya yang dapat 
dimengerti ialah bahwa beliau menerapkan keadilan sosial di tengah 
masyarakat. Ini memang keadilan, tetapi keadilan yang lebih bermutu lagi
 ialah keseimbangan. "Langit dan bumi ditegakkan berdasarkan keadilan." 
(‘Awali al-Laali juz 4 hal.103). Alam ciptaan tegak berdasarkan 
keseimbangan. Inilah kebenaran. Keadilan dan kebenaran pada akhir adalah
 satu makna dan satu hakikat.  Karakteristik Imam Ali as adalah 
manifestasi keadilan dan keseimbangan. Dalam diri beliau, segala 
kebaikan telah ditata pada tempatnya masing-masing dengan begitu rapi 
dan indah.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Keutamaan beliau yang lain ialah 
keseringannya beristighfar. Doa-doa, munajat, dan istighfar beliau 
sangat menarik. Beliau adalah pejuang yang terbiasa dengan medan laga 
dan kancah politik. Hampir lima tahun beliau berkuasa atas negara-negara
 besar pada masa itu. Wilayah pemerintahan beliau pada masa sekarang 
mencakup sekitar 10 negara. Dengan wilayah teritorial sedemikian luas 
beliau menjalani kesibukan yang sangat padat. Beliau adalah seorang 
politisi besar dan handal. Saat itu, beliau pada dasarnya adalah orang 
yang memerintah dunia. Beliau menggerakkan roda-roda besar dalam semua 
lini politik, medan laga, masalah sosial, hukum dan hak masyarakat. 
Semua ini jelas banyak menyita waktu. Kondisi demikian dapat mencetak 
setiap orang menjadi manusia berdimensi tunggal. Begitu pula orang yang 
hanya berkecimpung dalam doa dan ibadah. Kondisi kita juga demikian. 
Kita berbuat sesuatu di jalan Allah. Tetapi Imam Ali as tidak berkata 
dan berbuat demikian. Sebaliknya, beliau adalah pekerja keras dan gigih 
sekaligus pengabdi Allah yang sejati.  &lt;br /&gt;(Petikan Khutbah Jumat Rahbar pada 31/01/1997)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Karakteristik Pemerintahan Imam Ali as&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Pertama,
 komitmen penuh kepada agama Allah SWT dan bersikukuh pada perjuangan 
menegakkan agama Ilahi. Bukanlah pemerintahan Alawi jika tidak 
berprinsipkan perjuangan menegakkan agama Allah SWT. Orang-orang yang 
terjun ke medan laga dan terlibat dalam perang pertahanan suci Iran 
melawan Irak selama delapan tahun tentu tahu persis apa yang sedang saya
 bicarakan. Yang paling dipikirkan oleh setiap prajurit yang terjun ke 
medan laga saat itu ialah bagaimana teknik menyerang musuh dan bagaimana
 teknik bertahan dan membela diri.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Di tengah 
kecamuk perang, seseorang pernah datang kepada Imam Ali as untuk 
menanyakan suatu masalah Tauhid. Dia bertanya apa yang dimaksud dengan 
kata-kata Ahad dalam surah al-Ikhlash. Ini tentu bukan masalah inti dan 
primer, karena dia tidak menanyakan prinsip keberadaan Tuhan itu 
sendiri. Dia menanyakan masalah yang masih bersifat sekunder sehingga 
ada orang-orang datang menegurnya dan menganggap pertanyaan itu 
dilontarkan bukan pada waktunya. Tetapi Imam Ali as sendiri lantas 
berkata, "Biarkan saya menjawabnya. Kita berperang adalah dalam rangka 
ini."  Sikap Imam Ali as ini menandakan betapa peperangan yang diatur 
oleh beliau serta darah yang mengalir di jantung Imam dan seluruh garis 
besar pemerintahan beliau adalah demi menegakkan agama Allah SWT. &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Pemerintahan
 apapun yang mendeklarasikan dirinya sebagai pemerintah dan republik 
Islam tidak akan pernah menjadi pemerintahan Alawi selagi tidak 
bertujuan menegakkan agama Allah, tidak peduli kepada pengamalan agama 
masyarakat, tidak memikirkan akidah masyarakat, dan menganggap semua ini
 tidak ada hubungan langsung dengan dirinya. Penegakan agama Ilahi 
adalah ciri-ciri utama pemerintahahan Imam Ali. Ini adalah induk dari 
segala keutamaan Imam Ali as lainnya dan menjalani kehidupan dan 
menjalankan roda pemerintahan. Dari situ kemudian timbul keadilan dalam 
pemerintahan beliau. Timbul pula semangat kerakyatan dan  kepedulian 
kepada masyarakat.  &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Karakteristik kedua 
pemerintahan Imam Ali ialah keadilan secara mutlak. Yaitu keadilan yang 
sama sekali tidak bersentuhan dengan kepentingan pribadi. Keadilan yang 
tidak mungkin akan dibayangi oleh ambisi pribadi. Beliau pernah berujar,
 "Demi Allah, jangan harap kalian dapat menyuruhku untuk merebut 
kemenangan dengan cara berbuat zalim." (Tuhaful ‘Uqul hal. 185) Beliau 
enggan merebut kemenangan melalui cara-cara aniaya. Ini jelas merupakan 
satu pernyataan yang sangat cemerlang. Di kancah politik, olimpiade 
sains, kancah pemilu, ataupun medan laga, bagaimana sikap Anda apabila 
kemenangan bisa dicapai hanya dengan menempuh cara-cara aniaya dan 
licik. Imam Ali a.s menyikapinya dengan mengatakan tidak sudi dengan 
kemenangan seperti ini. Lebih baik kalah daripada harus menzalimi orang 
lain. &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Inilah keadilan yang dapat disadap dari 
lisan Imam Ali as. Porosnya ialah penegakan keadilan secara mutlak. 
Keadilan untuk semua orang dan semua lini; keadilan ekonomi, politik, 
sosial, dan moral. Ini adalah salah satu kriteria keadilan dalam 
pemerintahan Amirul Mukminin. Beliau tak sudi berbuat zalim, karena ia 
merupakan beban bagi beliau. Beliau sendiri juga pantang dizalimi, 
walaupun beliau harus kehilangan kepentingannya. Salah satu kezaliman 
terbesar ialah diskriminasi, baik dalam pelaksaan hukum ataupun maupun 
dalam penerapan ketetapan. Imam Ali as sangat pantang terhadap kezaliman
 ini.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Satu lagi keistimewaan pemerintahan Imam Ali
 ialah ketakwaan. Segala sesuatu ada simbol atau tandanya. Apa makna 
takwa? Takwa ialah kecenderungan yang sangat kuat untuk menempuh jalan 
yang benar dalam melakukan segala tindakannya. Singkatnya adalah orang 
yang benar-benar menjaga dirinya dalam masalah harta, harga diri orang 
lain, berhati-hati dalam menentukan pilihan, dan berhati-hati dalam 
bertutur kata agar tidak menyimpang dari jalurnya yang wajar dan benar. &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Coba
 perhatikan kitab Nahjul Balaghah dari awal hingga akhir, maka akan 
terlihat bagaimana Nahjul Balaghah dari ujung ke ujung sangat sarat 
dengan anjuran untuk bertakwa dan bersuci diri. Tanpa ketakwaan, 
seseorang tidak akan dapat menegakkan agama. Orang yang berlumur dosa 
tidak akan dapat menggapai hakikat, apalagi menyelaminya. Ketakwaan 
adalah salah satu karakteristik pemerintahan Imam Ali as, dan inipun 
sesuai dengan aspirasi dan kehendak rakyat. Dalam kamus logika Imam Ali 
as, meski mengaku sebagai manifestasi kebenaran dan berhak atas 
kekhalifahan, beliau memilih menyendiri dari keramaian. Beliau baru 
tampil lagi setelah masyarakat melancarkan tekanan kuat agar beliau 
memegang kendali pemerintahan. Tentang ini berliau berkata: "Seandainya 
masyarakat tidak menekan saya, tidak pula bersikeras dan tidak 
mengajukan aspirasi yang begitu besar, maka saya tidak akan duduk 
sebagai khalifah." Memiliki kekuasaan dan kekuatan bagi Imam Ali as 
tidak memiliki daya tarik sama sekali. Angan-angan untuk menjadi 
penguasa tidak memiliki daya tarik bagi orang yang berhasil 
mengendalikan hawa nafsunya. Dia hanya akan mencari-cari 
kewajiban-kewajibannya dalam syariat. Beliau berjuang menegakkan 
kebenaran. Rakyat sudah menyerahkan segala urusan kepada beliau dan 
beliaupun menerima lalu menjaga pemerintahan.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
(Petikan
 Khutbah Rahbar di depan masyarakat yang sedang berkumpul memperingati 
hari lahir Imam Ali bin Abi Thalib as. 21/09/2002)&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Pembangkangan Terhadap Pemerintahan Imam Ali as&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Kekuatan
 sekaligus keteraniayaan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as tergambar
 jelas dalam beberapa peristiwa pemberontakan. Dalam kurun waktu kurang 
dari lima tahun masa pemerintahan Imam Ali as terdapat tiga kelompok 
pembangkang yang disebut Qasithin, Nakitsin, dan Mariqin. Seperti 
diriwayatkan, baik oleh Syiah maupun Sunni, Imam Ali as mengatakan, "Aku
 diperintahkan untuk memerangi Qasithin, Nakitsin, dan Mariqin. 
(Da-a'imul Islam juz 1 hal.388). Tiga kelompok ini mendapatkan 
nama-namanya dari Imam Ali as sendiri. Qasitin artinya ialah kaum 
penindas. Kosa kata qasatha - yaqsithu - yang berarti berbuat zalim atau
 menindas ketika digunakan dalam bentuk tunggal (mujarrad) sama artinya 
dengan kata-kata jaara - yajuuru dan dzalama - yadzhlimu.  Namun, ketika
 digunakan dalam bentuk tsulatsi maziid, yaitu aqstha - yuqsithu - 
dengan wazan  if'aal maka artinya justru ‘berbuat seimbang atau adil'. 
Sebab itu, qisth dalam bentuk (wazan) if'aal berarti ‘adil', sedangkan 
ketika diubah menjadi qasatha - yaqsithu maka artinya berbalik menjadi 
‘berbuat zalim' atau ‘menindas'. Demikian asal kata-kata qasithin, yang 
artinya tak lain ialah kaum penindas.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Siapa kaum 
qashitin? Mereka adalah sekelompok orang memeluk Islam hanya sebagai 
baju luar belaka sebagai bentuk kamuflase dalam memburu ambisi. Sebab 
itu mereka sangat memusuhi pemerintahan ‘Alawi. Apapun yang dilakukan 
Imam Ali as untuk membenahi mereka selalu berakhir sia-sia. Dengan 
demikian, pada prinsipnya mereka itu adalah kelompok yang sama sekali 
tidak menerima pemerintahan Alawi. Mereka menginginkan adanya 
pemerintahan yang lain dan itupun harus di tangan mereka. Dan naifnya, 
dunia Islam di kemudian hari jatuh ke tangan mereka. Di zaman Imam Ali 
as mereka tak lain adalah kelompok yang dipimpin oleh Mu'awiyah bin Abu 
Sufyan. Kepada sebagian sahabat Nabi mereka takzim dan simpatik. Di 
kemudian hari mereka pun berkuasa dan lantas melakukan berbagai 
penindasan. Di zaman pemerintahan Yazid terjadilah tragedi Karbala. 
Pemerintahan berlanjut ke tangan Marwan, Abdul Maluk, Hajjaj bin Yusuf 
as-Tsaqafi, dan Yusuf bin Umar as-Tsaqafi. Sejarah mencatat pemerintahan
 mereka dalam lembaran-lembaran kelam dan sarat dengan adegan-adegan 
yang menggidikkan bulu roma. &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Pemerintahan Hajjaj 
-yang mengerikan itu-  misalnya, adalah pemerintahan yang benihnya 
ditanam oleh Mu'awiyah dengan mengobarkan perang melawan Amirul Mukminin
 Ali a.s. Sejak awal memang sudah dapat dibaca apa sebenarnya tujuan 
yang mereka buru. Mereka hanya memburu pemerintahan duniawi semata. 
Mereka menjadikan ego dan kepentingan pribadi sebagai poros. Pola ini 
menjadi stereotipe pemerintahan Bani Umayyah secara turun temurun. Kita 
di sini tentu saja tidak sedang membahas persoalan akidah dan teologi. 
Kita semata-mata hanya membahas naskah sejarah, sejarah secara umum, 
bukan sejarah Syiah semata. Tarikh Ibnu Al-Atsir, tarikh Ibnu Qutaibah, 
dan riwayat-riwayat sejarah lainnya yang kebetulan mencatatnya dengan 
baik dan bahkan saya ingat betul. Tapi pada dasarnya kita sedang 
membicarakan masalah-masalah yang sudah diakui oleh umat Islam, dan 
bukan masalah pemikiran yang diperdebatkan oleh Syiah dan Sunni.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Kelompok
 kedua yang memerangi Imam Ali adalah Nakitsin yang artinya ialah kaum 
pengingkar janji. Maksudnya ialah bahwa mereka telah mengingkari bai'at.
 Mereka tadinya membaiat Imam Ali tetapi kemudian melanggar bai'at. 
Berbeda dengan kelompok pertama, kelompok kedua ini tadinya adalah 
muslim dan merupakan golongan Imam Ali sendiri. Namun, mereka ternyata 
juga memendam sifat ego sehingga hanya sudi menerima pemerintahan Imam 
Ali as selagi mereka mendapatkan bagian yang memuaskan dalam kekuasaan, 
selagi mereka diajak musyawarah, dilimpahi tanggungjawab, diberi 
kekuasaan, dan harta benda yang masuk ke kantung mereka tidak lagi 
diusik atau dipertanyakan.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Memang, Sa'ad bin Abi 
Waqqas dan beberapa tokoh lainnya sejak awal tidak berbaiat kepada Imam 
Ali as. Tetapi, sejumlah tokoh sahabat lain termasuk, Talhah dan Zubair,
 berbaiat kepada beliau. Sayangnya, selang tiga atau empat bulan 
kemudian mereka menolak dan membangkang. Ini karena pemerintahan Imam 
Ali bukanlah pemerintahan nepotis dan kumpulan para kroni. Orang yang 
memerintah harus siap menanggalkan ego dan mengabaikan haknya sendiri 
dan keluarganya. Para pendahulu Islam harus lebih mengedepankan hak 
orang lain daripada haknya sendiri. Tidak ragu-ragu dalam menerapkan 
hukum Ilahi.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Pemerintahan inilah yang mengecewakan
 para lawan Imam Ali as. Mereka memilih keluar dari pemerintahan beliau 
dan bahkan mengobarkan perang Jamal terhadap beliau. Ini jelas petaka 
besar. Apalagi Ummul Mukminin Aisyah ikut memerangi Imam Ali as. Tapi 
tentu saja Imam Ali as berhasil memenangi pertempuran dan menjernihkan 
duduk persoalan. Banyak yang tewas dalam perang ini. Inilah kelompok 
kedua yang selama beberapa waktu mengusik pemerintahan Imam Ali as.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Kelompok
 ketiga, yaitu Mariqin, berarti kaum yang melarikan diri. Dalam penamaan
 ini, keluarnya mereka dari Islam digambarkan persis seperti anak panah 
yang melesat jauh dari busurnya. Hanya saja, mereka tetap mengenakan 
jubah Islam dan selalu membawa-bawa nama Islam. Merekalah yang juga 
disebut Khawarij. Mereka adalah komoditas yang fondasinya hanyalah 
pemahaman-pemahaman menyimpang dan beracun. Imam Ali as juga berhasil 
mengatasi mereka. Mereka kalah telak melawan pasukan Imam Ali as dalam 
perang Nahrawan. Namun, sisa-sisa mereka masih berkeliaran di tengah 
masyarakat hingga mereka berhasil membunuh Imam Ali as.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Sebagian
 orang menyebut Khawarij sebagai kelompok yang menjalankan agama secara 
kaku dan kering. Ini tidak tepat, karena yang dibahas bukan soal kering 
atau basahnya pola suatu kelompok dalam menjalankan ajaran agama. Ini 
tidak ada sangkut pautnya dengan arti stigma Khawarij. Khawarij adalah 
kelompok yang terjun ke lapangan hanya untuk melancarkan pemberontakan 
dan menyulut api krisis. Masalah yang kita bahas adalah perang melawan 
Imam Ali as, yaitu perang  yang dilandasi dengan misi, media, dan tujuan
 yang salah.&lt;br /&gt;Buramnya Barisan Umat, Perbedaan Pemerintahan Ali as Dengan Pemerintahan Nabi SAW.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Perbedaan
 utama antara era pemerintahan Imam Ali as dan era pemerintahan Nabi 
Muhammad SAW ialah bahwa pada era Nabi SAW barisan yang ada sudah jelas;
 satu barisan kaum beriman dan yang lain barisan kaum kafir. Keberadaan 
kaum munafik di tengah umat sering disebut dalam Al-Quran sebagai 
peringatan bagi umat Islam agar waspada. Peringatan adalah untuk 
menguatkan mental umat Islam sekaligus melemahkan nyali lawan. Jadi, di 
era pemerintahan Nabi SAW, segala sesuatu sudah terang; satu kubu musuh 
yang terdiri atas kaum kafir, para taghut, dan orang-orang jahiliah, 
sedangkan kubu lainnya terdiri atas kaum beriman, pemeluk Islam, 
pengibar bendera tauhid dan spiritualitas. &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Pada 
dua era yang berbeda ini, masyarakatnya tentu saja terdiri atas berbagai
 watak dan tipe manusia. Tapi pada prinsipnya barisan mereka sudah 
jelas. Berbeda dengan masyarakat pada era pemerintahan Imam Ali as, 
barisan mereka buram, sebab pada kelompok kedua yang bernama Nakitsin 
ada tokoh-tokoh sahabat ternama. Orang akan ragu atau bingung dalam 
mengambil sikap ketika berhadapan dengan tokoh-tokoh semisal Talhah dan 
Zubair. Zubair pada zaman Nabi SAW adalah salah satu nama besar, anak 
dari bibi Nabi SAW, dan terhitung dekat dengan beliau. Tak hanya itu, 
pasca wafat Nabi SAW, Zubair termasuk orang yang datang ke Saqifaf Bani 
Saidah untuk membela Imam Ali as. &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Tapi inilah 
rupanya putaran dalam perjalanan hidup. Semoga kita semua dijaga oleh 
Allah SWT dari buruknya suatu akibat.  Manusia adakalanya mudah 
terpancing oleh ambisi duniawi. Kondisi-kondisi tertentu dan 
faktor-faktor profan mudah merasuk, memengaruhi, dan mengubah 
kepribadian seseorang, tak terkecuali para pemuka dan apalagi orang 
awam. Kondisi seperti ini menimbulkan situasi yang serba delematis pada 
era Imam Ali. Sebab itu, tak terbayangkan lagi betapa cerdas dan 
cemerlangnya pikiran orang-orang yang tetap teguh dan setia berada di 
sisi Imam Ali as dan membelanya. Imam Ali as berkata, "Ilmu ini tidak 
akan dapat dipikul kecuali oleh orang yang cerdas dan sabar." (Bihar 
al-Anwar juz 34 hal. 249) Pada tahap awal kecerdasan memang sangat 
diperlukan. Dalam kondisi demikian, bisa dibayangkan betapa runyamnya 
konflik dan problema yang dihadapi Imam Ali as. Mereka yang memerangi 
Imam Ali as adalah para penderita kedangkalan dalam berpikir. &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Di
 awal-awal Islam, pikiran-pikiran menyimpang sering mencuat ke 
permukaan, tetapi Al-Quran secara tegas menolaknya, baik pada episode 
Mekkah maupun pada episode Madinah. Surah al-Baqarah yang turun di 
Madinah, banyak menjelaskan tantangan yang dihadapi Nabi saw ketika 
berinteraksi dengan kaum munafik dan Yahudi. Al-Quran, bahkan 
menyebutkan berbagai rincian masalah ini diantaranya pada surah 
al-Baqarah ayat 104 yang berbunyi ‘jangan katakan; "Raa'iina", hal 
itulah yang dilakukan yahudi Madinah dalam strateginya mengganggu 
psikologi Nabi SAW. Surah al-A'raaf yang turun di Mekkah juga 
menyebutkan soal ini secara cukup rinci sambil memerangi khurafat. &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Al-Quran
 menyebutkan masalah penghalalan dan pengharaman benda-benda yang 
bersifat lahir seperti daging-daging tertentu maupun hal-hal yang 
bersifat batin seperti berbohong dan berbuat sesuatu yang sia-sia. Allah
 berfirman, "Katakanlah; Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji,
 baik yang nampak maupun yang tersembunyi.." (QS.7.33) Hal-hal 
tersebutlah yang diharamkan Allah, bukan hal-hal yang berkaitan 
bepergian ke Saibah, Buhairah, dan sebagainya yang dibikin-bikin 
semaunya. Pikiran seperti ini gencar diperangi oleh Allah. Uniknya, di 
era Imam Ali as, para pemberontak bahkan memakai al-Quran untuk 
menjustifikasi tindakan mereka. Mereka mencari-cari celah dari ayat-ayat
 al-Quran sehingga memperberat kesulitan yang dihadapi Imam Ali as pada 
masa pemerintahannya yang relatif singkat.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Di luar
 kubu-kubu tersebut terdapat kubu Imam Ali as sendiri. Kubu ini sangat 
kuat karena di dalamnya terdapat orang-orang hebat semisal Ammar bin 
Yasir, Malik al-Asytar, Abdullah bin Abbas, Muhammad bin Abu Bakar, 
Meitsam Tammar, dan Hujr bin Addi. Mereka adalah para tokoh mukmin yang 
cerdas, tanggap, dan berperan besar dalam upaya mengarahkan opini 
masyarakat. Mereka menyuguhkan berbagai adegan heroisme dengan begitu 
menawan. Derita dan pahitnya gerakan perjuangan mereka menjadi seni 
altruisme yang sangat romantis. Diantaranya ialah ketika bergerak menuju
 Kufah dan Basrah. Saat Talhah dan Zubair mengadakan gerakan 
pembangkangan dengan mendatangi Basrah dan Kufah, Imam Ali as mengirim 
puteranya, Imam Hasan as, dan sejumlah sahabat Imam Ali as ke dua kota 
ini. Sejarah mencatat bagaimana negosiasi dan argumentasi mereka dengan 
warga di masjid mengalir dengan sangat indah dan memukau. Kepiawan 
negosiasi dan ketajaman argumentasi mereka membuat pihak lawan terpojok 
di mata publik sehingga mereka pun juga menjadi incaran utama serangan 
pihak lawan. Pihak lawan mengincar Malik al-Asytar, Ammar bin Yasir, dan
 Muhammad bin Abu Bakar.  Mereka mengincar para kader Imam Ali as yang 
sudah terbukti tangguh dan cerdas tersebut. Tak hanya sekedar 
melemparkan tuduhan, pihak lawan bahkan mengincar nyawa mereka. Sebab 
itu, sejumlah besar kader Imam Ali as gugur syahid. Ammar gugur dalam 
pertempuran, Muhammad bin Abu Bakar dan Malik al-Asytar dibunuh melalui 
intrik penduduk Syam. Sejumlah kader Imam Ali as masih tersisa, tetapi 
kemudian dihabisi pula dengan cara yang lebih sadis. &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Inilah
 kondisi kehidupan dan pemerintahan Imam Ali as. Kesimpulannya ialah 
bahwa pemerintahan ini adalah pemerintahan yang kuat, tetapi di saat 
yang sama telah menjadi obyek kezaliman sampai kemudian berhasil menjadi
 pemenang. Imam Ali as berhasil menekuk lutut pihak lawan, tetapi pada 
akhirnya beliau gugur sebagai syahid dan menjadi simbol perjuangan dalam
 kanvas sejarah. Derita batin Imam Ali a.s menjadi bagian dari kisah 
yang paling dramatis dalam sejarah.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
(Petikan Khutbah Jumat Rahbar di Teheran pada 08/01/1999)&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Wasiat-Wasiat Imam Ali as&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Pertama
 dan terakhir dalam petuah Imam Ali as adalah takwa. Beliau berpesan 
kepada kedua puteranya, "Anakku, jagalah dirimu baik-baik di jalan Allah
 dan dengan nilai-nilai Ilahi." Tema takwa kepada Allah tidak membahas 
masalah takut kepada Allah SWT. Sebagian orang berpikir bahwa takwa 
artinya takut kepada Allah. Takut kepada Allah SWT atau khasyyatullah 
memiliki makna dan nilai sendiri. Sedangkan takwa ialah berhati-hati 
dalam setiap langkah agar semua tindakan kita sejalan dengan maslahat 
seperti yang diperintahkan Allah SWT. Takwa bukanlah sesuatu yang bisa 
dibuang begitu saja oleh seseorang barang sejenak. Melepas takwa sama 
