<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>Avita Research</title><description>Biologiku Biologimu Biologi Kita </description><managingEditor>noreply@blogger.com (Anonymous)</managingEditor><pubDate>Fri, 8 Nov 2024 06:52:11 -0800</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">94</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>http://avita1.blogspot.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Biologiku Biologimu Biologi Kita </itunes:subtitle><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><title>KARDIOVASKULAR</title><link>http://avita1.blogspot.com/2012/12/kardiovaskular.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Fri, 21 Dec 2012 00:20:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3128191752653746636.post-5629754035580631767</guid><description>&lt;h3 class="post-title entry-title" itemprop="name" style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;  &lt;b&gt;Kardiovaskular&lt;/b&gt;&lt;/h3&gt;
&lt;div class="post-header" style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="post-body entry-content" id="post-body-3419255044201081068" itemprop="description articleBody" style="text-align: justify;"&gt;
Kata kardiovaskular berasal dari awalan cardi(o) yaitu bentuk gabung 
yang menunjukkan hubungan dengan jantung atau dengan orificium cardiac 
atau bagian lambung dan kata vascular yang berarti berkenaan dengan 
pembuluh, khususnya pembuluh darah; disebut juga vassal, atau berarti 
yang mempunyai pasokan darah yang kaya.&lt;/div&gt;
&lt;div class="post-body entry-content" id="post-body-3419255044201081068" itemprop="description articleBody" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;            Sistem 
kardiovaskuler sering disebut sebagai sistem vaskuler darah. Sistem 
vaskuler darah ini berfungsi untuk menyebarkan oksigen, bahan nutrisi, 
antibody dan hormon ke seluruh jaringan tubuh serta mengumpulkan karbon 
dioksida dan produk limbah metabolik lain untuk dikeluarkan melalui 
organ ekskretoris.&lt;/div&gt;
&lt;div class="post-body entry-content" id="post-body-3419255044201081068" itemprop="description articleBody" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Sistem vaskuler darah terdiri dari jantung (cor) 
sebagai pompa berotot dan dua sistem pembuluh. Sistem pembuluh ini 
terdiri dari sirkulasi pulmoner, membawa darah ke dan dari paru-paru; 
dan sirkulasi sistemik (sirkulasi perifer), membagi darah ke jaringan 
dan organ tubuh yang lain. Pada keduanya, darah yang dipompa dari 
jantung berturut-turut melalui arteri besar, arteri dengan diameter 
makin kecil, sampai pada jaringan kapiler, kemudian kembali ke jantung 
melalui vena kecil, kemudian ke vena dengan diameter makin besar.&lt;br /&gt;Pada
 beberapa organ tubuh anyaman kapiler darah debarengi oleh anyaman 
kapiler limfe. Peredaran limfe melalui pembuluh limfe yang menampung 
limfe dari celah-celah jaringan kemudian diangkut menuju jantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ARTERI&lt;br /&gt;
            Darah diangkut dari jantung ke kapiler dalam jaringan oleh 
arteri. Susunan dasar dinding semua arteri serupa karena memiliki tiga 
lapis konsentris yaitu:&lt;br /&gt;Tunica intima, lapis dalam, berupa tabung endotel terdiri atas sel-sel gepeng dengan sumbu panjang teroriantasi memanjang.&lt;br /&gt;Tunica
 media, lapis tengah, terutama terdiri atas sel-sel otot polos yang 
teroriantasi melingkar. Tunica media merupakan lapisan yang paling tebal
 sehingga menentukan karakter arteri.&lt;br /&gt;Tunica adventitia, lapis luar, 
terdiri atas fibroblas dan serat kolagen terkait, yang sebagian besar 
terorientasi memanjang. Tunica adventitia berangsur menyatu dengan 
jaringan ikat longgar sekitar pembuluh.&lt;br /&gt;Antara tunica intima dan 
tunica media dibatasi oleh membrana elastica interna (lamina elastica 
interna) yang terutama berkembang baik pada arteri sedang. Sedangkan 
antara tunica media dan tunica adventitia dibatasi oleh membrana 
elastica externa (lamina elastica externa) yang lebih tipis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam
 perjalanannya arteri bercabang-cabang dan ukurannya semakin kecil. 
Berdasarkan ukurannya, komponen pembentuk dinding dan fungsi arteri 
dibedakan menjadi:&lt;br /&gt;Arteri besar, arteri elastis, arteri konduksi, atau arteri penghubung.&lt;br /&gt;Arteri sedang, arteri muscular, atau arteri distribusi.&lt;br /&gt;Arteri kecil atau arteriol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arteri Besar&lt;br /&gt;Arteri
 besar contohnya yaitu arteri pulmoner dan aorta, brakiosefalik, arteri 
subclavia, arteri carotis communis, dan iliaca communis. Arteri besar 
memiliki dinding dengan banyak lapis elastin berfenestra (bertingkap) 
pada tunica medianya. Dindingnya tampak kuning dalam keadaan segar 
akibat banyanya elastin. Pembuluh konduksi utama ini direnggangkan 
selama jantung berkontraksi (sistol), dan penguncupan akibat kelenturan 
dindingnya selama diastol berfungsi sebagai pompa tambahan untuk 
mempertahankan aliran agar tetap meskipun jantung berhenti berdenyut 
sesaat. Dindingnya sangat kuat, tetapi kalau dibandingkan dengan 
besarnya relatif lebih tipis dari arteri sedang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunica intima&lt;br /&gt;
            Pada orang dewasa tebalnya sekitar 127 mikron. Tunica intima
 ini terdiri atas endotel yang berbentuk polygonal, dengan panjang 25-50
 mm dan lebar 10-15 mm, sumbu panjangnya terorientasi memanjang. Di 
bawah sel-sel endotel ini terdapat anyaman serabut-serabut kolagen 
dengan sel-sel otot polos berbentuk kumparan. Lebih ke dalam, terdapat 
banyak serabut-serabut elastis yang bercabang saling berhubungan. Di 
antaranya terdapat beberapa serabut kolagen, fibroblas, dan 
berkas-berkas kecil otot polos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunica media&lt;br /&gt;            
Terdiri atas banyak serabut elastin konsentris dengan fenestra yang 
berselang-seling dengan lapis tipis terdiri atas sel-sel otot polos 
terorientasi melingkar, dan serat-serat kolagen elastin dalam 
proteoglikan matriks ekstrasel. Ketebalannya sekitar 2-5m. Karena 
banyaknya elastin dalam arteri besar, maka otot polos relatif sedikit 
pada tunica media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunica adventitia&lt;br /&gt;            Relatif tipis dan terdiri atas fibroblas, berkas memanjang serat kolagen, dan anyaman longgar serat elastin halus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
            Dinding arteri besar terlalu tebal sehingga memiliki 
microvaskulator sendiri yang disebut vasa vasorum, untuk mendapat 
nutrisi dari lumen. Vasa vasorum tersebar di permukaan pembuluh 
membentuk anyaman dalam tunica adventitia dari mana kapiler-kapiler 
menerobos sampai ke dalam tunica media. Untuk lapisan dalam yang tidak 
tercakup oleh kapiler tersebut, nutrisi diterima langsung secara difusi 
dari lumen. Akibat kondisi-kondisi tersebut maka dinding arteri lebih 
mudah mengalami degenerasi dibandingkan jaringan lain dalam tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arteri Sedang&lt;br /&gt;Arteri
 sedang ini merupakan arteri yang paling banyak dari sistem arteri. 
Mencakup arteri branchial, arteri femoral, arteri radial, dan arteri 
poplitea dan cabang-cabangnya. Ukuran cabangnya sampai sekecil 0,5 mm. 
Bersifat kurang elastin dan lebih banyak otot polosnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunica intima&lt;br /&gt;
            Tunica intimanya lebih tipis daripada arteri besar namun 
sama susunannya. Umumnya dikatakan endotel menempel langsung pada 
membrana elastica interna. Pada percabangan arteri coronaria terdapat 
penebalan tunica intima yang disebut “musculo elastic cushion”. Dalam 
tunica intima terdapat monosit yang dapat berubah menjadi fibroblas atau
 makrofag.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunica media&lt;br /&gt;            Membrana elastica 
interna tampak berkelok-kelok karena kontraksinya otot-otot polos di 
tunica media sebelum pembuatan sediaan. Terdiri atas lapisan otot polos 
yang tersusun konsentris. Di sebelah luar terdapat membrana elastica 
eksterna yang lebih tipis dari membrana elastica interna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunica adventitia&lt;br /&gt;            Terkadang lebih tebal dari tunica media dan mengandung fibroblas, berkas-berkas kolagen yang tersusun memanjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arteri kecil&lt;br /&gt;Arteri
 kecil atau arteriol merupakan segmen sirkulasi yang secara fisiologis 
penting karena merupakan unsure utama tahanan perifer terhadap aliran 
yang mengatur tekanan darah. Mempunyai diameter antara 200 mm sampai 40 
mm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunica intima&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdiri atas endotel utuh yang menempel 
langsung pada membrana elastica interna dan lapis subendotel ysng sangat
 tipis terdiri atas serat retikuler dan elastin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunica media&lt;br /&gt;
            Terdiri atas susunan sel-sel otot polos yang konsentris. 
Pada arteriol yang besar kadang-kadang terdapat membrana elastica 
eksterna tipis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunica adventitia&lt;br /&gt;            Merupakan 
lapisan yang sangat tipis. Tersusun dari serat kolagen dan sedikit 
fibroblas. Pada pembuluh daerah peralihan antara arteriol dan kapiler 
disebut metarteriol, otot polos tidak membentuk lapis utuh, namun 
sel-sel otot polos, yang melingkari tabung endotel seluruhnya, terpisah 
satu dari lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk peralihan dan tipe khusus arteri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arteri sedang dengan struktur dinding arteri besar&lt;br /&gt;•        Arteri poplitea: lanjutan ke distal dari arteri femoralis&lt;br /&gt;•        Arteri tibialis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arteri besar dengan struktur arteri tipe muscular (sedang)&lt;br /&gt;•        Arteri iliaca externa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daerah peralihan antara arteri elastis dan muscular kadang-kadang disebut arteri tipe campuran&lt;br /&gt;•        Arteri carotis eksterna&lt;br /&gt;•        Arteri axillaries&lt;br /&gt;•        Arteri iliaca communis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arteri
 tipe elastis atau arteri tipe campuran yang tiba-tiba menjadi arteri 
tipe muscular dan terjadilah daerah peralihan pendek. Daerah ini disebut
 arteri tipe hybrid. Dindingnya memiliki tunica media yang terdiri atas 
dua lapisan, sebelah dalam muscular dan sebelah luar elastis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•        Arteri visceralis yang mulai dari aorta abdominalis&lt;br /&gt;Arteri yang terdapat pada tengkorak, mempunyai membrana elastica interna tebal&lt;br /&gt;Arteri
 umbilicalis, tunica intima hanya terdiri dari endotel sedangkan 
membrana elastica interna tidak ada. Tunica media mengandung sadikit 
serabut elastis dan dua lapisan tebal serabut-serabut otot polos. 
Lapisan dalam otot berjalan longitudinal dan lapisan luar berjalan 
sirkuler.&lt;br /&gt;VENA&lt;br /&gt;            Setelah melalui anyaman kapiler, darah 
akan menuju jantung melalui vena. Semakin mendekati jantung, pembuluhnya
 akan semakin membesar. Dinding vena lebih tipis dan kurang elastis dari
 pada arteri yang didampinginya sehingga pada sediaan selalu terdapat 
kolaps atau memipih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan ukurannya, vena dibagi menjadi 3 macam, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vena besar&lt;br /&gt;Vena sedang&lt;br /&gt;Vena kecil atau venula&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Vena besar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Golongan vena ini adalah : v. Cava inferior, v. Linealis, v. Portae, v. Messentrica superior,&lt;br /&gt;v. Iliaca externa, v. Renalis, dan v. Azygos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunica Intima&lt;br /&gt;
            Seperti pembuluh darah lainnya, pada sebelah dalamnya 
dilapisi oleh sel-sel endotel. Dalam tunica intima terdapat jaringan 
pengikat dengan serabut-serabut elastis.  Di bagian luar serabut-serabut
 elastis tersebut membentuk anyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunica media&lt;br /&gt;            
Biasanya sangat tipis, kadang tidak ada sama sekali. Kalau ada terdiri 
atas serabut-serabut otot polos sirkuler yang dipisahkan oleh serabut 
kolagen yang memanjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunica adventitia&lt;br /&gt;            
Merupakan jaringan utama dari dinding vena dan tebalnya beberapa kali 
lipat dari tunica medianya. Terdiri atas berkas serabut-serabut otot 
polos yang memanjang dengan anyaman serabut elastis. Selain itu juga 
mengandung jaringan pengikat dengan serabut-serabut kolagen dan elastis 
yang memanjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Vena sedang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Pada 
umumnya vena ini berukuran 2 – 9 mm. Yang termasuk vena ini misalnya : 
v. Subcutanea, v. Visceralis, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunica intima&lt;br /&gt;  
          Sangat tipis, kalau ada strukturnya sama dengan vena besar 
Dengan tunica media dibatasi oleh anyaman serabut elastis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunica media&lt;br /&gt;
            Lebih tipis dibandingkan arteri yang didampinginya. Terdiri 
atas serabut otot polos sirkuler yang dipisahkan oleh serabut kolagen 
yang memanjang dan beberapa fibroblas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunica adventitia&lt;br /&gt;     
       Lebih tebal dari tunica medianya dan merupakan jaringan pengikat 
longgar dengan berkas-berkas serabut kolagen dan anyaman serabut 
elastis. Kadang terdapat serabut otot polos yang longitudinal pada 
perbatasan dengan tunica medianya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Venula&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            
Beberapa kapiler yang bermuara dalam sebuah pembuluh dengan ukuran 15 – 
20 mikron yang disebut venula. Dindingnya terdiri atas selapis sel 
endotil yang diperkuat oleh anyaman serabut retikuler dan fibroblas. 
Venula juga berperan dalam pertukaran zat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tipe Khusus Vena&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
            Pada beberapa vena seperti : v. Iliaca, v. Femoralis, v. 
Poplitea, v. Saphena, v. Cephalica, v. Basalaris, dan v. Umbicalis 
terdapat serabut-serabut otot polos sirkuler atau longitudinal dalam 
jaringan pengikat subendotelial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Pada beberapa bagian
 dari v. Cava inferior tidak memiliki tunica media tetapi 
serabut-serabut otot polos longitudinal pada tunica adventitia sangat 
berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            V. Pulmonalis memiliki otot polos sirkuler dalam tunica medianya sehingga menyerupai struktur arteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Valvula vena&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
            Pada manusia biasanya terdapat sepasang katup yang saling 
berhadapan. Di antara valvula dan dinding vena terdapat ruangan yang 
disebut : sinus valvulae. Valvula ini merupakan jaringan pengikat tipis 
yang ditutupi pada kedua sisinya oleh endotil sebagai lanjutan dinding 
vena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Endotel yang menutup sisi yang menghadap lumen 
teratur memanjang sedang pada sisi yang menghadap dinding teratur 
melintang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa hubungan antara arteri dan vena diantaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui
 kapiler, yang terdapat paling banyak ialah setelah arteriola 
bercabang-cabang menjadi kapiler kemudian ditampung dalam venula yang 
selanjutnya menjadi vena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui sistim portal, anyaman kapiler 
yang kemudian ditampung dalam pembuluh yang strukturnya seperti vena 
kemudian menjadi kapiler lagi sebelum ditampung dalam venula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anastomisis
 arterovenosa, ujung arteriola dihubungkan langsung dengan vena tanpa 
melalui anyaman kapiler. Dinding anastomosis ini biasanya tebal dan 
muskuler dengan banyak syaraf vasomotoris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Glomus, terdapat di 
ujung-ujung jari dan telinga. Terdapat anastomisis arterovenosa yang 
bercabang-cabang dan berkelok-kelok dengan sel-sel otot polos yang 
tersusun epiteloid. Banyak mengandung syaraf simpatis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Carotid body dan aortic body&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
            Carotid body merupakan bangunan kecil yang pipih, terdapat 
pada percabangan a. Carotis communis. Bangunan ini merupakan 
khemoreseptor yang terangsang oleh penurunan kadar O2 atau kenaikan 
kadar CO2 hingga dapat untuk pengaturan pernafasan. Bangunan ini sangat 
vaskuler, terdiri atas susunan sel epiteloid yang pucat ditembusi oleh 
kapiler dengan endotil yang berlubang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Aortic body mempunyai struktur mirip carotid body dan terdapat antara                &lt;br /&gt;a. Subclavia dextra dan a. Carotis dextra dan yang di sebelah kiri dekat pangkal&lt;br /&gt;a. Subclavia sinistra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JANTUNG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
            Jantung merupakan bangunan yang berongga berdinding muskuler
 tebal. Dinding jantung baik atrium dan ventrikulus terdiri atas 3 
lapisan utama yaitu :&lt;br /&gt;Endocardium&lt;br /&gt;Myocardium&lt;br /&gt;Epicardium&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Endocardium&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
            Selain melapisi atrium dan ventriculus, endocardium juga 
melapisi struktur-struktur yang terdapat dalam jantung seperti valvula, 
chorda tendinae, dan m. pipillaris. Ketebalan endocardium berbanding 
terbalik dengan ketebalan myocardium yang dilapisi.&lt;br /&gt;            Endocardium terdiri atas 3 lapis yaitu :&lt;/div&gt;
&lt;div class="post-body entry-content" id="post-body-3419255044201081068" itemprop="description articleBody" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Lapisan
 dalam, ditutupi oleh endotel, terdiri atas jaringan pengikat halus dan 
malanjutkan diri pada tunica intima pembuluh darah yang meninggalkan 
jantung&lt;br /&gt;Lapisan tengah, merupakan lapisan yang paling tebal, terdiri 
atas jaringan pengikat padat yang mengandung banyak serabut elastis dan 
kadang-kadang serabut kolagen yang sejajar dengan permukaan.&lt;br /&gt;Lapisan 
luar, jaringan pengikat yang tidak teratur mengandung pembuluh darah 
Terdapat serabut-serabut otot jantung khusus yang disebut serabut 
Purkinye yang termasuk sistim konduksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Myocardium&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       
     Myocardium atrium lebih tipis dari ventriculus. Berkas-berkas 
serabut otot jantung yang merupakan sisa-sisa semasa embrio diketemukan 
sebagai tonjolan-tonjolan di permukaan dalam sebagai trabeculae carneae.
 Serabut elastis di antara serabut otot jantung terdapat di dinding 
ventriculus, sedang di dinding atrium terdapat lebih banyak serabut 
elastisnya. Jaringan pengikat di antara berkas-berkas otot jantung 
banyak mengandung serabut retikuler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Epicardium&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          
  Jantung terdapat dalam sebuah kantung lembaran jaringan pengikat yang 
disebut pericardium. Pericardium tersebut terdiri atas 2 bagian yaitu :&lt;br /&gt;Lamina
 visceralis yang langsung menempel pada myocardium disebut pula 
epicardium. Pada permukaan bebasnya ditutupi oleh sel-sel mesotil dan 
dibawahnya terdapat jaringan pengikat tipis yang mengandung serabut 
elastis, pembuluh darah dan serabut saraf.&lt;br /&gt;Lamina parietalis, 
berbentuk sebagai membrana serosa yang terdiri atas jaringan pengikat 
tipis mengandung serabut elastis, kolagen, fibroblas dan makrofag.&lt;br /&gt;Kedua lembaran pericardium ini saling berhubungan membatasi ruangan yang sempit disebut cavum pericardii.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rangka Jantung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
            Untuk tempat pelekatan valvula dan otot-otot jantung 
terdapat bangunan jaringan pengikat padat yang disebut rangka jantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
            Bagian-bagian utama : trigonum, fibrosum, annulus, fibrosus 
yang melingkari lubang antara atrium dan ventriculus, dan septum 
memranaceum.&lt;br /&gt;Katup Jantung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Tiap valvula 
atrioventricularis merupakan lembaran jaringan pengikat yang berpangkal 
pada annulus fibrosus. Pada kedua permukaan katup dilapisi oleh 
endocardium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Pada tepi valvula banyak sekali 
perlekatan berkas serabut-serabut kolagen yang ditutup oleh endocardium 
tipis dan berpangkal pada ujung m. pipillaris yang dinamakan chordar 
endinea&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem Konduksi Jantung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Impuls yang 
berpangkal dari nodus sino auricularis (merupakan pace maker jantung) 
akan menggiatkan otot atrium kemudian disebarkan sampai nodus 
atrioventricularis. Lalu diteruskan oleh berkas-berkas otot jantung 
khusus ke otot-otot jantung di ventrikulus dan menyebar ke seluruh 
bagian ventriculus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Serabut otot jantung khusus ini 
merupakan suatu sistim konduksi dan disebut serabut Purkinje yang 
terlihat mirip otot jantung dengan inti di tengah dan terlihat adanya 
garis-garis melintang. Perbadaannya adalah pada serabut Purkinje yang 
lebih besar dan myofibril terdesak ke tepi. Bagian tengah diisi oleh 
glikogen dan terlihat pula desmosom dan tight junction di antara sel-sel
 yang berdekatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMBULUH LIMFE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Pembuluh 
limfe yang terkecil disebut kapiler limfe yang dimulai dengan ujung 
buntu untuk menampung cairan limfe dari selah-selah jaringan. 
Kapiler-kapiler ini bersatu menjadi pembuluh yang lebih besar dan 
akhirnya  pembuluh yang terbesar akan bermuara di vena. Aliran limfe 
tidak merupakan peredaran tertutup. Berhubungan dengan sistim peredaran 
limfe ini ialah: ruangan-ruangan serosa, celah-celah di sekitar selaput 
otak, ruangan dalam mata, spatium Tenoni di sekitar bola mata, ruangan 
auris interna, ventriculi, dan canalis dalam SSP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapiler Limfe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
            Kapiler limfe berdinding tipis dengan kapiler lebih besar 
dari kapiler darah. Biasanya anyaman kapiler limfe berada bersama dengan
 anyaman kapiker darah.&lt;br /&gt;            Kapiler limfe mulai dengan ujung 
buntu yang berbentuk bulat. Terlihat dalam membrana mucosa intestinum 
sebagai “central lacteal” yang terdapat di villus intestinalis.&lt;br /&gt;     
       Dinding kapiler limfe dibentuk oleh selapis sel endotil. Kapiler 
limfe tidak diperkuat oeh sel lain seperti perisit pada kapiler darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembuluh Limfe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Beberapa kapiler limfe akan berkumpul dalam pembuluh limfe yang lebih besar dengan dinding yang lebih tebal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunica intima&lt;br /&gt;            Terdiri atas el-sel endotel dengan di bawahnya selapis tipis anyaman serabut elastis yang berjalan longitudinal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunica media&lt;br /&gt;            Terdiri atas sel-sel otot polos yang berjalan sirkuler dengan beberapa serabut elastis. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Tunica adventitia&lt;br /&gt;
            Merupakan lapisan dinding yang paing tebal, terdiri atas 
anyaman serabut-serabut kolagen dan elastis dan berkas-berkas otot 
polos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ductus thoracicus dan pembuluh limfe besar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        
    Semakin mendekati jantung, pembuluh limfe akan bertambah besar 
begitu pula dindingnya. Kesemua pembuluh limfeakan bermuara dalam 2 buah
 pembuluh limfe utama ialah :  ductus lymphaticus dexter dan ductus 
thoracicus&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;Ductus lymphaticus dexter lebih kecil dan 
menampung limfe dari bagian atas tubuh sebelah kanan dan biasanya 
bermuara pada vena anonyoma dextra pada persatuan v. Jugularis interna 
dan v. subclavia dextra.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;Ductus thoracicus akan 
menampung limfe dari bagian tubuh yang belum tertampung oleh ductus 
lymphaticus dexter. Pembuluh tersebut bermuara pada pertemuan v. 
jugularis interna sinistra dan v. subclavia sinistra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunica intima&lt;br /&gt;
            Dilapisi sel-sel endotil terdiri atas beberapa lapis serabut
 kolagen dan elastis. Tampak kondensasi serabut elastis membentuk batas 
mirip membrana elastica interna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunica media&lt;br /&gt;            Tebal dengan serabut-serabut otot polosnya dan lapisan-lapisan dinding yang tidak begitu jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunica adventitia&lt;br /&gt;
            Tersusun oleh serabut-serabut kolagen dan elastis yang 
memanjang dengan beberapa serabut otot polos yang memanjang pula. 
Dinding pembuluh limfe besar dilengkapi dengan pembuluh darah seperti 
vasa vasorum pembuluh darah besar.
&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>SUSUNAN SARAF TEPI </title><link>http://avita1.blogspot.com/2012/12/susunan-saraf-tepi.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Fri, 21 Dec 2012 00:08:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3128191752653746636.post-5898366125721615059</guid><description>&lt;h3 class="post-title" style="text-align: justify;"&gt;
    
