<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0' gd:etag='W/&quot;CUUFR3c6eip7ImA9WhNTGEk.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1369378906719126273</id><updated>2012-10-22T01:13:36.912+07:00</updated><category term='Babad'/><category term='Babad Pucak Mundi NP Unduhan DM'/><category term='Babad NP Buku di Pasaran'/><category term='Babad NP Buku tulis tangan'/><category term='Babad NP Unduhan Dunia Maya.'/><title>Babad Nusa Penida Menggugat</title><subtitle type='html'>Oleh: &lt;a href="http://cooltext.com"&gt;&lt;img src="http://images.cooltext.com/1450438.gif" width="292" height="39" alt="MANGKU TUDE GEmbrong"&gt;&lt;/a&gt;</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://babadnusapenidamenggugat002.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1369378906719126273/posts/default?redirect=false&amp;v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://babadnusapenidamenggugat002.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>I Wayan Lugra</name><uri>https://plus.google.com/109171635567899780184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-Yl4tsswI00Y/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/2qMVv2LoKuE/s512-c/photo.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>11</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry gd:etag='W/&quot;D0EHRXg6fCp7ImA9WxFTF0Q.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1369378906719126273.post-5624492001281423961</id><published>2010-04-03T08:35:00.003+07:00</published><updated>2010-04-09T13:47:14.614+07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2010-04-09T13:47:14.614+07:00</app:edited><title></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_1Oq1qRRP-eo/S7ab-IcCtNI/AAAAAAAAAd0/hyJHPK4-fwc/s1600/Topeng+Google.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 116px; height: 156px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_1Oq1qRRP-eo/S7ab-IcCtNI/AAAAAAAAAd0/hyJHPK4-fwc/s400/Topeng+Google.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5455719490325230802" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;BABAD??????&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Babad,  babad, babad, dan babad.  Mengakses babad atau sejarah Nusa Penida di  dunia maya ini sangatlah  mudah, membeli kacang goreng di warung masih  lebih sulit ketimbang  mengakses babad atau sejarah Nusa Penida. Dengan  mudahnya mengakses  babad atau sejarah NP apakah ini merupakan penomena  sebuah kemajuan  informasi? Apakah informasi itu? adakah etika dan  estetika didalam  informasi yang di publikasikan? Yang bagai manakah  informasi itu benar?  Apa perlu informasi itu dipertanggung jawabkan?  Bagaimanakah exses  negatif secara hukum akibat dari informasi yang  salah? Apakah mutlak  Jabatan, Status sosial, Pendidikan, yang menjamin  informasi yang di  berikan itu benar? Dalam Konteks Budaya Bali yang di  dasari oleh Dharma  Agama apakah informasi itu diperlukan sebuah  kenyataan? Apakah  kenyataan itu yang merupakan jawaban dari sebuah  informasi yang benar?  kenapa............? kenapa...........? dan kenapa  penulis banyak  tanya???????.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada awalnya penulis berkeinginan  bisa  menjalankan internet ini didasari oleh keinginan agar mendapatkan   informasi yang benar. besar harapan dari penulis ingin mendapatkan   pencerahan batin melalui internet yang konon dari cerita teman - teman   bahwa internet bisa memberikan informasi yang akurat dan tepat. Selain   itu sebelumnya penulis amat mengharap dari niternet ini bisa memberikan   tuntunan yang betul - betul mengarahkan penulis pada suatu titik yang   benar atas dasar logika yang tak terbantahkan. Namun betapa terkejutnya   penulis, dalam bahasa Bali (kesiab icang) manakala penulis mengetik &lt;span style="font-style: italic;"&gt;babad nusa penida &lt;/span&gt;di google web   bermunculanlah babad atau sejarah Nusa Penida yang tampil bagaikan induk   - induk tawon yang akan pindah sarang. yang sangat mengherankan  penulis  dalam babad - babad yang muncul tersebut, isinyapun mengandung  makna  yang berbeda, apalagi jika babad atau sejarah tersebut penulis  kaitkan  dengan babad atau sejarah yang penulis dapatkan di darat  melalui tulisan  - tulisan atau melalui gaguritan yang penulis dengar,  demikian juga  gaguritan dalam bentuk buku. Dan anehnya lagi dalam  masing - masing   babad atau sejarah tersebut, masing - masing  mengedepankan bahwa ceritra  itulah yang paling depan atau yang pertama  terjadi di Nusa Penida.  Kalau masalah kecanggihan system internet  penulis amat sangat mengakui  dan mengapresiasi pada penemunya, bahwa  penulis hanya dengan duduk  santai di depan computer penulis bisa  mendapatkan informasi yang  sedemikan banyak, ibarat asal bisa ngetik  pasti di jawab dan di carikan  oleh Bapak atau Ibu Google. Tapi yang  tidak habis penulis pikir, bagi  para pemulung sejarah di darat yang bakal dijadikan sebuah alat untuk mendapatkan popularitas pribadi, dalam hal ini penulis tidak yakin pada seorang pemulung tersebut bahwa dia memahami arti dari pada Sejarah atau Babad tersebut. Yang paling membuat penulis tercengang, bahkan sejarah yang di dapat dari penutur - penutur yang luntur dan kabur sehingga menjadi sejarah atau babad yang hancur lebur sampai ajur di komersilkan dalam bentuk buku - buku! Sepertinya Nusa Penida sekarang ini sudah tidak mampu memeberikan lahan tempat mencari penghidupan, sehingga sejarah atau babad yang tidak pernah dilakoni disusun dan di komersilkan hanya demi beberapa lembar rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disisi lain di Dunia Maya ini penulis menemukan Silsilah Nusa Penida yang tampilannya sangat mengagumkan, sepintas silsilah tersebut membuat penulis heran, dengan mampunya seorang anak manusia yang di lahirkan di bumi ini melalui rahim seorang ibu mampu melihat dan bercakap - cakap dengan Ida Bhatara sehingga semua Bhatara2 yang ada di Nusa Penida ini dengan mudahnya di muat dalam silsilah tersebut, berdalih dengan kewaskitaan, kejenyanan, kesucian, yang tidak terlepas dari bangkitnya seluruh cakra2 suci di luar maupun di dalam tubuh manusia tersebut sehingga mampu tahu sebelum di beri tahu atau (weruh sadurung winarah) dengan tanpa pertimbangan atau pengkajian yang luas serta masuk akal silsilah itu di publikasikan di dunia maya ini. Percayakah anda??? Jika saja anda para pengunjung mejawab percaya, saya yakin anda adalah seorang yang Bhuta, seorang yang bhuta disebabkan oleh kegelapan, kegelapan disebabkan oleh ketidaktahuan, ketidaktahuan disebabkan oleh tidak berfungsinya akal sehat yang di sebut logika. Sehingga apa yang dilihat itulah yang benar, apalagi dilihat oleh banyak orang sehingga banyak yang memebenarkan. Tahukah anda dengan yang benar? betapa banyakpun jumlah anda yang membenarkan yang tidak benar, sejumlah itulah bhuta telah mempunyai pengikut. Penulis yakin pengunjung akan memahami maksud kalimat singkat penulis di bawah ini, penulis bertanya pengunjung mejawab dan merasakannya: &lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Mampukah air bercampur dengan minyak?&lt;span style="font-style: italic;"&gt; bila kaca tembus pandang yang besar dipajang di tengah jalan dalam keadaan yang bersih, apakah anda melihanya? apa benar hanya kaca yang berisi debu atau kotor yang cepat bisa anda lihat? batu dalam air apakah disebut tercampur? masihkah bisa anda memisahkan batu dengan air tersebut? &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak contoh2 yang patut kita pergunakan sebagai dasar untuk berpikir sehingga kita mampu menglogikakan segala yang ada di dunia ini, penulis seorang anak yang terlahirkan di pulau yang kering yaitu Nusa Penida, namun stetes air yang membasahi benak penulis, penulis harap jangan sampai kering sehingga penulis mencari dan mencari tetesan air tersebut, karena penulis yakin setetes air tersebut akan kering manakala penulis telah sampai pada tujuan hidup ini yaitu kematian!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis tidak akan memuat jawaban segala yang penulis tanyakan diatas, dengan jawaban yang penulis muat di tulisan ini itu berarti penulis berperan serta membentuk kegelapan yang berakibat Bhuta, penulis tidak mau pengunjung menjadi bhuta, karena dengan mata terpejampun dunia ini malah semakin luas dapat dilihat dari pada mata terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah sekilas suara cuapan seekor burung gagak dari sebrang, yang berkelakar bagaikan seorang pemabok yang tak sadarkan diri, sehingga kata2 yang disusun berputar memenuhi arah mata angin dunia ini yang pada akhirnya sempoyongan dan rebah pada titik tengah yang di sebut Madya! Hormat dan bhaktiku pada mu wahai Madya Madya Madya Siwa ya !!!!!!!!!!  &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1369378906719126273-5624492001281423961?l=babadnusapenidamenggugat002.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://babadnusapenidamenggugat002.blogspot.com/feeds/5624492001281423961/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1369378906719126273&amp;postID=5624492001281423961&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1369378906719126273/posts/default/5624492001281423961?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1369378906719126273/posts/default/5624492001281423961?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://babadnusapenidamenggugat002.blogspot.com/2010/04/babad-babad-babad-dan-babad.html' title=''/><author><name>I Wayan Lugra</name><uri>https://plus.google.com/109171635567899780184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-Yl4tsswI00Y/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/2qMVv2LoKuE/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_1Oq1qRRP-eo/S7ab-IcCtNI/AAAAAAAAAd0/hyJHPK4-fwc/s72-c/Topeng+Google.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;AkYBRH87fip7ImA9WxFTEkg.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1369378906719126273.post-5584905436694861766</id><published>2010-04-01T13:18:00.005+07:00</published><updated>2010-04-03T08:29:15.106+07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2010-04-03T08:29:15.106+07:00</app:edited><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Babad NP Buku di Pasaran'/><title>BABAD NUSA PENIDA FERSI Penulis Ceningan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_1Oq1qRRP-eo/S7aZsYKUK0I/AAAAAAAAAds/50SbYd1yzD0/s1600/1.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 265px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_1Oq1qRRP-eo/S7aZsYKUK0I/AAAAAAAAAds/50SbYd1yzD0/s400/1.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5455716986284944194" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_1Oq1qRRP-eo/S7aZf_b9DzI/AAAAAAAAAdk/BO76C66MYSI/s1600/2.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 268px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_1Oq1qRRP-eo/S7aZf_b9DzI/AAAAAAAAAdk/BO76C66MYSI/s400/2.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5455716773489610546" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_1Oq1qRRP-eo/S7aZWPVv91I/AAAAAAAAAdc/HIzp7FNFkqY/s1600/3.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 251px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_1Oq1qRRP-eo/S7aZWPVv91I/AAAAAAAAAdc/HIzp7FNFkqY/s400/3.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5455716605959862098" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_1Oq1qRRP-eo/S7Q8FuEYTSI/AAAAAAAAAc8/7iJO82EAV1o/s1600/Untitled-Scanned-0.jpg"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_1Oq1qRRP-eo/S7Q7u89muTI/AAAAAAAAAc0/fA6JgHKWLwQ/s1600/Untitled-Scanned-02.jpg"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_1Oq1qRRP-eo/S7Q7iPINmcI/AAAAAAAAAcs/w-ArPNY1MzY/s1600/Untitled-Scanned-01.jpg"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1369378906719126273-5584905436694861766?l=babadnusapenidamenggugat002.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://babadnusapenidamenggugat002.blogspot.com/feeds/5584905436694861766/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1369378906719126273&amp;postID=5584905436694861766&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1369378906719126273/posts/default/5584905436694861766?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1369378906719126273/posts/default/5584905436694861766?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://babadnusapenidamenggugat002.blogspot.com/2010/04/babad-nusa-penida-fersi-penulis.html' title='BABAD NUSA PENIDA FERSI Penulis Ceningan'/><author><name>I Wayan Lugra</name><uri>https://plus.google.com/109171635567899780184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-Yl4tsswI00Y/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/2qMVv2LoKuE/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_1Oq1qRRP-eo/S7aZsYKUK0I/AAAAAAAAAds/50SbYd1yzD0/s72-c/1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;Ck4MRHw9eSp7ImA9WxBaFko.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1369378906719126273.post-699693028838763180</id><published>2010-03-27T13:17:00.002+07:00</published><updated>2010-03-27T13:23:05.261+07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2010-03-27T13:23:05.261+07:00</app:edited><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Babad NP Unduhan Dunia Maya.'/><title>Babad NP Fersi Kerajaan Maja Langu DM</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;If this page does not appear in navigable main frame, please click here.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;The Buwahan Temple Inscriptions&lt;br /&gt;This document was translated into Indonesian by Ida Bagus Sidemen. The original document (photocopies) of 27 pages is owned by Drs. I Nyoman Sukada, from Den Kayu (Mengwi, Badung - Bali). Written on the document is 'A/3247' in handwriting, which probably indicates a catalogue number. On the first page, there is a stamp 'Perpustakaan Pribadi Amlapura, Sura Wirya Pangeban', with another stamp 'Ida I Dewa Gede Catra, Jalan Untung Surapati Gang Flamboyan no. 2 Amlapura, Telp. (0363) 21761, Karangasem'.&lt;br /&gt;The structure of the text below is the same as the text in the transcribed version, rendered into latin script from lontar leaves (palm leaves) inscribed in Balinese characters. The paragraphs (in separate blocks) are therefore presented this way. The numbers of the original palm leaf inscriptions are mentioned in brackets in the Balinese version (left).&lt;br /&gt;An English summarised translation is forthcoming. Further research and analysis is needed.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PRASASTI PURI BUWAHAN, DENKAYU, MENGWI&lt;br /&gt;Naskah ketikan milik: Drs. Nyoman Sukada, Denkayu, Mengwi, Badung, 1976&lt;br /&gt;Sane nedunin: Ida I Dewa Gde Catra, Jl. Untung Surapati, Gang Flamboyan No. 2 Amlapura, Karangasem&lt;br /&gt;Tanggal ngetik: 25 Januari 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Balinese&lt;br /&gt;Om Awighnamastu&lt;br /&gt;I. Ida Ratu Sakti ring Puncak Mundi&lt;br /&gt;Ceritra ring purwa kala, wenten reke tusning kulawarga dalem majalangu, mapesengan ida ratu sakti, miwah rabin ida mapesengan ida ratu ayu mas mecaling. Sang kalih sami pada teleb ring tatwa kadyatmikan, maka miwah pada teleb ngalaksanayang yoga samadi. Ida ratu sakti teleb ring kapu-tusan, sakewanten sane isteri ida ayu mas mecaling, tan mari teleb ring tatwa kawisesan aji wegig.&lt;br /&gt;nemonin rahina hayu, raris lunga ida sang kalih saking panagara majalangu, kahiring antuk sira arya sentong miwah rabin dane. tan ceritayang ring margi, kancit rawuh ring nusa panida. sarawuh ida ring pasisin pulo nusa panida punika, raris ida ngulati linggih pacang pinaka .linggih ida ngelarang yoga semadi. tan asuwe raris ida manggihin genah sane suci, manut pakayunan ida patut linggih pacang ngastawa ida sang hyang widi. genahe punika mawas-ta puncak mundi, irika raris ida ngawangun hasrama sarwi ngelarang yoga ring samping watune agung.&lt;br /&gt;sawatara nem sasih suwen ida malinggih ring puncak mundi, raris kesah ida saking irika ngulati pasisi. kancit rawuh ring desa munduk biyas. sarawuh idane irika, kapendak olih wong desane sami, pingajeng dane bande-sa sane pinaka pangenter wong desane irika. sesampune suwe ida malinggih irika, raris ida kakaryanang puri olih wong desane miwah kekaryangan mrajan, maka linggih ida ratu sakti ngelarang yoga, sinangguh mrajan dalem. sasukat ida malinggih irika, desane wiyakti rahayu tan kahanan pakewuh, dwaning sasab merana sami pada puceh, mahawanan gemuh landuh desane sawewengkon munduk biyas.&lt;br /&gt;ceritayang mangkin ring sampune suwe ida malinggih irika ring puri munduk biyas, raris wenten pekayunan ida pacang lunga ke bali, duwaning manut pekayunan ida, sane sida kacingak olih ida rikala ida ngelarang yoga, katah wantah genah genah suci ring bali, sane patut pacang linggih ida ngelarang yoga. indik idane puniki raris kebawosang ring rabin ida, nanging rabine tan kaicen sareng lunga ke bali, tur mangda jenek malinggih ring puri, kahiring olih parekan ida kakalih diri sane mewasta ki lenjar miwah ki lenjir, parekan sane ngiring saking majalangu nguni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. Ida Ratu Sakti ngelarang yoga ring Bali&lt;br /&gt;Tan critayang ring margi, kancit ida ratu sakti sampun rawuh ring bali kahiring olih dana sira arya sentong miwah ki bendesa [2] ngawangun pasraman ring muncuk guling (kelengkung). yan akudang rahina ida jumenek malinggih ring muncuk guling, raris kesah saking irika ngulati genah ngaler kawuhang, gumanti rawuh ring tengah alase sane katah wenten buron manjangan, mahawanan kapangguh katah pisan tampak wiyadin laad enjek enjekan manjangan, raris alase punika kawastanin tenjak manjangan. ring genahe punika raris ida ngelarang yoga samadi di luhuring watune lempeh sane meganah tan adoh saking tukade agung, inggih punika ring dauh tukad. sira arya sentong, lunga saking irika ngulati taler genah pacang linggih ngelarang yoga samadi. dane ki bandesa, lunga ngulati genah ngelod kawuhang, rawuh ring alase sane katah buron bojog nyane irika wantah dane ngelarang yoga samadi, nunggaling idep nunas wara nugraha ring ida sang hyang widhi miwah ring ida betara sane malinggih ring alase punika.&lt;br /&gt;Mungguing dane sira arya sentong, rawuh ring genahe sane wenten panambak toya, wiyadin empelan, irika wenten kapanggih pancung tiying gading, ring samping pancunge punika dane raris ngelarang yoga samadi. yan akudang rahina maka suwen dane matoga irika, raris risampune puput yogan dane malih mawali ka linggih ida ratu saktine ring tanjak manjangan, tur nguningayang mungguing saparindik danene sida polih pahica.&lt;br /&gt;Kala punika raris Ida Ratu Sakti wenten ketel wecana ring dane sira arya sentong, “uduh paman arya, yan aketo pedabdabe, ngawit dinane jani. Nira mapaica biseka tekening paman, sawireh paman polih paica keris rikala paman mayoga disampingan pancunge, jani adanin gelah ki pancung, wiyadin adanin ki pancung sakti, tur tongos pamane adanin gelah pacung.&lt;br /&gt;Kala punika taler rawuh dane ki bendesa saking genah dane ngelarang yoga. Yan ta kocap duke dane ngelarang yoga samadi, wenten kanten sekadi puri kapang-guh, tur wenten medal anak lingsir, mabawos mangda dane megingsir saking irika. Asapunika mungguing dane ki bendesa, raris ida ratu sakti ngandika, “uduh paman bendesa, yan aketo pidabdab pamane, ngawit dinane jani paman adanin gelah ki bendesa sabeng puri tur tongose ento maadan alas keraton. lantur ida ratu sakti ngandika, “paman pacung sakti miwah bendesa sabeng puri, sawireh di tongose ene paman ngiring gelah mererawosan, tongose ene adanin gelah paruman. Nah satondene gelah matinggal uli dini, lawutang punduhang ento batune ane tegakin paman dini, dibatune ane tegakin gelah pinaka ciri tongose dini tuwah tongos gelah ngelarang yoga.&lt;br /&gt;Sesampune batu-batu punika kapunduhang, raris sang tiga kesah (3) ngulari ngalerang, rawuh ring genahe sane wenten semer, irika ida ngelarang yoga semadi di luhur batune lempeh sane wenten ring sampingan semere punika, kahiring olih ki pacung sakti miwah ki bendesa sabeng puri. puput ida ngelarang yoga, sadurung ida kesah saking irika, raris batune lempeh punika kahambil olih ki pacung sakti, kagenahang duhur bungut semere, pinaka penekep semer, genahe punika kewastanin puser tasik.&lt;br /&gt;Saking Puser Tasik ida lunga kesah ngalerang, rawuh ring predesa sane wenten wit campaka putih, irika raris ida mararyan, ngelarang yoga, ge-nahe punika kewastanin jemeng (pinge, tuwa, marsa). Saking jemeng raris kesah ngalerang tur ngelarang yoga ring sarwa nadi (tegeh, angsri, baturiti). Saking gunung lebah malih matinggal tur malinggih ring pucak tinggah (ang-sri, baturiti). Saking pucak tinggah malih kesah, malinggih ring panataran (sandan, baturiti). Saking panataran kesah raris malinggih ring pucak asah, ring pucak asah kala punika alase wantah katumbuhin antuk wit poh mahawanan taler kawastanin alas poh, irika suwe ida ratu sakti malinggih kahiring olih ki pacung sakti miwah ki bendesa sabeng puri, jantos ida ngwangun pasraman. Dwaning suwe ida malinggih irika, tandugi irika taler ida mekarya pasiraman, kawastanin biji tamansari. sewosan ring punika taler ida maduwe pamebesan antuk batu, mahawanan batu punika raris mewarna selem asibak barak malih asibak, sinangguh batu saliwah.&lt;br /&gt;Saking irika taler sering magentos linggih pinaka linggih ida ngelarang yoga samadi, inggih pu-nika ring paninjowan, ring bakungan, ring bukit sari, ring pucak tegal baas, ring pucak renjani.&lt;br /&gt;Saking pucak asah malih ida magingsir linggih, ngulati pangu-ngangan (abang, candikuning). Wekasan duwaning palinggihe ring pangu-ngangan adoh saking desa baturiti, mawit saking kayun dane pemekel batu-riti, raris kawangunang palinggih ring baler desane, kawastanin pura anyar, pinaka panyawangan da batara ring pura pangungangan (abang), punika hawanan rikala mlaspasin pura anyar punika, ida betara ring angungangan kapendak tur katuntun kalinggihang ring Pura Añar (Baturiti).&lt;br /&gt;Saking pangungangan malih magingsir, malinggih ring tratebang (candikuning, baturiti). Saking tratebang magingsir malih raris malinggih ring candi mas (candikuning). saking candimas malih magingsir tur malinggih ring bratan (candikuining). saking bratan malih magingsir linggih raris ngelarang yoga ring rejengbesi (candikuning). saking rejeng besi, kesah malih raris ma-linggih ring bukit sangkur, kesah saking bukit sangkur malinggih ngelarang yoga ring bukit mangu, saking bukit mangu magingsir malih raris malinggih ring batur (pura jati). saking pura jati magingsir malih tur malinggih nge-larang yoga ring guwalawah. saking guwalawah raris ida ratu sakti mawali mantuk ka puri munduk biyas (nusa), kahiring olih Ki Pacung Sakti miwah Ki Bendesa Sabeng Puri.&lt;br /&gt;Amunika katah genah genahe ring bali sane pecak kaangge maka linggih Ida Ratu Sakti ngelarang yoga samadi. kwentenane mangkin [4] sami ring genah genahe inucap ring ajeng, sampun kawangunin kahyangan, tur kaloktahang antuk panyngsung panyungsung nyane sami. Kahyangan yadin pura payogan ida betara.&lt;br /&gt;Caritayang ida ratu ayu mas macaling, malinggih ring puri munduk biyas, rikala rabine matirtayatra lunga ka bali, kahucap wenten rawuh utusan saking majalangu, sareng petang diri. i putusan raris kasambrama antuk ulam bawi. nanging samian putusane tan purun ring ulam bawi. duwaning asapunika, raris kanikayang parekane i lenjar miwah i lenjir, ngejuk ayam pinaka ulam sangun i putusan punika. lami reke i parekan ngepungin ayam, taler tan sida kaejuk, raris wetu idep nyane kasihan ring putusan, suwe ngeger sodane, raris ipun ngambil paksi titiran ida ratu saktine, katampah tur kahebat. ring sampune puput, raris kahaturang ring i tamiyu tur kahajengang. kocap sasampune i putusan mawali budal ka majalangu, kahuningin raris olih ida ratu ayu mas mecaling titiran idane ical. Tandumade, wetu duka ida, raris i parekan kanikain mangda tangkil.&lt;br /&gt;I lenjar miwah I lenjir tahu ring deweknya iwang tur janten pacang polih bendu. Gagelisan ipun minggat saking puri, pisadyannya pacang mewali ka majalangu. Sadurung iparekan tedah saking puri, polih ipun ngambil was-tra selem druwen ida ratu ayu mas mecaling, kanggen pinaka laluhur, rikalan idane ngerehang aji pangiwan ida. wawu i lenyar miwah i lenyir rawuh ring pasisi, gelis rauh utusan ida ratu ayu mas mecaling, ngetutang pamargin pare-kan kalih punika. sane kutus nora liyan kulawarga dane ki bandesa. i pare-kan kahajakin mangda mewali ka puri, nanging ipun sang kalih matulak, tanngiring sekadi bawosnya i putusan. irika raris i parekan ngawentenang yu-da marep rinmg i putusan. Puputing yuda kawon kawisesannya i putusan, sasampun seda i putusan, sumayan ajrih manah nyane i lenjar miwah i lenjir, hawanan raris maserana antuk wastrane selem punika ipun raris mrelina raga.&lt;br /&gt;Punika maka larapan ne mangkin sakatahing tapakan (barong) sane rawuh ring pura pucak padangdawa, tan dados ngangge kampuh selem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. Ida Ratu Ngurah Sakti maduwe putra kembar buncing&lt;br /&gt;Bawosang ring sampune ida ratu ngurah sakti mawali saking matirta yatra ring bali, yan akudang tahun suwen idane hawos salulut ring rabine ring puri biyas, kocap mangkin ida madruwe putra kembar (buncing). Sane duhuran isteri kapesengin ida ratu ayu mas maketel, sane aitan lanang kaparabin ida ratu made sakti rengreng.&lt;br /&gt;Ring sampun putrane meyusa nem sasih, pacang kalaksanayang upacara matemu banyu. Kala punika ring munduk bhiyas wiyadin ring nusa penida, durung wenten sang sadaka wiyadin pandita sane pacang kahaturin muput yadnya punika, mawinan ida maputusan ke majalangu ngaturin rakan ida sane sampun madiksa, sane mabiseka ida resi sagening, mangda rawuh ka nusa, buat jagi muput yadnyan ida punika. Tan ceritayang pamargin iputusan, kocap sampun rawuh ida resi sagening, kasarengn antuk rabine kalih diri, sane meparab ida Ratu Ayu jerak miwah ida ratu Ayu Lina. Ceritayang ring sampune puput yajnyane kelaksanaang, ne mangkin wenten pekayunan ida ratu segening pacang lunga saking puri munduk biyas ka bali, turmaning putrane adiri kakarsayang ida mangda sareng, pacang kabelasang linggihe ring rakane, duwaning wekasan mangda ida kappa-rabiyang, rehning patut asapunika pamargin sang sane hembas buncing. pakayunan ida resi segening, kapatutang olih ida ratu ngurah sakti, tur ida nita-hang ki pacung sakti sakulwarga miwah ki bandesa sabeng puri sareng niring ngemban putrane pacang malinggih ring bali. ki pacung sakti miwah ki bendesa wiyakti sahiring kadi pituduh ida ratu ngurah sakti punika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV. Ida Ratu Made Sakti Rengreng ring Bali&lt;br /&gt;Nemonin rahina ayu sagrehan pamargine lunga ka bali, inggih pu-nika ida resi seganing, ida ratu ayu jerak, ida ratu ayu lina, ida ratu made sakti rengreng, ki pacung sakti, ki bendesa sabeng puri, miwah panjak petang dasa kulawarga sameton dane ki kendesa maka sami punika. sane pinaka penganjur pamargine tatan sewos dane ki pacung sakti, duwaning dane sam-pun nahenin lunga ka bali ngiringang pamargin ida ratu ngurah sakti, saduk ida ngelarang yoga samadi ring bali.&lt;br /&gt;Tan caritayang ring margi, kancit sampun reke ida rawuh ring bali, malinggih ring munduk guling, ring pecak linggih ida ratu ngurah sakti masrama sane nguni. mungguwing ida ratu made sakti saking alit wantah ida teleb ring tatwa dyatmika, kahemban katuntun olih ida resi seganing miwah ki pacung sakti, turmaning tan maren ida ngelarang yoga semadi ring sampune ida mayusa patbelas tahun.&lt;br /&gt;Ritatkala ida ngelarang yoga samadi ring puser tasik (marga), ring pecak linggih ajin ida sane nguni, tandwa kacingak wenten andus (asep) medal saking tanahe, genahe punika [5] wiyakti adoh ring gununge kaler. ring samune lesu yogan ida, raris genah andus punika karereh ida, kahiring olih ki pacung sakti, nuli kapangguh genah anduse punika kawentenan ipun wantah ring puncak asah ring samping batune saliwah, pecak pemebesan ida ratu ngu-rah sakti sane rihin. indike punika raris kahuningang ring ida resi sagening, resi sagening ngandikayang ida ratu made sakti mangda budal ka puri mun-duk biyas, kahiring olih ki pacung sakti, miwah ki bendesa sabeng puri, bu-watne wantah mangda ida nguningayang munggwing pidabdab pamangguh idane kala mayoga punika. ida ratu made sakti tan mari ngiringang bawos ida resi sagening.&lt;br /&gt;Tan kocapan ring margi, caritayang ring sampune ida rawuh ring puri munduk biyas tangkil ring ida i aji, tur sampun kadartayang munggwing kawentenan idane kalaning mayoga ring pusertasik punika. kala punika tuwi ida ratu ngurah sakti, wenten ketel wecana ring putrane miwah ki pacung sak-ti sareng ki bendesa sabeng puri. pangandikan ida, “uduh cening made, lawut-ang cening ngewangun puri ditu di pucak asah di tongos ajine pidan masrama ngajak iya ki pacung sakti.”&lt;br /&gt;Nah ne jani ada piteket gelah marep teken paman pacung muwah bandesa, lawutang emban pianak gelahe ditu di pucak asah, nanging yadiyas-tun paman jumenek di bali ede pesan tuna baktin pamane tekening gelah dini di nusa, neked kawekas. Duwaning gelah lakar jumenek dini neked kawekas, yadyastun gelah suba madewek niskala. Sajawinin teken pamerajan gelahe di-ni, paman patut subakti tekening makejangan, ento laad tongos gelahe mayoga ane nguni ngajak paman di bali, paman tan pesan dadi hima baktine. piteket gelahe ane jani tenenan lawutang tuturin pratisantanan pamane makejang. jwahtasmat, ri wekas yan wenten pratisantanan pamane turun temurun lempas teken piteket gelahe jani tan subakti teken gelah dini di nusa, muwah teken payogan gelahe kuna di bali, wastu iya tan amangguh ra-hayu, cendek tuwuh, amungpang laku muwah tan mari matungkas ngajak pakadangannya.” Asapunika daging piteket miwah pamastun ida ratu ngurah sakti katiba ring ki pacung sakti, miwah ki bandesa sabeng uri. ki pacung sakti tan mari ngiring tur pacang ngarawuhang sakatah piteket ida punika ring pratisentanan danene turun temurun.&lt;br /&gt;Yan akudang rahina suwen ida ratu made sakti wenten ring puri munduk biyas, raris ida mepamit mewali ka bali, pacang ngiringang sakadi bawos ajine pacang ngewangun puri ring pucak asah, magingsir saking munduk guling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;V. Puri Pucak Asah&lt;br /&gt;Caritayang ida ratu made sakti rengreng sampun jajaka, nanging sampun pradnyan nabdabang panjak, gumanti panjake ring pucak asah, wyakti rahayu tan kakirangan bukti. pinaka papatih ida tan liyan ki pacung sakti miwah bandesa sabeng puri. ida resi sagening pinaka bhagawantan ida sang prabhu.&lt;br /&gt;Ri tatkala ida jumemeng nata ring pucak asah, sering sering ida mantuk tangkil ring ajine ring puri munduk biyas, punapi malih rikala wenten puja wali ring pamerajan munduk biyas, tan purun ida long tangkil mamedek kahiring olih ki pacung sakti miwah ki bandesa sabeng puri.&lt;br /&gt;Kocapan rikala ida ratu made sakti mawali budal saking puri munduk bhiyas, ring margi ring predesa tulamben manggihin anak istri ayu anom putran dane ki bandesa tulamben, tandwa wetu kasmaran ida ring ana-ke istri punika, raris kakarsayang pacang kambil rabi. ki bandesa tulamben tan mari ngaturang putrane, nagingin sakadi pikarsan ida sang prabu. Tan suwe malinggih ring tulamben, raris ida budal ka Puri Pucak Asah (6) sareng rabine, sasampune kawentenang upakara pawiwahan. pi-rang warsa suwen ida ratu made sakti dampati ring puri pucak asah, wenten putran ida kalih diri, inggih punika sane duwuran lanang kaparabin ida ratu wayan sakti. Sane alitan isteri maparab ida ratu ayu manik galih.&lt;br /&gt;Caritayang ida resi sagening sareng rabine makakalih malinggih ring geriya taman sari, tan mari ngelaksanayang homa yajnya maka miwah muput sakancan yadnyan ida sang prabu, miwah yadnyan panjake sami, ma-ka larapan kerta santosas sajebag pawidangan sang prabu di pucak asah. sewosan ring taman sari ida resi taler maduwe palinggih ngelaksanayang homa yadnya ring paninjowan miwah ring bukit sari.&lt;br /&gt;Caritayang ida ratu made sakti, sasampune maputra kalih diri, sa-king pekayun ida resi sagening malih kaparabiyang ring sametone ring puri munduk biyas, inggih punika ida ratu ayu mas maketel. rabine puniki kakar-yanang puri ring alas langgwa tur ngawentenang putra kembar, sane lanang mapasengan ida ratu sakti kembar, sane isteri ida ratu ayu langgwa, mapa-rabiyan ka senganan. ida ratu sakti kembar, miwah biyange ida ratu ayu mas maketel, moksa ring puri langgwa, wekasan genahe puniki kawastanin bukit kembar. Wenten kocap putran ida ratu ayu mas maketel lanang malih adiri, katunas olih I Gede Samsam, sane nukuh ring kedokan. I Gede Samsam sasam-pun mabresih mabiseka dukuh pacung. ida sang kalih puniki ngaluhur (moksa) ring padukuhan kedokan.&lt;br /&gt;Walinin carita ida ratu made sakti rengreng ring puri pucak asah. saking pakayunan ida resi sagening rabine sareng putrin ida mangda magingsir linggih saking puri pucak asah mangda maasrama ring pucak tegalbahas. ida ratu made sakti rengreng kahiring olih ki pacung sakti miwah ki bendesa sa-beng uri, ngaluhur wiyadin moksa ring jaba tengah puri pucak asah. sasampune ida ratu made sakti ngaluhur kahiring olih ki pacung sakti, turmaning sakatah piteket ida ratu ngurah sakti sampun sami kapite-ketang ring putrane. sapunika taler ki pacung sakti sampun taler ngerawuhang punapa punapi piteket ida ratu ngurah sakti ring dane kala dane kanikaang ngemban putrane jumenek ring bali. Panjake sami mangkin katedungin olih ida ratu wayan sakti kasarengin antuk putran dane ki pacung sakti (I) sane taler mapesegan i gusti ngurah pacung sakti (II). Akudang tahun suwen ida nabdab panjak, nanging indik tatwa dyatmika taler tan hima ida nelebang pinih hajeng indik tatwa kamoksan.&lt;br /&gt;Caritayang tatkala ida ngelarang yoga samadi molih wara warah saking laluhur ida sane sampun humor ring acintya, daging wara warahe inggih punika, “ida ratu wayan sakti mangda mantuk ke niskalapada, pu-rine mangda kaprelina, ida resi sagening mangda lunga malinggih ring bukit buntut (sangkur). ki pacung sakti maka miwah panjake sami mangda taler kesah saking pucak asah.” indik idane puniki nuli kahuningayang ring ida resi sagening turmaning ida taler mapikayun pacang malinggih ring bukit sangkur, duwaning taler saking pinunas para resine sane masrama ring kayu sugih, trate bang, rejeng besi, miwah liyan liyanan, pacang kahadegang pandita nabe. sadurung ida sang resi kesah lunga ke bukit sangkur, wenten buwat piteket ida ring panjake sami, pinghajeng ring ki pacung sakti. daging piteket ida, “sakaluwiring jadnya pamekas dewa yadnya sane kawangun olih ki pacung sakti, rawuh ke panjak danene sami mangda tan ngarereh pandita sa-wosan ring ida sane kahaturan muput, apituwi ring wekas ring sampune lina, mangda taler kakaryanang genah mamuja (pawedan). saking irika ida [7] tunasin pamuput. duwaning pacang muput saking niskalane, pinaka saranan paman lakar nuhur bapa, nah ene gentan bapane aba sembah sungsung ka-yang kawekas.”&lt;br /&gt;Ki pacung sakti kahiring antuk panjake sami, tan mari mapunagi pacang ngiringang sakatah piteket ida resi punika sami. sasampune ida resi puput mewarah warah, raris ida lunga ke bukit sangkur, irika ida resi ma-linggih rawuh ring sampune ida ngaluhur. mungguwing rabine maka kalih punika, tan sareng lunga malinggih ka bukit sangkur, nanging sowang sowang ngulati linggih manut tateleban kayun ida, pinaka linggih ida wekasan pacang ngaluhur. ida ratu ayu lina kesah saking pucak asah ngulati ngelodang jumeneng malinggih tur ngaluhur ring batubolong (badung). ida ratu ayu jerak, kesah saking pucak asah, ngelod kanginang malinggih ring baluwangan, tan suwe malinggh irika nulia kesah malinggih ring taman padang jerak, taler tan lami ida malinggih irika, malih ida kesah malinggih ring bet ngandang (dalem imba) sanur. irika ida jumenek malinggih rawuh ida ngaluhur wiyadin moksa.&lt;br /&gt;Caritayang ida ratu wayan sakti, sadurung ida mrelina raga muwah purine, mewarah warah ida ring ki pacung sakti miwah panjake sami. daging warah warah ida “ uduh paman pacung sakti, duwaning gelah pacang mantuk ka niskalapada, muwah purine ene lakar prelina gelah, ane jani ada piteket gelah teken paman, muwah panjake makejang:&lt;br /&gt;a. paman miwah panjake makejang apang kesah uli dini, ulati tongose ane patut,manut pamineh paman.&lt;br /&gt;b. eda lempas teken sakancan piteket muwah pakarsa ida resi sagening turmaning ane suba sanggupang paman.&lt;br /&gt;c. paman apang miara tur nyungsung linggih linggih yogan ida batara leluhur gelah, muwah laluhur paman ane nguni duk ida matirta yatra dini di Bali.&lt;br /&gt;d. pamekasne dini di pucak asah, eda pesan paman ima engsap pedek mai, yadiastun purine suba dadi alas, duwaning gelah muwah ida batari batari laluhur gelah, muwah laluhur paman sami, kalaning meraga suksma, manggeh jumeneng malinggih dini.&lt;br /&gt;e. wekasan yan ada pratisantanan paman turun temurun tan satya ngelaksanayang saluwir rawos gelahe jani, pamekasne ban subakti teken purin gelahe ene, muwah ring ida betara betari laluhur gelah, laluhur paman, wastu ya tan anemu rahayu, cendek yusa, tan mari runtik makulawarga. wireh keto ingetang pesan rawuhang piteket gelahe teken turun tumurun pamane rawuh kawekas. f. nah ne jani lawutang jemak ento batune makadadua aba mai, lakar pejangin gelah pinget, tapak batis muwah tapak lima, pinaka ciri, buwat genah purine jani apang turunan paman tan paling rikala pedek tangkil, subakti teken laluhurnya wekasan.