<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/atom10full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" gd:etag="W/&quot;D0INRXcyfip7ImA9WhRUFk8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-25591165</id><updated>2012-01-27T07:53:14.996+07:00</updated><category term="wisata" /><category term="seputar semarang" /><category term="kota kita" /><category term="forum kompas" /><category term="wacana lokal" /><title>BerBISNIS sambil MeNULIS</title><subtitle type="html">Selamat datang di dunia maya.....
Perkenalkan saya seorang yang lagi belajar untuk berBISNIS "BANDENG TANPA DURI- RIZTA" sekaligus meluangkan kesibukan saya untuk menulis tentang masalah arsitektur, perkotaan, perubahan iklim dan arsitektur tropis(sustainable architecture, urban, climate change and tropical architecture)

Terima kasih dan Semoga bermanfaat..</subtitle><link rel="http://schemas.google.com/g/2005#feed" type="application/atom+xml" href="http://www.inibandeng.com/feeds/posts/default" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.inibandeng.com/" /><link rel="next" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/25591165/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false&amp;v=2" /><author><name>sukawi (owner bandeng rizta)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05844298798212557965</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://bp0.blogger.com/_TBwmD5QKi3k/R3xKcdBJ55I/AAAAAAAAABE/Gty6OBBKAHM/S220/sukawi+foto.jpg" /></author><generator version="7.00" uri="http://www.blogger.com">Blogger</generator><openSearch:totalResults>48</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/atom+xml" href="http://feeds.feedburner.com/BerbisnisSambilMenulis" /><feedburner:info uri="berbisnissambilmenulis" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><entry gd:etag="W/&quot;D04MRHk7eyp7ImA9WhRUE0Q.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-25591165.post-6758783849480711411</id><published>2012-01-24T16:06:00.000+07:00</published><updated>2012-01-24T16:06:25.703+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-24T16:06:25.703+07:00</app:edited><title>Menyelamatkan Pesona Hotel Dibya Puri</title><content type="html">
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/u01wsbTdK28VP9US-ervMUHbeq4/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/u01wsbTdK28VP9US-ervMUHbeq4/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/u01wsbTdK28VP9US-ervMUHbeq4/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/u01wsbTdK28VP9US-ervMUHbeq4/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;Hotel Dibya Puri yang berdiri di kawasan alun alun tempo dulu menyimpan kisah panjang. Ia menjadi salah satu saksi bisu sejarah perkembangan Kota Semarang. Sebuah cukilan sejarah tentang hotel tersebut kini masih terpasang di dinding Hotel Dibya Puri. Pada cukilan sejarah itu tertulis, hotel Du Pavillon dibangun tahun 1847. Hotel itu semula terdiri atas sekelompok bangunan yang saling berhubungan. Hotel Dibya Puri awalnya merupakan sebuah vila berlantai dua, yang kemudian disewakan sebagai losmen. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyambut perhelatan akbar Koloniale Tentoonsteling di Semarang tahun 1914, Du Pavillon dirombak total. Bangunan sayapnya direnovasi dan ditambahi menara beratap piramida di kedua sisi. Demikian pula bangunan induk, diubah dari semula berlanggam Eropa menjadi Indis. Bagian serambi dilebarkan, jendelanya dilengkapi panel kaca atau krepyak. Pilar-pilar besar dari batu bata diganti kolom langsing berbahan besi. Renovasi membuat ruangan relatif lebih sejuk, dan beroleh pencahayaan cukup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada masa itu, Du Pavillon memang merupakan penginapan terbaik di Semarang. Ini penginapan Eropa kedua yang dibangun di Ibu Kota Midden Java, setelah Hotel Jansen di Heerenstraat (sekarang Jl Letjen Soeprapto). Nama Du Pavillon yang kebarat-baratan diganti dengan Dibya Puri. Nama itu dipilih, selain tak merubah inisial “DP”, punya makna yang bagus, yakni bangunan yang kokoh&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini Nasib tragis menimpa Hotel Dibya Puri di Jalan Pemuda yang sudah sekitar satu bulan tutup. Hotel yang berada di bawah pengelolaan BUMN PT Hotel Indonesia Natour (HIN) itu mulai tidak menghasilkan keuntungan.  Dengan kondisi bangunan yang memprihatinkan, Dibya Puri kalah bersaing dengan hotel-hotel yang menjamur di Semarang. Selama ini PT HIN mencoba bertahan dengan melakukan sejumlah pembenahan. Namun lantaran tak kunjung berhasil, opsi penutupan akhirnya diambil. Saat ini mereka tengah mencari kemungkinan pemanfaatan tanah dan bangunan bekas hotel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara paling tepat untuk menyelamatkan Dibya Puri adalah dengan melakukan revitalisasi dan restorasi. Dalam hal ini terdapat beberapa alternatif, yaitu tetap sebagai hotel atau berubah menjadi gedung perkantoran atau lainnya. Namun yang pasti perlu ada rambu-rambu khusus yang harus dipatuhi agar tidak kontraproduktif terhadap salah satu bangunan bersejarah di Semarang tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada tiga hal yang mendasari perlunya melakukan konservasi Dibya Puri  Pertama, nilai historisnya tinggi sebagai monumen yang menandai awal perkembangan perhotelan di Semarang. Kedua, nilai arsitektur yang khas sebagai bentuk adaptasi arsitektur Eropa terhadap iklim tropis yang lebih dikenal dengan arsitektur Indis. Ketiga, nilai estetika dari arsitektur bangunan yang tinggi. Konservasi bukan membiarkan bangunan kuno apa adanya. Konservasi harus juga mempertimbangkan kebutuhan dan tantangan-tantangan kini serta masa depan. Restorasi Hotel Dibya Puri, merupakan upaya menjaga keberlangsungan bangunan tersebut. Bangunan utama hotel yang merupakan cagar budaya mungkin tetap dipertahankan. Hal ini disebabkan Dibya Puri tercantum dalam 101 bangunan bersejarah di Kota Semarang, yang ditetapkan dalam SK Wali Kota tahun 1992. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Proses penyelamatan ini memang membutuhkan renovasi. Di sinilah diperlukan kehati-hatian agar nilai keunggulan Dibya Puri tidak terdistorsi. Untuk itu perlu melibatkan pakar konservasi bangunan lama. Sehingga perlu penyusunan panduan teknis penggunaan Bangunan Kuno seperti Dibya Puri oleh semua stakeholder sebagai rambu-rambu bagi pihak yang kelak menggunakannya. Pada prinsipnya, bangunan bersejarah idealnya harus difungsikan. Namun secara teknis, alih fungsi dapat dilakukan dengan tanpa mengubah struktur bangunan serta memperhatikan atauran yang berlaku. Alih fungsi bangunan bersejarah yang difungsikan sebagai hotel, sudah banyak dilakukan. Misalnya, Raffles Hotel Singapura, kemudian Kompleks PHI (wisma Haji) yang juga berubah menjadi hotel. