<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>asshobru &#124; Menjalani Hidup dengan Sabar, syukur dan Ikhlas Karena Allah</title>
	<atom:link href="https://asshobru.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://asshobru.wordpress.com</link>
	<description>“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”</description>
	<lastBuildDate>Sun, 21 Sep 2014 05:40:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">25070499</site><cloud domain='asshobru.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>https://secure.gravatar.com/blavatar/b174ac9eb4d62e15397020da65e21da499648e74362805e4e2f6114b69828456?s=96&#038;d=https%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fwebclip.png</url>
		<title>asshobru &#124; Menjalani Hidup dengan Sabar, syukur dan Ikhlas Karena Allah</title>
		<link>https://asshobru.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="https://asshobru.wordpress.com/osd.xml" title="asshobru &#124; Menjalani Hidup dengan Sabar, syukur dan Ikhlas Karena Allah" />
	<atom:link rel='hub' href='https://asshobru.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
	<item>
		<title>Rahasia Syukur, Sabar dan Istighfar</title>
		<link>https://asshobru.wordpress.com/2014/09/21/rahasia-syukur-sabar-dan-istighfar/</link>
					<comments>https://asshobru.wordpress.com/2014/09/21/rahasia-syukur-sabar-dan-istighfar/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[misbah]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 21 Sep 2014 05:40:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Syukur]]></category>
		<category><![CDATA[bersabar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://asshobru.wordpress.com/?p=638</guid>

					<description><![CDATA[Dalam mukaddimah kitab Al Waabilush Shayyib, Imam Ibnul Qayyim mengulas tiga hal di atas dengan sangat mengagumkan. Beliau mengatakan bahwa &#8230;<p><a href="https://asshobru.wordpress.com/2014/09/21/rahasia-syukur-sabar-dan-istighfar/">Baca lebih lanjut <span class="meta-nav">&#8594;</span></a></p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam mukaddimah kitab <em>Al Waabilush Shayyib</em>, Imam Ibnul Qayyim mengulas tiga hal di atas dengan sangat mengagumkan.<a href="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/09/61263-58768-77943-20111156022956-l.gif"><img data-attachment-id="639" data-permalink="https://asshobru.wordpress.com/2014/09/21/rahasia-syukur-sabar-dan-istighfar/61263-58768-77943-20111156022956-l/" data-orig-file="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/09/61263-58768-77943-20111156022956-l.gif" data-orig-size="440,330" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;0&quot;}" data-image-title="61263-58768-77943-20111156022956-l" data-image-description="" data-image-caption="" data-large-file="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/09/61263-58768-77943-20111156022956-l.gif?w=440" class="alignleft wp-image-639 size-medium" src="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/09/61263-58768-77943-20111156022956-l.gif?w=300&#038;h=224" alt="61263-58768-77943-20111156022956-l" width="300" height="224" srcset="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/09/61263-58768-77943-20111156022956-l.gif?w=300 300w, https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/09/61263-58768-77943-20111156022956-l.gif?w=150 150w, https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/09/61263-58768-77943-20111156022956-l.gif 440w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></a> Beliau mengatakan bahwa kehidupan manusia berputar pada tiga poros: Syukur, Sabar, dan Istighfar. Seseorang takkan lepas dari salah satu dari tiga keadaan:</p>
<p><strong>1-</strong> Ia mendapat curahan nikmat yang tak terhingga dari Allah, dan inilah mengharuskannya untuk bersyukur. <a href="http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/memahami-syukur.html">Syukur</a> memiliki tiga rukun, yang bila ketiganya diamalkan, berarti seorang hamba dianggap telah mewujudkan hakikat syukur tersebut, meski kuantitasnya masih jauh dari ‘cukup’. Ketiga rukun tersebut adalah:<span id="more-638"></span></p>
<ol>
<li>Mengakui dalam hati bahwa nikmat tersebut dari Allah.</li>
<li>Mengucapkannya dengan lisan.</li>
<li>Menggunakan kenikmatan tersebut untuk menggapai ridha Allah, karena Dia-lah yang memberikannya.</li>
</ol>
<p>Inilah rukun-rukun syukur yang mesti dipenuhi</p>
<p><strong>2-</strong> Atau, boleh jadi Allah mengujinya dengan berbagai ujian, dan kewajiban hamba saat itu ialah bersabar. Definisi sabar itu sendiri meliputi tiga hal:</p>
<ol>
<li>Menahan hati dari perasaan marah, kesal, dan dongkol terhadap ketentuan Allah.</li>
<li>Menahan lisan dari berkeluh kesah dan menggerutu akan takdir Allah.</li>
<li>Menahan anggota badan dari bermaksiat seperti menampar wajah, menyobek pakaian, (atau membanting pintu, piring) dan perbuatan lain yang menunjukkan sikap ‘tidak terima’ terhadap keputusan Allah.</li>
</ol>
<p>Perlu kita pahami bahwa Allah menguji hamba-Nya bukan karena Dia ingin membinasakan si hamba, namun untuk mengetes sejauh mana penghambaan kita terhadap-Nya. Kalaulah Allah mewajibkan sejumlah peribadatan (yaitu hal-hal yang menjadikan kita sebagai abdi/budak-nya Allah) saat kita dalam kondisi lapang; maka Allah juga mewajibkan sejumlah peribadatan kala kita dalam kondisi sempit.</p>
<p>Banyak orang yang ringan untuk melakukan peribadatan tipe pertama, karena biasanya hal tersebut selaras dengan keinginannya. Akan tetapi yang lebih penting dan utama adalah peribadatan tipe kedua, yang sering kali tidak selaras dengan keinginan yang bersangkutan.</p>
<p>Ibnul Qayyim lantas mencontohkan bahwa berwudhu di musim panas menggunakan air dingin; mempergauli isteri cantik yang dicintai, memberi nafkah kepada anak-isteri saat banyak duit; adalah ibadah. Demikian pula berwudhu dengan sempurna dengan air dingin di musim dingin dan menafkahi anak-isteri saat kondisi ekonomi terjepit, juga termasuk ibadah; tapi nilainya begitu jauh antara ibadah tipe pertama dengan ibadah tipe kedua. Yang kedua jauh lebih bernilai dibandingkan yang pertama, karena itulah ibadah yang sesungguhnya, yang membuktikan penghambaan seorang hamba kepada Khaliqnya.</p>
<p>Oleh sebab itu, Allah berjanji akan mencukupi hamba-hamba-Nya, sebagaimana firman Allah,</p>
<p>أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ</p>
<p>“<em>Bukankah Allah-lah yang mencukupi (segala kebutuhan) hamba-Nya?</em>” (QS. Az Zumar: 36).</p>
<p>Tingkat kecukupan tersebut tentulah berbanding lurus dengan tingkat penghambaan masing-masing hamba. Makin tinggi ia memperbudak dirinya demi kesenangan Allah yang konsekuensinya harus mengorbankan kesenangan pribadinya, maka makin tinggi pula kadar pencukupan yang Allah berikan kepadanya. Akibatnya, sang hamba akan senantiasa dicukupi oleh Allah dan termasuk dalam golongan yang Allah sebutkan dalam firman-Nya:</p>
<p>إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ وَكَفَى بِرَبِّكَ وَكِيلًا</p>
<p>“<em>(Sesungguhnya, engkau (Iblis) tidak memiliki kekuasaan atas hamba-hamba-Ku, dan cukuplah Rabb-mu (Hai Muhammad) sebagai wakil (penolong)</em>” (QS. Al Isra’: 65).</p>
<p>Hamba-hamba yang dimaksud dalam ayat ini adalah hamba yang mendapatkan pencukupan dari Allah dalam ayat sebelumnya, yaitu mereka yang benar-benar menghambakan dirinya kepada Allah, baik dalam kondisi menyenangkan maupun menyusahkan. Inilah hamba-hamba yang terjaga dari gangguan syaithan, alias syaithan tidak bisa menguasai mereka dan menyeret mereka kepada makarnya, kecuali saat hamba tersebut lengah saja.</p>
<p>Sebab bagaimana pun juga, setiap manusia tidak akan bebas 100% dari gangguan syaithan selama dia adalah manusia. Ia pasti akan termakan bisikan syaithan suatu ketika. Namun bedanya, orang yang benar-benar merealisasikan ‘ubudiyyah (peribadatan) kepada Allah hanya akan terganggu oleh syaithan di saat dirinya lengah saja, yakni saat dirinya tidak bisa menolak gangguan tersebut… saat itulah dia termakan hasutan syaithan dan melakukan pelanggaran.</p>
<p>dengan demikian, ia akan beralih ke kondisi berikutnya:</p>
<p><strong>3-</strong> Yaitu begitu ia melakukan dosa, segera lah ia memohon ampun (beristighfar) kepada Allah. Ini merupakan solusi luar biasa saat seorang hamba terjerumus dalam dosa. Bila ia hamba yang bertakwa, ia akan selalu terbayang oleh dosanya, hingga dosa yang dilakukan tadi justeru berdampak positif terhadapnya di kemudian hari. Ibnul Qayyim lantas menukil ucapan Syaikhul Islam Abu Isma’il Al Harawi yang mengatakan bahwa konon para salaf mengatakan: “<em>Seseorang mungkin melakukan suatu dosa, yang karenanya ia masuk Jannah; dan ia mungkin melakukan ketaatan, yang karenanya ia masuk Neraka</em>”. <em>Bagaimana kok begitu? </em>Bila Allah menghendaki kebaikan atas seseorang, Allah akan menjadikannya terjerumus dalam suatu dosa (padahal sebelumnya ia seorang yang shalih dan gemar beramal shalih). Dosa tersebut akan selalu terbayang di depan matanya, mengusik jiwanya, mengganggu tidurnya dan membuatnya selalu gelisah. Ia takut bahwa semua keshalihannya tadi akan sia-sia karena dosa tersebut, hingga dengan demikian ia menjadi takluk di hadapan Allah, takut kepada-Nya, mengharap rahmat dan maghfirah-Nya, serta bertaubat kepada-Nya. Nah, akibat dosa yang satu tadi, ia terhindar dari penyakit ‘ujub (kagum) terhadap keshalihannya selama ini, yang boleh jadi akan membinasakan dirinya, dan tersebab itulah ia akan masuk Jannah.</p>
<p>Namun sebaliknya orang yang melakukan suatu amalan besar, ia bisa jadi akan celaka akibat amalnya tersebut. Yakni bila ia merasa kagum dengan dirinya yang bisa beramal ‘shalih’ seperti itu. Nah, kekaguman ini akan membatalkan amalnya dan menjadikannya ‘lupa diri’. Maka bila Allah tidak mengujinya dengan suatu dosa yang mendorongnya untuk taubat, niscaya orang ini akan celaka dan masuk Neraka.</p>
<p>Demikian kurang lebih penuturan beliau dalam mukaddimah kitab tadi, semoga kita terinspirasi dengan tulisan yang bersahaja ini.</p>
<p>—</p>
<p>Penulis: <a href="http://basweidan.com/rahasia-syukur-sabar-istighfar/" rel="nofollow">Ustadz Sufyan Basweidan, MA</a><br />
Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://asshobru.wordpress.com/2014/09/21/rahasia-syukur-sabar-dan-istighfar/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">638</post-id>
		<media:content url="https://0.gravatar.com/avatar/3985782d11380e5c94c46fe21c52ff38ec227fe8ddcb6babc2f2c024b886015d?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">misbah007</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/09/61263-58768-77943-20111156022956-l.gif?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">61263-58768-77943-20111156022956-l</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;UMMU &#8216;UQAIL&#8221; SEORANG WANITA YANG MENGAJARKAN KAUM PRIA UNTUK BERSABAR</title>
		<link>https://asshobru.wordpress.com/2014/09/20/ummu-uqail-seorang-wanita-yang-mengajarkan-kaum-pria-untuk-bersabar/</link>
					<comments>https://asshobru.wordpress.com/2014/09/20/ummu-uqail-seorang-wanita-yang-mengajarkan-kaum-pria-untuk-bersabar/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[misbah]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 20 Sep 2014 11:32:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah shalafus shalih]]></category>
		<category><![CDATA[muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[sabar]]></category>
		<category><![CDATA[bersabar]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://asshobru.wordpress.com/?p=634</guid>

					<description><![CDATA[Inilah seorang wanita yang mengajarkan kepada kaum pria untuk bersabar, terutama terhadap kaum wanita, dan mengajarkan kepada mereka supaya ridha &#8230;<p><a href="https://asshobru.wordpress.com/2014/09/20/ummu-uqail-seorang-wanita-yang-mengajarkan-kaum-pria-untuk-bersabar/">Baca lebih lanjut <span class="meta-nav">&#8594;</span></a></p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;">Inilah seorang wanita yang mengajarkan kepada kaum pria untuk bersabar, terutama terhadap kaum wanita, dan mengajarkan kepada mereka supaya ridha dengan ketentuan Allah. Kita memohon kepada Allah, semoga para wanita kita belajar bersabar ketika mengalami musibah yang menyedihkan, agar melahirkan untuk kita tokoh-tokoh seperti Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Malik, Ahmad dan asy-Syafi’i.<br />
<span id="more-634"></span><br />
Abul Faraj Ibnu al-Jauzi mengatakan bahwa al-Ashma’i berkata, “Aku dan kawanku keluar menuju dusun, lalu kami tersesat jalan. Tiba-tiba kami menjumpai gubuk di kanan jalan, lalu kami menuju ke sana dan mengucapkan salam. Ternyata seorang wanita menjawab salam kami seraya bertanya, ‘Siapa kalian?’ Kami menjawab, ‘Kaum yang tersesat jalan. Kami datang kepada kalian untuk mengunjungi kalian.’ Ia mengatakan, ‘Wahai kaum, palingkan wajah kalian dariku hingga aku menyelesaikan apa yang menjadi hak kalian.’ Kami pun melakukannya, lalu ia melemparkan kepada kami alas tidur seraya mengatakan, ‘Duduklah di situ hingga puteraku datang.’ Kemudian dia melihat-lihat kedatangan puteranya hingga dia bisa melihatnya seraya mengatakan, ‘Aku memohon kepada Allah keberkahan orang yang datang. Unta itu adalah unta puteraku, sedangkan yang menungganginya bukan puteraku.’ Ketika penunggang unta itu telah berdiri di hadapannya, ia mengatakan, ‘Wahai Ummu ‘Uqail, semoga Allah membesarkan pahalamu karena ‘Uqail.’ Dia bertanya, ‘Apakah puteraku wafat?’ Ia menjawab, ‘Ya.’ Dia bertanya, ‘Apa penyebab kematiannya?’ Ia menjawab, ‘Unta berdesak-desakan padanya lalu ia terlempar ke sumur.’ Dia mengatakan, ‘Turunlah, lalu penuhi hak bertamu kaum ini.’ Dia menyerahkan seekor domba kepadanya, lalu ia menyembelih dan mengolahnya serta menghidangkan makanan kepada kami. Kemudian kami makan dan kami kagum dengan kesabarannya. Ketika kami selesai, dia keluar kepada kami dalam keaadan tertutup hijab seraya mengatakan, ‘Wahai kaum, apakah di antara kalian ada yang dapat membaca al-Qur-an dengan baik?’ Aku menjawab, ‘Ya.’ Ia mengatakan, ‘Bacakan kepadaku dari Kitabullah ayat-ayat yang aku menjadi terhibur dengannya.’ Aku mengatakan, ‘Allah Azza wa Jalla berfirman:</p>
