<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" version="2.0">

<channel>
	<title>Anugerah Adiwarta Sampoerna</title>
	
	<link>http://anugerahadiwarta.org</link>
	<description />
	<pubDate>Wed, 15 Jul 2009 03:36:56 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" href="http://feeds.feedburner.com/AnugerahAdiwartaSampoerna" type="application/rss+xml" /><feedburner:emailServiceId xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0">AnugerahAdiwartaSampoerna</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0">http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><item>
		<title>Kreatif jadi Jurnalis</title>
		<link>http://anugerahadiwarta.org/2009/07/15/kreatif-jadi-jurnalis/</link>
		<comments>http://anugerahadiwarta.org/2009/07/15/kreatif-jadi-jurnalis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Jul 2009 03:36:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanny</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tentang AAS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anugerahadiwarta.org/?p=1353</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Snezana
Menjadi jurnalis ternyata tidak hanya membutuhkan rasa ingin tahu, pantang menyerah, dan keinginan untuk memberitakan berbagai informasi kepada masyarakat luas. Ternyata, menjadi jurnalis juga membutuhkan kreatifitas dalam mencari berita! Kreatifitas di sini tentunya bukan kreatifitas dalam arti negatif, tapi kreatifitas positif dalam mencari berita. Jika narasumber ternyata sulit didekati, panggung acara sudah dipenuhi oleh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: <a href="http://www.twitter.com/snezanasb"><em>Snezana</em></a></p>
<p>Menjadi jurnalis ternyata tidak hanya membutuhkan rasa ingin tahu, pantang menyerah, dan keinginan untuk memberitakan berbagai informasi kepada masyarakat luas. Ternyata, menjadi jurnalis juga membutuhkan kreatifitas dalam mencari berita! Kreatifitas di sini tentunya bukan kreatifitas dalam arti negatif, tapi kreatifitas positif dalam mencari berita. Jika narasumber ternyata sulit didekati, panggung acara sudah dipenuhi oleh rekan jurnalis lain, maka dekatilah <em>speaker</em>!! Suara yang direkam juga cukup jelas, dan yang pasti Anda tidak perlu berdesakan dengan puluhan rekan jurnalis lain.</p>
<p><a href="http://anugerahadiwarta.org/wp-content/uploads/2009/07/picture-13.png"><img class="aligncenter size-full wp-image-1355" title="picture-13" src="http://anugerahadiwarta.org/wp-content/uploads/2009/07/picture-13.png" alt="picture-13" width="490" height="329" /></a></p>
<p><em>Bagaimana dengan Anda, apakah Anda mau berbagi cerita kreatif Anda dalam mencari berita, rekan pers?</em></p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://anugerahadiwarta.org/2009/07/15/kreatif-jadi-jurnalis/" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anugerahadiwarta.org/2009/07/15/kreatif-jadi-jurnalis/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pesta Demokrasi dan Demokrasi Pers</title>
		<link>http://anugerahadiwarta.org/2009/07/09/pesta-demokrasi-dan-demokrasi-pers/</link>
		<comments>http://anugerahadiwarta.org/2009/07/09/pesta-demokrasi-dan-demokrasi-pers/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Jul 2009 09:30:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanny</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tentang AAS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anugerahadiwarta.org/?p=1343</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Snezana
Pasal kekerasan terhadap pekerja pers bukanlah hal baru. Tetapi alangkah ironisnya ketika Indonesia sedang merayakan Pesta Demokrasi tanggal 8 Juli 2009, salah satu pemberitaan yang mewarnai surat kabar hari itu adalah adanya teror terhadap wartawan di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kornelis Rahalaka, direktur dan wartawan di majalan bulanan Diaspora yang berkedudukan di Labuan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Oleh: <a href="http://laquesta.wordpress.com/">Snezana</a></em></p>
<p>Pasal kekerasan terhadap pekerja pers bukanlah hal baru. Tetapi alangkah ironisnya ketika Indonesia sedang merayakan Pesta Demokrasi tanggal 8 Juli 2009, salah satu pemberitaan yang mewarnai surat kabar hari itu adalah adanya<a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/07/08/04202979/kelompok.preman.teror.wartawan.di.manggarai.barat"> teror terhadap wartawan</a> di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).</p>
<p>Kornelis Rahalaka, direktur dan wartawan di majalan bulanan Diaspora yang berkedudukan di Labuan Bajo, Manggarai Barat, hari Selasa 7 Juli kemarin melaporkan adanya kasus teror terhadapnya kepada Polres Manggarai Barat.</p>
<p>Bentuk teror yang diterimanya antara lain SMS ancaman dan datangnya belasan preman ke rumahnya sambil menggedor-gedor, melempari atap dengan batu dan berteriak-teriak. Teror ini diterimanya berkaitan dengan pemberitaannya mengenai pemberian izin penambangan di Batugosok, NTT.</p>
<p>Sebelum teror terhadap Rahalaka, sudah beberapa kali terjadi kasus teror dan kekerasan terhadap jurnalis, antara lain kasus <a href="http://nasional.vivanews.com/news/read/70508-kasus_kekerasan_pers_terus_menuai_kecaman">Julia</a> (Juni 2009), <a href="http://jurnalis-ntt.blogspot.com/2008/02/wartawan-pos-kupang-dianiaya-preman.html">Obby</a> (Februari 2008), <a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/jakarta/2005/05/30/brk,20050530-61742,id.html">Agus dan Heri</a> (Mei 2005), dan yang paling menggemparkan, <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Fuad_Muhammad_Syafruddin">Udin </a>(Agustus 1996).</p>
<p><a href="http://anugerahadiwarta.org/wp-content/uploads/2009/07/70661_demo_wartawan_di_sejumlah_daerah_tolak_kekerasan_thumb_300_225.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1344" title="70661_demo_wartawan_di_sejumlah_daerah_tolak_kekerasan_thumb_300_225" src="http://anugerahadiwarta.org/wp-content/uploads/2009/07/70661_demo_wartawan_di_sejumlah_daerah_tolak_kekerasan_thumb_300_225.jpg" alt="70661_demo_wartawan_di_sejumlah_daerah_tolak_kekerasan_thumb_300_225" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Kasus-kasus tersebut menunjukkan dua hal: (1) kesulitan pers untuk memposisikan diri sebagai penyambung lidah rakyat dan sebagai pengontrol kekuasaan, serta ketidaksiapan pemerintah, institusi, perusahaan, dan (2) kesiapan masyarakat sendiri menghadapi nuansa demokrasi pers yang relatif baru ini.</p>
<p>Ketika pers diminta untuk lebih kritis dalam mengulas dan membicarakan suatu isu, ternyata masih ada pihak-pihak yang tidak siap dan tidak dapat menerima sikap kritis pers.</p>
<p>Tentunya terkadang ada perbedaan pendapat antara pihak pers dengan para pembaca/pendengar/pemirsanya. Kalau pun hal ini terjadi, hal ini sebenarnya telah diatur oleh <a href="www.sukabumikota.go.id/hukum/uu40-99.pdf">UU Pers</a> yang menyatakan bahwa jika ada pihak yang keberatan dengan pemberitaan media, maka pihak tersebut dapat menggunakan <a href="http://asmono28.wordpress.com/2008/04/17/pedoman-hak-jawab/">hak jawab</a>.</p>
<p><a href="http://www.dewanpers.org/">Dewan Pers</a> juga terus <a href="http://beritasore.com/2007/05/23/stop-kekerasan-terhadap-pers-gunakan-hak-jawab/">menghimbau</a> agar masyarakat yang merasa dirugikan dengan pemberitaan media untuk menggunakan hak jawabnya.</p>
<p>Selain menggunakan hak jawab, yang diikuti dengan kewajiban media massa untuk memuatnya, masyarakat juga dapat melaporkan hal tersebut ke pihak berwajib seperti kepolisian atau ke <a href="http://www.dewanpers.org/dpers.php?x=mpeng&amp;y=list">Dewan Pers langsung</a>.</p>
<p>Jika hal tersebut benar-benar dipraktekkan oleh masyarakat, diiringi dengan semakin matangnya media massa dalam menyajikan berita, maka kasus teror dan kekerasan terhadap pers akan dapat diminimalisir. Dengan demikian, pers dapat menjalankan tugasnya dengan lebih baik, dan pesta demokrasi akan dapat berjalan bersama dengan demokrasi pers.</p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://anugerahadiwarta.org/2009/07/09/pesta-demokrasi-dan-demokrasi-pers/" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anugerahadiwarta.org/2009/07/09/pesta-demokrasi-dan-demokrasi-pers/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Media dongkrak antusiasme masyarakat terhadap Pemilu 2009</title>
		<link>http://anugerahadiwarta.org/2009/07/07/media-dongkrak-antusiasme-masyarakat-terhadap-pemilu-2009/</link>
		<comments>http://anugerahadiwarta.org/2009/07/07/media-dongkrak-antusiasme-masyarakat-terhadap-pemilu-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Jul 2009 08:26:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanny</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Diskusi Soal Media]]></category>

