<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:creativeCommons="http://backend.userland.com/creativeCommonsRssModule" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0"><channel><title>bangaip.org</title><link>http://bangaip.org</link><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/BangaipDotOrg" /><description>kisah-kisah tak resmi seputar penghuni desa Cilincing</description><language>en-US</language><lastBuildDate>Sun, 19 May 2013 11:41:13 PDT</lastBuildDate><generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator><sy:updatePeriod xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/">hourly</sy:updatePeriod><sy:updateFrequency xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/">1</sy:updateFrequency><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/BangaipDotOrg" /><feedburner:info uri="bangaipdotorg" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><creativeCommons:license>http://creativecommons.org/licenses/by-nd/2.0/</creativeCommons:license><feedburner:emailServiceId>BangaipDotOrg</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname>http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><feedburner:feedFlare href="http://add.my.yahoo.com/rss?url=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2FBangaipDotOrg" src="http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/us/my/addtomyyahoo4.gif">Subscribe with My Yahoo!</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.newsgator.com/ngs/subscriber/subext.aspx?url=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2FBangaipDotOrg" src="http://www.newsgator.com/images/ngsub1.gif">Subscribe with NewsGator</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://feeds.my.aol.com/add.jsp?url=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2FBangaipDotOrg" src="http://o.aolcdn.com/favorites.my.aol.com/webmaster/ffclient/webroot/locale/en-US/images/myAOLButtonSmall.gif">Subscribe with My AOL</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.bloglines.com/sub/http://feeds.feedburner.com/BangaipDotOrg" src="http://www.bloglines.com/images/sub_modern11.gif">Subscribe with Bloglines</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.netvibes.com/subscribe.php?url=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2FBangaipDotOrg" src="http://www.netvibes.com/img/add2netvibes.gif">Subscribe with Netvibes</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://fusion.google.com/add?feedurl=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2FBangaipDotOrg" src="http://buttons.googlesyndication.com/fusion/add.gif">Subscribe with Google</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.pageflakes.com/subscribe.aspx?url=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2FBangaipDotOrg" src="http://www.pageflakes.com/ImageFile.ashx?instanceId=Static_4&amp;fileName=ATP_blu_91x17.gif">Subscribe with Pageflakes</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.plusmo.com/add?url=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2FBangaipDotOrg" src="http://plusmo.com/res/graphics/fbplusmo.gif">Subscribe with Plusmo</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.thefreedictionary.com/_/hp/AddRSS.aspx?http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2FBangaipDotOrg" src="http://img.tfd.com/hp/addToTheFreeDictionary.gif">Subscribe with The Free Dictionary</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.bitty.com/manual/?contenttype=rssfeed&amp;contentvalue=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2FBangaipDotOrg" src="http://www.bitty.com/img/bittychicklet_91x17.gif">Subscribe with Bitty Browser</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.newsalloy.com/?rss=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2FBangaipDotOrg" src="http://www.newsalloy.com/subrss3.gif">Subscribe with NewsAlloy</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.live.com/?add=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2FBangaipDotOrg" src="http://tkfiles.storage.msn.com/x1piYkpqHC_35nIp1gLE68-wvzLZO8iXl_JMledmJQXP-XTBOLfmQv4zhj4MhcWEJh_GtoBIiAl1Mjh-ndp9k47If7hTaFno0mxW9_i3p_5qQw">Subscribe with Live.com</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://mix.excite.eu/add?feedurl=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2FBangaipDotOrg" src="http://image.excite.co.uk/mix/addtomix.gif">Subscribe with Excite MIX</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.yourminis.com/subscribe.aspx?u=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2FBangaipDotOrg" src="http://www.yourminis.com/images/addtoyourminisbadge.gif">Subscribe with Yourminis.com</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://download.attensa.com/app/get_attensa.html?feedurl=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2FBangaipDotOrg" src="http://www.attensa.com/blogs/attensa/WindowsLiveWriter/BadgeredintoBadges_10C02/attensa_feed_button5.gif">Subscribe with Attensa for Outlook</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.webwag.com/wwgthis.php?url=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2FBangaipDotOrg" src="http://www.webwag.com/images/wwgthis.gif">Subscribe with Webwag</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://hub.netomat.net/account/account.autoSubscribe.jspa?urls=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2FBangaipDotOrg" src="http://www.netomat.net/blogger/images/icon_netomat_feedbutton.gif">Subscribe with netomat Hub</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.podcastready.com/oneclick_bookmark.php?url=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2FBangaipDotOrg" src="http://www.podcastready.com/images/podcastready_button.gif">Subscribe with Podcast Ready</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.flurry.com/pushRssFeed.do?r=fb&amp;url=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2FBangaipDotOrg" src="http://www.flurry.com/images/flurry_rss_logo2.gif">Subscribe with Flurry</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.wikio.com/subscribe?url=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2FBangaipDotOrg" src="http://www.wikio.com/shared/img/add2wikio.gif">Subscribe with Wikio</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.dailyrotation.com/index.php?feed=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2FBangaipDotOrg" src="http://www.dailyrotation.com/rss-dr2.gif">Subscribe with Daily Rotation</feedburner:feedFlare><feedburner:browserFriendly>Terimakasih Sudi Mampir. Salam dari Bangaip.</feedburner:browserFriendly><item><title>Tentang Rockstar 1 – Vonis Ukulele</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/BangaipDotOrg/~3/SyzGMBezuJ8/</link><category>bangaip</category><category>sehari-hari</category><category>di jalan</category><category>keluarga</category><category>sehat</category><dc:creator xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">bangaip</dc:creator><pubDate>Sun, 19 May 2013 11:41:13 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">http://bangaip.org/?p=2104</guid><content:encoded xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><![CDATA[<p>(*Sudah beberapa bulan terakhir ini saya hidup dalam pengaruh obat resep dokter. Obat ini sedemikian keras membuat banyak sekali efek samping dalam tubuh. Efek samping ini saya tulis dengan rajin ke dalam telepon genggam. Kini tulisan-tulisan itu dijadikan tulisan berseri. Silahkan menikmati. Jika dirasa mengganggu, jangan anggap serius, anggap saja fiksi*)</p>
<p>16 Maret 2013</p>
<p>Ruangan ini serba putih. Kira-kira berukuran empat kali empat meter persegi. Sisi selatan ruangan adalah dinding kaca tebal sekitar sepuluh milimeter sebanyak dua kali lipat untuk menahan dingin di musim salju, saat ini tentu saja bukan musim dingin, matahari menyeruak masuk menerobos dinding kaca yang dibatasi tirai putih tipis sebagai sekatnya. Ada sebuah meja di sana dengan satu kursi dan komputer. Di belakang komputer seorang lelaki setengah baya yang bernama Job dengan kepala hampir setengah botak berwajah tirus memiliki senyum hangat menjabat tangan saya dan berkata, “silahkan duduk”.</p>
<p>Saya duduk di seberangnya. Ada dua kursi di hadapan meja beliau. Saya ambil kursi sebelah kanan, dekat dengan dinding kaca. Agar kena hangatnya sinar matahari. Iya, ini memang bukan musim dingin, ini sudah musim semi, tapi suhu di luar masih sekitar 6-7 derajat Celcius. Masih belum hangat. Namun ruang praktek ini cukup hangat.</p>
<p>Dokter Job adalah salah satu ahli saraf terbaik di Eropa. Dan saya, ahh saya hanya bisa berdoa semoga saya satu-satunya orang Cilincing yang jadi pasiennya. Sebab sama sekali tidak ada niatan untuk ajak-ajak orang sekampung untuk jadi pasien beliau.</p>
<p>Hari ini saya datang untuk kontrol tahunan. Sebagaimana hari lainnya, hari ini seperti hari suci buat saya, setiap tahun saya datang ke ruangan ini untuk kontrol satu bagian kecil di tubuh bernama saraf otak.</p>
<p>Saya tidak pernah tahu apa yang salah dengan otak saya. Saya pikir saya selalu baik-baik saja. Sebagaimana manusia bumi lainnya, saya pikir saya toh normal-normal saja. Saya bisa makan, berliur, batuk, bernafas, kencing, kentut, berak, dan <em>alhamdulillah</em> sekali-kali masih bisa orgasme. Apa yang salah? Saya pikir tidak ada yang salah?</p>
<p>Sayangnya, sejak 2006 saya sering sekali kena migrain. Sakit kepala. Bukan sembarang sakit kepala. Sebab hanya menyerang bagian kanan kepala. Tidak pernah bagian kiri. Sebagaimana sakit kepala, terang saja ia hanya menyerang kepala. Tidak pernah menyerang pantat. Sudah berkali-kali saya berobat. Tanya dokter ini, tanya dokter itu jawabnya sama; banyak-banyak istirahat-dengarkan tubuh. Saya ke pengobatan alternatif, tubuh disuntik-suntikkan jarum <em>naudzubilah</em> banyaknya dari ujung kaki sampai ujung kepala, tetap saja tidak sukses.</p>
<p>Oleh teman diajak ke orang pintar. Saya sebenarnya tidak pernah percaya, buat saya Muhammad Hatta itu orang pintar, Leonardo da Vinci itu orang pintar. Mbah Jambrong dari Gunung Kidul, apanya yang pintar? Tapi karena serangan migrain makin hari makin parah hingga saya pernah jatuh tak sadarkan diri di stasiun kereta hingga satu jam penuh terkapar di sisi jalan, akhirnya saya menurut. Hebat sekali Mbah Jambrong van Gunung Kidul, sebab ia menjamin kepintarannya mampu menyembuhkan penyakit migrain saya. Segala macam jampi-jampi beliau dan aroma dupa yang membuat sesak napas (walaupun aroma baju beliau lebih membuat saya sesak napas) ternyata sukses tidak membuat saya sakit kepala sebelah, melainkan seluruhnya. Semua bagian kepala, sakit semua, ketika saya keluar dari ruang praktek beliau.</p>
<p>Walaupun tentu saja bukan gara-gara Mbah Jambrong, sakit kepala sebelah ini makin ajaib. Mata saya makin sensitif terhadap cahaya. Kadang-kadang ketika memimpin rapat saya harus memakai kacamata hitam. Beberapa rekan dari laboratorium di Milan bahkan membawakan kacamata khusus untuk saya, kata mereka “kamu akan terlihat lebih modis dan vampiris dengan kacamata ini”. Kampret!</p>
<p>Saya pun makin jarang ke tempat hiburan malam. Teman-teman bahkan sampai bosan mengajak. Bukan karena apa, sebab sering pusing melihat lampu kelap-kelip. Jangankan <em>clubbing</em>, main <em>game</em> di komputer atau tablet saja sudah jarang. Sebab hasilnya sama, saya makin sering kena serangan migrain kalau melakukan dua hal itu.</p>
<p>Makin hari, dunia semakin riuh. Aneh, entah kenapa? Saya sendiri tidak mengerti. Saya akhirnya membeli <em>headphone</em> yang katanya mampu meredam suara luar hingga 32 desibel. Suara cempreng tapi pelan Amy Winehouse dan Iwan Fals yang akhirnya mampu menghibur saya dari bisingnya dunia. Mahal? Bodo amat! Sebab hanya dengan cara ini sakit kepala sebelah saya akibat berisiknya dunia bisa dikurangi.</p>
<p>Tahun 2011, saya bertemu Dokter Job. Spesialis saraf otak. Saya masih ingat saat itu bulan November. Beliau memberikan obat sakti bernama Topamax. Dosisnya rendah, hanya 25 miligram per dua hari. Saya hanya minum satu tablet kecil setiap dua hari. Gampang kan? Iya gampang. Hanya syaratnya yang agak susah, katanya beliau harus diminum selama 1,5 tahun lamanya.</p>
<p>Waktu itu saya tercengang. Buset dah 1,5 tahun? Lama amat, dok?</p>
<p>“Ente mao sembuh ga? Kalo mao, jangan cerewet jangan protes!”</p>
<p>Akhirnya dengan pasrah (walaupun sambil bersungut-sungut), saya jalani pula 1,5 tahun hidup bersama kekasih baru bernama aneh itu. Sebagaimana selingkuhan, tentu saja ia saya sembunyikan dari tatapan anak, keluarga dan teman-teman saya. Saya malu, punya selingkuhan. Satu-satunya tempat saya berani dengan terang-terangan mengakui bahwa ia adalah selingkuhan saya adalah ketika di bandara, sebab petugas keamanan bandara selalu bertanya, “Apa ini? Kamu bawa narkoba yaa?”. Yang dengan santainya saya jawab dengan lambaian surat cinta dari dokter spesialis bedah saraf.</p>
<p>November 2012 saya merasa jumawa. Sudah setahun ini saya tidak pernah jatuh tak sadarkan diri. Juga tidak pernah kena serangan migrain. Prestasi saya di pabrik membaik. Saya dapat bonus. Saya juga sampai bingung. Tumben saya dapat bonus. Biasanya saya kan biasa-biasa saja. Maka akibatnya, saya putuskan secara sepihak, bahwa saya sudah tidak membutuhkan selingkuhan saya ini. Oke Topamax, sudah saatnya kita berpisah. Itu yang ada di kepala saya. Habis manis sepah dibuang. Nasibmu ibarat permen karet. <em>Bye bye, baby</em>&#8230;</p>
<p>Pelan-pelan, tanpa sepengetahuan siapapun juga, kecuali saya dan pil-pil (yang saya anggap laknat) ini, saya mengurangi dosis. Dari satu tablet per dua hari, jadi satu tablet per tiga hari. Lalu jadi satu tablet per empat hari. Lalu per minggu. Lalu per dua minggu. Hingga pada 16 Februari 2013, secara total akibat pil habis, saya berhenti total dari selingkuhan saya ini.</p>
<p>Maret 2013 saya putuskan untuk hidup sederhana. Maksudnya sederhana adalah tidak banyak riset dan bepergian lagi sebagaimana tahun-tahun terdahulu. Saya letih. Tahun ini saya mau tiarap. Mau istirahat. Mau jadi bapak yang baik dan benar. <em>Vivere pericoloso wannabe</em> dan jadi <em>adrenalin junkie</em> itu bukanlah hidup yang sederhana. Saya putuskan untuk membantu proyek sahabat saya berkebun cabe dan membuka kolam ikan nila. Jadi tani euy. Hehe.</p>
<p>Sulit? Hmhh, tidak juga. Jadi bapak yang baik dan benar itu ambisi personal saya. Tidak ada yang salah buat saya pribadi untuk jadi ayah putri semata wayang yang amat saya cintai itu. Saya mencintai Novi dan saya mencintai fungsi saya sebagai ayahnya. Apapun yang terjadi, akan saya tempuh.</p>
<p>Tapi berhenti jadi <em>adrenalin junkie</em>? Ugh, itu lain ceritanya. Satu satu, pelan-pelan, saya putuskan kontak dengan beberapa orang yang mampu membuat saya hidup dalam kondisi bahaya. Ini berat sekali. Banyak yang tidak bisa menerima dan lalu memutuskan kontak selamanya. Saya sangat bisa mengerti. Kami pernah bertarung bersama menantang bahaya gelapnya malam, mempertaruhkan nyawa. Saling melindungi, saling menjaga, saling merawat. Hidup dalam kode etik, disiplin dan sumpah setia. Kini ketika salah satu harus pergi demi hidup domestikasi, mereka kecewa. Saya mengerti. Hanya bisa mengurut dada dan mengikhlaskan. Yang terjadi mungkin memang harus terjadi. Yang bisa diterima, itu yang dijalani. Seperti kata Bob Marley, sahabat baik datang dan pergi. Hidup toh tak selamanya berujung bagai cerita akhir dongeng ceria.</p>
<p>Akhir Maret 2013 saya rindu. Ini tak disadari. Rindu menusuk hingga pembuluh nadi. Jauh merambat ke saraf otak. Saya kembali jatuh tak sadarkan diri. Di stasiun kereta. Di kantor. Di dapur. Di depan kantor pos. Di mana-mana. Selingkuhan pelan-pelan merayap menyayat di kepala menagih janji untuk ditelan lagi.</p>
<p>16 Maret 2013.</p>
<p>Saya duduk di hadapan Dokter Job. Dari tatap matanya, saya tahu ia kecewa ketika mendengar saya memutuskan sepihak dosis yang ia berikan.</p>
<p>“Kenapa kamu berhenti meminum obat?”</p>
<p>“Karena saya tidak mau hidup bergantung dari obat”</p>
<p>“Selama meminum obat itu kamu bagaimana?”</p>
<p>“Baik-baik saja, dok. Jadi saya pikir, saya bisa menghentikannya”</p>
<p>“Mulai sekarang kamu minum obat ini. Dosisnya naik empat kali lipat”</p>
<p>Saya bengong. Ini gila. Apa-apaan ini?</p>
<p>“Saya nggak terima, dok!”</p>
<p>“Yaa kamu harus terima. Ini hidup kamu sekarang. Kamu kena serangan. Kamu harus menerima ini sebagai bagian dari hidup kamu. Obat ini mencegah serangan itu terjadi. Kamu harus bisa menerima”</p>
<p>“Saya nggak terima!”</p>
<p>Dia senyum. Mungkin bosan mendengar saya terus mengulang-ulang pernyataan bagaikan kaset rusak.</p>
<p>“Kamu punya keluarga disini?”</p>
<p>“Saya punya anak, umurnya sebentar lagi lima tahun&#8230;”</p>
<p>“Kalau kamu masih mau hidup. Kalau masih mau jadi bapak untuk dia, kamu harus terima kenyataan ini”</p>
<p>Saya mau gebrak meja. Banting kursi. Menendang apa yang ada dihadapan saya saat itu. Untuk mengungkapkan bahwa saya kesal. Saya marah. Saya kecewa. Bahwa hidup saya bergantung pada zat kimia. Saya tidak bisa terima kebebasan saya terbatas. Saya mau menunjuk-nunjuk batang hidungnya dengan jari telunjuk dan berkata bahwa ia salah.</p>
<p>Sayangnya, dalam hati kecil ini, saya tahu kalau ia benar. Maka tidak ada satupun tindakan diatas saya lakukan.</p>
<p>Sore itu, saya tidak tahu mau kemana. Resepsionis memberikan daftar janji bahwa saya harus bertemu dokter Job lagi pada tanggal 16 Juli. Perempuan berjilbab itu bilang kalau saya secepatnya harus ke apotik.</p>
<p>Saya tidak mau ke apotik. Saya ambil trem menuju pusat kota. Tidak tahu mau kemana. Terserah langkah kaki akan membawa.</p>
<p>Di trem, perempuan asing manis berambut coklat sebahu yang duduk di seberang bangku memberikan tissu. “Ini untuk kamu”, sambil senyum walaupun matanya menyiratkan kalau ia khawatir.</p>
<p>Saya terperangah sejenak. Lalu senyum membalasnya. Menolak. Saya bilang saya tidak apa-apa. Tapi sebentar kemudian saya sadar, kenapa ia menyodorkan tissu? Saya belum pernah dalam hidup ini bertemu dengannya. Kenapa ia memberikan sesuatu kepada saya? Apa imbalan yang mau ia terima?</p>
<p>Saya tanya, “Terimakasih Mbak, tapi kenapa situ memberikan tissu?”</p>
<p>“Untuk airmata kamu&#8230;”, jawabnya sedih.</p>
<p>Saya kaget luar biasa. Airmata? Airmata darimana? Dari Hongkong? Saya menunduk. Saya lihat jaket hitam bagian dada basah. Astaga! Saya lihat kaca jendela. Refleksi disana terlihat seorang lelaki berwajah melayu kuyu dengan muka kebingungan dan air mata mengalir begitu saja tumpah ruah dari sela-sela matanya. Astaga! Saya menangis rupanya. Sh*t!</p>
<p>Saya malu sekali. Buru-buru menyetop tombol memberhentikan trem. Tidak tahu saya ada dimana.</p>
<p>Saya tidak terisak-isak. Tidak ada rasa ingin menangis. Tidak ada keinginan sedikitpun terpendam ingin sok memperlihatkan emosi di depan publik. Tapi kenapa ini airmata turun begitu saja?</p>
<p>Saya lap air mata sambil berjalan menyisiri kanal dalam udara siang yang dingin. Sinar matahari menerpa hangat wajah. Pelan-pelan saya sadar kalau saya sudah dekat stasiun pemadam kebakaran. Dekat sana ada toko yang khusus menjual ukulele.</p>
<p>Etalase terpampang banyak ukulele. Diantaranya ukulele yang ada lumba-lumbanya. Ahh, putri saya pasti suka ukulele itu. Toko ini tutup. Tidak ada orang di sana. Jalan ini sepi. Dan di situ, tiba-tiba saya merasa ingin menangis. Saya jatuh duduk di tepi jalan, di depan etalase toko ukulele. Tetap tidak menangis. Entah kenapa. Mungkin karena saya sok macho. Tapi kenapa juga saya sok macho? Padahal orang sok macho kan mati muda. Lihat itu Chairil Anwar? Lihat itu Jim Morrison? Sok macho semua itu manusia. Masak saya mau ikut-ikutan gerombolan mereka?</p>