<p><strong><em>&#8220;.. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji&#8217;uun.’ Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb-nya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [Al-Baqarah: 155-157]</em></strong></p>
<p>Ia bertanya, ‘Apakah ayat-ayat ini dalam Kitabullah demikian?’ Aku menjawab, ‘Ayat-ayat ini dalam Kitabullah demikian.’ Dia mengatakan, ‘Assalaamu ‘alaikum. Kemudian dia meluruskan kedua telapak kakinya dan shalat dua rakaat, kemudian mengucapkan, ‘Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Di sisi Allah mendapatkan ‘Uqail.’ Ia mengatakan demikian tiga kali. Ya Allah, aku melakukan apa yang Engkau perintahkan kepadaku, maka berikan kepadaku apa yang Engkau janjikan kepadaku.’” [1]</p>
<p><strong>UMMU UMARAH SEORANG SHAHABIYAH MUJAHIDAH</strong><br />
Inilah Ummu ‘Umarah, seorang mujahidah yang membela Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan hidupnya. Membelanya karena agama, membelanya dan cemas terhadapnya adalah lebih penting baginya daripada dirinya sendiri. Di manakah kaum wanita sekarang jika di bandingkan dengan wanita-wanita yang membeli akhirat dengan dunia? Kemauan wanita pada zaman sekarang ini adalah membeli segala keinginan dan menikmati kehidupan dunia berikut berbagai kelezatannya. Sementara dia tidak menghiraukan perkara agama, bahkan di dalam rumahnya, bersama anak-anaknya. Ya Allah, selamatkanlah… selamatkanlah.</p>
<p>Inilah Ummu ‘Umarah Nasibah binti Ka’ab bin ‘Auf, seorang Shahabiyah mujahidah. Ia keluar di tengah pasukan kaum muslimin dalam perang Uhud dan mendapatkan ujian yang baik. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda tentangnya: “Sungguh kedudukan Nasibah binti Ka’ab pada hari ini lebih baik dibanding kedudukan fulan dan fulan.” [2]</p>
<p>Ia sebagai bintang perang umat Islam. Kemudian ia memalingkan wajahnya dari mereka, ternyata pedang-padang kaum musyrikin menimpa mereka, memenggal leher-leher mereka dan menikam punggung-punggung mereka. Maka mereka bercerai berai dan mundur ke belakang. Dia pun pergi ke hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia mencabut panah dan memukul dengan pedang. Sedangkan di sekitarnya ada para tokoh seperti ‘Ali, Abu Bakar, ‘Umar, Sa’ad, Thalhah, az-Zubair, al-&#8216;Abbas, kedua puteranya dan suaminya. Ia tidak ingin bahaya mendekati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga ia menjadi bentengnya. Sampai-sampai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>“Tidaklah aku melihat ke kanan dan ke kiri melainkan aku melihatnya berperang untuk membelaku.” [3]</p>
<p>Dari &#8216;Umarah bin Ghazyah, ia mengatakan: “Ummu &#8216;Umarah menuturkan, ‘Aku melihat orang-orang pergi dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak tersisa kecuali sekelompok orang yang kurang dari sepuluh orang. Aku, anakku dan suamiku berada di depan Rasulullah untuk melindungi beliau. Sementara orang-orang melewati beliau untuk melarikan diri, dan beliau melihatku tidak memakai perisai. Ketika beliau melihat orang yang melarikan diri sambil membawa perisai, maka beliau mengatakan, ‘Lemparkan perisaimu untuk dipakai orang yang berperang.’ Ia melemparkannya, lalu aku mengambilnya. Perisai tersebut aku pakai untuk melindungi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Luka yang aku dapatkan hanyalah dari orang-orang berkuda. Seandainya mereka berjalan (tanpa tunggangan) seperti kami, niscaya kami dapat melukai mereka. Insya Allah.</p>
<p>Ketika seseorang berkuda datang lalu menebasku, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berteriak, ‘Wahai putera Ummu &#8216;Umarah! Ibumu! Ibumu!’ Lalu puteraku membantuku menghadapi pria tersebut sehingga aku berhasil membunuhnya.’” [4] Pada hari itu Ummu &#8216;Umarah Radhiyallahu &#8216;anha terluka sebanyak 13 luka.</p>
<p><strong>UMMUD DAHDAH : &#8220;JUAL BELIMU TELAH MENDAPAT KEUNTUNGAN&#8221;</strong><br />
Di antara wanita yang mengajarkan kepada kita dan mengajarkan wanita-wanita kita agar yakin kepada Allah dan berinfak di jalan-Nya adalah Ummud Dahdah. Mari kita dengar kisahnya bersama suaminya dan ketaatannya kepadanya.</p>
<p>Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari &#8216;Abdullah bin Mas&#8217;ud Radhiyallahu ‘anhu, ia menuturkan bahwa ketika turun ayat ini:</p>
<p><em><strong>&#8220;Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah)…” [Al-Baqarah: 245]</strong></em></p>
<p>Abud Dahdah al-Anshari bertanya, “Wahai Rasulullah, benarkah Allah menginginkan pinjaman dari kami?” Beliau menjawab, “Ya.” Ia mengatakan, “Perlihatkan tanganmu kepadaku, wahai Rasulullah.” Ketika beliau mengulurkan tangannya kepadanya, ia mengatakan, “Sesungguhnya aku telah meminjamkan kebun kepada Rabb-ku.” Ia mempunyai kebun yang di dalamnya terdapat 600 pohon kurma, dan Ummud Dahdah beserta keluarganya berada di dalamnya. Abud Dahdah datang dan memanggilnya, “Wahai Ummud Dahdah!” Ia menjawab, “Aku penuhi panggilanmu.” Ia mengatakan, “Keluarlah, sebab aku telah meminjamkannya kepada Rabb-ku Azza wa Jalla.” Dalam satu riwayat bahwa Ummud Dahdah berkata kepadanya, “Jual belimu telah mendapat keuntungan, wahai Abud Dahdah.” Lalu ia mengangkat darinya perabot dan anak-anaknya, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Alangkah banyaknya pohon kurma yang lebat di Surga milik Abud Dahdah.” [5]</p>
<p>[Disalin dari kitab Isyratun Nisaa Minal Alif Ilal Yaa, Edisi Indonesia Panduan Lengkap Nikah Dari A Sampai Z, Penulis Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin Abdir Razzaq, Penterjemah Ahmad Saikhu, Penerbit Pustaka Ibnu Katsair]</p>
<p style="text-align:left;">Penulis : Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin Abdir Razzaq</p>
<p style="text-align:left;">Sumber : almanhaj.or.id<br />
_<img data-attachment-id="635" data-permalink="https://asshobru.wordpress.com/2014/09/20/ummu-uqail-seorang-wanita-yang-mengajarkan-kaum-pria-untuk-bersabar/images-2/" data-orig-file="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/09/images.jpg" data-orig-size="251,201" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;0&quot;}" data-image-title="images" data-image-description="" data-image-caption="" data-large-file="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/09/images.jpg?w=251" class="alignright wp-image-635 size-full" src="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/09/images.jpg?w=529" alt="images"   srcset="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/09/images.jpg 251w, https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/09/images.jpg?w=150&amp;h=120 150w" sizes="(max-width: 251px) 100vw, 251px" />_________<br />
Foote Note<br />
[1]. &#8216;Audatul Hijaab (II/549).<br />
[2]. Ath-Thabaqaat (VIII/302); Siyar A’laamin Nubalaa&#8217; (II/978).<br />
[3]. Ath-Thabaqaat (VIII/303).<br />
[4]. Ath-Thabaqaat (VIII/302).<br />
[5]. Penulis Majmaa’uz Zawaa-id (VI/320) mengatakan: “Diriwayatkan oleh al-Bazzar dan para perawinya tsiqat.”</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://asshobru.wordpress.com/2014/09/20/ummu-uqail-seorang-wanita-yang-mengajarkan-kaum-pria-untuk-bersabar/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">634</post-id>
		<media:thumbnail url="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/09/images.jpg" />
		<media:content url="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/09/images.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">images</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://0.gravatar.com/avatar/3985782d11380e5c94c46fe21c52ff38ec227fe8ddcb6babc2f2c024b886015d?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">misbah007</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/09/images.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">images</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sabar itu Pada Benturan yang Pertama kali</title>
		<link>https://asshobru.wordpress.com/2011/12/29/sabar-itu-pada-benturan-yang-pertama-kali/</link>
					<comments>https://asshobru.wordpress.com/2011/12/29/sabar-itu-pada-benturan-yang-pertama-kali/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[misbah]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 29 Dec 2011 02:30:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Syukur]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://asshobru.wordpress.com/?p=618</guid>

					<description><![CDATA[Dari Anas radhiyallahu ‘anhu berkata : Nabi shalallahu’alaihi wa sallam melewati seorang perempuan yang tengah menangis di sisi kubur, maka &#8230;<p><a href="https://asshobru.wordpress.com/2011/12/29/sabar-itu-pada-benturan-yang-pertama-kali/">Baca lebih lanjut <span class="meta-nav">&#8594;</span></a></p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dari Anas <em>radhiyallahu ‘anhu</em> berkata : Nabi <em>shalallahu’alaihi wa sallam</em> melewati seorang perempuan yang tengah menangis di sisi kubur, maka <a href="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/rain.gif"><img data-attachment-id="623" data-permalink="https://asshobru.wordpress.com/2011/12/29/sabar-itu-pada-benturan-yang-pertama-kali/rain/" data-orig-file="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/rain.gif" data-orig-size="240,320" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="rain" data-image-description="" data-image-caption="" data-large-file="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/rain.gif?w=240" class=" wp-image-623 alignright" title="rain" src="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/rain.gif?w=180&#038;h=235" alt="" width="180" height="235" /></a>beliau bersabda :</p>
<p><em><strong>“Bertaqwalah kepada Alloh dan bersabarlah!”</strong></em></p>
<p>Perempuan itu berkata : <strong><em>“Menjauh kamu dariku, karena kamu tidak tertimpa seperti musibahku!”</em></strong><br />
<span id="more-618"></span><br />
Dia tidak mengenal beliau <em>shalallahu’alaihi wa sallam</em>. Kemudian dikatakan kepadanya bahwa orang itu adalah Rasulullah <em>shalallahu’alaihi wa sallam</em>, maka ia mendatangi pintu Nabi <em>shalallahu’alaihi wa sallam</em> akan tetapi tidak mendapati penjaga pintu di depannya lantas ia berkata:  <em>“Saya tidak mengenal anda wahai Rasulullah.”</em></p>
<p>Kemudian Rasulullah <em>shalallahu’alaihi wa sallam</em> bersabda :</p>
<p>إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ اْلأُولَى<em><br />
</em></p>
<p><em>“Hanyalah kesabaran itu pada benturan yang pertama kali.”</em> (<strong>Muttafaqun ‘alaih</strong>) [1]</p>
<p>Dalam sebuah riwayat <strong>Muslim</strong> : <em>“Menangis karena putranya.”</em></p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin <em>rahimahullah</em> berkata :</p>
<blockquote><p>Hal ini menunjukkan bahwa musibah yang menimpanya telah mencapai tingkatan yang amat berat. Maka Nabi <em>shalallahu’alaihi wa sallam</em> kemudian berpaling darinya. Kesabaran yang seseorang akan diberi pahala karenanya adalah <strong><em>bersabar ketika pertama kali mendapat musibah</em></strong>, inilah kesabaran. Adapun setelahnya, <em>maka yang demikian ini mungkin sebagai sikap melupakan musibah dan menghibur diri sebagaimana yang dilakukan oleh binatang</em>. Adapun kesabaran yang hakiki apabila seseorang tertimpa musibah, maka ia bersabar dan berharap pahala darinya. Sangatlah baik juga mengucapkan.</p>
<div><em>“Sesungguhnya kami adalah milik Alloh dan kepada-Nya kami akan kembali! Ya Alloh, berilah pahala dalam musibahku ini dan gantilah dengan yang lebih baik darinya.”</em></div>
<div>‘</div>
</blockquote>
<p>______________</p>
<p>note :</p>
<p>[1] Hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhariy dan Al-Imam Muslim dalam shahih keduanya, dari shahabat yang sama &amp; mempunyai sanad.</p>
<p>Maroji’ :</p>
<ol>
<li><em>al Qauluts Tsamiin min Qashashi Ibni ‘Utsaimin</em><a id="_GPLITA_1" title="Powered by Text-Enhance" href="http://farisna.wordpress.com/2011/10/11/kesabaran-itu-pada-benturan-yang-pertama/#">karya</a> Shalahuddin bin Mahmud As Sa’id edisi bahasa indonesia <em>Lautan Hikmah dari Kisah-kisah Nyata &amp; Berharga</em> cetakan Buana Ilmu Islami.</li>
</ol>
<p>Sumber :<a href="http://farisna.wordpress.com/2011/10/11/kesabaran-itu-pada-benturan-yang-pertama/"> link</a></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://asshobru.wordpress.com/2011/12/29/sabar-itu-pada-benturan-yang-pertama-kali/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">618</post-id>
		<media:thumbnail url="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/ujan.gif" />
		<media:content url="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/ujan.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Ujan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://0.gravatar.com/avatar/3985782d11380e5c94c46fe21c52ff38ec227fe8ddcb6babc2f2c024b886015d?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">misbah007</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/rain.gif?w=112" medium="image">
			<media:title type="html">rain</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ketabahan Seorang Istri</title>
		<link>https://asshobru.wordpress.com/2011/10/18/ketabahan-seorang-istri/</link>
					<comments>https://asshobru.wordpress.com/2011/10/18/ketabahan-seorang-istri/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[misbah]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 18 Oct 2011 11:18:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[bersabar]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[istri yang bersabar]]></category>
		<category><![CDATA[kesabaran]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[sabar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://asshobru.wordpress.com/?p=595</guid>