dengan menjerumuskan diri ke dalam jurang, dan untuk kembali ke atas 
lagi memerlukan pegangan yang kuat. "Sesungguhnya orang-orang yang 
bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada 
Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya." 
(QS.7.21) Orang yang bertakwa ketika merasa sedang mendapat bisikan dari
 syaitan tentu akan kembali kepada dirinya sendiri dan menghimpun 
kewaspadaan. Syaitan tidak akan menjauhi kita. Sebab itu, wasiat yang 
pertama ialah takwa.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Keniscayaan Taqwa:&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Salah
 satu keniscayaan dari takwa ialah tidak memburu dunia. Imam Ali as 
berpesan kepada kedua puteranya, "Jangan kalian mengejar dunia, walaupun
 seandainya dunia mengejarmu." Ini adalah poin kedua menyangkut berbagai
 keniscayaan dari takwa yang tentu jumlahnya banyak. Semua kebaikan 
adalah keniscayaan dari takwa. Pesan Imam Ali as tadi tidak mengatakan 
supaya dunia ditinggalkan melainkan jangan dikejar. Apa gerangan arti 
dunia di sini? Dunia dalam pesan itu bukan berarti bahwa kita tidak 
boleh memakmurkan bumi ini, bukan berarti kita tidak boleh menghidupkan 
kekayaan Allah SWT di muka bumi. Memburu dunia ialah berbuat dan bekerja
 semata-mata hanya untuk kenikmatan dan kesenangan diri semata tanpa 
memikirkan kepentingan orang lain, masyarakat, dan umat. Ini berbeda 
dengan memakmurkan karena yang dituju ialah maslahat dan kesejahteraan 
umat. Memakmurkan, karena yang dipikirkan adalah umat, maka orientasinya
 bukan lagi dunia, melainkan akhirat. Memakmurkan muka bumi dan 
mensejahterakan umat bukanlah perbuatan mengejar dunia atau duniawi. 
Tindakan duniawi yang dicela dan harus dijauhi ialah tindakan menguras 
tenaga, pikiran, dan waktu hanya untuk kepentingan dan kenikmatan diri 
sendiri. Duniawi yang dikutuk ialah perbuatan yang menunjukkan bahwa 
kita diperbudak oleh egosentris kita.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Tapi tentu 
saja, duniawi di sini ada yang haram dan yang halal. Artinya, tidak 
semua tindakan memikirkan diri sendiri itu haram. Ada yang halal, tetapi
 halal jenis inipun hendaknya dihindari. Seseorang akan beruntung 
apabila sesuatu yang secara lahiriah terlihat bernuansa materi belaka, 
tetapi ternyata dikendalikan ke jalan Allah. Jika ini diamalkan, maka 
yang dikejar justru akhirat. Perniagaan, misalnya, akan menjadi sesuatu 
yang bersifat ukhrawi jika dilakukan untuk menyejahterakan umat dan 
bukan untuk menimbun modal dan kekayaan untuk diri sendiri. Semua 
kegiatan dan pekerjaan akan bersifat ukhrawi jika dilakukan dengan motif
 demikian. Jadi, poin kedua ialah bahwa dunia jangan sampai dikejar.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Pesan
 Imam Ali as tersebut termanifestasi dengan sempurna dalam diri beliau 
sendiri. Kehidupan beliau dapat disimpulkan dalam wasiatnya yang 
berbunyi, "Kalian jangan kecewa  jika dunia (dalam pengertiannya yang 
buruk) tidak menghampiri kalian." Ini poin ketiga. &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Poin
 berikutnya ialah pesan beliau, "Katakan kebenaran." Artinya, ungkaplah 
kebenaran dan jangan sampai ditutup-tutupi. Ungkaplah sedapat mungkin 
apa saja yang Anda yakini sebagai kebenaran. Ketika ada orang-orang 
menyembunyikan kebenaran dan adakalanya sambil memperlihatkan kebatilan 
atau mengganti kebenaran dengan kebatilan, maka kebenaran tidak akan 
‘tertindas' selagi masih ada orang lain yang tampil sebagai pembela dan 
pengungkap kebenaran. Kebenaran tidak akan terasing, dan di saat yang 
saat yang sama, para penganut kebatilan tidak akan terlalu tamak dalam 
menumpas kebenaran. &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Kalimat berikutnya dalam 
pesan Imam Ali as, "Berbuat sesuatu yang mendatangkan pahala." Artinya, 
jangan berbuat sesuatu yang sia-sia, karena tindakan kita, usia kita, 
dan nafas kita adalah satu-satunya modal kita. Modal ini jangan sampai 
dihamburkan dengan sia-sia. Selagi masih ada umur, selagi nafas masih 
berhembus, dan selagi tenaga masih kuat, lakukan segala sesuatu yang 
mendatangkan pahala. Apakah pahala itu? Apakah arti pahala ialah bahwa 
wujud manusia ini mesti dihargai dengan uang? Inikah pahala yang harus 
diraih untuk usia yang sudah dilalui? Ataukah pahala ialah sanjungan 
dari orang lain? Jawabannya tentu saja tidak. Imam Ali as berkata, 
"Bukankah tidak ada harga untuk kalian kecuali surga, maka janganlah 
kalian jual diri kalian dengan selain surga." (Nahjul Balaghah, hikmat 
456). &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Musuhi Penindas dan Bela Yang Tertindas&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Imam
 Ali as berpesan, "Musuhi penindas dan belalah orang yang tertindas." 
Yang dimaksud dengan memusuhi di sini ialah bahwa seseorang harus berani
 menyatakan permusuhannya terhadap orang yang zalim. Tidak cukup dengan 
hanya merasa benci dan tidak suka saja. Memperlihatkan permusuhan 
gambarannya ialah seperti orang yang berani menarik dan mencengkram 
bagian depan baju musuh dengan penuh rasa geram dan enggan 
melepaskannya.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Sejak sepeninggal Imam Ali as 
sampai sekarang, umat manusia menderita tak lain karena para penindas 
terbiarkan berkeliaran. Perlu ada tangan-tangan keimanan yang berani 
mencengkram bagian depan baju musuh agar dunia terbebas dan tidak terus 
terseret ke lubang penderitaan. Di dunia ini, di mana ada kezaliman di 
situ pasti ada penindas. Nah, di situ kita harus menjadi musuhnya. Tapi 
ini bukan berarti kita langsung main terjang, menyatroni, dan 
mencengkram leher musuh. Yang dimaksud ialah bahwa selagi ada 
kesempatan, kita harus menunjukkan permusuhan kita terhadap penindas, 
dan jangan disembunyi-sembunyikan. Kalau permusuhan ini tidak dapat 
diungkapkan terhadap penindas dari dekat, maka ungkapkan dari jauh. Di 
masa sekarang, coba lihat betapa mengenaskannya dunia dan nasib umat 
manusia akibat tidak diamalkannya pesan Imam Ali as tersebut. Betapa 
pedihnya nasib bangsa-bangsa dunia, khususnya umat Islam. Seandainya 
pesan itu diamalkan, kezaliman tidak mungkin terjadi sebanyak sekarang.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Kemudian
 Imam Ali as menyatakan belalah atau bantulah orang yang tertindas. 
Beliau tidak mengatakan jadilah simpatisan orang yang tertindas, 
melainkan belalah dan tolonglah orang tertindas selagi kamu mampu dengan
 berbagai cara. Pesan ini memang ditujukan kepada kedua putera beliau, 
Imam Hasan dan Imam Husain, tetapi pada prinsipnya pesan ini adalah 
untuk semua orang. &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Pada kalimat-kalimat 
berikutnya, Imam Ali as memperluas jangkauan orang-orang yang dipesan 
dengan mengatakan, "Aku berpesan kepada kalian berdua, kepada semua 
anak-anakku, keluargaku, dan kepada siapa saja yang terjangkau oleh 
surat wasiatku." Dengan demikian, Anda yang kini membaca wasiat ini juga
 merupakan orang yang mendapat pesan penting dari Imam Ali as. Beliau 
seakan mengatakan, "Aku wasiatkan kepada kalian semua." Apa yang beliau 
wasiatkan tak lain adalah ketakwaan. Awal dan akhir wasiat beliau adalah
 takwa. &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Pesan berikutnya ialah "Tatalah urusan 
(amr) kalian." Apa yang dimaksud dengan penataan urusan (amr  bentuk 
tunggal, bukan jamak)? Apakah yang dimaksud adalah bahwa semua urusan 
dalam hidup ini harus tertata sedemikian rupa? Bisa jadi maknanya memang
 demikian. Tapi mengapa beliau tidak menyebutkan urusan-urusan (umuur; 
bentuk jamak dari amr)? Ini berarti bahwa yang dipesan beliau agar 
tertata, terprogram, dan termenej adalah satu urusan tertentu, yaitu 
satu urusan yang menjadi milik umat secara kolektif, dan itu ialah 
pemerintahan Islam. Dengan demikian artinya ialah bahwa berbuatlah, 
bekerjalah, dan berperilakulah sesuai dengan apa yang terbaik untuk 
pemerintahan. &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Baik Dengan Sesama &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Prinsip
 ketiga pada bagian kedua wasiat Imam Ali as ialah "Rukunkanlah  antara 
sesama." Beliau berpesan agar solidaritas dan persatuan terus dijaga 
dengan berusaha menghindari faktor-faktor yang dapat menyebabkan 
pertikaian dan perpecahan. Dalam pesan ini Imam Ali as menyebutkan hadis
 Nabi SAW yang memang menjadi sandaran Imam Ali as. &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Merukunkan
 atau mendamaikan antar esama (solah dzat al-bain) ditekankan sedemikian
 rupa bukan berarti lebih penting daripada pesan tentang penataan urusan
 (tata pemerintahan), melainkan karena kekompakan adalah masalah yang 
sangat rawan. Sebab itu, dalam pesan kepada kedua puteranya, Imam Ali as
 mengutip hadits Nabi SAW dengan berkata, "Sesungguhnya saya mendengar 
ucapan kakek kalian, Nabi Muhammad SAW, bahwa berbuat baik dan tulus 
kepada sesama lebih baik dari semua solat dan puasa." Kita memang harus 
solat dan berpuasa, tetapi ada yang lebih baik dari keduanya, yaitu 
berbuat baik dan rukun dengan sesama. Jadi, jika di suatu tempat ada 
pertikaian di tengah umat, maka kita harus mendamaikan dan 
merukunkannya. Tindakan ini lebih baik daripada solat dan puasa.  &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Peduli Kepada Anak Yatim&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah
 beberapa kalimat singkat tadi, Imam Ali as berkata singkat lagi, tetapi
 dengan suara yang lebih parau dan dalam, "Allah, Allah bersama 
anak-anak yatim." Kata-kata "Allah, Allah" di sini tidak ada padanannya 
dalam bahasa Persia. Jika hendak kita terjemahkan maka harus kita 
katakan bahwa jiwamu dan "jiwa" Tuhan ada dalam diri anak-anak yatim. 
Ini berarti bahwa kita harus sedapat mungkin peduli kepada anak-anak 
yatim. Mereka jangan sampai terlupakan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perhatikan betapa 
seorang humanis, teolog, dan psikolog sebesar Imam Ali a.s sedemikian 
peduli kepada nasib anak yatim. Kepedulian kepada mereka bukan merupakan
 satu bentuk perhatian yang bersifat pribadi dan bermotif perasaan 
biasa. Seorang bocah yang kehilangan ayah adalah sosok manusia yang 
kehilangan  salah satu sandaran yang paling primer dalam memenuhi 
kebutuhannya. Kebutuhan ini sedapat mungkin harus ditutupi. Kebutuhan 
ini tak dapat ditutupi sepenuhnya, tetapi setidaknya mereka jangan 
sampai terlantar. Kata Imam Ali as selanjutnya, "Jangan sampai mereka 
disia-siakan." Ini berarti bahwa kepedulian kepada mereka jangan sampai 
bersifat temporal; kadang peduli dan kadang tidak. Perhatian harus 
diberikan secara permanen. "Jangan sampai mereka terlantar sementara 
kalian ada," lanjut Imam Ali as. Dengan kata lain, mereka jangan sampai 
terlantar sedangkan kalian tahu. Kalian boleh sibuk dengan urusan 
kalian, tapi jangan sampai lupa dengan kondisi dan nasib mereka.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Perhatikan Hak Tetangga&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Imam
 Ali as kemudian melanjutkan dengan kata-kata, "Allah, Allah bersama 
tetangga kalian." Masalah tetangga juga jangan diremehkan. Ini adalah 
masalah yang sangat penting dan merupakan satu ikatan sosial yang sangat
 diperhatikan oleh Islam sesuai dengan tuntunan fitrah manusia. 
Peradaban yang meremehkan masalah ini sudah tentu jauh dari tuntunan 
fitrah manusia. Tetangga harus diperhatikan bukan saja dari segi ekonomi
 dan keuangan -walaupun memang sangat penting-, tetapi dari segenap 
aspek kemanusiaannya. Kerukunan dan keharmonisan di tengah masyarakat 
banyak mengobati berbagai penyakit kronis. "Sesungguh mereka (tetangga) 
adalah wasiat Nabi kalian. Nabi as selalu berwasiat tentang mereka 
sampai-sampai kami mengira ada ketetapan warisan untuk mereka." lanjut 
Imam Ali as.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Pentingnya Al-Quran&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Imam
 Ali as melanjutkan, "Allah, Allah bersama Al-Quran. Jangan sampai orang
 lain (yang tidak beriman kepada Al-Quran) lebih unggul daripada kalian 
dalam beramal sesuai Al-Quran." Hal seperti ini justru terjadi. Orang 
lain bisa berjaya di dunia karena progresifitas mereka, kegigihan 
mereka, etos kerja mereka, dan berbagai keistimewaan lain yang dicintai 
oleh Allah SWT, bukan karena kebobrokan, kemabukan, dan kezaliman 
mereka. &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Baitullah&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Imam Ali 
as berpesan lagi, "Allah, Allah bersama Rumah Tuhan kalian." Artinya, 
jangan sampai Baitullah sepi sedangkan kalian ada. "Jika Baitullah 
sampai ditinggalkan, maka tidak ada tenggang waktu lagi untuk kalian," 
lanjut beliau. Maksudnya ialah bahwa kehidupan tidak akan berlanjut jika
 Baitullah sampai ditinggalkan, tetapi ini ada maksud-maksud lain dari 
ucapan tersebut. &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Jihad di Jalan Allah&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Imam
 Ali as juga berkata, "Allah, Allah bersama jihad dengan harta kalian, 
diri kalian, dan lisan kalian di jalan Allah." Beliau berpesan agar 
jihad dengan harta, jiwa, dan lisan jangan sampai ditinggalkan. Selagi 
masih berpegang pada prinsip jihad, umat Islam senantiasa bermartabat di
 dunia, tetapi jika prinsip ini diabaikan, maka mereka akan hina. Jihad 
sesuai dengan batas-batas yang ditetapkan oleh Islam bukanlah kezaliman.
 Jihad tidak mengajarkan pelanggaran dan penistaan terhadap hak orang 
lain. Jihad bukan dalih untuk menebar pembunuhan di sana sini. Jihad 
tidak mengajarkan pemusnahan orang-orang lain yang non-Muslim. Jihad 
adalah hukum Allah SWT yang sangat agung. Jihad adalah ajaran yang 
bertujuan mengangkat martabat bangsa-bangsa. &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Imam
 Ali as kemudian berkata, "Kalian hendaknya menjalin hubungan dan saling
 tolong satu sama lain, dan jangan sampai kalian saling bertolak 
berpaling dan putus hubungan. Jangan pula kalian meninggalkan amar 
makruf nahi munkar sehingga orang yang buruk berkuasa atas kalian lalu 
kalian berdoa (agar dibebaskan dari kejelelekan), dan doa kalian pun 
tidak dikabulkan."&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Petikan khutbah Jumat Rahbar pada 4/03/1994 - 21 Ramadhan 1414 H&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Kewajiban dan Tanggungjawab Mengenal Pemerintahan Imam Ali as&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Mempelajari
 dan mengambil hikmah dari perjalanan hidup Amirul Mukminin Ali bin Abi 
Thalib as bukan berarti bahwa kita harus berbuat sesuatu yang setara 
dengan beliau. Tak satupun orang yang dapat menggapai tingkatan yang 
setara dengan beliau. Memetik pelajaran dari beliau ialah bahwa setiap 
orang dalam sistem pemerintahan Republik Islam di mana saja dia bekerja 
tidak boleh berhenti dari proses pelatihan dan penataran. Jangan sampai 
lupa bahwa apapun yang dikerjakan tak lain adalah demi keridhaan Allah 
SWT. Tanggungjawab yang diterima dan gerakan apa pun juga harus demi 
keridhaan Allah SWT. &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Segala sesuatu akan menjadi 
mudah bagi orang yang bertutur kata, bekerja, dan mengemban 
tanggungjawab demi keridhaan Allah SWT. Karena merasa segalanya hanyalah
 demi Allah SWT, maka hawa nafsu tidak akan ikut campur tangan. Sebab 
itu, seseorang akan dapat menerima tanggungjawab dengan senang hati, 
melepasnya pun juga dengan senang hati, begitu pula dalam bertindak dan 
berkata. Apa harus dikatakan akan dapat dia nyatakan dengan mudah, 
begitu pula sebaliknya. Dengan motivasi keridhaan Allah SWT, tak ada 
yang dikhawatirkan dalam mengambil keputusan, dalam menghadapi resiko 
diracun, dalam menghadapi tantangan-tantangan dunia, dan dalam 
menghadapi para adidaya.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Faktor yang selalu 
menyulitkan kita adalah hawa nafsu kita, ambisi kita, dan 
perhitungan-perhitungan materialistik kita. Ketika ego, keakuan, dan 
hawa nafsu sudah tidak ada maka segala pekerjaan besar akan menjadi 
kecil dan mudah. Tataplah kehidupan Imam Ali as jika ingin melihat 
lembaran terang dari sebuah pengalaman yang agung dan cemerlang. Beliau 
dapat melepas sesuatu dengan mudah jika itu memang harus dilepas, 
sebagaimana beliau dapat menerima sesuatu yang memang sudah merupakan 
kewajibannya untuk menerima. Era pemerintahan beliau yang bisa dikatakan
 sarat dengan peperangan justru karena kewajibannya membela agama dan 
melawan musuh-musuh agama. Seandainya yang menjadi motivasi adalah hawa 
nafsu dan kepentingan pribadi, maka kisahnya akan lain. Tidak ada motif 
pribadi. Sebaliknya, jiwanya selalu siap dikorbankan asalkan misi dan 
cita-citanya bisa tercapai.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Petikan khutbah Rahbar dalam pertemuan dengan para pejabat pemerintah dan Angkatan Bersenjata Iran pada 09/06/1993&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Keteladanan Pemerintahan Imam Ali as&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Pemerintahan
 Imam Ali as menjadi contoh yang harus diikuti dalam upaya menegakkan 
keadilan, membela kaum tertindas, menghadapi kaum zalim, dan 
memperjuangkan hak asasi dalam kondisi apapun. Semua itu tidak akan 
lapuk ditelan masa. Dalam berbagai kondisi saintifik dan sosial apapun 
jika ingin bernasib baik dan sentosa, harus meneladani beliau. Ini bukan
 berarti kita akan meniru metode birokrasi zaman dahulu lalu kita 
katakan bahwa metode itu untuk setipa terus berkembang. Yang kita 
inginkan ialah mengikuti arah dan haluan pemerintahan Imam Ali as yang 
sudah pasti berlaku selama-lamanya. &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Membela kaum 
tertindas adalah satu poin cemerlang. Begitu pula semangat melawan 
kezaliman dan menolak praktik suap dari para arogan. Ini adalah 
nilai-nilai yang tidak mungkin akan padam di dunia. Ini adalah 
nilai-nilai yang tetap akan berlaku di segala kondisi dan keadaan. 
Karena itu nilai-nilai ini harus dianut dan terus diperjuangkan.  Inilah
 yang disebut fundamental. Jargon fundamentalisme ialah paham yang 
konsisten kepada nilai-nilai universal, abadi, dan tak kenal 
kadaluwarsa. Konsistensi inilah yang ditentang habis-habisan oleh kaum 
arogan dan adidaya. &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Mereka gusar menyaksikan 
pemerintahan Islam di Iran tampil sebagai negara yang berpihak kepada 
nasib bangsa-bangsa semisal Palestina dan Afghanistan serta tidak kenal 
kata kompromi dengan rezim-rezim kotor dan penindas di dunia. 
Fundamentalisme inilah yang memang berbahaya bagi kaum arogan dan 
adidaya dunia. Kondisi seperti inilah yang membuat Imam Ali as dulu 
sering terlibat peperangan. Dan sepak terjang kita selaku pengendali 
pemerintahan juga harus demikian.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Imam Ali as juga
 merupakan orang yang terbiasa dengan penampilan sebagai orang yang 
paling fakir di tengah masyarakat. Beliau sendiri pernah berkata, 
"Beginilah aku hidup walaupun aku adalah pemimpin kalian." Kepada Ustman
 bin Hunaif beliau berkata, "Kamu tidak bisa hidup seperti aku, tetapi 
bantulah aku dengan sikap wara' dan kegigihan." Ini adalah materi yang 
kini dikatakan oleh Imam Ali as kepada kita semua. Jauhilah kesalahan, 
dosa, dan segala sesuatu yang bertentangan dengan syariat. Berusahalah 
sedapat mungkin mendekati perilaku Imam Ali as.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Menerapkan
 keadilan, membela kaum tertindas, dan melawan penindas siapapun 
orangnya adalah gerakan yang sangat penting bagi Imam Ali as. Dalam 
membela kaum tertindas, Imam Ali as tidak mensyaratkan apakah yang 
tertindas Muslim atau tidak. Padahal beliau adalah orang yang paling 
konsisten pada Islam, paling beriman, dan tokoh terbesar dalam 
perjuangan pembebasan Islam. &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Ketika kita 
mengingat kebesaran Imam Ali as, sasarannya adalah perilaku kita 
sendiri. Kita tidak bisa sering berpesan kepada orang lain agar 
berperangai seperti Imam Ali as. Sekarang kita adalah orang yang paling 
bertanggungjawab dan mengemban kewajiban dalam pemerintahan Republik 
Islam. Kita berharap para pejabat Republik Islam bisa mendapat taufid 
untuk mengikuti jejak Imam Ali as dan berjalan di atas garis haluan 
beliau. Tapi tentu, sangat berat tantangan yang dihadapi Imam Ali as 
dalam menempuh jalannya. &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Dalam doa Kumail yang 
diucapkan oleh Imam Ali as, terbayang betapa paraunya ratapan beliau 
kepada Allah SWT. Beliau antara lain mengadu, "Ilahi, junjunganku, dan 
pemilik urat nadiku... Wahai Engkau yang menjadi tumpuanku dalam 
mengadukan keadaanku." Betapa remuk redamnya hati beliau ketika meratap 
kepada Yang Maha Kuasa. Berat sekali beban yang ada di pundak beliau 
karena besarnya tanggungjawab dalam berbagai persoalan sosial dan 
masyarakat, masalah masa depan agama, masalah haluan religius dalam 
pemerintahan Islam. Dan betapapun beratnya, Imam Ali as sedikitpun tidak
 pernah berlepas diri dari tanggungjawab itu.   &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Petikan khutbah Jumat Rahbar pada 4/03/1994 - 21 Ramadhan 1414 H&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
source :&amp;nbsp;&lt;a href="http://indonesian.khamenei.ir/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=3&amp;amp;Itemid=12"&gt;khamenei.ir&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;