		<category><![CDATA[Effendi Ghazali]]></category>

		<category><![CDATA[golput]]></category>

		<category><![CDATA[Ibnu Hamad]]></category>

		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[media]]></category>

		<category><![CDATA[Pemilu 2009]]></category>

		<category><![CDATA[smear campaign]]></category>

		<category><![CDATA[Veven SP Wardhana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anugerahadiwarta.org/?p=1305</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Snezana 
&#8220;During a campaign the air is full of speeches — and vice versa.&#8221;
Demikian bunyi sebuah kutipan yang tampaknya dapat menggambarkan pendapat kebanyakan masyarakat berkenaan dengan pelaksanaan Pemilu 2009. Selama masa kampanye, udara dipenuhi oleh berbagai pidato — dan sebaliknya, pidato tersebut kerap dianggap penuh dengan udara kosong.
Namun demikian, menjelang Pemilihan Umum Presiden dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: <a href="http://twitter.com/snezanasb"><em>Snezana </em></a></p>
<p>&#8220;<em>During a campaign the air is full of speeches — and vice versa.</em>&#8221;</p>
<p>Demikian bunyi sebuah kutipan yang tampaknya dapat menggambarkan pendapat kebanyakan masyarakat berkenaan dengan pelaksanaan <a href="http://www.kpu.go.id/">Pemilu 2009</a>. Selama masa kampanye, udara dipenuhi oleh berbagai pidato — dan sebaliknya, pidato tersebut kerap dianggap penuh dengan udara kosong.</p>
<p>Namun demikian, menjelang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden   (Pilpres) 2009 ini, pandangan ini cenderung bergeser. Walaupun sebagian masyarakat masih merasa kurang puas dengan jalannya Pemilu Legislatif (Pileg) serta kampanye Pilpres, namun Pilpres kali ini mendapat tanggapan yang cukup positif dan lebih memberikan harapan. Selain itu,  kelihatannya <a href="http://www.indobarometer.com/publish/survei/351-pengetahuan-dan-harapan-masyarakat-terhadap-pemilu-2009.html">antusiasme masyarakat meningkat </a>pada Pilpres kali ini sehingga <a href="http://www.republika.co.id/berita/60394/Golput_Diprediksi_Turun_pada_Pilpres_2009">jumlah Golput bisa ditekan</a> hingga lebih rendah ketimbang <a href="http://www.mediaindonesia.com/read/2009/05/05/73832/3/1/Golput-Mencapai-4031-Persen-Pemilih">jumlah golput pada Pileg 2009</a> yang mencapai 40%.</p>
<p><a href="http://anugerahadiwarta.org/wp-content/uploads/2009/07/pemilu.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1330" title="pemilu" src="http://anugerahadiwarta.org/wp-content/uploads/2009/07/pemilu.jpg" alt="pemilu" width="456" height="267" /></a></p>
<p>Meningkatnya antusiasme masyarakat pada Pilpres ini tidak terlepas dari peran media massa selama masa kampanye dan pemilihan, baik legislatif maupun presiden-wakil presiden. Liputan media massa membantu memberikan informasi pada masyarakat, terutama pada Pilpres, melalui, misalnya, publikasi visi dan misi serta siaran langsung debat capres dan cawapres.</p>
<p>Menurut pengamat televisi dan budaya, <a href="http://www.gramedia.com/author_detail.asp?id=EFJJ2327">Veven SP Wardhana</a>, <a href="http://www.beritajatim.com/detailnews.php/2/Gaya_Hidup/2009-04-09/31845/Liputan_Pemilu_Media_Tahun_Ini_Lebih_Baik">liputan media atas Pemilu 2009</a> ini pun lebih baik dibandingkan dengan liputan pada pemilu sebelumnya. Media massa menurutnya sudah cukup objektif dan tidak berpihak dalam pemberitaannya.</p>
<p>Namun demikian, <a href="http://www.thejakartapost.com/news/2009/07/06/media-still-lacks-subtlety-show-partiality039.html">peran media saat ini</a> dinilai masih kurang optimal oleh Effendi Ghazali. Dalam ulasannya di The Jakarta Post, Effendi mengatakan bahwa <a href="http://www.thejakartapost.com/news/2009/07/06/media-still-lacks-subtlety-show-partiality039.html">media massa saat ini masih cenderung berpihak</a> pada salah satu pasang kandidat, dan masih mendukung praktek <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Smear_campaign">smear campaign</a></em>.</p>
<p>Praktek ini menurutnya memang cukup lazim terjadi di banyak negara, namun pemberitaan media yang menjadikan isu etnik dan agama berkaitan dengan Pilpres dapat memicu timbulnya suatu masalah, misalnya <a href="http://berita.liputan6.com/politik/200906/234817/Selebaran.Soal.Istri.Boediono.Berbuntut.Panjang">masalah agama dari istri</a> salah satu kandidat.</p>
<p>New York Times bahkan ikut meliput fenomena ini pada salah satu <a href="http://www.nytimes.com/2009/07/03/world/asia/03jilbab.html">artikel</a>nya baru-baru ini. Salah seorang ahli komunikasi lain, Ibnu Hamad, juga menyatakan pada diskusi <a href="http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/07/02/11441879/pilpres.2009.dipenuhi.distorsi.informasi">Distorsi Informasi Menjelang Pemilu</a> (2/7) bahwa menjelang Pilpres ini terdapat banyak distorsi informasi. Distorsi ini terjadi pada sosialisasi tata cara memilih, dan juga kampanye negatif serta kampanye hitam oleh pasangan calon.</p>
<p><a href="http://anugerahadiwarta.org/wp-content/uploads/2009/07/1245398032debat-capres.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1311" title="1245398032debat-capres" src="http://anugerahadiwarta.org/wp-content/uploads/2009/07/1245398032debat-capres.jpg" alt="1245398032debat-capres" width="450" height="339" /></a></p>
<p>Peran media massa yang sudah membaik pada Pemilu 2009 ini tentunya menjadi pemicu semakin meningkatnya kualitas pers dan media, walaupun tetap diakui bahwa pers Indonesia masih harus banyak belajar. Effendi, misalnya,  mengemukakan pers Indonesia dapat belajar dari pers Amerika Serikat yang memihak tidak pada kandidat sebagai seorang sosok, melainkan pada kebijakan atau visi dan misi kandidat.</p>
<p>Sementara Ibnu menyatakan bahwa distorsi informasi yang dilakukan oleh pasangan capres-cawapres tidak mendidik pemilih untuk berpikir rasional. Untuk itu, pasangan calon sebaiknya tidak melakukan kampanye hitam atau kampanye kotor (smear campaign).</p>
<p>Ranah media massa memang adalah ranah yang cukup rumit. Di satu pihak media massa diharapkan untuk menjadi <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Fourth_Estate"><em>the fourth estate</em></a> dan berani bersikap kritis terhadap kebijakan pemerintah atau kondisi yang ada, tetapi, di lain pihak, sikap kritis tersebut <a href="http://www.thejakartapost.com/news/2009/07/06/ago-criticizes-media-attacks-prosecutors.html">dianggap berlebihan</a> dan dapat menguntungkan salah satu pihak tertentu.</p>
<p>Mungkin saja nuansa netralitas dan objektifitas media massa sulit untuk bisa dicapai secara sempurna, terutama dalam masa menjelang Pemilu saat ini. Atau apakah sebenarnya netralitas dan objektifitas media tersebut memang tidak akan pernah tercapai? Bagaimana menurut Anda, rekan pers?</p>
<p>Selamat mencontreng kandidat presiden Anda besok tanggal 8 Juli 2009 !</p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://anugerahadiwarta.org/2009/07/07/media-dongkrak-antusiasme-masyarakat-terhadap-pemilu-2009/" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anugerahadiwarta.org/2009/07/07/media-dongkrak-antusiasme-masyarakat-terhadap-pemilu-2009/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Jurnalis &amp; Twitter: Pribadi Atau Profesional?</title>
		<link>http://anugerahadiwarta.org/2009/07/03/jurnalis-twitter-pribadi-atau-profesional/</link>
		<comments>http://anugerahadiwarta.org/2009/07/03/jurnalis-twitter-pribadi-atau-profesional/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Jul 2009 09:18:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanny</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Diskusi Soal Media]]></category>