					<description><![CDATA[Oleh Abu Ahmad dan Ummu Ahmad بسم الله الر حمن الر حيم Segala puji bagi Alloh yang telah menciptakan segala &#8230;<p><a href="https://asshobru.wordpress.com/2011/10/18/ketabahan-seorang-istri/">Baca lebih lanjut <span class="meta-nav">&#8594;</span></a></p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>Oleh Abu Ahmad dan Ummu Ahmad</strong></p>
<p style="text-align:center;">بسم الله الر حمن الر حيم</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/pink-rose-petal.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="596" data-permalink="https://asshobru.wordpress.com/2011/10/18/ketabahan-seorang-istri/pink-rose-petal/" data-orig-file="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/pink-rose-petal.jpg" data-orig-size="600,400" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="pink-rose-petal" data-image-description="" data-image-caption="" data-large-file="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/pink-rose-petal.jpg?w=529" class="alignright size-thumbnail wp-image-596" title="pink-rose-petal" src="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/pink-rose-petal.jpg?w=150&#038;h=100" alt="" width="150" height="100" srcset="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/pink-rose-petal.jpg?w=150 150w, https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/pink-rose-petal.jpg?w=300 300w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" /></a>Segala puji bagi Alloh yang telah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan. Salam dan sholawat semoga selalu tercurah kepada seutama-utama pendidik, Rosululloh Muhammad, keluarga, para sahabat, serta para pengikutnya dengan baik hingga hari kiamat.</p>
<p><span id="more-595"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Kehidupan ini penuh dengan tantangan dan kesulitan. Ia bukanlah tempat hunian yang penuh bertaburkan bunga dan bukan pula “bulan madu”(1) seperti yang banyak digambarkan dan dibayangkan oleh kebanyakan wanita. Akan tetapi, seorang wanita harus memahami bahwa dirinya mau tidak mau harus mengemban tanggung jawab dan pengorbanan berat yang bagi seorang muslimah hal ini dianggap sebagai bentuk manisnya iman.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika wanita muslimah mengetahui hal tersebut, tentu dia akan mampu menghadapi kehidupan ini, mengendalikan kecenderungan nafsu, menahan bisikan-bisikan setan, tidak tunduk kepada syahwatnya, serta lapang dada dan tabah menghadapi kesulitan-kesulitan hidup. Dia tidak menampakkan kejenuhan dan kebosanan terhadap suami (khususnya), atau terhadap orang lain, atau bahkan terhadap orang yang paling dekat dengannya, ayah ibunya. Dia akan menampakkan diri sebagai orang yang sabar dan ridho terhadap taqdir Alloh.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Teladan Ketabahan Ummu Sulaim</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Seorang muslimah harus memiliki kesabaran yang tinggi. Contoh paling baik dalam hal ini adalah keteguhan Ummu Sulaim di hadapan suaminya tatkala anaknya meninggal dunia. Disebabkan ketinggian sifatnya ini, Rosululloh melihatnya berada di dalam surga.</p>
<p style="text-align:justify;">Disebutkan dalam sebuah riwayat, pada saat anaknya meninggal dunia, Ummu Sulaim berkata kepada semua anggota keluarganya: “Janganlah kalian mengabarkan kepada Abu Tholhah tentang kematian anaknya sehingga aku sendiri yang mengabarkannya.” Tatkala Abu Tholhah pulang ke rumah, Ummu Sulaim menyajikan makan malam, lalu dia berhias diri lebih baik dari biasanya. Abu Tholhah pun ingin menggaulinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah dilihatnya Abu Tholhah memperoleh kepuasan, Ummu Sulaim berkata: “Wahai Abu Tholhah, bagaimana pendapatmu andaikata ada segolongan orang meminjamkan suatu pinjaman kepada suatu keluarga lalu mereka mengambil barang pinjamannya, apakah keluarga tersebut boleh menghalanginya?”</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Abu Tholhah menjawab: “Tidak.” Ummu Sulaim berkata: “Maka carilah keridhoan Alloh dengan kematian anakmu!”</em> (HR. Muslim)</p>
<p style="text-align:justify;">Bandingkan antara tindakan Ummu Sulaim ini dengan para wanita yang mondar-mandir di ambang pintu, menunggu kedatangan suaminya untuk mengadukan berbagai keluh kesah dan kepedihan.</p>
<p style="text-align:justify;">Kepedihan dan kesulitan hidup sedahsyat apapun yang dihadapi oleh seorang istri, ia harus menghadapinya dengan penuh perjuangan. Penderitaan saat mengandung, melahirkan, dan berbagai kesulitan lain dalam hidup yang dihadapi istri—yang menghendaki keutuhan rumah tangganya—harus dipikul tanpa keluhan dan kegundahan. Jika hal ini dilakukan, rumah tangga akan terjaga dari cacat dan kelemahan yang disebabkan oleh kesulitan hidup dan minimnya kesabaran.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan kesabaran tanpa disertai kecemasan, hidup akan terasa manis dan jiwa menjadi terkontrol. Dengan ketabahan wanita dalam menghadapi tantangan, cinta kasih akan tetap subur.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Bukti Kesabaran Seorang Istri</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kehidupan yang telah kita jalani selama ini memberikan banyak pengalaman tentang tantangan dan kesulitan di tengah kehidupan rumah tangga. Kesulitan-kesulitan tersebut sangat memungkinkan untuk dihadapi dengan penuh kesabaran dan ketabahan. Hal ini pula yang harus banyak dipelajari oleh para wanita. Sayangnya, banyak di antara mereka belajar dari pengalaman yang tidak berguna.</p>
<p style="text-align:justify;">Sungguh baik perkataan Abu Darda’ kepada istrinya: “Jika engkau melihatku sedang marah maka buatlah aku ridho dan jika aku melihatmu sedang marah maka aku akan membuatmu menjadi ridho. Jika tidak, kita tidak akan menyatu.” Inilah pengaruh bimbingan al-Qur’an, sebagaimana firman Alloh (artinya):</p>
<blockquote><p>… dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Alloh menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS. Ali Imron [3]: 134)</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Di antara gambaran hikmah dan kesabaran wanita, ia tidak boleh meminta cerai kepada suaminya. Dari Tsaubah , dia berkata: Rosululloh bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا طَلَاقًا مِنْ غَيْرِ بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّةِ.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Wanita mana saja yang meminta talak kepada suaminya tanpa alasan, haram baginya aroma surga</em>.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi sedangkan beliau menghasankannya)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Wanita Kehilangan Jati Dirinya</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kemajuan teknologi di bidang informasi saat ini sudah menyeruak sedemikian rupa sehingga media masa elektronik maupun cetak bisa sampai ke masyarakat sampai ke pelosok desa dan telah banyak mengotori fithroh wanita sebagai sosok manusia yang lekat dengan suami, rumah, dan anak. Sebagai akibatnya wanita tidak lagi betah tinggal di rumah untuk melayani suami, mengurus anak, dan rumah tangganya. Mereka berbondong-bondong keluar memadati jalan-jalan, perkantoran, pertokoan, tempat-tempat yang tidak layak untuk perempuan — seperti di pabrik-pabrik, di proyek-proyek, di bengkel-bengkel; bahkan tak sedikit wanita yang bekerja sebagai sopir angkot maupun bus yang sangat berisiko baginya.</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka rela menyerahkan suami dan anaknya kepada pembantu atau orang tuanya yang dulu sudah capai mengurusnya. Namun, disebabkan orang tuanya dulu melakukan hal yang serupa, anaknya pun kini melakukan hal yang sama kepadanya. ‘Iyadzan billah.</p>
<p style="text-align:justify;">Kondisi seperti ini dapat dengan mudah kita temui, baik di desa maupun kota. Memang sangat memprihatinkan, kebanyakan mereka tidak memahami apa arti hidup, untuk apa dia hidup, dan hendak ke mana setelah dia hidup?</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka tidak mengenal siapa yang menciptakan dirinya, untuk apa dia diciptakan, dan kewajiban apa yang harus ditunaikan kepada penciptanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ada suatu kejadian, seorang muslimah berkerudung dan bertitel sarjana pendidikan akan mendaftar sebagai tenaga pengajar di sebuah lembaga pendidikan Islam. Saat diwawancarai oleh panitia dan ditanya “di mana Alloh”, dia terdiam agak lama. Setelah panitia mengulangi pertanyaannya, barulah dia menjawab bahwa Alloh itu ada di hati. Panitia menegaskan lagi: “Berarti menurut Ibu, Alloh itu banyak, karena ada di setiap hati manusia sedangkan manusia jumlahnya banyak.” Dia menjawab: “Bukan begitu, kita meyakini bahwa Alloh itu satu, tetapi Alloh itu dekat dengan kita.”</p>
<p style="text-align:justify;">Yang sangat menarik dari kejadian tersebut, seusai wawancara si ibu tersebut menemui salah satu panitia puteri lalu dia menangis. Mengapa? Karena pertanyaan serupa sering ditanyakan oleh anaknya saat mau tidur dan dia tidak bisa menjawab. Semoga Alloh mengaruniakan hidayah kepada ibu tersebut ke dalam Islam di atas pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah.</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin bagi sebagian muslimah—bahkan kebanyakan orang—masalah ini(2)  tidak dianggap penting. Padahal masalah ini adalah masalah fundamental yang harus diketahui oleh setiap muslim. Mereka mungkin hanya tahu bahwa tuhannya adalah Alloh, agamanya Islam, dan nabinya adalah Nabi Muhammad . Namun pengetahuannya hanya sebatas itu, tanpa mengetahui makna, rukun, syarat maupun konsekuensi-konsekuensinya (yang tidak mungkin dibahas di sini).</p>
<p style="text-align:justify;">Barangkali secara sepintas orang mengatakan bahwa jawaban ibu itu benar, tetapi ternyata jawaban tersebut bertentangan dengan dalil yang menetapkan bahwa Alloh itu bersemayam di atas Arsy. Jawaban ibu tersebut mencerminkan betapa minimnya pengetahuan agama para wanita muslimah—terlebih lagi masyarakat kita—sampai-sampai tentang hal yang sangat mendasar sekalipun tidak mereka ketahui sementara gelar sarjana sudah mereka sandang.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu, wahai saudariku — khususnya para istri muslimah, pelajarilah agama kalian dengan sungguh-sungguh dan bersabarlah dalam menuntut ilmunya, setelah itu amalkan dan bersabarlah pula dalam mengamalkannya, karena setan—musuhmu yang nyata, baik dari kalangan jin maupun manusia—tidak akan membiarkanmu berada dalam kebaikan. Berdo’alah selalu kepada Alloh dalam menunaikan amanah agamamu, serta amanah suami dan anak-anakmu.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Saudariku tercinta, carilah pahala dari Alloh!</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Agar anda merasakan kebahagiaan rumah tangga, hendaknya anda ketahui bahwa ganjaran dan pahala menanti anda atas ketaatan kepada suami serta hubungan baik anda dengannya. Sungguh benar sabda Rosululloh :</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Jika seorang wanita sholat lima waktu, berpuasa sebulan penuh, menjaga kemaluannya, dan taat pada suaminya, maka akan dikatakan padanya: ‘Masuklah dari pintu surga mana saja yang engkau inginkan.’”</em> (HR. Ahmad dan dihasankan oleh al-Albani dan lainnya)</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau juga bersabda: “<em>Maukah kalian aku kabari tentang wanita (istri) kalian di surga?” Mereka berkata: “Mau, wahai Rosululloh.” Beliau berkata: “Setiap wanita yang pencinta dan subur, jika ia marah atau dikasari atau dimarahi oleh suaminya ia berkata: ‘Ini adalah tanganku di tanganmu, aku tidak akan bercelak atau memakai celak sampai engkau ridho.</em>’” (HR. Daruquthni dan Thobroni)</p>
<p style="text-align:justify;">Aduhai, betapa indah ketabahan dan kesabaran seorang istri yang disebutkan oleh Rosululloh. Betapa tulusnya permintaan maaf yang ia ucapkan kepada suaminya tercinta. Sungguh hal itu tidaklah timbul melainkan dari sikap ketabahan dan kesabaran yang tinggi pada seorang istri. Dan sekali lagi, ini adalah gambaran betapa indahnya harapan seorang wanita di sisi suaminya, yang mana dalam segala keadaan ia hanya berharap keridhoan suaminya untuk mendapatkan keridhoan Robbnya demi surga-Nya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ada hal yang sangat penting untuk kita ingat, apapun yang anda lakukan tergantung pada niat anda. Tatkala anda berbuat baik kepada suami, melakukan hubungan baik dengannya, dan taat kepadanya sebagai bentuk ketaatan kepada Alloh , niscaya anda telah melakukan hal tersebut. Jika anda berniat tatkala mendidik anak lantaran ingin menyiapkan pemuda sholih dan generasi mu’min niscaya anda telah melakukan hal itu. Begitu pula makan, minum, dan tidur anda jika disertai dengan niat taqwa kepada Alloh niscaya anda telah melakukan hal itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan demikian, hidup anda akan berubah menjadi kemenangan, pahala, dan keuntungan. Itu pun masih ditambah lagi dengan bagian yang akan anda peroleh di akhirat. Tanpa diragukan lagi, hal ini akan menanamkan kebahagiaan, ketenteraman jiwa, dan ketenangan hati. Nabi bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذٰلِكَ فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ لَهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ لَهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Sesungguhnya Alloh telah menetapkan kebaikan dan keburukan lalu menjelaskannya dalam kitabnya. Maka, barang siapa yang menginginkan kebaikan dan belum melakukannya niscaya Alloh menuliskan baginya satu kebaikan, jika ia menginginkan kebaikan dan melakukannya niscaya Alloh menulis untuknya sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus lipat sampai dengan kelipatan yang banyak. Barang siapa yang menginginkan satu keburukan lalu ia tidak melakukannya maka Alloh mencatat baginya satu kebaikan, dan jika ia menginginkan satu keburukan dan melakukannya niscaya Alloh mencatat baginya satu keburukan.”</em> (Muttafaqun ‘alaihi)</p>