<p>Saya lihat matahari di atas sana. Langit biru dan awan putih beararak-arak. Saya pikir saya harus tetap bertahan hidup. Untuk diri saya sendiri dan untuk putri yang amat saya cintai.</p>
<p>Sambil menangis saya senyum. Hidup ini lucu sekali ternyata. Mati-matian saya menjauhi diri dari bahaya maut yang mampu mengancam jiwa. Namun apa boleh dikata, tiap orang punya jalan hidup (dan juga jalan mati) masing-masing. Dengan segala kecerdikan, saya coba mengakali agar maut tidak mengintai dari balik jendela. Tapi, itu percuma. Yang ada, saya hanya terlihat membodohi diri sendiri.</p>
<p>Saya tatap langit. Matahari, awan, langit, masih disana. Saya satukan jari angkat tangan beri mereka salut tanda penghormatan sambil bergumam dalam hati, “terimakasih untuk humor hari ini”.</p>
<p>Kaki melangkah. Tujuan selanjutnya, toko musik yang masih buka. Tiba-tiba saya punya cita-cita baru. Dalam hidup yang indah tapi singkat ini, selain jadi bapak yang baik dan benar, saya juga ingin bisa main ukulele ☺</p>
<p>Jikalau saya ada di kampung saya, tepatnya di Kelurahan Cilincing Tercinta Merdeka Permai Asri Dirgantara, maka saya akan serta merta mencoret-coret plang papan yang tertera di depan Karang Taruna, tempat nongkrong kami semua. Dimana disana tertulis semboyan seperti “Anu Pangkal Anu”, “Jika Anu Maka Anu”, “Dilarang Menganukan Anumu ” atau blablabla lainnya.</p>
<p>Sumpah mati, kalau saya disana saya mau ambil cat putih. Saya sikat semua dogma-dogma itu dan saya tiban dengan cat semprot tulisan baru “Hidup ini indah, nikmati bro selagi bisa!”</p>
<p>Hehehe&#8230;</p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=SyzGMBezuJ8:Jv3EsyvHwzw:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=SyzGMBezuJ8:Jv3EsyvHwzw:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?i=SyzGMBezuJ8:Jv3EsyvHwzw:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=SyzGMBezuJ8:Jv3EsyvHwzw:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BangaipDotOrg/~4/SyzGMBezuJ8" height="1" width="1"/>]]></content:encoded><description>(*Sudah beberapa bulan terakhir ini saya hidup dalam pengaruh obat resep dokter. Obat ini sedemikian keras membuat banyak sekali efek samping dalam tubuh. Efek samping ini saya tulis dengan rajin ke dalam telepon genggam. Kini tulisan-tulisan itu dijadikan tulisan berseri. &amp;#8230; &lt;a href="http://bangaip.org/2013/05/tentang-rockstar-1-vonis-ukulele/"&gt;Continue reading &lt;span class="meta-nav"&gt;&amp;#8594;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;</description><wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://bangaip.org/2013/05/tentang-rockstar-1-vonis-ukulele/feed/</wfw:commentRss><slash:comments xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/">0</slash:comments><feedburner:origLink>http://bangaip.org/2013/05/tentang-rockstar-1-vonis-ukulele/</feedburner:origLink></item><item><title>Tentang Kutipan</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/BangaipDotOrg/~3/vxgle1mhpG8/</link><category>sehari-hari</category><category>temennya bangaiptop</category><dc:creator xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">bangaip</dc:creator><pubDate>Fri, 12 Apr 2013 03:17:31 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">http://bangaip.org/?p=2083</guid><content:encoded xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><![CDATA[<p>Tahun ini saya putuskan bahwa saya tidak akan membuat anak saya jadi yatim gara-gara hobi riset yang sedang dijalani.</p>
<p>Konsekuensinya, saya meninggalkan dunia petualangan ugal-ugalan ala Jason Bourne yang penyendiri dan berganti menjadi seorang petani yang berhubungan dengan tanaman, kebun dan bunga-bunga. Konsekuensi lain, saya dicap tidak konsisten sebab dengan begitu saja meninggalkan riset selama 5 tahun pas ketika hampir mencapai puncak karya. Tapi saya tidak begitu peduli. Anak saya lebih utama daripada semua puja-puji umat manusia. Konsekuensi lain, kata beberapa orang hidup saya jadi sedikit membosankan. Sebab harus berhubungan dengan manusia baik-baik dan melakukan hal yang baik-baik saja. Haha…</p>
<p>Sejak saya berganti hobi, dari tukang ojek yang suka cari masalah menjadi tukang kebun <em>wannabe</em>, akhir-akhir ini saya sering mendengarkan orang-orang di sekeliling saya bicara. Hidup di dunia yang berbeda itu butuh adaptasi, mendengarkan adalah kunci. Iseng-iseng saya kumpulkan kalimat paling banyak dan yang paling sering mereka ucapkan. Biasanya, kalimat-kalimat itu lalu menjadi kutipan-kutipan.</p>
<p>Kutipan-kutipan ini dikumpulkan berdasarkan banyaknya kalimat yang diucapkan paling sering/aneh (berdasar frekuensi) ketimbang kalimat-kalimat lainnya yang didengarkan. Atau paling tidak sering diucapkan atau terdengar di telinga (saya). Sama sekali tidak penting. Dan kelihatannya tidak berguna sama sekali, tapi ini cara (saya) mengidentifikasi personal dan ide-ide dibelakang kepala mereka (teman-teman/keluarga/kerabat kerja saya).</p>
<p>Berikut ini kutipan ucapannya:</p>
<p>(*Pengucap hanya dijelaskan tanpa menjelaskan nama asli mereka. Atas alasan privasi. Berikut ini tabel pengucapan kutipan):</p>
<table>
<tbody>
<tr>
<th>Kutipan</th>
<th>Pengucap</th>
</tr>
<tr>
<td><em>&#8220;Matahari tanpa wibawa&#8221;</em></td>
<td>Diucapkan seorang seniman dari penghuni mantan komunitas seni Jogj. Kini beliau tengah naik daun sebab karyanya diburu oleh kolektor seni. Pada sebuah siang di musim dingin, matahari bersinar terik namun suhu menunjukkan angka -7C</td>
</tr>
<tr>
<td><em>&#8220;Memangnya kenapa?!&#8221;</em></td>
<td>Diucapkan dengan nada mengotot dan mata melotot jika perlu. Sering sekali terlontar jika pendiri salah satu organisasi jurnalistik terkenal ini berbeda pendapat dengan lawan bicaranya. Sangat cerdas dan sangat kritis</td>
</tr>
<tr>
<td><em>&#8220;Manusia sering lupa dan bilang kita harus menyayangi alam. Padahal, kita manusia itu sendiri bagian dari alam&#8221;</em></td>
<td>Filosof, pelukis dan ahli masak. Lelaki setengah baya yang sering lupa umurnya</td>
</tr>
<tr>
<td><em>&#8220;Gua mah kayak cowok. Abis orgasme tidur&#8221;</em></td>
<td>Seorang wanita muda dari Indonesia ahli finansial mikro ketika berkomentar tentang perilaku seksual laki-laki vs perempuan</td>
</tr>
<tr>
<td><em>&#8220;Oh ya? Begitu yaa?&#8221;</em></td>
<td>Kalimat yang sering terlontar dari wartawan senior yang sering meliput perang. Asam garam hidupnya sudah terlalu banyak. Sering skeptis dengan data dan selalu mempertanyakan keabsahannya</td>
</tr>
<tr>
<td><em>&#8220;Aku ini sudah capek. Pulang kerja maunya istirahat. Tidak mau lagi dengar masalah. Eh, di rumah selalu saja ada masalah. Gimana aku nggak gila!&#8221;</em></td>
<td>Teriak seorang perempuan muda yang bekerja sebagai buruh migran mengomentari keluarganya yang selalu minta uang dan mengeluh soal uang setiap ia telpon ke kampungnya</td>
</tr>
<tr>
<td><em>&#8220;Terus.., terus.., terus…&#8221;</em></td>
<td>Dalam setengah jam bicara ia hanya mengucapkan kalimat ini berulang-ulang. Pakar gender. Pendengar yang baik. Kadang suka galau tanpa sebab</td>
</tr>
<tr>
<td><em>&#8220;Saya takut ke Indonesia. Sebab di sana banyak orang islamnya&#8221;</em></td>
<td>Perempuan muda juga. Dari Italia. Pernah bermukim lama di Jepang dan bersumpah bahwa saudara angkatnya, perempuan Indonesia beragama islam, adalah orang yang sangat baik. Ia belum pernah ke Indonesia dan kalimat ini diucapkan ketika ia dijawab harus liburan ke Indonesia saja.</td>
</tr>
<tr>
<td><em>&#8220;Hidup itu petualangan. Semua orang juga tahu. Basi. Yang orang nggak tahu itu, jangan terlalu jujur (ketika menjalani petualangan). Yang jadi pertanyaan, apa bener mau berhenti (berpetualang)?&#8221;</em></td>
<td>Seorang lelaki muda, pebisnis, penulis dan filosof <em>wannabe</em> menceramahi saya di stasiun kereta ketika bercerita tentang hubungan antara pria dan wanita. Pacaran dengan perempuan di nomor empat.</td>
</tr>
<tr>
<td><em>&#8220;Sejak koneksi internet, tivi dan telpon saya putus, saya jadi kenal tetangga dan bartender di seberang jalan&#8221;</em></td>
<td>Lelaki Inggris, 42 tahun, bujangan, ahli jaringan komputer</td>
</tr>
<tr>
<td><em>&#8220;Jumlah kekayaan itu seharusnya berimbang. Jika ada yang lebih kaya dari yang lain, artinya ia mengambil kekayaan dari kantong orang lain&#8221;</em></td>
<td>Wanita. 27 tahun. Punker. Tidak punya pekerjaan tetap. Hobinya hidup menumpang dari rumah teman satu ke teman lainnya</td>
</tr>
<tr>
<td><em>&#8220;Ketika lo menguasai satu bahasa baru, satu dunia baru…, kebuka&#8221;</em></td>
<td>Orang yang sama di nomor tiga</td>
</tr>
<tr>
<td><em>&#8220;Apa salahnya orangtua memanjakan anak. Kalau orang tua tidak mampu terus memanjakan anak, itu salah. Kalau mampu, kenapa salah?&#8221;</em></td>
<td>Salah seorang pendiri komunitas seni ketika ditanya mengapa ia memberi subsidi terus pada komunitas seni baru</td>
</tr>
<tr>
<td><em>&#8220;Jadi begini…, bukan, bukan begitu…, gini…, eh… gimana yaa?&#8221;</em></td>
<td>Pria, menjelang 40 tahun. Bujangan. Tinggal bersama orangtua. Bekerja paling lama 2 tahun di satu tempat. Sambil meremas-remas rambut ketika menjelaskan kisah cintanya yang dalam dalam 20 tahun terakhir, berantakan. Sebagaimana kisah cintanya, rambutnya yang sering dicukur pendek itupun kini sering rontok tumbang ke haribaan bumi</td>
</tr>
<tr>
<td><em>&#8220;Api ama asep itu sepaket&#8221;</em></td>
<td>Kata seorang ibu-ibu dari Cilincing, Guru SD, ketika menceramahi anaknya yang hidup dipenuhi rumor-rumor tidak jelas</td>
</tr>
<tr>
<td><em>&#8220;Saya depresi. Saya mau pulang&#8221;</em></td>
<td>Pengakuan seorang petani penggarap. Pria muda beranak satu yang rindu keluarganya dan jauh dari rumah</td>
</tr>
<tr>
<td><em>&#8220;Kalau lu membunuh satu pohon, sama aja lu bunuh banyak nyawa. Sebab pohon itu sumber hidup, sumber air, sumber kita&#8221;</em></td>
<td>Kata seorang seniman senior sekaligus mantan pelarian politik. Kini jadi arsitek sekaligus petani</td>
</tr>
<tr>
<td><em>&#8220;Kalau kita terpaksa harus one night stand, pikir yang bener. Sebab dia harus berguna di masa depan. Jadi kalo kita butuh apa-apa, dia inget masa lalu, sebab kuncinya adalah nostalgia&#8221;</em></td>
<td>Diucapkan seorang playboy dari Kebon Nanas, Jakarta. Di sebuah siang di Monas ketika ditanya apa kiat-kiatnya menjadi seorang <em>player</em> yang terus digila-gilai banyak wanita. Saat ini hidup dari tunjangan perempuan-perempuan yang dikibulinya (tanpa mereka tahu satu sama lain)</td>
</tr>
<tr>
<td><em>&#8220;Gimana caranya mengetahui kalau cowok kita masih perjaka atau nggak?&#8221;</em></td>
<td>Tanya seorang perempuan muda, baru lulus SMU, lugu, asal Brebes, yang tengah berpacaran dengan lelaki dari Yunani. Seorang pendengar menjawab, jika pacarnya berusia tiga tahun, kemungkinan besar masih perjaka</td>
</tr>
<tr>
<td><em>&#8220;Saya mencatat omongan orang-orang. Saya jalan-jalan hanya untuk mencatat&#8221;</em></td>
<td>Sambil bicara, lelaki muda berambut pirang dari Swedia ini membuka buku tulis dan mengambil pulpennya. Saat ini beliau dirawat di rumah sakit jiwa di Malmö. Katanya mengidap hypomania</td>
</tr>
<tr>
<td><em>&#8220;Orang yang kuat gampang terlihat ketika mereka bicara. Bukan dari cara bicara, tapi dari isinya&#8221;</em></td>
<td>Lelaki dari Rumania. Bekerja di industri film dewasa sebagai editor dan pendistribusi konten. Mahasiswa teknik informatika. Gitaris. Baru saja diputus pacar. Suka memberi kursus bagaimana tetap tegar, kepada pria-pria yang mengalami disfungsi ereksi.</td>
</tr>
<tr>
<td><em>&#8220;Abis aku mau gimana lagi dong? Aku kan juga manusia!&#8221;</em></td>
<td>Seorang wanita muda dari Indonesia lulusan sekolah tinggi teknik berprestasi akademis banyak sekali, menjawab dengan pertanyaan ketika ditanya mengapa ia menggoda seorang lelaki Irlandia rekan kerjanya yang beristri perempuan Korea</td>
</tr>
<tr>
<td><em>&#8220;Yang penting duitnya. Mau gendut, mau jelek, mau hitam, mau bau, nggak masalah. Yang penting duitnya&#8221;</em></td>
<td>Lelaki setengah baya. Tambun. Berkumis. Pandai berhubungan dengan angkutan besar. Berprofesi sebagai penjaja cinta di Jawa dan Bali. Melayani pria dan wanita. Menjawab pertanyaan, apa rasanya menjalani profesi saat ini</td>
</tr>
<tr>
<td><em>&#8220;Durhaka itu hanya sudut pandang saja sebenarnya&#8221;</em></td>
<td>Bapak dua anak. Petani merangkap pengusaha restoran merangkap pustakawan. Tinggal sporadis di beberapa daerah di pulau Jawa. Berkomentar soal tradisi sungkem</td>
</tr>
<tr>
<td><em>&#8220;Orang kalo jatuh cinta suka malu-malu&#8221;</em></td>
<td>Seorang tentara khusus, ahli tembak jitu, pengawal RI-1, tanpa-ditanya-tanpa-diskusi tiba-tiba bicara cinta di markas. Komandannya mendelik ketika mendengar ia melontarkan kalimat ini. Ada delapan orang di barak saat itu, tiba-tiba semuanya terdiam</td>
</tr>
<tr>
<td><em>&#8220;Abis kalo nggak begituan saya stress&#8221;</em></td>
<td>Perempuan muda. Masih SMP. Menjawab waktu diinterogasi di kantor Polres Tanjung Priok. Ketika tertangkap basah mengutil lipstik di supermarket. Orangtuanya keluarga terpandang, jadi tidak diproses. Tidak lama kemudian si ABG ini dipindah ke sebuah pesantren di Banyumas</td>
</tr>
<tr>
<td><em>&#8220;Lebih baik kaya sekarang daripada lebih kaya tapi nanti&#8221;</em></td>
<td>Presenter televisi infotainment ketika membuka acaranya. Beberapa orang penonton bisik-bisik berkomentar bahwa si presenter tengah melakukan &#8216;mind fuck&#8217;, menggunakan media untuk memperkosa audensinya. Dari sejak jaman sekolah di Depok dulu, ia memang suka memperkosa logika lawan bicaranya</td>
</tr>
<tr>
<td><em>&#8220;Domba itu binatang yang cute sekali. Aku mau banget reinkarnasi jadi domba&#8221;</em></td>
<td>Suatu sore sambil merokok. Perempuan, 26 tahun, seksi, ahli perangkat keras komputer, bekas tentara IDF ini berkata. Kini tengah berjuang mendapatkan promosi karena efisiensi kerjanya</td>
</tr>
<tr>
<td><em>&#8220;Yang penting itu usaha. Ikhtiar yang bener. Soal rejeki, bukan urusan kita&#8221;</em></td>
<td>Ustad di Denpasar berkomentar soal bisnis anti hama yang dijalani sejak sepuluh tahun belakangan. Mantan preman Cilincing. Di bahu kanan masih memiliki tatto bertuliskan 100% HARAM. Masih bangga menunjukkan di paha kanan dekat selangkangan ada tatto bergambar hati dan nama pacar pertamanya</td>
</tr>
<tr>
<td><em>&#8220;Tetangga yang baik itu adalah tetangga yang menolong tetangganya berbelanja&#8221;</em></td>
<td>Seorang kakek dari Turki. Pengusaha meubel kayu. Berkomentar ketika harus membeli barang melalui <em>internet banking</em> dan tidak tahu bagaimana caranya</td>
</tr>
<tr>
<td><em>&#8220;Sistem bisa salah. Sebab gangster bisa menguasai negara dan membuat sistem pemerintahan&#8221;</em></td>
<td>Kata seorang mahasiswi arsitektur Semarang ketika mendebat temannya yang berdiskusi bahwa sistem pemerintahan RI itu selalu benar dan yang salah adalah oknum</td>
</tr>
<tr>
<td><em>&#8220;Radio itu dari awal ditemukan hingga sekarang sama saja. Ketika dibungkus kemasan berbeda mereka menyebut dagangannya radio baru&#8221;</em></td>
<td>Seorang mantan CEO perusahaan elektronika multinasional terkenal dari US ketika tengah meyakinkan anak buahnya yang sangat skeptis</td>
</tr>
<tr>
<td><em>&#8220;Saya itu ibarat buku yang terbuka. Semuanya saya ceritakan ke sahabat dan orang-orang terdekat saya. Tapi kata suami saya, harus hati-hati dengan informasi. Sebab tidak semua orang itu sama&#8221;</em></td>
<td>Kata seorang Ibu dari Swiss beranak balita dua orang ketika berkomentar soal bisnis <em>high tech</em> barunya dan kepada siapa dia harus cerita</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Bagaimana? Aneh? Tidak cocok? Tidak penting?</p>
<p>Jangan khawatir. Bukan Anda saja yang bingung. Saya sendiri suka bingung. Tapi itu tidak penting. Yang penting adalah manusia itu berkomunikasi dengan caranya masing-masing. Dengan hasil yang masing-masing berbeda.</p>
<p>Dan saya sudah berbagi dengan Anda.</p>
<p>Jadi, kalau mau berbagi, apa kalimat dari mulut manusia di sekitar Anda yang paling ajaib/sering Anda dengar?</p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=vxgle1mhpG8:h4KdCvtllYc:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=vxgle1mhpG8:h4KdCvtllYc:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?i=vxgle1mhpG8:h4KdCvtllYc:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=vxgle1mhpG8:h4KdCvtllYc:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BangaipDotOrg/~4/vxgle1mhpG8" height="1" width="1"/>]]></content:encoded><description>Tahun ini saya putuskan bahwa saya tidak akan membuat anak saya jadi yatim gara-gara hobi riset yang sedang dijalani. Konsekuensinya, saya meninggalkan dunia petualangan ugal-ugalan ala Jason Bourne yang penyendiri dan berganti menjadi seorang petani yang berhubungan dengan tanaman, kebun &amp;#8230; &lt;a href="http://bangaip.org/2013/04/tentang-kutipan/"&gt;Continue reading &lt;span class="meta-nav"&gt;&amp;#8594;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;</description><wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://bangaip.org/2013/04/tentang-kutipan/feed/</wfw:commentRss><slash:comments xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/">2</slash:comments><feedburner:origLink>http://bangaip.org/2013/04/tentang-kutipan/</feedburner:origLink></item><item><title>Tentang Perburuan Wanita (Sebelas – No Woman Zone)</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/BangaipDotOrg/~3/AjreF7Qfj4w/</link><category>bangaip</category><category>sehari-hari</category><category>di jalan</category><category>manusia</category><dc:creator xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">bangaip</dc:creator><pubDate>Thu, 27 Dec 2012 05:01:34 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">http://bangaip.org/?p=1991</guid><content:encoded xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><![CDATA[<p>Impulsif merupakan konsep multi-faktorial yang melibatkan kecenderungan untuk bertindak atas kemauan sesaat, menampilkan perilaku yang ditandai dengan pemikiran sedikit (atau tidak ada), refleksi buruk, serta pertimbangan tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjang. Tindakan impulsif biasanya dideskripsikan sebagai, &#8220;tergesa-gesa, prematur, terlalu berisiko, tidak layak, membahayakan tujuan dan strategi jangka panjang&#8221;. Namun anehnya, ketika impulsif dilakukan dan mendapat hasil positif maka dilihat sebagai indikasi sebagai &#8220;keberanian, kecepatan, spontanitas&#8221;. Konstruksi impulsif meliputi setidaknya dua komponen independen:</p>
<ol>
<li>Bertindak tanpa sejumlah musyawarah</li>
<li>Memilih jangka pendek dibandingkan keuntungan jangka panjang</li>
</ol>
<p>Peristiwa Rengasdengklok, &#8220;penculikan&#8221; yang dilakukan oleh sejumlah pemuda (antara lain Soekarni, Wikana dan Chaerul Saleh dari perkumpulan &#8220;Menteng 31&#8243;) terhadap Soekarno dan Hatta, pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 04.00. WIB dapat dikategorikan sebagai peristiwa impulsif positif. Jika Soekarno dan Hatta tidak dibawa ke Rengasdengklok, Karawang, untuk kemudian didesak agar mempercepat proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, yang jadi pertanyaan adalah: &#8220;Kalau tidak diculik, adakah kesepakatan antara golongan tua yang diwakili Soekarno dan Hatta serta Achmad Subardjo dengan golongan muda tentang proklamasi? Akankah esoknya, 17 Agustus 1945, kemerdekaan RI diumumkan?&#8221;</p>