      &lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Dalam sistem saraf perifer ini akan dibahas: Serabut saraf, Ganglion dan akhiran saraf.&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;
&lt;div class="post-body" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: #996633;"&gt;I. SERABUT SARAF &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: #996633;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;Yang
 dimaksudkan serabut saraf yaitu biasanya axon yang memiliki selubung 
tipis yaitu : nerolema atau selubung Schwann, yang merupakan lembaran 
protoplasma sel-sel schwann yang berasal dari crista neuralis. Di bawah 
selubung schwann terdapat selubung mielin.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Pada serabut saraf yang 
bermialin pada jarak tertentu selubung mengecil membentuk simpul yang 
dinamakan Nodus Ranvier, di mana nerolema juga mengikutinya .&lt;br /&gt;Serabut
 saraf bermialin di perifer agak berbeda dengan yang ada dipusat susunan
 saraf dalam hal nerolemanya, yaitu diselubungi oleh sel schwann sedang 
di susunan saraf pusat oleh sel oligodendroglia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dendrit 
dibandingkan terhadap axon, maka axon jauh lebih panjang dari pada 
dendrit. Lagi pula diameter axon relatif tetap sampai ujungnya, 
sedangkan diameter dendrit akan mengecil apabila menjahui pangkalnya. 
Ujung axon akan bercabang – cabang sebagai pohon dinamakam telodendria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unsur
 utama dari axon adalah lanjutan sitopalasma yang dinamakan axoplasma. 
Sebagai lanjutan sitopalasma dalam axoplasma didapat pula organel : 
mitokondria, nerofibril dam mikrotubuli namun tidak diketemukan granular
 endoplasmic reticulum. Sebagai lanjutan dari nerolema axoplasma 
dibatasi oleh axolema&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selubung mielin terdiri atas bahan seperti 
lemak yang merupakan campuran diantaranya kolesterol, fosfolipid, dan 
serebrosid. Oleh karena lipid larut selama proses pembuatanya maka 
didaerah selubung mielin hanya meninggalkan endapan protein sebagai 
nerokeratin. Sedangkan apabila digunakan asan osmium di daerah selubung 
mielin terlihat adanya gambaran celah miring sebagai corong yang 
dinamakan incisura Schmidt lantermann.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pengamatan M.E. 
selubung mielin menampakan gambaran berlapis-lapis, berikut ini akan 
menjelaskan bagaimana akan terjadinya selubung tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbentuknya
 selubung mielin didasarkan pada “jelly roll” hypothesis yang menyatakan
 bahwa sitoplasma sel schwann yang semula melingkupi axon secara 
langsung akan berputar berkali-kali dengan axon sebagai sumbunya.&lt;br /&gt;Dari
 terjadinya mielin tersebut nyata bahwa selubung mielin merupakan bagian
 dari sel schwann, namun secara muda, biasa dikatakan bahwa nerolema 
adalah badan dari sel schwann dengan inti dan sitoplasma di 
sekelilingnya, sedangkan selubung mielin berdiri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 
saraf perifer, serabut saraf umumnya dikelompokan sebagai berkas-berkas 
yang dinamakan saraf. Sebelum merupakan sebagai berkas, disebelah luar 
dari nerolema dilapisi oleh selubung jaringan pengikat yang berasal 
mesodermal yang dinamakan endoneurium atau selubung Henle.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serabut-serabut
 saraf bersama endoneuriumnya bergabung menjadi berkas yang diselubungi 
oleh jaringan pengikat padat yang dinamakam : perinerium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang 
selanjutnya berkas ini diikat lagi menjadi berkas yang lebih besar lagi 
oleh jaringan padat yang dinamakan : epinerium. Di dalam berkas yang 
besar tersebut mungkin tidak ditemukan berkas serabut saraf yang tidak 
bermielin yang disebut juga serabut lemak. Karena tidak bersulubung 
mielin maka serabut lemak tidak tampak bersegmen-segmen.&lt;br /&gt;Nerolema 
merupakan selubung atau sarung yang terbentuk oleh deretan sel-sel 
schwann sepanjang serabut saraf hanya terdiri atas sebuah sel schwann. 
Sitoplasma di daerah tepi yang tipis akan membentuk tonjolan-tonjolan 
mengelilingi serabut saraf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sinapsis&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila
 axon di rangsang maka impuls yang terbentuk akan dirambatkan baik kea 
rah badan sel maupun menjahui badan selnya sampai keujung-ujung yang 
dinamakan telodendron. Untuk mencapai sel saraf berikutnya diperlukan 
suatu alat yang disebut sinapsis. Keistimewaan sinapsis ini hanya dapat 
merambatkan impuls dalam satu arah saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perambatan impuls dapat dibedakan sebagai berikut :&lt;br /&gt;· Axodendritik, dari axon ke dendrite lain.&lt;br /&gt;· Axosomatik, dari axon ke badan sel lain.&lt;br /&gt;· Axo-axinik, dari axo ke axon lain.&lt;br /&gt;· Dendro dendritik, ke dendrite lain.&lt;br /&gt;· Somato-somatik, antara badan sel saraf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan sebuah sel saraf untuk merambatkan ke sel saraf lainnya berbeda-beda sehingga jumlah sinapsisnya berbeda-beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujung
 – ujung telodendron berbentuk sebagai benjolan kecil yang di namakan 
boutons terminaux. Lebih sering cabang axon membentuk beberapa sinapsis 
sepanjang perjalannya sehingga jenis hubungan ini dinamakan : boutons en
 passage.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila di amati pada ujung axon tampak mitokondria dan gelembung-gelembung halus yang dinamakan : gelembung sinaptik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelembung
 sinaptik berisi subtansi, subtansi tersebut dinamakan neurotransmitter,
 yang dapat berupa sebagai : asetil kholin, neropinefrin, dopamine, 
serotonin, GABA ( gamma amino butyric acid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: #996633;"&gt;II. AKHIRAN SARAF&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: #996633;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;Ujung
 – ujung tonjolan baik sebagai axon ataupun yang berfungsi sebagai 
dendrit tidak selalu berhubungan dengan saraf lain melainkan berakhir 
bebas ataupun berhubungan dengan jenis jaringan lain. Ujung-ujung saraf 
tersebut dapat mempunyai kemampuan menerima rangsangan dari 
lingkungannya atau membawa pesan dari saraf untuk lingkungan sebagai 
jawaban atas rangsangan yang datang.&lt;br /&gt;Apabila serabut saraf mampu 
membawa impuls dari ujung saraf penerima rangsangan menuju kearah pusat 
susunan saraf, maka serabut saraf demikian dinamakan : serabut saraf 
aferen. Sebaliknya apabila serabut saraf tersebut membawa impuls sebagai
 pesan dari pusat susunan saraf untuk akhiran saraf jenis kedua, maka 
serabut saraf demikian di namakan serabut saraf eferen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;AKHIRAN SARAF AFEREN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujung
 dari saraf aferen tersebut dapat berakhir bebas dalam jaringan atau 
membentuk jaringan khusus yang disebut reseptor. Reseptor dapat 
membentuk ujung-ujung yang tidak berselebung yang dapat diketemukan pada
 epitel, jaringan pengikat, otot atau selaput lendir dan kulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reseptor
 pada selaput lendir dan kulit merupakan bagian dari serabut saraf 
aferen bermealin yang menjelang masuk jaringan epitel akan kehilangan 
selubung mealin dengan membentuk anyaman yang disebut plexus nervosus. 
Sel epitel yang berdekatan dengan reseptor dinamakan sel taktil, 
berfungsi sebagai penerima rangsangan yang berbentuk rabaan.&lt;br /&gt;Reseptor yang terdapat disekeliling sel rambut dinamakan reseptor peritrichial.&lt;br /&gt;Kecenderungan
 terjadinya modifikasi sel-sel epitel menjadi satu kesatuan fungsional 
dengan reseptor memberikan penamaan khusus sebagai sel-sel nero-epitel.&lt;br /&gt;Termasuk kelompok ini misalnya terdapat sebagai gemma gustatoria&lt;br /&gt;Sebagai alat pengecap di lidah dan organon corti sebagai alat penerima suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reseptor yang membentuk bangunan khusus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: #009900;"&gt;Bulbus terminalis&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reseptor
 jenis ini berbentuk oval dengan selubung jaringan pengikat tipis 
sebagai jaringan pengikat tipis sebagai selubung. Bagian dalam dinamakan
 Bulbus internus terdapat sebuah atau lebih ujung saraf yang telah 
kehilangan selubung mielinnya. Kadang-kadang ujung saraf tersebut 
bergulung membentuk glomerulus. Reseptor jenis ini terdapat dalam 
jaringan pengikat misalnya : bibir, lidah, pipi, langit-langit, rongga 
hidung, alat kelamin, seperti ujung clitoris dan penis yang semuanya 
dinamakan sebagai Bulbus terminalis Krause. Apabila terdapat dalam kulit
 reseptor tersebut berfungsi menerima rangsangan dingin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: #009900;"&gt;Corpusculum tactilum Meissneri.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Reseptor
 jenis ini biasanya ditemukan pada kulit yang tidak berambut misalnya 
telapak kaki dan tangan. Berbentuk oval dengan selubung jaringan padat. 
Bagian dalam diisi sel-sel jaringan pengikat gepeng yang tersusun 
sejajar dengan permukaan epitel. Diantara sel-sel tersebut terdapat 
ujung-ujung saraf yang telah kehilangan mielin.&lt;br /&gt;Reseptor ini berfungsi menerima rangsangan rabaan halus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: #009900;"&gt;Corpusculum lamellosum Vateri Pacini&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: #009900;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;Reseptor
 ini berbentuk elips yang tersusun oleh lembaran-lembaran jaringan 
pengikat secara kosentris seperti kulit bawang. Dalam jaringan pengikat 
ini terdapat pembuluh darah. Masing-masing lembaran dipisahkan oleh 
cairan jernih. Di bagian tengah terdapat rongga yang diisi oleh ujung 
saraf yang telah kehilangan selubung mielin.&lt;br /&gt;Reseptor jenis ini 
terdapat dalam jaringan pengikat di bawah kulit terutama di telapak kaki
 dan tangan., peritoneum, penis, clitoris, papilla mammae dan 
sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: #009900;"&gt;Muscle spindle dan neurotendinal spindle&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau
 beberapa reseptor yang telah dibahas menerima rangsangan dari luar 
sehingga dapat dikelompokan dalam eksteroreseptor, maka kali ini 
reseptor menerima rangsangan yang ditimbulkan sendiri sehingga dinamakan
 proprioseptor.&lt;br /&gt;Reseptor ini berbentuk sebagai kumparan sebesar 
0,75-1mm terselip diantara serabut-serabut otot kerangka atau serabut 
kolagen dari tendo. Fungsi dari muscle spidle neurotendinal spindle 
untuk mengetahui sampai seberapa jauh kontraksi otot sedang berlangsung 
karena adanya keregangan otot akan bertindak sebagai rangsangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: #009900;"&gt;Corpusculum Ruffini&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: #009900;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;Jenis
 reseptor ini berbentuk sebagai berkas jaringan pengikat yang didalamnya
 terdapat ujung-ujung saraf yang bercabang-cabang yang berakhir gepeng. 
Reseptor yang berfungsi menerima rangsangan panas ini terdapat didalam 
jaringan pengikat di bawah kulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Akhiran Saraf Eferen&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Sebagai
 jawaban atau tanggapan terhadap impuls yang datang dari perifer melalui
 serabut saraf afere, maka oleh pusat susunan saraf dikirimkam impuls 
menjalar melalui serabut saraf eferen ke sel atau organ sasaran. Akhiran
 saraf eferen tersebut akan membentuk efektor pada organ sasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut letaknya akhiran saraf tersebut dikelompokan dalam 2 katagori yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhiran saraf somatik eferen.&lt;br /&gt;Akhiran saraf visceral eferen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhiran
 saraf somatik eferen terletak pada serabut-serabut otot kerangka yang 
dinamakan sebagai motor endplate. Pada waktu saraf mendekati serabut 
otot, sebelum bercabang –cabang halus, axonnya akan kehilangan mielin, 
sehingga cabang-cabang axon yang dekat dengan serabut otot tidak 
selubung mielin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pengamatan M.E. pada motor end plate 
tersebut axonnya hanya ditutupi tipis sitoplasma sel schwann dan 
ujungnya mendekati sarkolema.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian serabut otot didaerah motor 
endplate menonjol walaupun arah perjalanan miofibril tidak mengikuti 
penonjolan tersebut. Didaerah yang menonjol ini sarkoma banyak 
mengandung mitokondria.&lt;br /&gt;Oleh karena ujung-ujung saraf seakan sebagai 
tapak kaki yang menempel pada serabut otot, maka bagian ujung saraf 
disebut “endfoot” dan sarkoplasma yang menonjol dinamakan “soleplasm”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Apabila
 diperhatikan dengan seksama, maka ujung saraf yang melebar akan masuk 
ke dalam lekukan dalam sole plasm yang dinamakan “gutters” (parit). 
Sarkoma yang merupakan dasar dari parit tersebut melipat-lipat yang 
dinamakan “junctional folds” membentuk celah terpisah dari celah 
sinaptik. Didaerah parit tersebut axeloma dinamakan membran presinaptik 
dan sakolema dihadapannya dinamakan membran postsinaptik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhiran saraf eferen visceral, terletak pada alat – alat dalam.&lt;br /&gt;Ujung
 –ujung akhiran saraf yang merupakan efektor kehilangan mielin dan 
membentuk anyaman sekeliling otot polos, otot jantung atau dibawah otot 
kelenjar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut letaknya efektor tersebut dinamakan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kardiomotor, pada jantung&lt;br /&gt;Viseromotor, pada otot alat dalam&lt;br /&gt;Vasomotor, pada otot polos pembuluh darah&lt;br /&gt;Pilomotor, pada otot polos folikel rambut&lt;br /&gt;Sekretomotor, pada epitel kelenjer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;GANGLION&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang
 dimaksud dengan ganglion adalah kumpulan sel-sel saraf yang terdapat di
 luar sistem saraf pusat. Apabila kumpulan sel-sel saraf terdapat dalam 
sistem saraf pusat maka dinamakan Nukleus. Biasanya ganglion berbentuk 
ovoid kecil yang dibungkus oleh jaringan pengikat padat.&lt;br /&gt;Ganglion 
intramural biasanya terdiri dari berapa sel saraf saja dan berada dalam 
alat-alat dalam, khususnya dinding saluran pencernaan. Semua ganglion 
intramural termasuk dalam sistem parasimpatik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan struktur dan fungsinya dibedakan 2 jenis ganglion saraf :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ganglion kraniospinal, terdapat pada radix dorsalis N. spinalis dan N. cranialis, dan&lt;br /&gt;Ganglion otonom, yang merukan bagian dari sistem saraf otonom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masing-masng
 badan sel ganglion atau badan sel saraf dikelilingi oleh selapis sel 
kuboid yang dinamakan sel kapsel setelit dan selapis tipis jaringan 
pengikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ganglion kraniospinal mempunyai sel ganglion yang 
termasuk tipe pseudounipoler yang mempunyai tonjolan yang berbentuk 
huruf T. dua percabangan dari tonjolan tersebut disebut axon dan yang 
lainnya berfungsi sebagai dendrite. Walaupun berfungsi sebagai dendrit 
namun strukturnya adalah axon., karena diluar ganglion memiliki selubung
 mielin.&lt;br /&gt;Bagian dari ganglion lebih banyak sel-selnya dari pada di 
bagian tengah di mana lebih banyak serabut-serabut saraf. Pada sedian 
histologi, badan sel ganglion yang berbentuk pseudounipoler tampak 
gluber dengan inti terletak di tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ganglion otonom biasanya 
berbentuk sebagai pembesaran pada serabut otonom. Beberapa dari ganglion
 otonom ini terdapat dalam dinding saluran pencernaan.&lt;br /&gt;Ukuran sel 
saraf dalam ganglion otonom hampir sama sekitar 20-45 mm mempunyai inti 
relatif besar sebagai gelembung yang terletak eksentrik.&lt;br /&gt;Secara faali
 ganglion otonom dibedakan dalam ganglion simpatik dan ganglion 
parasimpatik yang tidak dapat dibedakan secara makrofag.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Degenerasi dan Regenerasi Sistem Saraf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sel-sel
 saraf baik pada sistem saraf pusat ataupun sistem saraf perifer sejak 
sudah dahulu dianggap tidak dapat membelah diri pada individu yang telah
 selesai perkembangan sistem sarafnya. Hasil-hasil penelitian pada 
akhir-akhir ini menunjukan bahwa kemungkinan besar sel-sel saraf 
tersebut masih dapat membelah diri walaupun sangat lamban. Sedangkan 
tonjolan-tonjolan sel saraf pada sistem saraf pusat apabila mengalami 
kerusakan sangat sulit dapat tumbuh kembali. Sebaliknya pada sistem 
saraf perifer penggantian tonjolan saraf berlangsung mudah selama bagian
 perikarion tidak mengalami kerusakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila sebuah saraf mati 
bersama tonjolan-tonjolannya, maka sel-sel saraf yang berhubungan dengan
 sel saraf tersebut tidak ikut mati, kecuali untuk sel neuron yang hanya
 berhubungan dengan sel saraf mati tadi. Peristiwa semacam ini dinamakan
 Degenerasi transneral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan untuk sel-sel glia pada sistem 
saraf pusat dan sel schwann serta sel satelit ganglion pada sistem saraf
 perifer berlawanan dengan sel-sel saraf, oleh karena mereka sangat 
mudah melangsungkan pembelahan sel. Akibatnya kematian sel-sel saraf 
akan cepat diganti oleh sel-sel glia atau sel schwann atau sel satelit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangatlah
 perlu untuk membedakan perubahan-perubahan yang berlangsung pada bagian
 proksimal dan distal dari kerusakan sebuah serabut saraf, sebab bagian 
proksimal dari kerusakan yang dekat dengan badan sel lebih mudah 
mengalami degenerasi total.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerusakan pada axon akan mengakibatkan perubahan-perubahan dalam perikarion sebagai berikut :&lt;br /&gt;- Hilangnya badan Nissl sehingga neroplasma berkurang basofil (khromatolisis)&lt;br /&gt;- Membesarnya volume perikarion&lt;br /&gt;- Perpindahan inti kedaerah tepi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian
 sebelah distal dari kerusakan, degenerasi total dialami oleh seluruh 
axon bersama selubung mielin yang di ikuti oleh pembersihan sisa-sisa 
degenerasi oleh sel makrofag. Sementara proses ini berlangsung, sel-sel 
schwann akan membelah diri secara aktif sehingga membentuk batang solid 
yang mengisi bekas yang dilalui oleh axon. Rangkain sel-sel ini akan 
bertindak segai pengarah untuk pertumbuhan axon yang bertunas dalam fase
 perbaikan. Serabut otot yang di persarafi axon yang rusak tampak 
mengecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 3 minggu setelah kerusakan serabut saraf, ujung
 serabut saraf sebelah proksimal dari kerusakan akan tumbuh dan 
bercabang-cabang sebagai serabut-serabut halus ke arah pertumbuhan 
sel-sel schwann. Diantara sekian banyak percangan axon beberapa akan 
terus tumbuh, khususnya yang dapat menerobos rangkain sel-sel schwann 
untuk mencapai sel efektor, misalnya otot. Apabila celah yang memisahkan
 bagian proksimal dan bagian distal dari axon cukup lebar atau pada 
keadaan hilangnya sama sekali bagian distal, misalnya amputasi, maka 
saraf-saraf sebagian hasil pertumbuhan baru tersebut membentuk gulungan 
yang menyebabkan rasa sakit. Pembentukan gulungan tersebut diberi nama 
yang sebenarnya kurang benar sebagai neroma amputasi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Proses perubahan degeneratif pada bagian distal dari kerusakan dinamakan degenerasi sekunder dari Waller.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Resusitasi Bayi</title><link>http://avita1.blogspot.com/2012/12/resusitasi-bayi.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Thu, 20 Dec 2012 06:13:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3128191752653746636.post-2299650175608109824</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Keterampilan resusitasi neonatal sangat penting untuk semua 
tenaga profesional layanan medis yang terlibat dalam pengiriman bayi 
baru lahir. Transisi dari janin yang baru lahir memerlukan intervensi 
oleh individu atau tim yang terampil dalam sekitar 10% dari semua 
kelahiran. Asfiksia perinatal dan prematuritas&amp;nbsp;sangat berat&amp;nbsp;adalah 2 
komplikasi kehamilan yang paling sering memerlukan resusitasi kompleks 
oleh tenaga medis yang terampil. Namun, hanya 60% bayi baru lahir sesak 
napas dapat diprediksi saat ante partum. Bayi baru lahir&amp;nbsp;lainnya 
tidak&amp;nbsp;dapat diprediksi&amp;nbsp;sampai saat kelahiran. Selain itu, sekitar 80% 
dari rendah berat lahir bayi memerlukan resusitasi dan stabilisasi pada 
pengiriman.&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hampir setengah dari kematian bayi baru lahir&amp;nbsp;sebah=gian 
besar&amp;nbsp;melibatkan bayi yang sangat prematur terjadi selama 24 jam pertama
 setelah lahir. Banyak dari kematian dini&amp;nbsp;karena faktor&amp;nbsp;asfiksia atau 
depresi pernapasan sebagai penyebab utama. Untuk bayi yang hidup, 
manajemen efektif asfiksia dalam beberapa menit pertama kehidupan dapat 
mempengaruhi hasil jangka panjang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Meskipun kehamilan dapat mengidentifikasi banyak kesulitan janin ante
 partum, yang memungkinkan transfer ibu ke pusat rujukan untuk 
perawatan, banyak wanita yang mengalami persalinan prematur tidak 
diidentifikasi secara prospektif dan oleh karena itu tidak tepat 
ditransfer ke pusat perinatal tersier. Akibatnya, banyak kelahiran bayi 
yang sangat prematur terjadi di rumah sakit yang lebih kecil.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Untuk alasan ini, semua personil yang terlibat dalam pemberian 
perawatan ruang bayi yang baru lahir harus dilatih secara memadai dalam 
semua aspek resusitasi neonatal. Selain itu, peralatan yang berukuran 
tepat untuk resusitasi bayi dari segala usia kehamilan harus tersedia di
 semua lembaga memberikan, bahkan jika lembaga tersebut tidak peduli 
untuk bayi prematur atau perawatan intensif.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Seiring dengan keterampilan yang diperlukan, dokter harus melakukan 
tindakan resusitasi apapun dengan pemahaman yang baik tentang fisiologi 
transisi dan adaptasi, serta pemahaman tentang respon bayi untuk 
resusitasi. Resusitasi melibatkan lebih dari memiliki daftar dengan 
nomor keterampilan teknis dan memiliki tim resusitasi, melainkan 
membutuhkan keterampilan penilaian yang sangat baik dan pemahaman yang 
didasarkan fisiologi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Artikel ini meninjau proses adaptasi pada persalinan, menguraikan 
langkah yang diperlukan untuk resusitasi neonatus sebagai ulasan untuk 
praktisi yang sudah resusitasi bayi, dan menyoroti masalah-masalah 
khusus dan kontroversi. Praktisi baru harus menyelesaikan Program 
Resusitasi Neonatal (NRP) atau program lain yang memperkenalkan bahan 
resusitasi dan memungkinkan penilaian keterampilan. Setelah membaca 
materi dan berlatih keterampilan, mereka harus bekerja dengan personil 
yang berpengalaman.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Transisi Fisiologi ekstrauterin&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian neonatus, dokter harus 
dapat dengan cepat mengidentifikasi bayi yang transisi dari intrauterin 
ke ekstrauterin fisiologi tertunda. Transisi Neonatal membutuhkan 
perubahan cardiopulmonary pernapasan dan spontan sukses, serta perubahan
 lain untuk fungsi sistem organ independen. Sebuah pemahaman menyeluruh 
fisiologi transisi yang normal mengarah ke pemahaman yang lebih baik 
dari kebutuhan bayi yang sedang mengalami kesulitan dan dengan demikian 
harus menghasilkan upaya resusitasi yang lebih efektif.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Adaptasi Pernapasan&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;Setelah lahir, saluran udara dan alveoli harus dibersihkan dari 
cairan paru janin sehingga paru-paru dapat beroperasi sebagai unit 
fungsional pernapasan menyediakan pertukaran gas yang memadai. Aliran 
darah paru harus meningkat, dan respirasi spontan harus ditetapkan. 
Dalam rahim, sebagian besar aliran darah didorong keluar dari paru-paru 
dan diarahkan ke mana plasenta fetoplasenta pertukaran gas terjadi.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Resistensi pembuluh darah paru janin tinggi, dan resistensi vaskular
 sistemik janin rendah. Dalam beberapa menit pengiriman, resistensi 
vaskular paru bayi baru lahir dapat menurunkan 8 – sampai 10 kali lipat,
 menyebabkan peningkatan yang sesuai pada aliran darah neonatal paru. 
Saat lahir, paru-paru harus transisi cepat untuk menjadi situs untuk 
pertukaran gas, atau sianosis dan hipoksia lain dengan cepat akan 
berkembang. &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Dengan demikian, pemahaman tentang struktur dan fungsi pembuluh 
darah paru janin dan transisi setelah fisiologi neonatal adalah penting 
untuk memfasilitasi adaptasi yang diperlukan selama resusitasi. 
&amp;nbsp;Pengetahuan tentang tahap-tahap perkembangan menjelaskan mengapa 
neonatus yang lahir sebelum usia kehamilan sekitar 23-24 minggu sering 
tidak memiliki perkembangan paru-paru yang cukup untuk bertahan hidup 
karena tidak adanya jaringan kapiler yang berdekatan dengan unit 
ventilasi yang belum menghasilkan sempurna.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Tahapan embriologi Perkembangan Paru&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table id="tw2aab6b3b7" style="margin-left: 0px; margin-right: 0px; text-align: left;"&gt;
&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td&gt;&lt;strong&gt;tahapan&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td&gt;&lt;strong&gt;umur kehamilan&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td&gt;&lt;strong&gt;perkembangan struktur&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td&gt;Embryonic&lt;/td&gt;
&lt;td&gt;5 minggu&lt;/td&gt;
&lt;td&gt;Bronkus berkembang, dan saluran napas terjadi&amp;nbsp; percabangan ; vena paru kembali ke atrium kiri&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td&gt;Pseudoglandular&lt;/td&gt;
&lt;td&gt;5-17 minggu&lt;/td&gt;
&lt;td&gt;Paru-paru mengambil alih fungsi kelenjar, dan percabangan trakea 
bronkial&amp;nbsp; (berakhir pada usia kehamilan 18-19 minggu); pembuluh darah 
dan limfatik mulai terbentuk, dan diafragma mulai berkembang&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td&gt;Canalicular&lt;/td&gt;
&lt;td&gt;13-25 minggu&lt;/td&gt;
&lt;td&gt;Pasokan pembuluh darah kaya oksigen mulai berkembang, dan kapiler 
dibawa lebih dekat ke saluran udara; pernapasan bronchioli&amp;nbsp;primitif 
mulai terbentuk&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td&gt;Terminal air sac&lt;/td&gt;
&lt;td&gt;24-40 minggu&lt;/td&gt;
&lt;td&gt;Alveoli muncul dan mulai bertambah jumlahnya, dan darah-gas 
antarmuka berkembang; alveolar tipe II sel muncul antara 20 dan 25 
minggu dan mulai memproduksi surfaktan antara 24 dan 25 minggu, meskipun
 biasa intra-jalan napas konsentrasi tidak terjangkau sampai ~ 34 minggu&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td&gt;Postnatal&lt;/td&gt;
&lt;td&gt;40 minggu to 8 bulan&lt;/td&gt;
&lt;td&gt;Penipisan lapisan kantung alveolar dan terjadi proliferasi alveolar&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;
&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Paru Janin fisiologi&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;
&lt;div&gt;
Paru-paru janin diisi dengan sekitar 20 ml cairan. Saluran napas 
janin, alveoli, dan saccules terminal terbuka dan stabil pada yang 
normal volume paru-paru janin, buncit oleh cairan paru-paru yang 
disekresi oleh epitel paru. Ini cairan paru-paru mempertahankan volume 
paru-paru sekitar kapasitas residual fungsional (FRC) dan merupakan 
penentu pertumbuhan paru-paru normal. Aliran cairan konstan ini 
disekresikan ke dalam ruang alveolar seluruh pembangunan, yang 
berkontribusi pada cairan ketuban janin.&lt;/div&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
&lt;div&gt;
Sirkulasi paru-paru dan bronkial juga berkembang sebagai alveoli. 
Karena efek tekan cairan paru janin dan tekanan parsial oksigen yang 
rendah alveolar (PA O2) di dalam rahim, tempat tidur kapiler paru dan 
pembuluh darah paru tetap terbatas. Tinggi resistensi vaskular dan 
rendah akibat aliran darah paru.&lt;/div&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
&lt;div&gt;
Plasenta menyediakan fungsi pernafasan bagi janin. Sirkulasi 
plasenta memiliki 2 karakteristik utama yang memungkinkan plasenta untuk
 mempertahankan oksigenasi yang memadai pada janin. Pertama, plasenta 
memiliki sirkulasi multivillous yang menyediakan luas permukaan maksimum
 untuk pertukaran oksigen dan karbon dioksida antara ibu dan janin. 
Kedua, beberapa faktor menyebabkan penurunan pH ibu dan meningkatnya pH 
janin, yang menghasilkan perpindahan peningkatan oksigen dari ibu ke 
janin hemoglobin atau sel darah merah.&lt;/div&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
&lt;div&gt;
Darah ibu, membawa oksigen hemoglobin dewasa, melepaskan oksigen ke
 sirkulasi janin dan menerima baik karbon dioksida dan produk samping 
berbagai metabolisme dari sirkulasi janin. Transfer darah ibu plasenta 
menurunkan pH dan menggeser kurva disosiasi oksigen-ibu di sebelah 
kanan, yang menghasilkan afinitas yang lebih rendah dari hemoglobin akan
 oksigen dan pelepasan oksigen tambahan untuk hemoglobin janin. 
Pergeseran terkait dalam kurva disosiasi oksigen janin ke kiri 
memungkinkan hemoglobin janin untuk mengikat oksigen lebih banyak.&lt;/div&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
&lt;div&gt;
Janin “bernapas” dimulai pada usia kehamilan sekitar 11 minggu dan 
peningkatan kekuatan dan frekuensi selama kehamilan. Pernapasan janin 
dikendalikan oleh kemoreseptor yang terletak di aorta dan pada 
percabangan dari arteri karotid umum. Daerah ini merasakan kedua pH dan 
tekanan parsial karbon dioksida (PCO2).&lt;/div&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
&lt;div&gt;
Sebuah respon refleks untuk pH berubah dan PCO2 hadir pada sekitar 
18 minggu usia kehamilan, namun, janin tidak dapat mengatur respon ini 
sampai sekitar 24 minggu kehamilan. Beberapa studi telah menunjukkan 
bahwa respon ini tidak dapat diperoleh dalam rahim bahkan ketika pH dan 
PCO2 yang berubah, yang menyebabkan peneliti untuk percaya bahwa respon 
ditekan di rahim dan tidak diaktifkan sampai kelahiran.&lt;br /&gt; Studi juga 
menunjukkan bahwa PA rendah O2 dalam rahim mungkin merupakan mekanisme 
yang menghambat pernapasan terus menerus, menemukan bahwa ketika PA O2 
meningkat saat napas yang dirangsang.&lt;/div&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Fisiologi Paru Neonatal &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;Saluran napas janin dan alveoli dipenuhi dengan cairan paru-paru 
yang perlu dihapus sebelum respirasi. Hanya sebagian kecil dari cairan 
paru janin akan dihapus secara fisik selama persalinan. Selama meremas 
dada, 25-33% dari cairan (kadang-kadang jauh lebih sedikit) dapat 
dinyatakan dari saluran napas orofaring dan atas. Mundur Thoracic 
memungkinkan inspirasi pasif dari udara ke dalam bronkiolus yang lebih 
besar. Transisi yang efektif mensyaratkan bahwa cairan yang tersisa 
dengan cepat diserap untuk memungkinkan pertukaran gas yang efektif.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Penurunan cairan paru-paru dimulai selama persalinan. Studi 
menggunakan model domba janin menunjukkan bahwa produksi cairan 
paru-paru menurun dengan sakit kelahiran. Penurunan berikutnya dalam 
cairan paru-paru dikaitkan dengan pertukaran gas lebih baik dan 
keseimbangan asam-basa. Buruh juga berhubungan dengan tingkat 
katekolamin meningkat, yang merangsang drainase limfatik dari cairan 
paru-paru.&lt;br /&gt; Selain itu, dengan sakit kelahiran, janin menghasilkan 
adrenalin dan ibu menghasilkan Thyrotropin-releasing hormon, yang 
merangsang sel-sel epitel paru untuk memulai readsorption cairan. Temuan
 ini dapat menjelaskan peningkatan kejadian takipnea transient yang baru
 lahir setelah kelahiran dengan kelahiran sesar tanpa kerja.&lt;br /&gt; Setelah
 lahir, cairan paru-paru akan dihapus oleh beberapa mekanisme, termasuk 
penguapan, transpor ion aktif, gerakan pasif dari pasukan Starling, dan 
drainase limfatik. Natrium transportasi aktif dengan energi transporter 
yang membutuhkan natrium, yang terletak pada lapisan basilar sel epitel 
paru, drive cairan dari paru-paru ke dalam lumen interstitium paru, di 
mana ia diserap oleh sirkulasi paru-paru dan limfatik.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Paparan antarmuka udara, bersama dengan konsentrasi tinggi 
glukokortikoid dan nukleotida siklik, membalikkan arah gerakan ion dan 
air dalam alveoli dan menyebabkan saluran natrium yang sangat selektif. 
Perubahan ini menggeser sel-sel epitel paru janin dari pola sekresi 
klorida ke salah satu natrium reabsorpsi, yang mempercepat reabsorpsi 
cairan paru janin.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Napas harus terlebih dahulu mengatasi viskositas cairan paru-paru 
dan tegangan permukaan intra-alveolar. Ini napas pertama juga harus 
menghasilkan tekanan transpulmonary tinggi, yang membantu mendorong 
cairan alveolar di epitel alveolar. Dengan aerasi paru berikutnya, 
peregangan struktur intraparenchymal, dan gas masuk alveoli, sehingga O2
 PA meningkat dan pH. PA peningkatan O2 dan hasil pH dalam vasodilatasi 
paru dan penyempitan duktus arteriosus.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Paru ekspansi dan aerasi juga merupakan stimulus untuk rilis 
surfaktan, yang menghasilkan pembentukan sebuah antarmuka udara-cairan 
dan pengembangan FRC. Biasanya, 80-90% dari FRC didirikan dalam satu jam
 pertama lahir pada neonatus panjang dengan respirasi spontan. Bayi 
prematur dan sakit kritis dengan defisiensi surfaktan atau disfungsi 
mungkin memiliki kemampuan terbatas untuk membersihkan cairan paru-paru 
dan membangun FRC.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Pembuluh darah paru dirangsang untuk melebarkan oleh mediator kimia,
 oksida nitrat (NO), dan prostaglandin. NO dilepaskan ketika aliran 
darah paru dan meningkatkan oksigenasi. Pembentukan prostaglandin 
tertentu, seperti prostasiklin, diinduksi oleh adanya tekanan oksigen 
yang meningkat. Prostasiklin bekerja pada tempat tidur otot polos 
vaskuler paru untuk menginduksi vasodilatasi paru. Ia memiliki waktu 
paruh yang singkat dalam aliran darah dan karena itu tidak mempengaruhi 
sirkulasi sistemik.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Segera setelah lahir, aktivitas pernapasan janin harus transisi ke 
pernapasan spontan normal. Untuk mengatasi viskositas cairan paru-paru 
dan resistensi yang dihasilkan oleh cairan paru-paru dan mundur dan 
perlawanan dari dinding dada, paru-paru, dan saluran udara, bayi harus 
menghasilkan tekanan negatif sehingga udara yang bergerak dari daerah 
tekanan tinggi ke salah satu tekanan yang lebih rendah. Ada 2 tanggapan 
fisiologis utama yang mengatur inflasi paru-paru awal dalam neonatus.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tanggapan pertama adalah yang disebut penolakan respon, dimana 
neonatus merespon tekanan positif inflasi paru dengan menghasilkan 
tekanan intraesophageal positif untuk melawan inflasi. Artinya, bayi 
secara aktif menolak upaya untuk menggelembungkan paru-paru dengan 
melakukan pernafasan aktif. Respon ini tidak hanya bertindak untuk 
mengurangi inflasi paru-paru tetapi juga dapat menyebabkan tekanan 
inflasi tinggi sementara.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Respon kedua adalah respon paradoks Kepala, di mana neonatus 
merespon tekanan positif inflasi paru dengan upaya inspirasi, yang 
menghasilkan tekanan intraesophageal negatif. Upaya inspirasi dan 
tekanan negatif yang dihasilkan menghasilkan penurunan tekanan inflasi 
tetapi berakibat peningkatan sementara volume tidal.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Neonatus dapat menunjukkan tidak ada respon terhadap upaya inflasi 
dan mungkin tidak menghasilkan perubahan apapun dalam tekanan 
intraesophageal selama tekanan positif inflasi, dalam hal hasil inflasi 
pasif. Respon fisiologis terhadap tekanan positif inflasi di ruang 
bersalin dapat menyebabkan variabilitas besar volume tidal dan tekanan 
intrapulmonal, meskipun pengiriman konstan tekanan inflasi.&lt;br /&gt; 
Rangsangan untuk napas pertama mungkin multifaktorial. Perubahan 
lingkungan yang terjadi dengan kelahiran (misalnya, perubahan taktil dan
 termal dan kebisingan meningkat dan cahaya) mengaktifkan beberapa 
reseptor sensorik yang dapat membantu memulai dan mempertahankan 
pernapasan. Klem kabel menghilangkan plasenta resistansi rendah, 
menyebabkan peningkatan resistensi pembuluh darah sistemik dan akibatnya
 menyebabkan peningkatan baik tekanan darah sistemik dan aliran darah 
paru.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bukti tertentu juga menunjukkan bahwa tekanan parsial oksigen arteri
 meningkat (Pa O2) setelah napas awal mungkin bertanggung jawab untuk 
pengembangan napas yang dilakukan melalui mediator hormon atau bahan 
kimia yang masih terdefinisi.&lt;br /&gt; Ketika paru-paru bayi baru lahir 
mengisi dengan udara, O2 Pa harus naik secara bertahap. Pada bayi 
berjangka dengan hipoksia gigih, meningkat awal dalam ventilasi terjadi,
 diikuti dengan penurunan ventilasi terjadi. Efek ini lebih mendalam 
pada bayi prematur yang sistem saraf pusat (SSP) tidak matang.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Karotis dan kemoreseptor perifer yang terletak di bagian bifurkasi 
dari arteri karotid umum dirangsang selama hipoksia untuk meningkatkan 
ventilasi menit. Pada bayi sesak napas yang tidak dapat meningkatkan 
ventilasi menit (misalnya, karena prematuritas ekstrim atau sedasi), 
bradikardia mendalam dapat terjadi.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Aaptasi K&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;ardiovaskular&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Sirkulasi Janin &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;Untuk memahami perubahan kardiovaskuler yang terjadi pada neonatus 
saat lahir, pemahaman tentang sirkulasi janin normal adalah diperlukan. 
Vena umbilikalis membawa darah yang mengandung oksigen dari plasenta ke 
janin. Aliran darah di pembuluh darah ini membagi di porta hepatis, 
dengan 50-60% dari darah yang lewat langsung ke vena kava inferior (IVC)
 melalui duktus venosus dan sisanya lewat ke dalam sirkulasi portal. 
Aliran darah portal perfuses hati dan kemudian melewati ke IVC.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Studi aliran telah mengungkapkan bahwa relatif sedikit pencampuran 
darah dari ini 2 situs terjadi pada IVC. Darah lebih tinggi oksigen, 
yang memiliki dilewati hati, aliran ke dalam IVC untuk lulus secara 
istimewa melalui foramen ovale paten ke atrium kiri. Darah desaturated 
kembali dari hati dan aliran tubuh bagian bawah ke dalam IVC ke atrium 
kanan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Di atrium kanan, darah desaturated bercampur dengan darah yang 
kembali dari sinus koroner dan vena kava superior (SVC) dan mengalir ke 
ventrikel kanan. Darah lebih tinggi oksigen yang melintasi foramen ovale
 bercampur dengan sejumlah kecil aliran balik vena paru dan kemudian 
melintasi katup mitral ke ventrikel kiri. Output dari ventrikel kiri 
masuk ke dalam aorta naik ke batang tubuh, jantung otak, kepala, dan 
atas. Darah kurang jenuh dari ventrikel kanan masuk ke dalam arteri 
paru.&lt;br /&gt; Karena pembuluh paru yang terbatas dan sangat tahan terhadap 
aliran, hanya sekitar 12% dari darah ini dari ventrikel kanan memasuki 
paru-paru; sisanya mengambil jalur yang paling perlawanan melalui patent
 ductus arteriosus ke aorta desendens. Sekitar sepertiga dari darah ini 
dilakukan pada batang, perut, dan ekstremitas bawah, dengan sisanya 
memasuki arteri umbilikalis, di mana ia kembali ke plasenta untuk 
reoxygenation.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Sirkulasi Neonatal &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;Paru-paru menghasilkan peningkatan oksigenasi arteri dan pH, dengan 
pelebaran yang dihasilkan dari pembuluh paru. Dekompresi dari tempat 
tidur kapiler paru-paru lebih lanjut menurunkan resistensi pembuluh 
darah paru. Penurunan sesuai pada ventrikel kanan dan tekanan arteri 
pulmonalis juga dicatat. Penurunan resistensi pembuluh darah paru 
menyebabkan peningkatan aliran darah ke paru-paru dan aliran balik vena 
paru.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Klem tali pusat menghapus sirkuit rendah resistensi vaskuler 
plasenta dan dengan demikian meningkatkan resistensi pembuluh darah 
sistemik keseluruhan, dengan peningkatan resultan dalam ventrikel kiri 
dan tekanan aorta. Para resistensi pembuluh darah sistemik meningkat, 
dikombinasikan dengan penurunan resistensi vaskular paru, membalikkan 
shunt melalui ductus arteriosus (dari kanan-ke-kiri shunting ke kiri ke 
kanan shunting) sampai ductus menutup sepenuhnya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Semua peristiwa ini mengakibatkan penutupan shunt janin lainnya. 
Dengan penurunan tekanan atrium kanan dan peningkatan tekanan atrium 
kiri, 1-arah “tutup-katup” foramen ovale didorong ditutup melawan septum
 atrium. Ini penutupan fungsional saat lahir diikuti dengan penutupan 
anatomi, yang biasanya terjadi pada beberapa bulan usia.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Duktus venosus menutup karena klem tali pusar, yang berakhir kembali
 pusar vena. Penutupan mekanik fungsional dari duktus venosus dilakukan 
dengan runtuhnya berdinding tipis kapal. Penutupan anatomis kemudian 
terjadi pada sekitar 1-2 minggu.&lt;br /&gt; Penutupan Tetap duktus venosus 
mungkin tertunda pada bayi prematur atau bayi dengan hipertensi paru 
persisten. Penyempitan dan penutupan duktus arteriosus dilakukan oleh 
jaringan kontraktil dalam dinding-dinding pembuluh darah ini. Kontraksi 
jaringan ini tergantung baik pada peningkatan oksigen arteri yang 
berhubungan dengan terjadinya respirasi spontan dan penurunan beredar 
prostaglandin E2 (PGE2).&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Karena plasenta adalah situs utama produksi PGE2 janin, pengangkatan
 plasenta dari peredaran penyebab beredar konsentrasi PGE2 menurun 
tajam. Pengurangan lebih lanjut dalam konsentrasi PGE2 terjadi karena 
meningkatnya aliran darah ke paru-paru (tempat PGE2 metabolisme). 
Penutupan fungsional dari duktus umumnya terjadi dalam 72 jam hidup, 
dengan penutupan anatomis pada usia 1-2 minggu.&lt;br /&gt; Singkatnya, 
sirkulasi postnatal fungsional umumnya dibentuk dalam waktu 60 detik, 
namun penyelesaian transformasi dapat berlangsung hingga 6 minggu.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Respon asfiksia&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;Sebuah janin atau bayi baru lahir yang mengalami asfiksia memulai 
“diving” refleks (sehingga disebut karena kesamaan tertentu untuk 
fisiologi segel diving) dalam upaya untuk menjaga pengiriman perfusi dan
 oksigen ke organ vital. Hipoksia dan asidosis menyebabkan 
vasokonstriksi arteriol paru. Peningkatan resistensi pembuluh darah 
paru, yang menyebabkan penurunan aliran darah paru dan peningkatan 
aliran darah langsung ke atrium kiri.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;a href="http://childrengrowup.wordpress.com/2012/05/11/penanganan-terkini-resusitasi-bayi-baru-lahir/showrefcontent%28%22refimage_zoomlayer%22%29;"&gt;&lt;img alt="" src="http://img.medscape.com/pi/emed/ckb/clinical_procedures/79926-1413466-977002-1996299.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Persiapan Resusitasi&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Banyak didapatkan beberapa sumber informasi untuk pelatihan, 
keterampilan, dan prosedur&amp;nbsp; untuk resusitasi&amp;nbsp;trafer bayi&amp;nbsp;baru lahir. Di 
antara yang paling &amp;nbsp;sering dijadikan acuan adalah the Neonatal 
Resuscitation Program (NRP), jointly developed by the American Academy 
of Pediatrics (AAP) and the American Heart Association (AHA). Bagian 
berikut berisi review prosedur resusitasi dalam format yang digunakan 
oleh NRP itu. Rekomendasi&amp;nbsp;NRP harus mempertimbangkan semua personil 
rumah sakit yang mungkin terlibat dalam stabilisasi dan resusitasi 
neonatus di ruang bersalin. Untuk mengembangkan keahlian yang benar, 
pengalaman diawasi&amp;nbsp; personil yang terampil sangat penting.&lt;/div&gt;
&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Penilaian&amp;nbsp;Cepat&lt;/strong&gt;&amp;nbsp; Bayi baru lahir yang membutuhkan 
resusitasi yang&amp;nbsp;menyeluruh harus cepat diidentifikasi. Panjang bayi 
dengan cairan ketuban yang jelas, penilaian usaha pernapasan yang 
memadai, dan gerakan &amp;nbsp;otot yang baik harus menerima perawatan rutin, 
yang meliputi tersedianya alat penghangat, membersihkan jalan napas 
(jika diperlukan), mengeringkan bayi, dan penilaian warna bayi. 
Bayi-bayi ini harus tetap&amp;nbsp;dbersama ibu selama dan setelah perawatan 
rutin.&lt;br /&gt; Bayi yang tidak memenuhi kriteria untuk perawatan rutin perlu
 langkah tambahan dalam resusitasi mereka. Untuk bayi tersebut, 
resusitasi bisa memasukkan tidak hanya stabilisasi awal (memberikan 
kehangatan, posisi, membersihkan jalan napas, pengeringan, merangsang, 
dan reposisi) tetapi juga ventilasi, penekanan dada, dan obat.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Antisipasi masalah potensial&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; Tujuan resusitasi 
adalah untuk membantu dengan inisiasi dan pemeliharaan ventilasi yang 
cukup dan oksigenasi, curah jantung dan perfusi jaringan yang memadai, 
dan suhu inti normal dan glukosa serum. Tujuan ini dapat dicapai lebih 
mudah ketika faktor risiko diidentifikasi awal, masalah neonatal 
diantisipasi, peralatan tersedia, personil berkualitas dan tersedia, dan
 rencana perawatan dirumuskan.&lt;br /&gt; Sejumlah besar kondisi antepartum dan intrapartum ibu membawa peningkatan risiko asfiksia intrapartum. &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Alat bantu pernapasan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; Ruang bersalin harus 
dilengkapi dengan semua alat yang diperlukan untuk resusitasi sukses 
dari baru lahir dari berbagai ukuran atau usia kehamilan. Peralatan 
tersebut harus mencakup lebih hangat bersinar, selimut hangat, sumber 
oksigen, instrumen untuk memvisualisasikan dan membentuk saluran napas, 
sumber hisap diatur, instrumen dan perlengkapan untuk membangun 
intravena (IV) akses, nampan dilengkapi untuk prosedur darurat, dan obat
 yang mungkin berguna dalam resusitasi.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Peralatan pernapasan meliputi:&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;Pasokan Oksigen&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Beberapa jenis&amp;nbsp;masker&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Neonatal tas dan tubing untuk menghubungkan ke sumber oksigen&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Manometer&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Endotrakeal tube (ukuran 2,5-4)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Plester&amp;nbsp;dan gunting&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Laringoskop (dengan ukuran 0 dan 1)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tambahan lampu dan baterai&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Karbon dioksida detektor&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Stylettes untuk tabung endotrakeal (opsional)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Masker laring saluran udara (opsional)&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Ukuran Endotracheal Tube dan panjangnya &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;sesuai ukuran berat &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;bayi&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;table id="tw2aab6b5c54" style="margin-left: 0px; margin-right: 0px; text-align: left;"&gt;
&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td&gt;&lt;strong&gt;Berat Bayi&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td&gt;&lt;strong&gt;Ukuran &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;ndotracheal Tube &lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td&gt;&lt;strong&gt;Panjang &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Endotracheal Tube &lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td&gt;&amp;lt; 1000 g&lt;/td&gt;
&lt;td&gt;2.5&lt;/td&gt;
&lt;td&gt;7 cm&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td&gt;1000-2000 g&lt;/td&gt;
&lt;td&gt;2.5-3&lt;/td&gt;
&lt;td&gt;8 cm&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td&gt;2000-3000 g&lt;/td&gt;
&lt;td&gt;3-3.5&lt;/td&gt;
&lt;td&gt;9 cm&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td&gt;&amp;gt; 3000 g&lt;/td&gt;
&lt;td&gt;3.5-4&lt;/td&gt;
&lt;td&gt;10 cm&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;
&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Peralatan suction meliputi&lt;/strong&gt;:&lt;/div&gt;
&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;Bulb jarum suntik&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Suction mekanik&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Suction catheters ((6, 8, 10 French)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Suction tubing&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
&lt;div&gt;
Suction canister&lt;/div&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
&lt;div&gt;
Replogle or Salem pump (10 French catheter)&lt;/div&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
&lt;div&gt;
Feeding tube (8 French catheter)&lt;/div&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
&lt;div&gt;
Syringe, catheter-tipped (20 mL)&lt;/div&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
&lt;div&gt;
Meconium aspirator&lt;/div&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Peralatan cairan meliputi:&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;IV kateter (22 g)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Plester dan bahan pembalut steril&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;catheters&amp;nbsp; IV (22 g)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Dextrose 10% in water (D10W)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
&lt;div&gt;
Isotonic saline solution&lt;/div&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
&lt;div&gt;
T-connectors&lt;/div&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
&lt;div&gt;
Jarum suntik(1-20 mL)&lt;/div&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Obat yang digunakan meliputi&lt;/div&gt;
&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;epinefrin (1:10.000).&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Peralatan prosedural meliputi:&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;
&lt;div&gt;
Umbilical catheters (2.5 and 5 French)&lt;/div&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
&lt;div&gt;
Chest tube (10 French catheter)&lt;/div&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
&lt;div&gt;
Sterile procedure trays (eg, scalpels, hemostats, forceps)&lt;/div&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Tenaga terlatih&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;Untuk semua pengiriman bayi baru lahir ke ruangan lainnya, 
setidaknya 1 orang harus ada yang terampil dalam resusitasi neonatal dan
 bertanggung jawab hanya untuk bayi.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tenaga medis ini&amp;nbsp;harus terampil dalam inisiasi resusitasi, penggunaan masker ventilasi, dan kinerja penekanan dada.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Personil tambahan harus segera tersedia untuk membantu dalam 
tugas-tugas yang mungkin diperlukan sebagai bagian dari resusitasi, 
intubasi termasuk prosedur, administrasi pengobatan, dan darurat, jika 
diperlukan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Jika pengiriman diidentifikasi sebagai berisiko tinggi, 2 atau lebih individu terampil harus diberikan ke bayi saat persalinan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ingat bahwa staf terlatih dalam resusitasi neonatal harus magang 
dengan personil yang berpengalaman untuk beberapa waktu sebelum mereka 
dapat secara independen bertanggung jawab untuk bayi pada kiriman. 
Simulasi kemungkinan akan menjadi komponen yang semakin penting dari 
pelatihan dalam resusitasi neonatal&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Termoregulasi &lt;strong&gt;Resusitasi Neonatus &lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;Mencegah kehilangan panas selama resusitasi sangat penting.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Termoregulasi intrauterin adalah pasif, dengan tidak menggunakan 
kalori atau oksigen oleh janin. Proses termoregulasi pasif memungkinkan 
janin untuk mencapai pertumbuhan intrauterin maksimal tanpa harus 
mengeluarkan energi pada homeostasis termal. Brown penyimpanan lemak 
dimulai selama trimester ketiga. Lemak coklat dapat digunakan untuk 
produksi panas pada periode baru lahir.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Beberapa faktor yang menyebabkan kehilangan panas meningkat pada 
bayi baru lahir. Neonatus memiliki rasio tinggi luas permukaan kulit 
dengan berat badan, yang meningkatkan kehilangan panas dan kehilangan 
menguapkan cairan. Hilangnya cairan dari kulit (karena tidak berkeringat
 tapi langsung kehilangan air transdermal) mengakibatkan hilangnya panas
 besar. Kulit janin yang tipis, dengan pembuluh darah yang dekat 
permukaan, menyediakan isolasi miskin, yang menyebabkan hilangnya panas 
lebih lanjut. Selain itu, bayi baru lahir (terutama jika prematur) 
memiliki kapasitas terbatas untuk mengubah posisi tubuh untuk konservasi
 panas. Hewan biasanya mencoba untuk mengurangi kehilangan panas dengan 
mengurangi permukaan terbuka mereka daerah (misalnya, dengan meringkuk).
 Penurunan luas permukaan terekspos dilakukan dengan mengasumsikan 
posisi tertekuk, namun, prematur, bayi sakit kritis, dan depresi tidak 
dapat mencapai posisi tertekuk. Neonatus memiliki kapasitas yang sangat 
terbatas untuk produksi panas metabolisme. Bayi baru lahir memiliki 
menyimpan energi terbatas, terutama karena penurunan lemak subkutan dan 
lemak coklat toko, dan ini kekurangan cadangan lemak akan lebih parah 
pada bayi prematur dan pertumbuhan terhambat. Selain itu, bayi tidak 
mampu menggigil efektif, yang merupakan sumber utama produksi panas pada
 orang dewasa. Sumber utama produksi panas pada bayi baru lahir yang 
nonshivering thermogenesis.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Thermoreceptors di wajah adalah nyata sensitif terhadap panas dan 
dingin. Rangsangan dingin menyebabkan produksi norepinefrin dan 
pelepasan hormon tiroid, menyebabkan lemak coklat untuk dimetabolisme. 
Lemak coklat sangat vascularized dan disimpan dalam kantong sekitar 
tubuh neonatus tersebut. Ketika dimetabolisme, trigliserida adalah 
terhidrolisis menjadi asam lemak dan gliserol. Selain itu, glikolisis 
dimulai dan toko glikogen yang digunakan, baik yang menghasilkan 
produksi glukosa. Panas yang dihasilkan sebagai produk sampingan dari 
tingkat metabolisme meningkat dan konsumsi oksigen.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bayi yang mengalami kehilangan panas memiliki tingkat metabolisme 
meningkat dan menggunakan lebih banyak oksigen. Peningkatan konsumsi 
oksigen dapat berbahaya pada bayi yang mengalami kompromi pernapasan. 
Penambahan stres dingin pada bayi yang kurang oksigen dapat berpotensi 
memicu perubahan dari aerobik untuk metabolisme anaerobik. Perubahan 
dalam metabolisme dapat menyebabkan hipoksia jaringan dan asidosis 
karena penumpukan produk sampingan metabolisme seperti laktat. Karena 
ketidakefisienan dari metabolisme anaerobik, bayi akan menggunakan 
glukosa dan cadangan glikogen cepat sementara masih menghasilkan hanya 
sejumlah terbatas energi untuk produksi panas. Oleh karena itu, stres 
dingin dapat menyebabkan asidosis metabolik dan hipoglikemia.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bayi dengan asfiksia memiliki ketidakstabilan thermoregulatory, dan 
hipotermia pemulihan penundaan dari asidosis. Hipotermia pada masuk ke 
unit neonatal telah terbukti berhubungan dengan peningkatan mortalitas&amp;nbsp;.
 Mengingat temuan ini, itu jelas penting untuk mencegah hilangnya panas 
yang berlebihan di ruang bersalin dan di seluruh stabilisasi dan 
transportasi ke unit neonatal. Normothermia dan hipotermia pada bayi 
telah didefinisikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Suhu Aksilar pada bayi kurang dari 1500 gram&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;table id="tw2aab6b5c11" style="margin-left: 0px; margin-right: 0px; text-align: left;"&gt;
&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td&gt;&lt;strong&gt;Batasan&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td&gt;&lt;strong&gt;Suhu&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td&gt;&lt;strong&gt;Tindakan Yang diperlukan&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td&gt;Normal&lt;/td&gt;
&lt;td&gt;36.5-37.5&lt;sup&gt;o&lt;/sup&gt; C&lt;/td&gt;
&lt;td&gt;lanjutkan tindakan lain&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td&gt;Potential cold stress&lt;/td&gt;
&lt;td&gt;36-36.5&lt;sup&gt;o&lt;/sup&gt; C&lt;/td&gt;
&lt;td&gt;Diperlukan perhatia lebih&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td&gt;Moderate hypothermia&lt;/td&gt;
&lt;td&gt;32-36&lt;sup&gt;o&lt;/sup&gt; C&lt;/td&gt;
&lt;td&gt;Bahaya, hangatkan bayi segera&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td&gt;Severe hypothermia&lt;/td&gt;
&lt;td&gt;&amp;lt; 32&lt;sup&gt;o&lt;/sup&gt; C&lt;/td&gt;
&lt;td&gt;Diperlukan ketrampilan tenaga medis yang lebih keaulifikasinya&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;
&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;American Heart Association (AHA) dan American Academy of Pediatrics 
(AAP) telah menyatakan bahwa tujuan (dari suhu pertama) harus suhu 
aksiler 36.5o C. Tujuannya adalah untuk mencapai normothermia dan 
menghindari hipertermia, yang berhubungan dengan cedera otak progresif.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Suhu lingkungan juga penting dalam mengendalikan kehilangan panas 
pada bayi baru lahir. Untuk janin, lingkungan termal justru diatur oleh 
suhu inti ibu, dan kerugian panas adalah tidak ada. Setelah melahirkan, 
bahkan dengan pengeringan dan penggunaan sumber panas radiasi yang 
digunakan, bayi terus kehilangan sejumlah besar panas melalui konveksi 
dan mekanisme evaporasi. Ketika kondisi lingkungan udara lebih dingin 
dari lingkungan termal netral untuk bayi yang diresusitasi, kerugian 
termal lebih lanjut terjadi.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kehilangan panas berhubungan dengan perbedaan konsentrasi air antara kulit dan udara dan gradien suhu mutlak.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tujuan utama dalam termoregulasi neonatal adalah pencegahan 
kehilangan panas, karena bertentangan dengan koreksi kemudian kehilangan
 panas melalui rewarming. Idealnya, area tertentu (misalnya, ruang 
stabilisasi) harus dipelihara terpisah dari ruang operasi (OR) atau 
ruang bersalin sehingga perhatian khusus dapat dibayar dengan kebutuhan 
termal dan lingkungan yang tidak biasa dari bayi risiko tinggi yang baru
 lahir.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Daerah stabilisasi harus dijaga sehangat mungkin, dengan persyaratan
 dari bayi berisiko tinggi diseimbangkan dengan kenyamanan staf dewasa 
di daerah itu. Suhu pengiriman Rendah ruangan dapat menyebabkan rentan 
terhadap hipotermia, dan Resusitasi Neonatal Program (NRP) pedoman 
merekomendasikan bahwa jika kelahiran prematur diantisipasi, suhu ruang 
bersalin harus ditingkatkan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Idealnya, ruang khusus akan tersedia di mana suhu lingkungan dapat dikontrol dengan baik.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Suhu kamar Disarankan pengiriman dengan usia dan berat badan 
(ditentukan berdasarkan konsensus kelompok-masih dianggap sebagai 
praktek klinis berkembang) adalah sebagai berikut :&lt;/div&gt;
&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;Perkiraan usia gestasional atau Estimated gestational age (EGA) 
kurang dari 26 minggu, perkiraan berat lahir atau estimated birth weight
 (EBW) kurang dari 750 g, atau keduanya – 76o F atau lebih tinggi, 
target 78-80o F&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;EGA 27-28 minggu, EBW kurang dari 1000 g, atau keduanya – 22o&amp;nbsp;C atau lebih tinggi, target 23,8 C -26,68o C&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;EGA 29-32 minggu, EBW 1001-1500 g, atau keduanya – 22o C – 23,8 C&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;EGA 33-36 minggu, EBW 1501-2500 g, atau keduanya – 22o C – 23,8 C&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;EGA 27-42 minggu, EBW lebih besar dari 2500 g, atau keduanya – 21C – 23,8 C&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bayi yang baru lahir harus dikeringkan dengan selimut atau handuk 
“hangat” dan ditempatkan pada sumber panas “hangat”. Penghangat tempat 
tidur terbuka, yang menggunakan panas radiasi, digunakan dalam 
pengiriman kamar paling. Mereka memberikan kehangatan selama resusitasi 
dan untuk prosedur invasif berikutnya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Hal ini penting bagi praktisi yang perlu diingat bahwa sumber panas 
tidak melindungi bayi dari kehilangan panas evaporatif tetapi, 
sebaliknya, mendorong kehilangan panas evaporatif.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Pemantauan terus menerus dari suhu harus dilakukan sesegera mungkin 
setelah melahirkan. Bayi prematur (&amp;lt;1500 g) harus ditaruh dalam 
bungkus plastik (polyethylene) untuk mencegah hilangnya panas yang 
berlebihan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Sebuah tutup kepala wol harus digunakan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Pemanasan yang cukup saat dalam inkubator transportasi sangat penting.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&amp;nbsp;Suhu bayi harus diperiksa sesegera mungkin setelah lahir dan setiap
 10-15 menit setelah itu sampai pemantauan suhu terus menerus telah 
dibentuk.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Sumber lain umum kehilangan panas dalam resusitasi neonatus&amp;nbsp;adalah 
penggunaan sumber oksigen tidak dipanaskan nonhumidified untuk perangkat
 tas-katup-masker.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Gas-gas terinspirasi dikirim ke paru-paru kemudian dipanaskan dan 
dilembabkan oleh bayi; ini menghasilkan pertukaran panas besar dari 
kehilangan panas evaporatif dan kehilangan air pingsan. Bila mungkin, 
gas hangat dan lembab yang harus disediakan di daerah resusitasi. Atau, 
bayi diintubasi dan ventilasi harus ditempatkan pada sirkuit ventilator 
dipanaskan secepat layak.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;img alt="" height="240" src="http://i.ytimg.com/vi/KZQJblDV_fU/0.jpg" width="304" /&gt;&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title/><link>http://avita1.blogspot.com/2012/12/kultur-filed-under-bioteknologi.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Thu, 20 Dec 2012 05:43:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3128191752653746636.post-7177515977368571589</guid><description>&lt;h3 class="storytitle"&gt;
			Kultur&amp;nbsp;jaringan		 &lt;/h3&gt;
&lt;div class="meta"&gt;
Filed under:  &lt;a href="http://gurungeblog.wordpress.com/category/bioteknologi/" rel="category tag" title="Lihat seluruh tulisan dalam Bioteknologi"&gt;Bioteknologi&lt;/a&gt; — gurungeblog @ 8:00 am &lt;br /&gt;Tags: &lt;a href="http://gurungeblog.wordpress.com/tag/bioteknologi/" rel="tag"&gt;Bioteknologi&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://gurungeblog.wordpress.com/tag/kultur-jaringan/" rel="tag"&gt;Kultur jaringan&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://gurungeblog.wordpress.com/tag/perbanyakan-tanaman/" rel="tag"&gt;Perbanyakan Tanaman&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;img alt="kultur-jaringan" class="alignright size-medium wp-image-505" height="225" src="http://gurungeblog.files.wordpress.com/2009/01/kultur-jaringan.jpg?w=300&amp;amp;h=225" title="kultur-jaringan" width="300" /&gt;&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;Kultur jaringan&lt;/strong&gt;/Kultur In Vitro/Tissue Culture 
adalah suatu teknik untuk mengisolasi, sel, protoplasma, jaringan, dan 
organ dan menumbuhkan bagian tersebut pada nutrisi yang mengandung zat 
pengatur tumbuh tanaman pada kondisi aseptik,sehingga bagian-bagian 
tersebut dapat memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman 
sempurna kembali.&lt;br /&gt;