    &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Ilmu Imam Ali (sa) Sumber Semua Ilmu Pasca Rasulullah saw</title><link>http://andikfn.blogspot.com/2012/04/ilmu-imam-ali-sa-sumber-semua-ilmu.html</link><category>Angkasa</category><author>noreply@blogger.com (ANDIK FN)</author><pubDate>Sun, 22 Apr 2012 11:11:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6659801012355790768.post-9016769958369424209</guid><description>Ibnu Abil
Hadid dalam Syarah Nahjul Balaghah tentang keutamaan, kesempurnaan, dan
keluasan ilmu Imam Ali bin Abi Thalib (sa) membahas dengan pembahasan yang
padat dan patut disebutkan di sini.
&lt;br /&gt;

Dalam
menjelaskan ilmu, Abil Hadid menuliskannya demikian: ”Ali bin Abi Thalib adalah
sumber dan mata air ilmu. Semua ilmu berujung kepadanya dan dia adalah penghulu
ulama.” 
&lt;br /&gt;

Salah satu
ilmunya yang paling mulia adalah ilmu Ilahi yang bersumber dari ucapan Imam Ali
(sa).
&lt;br /&gt;

Mazhab
Mu’tazilah mengambil ilmunya dari Washil bin Atha’ dan dia adalah murid Abu
Hasyim, dan Abu Hasyim adalah murid Muhammad bin Hanafi, dan Muhammad mengambil
ilmunya dari ayahnya yang bernama Ali bin Abi Thalib.
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;

Mazhab
Asy’ariyah dinisbatkan kepada Ismail bin Abi Baysar Asy’ari murid Abu Ali
Jubai. Nama terakhir merupakan salah seorang pemuka Mu’tazilah. Maka,
Asy’ariyah akhirnya juga berujung kepada Ali bin Abi Thalib. Adapun penisbatan
ilmu Ilahi Mazhab Imamiyah dan Mazhab Zaidiyah kepada Ali bin Abi Thalib adalah
suatu perkara yang jelas.
&lt;br /&gt;

Dalam ilmu
fikih, Ali merupakan sumber dan mata air. Semua ahli fikih adalah murid beliau
dan menggunakan fikihnya. Para sahabat Abu Hanifah, seperti Yusuf, Muhammad,
dan orang-orang lainnya dalam fikih adalah murid Abu Hanifah. Syafi’i juga
belajar fikih dari Muhammad bin Hasan. Maka, fikih Syafi’i, pada akhirnya, juga
berujung kepada Abu Hanifah. Abu Hanifah dalam fikih juga belajar dari Ja’far
bin Muhammad sementara ilmu Imam Ja’far Ash-Shadiq berasal dari ayahnya yang
melalui jalur ini berujung kepada Imam Ali bin Abi Thalib (sa).
&lt;br /&gt;

Malik bin
Anas dalam ilmunya adalah murid Rabiah ar-Ra’yu sedangkan Rabiah adalah murid
Akramah. Akramah sendiri adalah murid Abdullah bin Abbas sementara Ibnu Abbas
adalah murid Ali bin Abi Thalib. Adapun marja’iyah fikih Imam Ali (sa) bagi
umat Syiah adalah suatu perkara yang jelas.
&lt;br /&gt;

Umar bin
Khattab dan Abdullah bin Abbas adalah di antara para ahli fikih yang belajar
dari ilmu Ali. Ibnu Abbas adalah murid Imam Ali tiada yang meragukan dan tidak
lagi memerlukan saksi. Dalam kaitan dengan Umar, semua mengetahui bahwa dalam
menyelesaikan problema dan kesulitan, di banyak kesempatan, ia merujuk kepada
Ali. Dalam kaitan ini, Umar berkata, “Seandainya tidak ada Ali, Umar pasti
celaka.” Ia juga berkata, “Aku tidak akan dapat tenang jika tidak ada Abul
Hasan (Ali).” Ia juga berkata: “Tidak seorang pun memberikan fatwa di masjid
sementara Ali berada di situ.” Maka, adalah jelas fikih berujung kepada Imam
Ali (sa).
&lt;br /&gt;

Ammah dan
Khassah mengutip dari Rasulullah saw yang berkata, “Aqdhakum Ali,” sementara
qadha adalah fiqih. Oleh karena itulah, Imam Ali (sa) merupakan orang yang
paling paham tentang fikih dibanding yang lain.
&lt;br /&gt;

Begitu
juga, masyarakat umum dan khusus meriwayatkan bahwa ketika mengutus Ali ke
Yaman untuk mengadili suatu urusan, Nabi saw bersabda, “Ya Allah! Berilah
petunjuk kepada hatinya dan tetapkanlah lisannya.” Imam Ali berkata, “Setelah
itu dan berkat doa itu, aku tidak pernah ragu dalam memberikan keputusan dalam
pengadilan.”
&lt;br /&gt;

Ilmu
tafsir juga berujung kepada Imam Ali bin Abi Thalib (sa). Apabila kita membaca
kitab-kitab tafsir, kita akan melihat bahwa sebagian besar persoalan dikutip
dari beliau atau dari ibnu Abbas yang merupakan murid beliau. Dikatakan kepada
ibnu Abbas, “Bagaimana perbandingan ilmumu dengan ilmu Ali (sa).” Dia berkata,
“Perbandingannya adalah ibarat setetes air hujan di hadapan samudra.”
&lt;br /&gt;

Ilmu
tarekat, hakikat, dan irfan juga berujung kepada Ali bin Abi Thalib (sa). Ulama
irfan di semua negeri Islam menisbatkan dirinya kepada Imam Ali (sa), seperti
Syibli, Junaid, Abu Yazid Basthami, dan Abu Mahfudz yang dikenal dengan nama
Karlhi. Mereka menjelaskan sebuah persoalan dengan sanad yang menisbatkan
dirinya kepada Imam Ali bin Abi Thalib (sa)
&lt;br /&gt;

Ilmu nahwu
(tata bahasa) dan bahasa Arab juga dinisbatkan kepada Imam Ali bin Abi Thalib
(sa). Imam Ali-lah yang mengajarkan kaidah-kaidah pokok dan universal ilmu ini
kepada Abul Aswad Ad-Duwali. Di antaranya, beliau mengatakan kepada Abul Aswad
mengenai kalam (kata) terbagi menjadi tiga: ism (kata benda), fi’il (kata
kerja), dan huruf (preposisi). Beliau juga mengatakan mengenai Ism makrifah
(definitive) atau nakirah (indefinitif). Selain itu, beliau mengatakan bahwa i’rab
ada empat macam: rafa’, nashab, jar, dan jazam.
&lt;br /&gt;

Ucapan
Imam Ali (sa) ini bagaikan mukjizat karena mengklasifikasi ‘kata’ untuk manusia
biasa adalah tidak mungkin. (Syarah Nahjul Balaghah, Ibn Abil Hadid, jilid 1,
hlm 17-20)
&lt;br /&gt;

Tentang
ketinggian ilmu Imam Ali (sa) secara detail, silahkan membaca kitab Nahjul
Balaghah. Menurut kesaksian para cendekiawan, setelah Al-Quran, kitab ini
adalah kitab ilmiah yang paling kaya. Kita juga dapat merujuk kepada ratusan,
bahkan ribuan hadis yang ada di berbagai bidang, yang dikutip dari Imam Ali
(sa) dan tercatat dalam kitab-kitab hadis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;a href="http://www.balaghah.net/nahj-htm/id/id/bio-imam/06.htm"&gt;www.balaghah.net&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>GAIRAH PENCINTA</title><link>http://andikfn.blogspot.com/2012/04/gairah-pencinta.html</link><category>Angkasa</category><author>noreply@blogger.com (ANDIK FN)</author><pubDate>Tue, 17 Apr 2012 14:00:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6659801012355790768.post-7710431197298609545</guid><description>&lt;table border="0" dir="ltr" height="100%" id="table1" style="margin-left: 0px; margin-right: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr align="justify"&gt;&lt;td class="topic" colspan="6" height="49"&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: justify;" width="10"&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;
  &lt;td class="text1" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;div&gt;
&lt;strong&gt;Oleh: Imam Khomeini&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhA9eN59QWWck3tD4-Mq25ITHp1qAS1ac23kTsXAOhSslrLiQ-z2aWsUgV9H9ph1bf6AmebdgRBO7ODzgGX-N0p6NDdpRLUNohRS1Hk-9Iq4Nf_b6tfBvO6I9aTshL5Giir2WsRQlYxRSw/s1600/Imam-Khomeini.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhA9eN59QWWck3tD4-Mq25ITHp1qAS1ac23kTsXAOhSslrLiQ-z2aWsUgV9H9ph1bf6AmebdgRBO7ODzgGX-N0p6NDdpRLUNohRS1Hk-9Iq4Nf_b6tfBvO6I9aTshL5Giir2WsRQlYxRSw/s320/Imam-Khomeini.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;


Wahai, hati itu bukan hati&lt;br /&gt;
Yang pada rupawanmu tak cinta&lt;br /&gt;
Wahai, sang bijak tak bestari&lt;br /&gt;
Yang pada tampanmu tak mendamba&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wahai, pencinta, hatinya gairah menyala&lt;br /&gt;
Gairahlah semua dalam anggurmu&lt;br /&gt;
Biarkan bagiku gairah ini sendiri&lt;br /&gt;
Apa lagi yang hidup ini kandungi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siapa campakkan daku di gurun&lt;br /&gt;
Cinta 'lah padamu O, sahabatku&lt;br /&gt;
Tindak 'pa lagi dapat selamatkanku&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Tak kunjung tampak tepian gurun&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika pencinta bergairah menyala&lt;br /&gt;
Sisikan ayo dirimu segera&lt;br /&gt;
Antaramu dan dia apa pun tiada&lt;br /&gt;
Hanya dinding diri-jumawa&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kau pelancong jalan-pencinta&lt;br /&gt;
Campakkan sajadah campakkan jubah&lt;br /&gt;
Tiada pembimbing, hanya cinta&lt;br /&gt;
Dalam cinta kuyuplah andika&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika memang pencinta-benar&lt;br /&gt;
Jangan jadi sufi saleh segala&lt;br /&gt;
Kar'na tak masuk lingkar-pencinta&lt;br /&gt;
Selain kumpulan pencinta saja&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dambaku main rambut-pilinnya&lt;br /&gt;
Apa yang buruk padanya apa yang hina&lt;br /&gt;
Satu sentuhan gila satu elusan liar&lt;br /&gt;
'Pa lagi bisa beri cinta, hai pander&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Raih tanganku, dan lepaskan&lt;br /&gt;
jiwaku dari kemunafikanjubah ini.&lt;br /&gt;
Karna jubah ini bukan apa&lt;br /&gt;
Selain pelindung si jahil&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ilmu dan irfan sisihkan saja&lt;br /&gt;
Ke rumah anggur mereka tak bawa&lt;br /&gt;
Tapi di tempat istirah pencinta&lt;br /&gt;
Kepalsuan, pasangannya tiada&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kilas-Pandang Kekasih&lt;br /&gt;
Kasihku, hidupku bermula&lt;br /&gt;
Dan berakhir di pintumu&lt;br /&gt;
Coba saja kuhabiskan di sana&lt;br /&gt;
Tak lagi kubutuh sesuatu apa&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di kedai, masjid, dan biara&lt;br /&gt;
Dan lantai kuil-berhala&lt;br /&gt;
Aku merunduk dalam asa&lt;br /&gt;
'Kan kau berkahiku dan memuja&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak 'kan madrasah temukan penawar&lt;br /&gt;
'Tuk susahku, tak pula sang wali&lt;br /&gt;
Wahai, keluarkanku dari galau ini&lt;br /&gt;
Oleh kilasmu sebelum pingsanku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wahai, penuh cinta-diri sang sufi itu&lt;br /&gt;
Itulah sejauh yang kutahu&lt;br /&gt;
Wahai, beri aku penglihatanmu&lt;br /&gt;
Biar bening hatiku s'lalu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
T'lah kucampakkan cinta-diriku&lt;br /&gt;
Kar'nanya saja kini kuada&lt;br /&gt;
Wahai, arahkan pandang-agungmu&lt;br /&gt;
padaku sari-pati yang hina&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hidup bak biksu t'lah kupilih&lt;br /&gt;
Demi kekasih di balik cadar&lt;br /&gt;
Biar oleh pandang-cintanya&lt;br /&gt;
Jadi gelegak-samudra tetes ini&lt;br /&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
&lt;td style="text-align: justify;" width="10"&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;


    &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhA9eN59QWWck3tD4-Mq25ITHp1qAS1ac23kTsXAOhSslrLiQ-z2aWsUgV9H9ph1bf6AmebdgRBO7ODzgGX-N0p6NDdpRLUNohRS1Hk-9Iq4Nf_b6tfBvO6I9aTshL5Giir2WsRQlYxRSw/s72-c/Imam-Khomeini.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Imam Ja'far Ash-Shadiq a.s.</title><link>http://andikfn.blogspot.com/2012/04/imam-jafar-ash-shadiq-as.html</link><category>Angkasa</category><author>noreply@blogger.com (ANDIK FN)</author><pubDate>Tue, 17 Apr 2012 13:53:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6659801012355790768.post-1260251612552562648</guid><description>&lt;span class="fullpost"&gt;