<p>Sementara secara sederhana, peristiwa impulsif yang berujung negatif dapat dilihat sehari-hari dari para pecandu. Bisa narkoba, seksual, judi atau apalah namanya.</p>
<p>Saya bukan impulsif. Entah ini benar atau tidak, kurang begitu tahu. Setidaknya berdasarkan keyakinan pribadi, bukan seorang impulsif. Padahal jika dilihat dari sejumlah adrenalin yang terlibat dalam cerita perburuan wanita ini, kelihatannya saya pun seorang pecandu. Dari kadar hormon yang terlibat, kelihatan benar memang saya pecandu adrenalin. Dan ini, harus di rem biar tidak kebablasan.</p>
<p>Beberapa minggu lalu, muka saya hancur babak belur. Dipukuli beberapa gelandangan di kota Poznan. Soalnya sepele, seorang nenek-nenek di sebuah kereta bilang pada mereka kalau saya melecehkan ia dan bayinya. Walaupun tidak benar, tidak masalah, sebeb setelah itu saya dipukuli hingga babak belur. Insting saya bilang untuk tidak melawan. Pepatah lama Cilincing berkata, &#8220;Ada yang jual kudu dibeli. Tapi kalo ada kamera, laen ceritanya&#8221;. Dan kota Poznan, banyak terdapat kamera. Termasuk di tempat dimana kepala saya diinjak-injak beberapa orang gelandangan.</p>
<p>Ketika polisi tiba dan para gelandangan itu kabur, kamera CCTV memperlihatkan bahwa para gelandangan itu bukan para gembel yang biasanya mangkal di stasiun kereta. Insting saya benar. Ketika mereka sibuk menjadikan saya sansak hidup, kamera jelas sekali merekam para manusia ini. Itu orang sewaan. <em>Assassins</em>. Jika saya tidak berhasil menyikat sindikat penculikan bayi diatas kereta, setidaknya saya bisa menyikat mereka dengan pasal penganiayaan dan pembunuhan berencana.</p>
<p>Saya umpannya. Iya. Dengan tolol, saya menjadikan diri saya umpan untuk mencegah si nenek dan bayinya lari.</p>
<p>(*Insting ini berawal dari jumlah kunjungan wisatawan Polandia ke RI pada 2011 hampir 1 juta orang. Kamar dagang RI dengan Poland sedang bersinar terang dengan membaiknya hubungan dagang antar negara. Apa hubungannya? Tentu saja mereka tidak bodoh membuat jeopardi dengan membiarkan seorang WNI dipukuli hingga hampir mati di pekarangan belakang rumahnya. Apalagi terhadap seorang undangan resmi sebuah acara internasional*)</p>
<p>Neneng merawat luka dan sebelah mata saya yang hampir buta di rumah sahabatnya. Cukup lama. Dan disaat sepi dan sakit begini, kadang bertanya-tanya, apa yang dilakukan ini memang benar?</p>
<p>Tapi biar begitu, tidak ada yang mampu mengerem tindak dan riset ini&#8230;, kecuali jelas saya sendiri.</p>
<p>Sehingga sore itu saya biarkan Mbak Icih, seorang gadis desa dari pedalaman Finlandia, untuk duduk disamping saya menatap danau kecil yang ada di sebuah dusun di Utara Polandia. Kami duduk di dermaga kecil yang terbuat dari kayu sebesar cukup jalan setepak. Membenamkan hingga semata kaki ke air danau. Menatap riak tenang air terpantul matahari musim panas.</p>
<p>&#8220;Neneng itu sahabat saya. Dia mau kamu ada disini biar bisa ketemuan sama kamu. Tapi saya tahu, kamu punya maksud lain. Jangan kasih Neneng harapan palsu. Saya nggak mau dia sedih apalagi menderita karena gombalan kamu&#8221;</p>
<div id="attachment_2027" class="wp-caption alignnone" style="width: 610px"><img class="size-full wp-image-2027" alt="menara air stasiun kereta elblag" src="http://bangaip.org/wp-content/uploads/2012/12/menara_kereta_elblag.jpg" width="600" height="800" /><p class="wp-caption-text">Menara kota Elblag. Berfungsi multi. Melihat musuh (jaman dulu), pengontrol lalu lintas kereta dan jadi menara air. Disini pula saya bertemu anak-anak muda yang terkena down syndrome. Bermain bola bersama mereka dan sadar ketika semuanya tidak punya ayah, sebab hanya ibunya saja yang menunggu. Kabar bercerita, perkosaan atau hubungan incest di kota ini amat tinggi kuantitasnya.</p></div>
<p>Diam saya mendengarnya. Iya, saya diundang ke dusun ini karena sahabatnya, Si Neneng adalah panitia sebuah acara pertunjukan seni yang melibatkan seniman internasional. Acara ini diadakan di sebuah dusun seni ekologis yang terletak di Utara Polandia. Tidak jauh dari dusun itu, sekitar sejam setengah berkereta, ada kota bernama Elblag. Di kota itu, adalah target riset terbaru. Dipicu oleh adrenalin, suatu hari setelah dapat data mentah, saya putuskan sampai ke acara pertunjukan seni ini. Sukur-sukur, kenal Neneng dan Mbak Icih yang panitia. Tapi rupanya feeling Mbak Icih tahu kalau saya datang kesana bukan untuk pertunjukan <em>happening art</em>. Apalagi mau ketemu Neneng dan dirinya. Ia tahu, kalau saya datang dengan maksud lain. Setelah sembuh dari luka mulai pergi pagi pulang malam, dan ketika sampai penginapan langsung mengurung diri di kamar mengetik laporan. Mbak Icih curiga. Kini, adalah maksudnya untuk mengerem langkah saya. Bukan menghalangi untuk maju dalam riset, namun menghalangi agar saya tidak menyakiti hati sahabatnya.</p>
<p>Dalam hidup ini, saya sering kebablasan. Saya tahu itu. Sering gagal. Itu pun lebih tahu. Sering menyakiti perasaan orang. Bukan sekedar tahu, tapi lama-lama jadi ahli rupanya. Mbak Icih tahu hal ini.</p>
<p>Sudah lama saya kenal dengan Mbak Icih. Roda nasib membawa kami bertemu walau selintasan di beberapa titik di muka bumi. Ia memiliki relasi khusus dengan Saipul, salah seorang sahabat sekaligus rekan bisnis saya. Mungkin dari Saipul ia tahu siapa saya. Hingga suatu hari berkata, &#8220;Di dunia kamu yang ada hanyalah anak, riset dan realisasi project masa depan. Semua itu tanggung jawab. Buat kamu, tidak ada celah lagi buat romansa. Dengar omongan saya, suatu hari kamu akan merasa sepi sesungguhnya. Masak kamu nyari perempuan yang satu misi dan visi? Itu kan omongannya korporat! Kamu ini manusia atau mesin sih?! Kamu tahu ga sih jatuh cinta itu apa?!&#8221;</p>
<p>Iya memang benar. Di akhir pekan saya sibuk urus anak. Di hari kerja, sibuk urus bisnis atau sibuk mengajar dan belajar. Tidur sehari paling lama empat jam. Kadang sampai sakit gara-gara kecapekan, kebodohan yang terus berulang. Tidak pernah libur, tidak pernah cuti. Kalau pun libur atau cuti, pasti disambi riset atau disambi kerja sampingan lainnya. Giliran ada waktu luang, bloonnya, bukan istirahat, malah update blog. Heh, kelihatannya ia memang benar. Apa iya saya jatuh cinta? Bukan hanya sekedar kenal lalu memanfaatkannya? Kalau jatuh cinta, kok malah bertanya? Jatuh cinta itu soal keyakinan. Tidak perlu tanya-tanya. Jatuh cinta itu sederhana jawabnya. Sebab hanya punya pilihan dua, &#8220;tidak&#8221; atau &#8220;iya&#8221;.</p>
<p>Jangan-jangan saya robot? Tapi kalau robot (atau malah cyborg), sumpah mati saya jatuh cinta pada putri semata wayang.</p>
<p>Ahh, saya bukan robot. Masak saya robot? Kalaupun iya, saya menolak untuk dirobotisasi. Saya harus jadi manusia.</p>
<p>Salah satu cara jadi manusia adalah berbuat salah. <em>Reckless</em>. Tidak pikir panjang. Atau dengan kata lain, impulsif. Maka saya putuskan untuk impulsif siang ini.</p>
<p>Memalukan, berlagak impulsif hanya sekedar demi pencitraan agar terlihat manusiawi di depan Mbak Icih.</p>
<p>Bahkan untuk sekedar terlihat jadi manusia, dengan menyedihkan saya mengatur untuk &#8220;menampilkan perilaku yang ditandai dengan pemikiran sedikit (atau tidak ada), refleksi buruk, serta pertimbangan tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjang&#8221;.</p>
<p>Jangan-jangan, saya ini memang robot? Tapi persetanlah.</p>
<div id="attachment_2013" class="wp-caption alignnone" style="width: 610px"><img class="size-full wp-image-2013" alt="peron 2 stasiun kereta elblag polandia" src="http://bangaip.org/wp-content/uploads/2012/12/peron2_elblag.jpg" width="600" height="450" /><p class="wp-caption-text">Stasiun Elblag. Sampai disana siang hari. Baru keluar dini hari. Sudah tidak ada lagi angkutan publik. Ini kota kecil. Pada musim panas, jam sembilan malam, angkutan publik dalam kota sudah habis. Untuk pulang ke Olsztyn dini hari, terpaksa harus merogoh kocek sekitar €135 untuk taksi</p></div>
<p>&#8220;Tadi malam saya ke lokalisasi pelacuran&#8221;</p>
<p>(*Sumpah mati saya berharap bahwa ia hanya sekedar akan menghakimi perilaku seksual dan menceramahi dengan sejuta khotbah moral. Dan saya hanya akan mengangguk-angguk, pura-pura mengiyakan bahwa saya sebenarnya adalah manusia cabul yang perlu dinasehati dan dibimbing sepanjang hidupnya. Sayangnya saya salah. Ia lebih pintar daripada sekedar tukang ceramah*)</p>
<p>Mata Mbak Icih menyipit. Curiga. &#8220;Neneng tahu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Nggak. Saya dateng sendirian&#8221;</p>
<p>Ia diam. Lama sekali. Rambut pirangnya, bikini merahnya, likuk tubuh langsingnya, memantul di riak air danau depan saya. Ia mendesah bertanya kenapa.</p>
<p>Kali ini saya diam. Saya pikir sudah saatnya jujur. Bertindak impulsif. Bercerita kejadian terkini tanpa memikirkan konsekuensi keamanan selanjutnya.</p>
<p>&#8220;Saya harus bertemu Heidi, mantan germo. Suaminya pilot. Orang kaya mereka&#8221;</p>
<p>&#8220;Kamu ketemu mantan germo perempuan dan suaminya? Maksudnya? Kamu pesta orgy?&#8221;</p>
<p>&#8220;Nggak, saya wawancara sama Heidi. Suaminya duduk disamping menguatkan dia&#8221;.</p>
<p>Ketika mata Mbak Icih makin mengerenyit kebingungan, ceritalah saya semuanya.</p>
<p>Heidi adalah gadis muda. Umurnya baru 18 tahun pada tahun 1995. Bapaknya seorang haji sekaligus pedagang karpet kulit kambing di kota Baranavichy di Belarus. Aslinya mereka dari bagian barat Belarus. Dari suku Tatar. Suku yang terdiri dari campuran antara Eropa Selatan dan Asia Utara. Minoritas suku Tatar ditemukan di daerah Uzbekistan, Kazakhstan dan Ukraina. Abad ke-10, seorang misionaris sekaligus petualang bernama Ahmad ibnu Fadlan mengubah suku ini menjadi muslim. Salah seorang anggota suku ini terkenal menjadi petenis perempuan nomor wahid dunia bernama <a title="dinara safina" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Dinara_Safina">Dinara Safina</a>. Namun perempuan-perempuan dari suku ini pula, incaran empuk para pedagang budak seksual mancanegara. Termasuk Heidi. Yang ketika baru menginjak 18 diculik dalam sebuah minivan. Diperkosa sepanjang jalur antara Lida, Alytus, hingga Olsztyn. Ketika baru berulang tahun, diperkosa diatas tiga negara.</p>
<p>Heidi bukan gadis bodoh. Ia tahu ayahnya, seorang pelaku bisnis yang memiliki banyak jaringan pasti akan mencarinya. Pelan-pelan ia cari cara melepaskan diri. Mencoba menggalang kekuatan bersama gadis-gadis lain yang juga diculik.</p>
<p>Sial, para penculik tahu usahanya. Heidi diperlakukan khusus. Mereka memperbaharui jadwal hariannya:</p>
<ul>
<li><strong>0400</strong> : Bangun tidur. Cuci baju para penculik.</li>
<li><strong>0430</strong> : Sambil mencuci, harus melakukan orak seks kepada penculik</li>
<li><strong>0500</strong> : Memasak untuk para penculik</li>
<li><strong>0530</strong> : Diperkosa penculik</li>
<li><strong>0600</strong> : Penculik mulai makan. Jika makanannya jelek, ia diikat dan dicambuki di pohon pada lapangan yang terletak di kamp penculikan hingga dua jam berikutnya. Jika makanannya memuaskan, ia diperkosa oleh tiga penculiknya secara bersamaan. Sambil mereka menceramahi betapa buruk jiwanya dan betapa ia tidak layak hidup dan kembali ke keluarga</li>
<li><strong>0800</strong> : Sarapan dan mandi</li>
<li><strong>0830</strong> : Dibawa berjalan-jalan dengan van. Para penculik menawarkan dirinya ke satu persatu rumah pelacuran. Ia harus laku. Kalau tidak laku, harus bergaya segenit mungkin agar laku. Sebab jika tidak laku juga, malamnya disiksa</li>
<li><strong>0900</strong> : Mencuci piring dan gelas kotor yang ada di rumah pelacuran</li>
<li><strong>1000</strong> : Menari telanjang (<em>striptease</em>) di rumah bordil untuk memikat tamu</li>
<li><strong>1100</strong> : Jika tidak dapat memikat pelanggan, penculiknya datang lagi. Ia dibawa ke jalan. Dijajakan semurah mungkin. Sering ia terpaksa harus menungging untuk memenuhi hajat tiga puluh pekerja tambang yang istirahat makan siang. Jadi ia benar-benar secara literal harus menungging di tempat terbuka. Tiga puluh lebih laki-laki itu antri, bayar pada penculik, ketika giliran tiba buka celana, memasukkan penis mereka, ejakulasi, pasang resleting dan lalu memberikan lubang menganga Heidi ke laki-laki pembayar dalam antrian setelahnya.</li>
<li><strong>1400</strong> : Dirantai di minivan. Diberikan makanan <em>junk food</em>. Hanya ada lima belas menit &#8216;istirahat&#8217;. Setelah itu kembali ia harus &#8216;bekerja&#8217;.</li>
<li><strong>1700</strong> : Penculik pulang, mereka mau mandi. Ia dirantai dalam minivan kembali. Jika musim dingin, harus mati-matian menahan dingin sebab hanya memakai pakaian seadanya. Setelah penculik mandi, mereka ke rumah perjudian. Disana lehernya dirantai ikat di meja judi. Jika si penculik kalah, yang menang boleh mencambuki/memperkosa/meludahi Heidi di tempat keramaian pada saat itu juga</li>
<li><strong>2100</strong> : Penculik membawa Heidi ke kamar atas rumah perjudian. Ia harus menerima diperkosa oleh sekitar dua puluh orang</li>
<li><strong>2400</strong> : Heidi dibawa lagi ke kamp penculikan. Disuruh tidur agar segar esoknya untuk disiksa dan diperkosa</li>
</ul>
<p>Ketika saya tanya apakah ada aparat hukum yang terlibat. Heidi bilang, hampir semua pemerkosanya di rumah judi adalah polisi lokal.</p>
<p>Ini bukan hal yang mencengangkan buat saya. Masih banyak cerita sedih lain yang melibatkan aparat hukum.</p>
<p>Dalam laporan Kapten AL AS yang tergabung dalam NATO, Keith J. Allred: Pasukan Penjaga Perdamaian PBB telah lama diterpa tuduhan pelecehan seksual serius selama bertahun-tahun. Insiden kekerasan seksual yang dilakukan oleh pasukan penjaga perdamaian PBB telah didokumentasikan di Angola, Kamboja, Timor Leste, Liberia, Mozambik, Kosovo, Sierra Leone, dan Somalia. Ketika pasukan penjaga perdamaian PBB dikerahkan ke Bosnia-Herzegovina, bordil yang berisi perempuan yang diperdagangkan berkembang cepat di daerah sekitar pemukiman penjaga perdamaian dari PBB. Peneliti dan Mantan aktivis pemerhati HAM, Martina Vandenberg menulis, &#8220;Rumah pelacuran tumbuh seperti jamur, berkembang di semua sisi markas (pasukan penjaga perdamaian PBB)&#8221;.</p>
<p>Tahun 2002 terdapat fakta memalukan ketika pejabat tingkat tinggi PBB diketahui pula mencoba menyembunyikan kesaksian tentang pelanggaran seksual oleh tentara dan misi kepolisian PBB di Bosnia.</p>
<p>Pada musim semi tahun 2004 terulang kembali kesalahan penjaga perdamaian di Kongo. Keluhan terdiri dari bahwa pasukan penjaga perdamaian PBB telah melakukan enam puluh delapan kasus pemerkosaan, pedofilia, dan prostitusi pada rakyat Kongo. Ini, diperburuk oleh laporan bahwa pasukan penjaga perdamaian telah mengganggu penyelidikan dengan membayar atau menawarkan untuk membayar saksi agar mengubah kesaksian mereka, mengancam penyidik, dan menolak untuk mengidentifikasi rekan yang dicurigai melakukan pelanggaran.</p>
<p>Pada akhir 2006 Penelitian intensif kemudian menyimpulkan bahwa sampai 90 persen dari perempuan terlibat dalam prostitusi normal di Balkan adalah korban perdagangan manusia. Akibatnya, bukan hanya itu, penjaga perdamaian PBB yang terlibat dalam pemerkosaan dan pedofilia, mereka, mungkin tanpa sadar (atau sadar), mendukung perdagangan perempuan dan makan pundi-pundi kejahatan terorganisir. Ahli anti perdagangan manusia dan juga mantan inspektur polisi Inggris, Paul Holmes, menunjukkan bahwa pasukan penjaga perdamaian yang mengeksploitasi perempuan yang diperdagangkan &#8220;tanpa disadari mendukung justru orang-orang yang tidak ingin lingkungan yang aman, stabil, dan aman&#8221;.</p>
<p>Tahun 2011 dalam sebuah tesis yang berjudul<em> Iraq’s Next Battle: Combating Sexual Slavery in Post-Conflict Iraq</em>, Kyle H. Goedert dari Universitas Michigan melaporkan bahwa untuk melarikan diri dari negaranya seorang penduduk Irak harus mampu mengeluarkan uang sebesar US$8,000 hingga $15,000 untuk visa palsu. Uang itu diberikan kepada agen untuk lari ke negara lain. Salah satu negara favorit pelarian selain Jordania adalah.., Indonesia.</p>
<p>Mei 2003 beberapa bulan setelah invasi AS di Irak, jumlah anak-anak sekolah di Baghdad berkurang drastis hingga 50%. Saat itu, Baghdad dijuluki &#8220;No-woman Zone&#8221;. Akibat mereka mengurung diri dirumah karena takut diculik dan didagangkan.</p>
<p>Tahun 2009, 14 wanita Uganda diiming-imingi bekerja di U.S Military base, namun ternyata dikunci, dicuri paspornya dan disiksa serta diperkosa. Tahun 2009 ini juga puncaknya ketika anak-anak lelaki di Baghdad adalah komoditi menarik untuk diperdagangkan organ tubuhnya.</p>
<p>Sejak tahun 2003, Syria mencatat bahwa pelacur bawah umur yang ada di negara mereka, sebanyak 50 ribu orang, berasal dari Irak akibat konflik milter. United States Uniform Code of Military Justice (UCMJ), pengadilan militer AS secara jelas dan eksplisit telah mengatakan bahwa personel militer yang di-<em>deploy</em> di negeri asing pun akan menerima sanksi jika mereka melakukan kejahatan dalam keikutsertaan perdagangan manusia. Namun sayangnya, catatan militer hanya untuk militer. Sementara publik telah banyak sekali mendengar bahwa banyak manusia &#8216;dari Asia&#8217; yang dipaksa jadi pekerja untuk &#8216;membangun Irak&#8217; dan sub-kontraktor militer adalah penyedia manusia-manusia ini. Maka itu, Juli 2011 American Civil Liberties Union, sebuah organisas warga non-profit yang terdiri dari mahasiswa hukum, pengacara dan publik luas di Amerika, <a title="komplain warga AS terhadap pemerintah mereka yang terkesan lamban dan menutupi perdagangan manusia" href="http://www.aclu.org/human-rights/military-contractor-human-trafficking-complaint">menuntut pemerintah AS membuka dokumen pengadilan militer kejahatan tentara yang terlibat perdagangan manusia</a>. Baik di Irak maupun Afganistan. Kasus ini masih dalam pertempuran di pengadilan.</p>
<p>Desas-desus tahun 2011, di beberapa forum militer dan kepolisian RI, terdapat kesatuan khusus yang menjaga perbatasan air wilayah RI memintah &#8216;jatah preman&#8217;. Uang ini berkisar antara US$ 2,500 per kepala. Modus: Para anggota kesatuan khusus ini dipersenjatai kapal laut anti bajak-laut dan senjata canggih, memburu perahu nelayan yang dicurigai membawa manusia yang lari dari Irak atau Afghan. Kapten kapal diberi ultimatum, penjara atau bayar di tempat. Dari kesaksian beberapa pengungsi Irak yang akhirnya selamat dan sampai pengungsian yang sekaligus jadi penjara di Australia (karena masuk secara ilegal), muncullah operasi gabungan antara penjaga laut RI-Aussie. Desas-desus ini semakin diperparah dengan kesaksian beberapa anak buah kapal (ABK) bawah umur yang kini dipenjara di lapas dewasa Australia akibat ikut dalam proses perdagangan manusia. (Lebih lanjut baca: Laporan Khusus Balada Bocah ABK Majalah Detik Digital 5-11 November 2012. <a href="https://www.facebook.com/media/set/?set=a.497261100308234.120775.206172866083727&amp;type=3">Sumber 1</a> &#8211; FaceBook. <a href="http://majalah.detik.com/cb/21c17b4db365368cad06061bd89f9abf/2012/20121105_MajalahDetik_49.pdf">Sumber 2</a> &#8211; PDF)</p>
<p>Cerita Heidi semakin melengkapi, bahwa kejahatan terhadap manusia, memang hanya bisa berlangsung jika ada pendukung aparat hukum yang terlibat.</p>