Teori Dasar Kultur Jaringan&lt;br /&gt;
a. Sel dari suatu organisme multiseluler di mana pun letaknya, 
sebenarnya sama dengan sel zigot karena berasal dari satu sel tersebut 
(Setiap sel berasal dari satu sel).&lt;br /&gt;

b. Teori Totipotensi Sel (Total Genetic Potential), artinya setiap 
sel memiliki potensi genetik seperti zigot yaitu mampu memperbanyak diri
 dan berediferensiasi menjadi tanaman lengkap.&lt;br /&gt;
&lt;span id="more-504"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Aplikasi Teknik Kultur Jaringan dalam Bidang Agronomi&lt;br /&gt;
a. Perbanyakan vegetatif secara cepat (Micropropagation).&lt;br /&gt;
b. Membersihkan bahan tanaman/bibit dari virus&lt;br /&gt;
c. Membantu program pemuliaan tanaman (Kultur Haploid, Embryo Rescue, 
Seleksi In Vitro, Variasi Somaklonal, Fusiprotoplas, Transformasi Gen 
/Rekayasa Genetika Tanaman dll).&lt;br /&gt;
d. Produksi metabolit sekunder.&lt;br /&gt;

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Regenerasi&lt;br /&gt;

1. Bentuk Regenerasi dalam Kultur In Vitro : pucuk aksilar, pucuk 
adventif, embrio somatik, pembentukan protocorm like bodies, dll&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

2. Eksplan ,adalah bagian tanaman yang dipergunakan sebagai bahan 
awal untuk perbanyakan tanaman. Faktor eksplan yang penting adalah 
genotipe/varietas, umur eksplan, letak pada cabang, dan seks 
(jantan/betina). Bagian tanaman yang dapat digunakan sebagi eksplan 
adalah pucuk muda, batang muda, daun muda, kotiledon, hipokotil, 
endosperm, ovari muda, anther, embrio, dll.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

3. Media Tumbuh, Di dalam media tumbuh mengandung komposisi garam 
anorganik, zat pengatur tumbuh, dan bentuk fisik media. Terdapat 13 
komposisi media dalam kultur jaringan, antara lain: Murashige dan Skoog 
(MS), Woody Plant Medium (WPM), Knop, Knudson-C, Anderson dll. Media 
yang sering digunakan secara luas adalah MS.&lt;br /&gt;

Komposisi media Murashige dan Skoog (MS)&lt;br /&gt;
Bahan Kimia Konsentrasi Media (mg/l)&lt;br /&gt;

1. NH4NO3 1650&lt;br /&gt;
2. KNO3 1900&lt;br /&gt;
3. CaCL2.2H20 440&lt;br /&gt;
4. MgSO4.7H20 370&lt;br /&gt;
5. KH2PO4 170&lt;br /&gt;
6. FeSO4.7H20 27&lt;br /&gt;
7. NaEDTA 37,3&lt;br /&gt;
8. MnSO4.4H20 22,3&lt;br /&gt;
9. ZnSO4.7H2O 8,6&lt;br /&gt;
10. H3BO3 6,2&lt;br /&gt;
11. KI 0,83&lt;br /&gt;
12. Na2MoO4.2H20 0,25&lt;br /&gt;
13. CuSO4.5H20 0,025&lt;br /&gt;
14. CoCl2.6H20 0,025&lt;br /&gt;
15. Myoinositol 100&lt;br /&gt;
16. Niasin 0,5&lt;br /&gt;
17. Piridoksin-HCL 0,5&lt;br /&gt;
18. Tiamin -HCL 0,1&lt;br /&gt;
19. Glisin 2&lt;br /&gt;
20. Sukrosa 30.000&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

4. Zat Pengatur Tumbuh Tanaman&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Faktor yang perlu diperhatikan dalam penggunaan ZPT adalah konsentrasi, 
urutan penggunaan dan periode masa induksi dalam kultur tertentu. Jenis 
yang sering digunakan adalah golongan Auksin seperti Indole Aceti 
Acid(IAA), Napthalene Acetic Acid (NAA), 2,4-D, CPA dan Indole Acetic 
Acid (IBA). Golongan Sitokinin seperti Kinetin, Benziladenin (BA), 2I-P,
 Zeatin, Thidiazuron, dan PBA. Golongan Gibberelin seperti GA3. Golongan
 zat penghambat tumbuh seperti Ancymidol, Paclobutrazol, TIBA, dan CCC.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

5. Lingkungan Tumbuh&lt;br /&gt;
Lingkungan tumbuh yang dapat mempengruhi regenerasi tanaman meliputi 
temperatur, panjang penyinaran, intensitas penyinaran, kualitas sinar, 
dan ukuran wadah kultur.</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Kultur Jaringan</title><link>http://avita1.blogspot.com/2012/12/kultur-jaringan.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Thu, 20 Dec 2012 03:59:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3128191752653746636.post-769483299406590413</guid><description>&lt;h3 class="storytitle"&gt;
			Kultur&amp;nbsp;jaringan		 &lt;/h3&gt;
&lt;div class="meta"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;img alt="kultur-jaringan" class="alignright size-medium wp-image-505" height="225" src="http://gurungeblog.files.wordpress.com/2009/01/kultur-jaringan.jpg?w=300&amp;amp;h=225" title="kultur-jaringan" width="300" /&gt;&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Kultur jaringan&lt;/strong&gt;/Kultur In Vitro/Tissue Culture 
adalah suatu teknik untuk mengisolasi, sel, protoplasma, jaringan, dan 
organ dan menumbuhkan bagian tersebut pada nutrisi yang mengandung zat 
pengatur tumbuh tanaman pada kondisi aseptik,sehingga bagian-bagian 
tersebut dapat memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman 
sempurna kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Teori Dasar Kultur Jaringan&lt;br /&gt;
a. Sel dari suatu organisme multiseluler di mana pun letaknya, 
sebenarnya sama dengan sel zigot karena berasal dari satu sel tersebut 
(Setiap sel berasal dari satu sel).&lt;br /&gt;

b. Teori Totipotensi Sel (Total Genetic Potential), artinya setiap 
sel memiliki potensi genetik seperti zigot yaitu mampu memperbanyak diri
 dan berediferensiasi menjadi tanaman lengkap.&lt;br /&gt;
&lt;span id="more-504"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Aplikasi Teknik Kultur Jaringan dalam Bidang Agronomi&lt;br /&gt;
a. Perbanyakan vegetatif secara cepat (Micropropagation).&lt;br /&gt;
b. Membersihkan bahan tanaman/bibit dari virus&lt;br /&gt;
c. Membantu program pemuliaan tanaman (Kultur Haploid, Embryo Rescue, 
Seleksi In Vitro, Variasi Somaklonal, Fusiprotoplas, Transformasi Gen 
/Rekayasa Genetika Tanaman dll).&lt;br /&gt;
d. Produksi metabolit sekunder.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Regenerasi&lt;br /&gt;

1. Bentuk Regenerasi dalam Kultur In Vitro : pucuk aksilar, pucuk 
adventif, embrio somatik, pembentukan protocorm like bodies, dll&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

2. Eksplan ,adalah bagian tanaman yang dipergunakan sebagai bahan 
awal untuk perbanyakan tanaman. Faktor eksplan yang penting adalah 
genotipe/varietas, umur eksplan, letak pada cabang, dan seks 
(jantan/betina). Bagian tanaman yang dapat digunakan sebagi eksplan 
adalah pucuk muda, batang muda, daun muda, kotiledon, hipokotil, 
endosperm, ovari muda, anther, embrio, dll.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

3. Media Tumbuh, Di dalam media tumbuh mengandung komposisi garam 
anorganik, zat pengatur tumbuh, dan bentuk fisik media. Terdapat 13 
komposisi media dalam kultur jaringan, antara lain: Murashige dan Skoog 
(MS), Woody Plant Medium (WPM), Knop, Knudson-C, Anderson dll. Media 
yang sering digunakan secara luas adalah MS.&lt;br /&gt;

Komposisi media Murashige dan Skoog (MS)&lt;br /&gt;
Bahan Kimia Konsentrasi Media (mg/l)&lt;br /&gt;

1. NH4NO3 1650&lt;br /&gt;
2. KNO3 1900&lt;br /&gt;
3. CaCL2.2H20 440&lt;br /&gt;
4. MgSO4.7H20 370&lt;br /&gt;
5. KH2PO4 170&lt;br /&gt;
6. FeSO4.7H20 27&lt;br /&gt;
7. NaEDTA 37,3&lt;br /&gt;
8. MnSO4.4H20 22,3&lt;br /&gt;
9. ZnSO4.7H2O 8,6&lt;br /&gt;
10. H3BO3 6,2&lt;br /&gt;
11. KI 0,83&lt;br /&gt;
12. Na2MoO4.2H20 0,25&lt;br /&gt;
13. CuSO4.5H20 0,025&lt;br /&gt;
14. CoCl2.6H20 0,025&lt;br /&gt;
15. Myoinositol 100&lt;br /&gt;
16. Niasin 0,5&lt;br /&gt;
17. Piridoksin-HCL 0,5&lt;br /&gt;
18. Tiamin -HCL 0,1&lt;br /&gt;
19. Glisin 2&lt;br /&gt;
20. Sukrosa 30.000&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

4. Zat Pengatur Tumbuh Tanaman&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Faktor yang perlu diperhatikan dalam penggunaan ZPT adalah konsentrasi, 
urutan penggunaan dan periode masa induksi dalam kultur tertentu. Jenis 
yang sering digunakan adalah golongan Auksin seperti Indole Aceti 
Acid(IAA), Napthalene Acetic Acid (NAA), 2,4-D, CPA dan Indole Acetic 
Acid (IBA). Golongan Sitokinin seperti Kinetin, Benziladenin (BA), 2I-P,
 Zeatin, Thidiazuron, dan PBA. Golongan Gibberelin seperti GA3. Golongan
 zat penghambat tumbuh seperti Ancymidol, Paclobutrazol, TIBA, dan CCC.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