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bangunan konservasi seperti ini memiliki peminat tersendiri. Mereka menyukai suasana klasiknya untuk bernostalgia. Memang perlu usaha yang keras, bagaimana memunculkan kembali  brand image Dibya Puri sebagai bagian dari historical tourism. Kita bisa membidik wisatawan asing yang memiliki kedekatan hubungan sejarah dengan Indonesia sebagai bekas daerah jajahan, seperti Belanda dan Jepang. Secara khusus masyarakat Belanda akan lebih mudah diperkenalkan sekaligus dipersuasi agar tertarik mengunjungi Semarang. Hal ini karena kedekatan emosionalnya karena mereka masih punya nenek moyang yang meninggal pada zaman perang kolonial Belanda dan keinginan bernostalgia di Du Pavilion tempo dulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penulis  :&lt;br /&gt;
Sukawi, Pengajar Ilmu Arsitektur, Sekretaris Program Diploma Desain Arsitektur UNDIP dan aktivis Komunitas Loenpia.net Semarang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro UNDIP Semarang Jawa Tengah&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25591165-6758783849480711411?l=www.inibandeng.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BerbisnisSambilMenulis/~4/1Dpx2KPSFek" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.inibandeng.com/feeds/6758783849480711411/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.inibandeng.com/2012/01/menyelamatkan-pesona-hotel-dibya-puri.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/25591165/posts/default/6758783849480711411?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/25591165/posts/default/6758783849480711411?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/BerbisnisSambilMenulis/~3/1Dpx2KPSFek/menyelamatkan-pesona-hotel-dibya-puri.html" title="Menyelamatkan Pesona Hotel Dibya Puri" /><author><name>sukawi (owner bandeng rizta)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05844298798212557965</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://bp0.blogger.com/_TBwmD5QKi3k/R3xKcdBJ55I/AAAAAAAAABE/Gty6OBBKAHM/S220/sukawi+foto.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.inibandeng.com/2012/01/menyelamatkan-pesona-hotel-dibya-puri.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0EDQn8yfyp7ImA9WhRVEUU.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-25591165.post-4156377861603204669</id><published>2012-01-10T17:01:00.000+07:00</published><updated>2012-01-10T17:01:13.197+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-10T17:01:13.197+07:00</app:edited><title>Kaitan Desain Selubung Bangunan terhadap Pemakaian Energi  dalam Bangunan (Studi Kasus Perumahan Graha Padma Semarang)</title><content type="html">
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/TvESoBhk8sAQ4XT_uERO8u6T1kg/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/TvESoBhk8sAQ4XT_uERO8u6T1kg/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/TvESoBhk8sAQ4XT_uERO8u6T1kg/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/TvESoBhk8sAQ4XT_uERO8u6T1kg/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;Abstrak &lt;br /&gt;
Salah satu aspek penting dalam disain arsitektur yang semakin hari semakin dirasakan penting adalah penataan energi dalam bangunan. Krisis sumber energi tak terbaharui mendorong arsitek untuk semakin peduli akan energi dengan cara beralih ke sumber energi terbaharui dalam merancang bangunan yang hemat energi. Minimal ada tiga faktor utama yang sangat berpengaruh terhadap penghematan energi pada bangunan, yaitu : disain selubung  bangunan, manajemen energi dan kesadaran pengguna. Akumulasi angka pemborosan dalam penggunaan energi  pada bangunan  berkisar 15-30 %  sehingga perlu memperoleh tanggapan yang lebih serius, karena akan mempunyai dampak yang besar terhadap pemakaian energi listrik secara nasional.  &lt;br /&gt;
Bentuk desain selubung bangunan rumah tinggal tidak lepas dari pertimbangan kondisi iklim tropis dan lingkungan sekitar. Bentuk pembayangan pada bangunan merupakan upaya dalam mengantisipasi iklim tropis untuk mencapai kondisi termal yang nyaman dalam bangunan. Penyelesaian disain fasade harus dibuat tidak diseragamkan antara yang menghadap barat, timur selatan atau utara. Karena pada prisipnya deretan rumah yang menghadap ke barat dan ke selatan memiliki permasalahan yang berlainan apabila dilihat dari aspek lintasan matahari.  &lt;br /&gt;
 Perwujudan dari desain arsitektur untuk bangunan yang berwawasan lingkungan sering disebut dengan green building. Hal ini erat kaitannya dengan konsep arsitektur hijau yang merupakan bagian dari arsitektur berkelanjutan (sustainable architecture) dan hemat energi. Disini arsitek mempunyai peran yang amat sangat penting dalam penghematan energi. Disain hemat energi diartikan sebagai perancangan bangunan untuk meminimalkan penggunaan energi tanpa membatasi fungsi bangunan maupun kenyamanan atau produktivitas penghuninya. Untuk mencapai tujuan itu, karya rancang bangun hemat energi dapat dilakukan dengan pendekatan pasif. Melalui studi ini akan diuraikan kaitan antara bentuk tampilan selubung bangunan dengan pemakaian energi dalam bangunan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata kunci : Selubung Bangunan, Energi, Bangunan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendahuluan&lt;br /&gt;
Rumah merupakan suatu wadah atau tempat berlindung bagi manusia untuk melakukan kegiatan didalamnya. Rumah yang baik yaitu rumah yang dapat memberikan kenyamanan bagi penghuninya, sehingga penghuninya merasa nyaman saat melakukan aktifitas didalamnya. Nyaman yang dimaksudkan adalah rumah terasa sejuk, memiliki intensitas cahaya yang cukup pada siang hari dan tidak bising. &lt;br /&gt;
Salah satu ciri bangunan tropis yaitu dapat melindungi dinding bangunan dari radiasi sinar matahari langsung, karena radiasi sinar matahari langsung pada dinding bangunan dapat merambatkan panas kedalam ruang, sehingga menaikan suhu dalam ruangan. Radiasi sinar matahari langsung pada dinding bangunan dapat ditanggulangi dengan pembayangan dari tritisan pada dinding bagunan sehingga radiasi sinar matahari tidak langsung merambatkan panas pada dinding bangunan. Radiasi sinar matahari langsung pada bangunan juga dipengaruhi oleh orientasi fasade bangunan terhadap arah litasan matahari, jadi fasade bangunan yang menghadap kearah timur dan barat mendapatkan intensitas radiasi sinar matahari yang lebih banyak.&lt;br /&gt;