<div id="attachment_2016" class="wp-caption alignnone" style="width: 610px"><img class="size-full wp-image-2016" alt="restauran Elblag" src="http://bangaip.org/wp-content/uploads/2012/12/restoran_elblag.jpg" width="600" height="450" /><p class="wp-caption-text">Sebuah restoran di jantung kota Elblag. Sebelum interview, diliucuti dahulu disini oleh para penjaga keamanan rumah bordil. Mereka bahkan memaksa melihat foto-foto dalam SDCard camera dan ID. Saya tidak pakai identitas Agus. Sebab sudah terbongkar. Dan untungnya, foto-foto Poznan sudah dibackup di USB dan dikirim melalui jalur aman PGP. Pramuniaga restauran merasa kasihan dan aneh melihat satu-satunya pengunjung mereka, dari Asia pula, diperlakukan buruk di tempat ini. Mereka memberi makanan penutup dengan gratis</p></div>
<p>Heidi bicara terbata-bata. Kelihatannya ia tidak sanggup meneruskan kata-kata. Suaminya, si pilot menggengam erat jemari istrinya. Mencoba menguatkan.</p>
<p>Saya diam saja. Saya tahu cerita itu berat. Tapi saya lebih mau tahu, kenapa ia jadi seorang mucikari?</p>
<p>Suaminya menatap saya marah. &#8220;Kamu bukan manusia? Ia baru saja cerita hal yang sangat sensitif begini. Jangan lantas karena kamu kenal Lucija kamu bisa datang ke sini dan menghina istri saya!&#8221;</p>
<p>Heidi tidak bilang apa-apa.</p>
<p>Ia menjawab dengan menggulung lengan panjang bajunya.</p>
<p>Disana banyak terdapat bekas luka silet percobaan bunuh diri. Tidak lama kemudian, dengan diiringi tatapan melongo suaminya, ia membuka baju. Hanya pakai beha. Saya lihat ada bekas luka lama sabetan benda tajam dengan jahitan jelek sekali. Ia balik badan, banyak sekali bekas luka disana. Lebih jauh lagi, ia buka beha. Satu puting payudara, sebelah kanan, hilang. Ada bekas luka bakar di sana.</p>
<p>Saya pikir saya bukan robot. Sebab setelah itu menutup mulut mau muntah. Tidak kuat melihat bekas penyiksaan ini.</p>
<p>Dalam samar saya dengar Heidi berkata, &#8220;Lima tahun aku di neraka. Dan kamu mau mengharapkan aku jadi malaikat setelahnya? Aku harus bertahan hidup dari apa yang aku tahu&#8221;</p>
<p>Dengan terhuyung, saya keluar dari rumah pelacuran. Sebab hanya disana Heidi mau menyempatkan diri mau bertemu. Ia sudah tidak mau lagi bertemu keluarganya. Apalagi mencoba mengaitkan dirinya dengan masa lalu. Hanya demi sahabat akrabnya, ia mau menemui saya. Saya harus cari udara segar. Cerita Heidi semakin membuat mual.</p>
<p>Lepas dari para penculik, ia membantu para wanita yang diculik sopir truk antar negara.</p>
<p>Itu perempuan muda, libur musim panas dan mau jalan-jalan ke luar negeri. Tidak punya uang, menumpang pada sopir truk. Dan biasanya di perjalanan minuman mereka dibubuhi obat perangsang atau yang membuat tak sadarkan diri sebelum akhirnya digagahi. Ketika sadar, para perempuan muda ini menyadari bahwa mereka tergeletak di tepi jalan raya dengan pakaian seadanya. Sisanya dirampok supir. Mau pulang, tidak punya uang. Minta tolong pada pom bensin, malah diperkosa oleh si penjaga tangki. Akhirnya terlunta-lunta dan dipungut Heidi. Dan apa lagi keahlian Heidi dalam mencari nafkah untuk membantu mereka pulang ke negaranya? Yaa mereka harus bekerja, walaupun tentu saja tidak dicambuki dan disiksa.</p>
<p>Dan pekerjaan Heidi itu, namanya mucikari.</p>
<p>Sebab siapa saja, ternyata bisa ikut terjerat dalam perdagangan manusia.</p>
<div id="attachment_2014" class="wp-caption alignnone" style="width: 610px"><img class="size-full wp-image-2014" alt="mbak icih di tepi danau" src="http://bangaip.org/wp-content/uploads/2012/12/mbak_icih.jpg" width="600" height="734" /><p class="wp-caption-text">Mbak Icih menatap lelaki berambut panjang dari Cilincing yang kepanasan dan lalu menceburkan dirinya lompat dalam air di tepi danau di Utara Polandia</p></div>
<p>&#8220;Jadi begitulah ceritanya Mbak Icih, tadi malam saya ada di lokalisasi pelacuran di Elblag&#8221;</p>
<p>Mbak Icih menatap saya lama, &#8220;Kamu sudah cerita pada Neneng?&#8221;</p>
<p>Saya melongo, &#8220;Kenapa saya harus cerita?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau cinta, yaa cerita biar dia tahu, dan nggak ngarepin macem-macem dari orang macam kamu&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau cinta saya harus cerita? Kalau nggak cinta, nggak harus dong?&#8221;</p>
<p>&#8220;Cinta nggak cinta, pokoknya kamu harus cerita. Biar dia memutuskan untuk terus suka atau nggak&#8221;</p>
<p>&#8220;Lah terus saya gimana dong? Buset dah kalo dia boleh memutuskan, saya juga boleh dong?&#8221;</p>
<p>&#8220;Pokonya kamu harus cerita sama Neneng. Sebab yang dia tau, kamu itu kesini cuman buat dia!&#8221;</p>
<p>Saya semakin melongo. Cerita ini makin jadi aneh. Dan lebih aneh lagi ketika telepon genggam bergetar membawa SMS masuk. Dari Lucija. Menunggu di Kaliningrad, Rusia. Ada data baru. Ada perkembangan baru. Dan ada identitas baru. Semuanya menunggu.</p>
<p>Bingung. Mana yang harus dipilih? Bertemu dan bercerita pada Neneng si gadis desa, lugu nan manis, seksi dan baik hati yang telah merawat luka. Atau mengikuti Lucija yang membuat saya serasa jadi James Bond dari Cilincing. Dengan resiko, kembali akan luka-luka. Atau malah, hilangnya nyawa&#8230;</p>
<p>Yang mana?</p>
<p>Ketika bingung, yang harus dilakukan adalah melihat dimana semua ini berawal. Secara harafiah, semuanya ini berasal dari kereta.</p>
<p>Saya pamit pada Mbak Icih. Meninggalkannya bersama teman-teman lain yang masih bercengkrama di tepi danau di musim panas. Kembali ke penginapan, mengepak barang-barang dan.., kembalilah ke stasiun kereta.</p>
<p>Dan disana sebuah kereta, ternyata akan datang lima belas menit lagi. Kereta terakhir.</p>
<div id="attachment_2015" class="wp-caption alignnone" style="width: 610px"><img class="size-full wp-image-2015" alt="Kereta senja menuju Kaliningrad" src="http://bangaip.org/wp-content/uploads/2012/12/kereta-menuju-kaliningrad.jpg" width="600" height="450" /><p class="wp-caption-text">Kereta senja menuju Kaliningrad. Terakhir. Ketika pilihan harus ditentukan.</p></div>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=AjreF7Qfj4w:SfqysoykSYQ:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=AjreF7Qfj4w:SfqysoykSYQ:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?i=AjreF7Qfj4w:SfqysoykSYQ:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=AjreF7Qfj4w:SfqysoykSYQ:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BangaipDotOrg/~4/AjreF7Qfj4w" height="1" width="1"/>]]></content:encoded><description>Impulsif merupakan konsep multi-faktorial yang melibatkan kecenderungan untuk bertindak atas kemauan sesaat, menampilkan perilaku yang ditandai dengan pemikiran sedikit (atau tidak ada), refleksi buruk, serta pertimbangan tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjang. Tindakan impulsif biasanya dideskripsikan sebagai, &amp;#8220;tergesa-gesa, prematur, terlalu berisiko, &amp;#8230; &lt;a href="http://bangaip.org/2012/12/tentang-perburuan-wanita-sebelas-no-woman-zone/"&gt;Continue reading &lt;span class="meta-nav"&gt;&amp;#8594;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;</description><wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://bangaip.org/2012/12/tentang-perburuan-wanita-sebelas-no-woman-zone/feed/</wfw:commentRss><slash:comments xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/">5</slash:comments><feedburner:origLink>http://bangaip.org/2012/12/tentang-perburuan-wanita-sebelas-no-woman-zone/</feedburner:origLink></item><item><title>Tentang Perburuan Wanita (Sepuluh – Kereta Menuju Poznan)</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/BangaipDotOrg/~3/Bd4X455IS5k/</link><category>bangaip</category><category>sehari-hari</category><category>di jalan</category><category>manusia</category><dc:creator xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">bangaip</dc:creator><pubDate>Mon, 24 Dec 2012 01:36:48 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">http://bangaip.org/?p=1968</guid><content:encoded xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><![CDATA[<p>Saya ingin seperti dia yang duduk diseberang ruangan. Baru pulang liburan dari luar negeri, katanya disana berenang dengan lumba-lumba di hari ulang-tahunnya. Kado dari pacar. Enak kali yaa jalan-jalan dengan pacar. Romantis. Dapat hadiah ulang tahun begitu dahsyatnya.</p>
<p>Saya ingin seperti dia, yang lainnya. Tokoh dalam tulisan blog internet yang sering saya baca. Ia jalan-jalan kesana-kemari, ketawa-ketiwi, baik sendiri, dengan teman-teman atau keluarganya. Makan enak dan sebelum makan ini makan itu, makanan difoto lalu dipajang. Bikin saya ngiler dan iri. Perlihatkan di sosial media aksi wara-wirinya. Ahh hebatnya, bisa jalan berpetualang dengan gembira.</p>
<p>Saya ingin seperti dia, dia dan dia.</p>
<p>Kenapa?</p>
<p>Apa ada yang salah dengan saya? Kenapa mau jadi orang lain? Memangnya tidak cukup puas dengan terlahir seperti ini?</p>
<p><strong>Akhir Juli 2012</strong></p>
<p>Ibu kirim SMS. Katanya minta ditelpon. Beliau memang selalu begini, minta ditelpon. Bukan karena mau mengirit, sebab ternyata jauh lebih murah menelpon dari Cilincing sana ke posisi saya saat ini. Bukan. Sama sekali bukan.</p>
<p>Ini hanya karena Ibu, sejak 20 tahun lalu, tidak pernah tahu dimana lokasi geografis saya, anaknya, berada.</p>
<p>Sore itu obrolan kami berlangsung lirih. Banyak sekali jeda diam antara kami berdua.</p>
<div id="attachment_1978" class="wp-caption alignnone" style="width: 610px"><img class=" wp-image-1978" alt="kompartemen_jan_kiepura" src="http://bangaip.org/wp-content/uploads/2012/12/kompartemen_jan_kiepura.jpg" width="600" height="450" /><p class="wp-caption-text">Kompartemen kereta ekonomi Jan Kiepura (<a title="video Jan Kiepura" href="http://www.youtube.com/watch?v=MHp0gfw2LWY">ini video jelasnya</a>). Satu kamar bisa diisi enam penumpang. Pada siang hari, mereka duduk dibawah tiga berhadapan dengan tiga. Ketika matahari terbenam, masing-masing menuju tempat tidurnya. Pada kelas eksekutif, satu kompartemen hanya berisi ranjang dua orang dan kamar mandi pribadi. Saya duduk di kelas ekonomi. Sebab hanya disana bisa bertemu ‘mereka’</p></div>
<p>“Kamu ngapain di Polandia?”, ini adalah pertanyaan standar keluarga saya. Sedang apa, sampai kapan dan apa tujuannya. Ini pertanyaan yang menuntut jawaban.</p>
<p>Saya diam sejenak. Bagaimana menerangkan pada Ibu bahwa anaknya sedang mengejar sindikat perdagangan bayi yang terlahir dari perempuan-perempuan yang diculik dan jadi budak seksual. Saya diam. Susah untuk membentuk sepenggal kalimat sederhana bahwa saya sudah ada di kereta membelah Eropa menuju Poznan selama 14 jam hanya untuk bertemu seorang wanita yang mau memperdagangkan bayi 1,5 tahun yang terkena down syndrome.</p>
<p>Bagaimana menerangkan pada Ibu bahwa ada perempuan muda yang diperkosa lalu dibiarkan hamil dan melahirkan agar anak hasil kandungannya bisa dijual oleh penculiknya?</p>
<p>Bagaimana menerangkan pada Ibu bahwa ada manusia-manusia yang rela menjual bayi tersebut kira-kira hanya sekitar 3-5 juta rupiah saja?</p>
<p>Bagaimana menerangkan pada Ibu mengapa proses transaksi rumit ini harus berjalan di atas kereta yang membelah hukum negara-negara yang walaupun berdaulat ternyata memiliki celah masing-masing yang saat ini dimanfaatkan oleh para pedagang budak?</p>
<p>Bagaimana menerangkan pada Ibu, yang seumur hidupnya jauh dari kekerasan, bahwa di muka bumi ini ada manusia yang memiliki hati lebih gulita daripada malam yang kelam?</p>
<p>Setelah berdehem sejenak saya jawab, “Ada orang yang butuh bantuan, Bu. Katanya sih biar saya aja nyang nulungin anaknya”</p>
<p>Ibu diam sejenak disana. Beliau ini guru SD, sederhana. Tapi tidak bodoh. Saya kenal beliau sudah lama. Pertama kali belajar melihat sinar, yang saya pelajari adalah wajahnya. Saya tahu beliau diam lama disana, menyusun kalimat. Kelihatannya saat ini, kami sedang mencari strategi. Menyusun informasi. Saling menyelidiki dengan kata-kata yang disusun biar terlihat sederhana</p>
<p>“Lah kamu jalan-jalan gitu nyang bayar sapa?”</p>
<p>Ini pertanyaan yang berat. Serius. Kalau saya jawab apa adanya, bahwa uang tabunganlah membiayai hingga saat ini, Ibu pasti akan bertanya, “Uang kamu kan nggak banyak. Aneh, buat apa?”. Kalau itu sudah ditanyakan, tandanya skak mat. Saya harus cerita dari awal hingga akhir. Dan saya tidak mampu membuat dirinya sakit jantung dengan informasi yang saya pegang saat ini.</p>
<p>Maka sialnya, entah kenapa saya harus berbohong menjawabnya, “Ada nyang bayarin, Bu”</p>
<p>Tidak lama kemudian kami saling menutup percakapan dan mengucap salam sampai jumpa kembali. Saya merasa berdosa, berbohong pada perempuan yang amat mengasihi sejak saya lahir dari kandungannya.</p>
<p>Tapi, saat ini, itu pilihan yang saya ambil. <em>White lies</em>, <em>black lies</em>, tetap saja bohong. Dan sore itu, atas nama keamanan, saya membohongi perempuan yang mencintai saya. Ahh&#8230;</p>
<p>Saya kembali ke kompartemen kereta. Di luar langit biru. Musim panas ini berlangsung dengan baik di atas bumi Jerman Timur. Sudah berjam-jam saya duduk di kereta ini. Hanya sekadar menunggu. Menunggu ada manusia yang bicara.</p>
<p>Perempuan pirang paruh baya dihadapan saya tidak banyak berkata apa-apa. Ia tidak mengerti bahasa Indonesia. Sibuk menggendong bayi down syndrome berusia 1,5 tahun. Sebentar lagi Poznan. Kota terbesar kedua di Polandia. Ia akan mendaftarkan si bayi di kota ini sebagai cucunya agar punya nama baru. Hanya dengan cara ini si bayi bisa dan lalu dibawa ke Eropa Barat untuk ‘diadposi’.</p>
<p><strong>Jadi begini modusnya:</strong></p>
<ul>
<li>Anak perempuan, usia 16, cantik. Diculik dari kampungnya di Eropa Timur sana.</li>
<li>Si bocah malang akan terus disiksa, diperkosa dan terus diperlakukan begitu hingga menurut untuk harus menghasilkan uang. Ia dipaksa ikut dalam prostitusi</li>
<li>Suatu saat, entah kondom bocor, entah diancam akan dibunuh, entah apalah alasannya; sperma masuk dan merambah janinnya dan ia pun hamil</li>
<li>Dalam kondisi hamil, si bocah ini masih terus akan dipaksa melayani tamunya. Ia jadi pasar khusus untuk pria-pria yang gemar menyetubuhi perempuan hamil</li>
<li>Kira-kira sembilan bulan kemudian si bayi lahir</li>
<li>Untuk menghilangkan ikatan antara ibu dan anak juga demi pemasukan, Dipisahkanlah antara bayi merah ini dengan ibunya dengan cara dijual ke penadah bayi korban perkosaan</li>
<li>Si tukang tadah bayi adalah agen penyalur anak-anak yang akan diadopsi. Mirip panti asuhan. Bedanya, ia hanya khusus untuk bayi sesuai pesanan pengadopsi</li>
<li>Agar bisa diadopsi jelas si bayi harus punya identitas. Maka tentu saja sang bayi harus ‘dicuci’ (*Proses yang sama terjadi pada aksi kejahatan pemutihan uang*)</li>
<li>‘Pencucian’ bayi dilakukan dengan cara mendaftarkan bayi tersebut dengan cara mengklaimnya sebagai cucu/ponakan/atau_whatever oleh pengungsi yang melintasi antar negara (*Jadi disini saya pikir Anda bisa mengerti mengapa kejahatan ini bersifat internasional dan mengapa saya membuntuti wanita pirang paruh baya melintas empat negara dengan kereta*)</li>
<li>Setelah ‘dicuci’, bayi punya identitas baru. Pengadopsi tidak tahu apa-apa proses ini. Yang mereka tahu, mereka harus menyetor sejumlah uang untuk proses adopsi</li>
</ul>
<p>Mungkin akibat baru saja bicara dengan Ibu, jika akhirnya saya mampu menuliskan proses rumit yang keji dan bahaya dalam beberapa penggal kata diatas sebuah tempo yang memakan waktu berbulan-bulan.</p>
<p>Melihat bayi lucu yang tampan ini, di depan mata. Dan tidak mampu berbuat apa-apa pada saat itu juga (bahkan juga tidak dalam menelpon aparat berwenang, sebab jika mereka tiba-tiba muncul, semua orang bahkan hingga si bayi, dalam kondisi jiwa terancam) membuat saya merasa lemah.</p>
<p>Dalam hati saya hanya bisa membatin, “Bangsat! Bangsat! Bangsat!”</p>
<p>Ini lah yang disebut pemilihan umum iblis.</p>
<p>Mana yang harus saya pilih? Jika saya menelpon polisi diam-diam saat ini juga, kemungkinan besar bahwa mereka mampu menangkap perempuan perempuan ini dan menyelamatkan bayinya. Tapi bagaimana dengan Ibu sang bayi? Sebab sangat yakin bahwa penculik dan pemerkosanya akan menghapus nyawa si perempuan malang untuk menghilangkan jejak. Proses adopsi yang jadi alternatif agar si anak ada yang merawat, juga pasti akan gagal.</p>
<p>Jika saya pilih untuk mendokumentasikan perempuan ini, membuatnya bicara, bisa mencegah kejadian terulang di masa depan. Namun, akan ada seorang Ibu yang akan kehilangan anaknya. Gimana rasanya kalau saya kehilangan putri saya yang diculik paksa? Apa yang akan saya lakukan terhadapnya jika saya tahu bahwa ada orang di luar sana yang ternyata bisa mencegah peculikan ini dan membawa kembali putri tercinta ke pelukan saya, namun ternyata ia diam saja?</p>
<p>Ini pemilihan umum iblis. Iblis mana yang harus saya pilih? Tidak ada pilihan lain yang lebih sempurna. Hanya ada dua iblis di depan saya. Yang mana yang harus saya sikat? Yang mana yang harus saya dekap?</p>
<p>Ini bukan yang pertama. Ketika kualitas moral, etika dipertanyakan dan dikonfrontasi.</p>
<p>Hey, kamu laki-laki, apa jawaban yang akan kamu pilih. Awan menggumpal di balik jendela seakan mengejek.</p>
<p>Saya ingin seperti dia.</p>
<p>Sambil menatap langit berderak di atas jalur kereta, saya merasa tidak puas terlahir seperti ini. Seharusnya, saya jalan-jalan berdarmawisata saja. Mirip ia yang berenang dengan lumba-lumba. Mirip ia yang berwisata kuliner sebelum makan memfoto dan membaginya jepretannya pada sosial media dunia maya. Mereka yang kelihatan hidupnya begitu tenang dan bahagia.</p>
<p>Tanpa perlu harus bersekutu dengan iblis sebagai imbalannya.</p>
<p>Saya iri.</p>
<div id="attachment_1979" class="wp-caption alignnone" style="width: 610px"><img class="size-full wp-image-1979" alt="bayi di atas jan kiepura" src="http://bangaip.org/wp-content/uploads/2012/12/baby_on_board.jpg" width="600" height="384" /><p class="wp-caption-text">Foto sang bayi di kereta. Ketika sang ‘nenek’ ke kamar kecil saya sempat tergoda untuk membawa bayi ini menuju kamar masinis dan polisi kereta untuk ‘aksi menyelamatkan’. Pikiran yang ugal-ugalan dan tergesa-gesa. Astaga, ia begitu lucu, damai dan menggemaskan. Tak ada yang menyangka bahwa bocah semanis ini adalah produk sebuah kekejian yang sungguh luar biasa</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=Bd4X455IS5k:isr4o5v0c1k:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=Bd4X455IS5k:isr4o5v0c1k:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?i=Bd4X455IS5k:isr4o5v0c1k:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=Bd4X455IS5k:isr4o5v0c1k:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BangaipDotOrg/~4/Bd4X455IS5k" height="1" width="1"/>]]></content:encoded><description>Saya ingin seperti dia yang duduk diseberang ruangan. Baru pulang liburan dari luar negeri, katanya disana berenang dengan lumba-lumba di hari ulang-tahunnya. Kado dari pacar. Enak kali yaa jalan-jalan dengan pacar. Romantis. Dapat hadiah ulang tahun begitu dahsyatnya. Saya ingin &amp;#8230; &lt;a href="http://bangaip.org/2012/12/tentang-perburuan-wanita-sepuluh-kereta-menuju-poznan/"&gt;Continue reading &lt;span class="meta-nav"&gt;&amp;#8594;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;</description><wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://bangaip.org/2012/12/tentang-perburuan-wanita-sepuluh-kereta-menuju-poznan/feed/</wfw:commentRss><slash:comments xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/">2</slash:comments><feedburner:origLink>http://bangaip.org/2012/12/tentang-perburuan-wanita-sepuluh-kereta-menuju-poznan/</feedburner:origLink></item><item><title>Tentang Perburuan Wanita (Sembilan – Asia dan Perpisahannya)</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/BangaipDotOrg/~3/3KmFnV9ARK4/</link><category>bangaip</category><category>sehari-hari</category><category>di jalan</category><category>manusia</category><category>temennya bangaiptop</category><dc:creator xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">bangaip</dc:creator><pubDate>Fri, 21 Dec 2012 13:30:08 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">http://bangaip.org/?p=1957</guid><content:encoded xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><![CDATA[<p>Istanbul dibagi menjadi dua bagian. Bagian barat dikenal sebagai kawasan bernama ‘Eropa’ dan bagian timur yang disebut dengan ‘Asia’. Pembelahnya adalah sungai besar bernama Bosphorus.</p>
