AYO DAKWAH - Sebarkan Islam Kaffah

Sports

Games

Friday, March 20, 2015

Renungan Tentang Waktu / Masa

No comments :
Waktu adalah salah satu nikmat yang agung dari Allâh Subhanahu wa Ta’ala kepada manusia. Sudah sepantasnya manusia memanfaatkannya secara baik, efektif dan semaksimal mungkin untuk amal shalih. 

Allâh Ta’ala telah bersumpah dengan menyebut masa dalam firman-Nya:

وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran. [al-‘Ashr/103:1-3].

Di dalam surat yang mulia ini Allâh Subhanahu wa Ta’ala bersumpah dengan masa, dan ini menunjukkan pentingnya masa. Sesungguhnya di dalam masa terdapat keajaiban-keajaiban. Di dalam masa terjadi kesenangan dan kesusahan, sehat dan sakit, kekayaan dan kemiskinan. Jika seseorang menyian-nyiakan umurnya, seratus tahun berbuat sia-sia, bahkan kemaksiatan belaka, kemudian ia bertaubat di akhir hayatnya, dengan taubat yang diterima, maka ia akan mendapatkan kebahagiaan sempurna sebagai balasannya, berada di dalam surga selama-lamanya. Dia betul-betul mengetahui bahwa waktu hidupnya yang paling berharga adalah sedikit masa taubatnya itu. Sesungguhnya masa merupakan anugerah Allâh Ta’ala, tidak ada cela padanya, manusia-lah yang tercela ketika tidak memanfaatkannya. 

PERINGATAN NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan pentingnya memanfaatkan waktu, sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ 

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma, dia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan waktu luang”. [HR Bukhari, no. 5933].

Hadits yang mulia ini memberitakan bahwa waktu luang adalah nikmat yang besar dari Allâh Ta’ala, tetapi banyak manusia tertipu dan mendapatkan kerugian terhadap nikmat ini. 

Di antara bentuk kerugian ini adalah: 

1. Seseorang tidak mengisi waktu luangnya dengan bentuk yang paling sempurna. Seperti menyibukkan waktu luangnya dengan amalan yang kurang utama, padahal ia bisa mengisinya dengan amalan yang lebih utama. 

2. Dia tidak mengisi waktu luangnya dengan amalan-amalan yang utama, yang memiliki manfaat bagi agama atau dunianya. Namun kesibukkannya adalah dengan perkara-perkara mubah yang tidak berpahala. 

3. Dia mengisinya dengan perkara yang haram, ini adalah orang yang paling tertipu dan rugi. Karena ia menyia-nyiakan kesempatan memanfaatkan waktu dengan perkara yang bermanfaat. Tidak hanya itu, bahkan ia menyibukkan waktunya dengan perkara yang akan menggiringnya kepada hukuman Allâh di dunia dan di akhirat.

Urgensi waktu dan kewajiban menjaganya merupakan perkara yang disepakati oleh orang-orang yang berakal. Berikut adalah diantara point-point yang menunjukkan urgensi waktu. 

1. Waktu Adalah Modal Manusia. 
Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata:

اِبْنَ آدَمَ إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ كُلَّمَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ

Wahai Ibnu Adam (manusia), kamu itu hanyalah (kumpulan) hari-hari, tiap-tiap satu hari berlalu, hilang sebagian dirimu.[1] 

Diriwayatkan bahwa ‘Umar bin Abdul-‘Aziz rahimahullah berkata:

إِنَّ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ يَعْمَلَانِ فِيْكَ فَاعْمَلْ فِيْهِمَا

Sesungguhnya malam dan siang bekerja terhadapmu, maka beramalah pada malam dan siang itu.[2] 

2. Waktu Sangat Cepat Berlalu. 
Seseorang berkata kepada ‘Âmir bin Abdul-Qais rahimahullah, salah seorang tabi’i: “Berbicaralah kepadaku!” Dia menjawab: “Tahanlah jalannya matahari!” 

Imam Ahmad rahimahullah berkata: “Aku tidak menyerupakan masa muda kecuali dengan sesuatu yang menempel di lengan bajuku, lalu jatuh”. 

Abul-Walid al-Bâji rahimahullah berkata: “Jika aku telah mengetahui dengan sangat yakin, bahwa seluruh hidupku di dunia ini seperti satu jam di akhirat, maka mengapa aku tidak bakhil dengan waktu hidupku (untuk melakukan perkara yang sia-sia, Pen.), dan hanya kujadikan hidupku di dalam kebaikan dan ketaatan".

3. Waktu Yang Berlalu Tidak Pernah Kembali. 
Abu Bakar ash-Shiddîq Radhiyallahu anhu berkata: 

إِنَّ لِلَّهِ حَقًّا بِالنَّهَارِ لَا يَقْبَلُهُ بِاللَّيْلِ، وَلِلَّهِ حَقٌّ بِاللَّيْلِ لَا يَقْبَلُهُ بِالنَّهَارِ 

Sesungguhnya Allâh memiliki hak pada waktu siang, Dia tidak akan menerimanya di waktu malam. Dan Allâh juga memiliki hak pada waktu malam, Dia tidak akan menerimanya di waktu siang. [Riwayat Ibnu Abi Syaibah, no. 37056].

Dengan demikian seharusnya seseorang bersegera melaksanakan tugasnya pada waktunya, dan tidak menumpuk tugas dan mengundurkannya sehingga akan memberatkan dirinya sendiri. Oleh karena itu waktu di sisi Salaf lebih mahal dari pada uang. Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata:

أَدْرَكْتُ أَقْوَامًا كَانَ أَحَدُهُمْ أَشَحَّ عَلَى عُمْرِهِ مِنْهُ عَلَى دَرَاهِمِهِ وَدَنَانِيْرِهِ

Aku telah menemui orang-orang yang sangat bakhil terhadap umurnya daripada terhadap dirham dan dinarnya.[3] 

Sebagian penyair berkata:

وَالْوَقْتُ أَنْفَسُ مَا عَنَيْتَ بِحِفْظِهِ ... وَأَرَاهُ أَسْهَلَ مَا عَلَيْكَ يُضَيَّعُ

Waktu adalah perkara paling mahal yang perlu engkau perhatikan untuk dijaga, tetapi aku melihatnya paling mudah engkau menyia-nyiakannya.

4. Manusia tidak mengetahui kapan berakhirnya waktu yang diberikan untuknya.
Oleh karena itu Allâh Ta’ala banyak memerintahkan untuk bersegera dan berlomba dalam ketaatan. Demikian juga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar bersegera melaksanakan amal-amal shalih. Para ulama telah memperingatkan agar seseorang tidak menunda-nunda amalan. Al-Hasan berkata:

اِبْنَ آدَمَ إِيَّاكَ وَالتَّسْوِيْفَ فَإِنَّكَ بِيَوْمِكَ وَلَسْتَ بِغَدٍّ فَإِنْ يَكُنْ غَدٌّ لَكَ فَكُنْ فِي غَدٍّ كَمَا كُنْتَ فِيْ الْيَوْمَ وَإِلَّا يَكُنْ لَكَ لَمْ تَنْدَمْ عَلَى مَا فَرَّطْتَ فِيْ الْيَوْمِ 

Wahai anak Adam, janganlah engkau menunda-nunda (amalan-amalan), karena engkau memiliki kesempatan pada hari ini, adapun besok pagi belum tentu engkau memilikinya. Jika engkau bertemu besok hari, maka lakukanlah pada esok hari itu sebagaimana engkau lakukan pada hari ini. Jika engkau tidak bertemu esok hari, engkau tidak akan menyesali sikapmu yang menyia-nyiakan hari ini.[4] 

KENYATAAN MANUSIA DALAM MENYIKAPI WAKTU
Berikut adalah beberapa keadaan manusia dalam menyikapi waktu.