Dalam perencanaan pola  blok hunian pada suatu kawasan atau lingkungan perumahan, salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah orientasi terhadap lintasan matahari. Terutama yang berkaitan dengan karakter wilayah di sekitar garis katulistiwa. Pola sinar matahari pada  fasade utara dan selatan tergantung posisi terhadap garis lintang utara dan lintang selatan. Arah hadap rumah tidak dapat dipaksakan agar seragam dalam suatu kawasan, dengan demikian diperlukan pertimbangan khusus dan spesifik  untuk rumah yang menghadap ke barat, timur, utara atau selatan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro UNDIP Semarang Jawa Tengah&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25591165-4156377861603204669?l=www.inibandeng.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BerbisnisSambilMenulis/~4/y_IXHytakp8" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.inibandeng.com/feeds/4156377861603204669/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.inibandeng.com/2012/01/kaitan-desain-selubung-bangunan.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/25591165/posts/default/4156377861603204669?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/25591165/posts/default/4156377861603204669?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/BerbisnisSambilMenulis/~3/y_IXHytakp8/kaitan-desain-selubung-bangunan.html" title="Kaitan Desain Selubung Bangunan terhadap Pemakaian Energi  dalam Bangunan (Studi Kasus Perumahan Graha Padma Semarang)" /><author><name>sukawi (owner bandeng rizta)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05844298798212557965</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://bp0.blogger.com/_TBwmD5QKi3k/R3xKcdBJ55I/AAAAAAAAABE/Gty6OBBKAHM/S220/sukawi+foto.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.inibandeng.com/2012/01/kaitan-desain-selubung-bangunan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0IGQ308eip7ImA9WhRVEUU.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-25591165.post-2716044517586963792</id><published>2012-01-10T16:58:00.000+07:00</published><updated>2012-01-10T16:58:42.372+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-10T16:58:42.372+07:00</app:edited><title>STRUKTUR MEMBRAN DALAM BANGUNAN BENTANG LEBAR</title><content type="html">
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/hr9eKiMYpsGVlozCjSHRYUrSdIw/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/hr9eKiMYpsGVlozCjSHRYUrSdIw/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/hr9eKiMYpsGVlozCjSHRYUrSdIw/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/hr9eKiMYpsGVlozCjSHRYUrSdIw/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;Membran adalah struktur permukaan fleksibel tipis yang memikul beban dengan mengalami tegangan tarik. Struktur membran adalah sebuah alternatif untuk struktur bentang lebar yang dapat diterapkan untuk penutup atap bangunan. Dasar mekanisme pikul beban pada struktur membran adalah tarik. Membran yang memikul beban tegak lurus terhadap permukaannya dapat mengalami deformasi secara tiga dimensi (bergantung pada kondisi tumpuan dan pembebanannya). Aksi pikul beban ini serupa dengan yang terjadi pada sistem kabel menyilang. Selain tegangan tarik, terjadi juga tegangan geser tangensial pada struktur membran. Sistem membran pada bangunan bentang lebar biasanya masih harus dibantu oleh struktur lainnya seperti kabel atau space frame, karena sistem membran bila terkena gaya dari angin maka harus ada daya tarik menuju tumpuan(pondasinya). Sistem membran yang dipakai kebanyakan untuk bangunan skala besar harus mempertimbangkan bahan tenda dan arah angin. Tiang-tiang penyangga flaksibel terhadap gaya tekan oleh angin, hal ini menyebabkan tenda dapat terus berdiri. Kata Kunci : Membran, Bangunan , Bentang lebar Abstract The membrane is a thin flexible surface structures that bear the burden by having tensile stress. Membrane structure is an alternative to long span structures that can be applied to cover the roof of the building. Basic mechanisms carry the load on the tensile membrane structures. Who bear the burden of membrane perpendicular to the surface can be deformed in three dimensions (depending on the pedestal and the assignment). Bear the burden of action is similar to what happened on cable systems intersect. In addition to tensile stress, there is also a tangential shear stress on membrane structure. Membrane system in the long span buildings are still to be assisted by other structures such as cables or space frame, because the membrane system when exposed to the force of the wind there should be an appeal to the pedestal (the foundation). Membrane system that is used mostly for large scale buildings should consider the tent material and wind direction. Supporting poles flaksibel against compression force by the wind, this caused the tent to keep standing. Keywords: Membrane, Building, Span width Pendahuluan Definisi struktur dalam konteks hubungannya dengan bangunan adalah sebagai sarana untuk menyalurkan beban dan akibat penggunaannya dan atau kehadiran bangunan ke dalam tanah (Schodeck,1980). Terdapat lima golongan bentuk struktur (Sutrisno, 1983), yaitu struktur massa, struktur rangka, struktur permukaan bidang ( struktur lipatan dan cangkang), struktur kabel dan boimorfik. Struktur membran terbagi menjadi dua yaitu struktur membran tenda dan struktur membran pneumatis.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro UNDIP Semarang Jawa Tengah&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25591165-2716044517586963792?l=www.inibandeng.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BerbisnisSambilMenulis/~4/oTvk3uO4q3g" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="related" href="http://eprints.undip.ac.id/32373/" title="STRUKTUR MEMBRAN DALAM BANGUNAN BENTANG LEBAR" /><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.inibandeng.com/feeds/2716044517586963792/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.inibandeng.com/2012/01/struktur-membran-dalam-bangunan-bentang.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/25591165/posts/default/2716044517586963792?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/25591165/posts/default/2716044517586963792?