    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;a. Biografi Singkat Imam Ja'far Ash-Shadiq a.s.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Ja'far Ash-Shadiq a.s. dilahirkan di Madinah pada tanggal 17 
Rabi'ul Awal 83 H. Ayahnya adalah Imam Muhammad Baqir a.s. dan ibunya 
adalah Ummu Farwah binti Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namanya adalah Ja'far, julukannya adalah Ash-Shadiq dan panggilannya adalah Abu Abdillah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia syahid di Madinah diracun oleh Manshur Ad-Dawaniqi pada tanggal 25 
Syawal 148 H. dalam usianya yang ke-65 tahun. Ia dikuburkan di pekuburan
 Baqi'.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;b. Program-program Imam Shadiq a.s. (dalam Menyebarkan Islam)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Shadiq a.s. telah memusatkan seluruh tenaga dan pikirannya dalam 
bidang keilmuan, dan hasilnya, ia berhasil membentuk sebuah "hauzah" 
pemikiran yang telah berhasil mendidik fuqaha` dan para pemikir kaliber 
dunia. Dengan demikian, ia telah meninggalkan warisan ilmu yang sangat 
berharga bagi umat manusia. Di antara murid-muridnya yang ternama adalah
 Hisyam bin Hakam, Mukmin Ath-Thaaq, Muhammad bin Muslim, Zurarah bin 
A'yan dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gebrakan ilmiah Imam Shadiq a.s. telah berhasil menguasai seluruh 
penjuru negeri Islam sehingga keluasan ilmunya dikenal di seluruh 
penjuru negara dan menjadi buah bibir masyarakat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Bahar Al-Jaahizh berkata: "Imam Shadiq telah berhasil menyingkap 
sumber-sumber ilmu di muka bumi ini dan membuka pintu ilmu pengetahuan 
bagi seluruh umat manusia yang sebelumnya belum pernah terjadi. Dengan 
ini, ilmu pengetahuannya menguasai seluruh dunia".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tujuan utama kegiatan ilmiah dan budaya Imam Shadiq a.s. adalah 
menyelamatkan umat manusia dari jurang kebodohan, menguatkan keyakinan 
mereka terhadap Islam, mempersiapkan mereka untuk melawan arus kafir dan
 syubhah yang menyesatkan dan menangani segala problema yang muncul dari
 ulah penguasa waktu itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Usaha Imam Shadiq a.s. tersebut --dari satu sisi-- adalah untuk melawan 
arus rusak akibat situasi politik yang terjadi pada masa dinasti Bani 
Umaiyah dan Bani Abasiyah. Penyelewengan akidah yang terjadi pada masa 
itu banyak difaktori oleh penerjemahan buku-buku berbahasa Yunani, 
Persia dan India, dan bermunculannya aliran-aliran berbahaya seperti 
Ghulat, kaum zindiq, pemalsu hadis, ahlur raiy dan tasawuf. 
Aliran-aliran inilah yang telah menyiapkan lapangan bagi tumbuhnya 
banyak penyelewengan saat itu. Imam Shadiq a.s. melawan mereka, dan 
dalam bidang keilmuan, ia mengadakan dialog terbuka dengan mereka 
sehingga alur pemikiran mereka diketahui oleh khalayak ramai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan dari sisi lain, ia juga --dengan usahanya tang tak kenal lelah-- 
telah berhasil menyebarkan akidah yang benar dan hukum-hukum syariat, 
memasyarakatkan ilmu pengetahuan dan mempersiapkan para ilmuwan guna 
mendidik masyarakat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Shadiq a.s. menjadikan masjid Rasulullah SAWW di Madinah sebagai 
pusat kegiatan. Masyarakat datang berbondong-bondong  dari berbagai 
penjuru untuk menanyakan berbagai masalah dan mereka tidak pulang dengan
 tangan kosong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di antara "figur-figur" yang pernah menimba ilmu dari Imam Shadiq a.s. 
adalah Malik bin Anas, Abu Hanifah, Muhammad bin Hasan Asa-Syaibani, 
Sufyan Ats-Tsauri, Ibnu 'Uyainah, Yahya bin Sa'id, Ayub As-Sijistani, 
Syu'bah bin Hajjaj, Abdul Malik bin Juraij dan lain-lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Shadiq a.s. memerintahkan kepada para pengikutnya untuk tidak 
berlindung kepada penguasa zalim dan melarang mereka untuk mengadakan 
kerja sama dalam bentuk apa pun dengannya. Ia juga mewasiatkan kepada 
mereka untuk melakukan taqiyah supaya para musuh tidak menyoroti 
gerak-gerik mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Shadiq a.s. menganjurkan kepada semua masyarakat untuk mendukung 
perlawanan yang dipelopori oleh Zaid bin Ali melawan dinasti Bani 
Umaiyah. Ketika berita kematian Zaid bin Ali sampai ke telinganya, ia 
sangat terpukul dan sedih. Ia memberikan santunan kepada setiap keluarga
 yang suaminya ikut berperang bersama Zaid bin Ali sebesar 1000 Dinar. 
Begitu juga, ketika pemberontakan Banil Hasan a.s. mengalami kekalahan 
total, ia sangat sedih dan menyayangkan ketidakikutsertaan masyarakat 
dalam pemberontakan tersebut. Meskipun demikian, ia enggan untuk merebut
 kekuasaan. Hal ini ditangguhkannya sehingga umat betul-betul siap untuk
 mengadakan sebuah perombakan besar-besaran, ia dapat menyetir alur 
pemikiran yang berkembang di tengah-tengah masyarakat dan dapat 
memperbaiki realita politik dan sosial yang sudah betul-betul bobrok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;c. Imam Shadiq a.s. dalam Kaca Mata Orang Lain&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fuqaha` dan para ilmuwan yang hidup pada masa Imam Shadiq a.s. serta 
mereka yang hidup sesudah itu memujinya dengan penuh keagungan dan 
keluasan ilmu pengetahuan. Mereka antara lain:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
a.       Abu Hanifah, pemimpin dan imam mazhab Hanafiah. Ia berkata: 
"Aku tidak pernah melihat orang yang lebih alim dari Ja'far bin 
Muhammad". Dalam kesempatan lain ia juga berkata: "Jika tidak ada dua 
tahun (belajar kepada Ja'far bin Muhammad), niscaya Nu'man akan celaka".
 Nama asli Abu Hanifah adalah Nu'man bin Tsabit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
b.      Malik, pemimpin dan imam mazhab Malikiah. Ia pernah berkata: 
"Beberapa waktu aku selalu pulang pergi ke rumah Ja'far bin Muhammad. 
Aku melihatnya selalu mengerjakan salah satu dari tiga hal berikut ini: 
mengerjakan shalat, berpuasa atau membaca Al Quran. Dan aku tidak pernah
 melihatnya ia menukil hadis tanpa wudhu`".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
c.       Ibnu Hajar Al-Haitsami berkata: "Karena ilmunya sering dinukil 
oleh para ilmuwan, akhirnya ia menjadi buah bibir masyarakat dan namanya
 dikenal di seluruh penjuru negeri. Para pakar (fiqih dan hadis) seperti
 Yahya bin Sa'id, Ibnu Juraij, Malik, Sufyan Ats-Tsauri, Sufyan bin 
'Uyainah, Abu Hanifah, Syu'bah dan Ayub As-Sijistani banyak menukil 
hadis darinya".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
d.      Abu Bahar Al-Jaahizh berkata: "Ilmu pengetahuan Ja'far bin 
Muhammad telah menguasai seluruh dunia. Dapat dikatakan bahwa Abu 
Hanifah dan Sufyan Ats-Tsauri adalah muridnya, dan hal ini cukup untuk 
membuktikan keagungannya".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
e.       Ibnu Khalakan, seorang sejarawan terkenal menulis: "Dia adalah 
salah seorang imam dua belas mazhab Imamiah dan termasuk salah seorang 
pembesar keluarga Rasulullah yang karena kejujurannya ia dijuluki dengan
 ash-shadiq. Keutamaan dan keagungannya sudah dikenal khalayak ramai 
sehingga tidak perlu untuk dijelaskan. Abu Musa Jabir bin Hayyan 
Ath-Thurthursi adalah muridnya. Ia menulis sebuah buku sebanyak seribu 
halaman yang berisi ajaran-ajaran Ja'far Ash-Shadiq dan memuat lima 
ratus pembahasan".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
d. Keberhasilan Imam Shadiq a.s. dalam Membentuk Sebuah Tatanan Masyarakat Baru di Balik Berkecamuknya Situasi Politik&lt;br /&gt;
Masa Imam Shadiq a.s. adalah masa melemahnya pemerintahan Bani Umaiyah 
dan menguatnya kekuatan Bani Abasiyah. Dua kelompok ini saling 
tarik-menarik kekuatan dan berperang demi merebut dan mempertahankan 
kekuasaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak Hisyam bin Abdul Malik berkuasa, perang politik Bani Abasiyah 
sudah dimulai. Pada tahun 129 H. mereka mulai mengadakan pemberontakan 
bersenjata, dan akhirnya, pada tahun 132 H. mereka mencapai kemenangan. 
Pada masa-masa itu Bani Umaiyah sedang menghadapi berbagai problema 
politik sehingga mereka tidak memiliki kesempatan untuk mengadakan 
penekanan serius terhadap Syi'ah. Bani Abasiyah pun karena mereka ingin 
merebut kekuasaan atas nama membela keluarga Rasulullah SAWW dan 
membalas dendam atas darah mereka yang sudah terteteskan, mereka tidak 
berani mengadakan penekanan terhadap para pengikut Ahlul Bayt a.s.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atas dasar ini, periode tersebut adalah sebuah periode tenang bagi Imam 
Shadiq a.s. dan para pengikutnya meskipun sangat relatif. Ia menggunakan
 kesempatan ini sebaik-baiknya dengan memulai sebuah gebrakan kebudayaan
 yang tidak tanggung-tanggung. Karena ia yang berhasil menyebarkan fiqih
 dan ilmu Ahlul Bayt a.s. dengan pesat serta mempermantap hukum dan 
teologi Syi'ah, akhirnya mazhab Syi'ah dikenal dengan nama mazhab 
Ja'fari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Shadiq a.s. menghadapi segala aliran pemikiran dan akidah yang 
berkembang pada waktu itu. Dengan segala upaya ia telah menjelaskan 
Islam dan tasyayyu' di hadapan mereka dan berhasil membuktikan 
keunggulan pemikiran Syi'ah dibandingkan dengan aliran-aliran pemikiran 
tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Shadiq a.s. mendidik murid-muridnya sesuai dengan bakat yang 
dimilikinya. Hasilnya, setiap orang dari mereka memiliki spesialisasi 
dalam ilmu-ilmu tertentu, seperti hadis, tafsir, fiqih dan kalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hisyam bin Salim bercerita bahwa pada suatu hari kami duduk di hadapan 
Imam Shadiq a.s. Tidak lama kemudian seseorang yang berkewarganegaraan 
Syam minta izin untuk masuk. Setelah ia masuk, Imam berkata kepadanya: 
"Duduklah! Apa yang kau inginkan?".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia menjawab: "Saya mendengar bahwa engkau menjawab semua pertanyaan orang. Aku datang untuk berdebat denganmu".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Dalam bidang apa?", tanya Imam kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Dalam bidang bacaan Al Quran", jawabnya pendek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Shadiq a.s. menoleh kepada Hamran seraya berkata: "Hamran, orang ini adalah milikmu!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang Syam itu kembali berkata: "Aku ingin berdebat denganmu, bukan dengan Hamran".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Jika engkau dapat mengalahkan Hamran, berarti engkau telah mengalahkanku", ia menimpali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan terpaksa ia menerima untuk berdebat dengan Hamran. Setiap 
pertanyaan yang dilontarkan dijawab dengan tegas dan berdalil oleh 
Hamran hingga akhirnya ia merasa kalah dan kecapaian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Bagaimana engkau melihat Hamran?", tanya Imam a.s.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sungguh Hamran sangat cerdik. Setiap pertanyaan yang kulontarkan, dijawabnya dengan tepat", jawabnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah itu ia berkata kembali: "Saya ingin berdebat denganmu berkenaan dengan bahasa dan sastra Arab".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam a.s. menoleh kepada Aban bin Taghlib seraya berkata: "Berdebatlah dengannya!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aban pun tidak memberi kesempatan kepadanya untuk mengelak dan berdalih serta akhirnya ia menyerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Aku ingin berdebat mengenai fiqih denganmu", lanjutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam a.s. menoleh kepada Zurarah seraya berkata: "Berdebatlah dengannya!" Ia pun mengalami nasib yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Aku ingin berdebat denganmu berkenaan dengan ilmu kalam", katanya lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam a.s. menunjuk Mukmin Ath-Thaaq untuk melayaninya. Dan tidak lama kemudian ia pun mengalami nasib yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitulah seterusnya ketika ia meminta untuk berdebat berkenaan dengan 
masalah kemampuan (seseorang) untuk melakukan kebaikan dan keburukan, 
tauhid dan imamah, Imam a.s. menunjuk Hamzah Ath-Thayyar, Hisyam bin 
Salim dan Hisyam bin Hakam untuk melayaninya. Dan mereka dapat 
melaksanakan tugas mereka masing-masing dengan baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat peristiwa yang sangat menyenangkan itu Imam Shadiq a.s. tersenyum bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada kesempatan ini kami haturkan kepada para pembaca budiman 
hadis-hadis suci pilihan yang pernah diucapkan oleh Imam Shadiq a.s. 
selama ia hidup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;1. Mengecek diri setiap hari&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Seyogianya setiap muslim yang mengenal kami (Ahlul Bayt) untuk mengecek
 setiap amalannya setiap hari dan malam. Dengan demikian ia telah 
mengontrol dirinya. Jika ia merasa berbuat kebaikan, maka berusahalah 
untuk menambahnya, dan jika ia merasa mengerjakan  keburukan, maka 
beristigfarlah supaya ia tidak hina di hari kiamat".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;2.Istiqamah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Jika Syi'ah kami mau beristiqamah, niscaya malaikat akan bersalaman 
dengan mereka, awan akan menjadi pelindung mereka (dari terik panas 
matahari), bercahaya di siang hari, rezekinya akan dijamin dan mereka 
tidak akan meminta apa pun kepada Allah kecuali Ia akan mengabulkannya".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;3.Akibat menipu dan dengki&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Barang siapa yang menipu, menghina dan memusuhi  saudaranya (seiman), 
maka Allah akan menjadikan neraka sebagai tempat kembalinya. Dan barang 
siapa merasa dengki terhadap saudaranya, maka imannya akan meleleh 
sebagaimana garam meleleh (di dalam air)".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;4.Wara', usaha dan menolong mukminin&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Janganlah kalian terbawa arus mazhab dan aliran! Demi Allah, berwilayah
 kepada kami tidak akan dapat digapai kecuali dengan wara`, usaha yang 
keras di dunia, dan menolong saudara-saudara seiman. Dan tidak termasuk 
Syi'ah kami orang yang menzalimi orang lain".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;5.Hasil percaya kepada Allah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Barang siapa yang percaya kepada Allah, maka Ia akan menjamin segala 
yang diinginkannya, baik yang berkenaan dengan urusan dunia maupun 
akhiratnya, dan akan menjaga baginya apa yang sekarang tidak ada di 
tangannya. Sungguh lemah orang yang enggan membekali diri dengan 
kesabaran untuk menghadapi sebuah bala`, tidak mensyukuri nikmat dan 
tidak mengharapkan kelapangan di balik sebuah kesulitan".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;6.Praktek akhlak&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Bersilaturahmilah kepada orang yang memutus tali hubungan denganmu, 
berikanlah orang yang enggan memberimu, berbuat baiklah kepada orang 
yang berbuat jahat kepadamu, ucapkanlah salam kepada orang yang 
mencelamu, berbuat adillah kepada orang yang memusuhimu, maafkanlah 
orang yang menzalimimu sebagaimana engkau juga ingin diperbuat demikian.
 Ambillah pelajaran dari pengampunan Allah yang telah mengampunimu. 
Apakah engkau tidak melihat matahari-Nya menyinari orang yang baik dan 
orang yang jahat dan air hujan-Nya turun kepada orang-orang yang saleh 
dan bersalah?".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;7.Pelan-pelan!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Pelankanlah suaramu, karena Allah yang mengetahui segala yang kau 
simpan dan tampakkan. Ia telah mengetahui segala yang engkau inginkan 
sebelum kalian meminta kepada-Nya".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;8.Surga dan neraka adalah kebaikan dan keburukan sejati&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Segala kebaikan ada di depan matamu dan segala keburukan juga ada di 
depan matamu. Engkau tidak akan melihat kebaikan dan keburukan (sejati) 
kecuali di akhirat. Karena Allah azza wa jalla telah menempatkan semua 
kebaikan di surga dan semua keburukan di neraka. Hal itu dikarenakan 
surga dan nerakalah yang akan kekal".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;9.Wajah Islam&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Islam itu telanjang. Bajunya adalah rasa malu, hiasannya adalah 
kewibawaan, harga dirinya adalah amal saleh dan tonggaknya adalah wara`.
 Segala sesuatu memiliki asas, dan asas Islam adalah kecintaan kepada 
kami Ahlul Bayt".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;10.Beramal untuk akhirat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Beramallah sekarang di dunia demi kebahagiaan yang kau  harapkan di akhirat".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;11.Pahala membantu para pengikut Ahlul Bayt a.s.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tidak ada seorang pun yang membantu salah seorang pengikut kami 
walaupun dengan satu kalimat kecuali Allah akan memasukkannya ke dalam 
surga tanpa hisab".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;12.Jauhilah riya`, berdebat dan permusuhan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Jauhilah riya`, karena sifat riya` akan memusnahkan amalanmu, jauhilah 
berdebat, karena berdebat itu akan menjerumuskanmu ke dalam jurang 
kehancuran dan jauhilah permusuhan, karena permusuhan itu akan 
menjauhkanmu dari Allah".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;13.Kebersihan jiwa adalah tolak ukur penentu seorang mukmin&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Jika Allah menghendaki kebaikan atas seorang hamba, maka Ia akan 
membersihkan jiwanya. Dengan itu, ia tidak akan mendengar kebaikan 
kecuali ia akan mengenalnya dan tidak melihat kemungkaran kecuali ia 
akan mengingkarinya. Kemudian Ia akan mengilhamkan di hatinya sebuah 
kalimat yang akan mempermudah segala urusannya".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;14.Meminta afiat kepada Allah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Mintalah afiat kepada Tuhan kalian. Bersikaplah wibawa, tenang dan milikilah rasa malu".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;15.Jiwa doa adalah amal&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Perbanyaklah doa, karena Allah menyukai hamba-hamba-Nya yang berdoa 
kepada-Nya. Ia telah menjanjikan kepada mereka untuk mengabulkan 
(doa-doa mereka). Pada hari kiamat Ia akan menghitung doa-doa mereka 
sebagai sebuah amalan yang pahalanya adalah surga".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;16.Cinta orang-orang miskin&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Cintailah orang-orang miskin yang muslim, karena orang yang menghina 
dan bertindak sombong terhadap mereka, ia telah menyimpang dari agama 
Allah dan Ia akan menghinakannya dan murka atasnya. Kakek kami SAWW 
pernah bersabda: "Tuhanku telah memerintahkanku untuk mencintai 
orang-orang miskin yang muslim".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;17.Akar kekufuran&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Jangan menghasut orang lain, karena akar kekufuran adalah hasud dan iri dengki".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;18.Amalan penumbuh benih kecintaan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tiga amalan dapat menumbuhkan benih kecintaan: memberi hutang, rendah diri dan berinfak".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;19.Amalan penumbuh benih permusuhan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tiga amalan penimbul benih permusuhan: kemunafikan, kezaliman dan kesombongan".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;20.Tiga tanda untuk tiga orang&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tiga hal tidak dapat diketahui kecuali dalam tiga kondisi: penyabar 
tidak akan dikenal kecuali dalam kondisi marah, pemberani tidak akan 
diketahui kecuali ketika perang dan saudara tidak akan diketahui kecuali
 ketika (kita) membutuhkan"&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;a href="http://www.alhassanain.com/indonesian/show_articles.php?articles_id=68&amp;amp;link_articles=holy_prophet_and_ahlul_bayt_library/imam_al_sadiq/imam_shadiq"&gt;Sumber Tulisaan&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Imam Muhammad Al-Baqir a.s.</title><link>http://andikfn.blogspot.com/2012/04/imam-muhammad-al-baqir-as.html</link><category>Angkasa</category><author>noreply@blogger.com (ANDIK FN)</author><pubDate>Tue, 17 Apr 2012 13:50:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6659801012355790768.post-2991171046468286445</guid><description>&lt;span class="fullpost"&gt;