1. Orang-orang yang amalan shalih mereka lebih banyak daripada waktu mereka. 
Diriwayatkan bahwa Syaikh Jamaluddin al-Qâshimi rahimahullah melewati warung kopi. Dia melihat orang-orang yang mengunjungi warung kopi tenggelam dalam permainan kartu dan dadu, meminum berbagai minuman, mereka menghabiskan waktu yang lama. Maka Syaikh berkata, “Seandainya waktu bisa dibeli, sungguh pasti aku beli waktu mereka!” 

2. Orang-orang yang menghabiskan waktu mereka dalam mengejar perkara yang tidak berfaidah, baik berupa ilmu yang tidak bermanfaat, atau urusan-urusan dunia lainnya.

Imam Ibnul-Qayyim rahimahullah menyebutkan seorang laki-laki yang menghabiskan umurnya untuk mengumpulkan dan menumpuk harta. Ketika kematian mendatanginya, dikatakan kepadanya, “Katakanlah lâ ilâha illa Allâh,” namun ia tidak mengucapkannya, bahkan ia mulai mengucapkan, “Satu kain harganya 5 dirham, satu kain harganya 10 dirham, ini kain bagus”. Dia selalu dalam keadaan demikian sampai ruhnya keluar. 

3. Orang-orang yang tidak mengetahui apa yang harus mereka lakukan terhadap waktu. 
Seorang ulama zaman dahulu berkata: 

Aku telah melihat kebanyakan orang menghabiskan waktu dengan cara yang aneh. Jika malam panjang, mereka habiskan untuk pembicaraan yang tidak bermanfaat, atau membaca buku percintaan dan begadang. Jika waktu siang panjang, mereka habiskan untuk tidur. Sedangkan pada waktu pagi dan sore, mereka di pinggir sungai Dajlah, atau di pasar-pasar. Aku ibaratkan mereka itu dengan orang-orang yang berbincang-bincang di atas kapal, kapal itu terus berjalan membawa mereka dan berita mereka. Aku telah melihat banyak orang yang tidak memahami arti kehidupan. 

Di antara mereka, ada orang yang telah diberi kecukupan oleh Allâh Azza wa Jalla , ia tidak butuh bekerja karena hartanya yang sudah banyak, namun kebanyakan waktunya padai siang hari ia habiskan dengan nongkrong di pasar (kalau zaman sekarang di mall dan sebagainya, Pen.) melihat orang-orang (yang lewat). Alangkah banyaknya keburukan dan kemungkaran yang melewatinya.

Di antara mereka ada yang menyendiri bermain catur. Di antara mereka ada yang menghabiskan waktu dengan kisah-kisah kejadian tentang raja-raja, tentang harga yang melonjak dan turun, dan lainnya.

Maka aku mengetahui bahwa Allâh tidak memperlihatkan urgensi umur dan kadar waktu kesehatan kecuali kepada orang-orang yang Allâh berikan taufiq dan bimbingan untuk memanfaatkannya. Allâh berfirman:

وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ


Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar. [Fushilat/41:35].

Adapun yang menjadi penyebab perbedaan keadaan manusia dalam menyikapi waktu, kembali kepada tiga perkara berikut.

1. Sebab pertama, tidak menetapkan tujuan hidup. Oleh karena itu, seorang muslim wajib mengetahui bahwa tujuan Allâh menciptakannya adalah untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ 

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. [adz-Dzariyat/51:56].

Dia harus mengetahui bahwa dunia ini adalah tempat beramal, bukan tempat santai dan main-main, sebagaimana firman-Nya:

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ 

Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? [al-Mukminun/23:115].

Dunia adalah sawah ladang akhirat. Jika engkau menanam kebaikan di dunia ini, maka engkau akan memetik kenikmatan abadi di akhirat nanti. Jika engkau menanam keburukan di dunia ini, maka engkau akan memetik siksaan pedih di akhirat nanti.

Namun demikian, ini bukan berarti manusia tidak boleh bersenang-senang dengan perkara yang Allâh ijinkan di dunia ini, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

Demi Allâh, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut dan paling takwa di antara kamu kepada Allâh, tetapi aku berpuasa dan berbuka, shalat (malam) dan tidur, dan aku menikahi wanita-wanita. Barangsiapa membenci sunnahku, maka ia bukan dariku. [HR al-Bukhari, no. 4776; Muslim, no. 1401]

2. Sebab kedua, bodoh terhadap nilai dan urgensi waktu.
3. Sebab ketiga, lemahnya kehendak dan tekad. 

Banyak orang mengetahui nilai dan urgensi waktu, dan mengetahui perkara-perkara bermanfaat yang seharusnya dilakukan untuk mengisi waktu, tetapi karena lemahnya kehendak dan tekad, mereka tidak melakukannya. Maka seorang muslim wajib mengobati perkara ini dan bersegera serta berlomba melaksanakan amalan-amalan shalih, serta memohon pertolongan kepada Allâh Ta’ala, kemudian bergabung dengan kawan-kawan yang shalih.

Jika kita benar-benar mengerti tujuan hidup, dan kita benar-benar memahami nilai waktu, maka seharusnya kita isi waktu kita dengan perkara yang akan menjadikan ridha Penguasa kita, Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Semoga Allâh selalu membimbing kita di atas jalan yang lurus. Âmîn. 


Oleh
Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03-04/Tahun XVII/1434H/2013M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
________
Footnote
[1]. Riwayat Abu Nu’aim dalam Hilyatul-Auliya`. Perkataan ini juga diriwayatkan al-Baihaqi dalam Syu’abul- Iman, dari Abud Darda’ Radhiyallahu anhu 
[2]. Kitab Rabi’ul-Abrar, hlm. 305.
[3]. Disebutkan dalam kitab Taqrib Zuhd Ibnul-Mubarok, 1/28.
[4]. Taqrib Zuhd IbnulMubarok, 1/28.

