<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2enclosuresfull.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-6927716846958119087</atom:id><lastBuildDate>Tue, 02 Mar 2010 07:56:12 +0000</lastBuildDate><title>ARSITEKTUR VERNAKULAR NTT</title><description>Informasi Khazanah Arsitektur Vernakular NTT</description><link>http://www.arsitekturntt.com/</link><managingEditor>met_eman@yahoo.co.id (Eman)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>7</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/ArsitekturNtt" /><feedburner:info uri="arsitekturntt" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><media:category scheme="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd">Arts/Design</media:category><itunes:owner><itunes:email>met_eman@yahoo.co.id</itunes:email></itunes:owner><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Informasi Khazanah Arsitektur Vernakular NTT</itunes:subtitle><itunes:category text="Arts"><itunes:category text="Design" /></itunes:category><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6927716846958119087.post-270156701943768311</guid><pubDate>Sat, 12 Dec 2009 15:28:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-12-12T08:12:29.527-08:00</atom:updated><title>ARSITEKTUR VERNAKULER SABU</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_9WfA01AGuhM/SyO6svA7E5I/AAAAAAAAARA/GMSrXzQM_fI/s1600-h/Resize+of+AMU+TUKI-01.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 155px; height: 100px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_9WfA01AGuhM/SyO6svA7E5I/AAAAAAAAARA/GMSrXzQM_fI/s320/Resize+of+AMU+TUKI-01.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5414376454726816658" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_9WfA01AGuhM/SyO5m1wqlEI/AAAAAAAAAQ4/2mss_9wjAus/s1600-h/Resize+of+AMU+HAWU-03.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 167px; height: 100px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_9WfA01AGuhM/SyO5m1wqlEI/AAAAAAAAAQ4/2mss_9wjAus/s320/Resize+of+AMU+HAWU-03.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5414375253946831938" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa pola perkampungan tradisional masyrakat Sabu, mengambil konsep dasar dari pembiasan cahaya bulan purnama, dimana terkesan adanya cahaya yang mengelilingi bulan pada saat purnama.&lt;br /&gt;Konsep dasar ini, kemudian diimplementasikan kedalam pola tapak perkampungan Sabu, dengan catatan semua masa bangunan yang berada didalam tapak harus beorientasi pada satu titik (ruang terbuka/Telora yang biasnya terdapat bangunan megalith, yang mengelilingi sebatang pohon Kepaka/Nitas, Ko/bidara Cina atau Mandiri/beringin)&lt;br /&gt; Secara arsitektur, pola yang tapak yang diterapkan adalah pola cluster/pola mengelompok, dimana masa bangunan yang ada tetap berpusat pada satu titik yang berada pada ruang terbuka/ Telora dan bangunan megalith. Selanjutnya pada keadaan tertentu dimana adanya beda tinggi kontur yang relatif curam, masyarakat kemudian memanfaatkan keadaan tersebut dengan mengikuti pola linear&lt;br /&gt; Mengenai keamanan dalam tapak pada umumnya masyrakat tradisional sabu membuat pagar pengaman yang terbuat dari susunan batu karang (Lau Wadu). Tradisi dalam membuat pagar pengaman biasanya terdapat dua buah pintu yaitu gerbang masuk (Toka Dimu) terletak disebelah Timur dan gerbang keluar (Toka Wa) terletak disebelah Barat.&lt;br /&gt; Pada daerah perbukitan, masyarakat setempat justru memanfaatkan kemiringan tanah perbukitan untuk mengintai musuh atau bahaya lainnya yang mengancam. Disisi lain kemungkinan karena kesulitan dalam menyelesaikan pagar pengaman dalam bentuk susunan batu, dimana karena kemiringan tanah yang cukup terjal didaerah perbukitan.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Orientasi Bangunan Dalam Tapak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Orientasi masa bangunan masyarakat Sabu berkaitan dengan perletakan masa bangunan dalam tapak, masyarakat setempat biasanya meletakan masa bangunan dengan memperhatikan titik pusat orientasinya yaitu pada ruang terbuka dan bangunan megalith yang berada di tengah-tengah perkampungan. Untuk menanggapi arah angin masyarakat setempat menyelesaikan masa bangunannya dengan orientasi membujur dari Timur ke Barat.&lt;br /&gt; Ruang terbuka biasanya digunakan untuk ritual-ritual adat tertentu yang bersifat masal, disisi lain ruang terbuka juga digunakan sebagai tempat untuk mengeringkan bahan pangan palawija dan hasil perkebunan lainnya ) untuk disimpan dalam waktu yang cukup lama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Tipologi Rumah Tradisional Sabu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Pembahasan mengenai tipologi runah Sabu, terbagi menjadi tiga bagaian besar antara lain :&lt;br /&gt;1. Rumah Sabu asli/rumah adat (Amu Rukoko)&lt;br /&gt;2. Rumah tradisional Sabu yang mengalami transisi (Amu Eta)&lt;br /&gt;3. Rumah Modern (Amu Jawa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;A.  Tipologi Rumah Sabu Asli (Amu Rukoko)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;a. Bentuk&lt;br /&gt;Secara antropologis dan cerita masyrakat Sabu, bentuk ruma&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_9WfA01AGuhM/SyO90TWzCeI/AAAAAAAAARY/SOH5HfDbWDQ/s1600-h/Resize+of+TDEPANAMUHAWU.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 199px; height: 88px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_9WfA01AGuhM/SyO90TWzCeI/AAAAAAAAARY/SOH5HfDbWDQ/s320/Resize+of+TDEPANAMUHAWU.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5414379883276208610" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;h adat (Amu Rukoko) mengambil konsep dasar dari bentuk perahu. Bahkan sebagian besar elemen konstruksinya mengambil nama pada elemen konstruksi sebuah perahu.&lt;br /&gt;Selanjutya, penyelesaian arsitekturnya, masyarakat setempat kemudian membuatnya dengan menyerupai bentuk perahu yang dibalik, sehingga bentuk perahu itu sendiri nampak pada olahan atap rumah adat Sabu.&lt;br /&gt;b. Ruang&lt;br /&gt;Masyarakat Sabu, cukup tegas dalam konsep penzoningan ruang dimana adanya pembagian ruang perempuan dan ruang laki-laki (Wuy dan Duru). Penyelesaian ruang secara arsitektur juga mengambil zona ruang pada perahu (Wuy  dan Duru sebagai buritan dan haluan). Sedangkan untuk ruang bersama disebut Kopo Telora/ elu Ae&lt;br /&gt; Lebih lanjut, masih terdapat satu ruang penting yang merupakan hollyroom bagi rumah masyarakat Sabu. Ruang dimaksud biasanya digunakan sebagai tempat pemujaan menurut ajaran tradisional Sabu (ingitiu , ruang tersebut disebut Demu. Selain sebagai ruang pemujaan, Demu juga digunakan sebagai tempat penyimpanan bahan pangan.&lt;br /&gt; Berdasarkan tradisi masyarakat setempat, yang boleh masuk pada ruang Demu, adalah kaum wanita atau mereka yang sudah berkeluarga. Sedangkan untuk pria lajang tidak diperkenankan masuk pada ruang ini. Pada ruang perempuan/uy selain digunakan sebagai tempat tidur kaum wanita, juga berfungsi sebagai dapur. Untuk penyimpanan barang/ perkakas kaum wanita terdapat satu tempat yang disebut Baja Wuy . Ruang pria atau Duru biasanya digunakan sebagai tempat tidur kaum pria, untuk tempat penyimpanan peralatan kaum pria tersedia satu tempat yang disebut Baja Duru&lt;br /&gt; Pada ruang bersama (opo Telora/Delu Ae  biasanya digunakan untuk kegiatan bersama, dengan tetap memperhatikan penzoningan kaum pria dan wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Tampilan&lt;br /&gt; Tampilan rumah adat Sabu secara jelas menegaskan kembali konsep dasarnya dimana mengambil konsep bentuk perahu. Secara harafiah sebuah perahu benar-benar seimbang. Konsep keseimbangan ini, dijelasjan kembali pada olahan tampak rumah adat Sabu. Disini konsep pembagian ruang perempuan dan laki-laki juga terlihat dengan jelas pada tampak depan dengan hadirnya dua buah pintu ( Kelae Beni dan Kelae Mone ). Sedangkan ketegasan konsep bentik perahu itu terpampang dengan jelas pada konstruksi penutup/ atap, yang pada bagian puncak atap ( kiri dan kanan ) terdapat bentuk Rukoko yang merupakan symbol kebesaran ajaran Jingitiu. Disisi lain  Rukoko juga digunakan sebagai tempat persembunyian/ pengintaian musuh.&lt;br /&gt;d. Ragam Hias&lt;br /&gt; Ragam hias pada arsitektur vernakuler Sabu sangat minim. Untuk mewujudkan konsep dasar dari bentuk perahu, maka pada salah satu elemen konstruksi terlihat adanya penyeleseaian konstruksi yang membentuk seperti dayung perahu ( Aju Nou Rukoko ). Ragam hias lainnya terdapat pada kedua ujung balok pemikul lantai ( Ae kelaga ) pada sisi kiri dan kanan,  yang memaknai seperti potongan wajah manusia yang sedang tidur terlentang dan sedang memikul beban. Ragam hias lainnya juga terdapat pada didinding ruang pemujaan ( Ketangarohe ), tiang nok ( Gala Beni dan Gala Mone ) dan pengapit Ketangarohe ( Hengepi / Papa Ketangarohe )&lt;br /&gt;e. Material Struktur dan konstruksi&lt;br /&gt;1. Material&lt;br /&gt;Daratan Pulau Sabu merupakan daerah yang mempunyai populasi lontar yang cukup tinggi. Untuk mewujudkan konsep arsitekturnya, masyarakat setempat kemudian memanfaatkan populasi lontar yang ada. Kurang lebih 90% bahan yang digunakan adalah bahan lontar, sedangkan 10% sisanya menggunakan bahan kayu.&lt;br /&gt;Dalam bahasa local, lontar disebut Keli. Daun lontar sebelum dirangkai menjadi konstruksi atap disebut Ru Keli setelah dijadikan Konstruksi penutup/ atap disebut dengan Ruwuwu, jahitan daun lontar untuk penutup jurai luar (jurai bubungan) juga disebut Ruwuwu. Sedangkan jahitan daun lontar untuk diding disebut Ruhedidi, jahitan daun lontar untuk&lt;br /&gt;Elemen konstruksi pada rumah adat Sabu yang mengguanakan bahan lontar antara lain&lt;br /&gt;1. Kolom (Geri)&lt;br /&gt;2. Lantai (Kelaga)&lt;br /&gt;3. Dinding (Ruhedidi)&lt;br /&gt;4. Pintu (Ru Kelae)&lt;br /&gt;5. Atap (Ruwuwu)&lt;br /&gt;6. Konstruksi rangka atap (Bengu, Aju Nou, Gala)&lt;br /&gt;7. Tali pengikat (Terbuat dari sayatan kulit pelepah lontar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan lain selain lontar adalah&lt;br /&gt;1. Kolom (Geri Teruwuy dan Geri Teruduru serta Geri Kolo Eka)&lt;br /&gt;2. Reng (Badu) biasanya mengguanakan material kayu yang mudah lentur&lt;br /&gt;3. Dinding pada ruang Demu  yang terbuat dari rangkaian/ anyaman daun kelapa (Ketangarohe)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pola Struktur dan Konstruksi&lt;br /&gt;A. Kolom (Geri)&lt;br /&gt;Pada umumnya system struktur kolom pada rumaha adat Sabu menerapkan system sendi atau semua kolom yang ada ditanam dengan kedalaman kurang lebih 100 – 150 cm. kolom-kolom yang ditanam antara lain&lt;br /&gt;a. Tiang utama (Geri Teruwuy dan Geri Teruduru)&lt;br /&gt;Selain sebagai tiang suci, tiang ini juga berfugsi sbagai pemikul struktur Taga Batu (balok lengkung yang digunakan sebagai pemikul struktur atap yag teraksen melengkung pada sisi kiri dan kanan Amu Rukoko) selain itu, Geri Teruwuy dan Geri Teruduru juga digunakan sebagai pemikul atap Rukoko&lt;br /&gt;b. Tiang pemikul struktur rangka atap (Geri Ae&lt;br /&gt;Sistem hubungan struktur dan konstruksi antara keduanya mengguanakan sisitem tumpuan yang diperkuat dengan ikatan (Petu Geri Ae + Aju Nou)&lt;br /&gt;c. tiang teritisan (Geri Kolo Eka)&lt;br /&gt;system hubungan struktur dan konstruksinya adalah dengan pen dan lubang (Pen pada Tiang teritisan lubang pada balok teritisan) yag diperkuat dengan ikatan (Petu Geri Ae + Kenata)&lt;br /&gt;d. Tiang pemikul lantai (Geri Kelaga Ae dan Geri Kelaga Rai)&lt;br /&gt;system hubungan struktur dan konstruksinya ,menggunakan hubungan denagan coakan (Papa Geri Ae + Kelaga)&lt;br /&gt;e. Tiang nok (Gala Beni dan Gala Mone) sisitem struktur dan konstruksi terhadap balok bubungan dan kaki kuda-kuda mengguanakan system pen dan lubang yag diperkaku dengan ikatan (Petu Gala + Aju Nou + Bengu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Balok (Kebie / Ae)&lt;br /&gt;a. Balok Pemikul lantai (Tuki Kelaga , Tuki Kelaga Raid an Tuki Kelaga Demu)&lt;br /&gt;sistem hubungan konstruksi yang diterapkan didni adalah sistim tumpuan sendi dimana menggunakan hubungan dengan coakan&lt;br /&gt;b. Balok pemikul struktur rangka atap (Kebie Ae)&lt;br /&gt;sistem hubungan struktur dan konstruksi yang diterapkan adalah menggunakan sistem pen dan lubang.&lt;br /&gt;c. Balok yang melengkung pada sisi kiri dan kanan (Taga Batu)&lt;br /&gt;sistim sambungan ini dengan menggunakan pen dan lubang (Huki)&lt;br /&gt;d. Balok bubungan (Bengu) dan kaki kuda-kuda (Aju Nou)&lt;br /&gt;Hubungan konstruksinya dengan mengguanakan sistim pen dan lubang dan diperkaku dengan ikatan.&lt;br /&gt;e. Balok pemikul atap Rukoko (Aju Nou Rukoko)&lt;br /&gt;Aju Nou Rukoko berdimensi  lebih kecil dari balok yang lain sistim hubungannya dengan balok bubungan bisanya diikat (Petu Aju Nou Rukoko + Bengu)&lt;br /&gt;f. Balok Teritisan (Kenata)&lt;br /&gt;Sistim hubungan konstruksinya adalah pen dan lubang yang diperkaku dengan ikatan. Sedangkan balok teritisan yang melengkung pada keempat sudut disebut Kenata Keware, biasanya terbuat dari kayu Nitas atau bidara Cina/Ko. System sambungannya dengan kenata menggunakan pen dan lubang (Huki)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;B.  Tipologi Rumah Sabu yang telah Mengalami Transisi (Amu Eta)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;a. Bentuk&lt;br /&gt;Pada dasarnya Amu Eta masih mengambil kaidah kaidah lama pada Amu Rukoko. &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_9WfA01AGuhM/SyO-1FXDEoI/AAAAAAAAARg/-k-gny-f7Aw/s1600-h/Resize+of+TDEPANTUKI.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 214px; height: 104px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_9WfA01AGuhM/SyO-1FXDEoI/AAAAAAAAARg/-k-gny-f7Aw/s320/Resize+of+TDEPANTUKI.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5414380996210659970" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Disini, bentuk Amu Rukoko. Tetapi hanya mengambil nilai-nilai yang terkandung pada Amu Rukoko. Olahan bentuk Amu Eta sudah terjadi perubahan, ini dapat dilihat dari bentuk denahnya yang mengandung bentuk dasar persegi, tidak persis lagi seperti pada Amu Rukoko yang berbentuk elips.&lt;br /&gt;Hal lain juga terjadi perubahan bentu pada bentuk atap dimana Emu Eta bentuk atapnya sudah berbentuk perisai dengan keempat sudutnya beraksen melengkung.&lt;br /&gt;b. Ruang&lt;br /&gt;Menurut tradisi massyarakat setempat Amu Eta juga disebut Amu Kapue atau Rumah tinggal, dimana Amu Eta atau Amu Kapue terdapat sebuah ruang terbuka pada bagian depannya yang disbut Amu Kehale/ baranda biasanya Amu Kahale tidak berhubungan langsung dengan Amu Kapue. Mengenai penzoningan ruang pada Amu Eta, masih mengambil kaidah-kaidah lama pada Amu Rukoko, daiaman terdapat pembagian zona perempuan dan laki-laki (hanya berlaku pada tempat pembaringan jenazah).  Ruang pembaringan jenazah, juga digunakan sebagai ruang tamu dan ruang keluarga. Tapi pada ummumnya orang yang bertamu tidak langsung ke Amu Kepue, tetapi dipersilahkan untuk beristurahat sementara di Amu kehale&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6927716846958119087-270156701943768311?l=www.arsitekturntt.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ArsitekturNtt/~4/LQn_ACqumzw" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/ArsitekturNtt/~3/LQn_ACqumzw/arsitektur-vernakuler-sabu.html</link><author>met_eman@yahoo.co.id (Eman)</author><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/_9WfA01AGuhM/SyO6svA7E5I/AAAAAAAAARA/GMSrXzQM_fI/s72-c/Resize+of+AMU+TUKI-01.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">4</thr:total><feedburner:origLink>http://www.arsitekturntt.com/2009/12/arsitektur-vernakuler-sabu.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6927716846958119087.post-6940049345290253541</guid><pubDate>Tue, 01 Sep 2009 20:45:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-09-07T01:04:18.586-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Arsitektur Tradisional Alor (Takpala)</category><title>Arsitektur Tradisional Alor (Takpala)</title><description>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_9WfA01AGuhM/SqQjSdtqO7I/AAAAAAAAAPs/ziUUh_zmk7Q/s1600-h/Takpala-32.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 140px; height: 85px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_9WfA01AGuhM/SqQjSdtqO7I/AAAAAAAAAPs/ziUUh_zmk7Q/s320/Takpala-32.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5378462655107972018" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_9WfA01AGuhM/SqQjm02BS6I/AAAAAAAAAP0/qWeBKZthPfE/s1600-h/Takpala-49.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 88px; height: 94px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_9WfA01AGuhM/SqQjm02BS6I/AAAAAAAAAP0/qWeBKZthPfE/s320/Takpala-49.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5378463004914437026" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_9WfA01AGuhM/SqQkCeSNTtI/AAAAAAAAAP8/huiJOwotSIY/s1600-h/Takpala-36.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 123px; height: 90px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_9WfA01AGuhM/SqQkCeSNTtI/AAAAAAAAAP8/huiJOwotSIY/s320/Takpala-36.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5378463479894986450" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;A.  Lokasi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_9WfA01AGuhM/SqQkR2mjR5I/AAAAAAAAAQE/gdraLr4M8hc/s1600-h/Takpala-45.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 129px; height: 175px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_9WfA01AGuhM/SqQkR2mjR5I/AAAAAAAAAQE/gdraLr4M8hc/s320/Takpala-45.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5378463744120801170" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;br /&gt;Secara administratif Kampung Tradisional  Takpala terletak didusun III Kamengtaha Desa Lembur Barat  kecamatan Alor Barat Laut dengan batas-batas geografisnya adalah sebagai berikut :
&lt;br /&gt;1. Sebelah utara berbatasan denngan laut Flores
&lt;br /&gt;2. Sebelah selatan berbatasan denga Desa Lembur &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tengah dan desa Welai Selatan.
