<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-4241382318909498899</atom:id><lastBuildDate>Sat, 14 Jun 2025 14:54:56 +0000</lastBuildDate><category>Teori Hukum</category><category>Hukum Pidana</category><category>Hukum Adat</category><category>Hukum Islam</category><category>Hukum Perdata</category><category>Hukum Perkawinan</category><category>Hukum Tata Negara</category><category>Legislasi</category><category>Politik Hukum</category><title>Atur Hukum</title><description>Informasi Hukum di Indonesia</description><link>https://aturhukum.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (perisai demokrasi bangsa)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>11</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><language>en-us</language><itunes:explicit>yes</itunes:explicit><itunes:subtitle>Informasi Hukum di Indonesia</itunes:subtitle><itunes:category text="Education"/><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4241382318909498899.post-2475104152760947652</guid><pubDate>Sat, 16 Jul 2016 08:48:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-10-01T23:11:09.247+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Politik Hukum</category><title>POLITIK HUKUM DI INDONESIA (Pemikiran Politik Moh. Mafhud MD)</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
POLITIK HUKUM DI INDONESIA&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
PEMIKIRAN POLITIK MAHFUD MD&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PENDAHULUAN&lt;br /&gt;
A. &amp;nbsp; &amp;nbsp;Latar Belakang&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Indonesia sebagai negara yang berdiri pada tanggal 17 Agustus 1945 dan proklamasi kemerdekaan yang dikumandangkan oleh Ir. Soekarno dan Moh Hatta atas nama bangsa Indonesia merupakan detik-detik penjebolan tertib hukum sekaligus detik pembangunan tertib hukum nasional (Tatanan Hukum Nasional). Walapun tertib hukum berasal dari warisan kolonial. Dengan demikian arah cita-cita bangsa Indonesia yang tercermin dalam pembukaan undang-undang dasar 1945 pada alenia keempat dan menjadi landasan dasar negara Indonesia yakni pancasila.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Seiring berjalannya waktu pembangunan tertib hukum mengalami banyak perubahan, disebabkan tatanan hukum nasional indonesia merupakan hasil warisan dari masa penjajahan kolonial yang di rasa tertib hukum berbeda dengan keadaan bangsa Indonesia. Untuk itu dalam perkembangannya perlu adanya perubahan sehingga perlu adanya politik hukum, dimana politik hukum akan menjadi kebijakan dasar yang menentukan arah, bentuk, maupun isi hukum yang akan di bentuk.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Untuk membentuk negara tertib akan hukum indonesia perlu adanya politik hukum yang baik pula, sehingga membentuk suatu kebijakan yang merakyat. Aturan hukum yang tertuang dalam peraturan perundang-undangan dimana peraturan perundang-undangan merupakan bagian atau sub sistem dari sistem hukum maka dalam membentuk peraturan perundang-undangan pada hakikatnya tidak dapat di pisahkan dari pembahasan politik hukum. Walapun pada dasarnya bentuk hukum/ struktur hukum di indonesia mengenal dua jenis bentuk hukum yakni hukum secara tertulis dan hukum yang tidak tertulis. Dimana Hukum tidak tertulis adalah ketentuan-ketentuan yang tumbuh dan berkembang sejalan dengan perkembangan atau dinamika masyarakat. Contohnya adalah hukum adat, norma dan nilai-nilai yang ada di masyarakat. Sedangkat hukum yang tertulis adalah hukum yang di bentuk oleh suatu negara dan di kodifikasikan yang terwujud di dalam peraturan perundang-undangan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ada pernyataan yang berkembang dalam masyarakat seperti “hukum sebagai produk politik” dalam pandangan awam, hukum dapat menjadi persoalan, sebab pernyataan tersebut memposisikan hukum sebagai subsistem kemasyarakatan yang ditentukan oleh politik. Dalam pernyataan “hukum sebagai produk politik” akan menjadi salah, jika das sollen atau jika hukum tidak di artikan sebagai undang-undang. Seperti di ketahui bahwa hubungan antara hukum dan politik bisa didasarkan pada pandangan das sollen (keinginan, keharusan) atau das sein (kenyataan). Begitu hukum dapat diartikan sebagai peraturan perundang-undangan yang mencangkup UU dan dapat pula diartikan sebagai putusan pengadilan atau bisa di beri arti lain yang jumlahnya bisa puluhan makna.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jika seseorang menggunakan das sollen adanya hukum sebagai dasar mencari kebenaran ilmiah dan memberi arti hukum diluar undang-undang maka pernyataan “hukum merupakan produk politik” tentu tidak benar. Mungkin yang benar “politik merupakan produk hukum” bahkan saja keduanya tidak benar jika dipergunakan asumsi dan konsep yang lain lagi yang berdasar pada das sollen-sein seperti asumsi tentang interdeterminasi antara hukum dan politik. Di dalam asumsi yang disebutkan terakhir ini dikatakan bahwa hukum dan politik saling menpengaruhi, tak ada yang lebih unggul. Jika politik diartikan sebagai kekuasaan maka dari asumsi yang terakhir ini bisa lahir pertanyaan seperti yang dikemukakan oleh Mochtar Kusumaatmaja, bahwa “politik dan hukum itu interdeterminan” sebab “politik tanpa hukuk itu zalim, sedangkan hukum tanpa politik itu lumpuh”.[1]&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Oleh sebab itu dalam makalah ini akan membahas tentang politik hukum di indonesia pemikiran Moh Mahfud MD dimana pemikiran ini bertolak dari disertasi beliau di universitas Gajah Mada dengan judul asli perkembangan politik hukum, studi tentang pengaruh konfigurasi politik terhadap karakter produk hukum di indonesia dimana ingin menjelaskan secara akademik situasi dan kondisi indonesia dengan menggunakan asumsi bahwa hukum merupakan produk politik. dengan &amp;nbsp;asumsi ini maka dalam menjawab hubungan antar keduanya itu hukum dipandang sebagai dependent variable (variable terpengaruh), sedangkan politik di letakkan sebagai independent variable (variable berpengaruh). Peletakan hukum sebagai variable yang tergantung atas politik atau politik yang determinan atas hukum itu mudah di pahami dengan melihat realitas, bahwa pada kenyataannya hukum dalam artian sebagai peraturan yang abstrak (pasal-pasal yang imperatif) merupakan kristalisasi dalam kehendak-kehendak politik yang saling berinteraksi dan bersaingan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sidang parlemen yakni DPR bersama pemerintah untuk membuat undang-undang sebagai produk hukum pada hakikatnya merupakan adegan kontestasi agar kepentingan dan aspirasi semua kekuatan politik dapat terakomodasi dalam keputusan politik dan menjadi undang-undang. Undang-undang yang lahir dari kontestasi tersebut dengan mudah dapat dipandang sebagai produk dari adegan kontestasi politik itu.[2]&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
B. &amp;nbsp; &amp;nbsp; Rumusan Masalah&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bertolak dari latar belakang di atas, maka makalah yang berjudul “Politik Hukum di Indonesia : Pokok Pemikiran Moh. Mahfud &amp;nbsp;MD” merumuskan poko-pokok permasalahan sebagai berikut :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Apa itu politik hukum di Indonesia?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Bagaimana pokok pemikiran Moh. Mahfud MD mengenai politik hukum di Indonesia?&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
PEMBAHASAN&lt;/div&gt;
A. &amp;nbsp; &amp;nbsp;Politik Hukum di Indonesia&lt;br /&gt;
a. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Pengertian Politik Hukum&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Banyaknya definisi atau pengertian mengenai politik hukum yang di berikan oleh pakar atau ahli hukum memberikan nuansa keanekaragaman pemikiran oleh ahli hukum. Perbedaan tersebut karena adanya proses pengalaman dan kehidupan pendidikan yang berbeda, namun hal ini menjadikan definisi yang lebih kaya akan pengertian politik hukum.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menurut Padmo Wahjono, Pengertian Politik Hukum adalah kebijakan penyelenggara negara yang bersifat mendasar dalam menentukan arah, bentuk maupun isi daripada hukum yang akan dibentuk dan tentang apa yang dijadikan kriteria untuk menghukumkan sesuatu. Dengan demikian, Pengertian Politik Hukum menurut Padmo Wahjono berkaitan dengan hukum yang berlaku di masa yang akan datang (ius constituendum).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pengertian Politik hukum menurut Teuku Mohammad Radhie ialah sebagai suatu pernyataan kehendak penguasa negara mengenai hukum yang berlaku di wilayahnya dan mengenai arah perkembangan hukum yang dibangun.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Adapun pendapat dari Soedarto (Ketua Perancang Kitab Undang-undang Hukum Pidana), Pengertian politik Hukum adalah kebijakan dari negara melalui badan-badan negara yang berwenang untuk menetapkan peraturan-peraturan yang dikehendaki dan juga diperkirakan akan digunakan untuk mengekspresikan apa yang terkandung dalam masyarakat dan untuk mencapai apa yang dicita-citakan. Pada bukunya yang lain "Hukum dan Hukum Pidana", Pengertian politik hukum merupakan usaha untuk mewujudkan peraturan-peraturan yang baik sesuai dengan keadaan dan situasi pada suatu waktu.[3]&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Satjipto Rahardjo[4] memberikan definisi Politik Hukum sebagai aktivitas memilih dan cara yang hendak dipakai untuk mencapai suatu tujuan sosial dan hukum tertentu dalam masyarakat. Dari berbagai pengertian atau definisi tersebut, dengan mengambil subtansi yang secara sama Moh. Mahfud MD mengemukakan bahwa politik hukum adalah “Legal policy atau garis (kebijakan) resmi tentang hukum yang akan diberlakukan baik dengan pembuatan hukum baru maupun dengan penggantian hukum lama, dalam rangka mencapai tujuan negara”[5]&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Namun untuk memahami lebih dalam tentang definisi politik hukum secara harfiah atau etimologi bahwa istilah politik hukum merupakan terjemahan dari bahasa belanda “Recht Politiek” yang di terjemahkan dalam bahasa indonesia berarti politik hukum. Walapun dalam istilah belanda terdapat istilah “rechts politiek” (politik hukum) dan “politiek rechts” (hukum politik). Menurut Van Der Tas berpendapat bahwa politik itu di artikan sebagai belied atau policy yang diterjemahkan dalam bahasa indonesia berarti kebijakan. Hal ini yang menjadi dasar dalam mengambil suatu tindakan. Kebijakan yang di artikan sebagai rangkaian konsep dan asas yang dijadikan garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan kepemimpinan dalam bertindak.[6] Sedangkan Hukum diartikan sebagai seperangkat norma atau kaidah yang mengatur tingkah laku manusia yang di dalamnya mengandung perintah dan larangan serta sanksi.[7]&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Prof. Hene Van Harsen juga berpendapat “politiek recht alsopvalger van het staatrecht” yang berarti politik hukum sebagai pelanjut hukum tata negara.[8]&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
b. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Pengaruh Politik terhadap hukum&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Politik kerap kali melakukan intervensi atas pembuatan dan pelaksanaan hukum sehingga muncul juga pernyataan berikutnya mengenai subsistem mana antara hukum dan politik dan politik yang dalam kenyataannya lebih suprematif. Dan pernyataan-pernyataan lain yang lebih spesifik pun dapat mengemuka seperti bagaimana pengaruh politik terhadap hukum, mengapa banyak intervensi hukum, jenis sistem politik yang bagaimana yang dapat melahirkan produk hukum yang berkarakter.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Politik hukum secara sederhana dapat dirumuskan sebagai kebijaksanaan hukum (legal policy) yang akan atau telah dilaksanakan secara nasional oleh pemerintah, mencangkup pula pengertian tentang bagaimana politik mempengaruhi hukum dengan cara melihat konfigurasi kekuatan yang ada dibelakang pembuatan dan penegakan hukum itu. Disini hukum tidak hanya dapat dipandang sebagai pasal-pasal yang bersifat imperatif atau keharusan-keharusan yang bersifat das sollen, melainkan harus dipandang sebagai subsistem yang dalam kenyataan (das sien) bukan tidak mungkin sangat ditentukan oleh politik, baik dalam perumusan materi dan pasal-pasalnyamaupun dalam implementasi dan penegakannya.[9]&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
B. &amp;nbsp; &amp;nbsp; Kerangka Pemikiran Politik Hukum Mahfud MD&lt;br /&gt;
a. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Hukum sebagai produk politik&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Berangkat dari pernyataan Sri Sumantri Martosuwignjo dalam makalahnya yang berjudul “Pembangunan Hukum Nasional dalam Perspektif Kebijaksanaan” mengemukakan hubungan antara politik dan hukum di indonesia ibarat perjalanan lokomotif &amp;nbsp;kereta api yang keluar dari relnya. Jika hukum di ibaratkan rel dan politik di ibaratkan lokomotif maka seiring terlihatnya lokomotif itu keluar dari rel yang seharusnya dilalui[10].&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dari pandangan lain sehubungan dengan kuatnya energi politik dalam berhadapan dengan hukum, Dahrendorf dapat memperjelas mengapa hukum menjadi cermin dari kehendak pemegang kekuasaan atau identik dengan kekuasaan. Dahrendorf mencantat ada enam ciri kelompok dominan atau kelompok pemegang kekuasaan politik. Pertama, jumlahnya selalu lebih kecil dari jumlah kelompok yang dikuasai. Kedua, memiliki kelebihan kekayaan khusus untuk tetap memelihara dominasinya berupa kekayaan materiel, intelektual dan kehormatan moral. Ketiga, dalam pertentangan selalu terorganisasi lebih baikdaripada kelompok yang ditundukkan. Keempat, kelas penguasa hanya terdiri dari orang-orang yang memegang posisi dominan dalam bidang politik sehingga elit penguasa diartikan sebagai elit penguasa dalam bidang politik. Kelima, kelas penguasa selalu berupaya memonopoli &amp;nbsp;dan mewariskan kekuasaan politiknya kepada kelas/ kelompoknya sendiri. Keenam, ada reduksi perubahan sosial terhadap perubahan komposisi kelas penguasa.[11]&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jika menggunakan asumsi dasar bahwa hukum sebagai produk politik penulis akan mencoba menggambarkan secara sketsa, lihat gambar. &lt;i&gt;[mohon maaf gambar blm tersedia]&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;Dari tabel diatas menggambarkan politik digambarkan sebagai variable bebas dan hukum sebagai variable terpengaruh, dengan pernyataan hipotesis yang lebih spesifik dapat di kemukakan bahwa konfigurasi politik suatu negara akan melahirkan karakter produk hukum dinegara tersebut. Didalam negara yang konfigurasi poliktiknya bersifat demokratis, maka produk hukumnya akan bersifat responsif / populistik[12], sedangkan di negara yang konfigurasi politiknya bersifat otoriter maka produk hukumnya bersifat ortodoks/ konservatif/ elitis[13]. Perubahan konfigurasi politik dari demokratis kepada otoriter atau sebaliknya, maka akan berimplikasi pada perubahan karakter hukum suatu negara.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
b. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Kerangka dasar Politik Hukum&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menurut Mahfud politik hukum merupakan upaya menjadikan hukum sebagai proses pencapaian cita-cita dan tujuan[14]. Dengan arti ini, maka politik hukum nasional harus berpijak pada kerangka dasar, sebagai berikut :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;ol style="text-align: left;"&gt;
&lt;li&gt;Politik hukum nasional harus selalu mengarah pada cita-cita bangsa, yakni masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Politik hukum nasional harus ditujukan untuk mencapai tujuan negara, yakni: (a) melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, (b) memajukan kesejahteraan umum, (c) mencerdaskan kehidupan bangsa, (d) melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Politik hukum harus dipandu oleh nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara, yakni: (a) berbasis moral agama, (b) menghargai dan melindungi hak-hak asasi manusia tanpa diskriminasi, (c) mempersatukan seluruh unsur bangsa dengan semua ikatan primordialnya, (d) &amp;nbsp;meletakkan kekuasaan dibawah kekuasaan rakyat, (e) membangun keadilan sosial.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Agak mirip dengan butir 3, jika dikaitkan dengan cita hukum negara Indonesia, politik hukum nasional harus dipandu oleh keharusan untuk; (a) melindungi semua unsur bangsa demi integrasi atau keutuhan bangsa yang mencakup ideologi dan teritori, (b) mewujudkan keadilan sosial dalam ekonomi dan kemasyarakat, (c) mewujudkan demokrasi (kedaulatan rakyat) dan nomokrasi (kedaulatan hukum), (d) menciptakan toleransi hidup beragama berdasar keadaban dan kemanusian.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Untuk meraih cita dan mencapai tujuan dengan landasan dan panduan tersebut, maka sistem hukum nasional yang harus dibangun adalah sistem hukum Pancasila, yakni sistem hukum yang mengambil atau memadukan berbagai nilai kepentingan, nilai sosial, dan konsep keadilan ke dalam satu ikatan hukum prismatik dengan mengambil unsur-unsur baiknya&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
c. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Konsepsi dan konfigurasi politik hukum di Indonesia&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menurut Mahfud MD, produk hukum yang responsif/populistik merupakan produk hukum yang mencerminakan rasa keadilan dan memenuhi harapan masyarakat. Sebab dalam proses pembuatanya memberikan partisipasi penuh kelompok-kelompok sosial atau individu dalam masyarakat dan hasilnya bersifat responsif terhadap tuntutan-tuntutan kelompok sosial atau individu dalam masyarakat. Sedangkan produk hukum yang ortodoks/konservatif/elitis akan membentuk produk hukum yang isinya lebih mencerminkan visi sosial elite politik, dimana lebih mencerminakn keinginan pemerintah yang bersifat positivis-instrumentalis yakni menjadi alat pelaksanaan ideology dan program Negara. Hukum yang ortodoks tertutup terhadap tuntutan-tuntutan kelompok maupun individu-indovidu di dalam masyarakat yang dalam pembuatanya peranan dan partitispasi masyarakat relatif kecil[15].&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dilihat dari fungsinya, hukum yang berkarakter responsif dan bersifat aspiratif memuat materi-materi yang secara umum sesuai dengan aspirasi atau kehendak masyarakat yang dilayaninya. Sehingga sebuah produk hukum dapat dilihat sebagai kristalisasi dan kehendak masyarakat. Sedangkan produk hukum yang bersifat ortodoks/elitis bersifat posistivis-instrumentalis, memuat materi yang lebih merefleksikan visi sosial dan politik pemegang kekuasaan atau memuat meteri yang lebih merupakan alat untuk mewujudkan kehendak dan kepentingan program pemerintah[16].&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;Mahfud MD juga menggambarkan secara gamblang menganai perjalanan politik dan hukum di indonesia dari hubungan konfigurasi politik dengan karekter produk hukum di indoensia. Lihat Tabel Matrik.[17]&lt;i style="text-align: justify;"&gt;[mohon maaf gambar blm tersedia]&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dari tabel di atas cukup jelas menggambarkan bahwa periode awal kemerdekaan yang di pimpin soekarno yang di sebut dengan sistem pemerintahan demokrasi liberal membawa dampak konfigurasi politik yang demokratis dengan kecenderungan produk hukumnya lebih mengarah kepada hukum responsif, baik dari segi penyelenggaraan pemilu, pada pemerintahan daerah dan peraturan perundangan-undangan agraria.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sedangkan pada periode kedua yakni pada periode demokrasi terpimpin konfigurasi politiknya bersifat otoriter dengan kecenderungan karakter produk hukum yang bersifat ortodoks/ responsif/ elitis, namun dalam alasan tertentu dapat bersifat responsif. Dari tabel ketiga pada periode orde baru menggambarkan konfigurasi politik bersifat otoriter dengan sistem demokrasi pancasila namun kecenderungan karakter produk hukum masih bersifat ortodoks/ responsif/ elitis karena sistem pemerintahannya hanya di jadikan sebagai perisai.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Walapun dari tabel diatas menunjukkan konfigurasi politik dengan karakter produk hukum, namun mahfud MD tidak melanjutkan dengan efektifitas hukum, sehingga masalh ini perlu ditelaah lebih lanjut mengenai fungsi hukum, karena konfigurasi politik dan produk hukum belum memiliki makna yang berarti bagi kehidupan masyarakat tanpa adanya fungsi hukum. Oleh karena itu setelah dicermati ternyata baik konfigurasi politik maupun karakter produk hukum tidak menjamin adanya efektifitas fungsi hukum. Konfigurasi politik otoriter dengan produk hukum ortodok sama-sama terjadi pada era orde lama maupun orde baru namun menunjukkan pada fungsi hukum yang berbeda-beda. Lebih dari pada itu pada orde lama produk hukum yang responsif dan pada era orde baru dengan produk hukum yang ortodok dipandang dari segi efektifitas fungsi hukum orde baru lebih efektif dari pada orde lama. [18]&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;PENUTUP&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
A. &amp;nbsp; &amp;nbsp;Kesimpulan&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dari uraian di atas maka penulis mengambil kesimpulan bahwa politik hukum adalah Legal policy atau garis (kebijakan) resmi tentang hukum yang akan diberlakukan baik dengan pembuatan hukum baru maupun dengan penggantian hukum lama, dalam rangka mencapai tujuan negara.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hukum merupakan produk politik, dengan &amp;nbsp;asumsi ini maka hukum dipandang sebagai dependent variable (variable terpengaruh), sedangkan politik di letakkan sebagai independent variable (variable berpengaruh). Peletakan hukum sebagai variable yang tergantung atas politik atau politik yang determinan atas hukum itu mudah di pahami dengan melihat realitas, bahwa pada kenyataannya hukum dalam artian sebagai peraturan yang abstrak (pasal-pasal yang imperatif) merupakan kristalisasi dalam kehendak-kehendak politik yang saling berinteraksi dan bersaingan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mahfud Md juga menggambarkan konfigurasi politik di indonesia yang di mulai dari awal indonesia merdeka dengan sistem pemerintahan demokrasi liberal kemudian dilanjutkan demokrasi terpimpin hingga orde baru yang memiliki karakter produk hukum yang berbeda-beda, yakni produk hukum responsif, ortodok dan elitis. Dimana produk hukum tersebut masih jauh dari angan-angan cita-cita berdirinya bangsa indonesia karena pada kenyataannya fungsi hukum yang berjalan di masyarakat berbeda outputnya.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
B. &amp;nbsp; &amp;nbsp; Saran&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Masih banyak yang harus diperbaiki dengan adanya reformasi sistem baik berupa sistem pemerintahan, sistem hukum dan budaya hukum. Jika semua terintegrasi dengan baik dan benar, maka politik hukum di indonesia akan semakin membaik dan cita-cita masyarakat indonesia yang adil dan makmur akan segera terlaksana, Wallahu A'lam.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Makalah ini masih jauh dari kata sempurna, karena bahan-bahan yang di dapat masih jauh dari cukup untuk membuat tulisan ilmiah, namun harapan penulis makalah ini dapat dijadikan sebagai modal untuk diskusi kelompok. Terimakasih.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;Daftar Pustaka&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Moh. Mahfud MD, Politik Hukum di Indonesia Ed. Revisi, Jakarta: Rajawali Pers, 2014, Cet. 6&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mahfud MD, Membangun Politik Hukum, Menegakkan Konstitusi, Jakarta : Rajawali Pers, 2010&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sacjipto Rahardjo, Ilmu Hukum. Cet ke 6. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2006&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Imam Syaukani dan A. Ahsin Thohari, Dasar-dasar Politik Hukum. Jakarta : PT Rajagrafindo Persada. 2004.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sri Sumantri, Achmad Fauzi, Materi Kuliah Politik Hukum, Semarang : diterbitkan oleh Program Pasca Sarjana Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945. 2013&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sri Sumantri Martosuwignjo, Pembangunan Hukum Nasional dalam Perspektif Kebijaksanaan, Makalah praseminar Identitas Hukum Nasional, di Fakultas Hukum UII Yogyakarta, tanggal 19-21 Oktober 1987&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ralf Dahrendorf, Konflik dan Konflik dalam Masyarakat Industri, Jakarta: Rajawali, 1986&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
http://www.hukumsumberhukum.com/ 2014 / 06/ apa – itu – pengertian – politik - hukum.html&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
http://agusogick.blogspot.co.id/ 2010/03/ karakter –produk – hukum – sebagai - produk.html&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
http://kbbi.web.id/ diakses pada tanggal 13 juli 2016&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;[1] Moh. Mahfud, Politik Hukum di Indonesia Ed. Revisi, (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), Cet. 6, hlm. 5&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;[2] Ibid. Hlm. 10&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;[3] Di akses dalam internet http://www.hukumsumberhukum.com/2014/06/apa-itu-pengertian-politik-hukum.html#_ &amp;nbsp;pada tanggal 13 juli 2016. Lihat juga dalam buku : Imam Syaukani dan A. Ahsin Thohari, 2004. Dasar-dasar Politik Hukum. Penerbit PT Rajagrafindo Persada: Jakarta.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;[4] Sacjipto Rahardjo, Ilmu Hukum. Cet ke 6 (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2006), hal. 352&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;[5] Moh. Mahfud MD, Op. Cit. Hlm. 1&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;[6] KBBI online diakses dari situs http://kbbi.web.id/ pada tanggal 13 juli 2016&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;[7] KBBI online diakses dari situs http://kbbi.web.id/ pada tanggal 13 juli 2016&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;[8] Sri Sumantri, Achmad Fauzi, Materi Kuliah Politik Hukum, (Semarang : diterbitkan oleh Program Pasca Sarjana Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945. 2013) halm. 1&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;[9] Moh. Mahfud MD, Op. Cit. Hlm. 9-10&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;[10] Sri Sumantri Martosuwignjo, Pembangunan Hukum Nasional dalam Perspektif Kebijaksanaan, Makalah praseminar Identitas Hukum Nasional, di Fakultas Hukum UII Yogyakarta, tanggal 19-21 Oktober 1987, hlm 6.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;[11] Ralf Dahrendorf, Konflik dan Konflik dalam Masyarakat Industri, (Jakarta: Rajawali, 1986), hlm 238-246. Dalam catatannya dahrendorf merangkum karya dari tiga sosiolog yakni: Vilfredo, Algeimene Soziologie, yang diterjemahkan oleh Mosca, Pareto dan Aron.