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/BerbisnisSambilMenulis/~3/oTvk3uO4q3g/struktur-membran-dalam-bangunan-bentang.html" title="STRUKTUR MEMBRAN DALAM BANGUNAN BENTANG LEBAR" /><author><name>sukawi (owner bandeng rizta)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05844298798212557965</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://bp0.blogger.com/_TBwmD5QKi3k/R3xKcdBJ55I/AAAAAAAAABE/Gty6OBBKAHM/S220/sukawi+foto.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.inibandeng.com/2012/01/struktur-membran-dalam-bangunan-bentang.html</feedburner:origLink><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="enclosure" href="http://feedproxy.google.com/~r/BerbisnisSambilMenulis/~5/zOjfHDjcZFI/" length="0" type="undip" /><feedburner:origEnclosureLink>http://eprints.undip.ac.id/32373/</feedburner:origEnclosureLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0QARnw9eSp7ImA9WhRVEUU.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-25591165.post-4453356616193939533</id><published>2012-01-10T16:55:00.000+07:00</published><updated>2012-01-10T16:55:47.261+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-10T16:55:47.261+07:00</app:edited><title>ADAPTASI ARSITEKTUR SASAK TERHADAP KONDISI IKLIM LINGKUNGAN TROPIS</title><content type="html">
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Nrg4XUShD6kPEF_TmHgQI_MOME0/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Nrg4XUShD6kPEF_TmHgQI_MOME0/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Nrg4XUShD6kPEF_TmHgQI_MOME0/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Nrg4XUShD6kPEF_TmHgQI_MOME0/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;Arsitektur tradisional adalah arsitektur yang tumbuh dari rakyat, yang lahir dari masyarakat etnik dan berakar pada tradisi masyarakat. Arsitektur tradisional berjalan seiring dengan paham kosmologi, pandangan hidup, gaya hidup dan merupakan pencerminan jati diri masyarakat yang tetap dipertahankan dan dikembangkan. Arsitektur tradisional berusaha untuk adaptasi dengan alam dan berusaha untuk menyatu dengan alam. Norma, adat, iklim, budaya, kepercayaan dan bahan setempat akan memberikan warna tersendiri dalam pengembangan asitektur tradisional atau arsitektur rakyat. Perjalanan panjang melalui try and error dengan local genius mampu menampilkan jati diri. Di Lombok terdapat desa adat yang masih mempertahankan budaya dan kepercayaan suku sasak. Salah satu yang perlu dicermati adalah bangunan tradisional di desa adat Sade yang marupakan hasil kebudayaan masyarakat. Sekarang ini keberadaan bangunan tradisional yang merupakan warisan kebudayaan mulai punah, tergeser dengan perkembangan bangunan modern. Kata Kunci : Arsitektur tradisional, Desa Adat, Sade, iklim Traditional architecture is the architecture that grow from the people, born of ethnic communities and rooted in the traditions of the community. Traditional architecture go hand in hand with understanding of cosmology, philosophy of life, lifestyle, and are a reflection of community identity will be retained and developed. Traditional architecture tried to adapt to nature and trying to blend with the natural. Norms, customs, climate, culture, beliefs and local materials will provide its own color in the development of traditional architecture or the architecture of the people. The long journey through trial and error with the local genius capable of displaying identity. In Lombok, there are traditional villages that still maintain the culture and beliefs Sasak tribe. One to consider is the traditional buildings in traditional villages that are the result of cultural Sade community. Now is the existence of the traditional building which is a cultural heritage became extinct, displaced by the development of modern buildings. Keywords: Traditional architecture, traditional village, Sade, climate PENDAHULUAN Arsitektur tradisional adalah satu unsur kebudayaan yang tumbuh dan berkembang bersamaan dengan pertumbuhan suatu suku bangsa sehingga arsitektur tradisional merupakan salah satu identitas dari suatu pendukung kebudayaan yang dianut secara turun temurun. Arsitektur tradisional masing-masing daerah memiliki karakteristik yang berbeda-beda namun pada prinsipnya sama-sama merupakan hasil pemikiran yang dilakukan berulang-ulang melalui proses trial and error sehingga mencapai suatu bentuk yang belum tentu menjadi yang terakhir. Bangunan arsitektur tradisional memiliki harmonisasi yang cukup tinggi terhadap lingkungan karena melalui proses adaptasi yang panjang (Wiranto, 1998). Perkembangan rumah tradisional berawal dari nenek moyang dengan bangunan sederhana dari pepohonan, dan berkembang dengan dibangun dengan kolong kemudian berkembang sampai bentuk-bentuk yang langsung diatas tanah. Perkembangan ini berjalan sejajar dengan perkembangan pola pikir manusia. Adaptasi ini sesuai dengan kondisi lingkungan, iklim dan juga budaya manusia setempat. Manusia menempatkan diri sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari alam. Amos Rapoport (1969) menyatakan bahwa aspek budaya dan iklim sangat mempengaruhi bentuk arsitektur. Budaya dan iklim merupakan aspek yang sangat diperhatikan oleh nenek moyang dalam menentukan bentuk bangunan, baik sebagai tempat tinggal maupun sebagai tempat untuk memuja leluhur. Sekarang ini keberadaan bangunan tradisional di Lombok mulai punah dan tergeser oleh perkembangan zaman/ bangunan modern. Dari tahun ke tahun bangunan tradisional mulai ditinggalkan karena semakin langkanya bahan bangunan yang diperlukan untuk membangun sebuah rumah. Hal ini juga dipengaruhi oleh masuknya pengaruh dari luar seperti bahan bangunan baru ( bata, semen, asbes, dan lainnya ). Bangunan tradisional lambat laun mulai hilang di daerah sub-urban dan masih tetap eksis pada daerah pedalaman, karena daerah ini masih terisolasi dari pengaruh luar yang luar biasa besarnya. Bangunan tradisional yang merupakan proses try and error nenek moyang dan telah terbukti dapat beradaptasi dengan alam, seyogyanya tidak ditinggalkan begitu saja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari karakteristik bangunan arsitektur tradisional suku Sasak untuk mendapatkan prinsip-prinsip adaptasi bangunan dengan alam/ iklim tropis serta budaya yang menyertainya, yang merupakan kearifan nenek moyang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro UNDIP Semarang Jawa Tengah&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25591165-4453356616193939533?l=www.inibandeng.