&lt;br /&gt;3. Sebelah Timur berbatasan dengan desa Likwatang
&lt;br /&gt;4. Sebelah Barat berbatasan dengan Dusun II Desa Lembur Barat.
&lt;br /&gt;Sedangkan batas-batas geografi kawasan studi adalah sebagai berikut :
&lt;br /&gt;1. Sebelah Utara berbatasan dengan kebun Penduduk
&lt;br /&gt;2. Sebelah Selatan berbatasan dengan kebun penduduk
&lt;br /&gt;3. Sebelah Timur berbatasan dengan kebun penduduk
&lt;br /&gt;4. Sebelah Barat berbatasan dengankebun penduduk
&lt;br /&gt;Kampung ini secara topografi terletak dilereng bukit  yang berada pada ketinggian  kurang lebih 150 M, diatas permukaan laut, dengan kemiringan antara 5-40o.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;B. Pola Perkampungan&lt;/span&gt;
&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dalam hal ini yang dimaksud dengan pola perkampungan adalah pola perletakan bangunan ( tata letak bangunan ). Jika dilihat sepintas dari tata letak bangunan yang dikampung tradsional Takpala, yang menyebar mengelilingi topografi tanahnya, maka dengan mudah dapat dipastikan bahwa penataan kampung tersebut bepola baris atau lazim  dikenal dengan sebutan pola linier. Namun jika dilihat dari perletakan bangunan terhadap ruang terbuka yang merupakan ruang bersama disekitar Mesbah/Misbah, maka pola perletakan bangunan pada kampung tradsional Takpala lebih tepat digolongkan kedalam pola ‘Tancan’ atau lazim disebut dengan nama pola claster. Hal ini diperjelas lagi oeh perletakan rumah adat yang menempati posisi sentral /strategis yang berhadapan dengan mesbah dan peralatan terbuka didepannya. Selain itu posisi rumah adat juga sangat simetris terhadap perletakan bangunan lainnya pada sisi kiri dan sisi kanan dari pelataran terbuka tersebut.
&lt;br /&gt;Pada kampung tradisional Takpala terdapat beberapa komponen penting yang membentuk pola perkampungannya, yakni: Mesang, Mesbah, Lik, Kolwat, Kanuarwat, Fala, Da&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;n Tova.
&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;1. Mesang ( Pelataran )&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;
&lt;br /&gt;Mesang merupakan ruang terbuka/ pelataran terbuka (komunal space) yang letaknya sangat strategi sebagai sarana komunikasi atau  kontak sosial antar sesama didalam kehidupan bermasyarakat di kampung Takpala. Pelataran ini bentuknya mendekati bentuk bulat telur (oval) dengan diameter kearah memanjang kurang lebih 12 M, dan ditengah-tengahnya terdapat sebuah Mesbah/Misbah.
&lt;br /&gt;Pada upacara-upacara adat tertentu tempat ini biasanya digunakan sebagai tempat duduk warga masyarakat/ suku ataupun sebagai tempat melakukan/pementasan seni budaya, seperti lego-lego (luk) misalnya.
&lt;br /&gt;Dengan demikian Meseng, sebagai sarana kontak sosial/komunikasi, juga merupakan tempat suci, pada tempat ini biasanya dilakukan upacara-upacara adat yang bersifat religius.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;2. Mesbah (misbah)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_9WfA01AGuhM/SqQkx8eUAkI/AAAAAAAAAQM/M7fnzGD0FZ0/s1600-h/New+Picture+%281%29.png"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 173px; height: 154px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_9WfA01AGuhM/SqQkx8eUAkI/AAAAAAAAAQM/M7fnzGD0FZ0/s320/New+Picture+%281%29.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5378464295452672578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;br /&gt;Mesbah merupakan susunan batu atau onggokan batu yangterbuat daru batu kali atau lempengan-lempengan batu yang menyerupai papan yang ditumpuk dalm bentuk melingkar, oval, atau pe&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;rsegi.  Oleh para ahli Arkeologi susunan batu melingkar atau temu. Gelang ini merupakan satu produk budaya Megalitik dengan ukuran yang sangat berfariasi.
&lt;br /&gt;Mesbah di kampung tradisionsl Takpala memiliki ukuran tinggi 70 Cm (0,70 M) dengan diameter 185 cm (1,85 cm). Pada bagian atas (puncak dari Mesbah ini ditanam tiga buah batu dala posisi berdiri yang menyerupai Menhir yang oleh masyarakat setempat disebut Kameng Halifi.
&lt;br /&gt;Fungsi utama dari Mesbah di Alor umumnya dan dikampung tradisional Takpala khususnya adalah sebagai tempat upacara/pemujaan yang sifatnya sangat sakral (suci)  upacara-upacara antara lain untuk menolak bala/mengusir wabah, mohon kesuburan tanaman, mohon keberhasilan dalam perang, pertemuan/rapat parra tua adat, dan lain sebagainya. Bahkan konon ceritranya pada zaman yang lampau pada musu para musuh yang kalah perang kepalanya dipenggal dan ditanam didalam Mesbah tersebut. Upacara-upacara ini biasanya disertai dengan menyembli binatang kurban, seperti : ayam, kambing, babi, dan berbagai kelengkapan upacara lainnya berupa siripinang, nasi dan telur, dengan diiringi pengucapan do&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;a-doa oleh seorang pemimpin upacara yang disebut Marang.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;3. Rumah Adat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;
&lt;br /&gt;Pada masyarakatr suku Abui dikampung tradisional Takpala terdapat sepasang rumah adat yang disebut Kolwat dan kanuarwat. Rumah adat ini merupakan pusat segala kegiatan suku , terutama urusan adat yang pegaturannya  dilakukan oleh kepala suku. Untuk memudahkan pembahasan dan mengingat adanya perbedaan antara kedua rumah adat ini, maka pembahasannya dapat dipisahkan sebagai berikut :
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;a. Rumah Adat Kolwat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_9WfA01AGuhM/SqQlKf43y7I/AAAAAAAAAQU/QEbMVLYdS8Y/s1600-h/New+Picture+%282%29.png"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 158px; height: 153px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_9WfA01AGuhM/SqQlKf43y7I/AAAAAAAAAQU/QEbMVLYdS8Y/s320/New+Picture+%282%29.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5378464717276171186" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;br /&gt;Rumah adat kolwat letaknya berdampingan dengan rumah adat Kanurwat, dengan arah bukaan pintunya kesisi sebelah kanan (barat) dari rumah adat kanurwat. Pada kondisi kesehariannya rumah adat ini tidak berpengaruhi, kecuali pada saat penyelenggaraan pesta-pesta (upacara adat), yang pada prinsipnya boleh dimasuki oleh siapa saja tanpa kecuali pria dan wanita. Rumah adat kolwat memiliki bentuk sederhana berbentuk bujur sangkar dengan ukuran kurang lebih 3,70 M x 3,70 M. Bentuk denah ini juga merupakan cerminan  ruang d&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;alamnya yang sederhana yang terbagi menjadi dua oleh sirkulasi yang letaknya  ditengah ruangaan yang membujur dari timur ke barat. Disebelah utara terdapat  sebuah bale-bale bambu yang tingginya kurang lebih 0,65 m dari permukaan lantai . bale-bale ini biasanya dilakukan sebahgai tempat duduk pada waktu melaksanakan pesta-pesta atau upacara adat. Sedangkan disebelah kanan terdapat bilik kecil yang dibatasi oleh dinding yang terbuat dari anyaman bambu (gedek). Didalam bilik ini juga terdapat sebuah bale-bale berukuran kecil   yang tingginya kurang lebih 0,65 m dari permukaan lantai yang terletak disebelah timur. Sementara disisi sebelah barat, terdapat sebuah tangga dari bambu yang menghubungkan loteng  diatasnya yang dihubungkan , yang digunakan sebagai tempat penyimpanan perabot pada waktu upacara adat.
&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;b. Rumah Adat Kanuarwat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;
&lt;br /&gt;Seperti halnya rumah adat kolwat, rumah adat kanuarwat hanya dihuni  dimasuki&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; pada &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;w&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;ktu pesta-pesta/upacara-upacara adat, namun itupun tidak semua orang boleh&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; masuk, selain a&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;nak sulung laki-laki atau tetua adat ataupun pemimpin upacara. Didalam rumah adat ini disi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;mpan berbagai benda-benda pusaka seperti; Moko (gendang perunggu), Priuk, tombak, dan perlengkapan upacara lainnya yang diwariskan secara turun-temurun dari satu gen&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;erasi ke generasi lainnya. Bentuk denah sama denga bentuk rumah adat kolwat yaitu  bujur &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;sangkar dengan ukuan kurang lebih 370x370cm (3,70x3,70m) tapi perbedaan terletak pada penempatan tiang utama dan bukaan pintu. Jika pada rumah aat kolwat, tiang utamanya terletak dibagian keempat sudut/pojok bagian &lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_9WfA01AGuhM/SqQxZb5NwSI/AAAAAAAAAQk/xPWK0tjRQOI/s1600-h/Takpala-24.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 152px; height: 211px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_9WfA01AGuhM/SqQxZb5NwSI/AAAAAAAAAQk/xPWK0tjRQOI/s320/Takpala-24.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5378478168041439522" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;luar bangunan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; , maka pada rumah adat  kanuarwat, tiang utamanya berada didalam ruang.
&lt;br /&gt;Demikian juga dengan bukaan atau pintunya, kalau pada rumah adat kolwat bukaanya mengarah ke timur dan barat, maka pada rumah adat kanuarwat salah satu menghadap kebarat atau ke rumah adat kolwat, seangkan satu pintunya menghadap k&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;e utara atau ke mesbah  dan masang   (pelataran terbuka).
&lt;br /&gt;Perbedaan lainnya yang cukup mendasar adalah ragam hias yang ada pada rumah adat kanuarwat, yang sama sekali tidak ditemui pada rumah adat kolwat. Semenratara itu ruang dalamnya tidak ada pemisahan dengan dinding yang permanen, tetapi terbuka dan ditengah-tengah terdapat bale-bale bambu yang tingginya kurang lebih 65 cm (0,65 m) dari muka lantai. Tetapi diatas bale-bale tersebut terdapat sebuah para-para yang digantungkan pada balok loteng yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda-benda pusaka dan benda-benda upacara serta barang-barang suci lainnya. Selain itu disisi sebelah Barat tepat disamping tiang utama  bagian belakang terdapat sebuah tangga bambu yang digunakan sebagai tempat pengubung loteng diatasnya, yang memiliki fungsi yang sama seperti para-para yakni  sebagai tempat penyimpanan benda-benda pusaka/suci milik suku.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;4. Fungsi Rumah Adat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;
&lt;br /&gt;Secara umum dapat dikatakan bahwa rumah adat dalam kehidupan masyarakat abui di kampung tradisional Takpala setidaknya mempunyai dua fungsi utama, yaitu fungsi sosial dan fungsi religius.
&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;a.   Fungsi sosial&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;
&lt;br /&gt;Rumah adat merupakan  satu wadah kegiatan sosialisasi masyarakat untuk belajar memahami dan menghayati kebudayaan dengan cara belajar sambil bekerja (pendidikan informal). Aplikasinya adalah berupa upacara-upacara adat yang selalu dilakukan dalam rumah adat tersebut.
&lt;br /&gt;Disamping itu rumah adat juga merupaka tempat untuk menjamin persatuan dan kesatuan seluruh warga pendukungnya (suku), karena rumah adat ini , selain dibanguna oleh segenap warga suku pada waktu dan suasana tertentu, misalnya pada pesta-pesta/upacara adat.
&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;b. Fungsi Religius&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;
&lt;br /&gt;Rumah adat merupakan tempat untuk dilakukannya upacara-upacara adat yang bersifat religius, seperti upacara yang berkaitan dengan kegiatan pertanian, perkawinan, menolak wabah, dan lain sebagainya. Selain itu, adanya barang-barang pusaka dan barang suci lainnya, membuktikan bahwa rumah adat bukan saja sebagai wadah sosial masyarakat, melainkan juga sebagai tempat suci dimana manusia bertemu dengan sang pencipta (Lahatala) yang menyelangarakan hidup manusia.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;5. Ragam Hias&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;
&lt;br /&gt;Ragam hias terutama digunakan pada rumah adat Kanuarwat yang ditempatkan pada tiang-tiang penunjang, balok, dan bingkai daun pintu bagian luar. Ragam hias dapat juga ditemui pada Lik (podium/panggung), ragam hias tersebut umumnya berbentuk geometris seperti: bela ketupat, segi tiga, lingkaran dan elips yang diberikan warna tertentu. Warna dasar yang paling umum digunakan adalah hitam, putih, merah hati, dan kuning yang diambil dari jenis tanah tenrtentu pula. Keempat warna ini hampir selalu merupakan satu komposisi dalam satu ragam hias yang ditempatkan selang-seling.