<p style="text-align:justify;">Senantiasa bermunajatlah kepada Alloh!</p>
<p style="text-align:justify;">Saudariku istri muslimah, janganlah kehidupan dunia membuat kalian lalai dari mengingat Alloh. Ketahuilah, dunia ini — sebagaimana yang dikatakan Ali bin Abi Tholib : “Halalnya adalah perhitungan dan haramnya adalah neraka.”</p>
<p style="text-align:justify;">Sabda Rosululloh (artinya):</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Barang siapa yang menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya maka Alloh akan membuat perkaranya berantakan dan menjadikan kemiskinan di depan kedua matanya serta tidaklah datang dunia kecuali yang telah ditentukan kepadanya. Dan barang siapa yang menjadikan akhirat sebagai niatnya maka Alloh akan mengumpulkan perkaranya dan dijadikan kaya di dalam hatinya dan dunia akan datang dengan sendirinya.” </em>(HR. Ibnu Majah dengan sanad yang shohih)</p>
<p style="text-align:justify;">Wahai saudariku kaum muslimat, ada baiknya bila kita senantiasa mengingat empat hal yang diwasiatkan oleh Imam Ahmad kepada umat ini, agar ketabahan senantiasa menjadi perisai dan kesabaran senantiasa menjadi sinar yang menerangi. Beliau pernah bertutur: “Aku tahu bahwa rezekiku tidak akan dimakan orang lain, maka tenteramlah jiwaku. Aku tahu bahwa amalku tidak akan dilakukan orang lain, maka aku pun disibukkannya. Aku tahu bahwa kematian akan datang tiba-tiba, maka aku segera menyiapkannya. Dan aku tahu bahwa diriku tidak akan lepas dari pantauan Alloh, maka aku akan merasa malu kepada-Nya.”3</p>
<p style="text-align:justify;">Jagalah hubungan kalian dengan Alloh, niscaya kalian akan mendapatkan kebahagiaan, ketenangan, dan ketenteraman jiwa. Alloh berfirman:</p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<blockquote><p><strong>(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Alloh. Ingatlah, hanya dengan mengingati Alloh-lah hati menjadi tenteram. (QS. ar-Ro’du [13]: 28)</strong></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Di antara penyebab senang dan gembira adalah berdzikir kepada Alloh. Sebaliknya, berpaling dari dzikir kepada Alloh serta dari ketaatan dan bersyukur kepada-Nya akan melahirkan kesengsaraan dan kesempitan di dunia dan di akhirat. Alloh berfirman:</p>
<blockquote><p>Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. (QS. Thoha [20]: 124)</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Saudariku istri muslimah, agar diri kalian bisa dekat dengan Alloh, lakukanlah hal-hal berikut ini dengan penuh kesabaran:</p>
<p style="text-align:justify;">·  Jagalah sholat lima waktu pada waktunya.</p>
<p style="text-align:justify;">·  Bersungguh-sungguhlah melakukan sholat sunnah.</p>
<p style="text-align:justify;">·  Perbanyaklah dzikir kepada Alloh dan sholawat kepada Rosululloh.</p>
<p style="text-align:justify;">·  Perbanyaklah do’a dan pujian, tunduk dan beristighfarlah kepada Alloh.</p>
<p style="text-align:justify;">·  Senantiasa membaca al-Qur’an.</p>
<p style="text-align:justify;">·  Komitmen dalam melakukan kewajiban dan menjauhi hal-hal yang haram.</p>
<p style="text-align:justify;">·  Jagalah hijab yang syar’i.</p>
<p style="text-align:justify;">·  Sucikan rumah anda dari kemungkaran serta alat-alat yang sia-sia dan tak berguna.</p>
<p style="text-align:justify;">Saudariku istri muslimah, kalian tidak bisa melakukan semua itu tanpa taufiq dan rohmat dari Alloh. Oleh sebab itu, mohonlah taufiq dan rohmat kepada-Nya serta bersabarlah dalam menunaikannya.</p>
<p style="text-align:justify;">———————————————————————————–</p>
<p style="text-align:justify;">note:</p>
<p style="text-align:justify;">1“Bulan madu” bukan istilah yang baik menurut syari’at Islam. Ia sekedar gambaran bagaimana pasutri terlelap dalam menikmati hari-harinya yang cenderung hanya memperhatikan kepuasan nafsu duniawi semata, lalai dari hakikat pernikahan yang sebenarnya. Maka waspadalah dari mengikuti kebiasaan orang non Islam. (red)</p>
<p style="text-align:justify;">2 Yakni tentang pertanyaan: “Di mana Alloh?”</p>
<p style="text-align:justify;">3 <em>Manaqib al-Imam Ahmad</em>, Ibnul Jauzi, cet. Maktabah al-Hani, Bab as-Siyaru, vol. 11 hlm. 485; <em>Wafayat al-A’yan</em>, op. cit., vol. 2 hlm. 27.</p>
<p style="text-align:justify;">Sumber: <a href="http://almawaddah.co.nr/" rel="nofollow">http://almawaddah.co.nr/</a></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://asshobru.wordpress.com/2011/10/18/ketabahan-seorang-istri/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">595</post-id>
		<media:thumbnail url="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/08/310337_193139364099639_100002107314362_408124_1148571988_n.jpg" />
		<media:content url="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/08/310337_193139364099639_100002107314362_408124_1148571988_n.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">310337_193139364099639_100002107314362_408124_1148571988_n</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://0.gravatar.com/avatar/3985782d11380e5c94c46fe21c52ff38ec227fe8ddcb6babc2f2c024b886015d?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">misbah007</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/pink-rose-petal.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">pink-rose-petal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Demam? Bersabarlah !</title>
		<link>https://asshobru.wordpress.com/2011/09/18/586/</link>
					<comments>https://asshobru.wordpress.com/2011/09/18/586/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[misbah]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 18 Sep 2011 10:24:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Syukur]]></category>
		<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://asshobru.wordpress.com/?p=586</guid>

					<description><![CDATA[Bismillah&#8230;. kita tentu sering mengalami demam, demam yang kita alami cukup menganggu aktivitas kita, tapi janganlah terlalu cepat mengeluh dan &#8230;<p><a href="https://asshobru.wordpress.com/2011/09/18/586/">Baca lebih lanjut <span class="meta-nav">&#8594;</span></a></p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Bismillah&#8230;.</p>
<p style="text-align:justify;">kita tentu sering mengalami demam, demam yang kita alami cukup <a href="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/09/images.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="587" data-permalink="https://asshobru.wordpress.com/2011/09/18/586/images/" data-orig-file="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/09/images.jpg" data-orig-size="194,202" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="images" data-image-description="" data-image-caption="" data-large-file="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/09/images.jpg?w=194" class="alignleft size-thumbnail wp-image-587" title="images" src="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/09/images.jpg?w=144&#038;h=150" alt="" width="144" height="150" srcset="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/09/images.jpg?w=144 144w, https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/09/images.jpg 194w" sizes="(max-width: 144px) 100vw, 144px" /></a>menganggu aktivitas kita, tapi janganlah terlalu cepat mengeluh dan bersabarlah atasnya karena bahwasannya Demam adalah pengganti api neraka yang Allah berikan dari pada dosa-dosa yang kita lakukan.</p>
<p><span id="more-586"></span></p>
<p style="text-align:justify;">sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan</p>
<blockquote><p>dari Abu Hurairah Rodhiyallahu’anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menjenguk seorang laki-laki yg terserang dengan. Maka Beliau bersabda<br />
“Bergembiralah! Karena sesungguhnya Allah berfirman<br />
“itu adalah api-Ku yg kutimpakan kepada hamba-Ku yg berbuat dosa agar itu menjadi (pengganti) bagiannya dari api neraka”.<br />
[HR. Ahmad dlm Al Fath ArRabbani 19/135, At-Tirmidzi/200 8, Ibnu Majah /3470, Al Hakim I/496, Al Baihaqi. Dishahihkan Al Albany dalam Shahih Al Jami&#8217; /32]</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">dalam Riwayat yang lain</p>
<blockquote><p>Abu Umamah Rodhiyallahu’anhu, bahwa Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda :<br />
” demam adalah ubupan (alat peniup api) jahannam. Demam apapun yg menyerang mukmin, maka itu adalah pengganti dari bagiannya di neraka”<br />
[HR. Ahmad dlm Al fath Ar Rabbani 17/160. Dishahihkan AlAlbany dlm Shahih Al Jami&#8217; /3188]</p></blockquote>
<p><strong>Larangan Mencela Demam</strong></p>
<p>dalam hadits yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah Rodhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah mendatangi Ummu AsSaib atau Ummu Al Musayyib.<br />
Beliau pun bertanya<br />
” Mengapa Engkau menggigil wahai Ummu AsSaib (atau Ummu Al Musayyib)?”<br />
Ia menjawab “Sakit demam, smg Allah tidak memberkahinya”.<br />
Maka Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda :<br />
<strong><em>“janganlah engkau mencela demam. Karena demam menghilangkan (dosa²), kesalahan anak cucu adam (manusia) sebagaimana ubupan (alat peniup api) menghilangkan karat besi.”</em></strong><br />
[HR. Muslim/2575 dan Ibnu Majah/3469. Hadits brdasar lafazh Muslim]</p>
<p>upaya yang terbaik tatkala demam adalah bersabar dengan berikhtiar untuk menyembuhkan diri agar segala kegiatan aktifitas ibadah kita tak terganggu dan menjadi maksimal. semoga penyakit demam yang kita rasakan menjadi Penebus Dosa² yang kita lakukakan.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://asshobru.wordpress.com/2011/09/18/586/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">586</post-id>
		<media:content url="https://0.gravatar.com/avatar/3985782d11380e5c94c46fe21c52ff38ec227fe8ddcb6babc2f2c024b886015d?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">misbah007</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/09/images.jpg?w=144" medium="image">
			<media:title type="html">images</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Muslimah yang Ikhlas</title>
		<link>https://asshobru.wordpress.com/2011/08/21/muslimah-yang-ikhlas/</link>
					<comments>https://asshobru.wordpress.com/2011/08/21/muslimah-yang-ikhlas/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[misbah]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 21 Aug 2011 12:09:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[tazkiyatunnafs]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://asshobru.wordpress.com/?p=575</guid>

					<description><![CDATA[Penulis: Ummu Habibah Saudariku muslimah… ketahuilah bahwa engkau dan manusia seluruhnya di muka bumi ini diciptakan dengan tujuan untuk beribadah &#8230;<p><a href="https://asshobru.wordpress.com/2011/08/21/muslimah-yang-ikhlas/">Baca lebih lanjut <span class="meta-nav">&#8594;</span></a></p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/08/green-2.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="576" data-permalink="https://asshobru.wordpress.com/2011/08/21/muslimah-yang-ikhlas/green-2/" data-orig-file="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/08/green-2.jpg" data-orig-size="256,298" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="green-2" data-image-description="" data-image-caption="" data-large-file="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/08/green-2.jpg?w=256" class="alignleft size-thumbnail wp-image-576" title="green-2" src="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/08/green-2.jpg?w=128&#038;h=150" alt="" width="128" height="150" srcset="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/08/green-2.jpg?w=128 128w, https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/08/green-2.jpg 256w" sizes="(max-width: 128px) 100vw, 128px" /></a>Penulis: Ummu Habibah</p>
<p>Saudariku muslimah… ketahuilah bahwa engkau dan manusia seluruhnya di muka bumi ini diciptakan dengan tujuan untuk beribadah kepada Allah, demikian pula tujuan jin diciptakan tidak lain adalah untuk meyembah Allah.<span id="more-575"></span></p>
<blockquote><p>Allah berfirman,<br />
<em>“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembahKu (yaitu mengesaknKu).”</em> (Adz Dzariyat 56)</p></blockquote>
<p>Ibadah dilakukan oleh seorang muslimah karena kebutuhannya terhadap Allah sebagai tempat sandaran hati dan jiwa, sekaligus tempat memohon pertolongan dan perlindungan. Dan ketahuilah saudariku bahwa ikhlas merupakan salah satu syarat diterimanya amal seorang muslimah, di samping dia harus mencontoh gerak dan ucapan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam ibadahnya.</p>
<blockquote><p><em>“Dan mereka tidaklah disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan dien (agama) kepadaNya, dengan mentauhidknnya.”</em> (Al Bayyinah 5)</p></blockquote>
<p>Ikhlas adalah meniatkan ibadah seorang muslimah hanya untuk mengharap keridhoan dan wajah Allah semata dan tidak menjadikan sekutu bagi Allah dalam ibadah tersebut. Ibadah yang dilakukan untuk selain Allah atau menjadikan sekutu bagi Allah sebagai tujuan ibadah ketika sedang beribadah kepada Allah adalah syirik dan ibadah yang dilakukan dengan niat yang demikian tidak akan diterima oleh Allah. Misalnya menyembah berhala di samping menyembah Allah atau dengan ibadah kita mengharapkan pujian, harta, kedudukan dunia, dan lain-lain. Syirik merusak kejernihan ibadah dan menghilangkan keikhlasan dan pahalanya.</p>
<p>Abu Umamah meriwayatkan, seseorang telah menemui Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan bertanya, <em>“Bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang berperang untuk mendapatkan upah dan pujian? Apakah ia mendapatkan pahala?”</em></p>
<p><em>Rasululllah</em><em> shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab</em><em>, ” Ia tidak mendapatkan apa-apa.”</em></p>