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BerbisnisSambilMenulis/~4/aOB02xnGZwk" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="related" href="http://eprints.undip.ac.id/32374/" title="ADAPTASI ARSITEKTUR SASAK TERHADAP KONDISI IKLIM LINGKUNGAN TROPIS" /><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.inibandeng.com/feeds/4453356616193939533/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.inibandeng.com/2012/01/adaptasi-arsitektur-sasak-terhadap.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/25591165/posts/default/4453356616193939533?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/25591165/posts/default/4453356616193939533?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/BerbisnisSambilMenulis/~3/aOB02xnGZwk/adaptasi-arsitektur-sasak-terhadap.html" title="ADAPTASI ARSITEKTUR SASAK TERHADAP KONDISI IKLIM LINGKUNGAN TROPIS" /><author><name>sukawi (owner bandeng rizta)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05844298798212557965</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://bp0.blogger.com/_TBwmD5QKi3k/R3xKcdBJ55I/AAAAAAAAABE/Gty6OBBKAHM/S220/sukawi+foto.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.inibandeng.com/2012/01/adaptasi-arsitektur-sasak-terhadap.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0YNQXwzeSp7ImA9WhZXFE8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-25591165.post-4006170301708805890</id><published>2011-05-03T20:17:00.002+07:00</published><updated>2011-05-03T20:26:30.281+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-05-03T20:26:30.281+07:00</app:edited><title>Seminar Kaca dalam Arsitektur</title><content type="html">
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/mTekWrsLYve-dIZKZ0ovx6lQids/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/mTekWrsLYve-dIZKZ0ovx6lQids/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/mTekWrsLYve-dIZKZ0ovx6lQids/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/mTekWrsLYve-dIZKZ0ovx6lQids/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-W3Rn8Z715ys/TcACac7VaCI/AAAAAAAAAKs/ERzQae3QaSw/s1600/leaflet%2Bseminar%2Bkaca%2Bdalam%2Barsitektur.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 283px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-W3Rn8Z715ys/TcACac7VaCI/AAAAAAAAAKs/ERzQae3QaSw/s400/leaflet%2Bseminar%2Bkaca%2Bdalam%2Barsitektur.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5602480589913810978" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Magister Teknik Arsitektur Universitas Diponegoro Bekerjasama dengan PT TOSSA SHAKTI menyelenggarakan seminar Kaca dalam Arsitektur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silahkan mengirim paper (artikel) paling lambat 7 Mei ke alamat email : zukawi@gmail.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhadiah………….&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro UNDIP Semarang Jawa Tengah&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25591165-4006170301708805890?l=www.inibandeng.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BerbisnisSambilMenulis/~4/56Qtp9xGoxI" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.inibandeng.com/feeds/4006170301708805890/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.inibandeng.com/2011/05/seminar-kaca-dalam-arsitektur.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/25591165/posts/default/4006170301708805890?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/25591165/posts/default/4006170301708805890?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/BerbisnisSambilMenulis/~3/56Qtp9xGoxI/seminar-kaca-dalam-arsitektur.html" title="Seminar Kaca dalam Arsitektur" /><author><name>sukawi (owner bandeng rizta)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05844298798212557965</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://bp0.blogger.com/_TBwmD5QKi3k/R3xKcdBJ55I/AAAAAAAAABE/Gty6OBBKAHM/S220/sukawi+foto.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-W3Rn8Z715ys/TcACac7VaCI/AAAAAAAAAKs/ERzQae3QaSw/s72-c/leaflet%2Bseminar%2Bkaca%2Bdalam%2Barsitektur.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.inibandeng.com/2011/05/seminar-kaca-dalam-arsitektur.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0MDQHgzfyp7ImA9WxNSEko.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-25591165.post-208159816058417821</id><published>2009-08-26T14:42:00.003+07:00</published><updated>2009-08-26T15:31:11.687+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-08-26T15:31:11.687+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="wacana lokal" /><title>Menata Potensi Taman Tugumuda</title><content type="html">
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/aDwxeNvlJYl5hN04-zQjcmlw-Uc/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/aDwxeNvlJYl5hN04-zQjcmlw-Uc/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/aDwxeNvlJYl5hN04-zQjcmlw-Uc/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/aDwxeNvlJYl5hN04-zQjcmlw-Uc/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="awal"&gt;S&lt;/span&gt;ekarang ini, banyak anak muda melewatkan malam Minggu dengan berwisata di bundaran Tugumuda. Taman kota yang dahulu hanya dimanfaatkan anak-anak jalanan untuk tempat bermain itu kini menjadi lebih ramai. Dengan menikmati malam dan melewatkan waktu untuk sekedar nongkrong di bundaran Tugumuda, memang sedang menjadi tren anak muda Semarang saat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka duduk-duduk di sekitar kolam, maupun di atas rerumputan. Sekarang, bundaran Tugumuda hampir selalu dipenuhi pengunjung, terutama pada malam hari. Berbagai aktivitas dilakukan masyarakat di tempat tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai dari sekadar nongkrong, jalan-jalan, hingga berfoto ria di sekitar taman. Tak jarang pula, terlihat anak-anak berlari dan bermain bebas di tempat itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka ingin menikmati tempat terbuka di tengah kota, yang bisa untuk rekreasi tanpa dipungut biaya. Dengan menikmati view di sekitar Tugumuda, tidak hanya air mancur yang didesain lebih indah, tapi juga pemandangan ke gedung Lawangsewu yang terlihat indah dari Tugumuda. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pada malam hari, Tugumuda terlihat begitu sempurna di tengah air mancur, ditambah pendaran lampu di sekitarnya. Belum lagi kalau foto-foto di taman yang menghadap Lawangsewu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya taman Tugumuda memang dikembangkan sebagai taman pasif. karena itu penampilan fisik kawasan tetenger kota itu pun berpagar dan tidak memiliki lahan parkir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga keberadaannya tidak hidup dan antipublik. Bahkan sampai sekarang pun ada papan bertuliskan dilarang memasuki taman dan menginjak rumput. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tumbuhan yang ditanam pun masuk dalam kategori semak dan bunga. Taman kota ini di desain bukan menjadi ruang publik dan sekadar berfungsi sebagai alur perputaran lalu lintas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon ide dan gagasan pembentukan taman dan monumen Tugumuda ini untuk menandai dan memperingati jasa-jasa para pahlawan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan tugu peringatan itu tidak di tengah alun-alun Kota Semarang seperti yang direncanakan semula, namun di simpanglima Jalan Pemuda yang selama pertempuran lima hari merupakan salah satu kawasan pertempuran yang amat penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugumuda yang diresmikan oleh Presiden Soekarno pada 20 Mei 1953, merupakan kawasan yang bernuansa religius, budaya, pendidikan, dan bisnis. Harapannya, kelak akan berkembang menjadi ruang aktivitas yang pluralis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugumuda dan sekitar adalah ruang publik sehingga semestinya menjadi ruang yang benar-benar publik. Ruang publik mengandaikan demokrasi pluralis, diharapkan orang menikmati keberadaan bersama orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini kawasan Tugumuda pada malam hari berubah menjadi tempat wisata baru. Hal ini ternyata menciptakan masalah baru pula, yakni tidak ada lahan parkir bagi para pengunjung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu perlu kantong parkir Tugumuda yang dapat memanfaatkan gedung-gedung di sekitar kawasan Tugumuda seperti Gedung Pandanaran, Lawangsewu, Gereja Katedral, atau Museum Mandala Bhakti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekaligus perlu petunjuk yang jelas agar pengunjung tidak parkir di bundaran taman yang akan menambah kesemrawutan lalu lintas dan membuat kemacetan di Tugumuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain parkir, masalah sampah yang tersisa dari aktivitas masyarakat setiap malam, semakin meningkat. Dengan banyaknya orang yang berkumpul, maka mulai muncul pedagang asongan yang menjajakan makanan dan minuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun sudah ada beberapa tempat sampah yang tersebar di sepanjang taman, tapi kesadaran masyarakat dalam membuang sampah memang perlu ditingkatkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu perlu beberapa papan peringatan untuk tidak membuang sampah sembarangan dan dinas kebersihan dapat lebih memfokuskan pada pengelolaan sampah di bundaran Tugumuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena perkembangan zaman, pemerintah dapat pro aktif untuk merubah desain tamannya, agar masyarakat bisa menikmati dan menggunakannya. kawasan Tugumuda di masa mendatang perlu dikembangkan dengan konsep new civic square. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menambahkan beberapa tempat duduk (kursi taman), maka pengunjung tidak akan duduk di rerumputan dan merusak tanaman yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena merupakan monumen yang sangat bersejarah, maka perlu pencegahan dari tindakan vandalism berupa coretan-coretan yang menodai benda bersejarah ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya, perlu mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk ikut peduli menjaga kelestarian peninggalan cagar budaya agar tetap lestari sepanjang masa. Monumen ini harus ada yang menjaga dari tangan jahil orang yang tidak bertanggung jawab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang publik baru ini sebenarnya dapat mengurangi kepadatan Simpanglima, sehingga pemerintah kota perlu mendukung untuk menata kembali kawasan taman tugu muda menjadi ruang public yang aksesibel bagi semua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Catalysts in the Design of Cities, Wayne Attoe (1989) mengemukakan konsep tentang cara membangkitkan aktivitas ruang kota ’’mati’’, sehingga produktivitas kota dapat ditingkatkan kembali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakter yang berhubungan dengan aktivitas publik adalah kontinuitas waktu kegiatan, aksesbilitas, daya tampung terhadap jumlah masyarakat, sejarah perkembangan kawasan dan yang terpenting adalah mengakomodir aktivitas masyarakat tanpa membedakan kelas sosial dan status dengan batasan-batasan kemaslahatan umat manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memublikkan Taman Tugumuda  akan menumbuhkan  kawasan segi tiga emas Simpanglima-Tugumuda-Gajahmada sekaligus menjadi wisata ruang publik kota yang baru. (35) &lt;br /&gt;Sekarang ini, banyak anak muda melewatkan malam Minggu dengan berwisata di bundaran Tugumuda. Taman kota yang dahulu hanya dimanfaatkan anak-anak jalanan untuk tempat bermain itu kini menjadi lebih ramai. Dengan menikmati malam dan melewatkan waktu untuk sekedar nongkrong di bundaran Tugumuda, memang sedang menjadi tren anak muda Semarang saat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka duduk-duduk di sekitar kolam, maupun di atas rerumputan. Sekarang, bundaran Tugumuda hampir selalu dipenuhi pengunjung, terutama pada malam hari. Berbagai aktivitas dilakukan masyarakat di tempat tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai dari sekadar nongkrong, jalan-jalan, hingga berfoto ria di sekitar taman. Tak jarang pula, terlihat anak-anak berlari dan bermain bebas di tempat itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka ingin menikmati tempat terbuka di tengah kota, yang bisa untuk rekreasi tanpa dipungut biaya. Dengan menikmati view di sekitar Tugumuda, tidak hanya air mancur yang didesain lebih indah, tapi juga pemandangan ke gedung Lawangsewu yang terlihat indah dari Tugumuda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada malam hari, Tugumuda terlihat begitu sempurna di tengah air mancur, ditambah pendaran lampu di sekitarnya. Belum lagi kalau foto-foto di taman yang menghadap Lawangsewu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya taman Tugumuda memang dikembangkan sebagai taman pasif. karena itu penampilan fisik kawasan tetenger kota itu pun berpagar dan tidak memiliki lahan parkir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga keberadaannya tidak hidup dan antipublik. Bahkan sampai sekarang pun ada papan bertuliskan dilarang memasuki taman dan menginjak rumput. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tumbuhan yang ditanam pun masuk dalam kategori semak dan bunga. Taman kota ini di desain bukan menjadi ruang publik dan sekadar berfungsi sebagai alur perputaran lalu lintas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon ide dan gagasan pembentukan taman dan monumen Tugumuda ini untuk menandai dan memperingati jasa-jasa para pahlawan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan tugu peringatan itu tidak di tengah alun-alun Kota Semarang seperti yang direncanakan semula, namun di simpanglima Jalan Pemuda yang selama pertempuran lima hari merupakan salah satu kawasan pertempuran yang amat penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugumuda yang diresmikan oleh Presiden Soekarno pada 20 Mei 1953, merupakan kawasan yang bernuansa religius, budaya, pendidikan, dan bisnis. Harapannya, kelak akan berkembang menjadi ruang aktivitas yang pluralis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugumuda dan sekitar adalah ruang publik sehingga semestinya menjadi ruang yang benar-benar publik. Ruang publik mengandaikan demokrasi pluralis, diharapkan orang menikmati keberadaan bersama orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini kawasan Tugumuda pada malam hari berubah menjadi tempat wisata baru. Hal ini ternyata menciptakan masalah baru pula, yakni tidak ada lahan parkir bagi para pengunjung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu perlu kantong parkir Tugumuda yang dapat memanfaatkan gedung-gedung di sekitar kawasan Tugumuda seperti Gedung Pandanaran, Lawangsewu, Gereja Katedral, atau Museum Mandala Bhakti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekaligus perlu petunjuk yang jelas agar pengunjung tidak parkir di bundaran taman yang akan menambah kesemrawutan lalu lintas dan membuat kemacetan di Tugumuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain parkir, masalah sampah yang tersisa dari aktivitas masyarakat setiap malam, semakin meningkat. Dengan banyaknya orang yang berkumpul, maka mulai muncul pedagang asongan yang menjajakan makanan dan minuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun sudah ada beberapa tempat sampah yang tersebar di sepanjang taman, tapi kesadaran masyarakat dalam membuang sampah memang perlu ditingkatkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu perlu beberapa papan peringatan untuk tidak membuang sampah sembarangan dan dinas kebersihan dapat lebih memfokuskan pada pengelolaan sampah di bundaran Tugumuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena perkembangan zaman, pemerintah dapat pro aktif untuk merubah desain tamannya, agar masyarakat bisa menikmati dan menggunakannya. kawasan Tugumuda di masa mendatang perlu dikembangkan dengan konsep new civic square. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menambahkan beberapa tempat duduk (kursi taman), maka pengunjung tidak akan duduk di rerumputan dan merusak tanaman yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena merupakan monumen yang sangat bersejarah, maka perlu pencegahan dari tindakan vandalism berupa coretan-coretan yang menodai benda bersejarah ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya, perlu mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk ikut peduli menjaga kelestarian peninggalan cagar budaya agar tetap lestari sepanjang masa. Monumen ini harus ada yang menjaga dari tangan jahil orang yang tidak bertanggung jawab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang publik baru ini sebenarnya dapat mengurangi kepadatan Simpanglima, sehingga pemerintah kota perlu mendukung untuk menata kembali kawasan taman tugu muda menjadi ruang public yang aksesibel bagi semua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Catalysts in the Design of Cities, Wayne Attoe (1989) mengemukakan konsep tentang cara membangkitkan aktivitas ruang kota ’’mati’’, sehingga produktivitas kota dapat ditingkatkan kembali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakter yang berhubungan dengan aktivitas publik adalah kontinuitas waktu kegiatan, aksesbilitas, daya tampung terhadap jumlah masyarakat, sejarah perkembangan kawasan dan yang terpenting adalah mengakomodir aktivitas masyarakat tanpa membedakan kelas sosial dan status dengan batasan-batasan kemaslahatan umat manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memublikkan Taman Tugumuda  akan menumbuhkan  kawasan segi tiga emas Simpanglima-Tugumuda-Gajahmada sekaligus menjadi wisata ruang publik kota yang baru. (35) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—Sukawi, pengajar Ilmu Arsitektur, Sekretaris Program Diploma Desain Arsitektur Undip.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro UNDIP Semarang Jawa Tengah&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25591165-208159816058417821?l=www.inibandeng.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BerbisnisSambilMenulis/~4/r5Ho-4tVq6s" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="related" href="http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2009/08/25/77859/Menata.Potensi.Taman.Tugumuda" title="Menata Potensi Taman Tugumuda" /><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.inibandeng.com/feeds/208159816058417821/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.inibandeng.com/2009/08/menata-potensi-taman-tugumuda.html#comment-form" title="4 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/25591165/posts/default/208159816058417821?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/25591165/posts/default/208159816058417821?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/BerbisnisSambilMenulis/~3/r5Ho-4tVq6s/menata-potensi-taman-tugumuda.html" title="Menata Potensi Taman Tugumuda" /><author><name>sukawi (owner bandeng rizta)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05844298798212557965</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://bp0.blogger.com/_TBwmD5QKi3k/R3xKcdBJ55I/AAAAAAAAABE/Gty6OBBKAHM/S220/sukawi+foto.jpg" /></author><thr:total>4</thr:total><feedburner:origLink>http://www.inibandeng.com/2009/08/menata-potensi-taman-tugumuda.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEIEQ3c4fip7ImA9WxNSEko.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-25591165.post-2523418273260746569</id><published>2009-08-26T14:32:00.003+07:00</published><updated>2009-08-26T14:41:42.936+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-08-26T14:41:42.936+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="wacana lokal" /><title>Memberdayakan Rusunawa Kaligawe</title><content type="html">