&lt;br /&gt;Gelap an terang warna juga nampaknya sangat diperhatiakan sehingga pada bagian tertentu seperti pintu yang seolah-olah ada penekanan. Karena pada bagian ini jelas sekali adanya warna yang menonjol atau lebih terang dibandingkan dengan bagian-bagian yang lainnya. Bahkan untuk memperkuat kesan ini, maka pada sisi kiri dan kanan pintu dipasang masing-masing dua batang kayu/ppan yang diberi warna putih.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;6. Fala’ (Gudang)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_9WfA01AGuhM/SqQwP6ijuvI/AAAAAAAAAQc/Y4pdchYRoNI/s1600-h/Takpala-05.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 161px; height: 206px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_9WfA01AGuhM/SqQwP6ijuvI/AAAAAAAAAQc/Y4pdchYRoNI/s320/Takpala-05.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5378476904957590258" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;
&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Fala’ merupakan rumah tinggal yang oleh masyarakat setempat menyebut sebagai&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;ru&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;mah gudang. Penamaan ini sejalan dengan sala satu fungsi lumbung tempat penyimpanan hasil pertanian seperti padi dan jgung. Sementara sebutan Fala’ sendiri muncul karena adan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;ya Dulang (Fala’)  sebagai penghalau hama tikus yang ditempatkan pada bagian ujung atas tiang uta&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;ma.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUSER%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C04%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Arial Narrow"; 	panose-1:2 11 5 6 2 2 2 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-GB;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:24405727; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-1737690090 1265518246 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:138.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:138.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} ol 	{margin-bottom:0cm;} ul 	{margin-bottom:0cm;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUSER%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C05%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-GB;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:24405727; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-1737690090 1265518246 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:138.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:138.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} ol 	{margin-bottom:0cm;} ul 	{margin-bottom:0cm;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 24pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Pembagian Ruang&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Secara Vertikal Fala’ terdiri dari beberapa susunan ruang yang disesuaikan dengan fung&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;sinya natara lain sebagai berikut :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 48pt; text-align: justify; text-indent: -12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Siwo &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(kolong)&lt;/span&gt; digunakan sebagai tempat untuk binatang (hewan piaraan), terutama ayam dan kambing.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 48pt; text-align: justify; text-indent: -12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Liktaha&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; merupaka bale-bale terbuka (tidak berdinding) yang digunakan sebagai tempat atau ruang unru manusia, yang memiliki serambi tengah yang disebut &lt;i style=""&gt;likhomi&lt;/i&gt; dan serambi yang lainnya disebut &lt;i style=""&gt;Likhabang&lt;/i&gt; biasanya digunakan untuk membersikan hasil panen sebelum disimpan atau sebagai tempat pengolahan makanan sebelum dimasak. Sedangkan &lt;i style=""&gt;likhabang &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;digunakan sebagai tempat untuk duduk-duduk santai oleh kaum laki-laki/pria dan sebagai tempat menerima dan menjamu tamu, bahkan kadang-kadang digunakan sebagai tempat tidurnya tamu laki-laki.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 48pt; text-align: justify; text-indent: -12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Falah omi&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 48pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Falah omi adalah sebagai tempat tinggal manusia (tidur, makan, kegiatan keluarga lainnya) yang sekalugus sebagai dapur dan tempat menyimpan perabot rumah tangga. Ruang ini secara keseluruan tertutup atap sehingga tidak diperlukan adanya dinding. Inti dari ruangan ini tidak ada pembagian ruang secara permanen yang membedakan antara area &lt;i style=""&gt;prifate&lt;/i&gt; (tidur) denga area yang bukan &lt;i style=""&gt;private&lt;/i&gt; (duduk/makan), melainkan berwujud sebagai ruang terbuka yang berpusat pada perapian yang terletak ditengah ruang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 48pt; text-align: justify; text-indent: -12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Akui Taha&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 48pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Akui Taha merupakan tempat penyimpanan hasil pertanian&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(panen) seperti padi dan jagung ataupun hasil pertanian lainnya jadi Akui Taha dapat disejejerkan fungsinya sebagai lumbung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 48pt; text-align: justify; text-indent: -12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;e.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Akui Kiding (loteng keci )&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 48pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Merupakan tempat penyimpanan hasil pertanian &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 48pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;(panenan) bagi seorang pemuda atau remaja yang belum menikah (berkeluarga). Pada ruangan ini dapat juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan barang-barang berharga&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(&lt;i style=""&gt;moko dan gong)&lt;/i&gt; milik keluarga atupun tempat penyimpanan hasil panen yang tidak muda dikeluarkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 48pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Bentuk denah dari rumah Gudang &lt;i style=""&gt;(Fala’) &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;umunya adalah bujur sangkar yang berfariasi dalam ukurannya dan sangat tergantung kepada kemampuan satu keluarga . luas lantai bangunan untuk lantai paling bawah &lt;i style=""&gt;(liktaha) &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;berkisar antar 28 m &lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt; sampai 32 m &lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt;. namun demikian secara umum tampilan rumah Gudang &lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;fala’) &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;ini dapat dikatakan sama.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUSER%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C06%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-GB;} a:link, span.MsoHyperlink 	{color:blue; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed 	{color:purple; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; line-height: 150%;" lang="EN-GB"&gt;Sumber foto : &lt;a href="http://www.ascensionatsea.net/Indonesia/Indo_Alor_Takpala.htm"&gt;http://www.ascensionatsea.net/Indonesia/Indo_Alor_Takpala.htm&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; line-height: 150%;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; 
&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6927716846958119087-6940049345290253541?l=www.arsitekturntt.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ArsitekturNtt/~4/aepvvLb26Wk" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/ArsitekturNtt/~3/aepvvLb26Wk/arsitektur-tradisional-alor-takpala_01.html</link><author>met_eman@yahoo.co.id (Eman)</author><media:thumbnail url="http://2.bp.blogspot.com/_9WfA01AGuhM/SqQjSdtqO7I/AAAAAAAAAPs/ziUUh_zmk7Q/s72-c/Takpala-32.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">12</thr:total><feedburner:origLink>http://www.arsitekturntt.com/2009/09/arsitektur-tradisional-alor-takpala_01.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6927716846958119087.post-1987817295441556407</guid><pubDate>Thu, 20 Aug 2009 15:49:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-09-06T11:22:00.909-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Perkampungan Orang Dawan</category><title>PERKAMPUNGAN ORANG DAWAN</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_9WfA01AGuhM/Sp198hYiWUI/AAAAAAAAANo/5Cptf0eElCM/s1600-h/atoni112.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 229px; height: 153px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_9WfA01AGuhM/Sp198hYiWUI/AAAAAAAAANo/5Cptf0eElCM/s320/atoni112.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5376592008857147714" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;J&lt;/span&gt;aman dahulu orang Dawan mendirikan rumah dan perkampungannya di puncak–puncak gunung. Perkampungan ini dikelilingi oleh pagar batu, bambu/pelepah gewang, semak berduri dan sebagainya. Setiap kampung biasanya didiami kelompok kerabat dengan seorang kepala/pimpinan. Sebuah perkampungan baru dapat terbentuk karena adanya pemecahan anggota kelompok atau kawin campur antar suku. Dengan demikian kelompok kerabat menjadi terpencar–pencar dalam wilayah yang luas. Pemecahan tempat kediaman berhubungan erat dengan sistem mata pencaharian yaitu berladang.&lt;br /&gt;Pola perkampungan suku Dawan yang asli adalah kelompok padat dengan rumah–rumah (cluster) dengan beberapa kandang ternak (sapi/babi). Kadang–kadang penduduk tersebar disekeliling perkampungan. Disamping itu ruang luar yang terbuka dimanfaatkan sebagai tempat bermain anak–anak atau tempat bekerja (menenun) terutama dibawah naungan pohon–pohon besar atau dengan mendirikan pondok-pondok tempat kerja (Sane).&lt;br /&gt;Pada Desa Maslete contohnya, masih terdapat beberap kelompok rumah dengan pola asli (cluster). Perumahan rakyat biasa terdiri dari kelompok–kelompok yang masing–masing dihuni oleh anggota sebuah marga. Setiap kelompok marga ini mempunyai sebuah rumah yang dikeramatkan yang disebut dengan rumah marga. Kompleks perumahan raja/Usif terletak pada daerah ketinggian/bukit, sedangkan perumahan rakyat biasa terletak pada daerah yang lebih rendah. Pemanfaatan ruang luar/terbuka pada kompleks Sonaf lebih diutamakan pada kegiatan spiritual (upacara-upacara adat). Hal ini di tandai dengan didirikannya tiang–tiang tempat persembahan.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Jenis bangunan dalam masyarakat Dawan dapat dibagi menjadi :&lt;br /&gt;a. Rumah Rakyat Kecil / Ume To Ana’.&lt;br /&gt;b. Rumah Marga.&lt;br /&gt;c. Rumah Raja / Sonaf ( Istana ), dan&lt;br /&gt;d. Pondok Kerja.&lt;br /&gt;Pada rumah rakyat biasa maupun rumah Raja di bagian depannya biasa di bangun/dilengkapi dengan Lopo (tempat pertemuan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;1.   Rumah Rakyat Biasa (u me To Ana’).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;a) Tipologi Bangunan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Denah rumah rakyat biasa berbentuk bundar. Luasnya tergantung pada kebutuhan serta status sosial pemiliknya. Rumah dengan denah berbentuk bundar ini disebut Ume Kbubu (Rumah Bulat). Kadang disebut juga Ume Bife (Rumah Perempuan) karena sebagian besar kegiatan dari wanita terfokus pada rumah ini, misalnya : melahirkan, memasak, menenun, dan sebagainya. Sedangkan kegiatan pria lebih banyak di ladang.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;b) Pondasi (Baki).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pondasi dibentuk dari batu kali ceper yang disusun membentuk lingkaran sesuai dengan luasnya. Tinggi pondasi dari permukaan tanah antara 20 cm–40 cm. Fungsinya untuk mencegah masuknya air pada saat musim penghujan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;c) Lantai (Nijan).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Lntai bangunan terbuat dari tanah yang diurung diatas/ i dalam fondasi yang sudah berbentuk  (bundar). Permukaan lantai kemudian diratakan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;d) Tiang (Ni).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tian To Ana’ disini dibagi menjadi :&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;1. Ni Ana’&lt;/span&gt; : Tiang yang mengelilingi bangunan. Tiang ini ditanam sesuai dengan bentuk denah (secara  melingkar). Jumlah tiang tergantung dari luasnya. Jarak antara tiangnya juga bervariasi, namun rata–rata antara 1,5–2,5 m. Bentuk tiang diambil dari alam dan langsung digunakan tanpa dibentuk lagi, hanya dirapikan. Tiang ini dipilih yang agak lurus dan bercabang pada bagian atas yang mana nanti berfungsi untuk menopang Neu’ Nono. Jenis kayu yang digunakan antara lain : kayu merah atau kayu putih. Tinggi tiang Ni Ana’, makin dekat dengan pintu makin tinggi hingga kira – kira 1,25 m, sedangkan yang terpendek yang terjauh dari pintu 60 – 80 cm. Diameter tiang antara 10–15 cm.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;2. Ni Tetu&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(tiang loteng/pelindung).&lt;/span&gt; Tiang ini dipakai sebagai tumpuan utama dari bangunan secara keseluruhan dan juga sebagai tumpuan untuk meletakan  balok–balok loteng. Tiang ini juga meneruskan semua gaya–gaya vertikal ke tanah. Jumlah tiang ini adalah empat buah (4) dan di tanam dalam tanah sedalam 50 cm. Demikain pula halnya dengan Ni Tetu ini kayu yang digunakan harus dipilih yang bercabang pada puncaknya. Fungsinya sebagai tumpuan balok–balok loteng. Pada saat sekarang ini dengan peralatan yang cukup baik tiang yang bercabang ini diganti dengan bagian puncak yang ditakik menyerupai cabang asli. Karena berfungsi sebagai penerima seluruh gaya vertikal ke tanah maka konsekuensinya dimensi tiang harus cukup besar. Bentuk tiang ini bulat dan berdiameter antara 20–25 cm dan dipilih dari teras kayu merah/kayu putih, asam dan lain sebagainya. Tinggi tiang rata – rata berkisar antara 2,50–3,00 m.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;3. Ni Enaf &lt;/span&gt;(Tiang Penopang Bangunan). Tiang ini diletakan dibaian tengah–atas balok loteng. Umlahnya satu (1) buah. Pada bagian bawah diberi takikan untuk memasukannya dalam Tunis, yang kemudian diperkuat dengan ikatan. Sedangkan bagian atas bercabang dan berfungsi untuk menopang balok bubungan. Bentuk Ni Enaf bulat, tingginya 2,00–2,50 m.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;e) Dinding&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;(Niki)&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;Dinding dipasang melingkari tiang (Ni Ana’). Beberapa kayu/bilah bambu melintang terdiri dari dua jalur diikatkan pada kayu/bambu melintang sekaligus merupakan perkuatan pada dinding. Tinggi dinding ± 0,50–0,80 m. Semakin dekat ke pintu semakin tinggi, dindingnya sampai 100 cm. Bahan dinding dipilih dari beberapa jenis bahan antara lain : papan, bambu cincang, batangt pinang cincang, pelepah gewang, kulit kayu dan sebagainya. Bagian bawah/ujung dinding dimuati diatas batu dengan tujuan agar tidak mudah rusak oleh rayap atau air.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;f) Atap&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;(Tefi).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Atap berbentuk kerucut sebagai akibat dari bentuk denah dan rangka ata. Puncak atap mempunyai dua bentuk yakni bulat (seperti sanggul wanita) dan pelana/palungan terbalik. Bentuk bundar (denah) atau metaphor sebagai bentuk bulat/kerucut (atap) mempunyai arti bentangan langit yang melingkupi bumi. Konstruksi rangka atap sendiri terdiri dari :&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;1. Nono Ana’/Neu’ Nono&lt;/span&gt;. Berupa kayu–kayu kecil (cemara) yang berdiameter antara 2–4 cm yang diikat menjadi satu kesatuan yang berbentuk lingkaran. Neu Nono ini bisa berfungsi sebagai ring balok, karena dipasang melingkari seluruh bangunan dengan bertumpu pada tiang–tiang keliling (Ni Ana’) kemudian diikat (tali Mausak).