<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/atom10full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" gd:etag="W/&quot;C0ENRnY4eSp7ImA9WxBaEEs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510647145142320969</id><updated>2010-03-19T22:08:17.831-07:00</updated><title>ArthaDinar</title><subtitle type="html">Investasi Dinar Islam: aman, mudah dan menguntungkan</subtitle><link rel="http://schemas.google.com/g/2005#feed" type="application/atom+xml" href="http://www.arthadinar.com/feeds/posts/default" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.arthadinar.com/" /><link rel="next" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8510647145142320969/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false&amp;v=2" /><author><name>Sri Hartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09382001323751961486</uri><email>noreply@blogger.com</email></author><generator version="7.00" uri="http://www.blogger.com">Blogger</generator><openSearch:totalResults>52</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/atom+xml" href="http://feeds.feedburner.com/Arthadinar" /><feedburner:info uri="arthadinar" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><feedburner:emailServiceId>Arthadinar</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname>http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><feedburner:browserFriendly></feedburner:browserFriendly><entry gd:etag="W/&quot;A0QHQH48eSp7ImA9WxBbGEQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510647145142320969.post-1181966767265190322</id><published>2010-03-18T00:59:00.000-07:00</published><updated>2010-03-18T01:02:11.071-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-03-18T01:02:11.071-07:00</app:edited><title>Mengalahkan Inflasi, Insyallah Kita Bisa…</title><content type="html">Written by Muhaimin Iqbal    &lt;br /&gt;Monday, 15 March 2010 08:32 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ilmu ekonomi, yang dimaksud dengan inflasi adalah kenaikan harga-harga terhadap barang dan jasa secara umum dalam periode tertentu. Menurut para penganut teori Monetarist, penyebab utama inflasi ini adalah supply uang. Bahkan dalam pandangan Monetarist Economist terkenal Milton Friedman "Inflation is always and everywhere a monetary phenomenon."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam sistem ekonomi barat ada yang berpendapat bahwa inflasi ini ada positifnya karena antara lain berguna untuk mendorong investasi sektor riil. Ketika inflasi tinggi orang cenderung untuk tidak mempertahan assetnya dalam bentuk uang – tetapi dalam bentuk barang, kebutuhan akan barang inilah yang mengangkat produksi dan memutar ekonomi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam Islam, produksi sektor riil tidak didorong oleh inflasi tetapi oleh putaran uang yang lebih cepat. Kekayaan bukan untuk ditimbun tetapi berputar ke masyarakat luas – berputar tidak hanya pada yang kaya tetapi juga pada yang miskin. Dalam pandangan Ibnu Taimiyyah, pemerintah yang mencetak fulus melebihi kebutuhan transaksi – dus menyebabkan inflasi – adalah pemerintah yang mendhalimi rakyatnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pandangan Ibnu Taimiyyah inilah yang sebenarnya lebih pas untuk manusia modern di zaman ini sekalipun. Pemerintah-pemerintah dunia akan mampu menjaga kemakmuran rakyatnya bila mereka bisa menurunkan atau bahkan menghilangkan inflasi – kalau saja mereka mau !.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Contoh betapa inflasi menyengsarakan rakyat seluruh dunia dapat dilihat dari data yang dikeluarkan oleh International Rice Research Institute (IRRI) yang menunjukkan bahwa dalam lima tahun terakhir saja, harga beras di dunia telah mengalami kenaikan rata-rata hampir dua kali lipat. Padahal sangat sedikit porsi penduduk dunia yang bisa meningkatkan penghasilannya dua kali lipat dalam periode tersebut.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Artinya, rata-rata penduduk dunia menurun tingkat kemakmurannya – karena penurunan daya beli uangnya ini. Hal ini juga bisa kita rasakan di rumah tangga kita masing-masing. Bisa saja penghasilan kita meningkat dari tahun ketahun, tetapi kok beban hidup tidak terasa lebih ringan ya…?; bila Anda merasakan hal yang sama – sangat bisa jadi ini karena kenaikan penghasilan Anda kalah cepat dengan inflasi terhadap harga-harga kebutuhan pokok Anda.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Yang bisa mengendalikan inflasi ini adalah pemerintah khususnya otoritas moneter; rakyat seperti kita tidak bisa mengendalikan inflasi ini. Meskipun demikian, sebenarnya ada yang bisa dilakukan oleh rakyat seperti kita-kita untuk tidak menjadi korban inflasi ini. Dengan apa kita dapat melakukan ‘perlawanan’ terhadap inflasi ini ?.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dengan meminimise penggunaan uang yang menjadi penyebab inflasi tersebut. Menurut para penganut paham Monetarist diatas, inflasi kan disebabkan oleh supply uang – ya jangan taruh kekayaan Anda yang kegunaannya bersifat jangka panjang dalam bentuk uang. Bila Mayoritas kekayaan Anda tersimpan dalam nominal mata uang (Rupiah, US$ dlsb), maka daya beli kekayaan Anda tersebut akan terus menurun bersamaan dengan waktu. Bila dalam lima tahun terakhir saja harga beras internasional rata-rata naik dua kali, berarti daya beli uang Anda terhadap beras turun tinggal separuhnya – maka bisa Anda bayangkan bila lima belas tahun dari sekarang Anda pensiun misalnya – maka saat itu daya beli asset Anda bisa jadi sangat tidak memadai untuk kehidupan saat itu. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam situasi inflasi yang sangat tinggi sekalipun (hyper inflasi), harga barang-barang naik relatif bersamaan – maka nilai tukar benda riil yang satu relatif stabil terhadap benda riil yang lain. Artinya bila asset Anda berupa benda riil yang tidak aus atau rusak, maka daya beli asset Anda tersebut insyallah akan relatif stabil. Salah satu benda riil yang tidak aus/rusak , sangat likuid dan statitisk daya belinya terbukti sepanjang zaman adalah Emas atau Dinar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emas atau Dinar terbukti memiliki daya beli relatif stabil sepanjang lebih dari 1, 400 tahun; bukan hanya untuk membeli kambing 1 Dinar tetap dapat satu ekor kambing sejak zaman Nabi – sampai sekarang; untuk membeli kebutuhan pokok seperti beras pun insyallah relatif stabil. Bila data dari IRRI tersebut saya sajikan kembali dalam nilai emas; maka Anda akan bisa lihat bahwa harga beras rata-rata berfluktuasi di sekitar 0.7 oz emas/ ton beras. Ada yang di kisaran 1 oz emas/ton beras, namun ada juga yang di 0.5 oz emas/ton beras. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perbedaan harga karena jenis/kwalitas ini wajar, karena di barang apapun termasuk di kambing pun juga demikian. Kambing-kambing yang kami pelihara di pesantren Darul Muttaqqiin untuk indukan rata-rata 2 Dinar, bahkan pejantan unggul bisa berharga diatas 10 Dinar. Tetapi secara umum di pasar 1 Dinar akan tetap dapat untuk membeli kambing yang cukup baik.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Demikian pula di beras; ada beras Jepang yang sangat mahal, tetapi dengan 0.7 Oz emas atau sekitar 5 Dinar Anda tetap dapat membeli beras 1 ton di sepanjang masa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Masih ada satu lagi, dalam lima tahun terakhir setelah ditimbang/dinilai dengan emas-pun harga beras tidak menjadi datar – tetapi bergelombang membentuk gelombang sinus; inilah dampak dari naik turunnya harga yang fitrah karena mekanisme pasar supply and demand – bukan lagi faktor inflasi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Karena inflasi bisa dilawan dengan pertukaran barang yang satu dengan yang lain tanpa menggunakan uang; maka inilah yang melatar belakangi bangsa-bangsa di dunia sedang berlomba menciptakan system barter modern – seperti juga yang sedang kita kaji dalam Indobarter project. Tidak akan mudah memang, tetapi untuk sesuatu problem yang tidak pernah bisa diatasi oleh pemerintah-pemerintah dunia – yaitu problem inflasi; maka hal yang sulit tersebut cukup menantang untuk dicoba – Insyallah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Hubungi Kami

Sri Hartono
HP: 0816 99 98 97
Email: sri.hartono [at] arthadinar.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510647145142320969-1181966767265190322?l=www.arthadinar.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.arthadinar.com/feeds/1181966767265190322/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.arthadinar.com/2010/03/mengalahkan-inflasi-insyallah-kita-bisa.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8510647145142320969/posts/default/1181966767265190322?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8510647145142320969/posts/default/1181966767265190322?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.arthadinar.com/2010/03/mengalahkan-inflasi-insyallah-kita-bisa.html" title="Mengalahkan Inflasi, Insyallah Kita Bisa…" /><author><name>Sri Hartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09382001323751961486</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="07837359541679388306" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEENQno4fip7ImA9WxBbEk0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510647145142320969.post-5782497104596943335</id><published>2010-03-09T22:30:00.000-08:00</published><updated>2010-03-09T22:31:33.436-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-03-09T22:31:33.436-08:00</app:edited><title>Belajarlah Emas Walau Sampai Negeri China…</title><content type="html">Written by Muhaimin Iqbal    &lt;br /&gt;Monday, 08 March 2010 07:17 &lt;br /&gt;Pada dasawarsa pertama kemerdekaan RI, negeri ini pernah memiliki cadangan emas sebesar 248 ton tetapi kemudian cadangan emas ini juga pernah nyaris habis tahun 1971 menjadi tinggal 1.8 ton saja. Ketika Oil Boom tahun 70-an sampai puncaknya 1981, negeri ini alhamdulillah berhasil kembali membangun cadangan emasnya sampai mencapai sekitar 96 ton.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sayangnya selama seperempat abad kemudian tepatnya sampai 2006, cadangan emas ini tidak berhasil dinaikkan dan bahkan berkurang 24 %-nya pada akhir 2006 sehingga tinggal 73 ton saja. Lihat detilnya di tulisan saya tanggan 28 Desember 2008 dengan judul Emas Dan Kemakmuran Negeri Ini. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mengapa sampai bangsa ini tidak menganggap penting cadangan emas yang bisa menjadi instrumen untuk membangun ketahanan ekonomi (Yukhsinun) selama lebih dari seperempat abad terakhir ?. Dugaan saya sendiri adalah karena ekonomi kita adalah ekonomi ala IMF banget. Kita tahu dalam system IMF, bahkan mereka melarang negara-negara anggotanya menggunakan emas sebagai rujukan mata uangnya (Article IV, Section 2. B).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Akibat pelarangan ini sampai-sampainya otoritas pasar modal kita beberapa tahun lalu ketika ingin mempromosikan dagangannya menggunakan iklan yang memojokkan emas. Dalam iklan tersebut investasi emas digambarkan sebagai investasinya ibu-ibu yang suka pamer, yang lagi meringis menunjukkan gigi emasnya sambil mengangkat tangannya yang dipenuhi gelang emas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Inilah gambaran betapa kita ter-makan oleh propaganda anti emas yang di stimulir oleh IMF melalui salah satu pasal di articles of agreement tersebut.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Negara-negara yang tidak termakan propaganda oleh IMF ini melakukan hal yang exactly sebaliknya. Kita bisa belajar dari China misalnya untuk yang terakhir ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketika kita mengurangi cadangan emas kita sampai 24%-nya;  China berhasil meningkatkan cadangan emasnya dari 600-an ton tahun 2003, sampai mencapai 1,054 ton akhir tahun lalu. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketika institusi resmi pasar modal kita membuat iklan yang  memojokkan orang-orang yang berinvestasi pada emas, pemerintah China bahkan mendorong rakyatnya agar rame-rame membeli emas melalui kampanye besar-besaran yang disiarkan oleh China Central Television. Lebih jauh lagi pemerintah China juga mendirikan Shanghai Gold Exchange untuk mempermudah rakyatnya dalam berinvestasi emas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mengapa China melakukan hal yang berlawanan dengan resep umum IMF ini ?, dugaan saya lagi karena China tahu bahwa sesungguhnya emas itulah instrumen yang paling efektif dalam mengamankan kekayaan negeri itu beserta kekayaan rakyatnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Diantara negara-negara yang paling drastis penurunan cadangan emasnya, mayoritasnya justru negara yang penduduk mayoritasnya muslim seperti Indonesia. Bangladesh contohnya saat ini tinggal memiliki cadangan emas sebesar 3.5 ton saja; Iraq tinggal 5.9 ton; dan negeri jiran kita kini hanya memiliki 36.4 ton padahal sebelum krisis 1997/1998 mereka memiliki cadangan emas sekitar dua kali  dari yang dimilikinya sekarang. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mungkin Anda bertanya, lho kan memang menimbun emas adalah sesuatu yang sangat dilarang dalam Islam ?. Betul, menimbun emas dan perak dan tidak dinafkahkan di jalan Allah diancam dengan siksa yang sangat pedih. Tetapi disisi lain, emas dan perak juga dijadikan hakim/timbangan yang adil dalam bermuamalah. Bahkan batas kewajiban orang kaya dengan hak orang miskin juga ditentukan dengan emas ini yaitu dalam bentuk nishab zakat yang 20 Dinar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Artinya membangun cadangan emas baik oleh negara maupun rakyat, tidak harus identik dengan menimbun. Ketika kita berhasil menjadikan emas atau Dinar kita sebagai hakim yang adil dalam menggerakkan ekonomi; maka disitulah ketahanan ekonomi umat dan bangsa ini insyallah akan terbangun. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Misi untuk menjadikan emas/Dinar sebagai penggerak sector riil seperti yang pernah saya tulis dalam tulisan tanggal 25 November 2009 lalu misalnya, adalah salah satu upaya kecil yang bisa kita lakukan untuk membangun ketahanan ekonomi agar kita tidak mudah terjajah – dan pada saat bersamaan kita juga terlibat langsung dalam mempercepat putaran ekonomi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Enam bulan sejak tulisan tersebut kita luncurkan, kini produk-produk solusi pembiayaan berbasis emas/Dinar benar-benar telah dapat ditangani dengan baik oleh GeraiDinar beserta mitra-mitranya. Semoga Allah selalu menunjuki kita jalanNya. Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Hubungi Kami

Sri Hartono
HP: 0816 99 98 97
Email: sri.hartono [at] arthadinar.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510647145142320969-5782497104596943335?l=www.arthadinar.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.arthadinar.com/feeds/5782497104596943335/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.arthadinar.com/2010/03/belajarlah-emas-walau-sampai-negeri.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8510647145142320969/posts/default/5782497104596943335?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8510647145142320969/posts/default/5782497104596943335?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.arthadinar.com/2010/03/belajarlah-emas-walau-sampai-negeri.html" title="Belajarlah Emas Walau Sampai Negeri China…" /><author><name>Sri Hartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09382001323751961486</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="07837359541679388306" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0YMQ389eSp7ImA9WxBUFko.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510647145142320969.post-219861907674699324</id><published>2010-03-03T19:58:00.000-08:00</published><updated>2010-03-03T19:59:42.161-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-03-03T19:59:42.161-08:00</app:edited><title>Ketika IMF menyeru untuk meninggalkan dolar ….</title><content type="html">Tulisan ini masih menyambung tulisan sebelumnya yaitu ajakan IMF untuk meninggalkan dolar. Dari  Koran Republika kemaren (3 Maret 2010) terdapat judul Diversifikasi Cadangan Devisa. Dari tulisan tersebut disebutkan bahwa Dana Moneter Internasional (IMF) kian berani memprovokasi anggotanya untuk mulai meninggalkan pemakaian dolar AS dalam cadangan devisa di negara masing-masing. Diakui dolar dianggap tak bisa lagi menjadi andalan untuk menjaga kestabilan nilai tukar uang dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seruan IMF ini dinilai sebagai langkah yang tepat. Diversifikasi cadangan devisa sangat diperlukan, seperti halnya bagi Indonesia. Seperti yang kita ketahui, cadangan devisa Indonesia masih didominasi dalam bentuk dolar AS, dengan adanya seruan IMF tersebut memang sebaiknya ada penurunan dominasi dolar AS dengan memberi porsi lebih besar untuk emas. Paling tidak 20 persen berupa emas. Jika Indonesia tak lagi mengandalkan dolar AS sebagai cadangan devisa utama, mudah-mudahan ekonomi nasional tak akan lagi hanya ditentukan oleh kuat atau lemahnya mata uang negeri Paman Sam itu. Bagi yang masih gemar menyimpan dolar AS sebagai alat investasi, seruan IMF ini seharusnya sudah jadi peringatan untuk mengalihkan dananya ke bentuk investasi lain seperti dinar/emas. Wa Allahu A’lam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Hubungi Kami