    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

  &lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;a. Biografi Singkat Imam Muhammad Al-Baqir a.s.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Muhammad Al-Baqir a.s. dilahirkan di Madinah pada tanggal 1 Rajab 
atau 3 Shafar 57 H. Ayahnya adalah Imam Ali Zainal Abidin a.s. dan 
ibunya adalah Fathimah binti Imam Hasan Al-Mujtaba a.s. yang lebih 
dikenal dengan julukan Ummu Abdillah. Dengan demikian, nasabnya 
bersambung ke Bani Hasyim, baik dari sisi ayah maupun ibu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Baqir a.s. syahid pada hari Senin, 7 Dzul Hijjah 114 H. dalam usia 
57 tahun. Ia diracun oleh Hisyam bin Abdul Malik, salah seorang khalifah
 Bani Umaiyah, dan dikuburkan di pemakaman Baqi'&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia adalah salah seorang anak kecil yang ditawan (oleh pasukan Ubaidillah
 bin Ziyad) pada peristiwa berdarah Karbala`. Pada waktu itu ia masih 
berusia 3,6 tahun dan 10 hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Baqir a.s. dikenal karena keluasan ilmu dan takwanya. Ia selalu 
menjadi rujukan muslimin dalam setiap problema. Keberadaan Imam Baqir 
a.s. adalah sebuah pengantar bagi perbaikan umat. Masyarakat mengenalnya
 sebagai putra orang-orang luhur yang rela mengorbankan jiwa dan raga 
mereka demi mencegah penyelewengan umat yang hampir saja memusnahkan 
Islam. Dengan pengorbanan mereka ini, diharapkan muslimin dapat 
mengetahui bahwa para penguasa yang memerintah atas nama Islam tidak 
seperti kenyataan di alam realita. Mereka tidak pernah mau untuk 
mempraktekkan Islam dalam pemerintahan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Baqir a.s. mengambil keputusan untuk mengekspos penyelewengan para 
penguasa dari garis Islam tersebut kepada khalayak ramai, dan memahamkan
 kepada mereka bahwa peristiwa itu bukan sekedar mimpi belaka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hisyam bin Abdul Malik, seorang khalifah dinasti Bani Umaiyah ketika 
melihat Imam Baqir a.s. dan bertanya siapakah dia, masyarakat di 
sekelilingnya menjawab bahwa ia adalah seorang yang dikagumi oleh 
penduduk Kufah. Orang ini adalah pemimpin Irak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika musim haji tiba, ribuan muslim yang berasal dari Irak, Khurasan 
dan kota-kota lain bertanya kepadanya tentang banyak hal mengenai Islam.
 Hal ini menunjukkan betapa ia sangat berpengaruh di dalam hati umat 
manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fuqaha` dari berbagai aliran dan disiplin ilmu sering mengadakan dialog 
dengan Imam Baqir a.s. berkenaan dengan permasalahan-permasalahan ilmiah
 yang sangat pelik dengan tujuan untuk mempermalukannya di hadapan 
khalayak. Akan tetapi, dengan jawaban-jawaban yang mematikan dan 
memuaskan ia memaksa mereka untuk bertekuk lutut di hadapannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Universitas" Imam Baqir a.s. adalah sebuah tempat penting bagi para 
ilmuwan dan muhaddis yang pernah belajar darinya. Jabir Al-Ja'fi 
berkata: "Abu Ja'far a.s. meriwayatkan tujuh puluh ribu hadis kepadaku".
 Muhammad bin Muslim berkata: "Dalam setiap permasalahan yang kuanggap 
sulit, aku pasti menanyakannya kepada Abu Ja'far a.s. sehingga aku 
mendapatkan tiga puluh ribu hadis darinya".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Baqir a.s. pernah berkata tentang pengikut Syi'ah: "Para pengikut 
kami, Syi'ah Ali akan membela kami sepenuh hati dan demi menjaga agar 
agama tetap hidup mereka selalu bersatu dalam membela kami. Jika mereka 
marah, kemarahan tidak akan menjadikan mereka berbuat zalim, dan jika 
mereka sedang bahagia, mereka tidak akan melampaui batas. Mereka adalah 
sumber berkah bagi tetangganya dan dalam menghadapi para penentang, 
mereka selalu memilih jalan damai. Syi'ah kami taat kepada Allah".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;b. Sikap Imam Baqir a.s. terhadap Para Khalifah Zalim&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Baqir a.s. hidup sezaman dengan lima khalifah dinasti Bani Umaiyah.
 Mereka adalah Walid bin Abdul Malik, Sulaiman bin Abdul Malik, Umar bin
 Abdul Aziz, Yazid bin Abdul Malik dan Hisyam bin Abdul Malik. Mereka 
semua kecuali Umar bin Abdul Aziz tidak kalah dengan para pendahulunya 
dalam berbuat lalim dan selalu membuat problema baginya. Akan tetapi, 
dengan situasi dan kondisi yang seperti ini, ia masih menyempatkan diri 
untuk mendidik dan mengajar para muridnya sebagai sebuah gebrakan baru 
dalam bidang ilmiah. Dengan ini ia ingin untuk membentuk sebuah pusat 
ilmu keislaman yang pada masa imamah putranya, Imam Shadiq a.s. pusat 
tersebut membuahkan hasil yang sangat memuaskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Metode tabligh para imam Syi'ah, khususnya Imam Sajjad dan Imam Baqir 
a.s. adalah metode tabligh bawah tanah (under ground) sehingga tidak 
seorang pun yang mengetahui kegiatan-kegiatan mereka. Metode tabligh 
bawah tanah ini ketika suatu hari bocor dan muncul ke permukaan, dapat 
membuat para khalifah marah besar. Hal inilah yang memaksa mereka untuk 
mengasingkan dan memenjara para imam a.s. Akhirnya, Imam Baqir a.s. yang
 selalu menjadi pusat kemarahan penguasa saat itu syahid diracun pada 
114 H. Jenazahnya dikuburkan di samping kuburan ayahnya di pekuburan 
Baqi'.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;c. Keutamaan dan Ilmu Imam Baqir a.s.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Baqir a.s. pada masa imamahnya telah berhasil menyebarkan 
pengetahuan, khususnya dalam bidang hukum dan fiqih. Di samping ikut 
aktif dalam menangani problema ilmiah yang berkembang waktu itu, ia juga
 aktif mendidik para murid handal seperti Muhammad bin Muslim, Zurarah 
bin A'yan, Abu Nashir, Hisyam bin Salim, Jabir bin Yazid, Hamran bin 
A'yan dan Buraid bin Mu'awiyah Al-'Ajali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Baqir a.s. adalah kebanggaan Bani Hasyim pada zamannya dalam zuhud,
 takwa dan akhlak. Keilmuannya dikenal di seluruh penjuru negeri 
sehingga ia dijuluki dengan baaqirul uluum (penyingkap rahasia ilmu 
pengetahuan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang ulama besar Ahlussunnah yang bernama Ibnu Hajar Al-Haitsami 
menulis: "Muhammad Al-Baqir telah menyingkap rahasia ilmu pengetahuan 
dan menjelaskan hakikat hukum dan hikmah ilmu pengetahuan sehingga hal 
itu tidak tersembunyi kecuali bagi orang-orang yang bodoh atau berhati 
kotor. Oleh karena itu, ia dikenal dengan julukan penyingkap rahasia 
ilmu, pemilik rahasia dan pengibar bendera ilmu pengetahuan".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abdullah bin 'Atha`, salah seorang ilmuwan yang hidup sezaman dengan 
Imam Baqir a.s. berkata: "Saya tidak pernah melihat para ilmuwan Islam 
kecil dan hina kecuali ketika mereka menghadiri majelis ilmiah Muhammad 
bin Ali (Al-Baqir)".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;d. Lomba Memanah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hisyam bin Abdul Malik memutuskan untuk mengundang Imam Baqir a.s. 
mengikuti lomba memanah. Tujuannya adalah supaya ia hina di hadapan 
khalayak ketika ia kalah dalam perlombaan tersebut. Dengan ini, sebelum 
Imam Baqir a.s. memasuki istana Khalifah, ia memerintahkan beberapa 
prajurit istana untuk memasang tempat sasaran panah (yang terbuat dari 
kayu) dan mulai memanah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Baqir a.s. masuk ke istana dan duduk di sebuah tempat. Hisyam 
berkata kepadanya: "Tidakkah Anda ingin mengikuti lomba memanah?" 
"Usiaku sudah tua dan masa memanahku sudah lewat. Maafkanlah aku!", 
jawabnya pendek. Hisyam yang merasa menemukan kesempatan untuk 
mengalahkannya, memaksanya untuk mengikuti perlombaan tersebut. Akhirnya
 ia memerintahkan salah seorang pembesar Bani Umaiyah untuk memberikan 
panahnya kepada Imam Baqir a.s.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Baqir a.s. mengambil panah tersebut dan bersiap siaga untuk 
membidikkan panahnya. Panah meluncur kencang dan tepat mengenai tengah 
sasaran. Ia bersiap siaga kembali untuk memanah. Panah kedua meluncur 
kencang memecahkan tangkai panah sebelumnya dan tepat menancap di 
tengahnya. Demikian seterusnya hingga panah kesembilan. Kemahiran Imam 
Baqir a.s. memanah ini membuat orang-orang yang hadir menganga 
keheranan. Hisyam bin Abdul Malik yang melihat rencananya gagal total, 
juga ikut merasa heran seraya berseloroh: "Sangat bagus wahai Abu 
Ja'far! Kamu adalah kebanggaan para pemanah Arab dan 'Ajam. Tidak masuk 
akal jika engkau berkata saya sudah tua". Akhirnya ia menundukkan kepala
 dan hanyut dalam pikirannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada kesempatan ini kami haturkan hadis-hadis pilihan yang pernah 
diucapkan oleh Imam Baqir a.s. dengan harapan hadis-hadis tersebut dapat
 menjadi pelita penerang jalan kita dalam usaha mendekatkan diri kepada 
Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;1.Akibat baik dan buruk&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Alangkah mungkin orang yang tamak kepada dunia akan mendapatkannya di 
dunia. Akan tetapi, ketika ia mendapatkan seluruhnya, dunia itu akan 
menjadi bala` baginya dan ia menjadi sengsara karenanya. Dan alangkah 
mungkin seorang membenci urusan akhirat. Akan tetapi, ia dapat 
menggapainya kemudian dan ia hidup bahagia karenanya".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;2. Keutamaan terbaik dan jihad terbaik&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tiada keutamaan seperti jihad dan tiada jihad seperti menentang hawa nafsu".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;3. Jiwa yang agung&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kuwasiatkan lima hal kepadamu: (1) jika engkau dizalimi, jangan berbuat
 zalim, (2) jika mereka mengkhianatimu, janganlah engkau berkhianat, (3)
 jika engkau dianggap pembohong, janganlah marah, (4) jika engkau 
dipuji, janganlah gembira, dan (5) jika engkau dicela, kontrollah 
dirimu".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;4. Ambillah nasihat yang baik&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ambillah nasihat baik dari orang yang mengucapkannya meskipun ia tidak mengamalkannya".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;5. Indahnya kesabaran yang disertai dengan ilmu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"(Jika sesuatu digabung dengan yang lain), tidak ada gabungan yang lebih indah dari kesabaran yang digabung dengan ilmu".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;6. Kesempurnaan yang paling sempurna&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kesempurnaan yang paling sempurna adalah tafakkuh (mendalami) agama, 
sabar menghadapi musibah dan ekonomis dalam mengeluarkan biaya hidup".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;7. Tiga kriteria agung&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tiga hal adalah kemuliaan dunia dan akhirat: memaafkan orang yang 
menzalimimu, menyambung tali persaudaraan terhadap orang yang 
memutuskannya, dan sabar ketika engkau diperlakukan sebagai orang 
bodoh".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;8. Kontinyu dalam berdoa&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sesungguhnya Allah membenci seseorang yang meminta-minta kepada orang 
lain berkenaan dengan kebutuhannya, dan menyukai hal itu (jika ia 
meminta kepada)-Nya. Sesungguhnya Ia suka untuk diminta setiap yang 
dimiliki-Nya".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;9. Keutamaan orang alim atas 'abid&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Seorang alim yang dapat dimanfaatkan ilmunya lebih utama dari tujuh puluh ribu 'abid".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;10. Dua karakter orang alim&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Seorang hamba bisa dikatakan alim jika ia tidak iri kepada orang yang 
berada di atasnya dan tidak menghina orang yang berada di bawahnya".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;11. Tiga pahala&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Jika mulut seseorang berkata jujur, maka perilakunya akan bersih, jika 
niatnya baik, maka rezekinya akan ditambah, dan jika ia berbuat baik 
kepada keluarganya, maka umurnya akan ditambah".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;12. Tinggalkanlah kemalasan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Janganlah malas dan suka marah, karena keduanya adalah kunci segala 
keburukan. Barang siapa yang malas, ia tidak akan dapat melaksanakan hak
 (orang lain), dan barang siapa yang suka marah, maka ia tidak akan 
sabar mengemban kebenaran".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;13. Penyesalan di hari kiamat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Orang yang paling menyesal di hari kiamat adalah orang yang berbicara keadilan dan ia sendiri tidak melaksanakannya".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;14. Buah silaturahmi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Silaturahmi dapat membersihkan amalan, memperbanyak harta, 
menghindarkan bala`, mempermudah hisab (di hari kiamat) dan menunda ajal
 tiba".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;15. Berucap ramah dengan orang lain&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ucapkanlah kepada orang lain kata-kata terbaik yang kalian senang jika mereka mengatakan itu kepadamu".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;16. Hadiah Ilahi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Allah akan memberikan hadiah bala` kepada hamba-Nya yang mukmin 
sebagaimana orang yang bepergian akan selalu membawa hadiah bagi 
keluarganya, dan menjaganya dari (godaan) dunia sebagaimana seorang 
dokter menjaga orang yang sakit".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;17. Jujur dan melaksanakan amanat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Bersikaplah wara', berusahalah selalu, jujurlah, dan berikanlah amanat 
kepada orangnya, baik ia adalah orang baik maupun orang fasik. 
Seandainya pembunuh Ali bin Abi Thalib a.s. menitipkan amanat kepadaku, 
niscaya akan kuberikan kepadanya".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;18. Perbedaan antara ghibah dan tuduhan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ghibah adalah engkau membicarakan aib (yang dimiliki oleh saudaramu) 
yang Allah telah menutupnya (sehingga tidak diketahui oleh orang lain), 
dan menuduh adalah engkau membicarakan aib yang tidak dimiliki olehnya".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;19. Pencela dibenci Allah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Allah membenci pencela yang tidak memiliki harga diri".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;20. Tanda-tanda rendah hati&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"(Engkau dapat dikatakan rendah hati jika) engkau rela duduk di sebuah 
majelis yang lebih rendah dari kedudukanmu, mengucapkan salam kepada 
orang yang kau jumpai, dan menghindari debat meskipun engkau benar".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;21. Menjaga harga diri adalah ibadah terbaik&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ibadah yang terbaik adalah menjaga perut dan kemaluan".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;22. Tanda-tanda Syi'ah sejati&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Syi'ah kami (yang sejati) adalah orang yang takut kepada Allah dan menaati-Nya".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;23. Sumber dosa adalah tidak kenal Allah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tidak akan bermaksiat kepada Allah orang yang mengenal-Nya".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;24. Akal adalah makhluk Allah terbaik&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ketika Allah menciptakan akal, Ia berfirman kepadanya: "Kemarilah!" Ia 
pun menghadap. Ia berfirman kembali: "Mundurlah!" Ia pun mundur. 
Kemudian Ia berfirman: "Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku tidak 
pernah menciptakan makhluk yang lebih Kucintai darimu, dan Aku tidak 
akan menyempurnakanmu kecuali bagi orang yang Kucintai. Semua perintah, 
larangan, siksa dan pahala-Ku tertuju kepadamu".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;25. Hisab atas dasar akal&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sesungguhnya Allah akan menghisab hamba-hamba-Nya pada hari kiamat 
sesuai dengan kadar akal yang telah dianugerahkan kepada mereka di 
dunia."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;26. Pahala guru dan murid&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sesungguhnya pahala orang yang mengajarkan ilmu adalah seperti pahala 
orang yang belajar darinya, dan ia masih memiliki kelebihan darinya. 
Oleh karena itu, pelajarilah ilmu dari ahlinya dan ajarkanlah kepada 
saudara-saudaramu sebagaimana ulama telah mengajarkannya kepadamu".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;27. Dosa mufti yang tidak berilmu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Barang siapa yang mengeluarkan fatwa tanpa ilmu yang cukup, maka ia 
akan dilaknat oleh malaikat rahmat dan azab serta dosa orang yang 
mengamalkan fatwanya akan dipikul olehnya".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;28. Ulama neraka&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Orang yang mencari ilmu dengan tujuan mendebat ulama (lain), 
mempermalukan orang-orang bodoh atau mencari perhatian manusia, maka 
bersiap-siaplah untuk menempati neraka. Kepemimpinan tidak berhak 
dimiliki kecuali oleh ahlinya".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;29. Tanda-tanda seorang faqih&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Faqih yang sebenarnya adalah orang yang zahid terhadap dunia, rindu akhirat dan berpegang teguh kepada sunnah Rasulullah SAWW".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;30. Bergurau tanpa mencela&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sesungguhnya Allah azza wa jalla menyukai orang-orang yang suka bergurau dengan orang lain dengan syarat tanpa cela-mencela".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;31. Azab untuk tiga kriteria&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tiga kriteria yang penyandangnya tidak akan meninggal dunia kecuali ia 
telah merasakan siksanya: kezaliman, memutuskan tali silaturahmi dan 
bersumpah bohong, yang dengan sumpah tersebut berarti ia telah berperang
 melawan Allah".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;32. Yang disukai Allah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sesuatu yang paling utama di sisi Allah adalah engkau meminta segala yang dimiliki-Nya".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;33. Kontinyu dalam doa&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Demi Allah, seorang hamba tidak berdoa kepada-Nya terus menerus kecuali Ia akan mengabulkannya".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;34. Berdoa di waktu sahar&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang banyak berdoa. Oleh karena itu,
 berdoalah pada waktu sahar hingga matahari terbit, karena pada waktu 
itu pintu-pintu langit terbuka, rezeki-rezeki dibagikan dan hajat-hajat 
penting dikabulkan".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;35. Berdoa untuk orang lain&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Doa yang paling cepat dikabulkan adalah doa seorang hamba untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;36. Mata-mata yang tidak akan menangis&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Semua mata pasti akan menangis pada hari kiamat kecuali tiga mata: mata
 yang bangun malam di jalan Allah, mata yang menangis karena takut 
kepada-Nya dan mata yang tidak pernah melihat hal-hal yang diharamkan 
oleh Allah".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;37. Orang yang tamak bak ulat sutra&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Perumpamaan orang yang tamak bagaikan ulat sutra. Ketika sutra yang 
melilitnya bertambah banyak, sangat jauh kemungkinan baginya untuk bisa 
keluar sehingga ia akan mati kesedihan di dalam sarangnya sendiri".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;38. Jangan berwajah dua&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Hamba yang paling celaka adalah hamba yang berwajah dan bermulut dua; 
ia memuji saudaranya di hadapannya dan menghibahnya di belakangnya, jika
 saudaranya itu dianugerahi nikmat, ia iri dan jika ia ditimpa musibah, 
ia menghinanya".&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;a href="http://www.alhassanain.com/indonesian/show_articles.php?articles_id=67&amp;amp;link_articles=holy_prophet_and_ahlul_bayt_library/imam_al_baqir/imam_baqir"&gt;Sumber TUlisan&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Imam Zainal Abidin As-Sajjad a.s.</title><link>http://andikfn.blogspot.com/2012/04/imam-zainal-abidin-as-sajjad-as.html</link><category>Angkasa</category><author>noreply@blogger.com (ANDIK FN)</author><pubDate>Tue, 17 Apr 2012 13:47:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6659801012355790768.post-1592869135483420860</guid><description>&lt;span class="fullpost"&gt;


