<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1244976486987510470</id><updated>2024-11-01T17:37:13.299+07:00</updated><category term="Filsafat"/><category term="sejarah indonesia"/><category term="ARTIKEL SEJARAH"/><category term="Francis Bacon"/><category term="Sejarah Kemerdekaan indonesia"/><category term="bung karno"/><category term="sosiologi"/><category term="ILmu Pengetahuan"/><category term="Nasionalisme"/><category term="Proklamasi Kemerdekaan Indonesia"/><category term="SOSIALISME INDONESIA"/><category term="Sejarah"/><category term="marhaenisme"/><category term="pancasila"/><category term="proklamasi indonesia"/><category term="sejarah Majapahit"/><category term="sejarah filsafat eropa"/><category term="17 agustus 1945"/><category term="Abad Pertengahan"/><category term="Albert Einstein"/><category term="Analisa Sosial"/><category term="Apa itu Silogisme"/><category term="Apa itu Silogisme ?"/><category term="Aristoteles"/><category term="Auguste Comte"/><category term="Barukh Spinoza"/><category term="Benedictus de Spinoza"/><category term="Biografi Ibnu Khaldun"/><category term="Blaise Pascal"/><category term="Bom atom Hiroshima"/><category term="Demonstrasi Mahasiswa"/><category term="Empiris"/><category term="Epistemolog"/><category term="Epistimologi Nasionalisme"/><category term="Filsafat Ilmu"/><category term="G.W. Leibniz"/><category term="Hindia Belanda"/><category term="Hubungan Antar Kelompok sosial"/><category term="Hukum dan HAM"/><category term="Immanuel Kant"/><category term="Interaksi Sosial"/><category term="John Locke"/><category term="Kata Bung Karno &quot;Marhaenisme&quot;"/><category term="Konstruksi logika formal"/><category term="Leon Trotsky"/><category term="Mahasiswa"/><category term="Masyarakat Perkotaan"/><category term="Materialisme dan Idealisme"/><category term="Metode berpikir yang dialektik"/><category term="Metodologi"/><category term="Mewujudkan Kemerdekaan Sejati Menuju Sosialisme Indonesia"/><category term="Negara - negara Sebelum Kemerdekaan"/><category term="Paradigma"/><category term="Pemikiran logis"/><category term="Penjajahan dan Gerakan Kemerdekaan Indonesia"/><category term="Perkembangan Filsafat Ilmu"/><category term="Pra Kemerdekaan"/><category term="Rene Descartes"/><category term="Revolusi Indonesia"/><category term="Sejarah Kekuasaan Kerajaan Aceh"/><category term="Sejarah filsafat Barat"/><category term="Soekarno"/><category term="Stratifikasi Sosial"/><category term="Struktur Penduduk Kota"/><category term="VOC"/><category term="Verenigde Oostindische Compagnie"/><category term="Wiliam James"/><category term="agen of change"/><category term="aktivis"/><category term="aktivis gerakan"/><category term="aktivis mahasiswa"/><category term="analisis sosial"/><category term="ansos masyarakat kota"/><category term="antikolonialisme"/><category term="dasar sosiologi"/><category term="filsuf Empirisme"/><category term="gerakan mahasiswa"/><category term="gerakan revolusi indonesia"/><category term="gmni surabaya"/><category term="ibnu khaldun"/><category term="idealisme"/><category term="ideologi marhaenisme"/><category term="ideologi nasionalisme"/><category term="interaksionisme simbolis"/><category term="internasionalisme"/><category term="karakter Masyarakat Kota"/><category term="karakter masyarakat desa"/><category term="kebangsaan"/><category term="kelas sosial"/><category term="kerajaan aceh"/><category term="kerajaan di indonesia"/><category term="kerajaan gowa"/><category term="kerajaan majapahit"/><category term="kerajaan malaya"/><category term="klasifikasi masalah sosial"/><category term="kritik mahasiswa"/><category term="logika formal"/><category term="marhaen"/><category term="marhaenis"/><category term="marhaensime"/><category term="masyarakat pascakolonial"/><category term="meterialisme"/><category term="metode deduktif"/><category term="modernitas"/><category term="norma-norma masyarakat"/><category term="pemikiran rasional"/><category term="penemuan-penemuan luar biasa"/><category term="pengetahuan"/><category term="penyakit sosial"/><category term="positifistik"/><category term="raja aceh"/><category term="rasionalisme"/><category term="revolusi sosial"/><category term="sejarah aceh"/><category term="sejarah filsafat islam"/><category term="sejarah gerakan indonesia"/><category term="sejarah gerakan mahasiswa"/><category term="sejarah indinesia prakolonial"/><category term="sejarah kerajaan aceh"/><category term="sejarah kerajaan di indonesia"/><category term="sifat dasar manusia"/><category term="sintesa"/><category term="sultan mahmud iskandar muda"/><category term="sumber pengetahuan"/><category term="teori pengetahuan"/><category term="teori sosiologi"/><category term="tokoh sosiologi"/><category term="tokoh-tokoh ilmu sosial"/><category term="uud 45"/><title type='text'>Indosejarah</title><subtitle type='html'>Blog Ini Membahas Tentang Sejarah Indonesia Dan Sejarah Dunia</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1244976486987510470/posts/default'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>20</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1244976486987510470.post-1426798861291181761</id><published>2011-07-27T20:23:00.002+07:00</published><updated>2011-07-27T20:30:20.575+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="agen of change"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="aktivis"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="aktivis gerakan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="aktivis mahasiswa"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="ARTIKEL SEJARAH"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Demonstrasi Mahasiswa"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="gerakan mahasiswa"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="gmni surabaya"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kritik mahasiswa"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Mahasiswa"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sejarah gerakan mahasiswa"/><title type='text'>Gerakan Mahasiswa</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sejenak teringat waktu menjalani study sebagai mahasiswa di salah satu Universitas swasta di Surabaya angkatan tahun 2001, momentum-momentum penting tidak luput dari analisis kita, tidak luput dari peranan kawan-kawan waktu itu, dulu teman-teman &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2011/07/gerakan-mahasiswa.html&quot;&gt;aktivis&lt;/a&gt; gerakan seangkatanku ketika diskusi selalu melontarkan kalimat ‘kita adalah agen perubahan, kita yang selalu membela rakyat kecil yang tertindas’. Hali ini tidak luput dari peranan perjuangan dan kesejarahan kawan-kawan gerakan semenjak negeri ini belum merdeka. Kita akan melihat kembali kesejarahan dari generasi ke generasi gerakan mahasiswa di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang keberadaan mahasiswa di tanah air, terutama sejak awal abad ke dua puluh, dilihat tidak saja dari segi eksistensi mereka sebagai sebuah kelas sosial terpelajar yang akan mengisi peran-peran strategis dalam masyarakat. Tetapi, lebih dari itu mereka telah terlibat aktif dalam gerakan perubahan jauh sebelum Indonesia merdeka. Sebagai anak bangsa yang secara sosial mendapat kesempatan lebih dibandingkan dengan saudaranya yang lain, mahasiswa kemudian menjadi penggerak utama dalam banyak dimensi perubahan sosial politik di tanah air pada masanya. Aktivitas mahasiswa yang merambah wilayah yang lebih luas dari sekedar belajar di perguruan tinggi inilah yang kemudian populer dengan sebutan “&lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2011/07/gerakan-mahasiswa.html&quot;&gt;gerakan mahasiswa&lt;/a&gt;”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, gerakan mahasiswa merupakan sebuah proses perluasan peran mahasiswa dalam kehidupan bermasyarakat. Adanya gerakan mahasiswa dengan perannya yang signifikan dalam perubahan secara langsung akan membongkar mitos lama di masyarakat, bahwa mahasiswa selama ini dianggap sebagai bagian dari civitas akademika yang berada di menara gading, jauh dari persoalan yang dihadapi masyarakatnya. Disinilah letak pentingnya sebuah gerakan dibangun, yakni untuk secara aktif dan partisipatif berperan serta dalam proses perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik. Selain itu, sebuah gerakan yang dibangun juga akan meningkatkan daya kritis mahasiswa secara keseluruhan dalam melihat berbagai persoalan yang tengah dihadapi masyarakat, baik dalam konteks lokal, nasional maupun internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah menunjukkan bahwa selain aktivitas gerakan yang berupa tuntutan-tuntutan terhadap persoalan internal sebuah perguruan tinggi, gerakan mahasiswa juga mampu menemukan momentum-momentum besar yang menyebabkan keterlibatannya dalam perubahan politik nasional menjadi sangat penting. Setelah gerakan pada masa pra kemerdekaan, gerakan mahasiswa tahun 1966 yang meruntuhkan Orde Lama dan menopang lahirnya Orde Baru hingga gerakan penggulingan rejim orde tersebut pada 1998 lalu menunjukkan peran mahasiswa yang signifikan dalam perubahan sosial politik di tanah air. Sebenarnya bangsa Indonesia mempunyai tradisi meromantiskan kehidupan kaum muda dan mahasiswa. Hal ini terlihat dari cara kita memandang sejarah modern bangsa kita, dengan membaginya dalam periode-periode waktu menurut momentum-momentum besar yang melibatkan pemuda dan mahasiswa dalam perubahan nasional. Periodisasi sejarah gerakan mahasiswa dan pemuda Indonesia dalam angkatan-angkatan 1908, 1928, 1945, 1966, dan seterusnya hingga 1998 juga bisa diartikan sebagai pengakuan terhadap peran sentral mahasiswa dalam perkembangan dan perubahan perjalanan bangsa. Namun demikian, ada tidaknya “prestasi sejarah” tersebut tidak menjadi indikator utama keberhasilan gerakan mahasiswa. Karena pada dasarnya, gerakan mahasiswa merupakan proses perubahan yang esoterik. Ia akan terwujud dalam sebuah idealisme dan cita-cita gerakan dalam menciptakan sebuah masyarakat yang lebih baik dan lebih adil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus diakui, mahasiswa hanyalah salah satu aktor yang terlibat dalam setiap momentum perubahan yang terjadi. Walaupun demikian, gerakan mahasiswa dalam setiap kurun sejarah selalu mampu menempatkan dirinya menjadi aktor utama yang berada di garda depan perubahan. Hal ini yang membedakan mahasiswa dengan aktor perubahan lainnya, seperti kalangan cendekiawan, politisi, militer, dan elemen masyarakat lainnya. Keadaan ini sangat dimungkinkan karena posisi mahasiswa yang dianggap netral dan belum bersentuhan langsung dengan berbagai kepentingan politik praktis. Selain itu, sebagai kaum muda yang masih belum mempunyai ketergantungan dan tanggung jawab ekonomi kepada keluarga serta posisi mereka sebagai calon intelektual, maka peran sebagai penggagas ide awal, baik di tingkat praksis maupun wacana, menjadi sangat signifikan. Tetapi, banyak studi menyebutkan bahwa kondisi psikologis mereka sebagai kaum muda yang dinamis dan anti kemapanan serta rasa percaya diri yang tinggi sebagai mahasiswa, menjadi faktor penting dalam menempatkan mahasiswa di garda depan perubahan. Sementara elemen lain dalam masyarakat sering hanya menjadi kelompok pengikut, setelah perubahan berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1900 hanya ada lima mahasiswa Indoensia yang belajar pada pendidikan tinggi di negeri Belanda, tetapi pada tahun 1908 jumlah mahasiswa Indonesia sudah 23 orang, dan pada tahun inilah Indische Vereniging dibentuk (John S. Furnivall, 1939). Walaupun dimulai dengan sederhana, organisasi ini memiliki arti dalam dua hal. Pertama, ia membuka pintu keanggotaan untuk semua mahasiswa dari Hindia Belanda, tidak seperti Budi Utomo yang sekalipun didirikan pada tahun yang sama, lambat laun menjadi suatu organisasi yang beranggotakan orang Jawa saja. Pilihan ke arah ini oleh Indische Vereniging tidaklah kebetulan, karena pada mulanya beberapa para pendirinya mengusulkan untuk membuat perkumpulan tersebut menjadi cabang Budi Utomo di negeri Belanda. Tetapi, walaupun mayoritas mahasiswa Hindia Belanda di Nederland itu orang Jawa, namun usul itu tidak diterima oleh mereka yang berasal dari Sumatera, Minahasa, Maluku, dan yang lainnya. Akibatnya, Indische Vereniging mampu mengatasi hambatan etnosentrisme. Namun demikian, ternyata masih diperlukan dua dasawarsa bagi para pemimpin nasionalis di Hindia Belanda untuk menjadi sadar akan persatuan nasional Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Indische Vereniging bukan hanya sekedar organisasi persahabatan seperti disebut oleh beberapa penulis mengenai sejarah Indonesia modern. Pasal dua dari anggaran Dasarnya menetapkan sebagai berikut: “memperbaiki atau meningkatkan kepentingan bersama orang Hindia di Negeri Belanda dan memelihara hubungan dengan Hindia Belanda”. Pada bulan Januari 1909 pengadilan lokal di kota Leiden mempersoalkan istilah “orang Hindia” (Indier) dan Soemitro, sekretaris organisasi pada waktu itu, harus menghadap untuk memberi penjelasan mengapa perkataan tersebut digunakan dan bukan kata yang lazim dipakai, yaitu “Inlander” (pribumi), walaupun dengan konotasi yang diskriminatif (Nagazumi, 1977).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarah perjalanannya, Perhimpunan Indonesia terbukti mampu mengakomodasikan semua orang Hindia secara egaliter dan tanpa diskriminatif—berbeda dengan Budi Utomo—menjadi awal bangkitnya semangat &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2011/07/gerakan-mahasiswa.html&quot;&gt;perlawanan mahasiswa&lt;/a&gt; Indonesia. Bahkan dari tahun 1923 hingga tahun 1930 organisasi ini merubah dirinya dari organisasi mahasiswa menjadi organisasi politik, sebuah metamorfosis yang sangat berani waktu itu. Semangat mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam Perhimpunan Indonesia kemudian semakin mengkristal dalam berbagai gerakan perubahan di tanah air dengan lahirnya Sumpah Pemuda tahun 1928, dan kemerdekaan Indonesia tahun 1945.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Indonesia merdeka, peranan mahasiswa mulai menonjol kembali terutama pada jaman Demokrasi Terpimpin. Pada masa itu tiga kekuatan, yakni mahasiswa, Presiden Sukarno dan Angkatan Darat merupakan aktor-aktor yang menentukan. Angkatan Darat sejak mengumumkan SOB pada bulan Maret 1957, berhasil menciptakan transformasi dan konsolidasi politik internal. Sehingga secara politik menjadi kekuatan yang diperhitungkan. Hal ini kemudian diperkuat oleh konsepsi Jenderal Nasution tentang middle way (jalan tengah) yang kelak menjadi konsep dwi fungsi ABRI (sekarang TNI). Sedangkan Soekarno, sejak mengumumkan dekrit 5 Juli 1959, posisinya semakin sentral. Partai politik yang di masa Demokrasi Parlementer menjadi aktor dominan, pada era demokrasi terpimpin ini semakin tergeser perannya. Soekarno kemudian berhasil menjadi faktor penyeimbang (balance of power) antara Angkatan Darat dan kekuatan politik lain, terutama PKI yang jelas berseberangan dengan Angkatan Darat dan mahasiswa (Sudjana, 1995).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran mahasiswa pada era ini tumbuh bersamaan dengan terbentuknya Badan Kerjasama Pemuda-Militer. Badan inilah yang menjadi cikal bakal dan merupakan forum pertama bagi gerakan mahasiswa untuk menjadi partisipan politik atas namanya sendiri. Dibandingkan masa Demokrasi Parlementer peran seperti ini hampir-hampir mustahil, karena pada saat itu posisi mahasiswa selalu berada dalam subordinat partai politik dengan ideologi dan alirannya masing-masing. Kemelut ekonomi dan politik pada tahun 1966 dan dibarengi dengan usaha kudeta PKI pada tanggal 30 September 1966 (G 30 S) menyebabkan terjadinya situasi yang chaos. Para pemimpin mahasiswa yang tergabung dalam KAMI dan KAPPI terus menjalin kerjasama erat dengan militer, terutama pimpinan Angkatan Darat, yang kemudian menaikkan Jenderal Suharto dan lahirlah Orde Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semasa Orde baru berkuasa, tercatat banyak momentum politik yang melibatkan mahasiswa. Misalnya tuntutan mahasiswa tahun 1974 dengan peristiwa “Malari” dan tahun 1978 yang meminta Presiden Suharto mundur. Kedua peristiwa tersebut berbuntut pada ditangkap dan diadilinya banyak aktivis mahasiswa. Sejak itu, pemerintahan Suharto menerapkan langkah jitu untuk membungkam setiap gerakan mahasiswa dengan melakukan depolitisasi mahasiswa dan mengintegrasikan kanpus menjadi bagiand dari birokrasi negara. Kebijakan ini tentu saja berakibat pada penghancuran infrastruktur politik mahasiswa. Kegiatan mahasiswa kemudian menjadi bagian dan dikontrol oleh birokrasi kampus (Rektorat) yang merupakan kepanjangan tangan birokrasi negara. Sejak saat itu, mahasiswa kita tidak terlibat lagi dalam politik kampus dan nasional, bahkan cenderung merasa dirinya tidak bermakna dalam politik. Dalam banyak hal berkembang sinisme, apatisme dan bahkan “inertia”. Kondisi ini jelas sangat memprihatinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih parah lagi, kebijakan deideologisasi partai politik, ormas dan lembaga kemahasiswaan dengan diterapkannya azas tunggal Pancasila pada tahun 1985 membuat dinamika gerakan mahasiswa menjadi lesu. Hal ini tidak saja dialami oleh lembaga-lembaga mahasiswa intra kampus bentukan Orde Baru, juga dialami oleh organisasi-organisasi ekstra kampus seperti HMI, PMII, &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2011/07/gerakan-mahasiswa.html&quot;&gt;GMNI&lt;/a&gt;, PMKRI, GMKI, dan lain-lain. Dalam keadaan seperti ini, model-model gerakan berubah total dari pola jalanan (demonstrasi) ke pola-pola yang lebih “aman” melalui kajian-kajian intelektual. Maka muncullah banyak kelompok-kelompok studi di kampus-kampus sebagai ajang aktualisasi akan fenomena yang terjadi. Keadaan ini berlangsung hingga akhir tahun 1997-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar awal tahun 1990-an, gerakan mahasiswa menemukan bentuknya kembali di bawah represifitas negara yang belum surut. Mungkin banyak orang mengira bahwa gerakan mahasiswa telah mandeg, tetapi ternyata tidak. Pola-pola “aman” yang diterapkannya dengan sekali-kali melakukan model jalanan, terutama di beberapa kota besar, ternyata cukup menjadi investasi menghadapi perubahan politik nasional pada akhir 1997 saat Indonesia dilanda krisis moneter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar awal tahun 1990-an, gerakan mahasiswa menemukan bentuknya kembali di bawah represifitas negara yang belum surut. Mungkin banyak orang mengira bahwa gerakan mahasiswa telah mandeg, tetapi ternyata tidak. Pola-pola “aman” yang diterapkannya dengan sekali-kali melakukan model jalanan, terutama di beberapa kota besar, ternyata cukup menjadi investasi menghadapi perubahan politik nasional pada akhir 1997 saat Indonesia dilanda krisis moneter. Tidak banyak lembaga mahasiswa cukup berani dan eksis dalam gerakan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang akhir tahun 1997 saat Indonesia dilanda krisis moneter dan diikuti dengan berbagai krisis lainnya, para aktivis mahasiswa semakin memantapkan posisinya untuk melakukan gerakan menuntut Soeharto mundur. Pada saat itu, muncul banyak sekali elemen-elemen aksi mahasiswa yang bersifat instan dengan mengusung warna ideologi masing-masing. Namun, satu hal yang mempersatukan mereka adalah keinginan bersama untuk menjatuhkan rejim totaliter Soeharto. Didukung oleh berbagai demonstrasi besar-besaran di berbagai kota di tanah air, gerakan ini kemudian mengkristal menjadi gerakan massa. Sayangnya, gerakan massa rakyat tersebut diwarnai dengan berbagai kerusuhan, terutama di Jakarta dan beberapa kota besar lainnya, yang justru mencoreng citra gerakan mahasiswa itu sendiri. Walaupun demikian, tekanan perubahan yang dahsyat pada waktu itu memaksa Soeharto mengundurkan diri dari jabatan presiden pada 21 Mei 1998. Di sinilah mahasiswa bersama elemen masyarakat lainnya—kecuali militer—berperan sangat sentral dalam menggulingkan rejim Orde Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau pada tahun 1966 mahasiswa bekerjasama dengan militer dalam menggulingkan Orde Lama, maka pada tahun 1998 mahasiswa justru menjadikan militer sebagai musuh bersama (common enemy) yang dianggap anti reformasi. Demikianlah, momentum perubahan politik nasional pada 1998 yang terkenal dengan istilah “gerakan reformasi” tidak serta merta membawa perubahan yang menyeluruh dalam kehidupan masyarakat. Kekuatan anti reformasi Orde baru masih banyak bercokol di Partai Golkar dan TNI. Dus, setelah empat tahun rejim Soeharto dijatuhkan, kemudian berturut-turut penguasa berganti dari Habibie, Abdurrahman Wahid, dan kini Megawati Soekarnoputri, perubahan yang sejak awal dicita-citakan mahasiswa belum banyak memenuhi harapan. Di sinilah peran gerakan mahasiswa era selanjutnya harus dimainkan, yakni menuntaskan berbagai agenda reformasi yang belum berjalan dan melawan segala bentuk penindasan di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/feeds/1426798861291181761/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/2011/07/gerakan-mahasiswa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1244976486987510470/posts/default/1426798861291181761'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1244976486987510470/posts/default/1426798861291181761'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/2011/07/gerakan-mahasiswa.html' title='Gerakan Mahasiswa'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1244976486987510470.post-8731605101614603570</id><published>2011-06-29T12:18:00.002+07:00</published><updated>2011-06-29T12:22:26.277+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="ARTIKEL SEJARAH"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="bung karno"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="marhaen"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="marhaenis"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="marhaensime"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sejarah indonesia"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Soekarno"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="SOSIALISME INDONESIA"/><title type='text'>Marhaenisme</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kebanyakan dari kita telah paham tentang sejarah kolonialisme yang terjadi pada bangsa ini, yakni penjajahan yang begitu lama dilakukan oleh Belanda terhadap Bangsa kita tercinta ini. Dari berbagai kejadian yang dialami bangsa Indonesia sebagai bangsa terjajah banyak melahirkan konsep metode perjuangan, yang salah satunya yakni Marhaenisme yang digagas oleh Bung Karno  Konsep pada tahun 1927. Konsep ini muncul sebagai antithesa terhadap thesa kolonialisme yang membelenggu rakyat Indonesia pada waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hal yang harus kita pelajari dan diamalkan tentang marhaenisme, marhaen, dan marhaenis. Marhaenisme merupakan asas yang menghendaki susunan mayarakat dan negara yang di dalam segala halnya menyelamatkan kaum Marhaen ( rakyat Indonesia yang dimiskinkan oleh Kapitalisme yang di Indonesia menjelma menjadi Kolonialisme waktu itu ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marhaen diambil dari nama seorang petani yang ditemui Soekarno. Ia adalah seorang petani dari Bandung selatan. Marhaen digunakan untuk menggambarkan kelompok masyarakat Indonesia yang menderita/sengsara bukan karena kemalasan atau kebodohannya, akan tetapi sengsara atau disengsarakan oleh sistem kapitalisme-kolonialisme. Marhaen merupakan jelmaan setiap rakyat Indonesia yang melarat atau yang lebih tepat yang telah dimelaratkan oleh sistem kapitalisme dan kolonialisme. Kaum Marhaen terdiri dari tiga unsur, yaitu: kaum proletar (buruh), kaum petani melarat, dan kaum melarat Indonesia lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Marhaenis merupakan setiap pejuang dan setiap patriot bangsa yang menghimpun berjuta-juta kaum Marhaen dan bersama-sama massa Marhaen itu hendaknya menumbangkan kapitalisme, imperialisme, dan kolonialisme. Mereka bersama-sama kaum Marhaen bekerja keras membangun negara dan bangsa yang kuat, bahagia, sentosa, adil dan makmur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Kaum Marhaen disini adalah rakyat jelata yang merupakan bagian terbesar dalam masyarakat manapun juga. Mereka mengalami penindasan secara ekonomi selama puluhan, ratusan, bahkan ribuan tahun oleh tindakan golongan yang lebih kuat atau sedang berkuasa, ini dalam konteks penjajahan belanda waktu itu. Mereka menderita bukan hanya penindasan oleh golongan yang berkuasa tetapi juga karena kebodohan, kurang pengertian, dan kurang kesadaran. Karena kebodohan dan kurang kesadaran inilah penindasan berlangsung terus-menerus. Mereka menderita karena sistem feodal, imperialime, kolonialisme, atau kapitalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marhaenisme mempunyai tujuan perjuangan, dalam hal ini termaktub dalam asas &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2011/06/marhaenisme.html&quot;&gt;Sosio Nasionalisme&lt;/a&gt; yaitu menciptakan Masyarakat marhaenis atau masyarakat sosialis Indonesia yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Sosio Nasionalisme bukanlah konsep chauvinism, bukanlah berifat kedaerahan tertentu, tidaklah konsep sebuah etnis atau golongan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azas yang kedua dalam &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2011/06/marhaenisme.html&quot;&gt;Marhaenisme&lt;/a&gt; adalah &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2011/06/marhaenisme.html&quot;&gt;Sosio Demokrasi&lt;/a&gt;, hal ini mengandung dua konsep besar yaitu Demokrasi politik dan Demokrasi Ekonomi. Demokrasi politik menginginkan kedaulatan politik sebuah Negara, tidak menjadi Negara boneka oleh Negara yang kuat dan adidaya. Begitupun juga tentang ekonomi sebuah Negara, konsep ini menekankan pada kemandirian bangsa Indonesia secara ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, yakni Ketuhanan, azas yang terakhir ini bisa kita baca bahwa Negara Indonesia memiliki adalah bangsa yang memiliki kerpercayaan terhadap tuhan atau dengan kata lain Negara yang rakyatnya beragama, bangsa Indonesia bukan Negara milik salah satu agama saja, akantetapi masyarakat yang berdiam di Negara ini semua beragama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai langkah perjuangan marhaenisme di masa sekarang, dimana masyarakat sudah berubah, kapitalisme sudah berevolusi sedemikian rupa, maka kita bisa membaca dengan marhaenisme sesuai dengan keadaaan tanpa menghilangkan tujuan akhir negara Indonesia yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila.&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/feeds/8731605101614603570/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/2011/06/marhaenisme.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1244976486987510470/posts/default/8731605101614603570'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1244976486987510470/posts/default/8731605101614603570'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/2011/06/marhaenisme.html' title='Marhaenisme'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1244976486987510470.post-2824521239620601598</id><published>2010-08-16T15:42:00.000+07:00</published><updated>2010-08-16T15:47:34.113+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="ARTIKEL SEJARAH"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kerajaan di indonesia"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="raja aceh"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sejarah aceh"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sejarah indonesia"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sejarah Kekuasaan Kerajaan Aceh"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sejarah kerajaan aceh"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sejarah kerajaan di indonesia"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sultan mahmud iskandar muda"/><title type='text'>Sejarah Kekuasaan Kerajaan Aceh</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Negara-negara baru yang menganut agam islam muncul di Indonesia ketika orang-orang eropa untuk pertama kalinya. Terdapat banyak bukti yang dapat digunakan untuk menyusun kembali sejarah mengenai tiga Negara : Aceh, Jawa, dan Sulawesi Selatan. Aceh terlibat secara mendalam dengan semenanjung Malaya, karena ada tiga Negara besar yang saling berkonfrontasi satu sama lain di nusantara bagian barat &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/08/sejarah-kekuasaan-kerajaan-aceh.html&quot;&gt;pada awal abad XVI&lt;/a&gt;: &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/08/sejarah-kekuasaan-kerajaan-aceh.html&quot;&gt;Aceh&lt;/a&gt;, Malaka Portugis, dan &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/08/sejarah-kekuasaan-kerajaan-aceh.html&quot;&gt;Johor&lt;/a&gt;. Pada awal abad ke XVII, untuk beberapa waktu lamanya, Aceh muncul sebagai Negara yang paling kuat, makmur dan beradab di kawasan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kedatangan orang-orang Portugis di &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/08/sejarah-kekuasaan-kerajaan-aceh.html&quot;&gt;Malaka&lt;/a&gt;, Di seberang selat tersebut, Aceh sedang tumbuh sebagai Negara yang kuat. Sultan pertama kerajaan yang sedang tumbuh ini adalah Ali Mughayat Syah (m. 1514-30). &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot; class=&quot;fullpost&quot;&gt;Selama masa pemerintahannya, sebagian besar komunitas dagang Asia yang bubar karena direbutnya Malaka oleh Portugis menetap di Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1520, &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/08/sejarah-kekuasaan-kerajaan-aceh.html&quot;&gt;Ali Mughayat Syah&lt;/a&gt; memulai serangan-serangannya. Pada tahun itu dia berhasil merebut daya yang terletak di pantai barat Sumatera di bagian utara. Pada tahun 1524, dia merebut Pedir dan Pasaisetelah berhasil mengusir Portugis. Stelah itu menyerang Aru dimana selanjutnya daerah tersebut menjadi medan &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/08/sejarah-kekuasaan-kerajaan-aceh.html&quot;&gt;perang antara Aceh dan Johor&lt;/a&gt;, dan baru pada tahun 1613 akhirnya &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/08/sejarah-kekuasaan-kerajaan-aceh.html&quot;&gt;Sultan Iskandar Muda&lt;/a&gt; dari Aceh merebut daerah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putra tertua Ali Mughayat Syah yang menjadi penggantinya &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/08/sejarah-kekuasaan-kerajaan-aceh.html&quot;&gt;Salahuddin&lt;/a&gt; , dianggap seorang penguas yang lebih lemah. Pada tahun 1537, suatu serangan yang dilancarkan oleh pihak Aceh mengalami kegagalan dan kira-kira pada masa itulah Salahuddin diturunkan melalui sebuah kudeta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/08/sejarah-kekuasaan-kerajaan-aceh.html&quot;&gt;Sultan Alauddin Riayat Syah al-Kahar&lt;/a&gt; adalah salah satu dari prajurit-prahurit Aceh yang terbesar. Dia dipercayai telah menyerang rakyat batak di sebelah selatan Aceh pada tahun 1539 setelah penguasa daerah itu menolak memeluk agama Islam. Sebenarnya beralihnya kelompok-kelompok masyarakat batak ke dalam agama Islam dan Kristen dimulai pada abad XIX. Sesudah itu dia menyerang Aru, tetapi berhasil dipukul mundur oleh &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/08/sejarah-kekuasaan-kerajaan-aceh.html&quot;&gt;kerajaan Johor&lt;/a&gt; , dan Johor menguasai &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/08/sejarah-kekuasaan-kerajaan-aceh.html&quot;&gt;Aru&lt;/a&gt; selama 24 tahun berikutnya. Alauddin al-kahar dikenang dalam tradisi Aceh bukan hanya sebagai raja pejuang saja, melainkan juga sebagai penguasa yang melembagakan pembagian masyarakat Aceh menjadi kelompok-kelompok garis keturunan adminstrasi (kaum atau sukee).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal abad ke XVII, penguasa yang terbesar diantara penguasa-penguasa Aceh mendudki singgasana. Dalam waktu singkat, Sultan Iskandar Muda (1607-36) membentuk Aceh sebagai Negara yang paling kuat di Nusantara bagian barat. Dia mampu mengendalikan kalangan elit Aceh (orang kuat) yang memberikan dukungan kepadanya. Dia juga menciptakan suatu kelompok bangsawan baru yang terdiri atas para ‘panglima perang’ (dalam bahasa melayu Hulubalang dan dalam bahasa Aceh uleebalang); mereka menguasai daerah-daerah berdasarkan hak milik feodal. Setelah Iskandar Muda, tahta di Aceh digantikan oleh putrinya dengan gelar &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/08/sejarah-kekuasaan-kerajaan-aceh.html&quot;&gt;Taj ul-Alam&lt;/a&gt; (m. 1641-75), dan mengadakan perjanjian dengan Johor yang menyebutkan mulai saat itu masing-masing pihak akan memikirkan urusannya sendiri. Mulai saat itu, Johor berkembang menjadi Negara yang sangat makmur dan mempunyai pengaruh sangat besar, karena pada tahun 1641 bukan hanya ancaman dari Aceh saja yang hilang, melainkan juga Portugis berhasil diusir dari Johor dan&lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/08/sejarah-kekuasaan-kerajaan-aceh.html&quot;&gt; VOC&lt;/a&gt; dari Malaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aceh memasuki masa perpecahan di dalam negeri yang panjang, dan Negara ini tidak lagi menjadi kekuatan yang penting di luar ujung Sumatera. Empat orang ratu memerintah negeri ini antara tahun 1641 dan 1699, dan kekuasaan raja mulai terbatas hanya di ibu kota Negara saja. Para uleebalang berubah menjadi penguasa yang turun-temurun di wilayah-wilayah yang terpencil, dan para pemimpin keagamaan (Imam atau Ulama) muncul sebagai sebuah kekuatan yang menjanjikan. Kesultanan menjadi sebuah lembaga simbolis yang lemah. Sejak tahun 1699 hingga 1838, Negara ini diperintah oleh sebelas orang sultan yang hamper tidak berarti sama sekali, termasuk tiga orang berkebangsaan Arab (1699-1726), dua orang Melayu (keduanya memerintah dalam tahun 1726), dan enam orang Bugis (1727-1838).&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/feeds/2824521239620601598/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/2010/08/sejarah-kekuasaan-kerajaan-aceh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1244976486987510470/posts/default/2824521239620601598'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1244976486987510470/posts/default/2824521239620601598'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/2010/08/sejarah-kekuasaan-kerajaan-aceh.html' title='Sejarah Kekuasaan Kerajaan Aceh'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1244976486987510470.post-8356262596869999699</id><published>2010-08-15T23:22:00.000+07:00</published><updated>2010-08-16T15:42:04.187+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="ARTIKEL SEJARAH"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="gerakan revolusi indonesia"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="proklamasi indonesia"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Proklamasi Kemerdekaan Indonesia"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Revolusi Indonesia"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="revolusi sosial"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sejarah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sejarah indonesia"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sejarah Kemerdekaan indonesia"/><title type='text'>Revolusi Indonesia</title><content type='html'>&lt;b&gt;Prolog&lt;/b&gt;&lt;div class=&quot;fullpost&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Revolusi yang menjadi alat tercapainya kemerdekaan bukan hanya merupakan kisah sentral dalam &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/08/revolusi-indonesia_15.html&quot;&gt;sejarah Indonesia&lt;/a&gt;, melainkan merupakan unsure yang kuat dalam persepsi bangsa Indonesia tentang dirinya sendiri. Semua usaha yang tidak menetu untuk mencari identitas-identitas baru, untuk persatuan dalam menghadapi kekuasaan asing, dan untuk tatanan social yang lebih adil tampaknya akhirnya membuahkan hasil pada masa-masa sesudah &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/08/revolusi-indonesia_15.html&quot;&gt;perang dunia II&lt;/a&gt;. Untuk yang pertama kalinya di dalam kehidupan kebanyakan rakyat Indonesia, segala sesuatu yang serba paksaan yang berasal dari kekuasaan asing hilang. Tidaklah mengherankan apabila hasilnya bukanlah muncul suatu bangsa yang baru yang serasi namun suatu pertarungan sengit diantara individu-individu dan kekuatan-kekuatan social yang bertentangan. Akantetapi pada masa setelah itu merupakan zaman yang paling cemerlang dalam sejarah Indonesia, bahwa hak Indonesia akan kemerdekaannya ditunjukkan oleh pengorbanan-pengorbanan yang dilakukan atas nama &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/08/revolusi-indonesia_15.html&quot;&gt;revolusi&lt;/a&gt; menjadi suatu fakta sejarah yang tidak bisa kita pungkiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Suatu Pencapaian Kemerdekaan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pemerintahan pusat Republik di Jakarta pada akhir Agustus 1945. pemerintah ini menyetujui konstitusi yang telah dirancang oleh &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/08/revolusi-indonesia_15.html&quot;&gt;Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia&lt;/a&gt; (PPKI) sebelum menyerang Jepang. &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/08/revolusi-indonesia_15.html&quot;&gt;Soekarno&lt;/a&gt; diangkat sebagai Presiden (1945-67) dan Hatta sebagai Wakil Presiden (1945-56). Para elit politik di Jakarta waktu itu merasa yakin bahwa hanya mereka yang dapat berurusan dengan pihak jepang. Seraya menantikan pemilihan umum, yang dalam kenyataannya baru diselenggarakan sepuluh tahun kemudian, maka ditunjuklah Komite Nasional Indonesia Pusat (KNPI) untuk membantu Presiden, dan komite-komite nasional serupa akan dibentuk di tingkat Propinsi serta keresidenan. Suatu strukutur pemerintahan juga ditetapkan dengan mudah. Orang-orang Indonesia yang menjabat sebagai &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/08/revolusi-indonesia_15.html&quot;&gt;penasehat pemerintahan&lt;/a&gt; (sanyo) dan wakil &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/08/revolusi-indonesia_15.html&quot;&gt;residen&lt;/a&gt; diangkat sebagai pejabat republik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, persiapan-persiapan pemerintahan tampak berjalan lancar di Jawa, namun terjadi perpecahan di kalangan kekuatan-kekuatan meliter Republik. Antara tanggal 18 dan 25 Agustus, Jepang yang ada di Jawa dan Sumatera membubarkan Peta/Giyugun dan Heiho.