<div id="attachment_1971" class="wp-caption alignnone" style="width: 610px"><img class="size-full wp-image-1971" alt="ferry membelah senja di selat bosphorus" src="http://bangaip.org/wp-content/uploads/2012/12/sunrise_bosphorus.jpg" width="600" height="399" /><p class="wp-caption-text">ferry membelah senja di selat bosphorus</p></div>
<p>Lucija akan datang hari ini. Setelah cerita kasus Harry, ia bilang bahwa ia sungguh khawatir akan perkembangan riset dan berminat membantu. Dalam hati saya mengeluh, menjaga diri saja saya kesulitan, apalagi kalau ada ia datang. Masak sih saya harus menjaganya? Tapi percuma mengeluh, ia datang hari ini. Di daerah Asia. Di sana ada bandara<em> low cost carrier</em>. Bandara untuk penerbangan murah.</p>
<p>Umumnya pesawat-pesawat di Eropa bisa menjual tiket murah karena mereka tidak mendarat di bandara utama yang terletak dengan pusat kota. Di Istanbul, pesawat-pesawat berharga tiket umum mendarat di bandara Attaturk. Sementara pesawat bertiket murah, mendarat di bandara Sabiha Gökçen International Airport. Disana Lucija akan mendarat dan disana pula kami akan bertemu.</p>
<p>Jadi pagi itu, dari Topkapi saya menuju Asia, dengan jasa ferry penyebrangan selat Bosphorus. Makan seadanya di pinggir jalan menuju lokasi penyebrangan. Banyak penjual makanan murah. Saya tidak tahu apa namanya, yang pasti vegetarian dan murah. Itu penting.</p>
<div id="attachment_1972" class="wp-caption alignnone" style="width: 610px"><img class="size-full wp-image-1972" alt="pedagang sate produk vegan" src="http://bangaip.org/wp-content/uploads/2012/12/dagang_sate_vegan.jpg" width="600" height="399" /><p class="wp-caption-text">Anak muda pedagang makanan vegan/vegetarian bakar di tepi penyebrangan ferry menuju daerah Asia di Istanbul</p></div>
<p>Dan ketika sampai bandara, saya lihat Lucija sudah menunggu disana. Pemandangan wajar, ia menunggu. Dengan muka jemu. Dikelilingi laki-laki. Mulai dari sopir taksi hingga don juan dadakan. Saya senyum-senyum sambil berjalan ke arahnya. Ia tidak membalas senyuman saya.</p>
<p>“Selamat datang di Istanbul. Bagaimana perjalanan kamu?”</p>
<p>Ia tidak menjawab. Mukanya merengut. “Saya tidak suka senyum kamu&#8230;”</p>
<p>“Lah, apa salah saya?”</p>
<p>“Dasar lelaki! Pura-pura terus”</p>
<p>“Lah saya kan cuma senyum”</p>
<p>“Kamu tahu, gara-gara senyum Marie Antoinette dipenggal kepalanya”</p>
<p>“Yaelah saya cuma senyum doang&#8230; Itu kan bagus. Nyebar kebaikan”</p>
<p>“Di bandara banyak orang. Banyak perempuan”</p>
<p>“Saya senyum doang, buset dah. Itu juga sama kamu”</p>
<p>“Tapi perempuan laen kan liat juga. Kamu ati-ati kalo senyum”</p>
<p>Saya ketawa terbahak-bahak. Tapi kemudian diam, saya ingat sesuatu. “Kamu kan&#8230; Eh&#8230; Kamu sendiri, dikelilingi laki-laki. Saya santai aja tuh”</p>
<p>“Kalau perempuan dikelilingi laki-laki, itu biasa. Kalau kalian laki-laki dikelililngi perempuan, pasti ada yang aneh sama lelakinya”</p>
<p>Saya bingung. Ini logikanya aneh sekali. “Tapi saya kan nggak dikelilingi wanita”</p>
<p>Ia mendelik, “Halooooo&#8230;. Look who’s talking?”</p>
<p>Saya diam sambil garuk-garuk kepala. Ini obrolan tambah absurd. Lebih baik mundur sejenak daripada makin absurd.</p>
<p>Bingung mau bicara apa akhirnya ia mau diajak makan. Kami menuju Kadikoy.</p>
<p>Kadıköy adalah salah satu tempat tertua di daerah bagian Asia dan merupakan distrik provinsi Istanbul, Turki. Sebuah distrik yang terpisah sejak tahun 1928 melalui perang saudara. Saat itu memisahkannya dari Üsküdar, Kartal, Maltepe Umraniye dan kabupaten tetangga. Kadıköy terletak di Laut Marmara, bagian Asia dari Istanbul. Dengan berbagai bar, bioskop dan toko buku, Kadıköy bisa disebut sebagai pusat budaya Asia Istanbul. Tinggi distrik ini rata-rata 120 meter di atas permukaan laut. Penggalian arkeologis antara tahun 1942 dan 1952 menemukan banyak tulang, kerangka, vas, patung, dan lainnya. Benda-benda tersebut berasal dari sekitar tahun 3000 SM. Hal ini menunjukkan bahwa Kadıköy daerah berpenghuni itu jauh sebelum Istanbul (atau Byzantium) didirikan. Pada zaman kuno tempat itu dikenal sebagai Chalcedon.</p>
<p>Masa ini Kadıköy adalah perumahan dan ekonomi penting di distrik Istanbul. Disana terdapat stasiun kereta api Haydarpasa , stasiun bus Harem, Universitas Marmara, Universitas Yeditepe, Stadion sepakbola Sukru Saracoglu, masjid kuna, pelabuhan, pusat perbelanjaan untuk lokal, rumah-rumah bersejarah, dan lainnya. Karena lokasinya (Asia) Kadıköy tidak diketahui banyak turis.</p>
<p>Saya bisa ada disini karena Kadıköy adalah kampungnya Alban.</p>
<div id="attachment_1973" class="wp-caption alignnone" style="width: 610px"><img class="size-full wp-image-1973" alt="restaurant kadikoy tempat awal drama" src="http://bangaip.org/wp-content/uploads/2012/12/resto_kadikoy.jpg" width="600" height="399" /><p class="wp-caption-text">Sebuah rumah makan di Kadikoy tempat drama itu dimulai</p></div>
<p>Dan saat ini, sebuah meja bar di sebuah senja di ujung Kadıköy adalah saksi ketika seorang perempuan membawa dua paspor dengan uang berbundel-bundel dari salah satu negara di bekas eropa timur. Di salah satu paspor tersebut, terdapat foto saya. Nama beda, tempat tanggal lahir beda dan yang pasti, kewarganegaraan bukan lagi sebagai WNI.</p>
<p>Mata saya membelalak, “Lucija, ini keterlaluan. Gila kamu. Ini paspor palsu. Kenapa kamu harus melakukan ini? Kenapa saya harus pakai identitas palsu?”</p>
<p>Dia tersenyum, santai, “Look who’s talking”</p>
<p>(*<em>Saya geleng-geleng kepala. Iya saya mengaku salah. Sebelum Maret 2012, saya punya empat KTP. Dengan empat nama berbeda. Dan tentu saja dengan empat agama yang berbeda. Cuma satu yang sama, dalam semua status tertulis ‘Belum Kawin’. Hehe. Dari semua KTP, yang lebih sering saya pakai adalah nama Agus. Asal Sragen, Jawa Tengah. Tepatnya, Desa Masaran Jati. Desa ini masuk ke dalam radar riset saya sebab ternyata diam-diam memiliki prosentase sebagai desa pengekspor manusia Indonesia ke luar negeri terbanyak ketimbang desa-desa lainnya di nusantara. Dari desa ini pula terkenal snakehead Indonesia /-Snakehead adalah sebutan umum kepala mafia sindikat perdagangan manusia. Diambil dari nama <a title="Snakehead" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Snakehead_(gang)" target="_blank">gang human trafficking asal China</a> dengan kasus terbesar yang bernama <a title="Golden Venture Human Trafficking" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Golden_Venture" target="_blank">Golden Venture di Amerika Serikat</a>-/. Dan kenapa harus Agus? Sederhana jawabnya; sebab di semua pulau di nusantara, dari Sabang sampai Merauke, pasti ada manusia yang bernama Agus. Bulan Maret lalu ibu saya marah-marah, karena DKI akan dilakukan pendataan untuk KTP elektronik. Jadi pada bulan itu, salah satu kepulangan saya adalah karena Ibu meminta saya untuk menjadi warga negara yang patuh mengikuti petunjuk Pak RT dan Pak Lurah</em>*)</p>
<p>“Tapi sekarang saya sudah punya ID tetap. Satu nama tetap. Dan satu kewarganegaraan tetap”, saya bersikukuh belagak sok hidup jujur.</p>
<p>“Kalau saya bilang kamu dalam bahaya, pasti kamu cuek saja. Kamu itu sok tahu. Sok bisa ini lah, sok bisa itu lah. Sok gaya bisa hidup selama-lamanya. Sok mau jadi bapak yang baik dan benar padahal punya hobi memburu manusia, yang luar biasa tidak masuk akal. Kalau kamu masih mau ingin ketemu anak, segera pergi dari sini!”</p>
<p>Ia membanting paspor dan uang di atas meja. Buang muka. Menatap laut.</p>
<p>Ada air mata bergulir di pipinya.</p>
<p>Ahh perempuan, sungguh luar biasalah kemampuan kalian berdrama yang membuat kami para pria akhirnya tak tahan dan lalu lumer dalam kata-kata. Itu airmata hanya setitik, tapi mampu akhirnya membuat saya buka suara, “Terimakasih. Tapi ini barang mahal. Berapa saya harus ganti?”</p>
<p>Ia mengambil saputangan dari tas jinjing. Mengelap sedikit ujung mata. Saya menatap dengan ragu. Tahun 2003, senjata genggam murah meriah macam Hi Point kaliber 9mm bonus magazin 9 peluru dan paspor palsu abal-abal kewarganegaraan Belgia itu sekitar tiga ribu lima ratus euro. Sementara paspor aspal rapi karya disainer terlatih kelas mata-mata, lebih dari tiga kali lipatnya. Jelas bukan barang KW. Sebab dengan paspor aspal itu, seseorang mampu melintasi benua dengan santainya. Saya lihat dari tadi paspor yang dibawa Lucija, ini bukan bikinan abal-abal. Sebab sempat tanpa sepengetahuannya, saya foto dengan kamera ponsel lalu mengirim ke teman untuk dianalisa. Hasilnya, kami kaget bahwa pemilik paspor asli itu ternyata berwajah tidak jauh beda dengan muka saya.</p>
<p>Disainer pemalsu terlatih (artinya bukan hanya mampu membuat cetakan kertas dan segel paspor/dokumen dengan baik, melainkan juga mampu melakukan riset mencuri dan menanamkan data) dapat bayaran mahal. Biasanya karena mereka melakukan riset sebelum membuat karya. Tidak sembarang orang dicuri identitasnya. Hanya mereka yang berwajah hampir mirip dan punya beberapa latar belakang yang hampir mirip. Disainer ini bekerja dalam tim. Jujur saja saya sendiri tidak perlu mau tahu siapa mereka dan apa yang telah dikerjakannya. Yang pasti, jika terlatih begini, pasti ada trainingnya. Dan siapapun otak yang membuat training itu, pasti bukan seseorang yang gemar menampilkan dirinya ke hadapan publik dengan senyum ceria. Mereka ini orang yang hidup dalam bayang-bayang. Dan entah kenapa, saya tidak pernah percaya pada mereka.</p>
<p>“Itu bukan pertanyaan yang perlu dijawab. Kamu seharusnya sudah bisa menebak kenapa saya datang pakai pesawat murah. Sebagaimana pertanyaan kamu mau pakai atau tidak? Seharusnya kamu bertanya, dari sini ke rumah Alban untuk berkemas, berapa lama? Kamu tahu ga, nanti malam rumah Alban di <em>sweeping</em>?”</p>
<p>Saya terperangah. Ia kenal Alban darimana? <em>Sweeping</em> apa? Apa maksudnya?</p>
<p>Gantian. Kini dia yang menatap lesu, “Identitas Agus kamu bocor. Ingat kasus Grenoble? Sekarang mereka balas dendam”</p>
<p>Saya menunduk. Menghela nafas dalam dan menghembuskannya panjang dan lama. Kalau identitas saya bocor, berarti ada ‘orang dalam’ yang terlibat. Kalau ada ‘orang dalam’ yang terlibat, berarti sebentar lagi identitas-identitas lainnnya bakal terbuka. Termasuk identitas orang-orang yang saya cintai.</p>
<p>Saya gemetar.</p>
<p>Para bajingan itu sekarang yang gantian memburu saya.</p>
<p>Dan tentu saja saya bukan Bang Pitung yang sendirian dengan goloknya mengobrak-abrik satu kampung dengan gagahnya. Saya cuma bangaip, jangankan gagah, golok saja nggak punya.</p>
<p>Ini tiba saatnya. Ketika letih dan bahaya mengintai dari ujung sudut. Ini saatnya. Pulang. Menuju hati yang dicintai. Saya harus kembali.</p>
<p>Beberapa jam kemudian setelah pamit pada Alban, saya sudah duduk samping jendela bangku pesawat menuju Roissy (penduduk kota Paris memanggil airport mereka yang sebenarnya bernama Charles de Gaulle dengan Roissy).</p>
<p>Disamping duduk perempuan cantik yang kelihatannya telah membuka besar-besar lubang celengannya hanya untuk menyelamatkan seorang lelaki dari Cilincing yang memiliki hobi yang aneh.</p>
<p>Saya genggam tangannya. “Kamu perempuan baik. Kenapa kamu melakukan ini?”</p>
<p>Dia menatap lama. Lalu bertanya, “Kamu cinta saya?”</p>
<p>Ahh saya tolol sekali. Betapa naifnya hati. Kenapa dari tadi tidak pernah menyangka bahwa akan ada pertanyaan ini. Orang apa yang mau melakukan perbuatan bodoh demi lainnya kalau bukan atas dasar cinta?</p>
<div id="attachment_1958" class="wp-caption alignnone" style="width: 610px"><img class="size-full wp-image-1958" alt="roissy airport" src="http://bangaip.org/wp-content/uploads/2012/12/430301_3748458908182_1597805870_n.jpg" width="600" height="800" /><p class="wp-caption-text">Dan saya meninggalkannya di sini. Saya bilang, &#8220;Kita pamit&#8221;, bukan &#8220;saya pamit&#8221; atau &#8220;kamu pamit&#8221;. Jalur hidup kami berbeda. Ia dibawah lampu sorot dan bergelimang cahaya dan perhatian mata laki-laki di seluruh dunia. Saya, dalam hidup sepi dan sunyi seperti petapa. Kami tak akan bisa bersama. — Aéroport Paris-Charles-de-Gaulle 2012.</p></div>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=3KmFnV9ARK4:gvqOLj_nle4:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=3KmFnV9ARK4:gvqOLj_nle4:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?i=3KmFnV9ARK4:gvqOLj_nle4:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=3KmFnV9ARK4:gvqOLj_nle4:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BangaipDotOrg/~4/3KmFnV9ARK4" height="1" width="1"/>]]></content:encoded><description>Istanbul dibagi menjadi dua bagian. Bagian barat dikenal sebagai kawasan bernama ‘Eropa’ dan bagian timur yang disebut dengan ‘Asia’. Pembelahnya adalah sungai besar bernama Bosphorus. Lucija akan datang hari ini. Setelah cerita kasus Harry, ia bilang bahwa ia sungguh khawatir &amp;#8230; &lt;a href="http://bangaip.org/2012/12/tentang-perburuan-wanita-sembilan-asia-dan-perpisahannya/"&gt;Continue reading &lt;span class="meta-nav"&gt;&amp;#8594;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;</description><wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://bangaip.org/2012/12/tentang-perburuan-wanita-sembilan-asia-dan-perpisahannya/feed/</wfw:commentRss><slash:comments xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/">4</slash:comments><feedburner:origLink>http://bangaip.org/2012/12/tentang-perburuan-wanita-sembilan-asia-dan-perpisahannya/</feedburner:origLink></item><item><title>Tentang Perburuan Wanita (Delapan – Gate of Felicity)</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/BangaipDotOrg/~3/uRl1dcxN5-o/</link><category>bangaip</category><category>sehari-hari</category><category>di jalan</category><category>manusia</category><dc:creator xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">bangaip</dc:creator><pubDate>Wed, 19 Dec 2012 06:22:46 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">http://bangaip.org/?p=1950</guid><content:encoded xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>Gerbang Kebahagiaan (Bâbüssaâde atau Gate of Felicity. Dapat diartikan pula sebagai gerbang perdamaian) adalah pintu masuk menuju peristirahatan sultan yang dikenal sebagai <em>Enderun</em>.</p>
<div id="attachment_1951" class="wp-caption alignnone" style="width: 540px"><img class="size-full wp-image-1951" alt="Gate of Felicity. Full credit to Daum as the original photographer" src="http://bangaip.org/wp-content/uploads/2012/12/babusaada_credit_to_daum.jpg" width="530" height="398" /><p class="wp-caption-text">Gate of Felicity. Full credit to Daum as the original photographer</p></div>
<p>Gerbang ini adalah terusan menuju daerah pribadi dan perumahan istana. Pintunya memiliki kubah yang didukung oleh pilar-pilar marmer. Tidak ada yang bisa melewati gerbang ini tanpa kewenangan Sultan. Bahkan pelaksana harian negara hanya diberikan otorisasi pada hari tertentu dan dalam kondisi tertentu. Bâbüssaâde adalah tempat dimana Sultan menikmati harinya tanpa merasa perlu diganggu oleh siapapun jua. Jika diluar ia harus menjelma menjadi sesuatu yang lain, maka disini.., ia berhak menjadi manusia.</p>
<p>Pintu gerbang itu mungkin dibangun di bawah Mehmed II pada abad ke-15. Didekorasi ulang dalam gaya Rococo pada tahun 1774 di bawah Sultan Mustafa III dan selama masa pemerintahan Mahmud II. Pintu gerbang dihiasi dengan ayat-ayat Al Qur&#8217;an di atas pintu masuk. Langit-langit sebagian dicat dan dihiasi daun-daun emas, dengan bola emas tergantung dari tengah. Selain Rococo, style arsitektur yang bisa ditemukan disini adalah Barok. Cukup unik, ini berarti ada pengaruh dari banyak belahan budaya dan geografis di rumah pribadi Sultan. Menandakan sultan-sultan Turki mengerti multi kultural dan memiliki kecerdasan budaya yang tinggi.</p>
<p>Istana ini berada di daerah Topkapi, Istanbul. Turki. Di dekat istana ini tinggal teman saya, Alban.</p>
<p>Beberapa hari lalu, dari kontak Lucija dan Alban (dua orang ini tidak saling mengenal, tapi anehnya kenal orang yang sama), saya dijadwalkan bertemu dengan seorang pelaku perdagangan manusia. Nama samarannya, Harry. Kami dijadwalkan bertemu di depan hotel tertentu.</p>
<p>Ini pertama kali saya berinteraksi dengan seorang pelaku pedagang manusia. Notes di saku sudah penuh berisi pertanyaan-pertanyaan yang akan dilemparkan. Tas sudah terisi dengan perlengkapan tempur semacam perekam, kamera dan komputer jinjing untuk segera mengedit. Saya yakin akan sukses.</p>
<p>Jadi malam itu, pukul sepuluh, saya berjalan pelan dari Topkapi menuju Fatih.</p>
<p>Fatih adalah salah satu pusat keramaian di Istanbul. Keramaian yang ada mirip dengan daerah Mangga Besar, Jakarta. Penuh dengan hotel bertarif dalam jam dan lokasi hiburan malam. Di jalan besar, saya lihat malam itu dipenuhi polisi yang merazia penumpang. Benar-benar mirip area slum Jakarta.</p>
<p>Setelah menunggu sekitar 10 menit Harry datang. Ia seorang pria dengan perawakan kecil. Setidaknya tidak lebih tinggi dari saya. Rambutnya lurus pendek agak coklat klimis disisir ke samping kiri. Sebagaimana tipe sisiran rambutnya, saya pikir ia kidal (menurut <a href="http://webcenters.netscape.compuserve.com/homerealestate/package.jsp?name=fte/hairswirls/hairswirls">penelitian sebuah institut di Maryland</a>, 95% orang yang putaran rambutnya searah putaran jarum jam adalah <em>right-handed</em>, dominan menggunakan tangan kanan ketika melakukan kegiatan. Informasi semacam ini umumnya sama sekali tidak berguna. Tapi sebentar lagi bisa diketahui bahwa <em>useless information</em> seperti ini, lagi-lagi, menyelamatkan nyawa saya)</p>
<p>Begitu bertemu Harry menjabat erat tangan saya lemah dengan senyum yang dipaksakan. Saya benci menilai manusia, tapi tatap matanya licik. Wajahnya sama sekali tidak memiliki kesan natural. Dan semakin menambah buruk suasana ketika ia bertanya, “Kamu mau perempuan apa? Kalau Georgia 300. Kalau turki 500. Dolar amerika yaa”</p>
<p>Saya termangu. Harry ini sungguh menyebalkan.</p>
<p>Namun dengan segera ia bercerita tentang ‘barang dagangannya’. Cerita yang membuat saya terpesona dan langsung mengeluarkan telepon genggam untuk merekamnya.</p>
<p>Kami bicara belum lama, hampir 15 menit. Namun kelihatannya saya makin jauh masuk ke lorong-lorong gelap yang panjang (*Oh ya, Istanbul ini terkenal dengan lorong-lorong perumahannya yang berliku*)</p>
<p>Terilhat tiga orang laki-laki berjalan dari ujung lorong. Harry berteriak dan melambaikan tangannya. Seakan seperti memanggil. Saya tanya siapa mereka Harry hanya menjawab pendek, “teman”</p>
<p>Disini, saya kembali betul-betul curiga. Bulu kuduk meremang. Saya tidak percaya tahayul, tapi saya percaya manusia punya intuisi. Saat ini intuisi menyuruh saya untuk menyelamatkan diri.</p>
<p>Tiga sosok laki-laki itu semakin mendekat.</p>
<p>Saya tanya Harry apakah ia punya kartu nama. Saya bilang saya harus pergi dan akan menelponnya esok saja. Ia menatap saya. Wajahnya curiga dan matanya jahat. Ia bilang, “Ada nih di dompet, sebentar saya ambil”</p>
