<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/atom10full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" gd:etag="W/&quot;A08DRn84eSp7ImA9WhVREEk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-2124917944800888932</id><updated>2012-03-18T12:51:17.131+07:00</updated><category term="Philosophy" /><category term="Design Graphics" /><title>Art of Perception</title><subtitle type="html" /><link rel="http://schemas.google.com/g/2005#feed" type="application/atom+xml" href="http://www.visualphilology.co.cc/feeds/posts/default" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.visualphilology.co.cc/" /><author><name>Bima Aria Shiddiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08626804186785339341</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="28" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/_cSRSs4wu9-w/ShBfcelKI-I/AAAAAAAAAAU/D1gI3rxNRfE/S220/Untitled-1.jpg" /></author><generator version="7.00" uri="http://www.blogger.com">Blogger</generator><openSearch:totalResults>2</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/atom+xml" href="http://feeds.feedburner.com/ArtOfPerception" /><feedburner:info uri="artofperception" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><link rel="license" type="text/html" href="http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/3.0/" /><feedburner:emailServiceId>ArtOfPerception</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname>http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><entry gd:etag="W/&quot;CEQDRnc5fCp7ImA9WhRaFUQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-2124917944800888932.post-647021465414053108</id><published>2010-11-13T03:36:00.009+07:00</published><updated>2012-02-19T02:12:57.924+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-19T02:12:57.924+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Philosophy" /><title>The Voice Defines the Person</title><content type="html">&lt;div style="float: left;"&gt;&lt;a href="http://fc07.deviantart.net/fs70/f/2011/166/c/e/hi_by_skizovrenia-d3izb1v.png"&gt;&lt;img alt="" src="http://fc07.deviantart.net/fs70/f/2011/166/c/e/hi_by_skizovrenia-d3izb1v.png" style="border:0pt none ; width: 260px; height:195px" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;S&lt;/span&gt;etelah   Membaca beberapa artikel di internet... saya merasa terkesima  dengan   apa yang dapat ditelaah/diteliti dari jenis suara atau jenis  vokal&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Seperti   apa Pribadi seseorang dapat dilihat dari  bagaimana cara bicaranya....   dari gesture bicaranya juga... contohnya  Orang yang pemalu cenderung   lebih banyak diam... oleh karena itu pita  suaranya tidak terlalu   berkembang sehingga pada saat bicara pun suaranya  menjadi lebih kecil.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Beberapa   orang memiliki suara yang  lantang dan besar, Mereka pun sadar tak   sadar Bangga dengan suaranya  yang lantang tersebut setidaknya mereka   tak akan merasa malu ketika  berbicara dengan siapapun... Rata-rata   orang yang bersuara Seperti ini  lebih terbuka dengan orang lain&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sadarkah   kalian bahwa bagi  seseorang yang sering tertawa... bersenandung...   berbicara lebih  sering, mereka memiliki suara yang cenderung besar   (tidak membicarakan  tinggi rendah hanya kualitas dan kejelasan dari   cara bicara seseorang)  Hal tersebut bukanlah karena berkah tapi karena   Pita suara adalah otot,  tepatnya Otot Cricothyroid, dan layaknya otot   lain pada tubuh otot ini  pun dapat berkembang....&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Suara yang berkarakter ada dua jenis... Merdu (cool) dan Kasar (rock hahaha not quite the right term but so what)....&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;sadar    ga sadar suara yang merdu rata-rata dimiliki Seseorang yang hidupnya    teratur atau terlihat lebih kalem, sedangkan suara kasar biasanya    dimiliki seseorang yang terlihat lebih emosional...&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kenapa?? kenapa seperti itu tentu saja kita kembali ke pribadi orang tersebut&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Orang yang Calm cenderung sering berbicara dengan nada lembut dan santai,&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Orang    yang emosional lebih sering tertawa... menggunakan pita suaranya   dengan  kasar (seperti teriak jika marah) tentu saja hal tersebut   melukai pita  suara hal tersebut berulang-ulang terjadi hingga akhirnya   sang pita  suara yang terus-terusan menyembuhkan diri pun tak mampu   menghilangkan  bekas luka.... inilah yang membuat suara orang menjadi   serak...&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;orang  yang emosional, mereka cenderung   berubah-ubah kualitas suaranya...  sangat terlihat seperti apa kondisi   hatinya dari cara bicaranya...&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Orang  yang Kalem, Mereka   cenderung santai selalu cool dan jarang bisa ditebak  kondisi hatinya   karena secara pribadi mereka memang tak mau  menunjukanya&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sangat menarik bahwa suara pun bisa mempengaruhi kondisi/perkembangan psikologis seseorang.