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat disiarkan berita tentang &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/08/revolusi-indonesia_15.html&quot;&gt;proklamasi kemerdekaan,&lt;/a&gt; banyak rakyat Indonesia yang jauh dari Jakarta tidak mengetahui. Pada tanggal 22 Agustus, pihak Jepang akhirnya mengumumkan menyerahnya mereka, tetapi baru pada bulan September 1945 proklamasi diketahui di wilayah-wilayah lebih terpencil. Sesaat setelah hal itu diketahui, timbullah segera masalah kesetiaan. Keempat penguasa kerajaan yang ada di Jawa telah menyatakan dukungan mereka kepada republik pada awal bulan September. Akantetapi banyak raja-raja di luar Jawa tidak tertarik pada revolusi, karena semasa penjajahan didukung oleh Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Perlawanan Saat Datangnya Sekutu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tibanya pihak sekutu guna menerima penyerahan Jepang, maka muncullah tantangantantangan serius yang pertama terhadap revolusi. Pada akhit Juni 1945, satuan-satuan komando kecil yang sebagian besar orang belanda dan beberapa perwira Inggris juga telah diterjunkan di Sumatera Utara. Dengan munculnya &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/08/revolusi-indonesia_15.html&quot;&gt;pasukan-pasukan sekutu&lt;/a&gt;, maka semaikin mengkatlah ketegangan-ketegangan di Jawa dan Sumatera. Pada bulan Oktober meletus pertempuran di jalan-jalan antara para pemuda republik dengan orang-orang belanda bekas tahanan, pasukan-pasukan colonial belanda (termasuk orang-orang ambon), orang-orang Cina, orang-orang Indo-Eropa, dan orang-orang Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bulan Oktober 1945, pihak Jepang berusaha mendapatkan kembali kekuasaan di kota-kota besar maupun kecil di Jawa yang baru saja mereka setujui diambil alih oleh bangsa Indonesia. Hal ini menyebabkan dimulainya tahapan pertama dari peperangan. Pada tanggal 3 Oktober, polisi meliter Jepang (kenpeitai) membantai pemuda-pemuda Republik di Pekalongan. Pasukan-pasukan Jepang mendesak kaum republik sehingga keluar dari kota bandung pada tanggal 10 Oktober, seminggu kemudian , menyerahkan kota itu kepada inggris. Pada tanggal 14 Oktober, mereka mulai merebut kembali Semarang. Pihak republic disana membalas dendam dengan membunuh sedikitnya 130, dan mungkin 300, orang jepang yang ditawan. Pihak Inggris tiba di Semarang enam hari kemudian, ketika pihak Jepang sudah hamper berhasil merebut kekuasaan kota tersebut, dengan membawa korban tewas yang tidak sedikit baik dari pihak republik maupun dari pihak jepang. Pihak Inggri smemutuskan untuk mengungsikan para tawanan Indo-Eropa dan Eropa secepat mungkin dari wilayah pedalaman Jawa yang bergolak detasemen-detasemen berangkat ke magelang dan ambarawa untuk membebaskan mereka. Tapi mereka mendapatkan begitu banyak perlawanan dari pihak Republik dan serangan-serangan udara inggris pun dilakukan. Pada tangga 2 November Soekarno memerintahkan genjatan senjata atas permintaan Inggris , tetapi pada akhir bulan November, pertempuran telah berkobar lagi dan pihak Inggris mundur ke daerah pesisir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Surabaya, &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/08/revolusi-indonesia_15.html&quot;&gt;Sejarah Kota Pahlawan&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/08/revolusi-indonesia_15.html&quot;&gt;Surabaya&lt;/a&gt; menjadi ajang medan pertempuran yang paling hebat selama Revolusi, sehingga menjadi lambang perlawanan nasional. Panglima senior jepang disana, laksamana Madya Shibata Yaichiro, memihak Republik dan meminta pintu gudang persenjataan Jepang kepada orang-orang Indonesia. Ketika seorang kapten angkatan laut belanda tiba di Surabaya sebagai wakil sekutu yang pertama, Shibata menyerah kepadanya pada tanggal 3 Oktober dan sesudah itu, dengan mengakui kenyataan akan kekuasaan bangsa Indonesia atas kota itu, memerintahkan pasukannya supaya menyerahkan senjata mereka yang tersisa kepada rakyat Indonesia yang bertanggung jawab atas penyerahan senjata-senjata itu kepada pihak sekutu, yang tentu saja tidak akan pernah mereka lakukan. Soetomo, Seorang yang berapi-api dan yang lebih terkenal dengan sebutan &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/08/revolusi-indonesia_15.html&quot;&gt;Bung Tomo&lt;/a&gt; menggunakan radio setempat untuk menciptakan suasana semangat Revolusi yang fanatik ke seluruh penjuru kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kota yang sedang bergolak inilah kira-kira 6.000 pasukan Inggris yang terdiri atas serdadu-serdadu India tiba pada tanggal 25 Oktober untuk mengungsikan para tawanan. Dalam waktu 3 hari, pertempuranpun berkobar. Waktu itu ribuan rakyat Surabaya sudah membunuh sebagian banyak prajurit serta memukul mundur pasukan tersebut, dan dalam keadaan siap menyapu bersih mereka. Pihak Inggris mendatangkan Soekarno, Hatta, dan Amir Syarifuddin. Dan pada tanggal 30 Oktober, ditetapkanlah suatu genjatan senjata. Akantetapi, pertempuran meletus lagi dan panglima pasukan Inngris setempat, &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/08/revolusi-indonesia_15.html&quot;&gt;Brigadir Jendral A.W.S. Mallaby&lt;/a&gt;, terbunuh dalam pertempuran tersebut. Selama masa tenang berikutnya dalam pertempuran tersebut, pihak Inggris mendatangkan bala bantuan. Pada tanggal 10 November subuh, hari yang kini diperingati sebagai hari pahlawan, pasukan Inggris memulai suatu aksi pembersihan berdarah di seluruh pelosok kota di bawah penegboman dari udara dan laut, hamper separuh kota berhasil dikuasai oleh pihak Inggris dalam waktu tiga hari, tetapi pertempuran baru berakhir tiga minggu kemudian. Sedikitnya enam (6) ribu rakyat Indonesia gugur dan ribuan lainnya meninggalkan kota yang hancur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihak Republik banyak kehilangan tenaga manusia dan senjata dalam pertempuran Surabaya, tetapi perlawanan mereka yang bersifat pengorbanan tersebut telah menciptakan lambang dan pekik persatuan demi Revolusi. Pertempuran Surabaya merupakan titik balik bagi belanda, Karena peristiwa itu telah mengejutkan kebanyakan dari mereka dalam menghadapi kenyataan. Banyak dari mereka telah benar-benar merasa yakin bahwa Republik hanya mewakili segerombolan kolaborator yang tidak mendapat dukungan rakyat. Tapi dengan fakta pertempuran di Surabaya, tak seorangpun pengamat yang serius dapat mempertahankan lagi anggapan seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Masih Membahas Perlawanan Kemerdekaan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pada bulan November dan Desember 1945, Revolusi di daerah pedesaan memasuki suatu tahapan yang lazim dikenal sebagai Revolusi Sosial. Akantetapi dalam hal beberapa kasus, kelas social yang rendah jarang menumbangkan kelas social yang dominant. Kebanyakan revolusi social diakibatkan oleh pertentangan antara elit-elit alternative, kelompok-kelompok kesukuan dan kemasyarakatan atau antargenerasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketegangan social di wilayah pesisir utara jawa mencapai puncaknya pada bulan desember 1945. di tiga kabupaten, yaitu bribes, pemalang, dan tegal, yang ketiga-tiganya merupakan keresidenan pekalongan terjadi apa yang dikenal denga istilah ‘peristiwa tiga daerah’. Protes social kaum tani dan keinginan untuk membalas ketertindasan yang dialami selama masa pendudukan Jepang. pada awal oktober terjadi aksi-aksi menentang kepala desa sudah berlangsung yang diprakarsai oleh para &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/08/revolusi-indonesia_15.html&quot;&gt;aktivis muda &lt;/a&gt;dari masyarakat islam tradisional dan kaum komunis. Serta terjadi berbagai perlawanan di daerah-daerah seluruh Republik baik dari kalangan petani, buruh, maupun dari kalangan islam dan abangan untuk mencapai suatu tatanan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Usai Suatu Perlawanan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pada saat perngatan hari ulang tahun &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/08/revolusi-indonesia_15.html&quot;&gt;proklamasi&lt;/a&gt; yang kelima pada tanggal 17 Agustus yang 1950, semua struktur konstitusional semasa tahun-tahun revolusi secara resmi dihapuskan. Republic Indonesia Serikat, dengan Republik Indonesia sebagai Unsur didalamnya, serta Negara-negara sumatera Timur dan Indonesia Timur digantikan oeh Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/08/revolusi-indonesia_15.html&quot;&gt;Revolusi secara politik&lt;/a&gt; telah usai, masih tetap ada banyak persoalan, tetapi tahun-tahun Revolusi sudah banyak menyelesaikan masalah. Cukup sebagai alasan untuk berpendapat bahwa Indonesia tidak akan menjadi &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/08/revolusi-indonesia_15.html&quot;&gt;Negara Federal&lt;/a&gt;, &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/08/revolusi-indonesia_15.html&quot;&gt;Negara Islam&lt;/a&gt;, atau &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/08/revolusi-indonesia_15.html&quot;&gt;Negara Komunis&lt;/a&gt;, ataupun terutama sekali suatu jajahan Belanda. Akatetapi tahun-tahun yang akan datang akan menunjukkan ketidak jelasan apa implikasi social dari kemerdekaan terhadap banyak masalah sosial, agama, kemasyarakatan, kesukuan, kebudayaan, dan ekonomi yang masih tetap ada. Akantetapi Indonesia merdeka, setidak-tidaknya mulai saat itu dalam pengertian hukum internasional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Penutup&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Demikian sedikit tulisan yang diambil dari berbagai referensi tentang sejarah Indonesia, Artikel ini khusus saya tulis sebagai penghargaan saya terhadap ulang tahun Republik ini yang ke 65, 17 Agustus 2010. tulisan ini hanya bagian umum dari sejarah Revolusi Indonesia, baik konteks perlawanan, kota dan daerah, maupun tokoh-tokohnya. Kalau semisal tulisan ini berisi seluruh (perlawanan, kota atau daerah, tokoh) yang terlibat dalam sejarah ini, maka namanya bukan lagi artikel tetapi sudah menjadi buku yang saya jilid dan sudah saya komersilkan. ‘saya cuman bercanda’. Terima kasih..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;Referensi&lt;br /&gt;M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern 1200-2004&lt;br /&gt;Ir. Soekarno, Dibawah Bendera Revolusi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/feeds/8356262596869999699/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/2010/08/revolusi-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1244976486987510470/posts/default/8356262596869999699'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1244976486987510470/posts/default/8356262596869999699'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/2010/08/revolusi-indonesia.html' title='Revolusi Indonesia'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1244976486987510470.post-3548537713154284127</id><published>2010-07-19T02:38:00.000+07:00</published><updated>2010-08-16T15:35:50.067+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Proklamasi Kemerdekaan Indonesia"/><title type='text'>Proklamasi Kemerdekaan Indonesia</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot; class=&quot;fullpost&quot;&gt;Oleh : Hendri Ansori&lt;br /&gt;Pada tanggal 6 Agustus 1945 sebuah bom atom dijatuhkan di atas kota Hiroshima Jepang oleh Amerika Serikat yang mulai menurunkan moral semangat tentara Jepang di seluruh dunia. Sehari kemudian Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/07/proklamasi-kemerdekaan-indonesia.html&quot;&gt;BPUPKI&lt;/a&gt;, atau &quot;Dokuritsu Junbi Cosakai&quot;, berganti nama menjadi &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/07/proklamasi-kemerdekaan-indonesia.html&quot;&gt;PPKI&lt;/a&gt; (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) atau disebut juga Dokuritu Junbi Inkai dalam bahasa Jepang, untuk lebih menegaskan keinginan dan tujuan mencapai &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/07/proklamasi-kemerdekaan-indonesia.html&quot;&gt;kemerdekaan Indonesia&lt;/a&gt;. Pada tanggal 9 Agustus 1945, bom atom kedua dijatuhkan di atas Nagasaki sehingga menyebabkan J&lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/07/proklamasi-kemerdekaan-indonesia.html&quot;&gt;epang menyerah kepada Amerika Serikat&lt;/a&gt; dan sekutunya. Momen ini pun dimanfaatkan oleh Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soekarno, Hatta selaku pimpinan PPKI dan &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/07/proklamasi-kemerdekaan-indonesia.html&quot;&gt;Radjiman Wedyodiningrat&lt;/a&gt; sebagai mantan ketua BPUPKI diterbangkan ke Dalat, 250 km di sebelah timur laut Saigon, Vietnam untuk bertemu Marsekal Terauchi. Mereka dikabarkan bahwa pasukan Jepang sedang di ambang kekalahan dan akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Sementara itu di Indonesia, pada tanggal 14 Agustus 1945, Sutan Syahrir telah mendengar berita lewat radio bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu. Para pejuang bawah tanah bersiap-siap &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/07/proklamasi-kemerdekaan-indonesia.html&quot;&gt;memproklamasikan kemerdekaan RI&lt;/a&gt;, dan menolak bentuk kemerdekaan yang diberikan sebagai hadiah Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 12 Agustus 1945, Jepang melalui Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam, mengatakan kepada Soekarno, Hatta dan Radjiman bahwa pemerintah Jepang akan segera memberikan kemerdekaan kepada Indonesia dan proklamasi kemerdekaan dapat dilaksanakan dalam beberapa hari, tergantung cara kerja PPKI. Meskipun demikian Jepang menginginkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 24 Agustus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari kemudian, saat Soekarno, Hatta dan Radjiman kembali ke tanah air dari Dalat, Sutan Syahrir mendesak agar Soekarno segera memproklamasikan kemerdekaan karena menganggap hasil pertemuan di Dalat sebagai tipu muslihat Jepang, karena Jepang setiap saat sudah harus menyerah kepada Sekutu dan demi menghindari perpecahan dalam kubu nasionalis, antara yang anti dan pro Jepang. Hatta menceritakan kepada Syahrir tentang hasil pertemuan di Dalat. Soekarno belum yakin bahwa Jepang memang telah menyerah, dan &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/07/proklamasi-kemerdekaan-indonesia.html&quot;&gt;proklamasi kemerdekaan RI&lt;/a&gt; saat itu dapat menimbulkan pertumpahan darah yang besar, dan dapat berakibat sangat fatal jika para pejuang Indonesia belum siap. Soekarno mengingatkan Hatta bahwa Syahrir tidak berhak memproklamasikan kemerdekaan karena itu adalah hak Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Sementara itu Syahrir menganggap PPKI adalah badan buatan Jepang dan proklamasi kemerdekaan oleh PPKI hanya merupakan &#39;hadiah&#39; dari Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 14 Agustus 1945 Jepang menyerah kepada Sekutu. Tentara dan Angkatan Laut Jepang masih berkuasa di Indonesia karena Jepang telah berjanji akan mengembalikan kekuasaan di Indonesia ke tangan Sekutu. Sutan Sjahrir, Wikana, Darwis, dan Chaerul Saleh mendengar kabar ini melalui radio BBC. Setelah mendengar desas-desus Jepang bakal bertekuk lutut, golongan muda mendesak golongan tua untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Namun golongan tua tidak ingin terburu-buru. Mereka tidak menginginkan terjadinya pertumpahan darah pada saat proklamasi. Konsultasi pun dilakukan dalam bentuk rapat PPKI. Golongan muda tidak menyetujui rapat itu, mengingat PPKI adalah sebuah badan yang dibentuk oleh Jepang. Mereka menginginkan kemerdekaan atas usaha bangsa kita sendiri, bukan pemberian Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soekarno dan Hatta mendatangi penguasa militer Jepang (Gunsei) untuk memperoleh konfirmasi di kantornya di Koningsplein (Medan Merdeka). Tapi kantor tersebut kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soekarno dan Hatta bersama Soebardjo kemudian ke kantor Bukanfu, Laksamana Muda Maeda, di Jalan Medan Merdeka Utara (Rumah Maeda di Jl Imam Bonjol 1). Maeda menyambut kedatangan mereka dengan ucapan selamat atas keberhasilan mereka di Dalat. Sambil menjawab ia belum menerima konfirmasi serta masih menunggu instruksi dari Tokyo. Sepulang dari Maeda, Soekarno dan Hatta segera mempersiapkan pertemuan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada pukul 10 pagi 16 Agustus keesokan harinya di kantor Jalan Pejambon No 2 guna membicarakan segala sesuatu yang berhubungan dengan persiapan Proklamasi Kemerdekaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari kemudian, gejolak tekanan yang menghendaki pengambilalihan kekuasaan oleh Indonesia makin memuncak dilancarkan para pemuda dari beberapa golongan. Rapat PPKI pada 16 Agustus pukul 10 pagi tidak dilaksanakan karena Soekarno dan Hatta tidak muncul. Peserta rapat tidak tahu telah terjadi peristiwa Rengasdengklok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa Rengasdengklok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pemuda pejuang, termasuk Chaerul Saleh, Sukarni, dan Wikana --yang konon kabarnya terbakar gelora heroismenya setelah berdiskusi dengan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka --yang tergabung dalam gerakan bawah tanah kehilangan kesabaran, dan pada dini hari tanggal 16 Agustus 1945. Bersama Shodanco Singgih, salah seorang &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/07/proklamasi-kemerdekaan-indonesia.html&quot;&gt;anggota PETA,&lt;/a&gt; dan pemuda lain, mereka membawa Soekarno (bersama Fatmawati dan Guntur yang baru berusia 9 bulan) dan Hatta, ke Rengasdengklok, yang kemudian terkenal sebagai peristiwa Rengasdengklok. Tujuannya adalah agar &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/07/proklamasi-kemerdekaan-indonesia.html&quot;&gt;Ir. Soekarno&lt;/a&gt; dan Drs. Moh. Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang. Di sini, mereka kembali meyakinkan Soekarno bahwa Jepang telah menyerah dan para pejuang telah siap untuk melawan Jepang, apa pun risikonya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jakarta, golongan muda, Wikana, dan golongan tua, yaitu Mr. Ahmad Soebardjo melakukan perundingan. Mr. Ahmad Soebardjo menyetujui untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jakarta. maka diutuslah Yusuf Kunto untuk mengantar Ahmad Soebardjo ke Rengasdengklok. Mereka menjemput Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta kembali ke Jakarta. Mr. Ahmad Soebardjo berhasil meyakinkan para pemuda untuk tidak terburu - buru memproklamasikan kemerdekaan. Setelah tiba di Jakarta, mereka pulang kerumah masing-masing. Mengingat bahwa hotel Des Indes (sekarang kompleks pertokoan di Harmoni) tidak dapat digunakan untuk pertemuan setelah pukul 10 malam, maka tawaran Laksamana Muda Maeda untuk menggunakan rumahnya (sekarang gedung museum perumusan teks proklamasi) sebagai tempat rapat PPKI diterima oleh para tokoh Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan Soekarno/Hatta dengan Jenderal Mayor Nishimura dan Laksamana Muda Maeda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam harinya, Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta. Mayor Jenderal Moichiro Yamamoto, Kepala Staf Tentara ke XVI (Angkatan Darat) yang menjadi Kepala pemerintahan militer Jepang (Gunseikan) di Hindia Belanda tidak mau menerima Sukarno-Hatta yang diantar oleh Maeda Tadashi dan memerintahkan agar Mayor Jenderal Otoshi Nishimura, Kepala Departemen Urusan Umum pemerintahan militer Jepang, untuk menerima kedatangan rombongan tersebut. Nishimura mengemukakan bahwa sejak siang hari tanggal 16 Agustus 1945 telah diterima perintah dari Tokio bahwa Jepang harus menjaga status quo, tidak dapat memberi ijin untuk mempersiapkan &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/07/proklamasi-kemerdekaan-indonesia.html&quot;&gt;proklamasi Kemerdekaan Indonesia&lt;/a&gt; sebagaimana telah dijanjikan oleh Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam. Soekarno dan Hatta menyesali keputusan itu dan menyindir Nishimura apakah itu sikap seorang perwira yang bersemangat Bushido, ingkar janji agar dikasihani oleh Sekutu. Akhirnya Sukarno-Hatta meminta agar Nishimura jangan menghalangi kerja PPKI, mungkin dengan cara pura-pura tidak tau. Melihat perdebatan yang panas itu Maeda dengan diam-diam meninggalkan ruangan karena diperingatkan oleh Nishimura agar Maeda mematuhi perintah Tokio dan dia mengetahui sebagai perwira penghubung Angkatan Laut (Kaigun) di daerah Angkatan Darat (Rikugun) dia tidak punya wewenang memutuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dari rumah Nishimura, Sukarno-Hatta menuju rumah Laksamana Maeda (kini Jalan Imam Bonjol No.1) diiringi oleh Myoshi guna melakukan rapat untuk menyiapkan teks Proklamasi. Setelah menyapa Sukarno-Hatta yang ditinggalkan berdebat dengan Nishimura, Maeda mengundurkan diri menuju kamar tidurnya. Penyusunan teks Proklamasi dilakukan oleh Soekarno, M. Hatta, Achmad Soebardjo dan disaksikan oleh Soekarni, B.M. Diah, Sudiro (Mbah) dan Sayuti Melik. Myoshi yang setengah mabuk duduk di kursi belakang mendengarkan penyusunan teks tersebut tetapi kemudian ada kalimat dari Shigetada Nishijima seolah-olah dia ikut mencampuri penyusunan teks proklamasi dan menyarankan agar pemindahan kekuasaan itu hanya berarti kekuasaan administratif. Tentang hal ini Bung Karno menegaskan bahwa pemindahan kekuasaan itu berarti &quot;transfer of power&quot;. Bung Hatta, Subardjo, B.M Diah, Sukarni, Sudiro dan Sajuti Malik tidak ada yang membenarkan klaim Nishijima tetapi di beberapa kalangan klaim Nishijima masih didengungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah konsep selesai disepakati, Sajuti menyalin dan mengetik naskah tersebut menggunakan mesin ketik yang diambil dari kantor perwakilan AL Jerman, milik Mayor (Laut) Dr. Hermann Kandeler.[2] Pada awalnya pembacaan proklamasi akan dilakukan di Lapangan Ikada, namun berhubung alasan keamanan dipindahkan ke kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56[3] (sekarang Jl. Proklamasi no. 1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Detik-detik Pembacaan Naskah Proklamasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perundingan antara golongan muda dan golongan tua dalam penyusunan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia berlangsung pukul 02.00 - 04.00 dini hari. Teks proklamasi ditulis di ruang makan di kediaman Soekarno, Jl. Pegangsaan Timur 56 Jakarta. Para penyusun teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Mr. Ahmad Soebarjo. Konsep teks proklamasi ditulis oleh Ir. Soekarno sendiri. Di ruang depan, hadir B.M Diah Sayuti Melik, Sukarni dan Soediro. Sukarni mengusulkan agar yang menandatangani teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta atas nama bangsa Indonesia. Teks Proklamasi Indonesia itu diketik oleh Sayuti melik. Pagi harinya, 17 Agustus 1945, di kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56 telah hadir antara lain Soewirjo, Wilopo, Gafar Pringgodigdo, Tabrani dan Trimurti. Acara dimulai pada pukul 10:00 dengan pembacaan proklamasi oleh Soekarno dan disambung pidato singkat tanpa teks. Kemudian bendera Merah Putih, yang telah dijahit oleh bu Fatmawati, dikibarkan, disusul dengan sambutan oleh Soewirjo, wakil walikota Jakarta saat itu dan Moewardi, pimpinan Barisan Pelopor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awalnya Trimurti diminta untuk menaikkan bendera namun ia menolak dengan alasan pengerekan bendera sebaiknya dilakukan oleh seorang prajurit. Oleh sebab itu ditunjuklah Latief Hendraningrat, seorang prajurit PETA, dibantu oleh Soehoed untuk tugas tersebut. Seorang pemudi muncul dari belakang membawa nampan berisi bendera Merah Putih (Sang Saka Merah Putih), yang dijahit oleh Fatmawati beberapa hari sebelumnya. Setelah bendera berkibar, hadirin menyanyikan lagu Indonesia Raya. Sampai saat ini, bendera pusaka tersebut masih disimpan di Museum Tugu Monumen Nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah upacara selesai berlangsung, kurang lebih 100 orang anggota Barisan Pelopor yang dipimpin S.Brata datang terburu-buru karena mereka tidak mengetahui perubahan tempat mendadak dari Ikada ke Pegangsaan. Mereka menuntut Soekarno mengulang pembacaan Proklamasi, namun ditolak. Akhirnya Hatta memberikan amanat singkat kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 18 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mengambil keputusan, mengesahkan dan menetapkan Undang-Undang Dasar (UUD) sebagai dasar negara Republik Indonesia, yang selanjutnya dikenal sebagai UUD 45. Dengan demikian terbentuklah Pemerintahan Negara Kesatuan Indonesia yang berbentuk Republik (NKRI) dengan kedaulatan di tangan rakyat yang dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang akan dibentuk kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu Soekarno dan M.Hatta terpilih atas usul dari Oto Iskandardinata dan persetujuan dari PPKI sebagai presiden dan wakil presiden Republik Indonesia yang pertama. Presiden dan wakil presiden akan dibantu oleh sebuah Komite Nasional.&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/feeds/3548537713154284127/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/2010/07/proklamasi-kemerdekaan-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1244976486987510470/posts/default/3548537713154284127'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1244976486987510470/posts/default/3548537713154284127'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/2010/07/proklamasi-kemerdekaan-indonesia.html' title='Proklamasi Kemerdekaan Indonesia'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1244976486987510470.post-5406889122194261413</id><published>2010-06-28T14:28:00.001+07:00</published><updated>2010-08-16T15:32:34.307+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Biografi Ibnu Khaldun"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="ibnu khaldun"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sejarah filsafat eropa"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sejarah filsafat islam"/><title type='text'>Biografi Ibnu Khaldun</title><content type='html'>Nama lengkapnya adalah &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/06/biografi-ibnu-khaldun.html&quot;&gt;Waliuddin Abdurrahman bin Muhammad bin Abi Bakar Muhammad bin al-Hasan&lt;/a&gt; yang kemudian masyhur dengan sebutan Ibnu Khaldun. lahir di Tunisia pada 1 Ramadan 732 H./27 Mei 1332 M. adalah dikenal sebagai sejarawan dan &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/06/biografi-ibnu-khaldun.html&quot;&gt;bapak sosiologi Islam&lt;/a&gt; yang hafal Alquran sejak usia dini. Sebagai ahli politik Islam, ia pun dikenal sebagai bapak &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/06/biografi-ibnu-khaldun.html&quot;&gt;Ekonomi Islam&lt;/a&gt;, karena pemikiran-pemikirannya tentang teori ekonomi yang logis dan realistis jauh telah dikemukakannya sebelum Adam Smith (1723-1790) dan David Ricardo (1772-1823) mengemukakan teori-teori ekonominya. Bahkan ketika memasuki usia remaja, tulisan-tulisannya sudah menyebar ke mana-mana.&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot; class=&quot;fullpost&quot;&gt;Tulisan-tulisan dan &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/06/biografi-ibnu-khaldun.html&quot;&gt;pemikiran Ibnu Khaldun&lt;/a&gt; terlahir karena studinya yang sangat dalam, pengamatan terhadap berbagai masyarakat yang dikenalnya dengan ilmu dan pengetahuan yang luas, serta ia hidup di tengah-tengah mereka dalam pengembaraannya yang luas pula.&lt;br /&gt;Selain itu dalam tugas-tugas yang diembannya penuh dengan berbagai peristiwa, baik suka dan duka. Ia pun pernah menduduki jabatan penting di Fes,&lt;br /&gt;Granada, dan Afrika Utara serta pernah menjadi guru besar di Universitas al-Azhar, Kairo yang dibangun oleh dinasti Fathimiyyah. Dari sinilah ia melahirkan karya-karya yang monumental hingga saat ini. Nama dan karyanya harum dan dikenal di berbagai penjuru dunia. Panjang sekali jika kita berbicara tentang &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/06/biografi-ibnu-khaldun.html&quot;&gt;biografi Ibnu Khaldun&lt;/a&gt;, namun ada tiga periode yang bisa kita ingat kembali dalam perjalan hidup beliau. Periode pertama, masa dimana Ibnu Khaldun menuntut berbagai bidang ilmu pengetahuan. Yakni, ia belajar Alquran, tafsir, hadis, usul fikih, tauhid, fikih madzhab Maliki, ilmu nahwu dan sharaf, ilmu balaghah, fisika dan matematika.&lt;br /&gt;Dalam semua bidang studinya mendapatkan nilai yang sangat memuaskan dari para gurunya. Namun studinya terhenti karena penyakit pes telah melanda selatan Afrika pada tahun 749 H. yang merenggut ribuan nyawa. Ayahnya dan sebagian besar gurunya meninggal dunia. Ia pun berhijrah ke Maroko selanjutnya ke Mesir; Periode kedua, ia terjun dalam dunia politik dan sempat menjabat berbagai posisi penting kenegaraan seperti qadhi al-qudhat (Hakim Tertinggi). Namun, akibat fitnah dari lawan-lawan politiknya, Ibnu Khaldun sempat juga dijebloskan ke dalam penjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SETELAH keluar dari penjara, dimulailah periode ketiga &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/06/biografi-ibnu-khaldun.html&quot;&gt;kehidupan Ibnu Khaldun,&lt;/a&gt; yaitu berkonsentrasi pada bidang penelitian dan penulisan, ia pun melengkapi dan merevisi catatan-catatannya yang telah lama dibuatnya. Seperti kitab al-’ibar (tujuh jilid) yang telah ia revisi dan ditambahnya bab-bab baru di dalamnya, nama kitab ini pun menjadi Kitab al-’Ibar wa Diwanul Mubtada’ awil Khabar fi Ayyamil ‘Arab wal ‘Ajam wal Barbar wa Man ‘Asharahum min Dzawis Sulthan al-Akbar.&lt;br /&gt;Kitab al-i’bar ini pernah diterjemahkan dan diterbitkan oleh De Slane pada tahun 1863, dengan judul Les Prolegomenes d’Ibn Khaldoun. Namun pengaruhnya baru terlihat setelah 27 tahun kemudian. Tepatnya pada tahun 1890, yakni saat pendapat-pendapat Ibnu Khaldun dikaji dan diadaptasi oleh sosiolog-sosiolog German dan&lt;br /&gt;Austria yang memberikan pencerahan bagi para sosiolog modern.&lt;br /&gt;Karya-karya lain Ibnu Khaldun yang bernilai sangat tinggi diantaranya, at-Ta’riif bi Ibn Khaldun (sebuah kitab autobiografi, catatan dari kitab sejarahnya); Muqaddimah (pendahuluan atas kitabu al-’ibar yang bercorak sosiologis-historis, dan filosofis); Lubab al-Muhassal fi Ushul ad-Diin (sebuah kitab tentang permasalahan dan pendapat-pendapat teologi, yang merupakan ringkasan dari kitab Muhassal Afkaar al-Mutaqaddimiin wa al-Muta’akh-khiriin karya Imam Fakhruddin ar-Razi).&lt;br /&gt;DR. Bryan S. Turner, guru besar sosiologi di Universitas of&lt;br /&gt;Aberdeen, Scotland dalam artikelnya “The Islamic Review &amp;amp; Arabic Affairs” di tahun 1970-an mengomentari tentang karya-karya Ibnu Khaldun. Ia menyatakan, “Tulisan-tulisan sosial dan sejarah dari Ibnu Khaldun hanya satu-satunya dari tradisi intelektual yang diterima dan diakui di dunia Barat, terutama ahli-ahli sosiologi dalam bahasa Inggris (yang menulis karya-karyanya dalam bahasa Inggris).” Salah satu tulisan yang sangat menonjol dan populer adalah muqaddimah (pendahuluan) yang merupakan buku terpenting tentang ilmu sosial dan masih terus dikaji hingga saat ini.&lt;br /&gt;Bahkan buku ini telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Di sini Ibnu Khaldun menganalisis apa yang disebut dengan ‘gejala-gejala sosial’ dengan metoda-metodanya yang masuk akal yang dapat kita lihat bahwa ia menguasai dan memahami akan gejala-gejala sosial tersebut. Pada bab ke dua dan ke tiga, ia berbicara tentang gejala-gejala yang membedakan antara masyarakat primitif dengan masyarakat moderen dan bagaimana sistem pemerintahan dan urusan politik di masyarakat.&lt;br /&gt;Bab ke dua dan ke empat berbicara tentang gejala-gejala yang berkaitan dengan cara berkumpulnya manusia serta menerangkan pengaruh faktor-faktor dan lingkungan geografis terhadap gejala-gejala ini. Bab ke empat dan ke&lt;br /&gt;lima, menerangkan tentang ekonomi dalam individu, bermasyarakat maupun negara. Sedangkan bab ke enam berbicara tentang paedagogik, ilmu dan pengetahuanserta alat-alatnya. Sungguh mengagumkan sekali sebuah karya di abad ke-14 dengan lengkap menerangkan hal ihwal sosiologi, sejarah, ekonomi, ilmu dan pengetahuan. Ia telah menjelaskan terbentuk dan lenyapnya negara-negara dengan teori sejarah.&lt;br /&gt;Ibnu Khaldun sangat meyakini sekali, bahwa pada dasarnya negera-negara berdiri bergantung pada generasi pertama (pendiri negara) yang memiliki tekad dan kekuatan untuk mendirikan negara. Lalu, disusul oleh generasi ke dua yang menikmati kestabilan dan kemakmuran yang ditinggalkan generasi pertama. Kemudian, akan datang generasi ke tiga yang tumbuh menuju ketenangan, kesenangan, dan terbujuk oleh materi sehingga sedikit demi sedikit bangunan-bangunan spiritual melemah dan negara itu pun hancur, baik akibat kelemahan internal maupun karena serangan musuh-musuh yang kuat dari luar yang selalu mengawasi kelemahannya.&lt;br /&gt;ADA beberapa catatan penting dari sini yang dapat kita ambil bahan pelajaran. Bahwa Ibnu Khaldun menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan tidak meremehkan akan sebuah sejarah. Ia adalah seorang peneliti yang tak kenal lelah dengan dasar ilmu dan pengetahuan yang luas. Ia selalu memperhatikan akan komunitas-komunitas masyarakat. Selain seorang pejabat penting, ia pun seorang penulis yang produktif. Ia menghargai akan tulisan-tulisannya yang telah ia buat. Bahkan ketidaksempurnaan dalam tulisannya ia lengkapi dan perbaharui dengan memerlukan waktu dan kesabaran. Sehingga karyanya benar-benar berkualitas, yang di adaptasi oleh situasi dan kondisi.&lt;br /&gt;Karena pemikiran-pemikirannya yang briliyan Ibnu Khaldun dipandang sebagai peletak dasar ilmu-ilmu sosial dan politik Islam. Dasar pendidikan Alquran yang diterapkan oleh ayahnya menjadikan Ibnu Khaldun mengerti tentang Islam, dan giat mencari ilmu selain ilmu-ilmu keislaman. Sebagai Muslim dan hafidz Alquran, ia menjunjung tinggi akan kehebatan Alquran. Sebagaimana dikatakan olehnya, “Ketahuilah bahwa pendidikan Alquran termasuk syiar agama yang diterima oleh umat Islam di seluruh dunia Islam. Oleh kerena itu pendidikan Alquran dapat meresap ke dalam hati dan memperkuat iman. Dan pengajaran Alquran pun patut diutamakan sebelum mengembangkan ilmu-ilmu yang lain.”&lt;br /&gt;Ibnu Khaldun wafat di Kairo Mesir pada saat bulan suci Ramadan tepatnya pada tanggal 25 Ramadan 808 H./19 Maret 1406 M. Ia telah mencetuskan sejumlah teori dasar ekonomi modern jauh sebelum Adam Smith dan David Ricardo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada puncak kejayaannya, dunia Islam tak hanya unggul dalam bidang politik dan militer saja. Salah satu faktor penting yang menopang kemajuan Kekhalifahan Islam di era keemasan adalah sistem perekonomian yang kuat. Dengan menguasai ekonomi dunia, dunia Islam sempat menjadi adikuasa yang disegani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia Islam di era keemasan memiliki sederet ekonom yang telah mencurahkan pemikirannya untuk membangun Kekhalifahan Islam. Salah satunya adalah Ibnu Khaldun. Sejatinya, ia adalah ilmuwan Muslim yang serbabisa. Namun, cendekiawan Muslim yang terlahir di Tunisia itu juga telah menyumbangkan pemikirannya tentang ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Khaldun sudah mencetuskan berbagai macam teori ekonomi, jauh sebelum lahirnya para ekonom Barat yang diklaim sebagai bapak ekonomi seperti Adam Smith (1723-1790 M) dan David Ricardo (1772-1823). Ibnu Khaldun telah mencetuskan sejumlah teori dasar ekonomi modern yang hingga kini masih tetap berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori-teori yang dicetuskannya merupakan hasil pemikiran yang terlahir dari hasil pengamatannya terhadap berbagai masyarakat yang kemudian dipadukan dengan analisis tajam dengan ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya. Tak heran jika Ibnu Khaldun sempat didaulat sebagai guru besar Universitas al-Azhar Kairo yang dibangun Dinasti Fatimiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama mengabdikan dirinya di salah satu universitas tertua dan terkemuka di dunia itu, Ibnu Khaldun menulis sederet karya fenomel di bidang ekonomi, yang hingga kini masih menjadi obyek studi. Lantas apa sumbangan Ibnu Khaldun dalam bidang ekonomi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Khaldun tercatat sebagai ekonom pertama yang secara sistematis menganalisis fungsi ekonomi, pentingnya teknologi, spesialisasi dan perdagangan ke luar negeri jika negara mengalami surplus ekonomi. Ia juga menekankan peran pemerintah dan kebijakan stabilisasi untuk meningkatkan output produksi serta pembukaan kesempatan kerja yang luas bagi masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang ekonom telah mempelajari ekonomi, sosiologi, ilmu politik dan berbagai ilmu lainnyauntuk memahami perilaku manusia dan sejarah. Dia mengungkapkan fakta bahwa spesialisasi merupakan sumber utama terjadinya surplus ekonomi. Pernyataan tersebut diungkapkan hampir tiga abad sebelum Adam Smith mengungkapkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ibnu Khaldun, ketika ada suatu lingkungan yang kondusif untuk melakukan spesialisasi, maka sebaiknya pengusaha didorong untuk melakukan perdagangan dan produksi lebih lanjut. Dengan spesialisasi, seseorang bisa mendapatkan keuntungan lebih banyak dari usahanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menjelaskan spesialisasi, Ibnu Khaldun mengatakan, &#39;&#39;Setiap jenis kerajinan tertentu harus dihasilkan oleh orang-orang yang mahir dan terampil dalam membuat kerajinan tersebut. Semakin banyak berbagai subdivisi dari suatu kerajinan, maka semakin besar pula jumlah orang-orang yang harus mahir dalam membuat kerajinan tersebut.