<blockquote><p><em>Orang tadi mengulangi pertanyaannya sebanyak tiga kali, dan Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tetap menjawab, ” Ia tidak akan mendapatkan apa-apa. ” Lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menerima suatu amal, kecuali jika dikerjakan murni karenaNya dan mengharap wajahNya.”</em> (HR. Abu Dawud dan Nasai)</p></blockquote>
<p>Ketahuilah saudariku… bahwa ikhlas bukanlah hal yang mudah dilakukan. Ikhlas adalah membersihkan hati dari segala kotoran, sedikit atau pun banyak – sehingga tujuan ibadah adalah murni karena Allah.</p>
<p>Ikhlas hanya akan datang dari seorang muslimah yang mencintai Allah dan menjadikan Allah sebagi satu-satunya sandaran dan harapan. Namun kebanyakan wanita pada zaman sekarang mudah tergoda dengan gemerlap dunia dan mengikuti keinginan nafsunya. Padahal nafsu akan mendorong seorang muslimah untuk lalai berbuat ketaatan dan tenggelam dalam kemaksiatan, yang akhirnya akan menjerumuskan dia pada palung kehancuran di dunia dan jurang neraka kelak di akhirat.</p>
<p>Oleh karena itu, hampir tidak ada ibadah yang dilakukan seorang muslimah bisa benar-benar bersih dari harapan-harapan dunia. Namun ini bukanlah alasan untuk tidak memperhatikan keikhlasan. Ingatlah bahwa Allah sentiasa menyayangi hambaNya, selalu memberikan rahmat kepada hambaNya dan senang jika hambaNya kembali padaNya. Allah senatiasa menolong seorang muslimah yang berusaha mencari keridhoan dan wajahNya.</p>
<p>Tetaplah berusaha dan berlatih untuk menjadi orang yang ikhlas. Salah satu cara untuk ikhlas adalah menghilangkan ketamakan terhadap dunia dan berusaha agar hati selalu terfokus kepada janji Allah, bahwa Allah akan memberikan balasan berupa kenikmatan abadi di surga dan menjauhkan kita dari neraka. Selain itu, berusaha menyembunyikan amalan kebaikan dan ibadah agar tidak menarik perhatianmu untuk dilihat dan didengar orang, sehingga mereka memujimu. Belajarlah dari generasi terdahulu yang berusaha ikhlas agar mendapatkan ridho Allah.</p>
<p>Dahulu ada penduduk Madinah yang mendapatkan sedekah misterius, hingga akhirnya sedekah itu berhenti bertepatan dengan sepeninggalnya Ali bin Al Husain. Orang-orang yang yang memandikan beliau tiba-tiba melihat bekas-bekas menghitam di punggung beliau, dan bertanya, <em>“Apa ini?”</em> Sebagian mereka menjawab, <em>“Beliau biasa memanggul karung gandum di waktu malam untuk dibagikan kepada orang-orang fakir di Madinah.”</em> Akhirnya mereka pun tahu siapa yang selama ini suka memberi sedekah kepada mereka. Ketika hidupnya, Ali bin Husain pernah berkata,<em> “Sesungguhnya sedekah yang dilakukan diam-diam dapat memadamkan kemurkaan Allah.”</em></p>
<p>Janganlah engkau menjadi orang-orang yang meremehkan keikhlasan dan lalai darinya. Kelak pad hari kiamat orang-orang yang lalai akan mendapati kebaikan-kebaikan mereka telah berubah menjadi keburukan. Ibadah mereka tidak diterima Allah, sedang mereka juga mendapat balasan berupa api neraka dosa syirik mereka kepada Allah.</p>
<p>Allah berfirman,<br />
<em>“Dan (pada hari kiamat) jelaslah bagi azab mereka dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan. Dan jelaslah bagi mereka keburukan dari apa-apa yang telah mereka kerjakan.”</em> (Az Zumar 47-48)</p>
<blockquote><p><em>“Katakanlah, Maukah kami kabarkan tentang orang yang paling merugi amalan mereka? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia usaha mereka di dunia, sedang mereka menyangka telah mengerjakan sebaik-baiknya.”</em> (Al Kahfi 103-104)</p></blockquote>
<p>Saudariku muslimah… bersabarlah dalam belajar ikhlas. Palingkan wajahmu dari pujian manusia dan gemerlap dunia. Sesungguhnya dunia ini fana dan akan hancur, maka sia-sia ibadah yang engkau lakukan untuk dunia. Sedangkan akhirat adalah kekal, kenikmatannya juga siksanya. Bersabarlah di dunia yang hanya sebentar, karena engkau tidak akan mampu bersabar dengan siksa api neraka walau hanya sebentar.</p>
<p><strong>Maraji’:</strong> <em><br />
Aina Nahnu Min Akhlaqis Salaf</em><br />
<em>Tazkiyatun Nufus</em></p>
<p><a href="http://muslimah.or.id">sumber</a></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://asshobru.wordpress.com/2011/08/21/muslimah-yang-ikhlas/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">575</post-id>
		<media:content url="https://0.gravatar.com/avatar/3985782d11380e5c94c46fe21c52ff38ec227fe8ddcb6babc2f2c024b886015d?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">misbah007</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/08/green-2.jpg?w=128" medium="image">
			<media:title type="html">green-2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kesabaran Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Menuntut Ilmu</title>
		<link>https://asshobru.wordpress.com/2011/08/13/kesabaran-syaikh-abdul-qadir-al-jailani-dalam-menuntut-ilmu/</link>
					<comments>https://asshobru.wordpress.com/2011/08/13/kesabaran-syaikh-abdul-qadir-al-jailani-dalam-menuntut-ilmu/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[misbah]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 13 Aug 2011 04:18:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah shalafus shalih]]></category>
		<category><![CDATA[sabar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://asshobru.wordpress.com/?p=569</guid>

					<description><![CDATA[Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani rahimahullah Mengais Sisa-sisa Makanan Karena Lapar Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah berkata dalam kitabnya Dzailu Thabaqatil &#8230;<p><a href="https://asshobru.wordpress.com/2011/08/13/kesabaran-syaikh-abdul-qadir-al-jailani-dalam-menuntut-ilmu/">Baca lebih lanjut <span class="meta-nav">&#8594;</span></a></p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani r<em>ahimahullah</em> Mengais Sisa-sisa Makanan Karena Lapar</strong></p>
<p><a href="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/08/211623_100002527507965_3868080_n.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="570" data-permalink="https://asshobru.wordpress.com/2011/08/13/kesabaran-syaikh-abdul-qadir-al-jailani-dalam-menuntut-ilmu/211623_100002527507965_3868080_n/" data-orig-file="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/08/211623_100002527507965_3868080_n.jpg" data-orig-size="180,172" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="211623_100002527507965_3868080_n" data-image-description="" data-image-caption="" data-large-file="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/08/211623_100002527507965_3868080_n.jpg?w=180" class="alignleft size-thumbnail wp-image-570" title="211623_100002527507965_3868080_n" src="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/08/211623_100002527507965_3868080_n.jpg?w=150&#038;h=143" alt="" width="150" height="143" srcset="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/08/211623_100002527507965_3868080_n.jpg?w=150 150w, https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/08/211623_100002527507965_3868080_n.jpg 180w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" /></a>Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hanbali r<em>ahimahullah</em> berkata dalam kitabnya <em>Dzailu Thabaqatil Hanabilah</em>,I:298, tentang  biografi Imam Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani r<em>ahimahullah</em> (wafat tahun 561 H.), “Syaikh Abdul Qadir berkata, “Aku memunguti selada, sisa-sisa sayuran dan daun carob dari tepi kali dan sungai. Kesulitan yang menimpaku karena melambungnya harga yang terjadi di Baghdad membuatku tidak makan selama berhari-hari. Aku hanya bisa memunguti sisa-sisa makanan yang terbuang untukku makan.<span id="more-569"></span></p>
<p>Suatu hari, karena saking laparnya, aku pergi ke sungai dengan harapan mendapatkan daun carob, sayuran, atau selainnya yang bisa ku makan. Tidaklah aku mendatangi suatu tempat melainkan ada orang lain yang telah mendahuluinya. Ketika aku mendapatkannya,maka aku melihat orang-orang miskin itu memperebutkannya. Maka, aku pun membiarkannya, karena mereka lebih membutuhkan.</p>
<p>Aku pulang dan berjalan di tengah kota. Tidaklah aku melihat sisa makanan yang terbuang, melainkan ada yang mendahuluiku mengambilnya. Hingga, aku tiba di Masjid Yasin di pasar minyak wangi di Baghdad. Aku benar-benar kelelahan dan tidak mampu menahan tubuhku. Aku masuk masjid dan duduk di salah satu sudut masjid. Hampir saja aku menemui kematian. Tib-tiba ada seorang pemida non Arab masuk ke masjid. Ia membawa roti dan daging panggang. Ia duduk untuk makan. Setiap kali ia mengangkat tangannya untuk menyuapkan makanan ke mulutnya, maka mulutku ikut terbuka, karena aku benar-benar lapar. Sampai-sampai, aku mengingkari hal itu atas diriku. Aku bergumam, “Apa ini?” aku kembali bergumam, “Disini hanya ada Allah atau kematian yang telah Dia tetapkan.”</p>
<p>Tiba-tiba pemuda itu menoleh kepadaku, seraya berkata, “<em>Bismillah</em>, makanlah wahai saudaraku.” Aku menolak. Ia bersumpah untuk memberikannya kepadaku. Namun, jiwaku segera berbisik untuk tidak menurutinya. Pemuda itu bersumpah lagi. Akhirnya, akupun mengiyakannya. Aku makan dengantidak nyaman. Ia mulai bertanya kepadaku, “Apa pekerjaanmu? Dari mana kamu berasal? Apa julukanmu?” Aku menjawab, “Aku orang yang tengah mempelajari fiqih yang berasal dari Jailan bernama Abdul Qadir. Ia dikenal sebagai cucu Abdillah Ash-Shauma ‘I Az-Zahid?” Aku berkata, “Akulah orangnya.”</p>
<p>Pemuda itu gemetar dan wajahnya sontak berubah. Ia berkata, “Demi Allah, aku tiba di Baghdad, sedangkan aku hanya membawa nafkah yang tersisa milikku. Aku bertanya tentang dirimu, tetapi tidak ada yang menunjukkanku kepadamu. Bekalku habis. Selama tiga hari ini aku tidak mempunyai uang untuk makan, selain uang milikmu yang ada padaku. Bangkai telah halal bagiku (karena darurat). Maka, aku mengambil barang titipanmu, berupa roti dan daging panggang ini. Sekarang, makanlah dengan tenang. Karena, ia adalah milikmu. Aku sekarang adalah tamumu, yang sebelumnya kamu adalah tamuku.”</p>
<p>Aku berkata kepadanya, “Bagaimana ceritanya?” Ia menjawab, “Ibumu telah menitipkan kepadaku uang 8 dinar untukmu. Aku menggunakannya karena terpaksa. Aku meminta maaf kepadamu.” Aku menenangkan dan menenteramkan hatinya. Aku memberikan sisa makanan dan sedikit uang sebagai bekal. Ia menerima dan pergi.”</p>
<p><strong>Sumber: <em>Dahsyatnya Kesabaran Para Ulama</em>, Syaikh Abdul Fatah,  Zam-Zam Mata Air Ilmu, 2008</strong></p>
<p><strong> Judul asli: <em>Shafahat min Shabril ‘Ulama’</em>, Syaikh Abdul Fatah, Maktab Al-Mathbu’at Al-Islamiyyah cet. 1394 H./1974 M.</strong></p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.KisahMuslim.com" rel="nofollow">http://www.KisahMuslim.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://asshobru.wordpress.com/2011/08/13/kesabaran-syaikh-abdul-qadir-al-jailani-dalam-menuntut-ilmu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">569</post-id>
		<media:content url="https://0.gravatar.com/avatar/3985782d11380e5c94c46fe21c52ff38ec227fe8ddcb6babc2f2c024b886015d?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">misbah007</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/08/211623_100002527507965_3868080_n.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">211623_100002527507965_3868080_n</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sabar Membawa Keberhasilan</title>
		<link>https://asshobru.wordpress.com/2011/07/19/sabar-membawa-keberhasilan/</link>
					<comments>https://asshobru.wordpress.com/2011/07/19/sabar-membawa-keberhasilan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[misbah]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 19 Jul 2011 07:55:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[sabar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://asshobru.wordpress.com/?p=550</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Al Ustadz Abu Usamah bin Rawiyah An Nawawi “Bersabarlah!” Demikian perintah Allah terhadap Rasul-Nya Muhammad di dalam Al Qur’an. &#8230;<p><a href="https://asshobru.wordpress.com/2011/07/19/sabar-membawa-keberhasilan/">Baca lebih lanjut <span class="meta-nav">&#8594;</span></a></p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><em>Oleh: Al Ustadz Abu Usamah bin Rawiyah An Nawawi</em></p>
<h3><a href="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/07/roses_wallpaper-1280x102411.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="551" data-permalink="https://asshobru.wordpress.com/2011/07/19/sabar-membawa-keberhasilan/roses_wallpaper-1280x10241-2/" data-orig-file="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/07/roses_wallpaper-1280x102411.jpg" data-orig-size="250,200" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="roses_wallpaper-1280&amp;#215;10241" data-image-description="" data-image-caption="" data-large-file="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/07/roses_wallpaper-1280x102411.jpg?w=250" class="alignleft size-thumbnail wp-image-551" title="roses_wallpaper-1280x10241" src="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/07/roses_wallpaper-1280x102411.jpg?w=150&#038;h=120" alt="" width="150" height="120" srcset="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/07/roses_wallpaper-1280x102411.jpg?w=150 150w, https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/07/roses_wallpaper-1280x102411.jpg 250w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" /></a></h3>
<p>“Bersabarlah!”</p>
<p>Demikian perintah Allah terhadap Rasul-Nya Muhammad di dalam Al Qur’an. Hal ini menunjukkan betapa besar kedudukan sabar kaitannya dengan keimanan kepada Allah dan kaitannya dengan perwujudan iman tersebut dalam kehidupan</p>
<p>dan terlebih sebagai pemikul amanat dakwah.</p>
<p><span id="more-550"></span>Tentu jika anda menyambut seruan tersebut niscaya anda akan berhasil sebagaimana berhasilnya Rasulullah, keberhasilan di dunia dan di akhirat. Allah berfirman:</p>
<p>“<em>Maka bersabarlah kamu sebagaimana bersabarnya orang-orang yang memiliki keteguhan dari para rasul.</em>” <strong>(Al Ahqaf: 35)</strong></p>
<h3><em><strong>Sabarnya Ulul ‘</strong></em><em><strong>Azmi</strong></em></h3>