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;[12] Produk hukum responsif/ populistik adalah produk hukum yang mencerminkan rasa keadilan dan memenuhi harapan masyarakat. &amp;nbsp;Di akses dari internet http://agusogick.blogspot.co.id/ 2010/03/karakter-produk-hukum-sebagai-produk.html&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;[13] &amp;nbsp;Produk hukum ortodoks/ konservatif/ elitis adalah produk hukum yang mencerminkan visi sosial elit politik , lebih mencerminkan keinginan pemerintah, bersifat positivis instrumentalis, yakni yakni menjadi alat pelaksana ideologi dan program negara. Lihat Mahfud Md, Politik Hukum di Indonesia, Op. Cit. hal. 32&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;[14] Mahfud MD, Membangun Politik Hukum, Menegakkan Konstitusi, (Jakarta : Rajawali Pers, 2010), hlm. 31&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;[15] Moh Mahfud,Politik Hukum…. op.cit., hlm. 31-32&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;[16] Ibid., hlm. 32&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;[17] Tabel Sri Sumantri Martosuwignjo, Op. Cit. hal 57&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;[18] Sri Sumantri Martosuwignjo, ibid. hal. 57&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>https://aturhukum.blogspot.com/2016/07/politik-hukum-di-indonesia-pemikiran.html</link><author>noreply@blogger.com (perisai demokrasi bangsa)</author><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Semarang, Semarang City, Central Java, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-7.0051453 110.43812539999999</georss:point><georss:box>-7.2572963 110.1154019 -6.7529942999999992 110.76084889999998</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4241382318909498899.post-3557367590725823261</guid><pubDate>Sun, 13 Dec 2015 04:12:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-12-13T11:12:53.685+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Hukum Perdata</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Hukum Perkawinan</category><title>Usia Perkawinan Progresif</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sejumlah lembaga swadaya masyarakat sontak menyatakan kecewa atas keputusan Mahkamah Konstitusi yang menolak menaikkan batas usia minimal perempuan untuk menikah dari 16 tahun ke 18 tahun.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Putusan MK terkait Permohonan Pengujian Materiil Pasal 7 Ayat (1) dan Ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan terhadap UUD 1945 menjadi sangat terbuka untuk diperdebatkan (debatable).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Alasan MK memutus bahwa pasal itu masih tetap relevan, yaitu bahwa tak ada jaminan yang dapat memastikan bahwa dengan ditingkatkannya batas usia kawin untuk perempuan dari 16 tahun menjadi 18 tahun, akan semakin mengurangi angka perceraian, menanggulangi permasalahan kesehatan, maupun meminimalisasi permasalahan sosial lainnya. MK juga menolak penambahan usia nikah perempuan, karena di masa depan kemungkinan batas minimal menikah perempuan di usia 18 tahun bukanlah yang ideal.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sebagian besar hakim MK juga berpendapat, di sejumlah negara batas usia bagi perempuan untuk menikah beraneka, mulai 17, 19, dan 20 tahun. Namun, dalam pembacaan putusan itu, ada seorang hakim konstitusi, Maria Farida Indrati, yang memiliki pendapat berbeda (dissenting opinion). Maria menyatakan usia 16 tahun dalam UU Perkawinan dalam Pasal 7 Ayat 1 telah menimbulkan ketidakpastian hukum dan melanggar hak-hak anak yang diatur dalam Pasal 1 Ayat 3, Pasal 24 b Ayat 2, Pasal 8 c Ayat 1 UUD 1945.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Putusan MK ini menuai kritik pegiat LSM yang menyatakan putusan itu berarti negara membiarkan adanya potensi anak perempuan mengalami kematian dan kecacatan sebagai risiko dari perkawinan dan melahirkan pada usia anak-anak. Sangat banyak anak perempuan putus sekolah, kesehatan reproduksi mereka sangat buruk, angka kematian ibu dan anak sangat tinggi. Kesetaraan antara perempuan dan laki-laki tak akan pernah terjadi, kalau anak-anak perempuan terjebak dalam aturan hukum yang membolehkan mereka menjadi korban perkawinan anak-anak.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Keputusan ini juga dinilai telah mengandaskan mimpi anak Indonesia untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Bahkan, Ketua Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Sarsanto W Sarwono menyatakan keputusan MK ini bisa diartikan "negara juga berperan melegalkan praktik pedofilia".&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Batasan akil balig&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menanggapi debat soal putusan MK yang bersifat final dan binding itu saya berpendapat putusan MK itu benar secara deduktif-kuantitatif, tetapi salah secara induktif kualitatif. Secara deduktif-kuantitatif dapat dikatakan pertimbangan MK lebih didominasi keterkungkungan MK secara normatif dan numerik dalam melihat perkara. MK dalam pertimbangannya, misalnya, menyatakan dalam hukum Islam tak ada batasan usia wanita atau pria untuk kawin. Yang ada hanya batasan akil balig. Usia akil balig ditandai kalau wanita telah datang bulan (haid) dan pria telah mimpi basah (mengeluarkan sperma).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Padahal, filosofi akil balig secara induktif kualitatif tak semata-mata matang secara jasmani, melainkan matang secara rohani sehingga mampu membedakan mana yang benar dan mana salah. Apakah ada jaminan setelah secara jasmani matang, akan diikuti dengan kematangan jiwa? Secara sosiologis kita dapat melihat ada budaya tertentu di Nusantara yang menuntun bagaimana orangtua mengawinkan anaknya. Sudah ratusan tahun orang Jawa, khususnya Jawa Tengah, punya prinsip kapan mereka layak mengawinkan anaknya. Mereka akan mengawinkan anaknya bila telah "kuat gawe"".&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kuat gawe diartikan secara induktif kualitatif bahwa perempuan dan laki-laki yang hendak dikawinkan telah dinilai kuat raga, kuat jiwa, dan kuat banda (harta benda). Kuat raga berarti kuat bekerja dan secara jasmani telah matang dalam berhubungan suami-istri (seksual). Kuat jiwa menunjukkan kematangan mental dalam berhubungan dengan istri, keluarga istri serta mampu bertetangga yang baik (rukun tetangga). Kuat banda, berarti mampu menjamin kelangsungan keluarga secara ekonomi, yaitu memiliki pegaweyan atau pekerjaan sebagai sumber nafkah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ketiga kekuatan inilah yang terus dibina orangtua zaman dulu kepada anaknya meski mereka tak mengenyam pendidikan sama sekali bahkan buta huruf. Mereka semula tak mematok angka tertentu untuk menilai apakah anaknya sudah layak kawin ataukah belum. Hingga pada 1974 karena tuntutan kepastian hukum Presiden dan DPR menetapkan batas usia wanita dan pria untuk menikah, yakni 16 tahun untuk wanita dan 19 tahun untuk pria melalui UU No 1/1974 tentang Perkawinan karena ketika itu dengan batas usia perkawinan seperti itu dinilai wanita dan pria telah "kuat gawe".&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Tuntutan perubahan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kini sudah 41 tahun UU No 1/ 1974 tentang Perkawinan berlaku. Dan kita sadar serta membenarkan kata Heraclitus bahwa dunia ini pantareich, bergerak, beringsut, tanpa henti. Fakta, perkembangan serta tuntutan masyarakat secara dinamis terus berubah maju secara progresif. Termasuk hukum dituntut bersifat progresif dalam menanggapi fakta, perkembangan serta tuntutan masyarakatnya. Bila tidak, hukum akan ditinggalkan bahkan dilecehkan. Mengukuhi Pasal 7 Ayat (1) dan (2) untuk tetap bersikukuh dengan angka 16 dan 19 untuk batas usia perkawinan serta menolak usulan ke angka 18 dan 20 untuk batas usia perkawinan sama artinya MK melawan adanya fakta, perkembangan, serta tuntutan masyarakat kini.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bila MK menyatakan tak ada jaminan yang dapat memastikan bahwa dengan ditingkatkannya batas usia kawin untuk perempuan dari 16 ke 18 tahun akan kian mengurangi angka perceraian, menanggulangi permasalahan kesehatan, maupun meminimalkan permasalahan sosial lain, maka dapat pula ditanyakan balik apa salahnya jika batas usia itu dinaikkan dari 16 dan 19 ke 18 dan 20? Apakah melanggar moral, etik, agama atau hukum mana yang dilanggar? Apakah perkembangan yang demikian masif di dunia pendidikan, kesehatan, serta perlindungan anak dan kesejahteraan sosial tak cukup menjadi bukti bahwa perkawinan yang dilakukan terlalu dini secara kualitatif dan prediktif telah dan akan melahirkan kualitas generasi yang lemah karena kenyataannya pada usia itu mereka belum "kuat gawe" sebagaimana filosofi sebuah perkawinan. Di sini saya menilai MK secara khusus dalam putusan ini peka dan tidak progresif.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Apalah lacur dikata, nasi telah menjadi bubur. Putusan MK telah final dan binding. Putusan yang tak dapat digugat kembali dan bersifat mengikat secara normatif. Namun, kita tak boleh putus asa. Masih ada harapan mewujudkan mimpi menyejahterakan dan mendewasakan perempuan melalui batas usia perkawinan yang lebih baik. Langkah pertama, mendorong serta mengawal lembaga legislatif untuk melakukan perubahan terhadap UU No 1/ 1974. Secara sosiologis, juga harus terus dikampanyekan kepada masyarakat untuk tak melakukan perkawinan dini kecuali dalam keadaan darurat, dan ini pun harus dilakukan seizin pengadilan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Karut-marut di bidang pembatasan usia dewasa dalam hukum kita ini terjadi sebagai akibat kita tak memiliki the umbrella act sebagai ciri khas negara yang condong kepada sistem hukum civil law. Tengoklah sistem regulasi kita yang semrawut dan terkesan over regulation, tumpang tindih bahkan kontroversial. KUH Perdata, KUH Pidana, UU Perkawinan, UU Perlindungan Anak, UU Jabatan Notaris 2014 tak mengatur batas yang sama dalam menentukan kedewasaan serta kecakapan seseorang di depan hukum. Tak kita temukan harmonisasi hukum. Kita harus pula merancang dan sesegera mungkin memiliki kitab hukum perdata buatan manusia Indonesia sehingga kita memiliki the umbrella act di bidang keperdataan yang telah disesuaikan konteks keindonesiaan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dari sinilah kita memiliki grand design untuk mengatur secara harmonis apa dan bagaimana usia dewasa yang "kuat gawe" itu. Untuk menjaga martabat perempuan, batas usia perkawinan mesti progresif terhadap fakta, perkembangan, serta tuntutan masyarakat. Perempuan adalah saka guru negara, buruk perempuan, negara akan ambruk dan terpuruk. Baiknya perempuan akan menjamin kemasyhuran suatu negara. Kapan lagi kita memulai melindungi perempuan dari potensi buruknya perkawinan dini, menjamin pendidikannya cukup, serta memenuhi hak- haknya untuk sejahtera. Kita hormati putusan MK, namun kita lawan pernikahan dini di usia 16 dan 19 itu. Hakim Maria yang berpendapat lain dan sendirian tak berarti salah, dan tak otomatis hakim-hakim yang mayoritas menolak penaikan batas usia perkawinan itu benar.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Boleh jadi di kemudian hari pendapat hakim Maria-lah yang terbukti benar.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;i&gt;Penulis :&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Suteki&lt;/b&gt; ; Guru Besar Ilmu Hukum dan Masyarakat Fakultas Hukum Undip&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;i&gt;Sumber :&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Versi cetak artikel ini terbit di harian &lt;b&gt;Kompas&lt;/b&gt; edisi 24 Juni 2015, di halaman 6 dengan judul "&lt;i&gt;Usia Perkawinan Progresif&lt;/i&gt;".&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>https://aturhukum.blogspot.com/2015/12/usia-perkawinan-progresif.html</link><author>noreply@blogger.com (perisai demokrasi bangsa)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4241382318909498899.post-8196279623992549980</guid><pubDate>Sat, 26 Sep 2015 16:12:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-09-26T23:12:28.625+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Legislasi</category><title>Legislasi</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;span style="background-color: red;"&gt;&lt;b&gt;Tahun 2015&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ol style="text-align: left;"&gt;
&lt;li&gt;&lt;a href="https://drive.google.com/file/d/0BxeHHlEa-MayTnFsSllReU44emc/view?usp=sharing" target="_blank"&gt;Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, Dan Walikota Menjadi Undang-undang&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>https://aturhukum.blogspot.com/2015/09/legislasi.html</link><author>noreply@blogger.com (perisai demokrasi bangsa)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4241382318909498899.post-2280760255782240462</guid><pubDate>Mon, 07 Sep 2015 15:07:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-09-07T22:07:50.023+07:00</atom:updated><title>Tentang Hakim Tunggal dan Objek Praperadilan Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjUhAF2ZY3dzObKIrlDS1zKOiZYX0LpdAfCwfG4EljwqIC5NAl71dBkqJME2rStaOaXb8ciIfEIkW-YMN6CuDo3W09gQ-L3SuJjKkeTmC6U1OxYkrMy5KYkrh3OKerAGX6q7EdmcfcqS3NK/s1600/Mahkamah+Konstitusi.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="" border="0" height="177" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjUhAF2ZY3dzObKIrlDS1zKOiZYX0LpdAfCwfG4EljwqIC5NAl71dBkqJME2rStaOaXb8ciIfEIkW-YMN6CuDo3W09gQ-L3SuJjKkeTmC6U1OxYkrMy5KYkrh3OKerAGX6q7EdmcfcqS3NK/s320/Mahkamah+Konstitusi.jpg" title="Gedung Mahkamah Konstitusi RI" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Gedung Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;b&gt;M&lt;/b&gt;engingat kembali ketika Hakim Sarpin Rizaldi yang memimpin sidang gugatan praperadilan calon Kapolri yakni Komjen Budi Gunawan terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK) yang menetapkannya sebagai tersangka dan kemudian mengabulkan gugatan praperadilan, hingga menimbulkan banyak pertanyaan masyarakat umum, terlebih para mahasiswa hukum.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