&#39;&#39;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para perajin, papar dia, harus mempunyai keahlian tertentu dan mereka dari hari ke hari semakin mahir dalam membuat kerajinan tangan. Pengetahuan mereka tentang kerajinan juga semakin banyak. Jika hal ini dilakukan dalam waktu yang lama, maka kerajinan akan berakar kuat dan bisa menjadi sumber mata pencaharian yang bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, spesialisasi berarti koordinasi dari berbagai fungsi dari faktor produksi. Sehingga, orang-orang akan mendapatkan kepuasan yang lebih dengan melakukan kerja sama dari pada mengerjakannya sendirian. Selain itu, koordinasi dan kerja sama dalam proses produksi harus ada dalam kewirausahaan berdasarkan kekuatan pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Khaldun menganggap pekerja dan pengusaha sebagai pelaku ekonomi yang dihormati dalam masyarakat. Keduanya mencoba untuk memaksimalkan kegiatan mereka untuk mendapatkan upah dan laba. Baginya, keuntungan adalah motif utama dalam kewirausahaan. Sebab, dengan meraih banyak keuntungan diharapkan produksi bisa diperluas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan, perdagangan berarti usaha untuk meraih keuntungan dengan meningkatkan modal, melalui pembelian barang-barang dengan harga rendah lalu menjualnya kembali dengan harga yang lebih tinggi. Laba merupakan nilai yang direalisasikan dari tenaga kerja. Namun nilai ini, yakni harga tenaga kerja, ditentukan oleh hukum penawaran dan permintaan. Poin ini tidak terjawab oleh Karl Marx dan para pengikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ibnu Khaldun, koordinasi, kerja sama dan arah faktor-faktor produksi dalam meningkatkan surplus ekonomi produktif, merupakan sebuah proses yang dilakukan oleh pengusaha. Tujuannya untuk mencari keuntungan. Para pengusaha menghabiskan waktu, tenaga dan modal untuk mencari barang dan jasa lalu menjualnya kembali dengan harga yang lebih tinggi demi memperoleh keuntungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Khaldun memuji prakarsa para pengusaha dalam kegiatan produktif mereka dan mereka pantas mendapat keuntungan dari usaha mereka yang berisiko. Bahkan Karl Marx dan David Ricardo kurang bisa memahami hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, sang ekonom Musim legendaris itu juga mengungkapkan sebuah teori ekonomi yang menyatakan harga barang dan jasa ditentukan oleh penawaran dan permintaan. Ketika suatu barang langka dan permintaan naik, maka harga menjadi tinggi. Para pedagang akan membeli barang di pusat barang tersebut diproduksi. Sehingga mereka bisa membeli dengan harga murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&#39;&#39;Lalu mereka akan menjual barang tersebut di daerah yang barang tersebut masih dianggap langka serta tentu saja yang permintaan terhadap barang tersebut tinggi,&#39;&#39; papar Ibnu Khaldun. Dengan demikian, kata dia, para pedagang bisa menjual barangnya dengan harga tinggi dan mendapat laba yang lebih banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ketika pada suatu tempat terdapat barang yang jumlahnya berlimpah, maka harga barang menjadi rendah. Ibnu Khaldun juga telah berhasil menunjukkan konsep biaya jangka panjang produksi. Ia juga terus menekankan kebijakan moneter yang stabil. Ibnu Khaldun benar-benar menentang kebijakan-kebijakan yang bisa memainkan nilai mata uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia khawatir, pihak berwenang tergoda untuk mempermainkan nilai mata uang untuk mendapatkan keuntungan guna membangun istana dan membayar gaji para tentara bayaran. Jika pihak berwenang sampai melakukan hal itu, maka bisa terjadi inflasi dan penduduk akan kehilangan kepercayaan terhadap mata uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ibnu Khaldun, perlindungan terhadap daya beli uang itu harus dilaksanakan sebagai bentuk keadilan bagi masyarakat. Oleh karena itu, dia mengusulkan berdirinya badan moneter yang independen di bawah kekuasaan Hakim Agung, yang takut kepada Allah SWT. Sebab jika dibawah penguasa yang tidak takut Allah SWT, maka penguasa tersebut bisa mempermainkan nilai mata uang demi keuntungan pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pajak dalam Pandangan Ekonom Legendaris&lt;br /&gt;Dalam sebuah risalah ekonomi yang ditulisnya, Ibnu Khaldun pernah menulis dan membahas masalah pajak. Tulisan tersebut tercantum dalam bukunya yang fenomenal berjudul Muqqadimah. Tulisan tentang pajak termuat pada bagian faktor pemicu peningkatan dan penurunan pendapatan negara/kerajaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ibnu Khaldun, sebuah kerajaan yang baru saja didirikan, memungut pajak dari rakyatnya dalam jumlah yang tak terlalu besar.. Tetapi, ketika kerajaan tersebut semakin berkembang, maka pajak yang dipungut dari rakyatnya juga kian besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika para pendiri kekaisaran/kesultanan mengikuti jalan agama, mereka akan menerapkan pajak yang disahkan oleh hukum Tuhan yang mencakup zakat, kharaj (pajak tanah), dan jizyah. Baik zakat, kharaj, maupun jizyah jumlahnya tidak terlalu memberatkan bagi masyarakat. Lagi pula pajak semacam itu sudah tetap dan tidak bisa dinaikkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Khaldun berpendapat, sebuah kerajaan yang dibangun dalam sistem suku dan penaklukan merupakan nomaden. Sebenarnya, kata dia, peradaban dibentuk untuk membuat para penguasa menjadi penuh kebaikan, kesabaran. Sehingga, kata dia, pajak dan kewajiban-kewajiban pribadi yang digunakan untuk memberikan pendapatan kepada kerajaan seharusnya tak memberatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&#39;&#39;Jika pajak tak memberatkan, maka subjek pajak akan melaksanakan kewajiban mereka dengan penuh antusiasme,&#39;&#39; papar Ibnu Khaldun. Menurutnya, masyarakat akan giat bekerja untuk menyisihkan sebagian penghasilannya, guna membayar pajak yang ringan. Sehingga akan lebih banyak orang yang bekerja keras untuk meraih pendapatan. Hasilnya, orang yang membayar pajak akan meningkat dan pendapatan negara juga bertambah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, ketika sebuah kerajaan telah mengalami periode yang cukup panjang dan mulai menetap, tidak nomaden lagi, kaka kerajaan akan melakukan kegiatan bisnis. Kemudian kesederhanaan, tata krama, dan kesabaran mulai menghilang. Administrasi dituntut lebih detil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota kerajaan semakin sejahtera dan penuh dengan kesenangan.&lt;br /&gt;&#39;&#39;Mereka hidup dalam kemewahan dan kebutuhan baru yang kurang penting mulai bermunculan,&#39;&#39; tuturnya. Hal itu, ungkap Ibnu Khaldun, mendorong kerajaan untuk menaikkan pajak pada semua golongan masyarakat, termasuk petani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka ingin pajak membawa lebih banyak keuntungan bagi negara. Mereka juga memaksakan penjualan produk-produk pertanian ke kota-kota. Ketika pengeluaran untuk pembelian barang mewah semakin meningkat dalam pemerintahan, maka pajak pun pasti naik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, rakyat semakin terbebani dan itu membuat semangat para petani untuk bekerja semakin luntur. Sebab semakin banyak pendapatan yang mereka hasilkan, kian besar pula pajak yang harus ditanggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika petani membandingkan antara biaya pengeluaran dengan pendapatan. Mereka jadi semakin kecewa. Sehingga mereka meninggalkan pertanian. Hal ini menimbulkan penurunan pajak yang dikumpulkan oleh negara. Sehingga pendapatan negara berkurang.&lt;br /&gt;&#39;&#39;Oleh karena itu, sebaiknya negara atau pemerintah tidak menerapkan pajak yang terlalu tinggi kepada masyarakatnya supaya mereka giat bekerja,&#39;&#39; papar Ibnu Khaldun. Demikianlah salah satu sumbangan penting Ibnu Khaldun dalam bidang ekonomi.&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/feeds/5406889122194261413/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/2010/06/biografi-ibnu-khaldun.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1244976486987510470/posts/default/5406889122194261413'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1244976486987510470/posts/default/5406889122194261413'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/2010/06/biografi-ibnu-khaldun.html' title='Biografi Ibnu Khaldun'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1244976486987510470.post-1263588831272549076</id><published>2010-06-10T13:01:00.000+07:00</published><updated>2010-08-16T15:30:30.946+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="17 agustus 1945"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="bung karno"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="marhaenisme"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Mewujudkan Kemerdekaan Sejati Menuju Sosialisme Indonesia"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pancasila"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="proklamasi indonesia"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sejarah indonesia"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="SOSIALISME INDONESIA"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="uud 45"/><title type='text'>SOSIALISME INDONESIA</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Mewujudkan Kemerdekaan Sejati Menuju Sosialisme Indonesia&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;« Oldefo VS Nefo&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Soekarno, Proklamator dan Penggali Pancasila&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ir. Soekarno, lahir di Lawang Seketeng, Surabaya, Jawa Timur 6 Juni 1901. Ayahnya bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo (Probolinggo, Jawa Timur) dan ibunya Ida Ayu Nyoman Rai (Singgaraja, Bali). Meninggal di Wisma Yaso, Jakarta 21 Juni 1970, Adalah Presiden Indonesia pertama yang menjabat pada periode 1945 – 1966. Ia memainkan peranan penting untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda. Ia adalah penggali Pancasila.&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;fullpost&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ia adalah Proklamator Kemerdekaan Indonesia (bersama dengan Mohammad Hatta) yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945.&lt;br /&gt;Nama lengkap &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/06/sosialisme-indonesia.html&quot;&gt;Soekarno&lt;/a&gt; ketika lahir adalah &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/06/sosialisme-indonesia.html&quot;&gt;Kusno Sosrodihardjo&lt;/a&gt;. Ketika masih kecil, karena sering sakit-sakitan, menurut kebiasaan orang Jawa; oleh orang tuanya namanya diganti menjadi Soekarno. Di kemudian hari ketika menjadi Presiden R.I., ejaan nama Soekarno diganti olehnya sendiri menjadi Sukarno karena menurutnya nama tersebut menggunakan ejaan penjajah (Belanda). Ia tetap menggunakan nama Soekarno dalam tanda tangannya karena tanda tangan tersebut adalah tanda tangan yang tercantum dalam Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang tidak boleh diubah.&lt;br /&gt;Kemudian, beliau merumuskan ajaran &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/06/sosialisme-indonesia.html&quot;&gt;Marhaenisme&lt;/a&gt; dan mendirikan PNI (Partai Nasional lndonesia) pada 4 Juli 1927, dengan tujuan Indonesia Merdeka. Akibatnya, Belanda, memasukkannya ke penjara Sukamiskin, Bandung pada 29 Desember 1929. Delapan bulan kemudian baru disidangkan. Dalam pembelaannya berjudul Indonesia Menggugat, beliau menunjukkan kemurtadan Belanda, bangsa yang mengaku lebih maju itu.&lt;br /&gt;Pembelaannya itu membuat Belanda makin marah. Sehingga pada Juli 1930, PNI pun dibubarkan. Setelah bebas pada tahun 1931, Soekarno bergabung dengan &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/06/sosialisme-indonesia.html&quot;&gt;Partindo&lt;/a&gt; dan sekaligus memimpinnya. Akibatnya, beliau kembali ditangkap Belanda dan dibuang ke Ende, Flores, tahun 1933. Empat tahun kemudian dipindahkan ke Bengkulu.&lt;br /&gt;Setelah melalui perjuangan yang cukup panjang, Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/06/sosialisme-indonesia.html&quot;&gt;kemerdekaan RI&lt;/a&gt; pada 17 Agustus 1945. Dalam siding BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, Ir.Soekarno mengemukakan gagasan tentang dasar negara yang disebutnya Pancasila. Tanggal 17 Agustus 1945, Ir Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Dalam sidang PPKI, 18 Agustus 1945 Ir.Soekarno terpilih secara aklamasi sebagai Presiden Republik Indonesia yang pertama.&lt;br /&gt;Sebelumnya, beliau juga berhasil merumuskan Pancasila yang kemudian menjadi dasar (ideologi) Negara Kesatuan Republik Indonesia. Beliau berupaya mempersatukan nusantara. Bahkan Soekarno berusaha menghimpun bangsa-bangsa di Asia, Afrika, dan Amerika Latin dengan Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955 yang kemudian berkembang menjadi Gerakan Non Blok.&lt;br /&gt;Ia menerbitkan &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/06/sosialisme-indonesia.html&quot;&gt;Surat Perintah 11 Maret 1966&lt;/a&gt; &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/06/sosialisme-indonesia.html&quot;&gt;Supersemar&lt;/a&gt; yang kontroversial itu, yang konon, antara lain isinya adalah menugaskan Letnan Jenderal Soeharto untuk mengamankan dan menjaga kewibawaannya. Tetapi Supersemar tersebut disalahgunakan oleh Letnan Jenderal Soeharto untuk merongrong kewibawaannya dengan jalan menuduhnya ikut mendalangi Gerakan 30 September. Tuduhan itu menyebabkan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara yang anggotanya telah diganti dengan orang yang pro Soeharto, mengalihkan kepresidenan kepada Soeharto.&lt;br /&gt;Latar belakang dan pendidikan&lt;br /&gt;Soekarno dilahirkan dengan nama Kusno Sosrodihardjo. Ayahnya bernama Raden Sukemi Sosrodihardjo, seorang guru di Surabaya, Jawa. Ibunya berasal dari Bali. Ibunya, menceritakan makna kelahiran di waktu fajar. “Kelak engkau akan menjadi orang yang mulia, engkau akan menjadi pemimpin dari rakyat kita, karena ibu melahirkanmu jam setengah enam pagi di saat fajar mulai menyingsing. Kita orang Jawa mempunyai suatu kepercayaan, bahwa orang yang dilahirkan di saat matahari terbit, nasibnya telah ditakdirkan terlebih dulu. Jangan lupakan itu, jangan sekali-kali kau lupakan, nak, bahwa engkau ini putra dari sang fajar.” (Adams, 2000:24)&lt;br /&gt;Tanggal kelahiran Soekarno pun dipandangnya sebagai pertanda nasib baik. “Hari lahirku ditandai oleh angka serba enam. Tanggal enam bulan enam. Adalah menjadi nasibku yang paling baik untuk dilahirkan dengan bintang Gemini, lambang kekembaran. Dan memang itulah aku sesungguhnya. Dua sifat yang berlawanan.” (Adams, 2000:25)&lt;br /&gt;Soekarno melihat dirinya yang terdiri dari dua sifat yang berlawanan sebagai satu kemungkinan pertanda nasibnya di dunia politik. “Karena aku terdiri dari dua belahan, aku dapat memperlihatkan segala rupa, aku dapat mengerti segala pihak, aku memimpin semua orang. Boleh jadi ini secara kebetulan bersamaan. Boleh jadi juga pertanda lain. Akan tetapi kedua belahan dari watakku itu menjadikanku seseorang yang merangkul semua-nya.”&lt;br /&gt;Kejadian lain yang dianggap pertanda nasib oleh Soekarno adalah meletusnya Gunung Kelud saat ia lahir. Tentang ini ia menyatakan, “Orang yang percaya kepada takhayul meramalkan, ‘Ini adalah penyambutan terhadap bayi Soekarno,” Selain itu, penjelasan tentang penggantian nama Kusno menjadi Karno pun memberi satu mitos lagi dalam diri Soekarno kecil tentang dirinya sebagai calon pejuang dan pahlawan bangsanya. Kepercayaan akan pertanda-pertanda yang muncul di hari kelahiran Soekarno memberi semacam gambaran masa depan dalam benak Soekarno sejak masa kecilnya. Dalam kerangka pemikiran Adler, gambaran masa depan itu disebut fictional final goals (tujuan akhir fiktif). Meskipun fiktif (tak didasari kenyataan), tetapi gambaran masa depan ini berperan menggerakkan kepribadian manusia untuk mencapai kondisi yang tertuang di dalamnya (Adler, 1930:400).&lt;br /&gt;Riwayat hidup Soekarno memperlihatkan bagaimana gambaran dirinya di masa depan dan persepsinya tentang Indonesia menggerakkannya mencapai kemerdekaan Indonesia. Ketika kecil Soekarno tinggal bersama kakeknya di Tulungagung, Jawa Timur. Pada usia 14 tahun, seorang kawan bapaknya yang bernama Oemar Said Tjokroaminoto mengajak Soekarno tinggal di Surabaya dan disekolahkan ke Hoogere Burger School (H.B.S.) di sana. Di Surabaya, Soekarno banyak bertemu dengan para pemimpin Sarekat Islam, organisasi yang dipimpin Tjokroaminoto saat itu. Soekarno kemudian bergabung dengan organisasi Jong Java (Pemuda Jawa). Tamat H.B.S. tahun 1920, Soekarno melanjutkan ke Technische Hoge School (sekarang ITB) di Bandung, dan tamat pada tahun 1925. Saat di Bandung, Soekarno berinteraksi dengan Tjipto Mangunkusumo dan Dr. Douwes Dekker, yang saat itu merupakan pemimpin organisasi National Indische Partij. Soekarno sebagai ideolog yang piawai menyebarkan kepercayaan-kepercayaannya. Strategi penyebaran ideologi yang oleh Terry Eagleton (1991) terdiri dari rasionalisasi, universalisasi, dan naturalisasi, dengan baik dimanfaatkan Soekarno dalam tulisan-tulisannya.&lt;br /&gt;Rasionalisasi tampil dalam argumentasi-argumentasi yang diusahakan tersusun selogis mungkin dan menggunakan rujukan-rujukan teori-teori ilmuwan terkemuka seperti Herbert Spencer, Havelock Ellis, dan Ernst Renan. Rasionalisasi dapat ditemukan dalam setiap karangannya, termasuk penggunaan data statistik demi memperkuat pendapatnya. Strategi universalisasi dalam tulisan dan karangan Soekarno melibatkan ajaran-ajaran agama kutipan dari tokoh ternama dalam sejarah dan peristiwa penting dalam peradaban manusia. Gagasan-gagasannya seolah berlaku universal dan diperlukan di mana-mana.”Firman Tuhan inilah gitaku, Firman Tuhan inilah harus menjadi pula gitamu: “Innallaha la yu ghoiyiru ma bikaumin, hatta yu ghoiyiru ma biamfusihim” (Pidato 17 Agustus 1964) “Asal kita setia kepada hukum sejarah dan asal kita bersatu dan memiliki tekad baja, kita bias memindahkan Gunung Semeru atau Gunung Kinibalu sekalipun”. (Pidato 17 Agustus 1965) “Tetapi Tanah Air kita Indonesia hanya satu bahagian kecil saja dari pada dunia! Ingatlah akan hal ini! Gandhi berkata: “Saya seorang nasionalis, tetapi kebangsaan saya adalah perikemanusiaan.” (Pidato Lahirnya Pancasila, 1 Juni 1945) Strategi naturalisasi merupakan usaha menampilkan sebuah ideologi atau kepercayaan sebagai sesuatu yang tampak alamiah. Ini banyak ditemukan dalam pidato-pidato Soekarno. Penjelasan-penjelasannya tentang Pancasila sangat jelas menggunakan naturalisasi. “Ke Tuhanan Yang Maha Esa, Kebangsaan, Peri Kemanusiaan, Kedaulatan Rakyat, Keadilan Sosial. Dari zaman dahulu sampai zaman sekarang ini, yang nyata selalu menjadi isi daripada jiwa bangsa Indonesia.” (Pancasila sebagai Dasar Negara, hal:38) Bukan hal yang aneh jika Soekarno berkembang menjadi seorang ideolog. Kepercayaan sejak kecil tentang kemuliaan, kepeloporan dan kepemimpinannya, mendorong kuat Bung Besar ini menyebarkan kebenarannya. Gambaran diri yang fiktif dan mistis ini pula yang memberinya kepercayaan diri tampil berapi-api di depan lautan massa. Pergerakan nasional&lt;br /&gt;Pada tahun 1926, Soekarno mendirikan Algemene Studie Club di Bandung. Organisasi ini menjadi cikal bakal Partai Nasional Indonesia yang didirikan pada tahun 1927. Pada tahun 1926 ini pula terbit artikelnya yang terkenal “Nasionalisme, Islamisme dan marxisme” dalam suluh Indonesia muda, pernyataan Soekarno dalam artikel tersebut “Bukan kita mengharap yang nasionalis itu supaya berobah faham jadi Islamis atau Marxis, bukannya maksud kita menyuruh Marxis dan Islamis itu berbalik menjadi Nasionalis, akan tetapi impian kita yalah kerukunan, persatuan anatra tiga golongan itu”. ditulis akibat keprihatinan dia atas perseteruan SI putih pimpinan Agus Salim dengan SI merah (Sarekat Rakyat) Semaun dkk. Aktivitas Soekarno di PNI menyebabkannya ditangkap Belanda pada bulan Desember 1929, dan memunculkan pledoinya yang fenomenal: Indonesia Menggugat, hingga dibebaskan kembali pada tanggal 31 Desember 1931.&lt;br /&gt;Pada bulan Juli 1932, Soekarno bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo), yang merupakan pecahan dari PNI. Soekarno kembali ditangkap pada bulan Agustus 1933, dan diasingkan ke Flores. Soekarno baru kembali bebas pada masa penjajahan Jepang pada tahun 1942.&lt;br /&gt;Penjajahan Jepang&lt;br /&gt;Pada awal masa penjajahan Jepang (1942-1945), pemerintah Jepang sempat tidak memperhatikan tokoh-tokoh pergerakan Indonesia terutama untuk “mengamankan” keberadaannya di Indonesia. Ini terlihat pada Gerakan 3A dengan tokohnya Shimizu dan Mr. Syamsuddin yang kurang begitu populer.&lt;br /&gt;Namun akhirnya, pemerintahan pendudukan Jepang memperhatikan dan sekaligus memanfaatkan tokoh tokoh Indonesia seperti Soekarno, Mohammad Hatta dan lain-lain dalam setiap organisasi-organisasi dan lembaga lembaga untuk menarik hati penduduk Indonesia. Disebutkan dalam berbagai organisasi seperti Jawa Hookokai, Pusat Tenaga Rakyat (Putera), BPUPKI dan PPKI, tokoh tokoh seperti Soekarno, Hatta, Ki Hajar Dewantara, K.H Mas Mansyur dan lain lainnya disebut-sebut dan terlihat begitu aktif. Dan akhirnya tokoh-tokoh nasional bekerjasama dengan pemerintah pendudukan Jepang untuk mencapai kemerdekaan Indonesia, meski ada pula yang melakukan gerakan bawah tanah seperti Sutan Syahrir dan Amir Sjarifuddin karena menganggap Jepang adalah fasis yang berbahaya.&lt;br /&gt;Presiden Soekarno sendiri, saat pidato pembukaan menjelang pembacaan teks proklamasi kemerdekaan, mengatakan bahwa meski sebenarnya kita bekerjasama dengan Jepang sebenarnya kita percaya dan yakin serta mengandalkan kekuatan sendiri.&lt;br /&gt;Ia aktif dalam usaha persiapan kemerdekaan Indonesia, diantaranya adalah merumuskan Pancasila, UUD 1945 dan dasar dasar pemerintahan Indonesia termasuk merumuskan naskah proklamasi Kemerdekaan. Ia sempat dibujuk untuk menyingkir ke Rengasdengklok Peristiwa Rengasdengklok.&lt;br /&gt;Pada tahun 1943, Perdana Menteri Jepang Hideki Tojo mengundang tokoh Indonesia yakni Soekarno, Mohammad Hatta dan Ki Bagoes Hadikoesoemo ke Jepang dan diterima langsung oleh Kaisar Hirohito. Bahkan kaisar memberikan Bintang kekaisaran (Ratna Suci) kepada tiga tokoh Indonesia tersebut. Penganugerahan Bintang itu membuat pemerintahan pendudukan Jepang terkejut, karena hal itu berarti bahwa ketiga tokoh Indonesia itu dianggap keluarga Kaisar Jepang sendiri. Pada bulan Agustus 1945, ia diundang oleh Marsekal Terauchi, pimpinan Angkatan Darat wilayah Asia Tenggara di Dalat Vietnam yang kemudian menyatakan bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia adalah urusan &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/06/sosialisme-indonesia.html&quot;&gt;rakyat Indonesia&lt;/a&gt; sendiri.&lt;br /&gt;Namun keterlibatannya dalam badan-badan organisasi bentukan Jepang membuat Soekarno dituduh oleh Belanda bekerja sama dengan Jepang,antara lain dalam kasus romusha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perang Revolusi Soekarno bersama tokoh-tokoh nasional mulai mempersiapkan diri menjelang Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Setelah sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/06/sosialisme-indonesia.html&quot;&gt;BPUPKI&lt;/a&gt;,Panitia Kecil yang terdiri dari delapan orang (resmi), Panitia Kecil yang terdiri dari sembilan orang/Panitia Sembilan (yang menghasilkan Piagam Jakarta) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/06/sosialisme-indonesia.html&quot;&gt;PPKI&lt;/a&gt;, Soekarno-Hatta mendirikan Negara Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.&lt;br /&gt;Setelah menemui Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam, terjadilah Peristiwa Rengasdengklok pada tanggal 16 Agustus 1945; Soekarno dan Mohammad Hatta dibujuk oleh para pemuda untuk menyingkir ke asrama pasukan Pembela Tanah Air Peta Rengasdengklok. Tokoh pemuda yang membujuk antara lain Soekarni, Wikana, Singgih serta Chairul Saleh. Para pemuda menuntut agar Soekarno dan Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia, karena di Indonesia terjadi kevakuman kekuasaan. Ini disebabkan karena Jepang sudah menyerah dan pasukan Sekutu belum tiba. Namun Soekarno, Hatta dan para tokoh menolak dengan alasan menunggu kejelasan mengenai penyerahan Jepang. Alasan lain yang berkembang adalah Soekarno menetapkan moment tepat untuk kemerdekaan Republik Indonesia yakni dipilihnya tanggal 17 Agustus 1945 saat itu bertepatan dengan tanggal 17 Ramadhan, bulan suci kaum muslim yang diyakini merupakan tanggal turunnya wahyu pertama kaum muslimin kepada Nabi Muhammad SAW yakni Al Qur-an. Pada tanggal 18 Agustus 1945, Soekarno dan Mohammad Hatta diangkat oleh PPKI menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Pada tanggal 29 Agustus 1945 pengangkatan menjadi presiden dan wakil presiden dikukuhkan oleh KNIP.Pada tanggal 19 September 1945 kewibawaan Soekarno dapat menyelesaikan tanpa pertumpahan darah peristiwa Lapangan Ikada dimana 200.000 rakyat Jakarta akan bentrok dengan pasukan Jepang yang masih bersenjata lengkap.&lt;br /&gt;Pada saat kedatangan Sekutu (AFNEI) yang dipimpin oleh Letjen. Sir Phillip Christison, Christison akhirnya mengakui kedaulatan Indonesia secara de facto setelah mengadakan pertemuan dengan Presiden Soekarno. Presiden Soekarno juga berusaha menyelesaikan krisis di Surabaya. Namun akibat provokasi yang dilancarkan pasukan NICA (Belanda) yang membonceng Sekutu. (dibawah Inggris) meledaklah Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya dan gugurnya &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/06/sosialisme-indonesia.html&quot;&gt;Brigadir Jendral A.W.S Mallaby&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Karena banyak provokasi di Jakarta pada waktu itu, Presiden Soekarno akhirnya memindahkan Ibukota Republik Indonesia dari Jakarta ke Yogyakarta. Diikuti wakil presiden dan pejabat tinggi negara lainnya.&lt;br /&gt;Kedudukan Presiden Soekarno menurut UUD 1945 adalah kedudukan Presiden selaku kepala pemerintahan dan kepala negara (presidensiil/single executive). Selama revolusi kemerdekaan,sistem pemerintahan berubah menjadi semi-presidensiil/double executive. Presiden Soekarno sebagai Kepala Negara dan Sutan Syahrir sebagai Perdana Menteri/Kepala Pemerintahan. Hal itu terjadi karena adanya maklumat wakil presiden No X, dan maklumat pemerintah bulan November 1945 tentang partai politik. Hal ini ditempuh agar Republik Indonesia dianggap negara yang lebih demokratis.&lt;br /&gt;Meski sistem pemerintahan berubah, pada saat revolusi kemerdekaan, kedudukan Presiden Soekarno tetap paling penting, terutama dalam menghadapi Peristiwa Madiun 1948 serta saat Agresi Militer Belanda II yang menyebabkan Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta dan sejumlah pejabat tinggi negara ditahan Belanda. Meskipun sudah ada Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) dengan ketua Sjafruddin Prawiranegara, tetapi pada kenyataannya dunia internasional dan situasi dalam negeri tetap mengakui bahwa Soekarno-Hatta adalah pemimpin Indonesia yang sesungguhnya, hanya kebijakannya yang dapat menyelesaikan sengketa Indonesia-Belanda.&lt;br /&gt;Kemerdekaan&lt;br /&gt;Setelah Pengakuan Kedaulatan (Pemerintah Belanda menyebutkan sebagai Penyerahan Kedaulatan), Presiden Soekarno diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS) dan Mohammad Hatta diangkat sebagai perdana menteri RIS. Jabatan Presiden Republik Indonesia diserahkan kepada Mr Assaat, yang kemudian dikenal sebagai RI Jawa-Yogya. Namun karena tuntutan dari seluruh rakyat Indonesia yang ingin kembali ke Negara kesatuan, maka pada tanggal 17 Agustus 1950, RIS kembali berubah menjadi Republik Indonesia dan Presiden Soekarno menjadi Presiden RI. Mandat Mr Assaat sebagai pemangku jabatan Presiden RI diserahkan kembali kepada Ir. Soekarno. Resminya kedudukan Presiden Soekarno adalah presiden konstitusional, tetapi pada kenyataannya kebijakan pemerintah dilakukan setelah berkonsultasi dengannya.&lt;br /&gt;Mitos Dwitunggal Soekarno-Hatta cukup populer dan lebih kuat dikalangan rakyat dibandingkan terhadap kepala pemerintahan yakni perdana menteri. Jatuh bangunnya kabinet yang terkenal sebagai “kabinet semumur jagung” membuat Presiden Soekarno kurang mempercayai sistem multipartai, bahkan menyebutnya sebagai “penyakit kepartaian”. Tak jarang, ia juga ikut turun tangan menengahi &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/06/sosialisme-indonesia.html&quot;&gt;konflik-konflik di tubuh militer&lt;/a&gt; yang juga berimbas pada jatuh bangunnya kabinet. Seperti peristiwa 17 Oktober 1952 dan Peristiwa di kalangan Angkatan Udara.&lt;br /&gt;Dengan Dekrit 5 Juli 1959, Soekarno membubarkan Konstituante yang bertugas merancang UUD baru bagi Indonesia, serta memulai periode yang dalam sejarah politik kita disebut sebagai “Demokrasi Terpimpin”. Peristiwa ini sangat penting, bukan saja karena menandai berakhirnya eksperimen bangsa Indonesia dengan sistem demokrasi yang liberal, tetapi juga tindakan Soekarno tersebut memberikan landasan awal bagi sistem politik yang justru kemudian dibangun dan dikembangkan pada masa Orde Baru. Tapi bukankah Soekarno amat berbeda dari Soeharto, pendiri Orde Baru yang menggantikannya lewat serangkaian manuver politik sejak tahun 1965 yang hingga kini masih banyak diselimuti misteri?Tentu banyak perbedaan antara Soekarno dan Soeharto yang amat gamblang. Presiden pertama RI dikenal sebagai orator yang ulung, yang dapat berpidato secara amat berapi-api tentang revolusi nasional, neokolonialisme dan imperialisme. Ia juga amat percaya pada kekuatan massa, kekuatan rakyat.&lt;br /&gt;Hal tersebut nampak daam ungkapannya “AKU ini bukan apa-apa kalau tanpa rakyat. Aku besar karena rakyat, aku berjuang karena rakyat dan aku penyambung lidah rakyat.” Pengakuan ini meluncur dari Soekarno, &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/06/sosialisme-indonesia.html&quot;&gt;Presiden RI pertama,&lt;/a&gt; dalam karyanya Menggali Api Pancasila.&lt;br /&gt;Dengan mengubur partai politik, Soekarno menganggap bahwa bangsa Indonesia dapat kembali kepada “rel” revolusi yang sejati dengan semangat persatuan, simpati Soekarno pada gerakan-gerakan anti-imperialisme dan mungkin sebagai salah satu konsekuensi, penerimaannya pada Partai Komunis Indonesia (&lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/06/sosialisme-indonesia.html&quot;&gt;PKI&lt;/a&gt;) sebagai aktor politik yang sah.&lt;br /&gt;Adalah penting juga untuk dicatat bahwa salah satu kekuatan pendukung utama upaya Soekarno untuk memberlakukan Demokrasi Terpimpin adalah Angkatan Darat. Mengapa Angkatan Darat mendukung upaya Soekarno? Jawabannya sebenarnya cukup sederhana. Ada persamaan nasib antara Soekarno dan tentara di dalam sistem demokrasi liberal yang mementingkan peranan partai dan parlemen, yakni keduanya tidak mempunyai akses yang langsung terhadap jalannya roda pemerintahan.&lt;br /&gt;Dengan kata lain, di luar jatuh bangunnya kabinet dalam sistem liberal tahun 1950-an serta pemberontakan-pemberontakan di daerah, baik Soekarno dan Angkatan Darat mempunyai kepentingan nyata untuk membangun suatu sistem politik baru yang memberikan mereka kekuasaan yang lebih langsung. Bisa dikatakan Soekarno tidak puas sebagai presiden yang hanya bersifat figure-head, sedangkan Angkatan Darat telah berkembang menjadi kekuatan yang juga tidak puas dalam peranan hanya sebagai penjaga pertahanan dan keamanan belaka. Pembahasan terhadap kepentingan-kepentingan konkret seperti ini tidak lazim ditemukan dalam pelajaran sejarah di sekolah pada tahun 1950-an.&lt;br /&gt;Perlu diingat pula bahwa, untuk sebagian, penaklukan terhadap pemberontakan daerah telah menghasilkan suatu pimpinan Angkatan Darat yang jauh lebih bersatu dibandingkan sebelumnya. Jenderal Abdul Haris Nasution telah tampil sebagai pimpinan yang mampu untuk meredam tantangan yang diajukan oleh komandan-komandan lokal yang memberontak karena tidak senang dengan dominasi Jakarta/Jawa. Di samping itu, kondisi darurat yang dicanangkan untuk menghadapi pemberontakan daerah telah menempatkan banyak perwira militer sebagai administrator roda pemerintahan. Lebih jauh lagi, nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing di tahun 1957-yang sebenarnya dipelopori oleh serikat buruh-telah menempatkan banyak perwira militer di pucuk pimpinan perusahaan-perusahaan negara yang terbesar. Diantaranya adalah Ibnu Sutowo yang kemudian mengembangkan Pertamina.&lt;br /&gt;Dengan posisi politik dan ekonomi yang kuat seperti ini, tampaknya militer tergiur untuk mempunyai peranan yang langsung di dalam system politik. “Demokrasi Terpimpin”-nya Soekarno memberikan peluang. Di antara golongan “fungsional” atau “karya” yang boleh duduk dalam parlemen adalah tentara.&lt;br /&gt;Presiden Soekarno juga banyak memberikan gagasan-gagasan di dunia Internasional. Keprihatinannya terhadap nasib bangsa Asia-Afrika, masih belum merdeka, belum mempunyai hak untuk menentukan nasibnya sendiri, menyebabkan presiden Soekarno, pada tahun 1955, mengambil inisiatif untuk mengadakan Konferensi Asia-Afrika di Bandung yang menghasilkan Dasa Sila. Bandung dikenal sebagai Ibu Kota Asia-Afrika. Ketimpangan dan konflik akibat “bom waktu” yang ditinggalkan negara-negara barat yang dicap masih mementingkan imperialisme dan kolonialisme, ketimpangan dan kekhawatiran akan munculnya perang nuklir yang merubah peradaban, ketidakadilan badan-badan dunia internasional dalam pemecahan konflik juga menjadi perhatiannya. Bersama Presiden Josip Broz Tito (Yugoslavia), Gamal Abdel Nasser (Mesir), Mohammad Ali Jinnah (Pakistan), U Nu, (Birma) dan Jawaharlal Nehru (India) ia mengadakan Konferensi Asia Afrika yang membuahkan Gerakan Non Blok. Berkat jasanya itu, banyak negara-negara Asia Afrika yang memperoleh kemerdekaannya. Namun sayangnya, masih banyak pula yang mengalami konflik berkepanjangan sampai saat ini karena ketidakadilan dalam pemecahan masalah, yang masih dikuasai negara-negara kuat atau adikuasa. Berkat jasa ini pula, banyak penduduk dari kawasan Asia Afrika yang tidak lupa akan Soekarno bila ingat atau mengenal akan Indonesia.&lt;br /&gt;Guna menjalankan politik luar negeri yang bebas-aktif dalam dunia internasional, Presiden Soekarno mengunjungi berbagai negara dan bertemu dengan pemimpin-pemimpin negara. Di antaranya adalah Nikita Khruschev (Uni Soviet), John Fitzgerald Kennedy (Amerika Serikat), Fidel Castro (Kuba), Mao Tse Tung (RRT).&lt;br /&gt;Masa-masa kejatuhan Soekarno dimulai sejak ia “bercerai” dengan Wakil Presiden Moh. Hatta, pada tahun 1956, akibat pengunduran diri Hatta dari kancah perpolitikan Indonesia. Ditambah dengan sejumlah pemberontakan separatis yang terjadi di seluruh pelosok Indonesia, dan puncaknya, pemberontakan G 30 S, membuat Soekarno di dalam masa jabatannya tidak dapat “memenuhi” cita-cita bangsa Indonesia yang makmur dan sejahtera.