&lt;br /&gt;ki pacung sakti muwah ki bendesa sabeng puri, kahiring antuk panjake sami, sahiring tur sumanggup pacang ngelaksanayang sekadi pangandikane. raris ki pacung sakti ngaturang batune kalih, turin sampun medaging tapak tangan muwah tapak cokor, nuli kagenahang ring sampingan batune saliwah sane pecak pamebesan wayah ida sane nguni.&lt;br /&gt;Sasampune puput sami, raris ida ratu ngurah wayan sakti ngelarang yoga hangranasika, ngidupang geni rahasya, pinaka pangesengan raga muwah purine. tan asuwe, medal geni mangabar abar, genine punika raris masmi puri muwah ragane, turmaning suksma matemahan manadi Alas Poh.&lt;br /&gt;Caritayang ring sampune ida ratu ngurah wayah sakti muwah puri-ne prelina, mangkin raris ki pacung sakti ngelarang yoga, pacang ngawas ge-nahe sane pacang kahulati olih ida muwah panjake sami. Tandwa sa-king cingak (8) jnyanane, kanten andus medal saking tanahe kelod kawuh, sa-king pucak asah. kala irika raris ida nitahang panjake sami mangda memargi ngulati genahe punika. tan caritayang ring margi, kancit rawuh ring genah anduse punika ring munduk kahang. sarawuhe irika, gelis ida ki pacung sakti nitahang panjake mangda ngawangun pondok pondok genah masayuban. panjake sami sayaga ngiringang sakaluwir titah ida ki pacung sakti.&lt;br /&gt;Yan akudang rahina kapa suwen ki pacung sakti malinggih ring munduk kahang, kancit kalaning tengah wengi ida karawuhin antuk pamu-cuk prine sane ngawisesa ring palemahan munduk kahang punika. yan ta ko-cap genahe punika katongosin antuk soroh pri, mambung, setan, samar, gamang miwah sorohnya sewosan.&lt;br /&gt;Sarawuh prine ring pakoleman ida ki pacung sakti, jag ipun mabawos bangras turmaning nangtang. Bawos nyane: “ ih cai pacung sakti, mairib cai tusing pedas yan buwat tongose dini di munduk kahang, kai tuwah ane ngawisesa. nguda dadi cai bani ngawag ngawag nongos dini. nah ne jani, yan iba maidep idup rahayu, lawutang cai kesah uli dini. nanging yan cai tu-sing angen teken jiwa lawutang suba cai nongos dini.” sapunika bawos nyane pri punika, tan dugi muntab kayun kawirosan idane, ri kala mirengang pa-nangtang nyane i pri, raris ida nyawurin.&lt;br /&gt;“Ih cai soroh pri, mambang, setan, bas kaliwat baan cari ngera-wos. cai mirib tusing pedas teken gelah ki pacung sakti, tuah tosning arya sen-tong ksatrya majalangu. jani kene, yan cai tuah enu angen teken idup, kema lawutang cai makisid uli dini. nanging yan waneh cai idup, lanturang nongos dini.” asapunika babawos saling tangtang maka larapan raris ngawentenang yuda. ki pacung sakti matanding ring soroh prine irika sami. Sami pada nang-kepang kawisesan, maka larapan yuda rames pisan. ki pacung sakti karebut olih soroh prine, nanging ida tan kuciwa. Hatusan wyakti soroh prine padem, kantun gantul idup wantah 130 diri. kala punika raris pamucuk prine ngayuh, nyerahang dewek, turmaning su-manggup pacang nyuwita turun temurun ring turunan ki pacung sakti. pinunas prine punika kalinggihin olih ida mahawanan ki pacung sakti maduwe pan-jak samar wiyadin pri.&lt;br /&gt;Maka cirin subaktin panjak prine maharep ring ki pacung sakti, raris ipun sami pada matulung ri tatkala panjake ngewangunang puri ring huluwan predesa munduk kahang, ring sampune puput purine raris kewasta-nin puri priyan.&lt;br /&gt;malarapan saking kapradnyanan ida ki pacung sakti nabdabang panjak gumanti panjake sami sida rahayu, turmaning sami pada sampun ma-nak gumanak, sumayan ngatahang panjake ring munduk kahang, sapunika taler panjak prine taler sampun manak gumanak. saking titah ida ki pacung sakti, raris panjake ngewangun kahyangan tiga, inggih punika pura desa bale agung kahang, pura puseh pucang, pura daleme kawangun ring pecak genah payudane miwah genah prine ngayuh nungkul ring ida ki pacung sakti, maha-wanan kawastanin pura dalem sidang rapuh.&lt;br /&gt;Kinucap wenten putran ida ki pacung sakti kalih diri, sane duhuran mapesengan i gusti ngurah ayunan, sane alitan mapesengan i gusti ngurah tamu.&lt;br /&gt;i gusti ngurah tamu kesah saking puri priyan, ngulati ngauhang mahiringan panjak 40 kulawarga. tanduwa napak ida ring alase katah katumbuhin antuk wit kapas. irika ida jenek melinggih, kasungsung antuk panjake sane ngiring ida. ring sampune [9] madeg agung, raris ida mabiseka i gusti ngurah bramakosa. purine kawastanin puri bungan kapas, kasuwen suwen mawasta bungan kapal. dening kawagedan ida sang prabu nabdab panjak, larapan panjake sami pada kreta raharja, tan kirang pangupajiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VI. Rusaknya Puri Priyan&lt;br /&gt;Saking pangdaning sanghyang parama kawi, yan akudang tahun suwen puri priyane miwah puri bungan kapase mangguhang karahajengan, kancit karawuhan kali, mapwara ratu pada ratu tan maren macengilan. sang prabu priyan mesatru ring semetone ring puri bungan kapas, sami pada ngadu ka-wisesan jnyana. prabhu pryan kawon, kakawonang antuk semut makudang kudang yuta, wetu saking kawisesan ida i gusti ngurah brahmakosa, ratune ring bungan kapas.&lt;br /&gt;ki pacung sakti lilih, rarud nganginang sareng sami, kairing antuk panjake sane teleb subakti. wenten taler panjake sane tan ngiring, nanging ipun makilesan ngarereh genah ngelodang, saking munduk kahang, pamekas para juru canang wiyadin para pemangku kahyangan tiga desa bale agung ka-hang, puseh pucang, muwah dalem sidang rapuh, tan sareng gustin nyane ra-rud.&lt;br /&gt;kinucap lilihe sampun ngalintangin tukad agung tukad sumi, war-ga semute rered ngepungin turmaning mawali malih ka bungan kapas. sasam-pune ki pacung sakti lintang ring tukad sumi, rawuh ring predesa sane dang-sah, irika ida madabdab, kahiring antuk panjake sane kantun bhakti ring ida, salanturnya ring genahe puniki raris ida ngawangun puri, nabdab panjak. duwaning ida pecak kesah saking puri pryan, tan duwa purin idane punika taler kawastanin puri priyan, desane taler mawasta desa priyan. puri priyane ring munduk kahang mawali bet dados alas. mangkin mawasta Alas Pere.&lt;br /&gt;Ring sampune madegdegan jagat priyane, panjake sampun pada ra-hayu, kocap ne mangkin ida ki pacung sakti sampun lingsir, wetu pakayunane pacang ninggal puri. sadurung ida lunga ninggal puri, putrane ring sampune ngambil rabi i gusti ayu pacekan, mabiseka ratu ring puri priyan, mabiseka i gusti ngurah pacung sakti. ring sampune puput yadnya pabisekane, raris ida ki pacung sakti sareng rabine lunga saking puri, ngulati nganginang rawuh ring bukit gede, irika raris ida ngawana srama, ring pecak payogan ida ratu jerake sane nguni. iriki ring bukit gede kocap ida ki pacung sakti ngaluhur mantuk kamoksapada.&lt;br /&gt;Sapamadegan i gusti ngurah pacung sakti ring puri pryan, jagat miwah panjake wiyakti kreta raharja, duwaning ida sang prabhu dahat pradnya wicaksana nabdabang jagat. kahyangan tiga sampun taler kawangun antuk panjake, asapunika taler pamarajan agung linggih ida sang prabhu subakti ring bahtara bhatarin ida, sampun wenten kawangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VII. Rusaknya Puri Bungan Kapas (Kapal)&lt;br /&gt;Ring sampune ida sang prabhu sida ngawonang sametone ring puri priyan, ne mangkin nuli runtik ida malih ring sang prabhu ring puri malguna (margunung). pidukan ida sang prabhu bungan kapal, mawit saking pasadun putrane sane mapesengan i gusti ngurah smara putra, kabawosang ragane ka-nistayang olih putran ida sang prabhu margunung sane mapesengan i gusti ayu ratih. runtik ida sang prabhu kala punika, mawastu sami sami pada ma-mastu. sang prabhu ngamedalang pastu mangda puri muwah jagate ring mar-gunung rusak sadina. Sapunika taler sang prabhu margunung ngawastonin mangda jagate ring bungan kapal katiban grubug. dening pamastune sami-sami ngawetuang, olih [10] sang sane sami sakti mawisesa, tanduwa jagat muwah purine ring margunung rusak. sang prabhu nuli kesah saking puri ngulati ngaler ngauhang rawuh ring munduk bungbung belah. tan suwe ida malinggih ring bungbung belah, kancit karejek olih ki bandesa buruwan, sane kasarengin olih satrya saking karangasem, duwaning dane pacang katurin malinggih ring buruwan, yan sampun nyidayang nyedayang sang rabhu ring bungbung belah. Sedan idane kabasta nuli kacakcak luhuring watu, rehning ida tan sida kanin olih sakaluwirin sanjata pakaryan pande.&lt;br /&gt;Asapunika taler sang prabhu ring bungan kapal, nandang duhkita, duwaning panjake katah sane padem, sakit tan raradan, mawinan katah pan-jake sane rarud, ngaruruh genah sane rahayu. wenten sane ngungsi kaler ra-wuh predesa soka, irika raris ipun jenek magenah. wenten taler sane wawu rawuh ring predesa jangkahan, wenten ka payangan, tajen, srason, miwah ka genahe ne liyanan malih. sasesaning panjake sane rarud punika, taler katah sane kantun satya bakti ring sang prabhu, kirang langkung 40 kulawarga. duwaning kabuwatan duhkitan ida sang prabhu, raris wetu kayun ida pacang seda mrelina raga, putrane kanikayang mangda kesah saking puri bungan kapal, duwaning purine pacang taler kapralina. sapunika taler panjake sane kantun satya ring ida, kanikayang mangda kesah ngelodang saking bungan kapal.&lt;br /&gt;Caritayang ring sampune ida sang prabhu mralina raga, muwah puri, raris panjake magingsir ngelodang, manut kadi patuduh ida sang prabhu raris ngawangun desa kawastanin desa tunjuk, kadabdab olih dane ki bandesa mawastu desane rahayu. bungan kapale mewali dados alas. Putran ida sang prabhu sane mapesengan i gusti ngurah smara putra, kesah saking puri ngulati ngelod kanginang rawuh ring predesa kapal raris masrama ring pancoran empak (mangkin sampun kawangun pura taman sari). saking pancoran empak (kapal), ida lunga ngalerang rawuh ring predesa kekeran. irika ida masrama ngelarang yoga samadi. kasuwen suwen raris kacingak olih ida betara sane ngaluhur ring bukit gede, putun idane kalunta lunta ngaraga, raris ida kahambil saking payogan ring kekeran, sareng sareng raris malinggih maraga niskala ring bukit gede.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VIII Puri Buwahan&lt;br /&gt;Kirang langkung duk ngawitin abad ke XV kinucap wenten sira tusning aya kenceng, rawuh kapredesa tunjuk sareng rabine saneng mungpung ngerempini, ngidamang sarwa woh wohan. duwaning ring wawengkon desa tunjuk wenten alas sane katah sarwa woh wohane, mawanan ida mapikayun pacang malinggih irika ring alas woh wohane. Pekayunan ida punika karawuhang ring ki bandesa tunjuk sane pinaka ngawisesa desane irika sami.&lt;br /&gt;Ki bandesa tunjuk wantah nagingin pikarsan sira arya punika, turmaning ida kahaturin mangda ledang jumenek malinggih, pacang kasung-sung kajenengang agung, nedungin jagat, samalihnya ki bendesa tan mari pacang ngemban ida. pinunas ki bendesa tunjuk punuika kalinggihin olih ida sri arya. kasuwen suwen raris ngewangunang puri irika olih ki bendesa. duwaning purine kawangun ring genahe sane katah woh wohan ipun, mawinan lantur kawastanin puri buwahan. Pekandhelan (11) purine kawastanin desa buwahan.&lt;br /&gt;Ki bendesa jenek melinggih ring tunjuk kala jagate katedungin olih sira arya kenceng, wiyakti panjake sami sentosa rahayu. yan akudang tahun kapo suwen ida arya kenceng madeg agung ring puri buwahan, kinucap wenten salih tunggil putran idane sane isteri jag bobot kantun truni. i putra raris katetes katakenin, sira tuwi sane ngeranayang ida bobot, rehning ida tan nahen lunga saking purian. i putra nguningayang indike bobot idane punika wantah rumasa awor salulut ring ida batara ring batur. duwaning asapunika, atur piuning putrane raris ida sang natha nitahang putrane mangda kairing ka ba-tur ngaturang ayah ring ida batara irika. palungan idane punika kasarengin olih sameton idane lanang adiri, pinaka pangemban wyadin tambyak rahinnya, salanture ida puniki kabyakta ki tambyak.&lt;br /&gt;Sajawining putran ida sira arya kenceng kalih diri lunga ka batur, taler kanikayang panjak mangda sareng ngiring katah ipun 10 kulawarga. tan caritayang pamargin ida sang bobot miwah rakane ki tambyak, sampun reke ida ngewangun desa ring tepin danune, kawastanin taler desa buwahan. sakesah putra putrane ka batur, raris ida sang natha ring puri buwahan nga-wangun palinggih panghayatan maka cihnan ida subakti ring ida bhatar ring batur, kawastanin pura batur buwahan, kasungsung olih ida sang prabhu ka-hiring antuk panjake ring buwahan sami.&lt;br /&gt;Caritayang ida sang bobot tan mari ngaturang ayah pinaka juru canang ring pura batur. kasuwen suwen mijil putrane lanang. sasampne duur tan mari taler ngaturang ayah dados juru canang ngelanturang swadarman biyang ida, turmaning sampun marabi ring mingsikin ida putran ki tambyak (1) putran ki tambyak sane pinih duur lanang taker kaparabin ki tambyak (2).&lt;br /&gt;Kinucap sira pemangku batur sareng ki tambyak sedek makarya ring pabyanan dane, rauh ida betari ring batur saking ngelanglang ulangun, kapangguh olih sira mangku, digelis kasongsong kasunggi kairing mantuk. sarauhe sira mangku ring panelokan, raris ngandika ida batari: “Uduh mang-ku sujati pesan satya baktin mangkune teken manira saking memen mangku lantur teken mangku tan rered subaktine. duwaning manira pedas nawang teken pawongan mangkune, muah nyaman mangkune ki tambyak, mangku tuah mula tusning ksatrya majapahit kaloktah arya kenceng. jani manira mapaica teken mangku pinaka pangwales subaktin mangkune teken manira. nah, ene manira mapaica pecut abesik, pinaka saranan mangku muwah turunan mangkune rawuh kawekas sida nitaang jagat. ki tambyak paican nira cai arit lutir abesik maka saranan cai ngemban ngabih sang prabhu wekasan.&lt;br /&gt;Nah, liatin ento kelod kauh asengkeran badenge ento ditu mangku lakar nitahang gumi turun temurun madeg agung. nanging yadiastun mangku suba kesah uling dini, ede pesan mangku tuna baktine marep tekening manira dini. asapunika pangandikan ida betari batur, raris ida musna tan pajamuga. benjangne raris sira mangku batur sakulawarga kasarengin olih kaluwarga ki tambyak, miwah panjak kasayangan nyane sane ngiringang biyang ida kesah saking buwahan sane rihin.&lt;br /&gt;Tan kocapan ring margi, kancit sampun reke rawuh ring genahe sane katuju masarana antuk pecut paicane. ida sida nitahang jagat asengkeran badenge nguni, nuli jagate punika mawasta jagat badung purine mewasta puri pamecutan. duaning kapradnyanan ida nabdab jagat, mahawanan jagate gemuh raharja tan kakirangan pangupon jiwa.&lt;br /&gt;Caritayang sametone ki tambyak, kanikayang nabdab panjake ring bukit kelod, jumenek malinggih ring predesa unggasan, pinaka tabeng wijang ida cokorda pamecutan (badung).&lt;br /&gt;Kasuwen suwen ki tambyak (2) maduwe putra mapesengan i gusti unggasan. i gusti (12) unggasan nurunang ki bendesa unggasan. ki bandesa unggasan maduwe putra kalih diri sami lanang inggih pnika i unggasan miwah i tapak wiyadin i papak. ki nucap i tapak, sajawaning inan limane, maka patpat jarijin limane tapak wiyadin pada. ri sampune i unggasan miwah i tapak jajaka, lunga saking desa unggasan ngulati ngalerang raris jumenek ring sobangan. i unggasan gaginannya ngadol tuwak, dados dagang tuwak. i tapak gaginannya ngangon, wekasan dados papatih ring puri priyan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IX. Dukuh Titigantung&lt;br /&gt;Kacarita wenten reke dukuh, masrama ring titigantung, wawengkoning jagat priyan. nemonin rahina ayu sira dukuh ngewangun yadnya (dewa yadnya), ring mrajan dane. ida anak agung priyan (i gusti ngurah pacung sakti), kahaturin mangda ledang ida ngaksi mungguing kawentenan yadnya dane punika. nanging ida anake agung tan ida mresidayang rawuh ri kala yadnyane kalaksanayang. benjang saking rahina payadnyan i dukuh, raris ida anake agung lunga maburu ring alas padang jerake.&lt;br /&gt;Ri kala ida wenten ring tengahing alas, kancit turun sabeh bales pi-san, mahawanan ida sang nata maembon ka kubun dane i dukuh. i dukuh raris ngaturin ida sang nata linggih pisagan dane, duaning ajerih kasengguh ngaturang layuban rehning wawu dibinane ngalaksanayang yadnya. duaning busanan ida sang nata telas belus pucut, raris i dukuh ngaturin ida wastra anyar, miwah rayunan sane sami lakarnyane kaselangang ring pisagan dane. cutet ipun, sami sami pada sukla. ledang kayun ida sang nata, nampi pasuguh dane i jero dukuh punika. ring sampun wusan sabehe, raris ida sang nata bu-dal mantuk ka puri. Sarawuh ring puri, raris ida katakenin indik idane polih wastra anyar, miwah ring dija ida ngarayunin, olih rabin ida sane mapesengan i gusti ayu pacekan. ida sang nata raris nartayang saiindik idane simpang ring kubun i dukuh ring titigantung. miharsa pidartan ida sang nata, polih wastra miwah rayunan ring kubun dane i dukuh titigantung, mawastu duka ida dewa agung isteri, sinangguh i dukuh ngaturang layuban, duaning wawu dibinne da-ne mayadnya. kala punika raris i gusti ayu pacekan ngutus i tapak mangda nyedayang i dukuh, duwaning kasengguh dane purun plangpang ring sang nata ngaturin surudan. i tapak digelis mamargi ngalaksanayang pituduh i gusti ayu pacekane.&lt;br /&gt;Sarawuh i putusan ring kubun dane i dukuh raris nguningayang buat pangrauh nyane malarapan antuk sangkaning titah ida sang nata ring puri priyan. i dukuh wiyakti tan tulak ring kabuatan nyane i putusan, na-nging dane pacang mabresih dumun sadurunge pacang kasedayang. sasampune i dukuh puput mabresih raris i tapak nuwek dadan dane i dukuh tandwa ra-ris seda. i putusan raris mewali ka puri nguningayang buat swakarannya sam-pun puput, i dukuh sampun seda.&lt;br /&gt;Mangkin kacarita i dagang tuak (i unggasan) becik becik ring dane i dukuh titigantung, mahawanan nyabran ipun ngadol tuak ka bancingah pri-yan, tan mari ipun simpang ring kubun dane i dukuh. kocap nemonin mang-kin i unggasan pacang ngadol tuak ka bancingah priyan, singgah ipun ring kubun dane i dukuh. jag kapanggih i dukuh seda ring natar kubune. irika ipun kawewegan turmaning ngeling kangen ngantenang layon i dukuh seda malarapan antuk katuwek. tan suwe ipun nongos ring sampingan layon i du-kuhe jag wenten kapiragi sabda mantara. daging sabdane, “uduh cening cening unggasan, tulungin bapa dabdabang jebos kurungan bapane, nyanan bapa lakar ngemaang pasikepan, maka jalaran ceninge lakar sida dadi agung nitah-ang gumi.” asapunika sabda mantarane karengo, raris i unggasan makarya genah pacang genah masmi layon dane i jero dukuh.&lt;br /&gt;[13] tan suwe raris basmi punika layone, jag saking andus panunjelane wenten medal keris luk selikur. kerise punika raris kaambil an-tuk i unggasan, kacelepang ring sanan tuaknya lantur ipun mamargi malih ngadol tuak ka bancingah priyan. sarawuhnya i dagang tuak ring bancingah purine, tandwa sami pada angob, turmaning ulap anake ngantenang pangra-wuh i dagang tuak punika. indika punika nuli kahaturang ring sang nata, antuk parekane sane sareng mangguhang indike punika. tan suwe ida anake agung raris medal ka bancingah. ida sang nata taler uplap nyingak kawenten-an i dagang tuak punika, kapikayun janten wantah ipun mamuatang barang sane utama. duaning asapunika, raris kanikayang i parekan mangda nauhin i dagang tuak mangde rauh pedek tangkil ring ida anake agung. i dagang tuak raris nangkil ring ajeng ida sang nata. irika ipun katetes katakenin punapi sane bawatanga mahawanan sida ngardi ulap sang ngatonang deweknya. nanging i dagang tuak nguningayang dewek nyane tan muwatang punapa punapi, sajawaning tuak kewanten. ida sang nata tan ngugu baos nyane i dagang tuak, raris ida ngandika malih. uduh cai dagang tuak, eda cai tuara ngeraos ane pasaja. gelah mastikayang, sinah cai ene ngaba barang ane utama. nah yan cai suba nyak ngaturang barange ane utama ento, gelah lakar ngicen cai gumi, sadauh tukad sumine (sungi), cai nitahang gumine ditu makejang. asapunika wacanan ida sang nata raris i dagang tuak ngaturang punika keris sane kapikolihang ring kubun dane i dukuh titigantung. sesampune keaturang kerise punika, premangkin edep tejan i da-gang tuake, sakadi jati mula malih.&lt;br /&gt;Kinucap sadurung i unggasan mapamit pacang malinggih ring dauh tukad sungine, wenten malih paican ida anake agung, rabi (selir) mapesengan ni luh jepun, pecak putran dane i bandesa balangan, sane sedeng mobot wayah 7 bulan. punika kapaica ring i unggasan karuntutin piteket, “nah unggasan, ene ajak rabin gelah ditu ngoyong di dauh tukad. sawireh iya anak suba misi, turmaning suba tambis embas, jani ada pabesen gelah teken cai, satonden ana-ke alit embas, ede pesan cai aor salulut ngajak iya ni luh jepun, apang eda kaaorin getih elen, buat getih gelahe ene.” i unggasan ngiring ring piteket ida anake agung, nuli ipun mapamit saking puri pryan, kasarengin olih ni luh je-pun, miwah i tapak taler sareng magenah ring predesa sane mawasta uratmara (marga).&lt;br /&gt;Kinucap indik i unggasan, polih paica rabin ida sang nata priyan, sane sampun mobot, kapireng olih ida padanda ring geriya batulumbang, raris ida pedanda maputusan ke uratmara, mangda i unggasan sareng ni luh jepun tangkil ke geriya batulumbang. tan kocapan i putusan, caritayang mangkin i unggasan sareng luh jepun sampun pedek tangkil ring ida pedanda. kala irika ida pedanda ngandika, “uduh cening unggasan, ane jani bapa tuah ngidih ja-lan teken cening, maka larapan bapa nyidayang ngewalesang buat kasombo-ngane i gusti ayu pemacekan, duaning duking nguni bapa kanistayang kaca-cad, kalan bapane masiram di yeh gangga, bapa kacacad sawireh muwan ba-pane burik ene. duaning aketo ne jani bapa lakar mapaica kawisesan teken anake alit ane ada di bobotan ni luh jepune, maka larapan riwekasan sida nguciwayang ngalahang putran i gusti ayu pemacekan. pakayunan ida pedanda kahiringang olih i unggasan miwah ni luh jepun.&lt;br /&gt;Ring sampune ida pedanda puput lumaksana micayang kawisesan raris malih ida pedanda mawecana: “cening unggasan, wekasan lakar mijil anake alit lanang. parabin nyananne ida arya, duaning ida mawit sakeng rah rwa. ida ento nawit sangkaning rah bapa. arya mawit sangkaning rah kesatrya, tan len ida sira arya sentong, ane mabiseka i gusti ngurah pacung sakti.&lt;br /&gt;Kala punika i gusti ayu pemacekan sampun maduwe putra lanang adiri, mapesengan I Gusti Ngurah Batan Duren.&lt;br /&gt;walining caritayang ni luh jepun, sampun reke maputra lanang, kapesengin ida arya. minab sampun saking pangdaning widhi, ida arya wawu mayusa kutus bulan, nuli katinggal seda antuk biyang ida. tatan asuwe, kala ida arya mayusa satahun, raris katinggal olih i unggasan taler seda. maha-wanan salantur ipun ida arya kahemban olih i tapak (i papak). [14] yadi-astun kantun alit sampun katinggal yayah ibu, nanging anake alit wyati waras, turmaning swabawane agung mawibawa utama, duaning ida jati tos-ning satrya luwih mawisesa. X. Rusaknya Puri Priyan (II)&lt;br /&gt;Kinucap ring sampune ida arya mayusa dasa tahun, mangkin wetu hidepnya I papak pacang ngaturang anake alit ring ida sang nata ring puri pryan, duaning karasayang tan patut ipun ngemban anake alit salami lamine.&lt;br /&gt;gelising cerita, sampun reke anake alit kahaturang ka puri priyan turmaning ida sang nata langkung ledang nyingak swabawan anake alit kapikayun wantah jati putran ida. duaning pecak sampun kapiserah ring i unggasan, awanan kawentenan anake alit ring puri wantah sakadi parekan. kasuwen suwen sumayan duhur ida arya. ida sang nata sumayan sayang ring ida arya, jantos sering ida kanikayang sareng sareng sirep ring pamereman ida sang prabhu.&lt;br /&gt;kauningin pedabdab ida sang prabhu asapunika olih ida i dewa agung isteri (i gusti ayu pamacekan), tandwa metu kayun ida sangsaya miwah irihati ring ida arya, sangsaya dayan ri wekas putrane pacang kateler, tan kahadegang agung, ri tatkala sang prabhu sampun lingsir. punika maka larapan ida nuli ngarincikang pangindra upaya sandi, gumanti ngardinin sedan ida arya.&lt;br /&gt;kocapan ida sang prabhu, mungpung lunga maburu kahiring an-tuk pada panjake, ke alas padang jerake, kala punika i gusti ayu pamacekan molih pangaladesa, ngardi sedan ida aryane. ida arya kandikayang numbas sedah ka bancingah. wawu ida arya rauh ring arepan i dagang sedah, jag ipun i dagang sedah jerit jerit nunas tulung mawosang deweknya kaplagandang olih ida arya.&lt;br /&gt;kawentenan indike punika, raris i gusti ayu pamacekan nitahang parekane sami mangda ngejuk tur nyedayang ida arya, duwaning kabawos ngaruhara jagat, tur ngardinin sepung kaagungan ida sang nata. ida arya ru-masa ring kayun, mungguing ragane pacang kasedayang, digelis ida melaib ngelidang raga, mengkeb ring pamereman ida sang prabhu, mahawinan endehe tan sida manggihin ida arya. pinghajeng ida i gusti batan duren tan mari ngambil keris, praya nyedayang ida arya, nanging ida arya tan kakeniang.&lt;br /&gt;sarawuh ida sang nata saking maburu, raris kauningayang indik indik ida aryane sami olih parameswarin ida, nanging ida sang nata tan ngugu piuning parameswarin idane punika, duwaning ida sang nata sampun tatas uning ring kasusilan miwah subaktin ida aryane. caritayang benjang pasemengan, ida sang nata sampun malinggih ring bale wantilane, turmaning sampun pepek para patih miwah bahudandane sami, rawuhing i gusti batan duren, ida sang nata taler sampun malinggih ring panangkilan. Kala punika raris ida sang nata (i gusti ngurah pacung sakti) mangandika: “uduh paman para papatih makejang, suudang suba jani ngaruruh ida arya, sawireh iya suba pangguhin manira. nah jani lawutang kema alih iya ka pemereman gelahe, orahang manira ane nauhin, apanga iya mai ka panangkilan.&lt;br /&gt;tan caritayang i parekan sane ngaturin ida arya, sampun reke ida [15] pedek tangkil ring ajeng ida sang nata, raris ida sang nata ngandika banban halus: “ uduh cening batan duren, duaning cening tuah sarat pesan lakar ngematiang ida arya, nah lawutang cening laksanayang kayun ceninge ento. nanging sawireh cening mula tosning kesatrya turunan arya sentong sane mabiseka pacung sakti, tan wenang tuwah cening ngalahang musuh ane tan pasanjata, apa buwin antuk ngarebut anak padidiyan.&lt;br /&gt;Hane jani, apang cening ngalaksanayang perang tanding ngajak iya Ida Aryya." Asapunika bawos ida sang prabhu, kapatutang pisan olih para papatih, bahudandha sami sane wenten ring panangkilan, turmaning putrane i gusti ngurah batanduren sahiring kadi wacanan ida sang natha. ida aryaa taler tan purun tulak ring titah ida sang natha, pacang sahiring ngadu kapurusan ring rana pabhratan. malih mawacana ida sang prabhu: “uduh cening batan duren mu-wah ida arya, sawireh cening pada sayaga lakar metanding ngadu kaprawiran, jani ada gaguwet gaguwet ceninge mayuda. buwin jahan yan pet ada ane jerih lilih di payudan, yan cening batan duren lilih malaib nganti ngaliwat kangin dangin tukad penet, cening ida arya tan wenang ngetut ngelantur, ento maka bukti cening batan duren kalah dipasiyatan. aketo masih salanturne, yan ida arya suba lilih ngawuhang ngaliwat tukad sungi, cening batan duren tan we-nang ngetutang, ento maka bukti ida arya suba kalah.” asapunika gaguwet yudane, sang kalih sami pada sahiring.&lt;br /&gt;Pinih rihin i gusti batan duren kanikayang ngambil keris pusaka-ne sane katahnya 124 siki, mangda punika kapilih, turmaning i gusti batan duren sampun ngambil tur milihin keris pusakane sane pacang pinaka sikep ida mayuda. salanturne, ida arya mangkin kanikayang ngambil milihin keris, taler jag kerise sane luk selikuir sane kahambil. ping kuda-kuda kanikayang mawali wali ngambil keris, jag sane maluk selikur sane kahambil, inggih pu-nika keris pecak kahaturang antuk i unggasan (i dagang tuak) sane kapi-kolihang ring titigantung.&lt;br /&gt;caritayang yuda pacang kakawitin, kawentenan wantah ring bancingah preyan, para patih bahudanda miwah panjak preyane sami medal nonton perang marep ring ida arya, punika rawuh ring wong jrone sami pada sareng nonton. kala punika kinucap ma pah kalih pada manah panjake, wenten sane sahilon ring i gusti ngurah batan duren, katah taler sane nyumbungang kautaman ida aryane. ida sang rabhu pinaka saksi sajroning yuddha punika.&lt;br /&gt;tan kocapan mungguing keramesan yudane, sami pada waged [16] saling tusuk saling tangkis, ngardi panjake sane nonton punika pada angob ring kapurusan ida sang kalih mayuda. yan akudang rahina suwen yudane ring bancingah, kancit kuciwa i gusti ngurah batan duren, nuli ida lilih nganginang, kasarengin antuk panjake sane sahilon ring ida, tan mari kakepung, ring dangin tukad penet wawu ida arya wusan ngepungin tur mawali malih ka bancingah priyan, nguningayang indik i gusti batan duren sampun langkung tukad penet.&lt;br /&gt;kabaos i gusti ngurah batan duren sasampun ngaliwat tukad penet turmaning tan kantun kakepung olih ida arya, raris ida nabdab panjake sane sahilon ring ida, ngawangun desa miwah puri, kawastanin purine puri carangsari. irika ida jenek malinggih, jumeneng agung nabdabang jagat mabiseka salit pacung.&lt;br /&gt;caritayang ida sang nata, ring sampun ida miarsa atur nyane ida arya, mungguing putran idane kuciwa ring payudan, turmaning sampun lilih ngelangkungin tukad, kala irika ida raris ngandika ring ida arya. “uduh cai ida arya, yan aketo unduke, jani manira ane patut tangkepin cai mayuda.” asapunika bawos anake agung, nuli matur ida arya. “inggih ratu sang prabhu, nawegang titiang tan sahiring kadi pangandikan i ratu. titiang tan purun ring sang nata, yadiastun titiang pacang dadi agung, yan malarapan mayuda mameseh ring i ratu, titiang tatan ngiring. banggiang sampun titiang pacang padem wiyadin dados parekan ring buk padan sang prabhu.” asapunika atur ida aryane maduluran tangis, duaning ida langkung subakti ring ida sang prabhu.&lt;br /&gt;sang prabhu malih ngandika. “uduh ida arya, tan patut cening maidep aketo, apang cening pedas teken swadarmaning kesatrya. kesatrya ane utama, tan wenang nulak panangtang musuh, tur tan nyerahang kaagungan tekening satru yan tonden matalangang jiwa. wireh cening mula tuah tosing kesatrya utama, lautang jalan cening ngadakang yuda, sakewala ada piteket manira, yan manira kalah matanding ngalawan cening, lawutang basmi upa-karain manira sapatutne, turmaning linggihang dini di mrajan agung. cening kesah uli dini, kema cening ngewangun puri di uratmara, nanging eda pesan cening lali tur long subakti teken merajan agung dini.” asapunika daging ba-wos ida sang prabhu, larapan ida arya ngiringang ngawentenang perang tanding mahajeng ring ida sang nata. tan baosang yudane pamuput seda ida sang prabhu, raris layone kabasmi olih ida arya, manut sakadi pangandikan idane nguni. kinucap kala basmi layone, sa-king asepe jag wenten medal naga kahang, tur mabur anglayang ring hamba-rane, wekasan ical.&lt;br /&gt;caritayang ida arya ring sampune ida puput ngupakara ida sang [17] prabhu, raris kesah saking uri priya muatang sakatah daging purine pinghajeng keris keris pusakane sami kabuat kahiring antuk panjake sami sane subakti ring ida.&lt;br /&gt;sarauhe ring uratmara, raris ngewangun puri ring pecak pakubon i unggasan, miwah ngawangun pahibon ring pecak linggih sira arya sentong ngelarang yoga samadi nguni ring puser tasik. purine mewasta puri agung marga, irika ida arya jumeneng agung nabdabang panjak. saking kapradnyanan ida nabdab gumi, mahawanan jagate gemuh landuh kreta rahayu. kabawos kala punika nuli rawuh malih ngawula watek samare sane 130 diri, pecak panjak laluhur ida sane nguni, dados tumbal, nyaga karahajengan purine miwah sang jumemeng agung. kasuwen suwen kinucap sang prabhu ida arya maduwe putra lanang tigang diri miwah istri 4 diri.&lt;br /&gt;putran idane sane lanang-lanang: (1) i gusti putu balangan, ring sampun ajine mantuk, jumeneng agung, (2) i gusti nengah balangan, (3) i gusti ngurah celuk, kesah saking puri agung marga ngawangun puri ring belayu.&lt;br /&gt;i gusti putu balangan maduwe putra: (1) i gusti ngurah balangan, jumemeng agung ngentosin sang aji, (2) i gusti ngurah oka, (3) i gusti ngurah tembahu, kesah ka priyan ngewangun puri nitahang panjak. i gusti ngurah oka (2) maduwe putra: (1) i gusti ngurah oka, (2) i gusti ngurah tabanan, kesah saking puri agung marga, ngawangun puri tur jumeneng agung ring kukuh.&lt;br /&gt;witning molih satwa satwa saking (1) pan merta, apuan baturiti, (2) pan reti, tunjuk tabanan, (3) i made tajen, baru marga, (4) ida bagus rai wirasuta, marga, (5) i gusti made pidada, marga,(6) ida bagus nyoman smara, geriya gede belayu. katuptupang, kapipil antuk i wayan narji, tunjuk tabanan.&lt;br /&gt;puput katedunin ring amlapura, de sang apasajna ida i dewa gede catra, jln untung surapati, gang plamboyan, no. 2, amlapura, karangasem, kala tanggal 31 januari 2008. nging ksamakna ngwang mudalpa sastra.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ida Bagus Sidemen&lt;br /&gt;tungtunging gesing asrami&lt;br /&gt;lisikan kalih cacakan limolas&lt;br /&gt;loring tenten&lt;br /&gt;denpasar 2009&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Copyright: Godefridus Dijkman, November 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1369378906719126273-699693028838763180?l=babadnusapenidamenggugat002.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://babadnusapenidamenggugat002.blogspot.com/feeds/699693028838763180/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1369378906719126273&amp;postID=699693028838763180&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1369378906719126273/posts/default/699693028838763180?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1369378906719126273/posts/default/699693028838763180?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://babadnusapenidamenggugat002.blogspot.com/2010/03/babad-np-fersi-kerajaan-maja-langu-dm.html' title='Babad NP Fersi Kerajaan Maja Langu DM'/><author><name>I Wayan Lugra</name><uri>https://plus.google.com/109171635567899780184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-Yl4tsswI00Y/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/2qMVv2LoKuE/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;AkMESX86cSp7ImA9WxBaFkg.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1369378906719126273.post-3402597935984583955</id><published>2010-03-27T08:47:00.005+07:00</published><updated>2010-03-27T09:53:28.119+07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2010-03-27T09:53:28.119+07:00</app:edited><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Babad NP Unduhan Dunia Maya.'/><title>Babad NP Fersi Bali Bondan DM</title><content type='html'>Bali Bondan, Nusa Penida  Rontal druwén          : Ida I Déwa Gdé Catra,  Jln. Untung Surapati, Gang Flamboyan No. 2 Amlapura&lt;br /&gt;Sané nêdunin            : I Wayan Drêûþa, Lk/Br. Susuan Kêcamatan dan Kabupatén  Karangasêm, Jalan Sérma Natih No. 23 Amlapura&lt;br /&gt;Tanggal ngêtik           : 10 Nopémbêr 1997&lt;br /&gt;Katêdun malih antuk  : I Déwa Ayu Puspita Padmi,  Perumahan Kecicang Indah Blok I C. 8 Bungaya Kangin, Bebandem, Amlapura  80861&lt;br /&gt;Tanggal nêdun          : 23 Nopémbêr 2007             /1b/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;ÕNG  awighnam astu. Pasang tabé ya ta nghulun ring   bhaþàra Hyang Mami,  ikang kahulà hanuhun wara krêttà nugrahà ri paduka nira   pukulun,  lamakané tan kataman hila-hilà ri sira hyang hyanging karuhun,   makàdi  ri sira sang huwus mor ing hyang, dumadak kûama hulun, hamangguh    sarwwa wrêddhi, dirgghà yuûa, katêkéng santana pratisantana, namostu  jagat   dhità rikéng jagat, yan ana hanlêmpaning kata, wastu sampùróam  mné ta hulun   hamrêkrêtaning kata karuhun, harêp cumangkah hanambat  kata karuhun, yaya   sambawa dahat, déné wênang mati rwat ira. Iki  rungwakêna ikang kata carita, i   ngùni duking duking jagaté               karàkûasan, hanané sira Bhaþàri Umà, tatkalané sira   tinadah dé nira  Sang Hyang Paramà Gurù, matangnyan mangkanà saolihé Bhaþàra   Umàdéwi  maglêng ri hanak ira Sang Hyang Kumarà, sira hanadi witting jaka,    akabun-kabun, olih ira hanungsang romà, hanunggalang suku, tan sah  umijil   ikang buh nikang santên, yatiku hinuyup olih hanaké, sira  Bhaþàra Komara,   sama rasané lan susuning ibu, mwah ibunya tan  kinratan, lwir kàla hadrês   huswasanya, mamirah nétranya kalih, sakûana  sira umijilà syung úalit,   pinantingakên tang hanak irà bêntar ta sira  hira             Bhaþàra Kùmara, kabuñcang galih nirà ring úiwàdwarà,  yatà   hinlên hutêknya déning hibunya, wawu pwa sira hakêcap-kêcap, wruh  pwa sira   Sang Hyang Paramàgurù, kalanya harùpà rakûasi, kaya  himimitanya hinuduh   magnah ring madhya padhà. Mangkin sira Bhaþàra  Umà, mangrad ta sira Bhaþàri   Rohini, hasawità syungnya, lwir  durgghàbucari, hananging maring dalan-dalan,   tan sah  mrabês luh  lunyang santên nrêpis titir ring siti, yatikà doning   mlêtik gdhang  sabhà, i wêkasan ikà wnar maka sasangùning raré, hapan gdhang   sabané  wijil saking buh ning susu. Mwah sira duknya mangkana Bhaþàra Rohini,    hakayangan ta sira ring             Bukit Mundhi, hangaji ta umah sama  ring úwargga. Mwah sira hangaji, mêtu   bababutan kabéh, ika padha  ngêmitin, ika dwaning têngêt tan sapirà, mwah ri   kalan Bhaþàri tinuduh  kamanùûan, ikà yana ngaran nuûà, dukning bali bondhan.   Mwah ta sira  Bhaþàri Rohini, hangadñana sira putrà ÕNG ANG lah hawêtu, hana   sirà.  