<p>Ia, saya pikir kidal, dan sebagaimana orang kidal, mereka biasa menaruh dompet di saku yang gampang terjangkau; yaitu saku kiri. Namun Harry, tangan kirinya menggerayangi saku belakang kanan.</p>
<p>Sh*t!</p>
<p>Ada yang menerjang dari dalam tubuh saya. Meminta untuk lekas-lekas loncat dan berlari pergi sejauh mungkin.</p>
<p>Malam itu malam yang tolol. Semuanya saya bawa. Mulai dari laptop, mobile devices, kamera bahkan hingga paspor. Semuanya dalam satu tas. Buat saya, itu tindakan tolol. Dan saya melakukan ketololan malam itu.</p>
<p>Maka dengan segara dan walaupun penuh beban berat di ransel, saya seakan seperti terbang menuju jalan raya. Secepatnya berteriak-teriak seperti orang gila meminta tolong pada polisi yang sedang memerika para pengendara mobil yang melintas Oğuzhan Caddesi. Jalan raya yang membelah Fatih area.</p>
<div id="attachment_1952" class="wp-caption alignnone" style="width: 540px"><img class="size-full wp-image-1952" alt="X = lokasi kejadian" src="http://bangaip.org/wp-content/uploads/2012/12/Oguzhan_caddesi.jpg" width="530" height="352" /><p class="wp-caption-text">X = lokasi kejadian</p></div>
<p>Dua orang polisi mendekat, saya bilang kalau saya bertemu orang yang mencurigakan di lorong. Mereka ikut. Kami bertemu empat orang di lorong itu yang lari lintang pukang begitu bertemu polisi. Satu orang ditangkap polisi. Yang paling kecil. Dari saku kirinya ditemukan senjata genggam sejenis pistol.</p>
<p>Orang itu, Harry.</p>
<p>Saya pulang jalan kaki ke rumah Alban. Ia dokter bedah dan baru pulang dinas malam. Ketika bertemu dan selesai bercerita ia bilang, “Men, masa sih lo benar-benar harus lari untuk nyelametin your ass? Get a life, dude. Cari hobi lain!”</p>
<p>Saya diam. Sebab kemungkinan besar, ia benar.</p>
<p>Hidup semakin panas. Harus menyingkir sementara.</p>
<p>Tiba-tiba saya berfikir untuk sebentar pulang ke Indonesia. Tapi ahh&#8230; Masih ada beberapa tugas yang harus diselesaikan. Berfikir keras sekali, mungkin Alban benar. Saya harus mencari hidup baru.</p>
<p>Tapi apa dong?</p>
<p>Masak saya harus kawin lagi agar bisa dibilang &#8220;selamat menempuh hidup baru&#8221;</p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=uRl1dcxN5-o:Lwg0-1w-too:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=uRl1dcxN5-o:Lwg0-1w-too:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?i=uRl1dcxN5-o:Lwg0-1w-too:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=uRl1dcxN5-o:Lwg0-1w-too:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BangaipDotOrg/~4/uRl1dcxN5-o" height="1" width="1"/>]]></content:encoded><description>&amp;#160; Gerbang Kebahagiaan (Bâbüssaâde atau Gate of Felicity. Dapat diartikan pula sebagai gerbang perdamaian) adalah pintu masuk menuju peristirahatan sultan yang dikenal sebagai Enderun. Gerbang ini adalah terusan menuju daerah pribadi dan perumahan istana. Pintunya memiliki kubah yang didukung oleh &amp;#8230; &lt;a href="http://bangaip.org/2012/12/tentang-perburuan-wanita-delapan-gate-of-felicity/"&gt;Continue reading &lt;span class="meta-nav"&gt;&amp;#8594;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;</description><wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://bangaip.org/2012/12/tentang-perburuan-wanita-delapan-gate-of-felicity/feed/</wfw:commentRss><slash:comments xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/">1</slash:comments><feedburner:origLink>http://bangaip.org/2012/12/tentang-perburuan-wanita-delapan-gate-of-felicity/</feedburner:origLink></item><item><title>Tentang Selintasan Misteri Di Depan Mata</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/BangaipDotOrg/~3/y19zT0-MJxs/</link><category>bangaip</category><category>sehari-hari</category><category>makan siang</category><category>temennya bangaiptop</category><dc:creator xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">bangaip</dc:creator><pubDate>Thu, 01 Nov 2012 06:28:01 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">http://bangaip.org/?p=1909</guid><content:encoded xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><![CDATA[<p>(*Tulisan mengenai perdagangan manusia selanjutnya masih dalam proses pengeditan dan laporan. Capek juga menulis hasil riset. Hehe. Nanti kalau sudah selesai laporannya baru saya akan edit ulang untuk memudahkan dibaca dan dipublikasikan di blog ini. Sekarang ini mah sekedar tulisan iseng dibuat ketika makan siang di pabrik. Topiknya yaa tidak jauh-jauh dari sekitar makan siang. BTW, saya sehat-sehat saja. Terimakasih buat teman-teman yang bertanya. Hanya saja sibuk sekali sebab beberapa minggu ke depan untuk beberapa hari saya akan tiba di bumi Cilincing tercinta untuk keperluan khusus. Semoga kita bisa bertemu*)</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 230px"><img title="Berenice Marlohe" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/b/bb/Berenice_Marlohe_crop.jpg/220px-Berenice_Marlohe_crop.jpg" alt="Berenice Marlohe" width="220" height="233" /><p class="wp-caption-text">ini Bernice, salah seorang Bond Girl. Ia bukan bangaip girl. Kalo bangaip girl hobinya loncat-loncat dan umurnya masih 4 tahun. Kalau soal kecantikan, jelas cakepan bangaip girl lah. Jelas itu mah. Tak diragukan keasliannya.</p></div>
<p>Hari senin lalu, di ruang makan, teman-teman sekerja sedang bergosip. Kebetulan topik gosipnya kali ini adalah gadis Tuan Bond yang terbaru, Bérénice Marlohe.</p>
<p>Namanya gosip, digosok makin sip. Dan sebenarnya gosip ini bermula dari Kang Geri, rekan sekerja saya yang pada hari selasa esoknya diundang pemutaran film perdana James Bond terbaru di Berlin.</p>
<p>Jadi ceritanya, Kang Geri ini ternyata fans James Bond sejati dan sejak lama. Maklumlah, sebagai orang Inggris si Akang ini punya kedekatan emosional dong dengan James Bond. Nah, suatu hari Kang Geri menang sebuah undian. Dalam undian itu disebutkan bahwa Kang Geri bersama pasangannya berhak ikutan pemutaran film perdana yang dibintangi oleh aktor dan artis Hollywood itu.</p>
<p>Nah sialnya, istri Kang Geri ini ogah diajak ikut serta. Kata istrinya, lebih baik tidur bareng anak-anak mereka yang masih balita daripada harus begadang sampai larut malam hanya buat berpose sama Daniel Craig, pemeran James Bond saat ini.</p>
<p>Waktu Kang Geri merengut dan bertanya kenapa sang isteri tercinta tidak mau ikut-ikutan berdandan ala gala dinner dan berpose bagaikan Bond Girl istrinya hanya menjawab, &#8220;Geri, kamu teh edan. Itu mah si Daniel sama si cewe kan cuma bintang pelem. Bukan asli. Kalau poto sama james bond asli, baru saya teh mau&#8221;</p>
<p>Kang Geri tambah merengut, ini bagaimana coba? Masak minta ketemu James Bond asli dan diminta foto bareng istrinya? Memangnya agen rahasia kerjanya mirip selebriti? Doyan foto kanan kiri lalu sebar di sosial media? Memangnya intel melayu?</p>
<p>Jadilah Kang Geri siang itu berkeluh kesah pada kami, rekan kerjanya. Nah karena rekan kerjanya hampir semuanya perempuan (kecuali saya yang ternyata hingga kini masih berwujud laki-laki), maka hampir bisa dipastikan bahwa tidak ada seorangpun yang tertarik dengan keluh kesahnya. Dari sekian banyak manusia yang diajak menonton film perdana, akhirnya hanya Mbak Dian yang mau ikut. Itupun dengan iming-iming yang banyak sekali, yang kata Kang Geri, &#8220;Murahan ngajak istri, anak-anak, bahkan hingga keluarga mertuanya sekampung ketimbang ngajak Dian&#8221; (*Tapi ini harus. Sebab tidak bisa masuk premiere*)</p>
<p>James Bond itu buat lelaki. Kalau buat wanita mah, lebih baik kamu gosipin George Clooney. Kata Mbak Nina, rekan kerja yang lain. George Clooney sendiri adalah bintang film produksi Hollywood yang berusia paruh baya. Walaupun berumur, digemari oleh para wanita dari seluruh dunia.</p>
<p>Saya cengar-cengir sambil garuk-garukk kepala. Kang Geri membantah cepat, ia bilang, &#8220;Pemeran James Bond, Mister Daniel, itu kurang apa coba? Ganteng, tegap, gagah berbahu bidang, agak misterius, matanya tajam, kurang apa coba?&#8221;</p>
<p>&#8220;Nah itu kelirunya kamu, Ger. Iya memang, dia seperti apa yang kamu sebutkan, tapi apa iya perempuan mau sama yang seperti itu setiap hari? Perempuan itu maunya cowok yang hangat, tidak sok macho misterius ala James Bond kamu itu. Perempuan mau lelaki yang mendengarkan, bukan yang langsung beraksi dengan sepenuh otot. Percuma kalau ototnya segede kabel telpon kalau kupingnya budek. Lelaki kami nggak perlu gagah perkasa, sebab dengan hanya menjadi lelaki saja ia sudah cukup perkasa. Ga perlu lah ia jago beladiri, selama bisa menafkahi dirinya dan dan berguna buat saya dan keluarga, itu jauh lebih penting daripada ia jadi jagoan kungfu&#8221;</p>
<p>Saya menganga dengan rahang yang hampir jatuh ke tanah.</p>
<p>Jikalau ketampanan itu adalah relatifitas, jadi ini toh kenapa George Clooney yang tua bangkotan dan bodinya biasa-biasa saja bisa jadi idola wanita. Lelaki walaupun terlihat biasa namun bila hangat, peduli dan murah senyum, ternyata bisa jadi idola perempuan.</p>
<p>Besoknya ketika Kang Geri dan Mbak Dian pergi ke Berlin untuk melihat pemutaran perdana Skyfall, saya kembali duduk makan siang bersama rekan kerja yang lain. Mbak Nina menatap wajah saya dengan seksama. Mirip anak SD yang sedang baca pembukaan Undang-Undang Dasar 45.</p>
<p>&#8220;Kamu nggak klimis hari ini. Tumben ada kumis dan jenggot&#8221;</p>
<p>Sambil senyum malu-malu saya menjawab, &#8220;Biar mirip Jos Kluni, Mbak&#8221;</p>
<p>Dia melengos, &#8220;Halah, ga usah dimirip-miripi, kamu yaa kamu, bukan George Clooney&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi saya juga kepengen jadi idola wanita. Klimis kayak james Bond nggak mungkin bikin saya jadi idola&#8221;</p>
<p>&#8220;Idola itu banyak macamnya. Ada lelaki yang jadi idola sehari-hari. Tapi ada juga jenis laki-laki yang lain&#8221;</p>
<p>Saya bengong, &#8220;Maksudnya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Yaa kami juga punya idola yang jadi fantasi sekali-kali&#8221;</p>
<p>&#8220;Maksudnya&#8230;?&#8221; Sambil garuk-garuk kepala saya tanya berbisik, &#8220;Maksudnya? Di&#8230;? Err, begituan&#8230;? Eh, maksud saya&#8230; Yaa&#8230; Err, begituan? Yaa begitu deh&#8221;</p>
<p>Mbak Nina sambil senyum mengupas jeruknya. Menjawab santai berkata, &#8220;Memangnya hanya kalian laki-laki saja yang punya fantasi liar. Kami juga punya dong!&#8221;</p>
<p>Kembali saya menganga dengan rahang yang hampir jatuh ke tanah.</p>
<p>Kelihatannya tidak perlu jauh-jauh meneliti angkasa atau menelaah gulita malam. Sebab manusia, yang setiap hari ada dihadapan kita, ternyata jauh lebih penuh dengan misteri-misteri didalamnya.</p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=y19zT0-MJxs:0pxPRtsF_fw:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=y19zT0-MJxs:0pxPRtsF_fw:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?i=y19zT0-MJxs:0pxPRtsF_fw:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=y19zT0-MJxs:0pxPRtsF_fw:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BangaipDotOrg/~4/y19zT0-MJxs" height="1" width="1"/>]]></content:encoded><description>(*Tulisan mengenai perdagangan manusia selanjutnya masih dalam proses pengeditan dan laporan. Capek juga menulis hasil riset. Hehe. Nanti kalau sudah selesai laporannya baru saya akan edit ulang untuk memudahkan dibaca dan dipublikasikan di blog ini. Sekarang ini mah sekedar tulisan &amp;#8230; &lt;a href="http://bangaip.org/2012/11/tentang-selintasan-misteri-di-depan-mata/"&gt;Continue reading &lt;span class="meta-nav"&gt;&amp;#8594;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;</description><wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://bangaip.org/2012/11/tentang-selintasan-misteri-di-depan-mata/feed/</wfw:commentRss><slash:comments xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/">3</slash:comments><feedburner:origLink>http://bangaip.org/2012/11/tentang-selintasan-misteri-di-depan-mata/</feedburner:origLink></item><item><title>Tentang Perburuan Wanita (Tujuh – Eˈdiɾne)</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/BangaipDotOrg/~3/uolBI58Voks/</link><category>bangaip</category><category>sehari-hari</category><category>di jalan</category><category>manusia</category><dc:creator xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">bangaip</dc:creator><pubDate>Tue, 18 Sep 2012 17:00:51 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">http://bangaip.org/?p=1754</guid><content:encoded xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><![CDATA[<p>Pak Juki, pengganti Pak Ali, memanggil. Siang itu panas di bulan Juni. Matahari di luar pabrik memancar berwibawa. Ia berdehem memulai, “Bos saya pergi. Ia benar-benar pergi. Tidak akan kembali. Pekerjaan saya menumpuk. Saya meminta kamu untuk mewakili kita. Kamu ada waktu?”</p>
<p>Saya garuk-garuk kepala. Namanya buruh kecil, yaa kalau diminta mandor untuk bekerja, mau apa lagi selain menurut? “Ada beberapa prioritas yang butuh saya tangani&#8230;”</p>
<p>Ia memotong, “Bisa dikerjakan <em>remote</em>?”</p>
<p>Saya mengangguk. Ia menukas cepat, “Ya sudah, kamu minggu depan <em>abroad</em>. Ada pekerjaan kita disana yang butuh panduan. Saya tidak bisa mengirim Anna. Ia dibutuhkan sekali disini. Kamu bisa ke Istanbul dan Amman?”</p>
<p>Bengong, sebab ini artinya sudah serius. Saya sudah sering meminta agar tidak banyak pergi ke luar negeri. Sebab punya anak. Selama ini dituruti. Tapi ini kelihatannya serius. Maka itu saya mengangguk pelan, “Berapa lama, Pak?”</p>
<p>“Sampai beres. Setelah itu kamu dapat lima hari cuti tambahan. Kerjakan semua prioritas secara <em>remote</em>. Kamu dapat semua akses. Kalau ada apa-apa bereskan sendiri. Tapi laporan harus masuk ke saya <em>direct</em>. Bisa?”</p>
<p>Saya tahu itu pertanyaan retoris. Bukan opsi untuk menjawabnya selain iya. Tapi jantung saya berdegup kencang. Istanbul itu di Turki. Ada kontak dari Lucija di sana. Saya bisa terus riset sambil bekerja. Jadilah saya mengangguk sebagai jawabannya.</p>
<p>Dan pesawat ini seminggu kemudian sampai di bandara Attaturk. Sebagai WNI saya tidak perlu minta visa sebelumnya. Sebab sudah ada Visa on Arrival (VOA) untuk pemegang paspor hijau. Hanya perlu membayar 15 euro bayar uang pas untuk kunjungan satu bulan. Kelihatan sekali jika petugas duane jarang melihat WNI masuk sini ketika malam hari. Ahh memang saya berpaspor RI tapi kan bukan berarti saya harus tiba dari Indonesia.</p>
<p>Mereka memeriksa paspor saya lama. Itu paspor bulan Januari 2013 sudah akan habis masa berlakunya. Ia menyarankan agar saya langsung memperpanjang masa berlaku jika kembali. Saya setuju. Enam bulan itu biasanya batas minimal paspor untuk masuk perbatasan negara lain.</p>
<p>Beberapa hari kemudian pekerjaan saya selesai. Ada waktu libur. Ini saatnya riset.</p>
<p>Kontak Lucija memungkinkan saya mengetahui titik-titik lokasi perdagangan manusia. Yang pertama adalah Edirne, sebuah kota perbatasan antara Turki dengan Bulgaria. Kota kecil yang terkenal dengan Masjid Sulemaniye. Arsitektur yang didirikan megah pada masa Ottoman.</p>
<p><strong>Edirne, Juni 2012</strong></p>
<p>Kami sudah duduk sekitar 15 menit di taman samping mesjid bernama Selemiye Camii yang diarsiteki Koca Mi&#8217;mâr Sinân Âğâ, salah satu arsitek hebat yang pernah dimiliki oleh umat manusia.</p>
<div id="attachment_1758" class="wp-caption alignnone" style="width: 487px"><img class="size-full wp-image-1758" title="Selimiye" src="http://bangaip.org/wp-content/uploads/2012/09/sulemaniye.jpg" alt="" width="477" height="720" /><p class="wp-caption-text">Masjid Selimiye di Edirne. Depan masjid ini ada ibu-ibu tua penjual remah roti. Kami bingung, kenapa ia tidak menjual roti biasa, kenapa remah-remahnya? Ternyata remah-remah itu dijual untuk diberikan pada burung-burung dara yang banyak berkeliaran santai di taman masjid. Pakaian ibu itu terlihat lusuh. Saya menyesal tidak membeli remah roti darinya dan lalu memberikan pada burung. Ia perempuan tua yang walau tak terlihat kaya namun bangga dan bekerja keras untuk hidup. Semestinya dibantu. Dan memberi makan burung, bukankah itu baik? Ahh penyesalan selalu telat&#8230;</p></div>
<p>Ia duduk di samping saya, menatap anak-anak balita berambut coklat panjang atau pirang yang bermain ayunan di taman ini. Bertanya, “apa yang bisa saya bantu?”</p>
<p>Saya hanya menatapnya muram. Ia tahu sekarang dan tidak marah, syukurlah. Tadi malam kami memang berniat pergi ke Edirne untuk darmawisata. Ia sebelumnya sama sekali tidak tahu bahwa saya menggunakan perjalanan ini sebagai bagian dari riset perdagangan manusia.</p>
<p>“Kamu bisa memulai dari daerah kamu”, jawab saya setelah tahu ia tertarik.</p>
<p>“Maksud kamu?”</p>
<p>“Baca banyak sumber, terutama soal kejahatan terorganisir internasional yang melibatkan perempuan muda. Mulai dari UNODC bagian PBB yang mengkhususkan diri ke kejahatan dan Narkoba hingga website ungift.org. Baca laporan mereka. Terus buka internet, pasti di daerah kamu banyak organisasi yang sudah membantu korban perdagangan manusia. Kamu bisa mulai dari sana”</p>
<p>Saya sengaja bilang perempuan muda. Walaupun saya tahu, bukan hanya perempuan muda yang diperdagangkan. Sebab berdasarkan data UNODC, banyak juga bocah lelaki yang ikut diperdagangkan dalam dunia kelam ini. Namun perempuan muda adalah komoditas yang paling banyak.</p>
<p>Soal perempuan muda adalah komoditas. Di daerah Puncak, Jakarta, terkenal dengan istilah kawin kontrak. Lelaki dari negara-negara asing, kebanyakan dari beberapa negara tertentu di Timur Tengah, menikah dengan perempuan muda di daerah Puncak ini. Disebut kontrak sebab mereka menikah berdasarkan kesepakatan dalam tempo waktu tertentu saja. Misalnya menikah untuk 3 bulan selama si lelaki berdinas atau berlibur di Indonesia. Setelah masa kerja atau libur usai, mereka pun bercerai.</p>
<p>Walaupun agak aneh, saya sebenarnya tidak peduli mengenai kawin kontrak. Itu bukan urusan saya. Namun menjadi polemik dan mulai menoleh ke sana, ketika gadis-gadis yang terlibat ternyata dipaksa oleh orang tua mereka. Umumnya karena alasan ‘desakan ekonomi’. Alasan yang katanya menghalalkan siapa saja berbuat apa saja.</p>
<p>Kawin kontrak di daerah Puncak bersamaan munculnya dengan menjamurnya lokasi prostitusi tak resmi di daerah tersebut sejak awal tahun 90-an. Masa itu, bahkan parahnya warga lokal hingga mampu memiliki perbendaharaan bahasa baru penamaan subjek dengan sebutan ‘Bondon Abege’.</p>
<p>Bondon adalah sebutan untuk para gadis penjaja tubuh dan Abege akronim dari ABG, Anak Baru Gede. Usia antara 11-16 tahun, gadis-gadis ini sudah dipaksa orangtuanya untuk melayani lelaki dewasa yang mampu membayar mereka untuk beberapa bulan. Setelah kawin kontrak usai, si bocah ingusan ini dijajakan pada siapa saja yang mampu membayar mereka semalam. Atau si Bondon Abege yang sudah merasa dirinya ‘tak suci lagi’, kabur. Dan sebagaimana cerita klise lainnya, sialnya lagi-lagi terjebak prostitusi paksaan.</p>
<p>Modusnya selalu begitu, si bocah yang mungkin belum pernah merasakan menstruasi ini dijual kepada lelaki pelaku kawin kontrak. Keperawanan bocah pada masa itu mampu ditukar dengan uang dua juta rupiah. Si bapak (atau ibu) sang bocah, menerima uang dua juta sebagai uang muka ketika si anak ‘diboyong’ menuju rumah barunya (biasanya villa sewa). Dengan catatan, bahwa si bocah masih perawan. Setelah si turis selangkangan ini menikmati tubuh anak kecil dan yakin dengan keperawanannya, ia menjadikan bocah ini sebagai budak seksual dan juga budak sebenarnya. Bukan hanya sebagai pemuas nafsu, melainkan juga sebagai tukang cuci piring, tukang masak, tukang kebun, tukang setrika dan tukang-tukang lainnya. Dalam proses ini, si bocah tidak menerima uang sepeser apapun. Semua uang yang masuk langsung diterima oleh ayah (atau ibunya). Di akhir kontrak, si bocah baru menerima balas jasa berupa beberapa potong baju baru sebagai ‘hadiah’.</p>