<p>Siapakah yang dimaksud oleh Allah dengan ulul ‘azmi yang kita diperintahkan untuk mencontohnya?</p>
<p>1. Nabi Nuh ‘<em>Alahi salam </em>sebagai rasul yang pertama kali diutus ke muka bumi ini adalah salah satu dari <em>ulul ‘azmi</em>. Beliau diutus kepada kaum yang pertama kali menumbuhkan akar kesyirikan di muka bumi. Tahukah anda bagaimana besar tantangan yang dihadapi? Coba anda renungkan ketika seseorang ingin mencabut sebuah pohon yang sangat besar yang akarnya telah menjalar ke segala penjuru, sungguh betapa berat pengorbanannya. Allah sendiri telah memberitahukan kepada kita dengan firman-Nya:<br />
“<em>Dan demikianlah kam</em><em>i menjadikan bagi setiap para nabi seorang musuh dari syetan baik dari kalangan jin dan manusia.</em>”<strong>(Al An’am: 112)</strong></p>
<p>Yang dipilih pertama kali dari sederetan kaumnya yang menghadang dakwah beliau adalah keluarga yang paling dekat anak dan isterinya. Dengan perjuangan yang panjang dan berat, beliau dengan kesabaran bisa meraih kemenangan di dunia dan di akhirat. Allah mengatakan tentang beliau:<br />
<em>“Sesungguhnya dia adalah hamba-Ku yang bersyukur.” </em><strong>( Al Isra’: 3)</strong></p>
<p>2. Nabi Ibrahim <em>‘alaihissalam</em> sebagai bapak orang-orang yang bertauhid juga sebagai salah satu <em>ulul ‘azmi</em>. Mendobrak keangkaramurkaan yang dilakukan oleh bapaknya sendiri dan kaumnya yang dipimpin oleh seorang raja yang dzalim. Bagaimanakah perasaan anda jika anda diusir dari belaian kasih sayang dan perlindungan bapak anda? Bapaknya yang dipilih oleh Allah untuk menghadang dakwah beliau yang berada di bawah cengkeraman raja yang mengaku diri sebagai tuhan. Dia harus menelan pil pahit angkara murka kaumnya yang dengan tega melempar Nabi Ibrahim ke dalam kobaran api yang sangat dahsyat. Namun apakah yang mereka bisa perbuat terhadap jasad beliau? Sia-sialah perbuatan mereka.</p>
<p>Di sisi lain beliau harus juga menerima ujian yang lebih pahit yaitu amanat dari Allah untuk menyembelih putra yang disayangi dan diharapkan sebagai calon penerusnya. Bisakah anda membayangkan hal yang demikian itu? Kesabaranlah yang menyelamatkan dari semua ujian dan cobaan yang menimpa beliau.</p>
<p>3. Nabi Musa dan ‘Isa adalah dua rasul yang diutus kepada Bani Israil dan sekaligus sebagai <em>ulul ‘azmi</em>. Tantangan yang dihadapi beliau berdua, tentu tidak jauh berbeda dengan para pendahulunya dari kalangan para rasul Allah. Siapa yang tidak mengenal Fir’aun si raja kufur yang menobatkan dirinya sebagai Rabb semesta alam, raja tak berperikemanusiaan yang membunuh anak-anak yang menurutnya akan bisa menggoyahkan tahta kekuasaannya. Kesabaranlah yang menjadi kuncinya sehingga beliau berdua dibebaskan dari segala bentuk tantangan dan ujian yang sangat dahsyat.</p>
<p>4. Nabi Muhammad sebagai nabi penutup dan imam para rasul juga termasuk salah satu dari <em>ulul ‘azmi</em>. Yang diutus kepada semua umat yang berada di atas dekadensi moral, kejahiliyahan dan keberingasan. Tentu tantangan yang beliau hadapi tidak kalah hebat dengan para rasul pendahulu beliau. Para rasul pendahulu beliau hanya diutus kepada kaum tertentu sedangkan beliau diutus kepada seluruh umat. Ini menggambarkan betapa besar tantangan yang beliau harus hadapi. Allah memilih keluarga beliau yang paling dekat menjadi penjegal perjalanan dakwah beliau. Mereka tidak berbeda dengan kaum sebelumnya dalam memusuhi para rasul Allah. Kesabaranlah yang menjadi kunci semua perjuangan beliau.</p>
<p>Anda pasti menginginkan keberhasilan dalam setiap usaha yang anda lakukan. Maka dari itu jadikanlah seluruh para Nabi dan Rasul Allah sebagai suri tauladan anda dalam kesabaran sehingga anda akan mendapatkan keberhasilan seperti apa yang mereka telah dapatkan.</p>
<p>Abdurrahman As Sa’di mengatakan di dalam tafsir beliau: “Dan adapun orang yang telah diberikan taufiq oleh Allah untuk bersabar ketika ditimpa ujian lalu dia menahan dirinya untuk tidak benci terhadap ketentuan tersebut baik dengan ucapan dan perbuatan dan berharap pahala dari Allah dan dia mengetahui bahwa apa yang dia dapatkan dari pahala karena kesabaran tersebut atas musibah yang menimpanya, bahkan baginya ujian itu menjadi nikmat karena telah menjadi jalan terwujudnya sesuatu yang lebih baik, maka sungguh dia telah melaksanakan perintah Allah dan berhasil meraih ganjaran yang besar dari sisi-Nya.”</p>
<h3><em><strong>Macam-macam Sabar dan Keutamaannya</strong></em></h3>
<p>Ibnul Qayyim dalam kitab beliau <strong>Madarijus Salikin </strong>(2/156) berkata: “Sabar ada tiga macam yaitu sabar dalam ketaatan kepada Allah, sabar dalam menahan diri dari bermaksiat kepada Allah dan sabar dalam menghadapi ujian.”</p>
<p>Al Imam Al Qurthubi dalam tafsir beliau menukilkan ucapan Sahl bin Abdillah At Tasturi: “Sabar ada dua macam yaitu sabar dari bermaksiat kepada Allah maka ini adalah seorang mujahid; dan sabar dalam ketaatan kepada Allah ini yang dinamakan ahli ibadah.”</p>
<p>Ibnul Qayyim di dalam kitab beliau <strong>Madarijus Salikin </strong>(2/155) mengatakan: “Sabar dalam keimanan bagaikan kepala pada jasad; dan tidak ada keimanan tanpa sabar sebagaimana jasad tidak akan berfungsi tanpa kepala.”</p>
<p>Umar bin Al Khaththab berkata: “Kami menjumpai kebaikan hidup ada bersama kesabaran.”</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Kepemimpinan dalam agama akan didapati dengan yakin dan sabar.” Allah berfirman:<br />
“<em>Dan Kami menjadikan dari mereka sebagai pemimpin yang berjalan di atas perintah Kami ketika mereka bersabar dan mereka yakin kepada ayat-ayat Kami</em>.” <strong>(As Sajdah: 24)</strong></p>
<p>Rasulullah bersabda: “<em>Tidak ada satupun pemberian kepada seseorang yang lebih baik daripada sabar.</em>” <strong>( HR. Muslim)</strong>.</p>
<p>“<em>Sabar adalah cahaya.</em>” <strong>( HR. Muslim)</strong>.</p>
<p>Allah berfirman:<br />
“<em>Dan Kami benar-benar akan membalas mereka yang bersabar dengan balasan yang lebih baik daripada apa yang mereka telah lakukan.</em>” (<strong>An Nahl: 96)</strong></p>
<p>Wallahu a’lam.</p>
<p>Sumber: <a href="http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&#038;id_online=93" rel="nofollow">http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&#038;id_online=93</a></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://asshobru.wordpress.com/2011/07/19/sabar-membawa-keberhasilan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">550</post-id>
		<media:thumbnail url="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/07/windows_7_islamic_wallpaper_by_islamicwallpers.jpg" />
		<media:content url="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/07/windows_7_islamic_wallpaper_by_islamicwallpers.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">windows_7_islamic_wallpaper_by_islamicwallpers</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://0.gravatar.com/avatar/3985782d11380e5c94c46fe21c52ff38ec227fe8ddcb6babc2f2c024b886015d?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">misbah007</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/07/roses_wallpaper-1280x102411.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">roses_wallpaper-1280x10241</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kesabaran Abdullah bin Hudzafah</title>
		<link>https://asshobru.wordpress.com/2011/07/12/kesabaran-abdullah-bin-hudzafah/</link>
					<comments>https://asshobru.wordpress.com/2011/07/12/kesabaran-abdullah-bin-hudzafah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[misbah]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 12 Jul 2011 08:46:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah shalafus shalih]]></category>
		<category><![CDATA[sabar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lu2walmarjan.wordpress.com/?p=343</guid>

					<description><![CDATA[Apabila manusia melihat keadaan Abdullah bin Hudzafah bin Qais radhiyallahu ‘anhu ketika Raja Romawi hendak menghalanginya dari agamanya, niscaya mereka &#8230;<p><a href="https://asshobru.wordpress.com/2011/07/12/kesabaran-abdullah-bin-hudzafah/">Baca lebih lanjut <span class="meta-nav">&#8594;</span></a></p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/07/white_tulip1.jpg"><img loading="lazy" class="alignleft size-thumbnail wp-image-344" title="White_Tulip" src="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/07/white_tulip1.jpg?w=150&#038;h=110" alt="" width="150" height="110" /></a>Apabila manusia melihat keadaan Abdullah bin Hudzafah bin Qais <em>radhiyallahu ‘anhu</em> ketika Raja Romawi hendak menghalanginya dari agamanya, niscaya mereka kan melihat kedudukan yang mulia dan laki-laki yang agung.</p>
<p><span id="more-343"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Umar bin Khattab <em>radhiayallahu ‘anhu</em> memberangkatkan tentaranya menuju Romawi. Kemudian tentara Romawi berhasil menawan Abdullah bin Hudzafah dan membawanya pulang ke negeri mereka. Kemudian mereka berkata, “Sesungguhnya ia adalah salah seorang sahabat Muhammad.” Raja Romawi berkata, “Apakah kamu mau memeluk agama Nashrani dan aku hadiahkan kepadamu setengah dari kerajaanku?” Abdullah bin Hudzafah menjawab, “Seandainya engkau serahkan seluruh kerajaanmu dan seluruh kerajaan Arab, aku tidak akan meninggalkan agama Muhammad <em>shalallahu ‘alaihi wasallam</em> sekejap mata pun.” Raja Romawi berkata, “Kalau begitu, aku akan membunuhmu.” Ia menjawab, “Silahkan saja!”</p>
<p style="text-align:justify;">Maka Raja memerintahkan prajuritnya untuk menyalibnya dan berseru kepada pasukan pemanah, “Panahlah ia, arahkan sasarannya pada tempat-tempat yang terdekat dengan badannya.” Sementara dia tetap berpaling, enggan, dan tidak takut. Maka raja Romawi pun menurunkannya dari tiang salib. Dia perintahkan kepada pengawalnya untuk menyiapkan belanga (kuali) yang diisi dengan air dan direbus hingga mendidih. Kemudian ia perintahkan untuk memanggil tawanan-tawanan dari kaum muslimin. Kemudian ia lemparkan salah seorang dari mereka ke dalam belanga tadi hingga tinggal tulang belulangnya. Namun, Abdullah bin Hudzafah tetap berpaling dan enggan untuk masuk agama Nashrani. Kemudian Raja memerintahkan pengawalnya untuk melemparkan Abdullah bin Hudzafah ke dalam belanga jika ia tidak mau memeluk agama Nashrani. Ketika mereka hendak melemparkannya beliau menangis. Kemudian mereka melapor kepada Raja, “Sesungguhnya dia menangis.” Raja mengira bahwasanya beliau takut, maka ia berkata, “Bawa dia kemari!” Lalu berkata, “Mengapa engkau menangis?” Jawabnya, “Aku menangisi nyawaku yang hanya satu yang jika engkau lemparkan ke dalamnya maka akan segera pergi. Aku berharap seandainya nyawaku sebanyak rambut yang ada di kepalaku kemudian engkau lemparkan satu per satu ke dalam api karena Allah.” Maka, Raja tersebut heran dengan jawabannya. Kemudian ia berkata, “Apakah engkau mau mencium keningku, kemudian akan kubebaskan engkau?” Abdullah menjawab, “Beserta seluruh tawanan kaum muslimin ?” Ia menjawab, “Ya.” Maka ia pun mencium kening raja tersebut dan bebaslah ia beserta seluruh tawanan kaum Muslimin. Para tawanan menceritakan kejadian ini kepada Umar bin Khattab. Maka, berkatalah Umar, “Wajib bagi setiap muslim untuk mencium kening Abdullah bin Hudzafah. Aku yang akan memulainya.” Kemudian Umar mencium keningnya. [Lihat <em>Siyaru A’lami An-Nubalaa’,</em> Adz-Dzahabi, 2/14 ; dan <em>Al-Ishabah fi Tamyizi Ash-Shahabah</em>, 2/269].</p>
<p style="text-align:justify;">Ini adalah kedudukan yang agung lagi mulia karena Abdullah bin Hudzafah tetap teguh memegang agamanya dan tidak menerima agama selainnya walaupun ia diiming-imingi dengan kerajaan Kisra dan yang semisalnya untuk diberikan kepadanya dan seluruh kerajaan Arab. Kemudian ia tetap membenarkan atas Allah tidak takut terhadap para pemanah yang hendak memanahnya dalam keadaan tubuh sedang disalib. Ia juga tidak takut terhadap belanga yang berisi air yang mendidih ketika ia melihat salah seorang tawanan dilemparkan ke dalamnya hingga nampak tulang belulangnya. Bersamaan dengan itu ia berharap jika nyawanya sejumlah rambut di kepalanya yang disiksa di jalan Allah karena Allah semata. Maka ketika ia melihat kemashlahatan umum yaitu dibebaskannnya para tawanan, ia pun mau untuk mencium kening raja tersebut. Hal ini adalah merupakan suatu kebijakan yang amat agung. Maka, Allah pun ridha terhadap Abdullah bin Hudzafah dan iapun ridha kepada-Nya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dikutip dari <em>Indahnya Kesabaran </em><br />
Penulis: Said bin Ali Wahf al-Qahthany, Pustaka At-Tibyan, Solo<br />
Artikel <a href="http://kisahmuslim.com/kesabaran-abdullah-bin-hudzafah/www.KisahMuslim.com" target="_blank">www.KisahMuslim.com</a></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://asshobru.wordpress.com/2011/07/12/kesabaran-abdullah-bin-hudzafah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">343</post-id>
		<media:thumbnail url="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/07/roses_wallpaper-1280x10241.jpg" />
		<media:content url="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/07/roses_wallpaper-1280x10241.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">roses_wallpaper-1280x10241</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://0.gravatar.com/avatar/3985782d11380e5c94c46fe21c52ff38ec227fe8ddcb6babc2f2c024b886015d?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">misbah007</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/07/white_tulip1.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">White_Tulip</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nikmat Allah Syukurilah dan Ujian-Nya Sabarilah</title>
		<link>https://asshobru.wordpress.com/2011/07/11/336/</link>
					<comments>https://asshobru.wordpress.com/2011/07/11/336/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[misbah]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 Jul 2011 12:30:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Syukur]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lu2walmarjan.wordpress.com/?p=336</guid>