&lt;br /&gt;Soekarno sendiri wafat pada tanggal 21 Juni 1970 di Wisma Yaso, Jakarta, setelah mengalami pengucilan oleh suksesornya yang “durhaka” Jenderal Suharto. Jenazahnya dikebumikan di Kota Blitar, Jawa Timur, dan kini menjadi ikon kota tersebut, karena setiap tahunnya dikunjungi ratusan ribu hingga jutaan wisatawan dari seluruh penjuru dunia. Terutama pada saat penyelenggaraan Haul Bung Karno&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/feeds/1263588831272549076/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/2010/06/sosialisme-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1244976486987510470/posts/default/1263588831272549076'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1244976486987510470/posts/default/1263588831272549076'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/2010/06/sosialisme-indonesia.html' title='SOSIALISME INDONESIA'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1244976486987510470.post-1089793167446562944</id><published>2010-06-10T12:55:00.000+07:00</published><updated>2010-08-16T15:26:34.557+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kerajaan aceh"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kerajaan gowa"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kerajaan majapahit"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kerajaan malaya"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Negara - negara Sebelum Kemerdekaan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sejarah indinesia prakolonial"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sejarah Majapahit"/><title type='text'>Negara - negara Sebelum Kemerdekaan</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Oleh : Hendri Ansori&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pada abad XIV dan XV dua Negara besar yang mendominasi pada periode ini yaitu &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/06/negara-negara-sebelum-kemerdekaan.html&quot;&gt;Majapahit Jawa Timur dan Malaka di Malaya,&lt;/a&gt; Majapahit adalah Negara terbesar diantara &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/06/negara-negara-sebelum-kemerdekaan.html&quot;&gt;Negara-negara yang ada di Indonesia sebelum datangnya Islam&lt;/a&gt;, Malaka mungkin merupakan kerajaan yang terbesar diantara &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/06/negara-negara-sebelum-kemerdekaan.html&quot;&gt;kerajaan-kerajaan&lt;/a&gt; yang menganut agama islam. Keduanya melambangkan zaman peralihan di Indonesia pada abad tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sebelum membahas Majapahit dan Malaka, alangkah baiknya apabila kita terlebih dahulu membicarakan ciri-ciri umum dari Negara-negara yang ada di I&lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/06/negara-negara-sebelum-kemerdekaan.html&quot;&gt;ndonesia sebelum masa penjajahan&lt;/a&gt;, tampak jelas bahwa ciri-ciri umum tertentu dari Negara yang ada di Indonesia tidaklah berubah selama beberapa abad. Khususnya, kondisi tanah dan iklim di daerah tersebut menciptakan pengaruh penting, bukan hanya terhadap pertanian dan perdagangan, melainkan juga terhadap formasi Negara.&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;fullpost&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jawa mampunyai sederetan gunung berapi yang berjajar dari timur ke baarat di sepanjang pulau itu. Gunung-gunng dan dataran-dataran tinggi lainnya membantu memisahkan wilayah pedalaman menjadi kawasan-kawasan yang relakatif terpencil yang sangat cocok bagi persawahan. Daerah-daerah padi di jawa itu merupakan salah satu yang terkaya di dunia. Jalur-jaur perhubungan di utama di jawa adalah sungai-sungai yang sebagian besarnya relitif pendek-pendek. Sungai-sungai yang paling cocok untuk hubungan jarak jauh hanyalah sunga brantas dan bengawan solo, dan tidak mengherankan apabila lembah-lembah kedua sungai tersebut menjadi pusat-pusat kerajaan besar.&lt;br /&gt;Pulau jawa terdiri atas kelompok-kelompok penduduk yang relative terpisah satu sama lainnya. Penduduk jawa pada abad tersebut tidak diketahui, namun beberapa sumber menyebutkan penduduk jawa saat itu kira lima juta pada abad XIII, namun dengan ukuran abad XXI jawa tetap berpenduduk sangat jarang, sehingga banyak daerah yang tidak berpenduduk. Hal ini menyebabkan setia kerajaan besar di wilayah pedalaman jawa memerlukan suatu bentuk kekuasaan pusat atas daerah terpencil semacam itu. Kerajaan-kerajaan di jawa pada dasarnya adalah kerajaan-kerajaan pedalaman, karena kesulitan-kesulitan perhubungan tersebut, maka dapat dikatakan bahwa perdagangan luar negeri bukanlah kegiatan utama kerjaan pedalaman seperti itu.&lt;br /&gt;Keadaan pulau di luar jawa, Negara-negara terbentuk dalam kondisi fisik yang agak berbeda, disini juga sebagian besar permukaan tanah terdiri atas gunung-gunung, dataran-dataran rendah , dan hutan belantara, sedangkan banyak daerah pantai merupakan rawa-rawa.. sebagian besar Negara-negara terbentuk di daerah-daerah pantai yang sangat cocok untuk pertanian padi. Focus Negara-negara seperti itu diarahkan pada wilayah-wilayah pedalaman sejauh ada bahan pangan atau hasil perdagangan penting yang dapat diperoleh disitu seperti, emas, lada dan lain-lain.&lt;br /&gt;Di seluruh nusantara, para pedagang memperjualbelikan beras, lada, dan tekstil dalam jumlah yang besar. Pulau jawa merupakan penghasil beras terbesar di asia tenggara sampai abad XIX, sedangkan sumatera adalah eksportir lada. Para pedagang asing dating ke Indonesia khususnya untuk mendapatkan hasil-hasil hutan yang bernilai tinggi, seperti kamper, cendana, serta emas dari sumatera dan Kalimantan barat. Terutama, mereka memburu lada dari Indonesia bagian barat, serta cengkeh, pala, dan bunga pala dari maluku. Jawa dipandang sebagai masyarakat hidrolis yang didasarkan pada pertanian sawah, sedangkan Negara-negara luar jawa sebgai kawasan-kawasan yang terutama tergantung pada perdagangan luar negeri. Akantetapi stereotip ini tidak sepenuhnya memuaskan. Negara-negara luar jawa biasanya tergantung pada pertanian sawah untuk menghidupi rakyat mereka, sekalipun benar bahwa sebagian dari Negara-negara terbesar seperti Malaka, Aceh, Banten, dan Gowa, menghidupi rakyat mereka dengan terutama dengan beras yang diimpor dari pesisir utara jawa. Perbedaan pokok antara kedua jenis Negara tersebut adalah arah kegiatan-kegiatan yang dipengaruhi oleh keadaan alamnya ; diluar jawa adalah keluar, sedangkan di jawa ke dalam.&lt;br /&gt;Kondisi ekonomi dan politik di seluruh nusantara pra-kolonial memiliki banyak kesamaan. Di semua daerah, jumlah penduduknya sangat terbatas, dan oleh karenanya merupakan basis yang terbatas pula bagi perpajakan dan sumber daya manusia untuk penanaman padi dan pembentukan tentara. Oleh karena itulah kadang-kadang salah satu tujuan perang adalah memindahkan penduduk dari daerah yang ditaklukkan ke wilayah pihak yang menang. Terisolasinya wilayah yang berpenduduk dan buruknya komunikasi menyebabkan sulitnya penyelenggaraan kekuasaan terpusat atas beberapa wilayah yang berpenduduk. Di Jawa, cara pemecahannya adalah dengan menerapkan sisitem kerajaan terbatas, dengan pemberian otonomi yang luas kepada para penguasa local. Sama halnya, kerajaan-kerajaan luar jawa seringkali terpaksa harus memberi otonomi yang luas kepada para vassal mereka. Oleh karena itu, selalu timbul ketegangan-ketegangan di dalam Negara-negar yang besar sebagai akibat terjadinya benturan antara kepentingan pusat dengan kepentingan daerah.&lt;br /&gt;Seorang penguasa pusat mempunyai tiga teknik utama yang dapat digunakan untuk mempertahankan kekuasaannya. Pertama, dia dapat memberi otonomi yang cukup luas dan keuntungan-keuntungan langsung yang berbentuk kekayaan, martabat, dan perlindungan kepada penguasa daerah dan lawan-lawan lain yang potensial, seperti para pangeran dan pimpinan daerah, sebagai imbalan bagi dukungan mereka kepadanya. Kedua, dia dapat memelihara kultus kebesaran mengenai dirinya dan istananya yang mencerminkan kekuatan-kekuatan gaib yang mendukung dirinya. Ketiga, dan yang paling penting diantara semua teknik, dia harus memiliki kekuatan meliter untuk menghancurakan setiap oposisi. Semua Negara di Indonesia prakolonial didirikan pada akhirnya atas kekuatan meliter yang tanggauh.&lt;br /&gt;Di wilayah ini terdapat dua kerajaan besar pada XIV dan XV yakni, Majapahit dan Malaka. Majapahit adalah Negara Hindu-Budha. beberapa sumber yang merupakan prasasti-prasasti berbahasa jawa kuno, naskah Desawarnan atau Negara- kertagama berbahasa jawa kono yang ditulis pada tahun 1365, dikenal hanya dalam menuskrip-manuskrip yang lebuh kemudian, naskah paraton berbahasa jawa tengahan. Semua ini terdapat pada zaman tersebut.&lt;br /&gt;Penguasa majapahit anatar lain kertarajasa jayawhardana memerintah pada tahun 1294 sampai dengan 1309, Jayanegara memerintah pada tahun 1309 sampai dengan 1328,setelah itu ratu Tribhuana Wijayottungga Dewi memerintah pada tahun 1328 sampai dengan 1350, Rajasanagara atau yang popular dengan nama Hayam Wuruk memerintah pada tahun 1350 sampai dengan 1389. masa pemerintahan hayam wuruklah merupakan zaman kekemasan kerajaan Majapahit, serta Desawarnana ditulis pada pemerintahannya juga. Selanjutnya pada tahun 1389 sampai dengan 1429 raja Wikramawarna memerintah, setelah raja ini digantikan oleh Ratu Suhita yang memerintah dari tahun 1429 sampai dengan 1447. Wjayaparakramawardhana memerintah dari tahun 1447 sampai dengan 1451, dan berikutnya Rajasawardhana yang memerintah 1451 sampai dengan 1453. setelah pemerintahan yang terakhir ini selama tiga tahun Majapahit mengalami kekosongan kursi kerajaan yang diakibatkan oleh krisis suksesi, Namun pada tahun 1456 sampai dengan 1466 Girisawardhana menduduki kursi sebagai raja, setelah itu Snghawikramawardhana memerintah dari tahun 1466 sampai dengan 1478.&lt;br /&gt;Hubungan dagang &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/06/negara-negara-sebelum-kemerdekaan.html&quot;&gt;kerajaan majapahit&lt;/a&gt; menghubungkan daerah-daerah yang merupakan kekuasaannya, bagi mereka perdagangan ini juga menjadi monopoli raja. Jadi, Majapahit merupakan Negara dan sekaligus pada waktu yang sama, Negara perdagangan. Pada tahun 1343, Majapahti menaklukkan Bali, serta mengirim suatu ekspedisi untuk menghukum Palembang di Sumatera. Majapahit juga mempunyai hubungan erta dengan Campa, Kamboja, Siam, birma bagian selatan, dan Vietnam, serta mengirim duta-dutanya ke Cina.&lt;br /&gt;Akhir abad XIV dan awal abad XV, pengaruh kerajaan Majapahit mulai berkrang, pada waktu yang sama, berdiri suatu Negara perdagangan melayu yang baru di nusantara bagian barat yaitu Malaka. Seorang pangeran dari palembang bernama parameswara berhasil meloloskan diri sewaktu terjadi serangan Majapahit pada tahun 1377 dan akhirnya tiba di Malaka kirar-kira tahun 1400. ditempat ini dia menemui pelabuhan yang baik, yang dapat dirapati kapal-kapaldi segala musim dan terletak di bagian paling sempit dari selat malaka. Dengan bersekutu dengan orang laut seperti perompak-perompak pengembara di selat malaka, dia berhasil membuat malak menjadi suatu pelabuhan internasional yang besar dengan cara memaksa kapal-kapal yang lewat untuk singgah di pelabuhannya serta memberi fasilitas-fasilitas yang cukup baik dan dapat dipercaya bagi pergudangan dan perdagangan. Malaka mungkin merupakan contoh yang paling murni dari dari Negara pelabuhan transito Indonesia, karena Negara ini tidak memiliki hasil-hasil sendiri yang penting, Negara ini harus mengimpor bahan pangan untuk menghidupi rakyatnya. Malaka dengan cepat menjadi suatu pelabuhan yang sangat berhasil, karena Negara ini dapat menguasai selat Malaka, salah satu trayek yang paling menentukan dalam system perdagangan internasional yang membentang dari dari Cina dan Maluku di timur sampai Afrika timur dan laut tengah di barat.&lt;br /&gt;Negara ini mendapat perlindungan dari Cina sejak tahun 1405, sehingga mereka berulangkali mengirim duta-dutanya ke Cina. juga sebaliknya cina mengirim armada besar-besaran mengunjungi malaka dibawah pimpinan Admiral Dinasti Ming, yang bernama Zheng He (atau yang popular di Indonesia akhir-akhir ini dengan nama Laksamana Cheng Ho), yang terus berlanjut sampai tahun 1434. perlindungan nyata dari Cina ini telah membantu Malaka untuk berdiri kokoh.&lt;br /&gt;Awalnya Parameswara adalah seorang raja yang bergama Hindu-Budha , tetapi tentu dia telah memaksa dan menganjurkan supaya para pedagang yang beragama islam menggunakan pelabuhannya. Pada masa akhir pemerintahannya (1390-1413/14), dia menganut agama islam dan memakai nama Iskandar Syah. Para penggantinya, Megat Iskandar Syah yang memerintah dari1414 sampai dengan 11423/24 dan Muhammad Syah memerintah dari tahun 1424 sampai dengan 1444, mereka beragama Islam. Raja selanjutnya Parameswara Dewa Syah yang tidak lama memimpin &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/06/negara-negara-sebelum-kemerdekaan.html&quot;&gt;Malaka&lt;/a&gt; karena terjadi kudeta di dalam kerajaan, dan digantikan oleh saudara sepupunya, Sultan Muzaffar Syah yang memerintah pada tahun 1446 sampai dengan tahun 1459.&lt;br /&gt;Perdagangan Malaka menyebar luas sampai ke pulau-pulau di Indonesia, bahkan sampai berhubungan ke barat sampai India, Persia, Arabia, Suriah, Afrika Timur, dan laut tengah, ke utara sampai Siam dan Pegu, serta ke timur sampai Cina dan Jepang. Ini merupakan perdagangan yang terbesar di dunia pada masa itu, dan dua tempat pertukarannya yang penting adalah Guharat di India. Hasil yang paling berharaga untuk diperdagangkan dari Indonesia adalah rempah-rempah.&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/feeds/1089793167446562944/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/2010/06/negara-negara-sebelum-kemerdekaan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1244976486987510470/posts/default/1089793167446562944'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1244976486987510470/posts/default/1089793167446562944'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/2010/06/negara-negara-sebelum-kemerdekaan.html' title='Negara - negara Sebelum Kemerdekaan'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1244976486987510470.post-4594252512253637970</id><published>2010-06-01T02:33:00.000+07:00</published><updated>2010-08-16T15:24:20.066+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="bung karno"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="ideologi marhaenisme"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kata Bung Karno &quot;Marhaenisme&quot;"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="marhaenisme"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Nasionalisme"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pancasila"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sejarah gerakan indonesia"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sejarah indonesia"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sejarah Kemerdekaan indonesia"/><title type='text'>Kata Bung Karno &quot;Marhaenisme&quot;</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;AKU baru berumur 20 tahun ketika suatu ilham politik yang kuat menerangi pikiranku. Mula‐mula ia hanya berupa kuncup dari suatu pemikiran yang mengorek‐ngorek otakku, akan tetapi tidak lama kemudian ia &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/06/kata-bung-karno-marhaenisme.html&quot;&gt;menjadi landasan tempat pergerakan kami berdiri&lt;/a&gt;. Di kepulauan kami terdapat pekerjapekerja yang bahkan lebih miskin daripada tikus gereja dan dalam segi keuangan terlalu menyendihkan untuk bisa bangkit di bidang sosial, politik dan ekonomi. Sungguhpun demikian masing‐masing menjadi majikan sendiri. Mereka tidak terikat kepada siapapun. Dia menjadi kusir gerobak kudanya, dia menjadi pemilik dari kuda dan gerobak itu dan dia tidak mempekerjakan buruh lain. Dan terdapatlah nelayannelayan yang bekerja sendiri dengan alat‐alat —seperti tongkat kail, kailnya dan perahu— kepunyaan sendiri. Dan begitupun para petani yang menjadi pemilik tunggal dari sawahnya dan pemakai tunggal dari hasilnya. Orang‐orang semacam ini meliputi bagian terbanyak dari rakyat kami. Semua menjadi pemilik dari alat produksi mereka sendiri, jadi mereka bukanlah rakyat proletar. Mereka punya sifat yhas tersendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot; class=&quot;post-body&quot; id=&quot;post-6049808178444956336&quot;&gt;&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt;Mereka tidak termasuk dalam salah satu bentuk penggolongan. Kalau begitu, apakah mereka ini sesungguhnya? Itulah yang menjadi renunganku berhari‐hari, bermalam‐malam dan berbulan‐bulan. Apakah sesungguhnya saudaraku bangsa Indonesia itu? Apakah namanya para pekerja yang demikian, yang oleh ahli ekonomi disebut dengan istilah “Penderita Minimum”? Di suatu pagi yang indah aku bangun dengan keinginan untuk tidak mengikuti kuliah, ini bukan tidak sering terjadi. Otakku sudah terlalu penuh dengan soal‐soal politik, sehingga tidak mungkin memusatkan perhatian pada studi.&lt;br /&gt;Sementara mendayung sepeda tanpa tujuan —sambil berpikir— aku sampai di bagian selatan kota Bandung, suatu daerah pertanian yang padat dimana orang dapat menyaksikan para petani mengerjakan sawahnya yang kecil, yang masing‐masing luasnya kurang dari sepertiga hektar. Oleh karena beberapa hal perhatianku tertuju pada seorang petani yang sedang mencangkul tanah miliknya. Dia seorang diri.&lt;br /&gt;Pakaiannya sudah lusuh. Gambaran yang khas ini kupandang sebagai perlambang daripada rakyatku. Aku berdiri disana sejenak memperhatikannya dengan diam. Karena orang Indonesia adalah bangsa yang ramah, maka aku mendekatinya. Aku bertanya dalam bahasa Sunda, “Siapa yang punya semua yang engkau kerjakan sekarang&lt;br /&gt;ini?”.&lt;br /&gt;Dia berkata kepadaku, “Saya, juragan.”&lt;br /&gt;Aku bertanya lagi, “Apakah engkau memiliki tanah ini bersama‐sama dengan orang lain?”.&lt;br /&gt;“0, tidak, gan. Saya sendiri yang punya.”&lt;br /&gt;“Tanah ini kaubeli?”.&lt;br /&gt;“Tidak. Warisan bapak kepada anak turun temurun.”&lt;br /&gt;Ketika ia terus menggali, akupun mulai menggali ….. aku menggali secara mental. Pikiranku mulai&lt;br /&gt;bekerja. Aku memikirkan teoriku. Dan semakin keras aku berpikir, tanyaku semakin bertubi‐tubi pula.&lt;br /&gt;“Bagairnana dengan sekopmu? Sekop ini kecil, tapi apa ka’il kepunyaanmu juga?”&lt;br /&gt;“Ya, gan”&lt;br /&gt;“Dan cangkul?”&lt;br /&gt;“Ya, gan.”&lt;br /&gt;“Bajak?”&lt;br /&gt;“Saya punya, gan.”&lt;br /&gt;“Untuk siapa hasil yang kaukerjakan?”&lt;br /&gt;“Untuk saya, gan.”&lt;br /&gt;“Apakah cukup untuk kebutuhanmu?”&lt;br /&gt;Ia mengangkat bahu sebagai membela diri. “Bagaimana sawah yang begini kecil bisa cukup untuk seorang&lt;br /&gt;isteri dan empat orang anak?”&lt;br /&gt;“Apakah ada yang dijual dari hasilmu?” tanyaku.&lt;br /&gt;“Hasilnya sekedar cukup untuk makan kami. Tidak ada lebihnya untuk dijual.”&lt;br /&gt;“Kau mempekerjakan orang lain?”&lt;br /&gt;“Tidak, juragan. Saya tidak dapat membayarnya.”&lt;br /&gt;“Apakah engkau pernah memburuh?”&lt;br /&gt;“Tidak, gan. Saya harus membanting tulang, akan tetapi jerih payah saya semua untuk saya.”&lt;br /&gt;Aku menunjuk ke sebuah pondok kecil, “Siapa yang punya rumah itu?”&lt;br /&gt;“Itu gubuk saya, gan. Hanya gubuk kecil saja, tapi kepunyaan saya sendiri.”&lt;br /&gt;“Jadi kalau begitu,” kataku sambil menyaring pikiranku sendiri ketika kami berbicara, “Semua ini engkau&lt;br /&gt;punya?”&lt;br /&gt;“Ya, gan.”&lt;br /&gt;Kemudian aku menanyakan nama petani muda itu. Ia menyebut namanjy. “&lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/06/kata-bung-karno-marhaenisme.html&quot;&gt;Marhaen.&lt;/a&gt;” Marhaen adalah nama yang biasa seperti Smith dan Jones. Disaat itu sinar ilham menggenangi otakku. Aku akan memakai nama itu untuk rnenamai semua orang Indonesia bernasib malang seperti itu! Semenjak itu kunamakan rakyatku &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/06/kata-bung-karno-marhaenisme.html&quot;&gt;rakyat Marhaen&lt;/a&gt;. Selanjutnya di hari itu aku mendayung sepeda berkeliling mengolah pengertianku yang baru. Aku memperlancarnya. Aku mempersiapkan kata‐kataku dengan hati‐hati. Dan malamnya aku memberikan indoktrinasi mengenai hal itu kepada kumpulan pemudaku. “Petani‐petani kita mengusahakan bidang tanah yang sangat kecil sekali.&lt;br /&gt;Mereka adalah korban dari &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/06/kata-bung-karno-marhaenisme.html&quot;&gt;sistem feodal&lt;/a&gt;, dimana pada mulanya petani pertama diperas oleh bangsawan yang pertama dan seterusnya sampai ke anak cucunya selama berabad‐abad. Rakyat yang bukan petanipun menjadi korban daripada imperialisme perdagangan Belanda, karena nenek mojangnya telah dipaksa untuk hanya bergerak di bidang usaha yang kecil sekedar bisa memperpanjang hidupnya. Rakyat yang menjadi korban ini, yang meliputi hampir seluruh &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/06/kata-bung-karno-marhaenisme.html&quot;&gt;penduduk Indonesia&lt;/a&gt;, adalah Marhaen.” Aku menunjuk seorang tukang gerobak, “Engkau … engkau yang di sana. Apakah engkau bekerja di pabrik untuk orang lain?”, Tidak,” katanya. “Kalau begitu engkau adalah Marhaen.” Aku menggerakkan tangan ke arah seorang tukang sate. “Engkau … engkau tidak punya pembantu, tidak punya majikan engkau juga seorang Marhaen.&lt;br /&gt;Seorang Marhaen adalah orang yang mempunyai alat‐alat yang sedikit, orang kecil dengan milik kecil, dengan alat‐alat kecil, sekedar cukup untuk dirinya sendiri. Bangsa kita yang puluhan juta jiwa, yang sudah dimelaratkan, bekerja bukan untuk orang lain dan tidak ada orang bekerja untuk dia. Tidak ada penghisapan tenaga seseorang oleh orang lain. &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/06/kata-bung-karno-marhaenisme.html&quot;&gt;Marhaenisme &lt;/a&gt;adalah Sosialisme Indonesia dalam praktek.” Perkataan “Marhaenisme” adalah lambang dari penemuan kembali kepribadian nasional kami.&lt;br /&gt;Begitupun nama tanah air kami harus menjadi lambang. Perkataan “Indonesia” berasal dari seorang ahli purbakala bangsa Jerman bernama Jordan, yang beladar di negeri Belanda. Studi khususnya mengenai Rantaian Kepulauan kami. Karena kepulauan ini secara geografis berdekatan dengan India, ia namakanlah “Kepulauan dari India”. Nesos adalah bahasa Yunani untuk perkataan pulau‐pulau, sehingga menjadi Indusnesos yang akhirnya menjadi Indonesia.&lt;br /&gt;Ketika kami merasakan perlunya untuk menggabungkan pulau‐pulau kami rnenjadi satu kesatuan yang besar, kami berpegang teguh pada nama ini dan mengisinya dengan pengertian‐pengertian politik hingga iapun menjadi pembirnbing dari kepribadian nasional. Ini terjadi ditahun 1922‐1923. Dalam tahun‐tahun inilah, ketika kami sebagai bangsa yang dihinakan diperlakukan seperti sampah di atas bumi oleh orangyang menaklukkan kami. Karni tidak dibolehkan apa‐apa. Ditindas dibawah tumit pada setiap kali, bahkan kami dilarang mengucapkan perkataan “lndonesia”. Telah terjadi sekali ditengah berapi‐apinya pidatoku, kata “lndonesia” melompat dari mulutku. “Stop …. stop ….. “perintah polisi. Mereka meniup peluitnya. Mereka memukulkan tongkatnya. “Dilarang sama sekali mengucapkan perkataan itu …… hentikan pertemuan.” Dan pertemuan itu dengan segera dihentikan. Di Surabaya aku tak ubah seperti seekor burung yang mencari‐cari tempat untuk bersarang.&lt;br /&gt;Akan tetapi di Bandung aku sudah menjadi dewasa. Bentuk fisikku berkembang dengan sewajarnya. Bintang matinee Amerika yang menjadi idaman di jaman itu adalah Norman Kerry dan, supaya kelihatan lebih tua dan lebih ganteng, aku memelihara kumis seperti Kerry. Tapi sayang, kumisku tidak melengkung ke atas pada ujung‐ujungnya seperti kumis bintang itu. Dan isteriku menyatakan, bahwa Charlie Chaplinlah yang berhasil kutiru. Akhirnya usahaku satu‐satunya untuk meniru seseorang berakhir dengan kegagalan yang menyedihkan dan semua pikiran itu kemudian kulepaskan segera dari ingatan. Di tahun 1922 aku untuk pertama kali mendapat kesukaran. Ketika itu diadakan rapat besar di suatu lapangan terbuka di kota Bandung. Seluruh lapangan menghitam oleh manusia. Ini adalah rapat Radicale Concentratie, suatu rapat raksasa yang diorganisir oleh seluruh organisasi kebangsaan sehingga wakilwakil dari setiap partai yang ada dapat berkumpul bersama untuk satu tujuan, yaitu memprotes berbagai persoalan sekaligus. Setiap pemimpin berpidato. Dan aku, aku baru seorang pemuda. Hanya mendengarkan. Akan tetapi tiba‐tiba terasa olehku suatu dorongan yang keras untuk mengucapkan sesuatu. Aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri. Mereka semua membicarakan omong kosong.&lt;br /&gt;Seperti biasa mereka meminta‐minta. Mereka tidak menuntut. Naiklah tangan yang berapi‐api dari Sukarno, mercusuar dari Perkumpulan Pemuda, untuk minta izin ketua agar diberi kesempatan berpidato dihadapan rapat. “Saya ingin berbicara,” aku berteriak. “Silakan,” ketua berteriak kembali. Disana ada P.I.D., Polisi Rahasia Belanda, yang bersebar di segala penjuru Tepat di mukaku berdiri seorang polisi bermuka merah mengancam dan berbadan besar. Ini adalah alat yang berkuasa yaitu kulit putih. Hanya dia sendiri yang dapat menyetopku. Dia seorang dirinya, dapat membubarkan rapat. Dia seorang dirinya, dengan kekuasaan yang ada padanya dapat mencerai‐beraikan pertemuan kami dan menjebloskanku ke dalam tahanan. Akan tetapi aku masih muda, tidak mau peduli dan penuh semangat. Jadi naiklah aku ke mimbar dan mulai berteriak, “Mengapa sebuah gunung seperti gunung Kelud meledak? Ia meledak oleh karena lobang kepundannya tersumbat Ia meledak oleh karena tidak ada jalan bagi kekuatan‐kekuatan yang terpendam untuk membebaskan dirinya. Kekuatan‐kekuatan yang terpendam itu bertumpuk sedikit demi sedikit dan ….. DORRR. Keseluruhan itu meletus. “Kejadian ini tidak ada bedanya dengan Gerakan Kebangsaan kita Kalau Belanda tetap menutup mulut kita dan kita tidak diperbolehkan untuk mencari jalan keluar bagi perasaan‐perasaan kita yang sudah penuh, maka saudara‐saudara, nyonya‐nyonya dan tuan‐tuan, suatu saat akan terjadi pula ledakan dengan kita. “Dan rnanakala perasaan kita meletus, Den Haag akan terbang ke udara. Dengan ini saya menantang Pemerintah Kolanial yang membendung perasaan kita.&lt;br /&gt;Dari sudut mataku aku melihat Komisaris Polisi itu menuju ke depan untuk mencegahku terus berbicara, akan tetapi aku begitu bersemangat dan menggeledek terus. “Apa gunanya kita puluhan ribu banyaknya berkumpul disini jikalau yang kita kerjakan hanya menghasilkan petisi? Mengapa kita selalu merendah diri memohon kepada ‘Pemerintah’ untuk meminta kebaikan hatinya supaya mendirikan sebuah sekolah untuk kita? Bukankah itu suatu Politik Berlutut? Bukankah itu suatu politik memohon dengan mendatangi Yang Dipertuan Gubernur Djendral Hindia Belanda, yang dengan rnemakai dasi hitam menerima delegasi yang membungkuk‐bungkuk dan menunjukkan penghargaan kepadanya dan menyerahkan kepada pertimbangannya suatu petisi? Dan merendah diri memohon pengurangan pajak? Kita merendah diri …memohon, merendah diri, memohon ….. Inilah kata‐kata yang selalu dipakai oleh pemimpin‐pemimpin kita. “Sampai sekarang kita tidak pernah menjadi penyerang. Gerakan kita bukan gerakan yang mendesak, akan tetapi gerakan kita adalah gerakan yang meminta‐minta. Tak satupun yang pernah diberikannya karena kasihan. Marilah kita sekarang menjalankan politik percaya pada diri sendiri dengan tidak mengemis‐ngemis. Hayo kita berhenti mengemis. Sebaliknya, hayo kita berteriak, “Tuan Imperialis, inilah yang kami TUNTUT ! “Kemudian, polisi‐polisi yang maha kuasa dan maha kuat ini, yang punya kekuasaan untuk menghentikan rapat ini, bertindak. Mereka menyetop rapat dan menyetopku. Heyne, Kepala Polisi Kota Bandung, sangat marah. Sambil menyiku kanan‐kiri melalui rakyat yang berdiri berjejal‐jejal, ia melompat ke atas mimbar, menarikku ke bawah dan mengumumkan, “Tuan Ketua, sekarang saya menyetop seluruh pertemuan. Habis. Tamat. Selesai. Tuan‐tuan semua dibubarkan. Sernua pulang sekarang. KELUAR !”. Begitu pertama kali Sukarno membuka mulutnya, ia segera harus berhubungan dengan hukum. Dengan cepat aku mendadi buah tutur orang dan setiap orang mengetahui nama Sukarno. Aku memperoleh inti pengikut yang kuat. Akan tetapi, sayang, akupun mengembangkan pengikut yang banyak diantara polisi Belanda. Kemanapun aku pergi mereka ikuti. Maka menjalarlah dari mulut ke mulut: “Di Sekolah Teknik Tinggi ada seorang pengacau. Awasi dia.”&lt;br /&gt;Dengan satu pidato si Karno —yang pendiam, yang suka menarik diri dan dicintai membuat musuh‐musuh jadi geger dan selama 20 tahun kemudian aku tak pernah dicoret dari daftar hitam mereka. Prestasiku yang pertama ini menimbulkan kegemparan hebat, sehingga aku segera dipanggil ke kantor Presiden universitas. “Kalau engkau ingin melanjutkan pelajaran disini,” Professor Klopper memperingatkan, Engkau harus bertekun pada studimu. Saya tidak keberatan jika seorang mahasiswa mempunyai cita‐cita politik, akan tetapi haruslah diingat bahwa ia pertama dan paling utama memenuhi kewajiban sebagai seorang mahasiswa. Engkau harus berjanji, mulai hari ini tidak akan ikut campur dalam gerakan politik. “Aku tidak berdusta kepadanya. Aku menerangkan persoalanku dengan jujur. “Professor, apa yang akan saya janjikan ialah, bahwa saya tidak akan melalaikan pelajaran‐pelajaran yang tuan berikan dalam kuliah.” Bukan itu yang saya minta kepadamu.” Hanya itu yang dapat saya jandjikan, Professor. Akan tetapi janji ini, saya berikan dengan sepenuh hati. Saya berjanji dengan kesungguhan hati untuk menyediakan lebih banyak waktu pada studi saya.” Ia sangat baik mengenai hal ini. “Apakah kata‐katamu dapat saya pegang, bahwa engkau akan berhenti berpidato dalam rapat umum selama masih dalam studi?” “Ya, Professor,” aku berjanji, “Tuan memegang ucapan saya yang sungguh‐sungguh. “Dan janji ini kupegang teguh. Berbicara di hadapan massa bagiku lebih daripada segala‐galanya untuk mana aku hidup. Oleh karena aku tidak dapat berbicara membangkitkan semangat rakyat jelata dalam keadaan sesungguhnya maka kulakukanlah ini dalam khayalan. Pada suatu malam rumah Inggit yang disediakan juga untuk bayar makan penuh dan kami terpaksa membagi tempat. Aku membagi tempat tidurku dengan seorang pelajar.&lt;br /&gt;Di tengah malam aku diserang oleh suatu desakan untuk berpidato dengan nafsu yang bernyala‐nyala, seakan‐akan aku berbicara dihadapan 10.000 orang yang bersorak‐sorai dengan gegap gempita. Sambil berdiri tegak aku menganggap tempat tidurku sebagai mimbar dan aku mulai menggegap geletar. “Engkau tahu apakah Indonesia?” aku berteriak ke punggung temanku setempat tidur. “Indonesia adalah pohon yang kuat dan indah ini. Indonesia adalah langit yang biru dan terang itu. Indonesia adalah mega putih yang lamban itu. Indonesia adalah udara yang hangat ini.” Saudara‐saudaraku yang tercinta, laut yang menderu memukul‐mukul ke pantai di cahaya senja, bagiku adalah jiwanya Indonesia yang bergerak dalam gemuruhnya gelombang samudera. Bila kudengar anak‐anak ketawa, aku mendengar Indonesia.&lt;br /&gt;Manakala aku menghirup bunga‐bunga, aku menghirup Indonesia. Inilah arti tanah air kita bagiku. “Setelah beberapa jam mendengarkan perkataanku yang membakar hati, Djoko Asmo lebih memerlukan tidur daripada mendengarkan golakan perasaanku. Jam dua tengah malam dia tertidur nyenyak ditengahtengah pidatoku yang mencacau. Aku kehabisan tenaga sama sekali sehingga ditengah pidato pembelaanku yang bersemangat akupun terhempas lena. Esok paginya kami baru tahu, bahwa kami lupa mematikan lampu. Kelambu kami hampir hangus sama sekali. Lampu itu menyala sepanjang malam sampai menjilat ke bagian bawah dan kami kedua‐duanya hampir kelemasan oleh udara dan asap yang hebat. Tapi untunglah. Kami tidak turut terbakar. Terpikir olehku, kalau seseorang hendak menjadi Juru selamat daripada bangsanya di kemudian hari untuk membebaskan rakyatnya, haruslah ia menyelamatkan dirinya sendiri lebih dulu. Aku masih terlalu banyak mencurahkan waktu untuk pemikiran politik, jadi tak dapatlah diharapkan akan menjadi mahasiswa yang betul‐betul gemilang. Kenyataan bahwa aku masih dapat melintasi batas nilai sedang sungguh mengherankan. Siapa yang belajar? Bukan aku. Tidak pernah. Aku mempunyai ingatan seperti bayangan gambar dan dalam pada itu aku terlalu sibuk memompakan soal‐soal politik ke kepalaku, sehingga tidak tersisa waktuku untuk membuka buku sekolah. Dewi dendamku adalah ilmu pasti. Aku tidak begitu kuat dalam ilmu pasti.&lt;br /&gt;Menggambar arsitektur bagiku sangat menarik, akan tetapi kalkulasi bangunan dan komputasi jangan tanya. Kleinste Vierkanten atau yang dinamakan Geodesi, semacam penyelidikan tanah secara ilrnu pasti dimana orang mengukur tanah dan belajar membaginya dalam kaki persegi, dalam semua ini aku gagal. Untuk ujian ilmu pasti kuakui, bahwa aku bermain curang. Tapi hanya sedikit. Kami semua bermain curang dengan berbagai jalan. Ambillah misalnja pelajaran menggambar konstruksi bangunan. Aku kuat dalam pelajaran ini. Dalam waktu ujian dosen berdalan pulang‐balik diantara meja‐meja memperhatikan setiap orang. Segera setelah ia berada di bagian lain dalam ruangan ketika menghadapkan punggungnya pada kami, salah seorang yang berdekatan mendesis, “Ssss, Karno, buatkan bagan untukku, kau mau?”&lt;br /&gt;Aku bertukar kertas dengan dia. dengan terburu‐buru membuat gambar yang kedua dan dengan cepat menyerahkan kembali kepadanya. Kawan‐kawanku membalas usaha ini dalam pelajaran Kleinste Vierkanten kalau Professor membuat tiga pertanyaan di papan tulis dan hanya memberi kami waktu 45 menit untuk mengerjakannya. Kawan‐kawan menempatkan kertasnya sedemikian rupa di sudut bangku, sehingga aku dapat dengan mudah menyalin jawabannya. Sudah tentu aku mencontoh dari mahasiswa yang lebih pandai dalam ilmu pasti.&lt;br /&gt;Cara ini bukanlah semata‐mata apa yang dinamakan orang berbuat curang. Di Indonesia ini adalah wajar jika digolongkan dalam apa yang kami sebut kerja‐sama yang erat. Gotong‐royong. Alasan mengapa aku gagal dan hanya memperoleh nilai tiga adalah karena pada suatu kali sang Professor melakukan taktik licik terhadap kami. Ia mengejutkan kami dengan ujian lisan, dimana kami menempuhnya satu persatu.&lt;br /&gt;Hanya Professor dan seorang mahasiswa yang ada dalam ruangan. Aku karenanya jatuh.Semua kuliah diajarkan dalam bahasa Belanda. Aku berpikir dalam bahasa Belanda. Bahkan sekarangpun aku memakimaki&lt;br /&gt;dalam bahasa Belanda. Kalau aku mendoa kehadirat Tuhan Yang MahaKuasa, maka ini kulakukan dalam bahasa Belanda. Kurikulum kami disesuaikan menurut kebutuhan masyarakat penjajahan Belanda.&lt;br /&gt;Pengetahuan yang kupelajari adalah pengetahuan teknik kapitalis. Misalnya, pengetahuan tentang sistem irigasi. Yang dipelajari bukanlah tentang bagaimana caranya mengairi sawah dengan jalan yang terbaik. Yang diberikan hanya tentang sistem pengairan tebu dan tembakau. Ini adalah irigasi untuk kepentingan Imperialisme dan Kapitalisme. Irigasi dipelajari tidak untuk memberi makan rakyat banyak yang kelaparan, akan tetapi untuk membikin gendut pemilik perkebunan. Pelajaran kami dalam pembuatan jalan tidak mungkin dapat menguntungkan rakyat. Jalan‐jalan yang dibuat bukan melalui hutan dan antar‐pulau sehingga rakyat dapat berjalan atau bepergian lebih mudah. Kami hanya diajar merencanakan jalan‐jalan tambahan sepanjang pantai dari pelabuhan ke pelabuhan, jadi pabrik‐pabrik dengan demikian dapat mengangkut hasilna secara maksimal dan komunikasi yang cukup antara kapalkapal yang berlayar. Ambillah ilmu pasti. Universitas manapun tidak memberi pelajaran rantai ukuran.&lt;br /&gt;Kami diberi. Ini adalah sebuah pita yang panjangnya 20 meter yang hanya dipakai oleh para pengawas di perkebunan‐perkebunan.&lt;br /&gt;Diruangan bagan, kalau kami membuat rencana kota teladan, kamipun harus menunjukkan tempat kedudukan “Kabupaten”, yaitu tempat tinggal Bupati yang mengawasi rakyat desa membanting tulang.&lt;br /&gt;Di minggu terakhir ketika diadakan pelantikan aku mempersoalkan ini dengan Rector Magnificus dari&lt;br /&gt;Sekolah Teknik Tinggi ini, Professor Ir. G. Klopper M.E. “Mengapa kami diisi dengan pengetahuanpengetahuan yang hanya berguna untuk mengekalkan dominasi Kolonial terhadap kami?” tanyaku. “Sekolah Teknik Tinggi ini,” ia menerangkan, didirikan terutama untuk memajukan politik Den Haag di Hindia. Supaya dapat mengikuti kecepatan ekspansi dan eksploitasi, pemerintah saya merasa perlu untuk&lt;br /&gt;mendidik lebih banyak insinyur dan pengawas yang berpengalaman.”Dengan perkataan lain, kami mengikuti perguruan tinggi ini untuk memperkekal polilik Imperialisme Belanda disini?”Ya, tuan Sukarno, itu benar,” ia menjawab. Dan begitulah, sekalipun aku harus mempersembahkan seluruh hidupku untuk menghancurkan kekuasaan Kolonial, rupanya aku harus berterima‐kasih pula kepada mereka atas pendidikan yang kuterima. Dengan dua orang kawan bangsa Indonesia yang berhasil bersama‐sama denganku, maka pada tanggal 25 Mei 1926 aku memperoleh promosi dengan gelar “Ingenieur”. Ijazahku dalam jurusan teknik sipil menentukan, bahwa aku adalah seorang spesialis dalam pekerjaan jalan raya dan pengairan. Aku sekarang diberi hak untuk menuliskan namaku: Ir. Raden Soekarno. Ketika ia memberi gelar sarjana teknik kepadaku, Presiden universitas berkata, “Ir. Sukarno, ijazah ini dapat robek dan hancur menjadi abu di satu saat. Ia tidak kekal. Ingatlah, bahwa satu‐satunya kekuatan yang bisa hidup terus dan kekal adalah karakter dari seseorang. Ia akan tetap hidup dalam hati rakyat, sekalipun sesudah mati.” Aku tak pernah melupakan kata‐kata ini.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/feeds/4594252512253637970/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/2010/05/kata-bung-karno-marhaenisme.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1244976486987510470/posts/default/4594252512253637970'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1244976486987510470/posts/default/4594252512253637970'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/2010/05/kata-bung-karno-marhaenisme.html' title='Kata Bung Karno &quot;Marhaenisme&quot;'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1244976486987510470.post-1485663089424968378</id><published>2010-05-25T04:49:00.000+07:00</published><updated>2010-05-25T04:53:02.554+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hindia Belanda"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Penjajahan dan Gerakan Kemerdekaan Indonesia"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pra Kemerdekaan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sejarah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sejarah Kemerdekaan indonesia"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sejarah Majapahit"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Verenigde Oostindische Compagnie"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="VOC"/><title type='text'>Penjajahan dan Gerakan Kemerdekaan Indonesia</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pra Kemerdekaan&lt;br /&gt;Mulai tahun 1602 Belanda secara perlahan-lahan menjadi penguasa wilayah yang kini adalah Indonesia, dengan memanfaatkan perpecahan di antara kerajaan-kerajaan kecil yang telah menggantikan Majapahit. Satu-satunya yang&lt;/div&gt; tidak terpengaruh adalah Timor Portugis, yang tetap dikuasai Portugal hingga 1975 ketika berintegrasi menjadi provinsi Indonesia bernama Timor Timur. Belanda menguasai Indonesia &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/03/penjajahan-dan-gerakan-kemerdekaan.html&quot;&gt;selama hampir 350 tahun&lt;/a&gt;, kecuali untuk suatu masa pendek di mana sebagian kecil dari Indonesia dikuasai Britania setelah Perang Jawa Britania-Belanda dan masa penjajahan Jepang pada masa Perang Dunia II. Sewaktu menjajah Indonesia, Belanda mengembangkan Hindia-Belanda menjadi salah satu kekuasaan kolonial terkaya di dunia. 