Sunday, January 18, 2015

Keutamaan Mengikuti Manhaj Salaf

No comments :
Pengertian Sederhana tentang Manhaj Salaf
Salaf secara bahasa maknanya adalah orang-orang yang mendahului kita. Sedangkan secara istilah adalah 3 generasi terbaik yang telah dijamin kebaikannya oleh Nabi shollallahu alaihi wasallam, yaitu para Sahabat Nabi, Tabiin, dan atbaaut Tabiin (sebagaimana telah dikemukakan pada postingan sebelumnya di group whatsapp ini).
Seseorang yang mengikuti manhaj Salaf adalah orang yang berusaha memahami al-Quran dan Sunnah Nabi shollallahu alaihi wasallam dengan pemahaman para Ulama Salaf. Mereka mengikuti bimbingan para Ulama Salaf dalam menjalani ajaran Dien ini.
Bukan artinya mereka fanatik pada individu-individu Ulama Salaf tersebut, karena secara person tiap mereka (selain Nabi) tidaklah maksum (terjaga dari kesalahan). Namun, jika Ulama Salaf telah sepakat (ijma’) tentang suatu permasalahan Dien, maka ijma’ mereka itu tidak akan pernah salah. Karena umat Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam tidak akan pernah bersepakat dalam sebuah kesalahan/ kesesatan. Para Ulama Salafus Sholih adalah ‘al-Jamaah’ yang harus diikuti.
إِنَّ اللهَ تَعَالَى لاَ يَجْمَعُ أَمَّتِي عَلَى ضَلاَلَةٍ وَيَدُ اللهِ عَلَى الْجَمَاعَةِ
Sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah menggabungkan umatku di atas kesesatan. Dan Tangan Allah di atas al-Jamaah (H.R atThobarony dan lainnya dari Ibnu Umar, dishahihkan al-Hakim dalam al-Mustadrak dan al-Albany dalam Shahihul Jami’)
Demikian juga jika ada perkataan dari seorang Ulama Salaf yang tidak bertentangan dengan dalil (al-Quran dan Sunnah) serta tidak diketahui adanya pengingkaran dari Ulama Salaf yang lain, maka ucapan itu bisa dijadikan sebagai rujukan.
Penggunaan Kata Salaf dalam Hadits, Ucapan Sahabat, atau Ulama Setelahnya
Rasulullah shollallahu alaihi wasallam pernah berkata kepada putrinya, Fatimah: aku adalah sebaik-baik salaf (pendahulu) bagimu…
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda kepada Fatimah radhiyallahu anha:
فَاتَّقِي اللَّهَ وَاصْبِرِي فَإِنَّهُ نِعْمَ السَّلَفُ أَنَا لَكِ
…Bertaqwalah kepada Allah dan bersabarlah, karena sesungguhnya aku adalah salaf (pendahulu) terbaik bagimu…(H.R al-Bukhari dan Muslim)
Sahabat Nabi Zaid bin ‘Arqom radhiyallahu anhu juga pernah menyebut istilah Salaf yang maksudnya adalah Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam beserta para Sahabat Nabi yang terdahulu. Beliau pernah melihat orang-orang melakukan sholat Dhuha di awal waktunya. Sedangkan beliau berpandangan bahwa mestinya waktu terbaik untuk melakukan sholat Dhuha bukanlah di awal waktu, namun menunggu saat ‘anak-anak unta mulai kepanasan’.
عَنْ زَيْد بْنِ أَرْقَمٍ أَنَّهُ رَأَى قَوْمًا يُصَلُّوْنَ بَعْدَ مَا طَلَعَتِ الشَّمْسُ فَقَالَ لَوْ أَدْرَكَ هَؤُلَاءِ السَّلَف اْلأَوَّل عَلِمُوْا أَنَّ غَيْرَ هَذِهِ الصَّلاَةِ خَيْرٌ مِنْهَا صَلاَةُ الْأَوَّابِيْنَ إِذا رَمَضَتِ الْفِصَالُ
Dari Zaid bin Arqom bahwasanya beliau melihat suatu kaum yang sholat setelah terbitnya matahari. Kemudian beliau berkata: Kalau seandainya orang-orang ini mendapati Salaf yang pertama, niscaya mereka akan mengetahui bahwa selain di waktu ini lebih baik bagi mereka untuk mengerjakan sholat (Dhuha)nya. Sholat para Awwabiin (orang-orang yang senantiasa kembali kepada Allah) adalah pada saat anak unta kepanasan (riwayat Abdurrozzaq dalam Mushonnafnya, para perawinya seluruhnya adalah rijal al-Bukhari dan Muslim, hanya al-Qosim asy-Syaibany yang rijal Muslim saja).
Al-Imam Malik (salah seorang atbaut Tabi’in) rahimahullah pernah menyebut kata Sholihus Salaf (Salaf yang sholeh/baik):
كَانَ صَالِحُ السَّلَفِ يُعَلِّمُوْنَ أَوْلَادَهُمْ حُبَّ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِي اللهُ عَنْهُمَا كَمَا تُعَلَّمُوْنَ السُّوْرَةُ أَوِ السُّنَّةُ
Dulu para Sholihus Salaf (pendahulu yang sholih) mengajarkan anak-anak mereka untuk mencintai Abu Bakr dan Umar radhiyallahu anhuma sebagaimana mereka diajari surat (alQuran) atau Sunnah (Musnad al-Muwattha’ karya Abul Qosim Abdurrohman bin Abdillah al-Jauhariy dan al-Laalikaa-i dalam syarh Ushul I’tiqod Ahlissunnah wal Jamaah)
al-Imam asy-Syafii rahimahullah juga pernah menggunakan penyebutan kata Salaf sebagai rujukan untuk melihat apakah suatu amalan itu dibenci atau tidak. Beliau menyatakan dalam kitabnya al-Umm:
وَإِذَا كَانَ لِلْمَسْجِدِ إمَامٌ رَاتِبٌ فَفَاتَتْ رَجُلًا أَوْ رِجَالًا فِيْهِ الصَّلَاةُ صَلُّوا فُرَادَى وَلَا أُحِبُّ أَنْ يُصَلُّوا فِيْهِ جَمَاعَةً فَإِنْ فَعَلُوا أَجْزَأَتْهُمُ الْجَمَاعَةُ فيه وَإِنَّمَا كَرِهْتُ ذَلِكَ لَهُمْ لِأَنَّهُ لَيْسَ مِمَّا فَعَلَ السَّلَفُ قَبْلَنَا بَلْ قَدْ عَابَهُ بَعْضُهُمْ
…Jika di masjid itu ada Imam rowatib kemudian ada satu orang atau beberapa orang yang ketinggalan sholat, maka mereka sholat sendirian. Saya tidak suka jika mereka sholat berjamaah di masjid itu. Jikapun mereka mengerjakannya, hal itu telah mencukupinya dari (sholat) berjamaah. Saya hanya membenci hal itu bagi mereka karena hal itu tidak pernah dilakukan oleh Salaf sebelum kita. Bahkan sebagian mereka mencelanya…(al-Umm 1/154)).
Catatan penting: dari pernyataan beliau, ini nampak jelas bahwa sesungguhnya al-Imam asy-Syafii adalah seorang yang bermanhaj Salaf. Beliau menjadikan Salaf sebagai patokan untuk menilai suatu amalan dalam Dien ini. Berdasarkan yang beliau ketahui, tidak ada seorang Salafpun yang melakukan sholat berjamaah di masjid setelah Imam rowatib telah menyelesaikan sholat berjamaah di masjid tersebut. Walaupun pendapat beliau ini perlu pembahasan lebih lanjut dalam kajian yang lain, namun kutipan pernyataan al-Imam asy-Syafii dalam kitab al-Umm tersebut jelas menunjukkan bahwa beliau yang sangat ‘alim ini adalah bermanhaj Salaf.
Abdullah bin al-Mubarok rahimahullah (seorang dari kalangan atbaut Tabi’in yang merupakan salah satu guru al-Imam al-Bukhari) juga pernah menggunakan kata ‘Salaf’ yang maksudnya adalah para Sahabat Nabi. Beliau pernah berkata:
عَنْ عَلِيِّ بْنَ شَقِيقٍ : سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الْمُبَارَكِ يَقُولُ عَلَى رُءُوسِ النَّاسِ دَعُوا حَدِيثَ عَمْرِو بْنِ ثَابِتٍ فَإِنَّهُ كَانَ يَسُبُّ السَّلَفَ