		<category><![CDATA[iran election]]></category>

		<category><![CDATA[julie posetti]]></category>

		<category><![CDATA[jurnalism]]></category>

		<category><![CDATA[media practice]]></category>

		<category><![CDATA[media shift]]></category>

		<category><![CDATA[mumbai]]></category>

		<category><![CDATA[politic]]></category>

		<category><![CDATA[social media]]></category>

		<category><![CDATA[terrorism]]></category>

		<category><![CDATA[twitter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anugerahadiwarta.org/?p=1301</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Waraney
Rekan wartawan, apakah Anda punya account di Twitter? Kalau punya, apakah Anda menggunakannya hanya untuk kepentingan pribadi, atau juga untuk membantu pekerjaan Anda sebagai wartawan?
Serangan teroris di Mumbai, India, dan demonstrasi-demonstrasi yang dipicu dugaan kecurangan pemilihan umum di Iran hanyalah sedikit dari sekian banyak contoh kasus yang menunjukkan bahwa ada saat-saat tertentu dimana social [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><em>Oleh: <a href="http://twitter.com/waraney">Waraney</a></em></p>
<p style="text-align: justify;">Rekan wartawan, apakah Anda punya <em>account</em> di <a href="http://twitter.com/"><em>Twitter</em></a>? Kalau punya, apakah Anda menggunakannya hanya untuk kepentingan pribadi, atau juga untuk membantu pekerjaan Anda sebagai wartawan?</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.forbes.com/2008/11/28/mumbai-twitter-sms-tech-internet-cx_bc_kn_1128mumbai.html">Serangan</a> <a href="http://edition.cnn.com/2008/WORLD/asiapcf/11/27/mumbai.twitter/index.html">teroris di Mumbai, India</a>, dan demonstrasi-demonstrasi yang dipicu dugaan kecurangan pemilihan umum di <a href="http://mashable.com/2009/06/14/new-media-iran/">Iran</a> hanyalah sedikit dari sekian banyak contoh kasus yang menunjukkan bahwa ada saat-saat tertentu dimana <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Social_media"><em>social media</em></a> dapat <a href="http://digg.com/world_news/Mumbai_Twitter_s_Moment">mengisi kekosongan</a> yang ditinggalkan oleh media-media konvensional.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam krisis politik di Iran, dengan semakin ketatnya kontrol pemerintah terhadap akses informasi dari dalam dan keluar negeri, serta semakin terbatasnya gerak-gerik wartawan dalam dan luar negeri, satu-satunya sumber dan saluran informasi bagi publik dan media massa adalah <em>social media</em>.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://twitter.com/"><img class="aligncenter size-full wp-image-1302" title="Twitter homepage" src="http://anugerahadiwarta.org/wp-content/uploads/2009/07/picture-2.png" alt="Twitter homepage" width="472" height="316" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Peran Twitter, yang dulu hanya dianggap sebagai satu dari sekian banyak <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Microblogging">microblogging</a> tools</em>, telah <a href="http://www.pbs.org/mediashift/2009/06/how-will-iranian-protests-change-twitter177.html">semakin berkembang</a> menjadi <a href="http://www.nytimes.com/2009/06/21/weekinreview/21cohenweb.html?_r=1&amp;ref=middleeast">alat komunikasi</a> yang terbukti <a href="http://www.nytimes.com/2009/06/16/world/middleeast/16media.html?fta=y">mampu menerobos sensor pemerintah</a>. Pihak oposisi di Iran yang berusaha memberitahu dunia luar atas peristiwa-peristiwa terbaru di negaranya banyak yang menggunakan Twitter.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan semakin besarnya peran <em>social media</em> dalam kehidupan masyarakat modern saat ini, bagaimana reaksi organisasi-organisasi media, baik yang besar maupun yang kecil terhadap fenomena ini?</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://twitter.com/julie_posetti">Julie Posetti</a> dalam <a href="http://www.pbs.org/mediashift/"><em>Media Shift</em></a> <a href="http://www.pbs.org/mediashift/2009/06/rules-of-engagement-for-journalists-on-twitter170.html">membahas fenomena ini dengan mendalam</a>. Wawancara yang dilakukannya dengan wartawan-wartawan dari media-media massa di Australia dan negara-negara lain dapat memberikan masukan tentang bagaimana media massa dapat menyikapi <em>social media</em>.</p>
<blockquote style="text-align: justify;"><p>Some media outlets are making tweeting almost compulsory for their journalists but others are much more cautious, or even ban journalists from tweeting on the job. The Wall Street Journal, The New York Times, Bloomberg, and AP (among others) have all introduced policies covering social media, partly in response to problems resulting from the unique mix of personal and professional information in the zone. Some of these policies have been criticized for missing the point of social media - humanized interaction - and too rigidly regulating journalists&#8217; tweeting.</p>
<p>But in Australia, journo -tweeting is largely unregulated by media outlets. None of the 25 Australian journalists I interviewed for this study (from Fairfax, News Ltd, ABC, ACP, Sky News and a range of smaller outlets) was aware of such a policy in their workspace. According to some of the interviewees, management ignorance could account for the absence of such policies. When asked why he thought his Australian employer didn&#8217;t have a policy like the WSJ, one journalist responded, &#8220;They just don&#8217;t get it.&#8221;</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.j-scribe.com/">Posetti</a> juga memberikan <a href="http://www.j-scribe.com/2009/06/top-20-tips-for-journo-twits.html">20 tips</a> bagi wartawan yang ingin menggunakan Twitter.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana dengan media massa di Indonesia? Apakah ada rekan-rekan wartawan yang bisa berbagi pengalaman tentang penggunaan <em>social media</em> dalam menjalankan tugasnya?</p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://anugerahadiwarta.org/2009/07/03/jurnalis-twitter-pribadi-atau-profesional/" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anugerahadiwarta.org/2009/07/03/jurnalis-twitter-pribadi-atau-profesional/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ulang Tahun Kompas ke-44 dan Masyarakat Yang Terus Berubah</title>
		<link>http://anugerahadiwarta.org/2009/06/30/ulang-tahun-kompas-ke-44-dan-masyarakat-yang-terus-berubah/</link>
		<comments>http://anugerahadiwarta.org/2009/06/30/ulang-tahun-kompas-ke-44-dan-masyarakat-yang-terus-berubah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Jun 2009 01:59:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dody</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Diskusi Soal Media]]></category>