Sri Hartono
HP: 0816 99 98 97
Email: sri.hartono [at] arthadinar.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510647145142320969-219861907674699324?l=www.arthadinar.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.arthadinar.com/feeds/219861907674699324/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.arthadinar.com/2010/03/ketika-imf-menyeru-untuk-meninggalkan.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8510647145142320969/posts/default/219861907674699324?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8510647145142320969/posts/default/219861907674699324?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.arthadinar.com/2010/03/ketika-imf-menyeru-untuk-meninggalkan.html" title="Ketika IMF menyeru untuk meninggalkan dolar …." /><author><name>Sri Hartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09382001323751961486</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="07837359541679388306" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEMEQXw7eSp7ImA9WxBUFU0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510647145142320969.post-191713968115757176</id><published>2010-03-01T21:05:00.000-08:00</published><updated>2010-03-01T21:06:40.201-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-03-01T21:06:40.201-08:00</app:edited><title>Dan IMF-pun Mengajak Meninggalkan US$ …?</title><content type="html">Written by Muhaimin Iqbal    &lt;br /&gt;Tuesday, 02 March 2010 08:14 &lt;br /&gt;Ada berita menarik yang bisa Anda baca pada harian Republika yang terbit hari ini (02/03/2010) bahwa IMF menyerukan untuk meninggalkan US$. Berita ini sendiri tentu saja  valid karena merujuk  pernyataan Dominique Strauss-Kahn, the head of the International Monetary Fund pada jum’at pekan lalu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bukannya saya lebih tahu atau lebih pinter dari pimpinan tertinggi IMF tersebut; namun kalau Anda baca tulisan saya hampir 6 bulan lalu dengan judul Tinggalkan Dollar Selagi Sempat , maka Anda akan tahu bahwa seruan atau wacana yang dilontarkan oleh orang nomor 1 di IMF ini adalah hal yang sudah seharusnya dilakukan dan tidak akan mengejutkan Anda. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Masalahnya yang perlu diwaspadai oleh umat dan juga bangsa-bangsa lain di dunia adalah – ada apa dibalik pernyataan ini. Mengapa baru sekarang wacana mengganti US$ dimunculkan ?. Dan apa pengganti US$ yang mereka pikirkan ?.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya mencoba menduga-duga  apa kira-kira jawaban atas dua pertanyaan tersebut diatas. Mengenai mengapa baru sekarang wacana ini dimunculkan; dugaan saya karena mereka (para petinggi IMF) juga tahu kalau US$ tidak akan survive dalam waktu yang lebih lama lagi – wacana ini dimunculkan untuk semacam sosialisasi ke dunia akan kondisi yang sangat mungkin akan terjadi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nampaknya mereka ingin memperbaiki sejarah kegagalan IMF pertama, ketika terjadi kejutan Nixon Shock Agustus 1971 – dimana secara sepihak dan mendadak –Nixon mengguncang Dunia dengan meninggalkan emas sebagai rujukan mata uang Dollar-nya. Kali ini mereka ingin masyarakat dunia tahu dulu – bahwa Dollar berkemungkinan gagal (lagi) dan dunia tidak akan bisa mengandalkannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lantas mengapa mereka ‘berbaik hati’ memberi isyarat pada dunia bahwa US$ akan gagal ?; sederhana – karena mereka juga masih ingin (tetap) memimpin dunia dengan aturannya. Ingat ketika IMF gagal pertama dengan kejadian Nixon Shock Agustus 1971;  penggantinya tetap IMF juga hanya ‘undang-undang’-nya yang berganti dari Breton Woods Agreement (1945) menjadi Article of Agreement of IMF yang ditanda tangani di Smithsonian Institute – December 1971.  Dari lokasi penanda tangananan ini saja sebenarnya umat Islam yang cerdas sudah harus tahu siapa dibelakang mereka ini dan untuk kepentingan siapa program-program mereka dibuat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pertanyaan kedua mengenai apa pengganti US$ yang mereka pikirkan ?. terungkap dari pernyataan Dominique bahwa pengganti US$ sebagai reserve currency yang akan datang adalah “similar to but distinctly different from the IMF's special drawing rights, or SDRs”.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;SDR adalah reserve asset yang diciptakan oleh IMF tahun 1969; awalnya nilai 1 SDR setara dengan 0.888671 gram emas – yang seharusnya saat itu juga bernilai 1 US$.  Setelah kejadian Nixon Shock tersebut diatas, ‘uang’ SDR yang tadinya setara emas tersebut-pun berganti menjadi setara dengan sekeranjang mata uang - mata uang kuat dunia. Untuk saat ini isi keranjang tersebut terdiri dari US$ , Poundsterling, Euro dan Yen.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lantas berapa nilai SDR tersebut sekarang ?, per kemarin (01/03/2010) 1 SDR nilainya setara dengan US$ 1.52771 atau kalau dibelikan emas hanya dapat 0.0425 gram. Jadi uang SDR itu-pun kini nilainya tinggal sekitar 1/20 dari nilai awal ketika diperkenalkan 41 tahun lalu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Maknanya apa ini semua ?, bila US$ sebagai reserve asset diganti dengan SDR bentuk baru sekalipun (yang dikatakan Dominique sebagai similar but distinctly different dengan SDR yang sekarang) – tetap tidak dapat menjadi reserve asset yang sesungguhnya – karena nilainya juga mengalami keruntuhan sebagaimana sekeranjang mata kertas uang yang digunakan untuk menghitung nilainya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kita umat Islam tidak seharusnya menggunakan timbangan yang mereka ciptakan; kita memiliki timbangan yang adil sepanjang masa – yaitu emas, perak, gandum , kurma dan benda-benda riil yang memiliki nilai instrinsik lainnya. Waktunya kita mengikuti petunjuk jalan kita sendiri dan tidak mengikuti mereka memasuki lobang biawak berikutnya. Wa Allahu A’lam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Hubungi Kami

Sri Hartono
HP: 0816 99 98 97
Email: sri.hartono [at] arthadinar.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510647145142320969-191713968115757176?l=www.arthadinar.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.arthadinar.com/feeds/191713968115757176/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.arthadinar.com/2010/03/dan-imf-pun-mengajak-meninggalkan-us.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8510647145142320969/posts/default/191713968115757176?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8510647145142320969/posts/default/191713968115757176?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.arthadinar.com/2010/03/dan-imf-pun-mengajak-meninggalkan-us.html" title="Dan IMF-pun Mengajak Meninggalkan US$ …?" /><author><name>Sri Hartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09382001323751961486</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="07837359541679388306" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0AMQXgzfyp7ImA9WxBUFU0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510647145142320969.post-4730246055230361379</id><published>2010-03-01T20:55:00.000-08:00</published><updated>2010-03-01T20:56:20.687-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-03-01T20:56:20.687-08:00</app:edited><title>Barter Di Ekonomi Modern, Mungkinkah…?</title><content type="html">Written by Muhaimin Iqbal    &lt;br /&gt;Monday, 01 March 2010 05:58 &lt;br /&gt;Dalam sejarah peradaban manusia; penemuan konsep uang sejak sekitar 5,000 tahun lalu oleh bangsa Mesopotamia (3000 SM) merupakan penemuan yang  paling penting untuk mempermudah terjadinya perdagangan antara manusia yang satu dengan manusia yang lain.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;‘Uang’ Shekel yang diperkenalkan zaman itu adalah setara berat 180 butir gandum untuk benda-benda yang dianggap berharga seperti perak, perunggu, tembaga dlsb. Tercatat dalam sejarah 13 Abad kemudian (1760 SM) bahkan uang juga mulai secara resmi masuk dalam system hukum yang dikenal dengan Hukum Hammurabi - karena diperkenalkan oleh Raja ke 6 dari bangsa Babylonia yang bernama Hammurabi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebelum uang dikenal, perdagangan antar umat manusia mengandalkan sistem barter. Karena barter saat itu hanya dilakukan antar dua belah pihak yang secara kebetulan saling membutuhkan barang atau jasa pihak lain, maka perdagangan tentu sulit untuk terjadi secara aktif. Hambatan perdagangan ini adalah karena kondisi yang disebut coincidence of wants (kebutuhan yang secara kebetulan saling sesuai) sebagai prasyarat terjadinya barter – tidak mudah terpenuhi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kemudahan yang difasilitasi oleh adanya konsep uang inilah yang kemudian selama beribu tahun kemudian – hingga kini – menjadi mesin penggerak perdagangan yang utama. Dalam perdagangan yang menggunakan konsep uang, tidak harus lagi ada kondisi coincidence of wants.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hanya saja dalam perkembangannya, manusia modern yang kelewat tergantung pada uang – kemudian menjadikan uang bukan semata sebagai alat tukar dalam perdagangan. Sejak manusia modern menggunakan uang kertas yang semakin canggih; bahkan sekarang uang kertas-nya pun tidak harus  dicetak lagi – cukup di ketikkan dalam angka-angka komputer di bank sentral yang disebut quantitative easing misalnya, selain sebagai solusi uang juga dapat menjadi musibah bagi sesama.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Uang dapat menjadi satu alat untuk menjajah satu bangsa oleh bangsa lain; uang juga dapat menjadi alat yang efektif bagi penguasa untuk menarik ‘pajak’ secara tersembunyi kepada seluruh rakyat tanpa kecuali melalui apa yang disebut inflasi. Ketergantungan kepada uang juga dapat membuat sebagian manusia menjadi sangat miskin karena ulah sebagian yang lain – ingat apa yang kita alami di Indonesia selama puncak krisis tahun 1997-1998,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lantas apakah dengan efek samping-efek samping yang saya sebutkan diatas, uang harus ditinggalkan dan kita kembali ke zaman barter seperti sebelum 5000 tahun lalu ?. Tentu jawabannya juga tidak sedemikian ekstrim. Hal-hal positif yang terkait dengan uang (seperti fleksibilitasnya dalam menjembantani kebutuhan antara manusia yang tidak selalu bisa memenuhi syarat coincidence of wants) tetap terus dapat dipakai; pada saat yang bersamaan efek samping-nya harus diminimalisir. Dinar (uang emas) dan Dirham (uang peraklah) yang sebenarnya mampu membuktikan fungsi uang yang sesungguhnya ini selama ribuan tahun – tanpa berbagai efek samping seperti yang kita kenal sekarang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di sisi lain seefektif apapun uang dapat berfungsi memfasilitasi perdagangan; konsep barter sesungguhnya juga tetap menjadi konsep perdagangan yang valid sepanjang zaman. Dalilnya adalah Hadits Nabi Riwayat Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibn Majah, dengan teks Muslim dari ‘Ubadah bin Shamit, Nabi S.A.W bersabda: “(Juallah) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam (denga syarat harus) sama dan sejenis serta secara tunai. Jika jenisnya berbeda, juallah sekehendakmu jika dilakukan secara tunai.” &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Karena Islam adalah agama akhir zaman, maka apa-apa yang diajarkan dalam Islam tentu juga valid sampai akhir zaman. Penggalan kalimat terakhir dari Hadits diatas yang berbunyi “…Jika jenisnya berbeda, juallah sekehendakmu jika dilakukan secara tunai”  ini mengisyaratkan kita dapat melakukan barter sampai akhir zaman.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bukti empiris keberadaan barter di jaman modern inipun pernah saya tulis dalam tulisan sebelumnya yang berjudul “Dinar Equity Exchange…” ; dan bahkan Negara-negara kuat dunia saat ini sedang mempersiapkan sistem barter yang canggih untuk bisa memfasilitasi perdagangan diantara mereka tanpa harus tergantung pada mata uang tertentu, untuk ini lihat tulisan saya lainnya seperti “ China Bersiap Memimpin Perdagangan Dunia…”.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dua system barter modern yang saya perkenalkan dalam tulisan-tulisan tersebut diatas, keduanya bisa berjalan efektif bila bisa menciptakan kondisi yang ribuan tahun lalu bermasalah yaitu kondisi coincidence of wants.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dengan teknologi data processing yang bisa bekerja sangat cepat dan murah seperti sekarang ini , maka coincidence of wants ini bisa dipertemukan dari sejumlah besar pihak peserta barter – tidak terbatas pada hanya dua pihak seperti ribuan tahun lalu.  Dari sinilah teknik-teknik barter modern yang kemudian disebut multileg exchange atau multileg barter berkembang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dengan perkembangan-perkembangan perdagangan modern tersebut; visi gerakan Dinar GeraiDinar tidak hanya terbatas pada menyediakan Dinar yang dibutuhkan oleh masyarakat dan menjadikan Dinar sebagai penggerak sector riil – tetapi kita juga terus melakukan riset dan pengembangan yang terkait dengan perdagangan pada umumnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam kaitan dengan kepeloporan dibidang barter modern ini misalnya, GeraiDinar bekerjasama dengan beberapa pihak kini tengah mengkajinya dan menyiapkannya dalam project yang kita sebut IndoBarter Project – agar kita tidak ketinggalan dari China, India, Brasil, Rusia, Jerman dlsb dalam hal perdagangan global kelak yang bisa jadi tidak lagi akan mengandalkan keberadaan system keuangan dunia yang kini semakin rapuh.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Talent- talent terbaik negeri ini dibidang financial, taxation, IT, legal, trading dlsb. silahkan menghubungi kami dengan mengirimkan CV-nya bila tertarik untuk terlibat dalam project Indobarter ini. Hanya yang bener-bener bisa memberikan kontribusi pada project ini yang akan diundang untuk bergabung dalam pertemuan-pertemuan selanjutnya. Semoga kita bisa belajar walau sampai negeri China untuk hal ini…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Hubungi Kami

Sri Hartono
HP: 0816 99 98 97
Email: sri.hartono [at] arthadinar.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510647145142320969-4730246055230361379?l=www.arthadinar.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.arthadinar.com/feeds/4730246055230361379/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.arthadinar.com/2010/03/barter-di-ekonomi-modern-mungkinkah.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8510647145142320969/posts/default/4730246055230361379?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8510647145142320969/posts/default/4730246055230361379?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.arthadinar.com/2010/03/barter-di-ekonomi-modern-mungkinkah.html" title="Barter Di Ekonomi Modern, Mungkinkah…?" /><author><name>Sri Hartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09382001323751961486</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="07837359541679388306" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;CkcGRng6eyp7ImA9WxBVGEQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510647145142320969.post-211508274978398668</id><published>2010-02-22T17:52:00.000-08:00</published><updated>2010-02-22T17:53:47.613-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-02-22T17:53:47.613-08:00</app:edited><title>And The Winner Is….?</title><content type="html">Written by Muhaimin Iqbal    &lt;br /&gt;Tuesday, 23 February 2010 08:41 &lt;br /&gt;Untuk bisa melihat kinerja uang kertas kita dalam perspektif yang lebih luas, pada kesempatan ini saya ingin menyajikan perkembangan harga emas sampai lima tahun terakhir dilihat dari kaca mata uang Rupiah, US$, Euro dan Yen.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kita gunakan harga emas dalam mata uang masing-masing – karena harga emas inilah alat ukur yang paling universal dan  stabil sepanjang zaman. Kita patut bersyukur bahwasanya dalam 6 – 12 bulan terakhir, mata uang kita jauh lebih perkasa dibandingkan dengan tiga mata uang kuat dunia yaitu US$, Euro dan Yen.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hal ini dapat kita lihat bahwa diantara empat mata uang yang kita observasi daya belinya terhadap emas; dalam 6 – 12 bulan terakhir harga emas dalam  Rupiah-lah yang kenaikannya paling rendah. Dalam Rupiah kenaikan harga emas malah minus  atau mengalami penurunan selama 12 bulan terakhir.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Meskipun kita dapat berbangga dengan Rupiah kita dalam jangka pendek, namun kita tetap harus mewaspadai daya beli uang kita ini karena dalam jangka menengah 5 tahun saja Rupiah berkinerja paling lemah bila dibandingkan dengan tiga mata uang kuat dunia Yen, US$ dan Euro tersebut diatas. Dalam timbangan emas, harga emas dunia telah mengalami kenaikan 161% selama lima tahun terakhir bila dibeli dengan Rupiah. Sementara bila dibeli dengan Yen, US$ dan Euro masing-masing hanya mengalami kenaikan 125%, 157% dan 150%.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Apa maknanya ini semua ?, karena mata uang merepresentasikan kekuatan ekonomi suatu negara. Maka selama kurun waktu 5 tahun terakhir,  Jepang masih paling kuat fundamental ekonominya dibandingkan dengan negara-negara Uni Eropa, Amerika dan Indonesia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kita tentu berharap stamina kita yang lagi fit sehingga memiliki ke-unggul-an dalam 6-12 bulan terakhir dibandingkan dengan negara-negara yang secara umum memiliki fundamental ekonomi yang lebih kuat dari kita tersebut – dapat bertahan lama sampai bertahun-tahun mendatang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bagaimana kalau kondisi unggul ini tidak bisa bertahan lama ?, ada cara lain untuk mempertahankan hasil jerih payah kita agar tetap memiliki daya beli unggul sepanjang zaman – yaitu emas atau Dinar. Selagi Rupiah perkasa seperti hari-hari ini, harga emas sesungguhnya lagi rendah-rendahnya dalam Rupiah – relatif terhadap mata uang lain di Dunia. Wa Allahu A’lam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Hubungi Kami