5. Lingkungan Tumbuh&lt;br /&gt;
Lingkungan tumbuh yang dapat mempengruhi regenerasi tanaman meliputi 
temperatur, panjang penyinaran, intensitas penyinaran, kualitas sinar, 
dan ukuran wadah kultur.</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>EMBRIOLOGI DAN REPRODUKSI HEWAN REGENERASI </title><link>http://avita1.blogspot.com/2012/12/embriologi-dan-reproduksi-hewan.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Thu, 20 Dec 2012 03:44:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3128191752653746636.post-9071562502069156204</guid><description>&lt;div class="post-title entry-title" itemprop="name"&gt;
&lt;b&gt;EMBRIOLOGI DAN REPRODUKSI HEWAN REGENERASI
&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="post-header"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;Setiap hewan mempunyai
kemampuan hidup yang bervariasi antara makhluk&amp;nbsp;yang satu dengan yang
lainnya. Salah satu contoh adalah regenerasi dari organ.&amp;nbsp;Regenerasi organ
dapat diartikan sebagai kemampuan tubuh suatu organisme untuk menggantikan
bagian tubuh yang rusak baik yang disengaja ataupun yang tidak disengaja
(karena kecelakaan) dengan bagian tubuh yang baru dengan bentuk yang sama
persis dengan sebelumnya. Hewan-hewan yang termasuk dalam sub phylum vertebrata
mempunyai daya regenerasi yang lebih randah dibandingkan dengan daya regenerasi
pada hewan-hewan yang termasuk dalam avertebrata (regenerasi tertinggi terjadi
pada Urodela). Regenerasi adalah memperbaiki bagian tubuh yang rusak atau lepas
kembali seperti semula. Kerusakan itu bervariasi. Ada yang ringan, seperti luka
dan memar, ada yang sedang, yang menyebabkan ujung suatu sebagian tubuh
terbuang, dan yang berat, yang menyebabkan suatu bagian besar tubuh terbuang.
Kemampuan regenerasi pada berbagai organisme tidak sama, ada yang tinggi dan
ada yang rendah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;Reptilia seperti cicak
regenerasinya hanya terbatas pada ekor untuk melepaskan diri dari tangkapan
musuh dengan memutuskan ekornya. Tak jelas hubungan linier antara kedudukan
sistematik hewan dengan daya regenerasinya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;Daya regenerasi pada
berbagai organisme tidak sama, ada yang tinggi seperti Coelenterata,
Platyhelminthes, Annelida, Crustacea dan Urodela. Dikalangan sub phylum ini
yang tertinggi adalah Urodela. Banyak dipakai dalam regenerasi eksperimental.
Vertebrata adalah yang paling rendah daya regenerasinya dibandingkan dengan
avertebrata, dimana bagian tubuh yang lepas tidak dapat ditumbuhkan kembali.
Anura regenerasinya terbatas pada tingkat larva dan hanya pada anggota gerak
dan ekor, yang dewasa tidak bisa beregenerasi sama sekali.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;Menurut Balinsky
(1981), suatu organisme khususnya hewan memiliki kemampuan untuk memperbaiki
struktur atau jaringan yang mengalami kerusakan akibat kecelakaan yang tidak
disengaja karena kondisi natural atau kerusakan yang disengaja oleh manusia
untuk keperluan penelitian atau experimen. Hilangnya bagian tubuh yang terjadi
ini setiap saat dapat muncul kembali, dan dalam kasus ini proses memperbaiki
diri ini kita sebut sebagai regenerasi. Proses regenerasi dalam banyak hal
mirip dengan proses perkembangan embrio. Dari pembelahan yang cepat, dari
sel-sel yang belum khusus (timbullah) organisasi yang kompleks dari sel-sel
khusus. Ini melibatkan morfogenesis dan diferensiasi seperti perkembangan
embrio. Beberapa reptilia seperti kadal, cicak mampu melakukan regenerasi pada
bagian tertentu yang hilang dengan cukup kokoh. Cicak akan melepaskan ekornya
dan kemudian akan meregenerasi ekor baru pada waktu yang tidak begitu lama.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;Kemampuan regenerasi
berkurang dengan meningkatnya kompleksitas stuktur dan fisiologis. Proses
regenersi mirip dengan proses perkembangan embrio. Pembelahan cepat dari
sel-sel yang belum khusus (timbullah) organisasi yang komplek dari sel-sel
khusus yang melibatkan morfogenesis dan diferensiasi seperti perkembangan embrio.&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>PARASITOLOGI</title><link>http://avita1.blogspot.com/2012/12/parasitologi.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Thu, 20 Dec 2012 03:43:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3128191752653746636.post-221390733297805799</guid><description>&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
 &lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;b&gt;Parasitologi&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;b&gt;Parasitologi&lt;/b&gt;
 adalah suatu ilmu cabang Biologi yang mempelajari tentang semua 
organisme parasit. Tetapi dengan adanya kemajuan ilmu, parasitologi kini
 terbatas mempelajari organisme parasit yang tergolong hewan parasit, 
meliputi: protozoa, helminthes, arthropoda dan insekta parasit, baik 
yang zoonosis ataupun anthroponosis.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Cakupan parasitologi meliputi 
taksonomi, morfologi, siklus hidup masing-masing parasit, serta patologi
 dan epidemiologi penyakit yang ditimbulkannya. Organisme parasit adalah
 organisme yang hidupnya bersifat parasitis; yaitu hidup yang selalu 
merugikan organisme yang ditempatinya (hospes). Predator adalah 
organisme yang hidupnya juga bersifat merugikan organisme lain (yang 
dimangsa).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Bedanya, kalau predator ukuran tubuhnya jauh lebih besar dari
 yang dimangsa, bersifat membunuh dan memakan sebagian besar tubuh 
mangsanya. Sedangkan parasit, selain ukurannya jauh lebih kecil dari 
hospesnya juga tidak menghendaki hospesnya mati, sebab kehidupan hospes 
sangat essensial dibutuhkan bagi parasit yang bersangkutan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Tujuan Pengajaran Parasitologi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;br /&gt;Menyadari
 akibat yang dapat ditimbulkan oleh gangguan parasit terhadap 
kesejahteraan manusia, maka perlu dilakukan usaha pencegahan dan 
pengendalian penyakitnya. Sehubungan dengan hal tersebut maka sangat 
diperlukan suatu pengetahuan tentang kehidupan organisme parasit yang 
bersangkutan selengkapnya. Tujuan pengajaran parasitologi, dalam hal ini
 di antaranya adalah mengajarkan tentang siklus hidup parasit serta 
aspek epidemiologi penyakit yang ditimbulkannya. Dengan mempelajari 
siklus hidup parasit, kita akan dapat mengetahui bilamana dan bagaimana 
kita dapat terinfeksi oleh parasit, serta bagaimana kemungkinan akibat 
yang dapat ditimbulkannya. Selanjutnya ditunjang oleh pengetahuan 
epidemiologi penyakit, kita akan dapat menentukan cara pencegahan dan 
pengendaliannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Istilah dalam Parasitologi dan Pembagian Hewan Parasit&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;1.
 Organisme (manusia atau hewan) yang ditempati oleh organisme lain 
(parasit) di mana organisme tersebut merugikan hospes (inang) yang 
ditumpanginya karena mengambil makanan disebut hospes.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;2.
 Hospes yang dirugikan itu dapat digolongkan menjadi 4 macam yaitu 
hospes definitif, hospes perantara, hospes predileksi dan hospes 
reservoir. Hospes definitif yaitu hospes yang membantu hidup parasit 
dalam stadium dewasa/stadium seksual.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;3.
 Berdasar lama waktu hidupnya parasit dibagi menjadi dua yaitu parasit 
temporer dan stasioner. Parasit temporer disebut juga parasit 
nonperiodis (nonberkala) yang mengunjungi hospesnya pada waktu-waktu 
berselang atau parasit tersebut tidak menetap pada tubuh hospesnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;4. Pediculus humanus disebut sebagai ektoparasit karena hidup di kepala atau hidup pada permukaan luar hospesnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Hubungan antara Parasit dengan Inang&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;br /&gt;Derajat
 preferensi inang adalah produk adaptasi biologis dari parasit yang 
menyebabkan parasit tersebut secara alami mempunyai pilihan terhadap 
inang dan juga jaringan tubuh inang. Semakin tinggi derajat preferensi 
suatu parasit terhadap inang akan menyebabkan adanya spesifitas inang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;b&gt;Kekebalan terhadap parasit, Modus dan Sumber Penulurannya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Di
 dalam tubuh terdapat suatu mekanisme yaitu mekanisme tanggap kebal yang
 akan mengenali dan segera memusnahkan setiap sel yang berbeda/asing 
dari sel normal tubuhnya sendiri. Seperti pada kekebalan terhadap 
bakteri, cendawan, dan virus, kekebalan dalam parasitologi terdiri dari 
kekebalan bawaan yang mungkin disebabkan spesifitas inang, karakteristik
 fisik inang, sifat biokimia yang khas dan kebiasaan inang serta 
kekebalan didapat. Kekebalan didapat dibedakan menjadi:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;- Kekebalan secara pasif, contohnya ialah kekebalan anak yang didapat dari kolostrum ibunya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;- Kekebalan didapat secara aktif.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Reaksi
 kekebalan didapat secara aktif timbul setelah adanya rangsangan oleh 
antigen. Tergantung dari sifat antigen sehingga terjadi pembelahan 
limfosit-limfosit menjadi sel-T atau sel B. Sel T mempunyai reseptor 
khusus terhadap antigen tertentu, sedangkan sel B akan mengeluarkan 
antibodi yang dikenal sebagai imunoglobulin yang akan berikatan secara 
khas pula dengan antigen. Modus penularan ialah cara atau metode 
penularan penyakit yang biasanya terjadi. Pada umumnya, cara penularan 
penyakit parasit adalah secara kontak langsung, melalui mulut 
(food-borne parasitosis), melalui kulit, melalui plasenta, melalui alat 
kelamin dan melalui air susu. Sumber penularan bagi penyakit parasit, 
seperti halnya bagi penyakit menular lain terjadi dari inang yang satu 
ke inang yang lain. Penularan dapat juga dari sumber penyakit kepada 
inang baru. Adapun yang dapat berlaku sebagai sumber penularan penyakit 
parasit ialah organisme baik hewan maupun tumbuhan dan benda mati 
seperti tanah, air, makanan dan minuman.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Ekologi Parasit&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;br /&gt;Ekologi
 parasit adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara parasit dengan 
lingkungan habitatnya, terutama mengenai distribusi parasit dengan 
sumber makanannya dan interaksi jenis-jenis parasit dalam satu habitat. 
Parasit yang terdapat di dalam tubuh inang, mungkin terdapat di dalam 
sistem pencernaan, sistem sirkulasi, sistem respirasi atau alat-alat 
dalam tubuh seperti hati, ginjal, otak dan limpa. Biometeorologi adalah 
ilmu tentang atmosfer dan segala fenomena-fenomenanya/ilmu tentang cuaca
 yang berhubungan dengan data kehidupan. Faktor meteorologi yang 
berpengaruh pada kelangsungan hidup parasit adalah:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;a. Data biometeorologi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;b. Penguapan air&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;c. Kandungan air dalam tanah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Pengaruh Faktor Cuaca terhadap Siklus Hidup Parasit&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh
 jumlah hujan dan temperatur terhadap kelangsungan hidup suatu jenis 
parasit berbeda, sebagai contoh Nematoda parasit membutuhkan lebih 
sedikit curah hujan dibandingkan dengan Trematoda. Trematoda membutuhkan
 jumlah air yang lebih banyak dibandingkan dengan Nematoda sebab untuk 
menetaskan miracidium diperlukan genangan air.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Demikian juga pada telur 
cacing nematoda umumnya lebih tahan terhadap temperatur yang lebih 
tinggi daripada Trematoda dan Cestoda, tetapi sebagai larva infektif 
sebaliknya, yaitu larva Nematoda lebih tahan dingin daripada larva 
Trematoda dan Cestoda. Diduga bagian sinar matahari yang berpengaruh 
besar pada siklus hidup parasit adalah sinar ultraviolet. Dalam bereaksi
 terhadap tantangan dari faktor-faktor cuaca tersebut parasit bereaksi 
secara gabungan dan bukan bereaksi terhadap faktor itu satu demi satu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Ruang Lingkup Parasitisme&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;br /&gt;Dalam
 mempelajari parasitologi diperlukan pengertian dan pendekatan ekologi 
serta memahami ekologi parasit yang merupakan dasar pembahasan berbagai 
masalah antara lain masuknya parasit ke dalam hospes, kepadatan parasit,
 inang dan sebagainya. Demikian juga untuk memahami penyebarannya perlu 
dipelajari mikro distribusi parasit. Faktor-faktor yang berpengaruh 
terhadap kehidupan parasit antara lain air, temperatur, sinar matahari, 
waktu, flora dan fauna. Semua makhluk hidup itu bereaksi terhadap banyak
 faktor-faktor tersebut secara bersama-sama, tidak terhadap faktor satu 
demi satu. Selanjutnya dalam mencegah dan mengobati penyakit secara umum
 dengan tindakan praktis, khususnya dalam pencegahan serta 
pemberantasannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Penggolongan Zoonosis dan Aspek yang Mempengaruhinya&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;br /&gt;Zoonosis
 adalah penyakit atau penularan-penularan yang secara alamiah terjadi 
antara hewan dan manusia. Penggolongan zoonosis dapat didasarkan pada:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;(1) tingkat derajat revervoirnya dalam sistem zoologi,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;(2) siklus penularan dan prospek pengendaliannya,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;(3) taksonomi parasit penyebabnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Hal-hal yang berpengaruh terhadap kasus zoonosis parasiter pada manusia adalah:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;1.
 aspek sosial budaya atau ekonomi; di antaranya adalah jenis pekerjaan. 
Sebagai pemburu juga pekerja hutan, mereka lebih terbuka kemungkinannya 
untuk memperoleh zoonosis parasiter dari hewan buruan dan hewan liar di 
hutan sebagai reservoirnya. Berbeda dengan pekerja pengalengan susu, 
daging atau ikan yang secara langsung lebih terbuka terhadap penularan 
zoonosis parasiter dari jenis toksoplasmosis, hidatidosis dan larva 
migran.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;2.
 Aspek ekologi; bertambahnya populasi atau dengan adanya transmigrasi, 
yang akan mengubah keadaan lingkungan. Perubahan ekologi, seperti adanya
 2 ekosistem yang semula terpisah, kemudian bersatu dan dapat menjadi 
fokus baru bagi berbagai penyakit zoonosis; di antaranya 
schistosomiasis, trypanosomiasis, paragonimiasis dan sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;3.
 Aspek iklim dan cuaca; sebagai contoh: negara Indonesia dengan iklim 
tropis, panas, tetapi curah hujan cukup sehingga kelembabannya cukup 
pula. Hal tersebut memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan berbagai 
jenis parasit selagi berada di luar tubuh hospesnya. Contoh: sporulasi 
ookista Toxoplasma gondii, pembentukan telur infektif berbagai cacing 
parasit usus, demikian pula bagi kelangsungan hidup berbagai vektor dan 
hospes perantara yang sangat dipengaruhi oleh iklim dan cuaca. 
Faktor-faktor yang mendukung siklus hidup zoonosis parasiter di daerah 
endemis, di antaranya: faktor bangsa, ethnis, agama, populasi geografis.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Protozoa Parasit Usus&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;br /&gt;Struktur
 tubuh protozoa tersusun dari unit-unit (komponen) fungsional yang 
disebut sebagai organel-organel bukan organ-organ sebab Protozoa adalah 
hewan bersel satu atau terdiri dari satu sel saja. Seluruh fungsi 
kehidupannya dilakukan oleh satu sel tersebut. Sedangkan “organ” terdiri
 dari banyak sel dan “organel-organel” adalah bagian sel yang mengalami 
diferensiasi yang disesuaikan dengan fungsinya. Pengelompokan Protozoa 
parasit dalam parasitologi dilakukan berdasarkan patologi anatomi 
hospesnya dengan urutan yang disesuaikan dengan taksonominya. Alasan 
pengelompokan tersebut, dimaksudkan untuk mempermudah dalam 
mempelajarinya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;b&gt;Protozoa Parasit Rongga Tubuh&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Protozoa
 atrial adalah protozoa yang berhabitat pada rongga tubuh seperti mulut,
 hidung, vagina, urethera. Dalam kelompok protozoa atrial yaitu 
Entomoeba gingivalis (Kelas Sarcodina) dan Trichomonas tenax dan T. 
vaginalis (Kelas Flagellata), hanya T. vaginalis yang patogen. E. 
gingivalis hanya diketahui bentuk trophozoit saja yang sangat mirip 
dengan E. histolytica. Spesies ini tinggal di dalam gingiva manusia 
bersifat apatogen sama halnya dengan T. tenax. T. vaginalis habitat pada
 vagina dan glandula prostata.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Pada wanita menyebabkan vaginistis yaitu 
dapat mengeluarkan banyak sekret keputihan yang menyebabkan keputihan. 
Infeksi pada laki-laki dirasakan setelah adanya infeksi sekunder oleh 
bakteri dan mungkin menyebabkan uretritis dan prostata.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;b&gt;Protozoa Parasit pada Darah Manusia serta Vertebrata lainnya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Protozoa
 yang hidup parasit di dalam darah dan jaringan manusia mencakup 
berbagai jenis yaitu Trypanosoma spp, Leishmania spp, Plasmodium spp, 
dan Toxoplasma gondii. Parasit Trypanosoma cukup luas penyebarannya, 
sebagian tidak patogen, di dalam darah hewan mamalia, reptilia, amfibia,
 burung, ikan ada ada 3 spesies patogen pada manusia yaitu Trypanosoma 
gambiense, T. rhodesiense dan T. cruzi. Bentuk-bentuk perkembangan 
familia Trypanosomidae ini adalah Trypomastigot, Epimastigot, 
Promastigot, dan Amastigot. Bentuk-bentuk perkembangan ini ada yang 
lengkap dan ada pula yang tidak lengkap.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Daur hidup Trypanosoma pada 
mamalia terjadi berganti-ganti di dalam inang vertebrata dan 
invertebrata. Penularan Trypanosoma dan dapat secara langsung dan dapat 
secara tidak langsung yaitu mengalami pertumbuhan siklik (mekanik) di 
dalam serangga pengisap darah sebelum menjadi infektif. Vektor bagi 
Trypanosoma gambiense dan T. rhodesiense adalah lalat tse-tse, sedangkan
 Trypanosoma cruzi adalah serangga reduvidae. Klasifikasi Trypanosoma 
didasarkan atas morfologi, cara penularan dan sifat patogen. Parasit 
Plasmodium penyebab malaria yang tersebar sangat luas dan banyak 
menimbulkan kematian pada manusia ada 4 spesies yaitu P. vivax, P. 
malariae, P. falciparum dan P. ovale, sedangkan spesies lainnya dapat 
menginfeksi burung, monyet, rodentia dan sebagainya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Pembasmiannya 
sangat tergantung pada penggunaan insektisida, pengobatan dan 
faktor-faktor sosio ekonomi yang cukup komplex. Untuk kelangsungan hidup
 parasit tersebut mempunyai fase schizogoni, fase gametogami, dan fase 
sporogoni. Patologinya menyebabkan pecahnya eritrosit, reaksi humoral 
kelemahan limpa, hati, ginjal dan gangguan peredaran darah.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Gejala 
klinis ialah serangan demam yang intermitten dan pembesaran limpa. 
Pencegahan mencakup pengurangan sumber infeksi, pengendalian nyamuk 
malaria. Pengobatan meliputi penghancuran parasit praeritrositik, obat 
represif, obat penyembuh dan obat radikal untuk bentuk eksoeritrositik, 
gametositik dan gametastatik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Protozoa Parasit Pada Jaringan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;br /&gt;Protozoa
 parasit jaringan merupakan protozoa parasit yang hidup berparasit di 
dalam jaringan hospesnya. Protozoa parasit ini merupakan penyebab 
penyakit bagi manusia dan hewan khususnya dan berperan penting dalam 
dunia kesehatan pada umumnya. Protozoa yang bersifat parasit pada 
jaringan hospes ini meliputi 2 kelas yaitu kelas Flagellata dan 
Sporozoa. Pada kelas Flagellata berupa genus Leishmania sedangkan pada 
kelas Sporozoa berupa genus Toxoplasma. Dari genus Leishmania ini hanya 
terdapat 3 spesies penting terutama bagi kesehatan manusia yaitu dapat 
menyebabkan penyakit leishmaniasis. Adapun ketiga spesies tersebut 
adalah Leishmania donovani penyebab leishmaniasis visceral; Leishmania 
tropica penyebab leishmaniasis kulit dan Leishmania brazilliennis 
penyebab leishmaniasis muko kutis. Meskipun ketiga genus Leishmania ini 
merupakan protozoa parasit pada jaringan, tetapi di dalam daur (siklus) 
hidupnya masih tetap membutuhkan hospes perantara untuk kelangsungan 
hidupnya. Adapun sebagai hospes perantaranya adalah lalat Phlebotomus 
dan darah manusia.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Di antara genus Toxoplasma hanya satu spesies saja 
yang mampu menginfeksi berbagai macam hospes yaitu spesies Toxoplasma 
gondii. T. gondii ini merupakan penyebab penyakit toxoplasmosis pada 
manusia. Di dalam daur hidupnya mempunyai tiga bentuk perkembangan yaitu
 bentuk zoite, kista dan ookista. Sebagai berikut infektifnya adalah 
sporozoit, kestozoit dan endozoit. Sedangkan cara infeksinya adalah 
bukan dengan melalui vektor, tetapi dengan berbagai cara yaitu per-os, 
transplantasi, transfusi ataupun dengan kista, trophozoit atau ookista 
selama melakukan penelitian di laboratorium. Peristiwa ini dapat 
mengakibatkan toxoplasmosis kongenital dan toxoplasmosis dapatan 
(perolehan). Penularan dari manusia ke manusia terjadi dengan melalui 
plasenta penyebab toxoplasmosis kongenital.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;b&gt;Trematoda Usus&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Trematoda
 merupakan cacing pipih yang berbentuk seperti daun, dilengkapi dengan 
alat-alat ekskresi, alat pencernaan, alat reproduksi jantan dan betina 
yang menjadi satu (hermafrodit) kecuali pada Trematoda darah 
(Schistosoma). Mempunyai batil isap kepala di bagian anterior tubuh dan 
batil isap perut di bagian posterior tubuh. Dalam siklus hidupnya 
Trematoda pada umumnya memerlukan keong sebagai hospes perantara I dan 
hewan lain (Ikan, Crustacea , keong) ataupun tumbuh-tumbuhan air sebagai
 hospes perantara kedua. Manusia atau hewan Vertebrata dapat menjadi 
hospes definitifnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&amp;nbsp;Habitat Trematoda dalam tubuh hospes definitif 
bermacam-macam, ada yang di usus, hati, paru-paru, dan darah. 
Macam-macam spesies Trematoda usus adalah: F. buski, H. heterophyes, M. 
yokagawai, Echinostoma, Hypoderaeum dan Gastrodiscus. Manusia menjadi 
hospes definitifnya dan hewan-hewan lain seperti mamalia (anjing, 
kucing) dan burung dapat menjadi hospes reservoar. Siklus hidup selalu 
memerlukan keong sebagai hospes perantara I dan hospes perantara II 
(keong : Echinostoma, tumbuhan air F.buski; ikan H.heterophyes dan 
M.yokogawai). Patologi penyakit yang disebabkan oleh Trematoda usus 
disebabkan oleh perlekatan cacing pada mukosa usus dengan batil isapnya.
 Semakin besar ukuran cacing maka semakin parah kerusakan yang 
ditimbulkan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Gejala klinis tergantung jumlah parasit dalam usus, pada 
infeksi ringan gejala tidak nyata, sedangkan pada infeksi berat gejala 
yang timbul adalah sakit perut, diare, dan akibat terjadinya malabsorpsi
 bisa timbul edema. Diagnosis dilakukan dengan menemukan telur dalam 
tinja penderita. Bila bentuk telur hampir sama maka perlu menemukan 
cacing dewasanya dalam tinja penderita. Obat-obatan untuk trematoda usus
 hampir sama, yaitu tetrakloretilen, heksilresorsinol, dan praziquantel.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Cestoda Usus&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;br /&gt;Cestoda
 merupakan cacing berbentuk seperti pita memanjang. tubuh terdiri dari 
kepala (skolek), dan proglottid (segmen tubuh) yang terdiri dari: 
proglottid immature, mature, dan gravid. Proglottid gravid dapat 
digunakan untuk identifikasi spesies berdasarkan bentuknya dan bentuk 
uterus di dalamnya. Terdapat 2 golongan besar Cestoda, yaitu: 1. 
Pseudophyllidean yang mempunyai skolek berbentuk seperti sendok dengan 
dilengkapi 2 buah alat isap yang berbentuk celah memanjang yang disebut 
bothria, contoh spesies: Diphyllobothrium latum. 2. Cyclophyllidean yang
 mempunyai skolek dengan alat isap berbentuk seperti mangkuk yang 
disebut asetabulum, jumlahnya 4 buah.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Diphyllobothrium latum merupakan 
pseudophyilidean. Cestoda yang hidup di usus manusia sebagai hospes 
definitifnya. Hospes reservoarnya adalah hewan/mamalia pemakan ikan. 
Memerlukan 2 buah hospes perantara dalam daur hidupnya yaitu: (1) 
Cyclops atau Diaptomus di mana larva cacing disebut proserkoid, dan (2) 
Ikan air tawar dengan larva cacing di dalamnya disebut pleroserkoid. 
Fam.Taeniidae yang termasuk Cyclophyllidean Cestoda mempunyai 3 spesies 
penting bagi kesehatan manusia maupun hewan, yaitu T.saginata, T.solium,
 dan E.granulossus. Bentuk telur antara ketiga cacing tersebut sukar 
dibedakan satu sama lain. Ketiganya mempunyai skolek yang dilengkapi 
dengan batil isap berbentuk mangkuk yang disebut asetabulum. Pada skolek
 T.solium dan E.granulossus dilengkapi dengan rostellum dan kait-kait.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Sedangkan skolek T.saginata tidak ada rostrumnya. T.saginata dan 
T.solium merupakan cacing pita yang panjang sampai bermeter-meter 
ukurannya, sedangkan E.granulossus merupakan cacing pita yang terpendek,
 hanya mempunyai 3 buah proglottid saja. Manusia dapat terinfeksi 
T.saginata bila makan daging sapi yang mengandung kista yang disebut 
sistiserkus bovis, dan menderita taeniasis saginata (terdapat cacing 
dewasa dalam ususnya). Infeksi T.solium pada manusia dapat terjadi 
melalui 2 cara yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;1. Bila menelan telurnya akan terjadi larva dalam jaringan tubuh manusia, disebut menderita sistiserkosis.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;2. Bila makan daging babi yang mengandung larva sistiserkus selulose, manusia akan menderita taeniasis solium.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Diagnosis
 taeniasis saginata/solium dengan menemukan telur/proglottid gravid pada
 tinja penderita. Sedangkan sistiserkosis dapat diketahui dengan 
pemeriksaan serologis, CT-scan atau dengan pembedahan (tergantung letak 
kista dalam jaringan tubuh manusia). Infeksi E.granulossus pada manusia 
dapat terjadi bila menelan telurnya, manusia akan menderita hidatidosis 
(terjadinya kista hidatida dalam jaringan tubuh manusia). Tempat yang 
sering terjadi kista adalah hati (66%). Diagnosis dengan pemeriksaan 
serologis, sinar rontgen, dan pembedahan bila letaknya memungkinkan. 
Cacing pita yang kecil H.nana hospes definitifnya manusia, dan penularan
 dapat terjadi secara langsung bila manusia menelan telur cacing 
tersebut. H.nana var.fraterna dan H.diminuta yang hospes definitifnya 
tikus memerlukan hospes perantara, yaitu pinjal tikus, dan kumbang 
tepung. Hospes perantara bila menelan telur cacing tersebut akan menetas
 menjadi larva sistiserkoid. Bila manusia menelan hospes perantara yang 
mengandung sistiserkoid akan menderita hymenolepsis.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Cacing
 pita D.caninum merupakan cacing pita anjing /carnivora lainnya. Habitat
 dalam hospes adalah dalam usus halus. Manusia terinfeksi secara 
kebetulan/aksidental terutama terjadi pada anak-anak yang menelan pinjal
 anjing/kucing yang mengandung larva sistiserkoid. Akibat infeksi ini 
pada anak-anak tidak begitu nyata bila infeksinya ringan namun bila 
infeksi berat dapat terjadi gangguan pencernaan, diare, dan reaksi 
alergi. Pencegahan dengan meningkatkan kebersihan perorangan serta 
lingkungan dengan mengobati anjing dari pinjal yang menempel pada 
tubuhnya. Pengobatan dipylidiasis seperti pada infeksi cacing pita 
lainnya, yaitu dengan: niklosamid, praziquantel, atau kuinakrin.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Nematoda Usus&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;br /&gt;Cacing
 tambang terdiri dari beberapa spesies, yang menginfeksi manusia adalah 
N.americanus dan A.duodenale, yang menginfeksi hewan (anjing/kucing) 
baik liar maupun domestik adalah A.ceylanicum meskipun cacing ini 
dilaporkan dapat menjadi dewasa dalam usus halus manusia dan tidak 
pernah menyebabkan creeping eruption, A.caninum dan A.braziliense yang 
tidak dapat menjadi dewasa dalam usus halus manusia dan menyebabkan 
creeping eruption pada manusia. Perbedaan morfologi antar spesies dapat 
dilihat dari bentuk rongga mulut, ada tidaknya gigi, dan bentuk bursa 
kopulatriks cacing jantan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Akibat utama yang ditimbulkan bila 
menginfeksi manusia atau hewan adalah anemia mikrositik hipokromik, 
karena cacing tambang menyebabkan perdarahan di usus akibat luka yang 
ditimbulkan juga cacing tambang mengisap darah hospes. Penyakit cacing 
tambang tersebar luas di daerah tropis, pencegahan tergantung pada 
sanitasi lingkungan, kebiasaan berdefikasi, dan memakai alas kaki. 
Strongyloides stercoralis merupakan cacing Nematoda usus yang hidup 
parasit pada manusia, namun dalam siklus hidupnya terdapat fase hidup 
bebas di tanah. Bentuk telurnya sulit dibedakan dengan telur cacing 
tambang. Manusia dapat terinfeksi melalui 3 cara: yaitu langsung, tak 
langsung, dan autoinfeksi. Cara pencegahan dan penyebaran cacing ini 
sama seperti cacing tambang.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Obat yang efektif untuk strongyloidiasis 
adalah thiabendazol. Akibat utama yang ditimbulkan adalah peradangan 
pada usus, disentri terus-menerus dan rasa sakit pada perut bagian kanan
 atas. Diagnosis dengan menemukan larva dalam tinja atau dalam sputum 
penderita. Pada cacing Nematoda usus ada beberapa spesies yang 
menginfeksi manusia maupun hewan. Nematoda usus terbesar adalah 
A.lumbricoides yang bersama-sama dengan T.trichiura, serta cacing 
tambang sering menginfeksi manusia karena telur cacing tersebut semuanya
 mengalami pemasakan di tanah dan cara penularannya lewat tanah yang 
terkontaminasi sehingga cacing tersebut termasuk dalam golongan 
soil-transmitted helminths. A.lumbricoides, T.trichiura dan 
E.vermicularis mempunyai stadium infektif yaitu telur yang mengandung 
larva. Siklus hidup A.lumbricoides lebih rumit karena melewati siklus 
paru-paru, sedangkan T.trichiura dan E.vermicularis tidak. Gejala klinis
 penyakit cacing ini bila infeksi ringan tidak jelas, biasanya hanya 
tidak enak pada perut kadang-kadang mual. Infeksi askariasis yang berat 
dapat menyebabkan kurang gizi dan sering terjadi sumbatan pada usus. 
Trikhuriasis berat biasanya dapat terjadi anemia, sedangkan pada 
enterobiasis gejala yang khas adalah gatal-gatal di sekitar anus pada 
waktu malam hari saat cacing betina keluar dari usus untuk meletakkan 
telunya di daerah perianal. Diagnosis askariasis dan trikhuriasis dengan
 menemukan telur dalam tinja penderita, sedangkan untuk enterobiasis 
dapat ditegakkan dengan anal swab karena telur E. vermicularis tidak 
dikeluarkan bersama tinja penderita. Infeksi cacing usus ini tersebar 
luas di seluruh dunia baik daerah tropis maupun sub tropis.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Anak-anak 
lebih sering terinfeksi dari pada orang dewasa karena kebiasaan main 
tanah dan kurang/belum dapat menjaga kebersihan sendiri. Semua infeksi 
cacing usus dapat dicegah dengan meningkatkan kebersihan lingkungan, 
pembuangan tinja atau sanitasi yang baik, mengerti cara-cara hidup 
sehat, tidak menggunakan tinja sebagai pupuk tanaman dan mencuci bersih 
sayuran/buah yang akan di makan mentah. Obat cacing, seperti piperasin, 
mebendazole, tiabendazol, dan lain-lain dapat diberikan dengan hasil 
yang cukup memuaskan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Trematoda dan Cstoda yang Hidup Parasit pada Darah/Jaringan Tubuh Manusia dan Hewan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;br /&gt;Spesies
 trematoda hati yang dapat menginfeksi manusia adalah C. sinensis dan O.
 viverini, sedangkan O. felineus, F. hepatica dan F. gigantica lebih 
banyak menginfeksi hewan. Stadium infektil cacing hati adalah 
metaserkaria. Telur dari C. sinensis dan Opistorchis pada waktu 
dikeluarkan sudah mengandung mirasidium, ukurannya lebih kecil 
dibandingkan dengan telur Fasciola yang besar dan tidak berembrio pada 
waktu dikeluarkan bersama tinja. Habitat cacing-cacing tersebut terutama
 adalah di saluran empedu, kecuali F. gigantica yang habitatnya di hati.
 Hospes perantara I cacing-cacing tersebut adalah keong, namun hospes 
perantara II C. sinensis dan Opistorchis adalah ikan air tawar dan 
hospes perantara II Fasciola adalah tumbuh-tumbuhan air.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Patologis dan 
gejala klinis terutama karena peradangan yang disebabkan oleh hasil 
metabolisme cacing yang bersifat toksin. Gejala utama dalah demam, sakit
 daerah perut, pembesaran hati yang lunak, diare dan anemia. Diagnosis 
dengan menemukan telur dalam tinja penderita. Pencegahan dengan memasak 
ikan dan tumbuhan air yang akan dimakan. Pengobatan dengan bithionol. 
Paragonimus westermani merupakan trematoda yang menginfeksi paru-paru 
manusia dan hewan (mamalia).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&amp;nbsp;Stadium infektifnya adalah metasekaria yang
 mengkista dalam tubuh ketam atau udang (HP perantar II). Keong 
merupakan hospes perantara I nya. Patologi dan gejala klinis disebabkan 
oleh cacing dewasa dalam alveoli paru-paru dan mengeluarkan telur yang 
menyebabkan gejala batuk dengan bercak seperti serbuk besi dan sputum 
yang mengandung telur. Diagnosis dengan menemukan telur dalam sputum 
atau tinja penderita. Pencegahan dengan memasak dengan baik ketam atau 
udang yang akan dimakan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Trematoda darah pada manusia adalah Schistosoma
 japonicum, S. haematobium dan S. mansoni. Infeksi terjadi dengan cara 
serkaria menembus kulit hospes. hanya mempunyai 1 hospes perantara yaitu
 keong Oncomelania (S. japonicum); Biomphalaria (S. mansoni) dan Bulinus
 (S. mansoni). Berbagai hewan dapat terinfeksi oleh cacing ini dan 
menjadi hospes reservoarnya. Habitat S. japonicum dan S. mansoni adalah 
pada vena meseterika dan cabang-cabangnya, telur yang dikeluarkan oleh 
cacing dewasa dapat ditemukan dalam tinja penderita (untuk diagnosis). 
Sedangkan habitat S. haematobium adalah pada vena kandung kencing, 
sehingga untuk diagnosis dengan menemukan telur dalam urin penderita. 
Pencegahan dengan perbaikan irigasi, pemberantasan keong dan pengobatan 
dengan kalium ammoniumnitrat, nitridazole dan astiban.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #333333; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="color: #333333; font-size: 100%;"&gt;Nematoda Darah/Jaringan Tubuh Manusia dan Hewan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #333333; font-size: 100%;"&gt;Nematoda
 darah atau dikenal sebagai Nematoda filaria, menyebabkan penyakit kaki 
gajah atau elefantiasis/filariasis. Di Indonesia terdapat 3 spesies 
cacing ini yang dikenal juga sebagai cacing filaria limfatik, sebab 
habitat cacing dewasa adalah di dalam sistem limfe (saluran dan kelenjar
 limfe) manusia yang menjadi hospes definitifnya, maupun dalam sistem 
limfe hewan yang menjadi hospes reservoar (kera dan kucing hutan). 
Spesies cacing filaria yang ada di Indonesia adalah: Wuchereria 
bancrofti, Brugia malayi dan Brugia timori. Cacing filaria ini 
ditularkan melalui gigitan nyamuk yang menjadi vektomya. Filariasis 
bancrofti mempunyai 2 tipe, yaitu: 1.Tipe urban, atau terdapat di daerah
 perkotaan, vektornya nyamuk Culex quenquefasciatus/C. fatigans. 2.Tipe 
rural, vektornya nyamuk Anopheles atau nyamuk Aedes tergantung pada 
daerahnya. Periodisitasnya adalah periodik nokturna, di mana 
mikrofilaria banyak ditemukan dalam darah tepi penderita pada waktu 
malam hari.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="color: #333333; font-size: 100%;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="color: #333333; font-size: 100%;"&gt;Filariasis malayi lebih banyak terjadi di daerah rural, 
vektornya adalah nyamuk Mansonia yang tempat perindukannya di rawa-rawa 
dekat hutan dan beberapa jenis dari nyamuk Anopheles dapat pula menjadi 
vektor penyakit ini. Perbedaan nyamuk yang menjadi vektornya tergantung 
pada daerah geografis. Periodisitas filariasis malayi adalah subperiodik
 nokturna, artinya mikrofilaria dapat ditemukan dalam darah tepi 
penderita pada waktu siang dan malam hari, meskipun jumlahnya lebih 
banyak pada malam hari.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="color: #333333; font-size: 100%;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="color: #333333; font-size: 100%;"&gt;Bila mikrofilaria dalam darah tepi penderita 
masuk ke dalam tubuh nyamuk vektor pada waktu nyamuk rnengisap darah, 
maka akan berubah menjadi larva stadium I-III (L1-L2-L3). L3 bila nyamuk
 mengisap darah manusia akan terbawa masuk ke dalam tubuh dan menuju 
saluran limfe serta menjadi dewasa dalam kelenjar limfe. Gejala utama 
filariasis adalah: limfangitis, limfadenitis, limfedema, yang bisa 
terjadi berulang-ulang sampai akhimya bila sudah kronis (bertahun-tahun)
 akan terjadi elefantiasis.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="color: #333333; font-size: 100%;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="color: #333333; font-size: 100%;"&gt;Pada infeksi W. bancrofti biasa menyerang 
ekstremitas bagian atas, alat genital, yang bisa menimbulkan hidrokel 
dan juga buah dada, namun juga bisa menyerang kaki. Filariasis malayi 
lebih banyak menyerang bagian kaki. Diagnosis dengan menemukan 
mikrofilaria dalam darah tepi penderita, tergantung periodisitasnya maka
 biasanya pemeriksaan dilakukan pada malam hari untuk menemukan 
mikrofilarianya. Lalu sediaan darah dicat dengan Giemsa, sehingga dapat 
dilihat perbedaan bentuk mf-nya untuk menentukan spesiesnya. Pengobatan 
filariasis sampai saat ini yang efektif adalah pemberian DEC (dietil 
karbamasin). Pencegahan terutama menjaga diri agar tidak digigit nyamuk,
 dengan memakai kelambu waktu tidur atau menggunakan repelen. Membasmi 
tempat perindukan nyamuk vektor, namun untuk yang habitatnya di 
rawa-rawa akan sulit dilakukan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="color: #333333; font-size: 100%;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="color: #333333; font-size: 100%;"&gt;Nematoda jaringan adalah beberapa 
spesies cacing Nematoda yang hospes yang definitifnya hewan, di mana 
cacing dewasa hidup dalam usus halus hewan tersebut. Bentuk larvanya 
yang menginfeksi jaringan tubuh manusia dan menimbulkan masalah 
penyakit. Tiga jenis cacing tersebut adalah: Trichinella spiralis yang 
hospes definitifnya adalah babi dan hewan lain (tikus, beruang, anjing 
liar dll), juga manusia. Habitat cacing dewasa dalam usus halus hospes. 
Manusia terinfeksi karena makan daging babi yang mengandung sista yang 
berisi larva di dalamnya. Daging tersebut bila dimakan tanpa dimasak 
dengan baik, maka larva akan menetas dalam usus dan menjadi dewasa. 
Cacing betina yang bersifat vivipar, menghasilkan larva yang akan 
menembus mukosa usus terbawa aliran darah sampai ke jaringan otot dan 
menyebabkan trikhinosis.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Hukum Mendell Part 2</title><link>http://avita1.blogspot.com/2012/12/hukum-mendell-part-2.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Thu, 20 Dec 2012 02:00:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3128191752653746636.post-682738591417495451</guid><description>&lt;div class="entry-title"&gt;
Penyimpangan Semu Hukum&amp;nbsp;Mendell&lt;/div&gt;
&lt;div class="entry-title"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Pada tahun 1906, W. Bateson dan R.C Punnet 
menemukan bahwa pada persilangan F2 dapat menghasilkan rasio fenotipe 14
 : 1 : 1 : 3. Merekamenyilangkan kacang kapri berbunga ungu yang serbuk 
sarinya lonjong dengan bunga merah yang serbuk sarinya bulat. Rasio 
fenotipe dari keturunan ini menyimpang dari hukum Mendel yang seharusnya
 pada keturunan kedua(F2) perbandingan rasionya 9 : 3 : 3 : 1.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Tahun 1910 T.H. Morgan, seorang sarjana Amerika dapat
 memecahkan misteri tersebut. Morgan menemukan bahwa kromosom mengandung
 banyak gen dan mekanisme pewarisannya menyimpang dari Hukum II Mendel. 
Pada lalat buah, sampai saat ini telah diketahui kira-kira ada 5.000 
gen, sedangkan lalat buah hanya memiliki 4 pasang kromosom saja.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Berarti, pada sebuah kromosom tidak terdapat sebuah 
gen saja, melainkan puluhan bahkan ratusan gen. Pada umumnya, gen 
memiliki pekerjaan sendiri-sendiri untuk menumbuhkan sifat, tetapi ada 
beberapa gen yang berinteraksi atau dipengaruhi oleh gen lain untuk 
menumbuhkan sifat. Gen tersebut mungkin terdapat pada kromosom yang sama
 atau pada kromosom yang berbeda.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Interaksi antargen akan menimbulkan perbandingan 
fenotipe yang keturunannya menyimpang dari hukum Mendel, keadaan ini 
disebut penyimpangan semu hukum Mendel. Jika pada persilangan dihibrid, 
menurut Mendel perbandingan fenotipe F2 adalah 9 : 3 : 3 : 1, pada 
penyimpangan semu perbandingan tersebut dapat menjadi (9 : 3 : 4), (9 : 
7), atau (12 : 3 : 1).&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Perbandingan tersebut merupakan modifikasi dari 9 : 3
 : 3 : 1. Interaksi gen yang menyebabkan terjadinya penyimpangan hukum 
Mendel terdapat 4 bentuk, yaitu&amp;nbsp; atavisme, kriptomeri, polimeri,&amp;nbsp; 
epistasis, hipostasis, dan komplementer.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;strong&gt;a. Atavisme (Interaksi Gen)&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Atavisme atau interaksi bentuk pada pial (jengger) 
ayam diungkap pertama kali oleh W. Bateson dan R.C. Punnet. Karakter 
jengger tidak hanya diatur oleh satu gen, tetapi oleh dua gen yang 
berinteraksi. Pada beberapa jenis ayam, gen R mengatur jengger untuk 
bentuk ros, gen P untuk fenotipe pea, gen R dan gen P jika bertemu 
membentuk fenotipe walnut. Adapun gen r bertemu p menimbulkan fenotipe 
singel.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;a href="http://biosejati.files.wordpress.com/2012/02/image37.png"&gt;&lt;img alt="image" border="0" height="332" src="http://biosejati.files.wordpress.com/2012/02/image_thumb36.png?w=477&amp;amp;h=332" style="border-bottom: 0; border-left: 0; border-right: 0; border-top: 0; display: inline;" title="image" width="477" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span id="more-983"&gt;&lt;/span&gt;