&lt;/p&gt;&lt;a href="http://fc09.deviantart.com/fs45/f/2009/144/9/7/Banner233_by_BacKStbrZ.gif"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.addthis.com/bookmark.php?v=20"&gt;&lt;img src="http://s7.addthis.com/static/btn/lg-share-en.gif" alt="Bookmark and Share" style="border: 0pt none;" height="16" width="125" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.addthis.com/feed.php?pub=backstbrz&amp;amp;h1=http%3A%2F%2F&amp;amp;t1=" alt="Subscribe using any feed reader!" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://s7.addthis.com/static/btn/sm-feed-en.gif" alt="Subscribe" style="border: 0pt none; width: 83px; height: 16px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2124917944800888932-647021465414053108?l=www.visualphilology.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.visualphilology.co.cc/feeds/647021465414053108/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2124917944800888932&amp;postID=647021465414053108" title="4 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2124917944800888932/posts/default/647021465414053108?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2124917944800888932/posts/default/647021465414053108?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ArtOfPerception/~3/BiUhnP60pUM/voice-defines-person.html" title="The Voice Defines the Person" /><author><name>Bima Aria Shiddiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08626804186785339341</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="28" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/_cSRSs4wu9-w/ShBfcelKI-I/AAAAAAAAAAU/D1gI3rxNRfE/S220/Untitled-1.jpg" /></author><thr:total>4</thr:total><feedburner:origLink>http://www.visualphilology.co.cc/2010/11/voice-defines-person.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEQAQHcyfSp7ImA9WhRaFUQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-2124917944800888932.post-4075690785089957722</id><published>2009-05-18T05:58:00.012+07:00</published><updated>2012-02-19T02:12:21.995+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-19T02:12:21.995+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Philosophy" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Design Graphics" /><title>5W + 1H dan Pengaplikasianya...</title><content type="html">&lt;a href="http://sdncbu11.files.wordpress.com/2010/05/sdncbu11_5w1h.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 283px; height: 163px;" src="http://sdncbu11.files.wordpress.com/2010/05/sdncbu11_5w1h.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;i&gt;18 Mei 2009, Bima Aria Shiddiq&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5W + 1H&lt;/span&gt;, Sebuah konsep…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family:georgia;" &gt;K&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;onsep yang menentukan keutuhan isi dari suatu cerita, pertama kali kukenal lewat sebuah buku karya Tony Masdiono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep tersebut mengatakan bahwa setiap cerita harus mempunyai unsur 5W1H, (who) &lt;b&gt;Siapa&lt;/b&gt; yang diceritakan, (what) &lt;b&gt;Apa&lt;/b&gt; yang Diceritakan, (how) &lt;b&gt;Bagaimana&lt;/b&gt;  cara menceritakanya, (when) &lt;b&gt;Kapan&lt;/b&gt;  terjadinya, (why) &lt;b&gt;Kenapa&lt;/b&gt;  cerita itu terjadi, (dimana)  &lt;b&gt;Where&lt;/b&gt;  terjadinya. Tentu saja dengan hal-hal ini sebuah cerita akan terlihat  jelas dan baik. Namun apakah kita pernah berpikir apa yang membuatnya  menjadi baik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu waktu pertama kenal konsep ini, saya langsung  saja menganggapnya baik, tanpa pikir panjang saya selalu menggunakanya  untuk membuat cerita komik. Kini saya menyadari suatu hal. Kenapa saya  tidak bertanya atas dasar apa konsep itu dibuat, padahal “Kenapa”  merupakan bagian dari konsep tersebut. Jadi Saya bertanya kepada diri  saya sendiri, Apa yang menyebabkan 5W 1H menjadi dasar dalam membuat  cerita yang baik, Kenapa bisa demikian, darimana asalnya pemikiran  tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mudahnya saya mendapat sebuah jawaban yang  sebenarnya dari dulu berada di depan mata saya. Keenam unsur tersebut  adalah logika dasar pemikiran kita dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah contoh jika kita hanya sekedar bertanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;“Who”&lt;/b&gt; anggaplah kita bertemu seorang sahabat disuatu tempat. Disini kita merupakan pemeran utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;“Where” &lt;/b&gt;anggaplah kita secara tak sengaja melihatnya bergelantungan diatas pohon cemara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penglihatanlah  yang mendasari kedua hal ini. Inilah yang membuat pembaca kita bisa  membayangkan situasi yang sedang berlangsung. &lt;i&gt;(segi Imajinasi, saat kita tak melihat pasti kita akan membayangkan)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;“Why”&lt;/b&gt; Saat berjumpa dengan seorang teman kita biasanya bertanya&lt;i&gt; “habis darimana