<p>Saat ini, kawin kontrak sudah berbeda modus dan jumlah rupiah yang terlibat. Namun masih belum jauh-jauh dari konteks perdagangan manusia yang dilegalkan. Bogor, Indonesia, terkenal (<em>infamously</em>) sebagai salah satu rute perdagangan manusia bertipikal kawin kontrak ini.</p>
<p>Setelah cerita begitu ia bertanya, “Mana mungkin ada di daerah saya?”</p>
<p>Beliau di depan saya adalah dokter sekaligus wanita muda. Profesional di bidangnya. Hobinya jalan-jalan. Pendapatannya yang lebih dari cukup, membuatnya bisa memfasilitasi hobi ini. Ia pikir hidupnya sungguh berisi petualangan. Romantika yang menggelinding dari satu jalan ke jalan yang lainnya. Dan romantisme itu berakhir ketika kembali ke Taipei, kampung halamannya sana. Untuk bertugas menjadi dokter pelayan masyarakat.</p>
<p>Kami bertemu tadi malam di rumah seorang sahabat di Istanbul. Teman saya namanya Aban. Teman dia namanya Lombard. Aban dan Lombard itu sahabat akrab dan tinggal di apartemen yang sama. Jadi ketika Aban dan Lombard sama-sama sibuk, mereka dengan santainya meninggalkan si dokter ini kepada saya.</p>
<p>Si dokter muda ini, suka jalan-jalan. Tadi malam mengajak saya ke lokasi wisata di beberapa pelosok Turki. Hampir semuanya saya tolak. Kecuali Edirne di bagian barat. Saya tidak bilang saya disana karena riset. Apalagi bilang bahwa saya akan menyeberang sebentar ke Bulgaria. Tidak. Sama sekali tidak. Maka itu, sekarang saya cerita. Lebih baik sekarang. Sebab beberapa jam lagi saya sudah harus ada di bis menuju Haskovo. Salah satu kota perbatasan yang disinyalir jadi pusat lalu lintas perdagangan manusia di Bulgaria.</p>
<p>Ia lebih suka di jalan. Katanya, bisa jadi diri sendiri. Saya bertanya dalam hati; Memangnya kalau di rumah tidak bisa jadi diri sendiri?</p>
<p>Saya pikir, ia hanya seorang perempuan muda yang bosan. Dan mencoba untuk membunuh rasa bosannya.</p>
<p>Tapi mengapa tidak? Mari kita bunuh bosannya. Membuat wanita menangis itu dosa. Namun membuatnya bosan, itu neraka.</p>
<div id="attachment_1759" class="wp-caption alignnone" style="width: 730px"><a href="http://bangaip.org/wp-content/uploads/2012/09/sudut_kota.jpg"><img class="size-full wp-image-1759" title="sudut kota Edirne" src="http://bangaip.org/wp-content/uploads/2012/09/sudut_kota.jpg" alt="" width="720" height="477" /></a><p class="wp-caption-text">Salah satu sudut kota edirne. Diambil dari warung yang menjual Ayran, yogurt cair sedikit asin. Biasanya diminum sebagai pengantar makan. Sebab makanan kota ini cukup pedas. Agak mirip makanan di Indonesia. Walaupun jelas beda rasa.</p></div>
<p>Jadi di sudut kota, kami mulai mencari wanita bernama Fatma. Dari beberapa kontak, Fatma wanita separuh baya ini mengetahui seluk beluk titik perdagangan perempuan dari Bulgaria. Dibawa ke Turki melalui jalan darat dan paspor palsu.</p>
<p>Lalu di bawa kemana?</p>
<p>Fatma menggeleng menjawabnya. Bahkan ketika uang 100 lira dilambaikan depan matanya, ia tetap menggeleng. (*Pada kejadian ini berlangsung, 100 Turkish Lira kira-kira sama dengan Rp 530K*)</p>
<p>Setelah beberapa lembar ratusan lira berpindah tangan ia cerita bahwa ia bertugas sebagai ‘pembantu bayi’. Istilah yang timbul karena tugas Fatma adalah membantu para pelaku pedagang manusia mengantarkan perempuan-perempuan muda yang hamil diperkosa menuju tempat aborsi. Sebuah tempat yang kelihatan sebagai klinik kesehatan biasa, namun sebenarnya beroperasi sebagai tempat aborsi. Ia membawa gadis-gadis itu ke sana dan lalu pulangnya merawat mereka di lokasi khusus untuk beberapa hari. Sebelum akhirnya para perempuan malang itu ditransfer ke Irak atau Israel. Tergantung daerah tujuan.</p>
<p>Klinik aborsi, menurut ceritanya beroprasi sebagai klinik kesehatan biasa pada umumnya. Namun sebenarnya, klinik ini didirikan oleh geng sindikat para pedagang manusia. Para biadab itu, aslinya juga manusia. Bisa luka kalau tertembak peluru geng sindikat lawan. Mereka tidak bisa pergi serta merta ke rumah sakit. Sebab tentu saja dokter curiga kamu datang penuh luka tembak. Maka daripada dicurigai rumah sakit, kenapa tidak membuat rumah sakit sendiri?</p>
<p>Klinik-klinik kesehatan ini kecil. Bukan tipikal rumah sakit besar. Namun berisi dokter yang bisa bekerja sama. Nah karena tidak semua orang bisa bekerja sama, maka tidak banyaklah klinik ini berdiri.</p>
<p>Klinik kesehatan ini memiliki banyak fungsi. Namun tetap dibagi dalam klasifikasi khusus. Jika ada anggota gang sindikat yang butuh transfusi darah atau operasi khusus, mereka akan datang ke klinik khusus. Namun umumnya, klinik ini berfungsi sebagai tempat aborsi. Bagi para perempuan yang diperkosa dan dijadikan budak seksual. Ketika mereka harus menghilangkan janin benih pemerkosanya, maka klinik-klinik inilah yang jadi jawabannya.</p>
<p>Kata Fatma dengan bangga, paling lama tiga hari. Maksudnya, tiga hari setelah aborsi, para perempuan muda malang itu sudah kembali harus mengangkang melayani tamu-tamu majikannya.</p>
<p>Tangan saya gemetar menahan emosi.</p>
<p>Uang saya habis. Fatma bungkan ketika ditanya lokasi klinik itu berada.</p>
<p>Saat itu terdengar roda kendaraan roda empat mencicit berhenti depan rumah. Saya melirik ke jendela, berbisik kepada dokter muda yang kelihatannya mual mendengar cerita betapa Fatma terlibat dalam kejahatan ini, “Ada dua orang turun dari mobil, saya lihat wajahnya tidak terlalu ramah”</p>
<p>Si dokter menatap saya senyum, “Kamu takut?”</p>
<p>Ahh, rupanya ia kecanduan adrenalin sore itu. Bosannya hilang dan ia tidak ingin pergi dari lingkungan ini. Saya tidak senyum menjawabnya, “Iya saya takut. Saya punya anak. Iya saya takut, saya yang ajak kamu ke sini. Iya saya takut, peluru pada pistol di sela jaket sopir itu, membolongi jidat kita”</p>
<p>Si dokter membelalak. (*Saya bosan melihat orang membelalak. Entah kenapa saya selalu bertemu orang yang begini. Sok berani menghadapi semua marabahaya tapi begitu di depan realita, takutnya setengah mati*)</p>
<p>Kami tidak tahu siapa mereka yang datang tergesa-gesa ke rumah Fatma. Kami tidak tahu dan tidak mau tahu. Yang pasti, tidak ada salah satupun dari kami yang kebal peluru. Gagang pistol yang menyembul di sela jaket mereka sudah cukup membuat kami secepat-cepatnya pergi melalui pintu belakang. Masuk ke dalam keramaian pasar, menyelinap di belantara turis. Lalu pergi meninggalkan kota ini.</p>
<p>Sore itu, nyawa selembar ini rupanya masih bisa diselamatkan dalam genggaman.</p>
<p>Entah besok. Entah lusa.</p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=uolBI58Voks:-F4u5cN1k68:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=uolBI58Voks:-F4u5cN1k68:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?i=uolBI58Voks:-F4u5cN1k68:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=uolBI58Voks:-F4u5cN1k68:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BangaipDotOrg/~4/uolBI58Voks" height="1" width="1"/>]]></content:encoded><description>Pak Juki, pengganti Pak Ali, memanggil. Siang itu panas di bulan Juni. Matahari di luar pabrik memancar berwibawa. Ia berdehem memulai, “Bos saya pergi. Ia benar-benar pergi. Tidak akan kembali. Pekerjaan saya menumpuk. Saya meminta kamu untuk mewakili kita. Kamu &amp;#8230; &lt;a href="http://bangaip.org/2012/09/tentang-perburuan-wanita-enam-e%cb%88di%c9%bene/"&gt;Continue reading &lt;span class="meta-nav"&gt;&amp;#8594;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;</description><wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://bangaip.org/2012/09/tentang-perburuan-wanita-enam-e%cb%88di%c9%bene/feed/</wfw:commentRss><slash:comments xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/">2</slash:comments><feedburner:origLink>http://bangaip.org/2012/09/tentang-perburuan-wanita-enam-e%cb%88di%c9%bene/</feedburner:origLink></item><item><title>Tentang Perburuan Wanita (Enam – Nothing Else Matter)</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/BangaipDotOrg/~3/ARl8wFjDzcs/</link><category>bangaip</category><category>sehari-hari</category><category>di jalan</category><category>manusia</category><category>temennya bangaiptop</category><dc:creator xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">bangaip</dc:creator><pubDate>Mon, 17 Sep 2012 02:03:36 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">http://bangaip.org/?p=1729</guid><content:encoded xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><![CDATA[<p><strong>April 2012</strong></p>
<p>Amsterdam masih dingin. Setidaknya dibandingkan Jakarta. Saya kembali ke kota dingin ini, untuk urusan pekerjaan. </p>
<p>Ada SMS masuk. Ajakan makan malam.</p>
<p>Jadilah malam itu saya makan bersama Lucija. Di sebuah restoran vegan favorit. Murah, meriah, enak dan pemiliknya bersahabat.</p>
<p>Kami duduk di hadapan meja kecil bundar yang menghidangkan tapas vegetarian. Meja itu sedemikian kecil sehingga Lucija dapat menggenggam tangan sambil menatap bertanya, “Kenapa kamu tidak mau menikahi saya?”</p>
<p>Itu air minum masih ada di mulut dan saya sumpah mati tersedak ketika mendengar pertanyaannya. Saya mau jawab, “<em>You know</em>, kita bisa cari lain waktu untuk bicara&#8221;. Sialnya, ini bukan pertanyaan beliau yang pertama. Tapi oke lah, mungkin kamu bisa ngobrol sekarang. Tapi bilang apa?</p>
<p>Saya garuk-garuk kepala sambil cengar-cengir. Mau apa lagi coba? Itu satu-satunya cara yang saya punya ketika mendengar pertanyaan ajaib. Dan pertanyaan seperti ini, ahh jelas bukan pertanyaan biasa.</p>
<p>Ia menatap tajam, “Kenapa kamu ga jawab. Toh saya sudah nggak di prostitusi lagi” </p>
<p>Saya diam. Ia benar. Ia sudah berhenti jadi pelacur profesional. Kini ia adalah aktris. Pemain film. Khususnya, film dewasa.</p>
<p>Bingung mau jawab apa. Kalau teman saya Odoy, kalau adik saya Gugun, kalau rekan kerja saya Toni, ditanya dengan pertanyaan seperti ini. Apa jawaban mereka? Serius, saya mau tahu. </p>
<p>Ia bilang, akan meninggalkan semuanya demi saya. “Saya akan menjadi perempuan terbaik untuk kamu”</p>
<p>Saya diam. Matanya, ahh sorot itu meminta jawaban. Ia akan jadi semuanya untuk saya. Semuanya? Dalam dunianya saat ini, ia adalah bulan atas riak ombak. Ia adalah bintang di atas gelombang. Meninggalkan semuanya? Untuk apa? Untuk saya? Untuk jadi segala apa yang saya inginkan? Untuk apa? Supaya saya bahagia? Gimana dia bisa bahagia kalau kebahagiannya hanya bersandar pada saya?</p>
<p>Dalam diam saya bertanya-tanya dalam hati. Apa yang diinginkan Lucija dari saya?</p>
<p>Setelah lama diam, saya jawab “Saya tidak bisa. Saya punya banyak tanggungan. Hidup saya sepi. Sunyi. Kamu hidup dipuja oleh para mata-mata lelaki. Kamu terbiasa dalam gemilang lampu sorot. Saya bukan laki-laki itu. Saya cuma seorang bapak-bapak biasa yang mencintai putrinya setengah mati. Buruh kecil dengan penghasilan pas-pasan yang hanya cukup untuk bayar tagihan bulanan. Apa yang kamu mau harapkan dari saya? Saya tidak mampu membiayai hidup kamu dan membiayai hidup kita berdua. Jangan bilang, cinta akan membayar semuanya. Kamu jauh lebih tahu dari saya bahwa itu tidak benar. Saya ga mungkin beri kamu harapan palsu”</p>
<p>Malam itu, ketika kami pulang, ia terisak di tengah jalan. Saya rangkuh pundaknya dan bilang minta maaf jika saya menyakitinya. Ia bilang saya tidak memberinya duka, tapi egonya memang terluka. Selama ini, ia berjuang. Dari diperlakukan sampah oleh para lelaki, hingga mereka berbalik memujanya. Semua lelaki berniat menjamahnya, melumatnya dan rela melakukan apapun untuknkya. Namun, ia tidak pernah membuka diri. </p>
<p>Dan ketika membuka diri, ada pintu diseberang sana yang tertutup.</p>
<p>“Saya merasa tertolak. Rasanya sedih sekali”</p>
<div id="attachment_1736" class="wp-caption alignnone" style="width: 610px"><a href="http://bangaip.org/wp-content/uploads/2012/09/kanal_kota.jpg"><img src="http://bangaip.org/wp-content/uploads/2012/09/kanal_kota.jpg" alt="kanal kota amsterdam dari arah amstel station" title="kanal kota" width="600" height="416" class="size-full wp-image-1736" /></a><p class="wp-caption-text">Jordaan terkenal sebagai tempat teromantis se-Amsterdam bagi pasangan. Umumnya mereka berjalan menyusuri kanal ketika matahari mulai tenggelam. Makan malam di cafe pinggir kanal sambil menikmati kapal-kapal kecil lalu lalang menyusuri kanal. Umumnya mereka yang memiliki rumah di sekitar sini memarkirkan mobil tepat seberang jalan, dan kapalnya langsung di kanal.</p></div>
<p>Angin musim panas berhembus diantara kanal-kanal Jordaan. Temaram lampu jalan dan pantulannya di atas air menerangi wajahnya. Ada airmata bergulir disana.</p>
<p>Saya tidak punya konsep dosa. Tapi malam itu, saya pikir bahwa dosa adalah membuat wanita mengalirkan air mata.</p>
<p>Saya bukan fans berat kisah cinta dua orang dewasa yang sadar akan jalan hidup mereka. Sebab biasanya gombal. Tidak semua gombal melenakan, tapi kisah cinta yang melibatkan lebih dari satu (atau dua) dewasa, umumnya gombal dan membosankan. Dan pasti lebih gombal dan membosankan lagi jika saya terlibat di dalamnya. Jadi mungkin lebih baik menyingkir dengan segera.</p>
<p>Sebelum menunggu trem untuk pulang ia memberi secarik kertas. “Ini kontak saya di Turki. Seorang polisi yang dulu pernah jadi client saya. Saya sudah bilang soal kamu dan janji mau bantu. Saya akan ada di sana dalam beberapa hari. Mungkin kita bisa bertemu”</p>
<p>Malam itu kami berpisah. Ketika pintu trem tertutup, ia masih menunggu di luar sana. Malam tak mampu menyembunyikan masih air matanya.</p>
<p>Saya gelisah. Tak mampu menghalau semua cerita yang terjadi malam ini. Lalu berjalan pelan menyusuri kanal menuju Bilderdijkkade. Disana tinggal Otti, sahabat saya yang berasal dari Hungaria.</p>
<p>Otti ada di rumah. Sedang memainkan gitar lagu-lagu Metallica kegemarannya. Setelah memainkan dan menyanyikan bersama hymne suci Nothing Else Matter, saya cerita tentang Lucija.</p>
<p>Setelah cerita selesai ia bertanya, “Kamu tidak mau sama dia karena dia bekas pelacur? Atau gara-gara ia artis dan bekerja dalam film dewasa?”</p>
<p>Saya menggeleng, “Bukan semua itu. Saya hanya khawatir tidak bisa mengatur hidup jika bersamanya”</p>
<p>“Setiap orang punya jalan hidup masing-masing. Kenapa kamu takut tidak bisa menerimanya?”</p>
<p>Saya diam. Mungkin Otti benar. Saya takut tidak bisa menerima Lucija. Saya takut jika saya cemburu dengan masa lalunya. Atau cemburu dengan jalan hidup yang dipilihnya saat ini. Mungkin ia benar, saya hipokrit. Bisa dengan seluruh jiwa menerima kenyataan hidup objek penelitian, namun tidak bisa hidup dengan total dengan kenyataan tersebut. Ternyata masih ada jarak di sini.</p>
<p>Atau mungkin, ini hidup saya?</p>
<p>Dalam lirih saya menggumam, “&#8230; hidup ini aneh”</p>
<p>Otti sambil terus memetik gitar membalas, “Hidup nggak aneh. Kita aja yang bikin aneh. Kalau kamu nggak percaya ama diri kamu sendiri, siapa lagi yang kamu percayai?”</p>
<p>Malam semakin larut. Metallica mengalun di udara. Saya pikir saya harus melupakan Lucija.</p>
<p>Tapi apa bisa? Ia manusia. Ia memang bagian dari riset, dalam bahasa sederhana; objek. Tapi ia, tetap manusia. </p>
<p><em>So close no matter how far<br />
Couldn&#8217;t be much more from the heart<br />
Forever trusting who we are<br />
And nothing else matters</em><br />
<strong>(Nothing Else Matters &#8211; Hetfield/Ulrich 1992)</strong></p>
<p>(*Dalam penelitian ini, dipakai pendekatan ilmiah pengembangan kognitif Piaget. Dimana menurut Piaget, objek adalah objek. Meski tidak bisa dilihat, didengar bahkan hingga disentuh. Objek harus dipahami dan dikembangkan berdasarkan fundamental pemahaman ini. Pengembangan kognitif Piaget biasanya dipakai dalam memahami bayi dan binatang. Saya tahu, para pelaku ini bukan bayi juga bukan binatang, namun para pelaku perdagangan manusia hidup dalam dunia yang berbeda dengan dunia manusia biasa. Cara ini, saya pikir cukup efektif dalam memahami dan menjelaskan dunia mereka. Tapi apa iya saya pahami? Jika iya saya paham, mengapa malam ini saya merasa tersesat? Ia manusia, saya juga manusia. Ahh, di pengembaraan negeri asing ini pada pintu siapa hendak mengetuk? Malam ini, saya pikir saya hilang bentuk*)</p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=ARl8wFjDzcs:HjCkqAAELns:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=ARl8wFjDzcs:HjCkqAAELns:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?i=ARl8wFjDzcs:HjCkqAAELns:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=ARl8wFjDzcs:HjCkqAAELns:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BangaipDotOrg/~4/ARl8wFjDzcs" height="1" width="1"/>]]></content:encoded><description>April 2012 Amsterdam masih dingin. Setidaknya dibandingkan Jakarta. Saya kembali ke kota dingin ini, untuk urusan pekerjaan. Ada SMS masuk. Ajakan makan malam. Jadilah malam itu saya makan bersama Lucija. Di sebuah restoran vegan favorit. Murah, meriah, enak dan pemiliknya &amp;#8230; &lt;a href="http://bangaip.org/2012/09/tentang-perburuan-wanita-enam-nothing-else-matter/"&gt;Continue reading &lt;span class="meta-nav"&gt;&amp;#8594;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;</description><wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://bangaip.org/2012/09/tentang-perburuan-wanita-enam-nothing-else-matter/feed/</wfw:commentRss><slash:comments xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/">2</slash:comments><feedburner:origLink>http://bangaip.org/2012/09/tentang-perburuan-wanita-enam-nothing-else-matter/</feedburner:origLink></item><item><title>Tentang Perburuan Wanita (Lima – Nanas)</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/BangaipDotOrg/~3/ki7uAWwBeP0/</link><category>bangaip</category><category>sehari-hari</category><category>di jalan</category><category>manusia</category><dc:creator xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">bangaip</dc:creator><pubDate>Wed, 12 Sep 2012 01:00:53 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">http://bangaip.org/?p=1708</guid><content:encoded xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><![CDATA[<p>(*<em>Beberapa pelaku informasi yang ada dalam seluruh tulisan Tentang Perburuan Wanita bukanlah nama sebenarnya dan tidak bertujuan untuk merepresentasikan institusi/negara/korporasi sebenarnya. Beberapa informasi, termasuk foto atau gambar, kali ini tidak ditampilkan secara menyeluruh atas alasan keamanan pelaku informasi. Jika informasi yang ada dalam tulisan seri Tentang Perburuan Wanita ini terlalu mengganggu, anggap saja ini fiksi</em>*)</p>
<p>Dalam beberapa artikel mulai dari koran kuning Jakarta hingga buku laris manis Moammar Emka, “Jakarta Undercover”, tersebut berkali-kali perempuan Uzbekistan dan perempuan Rusia serta aksi ‘kegirangan’ yang menyertainya. Yang jadi pertanyaan, apa benar mereka dari Uzbek dan Rusia? Jika bahkan jamak anak-anak kecil desa Indonesia memanggil wanita kaukasian dengan sebutan mister, mengapa kita tidak bisa memanggil wanita-wanita itu sebagai “perempuan uzbek atau cewek Rusia”?</p>
<p>Apa benar mereka dari Uzbekistan dan Rusia? Lebih penting lagi, apa benar mereka datang ke bumi pertiwi ini dengan sukarela?</p>
<p><strong>Awal 2012</strong></p>