Pada dasarnya dalam kasus Praperadilan hakim berwenang memeriksa dan memutus tentang sah atau tidaknya penangkapan, penahanan, penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan; ganti kerugian dan/atau rehabilitasi bagi seseorang yang perkara pidananya dihentikan pada tingkat penyidikan atau penuntutan; dan penetepan tersangka.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
Praperadilan diperiksa dan diputus oleh hakim tunggal karena pada dasarnya praperadilan diperiksa dan diputus berdasarkan acara pemeriksaan cepat, karena ini berkaitan juga dengan bentuk putusan praperadilan yang sederhana. Sifat proses praperadilan yang dilakukan dengan pemeriksaan cepat inilah yang menjadi alasan kenapa hakim praperadilan adalah hakim tunggal.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Detail Pembahasan&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Objek Praperadilan Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Praperadilan adalah wewenang hakim untuk memeriksa dan memutus, sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam undang-undang tentang: [Pasal 1 angka 10 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana “KUHAP”]&lt;/div&gt;
&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;Sah atau tidaknya suatu penangkapan dan atau penahanan atas permintaan tersangka atau keluarganya atau pihak lain atas kuasa tersangka;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;sah atau tidaknya penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan atas permintaan demi tegaknya hukum dan keadilan;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;permintaan ganti kerugian atau rehabilitasi oleh tersangka atau keluarganya atau pihak lain atas kuasanya yang perkaranya tidak diajukan ke pengadilan.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;Adapun yang menjadi objek praperadilan ini diatur juga dalam Pasal 77 KUHAP yaitu:&lt;/div&gt;
&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;Sah atau tidaknya penangkapan, penahanan, penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ganti kerugian dan atau rehabilitasi bagi seorang yang perkara pidananya dihentikan pada tingkat penyidikan atau penuntutan. &lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Namun menurut Mahkamah Konstitusi dalam putusannya Nomor 21/PUU-XII/2014 telah menetapkan objek praperadilan baru yaitu sah tidaknya penetapan tersangka, penggeledahan dan penyitaan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam artikel MK ‘Rombak’ Bukti Permulaan dan Objek Praperadilan, MK telah menjadikan penetapan tersangka sebagai salah satu objek praperadilan yang sebelumnya tidak ada dalam KUHAP. Pasal 77 huruf a KUHAP dinyatakan inkontitusional bersyarat sepanjang dimaknai termasuk penetapan tersangka, penggeledahan, dan penyitaan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Jadi, hal apa saja yang diperiksa dan diputus oleh hakim dalam praperadilan meliputi dari ketiga poin di atas dan penetapan tersangka. Sedangkan mengenai siapa saja pihak yang dapat mengajukan praperadilan dapat Anda simak dalam artikel Praperadilan (Pasal 82 ayat (1) huruf c KUHAP).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;ISI PUTUSAN PRAPRERADILAN &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Adapun isi putusan praperadilan adalah:[ Pasal 82 ayat (2) dan (3) KUHAP ]&lt;/div&gt;
&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;Memuat dengan jelas dasar dan alasan putusan hakim;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Dalam hal putusan menetapkan bahwa sesuatu penangkapan atau penahanan tidak sah, maka penyidik atau jaksa penuntut umum pada tingkat pemeriksaan masing-masing harus segera membebaskan tersangka;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Dalam hal putusan menetapkan bahwa sesuatu penghentian penyidikan atau penuntutan tidak sah, penyidikan atau penuntutan terhadap tersangka wajib dilanjutkan;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Dalam hal putusan menetapkan bahwa suatu penangkapan atau penahanan tidak sah, maka dalam putusan dicantumkan jumlah besarnya ganti kerugian dan rehabilitasi yang diberikan, sedangkan dalam hal suatu penghentian penyidikan atau penuntutan adalah sah dan tersangkanya tidak ditahan, maka dalam putusan dicantumkan rehabilitasinya;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Dalam hal putusan menetapkan bahwa benda yang disita ada yang tidak termasuk alat pembuktian, maka dalam putusan dicantumkan bahwa benda tersebut harus segera dikembalikan kepada tersangka atau dari siapa benda itu disita.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Hakim Tunggal Praperadilan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
M. Yahya Harahap dalam bukunya “Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP: Pemeriksaan Sidang Pengadilan, Banding, Kasasi, dan Peninjauan Kembali” menjelaskan bahwa Hakim yang duduk dalam pemeriksaan sidang praperadilan adalah hakim tunggal. Hal ini ditegaskan dalam Pasal 78 ayat (2) KUHAP, yang berbunyi:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
“Praperadilan dipimpin oleh hakim tunggal yang ditunjuk oleh Ketua Pengadilan Negeri dan dibantu oleh seorang panitera.”&lt;/blockquote&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
Namun dalam hal ini saya belum menemukan bahwa KUHAP tidak menjelaskan lebih lanjut mengapa praperadilan dipimpin oleh hakim tunggal. Namun, hal yang berkaitan dengan prinsip pemeriksaan dengan acara cepat yang mengharuskan pemeriksaan praperadilan selesai dilakukan selambat-lambatnya dalam waktu tujuh hari [Pasal 82 ayat (1) huruf c KUHAP] dan bentuk putusan praperadilan yang sederhana. Hal ini bisa diwujudkan jika diperiksa dan diputus oleh hakim tunggal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agar dapat dipenuhi proses pemeriksaan yang cepat [Pasal 82 ayat (1) huruf c KUHAP], yang mana KUHAP memerintahkan pemeriksaan praperadilan dengan acara cepat dan selambat-lambatnya hakim harus menjatuhkan putusan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;Dasar hukum:&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Referensi:&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Harahap, Yahya. 2010. Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP (Pemeriksaan Sidang Pengadilan, Banding, Kasasi, dan Peninjauan Kembali). Jakarta: Sinar Grafika.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Putusan:&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) bernomor 21/PUU-XII/2014.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baca Artikel Lainnya :&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://www.aturhukum.com/2015/03/hukum-pidana-hukum-adalah-perintah.html" target="_blank"&gt;Hukum Pidana ; Hukum adalah Perintah&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://www.aturhukum.com/2015/03/pengertian-hukum-pidana-dan-sejarah.html" target="_blank"&gt;Pengertian Hukum Pidana dan Sejarah&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>https://aturhukum.blogspot.com/2015/09/tentang-hakim-tunggal-dan-objek.html</link><author>noreply@blogger.com (perisai demokrasi bangsa)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjUhAF2ZY3dzObKIrlDS1zKOiZYX0LpdAfCwfG4EljwqIC5NAl71dBkqJME2rStaOaXb8ciIfEIkW-YMN6CuDo3W09gQ-L3SuJjKkeTmC6U1OxYkrMy5KYkrh3OKerAGX6q7EdmcfcqS3NK/s72-c/Mahkamah+Konstitusi.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4241382318909498899.post-6071860433768521765</guid><pubDate>Sun, 28 Jun 2015 03:08:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-06-28T11:17:10.606+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Hukum Tata Negara</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Teori Hukum</category><title>SUMBER-SUMBER HUKUM TATANEGARA</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;b&gt;PENGANTAR&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tata Negara berarti sistem penataan negara yang berisi ketentuan mengenai struktur kenegaraan dan mengenai substansi norma kenegaraan. Dengan perkataan lain, ilmu Hukum Tata Negara dapat dikatakan merupakan cabang ilmu hukum yang membahas mengenai tatanan struktur kenegaraan, mekanisme hubungan antar struktur-struktur organ atau struktur kenegaraan, serta mekanisme hubungan antara struktur negara dengan warga negara.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di dalam studi hukum tata negara itu sebenarnya ada pula cabang ilmu yang melakukan telaah perbandingan antar berbagai konstitusi yaitu hukum tata negara perbandingan atau ilmu perbandingan hukum tata negara. Di sisi lain tentunya hukum tata negara bersifat tertulis yang merupakan sumber-sumber hukum tata negara.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sumber-sumber hukum tata negara memiliki banyak arti, tergantung dari sudut mana seseorang ahli hukum melihatnya, untuk itu seorang ahli sejarah memiliki arti yang berbeda dengan seorang ahli sosiologi, demikian pula berbeda dengan ahli ekonomi. Menurut bangir manan dalam bukunya “konversi ketatanegaraan “ di dalam menelaah dan mempelajari sumber hukum memerlukan kehati-hatian karena istilah sumber hukum mengandung berbagai pengertian. Tanpa kehati-hatian dan kecermatan dengan apa yang dimaksud sumber hukum akan menimbulkan kekeliruan bahkan kesesatan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Adapun untuk mengetahui sumber-sumber hukum terlebih dahulu harus ditentukan dari sudut mana sumber-sumber hukum itu dilihat, sehingga L.J. Van Apeldoorn menyatakan bahwa perkataan sumber hukum dipakai dalam arti sejarah, kemasyarakatan, filsafat dan arti formal. Dengan demikian, dapatlah dirumuskan sumber hukum adalah segala sesuatu yang menimbulkan aturan yang mengikat dan memaksa, “sehingga apa bila itu dilanggar akan menimbulkan sangsi yang tegas dan nyata bagi pelanggarnya”. &lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;PERMASALAHAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
pada makalah ini penulis akan menguraikan beberapa permasalahan yang menyangkut sumber-sumber hukum tata negara, antara lain yaitu :&lt;br /&gt;
&lt;ol type="a"&gt;
&lt;li&gt;sedikit membahas apa itu Hukum Tata Negara ?&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Apa Pengertian Sumber Hukum ?&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Apa saja Sumber Hukum Tata Negara ?&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Sumber - Sumber Hukum Tata Negara&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ul style="text-align: left;"&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Hukum tata negara&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Istilah “hukum tata negara” merupakan hasil terjemahan sari perkataan bahasa belanda yakni staatsrecht.&amp;nbsp; Pengertian hukum tata negara menurut Van Vollenhoven menerangkan bahwa hukum tata negara itu adalah semua kaidah hukum yang bukan hukum tata negara material, bukan hukum perdata material, dan bukan hukum pidana material.&amp;nbsp; Jadi, hukum tata negara mengatur semua masyarakat hukum atasan dan masyarakat hukum bawahan menurut tingkatannya dan dari masing-masing itu menentukan wilayah lingkungan rakyatnya dan akhirnya menentukan badan-badan dan fungsinya masing-masing sehingga yang berkuasa dalam lingkungan masyarakat, hukum di sana serta menentukan susunan dan wewenangnya dari badan-badan tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;ul style="text-align: left;"&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Pengertian Sumber-sumber hukum&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sumber hukum adalah segala sesuatu yang berupa tulisan, dokumen, naskah, dsb, yang dipergunakan oleh suatu bangsa sebagai pedoman hidupnya pada masa tertentu. Menurut &lt;i&gt;Prof Tjipto Rahardjo&lt;/i&gt; “Sumber yang melahirkan hukum di golongkan dari dua kategori, yaitu sumber-sumber yang bersifat hukum dan yang bersifat sosial.&amp;nbsp; Sumber yang bersifat hukum merupakan sumber yang diakui oleh hukum sendiri sehingga secara langsung bisa melahirkan atau menciptakan hukum.&lt;/div&gt;
&lt;ul style="text-align: left;"&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Macam-macam sumber hukum&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Istilah sumber-sumber hukum mempunyai arti yang bermacam-macam tergantung dari mana seorang ahli hukum melihatnnya. Menurut Utrecht mengenai sumber hukum dapat dibagi dalam arti formal dan materiel.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
sumber hukum materiel adalah faktor-faktor masyarakat yang mempengaruhi terbentuknya hukum (pengaruh terhadap pembuatan undang-undang, pengaruh terhadap putusan hakim, dan sebagainya), faktor-faktor yang mempengaruhi materi (isi) dari aturan-aturan hukum atau tempat dari mana hukum itu diambil.&amp;nbsp; Sehingga sumber-sumber hukum materiel dapat ditinjau dari berbagai sudut. Misalnya, dari sudut ekonomi, sejarah, sosiologi, filsafat dan sebagainya.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Contohnya :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ul style="text-align: left;"&gt;
&lt;li&gt;Seorang ahli ekonomi akan menyatakan bahwa kebutuhan-kebutuhan ekonomi dalam masyarakat itulah yang menyebabkan timbulnya hukum. &lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;ul style="text-align: left;"&gt;
&lt;li&gt;Seorang ahli kemasyarakatan (sosiologi) akan menyatakan bahwa yang 
menjadi sumer hukum ialah peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam 
masyarakat.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Sumber hukum dalam arti formal terbagi antara lain :&lt;br /&gt;
1. Undang-undang (statute),&lt;br /&gt;
2. Kebiasaan (costum),&lt;br /&gt;
3. Keputusan-keputusan hakim (yurisprudensi)&lt;br /&gt;
4. Traktat (treaty),&lt;br /&gt;
5. Pendapat sarjana hukum (doktrin). &lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;