&lt;div align="justify"&gt;
Berdasarkan hasil persilangan tersebut, kita mendapatkan rasio fenotipe sebagai berikut:   &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 9 Walnut : 3 Ros : 3 Pea : 1 Singel&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Berbeda dengan persilangan yang dilakukan oleh Mendel
 dengan kacang ercisnya maka sifat dua buah bentuk jengger dalam satu 
ayam sangatlah ganjil. Dengan adanya interaksi antara dua gen dominan 
dan gen resesif seluruhnya akan menghasilkan variasi fenotipe baru, 
yakni ros dan pea. Gen dominan R yang berinteraksi dengan gen resesif P 
akan menghasil- kan bentuk jengger ros dan gen resesif r yang bertemu 
dengan gen dominan&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
P akan menghasilkan bentuk jengger pea. Perbedaan bentuk jengger ayam ini dinamakan dengan atavisme.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;strong&gt;Contoh:&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Diadakan penyilangan antara ayam berpial pea dan ayam
 berpial ros. Anak ayam keturunan F1 ada yang berpial tunggal. Dari 
hasil penyilangan ini, bagaimanakah genotipe kedua parentalnya?   &lt;br /&gt;Jawab    &lt;br /&gt;Diketahui bahwa rrP = pial pea, Rpp = pial ros, RP = pial walnut, dan rrpp = pial&amp;nbsp; singel.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Kita coba kemungkinan pertama bahwa kedua parentalnya bergenotip heterozigot.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;a href="http://biosejati.files.wordpress.com/2012/02/image38.png"&gt;&lt;img alt="image" border="0" height="130" src="http://biosejati.files.wordpress.com/2012/02/image_thumb37.png?w=329&amp;amp;h=130" style="border-bottom: 0; border-left: 0; border-right: 0; border-top: 0; display: inline;" title="image" width="329" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Jadi, genotipe parental yang akan menghasilkan salah satu keturunan berpial tunggal adalah rrPp × Rrpp.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;strong&gt;b. Kriptomeri     &lt;/strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Salah satu 
penyimpangan dari hukum Mendel adalah adanya kriptomeri, yaitu gen 
dengan sifat dominan yang hanya akan muncul jika hadir bersama dengan 
gen dominan lainnya. Peristiwa ini pertama kali diamati oleh Correns 
pada saat pertama kali mendapatkan hasil perbandingan persilangan bunga &lt;em&gt;Linaria maroccana&lt;/em&gt;
 dari galur alaminya yaitu warna merah dan putih. Hasil F1 dari 
persilangan tersebut ternyata menghasilkan bunga berwarna ungu 
seluruhnya.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Dari hasil persilangan antara generasi F1 berwarna ungu ini, dihasilkan   &lt;br /&gt;generasi Linaria maroccana dengan perbandingan F2 keseluruhan antara bunga warna ungu : merah : putih adalah 9 : 3 : 4.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Setelah dilakukan penelitian, warna bunga merah ini 
disebabkan oleh antosianin, yakni suatu pigmen yang berada dalam bunga. 
Bunga berwarna merah diidentifikasi sebagai bunga yang tidak memiliki 
antosianin. Dari penelitian lebih jauh, ternyata warna merah disebabkan 
oleh antosianin yang hadir dalam kondisi sel yang asam dan jika hadir 
dalam kondisi basa akan dihasilkan bunga dengan warna ungu. Bunga tanpa 
antosianin akan tetap berwarna putih jika hadir dalam kondisi asam 
ataupun basa. Bunga merah ini bersifat dominan terhadap bunga putih yang
 tidak berantosianin.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Jika kita misalkan bunga dengan antosianin adalah A 
dan bunga tanpa antosianin adalah a, sedangkan pengendali sifat 
sitoplasma basa adalah B dan pengendali sitoplasma bersuasana asam 
adalah b, persilangan antara bunga putih dengan bunga merah hingga 
dihasilkan keturunan kedua&amp;nbsp; sebagai berikut.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;a href="http://biosejati.files.wordpress.com/2012/02/image39.png"&gt;&lt;img alt="image" border="0" height="346" src="http://biosejati.files.wordpress.com/2012/02/image_thumb38.png?w=490&amp;amp;h=346" style="border-bottom: 0; border-left: 0; border-right: 0; border-top: 0; display: inline;" title="image" width="490" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
AABB, 2 AABb   &lt;br /&gt;2 AaBB, 4 AaBb = 9 ungu    &lt;br /&gt;AAbb, 2 Aabb = 3 merah    &lt;br /&gt;aaBB, 2 aaBb, aabb = 4 putih&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;a href="http://biosejati.files.wordpress.com/2012/02/image40.png"&gt;&lt;img alt="image" border="0" height="276" src="http://biosejati.files.wordpress.com/2012/02/image_thumb39.png?w=485&amp;amp;h=276" style="border-bottom: 0; border-left: 0; border-right: 0; border-top: 0; display: inline;" title="image" width="485" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;strong&gt;c. Polimeri&lt;/strong&gt;    &lt;br /&gt;Salah satu tujuan
 dari persilangan adalah menghasilkan varietas yang diinginkan atau 
hadirnya varietas baru. Dari persilangan yang dilakukan oleh Nelson Ehle
 pada gandum dengan warna biji merah dengan putih, ia menemukan variasi 
warna merah yang dihasilkan pada keturunannya.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Peristiwa ini mirip dengan persilangan dihibrid tidak
 dominan sempurna yang menghasilkan warna peralihan seperti merah muda. 
Hanya saja, warna yang dihasilkan ini tidak hanya dikontrol oleh satu 
pasang gen saja, melainkan oleh dua gen yang berbeda lokus, namun masih 
memengaruhi terhadap sifat yang sama. Peristiwa ini dinamakan dengan 
polimeri.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Pada contoh kasus persilangan antara biji gandum berwarna merah dengan   &lt;br /&gt;biji gandum berwarna putih dapat Anda perhatikan pada bagan berikut.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;a href="http://biosejati.files.wordpress.com/2012/02/image41.png"&gt;&lt;img alt="image" border="0" height="343" src="http://biosejati.files.wordpress.com/2012/02/image_thumb40.png?w=481&amp;amp;h=343" style="border-bottom: 0; border-left: 0; border-right: 0; border-top: 0; display: inline;" title="image" width="481" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Hasil persilangan di atas menghasilkan perbandingan 
fenotipe 15 kulit biji berwarna merah dan hanya satu kulit biji berwarna
 putih. Warna merah dihasilkan oleh gen dominan yang terkandung di dalam
 gandum tersebut, baik M1 maupun M2.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Pada kenyataannya, warna merah yang dihasilkan sangat
 bervariasi, mulai dari warna merah tua, merah sedang, merah muda, 
hingga merah pudar mendekati putih. Semakin banyak gen dominan yang 
menyusunnya, semakin merah juga warna kulit gandum tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;a href="http://biosejati.files.wordpress.com/2012/02/image42.png"&gt;&lt;img alt="image" border="0" height="336" src="http://biosejati.files.wordpress.com/2012/02/image_thumb41.png?w=483&amp;amp;h=336" style="border-bottom: 0; border-left: 0; border-right: 0; border-top: 0; display: inline;" title="image" width="483" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Peristiwa polimeri ini melibatkan beberapa gen yang 
berada di dalam lokus berbeda namun memengaruhi satu sifat yang sama. 
Pada kasus warna kulit biji gandum ini, efek dari hadirnya gen dominan 
bersifat akumulatif terhadap penampakan warna merah. Jadi, semakin 
banyak gen dominan pada organisme, akan semakin merah juga dihasilkan 
warna kulit biji gandumnya.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;strong&gt;d. Epistasis dan Hipostasis&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Dalam interaksi beberapa gen ini, kadang salah satu 
gen bersifat menutupi baik terhadap alelnya dan alel lainnya. Sifat ini 
dikenal dengan nama epistasis dan hipostatis.&amp;nbsp; Epistasis adalah sifat 
yang menutupi, sedangkan hipostasis adalah sifat yang ditutupi.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Pasangan gen yang menutup sifat lain tersebut dapat 
berupa gen resesif atau gen dominan. Apabila pasangan gen dominan yang 
menyebabkan epistasis, prosesnya dinamakan dengan epistasis dominan, 
sedangkan jika penyebabnya adalah pasangan gen resesif, prosesnya 
dinamakan dengan epistasis resesif.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Peristiwa epistasis ini dapat ditemukan pada pembentukan warna biji tanaman sejenis gandum dan pembentukan warna kulit labu (&lt;em&gt;Cucurbita pepo). &lt;/em&gt;Pada
 pembentukan warna kulit biji gandum, Nelson Ehle menyilangkan dua 
varietas gandum warna kulit biji hitam dengan warna kulit biji kuning.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Nelson Ehle adalah seorang peneliti yang pertama kali
 mengamati pengaruh epistasis dan hipostatis pada pembentukan warna 
kulit biji gandum. Hasil pengamatannya menunjukkan bahwa 100% warna 
kulit biji yang dihasilkan adalah hitam.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;a href="http://biosejati.files.wordpress.com/2012/02/image43.png"&gt;&lt;img alt="image" border="0" height="411" src="http://biosejati.files.wordpress.com/2012/02/image_thumb42.png?w=485&amp;amp;h=411" style="border-bottom: 0; border-left: 0; border-right: 0; border-top: 0; display: inline;" title="image" width="485" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Dari diagram tersebut dapat kita peroleh perbandingan fenotipenya, yaitu 12 hitam : 3 kuning : 1 putih.   &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Dapat dilihat pada persilangan ini, setiap kemunculan
 gen H dominan maka fenotipe yang dihasilkannya adalah langsung warna 
biji hitam. Warna biji kuning hanya akan hadir apabila gen dominan K 
bertemu dengan gen resesif h, sedangkan warna putih disebabkan oleh 
interaksi sesama gen resesif. Dengan demikian, gen dominan H bersifat 
epistasis terhadap gen K sehingga peristiwa ini dinamakan dengan 
epistasis dominan.   &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Peristiwa epistasis lainnya dapat ditemukan pada 
pembentukan warna rambut tikus. Warna hitam pada rambut tikus disebabkan
 oleh adanya gen R dan C bersama, sedangkan warna krem disebabkan oleh 
rr dan C. Apabila terdapat gen cc, akan dihasilkan warna albino. 
Perhatikan diagram berikut.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;a href="http://biosejati.files.wordpress.com/2012/02/image44.png"&gt;&lt;img alt="image" border="0" height="262" src="http://biosejati.files.wordpress.com/2012/02/image_thumb43.png?w=491&amp;amp;h=262" style="border-bottom: 0; border-left: 0; border-right: 0; border-top: 0; display: inline;" title="image" width="491" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;a href="http://biosejati.files.wordpress.com/2012/02/image45.png"&gt;&lt;img alt="image" border="0" height="116" src="http://biosejati.files.wordpress.com/2012/02/image_thumb44.png?w=494&amp;amp;h=116" style="border-bottom: 0; border-left: 0; border-right: 0; border-top: 0; display: inline;" title="image" width="494" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Persilangan antartikus berwarna hitam homozigot 
dengan tikus berwarna albino menghasilkan generasi pertama F1 tikus 
berwarna hitam semua.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Berdasarkan hasil persilangan kedua, ternyata dihasilkan rasio fenotipe&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 9 hitam : 3 krem : 4 albino   &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Kita dapat melihat, adanya gen resesif cc menyebabkan
 semua warna rambut tikus albino. Adapun kombinansi gen dominan 
menyebabkan warna hitam. Hadirnya gen dominan C menyebabkan warna rambut
 tikus krem.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;strong&gt;e. Komplementer&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Salah satu tipe interaksi gen-gen pada organisme 
adalah saling men- dukung munculnya suatu fenotipe atau sifat. W. 
Bateson dan R.C. Punnet yang bekerja pada bunga Lathyrus adoratus 
menemukan kenyataan ini.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Mereka melakukan persilangan sesama bunga putih dan 
menghasilkan keturunan F2 bunga berwana ungu seluruhnya. Pada 
persilangan bunga-bunga berwarna ungu F2, ternyata dihasilkan bunga 
dengan warna putih dalam jumlah yang banyak dan berbeda dengan perkiraan
 sebelumnya, baik hukum Mendel atau sifat kriptomeri.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Penelitian lebih lanjut yang dilakukan oleh keduanya 
mengungkapkan ada dua gen yang berinteraksi memengaruhi warna bunga, 
yakni gen yang mengontrol munculnya bahan pigmen (C) dan gen yang 
mengaktifkan bahan tersebut (P). Jika keduanya tidak hadir bersamaan, 
tentu tidak saling melengkapi antara sifat satu dengan yang lainnya dan 
menghasilkan bunga dengan warna putih (tidak berpigmen). Apabila tidak 
ada bahan pigmen, tentu tidak akan muncul warna, meskipun ada bahan 
pengaktif pigmennya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Begitupun sebaliknya, apabila tidak ada pengaktif 
pigmen maka pigmen yang telah ada tidak akan dimunculkan dan tetap 
menghasilkan bunga tanpa pigmen (berwarna putih). Persilangan yang 
dilakukan oleh Bateson dan Punnet dapat diamati pada diagram berikut 
ini.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;a href="http://biosejati.files.wordpress.com/2012/02/image46.png"&gt;&lt;img alt="image" border="0" height="351" src="http://biosejati.files.wordpress.com/2012/02/image_thumb45.png?w=493&amp;amp;h=351" style="border-bottom: 0; border-left: 0; border-right: 0; border-top: 0; display: inline;" title="image" width="493" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Sifat yang dihasilkan oleh interaksi gen yang saling 
melengkapi dan bekerja sama ini dinamakan dengan komplementer. 
Ketidakhadiran sifat dominan pada suatu pasangan gen tidak akan 
memunculkan sifat fenotipe dan hanya akan muncul apabila hadir 
bersama-sama dalam pasangan gen dominannya.&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Hukum Mendell</title><link>http://avita1.blogspot.com/2012/12/hukum-mendell.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Thu, 20 Dec 2012 01:37:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3128191752653746636.post-4876306587263871915</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hukum Mendell (Genetika)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Setelah dulu saya menuliskan artikel tentang kromosom di sini dan tentang &lt;a href="http://biologimediacentre.com/materi-genetis-adn-dan-arn/" target="_blank" title="materi genetis"&gt;materi genetis&lt;/a&gt;, sekarang saatnya saya menjelaskan tentang &lt;a href="http://biologimediacentre.com/genetika-hukum-mendel/" target="_blank" title="Genetika"&gt;Genetika&lt;/a&gt;.
 Dua artikel yang telah saya tunjukkan tadi sebenarnya merupakan dasar 
untuk memahami konsep genetika lebih lanjut nantinya. Sekarang saya akan
 menuliskan dulu mengenai konsep genetika menurut Mendel, atau sering 
disebut Genetika Mendellian.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;Hukum Mendell&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tokoh peletak prinsip dasar genetika adalah &lt;strong&gt;Gregor Johan Mendell&lt;/strong&gt; seorang biarawan dan penyelidik tanaman berkebangsaan Austria.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada tahun 1866 Mendell melaporkan hasil penyelidikannya selama bertahun-tahun atas kacang ercis/kapri (&lt;em&gt;Pisum sativum&lt;/em&gt;). Untuk mempelajari sifat menurun Mendell menggunakan kacang ercis dengan alasan:&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; memiliki pasangan sifat yang menyolok&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; bisa melakukan penyerbukan sendiri&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; segera menghasilkan keturunan atau umurnya pendek&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; mampu menghasilkan banyak keturunan, dan&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; mudah disilangkan&lt;/div&gt;
&lt;table border="0" cellpadding="2" cellspacing="0" style="margin-left: 0px; margin-right: 0px; text-align: left; width: 450px;"&gt;
&lt;tbody&gt;
&lt;tr class="alt"&gt;
&lt;td valign="top" width="448"&gt;&lt;a href="http://lh5.ggpht.com/_wYv4UjyptOQ/TM_vQ0BCiDI/AAAAAAAAAfY/U2kxZpMt_vA/s1600-h/image%5B27%5D.png" target="_blank"&gt;&lt;img alt=" Genetika : Hukum Mendel" border="0" height="231" src="http://lh4.ggpht.com/_wYv4UjyptOQ/TM_vTX53iYI/AAAAAAAAAfc/8kbYTP1vDhM/image_thumb%5B17%5D.png?imgmax=800" style="background-image: none; border-width: 0px; display: inline; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" title="Genetika : Hukum Mendel" width="454" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td valign="top" width="448"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Inilah tiga langkah eksperimen yang dilakukan Mendell. Perhatikan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;dengan cermat perbandingannya berdasar warna bunga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;
&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dari hasil penelitiannya tersebut Mendell menemukan prinsip dasar genetika yang lebih dikenal dengan Hukum Mendell.&lt;/div&gt;
&lt;table border="0" cellpadding="2" cellspacing="0" style="margin-left: 0px; margin-right: 0px; text-align: left; width: 400px;"&gt;
&lt;tbody&gt;
&lt;tr class="alt"&gt;
&lt;td valign="top" width="206"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://lh6.ggpht.com/_wYv4UjyptOQ/TM_ve0GzZDI/AAAAAAAAAfg/EhhLBiSy2Jo/s1600-h/image%5B8%5D.png" target="_blank"&gt;&lt;img alt=" Genetika : Hukum Mendel" border="0" height="335" src="http://lh6.ggpht.com/_wYv4UjyptOQ/TM_vm7IrBiI/AAAAAAAAAfk/Tc1MX8A3-IQ/image_thumb%5B4%5D.png?imgmax=800" style="background-image: none; border-width: 0px; display: inline; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" title="Genetika : Hukum Mendel" width="254" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td valign="bottom" width="194"&gt;
&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Gregor Johan Mendell (1811 – 
1884) sang peletak prinsip dasar ilmu genetika. Dari dasar penelitiannya
 tersebut genetika berkembang pesat hingga sekarang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td valign="top" width="206"&gt;&lt;a href="http://lh3.ggpht.com/_wYv4UjyptOQ/TM_vrBvnSPI/AAAAAAAAAfo/fpDBfmwwWlk/s1600-h/image%5B9%5D.png" target="_blank"&gt;&lt;img alt=" Genetika : Hukum Mendel" border="0" height="208" src="http://lh5.ggpht.com/_wYv4UjyptOQ/TM_vtm-7SLI/AAAAAAAAAfs/zQ0h38C_Vr0/image_thumb%5B5%5D.png?imgmax=800" style="background-image: none; border-width: 0px; display: inline; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" title="Genetika : Hukum Mendel" width="254" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td valign="bottom" width="194"&gt;
&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Kacang Kapri/Ercis (Pisum sativum) yang diteliti oleh Mendell hingga menemukan konsep pewarisan sifat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;
&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hukum Mendell I/Hukum Pemisahan Bebas&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Hukum Mendell I&lt;/strong&gt; dikenal juga dengan &lt;strong&gt;Hukum Segregasi&lt;/strong&gt; menyatakan: ‘&lt;em&gt;pada pembentukan gamet kedua gen yang merupakan pasangan akan dipisahkan&amp;nbsp; dalam dua &lt;a href="http://biologimediacentre.com/struktur-sel/" target="_blank" title="sel"&gt;sel&lt;/a&gt; anak&lt;/em&gt;’. Hukum ini berlaku untuk persilangan monohibrid (persilangan dengan satu sifat beda).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
Contoh dari terapan Hukum Mendell I adalah &lt;strong&gt;persilangan monohibrid&lt;/strong&gt; dengan &lt;strong&gt;dominansi&lt;/strong&gt;.
 Persilangan dengan dominansi adalah persilangan suatu sifat beda dimana
 satu sifat lebih kuat daripada sifat yang lain. Sifat yang kuat disebut
 sifat dominan dan bersifat menutupi, sedangkan yang lemah/tertutup 
disebut sifat resesif.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
Perhatikan contoh berikut ini:&lt;br /&gt;
Disilangkan antara mawar merah yang bersifat dominan dengan mawar putih yang bersifat resesif.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://lh6.ggpht.com/_wYv4UjyptOQ/TM_vuwnvFFI/AAAAAAAAAfw/Wwsi2AcdAXY/s1600-h/image%5B18%5D.png" target="_blank"&gt;&lt;img alt=" Genetika : Hukum Mendel" border="0" height="191" src="http://lh6.ggpht.com/_wYv4UjyptOQ/TM_vwCWKVGI/AAAAAAAAAf0/8aNQxocfj9U/image_thumb%5B12%5D.png?imgmax=800" style="background-image: none; border-width: 0px; display: inline; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" title="Genetika : Hukum Mendel" width="450" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Persilangan monohibrid dengan kasus intermediet&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
Sifat intermediet adalah sifat yang sama kuat, jadi tidak ada yang dominan ataupun resesif.&lt;br /&gt;
Contoh: disilangkan antara mawar merah dengan mawar putih&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://lh5.ggpht.com/_wYv4UjyptOQ/TM_vxfW0-7I/AAAAAAAAAf4/17AnP4oYqEc/s1600-h/image%5B23%5D.png" target="_blank"&gt;&lt;img alt=" Genetika : Hukum Mendel" border="0" height="174" src="http://lh3.ggpht.com/_wYv4UjyptOQ/TM_vz5x09qI/AAAAAAAAAf8/h2LZrDAuD9Y/image_thumb%5B15%5D.png?imgmax=800" style="background-image: none; border-width: 0px; display: inline; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" title="Genetika : Hukum Mendel" width="450" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hukum Mendell II/Hukum Berpasangan Bebas&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Hukum Mendell II&lt;/strong&gt; dikenal dengan Hukum &lt;strong&gt;Independent Assortment&lt;/strong&gt;,
 menyatakan: ‘bila dua individu berbeda satu dengan yang lain dalam dua 
pasang sifat atau lebih, maka diturunkannya sifat yang sepasang itu 
tidak bergantung pada sifat pasangan lainnya’. Hukum ini berlaku untuk 
persilangan dihibrid (dua sifat beda) atau lebih.&lt;br /&gt;
Contoh: disilangkan ercis berbiji bulat warna kuning (dominan) dengan ercis berbiji kisut warna hijau (resesif)&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://lh3.ggpht.com/_wYv4UjyptOQ/TM_v08Qk76I/AAAAAAAAAgA/pW5p17dj2-0/s1600-h/image%5B32%5D.png" target="_blank"&gt;&lt;img alt=" Genetika : Hukum Mendel" border="0" height="255" src="http://lh4.ggpht.com/_wYv4UjyptOQ/TM_v2dt3EUI/AAAAAAAAAgE/t0DK6-z_b3k/image_thumb%5B20%5D.png?imgmax=800" style="background-image: none; border: 0px none; display: inline; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" title="Genetika : Hukum Mendel" width="450" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Konsep Backcross dan Testcross&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Backcross (silang balik)&lt;/strong&gt; adalah langkah silang antara &lt;em&gt;F1 dengan salah satu induknya.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table border="1" cellpadding="2" cellspacing="0" style="margin-left: 0px; margin-right: 0px; text-align: left; width: 400px;"&gt;
&lt;tbody&gt;
&lt;tr class="alt"&gt;
&lt;td align="center" valign="top" width="398"&gt;&lt;strong&gt;F1&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; x&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; salah satu induk (P)&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;
&lt;/table&gt;
&lt;table border="1" cellpadding="2" cellspacing="0" style="margin-left: 0px; margin-right: 0px; text-align: left; width: 400px;"&gt;
&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Testcros (uji silang)&lt;/strong&gt; adalah persilangan antara &lt;em&gt;suatu individu yang genotifnya belum diketahui dengan individu yang telah diketahui bergenotif homozigot resesif&lt;/em&gt;. Gunanya untuk mengetahui apakah genotif suatu individu tersebut homozigot ataukah heterozigot.&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Persilangan Resiprok&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
Persilangan resiprok adalah suatu persilangan dimana sifat induk jantan 
dan betina bila dibolak-balik/dipertukarkan tetapi tetap menghasilkan 
keturunan yang sama.&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="http://lh4.ggpht.com/_wYv4UjyptOQ/TM_vTX53iYI/AAAAAAAAAfc/8kbYTP1vDhM/s72-c/image_thumb%5B17%5D.png?imgmax=800" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Teori Evolusi Part 2</title><link>http://avita1.blogspot.com/2012/12/teori-evolusi-part-2.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Thu, 20 Dec 2012 01:05:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3128191752653746636.post-6941841267118079171</guid><description>
 
 &lt;br /&gt;
&lt;div id="subsidiary"&gt;
  &lt;header class="site-header" id="masthead" role="banner"&gt;
   &lt;hgroup&gt;
    &lt;h1 class="site-title"&gt;
&lt;a href="http://grelovejogja.wordpress.com/" rel="home" title="Gunawan's Site"&gt;Gunawan's Site&lt;/a&gt;&lt;/h1&gt;
&lt;h2 class="site-description"&gt;
Tak Menyerah Dengan Keadaan&lt;/h2&gt;
&lt;/hgroup&gt;
        &lt;a class="header-image-link" href="http://grelovejogja.wordpress.com/" rel="home" title="Gunawan's Site"&gt;
      &lt;img alt="" height="70" src="http://grelovejogja.files.wordpress.com/2012/12/kamu-a.jpg" width="240" /&gt;
     &lt;/a&gt;
     &lt;/header&gt;
  
 &lt;nav class="site-navigation main-navigation" role="navigation"&gt;
  &lt;h1 class="assistive-text"&gt;
Menu&lt;/h1&gt;
&lt;div class="assistive-text skip-link"&gt;
&lt;a href="http://grelovejogja.wordpress.com/2007/11/03/teori-evolusi/#content" title="Langsung ke isi"&gt;Langsung ke isi&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="menu-home-container"&gt;
&lt;ul class="menu" id="menu-home"&gt;
&lt;li class="menu-item menu-item-type-custom menu-item-object-custom menu-item-home menu-item-8462" id="menu-item-8462"&gt;&lt;a href="http://grelovejogja.wordpress.com/"&gt;Home&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class="menu-item menu-item-type-custom menu-item-object-custom menu-item-home menu-item-8444" id="menu-item-8444"&gt;&lt;a href="http://grelovejogja.wordpress.com/"&gt;About Me&lt;/a&gt;

&lt;/li&gt;
&lt;li class="menu-item menu-item-type-custom menu-item-object-custom menu-item-home menu-item-8445" id="menu-item-8445"&gt;&lt;a href="http://grelovejogja.wordpress.com/"&gt;Contact Us&lt;/a&gt;

&lt;/li&gt;
&lt;li class="menu-item menu-item-type-post_type menu-item-object-page menu-item-8435" id="menu-item-8435"&gt;&lt;a href="http://grelovejogja.wordpress.com/jasa-penerbitan-buku/"&gt;Jasa Penerbitan Buku&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class="menu-item menu-item-type-post_type menu-item-object-page menu-item-8438" id="menu-item-8438"&gt;&lt;a href="http://grelovejogja.wordpress.com/download/"&gt;Download&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class="menu-item menu-item-type-post_type menu-item-object-page menu-item-8441" id="menu-item-8441"&gt;&lt;a href="http://grelovejogja.wordpress.com/links/"&gt;Links&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/nav&gt;

 &lt;div class="widget-area" id="secondary" role="complementary"&gt;
    &lt;aside class="widget widget_text" id="text-167631953"&gt;&lt;h1 class="widget-title"&gt;
Author&lt;/h1&gt;
&lt;div class="textwidget"&gt;
My Name is Anggun Gunawan. I was born 23 November 1984 in Kepala Hilalang, Pariaman, West Sumatera. I'm the owner of &lt;a href="http://grepublishing.com/"&gt;Gre Publishing&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/aside&gt; &lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;header class="entry-header"&gt;
     &lt;h1 class="entry-title"&gt;
TEORI&amp;nbsp;EVOLUSI&lt;/h1&gt;
&lt;/header&gt;&lt;div align="justify"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Teori
 evolusi berawal dari sebuah pertanyaan besar yang telah menganggu 
pikiran manusia dari dahulu, yaitu “DARI MANA ASAL MANUSIA?”. Banyak 
pandangan lahir, namun Teori Evolusilah yang paling mengemparkan. Teori 
Evolusi secara kasar digambarkan sebagai teori yang mengatakan bahwa 
manusia berasal dari binatang, jelasnya dari kera.&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt; Pengertian&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Evolusi dari segi bahasa (Bahasa Inggris: evolution),
 berarti perkembangan. Dalam ilmu sejarah, evolusi diartikan sebagai 
perkembangan social, ekonomis, politis yang berjalan sedikit demi 
sedikit, tanpa unsur paksaan. Dalam ilmu pengetahuan, istilah evolusi 
diartikan sebagai perkembangan berangsur-angsur dari benda yang 
sederhana menuju benda yang lebih sempurna.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Evolusi pada dasarnya berarti proses perubahan dalam 
jangka waktu tertentu. Dalam konteks biologi modern, evolusi berarti 
perubahan frekuensi gen dalam suatu populasi. Akumulasi perubahan gen 
ini menyebabkan terjadinya perubahan pada makhluk hidup.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt; Tokoh-Tokoh Teori Evolusi Awal&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt; J. B. de Lamarck (1774-1829&lt;/strong&gt;)&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Lamarck adalah seorang sarjana Perancis, merupakan 
orang pertama yang secara tegas menyatakan bahwa kehidupan berkembang 
dari tumbuh-tumbuhan menuju binatang, dan dari binatang menuju manusia. 
Namun, pandangannya pada waktu itu belum mendapat banyak perhatian.&lt;/div&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt; Charles Darwin (1809-1882)&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Darwin adalah ahli zoology yang berasal dari Inggris.
 Dalam bukunya “The Origin of Species)” (Terjadinya Jenis-Jenis), yang 
terbit tahun 1859, ia merumuskan pandangan bahwa: semua jenis binatang 
berasal dari satu sel purba. Sel-sel purba ini menurut Darwin diciptakan
 oleh Tuhan.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Tahun 1871, terbit buku kedua Darwin, “The Descent of
 Man” (Asal Usul Manusia). Dalam buku ini, ia mengatakan: binatang yang 
paling maju, yaitu kera, dengan proses struggle of life, sedikit demi 
sedikit berubah, dan dalam jenisnya yang paling sempurna, mengarah 
menuju wujud kemanusiaan. Binatang menjadi manusia. Pandangan ini 
diperkuat dengan ditemukannya tengkorak Manusia Neanderthal tahun 1856 
di Lembah dekat Dusseldorf, Jerman Barat. Manusia Neanderthal menyerupai
 kera dan manusia.&lt;/div&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt; Ernst Heirich Haeckel (1834-1919)&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Haeckel adalah sarjana ilmu pengetahuan berkebangsaan
 Jerman. Ia menolak penciptaan sama sekali. Menurutnya, dunia ini kekal,
 tak ada permulaan, dan hidup tercipta dengan sendirinya secara mekanis.
 Demikian juga halnya dengan manusia.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Haeckel dalam bukunya “Naturliche 
Schopfungsgeschichte” (Sejarah Penciptaan) mengatakan, bahwa sebelum 
manusia Neanderthal tentu pernah hidup semacam “keramanusia” yang 
disebutnya “Pithecanthropus”. Namun sampai waktu fossil semacam 
keramanusia itu belum ditemukan.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Atas pengaruh Haeckel timbullah kebiasaan untuk 
menyamaratakan manusia dengan kera, melalui ungkapan “manusia berasal 
dari kera”. Haeckel yang sikapnya atheis membuka lebar jalan bagi 
penganut teori evolusi yang menentang Tuhan terutama Marxisme dan 
Komunisme.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt; Perkembangan Teori Evolusi Biologis (Aspek Lahiriah)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Secara garis besar bukti biologis/fisically yang membuktikan teori evolusi ada 3, yaitu:&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;strong&gt;1. Penemuan fosil-fosil dari zaman purba&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Fosil adalah kerangka atau bagian kerangka baik dari 
hewan, tumbuh-tumbuhan, atau manusia, yang pernah hidup di zaman 
purbakala. Menurut fosil, manusia purba dapat di golongkan atas:&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;strong&gt; a.    Manusia pra-Neanderthal (antara 600.000-150.000 tahun yang lalu)&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Dari hasil penemuan-penemuan pada zaman ini, Klaatsch
 ,menyimpulkan bahwa manusia tidak berasal langsung dari kera primat 
(kera modern), tapi dari semacam makhluk turunan dari species kera umum,
 yang merupakan pendahulu baik dari kera-kera modern maupun dari 
manusia.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;strong&gt; b.    Manusia Neanderthal (hidup 150.000-60.000 tahun yang lalu)&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Kebudayaan Manusia Neanderthal tampak jelas yaitu 
dengan ditemukannya alat-alat kerja dari batu dan tulang dan juga tempat
 kuburan serta tempat makanan. Sehingga kemanusiaan manusia Neanderthal 
tidak dapat diragukan lagi. Kesadaran untuk beragama telah mulai 
membenih dalam dirinya.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;strong&gt; c.    Manusia Post-Neanderthal (60.000-10.000 tahun yang lalu)&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Manusia pada zaman ini dizamakan Homo sapiens. Mereka
 tidak hanya mengenal alat-alat kerja yang halus, lebih dari itu, mereka
 telah menguburkan yang mati, memiliki kemampuan untuk merenungkan 
hidupnya sendiri dan seluruh alam. Ia menjadi pelukis, manjadi seniman.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;strong&gt;2. Keajaiban Atom&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Tidaklah benar benda-benda itu statis, mati. 
Kenyataannya adalah benda itu sanggup berubah dari intinya (atom), tidak
 sekedar berubah secara fisik saja. Terjadi perubahan dalam inti atom 
dan kefleksibelannya dalam menyatukan diri dengan atom lain. Susunan 
dari bagian-bagian elementer (proton, neutron, electron) sangat berbeda 
dengan variasi yang tak terbatas, apalagi peralihannya. Hal dapat 
ditafsirkan sebagai cermin dari perubahan-perubahan yan berlangsung 
dalam bidang yang lebih tinggi, yaitu dalam alam tumbuh-tumbuhan, 
binatang dan manusia. Inti pendorong evolusi adalah enersi. Para ahli 
tidak bisa memastikan apakah bentuk enersi itu berupa materi, karena 
bagian elementer atom sama sekali tidak dapat dilihat, tidak dapat 
dibayangkan atau digambarkan.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;strong&gt;3. Satu Sel Menjadi Bayi&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Perkembangan yang dialami oleh anak bayi dalam 
kandungan wanita adalah suatu kejadian yang paling mengesankan bagi 
teori evolusi. Kejadian itu disebut “ontogenese”. Dengan istilah itu 
dimaksudkan: perkembangan yang dialami dari satu sel menuju wujud 
kemanusiaan. Ontogenese menunjukkan betapa hebat kekuatan alam 
mengembangkan sesuatu yang serba sederhana menjadi sempurna.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Selain tiga bukti ini, masih ada bukti-bukti 
fosil-fosil binatang dan tumbuhan, perkembangan bintang-bintang yang 
dasyat sebagaimana dapat disaksikan oleh astronomi untuk menguatkan 
teori evolusi.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;Kesadaran (Aspek Batin)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Jika Darwin tokoh vital teori evolusi awal, di zaman 
modern ini, Teilhard de Chardin, sarjana paleontology dari Perancis, 
yang sangat popular dalam teori evolusi. Menurut Teilhard bumi mengalami
 3 fase evolusi:&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;
Fase Geosfer: fase terciptanya matahari dan planet-planet (termasuk 
bumi). Pada fase ini belum ada kehidupan, namun perubahan alam berjalan 
terus.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;
Fase Kehidupan (biosfer): bermula dari sel-sel, sampai pada tingkat 
perkembangan tertinggi. Loncatan evolusi terpenting adalah munculnya 
manusia.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;
Fase pikiran: manusia berkembang dari pola kehidupan primitif sampai 
pada kehidupan modern yang ditandai teknik dan industri modern.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Teilhard mengatakan, setiap benda memiliki dua segi 
yang saling berjalin, yaitu segi luar (without): seluruh struktur benda 
sejauh dapat diukur, diperiksa secara fisika-kimia, dan segi dalam 
(within): konsentrasi psikis-inti kecendrungan dari benda.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Oleh Teilhard, konsentrasi psikis itu disebut 
“kesadaran”. Kesadaran nampak jelas dalam diri manusia, namun ada juga 
dalam binatang sebagai perasaan dan insting, dan dalam tumbuh-tumbuhan 
sebgai hidup vegetatif. Sedangkan dalam benda mati “kesadaran” itu masih
 tipis.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Segi luar dan segi dalam tidaklah merupakan dua 
bagian yang berlainan dalam suatu benda, melainkan dua sudut dari 
kenyataan yang sama, sehingga tidak dapat dipisah-pisahkan. Jadi benda 
bukanlah semacam kumpulan atom-atom yang berjajaran secara mekanis saja,
 melainkan suatu penyatuan atom-atom dan molekul-molekul dengan daya 
kecendrungan tertentu. Kecendrungan itu, “kesadaran” itu, adalah kunci 
evolusi.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Dalam benda mati, kombinasi atom dan molekul masih 
relatif sederhana dan sejalan dengan kesederhanaan segi luar itu, 
konsentrasi psikis, segi dalamnya-pun masih sederhana dan tipis. Makin 
kompleks, makin kaya segi lahir, yakni kombinasi molekul-molekulnya, 
makin padat dan kuatlah segi batinnya. Evolusi menuju struktur benda 
yang semakin sempurna adalah sekaligus evolusi menuju kesadaran batin 
yang semakin memusat. Sampai suatu saat, terjadilah loncatan maha 
penting dalam proses evolusi alam semesta, yaitu: meningkatnya kesadaran
 instinktif menjadi kesadaran reflektif, lahirnya pikiran. Terjadilah 
jiwa manusiawi. Manusia sadar bahwa dirinya “sadar”, dapat berkata 
“aku”, dapat memikirkan masa lampau dan masa depan, mengambil 
kesimpulan, dan merencanakan. Ia sendiri kini menjadi pendorong evolusi.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Makin kompleks, makin bersatulah benda – itulah hukum
 evolusi–, yang disebut oleh Teilhard “loi de complexite et de 
conscience” (hukum eratnya hubungan antara kompleksifikasi materi dan 
konsentrasi batin, yaitu kesadaran). Dan bisa ditambahkan bahwa; makin 
bersatu, makin bebas dari pengaruh luar, makin merdekalah ia dalam 
dirinya sendiri. Kebebasan mencapai puncaknya dalam diri manusia. Ia 
merupakan satu personality, kepribadian yang menyeluruh dalam dirinya 
sendiri. Ia bebas menentukan nasibnya sendiri.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Penjelasan dari Teilhard merupakan pukulan yang 
mematikan bagi materialisme. Ia menunjukan bahwa evolusi tidak berjalan 
atas susunan materi belaka, tidak berkembang dari kebetulan, tetapi 
secara terarah, berdasarkan kesadaran batin, seakan-akan dalam benda itu
 tertanam suatu rencana.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Persatuan mutlak antara segi lahir dan batin (tubuh 
dan jiwa) membawa kesimpulan-kesimpulan yang revolusioner. Pertama, 
manusia, seluruhnya jiwa dan badan berasal dari bapak ibu, dari leluhur.
 Jadi bukanlah bahwa anak bayi tubuhnya berasal dari sel telur perempuan
 dan sperma lelaki, sedang jiwanya pada pembuahan langsung diciptakan 
Tuhan. Tetapi, bapak ibu secara total, jiwa dan badan, menurunkan anak. 
Kedua: jika manusia meninggal, tubuh tidak akan mutlak terpisah dari 
jiwa, dan itu merupakan dasar dari kebangkitan.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;Penutup&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Teori evolusi bukan lagi teori evolusi dari Darwin. 
Darwin sudah jauh ketinggalan. Meskipun ia tetap berjasa, namun teorinya
 sudah demikian mendapat koreksi, hingga teori evolusi tidak dapat 
disebut dan disamaratakan dengan Darwinisme.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Selama ribuan tahun manusia berevolusi dalam 
kesadaran. Manusia telah mencapai tingkat kompleksitas yang tinggi, baik
 dalam pemikiran, perasaan maupun kegiatan-kegiatan hidupnya. 
Lebih-lebih dalam 300 tahun terakhir, telah terjadi peningkatan yang 
luar biasa di bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan kemampuan-kemampuan
 intelektuil yang lain.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Sesungguhnya titik terpenting teori evolusi bagi 
kehidupan manusia hari ini adalah penelaahan terhadap langkah-langkah 
perkembangan kebudayaan manusia. Sehingga kita akan memikirkan lagi asal
 usul seluruh kegiatan dan tujuan-tujuan dasar dari kegiatan tersebut. 
Di bidang ekonomi misalnya, dimana saat ini yang menguasai kegiatan 
ekonomi adalah kapitalistik dan penciptaan kebutuhan yang tidak perlu, 
banyak menyimpang dasarnya. Seni, terdistorsi dari pengungkapan perasaan
 kepada selera dangkal seperti pornografi. Sehingga, dengan pemahaman 
akan landasan kehidupan, manusia bisa merencanakan merintis 
kemajuan-kemajuan sejati di masa mendatang.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;Daftar Pustaka&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt; Dahler, Franz &amp;amp; Julius Chandra. Edisi XI 1993. Asal dan Tujuan Manusia. Penerbit Kanisius; Yogyakarta.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Teori Evolusi</title><link>http://avita1.blogspot.com/2012/12/teori-evolusi.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Thu, 20 Dec 2012 00:54:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3128191752653746636.post-7494019554679919425</guid><description>&lt;h3 class="post-title entry-title" itemprop="name"&gt;
Manusia Pertama: Teori Evolusi Vs Dalil A l - Qur'an
&lt;/h3&gt;
&lt;div class="post-header"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgg8qIQshrrRNfmd9ktPmrnTvNLcn-zeitwxRiJ1DjcIoLc7nyiu3Hes8Aysoz8gal2sNw3-C2nDh6mG10N6se8l8CmlNXw5RW6Tf_XB6LEkFgXNNydIxVYK9St1MfBW74NPhonqbkK08g/s1600/evolusi.jpg" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;img border="0" height="179" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgg8qIQshrrRNfmd9ktPmrnTvNLcn-zeitwxRiJ1DjcIoLc7nyiu3Hes8Aysoz8gal2sNw3-C2nDh6mG10N6se8l8CmlNXw5RW6Tf_XB6LEkFgXNNydIxVYK9St1MfBW74NPhonqbkK08g/s320/evolusi.jpg" width="320" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Bagaimana
asal usul manusia terbentuk memang menjadi permasalahan sampai saat ini.
Apakah, seperti teori evolusi manusia oleh Charles Darwin, yang menyebutkan
bahwa kera adalah nenek moyang manusia, atau bisa dikatakan bahwa manusia
adalah hasil evolusi dari kera. Atau mungkin manusia itu bukan dari evolusi
makhluk apapun, tetapi memang manusia itu diciptakan oleh Allah sebagai makhluk
tersendiri dan Nabi Adam a.s. lah yang menjadi manusia pertama ???&lt;br /&gt;
Itu memang masih menjadi pertanyaan besar di berbagai kalangan sampai saat ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Akan tetapi
menurut saya, yang benar adalah bahwa manusia itu diciptakan oleh Allah&amp;nbsp; sebagai makhluk tersendiri dan yang mendapat
predikat manusia pertama adalah Nabi Adam a.s. Alasannya bukan hanya karena
saya seorang muslim, tetapi ada beberapa hal yang “ganjil” atau aneh yang tidak
masuk akal&amp;nbsp; pada teori evolusi manusia
oleh Charles Darwin.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;PENCIPTAAN
MANUSIA beradasrkan AL-QUR’AN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Allah
Swt. telah menjelaskan bahwa manusia itu diciptakan dari saripati tanah yang
dibentuk dan diberi ruh. Hal ini dapat kita pahami dari firman Allah berikut
yang telah diabadikan dalam Al – Qur’an Surah AL – HIJR ayat 26 – 30, yang
berbunyi sebagai berikut :&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg8vFjFwR5bv7d4EWhYB2apJT12DmrjUgJOnEsWF3Lg5j08scoKewcAfomh_SIl_dkYjoiY1PQ_kOH08a4tklTJUEZ31F80YE48nBSWWII7Wq5CRpfZv6rOiZ0ocaswV8A7KOo-MdQQBy0/s1600/Al+hijr.png" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;img border="0" height="148" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg8vFjFwR5bv7d4EWhYB2apJT12DmrjUgJOnEsWF3Lg5j08scoKewcAfomh_SIl_dkYjoiY1PQ_kOH08a4tklTJUEZ31F80YE48nBSWWII7Wq5CRpfZv6rOiZ0ocaswV8A7KOo-MdQQBy0/s400/Al+hijr.png" width="400" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Artinya :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;“Dan Sesungguhnya
Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal)
dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum
(Adam) dari api yang sangat panas. Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman
kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku akan menciptakan seorang manusia
dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk,
Maka apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan
kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, Maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. Maka
bersujudlah Para Malaikat itu semuanya bersama-sama, kecuali iblis. Ia enggan
ikut besama-sama (malaikat) yang sujud itu.” &lt;/i&gt;(Q.S. Al- Hijr ayat 26-31)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Jadi
sudah cukup jelas bahwa Manusia itu diciptakan oleh Allah dari tanah yang dibentuk
dan diberi ruh. Maka terciptalah manusia pertama yaitu Adam, kemudian Allah
menciptakan manusia kedua sebagai teman Adam yaitu Hawa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Awalnya
mereka berdua hidup di surga, akan tetapi karena melanggar aturan Allah yaitu
berupa larangan memakan Buah Khuldi yang berada di Surga, akan tetapi Adam dan
Hawa melanggar larangan tersebut dan dihukum oleh Allah. Hukuman itu Adam dan
Hawa dijatuhkan ke Bumi. Nah,dari situlah manusia pertama yang ada di Bumi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;TEORI EVOLUSI MANUSIA MENURUT CHARLES DARWIN&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiHDZn0KrWE7pc1VTbr-62TIBGqwkqV7YO4ufcSeqPceapdj9obaeytT-HvwMH5765X2M5vYE951C-OvTDjU-_gEr5h0gZwgMCUGmT1IPFi4H_eMSQgIS45e_9XaIA2fcI9JVXYZw7ODH8/s1600/SPESIES.jpg" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiHDZn0KrWE7pc1VTbr-62TIBGqwkqV7YO4ufcSeqPceapdj9obaeytT-HvwMH5765X2M5vYE951C-OvTDjU-_gEr5h0gZwgMCUGmT1IPFi4H_eMSQgIS45e_9XaIA2fcI9JVXYZw7ODH8/s320/SPESIES.jpg" width="199" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Menurut
Darwin manusia yang sekarang ini adalah hasil evolusi dari kera. Menurutnya
kera berevolusi selama berjuta – juta tahun dan sedikit mulai sedikit berubah
atau berevolusi menjadi manusia yang sekarang ini. Hal ini diungkapkan dalam
bukunya “The Origin of Species” yang mengungkapkan bahwa, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="color: #231f20;"&gt;aneka spesies makhluk hidup tidak
diciptakan secara terpisah dan beragam
melainkan berasal dari nenek moyang yang sama. Kemudian muncul berbagai jenis dan ragam makhluk hidup karena
proses adaptasi mereka yang berbeda akibat
kondisi alam yang berbeda. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: #231f20;"&gt;H&lt;/span&gt;al
ini menunjukkan bahwa manusia itu berasal dari&amp;nbsp;
nenek moyang yang sama dengan salah satu makhluk di muka bumi. Dan
Darwin pun menegaskan bahwa kera lah yang menjadi nenek moyang kita manusia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Akan
tetapi, teori tersebut ditentang oleh berbagai kalangan, baik dari kaum ilmiah,
maupun masyarakat, terutama kaum agamis dari berbagai agama karena menganggap
Darwin Tidak Percaya Akan Adanya Tuhan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;KEGANJILAN atau KEANEHAN TEORI&amp;nbsp; DARWIN&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;span id="goog_1812461351"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="goog_1812461352"&gt;&lt;/span&gt;Banyak
kalangan yang menentang teori evolusi Darwin baik dari golongan masyarakat,
pemuka agama, sampai orang – orang yang ahli dalam bidang BIOLOGI pun banyak
yang menentang teori evolusi Darwin tersebut. Berikut ulasannya :&lt;br style="mso-special-character: line-break;" /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br style="mso-special-character: line-break;" /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraph" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-indent: -18.0pt;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;1&lt;span style="font-size: 7pt; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;1. Khayalan
Darwin.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgCsDahnhsQcKaKDV4JNG0sYVU2ext95FpPTqPbaXNUMm3T4hh6cqEE5BYGtylh9QVjfbH1UEID7VhIEBSLguSm_-YvRUHNr1ubrDLT_9pEGH_FS9Me6sYrJVvd3DaXu1HOezMIgn_TIjc/s1600/225px-charles_darwin_aged_51.jpg" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgCsDahnhsQcKaKDV4JNG0sYVU2ext95FpPTqPbaXNUMm3T4hh6cqEE5BYGtylh9QVjfbH1UEID7VhIEBSLguSm_-YvRUHNr1ubrDLT_9pEGH_FS9Me6sYrJVvd3DaXu1HOezMIgn_TIjc/s1600/225px-charles_darwin_aged_51.jpg" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Charles
Robert Darwin tidak lain ternyata hanyalah seorang naturalis amatir asal Inggris,
Darwin tidak pernah mengenyam pendidikan formal di bidang biologi. Ia hanya
memiliki ketertarikan amatir pada alam dan makhluk hidup. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hipotesis Darwin tidak berdasarkan penemuan atau penelitian ilmiah apa pun,
tetapi kemudian ia menjadikannya sebuah teori monumental berkat dukungan dan
dorongan para ahli biologi materialis terkenal pada masanya. Gagasannya
menyatakan bahwa individu-individu yang beradaptasi pada habitat mereka dengan
cara terbaik, akan menurunkan sifat-sifat mereka kepada generasi berikutnya.
Sifat-sifat yang menguntungkan ini lama-kelamaan terakumulasi dan mengubah
suatu individu menjadi spesies yang sama sekali berbeda dengan nenek moyangnya.
Menurut Darwin, manusia adalah hasil paling maju dari mekanisme ini.&amp;nbsp; ANEH&amp;nbsp;
KAN...???!!! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraph" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-indent: -18.0pt;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;2&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 2. Tidak
Agamis&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraph" style="text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraph" style="text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Teori
Evolusi dipandang tidak agamis dilihat dari agama apapun. Mengapa ? Karena
Teori Evolusi ini jelas sekali menolak PENCIPTAAN TUHAN, karena teori evolusi
menyatakan bahwa segala sesuatu, hidup ataupun tak hidup, muncul tidak melalui
penciptaan tetapi dari sebuah peristiwa kebetulan yang kemudian mencapai
kondisi teratur. &lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgg8qIQshrrRNfmd9ktPmrnTvNLcn-zeitwxRiJ1DjcIoLc7nyiu3Hes8Aysoz8gal2sNw3-C2nDh6mG10N6se8l8CmlNXw5RW6Tf_XB6LEkFgXNNydIxVYK9St1MfBW74NPhonqbkK08g/s72-c/evolusi.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Rambut Abu-abu = Terlindung dari Kanker?</title><link>http://avita1.blogspot.com/2012/12/rambut-abu-abu-terlindung-dari-kanker.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sun, 16 Dec 2012 06:38:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3128191752653746636.post-2979298126091241570</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
  