Sri Hartono
HP: 0816 99 98 97
Email: sri.hartono [at] arthadinar.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510647145142320969-211508274978398668?l=www.arthadinar.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.arthadinar.com/feeds/211508274978398668/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.arthadinar.com/2010/02/and-winner-is.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8510647145142320969/posts/default/211508274978398668?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8510647145142320969/posts/default/211508274978398668?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.arthadinar.com/2010/02/and-winner-is.html" title="And The Winner Is….?" /><author><name>Sri Hartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09382001323751961486</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="07837359541679388306" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;CUIDR3k-fSp7ImA9WxBVE0o.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510647145142320969.post-518186205120616194</id><published>2010-02-16T18:25:00.000-08:00</published><updated>2010-02-16T18:26:16.755-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-02-16T18:26:16.755-08:00</app:edited><title>Emas/Dinar Diantara Uang Kertas Yang Perkasa dan Yang Lunglai…</title><content type="html">Written by Muhaimin Iqbal    &lt;br /&gt;Wednesday, 17 February 2010 07:19 &lt;br /&gt;Meskipun hari-hari ini harga emas fisik di pasaran Indonesia di kisaran Rp 345 ribu/gram tidak bisa dibilang murah, sesungguhnya relatif terhadap harga emas dunia – kita lagi beruntung, harga emas dalam Rupiah lagi murah-murahnya bila dibandingkan dengan harga emas setahun yang lalu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bila dalam setahun terakhir harga emas dunia dalam US$ mengalami kenaikan sekitar  19 % dan dalam Euro mengalami kenaikan sekitar 11 %; Dengan uang Rupiah kita yang lagi perkasa – harga emas atau Dinar dalam Rupiah turun 9 %. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kinerja Rupiah yang tidak biasa, yang keperkasaannya melebihi mata uang-mata uang kuat dunia ini di satu sisi menggembirakan karena tidak hanya kita bisa membeli emas atau Dinar dengan relatif murah; tetapi juga inflasi terhadap barang-barang impor yang mau nggak mau masih kita perlukan menjadi rendah. Saat ini adalah kesempatan yang baik bagi Anda yang mau ganti komputer misalnya, karena komputer juga lagi murah…dlsb.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di sisi lain kita juga perlu waspada karena bila situasi ini berlangsung dalam waktu yang lama, belum tentu menguntungkan negeri ini. Konsumsi barang impor akan meningkat sedangkan ekspor akan kurang dapat bersaing.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hal lain yang juga perlu diwaspadai adalah ketika Rupiah kembali ke jalurnya semula, yang cenderung berkinerja lebih lemah dari mata uang kuat lainnya di dunia – ada kemungkinan harga emas dalam Rupiah akan melonjak.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari data statistik  dalam 10 tahun terakhir harga emas dalam Rupiah naik sekitar 406%, sementara dalam US$ hanya naik 294% dan dalam Euro hanya naik 190%. Artinya kinerja Rupiah setahun terakhir yang lebih kuat dari US$ dan Euro, lagi tidak sejalan dengan kinerja jangka panjangnya yang cenderung lebih lemah dari kedua mata uang kuat tersebut.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketika Anda berenang melawan arus, maka Anda akan lebih cepat capek karena tenaga Anda terkuras.  Demikianlah yang nampaknya terjadi dengan Rupiah setahun terakhir, mudah-mudahan saja dia tidak cepat capek dan berbalik arah – meskipun kita tetap harus waspadai arus balik ini. Wa Allahu A’lam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Hubungi Kami

Sri Hartono
HP: 0816 99 98 97
Email: sri.hartono [at] arthadinar.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510647145142320969-518186205120616194?l=www.arthadinar.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.arthadinar.com/feeds/518186205120616194/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.arthadinar.com/2010/02/emasdinar-diantara-uang-kertas-yang.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8510647145142320969/posts/default/518186205120616194?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8510647145142320969/posts/default/518186205120616194?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.arthadinar.com/2010/02/emasdinar-diantara-uang-kertas-yang.html" title="Emas/Dinar Diantara Uang Kertas Yang Perkasa dan Yang Lunglai…" /><author><name>Sri Hartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09382001323751961486</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="07837359541679388306" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0QEQ34zeSp7ImA9WxBVEk0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510647145142320969.post-5979732265086001136</id><published>2010-02-14T18:34:00.000-08:00</published><updated>2010-02-14T18:35:02.081-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-02-14T18:35:02.081-08:00</app:edited><title>Emas Diantara Yang Pesimis dan Optimis…</title><content type="html">Written by Muhaimin Iqbal    &lt;br /&gt;Monday, 15 February 2010 09:16 &lt;br /&gt;Hari-hari ini bila Anda rajin mengikuti perkembangan harga emas dunia akan melihat trend tahunan yang tidak biasa. Dalam Rupiah harga emas saat ini lebih rendah sekitar 8.5% dibandingkan dengan harga emas setahun lalu; sebaliknya bila Anda sempat lihat harga emas dunia di Kitco.com – dalam US$ harga emas dunia pagi ini masih 15% lebih tinggi dari harga setahun lalu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jadi pertanyaannya adalah apakah harga emas saat ini lagi rendah atau lagi tinggi ?, akan naik atau akan turun ?.  Tidak mudah menjawabnya dan bahkan para analis pasar emas dunia-pun berbeda pendapat dalam hal ini. Dalam kaitan harga emas kedepan, saya pisahkan pendapat para analis ini dalam dua golongan – yaitu yang pesimis dan yang optimis (terhadap harga emas).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Yang pesimis pada umumnya melihat emas sebagai komoditi biasa yang harganya naik dan turun sesuai dengan supply dan demand; mereka berpendapat bahwa harga emas dunia saat ini sudah ketinggian dan akan berkecenderungan turun. Bukti yang mereka gunakan adalah kecenderungan menurunnya harga emas yang terjadi dalam dua bulan terakhir.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah sempat mencapai angka diatas US$ 1,200/Oz ; saat ini emas hanya diperdagangkan dikisaran US$ 1,093/Oz. Penyebabnya antara lain adalah economic recovery di Amerika Serikat sebagaimana ditunjukkan oleh pertumbuhan GDP negeri itu Kwartal ke IV  2009 yang mencapai angka yang fantastis 5.7%.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada saat ekonomi baik, orang meninggalkan emas sebagai aset penyimpan nilai modal (capital preservation asset) dan menginvestasikannya kedalam bentuk investasi yang berpotensi memberikan hasil lebih. Maka sejalan dengan proses economic recovery di Amerika yang bisa berlangsung sampai 2012; maka kelompok yang pesimis ini-pun memperkirakan bahwa harga emas akan cenderung turun sampai tahun 2012 – yang saat itu diperkirakannya harga emas hanya akan berada dikisaran US$ 750/Oz.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kelompok yang optimis melihat data yang sama justru dari sudut pandang yang sebaliknya. Recovery saat ini lebih banyak didorong oleh serangkaian bailout yang berarti pencetakan uang kertas lebih dari biasanya.  Supply uang kertas yang dipaksakan ini pada akhirnya akan mengancurkan daya beli uang kertas itu sendiri. Bila daya beli uang kertas jatuh, maka semua barang akan melonjak nilainya – dan tentu saja juga harga emas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Salah satu pendukung teori ini adalah Marc Faber seperti yang diungkap di www.commodityonline.com dua hari lalu. Fund Manager kondang yang berasal dari Swiss ini dalam forum resmi Russia’s Troika Dialog pekan lalu menyatakan “Saya yakin bahwa pemerintahan Amerika akan bangkrut, mungkin tidak besuk, tetapi sebelum ini terjadi mereka akan mencetak uang sangat banyak – dan Anda akan menghadapi inflasi yang sangat tinggi”.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Karena langkah yang dilakukan oleh Amerika dalam aksi bailout ini juga dilakukan oleh negara-negara lain seperti Inggris dan negara-negara Eropa Barat lainnya; maka praktis ini akan melanda dunia finansial secara keseluruhan. Langkah apa yang perlu dilakukan untuk mengantisipasi ini ?; Marc Faber  merumuskannya dengan sederhana : “satu hal yang tidak akan pernah saya lakukan adalah menjual emas saya”.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lantas seberapa tinggi harga emas akan naik menurut golongan yang optimis ini ?; perkiraan mereka beberapa kali saya kutip di situs ini, antara lain tanggal 20 November 2009 dengan judul Exchange Rate Chaos. Menurut kelompok ini harga emas akan mencapai US$ 2,000 dalam waktu yang tidak terlalu lama dan tidak dengan susah payah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lantas bagaimana saya sendiri berpendapat ?; saya cenderung kependapat yang kedua. Meskipun pada saat yang bersamaan saya selalu mengingatkan bahwa dalam jangka pendek harga emas akan terus bergejolak. Bahkan kepada para calon pembeli pemula;  saya selalu katakan untuk transaparan dan fair memberikan gambaran prospek Dinar ini. Memang kita optimis Dinar akan berkecenderungan naik dalam jangka panjang; tetapi jalannya akan bergelombang seperti grafik-grafik bulanan, tahunan dan sepuluh tahunan yang ada di situs ini. Jadi dalam jangka pendek harga Dinar tidak hanya bisa naik, bisa juga turun. Wa Allahu A’lam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Hubungi Kami

Sri Hartono
HP: 0816 99 98 97
Email: sri.hartono [at] arthadinar.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510647145142320969-5979732265086001136?l=www.arthadinar.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.arthadinar.com/feeds/5979732265086001136/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.arthadinar.com/2010/02/emas-diantara-yang-pesimis-dan-optimis.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8510647145142320969/posts/default/5979732265086001136?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8510647145142320969/posts/default/5979732265086001136?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.arthadinar.com/2010/02/emas-diantara-yang-pesimis-dan-optimis.html" title="Emas Diantara Yang Pesimis dan Optimis…" /><author><name>Sri Hartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09382001323751961486</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="07837359541679388306" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUEERHkyeCp7ImA9WxBWGUg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510647145142320969.post-8087091627217114754</id><published>2010-02-11T22:52:00.000-08:00</published><updated>2010-02-11T22:53:25.790-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-02-11T22:53:25.790-08:00</app:edited><title>Tantangan Untuk Negeri Dengan Rangking 122... !</title><content type="html">Written by Muhaimin Iqbal    &lt;br /&gt;Tuesday, 09 February 2010 07:40 &lt;br /&gt;Kemarin sore saya tersentak dengan acara di salah satu TV swasta nasional yang lagi menyoroti kinerja 100 hari pemerintahan RI yang menghadirkan nara sumber ketua BKPM. Dalam acara tersebut antara lain disajikan data dari World Bank terakhir yang menyatakan bahwa Indonesia berada pada ranking 122 dalam hal kemudahan berusaha. Begitu burukkah negeri kita ini dalam memfasilitasi para pengusaha/investor ?.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setengah tidak percaya saya cari laporan lengkapnya dari World Bank dan alhamdulillah bisa saya peroleh gratis dalam bentuk laporan lengkap yang dapat di download di www.doingbusiness.org . Laporan yang paling mutakhir diberi judul Doing Business 2010, berdasarkan data yang dikumpulkan dari 183 negara sampai Mei 2009.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Laporan ini pertama kali diterbitkan tahun 2003 lalu yang saat itu hanya mendasarkan pada 5 indikator. Laporan terakhir menggunakan 10 indikator kemudahan usaha yang terdiri dari : kemudahan memulai usaha, ijin konstruksi, tenaga kerja, pendaftaran property, kredit, perlindungan investor, pajak, perdagangan lintas batas,  penegakan hukum kontrak dan penutupan usaha.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari 10 indikator tersebutlah Indonesia jatuhnya berada di ranking 122 dari 183 negara yang di Survey. Di negeri ASEAN saja, Indonesia hanya lebih baik dari Philippine yang berada di urutan 144. Sementara Singapore adalah ranking 1, Thailand 12,  Malaysia 23 dan Vietnam 93.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Yang lebih menyedihkan lagi adalah apabila dilihat satu persatu dari 10 indikator tersebut, beberapa indikator menunjukkan hal yang jauh lebih buruk dari rata-rata yang 122 ini. Indikator kemudahan memulai usaha misalnya berada pada ranking 161, kemudahan urusan pegawai berada pada ranking 149 dan kemudahan dalam penegakan hukum kontrak berada pada urutan 146.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Anda bisa bayangkan sekarang seandainya Anda bukan warga negeri ini, Anda investor asing yang ingin investasi – Apakah Anda akan investasi di Negara yang ranking kemudahan usahanya berada pada angka 122 ?, atau pada negeri tetangganya yang berada di ranking 1, 12,  23 atau bahkan 93 ?. Inilah yang menyebabkan investasi seret di negeri ini, dan lapangan kerja sulit tercipta. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dampaknya adalah meskipun negeri ini konon gemah ripah loh jinawi, tongkat dan batu jadi tanaman – tetapi realitanya tidak terhitung jumlah tenaga kerja kita yang harus mencari rizki-nya di negeri lain,  termasuk sejumlah besar  wanita-wanita kita harus pergi meninggalkan suami dan anak-anak nya utuk bekerja di negeri yang kadang sangat tidak bersahabat dengan mereka,  tahun lalu saja lebih dari 40 TKI kita yang menghadapi masalah dengan pekerjaannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Meskipun bisa saja data Bank Dunia tersebut bias, tetapi tidak ada salahnya untuk menggunakan data ini sebagai acuan agar kita semua bekerja keras membangun negeri. Stop perdebatan-perdebatan politik yang tidak berkesudahan, serahkan masing-masing urusan pada ahlinya. Masalah hukum misalnya biarlah ditangani para penegak hukum, sehingga tidak mengalihkan fokus seluruh elemen masyarakat dari kegiatan produktif.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebagai negeri di ranking 122, kita tidak bisa mengharapkan investor asing untuk membangun negeri ini;  ambil hikmahnya dari kenyataan ini bahwa kita sendirilah yang harus membangunnya.  Ini bukan hanya tugas pemerintah – meskipun pemimpin-pemimpin tersebut tentu yang paling bertanggung jawab,  karena mereka dahulu minta dipilih dan mereka telah berjanji untuk menciptakan lapangan kerja dan  memakmurkan negeri ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mulai dari diri kita, mulai dari yang kita bisa…Insyaallah Allah akan mengajari kita dengan apa yang kita belum bisa.  Bagi Anda yang tergugah untuk berusaha menciptakan lapangan kerja bagi saudara-saudari kita,  kami ada program yang sepenuhnya free – yaitu Program Pesantren Wirausaha yang Angkatan ke 8-nya insyallah kick off akhir bulan ini. Saat ini sudah ada 200-an Santri Eksekutif yang insyallah siap berkontribusi untuk membangun negeri yang saat ini masih di ranking 122 ini. Semoga Allah memudahkan langkah kita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Hubungi Kami