&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;2. Nono Tetu&lt;/span&gt;. Bahan dan diameter sama dengan Nono Ana’ tapi ukuran ikatannya sedikit lebih kecil. Fungsi untuk memberikan bentukan melingkar pada atap bagian tengah.&lt;br /&gt;3. Nono Nifu/Nono Sene. Fungsinya sama yakni pemberi bentuk lingkaran pada bagian atas atap. Bahan serta ukurannya sama dengan Nono Tetu. Kadang hanya dipakai Nono Nifu saja/Nono Sene saja.Pada Rumah Raja (sonaf) digunakan kedua–duanya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;4. Suaf&lt;/span&gt;. Adalah sebuah balok bulat dan lurus, berdiameter   5 -7 cm (untuk Ume Kbubu) yang diletakan/diikatkan diatas semua Nono (Nono Ana’, Nono Tetu, Nono, Nono Sene/Nono Nifu). Balok ini diambil dari alam, yakni batang pohon cemara/yang lainnya, dan harus lurus dan panjang, utuh, tidak boleh disambung–sambung pada saat dipasangkan. Fungsi Suaf adalah : Sebagai pembentuk rangka atap, dan sebagai tempat untuk mengikatkan Takpani.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;5. Takpani&lt;/span&gt;. Adalah batang – batang kecil cemara berdiameter 2-3 cm yang diikatkan arah melintang terhadap Suaf. Jarak antar Takpani 30–40 cm. Fungsi Takpani adalah sebagai tempat untuk mengikatkan alang – alang.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;6. Penutup Atap&lt;/span&gt;. Penutup rangka atap menggunakan alang – alang (Hun).&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;g) Loteng&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;(Tetu).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Loteng terdiri dari dua balok yang menumpu diatas empat tiang pendukung (Ni Tet ) yang disebut Suif. Diatas Suif diletakan melintang balok Nono, dan diatas Nono ini diletakan secara melintang balok Tunis. Di atas Tunis in digelar bambu cincang/ batang pinang cincang.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;h) Pintu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Enok)&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pintu terbentuk dari susunan papan, bilah bambu/gewang secara vertikal. Tingginya   1m–1,25m, lebarnya 0,80–1,00 m. Pintu biasanya dibuka kedalam. Secara garis besar pintu orang Dawan dibagi atas : Daun Pintu (Bena) yang berarti ceper/datar dan balok diatas pintu (kbafnesu Fafof) dan balok dibawah pintu (Kbafnesu Penif). Pada kedua balok ini dibuat berlubang sebagai tempat memasukan Utin (Lidah Pintu). Lubang tersebut dinamakan Bola’/Kona’. Utin dan Bola melambangkan pria dan wanita. Selain lubang tempat memasukan Utin tadi, juga terdapat lubang lain yang disebut Kona Falo yaitu tempat memasukan Falo yang berfungsi sebagai kunci tradisional.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;i) Tangga&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;(Elak)&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;Tangga yang dimaksudkan disini adalah tangga yang digunakan untuk naik ke loteng yang disebut Elak. Elak dapat dibagi menjadi 3 yaitu :&lt;br /&gt;1.&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Elak Ma’bola&lt;/span&gt; ( tangga berlubang ), terbuat dari sebatang kayu yang dilubangi empat sampai lima lubang.&lt;br /&gt;2. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Elak Se’at&lt;/span&gt;  yakni sebuah bambu yang ditakik 4 – 5 takikakan.&lt;br /&gt;3. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Elak Haunua&lt;/span&gt;, Terdiri dari dua batang bambu yang dihubungkan dengan beberapa kayu pendek sekaligus sebagai anak tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2.   Rumah Raja / Istana ( Sonaf )&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;a) Tipologi Bangunan&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;Tidak seperti rumah rakyat biasa yang bundar, denah Sonaf agak lonjong/elips. Bentuk tersebut melambangkan alam semesta dan sebagai pemersatu/perangkul suku – suku. Luasnya juga lebih besar dari Ume Kbubu. Ruangan dibagi dua yaitu :&lt;br /&gt;1. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sulak&lt;/span&gt; : Ruang yang digunakan untuk pertemuan kepala–kepala suku.&lt;br /&gt;2. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bife&lt;/span&gt; : Ruang tempat tinggal, memasak, tidur, menyimpan benda pusaka. Ruang ini hanya boleh dimasuki oleh pemiliknya saja, tidak sembarang orang yang boleh memasukinya kecuali diberi ijin khusus dan sanggup mentaati                     pantangan-pantangan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;b) Pondasi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt; (Baki).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya dengan Ume Kbubu, bahan pondasi berasal dari batu kali ceper yang disusun setinggi 20–40 cm dari permukaan dan membentuk lingkaran. Fungsinya sama yaitu mencegah masuknya air hujan ke dalam ruangan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;c) Lantai&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;(Nijan)&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;Setelah pondasi terbentuk, pada bagian tengah lingkaran yang sudah dibatasi dengan batu kali dimasukan batu kerikil dan diatasnya diurug dengan tanah sampai rata.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;d) Tiang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;(Nono).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tiang struktur pada Sonaf ini dibagi 3 bagian yakni :&lt;br /&gt;1.&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Ni Ana’&lt;/span&gt; : Tiang yang dipasang keliling bangunan. Jumlah tiang ini melambangkan suku–suku yang berada di bawah naungan kepemimpinan raja yang mendiami Sonaf ini. Tinggi tiang dan jarak antara tiang sekitar 150 cm. Tiang–tiang ini diberi ukiran. Untuk bahan tiang ini digunakan teras pohon kayu merah / teras kayu putih yang lurus. Pada bagian atas tiang diberi takikan yang menyerupai cabang (Tatone) yang berfungsi sebagai penopang Neu’ Nono. Diameter ruang rata–rata 15 cm.&lt;br /&gt;2. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ni Tetu&lt;/span&gt; (Tiang Loteng) : Tiang ini berfungsi menopang balok–balok loteng di atasnya. Jumlah tiang ini 4 buah yang terletak dibagian dalam (Ruang perempuan/ruang tinggal). Tinggi tiang adalah 2,50 cm dan berdiameter 20 cm. Tiang dipilih yang lurus dan bahan dari teras pohon kayu merah. Bagian atas tiang ditakik menyerupai cabang (Tatone), dipakai sebagai tempat menumpu balok  Suif. Ke empat tiang ini melambangkan 4 suku besar yakni : Uis Sanak, Uis Lake, Uis Bana, dan Uis Atoh.&lt;br /&gt;3. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ni Ainaf &lt;/span&gt; : Tiang Utama. Tiang ini lebih tinggi dari tiang yang lain (4,00 m) dan melambangkan adanya makhluk yang supra natural. Jumlah tiang ini ada dua. Yang satu berada di ruang dalam/ruang perempuan (Bife) dan yang lainnya berada di luar/tempat pertemuan (Sulak). Diameter tiang ini lebih besar dari tiang lain (25 cm) dan pada puncaknya terdapat cabang alamiah. Cabang tersebut berfungsi sebagai penopang balok bubungan (Lael) di atasnya. Bahan yang dipilih sebagi tiang utama ini adalah teras kayu merah / putih yuang diberi bentuk bulat polos tanpa ukiran.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;e) Dinding&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;(Niki).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bahan dinding berasal dari pohon kayu merah yang dibelah menjadi papan. Papan dipasan melintang dengan perkuatan dua kayu melintang, papan–papan disatukan dengan diikatkan pada tiang–tiang (Ni Ana’). Tinggi dan tebal papan yang mengelilingi bangunan adalah 1,50 m dan 2cm. Sedangkan dinding yang membatasi ruang Bife dan Sulak tingginya 2,50 m dan tebalnya 4 cm. Pada bagian bawah dinding diberi alas dari balok kayu yang diberi sponing untuk memasukan papan tersebut kedalam. Tujuannya untuk mencegah merembesnya air ke atas dinding dan menghindari serangan rayap–rayap. Balok–balok ini disebut Penif.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;f) Atap &lt;span style="font-style: italic;"&gt;( Tefi )&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; :&lt;br /&gt;Bentuk atap agak berbeda dengan Ume Kbubu terutama pada bagian bubungan yang lebih panjang dan pada bagian depan teritisnya tidak sampai ke tanah malah agak tinggi. Elemen – elemen konstruksi atap Sonaf :&lt;br /&gt;1. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Non Ni Ana’/Neu Nono&lt;/span&gt; : Adalah rangkaian batang–batang cemara berdiameter 2 – 4 cm, yang diikatsatukan dan diletekan di atas Ni Ana’ (tiang anak) secara melingkar sesuai dengan bentuk denah yang ada. Fungsinya untuk menyatukan/mengikat tiang–tiang secara keseluruhan dan sebagai tumpuan Suaf.&lt;br /&gt;2. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Non Loti &lt;/span&gt;: Rangkaian batang–batang cemara. Ukuran ikatan lebih kecil dari Non Ni Ana. Fungsinya sebagai tempat untuk mengikat Loti dan diikat melingkari ujung–ujung balok loteng. Fungsinya selain sebagai pembentuk lingkaran juga untuk mengikat ujung–ujung balok loteng.&lt;br /&gt;3. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Non Nifu &amp;amp; Nono&lt;/span&gt; : Funsinya sama yakni pemberi bentuk (lingkaran) dan juga sebagai tumpuan Suaf.&lt;br /&gt;4. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Non Sene&lt;/span&gt; : Berfungsi sebagai pemberi bentuk bagian atas.&lt;br /&gt;5. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Loti.&lt;/span&gt; Loti ditempatkan di teritisan depan rumah. Fungsinya untuk menopang bagian teritis depan rumah agar lebih tinggi dari bagian teritis yang lain. Jumlah Loti mencerminkan jumlah suku–suku yang tergabung.&lt;br /&gt;6. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Suaf&lt;/span&gt;. Ukuran Suaf pada Sonaf umumnya lebih besar dari Ume Kbubu. Diameter batang 7–10 cm. Bahan Suaf dari batang–batang cemara yang lurus utuh tanpa adanya sambungan. Suaf diikat diikat diatas semua Nono. Pada bagian bawah diberi takikan (Tkoma) yang fungsinya sebagai tempat untuk mengaitkan tali–tali yang diikatkan pada Non Ni Ana’.&lt;br /&gt;7. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Takpani&lt;/span&gt; : adalah batang–batang kecil yang diikatkan melingkar diatas Suaf. Diameter Takpani 2–3 cm. Fungsi Takpani sebagai tempat mengikatkan bahan penutup atap (alang–alang / Hun).&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;g) Loteng.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sistem konstruksi loteng sama dengan pada Ume Kbubu, tapi tiang penopang balok bubungan tidak menopang pada balok loteng namun berasal dari tiang induk (Ni Ainaf) yang ditanam dalam tanah.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;h) Pintu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pintu asli untuk Sonaf terbuat dari dua lembar papan yang tingginya 2,00 m. Tebal masing–masing papan sampai dengan pegangannya 15 cm. Tebal papannya sendiri kira–kira setengah dari tebal sampai dengan pegangannya. Lebar masing–masing papan 50 cm. Pegangan pintu (Eka Kolok) masing–masing dua buah yaitu disebalah kiri dan kanan. Pegangan pintu ini dibuat dengan cara memahat sebuah papan yang tebal (15 cm) sampai terbentuknya pegangan tersebut. Jadi pegengan pintu ini menyatu dengan pintu tanpa adanya paku, pasak, lem, tali pengikat dan sebagainya. Pada permukaan pintu ini juga diberi Ukiran serta lubang yang tembus pada sisi-sisinya sebagai tempat untuk memasukan sejenis palang pintu tradisional (Hau Eka). Pintu ini juga terbagi atas 3 bagian besar :&lt;br /&gt;1. Daun pintu ( Bena ).&lt;br /&gt;2. Balok di atas pintu ( Kbafnesu Fafof ).&lt;br /&gt;3. Balok di bawah pintu ( Kbafnesu Penif ).&lt;br /&gt;Pada bagian atas dan bawah balok ini diberi lubang (Bola‘) tempat memasukan lidah pintu (Utin). Utin dan Bola’ berfungsi sebagai engsel pintu dan melambangkan pria dan wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3.   Rumah Tempat Pertemuan Umum (Lopo / Ume Buat)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Lopo dalam bahasa Dawan berarti rumah tempat musyawarah/tempat pertemuan umum. Ume Lopo sering disebut pula sebagai rumah Ume Atoni (Rumah laki–laki) karena lebih sering ditempati, dimasuki, dipakai oleh kaum laki–laki. Konstruksi Ume Lopo secara keseluruhan sama dengan Ume Kbubu. Yang membedakannya adalah teritisnya tidak sampai ke tanah. Jaraknya dari permukaan tanah antara 150–200 cm, tidak berdinding dan tidak berpintu. Nama Ume Lopo diberikan sesuai dengan keadaan teritis yang tidak sampai ke tanah. Sedangkan Ume Buat berarti rumah tempat berkumpul.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;a. Tipologi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Denah Ume Lopo sama dengan rumah tinggal (Ume Kbubu). Bentuknya bundar dengan garis tengah 6,00–8,00 m. Letaknya berada di depan. Ume Bife (rumah perempuan) atau Ume Kbubu memberikan makna simbolik sebagai pelindung.&lt;br /&gt;b. Bentuk bagian – bagian.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Tiang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;( Ni )&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bentuk tiang lopo adalah bulat denagan diameter 20–30 cm. Jumlah tiang adalah 4 buah (Ni Tetu), sebagai pendukung balok–balok loteng yakni sebuah tiang pendukung balok–balok  loteng. Di tengah–tengah persilangan diagonal loteng terdapat sebatang kolom disebut Ni Enaf yang bertumpu pada balok–balok loteng (Tunis). Jenis pohon yang dipakai sebagai tiang adalah teras kayu Kmel (jenis kayu merah), teras kayu putih (Hu’e), Matani (sejenis kayu marambi), Ayotias (teras Kasuari), Kiu Tias (teras asam). Ke-empat tiang Ni Tetu setinggi 3,00 m ditanam sedalam 0,50 m. Ujung tiang (Ni) bagian atas yang berdiameter paling kecil disebut Utin. Bagian ini berfungsi sebabagai sambungan yang akan dimasukan kedalam lubang pahatan yang terdapat pada balok melintang (Suif). Dibawah Utin terdapat sebuah alur untuk penempatan Benatu’as (lempengan kayu/batu bundar) sebagai pencegah tikus agar tidak naik ke loteng. Bagian bawah Benatu’as terdapat Tkoma Maeka yakni bagian yang diukir untuk memperindah tiang.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Atap.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bentuk maupun konstruksi atap Ume Lopo pada dasarnya sama seperti pada Ume Kbubu. Perbedaannya hanya pada teritis atap lopo yang tidak sampai menyentuh tanah, tetapi berjarak dari permukaan tanah 150 – 200 cm.&lt;br /&gt;Bentuk puncak atap Lopo ada 2 macam yaitu ;&lt;br /&gt;a. Berbentuk pelana /palungan terbalik, dan&lt;br /&gt;b. Berbentuk kerucut.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6927716846958119087-1987817295441556407?l=www.arsitekturntt.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ArsitekturNtt/~4/Yg7EE3Zdqf0" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/ArsitekturNtt/~3/Yg7EE3Zdqf0/perkampungan-orang-dawan.html</link><author>met_eman@yahoo.co.id (Eman)</author><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/_9WfA01AGuhM/Sp198hYiWUI/AAAAAAAAANo/5Cptf0eElCM/s72-c/atoni112.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">7</thr:total><feedburner:origLink>http://www.arsitekturntt.com/2009/08/perkampungan-orang-dawan.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6927716846958119087.post-5682869823288458741</guid><pubDate>Fri, 31 Jul 2009 08:05:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-09-01T12:50:20.231-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Arsitektur Rumah Belu</category><title>ARSITEKTUR RUMAH BELU</title><description>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Pola Pemukiman/Perkampungan&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_9WfA01AGuhM/SnKm_13mV7I/AAAAAAAAAIc/YbgQuyUIvj8/s1600-h/New+Picture+%281%29.png"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 232px; height: 156px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_9WfA01AGuhM/SnKm_13mV7I/AAAAAAAAAIc/YbgQuyUIvj8/s320/New+Picture+%281%29.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5364533721873930162" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pola perkampungan arsitektur rumah Belu pada umumnya mencerminkan hubungan masyarakat terhadap alam, tatanan sosial, keadaan alam, sistem bercocok tanam, dan kosmologi masyarakat yang mendiaminya.&lt;br /&gt;Konsep ruang dalam tatanan perkampungan dalam rumah Belu merupakan bagian penting dari tradisi vernacular masyarakat setempat. Tipe tatanan permukiman dan rumah dari kampung-kampung tradisional di Belu pada umumnya merupakan tipe cluster (tanean), yang dari waktu–ke waktu tatanan ini mengalami evolusi dalam perkembangannya.