    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;a. Biografi Singkat Imam Zainal Abidin As-Sajjad a.s.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Ali bin Husein a.s. yang lebih dikenal dengan julukan as-sajjad dan
 zauinal abidin dilahirkan di Madinah pada tanggal 15 Jumadil Ula 38 H. 
atau 5 Sya'ban 38 H. Dan pada tanggal 12 atau 25 Muharam 95 H. ia 
diracun oleh Hisyam bin Abdul Malik dan meneguk cawan syahadah pada usia
 56 tahun. Ia dikuburkan di Baqi', Madinah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibu Imam Ali As-Sajjad adalah Ghazalah  yang berasal dari kota Sanad 
atau Sajistan. Dan ia juga dikenal dengan nama Salafah atau Salamah. 
Akan tetapi, sebagian sumber sejarah menyatakan bahwa namanya adalah 
Shahr-banuweh, Shah-zanan, Shahr-naz, Jahan-Banuweh dan Khuleh.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Ali Zainal Abidin a.s. hidup pada masa paling kritis yang pernah 
dialami oleh Ahlul Bayt a.s. Ia hidup sezaman dengan memuncaknya 
penyelewengan setelah Rasulullah SAWW wafat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Ali Zainal Abidin a.s. dilahirkan tiga tahun sebelum syahadah Imam 
Ali a.s. Ketika ia lahir, kakeknya sedang sibuk menghadapi perang Jamal.
 Setelah itu ia selalu menemani ayah tercintanya dalam setiap pergolakan
 negara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Sajjad a.s. memainkan peran yang sangat menentukan dalam 
menggalangkan kekuatan masyarakat untuk membenci Bani Umaiyah dan 
memberontak melawan mereka. Setiap kali mendapatkan kesempatan untuk 
itu, ia tidak pernah membuang-buang kesempatan. Dengan penuh hati-hati, 
ia selalu mengawasi semua program pemerintahan masa itu. Untuk 
mengenalkan masyarakat (dengan segala problema yang terjadi di 
masyarakat) ia memilih metode doa. Di dalam doa-doanya ia mengungkapkan 
dan menafsirkan segala problema yang sedang menimpa masyarakat kala itu.
 Shahifah Sajjadiah yang dikenal dengan Zabur Ahlul Bayt a.s. adalah 
sebuah peninggalan berharga dunia Islam yang sangat mendapat perhatian 
seluruh ulama setelah Al Quran dan Nahjul Balaghah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu peninggalan berharga Imam Sajjad a.s. lainnya adalah buku 
kecil yang berisi masalah-masalah pendidikan dan etika. Peninggalan ini 
dikenal dengan nama Risalatul Huquq. Dalam buku kecil ini yang memuat 
lima puluh satu hak, ia menerangkan tugas-tugas manusia, baik di hadapan
 Tuhannya, dirinya dan orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;b. Imam Sajjad a.s. dan Pemerintahan yang Berkuasa Saat itu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Sajjad a.s. mengakui bahwa tanpa adanya dukungan masyarakat umum, 
kekuasaan tidak akan dapat banyak membantu dalam merombak kehidupan 
masyarakat Islam kala itu. Masyarakat umum juga harus tahu tujuan-tujuan
 negara, percaya penuh kepada teori-teorinya berkenaan pemerintahan dan 
membelanya lahir dan batin. Imam Sajjad a.s. merasa harus menjelaskan 
semua itu kepada mereka sehingga mereka tetap tegar dalam menghadapi 
setiap gejolak yang terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 Akan tetapi, ia tidak memiliki semua itu, dan karena ketidaktahuan 
mereka ia pernah mengeluh: "Ya Allah, dalam setiap problema yang terjadi
 aku telah melihat kelemahanku, aku telah menyadari ketidakmampuanku 
untuk mencari bantuan masyarakat dalam menghadapi orang-orang yang 
memerangiku, dan kuakui kesendirianku dalam menghadapi banyaknya orang 
yang memusuhiku".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara global dapat dikatakan bahwa situasi sosial masyarakat yang 
dialami oleh setiap imam ma'shum a.s. pasti membatasi ruang gerak 
politiknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan adanya segala bentuk teror yang dijalankan oleh para musuh Islam 
demi menjauhkan mereka dari lingkaran pemerintahan, para imam ma'shum 
a.s. telah menjalankan segala tugas mereka dengan baik dalam menjaga 
risalah Islam dari terjerumus ke dalam jurang penyelewengan dari 
nilai-nilai murninya. Setiap kali mereka melihat penyelewengan beranjak 
makin parah, mereka selalu sigap mengambil sebuah solusi yang jitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;c. Kepedulian Imam Sajjad a.s. terhadap Fakir dan Miskin&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu khidmat besar kepada masyarakat yang pernah dilakukan oleh 
Imam Ali Zainal Abidin a.s. adalah kepeduliannya terhadap anak yatim, 
fakir dan miskin serta hamba sahaya. Diriwayatkan bahwa ia membiayai 
kehidupan seratus keluarga miskin. Sebagian penduduk Madinah selalu 
menerima bahan pangan pada malam hari dan mereka pergunakan untuk 
menjalankan kehidupan mereka. Akan tetapi, mereka tidak tahu bahan 
pangan tersebut berasal dari mana. Setelah Imam Sajjad a.s. meninggal 
dunia, baru mereka mengetahui siapa yang memberi bahan pangan kepada 
mereka setiap malam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Ali Zainal Abidin a.s. setiap malam memikul goni-goni yang penuh 
dengan bahan pangan dan roti lalu ia membagikannya kepada para fakir dan
 miskin seraya berbisik kepada dirinya: "Bersedekah secara diam-diam 
akan memadamkan api murka Allah". Setelah ia meninggal dunia, penduduk 
Madinah berkata: "kami telah kehilangan sedekah secara diam-diam, karena
 Ali bin Husein telah meninggal dunia".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sepanjang tahun karena seringnya ia memikul bahan-bahan pangan, 
bahunya mengapal. Ketika ia dimandikan, bahunya yang mengapal itu 
menarik perhatian khalayak ramai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ali bin Thawus dalam kitab Iqbaalul A'maal  ketika menjelaskan 
amalan-amalan bulan Ramadhan berkata: "Ali bin Husein a.s. di malam 
terakhir bulan Ramadhan membebaskan dua puluh orang budak seraya 
berkata: "Aku ingin Allah melihatku membebaskan budak-budakku sehingga 
Ia akan membebaskanku dari api neraka kelak di hari kebangkitan ".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia tidak pernah menahan budak lebih dari satu tahun. Ketika ia membawa 
seorang budak ke rumahnya di awal atau pertengahan tahun, ia pasti 
membebaskannya pada malam hari raya Idul Fitri. Ia sering membeli 
budak-budak berkulit hitam. Ketika musim haji tiba, ia membawa mereka 
bersamanya ke padang Arafah. Setelah itu, ia membebaskan mereka di tanah
 padang Masy'ar dan membekali mereka dengan hadiah uang. Dengan 
demikian, sangat banyak budak-budak di kota Madinah yang telah 
dibebaskan oleh Imam Sajjad a.s. Dan setelah bebas, mereka tidak 
memutuskan hubungan spiritual dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada kesempatan ini, kami akan mengajak para pembaca yang budiman untuk 
menelaah hadis-hadis yang pernah diucapkannya selama ia hidup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;1.Jiwa yang mulia&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Barang siapa memiliki jiwa yang mulia, maka dunia akan hina dalam pandangannya".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;2.Dunia bukan tolak ukur nilai&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sangat berbahaya bagi seseorang ketika ia tidak melihat dunia sebagai suatu bahaya bagi dirinya".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;3.Menghindari berkata bohong&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Jauhilah berkata bohong, baik untuk hal sepele maupun untuk hal yang 
besar, baik serius maupun bergurau. Karena seseorang jika ia telah 
berani berbohong untuk hal-hal kecil, ia akan berani untuk berbohong 
untuk hal yang besar".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;4.Sahabat tidak baik&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Hati-hatilah, jangan kau bersahabat dengan orang pembohong, karena ia 
akan mendekatkan kepadamu suatu yang jauh dan menjauhkan dalam 
pandanganmu sesuatu yang dekat. Hati-hatilah, jangan kau bersahabat 
dengan orang fasik, karena ia akan memperjual-belikanmu dengan sesuap 
nasi atau lebih sedikit dari itu. Hati-hatilah, jangan kau bersahabat 
dengan orang kikir, karena ia akan meninggalkanmu ketika engkau merasa 
membutuhkan bantuannya. Hati-hatilah, jangan kau bersahabat dengan orang
 tolol, karena --menurut kata hatinya-- ia ingin membantumu, akan tetapi
 malahan ia  melakukan sesuatu yang membahayakanmu. Hati-hatilah, jangan
 kau bersahabat dengan orang memutus tali silaturahmi, karena aku 
melihatnya terlaknat di dalam kitab Allah".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;5.Jangan berbicara kecuali diperlukan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sesungguhnya pengetahuan dan kesempurnaan agama seorang muslim (dapat 
dilihat ketika) ia meninggalkan setiap ucapan yang tidak penting, jarang
 berdebat, sabar dan berakhlak yang terpuji".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;6.Introspeksi diri dan mengingat hari kiamat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Wahai anak Adam, kebaikan akan selalu bersamamu selama engkau memiliki 
penasihat dari dalam dirimu, mengintrospeksi diri, rasa takut (kepada 
Allah) menjadi syiarmu dan bertindak hati-hati menjadi bagian dari 
hidupmu. Wahai anak Adam, engkau akan mati, dibangkitkan dan disidang di
 hadapan Allah azza wa jalla. Oleh karena itu, persiapkanlah jawaban 
untuk-Nya".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;7.Hasil doa&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Seorang mukmin ketika berdoa akan mendapatkan salah satu dari tiga hal 
ini: doa itu akan disimpan untuknya di akhirat, dikabulkan saat itu juga
 atau satu bala` yang akan menimpanya dijauhkan darinya".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;8.Faktor-faktor keselamatan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tiga hal yang dapat menyelamatkan seorang mukmin: menutup mulut untuk 
tidak mengghibah orang lain, menyibukkan diri dengan segala sesuatu yang
 bermanfaat bagi akhirat dan dunianya, dan banyak menangis karena 
mengenang kesalahan-kesalahannya".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;9.Rindu surga&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Barang siapa yang rindu kepada surga, ia akan bergegas mengerjakan 
kebajikan dan mengekang hawa nafsunya, dan barang siapa yang takut siksa
 neraka, ia akan bergegas untuk bertaubat kepada Allah dari dosa-dosanya
 dan tidak mengerjakan kembali hal-hal yang haram".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;10.Pahala melihat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Seorang mukmin yang melihat wajah saudara seimannya karena ia mencintainya adalah ibadah".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;11.Harga diri dan doa&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sesuatu yang paling disukai oleh Allah setelah mengenal-Nya adalah 
menjaga perut dan kemaluan, dan sesuatu yang paling dicintainya adalah 
doa seorang hamba kepada-Nya".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;12.Menerima permintaan maaf orang lain&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Jika seseorang mencelamu dari sebelah kananmu, lalu ia berpindah 
mencela dari samping kirimu, kemudian ia meminta maaf kepadamu, maka 
terimalah permintaan maafnya".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;13.Hak Allah atas hamba-Nya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Hak Allah yang paling besar adalah hendaknya engkau menyembah-Nya dan 
tidak mempersekutukan-Nya dengan selain-Nya. Jika engkau telah 
melaksanakannya dengan penuh ikhlas, Dia telah berjanji kepada diri-Nya 
untuk mencukupi segala urusan dunia dan akhiratmu serta menjaga segala 
yang kau cintai".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;14.Hak ayah atas anak&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Hak seorang ayah adalah hendaknya engkau tahu bahwa ia adalah 
asal-muasalmu dan engkau adalah cabangnya (baca : keturunannya). Jika ia
 tidak ada, niscaya engkau pun tidak akan pernah ada. Oleh karena itu, 
jika engkau melihat dalam dirimu sesuatu yang membuatmu bahagia, 
ketahuilah bahwa ayahmu adalah asal nikmat tersebut, bersyukurlah kepada
 Allah dan berterima kasihlah kepada ayahmu karena itu".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;15.Taat kepada Allah adalah segalanya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Dahulukanlah menaati Allah dan orang-orang yang diwajibkan oleh-Nya untuk menaati mereka atas segala urusan".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;16.Hak ibu atas anak&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Hak ibumu adalah hendaknya engkau tahu bahwa ia telah:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-          mengandungmu,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-          memberimu makan dari buah hatinya ketika tidak seorang pun siap untuk melakukan hal itu, dan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-          menjagamu dengan telinga, mata, tangan, kaki, rambut, kulit dan seluruh anggota badannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia melakukan itu semua dengan penuh bahagia, gembira, dan rela 
menanggung segala derita dan susah-payah yang ada di dalamnya sehingga 
engkau lahir di dunia. Ia rela engkau kenyang meskipun ia sendiri  
kelaparan, engkau berpakaian meskipun ia sendiri telanjang, engkau tidak
 kehausan meskipun ia sendiri menahan dahaga, dan engkau bernaung 
meskipun ia sendiri kepanasan. Ia rela menyediakan kehidupan berlimpah 
nikmat bagimu dengan segala kesusahan yang dideritanya dan menidurkanmu 
meskipun ia harus berjaga sepanjang malam. Perutnya adalah tempat 
wujudmu, buiannya adalah tempatmu bermanja-manja, susunya adalah penebus
 dahagamu, dan jiwanya adalah tempat kamu berlindung. Ia rela menahan 
panas dan dinginnya dunia demi kamu dan untukmu. Dengan demikian, 
bersyukurlah kepadanya atas semua itu, dan engkau tidak akan dapat 
melakukan itu kecuali dengan pertolongan dan taufik dari Allah".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;17.Anjuran mencari ilmu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Jika seluruh manusia mengetahui keistimewaan yang tersembunyi di balik 
mencari ilmu, niscaya mereka akan mencarinya meskipun dengan mencurahkan
 darah dan menantang ombak".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;18.Nilai duduk bersama orang-orang saleh&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Duduk bersama orang-orang saleh akan mengajak kepada kebajikan dan tata krama ulama dapat menambah akal".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;19.Dosa penghambat doa&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Dosa-dosa yang menghambat terkabulnya doa adalah jeleknya niat, 
kotornya hati, bersikap munafik terhadap saudara seiman, tidak yakin 
dengan diterimanya doa, mengakhirkan shalat wajib hingga waktunya habis,
 tidak mendekatkan diri kepada Allah dengan perbuatan baik dan sedekah, 
mencela dan mempergunakan kata-kata yang tidak senonoh dalam ucapan".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;20.Lebih mementingkan yang fana&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sangatlah aneh seseorang yang beramal untuk dunia yang fana ini dan tidak memperdulikan dunia yang kekal".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;21.Akibat menuduh&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Barang siapa yang menuduh orang lain dengan aib yang dimilikinya, maka 
ia akan dituduh dengan aib yang tidak pernah dimilikinya".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;22.Dunia adalah perantara, bukan tujuan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Para wali Allah tidak pernah melelahkan diri di dunia untuk kepentingan
 dunia. Akan tetapi, mereka melakukan itu untuk kepentingan akhirat".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;23.Aku berlindung kepada Allah!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari tamak, kemarahan, kedengkian, 
... dan kebejatan memimpin atas orang-orang yang berada di bawah wilayah
 kami".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;24.Menjauhlah dari mereka!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Hati-hatilah, jangan bersahabat dengan orang-orang yang berlumuran 
maksiat, jangan membantu orang-orang zalim, dan jangan mendekati 
orang-orang fasik. Hati-hatilah akan fitnah mereka dan menjauhlah dari 
mereka".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
25.&lt;strong&gt;Akibat menentang wali Allah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ketahuilah bahwa barang siapa yang menentang wali-wali Allah, memeluk 
selain agama-Nya dan ingin pendapatnya selalu diikuti, bukan perintah 
wali-Nya, maka ia akan masuk ke dalam neraka yang membara".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;26.Takut dan malulah!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Takutlah kepada Allah karena kekuasaan-Nya atas dirimu dan malulah kepada-Nya karena ia dekat darimu".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;27.Buah terbaik&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Setiap sesuatu memiliki buah, dan buah untuk telinga adalah ucapan yang baik".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;28.Faedah diam&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tidak mengganggu orang lain dapat dilakukan dengan meninggalkan ucapan 
yang tidak senonoh. Cegahlah ucapanmu dengan diam, karena setiap ucapan 
memiliki intonasi beraneka ragam yang membahayakan. Oleh karena itu, 
waspadalah terhadap orang yang tolol".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;29.Jujur dan menepati janji&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kunci yang terbaik bagi setiap urusan adalah kejujuran, dan amalan penutup yang terbaik baginya adalah menepati janji".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;30.Ghibah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Jauhilah hibah, karena ghibah adalah makanan anjing neraka".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;31.Si mulia dan si hina&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Orang yang mulia akan bahagia dengan derma yang diberikannya dan orang yang hina akan berbangga dengan hartanya"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;32.Pahala berbuat baik&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Barang siapa yang memberi pakaian kepada seorang mukmin, maka Allah akan memberikan kepadanya pakaian dari surga".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;33.Akhlak seorang mukmin&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Di antara akhlak seorang mukmin adalah ia akan berinfak sesuai dengan 
kadar kemiskinannya, memperbanyak (infak) sesuai kekayaan yang 
dimilikinya, memahami orang lain dan mengucapkan salam terlebih dahulu 
kepadanya".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;34.Tentang afiat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sesungguhnya aku tidak suka seseorang selalu nyaman hidup di dunia dan tidak pernah ditimpa satu musibah pun".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;35.Pahala dan azab yang paling cepat tiba&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Pahala kebaikan yang paling cepat diberikan adalah berbuat kebajikan dan azab yang paling cepat tiba adalah bertindak lalim".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;36.Doa adalah pencegah bala`&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sesungguhnya doa dapat mencegah bala` meskipun bala` itu sudah 
ditentukan dengan pasti, dan doa dapat mencegah bala`, baik yang sudah 
turun maupun belum turun".&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;a href="http://www.alhassanain.com/indonesian/show_articles.php?articles_id=66&amp;amp;link_articles=holy_prophet_and_ahlul_bayt_library/imam_ali_bin_hussein/imam_sajjad"&gt;Sumber Tulisan&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Imam Hasan, Putra Tercinta Rasul</title><link>http://andikfn.blogspot.com/2012/04/imam-hasan-putra-tercinta-rasul.html</link><category>Angkasa</category><author>noreply@blogger.com (ANDIK FN)</author><pubDate>Tue, 17 Apr 2012 13:43:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6659801012355790768.post-2204832764854127318</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;


    &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;table border="0" dir="ltr" height="100%" id="table1" style="margin-left: 0px; margin-right: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="topic" colspan="6" height="49" style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;

  
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
  &lt;td width="10"&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;
  &lt;td class="text1"&gt;


Bulan suci Ramadhan hadir dengan keharuman Ahlul Bait Nabi as. Pada 
paruh bulan penuh berkah ini, malaikat sang pembawa cahaya mengiringi 
kelahiran putra pertama pasangan surga, Imam Ali as dan Fatimah Az-Zahra
 as. Hasan bin Ali terlahir ke dunia pada 15 Ramadhan 3 H di kota 
Madinah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Hasan senantiasa mendampingi Rasulullah saw. Terkadang ia duduk di 
pangkuan Nabi, terkadang pula Rasul memikul cucu kesayangannya itu di 
pundaknya. Setiap kali wahyu turun, ia pun mendengar langsung dari bibir
 Rasulullah saw dan menukilkannya untuk sang ibu, Sayidah Fatimah Zahra 
as. Saat Imam Ali as memasuki rumah, ia rasakan adanya perubahan, hingga
 kemudian ia mendengar kutipan ayat Al-Quran yang baru. Imam Ali as pun 
bertanya kepada Fatimah as, "Dari mana engkau nukil ayat ini?". Putri 
Nabi as itu menjawab, "Putra kita, Hasan".&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Hasan as hanya beberapa tahun saja hidup sejaman dengan Rasulullah 
saw. Ketika ia beranjak 7 tahun, datuk tercintanya, Nabi Muhammad saw 
pergi memenuhi panggilan Ilahi. Setelah kepergian Rasulullah, ia 
mendampingi ayahnya, Imam Ali as selama 30 tahun. Setelah syahidnya Imam
 Ali as, Imam Hasan memegang tampuk imamah sepanjang 10 tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejatinya, keistimewaan terbesar yang dimiliki Imam Hasan adalah 
kepribadian beliau yang begitu mirip dengan Rasulullah saw. Meski ia 
adalah cucu Rasulullah saw, namun Nabi as selalu menyebut Imam Hasan 
sebagai putranya. Seluruh ulama dan sejarawan muslim juga meyakini hal 
itu. Mufasir Al-Quran, Jalaluddin Suyuti meyakini bahwa ayat 61 surat 
Ali-Imran merupakan bukti yang menguatkan masalah tersebut. Dalam 
penggalan surat Ali-Imran yang juga dikenal sebagai ayat mubahalah itu 
dinyatakan, "Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang 
ilmu (yang meyakinkan kamu), Maka Katakanlah (kepadanya): "Marilah kita 
memanggil anak-anak Kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri Kami dan 
isteri-isteri kamu, diri Kami dan diri kamu; kemudian Marilah kita 
bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la'nat Allah ditimpakan 
kepada orang-orang yang dusta".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para ulama sepakat, pada peristiwa Mubahalah, Imam Hasan dan Imam Husein
 as bersama Imam Ali dan Sayidah Zahra mendampingi Rasulullah saw. 
Dengan demikian sesuai dengan ayat tadi, ungkapan ‘anak-anak kami' yang 
dimaksud tak lain adalah Imam Hasan as dan Imam Husein as. Di samping 
itu, hadis-hadis Rasulullah saw merupakan juga bukti lain akan hal ini. 
Ia senantiasa menyebut kedua cucu kesayangannya itu sebagai putranya. 
Nabi saw bersabda, "Hasan dan Husein as adalah dua putraku. Barang siapa
 yang mencintainya, maka ia mencintai aku pula".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu hari seorang lelaki menemui Imam Hasan as dan berkata, "Wahai 
Putra Ali as, Demi Tuhan yang memberimu nikmat begitu melimpah, bantulah
 kami dalam menghadapi musuh zalim yang menyerangku. Musuh yang tak 
menghargai orang-orang tua dan tak juga mengasihi anak-anak kecil". Imam
 Hasan lantas berkata, "Siapakah musuhmu itu?". Lelaki itu menjawab, 
"Musuhku adalah kemiskinan dan rasa gundah kelana". Sejenak Imam as 
menundukkan kepala. Kemudian kepada pelayannya, beliau berkata, 
"Ambillah, harta yang ada didekatmu." Si pelayan pun menyerahkan 5 ribu 
dirham, lantas Imam Hasan memberikan seluruh uang itu pada lelaki tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama masa hidupnya, Imam Hasan as selalu dikenal sebagai seorang yang 
dermawan, penenang setiap kalbu yang didera kesusahan, dan pengayom kaum
 fakir-miskin. Tak ada seorang miskin pun yang datang mengadu kepadanya 
lantas kembali dengan tangan kosong. Terkadang, jauh sebelum si miskin 
mengadukan kesulitan hidupnya, Imam telah terlebih dahulu membantu 
mengatasinya dan tak membiarkannya harus merasa hina lantaran meminta 
bantuan. Imam Hasan as berkata, "Memberi sebelum diminta adalah 
kebesaran jiwa yang teragung".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Hasan adalah pribadi yang sangat agung, penyabar, sangat berwibawa 
dan teguh. Ia juga dikenal sebagai tokoh yang sangat pemberani. 
Ketinggian ilmu dan hikmah beliau membuat kagum siapapun serta sangat 
bijak dalam memutuskan satu perkara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Hasan as adalah mitra musyawarah dan juga penolong setia ayahnya, 
Imam Ali as. Ia sangat aktif dalam menjalankan kepemimpinan umat. Di 
masa kekhalifahan Imam Ali as, setiap kali Amirul Mukminin sedang tidak 
berada di kota Kufah dan tidak bisa menjadi imam shalat Jumat, maka Imam
 Hasan as yang menggantikan posisi beliau. Selain itu, putra pertama 
Fatimah as itu juga menjadi penanggung jawab tanah dan harta yang 
ditetapkan sebagai wakaf oleh Rasulullah saw, Imam Ali as dan Sayidah 
Zahra as. Beliau memanfaatkan hasil dari tanah dan harta yang 
dikelolanya itu untuk membantu para fakir-miskin dan mereka yang 
memerlukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keluasan pemikiran, ilmu, dan jiwa Imam Hasan as merupakan faktor 
penting dalam membimbing dan memimpin umat. Di masa imamahnya, Imam 
Hasan as berhadapan dengan masyarakat yang didera kebodohan dan 
kesesatan, sekelompok manusia yang hanya memikirkan kepentingan pribadi.
 Sedemikian lunturnya iman dan keyakinan mereka, sampai-sampai mereka 
biarkan Imam Hasan sendirian dalam berjuang mempertahankan ajaran suci 
Rasulullah saw. Imam Hasan as bahkan terpaksa menjalin hubungan damai 
dengan pemerintahan Muawiyah lantaran umat Islam di saat itu tak lagi 
siap untuk berperang menentang kezaliman. Ia bahkan berusaha 
mencantumkan sejumlah persyaratan dalam surat perjanjian damainya itu, 
supaya jangan sampai terjadi pertumpahan darah di antara sesama kaum 
muslimin. Setelah itu, Imam Hasan as melakukan strategi dakwah kultural.
 Beliau menyebarkan ajaran Islam yang hakiki kepada umat dalam pelbagai 
ranah kajian budaya, politik hingga pemikiran dan mengantarkan umat pada
 sumber ilmu dan makrifat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu ketika, Imam Hasan as ditanya, "Di manakah letak keagungan dan 
kebesaran?" Beliau menjawab, "Memberi di saat dikuasai amarah dan 
memaafkan kesalahan".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat terjadi perang Jamal, Nahrawan, dan Sifin, Imam Hasan as selalu 
mendampingi Imam Ali as dan memainkan peranan penting dalam membela 
Islam. Suatu kali, Imam Ali as meminta putra pertamanya itu untuk 
mendampinginya mengadili suatu perkara. Saat Amirul Mukminin as 
menyaksikan kebijaksanaan Imam Hasan dalam mengadili suatu perkara, 
beliau pun memujinya dan berkata, "Wahai umat manusia sekalian, putraku 
Hasan mengetahui apa yang diajarkan Tuhan kepada Sulaiman bin Dawud".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syahdan, suatu ketika orang-orang melihat seorang lelaki tengah memegang
 pisau yang berlumuran darah di sisi sesosok tubuh yang tak bernyawa 
lagi. Mereka pun akhirnya membawa orang tersebut ke Imam Ali as dan 
menudingnya sebagai pembunuh. Imam pun bertanya kepada lelaki itu, 
"Apakah ada hal yang ingin kamu ceritakan?" Lelaki itu menjawab, "Aku 
terima tuduhan ini". Namun, tiba-tiba datang seorang lelaki lain dengan 
tergesa-gesa dan berkata, "Lepaskan dia! Ia tak membunuh seorang pun. 
Akulah pembunuhnya". Kepada lekaki yang dicekal sebelumnya, Imam 
bertanya kembali, "Mengapa kamu terima tudingan itu?" Dia menjawab, "Aku
 berada dalam posisi yang tak mungkin bagiku untuk mengelak. Sebab 
banyak orang yang melihatku berdiri di sisi jasad sementara pisau penuh 
darah berada digenggamanku. Namun sebenarnya, aku tengah menyembelih 
seekor kambing dan saat itu pisau penuh darah itu masih dalam 
gengamanku. Lantas dengan kagetnya, aku melihat lelaki berlumuran darah 
itu terseok-seok. Di saat itulah, orang-orang melihatku dan menangkapku 
dengan tudingan sebagai pembunuh".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

Imam Ali as lantas membawa kedua lelaki itu kepada Imam Hasan as untuk 
diputuskan perkaranya. Setelah mendengar keterangan mereka, Imam Hasan 
as memaafkan si pembunuh lantaran dengan kejujurannya telah 
menyelamatkan lelaki lain yang dituding sebagai pembunuh. Beliau 
memutuskan hal itu sesuai dengan Al-Quran, ayat 32 surat Al-Maidah, 
"...Barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, Maka 
seolah-olah Dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya".&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.alhassanain.com/indonesian/show_articles.php?articles_id=408&amp;amp;link_articles=holy_prophet_and_ahlul_bayt_library/imam_hassan/putra_tercinta_nabi"&gt;alhassanain&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;&lt;td class="text1"&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td class="text1"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class="text1"&gt;&lt;br /&gt;
 &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Khutbah Sayyidah Fatimah Zahra</title><link>http://andikfn.blogspot.com/2012/04/khutbah-sayyidah-fatimah-zahra.html</link><category>Angkasa</category><category>artikel</category><author>noreply@blogger.com (ANDIK FN)</author><pubDate>Tue, 17 Apr 2012 13:34:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6659801012355790768.post-4297735699789722329</guid><description>&lt;span class="fullpost"&gt;