		<category><![CDATA[industri media]]></category>

		<category><![CDATA[jakob oetama]]></category>

		<category><![CDATA[kompas]]></category>

		<category><![CDATA[media cetak]]></category>

		<category><![CDATA[tajuk rencana]]></category>

		<category><![CDATA[ulang tahun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anugerahadiwarta.org/?p=1294</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Waraney
Hari Minggu (28/6) lalu, Jakob Oetama menulis tajuk rencana &#8220;Refleksi 44 Tahun Harian Kompas&#8221; untuk menyambut hari ulang tahun ke-44 surat kabar yang dipimpinnya itu. Dalam tulisannya, Oetama membahas perubahan-perubahan yang saat ini sedang terjadi dalam kehidupan pembacanya, yang pada akhirnya juga mempengaruhi media massa. Menurutnya, &#8220;Perubahan yang berlaku dalam media dewasa ini amat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><em>Oleh: <a href="http://duniahitam.wordpress.com/">Waraney</a></em></p>
<p style="text-align: justify;">Hari Minggu (28/6) lalu, <a href="http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/j/jakob-oetama/index.shtml">Jakob Oetama</a> menulis <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/06/28/04113147/refleksi.44.tahun.harian.kompas">tajuk rencana</a> &#8220;Refleksi 44 Tahun Harian Kompas&#8221; untuk menyambut hari ulang tahun ke-44 <a href="http://kompas.com/">surat kabar</a> yang dipimpinnya itu. Dalam tulisannya, Oetama membahas perubahan-perubahan yang saat ini sedang terjadi dalam kehidupan pembacanya, yang pada akhirnya juga mempengaruhi media massa. Menurutnya, &#8220;Perubahan yang berlaku dalam media dewasa ini amat mendasar, komprehensif, dan menantang. Perubahan itu bukan saja menyentuh peran media, tetapi juga menggugat eksistensi berbagai media itu sendiri.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Oetama menyadari bahwa perubahan tersebut antara lain berwujud dengan kemunculan dan meningkatnya peran media elektronik, dan ia mempertanyakan apakah hal ini bukan hanya akan mengakibatkan turun-naiknya perkembangan media cetak, tapi juga akan menggugat dan mengakibatkan berakhirnya media cetak. Ia bertanya, &#8220;&#8230;apakah mungkin orang tidak lagi memerlukan membaca karena kebutuhannya cukup dipenuhi dengan nonton. Lebih lunak posisi pertanyaan, apakah orang tetap membaca, tetapi lewat media elektronik belaka?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://anugerahadiwarta.org/wp-content/uploads/2009/06/picture-6.png"><img class="size-full wp-image-1296 alignleft" title="Kompas 44 Tahun" src="http://anugerahadiwarta.org/wp-content/uploads/2009/06/picture-6.png" alt="Kompas 44 Tahun" width="298" height="197" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Perubahan-perubahan yang terjadi di masyarakat kita, juga di dunia secara umumnya, sudah sering dibahas dimana-mana. Blog ini sebelumnya juga sudah pernah <a href="http://anugerahadiwarta.org/2009/05/19/waktunya-serius-menggarap-pasar-online/#more-836">membahas</a> tentang kesulitan-kesulitan yang saat ini sedang dihadapi oleh industri media massa, terutama di Amerika Serikat, akibat gempuran krisis ekonomi global serta perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat pembacanya. Menurunnya jumlah pelanggan, anjloknya pemasukan iklan, serta meningkatnya kecenderungan pembaca untuk mengkonsumsi berita melalui internet, hanya sebagian dari sekian banyak faktor-faktor penggempur industri media massa.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Dalam <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/06/28/0410419/pelajaran.di.tengah.prahara">artikel</a> yang dimuat di edisi yang sama, <em>Kompas</em> mengutip data dari Newspaper Association of America bahwa pada tahun 2008 terjadi kenaikan jumlah pengunjung surat kabar online. Pada tahun 2007 jumlah pengunjung 60 juta dan tahun 2008 meningkat mejadi 67,3 juta. Situs surat kabar nama besar yang paling banyak di akses antara lain adalah The New York Times, USA Today, dan The Washington Post.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada perubahan yang sedang terjadi di sini dan di luar sana. Saat ini, perubahan tersebut membawa akibat-akibat yang tak menyenangkan, seperti PHK, penghentian penerbitan, sampai menghentikan edisi cetak dan pindah ke <em>online</em>. Di Indonesia kita belum sampai melihat (dan mengalami) langkah-langkah drastis untuk menyelamatkan industri media massa. akibat perubahan-perubahan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak ada gunanya menyangkal dan menolak perubahan. Yang bisa kita lakukan adalah mempersiapkan diri sebaik-baiknya, antara lain mengambil langkah-langkah inovatif seperti yang sudah <em>Kompas</em> dengan <a href="http://anugerahadiwarta.org/2009/06/08/menyiasati-perkembangan-media-online-dengan-kompasphone/#more-963">KompasPhone</a>-nya. Kalau media cetak sebesar Kompas bisa gesit bergerak menghadapi perubahan, apalagi media-media yang &#8216;lebih kecil&#8217; lainnya? Kalau tokoh senior media massa seperti Jakob Oetama tak ragu beradaptasi, apalagi kita-kita yang masih muda?</p>
<p style="text-align: justify;">Selamat ulang tahun, <em>Kompas</em>!</p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://anugerahadiwarta.org/2009/06/30/ulang-tahun-kompas-ke-44-dan-masyarakat-yang-terus-berubah/" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anugerahadiwarta.org/2009/06/30/ulang-tahun-kompas-ke-44-dan-masyarakat-yang-terus-berubah/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Berkualitas Belum Tentu Meraih Popularitas</title>
		<link>http://anugerahadiwarta.org/2009/06/24/berkualitas-belum-tentu-meraih-popularitas/</link>
		<comments>http://anugerahadiwarta.org/2009/06/24/berkualitas-belum-tentu-meraih-popularitas/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Jun 2009 09:04:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanny</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Diskusi Soal Media]]></category>