&lt;br /&gt;Pola perkampungan/pemukiman rumah adat suku Matabesi adalah salah satu contoh pemukiman adat di Belu. Pemukiman ini memiliki tipe cluster, dengan “uma Bot” sebagai sentral/ pusat perkampungan.  Perletakan tempat yang dianggap sakral, pemukiman suku Matabesi terletak di depan kampung, yakni pada daerah yang lebih tinggi.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, di depan tiap rumah adat 13 suku dalam Suku besar Matabesi juga diletakkan batu persembahan (aitos), sebagai tempat berlangsungnya upacara adat. Tatanan pemukiman pada perkampungan suku Matabesi, mewajibkan tiap rumah yang didirikan harus menghadap/ berorientasi ke arah Timur atau menghadap Lakaan (gunung tertinggi di Kab. Belu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampung suku Matabesi terletak diatas puncak bukit dengan topografi yang berundak – undak. Kampung ini dikelilingi oleh kebun (To’os) sebagai pembatas desa yang dimanfaatkan oleh penduduk sebagai lahan pencaharian. Di samping itu, yang juga menjadi pembatas fisik kampung adalah kondisi topografi yang curam.&lt;br /&gt;a.Gerbang kampung &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Kanokar)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;b.Bangunan megalitik, terdiri dari kuburan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(rate) &lt;/span&gt;dan mezbah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(aitos)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;c.Pelataran terbuka &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(sadan)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;d.Mata air &lt;span style="font-style: italic;"&gt;( we matan)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;e.Kebun &lt;span style="font-style: italic;"&gt;( To’os)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;f.Kampung dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Leo laran)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;g.Rumah adat&lt;span style="font-style: italic;"&gt; (Uma Lulik/Pamali)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Tipologi Arsitektur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tipologi arsitektur rumah tradisional suku Matabesi dapat dibagi dalam tipologi fungsi, tipologi bentuk dan tipologi langgam.&lt;br /&gt;Dari segi fungsi, rumah tradisional suku matabesi dapat dibedakan setidaknya atas 3 jenis, yakni uma kakaluk (rumah terlarang), uma bot (rumah besar/pusat semua kegiatan adat/uma Pamali), dan uma laran (rumah tinggal rakyat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_9WfA01AGuhM/SnKn5VoLkLI/AAAAAAAAAIk/0HQ20ArFmvQ/s1600-h/New+Picture+%282%29.png"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 250px; height: 176px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_9WfA01AGuhM/SnKn5VoLkLI/AAAAAAAAAIk/0HQ20ArFmvQ/s320/New+Picture+%282%29.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5364534709651738802" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Dari segi tipologi bentuk, rumah adat suku matabesi juga ada dua, yakni rumah beratap perahu terbalik dan yang beratap limasan pada rumah tinggal rakyat.&lt;br /&gt;Sedangkan ditinjau dari segi tipologi langgam, maka arsitektur rumah tradisional Belu-suku Matabesi (uma Bot) dalam kekiniaannya mengenal adanya lagam khas arsitektur Belu (atap perahu terbalik) dan tipologi langgam yang memiliki keserupaan dengan arsitektur Sabu dan Rote dengan beberapa perbedaan serta varian yang menunjuk pada jati diri masing – masing daerah Belu, Sabu dan Rote.&lt;br /&gt;Namun secara tipologi fungsi bentuk arsitektur rumah tradisional Belu – Suku Matabesi  ini berbeda dari masa lampau, terlihat pada topologi berbentuk panggung. Sebelumnya, rumah adat suku matabesi berpanggung rendah akni kisaran 50-70 cm, tetapi seiring berjalan waktu, dibutuhkan ruang untuk beraktifitas maka panggung ini ditinggikan sekitar 1,8 – 2 m.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. Pola Ruang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pola/ tata ruang dalam arsitektur tradisional Belu – Suku Matabesi secara hirarkis dibagi atas dua, yakni secara horisontal dan secara vertikal.&lt;br /&gt;Secara horisontal pola ruang pada arsitektur rumah belu – suku matabesi (uma bot) dibagi atas tiga ruang (berdasarkan adat perkawinan/kawin keluar/patrilinear), dengan ruang tengah sebagai inti rumah, ruang ini bersifat profan, yakni digunakan juga dalam aktifitas sehari – hari serta sakral karena digunakan sebagai tempat melakukan aktifitas upacara adat dalam rumah,  juga bersifat sakral dikarenakan ruang ini memiliki pantangan tersendiri (wanita yang dinikahi tetapi belum lunas belisnya tidak boleh masuk ruang ini).&lt;br /&gt;Bagian depan rumah merupakan ruang yang bersifat profan serta terbuka untuk umum. Dikatakan terbuka untuk umum karena ruang ini boleh dimasuki oleh segala gender dari segala usia (siapa saja boleh masuk/ tidak ada ikatan adat).&lt;br /&gt;Ruang belakang diperuntukan untuk aktifitas perempuan seperti memasak dan pekerjaan rumah tangga yang lain (slak ha’i). Perempuan yang belum lunas belisnya hanya diperbolehkan masuk dan tinggal di dalam ruang ini. Ruang ini dibatasi oleh sebuah balok lantai (kotan) dengan ruang tengah, , apabila belisnya sudah lunas diadakan upacara adat untuk melangkahi kotan ini.&lt;br /&gt;Secara vertikal  rumah tradisional belu – suku Matabesi, dibagi menjadi tiga bagian besar, yakni kolong rumah (o’hak laran), bagian dalam rumah - diatas panggung (uma Laran) serta bagian atas/ loteng rumah (kahak Leten).&lt;br /&gt;O’hak Laran berfungsi sebagai tempat untuk menenun,anak – anak bermain dan memasak yang sekarang dilakukan di luar rumah. Sebenarnya o’hak laran merupakan tempat yang tidak dipakai untuk aktifitas (tinggi panggung 80 cm) karena dipercaya sebagai tempat dunia orang mati, tetapi akibat bertambahnya kebutuhan ruang ruang ini berubah fungsi sebagai tempat aktifitas sehari – hari.&lt;br /&gt;Uma laran merupakan tempat tinggal manusia, dipercaya sebagai dunia orang hidup.&lt;br /&gt;Yang terakhir bagian yang dianggap sakral/suci, Kahak leten tempat menyimpan benda adat dipercaya sebagai dunia leluhur. Kahak leten ini dibagi atas dua bagian menurut fungsinya yakni kahak Lor tempat menyimpan benda pusaka/kakaluk dan kahak kotuk difungsikan sebagai lumbung makanan.&lt;br /&gt;Pola ruang luar pada permukiman (perkampungan) tradisional Belu (Uma Bot) pada dasarnya memiliki konsep dan hirarki ruang yang identik dengan pola/hirarki pada tata ruang dari dalam arsitekturnya. Inti dari ruang luar pada tata tapak permukiman tradisional Belu ini adalah bangunan megalitik dan pelataran terbuka (sadan) di depan kampung.&lt;br /&gt;Pada bangunan Megalitik ada juga kuburan pahlawan mereka (Meo) dan tempat upacara adat (Aitos), sedangkan Sadan berfungsi ganda sebagai tempat upacara adat yang sakral dan bisa juga bersifat profan karena digunakan juga sebagai tempat melakukan aktifitas sehari – hari seperti bermain dan melakukan komunikasi antar warga kampung.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4. Sistem Struktur dan Konstruksi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ditinjau dari sistem struktur dan konstruksinya ,rumah adat suku Matabesi Belu Utara memiliki sistem struktur rangka berupa rumah panggung. Pada sistem struktur ini beban – beban bangunan ditransferkan melalui tiang – tiang utama (ada dua tiang utama yang ditanam sampai ke atap – kakuluk mane dan kakuluk feto) dan tiang – tiang penunjang (biasanya selalu berjumlah ganjil tergantung besarnya rumah yang dibangun – 5,7,9) yang satu sama lainnya dihubungkan dengan balok – balok horizontal dan ring pembentuk lingkaran. Tiang – tiang tersebut pada umumnya menggunakan sistem jepit (ditanam), sedangkan perkuatan antara tiang dan balok menggunakan sistem sendi (diikat dengan ijuk ataupun daun gawang/lontar).&lt;br /&gt;Pada dasarnya material yang digunakan untuk bangunan tradisional di Nusa Tenggara Timur (termasuk Belu), untuk tipologi fungsi satu dengan yang lain tidak terdapat perbedaan yang signifikan, kecuali penggunaa material tertentu untuk rumah adat yang tidak diperkenankan pada bangunan rumah tinggal biasa, contohnya pada jenis kayu yang digunakan sebagai tiang utama rumah adat (fai ulun),balok lantai (neku fatuk/jati hutan)&lt;br /&gt;Secara umum bahan bagunan yang digunakan sebagai bahan untuk bangunan tradisional di Belu [Uma Bot] berdasarkan penggunaannya terdiri dari 2 [dua] macam, yakni bahan struktural dan non struktural serta bahan bangunan konstruktif dan non konstruktif. Bahan bangunan yang digunakan pada arsitektur rumah tradisional Belu umumnya terbuat dari kayu dan bebak sebagai bahan struktural atau bahan konstruktif. Sedangkan bahan yang non strutuktural atau non konstruktif ialah berupa alang-alang (haemanlain) atau ijuk sebagai bahan penutup atap. Kayu merupakan bahan struktural atau konstruktif yang paling dominan digunakan dalam membangun rumah adat [termasuk aitos yang terdapat di tiap – tiap sadan], baik yang di olah dalam bentuk persegi[tiang dan balok persegi] maupun dalam bentuk gelondongan [bulat] dengan tanpa olahan khusus, kecuali kulitnya yang di kupas. Kayu dalam hal ini terutama digunakan untuk tiang kakaluk[ kakaluk mane dan kakaluk feto], ai kabelak [papan untuk lantai dan dinding).&lt;br /&gt;Bahan penutup atap yang bersifat non struktural atau non konstruktif dalam kearsitekturan Belu [termasuk di kampung Suku Matabesi-Sesekoe], khususnya arsitektur tradisional tidak terdapat perbedaan antara bahan penutup atap untuk rumah adat dengan rumah tinggal biasa. Uma Lulik [rumah adat]  umumnya menggunakan haemanlai [daun lontar]. Sebagian besar diambil dari sekitar kampung Matabesi – Sesekoe. Dalam pengolahannya sebagai material bangunan, bahan-bahan umumnya dikerjakan secara manual dengan sentuhan teknologi yang sederhana serta sistem pengawetan secara manual dan sederhana pula. Bahan-bahan bangunan ini setelah ditebang atau diberi bentuk [diolah] biasanya tidak langsung digunakan, melainkan untuk sementara waktu di hutan hingga bahan-bahan bangunan tersebut menjadi kering dan dianggap layak untuk digunakan. Dalam hal ini proses pengawetan material bangunan tersebut biasanya dilakukan secara alami. Selain itu, masa pengawetan bahan bangunan ini juga merupakan suatu masa persiapan dalam rangka pembangunan rumah adat serta menunggu waktu yang tepat untuk mendirikan suatu bangunan. Material bangunan ini dalam pembangunannya mengalami perlakuan-perlakuan tertentu sesuai dengan kemampuan teknologi yang dimiliki. Perlakuan terhadap bahan-bahan bangunan ini biasanya dilakukan dengan 2 [dua] kemungkinan. Pertama, bahan-bahan tersebut diberi bentuk tertentu berupa balok-balok persegi. Kedua, bahan-bahan bangunan tersebut tidak diberi bentuk khusus, tetapi dibiarkan&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5. Ragam Hias&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Arsitektur Tradisional Belu Utara memiliki beberapa bentuk ragam hias yang terletak baik itu terukir di dalam rumah maupun yang terukir di aitos.&lt;br /&gt;Ukiran yang terdapat di dalam rumah terletak pada daun pintu ukiran – ukiran itu berbentuk beranekaragam seperti ayam (manu), belut (tuna) dan kucing (busa). Ukiran ayam (manu) merupakan simbol kemenangan akan perang, ukiran belut  (tuna) melambangkan pembelah ombak, simbol ini ada kaitannya dengan agama masyarakat setempat yang  banyak menganut agama katolik, yang dimana dalam Alkitab diceritakan bahwa Musa melempar tongkatnya yang kemudian berubah menjadi ular (smea), oleh musa digunakan untuk membelah laut merah sebagai pembebesan bangsa mesir dari israel.  Sementara itu, ukiran kucing  (busa) melambangkan berkah dalam mencari makan (pekerjaan)&lt;br /&gt;Ukiran ragam hias lain dalam Arsitektur Tradisional Suku Matabesi Belu terdapat pada mesbah/ meja persembahan (aitos). Ukiran ini terdiri dari tiga lapisan gambar yang menjadi satu kesatuan, ukiran ragam hias ini dikenal dengan sebutan Makarek Madaen yang melambangkan pejalanan Sina Mutin Malaka, diambil dari analogi bukit dan lembah digunakan sebagai simbol penghargaan bagi Sina Mutin Malaka yang dimana menurut kepercayaan masyarakat setempat pada waktu itu leluhurnya datang dari arah Laut (Larantuka) melewati gunung dan lembah (Lakaan).&lt;br /&gt;Selain Makarek Medaen ada juga bentuk mata tombak (Matan Diman), khususnya terdapat pada aitos uma Meo. Analogi  mata tombak ini melambangkan keberanian Meo dalam menghadapi peperangan.&lt;br /&gt;Bangunan megalitik kampung Matabesi – Sesekoe dibagi atas empat jenis, diantaranya adalah :&lt;br /&gt;a. Fatuk aitos, diletakan sebagai dasar berdirinya aitos fungsinya sebagai perkuatan/alas berdirinya aitos. Selain itu juga sering digunakan utuk meletakan persembahan dalam ukuran besar seperti kerbau,babi ataupun ayam.&lt;br /&gt;b. Fatuk lulik, berada tepat di atas aitos fungsi fatuk lulik sebagai meja persembahan untuk meletakan persembahan/sesajen dalam bentuk sirih pinang bagi para leluhur dalam suatu upacara adat. Fatuk aitos dan fatuk lulik merupakan suatu kesatuan yang menyatu dalam aitos itu sendiri.&lt;br /&gt;c. Sadan Sri fo’on Lakaan, merupakan tempat untuk menaruh Persembahan Kemenangan perang berupa kepala-kepala lawan yang telah dikalahkan dalam perang sebagai tanda bahwa warga kampung Matabesi telah memenangkan peperangan dalam merebut wilayah kekuasaan sekitar daerah tersebut serta berterimakasih pada leluhur yang telah membantu dalam peperangan (yang memberi kekuatan).  Sadan Sri fo’on Lakaan ini dibagi atas dua tempat yang satunya berada di muka kampung sementara yang lainnya berada pada tempat yang lebih tinggi, dimaksudkan untuk menunjukan kemenangan pada daerah – daerah sekitarnya.&lt;br /&gt;d. Hingga pada saat sekarang ini, Sadan Sri fo’on Lakaan masih digunakan sebagai awal dari upacara – upacara besar yang terjadi di kampung Matabesi – Sesekoe ini. Contohnya, digunakan sebagai tempat persembahan pada upacara awal musim panen ataupun upacara awal musim tanam. karena  Sadan Sri fo’on Lakaan merupakan awal pintu masuk kawasan kampung tersebut, tempat ini besifat profan dan sakral.&lt;br /&gt;e. Rate Meo (Kuburan Pahlawan) Kuburan pahlawan ini adalah salah satu  bangunan megalitik yang terdapat di dalam kampung  Matabesi – Sesekoe.  Pada upacara – upacara tertentu, rate meo ini sering digunakan sebagai salah satu tempat upacara adat seperti pada upacara adat untuk mengambil kekuatan/ keberanian muda – mudi suku Matabesi sebelum merantau.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;6. Upacara Membangun Rumah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang Belu, khususnya suku Matabesi - Sesekoe rumah tidak hanya  sekedar tempat tinggal, tempat berteduh dari panas dan hujan melainkan juga merupakan bangunan yang ditata secara perlambang yang konteks dengan sosial budaya masyarakat yang tinggal didalamnya sehingga diperlukan tata cara dalam pendirian rumah.&lt;br /&gt;Dalam hal ini, mendirikan rumah dapat dilihat sebagai penerapan hidup dalam lingkungan sosial yang diwakilinya. Upacara dilakukan mulai dari pembersihan lahan rumah, penentuan titik pembangunan rumah, pendirian tiang utama/kakaluk mane dan kakaluk feto, pemasangan bubungan atau atap rumah, sampai upacara masuk/penghunian rumah.&lt;br /&gt;Hal ini dilakukan secara bertahap dan melibatkan pemilik rumah (uma nain) dan pemuka kampung (makoan) atau orang yang dianggap keramat. Misalnya, proses pembersihan dan pendirian tanda rumah dilakukan pemilik rumah dalam hal ini ibu/perempuan pemilik rumah dengan orang sakti yang tahapannya dapat dilihat pada gambar berikut ini.&lt;br /&gt;Upacara pembersihan dan meminta izin kepada roh di dunia dan leluhur  yang memiliki tanah dilakukan oleh hampir semua etnis atau masyarakat tradisional Indonesia.  Ritual ini bertujuan untuk memberikan spirit atau jiwa bagi kehidupan yang berlangsung didalam rumah/bangunan yang didirikan. Spirit atau jiwa dari rumah yang didirikan sering disimbolkan dalam benda keramat yang diletakkan di dalam rumah, seringkali di letakkan pada bagian tengah atau atas (atap) rumah. Misalnya raga-raga yang digantung dibawah atap rumah Batak Toba. Selain menjadi jiwa atau nyawa dari rumah, berfungsi juga mengusir roh – roh atau gangguan dari luar terhadap keselamatan penghuni rumah.