Dari Ali bin Syaqiiq beliau berkata: Saya mendengar Abdullah bin al-Mubarok pernah berkata di hadapan para manusia: Tinggalkanlah hadits dari perawi (yang bernama) ‘Amr bin Tsabit karena dia mencela Salaf (dinukil oleh Imam Muslim dalam Shahihnya)
PERKATAAN ‘SAYA MENGIKUTI MANHAJ SALAF’ BUKANLAH KESOMBONGAN DAN BERBANGGA DIRI
Seorang yang mengatakan: “Saya seorang Salafy” atau “Saya adalah pengikut Manhaj Salaf” bukanlah artinya ia meninggikan dirinya dan mengklaim dialah yang paling benar dalam segalanya. Sesungguhnya pernyataan tersebut menunjukkan cita-cita dan harapannya ingin sebenar-benarnya mengikuti teladan para Salafus Sholih dengan sebaik-baiknya pada seluruh sendi Dien.
Sebagaimana seorang yang mengatakan: “Saya muslim”. Apakah orang yang mengatakan demikian telah mengklaim dirinya adalah orang yang telah menjalankan syariat Islam secara sempurna? Jelas tidak. Ia mengatakan demikian dengan pengakuan dalam hati akan kekurangan pada dirinya. Ia bercita-cita ingin menjadi muslim yang menjalankan syariat Islam dengan baik dan terus memperbaiki dirinya.
Sehingga, ketika seorang menyatakan: Saya adalah pengikut Salaf, seakan-akan ia berkata: “Mari bersatu dalam Islam ini dengan menjadikan Salaf sebagai panutan kita. Jika antum mengetahui ada ajaran Salaf yang belum saya ketahui, sampaikan pada saya, karena saya sangat ingin meneladani para Salafus Sholih itu dengan baik. Namun, kami tegaskan bahwa jangan sekali-kali mengajak kami pada hal-hal yang sudah jelas bertentangan dengan manhaj Salaf, karena kami hanya mau mengikuti manhaj Salaf dalam Dien ini. Kamipun mengajak antum semua untuk mengikuti manhaj Salaf, karena sesungguhnya manhaj Salaf itu adalah Islam yang murni”.
Seorang pengikut manhaj Salaf yang haq tidak akan pernah mengklaim bahwa ia dan orang-orang yang sekarang bersamanya pasti akan masuk Jannah (Surga). Karena tidak ada yang tahu akhir kehidupan seseorang kecuali Allah. Ia tidak akan pernah tahu apakah ia akan terus menjadi pengikut manhaj Salaf hingga akhir hayatnya atau justru berakhir menjadi pengikut hawa nafsu, wal iyaadzu billah.
Ia juga tidak akan pernah tahu apakah rekan-rekan yang sekarang bersamanya, menuntut ilmu bersamanya, bahkan gurunya sendiri yang masih hidup akan terus di atas manhaj Salaf hingga akhir hayatnya. Ia juga tidak akan pernah tahu apakah amal yang ia lakukan ini diterima oleh Allah, atau justru ia adalah orang yang munafik, mengaku mengikuti manhaj Salaf secara lahiriah, namun secara batin membencinya, wal iyaadzu billah. Ia tidak bisa menjamin apakah amalnya bersih dari riya’ atau tidak. Ia sendiri bahkan tidak bisa mengklaim bahwa satu saja amal ibadah yang telah ia lakukan sudah diterima oleh Allah atau tidak.
Ia hanya bisa memastikan secara umum bahwa siapapun saja yang mengikuti manhaj Salaf dengan baik hingga akhir hayatnya, pasti masuk Jannah (Surga), sebagaimana dalil-dalil yang sedemikian banyak menunjukkan demikian. Karena manhaj Salaf pada hakikatnya adalah Islam yang sebenarnya. Adapun untuk orang perseorangan atau individu, ia tidak berani menyatakan bahwa fulaan pasti masuk surga dan fulaan pasti masuk neraka, kecuali orang-orang tertentu yang telah dipastikan oleh Allah dan RasulNya pasti masuk Surga dan Neraka.
Ia hanya bisa selalu berdoa memohon hidayah kepada Allah dan dikokohkan di atas manhaj Salaf, dan diberi akhir kehidupan yang baik. Ia akan berusaha memilih rujukan dalam bacaan, ataupun mendengarkan kajian-kajian dari orang yang sudah jelas keilmuannya dalam manhaj Salaf berdasarkan rekomendasi dari orang-orang yang terpercaya. Ia akan selektif memilih sumber ilmu dalam Dien ini, sebagai bentuk penjagaan terhadap manhaj yang sangat berharga bagi dirinya. Seorang pengikut manhaj Salaf akan selalu mengikuti dalil al-Quran dan as-Sunnah dengan pemahaman Ulama Salaf, dengan bimbingan para Ulama yang nyata-nyata bermanhaj Salaf yang masih hidup sejaman dengannya.
Ia akan berusaha dan bersemangat menuntut ilmu yang shahih, berusaha mengamalkan, berusaha mendakwahkan sesuai kemampuannya, dan bersabar di atas manhaj yang haq ini.
Ia mencintai kebaikan untuk saudaranya sesama muslim sebagaimana ia suka kebaikan itu terjadi untuk dirinya. Karena itu ia bersemangat untuk mendakwahkan Ilmu Sunnah yang telah diketahuinya. Ia juga peringatkan saudaranya kaum muslimin dari bahaya kesyirikan, kebid’ahan, dan kemaksiatan karena cinta dan sayangnya pada kaum muslimin.
Kadang dalam mendakwahkan manhaj Salaf ini ia dicela dan bahkan dikafirkan oleh saudaranya sesama muslim, namun ia tidak akan membalas mengkafirkan saudaranya itu, selama memang ia masih muslim.
Dakwah Salaf adalah ajakan kepada Sunnah, sehingga pada dasarnya pengikut manhaj Salaf adalah Ahlussunnah. Dakwah Salaf bukanlah ajakan pada pribadi atau kelompok maupun golongan tertentu secara ashobiyyah (fanatik buta). Telah disampaikan di atas bahwa penamaan ‘Salaf’ bukanlah penamaan yang mengada-ada, tapi sesungguhnya berasal dari ucapan Nabi, Sahabat beliau, dan para Ulama Ahlussunnah setelahnya.
Jika di masa Nabi, cukup seorang mengatakan: Saya muslim. Karena di masa itu hanya ada kafir dan muslim secara dhahir. Tidak ada kebid’ahan atau hal-hal baru yang diada-adakan di masa Nabi. Cukup seorang mengatakan : Saya muslim sebagai pembeda dengan orang-orang kafir.
Namun, saat mulai muncul kebid’ahan, maka para Sahabat mulai memberikan pembeda antara ajaran Islam yang murni dengan ajaran Islam yang sudah mulai terkontaminasi dengan kebid’ahan. Sebagaimana Ibnu Abbas memisahkan antara Ahlus Sunnah dengan Ahlul Bid’ah dalam salah satu penafsirannya.
Saat orang-orang mulai banyak yang senang memahami dalil al-Quran dan dalil Sunnah Nabi dengan pikirannya sendiri, atau pemikiran para tokoh-tokoh kelompoknya, atau thoriqoh yang dipilihnya, maka saat itulah perlu pembeda antara pengikut manhaj Salaf dengan yang bukan. Perlu pembeda antara orang-orang yang memunculkan hal-hal baru dalam Dien ini dengan orang-orang yang masih istiqomah tetap mengikuti ajaran Islam yang murni terdahulu.
WA al-I’tishom