350 tahun penjajahan Belanda bagi sebagian orang adalah mitos belaka karena wilayah Aceh baru ditaklukkan kemudian setelah Belanda mendekati kebangkrutannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada abad ke-17 dan 18 Hindia-Belanda tidak dikuasai secara langsung oleh pemerintah Belanda namun oleh perusahaan dagang bernama Perusahaan Hindia Timur Belanda (bahasa Belanda: Verenigde Oostindische Compagnie atau VOC). VOC telah diberikan hak monopoli terhadap perdagangan dan aktivitas kolonial di wilayah tersebut oleh Parlemen Belanda pada tahun 1602. Markasnya berada di Batavia, yang kini bernama Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan utama VOC adalah mempertahankan monopolinya terhadap perdagangan rempah-rempah di Nusantara. Hal ini dilakukan melalui penggunaan dan ancaman kekerasan terhadap penduduk di kepulauan-kepulauan penghasil rempah-rempah, dan terhadap orang-orang non-Belanda yang mencoba berdagang dengan para penduduk tersebut. Contohnya, ketika penduduk Kepulauan Banda terus menjual biji pala kepada pedagang Inggris, pasukan Belanda membunuh atau mendeportasi hampir seluruh populasi dan kemudian mempopulasikan pulau-pulau tersebut dengan pembantu-pembantu atau budak-budak yang bekerja di perkebunan pala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VOC menjadi terlibat dalam politik internal Jawa pada masa ini, dan bertempur dalam beberapa peperangan yang melibatkan pemimpin Mataram dan Banten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah VOC jatuh bangkrut pada akhir abad ke-18 dan setelah kekuasaan Britania yang pendek di bawah Thomas Stamford Raffles, pemerintah Belanda mengambil alih kepemilikan VOC pada tahun 1816. Sebuah pemberontakan di Jawa berhasil ditumpas dalam Perang Diponegoro pada tahun 1825-1830. Setelah tahun 1830 sistem tanam paksa yang dikenal sebagai cultuurstelsel dalam bahasa Belanda mulai diterapkan. Dalam sistem ini, para penduduk dipaksa menanam hasil-hasil perkebunan yang menjadi permintaan pasar dunia pada saat itu, seperti teh, kopi dll. Hasil tanaman itu kemudian diekspor ke mancanegara. Sistem ini membawa kekayaan yang besar kepada para pelaksananya - baik yang Belanda maupun yang Indonesia. Sistem tanam paksa ini adalah monopoli pemerintah dan dihapuskan pada masa yang lebih bebas setelah 1870.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1901 pihak Belanda mengadopsi apa yang mereka sebut Kebijakan Beretika (bahasa Belanda: Ethische Politiek), yang termasuk investasi yang lebih besar dalam pendidikan bagi orang-orang pribumi, dan sedikit perubahan politik. Di bawah gubernur-jendral J.B. van Heutsz pemerintah Hindia-Belanda memperpanjang kekuasaan kolonial secara langsung di sepanjang Hindia-Belanda, dan dengan itu mendirikan fondasi bagi negara Indonesia saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan nasionalisme&lt;br /&gt;Pada 1905 gerakan nasionalis yang pertama, Serikat Dagang Islam dibentuk dan kemudian diikuti pada tahun 1908 oleh gerakan nasionalis berikutnya, Budi Utomo. Belanda merespon hal tersebut setelah Perang Dunia I dengan langkah-langkah penindasan. Para pemimpin nasionalis berasal dari kelompok kecil yang terdiri dari profesional muda dan pelajar, yang beberapa di antaranya telah dididik di Belanda. Banyak dari mereka yang dipenjara karena kegiatan politis, termasuk Presiden Indonesia yang pertama, Soekarno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perang Dunia II&lt;br /&gt;Pada Mei 1940, awal Perang Dunia II, Belanda diduduki oleh Nazi Jerman. Hindia-Belanda mengumumkan keadaan siaga dan di Juli mengalihkan ekspor untuk Jepang ke Amerika Serikat dan Britania. Negosiasi dengan Jepang yang bertujuan untuk mengamankan persediaan bahan bakar pesawat gagal di Juni 1941, dan Jepang memulai penaklukan Asia Tenggara di bulan Desember tahun itu. Di bulan yang sama, faksi dari Sumatra menerima bantuan Jepang untuk mengadakan revolusi terhadap pemerintahan Belanda. Pasukan Belanda yang terakhir dikalahkan Jepang pada Maret 1942.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendudukan Jepang&lt;br /&gt;Pada Juli 1942, Soekarno menerima tawaran Jepang untuk mengadakan kampanye publik dan membentuk pemerintahan yang juga dapat memberikan jawaban terhadap kebutuhan militer Jepang. Soekarno, Mohammad Hatta, dan para Kyai didekorasi oleh Kaisar Jepang pada tahun 1943. Tetapi, pengalaman dari penguasaan Jepang di Indonesia sangat bervariasi, tergantung di mana seseorang hidup dan status sosial orang tersebut. Bagi yang tinggal di daerah yang dianggap penting dalam peperangan, mereka mengalami siksaan, terlibat perbudakan seks, penahanan sembarang dan hukuman mati, dan kejahatan perang lainnya. Orang Belanda dan campuran Indonesia-Belanda merupakan target sasaran dalam penguasaan Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Maret 1945 Jepang membentuk Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Pada pertemuan pertamanya di bulan Mei, Soepomo membicarakan integrasi nasional dan melawan individualisme perorangan; sementara itu Muhammad Yamin mengusulkan bahwa negara baru tersebut juga sekaligus mengklaim Sarawak, Sabah, Malaya, Portugis Timur, dan seluruh wilayah Hindia-Belanda sebelum perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 9 Agustus 1945 Soekarno, Hatta dan Radjiman Widjodiningrat diterbangkan ke Vietnam untuk bertemu Marsekal Terauchi. Mereka dikabarkan bahwa pasukan Jepang sedang menuju kehancuran tetapi Jepang menginginkan kemerdekaan Indonesia pada 24 Agustus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proklamasi kemerdekaan&lt;br /&gt;Mendengar kabar bahwa Jepang tidak lagi mempunyai kekuatan untuk membuat keputusan seperti itu pada 16 Agustus, Soekarno membacakan &quot;Proklamasi&quot; pada hari berikutnya. Kabar mengenai proklamasi menyebar melalui radio dan selebaran sementara pasukan militer Indonesia pada masa perang, Pasukan Pembela Tanah Air (PETA), para pemuda, dan lainnya langsung berangkat mempertahankan kediaman Soekarno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 18 Agustus 1945 Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) melantik Soekarno sebagai Presiden dan Mohammad Hatta sebagai Wakil Presiden dengan menggunakan konstitusi yang dirancang beberapa hari sebelumnya. Kemudian dibentuk Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) sebagai parlemen sementara hingga pemilu dapat dilaksanakan. Kelompok ini mendeklarasikan pemerintahan baru pada 31 Agustus dan menghendaki Republik Indonesia yang terdiri dari 8 provinsi: Sumatra, Kalimantan (tidak termasuk wilayah Sabah, Sarawak dan Brunei), Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi, Maluku (termasuk Papua) dan Nusa Tenggara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari 1945 hingga 1949, persatuan kelautan Australia yang bersimpati dengan usaha kemerdekaan, melarang segala pelayaran Belanda sepanjang konflik ini agar Belanda tidak mempunyai dukungan logistik maupun suplai yang diperlukan untuk membentuk kembali kekuasaan kolonial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha Belanda untuk kembali berkuasa dihadapi perlawanan yang kuat. Setelah kembali ke Jawa, pasukan Belanda segera merebut kembali ibukota kolonial Batavia, akibatnya para nasionalis menjadikan Yogyakarta sebagai ibukota mereka. Pada 27 Desember 1949, setelah 4 tahun peperangan dan negosiasi, Ratu Juliana dari Belanda memindahkan kedaulatan kepada pemerintah Federal Indonesia. Pada 1950, Indonesia menjadi anggota ke-60 PBB.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/feeds/1485663089424968378/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/2010/05/penjajahan-dan-gerakan-kemerdekaan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1244976486987510470/posts/default/1485663089424968378'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1244976486987510470/posts/default/1485663089424968378'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/2010/05/penjajahan-dan-gerakan-kemerdekaan.html' title='Penjajahan dan Gerakan Kemerdekaan Indonesia'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1244976486987510470.post-2560187652842159324</id><published>2010-05-23T02:43:00.000+07:00</published><updated>2010-08-16T15:21:06.455+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Albert Einstein"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="antikolonialisme"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Epistimologi Nasionalisme"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Filsafat"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="ideologi nasionalisme"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="internasionalisme"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kebangsaan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="masyarakat pascakolonial"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="modernitas"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Nasionalisme"/><title type='text'>Epistimologi Nasionalisme</title><content type='html'>&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;KETIKA Albert Einstein dinobatkan sebagai The Man of the Century oleh majalah Time edisi 31 Desember 1999, publik mungkin tidak terlalu heran. Sejarah abad ke-20 memang banyak dipengaruhi oleh pencapaian-pencapaian dalam sains, khususnya fisika modern, sebagai bentuk pencarian manusia atas hakikat alam. Abad ke-20 bukan hanya abad sains, tetapi juga abad nasionalisme. Periode akhir dari milenium kedua ini diwarnai oleh dua perang dunia yang menelan korban jutaan jiwa serta kerugian ekonomi dan sosial yang luar biasa akibat pertentangan antarkelompok manusia yang dibatasi oleh sebuah konsep bernama bangsa, nation, yang ditopang oleh &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/05/epistimologi-nasionalisme.html&quot;&gt;ideologi nasionalisme&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot; class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/05/epistimologi-nasionalisme.html&quot;&gt;Nasionalisme&lt;/a&gt; merupakan sebuah penemuan sosial yang paling menakjubkan dalam perjalanan sejarah manusia, paling tidak dalam seratus tahun terakhir. Tak ada satu pun ruang sosial di muka bumi yang lepas dari pengaruh ideologi ini. Tanpa nasionalisme, lajur sejarah manusia akan berbeda sama sekali. Berakhirnya Perang Dingin dan semakin merebaknya gagasan dan budaya globalisme (&lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/05/epistimologi-nasionalisme.html&quot;&gt;internasionalisme&lt;/a&gt;) pada dekade 1990-an hingga sekarang, khususnya dengan adanya teknologi komunikasi dan informasi yang berkembang dengan sangat akseleratif, tidak dengan serta-merta membawa lagu kematian bagi nasionalisme. Sebaliknya, narasi-narasi nasionalisme menjadi semakin intensif dalam berbagai interaksi dan transaksi sosial, politik, dan ekonomi internasional, baik di kalangan negara maju, seperti Amerika Serikat (khususnya pascatragedi WTC), Jerman, dan Perancis, maupun di kalangan negara Dunia Ketiga, seperti India, China, Brasil, dan Indonesia.&lt;br /&gt;Sebagai konsep sosial, nasionalisme tidak muncul dengan begitu saja tanpa proses evolusi makna melalui media bahasa. Dalam studi semantik Guido Zernatto (1944), kata nation berasal dari kata Latin natio yang berakar pada kata nascor ’saya lahir’. Selama Kekaisaran Romawi, kata natio secara peyoratif dipakai untuk mengolok-olok orang asing. Beberapa ratus tahun kemudian pada Abad Pertengahan, kata nation digunakan sebagai nama kelompok pelajar asing di universitas-universitas (seperti Permias untuk mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat sekarang).&lt;br /&gt;Kata nation mendapat makna baru yang lebih positif dan menjadi umum dipakai setelah abad ke-18 di Prancis. Ketika itu Parlemen Revolusi Prancis menyebut diri mereka sebagai assemblee nationale yang menandai transformasi institusi politik tersebut, dari sifat eksklusif yang hanya diperuntukkan bagi kaum bangsawan ke sifat egaliter di mana semua kelas meraih hak yang sama dengan kaum kelas elite dalam berpolitik. Dari sinilah makna kata nation menjadi seperti sekarang yang merujuk pada bangsa atau kelompok manusia yang menjadi penduduk resmi suatu negara.&lt;br /&gt;Perkembangan nasionalisme sebagai sebuah konsep yang merepresentasikan sebuah politi bagaimanapun jauh lebih kompleks dari transformasi semantik yang mewakilinya. Begitu rumitnya pemahaman tentang nasionalisme membuat ilmuwan sekaliber Max Weber nyaris frustrasi ketika harus memberikan penjelasan sosiologis tentang fenomena nasionalisme. Dalam sebuah artikel pendek yang ditulis pada 1948, Weber menunjukkan sikap pesimistis bahwa sebuah teori yang konsisten tentang nasionalisme dapat dibangun. Tidak adanya rujukan mapan yang dapat dijadikan pegangan dalam memahami nasionalisme hanya akan menghasilkan kesia-siaan. Apa pun bentuk penjelasan &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/05/epistimologi-nasionalisme.html&quot;&gt;tentang nasionalisme&lt;/a&gt;, baik itu dari dimensi kekerabatan biologis, etnisitas, bahasa, maupun nilai-nilai budaya, menurut Weber, hanya akan berujung pada pemahaman yang tidak komprehensif. Kekhawatiran Weber ini wajar mengingat komitmennya terhadap epistemologi modernisme yang mencari pengetahuan universal. Mungkin dengan alasan yang sama, dua bapak ilmu sosial-Karl Marx dan Emile Durkheim-tidak menaruh perhatian serius pada isu nasionalisme walau tentu saja pemikiran mereka banyak mengilhami penjelasan tentang fenomena nasionalisme.&lt;br /&gt;Pesimisme Weber mungkin benar. Namun, itu tak berarti nasionalisme harus disikapi secara taken for granted dan diletakkan jauh-jauh dari telaah teoretis. Besarnya implikasi nasionalisme dalam berbagai dimensi sosial mengundang para sarjana mencoba memahami dan sekaligus mencermati secara kritis konsep bangsa dan kebangsaan (nasionalisme), seberapa pun besarnya paradoks dan ambivalensi yang dikandungnya. Tentu saja upaya memecahkan teka-teki nasionalisme tidak mudah mengingat, seperti yang dikatakan Weber, begitu beragam faktor yang membentuk bangunan nasionalisme.&lt;br /&gt;Andaikan nasionalisme sebuah gedung, setiap upaya mencari esensi nasionalisme berada di lantai yang berbeda-beda. Konsekuensinya, teorisasi nasionalisme sering bersifat partikular, tidak universal seperti yang diinginkan Weber. Namun, ini tidak menjadi masalah, khususnya dalam paradigma pascamodernisme ketika pengetahuan tak lagi monolitik dan homogen. Beragamnya pandangan justru akan memperkaya pemahaman manusia akan fenomena di sekelilingnya.&lt;br /&gt;Membangun epistemologi nasionalisme berawal dari dua pertanyaan fundamental. Pada titik sejarah mana fenomena nasionalisme muncul dan apa yang menjadi materi dasar pembentuknya? Satu pendekatan yang digunakan beberapa sarjana menjawab pertanyaan ini adalah dengan melacak jejak-jejak etnik suatu bangsa ke masa sebelum nasionalisme berbentuk seperti sekarang.&lt;br /&gt;Kaca mata etnonasionalisme ini berangkat dari asumsi bahwa fenomena nasionalisme telah eksis sejak manusia mengenal konsep kekerabatan biologis. Dalam sudut pandang ini, nasionalisme dilihat sebagai konsep yang alamiah berakar pada setiap kelompok masyarakat masa lampau yang disebut sebagai ethnie (Anthony Smith, 1986), suatu kelompok sosial yang diikat oleh atribut kultural meliputi memori kolektif, nilai, mitos, dan simbolisme. Dalam argumen Smith, ethnie merupakan sumber inspirasi yang mendefinisikan batas-batas budaya yang memisahkan satu bangsa dengan bangsa lain seperti sekarang. Implikasi titik pandang ini adalah bahwa nasionalisme lebih merupakan sebuah fenomena budaya daripada fenomena politik karena dia berakar pada etnisitas dan budaya pramodern. Kalaupun nasionalisme bertransformasi menjadi sebuah gerakan politik, hal tersebut bersifat superfisial karena gerakan-gerakan politik nasionalis pada akhirnya dilandasi oleh motivasi budaya, khususnya ketika terjadi krisis identitas kebudayaan. Pada sudut pandang ini, gerakan politik nasionalisme adalah sarana mendapatkan kembali harga diri etnik sebagai modal dasar dalam membangun sebuah negara berdasarkan kesamaan budaya (John Hutchinson, 1987).&lt;br /&gt;Perspektif etnonasionalisme yang membuka wacana tentang asal-muasal nasionalisme berdasarkan hubungan kekerabatan dan kesamaan budaya bagaimanapun tak mampu memberikan penjelasan yang memuaskan, khususnya jika kita mengamati batas-batas bangsa yang terbentuk dalam masyarakat kontemporer. Yang ditawarkan oleh pendekatan etnonasionalis dapat dipakai untuk mengamati fenomena nasionalisme di negara &quot;monokultur&quot; seperti Jerman, Itali, dan Jepang. Namun, penjelasan yang sama tidak berlaku sepenuhnya ketika dipakai untuk menjelaskan nasionalisme bangsa multikultural seperti Amerika Serikat, Perancis, Singapura, dan Indonesia untuk menyebut beberapa. Tentu saja di bangsa multikultural ini ada dominasi etnik atau ras tertentu yang pada tingkat tertentu menjadi sumber utama inspirasi nasionalisme. Namun, itu tak berarti bangunan nasionalisme menjadi homogen karena fondasi nasionalisme juga ditopang oleh ikatan-ikatan nonetnik.&lt;br /&gt;Lepas dari konundrum tersebut, melacak genealogi nasionalisme melalui jejak-jejak etnik mungkin terlalu jauh mengingat fenomena nasionalisme sebenarnya relatif baru. Ini bisa ditelusuri dari sejarah munculnya konsep bangsa-negara di Eropa sekitar abad ke-18 yang merupakan bagian dari gelombang revolusi kerakyatan dalam meruntuhkan hegemoni kelas aristokrat. Pembacaan sejarah yang demikian memberi indikasi asal-muasal nasionalisme sebagai anak modernitas yang lahir dari rahim Pencerahan, suatu revolusi berpikir yang membawa semangat egaliterianisme. Namun, konsep nasionalisme tidak hanya meliputi aspek-aspek kegemilangan dari gagasan modernitas yang ditawarkan oleh Pencerahan Eropa karena dia merupakan akibat (by-product) dari pengondisian modernitas bersamaan dengan transformasi sosial masyarakat Eropa pada saat itu.&lt;br /&gt;Dari situ dapat dikatakan bahwa nasionalisme adalah penemuan bangsa Eropa yang diciptakan untuk mengantisipasi keterasingan yang merajalela dalam masyarakat modern (Elie Kedourie, 1960). Sebagai sebuah ideologi, nasionalisme memiliki kapasitas memobilisasi massa melalui janji-janji kemajuan yang merupakan teleologi modernitas. Kondisi-kondisi yang terbentuk ini tak lepas dari Revolusi Industri ketika urbanisasi dalam skala besar memaksa masyarakat pada saat itu untuk membentuk sebuah identitas bersama (Ernest Gellner, 1983). Dengan kata lain, nasionalisme dibentuk oleh kematerian industrialisme yang membawa perubahan sosial dan budaya dalam masyarakat. Dari sudut pandang deterministik ini Gellner sampai pada satu argumen bahwa nasionalismelah yang melahirkan bangsa, bukan sebaliknya.&lt;br /&gt;SEBAGAI sebuah produk modernitas, perkembangan nasionalisme berada di titik persinggungan antara politik, teknologi, dan transformasi sosial. Namun, nasionalisme tidak hanya dapat dilihat sebagai sebuah proses dari atas ke bawah di mana kelas dominan memiliki peranan lebih penting dalam pembentukan nasionalisme daripada kelas yang terdominasi. Artinya, pemahaman komprehensif tentang nasionalisme sebagai produk modernitas hanya dapat dilakukan dengan juga melihat apa yang terjadi pada masyarakat di lapisan paling bawah ketika asumsi, harapan, kebutuhan, dan kepentingan masyarakat pada umumnya terhadap ideologi nasionalisme memungkinkan ideologi tersebut meresap dan berakar secara kuat (Eric Hobsbawm, 1990). Pada level inilah elemen-elemen sosial seperti bahasa, kesamaan sejarah, identitas masa lalu, dan solidaritas sosial menjadi pengikat erat kekuatan nasionalisme.&lt;br /&gt;Dalam perspektif melihat dari bawah ini Benedict Anderson (1991) melihat nasionalisme sebagai sebuah ide atas komunitas yang dibayangkan, imagined communities. Dibayangkan karena setiap anggota dari suatu bangsa, bahkan bangsa yang terkecil sekalipun, tidak mengenal seluruh anggota dari bangsa tersebut. Nasionalisme hidup dari bayangan tentang komunitas yang senantiasa hadir di pikiran setiap anggota bangsa yang menjadi referensi identitas sosial. Pandangan konstruktivis yang dianut Anderson menarik karena meletakkan nasionalisme sebagai sebuah hasil imajinasi kolektif dalam membangun batas antara kita dan mereka, sebuah batas yang dikonstruksi secara budaya melalui kapitalisme percetakan, bukan semata-mata fabrikasi ideologis dari kelompok dominan.&lt;br /&gt;Keunikan konsep Anderson dapat ditarik lebih jauh untuk menjelaskan kemunculan nasionalisme di negara-negara pascakolonial. Bukan kebetulan jika konsep Anderson sebagian besar didasarkan pada pengamatan terhadap sejarah perkembangan nasionalisme di Indonesia. Namun, ada satu hal dalam karya seminal Anderson yang dapat menjadi subyek kritik orientalisme seperti yang ditengarai oleh Edward Said terhadap cara pandang ilmuwan Barat dalam merepresentasikan masyarakat non-Barat (lihat Simon Philpott, 2000).&lt;br /&gt;Dalam bukunya, Imagined Communities, Anderson berargumen bahwa nasionalisme masyarakat pascakolonial di Asia dan Afrika merupakan hasil emulasi dari apa yang telah disediakan oleh sejarah nasionalisme di Eropa. Para elite nasionalis di masyarakat pascakolonial hanya mengimpor bentuk modular nasionalisme bangsa Eropa. Di sini letak problematika dari pandangan Anderson karena menafikan proses-proses apropriasi dan imajinasi itu sendiri yang dilakukan oleh masyarakat pascakolonial dalam menciptakan bangunan nasionalisme yang berbeda dengan Eropa (Partha Chatterjee, 1993).&lt;br /&gt;Secara esensial nasionalisme masyarakat pascakolonial dibentuk berdasarkan suatu differance sebagai bentuk resistensi terhadap dominasi kolonialisme. John Plamenatz (1976) membuat dikotomi antara nasionalisme Barat dan nasionalisme Timur. Kategorisasi ini mungkin kedengaran terlalu sederhana, walaupun Plamenatz cukup layak didengar. Menurut Plamenatz, nasionalisme Barat bangkit dari reaksi masyarakat yang merasakan ketidaknyamanan budaya terhadap perubahan-perubahan yang terjadi akibat kapitalisme dan industrialisme. Namun, mereka beruntung karena budaya mereka memungkinkan mereka menciptakan sebuah kondisi yang dapat mengakomodasi standar-standar modernitas. Sebaliknya, nasionalisme Timur lahir dalam masyarakat yang terobsesi akan apa yang telah dicapai oleh Barat tetapi secara budaya mereka tidak dilengkapi oleh prakondisi-prakondisi modernitas yang memadai. Karena itu, nasionalisme Timur, dalam hal ini masyarakat pascakolonial, penuh dengan ambivalensi. Pada satu sisi, dia merupakan emulasi dari apa yang telah terjadi di Barat. Di sisi lain dia juga menolak dominasi Barat.&lt;br /&gt;Partha Chatterjee mencoba memecahkan dilema nasionalisme antikolonialisme ini dengan memisahkan dunia materi dan dunia spirit yang membentuk institusi dan praktik sosial masyarakat pascakolonial. Dunia materi adalah &quot;dunia luar&quot; meliputi ekonomi, tata negara, serta sains dan teknologi. Dalam domain ini superioritas Barat harus diakui dan mau tidak mau harus dipelajari dan direplikasi oleh Timur. Dunia spirit, pada sisi lain, adalah sebuah &quot;dunia dalam&quot; yang membawa tanda esensial dari identitas budaya. Semakin besar kemampuan Timur mengimitasi kemampuan Barat dalam dunia materi, semakin besar pula keharusan melestarikan perbedaan budaya spiritnya. Di domain spiritual inilah nasionalisme masyarakat pascakolonial mengklaim kedaulatan sepenuhnya terhadap pengaruh-pengaruh dari Barat.&lt;br /&gt;Walaupun demikian, Chatterjee menambahkan bahwa dunia spirit tidaklah statis, melainkan terus mengalami transformasi karena lewat media ini masyarakat pascakolonial dengan kreatif menghasilkan imajinasi tentang diri mereka yang berbeda dengan apa yang telah dibentuk oleh modernitas terhadap masyarakat Barat. Hasil dari pendaulatan dunia spiritual ini membentuk sebuah kombinasi unik antara spiritualitas Timur dengan materialitas Barat yang mendorong masyarakat pascakolonial memproklamasikan budaya &quot;modern&quot; mereka yang berbeda dari Barat.&lt;br /&gt;Dikotomi antara dunia spirit dan dunia material seperti yang dijelaskan Chatterjee pada satu sisi mengikuti paradigma Cartesian tentang terpisahnya raga dan jiwa. Namun, di sisi lain ia menunjukkan bahwa penekanan dunia spirit dalam masyarakat pascakolonial adalah bentuk respons mereka terhadap penganaktirian dunia spirit oleh peradaban Barat. Karena itu, masyarakat pascakolonial mencoba mengambil peluang tersebut untuk membangun sebuah jati diri yang autentik dan berakar pada apa yang telah mereka miliki jauh sebelumnya. Hasilnya berupa bangunan materi modernitas yang dibungkus oleh semangat spiritualitas Timur. Implikasi strategi ini dalam bangunan nasionalisme pascakolonial dapat dilihat dari upaya-upaya kaum elite nasionalis membangun sebuah ideologi nasionalisme yang memiliki kandungan spiritual yang tinggi sebagai representasi kekayaan budaya yang tidak dimiliki oleh peradaban Barat.&lt;br /&gt;ORIENTASI spiritualitas Timur mengilhami lahirnya konsep Pancasila yang dilontarkan oleh Soekarno kali pertama dalam rapat BPUPKI tanggal 1 Juni 1945. Dalam pidatonya, &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/05/epistimologi-nasionalisme.html&quot;&gt;Soekarno&lt;/a&gt; mengklaim bahwa Pancasila bukan hasil kreasi dirinya, melainkan sebuah konsep yang berakar pada budaya masyarakat Indonesia yang terkubur selama 350 tahun masa penjajahan. Bagi Soekarno, tugasnya hanya menggali Pancasila dari bumi pertiwi dan mempersembahkannya untuk masyarakat Indonesia (Soekarno, 1955). Jika dicermati secara kritis, ada beberapa poin yang problematis dengan klaim Soekarno di atas. Pertama, masa penjajahan 350 tahun adalah sebuah mitos (Onghokham, 2003). Mitos ini menjadi strategi retorika untuk membakar sentimen anti-Belanda saat itu. Kedua dan yang lebih penting, apakah Pancasila merupakan konsep yang benar-benar produk indigenous? Dalam pidato Soekarno terlihat bahwa Pancasila merupakan hasil kombinasi dari gagasan pemikiran yang diimpor dari Eropa, yakni humanisme, sosialisme, nasionalisme, dikombinasikan dengan Islamisme yang berasal dari gerakan Islam modern di Timur Tengah. Dalam konteks politik saat itu, Pancasila ditawarkan sebagai upaya rekonsiliasi antara kaum &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/05/epistimologi-nasionalisme.html&quot;&gt;nasionalis-sekuler dan nasionalis-Islamis&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Tentu saja kita tidak bisa menutup kemungkinan bahwa salah satu atau lebih dari prinsip-prinsip Pancasila telah ada dalam masyarakat di Nusantara sebelumnya seperti yang diklaim Soekarno. Yang ingin ditunjukkan dari pengamatan ini adalah bahwa penjelasan Chatterjee tentang spiritualitas Timur yang menjadi domain kedaulatan masyarakat pascakolonial menjadi problematis ketika dipakai untuk mencari akar spiritualitas itu di dalam Pancasila sebagai sebuah ideologi nasional. Problematis karena ketika kita mencari akar spiritualitas Timur yang diklaim sebagai produk &quot;alamiah&quot;, yang kita temukan-sekali lagi-adalah apropriasi konsep-konsep Barat yang secara retoris direpresentasikan sesuatu yang berakar pada budaya lokal. Ini menjadi jelas terlihat jika kita mengamati konsep &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/05/epistimologi-nasionalisme.html&quot;&gt;gotong-royong &lt;/a&gt;yang oleh Soekarno disebut sebagai inti dari Pancasila, tetapi jika ditelusuri ke belakang merupakan hasil konstruksi politik kolonialisme (John Bowen, 1986). Indikasi lain dapat ditemui pada salah satu elemen pembentuk nasionalisme Indonesia, yaitu budaya (aristokrat) Jawa yang diklaim sebagai akar budaya bangsa Indonesia. Klaim demikian menjadi goyah setelah kita membaca John Pemberton (1994) yang menunjukkan bagaimana budaya aristokrat Jawa itu sendiri tidak sepenuhnya bersifat lokal, melainkan terbentuk dari proses asimilasi dengan budaya Eropa selama masa kolonialisme beberapa abad. Tentu saja kita bisa mengkritik apa yang dikatakan oleh Bowen maupun Pemberton sebagai pengamatan yang mengandung bias orientalisme. Ironisnya, kita tidak memiliki bukti yang &quot;autentik&quot; untuk mengklaim bahwa nasionalisme Indonesia dibentuk oleh warisan akar budaya lokal.&lt;br /&gt;Argumen di atas menunjukkan bahwa nasionalisme Indonesia sebagai sebuah model nasionalisme masyarakat pascakolonial jauh lebih kompleks dan ambivalen baik dari kategorisasi Plamenatz tentang nasionalisme Timur dan Barat maupun penjelasan Chatterjee tentang spiritualitas Timur sebagai satu-satunya wilayah di mana masyarakat pascakolonial mampu membangun autentitasnya. Artinya, domain spiritual dalam nasionalisme Indonesia bagaimanapun diisi oleh elemen-elemen yang melekat erat pada dan lahir dari proses dialektis dengan kolonialisme. Mengklaim bahwa nasionalisme Indonesia berakar secara &quot;alami&quot; pada budaya lokal tidak memiliki landasan historis yang cukup kuat. Dari sini kita bisa mengambil satu kesimpulan, yang tentunya masih dapat diperdebatkan, bahwa Indonesia baik sebagai konsep bangsa maupun ideologi nasionalisme yang menopangnya adalah produk kolonialisme yang sepenuhnya diilhami oleh semangat modernitas di mana budaya Barat menjadi sumber inspirasi utama.&lt;br /&gt;Kesimpulan demikian tentu saja memiliki implikasi politik. Namun, ini tak berarti membatalkan bangunan nasionalisme yang telah dibangun oleh para elite nasionalis selama beberapa dekade terakhir. Hanya saja patut kita sadari, terlalu tergesa-gesa mengatakan nasionalisme Indonesia telah mencapai titik final. Dia masih terus berkembang mencari bentuknya dalam aliran sejarah yang terus mengalir secara dinamis.&lt;br /&gt;Di sinilah titik kritis karena nasionalisme, sebagai sebuah ideologi, memiliki kapasitas mentransformasikan energi sosial ke dalam aksi-aksi politik otoriterianisme. Dalam konteks ini, kacamata Anderson yang melihat nasionalisme sebagai imajinasi kolektif menjadi kabur dan tidak lagi memadai untuk mengamati bagaimana wacana nasionalisme beroperasi dalam relasi kekuasaan. Dalam perspektif ini, nasionalisme berada dalam sebuah relasi antara negara dan masyarakat yang menyediakan kekuasaan yang begitu besar dalam mengendalikan negara (John Breuilly, 1994). Dalam kondisi demikian, nasionalisme tidak lagi menjadi milik publik, melainkan hak eksklusif kaum elite nasionalis yang dengan otoritas pengetahuan mendominasi wacana nasionalisme. Dengan kata lain, nasionalisme berevolusi menjadi alat manufacturing consent untuk melegitimasi kepentingan-kepentingan ekonomi politik kelompok elite nasionalis.&lt;br /&gt;Untuk menghindari jebakan ideologis ini, wacana nasionalisme harus dilepaskan dari dominasi institusi negara, baik sipil maupun militer, dalam mendefinisikan nasionalisme. Wacana nasionalisme harus diletakkan dalam ruang publik di mana setiap kelompok masyarakat dapat dengan leluasa mengaji secara kritis dan memberi kontribusi kreatif terhadap wacana nasionalisme. Dengan demikian, nasionalisme menjadi arena ekspresi sosial dan budaya masyarakat yang demokratis.&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/feeds/2560187652842159324/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/2010/05/epistimologi-nasionalisme.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1244976486987510470/posts/default/2560187652842159324'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1244976486987510470/posts/default/2560187652842159324'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/2010/05/epistimologi-nasionalisme.html' title='Epistimologi Nasionalisme'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1244976486987510470.post-1173287894130841423</id><published>2010-05-22T01:30:00.000+07:00</published><updated>2010-05-22T01:34:54.619+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Analisa Sosial"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="analisis sosial"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="dasar sosiologi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="klasifikasi masalah sosial"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="norma-norma masyarakat"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="penyakit sosial"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sosiologi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tokoh sosiologi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tokoh-tokoh ilmu sosial"/><title type='text'>Analisa Sosial</title><content type='html'>&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Sebuah Dasar Sosiologi&lt;br /&gt;A. PENGANTAR&lt;br /&gt;gejala-gejala yang wajar dalam masyarakat seperti norma-norma, kelompok , lapisan masyarakat, lembaga-lembaga kemasyarakatan, proses , perubahan dan kebudayaan, serta perwujudannya. Tidak semua gejala-gejala tersebut berlangsung secara normal sebagaimana dikehendaki masyarakat bersangkutan.Gejala-gejala yang tidak dikehendaki merupakan &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/03/analisa-sosial.html&quot;&gt;gejala abnormal atau gejalapatologis&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Hal itu disebabkan karena unsur-unsur masyarakat tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya,sehingga&lt;br /&gt;menyebabkan kekecewaan dan penderitaan. Masalah – masalah tersebut berbeda dengan problema-problema lain dalam masyarakat, karena maslaah-masalah tersebut berhubungan erat dengan nilai-nilai dan lembaga-lembaga kemasyarakatan. Hal ini dinamakan masalah karena bersangkut paut dengan gejala-gejala yang mengganggu kelanggengan dalam masyarakat. Dengan demikian, masalah-masalah menyangkut nilai-nilai yang mencangkup pula segi moral, karena untuk dapat mengklasifikasikan suatu persoalan sebagai masalah harus digunakan penilaian sebagai pengukurannya. Apabila suatu masyarakat menganggap sakit jiwa, bunuh diri, perceraian, penyalahgunaan obat bius (narcotics addiction) sebagai masalah , maka masyarakat tersebut tidak semata-mata menunjuk pada tata kelakuan yang menyimpang. Akan tetapi sekaligus juga mencerminkan ukuran-ukuran umum mengenai segi moral. Setiap masyarakat tentunya mempunyai ukuran yang berbeda mengenai hal ini seperti minsalnya soal gelandangan merupakan masalah nyata menghadapi kota-kota besar di Indonesia. Tetapi belum tentu masalah tadi dianggap sebagai masalah di tempat lainnya. Hal ini juga tergantung dari faktor waktu. Mungkin pada waktu-waktu lampau permainan judi dianggap sebagai masalah yang penting akan tetapi dewasa ini tidak. Selain itu juga ada masalah-masalah yang tidak bersumber pada penyimpangan norma-norma masyarakat, tetapi lebih banyak mengenai susunannya, seperti masalah penduduk, pengangguran dan disorganisasi keluarga serta desa.&lt;br /&gt;Sudah tentu sosiologi juga dapat mempunyai manfaat bagi bidang-bidang lain seperti pemerintahan, pendidikan, industri dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. MASALAH SOSIAL, BATASAN DAN PENGERTIAN&lt;br /&gt;Acap kali dibebankan antara dua macam persoalan yaitu, antara masalah masyarakat (scientific or societal problem) dengan problema ( ameliorative or problem).&lt;br /&gt;Yang pertama menyangkut analisis tentang macam-macam gejala kehidupan masyarakat. Sedang yang kedua meneliti gejala-gejala abnormal masyarakat dengan maksud untuk memperbaiki atau bahkan untuk menghilangkannya. Sosiologi menyelidiki persoalan-persoalan umum dalam masyarakat dengan maksud untuk menemukan dan menafsirkan kenyataan-kenyataan kehidupan kemasyarakatan.&lt;br /&gt;Walaupun sosiologi meneliti gejala-gejala kemasyarakatan, namun juga perlu mempelajari masalah-masalah . Karena ia merupakan aspek-aspek tata kelakuan . Dengan demikian, sosiologi juga berusaha mempelajari masalah seperti kejahatan, konflik antar ras, kemiskinan, perceraian, pelacuran, delinkuensi anak-anak dan seterusnya. Dalam hal ini sosiologi bertujuan untuk menemukan sebab-sebab terjadinya masalah sosiologi tidak terlalu menekan pada pemecahan atau jalan keluar dari masalah-masalah tersebut. Karena usaha untuk mengatasi maslah hanya mungkin berhasil apabila didasarkan pada kenyataan serta latara belakangnya, maka sosiologi dapat ikut serta membantu mencari jalan keluar yang mungkin dapat dianggap efektif.&lt;br /&gt;Masalah merupakan bagian sosiologi, sebenarnya masalah merupakan hasil dari proses perkembangan masyarakat. Artinya problema tadi memang sewajarnya timbul, apabila tidak diinginkan adanya hambatan-hambatan terhadap penemuan-penemuan baru dan gagasan baru. Dalam jangka waktu masyarakat menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan, timbullah maslah sosial, sampai unsur-unsur masyarakat berada dalam keadaan stabil lagi. Masalah sosial merupakan akibat dari interaksi sosial antara individu, antara individu dengan kelompok, atau antar kelompok. Interaksi sosial berkisar pada ukuran nilai adapt – istiadat, tradisi dan ideology ditandai dengan suatu proses sosial yang disosiatif.