&lt;br /&gt;Selain itu, rumah juga dianggap sebagai perwujudan jagad kecil dari jagat raya. Rumah adalah tempat kelahiran, perkawinan dan kematian. Seringkali upacara yang berhubungan dengan ketiga hal tersebut dikaitkan dengan arah mata angin dan pergerakan matahari. Sehingga unsur kejagadan ini menciptakan tatanan upacara yang mengatur kegiatan di dalam rumah. Sebagai contoh timur dianggap serupa dengan hal-hal memberi kehidupan dan barat identik dengan kematian; maka wanita melahirkan ditempatkan di bagian timur rumah dan orang meninggal ditempatkan dibaringkan di bagian barat. Dalam sisi tegak, pembagian ruang dalam rumah sebagai jagad kecil merefleksikan pembagian ruang dalam alam semesta.&lt;br /&gt;Sebagian besar masyarakat tradisional Indonesia membagi alam kedalam tiga bagian;  dunia atas, dunia tengah dan dunia bawah. Kosmologi ini juga mempengaruhi pembagian ruang dalam rumah ; ruang dibawah atap disamakan dengan alam dewa dan leluhur, lantai mewakili dunia biasa pengalaman sehari – hari dan ruang kosong dibawah rumah dihubungkan dengan alam baka yang dihuni oleh roh jahat, jiwa orang mati dan hal-hal gaib lainnya.&lt;br /&gt;Dalam masyarakat tradisional, selain pembagian rumah yang dikaitkan dengan symbol sebagai jagad kecil, arah kejagadan rumah sesuai dengan penataan ruang perlambang lain, seperti pembagian dengan konsep berdasar  gender serta gagasan mengatur perilaku pria dan wanita. Seringkali wanita dikaitkan dengan bagian dalam atau belakang rumah, dan pria serupa dengan bagian depan atau luar rumah. Pengaturan ruangan keluarga di dalam rumah suku Minangkabau di Sumatera Barat sangat dipengaruhi oleh konsep gender tersebut.&lt;br /&gt;Demikian halnya dengan proses pembangunan rumah adat Suku Matabesi, awalnya Tua-Tua aadat berkumpul membicarakan rencana Pembangunan Rumah Adat, setelah mendapat kesepakatan yang bulat Makoan memohon persetujuan dari para Leluhur/nenek moyang untuk mencari hari baik memotong bahan/ material yang dibutuhkan. Pemotongan bahan-bahan tersebut selesai, sementara waktu di tinggalkan untuk mencari hari baik lagi mengumpulkan bahan-bahan yang telah disiapkan. Sementara itu dalam proses menunggu hari pegumpulan behan, lahan untuk memdirikan Rumah adat di siapkan dengan membuat dua Lobang untuk memasang/ tanam 2 tiang utama yakni Tiang Laki dan Tiang Mai. Ke-dua tiang ini tidak boleh menyentuh tanah sebelum tempat yang di sediakan belum selesai, karena tiang-tiang ini dianggap Suci dan sakral. Disamping itu konstruksi atapnya pun dirakit untuk siap dipasang. Setelah tiang Laki dan Tiang Mai berdiri proses pembangunan dilanjutkan sampai selesai dalam jangka waktu satu hari sebelum matahari terbenam.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;7. Fungsi Rumah Adat/Suku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Rumah adat suku besar matabesi didalam kampung sesekoe seperti telah diuraikan sebelimnya bahwa ada 12 ( dua belas ) rumah adat yang memngelilingi satu rumah besar ( uma bot ). Ke 13 ( tiga belas ) rumah adat  ini memiliki fungsi yang sama.&lt;br /&gt;Pada kesehariannya rumah adat ini bias bersifat profand yakni sebagai rumah tinggal tapi tidak terlepas dari rumah adat yang mengikat. Contohnya bila sesorang pria yang belum melunasi uang kawin ( belis / mahar ) pada saat dilakukan upacara maka tidak diperkenanankan ( pemali ) untuk berada dalam ruang laki – laki.&lt;br /&gt;Lain halnya kalau ada ritual adat tertentu rumah adat ini akan berubah menjadi sakral karna rumah adat dijadikan salah satu tempat berlangsungnya rumah adat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;8. Letak pemukiman dalam kaitan konsep kepercayaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kampung tradisional di Belu khususnya kampung suku besar Matabesi bertempat di puncak bukit. Hal ini dikarenakan, secara spiritual masyarakat Belu menganggap puncak bukit merupakan simbol yang menghubungkan permukiman sebagai mikrokosmos dengan alam atas sebagai tempat yang kuasa, yang empunya alam semesta sebagai makrokosmos. Oleh karena itu, dengan mendirikan permukiman diatas bukit atau puncak gunung, diharapkan setiap permohonan  yang mereka panjatkan akan cepat terjawab.&lt;br /&gt;Secara logika, pada kenyataannya pemukiman di atas bukit menunjukan perlindungan dari segi keamanan fisik. Puncak bukit merupakan tempat yang strategis untuk mengatur pertahanan dan mengawasi musuh yang menyerang mereka (Budilay, 1989: 47).&lt;br /&gt;Dari segi kesehatan, puncak bukit atau gunung relatif lebih baik, karena lahan atau kawasan pemukiman cepat kering pada waktu hujan serta aliran udara lebih lancar. Mengacu pada keyakinan orang (masyarakat) Belu akan para leluhur atau para dewa mereka yang tinggal di puncak bukit atau gunung ini, pada dasarnya dilandasi oleh kepercayaan pendukung tradisi megalitik yang berkembang atau berlangsung lebih tua. Gunung-gunung biasanya dianggap suci oleh pendukung tradisi megalitik tersebut, hal ini dibuktikan dengan masyarakat Belu yang menanggap gunung Lakaan sebagai tempat suci. Dengan demikian maka tidak mengherankan apabila gunung Lakaan sangat mempengaruhi cara-cara dan sistem tertentu untuk mendirikan permukiman.&lt;br /&gt;Pengaruh dari kepercayaan ini sekaligus menyebabkan masyarakat pendukung megalitik, dalam hal ini masyarakat Belu khususnya suku besar Matabesi,pada cara mendirikan bangunan-bangunan di atas bukit, dengan orientasi bangunan menghadap Timur dimana posisi Gunung Lakaan. tujuannya adalah untuk mendekatkan diri dengan zat tertinggi yang bersemayam di gunung atau tempat yang tinggi.&lt;br /&gt;Pola pikir masyarakat Belu membuktikan diri sebagai masyarakat pendukung megalitik. Konsep kepercayaan mempengaruhi penataan permukiman serta tatanan kehidupan masyarakat yang diwujudkan dalam berbagai ritus upacara adat. Untuk melaksanakan upacara tersebut diperlukan tempat-tempat upacara yang sesuai dengan kepercayaan mereka. Kebutuhan akan tempat upacara inilah yang menyebabkan adanya pembagian ruang/tata kawasan pemukiman serta rumah mereka yang terkadang sangat tegas membedakan antara tempat yang bersifat sakral dengan tempat-tempat yang bersifat profan. Bangunan yang didirikan pun harus menghadap arah gunung lakaan sebagai gunung suci.&lt;br /&gt;Pada kenyataannya, yang terlihat dilokasi kampung adat matabesi telah terjadi pergeseran yang mengiringi perubahan pola pikir masyarakat setempat akibat pengaruh ilmu pengetahuan dan teknologi. Masyarakat suku matabesi yang makin hari makin bertambah mulai mengembangkan pola perkampungannya lebih ke arah tempat – tempat yang lebih rendah yang dekat dengan jalur jalan raya. Bangunan perumahan yang dibangun pun menggunankan bahan bangunan yang modern (beton, batu bata dan seng). Orientasi rumah tidak lagi harus menghadap arah Gunung lakaan sebagai suatu prasyarat adat setempat melainkan lebih ke arah perletakan jalan. Walaupun, Pemukiman yang terletak di puncak bukit yang merupakan cikal bakal perkampungan Sesekoe - Matabesi memang tidak ada perubahan yang terlalu signifikan dan masih tetap dipertahankan, yang disayangkan perkampungan matabesi hanyalah menjadi suatu benda situs budaya yang dipajang. Hal ini dikarenakan, perkampungan tua ini hanya ditinggali oleh segelintir orang dalam kasus ini kepala suku kampung tersebut dan tua – tua adat yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;9. Nilai-nilai Simbolisme Rumah Adat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menurut Abdul Aziz Said (2004:49) pada semua kebudayaan tradisional, rumah merupakan karya manusia dalam wujud tiga dimensional yang dianggap memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan. Rumah menciptakan ‘ruang khayal’ di dalam ruang nyata yang dapat dipergunakan, tempat yang membatasi ‘sesuatu’ terhadap dunia sekitarnya dan bertujuan menjadikan manusia sebagai ‘bagian utama’ dari lingkungan sekelilingnya.&lt;br /&gt;Lebih lanjut Abdul Aziz Said mengatakan, bahwa bagi masyarakat tradisional, rumah dibangun atau didirikan, dihuni dan dipergunakan oleh manusia,bukan sekedar untuk mewadahi kegiatan fisik belaka, yang hanya mempertimbangkan segi kegunaan praktis semata seperti untuk tidur, bekerja dan membina keluarga. Bagi mereka tumah merupakan ungkapan ‘alam khayal’ pikiran dalam wujud nyata yang mewakili alam semesta, dimana alam pikirannya selalu diliputi oleh mitos dan bayangan terhadap sesuatu (dewa-dewi) yang mempunyai kekuatan atau kekuasaan yang mengatur alam ini. Oleh karena itu, membangun  sebuah rumah berarti menciptakan sebuah alam kecil (mikrokosmos) di dalam alam semesta (makrokosmos), sehingga dianggap memulai hidup baru. Hal inilah yang menjadi konsep dasar dalam setiap upaya mendirikan bangunan pada masyarakat tradisional.&lt;br /&gt;Rumah tradisional di beberapa daerah (negara) di Asia Tenggara pada umumnya dan di Indonesia pada khususnya (termasuk juga di Nusa Tenggara Timur) diakui mempunyai banyak signifikansi. Ruang di dalam rumah yang merupakan wadah tiga dimensional, tidak hanya sebagai suatu bagian yang membatasi ruang dengan dunia sekelilingnya secara fisik, tetapi juga dalam arti keberadaanya sebagai ruang merupakan ungkapan simbolik (Said, 2004: 52).&lt;br /&gt;Terdapat pengertian yang lebih luas mengenai konsep dan struktur kosmos, seperti strata/hirarki vertikal mengenai ‘surga’ (dunia atas), dan ‘bumi’(dunia bawah) atau aturan-aturan horisontal yang mengacu pada titik pusat (‘cardinal point’), termasuk juga catatan mengenai lokasi antara gunung dan laut. Kesemuanya itu dirangkum dalam simbolik dan divisualisasikan pada wujud bagian-bagian rumah, yang bertujuan untuk menentukan posisi rumah di lingkungan alamnya. Dengan demikian rumah merupakan suatu miniatur kosmos atau dapat disebut gambaran mengenai mikrokosmos (‘jagad kecil’).&lt;br /&gt;Konsep mikrokosmos dan makrokosmos ini juga ditemui dalam kehidupan masyarakat dan kebudayaan Belu pada umumnya, dan masyarakat yang mendiami kampung Suku Matabesi di Desa Sesekoe Kecamatan Kota Atambua Kabupaten Belu. Rumah-rumah adat atau setiap perkampungan di Belu mempunyai tatahan yang integral dengan bangunan-bangunan megalitik berupa Aitos yang terdapat di setiap Sadan rumah setempat.  Kenyataan ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Beding dan Lestari (2003: 54) bahwa alam nyata tidak dapat dipisahkan begitu saja dengan alam baka; betapa tergantung terkait-mentatu dengan mikrokosmos (‘jagad kecil’) dan makrokosmos atau alam semesta.&lt;br /&gt;Penataan atau tata letak rumah-rumah dalam pola pemukiman tradisional di Belu (termasuk juga di kampung Suku besar Matabesi) yang ditata secara cluster di depan kampung terdapat Sadan Sri foon Lakaan (peralatan terbuka) yang multi fungsi ini memiliki nilai simbolik tersendiri, yakni pada kebersamaan dan gotong royong masyarakat setempat.&lt;br /&gt;Gugusan rumah-rumah tinggal biasa yang terdapat dalam pemukiman tradisional Suku Matabesi  ini nampaknya tidak ada ketentuan khusus mengenai perletakannya dalam tata tapaknya, kecuali 12 rumah suku dan uma kakaluk yang selalu diletakan menghadap arah timur, dimana posisi Lakaan berada serta aitos yang terletak di tengah Sadan (peralatan terbuka). Dengan demikian, rumah-rumah tinggal biasanya diletakan berjejer disebelah kiri dan kanan kedua belas rumah adat berdasarkan pembagian suku dalam suku besar Matabesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsepsi mengenai hubungan antara alam nyata dengan ‘alam baka’ ini menjadi faktor utama yang melatarbelakangi mengapa kuburan orang yang telah meninggal khususnya kuburan Meo (pahlawan diletakan di dalam kampong, di dekat rumah Meo itu sendiri. Perletakan kuburan yang demikian bertujuan agar mereka selalu dekat dengan para leluhurnya yang senantiasa melindungi mereka dari berbegai macam marah bahaya.&lt;br /&gt;Pada umumnya arsitektur rumah adat dan rumah tinggal dalam kehidupan masyarakat budaya Belu  memiliki arti dan makna tertentu, baik secara praktis maupun religius. Para ahli antropologi, sosiologi dan arkeologi mengatakan bahwa arsitektur dan penataan rumah-rumah adat dan rumah tinggal dalam kebudayaan masyarakat adat di Nusa Tenggara Timur berkaitan erat dengan makna-makna simbolis dan religius. Pembuatan dan pendirian perkampungan maupun rumah adat dan rumah tinggal tersebut selalu dikaitkan dengan harapan dan permohonan yang disampaikan kepada sang pencipta untuk ketentraman, keamanan dan kesejahteraan melalui  perantaraan para leluhur mereka.&lt;br /&gt;Sebagaimana telah diungkapkan diatas bahwa pada dasarnya rumah-rumah adat dan rumah tinggal ataupun perkembangan tradisional di Belu (termasuk juga di kampung Adat Suku Matabesi) dibangun dengan pertimbangan praktis dan religius. Pertimbangan praktis antara lain sebuah pemukiman tradisional (kampung tradisional) sedapat mungkin di bangun relatif dekat sumber air (mata air), karena air memiliki peran penting bagi kelangsungan hidup manusia beserta makhluk hidup lainnya. Bahkan bagi masyarakat Belu mata air merupakan salah satu unsur yang mendukung keberadaan suatu kampung adat. Karena mata air dalam hal ini merupakan salah satu tempat untuk pelaksanaan upacara adat tertentu. Rumah di bangun berpanggung untuk menghindari binatang yang mencelakakan penghuni rumah, disamping untuk mengantisipasi kelembaban tanah yang membahayakan kesehatan manusia. Selain itu, rumah panggung merupakan suatu penyelesaian masalah yang sangat arif dan bijaksana, mengingat terbatasnya teknologi yang dimiliki serta sebagai manifestasi dari upaya untuk tidak merusak alam. Perpanggungan bangunan dimaksudkan sebagai tempat tambahan akan kesadaran mereka terhadap ruang manusia yang dapat dipergunakan sebagai wadah untuk melakukan aktivitas keseharian.&lt;br /&gt;Makna religius dibuktikan dengan adanya Kakaluk Manek dan kakaluk feto (tiang suci) yang terletak dibagian tengah rumah sebagai pusat orientasi dalam rumah adat (uma kakaluk), terutama pada saat pelaksanaan upacara-upacara adat. Makna religius juga ditandai oleh benda-benda pusaka milik suku merupakan manifestasi dari makna religius tersebut. Dengan demikian, maka rumah tradisional Belu (termasuk di kampung Adat Suku Matabesi) secara vertikal yang berkaitan dengan makna religius tersebut setidaknya terdiri dari tiga bagian memiliki nilai perlambangan (simbolik) tertentu. Paling bawah, kolong rumah melambangkan ‘dunia bawah’ atau ‘alam bawah’; bagian tengah rumah sebagai tempat tinggal manusia melambangkan ‘dunia tengah’ atau alam tengah; dan bagian atas rumah (‘Kahak Leten) sebagai tempat para arwah leluhur melambangkan ‘dunia atas’ atau ‘alam atas’. Jadi disini, rumah tidak hanya sekedar sebagai tempat kediaman manusia semata, tetapi merupakan pula tempat kebaktian, tempat pertemuan manusia dengan para dewa dan arwah serta tempat pertemuan manusia dengan Sang Penciptanya (Maromak).&lt;br /&gt;Dalam arsitektur tradisional Belu, khususnya rumah adat terdapat nilai simbolisme yang cukup penting, yakni tiang-tiang penopang rumah adat tersebut. Rumah adat Belu  (termasuk 12 Rumah Suku di kampung Adat Suku Matabesi) bisanya ditopang oleh tiang-tiang utama atau tiang agung (Kakaluk Manek dan kakaluk Feto) dan tiang-tiang penunjang yang umumnya terbuat dari jenis pohon yang sama. Dari segi konsep kepercayaan khususnya tiang utama atau tiang agung (Kakaluk Manek dan kakaluk Feto) tersebut memiliki nilai perlambang yang erat kaitannya dengan simbol kekuatan, keangungan dan kekuasaan. Sedangkan ditinjau dari pengetahuan mekanika teknik serta logika sederhana menunjukan bahwa tiang-tiang rumah adat yang terbuat dari pohon yang sejenis akan memiliki kekuatan yang sama pula dalam menopang beban-beban bangunan diatasnya. Hal ini sekaligus menunjukan adanya kesadaran terhadap peran atau tugas utama dari tiang utama (Kakaluk Manek dan kakaluk Feto) tersebut yang menjamin kekokohan bangunanya. Dengan kata lain, tiang-tiang utama disini memegang peranan penting, karena apabila tiang – tiang utama ini runtuh atau patah berarti rumah tersebut akan hancur binasa. Sedangkan tiang – tiang utama dalam wujudnya yang berukir dan berdimensi besar menggambarkan keagungan dan wibawa dari leluhurnya. Sementara penampang tiang yang berbentuk bulat serta pengolahan tiang yang berbentuk sederhana selaras dengan bentuk asli pohonnya mencerminkan suatu upaya yang dimaksudkan untuk mempermudah pembuatan tiang tersebut, mengingat kemampuan teknologi yang dimiliki masih sederhana pula.&lt;br /&gt;Di puncak atap (bubungan rumah adat) yang tampak diluar terdapat tiga ikatan alang – alang (haimalin) yang berbentuk menyerupai tanduk. Bentuk tersebut melambangkan nenek moyang atau lelehur orang Belu (SINA MUTIN MALAKA) yang selalu memelihara dan melindungi seluruh penghuni rumah dan seluruh warga kampung.