Ditulis Oleh Al Ustadz Abu Utsman Kharisman
Salafy.or.id

Thursday, January 15, 2015

Ketika Kekuasaan di isi oleh orang orang Bodoh dan Zalim

No comments :
Pada akhir zaman nanti, akan dijumpai kekuasaan orang-orang bodoh dan zalim. Mereka mempunyai banyak penolong dalam kezaliman mereka, bahkan mencambuk manusia dan menghinakan mereka. Rasulullah SAW telah mnegumpamakan cambuk-cambuk tersebut dengan ekor sapi serta memperingatkan mereka dengan neraka dan azab Allah SWT.
Dari Abu Umamah r.a bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Pada akhir zaman, akan ada orang yang membawa cambuk seperti ekor sapi. Mereka pergi pada pagi hari dalam kemurkaan Allah dan kembali pada sore hari dalam kemarahan Allah.” (HR. Al- Albaniy)
Dari Abu Hurairah r.a bahwa ia mendengar Raulullah SAW bersabda, “Jika engkau diberi kesempatan yang panjang, engkau akan melihat suatu kaum yang pergi pada pagi hari dalam kemurkaan Allah dan kembali pada sore hari dalam kemarahan Allah. Di tangan mereka ada semisal (cambuk) ekor sapi.” (HR. Ahmad)
Dari Abu Hurairah r.a bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Ada dua golongan ahli neraka yang belum pernah kulihat sebelumnya, yaitu suatu kaum yang bersamanya cambuk seperti ekor sapi, yang dipukul untuk memukul manusia, dan para wanita yang berpakaian, tetapi telanjang, berjalan lenggak-lenggok, dan kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga, bahkan tidak akan mencium baunya. Padahal,baunya dapat tercium dari perjalanan (jarak) sekian dan sekian.” (HR Muslim)
            Sebagai dari tanda itu telah terjadi dalam sejarah Islam dan akan muncul lebih hebat lagi sebelum terjadinya kiamat, yaitu ketika ilmu dicabut dan muncul kebodohan sehingga Islam tidak tersisa lagi, kecuali nama dan tulisannya saja.
Turunnya bencana alam dan siksaan berat dari pemimpin yang Zalim
Rasulullah SAW memberitahukan bahwa di akhir zaman nanti sebelum munculnya Al-Mahdi, umat akan ditimpa musibah besar, seperti cobaan dan siksaan berat yang dilakukan oleh para pemimpin dan hakim yang zalim. Mereka mempersempit ruang gerak orang beriman sehingga seseorang akan berharap dapat menempati seperti tempat saudaranya yang sudah meninggal agar terbebas dari cobaan, siksaan, kejahatan, dan kezaliman para pemimpin tersebut. Kondisi itu akan terus berlangsung hingga munculnya Al-Mahdi untuk menghukum mereka. Ia memenuhi bumi ini dengan kabaikan dan keadilan, sebagaimana sebelumnya bumi ini telah dipenuhi dengan kezaliman dan pembunuhan.
Dari Abu Sa’id Al-Khudri ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Akan turun kepada umatku di akhir zaman nanti cobaan yang dahsyat  dari pemimpin mereka. Belum pernah terdengar cobaan yang lebih dahsyat darinya sehingga bumi yang luas itu terasa sempit bagi mereka karena bumi dipenuhi dengan kejahatan dan kezaliman. Seorang mukmin tidak mendapatkan tempat berpindah dari kezaliman itu. Kemudian, Allah Azza wa Jalla mengutus seseorang dari keturunanku. Dia akan memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana bumi dipenuhi dengan kejahatan dan kezaliman. Penduduk bumi dan langit ridha dengannya, dan bumi tidak menyimpan sesuatu pun dari bijinya, kecuali mengeluarkannya.  Begitu juga dengan langit, kecuali Allah menuangkannya ke bumi. Ia hidup di tengah-tengah mereka selama tujuh, delapan, atau sembilan tahun agar semua yang hidup dan mati menikmati apa yang tellah diperbuat Allah Azza wa Jalla terhada penduduk bumi dari kebaikan-Nya.”(HR Hakim)
Kondisi ini merupakan rangkaian dari bencana sebelumnya. Kezaliman mengakibatkan kondisi seperti ini. Begitu juga dengan berbagai fitnah, kejahatan, kezaliman pemimpin terhadap rakyatnya, dan sedikit rezeki serta kebajikan. Semua itu mengakibatkan kebimbangan manusia antara beriman dengan kufur.
Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Kiamat tidak akan terjadi hingga seseorang yang melewati kuburan dan mengatakan, seandainya aku dapat menempati tempatnya.”(HR Asy-Syaikhoni) (Eramuslim)
Mahir Ash Shufiy

Monday, January 12, 2015

Gerakan Islam akan terus di Musuhi, waspada & Kenali

No comments :
Sebenarnyalah pergerakan Islam modern merupakan pelopor utama dalam berbagai lapangan, terutama dalam medan perang dalam mengusir musuh musuh Islam dari luar dan menghadang musuh dari dalam.
Dalam masa satu abad terakhir ini telah menyumbangkan kafilah panjang para Syuhada dari putra putri pilihan. Kiranya sejarah akan memelihara kecemerlangannya dan kemurnian perjuangan dan pengorbanannya dari tangan tangan jahil yang hendak mengaburkannya dengan tulisan dan ucapan yang mengandung kebohongan, pemutarbalikan fakta dan pencemaran.
Umat Islam sedang mengalami masa masa gelap pekat karena musuh musuh Islam yang memiliki alat propaganda dan komunikasi, berhasil mengelabui masyarakat dan menyesatkan pendapat umum. Mereka berhasil memburuk burukkan kaum mukminin yang tidak bersalah dan berdosa dengan berbagai fitnah dan pencemaran nama baik para mujahidin yang takwa dan patriotik. Mereka berhasil merusak nama baik para mujahidin dengan cerita sensasi, tanpa mengenal etika dan tanpa takut terhadap pembalasan Allah Yang Maha Pembalas dan Maha Perkasa.
Musuh musuh Islam, baik di barat maupun di timur, baik di luar negeri maupun di dalam negeri, baik secara terpisah, sendiri sendiri maupun secara bersama sama telah memerangi Islam dan para Dai Islam dengan ganas. Mereka diperangi oleh semua kaum kolonial, mereka diperangi oleh gerombolan orang orang feodal, mereka diperangi oleh komplotan kaum kapitalis dengan zalim, mereka diperangi oleh kefasikan, oleh kejahatan , oleh tiran di mana mana.
Maka, menjadi kewajiban masyarakat Islam untuk mengenali pergerakan Islam yang sebenarnya, agar jangan sampai termakan propaganda jahat dan fitnah dengki musuh Islam.
Akhir kata, hendaknyalah kaum muslimin di mana saja mereka berada, menyadari benar bahwa peperangan terhadap pergerakan Islam pada hakikatnya adalah peperangan terhadap Islam itu sendiri, bahwa musuh musuh Islam, baik dari kelompok atheis, komunis, barat dan para antek dan pendukungnya, berniat membuat cerita palsu sebagai alasan untuk memukul hancur pergerakan Islam untuk pada akhirnya menghancurkan agama Islam sebagai sasaran utamanya. 
 Ustadz Fathi Yakan-

Monday, January 5, 2015

Saudara Kita Teuku Wisnu Berjenggot dan mengamalkan Sunnah kenapa Sewot?