<p>Mandor pabrik kami, Pak Ali memanggil saya ke ruangannya. Wajahnya keruh. Ada seberkas map di meja hadapannya.</p>
<p>“<em>You know</em>, kamu punya banyak hari libur tahun ini. Tahun lalu kamu tidak ambil cuti barang sehari pun. Kebijakan kantor malah akan memberi kamu tambahan sepuluh hari cuti tahun ini. <em>This is disaster</em>, ini laporan dari human resource” sambil menggenggam map di telapaknya. “Kita tidak bisa membiarkan ini terjadi. Kalau kamu pergi total 60 hari berturut-turut, artinya kita empat bulan hari kerja tanpa kamu. Ini masalah besar. Kamu harus libur. Cepat pergi. Kamu bisa ke Bahama kalau mau cari matahari, atau ke Maine kalau mau main ski. Saya akan tanggung jawab”</p>
<p>Saya bengong. Baru kali ini dalam seumur hidup dipaksa berlibur. Sambil garuk-garuk kepala saya berkata lirih, “<em>Okay, I’ll think about it</em>”</p>
<p>Dia membanting map ke meja, “Jangan lama-lama. Bulan depan atau dua bulan lagi, kamu harus berlibur. <em>Gimme a favour</em>. Saya nggak mau liat muka kamu di disini dalam beberapa minggu”</p>
<p>Saya cengar-cengir. Hidup ini aneh. Dulu waktu kerja di Bali, mati-matian saya cari waktu untuk berlibur di tempat yang katanya jadi lokasi favorit liburan semua orang di muka bumi. Sekarang pas sudah tidak di Bali, saya malah mati-matian disuruh berlibur.</p>
<p>Jadi karena itulah pada sore yang panas ini saya ada di bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Begitu keluar pesawat, serasa kulit mau meleleh. Kelihatannya tubuh ringkih Cilincing saya ini tidak kuat berpindah tempat dari suhu lima derajat celcius ke konstan 32 C dalam jangka waktu beberapa jam saja.</p>
<p>Ibu dan Odoy, dua orang ajaib itu, menunggu di depan gerbang bandara.</p>
<p>Seperti biasa, saya dicium-ciumi dan dipeluki. Kata Odoy ada pabrik ban terbakar di Pluit, jadi kami lebih baik naik bus saja. Sebab akan macet. Tapi pilihan itu berubah, ketika Ibu mengetahui bahwa saya sudah kangen berat makan makanan Padang. Odoy lalu menyarankan naik taksi ke Kelapa Gading. Disana ada warung makan kegemarannya. Selera makan saya dan Odoy memang tidak jauh beda. Kalau dia bilang enak, saya pasti mengamini.</p>
<p>Di taksi menuju Kelapa Gading, kami melewati sebuah hotel besar di pinggir jalan tol. Odoy bilang, “Bu, itu kan hotel cewek-cewek kelas atas”</p>
<p>Ibu saya, seperti biasa, apatis dan ngeselin, menjawab, “Lah kamu tau dari mana? Paling denger doangan. Nyoba mah mana pernah. Kamu sih kayak dia, kere” kata Ibu sambil menunjuk saya.</p>
<p>Karena saya dituduh kere (dan itu benar) terang dong saya menyangkal, “Bu, kita ini kaga kere. Tapi cewek-cewek itu aja yang udah nggak mempan lagi kena gombalan”</p>
<p>Sopir taksi yang dari tadi terdiam, kini terkekeh-kekeh mendengar kami bicara dengan logat yang mungkin sudah asing ia dengar. Logat orang betawi pinggiran.</p>
<p>Ia buka suara, “Bener bu. Itu emang hotel cewek-cewek nggak bener. Tapi untungnya mah bukan orang kita. Katanya sih dari Bangkok ama Rusia”</p>
<p>Saya sudah akan mendebat mendengar, “untung bukan orang kita”. Apa itu maksudnya? <em>I ain’t politically correct human being but it’s effin absurd</em>, ‘kalo bukan orang kite mangnye kenape?’.</p>
<p>Tapi mendengar kalimat ‘cewek Rusia’, kuping saya tiba-tiba langsung pasang radar sensitif. Tapi saat ini, jelas saya tidak bisa mengorek keterangan lebih lanjut. Ibu dan Odoy, walaupun orang kampung pinggiran, sudah tahu terlalu banyak trik Cilincing saya. Maklum satu tongkrongan. Mereka pasti curiga kalau saya tanya-tanya lebih jauh.</p>
<p>Di rumah makan Padang, saya berhasil mengalihkan perhatian Ibu. Ketika beliau terkaget-kaget bertanya, “Kamu lapar, kesetanan apa khilaf, makan ampe ludes 12 piring begitu?”</p>
<p>Ketika Ibu dan Odoy masih terkagum-kagum sambil menghitung jumlah nasi dan lauk yang berhasil saya embat masuk ke perut, saya diam-diam menghampiri supir taksi. “Pak, saya bukan orang bener. Besok anterin saya yaa ke hotel yang ada cewek rusianya”</p>
<p>Pak supir menatap saya terheran-heran bertanya apakah saya tidak bosan bermain kuda putih (idiom beliau dalam menganalogikan perempuan berkulit putih). Dan semakin terheran-heran ketika saya jawab, “<em>Dude, you don’t want to know</em>”</p>
<p>Esoknya, benar Pak Supir membawa saya ke hotel terkenal yang bahkan sering terbaca dalam akun linimasa twitter teman-teman saya.</p>
<p>Begitu masuk lounge mewah, seorang pemuda yang belakangan saya kenal bernama Ayung datang menghampiri. Bertanya dengan ramah, “Boss, mau mandi dulu?” Saya mengangguk. Agak gamang. Tidak sering saya masuk tempat semewah ini. Hidup saya bukan bergelimang kemewahan. Jadi agak canggung.</p>
<p>Ayung mengambil jas mandi berwarna hitam. Membuka loker untuk menyimpan pakaian dan peralatan saya. Katanya ada dua kunci, satu ia pegang. Satu lagi, chip kunci yang menempel di gelang yang saya kenakan. Gelang itu didapat ketika masuk check-in ke tempat ini. Harus ada dua kunci untuk membuka loker itu. Atas alasan keamanan, saya tidak membawa paspor atau sarana apapun yang mampu mengidentifikasi saya secara personal. Ini Jakarta, bukan hanya pada preman berjubah saja yang harus saya khawatirkan, melainkan juga pada preman berseragam. Harus hati-hati.</p>
<p>Saya lalu mandi. Setelah itu, menuju spa dan berendam di <em>jacuzzi</em>.</p>
<p>Menyenangkan sekali. Sudah ada kira-kira satu jam saya disini. Ayung bertanya, “Boss, nggak ganti dan ke atas. Bidadarinya ada di atas. Disini mah cuma sekedar bilas aja”</p>
<p>Saya ketawa, “Nggak Yung. Saya mau nongkrong aja”</p>
<p>Ayung terperanjat. “Wah nggak bisa, Boss. Disini kalau bilas-bilas aja mah gratis. Nanti saya dimarahi sama yang punya kalau Boss nggak ke atas milih bidadari”</p>
<p>Kali ini gantian saya yang terperanjat, “Gratis? Lah kalo begini mah tiap hari aye nongkrong disini, Yung”</p>
<p>Ayung tertawa. Saya beri ia uang agar membiarkan saya lebih lama berendam di <em>jacuzzi</em>. Tapi sialnya tidak lama kemudian ia datang, “Boss bidadarinya mau mandi. Lokasinya dikosongin dulu. Sori yaa”</p>
<p>Saya sebal, untuk menutup mulutnya lagi, saya beri ia uang. Ia menolak. Katanya ini ‘kebijakan hotel untuk kemaslahatan bidadari-bidadari’.</p>
<p>Sambil bersungut-sungut, saya pindah ke spa. Saya tahu saya tidak bisa lama di spa. Paling 30 menit sebelum badan saya hangus. Ajaibnya, belum sampai lima menit, ternyata para bidadari itu sudah memenuhi spa. Rupanya mereka mau spa dulu sebelum mandi dan berendam.</p>
<p>Bokis Cilincing mulai beraksi. “<em>Err, I don’t know how to spa. What is that</em>?” (*Eh spa itu kata kerja? <em>Whatever</em>, ini kan cuma trik*). Saya tanya pada yang berambut pirang tinggi dan mengenakan bikini merah menyala. Dia jawab itu scrub. Gunanya untuk menghaluskan kulit. Ia ambil sejumput di tangannya, diusapkannya ke lengan saya. Pura-pura mengerenyit saya bilang, “Ehh ini kasar”</p>
<p>Dia menjawab sambil tersenyum, “Tapi nanti kamu jadi halus setelah mengenakannya”</p>
<p>Saya senyum. Saya hitung, empat orang diantara mereka caucasian. Kulit putih rambut pirang. Sisanya, asian. Melihat perawakannya, bukan orang lokal. Ahh, saya dikelilingi delapan bidadari berbikini seksi malam itu.</p>
<p>Tiba-tiba membayangkan hidup sebagai seorang sultan.</p>
<p>Ketika saya akhirnya pergi tanpa banyak bicara pada, mereka menatap dengan pandangan mau tahu. Beberapa orang berbisik dan saya dengar ketika bilang, “mungkin dia gay”.</p>
<p>Sambil senyum-senyum saya meninggalkan ruang spa. Saya beri lagi uang pada Ayung agar jangan ia bilang pada pemilik hotel kalau saya tidak memilih bidadarinya.</p>
<p>Kejadian di atas, saya ulangi terus sampai tiga hari berturut-turut.</p>
<p>Ayung senang. Dapat tip terus dia. Kalau saya datang, “Boss, apakabar?” sambil senyum sumringah. Saya ketawa-tawa membalasnya. Ahh Ayung, anak Pontianak yang mencoba bertahan hidup di Jakarta dengan memanggil semua langganan bidadari dengan sebutan Boss. Yang ia pikir akan melenakan telinga pendengarnya. Ahh Ayung, kamu tidak tahu sedang berhadapan dengan gembel kere yang terobsesi riset mencari jawaban keresahan mimpi buruk di malam hari.</p>
<p>Hari ke empat Ayung akhirnya curiga. Ia tanya, “Boss, sori banget yaa disini kita nggak nyedian brondong. Tapi kalo Boss mau saya bisa cariin”</p>
<p>Brondong itu sebutan untuk lelaki muda.</p>
<p>Saya kali ini tidak mampu menahan tawa. “Ayung&#8230; Ayung.., terimakasih atas perhatian kamu. Saya kebetulan belum suka cowok. Entah besok entah lusa. Tapi hari ini saya masih tertarik sama bidadari kamu”</p>
<p>Ayung membelalak, “Ohh sori Boss&#8230; Soriii&#8230; Saya kira”</p>
<p>Sambil senyum saya jawab, “Saya mau dua perempuan. Satu orang Indonesia, satu lagi Rusia. Saya tahu semuanya cantik-cantik. Tapi saya cari dua perempuan yang benar-benar kenal”</p>
<p>Ayung mau buka mulut. Saya tahu ia pasti penasaran kenapa saya cari dua perempuan yang bersahabat di tempat seperti ini. Tapi lagi-lagi saya bungkam mulutnya pakai lembaran rupiah dari dompet.</p>
<p>Ia senyum, “Boss, duitnya kayak aer. Ngalir terus”</p>
<p>“Santai aja Yung. Saya tinggal metik kok di pohon belakang rumah. Kamu udah nggak usah banyak tanya. Siapin kamar yang bagus ama dua perempuan. Inget, dua-duanya harus kenal baik. Kalau kamu kasih saya sembarangan perempuan, saya komplain sama yang punya hotel”</p>
<p>Ayung menatap ragu. Ia tidak mau kehilangan pekerjaannya. Dan saya pikir ia juga tidak mau kehilangan pelanggan macam saya yang memberinya ratusan ribu rupiah hanya untuk tertawa bersama.</p>
<p>Sebentar kemudian saya sudah di kamar cukup besar. Kira-kira 45 meter persegi. Bahkan ada kolam renang kecil di dalamnya. Ada ranjang antik madura berkelambu putih. Ada pohon palem setinggi 1,5 meter. Ada cahaya matahari yang menerobos masuk dari jendela kamar yang besar. Ruangan ini wangi. Bau cendana.</p>
<p>Saya sendiri. Lah kemana perempuan-perempuan itu?</p>
<p>Setalah menunggu sekitar 10 menit dua orang perempuan datang. Ayung senyum simpul, “Boss, dijamin permainan akan mantap. Hebat lah bisa ngegoyang dobel”</p>
<p>Saya tidak menjawab. Begitu Ayung pergi, saya mencoba mengenalkan diri menjabat tangan mereka. Dua orang itu kelihatannya canggung. Mereka tidak mengenalkan diri ketika saya menjabat tangan mereka.</p>
<p>Sebentar kemudian saya diminta terlentang. Dua perempuan ini rupanya mau memijat.</p>
<p>Saya pasrah. Ikhlas. Jika begini memang perjuangan harus dilakukan dalam riset, mau bagaimana lagi? Hehehe&#8230;</p>
<p>Lima menit saya biarkan mereka menjamah tubuh ini. Tapi tidak bisa lebih. Sebelum masuk kamar saya sudah mentransfer sejumlah dollar kepada pemilik hotel agar dapat fasilitas selama dua jam. Iya, bukan rupiah, saya sampai kaget sendiri mata uang dalam hotel ternyata lebih banyak didominasi dollar amerika. Yang pasti, sebagaimana dollar yang dimiliki, waktu saya sedikit.</p>
<p>Saya berlomba dengan waktu.</p>
<p>Tapi harus atur strategi, jangan sampai Ayung dan dua bidadari cantik yang ada dia atas saya ini curiga.</p>
<p>Saya mulai pembicaraan dengan Kiki. Katanya janda muda dari Subang. Umur 16 sudah jadi janda. Sekarang ketika baru usia 22, anaknya sudah berumur 5 tahun.</p>
<div id="attachment_1717" class="wp-caption alignnone" style="width: 610px"><img class="size-full wp-image-1717" title="subang-jakarta " src="http://bangaip.org/wp-content/uploads/2012/09/subang-jakarta_kcl.jpg" alt="subang jakarta image" width="600" height="380" /><p class="wp-caption-text">Jarak antara Subang dengan Jakarta sekitar kurang lebih 130 kilometer. Dalam jalur perdagangan manusia tingkat lokal, Subang tidak masuk ke dalam areal yang disebut Pantura Jawa (rute transportasi darat Pantai Utara Pulau Jawa). Namun Subang terkenal (infamously) sebagai pemasok perempuan yang dijadikan komoditi menuju Pamanukan, Indramayu hingga Cirebon. Modus yang sama digunakan juga oleh para pedagang manusia yang beroprasi memperjual-belikan perempuan Sulawesi Utara ke beberapa pulau Maluku dan Timika (dikenal juga sebagai PortSite bagi para pekerja tambang)</p></div>
<p>Subang? Hmhh, apa yang terkenal dari Subang. Tahu?</p>
<p>“Kiki, tahu subang itu kan enak-enak yaa. Gimana bikinnya?”</p>
<p>“Ahh biasa aja kok Oom&#8230;”</p>
<p>Buset dah, saya dipanggil Oom. Sudah setua itu kah saya?</p>
<p>“Apa dong yang terkenal dari Subang selain tahu?”</p>
<p>“Nanas Oom&#8230;”</p>
<p>Saya menyela, “Masak sih nanas doang?”</p>
<p>Dia tampak bersemangat dari suaranya, “Nggak Oom. Ada kapur juga. Bapak saya bukan tani, tapi ambil kapur”</p>
<p>“Bapak kamu di Subang?”</p>
<p>“Masih Oom. Sama mama&#8230;”</p>
<p>Saya jengah dan kembali menyela, “Kamu jangan panggil saya Oom dong. Temen-temen manggil saya bangaip. Panggil aja bangaip”</p>
<p>“Ini temen kamu siapa. Kok diem aja?”</p>
<p>“Ini Tatiana Oom&#8230;”</p>
<p>Saya menoleh menatap gadis berambut coklat sebahu itu, “Hi Tatiana, <em>nice to meet you</em>”. Ia senyum membalas sapaan saya.</p>
<p>Kiki si janda muda bahenol, dengan cepat bersosialisasi. Ia cerita semuanya. Cerita tentang pacarnya yang hobi naik motor kebut-kebutan, anak kepala desa. Cerita bahwa ia adalah istri ketiga sebelum si anak lurah pergi dengan perempuan lain dan meninggalkannya sendiri dengan seorang putra tanpa uang sepeserpun.. Cerita bahwa ia simpanan seorang pengusaha Jakarta dan Tatiana adalah langganan bos tanah Singapur. Cerita bahwa ini pertama kali ia berduet dengan Tatiana.</p>
<p>Dari Kiki saya korek keterangan. Setengah jam berlalu, dan saya mulai tahu bahwa Tatiana berasal dari Latvia. Untung semua pembicaraan terjadi dalam bahasa Indonesia. Ini penting. Saya harus tahu asal Tatiana dan apa yang ia bicarakan dengan Kiki sebelum bertemu saya. Sekali lagi, ini penting. Perempuan Latvia itu tidak mudah terbuka. Setidaknya berdasarkan pengalaman saya selama ini.</p>
<p>Saya butuh Kiki. Dan saya butuh Tatiana untuk konfirmasi ceritanya.</p>
<p>Setelah setengah jam berlalu, sesi pijat hampir selesai. Saya tahu, aksi saya akan cepat terbongkar. Setelah sesi pijat, apa lagi selain sesi bergumul?</p>
<p>Saya bukan orang suci, tapi saya datang dengan misi. Apa yang harus datang dan diselesaikan, harus diselesaikan saat itu juga.</p>
<p>Mari mengulur waktu.</p>
<p>Saya panggil Ayung. Minta minuman. Ia datang tergopoh-gopoh membawa tiga botol air mineral. Saya tidak ingin memabukkan dua gadis ini. Itu judi. Dan saya tidak ingin berjudi dengan informasi. Setidaknya tidak untuk malam ini.</p>
<p>Ketika sesi minum, semua orang terlihat lebih lega. Sialnya, mereka minum dengan cepat. Saya harus membeli waktu lagi.</p>
<p>Otak licik Cilincing kembali beraksi. Saya tanya Kiki, “Kamu kelihatannya capek? Mau pijit?”. Ketika ia kelihatan kebingungan mau menjawab, saya menoleh ke Tatiana, “Kamu mau bantu saya memijit Kiki?”</p>
<p>Sambil memijit saya berbincang dengan Tatiana, “So, kamu dari Latvia”</p>
<p>Ia menunduk menjawab, “Ahh buat kalian sama saja kami dari Rusia”</p>
<p>Saya senyum, “Salah. Saya pernah ke Riga loh”</p>
<p>Ia membelalak. Tambah lebar ketika saya tanya, “<em>Ko tu darat Indonesiza?</em>” (*Apa yang kamu lakukan di Indonesia? &#8211; dalam bahasa Latvia*)</p>
<p>Ia makin membelalak, “Kamu berbahasa Latvia?”</p>
<p>“Nggak, cuma sedikit saja untuk bertahan hidup antara hotel ke hotel di Riga hingga kerjaan saya selesai”</p>
<p>“Kamu, kerja di Riga? <em>Oh my god</em>. Kerja apa?”</p>
<p>Lah kok ini gantian saya yang ditanya-tanya. Setelah memberi jawaban sekenanya, kali ini gantian ia cerita.</p>
<p>Tidak ada teman selain Kiki dan ekstasi. Ia dan Kiki pecandu ekstasi. Gunanya sederhana, menumpulkan rasa ketika mencumbu dan dicumbui lelaki yang menjamahnya. Datang dari sebuah desa kecil di Latvia. Kisah klise sebagaimana gadis budak lainnya. Bermimpi jadi pengasuh anak di Eropa Barat. Sebab dengar-dengar, hidup di sana jauh lebih baik. Sayang seribu sayang, ia disiksa dan lalu dikirim ke Shanghai. Sebelum ke RRC ia dilempar dulu ke Bulgaria lalu ke Jerman. Diperkosa. Digebuki. Diancam. Disiksa lagi. Diekspor ke Cina. Disana juga sama. Diancam, disiksa, diperkosa, dipermalukan dan begitu terus. Hingga suatu hari dilempar ke Jakarta.</p>
<p>Tiap tiga bulan ia ganti ijin tinggal. Visanya sosial budaya. Ahh imigrasi negeri fasis ini punya selera humor juga rupanya. Sosial budaya? Hoho&#8230; Dapat visa gampang kata dia. Sudah ada yang urus. Fasilitas dari hotel.</p>
<p>Kiki bilang, pelanggan mereka banyak dari para penegak hukum. Bahkan diantara para pengacara yang sering tampil di televisi. Kiki menyebut nama beberapa pejabat publik. Cukup terkenal para pelanggan Tatiana.</p>
<p>Kiki menyahut bahwa langganan tetapnya banyak dari kepolisian.</p>
<p>Saya tanya, apa ada menteri Indonesia yang pernah bercinta dengannya. Tatiana tidak menjawab.</p>
<p>Malah bertanya, “Kamu polisi?”. Saya menggeleng menjawabnya.</p>
<p>“Kamu wartawan?”. Saya makin menggeleng.</p>
<p>“Kamu mau culik saya?”. Kali ini saya jelas-jelas menggeleng.</p>
<p>Ia berhenti memijit Kiki. Saya tiba-tiba kebingungan, berhenti dan mengambil air untuknya.</p>
<p>Kiki memeluknya. Ini adegen yang absurd. Jika saya tega, pasti saya ambil momen ini masuk ke dalam lensa kamera. Dua gadis hampir telanjang, berpelukan. Dalam tangis isak perlahan.</p>
<p>Saya merasa berdosa.</p>
<p>Tak baik meninggalkan dua perempuan dalam sedih. Lalu saya cerita soal sepupu saya yang diculik dan akan dijual paksa. Cerita soal Lucija dan kedekatan kami akhir-akhir ini.</p>
<p>Setelah mendengar cerita saya Kiki berbisik, “Bang, jangan dateng lagi ke sini. Bahaya buat abang. Bahaya juga buat kita”</p>
<p>Satu hal yang pasti malam itu ketika saya meninggalkan daerah Ancol adalah, Indonesia pun terbelit perdagangan manusia internasional. Dan beberapa aparat hukum papan atas hingga imigrasi, mengetahuinya dengan jelas dan pasti. Tapi tetap menutup mata demi kemaslahatan dompet dan selangkangan mereka.</p>
<p>Sejak malam itu, Ayung akan kehilangan salah seorang ‘Boss’.</p>
<p>Saya sadar saya pengecut. Saya bukan zorro yang mendobrak pintu-pintu kamar hotel dengan pedang anggar membebaskan gadis-gadis itu seorang diri. Saya tidak seberani itu.</p>
<p>Dan malam ini, dalam udara Cilincing yang panas. Saya cerita pada Anda.</p>
<p>Cerita tentang kepengecutan dan ketidak-berdayaan.</p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=ki7uAWwBeP0:t4dEQTMyZhI:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=ki7uAWwBeP0:t4dEQTMyZhI:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?i=ki7uAWwBeP0:t4dEQTMyZhI:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=ki7uAWwBeP0:t4dEQTMyZhI:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BangaipDotOrg/~4/ki7uAWwBeP0" height="1" width="1"/>]]></content:encoded><description>(*Beberapa pelaku informasi yang ada dalam seluruh tulisan Tentang Perburuan Wanita bukanlah nama sebenarnya dan tidak bertujuan untuk merepresentasikan institusi/negara/korporasi sebenarnya. Beberapa informasi, termasuk foto atau gambar, kali ini tidak ditampilkan secara menyeluruh atas alasan keamanan pelaku informasi. Jika informasi &amp;#8230; &lt;a href="http://bangaip.org/2012/09/tentang-perburuan-wanita-lima-cewek-rusia/"&gt;Continue reading &lt;span class="meta-nav"&gt;&amp;#8594;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;</description><wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://bangaip.org/2012/09/tentang-perburuan-wanita-lima-cewek-rusia/feed/</wfw:commentRss><slash:comments xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/">5</slash:comments><feedburner:origLink>http://bangaip.org/2012/09/tentang-perburuan-wanita-lima-cewek-rusia/</feedburner:origLink></item></channel></rss>