Sri Hartono
HP: 0816 99 98 97
Email: sri.hartono [at] arthadinar.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510647145142320969-8087091627217114754?l=www.arthadinar.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.arthadinar.com/feeds/8087091627217114754/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.arthadinar.com/2010/02/tantangan-untuk-negeri-dengan-rangking.html#comment-form" title="1 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8510647145142320969/posts/default/8087091627217114754?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8510647145142320969/posts/default/8087091627217114754?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.arthadinar.com/2010/02/tantangan-untuk-negeri-dengan-rangking.html" title="Tantangan Untuk Negeri Dengan Rangking 122... !" /><author><name>Sri Hartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09382001323751961486</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="07837359541679388306" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;DU8AQXw5eyp7ImA9WxBWGEg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510647145142320969.post-6506204686982139101</id><published>2010-02-10T19:09:00.000-08:00</published><updated>2010-02-10T19:10:40.223-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-02-10T19:10:40.223-08:00</app:edited><title>Blue Ocean Mindset , Bukan Bersaing Tetapi Berlomba Dalam Kebajikan…</title><content type="html">Written by Muhaimin Iqbal    &lt;br /&gt;Wednesday, 10 February 2010 08:13 &lt;br /&gt;Lima tahun lalu Harvard Business School  Press menerbitkan buku yang legendaris bagi dunia usaha dengan judul Blue Ocean Strategy   dan sub judul How To Create Uncontested Market Space and Make the Competition Irrelevant. Buku ini ditulis oleh Chan Kim dan Renee Mauborgne yang keduanya adalah professor di INSEAD.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Inti dari isi buku ini adalah strategy bagi para pelaku usaha untuk bisa keluar dari medan persaingan yang tidak sehat–  yang digambarkan sebagai red ocean  karena berdarah-darahnya pertempuran di pasar – menuju pasar yang boleh dikatakan tanpa pesaing yang digambarkan sebagai blue ocean – karena tidak adanya setetes-pun darah yang tercecer.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selain menginspirasi para pelaku dunia usaha; buku ini sebenarnya bisa juga memberi inspirasi bagi  para aktifis gerakan sosial, keagamaan dan bahkan pada para ustad dan juru dakwah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dulu ada Da’i kondang yang sering memberikan pencerahan kita untuk meninggalkan persaingan yang tidak sehat. Dengan arif Da’i tersebut menceritakan betapa naifnya persaingan antara tukang ojek dengan tukang ojek, tukang cukur dengan tukang cukur, bahkan Da’i-pun katanya bersaing dengan Da’i lainnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nasihat Da’i ini esensinya sama dengan isi buku tersebut diatas; bila kita jumud pada segmen kita, menganggap orang lain yang juga menggarap segmen ini adalah pesaing yang harus diserang – maka kita akan berdarah-darah kehabisan tenaga, sementara kita sendiri akan kehabisan sumber daya kreatif kita untuk melihat adanya segmen lain yang perlu penggarapan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dengan wawasan tersebut diataslah maka kami tidak pernah merasa bersaing dengan penggerak Dinar lainnya; meskipun ada yang mungkin menganggap kami sebagai pesaing dan ofensif terhadap apa yang kami lakukan – kami tidak merasa perlu untuk membalasnya, karena ini hanya akan mengurangi kemampuan kreatif kita.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Medan amal Islami ini terlalu luas untuk kita, sehingga kita tidak harus tetap berada di red ocean; begitu banyak blue ocean diluar sana yang bisa menjadi lapangan kita untuk berbuat kreatif dan beramal secara maksimal. Bahwasanya orang lain melakukan hal yang sama, kami anggap dia bukanlah pesaing – mereka adalah sparring partners kita untuk bisa berlomba-lomba dalam kebajikan atau fastabihul khairat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bahkan kini istilah blue ocean yang menyegarkan sebagai lawan kata red ocean yang panas berdarah-darah, seolah terwujud secara lahiriah di project Pesantrem Wirausaha yang kami cetuskan sejak beberapa bulan lalu. Bila Anda berkunjung kesana, Anda akan menemukan saudara-saudara Anda yang dengan tulus ikhlas berbagi ilmu dan pengalaman di berbagai bidang usaha mulai dari pertanian, perikanan, peternakan, perdagangan dan berbagai bidang lainnya; tidak ada yang menganggap Anda pesaing atau calon pesaing.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Semua adalah saudara yang masing-masing menjadi sparring partners bagi yang lain untuk fastabihul khairat. Dengan Blue Ocean Mindset ini, dunia terasa sejuk bagi kita sesejuk komplek Pesantren Kita diatas. Semoga sparring partners kita dapat merasakan kesejukan yang sama. Wa Allahu A’lam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Hubungi Kami

Sri Hartono
HP: 0816 99 98 97
Email: sri.hartono [at] arthadinar.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510647145142320969-6506204686982139101?l=www.arthadinar.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.arthadinar.com/feeds/6506204686982139101/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.arthadinar.com/2010/02/blue-ocean-mindset-bukan-bersaing.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8510647145142320969/posts/default/6506204686982139101?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8510647145142320969/posts/default/6506204686982139101?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.arthadinar.com/2010/02/blue-ocean-mindset-bukan-bersaing.html" title="Blue Ocean Mindset , Bukan Bersaing Tetapi Berlomba Dalam Kebajikan…" /><author><name>Sri Hartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09382001323751961486</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="07837359541679388306" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0QCSH0yeSp7ImA9WxBWFkw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510647145142320969.post-1911923890879982770</id><published>2010-02-07T23:48:00.000-08:00</published><updated>2010-02-07T23:49:29.391-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-02-07T23:49:29.391-08:00</app:edited><title>Perang Dingin Antara China dan Amerika, Apa Dampaknya Pada Harga Emas…?</title><content type="html">Written by Muhaimin Iqbal    &lt;br /&gt;Monday, 08 February 2010 08:10 &lt;br /&gt;Tulisan ini saya sarikan dari tulisan Lawrence Williams di Mineweb yang muncul ditengah terpuruknya harga emas dunia sejak pekan lalu. Dalam kondisi harga emas yang rendah seperti sekarang ini, banyak pemain pasar  yang serius  mengkaji kemungkinan pilihan – apakah ini waktu yang baik untuk membeli (bila ada prospek harga emas kembali tinggi), atau justru menjual (bila trend penurunan diperkirakan akan berlanjut).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lawrence Williams adalah salah satunya yang melihat kemungkinan harga emas akan naik dari sudut pandang politik ekonomi, khususnya yang terkait dengan perkembangan terakhir mengenai memburuknya hubungan China dan Amerika.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Meskipun para pemimpin kedua negara ini sering bertemu untuk berbagai perundingan, permusuhan diantara keduanya juga tidak bisa disembunyikan. Perseteruan ini mulai dari isu kekuatan mata uang, masalah Tibet, masalah Taiwan, masalah HAM, Hacker, Google dan berbagai masalah lain yang nampaknya sepele tetapi bisa memicu ‘perang’ antara keduanya – setidaknya perang dingin.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Yang paling serius diantara isu-isu tersebut adalah langkah Amerika untuk menjual senjata ke Taiwan senilai US$ 6.4 milyar baru-baru ini. Kegeraman China bisa mendorong negeri itu juga menjual atau meningkatkan penjualan senjatanya ke negara-negara yang dipandang tidak bersahabat terhadap Amerika. Skenario terburuknya adalah bisa pecah perang fisik yang melibatkan keduanya di Wilayah Taiwan atau Korea.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Karena scenario perang fisik ini kemungkinan terjadinya cukup kecil, maka yang lebih besar kemungkinan terjadi diantara keduanya adalah perang dingin yang fokusnya pada politik dan ekonomi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Meskipun China secara penguasaan teknologi dan ekonomi masih dibawah Amerika, namun cadangan devisanya dalam bentuk US$ yang sangat besar bisa menjadi pisau bermata dua bagi Amerika. Bila China memutuskan mengalihkan sebagian cadangan devisanya – misalnya, dampaknya bisa luar biasa bagi nilai US$ yang merepresentasikan kekuatan ekonomi Amerika ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Disinilah kaitannya dengan harga emas dunia. Bila China menurunkan cadangan devisa US$-nya, apa alternatifnya ? Euro, Yen dan mata uang lain kemungkinannya tidak lebih menarik bagi China dibandingkan dengan US$. Jadi apa yang lebih menarik dari US$ bagi China ?, emas tentu saja salah satunya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Peralihan cadangan US$ China sedikit saja ke emas, bisa melambungkan harga emas karena tiga hal sekaligus. Pertama karena meningkatnya demand oleh China sendiri, kedua menurunnya daya beli US$ yang digunakan sebagai pembanding harga emas dunia, dan yang ketiga adalah efek psikologis pasar yang akan ikutan memburu emas – bila mengetahui China berburu emas dan meninggalkan US$.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Biarlah gajah beradu dengan gajah, tetapi pelanduk jangan menjadi korban – bahkan kalau bisa pelanduk yang untung !.. Wa Allahu A’lam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Hubungi Kami

Sri Hartono
HP: 0816 99 98 97
Email: sri.hartono [at] arthadinar.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510647145142320969-1911923890879982770?l=www.arthadinar.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.arthadinar.com/feeds/1911923890879982770/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.arthadinar.com/2010/02/perang-dingin-antara-china-dan-amerika.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8510647145142320969/posts/default/1911923890879982770?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8510647145142320969/posts/default/1911923890879982770?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.arthadinar.com/2010/02/perang-dingin-antara-china-dan-amerika.html" title="Perang Dingin Antara China dan Amerika, Apa Dampaknya Pada Harga Emas…?" /><author><name>Sri Hartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09382001323751961486</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="07837359541679388306" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;CkYCRH47fCp7ImA9WxBWE0k.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510647145142320969.post-6603935520358252201</id><published>2010-02-04T19:22:00.001-08:00</published><updated>2010-02-04T19:22:45.004-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-02-04T19:22:45.004-08:00</app:edited><title>Harga Emas Dunia Jatuh, Mengapa…?</title><content type="html">Written by Muhaimin Iqbal    &lt;br /&gt;Friday, 05 February 2010 08:00 &lt;br /&gt;Meskipun sudah saya prediksikan dalam serangkaian tulisan pekan ini tanggal 01/02/10 ; 02/02/10 ; 04/02/10 ; penurunan harga emas yang tajam semalam terus terang juga mengejutkan saya sendiri. Memang di tulisan-tulisan tersebut saya estimasikan harga emas dalam jangka pendek bisa turun hingga kisaran US$ 975/Oz; saya sendiri tidak menduga bahwa harga emas bisa turun diatas 4% ke angka US$ 1,057.40 semalam.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Diluar kebiasaan pula, pada umumnya bila harga emas turun – harga saham naik karena dana dari penjualan emas dipasar sebagian lari ke saham. Tidak demikian yang terjadi semalam, harga saham dunia juga jatuh. Semua dana untuk sementara nampaknya lari ke US$.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Apa yang menjadi penyebab kejadian yang tidak biasa ini ?, saya coba telusuri penyebabnya ternyata bermuara di krisis hutang beberapa negara Eropa. Kekhawatiran yang meluas atas krisis hutang dan defisit  Yunani, Spanyol, Portugal dan beberapa negara kecil di Eropa Timur telah membuat seluruh pasar dunia mengkawatirkan likuiditas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ini yang disebut systemic yang sesungguhnya; bila ada negara yang gagal – maka akan sangat cepat merembet ke negara-negara lain atau institusi keuangan dunia karena piutang mereka yang tidak tertagih, likuiditas yang tersedot dan seterusnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kekawatiran akan likuiditas inilah yang membuat orang memborong US$. Terlepas bahwa US$ sebenarnya juga memiliki masalahnya sendiri – bagaimanapun sampai sekarang US$ masih dianggap sebagai World’s Reserve Currency.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Apakah penurunan ini akan berlanjut ?, untuk sementara mungkin. Tetapi sekian banyak analisa yang saya baca dan analisa saya sendiri – untuk jangka panjang tetap peluang naiknya harga emas lebih tinggi dari peluang menurunnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kejadian semalam mirip dengan kejadian November 2008 yang saya tulis dalam judul “Tahapan Dalam Krisis Dan Pengaruhnya Terhadap Harga Emas…” &lt;br /&gt;Seperti berlalunya kekawatiran likwiditas US$ pada akhir 2008 tersebut, selepas panik pelaku pasar dan juga negara-negara akan kembali berpikir logis dan harga-harga akan menuju keseimbangan baru. Wa Allahu A’lam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Hubungi Kami

Sri Hartono
HP: 0816 99 98 97
Email: sri.hartono [at] arthadinar.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510647145142320969-6603935520358252201?l=www.arthadinar.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.arthadinar.com/feeds/6603935520358252201/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.arthadinar.com/2010/02/harga-emas-dunia-jatuh-mengapa.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8510647145142320969/posts/default/6603935520358252201?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8510647145142320969/posts/default/6603935520358252201?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.arthadinar.com/2010/02/harga-emas-dunia-jatuh-mengapa.html" title="Harga Emas Dunia Jatuh, Mengapa…?" /><author><name>Sri Hartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09382001323751961486</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="07837359541679388306" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEIEQHY_cSp7ImA9WxBXFE0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510647145142320969.post-7584634417855017230</id><published>2010-01-24T22:54:00.000-08:00</published><updated>2010-01-24T22:55:01.849-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-01-24T22:55:01.849-08:00</app:edited><title>Trend Harga Emas Dunia, Kemana Arahnya ?</title><content type="html">Written by Muhaimin Iqbal    &lt;br /&gt;Tuesday, 19 January 2010 08:32 &lt;br /&gt;Di pasar saham ada teori yang sangat terkenal yang disebut Dow Theory mengambil nama penemunya Charles H. Dow (1851 – 1902) yang juga pendiri  Dow Jones. Teori ini pula yang mendasari technical analysis yang dipakai para praktisi pasar saham dan sejenisnya hingga jaman modern ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Karena kemiripan pasar saham dengan pasar emas dalam skala global, maka Dow Theory ini juga dapat digunakan untuk menganalisa perilaku pasar emas dunia. Pada tulisan ini saya menggunakan bagian dari Dow Theory yang berbunyi kurang lebih begini “Bila barang ekonomi memiliki pola titik-titik tertinggi yang semakin tinggi (higher highs) dan titik-titik terendah yang juga semakin tinggi (higher lows), maka barang ekonomi tersebut sedang berada pada kecenderungan menaik (uptrend)”.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Apakah uptrend yang dipersyaratkan oleh Dow Theory ini nampak dalam pasar emas dunia beberapa tahun terakhir ?. Jawabannya sangat jelas nampak. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari data trend harga emas kita bisa melihat bahwa sejak emas menembus angka US$ 1,000/Oz September 2009 lalu, kemudian melesat ke angka diatas US$ 1,200/Oz pada awal Desember, emas terkoreksi secara significant di bulan yang sama. Namun kita tahu koreksi ini ternyata tidak berhasil membawa harga emas dunia ke angka dibawah US$ 1,000/Oz; koreksi ini hanya berakhir pada angka US$ 1,075/Oz yang terjadi pada tanggal 22 Desember 2009. Inilah yang disebut titik terendah yang semakin tinggi (higher low)  itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jadi paling tidak pada masa depan yang masih bisa diperkirakan dari data yang ada saat ini ( foreseeable future), trend harga emas dunia masih berada pada kecenderungan naik (uptrend).  Namun perlu diingat bahwa harga emas dunia ini dihitung dengan US$, trendnya dalam Rupiah bisa saja berbeda tergantung dengan bagaimana kinerja Rupiah kedepan dibandingkan dengan US$.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bahwasanya kita membeli emas di Indonesia dengan uang Rupiah kita, saat ini sesungguhnya merupakan kesempatan yang luar biasa. Kita dapat membeli emas/Dinar pada harga yang relatif rendah di tengah harga emas dunia yang lagi berada pada uptrend  !. Wa Allahu A’lam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Hubungi Kami