No comments :
Bismillah Wa ‘Ala Sunnati Rasuulillah.
Fenomena artis atau bintang sinetron yang bertaubat dan meninggalkan dunia intertaiment bukanlah baru sekali dua kali, namun sudah sering terjadi, berkat rahmat dan hidayah dari Allah Subhaanahu Wa Ta’ala tentunya.
Diantaranya adalah seorang artis wanita yang sangat terkenal bernama Soraya Abdullah Balvas yang mengenal dakwah Tauhid dan Sunnah lalu meninggalkan dunia keartisan dan memilih mengenakan jilbab dan cadar.
Melalui dakwah Al-Ustadz Abu Jibril Hafizhahullah (Da’i Sunni dari Majelis Mujahidin Indonesia) ia pun menggali ilmu agama hingga akhirnya ia memutuskan untuk melepaskan diri dari dunia model dan keartisan serta memilih menutup auratnya dengn Hijab Syar’i. Akan tetapi sudah menjadi hal yang maklum, disetiap jalan kebaikan tentu tidak bersih dari godaan dan tantangan. Demikianlah Sunnatullah pasti berlaku bagi mereka yang ingin menuju jalan yang benar demi menggapai Ridho Tuhan-Nya.
Diantara yang membuat MULUT nggak bisa diam alias sering berkomentar jelek terhadap agama dan orang-orang yang menjalankan agama adalah KEJAHILAN, yakni kebodohan. Salah satunya adalah yang dialami oleh suami Shiren Sunkar.
Salah seorang aktor sinetron SCTV “Cinta Fitri”, artis terkenal bernama TEUKU WISNU yang kini mulai bersentuhan dengan dunia ilmu secara bertahap pun menuai banyak kritikan dan hujatan dari para penggemarnya, demikianlah diantara tantangan para pejuang rabbani yang sedang bangkit memperjuangkan nilai-nilai agamanya dalam kehidupan sehari-hari.
Ayah seorang bayi mungil bernama Adam ini mulai menapaki lautan ilmu dan mulai mengarungi samudera iman sejak mulai dekat dengan para Da’i Radio Rodja; sebuah Radio Dakwah Sunniyah yang terletak di Cileungsi bogor, yang di bina oleh Al-Ustadz Abu Yahya Badrussalam, seorang Da’i Muwahhid alumni Madinah Of University.
Sejarah mencatat, Radio dan TV Rodja merupakan sebuah media dakwah yang banyak memberikan jasa terhadap Dakwah Tauhid dan Sunnah mulai dari Pedesaan sampai perkotaan, mendapat rekomendasi dari para Tokoh Ulama Dunia diantaranya Syaikh Shalih Fauzan Bin Abdillah Al-Fauzan, bahkan konon Mantan Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia Bpk Patrialis Akbar pun mulai mengenal Islam dan Sunnah secara spesifik berkat perantara Radio Rodja yang diperkenalkan oleh Sopir pribadinya.
Radio Rodja bukanlah satu-satunya media dakwah yang paling benar dan tak mungkin salah, karena para pemateri Radio Rodja bukanlah para Malaikat yang suci yang bebas dari kesalahan dan kekeliruan alias ma’shum, akan tetapi Radio Rodja adalah Media Islam yang berupaya menyelamatkan ummat ini dari keterpurukan rohani melalui syi’ar-syi’ar Tauhid dan Tarbiyah Manhaj Salafiyah yang di publikasikannya kehadapan masyarakat Muslimin Indonesia, dan disana banyak media-media Dakwah lain yang memiliki visi misi sama seperti Radio Rodja; yakni memurnikan aqidah, menebar sunnah dan memberantas aliran-aliran sesat di Nusantara, sedangkan Rodja adalah salah satu diantaranya.
Seiring berjalannya waktu mengarungi lautan keislaman dan menggali ilmu agama, Teuku Wisnu pun mulai memelihara jenggot dan mengenakan celana diatas mata kaki, satu amalan yang tidak bisa dilakukan oleh semua orang kecuali yang diberi Taufiq oleh Allah Jalla Wa ‘Ala. tidaklah hal itu dilakukan kecuali karena saking cintanya teuku Wisnu dengan Nabi nya,Yakni Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, sehingga hal-hal yang dianggap sepele oleh sebagian orang namun diperintahkan oleh sang Nabi ia patuh untuk melaksanakannya. Demikianlah ciri mukmin sejati, mendengar dan taat terhadap segala perintah Allah dan Rasul-Nya. Walaa Nuzakkii ‘Allaahi Ahadaa…
Begitu pula istri Teuku Wisnu, Shiren Sunkar, seorang perempuan keturunan yaman dari kalngan bani Sunkar yang secara bertahap pun mulai mengenakan busana Syar’i, menutup auratnya demi menjaga kehormatannya sebagai seorang Muslimah. Semuanya mereka lakukan step by step sesuai kadar ilmu dan pengetahuan yang mereka dapatkan dari para juru dakwah yang membimbing. demikianlah ciri Muslim ideal; yakni mengamalkan ilmu meskipun hanya satu dua ayat yang ia ketahui.
Jenggot adalah perintah Nabi yang mulia. pembeda antara kafir dan muslim diantara nya adalah jenggot, demikian pula celana diatas mata kaki adalah murni perintah Nabi dan merupakan Syi’ar islami, terdapat sejumlah dalil yang mensyariatkannya dalam Kitab Shahih Bukhori.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَأَعْفُوا اللِّحَى
“Potong pendeklah kumis dan biarkanlah (peliharalah) jenggot.”
(HR. Muslim no. 623)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ أَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَأَوْفُوا اللِّحَى
“Selisilah orang-orang musyrik. Potong pendeklah kumis dan biarkanlah jenggot.”
(HR. Muslim no. 625)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
جُزُّوا الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوا اللِّحَى خَالِفُوا الْمَجُوسَ
“Pendekkanlah kumis dan biarkanlah (perihalah) jenggot dan selisilah Majusi.”
(HR. Muslim no. 626)
Demikian lah Peritah Rasulullah kepada ummatnya….
Perihal mencukur jenggot itu Haram atau Makruh; yang pasti Nabi MELARANG POTONG JENGGOT. Perihal memelihara jenggot itu Wajib atau Sunnah; yang pasti Nabi MEMERINTAHKAN PELIHARA JENGGOT.
Lalu, kenapa anda mencela ??
Kenapa anda menghina ??
Sadarkah anda bahwa anda telah menghina Syari’at Allah yang mulia ???
Sadarkah anda bahwa anda telah menghina Sunnah Nabi yang mulia ??
Anda mau tidak berjenggot ya silahkan !!
Lantas mengapa anda repot dengan orang berjenggot ??
Teuku Wisnu bangga dengan Sunnah Nabi nya, dia bangga dengan agamanya ??
Apakah Teuku Wisnu harus bangga dengan agama kafir sebagimana anda bangga pakek Topi Senterclaus saat hari natal dan tahun baru ???
Silahkan buka pola fikir anda !!
Demikian pula ketika Teuku Wisnu mengenakan “celana cingkrang” (alias celana diatas mata kaki), karena Isbal dalam Syari’at Islam adalah mamnu’ (dilarang).
Isbal artinya menjulurkan pakaian melebihi mata kaki. Isbal terlarang dalam Islam, hukumnya minimal makruh atau bahkan haram.
Banyak sekali dalil dari hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang mendasari hal ini.
Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda:
ما أسفل من الكعبين من الإزار ففي النار
“Kain yang panjangnya di bawah mata kaki tempatnya adalah neraka”
(HR. Bukhari 5787)
Rasulullah bersabda:
ثلاثة لا يكلمهم الله يوم القيامة ولا ينظر إليهم ولا يزكيهم ولهم عذاب أليم المسبل والمنان والمنفق سلعته بالحلف الكاذب
“Ada tiga jenis manusia yang tidak akan diajak biacar oleh Allah pada hari Kiamat, tidak dipandang, dan tidak akan disucikan oleh Allah. Untuk mereka bertiga siksaan yang pedih. Itulah laki-laki yang isbal yakni menjulurkan kain meewati mata kaki, orang yang mengungkit-ungkit sedekah dan orang yang melariskan barang dagangannya dengan sumpah palsu”.
(HR. Muslim, 106)
لا تسبن أحدا ، ولا تحقرن من المعروف شيئا ، ولو أن تكلم أخاك وأنت منبسط إليه وجهك ، إن ذلك من المعروف ، وارفع إزارك إلى نصف الساق ، فإن أبيت فإلى الكعبين ، وإياك وإسبال الإزار ؛ فإنه من المخيلة ، وإن الله لا يحب المخيلة
“Janganlah kalian mencela orang lain. Janganlah kalian meremehkan kebaikan sedikitpun, walaupun itu hanya dengan bermuka ceria saat bicara dengan saudaramu. Itu saja sudah termasuk kebaikan. Dan naikan kain sarungmu sampai pertengahan betis. Kalau engkau enggan, maka sampai mata kaki. Jauhilah isbal dalam memakai kain sarung. Karena isbal itu adalah kesombongan. Dan Allah tidak menyukai kesombongan”
(HR. Abu Daud 4084 dalam kitab Shahih Sunan Abi Daud)
Demikian lah perintah Nabi. ! Mengapa anda mencela ???
Mengapa anda menghina ???
Perihal memenjangkan kain dibawah mata kaki itu Makruh atau haram; yang pasti Nabi MARANG ISBAL !! Perihal memakai kain diatas mata kaki itu Sunnah atau Wajib; yang pasti Nabi MEMERINTAHKAN MEMAKAI KAIN DIATAS MATA KAKI !!
Lalu mengapa anda yang repot ??
Mengapa anda yang sewot ??
Kalau anda menyatakan bahwa Penampilan Teuku Wisnu yang memelihara jenggot dan mengenakan celana diatas mata kaki itu mirip “Teroris”, maka ketahuilah bahwa PENAMPILAN ANDA YANG RAPI DAN TIDAK BERJENGGOT SAYA RASA MIRIP PARA KORUPTOR !!
Oleh karena itu, berfikir dan berfikirlan anda sebelum melecehkan satu syariat diantara syariat-syariat Allah dan Rasul-Nya…..!! dan tanyalah pada diri anda apakah anda benar-benar pengikut Rasulullah ataukah bukan.
Karena Rasulullah bersabda:
 « فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى فَلَيْسَ مِنِّى ».
“Barang siapa yang membenci sunnahku maka bukan dariku.
Siapa yang membenci ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, perlu dipertanyakan keimanannya.
Siapa yang membenci tauhid, sunnah, jilbab wanita muslimah yang sesuai syariat, memanjangkan jenggot, mengangkat celana di atas dua mata kaki, makan dan minum dengan tangan kanan, siapa yang membenci semua ini, perlu dipertanyakan, “apakah ia sedang menghina Rasulullah atau sedang menghina dirinya sendiri?”
Allahu A’am
Oleh: Ust. Abu Husein At-Thuwailibi.
eramuslim.com