    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;table border="0" dir="ltr" height="100%" id="table1"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="topic" colspan="6" height="49" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td width="10"&gt;&lt;/td&gt;
  &lt;td class="text1"&gt;Rasulullah saw. bersabda:wanita penghuni surga yang paling utama ada 
empat; Khadijah bintu Khuwailid, Fatimah bintu Muhammad, Asiyah bintu 
Muzahim istri Fir'aun-, dan Maryam bintu Imran.[1]  Rasulullah saw. 
bersabda: sebaik-baik wanita alam semesta ada empat; Maryam bintu Imran,
 Asiyah bintu Muzahim, Khadijah bintu Khuwailid, dan Fatimah bintu 
Muhammad.[2] Rasulullah saw. bersabda: Fatimah adalah bagian dariku, 
maka barang siapa yang membuatnya marah niscaya telah membuatku marah 
Fatimah adalah bagian dariku, maka barang siapa yang mengganggunya 
niscaya telah menggangguku sesungguhnya Allah murka dengan murka Fatimah
 dan rela dengan rela Fatimah&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;.[3]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Puja bagi Allah atas nikmat yang telah Dia berikan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terima kasih pada Allah atas apa yang telah Dia ilhamkan (nikmat batin)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Puji bagi Allah atas apa yang telah Dia sodorkan;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berupa nikmat-nikmat umum yang Dia mulai (sebelum ada hak sedikitpun pada manusia)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berupa anugerah yang berlimpah dan sempurna&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan berupa semua pemberian yang berturut-turut&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu banyak nikmat Allah sehingga tidak mungkin untuk menghitungnya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak mungkin untuk menjangkau batasannya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selamanya tidak akan mungkin untuk diketahui semua&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengajak mereka untuk minta tambah dengan cara bersyukur, karena sambungan yang terdapat dalam nikmatNya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengharuskan makhluknya untuk memuja dengan limpahan nikmatNya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagaimana Dia juga mengajak mereka pada hal-hal yang serupa&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bersaksi bahwa ?tiada Tuhan selain Allah Yang Esa dan tak bersetara?, sebuah kalimat yang kembali pada ketulusan (ikhlas)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalimat yang capaiannya telah ditanamkan di hati setiap orang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalimat yang rasionalisasinya tercerahkan dalam pikiran&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah yang mata tak mampu melihatnya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lidah tak sanggup menyifatiNya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pikiran tak dapat menjangkau bagaimana Dia&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia ciptakan segala sesuatu tidak dari sesuatu sebelumnya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia ciptakan tanpa menyontek contoh yang lain&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia adakan dengan kekuasaanNya dan Dia ciptakan dengan kehendakNya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa Dia butuh pada penciptaan itu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa ada faidah dari penggambaran itu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiada lain hanya merupakan pembuktian atas hikmahNya, peringatan atas 
ketaatan padaNya, penjelasan kuasaNya, penyembahan hambaNya, dan 
penegasan ajakanNya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian Dia tetapkan pahala bagi ketaatan padaNya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tentukan siksa bagi kemaksiatan padaNya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk mencegah hamba-hambaNya dari murka&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan mendorong mereka ke arah surgaNya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bersaksi bahwa ayahku (Muhammad) adalah hamba dan utusanNya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia telah memilihnya sebelum menciptakan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia telah memilihnya sebelum mengutus&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di saat manusia masih tersembunyi dalam gaib&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di saat manusia masih terhalang oleh tabir yang menyeramkan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di saat manusia masih sarat dengan ketiadaan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atas dasar ilmu Allah terhadap tempat kembalinya segala sesuatu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atas dasar pengetahuanNya terhadap segala hal yang akan terjadi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atas dasar makrifatNya terhadap situasi dan kondisi serta maslahat segala hal yang Dia tentukan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah mengutus Muhammad untuk melengkapkan urusanNya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai tekad untuk menetapkan hukumNya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai penerapan takdir-takdirNya yang pasti&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian Dia saksikan penduduk bumi berpecah belah dalam agama mereka&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka yang tunduk beribadah pada api&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka yang menyembah arca&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka yang mengingkari Allah di saat mereka mengetahuiNya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka Allah menerangi kegelapan itu dengan Muhammad saw.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia lapangkan hati dari problema&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia jelaskan mata dari kesamaran&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan Rasulullah bangkit di tengah ummat manusia dengan membawa hidayah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyelamatkan mereka dari kesesatan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyembuhkan mereka dari kebutaan (mata dan hati)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menunjukkan mereka pada agama yang tegak&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengajak mereka pada jalan yang lurus&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian Allah menariknya karena cinta dan keinginan serta pilihan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka beliau tenang dan terlepas dari lelahnya kehidupan di dunia&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sungguh beliau dikelilingi oleh para malaikat yang suci&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diridloi oleh Allah Yang Maha Pengampun&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dekat di sisi Maha Raja Yang Perkasa&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shalawat dan salam serta rahmat dan barakat Allah semoga senantiasa tercurahkan pada ayahku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Muhammad nabiNya, manusia kepercayaanNya untuk menerima wahyu, manusia 
pilihanNya, manusia yang terbaik di antara ciptaanNya dan manusia yang 
diridloiNya.&lt;br /&gt;
Kemudian beliau mengalihkan perhatian pada hadirin seraya berkata:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalian, wahai hamba-hamba Allah, adalah maksud dari perintah dan laranganNya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalian adalah pemikul agama dan wahyuNya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalian adalah orang yang dipercaya Allah untuk menjaga agamaNya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalian adalah orang yang ditugaskan untuk menyampaikan risalah ini pada ummat yang akan datang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang pemimpin kebenaran ada di tengah kalian&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia telah mengambil janji kalian atas kewajiban&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tinggalkan sesuatu pada kalian&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kitab Allah yang berbicara&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Qur?an yang jujur dan benar&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cahaya yang berkilauan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sinar yang terang benderang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukti-buktinya jelas dan rahasia-rahasianya terungkap&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lahirnya nampak&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Membuat senang pendukungnya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Membawa pengikutnya menuju keridoan Allah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendorong pendengarnya ke arah keselamatan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengannya, dapat diperoleh hujjah-hujjah Allah yang bersinar, dan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kewajiban-kewajibanNya yang sudah dijelaskan oleh Al-quran&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Larangan-laranganNya yang telah diperingatkan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukti-buktiNya yang terang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalil-dalilNya yang cukup&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keutamaan-keutamaan yang dianjurkan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keringanan-keringanan yang diberikan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan syariat yang diharuskan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka Allah menjadikan iman sebagai penyuci kalian dari kesyirikan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shalat sebagai pembersih kalian dari kesombongan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Zakat sebagai penjernih diri dan pengembangan rejeki&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Puasa sebagai pendalam ketulusan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haji sebagai penguat agama&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keadilan sebagai pengatur kalbu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketaatan pada kami [Ahlulbait as] sebagai sistem untuk bangsa&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepemimpinan kami sebagai jaminan aman dari pecah belah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jihad dan perjuangan sebagai kehormatan Islam&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesabaran sebagai penopang untuk meraih pahala&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Amar makruf sebagai maslahat umum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bakti pada kedua orang tua sebagai penghindar murka&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Silaturahmi sebagai penambah jumlah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Qisas sebagai penjaga darah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesetiaan pada nadzar sebagai peluas ampunan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jujur dalam tolok ukur dan timbangan sebagai perubah kikir&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Larangan minum arak sebagai pembasmi noda&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Larangan menuduh zina sebagai tabir penghalang kutukan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Larangan mencuri sebagai penjamin kesucian&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Larangan syirik sebagai ketulusan padaNya dalam pengaturan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka bertaqwalah kalian pada Allah dengan taqwa yang sesungguhnya, dan jangan kalian mati kecuali dalam kaadan muslim&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taatilah perintah dan laranganNya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena sesungguhnya hanya hamba-hamba Allah yang alim yang takut padaNya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wahai ummat manusia!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketahuilah bahwa aku adalah Fatimah!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayahku adalah Muhammad&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kukatakan untuk pertama dan terakhir kalinya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak berkata salah dan tidak bertindak lalim&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sungguh-sungguh telah datang pada kalian utusan Allah dari jenis kalian 
sendiri, resah atas kesulitan yang menimpa kalian dan bersikeras untuk 
memberi petunjuk pada kalian serta lembut dan sayang terhadap 
orang-orang yang beriman[4]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apabila kalian hendak menisbatkan asal usulnya maka kalian akan 
mendapatkan bahwa beliau adalah ayahku dan bukan ayah dari wanita kalian&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau adalah saudara misananku dan bukan saudara dari pria kalian&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka sebaik-baik penisbatan adalah orang yang dinisbatkan padanya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah menyampaikan misinya dengan menegaskan peringatan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keluar dari jalur orang-orang musyrik&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menebas belikat mereka&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Membungkam mulut mereka&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengajak pada jalan Tuhannya dengan hikmah dan nasihat yang baik&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memecahkan arca dan menumbangkan kekafiran&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai akhirnya mereka kalah dan mundur&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malam terbelah oleh pagi (kedzaliman terpendam oleh Islam)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terbitlah kebenaran yang murni&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemimpin agama berbicara tentang agama dan perkara muslimin&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kicauan setan membisu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendukung kemunafikan runtuh&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalinan kafir dan perpecahan terurai&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalian berucap tulus&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan orang-orang yang bercahaya putih karena lapar (puasa)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di saat kalian sebelumnya berada di mulut api neraka&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[kalian adalah] orang yang meneguk segala minuman walau bukan miliknya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang serakah yang tidak melewatkan satu kesempatan pun untuk menuruti kesrakusannya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bara api orang yang tergesa-gesa&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[kalian adalah] orang yang terinjak-injak di bawah kaki para penguasa&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalian minum genangan air yang bercampur kotoran binatang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalian makan dengan wadah kulit yang tak disamak dan daun-daunan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalian adalah orang-orang yang hina dan terusir&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalian selalu takut dirampok oleh orang-orang yang berada di sekitar&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka Allah menyelamatkan kalian melalui ayahku Muhammad saw.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah ini dan itu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah ditimpa oleh kebengisan kaum pria dan keganasan arab serta kedurhakaan Ahlulkitab (orang yahudi dan nasrani)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap kali mereka menyulut api peperangan maka Allah memadamkannya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap kali tanduk setan tumbuh (setiap kali setan beraksi untuk 
merusak) atau kesyirikan membuka lebar mulutnya maka beliau saw. 
mengirimkan saudaranya (Ali) sampai ke anak lidahnya (ke pusatnya untuk 
membasmi setan dan kesyirikan)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka dia (Ali) tidak akan pernah kembali sampai berhasil menginjak telinga setan dan kesyirikan dengan lekuk telapak kakinya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan memadamkan lidah api mereka dengan pedangnya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia (Ali) banting tulang dalam dzat Allah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berusaha keras dalam perintah Allah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia dekat dengan Rasulullah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tuan di tengah waliAllah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia naik dan menasihati, bekerja keras dan bersungguh-sungguh&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di saat kalian hanya bersenang-senang dalam kehidupan nyaman, nikmat dan aman&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalian senantiasa menantikan akibat buruk terjadi pada kita&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menunggu datangnya berita&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan mengundurkan diri dari peperangan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan ketika Allah memilihkan rumah para nabi bagi Rasulullah (ketika wafat)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memilihkan tempat kembali orang-orang pilihanNya untuk beliau&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tampaklah pada diri kalian duri dan dendam kemunafikan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jubah agama telah lusuh di mata kalian&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang yang dulunya diam, sesat dan bodoh sekarang angkat suara&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang yang dulunya tak dikenal sekarang jadi terkenal&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pejantan orang-orang sesat mengeraskan geramannya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan berjalan dengan congkak di halaman-halaman kalian&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setan mengeluarkan kepala dari tempat persembunyiannya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seraya memanggil kalian&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia melihat kalian menjawab panggilannya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan mendapatkan kalian sepenuhnya pasrah menerima tipu daya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian dia perintahkan kalian untuk bangkit dan dengan ringannya kalian bergegas bangkit&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia kobarkan api kemarahan pada diri kalian dan seketika itu juga kalian marah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian, maka kalian memberi tanda pada unta yang bukan milik 
kalian (yang penting bagi kalian adalah taat pada setan, apapun saja 
yang dia perintahkan)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalian turunkan unta itu bukan pada bagian air milik kalian&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua ini terjadi padahal masa lalu baru kemarin berlalu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepedihan itu masih dalam (karena wafatnya Rasul)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Luka itu masih belum sembuh&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah masih belum dikuburkan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bergegas dan berebut ?kekuasaan-, mengakunya khawatir terjadi fitnah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sadarlah; mereka terjerumus dalam fitnah dan sesungguhnya neraka jahannam mencakup semua orang kafir&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jauh sekali dari kalian&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada apa dengan kalian?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemanakah setan memalingkan kalian?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Padahal kitab Allah berada di pundak kalian&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal-hal di dalamnya jelas&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hukum-hukumnya berkilau&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rambu-rambunya bersinar&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Larangan-larangannya terang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perintah-perintahnya tampak&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sungguh kalian telah membelakangi Al-quran&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah kalian ingin membencinya?!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau kalian hendak menghakimi dengan selainnya?!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesuatu yang lain itu adalah sejelek-jelek pengganti bagi orang dzalim&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan baranga siapa yang mengikuti agama selain Islam maka hal itu tidak 
akan diterima darinya, dan dia di akhirat tergolong orang-orang yang 
merugi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak lama kemudian, setelah perlawanan mejadi tenang dan pengaturan menjadi gampang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seketika itu juga kalian mulai mengeluarkan api dan menggerakkan baranya (menebar fitnah di mana-mana)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalian iakan panggilan setan yang menyesatkan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ajakannya untuk memadamkan cahaya agama yang terang benderang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meredakan sunnah nabi yang jernih&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pura-pura minum buih padahal sesungguhnya kalian ingin minum susu secara
 sembunyi-sembunyi (berdalih khawatir terjadi fitnah padahal 
sesungguhnya kalian serakah terhadap kekuasaan dan membuat fitnah)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalian ganggu keluarga dan keturunan Rasulullah secara terselubung dan tersembunyi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kita sabar atas gangguan kalian seperti orang yang menahan sakitnya tubuh yang dicincang dengan pisau besar&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti orang yang manahan luka tusukan mata tombak ke dalam perut&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan sekarang kalian mengaku bahwa tidak ada warisan bagi kami (keluarga Nabi)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah kalian menginginkan hukum jahiliah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan siapakah yang lebih baik dari pada Allah dalam menghukumi bagi orang-orang yang yakin?!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa kalian tidak tau? Sungguh jelas bagi kalian seperti matahari di siang bolong bahwa aku adalah puteri Rasulullah&lt;br /&gt;
Wahai orang-orang muslim!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa mereka memaksa dan mengalahkanku untuk mendapatkan hak waris dari ayahku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wahai Abu Bakar putera Abu Quhafah!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah disebutkan dalam kitab Allah bahwa kamu mewarisi ayahmu sementara aku tidak mewarisi ayahku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sungguh-sungguh kamu telah membawa kemunkaran yang besar&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah kalian sengaja meninggalkan kitab Allah dan kalian buang dia ke belakang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di saat Allah berfirman: ?dan suliman mewarisi dawud?[5]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah juga berfirman ?ketika menceritakan kisah zakariya-: ?berilah dari
 sisiMu wali ?dan penerus- bagiku, yang akan mewarisiku dan mewarisi 
keluarga ya?qub?[6]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah berfirman: ?famili dan keluarga, sebagian dari mereka lebih layak dari sebagian yang lain dalam ketentuan Allah?[7]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah berfirman: ?Allah mewasiatkan pada kalian tentang anak-anak kalian, bagi anak laki dua kali lipat saham anak perempuan?[8]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah berfirman: ?apabila seseorang dari kalian mati dan meninggalkan 
barang berharga, maka hendaknya dia mewasiatkan pada kedua orang tua dan
 keluarganya secara baik, ini adalah hak orang-orang yang bertaqwa?[9]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalian mengaku tiada saham bagiku!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiada warisan dari ayahku!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah Allah mengistimewakan ayat tertentu bagi kalian dan mengeluarkan ayahku darinya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau kalian katakan bahwa dua orang pengikut dua agama tidak saling mewarisi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukankah aku dan ayahku pemeluk satu agama?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau kalian merasa lebih pintar dari ayah dan misananku (Ali) dalam hal khusus dan umumnya Al-quran?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka ambillah ?wahai Abu Bakar- tanah Fadak (tanah warisan Rasul untuk 
Fatimah) yang siap ini, seperti unta yang berpelana dan bertali kekang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia akan menemuimu di hari mahsyar dan kebangkitan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka sebaik-baik hakim adalah Allah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebaik-baik pemimpin adalah Muhammad&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebai-baik saat adalah hari kiamat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan pada hari kebangkitan, orang-orang yang batil akan merugi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak lagi bermanfaat apabila kalian menyesal di sana&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan bagi setiap berita besar tempatnya masing-masing, niscaya kalian 
akan mengetahui siapa yang akan didatangi siksa yang menghinakannya dan 
yang pasti mengalami siksa abadi&lt;br /&gt;
Kemudian beliau melemparkan pandangannya ke arah Anshar seraya berkata:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wahai kelompok yang mulia&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wahai penolong-penolong agama&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wahai penjaga-penjaga Islam&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa sikap acuh tak acuh dan lemah ?kalian- dalam hakku ini?!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa sikap ngantuk kalian terhadap hakku yang telah dirampas secara lalim?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukankah Rasulullah SAW, ayahku, bersabda: seseorang terjaga dalam 
keturunannya (kehormatan dan kemuliaan seseorang dinilai apabila 
kehormatan, kemuliaan dan hak-hak keturunannya juga terjaga)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa cepatnya kalian berubah, memusuhi keluarga Nabi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa tergesa-gesanya kalian untuk mengerahkan segala sesuatu melawan keluarga Nabi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di saat kalian punya kemampuan untuk menolong usahaku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di saat kalian punya kekuatan untuk membantuku dalam mengambil kembali hak-hakku yang mereka rampas&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah ingin kalian katakan: Muhammad telah mati (maka agamanya, kehormatan dan kemuliaanya juga mati)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sungguh kepergian beliau adalah perkara yang agung&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Luka itu semakin terkoyak&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rekah itu semakin luas&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Belahan itu semakin lebar&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bumi menjadi gelap karena kepergiannya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bintang mengalami gerhana karena musibahnya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Harapan telah terputus&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gunung jadi tunduk dan khusyu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Batas-batas ?keluarga Nabi- dilampaui&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehormatan dia setelah mati dilecehkan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka demi Allah itu adalah bencana terbesar dan musibah teragung&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bencana yang tiada taranya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malapetaka yang tidak akan datang tandingannya dekat2 ini&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kitab Allah SWT mengumumkan kepergian beliau di halaman-halaman rumah kalian&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di pagi dan sore hari kalian&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan suara pelan dan teriakan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara tilawah dan nada-nada qira?at&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kematian itu juga telah menimpa para nabi dan rasul sebelumnya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan merupakan hukum yang pasti dan ketentuan yang tak terelakkan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