coy”&lt;/i&gt;, setelah itu biasanya kita bertanya untuk apa dia berada di tempat yang sama dengan kita contohnya&lt;br /&gt;&lt;i&gt; “lo lagi ngapain diatas pohon”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa  sih yang mendasari kita bertanya hal ini? Tentu saja keingin-tahuan ,  Keingin-tahuan itu berdasarkan pada “kebingungan”, jelas pasti kita  bingung kenapa sampai bisa teman kita berada diatas pohon cemara oleh  karena itu kita ada kemungkinan kita akan bertanya &lt;i&gt;“lagi apa sih lo, ga ada kerjaan banget” &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;“How” &lt;/b&gt;  Bagaimana caranya teman kita bisa berada di tempat itu…. Karena teman  kita ini merupakan manusia, jelas saja kita akan bingung bagaimana dia  naek ke pucuk pohon cemara dan otomatis bertanya “Gimana lo naek mpe  atas-atas gitu sih? kek monyet aja”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;“When”&lt;/b&gt; Kapan kejadianya? Saat kita bertemu teman kitalah jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;“What”&lt;/b&gt; bisa berarti “apa yang sedang terjadi”  ==  jelas Bertemu seorang teman&lt;br /&gt;Bisa juga berarti “apa yang sedang teman kita lakukan   ==  Gelantungan di pohon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;“Where”&lt;/b&gt; Bisa dari sudut pandang kita dibawah pohon&lt;br /&gt;Bisa juga dari sudut pandang teman kita yang sedang bergantung-gantung seperti monyet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Hal diatas adalah kelengkapan informatif, yang lebih menjelaskan  situasi didalam cerita bisa berupa emosi, kondisi tempat dll melengkapi  segi imajinatif dari cerita.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;(Segi Informasi, saat kita tidak  mengetahui kita akan bertanya. Supaya orang ga bingung pastinya kita  akan berusaha memberitahukan secara detail informasi yang ada.)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Jika saja ada kekurangan dalam menjelaskan Situasi secara imajinatif dan informatif, akan membingungkan pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Penggunaan 5W + 1H akan menghasilkan Imajinasi yang diperkuat oleh  informasi, Itulah mengapa konsep ini merupakan dasar untuk membuat  cerita menjadi lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pengaplikasian 5 W + 1H dalam bidang lain&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Sekarang ini konsep ini telah dipergunakan lebih luas lagi, contohnya  mentor-mentor seminar self help. Dua Seminar yang pernah saya hadiri  “memperkenalkan” 5W + 1H dalam versi yang berbeda(sebetulnya saya sudah  sangat kenal konsep ini), pada waktu itu konsepnya diartikan sebagai  berikut. (jawaban saya ga usah dipedulikan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Who &lt;/b&gt;“Siapakah Anda”&lt;br /&gt;Gw bima&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;What &lt;/b&gt;“Apakah yang ingin anda lakukan di dunia/Apa Cita-cita anda”&lt;br /&gt;Pelukis Ternama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Why  &lt;/b&gt;“Kenapa anda melakukanya”&lt;br /&gt;Karena saya menyukai hal tersebut dan saya merasa bisa mencapainya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadinya  konsep ini karena pada dasarnya merupakan logika dari tindakan kita  sehari-hari dalam menghadapi pelbagai hal, hanya saja kita tidak sadar.  Masih banyak Contoh pengaplikasian konsep ini dalam pekerjaan lainya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai  contoh adalah, ketika wawancara kerja, pekerjaan yang berhubungan  dengan jurnalistik, Matematika dan Fisika [ (What = Dit :) ( Bagaimana =  Rumus : ) (Jawab: ) sisanya mendekati segi filosofis dari ilmu  tersebut], tentu saja Filsafat juga yang ilmunya penuh dengan argumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;konsep ini juga dapat membuat kita berpikir sistematis dalam banyak hal yang kita hadapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga artikel ini berguna bagi yang membaca dan menambah wawasan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2124917944800888932-4075690785089957722?l=www.visualphilology.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.visualphilology.co.cc/feeds/4075690785089957722/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2124917944800888932&amp;postID=4075690785089957722" title="1 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2124917944800888932/posts/default/4075690785089957722?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2124917944800888932/posts/default/4075690785089957722?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ArtOfPerception/~3/aw5oR-BNuQk/5w-1h-dan-pengaplikasianya.html" title="5W + 1H dan Pengaplikasianya..." /><author><name>Bima Aria Shiddiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08626804186785339341</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="28" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/_cSRSs4wu9-w/ShBfcelKI-I/AAAAAAAAAAU/D1gI3rxNRfE/S220/Untitled-1.jpg" /></author><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://www.visualphilology.co.cc/2009/05/5w-1h-dan-pengaplikasianya.html</feedburner:origLink></entry></feed>