&lt;i&gt;1. Undang-undang (statute)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hukum perundang-undang adalah suatu peraturan atau keputusan negara yang tertulis dibuat oleh alat perlengkapan negara yang berwenang (bersama-sama DPR dan Presiden) dan mengikat masyarakat.&amp;nbsp; Menurut Buys, undang-undang mempunyai dua arti,yakni :&lt;/div&gt;
&lt;ol style="text-align: left;"&gt;
&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Undang-undang dalam arti formal: ialah setiap keputusan pemerintah yang merupakan undang-undang karena perbuatannya. Misal, dibuat oleh pemerintah bersama-sama parlement.&lt;/li&gt;
&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Undang-undang dalam arti material: ialah setiap keputusan pemerintah yang menurut isinya mengikat langsung setiap penduduk.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
Adapun urutan perundang-undang republik indonesia TAP MPR No.III/MPR/2000 yang semula TAP MPRS No.XX/MPRS/1966 dan MPR No.IX/MPR/1978 adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;
1. undang-undang dasar 1945&lt;br /&gt;
2. ketetapan MPR-RI&lt;br /&gt;
3. undang-undang&lt;br /&gt;
4. peraturan pemerintah pengganti undang-undang&lt;br /&gt;
5. peraturan pemerintah&lt;br /&gt;
6. keputusan presiden&lt;br /&gt;
7. peraturan daerah.&lt;br /&gt;
Jadi jika dikaitkan dengan tata urutan peraturan perundang-undanga di Indonesia berdasarkan TAP MPR No. III/MPR/2000 dirumuskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;2. Kebiasaan (costum)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kebiasaan dapat diartikan perbuatan yang diulang-ulang dalam bentuk yang sama, merupakan suatu bukti bahwa orang banyak menyukai perbuatan tersebut, jadi kebiasaan adalah suatu perbuatan adalah suatu perbuatan orang secara tetap. Menurut Merto Kusumo, bahwa kebiasaan dapat menjadi hukum diperlukan syarat-syarat sebagai berikut :&lt;/div&gt;
&lt;ol style="text-align: left;"&gt;
&lt;li&gt;Syarat materil: adanya kebiasaan atau tingkah laku yang tetap atau diulang, yaitu suatu rangkaian perbuatan yang sama, yang berlangsung dalam waktu yang lama (long et invetarata cosuetudo)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Syarat intelektual: kebiasaan itu harus menimbulkan opinio necessitatis (keyakinan umum) bahwa perbuatan itu merupakan kewajiban hukum&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Adanya akibat hukum apabila hukum kebiasaan itu dilanggar.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hukum kebiasaan terdapat kelemaha-kelemahan, sebab tidak dirumuska secara jelas dan pada umumnya sukar digali, karena tidak tertulis. Disamping itu, juga bersifat beranekaragam sehingga tidak menjamin kepastian hukum dan sulit untuk beracara.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;3. Keputusan-keputusan hakim (yurisprudensi)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Istilah yurisprudensi berasal dari bahasa latin yaitu jurisprudentia yang berarti pengetahuan hukum. Yurisprudensi menurut C.S.T.Kansil adalah keputusan hakim terdahulu yang sering diikuti dan dijadikan dasar keputusan oleh hakim kemudian mengenai masalah yang sama.&amp;nbsp; Adapun seorang hakim mempergunakan putusan hakim lain disebabkan oleh berbagai pertimbangan. Antara lain, pertimbangan pisikologis, pertimbangan praktis, pertimbangan pendapat yang sama. Selanjutnya yurisprudensi terbagi atas dua macam yakni:&lt;/div&gt;
&lt;ol style="text-align: left;"&gt;
&lt;li&gt;Yurisprudensi tetap, yakni keputusan hakim karena rentetan keputusan yang sama dan dijadikan dasar atau patokan untuk memutuskan suatu perkara (standard arresten). Standar adalah dasar atau baku, arresten adalah keputusan mahkamah agung.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Yurisprudensi tetap, yaitu (keputusan hakim) yang terdahulu yang belum masuk menjadi yurisprudensi tetap (standard arresten).&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;i&gt;4. Traktat (treaty)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Traktat atau perjanjian internasional ialah persetujuan yang diadakan oleh indonesia dengan negara-negara lain, di dalam indonesia telah mengikat diri untuk menerima hak-hak dan kewajiban yang timbul dari perjanjian yang diadakan itu, traktat merupakan sumber hukum yang penting. Untuk itu, tidak cukup traktat atau perjanjian yang ditandatangani oleh indonesia, namun harus pula diratifikasi (mendapatkan pengesahan) sebelum perjanjian tiu mengikat. Disamping traktat ada perjanjia internasional biasa yang diadakan pemerintah atau badan eksekutif (eksekitive agreement) dengan pemerintah lain dengan tidak memerlukan pengesahan.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
5. Pendapat sarjana hukum (doktrin)&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Doktrin sebagai sumber hukum formil yakni pendapat para sarjana hukum yang terkemuka yang besar pengaruhnya terhadap hakim, dalam mengambil keputusan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menurut Prof. Dr. Sudikno M.SH. doktrin adalah pendapat para sarjana hukum yang merupakan sumber hukum te-mpat hakim yang dapat menemukan hukumnya. Seringkali terjadi hakim dalam keputusannya menyebut pendapat sarjana hukum, sebagai dasar pertimbangan untuk memutuskan perkara tertentu. Dengan demikian dapat dkatakan bahwa hakim menemukan doktrin dalam doktrin itu. Doktrin yang demikian adalah sumber hukum , ialah sumber hukum formil. &lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;u&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul style="text-align: left;"&gt;
&lt;li&gt;Ishaq. Dasar-dasar Ilmu Hukum. Jakarta, Sinar Grafika, 2007&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Huda Ni’matul, Hukum Tata Negara Indonesia. Jakarta, PT.Raja Grafindo Persada, 2006&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;C.S.T.Kansil, Hukum Tata Negara Republik Indonesia, Jakarta, Bina Aksara, 1986&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;C.S.T.Kansil, Pengantar Ilmu Hukum Dan Tata Hukum Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka, 1982&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;http://id.wikipedia.org/wiki/Hukum&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>https://aturhukum.blogspot.com/2015/06/sumber-sumber-hukum-tatanegara.html</link><author>noreply@blogger.com (perisai demokrasi bangsa)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4241382318909498899.post-274466767233537947</guid><pubDate>Sun, 28 Jun 2015 02:09:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-06-28T10:02:38.535+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Hukum Islam</category><title>Politik Islam ; dalam bingkai pemikiran Ibnu Khaldun</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;b&gt;Pengantar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ibnu Khaldun di lahirkan di Tunisia pada awal bulan Ramadhan tahun 732 H, atau pada 27 mei tahun 1333. rumah tempat tinggalnya hingga sekarang masih utuh yang terletak di jalan Turbah bay. Dalam beberapa waktu terakhir rumah tersebut menjadi pusat sekolah &lt;b&gt;&lt;i&gt;Idarah `Ulya&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; dan pada pintu masuk terdapat sebuah batu marmar berukiran nama dan tanggal lahir beliau. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Nama lengkap Ibnu Khaldun adalah &lt;i&gt;Abdurrahman Abu Zaid Waliudin bin Khaldun&lt;/i&gt;. Nama kecilnya Abdurrahman, nama panggilan keluarga Abu Zaid, gelarnyqa waliudin dan nama populernya adalah Ibnu Khaldun. Gelar waliudin merupakan gelar yang diberikan orang sewaktu dia mengangkat jabatan sebagai Hakim di Mesir. Mengenai hal ini al-Muqrizi mengatakan di dalam bukunya &lt;b&gt;As-Suluk&lt;/b&gt;: &lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;i&gt;“Dan pada hari senin jumadil akhir tahun 786, syekh Abu Zaid Abdurrahman Ibnu Khaldun dipanggil datang ke benteng. Sultan menyerahkan jabatan kehakiman tertinggi kerajaan dan memberi gelar waliudin kepada Ibnu Khaldun”&lt;/i&gt;. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sewaktu kecil Ibnu khaldun mulai menghafal Al-Qur`an dan mempelajari tajwid. Tempat belajar efektif yang dilakukan Ibnu Khaldun yaitu di masjid Orang tunisia, masjid itu bernama Al-Quba, dan mereka menyebutnya Masjid el-quba. Ibnu khaldun belajar pertama kali pada ayahnya sendiri dan tunisia pada saat itu merupakan kumpulan ulama` dan para sastrawan serta menjadi pusat hijrah para ulama-ulama andalusia yang menjadi korban kekacauan politik negara, sehingga situasi negara menjadi tidak tenang.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;PEMIKIRAN POLITIK IBNU KHALDUN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada masa Ibnu Khaldun di pandang dari segi sejarah Islam adalah era kemunduran dan perpecahan. Bagi umat Islam, abad ke 14 M adalah abad kemunduran, bukan abad kemajuan di bidang intelektual, ekonomi maupun sosial. Mulai dari abad ke 8 sampai abad ke 12 - 13 merupakan abad-abad &lt;i&gt;“Mukjizad Arab”&lt;/i&gt;. Tokoh Ibnu khaldun di gambarkan sebagai salah satu tokoh budaya Arab-Islam yang paling kuat dimasa kemundurannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ibnu khaldun dalam perjalanan hidupnya beliau sudah mulai aktif dalam menuangkan gagasan politik, yakni di Afrika Utara bagian barat yang terdapat 3 negara yang selalu perang dengan sesamanya dan masing-masing berusaha untuk menghancurkan pihak lain, ketika itu perpindahan loyalitas Negara Islam yang satu dengan Negara Islam yang lain tidak di anggap sebagai hal yang luar biasa, kendati demikian sebagian dari sarjanah khalduni kontemporer menafsirkan peristiwa ini sebagai suatu tanda bahwa Ibnu Khaldun tidak mengenal loyalitas dan bersifat sangat oportunitis.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kebanyakan hukum dan pendapat-pendapat yang di tarik ibnu khaldun dari study poilitik dan masalah berdirinya Negara hanya sesuai untuk bangsa-bangsa yang menjadi observasinya, yaitu bangsa bangsa Arab, Barbar, dan bangsa-bangsa yang menyamainya dari segi kejadian dan masalah-masalah sosial.&lt;/div&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ibnu Khaldun dikenal sebagai orang yang mempunyai ambisi sangat besar yang memiliki kecenderungan jelek dalam dirinya. Sehingga ini yang menjadikan prinsip Ibnu Khaldun dari masa hidupnya. Sementara di bagian utara, yakni daratan eropa, sekarang telah terlihat tanda-tanda perubahan dan kebangkitan. mereka juga percaya bahwa otak manusia memiliki kemampuan untuk melampaui dunia fenomena ini dan mencapai kebenaran metafisis, maka dari itu Abad 13 itu juga merupakan abad yang amat menonjol dalam bidang intelektual, karena di waktu itu disadari adanya sintesa antara ratio dan keyakinan, atau antara filsafat dan teknologi.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hubungan antara pemikiran Ibnu Khaldun sebagai seorang pemikir sosial dan agama yang di anut, merupakan salah satu masalah pokok dalam membicarakan Ibnu Khaldun. ia adalah Islam yang mendapatkan pendidikan tradisional Islam seperti yang lumrah terdapat di zamannya. yang menjadi pertanyaan apakah Ibnu Khaldun pemikirannya di anggap hebat karena ada dorongan-dorongan ajaran Islam yang di anut-nya, apa ia berani melanggar ajaran yang telah di tentukan agamanya itu?? ada yang mengatakan bahwa ajaran Islam yang lengkap dan mencakup&amp;nbsp; itulah Ibnu Khaldun sampai kepada teori-teori sosialnya. Dan ada pula yang berpendapat bahwa ibnu khaldun telah berani melanggar pendapat-pendapat yang baku dalam ajaran Islam.&lt;/div&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
disini paling tidak, terdapat empat sub tema ketika mengkaji pemikiran Ibnu Khaldun dalam hal sistem politik Islam, yaitu asal mula timbulnya negara, konsep kepala negara, pengaruh faktor geografis terhadap politik, dan solidaritas kelompok.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ul style="text-align: left;"&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Asal Mula Timbulnya Negara&lt;/b&gt; &lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ibnu Khaldun seorang kritikus dan pakar sosiologi, berpendapat bahwa adanya organisasi kemasyarakatan merupakan suatu keharusan bagi kehidupan manusia. Hal ini sesuai dengan pendapat yang telah banyak dikemukakan oleh para ahli sosiologi, bahwa manusia adalah makhluk politik (zoon politicon) atau makhluk sosial. Manusia akan merasa kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya jika ia hidup sendirian tanpa adanya institusi yang mengorganisasikannya. Fenomena riil inilah yang akhirnya mengilhami Ibnu Khaldun untuk memikirkan tentang asal mula negara dan menjadi embrio konsep negara menurut Ibnu Khladun. Karena negara dalam skala makro menempati posisi organisasi kemasyarakatan yang dapat memenuhi kebutuhan kodrati manusia. Gagasan ini juga serupa dengan yang telah diungkapkan terlebih dahulu oleh Plato.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ul style="text-align: left;"&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Konsep kepala Negara&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menurut Ibnu Khaldun, keberadaan kepala negara sebagai penengah, pemisah, dan sekaligus hakim merupakan suatu keharusan bahkan keniscayaan bagi kehidupan bersama umat manusia dalam suatu komunitas masyarakat (negara). Jabatan kepala negara merupakan lembaga yang alamiah dan natural bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Seorang kepala negara yang sebenarnya, harus memiliki superioritas dan keunggulan serta kekuatan fisik agar keputusan atau kebijakan yang diambil dapat berlaku secara efektif. Seorang kepala negara harus memiliki tentara yang kuat dan loyal kepadanya guna menjamin keamanan negara dari ancaman luar. Selain itu ia harus berkuasa menarik dana bagi pembiayaan operasional negara.