Friday, December 26, 2014

Islam adalah As Sunnah

No comments :
Imam Hasan bin Ali bin Khalaf Al Barbahari (wafat 369H) rahimahullah dalam Syarhus Sunnah beliau berkata:
اعلموا أن الإسلام هو السنة والسنة هي الإسلام، ولا يقوم أحدهما إلا بالآخر
“ketahuilah bahwa Islam adalah As Sunnah dan As Sunnah adalah Islam, masing-masing tidak dapat berdiri kecuali dengan yang lainnya”

Hakikat Islam

Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan ketika menjelaskan ungkapan di atas, beliau berkata: “Islam adalah agama yang dibawa oleh para Rasul ‘alahis shalatu was salam. Semua Rasul datang dengan membawa ajaran Islam. Setiap Nabi berdakwah mengajak kepada Allah dan datang dengan membawa syariat yang berasal dari Allah, dan itulah Islam. Maka hakikat Islam adalah beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla semata di setiap masa sesuai syariat-Nya. Dan Allah menurunkan syariat kepada para Nabi pada setiap masa, kemudian me-nasakh-nya (menghapusnya). Jika suatu syariat sudah di nasakh dengan syariat yang baru, maka dalam keadaan ini, mengamalkan syariat yang baru itulah yang disebut Islam. Hingga akhirnya Allah me-nasakh semua syariat terdahulu dengan syariat yang di bawa Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam. Allah Ta’ala berfirman:
لِكُلِّ أَجَلٍ كِتَابٌ يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ ۖ وَعِندَهُ أُمُّ الْكِتَابِ
Bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu). Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh)” (QS. Ar Ra’du: 38-39)
Maka Islam adalah ajaran yang dibawa para Rasul, berupa dakwah dan amalan sesuai masanya. Hingga akhirnya diutus Nabi MuhammadShallallahu’alaihi Wasallam. Sehingga jadilah Islam itu adalah ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam, bukan ajaran yang selain beliau. Orang yang tetap berada pada agama-agama sebelumnya dan tidak beriman kepada Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallammaka ia bukan Muslim. Karena dengan sikapnya itu berarti ia tidak taat kepada Allah dan tidak patuh kepada Rasul-Nya Shallallahu’alaihi Wasallam, sedangkan ajaran-ajaran yang terdahulu sudah selesai dan di-nasakh. Tetap berpegang pada ajaran yang sudah mansukh bukanlah ajaran agama Allah ‘Azza wa Jalla” (At Ta’liq ‘Ala Syarhis Sunnah lis Syaikh Shalih Al Fauzan, 14).

Islam Adalah As Sunnah

Yang dimaksud As Sunnah dalam hal ini adalah segala yang datang dari Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam baik berupa perkataan, perbuatan, dan persetujuan beliau. Maka ajaran Islam adalah segala yang sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam.
Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,
فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَة
Wajib atas kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah khulafa rasyidin. Gigitlah ia dengan gigi geraham kalian! Dan jauhilah perkara baru yang diada-adakan dalam agama. Karena setiap perkara yang diada-adakan dalam agama itu adalah bidah, dan setiap bidah itu adalah kesesatan” (HR. Abu Dawud no.4607 dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abi Daud)
Syaikh Nashir bin Abdul Karim Al ‘Aql berkata: “As Sunnah tidak bisa tegak kecuali dengan patuh dan pasrah kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Dan tidak sempurna patuh dan pasrah kepada Allah kecuali dengan beramal sesuai As Sunnah. Ini adalah ungkapan ringkas yang menjelaskan makna Islam dengan padat. Dan ungkapan ini membuat kita berhenti sejenak untuk merunut makna As Sunnah yang merupakan cabang dari makna umum di atas. As Sunnah itu memiliki beberapa makna dan yang paling pertama adalah makna yang dibawakan Al Barbahari tersebut, yaitu bahwa As Sunnah adalah Islam secara mujmal. Yaitu segala ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam baik secara global maupun rinci, itu adalah As Sunnah” (At Ta’liq ‘Ala Syarhis Sunnah lis Syaikh Nashir Al Aql, 1/3).
Syaikh Shalih Al Fauzan menyatakan: “Islam tidak bisa tegak kecuali dengan As Sunnah dan As Sunnah tidak bisa tegak kecuali dengan ber-Islam. Orang yang mengaku Islam tapi tidak mau mengamalkan As Sunnah, yaitu ajaran Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, maka dia bukan Muslim. Dan orang yang mengamalkan As Sunnah namun tidak berserah diri kepada Allah maka juga bukan Muslim walaupun ia mengetahui As Sunnah. Maka wajib menggabungkan keduanya” (At Ta’liq ‘Ala Syarhis Sunnah lis Syaikh Shalih Al Fauzan, 14-15).
Maka jika mendengar slogan “dakwah kepada As Sunnah” atau “dakwah sunnah” maka maknanya adalah dakwah kepada Islam yang shahihah; Islam yang benar sesuai As Sunnah; Islam yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Karena As Sunnah adalah Islam itu sendiri.
Wallahu waliyyut taufiq.
Penulis: Yulian Purnama
Artikel Muslim.Or.Id

Thursday, December 25, 2014

Menjadi yang terdepan dalam Majelis Ilmu

No comments :
Para ulama salaf kita adalah orang-orang yang sangat bersemangat dalam mendatangi pengajian. Mereka berlomba-lomba menjadi orang yang pertama kali mendatangi majelis ilmu dan tidak ingin terlambat sedetik pun. Di antara mereka bahkan rela menunggu sehari sebelumnya agar tidak terlambat dalam menuntut ilmu.