&lt;br /&gt; Tanduk kerbau yang terdapat dalam rumah merupakan lambang kekuatan suku, yang sekaligus merupakan cerminan manusia yang suka bekerja keras. Jika dilihat dari dalam (interior), khususnya pada tiang utama (Kakaluk Manek dan kakaluk Feto), terdapat nilai-nilai yang mengadung makna permusyawaratan atau perwakilan nenek moyang (leluhur) yang bersifat suci, simbol pemimpin, berada di tengah-tengah, tempat segala sesuatu urusan disampaikan, penopang, pembela dan penegak keadilan serta kesejahteraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;input id="gwProxy" type="hidden"&gt;&lt;!--Session data--&gt;&lt;input onclick="jsCall();" id="jsProxy" type="hidden"&gt;&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6927716846958119087-5682869823288458741?l=www.arsitekturntt.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ArsitekturNtt/~4/PV9l-QWT6FY" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/ArsitekturNtt/~3/PV9l-QWT6FY/arsitektur-rumah-belu.html</link><author>met_eman@yahoo.co.id (Eman)</author><media:thumbnail url="http://2.bp.blogspot.com/_9WfA01AGuhM/SnKm_13mV7I/AAAAAAAAAIc/YbgQuyUIvj8/s72-c/New+Picture+%281%29.png" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">3</thr:total><feedburner:origLink>http://www.arsitekturntt.com/2009/07/arsitektur-rumah-belu.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6927716846958119087.post-8023907213728079227</guid><pubDate>Thu, 16 Jul 2009 15:35:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-09-01T12:49:39.857-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Arsitektur Vernakular Ende Lio</category><title>ARSITEKTUR VERNAKULAR ENDE LIO</title><description>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KONSEP TAPAK&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_9WfA01AGuhM/Sl9R-7kWHjI/AAAAAAAAAEk/mD99s5kGVkQ/s1600-h/arsitek001.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 231px; height: 124px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_9WfA01AGuhM/Sl9R-7kWHjI/AAAAAAAAAEk/mD99s5kGVkQ/s320/arsitek001.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5359092223178055218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pola perkampungan pada kompleks Sa’o Ria adalah Linear.&lt;br /&gt;Hal ini dapat dilihat dari perletakan massa bangunan yangmengikuti alur jalan. dengan kontur tanah yang cukup terjal, maka penempatan daerah yang disakralkan seperti Kanga yang merupakan tempat pemujaan mendapatkan tempat yang paling tinggi.&lt;br /&gt;Dalam  tapak ada  beberapa  komponen  antara  lain:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Sao Ria&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sa’o merupakan rumah, sedangkan Ria artinya besar. Jadi pengertian Sa’o Ria adalah Rumah Besar. Sa’o Ria merupakan bangunan utama masyarakat Ende Lio dan amat disakralkan. Pada Sa’o Ria inilah Atalaki Pu’u menetap.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;• Fungsi praktis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sao Ria  merupakan  tempat  berlindung satu  atau  beberapa  keluarga  yang  seketurunan. Di tempat  itulah  mereka  makan, tidur, dan  melakukan  pekerjaan – pekerjaan  tertentu. Sao  Ria  juga  berfungsi  sebagai  dapur  untuk  memasak  makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;• Fungsi  Sosial&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sao  Ria  adalah  tempat  tinggal  Atalaki  Puu  beerta  saudara – saudaranya.Ia  adalah  bapak  dan  ibu  dari  segenap  suku,representan  hidup  dari  nenek – moyang. Ia  yang  menjamin  kesatuan  dari  seluruh  warganya,sebab  Sao  Ria  dibangun  oleh  segenap  warga  suku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;• Fungsi  Religius&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sao  Ria  merupakan  tempat  dilakukannya  upacara  adat  yang  bersifat  religius  seperti  upacara  pertanian,  kelahiran,  perkawinan,  dan  kematian.Adanya  Wisu  lulu,  Ana  wula  leja,  dan  barang – barang  pusaka  keramat  lainnya.  Membuktikan  bahwa  Sao  Ria  bukan  saja  sebuah  tempat  tinggal  roh  nenek – moyang  dan  tempat  manusia  bertemu  dengan  dua  ngga’e  yang  merupakan  sumber  dan  tujuan  akhir  serta  penyelenggara  kehidupan  alam  semesta..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Kedha&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kedha  adalah  pasangan  Sao  Ria  tak  berdinding  dan  tak  didiami. Ia  dibiarkan  kosong  dan  hanya  dipakai    beberapa  kali  dalam  setahun,  Yakni  bila  pemuka – pemuka  adat  membicarakan  persoalan – persoalan  penting.  Sao  Kedha  dianggap  sebagai  symbol  kejantanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. Bhaku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bhaku  adalah  sebuah  rumah  kecil  yang  dibangun  disamping  Sao  Ria  dan  merupakan  tempat  pertemuan  informal.  Pada  mulanya  tamu  diterima  dan  dijamu  di  Bhaku  terlebih  dahulu  sebelum  diterima  di  Sao  Ria.  Di  dalam  Bhaku  tersimpan  tulang  para  leluhur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4. Kebo Ria&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Keboria  adalah  sebuah  rumah  kecil  yang  dibangun  tidak  jauh  dari  Sao  Ria  dan  terletak  berdampingan  dengan  Bhaku  dan  menghadap  Sao  Moni.  Keboria  memiliki  dua  ruang  utama  yakni  bagian  atas  dan  bagian  bawah.  Bagian  atas  berfungsi  sebagai  tempat  untuk  menyimpan  padi  dan  jagung,  sedangkan  bagian  bawah  tempat  untuk  mengadakan  musyawarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5. Kuwu  Lewa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kuwu  Lewa  didirikan  disamping  kiri  Sao  Ria  Kuwu  Lewa  tidak  berdinding  dan  tidak  berpenghuni.  Kuwu  Lewa  didirikan  khusus  untuk  memasak  daging  dari  hewan – hewan  besar  seperti  kuda,  kerbau,  dan  babi  pada  waktu  pesta  adat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;6. Saga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saga  berbentuk  tiang  yang  terbuat  dari  kayu  nangka,  letaknya  dibagian    depan  sebelah  kanan  Sao  Ria.  Tingginya  sejajar  dengan  lantai  teras  depan  atau  Maga  Lo’o.Saga  merupakan  tempat  untuk  meletakan  sesajian  pada  acara  seremoni  adat  dalam  rangka  permohonan  restu  para  leluhur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;7. Kanga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kanga  adalah  pelataran  yang  berbentuk  bulat  dan  berpagar  batu  didepan  Kheda  dan  Sao  Ria  terdapat  dua  buah  kanga  yaitu  kanga  suku  Ndito  dan  kanga  suku  Moni.  Kanga  suku  Ndito  lebih  tinggi  dari  Kanga  suku  Moni  karena  Kanga  suku  Ndito  dipimpin  oleh  ata  Lake  Puu  ( Ineame ) yang  berkuasa.  Tinggi  Kanga  suku  Ndito  kurang  lebih  3 m  dan  tinggi  Kanga  suku  Moni  1,5 m  kangga  merupakan  tempat  untuk  menari  tarian  Tandak,  yakni  tarian  keakraban  dan  kesatuan  antara  para  suku  dalam  upacara  adat.  Kanga  suku  Ndito  dan  Kanga  suku  Moni  dihubungkan  oleh  Kedha.  Semua  upacara  adat  suku  Ndito  hanya  bisa  dilakukan  dilakukan  di  kanga  suku  Ndito  begitu  pula  sebaliknya.&lt;br /&gt;Di tengah Kanga terdapat dua buah batu. Batu yang berdiri tegak dinamakan Tubu Musu yang melambangkan unsure jantan penghubung langit dan bumi.&lt;br /&gt;Disamping Tubu Musu terdapat Musu Mase yakni batu ceper bulat tempat sesajian untuk nenek moyang.&lt;br /&gt;Kanga merupakan tempat suci, symbol kekuatan disitulah para moyang dikuburkan dan diberi persembahan. Disitu pula mereka menyambut Dua Ngga’e pada upacara-upacara adat.&lt;br /&gt;Diantara Kanga Ndito dan kanga Moni dekat Bahaku ada Rate atau kubur tempat disemayamkan Atalake Puu/Ine Ame selama menanti pemetian tulang yang kemudian akan disimpan di dalam bhaku.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6927716846958119087-8023907213728079227?l=www.arsitekturntt.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ArsitekturNtt/~4/IB9dqoO3U1k" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/ArsitekturNtt/~3/IB9dqoO3U1k/arsitektur-vernakular-ende-lio.html</link><author>met_eman@yahoo.co.id (Eman)</author><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/_9WfA01AGuhM/Sl9R-7kWHjI/AAAAAAAAAEk/mD99s5kGVkQ/s72-c/arsitek001.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><feedburner:origLink>http://www.arsitekturntt.com/2009/07/arsitektur-vernakular-ende-lio.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6927716846958119087.post-450168783123132907</guid><pubDate>Sat, 16 May 2009 16:25:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-09-06T13:02:18.576-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Mahluk Apakah Arsitektur Vernakular itu?</category><title>Mahluk Apakah - Arsitektur  Vernakular Itu?</title><description>&lt;span style="font-size:180%;"&gt;J&lt;/span&gt;ika anda membuka buku sejarah-dunia, secara kronologis mulai jaman prasejarah sampai awal abad ke-20 selalu diisi kisah [his/story] para raja, pembesar yang berkuasa atau pahlawan besar. Mereka selalu dianugrahi atribut tinggi, besar, karena berwenang membuat putusan penting yang membawa dampak perubahan dahsyat bagi masyarakat kebanyakan. Firaun, Caecar, Cleopatra, Louis, Elisabeth, Pu Yi, Napoleon, Washington, adalah deretan nama tokoh yang besar dan hebat. Kisah mereka seakan sejalan dengan kisah istana, mahkota, pakaian kebesaran, pedang excalibur, sampai stempel emas kerajaan yang bertabur berlian di sana sini.&lt;br /&gt;Kecenderungan berkisah tentang sesuatu yang gigantic berimbas juga pada sejarah arsitektur. Coba simak buku sejarah arsitektur Indonesia yang penulisnya kebanyakan berasal dari mancanegara.&lt;br /&gt;Bagaimana isi buku sejarah arsitektur di atas?... Setali tiga uang, materi penulisan cenderung bercerita tentang istana dan bangunan keagamaan yang digunakan sebagai sarana aktivitas mereka. Tidak heran jika fokus cerita arsitektur berkisar seputar kemegahan dan citarasa luhur atau ke-adiluhung-an penampilan bangunan. Boleh dikata hampir semua pengajaran (pengetahuan) arsitektur pada saat itu diperkenalkan lewat estetika-feodalistik istana atau bangunan keagamaan. Di Eropa, konon gaya arsitektur yang dianggap layak dipelajari adalah : order tiang kuil Yunani, aturan Baroque-Rococo, canon gereja Gothic dan simbol intelektual perpustakaan Rennaisance .&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, para toean-Londo yang kebetulan mampir dan singgah selama kurang lebih 350 tahun di Nusantara yang indah,ikut menyebar-luaskan pengetahuan di atas. Sampai-sampai di tanah yang bagai kolam susu ini, pemerintah Belanda juga memaksa-kenalkan gaya arsitektur-istana yang dijiplak dari Eropa seperti apa adanya dan kemudian dipaksa-terapkan pada Istana di Jakarta, Bogor, Cipanas dan perkantoran-perkantoran pemerintah kolonial lainnya. Jika anda berkesempatan ziarah-bangunan menyusuri kota besar di pulau jawa, arsitektur copy-cat ini dengan mudah anda temui. Sisa-sisa warisan toean-Londo ini sebagian kecil masih berdiri berkat usaha para pencintanya. Sebagian besar memang sudah tidak layak pakai karena terengah-engah beradaptasi dengan denyut napas kemajuan. Belum lagi banyak yang kondisi fisiknya amburadul tidak terpelihara merana digerogoti keramahan iklim dua musim ini.&lt;br /&gt;Untungnya tidak semua toean-Londo gemar dengan arsitektur copy-cat. Syahdan ketika meneer Berlage seorang arsitek kenamaan Belanda tahun 20 an sempat plesir ke Hindia Belanda, ia melontarkan kritik terhadap jenis arsitektur ini. Mungkin juga akibat pengaruh politik-etis yang sedang hangat di negrinya, ia lalu menghimbau agar para arsitek yang berprofesi di Hindia Belanda mulai menoleh pada arsitektur inlander. Gayung bersambut, terbilang Pont, Karsten mulai keranjingan bangunan lokal yang kala itu mereka sebut tradisional. Karya besar seperti Aula Timur dan Barat ITB di Bandung, Gereja Pohsarang di Kediri, masih berdiri.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Arsitektur Bersahaja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tiga tahun setelah kemerdekaan Indonesia di proklamasikan, tepatnya tahun 1948, Bernard Rudofsky seorang arsitek, dan kritikus seni yang mendapat pendidikan di Vienna Swiss, mempublikasikan sebuah buku menarik yang berjudul: Are our Clotches Modern? Dalam bukunya ia mengemukakan bahwa sejarah tentang "busana" pada saat itu umumnya hanya memaparkan perihal adi-busana raja serta pemuka agama. Hal inilah yang kemudian mendorong Rudofsky untuk mengumpulkan dan mengetengahkan catatan atau sketsa yang dibuat para pelukis tentang budaya-pakaian masyarakat kebanyakan (common/lay -people). Ternyata dokumen Rudofsky menarik perhatian penyandang dana besar seperti Guggenheim dan Ford Foundation. Institusi kaya dan bergengsi ini lalu membiayai penelitian baru Rudolfsky yaitu: Non-Formal, Non Classified Architecture.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1964, Rudofsky memamerkan hasil riset yang dikerjakan selama bertahun-tahun tentang topik baru tersebut di Museum of Modern Art [MOMA] NewYork. Bersamaan dengan pameran itu, ia melansir buku dengan judul yang sama dengan judul pamerannya yaitu: Architecture without Architecs. Pameran dan penerbitan buku ini didominasi oleh 156 buah foto hitam-putih lengkap dengan ulasan tentang permukiman dan rumah-rumah yang tumbuh dari dan untuk masyarakatnya di seluruh dunia. Sesuai dengan judul bukunya, permukiman dan rumah-rumah ini tidak pernah mengenal siapa sang arsiteknya. Rudofsky berpendapat bahwa sudah saatnya para arsitek memperbaiki pandangan sempit tentang seni bangunan yang cenderung hanya berfokus pada obyek istana dan bangunan keagamaan.&lt;br /&gt;Ia lalu mengajukan suatu tipe yaitu: "Unfamiliar non Pedigreed Architecture" yang nyaris tidak pernah dikenal dan bahkan belum pernah ada istilah penamaan untuk jenis arsitektur ini. Rudofsky kemudian menyebut jenis arsitektur ini dengan label vernacular-architecture. Istilah vernakular (Latin: vernaculus = native) sendiri jika merujuk pada ilmu bahasa, umumnya digunakan untuk menunjukkan kadar kekentalan dialek lokal dan kadang sesekali dipakai juga untuk menandai bangunan lokal. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa arsitektur jenis vernakular ini sangat kuat menekankan pada seluruh aspek ke"lokal"annya. Studi tentang aspek lokal ini awalnya dilakukan oleh para penjelajah mancanegara dari belahan dunia Barat yang melakukan ekspedisi ke daerah-daerah terpencil di belahan dunia lain yang belum pernah mereka injak. Pengetahuan ini kemudian dikembangkan lebih lanjut dan diwacanakan menjadi ilmu oleh bidang arkeologi dan antropologi. Sedangkan telaah tentang arsitektur (vernakular) sendiri pada masa itu hanyalah merupakan sebagian kecil pelengkap catatan para penjelajah ekspedisi. Catatan yang disusun secara sitematik dari berbagai tulisan ini disebut etnografis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak Rudofsky menggelar pameran yang berjudul Architecture without Architects, para teoritisi arsitektur di negeri Barat kemudian mulai memosisikan arsitektur-vernakular sebagai salah satu kajian baru dalam teori-teori arsitektur yang saat itu didominasi oleh teori-teori arsitektur klasik dan modern. Dalam wacana pengetahuan arsitektur vernakular dunia, cukup banyak para ahli yang tertarik untuk mendalami pengetahuan ini. Walaupun demikian saya hendak mengedepankan dua tokoh mancanegara penting yaitu Amos Rapoport dan Paul Oliver yang amat konsisten menggeluti pengetahuan ini. Mereka dapat dijuluki sebagai pakar arsitektur-vernakular dengan skala dunia. Buku-buku yang ditulis kedua tokoh tersebut hampir selalu dijadikan titik-pijak bagi penulisan arsitektur-vernakular sampai saat kini. Berdasar tradisi cara membangunnya, Rapoport dalam buku klasiknya House form and culture, membagi bangunan menjadi grand-tradition dan folk-tradition. Istana megah dan bangunan keagamaan digolongkan ke dalam grand-tradition. Sementara architecture without architects digolongkan sebagai bangunan folk-tradition. Pada klasifikasi folk-tradition ia menempatkan dua kelompok: kelompok arsitektur primitif dan arsitektur vernakular. Rapoport kemudian mengidentifikasi lanjut bahwa jenis arsitektur vernakular yang ada dapat dipisahkan sebagai vernakular-tradisional dan vernakular-modern. Walaupun pengklasifikasian jenis arsitektur berdasarkan tradisi membangun ini cukup menjanjikan untuk saat itu (1969), tetapi agaknya belum cukup dapat menerangkan tentang keseluruhan aspek arsitektur vernakular secara lebih tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Oliver dalam bukunya yang berjudul Encyclopedia of vernacular-architecture of the world memberikan gambaran yang