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kebijakan pemerintah yang diambil melalui kepala negara meski didasarkan pada peraturan-peraturan dan kebijaksanaan-kebijaksanaan politik tertentu, yang tidak merugikan bagi sebagian atau keseluruhan rakyat. Kebijaksanaan politik itu dapat diambil dari beberapa sumber, yaitu pertama, rekayasa para intelektual, cendekiawan, pemuka masyarakat, dan orang pandai di antara mereka. Kedua, ajaran agama yang diturunkan Tuhan kepada utusan-utusannnya.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Secara sistematis, Ibnu Khaldun telah memberi kriteria tertentu bagi seseorang yang akan menduduki jabatan kepala negara, yaitu bahwa ia harus (a) berilmu, (b) adil, (c) mampu, (4) sehat badan, dan (5) dari keturunan Quraiys (keluarga terhormat).&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ul style="text-align: left;"&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Pengaruh faktor geografis terhadap politik&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ibnu Khaldun mensinyalir bahwa keanekaragaman keadaan fisik, watak, mental, dan perilaku manusia itu dipengaruhi oleh faktor geografis. Masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah yang beriklim ekstrim, sangat panas atau sangat dingin, baik peradaban maupun budayanya tidak akan dapat berkembang secara dinamis. Sebaliknya suatu bangsa akan dapat memberikan kontribusinya kepada sejarah dan kebudayaan dunia manakala terletak di bagian bumi yang beriklim sedang.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Teori ini dipergunakan oleh para ahli hukum Islam sebagai salah satu dasar argumentasi bahwa pelaksanaan ajaran Islam dan hukumnya yang universal itu dapat berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lain karena perbedaan lingkungan, kondisi, adat istiadat, dan tradisi.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ul style="text-align: left;"&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Solidaritas kelompok&lt;/b&gt; &lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menurut Ibnu Khaldun, solidaritas kelompok (&lt;b&gt;&lt;i&gt;‘ashabiyyah&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;) sangatlah diperlukan karena dapat melahirkan semangat saling mendukung dan saling membantu serta rasa ikut malu dan tidak rela jika di antara mereka diperlakukan tidak adil atau hendak dihancurkan. Ada beberapa alasan yang dikemukakan oleh Ibnu Khaldun untuk menguraikan teori ‘ashabiyyah ini, antara lain:&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ol style="text-align: left;"&gt;
&lt;li&gt;Secara alamiah solidaritas kelompok itu terdapat dalam watak manusia.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Adanya solidaritas kelompok yang kuat merupakan suatu keharusan dalam membangun suatu negara.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Seorang kepala negara, agar dapat secara efektif mengendalikan ketertiban negara dan melindunginya, harus mampu menumbuhkan solidaritas kelompok.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Solidaritas kelompok dapat melahirkan pemimpin yang unggul dan superior.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;PENUTUP&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sistem politik Ibnu Khaldun banyak menuai kontroversi, namun demikian konsep yang dikembangkan Ibnu Khaldun sangatlah bermanfaat, beliau sanggup unjuk gigi di saat kehancuran Islam, dari sistem Negara Menurut Ibnu Khaldun, idealnya suatu negara berdasarkan nilai Islam secara formal untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran, namun ia juga tidak menutup realitas beberapa negara yang dapat berkembang secara progresif, mandiri, dan mencapai kesejahteraan tanpa harus berasaskan Islam secara formal.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;u&gt;&lt;br /&gt;&lt;/u&gt;
&lt;u&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;Wafi, Ali Abdulwahid Ibnu Khaldun Riwayat Dan Karyanya, Jakarta: PT Grafitipers, 1985.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Zainuddin, A. Rahman Kekuasaan Dan Negara Pemikiran Politik Ibnu Khaldun, Jakarta:PT Gramedia Pustaka Umum, 1992&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;http://mlatiffauzi.wordpress.com/2008/01/13/politik-islam-ibnu-khaldun-dan-sosial-politik-indonesia/&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;http://progresif-lshp.blogspot.com/2009/01/konsep-politik-islam-ibnu-khaldun.html&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>https://aturhukum.blogspot.com/2015/06/pemikiran-politik-ibnu-khaldun.html</link><author>noreply@blogger.com (perisai demokrasi bangsa)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4241382318909498899.post-4707124087874386101</guid><pubDate>Mon, 22 Jun 2015 15:53:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-06-22T22:58:46.925+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Hukum Adat</category><title>Sistem Peradilan Adat Di Indonesia</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;b&gt;I. PENDAHULUAN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Adat adalah merupakan pencerminan dari pada kepribadian sesuatu bangsa yang merupakan salah satu penjelmaan dari pada jiwa bangsa yang bersangkutan dari abad ke abad. Oleh karenanya, maka tiap bangsa di dunia ini memiliki adat kebiasaan yang berbeda-beda. Justru dengan perbedaan inilah kita dapat mengatakan bahwa adat itu merupakan unsur yang terpenting sebagai identitas bangsa yang bersangkutan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Perubahan suatu peradaban maupun cara penghidupan yang modern, ternyata tidak mampu menghilangkan adat kebiasaan yang hidup dalam masyarakat, paling-paling yang terlihat dalam proses kemajuan zaman itu adalah, bahwa adat tersebut menyesuaikan diri dengan keadaan dan kehendak zaman, sehingga adat itu menjadi kekal serta tetp segar.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di dalam negara Republik Indonesia, adat yang di miliki oleh daerah, suku dan ras bangsa yaitu&lt;i&gt; berbeda-beda meskipun dasar serta sifatnya satu&lt;/i&gt;, yaitu ke-Indonesia-annya. Oleh karena itu adat Indonesia itu di katakan “&lt;b&gt;Bhineka tunggal ika&lt;/b&gt;” (berbeda–beda di daerah suku bangsanya tetapi tetap satu juga, yaitu sifat dan dasar ke-Indonesia-anya.)&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;II. PEMBAHASAN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
A. Pengertian Hukum Adat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Adat kebiasaan yaitu tingkah laku seseorang yang secara terus menerus di lakukan dengan cara tertentu&amp;nbsp; dan di ikuti oleh masyarakat luar dalam waktu yang lama.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
Dengan demikian ada unsur-unsur terciptanya hukum adat:&lt;br /&gt;
1. Adanya tingkah laku seseorang&lt;br /&gt;
2. Di lakuakn terus menerus&lt;br /&gt;
3. Adanya dimensi waktu&lt;br /&gt;
4. Di ikuti oleh orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;a href="http://aturhukum.com/" target="_blank"&gt;Adat istiadat&lt;/a&gt; yaitu menunjukkan pola/bentuk, sikap, tindakan (perubahan) manusia pada masyarakat hukum adat tren untuk mempertahankan adat istiadat yang berlaku di lingkungan wilayahnya dan terkadang di pertahankan karena kesadaran masyarakatnya, tetapi tidak jarang pula adat istiadat di pertahankan dengan sangsi atau akibat hukum sehingga menjadi hukum adat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Istilah hukum adat &lt;i&gt;“adatreccht”&lt;/i&gt; istilah dalam bahasa belanda “adatrecht”&amp;nbsp; yang satu kali di pertemukan oleh &lt;i&gt;&lt;b&gt;cristian snouck hurgronje&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; dalam “de aatjehers” 1893.&amp;nbsp; kemudian di kutip dan di pakai selanjutnya oleh van vollen hoven.&amp;nbsp; Sebagai istilah jenis yuridis.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mengenal hukum adat , adat di kenal berbagai macam pendapat dari para sarjana hukum yaitu:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Supomo&lt;/b&gt; mengatakan bahwa hukum tidak tertulis dalam peraturan 2 legislatif meliputi peraturan 2 hidup yang meskipun tidak di tetapkan pihak berwajib di taati dan di dukung rakyat berdasarkan keyakinan bahwa peraturan-peraturan tersebut mempunyai kekuatan hukum.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Ter haar&lt;/b&gt; mengatakan bahwa hukum adat timbul setelah ada penetapan para pejabat hukum . sehingga kriteria yang di pakai adalah “ penetapan”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Soekanto&lt;/b&gt; mengatakan bahwa hukum adat itu merupakan kompleks adat-adat yang kebanyakan tidak di bukukan /tidak di kodifikasikan dan bersifat paksaan mempunyai sanksi atau akibat hukum.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Prof.Mr. cornelis van vollen hoven&lt;/b&gt; menyatakan bahwa hukum adat ialah semua hukum asli, yaitu hukm yang tidak bersumber pada peraturan perundangan yang di buat oleh pemerintahan hindia belanda dahulu atau alat kekuasaan lainnya yang menjadi sendinya dan yang di adakan sendiri oleh kekuasaan pemerintah hindia belanda itu.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;B. SIFAT HUKUMNYA HUKUM ADAT&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam kehidupan masyarakat hukum adat sebenarnya tidak semua adat istiadat dapat di sentuh oleh para petugas hukum dalam bentuk penetapan-penetapan terutama kalau masyarakat yang bersangkutan tidak sering mengadakan usaha-usaha atau tindakan-tindakan yang menimbulkan persengketaan. Para warga masyarakat pada umumnya bersedia melakukan sesuatu ketentuan yang berlaku dalam kehidupan masyarakatnya, bukan hanya karena ketentuan itu telah di tetapkan oleh para penguasa atau petugas hukum, melainkan karena adanya kesadaran bahwa ketentuan-ketentuan itu memang sudah sepantasnya di taati oleh segenap warga masyarakat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Adapun adanya faktor yang ikut menentukan agar adat istiadat yang secara formal itu sudah mempunyai sifat hukum dapat mempunyai kekuatan mengikat secara materiil yang sempurna. Faktor-faktor itu antara lain ialah:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1. Adat istiadat itu sesuai dengan sistem hukum yang berlaku pada masyarakat yang bersangkutan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2. Sesuai dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan yang di junjung tinggi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
3. Sesuai dengan perkembangan masyarakat yang bersangkutan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
4. Sesuai dengan rasa keadilan yang tumbuh dalam masyarakat&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;C. TUGAS PARA HAKIM HAKIM ADAT&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam hal ini Prof.Mr.djojodigoeno mengatakan bahwa hakim harus dapat menumbuhkan pengadilannya dengan rasa keadilan masyarakat, sehingga putusan hakim dapat mencerminkan rasa keadilan masyarakat yang bersangkutan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam melaksanakan tugasnya yang berat ini para hakim terikat pada:&lt;br /&gt;
• Nilai-nilai yang berlaku secara objektif dalam masyarakat&lt;br /&gt;
• Sistem hukum adat yang telah berbentuk dan berkembang dalam masyarakat&lt;br /&gt;
• Syarat-syarat dan nilai-nilai kemanusiaan&lt;br /&gt;
• Putusan-putusannya sendiri yang pernah di jatuhkan&lt;br /&gt;
• Putusan-putusan hakim lainnya dalam masalah serupa yang masih dapat di pertahankan karena masih sesuai dengan rasa keadilan masyarakat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun pedoman yang harus dipegangi oleh seorang hakim adat dalam mengambil putusan antara lain:&lt;/div&gt;
&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;Asas-asas dan peragaan hukum di masa lampau yang merupakan ukuran statis, guna mengabdi tujuan hukum yang bernama”adat”&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;Keadaan masyarakat pada waktu sekarang ,yang merupakan ukuran dinamik, guna mengejar” tatanan masyarakat yang adil”&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;Indifidualitas masing-masing kasus yang merupakan ukuran praktis .&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian maka wujud dari putusan hakim yang sedang mengadili suatu perkara menurut hukum adat berupa:&lt;/div&gt;
&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;Melaksanakan aturan hukum adat yang telah ada , sepanjang masih mencerminkan rasa keadilan&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tidak melaksanakan aturan hukum adat yang ada melainkan memberi penetapan baru, bila mana menurut keyakinan dan rasa keadilan hakim,&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Aturan hukum adat yang lama itu tidak sesuai lagi dengan perasaan keadilan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. \&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;Sebagai kemungkinan ketiga hakim dapat pula mengambil keputusan jalan tengah,kalau terjadi hal-hal sebagai berikut:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
a. Peristiwa atau faktannya tidak terang (siapa yang salah)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
b. Hukum yang menguasai perkara itu tidak jelas&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