		<category><![CDATA[agus sudibyo]]></category>

		<category><![CDATA[berita]]></category>

		<category><![CDATA[hiburan]]></category>

		<category><![CDATA[ikatan jurnalis televisi indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[komunitas pemerhati televisi]]></category>

		<category><![CDATA[koran tempo]]></category>

		<category><![CDATA[rating publik]]></category>

		<category><![CDATA[survei]]></category>

		<category><![CDATA[talk show]]></category>

		<category><![CDATA[the jakarta post]]></category>

		<category><![CDATA[yayasan set]]></category>

		<category><![CDATA[yayasan tifa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anugerahadiwarta.org/?p=1284</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Dody
Berkualitas belum tentu meraih popularitas. Inilah salah satu kesimpulan yang bisa ditarik dari hasil rating publik IV yang diselenggarakan Yayasan Sains dan Estetika (SET), Yayasan TIFA, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia, dan Komunitas Pemerhati Televisi. Survei ini melibatkan 212 responden dan berlangsung selama April-Mei 2009 di 11 kota di Indonesia.


Dalam sebuah artikel di Koran Tempo, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><em>Oleh: <a href="http://twitter.com/dody_rochadi">Dody</a></em></p>
<p style="text-align: justify;">Berkualitas belum tentu meraih popularitas. Inilah salah satu kesimpulan yang bisa ditarik dari hasil rating publik IV yang diselenggarakan Yayasan Sains dan Estetika (SET), <a href="http://www.tifafoundation.org/">Yayasan TIFA</a>, <a href="http://ijti.net/">Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia</a>, dan Komunitas Pemerhati Televisi. Survei ini melibatkan 212 responden dan berlangsung selama April-Mei 2009 di 11 kota di Indonesia.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://anugerahadiwarta.org/wp-content/uploads/2009/06/645px-family_watching_tv_in_the_1950s.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1289" title="645px-family_watching_tv_in_the_1950s" src="http://anugerahadiwarta.org/wp-content/uploads/2009/06/645px-family_watching_tv_in_the_1950s.jpg" alt="645px-family_watching_tv_in_the_1950s" width="387" height="360" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Dalam sebuah <a href="http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/06/24/Nasional/krn.20090624.169061.id.html">artikel</a> di <a href="http://www.korantempo.com/korantempo/koran/"><em>Koran Tempo</em></a>, Deputi Direktur Yayasan Sains dan Estetika (SET) <a href="http://agussudibyo.wordpress.com/">Agus Sudibyo</a> menyatakan bahwa responden menganggap program talk show dan program berita reguler di setiap stasiun televisi sebagai program yang paling berkualitas. Sayangnya, mereka tetap lebih memilih menonton tayangan hiburan seperti film, sinema elektronik, lawak, dan komedi. Padahal mereka menyadari bahwa tayangan hiburan tersebut berkualitas rendah. Lebih jelasnya seperti yang <a href="http://www.thejakartapost.com/news/2009/06/24/the-best-programs-tv-don039t-watch-them.html">diungkapkan</a> Agus kepada <a href="http://www.thejakartapost.com/"><em>The Jakarta Post</em></a>:</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.thejakartapost.com/news/2009/06/24/the-best-programs-tv-don039t-watch-them.html"><img class="aligncenter size-full wp-image-1285" title="The Jakarta Post - The best programs on TV? Don't watch them" src="http://anugerahadiwarta.org/wp-content/uploads/2009/06/picture-92.png" alt="The Jakarta Post - The best programs on TV? Don't watch them" width="483" height="146" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Hasil survei ini menurut saya tidak terlalu mengejutkan. Seperti halnya film-film pemenang Academy Awards atau peraih Piala Citra yang belum tentu laku di pasaran, nasib yang sama agaknya memang berlaku terhadap program televisi. Yang belum terungkap dari hasil rating publik tersebut, paling tidak dari liputan-liputan di media, adalah alasan apa yang mendorong para responden untuk lebih memilih acara hiburan yang berkualitas buruk dibandingkan acara berita berkualitas. Apakah karena mereka sudah jenuh dengan topik-topik yang diangkat oleh program-program berita tersebut, karena kemasan acara yang terlalu berat, atau karena memang mereka pada dasarnya lebih suka acara-acara hiburan?</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana menurut rekan-rekan?</p>
<p style="text-align: justify;">
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://anugerahadiwarta.org/2009/06/24/berkualitas-belum-tentu-meraih-popularitas/" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anugerahadiwarta.org/2009/06/24/berkualitas-belum-tentu-meraih-popularitas/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Reputasi Media &amp; Narasumber Yang Jelas: The Wall Street Journal &amp; Steve Jobs</title>
		<link>http://anugerahadiwarta.org/2009/06/22/reputasi-media-narasumber-yang-jelas-the-wall-street-journal-steve-jobs/</link>
		<comments>http://anugerahadiwarta.org/2009/06/22/reputasi-media-narasumber-yang-jelas-the-wall-street-journal-steve-jobs/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Jun 2009 10:41:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanny</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Diskusi Soal Media]]></category>