					<description><![CDATA[Ustadz Abu Usamah bin Rawiyah An-Nawawi Demikian banyak ni’mat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak ada satupun manusia yg bisa menghitung &#8230;<p><a href="https://asshobru.wordpress.com/2011/07/11/336/">Baca lebih lanjut <span class="meta-nav">&#8594;</span></a></p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">Ustadz Abu Usamah bin Rawiyah An-Nawawi</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/07/lk.jpg"><img loading="lazy" class="alignleft size-thumbnail wp-image-337" title="lk" src="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/07/lk.jpg?w=150&#038;h=104" alt=""   /></a><br />
Demikian banyak ni’mat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak ada satupun manusia yg bisa menghitung meski menggunakan alat secanggih apapun. Pernahkah kita berpikir utk apa Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan demikian banyak ni’mat kepada para hamba-Nya? Untuk sekedar menghabiskan ni’mat-ni’mat tersebut atau ada tujuan lain?<span id="more-336"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Luas Pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala<br />
Sungguh betapa besar dan banyak ni’mat yg telah dikaruniakan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita. Setiap hari silih berganti kita merasakan satu ni’mat kemudian beralih kepada ni’mat yg lain. Di mana kita terkadang tdk membayangkan sebelum akan terjadi dan mendapatkannya. Sangat besar dan banyak krn tdk bisa utk dibatasi atau dihitung dgn alat secanggih apapun di masa kini.</p>
<p style="text-align:justify;">Semua ini tentu mengundang kita utk menyimpulkan betapa besar karunia dan kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya. dlm realita kehidupan kita menemukan keadaan yg memprihatinkan. Yaitu mayoritas manusia dlm keingkaran dan kekufuran kepada Pemberi Nikmat. Puncak adl menyamakan pemberi ni’mat dgn makhluk yg keadaan makhluk itu sendiri sangat butuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tentu hal ini termasuk dari kedzaliman di atas kedzaliman sebagaimana dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dlm firman-Nya:</p>
<p style="text-align:justify;">إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ<br />
“Sesungguh kesyirikan itu adl kedzaliman yg paling besar.”</p>
<p style="text-align:justify;">Kendati demikian Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap memberikan kepada mereka sebagian karunia-Nya disebabkan “kasih sayang-Nya mendahului murka-Nya” dan membukakan bagi mereka pintu utk bertaubat. Oleh sebab itu tdk ada alasan bagi hamba ini untuk:</p>
<p style="text-align:justify;">&#8211; Ingkar dan kufur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala serta menyamakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dgn makhluk-Nya yg sangat butuh kepada-Nya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8211; Menyombongkan diri serta angkuh dgn tdk mau melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan meninggalkan larangan-larangan-Nya atau tdk mau menerima kebenaran dan mengentengkan orang lain.<br />
&#8211; Tidak mensyukuri pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p style="text-align:justify;">وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللهِ<br />
“Dan ni’mat apapun yg kalian dapatkan adl datang dari Allah.”<br />
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللهِ لاَ تُحْصُوْهَا<br />
“Dan jika kalian menghitung ni’mat Allah niscaya kalian tdk akan sanggup.”</p>
<p style="text-align:justify;">Pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala utk Satu Tujuan yg Mulia<br />
Dari sekian ni’mat yg telah dikaruniakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita mari kita mencoba menghitungnya. Sudah berapakah dlm kalkulasi kita ni’mat yg telah kita syukuri dan dari sekian ni’mat yg telah kita pergunakan utk bermaksiat kepada-Nya. Jika kita menemukan kalkulasi yg baik mk pujilah Allah Subhanahu wa Ta’ala krn Dia telah memberimu kesempatan yg baik. Jika kita menemukan sebalik mk janganlah engkau mencela melainkan dirimu sendiri.1</p>
<p style="text-align:justify;">Setiap orang bisa mengatakan bahwa semua yg ada di dunia ini merupakan pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tahukah anda apa rahasia di balik pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut?<br />
Ketahuilah bahwa keni’matan yg berlimpah ruah bukanlah tujuan diciptakan manusia dan bukan pula sebagai wujud cinta Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada manusia tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia utk sebuah kemuliaan bagi dan menjadikan segala ni’mat itu sebagai perantara utk menyampaikan kepada kemuliaan tersebut. Tujuan itu adl utk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja sebagaimana hal ini disebutkan dlm firman-Nya:</p>
<p style="text-align:justify;">وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ<br />
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah kepada-Ku.”<br />
Bagi orang yg berakal akan berusaha mencari rahasia di balik pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala yg berlimpah ruah tersebut. Setelah dia menemukan jawaban yaitu utk beribadah kepada-Nya saja mk dia akan mengetahui pula bahwa dunia bukan sebagai tujuan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai bukti yaitu ada kematian setelah hidup ini dan ada kehidupan setelah kematian diiringi dgn persidangan dan pengadilan serta pembalasan dari Allah l. Itulah kehidupan yg hakiki di akhirat nanti. Kesimpulan seperti ini akan mengantarkan kepada:</p>
<p style="text-align:justify;">1. Dunia bukan tujuan hidup.<br />
2. Keni’matan yg ada pada bukan tujuan diciptakan manusia akan tetapi sebagai perantara utk suatu tujuan yg mulia.<br />
3. Semangat beramal utk tujuan hidup yg hakiki dan kekal.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Qudamah rahimahullahu menjelaskan: “Ketahuilah bahwa ni’mat itu ada dua bentuk ni’mat yg menjadi tujuan dan ni’mat yg menjadi perantara menuju tujuan.</p>
<p style="text-align:justify;">Nikmat yg merupakan tujuan adl kebahagiaan akhirat dan nilai akan kembali kepada empat perkara.</p>
<p style="text-align:justify;">Pertama: Kekekalan dan tdk ada kebinasaan setelah<br />
Kedua: Kebahagian yg tdk ada duka setelahnya<br />
Ketiga: Ilmu yg tdk ada kejahilan setelahnya<br />
Keempat: Kaya yg tdk ada kefakiran setelahnya.<br />
Semua ini merupakan kebahagiaan yg hakiki.</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun bagian yg kedua adl sebagai perantara menuju kebahagiaan yg disebutkan dan ini ada empat perkara:</p>
<p style="text-align:justify;">Pertama: Keutamaan diri sendiri seperti keimanan dan akhlak yg baik.<br />
Kedua: Keutamaan pada badan seperti kekuatan dan kesehatan dan sebagainya.<br />
Ketiga: Keutamaan yg terkait dgn badan seperti harta kedudukan dan keluarga.<br />
Keempat: Sebab-sebab yg menghimpun ni’mat-ni’mat tersebut dgn segala keutamaan seperti hidayah bimbingan kebaikan pertolongan dan semua ni’mat ini adl besar.”</p>
<p style="text-align:justify;">Untaian Indah dari Ibnu Qudamah<br />
“Ketahuilah bahwa segala yg dicari oleh tiap orang adl ni’mat. Akan tetapi keni’matan yg hakiki adl kebahagiaan di akhirat kelak dan segala ni’mat selain akan lenyap. Semua perkara yg disandarkan kepada kita ada empat macam:</p>
<p style="text-align:justify;">Pertama: Sesuatu yg bermanfaat di dunia dan di akhirat seperti ilmu dan akhlak yg baik. Inilah keni’matan yg hakiki.<br />
Kedua: Sesuatu yg memudaratkan di dunia dan di akhirat. Ini merupakan bala’ yg hakiki.<br />
Ketiga: Bermanfaat di dunia akan tetapi memudaratkan di akhirat seperti berlezat-lezat dan mengikuti hawa nafsu. Ini sesungguh bala bagi orang yg berakal sekalipun orang jahil menganggap ni’mat. Seperti seseorang yg sedang lapar lalu menemukan madu yg bercampur racun. Bila tdk mengetahui dia menganggap sebuah ni’mat dan jika mengetahui dia menganggap sebagai malapetaka.<br />
Keempat: Memudaratkan di dunia namun akan bermanfaat di akhirat sebagai ni’mat bagi orang yg berakal.</p>
<p style="text-align:justify;">Contoh obat bila dirasakan sangat pahit dan pada akhir akan menyembuhkan .<br />
Seorang anak bila dipaksa utk meminum dia menyangka sebagai malapetaka dan orang yg berakal akan menganggap sebagai ni’mat. Demikian juga bila seorang anak butuh utk dibekam sang bapak berusaha menyuruh dan memerintahkan anak utk melakukannya. Namun sang anak tdk bisa melihat akibat di belakang yg akan muncul berupa kesembuhan. Sang ibu akan berusaha mencegah krn cinta yg tinggi kepada anak tersebut krn sang ibu tdk tahu tentang maslahat yg akan muncul dari pengobatan tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Sang anak menuruti apa kata ibunya. Hal ini disebabkan oleh ketidaktahuan sehingga ia lbh menuruti ibu daripada bapaknya. Bersamaan dgn itu sang anak menganggap bapak sebagai musuh. Jika sang anak berakal niscaya dia akan menyimpulkan bahwa sang ibu merupakan musuh sesungguh dlm wujud teman dekat. Karena larangan sang ibu utk berbekam akan menggiring kepada penyakit yg lbh besar dibandingkan sakit krn berbekam.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena itu teman yg jahil lbh berbahaya dari seorang musuh yg berakal. Dan tiap orang menjadi teman diri sendiri akan tetapi nafsu merupakan teman yg jahil. Nafsu akan berbuat pada diri apa yg tdk diperbuat oleh musuh.”</p>
<p style="text-align:justify;">Syukur dlm Tinjauan Bahasa dan Agama<br />
Syukur secara bahasa adl nampak bekas makan pada badan binatang dgn jelas. Binatang yg syakur artinya: Apabila nampak pada kegemukan krn makan melebihi takarannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun dlm tinjauan agama syukur adalah: Nampak pengaruh ni’mat Allah Subhanahu wa Ta’ala atas seorang hamba melalui lisan dgn cara memuji dan mengakuinya; melalui hati dgn cara meyakini dan cinta; serta melalui anggota badan dgn penuh ketundukan dan ketaatan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ada juga yg mendefinisikan syukur dgn makna lain seperti:<br />
1. Mengakui ni’mat yg diberikan dgn penuh ketundukan.<br />
2. Memuji yg memberi ni’mat atas ni’mat yg diberikannya.<br />
3. Cinta hati kepada yg memberi ni’mat dan anggota badan dgn ketaatan serta lisan dgn cara memuji dan menyanjungnya.<br />
4. Menyaksikan keni’matan dan menjaga keharaman.<br />
5. Mengetahui kelemahan diri dari bersyukur.<br />
6. Menyandarkan ni’mat tersebut kepada pemberi dgn ketenangan.<br />
7. Engkau melihat dirimu orang yg tdk pantas utk mendapatkan ni’mat.<br />
8. Mengikat ni’mat yg ada dan mencari ni’mat yg tdk ada.</p>
<p style="text-align:justify;">Masih banyak lagi definisi para ulama tentang syukur akan tetapi semua kembali kepada penjelasan Ibnul Qayyim sebagaimana disebutkan di atas.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang jelas syukur adl sebuah istilah yg digunakan pada pengakuan/ pengetahuan akan sebuah ni’mat. Karena mengetahui ni’mat merupakan jalan utk mengetahui Dzat yg memberi ni’mat. Oleh krn itu Allah Subhanahu wa Ta’ala menamakan Islam dan iman di dlm Al-Qur`an dgn syukur. Dari sini diketahui bahwa mengetahui sebuah ni’mat merupakan rukun dari rukun-rukun syukur.</p>
<p style="text-align:justify;">Apabila seorang hamba mengetahui sebuah ni’mat mk dia akan mengetahui yg memberi ni’mat. Ketika seseorang mengetahui yg memberi ni’mat tentu dia akan mencintai-Nya dan terdorong utk bersungguh-sungguh mensyukuri ni’mat-Nya.</p>
<p style="text-align:justify;">Syukur Tidak Sempurna Melainkan dgn Mengetahui Apa yg Dicintai Allah l<br />
Ibnu Qudamah rahimahullahu menjelaskan: “Ketahuilah bahwa syukur dan tdk kufur tdk akan sempurna melainkan dgn mengetahui segala apa yg dicintai oleh Allah l. Sebab makna syukur adl mempergunakan segala karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada apa yg dicintai-Nya dan kufur ni’mat adl sebaliknya. Bisa juga dgn tdk memanfaatkan ni’mat tersebut atau mempergunakan pada apa yg dimurkai-Nya.”</p>
<p style="text-align:justify;">Makna Syukur<br />
Syukur memiliki tiga makna.</p>
<p style="text-align:justify;">Pertama: Mengetahui adl sebuah ni’mat. Arti dia menghadirkan dlm benak mempersaksikan dan memilahnya. Hal ini akan bisa terwujud dlm benak sebagaimana terwujud dlm kenyataan. Sebab banyak orang yg jika engkau berbuat baik kepada namun dia tdk mengetahui . Gambaran ini bukan termasuk dari syukur.</p>
<p style="text-align:justify;">Kedua: Menerima ni’mat tersebut dgn menampakkan butuh kepadanya. Dan bahwa sampai ni’mat tersebut kepada bukan sebagai satu keharusan hak bagi dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tanpa membeli dgn harga. Bahkan dia melihat diri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti seorang tamu yg tdk diundang.<br />
Ketiga: Memuji yg memberi ni’mat. dlm hal ini ada dua bentuk yaitu umum dan khusus. Pujian yg bersifat umum adl menyifati pemberi ni’mat dgn sifat dermawan kebaikan luas pemberian dan sebagainya. Pujian yg bersifat khusus adl menceritakan ni’mat tersebut dan memberitahukan bahwa ni’mat tersebut sampai kepada dia krn sebab Sang Pemberi tersebut. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:</p>
<p style="text-align:justify;">وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ<br />
“Dan adapun tentang ni’mat Rabbmu mk ceritakanlah.” (Madarijus Salikin 2/247-248)</p>
<p style="text-align:justify;">Menceritakan Sebuah Nikmat Termasuk Syukur<br />
Menceritakan sebuah ni’mat yg dia dapatkan kepada orang lain termasuk dlm kategori syukur. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:</p>
<p style="text-align:justify;">مَنْ صَنَعَ إِلَيْهِ مَعْرُوْفًا فَلْيَجْزِ بِهِ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ مَا يَجْزِي بِهِ فَلْيُثْنِ فَإِنَّهُ إِذَا أَثْنَى عَلَيْهِ فَقَدْ شَكَرَهُ وَإِنْ كَتَمَهُ فَقَدْ كَفَرَهُ وَمَنْ تَحَلَّى بِمَا لَمْ يُعْطَ كَانَ كَلاَبِسِ ثَوْبَيْ زُوْرٍ<br />