Sri Hartono
HP: 0816 99 98 97
Email: sri.hartono [at] arthadinar.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510647145142320969-7584634417855017230?l=www.arthadinar.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.arthadinar.com/feeds/7584634417855017230/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.arthadinar.com/2010/01/trend-harga-emas-dunia-kemana-arahnya.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8510647145142320969/posts/default/7584634417855017230?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8510647145142320969/posts/default/7584634417855017230?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.arthadinar.com/2010/01/trend-harga-emas-dunia-kemana-arahnya.html" title="Trend Harga Emas Dunia, Kemana Arahnya ?" /><author><name>Sri Hartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09382001323751961486</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="07837359541679388306" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUIBRH4_fCp7ImA9WxBQFU8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510647145142320969.post-944994902671373096</id><published>2010-01-14T19:51:00.000-08:00</published><updated>2010-01-14T19:52:35.044-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-01-14T19:52:35.044-08:00</app:edited><title>Selagi Rupiah Perkasa : Dinar Sangat Murah…</title><content type="html">Written by Muhaimin Iqbal    &lt;br /&gt;Wednesday, 13 January 2010 08:23 &lt;br /&gt;Bagi yang rajin mengamati grafik-grafik kecil di situs ini ,  hari-hari ini akan melihat posisi harga Dinar yang tidak biasa di grafik tersebut. Khususnya pada grafik yang menggambarkan trend harga Dinar setahun terakhir.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Trend kenaikan yang biasanya berwarna biru positif, kini berwarna merah negatif. Bahkan angka negatifnya cukup besar, yaitu pagi ini mencapai – 8.84%. Mengapa hal ini bisa terjadi ?,  keperkasaan Rupiah jawabannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam grafik tahunan, 12 bulan terakhir dihitung dari Februari 2009 sampai Januari 2010. Bulan Februari tahun 2009 lalu, emas dunia berada pada kisaran US$ 943/Oz dan Rupiah berada pada kisaran Rp 11,800/US$. Dinar saat itu berada pada kisaran Rp 1,550,000. Jadi dibandingkan dengan harga Dinar Februari 2009, Dinar saat ini tengah mengalami penurunan sekitar 8.84 % tersebut diats. Namun kalau dibandingakan Januari 2009, harga Dinar saat ini masih 7.20 %  naik.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bila kita lihat harga emas Dunia Januari tahun lalu yang berada pada angka US$ 858.69; maka harga emas dunia pagi ini US$ 1,130.55 telah mengalami kenaikan 31.65% .&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Artinya apa ini semua ?, harga emas dunia sebenarnya masih berada pada periode mahal; karena keperkasaan Rupiah yang lagi luar biasa-lah yang membuat Dinar nampak murah saat ini. Rupiah yang mengalami penguatan dari Rp 11,800/US$ ke Rp 9,175/US$ atau penguatan sekitar 22% membuat  kita bisa menikmati emas atau Dinar yang relatif murah hari-hari ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bukan hanya Dinar sebenarnya yang lagi murah, seluruh benda riil yang asalnya dari luar negeri yang diimpor dengan nilai US$ - juga menjadi terasa relatif murah saat ini. Waktu yang baik bagi Anda yang hendak mengganti notebook-nya, handphone dlsb.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hanya saja masa-masa keperkasaan Rupiah seperti saat ini tidak selamanya baik bagi ekonomi negeri ini secara makro. Para eksportir kita akan menurun daya saingnya di pasar internasional bila Rupiah terus menguat. Atas pertimbangan ini pula-lah kemungkinan besarnya para pengambil keputusan negeri ini juga tidak akan membiarkan Rupiah terlalu kuat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jadi selagi Rupiah perkasa…; proteksi keperkasaan tersebut dengan mengkonversinya ke benda riil yang dapat menyimpan nilai atau daya beli dalam jangka panjang…semoga bermanfaat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Hubungi Kami

Sri Hartono
HP: 0816 99 98 97
Email: sri.hartono [at] arthadinar.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510647145142320969-944994902671373096?l=www.arthadinar.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.arthadinar.com/feeds/944994902671373096/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.arthadinar.com/2010/01/selagi-rupiah-perkasa-dinar-sangat.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8510647145142320969/posts/default/944994902671373096?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8510647145142320969/posts/default/944994902671373096?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.arthadinar.com/2010/01/selagi-rupiah-perkasa-dinar-sangat.html" title="Selagi Rupiah Perkasa : Dinar Sangat Murah…" /><author><name>Sri Hartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09382001323751961486</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="07837359541679388306" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUAFSXwzeyp7ImA9WxBQEUQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510647145142320969.post-3958608173886478151</id><published>2010-01-11T00:14:00.000-08:00</published><updated>2010-01-11T00:15:18.283-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-01-11T00:15:18.283-08:00</app:edited><title>Banjir Dollar 2010 : Apa Dampaknya Pada Harga Emas Dunia…?</title><content type="html">Written by Muhaimin Iqbal    &lt;br /&gt;Monday, 11 January 2010 08:19 &lt;br /&gt;Hari ini ada tulisan menarik di harian Republika (11/01/10) dengan judul Meraba Likuiditas 2010.  Dalam tulisan ini antara lain dikutip pernyataan Menteri Keuangan RI Sri Mulyani beberapa waktu lalu yang menyatakan bahwa tahun 2010 akan diwarnai ‘banjir’ Dollar AS dalam jumlah yang sangat besar, mencapai US$ 2.4 trilyun !.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya berasumsi bahwa sebagai Menteri Keuangan, Ibu Menteri tentu tidak sembarang mengeluarkan pernyataan. Pernyataannya sudah seharusnya didasari oleh pengetahuan yang sangat dalam dan di support oleh team yang juga sangat menguasai bidangnya.  Maka saya dalam tulisan ini menganggap pernyataan tersebut sebagai prediksi yang peluang kebenarannya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan peluang kelirunya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dengan asumsi bahwa benar tahun 2010 Dollar AS akan membanjiri pasar internasional, lantas apa dampak ‘banjir’ Dollar tersebut pada harga emas dunia ?.  Untuk menjawab pertanyaan ini saya menggunakan Teori Kwantitas yang terkenal dengan equation of exchange-nya seperti dalam rumus M x V = P x Q.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;M adalah jumlah uang yang beredar, berdasarkan pernyataan Ibu Menteri tersebut diatas, maka M inilah yang akan melonjak tinggi di tahun ini 2010. V adalah kecepatan uang berputar, para ahli secara umum meragukan akan ada perubahan yang berarti karena ekonomi secara global sesungguhnya belum benar-benar pulih dari krisis sejak tahun lalu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Karena V yang tidak berputar lebih cepat dari sebelumnya, out put sektor riil berupa barang dan jasa (Q) juga tidak akan banyak berubah. Bila dalam satu persamaan, sisi kiri melonjak tajam – maka sisi kanan juga akan mengikuti. Karena satu unsur di sisi kanan akan relatif tetap (Q), maka tinggal satu unsur lagi disisi kanan yang bisa mengimbangi kenaikan M di sisi kiri. Unsur ini adalah P atau tingkat harga barang-barang dan jasa secara umum.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jadi melonjaknya jumlah Uang US$ di pasar tahun ini, yang kemungkinan besarnya tidak diikuti oleh kenikan out put sektor riil yang sepadan – akan berdampak pada naiknya harga barang dan jasa secara significant – dalam satuan mata uang US$.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Harga emas internasional selama ini masih dibeli (dinilai) dengan US$; maka harga emas dalam US$ juga akan mengalami kenaikan yang siginificant sepanjang tahun ini sejalan dengan kenaikan harga-harga barang dan jasa lainnya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Harga emas pada pembukaan di pasar Sydney pagi ini yang melonjak sampai angka US$ 1,156.90/Oz bisa jadi adalah bagian dari symptoms ‘banjir’ Dollar AS tersebut diatas. Wa Allahu A’lam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Hubungi Kami

Sri Hartono
HP: 0816 99 98 97
Email: sri.hartono [at] arthadinar.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510647145142320969-3958608173886478151?l=www.arthadinar.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.arthadinar.com/feeds/3958608173886478151/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.arthadinar.com/2010/01/banjir-dollar-2010-apa-dampaknya-pada.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8510647145142320969/posts/default/3958608173886478151?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8510647145142320969/posts/default/3958608173886478151?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.arthadinar.com/2010/01/banjir-dollar-2010-apa-dampaknya-pada.html" title="Banjir Dollar 2010 : Apa Dampaknya Pada Harga Emas Dunia…?" /><author><name>Sri Hartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09382001323751961486</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="07837359541679388306" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEIHRn0_fip7ImA9WxBRGUw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510647145142320969.post-5528202222275909362</id><published>2010-01-07T17:01:00.000-08:00</published><updated>2010-01-07T17:02:17.346-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-01-07T17:02:17.346-08:00</app:edited><title>Jaga Mudamu Sebelum Pensiunmu…</title><content type="html">Written by Muhaimin Iqbal    &lt;br /&gt;Tuesday, 05 January 2010 07:02 &lt;br /&gt;Di awal tahun 50-an ada ekonom kondang Ludwig Von Mises yang menggambarkan kondisi para pensiunan di Amerika Serikat sebagai orang-orang yang di-authanasia-kan oleh pemerintahnya (seperti orang sakit keras yang dibiarkan meninggal tanpa pertolongan ). Tulisannya yang berjudul Authanasia of the Pension Funds intinya menguraikan bagaimana para pensiunan menderita dengan daya beli yang terus menurun karena faktor inflasi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;60 tahun kemudian sampai hari ini,  para pensiunan di Amerika dan juga para pensiunan di seluruh dunia yang mengikuti system ekonomi ribawi-nya – tetap saja secara umum menderita secara finansial dan seolah masih juga di –authanasia-kan oleh pemerintahnya masing-masing yang tidak mampu mengendalikan inflasi. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bila inflasi menyengsarakan para pensiunan, apakah lantas kondisi sebaliknya bila terjadi deflasi akan memakmurkan mereka ?. Ternyata tidak juga. Di negeri yang sama Amerika Serikat, yang saat ini tingkat suku bunganya mendekati nol persen – ternyata para pensiunan juga malah terancam kelangsungan penerimaan dana pensiunannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mengapa demikian ?, karena selama ini para pengelola dana pensiun mengandalkan instrumen finansial seperti deposito, government bond dan sejenisnya sebagai unggulan investasinya. Ketika deposito dan bond memberikan hasil yang sangat rendah, maka putaran dana mereka tidak memadai lagi untuk menopang program santunan yang berkelanjutan kepada para pensiunan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Contoh yang konkrit juga terjadi di Jepang yang sudah sejak lama menganut rezim suku bunga rendah. Pengelola dana pensiun dari maskapai penerbangan terbesar negeri itu sampai harus menegosiasikan ulang dengan para pensiunannya untuk menurunkan penerimaan mereka. Pilihan yang sangat berat karena kalau penerimaan pensiunan diturunkan akan lebih menyengsarakan mereka, sementara bila dilanjutkan seperti semula perusahaannya yang tidak akan survive.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jadi buah simalakamanya inflasi dan deflasi bagi pensiunan adalah begini : Bila inflasi tinggi, para pensiunan berkemungkinan untuk terus dapat menerima pensiunnya – tetapi dengan daya beli yang terus menyusut. Sebaliknya bila terjadi deflasi, kemampuan para perusahaan/pengelola dana pensiun untuk secara berkelanjutan mampu membayarkan uang pensiun kepada yang berhak menerimanya yang terancam.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketika Von Mises menulis artikel tersebut diatas 60 tahun lalu dicuekin oleh masyarakatnya, apa dampaknya ? ya itu tadi sampai kini para pensiunan di Amerika Serikat tetap menderita.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nah bagaimana sekarang kita, agar sekian puluh tahun dari sekarang ketika kita pensiun tidak menghadapi simalakama inflasi dan deflasi ini?. Berikut adalah beberapa poin yang bisa dilakukan :&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;1). Mulai secara bertahap lindungi hasil jerih payah Anda dari risiko finansial inflasi dalam bentuk benda riil yang daya belinya bertahan.  Emas/Dinar; sawah, pohon, ternak dlsb. adalah beberapa diantaranya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;2) Meskipun di tempat kerja Anda dapat jatah pensiun yang dikelola perusahaan/pengelola dana pensiun. Jangan terlalu mengandalkan dana pensiun ini – kemungkinan besarnya tidak akan cukup untuk menopang hari tua Anda. Menabung benda riil tetap Anda perlukan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;3) Bila perusahaan/pengelola dana pensiun Anda mempunyai program yang mengijinkan Anda mengelola dana pensiun Anda sendiri – ambil program ini dan kelola sendiri di sektor riil. Bila belum mampu mengelola sendiri, cari mitra yang bisa mengelolanya sambil Anda belajar sektor-sektor usaha yang menjadi minat Anda.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;4) Banyak-banyak investasi pada diri Anda sendiri sedari muda. Ikut pelatihan-pelatihan bidang usaha yang menjadi minat Anda, banyak-banyak belajar berusaha.  Mencoba dan gagal di usia muda – masih lebih baik dibandingkan mencoba dan gagal di usia tua ketika sumber daya dan dana kita sudah tidak ada lagi. Tidak semua eksperimen usaha ini membutuhkan biaya; di Pesantren Wirausaha  Anda bisa belajar berusaha tanpa harus mengeluarkan satu sen-pun biaya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;5) Banyak-banyak investasi pada orang-orang di sekitar kita; mendidik mereka dan membimbingnya. Mereka inilah yang akan menjalankan dan meneruskan usaha kita setelah kita lanjut dimakan usia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Allhummaj’al khaira ‘umry aakhirahu wa khaira ‘amaly  khawaatimahu wa khaira ayyaami yauma alqooka fiih”, “Ya Allah jadikanlah yang terbaik dari umurku adalah akhirnya, dan yang terbaik dari amal perbuatanku adalah penutupnya, dan  yang terbaik dari hariku  adalah hari ketika aku bertemu denganMu.”  Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Hubungi Kami