Ratu Sawang ring pucaking bukit Mundhi, hatyan kabhinawa pwa sira,    sabran rahina ta sira mangolah-holah manùûà, mwah úakti sira tan  papadhà,   mangké pwa sira Ratu Sawang, hangalap rabya, pwa sirà maputra  pwa sirà   jalu-jalu rwa tunggal, mapasajña Ratu Rênggan, Ratu Rênggin,  kahanggé   kompyang             olih sira Dukuh Jumpungan, matangnyan  mangkanà, wétning sira wit tan wnang   Hindhu singgih kabrahmaóan, ya ta  hingaranan sira Radén Jumpungan ring Hióðu,   sdêké sira paprawonan  hanglinggihin tan kasêman hanggawo ya lolohan ring   Pênidhà, irika ta  sinancang. Wétning pagêh hingaran dukuh hikà putrané Dyah   Ranggini,  hinalap dé nirà Satu Sawang. Mangké sira sang Ratu Sawang humadêg    dalêm ring bhumi Nùûà, habhiúékà Úri Dalêm Sawang, hapan sira  mangwasayang   sang wwang bhumi nùûà, hnêngakna katha Dalêm. Gumantya  sira ratu   Rênggaranggin, ya ta hinguruk dé kompyangé huwus wruh ring  ngadêg ing wwé,   wruh ring pañaranging wwé, wruh hamubur butalà               hatêmahan sàgara, déning sahika winéh sira prabhu, kinon   ta sira  hañalanang, déning kompyangé, mangké sira kalih kahamandéganin, mwah    sira ratu Rêngga Rênggin pinaka madêg patih, tur hangalà-halà hambêké  Rawaóa   tulya, sabran rahina matmah wré. Yadyapi sira sang aji Sawang,  malar pwa sira   ring bukit Mundi, abhérawa krama nira karakûasan, hasih  sira, hañada raûa, hangolah   jadmà. Yan pira lawas sira kunang,  hamùkti hanramangúà, nêngakna. Mwah   caritanên ta sira sang ratu kalih,  sahitya sira paprawonan tarkosêman   karaning ta sira hangkara, kaya  Rawàóà, wtu hyunirà wruh, ring kasiddhyan   nirà hyanging gunung ratu,              mangkana dé nira minton hanglêpasa ta sirà wakutis saha    wéci, gumariyung makêbur ring  gaghaóà, matêmahan kagyat watêk déwatané    ring gunung, hangadu pungpating samburat, irika ta duka pwa sira  hyanging   gunung ratu, hanganani sira hudan apuy, ikà ngvesêngi,  matêmahan gêsêng   bêdudané handadi hawu, gêsêng katêkéng lêbak  galintung, hana gunung hadumma   tan papêgatan, dwaning ikà ingaranan  bukit pawon, dwaning hingaranan lagà,   duk gniné hakumpul kadi danu,  mwah gêniné lumantas, kaya guntur hangêsêng   sakawaran, ika ngajaring  lêmbah hapuy, mangkana kamimitanya kadi hajêng, ri   wêkasanya nàpakàlà,  malardarang masà kandapan, hana hyun ira wruhà ri             hyanging  gunung ratu, hagé ta sira hangujurang prahu tan   hasêman irika ring  Padhang Baé, hamasanga japa mantra, amtêmahan lunduh ikang   prêtiwi,  hatêmah wwé, sakûaóa lindhu kang bhumi, kagyat watêking hyang   hyanging  gunung, sama kapalajêr mungsi ring gunung ratu, hangoninga tingkah    ira prahuné haniñcap praya ka gunung ratu, déning sahikà, kamantyan  duhka   nira hyang. Hapan ring gunung agung déwaning mahà Bali,   yata  tinapak kang prahuné, déning panañjung, hakirig pwa yà, muwah wwéning    sàgara mahocakan, juraganya padha paling mapusingan padha ngutah-utah,  dadya   ta kadum&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_1Oq1qRRP-eo/S61y5BXdAlI/AAAAAAAAAak/1vkqZ5a6voQ/s1600/nusa_penida800.JPG"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 265px; height: 212px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_1Oq1qRRP-eo/S61y5BXdAlI/AAAAAAAAAak/1vkqZ5a6voQ/s200/nusa_penida800.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5453141047760454226" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;prat ikang gunung hatêmahan             pêgat karêm kang  prahu déning hangin hapusingan, prahuné   matêmahan kandas ikà dwaning  hana gunung hanak, mwah sadagingnya samwa   kumêlêm ring têngahing  sàgara. ikang juragan kabéh haniba ring pasir   hanglalangi kadi pêñu,  kasampuh ring tpining nùûà, wonging Hindhu ikà   humêdhêk sira ring  Dalêm Sawang, hangùninga tingkahé, suba-suba, tumuli   bêódhu ta sira  Dalêm, hanon prahu nira rusak, dadya tan surud hyun ira runtik   ri sira  hyanging Bali têngah, didiné hana ngawighna ring jagat Bali, katka    têkéng dlahà, dwaning kasapa juragan ikà kabéh, dumadak hapanga dadi  bala   samar katêkéng dlahà, babhuktyané basang - basanging wwong  hangkên hatahun,   hana maka pañampuranya, dadya             kinon ikang  samar, padha mangun pakuwuwan têpining pùrà,   kakêmit déning ki bala  samar, kala irika úri aji angulurin kang angkaraning   budhi, tan surud  pwa sira hangolah jadmà. Mangkana mimitaning jagaté ring   nùûà, dwaning  têngêt tan hana wani haclangapan, hnêng akna ikang kathà.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wus  alawas lawas kalà kang jagat katiñcaping sangharà, tabé ta nghulun tan    kataman upadrawà, dadya ta manastapa ta bhaþàra ring gunung ratu, tumon    hatingkahing walêm ring Nùûà, hamangan naramangúà, mwah wwonging  nùûà, tan   tuna hangêmasin pati, hingolah waduké holihanya i bala  samar, wus kalugra             olih Dalêm ri Nùûà. Ika matêmahan runtik  angên ira raja   Bali, Bhaþàra ring gunung ratu, raju pwa sira mangké  yan hangêntas pwa sira   witing dukut pêtak, hingaran padhang kasnà  tumuli angastrén pwa yà, mangké   dadya pwa sira wwang hapêkik ring tata  warónan ira, prawirà pwa sira,   akakasih sang aji Dukut, sira ta  hingadu dénira bhaþàra, ya ta hamaténi sira   Dalêm Nùûà, doûanya  hamangan manuûa, pjah pwa sira holih kris ratóa kañcaóa   hajajaton  lungiding manuk déwatha, hiku ingastrénan déning japa mantrà.   Kunang  salinané sang aji ring Nùûa, kalaning maholahan, mwah hana palungguhan    ira lungkà-lungkà maóik, ri kana sang aji Dalêm lulut halungguh,               tana, dalaning   haprang, mwah salêbat ira sang aji Nùûa,  humantuk ring tayà, krodha ta hibun   nirà Bhaþàra Rohini, ya ta  kaborosang danuné, tumuli mahurusan ka samudra,   dadya rantaban wwang  Nùûà, padha nambêlin, nora kawênang, doning hana ngaran   têgal  Tambling, mwah buh susu hasurupan ring wintang gdhang sabà, mangkana    pidarthanya pjahnya tan pakléwaran, padha mulih ring úwargga, nêngaknà.    Halawas-lawas pira-pira kunang suwén ikang loka caritanên pwa sira ri    pangadêgan irà Bhaþàra Krêûóa Baturénggong, hakadatwan ring úwéccha  lingarûa   pùra, wyakti gêmuh pwa nikang ràt, malêþik ikang sarwwa nadi,  sasab mraóa padha   wurung, para tandha mantri padà rahayu, nora               hacêngilan, padà lawan rowangnya, hingarêmba déning patih,    mwang sang arya samudayà, sama wit turunan Wilwatikta, mwang hana Kyai    Paminggir, mulaning Bali rêndah hanak, ita lwih wangúa, sdhêng hinarêp  akên   olih Dalêm, kang handiri ring úwéccha purà, ika ta hangidêring  puri ning Dalêm,   mwah Kyayi Paminggir, kapêrnah kompyang déning Ki  Gusti ….. Manguri, hapaning   manguri maputra Kyayi Popongo. Rakriyan  Popongo pwa sira, maputra Kyayi   Ngùrah Alit Kawan, putrana Kyayi Gusti  Paminggir. Mwang hana pwa sira harinya   stri, harané Ni Gusti Ayu  Kutri, kalap dénya Kriyan Mogol, dadi lêlintah,   doûàné harabi lan  panaké,             Ni Ayu Kutri lwar saking Gélgél, wétning kagila-gila    tumoning lintah. Nêngakna ikà.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mwah hana carita amngké tan lyan  ira Dalêm, hanamtami kapti, ya ta yang kramà   maring Panataran Padhang,  sarwwi ta sira haburù, mwang hapikat, kahiring olih   praménaké,  katkaning juru boros, makadhi ta sira Dalêm mapadati, pangorêgé    wêtwing pangajaran, ikà ta mangorêgin, salampah lakun hida Dalêm, tan  lyan i   pangajaran mangorêgin, katyanta padha samaptà, mwah ri hulihé  Úri Aji sakéng   Padhang, tinon ira wwong saking Nùûà, sama ta padhà  sdhêg, padà ngêmbêng   waûpà, rawuh ring pamêkêl saking Gulingan, padà  sdhêg, hatùrnya              patêh, nguningang tingkahing Dalêm Nùûà,  margané nora   ngrabinin wwong arabi, wétning úakti Dalêm, kawula tan  purun. Hanghing Dalêm   Bali nahyaning sasajà kéto. Lautang suba siga  mulih. RI wkasan halawas mulih   ta sira Dalêm tumuli sira hangangkatang  dulang Mangap, spa kwéhnya, samà   prawira hatinðih Dalêm, Ki Gusti  Paminggir twanyà hingadu, tur padha   hajujukungan, hamunggah ring  Jumpahi, ring cdhok handog, mwah sapraptané rikà   samà satut hingiring  hyun ira Dalêm, ikà dwaning samà girêt amargi sarwi   hasasurakan, mwang  hatatuñjêlan lan abdilan, déning nora hana hanimpalin, ikà   doning  kari              hanggêgêr, nêng akna mwah. Caritanên mwah pwa sira  Dalêm   Dukut, wyakti sira hatingkahing pañca wiûayà, hañmara dwéûà tan  pinrêtan,   hangrabinin wwang arabi, hagawé kéliking jagat, hagawé  haro-haraning jagat,   mangkana juga pêñcêp irang Dalêm. Wus mangkana  tumuli kagyat pwa sira Dalêm,   ri hulahing wwong Bali, hatutuñjêlan,  mrêkpsa ngusak-asik, nànging tan hana   sangkétanyà, dadya ta sêndhu ta  sira Dalêm, tandwa hingundang ikang balà   Samar, dhatêng ta balà samar,  sama hanggawa pdhang apuy, sahasà padà mrang hamatrêm,   hamét waduké  rinumbah gilé, wwong baliné sami rasa tan pabayu, nglêmayang    nglêmayung, tan pajajah prêsamà hagrah,  hana padhêm kadinginan, hana  mangêtngêtan   ring sukêt,             mwah sajawaning pjah kapraóan,  prêsama tulak ka Bali,   malar binuru déning bala Samar, hinurug    déning poténg hapuy. Mwah saprapténg Bali, matêmahan pêjah, kabéh tumus  katka   tkéng I Gusti Paminggir, sira hangêmasin anta, tumuhur Ki Gusti  Kulon ring   Dalêm, ngùninga sapratingkahing balà, tlas padhêm, dadya  mangên-angên sira   Dalêm, lama tan angucap, hapan karêngö sira Kyayi  Paminggir sira sampun   ngêmasi, ri wkasan mangling ta sira Dalêm, yat  kinon Kyayi hangêsanga   rowanganya kinon mananêmang, réh spa kwéh wwang  rwang, dwaning kabugbug, hana   sékêt hana satus tan tuna hatunggalan  bangbang, kabugbug, kéwala Ki Ngurah   Paminggir              kopasara  tingkahing   kûatriyan. Ri wêkas hana hyun Dalêm, yan mamanginon akna  mamanguna pùrà,   didiné hana pingêt, satingkahé habugbugan ika  wangkéning prajurité sami,   pagêbugé ka Nùûà, haranya dalên prajurit,  marmmané watêk aprang, wnang kasiwi   ring turunan Ngurah Paminggir, réh  Kyayi Paminggir pêjah duking hajurit,   sapêjah Kyayi Paminggir  haningalan bobotan, têhêr hanama kadi kang bapà, mwah   hana wêtuné Ki  Gusti Wayahan, bibinya pêjah, iakng raré ika, handulu suku   ring kangin  dracapa balà, wayahnya rawuh lamun  mahuripà, yanya muruga   kunang,  tan wangdé ya matêmah wyadi. Nêng akna -/- punang katha. Hampurà ta    hulun didiné ta kna raja panulah. Caritanan ta úirà Úri Aji              Gélgél, kantun runtik sira lan sira Aji Dukut,   hangangkatang pwa sirà  mangké Ki Gusti Tênganan, pwa sira hingadhu, jiróna   pwa sira hingadhu  déning Dalêm, réhé sirà wus wruh ring niti catùr wiwékà,   katkaning  samayà, hamarga pwa sira, saha kris i malélà dawà, olihé hanambut   ring  sirékaning wé Hundha, kangréñcangin tan kurangan, hajajukungan tur bang    bidak, tan kocapan kagét têhêr ring bhumi Nuûà, raju sira humêdhêk  ring   pahunggwaning Dalêm. Singgih pasang tabé kang kawulà, humêdhêk  ring pangkajà   pakulun, manira wétning kahutus dé úri Aji Bali, durung  tutug haturé,   mangêling sira Dalêm Nuûà, huduh               kita  Jlaóþik ingsun   wruh ring ri sadhatêngé kita, kita kahutus hamêjaha i  ri ngong, ngong lêgà   haninggala bhumi lmah, apan ingsun hanglaréng  budhi, ngulurana kama dwéûà,   apang I Ngùrah sadhu polahé, ngong hawéh,  tan kadi Ngùrah Paminggir, ngùni   tka mrêkoûa, nora hana karunanya,  sahasa manunjêlin, yéka matêmahan mati   kabéh. Kita Jlaóþik yan ingsun  wus mantukà ring ciótyà, hana ikang bala samar   mwah sawatêking Nùûà,  kabéh, samà katur ring ràja Bali,   lamakané sira mawéha caru ngangkên  satahun. Yan nora amngkanà, kayika iku   jalaranya,  matêmahan grubug  ikang   jagat. Wus mangkana raju tinamét ikang              pabrêsihan,    hapningan pwa sirà hamrêlina salwiring lêtuh, mwah sahananing hadrati  kramà,   padha tan hana ri úariran Dalêm, wus mangkana têhêr ta sira  bhojanà, kéring   dané sira Kriyan Tênganan, saha bêcik-bêcik, sada raûa  mwang drêwióa. Wusing   padha hamukti, mangandika sira Dalêm, kita  Jlaóþik balik yan hingsun   mañêrahang, lémpas kasatriyané, yan hingsun  hamêjaha masa wuripa yà, mné   hunusên ikang kadgà, tumuli hinunus ikang  duhung, haprang padha silih   tanàlang, pindha mangêñjêk, krisé Kryan  Jlaóþik, nora maraûà, ling Dalêm,   huduh salénana, né bahu durung  maraûà. Dadya méngêt pwa Kyayi Tênganan,   tumuli              konus  kadgané olihé   nambut ring ngùni, pangandikan Dalêm, hingsun wus wruh,  ikà si Malélà, dadya   ta ya bahni mijil ring rahasya budhi, saha duma  ngrêrêbi, sakûaóa mukûah sira   tan palaywan, matêmahan karcaúyàtà sira  Ki Gusti Jarantik. Mwah ta sira Dalêm   Dukut, mokûah ta sira mantukéng  tayà. Ki Gusti Jlaóþik lawan rwangnya hiku,   kasarêngin ring balà  samar, Ki Gusti tan wikan, mwah mara sira tkéng   madhyaning sagara,  matêmahan halulunan ika iwaking sagara pati samburat,   hawanan tumurun  pwa sira ring cêdokan, ring pasuwahaning Jumpai, hangagra   ngalor  lakuné.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mwah saprapta néng watangan, dadya ta rêngas turanggà sang  prabhù, kala             nira hapudati, kudanya mamêtak, tar wênang  tinambakan,   pirang wong katahé handêg, malar kariya hanumprak,  matangnyan mangkanà, wiréh   Kyayi Jlaóþik kasarêngin hantuk i balà  samar, samà dané harùpà dhanujà,   magagawan pdhang hapwi, hana hanak  Kriyan Jlaóþik mabibi saking Pamdhilan,   hajiné tan mangrunguwang  doûané ngùni ring pamlandangan, né mangkin ikà   manambakin, amtêmahan  mandhêg ikang haúwà, raju tinalénan, ikang kuda katur   ring Dalêm  tumuli, hênti sukanya Dalêm ing Gélgél, marmmaning mangkana ring   ngùni  kalanyà cangkrama ring Gowalawah mwang ya ta rusaking padati, yata    pinipil             olihang pangajaran, wus mangkana dadya matùr Ki  Gusti   siréng Dalêm, manguningang kadi pangandikan Dalêm ring Nùûà,  lamakané sira   mawéha tadhah caru, tadahaning bala samar, hangkên  hatahun, amngké kang nara   ring Nùûà, tkaning punpunanya kabéh samà  katùr ring Dalêm, mwah yan sira   Dalêm hangêmpung prang ngarêpin úatru  dé tabuhan atêngran, mangkana saturé   Kriyan Jlaóþik, matangyan suka ta  sira Dalêm yan mawéha nikang Nùûà katur   ring paduka Dalêm, dadya ta  mawêwêh sukrêtan ikang jagat, sapangadêg sira Úri   Dalêm Baturénggong,  wus mangkana mangké hana hyun hida Dalêm mawéha nugraha,   ring kang  sunu kang mangayahang ring Dalêm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huduh kita Jlaóþik,             kita  mangdadi Ngùrah Agung, hanakta sang mabini saking   Pamêdhilan,  hanambakin kuda tur mangandêgang, ndanya mangké hanamà Ngùrah    Pandhénan, kapatyannya ri wêkas, wnang mupakarà kûatriyan, mangkana kita    Pangajaran, satata kita mangorêgin, sarusaking padati, mungsungên,  makà   pakéling matangnyan sasantunantà, hanamà I Ngurah Gdhé  Pangorêgan, kapatyané   wnang mopakara pakasatriyan, mangkana juka kita  Kyayi Gdhé Paminggir. Dén   padha hélinga kadhi hujaring kuna kunà, sira  Ki Gusti Ngurah Agung katuran   gênah ring Tojan, nêngakna ikang katha.  Ri wêkasan wus alawas humadêg sira   Úri Dalêm Anom, kaliyuga tang  bhumi, hangkara halobbha lobhan, corok cinorok,   tan kéwaúa tinahênan,              pangindhaning pêrang ramé, ring Úwéccha Linggarûa Purà,    wêtu para tuwas ira Kriyan Pandhé, doûané tan harêp ring pangrêratà,  marmmané   kabuntêh holihing wong ing Badung, prang hinapitan, ring  kiduling Kutha   rinangsang, ri kulwan sira Patih Kriyan Kubon Tubuh.  Bala nira hangambêngi,   samàhawirang ring Anghulurah Kañca, né sakéng  Badhung Kutha, ring lor Kriyan   Tabanan, Têgêh Kori, Buringkit,  Kaba-kabà, sama ngawirangan sira Kryan Kañca,   sama hangambêngi,  hapégok sira mangétan, hakidik kang kari, wilangnya   sasaring satus, Ki  Gusti Pandhé sapih prangé manglawan Rakryiyan Panarungan,   sira Kriyan  Pandhé paratrà tumut têkaning santanà, kéwalya hanak mantunya   kari,              sök I Gusti Manginté tan katêmpuhari, hapan sira hatunggu    lor, mwah sira Kryan Kañca hakukuhan ring wétan, saha balà nggêgêr,  sarêng   lan I Ngurah Pamêdilan, pangucapé yan tanàbraûþa sira Kriyan  Pandhé, nora   sira hañilirin mwah, prangé ramé, hagunung kunapà,  sakwéhing sawa hinusungan   ring bugbugan, hatunggalan bangbang, mwah  sapêjahing Paódhé, tisti samun   ikang nàgara ring Gélgél, nêngakna. Ri  wêkasan, wuwus halawas, caritanên I   Ngurah Kañca, lawan I Ngurah  Pamêdilan, huwus paúcating panobhayà, holihé   hakakasihan, lwir sapahu  lawan si pinêjêh, twi padha psyà, ya héka don ira   sira Kañca jnêk sira  hagnah ingkanà,             hamanguna kakubonan, sumaódhing lawan  Ngurah Pamêdhilan.   Sira Kañca hangalap ta sira, …… , kanya, luh kasih  sakéng sira Kriyan   Pamêdhilan, yéku ta winéh lawan Ngrurah Kañca,  wuwus akrab kêrab, ri wêkasan   kasêntana Ki Lurah Kañca sanunggal,  haran Ki Ngurah Wayahan Makêñca, ngalap   rabi hanaké Kyayi Minggir,  hakasih Ni Ayu Prang, yatéku strinya I Ngurah   Pakêñca, padha harus  padha sukà, hawanannya hana panamayanyà Ki Gusti   Paminggir, didiné I  Ngurah Pakêñca katka tkéng santana, hapang hakrama pùra   ring Dalêm  Prajurit, mangkana sangkétané ring Ki Ngurah Kañca,  Ki Gusti Kañca  sawurnya tan             apañjang, tlas angadyani kadi pamidiné Ki Gusti  Paminggir,   rawuh ring lêmah Kutri, déning sahikà, hanaké sira Pakêñca  winarahan tutur   kang pnêd, lamakané tan alémpas, kadi warah ràma  twané, kita Ngurah Pakêñca,   réhning bapa têlas ning asasat, dénta  kéngêtakna, katkéng bésuk, haja lupà,   kadi warahing bapà, aja wihang  hakramà pùra, Dalêm Prajurit, lingganing pùra   dharma ring wétaning  lurung harupit, ring purwwaning krêtêg agung. Iki   pakéling Bhaþara  kang Wawu Rawuh, makà lamakané, 1350, jantos              1380, Dalêm  ring Samprangan. Sapangadêg Dalêm Kêtut   Ngulêsir, ñênêng ring Gélgél,  swénya saking tahun, 130 jantos 1590. Sapamadêg   Dalêm Baturénggong  sakéng tahun, 1591 jantos tahun 1619. Sapamadêg Dalêm   Bêkung 1550  jantos tahun 1580. Sapamadêg Dalêm Anom, sakéng tahu, 1580 jantos    1665. Sapamadêg Dalêm Dimadé 1665 jantos 1685 ring Gulyang, tan waróanên    tlas. Ngawit sakéng Arya Bêlog, maputra Gusti Kabà-kabà, Ki Gusti  Buringkit.   Ki Gusti Kaba Kabà nunas putra padhana ring Dalêm Sagêning,  hanak I Gusti   Têgês, byang papadhan, malih saking panawing, putra  pakaryyan jalu-jalu 5   diri,             hanamà, I Gusti Kladiyan  Pahang Bulya, I Gusti Bakung,   Abyan Tuwung. Tambang. Nêngakna ikang  katha. Tucapa mangké Kriyan Ngurah   Pandénan, anak Kyayi Ngurah Agung  Jlaóþik, mahibu I Gusti Ayu Pamêdhilan,   asanak lén ibu ring I Gusti  Gdhé Ngùrah Jlaóþik. I Gusti Ngùrah Pandénan,   sinurud dé sang yayah  maburù mapikat, ring alas, sangúara nira I Gusti Ayu   Kalér, kañcit  datêng ring lér gunung déúa Pamujungan, kasayut dé Jro Gdhé   Bêndéúa  Liran, duk Iúakà, Bhuta Gajah Raûa Bhumi, 1685, samapta. Nihan    pangadêgan I Gusti Sidêmên, mingkéné purwwanya, kunang pwa tatwa  brahmakula   tatwà, Bhaþàra Brahma aputra sira Mpù Bajrasatra              Jinamurthi pwa sirà maputra sirà Mpu Panuhun, Mpù Panuhun   maputra  Mpu Bradah, kunang Mpu Pradah duké hana ring lêmah tulis, haputra pwa    sira tigang wiji, stri sawiji hanama Ni Méddhawati, kang laki hanama,  Mpi   Úiwagandhu, arabi lawan anak ira Mpu Witaraga, masuta limang wiji,  laki 1,   stri 4 wiji, kang laki hapanlah Mpu Witaragà, kang stri Ni  Ratna Suméru, Ni   Ratna Giri Natha, Ni Déwi Patni, Ni Déwi Sukérti. Mpù  Bahulà hanak Mpu Pradah   pinih alit, maputra limang wiji, kang laki,  Mpu Wira Angsoka, Tantular,   namanya wanéh, kang stri Déwi Dwaranika,  Ni Déwi Ajñani, Ni Déwi Krêttajiwà,   Ni Déwi Mrêtanggali. Kunang Mpù  Angsonatha,             atmaja laki-laki 4 diri, padha paripuróna, lwih    kasidhiajñanan irà, anamà Mpù Panawasikan, Mpu Sidhimantra, hamuhuna    kasidyan, sama lawan harin ira katigà, Mpù Smaranatha, kapat katkaning  Mpù   Kapakisan, mangkana turunan Mpu Pradah ing kuna, hnêngakna ikang  katha. Tan   kétung salarasirà Mpù Sidhimantra, muhun kasih ira Hyang  Nagà Basukih.   Gêntyaning caritha, tucapa Ida Panataran, wêtu sakéng  Tulus déwà, hasanak   karwa, hariné hanamà, Ida Bañakwidhé, humantuk  ring Jawi Dêhà, Ida Panataran   kantun ring Bali, ngambil pamargan  kakyangé Ida Hyang Manik              Angkêran, babotoh tan pirà,  ngulêsir ring jagat Bali, sing jalan jalan magênah. Asiki kayuné  hababotohan   jugà, mwah kalaning wéntên tatajén ring Gélgél, I Gusti  Agung Bêkung   ngawéntênang tatajén ring Bañcingah, dané, wyakti ramé  pisan kang babotohan,   Ida Panataran ngalunganin, sah saking Griya  Bêsakih, sarawuhé ring tatajén,   tumuli Ida ngatêngahang, patarungé  sampun wéntên tigang sêhêt, wéntên malih   ayam durus, pêtoh ipun dados.  Ida Panataran pabwaté ñaluk mukpuk, bilang   kabwatin kawon, kagétan  jagaté wêngi, mararyan  tatajéné, kêtoké sàmpun             tinarik  hantuk jurunipun, malwaran ikang babotoh, Ida   Panataran tulus Ida  kawon, pakayun idané lêsu, turing lapa wlêkang, nora   matatukwan,  déning gêlaré sampun têlas, kawon, yaning mantuk ka Basakih,   kaliwat  sawat, pêtêngé limbak, hawanan nglalu di pênggaké ida mrêm, tan hana    ngarungwang, wyakti ring wênginé pisan, raméné tan kodag, wéntên  contokan,   kompyangan, pakuswan, mwang klêcan, sampyan lindrikan, Ida  Panataran, bêcik   pisan sirêpé, lêsuné kalintang, tur twara  mangajêngang, sawiréh pangêndaning widiné   nora wênang lémpasang, ring pêjantosan, ida mangguh kasobhagyan, kalaning   têngah  wêngi, katujunên I Gusti Agung Bêkung huyang ring pakolêman, matangi    tur ñingak galang ngêndik ring jaba, raûangantêg ka langité, nanghing  hanaké   malindrik makêlês sané maplalyan makêjang twara nawang, raris  dané jumlêg ing   natar, hêndihé sayan kabhinawa, murub makalangan, dadi  kanggêk kayuné Ki   Gusti Agung Bêkung, kapinêh ring pakayunan, ciri  wéntên hanak mrêm ring jabà,   kabawos ring pakayunan, twah sdhêng  hadêgang mañca agung, glis dané mdhal ka   bañcingah. Sarawuhé ring  bañcingah, kacingak ring pênggaké kajà kangin   ngêndih murub, ring gênah Ida Panatarané mrêm, tumuli kagyat   dané  déning dané huning, wantah Ida turunan saking Sanghyang Maóik Angkêran,    tumuli katanginin, ida sang mrêm. Singgih sang hyang, sapunapi dados    sanghyang ring dalam-dalan mrêm, bês twara ñayangang ragà hakidik, cén    hadénan ñujur kasidyan kan   ring kamokûan, kasunyatan, tanding ring  kabhinawan, nunas mantukà jumah   manirà, pyanak manirané ambil,  sanghyang hanggon manirà gusti. Déning sahikà   hatur I Gusti Agung  Bêkung, nanêng Ida Panataran, sowé nora mêdhal wacaóa,   kari minêh ring  raga lacur, dados kayun ida ngalih ka-wibhawan, hantuk   dané sênêng mamotoh ngulurin salwiring pangan kinum, yan    kasunyatané pacang halih, kapah matatajén, mlah jani hiring kadi haturé I    Gusti Agung, malih I Gusti Agung ngawawanin atur, sapunapi mangkin  pakayunan   hida, dadi suwé tan pasawur ring manirà kénkén, hanuli matùr  Ida Panataran,   singgih I Gusti Agung, kalintang kadharman I Gusti  úwéca, tkén manirà, manira   liwat nirguóà, inggih wéntên pakayun I  Gusti sapunikà, manira tan pañjang   ñadya ngiring pisan. Déning sahika  raris kahambil tangané Ida Panataran nunas   Sanghyang mantuk kumah  tityangé, raris madandan tangan sarêng kalih,   sarawuhé ring purin  dané I Gusti Agung, raris katurang okané, sané  mapêséngan I Gusti Ayu   Bêringkit, maka rabya Ida Panataran, né mangkin  wadwané dadi ngaro basa,   wiréh sang brahmana kaduduk olih wéûyà, tan  ucapan lawas sàmpun ring Gélgél,   kalintang kosêkan, dwaning Ida mapuri  ring Kacangdawa, kaswén maputra tatigà,   I Gusti Panataran pinih  duwur, I Gusti Kacangdawà Pamadé, I Gusti Kalér   Pamarùjù. Tan alawas  wus hinucap hapuri ring Kacangdawa, raris kapandika ring   Ida Dalêm,  hamacêkin ring Sidêmên, tur kicén nitah gumi ring Tabola, Tangkup,    Pahmêtu, Manikaûa, Bangbang Byaung, -/- Muñcan, Péjéng ahyangan, Susut,  Balu,                /21a/ Pakél, Sêmsêman, Sangkan Gunung. Malih  hucapang   panêêran wyadin pamadêgan, malih ngalap rabi putran I Gusti  Agung Kalér   Sanggingan, maputra I Gusti Hyang Taluh, maputra I Gusti  Gunung Agung, tan   hucapan sampun lawas padha rêndah santanà, kocapan I  Gusti Panataran, kalugra   amangkunin ring Basakih, nggamal tgênan ring  Watuúéûà, ika karéñcang   sawétaning Tlagawaja, kasuwén dané maputra  kakalih, I Gusti Kabayan Lor,   mangku ring Panataran Agung, I Gusti  Kabayan Kidul, ngamangkunin ring Dalêm   Pùri, I Gusti Kabayan Lor  malinggih ring Balêdan, masêntana 6, diri. I   Gusti Panataran Gusti  Slat, Gusti Singarsà Gusti Manikan, Gusti Tabola,  Gusti   Têgês, mangkana kwéhing putranya, réhing tuna kawibawan, mawanan  sumusup ring   dura déúa, Gusti Slat kê Badung, ring Tapéyan, raju  jumnêk irika, Gusti   Singarûà sah ka Jambraóà, Gusti Manikan ka  Blahbatuh, rêndhah santana. Gusti   Tabolà karing Tabolà, Gusti Têgês  ring Ulakan, Gusti Panataran sah ka   Sukawati.-o- Malih walinin carita  ring kuna, duk rusak padarmané ring   Bêsakih, olih I Mayàdanawà, wus  alawas malih pinahayu, déning sarwwa   babantên, mwah habah-habah kalih  tatabuhan, pamangkuné talêr katurunan I   Gusti Panataran, kalugra sané ngamangkunin ring Dalêm Pùri, maka miwah ring    palinggih Dalêm sami, punika pamongan Kabayan Lor, Kabayan Kidul,  kramanya   mangkana, réh wité saking Maóik Angkêran, brahmana swarya  ring Bêsakih,   tlas.-o- Mwah walinin carita ring kuna, Mpù Tantular,  maputra Sanghyang   Panawasikan, Sanghyang Sidhimantra, Dhanghyang  Smaranatha, Dhanghyang   Kapakisan, maputra Déwi Sanghawati, matêmu  tangan ring Danghyang Nirartha.   Mpù Sidhimantrà maputra Wang Bang  Maóik Angkêran, sira Wang Bang maputra tiga,   Ida Tohjiwa, mahinu putran I Dukuh úakti, turunan saking Sangkul Putih,             /22b/  mwah harin Ida Tohjiwà, maparab Ida Singarûà, Ida   Suka Lêwih. Mwah  putrané pinih duhur, Ida Tulus Déwà, mahibu cili Manik. Mwah    Dhanghyang Smaranatha, maputra Dhanghyang Angsokà, Dhanghyang Nirartha.  Sira   Dhanghyang Kêpakisan maputra Soma Kapakisan. Ikà aja tan wruhà.  Lan pmaknà.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tlas.-o-        Iti Bali Bodan, Nusa Pênida. Tinular dé I  Wayan Drêûþa ring Lk./Br. Susuan Karangasêm. Jalan Sérma Natih No. 23  Amlapura. Tanggal 15 Nopémbêr 1997. Kûamakna ngwang mudhalpha úastra.    Iti Bali Bodan. Puput tinular duk rahina Úukra Wagé Landhêp, tanggal 23  Nopémbêr 2007. Kûamàkna ngwang mudhàlpha úàstra.  ***  Copyright:  Godefridus Dijkman, November 2009&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1369378906719126273-3402597935984583955?l=babadnusapenidamenggugat002.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://babadnusapenidamenggugat002.blogspot.com/feeds/3402597935984583955/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1369378906719126273&amp;postID=3402597935984583955&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1369378906719126273/posts/default/3402597935984583955?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1369378906719126273/posts/default/3402597935984583955?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://babadnusapenidamenggugat002.blogspot.com/2010/03/babad-np-fersi-bali-bonda-dm.html' title='Babad NP Fersi Bali Bondan DM'/><author><name>I Wayan Lugra</name><uri>https://plus.google.com/109171635567899780184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-Yl4tsswI00Y/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/2qMVv2LoKuE/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_1Oq1qRRP-eo/S61y5BXdAlI/AAAAAAAAAak/1vkqZ5a6voQ/s72-c/nusa_penida800.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;D0AAR3c5eSp7ImA9WxBaFkg.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1369378906719126273.post-5364098669182339173</id><published>2010-03-27T08:35:00.001+07:00</published><updated>2010-03-27T09:09:06.921+07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2010-03-27T09:09:06.921+07:00</app:edited><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Babad NP Buku tulis tangan'/><title>Babad NP Fersi Buku di Nusa Penida</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_1Oq1qRRP-eo/S61oQ6S72wI/AAAAAAAAAac/BUmM7kWqZEE/s1600/Mangku+Tude+Gembrong.bmp"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 174px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_1Oq1qRRP-eo/S61oQ6S72wI/AAAAAAAAAac/BUmM7kWqZEE/s200/Mangku+Tude+Gembrong.bmp" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5453129363551410946" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="Edit-Time-Data" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_editdata.mso"&gt;&lt;!--[if !mso]&gt; &lt;style&gt; v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} w\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:IN; 	mso-no-proof:yes;} p.MsoHeader, li.MsoHeader, div.MsoHeader 	{margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	tab-stops:center 216.0pt right 432.0pt; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:IN; 	mso-no-proof:yes;} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter 	{margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	tab-stops:center 216.0pt right 432.0pt; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:IN; 	mso-no-proof:yes;} @page Section1 	{size:609.55pt 29.0cm; 	margin:70.9pt 42.55pt 42.55pt 70.9pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(0, 0, 0);" align="center"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;OM Awignam mastu nama sidyam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(0, 0, 0);" align="center"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Nihan tingkahing pretiwi, tur hana gunung luhur, tan hana manih ngaluhurin gunung ika, ngaran linggih Bhetara Brahma, Bhetara Wisnu, Bhetara Iswara, muwah ngaran linggih Sang Hyang Siwa Pasupati. Muang Betari Rohini ngaran Bhetari Uma, ring pertiwi kabeh. Iki tingkahing tatwa I Renggan hana saking prenah kompiang I Dukuh Jumpungan. Ia hana ngaran saking putran Bhetara Guru muang I Branggi Putran Bhtara Guru. Sangkaning ia mewasta I Dukuh Jumpungan duaning ia dados dukun dening ia ngusadain Bhetara – Bhetari kabeh, ika ia mengaraning Dukuh Jumpungan apan ia sakti tur pradnyan wicaksana. Putran I Dukuh Jumpungan muang Ni Mrahim madue putran macaling, mengaran I Mrajen I Mrajan ika. Dados Merajan merabi ring Lundah, Ni Mrahim meduwe putra mengharan I Gutra, I Mecaling mengaran Ida Ratu Gede Dalem Nusa, Sametone mengharan I Agung Dalem Sahang, hana mengharan Ni Tolih, Ni Pari, I Renes, I Angga, I Rona, sami ia hana ring jagat Nusa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;I Dukuh Jumpungan hana ia rumuhun ring Penida , laut ia hangawe lolowan ring penida pitung rahina, raris I Dukuh&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jumpungan ia mengenah ring tepining segara ring lolowan Penida ring jagat Nusa , Dewane ring puncak gunung Mundi hingaraning istri ia maharan Dukuh Cemeng, sesai akarya kain kasa tur hana Dewa mula irika ngaran Dewa Ni Rohinin megenah ring puncak gunung Mundi jagat Nusa Penida. Dewane sane magenah ring tepining segara ring tukad Penida I Dukuh Jumpungan, sane kari ia ring jagat Bali ingaraning Dewa Nawa Sanga I kober Putih, I Kober Kuning, I Koder Ireng , I kober Bang , I Kober Manca Warna megenah ring jagat Gelgel Bali. Sane malinggih ring gunung Agunge di Bali, ngaran Bhetara Brahma, Bhetara Wisnu , Bhetara Iswara muang Sang Hyang Siwa Pasupati, muang Dewi Putri ngaran Bhetari Uma, muang dewane di Toh Langkir ngaran Dewa Bhetara Sambhu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Dados hana kayun ida, sane malinggih ring gunung Agung tan becik rikalaning Ida macingak ring gunung jagat Nusane ring puncak Mundi . apan ia istri ngaran tan wenang tegehan, laut ia kalangseg gunung Mundi ne, apan ia landung tegeh magolengan, antuk Ida Bhetara sane malinggih ring muncuk Gunung Agunge ring jagat Bali. Matemahan bah mabriyug gunung Jagat Nusa Penidane, bah kelod kangin, muncuk nia mengaran Bukit Tunjuk Pusuh, dening samangkana matemahan kroda Dewane sane malinggih ring Gunung Nusa Penida, Dados I Renggan ia prenah kompyang I Dukuh Jumpungan ia nunas panugrahan ring Bhegawan Weswa Karma, tur gelis ia uning saha pradnyan anggawe Prahu muwah sarwaning wewangunan, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Tur hana manih Bhetara Ghana ngalugrahin I Dukuh Jumpungan saluiring pacang hana ring Idep nyane I Dukuh Jumpungan, Tur Bhetara Baruna amaweh ia I Renggan panugrahan tan bisa mati. Lawut hana idep nyane I Renggan ia pacang mintonin kesakten idep nyane, apan ia mahan panugrahan Sang Hyang Ghana Bhetara Baruna, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;muwah nyoba kesakaten Bhetara ne sane malinggih ring pucak Gunung Agung ring Jagat Bali, apan ia pada kebrahmantiyan, wastu idep nia I Renggan praya nrejang Gunung Agung jagat Bali ne dening Prahu, lawut katuwunang Prahune ring tepining segara Penida. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Duaning Bhetara Toh Langkir ring puncak Gunung Agung sampun Ida macingak, tumuli raris Ida aminta tulung ring Bhetara Indra, den sida kalah I Renggan, Ida Bhetara Indra digelis eling ring I Renggan sane polih waranugraha saking Ida Bhetara Baruna melarapan pastu I Renggan tan bisa mati – mati, irika digelis Ida Bhetara Indra tangkil ring Ida Bhetara Baruna, Ida Bhetara Baruna sumanggup pacang munahang idep muwang kesaktiyan nia I Renggan. Nanging hana sabda nira Bhetara Baruna ring Ida Bhetara Indra, tan dadi ia pejahang I Renggan, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Risampun sami cumawis bebawosan, di gelis Ida Bhetara Indra lumampah saha ngadeg nyantosang ring Jagat Nusa Penida ring bucu kaja kawuh, saking irika Ida nyingakin, raris prapta ikang Prahu nia I Renggan ring tasik melayar tan kepampangan pelayar nia mangutara, dening samangkana lawut Bhetara Indra nengkejutin dening sabda, “ Ih dadi iba tumben Prahu melayar ring segara, pacang kija iba jani? Risadakalania Prahu ika mebatekan, wastu cengangelan nia I Renggan, saha tan larapan nia anglepas talin layare, rehning angrungu ikang sabda ring tepining Jagat Nusa Penida &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;tan hana sinangkan nia, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Dening layar Prahu ika sampun supenuh medaging marut, wastu nyulempang ikang Prahu tur kelem aparo, ika nimitaning mengaran Tanjung Galumpang Gili Ceningan, apan hana layar bidak nia kari ngenah kelep – kelep putih, ika ingaranan Jagat Lembongan, Rehning kepanggih kacingak saking Jagat Nusa Penida ring tepining nusane pinih kaja kawuh, ika nimitaning mengaran Tanjung Kuning muwah Tanjung Akuh, riantuk nyantos malingkuh Prahune kacingak saking irika, laju sira para sanak putunira I Renggan macebur tur melangi ring segarane saha nyujur tepining Jagat Nusa Penida, tur sida prapta ring Jagat Nusa, dadi ia I Renggan nu idup, tan sinipi kebrahmantiyan nia, wastu malih ia I Renggan anggawe Prahu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Lawut kemargiyang Prahu inucap kasorogang ring dangin pukuh bukit Tunjuk Pusuh, tur kaselag di tengah lolowan jagat Nusane ia ngulah utara ngantos sampun rawuh ring tengahing segara, wastu pegat sahak jagat Gunung Nusa Penida ngantos doh ring wetan, dados punika ke wastanin Jagat Sasak, dados malih Prahune I Renggan tan sida pacang nrejang Gunung Jagat Bali ne, Dening ia taler kacingakin antuk Ida Bhetara ring Toh Langkir, dados malih Ida Bhetara Indra aminta lugraha ring Ida Bhetara Baruna, lawut kategul Prahune I Renggan kapuket – puket dening Gurita agung, dening asapunika wastu tan sida maglunjitan ikang Prahu satwinaluyania kadi batu magumi, Prahu I Renggan punika raris kewastanin Batu Biyaha, yukti kalah punah idep nia I Renggan. Malih nia I Renggan mapinunas makelaminia, dening Prahu ika sampun marupa bukit&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;batu mawit irika malih nia I Renggan mapinunas kesarengin baan putran – putran nyane sami, saking irika I Gutra mapinunas wantah nunas Jagat Nusa Penidane kabeh. Mewastu Dewane ring Gunung Agung asung ia lugraha tur kaserahang teken I Gotra saha ia anyeneng dadi Dewa Nusa Penida ngaran. Magenah ia I Gotra ngaran I Mecaling ring Bias Mentig, sameton nia&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;I Dalem Sahang magenah ring Bahingin jagat Nusa Penida, Lawut Ida Dalem Sahang ngamel Jagat Nusa Penida ne kabeh. Dados Ida Nyeneng Ratu Jagat Nusa Penida ngaran I Dalem Sahang magenah ring pradesa Bahingin ngaran. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;I Dukuh Jumpungan taler magenah ring Jagat Nusa, ring tepining segara Tukad Penida, Putran nyane sami ia polih genah, sane sareng magenah ring tepining tukad Penida Ida taler mekarya kain belacu, sane magenah ring Jagat Ceningan ring Bakung Ida taler mekarya kain lelam, I Biya Raka ia magenah ring Sakenan ring Jungut Batu, sane Dewane ring Bukit Batu Biyaha ia meharan I Jiwang, sane Istri ia meharan I Yarum. Dewane di Padang Bay ia meharan I Rangga, Dewa ne di Sakenan Bali ia meharan I Rana, Dewane sane istri di Goa Lawah meharan Ni Puri, Dewane di segara ia meharan I Remes, Dewane di Bias Mentig Nusa ia meharan I Gotra I Mecaling ngaran Dewa ring Dalem Nusa, I Tolih ring Tunjuk, sametone Dalem Sahang ngaran magenah ring Jagat Nusa Penida ring Bahingin.ia ngamel jagat Nusa ne kabeh, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Nanging hana idepnyane cacad saluiring hana panjak Nusane ia ngelah pianak jegeg mangda ngaturang ring Dalem Sahang, raina wengi wong istri ika, dadi sayan ageng meweh panjak Nusane kabeh, dados tangkil panjak Nusane rehning sampun merasa akeh ia pada nguningang. Ring sameton Ida Dalem Sahang sane malinggih ring Bias Mentig sane meharan I Gotra I Mecaling. Duaning akeh panjake sampun anguningang ring Ida Dalem Mecaling, wastu Ida tan Kengin Ida maduwe &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;adi sameton idep nyane ala ngaran. Raris metangi tur memargi Ida meharan I Gotra I Mecaling pacang mituturin Ida Dalem Sahang, lawut mojar ida I Gotra ring Ida Dalem Sahang, Eda adi buka aketo angawa idep, dening adi ngamel Jagat Nusa ne kabeh, mula adi patut mituturin panjak adi kabeh ane angawa idep ala, Eda adi angawenin panjak adi ne sayan meweh, nora patut adi buka keto.