		<category><![CDATA[apple]]></category>

		<category><![CDATA[daring fireball]]></category>

		<category><![CDATA[joann s lublin]]></category>

		<category><![CDATA[john gruber]]></category>

		<category><![CDATA[narasumber]]></category>

		<category><![CDATA[steve jobs]]></category>

		<category><![CDATA[tennesse]]></category>

		<category><![CDATA[the wall street journal]]></category>

		<category><![CDATA[yukari iwatani kane]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anugerahadiwarta.org/?p=1177</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Dody
Nama besar dan reputasi yang terhormat kadang tidak cukup untuk memastikan terpenuhinya standar-standar jurnalistik. Upaya mempertahankan, dan bahkan meningkatkan standar jurnalistik ini harus dilakukan secara rutin dan terus-menerus, karena tanpa kontrol yang ketat dari dalam maupun luar industri media, kualitas karya jurnalistik dapat menurun. Misalnya yang terjadi pada surat kabar The Wall Street Journal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><em>Oleh: <a href="http://twitter.com/dody_rochadi">Dody</a></em></p>
<p style="text-align: justify;">Nama besar dan reputasi yang terhormat kadang tidak cukup untuk memastikan terpenuhinya standar-standar jurnalistik. Upaya mempertahankan, dan bahkan meningkatkan standar jurnalistik ini harus dilakukan secara rutin dan terus-menerus, karena tanpa kontrol yang ketat dari dalam maupun luar industri media, kualitas karya jurnalistik dapat menurun. Misalnya yang terjadi pada surat kabar <a href="http://asia.wsj.com/home-page"><em>The Wall Street Journal</em></a> (WSJ). Surat kabar tersebut baru-baru ini menurunkan artikel <a href="http://online.wsj.com/article/SB124546193182433491.html">&#8220;Jobs Had Liver Transplant&#8221; </a>oleh Yukari Iwatani Kane dan Joann S. Lublin yang menyatakan bahwa <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Steve_Jobs">Steve Jobs</a>, CEO <a href="http://www.apple.com/">Apple</a> yang sejak Januari 2009 lalu mengambil cuti sakit, telah menjalani operasi pencangkokan hati di Tennesse dua bulan lalu.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Steve_Jobs"><img class="aligncenter size-full wp-image-1184" title="steve jobs" src="http://anugerahadiwarta.org/wp-content/uploads/2009/06/picture-11.png" alt="steve jobs" width="224" height="326" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Dalam artikel ini WSJ agaknya &#8216;kepeleset&#8217;, karena melupakan salah satu faktor penting dalam penulisan berita, yaitu kejelasan narasumber. Masalah ini <a href="http://daringfireball.net/2009/06/wsj_steve_jobs_liver_transplant">diungkapkan, dibahas dan dianalisa</a> oleh John Gruber dalam blognya, <a href="http://daringfireball.net/"><em>Daring Fireball</em></a>. Menurut Gruber, artikel tersebut ternyata sama sekali tidak mencantumkan sumber berita, atau narasumber, yang jelas. Darimana informasi bahwa Jobs telah menjalani operasi, sama sekali tidak diperlihatkan. Seolah-olah kredibilitas artikel tersebut sepenuhnya disandarkan pada reputasi WSJ.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://daringfireball.net/2009/06/wsj_steve_jobs_liver_transplant"><img class="aligncenter size-full wp-image-1181" title="john gruber - daring fireball" src="http://anugerahadiwarta.org/wp-content/uploads/2009/06/picture-91.png" alt="john gruber - daring fireball" width="464" height="217" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Kasus ini menarik, karena menunjukkan bahwa bahkan media yang besar dan punya reputasi terhormat pun tak lepas dari fluktuasi standar jurnalistik. Gruber sendiri dalam <em>posting</em>-nya memilih sikap berhati-hati dan menyatakan bahwa untuk saat ini ia terpaksa percaya bahwa Jobs memang benar-benar telah menjalani operasi, seperti yang disebutkan oleh WSJ, karena sulit dipercaya bahwa WSJ mau mempertaruhkan reputasinya dengan menurunkan berita yang &#8216;tak jelas&#8217; narasumbernya tanpa ada alasan tertentu.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana pendapat rekan-rekan?</p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://anugerahadiwarta.org/2009/06/22/reputasi-media-narasumber-yang-jelas-the-wall-street-journal-steve-jobs/" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anugerahadiwarta.org/2009/06/22/reputasi-media-narasumber-yang-jelas-the-wall-street-journal-steve-jobs/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Newsha Tavakolian dan Sisi Lain Pemilu Iran</title>
		<link>http://anugerahadiwarta.org/2009/06/18/newsha-tavakolian-dan-sisi-lain-pemilu-iran/</link>
		<comments>http://anugerahadiwarta.org/2009/06/18/newsha-tavakolian-dan-sisi-lain-pemilu-iran/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Jun 2009 08:53:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanny</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Jurnalis]]></category>