                		
        	
		         
                   &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;a href="http://sciencebiotech.net/rambut-abu-abu-terlindung-dari-kanker/" rel="bookmark" title="Permanent Link to Rambut Abu-abu = Terlindung dari Kanker?"&gt;Rambut Abu-abu = Terlindung dari Kanker?&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="meta" style="text-align: justify;"&gt;
                           &lt;br /&gt;

                      &lt;/div&gt;
&lt;div class="retweet" style="text-align: justify;"&gt;
				
				
			&lt;/div&gt;
&lt;div class="wp-caption alignright" style="text-align: justify; width: 235px;"&gt;
&lt;img align="left" alt="George-Clooney4" height="228" src="http://sciencebiotech.net/wp-content/uploads/2009/06/george-clooney4.jpg" width="225" /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="wp-caption-text"&gt;
George Clooney&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Banyak orang tidak menginginkan rambut abu-abu karena dianggap 
identik dengan usia lanjut, namun kini diduga bahwa proses yang 
menghasilkan rambut abu-abu tersebut dapat melindungi kita dari kanker.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;em&gt;Melanocyte&lt;/em&gt; adalah sel yang memproduksi pigmen yang mewarnai rambut, jumlah sel tersebut terus ditingkatkan oleh &lt;em&gt;stem cell&lt;/em&gt; sehingga warna rambut dapat terus terjaga. Nah, jika rambut mulai berwarna abu-abu, itu karena jumlah &lt;em&gt;stem cell&lt;/em&gt; dalam &lt;em&gt;folikel&lt;/em&gt; rambut berkurang. Kenapa bisa berkurang? Inilah yang berusaha dijawab oleh &lt;strong&gt;Emi Nishimura&lt;/strong&gt; dari &lt;em&gt;Tokyo Medical and Dental University&lt;/em&gt; Jepang, dengan menelitinya pada tikus percobaan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span id="more-698"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="wp-caption alignright" style="text-align: justify; width: 235px;"&gt;
&lt;img align="right" alt="poor-mouse" height="282" src="http://sciencebiotech.net/wp-content/uploads/2009/06/poor-mouse.jpg" width="225" /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="wp-caption-text"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="wp-caption-text"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="wp-caption-text"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="wp-caption-text"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="wp-caption-text"&gt;
Image from technabob.com.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Nishimura bereksperimen dengan memajan (&lt;em&gt;expose&lt;/em&gt;) tikus kepada radiasi dan bahan kimia yang dapat merusak DNA sehingga &lt;em&gt;stem cell&lt;/em&gt; juga menjadi rusak dan berubah secara permanen menjadi &lt;em&gt;melanocyte&lt;/em&gt;,
 akibatnya sudah barang tentu berpengaruh pada jumlah stem cell yang 
dapat menambah jumlah melanocyte. Dan ternyata sang tikus pun 
ikut-ikutan berbulu abu-abu (&lt;em&gt;Cell, vol 137, p 1088&lt;/em&gt;). Tim 
Nishimura mengajukan bahwa proses yang sama juga terjadi pada manusia 
yang berusia lanjut, dimana kerusakan DNA terakumulasi seiring dengan 
bertambahnya usia, sehingga mengakibatkan penurunan jumlah &lt;em&gt;stem cell&lt;/em&gt; dalam folikel.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;David Fisher&lt;/strong&gt;, seorang peneliti kanker di &lt;em&gt;Harvard Medical School&lt;/em&gt;,
 menduga bahwa proses-proses tersebut dapat membantu melindungi kita 
dari kanker, yaitu dengan mengurangi proliferasi stem cell yang 
mengandung DNA yang rusak, yang mana dapat membawa mutasi. “Satu yang 
mungkin merupakan efek menguntungkan adalah tersingkirnya sel yang 
berpotensi bahaya yang mungkin mengandung kemampuan pra-kanker,” 
tambahnya.&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Mutation</title><link>http://avita1.blogspot.com/2012/12/mutation.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sun, 16 Dec 2012 06:35:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3128191752653746636.post-7696531885977782775</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
  
                		
        	
		         
                   &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;a href="http://sciencebiotech.net/circle-of-mutation-is-it-bad-or-good/" rel="bookmark" title="Permanent Link to Circle of Mutation, is it Bad? Or Good?"&gt;Circle of Mutation, is it Bad? Or Good?&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="meta" style="text-align: justify;"&gt;
                           &lt;br /&gt;

                      &lt;/div&gt;
&lt;div class="retweet" style="text-align: justify;"&gt;
				
				
			&lt;/div&gt;
&lt;div class="wp-caption alignright" id="attachment_1803" style="text-align: justify; width: 260px;"&gt;
&lt;a class="highslide" href="http://sciencebiotech.net/wp-content/uploads/2011/07/sickle_red_blood_cell.png"&gt;&lt;img alt="Normal Red Blood vs Sickle Cells" class="size-full wp-image-1803" height="208" src="http://sciencebiotech.net/wp-content/uploads/2011/07/sickle_red_blood_cell.png" title="Normal Red Blood vs Sickle Cells" width="250" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="wp-caption-text"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="wp-caption-text"&gt;
Normal Red Blood vs Sickle Cells&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kontributor: Wati Chandra (Fakultas Teknobiologi Unika Atmajaya Jakarta)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;blockquote&gt;
Mutasi adalah suatu perubahan &amp;nbsp;frekuensi dan kombinasi alel, gen, atau kromoson secara seketika (spontan).&lt;/blockquote&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mutasi didefinisikan secara sederhana sebagai perubahan materi 
genetik berupa DNA/RNA (sifat-sifat yang dapat diwariskan secara genetik
 pada keturunannya). Mutasi dapat terjadi secara alami, namun 
kemungkinannya hanya 1:10.000 individu. Radiasi, radioaktif, dan senyawa
 kimia lainya dapat menyebabkan mutasi, bahkan tubuh dapat memutasi 
dirinya sendiri, hal ini disebabkan kesalahan dalam pembuatan materi 
genetik (tubuh menggandakan materi genetiknya setiap waktu) namun hal 
ini kemungkinannya sangat kecil yakni 10&lt;sup&gt;-6&lt;/sup&gt; sampai 10&lt;sup&gt;-8&lt;/sup&gt; setiap penggandaan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span id="more-1802"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Anemia sel sabit (&lt;strong&gt;sickle cell anemia&lt;/strong&gt;) salah satu 
mutasi yang terjadi secara alami dan merupakan hasil mutasi tubuh. 
Anemia sel sabit ini adalah penyakit dimana sel darah merah berbentuk 
seperti bulan sabit karena adanya mutasi pada satu basa nukleotida 
(salah satu penyusun DNA) sehingga menyebabkan keabnormalan hemoglobin 
(Hb). Bentuk sel darah merah yang normal menyerupai donat tanpa lubang 
di tengahnya, dan bentuk yang tidak normal ini mempersulit pengikatan 
oksigen dalam darah. Akibatnya? Penderita akan jauh lebih mudah 
kelelahan, kulit pucat, sakit kepala, sesak nafas, jantung berdetak 
lebih kencang, dan kemampuannya untuk hidup jauh lebih pendek 
dibandingkan manusia yang lain.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Penyakit ini umum menyerang orang berkulit hitam dan di daerah sedang
 atau pernah terjadi epidemi penyakit malaria. Anehnya, penderita anemia
 sel sabit ini tahan terhadap penyakit malaria. &lt;em&gt;Plasmodium falciparum&lt;/em&gt;,
 agen penyebab malaria, tidak dapat hidup pada Hb yang berbentuk tidak 
normal. Manusia dengan Hb normal biasanya sangat mudah terserang 
malaria, bahkan meninggal, namun manusia dengan anemia sel sabit ini 
dapat bertahan hidup diantara penderita malaria.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mutasi menyebabkan keanekaragaman di alam, hal inilah yang disebut 
biodiversitas. Adanya keragaman pada manusia juga dapat dikatakan 
sebagai mutasi karena adanya perbedaan satu basa nukleotida (SNPs) yang 
membuat tiap manusia berbeda.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setelah mengetahui sisi baik dan buruk dari mutasi, bisakah kita 
menganggap mutasi adalah hal yang merugikan? Bagaimana dengan 
manfaat-manfaat mutasi yang telah terbukti memberikan kemudahan bagi 
manusia selama ini? Banyak hal memang tidak bisa dinyatakan sebagai 
hitam atau putih, salah satunya mutasi.&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Bioteknologi (transgenik)</title><link>http://avita1.blogspot.com/2012/12/bioteknologi-transgenik.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sun, 16 Dec 2012 06:28:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3128191752653746636.post-6833241350966194724</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
  
                		
        	
		         
                   &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;a href="http://sciencebiotech.net/obat-dari-tanaman-transgenik-era-baru-dunia-farmasi/" rel="bookmark" title="Permanent Link to Obat dari Tanaman Transgenik: Era Baru Dunia Farmasi"&gt;Obat dari Tanaman Transgenik: Era Baru Dunia Farmasi&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="meta" style="text-align: justify;"&gt;
                           &lt;br /&gt;

                      &lt;/div&gt;
&lt;div class="retweet" style="text-align: justify;"&gt;
				
				
			&lt;/div&gt;
&lt;div class="wp-caption alignright" id="attachment_1933" style="text-align: justify; width: 260px;"&gt;
&lt;a class="highslide" href="http://sciencebiotech.net/wp-content/uploads/2012/05/carrots.jpg"&gt;&lt;img alt="Ilmuwan berhasil memproduksi enzim manusia di dalam wortel (image from nature.com)" class="size-full wp-image-1933" height="167" src="http://sciencebiotech.net/wp-content/uploads/2012/05/carrots.jpg" title="Ilmuwan berhasil memproduksi enzim manusia di dalam wortel (image from nature.com)" width="250" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="wp-caption-text"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="wp-caption-text"&gt;
Ilmuwan berhasil memproduksi enzim manusia di dalam wortel (image from nature.com)&lt;/div&gt;
&lt;div class="wp-caption-text"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sementara izin penggunaan tanaman transgenik untuk keperluan makanan 
masih belum sepenuhnya terwujud di semua negara, kini dilaporkan bahwa 
pemerintah Amerika telah memberikan izin penggunaan tanaman transgenik 
atau GMO (&lt;em&gt;Genetically Modified Oeganism&lt;/em&gt;) sebagai sumber 
obat-obatan. Adalah wortel transgenik yang mampu menghasilkan suatu 
enzim manusia yang digunakan sebagai bahan obat untuk terapi penyakit &lt;em&gt;Gaucher&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span id="more-1930"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Majalah The Scientist memberitakan bahwa badan POM-nya Amerika yaitu 
FDA telah mengeluarkan izin tertanggal 1 Mei 2012 yang menyetujui 
penggunaan obat yang dibuat oleh sebuah perusahaan bioteknologi Protalix
 Biotherapeutics dan lisensinya dipegang oleh Pfizer ini. Penyakit 
Gaucher sendiri adalah suatu penyakit genetis langka yang terjadi pada 
individu dimana penderitanya tidak mampu memproduksi enzim 
glucocerebrosidase, sehingga menyebabkan terjadinya penumpukan material 
lemak di limpa, hati dan organ-organ lain. Untuk menggantikan peran 
enzim ini maka diberikanlah enzim sejenis bernama Elelyso melalui suatu 
terapi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sebetulnya Protalix dan Pfizer bukanlah yang pertama kali membuat 
obat ini, sebelumnya Genzyme telah berupaya memproduksi enzim sejenis 
bernama Cerezyme di dalam sel hamster, namun tertunda karena terjadi 
kontaminasi di pabriknya di Massachusetts. Pfizer dan Protalix berhasil 
menyalip pesaingnya dan bahkan menyatakan bahwa mereka telah memiliki 
stok Elelyso untuk pengobatan pasien setidaknya selama 24 bulan ke depan
 sambil terus meningkatkan produksinya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="wp-caption alignright" id="attachment_1931" style="text-align: justify; width: 260px;"&gt;
&lt;a class="highslide" href="http://sciencebiotech.net/wp-content/uploads/2012/05/1293457835F26T0J.jpg"&gt;&lt;img alt="Tanaman Transgenik masih menuai perdebatan di kalangan ilmuwan dan pemerintah (image from dreamstime.com)" class="size-full wp-image-1931" height="178" src="http://sciencebiotech.net/wp-content/uploads/2012/05/1293457835F26T0J.jpg" title="Tanaman Transgenik masih menuai perdebatan di kalangan ilmuwan dan pemerintah (image from dreamstime.com)" width="250" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="wp-caption-text"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="wp-caption-text"&gt;
Tanaman Transgenik masih menuai perdebatan di kalangan ilmuwan dan pemerintah (image from dreamstime.com)&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kemampuan memproduksi enzim manusia di dalam tanaman transgenik sudah
 dimiliki para ilmuwan sejak 20 tahun lalu, salah satunya ada vaksin 
untuk ayam yang telah disetujui oleh Departemen Pertanian AS. Namun 
penggunaannya untuk manusia selalu terkendala oleh kekhawatiran 
terjadinya reaksi alergi akibat perbedaan sistem produksi enzim antara 
manusia dan tanaman.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dengan adanya restu perdana untuk penggunaan obat yang dihasilkan 
tanaman transgenik ini diharapkan akan membuka pintu bagi penggunaan 
obat-obatan lain yang dihasilkan oleh organisme transgenik untuk 
kemaslahatan umat manusia.&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Stem Cell dan Dunia Research</title><link>http://avita1.blogspot.com/2012/12/stem-cell-dan-dunia-research.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sun, 16 Dec 2012 06:23:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3128191752653746636.post-2464405135468763431</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
  
                		
        	
		         
                   &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;a href="http://sciencebiotech.net/stem-cell-dan-dunia-research/" rel="bookmark" title="Permanent Link to Stem Cell dan Dunia Research"&gt;Stem Cell dan Dunia Research&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="retweet" style="text-align: justify;"&gt;
				
				
			&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="wp-caption alignright" id="attachment_1648" style="width: 260px;"&gt;
&lt;a class="highslide" href="http://sciencebiotech.net/wp-content/uploads/2010/07/stem_cell.jpg"&gt;&lt;img alt="Stem Cell (image from gothamgazette.com)" class="size-full wp-image-1648" height="163" src="http://sciencebiotech.net/wp-content/uploads/2010/07/stem_cell.jpg" title="Stem Cell (image from gothamgazette.com)" width="250" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="wp-caption-text"&gt;
Stem Cell (image from gothamgazette.com)&lt;/div&gt;
&lt;div class="wp-caption-text"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
A. Penelitian Stem Cell&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada awal tahun 1980-an, para ilmuan belajar bagaimana membuat 
Embrionic stem cell dari tikus dan menumbuhkannya di laboratorium. Pada 
tahun 1998, mereka pertama kali mereproduksi Embrionic stem cell manusia
 di laboratorium.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sebagaimana yang sudah dijelaskan pada artikel &lt;a href="http://sciencebiotech.net/mengenal-stem-cell/"&gt;‘Mengenal Stem Cell’&lt;/a&gt;,
 Embrionic stem cell merupakan Stem cell yang didapat dari embrio yang 
sudah dibuahi. Namun bagaimana caranya para peneliti mendapatkan embrio 
manusia..??&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span id="more-1165"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Embrio bisa didapatkan melalui reproduksi (pencampuran sperma dan sel
 telur), atau via cloning. Para peneliti umumnya mendapatkan embrio 
manusia dari klinik Fertility. Terkadang, pasangan yang mencoba untuk 
mempunyai bayi membuat beberapa embrio dan tidak semuanya di implant ke 
dalam rahim calon ibu. Biasanya mereka menyumbangkan sisa embrio untuk 
kegiatan ilmiah seperti penelitian.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Selain dari klinik Fertility, cara lain untuk membuat embrio adalah melalui teknik yang di sebut &lt;em&gt;Therapeutic cloning&lt;/em&gt;. Teknik ini menggabungkan sel dari pasien yang membutuhkan terapi stem cell dengan sel telur dari seorang donor.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;a href="http://sciencebiotech.net/wp-content/uploads/2010/07/stem-cell-therapeutic.gif"&gt;&lt;img alt="" class="aligncenter size-full wp-image-1166" height="355" src="http://sciencebiotech.net/wp-content/uploads/2010/07/stem-cell-therapeutic.gif" width="382" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Inti sel (nucleus) dihilangkan dari sel telur dan digantikan dengan 
nucleus dari sel pasien. Telur ini distimulasi agar membelah secara 
kimia atau elektrik, dan embrio yang dihasilkan membawa material genetic
 dari si pasien, hal ini akan mengurangi resiko penolakan oleh tubuh 
pasien ketika stem cell diimplant.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
B. Replikasi Stem Cells di Laboratorium&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Embrio yang sudah berkembang selama 3-5 hari disebut blastocyst. 
Blastocyst merupakan kumpulan 100 sel atau lebih. Sel bagian dalam dari 
Blastocyst inilah yang dinamakan Stem cell. Mereka akan berkembang 
menjadi semua jenis sel, jaringan dan organ dalam tubuh.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;a href="http://sciencebiotech.net/wp-content/uploads/2010/07/stem-cell-cultivation.gif"&gt;&lt;img alt="" class="aligncenter size-full wp-image-1167" height="417" src="http://sciencebiotech.net/wp-content/uploads/2010/07/stem-cell-cultivation.gif" width="390" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Para ilmuan mengambil stem cell dari blastocyst dan meng-kultur 
mereka (menumbuhkan di dalam cairan kaya nutrisi) di dalam petridish. 
Setelah sel mereplikasi beberapa kali dan menjadi terlalu banyak untuk 
tempat kultur-nya, mereka dipindahkan ke beberapa petridish lain. Hanya 
dalam waktu beberapa bulan, beberapa stem cell bisa menjadi jutaan 
jumlahnya. Embrionic stem cell yang sudah di kultur selama beberapa 
bulan tanpa differensiasi di sebut stem cell line. Cell line dapat 
dibekukan dan di bagi antar laboratorium.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Adult Stem cell &lt;/strong&gt;jauh lebih sulit bagi scienctist 
karena mereka lebih sukar di ekstrak dan dikulturkan ketimbang Embrionic
 stem cell. Adult Stem cell tidak hanya sulit ditemukan di jaringan 
orang dewasa, namun juga sulit direplikasi di laboratorium.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Meskipun embryonic stem cell dapat ditumbuhkan secara efektif di 
laboratorium, ia masih cukup sulit untuk di control. Scientist masih 
terus berusaha membuat mereka tumbuh menjadi jenis jaringan tertentu 
sesuai yang dibutuhkan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;a href="http://sciencebiotech.net/wp-content/uploads/2010/07/microscopic-stem-cell.jpg"&gt;&lt;img alt="" class="aligncenter size-full wp-image-1169" height="284" src="http://sciencebiotech.net/wp-content/uploads/2010/07/microscopic-stem-cell.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
C. Kesulitan Pada Penelitian Stem Cell&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Idealnya, scientist akan berhasil menumbuhkan sel dalam laboratorium 
dan menginjeksikannya ke tubuh pasien, untuk kemudian menggantikan 
jaringan rusak yang terserang penyakit. Tapi pada kenyataannya Stem cell
 masih belum bisa digunakan untuk mengobati penyakit. Ini karena 
scientist belum memahami bagaimana mengarahkan stem cell untuk 
berkembang menjadi jaringan/sel tertentu (misalnya otak, hati, dan 
lain-lain), serta untuk mengontrol perubahan/differensiasi dari stem 
cell setelah diinjeksikan ke dalam tubuh seseorang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;a href="http://sciencebiotech.net/wp-content/uploads/2010/07/pluripotent2.gif"&gt;&lt;img alt="" class="aligncenter size-full wp-image-1168" height="544" src="http://sciencebiotech.net/wp-content/uploads/2010/07/pluripotent2.gif" width="390" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sebagai contoh adalah diabetes. Untuk mengobati diabetes, scientist 
tidak hanya membuat sell pembuat insulin saja, tapi juga mereka harus 
mampu mengatur bagaimana sel-sel tersebut benar-benar memproduksi 
insulin sekali setelah dimasukkan ke dalam tubuh.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di alam, differensiasi stem cell di picu oleh pemicu internal dan 
eksternal. Pemicu internal adalah gen dalam setiap sel, yang akan 
memandu bagaimana sell seharusnya berfungsi. Pemicu eksternal adalah 
bahan kimia yang dilepaskan oleh sell lain yang dapat mengubah cara 
kerja stem cell tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Scientist sangat paham bahwa inisiasi oleh gen merupakan tahapan 
krusial bagi proses differensiasi, maka mereka melakukan eksperimen 
dengan memasukkan gen tertentu ke dalam kultur lalu menggunakannya untuk
 mencoba membuat stem cell terdifferensiasi menjadi sell tertentu. Namun
 semacam signal diperlukan untuk men-trigger stem cell agar 
terdifferensiasi. Dan sampai saat ini Scientist masih terus mencari 
signal tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Selain itu masih ada masalah lain yang harus dihadapi dalam 
penggunaan stem cell. Salah satu adalah penolakan. Jika pasien di 
injeksi dengan stem cell dari embrio donator, system immunenya akan 
melihat sell tersebut sebagai invader asing dan akan menyerangny&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>seputar E. coli</title><link>http://avita1.blogspot.com/2012/12/seputar-e-coli.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sun, 16 Dec 2012 06:17:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3128191752653746636.post-1189299750019841736</guid><description>&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://sciencebiotech.net/review-faktor-faktor-yang-mempengaruhi-ekspresi-protein-heterologus-di-dalam-e-coli/" rel="bookmark" title="Permanent Link to Review: Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ekspresi Protein Heterologus di dalam E. coli"&gt;Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ekspresi Protein Heterologus di dalam &lt;em&gt;E. coli&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di antara berbagai mikroorganisme yang dapat digunakan untuk memproduksi protein heterologus, &lt;em&gt;E. coli&lt;/em&gt; menjadi salah satu pilihan yang paling menarik. Berbagai keunggulan yang dimiliki &lt;em&gt;E. coli&lt;/em&gt;
 antara lain adalah kemampuannya untuk tumbuh dengan cepat, densitas sel
 yang tinggi, substrat pertumbuhan yang murah, karakteristik genetik 
yang jelas, serta ketersediaan berbagai pasangan vektor kloning dan 
strain mutan. Meskipun tidak selalu ada jaminan bahwa protein 
heterologus akan dihasilkan oleh &lt;em&gt;E. coli&lt;/em&gt; dalam jumlah yang 
tinggi dan aktif secara biologis, berbagai cara telah dilakukan untuk 
meningkatkan performa dari mikroorganisme ini. Berikut ini adalah 
sedikit penjelasan mengenai faktor-faktor yang selama ini dikaji 
berbagai peneliti untuk meningkatkan performa &lt;em&gt;E. coli&lt;/em&gt; sebagai inang ekspresi protein heterologus:&lt;span id="more-2015"&gt;&lt;/span&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jumlah &lt;em&gt;copy&lt;/em&gt; dari plasmid dan &lt;em&gt;maintenance&lt;/em&gt; nya&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Untuk menghasilkan protein dalam jumlah yang tinggi, cDNA heterologus
 terlebih dahulu dikloning ke dalam plasmid yang akan terus-menerus 
direplikasi dan biasanya berjumlah 15-60 hingga beberapa ratus copy per 
sel. Pada kondisi percobaan di lab, plasmid multicopy ini 
didistribusikan secara acak selama pembelahan sel, dan bila tidak ada 
agen penyeleksinya, plasmid ini bisa hilang meskipun jumlahnya hanya 
sedikit. Selain itu plasmid high copy number juga bisa hilang apabila 
produk gen yang dihasilkan bersifat toksik bagi mikroba, atau mengurangi
 laju pertumbuhan, atau pada proses produksi yang &lt;em&gt;continuous&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Cara yang paling mudah untuk mempertahankan keberadaan plasmid di 
dalam sel bakteri adalah dengan menerapkan agen penyeleksi yang umumnya 
berupa antibiotik. Dengan adanya antibiotik maka sel yang tidak 
mengandung plasmid yang memiliki resistensi terhadap antibiotik tersebut
 akan mati. Sedangkan kelemahan dari cara ini adalah kemungkinan 
menurunnya aktivitas antibiotik akibat degradasi maupun inaktivasi oleh 
enzim-enzim detoksifikasi (seperti β-lactamase) yang dihasilkan mikroba.
 Kelemahan yang lain adalah adanya kemungkinan kontaminasi antibiotik 
pada produk protein yang dihasilkan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Promotor&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sudah sejak lama operon lac pada &lt;em&gt;E. coli&lt;/em&gt; dikenal dalam 
sistem regulasi ekspresi pada prokariot. Oleh karena itu tidak 
mengherankan apabila banyak promotor untuk transkripsi gen dikonstruksi 
dari operon lac. Namun demikian promotor lac bukanlah promotor yang 
cukup kuat dan jarang digunakan untuk ekspresi protein heterologus dalam
 jumlah tinggi. Selain itu kelemahan lain dari promotor lac ini adalah 
membutuhkan agen penginduksi berupa IPTG yang harganya tidaklah murah. 
Namun, hal ini tidak terlalu menjadi masalah apabila produk protein yang
 dihasilkan nantinya memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Selain itu 
sebenarnya IPTG dengan konsentrasi 50-100 µM sudah cukup untuk digunakan
 sebagai penginduksi. Selain IPTG, laktosa juga dapat digunakan sebagai 
agen penginduksi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Selain promotor lac, promotor lain yang umum digunakan adalah T7. 
Dengan adanya induksi oleh T7 RNA polymerase, sintesis mRNA dalam jumlah
 yang tinggi akan terjadi. Dan pada sebagian besar penelitian, akumulasi
 protein heterologus dalam jumlah tinggi berhasil diperoleh pula. Namun,
 kelemahan yang dapat terjadi adalah konsentrasi mRNA yang tinggi juga 
dapat mengakibatkan kerusakan ribosom dan kematian sel. Kelemahan lain 
dari T7 dan promotor kuat lainnya adalah protein yang dihasilkan sering 
tidak mampu membentuk konformasi sesuai seharusnya dan bisa saja 
sebagian atau bahkan seluruhnya tersegregasi membentuk inclusion body. 
Ada beberapa cara untuk menyiasati terbentuknya inclusion body ini dan 
salah satu alternatif yang bisa digunakan terkait dengan promotor adalah
 menggunakan promotor yang terinduksi pada suhu rendah. Hal ini 
disebabkan umumnya pelipatan protein lebih bagus pada suhu rendah. 
Bahkan saat ini telah ada berbagai review yang membahas tentang berbagai
 promotor yang diregulasi oleh bermacam-macam sinyal seperti pH, 
konsentrasi O2 terlarut, osmolaritas, dsb.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Elemen-elemen upstream&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sekuen DNA yang terletak sebelum promotor juga memainkan peranan yang
 penting dalam efisiensi transkripsi. Daerah “upstream” yang terletak 
sekitar 35 nukleotida sebelum titik awal transkripsi ini memiliki sekuen
 yang mengandung banyak basa Adenine dan Thymine yang dapat meningkatkan
 transkripsi dengan cara berinteraksi dengan sub unit α dari RNA 
polymerase.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kestabilan mRNA&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
mRNA dari &lt;em&gt;E. coli&lt;/em&gt; cenderung tidak stabil, dengan waktu paruh
 mulai dari 30 detik – 20 menit. Enzim-enzim yang terkait dengan 
degradasi mRNA adalah eksonuclease 3’→ 5’ dan endonuclease RNAse E.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Masalah-masalah terkait translasi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Inisiasi translasi mRNA dari &lt;em&gt;E. coli&lt;/em&gt; membutuhkan sekuen 
Shine Dalgarno yang komplementer dengan ujung 3’ dari 16S rRNA dan dari 
konsensus 5’-UAAGGAGG-3’; kemudian diikuti oleh kodon inisisasi yang 
hampir selalu berupa AUG.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Selain itu penggunaan kodon yang berbeda antara prokariot dan 
eukariot juga dapat memberikan efek yang cukup berarti dalam proses 
produksi protein. Kodon Arginin AGA dan AGG jarang ditemukan pada &lt;em&gt;E. coli&lt;/em&gt;,
 tetapi umum pada Saccharomyces cerevisiae dan golongan eukariot lain. 
Keberadaan kodon-kodon yang tidak umum pada gen yang diklon dapat 
mempengaruhi tingkat akumulasi protein, kestabilan plasmid dan mRNA, dan
 pada kondisi ekstrim dapat menghambat sintesis protein dan pertumbuhan 
sel.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pelipatan di sitoplasma&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Produksi protein heterologus secara berlebihan di dalam sitoplasma &lt;em&gt;E. coli&lt;/em&gt;
 sering disertai dengan kesalahan pelipatan dan segregasi menjadi 
agregat tidak larut yang dikenal sebagai inclusion body.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Meskipun 
pembentukan inclusion body dapat memudahkan proses purifikasi protein, 
tetapi tidak ada jaminan bahwa proses pelipatan ulang secara in vitro 
akan menghasilkan produk yang aktif secara biologis. Salah satu cara 
menyiasati terbentuknya agregat protein ini adalah dengan merekayasa 
proses fermentasi yang umumnya dengan cara mengurangi suhu selama proses
 fermentasi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Berdasarkan temuan-temuan terbaru, proses pelipatan protein secara in
 vivo dibantu oleh berbagai molekul lain yang kita kenal sebagai 
chaperones. Fungsi dari chaperone adalah membantu proses isomerisasi 
dengan tepat dan dalam proses protein targeting. Dengan memahami 
berbagai fungsi dari chaperone ini maka pembentukan inclusion body dapat
 dikurangi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="wp-caption alignnone" id="attachment_2017" style="text-align: justify; width: 460px;"&gt;
&lt;a class="highslide" href="http://sciencebiotech.net/wp-content/uploads/2012/07/inclusion_body.png"&gt;&lt;img alt="Contoh Inclusion Bodies di dalam E. coli  (image from web.mit.edu/king-lab)" class="size-full wp-image-2017" height="218" src="http://sciencebiotech.net/wp-content/uploads/2012/07/inclusion_body.png" title="Contoh Inclusion Bodies di dalam E. coli  (image from web.mit.edu/king-lab)" width="450" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="wp-caption-text"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="wp-caption-text"&gt;
Contoh Inclusion Bodies di dalam E. coli (image from web.mit.edu/king-lab)&lt;/div&gt;
&lt;div class="wp-caption-text"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Degradasi sitoplasmik&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Degradasi protein di dalam sitoplasma merupakan salah satu contoh 
proses katabolisme. Proses ini adalah suatu cara yang efisien bagi sel 
untuk menyelamatkan sumber-sumber daya yang dimilikinya dengan cara 
mendaur ulang protein-protein yang salah melipat atau sudah rusak 
menjadi asam-asam amino penyusunnya kembali. Di dalam sitoplasma &lt;em&gt;E. coli&lt;/em&gt;,
 proses awal daur ulang ini telah diketahui setidak-tidaknya dilakukan 
oleh 5 heat shock protein yang membutuhkan ATP untuk kinerjanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Salah satu cara untuk mencegah proses degradasi adalah menggunakan inang &lt;em&gt;E. coli&lt;/em&gt;
 yang mempunyai mutasi pada gen-gen proteasenya. Namun, hal ini tentunya
 bukan tanpa kelemahan pula. Mutasi pada gen-gen protease tersebut 
sebagai contohnya dapat mengakibatkan bakteri menjadi berfilamen, serta 
mengurangi laju pertumbuhan dan kebugaran sel.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Protein-protein fusi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Meskipun protein-protein fusi sebenarnya dikonstruksi untuk 
memfasilitasi purifikasi protein dan imobilisasi, serta untuk membantu 
aktivitas enzim-enzim tertentu, ternyata diketahui pula bahwa beberapa 
protein fusi dapat meningkatkan kelarutan protein target sehingga 
mengurangi pembentukan inclusion body. Alasan yang paling mungkin untuk 
menjelaskan hal ini adalah: seketika setelah dikeluarkan dari ribosom, 
protein fusi dapat membentuk konformasi dirinya sendiri secara efisien 
dan cepat, kemudian segera membantu proses pelipatan protein target 
dengan cara meningkatkan proses isomerisasi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Meskipun demikian, kelemahan utama dari penggunaan teknologi protein 
fusi adalah: proses pembebasan protein target membutuhkan protease yang 
mahal, proses pembebasan ini pun sering tidak berlangsung sempurna 
sehingga yield yang diperoleh kecil; memerlukan langkah-langkah tambahan
 untuk mendapatkan produk yang aktif secara biologis (misalnya 
pembentukan dan isomerisasi ikatan-ikatan disulfida); dan kelarutannya 
sendiri tidak selalu terjamin.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sekresi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Berbagai polipeptida yang ditujukan untuk dikeluarkan dari sel 
disintesis terlebih dahulu sebagai pra-protein yang memiliki sekuen 
sinyal di ujung aminonya yang nantinya akan dipotong selama proses 
translokasi oleh peptidase-peptidase yang ada di membran sebelah dalam. 
Umumnya sekuen peptida sinyal ini memiliki panjang 18-30 asam amino dan 
terdiri dari dua atau lebih residu basa pada ujung aminonya, sekuen inti
 yang bersifat hidrofobik sekitar 7 asam amino, serta ujung karboksil 
hidrofilik yang akan dikenali oleh peptidase. Penggunaan berbagai sinyal
 sekuen ini dalam penelitian di lab telah banyak membantu translokasi 
peptida-peptida heterologus secara efektif. Tetapi dalam beberapa kasus,
 tetap saja pra-protein yang terbentuk tidak dapat dikeluarkan dari sel 
dan justru terjadi penumpukan di membran dalam, membentuk inclusion 
body, atau bahkan malah didegradasi di dalam sitoplasma.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="wp-caption alignright" id="attachment_2018" style="text-align: justify; width: 260px;"&gt;
&lt;a class="highslide" href="http://sciencebiotech.net/wp-content/uploads/2012/07/protein_secretion.png"&gt;&lt;img alt="Proses sekresi protein dibantu oleh chaperones (image from bass.bio.uci.edu)" class="size-full wp-image-2018" height="240" src="http://sciencebiotech.net/wp-content/uploads/2012/07/protein_secretion.png" title="Proses sekresi protein dibantu oleh chaperones (image from bass.bio.uci.edu)" width="250" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="wp-caption-text"&gt;
Proses sekresi protein dibantu oleh chaperones (image from bass.bio.uci.edu)&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Agar proses translokasi berjalan efisien pra-protein harus dibawa ke 
daerah membran sebelah dalam dalam keadaan terelaksasi. Kondisi 
relaksasi ini dipertahankan oleh molekul-molekul chaperone yang ada di 
dalam sel. Dengan memahami proses sekresi protein dari dalam sel maka 
setidaknya ada 3 hipotesis yang dapat diajukan terhadap permasalahan 
terkait sekresi proein ini, yaitu: kesalahan pelipatan dan degradasi 
beberapa protein heterologus disebabkan translokasi yang tidak baik 
karena chaperone yang mungkin tidak bekerja secara efisien; atau karena 
protein target melipat dirinya terlalu dini sehingga bentuknya sudah 
terlalu kaku; atau karena jumlah chaperone yang terbatas sehingga tidak 
sebanding dengan pra-protein yang diproduksi dalam jumlah besar.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pelipatan dan degradasi di dalam periplasma&lt;/div&gt;
&lt;div class="wp-caption alignnone" id="attachment_2019" style="text-align: justify; width: 460px;"&gt;
&lt;a class="highslide" href="http://sciencebiotech.net/wp-content/uploads/2012/07/periplasmic.png"&gt;&lt;img alt="Daerah periplasma pada dinding sel bakteri gram negatif (image from wikipedia.org)" class="size-full wp-image-2019" height="226" src="http://sciencebiotech.net/wp-content/uploads/2012/07/periplasmic.png" title="Daerah periplasma pada dinding sel bakteri gram negatif (image from wikipedia.org)" width="450" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="wp-caption-text"&gt;
Daerah periplasma pada dinding sel bakteri gram negatif (image from wikipedia.org)&lt;/div&gt;
&lt;div class="wp-caption-text"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Daerah periplasma merupakan lingkungan yang bersifat oksidatif dan 
memiliki enzim-enzim untuk mengakatalisis pembentukan dan penyusunan 
kembali ikatan-ikatan disulfida. Sehingga daerah inilah yang menjadi 
salah satu daerah yang harus dilewati agar protein yang disekskresikan 
dapat terlipat dengan sempurna. Beberapa studi menunjukkan bahwa 
produksi enzim isomerase ikatan disulfida yang berlebihan nantinya akan 
dapat membantu meningkatkan pembentukan ikatan disulfida pada protein 
heterologus yang mengadung banyak Cysteine (contoh: aktivator 
plasminogen jaringan dari manusia). Pada daerah&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
periplasma ini juga 
terdapat beberapa enzim proteolitik yang terlibat dalam proses degradasi
 protein.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Berbagai galur &lt;em&gt;E. coli&lt;/em&gt; yang memiliki mutasi pada 
gen-gen protease telah dikembangkan dan terbukti dapat mengurangi 
permasalahan akibat degradasi protein heterologus yang dihasilkan. 
Namun, kekurangannya tentu saja pada laju pertumbuhan bakteri yang 
melambat. Selain itu, rekayasa juga dapat dilakukan pada permeabilitas 
membran luar bakteri sehingga protein-protein katalis yang tadinya ada 
di daerah periplasma dapat keluar juga ke medium pertumbuhan sel. Hal 
ini nantinya dapat membantu untuk proses purifikasi protein target.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kesimpulan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Perkembangan pemahaman mengenai fungsi, regulasi, dan interaksi 
produk-produk selular, bersama dengan ketersediaan berbagai alat-alat 
dalam ilmu genetika menjadikan &lt;em&gt;E. coli&lt;/em&gt; sebagai inang yang 
paling menarik untuk produksi protein-protein heterologus. Berbagai 
fakta bahwa masih sedikit informasi yang diungkapkan untuk tujuan 
praktikal dan masih banyak aspek fundamental terkait fisiologi &lt;em&gt;E. coli&lt;/em&gt;
 yang belum terungkap akan semakin mendorong keinginan untuk 
mengoptimalkan mikroorganisme ini sebagai sarana ekspresi protein 
heterologus. Penemuan-penemuan terbaru untuk meningkatkan performa kerja
 &lt;em&gt;E. coli&lt;/em&gt; tampaknya masih akan terus terjadi. Meskipun 
modifikasi pasca translasi (seperti glikosilasi) masih merupakan hal 
yang tampaknya mustahil bagi &lt;em&gt;E. coli&lt;/em&gt;, berbagai strain baru yang
 bermanfaat dalam proses produksi berbagai protein eukariot heterologus 
secara ekonomis diharapkan akan segera tersedia di masa mendatang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sumber: Baneyx F. 1999. Recombinant protein expression in Escherichia coli. Current opinion in Biotechnology 10: 411-421.&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Teknologi Lem Terbaru (belajar dari tokek)</title><link>http://avita1.blogspot.com/2012/12/teknologi-lem-terbaru-belajar-dari-tokek.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sun, 16 Dec 2012 06:00:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3128191752653746636.post-6898985032792771460</guid><description>&amp;nbsp;&lt;img alt="Kaki Tokek (image from: robotics.eecs.berkeley.edu)" class="size-medium wp-image-316 " height="300" src="http://sciencebiotech.net/wp-content/uploads/2009/05/tokayfoot2-ka-251x300.jpg" title="Kaki Tokek (image from: robotics.eecs.berkeley.edu)" width="250" /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kaki TokekBaru-baru ini para ilmuan telah berhasil membuat bulu halus
 yang terdapat pada kaki tokek yang digunakan untuk menempel. Bulu 
buatan ini, meski masih belum sempurna, bekerja mirip dengan jutaan bulu
 halus pada kaki tokek yang memungkinkan untuk menempel diatas 
permukaaan yang berbeda, tidak rata, kotor bedebu, dan lingkungan dimana
 lem-adhesive biasa tidak mampu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span id="more-295"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