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Lawut mesawur Ida Dalem Sahang” Ih beli dening tityang kojaranga angamel Jagat Nusa ne kabeh, nah ento ciriyang tityang panjak Nusa ne suba bakti, pada nyak sumuyub pada rep tekening tityang. Ento cirin tityange kanggo ngamel Jagat Nusa Penidane kabeh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Malih mojar Ida&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;I Gotra I Mecaling, yan keto pelaksanan adi, ento marupa ala idep adine ento ngaran. Paling melah lepasang adi angamel Jagat Nusa Penidane kabeh, lawut Ida masemu jengis tur kebrahmantyan Ida Dalem Sahang ring rakan idane I Gotra I Mecaling, Ida I Gotra wantah misadya pacang nandingin mayuda, premangkin raris ida angunus senjata keris luwih anebek – nebek ida Dalem Sahang, nanging tan sida I Gotra &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;I Mecaling pacang ngalahang ngemademang ida Dalem Sahang, ngantos merareyan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;I Gotra I Mecaling ngaran, raris mapinunas ida I Gotra I Mecaling ring Dewane ring Gunung Agung, asung ia lugraha I Mecaling padang kasna, rupan padange ika sami putih – putih, akeh ia wenten ring Gunung Agung Besakih, lawut winantranin tur kepasupatinin padang kasna ika, wusan ia kepasupati marupa ia anak alit.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Risesampun ia marupa duwur raris ia kewastanin I Dalem Dukut, dening ia sampun dewasa ida Dalem Dukut, lawut ida mangkin keaduang ngelawan ida Dalem Sahang. Ida Dalem Dukut angawa keris Ratna Kencana tur kedagingin lengis paruhning Manuk Dewata, mangdane sida ngemademang ida Dalem Sahang, ida Dalem Dukut kairing antuk I Gusti Jelantik Bogol, dening mangkana wastu hana ujar nira Dalem Sahang sadurung nia pejah. Nah ne beli nyak lakar mati, nanging disubane beli ngalahin mati, kewala gaenang beli palinggih ring tepining Jagat Nusane sane ring tepining Segara kaja kangin. Ditu beli gaweakna palinggih Meru tinumpang sawelas aranakna Batu Medau, apan pematin beline mati kedawuhin, beli pacang mati ngalahin Iraka beli adi. Tur toya hana ring pucak Gunung Mundine ento lakar aban beli ke Segara, lumaris sira makerua atanding yuda, dahat rames yudane saling tebek katebekin, akeh para pangiring dane I Gusti Jelantik Bogol ngemasin pejah, lawut katimbalin ida Dalem Dukut anebek ida Dalem Sahang tumuli ida Dalem Sahang ngemasin pejah. Dados kairing pejah nira Dalem Sahang antuk prajurit dane I Gusti Jelantik Bogol, dening akweh sane ngemasin mati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Sisaning pejah mayuda kari ia keadanin Si Wayan, Si Made, Si Nyoman, Si Ketut, wusan yuda ika kagelar wastu hilang nyat ikang toya Danu ne ring pucaking Gunung Mundi, rawuh mangkin ia itoya tan ngenah Danune ring Jagat Nusa Penida, raris ida Dalem Dukut mangda angamel Jagat Nusa Penida ne, saking I Gotra ngandikain ida Dalem Dukut mangda angamel Jagat Nusa Penidane.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Hana saking I Gotra I Mecaling ida dadi patih agung meparab &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;Ida Ratu Gede Papak Badeng&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dalem Nusa Penida,&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; Magenah ida pada ring jagat Ped Nusa Penida, Ida Dalem Nusa ngaran magenah ring lor kuloning Nusa Penida ring tepining Segara tampek ngaran Bias Mentig, Ida Dalem Dukut magenah ring loring Nusa Penida ngaran magenah ring tepining Segara Jagat Ped Nusa Penida,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Makelamin nyane ida Dalem Dukut angamel Jagat Nusa Penidane, kewala tan becik kerasayang ring manah dening tan kesarengin antuk ida Dalem Nusa Papak Badeng Gede Mecaling, irika tumuli ida Dalem Dukut aminta kadi memaksa sumangden nya ida Dalem Nusa Papak Badeng Gede Mecaling nyarengin magenah ring puri, wastu ngantos kepaid tangan ida Dalem Nusa Papak Badeng Gede Mecaling sumangdan nyane mangiringang, dening mangkana wastu ngiring Ida Dalem Nusa magenah ring Puri. Tur sadya ngabih linggih Ida Dalem Dukut angamel Jagat Nusa Penida, ngaraning magenah &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;ring tepining Segara lor Puri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Ida Dalem Dukut sesai Ida kayun memargi mapikat titiran, tur sesai pemargan Idane kesarengin antuk Ida Dalem Papak Badeng Gede Mecaling Ida Dalem Nusa, Mungguing rabin Ida Dalem Dukut ida Ratu Ayu Mas Maketel serahina – rahina ring perantenan mekarya ajengan, kesarengin antuk Putrin Ida Istri sane mangaran Ni Ratu Ayu Mas magenah ring taman, saduaning ngerahina Ida Ayu Mas Maketel mekarya ajengan ring pewaregan, dados keni tangan Ida Ratu Ayu Mas Maketel dening gigin pangikian, jarijin tangan Idane keni ka kikih dening gigin pangikian rikalaning Ida ngikih kelapa pacang keanggen Ida hangelawar ajengan – ajengan, dados barak sami tain kikiane ika, dening ia kena getih jarijin tangan Ida Ratu Ayu Mas Maketel.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Wastu tan sida antuk Ida malih pacang ngarereh kelapa saduaning Ida istri – istri ring Puri, dados ika durus anggen Ida, keratengin kebaksenin, di sampun merasa suryane makibeh kawuh lawut rawuh rabin Ida, ngaran I Dalem Dukut kesarengin antuk Ida Dalem Mecaling Ida Pepatih Agung, dwaning Ida pada kalingtang rasa luwe miwah kasad, dados Ida sareng kalih keaturin rayunan lan toya mewadah caratan, usan Ida sareng kalih angajengin toyane lawut Ida amangan sareng kalih, pada tan mahitung paran, ri sampun Ida pada usan ngajengan wawu hana ujar petakon Ida Ratu Gede Mecaling, Ida sane dadi Patih Agunge, metakon ring Ida Ratu Ayu Mas Maketel rabin Ida Dalem Dukut, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Ih Ayu Mas ? kenken dadi barak endih makejang sambel gagecok kelapane tur nyak dadi melah tur jaen pesan? Apa ento kranane indayang orahin beli! Raris matur Ida Ratu Ayu Mas Maketel ring Ida Dalem Mecaling, tityang wantah ngalungsur kaiwangan tityang puniki ring beli sareng kalih, saiwang – iwang puniki dwaning tan wenten saking manah anggawe merupa kadi iki, taler titiang ngalungsur geng sinampura ring anggan beline sareng kalih dwaning saking jarijin tangan titiange polih keni kikihan, antuk gigin pangikihan puniki ngardi getih titiange nrebes wastu sami kelapane merupa abang kadi cingak tur rasayang beli sareng kalih, nanging boya sangkaning manah titiange mangda kelapane asapuniki, wenten manah titiang pacang malih ngarereh kelapa nanging tan wenten anak lanang panggihin titiang, dados kelapa puniki anggen titiang gagecok, tineresan titiang, mula gantin titiang mangda medaging iwang, langkung pisan yukti iwang titiang puniki ring anggan beli, saking titiang yuktin nyane ngaryanin beli sareng kalih ngajengang rah, nanging boya punika sangkaning manah titiang mangda tangan titiang puniki ngamedalang getih, ngantos ginegul puniki tangan titiang antuk kasa, indayang suryanin sareng kalih tangan titiang puniki beli, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Tumuli nyawurin raris Ida Dalem Dukut, nah adi yaning keto tatwan adine ring beli , eda ento buin panjanganga , dening beli amangan sareng kalih sekadi biasa, sayan – sayan sumingkin idep beli ngajengang, kadi rasane tan suwud – suwud beli amangan, dening rasang beli sayan – sayan luwung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Siosan ring kadi asapunika sabdan Ida Dalem Dukut, hana manih tatwan Ida Dalem Dukut, yaning kene rasa luwung nyane gagecok kena winangan, mirib luwung iwak manusane, wastu mesawur Ida Dalem Mecaling, mirib luwung kati yaning hana, dadi hana malih tatwan Ida Dalem Dukut ring Ida Dalem Mecaling tatwa sasingidan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Nah ne hana wong rare anak cenik sesai ia melali diwangan batan taru bunute, sesai ia melali mai ento tegarang ambil jogot sawiji, dening hana dina rawuh Coma Kajeng Kliwon, raris eling Ida Dalem Mecaling ring tatwan Ida Dalem Dukut, lawut Ida Dalem Mecaling ngambil wong rarene ento sawiji rikalaning surup suryane kawuh, irika Ida ngambil ring batan bunute diwangan jogot Ida sawiji, raris Ida meratengan awengi, ika lawut Ida pesta awengi, dwaning sampun kerasayang Ida suba melah, dados Ida senunggal dina Kajeng Kliwon Ida ngambil wong rare sawiji – sawiji, anyelat molas rahina senunggal Kajeng Kliwon Ida makarya pesta, dados sayan wengi Jagat Nusane sayan tenget kabeh, makelamin nyane sayan meweh panjak Nusane,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Beh yaning kene setunggal dina Kajeng Kliwon wong rarene tetep ilang sawiji – sawiji, irika diwangan di batan bunute di jaba Puri, dados tangkil kawitokan I Gusti Jelantik Bogol ke Klungkung Bali Gelgel, parek ring Ida Dalem Batu Renggong ring Klungkung Bali Gelgel, rawuh dane saking tangkil lawut dane tan wani dane malih magenah ring Ped, dados dane ngesub doh magenah &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dane ring Sompang ring Nusa Penida. Sapirang dinan nyane raris rawuh Ida Dalem Batu Renggong ring Jagat Nusa Penida ring Ped, dwaning tan kengin Ida maduwe sameton buka kene, dadi sayan metu kebrahmantiyan kayun Ida Dalem Batu Renggong.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Ri sedek Ida Dalem Dukut ring jaba diwangan, serawuh Ida Dalem Batu Renggong lawut nyagjag tur amojar Ida Dalem Batu Renggong ring arep Ida Dalem Dukut, sojar Ida Dalem Batu Renggong, Ih Adi Dalem Dukut? Singja patut manusa amangan iwak manusa jatma, mirib tusing adi totosan Dewa angardinin adi, isin alasan mirib dadi jatma sangkal kene adi mangan iwak manusa jatma, sing ja adi numitis manusa, dening kene idep pengelaksanan adine patut cai suba pejahang beli, jani lakar pejahang beli apan adi anggawe idep hala ngaran, iki adi hila – hila dahat ngaran, dadi hana malih sabda Ida amatra Ida Dalem Dukut, inggih beli tityang wantah ngiring ring wecanan beline pacang kepejahang dening langkung idep tityange ala puniki, dwaning sampun puniki wirasayang tityang getih iwak manusa jatma, anggen tityang sampun nagingin uraban kelapne sane mekikih, dening getih kari matah, punika sampun polih wirasayang tityang tan wenten malih pacang nandingin wirasan becike puniki,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Dados gagecok kelapane punika mangda beli taler mekarya , gagecok bang utawi barak ri sampun tityang pejahe, yan pacang pujawali ring Khayanganyadyan ring Paumahan , mangda taler beli ngadikayang sami, getih bawine ginanggen, nanging elingang tan dados lebengan getihe ika dumun&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mangda matah ginanggon, mula ika &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;wirasang tityang ane madan uttamamelah luwung, nanging taler beli mekarya gagecok putih, inggih asapunika atur pari wekas tityang ne ring beli mangkin, inggih mangda taler beli ngilingang rawuh rwekasan, mangda eling tityang ring tityang, mangkin tityang nunas pamit pejah, lawut Ida Dalem Watu Renggong anrejang raris anebek,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Ring jaba lawut pejah Ida Dalem Dukut pamekas ring jaba Puri, dados tan dadi layon Idane pacang kapundut ring Puri, tan dados bersihin ring jeroning Puri, apan Ida pejah ring jaba diwangan jero Purine makanuwang sang mati doh, muwang mati ring alase, tan wenang ika ginawa bersihin ring jeroning karang umahe, dening sang buta khala khali, yan nia mati pejah ring jeroning karang paumahan ika wenang bersihin ring jeroning karang paumahan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Wusa sampun menersih layon Ida Dalem Dukut ring jaba, lawut irika ring jaba Ida kekaryaning Palinggih ring batan bunute Ida Dalem Dukut, dados kantun rabin Idane ring Puri I Ratu Ayu Mas Maketel sareng ring putran Ida sane istri&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Iratu Ayu Mas magenah ring Taman taler kesarengin Ida dening I Gotra Mecaling, Ida&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;meparab Dalem Nusa Ratu Gede Papak Badeng malinggih Ida ring utara ring tepining segara taler Ida kayun amangan iwak manusa, dados malih Ida Dalem Batu Renggong kayune mangkin pacang nugel caling nyane I Dalem Nusa, Dados Ida Dalem Nusa tan kayun Ida pacang matugelcaling nyane, yan matugel caling tityang tan sida antuk tityang pacang amangan, dados mesaur Ida Dalem Batu Renggong, tur sada halus banban, nah adi, yaning aketo dadi adi amangan nanging rikalaning sasih kanem, sasih kapitu, kaulu,, Nanging yaning hana medaging cirine ring arep jebag manusane, hana cirinia ruaning pandan tur matorek pamor metampak dara ruaning pandan ika, lawut ginantung ring arep jebag pekarangan mepati antuk buluh tajep.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Yan hana buke keto cirin nyane, tan wenang adi memaksa jatma ring pekarangan ika, ane cen tusing ia medaging ciri, ento wenang adi memksa amangan ika, raris katugel caling Ida Dalem Nusa ring Gunung Agung Besakih, dados keambil keduduk tugelan muncuk caling nyane dening rabin Ida Dalem Watu Renggongdwaning ya kari Ida Dalem Nusa anganggen idep hala, amatining wong tanpa dosa, wastu malih Ida Dalem Watu Renggong pacang memaksa kayun Ida , pacang ngemademang Dalem Nusane, lawut Ida Dalem Watu Renggongangambil senjata keris sane luih, raris Ida memargi kairing dening rabi lawut sampun rawuh ring Ida ring Jagat Nusa ring Ped, digelis Ida Dalem Watu Renggong ngedawuhin Ida Dalem Nusa saking sisi diwangan, tanpajemuga ujar Ida Dalem Batu Renggong lawur Ida anebek Dalem Nusane, angusah hasa Ida anebek Dalem Nusane, nanging tan sida bingluh Dalem Nusane , ngantos meganti ganti senjata luih jati, nanging taler Ida Nusa tan sida pejah dening senjata luih, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Dados&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;meweh Ida Dalem Batu Rengongdwaning Ida Dalem Batu Renggong tan sida pacang ngemademang Ida Dalem Nusane, wastu wenten atur Ida Dalem Watu Renggong ring ajeng rabin Ida, dados taler sekadi tityang mwewh, dwaning sampun &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;sauiring senjata luih, taler ia tan sida ngemademang Ida Dalem Nusane, Puniki tityang polih marupa caling, polih tityang ring Besakih daweg tityang tangkil ngiring beli ring Besakih tityang polih, Indayang niki anggen ngemademang Ida Dalem Nusane, dados sekadi langsuh pesawur Ida Dalem Watu Renggong ring rabin Ida, Ih adi, kalengke marupa kene ia pacang nyidayang luglud, ane sedeng senjata keris ane madan uttama luih ya tusing nyidayangkelet, apa kalingke marupa kene, dados malih rabin Ida Dalem Watu Renggong matur alus tur banban, ih beli indayang niki ambil anggen ngemademang ipun Dalem Nusane, yan taler tan nyidayang pinih becik mantuk , sinah beli pacang ngaoning, raris Ida Dalem Batu Renggong angambil calinge ika, caling ika jaga anggen tategaran anebek Ida Dalem Nusane, diwawu Ida Dalem Batu Renggong pacang ngusah hasa pacang nebekang, lawut kacingak antuk Ida Dalem Nusa, sadurung Ida Dalem Batu Renggong nebekang, raris Ida Dalem Nusa Pejah, ngaran. Dados sami Ida matemahan wong sunia, sami dados tan kepanggih dening marupa sunia ngaran, kairing Ida antuk Bhuta Bhuti Khala Khali, Ibale Samar I Ratu Gede Mecaling ngaran Ida Dalem Nusa Iapak Badeng ring Ped, Ida mula drika duk dumun, menadi sayan tenget Jagat Nusan Penidane kabeh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Rawuh magkin mula saking Ida angawe gering panes, tis, gerah merapah, gering garubug, nngutah bayar, sedina – dina wong pejah, sangkan hana den ira manusa mapiuning tur mapinunas tirta pakuluh, sami ngiring tur hana den sira caruning sasih, maduluran metabuh rah, rikalaning magentos ikang sasih anyelat telung dasa dina rahina metabuh rah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Iki pangeling – eling ngaran ring Jagat Nusa Penida ngaran, sangkaning hana ia meharan Jagat Ped, hana saking kepaid ya magenah irika Ida Dalem Dukut, tur pejah Ida Dalem Dukut tur kepaid - paid &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;. telas, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Mangkana tingkaing bumi Nusa nguni kala, aja wera muwang cawuh ring sapedagingan iki, apan nia uttama ngaran Panyungsungan Jagat Nusa lan Jagat Bali. Jahte smat ayuwa pati cawuh muwang wera, yan hana ngawerayang sedaging iki, wenang kaupedrawede Ira Bhetara Ped, Jagat Nusa Penida. Puput sinurat malih manut kadi babon nia ring Tanggal 22 Oktober 2005. olih Mangku Tude Gembrong, Banjar Nyuh. Desa Adat Nyuh Kukuh, Desa Ped. Nusa Penida. Klungkung Bali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:14pt;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:100%;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:100%;" &gt;         &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:100%;" &gt;OM&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:100%;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:100%;" &gt;Sidhir astu yanamah. OM Suksma maha sampurna ya namah.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:14pt;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:14pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:14pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:14pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:14pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:14pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:14pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:14pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:14pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:14pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:14pt;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:14pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1369378906719126273-5364098669182339173?l=babadnusapenidamenggugat002.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://babadnusapenidamenggugat002.blogspot.com/feeds/5364098669182339173/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1369378906719126273&amp;postID=5364098669182339173&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1369378906719126273/posts/default/5364098669182339173?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1369378906719126273/posts/default/5364098669182339173?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://babadnusapenidamenggugat002.blogspot.com/2010/03/babad-np-fersi-buku-di-nusa-penida.html' title='Babad NP Fersi Buku di Nusa Penida'/><author><name>I Wayan Lugra</name><uri>https://plus.google.com/109171635567899780184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-Yl4tsswI00Y/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/2qMVv2LoKuE/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_1Oq1qRRP-eo/S61oQ6S72wI/AAAAAAAAAac/BUmM7kWqZEE/s72-c/Mangku+Tude+Gembrong.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;CUQDRXc7eSp7ImA9WxBaFkg.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1369378906719126273.post-6105376508522603627</id><published>2010-03-27T08:15:00.002+07:00</published><updated>2010-03-27T08:29:34.901+07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2010-03-27T08:29:34.901+07:00</app:edited><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Babad'/><title>Babad NP fersi GG Prasasti DM</title><content type='html'>&lt;meta http-equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object  classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:35.4pt; 	mso-footer-margin:35.4pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;Pupuh Ginada&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[1] Ring Nusa mangkin kaucap, madeg Sang Sri Narepati, ida luwih madurgama, tan jerih ida ring satru, antuk teguhe mabingkal, ratu sakti, daging jagat tan papasa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[2] kocap titisan dewata, tedun sangkaning samadi, masedana dukut kasna, majeng ring Hyang Gunung Agung, presida wantah ngasorang, ratu luwih, ngadokang momo angkara.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[3] Sabdan Paduka Batara, sang malingga ring toh langkir, presida kita digjaya, gelarang dharmane tuhu, yan pradene kita lupa, ana iki, jaga amancut uripta.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[4] Sri Dalem Dukut puspata, ring Peed purine gumanti, ida dahat maprebawa, panjake sami sumuyub, pada ngemargiang swadama, nenten lali, Sad kahyangan kahilinga. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[5] Presida nemu raharja, bendesane pada bakti, titah sami kapatuha, wadwa samar akweh ngrungu, ratu sakti mawisesa, keto jati, lwihing arta berana.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[6] Sampun suwe ne kalintang, rajas tamase mamurti, momo kalawan angkara, matunggalan pada metu, akrodane ngewasayang, peteng jati, sang patut sampun ngulayang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[7] Metu mangkin medania, panjake pada ngurimik, ratune sampun tan sida, ngemargiang kayun sadu, sekayun mangda kasida, tunggil wengi, teruni mangda katura.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[8] Metu erang wanging Nusa, tan terima ring Sang Nrapati, tingkahe ngenterang jagat, sekita karep pekayun, metu kayun Ki Bandesa, nglungsur kanti, ring jagat Bali Pulina.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;Pupuh Pangkur&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[1] Ki Jero Bendesa Sompang, mapikayun jaga tangkil ring Bali, dwaning manah nyane sungsut, ratunnya sampun lipia, ngamel jagat, peteng pitune ngeliput, memanah jaga tangkila, memarga ring jagat Bali.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[2] Semeng sampun caritayang, Ki Bendesa sayaga memargi, tan kocap dane lumaku, sampun rawuh ring Kusamba, gegancangan puri agunge ketuju, pedek ring ida Sang Nata, ngeraris ngeranjing ring puri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[3] Kala napak penangkilan, para patih lan tandamantri, sami nangkilin sang prabu, para manca lan punggawa, bagawanta pinaka pengabih ratu, maosang indik payudan, jaga perang aneng Jawi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[4] Kagiat Dalem masurya, apan wenten kawulane tangkil, mesabda Ida Sang Prabu, sakeng ndi ika prapta, kita paman warahakena aranmu, pranagata kita prapta, warahaken tatas jati.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[5] Singgih ratu sasuhunan, aksi titiang matur sembah saha bakti, kawula nista titiang ratu, mangden ratu mangampura, saking Nusa Ki Bandesa panjak Ratu, mangda I Ratu suweca, titiang mangkin mapiuning.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[6] Kawentenan wadwa Nusa, meweh sami ring pidabdab Sri Aji, mangkin medania metu, ngodag ngodag ngetang panjak, sakarepnya mangda presida satinut, tahu ring teguh mabingkal, sanjata tan sida kanin.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[7] Tan kuasa antuk kawula, tan sida ru ngepet patin sri aji, titiang ngelungsur swecan Ratu, mangda presida pejaha, yan presida titiang wantah sumanggup, ngaturaken bumi Nusa, panjak Nusa adung sami.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[8] Kepiarsa ring Sang Nata, yaning tuhu kaya ujarta jati, ana papadunku kautus, mejahaken Ratu Nusa, apan jati arep ring panjak tan rungu, tingkahe sawenang wenang, tahu teken awak sakti.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[9] Sumaur Ki Jero Bendesa, singgih Ratu garjita titiang ring hati, dwaningf sampun ratu asung, sweca ring pinunas titiang, sane mangkin ngelungsur pamit ring I Ratu, jaga mewali ke Nusa, mogi sih Ida Sang Hyang Widhi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;Pupuh Semarandana&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[1] Swecapura kocap mangkin, ritatkala perareman, sungsut pekayunan Dalem, jaga mayuda ke Nusa, apan patihe tan sanggup, mejahaken Ratu Nusa, saktine tan kodag-kodag.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[2] Dwaning sami pada eling, Kryan Paminggir pejaha, saktin Ida sampun katon, Ratu Nusa mawisesa, tan presida jaga mapas, irika Dalem mikayun, eling ring pepadun ida.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[3] Dane Kyayi Ngurah Jelantik, tan wenten ring perareman, ring baler gunung mangedok, wentene ring Kubutamban, ring Buleleng ya inucap, Ida Dalem raris ngutus, mangda presida tangkil.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[4] Tan kaucap pamargine, Kyayi Ngurah saget prapta, rikala tepeng perarem, nagingin kayun Sang Nata, ngaturang sembah matura, napi wenten sarat Ratu, Ratu ngutus dewek titiang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[5] Uduh kita Ngurah Jelantik, ada pangidih manira, luwih muda jati bobot, kita kautus ke Nusa, Sri Dalem sida pejaha, Dalem Dukut jati tuhu, apan metu medania.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[6] Gelah tuah mula eling, kita kesatrya wesnawa wangsa, kita kesatriyeng Kadiri, kita patut amejaha, ana Ratune ring Nusa, manira gumandel tuhu, moga kita mangiringa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[7] Singgih Ratu Sri Bupati, titiang tan purun tulaka, ring titah palungguh Dalem, diastun jaga pejaha, sangkaning ngemargiang swadarma, sutindih titang ring Ratu, mangkin wenten pasubaya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[8] Yan tan sida titiang yukti, mejahaken Ratu Nusa, yastun wisesane katon, titiang tan pawali muah, pejah titiang maring Nusa, jaga ngemelanin patut, punika janjin ttiang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[9] Gawok sami sang miragi, angob sadaging pareman, kadi tingkah ajin dane, duk mayuda maring Jawa, nantang meseh ninggal sanjata, sedane doning karebut, wantah nyupat atman sang bapa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[10] Seneng Sang Nata miragi, yan tuhu kaya ujarta, pidabdabin prana gati, manira weh kita wadwa, akeh prajurite satak, moga presida rahayu, Ratu Nusa kapejaha.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[11] Mangkin kapicaang keris, Cacaran Bambang maharan, pican Ida Hayam Wuruk, ratune ring Wilatikta, pucuk malila ganja malila, anggen mrejaya sang ratu, mangden presida pejaha.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;Pupuh Durma&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[1] Adi Ayu beli rawuh saking tangkila, beli kautus Sri Bupati, lunga mayuda ke Nusa, beli tan purun manulak, nyihnayang dewek subakti, ngemargiang, titah Ida Sri Narapati.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[2] Inggih beli yening sampun titah Sang Nata, laksanayang antuk bakti, titiang jaga mangiringang, tingkahing jaga mayuda, yastun titiang ngemasin mati, tresnan titiang, wantah tinut kayun beli.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[3] Uduh adi angob beli miragiang, ngiring mangkin ngaturang bakti, nunas pasewecan Ida, majeng Betara kawitan, taler ring Ida Sang Hyang Widhi, asung nugraha, mangden ida manyarengin.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[4] Semeng tatas rahinane jaga mamarga, busanane mangangobin, tuhu tosning prewira, keabih ring rabia, prajurite sampun pasti, pada sayaga, ngojog maring Kusamba tuwi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[5] Nunggang palwa melayar ya mangelodang, penabrange sada gati, tan kocapan maring jalan, Jungutbatu saget prapta, mesandekan tumedun sami, raris memarga, Nusa Peed ne kaungsi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[6] Kocap mangkin kawentenan Dalem Nusa, tinangkilin bendesa sami, makleteg ida ring angga, ciri meseh jaga prapta, erang kayun ida mangkin, ngingkinang raga, mapan eling ring ida sakti.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[7] Kagiat sami ki bendesa mengatonang, prebawane kadi paling, pangaksine sada galak, risaksat jaga memangsa, tingkah ida dahat brangti, manatasang, saget rawuh Gusti Jelantik.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[8] Prabawane Gusti Jelantik tan kasoran, mapan dane lwihing darmi, mancar tejaning ksatrya, tan kandap jaga mepadus, jurit dane ngantosang sami, ngantosang titah, jaga ngebug mabela pati.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[9] Saget nadak Ida nyapa Gusti Ngurah, kasambrama kadi tamui, ne te Ngurah saget prapta, mai dini sareng rabia, sarwa boga katuran sami, raris ngajengang, mangkin nimbal Gusti Jelantik.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[10] Naweg ratu ampura titiang kautusa, rakan ratu ring jagat &lt;st1:place w:st="on"&gt;Bali&lt;/st1:place&gt;, mangden tan iwang pemarga, titiang wantah nyuun titah, nglungsur premanane jati, sare ledang, titiang wantah jaga ngiring.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;Pupuh Ginada&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[1] Kita Ngurah renga jua, kola suba nawang jati, setekan Ngurah ring kola, kita mula wanen tuhu, bani nantang kola perang, yan sujati, kita tan takut pejaha.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[2] Kewala pinehin jua, apan tan sayang ring urip, kola bakal tuah pesaja, ngematiang kita tuhu, apa bakal kaadokang, uli nguni, musuh kola pada kalah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[3] Kemo kita lumampaha, kado kita teka mai, aturang teken ratunta, kita nora lawan aku, tan sida jaga pejaha, keto jati, apang tan kita nyelselang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[4] I Gusti Ngurah manimbal, titiang sampun miragi, ratu dahat mawisesa, sarwa sanjata tan rungu, kewala sandang elingang, kawon besik, wantah pekardin laksana.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[5] elingang jua sang nata, kwentenan Sang Hyang Widhi, Ida sane maniwakang, sane patut mangguh ayu, sang laksana lobangkara, nemu pati, menawa sida pejaha.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[6] Sampunang ratu mengangkab, atapak titiang tan gingsir, napike malih matulak, yan samun melanin patut, sara kayun sahiringa, ngadu pati, nyantos presida pejaha.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[7] Bengong Dalem mamirengang, dahat wanen kita jati, yan tuhu kita prewira, perang tanding lawan aku, pada ngadokang kesaktian, jurit sami, apang pada manontona.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[8] Ampura titiang sang Nata, titiang wantah mangiring, margi sampun ngrereh genah, ring jabayan genah iku, titiang sayaga nandaka, perang tanding, mogi presida mejaha.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[9] Panjak Nusa pada atap, awor ring prajurit &lt;st1:place w:st="on"&gt;Bali&lt;/st1:place&gt;, sami pada nonton yuda, yudane dahat masepuk, wenten galah katiwakang, Gusti Jelantik, nuwek jajah Ratu Nusa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[10] Kagiat dane Gusti Ngurah, Sang Nata tan wenten kanin, keris dane saget tikel, Gusti Ngurah raris mundur, saha nanggul keris nia, ngame ame, nunggalang jiwa premana.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[11] Kedek ngakak Ratu Nusa, saha matbat Gusti Jelantik, Gusti Ayu Kaler wirang, nyingak rabin dane mundur, ngregep nunggalang premana, ngamuk tuwi, manut pamargin ajinnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[12] Gusti Ayu raris nyagjag, sampunang beli ajerih, titiang ngaturang pusaka, anggen beli nyaya satru, I Gusti Ngurah nanggapa, metu jati, bayu ageng tan pasesa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[13] Saget ngerak Gusti Ngurah, nyaljal Dalem Dukut mangkin, pusakane katiwakang, keaksi ring Dalem Dukut, raris ararian aperang, ngadung orti, merasa ring kakasorang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[14] Ngurah Jelantik mangkin pirengang, rerenang perange jani, gelah suba merasa kalah, maija Ngurah malungguh, sarwa bogane ajenang, sambil ngorti, gelah jani manuturang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[15] Pusakan Ngurahe ika, ento mawisesa jati, menget nira kamimitan, jani gantin gelah lampus, lwih sakti Hyang Naga Raja, ring Basukih, ambalan mulih kaswargan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[16] Aran denikang pusaka, Pencok Sahang iku jati, tejane dahat dumilah, pican Hyang Toh Langkir tuhu, mirib sangkan sang hyang titah, nemu pati, ambah mulih ke Nirwana.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[17] Pebesen nira tatasang, pelebon mukur muang ngasti, Ngurah jua laksanayang, elingang panjake tuhu, tanah gagan sikut satak, pinggan kalih, masurat padma lan cakra.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[18] Guci agunge maguna, anggen masiram mabersih, kalaning madeg sang nata, kawotan utami tuhu, bala samar akeh pisan, sasur tali, mangda presida karenga.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[19] Sad Kahyangan aywa lupa, Tri Kahyangan iku jati, Penataran Agung Peed, taler ring Batu Medawu, Pura Penida lan segara, Pucak Mundi, Pura Bakung luwir nia.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[20] Yaning Ngurah suba tatas, yudane kawitin malih, sang kalih raris memarga, ring jabaan pada nuju, yudane pedaduanan, ngadu sakti, saling suduk kasuduke.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[21] Panjake bengong ngatonang, yudane kalintang sengit, wenten galah katiwakang, ketuwek dadan sang prabu, muncrat rah idane medal, girang sami, panjak Nusane masuryak.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[22] Ke purian layon kabakta, titah dane Gusti Jelantik, sami nangkil Ki Bendesa, margiang bisaman ratu, maosang pamargin yadnya, Gusti Jelantik, samun digjaya ring Nusa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[23] Wateking bendesa Nusa, sami sampun pada tangkil, Ceningan muang Lembongan, Jungutbatu Iseh Klumpu, Waru Tulad Penakidan, Rata Sakti, miwah taler ne lianan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[24] Ki Bendesa saking Sompang, kapingajeng iku tuwi, ngaraning bendesa Nusa, nabdab indik karya tuhu, rame ikang swaja karya, maring Peed, presida mangkin puputa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;OM&lt;/st1:place&gt; AWIGNEMASTU&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;Pupuh Ginanti&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[1] Kocap dane Gusti Agung, ring Nusa kalintang lami, dwaning muput yadnyan ida, sang sampun dados dewati, presida sampun laksana, plebon mukur miwah ngasti.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[2] Bendesa mangkin umatur, ampura titiang ring gusti, naweg titiang mapinunas, mangden ledang cokor I Gusti, lunga maring pondok titiang, wadwa Sompang liang sami.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[3] Risampun dane mekayun, kenyem dane Gusti Jelantik, yan aketo pinunas paman, menawita kadagingin, galahe jua pastika, apan gelah jaga mewali.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[4] Suksma titiang aratu, ratu sampun managingin, idep titiange garjita, benjang semeng jaga memargi, genah nyane maring desa, nuju kulon jaga memargi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[5] Ritatkala semeng sampun, sayaga jaga memargi, saha sergep babekelan, panjake akeh mengiring, antuk sami subaktiya, pemargine sada gati.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[6] Kocapan dane lumaku, sampun rawuh tengah margi, saget alase kacingak, saha bojog pagulanting, paksi pada masuara, rame pada ngawe asri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[7] Sugem keker muang kukur, punan atate memunyi, kruwek puuh lan titiran, celukukan ngulkul ngwangsit, guwak selaen mangulayang, buka girang jroning ati.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[8] Wenten tukad ne kapangguh, toyan nyane dahat ening, sami pada masandekan, daging alase ngulangunin, ring pesisi wenten pura, ngawe hening jeroning hati.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[9] Nglanturang dane lumaku, ngemunggahang dane mangkin, kocap sampun dane prapta, panjak pada kumpul sami, mangaturang panyambrama, cerik kelih luh muani.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;Pupuh Ginada&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[1] Kasembrama Gusti Ngurah, ring bendesa saha bakti, atur nyane sada banban, durus ngeranjing iratu, ampurayang mangde ledang, antuk Gusti, mungguing genahe nista.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[2] Ngadeg dumun Gusti Ngurah, titiang ngemargiang subakti, cokor ratu kewasuha, antuk ipun Luh Sulatri, sedurunge ratu munggah, nekeng hati, wantah tan wenten leteha.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[3] Durus ratu mangkin munggah, ring amben genah mangkin, raris katur sarwa boga, miwah mole mole katur, sakayun kayun kasida, Luh Sulatri, inceg ngaturang ayah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[4] Ring meten pada malingga, sami pada ngadung orti, panjake atap prenamya, sami ngaton Gusti Agung, dane darma maprebawa, kisi kisi, panjake pada medasang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[5] Pantes ngasorang Sang Nata, dane dahat madurgami, dabdab alus mangandika, pekantenan mula sadu, stata ngawenang kasukan, mula jati, dharmane neteh adharma.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[6] Matur malih Ki Bendesa, muhun ampura I Gusti, kaping telas atur titiang, mogi I Ratu mangrungu, pianak titiang kahaturang, Luh Sulatri, mangke ratu ngawewenang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[7] Gusti Agung mangkin kocap, runtag kayune ring hati, waluya ombak segara, ngatonang Sulatri ayu, kenyeme manis mengoda, luwih budi, separi tingkah adunga.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[8] Rambute lantang melayag, kulit putih susu nyagkih, kadi nyuh gadinge kembar, angob sami sang ngarungu, bisa pungkat yang nelektekang, pingit tuwi, nuut pengajah ramannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[9] Bangkiang rengkyang menyepaka, sledet nyanyap kadi tatit, waluya panah &lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;asmara&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, nuwek hati ked ketanggu, sane keni tan matingkah, nuut jati, dwaning keliput hyang semara.