&lt;br /&gt;Masalah sosial adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial. Atau menghambat terpenuhinya keinginan pokok warga kelompok sosial tersebut, sehingga menyebabkan kepincangan ikatan sosial.&lt;br /&gt;Di samping kebutuhan-kebutuhan tersebut, atas dasar unsur biologis, berkembang pula kebutuhan lain yang timbul karena pergaulan dalam masyarakat, yaitu kedudukan sosial, peranan sosial dan sebagainya. Apabila individu tidak dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan biologis serta kebutuhan-kebutuhan biologis. Dan dia akan merasa kehidupan ini tak banyak gunanya.&lt;br /&gt;Untuk merumuskan apa yang dinamakan dengan masalah sosial tidak begitu sukar, dari pada usaha-usaha untuk membuat suatu indeks yang memberi petunjuk akan adanya masalah sosial tersebut. Banyak yang mengusahakan adanya indeks tersebut seperti minsalnya indeks simple ratesi yaitu angka laju gejala-gejala abnormal dalam masyarakat, angka-angka bunuh diri, perceraian dan sebgainya. Sering juga diusahakan system composite indice yaitu gabungan indeks-indeks dari bermacam-macam aspek yang mempunyai kaitan satu dengan lainnya.&lt;br /&gt;Indeks-indeks tersebut sukar untuk dijadikan ukuran mutlak, karena system nilai dan norma-norma dalam setiap masyarakat berbeda satu dengan lainnya. Angka-angka bunuh diri yang tinggi di dalam suatu masyarakat tertentu mungkin dianggap sebagai suatu indeks akan adanya disorganisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. KLASIFIKASI MASALAH SOSIAL DAN SEBAB-SEBABNYA&lt;br /&gt;Masalah sosial timbul dari kekurangan-kekurangan dalam diri manusia atau kelompok sosial yang bersumber pada faktor-faktor ekonomis, biologis, biopsikologis dan kebudayaan. Setiap masyarakat mempunyai norma-norma yang bersangk paut dengan kesejahteraan kebendaan, kesehatan fisik, kesehatan mental, serta penyesuaian diri individu atau kelompok sosial. Problema – problema yang berasal dari faktor ekonomis antara lain kemiskinan, pengangguran dan sebagainya. Penyakit, minsalnya bersumber pada faktor biologis. Dari faktor psikologis timbul persoalan seperti penyakit syaraf (neurosis), bunuh diri, disorganisasi jiwa dan seterusnya.&lt;br /&gt;Klasifikasi yang berbeda, mengadakan pengolahan atas dasar kepincangan-kepincangan dalam warisan fisik, warisan biologis, warisan social dan kebijaksanaan social. Kedalam kategori pertama dapat dimasukkan masalah social yang disebabkan adanya pengangguran atau batasan-batasan sumber alam. Kategori kedua mencangkup persoalan-persoalan penduduk, minsalnya bertambah atau berkurangnya penduduk, pembatasan kelahiran, migrasi dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. UKURAN-UKURAN SOSIOLOGIS TERHADAP MASALAH SOSIAL&lt;br /&gt;Dalam menentukan apakah suatu masalah merupakan problema social atau tidak, sosiologi menggunakan beberapa pokok persoalan sebagai ukuran, yaitu :&lt;br /&gt;1. Kriteria utama&lt;br /&gt;Masalah social yaitu, tidak adanya persesuaian antara ukuran-ukuran dan nilai-nilai social dengan kenyataan-kenyataan serta tindakan-tindakan sosial. Unsur-unsur yang pertama dan pokok dari masalah social adalah adanya perbedaan yang mencolok antara nilai-nilai dengan kondisi-kondisi nyata kehidupan. Artinya, adanya kepincangan-kepincangan antara anggapan-anggapan masyarakat tentang apa yang seharusnya terjadi.&lt;br /&gt;Secara sosiologis, agak sulit untuk menentukan secara mutlak sampai sejauh mana kepincangan dalam masyarakat dapat diklasifikasikan sebagai suatu problema social juga.&lt;br /&gt;2. Sumber – sumber Sosial Masalah Sosial&lt;br /&gt;Masalah sosial merupakan persoalan-persoalan yang timbul secara langsung dari atau bersumber langsung kondisi-kondisi maupun proses-proses sosial. Jadi sebab-sebab terpentingnya masalah social haruslah bersifat sosial. Ukurannya tidaklah semata-mata pada perwujudannya yang bersifat sosial, akan tetapi juga pada sumbernya.&lt;br /&gt;Kepincangan yang disebabkan oleh gempa bumi, angin topan, meletusnya api, banjir, epidemi dan segala sesuatunya yang disebabkan oleh alam, bukan merupakan maslah sosial.&lt;br /&gt;Yang pokok disini adalah bahwa akibat dari gejala-gejala tersebut, baik gejala sosial maupun bukan sosial, menyebabkan masalah sosial. Inilah yang menjadi ukuran bagi sosiologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pihak-pihak yang Menetapkan apakah suatu kepincangan merupakan masalah social atau tidak.&lt;br /&gt;Ukuran diatas bersifat relative sekali. Mungkin dikatakan bahwa orang banyaklah yang harus menentukannya, atau segolongan orang yang berkuasa saja atau lain-lainnya. Dalam masyarakat merupakan gejala yang wajar jika sekelompok warga masyarakat menjadi pimpinan masyarakat tersebut. Golongan kecil tersebut mempunyai kekuasaan dan wewenang yang lebih besar dari orang lain untuk membuat serta menentukan kebijaksanaan sosial.&lt;br /&gt;Dalam hal ini para sosiologi harus mempunyai hipotesis sendiri untuk kemudian diujikan pada kenyataan-kenyataan yang ada. Sikap masyarakat itu sendirilah yang menentukan apakah suatu gejala merupakan suatu problema social atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Manifest social problem dan latent social problem&lt;br /&gt;Sosiologi juga merupakan warga karena itu tidak mustahil, kalau penelitian-penelitiannya kadangkala tercemar oleh unsur subyektif lantaran ikatan yang begitu kuat antara dia sebagai warga dengan masyarakat.&lt;br /&gt;Manifest social problem merupakan masalah sosial yang timbul sebagai akibat terjadinya kepincangan-kepincangan dalam masyarakat. Kepincangan mana dikarenakan tidak sesuainya tindakan dengan norma dan nilai yang ada dalam masyarakat. Masyarakat pada umumnya tidak menyukai tindakan-tindakan yang menyimpang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Perhatian masyarakat dan masalah social&lt;br /&gt;Suatu kejadian merupakan masalah social belum tentu mendapat perhatian yang sepenuhnya dari masyarakat. Sebaliknya, suatu kejadian yang mendapat sorotan masyarakat, belum tentu merupakan masalah social.&lt;br /&gt;Hal lain yang perlu pula diketahui adalah bahwa semakin jauh jarak social antara orang-orang yang kemalangan dengan orang yang mengatahui hal itu, semakin kecil pula simpati timbul dan juga semakin kecil perhatian terhadap kejadian tadi.&lt;br /&gt;Suatu problema yang merupakan manifest social problem adalah kepincangan-kepincangan yang menurut keyakinan masyarakat dapat diperbaiki, dibatasi atau bahkan dihilangkan. Lain halnya dengan latent social problem yang sulit diatasi, karena walaupun masyarakat tidak menyukainya, tetapi masyarakat tidak berdaya untuk menghadapinya. Dalam mengatasi problema tersebut, sosiologi seharusnya berpegang pada perbedaan kedua macam problema tersebut yang didasarkan pada system nilai-nilai masyarakat, sosiologi seharusnya mendorong masyarakat untuk memperbaiki kepincangan-kepincangan yang diterimanya sebagai gejala abnormal yang mungkin dihilangkan (atau dibatasi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. BEBERAPA MASALAH SOSIAL PENTING&lt;br /&gt;Kepincangan – kepincangan mana yang dianggap sebagai masalah sosial oleh masyarakat tergantung dari system nilai sosial masyarakat tersebut. Akan tetapi ada beberapa persoalan yang dihadapi oleh masyarakat-masyarakat pada umumnya sama yaitu minsalnya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kemiskinan&lt;br /&gt;Kemiskinan diartikan sebagai suatu keadaan dimana seorang tidak sanggup memelihara dirinya sendiri sesuai dengan taraf kehidupan kelompok dan juga tidak mampu memanfaatkan tenaga mental maupun fisiknya dalam kelompok tersebut.&lt;br /&gt;Factor-faktor yang menyebabkan mereka membenci kemiskinan adalah kesadaran bahwa mereka telah gagal untuk memperoleh lebih dari apa yang telah dimilikinya dan perasaan akan adanya ketidak adilan.&lt;br /&gt;Pada masyarakat moderen yang rumit, kemiskinan menjadi suatu problema social karena sikap yang membenci kemiskinan tadi.&lt;br /&gt;Persoalan menjadi lain bagi mereka yang turut dalam arus urbanisasi tetapi gagal mencari pekerjaan. Bagi mereka pokok persoalan kemiskinan disebabkan tidak mampu memenuhi kebutuhan primer sehingga muncul tunakarya, tuna susila dan lainnya. Secara sosiologis, sebab-sebab timbulnya problema tersebut adalah karena salah satu lembaga kemasyarakatan tidak berfungsi dengan baik, yaitu lembaga kemasyarakatan di bidang ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kejahatan&lt;br /&gt;Sosiologi berpendapat bahwa kejahatan disebabkan karena kondisi-kondisi dan proses-proses social yang sama, yang menghasilkan perilaku-perilaku social lainnya. Tinggi rendahnya angka kejahatan berhubungan erat denga bentuk-bentuk dan organisasi social dimana kejahatan tersebut terjadi.&lt;br /&gt;Para sosiologi berusaha untuk menentukan proses-proses yang menyebabkan seseorang menjadi penjahat. Analisis ini bersifat social psikologis. Beberapa orang ahli menekankan pada beberapa bentuk proses seperti imitasi, identifikasi, konsep diri pribadi dan kekecewaan yang agresif sebagai proses yang menyebabkan seseoran menjadi penjahat.&lt;br /&gt;Selanjutnya dikatakan bahwa bagian pokok dari pola-pola perilaku jahat tadi dalam kelompok-kelompok kecil yang bersifat intim. Alat-alat komunikasi tertentu seperti buku, surat kabar, film, televise, radio, memberikan pengaruh tertentu yaitu dalam memberikan sugesti kepada orang perorangan untuk menerima atau menolak pola-pola perilaku jahat.&lt;br /&gt;Untuk mengatasi maslah itu, kecuali tindakan preventif, dapat pula diadakan tindakan-tindakan represif antara lain dengan teknik rehabilitasi. Menurut Cressey ada dua factor konsepsi mengenai teknik rehabilitasi tersebut. Yang pertama menciptakan system dan program-program yang bertujuan untuk menghukum orang jahat tersebut. Sistem serta program-program tersebut bersifat reformatif, minsalnya hukuman bersyarat, diusahakan mencari pekerjaan bagi si terhukum dan diberi konsultasi psikologis. Minsalkan kepada narapidana di lembaga permasyarakatan diberikan pendidikan serta latihan untuk menguasai bidang tertentu, supaya kelak setelah masa hukuman selesai punya modal untuk mencari pekerjaan di masyarakat.&lt;br /&gt;Suatu gejala lain yang perlu mendapatkan perhatian adalah apa yang disebut sebagai white-collar crime, suatu gejalayang timbul pada abad modern ini. Banyak ahli beranggapan, bahwa tipe kejahatan ini merupakan ekses dari proses perkembangan ekonomi yang terlalu cepat. Karena itu pada mulanya gejala ini disebut business crime atau economic criminality. Memang white-collar crime merupakan kejahatan yang dilakukan oleh pengusaha atau para pejabat didalam menjalankan peranan fungsinya. Keadaan keuangannya yang relative kuat mungkin mereka untuk melakukan perbuatan yang oleh hukum dan masyarakat umum dikualifikasikan sebagai kejahatan. Golongan tersebut menganggap dirinya kebal terhadap hukum dan sarana-sarana pengendaliannya dengan kuat. Sukar sekali untuk memidana mereka, sehingga dengan tepat dikatakan bahwa kekuatan penjahat white-collar terletak pada kelemahan korban-korbannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah diatas memang terkenal rumit karena menyangkut paling sedikit beberapa aspek sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Siapakah lapisan tertinggi masyarakat yang karena profesi dan kedudukannya mempunyai peluang untuk melakukan kejahatan tersebut.&lt;br /&gt;b. Apakah perbuatan serta gejala-gejala yang dapat dikualifikasikan sebagai white-collar crime.&lt;br /&gt;c. Faktor-faktor social dan individual apa yang menyebabkan orang berbuat demikian.&lt;br /&gt;d. Bagaimana tindakan-tindakan pencegahannya melalui sarana-sarana pengendalian social tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Factor-faktor individual tersebut diatas dapat saja dimiliki oleh tipe penjahat lain. Akan tetapi yang justru membedakannya adalah kedudukan dan peranan yang melekat padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Disorganisasi Keluarga&lt;br /&gt;Disorganisasi keluarga adalah perpecahan keluarga sebagai suatu unit, karena anggota-anggotanya gagal memenuhi kewajiban yang sesuai dengan peranan sosialnya. Secara sosiologis, bentuk-bentuk disorganisasi keluarga antara lain adalah :&lt;br /&gt;a. Unit kerja yang tidak lengkap karena hubungan diluar perkawinan. Karena ayah (biologis) gagal dalam mengisi peranan sosialnya dan demikian juga halnya dengan keluarga pihak ayah maupun ibu.&lt;br /&gt;b. Disorganisasi keluarga karena putusnya perkawinan sebab perceraian, perpisahan meja dan tempat tidur dan seterusnya.&lt;br /&gt;c. Adanya kekurangan dalam keluarga tersebut yaitu dalam hak komunikasi&lt;br /&gt;d. Krisis keluarga, oleh salah satu yang bertindak sebagai kepala keluarga di luar kemampuan sendiri meninggalkan rumah tangga, meninggal dunia, dihukum atau karena peperangan.&lt;br /&gt;e. Krisis keluarga yang disebabkan oleh factor intern, minsalnya karena terganggu keseimbangan jiwa salah seorang anggota keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Masalah Generasi Muda dalam Masyarakat Modern&lt;br /&gt;Masalah generasi muda pada umumnya ditandai oleh dua ciri yang berlawanan, yakni keinginan untuk melawan (minsalnya dalam bentuk redikalisme, delinkuensi dan sebagainya) dan sikap yang apatis. Sikap melawan mungkin disertai dengan suatu rasa takut bahwa masyarakat akan hancur karena perbuatan-perbuatan menyimpang. Sedangkan sikap apatis biasanya disertai dengan rasa kecewa terhadap masyarakat. Generasi muda biasannya menghadapi masalah social dan biologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Peperangan&lt;br /&gt;Perperangan mungkin merupakan masalah social paling sulitdipecahkan sepanjang sejarah kehidupan manusia. Sehingga memerlukan kerjasama internasional yang hingga kini belum berkembang dengan baik. Perkembangan teknologi yang pesat semakin memoderilisasikan cara-cara berperang dan menyebabkan pula kerusakan-kerusakan yang lebih hebat ketimbang masa lampau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Pelanggaran terhadap norma-norma masyarakat&lt;br /&gt;a. Pelacuran&lt;br /&gt;Sebab terjadinya pelacuran haruslah dilihat pada factor endogen dan eksogen. Diantara factor endogen dapat disebutkan nafsu kelamin yang besar, sifat malas dan keinginan yang besar untuk hidup mewah. Diantara factor tersebut yang utama adalah factor ekonomis, urbanisasi yang tak teratur. Sebab utama adalah konflik mental, situasi hidup yang tidak dewasa ditambah dengan intelligentsia yang rendah.&lt;br /&gt;Usaha untuk mencegahnya ialah dengan jalan meneliti gejala-gejala yang terjadi jauh sebelum adanya gangguan mental, minsalnya gejala insekuritas pada anak-anak wanita, gejala membolos, mencuri kecil-kecilkan dan sebagainya. Hal itu semuanya dapat dicegah dengan usaha pembinaan sekuritas dan kasih sayang yang stabil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Delinkuensi Anak-anak.&lt;br /&gt;Delinkuensi anak-anak yang terkenal di Indonesia adalah masalah cross boys dan cross girl yang merupakan sebutan bagi anak-anak muda yang tergabung dalam suatu ikatan /organisasi formal atau semi formal dan mempunyai tingkah laku yang kurang/tidak disukai oleh masyarakat pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Alkoholisme&lt;br /&gt;Masalah alkoholisme dan pemabuk pada kebanyakan masyarakat pada umumnya tidak berkisar pada apakah alcohol boleh atau dilarang digunakan. Persoalan pokoknya adalah siapa yang boleh menggunakannya, dimana, bilamana dan dalam kondisi yang bagaimana. Umumnya orang awam berpendapat bahwa alcohol merupakan suatu system syaraf. Akibatnya, seorang pemabuk semakin kurang kemampuannya untuk mengendalikan diri. Pembicaraan alkoholisme mengenai aspek hukum hanya akan dibatasi pada perundang-undangan. Perundang-undangan merupakan segala keputusan resmi secara tertulis yang dibuat penguasa, yang meningkat. Dengan demikian perundang-undangan merupakan satu segi saja dari aspek hukum, karena disamping perundang-undangan, ada hukum adat, hukum yurisprudensi, dan seterusnya.&lt;br /&gt;Dalam kitab Undang-undang Hukum Pidana hanya terdapat satu pasal yang mengatur tentang keadaan mabuk sebagai kejahatan. Pasal itu adalah pasal 300 yang isinya adalah, sebagai berikut :&lt;br /&gt;1) Diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun atau denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.&lt;br /&gt;a. Barang siapa dengan sengaja menjual atau memberikan minuman yang mebabukkan kepada seseorang yang telah kelihatan mabuk.&lt;br /&gt;b. Barang siapa dengan sengaja membuat mabuk seseorang anak yang umurnya belum cukup enam belas tahun.&lt;br /&gt;c. Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa orang untuk minum minuman yang memabukkan.&lt;br /&gt;2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama juta tahun.&lt;br /&gt;3) Jika perbuatan mengakibatkan kematian, yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama Sembilan tahun.&lt;br /&gt;4) Jika bersalah melakukan kejahatan tersebut dalam menjalankan pencariannya, dapat dicabut haknya untuk menjalankan pencarian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadi tolak ukur perbuatan yang dirumuskan dalam pasal tersebut khususnya ayat 1 sub 1, 2 dan 3. kesemuanya merupakan tindakan-tindakan yang ada syaratnya, yakni keadaan sudah mabuk, dibawah umur dan dengan melakukan paksaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Homoseksualitas&lt;br /&gt;Homoseksual adalah seseorang yang cendrung mengutamakan orang yang sejenis kelaminnya sebagai mitra seksual. Homoseksual merupakan sikap atau tindakan pola perilaku para homoseksual. Pria yang melakukan sikap-tindak demikian disebut homoseksual, sedangkan lesbian merupakan sebutan bagi wanita yang berbuat demikian.&lt;br /&gt;Homoseksual dapat digolongkan kedalam tiga kategori, yakni :&lt;br /&gt;1. Golongan yang secara aktif mencari mitra kencan di tempat-tempat tertentu, seperti bar-bar homoseksual.&lt;br /&gt;2. Golongan pasif, artinya yang menunggu&lt;br /&gt;3. Golongan situasional yang mungkin bersikap pasif atau melakukan tindakan-tindakan tertentu.&lt;br /&gt;Di Indonesia belum ada perundang-undangan yang secara khusus mengatur masalah-masalah homoseksual. Dalam Kitab Undang-undang Hukum Pudana ada pasal 292 yang secara eksplisit mengatur soal-sikap-tindak homoseksual, yang dikaitkan dengan usia dibawah umur. Isi pasal itu adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;“Orang dewasa yang melakukan perbuatan cabul dengan lain sesama kelamin, yang diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya belum dewasa, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun”.&lt;br /&gt;Proses penanaman tidak hanya terjadi pada homoseksual, akan tetapi juga terhadap gejala-gejala lainnya, yang oleh masyarakat dianggap suatu pengimpangan. Proses penanaman itu sebenarnya merupakan suatu sarana pengendalian social, oleh karena :&lt;br /&gt;- Memberikan patokan mengenai sikap-sikap yang diperolehkan dan yang dilarang.&lt;br /&gt;- Membatasi sikap-tindak menyimpang pada kelompok ke kelompok tertentu.&lt;br /&gt;Atas dasar pandanngan sosilologis tersebut, maka untuk mengetahui factor-faktor yang menyebabkan timbulnya homoseksual dan prosesnya diperlukan suatu uraian mengenai kebudayaan khususnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Masalah Kependudukan&lt;br /&gt;Penduduk suatu Negara, pada hakikatnya merupakan sumber yang sangat penting bagi pembangunan, sebab penduduk merupakan subyek serta obyek pembangunan. Salah satu tanggung jawab utama Negara adalah meningkatkan kesejahteraan penduduk serta mengambil langkah-langkah pencegahan terhadap gangguan kesejahteraan. Di Indonesia gangguan tersebut menimbulkan masalah, antara lain :&lt;br /&gt;a. Bagaimana menyebarkan penduduk, sehingga tercipta kepadatan penduduk yang serasi untuk seluruh Indonesia.&lt;br /&gt;b. Bagaimana mengusahakan penurunan angka kelahiran, sehingga perkembangan kependudukan dapat diawasi dengan seksama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Masalah Lingkungan Hidup.&lt;br /&gt;Lingkungan hidup biasanya dibedakan dalam kategori-kategori sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Lingkungan fisik, yaitu semua benda mati yang ada di sekeliling manusia.&lt;br /&gt;b. Lingkungan biologis, yaitu segala sesuatu di sekeliling manusia yang berupa organisme yang hidup (disamping manusia itu sendiri).&lt;br /&gt;c. Lingkungan social, yang terdiri dari orang-orang baik individual maupun kelompok yang berada disekitar manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membedakan organisme hidup dengan benda-benda mati dengan sifat-sifat dasar masing-masing organisme adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;Organisme Hidup Organisme Mati&lt;br /&gt;1. Bersifat Dinamis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dapat tumbuh dan berkembang biak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Mampu mendapatkan dan menyimpan energi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Mempunyai daya reaksi dan mampu bervariasi. 1. Bersifat statis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tidak tumbuh dan berkembang biak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tidak mampu memperoleh energi secara aktif, akan tetapi dapat mengeluarkannya sampai habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Daya reaksi sangat kecil dan tidak mampu bervariasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hubungan dengan organisme hidup lainnya dalam lingkungan hidup, maka hubungan tersebut mungkin terjadi secara sadar atau bahkan tidak disadari. Namun demikian biasanya dibedakan antara :&lt;br /&gt;a. Hubungan simbolis, yakni hubunmgan timbale-balik antara organisme hidup yang berbeda speciesnya. Bentuk hubungannya ialah :&lt;br /&gt;- Parasitisme, dimana satu pihak beruntung sedangkan pihak lain dirugikan.&lt;br /&gt;- Komensalisme, dimana satu pihak mendapat keuntungan sedangkan pihak lain tidak dirugikan.&lt;br /&gt;- Mutualisme, dimana terjadi hubungan saling menguntungkan.&lt;br /&gt;b. Hubungan social yang merupakan hubungan timbale-balik antara organisme hidup yang sama spesiesnya. Bentuknya antara lain :&lt;br /&gt;- Kompetisi&lt;br /&gt;- Kooperasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Birokrasi&lt;br /&gt;Pengertian birokrasi menunjuk pada suatu organisasi yang dimaksudkan untuk menggerahkan tenaga dengan teratur dan terus menerus, untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Birokrasi adalah organisasi yang bersifat hirarkis, yang ditetapkan secara rasional untuk mengkoordinasikan pekerjaan orang-orang untuk keperntingan pelaksanaan tugas-tugas administrative.&lt;br /&gt;Ciri-ciri birokrasi dan cara terlaksananya adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Adanya ketentuan tegas dan resmi mengenai kewenangan yang didasarkan pada peraturan-peraturan umum, yaitu ketentuan –ketentuan hukum dan administrasi.&lt;br /&gt;2. prinsip pertingkatan (hierarchy) dan derajat wewenang merupakan system yang tegas perihal hubungan atasan dengan bawahan dimana terdapat pengawasan terhadap bawahan oleh atasannya.&lt;br /&gt;3. Ketatalaksanaan suatu birokrasi yang moderen didasarkan pada dokumen-dokumen tertulis (files), disusun dan dipelihara aslinya ataupun salinannya.&lt;br /&gt;4. Pelaksanaan birokrasi dalam bidang-bidang tertentu memerlukan latihan dan keahlian khusus.&lt;br /&gt;5. Kegiatan kemampuan kerja yang maksimal dari pelaksanaan-pelaksanaannya, terlepas dari kenyataan bahwa waktu bekerja pada organisasi tersebut secara tegas dibatasi.&lt;br /&gt;6. Pelaksanaan didasarkan pada ketentuan-ketentuan umum yang bersifat langgeng atau kurang lenggeng, kesemuanya dapat dipelajari. Pengetahuan akan peraturan-peraturan memerlukan cara yang khusus. Meliputi hukum , ketatalaksanaan administrasi dan perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memperhatikan ciri-ciri yang telah diuraikan maka dapat dikatakan birokrasi peling sedikut mencangkup lima unsure, yaitu :&lt;br /&gt;1. Organisasi&lt;br /&gt;2. Pengerahan tenaga&lt;br /&gt;3. Sifat yang teratur&lt;br /&gt;4. Mempunyai tujuan.&lt;br /&gt;Organisasi merupakan suatu cara untuk mengumpulkan tenaga serta membagi-bagikan kekuasaan dan wewenang. Apabila dilihat pada pembagian kekuasaan tersebut, maka didalam suatu organisasi terdapat :&lt;br /&gt;1. Penguasa dan mereka yang dikuasai&lt;br /&gt;2. Hirarki, yaitu urutan kekuasaan secara vertical/bertingkat dari atas ke bawah.&lt;br /&gt;3. Ada pembagian tugas horizontal, yaitu pembagian tugas antara beberapa bagian, dimana bagian tersebut mempunyai kekuasaan dan wewenang yang setingkat atau sederajat.&lt;br /&gt;4. Ada suatu kelompok sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. PEMECAHAN MASALAH SOSIAL&lt;br /&gt;Dewasa ini ditemukan cara-cara analisis yang lebih efektif, walaupun metode-metode lama yang terbukti tidak efektif, belum dapat dihilangkan begitu saja. Hal ini disebabkan ilmu social pada umumnya belum sanggup untuk menetapkan secara mutlak dan pasti apa yang merupakan masalah social pokok. Lagi pula pengaruh pemecahan masalah social tidak dirasakan dengan segera, tetapi setelah jangka waktu yang cukup lama. Akhirnya perlu dicatat bahwa pasti ada reaksi terhadap masalah social menyangkut nilai-nilai dan perasaan social. Akan tetapi walaupun ada kekurangan, namun penelitian terhadap masalah social berkembang terus. Metode yang digunakan ada yang bersifat preventif dan represif. Metode yang preventif jelas lebih sulit dilaksanakan, karena harus didasarka pada penelitian yang mendalam terhadap sebab-sebab terjadinya masalah social. Metode represif lebih banyak digunakan, artinya setelah suatu gejala dapat dipastikan sebagai masalah social, baru diambil tindakan-tindakan untuk mengatasainya. Di dalam mengatasi masalah social tidaklah perlu semata-mata melihat aspek sosiologisnya, tetapi juga aspek-aspek lainnya. Sehingga, diperlukan suatu kerja sama antara ilmu pengetahuan kemasyarakatan pada khususnya untuk memecahkan masalah social yang dihadapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. PERENCANAAN SOSIAL (SOCIAL PLANNING)&lt;br /&gt;Perencanaan social pada dewasa ini menjadi cirri umum bagi masyarakat yang sedang mengalami perubahan atau perkembangan. Sebenarnya perencanaan social yang bertujuan untuk melihat jauh ke muka telah ada sejak dahulu dan telah pula difikirkan oleh para sosiolog.&lt;br /&gt;Suatu perencanaan social tak akan berarti banyak, apabila individu-individu tidak belajar untuk mencelah gejala-gejala social secara obyektif sehingga dia dapat turut serta dalam perencanaan tersebut. Prasyaratan suatu perencanaan social yang efektif adalah :&lt;br /&gt;1. adanya unsur moderen dalam masyarakat yang mencangkup sustu system ekonomi dimana telah dipergunakan uang, urbanisasi yang teratur, inteligensia di bidang teknik dan ilmu pengetahuan dan suatu system administrasi yang baik.&lt;br /&gt;2. Adanya system pengumpulan keterangan dan analisis yang baik.&lt;br /&gt;3. terdapatnya sikap public yang baik terhadap usaha-usaha perencanaan social&lt;br /&gt;4. Adanya pimpinan ekonomi dan politik yang progresif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H. TOKO-TOKOH YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN ILMU SOSIOLOGI&lt;br /&gt;Auguste Comte (1798 – 1857)&lt;br /&gt;Seorang yang berasal dari Prancis, merupakan Bapak Sosiologi yang pertama-tama memberi nama pada ilmu tersebut (yaitu dari kata kata socius logos). Walaupun dia tidak menguraikan secara rinci masalah apa yang menjadi obyek sosiologi, tetapi dia mempunyai anggapan bahwa sosiologi terdiri dari dua bagian pokok yaitu social statistic dan social dynamics. Konsepsi tersebut merupakan pembakok sekali.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/feeds/1173287894130841423/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/2010/05/analisa-sosial.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1244976486987510470/posts/default/1173287894130841423'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1244976486987510470/posts/default/1173287894130841423'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/2010/05/analisa-sosial.html' title='Analisa Sosial'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1244976486987510470.post-9160374692347992845</id><published>2010-05-22T01:24:00.000+07:00</published><updated>2010-05-22T01:27:56.517+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hubungan Antar Kelompok sosial"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Interaksi Sosial"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="interaksionisme simbolis"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kelas sosial"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sifat dasar manusia"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sosiologi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Stratifikasi Sosial"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="teori sosiologi"/><title type='text'>Interaksi Sosial</title><content type='html'>Interaksi sosial terjadi karena adanya sifat dasar manusia yang merupakan makhluk sosial yang selalu ingin berhubungan dan didasari oleh kebutuhan manusia yang tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Berdasarkan hal tersebut maka interaksi sosial ini terjadi.Dalam pendekatan interaksi sosial dapat terjadi dengan beberapa cara salah satunya adalah &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/03/interaksi-sosial.html&quot;&gt;pendekatan interaksionisme simbolis.&lt;/a&gt; Pendekatan ini bersumber pada pemikiran Mead. Symbol merupakan sesuatu yang nilai atau maknanya diberikan kepadanya oleh orang yang mempergunakannya. Makna atau nilai tersebut hanya dapat ditangkap melalui cara-cara non-sensoris.&lt;br /&gt;Menurut Blumer pokok pikiran interaksionisme ada tiga: manusia bertindak terhadap sesuatu atas dasar makna yang dipunyai sesuatu tersebut baginya, makna yang&lt;br /&gt;dipunyai tersebut berasal atau muncul dari hasil interaksi sosial antara seseorang dengan sesamanya, dan makna diperlakukan atau diubah melalui suatu proses penafsiran, yang digunakan orang dalam menghadapi sesuatu yang dijumpainya.&lt;br /&gt;Thomas dikenal dengan ungkapannya bahwa bila orang mendefinisikan situasi sebagai hal yang nyata, maka konsekuensinya nyata. Yang dimaksudkannya di sini ialah bahwa definisi situasi yang dibuat orang akan membawa konsekuensi nyata. Thomas membedakan antara definfisi situasi yang dibuat secara spontan oleh individu, dan definisi situasi yang dibuat oleh masyarakat, yaitu ia melihat adanya persaingan antara kedua macam definisi situasi tersebut.&lt;br /&gt;Hall mengemukakan bahwa dalam interaksi dijumpai aturan-aturan tertentu dalam hal penggunaan ruang. Dari penelitiannya hall menyimpulkan bahwa dakam situasi sosial orang cenderung menggunakan empat macam jarak, yakni jarak intim, jarak pribadi, jarak sosial, dan jarak publik.&lt;br /&gt;Hall antara lain membahas pula aturan mengenai waktu. Hall mencatat bahwa dalam masyarakat berbeda dijumpai pengguanaan waktu secara berbeda karena adanya persepsi berbeda mengenai waktu. Menurut Hall dalam interaksi kita tidak hanya memperhatikan apa yang dikatakan orang lain tetapi juga apa yang dilakukannya. Komunikasi nonverbal atau bahasa tubuh kita gunakan secara sadar maupun tidak untuk menyampaikan perasaan kita kepada orang lain. Studi sosiologis terhadap gerak tubuh dan isyarat tangan ini dinamakan kinesics.&lt;br /&gt;Karp dan Yoels mengemukakan bahwa untuk dapat berinteraksi seseorang perlu mempunyai informasi mengenai orang yang berada di hadapannya. Manakala kita tidak mengetahui riwayat hidupnya dan/atau kebudayaannya maka interaksi sukar dilakukan. Sumber-sumber informasi yang disebutkan Karp dan Yoels adalah ciri fisik yang diwarisi sejak lahir seperti jenis kelamin, usia, dan ras serta penampilan – daya tarik fisik, bentuk tubuh, penampilan berbusana, dan percakapan.&lt;br /&gt;Menurut Goffman dalam suatu perjumpaan masing-masing pihak membuat pernyataan dan memperoleh kesan. Ia membedakan dua macam pernyataan: pernyataan yang diberikan dan pernyataan yang dilepaskan. Menurutnya masing-masing pihak berusaha mendefinisikan situasi dengan jalan melakukan pengaturan kesan.&lt;br /&gt;Knapp membahas berbagai tahap yang dapat dicapai dalam interaksi. Tahap-tahap interaksi tersebut terbagi dalam dua kelompok besar, yakni tahap-tahap yang mendekatkan peserta interaksi, dan tahap-tahap yang menjauhkan mereka.&lt;br /&gt;Dalam interaksi sosial dikenal tiga macam interaksi yang dapat terjadi yaitu mikro, meso dan makro sosiologi. Pengertian miKro, meso, dan maKro dalam sosiologi dapat dianalogikan dengan kelompok sosial kecil, sedang, dan besar. Dalam sosiologi mikro kita berbicara misalnya tentang single mother, hubungan orang tua-anak, sepasang kekasih, keluarga, pernikahan usia dini. Dalam soiologi meso kita berbicara antara lain mengenai pekerja PT Z di kota B, pekerja anak di Kabupaten Y, geng motor di Kota X, atau hubungan antaretnis di ibu kota Provinsi. Dalam sosiologi makro, kita dapat membahas masalah seperti program KB di Indonesia, pembagian BLT, dampak sosial konversi minyak tanah ke elpiji, atau jumlah pengakses internet di negara kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok Sosial&lt;br /&gt;Kelompok sosial sangat penting karena sebagian besar kegiatan manusia berlangsung di dalamnya. Tanpa kita sadari sejak lair himgga ajal kita menjadi anggota berbagai jenis kelompok. Dengan menggunakan tiga criteria, yakni kesadaran jenis, hubungan satu sama lain, ikatan organisasi. Bierstedt membedakan empat jenis kelompok: kelompok asosiasi, keloompok sosial, kelompok kemasyarakatan, dan kelompok statistic.&lt;br /&gt;Menurut Meton kelompok merupakan sekelompok orang yang saling berinteraksi sesuai dengan pola-pola yang telah mapan sedangkan kolektifitas merupakan orang-orang yang mempunyai rasa solidaritas karena berbagi nilai bersama dan yang telah memiliki rasa kewajiban moral umtuk menjalankan harapan peranan. Konsep lain yang diajukan Merton ialah konsep kategori sosial.&lt;br /&gt;Durkheim membedakan antara kelompok yang didasarkan pada solidairtas mekanis, dan kelompok yang didasarkan pada solidaritas organis. Solidaritas mekanis merupakan cirri yang menandai masyarakat yang sederhana, sedangkan solidaritas organis merupakan bentuk solidaritas yang mengikat masyarakat kompleks yang telah mengenal pembagian kerja yang rici dan diperastukan oleh kesalingtergantungan antar bagian.&lt;br /&gt;Toennies mengadakan perbedaan antara dua jenis kelompok: Gemeinschaft dan Gesellschaft. Gemeinschaft merupakan kehidupan bersama yang intim, pribadi dan eksklusif; suatu keterikatan yang dibawa sejak lahir. Gesellschaft merupakan kehidupan publik, yang terdirir atas orang-orang yang kenetulan hadir bersama tetapi masing-masing tetap amndiri dan bersifat sementara dan semu.&lt;br /&gt;Cooley memperkenalkan konsep kelompok primer. Sebagai lsejumlah ahli sosiologi menciptakan konsep kelompok sekunder, yakni suatu konsep yang tidak kita jumpai dalam karya Cooley. Suatu kalidifikasi lain yaitu suatu pembedaan antara kelompok luar dan kelompok dalam, di dasarkan pada pemikiran Sumner. Sumner mengemukakan bahwa di kalangan anggota kelompok dalam dijumpai persahabatan, kerjasama, keteraturan, dan kedamaian sedangkan hubungan antara kelompok dalam dengan kelompok luar cenderung ditandai kebencian, permusuhan, perang, dan perampokan.&lt;br /&gt;Merton mengamati bahwa kadang-kadang perilaku seseorang mengacu pada kelompok lain yang dinamakan kelompok acuan. Di kala seseorang berubah keanggotaan kelompok, ia sebelumnya dapat menjalani perubahan orientasi, yaitu suatu proses yang oleh Merton diberi nama sosialisasi antisiaporis.&lt;br /&gt;Suatu klasifikasi yang digali Geertz dari masyarakat Jawa adalah pembedaan anara kaum abangan, santri, dan priyayi. Menurut Geertz pembagian masyarakat yang ditelitinya ke dalam tiga tipe budaya ni didasarkan atas perbedaan pandangan hidup di antara mereka.&lt;br /&gt;Menurut Webber dalam masyarakat modern kita mejumpai suatu sistem jabatan yang dinamakan birokrasi. Organisasi birokrasi yang disebutkan Weber mengandung sejumlah prinsip. Prinsip-prinsip tersebut hanya dijumpai pada birokrasi yang oleh Weber disebut tipe ideal, yang tidak akan kita jumpai dalam masyarakat.&lt;br /&gt;Suatu gejala yang menarik perhatian banyak ilmuan sosial adalah berkaitan antara kelompok formal dan kelompok informal. Dalam organisasi formal akan terbentuk berbagi kelompok informal. Nilai dan aturan kelompok informal dapat bertentangan dengan nilai dan aturan yang berlaku dalam organisasi formal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stratifikasi Sosial&lt;br /&gt;Pembedaaan anggota masyarakat berdasarkan status dinamakan stratifikasi sosial. Berdasarkan status yang diperoleh dengan sendirinya, kita menjumpai adanya berbagai macam stratifikasi. Anggota masyarakat dibedakan pula berdasarkan sttus yang dirihnya, sehingga menghasilkan berbagai jenis stratifikasi lain.&lt;br /&gt;Dalam sosiologi kita mengenal perbedaan antara stratifikasi tertutup dan stratifikasi terbuka. Keterbukaan suatu sistem stratifikasi diukur dari mudah-tidaknya dan sering-tidaknya seseorang yang mempunyai status tertentu memperoleh status dalam strata yang lebih tinggi. Dalam sosiologi mobilitas sosial berarti perpindahan status dalam stratifikasi sosial. Mobilitas vertical mengacu pada mobilitas ke atas atau ke bawah dalam stratifikasi sosial. Ada pun apa yang dinamakan lateral mobility yang mengacu pada perpindahan geografis antara lingkungan setwmpat, kota, dan wilayah.