Full, besama rekannya di &lt;em&gt;Lewis &amp;amp; Clark College, UC Santa Barbara, dan Stanford University&lt;/em&gt;,
 melaporkan temuannya tentang rahasia tokek dalam menggunakan bulu 
halusnya untuk menempel tanpa penggunaan penghisap, lem, ataupun listrik
 statis. Mereka menemukan bahwa sudut antara bulu halus dengan bidang 
permukaan adalah hal yang menentukan dalam mengontrol daya menempel dan 
melepaskan pada tokek. Ratusan atau ribuan lapisan kecil yang terdapat 
pada ujung bulu-bulu halus tokek (disebut &lt;em&gt;spatulae&lt;/em&gt;) akan menempel pada permukaan bidang dan berinteraksi secara molekuler.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Dengan lebih dari 500 ribu bulu halus untuk setiap kaki, dan ratusan 
sampai ribuan spatulae per bulu, akan menghasilkan interaksi molekular 
(dalam kimia di sebut gaya &lt;em&gt;van der waals&lt;/em&gt;) total sebesar 1000 kali berat tubuh tokek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Awalnya, tim ilmuan menduga daya rekat pada tokek sama dengan pada 
beberapa hewan, kodok, serangga, dan beberapa mamalia yang dapat 
menempel pada permukaan berdasarkan daya rekat kapiler, mengambil 
keuntungan dari tegangan permukaan cairan. Kebanyakan dari hewan-hewan 
ini memiliki semacam kelenjar pada kakinya yang menghasilkan cairan yang
 membuat mereka dapat menempel. Namun diketahui ternyata tokek tidak 
memiliki kelenjar seperti itu. Tak diragukan, spatulae pada ujung 
bulu-bulu halus di kaki dapat berinteraksi dengan lapisan air sangat 
tipis yang terdapat pada hampir seluruh permukaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Pada 2005, sebuah tim yang diketuai oleh Kellar Autumn, dosen biologi di &lt;em&gt;Lewis &amp;amp; Clark College di Portland, Oregon,&lt;/em&gt;
 untuk pertama kalinya berhasil mengungkapkan bahwa tokek menjaga kaki 
lengketnya tetap bersih dengan mengebaskan partikel tanah setiap kali 
melangkah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Kaki tokek sangat berlawanan dengan selotip yang menjadi “magnet” 
untuk menarik debu serta kotoran dan tidak dapat dipakai ulang. Dengan 
perekat tokek ini, bisa dibuat material pertama yang dapat menempel 
sekaligus membersihkan diri dari debu setiap kali kontak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Saat ini ilmuwan di &lt;a href="http://robotics.eecs.berkeley.edu/%7Eronf/Gecko/index.html"&gt;University of California&lt;/a&gt;,
 Berkeley, Amerika Serikat, telah berhasil menciptakan lem sintetis yang
 mirip dengan cara kerja kaki lengket tokek. Ini adalah lem pertama yang
 dapat membersihkan sendiri kotoran dan debu yang melekat sehabis 
digunakan tanpa memerlukan air atau bahan kimia (&lt;em&gt;self-cleaning dry adhesive&lt;/em&gt;). Tidak seperti isolasi yang hanya bisa sekali pakai karena kotoran dan gangguan debu yang ikut menempel. &lt;em&gt;Self-cleaning dry adhesive&lt;/em&gt; akan mempunyai banyak manfaat, seperti pada teknologi super konduktor, dan dapat menempel di bawah air dan di luar angkasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Selain itu juga penemuan ini membawa para ilmuwan itu semakin dekat 
dengan tujuan membuat robot segala medan yang dapat memanjat dinding dan
 langit-langit di lingkungan alami, bukan cuma di atas kaca yang bersih.
 Robot ini bisa pergi ke mana pun diperlukan, mungkin untuk mencari 
korban yang selamat setelah bencana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiBPIrAvD-kfceH4n48qdgTKHHOUxKaDlpSpsvRlQp1YfJJZud-xKLWDvYXmFp27-e7TIjlNJTEi-7Wof8vdut0N6W52Ble0u0pb9FTip3GnpF17lSdL2xNUa8UOGnwmXPixxlQS_EOp7k/s1600-h/tokekcleaningself.gif"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiBPIrAvD-kfceH4n48qdgTKHHOUxKaDlpSpsvRlQp1YfJJZud-xKLWDvYXmFp27-e7TIjlNJTEi-7Wof8vdut0N6W52Ble0u0pb9FTip3GnpF17lSdL2xNUa8UOGnwmXPixxlQS_EOp7k/s400/tokekcleaningself.gif" style="cursor: pointer; display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;em&gt;This illustration shows how a dirt particle clinging to the 
gecko-inspired adhesive becomes more attached to a glass surface than to
 the adhesive’s microfibers, resulting in a dry self-cleaning effect. 
(Fearing lab/UC Berkeley)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Dalam studi terbaru, para ahli merancang perekat dengan serat mikro 
yang terbuat dari polimer kaku. Dengan menggunakan bola-bola mikro 
berdiameter 3-10 mikrometer untuk mensimulasikan kontaminan, para 
ilmuwan bisa menunjukkan bahwa serat mikro menekan partikel bola-bola 
mikro ke ujung serat ketika perekatnya tidak menyentuh permukaan. Ketika
 serat menekan permukaan halus, kontaminan membuat kontak yang lebih 
besar dengan permukaan dibanding dengan serat.</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiBPIrAvD-kfceH4n48qdgTKHHOUxKaDlpSpsvRlQp1YfJJZud-xKLWDvYXmFp27-e7TIjlNJTEi-7Wof8vdut0N6W52Ble0u0pb9FTip3GnpF17lSdL2xNUa8UOGnwmXPixxlQS_EOp7k/s72-c/tokekcleaningself.gif" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Genetika</title><link>http://avita1.blogspot.com/2012/12/genetika.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sun, 16 Dec 2012 05:53:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3128191752653746636.post-2774285796849965497</guid><description>&lt;div style="color: black; text-align: justify;"&gt;
  
                		
        	
		         
                   &lt;/div&gt;
&lt;div style="color: black; text-align: justify;"&gt;
&lt;a href="http://sciencebiotech.net/fun-facts-about-genetics/" rel="bookmark" title="Permanent Link to Fun Facts about Genetics"&gt;Fun Facts about Genetics&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="meta" style="color: black; text-align: justify;"&gt;
                           &lt;br /&gt;

                      &lt;/div&gt;
&lt;div class="retweet" style="color: black; text-align: justify;"&gt;
				
				
			&lt;/div&gt;
&lt;div class="wp-caption alignright" id="attachment_2030" style="color: black; text-align: justify; width: 260px;"&gt;
&lt;a class="highslide" href="http://sciencebiotech.net/wp-content/uploads/2012/10/hclogomf.jpg"&gt;&lt;img alt="" class="size-large wp-image-2030" height="171" src="http://sciencebiotech.net/wp-content/uploads/2012/10/hclogomf-1024x701.jpg" title="Fun Facts about Genetics" width="250" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="wp-caption-text"&gt;
Image from http://www.genetic-programming.org&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: black; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: black; text-align: justify;"&gt;
Ilmu genetika dan biologi memiliki berbagai fakta yang unik dan 
menarik. Dalam artikel kali ini akan coba diangkat beberapa fakta 
menarik seputar kedua ilmu tersebut. &lt;em&gt;What are they? Let’s check it out!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span id="more-2026"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: black; text-align: justify;"&gt;
DNA&lt;/div&gt;
&lt;ul style="color: black; text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;Hampir semua sel di dalam tubuh kita memiliki salinan genom secara 
lengkap. Perkecualian ada pada sel-sel telur dan sperma yang hanya 
membawa setengah dari genom yang kita miliki, sedangkan sel darah merah 
dan beberapa sel darah putih tidak memiliki DNA sama sekali (jika tidak,
 maka transfusi darah dapat menyebabkan reaksi imunitas seperti pada 
transplantasi organ).&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Jika diurai, DNA di dalam nukleus sel tubuh kita dapat mencapai 
panjang sekitar 1,8 meter. Manusia memiliki sekitar 100 trilyun sel 
(termasuk mikrobioma). Dengan kata lain, jika semua DNA dari tiap sel 
dalam tubuh seseorang diurai dan disambungkan maka akan bisa membentuk 
untaian sepanjang 180.000 juta kilometer, 1000 kali lebih jauh 
dibandingkan jarak bumi ke matahari yang “hanya” sekitar 150 juta 
kilometer.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;DNA mitokondria berada di luar nukleus, dengan kata lain DNA ini 
terpisah dari kromosom. DNA ini hanya terdiri dari sekitar 16.569 pasang
 basa.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;SNP (single nucleotide polymorphism) adalah mutasi yang terjadi 
terhadap satu pasang basa DNA. Tergantung pada lokasinya, mutasi ini 
bisa tidak berakibat apa-apa, atau malah menyebabkan perubahan secara 
fisik (misalnya warna mata), meningkatkan imunitas, meningkatkan resiko 
terkena penyakit (misalnya diabetes), atau bahkan penyakit genetik 
(misalnya cystic fibrosis).&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div style="color: black; text-align: justify;"&gt;
Kromosom&lt;/div&gt;
&lt;ul style="color: black; text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;Genom manusia terdiri dari 3 milyar pasang basa, terbagi dalam 46 
kromosom yang berpasangan, sehingga dengan kata lain kita memiliki 23 
pasang kromosom.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Pasangan kromosom diberi nomor mulai dari yang paling besar 
(kromosom 1) ke yang paling kecil (kromosom 21). Kromosom 22 dulunya 
dianggap yang paling kecil, tetapi setelah melalui berbagai penelitian 
lebih lanjut diketahui bahwa kromosom 21 sebenarnya lebih kecil. Namun, 
sistem penomoran kromosom yang sudah “terlanjur” ada tidak mengalami 
perubahan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kromosom penentu seks (X dan Y) adalah satu-satunya kromosom yang 
ukurannya tidak simetris. Kromosom Y memiliki 57 juta pasang basa, jauh 
lebih kecil dibandingkan kromosom X yang memiliki 154 juta pasang basa.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Alasan kenapa kromosom Y lebih kecil daripada X adalah karena 
kromosom X memiliki gen-gen yang menyerang kromosom Y. Sehingga sebagai 
responnya, kromosom Y harus menghilangkan sebagian besar non-coding DNA 
nya agar dapat melindungi dirinya dengan lebih baik.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Pada beberapa kasus langka, orang dapat terlahir dengan kelebihan 
satu kromosom. Mereka yang terlahir dengan tiga kromosom 21 akan 
mengalami Down syndrome. Kemungkinan lain adalah kelebihan pada kromosom
 X yang menyebabkan Klinefelter’s syndrome (XXY), XYY syndrome, Triple X
 syndrome, XXYY syndrome, XXXX syndrome, atau XXXXX syndrome. Kelebihan 
kromosom pada daerah kromosom yang lain umumnya akan menyebabkan 
kematian, ataupun jika dapat bertahan sampai pada kelahiran, biasanya 
harapan hidupnya sangat kecil.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Manusia dan mayoritas hewan adalah diploid, yang artinya hanya 
memiliki dua set kromosom. Berbeda halnya dengan tanaman yang sering 
bersifat poliploid. Ada beberapa varietas gandum yang bersifat 
tetraploid (empat set kromosom) dan heksaploid (enam set kromosom). 
Beberapa jenis strawberry dapat bersifat dekaploid (10 set kromosom). 
Hewan yang bersifat poliploid misalnya ikan mas, salmon, dan salamander.
 Poliploid juga dapat terjadi pada jaringan tubuh manusia seperti otot 
atau hati. Ketika dua atau tiga spermatozoid membuahi ovum secara 
bersamaan, embrio yang terbentuk bisa bersifat triploid atau tetraploid.
 Akan tetapi, kehamilan yang seperti itu hampir semuanya akan mengalami 
keguguran ataupun meninggal segera sesudah dilahirkan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kupu-kupu memiliki jumlah kromosom yang jauh lebih banyak daripada 
manusia, yaitu sekitar 380 (bandingkan dengan manusia yang “hanya” 46)!&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div style="color: black; text-align: justify;"&gt;
Genom Manusia&lt;/div&gt;
&lt;ul style="color: black; text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;Genom manusia secara lengkap diselesaikan pada tahun 2007 dan dua 
orang pertama yang genomnya disekuen secara lengkap adalah Craig Venter 
dan James D. Watson.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Jika ingin membaca semua sekuen DNA manusia yang berjumlah 3 milyar 
pasang basa dengan kecepatan 100 pasang basa per menit tanpa istirahat 
(tidur, makan, maupun minum), seseorang membutuhkan waktu 57 tahun!&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Genom manusia memiliki 98% kemiripan dengan genom simpanse, 
sedangkan antar manusia sendiri kemiripannya adalah sekitar 99,5%. 
Gorila memiliki 97% kemiripan genom dengan manusia maupun simpanse, 
sehingga bisa dikatakan manusia memiliki kekerabatan yang lebih dekat 
dengan simpanse daripada gorila.&lt;br /&gt;

Selain itu, sebagai perbandingan, manusia juga memiliki kesamaan genetis
 sebanyak 7% dengan E. coli, 21% dengan cacing, dan 90% dengan tikus.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Sebagian besar genom kita terdiri dari junk DNA. DNA ini tersusun 
dari berbagai gen yang dulu masih aktif pada nenek moyang manusia tetapi
 sekarang sudah tidak aktif lagi (misalnya ekor), atau DNA virus yang 
menyisip ke dalam genom kita dan tereplikasi berulang kali hingga 
beberapa generasi tetapi tidak memiliki fungsi apa-apa.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ukuran genom tidak terkait dengan kompleksitas kehidupan itu 
sendiri. Sebagai contohnya genom makhluk uniseluler seperti Amoeba dubia
 dilaporkan memiliki DNA 200 kali lebih banyak daripada manusia!&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Contoh lain adalah kupu-kupu dengan sekitar 380 kromosomnya memiliki
 ukuran genom sekitar hampir 125 milyar pasang basa (lebih dari 40 kali 
ukuran genom manusia)!&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Dari 3 milyar pasang basa dalam genom manusia, hingga saat ini 
“baru” diketahui memiliki sekitar 30.000 gen. Masih lebih sedikit 
dibandingkan jagung (2,5 milyar pasang basa, + 59.000 gen) dan padi (441
 juta pasang basa, + 50.000 gen).&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div style="color: black; text-align: justify;"&gt;
Penurunan Sifat&lt;/div&gt;
&lt;ul style="color: black; text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;Meskipun DNA autosom diwariskan secara seimbang dari masing-masing 
orang tua, penyakit genetis tampaknya lebih parah ketika diwariskan dari
 ayah (misalnya Huntington’s disease). Hal ini dikarenakan mutasi 
terjadi pada tingkat yang lebih tinggi pada laki-laki dan akan semakin 
meningkat seiring dengan bertambahnya usia sang ayah. Oleh karena itu, 
pria yang berusia lebih tua (lebih dari 40 tahun) memiliki kemungkinan 
yang lebih tinggi untuk mendapat anak dengan kelainan seperti 
schizophrenia, depresi, atau autisme.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Beberapa gen memiliki fungsi yang berbeda tergantung diwariskan dari
 sang Ibu atau Ayah, dan hal ini disebut sebagai imprinted genes. 
Sebagai contoh, salinan salah satu gen pada kromosom 15 yang berasal 
dari ibu dikenal sebagai UBE3A, sedangkan bila dari sang ayah dikenal 
sebagai SNRPN. Mewarisi salinan gen dari ayah saja dapat menyebabkan 
kelainan yang disebut Prader-Willi syndrome, sedangkan jika hanya dari 
ibu menyebabkan kelainan Angelman syndrome.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kelainan homoseksual bukan sekedar masalah genetis. Kemungkinan 
seseorang menjadi homoseksual meningkat pada pria yang memiliki banyak 
kakak laki-laki. Hal ini disebabkan tubuh sang Ibu mengakumulasi 
antibodi yang melawan gen-gen yang bertanggung jawab terhadap 
maskulinitas pada otak bayi laki-laki yang dikandungnya. Sehingga resiko
 homoseksualitas pada bayi laki-laki akan semakin meningkat seiring 
dengan banyaknya kelahiran anak laki-laki sebelumnya. Tetapi hal ini 
tidak berlaku untuk kelahiran bayi perempuan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Studi genetis dilakukan terhadap salah satu suku di Afrika yaitu 
Yoruba. Alasannya adalah untuk mempelajari keunikan yang mereka miliki, 
yaitu tingkat kelahiran kembar yang tinggi.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div style="color: black; text-align: justify;"&gt;
Neurotransmitters&lt;/div&gt;
&lt;ul style="color: black; text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;Neurotransmitters seperti serotonin, dopamin, adrenalin dan 
noradrenalin mempengaruhi suasana hati dan sifat seseorang. Konsentrasi 
senyawa-senyawa tersebut dipengaruhi oleh lingkungan, tetapi 
sensitivitas otak terhadap senyawa-senyawa tersebut ditentukan secara 
genetis.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kadar serotonin yang rendah dapat mengakibatkan peningkatan depresi,
 rasa gugup, resiko bunuh diri, dan kekerasan. Karbohidrat dan 
kolesterol keduanya diketahui dapat meningkatkan kadar serotonin.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kandungan dopamin yang terlalu tinggi dapat menyebabkan 
schizophrenia. Sedangkan kadar dopamin yang rendah menyebabkan rasa 
bosan dan lesu dalam beraktivitas, dan dalam kasus ekstrim dapat 
menyebabkan parkinson. Salah satu varian reseptor dopamin D4 menyebabkan
 dopamin dikonsumsi lebih cepat oleh otak. Orang yang memiliki varian 
ini biasanya suka mencoba sesuatu yang baru dan menantang dibandingkan 
kebanyakan orang. Hal ini dilakukannya sebagai kompensasi dari kadar 
dopamin yang rendah di dalam tubuhnya.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div style="color: black; text-align: justify;"&gt;
Imunitas&lt;/div&gt;
&lt;ul style="color: black; text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;Beberapa orang memiliki variasi genetik berupa penghilangan suatu 
pasangan basa tertentu pada gen CCR5 yang mengakibatkan mereka menjadi 
lebih resisten terhadap penyakit seperti cacar, HIV, wabah, dan berbagai
 virus (Misalnya: Virus West Nile). Mutasi ini sering ditemui di daerah 
timur laut Eropa.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tipe darah ABO memilki kaitan dengan ketahanan terhadap penyakit 
kolera, dimana golongan darah AB memiliki sifat resisten yang paling 
kuat, sedangkan O adalah yang paling lemah. Namun, di sisi lain, 
golongan darah O lebih resisten terhadap penyakit malaria dan sifilis, 
dan memiliki resistensi yang lebih baik terhadap berbagai jenis kanker.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Banyak kelainan genetik dapat bertahan dari seleksi alam karena 
mereka memiliki imunitas terhadap wabah epidemik. Contohnya, mutasi CFTR
 yang menyebabkan cystic fibrosis dapat melindungi terhadap penyakit 
disentri dan tipus. Anemia sel sabit dan thalassemia melindungi dari 
malaria.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Studi menunjukkan bahwa pria dan wania memiliki ketertarikan 
tertinggi tehadap bau orang lain dengan sistem imun yang jauh berbeda 
dengan dirinya. Hal ini merupakan salah satu cara alam untuk mencegah 
inbreeding.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Kromosom</title><link>http://avita1.blogspot.com/2012/12/kromosom.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sun, 16 Dec 2012 05:38:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3128191752653746636.post-5028919263467295388</guid><description>&lt;div class="entry-title"&gt;
Kromosom&lt;/div&gt;
&lt;div class="entry-title"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Satuan terkecil dari makhluk hidup adalah sel. 
Segala aktivitas sel diatur oleh inti sel (nukleus). Di dalam inti, 
terkandung substansi genetik yang terdapat dalam kromosom . Istilah 
kromosom diperkenalkan pertama kali oleh W. Waldeyer pada tahun 1888. 
Kromosom berasal dari kata chrome yang berarti warna dan soma&amp;nbsp; berarti 
badan. &lt;em&gt;Kromosom dapat diartikan sebagai badan yang mampu menyerap warna.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;strong&gt;1. Bentuk dan Ukuran Kromosom&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Jika
 inti sel mengandung informasi genetis, dalam bentuk apakah informasi 
tersebut dapat ditemukan? Berbagai penelitian telah menemukan adanya 
struktur spesifik dalam inti sel pada sel yang sedang membelah. Struktur
 tersebut dapat menyerap warna sehingga dinamakan kromosom. Setiap 
spesies memiliki jumlah kromosom yang khas. Sebagai contoh, kromosom 
pada sel manusia berjumlah 46 buah, tanaman kapas 52 buah kromosom, ayam
 kalkun 82 buah kromosom, dan beberapa jenis paku memiliki lebih dari 
1.000 buah kromosom.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Kromosom tersusun atas DNA yang berkondensasi bersama
 protein histon&amp;nbsp; di dalam inti sel, membentuk struktur bernama&amp;nbsp; 
nukleosom. DNA ( deoxyribonucleic acid ) atau asam deoksiriboneukleat 
merupakan substansi&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;pembawa pembentuk nukleosom. Nukleosom-nukleosom 
berkelompok dan membentuk benang yang lebih kompak, yang dinamakan 
benang kromatin. Kromatin akan terlihat sebagai benang yang mengandung 
struktur manik-manik (&lt;em&gt;beads on a string&lt;/em&gt;), yakni nukleosom.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Benang kromatin ini ditemukan di dalam inti sel. 
Ketika sel akan membelah, benang kromatin membentuk pilinan yang semakin
 padat sehingga dapat terlihat menggunakan mikroskop. Struktur yang 
dihasilkan oleh pengompakan benang kromatin tersebut dikenal sebagai&amp;nbsp; 
kromosom. Sebelum sel membelah, molekul DNA dari setiap kromosom 
berduplikasi sehingga terbentuk lengan kromosom ganda yang disebut&amp;nbsp; 
kromatid.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;a href="http://biosejati.files.wordpress.com/2012/01/image44.png"&gt;&lt;img alt="http://biosejati.files.wordpress.com/2012/01/image44.png" src="http://biosejati.files.wordpress.com/2012/01/image44.png" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;
&lt;span id="more-831"&gt;&lt;/span&gt;

&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Pada kromosom terdapat suatu daerah terang yang 
tidak mengandung gen, dinamakan sentromer . Bagian ini memiliki peranan 
sangat penting pada proses pembelahan sel.&amp;nbsp; Di bagian inilah benang 
gelendong menempel untuk bagian kromosom pada masing-masing kutub pembelahan yang berlawanan.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Benang gelendong melekat pada bagian sentromer, yakni
 kinetokor. Berdasarkan letak sentromer, kromosom dapat dibedakan 
menjadi beberapa bentuk. Ada kromosom yang memiliki satu lengan dan ada 
pula yang memiliki dua lengan. Ada yang memiliki lengan sama panjang dan
 ada pula yang tidak. Bentuk-bentuk kromosom tersebut adalah:&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;1) telosentrik , yakni kromosom yang letak sentromernya berada di ujung kromosom;&lt;br /&gt;2) akrosentrik, yakni kromosom yang letak sentromernya mendekati salah satu ujung kromosom;&lt;br /&gt;3) submetasentrik, yakni kromosom yang letak sentromernya mendekati bagian tengah kromosom;&lt;br /&gt;4) metasentrik, yakni kromosom yang letak sentromernya berada di tengah-tengah sehingga bentuk kromosom tampak seperti huruf V.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;a href="http://biosejati.files.wordpress.com/2012/01/image45.png"&gt;&lt;img alt="Bentuk Kromosom" border="0" height="223" src="http://biosejati.files.wordpress.com/2012/01/image_thumb41.png?w=466&amp;amp;h=223" style="border-bottom: 0; border-left: 0; border-right: 0; border-top: 0; display: inline;" title="Bentuk Kromosom" width="466" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;strong&gt;2. Tipe Kromosom&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;Setiap organisme
 memiliki jumlah kromosom yang berbeda-beda, sebagai contohnya 
perhatikanlah Tabel 3.1. Sel tubuh manusia memiliki 23 pasang kromosom 
homolog. Jumlah macam kromosom homolog disebut ploid. Pada sel tubuh 
jumlahnya selalu berpasangan atau 2 set sehingga disebut&amp;nbsp; diploid&amp;nbsp; (di&amp;nbsp; =
 dua) atau 2 n. Sel gamet atau sel kelamin memiliki setengah dari jumlah
 kromosom tubuh atau 1 set kromosom akibat pembelahan meiosis. Jadi, sel
 sperma dan sel telur manusia hanya memiliki 23 kromosom, sedangkan sel 
kelamin lalat buah hanya memiliki 4 kromosom. Jumlah kromosom ini 
disebut&amp;nbsp; haploid&amp;nbsp; atau n.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Tabel Jumlah Kromosom Tubuh beberapa Organisme&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;a href="http://biosejati.files.wordpress.com/2012/01/image46.png"&gt;&lt;img alt="image" border="0" height="146" src="http://biosejati.files.wordpress.com/2012/01/image_thumb42.png?w=474&amp;amp;h=146" style="border-bottom: 0; border-left: 0; border-right: 0; border-top: 0; display: inline;" title="image" width="474" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Setiap makhluk hidup eukariotik selalu memiliki dua 
jenis kromosom, yaitu gonosom (kromosom kelamin) dan autosom (kromosom 
tubuh). Kedua jenis kromosom ini diperkenalkan kali pertama oleh&amp;nbsp; T. H. 
Montgomery.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;a. Kromosom Tubuh (Autosom)&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;Autosom berfungsi mengatur
 dan mengendalikan sifat-sifat tubuh makhluk hidup. Kromosom ini tidak 
berperan dalam mengatur jenis kelamin. Autosom terdapat pada individu 
jantan dan individu betina dengan jumlah yang sama dan berpasangan 
(diploid).&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;b. Kromosom Kelamin (Gonosom)&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;Gonosom&amp;nbsp; memiliki banyak 
nama lain, di antaranya aelosom atau heterokromosom atau kromosom 
kelamin. Kromosom ini memiliki susunan pasangan yang berbeda pada 
individu jantan dan betina. Pada manusia gonosom berjumlah 1 pasang atau
 2 buah kromosom. Jumlah tersebut sama dengan gonosom yang terdapat pada
 lalat buah.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;a href="http://biosejati.files.wordpress.com/2012/01/image47.png"&gt;&lt;img alt="image" border="0" height="351" src="http://biosejati.files.wordpress.com/2012/01/image_thumb43.png?w=387&amp;amp;h=351" style="border-bottom: 0; border-left: 0; border-right: 0; border-top: 0; display: inline;" title="image" width="387" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;
&lt;a href="http://biosejati.files.wordpress.com/2012/01/image48.png"&gt;&lt;img alt="Kromosm Drosophilla" border="0" height="244" src="http://biosejati.files.wordpress.com/2012/01/image_thumb44.png?w=203&amp;amp;h=244" style="border-bottom: 0; border-left: 0; border-right: 0; border-top: 0; display: inline;" title="Kromosm Drosophilla" width="203" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;