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[10] Gusti Agung manyembrama, napi bapa tuhu jati, paweh bapa triman gelah, suksma kalintang tuhu, eda bapa sumangsaya, nekeng hati, Luh Sulatri anggen rabia.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;Pupuh Sinom&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[1] Kocap sampun sandikala, wengine mangkin menampi, sami pada wus mesiram, ring meten raris mengungsi, Gusti Agung Luh Sulatri, ayat pada jaga aturu, ring kamar ya padadwanan, pada saling kisi kisi, Gusti Agung, nyaup Sulatri turua.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[2] waluya sanghyang semara, metemu ring dewi ratih, sami pada ngerasayang, demene ring jroning ati, mangkin presida mamurti, lulut asihe mepadu, kerasa tan wenten sira, ring jagate ane urip, sgara madu, sareng kalih ngerasayang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[3] uduh adi jegeg i dewa, kasub beli manyingakin, kayun beli keanyudang, blabar asmaran adine, waluyane beli ngipi, ada di segara madu, kewala tuah pesaja, adi di sisin beline, adi ayu, adi di hati malingga.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[4] uduh ratu dewan titiang, sampunang banget memuji, mangkin titiang ratu wenang, sampunang nyalit ring ati, sakarep titiang ngiring, yastun titiang ngemasin lampus, mapan titiang masubaya, ring dewek titiange nguni, titiang sanggup, ngayah ring wange digjaya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[5] Gusti Agung atman titiang, titiang tresna nekeng hati, mangkin gusti sara ledang, napike gusti menampi, tresna sujati ring hati, sampun megantung ring ratu, menawi tan wenten arsa, becik sampun titiang mati, dwaning ratu, sampun ngungkab korin titiang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[6] minab sampun sangkan titah, ring ida hyang parama kawi, mangkin suka kapicayang, dina benjang tan uningin, awinan sai ngastiti, setata eling ring kayun, sekejap tan naen engsap, antuk ida sane ngardi, sapunika, pabesen pekak titiang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[7] rasa wenten jroning manah, ring hati makumpul sami, yan sampun sida ngrasayang, rawuh ring telenging hati, mangkin waliang ring hati, kayun napi pacang metu, swaran hatine tan mimpas, napi kerasayang jati, iku tuhu, kang inucap lwihing pradnyan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[8] naweg ratu ampura titiang, purun titiang matur yukti, kadi besen pekak titiang, sara ledang ratu mangkin, cutet titiang menampi, napike dados pamutus, dwaning titiang ratu wenang, tiwakang kayune mangkin, inggih ratu, mogi i ratu sweca.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[9] kelangen beli mirengang, atur adine ring beli, ring hati sampun karasayang, ngiring pirengang ne mangkin, swaran hatin beline adi, mangda adi tatas ngrungu, eda adi sumangsaya, tresna beline sujati, kliwat dalu, mai adi masirepan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[10] raris ngojog pasirepan, sami ngadu lulut asih, kadi bedak nemu toya, wetu urip sarwa prani, praya landuh ikang bumi, weletik sarwa tinandur, raharja sida temua, gemah ripah loh jinawi, liwat dalu, minab tan sida sirepa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[11] pirang dina sampun lintang, mangkin wenten galah mewali, raris dane amantuka, desa peed ane kaungsi, jaga nuju jagat bali, gusti ayu sergep sampun, jurit bali mangiringang, tan hana along sasiki, raris mantuk, nuju jagat bali pulina.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;Pupuh Mas Kumambang&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[1] mangkin kocap, kawentenan luh sulatri, maring desa sompang, kayune sedih tan sipi, menulame mangajap.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[2] sasuhunan, aksi titiang kadi mangkin, napi iwang titiang, duhkita titiang ring hati, durus picayang pemarga.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[3] peteng lemah, wantah titiang lilit sedih, suka nemu duka, menawi karma kepanggih, ratu sami ngawiwenang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[4] gusti ngurah, menawita gusti lali, tan eling subaya, dumadak gusti mangipi, uning kawentenan titiang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[5] kasih sayang, ring dija genahne mangkin, nenten kerasayang, duk gusti ninggal memargi, wenten sampun tigang bulan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[6] saget degdeg, manah nyane luh sulatri, minab sangkan si jabang, tuwuh weteng tigang sasih, raris matur ring ramannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[7] semeng kocap, ki bendesa lunga mangkin, mangdene tan marma, nuju maring puri jlantik, irika ring swecapura.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[8] gegancangan, pamargine jaga tangkil, tan kocap ring jalan, saget prapta ring puri jlantik, ngadpada ngaturang sembah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;Pupuh Durma&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[1] singgih ratu titiang pedek prana gata, dwaning sarat ttiang tangkil, mogi ratu mengampura, apan buat atur titiang, mogi ratu ledang menampi, sakin wekas, swecan ratu ring panjak sami.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[2] tigang sasih lamin ipun duk mayuda, wadwa sami mamuji i gusti, jaya ratu maring nusa, suralagawa ring rana, mangkin wadwa sami trepti, wanging nusa, sami margiang titah gusti.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[3] matur malih ki bendesa ngelanturang, atur dabdab sada jati, singgih ratu menawegang, titiang matur mangden tatasa, kawentenan luh sulatri, pianak titiang, ngerempini tigang lek.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[4] kagiat dane gusti agung tur ngandika, uduh bapa gelah eling, kayun gelah dahat garjita, nguni hana pasubaya, twi lawan luh sulatri, de sumangsaya, gelah mapica mangden jati.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[5] sinah ni luh manulame ngajap ajap, swecan gelah kapitwi, iki ganjaranku kadga, naga dungkul kang maharan, sad ukudan gelah jati, gen pawiwaha, arep ri luh sulatri jati.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[6] upacara pawiwaha arya mawadwa, eling bapa tatasang jati, mangde ngawe pekarangan, mangden tan awor ring kita, jeroan sompang ikang nami, wetu rare, ajak tangkil nemu i aji.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[7] sampun tatas jro bendesa mepamit budal, saha mundut keris I gusti, tan kocapan maring jalan, sampun rawuh ring desa sompang, keris katur ring luh sulatri, sayan pageh, liang mangkin luh sulatri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[8] matur mangkin luh sulatri menatasang, napi malih pandikan i gusti, nimbal mangkin jro bendesa, sami sampun kahuningang, luh sulatri liang miragi, kenyem kenyem, ngastitiang si jabang bayi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[9] kacarita wadwa sompang ngarya padukuhan, genah dane sang ngerempini, iku ngaran jeroan sompang, pepek daging upakara, luh sulatri mawiwaha, sareng kadga, gentos dane gusti ngurah jlantik.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[10] sewentennya luh sulatri ring jeroan sompang, ganti gumenti ikang kata, pitung sasih weteng nia, kemargiang pagedong gedongan, kadi pabesene nguni, mangda tan lempas, kadi titiah gusti ngurah jlantik.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[11] dahat raharja kawentenan jeroan sompang, ngerahina ngerastiti, mangden asung wara nugaraha, ida sang hyang widi wasa, molihang nanak utami, mawiguna, ring jagate kulawarga sami.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[12] sampun tutug tuwuh nyane weteng nia, embas rare lanang yukti, wadwa sami pada liang, bendesane sayang mangemban, sergep upacara sami, arya mewadwa, kadi titah dane i aji.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[13] lami sampun sayan duhur tuwuh nia, kirang langkung amasa mangkin, biyang nyane dahat sayang, sami pada menyayangang, raharja anake alit, katon bungah, biang dane mituturin.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;Pupuh Semarandana&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[1] uduh dewa sang utami, dewa yukti atman titiang, durus dewa renga jua, kawentenan ring mercapada, dewa sampun iring titiang, niti pemargin sang patut, mikukuihin daging darma.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[2] mangkin titiang mapiuning, bawos jati ring i dewa, mangden dewa ledang ngrenga, ajin idewane budal, ring jagat bali pulina, riwus dane nyaya satru, ratu dalem bumi nusa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[3] sedih titiange tan sipi, ketinggal ajin idewa, mamulisah lemah dalu, dahate kalintang tresna, toyan pangaksi tan pegat, tresnane tan rawuh ketanggu, memarga manut swadarma.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[4] manut pabesene nguni, mangda titiang nyayang idewa, pengentos dane lumaku, wenten malih kapicayang, pinaka jiwa premana, keris dane naga dungkul, makecihna pawiwaha.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[5] titiang biang dewa yukti, sampunang dewa sangsaya, sayang titiang banget tuhu, ida idewa satmaka, urip titiang pinaka tohnya, margiang tingkahe mangempu, mas manik titiang idewa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[6] uduh ratu sang hyang widi, taler gusti agung ngurah, aksi titiang ne ring kidul, wentene ring bumi nusa, doh yukti tan kacingak, slat segara yukti iku, ring hati moga melingga.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[7] pati brata satyeng laki, punika janji utama, rihin katur ring iratu, lulut asih masumaya, tingkahe ring pamereman, bakti anggen titiang nawur, gusti wantah jiwan ttiang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[8] wenten putrane sawiji, pengantungan urip titiang, manah pageh titiang metu, eling ring sang rare medal, mecihna saha prebawa, eling titiang ring iratu, sangkan titiang sahuripa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[9] yan tan sangkan nake alit, meh sampun titiang pejaha, melarapan kadgan ratu, ganja dungkul manyedayang, inggian sangkan tresnan titiang, ring swarga mogi ketemu, ring iratu ajap titiang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[10] inggih dewa sang utami, punika kawentenannya, ajin dewane malungguh, irika ring swecapura, nguni wenten pasubaya, yan sampun mamunggah duhur, presida jaga temua.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;Pupuh Ginanti&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[1] bendesa mangkin karungu, liange tan kadi kadi, apan hana metu kewangia, warih sang paragan luwih, pepek sampun upakara, arya mewadwa utami.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[2] jero bendesa sedeng ngempu, kancit rawuh luh sulatri, mapidarta saha semita, eling ring subaya nguni, lanak mangda kewawa, swecapura jagat bali.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[3] kenyem manis ngemu madu, atur nyane sada gati, cihna bakti ring rerama, toyan panone tan mari, karasa merawat rawat, gusti agung jroning ati.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[4] pireng atur titiang guru, elingang subaya nguni, putran dane tinuntuna, mangda katemu ring aji, mantuka ring swecapura, mangdene tan iwang pamargi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[5] putran dane jati tuhu, dane patut mikayunin, mangdene tan titiang iwang, ngelongin subaya nguni, dane dahat kelintang sweca, titiang nunggil jroning hati.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[6] kepiarsa ring i guru, jero bendesa nampenin, mapikayun jaga lunga, jagat baline kaungsi, rahinane kapastika, galah becik ne gumanti.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[7] sedurung dane aturu, kocap dane luh sulatri, melid mebesen ring putra, mangden tan langgah ring aji, sembah baktine elingang, cokor ida gamel jati.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[8] iringang sami pekayun, ajin dewa pradnyan luwih, patut ida ngawewenang, cihnayang suputra jati, luh sulatri tan merasa, ature maduluran tangis.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[9] sampunang jua ratu purun, nulak wacanan i aji, ida dahat sumbungang titiang, riantuk sampun mabukti, sida nyaya ratu nusa, sangkan asung ida hyang widi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[10] elingang ratu mekayun, mangdene tan titiang sedih, yan predene ratu lempas, becik sampun titiang mati, dumadak Hyang Widi Wasa, stata asih ring i gusti.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[11] dinuju rahina ayu, sang rare raris memargi, tinuntun ring jro bendesa, panjak akweh manyarengin, tan kocapan maring jalan, kancit rawuh ring puri&lt;strong&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;Pupuh Durma&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[1] semeng sampun kawentenan ring swecapura, panjake ring puri jlantik, sami pada ngamet karya, manut mekadi swadarma, cihnan jagate sutrepti, wibuhing brana, wastu liang panjak sami.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[2] yata kocap kyayi agung ngurah jelantik bogol, kahiringan ring i rabi, gusti ayu kaler parabnya, mawirasa makarwa, eling pamargine nguni, ngemargiang paswecan, asung ida hyang parama kawi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[3] eling beli duk titiang ngiring ke nusa, tresnan titiang ngemasin mati, yan pradene beli seda, titiang jua manindihin, mangda nunggil titiang ring beli, tresna sayang, metu saking telenging ati.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[4] sangkan wenten paswecan hyang widi wasa, tusuk konde madurgama, duk keni ring tukad unda, ring tengah sahang malingga, kala wengi titiang mengipi, wenten sabda, rawuh ida saking toh langkir.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[5] kasembrama atur dane saha semita, tresnan adi dahat utami, yan tan sangkan idewa, pastika beli pejaha, swecan ida ne ring adi, madurgama, sida nyaya ratu sakti.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[6] kancit dateng jro bendesa nusa sompang, pedek tangkil ring igusti, dabdab matur saha sembah, kawula muhun ampura, mangda ledang sweca ugi, raris nimbal, gusti agung menampenin.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[7] uduh bapa apa puaran bapa prapta, pidartayang mangden jati, punapa kang wadwa nusa, ri dwastane mahadihyang, pretakjana ada bani, moga moga, landuh ikang ukir jeladi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[8] matur malih jro bendesa saha sembah, panjak nusa muji i gusti, sura lagawa ring rana, masedana agung darma, wetu asih ida hyang widi, bumi nusa, mangkin sampun sami trepti.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[9] kagiat dane ngaksi rare sareng prapta, saha nyembah ngatur bakti, eling pabesen I biang, ngelut cokor ngegisiang, saha nangis aji aji, bengong ngatonang, anak alit pradnyan yukti.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[10] raris dane mangandika ring bendesa, uduh bapa warah jati, sang apa rare tinuntutn, denta teka ring manira, waraha juga sada gati, mangden wruha, tatas antuk nira nampenin.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[11] singgih ratu gusti agung ampura titiang, niki wantah putran i gusti, medal saking pianak titiang, luh sulatri ne maharan, eling titiang subaya nguni, kadi punika, sarat tangkil titiange mangkin.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[12] kesiab dane gusti agung mamirengang, sedih liange manunggil, uduh barak bagus idewa, bangun dewa dini malungguh, di samping ajine dini, aji mapewarah, mangda cening tatas uning.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;Pupuh Pangkur&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[1] gusti lanang kepandaian, parab dane nangun arsa sang ngulati, angob sami sang ngarungu, nangun arsaning tuminggal, alep bagus kenyem manis ngemu madu, penikane alus medal, ngawe liang sang miragi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[2] gusti agung mangandika, uduh nanak becik mangkin piragi, nanak warih aji tuhu, eda nanak sumangsaya, dwaning mangkin sampun presida ketemu, usanang nangis idewa, aji mabesen ne mangkin.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[3] uduh ngurah cening idewa, pireng tuhu pabesen ajine mangkin, darma nyraka ring sang prabu, mlajah metingkah laksana, eda lali trikaya mangden karungu, sawitra juwa elingang, margiang sami agami.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[4] darma jua laksanayang, mapan iku sinanggeh utami, purun jua melanin patut, tingkah darmaning ksatrya, apin lampus yan sampun melanin patut, karma pala menyantosang, jaga nyujur jagat suci.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[5] aywa kita akweh ujar, laksanane mangda janten yukti, ngawe liang sang mangrungu, idep melanin negara, ento jati margiang laksanane sadu, presida mangda kelingan, daging jagat sami asih.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[6] cening ngurah bagus idewa, eda lali yastun aji di bali, bakti jua ring kawitan, cungkub kroting lan pedarman, iku tuhu luirnya mrajan agung, moga kita dirgayusa, rahayu mangden pinanggih.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[7] uduh ngurah kepandaian, eda ibuk aji mula ngastiti, pageh idewa sareng ibu, yadian selat segara, jroning hati dewa lan ibu malungguh, maka cihna aji sayang, mangkin wenten swecan aji.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[8] nguni duk aji meyuda, taler wenten paswecan ida sri aji, ring nusa pinaka ratu, sri dalem dukut puspata, manywecanin tanah gagan satak sikut, antuk aji muputang karya, plebon mukur miwah ngasti.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[9] punika nanak kwasayang, genah nyane ring desane di peed, wenten taler piteket ratu, wanging nusa tan lipia, tri kahyangan, sad kahyangan taler iku, batumdawu, penataran agung peed, taler wenten puncak mundi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[10] perhyangan ring penida, pura bakung pura segara, punika mangden karungu, manut sekadi bisama, duke nguni daweg ida nyeneng ratu, keto nanak apang tatas, ki bendesa kapituwi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[11] wenten malih swecan ida, guci agung saha pinggan rwang siki, utamane kawotan iku, taler akweh bala samar, sasur tali tatasang cening mangrungu, puja astuti margiang, sida wetu welas asih.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[12] moga cening eling jua, teken panjak duk bakti ring aji nguni, mangkin nanak ane ngrungu, wentene ring suang desa, aneng nusa margiang asihe tuhu, adung sami ring pakraman, awig adat aywa lali.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[13] ana desane ring nusa, lwirnia jungut batu ceningan sakti, lembongan iseh rata waru, klumpu tulad penangkidan, desa sompang kapingajeng iku tuhu, mangda sami medabdabang, nangun nusane sutrepti.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[14] menget dane gusti ngurah, mapikayun ayat jaga tangkil, lumaris dane lumaku, sareng putra lan bendesa, puri agung punika sane katuju, pedek tangkil ring sang nata, ngaturang indike jati.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[15] sarat nyinung lunggah kang putra, tangkil mangkin dane rakryan jlantik, ngadpada matur ring sang prabu, sang prabu ida masabda, saha smita waluyane sangyang wisnu, pranagata ngurah prapta, apa tunas ngurah jani.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[16] inggih ratu sasuhunan, dwaning sarat awinan titiang tangkil, lugrayang durus swecan ratu, apan wenten stanan titiang, aneng nusa, ngurah kepandaian aratu, durus ratu mangda sweca, eling pemargne nguni.&lt;strong&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;Pupuh Ginada&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[1] uduh ngurah pwa kita, manira tan jaga lali, baktin ngurahe ne suba, manira tuah magrungu, ngurah presida mejaha, ratu sakti, ana ikang mareng nusa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[2] apan ana pianak ngurah, ana paweh aku mangke, bisaman nira elingang, mangke kedadosang ulu, wali agunge ring nusa, keto jati, ngawewenang panjak nusa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[3] ana pamrihanku juga, apang ngurah tuhu jati, arep ri janjin manira, mangden ngurah tatas ngrungu, jujukang pura pedoman, iku jati, maka cihna janjin nira.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[4] aran ikang pura pedoman, ento mula tuah pejanji, janjin manira ring ngurah, nanak ngurah maka ulu, apan ngurah mawisesa, ngiring jati, mejahaken ratu nusa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[5] ana muah paican gelah, apan ngurah tulus bakti, angaturang bumi nusa, ratu sakti presida ru, aku weh kita pusaka, keris iki, ana dahat madurgama.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[6] ida sang hyang widi wasa, ida wantah maka saksi, ring bisaman nira ento, moga kita jati tuhu, stata eling ring swadarma, ngagem yukti, tingkahing dadi satrya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[7] singgih ratu sasuhunan, sembah bakti titiang aksi, titiang wantah tan lipia, antuk swecan ledang ratu, duk yayah titiang pejaha, maring puri, ratu dahating sweca.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[8] mangkin taler ratu arsa, ring nanak titiang sawiji, taler ring ipun bandesa, wantah ipun sane ngrungu, ngemban ngurah kepandaian, sampun jati, titiang mangkin mamwita&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;Pupuh Mas Kumambang&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[1] mangkin kocap, wentene ring puri jlantik, gusti kepandaian, metu aturnya ring aji, keiring jero bendesa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[2] pegat pegat, atur nyane ring aji, aksi sembah titiang, titiang tan purun ring aji, dewek titiang aji wenang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[3] malih pidan, aji ke nusa memargi, wenten iring titiang, ibun titiang sai sedih, raina wengi ngajap ajap.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[4] tunas titiang, sampunang i aji lali, ring dewek titiang, yastun aji ne ring bali, sayang aji ajap titiang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[5] eling titiang, ring pabesen biang malih, kelangene kalintang, wantah dahat tresna jati, mangda aji sahuninga.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[6] saha sembah, raris ngelut cokor aji, kegisi tekekang, mamulisah nangis sedih, eling jaga mepalasan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[7] gusti agung, medalang toya pengaksi, uduh cening ngurah, klangen aji memiragi, aji sayang ring i dewa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[8] raris nimbal, jro bendesa saha bakti, nglungsur pangampura, dwaning galahe mepamit, jaga mewali ke nusa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[7] gusti agung, medalang toya pengaksi, uduh cening ngurah, klangen aji memiragi, aji sayang ring i dewa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[8] raris nimbal, jro bendesa saha bakti, nglungsur pangampura, dwaning galahe mepamit, jaga mewali ke nusa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;Pupuh Sinom&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[1] jeroan sompang mangkin kocap, punyan tunjung maka ciri, carang nyane ngerempayak, mebunga ya sai sai, ngawe liang sang ngulati, bunga putih miik ngalum, genah etis mesayuban, ngawe garjita ring ati, bongkol ipun, batu lempeh ageng pisan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[2] sang ana ring jeroan sompang, warih kiyai ngurah jlantik, gusti lanang kepandaian, parab dane ne sujati, biang dane luh sulatri, okan jro bendesa tuhu, mangkin sampun mapidabdab, pewangunane memargi, duk ne dumun, bisama sampun katrima.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[3] swateking pretakjana, kebagian tanah sami, wentennya ring jagat nusa, sampun presida sutrepti, pemargine adung sami, dwaning tan wenten pakewuh, ratune sampun pejaha, asah asihe memargi, sami guluk, jaga nabdab bumi nusa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[4] gusti lanang kepandaian, sampun munggah teruna mangkin, nangun arsane tuminggal, dahat menganyudang hati, rupa bagus luwih budi, kenyem manis ngemu madu, truni trunine mulisah, metu manah nyane paling, yan ketuju, sander tatit pengaksian.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[5] meguru dane setata, melajah metingkah jati, mangda sida ngagem darma, pinaka senjata tuwi, kalaning kantun maurip, mangda sami asih lulut, yastun buta yata dewa, manusane sami asih, sangkan sadu, saluwir tingkah laksana.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[6] yan sampun dane ngandika, panjak nenten purun sami, dabdab alus saha smita, bangrase tan nahen murti, ketepes jroning hati, kekancing antuk sang sadu, awanan panjake liang, bakti asihe memargi, sami adung, kerta ikang wadwa nusa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[7] wenten penikan i biang, dewa sampun truna mangkin, pantes i dewa merabia, mungpung titiang kari hurip, titiang sampun mamilihin, punika yan ratu rungu, yata kocape ring subia, tosan pande iku yukti, listu ayu, jegege tuara da pada.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[8] luh warsi yukti arannya, kemikane nyunyur manis, madu juruh kekawonang, midep pungkat sang mangaksi, taler pradnyan luwih budi, patut anggen titiang mantu, mogi dewa ledang arsa, presida jaga nampenin, uduh ratu, gelis dewa merabia.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[9] i nanak mangkin manimbal, durus ibu pireng mangkin, kayun ibu manut pisan, titiang katemu duk nguni, sareng ipun ni luh warsi, manut kadi bawos ibu, titiang kari mangengkebang, kimud titiange ring hati, sareng ibu, takut yaning tan katrima.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[10] yening kadi sapunika, dabdabang ibune mangkin, sareng pekak laksanayang, mangde gelis titiang merabi, mangden wusan titiang ngipi, mangipiang ni luh ayu, genahe edoh ring subia, tan sida kacunduk sai, pingit tuhu, margiang sampun papadikan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;Pupuh Durma&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[1] kocap mangkin kawentenang pawiwaha, gusti lalang lan luh warsi, akweh rawuh wadwa nusa, taler sami jro bendesa, nyaksiang dane merabi, ramia karya, cihna bakti ring i gusti.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[2] trepti ikang jagat nusa saha raharja, kewawa ring dane gusti, antuk pradnyan ngetang jagat, salunglung sabayantaka, awige trepti memargi, wicaksana, wetu liang wadwa sami.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[3] wewangunan taler sampun kalaksanayang, sad kahyangan keling sami, taler widang sasolahan, kekawin lan gaguritan, metastra sane utami, tetabuhan, jojor jangkang baris pati.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[4] sampun lami sawentennya ring jeroan sompang, masentana kalih diri, pinih duhur ne maharan, gusti lalang pamedilan, tanggun nyane arak api, maprebawa, agung aluhur selem yukti.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[5] kumis atub teguh dane ne mabingkal, lawan satru tan ajerih, seneng maolahan, ajejuden taler suka, untun nyane ne maputih, mewibawa, inaturan ring peed sumendi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[6] apan hana tanah gagan sikut satak, swecan ida betara nguni, dane wenang ngewasayang, irika dane malingga, duke nguni pecak puri, dangin pura, kadadosang jero gumanti.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[7] kaping rwa putran dane gusti kepandaian, gusti gede tojan twi, dane watah maprebawa, jemet ring sarwa tatwa, wikan ngwilang antuk jari, slokan bintang, wikan niti daging usadi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[8] dane wantah nyeneng kantun ring jeroan sompang, sang ngatonang sami asih, inggian ngelarang kedarman, teleb melajahang raga, stata bakti ring widi, munggah truna, ngalap rabi saking sompang. [9] kocap mangkin dane gusti pamedilan, sampun duur dane mangkin, dane sampun merabia, luh tangkas ikang nama, tosning tangkas koriagung yukti, putra sinunggal saking rare karogi nglaranin.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[10] balian sami sampun kautus matetamban, tan presida balian sami, raris dane sahilinga, ngame ame ngajap ajap, yan seger aji mejanji, nuntun pura, pura pedoman suun aji dini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[11] duk tan sweca tan lugraha ida ring peed, tan hana sentana malih, ngamet putra saking sompang, kapupu putra sentana, eling luhure manunggil, kepastika, dwaning patut kawitannya tunggil.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[12] sapunika pemargine duk nguni kuna, manut kadi ring presasti, kawentenan jeroan sompang, ring peed taler wantah tunggal, saksat sepit minekadi, tan palasang, mogi asih hyang parama kawi.&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1369378906719126273-6105376508522603627?l=babadnusapenidamenggugat002.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://babadnusapenidamenggugat002.blogspot.com/feeds/6105376508522603627/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1369378906719126273&amp;postID=6105376508522603627&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1369378906719126273/posts/default/6105376508522603627?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1369378906719126273/posts/default/6105376508522603627?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://babadnusapenidamenggugat002.blogspot.com/2010/03/babad-np-fersi-gg-prasasti-dm.html' title='Babad NP fersi GG Prasasti DM'/><author><name>I Wayan Lugra</name><uri>https://plus.google.com/109171635567899780184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-Yl4tsswI00Y/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/2qMVv2LoKuE/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;Ak4EQX4yeip7ImA9WxBaFkg.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1369378906719126273.post-3029248138852297861</id><published>2010-03-27T08:06:00.001+07:00</published><updated>2010-03-27T10:01:40.092+07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2010-03-27T10:01:40.092+07:00</app:edited><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Babad NP Unduhan Dunia Maya.'/><title>Babad NP Fersi lain Dunia Maya</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="PlaceName"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="PlaceType"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} a:link, span.MsoHyperlink 	{color:blue; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed 	{color:purple; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} p 	{mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0cm; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0cm; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} span.stijl3 	{mso-style-name:stijl3;} span.stijl1 	{mso-style-name:stijl1;} p.stijl2, li.stijl2, div.stijl2 	{mso-style-name:stijl2; 	mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0cm; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0cm; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="stijl3"&gt;If this page does not appear in navigable main frame, please click &lt;a href="http://www.nusapenida.nl/"&gt;here.&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="stijl1"&gt;Kaleran's journey to Nusa Gurun&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="stijl2"&gt;Seven voyages out to Nusa Penida during the reigns of King Bekung and Seganing&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Below text was copied from a collection of stories in the archives of Ida I Dewa Gede Catra at Amlapura, Karangasem, &lt;st1:place st="on"&gt;East Bali&lt;/st1:place&gt; (2007). The origin of this story lies with the heirs of I Dewa Kaleran at Klungkung, and apparently the events described were written down not in Balinese, but directly in Indonesian. The text does not present numbers of sentences, which would be the case if it concerned a transliteration a copperplate or palm leaf inscriptions. It takes the form of a babad, a genealogy of a particular family clan to describe and justify a family clan's roots, presence and status. However, the word 'babad' is not mentioned in the text. It is, therefore, not inconceivable that an original Balinese text is available, since Babads are usually written down in Balinese. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;It succinctly describes the history of the &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:placename st="on"&gt;Gelgel&lt;/st1:placename&gt; &lt;st1:placetype st="on"&gt;Kingdom&lt;/st1:placetype&gt;&lt;/st1:place&gt; and the genealogy of the Kepakisan Royal Family, up to King Segening (Seganing), and the relations with Nusa Gurun (Penida) which start with the death of King Wukut at the hands of I Gusti Jelantik. A total of seven journey's to Nusa Gurun are described, of which the voyage undertaken by I Dewa Kaleran would be the most significant. The text ends with the description of events related to the &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:placetype st="on"&gt;village&lt;/st1:placetype&gt;  of &lt;st1:placename st="on"&gt;Batununggul&lt;/st1:placename&gt;&lt;/st1:place&gt; (Nusa Gurun) in the 1950s.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;This text has all the characteristics of a babad, but at the same time it seems to be a rendering of historic events rather than mythological ones. Names of kings and other people are given, years are stated clearly and there seems to be a chronological sense to the story. When checked with other (reliable) historical sources, the events described in this 'Journey' seem to hold true.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;The Indonesian used in the text is rather curious. At times, the text is 'pregnant' with not only meaning, but also shows 'flowery' language, unclear (grammatical) constructions, spelling mistakes, mystifying name constructs (e.g. 'Dalem Waturenggong Kresna Kepakisan', or 'I Dewa Kaleran Puaji') and never-ending sentences of sometimes more than 10 lines. Babads, but also copperplate, stone and palm leaf inscriptions, usually abound in vagueness. This not only goes for the (absence of) names, which would be taken as a sign of respect to those mentioned (especially kings and other people of royal descent) but also for the self-declared 'stupidity' on the part of the writer, who often disguises his own and other names.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Seven journeys&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;After an initial description of the Gelgel royal lineage and the importance of Nirartha in matter of religion at court and elsewhere, the first journey to Nusa Gurun briefly mentioned is the one undertaken by I Gusti Jelantik who vanquished King Wukut. The year of this event is not mentioned.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Directly afterwards, the second journey to Nusa Gurun is described, in more detail, by Dukuh Puaji, one of Nirartha's pupils. He was sent there by King Waturenggong to bring Hindu religious principles as they were adhered to at Gelgel court. After founding Pura Puaji at Batujungut (Jungutbatu, Lembongan), he lived at Batu Adeg, but a few years later was expelled by the 'Original people of Nusa Gurun'. These people play an important part in the entire story, as they are considered wild, rebellious and a people with different and not suitable religious principles, in other words, these Original Penidians give the kingdom reason to act and wage a war on the infidels on Gurun. Dukuh Puaji was insulted, and his (religious) views contested. Hence, he went back to Gelgel to consult with King Bekung in 1550.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;The third journey was undertaken by Dukuh Puaji and I Dewa Kaleran, a hefty young lad of barely 20 years of age (born 1522), son to I Dewa Kaleran Sakti (who had also been to Gurun or was planning to travel to Nusa Gurun as well?), grandson to I Dewa Gedong Artha. (This journey, then, would have taken place in 1542.) The two men and their entourage went to Batu Adeg. The Original Penidians were even more dignified this time, so a war was inevitable. The Original Penidians' King by the name of Datuk Korda who had his court at Sukun (present day Batu Madeg) was defeated and killed in a duel with Kaleran. The Penidians gave themselves over to Kaleran. Victory was there and peace reigned, so Puaji was finally able to teach the Penidians Hindu religious principles.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Journey number four was undertaken by Brahmana Buncing from Griya Kaleran in Pejeng (Gianyar). Pejeng experienced major natural disasters, probably earthquakes and landslides. He was given clergy and a 'wasiat' cane of Casuarina (Indon. Cemara) wood, and left for Nusa Gurun, where he planted the cane in the '&lt;st1:place st="on"&gt;Peninsula&lt;/st1:place&gt;' Gurun, after which Pejeng was safe. Nusa Gurun from then on was called Nusa Cemara. Brahmana Buncing went into meditation of Tegeh Kori Hill (present day hill up from Sampalan) and built a hermitage. There he recited poems (Balin. makakawin, moas) and from this moment onwards he was called Brahmana Moas. The hill was called Bukit (Hill) Maos. His activities, however, did not go unnoticed and he was reported to Penidian King Pan Granyab, after which he was expelled from Maos Hill. He left for Saren (present day Batu Madeg). There, Kaleran had defeated the Penidians and their king Datuk Korda. Around Bukit Maos, however, strife was rampant. Kaleran, Puaji and Maos conferred and decided to call on the king at Swecapura and ask for assistance in order to vanquish the Penidians at Bukit Maos. I Dewa Kaleran left for mainland &lt;st1:place st="on"&gt;Bali&lt;/st1:place&gt;, where King Bekung decided that Kaleran was going to be granted help.