?Dan Muhammad tidak lain adalah utusan Allah, telah lalu rasul-rasul 
sebelumya, apakah ketika dia mati atau terbunuh maka kalian berbalik ke 
belakang, dan barang siapa yang berbalik ke belakangnya niscaya dia 
tidak membahayakan Allah sedikitpun, dan Allah akan membalas orang-orang
 yang bersyukur?[10]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jauh sekali bani Qilah!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah aku tertindas dan tercegah dari warisan ayahku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di saat kalian masih kulihat dan kudengar&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalian masih kumpul bersama&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ajakanku sampai ke telinga kalian&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berita ini sampai ke perasaan dan pengetahuan kalian&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di saat kalian memiliki jumlah yang cukup, potensi, sarana dan kekuatan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalian dilengkapi dengan senjata dan perisai&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Panggilanku telah sampai pada kalian tapi kalian tidak menjawabnya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teriakanku telah mendatangi kalian tapi tetap kalian tidak membantu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Padahal kalian dikenal denga jihad dan perjuangan di jalan Allah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dikenal dengan kebaikan dan amal yang saleh&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pilihan Nabi untuk mendukung misi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pilihan Nabi untuk meraih kemenangan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalian telah berperang melawan arab&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalian pikul beban dan kesulitan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalian serang ummat-ummat lain&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalian hadapi para pemberani&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dulu kita tidak meninggalkan kalian dan kalian tidak meninggalkan kita&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita perintahkan dan kalian patuh&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sehingga urusan Islam menjadi teratur bersama kita&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sehari-hari air susu mengalir dengan deras (bayak kebaikan yang diperoleh)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Puncak kesyirikan jadi tunduk&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gejolak dusta menjadi tenang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Api kekafiran telah padam&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ajakan fitnah dan kerusuhan telah terbenam&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sistem agama telah teratur&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu kenapa kalian bingung setelah kejelasan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa kalian rahasiakan setelah terus terang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa kalian mundur setelah maju&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa kalian syirik setelah beriman&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
?Apa kalian tidak berperang melawan kaum yang mengingkari janjinya dan 
bertekad untuk mengusir Rasulullah?! Padahal mereka dulu yang memulai 
peperangan ini; apakah kalian takut pada mereka?! Padahal Allah lebih 
berhak untuk ditakuti jika  kalian adalah orang-orang yang beriman?[11]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ingatlah: aku tau, kalian lebih memilih kesenangan dan kehidupan yang nyaman&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalian jauhkan orang yang lebih berhak untuk melapangkan dan menyempitkan (memerintah dan mengatur negara)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalian menyendiri dengan kesenangan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalian terhindar dari himpitan dan meraup kekayaan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka kalian lepeh apa yang kalian pelihara&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalian muntahkan apa yang kalian minum dengan mudah (berpaling dari agama dan penolakan terhadap iman)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan apabila kalian dan semua penduduk bumi kafir maka sesungguhnya Allah
 Maha Kaya dan Terpuja ingatlah: aku katakan semua ini di saat aku tau 
persis kehinaan yang telah bercampur dengan diri kalian dan 
pengkhianatan yang melekat di hati kalian&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun itu adalah ungkapan rahasia hati&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semburan amarah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelemahan tombak (tidak sabar lagi)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gelisah yang keluar dari dada&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Persembahan hujjah dan bukti&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka ambillah khilafah dan tunggangilah pemerintahan yang luka punggungnya dan tipis sepatunya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Khilafah yang senantiasa hina&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditandai dengan murka Allah dan cela selamanya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disambung dengan neraka Allah yang menyala dan tau isi hati (membakar jiwa dan raga)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua yang kalian perbuat tampak di mata Allah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan orang-orang dzalim akan mengetahui ke mana mereka kembali&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan aku adalah puteri orang yang memperingatkan kalian pada siksa yang dahsyat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka bertindaklah dan sesungguhnya kami adalah penindak, nantilah dan sesungguhnya kami adalah penanti&lt;br /&gt;
Abu Bakar menjawab:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wahai puteri Rasulullah!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sungguh ayahmu dulu adalah orang yang lemah lembut dan mulia terhadap mukminin, belas kasih dan sayang pada mereka&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siksa yang pedih dan hukuman yang besar bagi orang kafir&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau kita ingin menisbatkannya maka kita dapatkan dia sebagai ayahmu dan bukan ayah dari wanita yang lain&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saudara suamimu dan bukan saudara pria yang lain&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau utamakan saudaranya dari pada sahabat yang lain&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bantu Rasulullah di setiap perkara yang besar&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya orang bahagia yang mencintai kalian dan hanya orang sengsara yang membenci kalian&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalian adalah keluarga Rasulullah yang bagus&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang-orang pilihan yang mulia&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalian adalah petunjuk kebaikan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalian adalah jalan menuju surga&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kamu (Fatimah); wahai wanita yang terbaik dan puteri sebaik-baik Nabi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jujur dalam bertutur&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendahulu dalam kesempurnaan akal&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak tersingkir dari haknya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak tercegah dari kejujurannya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demi Allah aku tidak menentang pendapat Rasulullah !!!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak bertindak kecuali dengan ijin dia&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan sesungguhnya seorang penghulu tidak akan membohongi pengikutnya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bersaksi pada Allah dan cukup bagiku Dia sebagai saksi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sungguh aku mendengar Rasulullah saw. bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
?kita para nabi tidak mewariskan emas dan perak, rumah dan parabotnya, 
melainkan kita mewariskan kitab dan hikmah, ilmu dan kenabian. Makanan! 
apa saja yang tersisa dari kami maka itu hak pemerintah setelah kita, 
dan dialah yang berhak memutuskan di sana?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang kamu minta telah kita letakkan bersama kelompok kuda dan 
senjata yang digunakan muslimin untuk berjihad melawan orang-orang kafir
 dan bertempur melawan orang-orang yang menentang dan jahat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keputusan itu atas dasar kesepakatan muslimin!!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak sendiri dalam hal itu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak sewenang-wenang hanya sesuai dengan pendapatku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah kondisi dan hartaku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semuanya untukmu dan di hadapanmu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak disingkirkan darimu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak disimpan tanpa dirimu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamu adalah tuan ummat ayahmu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pohon bagus untuk keturunanmu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seluruh keutamaan dirimu tidak bisa diimgkari&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cabang dan pokokmu tidak bisa dibawahi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keputusanmu senantiasa berlaku dalam apa yang kumiliki&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu apakah kamu melihat diriku menentang ayahmu dalam hal ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka beliau, Fatimah Zahra, berkata:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maha suci Allah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak pernah Rasulullah saw. berpaling dari kitab Allah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak pernah beliau menentang hukumnya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melainkan beliau senantiasa mengikuti jejaknya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menapaki surat-suratnya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah kalian bersepakat untuk berkhianat sekaligus membuat alasan yang dusta (kebohongan yang dinisbatkan pada Rasulullah)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlakuan kalian terhadap Rasulullah saw. setelah wafatnya sama dengan kezaliman besar yang beliau alami pada masa hidupnya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah kitab Allah sebagai hakim yang adil, berbicara dan memutuskan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kitab Allah mensinyalir: ?yang mewarisiku dan mewarisi keluarga ya?qub?. ?sulaiman mewarisi dawud?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka sesungguhnya Allah SWT telah menjelaskan jatah-jatah yang Dia bagikan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia telah atur ketentuan dan warisan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia terangkan bagian lelaki dan wanita; keterangan yang cukup untuk menyingkirkan penyakit orang-orang pengikut kebatilan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keterangan yang menghilangkan anggapan serta kesamaran orang-orang yang lalu dan akan datang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidaklah demikian yang sesungguhnya, melainkan perkara (kekuasaan) silau
 dan indah di mata kalian, maka seyogyanya kita bersabar dengan 
kesabaran yang indah, dan Allah Yang dimintai pertolongan atas apa yang 
kalian diskripsikan.&lt;br /&gt;
Maka Abu Bakar berkata:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah benar dan Rasulnya pun benar&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Puteri Rasul juga benar&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamu adalah tambang hikmah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tempat hidayah dan rahmat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tonggak agama&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mata hujjah dan bukti&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak asing dari kebenaran katamu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak mengingkari maksudmu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka orang-orang islam, antara aku dan kamu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka serahkan pangkat dan kedudukan khilafah ini padaku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka dengan kesepakatan dari mereka aku mengambil keputusan untuk menyita ?tanah Fadak-&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukan angkuh dan sewenag-wenang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan juga bukan monopoli&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan mereka adalah saksi akan hal itu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka sayidah Fatimah Zahra sa mengarah pada masyarakat seraya berkata:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wahai ummat manusia yang bergegas ke arah ucapan batil&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang diam dan rela atas tindakan keji dan merugi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah kalian tidak merenungkan Al-quran atau ada gembok di hati kalian&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak demikian yang sesungguhnya, melainkan perbuatan buruk kalian telah mengalahkan hati kalian&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka dia telah merampas telinga dan mata kalian&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejelek-jeleknya penakwilan adalah penakwilan kalian&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seburuk-buruknya ganti adalah kebatilan yang kalian jadikan sebagai ganti dari kebenaran&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sungguh dan sungguh demi Allah kalian akan menerima beban yang berat dan akibat yang dahsyat (di hari kiamat nanti)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika tabir telah terungkap bagi kalian&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan tampak bagi kalian sesuatu yang di belakangnya adalah kesulitan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan tampak bagi kalian, dari Tuhan kalian, sesuatu yang tidak kalian 
sangka-sangka sebelumnya, dan di sanalah orang-orang pengikut kebatilan 
merugi.[Nasir D]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Refrensi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1.  Murtadho, Sayid Alamul Huda, 436H, as-Syafi, dengan sanad dari Urwah dari Aisyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.  Ibnu Thawush, Sayid, at-Thara?if, dengan sanad dari Zuhri dari Aisyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.   Shaduq, Syaikh, dengan sanad dari Zainab bint Ali. Dia 
meriwayatkannya juga dari Ahmad bin Muhamma bin Jabir dari Zainab int 
Ali. Begitu pula dari Zaid bin Ali dari Zainab bint Ali dari Fathimah 
Zahra sa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4.  Ibnu Abil Hadid, Syarh Nahjul Balaghah, meriwayatkan dari kitab 
Saqifah karya Ahmad bin Abdul Aziz Jauhari dengan empat sanad.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5.  Arbili, Ali bin Isa, Kasyful Ghummah, meriwayatkan dari kitab Saqifah karya Jauhari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6.  Masudi, Murjud Dzahab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
7.  Thabarsi, Ihtijaj.&lt;br /&gt;
8.  Ahmad bin Abi Thahir, Balaghatun Nisa. dll&lt;br /&gt;
[1] Ibn Hanbal, Ahmad, Musnad jilid 2 hal 293. dll.&lt;br /&gt;
[2] Ibid.&lt;br /&gt;
[3] Shahih Bukhari, jilid 5 hal 21 dan 29. hadis-hadis ini diriwayatkan 
oleh Ahmad bin Hanbal, Bukhari, Ibnu Majah, Sajestani, Tirmidzi, Nasa?I,
 Abul Faraj, Nisaburi, Abu Na?im, Baihaqi, Khwarazmi, Ibnu Asakir, 
Baghawi, Ibnu Jauzi, Ibnu Atsir, Ibnu Abil Hadid, Suyuthi, Ibnu Hajar, 
Baladziri dll. Dengan berbagai ibarat yang berkandungan serupa.&lt;br /&gt;
[4] QS. Taubah 128.&lt;br /&gt;
[5] QS. Naml ayat 16.&lt;br /&gt;
[6] QS. Maryam ayat 5 dan 6.&lt;br /&gt;
[7] QS. Anfal ayat 75.&lt;br /&gt;
[8] QS. Nisa? ayat 11.&lt;br /&gt;
[9] QS. Baqarah ayat 180.&lt;br /&gt;
[10] QS. Imran 144.&lt;br /&gt;
[11] QS. Taubah 13&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;a href="http://www.alhassanain.com/indonesian/show_articles.php?articles_id=354&amp;amp;link_articles=holy_prophet_and_ahlul_bayt_library/fatime_al_zahra/khutbah_zahra" style="color: red;"&gt;alhassanain&lt;/a&gt;&lt;span style="color: red;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class="text1"&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.alhassanain.com/indonesian/show_articles.php?articles_id=354&amp;amp;link_articles=holy_prophet_and_ahlul_bayt_library/fatime_al_zahra/khutbah_zahra"&gt;alhassanain&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class="text1"&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class="text1"&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class="text1"&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total></item><item><title>Kesan dan pengaruh kepribadian Imam Ali bin Abi Thalib AS.</title><link>http://andikfn.blogspot.com/2012/04/kesan-dan-pengaruh-kepribadian-imam-ali.html</link><category>Angkasa</category><author>noreply@blogger.com (ANDIK FN)</author><pubDate>Tue, 17 Apr 2012 13:04:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6659801012355790768.post-4335069340572591233</guid><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&amp;nbsp;Kehidupan Imam Ali bin Abi Thalib AS. berbarengan dengan masa pergerakan wahyu hingga terputusnya wahyu sepeninggal Nabi. Ia memiliki posisi yang mulia di sisi Nabi. Posisi ini yang membuatnya berusaha untuk membantu dan melindungi Rasul Allah dan risalah selama dua puluh tiga tahun dengan perjuangan yang terus menerus. Pembelaannya terhadap batasan-batasan Islam yang suci. Kias balik posisi, perbuatan-perbuatan dan keutamaan yang dimilikinya dengan indah dilukiskan oleh ayat-ayat Al-Quran dan teks-teks hadis.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&amp;nbsp;Ibnu Abbas berkata, 'Ada 300 ayat yang turun berkenaan dengan Ali'. Dan setiap turun ayat yang berbunyi Yaa ayyuhal ladzina aamanuu (wahai orang-orang yang beriman) Ali bin Abi Thalib pasti disebutkan di sana karena ia adalah pemimpin dan yang termulia dari orang-orang yang beriman. Allah dalam sebagian ayat-Nya pernah memperingatkan para sahabat Nabi namun setiap kali menyebutkan tentang Ali pasti berkenaan dengan yang baik. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&amp;nbsp;Banyaknya jumlah ayat yang turun berkenaan dengan Imam Ali bin Abi Thalib AS. oleh ulama mutaqaddimin (yang terdahulu) maupun muta'akhirin (yang terakhir) dikumpulkan dalam buku-buku mereka. Sebagian dari ayat-ayat yang memiliki sangkut paut dengan Imam Ali bin Abi Thalib akan disebutkan sesuai juga dengan penjelasan para ahli hadis:&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&amp;nbsp;1. Riwayat dari Ibnu Abbas: Pernah Ali bin Abi Thalib hanya memiliki uang empat dirham. Dengan empat dirham itu ia memberikan sedekah satu dirham pada malam hari dan satu dirham lagi di siang hari. Dua dirham terakhir juga disedekahkan; satu dirham secara sembunyi-sembunyi sementara dirham terakhirnya disedekahkan secara terang-terangan. Setelah melakukan hal tersebut turun ayat yang berbunyi, 'Orang-orang yang menginfakkan hartanya di malam dan siang hari, secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan. Bagi mereka yang berbuat demikian pahalanya ada di sisi Tuhannya. Orang yang melakukan ini tidak memiliki rasa takut dan tidak pernah bersedih'. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&amp;nbsp;2. Dari Ibnu Abbas: Ali bin Abi Thalib bersedekah dengan cincinnya sementara ia dalam kondisi melakukan ruku'. Kemudian Nabi bertanya kepada pengemis, 'Siapa yang memberimu cincin ini? Ia menunjuk sambil berkata, 'Yang memberiku orang yang sedang melakukan ruku' itu'. Setelah itu turun ayat, 'Wali/pemimpin kalian hanyalah Allah dan Rasulnya dan orang-orang yang beriman, orang-orang yang menegakkan salat sembari memberikan sedekah dalam kondisi ruku'. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&amp;nbsp;3. Ayat Tathir menunjukkan bahwa Ali termasuk Ahli Bayt wahyu yang disucikan dari segala noda dan dosa. Sementara ayat Mubahalah mengatakan bahwa Ali adalah jiwa Nabi.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&amp;nbsp;4. Surat Al-Insan menjadi bukti akan keikhlasan Ali dan keluarganya dan kekhusyu'an mereka kepada Allah. Bukti dan persaksian ilahi ini menjadi penjamin bahwa mereka adalah ahli surga. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&amp;nbsp;Para tokoh ahli hadis menyiapkan bab khusus dan bagian tersendiri berkenaan dengan keutamaan Ali terkait dengan riwayat-riwayat Rasulullah saw. Sejarah panjang kemanusiaan belum pernah mengenal manusia yang lebih utama dari Ali bin Abi Thalib setelah Rasul. Tidak pernah tercatat untuk orang lain keutamaan sebagaimana yang tertulis untuk Ali bin Abi Thalib sekalipun ia banyak menuai cercaan dan makian di atas mimbar salat Jumat sepanjang kekuasaan bani Umayyah dan orang-orang yang membencinya. Mereka yang membencinya senantiasa berusaha untuk mengurangi keutamaan Ali sampai tidak lagi ditemukan apa yang dapat dilakukan. Semua usaha menemui jalan buntu. Umar bin Al-Khatthab berkata bahwa Rasulullah sempat bersabda, 'Tidak ada seorang pun yang dapat meraih keutamaan seperti keutamaan yang dimiliki Ali. Keutamaan ini selalu menunjukkan pemiliknya ke jalan hidayah dan mencegahnya dari kehancuran. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&amp;nbsp;Dikatakan kepada Ali bin Abi Thalib, 'Bagaimana bisa engkau banyak meriwayatkan hadis dari Rasulullah saw lebih dari sahabat yang lain? Ia menjawab, 'Bila aku bertanya niscaya Nabi memberi kabar kepadaku. Bila aku diam Nabi yang memulai memberitahukan kepadaku'. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&amp;nbsp;Dari Ibnu Umar, 'Pada hari penetapan persaudaran yang dilakukan Nabi kepada para sahabat, Ali bin Abi Thalib tiba dengan air mata berlinang. Rasulullah saw bersabda, 'Engkau adalah saudaraku di dunia dan di akherat'. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&amp;nbsp;Dari Abi Laila Al-Ghiffari berkata, 'Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, 'Sepeninggalku akan terjadi fitnah. Bila fitnah itu terjadi maka hendaklah kalian berpegangan dengan Ali bin Abi Thalib. Ia pertama kali orang yang beriman kepadaku. Orang pertama yang menyalamiku di hari kiamat. Ia adalah orang yang paling jujur (As-Shiddiq Al-Akbar). Ia adalah pemisah (Faruq) umat ini. Ia merupakan pemimpin (lebah jantan) kaum mukminin sementara harta adalah pemimpin kaum munafikin'. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&amp;nbsp;Seluruh khalifah mengatakan bahwa Ali adalah yang paling mengetahui dan paling tepat dalam mengadili, hakim. Lebih dari itu, mereka sepakat bahwa seandainya Ali tidak ada niscaya mereka pasti celaka. Ungkapan ini lebih dikenal dalam ucapan-ucapan Umar yang berbunyi, 'Seandainya tidak ada Ali niscaya Umar telah celaka'. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&amp;nbsp;Dari Jabir bin Abdillah Al-Anshari berkata, 'Kami tidak pernah mengenal orang-orang munafik kecuali lewat kebencian mereka terhadap Ali bin Abi Thalib'. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&amp;nbsp;Ketika Muawiyah tiba di tempat terbunuhnya Ali bin Abi Thalib AS. ia berkata, 'Pemahaman yang detil dan ilmu telah lenyap dengan meninggalnya ibnu Abi Thalib'. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&amp;nbsp;As-Sya'bi berkata, 'Keberadaan Ali bin Abi Thalib di tengah-tengah umat Islam sebagaimana keberadaan Isa bin Maryam di tengah-tengah Bani Israil. Sebagian dari pengikutnya begitu mencintainya sehingga mereka sampai pada batasan kekafiran akibat kecintaan yang berlebihan. Sementara sebagian yang lain begitu membencinya sehingga mereka sampai pada batasan kekafiran akibat kebencian yang berlebihan'. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&amp;nbsp;Ali adalah paling dermawannya manusia. Ia senantiasa berakhlak sebagaimana yang diinginkan Allah; dermawan dan tangannya senantiasa terbuka. Ia tidak pernah berkata 'tidak' seumur hidupnya untuk peminta-minta. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&amp;nbsp;Sha'sha'ah bin Shuhan berkata kepada Ali bin Abi Thalib di hari ketika ia dibaiat, 'Demi Allah! Wahai Amir Mukminin, engkau telah menghiasi khilafah sementara khilafah tidak pernah membuatmu terhiasi. Engkau telah meninggikan derajat khilafah sementara khilafah tidak pernah meninggikanmu. Kekhalifahan lebih membutuhkanmu dibanding kebutuhanmu terhadapnya.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&amp;nbsp;Dari Abi Syibrimah, 'Tidak pernah ada seorang pun yang berkata di atas mimbar 'Saluni' (tanyailah aku), selain Ali bin Abi Thalib'. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&amp;nbsp;Al-Qa'qa' bin Zurarah berdiri di sisi kuburan Ali sambil berkata, 'Semoga Allah rela denganmu. Demi Allah! Kehidupanmu selama ini adalah kunci kebaikan. Seandainya masyarakat sebelum ini menerimamu niscaya mereka akan mendapat makanan dari langit dan dari bawah kaki-kaki mereka. Sayangnya mereka menganggap remeh nikmat yang selama ini ada bersama mereka dan lebih mementingkan dunia'. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&amp;nbsp;George Jordaq seorang Masehi berkata dalam bukunya 'Al-Imam Ali bin Abi Thalib Shaut Al-'Adalah Al-Insaniyah' (Ali suara keadilan manusia), berkata, 'Ali bin Abi Thalib salah satu dari orang yang unik dan sulit ditemukan yang semisalnya. Bila engkau mengetahui hakikat mereka pasti engkau terjauhkan dari status taklid. Engkau akan memahami fokus keagungan mereka yang terwujud dalam keimanan mutlak akan kemuliaan manusia, kebenaran manusia yang kudus dalam kehidupan yang bebas dan mulia. Manusia yang semacam ini yang diinginkannya selamanya. Kejumudan, keterbelakangan dan senantiasa terhenti pada kondisi sebelumnya atau masa kini hanyalah sebuah kematian dan penunjuk pada kefanaan. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&amp;nbsp;Syibli Shcmeil berkata, 'Imam Ali bin Abi Thalib paling agungnya orang yang teragung. Pribadi satu-satunya yang tidak akan pernah ada yang menyamainya, baik di barat maupun di timur, tidak juga sebelum dan sesudahnya'. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&amp;nbsp;Ali bin Abi Thalib tetap tinggal sebagai rumusan dan kepemimpinan praktis yang tidak dapat dipisahkan. Ia senantiasa konsekuensi bersama generasi sahabat-sahabat besar dengan pengertian pertama Islam sebagai petunjuk dan pengorbanan guna memperbaiki alam dan membentengi Islam menuju ke jalan kebenaran dan keadilan. Dengan kata lain, sesuai dengan pengertian Islam sebagai revolusi yang tetap dan berkelanjutan.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&amp;nbsp;Muawiyah di sela-sela peperangannya dengan Imam Ali bin Abi Thalib menampakkan dirinya di hadapan generasi muda muslim sebagai orang yang berada di puncak kekuasaan dengan ekspansinya. Di sisi yang lain ia tidak ingin melepaskan ketamakannya atas kekayaan materi yang telah dikumpulkannya. Sikap permusuhan yang sangat dalam dan kelam ini sangat merusak dan memiliki daya hancur yang kuat. Hal ini memberikan kesempatan kepada Muawiyah untuk mengukuhkan rasa cinta keduniaan yang mengakar. Rasa ini mengoyak-ngoyak persatuan kaum muslimin. Kondisi ini memberikan sebuah lahan baru tentang hak-hak milik agama yang lebih mencakup kepada politik pemerintahan dalam menghadapi semangat risalah dan revolusi. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&amp;nbsp;Masih seputar masalah ini, profesor Hasyim Ma'ruf menulis:&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&amp;nbsp;"Imam Ali bin Abi Thalib adalah fenomena historikal yang tidak pernah dikenal oleh umat manusia dalam kehidupan mereka. Ketidaktahuan ini mulai dari kelahirannya. Tempat lahirnya merupakan tempat yang sangat fenomenal dalam sejarah. Belum pernah ada seorang pun yang pernah dilahirkan di sana (Ka'bah), tidak sebelumnya dan tidak sesudahnya. Sebagaimana ia dilahirkan di rumah Allah, saat menghadapi kematiannya oleh Allah ia dikeluarkan dari rumahnya."&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&amp;nbsp;Ditambahkan olehnya:&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&amp;nbsp;'Belum pernah terjadi dalam sejarah kemanusiaan seperti yang terjadi pada Ali bin Abi Thalib. Orang-orang yang tidak memiliki keimanan seperti para pecintanya menganggapnya sebagai pemimpin yang terdepan dan salah satu manusia terjenius yang pernah dilahirkan zaman. Orang-orang yang obyektif mencintainya, memandangnya sebagai pendamping kenabian dan kerasulan. Sementara orang-orang yang berlebih-lebihan dalam mencintainya meletakkannya pada posisi ketuhanan." &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;Judul: "Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib" &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;Penulis: Tim penyusun Majma' 'Alami li Ahli Bayt&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;Penerjemah: Saleh Lapadi&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item></channel></rss>