Sri Hartono
HP: 0816 99 98 97
Email: sri.hartono [at] arthadinar.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510647145142320969-5528202222275909362?l=www.arthadinar.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.arthadinar.com/feeds/5528202222275909362/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.arthadinar.com/2010/01/jaga-mudamu-sebelum-pensiunmu.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8510647145142320969/posts/default/5528202222275909362?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8510647145142320969/posts/default/5528202222275909362?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.arthadinar.com/2010/01/jaga-mudamu-sebelum-pensiunmu.html" title="Jaga Mudamu Sebelum Pensiunmu…" /><author><name>Sri Hartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09382001323751961486</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="07837359541679388306" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;CkcDQn8ycSp7ImA9WxBRF0s.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510647145142320969.post-8780374947279996011</id><published>2010-01-05T22:40:00.000-08:00</published><updated>2010-01-05T22:41:13.199-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-01-05T22:41:13.199-08:00</app:edited><title>Review 2009 : Kinerja Rupiah, Dollar &amp; Dinar…</title><content type="html">Written by Muhaimin Iqbal    &lt;br /&gt;Sunday, 03 January 2010 15:00 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang tahun 2009 kemarin, Rupiah nampak berpenampilan tidak seperti biasanya. Tidak hanya diukur terhadap US$ , tetapi terhadap sekelompok mata uang kuat dunia lainnya yang saya sebut sebagai Rupiah Index (RIX). Rupiah mengalami kenaikan sampai 4 basis point dalam RIX, hal ini diluar kebiasaannya karena dari tahun ketahun Rupiah Index ini statistiknya menunjukkan penurunan terus menerus.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dibandingkang dengan Januari 2000 pada angka 100; angka akhir tahun 2009 di posisi 58 atau mengalami penurunan 42 poin . Memang tidak terlalu menggembirakan untuk jangka panjang, namun pergerakan positif sepanjang tahun lalu dapat memberi harapan bahwa uang kertas kita tidak selalu buruk-buruk amat dibandingkan mata uang kuat lainnya – meskipun ini baru bersifat jangka pendek.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebaliknya terjadi pada uang kertas US$; sepanjang tahun lalu mengalami penurunan 6 basis poin dari angka tahun sebelumnya di 84 ke angka 78 pada akhir 2009. Penurunan ini jauh diatas rata-rata penurunan tahunan US$ Index 2.4 pertahun selama sepuluh tahun terakhir. Sejak Januari 2000 sampai akhir 2009 lalu, US$ Index menunjukkan kumulatif penurunan 24 basis poin.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Meskipun fluktuasi jangka pendeknya Rupiah dan US$ yang diukur dengan sekelompok mata uang lainnya (bukan diukur satu sama lain) bisa berbeda atau bahkan berlawanan arah, dalam jangka panjang keduanya mengalami penurunan yang sangat significant. Sekali lagi ini menunjukkan bahwa uang kertas baik Rupiah, US$ maupun mata uang lainnya tidak bisa dipakai sebagai simpanan jangka panjang – karena ketidak mampuannya dalam  mempertahankan daya beli.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidak mampuan dalam mempertahankan daya beli ini menjadi semakin nyata bila dibandingkan dengan harga emas atau Dinar. Memang dalam setahun terakhir harga emas atau Dinar hanya mengalami kenaikan 8 % dalam Rupiah, namun dalam 10 tahun kenaikan ini telah mencapai angka diatas 400%. Kenaikan Dinar dalam Rupiah yang ‘hanya’ 8 % setahun terakhir tidak terlepas dari penguatan Rupiah yang mencapai 4 basis poin di RIX. Sebaliknya kenaikan Dinar atau emas yang mencapai lebih dar1 400% dalam sepuluh tahun terakhir, juga tidak terlepas dari pelemehan 42 poin di RIX tersebut diatas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam US$, harga emas dunia mengalami kenaikan yang sangat significant sepanjang tahun 2009. Bila diawal tahun harga emas ini baru berada pada angka US$ 858/Oz; akhir tahun 2009 lalu harga emas ini sudah  berada pada angka US$ 1097/Oz atau mengalami kenaikan 28%.  Dalam sepuluh tahun terakhir harga emas dunia dalam US$ telah mengalami kenaikan 286%. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari penurunan nilai Rupiah maupun US$ yang masing-masing tercermin dari penurunan index-nya, dan kenaikan harga emas atau Dinar dalam mata uang Rupiah maupun US$ tersebut – semakin  jelas bagi kita sesungguhnya mana yang seharusnya kita gunakan untuk keperluan investasi , proteksi nilai dan sekaligus uang kita dalam jangka panjang. Wa Allahu A’lam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Hubungi Kami

Sri Hartono
HP: 0816 99 98 97
Email: sri.hartono [at] arthadinar.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510647145142320969-8780374947279996011?l=www.arthadinar.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.arthadinar.com/feeds/8780374947279996011/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.arthadinar.com/2010/01/review-2009-kinerja-rupiah-dollar-dinar.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8510647145142320969/posts/default/8780374947279996011?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8510647145142320969/posts/default/8780374947279996011?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.arthadinar.com/2010/01/review-2009-kinerja-rupiah-dollar-dinar.html" title="Review 2009 : Kinerja Rupiah, Dollar &amp; Dinar…" /><author><name>Sri Hartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09382001323751961486</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="07837359541679388306" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;CkEGRHY4eyp7ImA9WxBREEs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510647145142320969.post-2479762569728515798</id><published>2009-12-28T20:21:00.000-08:00</published><updated>2009-12-28T20:23:45.833-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-12-28T20:23:45.833-08:00</app:edited><title>Inflasi ?, Siapa Takut…?</title><content type="html">Written by Muhaimin Iqbal    &lt;br /&gt;Monday, 28 December 2009 13:35 &lt;br /&gt;Salah satu momok perekonomian yang menyengsarakan rakyat adalah inflasi, bahkan salah satu unsur di Index Kesengsaraan (Misery Index) yang saya tulis pekan lalu juga masalah inflasi ini. Betapa tidak menyengsarakan; lha wong momok inflasi ini menyerang ke siapa saja tanpa terkecuali. &lt;br /&gt;Si embok  di desa karena kemiskinannya hanya mampu membeli beras paling murah seharga Rp 2,500/kg tahun 2003 ; beras yang sama kini baru bisa dibeli dengan harga Rp 4,025/kg. &lt;br /&gt;Pasangan muda yang lima tahun lalu melahirkan anak pertamanya dengan biaya Rp 5 juta; anak ketiganya yang lahir tahun ini, di rumah sakit yang sama dengan layanan yang sama harus dibayarnya dengan biaya lebih dari Rp 8 juta. &lt;br /&gt;Kenaikan harga-harga secara umum ini dapat Anda hitung sendiri  perkiraan kasarnya dengan menggunakan Index Harga Konsumen, yang antara lain datanya bisa kita peroleh dari situs resminya Bank Indonesia.  &lt;br /&gt;Dengan cara yang sama inflasi yang tercermin dari Index Harga Konsumen ini bukan hanya menyengsarakan kita semua saat ini, tetapi juga bisa menyengsarakan kita di masa-masa mendatang bila tidak kita pahami dan atasi dari sekarang.  &lt;br /&gt;Mengapa demikian ?,  Bila selama ini tabungan kita memberikan hasil 6 % misalnya di bank, bertambahkah uang kita setelah lima tahun misalnya ?. Angkanya memang bertambah, tetapi karena Indek Harga Konsumen mengalamai kenaikan rata-rata 8.75% per tahun selama 5 tahun terakhir – maka sejatinya daya beli tabungan kita tersebut bukannya bertambah – malah berkurang. &lt;br /&gt;Demikian-pula berbagi bentuk investasi kita lainnya; kalau selama ini angkanya kelihatan besar – coba Anda kurangkan dengan kenaikan Index Harga Konsumen; masihkah angkanya positif ?; kalau masih positif, masihkan angkanya cukup menarik untuk Perencanaan Keuangan Anda jangka panjang ?. &lt;br /&gt;Namun sebenarnya inflasi ini bisa dengan relatif mudah kita lawan, yaitu bila tabungan kita berupa benda riil yang apresiasi nilainya melebihi inflasi. &lt;br /&gt;Dinar adalah salah satu contoh saja dari benda riil yang bisa mengalahkan inflasi ini; kita tahu lima tahun terakhir Dinar mengalami apresiasi nilai ratra-rata 20.32% sedangkan Inflasi rata-rata ‘hanya’ 8.75%. &lt;br /&gt;Dinar memberikan hasil investasi yang jelas lebih dari cukup untuk mengimbangi melonjaknya harga-harga barang dan jasa karena inflasi seperti dalam beberapa contoh kasus tersebut diatas.&lt;br /&gt; Jadi, tools untuk melawan inflasi ini sungguh ada…tinggal kita mau gunakan atau tidak, ini sepenuhnya terserah kita …, Wa Allahu A’lam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Hubungi Kami

Sri Hartono
HP: 0816 99 98 97
Email: sri.hartono [at] arthadinar.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510647145142320969-2479762569728515798?l=www.arthadinar.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.arthadinar.com/feeds/2479762569728515798/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.arthadinar.com/2009/12/inflasi-siapa-takut.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8510647145142320969/posts/default/2479762569728515798?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8510647145142320969/posts/default/2479762569728515798?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.arthadinar.com/2009/12/inflasi-siapa-takut.html" title="Inflasi ?, Siapa Takut…?" /><author><name>Sri Hartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09382001323751961486</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="07837359541679388306" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEAMRHw9eip7ImA9WxBTGEk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510647145142320969.post-3739687962285554190</id><published>2009-12-14T18:05:00.000-08:00</published><updated>2009-12-14T18:06:25.262-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-12-14T18:06:25.262-08:00</app:edited><title>Ingin Investasi Yang Adil ?, Pahami Neracanya…!.</title><content type="html">Written by Muhaimin Iqbal    &lt;br /&gt;Tuesday, 15 December 2009 07:56 &lt;br /&gt;“Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.” (QS 55 :7-9)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pentingnya neraca, timbangan atau tolok ukur yang adil tergambar dari serangkaian ayat di surat Ar Rahmaan tersebut diatas, sampai tiga kali Allah mengulanginya dalam tiga ayat yang berurutan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hanya neraca atau timbangan yang adil yang bisa menimbang segala sesuatu yang adil; neraca atau timbangan yang tidak adil – tidak bisa dipakai untuk menegakkan keadilan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di pentas hukum misalnya di Indonesia belakangan ini rame dengan berbagai kasus yang melukai rasa keadilan rakyat seperti kasus Bibit dan Chandra, Kasus Prita, kasus Nenek Minah dan berjibun kasus-kasus lainnya. Mengapa rasa keadilan rakyat terluka dengan kasus-kasus tersebut ?, sederhana – karena ada rasa keadilan yang tidak bisa ditegakkan oleh system hukum yang ada.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Demikian pula sebenarnya yang terjadi dengan system ekonomi dan investasi. Karena neraca atau timbangan yang umum dipakai di masyarakat pelaku ekonomi bukanlah timbangan yang adil – maka mayoritas penduduk negeri ini (dan dunia) jatuh pada kategori miskin – tanpa tahu bahwa sebenarnya dirinya miskin.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Contoh timbangan yang tidak adil ini adalah standar kemiskinan versi The World Bank yang menyatakan bahwa seseorang dikategorikan sangat miskin (extreme poverty) bila memiliki daya beli US$ 1.25 / hari; saat ini di seluruh dunia ada 1.1 milyar manusia yang masuk kategori ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Diatasnya sedikit disebut miskin menengah atau moderate poverty yaitu bila memiliki daya beli kurang dari US$ 2 /hari. Yang masuk kategori ini ada 2.7 Milyar manusia di permukaan bumi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Apakah yang memiliki daya beli diatas US$ 2/hari berarti makmur ?, tidak juga – karena timbangan US$ 1.25 untuk extreme poverty maupun yang US$ 2 untuk moderate poverty tersebut bukanlah neraca yang adil untuk mengukur kemiskinan. Yang moderate saja dengan US$ 2/hari berarti hanya US$ 730/tahun atau kurang dari 5 Dinar/tahun.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sandingkan ini dengan neraca Islam yaitu nishab zakat yang membedakan si kaya dengan si miskin pada angka 20 Dinar; Orang yang masih dikategorikan miskin menurut Islam (masih berhak menerima zakat), masih 4 kali lebih kaya dari standar kemiskinan moderate Dunia !.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di system investasi-pun neraca yang tidak adil yang memiskinkan mayoritas penduduk dunia ini juga terjadi. Ketika pelaku usaha membuat business plan atau project proposal untuk menilai kelayakan suatu investasi, mereka biasa mengukur antara lain dengan Return on Investment (ROI) yang disandingkan dengan hasil deposito, SBI dan sejenisnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kalau Deposito saat ini memberikan hasil 8 % misalnya; maka project investasi yang memberikan hasil 20% (2.5 kali hasil deposito !.) – sudah dianggap sebagai investasi yang luar biasa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bila bank tempat Anda menabung membiayai projek seperti yang saya contohkan diatas, kebagian untung kah Anda ?; tentu kebagian. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hitungan kasarnya kurang lebih begini ; pemilik projek akan berbagi hasil dengan bank yang membiayainya misalnya 50/50 – maka bank mendapatkan 10% hasil dan pemilik projek mendapatkan 10 % pula. Lantas bank juga akan berbagi hasil dengan Anda misalnya 40/60 ; maka bank mendapatkan bersih 4 % dan anda mendapatkan 6 %.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sudah menguntungkan ?; nanti dulu !. rata-rata inflasi kita (2001-2008, tahun ini belum ketahuan) 9 tahun terakhir adalah 8.98 %. Jadi hasil yang Anda peroleh dari tabungan Anda lebih rendah dari angka inflasi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mayoritas pekerja mengandalkan investasinya pada tabungan, deposito , dana pensiun dan lain sebagainya yang semua hasilnya ditimbang dengan neraca tingkat hasil deposito bank, SBI dan sejenisnya. Walhasil kita semua baru sadar bahwa ternyata hasil jerih payah bekerja bertahun-tahun, bukannya bertambah tetapi tergerus oleh inflasi - kita tidak menyadarinya karena kita tidak menggunakan timbangan yang benar untuk membaca hasil investasi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Itulah mengapa Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menyatakan bahwa hanya emas dan peraklah yang bisa menjadi hakim (timbangan) yang adil dalam bermuamalah. Setahun terakhir harga emas di dunia naik 37% (sumber Kitco) dan Dinar dalam Rupiah naik 26% (sumber situs ini) ; maka investasi Anda dalam Rupiah harus bisa melampui hasil bersih minimal 26% atau bila dalam US$ harus bisa melampui 37% - setahun terakhir untuk sekedar menjaga daya beli riil dari investasi Anda tersebut.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bila Anda mudharabahkan dengan nisbah bagi hasil 50/50, maka pihak Mudharib harus bisa memperoleh hasil dua kalinya dari angka tersebut – yaitu 52 % untuk Rupiah dan 74% dalam US$. Wow…&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lantas adakah investasi yang memberikan hasil super tinggi tersebut di jaman krisis seperti ini ?; Jawabannya adalah pasti ada. Pertama angka tersebut kelihatan super tinggi hanya karena (timbangan) kacamata kita yang selama ini keliru – yaitu timbangan suku bunga deposito , SBI dan sejenisnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Emas atau Dinar sebenarnya tidak naik harganya; selama 1400 tahun lebih 1 Dinar (4.25 gram) setara dengan satu kambing. Artinya seluruh investasi sector riil, yang menumbuhkan atau menghasilkan benda riil, pasti hasilnya lebih baik – bila ditimbang dengan ukuran benda riil yang adil seperti emas atau Dinar ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Contoh, bila Anda punya uang 2 Dinar. Satu Anda belikan kambing, yang satu Anda simpan dalam Dinar. Setelah dua tahun rata-rata kambing beranak 3 kali, dan anaknya bisa dua sekali beranak. Maka kambing Anda telah menjadi 4 – 7 ekor setelah dua tahun. Ambil terkecilnya 4 (1 induk dan 3 anak). Ambil risiko kematian 1/3 (peternak yang berhasil bisa menurunkan kematian tinggal 1/20), maka kambing Anda kini berjumlah 3. Satu untuk yang melihara dan satu untuk Anda bersih; artinya setelah dua tahun kambing Anda menjadi 2 ekor yang masing-masing harganya @ 1 Dinar ; sementara uang 1 Dinar Anda tetap 1 Dinar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hanya berlaku untuk kambingkah ini ? tidak, sektor-sektor riil lainnya juga  berpeluang memberikan hasil yang luar biasa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ambil contoh tanaman sengon. Bibitnya hanya berharga  Rp 1,000,- per batang ; setelah 5 tahun dipanen – harga rata-ratanya adalah Rp 500,000/batang. Berapa kenaikannya ? 500 kali atau 50,000%. Oke butuh biaya sewa tanah, pemeliharaan, risiko mati dlsb. Anggap saja kita petani sengon yang pada tahap belajaran - jadi belum optimal, 90% dari nilai tersebut habis untuk seluruh biaya-biaya usaha tersebut; masih berapa hasil kita ?, masih 50 x dari investasinya !.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mudah-kah ini semua ?; tentu tidak mudah – tetapi jelas bukanlah hal yang mustahil !. Agar apa yang saya tulis di situs ini tidak hanya sebatas ilmu dan wacana –  kita sudah mulai berusaha menternakkan kambing dan menanam sengon di Pesantren Wirausaha kita di Jonggol. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Alhamdulillah Dua bulan setelah saya menulis tentang Kambingnomics – yang bersamaan dengan dimulainya projek perkambingan kita ; anak kambing pertama lahir, seminggu kemudian kambing yang lain juga melahirkan….Dinar demi Dinar lahir dari perut-perut kambing ini…Insyallah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mungkin Anda bertanya, kalau demikian tinggi hasil sektor riil dalam contoh tersebut, mengapa tidak semua peternak kambing dan petani sengon menjadi kaya raya ?. Jawabannya adalah karena kita hidup dalam system yang yang juga tidak adil; seperti akses pasar, akses kapital; akses sumber daya dan lain sebagainya yang insyaallah jadi bahan tulisan saya lainnya. Mudah-mudahan Allah memberi saya Ilmu, rizky dan usia untuk melanjutkan pekerjaan ini. Amin&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Hubungi Kami