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;The fifth journey, then, was undertaken by I Dewa Kaleran together with I Dewa Timbul, son to I Dewa Timbul Gunung, grandson to I Dewa Gedong Artha who was the advisor to King Bekung. They were accompanied by a number of Satria Dalem. From Batu Adeg they left for Bukit Maos. Thanks to Brahmana Maos' advice and spiritual strength, which he owed to rocks in the possession of mys&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_1Oq1qRRP-eo/S61z1TJFglI/AAAAAAAAAas/RjkJYa69VwQ/s1600/NP+3.JPG"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 313px; height: 244px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_1Oq1qRRP-eo/S61z1TJFglI/AAAAAAAAAas/RjkJYa69VwQ/s200/NP+3.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5453142083324183122" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;terious power (Batu Unggul), war was raged on the Penidians, and the Penidian King Pan Granyab was killed. Brahmana Maos died after meditation, and his palinggih is worshipped to this day. The magic rocks gave their name to the place where they were found: Batununggul.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;In Swecapura, the &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:placename st="on"&gt;Gelgel&lt;/st1:placename&gt;  &lt;st1:placetype st="on"&gt;Kingdom&lt;/st1:placetype&gt;&lt;/st1:place&gt; was in a state of chaos after rebellion broke out against the rule of King Bekung. I Dewa Gedong Artha's younger brother I Dewa Anggungan participated in the rebellion, at which both moved away or were expelled from Gelgel. I Dewa Anom, son to I Dewa Anom Pande and grandson to I Dewa Gedong Artha, undertook the sixth journey mentioned in this story and left for Nusa Gurun to join his family. Anom possessed great spiritual strength and was a religious teacher. He became a bujangga and reclaimed land around Batununggul.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Between 1550 and 1580 King Bekung's power came to an end, and the crown was passed on to his younger brother Dalem Dimade, often referred to as King Segening, who ruled rigourously. Under his guidance and rule, in 1580-1665, the &lt;st1:placename st="on"&gt;Gelgel&lt;/st1:placename&gt; &lt;st1:placetype st="on"&gt;Kingdom&lt;/st1:placetype&gt; expanded to Lombok and &lt;st1:place st="on"&gt;Sumbawa&lt;/st1:place&gt;. I Dewa Pesawahan and I Dewa Sumerta, who wanted to follow the example of their uncles, who had moved to Nusa Gurun a long time ago. These men undertook the seventh journey. They settled around Batununggul and introduced the concept of Kahyangan Tiga and established a number of additional temples, e.g. Pura Melanting, Pura Segara and Mrajapati. After a description of events involving the Satria Dalems (1956-1958), I Dewa Made Pejeng became village head of Batununggul.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Nyoman Djelada&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;When an analysis is attempted and years are compared with other sources, for example of the historian Gora Sirikan (Nyoman Djelada) who finished his 'Sedjarah Bali' in 1956, we read the following data on four consecutive kings during this period, with additional information of major events at this time which might help to shed light on Kaleran's story: &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;1. King Waturenggong ruled 1460-1550, and he passed away little before 1556 [DJE56-181].&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;2. King Bekung (Pemahyung, Raden Pangarsa), ruled 1570-1580, died 1599 [DJE56-185/197].&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;The rebellion against Gelgel, which started at the death of Waturenggong in 1556, lead by General Batan Jeruk was later connected with a ship that ran aground near Bukit Jimbaran (Bukit Pecatu, Varkenshoek) in 1586. The events were taken down on paper by a Dutch crew member called Lintgensz, one of the five surviving crew members. The Gelgel government helped the men, but the ship's freight (weapons) was confiscated by Gelgel. The two men who conspired against the Gelgel crown were Kyai Pande and Kyai Jelantik. Jelantik was the grandson of Pangeran Asak, also called Kyai Pasimpangan. After investigations, it became clear that neither of these men were actually actively involved in the rebellion and were not punished. However, Kyai Pande was sent over to Sumbawa in order to quench rebellion there, and Kyai Jelantik was sent over to Pasuruhan to combat the &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:placename st="on"&gt;Mataram&lt;/st1:placename&gt;  &lt;st1:placetype st="on"&gt;Kingdom&lt;/st1:placetype&gt;&lt;/st1:place&gt;. In 1578 (year calculation based on chandrasangkala as mentioned in the Babad Dalem) Kyai Pande was murdered as a result of intrigues at Gelgel court, together with a relative and his child. Other sources quoted by Djelada mention the year 1581, and Van der Tuuk mentions the year 1585. Djelada concludes that the rebellion must have taken place in 1590. After the rebellion was quenched, King Bekung gave over the throne to Seganing, and moved out of the royal palace to Jero Kapal. From that moment on he was called 'Sang Ring Badauh' ('He Who Lives in the West'). Since Kyai Jelantik (Kyai Pasimpangan) had participated in the rebellion, he saw his status and name besmirched by his involvement. There is a poem that says" 'dening ulah durjananira anut eng buddhi', i.e. his faulty behaviour caused his hopes to be lowered. His sins may not have been punished during his lifetime, but they were expiated by his son Kyai Jelantik who was sent out to Blambangan. His departure from the harbour at Kuta was witnessed by Dutch people who talked of a (General) 'Jerantik' and some 20,000 troops around the year 1597. After this he left for Pasuruhan. He lost the fight, was disarmed and died in mid battle in 1598, hence he was named Jelantik Bogol. His wife in the meantime gave birth to a son who, by Seganing, was given the name Ki Bogol, to honour his father. (DJE56-184/196).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;King Bekung died not long after Kyai Jelantik died in Pasuruhan, probably around 1599.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;3. King Seganing (also called King Di Made), (1580-1615?), died 1621 (DJE56-199).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;4. Dalem Di Made, his third son, (ruled 1635-1651)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Djelada cites the Babad Blahbatu and recounts that during the reign of King Dimade, a man by the name of Kyai Jelantik Bunghaya was sent out to Nusa Penida accompanied by his wife Ayu Kaler who was in the possession of the Holy Keris called Ki Pencok Sahang. The company left Kusamba with around 200 men in a number of small vessels (jukung) and landed at Jungutbatu and met with a village head from Lembongan. Jelantik's arrival was welcomed since the people had been suffering the consequences of King Bungkut's cruel reign. Jelantik managed to kill King Bungkut in a duel; the king was stabbed with the Keris. Djelada explains this happened approximately in the year 1625. From that moment onwards, the rule of Gelgel also extended to Nusa Penida. Jelantik was hailed as a hero for having quenched the rebellion in Nusa Penida. (DJE56-201).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Preliminary analysis&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;As discussed elsewhere, objective 'historical' records are scarce. The Babad Blahbatu, one of the sources from which Djelada cites, can hardly be called a historical record, since it's a genealogy. He also bases his views on other sources. If we, then, for a moment presume that the data presented by Djelada are trustworthy and bare a verisimilitude to actual historical events, then the events as described in the story 'Kaleran's Journey', as far as the years mentioned are concerned, are pretty accurate. Kaleran's Journey took place during the reign of King Seganing. If we calculate Kaleran's year of birth 1522 and his tender age of 20 at the time of his first journey (presuming the Indonesian text does indeed give these details as such, which is not certain for the sentences are chaotically constructed), then this journey would have taken place in 1542, i.e. during the last years of Waturenggong's reign. When Dukuh Puaji went back to Gelgel to consult with King Bekung, before Kaleran's journey took place, the year 1550 is mentioned. This is odd, since 1550 is the year when Waturenggong's rule ended, and a 'committee' was formed by Waturenggong's cousins to take over the throne, since his eldest son Bekung only reigned from 1570. Waturenggong's five younger cousins ('Besung's Pandawa's'), sons to his uncle Tegal Besung, must have differed in age around approximately 10 to 20 years.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;The first journey mentioned in the text 'Kaleran's Journey' is the one undertaken by Jelantik who vanquished King Wukut. As is known of other sources, the name of this king is often spelled in different ways: Dukut, Wukut, Myukut and Bungkut. Presuming these names refer to the same king, then it is positively odd that the text 'Kaleran' should start off with the story of Jelantik who defeated Bungkut. According to Djelada, this event would have taken place in 1625, that is in between the rule of King Seganing and King Dimade. The first journey mentioned in 'Kaleran' could be a simple error, i.e. a misplaced text. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Further research, also to the source of 'Kaleran's Journey', is needed to complete this initial analysis.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Below text is the 'original' text in Indonesian with a loose translation and footnotes (included in every paragraph) by the author. There are a number of uncertainties in the translation that need verification.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;I Dewa Kaleran's journey to Nusa Gurun&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;The historic events following the collapse of the Ancient Balinese Rajahdoms lead by Asta Sura Ratna Bumi Banten, otherwise known as Raja Tapahulung or Gajah Watra, who was vanquished by Gajah Mada in the year 1343, saw how Gajah Mada appointed Kresna Kepakisan's third son, Sri Kresna Kepakisan, as the new Raja with his court in Sampalangan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;After the 'vassal/satellite state' of the Rajahdom Mojopahit at Sampalangan*1* was established, all the obstacles of the kingdom were overcome by Sri Kresna Kepakisan. Sri Kresna Kepakisan had two wives. The first one was the daughter of Gajah Para, whilst the second was the daughter to Kutawaringin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*1* See elsewhere in this document (note) for similarities of names Bali/Nusa Penida.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;His first wife begat children like Dalem Samprangan, Dalem Tarukan and Dalem Ketut Ngulesir (Dalem Babotoh). His second wife gave birth to Dalem Tegal Besung, who then had the following children: I Dewa Gedong Arta*1*, I Dewa Anggungan, I Dewa Nusa, I Dewa Bangli and I Dewa Pangadangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*1* I Dewa Gedong Arta is the second son to tegal Besung, the half-brother to Ketut Ngulesir, also named Asmara Kepakisan, who ruled in Gelgel from 1401-1460. Tegal Besung was son to Kresna Kepakisan and Ni Gusti Ayu Kutawaringin, a woman of lower rank. Therefore, he was not included in the royal line of heritage. One theory on the rajahdom of Nusa Penida confirms the vision and history presented in this text, and the names and dates in this text seem to hold true as well.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;I Dewa Gedong Arta had the following children: I Dewa Kaleran*1* Sakti, I Dewa Anom Pande, I Dewa Karang, I Dewa Duhuran, I Dewa Timbul Gunung and I Dewa Tangeb. Before his son Kaleran went to Nusa Gurun, 'it is wise' to learn about the course of history where in 1460–1552 King Waturenggong*2* Kresna Kepakisan, - child to Dalem Ketut Semara Kapakisan (Dalem Ketut Ngulesir) - became the great charismatic rajah at Swecapura*3* with his palace in Gelgel. This was the first step of the development of (Hindu) religion based on the cultural principles of ethics and conduct.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*1* The term Kalér (or Kalor, High usage for 'Kaja'), is a confusing term, used for both north(erly) and south(erly), the first seems to be prevalent. It probably depends on the relative position to &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:placetype st="on"&gt;Mount&lt;/st1:placetype&gt; &lt;st1:placename st="on"&gt;Agung&lt;/st1:placename&gt;&lt;/st1:place&gt;, like the terms Kaja (north) and Kelod (Low usage, south). 'Kaja' means 'towards the mountain' whereas 'kelod' means 'towards the sea, downhill'. The God of Kaja/Kalér is Wisnu, its colour black, but this might be a mistake on the part of Shadeg (?). The suffix '-an' in Balinese denotes either a demonstrative pronoun in time-related constructs (as in 'janian' at this moment) or a superlative (as in 'alitan', smaller). Therefore, 'Kaléran' could signify 'more to the north'.&lt;br /&gt;*2* Waturenggong (Batur Enggong) ruled from 1460-1550, and died little before 1556. It is perhaps a sign of respect that the writer has chosen to combine the two names of Waturenggong and his grandfather Kresna Kepakisan.&lt;br /&gt;*3* Swecapura: variants are Suweccapura, Linggarsapura, which would later become the city of &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Klungkung&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;King Waturenggong Kresna Kepakisan was the descendant of the Dynasty Sri Kresna Kepakisan and it was he who brought the glory of &lt;st1:place st="on"&gt;Bali&lt;/st1:place&gt; to its height. Dalem Waturenggung Kresna Kepakisan, during his reign, was assisted by Dhanghyang Nirartha*1* who also consecrated the king as a High Priest.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*1* Danghyang Nirartha's name henceforth will be abbreviated to Nirartha to enhance readability.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;In the course of history, it were the achievements by Danghyang Nirartha by which the religious and behavioural standards were developed by the pupils, so that Nirartha set down to a great extent the cadres for the religious personages such as the priests (pandhita), the sengguh*1*, the dukuh*2* and so on.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*1* Sengguh (sengguhu): to address someone; a section of the sudra caste who are acquainted with with religious rites and are allowed on some occasions to act as priests, and carry the titles of Jero Sengguhu, or Rsi Sengguhu.&lt;br /&gt;*2* Dukuh: a sudra hermit or priest. Since Dukut (weeds, grass; the 29th week of the year, i.e. the 29th wuku in the Balinese wuku calendar) is very similar to this word, and Dalem Dukut (Bungkut) was the king of Nusa Penida famous for his spiritual power (sakti), there may be a connection between Dukuh and Dukut. See chapter on mythology.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;Journey 1 &amp;amp; 2&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Since King Wukut*1* was vanquished by I Gusti Jelantik, the situation on Nusa Gurun was not influenced by any religious or otherwise prominent persons. It looked like the relations between the &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:placename st="on"&gt;Bali&lt;/st1:placename&gt; &lt;st1:placetype st="on"&gt;Kingdom&lt;/st1:placetype&gt;&lt;/st1:place&gt; and Nusa Gurun were severed. However, after Nirartha had educated many pupils, one of his students with the name Dukuh*2* Puaji was sent to Nusa Gurun to give 'spiritual refreshments' by means of then current religious teachings and teachings on the conduct in the rajahdom. By Waturenggong Kresna Kepakisan's*3* royal word of command, Puaji*4* and his family accompanied by a number of bala*5* and other students left for Nusa Gurun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*1* Wukut is a variation of 'Dukut'. Other variations are Myukut and Bungkut (Hunchback)&lt;br /&gt;*2* A Dukuh is a hermit priest&lt;br /&gt;*3* Waturenggong Kresna Kepakisan: a strange construct, perhaps explained by 'Waturenggong, descendent to Kresna Kepakisan'.&lt;br /&gt;*4* Dukuh Puaji, for brevity's sake and readability, will be shortened to Puaji.&lt;br /&gt;*5* Bala (K) (Sanskrit 'bala-') means any of the following: subjects, host, troops, army or camp.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;On his travels, Puaji with his family and followers got stranded on a rocky beach where there were also rocks that stuck out into the sea. This place was henceforth called Batujungut, where 'jungut' means corner. Before continuing his travels, Puaji underwent full and total comprehension (meditation?) and he asked for blessings on the safety of his travels. The place where he had this experience was given over to the local inhabitants, and is called Pura Puaji until this day.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Then, Puaji together with his entire entourage continued his voyage in south-easterly direction where he arrived in the &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:placetype st="on"&gt;village&lt;/st1:placetype&gt; of &lt;st1:placename st="on"&gt;Batu Adeg&lt;/st1:placename&gt;&lt;/st1:place&gt;*1*. Puaji and his entire family established a hermitage there and a place of worship as is conventional for people who follow religious principles. In Batu Adeg, Puaji and his family joined the local inhabitants to mix and unite the (various) religious points of view and other (local) customs. However, the local population did not want to accept Puaji's teachings at Batu Adeg, since their culture were considered not in line with his views and the local people for times immemorial were used to the way they lived their customary laws handed over from generation to generation. Every single piece of education was refused and contested. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;*1* The name 'Batu Adeg' is no longer used nowadays. 'Batu Madeg/Batumadeg' is currently the name of the village in the west of Nusa Penida. The root word 'Adeg' in Balinese has a literal meaning (to stand) and a figurative one (have status, rule), and denounces the noun 'office'. According to Shadeg (2007), the active form of the root word is 'ngadeg' (Middle usage) and 'madeg' (Low usage), which mean 'be standing'. 'Madeg' is also a contracted form of 'Mahadeg, (ma + (h)adeg) which means 'become king, be inaugurated as king'. Therefore, Batu (M)adeg refers to 'standing stone', but somehow also hints at 'Royal Office where once a king was inaugurated'. In support of this notion, there are indications that Sukun (see chapter on the Blanjong Pillar etc.), currently an administrative part of the &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:placetype st="on"&gt;village&lt;/st1:placetype&gt; of &lt;st1:placename st="on"&gt;Batumadeg&lt;/st1:placename&gt;&lt;/st1:place&gt;, was the capital of the island. There are two villages with the same name Batumadeg on mainland Bali, one near the &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:placename st="on"&gt;Mother&lt;/st1:placename&gt; &lt;st1:placetype st="on"&gt;Temple&lt;/st1:placetype&gt;&lt;/st1:place&gt; at Besakih and the other northwest of Abang (both in Karangasem sub-district). Further similarities between names on Mainland Bali and Nusa Penida are Samprangan (&lt;st1:place st="on"&gt;Bali&lt;/st1:place&gt;, the former royal court from 1350-1401, currently called 'Samplangan' one&lt;/p&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p 	{mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0cm; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0cm; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:35.4pt; 	mso-footer-margin:35.4pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Perjalanan I Dewa Kaleran ke Nusa Gurun&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dalam perjalanan sejarah sejak runtuhnya Kerajaan Bali Kuno di bawah pemerintahan Asta Sura Ratna Bumi Banten atau sering disebut Raja Tapahulung atau Gajah Watra yang dikalahkan oleh Gajah Mada, pada tahun 1343 dan oleh Gajah Mada ditujuklah anaknya Dhanghyang Kresna Kepakisan yang nomor tiga yang bernama Sri Kresna Kepakisan yang bertahta di Sampalangan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sejak berdirinya perpajangan tangan kerajaan Mojopahit di Sampalangan. Maka semua kendali kerajaan dilaksanakan oleh Sri Kresna Kepakisan. Karena Sri Kresna Kepakisan mempunyai dua istri dimana istri pertama anak dari Gajah &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; dan istri kedua adalah anak dari Kutawaringin.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Istri pertama melahirkan putra-putra seperti Dalem Samprangan, Dalem Tarukan dan Dalem Ketut Ngulesir (Dalem Babotoh). Istri kedua melahirkan Dalem Tegal Besung, yang kemudian menurunkan keturunan seperti I Dewa Gedong Arta, I Dewa Anggungan, I Dewa Nusa, I Dewa Bangli dan I Dewa Pangadangan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;I Dewa Gedong Arta menurunkan keturunan seperti: I Dewa Kaleran Sakti, I Dewa Anom Pande, I Dewa Karang, I Dewa Duhuran, I Dewa Timbul Gunung dan I Dewa Tangeb. Sebelum anaknya Kaleran Sakti ke Nusa Gurun terlebih dahulu mengetahui perjalanan sejarah dimana pada tahun 1460–1552 pemerintahan Dalem Waturenggong Kresna Kepakisan - anak dari Dalem Ketut Semara Kapakisan (Dalem Ketut Ngulesir) menjadikan Swecapura yang berkedudukan di Gelgel menjadi raja yang besar dan berwibawa dan merupakan langkah awal perkembangan agama yang dilandasi dengan budaya yang bertitik tolak pada etika dan sesana-sesana. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Raja Waturenggong Kresna Kepakisan adalah raja besar dari Dinasti Sri Kresna Kepakisan dan membawa kejayaan kerajaan Bali Dwipa pada puncak kebesarannya. Dalem Waturenggung Kresna Kepakisan pada waktu menjalankan pemerintahan dibantu oleh Dhanghyang Nirartha dan sekaligus didwijati atau didiksa oleh Danghyang Nirartha sendiri.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam perjalanan sejarah bahwa tugas Danghyang Nirartha mengembangkan nilai-nilai agama dan sesana-sesana melalui sisia atau anak didiknya, sehingga Danghyang Nirartha banyak mencetak kader tokoh agama, seperti pandhita, sengguh, dukuh dan lain-lainnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Semenjak Dalem Wukut dikalahkan oleh I Gusti Jelantik, maka situasi Nusa Gurun tidak terjamah lagi oleh tokoh agama dan tokoh-tokoh lainnya, seolah-olah terputusnya hubungan antara kerajaan dengan Nusa Gurun. Namun setelah Danghyang Nirartha banyak mendidik sisia, maka salah satu anak didiknya yang bernama Dukuh Puaji diutus ke Nusa gurun untuk memberikan penyiraman rohani melalui pembelajaran agama dan sesana yang berlaku di kerajaan. Atas titah raja Waturenggong Kresna Kepakisan, Dukuh Pujai beserta keluarga dan diiringi oleh beberapa bala, dan sisia lainnya berangkat ke Nusa Gurun. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dalam perjalanan Dukuh Puaji beserta keluarga dan pengikutnya terdampar di pantai yang penuh dengan bebatuan dan ada batu yang menjorok ke laut, sehingga tempat tersebut disebut Batujungut, jungut berarti sudut. Dukuh Puaji sebelum melanjutkan perjalanan Dukuh Puaji membuat penghayatan dan mohon doa restu agar selamat dalam perjalanan dan akhirnya tempat penghayatan tersebut diserahkan pada penduduk sekitarnya yang kemudian penghayatan itu disebut Pura Puaji sampai sekarang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mengingat waktu berlalu maka Dukuh Puaji melanjutkan perjalanan ke arah tenggara yang diikuti oleh semua pengikutnya dan sampailah Dukuh Puaji di Desa Batu Adeg (Batu Berdiri). Setelah sampai di desa Batu Adeg Dukuh Puaji beserta semua keluarganya mendirikan pasraman dan tempat pemujaan sebagaimana biasa seorang menjalankan sendi-sendi agama. Pada saat sampai di Batu Adeg Dukuh Puaji beserta semua keluarganya bergabung dengan penduduk sekitarnya untuk berbaur dan menyamakan pandangan dibidang keagamaan dan adat istiadat lainnya. Namun yang diterima oleh Dukuh Puaji sebaliknya dimana penduduk yang berada di sekitar daerah Batu Adeg tidak mau menerima apa yang disampaikan padanya, karena kultur mereka sangat bertentangan dan mereka sudah terbiasa menjalankan adat kebiasaan yang telah diwarisi sejak turun temurun, sehingga dalih apapun yang diajarkan oleh Dukuh Puaji mendapat tantangan.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1369378906719126273-3029248138852297861?l=babadnusapenidamenggugat002.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://babadnusapenidamenggugat002.blogspot.com/feeds/3029248138852297861/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1369378906719126273&amp;postID=3029248138852297861&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1369378906719126273/posts/default/3029248138852297861?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1369378906719126273/posts/default/3029248138852297861?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://babadnusapenidamenggugat002.blogspot.com/2010/03/babad-np-fersi-lain-dunia-maya.html' title='Babad NP Fersi lain Dunia Maya'/><author><name>I Wayan Lugra</name><uri>https://plus.google.com/109171635567899780184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-Yl4tsswI00Y/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/2qMVv2LoKuE/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_1Oq1qRRP-eo/S61z1TJFglI/AAAAAAAAAas/RjkJYa69VwQ/s72-c/NP+3.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;DUYCRncyeSp7ImA9WxBaFk8.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1369378906719126273.post-4472506090817833626</id><published>2010-03-27T01:11:00.000+07:00</published><updated>2010-03-27T01:12:47.991+07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2010-03-27T01:12:47.991+07:00</app:edited><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Babad NP Unduhan Dunia Maya.'/><title>Babad NP Fersi GG M Duduk DM</title><content type='html'>original title: Geguritan Dalem Myukut&lt;br /&gt;by: Jero Mangku I Gede Duduk&lt;br /&gt;Nusa  Penida, 2004  English translation is forthcoming. This text needs  further research.  ***  PENGAKSAMA  ″ OM SWASTI ASTU ″  Melarapan saking  hasung Wara Nugraha Ida Sanghyang Widhi Wasa, purun presangga tityang I  ketunan, ngamiletin milpil daging gaguritan, riantuk kemanah antuk  tityang, munguing penyungkem ring sajeroning Darma Gita, wantah sayan  sayan nincap, tur ngalimbak kewentenan nyane.  Munguing daging gaguritan  sani aturang tityang puniki. Wantah ketus tityang saking babon ipun, ni  mengaran, sugra Pamencangah Dalem Myukut, lan tutur jati.  Ring  sajeroning pisuguh tityang puniki, sampun janten pisan akwek kirang  iupun, riantuk tityang wantah jadma hina bawa hina budi, muditane during  pascad, nanging pangkah ring sajeroning ambek, wimbang tityang sat  winaluya, kadienggung nyelengkangin jeladi, ikakunang anarung sasih,  antuk caye sinar kuru, jantean mangdohngawe lila ring tenganing hredaya.   Wantah kadi punika, pinaka pamurwaning atur tityang majeng ring sang  pradnyaning tatwa, sani ledang sareng ngemaosin lelepihane puniki,  sanggra tityang tureksan lan pangweweh Ida dane, nipinaka titin tityange  kawekas, majeng ring Ida Batara Hyang Mami, ksan tabe unggah tityang,  mogi tityang tan ke upadrawa. Ping untat, aturin tityang prama santi.           Pupuh sinom          KOMENTAR MANGKU TUDE GEMBRONG&lt;br /&gt;               Titiang wantah janma tambet&lt;br /&gt;Hina bawa hina budhi&lt;br /&gt;Muditane  during pascad&lt;br /&gt;Makadi ikunang alit&lt;br /&gt;Pangkah manah narung sasih&lt;br /&gt;Antuk  caya sinar kuru&lt;br /&gt;Punika jerihin titiang&lt;br /&gt;Pingajeng Hyang Saraswati&lt;br /&gt;Kawi  sadu&lt;br /&gt;Sang wus pradnyaning tatwa         &lt;br /&gt;         Pusaka tatwa  carita&lt;br /&gt;Durmanggalane kalilih&lt;br /&gt;Kapunahang ring sang dharma&lt;br /&gt;Ngawetung  sanjiwani&lt;br /&gt;Makadi pusaka luwih&lt;br /&gt;Munggah ring purana sampun&lt;br /&gt;Babad  lalintih kawedar&lt;br /&gt;Saking piagem mabukti&lt;br /&gt;Jati nulus&lt;br /&gt;Dasar saking  kabrahmanan         &lt;br /&gt;         Kekawit nunggalang hidep&lt;br /&gt;Panyungsunge  saking lami&lt;br /&gt;Kapuji bakti kasembah&lt;br /&gt;Dalem Myukut maka nami&lt;br /&gt;Ugi  mangkin kaping singgih&lt;br /&gt;Kabaos Hyang dharma sdu&lt;br /&gt;Ida ngawit  kawedarang&lt;br /&gt;Ngalunta mangungsi Gili&lt;br /&gt;Gili ratu&lt;br /&gt;Kabaosang Gili  Nusa         &lt;br /&gt;         Kabyaktahang jagat Nusa&lt;br /&gt;Nanging kantun  munaringati&lt;br /&gt;Atita kanegatan&lt;br /&gt;Durung kasidan nawestai&lt;br /&gt;Sane  mewasta Gili&lt;br /&gt;Gili Nusa jagat dangu&lt;br /&gt;Ida Dalem kahyun lunga&lt;br /&gt;Ngardi  kagiat Dalem Bali&lt;br /&gt;Puri Klungkung&lt;br /&gt;Kabiyaktah Samarajaya         &lt;br /&gt;          Antuka kadi punika&lt;br /&gt;Mawinan kahyune gelis&lt;br /&gt;Mangesengin  Para Manca&lt;br /&gt;Catur Manca Patih mantra&lt;br /&gt;Kahyun nabdab jagat sami&lt;br /&gt;Kapingajeng  jagat dangu&lt;br /&gt;Kabyaktahang jagat Nusa&lt;br /&gt;Telek kahyun nitenin&lt;br /&gt;Mangawibuh&lt;br /&gt;Mangda  kasidan raharja         &lt;br /&gt;         Wus puput rentuh wacana&lt;br /&gt;Ring  para manca sami&lt;br /&gt;Sami dahat ledang nyanggra&lt;br /&gt;Patut ngrajeg  kasungkemin&lt;br /&gt;Ring para Mancane sami&lt;br /&gt;Sami manah bakti asung&lt;br /&gt;Rauh  para panjak wadwa&lt;br /&gt;Manyartang jagat trepti&lt;br /&gt;Manga lantur&lt;br /&gt;Kayune  manekeng tuwas         &lt;br /&gt;         Kaputusang saking baos&lt;br /&gt;Antuk  Dalem Pulina Bali&lt;br /&gt;Mangkin kahyun Ida Dalem&lt;br /&gt;Mangda wenten wadwa  ngiring&lt;br /&gt;Lungane kanuasa Gili&lt;br /&gt;Patih mantra para juru&lt;br /&gt;Kandinika  pinunas Dalem&lt;br /&gt;Majeng Ida Dalem Bali&lt;br /&gt;Sigra asung&lt;br /&gt;Maicang iringan  wadwa         &lt;br /&gt;         Ida Dalem midababang&lt;br /&gt;Nanging pamargine  riyin&lt;br /&gt;Lunga nyujur jagat Sasak&lt;br /&gt;Kahyune mabagi kalih&lt;br /&gt;Kajaya  jayain dumun&lt;br /&gt;Irika ngajengin wadwa&lt;br /&gt;Dulurin angawa bukti&lt;br /&gt;Bukti  sadu&lt;br /&gt;Dalem ngawedar Pedoman&lt;br /&gt;Kapicang ring Tanah Embet         &lt;br /&gt;          Kadinika kahyune jati&lt;br /&gt;Nguncar ngawedar pabuktian&lt;br /&gt;Nuli  Ngantos esuk enjing&lt;br /&gt;Riantukan Ida eling&lt;br /&gt;Ring wacanan Dalem dangu&lt;br /&gt;Dalem  Ratu Smarapura&lt;br /&gt;Ngawinang geson memargi&lt;br /&gt;Nyujur kidulWadwane kari  pungkuran         &lt;br /&gt;         Pupuh pangkur         &lt;br /&gt;          Kairing ring wadwa Pasek&lt;br /&gt;Taler rauh, Pasek miwah Pande Wesi&lt;br /&gt;Tanmoga  Sagetan rauh&lt;br /&gt;Ring pasisi desa padang&lt;br /&gt;Munggah baita&lt;br /&gt;Baitane  nyujur timur&lt;br /&gt;Mangulati jagat Sasak&lt;br /&gt;Digelis tedun mamargi         &lt;br /&gt;          Tanda Mantri Patih Wadwa&lt;br /&gt;Sami tedun, ngiringang dalem  digelis&lt;br /&gt;Sagrahan sampun rauh&lt;br /&gt;Ring desa Tanah Embet&lt;br /&gt;Tur kajaya&lt;br /&gt;Jaya  Pandita Wiku&lt;br /&gt;Wusing sami kapuputang&lt;br /&gt;Benjang semeng Ida wali          &lt;br /&gt;         Wali nyujur Bali Dwipa&lt;br /&gt;Nyujur kulon, baita alon  mamagi&lt;br /&gt;Katempuh arising bayu&lt;br /&gt;Cahaya galang sinar surya&lt;br /&gt;Ring  samudra&lt;br /&gt;Patepuh ayating ranu&lt;br /&gt;Paimbang teleking tuwas&lt;br /&gt;Nyujur  jagat Nusa Gili         &lt;br /&gt;         Kulangunan ring pamarga&lt;br /&gt;Antuk  ledang, jagi ngulati linggih&lt;br /&gt;Moga sget sigra rauh&lt;br /&gt;Ring tepin  samudran Pura&lt;br /&gt;Penataran Ped&lt;br /&gt;Irika mekaraya Palungguh&lt;br /&gt;Pangastawan  pasanggrahan&lt;br /&gt;Kalaning kahyun ngastuti         &lt;br /&gt;         Ngardi  nglanturang kararisan&lt;br /&gt;Pura Dalem, Dalem miukut maka jati&lt;br /&gt;Makudang  sasih malungguh&lt;br /&gt;Pakahyune wali lunga, kahyun ngruruh&lt;br /&gt;Linggih genah  mnda pangguh&lt;br /&gt;Saking adnyana utama&lt;br /&gt;Ngawatara ning Hyangari          &lt;br /&gt;         Jagi anggen genah Gria&lt;br /&gt;Risedekan, Ida Munggah gunung  bukit&lt;br /&gt;Kairing Patih Panjuru&lt;br /&gt;Taler rauh wadwa panjak&lt;br /&gt;Caritanen&lt;br /&gt;Ring  madyaning awan rauh&lt;br /&gt;Ngardi lesu ring pamarga&lt;br /&gt;Rauh wadwa Tanda  Mantri         &lt;br /&gt;         Gelis Ida maraian&lt;br /&gt;Durung suwe, moga  saget sabeh ngribis&lt;br /&gt;Kapitahen sabeh nglantur&lt;br /&gt;Somadiya pakahyunan&lt;br /&gt;Antuk  Surya&lt;br /&gt;Cihna Surya masasuluh&lt;br /&gt;Galang Manyinarin jagat&lt;br /&gt;Mawinan  kuma risin         &lt;br /&gt;         Saget toya ring song sila&lt;br /&gt;Medal  ngencrot, kagiat kahyune ngaksi&lt;br /&gt;Dawning jati tankapatut&lt;br /&gt;Mawinan  kahyun masiram&lt;br /&gt;Ring song sila&lt;br /&gt;Ring song silane toya rauh&lt;br /&gt;Makadi  embahan klebutan&lt;br /&gt;Metu Girang panjak sami         &lt;br /&gt;          Rumasa galang Adnyana&lt;br /&gt;Lwir Sutensu, rikala wengi purwani&lt;br /&gt;Ngardi  karaning nglantur&lt;br /&gt;Manggaran Tegal Pancoran&lt;br /&gt;Tur ngandika&lt;br /&gt;Nulisaget  wenten ngrawat&lt;br /&gt;Wenten Gili apit bukit         &lt;br /&gt;          Makamimah apit jurang&lt;br /&gt;Jurang pangkung, digelis Ida maranin&lt;br /&gt;Risampune  Ida rauh&lt;br /&gt;Ring Puncak Gili punika&lt;br /&gt;Kulangunan&lt;br /&gt;Nuli gelis  matatuduh&lt;br /&gt;Kandikang sami mararian&lt;br /&gt;Sor taru ageng malinggih          &lt;br /&gt;         Tur katempuh angin alon&lt;br /&gt;Rasa rauh, ngaturin mangda  ngulati&lt;br /&gt;Kwentenan sekar ring gunung&lt;br /&gt;Suaran paksine nylimurang&lt;br /&gt;Kadi  RASA ASIH Ipun meled jagi matur&lt;br /&gt;Nagturin mangdane simpang&lt;br /&gt;Manah  ngaturang who becik         &lt;br /&gt;         Wohwohan kadi bojana&lt;br /&gt;Kandinika,  manahnyane banget bakti&lt;br /&gt;Sagetan ikatak rauh&lt;br /&gt;Antuk girang manah  jengah&lt;br /&gt;Sarat manah&lt;br /&gt;Ngaturang gemelan tabuh&lt;br /&gt;Ikatak makadi gangsa&lt;br /&gt;Lenggung  rauh ngempulin         &lt;br /&gt;         Pun Igadagan makendang&lt;br /&gt;Iemplegan,  rauh gelis manyengcengin&lt;br /&gt;Kasepan ibecing rauh&lt;br /&gt;Sagetan dungkah  nyagjagang&lt;br /&gt;Sepan – sepan&lt;br /&gt;Manyarengin manah gupuh&lt;br /&gt;Tetabuhan  sampun lintang&lt;br /&gt;Nuli jengah nepak klening         &lt;br /&gt;         Kadi  nika kwentenanya&lt;br /&gt;Ibacica, nyaurin manahnya iri&lt;br /&gt;Kaserengin paksi  blatuk&lt;br /&gt;Wiwah ipun ibacica&lt;br /&gt;Sami girang&lt;br /&gt;Sagetan Imerak rauh&lt;br /&gt;Mangikelin  elag elog&lt;br /&gt;Manglente ngeberang kampid         &lt;br /&gt;         Antuk  kahyun kadautan&lt;br /&gt;Mangalantur, Ida ngaryanang palinggih&lt;br /&gt;Maajeng ring  mailep kidul&lt;br /&gt;Ngaran GRIA PEDOMAN PED&lt;br /&gt;Maka china&lt;br /&gt;Taru buhu  bedil kulkul&lt;br /&gt;Prepet makadi sasangka&lt;br /&gt;Manganti carita malih          &lt;br /&gt;         Pupuh ginanti         &lt;br /&gt;         Kadi majajumbuh sadu&lt;br /&gt;Makadi  ring majapahit&lt;br /&gt;Dawege ngawe pedoman&lt;br /&gt;Dina saniscara manis&lt;br /&gt;Uku  watugunung wantah&lt;br /&gt;Rah tiga tenggek nem siki         &lt;br /&gt;          Makadi isakan ipun&lt;br /&gt;Siyu satak nanggu malih&lt;br /&gt;Nanggu malih ulung dasa&lt;br /&gt;Siyu  telungatus siki&lt;br /&gt;Tanggun nyane skeet sapta&lt;br /&gt;Kadinika dina becik          &lt;br /&gt;         Wus kasuwene malungguh&lt;br /&gt;Ring desa Pedoman jati&lt;br /&gt;Ngalantur  makarya Pahyangan&lt;br /&gt;Pura Camara maka nami&lt;br /&gt;Mawinan ngaran Camara&lt;br /&gt;Antuk  wangunane sami         &lt;br /&gt;         Malakar camara kayu&lt;br /&gt;Rauh  adegan patitis&lt;br /&gt;Cacab miwah papalihan&lt;br /&gt;Nganggenang camara sami&lt;br /&gt;Punika  sane ngawinang&lt;br /&gt;Hyang Camara kawastanian         &lt;br /&gt;         Kasuw  ene Ida malungguh&lt;br /&gt;Kiring para wadwa sami&lt;br /&gt;Ring Puri Pedoman Ped&lt;br /&gt;Moga  ngamijilang putra&lt;br /&gt;Makuweh nyane sapta diri         &lt;br /&gt;          Biyang Prami wantah pitu&lt;br /&gt;Adiri bibi panawing&lt;br /&gt;Dados sami makweh  asta&lt;br /&gt;Kawedarang maka nami&lt;br /&gt;Kapingajeng kabaosang&lt;br /&gt;Kawilangin  siki–siki         &lt;br /&gt;         Gusti Dalem Cakra tuhu&lt;br /&gt;Gusti Widuda  