“Barangsiapa yg diberikan kebaikan kepada hendaklah dia membalas dan jika dia tdk mendapatkan sesuatu utk membalas hendaklah dia memujinya. Karena jika dia memuji sungguh dia telah berterima kasih dan jika dia menyembunyikan sungguh dia telah kufur. Dan barangsiapa yg berhias dgn sesuatu yg dia tdk diberi sama hal dgn orang yg memakai dua ­baju kedustaan.”</p>
<p style="text-align:justify;">Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:<br />
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ<br />
“Dan adapun tentang ni’mat Rabbmu mk ceritakanlah.”<br />
Menceritakan ni’mat yg diperintahkan di dlm ayat ini ada dua pendapat di kalangan para ulama.<br />
Pertama: Menceritakan ni’mat tersebut dan memberitahukan kepada orang lain seperti dgn ucapan: “Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberiku ni’mat demikian dan demikian.”</p>
<p style="text-align:justify;">Kedua: Menceritakan ni’mat yg dimaksud di dlm ayat ini adl berdakwah di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala menyampaikan risalah-Nya dan mengajarkan umat.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari kedua pendapat tersebut Ibnul Qayyim rahimahullahu dlm Madarijus Salikin mentarjih dgn perkataan beliau: “Yang benar ayat ini mencakup kedua makna tersebut. Karena masing-masing adl ni’mat yg kita diperintahkan utk mensyukuri menceritakan dan menampakkan sebagai wujud kesyukuran.”<br />
Beliau berkata: “Dalam sebuah atsar yg lain dan marfu’ disebutkan:</p>
<p style="text-align:justify;">مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيْلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيْرَ وَمَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللهَ، وَالتَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللهِ شُكْرٌ وَتَرْكُهُ كُفْرٌ وَالْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ<br />
“Barangsiapa tdk mensyukuri yg sedikit mk dia tdk akan mensyukuri atas yg banyak dan barangsiapa yg tdk berterima kasih kepada manusia mk dia tdk bersyukur kepada Allah. Menceritakan sebuah ni’mat kepada orang lain termasuk dari syukur dan meninggalkan adl kufur bersatu adl rahmat dan bercerai berai adl azab.” (Madarijus Salikin 2/248)</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan Apa Seorang Hamba Bersyukur?<br />
Ibnu Qudamah rahimahullahu menjelaskan: “Syukur bisa dilakukan dgn hati lisan dan anggota badan. Adapun dgn hati adl berniat utk melakukan kebaikan dan menyembunyikan pada khayalak ramai. Adapun dgn lisan adl menampakkan kesyukuran itu dgn memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala. Arti menampakkan keridhaan kepada Allah k. Dan hal ini sangat dituntut sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:</p>
<p style="text-align:justify;">التَّحَدُّثُ بِالنِّعَمِ شُكْرٌ وَتَرْكُهُ كُفْرٌ<br />
‘Menceritakan ni’mat itu adl wujud kesyukuran dan meninggalkan adl wujud kekufuran.’<br />
Adapun dgn anggota badan adl mempergunakan ni’mat-ni’mat Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut dlm ketaatan kepada-Nya dan menjaga diri dari bermaksiat dengannya. Termasuk kesyukuran terhadap ni’mat kedua mata adl dgn cara menutup tiap aib yg dilihat pada seorang muslim. Dan termasuk kesyukuran atas ni’mat kedua telinga adl menutup tiap aib yg didengar. Penampilan seperti ini termasuk wujud kesyukuran terhadap anggota badan.”</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnul Qayyim rahimahullahu menjelaskan: “Syukur itu bisa dilakukan oleh hati dgn tunduk dan kepasrahan oleh lisan dgn mengakui ni’mat tersebut dan oleh anggota badan dgn ketaatan dan penerimaan.”</p>
<p style="text-align:justify;">Derajat Syukur<br />
Syukur memiliki tiga tingkatan:<br />
Pertama: Bersyukur krn mendapatkan apa yg disukai.<br />
Tingkat syukur ini bisa juga dilakukan orang Islam dan non Islam seperti Yahudi dan Nasrani bahkan Majusi. Namun Ibnul Qayyim rahimahullahu menjelaskan: “Jika engkau mengetahui hakikat syukur dan di antara hakikat syukur adl menjadikan ni’mat tersebut membantu dlm ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mencari ridha-Nya niscaya engkau akan mengetahui bahwa kaum musliminlah yg pantas menyandang derajat syukur ini.</p>
<p style="text-align:justify;">‘Aisyah radhiyallahu ‘anha telah menulis surat kepada Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu: ‘Sesungguh tingkatan kewajiban yg paling kecil atas orang yg diberi ni’mat adl tdk menjadikan ni’mat tersebut sebagai jembatan utk bermaksiat kepada-Nya’.”</p>
<p style="text-align:justify;">Kedua: Mensyukuri sesuatu yg tdk disukai. Orang yg melakukan jenis syukur ini adl orang yg sikap sama dlm semua keadaan sebagai bukti keridhaannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnul Qayyim rahimahullahu menjelaskan: “Bersyukur atas sesuatu yg tdk disukai lbh berat dan lbh sulit dibandingkan mensyukuri yg disenangi. Oleh sebab itulah syukur yg kedua ini di atas jenis syukur yg pertama. Syukur jenis kedua ini tdk dilakukan kecuali oleh salah satu dari dua jenis orang:<br />
 Seseorang yg semua keadaan sama. Arti sikap sama terhadap yg disukai dan tdk disukai dan dia bersyukur atas semua sebagai bukti keridhaan diri terhadap apa yg terjadi. Ini merupakan kedudukan ridha.<br />
 Seseorang yg bisa membedakan keadaannya. Dia tdk menyukai sesuatu yg tdk menyenangkan dan tdk ridha bila menimpanya. Namun bila sesuatu yg tdk menyenangkan menimpa dia tetap mensyukurinya. Kesyukuran sebagai pemadam kemarahan sebagai penutup dari berkeluh kesah dan demi menjaga adab serta menempuh jalan ilmu. Karena sesungguh adab dan ilmu akan membimbing seseorang utk bersyukur di waktu senang maupun susah.</p>
<p style="text-align:justify;">Tentu yg pertama lbh tinggi dari yg kedua.<br />
Ketiga: Seseorang seolah-olah tdk menyaksikan kecuali Yang memberi keni’matan. Arti bila dia melihat yg memberi keni’matan dlm rangka ibadah dia akan menganggap besar ni’mat tersebut. Dan bila dia menyaksikan yg memberi keni’matan krn rasa cinta niscaya semua yg berat akan terasa manis baginya.</p>
<p style="text-align:justify;">Manusia dan Syukur<br />
Kita telah mengetahui bahwa syukur merupakan salah satu sifat yg terpuji dan sifat yg dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Akan tetapi tdk semua orang bisa mendapatkannya. Arti ada yg diberi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ada pula yg tidak.</p>
<p style="text-align:justify;">Manusia dan syukur terbagi menjadi tiga golongan:<br />
Pertama: Orang yg mensyukuri ni’mat yg diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.<br />
Kedua: Orang yg menentang ni’mat yg diberikan alias kufur ni’mat.<br />
Ketiga: Orang yg berpura-pura syukur padahal dia bukan orang yg bersyukur. Orang yg seperti ini dimisalkan dgn orang yg berhias dgn sesuatu yg tdk dia tdk miliki.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalil-dalil tentang Syukur<br />
وَاشْكُرُوا لِلهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ<br />
“Bersyukurlah kalian kepada Allah jika hanya kepada-Nya kalian menyembah.”<br />
فَاذْكُرُوْنِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلاَ تَكْفُرُوْنِ<br />
“Maka ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku akan mengingat kalian dan bersyukurlah kalian kepada-Ku dan jangan kalian kufur.”<br />
وَاعْبُدُوْهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ<br />
“Dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya dan kepada-Nya kalian dikembalikan.”<br />
وَسَيَجْزِي اللهُ الشَّاكِرِيْنَ<br />
“Dan Allah akan membalas orang2 yg bersyukur.”</p>
<p style="text-align:justify;">وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيْدٌ<br />
“Dan ingatlah ketika Rabb kalian memaklumkan: Jika kalian bersyukur niscaya Kami akan menambah dan jika kalian mengkufuri sungguh azab-Ku sangat pedih.”</p>
<p style="text-align:justify;">Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ia berkata:<br />
أَنَّ نَبِيَّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُوْمُ مِنَ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ، فَقَالَتْ عَائِشَةُ: لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَقَدْ غَفَرَ اللهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ؟ قَالَ: أَفَلاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُوْنَ عَبْدًا شَكُوْرًا؟</p>
<p style="text-align:justify;">“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bangun di malam hari sampai pecah-pecah kedua kaki beliau lalu ‘Aisyah berkata: ‘Ya Rasulullah kenapa engkau melakukan yg demikian padahal Allah telah mengampuni dosamu yg telah lewat dan akan datang?’ Beliau menjawab: ‘Apakah aku tdk suka menjadi hamba yg bersyukur?’”<br />
Masih banyak dalil lain yg menjelaskan tentang keutamaan syukur dan anjuran dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Semoga apa yg dibawakan di sini mewakili yg tdk disebutkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ancaman bagi orang2 yg Tidak Bersyukur<br />
Yang tdk bersyukur lbh banyak dari yg bersyukur. Hal ini tdk bisa dipungkiri oleh orang yg berakal bersih. Sebagaimana orang yg ingkar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala lbh banyak dari yg beriman. Demikianlah keterangan Allah Subhanahu wa Ta’ala di dlm firman-Nya:</p>
<p style="text-align:justify;">وَقَلِيْلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُوْرُ<br />
“Dan sedikit dari hamba-hambaKu yg bersyukur.”<br />
Sebuah peringatan tentu akan bermanfaat bagi orang yg beriman. Di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memperingatkan dari kufur ni’mat setelah memerintahkan utk bersyukur dan menjelaskan keutamaan yg akan di dapati sebagaimana penjelasan Al-Imam As-Sa’di rahimahullahu dlm tafsir beliau: “Jika seseorang bersyukur niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengabadikan ni’mat yg dia berada pada dan menambah dgn ni’mat yg lain.”</p>
<p style="text-align:justify;">Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:<br />
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيْدٌ<br />
“Dan Rabb kalian telah mengumumkan jika kalian bersyukur niscaya Kami akan menambah dan jika kalian mengkufuri sungguh azab-Ku sangat pedih.”</p>
<p style="text-align:justify;">Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullahu menjelaskan: “Jika kalian mengkufuri ni’mat menutup-nutupi dan menentang mk yaitu dgn dicabut ni’mat tersebut dan siksa Allah Subhanahu wa Ta’ala menimpa dgn sebab kekufurannya. Dan disebutkan dlm sebuah hadits: ‘Sesungguh seseorang diharamkan utk mendapatkan rizki krn dosa yg diperbuatnya’.”</p>
<p style="text-align:justify;">Syukur dan Sabar<br />
Kita akan bertanya: “Jika engkau ditimpa sebuah musibah lalu engkau mensyukuri mk tentu pada sikap kesyukuranmu terdapat sifat sabar dan sifat ridha terhadap musibah yg menimpa dirimu. Dan kita mengetahui bahwa ridha merupakan bagian dari kesabaran. Sementara syukur merupakan buah dari sifat ridha.”</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnul Qayyim rahimahullahu menjelaskan: “Syukur termasuk kedudukan yg paling tinggi dan lbh tinggi -bahkan jauh libih tinggi- daripada kedudukan ridha. Di mana sifat ridha masuk dlm syukur krn mustahil syukur ada tanpa ridha.”</p>
<p style="text-align:justify;">Kenapa Kebanyakan Orang Tidak Bersyukur?<br />
Ibnu Qudamah rahimahullahu menjelaskan: “Makhluk ini tdk mau mensyukuri ni’mat krn pada ada dua yaitu kejahilan dan kelalaian. Kedua sifat ini menghalangi mereka utk mengetahui ni’mat. Karena tdk tergambar bahwa seseorang akan bisa bersyukur tanpa mengetahui ni’mat . Jika pun mereka mengetahui ni’mat mereka menyangka bahwa bersyukur itu hanya sebatas mengucapkan alhamdulillah atau syukrullah dgn lisan. Mereka tdk mengetahui bahwa makna syukur adl mempergunakan ni’mat pada jalan ketaatan kepada Allah l.”</p>
<p style="text-align:justify;">Kesimpulan ucapan Ibnu Qudamah rahimahullahu adl bahwa manusia banyak tdk bersyukur krn ada dua perkara yg melandasi yaitu kejahilan dan kelalaian.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengobati Kelalaian dari Bersyukur<br />
Ibnu Qudamah rahimahullahu menjelaskan: “Hati yg hidup akan menggali segala macam ni’mat diberikan. Adapun hati yg jahil tdk akan menganggap sebuah ni’mat sebagai ni’mat kecuali setelah bala’ menimpanya. Cara hendaklah dia terus memandang kepada yg lbh rendah dari dan berusaha berbuat apa yg telah dilakukan oleh orang2 terdahulu. Mendatangi tempat orang yg sedang sakit dan melihat berbagai macam ujian yg sedang menimpa mereka kemudian berpikir tentang ni’mat sehat dan keselamatan. Menyaksikan jenazah orang yg terbunuh dipotong tangan mereka kaki-kaki mereka dan diazab lalu dia bersyukur atas keselamatan diri dari berbagai azab.”<br />
Wallahu a’lam.</p>
<p style="text-align:justify;">1 Demikianlah makna yg telah disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dlm hadits yg diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dari shahabat Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu.</p>
<p style="text-align:justify;">Sumber: <a href="http://www.asysyariah.com" rel="nofollow">http://www.asysyariah.com</a></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://asshobru.wordpress.com/2011/07/11/336/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">336</post-id>
		<media:thumbnail url="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/07/lk3.jpg" />
		<media:content url="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/07/lk3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lk</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://0.gravatar.com/avatar/3985782d11380e5c94c46fe21c52ff38ec227fe8ddcb6babc2f2c024b886015d?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">misbah007</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://asshobru.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/07/lk.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">lk</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