		<category><![CDATA[fotografer]]></category>

		<category><![CDATA[iran]]></category>

		<category><![CDATA[kebebasan pers]]></category>

		<category><![CDATA[lens]]></category>

		<category><![CDATA[newsha tavakolian]]></category>

		<category><![CDATA[on assignment]]></category>

		<category><![CDATA[pemilu iran]]></category>

		<category><![CDATA[pewarta foto]]></category>

		<category><![CDATA[the new york times]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anugerahadiwarta.org/?p=1165</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Dody
Pemilihan umum di Iran yang dimenangkan Presiden Mahmoud Ahmadinejad mengundang gelombang protes dan demonstrasi. Pemerintah Iran pun bereaksi, antara lain dengan mengencangkan kontrol terhadap informasi yang keluar dari negara itu ke dunia luar dan membatasi akses internet. Tak kehabisan akal, segala cara digunakan oleh pihak opisisi untuk memberitakan perlawanan mereka ke dunia luar, antara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Oleh: <a href="http://twitter.com/dody_rochadi">Dody</a></em></p>
<p>Pemilihan umum di Iran yang dimenangkan Presiden Mahmoud Ahmadinejad mengundang <a href="http://www.nytimes.com/2009/06/16/world/middleeast/16iran.html">gelombang protes dan demonstrasi</a>. Pemerintah Iran pun bereaksi, antara lain dengan mengencangkan kontrol terhadap informasi yang keluar dari negara itu ke dunia luar dan membatasi akses internet. Tak kehabisan akal, segala cara digunakan oleh pihak opisisi untuk memberitakan perlawanan mereka ke dunia luar, antara lain dengan <a href="http://www.nytimes.com/2009/06/16/world/middleeast/16media.html?fta=y">menggunakan <em>new media</em></a>.</p>
<p><a href="http://lens.blogs.nytimes.com/2009/06/17/assignment-2/?hp"><img class="alignleft size-full wp-image-1164" title="Newsha Tavakolian" src="http://anugerahadiwarta.org/wp-content/uploads/2009/06/picture-9.png" alt="Newsha Tavakolian" width="215" height="253" /></a></p>
<p>Pewarta foto <a href="http://www.newshatavakolian.com/">Newsha Tavakolian</a> menjalankan tugasnya di tengah-tengah segala kericuhan dan hiruk-pikuk politik tersebut. Perempuan 28 tahun yang lahir dan besar di Teheran, Iran, ini selama sebulan terakhir berkeliling dengan mengendarai sepeda motor untuk mendapatkan foto-foto bagus bagi <a href="http://www.polarisimages.com/index.html">Polaris Images</a>, tempatnya bekerja sejak tahun 2001. Selain di Polaris Images, ia juga bekerja <em>freelance</em> untuk <em><a href="http://www.nytimes.com/">The New York Times</a></em> sejak 2004.</p>
<p>Blog <a href="http://lens.blogs.nytimes.com/">Lens</a> di edisi <em>online</em> harian The New York Times, dalam <em>posting</em> berjudul <a href="http://lens.blogs.nytimes.com/2009/06/17/assignment-2/?hp">&#8216;On Assignment: Covering Iran&#8217;</a> mengangkat profil pewarta foto kelahiran Teheran, Iran, 28 tahun lalu ini. Selain mewawancarai Newsha tentang pengalamannya selama sebulan belakangan ini, Lens juga menampilkan foto-foto karyanya. Fot0-fotonya menampilkan sisi yang lebih dekat dari Pemilu di Iran. Statusnya sebagai warganegara Iran memang sangat memudahkan dirinya dalam menjalankan tugas. Pendukung pihak-pihak yang berseteru, Ahmadinejad dan Moussavi, memperlakukannya dengan baik.</p>
<p>Seperti halnya Newsha, pewarta foto di Indonesia saat ini sedang mengalami masa-masa sibuk. Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Indonesia sebentar lagi berlangsung, dan saat ini para kandidat sedang ramai berkampanye. Semua ini memberikan kesempatan yang sangat luas bagi pewarta foto di Indonesia untuk berlomba-lomba mendapatkan foto yang terbaik, informatif dan artistik. Berbeda dengan kondisi di Iran, pers di Indonesia lebih bebas.</p>
<p>Oleh karena itu, jangan sia-siakan kesempatan ini rekan-rekan, dan jangan lupa daftarkan karya-karya Anda ke Anugerah Adiwarta Sampoerna 2009!</p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://anugerahadiwarta.org/2009/06/18/newsha-tavakolian-dan-sisi-lain-pemilu-iran/" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anugerahadiwarta.org/2009/06/18/newsha-tavakolian-dan-sisi-lain-pemilu-iran/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Good News is a Good Business</title>
		<link>http://anugerahadiwarta.org/2009/06/11/good-news-is-a-good-business/</link>
		<comments>http://anugerahadiwarta.org/2009/06/11/good-news-is-a-good-business/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Jun 2009 09:22:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dody</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Dari Dewan Juri]]></category>

		<category><![CDATA[Diskusi Soal Media]]></category>

		<category><![CDATA[AAS 2009]]></category>

		<category><![CDATA[ANTV]]></category>

		<category><![CDATA[bambang harymurti]]></category>

		<category><![CDATA[george kamarullah]]></category>

		<category><![CDATA[jurnalistik tv]]></category>

		<category><![CDATA[media luncheon]]></category>

		<category><![CDATA[tv bekasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anugerahadiwarta.org/?p=1019</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Dody
Hari Rabu (10/06), Panitia Anugerah Adiwarta Sampoerna (AAS) kembali mengadakan acara Media Luncheon untuk media televisi. Perwakilan dewan juri yang hadir siang itu adalah Bambang Harymurti dan George Kamarullah, sementara media diwakili oleh M. Rahmani dari ANTV dan Surya Munandar dari TV Bekasi. Tak lupa, Sampoerna sebagai penggagas dari AAS juga hadir diwakili oleh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Oleh: <a href="http://twitter.com/dody_rochadi">Dody</a></em></p>
<p>Hari Rabu (10/06), Panitia Anugerah Adiwarta Sampoerna (AAS) kembali mengadakan acara Media Luncheon untuk media televisi. Perwakilan dewan juri yang hadir siang itu adalah Bambang Harymurti dan George Kamarullah, sementara media diwakili oleh M. Rahmani dari <a href="http://www.an.tv/"><em>ANTV</em></a> dan Surya Munandar dari <em>TV Bekasi</em>. Tak lupa, Sampoerna sebagai penggagas dari AAS juga hadir diwakili oleh Niken Rahmad, Elvira Lianita dan Dimas.</p>
<p><object width="425" height="344" data="http://www.youtube.com/v/o1ZzOm-mDPc&amp;hl=en&amp;fs=1&amp;" type="application/x-shockwave-flash"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/o1ZzOm-mDPc&amp;hl=en&amp;fs=1&amp;" /><param name="allowfullscreen" value="true" /></object></p>
<p>Bambang Harymurti dalam pembukaannya mengatakan bahwa dirinya pertama kali tertarik untuk menjadi dewan juri untuk karya televisi karena dia menilai bahwa saat ini keberhasilan jurnalis televisi dalam membuat program atau tayangan yang baik hanya berdasarkan rating. Tayangan yang bagus sama dengan rating yang tinggi. Tidak ada yang lain. Nah, menurutnya AAS mampu memberikan angin segar bagi para jurnalis televisi untuk mendapatkan penghargaan lain bagi karya yang dibuatnya. “Wartawan televisi hanya dinilai berdasarkan rating, bukan apresiasi ke karya yang bersangkutan. Saya mendukung AAS dalam memberikan penghargaan kepada jurnalis televisi sehingga diharapkan rekan-rekan terpacu untuk membuat karya-karya yang lebih baik,” ujar Bambang yang baru saja kembali dari Kairo, Mesir setelah mewawancarai Presiden Amerika Serikat, Barack Obama.</p>
<p>Sebagai mantan juru kamera dan editor film ternama tanah air, George Kamarullah lebih menyoroti trik-trik bagaimana menghasilkan sebuah tayangan yang baik. Sebagai langkah awal, menurutnya, jurnalis televisi harus membuat tayangan yang jelas dan sederhana sehingga mayarakat dapat dengan mudah mengerti tayangan tersebut. Selanjutnya, dari sisi gambar, mutlak seorang jurnalis televisi harus dapat mencari gambar sebanyak-banyaknya demi memperkaya bank gambar untuk sebuah tayangan. “Paling sering sekarang saya lihat apa yang dinamakan dengan <em>soap documentary</em>, yaitu sebuah tayangan yang dibuat dengan mengumpulkan <em>footage-footage</em> dari beragam sumber kemudian dijadikan cerita. Ini mengurangi sisi keaslian tayangan,” ujar George yang pernah menjadi editor untuk beberapa film terkenal dalam negeri, di antaranya &#8220;Tjoet Njak Dhien&#8221; (1988), &#8220;Doea Tanda Mata&#8221; (1985), dan &#8220;Ibunda&#8221; (1986).</p>
<p>Keduanya setuju bahwa tayangan berita, atau news, harus bisa dijual. Yang terjadi saat ini adalah porsi tayangan news di televisi jauh lebih kecil ketimbang hiburan. Salah satu stasiun televisi yang sudah mulai menambah porsi tayangan news adalah <a href="http://www.tvone.co.id/"><em>TV One</em></a>, khususnya menjelang pemilu ini. “Stasiun televisi harus bisa berpikir bahwa <em>good news is a good business</em>,  sehingga terpacu untuk memberikan tayangan berita yang menarik dan mampu menjual kepada masyarakat luas,” kata George.</p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://anugerahadiwarta.org/2009/06/11/good-news-is-a-good-business/" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anugerahadiwarta.org/2009/06/11/good-news-is-a-good-business/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Menyiasati Perkembangan Media Online Dengan KompasPhone</title>
		<link>http://anugerahadiwarta.org/2009/06/08/menyiasati-perkembangan-media-online-dengan-kompasphone/</link>
		<comments>http://anugerahadiwarta.org/2009/06/08/menyiasati-perkembangan-media-online-dengan-kompasphone/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Jun 2009 07:19:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanny</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Diskusi Soal Media]]></category>