mungkurin&lt;br /&gt;Kapikalih Gusti Ngurah&lt;br /&gt;Candra Wijaya ngikutin&lt;br /&gt;Kaping  tiga Gusti Nyoman&lt;br /&gt;Murdana ngamungkurin         &lt;br /&gt;         kaping  empat baos nglanturang&lt;br /&gt;Gusti Lanang Gede jati&lt;br /&gt;Baos sane kaping  lima&lt;br /&gt;Gusti Made Manteb laki&lt;br /&gt;Kaping nem Gusti Manesa&lt;br /&gt;Kaping  sapta mangikutin         &lt;br /&gt;         Nakincit putrane bungsu&lt;br /&gt;Maka  jati maka nami&lt;br /&gt;I Gusti Ketut Cucukan&lt;br /&gt;Sane mabibi adiri&lt;br /&gt;I Gusti  Putu Cacaran&lt;br /&gt;Kutus kweh putra sami         &lt;br /&gt;         Sapenyeneng  Ida Tuhu&lt;br /&gt;Makuweh desane sami&lt;br /&gt;Pinake wewengkon Ida&lt;br /&gt;Kawilangin  siki – siki&lt;br /&gt;Kapingajeng desa Bila&lt;br /&gt;Desa Waru kaping kalih         &lt;br /&gt;          Desa Pendem kaping telu&lt;br /&gt;Tanah Biyas catur jati&lt;br /&gt;Kaping  lima   desa Bodong&lt;br /&gt;Kaping neme maka jati&lt;br /&gt;Ngaran desa karangdawa&lt;br /&gt;Sapta  desa Sental kangin         &lt;br /&gt;         kaping kutus Sental Kauh&lt;br /&gt;Nglanturang  desa kutampi&lt;br /&gt;Desa Bayuh kaping siya&lt;br /&gt;Kaping dasa angkal jati&lt;br /&gt;Ping  solas desa tinggihan&lt;br /&gt;Neping roars Suana Kangin         &lt;br /&gt;          Nekaping telulas hitung&lt;br /&gt;Ngaran desa Sekartaji&lt;br /&gt;Ping patbelas  Klumpu wantah&lt;br /&gt;Ping limolas wantah jati&lt;br /&gt;Bayuh makamiwah Angkal&lt;br /&gt;Desa  TInggihan mangkutin         &lt;br /&gt;         Satunggil Dalem Miukut&lt;br /&gt;Ngwentenang  pasamuan Mantri&lt;br /&gt;Miwah Patih Wadwa Panjak&lt;br /&gt;Pasayutane ring Puri&lt;br /&gt;Sami  wadwa rauh ngayah&lt;br /&gt;Luh muani pendek tangkil         &lt;br /&gt;          Pioton makadi sayut&lt;br /&gt;Satunggil raina prapti&lt;br /&gt;Wantah dina saniscara&lt;br /&gt;Masaniscara  umanis&lt;br /&gt;Wuku Watugunung wantah&lt;br /&gt;Miwah dina Saraswati         &lt;br /&gt;          Plaksanaan sang manyayut&lt;br /&gt;Patut mabusana putih&lt;br /&gt;Sarwa putus  maka ngaran&lt;br /&gt;Tanwenang kanggen masuci&lt;br /&gt;Gorengan minyak klapa&lt;br /&gt;Sampun  Kaputusang ugi         &lt;br /&gt;         Putus ring Brahmana Wiku&lt;br /&gt;Tur  putus Pandita Reci&lt;br /&gt;Guru Bujangga kabaos&lt;br /&gt;Kawedarang saking lami&lt;br /&gt;Saking  pejaten Tabanan&lt;br /&gt;Ginada anggen ngentosin         &lt;br /&gt;         Pupuh  ginada         &lt;br /&gt;         Yan nenten kadi punika&lt;br /&gt;Mangawinang  bingung paling&lt;br /&gt;Antuk Ida Dalem langgeng&lt;br /&gt;Ngukuhang dharmane sadu&lt;br /&gt;Mawinan  tan obah karma&lt;br /&gt;Kukuh sidhi&lt;br /&gt;Nglaksanaang maasta brata         &lt;br /&gt;          Sedek Rahina uttama&lt;br /&gt;Ida gelis mangesengin&lt;br /&gt;Wadwane mangde  ngiringang&lt;br /&gt;Lungane Ida maburu&lt;br /&gt;Rikanjekan Ida lunga&lt;br /&gt;Kiring  Patni&lt;br /&gt;Rauhing kiring panyroan         &lt;br /&gt;         Abot nabdab  pabojonan&lt;br /&gt;Rayunan Dalem pang becik&lt;br /&gt;Kalaning mamarut klapa&lt;br /&gt;Tangane  keni kaparut&lt;br /&gt;Ngardinin kanin maerah&lt;br /&gt;Tangan kanin&lt;br /&gt;Rah tangan  paketel medal         &lt;br /&gt;         Rahe maadukan parutan&lt;br /&gt;Parut  klapa wus makikih&lt;br /&gt;Ngardi sami warna barak&lt;br /&gt;Ngawinang kahyune  bingung&lt;br /&gt;Mawinan bisik adnyana&lt;br /&gt;Yan lanturin&lt;br /&gt;Klepone ne kera  tengang         &lt;br /&gt;         Sane kantun medaging rah&lt;br /&gt;Pedas jagi  kadukain&lt;br /&gt;Kadinika pakahyunan&lt;br /&gt;Mawinan kahyune sendu&lt;br /&gt;Pedas jagi  ngardi iwang&lt;br /&gt;Tan subakti&lt;br /&gt;Kabaos langgana Dalem         &lt;br /&gt;          Budhi kutang surya tajeg&lt;br /&gt;Pedas kasep mabojanti&lt;br /&gt;Kenken kudiang  baan madaya&lt;br /&gt;Iraka makire rauh&lt;br /&gt;Mangruruh wadwa lan panjak&lt;br /&gt;Kandikain&lt;br /&gt;Mangruruh  mamenek klapa         &lt;br /&gt;         Paling melah ia lebengang&lt;br /&gt;Klepone  misi nyuh kikih&lt;br /&gt;Yan rauh Ida nakenang&lt;br /&gt;Melahang aturang tuhu&lt;br /&gt;Durung  puput bisik baos&lt;br /&gt;Saget prapti&lt;br /&gt;Tumuli raris kasanggra         &lt;br /&gt;          Penyanggtane kadautan&lt;br /&gt;Alon banban rumamanis&lt;br /&gt;Tumuli  nyodang bojana&lt;br /&gt;Ajengan sajangkep ipun&lt;br /&gt;Ida Dalem sareng putra&lt;br /&gt;Maka  sami&lt;br /&gt;Kadi mina kasabehan         &lt;br /&gt;         Riwawune wus  ngrasang&lt;br /&gt;Raris makahyun nakenin&lt;br /&gt;Uduh adi jiwan beli&lt;br /&gt;Ampurayang  adi ayu&lt;br /&gt;Reh sarat beli nakonang&lt;br /&gt;Teken adi&lt;br /&gt;Indik kawentenang  lawar         &lt;br /&gt;         Nguda rasane maelenan&lt;br /&gt;Len kadi rasane  nguni&lt;br /&gt;Tumben jani rasa jaen&lt;br /&gt;Buin warnane tanpatub&lt;br /&gt;Warna putih  dadi barak&lt;br /&gt;Kenken adi&lt;br /&gt;Tuturangja apang melah         &lt;br /&gt;          Raris Rabine nguningang&lt;br /&gt;Indikane maka sami&lt;br /&gt;Sesampune kawedarang&lt;br /&gt;Ring  Rabine saking sadu&lt;br /&gt;Ida Dalem wus nguninga&lt;br /&gt;Saking Rabi&lt;br /&gt;Ngawenang  laware jahen         &lt;br /&gt;         Mewetu saking adnyana&lt;br /&gt;Timbangan  rasane ten becik&lt;br /&gt;Raris ngandikain panjak&lt;br /&gt;Ngandikang panjak  mangruruh&lt;br /&gt;Mangruruhang rare daha&lt;br /&gt;Jagi keambil&lt;br /&gt;Rah rarene campur  lawar         &lt;br /&gt;         Kasuwen sayan magetang&lt;br /&gt;Pisereng ngruruh  rare alit&lt;br /&gt;Jagi kadukang ring lawar&lt;br /&gt;Tunggil raina memandaung&lt;br /&gt;Mandung  rare jagi kolah&lt;br /&gt;Nyakit jagat durmanggala         &lt;br /&gt;          Pupuh durma         &lt;br /&gt;         Kasuwen ngardi wadwane kajerihan&lt;br /&gt;Nagingke  saking singid&lt;br /&gt;Wadwane ngingkinang&lt;br /&gt;Ngewetu daya upaya&lt;br /&gt;Ngardi  kutus duta tangkil&lt;br /&gt;Ring puri Klungkung&lt;br /&gt;Gumanti pacing merangin          &lt;br /&gt;         Nganyudain pangabih miwah wadwa&lt;br /&gt;Rauhing Patih  Mantri&lt;br /&gt;Rauh Ida Dalem&lt;br /&gt;Jagi kahyun mangpang yuda&lt;br /&gt;Rauh panjak  Patih sami&lt;br /&gt;Dalem Miukut&lt;br /&gt;Alam kahyune mirengin         &lt;br /&gt;          Tan mitahen kewentenan kadi nika&lt;br /&gt;Mawinan Ida digelis&lt;br /&gt;Ngandikain  Putra&lt;br /&gt;Makasami mangda prapta&lt;br /&gt;Jagi kapiteketin&lt;br /&gt;Dwaning wenten&lt;br /&gt;Pacang  satru ngayudain         &lt;br /&gt;         Gelis Dalem Ida ngerentuhang  wacana&lt;br /&gt;Ring putran Ida sami&lt;br /&gt;Nah cening jakmekejang&lt;br /&gt;Nejani aji  miteket&lt;br /&gt;Pirengang baos Aji&lt;br /&gt;Sawireh suba&lt;br /&gt;Cening nincap raga  kelih         &lt;br /&gt;         Ada orta ane pireng aji   terang&lt;br /&gt;Ida  Dalem Raja Bali&lt;br /&gt;Klungkung Smarapura&lt;br /&gt;Jagi rauh mangpang yuda&lt;br /&gt;Ngayudain  ragam Aji&lt;br /&gt;Kabaosang&lt;br /&gt;Aji melaksanakan tan becik         &lt;br /&gt;          Kabaosang Aji maingsa karma&lt;br /&gt;Yaning keto saja Cening&lt;br /&gt;Pangda  kanti pegat&lt;br /&gt;Putra warih katuturan&lt;br /&gt;Saterehe maksami&lt;br /&gt;Nahne jani&lt;br /&gt;Cening  gingsirang Aji         &lt;br /&gt;         Cening Magenah ditepinin jagat  Nusa&lt;br /&gt;Naging sakonden mamargi&lt;br /&gt;Piteket pirengang&lt;br /&gt;Pradene Aji  Ndewata&lt;br /&gt;Patut yan cening ndewati&lt;br /&gt;Kalan matiwa&lt;br /&gt;Bade tumpang dasa  siki         &lt;br /&gt;         Lembu Cemeng kalan ngwedar patulangan&lt;br /&gt;Sukun  lembu mas manik&lt;br /&gt;Matanduk kanaka&lt;br /&gt;Ne panganggen Ida Dalem&lt;br /&gt;Kadana  warsa kang warih&lt;br /&gt;Mapodgala&lt;br /&gt;Patut nganggen padmasana         &lt;br /&gt;          Naga catur mapanganggen sarwa emas&lt;br /&gt;Apan cening warin luwih&lt;br /&gt;Warih  Ida Dalem&lt;br /&gt;Dalem Miukut Kabyaktah&lt;br /&gt;Ane ngrajegang dini&lt;br /&gt;Jagat  Nusa&lt;br /&gt;Apang Cening nelek bakti         &lt;br /&gt;         Keto wantah  kojaran linging sastra&lt;br /&gt;Kapuji Hyang Saraswati&lt;br /&gt;Yan mamurung iwang&lt;br /&gt;Kaiwengang  ring Dalem&lt;br /&gt;Antuk Dalem mraga Sidhi&lt;br /&gt;Sidhi bajra kontalini          &lt;br /&gt;         Nyineb wangsa pingitang eda ngawera&lt;br /&gt;Yan tuwah jati  bakti&lt;br /&gt;Ring Dalem Miukut&lt;br /&gt;Tan pradene katara&lt;br /&gt;Tan wangdenan lakar  mati&lt;br /&gt;Kasisipan&lt;br /&gt;Olih sekala niskaladi         &lt;br /&gt;         Nging  pinaka pangeling eling pingetan&lt;br /&gt;Pinaka china ciri&lt;br /&gt;Cening masameton&lt;br /&gt;Saking  piteket babaos&lt;br /&gt;Saking Ida I Aji&lt;br /&gt;Ida Dalem&lt;br /&gt;Dalem Miukut maka  jati         &lt;br /&gt;         Apan biyang, tosan saking bujangga&lt;br /&gt;Bujangga  Guru jati&lt;br /&gt;Patut partisantana&lt;br /&gt;Guru maguru Rarama&lt;br /&gt;Yan cening  mirengang jati&lt;br /&gt;Manabe guru&lt;br /&gt;Ento wantah tetes warih         &lt;br /&gt;          Kaping ruwa, nepinaka cirin Dewa&lt;br /&gt;Kahyunin apang becik&lt;br /&gt;Eda  ngalah menah&lt;br /&gt;Tan patut sembah kesembah&lt;br /&gt;Eling ring baose warih&lt;br /&gt;Warih  Dalem&lt;br /&gt;Saking Pedoman sujati         &lt;br /&gt;         Nepedoman,  mangaran tatuladan&lt;br /&gt;Hento maka panuding&lt;br /&gt;Nundingange beneh&lt;br /&gt;Pelih  kalawan beneh&lt;br /&gt;Pedoman kadi adil&lt;br /&gt;Jujur jegjeg&lt;br /&gt;Nyejengangne beneh  pelih         &lt;br /&gt;         Dija ada, ane maadan pedoman&lt;br /&gt;Cirin  sameton icening&lt;br /&gt;Tangarin mabaos&lt;br /&gt;Matur ring Ajine wekas&lt;br /&gt;Saking  lawas maguru laki&lt;br /&gt;Degdeg ajeg&lt;br /&gt;Kalan diatu cihnang cening         &lt;br /&gt;          Kadinika, pangandikan Ida Dalem&lt;br /&gt;Ring putrane maka sami&lt;br /&gt;Raris  Ida ngesahang&lt;br /&gt;Putrane ngruruhang gehah&lt;br /&gt;Kawedarang maka sami&lt;br /&gt;Luwir  ipun&lt;br /&gt;Nanging kantun makumbangin         &lt;br /&gt;         Pupuh  kumangbang         &lt;br /&gt;         Pasambate, makadi ring sor puniki&lt;br /&gt;Majeng  Gusti Dalem&lt;br /&gt;Kapiteketang Malilnggih&lt;br /&gt;Ring sekar angen pedoman          &lt;br /&gt;         Maka ngaran, Guru Dalem maka nami&lt;br /&gt;Dalem Cakra  Wisudha&lt;br /&gt;Gusti Ngurah kaping kalih&lt;br /&gt;Malinggih ring pangkung jurang          &lt;br /&gt;         Ngaran Guru, Guru Ngurah mka jati&lt;br /&gt;Ngurah Candra  Wijaya&lt;br /&gt;Ping tiga ring sekartajji&lt;br /&gt;Kaping pat wus kunggahang          &lt;br /&gt;         Maka ngaran, I Gusti Murtana laki&lt;br /&gt;Gusti lanang ring  sompang&lt;br /&gt;Ngaran Guurun Lanang jati&lt;br /&gt;Kaping lima   Gusti Manteb          &lt;br /&gt;         Nekaping nem, Gusti Manesa maka nami&lt;br /&gt;Magenah ring  sula&lt;br /&gt;Guru Manesa maka nami&lt;br /&gt;Ping sapta Gusti Putu Cucukan         &lt;br /&gt;          Ring Buhucang, Guru Cucukan maka nami&lt;br /&gt;Sane kaping asta&lt;br /&gt;Adiri  Bibi Panawing&lt;br /&gt;Ngaran Gusti Putu Cacaran         &lt;br /&gt;         Wus  magenah, ring desa Pulangan ndiri&lt;br /&gt;Ngaran Guru Cacaran&lt;br /&gt;Kandinika  polih linggih&lt;br /&gt;Saking Dalem Parikarsa         &lt;br /&gt;          Sesampune, Ida Dalem micang linggih&lt;br /&gt;Ring Putra sowing – sowing&lt;br /&gt;Pinih  pungkur kapicain         &lt;br /&gt;         Kapi kahyun, antuk Ida Dalem  micain&lt;br /&gt;Putra pinih antes&lt;br /&gt;Jagi ngamelang Parasati&lt;br /&gt;Rauhing marupa  kajang         &lt;br /&gt;         Wantah maruwa, releb ring daging Aji&lt;br /&gt;Aji  Sastrottama&lt;br /&gt;Miwah catur agamanti&lt;br /&gt;Botol pucung anggen tebah          &lt;br /&gt;         Pupuh pucung         &lt;br /&gt;         Ngardi nglantur,  Dalem mitelek ring kahyun, nebahin ring   Putra, Putrane sane kakalih,  antuk sampun, kaicen pawarah warah         &lt;br /&gt;         Sane patut, I  Gusti Ngurah Sadu, saking kautaman, Kaicen   ngamel Prasasti, antuk  sampun, kakahyunin wang uttama.         &lt;br /&gt;         Sane pungkur, I  Gusti Manesa patut, kicen ngamel kajang,   saking pakahyunan luwih, I  Gusti mur, mundut patung nunggang kuda.         &lt;br /&gt;         Rasa  puput, panunggrahan dharma sadu, para putran Ida, putran Ida maka    sami, wus kaigum, wadwa Panjak lega girang.         &lt;br /&gt;          Mangda nglantur, bhaktian wadwane manulus, mangda wenten   ngiringang,  kalaning kesah malinggih masusuluh, nganggenang suwar tetebah.         &lt;br /&gt;          Mangalantur, Pande Wesi nepamucuk, Ngiring Gusti Ngurah,    Tansah laju manggiring, nyujur pangkung, saget wenten anak prapta.          &lt;br /&gt;         Sane rauh, made paketa kawuwus, Dane Gusti Ngurah,  sang   rauh nikang mangingsir, kicen lungguh, kagenang ring Macang.          &lt;br /&gt;         Rauh dumun, I Pande Wesi nglatur, kagenahang ring  subiya,   sang kalih Lascarya ngiring, ngiring tuduh, wacanan I Gusti  Ngurah.         &lt;br /&gt;         Masasuluh, makadi wentene sampun, Dane  Gusti Ngurah,   kalane ngetehin, sang ngalampus, yan makarya matatiwa.          &lt;br /&gt;         Wantah patut, palinggihan wadah matumpuk, wenang  tumpang   solas, Mpatulangane jati, nganggen lembu, lembu cemeng  mapontangmas         &lt;br /&gt;         Wadwa ngikut, ngiring Dane Ngurah  Pangkung, Kadi wangsa   pasek, Tumpang lima   yaning ngiring, sami  adung, panguncarne Anom – Anom.         &lt;br /&gt;         Pupuh sinom          &lt;br /&gt;         Baosang indik pribasa&lt;br /&gt;Majeng ring para Sulinggih&lt;br /&gt;Makadinyawangsa  Satria&lt;br /&gt;Miwah sang Brahmana Resi&lt;br /&gt;Satria Agung Dalem Bali&lt;br /&gt;Taler  sang Pandita Wiku&lt;br /&gt;Kalaning matebah baos&lt;br /&gt;Sami saling serkenin&lt;br /&gt;Sami  alus&lt;br /&gt;Muji mamuji kapujiang         &lt;br /&gt;         Prade wenten  nyingsal baos&lt;br /&gt;Rikala ngewentenang linggih&lt;br /&gt;Nabdab ring pasuman  parem&lt;br /&gt;Wadwa Patih Tanda Mantri&lt;br /&gt;Kapatut saling serkenin&lt;br /&gt;Tanwenten  mahkahyun begug&lt;br /&gt;Antuk sami sadu Pradnyan&lt;br /&gt;Puput pascad ngincer Aji&lt;br /&gt;Dharma  sadu&lt;br /&gt;Nincaping kanissreyasan         &lt;br /&gt;         Nglanturang  malih ababad&lt;br /&gt;Wus pupute nabdab linggih&lt;br /&gt;Wenten sameton tangeh&lt;br /&gt;Newenten  ring sekartaji&lt;br /&gt;I Gusti Mur maka nami&lt;br /&gt;Tumuli ngenyotin Giri&lt;br /&gt;Geni  murub&lt;br /&gt;Tiba maring Sekar Angen         &lt;br /&gt;         Riwawune nepet  Wates&lt;br /&gt;Watese katiben geni&lt;br /&gt;Mawastu saget padem&lt;br /&gt;Genine tanwenten  malih&lt;br /&gt;Tumuli Gusti Mur ngiring&lt;br /&gt;Rakan Ida I Gusti Mur&lt;br /&gt;Gusti  Dalem Sekar Angen&lt;br /&gt;Miwas Dane deiari&lt;br /&gt;Dane sampun         &lt;br /&gt;          Perjanjian Pasemayan&lt;br /&gt;Luwure kadi puniki&lt;br /&gt;Dija desa mewasta  Sekar&lt;br /&gt;I Gusti Mur Sekartaji&lt;br /&gt;Dane nuwenang sami&lt;br /&gt;Saaning genahe  manglikub&lt;br /&gt;Kaiterin antuk jurang&lt;br /&gt;Duwen Gusti Ngurah sami&lt;br /&gt;Sane  tan puwun&lt;br /&gt;Dalem Pedoman nuwenang         &lt;br /&gt;         Kadinika wus  kawedar&lt;br /&gt;Makadi pangeling ngeling&lt;br /&gt;Ngeling luhur kawitan&lt;br /&gt;Makamiwah  tereh sami&lt;br /&gt;Sameton warga wargi&lt;br /&gt;Mangda sampun iwang sungsung&lt;br /&gt;Miwah  iwang bakti sembah&lt;br /&gt;Yan wenten mamurung linggih&lt;br /&gt;Keni pastu&lt;br /&gt;Antuk  leluhur kawitan         &lt;br /&gt;         Keni waban Kageringan&lt;br /&gt;Sandang  pangan ngured sami&lt;br /&gt;Ngardi rug ikang Negara&lt;br /&gt;Bilang tandur tannyak  mentik&lt;br /&gt;Padi mrana balang sangit&lt;br /&gt;Labuh jurang labuh pangkung&lt;br /&gt;Yang  prade mangimpaswangsa&lt;br /&gt;Wangsa kandap ngangken singgih,&lt;br /&gt;Wangsa  luhur&lt;br /&gt;Kabalikang ngangken andap.         &lt;br /&gt;         Samalih indik  Piagam&lt;br /&gt;Tanpatut jagi magingsir&lt;br /&gt;Saking linggih sane wekas&lt;br /&gt;Yan  semeton meled uning&lt;br /&gt;Ring daging Babad Prasati&lt;br /&gt;Mangda sami ugi rauh&lt;br /&gt;Rauhin  ring penyimpenan&lt;br /&gt;Mangdane sami nguningin&lt;br /&gt;Yan mamurung&lt;br /&gt;Kapastu  dening Kawitan         &lt;br /&gt;         Riantukan wus kunggahang&lt;br /&gt;Babad  Piagem puniki&lt;br /&gt;Sampun malih marimeda&lt;br /&gt;Tunggilang ragane sami&lt;br /&gt;Nunggil  mangda dados siki&lt;br /&gt;Sampun pisan ngardi uyut&lt;br /&gt;Dawning sampun  kawedarang&lt;br /&gt;Kawacen tur kasaksinin&lt;br /&gt;Sami adung&lt;br /&gt;Ngadungin  kawentenannya         &lt;br /&gt;         Nggih puputang kadinika&lt;br /&gt;Sampun  sami munggah tulis&lt;br /&gt;Kalan wenten pesembahan&lt;br /&gt;Ring Pura miwah ring  Putri&lt;br /&gt;Ungkap wacen mangda gapi&lt;br /&gt;Nglantur kakaryanang sayut&lt;br /&gt;Wanten  sayut pangambeyan,&lt;br /&gt;Medaksina miwah suci&lt;br /&gt;Nika patut&lt;br /&gt;Anggenang  kalaning mendak.         &lt;br /&gt;         Dwaran ningacintya sunya marga&lt;br /&gt;Apan  kweh sang mahati yogi&lt;br /&gt;Wenten manirmala sadha&lt;br /&gt;Moksahen  ginengastuti&lt;br /&gt;Lentang tiaga pejahi&lt;br /&gt;Nungya sesta dharmantu&lt;br /&gt;Panglinggan  sira Dalem&lt;br /&gt;Nasta mangkya muliani&lt;br /&gt;Dharma sadu&lt;br /&gt;Sidaning ngawisnu  loka.         &lt;br /&gt;         Kunang sang wang nisreyasa&lt;br /&gt;Tatan sidhi  ringulahi&lt;br /&gt;Apan luput bawa karma&lt;br /&gt;Ruwa rainya materi&lt;br /&gt;pinasahaken  nayani&lt;br /&gt;ngawira dening ngawibuh&lt;br /&gt;mamucaking kawiryan&lt;br /&gt;Dharma tan  dasaringaji&lt;br /&gt;Awan laku&lt;br /&gt;Tatan sida ngamolihang         &lt;br /&gt;          Yan mitelekaning tatwa&lt;br /&gt;Purana tatwa manyiki&lt;br /&gt;Tunggal hidep  tunggal rasa&lt;br /&gt;Tunggaliang jana pamidi&lt;br /&gt;Mamidi tatwane luwih&lt;br /&gt;Wetu  saking dharma sadu&lt;br /&gt;Sadu dibya kaparamartan&lt;br /&gt;Ngugah keketuse luwih&lt;br /&gt;Kadi  ranu&lt;br /&gt;Puspa badma kulangunan         &lt;br /&gt;         Pada weruh ring  dadugan&lt;br /&gt;Tampa sulayan   ring budhi&lt;br /&gt;Budhi mudita hradaya&lt;br /&gt;Karunane  wetu mentik&lt;br /&gt;Olas kasih ring sang miskin&lt;br /&gt;Wirodane tan ngaliput&lt;br /&gt;Wus  kajamah dening dharma&lt;br /&gt;Budhi kasihe manunggil&lt;br /&gt;Ring wang lacur&lt;br /&gt;Antuk  tan magina ada.         &lt;br /&gt;         Pupuh ginada         &lt;br /&gt;          Antukan kaiket saying&lt;br /&gt;Ring warga sameton sami&lt;br /&gt;Para warih sira  Dalem&lt;br /&gt;Kabyaktah Dalem Miyukut&lt;br /&gt;Nika banget ngardi kangen&lt;br /&gt;Setya  bakti&lt;br /&gt;Salawasnyrumadi manusa.         &lt;br /&gt;         Sapasira tan  mitelek&lt;br /&gt;Mitelekang saking bakti&lt;br /&gt;Bakti majeng sira Dalem&lt;br /&gt;Kadi  Kawitan Laluhur&lt;br /&gt;Kapastu dening Niskala&lt;br /&gt;Wetu Gering&lt;br /&gt;Satuwuh tan  mangguh suka.         &lt;br /&gt;         Suka wiryane mangedoh&lt;br /&gt;Ngawetuang  sedih kingking&lt;br /&gt;Bilang ada braya teka&lt;br /&gt;Kapitahen Reci Wiku&lt;br /&gt;Angetula  minta wirya&lt;br /&gt;Mapi sedih&lt;br /&gt;Aduh–aduh maplisadan.         &lt;br /&gt;          Sangkan eda keneh ngampah&lt;br /&gt;Ngampahang babad Prasasti&lt;br /&gt;Ane sampun  kaunggahang&lt;br /&gt;Kasaksinin Reci Wiku&lt;br /&gt;Miwah Bujangga Pandita&lt;br /&gt;Ngamicain&lt;br /&gt;Banad  lalintih piagem.         &lt;br /&gt;         Antuk sampun kawedarang&lt;br /&gt;Katiladin  tur katulis&lt;br /&gt;Nganggen buku miwah lontar&lt;br /&gt;Tan kapatutang tan gugu&lt;br /&gt;Ida  sangne maha pradnyan&lt;br /&gt;Maka saksi&lt;br /&gt;Saksi bukti ilikita.         &lt;br /&gt;          Ngiring nemangkin punahang&lt;br /&gt;Ngawit telekang nganyunin&lt;br /&gt;Tunggilang  raga mewarga&lt;br /&gt;Nelek bakti ring Laluhur&lt;br /&gt;Sadina sungsang kasembah&lt;br /&gt;Nunas  kanti&lt;br /&gt;Kanti munah kageringan.         &lt;br /&gt;         Yan sampun kadi  punika&lt;br /&gt;Ngudiang tan Ida nywecanin&lt;br /&gt;Ida kasih Ida saying&lt;br /&gt;Ring  wadwan idane lacur&lt;br /&gt;Pingajeng para Santana&lt;br /&gt;Luwih kasih&lt;br /&gt;Tan Ida  mamunahwangsa         &lt;br /&gt;         Ketekan Kabaos asta&lt;br /&gt;Akutus patut  wilangin&lt;br /&gt;Asta mati temah jana&lt;br /&gt;Mati rambut kapertama&lt;br /&gt;Uban putih&lt;br /&gt;Mati  siki kabaosang         &lt;br /&gt;         Kaping kalih mati mata&lt;br /&gt;Buta  tan ngamangguh mata&lt;br /&gt;Ping tiga mati ungasan&lt;br /&gt;Tan nyidang ungas mabau&lt;br /&gt;Kaping  mpat mati karma&lt;br /&gt;Tan mirage&lt;br /&gt;Saaning bebaosang         &lt;br /&gt;          Kaping lima mati cangkem&lt;br /&gt;Bega tan nyidang mamunyi&lt;br /&gt;Kaping enem  mati tangan&lt;br /&gt;Bengkok sengkok tangan kaku&lt;br /&gt;Kaping pitu mati cokor&lt;br /&gt;Maromatik&lt;br /&gt;Rumpuh  tan nyidang memarga.         &lt;br /&gt;         Kaping kutus mati raga&lt;br /&gt;Angsengan  tan malih kari&lt;br /&gt;Kabaosang padem sempurna&lt;br /&gt;Yan pejah nadak karacunan&lt;br /&gt;Matine  tan nemu suarga&lt;br /&gt;Nika sami&lt;br /&gt;Kapatutang ring agama         &lt;br /&gt;          Ngulah pati pati ulah&lt;br /&gt;Kaon kojaraning gumi&lt;br /&gt;Kapatu kelidin  pisan&lt;br /&gt;Mati kelem mati ulung&lt;br /&gt;Mangdoph pacing mangguh suarga&lt;br /&gt;Yaning  mati&lt;br /&gt;Ngamangguh kawah pungkuran.         &lt;br /&gt;         Pupuh  pangkur         &lt;br /&gt;         Inggih puput kadi nika, sampun pisan,  benjangan malih   lanturin, mangda sampunang kedaut, ring gaguritan  Babad, mamancangah, dawning   pawedare sampun, atukan sampun kasurat,  maka miwah kawacenin.         &lt;br /&gt;         Nanging elingang matebah,  mangabaktiya, mangelingang sami   linggih, linggih wangsane tuhu, kadi  warih sira Dalem, Dalem Myukut sampunang   kayun manipu, nipu sang tan  mangega, ngardi pocol tindih bakti.         &lt;br /&gt;         Inggih  mangkin ngawit sineb, puput sampun, sampun malih   karang kiring, makadi  sang during weruh, ngaweruhang katuturan, ngardi   sambrag, yaning  kantun kayun ragu, Buktiang mangdane terang ilikita bukti   saksi.          &lt;br /&gt;    PUPUT  OM, CANTI, CANTI, CANTI, OM.  ***  Copyright:  Godefridus Dijkman, November 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1369378906719126273-4472506090817833626?l=babadnusapenidamenggugat002.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://babadnusapenidamenggugat002.blogspot.com/feeds/4472506090817833626/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1369378906719126273&amp;postID=4472506090817833626&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1369378906719126273/posts/default/4472506090817833626?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1369378906719126273/posts/default/4472506090817833626?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://babadnusapenidamenggugat002.blogspot.com/2010/03/babad-np-fersi-gg-m-duduk-dm.html' title='Babad NP Fersi GG M Duduk DM'/><author><name>I Wayan Lugra</name><uri>https://plus.google.com/109171635567899780184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-Yl4tsswI00Y/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/2qMVv2LoKuE/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;A0AGQns6fip7ImA9WxBaFkg.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1369378906719126273.post-7166392102539743877</id><published>2010-03-27T00:53:00.001+07:00</published><updated>2010-03-27T10:15:23.516+07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2010-03-27T10:15:23.516+07:00</app:edited><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Babad Pucak Mundi NP Unduhan DM'/><title>Babad Pucak Mundi NP Fersi Dunia Maya</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="State"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:35.4pt; 	mso-footer-margin:35.4pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;ÕNG awighnam astu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pasang tabé ya ta nghulun ring bhaþàra Hyang Mami, ikang kahulà hanuhun wara krêttà nugrahà ri paduka nira pukulun, lamakané tan kataman hila-hilà ri sira hyang hyanging karuhun, makàdi ri sira sang huwus mor ing hyang, dumadak kûama hulun, hamangguh sarwwa wrêddhi, dirgghà yuûa, katêkéng santana pratisantana, namostu jagat dhità rikéng jagat, yan ana hanlêmpaning kata, wastu sampùróam mné ta hulun hamrêkrêtaning kata karuhun, harêp cumangkah hanambat kata karuhun, yaya sambawa dahat, déné wênang mati rwat ira. Iki rungwakêna ikang kata carita, i ngùni duking duking jagatékaràkûasan, hanané sira Bhaþàri Umà, tatkalané sira tinadah dé nira Sang Hyang Paramà Gurù, matangnyan mangkanà saolihé Bhaþàra Umàdéwi maglêng ri hanak ira Sang Hyang Kumarà, sira hanadi witting jaka, akabun-kabun, olih ira hanungsang romà, hanunggalang suku, tan sah umijil ikang buh nikang santên, yatiku hinuyup olih hanaké, sira Bhaþàra Komara, sama rasané lan susuning ibu, mwah ibunya tan kinratan, lwir kàla hadrês huswasanya, mamirah nétranya kalih, sakûana sira umijilà syung úalit, pinantingakên tang hanak irà bêntar ta sira hira&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bhaþàra Kùmara, kabuñcang galih nirà ring úiwàdwarà, yatà hinlên hutêknya déning hibunya, wawu pwa sira hakêcap-kêcap, wruh pwa sira Sang Hyang Paramàgurù, kalanya harùpà rakûasi, kaya himimitanya hinuduh magnah ring madhya padhà. Mangkin sira Bhaþàra Umà, mangrad ta sira Bhaþàri Rohini, hasawità syungnya, lwir durgghàbucari, hananging maring dalan-dalan, tan sah  mrabês luh lunyang santên nrêpis titir ring siti, yatikà doning mlêtik gdhang sabhà, i wêkasan ikà wnar maka sasangùning raré, hapan gdhang sabané wijil saking buh ning susu. Mwah sira duknya mangkana Bhaþàra Rohini, hakayangan ta sira ringBukit Mundhi, hangaji ta umah sama ring úwargga. Mwah sira hangaji, mêtu bababutan kabéh, ika padha ngêmitin, ika dwaning têngêt tan sapirà, mwah ri kalan Bhaþàri tinuduh kamanùûan, ikà yana ngaran nuûà, dukning bali bondhan. Mwah ta sira Bhaþàri Rohini, hangadñana sira putrà ÕNG ANG lah hawêtu, hana sirà. Ratu Sawang ring pucaking bukit Mundhi, hatyan kabhinawa pwa sira, sabran rahina ta sira mangolah-holah manùûà, mwah úakti sira tan papadhà, mangké pwa sira Ratu Sawang, hangalap rabya, pwa sirà maputra pwa sirà jalu-jalu rwa tunggal, mapasajña Ratu Rênggan, Ratu Rênggin, kahanggé kompyang olih sira Dukuh Jumpungan, matangnyan mangkanà, wétning sira wit tan wnang Hindhu singgih kabrahmaóan, ya ta hingaranan sira Radén Jumpungan ring Hióðu, sdêké sira paprawonan hanglinggihin tan kasêman hanggawo ya lolohan ring Pênidhà, irika ta sinancang. Wétning pagêh hingaran dukuh hikà putrané Dyah Ranggini, hinalap dé nirà Satu Sawang. Mangké sira sang Ratu Sawang humadêg dalêm ring bhumi Nùûà, habhiúékà Úri Dalêm Sawang, hapan sira mangwasayang sang wwang bhumi nùûà, hnêngakna katha Dalêm. Gumantya sira ratu Rênggaranggin, ya ta hinguruk dé kompyangé huwus wruh ring ngadêg ing wwé, wruh ring pañaranging wwé, wruh hamubur butalà hatêmahan sàgara, déning sahika winéh sira prabhu, kinon ta sira hañalanang, déning kompyangé, mangké sira kalih kahamandéganin, mwah sira ratu Rêngga Rênggin pinaka madêg patih, tur hangalà-halà hambêké Rawaóa tulya, sabran rahina matmah wré. Yadyapi sira sang aji Sawang, malar pwa sira ring bukit Mundi, abhérawa krama nira karakûasan, hasih sira, hañada raûa, hangolah jadmà. Yan pira lawas sira kunang, hamùkti hanramangúà, nêngakna. Mwah caritanên ta sira sang ratu kalih, sahitya sira paprawonan tarkosêman karaning ta sira hangkara, kaya Rawàóà, wtu hyunirà wruh, ring kasiddhyan nirà hyanging gunung ratu, mangkana dé nira minton hanglêpasa ta sirà wakutis saha wéci, gumariyung makêbur ring  gaghaóà, matêmahan kagyat watêk déwatané ring gunung, hangadu pungpating samburat, irika ta duka pwa sira hyanging gunung ratu, hanganani sira hudan apuy, ikà ngvesêngi, matêmahan gêsêng bêdudané handadi hawu, gêsêng katêkéng lêbak galintung, hana gunung hadumma tan papêgatan, dwaning ikà ingaranan bukit pawon, dwaning hingaranan lagà, duk gniné hakumpul kadi danu, mwah gêniné lumantas, kaya guntur hangêsêng sakawaran, ika ngajaring lêmbah hapuy, mangkana kamimitanya kadi hajêng, ri wêkasanya nàpakàlà, malardarang masà kandapan, hana hyun ira wruhà ri hyanging gunung ratu, hagé ta sira hangujurang prahu tan hasêman irika ring Padhang Baé, hamasanga japa mantra, amtêmahan lunduh ikang prêtiwi, hatêmah wwé, sakûaóa lindhu kang bhumi, kagy&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_1Oq1qRRP-eo/S6139p3cf2I/AAAAAAAAAa0/dieYlCLADpM/s1600/NP+2.JPG"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 329px; height: 256px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_1Oq1qRRP-eo/S6139p3cf2I/AAAAAAAAAa0/dieYlCLADpM/s200/NP+2.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5453146624909672290" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;at watêking hyang hyanging gunung, sama kapalajêr mungsi ring gunung ratu, hangoninga tingkah ira prahuné haniñcap praya ka gunung ratu, déning sahikà, kamantyan duhka nira hyang. Hapan ring gunung agung déwaning mahà &lt;st1:place st="on"&gt;Bali&lt;/st1:place&gt;, yata tinapak kang prahuné, déning panañjung, hakirig pwa yà, muwah wwéning sàgara mahocakan, juraganya padha paling mapusingan padha ngutah-utah, dadya ta kadumprat ikang gunung hatêmahan pêgat karêm kang prahu déning hangin hapusingan, prahuné matêmahan kandas ikà dwaning hana gunung hanak, mwah sadagingnya samwa kumêlêm ring têngahing sàgara. ikang juragan kabéh haniba ring pasir hanglalangi kadi pêñu, kasampuh ring tpining nùûà, wonging Hindhu ikà humêdhêk sira ring Dalêm Sawang, hangùninga tingkahé, suba-suba, tumuli bêódhu ta sira Dalêm, hanon prahu nira rusak, dadya tan surud hyun ira runtik ri sira hyanging Bali têngah, didiné hana ngawighna ring jagat Bali, katka têkéng dlahà, dwaning kasapa juragan ikà kabéh, dumadak hapanga dadi bala samar katêkéng dlahà, babhuktyané basang - basanging wwong hangkên hatahun, hana maka pañampuranya, dadyakinon ikang samar, padha mangun pakuwuwan têpining pùrà, kakêmit déning ki bala samar, kala irika úri aji angulurin kang angkaraning budhi, tan surud pwa sira hangolah jadmà. Mangkana mimitaning jagaté ring nùûà, dwaning têngêt tan hana wani haclangapan, hnêng akna ikang kathà.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Wus alawas lawas kalà kang jagat katiñcaping sangharà, tabé ta nghulun tan kataman upadrawà, dadya ta manastapa ta bhaþàra ring gunung ratu, tumon hatingkahing walêm ring Nùûà, hamangan naramangúà, mwah wwonging nùûà, tan tuna hangêmasin pati, hingolah waduké holihanya i bala samar, wus kalugra olih Dalêm ri Nùûà. Ika matêmahan runtik angên ira raja Bali, Bhaþàra ring gunung ratu, raju pwa sira mangké yan hangêntas pwa sira witing dukut pêtak, hingaran padhang kasnà tumuli angastrén pwa yà, mangké dadya pwa sira wwang hapêkik ring tata warónan ira, prawirà pwa sira, akakasih sang aji Dukut, sira ta hingadu dénira bhaþàra, ya ta hamaténi sira Dalêm Nùûà, doûanya hamangan manuûa, pjah pwa sira holih kris ratóa kañcaóa hajajaton lungiding manuk déwatha, hiku ingastrénan déning japa mantrà. Kunang salinané sang aji ring Nùûa, kalaning maholahan, mwah hana palungguhan ira lungkà-lungkà maóik, ri kana sang aji Dalêm lulut halungguh, tana, dalaning haprang, mwah salêbat ira sang aji Nùûa, humantuk ring tayà, krodha ta hibun nirà Bhaþàra Rohini, ya ta kaborosang danuné, tumuli mahurusan ka samudra, dadya rantaban wwang Nùûà, padha nambêlin, nora kawênang, doning hana ngaran têgal Tambling, mwah buh susu hasurupan ring wintang gdhang sabà, mangkana pidarthanya pjahnya tan pakléwaran, padha mulih ring úwargga, nêngaknà. Halawas-lawas pira-pira kunang suwén ikang loka caritanên pwa sira ri pangadêgan irà Bhaþàra Krêûóa Baturénggong, hakadatwan ring úwéccha lingarûa pùra, wyakti gêmuh pwa nikang ràt, malêþik ikang sarwwa nadi, sasab mraóa padha wurung, para tandha mantri padà rahayu, nora hacêngilan, padà lawan rowangnya, hingarêmba déning patih, mwang sang arya samudayà, sama wit turunan Wilwatikta, mwang hana Kyai Paminggir, mulaning Bali rêndah hanak, ita lwih wangúa, sdhêng hinarêp akên olih Dalêm, kang handiri ring úwéccha purà, ika ta hangidêring puri ning Dalêm, mwah Kyayi Paminggir, kapêrnah kompyang déning Ki Gusti ….. Manguri, hapaning manguri maputra Kyayi Popongo. Rakriyan Popongo pwa sira, maputra Kyayi Ngùrah Alit Kawan, putrana Kyayi Gusti Paminggir. Mwang hana pwa sira harinya stri, harané Ni Gusti Ayu Kutri, kalap dénya Kriyan Mogol, dadi lêlintah, doûàné harabi lan panaké,&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ni Ayu Kutri lwar saking Gélgél, wétning kagila-gila tumoning lintah. Nêngakna ikà.&lt;br /&gt;Mwah hana carita amngké tan lyan ira Dalêm, hanamtami kapti, ya ta yang kramà maring Panataran Padhang, sarwwi ta sira haburù, mwang hapikat, kahiring olih praménaké, katkaning juru boros, makadhi ta sira Dalêm mapadati, pangorêgé wêtwing pangajaran, ikà ta mangorêgin, salampah lakun hida Dalêm, tan lyan i pangajaran mangorêgin, katyanta padha samaptà, mwah ri hulihé Úri Aji sakéng Padhang, tinon ira wwong saking Nùûà, sama ta padhà sdhêg, padà ngêmbêng waûpà, rawuh ring pamêkêl saking Gulingan, padà sdhêg, hatùrnya patêh, nguningang tingkahing Dalêm Nùûà, margané nora ngrabinin wwong arabi, wétning úakti Dalêm, kawula tan purun. Hanghing Dalêm Bali nahyaning sasajà kéto. Lautang suba siga mulih. RI wkasan halawas mulih ta sira Dalêm tumuli sira hangangkatang dulang Mangap, spa kwéhnya, samà prawira hatinðih Dalêm, Ki Gusti Paminggir twanyà hingadu, tur padha hajujukungan, hamunggah ring Jumpahi, ring cdhok handog, mwah sapraptané rikà samà satut hingiring hyun ira Dalêm, ikà dwaning samà girêt amargi sarwi hasasurakan, mwang hatatuñjêlan lan abdilan, déning nora hana hanimpalin, ikà doning kari hanggêgêr, nêng akna mwah. Caritanên mwah pwa sira Dalêm Dukut, wyakti sira hatingkahing pañca wiûayà, hañmara dwéûà tan pinrêtan, hangrabinin wwang arabi, hagawé kéliking jagat, hagawé haro-haraning jagat, mangkana juga pêñcêp irang Dalêm. Wus mangkana tumuli kagyat pwa sira Dalêm, ri hulahing wwong Bali, hatutuñjêlan, mrêkpsa ngusak-asik, nànging tan hana sangkétanyà, dadya ta sêndhu ta sira Dalêm, tandwa hingundang ikang balà Samar, dhatêng ta balà samar, sama hanggawa pdhang apuy, sahasà padà mrang hamatrêm, hamét waduké rinumbah gilé, wwong baliné sami rasa tan pabayu, nglêmayang nglêmayung, tan pajajah prêsamà hagrah,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hana padhêm kadinginan, hana mangêtngêtan ring sukêt, mwah sajawaning pjah kapraóan, prêsama tulak ka Bali, malar binuru déning bala Samar, hinurug déning poténg hapuy. Mwah saprapténg Bali, matêmahan pêjah, kabéh tumus katka tkéng I Gusti Paminggir, sira hangêmasin anta, tumuhur Ki Gusti Kulon ring Dalêm, ngùninga sapratingkahing balà, tlas padhêm, dadya mangên-angên sira Dalêm, lama tan angucap, hapan karêngö sira Kyayi Paminggir sira sampun ngêmasi, ri wkasan mangling ta sira Dalêm, yat kinon Kyayi hangêsanga rowanganya kinon mananêmang, réh spa kwéh wwang rwang, dwaning kabugbug, hana sékêt hana satus tan tuna hatunggalan bangbang, kabugbug, kéwala Ki Ngurah Paminggir kopasara tingkahing kûatriyan. Ri wêkas hana hyun Dalêm, yan mamanginon akna mamanguna pùrà, didiné hana pingêt, satingkahé habugbugan ika wangkéning prajurité sami, pagêbugé ka Nùûà, haranya dalên prajurit, marmmané watêk aprang, wnang kasiwi ring turunan Ngurah Paminggir, réh Kyayi Paminggir pêjah duking hajurit, sapêjah Kyayi Paminggir haningalan bobotan, têhêr hanama kadi kang bapà, mwah hana wêtuné Ki Gusti Wayahan, bibinya pêjah, iakng raré ika, handulu suku ring kangin dracapa balà, wayahnya rawuh lamun  mahuripà, yanya muruga kunang, tan wangdé ya matêmah wyadi. Nêng akna -/- punang katha. Hampurà ta hulun didiné ta kna raja panulah. Caritanan ta úirà Úri Aji Gélgél, kantun runtik sira lan sira Aji Dukut, hangangkatang pwa sirà mangké Ki Gusti Tênganan, pwa sira hingadhu, jiróna pwa sira hingadhu déning Dalêm, réhé sirà wus wruh ring niti catùr wiwékà, katkaning samayà, hamarga pwa sira, saha kris i malélà dawà, olihé hanambut ring sirékaning wé Hundha, kangréñcangin tan kurangan, hajajukungan tur bang bidak, tan kocapan kagét têhêr ring bhumi Nuûà, raju sira humêdhêk ring pahunggwaning Dalêm. Singgih pasang tabé kang kawulà, humêdhêk ring pangkajà pakulun, manira wétning kahutus dé úri Aji Bali, durung tutug haturé, mangêling sira Dalêm Nuûà, huduh&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kita Jlaóþik ingsun wruh ring ri sadhatêngé kita, kita kahutus hamêjaha i ri ngong, ngong lêgà haninggala bhumi lmah, apan ingsun hanglaréng budhi, ngulurana kama dwéûà, apang I Ngùrah sadhu polahé, ngong hawéh, tan kadi Ngùrah Paminggir, ngùni tka mrêkoûa, nora hana karunanya, sahasa manunjêlin, yéka matêmahan mati kabéh. Kita Jlaóþik yan ingsun wus mantukà ring ciótyà, hana ikang bala samar mwah sawatêking Nùûà, kabéh, samà katur ring ràja &lt;st1:place st="on"&gt;Bali&lt;/st1:place&gt;, lamakané sira mawéha caru ngangkên satahun. Yan nora amngkanà, kayika iku jalaranya,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;matêmahan grubug ikang jagat. Wus mangkana raju tinamét ikang pabrêsihan, hapningan pwa sirà hamrêlina salwiring lêtuh, mwah sahananing hadrati kramà, padha tan hana ri úariran Dalêm, wus mangkana têhêr ta sira bhojanà, kéring dané sira Kriyan Tênganan, saha bêcik-bêcik, sada raûa mwang drêwióa. Wusing padha hamukti, mangandika sira Dalêm, kita Jlaóþik balik yan hingsun mañêrahang, lémpas kasatriyané, yan hingsun hamêjaha masa wuripa yà, mné hunusên ikang kadgà, tumuli hinunus ikang duhung, haprang padha silih tanàlang, pindha mangêñjêk, krisé Kryan Jlaóþik, nora maraûà, ling Dalêm, huduh salénana, né bahu durung maraûà. Dadya méngêt pwa Kyayi Tênganan, tumuli konus kadgané olihé nambut ring ngùni, pangandikan Dalêm, hingsun wus wruh, ikà si Malélà, dadya ta ya bahni mijil ring rahasya budhi, saha duma ngrêrêbi, sakûaóa mukûah sira tan palaywan, matêmahan karcaúyàtà sira Ki Gusti Jarantik. Mwah ta sira Dalêm Dukut, mokûah ta sira mantukéng tayà. Ki Gusti Jlaóþik lawan rwangnya hiku, kasarêngin ring balà samar, Ki Gusti tan wikan, mwah mara sira tkéng madhyaning sagara, matêmahan halulunan ika iwaking sagara pati samburat, hawanan tumurun pwa sira ring cêdokan, ring pasuwahaning Jumpai, hangagra ngalor lakuné.