Sri Hartono
HP: 0816 99 98 97
Email: sri.hartono [at] arthadinar.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510647145142320969-3739687962285554190?l=www.arthadinar.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.arthadinar.com/feeds/3739687962285554190/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.arthadinar.com/2009/12/ingin-investasi-yang-adil-pahami.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8510647145142320969/posts/default/3739687962285554190?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8510647145142320969/posts/default/3739687962285554190?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.arthadinar.com/2009/12/ingin-investasi-yang-adil-pahami.html" title="Ingin Investasi Yang Adil ?, Pahami Neracanya…!." /><author><name>Sri Hartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09382001323751961486</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="07837359541679388306" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;CkUEQHY5fip7ImA9WxBTF0U.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510647145142320969.post-5916453066024611728</id><published>2009-12-14T00:42:00.000-08:00</published><updated>2009-12-14T00:43:21.826-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-12-14T00:43:21.826-08:00</app:edited><title>Sanering Uang Kertas, Lho Kok Masih Ada...?</title><content type="html">Written by Muhaimin Iqbal    &lt;br /&gt;Wednesday, 02 December 2009 08:20 &lt;br /&gt;Waktu saya balita, ada dua peristiwa menggegerkan yang terkait satu sama lain yaitu Gestapu 1965 dibidang politik dan sanering Rupiah. Untuk urusan politik, biarlah situs-situs politik yang mengulasnya.  Saya hanya tertarik mengulas yang terkait dengan sektor finansial.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Waktu itu uang kertas Indonesia-Rupiah lagi mengalami nasib yang tragis setelah dalam periode lima tahun antara tahun 1960 -1965   mencapai 650 % dan indeks biaya mencapai angka 438. Index harga beras mencapai 824, tekstil 717, dan harga Rupiah anjlok tinggal 1/75 (seper tujuh puluh lima) dari angka Rp 160/US$ menjadi Rp 120,000 /US$. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Karena Rupiah yang sudah tidak tertolong lagi ini, pemerintah waktu itu terpaksa mengeluarkan kebijakan yang disebut Sanering Rupiah  yaitu memotong tiga angka nol terakhir dari Rupiah lama menjadi Rupiah baru. Kebijakan ini dituangkan dalam Penetapan Presiden atau Penpres No 27/1965 yang menjadikan Rp 1,000 (uang lama) = Rp 1,- (uang baru). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Isu Sanering Rupiah juga sempat mencuat dipuncak krisis politik bebarengan dengan krisis moneter Indonesia 32 tahun kemudian yaitu antara tahun 1997-1998. Meskipun akhirnya Sanering Rupiah tidak dilakukan, seandainya hal itu dilakukan pada tahun tersebut – ini juga bukan hal yang mengejutkan – karena tiga angka nol yang pernah dihilangkan pada tahun 1965 – ternyata balik kembali dalam waktu hanya 32 tahun tersebut.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Masih kuat diingatan kita ketika kita kecil membawa uang Rp 1,- cukup untuk bekal sekolah, saat ini anak kecil mana yang cukup berbekal Rp 1,000 untuk ke sekolah ?. Sanering Rupiah memang bukanlah kebijakan yang populer untuk menjaga nilai Rupiah, disisi lain membiarkan Rupiah pada angka ribuan atau bahkan puluhan ribu seperti sekarang juga bukan hal yang praktis sebenarnya. Bisa dibayangkan betapa seluruh sistem komputer keuangan Dunia harus mengakomodasi empat digit tambahan karena ada mata uang yang memerlukan empat digit memory lebih banyak dibandingkan dengan mata uang lain di dunia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bila sanering tidak ada dalam kamus moneter kita dewasa ini, tidak demikian halnya dengan Korea Utara. Negeri yang diisolir oleh negara-negara lain gara-gara bermain-main dengan nuklir tersebut, awal pekan ini men-sanering uang Won-nya dengan menghapus dua digit dalam uang Won – Korea Utara. Uang 100 Won menjadi 1 Won; 1,000 Won menjadi 10 Won dst.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Yang lebih mengerikan adalah tidak semua uang Won lama bisa ditukar dengan Won baru; Per orang hanya boleh menukarkan maksimum 100,000 Won. Bagi rakyat yang memiliki uang lebih dari 100,000 Won ; maka kelebihan uang diatas 100,000 menjadi kertas sampah – yang tidak bisa ditukar lagi menjadi uang. Inilah perampasan kekayaan rakyat secara besar-besaran yang dilakukan oleh rejim pemerintah komunis negeri itu.  Memang akhirnya batasan tersebut dinaikkan menjadi 150,000 Won untuk tunai dan 300,000 Won untuk rekening di bank; tetap saja perampasan besar-besaran terjadi melalui mekanisme ’penghilangan’ nilai uang kertas ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Memang ini terjadi di Korea Utara, negeri yang kacau balau dalam segala hal. Tetapi sesungguhnya sistem uang kertas mereka tidak jauh berbeda dengan sistem uang kertas lain yang dipakai di seluruh dunia saat ini. Nilai tukar Won sebenarnya juga tidak buruk-buruk amat, nilai resminya sebelum sanering adalah 1 US$ sekitar 135 Won – hanya nilai realistisnya kira-kira seperduapuluh dari nilai resminya – karena di pasar gelap orang menukar  2,000 Won s/d 3,000 Won untuk memperoleh 1 Dollar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Katakanlah nilai realistik tersebut yang valid 2,000 Won s/d 3,000 Won per US$ ; ini masih tiga sampai empat kali lebih tinggi nilainya dibandingkan dengan uang negeri lain yang kadang perlu angka 10,000 untuk mendapatkan 1 Dollar-nya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dengan membuat perbandingan ini, tentu saya tidak berharap sama sekali akan adanya sanering di negeri ini seperti yang terjadi di tahun 1965 tersebut diatas – karena kalau hal ini terjadi – pastilah chaos yang akan timbul. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Yang perlu kita sadari dan dilakukan oleh masing-masing kita adalah mempertahankan – syukur-syukur bisa meningkatkan daya beli – bukan mempertahankan atau meningkatkan angka-angka. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk ini, seperti mempertahankan asset terbesar Anda dalam bentuk stok atau komoditi– bila Anda pandai berdagang; menanam pohon, pelihara kambing dan sejenisnya bila Anda petani/peternak dst. Hanya bila Anda belum ketemu sektor riil yang pas yang bisa Anda tekuni dengan baik, mempertahankan dalam bentuk Dinar/emas adalah salah satu pilihannya yang mudah. Wa Allahu A’lam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Hubungi Kami

Sri Hartono
HP: 0816 99 98 97
Email: sri.hartono [at] arthadinar.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510647145142320969-5916453066024611728?l=www.arthadinar.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.arthadinar.com/feeds/5916453066024611728/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.arthadinar.com/2009/12/sanering-uang-kertas-lho-kok-masih-ada.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8510647145142320969/posts/default/5916453066024611728?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8510647145142320969/posts/default/5916453066024611728?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.arthadinar.com/2009/12/sanering-uang-kertas-lho-kok-masih-ada.html" title="Sanering Uang Kertas, Lho Kok Masih Ada...?" /><author><name>Sri Hartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09382001323751961486</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="07837359541679388306" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUMFSHo4fCp7ImA9WxBTFUw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510647145142320969.post-6067297116992002266</id><published>2009-12-10T23:42:00.000-08:00</published><updated>2009-12-10T23:43:39.434-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-12-10T23:43:39.434-08:00</app:edited><title>Memperpanjang Usia (Usaha) Dengan Nilai-Nilai…</title><content type="html">Written by Muhaimin Iqbal    &lt;br /&gt;Friday, 11 December 2009 03:20 &lt;br /&gt;Di dunia usaha ada ratusan perusahaan yang umurnya ratusan tahun, bahkan di Jepang ada perusahaan yang  lahir tahun 578 atau hanya 8 tahun setelah kelahiran Nabi kita Muhammad SAW sebelum akhirnya tutup 3 tahun lalu 2006 – pada usia 1428 tahun !. Perusahaan tersebut adalah  Kongo Gumi yang menekuni bidang konstruksi.  Saat ditutup Kongo Gumi dijalankan oleh Masakazu Kongo, yaitu generasi ke 40 dari pendirinya. Contoh-contoh lain banyak, diantaranya adalah perusahaan gelas di Italia  Barovier &amp; Toso yang berumur 710 tahun dan di  Jerman ada Hotel Pilgrim Haus yang berumur 702 tahun.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ada pelajaran sangat berharga dari perusahaan-perusahaan yang umurnya ratusan tahun atau bahkan ribuan tahun tersebut, yaitu nilai-nilai yang di pegang oleh orang-orang yang menjalankannya.  Jadi bukan capital, bukan teknologi, bukan bentuk perusahaan (koperasi, PT, BUMN dlsb) dan bukan kepandaian seseorang yang membuat suatu perusahaan langgeng – tetapi adalah nilai-nilai yang dipegang bersama.  Perusahaan-perusahaan yang usianya sangat-sangat panjang tersebut justru kebanyakan perusahaan keluarga yang memegang teguh nilai yang dibangun oleh pendirinya, kemudian diturunkan ke anak-anak, cucu-cucu, sampai cicit-cicitnya (saya tidak tahu istilah untuk menyebut cucu dari keturunan yang ke 40 seperti  pada Kongo Gumi diatas !).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nah bagaimana kita membangun usaha kita  ?, adakah nilai-nilai yang kita yakini dan pegang bersama ?. Jawabannya sebenarnya pada umumnya ada, dan ini pada sering dituangkan di situs perusahaan- laporan tahunan dan lain sebagainya. Masalahnya adalah mungkin perumusan nilai-nilai tersebut tidak terlalu dijiwai oleh para pelaku usaha itu sendiri, sehingga jangankan diturunkan – diamalkan oleh generasi pertama-pun tidak.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kita sebagai umat Rasulullah SAW, sungguh beruntung kita memiliki uswatun hasanah – contoh yang sempurna untuk segala sendi kehidupan kita. Untuk berusaha/bekerja mencari penghidupan-pun, kita memiliki pedoman yang sangat baik. Salah satu contohnya adalah hadits dibawah ini (sayangnya saya tidak ketemu buku/kitab dimana saya menemukan hadits ini dulu, sehingga kalau toh ada kekeliruan dalam mengutibnya – saya mohon ampun hanya kepadaNya – dan saya hanya mengambil nilai-nilai yang terkandung didalamnya).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam sebuah Hadits diceritakan perintah Allah kepada malaikat Mikail yaitu malaikat yang tugasnya mendistribusikan rizki. Terjemahan bebas dari perintah tersebut adalah sebagai berikut : “Kamu (Mikail) dalam melaksanakan tugas membagi rizki akan menemui tiga golongan manusia ( maka perlakukanlah manusia tersebut sesuai golongannya ). Golongan pertama adalah orang-orang yang hanya akhirat cita-citanya, maka kepada golongan ini jaminlah rizkinya di langit dan di bumi. Golongan kedua adalah orang-orang yang mencari rizki untuk hidupnya, untuk memberi nafkah anak istrinya , namun mereka melakukannya dengan penuh Kejujuran, Kehati-hatian, dan Keadilan, maka mudahkanlah dia dan beri dia yang baik-baik. Golongan ketiga adalah yang mencari diluar dari golongan pertama dan kedua (artinya tidak mencita-citakan akhirat, bahkan ketika mencari nafkah untuk diri dan anak istrinya kadang tidak jurjur, kadang tidak hati-hati, kadang pula tidak adil), maka biarkanlah mereka (tidak dimudahkan/tidak ditolong, tidak pula diberi yang baik-baik) dan apabila mereka akhirnya (dengan susah payah) memperoleh apa yang mereka upayakan, itu tidak lebih daripada yang sudah Aku (Allah) tentukan”.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Belajar dari Hadits Qudsi tersebut, kita mungkin bukan termasuk golongan yang pertama.  Namun kita tentu juga tidak ingin menjadi golongan ketiga. Maka pantaslah kalau kita mentargetkan minimal harus masuk golongan yang kedua yaitu golongan orang-orang yang akan dimudahkan dan diberi yang baik-baik oleh Allah.  Namun syaratnya untuk mencapai golongan kedua ini kita harus berpegang teguh pada Kejujuran, Kehati-hatian, dan Keadilan. Tiga hal ini Kejujuran, Kehati-hatian, dan Keadilan adalah nilai-nilai yang dibutuhkan dalam muamalah sepanjang zaman.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Karena nilai-nilai yang dibawakan oleh Islam ini valid sepanjang jaman, valid 1400 tahun lalu, valid sekarang dan valid hingga akhir jaman – maka seharusnya institusi apapun yang dibangun diatas nilai-nilai tersebut – tak terkecuali institusi usaha – dapat tetap exist sepanjang jaman – sejauh nilai-nilai ini tetap dipegang oleh para pelakunya. Mau rizki yang mudah, baik dan langgeng ? Jujur, Hati-hati dan Adil kuncinya…!, InsyaAllah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Hubungi Kami

Sri Hartono
HP: 0816 99 98 97
Email: sri.hartono [at] arthadinar.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510647145142320969-6067297116992002266?l=www.arthadinar.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.arthadinar.com/feeds/6067297116992002266/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.arthadinar.com/2009/12/memperpanjang-usia-usaha-dengan-nilai.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8510647145142320969/posts/default/6067297116992002266?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8510647145142320969/posts/default/6067297116992002266?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.arthadinar.com/2009/12/memperpanjang-usia-usaha-dengan-nilai.html" title="Memperpanjang Usia (Usaha) Dengan Nilai-Nilai…" /><author><name>Sri Hartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09382001323751961486</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="07837359541679388306" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0YMQHw_eyp7ImA9WxBTE08.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510647145142320969.post-422425378022192526</id><published>2009-12-08T19:25:00.000-08:00</published><updated>2009-12-08T19:26:21.243-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-12-08T19:26:21.243-08:00</app:edited><title>Psikologi Pasar : Seperti Pelari Marathon…</title><content type="html">Written by Muhaimin Iqbal    &lt;br /&gt;Wednesday, 09 December 2009 06:50 &lt;br /&gt;Beberapa hari sejak akhir pekan lalu harga emas dunia terus mengalami penurunan. Setelah mencapai titik tertinggi diatas angka US$ 1,200 pekan lalu , pagi ini harga emas internasional diperdagangkan di kisaran  US$ 1,128 atau mengalami penurunan sekitar 6 % dalam tiga hari perdagangan. Apa yang terjadi sebenarnya ? menurut data di Kitco pagi ini, penyebab mayoritasnya adalah aksi jual – selain juga disebabkan oleh faktor penguatan US Dollar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lantas bagaimana kita menyikapi pergerakan pasar yang sangat fluktuatif seperti dalam dua pekan terakhir ?; tergantung type investor seperti apa kita ini. Ibarat lomba lari, ada type pelari sprint yang bisa berlari sangat kencang untuk jangka pendek – misalnya 100 m. Record dunia untuk ini dipegang oleh Usain Bolt dari Jamaica dengan waktu 9.58 detik – lebih cepat dari kebanyakan mobil untuk menempuh 0 – 100 m yang pertama !. Kecepatan rata-rata untuk pelari sprint record dunia ini adalah sekitar  38 km/jam.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ada pula pelari marathon, yang jarak standarnya adalah 42.195 km atau 26 mil plus 385 yards. Record dunia untuk ini dipegang oleh pelari Ethiopia Haile Gebrselassie dengan waktu 02:03:59 atau kecepatan rata-rata sekitar 20 km/jam.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pelari sprint bisa berlari sangat kencang untuk periode yang pendek – tetapi dia belum tentu unggul untuk lari jarak jauh seperti marathon. Sebaliknya pelari marathon, piawai dalam mengelola tenaganya – sehingga mampu menjaga kecepatan larinya untuk jarak tempuh yang sangat panjang – meskipun dia kemungkinan besarnya tidak unggul bila diadu lari jarak pendek.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam investasi, Anda bisa mengukur diri Anda sendiri dengan melihat dua contoh pelari tersebut. Ingin mendapatkan keuntungan yang besar dalam waktu sesingkat-singkatnya ; atau ingin memenangkan masa depan Anda dan keluarga dengan investasi yang unggul dalam jangka panjang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bila Anda type investor yang pertama (pelari sprint), maka investasi emas dan investasi sektor riil pada umumnya kurang cocok untuk Anda. Investasi di bursa saham mungkin lebih tepat untuk Anda.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bila Anda type investor yang kedua (pelari marathon), maka sector riil yang dikelola dengan baik akan lebih cocok untuk Anda; atau kalau mengembangkan bisnis sector riil ini sulit – maka investasi di emas atau Dinar akan lebih aman bagi Anda.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Untuk para pelari marathon, kepada mereka antara lain diajarkan teknik-teknik menghemat energi yaitu sesedikit mungkin melakukan gerakan yang tidak perlu, membiarkan gerakan bagian-bagian tubuh , tangan dan kaki secara bebas, memfokuskan pandangan kearah yang jauh dan lain sebagainya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Belajar dari teknik berlari marathon tersebut, Anda yang investor jenis ini juga dapat unggul dengan mengelola energi investasi Anda (sumber dana) dan fokus pandangan jangka panjang. Ketika para pelari (baca :investor) lain kelelahan dan mulai melepaskan investasinya seperti yang terjadi tiga hari terakhir di pasar dunia – maka ini waktu menabung yang baik untuk masa depan Anda. Wa Allahu A’lam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Hubungi Kami