&lt;br /&gt;Di kalangan para ahli sosiologi kita menjumpai keanekaragaman dalam penetuan jumlah lapisan osial. Ada yang merasa cukup klasifikasi dalam dua lapisan, dan ada pula yang memebedakan antara tiga lapisan atau lebih. Barber memperkenalkan beberapa konsep ynag mempertajam konsep stratifikasi. Salah satu di antaaranya ialah konsep rentang, yang mengacu pada peredaan antara kelas teratas dengan kelas terbawah. Konsep terkait lainnya iala konsep bentuk, yang mengacu pada proporsi orang-orang yang terletak di kelas-kelas sosial yang berlainan.&lt;br /&gt;Menurut Marx, lahir dan berkembangnya kapitalisme dan industri nodern mengakibatkan terpecahnya masyarakat menjadi dua kelas yang saling bermusuhan, yaitu kelas borjuis dan kelas proleter. Marx meramalkan bahwa melalui suatu perjuangan kelas kaum proletar akan mendirikan suatu masyarakat tanpa kelas.&lt;br /&gt;Pandangan Marx ini dikecam oleh banyak ilmuwan sosial. Kritik utama ditujukan pada diginakannya hanya satu dimensi, yaitu dimensi ekonomi, yaitu menetapkan stratifikasi sosial. Kritik lain ialah bahwa dalam kenyataan masyarakat industri mengenal lebih dari dua kelas.&lt;br /&gt;Weber mengemukakan bahwa di saamping stratifikasi menurut dimensi ekonomi kita menjumpai pula stratifikasi menurut dimensi lain. Webwe memperkenalkan perbedaan antara konsep-konsep kelas, kelompok status, dan partai, yang merupakan dasar bagi pembedaannya antara tiga jenis stratifikasi sosial.&lt;br /&gt;Pengaruh Weber Nampak dalam pandangan Peter Berger, yang mengartikan stratifikasi sebagai penjenjangan masyarakat menjadi hubungna atasan-bawahan atas dasar kekuasaan, kekayaan, dan kehormatan. Pengaruh weber Nampak pula dalam karya Jeffries dan Ransford yang dengan menggunakan ukuran kekuasaan, hirarki kelas, dan hirarki status. Suatu hal yang ditekankan Weber ialah kemungkinan adanya hubungan antara kedudukan menurut beberapa dimensi.&lt;br /&gt;Pandangan Davis dan Moore yang dikenal sebagai penjelasan fungsionalis menekankan pada fungsi status-status dalam masyarkat yang dinilai meninjang kesinambungan masyarakat. Sejumlah ahli sosiologi lain melihat bahwa stratifikasi timbul karena adanya masyarakat berkembang pembagian kerja yang memungkinkan perbedaan kekayaan, kekuasaan dan prestise. Adanya perbedaan prestise dalam masyarakat tercermin pada perbedaan gaya hidup. Dalam kaitan dengan perbedan atarkelas ini para ahli sosiologi seing berbicara mengenai symbol status.&lt;br /&gt;Kedudukan dalam suatu kelas sosial tertentu mempunyai arti penting bagi seseorang. Perbedaan kelas sosial berkaitan dengan perbedaan fertilitas, harapan hidup bayi pada waktu lahir, kestabilan keluarga, kesehatan mental,perilaku seks, kehidupan beragama. Mode, dan sikap politik.&lt;br /&gt;Dalam sosiologi digunakan beberapa pendekatan untuk mempelajari stratifikasi sosial seperti pendekatan objektif, pendekatan subjektif, dan pendekatan reputational. Ada masyarakat yang berpandangan bahwa apa yang dapat diperoleh seorang anggota masyarakat tergantung pada kemampuannya. Masyarakat lebih menekankan asa yang menyatakan bahwa pemerataan berarti pemerataan pendapat. Untuk mengurangi ketidaksamaan dalam masyarakat pemerintah berbagai negara menerapkan berbagai program. Beberapa masyarakat bukan berusaha mengurangi ketidaksamaan dalam masyarakat dengan jalan membatasi perbedaan antar individu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan Antar Kelompok&lt;br /&gt;Dalam pembahasan mengenai hubungan antarkelompok yang dimaksudkan dengan kelompok mencakup statistical group, societal group, dan associational group. Konsep kelompok di sinsi mencakup semua kelompok yang diklasifikasikan berdasarkan criteria cirri fisik, kebudayaan, ekonomi, dan perilaku. Faktor-faktor yang mempengaruhi kelompok moralitas dapat dikaji dengan menggunakan dimensi sejarah, dimensi demografi, dimensi sikap, dimensi institusi, dimensi gerakan sosial, dan dimensi tipe utama hubungan antarkelompok. Di samping itu ada yang perlu diperhatikan, yaitu dimensi perilaku dan dimensi kolektif.&lt;br /&gt;Suatu bentuk hubungan yang banyak disoroti ialah hubungan mayoritas-minoritas, dalam definisi Kinloch kelompok mayoritas ditandai adanya kelebihan kekuasaan; konsep mayoritas tidak dikaitkan dengan jumlah anggota kelompok. Ada pula ilmuwan sosial berpendapat bahwa konsep mayoritas didasarkan pada keunggulan jumlah anggota.&lt;br /&gt;Redfield melihat bahwa konsep ras sebagai gejala sosial berlainan dengan konsep ras sebagai gejala biologis. Bagi Berghe ras berarti kelompok etnik diganti dengan istilah golongan etnik. Rasisme didefinisikan sebagai suatu ideology yang didasarkan pada keyakinan bahwa cirri tertentu yang dibawa sejak lahir menandakan bahwa pemilik cirri tersebut lebih rendah sehingga mereka dapat didiskriminasi. Kita menjumpai pula ideology-ideologi lain yang jugaberusaha membenarkan diskriminasi terhadap kelompok lain seperti sitem ageisn. Apabila kita bicara tentang rasialisme kita berbicara mengenai praktik diskriminasi terhadap kelompok ras lain.&lt;br /&gt;Ideologi rasisme yang menganggap bahwa orang Kulit Putih lebih unggul daripada orang kulit berwarna antara lain pernah dianut oleh Amerika Serikat dan hingga kini masih dianut di Republik Afrika Selatan. Menurut v.d.Berghe demokrasi di Amerika Serikat hingga awal Perang Dunia II dan di Afrika Selatan hingga kini merupakan apa yang dinamakanmya “Herrenvolk democracy”.&lt;br /&gt;Menurut Noel stratifikasi etnik terjadi apabila terpenuhi tiga persyaratan yaitu: etnosentrisme, persaingan, dan perbedaan kekuasaan. Collins berpandangan bahwa satu-satunya faktor yang mengawali dan mendasari stratifikasi jenis kelamin ialah kekuatan fisik, sedangkan Parsons mengaitkan stratifilasi jenis kelamin dengan industrialisasi. Menurut Ransford kekhususan stratifikasi usia terletak pada kenyataan bahwa status dalam jenjang kekuasaan, pertise dan privilese berbentuk kurvilinear.&lt;br /&gt;Banton mengemukakan bahwa kontak antara dua kelompok ras dapat diikuti proses akulturasi, dominasi, paternalisme, pluralisme, atau integrasi. Dalam klasifikasi Liberson dapat dibedakan antara pola dominasi kelompok pendatang aatas kelompok pribumi dan pola dominasi kelompok pribumi atas kelompok pendatang.&lt;br /&gt;Dalam hubungan antarkelompok sering ditampilkan prasangka. Salah satu teori untuk menjelaskan prasangka ialah teori frustasi-agresi. Stereotip erat kaitannya dengan prasangka. Stereotip-stereotip dapat bersifat negatif maupun positif. Bettelheim dan Janowitz membedakan dua macam stereotip negatif yang saling bertentangan: stereotip superego dan stereotip id.&lt;br /&gt;Satu bentuk perilaku yang banyak ditampilkan dalam hubungan antarkelompok ialah diskriminasi. Ransford membedakan antara diskriminasi individu dan diskriminasi institusi. Prasangka bukanlah prasyarat bagi perilaku diskriminasi, dan sebaliknya prasangka yang dianut seseorang oun tidak selalu membuahkan perilaku diskriminatif.&lt;br /&gt;Hubungan antarkelompok sering berwujud perilaku kolektif. Tidak jarang gerakan antarkelompok berkembang menjadi huru-hara yang mengakibatkan perusakan harta benda atau bahkan mengakibatkan jatuhnya korban jiwa. Hubungan antarkelompok pun sering melibatkan gerakan sosial, baik yang diprakarsai oleh pihak yang menginginkan perubahan maupun oleh mereka yang ingin mempertahankan keadaan yang ada.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/feeds/9160374692347992845/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/2010/05/interaksi-sosial.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1244976486987510470/posts/default/9160374692347992845'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1244976486987510470/posts/default/9160374692347992845'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/2010/05/interaksi-sosial.html' title='Interaksi Sosial'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1244976486987510470.post-8846547099564610883</id><published>2010-05-22T01:02:00.000+07:00</published><updated>2010-05-22T01:05:51.861+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="ansos masyarakat kota"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="karakter masyarakat desa"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="karakter Masyarakat Kota"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Masyarakat Perkotaan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sosiologi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Struktur Penduduk Kota"/><title type='text'>Masyarakat Perkotaan</title><content type='html'>1 Struktur Penduduk Kota&lt;br /&gt;a. Segi Demografi&lt;br /&gt;Ekspresi demografi dapat ditemui di kota-kota besar. &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/03/masyarakat-perkotaan_18.html&quot;&gt;Kota-kota sebagai pusat perdagangan&lt;/a&gt;, pusat pemerintahan dan pusat jasa lainnya menjadi daya tarik bagi penduduk di luar kota. Jenis kelamin dalam hal ini mempunyai arti penting, karena semua kehidupan sosial dipengaruhi oleh proporsi atau perbandingan jenis kelamin. Suatu kenyataan ialah bahwa pada umumnya kota lebih banyak dihuni oleh wanita daripada pria.&lt;br /&gt;Struktur penduduk kota dari segi umur menunjukkan bahwa mereka lebih banyak tergolong dalam umur produktif. Kemungkinan besar adalah bahwa mereka&lt;br /&gt;yang berumur lebih dari 65 tahun atau mereka yang sudah pensiun lebih menyukai kehidupan dan suasana yang lebih tenang. Suasana ini terdapat di daerah-daerah pedesaan atau sub urban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Segi Ekonomi&lt;br /&gt;Struktur kota dari segi ini dapat dilihat dari jenis-jenis mata pencaharian penduduk atau warga kota. Sudah jelas bahwa jenis mata pencaharian penduduk kota adalah di bidang non agraris seperti pekerjaan-pekerjaan di bidang perdagangan, kepegawaian, pengangkutan dan di bidang jasa serta lain-lainnya. Dengan demikian struktur dari segi jenis-jenis mata pencaharian akan mengikuti fungsi dari suatu kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Segi Segregasi&lt;br /&gt;Segregasi dapat dianalogkan dengan pemisahan yang dapat menimbulkan berbagai kelompok (clusters), sehingga kita sering mendengar adanya: kompleks perumahan pegawai bank, kompleks perumahan tentara, kompleks pertokoan, kompleks pecinan dan seterusnya. Segregasi ini ditimbulkan karena perbedaan suku, perbedaan pekerjaan, perbedaan strata sosial, perbedaan tingkat pendidikan dan masih beberapa sebab-sebab lainnya,&lt;br /&gt;Segregasi menurut mata pencaharian dapat dilihat pada adanya kompleks perumahan pegawai, buruh, industriawan, pedagang dan seterusnya, sedangkan menurut perbedaan strata sosial dapat dilihat adanya kompleks golongan berada. Segregasi ini tidak akan menimbulkan masalah apabila ada saling pengertian, toleransi antara fihak-fihak yang bersangkutan.&lt;br /&gt;Segregasi ini dapat disengaja dan dapat pula tidak di sengaja. Disengaja dalam hubungannya dengan perencanaan kota misalnya kompleks bank, pasar dan sebagainya. Segregasi yang tidak disengaja terjadi tanpa perencanaan, tetapi akibat dari masuknya arus penduduk dari luar yang memanfaatkan ruang kota, baik dengan ijin maupun yang tidak dengan ijin dari pemerintahan kota. Dalam hal seperti ini dapat terjadi slums. Biasanya slums ini merupakan daerah yang tidak teratur dan bangunan-bangunan yang ada tidak memenuhi persyaratan bangunan dan kesehatan.&lt;br /&gt;Adanya segregasi juga dapat disebabkan sewa atau harga tanah yang tidak sama. Daerah-daerah dengan harga tanah yang tinggi akan didiami oleh warga kota yang mampu sedangkan daerah dengan tanah yang murah akan didiami oleh swarga kota yang berpenghasilan sedang atau kecil.&lt;br /&gt;Apabila ada kompleks yang terdiri dari orang-orang yang sesuku bangsa yang mempunyai kesamaan kultur dan status ekonomi, maka kompleks ini atau clusters semacam ini disebut dengan istilah ”natural areas”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sifat-Sifat Masyarakat Kota&lt;br /&gt;Masyarakat kota adalah masyarakat yang anggota-anggotanya terdiri dari manusia yang bermacam-macam lapisan/ tingkatan hidup, pendidikan, kebudayaan dan lain-lain. Mayoritas penduduknya hidup berjenis-jenis usaha yang bersifat non-agraris. Masyarakt perkotaan memiliki sifat-sifat yang tampak menonjol yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Sikap kehidupan&lt;br /&gt;Sikap kehidupan masyarakt kota cenderung pada individuisme/egoisme yaitu masing-masing anggota masyarakat berusaha sendiri-sendiri tanpa terikat oleh anggota masyarakt lainnya, hal mana menggambarkan corak hubungan yang terbatas, dimana setiap individu mempunyai otonomi jiwa atau kemerdekaan untuk melakukan apa yang mereka inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Tingkah laku&lt;br /&gt;Tingkah lakunya bergerak maju mempunyai sifat kreatif, radikal dan dinamis. Dari segi budaya masyarakat kota umumnya mempunyai tingkatan budaya yang lebih tinggi, karena kreativitas dan dinamikanya kehidupan kota lebih cepat menerima yang baru atau membuang sesuatu yang lama, lebih cepat mengadakan reaksi, lebih cepat menerima mode-mode dan kebiasaan-kebiasaan baru. Kedok peradaban yang diperolehnya ini dapat memberikan sesuatu perasaan harga diri yang lebih tinggi, jauh berbeda dengan seni budaya dalam masyarakat desa yang bersifat statis. Derajat kehidupan masyarakt kota beragam dengan corak sendiri-sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Perwatakan&lt;br /&gt;Perwatakannya cenderung pada sifat materialistis. Akibat dari sikap hidup yang egoism dan pandangan hidup yang radikal dan dinamis menyebabkan masyarakat kota lemah dalam segi religi, yang mana menimbulkan efek-efek negative yang berbentuk tindakan amoral, indisipliner, kurang memperhatikan tanggungjawab sosial.&lt;br /&gt;Berdasarkan paparan diatas maka masyarakat kota memiliki ciri-ciri sebagai berikut:&lt;br /&gt;• Terdapat spesialisasi dari variasi pekerjaan.&lt;br /&gt;• Penduduknya padat dan bersifat heterogen.&lt;br /&gt;• Norma-norma yang berlaku tidak terlalu mengikat.&lt;br /&gt;• Kurangnya kontrol sosial dari masyarakat karena sifat gotong royong mulai menurun.&lt;br /&gt;Kita dapat membedakan antara masyarakat desa dan masyarakat kota yang masing-masing punya karakteristik tersendiri. Masing-masing punya sistem yang mandiri, dengan fungsi-fungsi sosial, struktur serta proses-proses sosial yang sangat berbeda, bahkan kadang-kadang dikatakan &quot;berlawanan&quot; pula. Perbedaan ini dapat dilhat dari unsure-unsur pembeda yang telah ada, Yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Unsur pembedaan Desa Kota&lt;br /&gt;1 Mata pencaharian Agraris-homogen Non agraris-heterogen&lt;br /&gt;2 Ruang kerja Lapangan terbuka Ruang tertutup&lt;br /&gt;3 Musim/cuaca Penting dan menentukan Tidak penting&lt;br /&gt;4 Keahlian Umum dan tersebar Ada spesialisasi&lt;br /&gt;5 Rumah dan tempat kerja Dekat Berjauhan&lt;br /&gt;6 Kepadatan penduduk Tidak padat Padat&lt;br /&gt;7 Kontak sosial Frekwensi kecil Frekwensi besar&lt;br /&gt;8 Stratifikasi sosial Sederhana dan sedikit Hukum/peraturan tertulis&lt;br /&gt;9 Lembaga-lembaga Terbatas dan sederhana Hukum/peraturan tertulis&lt;br /&gt;10 Kontrol sosial Adat/tradisi Hukum/peraturan tertulis&lt;br /&gt;11 Sifat masyrakat Gotong royong akrab Gesellschaft&lt;br /&gt;12 Mobilitas Rendah Tinggi&lt;br /&gt;13 Status sosial Stabil Tidak stabil</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/feeds/8846547099564610883/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/2010/05/masyarakat-perkotaan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1244976486987510470/posts/default/8846547099564610883'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1244976486987510470/posts/default/8846547099564610883'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/2010/05/masyarakat-perkotaan.html' title='Masyarakat Perkotaan'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1244976486987510470.post-5223973629809442245</id><published>2010-05-22T00:16:00.000+07:00</published><updated>2010-05-22T00:20:31.143+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Filsafat"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="idealisme"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Materialisme dan Idealisme"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="meterialisme"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Metode berpikir yang dialektik"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="penemuan-penemuan luar biasa"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sejarah filsafat Barat"/><title type='text'>Materialisme dan Idealisme</title><content type='html'>Seluruh sejarah filsafat dari jaman Yunani sampai hari ini tersusun atas pergulatan antara dua aliran pemikiran yang persis berseberangan - &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/04/materialisme-dan-idealisme.html&quot;&gt;materialisme&lt;/a&gt; dan idealisme. Di sini kita mendapati satu contoh yang sempurna tentang bagaimana kedua istilah yang dipergunakan dalam filsafat ini berbeda makna secara hakiki dengan maknanya yang dipergunakan sehari-hari. Ketika kita merujuk seseorang sebagai &quot;idealis&quot;, kita biasanya berpikir tentang seseorang yang memiliki ideal-ideal yang tinggi dan moralitas yang tak bercacat. Seorang materialis, sebaliknya, dipandang sebagai seorang yang tidak punya prinsip, seorang pengeruk uang, seorang individualis yang hanya memikirkan diri sendiri, dengan nafsu serakah untuk makanan dan benda-benda duniawi lain - pendeknya, seorang yang sama sekali tidak menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua pemaknaan ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan materialisme dan idealisme di dunia filsafat. Dalam makna filosofis, idealisme memiliki akar dari pandangan bahwa dunia ini hanyalah cerminan dari ide, pikiran, roh atau, lebih tepatnya Ide, yang hadir sebelum segala dunia ini hadir. Benda-benda material kasar yang kita kenal melalui indera kita, menurut aliran ini, hanyalah salinan yang kurang sempurna dari Ide yang sempurna itu. Para pendukung filsafat ini yang paling konsisten sepanjang sejarah kuno adalah Plato. Walau demikian, ia bukan merupakan pencipta idealisme, yang telah lahir sebelum jamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pengikut Pythagoras percaya bahwa hakikat dari segala hal adalah Angka (satu pandangan yang agaknya dimiliki pula oleh beberapa ahli matematika modern). Para Pythagorean ini menunjukkan penghinaan terhadap dunia material secara umum dan tubuh manusia secara khusus, yang mereka pandang sebagai penjara di mana jiwa terperangkap. Pandangan ini memiliki kemiripan yang mengejutkan dengan pandangan-pandangan para biarawan abad pertengahan. Benar, mungkin saja bahwa Gereja mengambil banyak ide mereka dari kaum Pythagorean, Platonis dan Neo-Platonis. Hal ini tidaklah mengejutkan. Semua agama niscaya memiliki akar dalam pandangan idealis terhadap dunia. Perbedaannya adalah bahwa agama mempengaruhi emosi, dan mengaku menyediakan satu pemahaman yang mistis dan intuitif terhadap dunia (&quot;Penglihatan&quot;), sementara kebanyakan filsuf idealis berupaya menyajikan satu argumen yang logis untuk teori-teori mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya, bagaimanapun juga, akar dari segala bentuk idealisme adalah religius dan mistis. Kejijikan terhadap &quot;dunia material kasar&quot; dan pengangkatan &quot;Ide&quot; ke posisi yang tinggi mengalir langsung dari gejala yang telah kita lihat dalam hubungannya dengan agama. Bukanlah sebuah kebetulan jika idealisme Platonis berkembang di Athena ketika sistem perbudakan sedang berada dalam puncak kejayaannya. Kerja-kerja fisik, pada saat itu, dilihat secara harafiah sebagai sebuah penanda perbudakan. Satu-satunya kerja yang dapat dihargai adalah kerja-kerja intelektual. Secara hakiki, filsafat idealisme adalah satu produk dari pembedaan yang ekstrim antara kerja-kerja fisik dan mental yang telah hadir dari sejak menyingsingnya fajar sejarah sampai hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah filsafat Barat, walau demikian, tidak dimulai dengan idealisme melainkan dengan materialisme. Filsafat ini menunjukkan kepada kita persis kebalikan dari idealisme: bahwa dunia material, yang kita kenal dan jelajahi melalui ilmu pengetahuan, nyata adanya; bahwa satu-satunya dunia yang nyata adalah dunia material; bahwa pikiran, ide, dan perasaan adalah hasil dari materi yang terorganisir dalam cara tertentu (sistem syaraf dan otak); bahwa pikiran tidak dapat hadir dari dirinya sendiri, tapi hanya dapat timbul dari dunia objektif yang menyatakan dirinya kepada kita melalui alat-alat indera kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para filsuf Yunani yang paling awal dikenal sebagai &quot;hylozois&quot; (dari bahasa Yunani, yang berarti &quot;mereka yang percaya bahwa materi itu hidup&quot;). Di sini kita mendapati sederetan panjang pahlawan yang mempelopori perkembangan pemikiran. Orang-orang Yunani menemukan bahwa dunia itu bulat, jauh sebelum Columbus. Mereka menerangkan bahwa manusia berevolusi dari ikan jauh sebelum Darwin. Mereka membuat penemuan-penemuan luar biasa dalam bidang matematik, yang tak diubah banyak selama satu setengah milenia. Mereka menemukan mekanika dan bahkan membuat satu mesin uap. Hal baru yang mengejutkan dalam cara memandang dunia ini adalah bahwa cara itu tidaklah religius. Berseberangan mutlak dengan orang-orang Mesir dan Babilonia, dari mana mereka banyak belajar, orang-orang Yunani tidaklah menyerahkan penjelasan atas gejala alam kepada para dewa dan dewi. Untuk pertama kalinya, manusia mencoba bekerjanya alam murni dengan mempelajari alam itu sendiri. Ini adalah satu dari titik balik terbesar dalam seluruh sejarah perkembangan pemikiran manusia. Ilmu pengetahuan yang sejati bermula di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aristoteles, yang terbesar dari seluruh filsuf jaman kuno, dapat dianggap seorang materialis, sekalipun ia tidaklah sekonsisten para hylozois pertama. Ia membuat serangkaian penemuan ilmiah yang merupakan basis bagi pencapaian-pencapaian besar sepanjang masa-masa Alexander.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abad pertengahan yang menyusul runtuhnya Jaman Kuno adalah satu padang tandus di mana pemikiran ilmiah berdiri terkucil selama berabad-abad. Bukan satu kebetulan bahwa masa ini didominasi oleh Gereja. Idealisme adalah satu-satunya filsafat yang diperbolehkan, apakah itu dalam bentuk Platonis karikatural atau bahkan, lebih buruk lagi, satu penyimpangan atas filsafat Aristoteles.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu pengetahuan muncul kembali dengan jaya dalam masa Jaman Pencerahan. Di sana ia dipaksa untuk melancarkan perang yang ganas terhadap pengaruh agama (bukan hanya Katolik, melainkan juga Protestan). Banyak martir yang harus membayar harga kebebasan ilmiah dengan nyawanya sendiri. Giordano Bruno dibakar hidup-hidup di tiang bakaran. Galileo dua kali diadili oleh Pengadilan Inkuisisi, dan dipaksa dengan siksaan untuk meyangkal pandangan-pandangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecenderungan filosofis yang dominan dalam Jaman Pencerahan adalah materialisme. Di Inggris, kecenderungan ini mengambil bentuk empirisisme, aliran pemikiran yang menyatakan bahwa semua pengetahuan merupakan turunan dari perasaan inderawi. Pelopor dari aliran ini adalah Francis Bacon (1561-1626), Thomas Hobbes (1588-1679) dan John Locke (1632-1704). Aliran materialis berkisar dari Inggris ke Perancis di mana ia memperoleh satu suntikan isi revolusioner. Di tangan Diderot, Rousseau, Holbach, dan Helvetius, filsafat menjadi satu alat untuk mengkritisi seluruh tatanan masyarakat yang ada. Para pemikir besar ini menyiapkan jalan untuk penggulingan revolusioner atas monarki feudal di tahun 1789-93.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan filosofis yang baru ini merangsang perkembangan ilmu pengetahuan, mendorong dilakukannya percobaan-percobaan dan pengamatan-pengamatan. Di abad ke-18 terjadilah satu kemajuan yang luar biasa dalam ilmu pengetahuan, terutama di bidang mekanika. Tapi fakta ini memiliki sisi negatif, seiring dengan sisi positifnya. Materialisme lama di abad ke-18 bersifat sempit dan kaku, suatu cerminan dari perkembangan ilmu pengetahuan yang masih terbatas. Newton menyatakan batasan empirisisme dalam kalimatnya yang terkenal, &quot;Saya tidak membuat hipotese apapun.&quot; Pandangan mekanis yang sepihak ini akhirnya terbukti fatal bagi materialisme lama. Secara paradoks, perkembangan terbesar dalam filsafat setelah 1700 justru dibuat oleh para filsuf idealis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah pengaruh revolusi Perancis, filsuf idealis Jerman Immanuel Kant (1724-1804) meletakkan semua filsafat yang hadir sebelum jamannya ke bawah hujan badai kritisisme. Kant membuat penemuan-penemuan penting bukan hanya dalam filsafat dan logika tapi juga dalam bidang ilmu pengetahuan. Hipetesisnya tentang asal-usul alam semesta yang diperkirakannya berasal dari kabut gas nebula (yang kemudian diberi basis matematik oleh Laplace) sekarang secara umum diterima sebagai kebenaran. Di bidang filsafat, adikarya Kant The Critique of Pure Reason adalah karya pertama yang menganalisa bentuk-bentuk logika yang telah tinggal tak berubah setelah bentuk-bentuk itu dirumuskan pertama kali oleh Aristoteles. Kant menunjukkan kontradiksi yang secara implisit terdapat dalam kebanyakan proposisi mendasar filsafat. Walau demikian, ia gagal menyelesaikan kontradiksi-kontradiksi ini (&quot;Antinomi&quot;), dan akhirnya menarik kesimpulan bahwa mustahil kita mendapatkan kebenaran yang sejati tentang alam semesta. Walau kita dapat mengetahui apa yang nampak, kita tidak akan pernah tahu &quot;apa yang ada di dalamnya&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide ini bukanlah sesuatu yang baru. Ide ini adalah tema yang telah berulang berkali-kali dalam sejarah filsafat, dan merupakan apa yang dikenal dengan istilah idealisme subjektif. Ini dikemukakan sebelum Kant oleh seorang uskup dan filsuf dari Irlandia, George Berkeley, dan digemakan juga oleh empirisis klasik Inggris, David Hume. Argumen dasarnya dapat diringkaskan sebagai berikut: &quot;Saya menginterpretasi dunia melalui indera saya. Dengan demikian, semua yang saya tahu benar-benar ada adalah citra yang ditangkap oleh indera saya. Dapatkah saya, contohnya, bersumpah bahwa sebuah apel benar-benar ada? Tidak. Apa yang saya dapat katakan adalah saya melihatnya, saya merasakannya, saya menciumnya, saya mengecapnya. Dengan demikian, saya tidak dapat benar-benar menyatakan bahwa dunia material benar-benar ada.&quot; Logika dari idealisme subjektif adalah bahwa, jika saya menutup mata saya, dunia ini akan menghilang. Pada ujungnya, filsafat ini akan membawa kita pada solipisme (dari bahasa Latin &quot;solo ipsus&quot; - &quot;saya sendiri&quot;), ide bahwa hanya saya sendiri yang ada, yang lain tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide ini mungkin tidak masuk nalar bagi kita, tapi mereka telah terbukti tetap bertahan. Melalui satu atau lain cara, prasangka idealisme subjektif telah merasuki bukan hanya filsafat tapi juga ilmu pengetahuan, bahkan pada sebagian besar abad ke-20. Kita akan melihat kecenderungan ini lebih lanjut di belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terobosan terbesar datang dalam dekade pertama abad ke-19 melalui George Wilhelm Hegel (1770-1831). Hegel adalah seorang filsuf idealis Jerman, seorang yang kejeniusannya menjulang setinggi langit, yang dengan efektif telah meringkas dalam tulisannya seluruh kesejarahan filsafat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hegel menunjukkan bahwa satu-satunya cara untuk mengatasi &quot;Antinomi&quot; Kant adalah dengan menerima bahwa kontradiksi itu benar-benar ada, bukan hanya dalam pemikiran, tapi juga dalam dunia nyata. Sebagai seorang idealis objektif, Hegel tidak mempedulikan argumen kaum idealis subjektif bahwa pikiran manusia tidak mungkin memahami dunia nyata. Bentuk-bentuk pikiran harus mencerminkan dunia objektif semirip mungkin. Proses pengetahuan mengandung satu penetrasi yang semakin lama semakin dalam menerobos realitas, maju dari yang abstrak ke yang kongkrit, dari yang diketahui ke yang tidak diketahui, dari yang khusus menuju yang umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode berpikir yang dialektik ini telah memainkan satu peran besar di Jaman Kuno, khususnya dalam ujar-ujar yang naif tapi brilian dari Heraclitus (c. 500 SM), tapi juga dalam pemikiran Aristoteles dan yang lain-lain. metode ini ditinggalkan di Abad Pertengahan, ketika Gereja mengubah logika formal Aristoteles menjadi dogma yang kaku dan mati. Metode ini tidak muncul-muncul lagi sampai Kant mengembalikannya ke tempat yang terhormat. Walau demikian, dalam filsafat Kant dialektika tidaklah menerima perlakuan yang cukup untuk memperkembangkannya. Tugas untuk membawa ilmu berpikir dialektik ke tingkat perkembangannya yang tertinggi jatuh ke tangan Hegel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebesaran Hegel ditunjukkan oleh fakta bahwa hanya dia sendiri yang siap menantang filsafat mekanisme yang dominan pada masa itu. Filsafat dialektika Hegel mengurusi proses, bukan hal-hal yang saling terisolasi satu sama lain. Filsafat itu mengurusi segala hal dalam masa kehidupannya, bukan dalam kematiannya, dalam kesalingterhubungannya, bukan dalam kesalingterpisahannya. Ini adalah cara memandang dunia yang benar-benar modern dan ilmiah. Sesungguhnya, dalam banyak aspek, Hegel maju jauh lebih dahulu dari jamannya. Walau demikian, sekalipun ia memiliki pandangan yang sering gemilang, filsafat Hegel pada akhirnya tidaklah cukup memuaskan. Kekurangannya yang utama adalah sudut pandangnya yang idealis, yang menghalanginya dalam menerapkan metode dialektika pada dunia nyata dengan cara yang ilmiah dan konsisten. Bukannya mendapat dunia material, kita malah mendapat dunia Ide Absolut, di mana benda-benda nyata, proses dan manusia digantikan oleh bayangan-bayangan tak berbentuk. Mengutip Frederick Engels, dialektika Hegelian adalah filsafat yang paling abortif [gugur sebelum waktunya, pen.] sepanjang sejarah filsafat. Ide-ide yang tepat di sini terlihat berdiri di atas kepala mereka sendiri. Untuk menempatkan dialektika di atas pondasi yang kukuh, sangatlah penting untuk memutarbalikkan filsafat Hegel, untuk mengubah dialektika idealis menjadi materialisme dialektik. Yang ini adalah pencapaian besar dari Karl Marx dan Frederick Engels. Studi kita dimulai dengan satu ulasan ringkas tentang hukum-hukum dasar materialisme dialektik yang mereka kemukakan.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/feeds/5223973629809442245/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/2010/05/materialisme-dan-idealisme.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1244976486987510470/posts/default/5223973629809442245'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1244976486987510470/posts/default/5223973629809442245'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/2010/05/materialisme-dan-idealisme.html' title='Materialisme dan Idealisme'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1244976486987510470.post-4529794223483755557</id><published>2010-05-21T23:54:00.000+07:00</published><updated>2010-05-21T23:58:41.889+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Abad Pertengahan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Apa itu Silogisme"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Apa itu Silogisme ?"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Aristoteles"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Filsafat"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Konstruksi logika formal"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Leon Trotsky"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="logika formal"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pemikiran logis"/><title type='text'>Apa itu Silogisme ?</title><content type='html'>&quot;Pemikiran logis, pemikiran formal secara umum,&quot; ujar &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/04/apa-itu-silogisme.html&quot;&gt;Leon Trotsky&lt;/a&gt;, &quot;disusun di atas basis metode deduktif, maju dari silogisme yang lebih umum melalui sejumlah premis menuju satu kesimpulan yang sewajarnya. Rantai silogisme semacam itu disebut dengan sorites.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aristoteles adalah orang pertama yang menulis satu sistematika atas logika formal dan logika dialektik, sebagai cara menyusun pikiran. Tujuan dari logika formal adalah untuk menyediakan kerangka kerja untuk membedakan argumen yang sahih dan yang tidak sahih. Hal ini dilakukannya dalam bentuk silogisme. Ada berbagai bentuk silogisme, yang sebenarnya merupakan varian dari tema yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artistoteles, dalam bukunya Organon, menyebut sepuluh kategori - substansi, kuantitas, kualitas, hubungan, tempat, waktu, posisi, keadaan, aksi, gairah - yang membentuk basis bagi logika dialektik, yang kemudian disempurnakan dalam tulisan-tulisan Hegel. Sisi lain dari karya Aristoteles tentang logika ini sering diabaikan. Bertrand Russell, contohnya, menganggap bahwa kategori-kategori ini tidak bermakna. Tapi karena para positivis logis seperti Russell telah secara praktis mencoret seluruh sejarah filsafat (kecuali potongan-potongan yang bersesuaian dengan dogma-dogma mereka) sebagai &quot;tidak bermakna&quot;, hal ini seharusnya tidak terlalu mengejutkan atau merepotkan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silogisme adalah cara berpikir logis, yang dapat digambarkan dengan berbagai cara. Definisi yang diberikan Aristoteles sendiri adalah sebagai berikut: &quot;Satu diskursus di mana berbagai hal dinyatakan, hal-hal lain yang tidak dinyatakan harus mengikuti apa yang dinyatakan karena hal-hal itu dinyatakan demikan.&quot; Definisi yang paling sederhana diberikan oleh A. A. Luce: &quot;Sebuah silogisme adalah satu triad [pasangan ganda tiga] dari proposisi yang yang saling berhubungan, terhubung sedemikian rupa sehingga salah satu dari ketiganya, yang disebut Kesimpulan, harus mengikuti kedua pernyataan yang lain, yang disebut Premis.&quot;[vi]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Terpelajar dari abad pertengahan memusatkan perhatian mereka pada jenis logika formal yang dikembangkan Aristoteles dalam The Prior and Posterior Analytics. Dalam bentuk inilah logika Aristoteles diwariskan sampai Abad Pertengahan. Dalam prakteknya, silogisme ini mengandung dua premis dan satu kesimpulan. Subjek maupun predikat dari kesimpulan masing-masing muncul dalam salah satu dari kedua premis, bersama dengan bagian ketiga (termin tengah) yang ditemukan dalam kedua premis, tapi tidak di dalam kesimpulan. Predikat dari kesimpulan adalah termin mayor; premis di mana ia terkandung disebut premis mayor; subjek dari kesimpulan adalah termin minor; dan premis di mana ia terkandung disebut premis minor. Contohnya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Semua manusia adalah fana. (Premis mayor)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Caesar adalah seorang manusia. (Premis minor)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Dengan demikian, Caesar adalah fana. (Kesimpulan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini disebut satu pernyataan kategorikal afirmatif. Pernyataan ini memberi kesan sebagai sebuah rantai logis dari sebuah argumen, di mana tiap tahap niscaya diturunkan sebagai hasil dari tahap sebelumnya. Tapi, sebenarnya, bukan itu yang terjadi, karena &quot;Caesar&quot; sebenarnya telah termasuk dalam himpunan &quot;semua manusia&quot;. Kant, seperti Hegel, menganggap rendah silogisme (&quot;doktrin yang bertele-tele,&quot; ujar Kant). Baginya, silogisme &quot;tidaklah lebih dari sekedar satu tipuan&quot; di mana kesimpulan sebenarnya telah disisipkan tersembunyi dalam premis sehingga kesan berpikir yang ditimbulkannya adalah palsu.[vii]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis lain silogisme berbentuk kondisional (jika ... maka ...), contohnya: &quot;Jika seekor hewan adalah seekor harimau, maka ia adalah pemakan daging.&quot; Ini adalah cara lain untuk menyatakan hal yang sama dengan pernyataan kategorikal afirmatif, yaitu, semua harimau adalah pemakan daging. Hubungan yang sama terjadi pada bentuk negatifnya - &quot;Jika ia adalah seekor ikan, maka ia bukanlah hewan menyusui&quot; adalah cara lain untuk menyatakan &quot;Tidak ada ikan yang menyusui&quot;. Perbedaan formal ini menyembunyikan fakta bahwa kita belum maju selangkahpun dalam pemikiran kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang sebenarnya baru saja ditunjukkan adalah hubungan internal antara berbagai hal, bukan hanya dalam pikiran tapi juga dalam dunia nyata. &quot;A&quot; dan &quot;B&quot; terhubung dengan satu cara tertentu terhadap &quot;C&quot; (bagian tengah) dan premis-premis, dengan demikian, mereka terhubung satu sama lain di dalam kesimpulan. Dengan pemahaman dan kedalaman yang dahsyat, Hegel menunjukkan bahwa apa yang ditunjukkan oleh silogisme adalah hubungan dari yang khusus ke yang umum. Dengan kata lain, silogisme itu sendiri adalah satu contoh dari kesatuan hal-hal yang bertentangan, kontradiksi dalam tingkatan paling sempurna, dan bahwa, dalam kenyataannya, segala hal adalah &quot;silogisme&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa keemasan silogisme terjadi dalam Abad Pertengahan, ketika Orang-orang Terpelajar mengabdikan seluruh hidup mereka dalam perdebatan tanpa ujung tentang segala persoalan teologis yang kabur, seperti &quot;apa jenis kelamin malaikat?