cukup mendalam tentang pemahaman arsitektur vernakular. Ia mencoba mendefinisikan arsitektur-vernakular sebagai suatu kumpulan rumah dan bangunan penunjang lain yang sangat terikat dengan tersedianya sumber-sumber dari lingkungan. Bentuk rumah dan bangunan penunjang lain terwujud guna memenuhi kebutuhan spesifik serta mengakomodasi budaya yang mempengaruhinya. Sebagai editor, secara spektakuler dalam tiga jilid buku yang tebalnya masing-masing 5 cm ini, ia mengorganisasikan pengumpulan dan penyusunan ribuan data tentang arsitektur vernakular di dunia. Ia juga menyertakan ragam pandangan-pandangan keilmuan yang dapat dipakai untuk meneropong arsitektur vernakular. Mengacu pada isinya, buku ini memang tepat disebut sebagai ensiklopedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Argumen Alternatif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;arsitektur vernakular dapat dipisahkan menjadi tiga kelompok. Seperti layaknya golongan pemilih pada pilkada, ada yang pro, kontra dan golput alias tidak perduli. Pertanyaan-pertanyaan yang kontra seperti: "Apa sih perlunya arsitektur vernakular?" Memang mau balik lagi ke jaman kuno? Hari gini kok ngomongin bangunan kumuh?" Sedangkan komentar pro seperti: "Wah lumayan nih vernakular bisa jadi tema baru untuk mendesain." "Dalam konteks yang semakin global ini kita kan perlu memperkuat ciri lokal, nah mungkin vernakular bisa menjadi pilihan." Atau yang golput: "Emang Gua Pikirin?" "Yang paling penting peminatnya deh... kalo sekarang yang laku tipe minimalis ini itu...ya tipe itulah yang ok." "Tergantung trend lah... yang lagi popular itu yang paling benar." Perbedaan pandangan di atas tentu sah-sah saja, setiap orang berhak mengajukan pendapat dan bertindak sesuai dengan norma yang dianutnya. Lho… jika demikian, aturan atau norma mana yang bisa dipegang? Apakah semua menjadi benar dan sekaligus semua berubah salah? Itukah esensi kehidupan bebas sehingga konsekwensi kondisi chaos adalah sah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam seluruh aspek kehidupan, tujuan dan alat mencapai tujuan merupakan dua aspek yang harus ada, idealnya saling sinkron menunjang satu sama lain. Kehidupan sosial kemasyarakatan selalu bertujuan untuk mewujudkan cita-cita meningkatkan nilai hidup masyarakatnya menuju kemakmuran.Demikian halnya dengan keilmuan, tujuan luhur pengembangan keilmuan adalah untuk meningkatkan harkat kehidupan manusia melalui keilmuan (hasil yang dicapai oleh ilmu). Seperti kita ketahui pandangan scientism dimana pengembangan ilmu hanya melulu demi kemajuan ilmu sendiri sudah lama ditalak sebagai pendapat yang menyesatkan.Nah....dalam konteks tujuan di atas, pendapat pro, kontra atau golput terhadap arsitektur vernakular dapat kita posisikan.&lt;br /&gt;Menyatakan pendapat yang lain (pro arsitektur vernakular) keliru berdasar pandangan bahwa pendapat sendiri (kontra arsitektur vernakular) benar, hanya cenderung meningkatkan kadar arogansi yang bermuara pada pengukuhan level pembodohan. Dengan demikian pada setiap teori arsitektur apakah itu vernakular, modern, posmodern, atau bahkan ultra modern (katakanlah itu nama teori baru yang akan datang), bila mempunyai tujuan luhur sebagai alat untuk menciptakan order selayaknyalah diberi apresiasi lebih. Ketimbang yang cenderung hanya menimbulkan chaos. Kita tahu bersama bahwa ritmik alam selalu mempunyai pola keseimbangan yang orderly, tetapi jika keseimbangan terganggu, denyut ritmik mulai tidak harmoni alias mulai chaos. Bayangkan saja matahari yang selalu terbit dari Timur dan terbenam ke Barat, selalu teratur tidak pernah mangkir. Ritmik ini lalu membawa keteraturan (order) yang mengakibatkan super aktifnya denyut kehidupan disiang hari dan redanya dimalam hari. Jadi semakin dekat suatu teori arsitektur dengan ritmik alam, logikanya teori tersebut juga akan dekat dengan ritmik order.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Argumen Eksplanasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini ijinkan saya berbagi pendapat tentang tiga kata kunci penting yang diharapkan dapat menjembatani pemahaman arti arsitektur vernakular:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;1. orientasi-komunal &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Arsitektur vernakular selalu lahir dalam suatu kumpulan manusia yang berjuang menjalani kehidupan dalam alamnya secara bersama-sama. Jika hubungan antar satu manusia dan lainnya masih saling kerabat, kumpulan ini akan bersifat lebih homogen. Dengan demikian komunalitas merupakan suatu hal mendasar yang mereka acu. Pada kumpulan ini adat tertulis maupun tidak, menjadi pegangan hidup bersama yang ditularkan turun temurun menjadi suatu tradisi. Mungkin berdasar hal ini dengan mudah para ahli budaya yang gemar membuat klasifikasi menggolongkan kumpulan ini sebagai kumpulan tradisional.&lt;br /&gt;Nah... Berdasar pegangan hidup yang jauh dari dominasi individualitas mereka membangun tempat tinggalnya bersama-sama. Tidak ada seorang individu arsitek yang hebat, semua menjadi arsitek sekaligus pekerjanya. Di Nusantara tempat komunitas ini bernaung disebut kampung. Yang terletak di daerah pedalaman dan juga tumbuh di kota-kota besar. Umumnya kampung di pedalaman lebih bersifat tradisional, adaptif dengan adat dan alam setempat sehingga tampaknya lebih "exotic." Komunitasnya cenderung menetap turun temurun sehingga menganggap disitulah tanah dan roots mereka. Berbeda halnya dengan kampung di kota besar yang cenderung tumbuh secara pragmatis, sesuai dengan adanya kemampuan dan lebih bersifat sementara. Tidak heran secara fisik kampung komunitas ini tampak lebih "vile"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;2. orientasi-proses &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perwujudan tempat tinggal dan seluruh fasilitas arsitektur vernakular lebih "kena" ditinjau dari proses ketimbang produknya. Mengapa? karena masyarakat komunal tadi selalu berlandas pada keteknikan pertukangan yang mereka miliki. Disini posisi craftmanship ditinggikan, dan ada keharusan menerapkan proses inisiasi pada tiap tahap pembangunan. Dengan demikian sangat musykil tempat tinggal dan seluruh fasilitas kehidupan tercipta tanpa tradisi yang dijunjung bersama di atas. Wah, sangat abstrak kedengarannya. Gampangnya begini... pada komunitas tradisional di manapun letaknya di dunia, seluruh tahap kehidupan harus ditandai dengan ijin yang dinyatakan dengan perbuatan... jadi tidak boleh niat hanya di dalam hati. Formalitas ini selalu dilakukan bersama-sama. Di Nusantara bisa saja berbentuk kenduri, hajat, selametan dan lain-lain. Pelaku utama dalam proses ini umumnya telah ditentukan secara turun temurun atau berdasar kesepakatan. Dengan demikian tidak heran rumah yang terbangun pasti akan serupa walaupun tak pernah persis sama satu dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;3. orientasi-lokal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kata lokal memang ambigu, arti katanya bisa diinterpretasikan luas, dapat juga sangat sempit. Ada tiga kata yang saya kedepankan untuk menerangkan orientasi-lokal pada arsitektur vernakular. Yaitu: place, people, period. Sejalan dengan etimologi (arti kata) nya, kehidupan vernakular sangat kental dengan aspek lokal. Aspek tempat misalnya tidak pernah dapat tergantikan oleh tempat lain. Tidak pernah ada tempat yang sama persis dibelahan manapun di dunia. Demikian halnya dengan aspek manusia serta waktunya. Disini (here), Kami (we), Sekarang (now) tentu lain ceritanya dengan Disana, Mereka, Kemarin dulu. Perwujudan arsitektur vernakular sangat erat dengan tiga aspek diatas. Inilah yang menyebabkan orientasi-lokal menjadi salah satu kata kunci. Konon peristiwa me-lokal-kan (menariknya kelingkaran dalam) sesuatu yang berasal dari nonlokal (lingkaran luar) itulah awal dari akulturasi yang akhirnya memiliki rentang lebar. Dengan men"disini"kan yang disana, meng"kami"kan mereka, meng"hidup"kan yang dulu dalam konteks kini, diyakini akan menciptakan arsitektur vernakular yang sah untuk disebut arsitektur setempat atau arsitektur lokal. Mengapa? Karena mahluk asing ini toh dapat tumbuh, berkembang, dan berasimilasi secara natural.Kecenderungan pada ketiga orientasi di ataslah yang mungkin menyebabkan mahluk asing di atas (arsitektur vernakular) tetap eksis sampai kini dan terus tumbuh dibelahan dunia manapun. Walaupun sebenarnya masih banyak literatur tentang arsitektur vernakular diterbitkan sejak tahun 1950 sampai sekarang, tapi umumnya masih di dominasi oleh para penulis dengan latar belakang ilmu budaya dan antropologi. Tentu hal ini bukan merupakan sesuatu yang mengherankan. Kenapa? Karena para arsitek yang menekuni mahluk asing ini masih sering meminjam teori dan metodologi budaya ketika mencoba membuat deskripsi dan interpretasinya.&lt;br /&gt;Ada satu pertanyaan yang berulang-ulang mampir ditelinga saya:&lt;br /&gt;Benarkah teori dan praktek berarsitektur sejak Vitruvius, Quincy, Groupius, Venturi, Rosi sampai Eisenman selalu sarat dipengaruhi pemikiran budaya?....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Interpretasi arti kata &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;• vernacular:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;L - vernaculus - verna&lt;/span&gt;, artinya anak budak yang lahir diarea rumah tuannya&lt;br /&gt;Bahasa daerah, logat asli, dialek seperti diutarakan dalam bahasa sehari-hari, bahasa rakyat, gaya bahasa&lt;br /&gt;Berdasar tempat kelahiran&lt;br /&gt;Berbeda dengan bahasa formal yang diajarkan di sekolah&lt;br /&gt;Arsitektur vernakular, adalah arsitektur yang perwujudannya sangat erat dengan seluruh kondisi setempat dimana ia tumbuh.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;• traditional:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;L - traditio - onis&lt;/span&gt;, artinya melewati, memberikan, meneruskan&lt;br /&gt;Penerusan opini atau praktek tidak tertulis untuk diikuti atau dijadikan norma agar hidup selalu selamat terjaga&lt;br /&gt;Konvensi yang terjalin berkat praktek sehari-hari&lt;br /&gt;Arsitektur tradisional, adalah arsitektur yang perwujudannya berlandas pada tradisi yang dianut oleh masyarakatnya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;• folk (tradition)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;OE- folc, ON- folk, Ger-volk&lt;/span&gt;, artinya rakyat, bangsa&lt;br /&gt;Orang-orang sejenis Folk tradition architecture artinya arsitektur yang sudah merakyat, berdasar tradisi membangunnya. Arsitektur dengan bentuk umum yang dapat ditemui di mana-mana ditempat tersebut&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;• grand (tradition)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;L – grandis, F - grand&lt;/span&gt;, artinya agung, besar, mewah&lt;br /&gt;Paling tinggi letaknya dalam suatu susunan&lt;br /&gt;Gaya kehidupan yang serba wah.Grand tradition architecture artinya arsitektur yang agung, serba khusus perlakuannya, paling menonjol dari yang lain, mempunyai cita rasa yang berbeda dari yang kebanyakan karena diwujudkan dalam tradisi yang serba agung.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;• communal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;L – communis, F - commune&lt;/span&gt;, artinya yang bertujuan dan berhubungan dengan umum&lt;br /&gt;Sekelompok orang yang hidup bersama dengan membagi kepemilikan.&lt;br /&gt;Pembentukan kelompok berdasarkan kepentingan dan perhatian yang sama&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;• local&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;L – localis - locus&lt;/span&gt;, artinya tempat&lt;br /&gt;Segala sesuatu tentang tempat.&lt;br /&gt;Lokalitas: bersifat ketempatan atau eksis dalam tempat&lt;br /&gt;Arsitektur lokal artinya arsitektur yang perwujudannya mengandung nilai-nilai atau karakter setempat. Elemen setempat itu dapat saja pada keseluruhan bentuknya atau hanya melekat pada detail ornament&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dikutip dari :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;http://vernacular.edu2000.org (by Purnama Salura)  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6927716846958119087-450168783123132907?l=www.arsitekturntt.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ArsitekturNtt/~4/GO-f9hxaAX0" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/ArsitekturNtt/~3/GO-f9hxaAX0/arsitektur-vernakular-makluk-apakah-itu.html</link><author>met_eman@yahoo.co.id (Eman)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.arsitekturntt.com/2009/08/arsitektur-vernakular-makluk-apakah-itu.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6927716846958119087.post-97993854779946529</guid><pubDate>Tue, 28 Apr 2009 21:25:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-09-01T12:55:02.447-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Award Dari Sahabat</category><title>Award Dari sahabat</title><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_9WfA01AGuhM/SphRZa0fovI/AAAAAAAAALg/QxOzn9eaf98/s1600-h/awardshare2.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 152px; height: 254px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_9WfA01AGuhM/SphRZa0fovI/AAAAAAAAALg/QxOzn9eaf98/s320/awardshare2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5375135652404765426" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih saya ucapkan buat semua sahabat yang sudah banyak membantu blog Arsitektur Vernakular. Dari kurang lebih 2 bulan saya belajar Ngeblok Award ini merupakan Award ketiga yang saya dapatkan dari Sahabat &lt;a href="http://www.jaiman.co.cc/"&gt;Jaiman&lt;/a&gt;. Sekali lagi Thank’s Sob…..,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;semoga dengan award ini kita bisa semangat lagi dalam berbagi saran, ilmu dan motivasi untuk lebih baik serta persahabatan sesama blogger lebih erat walau kita dipisahkan oleh tempat yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ni saya copy aja di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bulan mulia ini saya mencoba berbagi award kepada semua rekan blogger yang aktif dan berpartisipasi di blog ini, tujuan saya adalah menyatukan para bloger mania di Indonesia dengan satu bahasa : Persatuan, semoga award ini bisa diterima oleh sobat-sobat semua dimanapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Award diatas mengandung arti :&lt;br /&gt;Tugu Hijau : melambangkan sobat-sobat baru&lt;br /&gt;Tugu Kuning : melambangkan sobat-sobat yang selalu aktif&lt;br /&gt;Tugu Biru : melambangkan sobat blogger dengan PR tinggi&lt;br /&gt;Landasan Merah : melambangkan bahwa kita semua sama, baik pemula hingga senior adalah terangkum dalam satu wadah/tempat, dengan darah yang sama berwarna merah, dan sesungguhnya kita adalah saudara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prasyarat Pengambilan AWARD :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Buat Posting seperti diatas&lt;br /&gt;2. Cantumkan Link Pemberi Award.&lt;br /&gt;3. Bagi rekan-rekan yang belum jadi Follow atau Tukeran Link, harap menjadi Follow atau bertukar link dengan saya.&lt;br /&gt;4. Copy-paste Image diatas atau DOWNLOAD&lt;br /&gt;Berikut Nama-nama Penerima AWARD :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. &lt;a href="http://bonbinben.blogspot.com/"&gt;http://bonbinben.blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;a href="http://dmoviesnew.blogspot.com/"&gt;http://dmoviesnew.blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;3. &lt;a href="http://proudtobe-indonesian.blogspot.com/"&gt;http://proudtobe-indonesian.blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;4. &lt;a href="http://cyntiasari.blogspot.com/"&gt;http://cyntiasari.blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;5. &lt;a href="http://cariuang-internet-top1.blogspot.com/"&gt;http://cariuang-internet-top1.blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6927716846958119087-97993854779946529?l=www.arsitekturntt.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ArsitekturNtt/~4/I7qVWNIqZJg" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/ArsitekturNtt/~3/I7qVWNIqZJg/award-dari-sahabat.html</link><author>met_eman@yahoo.co.id (Eman)</author><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/_9WfA01AGuhM/SphRZa0fovI/AAAAAAAAALg/QxOzn9eaf98/s72-c/awardshare2.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total><feedburner:origLink>http://www.arsitekturntt.com/2009/08/award-dari-sahabat.html</feedburner:origLink></item><language>en-us</language><media:rating>nonadult</media:rating></channel></rss>