Kisah Syaikh Abdullah bin Hamud Az-Zubaidi

Syaikh Abdullah bin Hamud Az-Zubaidi rahimahullah menuntut ilmu dan berguru kepada Syaikh Abu Ali Al-Qooli rahimahullah. Syaikh Abu Ali mempunyai kandang hewan di samping rumahnya. Beliau mengikat hewan-hewannya di dalamnya. Pada suatu ketika, muridnya, yaitu Syaikh Abdullah Az Zubaidi rahimahullah tidur di kandang hewan tersebut agar dapat mendahului murid-muridnya yang lain untuk menemui Syaikh Abu Ali sebelum mereka berkumpul belajar di sekeliling beliau supaya dia bisa bertanya sebanyak-banyaknya sebelum teman-temannya yang lain berkumpul.
Maka qadarulloh Ta’ala, pada suatu malam Syaikh Abu Ali keluar dari rumahnya menjelang fajar terbit. Syaikh Az-Zubaidi terbangun dan berdiri mengikuti gurunya tersebut dalam kegelapan malam. Syaikh Abu Ali merasakan ada seseorang yang sedang mengikutinya. Maka dia takut dan menyangka ada pencuri yang bermaksud untuk mencelakainya. Beliau berteriak seraya berkata,Siapa itu? Maka Syaikh Az-Zubaidi menjawab,Saya muridmu, Zubaidi“. Syaikh Abu Ali berteriak lagi seraya berkata,Sampai kapan Engkau akan mengikutiku? Demi Allah, tidak ada di atas bumi ini seorang pun yang lebih faham ilmu nahwu melebihi dirimu! [1]
Demikianlah motivasi yang membaja untuk menuntut ilmu. Motivasi yang mendorong adanya kerelaan untuk tidur bersama hewan-hewan ternak agar bisa lebih dahulu menemui gurunya dan belajar ilmu darinya sebelum murid-murid yang lain berdatangan.

Kisah Ja’far bin Durustuwaih

Ja’far bin Darustuwaih rahimahullah berkata,Kami memesan (memboking) tempat di majelis ilmu ‘Ali bin Madini pada waktu ashar hari ini untuk majelis besok hari. Maka kami duduk di tempat itu sepanjang malam. Kami takut ada orang lain yang mendahuluiku menempati tempatku ini besok untuk mendengarkan hadits. Aku juga melihat seorang yang sudah tua di majelis yang buang air kecil dalam sebuah wadah kecil sambil menutupkan bajunya sampai selesai karena dia takut ada orang yang mengambil tempat duduknya jika ia pergi untuk buang air kecil.” [2]
Yang perlu menjadi catatan adalah bahwa tempat belajar pada waktu itu bukanlah di masjid karena tidak akan cukup. Akan tetapi, di sebuah lapangan luas yang dapat menampung banyak orang. Oleh karena itu, mereka berlomba-lomba untuk menjadi yang terdepan supaya dapat mendengarkan pengajian dengan jelas.

Kisah Ibnu Jandal Al-Qurthubi

Ibnu Jandal Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Aku belajar kepada Imam Ibnu Mujahid rahimahullahSuatu ketika aku datang kepadanya sebelum fajar untuk mendapat tempat yang dekat dengan beliau di majelis ilmu. Tatkala aku sampai di depan pintu masuk ke majelis, aku mendapati pintu tersebut dalam keadaan terkunci dan tidak bisa dibuka. Aku berkata,‘Subhanallah! Aku sudah datang pagi-pagi, namun bisa-bisa aku tidak mendapat tempat di depan.’ Lalu aku melihat ada sebuah lubang di samping pintu dan aku masuk melewati lubang tersebut.  Tatkala aku sampai di tengah-tengah lubang, aku tidak bisa maju atau mundur. Aku tidak bisa keluar dari lubang itu. Kemudian aku memaksa diriku sekuat-kuatnya sampai aku bisa keluar darinya meskipun bajuku sampai robek. Badanku pun luka-luka hingga terkelupas kulitnya dan kelihatan sebagian tulang-tulangnya. Dan Allah mengaruniakan kepadaku sehingga aku bisa keluar dari lubang itu dan bisa menghadiri majelis guruku dalam keadaanku yang masih seperti itu”[3]
Lihatlah, kisah-kisah di atas kami rasa mencukupi untuk menunjukkan bagaimanakah semangat para salaf untuk menjadi yang paling awal mendatangi tempat pengajian. Namun sayangnya, pada masa sekarang ini, semangat seperti ini mulai memudar. Terkadang kami jumpai, di antara kita ada yang sengaja untuk tidak segera mendatangi kajian dan lebih memilih untuk agak terlambat meskipun tidak mendapatkan tempat di depan. Lebih berbahagia ketika mendapatkan tempat di belakang dan agak jauh dari ustadz yang mengisi pengajian. Sebagian sengaja menunda kedatangan supaya tidak terlalu lama menunggu ustadz. Dia berharap ketika dia datang pengajian langsung dimulai tanpa harus menunggu terlalu lama. Namun ironisnya, terkadang kami jumpai justru ustadz yang menunggu santrinya. Ketika ustadz sudah datang tepat waktu, baru satu atau dua peserta pengajian yang kelihatan, sehingga ustadz harus bertanya,Mana yang lain?” Pertanyaan yang membuat hati kami menangis dan hanya bisa menjawab, Ditunggu sebentar lagi ustadz, mungkin terlambat”.
Padahal banyak hal yang bisa kita lakukan sambil menunggu kedatangan ustadz. Kita bisa mengulang pelajaran pada pertemuan yang telah lewat. Kita bisa mempersiapkan diri membaca pelajaran terlebih dahulu, sehingga ketika ustadz menerangkan kita bisa lebih mudah untuk memahami materi atau pelajaran yang disampaikan. Kita pun bisa berdiskusi dengan teman-teman kita tentang masalah-masalah ilmiyyah yang muncul dalam benak kita sehingga kita pun bisa mendapatkan banyak faidah darinya.
Semoga kita bisa mengambil teladan dari kisah-kisah para ulama di atas.

Catatan kaki:
[1] Inabatur Ruwaat ‘ala Anbain Nuhaat, 2/119. Dikutip dari Kaifa Tatahammasu li Tholabil ‘Ilmi Syar’i, hal. 26.
[2] Al Jaami’ li Akhlaaq Ar-Roowi wa Adab As-Saami’, 1/152. Dikutip dari Kaifa Tatahammasu li Tholabil ‘Ilmi Syar’i, hal. 27.
[3] Inabatur Ruwaat ‘ala Anbain Nuhaat, 3/363. Dikutip dari Kaifa Tatahammasu li Tholabil ‘Ilmi Syar’i, hal. 28.

Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, MSc.
Artikel Muslim.Or.Id