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mwah saprapta néng watangan, dadya ta rêngas turanggà sang prabhù, kala nira hapudati, kudanya mamêtak, tar wênang tinambakan, pirang wong katahé handêg, malar kariya hanumprak, matangnyan mangkanà, wiréh Kyayi Jlaóþik kasarêngin hantuk i balà samar, samà dané harùpà dhanujà, magagawan pdhang hapwi, hana hanak Kriyan Jlaóþik mabibi saking Pamdhilan, hajiné tan mangrunguwang doûané ngùni ring pamlandangan, né mangkin ikà manambakin, amtêmahan mandhêg ikang haúwà, raju tinalénan, ikang kuda katur ring Dalêm tumuli, hênti sukanya Dalêm ing Gélgél, marmmaning mangkana ring ngùni kalanyà cangkrama ring Gowalawah mwang ya ta rusaking padati, yata pinipil olihang pangajaran, wus mangkana dadya matùr Ki Gusti siréng Dalêm, manguningang kadi pangandikan Dalêm ring Nùûà, lamakané sira mawéha tadhah caru, tadahaning bala samar, hangkên hatahun, amngké kang nara ring Nùûà, tkaning punpunanya kabéh samà katùr ring Dalêm, mwah yan sira Dalêm hangêmpung prang ngarêpin úatru dé tabuhan atêngran, mangkana saturé Kriyan Jlaóþik, matangyan suka ta sira Dalêm yan mawéha nikang Nùûà katur ring paduka Dalêm, dadya ta mawêwêh sukrêtan ikang jagat, sapangadêg sira Úri Dalêm Baturénggong, wus mangkana mangké hana hyun hida Dalêm mawéha nugraha, ring kang sunu kang mangayahang ring Dalêm. Huduh kita Jlaóþik, kita mangdadi Ngùrah Agung, hanakta sang mabini saking Pamêdhilan, hanambakin kuda tur mangandêgang, ndanya mangké hanamà Ngùrah Pandhénan, kapatyannya ri wêkas, wnang mupakarà kûatriyan, mangkana kita Pangajaran, satata kita mangorêgin, sarusaking padati, mungsungên, makà pakéling matangnyan sasantunantà, hanamà I Ngurah Gdhé Pangorêgan, kapatyané wnang mopakara pakasatriyan, mangkana juka kita Kyayi Gdhé Paminggir. Dén padha hélinga kadhi hujaring kuna kunà, sira Ki Gusti Ngurah Agung katuran gênah ring Tojan, nêngakna ikang katha. Ri wêkasan wus alawas humadêg sira Úri Dalêm Anom, kaliyuga tang bhumi, hangkara halobbha lobhan, corok cinorok, tan kéwaúa tinahênan, pangindhaning pêrang ramé, ring Úwéccha Linggarûa Purà, wêtu para tuwas ira Kriyan Pandhé, doûané tan harêp ring pangrêratà, marmmané kabuntêh holihing wong ing Badung, prang hinapitan, ring kiduling Kutha rinangsang, ri kulwan sira Patih Kriyan Kubon Tubuh. Bala nira hangambêngi, samàhawirang ring Anghulurah Kañca, né sakéng Badhung Kutha, ring lor Kriyan Tabanan, Têgêh Kori, Buringkit, Kaba-kabà, sama ngawirangan sira Kryan Kañca, sama hangambêngi, hapégok sira mangétan, hakidik kang kari, wilangnya sasaring satus, Ki Gusti Pandhé sapih prangé manglawan Rakryiyan Panarungan, sira Kriyan Pandhé paratrà tumut têkaning santanà, kéwalya hanak mantunya kari, sök I Gusti Manginté tan katêmpuhari, hapan sira hatunggu lor, mwah sira Kryan Kañca hakukuhan ring wétan, saha balà nggêgêr, sarêng lan I Ngurah Pamêdilan, pangucapé yan tanàbraûþa sira Kriyan Pandhé, nora sira hañilirin mwah, prangé ramé, hagunung kunapà, sakwéhing sawa hinusungan ring bugbugan, hatunggalan bangbang, mwah sapêjahing Paódhé, tisti samun ikang nàgara ring Gélgél, nêngakna. Ri wêkasan, wuwus halawas, caritanên I Ngurah Kañca, lawan I Ngurah Pamêdilan, huwus paúcating panobhayà, holihé hakakasihan, lwir sapahu lawan si pinêjêh, twi padha psyà, ya héka don ira sira Kañca jnêk sira hagnah ingkanà, hamanguna kakubonan, sumaódhing lawan Ngurah Pamêdhilan. Sira Kañca hangalap ta sira, …… , kanya, luh kasih sakéng sira Kriyan Pamêdhilan, yéku ta winéh lawan Ngrurah Kañca, wuwus akrab kêrab, ri wêkasan kasêntana Ki Lurah Kañca sanunggal, haran Ki Ngurah Wayahan Makêñca, ngalap rabi hanaké Kyayi Minggir, hakasih Ni Ayu Prang, yatéku strinya I Ngurah Pakêñca, padha harus padha sukà, hawanannya hana panamayanyà Ki Gusti Paminggir, didiné I Ngurah Pakêñca katka tkéng santana, hapang hakrama pùra ring Dalêm Prajurit, mangkana sangkétané ring Ki Ngurah Kañca,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ki Gusti Kañca sawurnya tan apañjang, tlas angadyani kadi pamidiné Ki Gusti Paminggir, rawuh ring lêmah Kutri, déning sahikà, hanaké sira Pakêñca winarahan tutur kang pnêd, lamakané tan alémpas, kadi warah ràma twané, kita Ngurah Pakêñca, réhning bapa têlas ning asasat, dénta kéngêtakna, katkéng bésuk, haja lupà, kadi warahing bapà, aja wihang hakramà pùra, Dalêm Prajurit, lingganing pùra dharma ring wétaning lurung harupit, ring purwwaning krêtêg agung. Iki pakéling Bhaþara kang Wawu Rawuh, makà lamakané, 1350, jantos&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;1380, Dalêm ring Samprangan. Sapangadêg Dalêm Kêtut Ngulêsir, ñênêng ring Gélgél, swénya saking tahun, 130 jantos 1590. Sapamadêg Dalêm Baturénggong sakéng tahun, 1591 jantos tahun 1619. Sapamadêg Dalêm Bêkung 1550 jantos tahun 1580. Sapamadêg Dalêm Anom, sakéng tahu, 1580 jantos 1665. Sapamadêg Dalêm Dimadé 1665 jantos 1685 ring Gulyang, tan waróanên tlas. Ngawit sakéng Arya Bêlog, maputra Gusti Kabà-kabà, Ki Gusti Buringkit. Ki Gusti Kaba Kabà nunas putra padhana ring Dalêm Sagêning, hanak I Gusti Têgês, byang papadhan, malih saking panawing, putra pakaryyan jalu-jalu 5 diri, hanamà, I Gusti Kladiyan Pahang Bulya, I Gusti Bakung, Abyan Tuwung. Tambang. Nêngakna ikang katha. Tucapa mangké Kriyan Ngurah Pandénan, anak Kyayi Ngurah Agung Jlaóþik, mahibu I Gusti Ayu Pamêdhilan, asanak lén ibu ring I Gusti Gdhé Ngùrah Jlaóþik. I Gusti Ngùrah Pandénan, sinurud dé sang yayah maburù mapikat, ring alas, sangúara nira I Gusti Ayu Kalér, kañcit datêng ring lér gunung déúa Pamujungan, kasayut dé Jro Gdhé Bêndéúa Liran, duk Iúakà, Bhuta Gajah Raûa Bhumi, 1685, samapta. Nihan pangadêgan I Gusti Sidêmên, mingkéné purwwanya, kunang pwa tatwa brahmakula tatwà, Bhaþàra Brahma aputra sira Mpù BajrasatraJinamurthi pwa sirà maputra sirà Mpu Panuhun, Mpù Panuhun maputra Mpu Bradah, kunang Mpu Pradah duké hana ring lêmah tulis, haputra pwa sira tigang wiji, stri sawiji hanama Ni Méddhawati, kang laki hanama, Mpi Úiwagandhu, arabi lawan anak ira Mpu Witaraga, masuta limang wiji, laki 1, stri 4 wiji, kang laki hapanlah Mpu Witaragà, kang stri Ni Ratna Suméru, Ni Ratna Giri Natha, Ni Déwi Patni, Ni Déwi Sukérti. Mpù Bahulà hanak Mpu Pradah pinih alit, maputra limang wiji, kang laki, Mpu Wira Angsoka, Tantular, namanya wanéh, kang stri Déwi Dwaranika, Ni Déwi Ajñani, Ni Déwi Krêttajiwà, Ni Déwi Mrêtanggali. Kunang Mpù Angsonatha, atmaja laki-laki 4 diri, padha paripuróna, lwih kasidhiajñanan irà, anamà Mpù Panawasikan, Mpu Sidhimantra, hamuhuna kasidyan, sama lawan harin ira katigà, Mpù Smaranatha, kapat katkaning Mpù Kapakisan, mangkana turunan Mpu Pradah ing kuna, hnêngakna ikang katha. Tan kétung salarasirà Mpù Sidhimantra, muhun kasih ira Hyang Nagà Basukih. Gêntyaning caritha, tucapa Ida Panataran, wêtu sakéng Tulus déwà, hasanak karwa, hariné hanamà, Ida Bañakwidhé, humantuk ring Jawi Dêhà, Ida Panataran kantun ring Bali, ngambil pamargan kakyangé Ida Hyang Manik&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Angkêran, babotoh tan pirà, ngulêsir ring jagat Bali, sing jalan jalan magênah. Asiki kayuné hababotohan jugà, mwah kalaning wéntên tatajén ring Gélgél, I Gusti Agung Bêkung ngawéntênang tatajén ring Bañcingah, dané, wyakti ramé pisan kang babotohan, Ida Panataran ngalunganin, sah saking Griya Bêsakih, sarawuhé ring tatajén, tumuli Ida ngatêngahang, patarungé sampun wéntên tigang sêhêt, wéntên malih ayam durus, pêtoh ipun dados. Ida Panataran pabwaté ñaluk mukpuk, bilang kabwatin kawon, kagétan jagaté wêngi, mararyan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tatajéné, kêtoké sàmpun tinarik hantuk jurunipun, malwaran ikang babotoh, Ida Panataran tulus Ida kawon, pakayun idané lêsu, turing lapa wlêkang, nora matatukwan, déning gêlaré sampun têlas, kawon, yaning mantuk ka Basakih, kaliwat sawat, pêtêngé limbak, hawanan nglalu di pênggaké ida mrêm, tan hana ngarungwang, wyakti ring wênginé pisan, raméné tan kodag, wéntên contokan, kompyangan, pakuswan, mwang klêcan, sampyan lindrikan, Ida Panataran, bêcik pisan sirêpé lêsuné kalintang, tur twara mangajêngang, sawiréhpangêndaning widiné nora wênang lémpasang,&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color:red;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;ring pêjantosan, ida mangguh kasobhagyan, kalaning têngah wêngi, katujunên I Gusti Agung Bêkung huyang ring pakolêman, matangi tur ñingak galang ngêndik ring jaba, raûangantêg ka langité, nanghing hanaké malindrik makêlês sané maplalyan makêjang twara nawang, raris dané jumlêg ing natar, hêndihé sayan kabhinawa, murub makalangan, dadi kanggêk kayuné Ki Gusti Agung Bêkung, kapinêh ring pakayunan, ciri wéntên hanak mrêm ring jabà, kabawos ring pakayunan, twah sdhêng hadêgang mañca agung, glis dané mdhal ka bañcingah. Sarawuhé ring bañcingah, kacingak ring pênggaké kajà&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kangin ngêndih murub, ring gênah Ida Panatarané mrêm, tumuli kagyat dané déning dané huning, wantah Ida turunan saking Sanghyang Maóik Angkêran, tumuli katanginin, ida sang mrêm. Singgih sang hyang, sapunapi dados sanghyang ring dalam-dalan mrêm, bês twara ñayangang ragà hakidik, cén hadénan ñujur kasidyan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;kan&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt; ring kamokûan, kasunyatan, tanding ring kabhinawan, nunas mantukà jumah manirà, pyanak manirané ambil, sanghyang hanggon manirà gusti. Déning sahikà hatur I Gusti Agung Bêkung, nanêng Ida Panataran, sowé nora mêdhal wacaóa, kari minêh ring raga lacur, dados kayun ida ngalih kawibhawan, hantuk dané sênêng mamotoh ngulurin salwiring pangan kinum, yan kasunyatané pacang halih, kapah matatajén, mlah jani hiring kadi haturé I Gusti Agung, malih I Gusti Agung ngawawanin atur, sapunapi mangkin pakayunan hida, dadi suwé tan pasawur ring manirà kénkén, hanuli matùr Ida Panataran, singgih I Gusti Agung, kalintang kadharman I Gusti úwéca, tkén manirà, manira liwat nirguóà, inggih wéntên pakayun I Gusti sapunikà, manira tan pañjang ñadya ngiring pisan. Déning sahika raris kahambil tangané Ida Panataran nunas Sanghyang mantuk kumah tityangé, raris madandan tangan sarêng kalih, sarawuhé ring purin dané I Gusti Agung, raris katurang okané, sané mapêséngan I Gusti Ayu Bêringkit, maka rabya Ida Panataran, né mangkin wadwané dadi ngaro basa, wiréh sang brahmana kaduduk olih wéûyà, tan ucapan lawas sàmpun ring Gélgél, kalintang kosêkan, dwaning Ida mapuri ring Kacangdawa, kaswén maputra tatigà, I Gusti Panataran pinih duwur, I Gusti Kacangdawà Pamadé, I Gusti Kalér Pamarùjù. Tan alawas wus hinucap hapuri ring Kacangdawa, raris kapandika ring Ida Dalêm, hamacêkin ring Sidêmên, tur kicén nitah gumi ring Tabola, Tangkup, Pahmêtu, Manikaûa, Bangbang Byaung, Muñcan, Péjéng ahyangan, Susut, Balu, Pakél, Sêmsêman, Sangkan Gunung. Malih hucapang panêêran wyadin pamadêgan, malih ngalap rabi putran I Gusti Agung Kalér Sanggingan, maputra I Gusti Hyang Taluh, maputra I Gusti Gunung Agung, tan hucapan sampun lawas padha rêndah santanà, kocapan I Gusti Panataran, kalugra amangkunin ring Basakih, nggamal tgênan ring Watuúéûà, ika karéñcang sawétaning Tlagawaja, kasuwén dané maputra kakalih, I Gusti Kabayan Lor, mangku ring Panataran Agung, I Gusti Kabayan Kidul, ngamangkunin ring Dalêm Pùri, I Gusti Kabayan Lor malinggih&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ring Balêdan, masêntana 6, diri. I Gusti Panataran Gusti Slat, sané ngamangkunin ring Dalêm Pùri, maka miwah ring palinggih Dalêm sami, punika pamongan Kabayan Gusti Singarsà Gusti Manikan, Gusti Tabola, Gusti Têgês, mangkana kwéhing putranya, réhing tuna kawibawan, mawanan sumusup ring dura déúa, Gusti Slat kê Badung, ring Tapéyan, raju jumnêk irika, Gusti Singarûà sah ka Jambraóà, Gusti Manikan ka Blahbatuh, rêndhah santana. Gusti Tabolà karing Tabolà, Gusti Têgês ring Ulakan, Gusti Panataran sah ka Sukawati.-o- Malih walinin carita ring kuna, duk rusak padarmané ring Bêsakih, olih I Mayàdanawà, wus alawas malih pinahayu, déning sarwwa babantên, mwah habah-habah kalih tatabuhan, pamangku né talêr katurunan I Gusti Panataran, kalugramwah harin Ida Tohjiwà, maparab Ida Singarûà, Ida Suka Lêwih. Mwah putrané pinih duhur, Ida Tulus Déwà, mahibu cili Manik. Mwah Dhanghyang Smaranatha, maputra Dhanghyang Angsokà, Dhanghyang Nirartha. Sira Dhanghyang Kêpakisan maputra Soma Kapakisan. Ikà aja tan wruhà. Lan pmaknà. Tlas.sané ngamangkunin ring Dalêm Pùri, maka miwah ring palinggih Dalêm sami, punika pamongan Kabayan Lor, Kabayan Kidul, kramanya mangkana, réh wité saking Maóik Angkêran, brahmana swarya ring Bêsakih, tlas. Mwah walinin carita ring kuna, Mpù Tantular, maputra Sanghyang Panawasikan, Sanghyang Sidhimantra, Dhanghyang Smaranatha, Dhanghyang Kapakisan, maputra Déwi Sanghawati, matêmu tangan ring Danghyang Nirartha. Mpù Sidhimantrà maputra Wang Bang Maóik Angkêran, sira Wang Bang maputra tiga, Ida Tohjiwa, mahinu putran I Dukuh Sakti, turunan saking Sangkul Putih,&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1369378906719126273-7166392102539743877?l=babadnusapenidamenggugat002.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://babadnusapenidamenggugat002.blogspot.com/feeds/7166392102539743877/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1369378906719126273&amp;postID=7166392102539743877&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1369378906719126273/posts/default/7166392102539743877?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1369378906719126273/posts/default/7166392102539743877?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://babadnusapenidamenggugat002.blogspot.com/2010/03/babad-pucak-mundi-np-fersi-dunia-maya.html' title='Babad Pucak Mundi NP Fersi Dunia Maya'/><author><name>I Wayan Lugra</name><uri>https://plus.google.com/109171635567899780184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-Yl4tsswI00Y/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/2qMVv2LoKuE/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_1Oq1qRRP-eo/S6139p3cf2I/AAAAAAAAAa0/dieYlCLADpM/s72-c/NP+2.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;A04HR3k9eSp7ImA9WxBaFkg.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1369378906719126273.post-2685331251379304811</id><published>2010-03-27T00:45:00.003+07:00</published><updated>2010-03-27T10:18:56.761+07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2010-03-27T10:18:56.761+07:00</app:edited><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Babad NP Unduhan Dunia Maya.'/><title>Babad NP Fersi Dukuh Jumpungan. Dunia Maya.</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="State"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:35.4pt; 	mso-footer-margin:35.4pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Om&lt;/st1:place&gt; Awighnam astu&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;.&lt;br /&gt;Iki caritha kandhaning usana Pulo Nusa, Nga., hana ngaran Ki Dukuh Jumpungan, hanéng Gunung Kila, kunang Ki Dukuh Jumpungan, hakurĕn lawan Ni Purī manak ngaran I Mrajā, kunang I Mraja, hakurĕn lawan Ni Lundah, manak ngaran I Undar, kunang I Undar, hakurĕn lawan Ni Lumi, manak I Rĕnggan, lawan I Macaling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunang I Rvenggan hakurĕn lawan Ni Mrahin, Ni Mrahin manak I Gotra, lawan I Pangéran Yeh Ha, luh sanunggal ngaran I Tosné, maka striné déwané di Jungut Batu, kunang carithan I Dukuh Jumpungan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Carithanĕn I Dukuh Jumpungan, lawan I Rĕnggan, hanggawé lolohané di Paniddha, miwah ring Cĕningan. Kunang kang ngaran I Rĕngan, hana ring Byas Muntig. Sahĕñah I Dukuh Jumpungan, hasanak ring I Macaling, sangkanya padha śakti.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;I Gotra luwas ka Bukit Byahā, nunas kasidyan, ring déwané ring Bukit Byaha, ngwasayang guminé mangda dados tĕngĕt, sadangin paniddha,hasing wwang ngwasayang guminé ring nusa, wenang I macaling nagihin upti&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;.Kahicén hantuk déwané ring Bikit Byaha. Kunang I pangéhan Yéh Ha, luwas ka Bukit Byaha, mapimmas kasidén, ngwasayang guminé di LémbÔngan, tékéd ka Jungut Batu, ring déwané ring bukit Byaha, hida bhatara lanang maparab Ida I Wirang, Ida Bhatara Istri, maparab I lulut. Mangkana carithanya I Dukuh Jumpungan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mangké tembéné carithane I Dukuh Jumpungan, hadulur santanané kabéh, hapan sira maha śakti, makadi I Rĕnggan, ring mangké I Dukuh Jumpungan, hadulur I Rĕnggan, harĕp hamagut akĕn kasaktyan, ring bhatarané ring Bali, di Tohlangkir, sirang hapuspata, Sang Hyang Mahadéwa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;I Dukuh Jumpungan mwang I Rĕnggan, hapti ñĕbit Gunung Tohlangkiré, mangdé hapisah ro, sahika karanané I Dukuh Jumpungan mwang I Rĕnggan, hanunggangi palwa magöng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Palwa ika kalintanging sakti, hasing kapunig bumi hika, déning palwané I Dukuh Jumpungan, hadulur I Rĕnggan, hĕñag hatĕmahan samudra. Ring mangké I Dukuh Jumpungan, hadulur I Rĕnggan, mwang sasĕntanané, hana ring Gunung Kila, prasama tinut ring I Dukuh Jumpungan, ring mangké humunggahing palwa, sah saking Gunung Kila, hangalih maréng Bumi Bali, pradéśa Padhang, hasing kadumpak bumi hika, déning palwané I Dukuh Jumpungan, brasta hatĕmahan sagara.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mangké mangétan palayaré, ring kiduling ulo Nusa, dateng ring wétan kiduling Pulo Lombok. Hirika makitĕh palwa hika, marĕp hangalor, tandwa kadumpak Gunung Nusa hika, pananggu wétan, brasta tĕmahan samudra, karanané mangaran ring Madahu, katĕkéng mangké, mulané gunung Nusa hana ring wétan, sawiji ring sasak, kang ngaran Bukit Bangko-bangko, mabĕnĕr saking kana.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Wus prapta ring loring Madahu, wetaning Pulo Bali, hirika polih sÔnggéng prahuné ki Dukuh Jumpungan, mwang I Rĕnggan, karanané hingaranan Di Slang katĕka mangké. Ring wus mangkana, mwah kapahayu palwa hika, mwah hayu kading dangu, ring mangké mwah lumaku, palwa hika, hangidul hangulwan lakunya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Datĕng ring pradéśéng Padhang Bumi Bali, kidul ulwaning Tanah Hampo. Tan dwa ñag bumi Padhang hika, ring panĕpi kidul, hatemahan samudra, katĕkaning mangké, mangkana kacarithanya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tucapa Bhatara Mahadéwa, ring Gunung Agung, wruh sira ring haptiné I Dukuh Jumpungan, harĕp rumug hakĕn kahyangan nira Bhatara&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mahadéwa, tan dwa runtik sang Hyang Mahadéwa, nuli katlumĕd palwané Ki Dukuh Jumpungan, dadi makakirig palwa hika, mangidul kulwan, prapta wĕntĕning Pulo Nusa, tandwa kadungkap, Pulo Nusa hika, né mananggu kulwan, rĕmĕk gunung hika, matĕmahan samudra, palwa hika kasambit di dogÔngé ñlĕkak, hirika malingkuh marĕp wétan, mahulu sor, karana tan dadi magingsif sakĕng kana.Ri huwus lama hirikang palwa haneng kana, wastwatl hatĕmahan bukit, nĕhĕr hingaranan Bukit Cĕningan, samangkana pidarthanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tucapa mangké I Dukuh Jumpungan, hanggawé lolohan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;di Paniddha&lt;/st1:city&gt;, &lt;st1:state st="on"&gt;ri&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt; wusing mangkana, I Dukuh Jumpungan hangalih déśa, wenten Cĕningan, tĕhĕr hawésma ring Cĕningan, kimang sasantanané Ki Dukuh Jumpungan, bĕñcah padha ngulati désa. I Rĕnggan mungsi maring Byas Muntig, tĕhĕr hawésma ring Byas Muntig. I Macaling hangungsi maring Péd, tĕhĕr hawesma ring Péd.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kunang mangké wuwusĕn, I Rĕnggan sampuné jĕnĕk ring Byas Muntig, hakurĕn lawan I Mrahip, ri wiisi lama hakurĕn, hana hanaknya laki- laki roro, stri sawiji, kang jyésta ngaran I Gotra, karig madya ngaran, I Pangéran Yéh Ha, kang pinih wuntat, ngaran Ni Tolé.Ri wkasan Ni Tolé hingamét stri déning Hyanging Jungut Batu, hakakasih Hyang Priyaka, tucapa mangké kang ngaran, I Gotra, atmajané I Rĕnggan, déning wus lama hawésma ring Byas Muntig, ri mangké hana carithanya,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;1 Gotra haptya mĕdĕk ring Bukit Byaha, mamuhun kasidén, ring Hyanging Bukit Byaha, sira hapapasih I Wirang, sané histri hapapasih Ni Lulut, hana haturé I Gotra, mamuhun ring Hyanging Bukit Byaha, haptya nguwasayang guminé ring Nusa Gdhé, pananggu wétan, ngaran ring Madahu, mangda sidha tĕngĕt, Hyanging Bukit Byaha hasung ring I Gotra, nulya I Gotra hamwit, ring Hyanging Bukit Byaha. Lumampah maring Mĕdahu, tan kataknéng hawan, sampun prapta, hirika dané ngwangun wésma ring Mĕdahu, tucapa mangké sang hapanĕlah, Pangĕran di Yéh Ha, hapti humdĕk ka Bukit Byaha, ring sang hakakasih, I Dahi Wirang, sané histri hakakasih I Lulut, haturé I Pangéran, Yéh Ha, muhun ring yanging Bukit Byaha, mangdé sidha ngwasayang bumi Nusa, né di LémbÔngan, trus ka Jungut Batu, mangdhé sidha tĕngĕt, Hyanging Bukit byaha hasung ri Pangéran Yéh Ha, makadi kasidyan, karané hyang ring Bukit Byaha hasung, hapan sira hyanging Bukit Byaha, méngĕt sira hakakasih ring I Dukuh Jumpungan, saking nguni trus katĕkéng santananya, manggĕh hasawitra.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ri mangké I Pangéran Yéh Ha, wus putus sinungan kasidyan, tĕkéng kasuksman hidĕp, mwang pasuk wĕtunya kabéh, trus ring kasuksman Bhatara, mangké I Pangéran Yéh Ha, kagĕntosi haran déning Hyanging Bukit Byaha, hingaranan Pangéran Byaha, samangkana panugrahané hyanging Bukit byaha. Lumampah wantĕning Jungut Batu, tan kataknéng hawan, sampun prapta ring Jungut Batu, hirika dané ngwangun wésma, hatĕngĕran wésma ring Jungut Batu, nda tucapa saprati santanané I Dukuh Jumpungan, bĕñcah padha holih déśa, ri sajroning Pule Nusa, hana ring Cĕningan, hana ring Byas Muntig, hana ring Medahu, hana ring Jungut Batu, samangkana hunggwané saprati santanan I Dukuh Jumpungan, kacaritha ri usana.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tucapa mangké I Pangéran Byaha, wus halawas hawésma wantĕning Jungut Batu, dadi hangrĕngö wrĕtha, hana wiku maha śakti, turun saking Yawa Dwipa, maréng bumi ali, wĕntĕ ring déśa Gélgél. Hapuspatha sira Dang Hyang Nirartha, handiksahin Dalĕm WaturénggÔng, hika marmané I Pangéran Byaha hagé citané lungha maréng Bali, humĕdĕk ring Ida Dalĕm, ñĕnĕng ring Gélgél, mwah humĕdĕk ring Ida Dang Hyang Nirarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tan dwa I pangéran Byaha, malayar hanĕgakin jukung, wĕntĕning bumi Bali, tan katon néng hawan, wus prapta ring swaning Jumpai, hagé sira lumaku, jumujug ring Gé1gé1, humĕdĕk ring Dalĕm.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tan kataknéng hawan wus prapta ring bañcingah wĕntVening Gélgé1, Ida Dalĕm sĕdĕng tinangkil, wantĕning saba. Datĕng I Pangéran Byaha, santanané I Dukuh Jumpungan, dahating maha sakti hawésma ring Jungut Batu, I pangeran Byaha raris humĕdĕk ring Ida Dalĕm, tĕhĕr dalĕm mangandika, ling hira dalĕm, Ih kita Pangéran Byaha, wawu dateng kita, mangkana ling Ida Dalĕm, humatur I angéran Byaha, singgih dalĕm, kawula wawu datĕng, humĕdĕ ri dalĕm, samangkana haturé I Pangéran Byaha.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mwah hana ling dalĕm, hangapa hana wuwus ta humĕdĕk sun, lah warah akna, mangkana ling hira dalĕm, humatur pangéran Byaha, singgih dalĕm, marmané kawula mĕdĕk ring dalĕm tan hana séjénan, wantah kawula ngatur hakĕn jiwita raga, mĕkul buk padan, dalĕm, yan hana sih dalĕm, kawula nunas pagĕnahan ring dalem, samangkana haturé Pangéran Byaha.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ling dalĕm hasung ring I pangéran Byaha, hapan dalĕm sampun wĕruh ring I Pangéran Byaha, dahating maha sakti, tan dwa sinimg I Pangéran Byaha, hawésma ring tĕpining Swéca Pura, kulwaning kadatwan kapal, dining lwah hiku gambira, sringan blabar, tur sampim pengimg, karanane haneng kana kinén, dénira dalĕm, I Pangéran Byaha hawésma, mangdé mwah hasat sakadi kuna, I pangéran Byaha tan tulak, ring hyun ira dalĕm. Nĕhĕr wésma hanéng kana, hagé I Pangéran Byaha hamahayu Iwah ika, hapan tĕpinya kidul, ndatan dwa mwah malwi kadi kuna.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Hapan I Pangéran Byaha, sinungan déning Hyanging Bukit Byaha, tan hana balabar dateng maring ngkana. Ika Karanane hingaranan Lwah Yeh Ha, katama tĕkaning mangké, saking pakaryané Pangeran Bya Ha, mangké I Pangéran Byaha, hangwangun hasrama, ring pinggiring Lwah Yéh Ha, tan katakna wuwus puput, haśrama ika, hing kana I Pangéran Byaha, jĕnĕk haśrama, ring wus lama I Pangéran Byaha haśrama mangkana,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hana hyun&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dane habĕbrĕsih, hanging durung wśntĕn ring hyun dané kang yogya hanggén pagurwan, tan dwa kadi pituduhing Hyang ri Pangéran Byaha, hasung tuduh, tan dwa dateng sira, Dang Hyang Nirartha, lungha ka Gélgél nuruni dalem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makolĕm ring mrajané Pangeran Dawuh, tan sah manangkil ring ida sang guru I Pangéran Byaha, wus wruh ring Ida Dang Hyang Nirartha makolĕm ring warapsari, ri mangké hagé I Pangéran Byaha, datĕng tumĕdĕk ri sira Dang Hyang Nirartha, ri wuwus prapta I Pangéran Byaha, wantening warapsari, hana ling Dang Hyang Nirartha, héki ta Pangéran Byaha, hapa hana sadyanta katĕmu ring nira, lah warah akna, mangkana ling nira Mpu Dang Hyang&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_1Oq1qRRP-eo/S6141dM823I/AAAAAAAAAa8/B8wohV4clYw/s1600/NP+1.JPG"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 251px; height: 219px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_1Oq1qRRP-eo/S6141dM823I/AAAAAAAAAa8/B8wohV4clYw/s200/NP+1.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5453147583582886770" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;.Humatur Pangéran Byaha, singgih sang maha mpu, kawula nda brĕsih, hanuhun suku ring jĕng maha mpu, déni panugrahan Hyang ing Bukit Byaha, mangké kawula habĕbrĕsih miwah haguru, samangkana haturé Pangéran Byaha, tan dwa hañahuri sang maha Mpu, rahayu yan mangkana, suka citané I Pangéran byaha, pramangké sira hingasĕkaran, wantĕning Mrajan Warapsari, hadulur strinya, ngaran Ni Carmahin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ri wus puput sira hingasekaran, siha widhi widana, kinasungan sira hanugrahan, tatwa aji suksma, tĕkaning pasuk wĕtunya kabéh, miwah pamralina bwa sangupati, mwah hana panugraha, kanugraha I pangéran Byaha, ñisyanin soroh sĕngguhu, saha gamanya sangutukup, hagĕntorag, tĕkaning sungu mangkana kagamanya.tan dadi loka palaśraya, hangĕntas wÔng pĕjah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Yan hana pacarwan bumi, nangkĕn panca wali krama, dadi mamujahin caruné, sané di sor, miwah cam halit ring déśa déśa, yan sira murug ngalewihi panugrahan ika , mangdé kĕna bajra wiśa denira Dang Hyang Nirartha. moga tan nĕmu rahayu, hila-hila tĕmĕn, samangkana putus panugrahan Ida Dang Hyang Nirartha ri I Pangéran Byaha, hamwit mantuk maréng pasraman, hadulur strinya, sira Dang Hyang nirartha hasung hanugraha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tucapa mangké Dang Hyang Nirartha wus puput pakarya nira, humantuk sira wĕntĕning saba kañcana. Samangkana pidarthanya Pangéran Byaha, maséwa ring Dang Hyang Nirartha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tucapa mangké I Pangéran Byaha, ring Pasraman Yéh Ha, tan sah bakti stiti widhi, saking pasraman, mapinunas kasidyan, ring hida hyanging Bukit Byaha, tan katakna wus lama sira pangéran Byaha, hana suta nira laki, nĕhĕr hingaranan Dyah Kanaka, makurĕn ring Ni Carmin, rĕndah ta hanak ira, laki stri, kang stri hingaranan Ni Narmin, kamét dé nira Arya Kuta Wandira, ri huwus malami, hana suta nira laki, ngaran Sirarya Kuta Waringin, dudu Kuta Waringin Kubon Tubuh, samangkana pidartanya ring usana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puniki mantrané Ki Dukuh Jumpungan, Pamatuh tka I Macaling, Śa., Ma., Ông kalah sawadwané padha patuh, kali sirĕp bumi kala sirĕp, Bhatara di Nusa kabéh padha sirĕp, basing tka padha sirĕp.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Nyan Pamatuh yan sira harĕp lung basing laku, yaning déśa hangkĕr, Śa., toya hasibuh cĕmĕng, samsam don tibah, wija kuning, sirat akna hidĕr kiwa, ping 3. Ma., Ông kala sirĕp, dewa sirĕp, pamatuh sira Bhatara ring Bukit Byaha, ya sakala linglung, sasing tka padha patuh, ring hawak sariranku, karang haéng padha patuh.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Iki Pamatuh yan umah hangkĕr, Śa., toya sirat akna hidĕr kiwa ping sapisan, Ma., Ông Durgha Maya Mayan, aku sang Hyang Lali, déwa hakurang loka, muksah haku tan katon, hanunggang aku jaran badĕng, hingon-hingon aku bébété, I Kalimun pañjak aku, adan aku I Mruggi, -/- aku pawakan Déwa&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;ring Dalĕm, hatmaja nira Hyanging Pusĕh, hana mahyanging mrajeng, sing kapapag bragalan dewa di Puseh, ring hawak sariranku teka lengleng bungeng tan pangucap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunang iki buyuté sira Rĕnggan, stri kakung magĕnah selaning halis, wayahnya stri kakung magĕnah ring dada, rama rénanya stri kakung magĕnah ring lambung tĕngĕn, I Rĕnggan magĕnah ring lambung kiwa, I Gotra magĕnah ring hulun hati, I Tolé magĕnah ring nabhi, Déwané ring Jungut Batu magĕnah ring śiwadwara.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Iki kahyangan kawruh akna Iwirnya, Hyang Hulu Ratu, mungguh ring hulupuhun, Hyang Pakedungan mungguh ring kulit, Hyang Sakĕnan mungguh ring tangan, hyang ring Swaha mungguh ring sabda, Hyang ning Basukih mungguh ring susu, Hyanging Rambut Pala mungguh ring soca, Hyanging Kamanisan mungguh ring getih, Hyanging Batukaru mungguh ring balung, Hyanging Batur mungguh ring hati, Hyanging Meru mungguh ring gulu, Hyang Mwah ring sirah, Hyanging Gunung sari mungguh ring sarira. Hyanging Kadaton mungguh ring wangkÔng, ika kahyangan haywa cawuh-cawuh.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kunang Hyang Ring Basukih, hapuspata Hyang Gĕni Jaya, hasañjata twĕk. Hyang ring Watukwang, hapuspata Hyang Sandijaya, hasañjata cakĕt. Hyang ring Watukawu, hapuspata Hyang Mayaning rat, hasanjata blakas. Hyang ring Yéh Jruk, hapuspata Hyang pūrwajaya, hasañjata pĕdang. Hyang ring Péjéng, hapuspata Hyang Manik Janma, hasa-njata duhung, Hyang ring Jugul Watu hapuspata hyang Manik Gumawang, hasañjata tumbak. Iki Kahyangan kasaktin Rontal, iki babad Dukuh Jumpunganring Pulo Nusa. Puput sinurat &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1369378906719126273-2685331251379304811?l=babadnusapenidamenggugat002.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://babadnusapenidamenggugat002.blogspot.com/feeds/2685331251379304811/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1369378906719126273&amp;postID=2685331251379304811&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1369378906719126273/posts/default/2685331251379304811?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1369378906719126273/posts/default/2685331251379304811?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://babadnusapenidamenggugat002.blogspot.com/2010/03/babad-np-fersi-dukuh-jumpungan-dunia.html' title='Babad NP Fersi Dukuh Jumpungan. Dunia Maya.'/><author><name>I Wayan Lugra</name><uri>https://plus.google.com/109171635567899780184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-Yl4tsswI00Y/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/2qMVv2LoKuE/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_1Oq1qRRP-eo/S6141dM823I/AAAAAAAAAa8/B8wohV4clYw/s72-c/NP+1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;CEIFSXY5eSp7ImA9WxBaFkg.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1369378906719126273.post-4630293046761520473</id><published>2010-03-18T23:33:00.000+07:00</published><updated>2010-03-27T08:15:18.821+07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2010-03-27T08:15:18.821+07:00</app:edited><title>Mangku Tude Gembrong berbicara</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_1Oq1qRRP-eo/S6JUT6pDabI/AAAAAAAAAYQ/u9BBeBMOvc4/s1600-h/001.gif" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_1Oq1qRRP-eo/S6JUT6pDabI/AAAAAAAAAYQ/u9BBeBMOvc4/s320/001.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Babad,  babad, babad, dan babad. Mengakses babad atau sejarah Nusa Penida di  dunia maya ini sangatlah mudah, membeli kacang goreng di warung masih  lebih sulit ketimbang mengakses babad atau sejarah Nusa Penida. Dengan  mudahnya mengakses babad atau sejarah NP apakah ini merupakan penomena  sebuah kemajuan informasi? Apakah informasi itu? adakah etika dan  estetika didalam informasi yang di publikasikan? Yang bagai manakah  informasi itu benar? Apa perlu informasi itu dipertanggung jawabkan?  Bagaimanakah exses negatif secara hukum akibat dari informasi yang  salah? Apakah mutlak Jabatan, Status sosial, Pendidikan, yang menjamin  informasi yang di berikan itu benar? Dalam Konteks Budaya Bali yang di  dasari oleh Dharma Agama apakah informasi itu diperlukan sebuah  kenyataan? Apakah kenyataan itu yang merupakan jawaban dari sebuah  informasi yang benar? kenapa............? kenapa...........? dan kenapa  penulis banyak tanya???????.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada awalnya penulis berkeinginan  bisa menjalankan internet ini didasari oleh keinginan agar mendapatkan  informasi yang benar. besar harapan dari penulis ingin mendapatkan  pencerahan batin melalui internet yang konon dari cerita teman - teman  bahwa internet bisa memberikan informasi yang akurat dan tepat. Selain  itu sebelumnya penulis amat mengharap dari niternet ini bisa memberikan  tuntunan yang betul - betul mengarahkan penulis pada suatu titik yang  benar atas dasar logika yang tak terbantahkan. Namun betapa terkejutnya  penulis, dalam bahasa Bali (kesiab icang) manakala penulis mengetik &lt;span style="font-style: italic;"&gt;babad nusa penida &lt;/span&gt;di google web  bermunculanlah babad atau sejarah Nusa Penida yang tampil bagaikan induk  - induk tawon yang akan pindah sarang. yang sangat mengherankan penulis  dalam babad - babad yang muncul tersebut, isinyapun mengandung makna  yang berbeda, apalagi jika babad atau sejarah tersebut penulis kaitkan  dengan babad atau sejarah yang penulis dapatkan di darat melalui tulisan  - tulisan atau melalui gaguritan yang penulis dengar, demikian juga  gaguritan dalam bentuk buku. Dan anehnya lagi dalam masing - masing   babad atau sejarah tersebut, masing - masing mengedepankan bahwa ceritra  itulah yang paling depan atau yang pertama terjadi di Nusa Penida.  Kalau masalah kecanggihan system internet penulis amat sangat mengakui  dan mengapresiasi pada penemunya, bahwa penulis hanya dengan duduk  santai di depan computer penulis bisa mendapatkan informasi yang  sedemikan banyak, ibarat asal bisa ngetik pasti di jawab dan di carikan  oleh Bapak atau Ibu Google. Tapi yang tidak habis penulis pikir, bagi  para&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="post-author vcard"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span class="post-timestamp"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a class="timestamp-link" href="http://babadnusapenidamenggugat002.blogspot.com/2010/03/apa-kar-bakatang-yan.html" rel="bookmark" title="permanent link"&gt;&lt;abbr class="published" title="2010-03-18T11:36:00+05:00"&gt;&lt;/abbr&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="reactions-label-cell" nowrap="nowrap" valign="top" width="1%"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;span class="reaction-buttons"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1369378906719126273-4630293046761520473?l=babadnusapenidamenggugat002.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://babadnusapenidamenggugat002.blogspot.com/feeds/4630293046761520473/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1369378906719126273&amp;postID=4630293046761520473&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1369378906719126273/posts/default/4630293046761520473?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1369378906719126273/posts/default/4630293046761520473?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://babadnusapenidamenggugat002.blogspot.com/2010/03/mangku-tude-gembrong-berbicara.html' title='Mangku Tude Gembrong berbicara'/><author><name>I Wayan Lugra</name><uri>https://plus.google.com/109171635567899780184</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-Yl4tsswI00Y/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAAA/2qMVv2LoKuE/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_1Oq1qRRP-eo/S6JUT6pDabI/AAAAAAAAAYQ/u9BBeBMOvc4/s72-c/001.gif' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry></feed>