&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Pada manusia dan lalat buah terdapat perbedaan 
gonosom antara jantan dan betina. Pada lalat buah jantan, satu gonosom 
berbentuk batang diberi simbol X dan satu gonosom berbentuk bengkok di 
beri simbol Y.&amp;nbsp; Dengan demikian gonosom jantan disimbolkan dengan XY. 
Pada betina kedua gonosom berbentuk batang dan disimbolkan dengan XX.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Oleh karena itu, jumlah kromosom lalat buah jantan dapat dituliskan 3AA&lt;br /&gt;+
 XY atau 6A + XY, sedangkan betina 3AA + XX atau 6A + XX. Adapun jumlah 
kromosom manusia laki-laki 22 AA + XY atau 44A + XX, sedangkan perempuan
 22AA + XY atau 44A + XX.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Jumlah kromosom tubuh dapat mengalami kelainan antara lain oleh mutasi&lt;br /&gt;atau kanker. Jika jumlah kromosomnya 3 set disebut&amp;nbsp; triploid , 4 set disebut tetraploid,
 dan jika jumlahnya banyak disebut&amp;nbsp; poliploid. Sel kelamin (sel sperma 
atau sel telur) hanya memiliki satu kromosom kelamin (gonosom) sehingga 
sel kelamin dari betina hanya memiliki gonosom X. Adapun sel kelamin 
jantan memiliki gonosom X atau Y yang akan menentu-kan jenis kelamin 
individu setelah terjadi fertilisasi.&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Tricuspid Atresia</title><link>http://avita1.blogspot.com/2012/12/tricuspid-atresia.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sat, 15 Dec 2012 05:52:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3128191752653746636.post-5060231029097765887</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Deskripsi&amp;nbsp;Tricuspid Atresia&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;a class="zem_slink" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Tricuspid_atresia" rel="wikipedia" target="_blank" title="Tricuspid atresia"&gt;Tricuspid atresia&lt;/a&gt;
 adalah cacat jantung pada saat lahir (kongenital) di mana salah satu 
katup antara dua ruang jantung yaitu katup trikuspid tidak terbentuk. 
Sebaliknya, ada jaringan yang solid antara kedua ruang jantung tersebut.
 Jika bayi Anda lahir dengan Tricuspid atresia, darah dari jantung tidak
 dapat mengalir ke paru-paru untuk mengambil oksigen. Sehingga paru-paru
 tidak dapat menyediakan kebutuhan oksigen seluruh tubuh. Bayi dengan 
tricuspid atresia akan mudah lelah, sering sesak napas dan memiliki 
kulit yang kebiru-biruan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Penyebab Tricuspid Atresia&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tricuspid atresia terjadi selama 
pertumbuhan janin ketika jantung bayi mulai berkembang. Sementara 
beberapa faktor, seperti keturunan atau sindrom Down, dapat meningkatkan
 risiko bayi cacat jantung bawaan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;a href="http://www.sambureki.com/wp-content/uploads/2012/05/Ilustrasi-Tricuspid-Atresia.jpg"&gt;&lt;img alt="Ilustrasi Tricuspid Atresia Mengenal Gejala, Penyebab dan Cara Pengobatan Tricuspid Atresia " class="aligncenter size-full wp-image-275" height="400" src="http://www.sambureki.com/wp-content/uploads/2012/05/Ilustrasi-Tricuspid-Atresia.jpg" title="Ilustrasi Tricuspid Atresia" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Gejala Tricuspid Atresia&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Gejala tricuspid atresia ditandai dengan:&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1. Semburat biru pada kulit dan bibir (sianosis).&lt;br /&gt;
2. Kesulitan bernafas (Dyspnea).&lt;br /&gt;
3. Mudah lelah, terutama selama menyusu ASI Anda.&lt;br /&gt;
4. Pertumbuhan lambat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pengobatan Tricuspid Atresia&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Beritahu dokter jika Anda melihat salah 
satu gejala di atas pada anak Anda. Katup tricuspid yang telah rusak 
tidak dapat diganti. Tetapi dapat diobati dengan cara operasi untuk 
memastikan aliran darah yang cukup ke jantung dan ke paru-paru, sehingga
 tubuh bayi dapat menerima jumlah yang tepat dari darah yang kaya 
oksigen. Seringkali, pengobatan membutuhkan lebih dari satu prosedur 
bedah.&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Hujan Asam</title><link>http://avita1.blogspot.com/2012/12/hujan-asam.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sat, 15 Dec 2012 05:46:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3128191752653746636.post-4976553892433179116</guid><description>&lt;div class="wp-caption aligncenter" id="attachment_331" style="width: 510px;"&gt;
&lt;img alt="Proses Terjadinya Hujan Asam Penjelasan Lengkap Mengenai Hujan Asam" class="size-full wp-image-331" height="409" src="http://www.sambureki.com/wp-content/uploads/2012/07/Proses-Terjadinya-Hujan-Asam.gif" title="Proses Terjadinya Hujan Asam" width="500" /&gt;&lt;div class="wp-caption-text"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="wp-caption-text"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="wp-caption-text"&gt;
Proses Terbentuknya Hujan Asam&lt;/div&gt;
&lt;div class="wp-caption-text"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Anda pastinya telah sering dengar&amp;nbsp; tentang &lt;strong&gt;hujan asam&lt;/strong&gt;
 serta hal yang berbahaya yang ditimbulkan oleh hujan asam bagi mahluk 
hidup. Namun, apakah kita telah sepenuhnya memahami tentang pengertian 
dari hujan asam itu sendiri? Sebenarnya, apa itu hujan asam? Baca dan 
pelajari pembahasan tentang apa itu hujan asam di &lt;strong&gt;Sambureki.Com&lt;/strong&gt; supaya kita memahami betul pengertian dari hujan asam.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hujan asam merupakan hujan yang pada 
setiap tetesnya mengandung pH yang sangat rendah. Bilai nilai pH normal 
air hujan adalah sekitar 5,6 , maka pada hujan asam ini nilai pH airnya 
hanya mencapai 2 hingga 3 saja. Hujan asam ini bisa terjadi sebagai 
akibat dari tingginya kadar gas Sulfur Oksida dan Nitrogen Oksida. Kedua
 zat tersebut merupakan hasil dari emisi atau buangan kegiatan industri 
dan kendaraan bermotor. Sejak tahun 1993, para ahli telah mengeluarkan 
pernyataan bahwa 50% dari keberadaan gas Nitrogen Oksida dan 90% gas 
Sulfur Oksida yang terdapat di atmosfer dihasilkan oleh aktivitas 
manusia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Gas hasil emisi pembuangan kegiatan 
industri dan juga kendaraan bermotor serta aktivitas – aktivitas manusia
 lainnya, selain bisa menimbulkan pencemaran udara juga larut dalam 
titik – titik air di awan dan membentuk larutan asam sulfat dan asam 
nitrat dimana ketika terjadi hujan, kedua larutan tersebut akan ikut 
turun bersama air hujan. Inilah dasar mengapa disebut dengan hujan asam.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mengapa hujan asam ini banyak 
dibicarakan orang? Karena akibat yang ditimbulkan oleh hujan asam ini 
sangat luar biasa. Berikut ini adalah dampak yang dihasilkan dari 
terjadinya hujan asam:&lt;/div&gt;
&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;Dapat menyebabkan matinya tumbuhan dan ikan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Dapat mengurangi kadar mineral dalam tanah.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Dapat melarutkan aluminium dari mineral di dalam tanah dan bebatuan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;jika bereaksi dengan logam, bisa merusak tiang jembatan, bodi mobil,
 kapal laut, dan juga struktur bangunan lain yang menggunakan besi / 
logam.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Selain merusak bangunan yang memiliki unsur logam, hujan asam ini 
dapat merusak bangunan – bangunan yang terbuat dari batu kapur.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sekian penjelasan lengkap tentang apa 
yang disebut sebagai hujan asam, semoga dapat memberikan pemahaman akan 
bahaya hujan asam bagi mahluk hidup di bumi.&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Polimiositis</title><link>http://avita1.blogspot.com/2012/12/polimiositis.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sat, 15 Dec 2012 05:37:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3128191752653746636.post-7702584134328747535</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Pengertian&amp;nbsp;Polimiositis&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Polimiositis adalah penyakit inflamasi 
pada otot yang terus-menerus dan menyebabkan kelemahan otot rangka, yang
 mengendalikan gerakan. Secara medis, polimiositis diklasifikasikan 
sebagai miopati inflamasi kronis. Polimiositis dapat terjadi pada semua 
usia, tetapi sebagian besar mempengaruhi orang dewasa dengan usia 40 
sampai 50-an tahun. Penyakit ini lebih sering terjadi pada orang kulit 
hitam dibandingkan kulit putih, dan wanita lebih sering terpengaruh 
daripada pria.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Penyebab Polimiositis&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Penyebab pasti dari polimiositis belum 
diketahui, tetapi karakteristik penyakit ini sama dengan gangguan 
autoimun, dimana sistem kekebalan tubuh menyerang komponen tubuh normal.
 Biasanya, sistem kekebalan tubuh bekerja untuk melindungi sel sehat 
dari serangan benda asing, seperti bakteri dan virus. Polimiositis 
biasanya mempengaruhi otot-otot yang paling dekat dengan batang, 
terutama di pinggul, paha, bahu, lengan atas dan leher. Jika Anda 
menderita polimiositis, sebuah penyebab yang tidak diketahui dapat 
bertindak sebagai pemicu sistem kekebalan tubuh untuk mulai memproduksi 
antibodi autoimun (autoantibodi) yang menyerang jaringan tubuh sendiri. 
Banyak orang yang menderita polimiositis menunjukkan tingkat terdeteksi 
autoantibodi dalam darahnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Gejala Polimiositis&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tanda dan gejala polimiositis muncul 
secara bertahap, sehingga mungkin sulit untuk mendeteksi lebih dini. 
Penyakit ini juga dapat berfluktuasi dari minggu ke minggu atau bulan ke
 bulan. P Polimiositis dapat memburuk dari waktu ke waktu dan membuat 
Anda mungkin kesulitan naik tangga, bangkit dari posisi duduk, 
mengangkat benda sampai di atas kepala.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Polimiositis ditandai dengan gejala sebagai berikut:&lt;/div&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;kelemahan otot progresif.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kesulitan menelan (disfagia).&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kesulitan berbicara.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ringan sendi atau nyeri tekan otot.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kelelahan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Sesak napas.&lt;br /&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Pengobatan Polimiositis&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jika Anda mengembangkan tanda dan gejala
 yang berhubungan dengan polimiositis, pergilah ke dokter untuk evaluasi
 dan diagnosis. Meskipun tidak ada obat untuk polimiositis, pengobatan 
seperti kortikosteroid dan terapi dapat meningkatkan kekuatan dan fungsi
 otot. Kortikosteroid adalah pengobatan dengan obat-obat yang menekan 
sistem kekebalan tubuh, membatasi produksi antibodi dan mengurangi 
peradangan otot.&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>acute titis Media</title><link>http://avita1.blogspot.com/2012/12/acute-titis-media.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sat, 15 Dec 2012 05:29:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3128191752653746636.post-6078718329361909041</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Penyakit radang telinga tengah atau acute otitis media.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;img alt="Ilustrasi penyakit radang telinga tengah Mengenal Penyakit Acute Otitis Media" class="size-full wp-image-463 alignleft" height="375" src="http://www.sambureki.com/wp-content/uploads/2012/07/Ilustrasi-penyakit-radang-telinga-tengah.jpg" title="Ilustrasi penyakit radang telinga tengah" width="368" /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pernah mendengar tentang jenis penyakit &lt;em&gt;acute otitis media&lt;/em&gt;
 atau radang telinga tengah? Anda ataukah teman dan saudara pernah atau 
sedang menderita penyakit ini? Sebaiknya Anda harus tahu terlebih dahulu
 apa sih sebenarnya radang telinga tengah, penyebab, gejala sampai 
langkah-langkah pengobatannya. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Pengertian acute otitis media&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Radang telinga tengah (acute otitis 
media) merupakan infeksi atau peradangan yang disebabkan oleh virus atau
 bakteri dan mempengaruhi telinga bagian tengah, ruang berisi udara di 
belakang gendang telinga. Kondisi ini biasanya menyerang anak-anak meski
 tidak menutup kemungkinan terjadi pada orang dewasa. Radang telinga 
menyebabkan rasa nyeri yang cukup hebat akibat peradangan dan penumpukan
 cairan di dalam telinga bagian tengah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Gejala acute otitis media&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Anak-anak – Nyeri di telinga, terutama 
ketika berbaring – Telinga terasa seperti ditarik-tarik – Susah tidur – 
Lebih banyak menangis – Lebih mudah marah – Sulit mendengar atau 
merespon suara – Kehilangan keseimbangan – Sakit kepala – Demam (38 
derajat Celcius ke atas) – Cairan telinga mengering – Kehilangan nafsu 
makan – Muntah – Diare Orang dewasa – Nyeri telinga – Cairan telinga 
mengering – Pendengaran hilang – Sakit tenggorokan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Penyebab acute otitis media&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;em&gt;Acute otitis media&lt;/em&gt; atau radang 
telinga tengah disebabkan oleh adanya bakteri atau virus di dalam 
telinga bagian tengah. Radang ini bisa jadi merupakan akibat dari 
penyaki lain seperti influenza dan alergi yang menyebabkan pembengkakan 
pada saluran hidung, tenggorokan atau tabung eustachius.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Cara Pengobatan acute otitis media. &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ada 5 langkah-langkah pengobatan radang telinga tengah, simak selengkapnya berikut ini:&lt;/div&gt;
&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;Kompres hangat untuk mengurangi nyeri pada telinga yang terinfeksi.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Obat-obatan seperti acetaminophen (Tylenol) atau ibuprofen (Motrin, Advil).&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tetes telinga seperti antipyrine-benzocaine (Aurodex).&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Terapi antibiotik.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Operasi (myringotomy) dengan menggunakan tabung telinga.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Kanker Nesofaring</title><link>http://avita1.blogspot.com/2012/12/kanker-nesofaring.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sat, 15 Dec 2012 05:24:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3128191752653746636.post-8568635963700926080</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Penyebab kanker nasofaring&lt;/strong&gt;
 belum dapat diketahui dengan pasti. Sejauh ini penyebabnya masih 
bersifat multifaktoral; dan infeksi virus Epstein Barr dituding sebagai 
biang keladi utama. Infeksi dari virus Epstein Barr pada kenyataannya 
memegang peranan penting dalam memicu timbulnya kanker nasofaring.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Virus
 ini dapat masuk dan menetap di dalam nasofaring selama bertahun-tahun 
tanpa menimbulkan gejala. Namun, virus Epstein Barr juga terdapat pada 
penyakit lain; jadi tidak hanya terdapat pada kanker nasofaring.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Virus Epstein Barr&lt;/strong&gt; 
sebenarnya banyak terdapat di mana-mana, bahkan di udara bebas. Hanya 
saja tidak semua akan menjadi kanker. Virus ini akan tetap ‘tidur’ di 
nasofaring – tidak akan tumbuh menjadi kanker – jika tidak dipicu oleh 
faktor-faktor tertentu. Berikut adalah hal-hal yang bisa menjadi faktor 
pemicu datangnya serangan kanker nasofaring :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1. Terlalu banyak mengkonsumsi ikan asin.&lt;br /&gt;
Sebuah penelitian di HongKong pada tahun 1986 menyebutkan bahwa sebagian
 besar penderita kanker nasofaring yang usianya di bawah 35 tahun telah 
banyak mengkonsumsi ikan asin sejak usianya belum genap 10 tahun.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;img alt="Penyebab Kanker Nasofaring Penyebab Kanker Nasofaring" class=" wp-image-344 " height="333" src="http://www.sambureki.com/wp-content/uploads/2012/07/Penyebab-Kanker-Nasofaring.jpg" title="Penyebab Kanker Nasofaring" width="500" /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2. Terlalu sering menyantap makanan yang diawetkan.&lt;br /&gt;
Makanan yang diduga bisa mempengaruhi atau memicu kanker nasofaring 
adalah makanan yang diawetkan, baik diawetkannya melalui cara diasinkan,
 difermentasi, maupun diasapi (misalnya makanan kalengan, tauco, terasi,
 dan daging asap) serta makanan yang dibakar. Mengapa? Karena 
makanan-makanan tersebut mengandung senyawa nitrosamin yang merupakan 
karsinogenik (senyawa penyebab kanker). Pada ikan asin, zat nitrosamin 
dihasilkan karena dalam proses pengasinan dan penjemurannya, sinar 
matahari bereaksi dengan nitrit pada daging ikan sehingga membentuk 
senyawa nitrosamin.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
3. Terlalu sering menyantap makanan panas atau makanan yang bersifat merangsang selaput lendir.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
4. Sering terpapar zat karsinogen.&lt;br /&gt;
Zat karsinogen ini misalnya cat, gas kimia, pembakaran dupa, obat nyamuk
 bakar, dan hidup di lingkungan penuh asap dengan ventilasi rumah yang 
kurang baik.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
5. Radang menahun di daerah nasofaring.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
6. Kebiasaan merokok.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
7. Kebiasaan menghisap candu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
8. Kebiasaan mengkonsumsi minuman alkohol.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
9. Ras dan keturunan / genetik.&lt;br /&gt;
Orang-orang Tionghoa, baik di daerah asal maupun di perantauan, terbukti
 lebih rentan terkena penyakit ini jika dibandingkan dengan etnis 
lainnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
10. Gaya hidup yang tidak sehat.&lt;br /&gt;
Misalnya sering terkena polusi, kurang aktivitas fisik / kurang berolah 
raga, kurang istirahat, serta kurang konsumsi buah dan sayur.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
11. Kondisi dan lingkungan hidup yang tinggi tingkat stresnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
12. Sirkulasi asap dapur yang buruk.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
Jika ventilasi di dapur buruk, otomatis sirkulasi asapnya tidak lancar. 
Kondisi ini merangsang nasofaring orang yang memasak (berada di dapur) 
untuk berproduksi lebih.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
13. Sering menghirup asap dupa dan menyan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
14. Sering mencium-cium unggas.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tanda Penyakit Kanker Nasofaring&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;Infeksi 
primer virus Epstein Barr bisa muncul pada tahun-tahun pertama 
kehidupan; tanpa disertai gejala apa pun. Pada keadaan higienis yang 
lebih baik, infeksi baru muncul saat dewasa muda. Setelah terinfeksi, 
virus bertahan seumur hidup tanpa menimbulkan gejala berarti hingga 
akhirnya muncul pada gejala kanker nasofaring. Terutama jika ditunjang 
oleh faktor-faktor pemicunya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kanker nasofaring pada stadium dini 
sering kali sulit diketahui karena letaknya yang tersembunyi di belakang
 rongga hidung atau di belakang atas langit-langit rongga mulut. Apalagi
 tumor yang tumbuh di sekitar muara tuba eustachius (saluran penghubung 
hidung – telinga) ini pun awalnya tidak menimbulkan gejala. Namun 
seiring dengan berjalannya waktu, akan muncul berbagai gangguan sebagai 
berikut :&lt;/div&gt;
&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;Telinga terasa penuh dan berdengung, serta terasa sakit dan nyeri; 
hal ini terjadi karena tumor telah menyumbat muara tuba eustachius. &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Keluar darah dari hidung seperti mimisan; hal ini terjadi karena 
dinding permukaan tumor rapuh sehingga mudah iritasi dan berdarah. Makin
 tinggi tingkat stadiumnya, durasi mimisannya juga akan makin sering.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Hidung terasa tersumbat karena sel kanker telah menyebar ke rongga hidung.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Jika pilek ingusnya bercampur darah.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Gejala kanker nasofaring akan makin 
jelas ketika kanker nasofaring telah lebih tinggi stadiumnya; yang 
berarti pula si penderita makin merasakan kesakitan akibat penyakitnya 
itu. Berikut adalah gejala kanker nasofaring stadium lanjut :&lt;/div&gt;
&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;Kepala terasa sakit dan nyeri karena sel kanker telah menybar ke leher dan kepala.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Pembengkakan daerah sekitar leher karena kelenjar getah bening membengkak.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Muncul benjolan di bawah telinga akibat semakin besarnya tumor.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Pandangan mengabur atau jadi dua (diplopia) karena saraf mata tertekan dan kelopak mata menutup pada sisi yang terkena.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Respirasi</title><link>http://avita1.blogspot.com/2012/12/respirasi.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sat, 15 Dec 2012 04:59:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3128191752653746636.post-5714713042289294674</guid><description>&lt;div class="firstHeading" id="firstHeading" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span dir="auto"&gt;Respirasi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="firstHeading" id="firstHeading" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span dir="auto"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: medium none; color: black; overflow: hidden; text-align: justify; text-decoration: none;"&gt;
’&lt;b&gt;Respirasi&lt;/b&gt; dalam &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Biologi" title="Biologi"&gt;biologi&lt;/a&gt; adalah proses mobilisasi &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Energi" title="Energi"&gt;energi&lt;/a&gt; yang dilakukan jasad hidup melalui pemecahan &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Senyawa_berenergi_tinggi&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Senyawa berenergi tinggi (halaman belum tersedia)"&gt;senyawa berenergi tinggi&lt;/a&gt;
 (SET) untuk digunakan dalam menjalankan fungsi hidup. Dalam pengertian 
kegiatan kehidupan sehari-hari, respirasi dapat disamakan dengan &lt;b&gt;pernapasan&lt;/b&gt;.
 Namun demikian, istilah respirasi mencakup proses-proses yang juga 
tidak tercakup pada istilah pernapasan. Respirasi terjadi pada semua 
tingkatan organisme hidup, mulai dari &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Individu" title="Individu"&gt;individu&lt;/a&gt; hingga satuan terkecil, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sel_%28biologi%29" title="Sel (biologi)"&gt;sel&lt;/a&gt;. Apabila pernapasan biasanya diasosiasikan dengan penggunaan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Oksigen" title="Oksigen"&gt;oksigen&lt;/a&gt; sebagai senyawa pemecah, respirasi tidak melulu melibatkan oksigen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;img height="459" id="il_fi" src="http://pkab.files.wordpress.com/2008/12/petakonseprespirasi.gif" style="padding-bottom: 8px; padding-right: 8px; padding-top: 8px;" width="587" /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;
Pada dasarnya, respirasi adalah proses &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Redoks" title="Redoks"&gt;oksidasi&lt;/a&gt; yang dialami SET sebagai unit penyimpan energi kimia pada organisme hidup. SET, seperti molekul &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gula" title="Gula"&gt;gula&lt;/a&gt; atau asam-&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Asam_lemak" title="Asam lemak"&gt;asam lemak&lt;/a&gt;, dapat dipecah dengan bantuan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Enzim" title="Enzim"&gt;enzim&lt;/a&gt;
 dan beberapa molekul sederhana. Karena proses ini adalah reaksi 
eksoterm (melepaskan energi), energi yang dilepas ditangkap oleh ADP 
atau NADP membentuk ATP atau NADPH. Pada gilirannya, berbagai reaksi 
biokimia endotermik (memerlukan energi) dipasok kebutuhan energinya dari
 kedua kelompok senyawa terakhir ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Kebanyakan respirasi yang dapat disaksikan manusia memerlukan oksigen
 sebagai oksidatornya. Reaksi yang demikian ini disebut sebagai &lt;b&gt;respirasi aerob&lt;/b&gt;. Namun demikian, banyak proses respirasi yang tidak melibatkan oksigen, yang disebut &lt;b&gt;respirasi anaerob&lt;/b&gt;. Yang paling biasa dikenal orang adalah dalam proses pembuatan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Alkohol" title="Alkohol"&gt;alkohol&lt;/a&gt; oleh &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Khamir" title="Khamir"&gt;khamir&lt;/a&gt; &lt;i&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Saccharomyces_cerevisiae" title="Saccharomyces cerevisiae"&gt;Saccharomyces cerevisiae&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;. Berbagai bakteri anaerob menggunakan belerang (atau senyawanya) atau beberapa logam sebagai oksidator.&lt;br /&gt;

Respirasi dilakukan pada satuan sel. Proses respirasi pada &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Eukariota" title="Eukariota"&gt;organisme eukariotik&lt;/a&gt; terjadi di dalam &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mitokondria" title="Mitokondria"&gt;mitokondria&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Respirasi Aerob &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman', serif;"&gt;Respirasi
 aerob adalah proses pembebasan energi yang terkandung dalam makanan 
menjadi energy ATP yang dibutuhkan oleh tubuh kita untuk melaksanakan 
kinerjanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman', serif;"&gt;Overall we can show the proccess like this&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="-webkit-text-decorations-in-effect: underline; color: #0000ee;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="-webkit-text-decorations-in-effect: underline; color: #0000ee;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="-webkit-text-decorations-in-effect: underline; color: #0000ee; font-family: Georgia, serif;"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5721456534940431634" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhLnbx_wsax2bWYkXXWJBi8Csr4LYT430UGm-cRPVVygGDpcwQD6mPDl9RpKgv6eZigMDQvoTiSyjsPhCxm8Bn15kJn4iuhY4GHkTRsoADFAF4-d0dP_8pTVqFO8BKqgG3x4ZSVohsnmXlY/s320/respirasi-seluler.jpg" style="cursor: pointer; display: block; height: 240px; margin-bottom: 10px; margin-left: auto; margin-right: auto; margin-top: 0px; text-align: center; width: 320px;" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="-webkit-text-decorations-in-effect: underline; color: #0000ee; font-family: Georgia, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;1)&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt;GLIKOLISIS&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;a)&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt;Terjadi pada sitosol&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;b)&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt;Berlangsung secara anaerob&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;c)&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt;Tahapan :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="-webkit-text-decorations-in-effect: underline; color: #0000ee;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;i)&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt;Tahap pertama adalah pemecahan molekul glukosa(6C) membentuk senyawa berupa&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; font-weight: normal; mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt;Phosfogliseraldehid (PGAL)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt;, yaitu senyawa beratom C-6 yang mendapat tambahan fosfat yang memerlukan energy dari 2 molekul ATP&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;ii)&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt;Tahap
 selanjutnya adalah dimana molekul PGAL kemudian akan membelah membentuk
 2 senyawa 3 rantai karbon dan 1 fosfat yang disebut 3GP atau 
3-Phospoglycerade, kemudian masing-masing 3GP akan berubah menjadi asam 
piruvat dengan melepaskan energi sebanyak 1 molekul ATP dan pelepasan 1 
atom&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;  &lt;/span&gt;hidrogen yang berpotensi energi tinggi, dimana selanjutnya hidrogen yang dilepaskan ini akan ditangkap oleh kofaktor berupa NAD+&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt;dan membentuk senyawa 2NADH2.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="-webkit-text-decorations-in-effect: underline; color: #0000ee;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;iii)&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt;Hasil akhir dari tahap Glikolisis menghasilkan 2 molekul&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; font-weight: normal; mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt;asam piruvat&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt;, 2 molekul&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; font-weight: normal; mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt;ATP&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt;, dan 2 molekul&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; font-weight: normal; mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt;NADH2&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt;. Selanjutnya senyawa asam piruvat memasuki membran mitokondria untuk tahap berikutnya&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 54pt;"&gt;
&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="-webkit-text-decorations-in-effect: underline; color: #0000ee;"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5721456811297705586" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjmP21Cys2XarNG96CiSOI-0kb7JTuFTXBApvSOxgOWo9PAGK51HUmZ-kkhh38cm06qwXPHPb1kG65Ub9HlvU7LfeLn5ENrScSOBc_5hyphenhyphenEsRJVrbLCkbKaygujmTW64TIl2lCWgWXG-9SDI/s320/glycolysis.jpg" style="cursor: pointer; display: block; height: 250px; margin-bottom: 10px; margin-left: auto; margin-right: auto; margin-top: 0px; text-align: center; width: 320px;" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="-webkit-text-decorations-in-effect: underline; color: #0000ee; font-family: Georgia, serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="-webkit-text-decorations-in-effect: underline; color: #0000ee; font-family: Georgia, serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 54pt;"&gt;
&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 54pt;"&gt;
&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;2)&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt;DEKARBOKSILASI OKSIDATIF&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 18pt;"&gt;
&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;a)&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt;Sebelum
 masuk ke tahap selanjutnya dalam mitokondria, asam piruvat terlebih 
dahulu akan diubah menjadi senyawa Asetil Co-A dan berlangsung dalam 
membrane mitokondria. Tahapannya sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 36pt;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;i)  &lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt;Senyawa asam piruvat yang mengandung 3 atom karbon, dioksidasi&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;  &lt;/span&gt;dengan bantuan enzim piruvat dehidrogenase untuk melepas 1 atom karbonnya dan mengubahnya menjadi CO&lt;sub&gt;2. &lt;/sub&gt;Bersamaan dengan terbentuknya CO2, NAD+ akan direduksi dan membentuk NADH.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;ii)&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt;Selanjutnya,
 terbentuklah senyawa dengan 2 atom karbon yang disebut acetyl group, 
yang kemudian akan ditambahkan dengan koenzim A membentuk Acetyl 
Koenzim-A&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 54pt;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 54pt;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;3)&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt;SIKLUS KREB&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;a)&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt;Berlangsung dalam matriks mitokondria&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;b)&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt;Tahapan siklus krebs:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;i)&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt;Siklus Krebs diawali dengan masuknya Asetil CoA (beratom C2) yang bereaksi dengan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-bidi-font-size: 9.0pt; mso-bidi-theme-font: minor-bidi; mso-hansi-theme-font: minor-latin;"&gt;asam oksaloasetat&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt;(beratom C4) menghasilkan Asam Sitrat (beratom C6).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 54pt;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;ii)&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt;Secara bertahap Asam sitrat melepaskan satu per satu atom C nya hingga akhirnya kembali menjadi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-style: normal; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-bidi-font-size: 9.0pt; mso-bidi-theme-font: minor-bidi; mso-hansi-theme-font: minor-latin;"&gt;asam oksaloasetat&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt;(beratom C4), peristiwa ini diikuti dengan reaksi reduksi (pelepasan elektron &amp;amp; ion hidrogen) oleh NAD+ dan FAD+&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt;menghasilkan 2 molekul NADH2,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt;2 molekul FADH2, dan 2 molekul ATP. Dari seluruh rangkaian peristiwa siklus Krebs dihasilkan : 4 molekul CO2, 6 molekul NADH2&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt;, 2 molekul FADH2, dan 2 molekul ATP.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 18pt;"&gt;
&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 18pt;"&gt;
&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 18pt;"&gt;
&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;                &lt;img src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj9Q9QGlKahNpOX_OQIHC4C0H4ZA7nXhAyyrW_sb9uzoev7DDQrDfYjmYqKPyLgU_GpGgkuyzXTLW2ST8M0oAuwxfyqNdX45JWRlL5RazCn7hJeuQ8bYjWuSfaNbXyxHrC0dPAvlkCA4SO-/s320/siklus_krebs.jpg" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;                              &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;4)&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt;TRANSPORT ELEKTRON&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;a) &lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt;Sebanyak&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;  &lt;/span&gt;10 molekul NADH2&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt;dan 2 molekul FADH2&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt;dihasilkan selama tahap glikolisis dan siklus Krebs. Seluruhnya akan memasuki reaksi redoks pada sistem transpor elektron.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;b)&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt;Tahapan :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;i) &lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt;Mula-mula molekul NADH2&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt;memasuki
 reaksi dan dihidrolisis oleh enzim dehidrogenase kembali menjadi ion 
NAD+ diikuti pelepasan 3 ATP, kemudian diikuti molekul FADH2 yang 
dihidrolisis oleh enzim flavoprotein&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;  &lt;/span&gt;kembali
 menjadi ion FAD+ dan menghasilkan 2 molekul ATP, keduanya juga 
melepaskan ion Hidrogen diikuti elektron, peristiwa ini disebut reaksi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-bidi-font-size: 9.0pt; mso-bidi-theme-font: minor-bidi; mso-hansi-theme-font: minor-latin;"&gt;oksidasi&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 54pt;"&gt;
&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;ii)&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt;Selanjutnya elektron ini akan ditangkap oleh Fe+++&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt;sebagai akseptor elektron dan dikatalis oleh enzim sitokrom b, c, dan a. Peristiwa ini disebut reaksi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-weight: normal; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-bidi-font-size: 9.0pt; mso-bidi-theme-font: minor-bidi; mso-hansi-theme-font: minor-latin;"&gt;reduksi&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt;.
 Reaksi reduksi dan oksidasi ini berjalan terus sampai elektron ini 
ditangkap oleh Oksigen (O2) sehingga berikatan dengan ion Hidrogen (H+) 
menghasilkan H2O (air). Hasil akhir dari sistem transpor elektron ini 
adalah 34 molekul ATP, 6 molekul H2O (air).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt;&lt;img src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh8zoJokmAqNn0ggWcxxNc5o8Pj6KgYT5-U0oh-F76EkxDl2yB6q70vZ-xWUzmT7oInu0HQVoTapbP2RhdnHLDSSZxoeMyDBGNnh26psa-H930_94vPLLsqQwHRs8hVUrKIhLmjgXwizIgZ/s320/images.jpg" /&gt;&lt;img src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhC42cvLgeSYlX24xrMBGv2IrWnjoEd7Y6eEjZ3WtQcUJ9kK1ewsaLV6XeSuSxvPa5QZq7VjAv2fqfncDcJVn7yycOgqybau_kEcYjoNGM9Ztt6lVIE96T1s-rwTyPIj55HO3csIbw91PJS/s320/images+%25281%2529.jpg" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-size: 9.0pt;"&gt;Secara keseluruhan reaksi respirasi sel aerob menghasilkan 38 molekul ATP, 6 molekul H2O, dan 6 molekul CO2.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="entry-title"&gt;
2.&amp;nbsp; Respirasi&amp;nbsp;Anaerob&lt;/div&gt;
&lt;div class="entry-title"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="entry-meta"&gt;
						&lt;span class="meta-prep meta-prep-author"&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://ceritabiologi.wordpress.com/2012/07/11/respirasi-anaerob/" rel="bookmark" title="22.27"&gt;&lt;span class="entry-date"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span class="by-author"&gt;&lt;span class="sep"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="author vcard"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
					&lt;/div&gt;
Respirasi anaerob merupakan 
respirasi yang tidak menggunakan oksigen sebagai penerima elektron akhir
 pada saat pembentukan ATP. Respirasi anaerob juga menggunakan glukosa 
sebagai substrat. Respirasi anaerob merupakan proses fermentasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

FERMENTASI&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Beberapa organisme yang melakukan 
fermentasi di antaranya adalah bakteri dan protista yang hidup di rawa, 
lumpur, makanan yang diawetkan, atau tempat-tempat lain yang tidak 
mengandung oksigen. Beberapa organisme dapat menggunakan oksigen untuk 
respirasi, tetapi dapat juga melakukan fermentasi. Organisme seperti ini
 melakukan fermentasi jika lingkungannya miskin oksigen. Sel-sel otot 
juga dapat melakukan fermentasi jika sel-sel otot kekurangan oksigen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Seperti pada respirasi aerob, glukosa 
merupakan substrat pada tahap awal fermentasi. Glukosa dipecah menjadi 
dua molekul asam piruvat, dua NADH, dan terbentuk dua ATP. Tetapi, 
reaksi fermentasi tidak sempurna memecah glukosa menjadi karbon dioksida
 dan air, sehingga ATP yang dihasilkan lebih sedikit dari jumlah ATP 
yang dihasilkan oleh glikolisis. Contoh fermentasi adalah fermentasi 
alkohol dan fermentasi asam laktat.&lt;br /&gt;

Fermentasi alkohol dilakukan oleh jamur 
ragi (yeast) secara anaerob. Sebagai substrat fermentasi adalah asam 
piruvat. Molekul piruvat (hasil glikolisis) difermentasikan menjadi 
asetaldehid. NADH memberikan elektron dan hidrogen kepada asetaldehid, 
sehingga terbentuk produk akhir alkohol yaitu etanol. Pada fermentasi 
alkohol dihasilkan dua ATP.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Fermentasi asam laktat terjadi pada otot 
manusia saat melakukan kerja keras dan persediaan oksigen kurang 
mencukupi. Pada fermentasi asam laktat molekul asam piruvat hasil 
glikolisis menerima elektron dan hidrogen dari NADH. Transfer elektron 
dan hidrogen menghasilkan NAD kembali. Pada saat yang sama, asam piruvat
 diubah menjadi asam laktat yang menghasilkan dua ATP. Kerja otot 
terus-menerus akan menimbulkan asam laktat dalam jumlah besar. 
Penimbunan asam laktat pada otot menyebabkan elastisitas otot menjadi 
berkurang dan menimbulkan gejala kram serta kelelahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;img height="459" id="il_fi" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg4wtloM8rqvXgwSKHg3AEOi_WL2S6Dd3teHU9lqUmcO-Fl7B8C4F_1QK6hPWcDgB-iVeKj_zicQr1V3QRhkYwLvB_bEb9awiCdmxv8RQw8ImM8uhhcdXTFxFioSZ5m5lkdzS-8evlk1Jo/s1600/Slide11.JPG" style="padding-bottom: 8px; padding-right: 8px; padding-top: 8px;" width="612" /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perbedaan respirasi aerob dan anaerob dapat di lihat pada tabel berikut: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;img height="332" id="il_fi" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhFdtDQdjAvi8KoFG2gnN6uJMPWQ2hdqb6YDJr55ztnn0-OP1laoM20-iCtecsdNsaHdgLXlA95_zbBngC8XC_MeG959i55aITs7CywawYyasgi4YkxSDFAhta9PTEamTL9hWzqRQSP5vU/s640/respirasi.bmp" style="padding-bottom: 8px; padding-right: 8px; padding-top: 8px;" width="640" /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhLnbx_wsax2bWYkXXWJBi8Csr4LYT430UGm-cRPVVygGDpcwQD6mPDl9RpKgv6eZigMDQvoTiSyjsPhCxm8Bn15kJn4iuhY4GHkTRsoADFAF4-d0dP_8pTVqFO8BKqgG3x4ZSVohsnmXlY/s72-c/respirasi-seluler.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item></channel></rss>