c. Kalau penerapan aturan hukum adat yang ada akan dapat menimbulkan rasa tidak puas masyarakat.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;D. MACAM-MACAM PERADILAN ADAT&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sejak zaman hindia belanda dahulu sampai lahirnya undang-undang darurat nomor 1 tahun 1951 tanggal 14 Januari 1951, di Indonesia belum ada univikasi dalam susunan dan kekuasaan peradilan, karena masih ada lima macam tata nan peradilan yang berlaku yakni:&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;Tatanan peradilan gubernemen (gouvernemen rechts praak) yang meliputi seluruh wilayah hindia belanda yang terdiri dari macam-macam jenis peradilan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Peradilan pribumi (inheemsche rechts praak) yang ada di daerah-daerah yang mendapat kebebasan untuk menyelenggarakan peradilannya sendiri dengan hakim-hakim peribumi.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Peradilan swa praja (zelbestuur srechts praak) yang terdapat di daerah-daerah swapraja.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Peradilan agama (raad agama) yang ada di daerah-daerah hindia belanda, baik yang di daerahnya terdapat peradilan gubernemen maupun yang menetapkan peradilan agama sebagai bagian dari peradilan pribumi atau peradilan swap raja.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Peradilan desa (dorpsrechts praak) yang terdapat dalam masyarakat desa, yang biasanya juga merupakan peradilan adat.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
Dari lima macam tatanan peradilan di atas, yang dalam melaksanakan tugasnya selalu berpedoman pada hukum adat sebagai landasan mengadili perkara ialah:&lt;/div&gt;
&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;Peradilan pribumi&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Peradilan pribumi ini mempunyai wewenang untuk mengadili perkara yang terjadi antara orang-orang bumi putera yang tidak termasuk wewenang peradilan gubernemen. Pasal 130 I.S. menegaskan bahwa orang-orang bumi putera dimanapun ia berada, kalau tidak menyelenggarakan peradilan sendiri, maka peradilannya dilakukan atas nama raja atau ratu (belanda).&lt;/div&gt;
&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;Peradilan desa&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Peradilan desa ini merupakan bagian dari peradilan pribumi (di jawa), dan kadang-kadang merupakan peradilan swa praja (di luar jawa madura). Di beberapa daerah tertentu peradilan desa dapat juga merupakan bagian dari peradilan gubernemen seperti peradilan desa di ambon, saparua dan banda (karesi denan maluku). Nama-nama peradilan di desa ini bermacam-macam misalnya: rapat (dii tapanuli, Palembang, jambi, bengkulu), musapat (aceh besar, singkel), mahkamah (riau), perapatan (Kalimantan selatan dan timur), hudat (Sulawesi selatan), raad (sasak), majlis (gorontalo). Peradilan desa ini dilakukan secara majlis oleh para kepala desa atau kepala masyarakat hukum adat setempat dan wewenangannya hanya mengenai perkara0perkara perdata yang kecil terhadap putusan peradilan desa ini dapat di mintakan banding terhadap hakim yang lebih tinggi yaitu hakim di strip.&lt;/div&gt;
&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;Peradilan swa praja&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada dasarnya kekuasaan otonomi pada daerah-daerah swa praja meliputi juga kewenangan dalam peradilan, sehingga daerah-daerah swa praja yang ada pada zaman hindia belanda dahulu pada umumnya mempunyai peradilanya sendiri Dari empat daerah swa praja yang ada di jawa (kesultanan Yogyakarta, pekualaman Yogyakarta, kesunanan Surakarta , mengkunegaran surakarta).pada tahun 1907 (Stbl.1907 no.156) pekualaman Yogyakarta melepaskan kekuasaan mengadilinya , sehingga peradilan untuk kaula daerah swapraja pakualaman di serahkan kepada kekuasaan peradilan gubernamen.tiga daerah lainnya tetap berjalan , sampai di hapuskan oleh pemerintah Indonesia dengan lahirnya Undang-undang Darurat No.1 tahun 1951 yang mengatur susunan dan kekuasaan pengadilan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;KESIMPULAN&lt;/b&gt;.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dari pemaparan di atas dapatlah disimpulkan bahwa sistem peradilan adat di Indonesia dapat di rinci jadi 3 macam pembahasan yang di atas telah di uraikan secara lengkap, namun perlu di ketahui bahwa pada zaman hindia belanda dahulu terdapat bermacam-macam badan peradilan yang mempunyai wewenang mengadili perkara adat atau pelanggaran terhadap hukum adat.tidak terdapat dualisme peradilan, bahkan dapat di katakan pluralisme dalam sistem peradilan.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;
1. Prof. Bushar Muhammad, S.H. “Asas-asas hukum adat “ suatu pengantar. PT. prandnya para mita .jakarta.&lt;br /&gt;
2. Surojo Wignjodipuro,S.H. “Pengantar &amp;amp; asas-asa hukum adat" Gunung agung-jakarta 1983&lt;br /&gt;
3. H.A.M Effendi, SH,."Pengantar hukum adat" 1988.&lt;br /&gt;
4. C. can Vollenhoven, Prof. Mr. “Het Adatrecht van Nederland Indie”. 1925.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>https://aturhukum.blogspot.com/2015/06/sistem-peradilan-adat-di-indonesia.html</link><author>noreply@blogger.com (perisai demokrasi bangsa)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4241382318909498899.post-9179407781032951718</guid><pubDate>Sun, 22 Mar 2015 09:07:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-03-22T16:07:15.518+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Hukum Pidana</category><title>Pengertian Hukum Pidana dan Sejarah Hukum</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Pengertian Hukum Pidana&lt;/b&gt; &lt;i&gt;&lt;b&gt;( Criminal Law )&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; - Hukum Pidana adalah suatu &lt;a href="http://www.aturhukum.com/2015/03/hukum-pidana-hukum-adalah-perintah.html" target="_blank"&gt;perbuatan hukum&lt;/a&gt; yang berkaitan dengan kejahatan, hal ini mengatur tentang perilaku sosial dan menentukan segala hal yang mengancam dan membahayakan keselamatan dan kesejahteraan manusia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam hal ini &lt;i&gt;&lt;b&gt;Prof. Moeljatno&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; sebagai salah satu pakar hukum pidana memberikan 3 aspek sebagai dasar dalam hukum pidana, yakni:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Hukum pidana (Criminal Law) menentukan perbuatan yang mana boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan dimana perbuatan tersebut akan menimbulkan ancaman atau sanksi yang berupa pidana bagi yang melanggar.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Menentukan kapan dan dalam keadaan bagaimana mereka telah melanggar larangan oleh karenanya dapat dikenakan pidana sebagaimana yang telah dicantumkan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;menentukan dengan cara bagaimana tindak pidana dapat dilaksanakan apabila orang yang disangka telah melanggar suatu larangan.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;Sudarso&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; menambahkan bahwasanya prinsip hukum pidana ialah mengatur tentang kejahatan dan planggaran terhadap kepentingan umum dan perbuatan tersebut diancam dengan pidana yang merupakan suatu penderitaan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Sejarah Hukum Pidana&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;div&gt;
Pada awalnya hukum tidak membedakan antara hukum pidana dengan hukum perdata, hukum pertama kali ditulis oleh bangsa sumeria (Ur-Nammu) sekitar 2100-2050 Sebelum Masehi. Raja Sumeria pada saat itu menemukan kode hukum tertua Ur-Nammu dan memberlakukan pada masa pemerintahannya, walapun terdapat kode sebelumnya Urukagina Lagash (2380-2360 SM) juga diketahui telah ada.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Kemudian kode awal yang terpenting adalah kode Hammurabi dimana kode tersebut membentuk intisari dari Babel dan dikatakan sebagai fagmen hukum pidana awal yunani kuno yang selamat yang dibawa bangsa Solon dan Draco.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Kode Hammurabi abad 18 SM di Babilonia saat itu terdapat 25 jenis pidana kejahatan yang diancam hukuman mati, kemudian ketika zaman romawi hukum ditungkan dalam Corpus Luris Civil yang berlaku hingga seribu tahun hingga bangsa romawi menyebar sampai daratan eropa sehingga hukum tersebut dapat diterima (resepsi) sebagai hukum romawi.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Ketika mulai abda pertengahan banyak kalangan pemikir mulai belajar ke eropa barat dan utara dimana terdapat sekolah di italia dan perancis selatan yang mana merupakan pusat kebudayaan eropa.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Salah satu negara di Eropa yang meresepsi hukum Romawi adalah Perancis karena dalam sejarahnya Perancis pernah ditaklukan oleh Caesar.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Pada abad ke-6 Masehi mulai timbullah perubahan dimana bangsa Germania memasuki Gallia. Mula-mula bangsa Wetsgota yang menduduki barat daya Gallia. dibawah pimpinan raja Eurich mereka memperluas daerah hingga Provence dan Auvergene yang sebagian besar dari bangsa Spanyol. Setelah itu datanglah bangsa Bourgundi yang menduduki Wetsgota (Savoye) kemudian memperluas kerajaah kearah selatan.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Kemudian bangsa Salis Franka dibawah Clovis mengalahkan daerah sebelah utara sungai Loire dan dibawah para penggantinya, mengalahkan juga daerah bangsa Bourgundi dan Westgota (kecuali Languedoc) yang dimasukkan ke dalam daerah kerajaan Perancis.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
pada tanggal 12 Agustus 1800 Caesar Napoleon &amp;nbsp;membentuk panitia yang terdiri Portalis, Trochet, Bigot de Preameneu dan Malleville yang ditugaskan untuk membuat rancangan kodifikasi. Sumber kodifikasi adalah&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Hukum Romawi menurut Peradilan Perancis&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tafsir hukum yang dibuat oleh Potier dan Domat,&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Hukum kebiasaan daerah Paris (Coutame de Paris),&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Peraturan perundangan yang disebut ordonansi dan hukum yang dibuat pada waktu Revolusi Perancis &lt;i&gt;(hukum Intermedier atau hukum sementara waktu)&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Hasil kodifikasi ini kemudian diumumkan 21 Maret 1804 dan pada tahun 1807 diundangkan menjadi Code Napoleon. Pada tahun 1791 setelah revolusi Perancis terbentuk Code Penal yang pertama yang dalam banyak hal dipengaruhi oleh jalan pikirannya Beccaria. Kemudian tahun 1810 terdapat perubahan Code Penal yang banyak dipengaruhi oleh ajaran utilist Inggris yang bernama Bentham dimana hukumannya bertujuan untuk menakut-nakuti itu terlihat dalam ancaman pidananya.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Di Belanda pada tahun 1795 mulai ada gerakan untuk membuat perundang-undangan hukum pidana dan baru terwujut tahun 1809 yang dikenal dengan &lt;i&gt;CRIMINEEL WETBOEK VOOR HET KONINGKRIJK HOLLAND&lt;/i&gt; pada masa pemerintahan &lt;i&gt;LODEWIJK NAPOLEON&lt;/i&gt;, buku ini merupakan kodifikasi umum yang pertama yang bersifat Nasional.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Hingga pada tahun 1881 hukum pidana nasional Belanda terwujud dan mulai berlaku pada tahun 1886, yang bernama &lt;i&gt;“WETBOEK VAN STRAFRECHT”&lt;/i&gt; sebagai pengganti Code Penal warisan dari Napoleon&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;---------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Referensi :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;[1]&amp;nbsp;http://en.wikipedia.org/wiki/Criminal_law&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;[2] Buku bacaan dan mendengar cerita dosen ketika kuliah&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Selamat Membaca, Semoga Bermanfaat.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>https://aturhukum.blogspot.com/2015/03/pengertian-hukum-pidana-dan-sejarah.html</link><author>noreply@blogger.com (perisai demokrasi bangsa)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4241382318909498899.post-3085331336315993684</guid><pubDate>Sun, 22 Mar 2015 05:47:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-03-22T14:43:29.732+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Hukum Pidana</category><title>Hukum Pidana ; Hukum adalah Perintah</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hukum Pidana&lt;i&gt; ( Criminal Law )&lt;/i&gt; - Menyangkut dalam segala hal tentang perbuatan manusia untuk memenuhi kebutuhannya, tentu tidak terlepas dari sisi hukum atau dapat dikatakan sebagai perbuatan hukum. dimana suatu perbuatan hukum harus dilakukan oleh subyek hukum yang kemudian diatur oleh hukum.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hukum pidana merupakan bagian lain dari hukum yang tentunya berbeda dengan hukum sipil / masyarakat, dimana hukum pidana memiliki karakter yang khas sebagai perintah (isi perintah) yang semua itu dirumuskan dalam perundang-undangan. Hal tersebut tentunya berkaitan erat dengan ajaran pertanggungjawaban hukum &lt;i&gt;(toerekeningsvaatbaarheid)&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mulai dari sini saya akan review mengenai perbuatan hukum dengan bukan perbuatan hukum. dari beberapa pendapat para ahli hukum, perbuatan hukum adalah "setiap perbuatan subyek hukum yang akibatnya diatur oleh byek hukum, karena akibat itu bisa dianggap sebagai kehendak dari yang melakukan hukum &lt;i&gt;&lt;b&gt;(R. Soeroso)&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sedangkan menurut &lt;i&gt;&lt;b&gt;Sudarsono&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; menjelaskan perbuatan hukum adalah setiap perbuatan yang akibatnya diatur oleh hukum, karena akibat itu boleh dianggap menjadi kehendak dari yang melakukan perbuatan itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