		<category><![CDATA[antara]]></category>

		<category><![CDATA[bisnis indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[cdma]]></category>

		<category><![CDATA[flexi]]></category>

		<category><![CDATA[free content]]></category>

		<category><![CDATA[i nyoman g wiryanata]]></category>

		<category><![CDATA[kompas.com]]></category>

		<category><![CDATA[kompasphone]]></category>

		<category><![CDATA[media online]]></category>

		<category><![CDATA[telkom]]></category>

		<category><![CDATA[the economist]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anugerahadiwarta.org/?p=963</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Waraney
Karakteristik pembaca media online memang lebih sulit diduga dibandingkan dengan pembaca media konvensional. Asumsi yang dibuat tentang pembaca saat ini mungkin tidak berlaku lagi tiga bulan yang akan datang. Walaupun pembaca media online, terutama yang perorangan, terbiasa mengonsumsi berita secara gratisan, bukan berarti mereka tak bersedia membayar biaya ekstra untuk berita yang mereka butuhkan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><em>Oleh: <a href="http://duniahitam.wordpress.com/">Waraney</a></em></p>
<p style="text-align: justify;">Karakteristik pembaca media <em>online</em> memang lebih sulit diduga dibandingkan dengan pembaca media konvensional. Asumsi yang dibuat tentang pembaca saat ini mungkin tidak berlaku lagi tiga bulan yang akan datang. Walaupun pembaca media <em>online</em>, terutama yang perorangan, terbiasa mengonsumsi berita secara gratisan, bukan berarti mereka tak bersedia membayar biaya ekstra untuk berita yang mereka butuhkan. Menurut <a href="http://www.economist.com/opinion/displaystory.cfm?story_id=13649304"><em>The Economist</em></a>, media harus bisa mengkombinasikan <em>free content</em>, pemasukan dari skema berlangganan khusus, dan pemasukan dari iklan.</p>
<p style="text-align: justify;">Di Indonesia, sebagian media <em>online</em> mulai bersiap-siap meniadakan biaya berlangganan, dan sepenuhnya bergantung pada iklan. Paling tidak menurut artikel di <a href="http://web.bisnis.com/edisi-cetak/"><em>Bisnis Indonesia</em></a>, 3 Juni lalu. Menurut Ahmad Mukhlis Yusuf, Presiden Direktur Perum Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) <a href="http://www.antaranews.com/"><em>Antara</em></a>, pemasukan dari biaya berlangganan hanya memberikan kontribusi kurang dari 10%. Untuk memaksimalkan pendapatan dari iklan, media <em>online</em> harus menentukan target segmen pembaca dan kemudian mencari pengiklan yang cocok dengan segmen tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;"><a href="http://anugerahadiwarta.org/wp-content/uploads/2009/06/03-06-09_bisnis_indonesia.jpg"><img class="size-full wp-image-968 aligncenter" title="03-06-09_bisnis_indonesia" src="http://anugerahadiwarta.org/wp-content/uploads/2009/06/03-06-09_bisnis_indonesia.jpg" alt="03-06-09_bisnis_indonesia" width="386" height="214" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Inilah yang dilakukan <a href="http://kompas.com/"><em>Kompas.com</em></a> dengan <em>KompasPhone</em>-nya. Rabu (3/6) lalu, <em>Kompas</em> bekerja sama dengan PT Telkom <a href="http://tekno.kompas.com/read/xml/2009/06/03/10171268/kompasphone.diluncurkan.hari.ini">meluncurkan</a> KompasPhone, <em>featured phone</em> dengan jaringan CDMA yang bernuansa <em>Kompas</em>, mulai dari logo di <em>handset</em> hingga kemasannya. Aplikasi <em>Kompas</em> sudah terintegrasi di dalamnya, dan pemakai tak perlu melakukan instalasi apapun dan dapat mengakses berita dari <em>Kompas</em> dan <em>Kompas.com</em> tanpa harus membuka aplikasi lainnya. Produk ini dijual seharga Rp325.000, dan Telkom menargetkan penjualan sampai 111.000 unit dalam tiga bulan.</p>
<p style="text-align: justify;">
<div class="mceTemp mceIEcenter" style="text-align: justify;">
<dl id="attachment_965" class="wp-caption aligncenter" style="width: 291px;">
<dt class="wp-caption-dt"><a href="http://tekno.kompas.com/read/xml/2009/06/03/10171268/kompasphone.diluncurkan.hari.ini"><img class="size-full wp-image-965" title="KompasPhone" src="http://anugerahadiwarta.org/wp-content/uploads/2009/06/picture-1.png" alt="Kompas bekerjasama dengan PT Telkom meluncurkan KompasPhone, Rabu (3/5/09)" width="281" height="295" /></a></dt>
<dd class="wp-caption-dd">Kompas bekerjasama dengan PT Telkom meluncurkan KompasPhone, Rabu (3/5/09)</dd>
</dl>
</div>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Menurut Director of Consumer PT Telkom Indonesia I Nyoman G Wiryanata, target yang disasar adalah pelanggan Flexi yang fanatik dan haus akan berita, tetapi karena suatu hal tidak mempunyai waktu untuk membaca koran. Selain itu, target pasar lainnya adalah mereka yang mempunyai mobilitas tinggi tapi butuh informasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan meluncurkan produk ini, <em>Kompas</em> telah menentukan pelanggan mana yang menjadi sasarannya, dan mengambil langkah-langkah awal untuk menyiasati perubahan-perubahan yang terjadi di industri media saat ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Siapa yang akan menyusul <em>Kompas.com</em>, dan langkah inovasi apa yang kira-kira akan diambil oleh media-media lainnya?</p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://anugerahadiwarta.org/2009/06/08/menyiasati-perkembangan-media-online-dengan-kompasphone/" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anugerahadiwarta.org/2009/06/08/menyiasati-perkembangan-media-online-dengan-kompasphone/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