&quot; Konstruksi logika formal yang berbelit-belit itu membuat mereka nampak sedang terlibat dalam satu diskusi yang mendasar padahal, kenyataannya, mereka tidak sedang berdebat sama sekali. Alasannya terletak persis pada sifat logika formal itu sendiri. Seperti yang dinyatakan oleh namanya, logika ini hanya mengurusi segala yang memiliki bentuk [form]. Masalah tentang hakikat atau isi tidak termasuk di dalamnya. Persis inilah cacat utama dari logika formal, dan sekaligus adalah urat Achilles-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa Jaman Pencerahan, pembangkitan kembali semangat kemanusiaan, ketidakpuasan terhadap logika Aristotelian meluas dengan cepat. Terjadilah satu peningkatan reaksi melawan Aristoteles, yang sesungguhnya tidak adil terhadap pemikir besar ini, tapi sesungguhnya berakar dari fakta bahwa Gereja telah menindas segala yang berharga dalam filsafatnya, dan memelihara karikatur yang tak bernyawa dari filsafat yang sangat tinggi nilainya itu. Bagi Aristoteles, silogisme hanyalah satu proses dalam tata berpikir, dan tidak harus juga menjadi bagian yang terpenting darinya. Aristoteles juga menulis tentang dialektika, dan tapi aspek ini dilupakan. Logika dilucuti dari segala kehidupan yang dimilikinya dan diubah, mengutip Hegel, menjadi &quot;tulang-tulang tak bernyawa.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penolakan terhadap formalisme tak bernyawa ini tercermin dalam gerakan terhadap empirisisme, yang membuahi janin penyelidikan dan percobaan ilmiah. Walau demikian, mustahillah untuk sama sekali mengabaikan sama sekali satu bentuk pemikiran, dan empirisisme telah sejak kelahirannya membawa benih-benih kehancurannya sendiri. Satu-satunya alternatif yang berharga untuk metode berpikir yang penuh kekurangan dan tidak tepat ini adalah dengan mengembangkan metode yang tepat dan tanpa kekurangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir Abad Pertengahan, silogisme telah sama sekali dipermalukan di mana-mana, dan dihinakan dan dilecehkan. Rabelais, Petrach dan Montaigne, semua menyangkal kebenaran silogisme. Tapi silogisme masih terus bertahan, terutama di negeri-negeri Katolik, yang tidak tersentuh oleh badai yang ditiupkan oleh Reformasi Protestan. Di akhir abad ke-18, logika berada dalam keadaan yang demikian buruk sehingga Kant merasa berkewajiban untuk meluncurkan satu kritik umum terhadap bentuk-bentuk cara berpikir lama dalam bukunya Critique of Pure Reason.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hegel adalah orang pertama yang menempatkan hukum-hukum logika formal ke dalam analisis yang sepenuhnya kritis. Di dalam analisis ini ia menyempurnakan kerja yang telah dimulai oleh Kant. Tapi di mana Kant hanya menunjukkan kekurangan-kekurangan dan kontradiksi yang terkandung di dalam logika tradisional, Hegel maju lebih jauh, menguraikan satu pendekatan yang sama sekali berbeda terhadap logika, satu pendekatan dinamis yang akan memasukkan pergerakan dan kontradiksi ke dalam logika, dua hal yang tidak sanggup ditangani oleh logika formal.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/feeds/4529794223483755557/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/2010/05/apa-itu-silogisme.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1244976486987510470/posts/default/4529794223483755557'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1244976486987510470/posts/default/4529794223483755557'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/2010/05/apa-itu-silogisme.html' title='Apa itu Silogisme ?'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1244976486987510470.post-6729611434538422544</id><published>2010-05-21T23:27:00.000+07:00</published><updated>2010-05-21T23:33:55.482+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Barukh Spinoza"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Benedictus de Spinoza"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Blaise Pascal"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Bom atom Hiroshima"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Filsafat"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="filsuf Empirisme"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Francis Bacon"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="G.W. Leibniz"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hukum dan HAM"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Perkembangan Filsafat Ilmu"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Rene Descartes"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sintesa"/><title type='text'>Perkembangan Filsafat Ilmu</title><content type='html'>Filsafat ilmu berkembang dari masa ke masa sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta realitas sosial. Dimulai dengan aliran rasionalisme-emprisme , kemudian kritisisme dan &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/03/perkembangan-filsafat-ilmu.html&quot;&gt;positivisme&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Rasionalisme adalah paham yang menyatakan kebenaran haruslah ditentukan melalui pembuktian, logika, dan dan analisis yang berdasarkan fakta. Paham ini menjadi salah satu bagian dari renaissance atau pencerahan dimana timbul perlawanan terhadap gereja yang menyebar ajaran dengan dogma-dogma yang tidak bisa diterima oleh logika. Filsafat Rasionalisme sangat menjunjung tinggi akal sebagai sumber dari segala pembenaran. Segala sesuatu harus diukur dan dinilai berdasarkan logika yang jelas. Titik tolak pandangan ini didasarkan kepada logika matematika. Pandangan ini sangat popular pada abad 17. Tokoh-tokohnya adalah Rene Descartes (1596-1650), Benedictus de Spinoza – biasa dikenal: Barukh Spinoza (1632-1677), G.W. Leibniz (1646-1716), Blaise Pascal (1623-1662).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empirisisme adalah pencarian kebenaran melalui pembuktian-pembukitan indrawi. Kebenaran belum dapat dikatakan kebenaran apabila tidak bisa dibuktikan secara indrawi, yaitu dilihat, didengar dan dirasa. Francis Bacon (1561-1624) seorang filsuf Empirisme pada awal abad Pencerahan menulis dalam salah satu karyanya Novum Organum: Segala kebenaran hanya diperoleh secara induktif, yaitu melalui pengalamn dan pikiran yang didasarkan atas empiris, dan melalui kesimpulan dari hal yang khusus kepada hal yang umum. Empirisisme muncul sebagai akibat ketidakpuasan terhadap superioritas akal. Paham ini bertolak belakang dengan Rasionalisme yang mengutamakan akal. Tokoh-tokohnya adalah John Locke (1632-1704); George Berkeley (1685-1753); David Hume (1711-1776). Kebenaran dalam Empirisme harus dibuktikan dengan pengalaman. Peranan pengalaman menjadi tumpuan untuk memverifikasi sesuatu yang dianggap benar. Kebenaran jenis ini juga telah mempengaruhi manusia sampai sekarang ini, khususnya dalam bidang Hukum dan HAM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua aliran ini dibedakan lewat caranya untuk mencari kebenaran rasionalisme didominasi akal sementara empirisisme didominasi oleh pengalaman dalam pencarian kebenaran. Kedua aliran ini secara ekstrim bahkan tidak mengakui realitas di luar akal, pengalaman atau fakta. Superioritas akal menyebabkan agama dilempar dari posisi yang seharusnya. Agama didasarkan pada doktrin-dokrtin yang tidak bisa diterima oleh rasio sehingga tidak diterima oleh para pemegang paham rasionalisme dan empirisisme. Bukan berarti dogma yang diajarkan agama itu tidak benar, tapi rasio manusia masih terbatas untuk menguji kebenaran dogma Tuhan. Munculah aliran kritisisme sebagai jawaban dari rasionalisme dan empirisisme untuk menyelamatkan agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritisisme merupakan filsafat yang terlebih dahulu menyelidiki kemampuan dan batas-batas rasio sebelum melakukan pencarian kebenaran. Tokoh yang terkenal dari aliran ini adalah Immanuel Kant (1724-1804). Filsafatnya dikenal dengan Idealisme Transendental atau Filsafat Kritisisme. Menurutnya, pengetahuan manusia merupakan sintesa antara apa yang secara apriori sudah ada dalam kesadaran dan pikiran dengan impresi yang diperoleh dari pengalaman (aposteriori).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filsafat positivisme membatasi kajian filsafat ke hal-hal yang dapat di justifikasi (diuji) secara empirik. Hal-hal tersebut dinamakan hal-hal positif. Positivisme digunakan untuk merumuskan pengertian mengenai relaita sosial dengan Penjelasan ilmiah, prediksi dan control seperti yang dipraktekan pada fisika, kimia, dan biologi. Tahap penelitian positivisme dimulai dengan pengamatan, percobaan, generalisasi, produksi, manipulasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krisis Sains&lt;br /&gt;Perkembangan sains sampai ke abad 20 membawa manusia ke tingkat yang lebih tinggi pada kehidupannya. Level pemahaman terhadap alam mencapai tingkat level yang lebih tinggi. Pengamatan alam sudah sampai ke level mikroskopis, ternyata pengamatan pada level mikroskopis mementahkan hukum-hukum fisika yang pada saat itu menajdi pijakan ilmu fisika. Hukum-hukum fisika klasik seperti mekanika dan gravitasi dimentahkan oleh perilaku elektron dan proton yang acak tapi teratur. Penemuan-penemuan baru pada bidang fisika pada level mikroskopis merubah pandangan ilmuwan pada saat itu mengenai alam secara keseluruhan. Tenyata sains merupakan ilmu yang tidak pasti, ada ketidakpastian dalam kepastian terutama pada level mikroskopis dimana ketidakpastian itu semakin besar. Pada masa ini terjadi pergeseran paradigma dari paradigma Newtonian ke paradigm pos Newtonian. Perubahan paradigma ini merupakan revolusi pada bidang fisika, yang melahirkan tokoh-tokoh baru seperti Einstein dan Heisenberg Objek Paradigma Newtonian Paradigma Pos Newtonian Alam Mesin Sistem / jaringan Fenomena objek Interaksi benda Transformasi objek Ruang, waktu Datar, tak berbatas Melengkung, tak berbatas Kekuatan alam Determenistik, realistik Indeterministik, anti-realistik&lt;br /&gt;Werner Heisenberg mengajukan teori ketidakpastian yang menyatakan tidak mungkin mengukur secara teliti suatu partikel secara stimultan dalam ruang dan waktu. Teori ini bukan hanya menjungkirbalikan teori fisika klasik yang dikembangkan oleh Newton, namun juga mengubah cara pandang berbagai disiplin ilmu terhadap sifat alam yang tadinya dianggap determentstik (dapat ditentukan) menjadi indeterminsitik (tidak dapat ditentukan). Teori ini menjadi landasan fisika kuantum. Perubahan paradigma terhadap alam mengubah arah perkembangan teknologi. Namun perkembangan teknologi yang revolusioner malah menjadi petaka bagi seluruh umat manusia, puncaknya ketika Albert Einstein menemukan bom atom dan digunakan oleh manusia untuk menghancurkan kota Hirosima dan Nagasaki. Dunia terkejut oleh kemampuan sains yang bukan hanya memudahkan manusia, namun juga menghancurkan. Pada tahap ini mulai dipertanyakan peranan sains dalam menuju kehidupan manusia yang lebih baik. Kritik mulai dilontarkan terhadap sains karena ternyata kemajuan sains belum tentu memajukan kemanusiaan di muka bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cendawan atom dan korban Bom atom Hiroshima&lt;br /&gt;Sains memiliki tiga sifat utama yaitu netral, humanistik dan universal. Namun pada perkembangannya ternyata sains tidak netral, humanistik dan universal. Sains sangat tergantung pada kondisi ekonomi, sehingga pemilik modal dapat mengarahkan perkembangan sains. Pada masa perang dunia II sains memberi kontribusi besar pada kematian umat manusia lewat penemuan senjata pemusnah masal. Sains juga kehilangan sifat netralnya karena pengembangan sains sangat tergantung dari pemilik modal. Sains berpihak kepada pemilik modal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sains bersifat humanistik yaitu manusia sebagai pusat dari segalanya. Ternyata pandangan ini malah menghancurkan manusia. Kemajuan sains seiring dengan kemajuan teknologi. Teknologi sangat menguntungkan manusia karena bersifat memudahkan. Teknologi membutuhkan sumber daya yang diambil dari alam dan teknologi juga menghasilkan limbah yang sulit diuraikan aoleh sistem alam. Eksploitasi sumber daya alam berlebih mengakibatkan keseimbangan lingkungan terganggu yang menjadikan Bumi rentan terhadap bencana. Limbah hasil industri diketahui berbahaya bagi manusia, sehingga menimbulkan kanker yang membunuh jutaan manusia tiap tahunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sains hanya alat untuki mencapai sesuatu, namun dasar motivasi untuk mencapai suatu hal adalah hal yang berbeda. Akal budi lebih berperan untuk menentukan arah tujuan sains tersebut. Perkembangan dari sains seharusnya diikuti dengan perkembangan akal budi agar tercipta kehidupan manusia yang lebih baik.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/feeds/6729611434538422544/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/2010/05/perkembangan-filsafat-ilmu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1244976486987510470/posts/default/6729611434538422544'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1244976486987510470/posts/default/6729611434538422544'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/2010/05/perkembangan-filsafat-ilmu.html' title='Perkembangan Filsafat Ilmu'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1244976486987510470.post-8694367139403967169</id><published>2010-05-21T23:17:00.000+07:00</published><updated>2010-08-16T15:17:52.672+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Auguste Comte"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Epistemolog"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Filsafat"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Filsafat Ilmu"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Francis Bacon"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="ILmu Pengetahuan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="metode deduktif"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pemikiran rasional"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="positifistik"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="rasionalisme"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Wiliam James"/><title type='text'>Filsafat Ilmu</title><content type='html'>Pemahaman dasar terhadap&lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/03/filsafat-ilmu.html&quot;&gt; filsafat ilmu&lt;/a&gt; pengetahuan atau &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/03/filsafat-ilmu.html&quot;&gt;epistemologi&lt;/a&gt; adalah bagian filsafat yang membahas ilmu pengetahuan dan kebenaran itu sendiri.&lt;br /&gt;Pengetahuan atau knowledge adalah bagian yang esensial dari keberadaan manusia, karena pengetahuan merupakan buah dari berfikir,&lt;br /&gt;sedangkan berfikir berarti differentia yang memisahkan manusia dari sesama genus-nya yaitu hewan. Para pemikir menyebut ilmu tentang ilmu ini dengan istilah epistemology atau teori pengetahuan.&lt;br /&gt;Epistemologi sebagai sebuah kajian &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/03/filsafat-ilmu.html&quot;&gt;filsafat&lt;/a&gt; sebenarnya muncul belum terlalu lama yaitu sejak tiga abad yang lalu dan berkembang pesat di dunia barat dikarenakan ledakan kebebsan berekspresi dalam segala hal yang sangat besar dan hebat yang secara tidak langsung mempengaruhi cara berfikir mereka.&lt;br /&gt;Adalah Renaissance yang paling berjasa membebaskan dunia barat dari trauma intelektual. Supremasi dan dominasi gereja pada waktu itu telah hancur. Sebagai dampak dari itu semua, manusia memandang dunia dengan pandangan yang apriori atas nama Tuhan dan agama, mereka mencoba mencari alternatif lain dalam memandang alam semesta.&lt;br /&gt;Maka dari itu, bermunculan berbagai aliran yang bergantian dan terkesan kontradiktif. Namun secara garis besar aliran-aliran yang muncul adalah rasionalis yang diwakili oleh descartes, Imanuel Kant, Heggel dan lain-lain, sedangkan aliran empiris diwakili oleh Auguste Comte dengan positivismenya, Wiliam James dengan Pragmatismenya serta Francis Bacon dengan sensualismenya.&lt;br /&gt;Berbeda dengan dunia barat, di dunia Islam tidak terjadi ledakan seperti itu, karena dalam Islam agama dan ilmu pengetahuan berjalan beriringan dan berdampingan, meskipun terdapat friksi-friksi kecil yang terjadi dikarenakan beda interprestasi dari pemahaman keagamaan. Namun secara keseluruhan agama dan ilmu pengetahuan saling mendukung.oleh karena itu ledakan intelektual dalam Islam tidak terjadi. Perkembangan dalam dunia Islam relatif stabil.&lt;br /&gt;Ilmu pengetahuan dalam kacamata dunia barat maupun dunia Islam merupakan bahan kajian epistemologis yang paling utama dikarenakan manusia ketika ingin mengetahui sesuatu harus menggunakan dua alat yakni Indra dan akal.&lt;br /&gt;Secara garis besar, dalam konteks Filsafat modern terdapat dua sumber pengetahuan yang dianggap melahirkan ilmu pengetahuan bagi manusia, yaitu pengetahuan yang lahir atas pertimbangan rasio/akal dan pengetahuan yang dihasilkan melalui pengalaman /empirik.&lt;br /&gt;Dua faham tersebut dalam perkembangannya terus menerus melakukan dialektika. Kebenaran yang pertimbangannya pada rasio dikenal dengan istilah Rasionalisme, sedangkan sumber pengetahuan yang mendasari kebenaran pada pengalaman diistilahkan dengan empirisme.&lt;br /&gt;Pemikiran-pemikiran tersebut sebenarnya telah mengalami proses islamisasi pada era skolastik oleh para filosof muslim dengan menggunakan sandaran pada konsepsi spritual. Jika ditelusuri lebih jauh, Islam melalui karya filosof skolastik memperkenalkan sumber pengetahuan lain di luar rasionalisme dan empirisme yaitu intuisi dan wahyu.&lt;br /&gt;Di bawah ini penjelasan singkat tentang ketiga sumber pengetahuan tersebut :&lt;br /&gt;1. Rasionalisme&lt;br /&gt;Kaum rasionalis menggunakan metode deduktif dalam menyusun pengetahuannya. Premis yang dipakai dalam penalarannya didapatkan dari ide yang menurut anggapannya jelas dan dapat diterima. Prinsip itu sendiri ada jauh sebelum manusia berusaha memikirkannya, fungsi pemikiran manusia hanyalah mengenali prinsip tersebut yang kemudian menjadi pengetahuannya. Secara singkat dapat dikatakan bahwa ide bagi kaum rasionalis dalah bersifat apriori. Dalam hal ini, maka pemikiran rasional cenderung bersifat subjectif dan solipistik atau hanya benar dalam kerangka pemikiran tertentu yang berbeda dalam benak orang yang berfikir tersebut.&lt;br /&gt;2. &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/03/filsafat-ilmu.html&quot;&gt;Empiris&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kaum empiris berpendapat bahwa pengetahuan manusia itu bukan didapatkan melalui penalaran rasional yang abstrak, namun lewat pengalaman yang konkret. Dengan menggunakan metode induktif maka dapat disusun pengetahuan yang berlaku secara umum lewat pengamatan terhadap gejala-gejala fisik yang bersifat individual. Masalah utama yang timbul dalam penyusunan pengetahuan secara empiris ini ialah bahwa pengetahuan yang dikumpulkan itu cenderung menjadi suatu kumpulan fakta-fakta. Kumpulan tersebut belum tentu bersifat konsisten dan mungkin saja terdapat hal-hal yang bersifat kontradiktif.&lt;br /&gt;3.&lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/03/filsafat-ilmu.html&quot;&gt; Intuisi dan Wahyu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Intuisi merupakan pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses penalaran tertentu. Intuisi bersifat personal dan tidak dapat diramalkan. Sebagai dasar untuk menyusun pengetahuan secara teratur maka intuisi ini tidak dapat diandalkan. Pengetahuan intuitif dapat dipergunakan sebagai hipotesis bagi analisis selanjutnya dalam mennetukan kebenaran. Sedangkan wahyu merupakan pengetahuan yang disampaikan oleh Tuhan kepada manusia. Pengetahuan ini didasarkan kepada kepercayaan akan hal-hal yang ghaib (supranatural). Kepercayaan kepada Tuhan merupakan sumber segala pengetahuan, sebab kepercayaan merupakan titik tolak dalam beragama.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/feeds/8694367139403967169/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/2010/05/filsafat-ilmu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1244976486987510470/posts/default/8694367139403967169'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1244976486987510470/posts/default/8694367139403967169'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/2010/05/filsafat-ilmu.html' title='Filsafat Ilmu'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1244976486987510470.post-7967139888536607517</id><published>2010-05-21T23:10:00.000+07:00</published><updated>2010-05-21T23:15:31.637+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Empiris"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Filsafat"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Francis Bacon"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="ILmu Pengetahuan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Immanuel Kant"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="John Locke"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Metodologi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Paradigma"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pengetahuan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sumber pengetahuan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="teori pengetahuan"/><title type='text'>Empiris, pengetahuan, ILmu Pengetahuan</title><content type='html'>Ciri-ciri Pengalaman, Pengetahuan, dan &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/03/empiris-pengetahuan-ilmu-pengetahuan.html&quot;&gt;Ilmu Pengetahuan&lt;/a&gt;:&lt;br /&gt;Pengalaman:&lt;br /&gt;Berhubungan dengan realitas yang dialami manusia lewat pancaindera. Pengalaman bersifat sangat subjektif, karena :&lt;br /&gt;• Objek tetap, subjek berbeda&lt;br /&gt;• Objek berubah, subjek tetap&lt;br /&gt;• Objek berubah, subjek berbedaPengetahuan:&lt;br /&gt;• Adanya “sensation” (kesadaran, peristiw a m ental) setelah mengindra realitas (pem beda dengan hew an)&lt;br /&gt;• Proses m ental yang m elalui akal budi (berpikir) m enjadikan pengalam anmenjadi pengetahuan. (contoh: ilm u tentang kerokan, obat kum is kucing)Ilm u pengetahuan:&lt;br /&gt;• Pengalam an (pengetahuan) yang telah diolah secara kritis lewat akal budi menjadi ilmu pengetahuan karena memiliki:&lt;br /&gt;1. Paradigma&lt;br /&gt;2. Teori&lt;br /&gt;3. Metodologi&lt;br /&gt;Dalam bidang teori pengetahuan, terdapat tiga cara pandangan yang dominan dalam bidang filsafat. Ketiga cara pandang tersebut adalah rasionalisme, empirisme, dan kritisisme.Berikut ini dijelaskan ketiga pandangan tersebut serta ciri-cirinya.&lt;br /&gt;Rasionalisme&lt;br /&gt;• Rasionalism e dicetuskan oleh R ene Descartes (1596-1650), seorangfilsuf dari Peran&lt;br /&gt;• M enurut Descartes, rasio adalah satu-satunya sum ber pengetahuan&lt;br /&gt;• Kesan-kesan indraw i dianggap sebagai ilusi yang hanya diatasi oleh kem am puan yang dim iliki rasio&lt;br /&gt;• Pem ikiran Descartes yang terkenal adalah cogito ergosum “saya berpikir, karena itu saya ada”&lt;br /&gt;• M engunakan upaya ilm iah dengan “m etode skeptis”&lt;br /&gt;• Rasionalisme memiliki dampak penting bagi ilmu pengetahuan karena menjadi dasar berpikir logis dan munculnya sistem pemikiran yang menitikberatkan pada akal.&lt;br /&gt;• Dalam penelitian m enggunakan m etode deduksi Empirisme.&lt;br /&gt;• Empirisme adalah paham pem ikiran yang menyatakan bahwa pengetahuan hanya didapatkan dari pengalaman empiris, bukan semata-mata dari rasio&lt;br /&gt;- Filosof-filosof inggris memiliki paham empirisme, diantaranya David H um e (1711-1776), john Locke (1632-1704), dan Goerge Berkeley (1685-1753)&lt;br /&gt;- Francis Bacon mengatakan em pirisme adalah pengamatan-pengam atan partikular lalu m em bentuk kesim pulan um um&lt;br /&gt;- John Locke menganggap bahwa rasio manusia mula-mula harus dianggap “as a white paper” yang artinya pada saat lahir manusia belum memiliki pengetahuan apa-apa&lt;br /&gt;- Dalam penelitian menggunakan m etode induksi kritisisme&lt;br /&gt;- Aliran ini diperkenalkan oleh Im m anuel Kant (1724-1804)&lt;br /&gt;- Aliran ini m erupakan sintesis antara rasionalism e dan em pirism e&lt;br /&gt;- Menurut Immanuel Kant, rasio dan Empiris adalah sama-sama sumber pengetahuan, yaitu kesan-kesan empiris dikonstruksikan oleh rasio melalui kategori-kategori sehingga menjadi pengetahuan&lt;br /&gt;- Immanuel Kant juga mempertanyakan sejauh mana akal dapat mengetahui tentang yang ada dan sejauh m ana akal memiliki kevalidan ketika mempersepsi sesuatu sehingga pemikirannya ini menjadi landasan perkembangan epistemology.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/feeds/7967139888536607517/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/2010/05/empiris-pengetahuan-ilmu-pengetahuan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1244976486987510470/posts/default/7967139888536607517'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1244976486987510470/posts/default/7967139888536607517'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/2010/05/empiris-pengetahuan-ilmu-pengetahuan.html' title='Empiris, pengetahuan, ILmu Pengetahuan'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1244976486987510470.post-803862534536718315</id><published>2010-03-28T00:12:00.000+07:00</published><updated>2010-08-16T15:15:50.270+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Filsafat"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sejarah filsafat eropa"/><title type='text'>Sejarah Fisafat Eropa</title><content type='html'>&lt;p&gt;Sebuah Pengantar&lt;br /&gt;Sejarah Singkat&lt;br /&gt;Dilihat dari pendekatan  historis, ilmu filsafat dipahami melalui sejarah perkembangan pemikiran  filsafat. Menurut catatan sejarah,&lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/03/sejarah-filsafat-eropa.html&quot;&gt; filsafat Barat bermula di Yunani&lt;/a&gt;.  Bangsa Yunani mulai mempergunakan akal ketika mempertanyakan mitos yang   berkembang  di masyarakat sekitar abad VI SM. Perkembangan pemikiran  ini menandai usaha manusia untuk mempergunakan  akal  dalam memahami  segala sesuatu. Pemikiran Yunani sebagai embrio&lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/03/sejarah-filsafat-eropa.html&quot;&gt; filsafat Barat&lt;/a&gt;  berkembang menjadi titik tolak pemikiran Barat abad pertengahan, modern  dan masa berikutnya. Di samping menempatkan filsafat sebagai sumber  pengetahuan, &lt;/p&gt;Barat juga menjadikan  agama  sebagai pedoman hidup, meskipun memang harus diakui bahwa hubungan  filsafat dan agama mengalami pasang surut. Pada abad pertengahan  misalnya dunia Barat didom inasi oleh dogm atism egereja  (agama),   tetapi abad modern seakan terjadi pembalasan Akibatnya, Barat mengalami  kekeringan  spiritualisme. Namun selanjutnya, Barat kembali melirik  kepada peranan agama agar kehidupan  mereka kembali memiliki makna.&lt;br /&gt;Secara   garis  besar,  perkembangan  sejarah  filsafat  dibagi  dalam   lima  tahap:&lt;br /&gt;1.  Filsafat Yunani Klasik&lt;br /&gt;2.  Filsafat Yunani&lt;br /&gt;3.   Filsafat Abad Pertengahan&lt;br /&gt;4.  Filsafat Modern&lt;br /&gt;5.  Filsafat  Posmodern&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Yunani Kuno&lt;br /&gt;Bangsa Yunani merupakan bangsa yang  pertama kali berusaha menggunakan akal untuk berpikir. Kegemaran bangsa  Yunani merantau secara tidak langsung menjadi sebab meluasnya  tradisi  berpikir  bebas  yang dim iliki bangsa Yunani.&lt;br /&gt;Kebebasan berpikir  bangsa Yunani disebabkan di Yunani sebelumnya tidak pernah ada agama  yang didasarkan pada kitab suci. Keadaan tersebut jelas berbeda dengan  Mesir, Persia, dan India. Sedangkan Livingstone berpendapat bahwa adanya  kebebasan berpikir bangsa Yunani dikarenakan kebebasan mereka dari  agama dan politik secara bersamaan. terhadap agama. Peran  agama  dimasa  modern digantikan ilmu-ilmu positif&lt;br /&gt;Pada m asa &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/03/sejarah-filsafat-eropa.html&quot;&gt;Yunani kuno&lt;/a&gt;, filsafat  secara umum sangat dominan, meski harus diakui bahwa agama masih  kelihatan memainkan peran. Hal ini terjadi pada tahap permulaan, yaitu  pada masa Thales (640-545  SM ).&lt;br /&gt;Demikian juga Phitagoras (572-500 SM  ) belum murni rasional. Pada masa Yunani Klasik, pertanyaan-pertanyaan  yang berkembang adalah pertanyaan yang berhubungan alam semesta. Ini  berangkat dari kekaguman manusia terhadap hal-hal yang ada di  sekitarnya. Sebagai contoh, ketika manusia melihat segala sesuatu yang  ada di sekeliling mereka, muncul pertanyaan-pertanyaan mengenai segala  sesuatu itu. Begitupun para  filsuf zaman Yunani klasik ini. Mereka  mempertanyakan  hakikat kehidupan ini. Sebagai contoh, Thales, salah  seorang filsuf yang hidup pada masa itu,  mendapatkan kesimpulan  bahwa   penyebab  pertama  kehidupan adalah air karena ia melihat adanya  kehidupan ini karena ada air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Filsafat Yunani&lt;br /&gt;Filsafat zaman  Yunani ini diwakili oleh Plato dan Aristoteles. Pada zaman ini,   pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan mulai berkembang. Mereka tidak  lagi hanya melihat keluar (oustside), akan tetapi juga mulai melihat ke  dalam (inside). Persoalan tentang manusia mulai dipertanyakan. Misalnya,  apa hakikat manusia? Dari mana manusia  berasal? Dari  pertanyaan-pertanyaan  tersebut  lahirlah  suatu  jaw aban.  Salah   satunya adalah jawaban yang muncuk dari Plato bahwa hakikat  manusia itu  terdiri dari  tubuh dan jiwa. Secara struktur, jiwa lebih tinggi dari  tubuh. Menurut Plato, tubuh menjadi  penjara  jiwa. Jiwa akan bebas  ketika ia lepas dari tubuhnya. Sementara itu, Aristoteles mengatakan  hakikat manusia tidak terpisah antara tubuh dan jiwa. Tidak ada yang  lebih tinggi secara struktur. Manusia terdiri dari forma dan materi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  Abad Pertengahan&lt;br /&gt;Filsafat abad pertengahan lahirnya  agama sebagai  kekuatan baru. Banyak filsuf  yang lahir dari latar belakang rohaniwan.  Dengan lahirnya agama-agama sebagai kekuatan  baru, wahyu menjadi  otoritas dalam. menentukan kebenaran. Sejak gereja (agama) mendominasi,  peranan akal (filsafat) menjadi sangat kecil. Karena, gereja telah  membelokkan kreatifitas akal dan mengurangi kemampuannya. Pada saat itu,  pendidikan diserahkan pada tokoh-tokoh gereja yang dikenal dengan &quot;The  Scholastics&quot;, sehingga periode ini disebut dengan masa skolastik. Para  filosof aliran skolastik menerima doktrin gereja sebagai dasar pandangan  filosofisnya. Mereka berupaya memberikan pembenaran apa yang telah  diterima dari gereja secara rasional.&lt;br /&gt;Di antara filosof skolastik  yang terkenal adalah Augustinus ( 354-430). Menurutnya, dibalik  keteraturan dan ketertiban alam semesta ini pasti ada yang  mengendalikan, yaitu  Tuhan. Kebenaran mutlak ada  pada ajaran agama.  Kebenaran berpangkal pada aksioma bahwa segala sesuatu diciptakan oleh  Tuhan dari yang tidak ada (creatioex nihilo). Kehidupan yang terbaik  adalah kehidupan bertapa, dan yang terpenting adalah cinta pada Tuhan.&lt;br /&gt;Ciri  khas filsafat abad pertengahan ini terletak pada rumusan Santo Anselmus  (1033--1109), yaitu credo utintelligam (saya percaya agar saya paham).  Filsafat ini jelas berbeda dengan sifat filsafat rasional yang lebih  mendahulukan pengertian dari pada iman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Filsafat Modern&lt;br /&gt;Masa  filsafat modern diawali dengan munculnya Renaissance sekitar abad XV  dan XVI M, yang bermaksud lepas dari dogma-dogma, akhirnya muncul  semangat perubahan dalam kerangka berfikir. Problem utama masa  Renaissance, sebagaimana periode skolastik, adalah sintesa agama dan  filsafat dengan arah yang berbeda. Era Renaissance ditandai  dengan   tercurahnya  perhatian  pada  berbagai  bidang kemanusiaan, baik sebagai  individu maupun sosial.&lt;br /&gt;Diantara filosof masa Renaissance adalah  Francis Bacon (1561-1626). Ia  berpendapat bahwa filsafat harus  dipisahkan dari teologi. Meskipun ia meyakini bahwa penalaran dapat  menunjukkan Tuhan, tetapi ia menganggap bahwa segala sesuatu yang  bercirikan lain dalam teologi hanya dapat diketahui dengan wahyu,  sedangkan wahyu sepenuhnya bergantung pada penalaran. Hal ini  menunjukkan bahwa Bacon termasuk orang yang membenarkan konsep kebenaran  ganda (double  truth), yaitu kebenaran akal dan wahyu. Puncak masa  Renaissance muncul pada era Rene Descartes (1596-1650) yang dianggap  sebagai Bapak Filsafat Modern dan pelopor aliran Rasionalisme.  Argumentasi yang dimajukan bertujuan untuk melepaskan dari kungkungan  gereja. Salah satu semboyannya &quot;cogito ergo sum&quot; (saya berpikir maka  saya ada). Pernyataan ini sangat terkenal dalam perkembangan pemikiran  modern, karena dianggap mengangkat kembali derajat rasio dan pemikiran  sebagai indikasi eksistensi setiap individu. Dalam hal ini, filsafat  kembali mendapatkan kejayaannya dan mengalahkan peran agama, karena  dengan rasio manusia dapat memperoleh kebenaran. Kemudian muncul aliran  Empirisme, dengan pelopor utamanya, Thomas Hobbes (1588-1679) dan John  Locke (1632-1704). Aliran Empirisme berpendapat bahwa pengetahuan dan  pengenalan berasal dari pengalaman, baik pengalaman batiniah maupun  lahiriah. Aliran ini juga menekankan pengenalan inderawi sebagai bentuk  pengenalan yang sempurna.&lt;br /&gt;Di tengah bergemanya pemikiran rasionalisme  dan empirisme, muncul gagasan baru di Inggris, yang kemudian berkembang  ke Perancis dan akhirnya ke Jerman. Masa ini  dikenal dengan Aufklarung  atau Enlightenment atau masa pencerahan sekitar abad XVIII M. Pada masa  Aufklarung ini muncul keinginan manusia modern menyingkap misteri dunia  dengan kekuatan akal dan kebebasan berpikir. Tokoh filsuf yang sangat  mengagungkan kekuatan akal dan dianggap sebagai Bapak Filsafat Modern  adalah Rene Descartes. Pada abad ini dirumuskan adanya keterpisahan  rasio dari agama, akal terlepas dari kungkungan gereja, sehingga  Voltaire (1694-1778) menyebutnya sebagai the age of reason (zaman  penalaran). Sebagai salah satu konsekuensinya adalah supremasi rasio  berkembang pesat yang pada gilirannya mendorong berkem bangnya filsafat  dan  sains. Periode filsafat modern di Barat menunjukkan adanya  pergeseran, segala bentuk dominasi gereja, kependetaan dan anggapan  bahwa kitab suci sebagai satu-satunya sumber pengetahuan  diporak-porandakan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa abad modern  merupakan era pembalasan terhadap zaman skolastik yang didominasi  gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Posmodernisme&lt;br /&gt;Filsafat postmodern ditandai dengan   keinginan untuk mendobrak sifat-sifat filsafat modern yang mengagungkan  keuniversalitasan, kebenaran tunggal, dan kebebasnilaian. Karena itu,  filsafat postmodern sangat mengagungkan nilai-nilai relativitas dan  mininarasi, berbeda dengan filsafat modern yang mengagungkan  narasi-narasi besar. Filsafat postmodern cenderung lebih beragam dalam  hal pemikirian.&lt;br /&gt;Pada awal abad XX, di Inggris dan Amerika muncul  aliran Pragmatisme yang dipelopori oleh William Jam es (1842-1910).  Sebenarnya, Pragmatisme awalnya diperkenalkan oleh C.S. Pierce  (1839-1914). Menurutnya, kepercayaan menghasilkan kebiasaan, dan  berbagai kepercayaan dapat dibedakan dengan membandingkan kebiasaan yang  dihasilkan. Oleh karena itu, kepercayaan adalah aturan bertindak.  William James berpendapat bahwa teori adalah alat untuk memecahkan  masalah dalam pengalaman hidup m anusia.  Karena itu, teori dianggap  benar,  jika  teori  berfungsi  bagi  kehidupan manusia. Sedangkan  agama, menurutnya, mempunyai arti sebagai perasaan (feelings), tindakan  (acts) dan pengalaman individu manusia ketika mencoba memahami hubungan  dan posisinya di hadapan apa yang m ereka anggap suci. Dengan demikian,  keagam aan bersifat unik dan membuat individu menyadari bahwa dunia  merupakan bagian dari  system spiritual yang dengan sendirinya memberi  nilai bagi atau kepadanya. Agak berbeda dengan William James, tokoh  Pragmatisme lainnya, John Dewey (1859-1952) menyatakan bahwa tugas  filsafat yang terpenting adalah memberikan pengarahan pada perbuatan  manusia dalam praktek hidup yang harus berpijak pada pengalaman.&lt;br /&gt;Pada  saat yang bersamaan, juga berkembang aliran Fenomenologi di Jerman yang   dipelopori oleh Edmund Husserl (1859-1938). Menurutnya, untuk  mendapatkan pengetahuan yang benar ialah  dengan menggunakan intuisi   langsung,  karena  dapat dijadikan kriteria terakhir dalam filsafat.  Baginya, &lt;a href=&quot;http://www.hendria.com/2010/03/sejarah-filsafat-eropa.html&quot;&gt;Fenomenologi&lt;/a&gt; sebenarnya  merupakan teori tentang fenomena; ia  mempelajari apa yang tampak atau yang menampakkan diri. Pada abad  tersebut juga lahir aliran Eksistensialisme yang dirintis oleh Soren  Kierkegaard (1813-1855).</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/feeds/803862534536718315/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/2010/03/sejarah-fisafat-eropa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1244976486987510470/posts/default/803862534536718315'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1244976486987510470/posts/default/803862534536718315'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indo-sejarah.blogspot.com/2010/03/sejarah-fisafat-eropa.html' title='Sejarah Fisafat Eropa'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>