dari kedua ahli hukum tersebut dapat disimpulkan bahwa &lt;b&gt;perbuatan hukum&lt;/b&gt; ialah &lt;i&gt;suatu perbuatan yang dilakukan oleh subyek hukum yang mana dapat menimbulkan suatu akibat hukum bagi yang melakukannya.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sebagaimana yang telah dijelaskan diatas tentang perbuatan hukum dimana mengharuskan adanya unsur khendak maka dari itu yang dimanakan &lt;b&gt;bukan perbuatan hukum&lt;/b&gt; adalah s&lt;i&gt;etiap perbuatan yang akibatnya tidak dikehendaki oleh yang melakukannya.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bukan Perbuatan Hukum dapat dibedakan menjadi 2 kelompok :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Perbuatan Hukum yang tidak dilarang oleh hukum.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Perbuatan Melawan Hukum &lt;i&gt;(Onrechmatige Daad) : Suatu perbuatan yang bertentangan dan melawan hukum akibat hukum yang timbul tetap yang diatur dalam peraturan hukum.&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div&gt;
Kemudian perbuatan hukum yang tidak dilarang hukum terbagi atas :&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
a. Zaakwaarneming&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
b. Onverschuldigde betaling&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dari penjelasan tersebut dapat diartikan bahwa segala sesuatu yang kita kerjakan pasti akan timbul suatu akibat hukum, sedangkan hukum itu sendiri adalah suatu perintah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Semota bermanfaat. &amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Baca Juga : Pengertian Hukum Pidana dan Sejarah&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>https://aturhukum.blogspot.com/2015/03/hukum-pidana-hukum-adalah-perintah.html</link><author>noreply@blogger.com (perisai demokrasi bangsa)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4241382318909498899.post-647879763317131672</guid><pubDate>Sat, 21 Mar 2015 09:55:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-03-21T16:55:34.420+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Teori Hukum</category><title>Istilah umum dalam Mempelajari Ilmu Hukum</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Istilah Ilmu Hukum - Setiap orang yang belajar ilmu hukum dalam perjalanan awal tentunya harus mengetahui banyak sekali istilah yang belum familiar didalam kehidupan masyarakat. karena setiap lahirnya sebuah teori hukum tentunya terdapat sebuah istilah baru, guna memberi identtitas yang memiliki makna.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Untuk itu beberapa istilah yang wajib diketahui bagi yang mempelajari ilmu hukum :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;A. Subyek Hukum (subjectum Juris)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setiap manusia baik Warga Negara Indonesia maupun Warga Negara Asing dengan tidak memandang ras, suku, agama semua bisa dijadikan sebagai subyek hukum.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Namun dalam hal ini para ahli hukum memiliki pendapat tersendiri terhadap subyek hukum. Menurut R. Soeroso Subyek hukum adalah :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Suatu yang menurut hukum berhak/wewenang untuk melakukan perbuatan hukum atau siapa yang mempunyai hak dan cakap untuk bertindak dalam hukum.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Sesuatu pendukung hak yang menurut hukum berwenang / berkuasa bertindak menjadi pendukung hak (reshtsbevoegd heid)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;segala sesuatu yang menurut hukum mempunya hak dan kewajiban. [1]&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Selanjutnya subyek hukum dapat dijadikan menjadi dua macam apabila di lihat dari hakikat dan keterikatan hukum, yakni : &lt;span style="background-color: #cccccc;"&gt;Manusia&lt;/span&gt; &lt;i&gt;(natuurlijke peroon)&lt;/i&gt; dan &lt;span style="background-color: #cccccc;"&gt;Badan Hukum&lt;/span&gt; &lt;i&gt;(rechts Persoon)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;B. Lembaga Hukum (Law Istitution)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lembaga hukum adalah lembaga yang digunakan oleh warga masyarakat untuk menyelesaikan sengketa yang tibul diantara para warga dan merupakan alat untuk tindakan balasan bagi setiap penyalahgunaan yang mencolok dan dari aturan yang ada pada lembaga lain dalam masyarakat.[2]&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bila masih bingung dalam memahami istilah diatas dalam bahasa mudahnya adalah badan-badan penegak hukum seperti : Kepolisian , Kejaksaan, Pengadilan, Lembaga Permasyarakatan (penjara) dan Lembaga Advokat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;C. Obyek Hukum&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Obyek hukum adalah segala sesuatu yang berguna bagi subyek hukum (orang/manusia dan badan hukum) yang dapat menjadikan pokok/ obyek suatu hubungan hukum, karena hal itu dapat dikuasai oleh subyek hukum,&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam bahasa keseharian obyek hukum adalah benda yang bisa dimiliki yang terdapat dalam [pasal 449 KUHPer]. contoh : Pak Marzuki memiliki sebidang tanah untuk dijual, Nah, sebidang tanah tersebut adalah obyek hukum dimana tanah adalah benda atau zat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;D. Asas Hukum&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Asas Hukum adalah suatu prinsip yang dianggap dasar atau fundamental hukum.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;E. Peristiwa Hukum&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Peristiwa hukum adalah semua peristiwa atau kejadian yang dapat menumbulkan akibat hukum, antara pihak yang mempunyai hubungan hukum. [3]&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;F. Hak dan Kewajiban&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hak adalah kewenangan yang diberikan oleh hukum obyektif kepada subyek hukum, dan kewajiban adalah beban yang diberikan oleh hukum kepada orang ataupun badan hukum, seperti kewajiban pengusaha yang berbadan hukum untuk membayar pajak penghasilan.[4]&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;G. Hubungan Hukum&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hubungan hukum adalah hubungan yang terjadi antara dua subyek hukum atau lebih dimana hak dan kewajiban di satu pihak berhadapan dengan hak dan kewajiban di pihak lain.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;H. Akibat Hukum&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Akibat Hukum adalah akibat yang ditimbulkan oleh peristiwa hukum atau suatu akibat yang ditimbulkan oleh adanya suatu hubungan hukum.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;I. Kodifikasi Hukum&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kodifikasi hukum ialah pengumpulan berbagai peraturan perundang-undangan mengenai suatu materi tertentu dalam suatu buku yang sistematis dan teratur, atau pembukuan secara teratur dan sistematis daripada berbagai peraturan hukum yang mengenai suatu materi tertentu. &lt;i&gt;(Surojo Wignjodiputro)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;--------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Fotenote:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;[1] R.Soeroso, Pengantar Ilmu Hukum, (jakarta: Sinar Grafika, 1993), hlm. 228&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;[2] Ihromi, Antropologi dan Hukum (jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1984) hlm. 57&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;[3] Soedjono, Pengantar Ilmu Hukum (jakarta: Raja Grafindo Persasda, 1994) hlm. 128&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;[4] J.B. Daliyo dkk, Pengantar ilmu hukum dan buku panduan mahasiswa (jakarta : Gramedia pustaka utama, 1994) hal32 dan 34.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>https://aturhukum.blogspot.com/2015/03/istilah-umum-dalam-mempelajari-ilmu.html</link><author>noreply@blogger.com (perisai demokrasi bangsa)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4241382318909498899.post-890794596390115760</guid><pubDate>Sat, 21 Mar 2015 06:49:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-03-21T13:49:40.040+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Teori Hukum</category><title>Pengertian Hukum dalam sebuah Teori</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pengertian Hukum - Membahas mengenai hukum tentunya banyak orang yang berfikir bahwa hukum adalah pesakitan atau sebuah tindakan mengadili terhadap orang yang bersalah, Namun dalam hal teori sangatlah berbeda karena penciptaan sebuah teori berdasarkan lingkup ruang dan waktu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Untuk itu saya akan memberikan beberapa ulasan mengenai pengertian hukum dalam sebuah teori yang dikutip dari beberapa tokoh ahli hukum, demikian definisi hukum :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Plato&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
Hukum Adalah Sistem peraturan-peraturan yang teratur dan tersusun baik yang mengikat masyarakat&lt;/blockquote&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Aristoteles&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
Hukum hanya sebagai kumpulan peraturan yang tidak hanya mengikat masyarakat tetapi juga hakim.&lt;/blockquote&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Austin&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
Hukum adalah peraturan yang diadakan untuk memberi bimbingankepada mahluk yang berakal oleh mahluk yang berakal yang berkuasa atasnya.&amp;nbsp;&lt;/blockquote&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Bellfroid&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
Hukum yang berlaku disuatu masyarakat mengatur tatatertib masyarakat itu didasar atas kekuasaan yang ada pada masyarakat.&amp;nbsp;&lt;/blockquote&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;E.M,. Meyers&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
Hukum adalah semua peraturan yang mengandung pertimbangan kesusilaan ditunjukkan pada tingkah laku manusia dan masyarakat dan menjadi pedoman penguasa negara dalam melakukan tugasnya.&lt;/blockquote&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Duguit&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
Hukum adalah aturan tingkah laku para anggota masyarakat, aturan yang daya penggunaannya pada saat tertentu di indahkan oleh suatu masyarakat sebagai jaminan dari kepantingan bersama terhadap orang yang melanggar peraturan itu.&lt;/blockquote&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Immanuel Kant&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
Hukum adalah keseluruhan syarat yang dengan ini kehendak bebas dari orang yang satu dapat menyesuaikan dengan kehendak bebas dari orang lain memenuhi peraturan hukum tentang kemerdekaan.&lt;/blockquote&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Van Kant&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
Hukum adalah serumpun peraturan yang bersifat memaksa yang diadakan untuk mengatur dan melindungai kepentingan orang dalam masyarakat.&lt;/blockquote&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Van Apeldoorn&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
Hukum adalah suatu gejala sosial ; tidak ada masyarakat yang tidak mengenal hukum maka hukum itu menjadi suatu aspek dari kebudayaan, seperti : Agama, kesusilaan, adat istiadat, dan kebiasaan.&lt;/blockquote&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;A.M Amin&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
Hukum adalah kumpulan peraturan yang terdiri atas norma dan sanksi-sanki.&lt;/blockquote&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;E. Utrecht&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
Hukum adalah himpunan petunjuk hidup (perintah dan larangan) yang mengatur tatatertib dalam suatu masyarakat, dan seharusnya ditaati oleh seluruh anggota masyarakat yang bersangkutan. oleh karena itu, pelanggaran petunjuk hidup tersebut dapat menimbulkan tindakan oleh pemerintah atau penguasa itu.&lt;/blockquote&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;M.H. Tirtaamidjata&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
Hukum adalah semua aturan (norma) yang harus diturut dalam tingkah laku dan tindakan dalam pergaulan hidup dengan ancaman mesti mengganti kerugian jika melanggar aturan itu yang akan membahayakan diri sendiri atau harta, umpamanya orang akan kehilangan kemerdekaannya, didenda dan sebagainya.&lt;/blockquote&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;J.T.C. Simorangkir dan Woerjono Sastropranoto&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
Hukum ialah peraturan yang bersifat memaksa, yang menentukan tingkah laku manusia dalam lingkungan masyarakat, yang dibuat oleh badan resmi yang berwajib, pelanggaran mana terhadap peraturan tadi berakibat diambilnya tindakan, yaitu hukuman. [1]&lt;/blockquote&gt;
&lt;br /&gt;
Dari beberapa teori tersebut kemudan menjadikan suatu bentuk disiplin ilmu, yakni Ilmu Hukum.&lt;br /&gt;
sikilas tentang ilmu hukum :&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
ilmu hukum mencangkum dan menbicarakan segala hal yang berhubungan dengan hukum. demikian luasnya masalah yang dicangkup ilmu hukum ini, sehingga sempat memancing pendapat orang untuk mengatakan bahwa "batas-batasnya tidak bisa ditentukan" &lt;i&gt;(Curzon, 1979 :v) Jurisprudence [2]&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Fotenote :&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;[1] Lemaire dalam Pipin Syarifin, Pengantar Ilmu Hukum (Bandung : Pustaka Setia, 1998) hlm. 22-24, Baca juga : IShaq, S.H. M,Hum, dasar-dasar ilmu hukum (Jakarta : Sinar Grafika 2008) hlm. 2-3&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;[2] Satjipto Raharjo, Ilmu Hukum Cet. ke-6 (Bandung : Citra Aditya Bakti 2006) hal. 3&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>https://aturhukum.blogspot.com/2015/03/pengertian-hukum-dalam-sebuah-teori.html</link><author>noreply@blogger.com (perisai demokrasi bangsa)</author><thr:total>0</thr:total></item></channel></rss>