Sri Hartono
HP: 0816 99 98 97
Email: sri.hartono [at] arthadinar.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510647145142320969-422425378022192526?l=www.arthadinar.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.arthadinar.com/feeds/422425378022192526/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.arthadinar.com/2009/12/psikologi-pasar-seperti-pelari-marathon.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8510647145142320969/posts/default/422425378022192526?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8510647145142320969/posts/default/422425378022192526?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.arthadinar.com/2009/12/psikologi-pasar-seperti-pelari-marathon.html" title="Psikologi Pasar : Seperti Pelari Marathon…" /><author><name>Sri Hartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09382001323751961486</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="07837359541679388306" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkEFQnY6eip7ImA9WxNaGEQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510647145142320969.post-377820810722458522</id><published>2009-12-03T19:48:00.000-08:00</published><updated>2009-12-03T19:50:13.812-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-12-03T19:50:13.812-08:00</app:edited><title>Inilah Pilihan Investasi 2010 dan di tahun-tahun berikutnya</title><content type="html">Dua tahun berinvestasi, Agus sudah menikmati hasilnya. Dari dinar emas yang dimilikinya, dia sudah mendapatkan pertumbuhan investasinya 50 persen. Agus mulai mengenal dan membeli dinar emas sejak November 2007, harga dinar saat itu masih Rp 1 juta per dinar. Kini, setelah 2 tahun harga dinar telah mencapai lebih dari Rp 1,5 juta per dinar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan harga tersebut membuat Agus yakin emas/dinar merupakan sarana lindung nilai investasi yang paling aman. Meski harganya sudah tinggi, ia yakin tidak ada kata terlambat untuk investasi. ”Apalagi bila investasinya jangka panjang, kemungkinan rugi semakin kecil,” ujar pria tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harga emas di pasar dunia memang berkilau. Pada berita di salah satu koran nasional tanggal 3 Desember 2009 diberitakan pada berdagangan rabu (2/12/2009) harga emas di pasar spot telah mencapai rekor baru di 1.209,13 dolar AS per troy ounce. Naiknya harga ini terjadi karena produksi emas dunia terus merosot, sementara permintaan naik. Menurut Vincent Borg, juru bicara emas Barrick Gold, produksi emas turun sejak 2001, dari 85 juta ounce menjadi 75 juta ounce. Produksi itu diprediksi turun terus satu juta ton setiap tahun karena produsen sulit menemukan cadangan baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah minimnya produksi, bank sentral di dunia cenderung memperbesar porsi cadangan devisa dalam bentuk emas. Contohnya aksi bank sentral India memborong 200 ton emas dari Dana Moneter Internasional (IMF) bulan lalu senilai US$ 6,7 miliar. Penjualan itu hampir setengah dari 403,3 ton emas yang hendak dijual IMF dalam satu tahun ke depan. Di sisi lain, permintaan Cina juga meningkat. Negeri itu meminta 5.000 ton dan baru terpenuhi 1.500 ton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permintaan di pasar domestik juga meningkat, menurut salah satu pejabat di PT Antam Unit Bisnis Pengolahan dan Pemurnian Logam Mulia, penjualan emas hingga Oktober menembus 120 persen dari target sembilan ton. Pada akhir tahun, angka itu bisa mencapai 135 persen. Karena terbatasnya pasokan, Logam Mulia akan menurunkan penjualan 14 persen pada tahun depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa analis memprediksi harga emas bisa menembus lebih dari US$ 1.200 per troy ounce. Bank of America-Merrill Lynch bahkan menaikkan proyeksi harga emas US$ 1.500 per troy once dalam 12-15 bulan ke depan. Masih menurut salah satu pejabat PT Antam, bila kurs di kisaran Rp 9.400-9.600 per dolar Amerika Serikat, ada kemungkinan harga emas domestik mencapai Rp 400 ribu per gram. Sejalan dengan kenaikan harga emas dunia, harga dinar emaspun ikut naik, karena pada dasarnya dinar emas adalah emas 22 karat berat 4,25 gram. Dengan demikian tidak ada kata terlambat untuk investasi dinar emas. Wa Allahu A’lam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Hubungi Kami

Sri Hartono
HP: 0816 99 98 97
Email: sri.hartono [at] arthadinar.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510647145142320969-377820810722458522?l=www.arthadinar.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.arthadinar.com/feeds/377820810722458522/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.arthadinar.com/2009/12/inilah-pilihan-investasi-2010-dan-di.html#comment-form" title="1 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8510647145142320969/posts/default/377820810722458522?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8510647145142320969/posts/default/377820810722458522?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.arthadinar.com/2009/12/inilah-pilihan-investasi-2010-dan-di.html" title="Inilah Pilihan Investasi 2010 dan di tahun-tahun berikutnya" /><author><name>Sri Hartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09382001323751961486</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="07837359541679388306" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEcCR344cSp7ImA9WxNaGE8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510647145142320969.post-6067084146539618537</id><published>2009-12-02T22:33:00.000-08:00</published><updated>2009-12-02T22:34:26.039-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-12-02T22:34:26.039-08:00</app:edited><title>Emak Naik Haji Dengan Dinar…</title><content type="html">Written by Muhaimin Iqbal    &lt;br /&gt;Friday, 27 November 2009 09:47 &lt;br /&gt;Ada film yang menyentuh tentang kerinduan hamba Allah untuk memenuhi panggilanNya pergi ketanah suci menunaikan ibadah haji, Emak Ingin Naik Haji yang hari-hari ini banyak diputar di bioskop-bioskop di Indonesia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mengapa film ini popular – saya rasa karena kedekatan ceritanya dengan realita yang kita hadapi.  Hampir seluruh muslim/muslimah yang menghayati perintah Allah untuk menunaikan haji bagi yang mampu ini, pasti sangat merindukan untuk bisa pergi berhaji.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya ingat perjuangan bapak-ibu saya keluarga petani kecil di desa yang berusaha menyekolahkan 11 anaknya ke jenjang perguruan tinggi. Sampai wafatnya bapak saya tidak kesampaian naik haji (baru dapat kami badal hajikan sekian tahun setelah bapak wafat); kemudian ibu saya sampai bertahun –tahun menangis setiap jum’at karena merindukan Baitullah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Alhamdulillah kerinduan ini kesampaian dengan ijinNya semata; melalui perantaraan anak-anaknya yang mau menabung sebagian besar penghasilannya sejak awal mulai bekerja.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Begitulah beratnya upaya untuk menunaikan kewajiban yang satu ini – maka Allah hanya mewajibkannya bagi yang mampu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nah urusan mampu inilah yang berada di medan upaya kita, hasil nanti biarlah Allah yang menentukannya. Seperti kisah emak di film tersebut, meskipun pada akhir cerita dia pergi haji melalui perantaraan nazar anak tetangganya  - dia telah berusaha sekuat tenaga untuk dengan jerih payahnya sendiri bisa pergi berhaji.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Masalahnya adalah mayoritas masyarakat kita yang awam tidak menyadari hambatan  inflasi terhadap pencapaian upaya untuk pergi berhaji ini. Si emak dalam film tersebut diatas mengungkapkannya dengan sangat baik : kalau setahun dia hanya bisa mengumpulkan satu juta, lima tahun lima juta, maka dia baru bisa pergi haji pada usia 86 tahun – yang pada saat itupun uangnya tidak cukup lagi karena entah berapa biaya pergi haji saat itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Wakhasil pertumbuhan tabungan haji kita bisa jadi kalah dengan inflasi setiap tahunnya, sehingga niat suci ini bisa tergerus – bersamaan dengan tergerusnya daya beli uang kita.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di tulisan saya awal tahun ini, Dinar Untuk Perencanaan Haji…saya sudah jelaskan teknis dan hitungan kasarnya. Biaya pergi haji cenderung menurun dengan hitungan Dinar, bila tahun 2000 ONH biasa setara 70 Dinar; tahun ini setara 20 Dinar; maka dalam enam tahun kedepan (2015) ONH biasa dapat diprediksikan berdasarkan statistik – hanya akan memerlukan 10 Dinar saja, Insyaallah !.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jadi, seandainya emak dan jutaan orang Indonesia sadar akan kekuatan daya beli Dinar ini – upaya untuk memenuhi panggilanNya dapat dilakukan dengan maksimal – sehingga lebih banyak orang mampu pergi berhaji….insyaAllah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Hubungi Kami

Sri Hartono
HP: 0816 99 98 97
Email: sri.hartono [at] arthadinar.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510647145142320969-6067084146539618537?l=www.arthadinar.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.arthadinar.com/feeds/6067084146539618537/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.arthadinar.com/2009/12/emak-naik-haji-dengan-dinar.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8510647145142320969/posts/default/6067084146539618537?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8510647145142320969/posts/default/6067084146539618537?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.arthadinar.com/2009/12/emak-naik-haji-dengan-dinar.html" title="Emak Naik Haji Dengan Dinar…" /><author><name>Sri Hartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09382001323751961486</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="07837359541679388306" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;CkQNRH44eyp7ImA9WxNaF0k.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510647145142320969.post-936913261819772578</id><published>2009-12-01T23:52:00.001-08:00</published><updated>2009-12-01T23:53:15.033-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-12-01T23:53:15.033-08:00</app:edited><title>Pelajaran Dari Krisis Dubai &amp; Century…</title><content type="html">
&lt;br /&gt; 
&lt;br /&gt; 
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Written by Muhaimin Iqbal    
&lt;br /&gt;Tuesday, 01 December 2009 07:57 
&lt;br /&gt;Akhir pekan lalu bersamaan dengan umat Islam di seluruh dunia merayakan Iedhul Adha dan masyarakat Amerika merayakan Thanksgiving Day – masyarakat financial diresahkan oleh kabar Technical Default-nya Dubai World semacam BUMN-nya Dubai.
&lt;br /&gt; 
&lt;br /&gt;Mengapa kegagalan sebuah ‘BUMN’ investasi semacam Dubai World (tidak ada hubungannya dengan Dinar World yang kita miliki !) bisa membuat pasar seluruh dunia panik  ?, size atau ukuran yang jadi masalah. Dubai World memiliki potensi gagal bayar terhadap hutang yang nilainya mencapai US$ 60 Milyar – atau hampir sama besar dengan cadangan devisa negara kita !.
&lt;br /&gt; 
&lt;br /&gt;Bayangkan bila Dubai World benar-benar tidak bisa membayar hutangnya pada bank-bank besar dunia ? seluruh perbankan dunia bisa jadi kena getahnya – karena system financial dunia yang terkait satu sama lain.
&lt;br /&gt; 
&lt;br /&gt;Mirip dengan kisruh bank Century di Indonesia – yang dengan alasan Dampak Sistemik-nya ; bank sentral United Arab Emirates di hari Ahad kemarin memutuskan untuk menolong Dubai World dengan fasilitas darurat khusus sehingga ketika semua pasar modal dan pasar uang seluruh dunia buka hari Senin kemarin – krisis Dubai World nampak sudah terselesaikan.
&lt;br /&gt; 
&lt;br /&gt;Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari sini ?; bayangkan kalau Anda seorang penabung di sebuah bank besar di Amerika (atau dimanapun di dunia), tiba-tiba ada sebuah perusahaan raksasa di negeri nun jauh di Arab yang gagal bayar hutangnya  terhadap bank Anda – maka ada kemungkinan bank Anda akan terseret pada rantai kebangkrutan yang sama. Dan apa yang terjadi terhadap uang Anda ?.
&lt;br /&gt; 
&lt;br /&gt;Well, mungkin Anda berpendapat kan ada Penjamin Simpanan ?.  Betul, ini cukup menenangkan. Namun saya sebagai orang awam juga berfikir, kalau sistem penjamin simpanan berjalan dengan baik…bukankah seharusnya tidak ada sejumlah besar nasabah bank Century yang sampai harus berdemo dari waktu ke waktu untuk menuntut uangnya balik ?. Bukankah hak angket DPR untuk kasus Bank Century tidak juga perlu kalau lagi-lagi Penjamin Simpanan ini memang berjalan baik…?.
&lt;br /&gt; 
&lt;br /&gt;Jadi untuk amannya memang dalam berinvestasi kita tidak disarankan untuk menaruh seluruh telur pada keranjang yang sama; tidak masalah kalau sebagian uang kita berada di dunia perbankan –karena kemudahannya untuk transaksi kita akui belum tertandingi oleh system yang lain. Namun menaruh  semua asset kita di dunia perbankan juga kurang bijaksana – karena potensi masalah – yang oleh orang pemerintah sendiri dperkenalkan ke publik sebagai  – Dampak Sistemik.
&lt;br /&gt; 
&lt;br /&gt;Tentu kita tidak ingin kalau hasil jerih payah kita bertahun-tahun ludes oleh hantu baru bernama – Dampak Sistemik – yang konon bisa terjadi kalau bank kecil saja (sekelas Century) dibiarkan ambruk. 
&lt;br /&gt; 
&lt;br /&gt;Kasus Century memang bak buah simalakama di negeri ini sekarang; kalau upaya penyelamatannya sudah dilakukan dengan kajian yang paripurna dan demi kepentingan penyelamatan sektor keuangan Indonesia semata karena Dampak Sistemik tersebut benar-benar ada  - maka orang awam seperti kita jadi paham – betapa rawannya system perbankan ini. Diantara puluhan bank yang perkasa, satu bank lemah bisa menghancurkan seluruhnya karena hantu Dampak Sistemik ini.
&lt;br /&gt; 
&lt;br /&gt;Sebaliknya, bila sebenarnya perbankan cukup aman dan hantu Dampak Sistemik tersebut tidak pernah ada – maka harus ada yang bertanggung jawab atas kebohongan besar di negeri ini yang menyita begitu banyak waktu, tenaga dan pikiran bangsa ini. Semoga Allah menujukkan yang hak-itu hak sehingga kita bisa mengikutinya; dan yang batil itu batil agar kita bisa menjauhinya. Amin.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Hubungi Kami

Sri Hartono
HP: 0816 99 98 97
Email: sri.hartono [at] arthadinar.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510647145142320969-936913261819772578?l=www.arthadinar.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.arthadinar.com/feeds/936913261819772578/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.arthadinar.com/2009/12/pelajaran-dari-krisis-dubai-century.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8510647145142320969/posts/default/936913261819772578?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8510647145142320969/posts/default/936913261819772578?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.arthadinar.com/2009/12/pelajaran-dari-krisis-dubai-century.html" title="Pelajaran Dari Krisis Dubai &amp; Century…" /><author><name>Sri Hartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09382001323751961486</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="07837359541679388306" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></entry></feed>