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/5DdnRkVZ49axZuADSGZQDPcA0NU/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/5DdnRkVZ49axZuADSGZQDPcA0NU/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/5DdnRkVZ49axZuADSGZQDPcA0NU/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/5DdnRkVZ49axZuADSGZQDPcA0NU/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="awal"&gt;P&lt;/span&gt;embangunan perumahan memang menjadi dasar kebutuhan masyarakat dan tuntutan pemerintah (daerah atau pusat) untuk memenuhinya. Akan tetapi apabila pembangunan perumahan hanya berdasarkan target penyelesaian tanpa memperhitungkan faktor lain, pembangunan tersebut akan lebih bernuansa pemborosan daripada memenuhi kebutuhan masyarakat dalam jangka panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Semarang sudah merealisasikannya dengan pembangunan rumah susun sederhana sewa (rusunawa) di Pasar Waru, Kelurahan Kaligawe, Kecamatan Gayamsari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah cita-cita pemerintah yang penuh dengan idealisme dalam membantu kaum pekerja bawah sungguh perlu mendapatkan apresiasi. Sudah selayaknya setiap kota dengan tingkat konsentrasi buruh yang tinggi memerlukan kehadiran rumah susun sederhana sewa (rusunawa). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para buruh akan lebih produktif jika didukung dengan bertempat tinggal di rumah layak huni, lingkungan yang bersih, air yang lebih higinis, dan akses yang tidak terlalu sulit dan tidak mahal. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Johan Silas (2000) Pembangunan perumahan ke atas lebih menguntungkan dalam banyak hal dibandingkan pembangunan perumahan ke samping.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Semarang mempunyai Rusunawa Kaligawe yang megah dan telah rampung pembangunannya sejak dua tahun yang lalu namun belum juga dihuni hingga sekarang ini. Padahal sudah banyak warga yang mendaftar untuk dapat menjadi penghuni rusunawa tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusunawa ini terdiri atas tujuh twin block yang masing-masing empat lantai. Lantai satu untuk area publik dan lantai 2-4 untuk hunian. Masing-masing twin block berkapasitas 96 unit rumah, sehingga total hunian 672 unit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kini tujuh twin block rusunawa tersebut masih kosong. Lantaran tak kunjung difungsikan, Rusunawa Kaligawe terancam rusak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambaran tentang potensi kerusakan antara lain cat tembok mulai mengelupas, banyak coretan dari tangan-tangan jahil, sebagian meteran air hilang, dan beberapa bagian bangunan yang menggunakan besi mulai terlihat berkarat. Bahkan pernah juga ada kabar dipakai untuk tempat maksiat.&lt;br /&gt;Untuk Buruh Rusunawa ini sebenarnya diperuntukkan bagi para pekerja atau kaum buruh yang berpenghasilan rendah. Dengan penghasilan pas-pasan diharapkan mereka tetap memiliki kesempatan tinggal di tempat yang teduh dengan sewa yang terjangkau. Mereka yang berasal dari luar kota Semarang bisa memanfaatkan rusunawa, daripada upahnya habis di jalan untuk biaya mahalnya sarana transportasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusunawa Kaligawe ini dibangun di atas lahan yang potensial terkena banjir. Mungkin pertimbangan awalnya adalah lokasi itu relatif dekat dengan padatnya pabrik-pabrik mulai skala kecil hingga besar di Kaligawe. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengantisipasinya, rusunawa ini dapat dilengkapi dengan sistem polder yang terdiri atas saluran, pompa dan kolam penampungan. Air dari sekitar rumah susun dapat dialirkan melalui saluran yang tersedia lalu dikirim ke kolam penampungan. Kemudian, air dibuang ke Sungai Banjir kanal Timur lewat rumah pompa.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini sebagai langkah antisipasi dari kemungkinan banjir dan rob. Penting diketahui, Rusunawa Kaligawe dibangun di atas tanah urukan yang semula rawa-rawa dan sangat rentan terhadap banjir dan rob. pembangunan rusun itu juga harus mengantisipasi kemungkinan penurunan tanah. Sama tidak optimalnya ketika Rusunawa nantinya membuat lingkungan sekitarnya jadi kebanjiran atau rusak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini sangat tidak diinginkan bersama. Rusunawa Kaligawe pada dasarnya dibangun pemerintah untuk memenuhi kebutuhan warga di bidang rumah atau papan yang menjadi kebutuhan dasar manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memanfaatkan tanah negara yang ada, Rusunawa setidaknya akan dapat memenuhi kebutuhan banyak keluarga atas rumah di tengah keterbatasan lahan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawasan ini harus dirancang dengan baik agar memiliki sistem drainase yang memadai, dan masalah teknis lainnya sekaligus juga penataan sistem lingkungan sosial keamanannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu tidak lupa untuk memperbaiki semua yang rusak sebelum dihuni. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memberdayakan Rusunawa Kaligawe, sudah selayaknya untuk secepatnya dihuni dengan aturan maupun persyaratan yang tidak rumit dan meringankan para buruh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti memiliki KTP dan KK (sudah berkeluarga), mengantongi surat keterangan belum memiliki rumah yang diketahui lurah dan camat, memiliki penghasilan tetap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk karyawan pabrik, dapat melampirkan keterangan penghasilan per bulan. Sementara, pekerja sektor informal seperti pedagang pasar, dan pekerjaan lainnya dapat melampirkan bukti keterangan penghasilan dari lurah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan Rusunawa yang didukung sarana dan prasarana yang baik serta lokasi yang tidak jauh dari pusat kota maupun tempat bekerja didukung sarana transportasi umum, hal itu sangat membantu bagi rakyat berpenghasilan kecil. Minimal biaya transportasi tidak besar dibandingkan harus bertempat tinggal di luar kota yang jauh dari tempat kerjanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para calon penghuni benar-benar harus disadarkan hidup berlingkungan bersih dan sehat sejak awal. Bertempat tinggal di rumah susun membutuhkan daya toleransi yang jauh lebih kompleks dibandingkan dengan perkampungan biasa. (35)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—Sukawi, pengajar Ilmu Arsitektur, Sekretaris Program Diploma Desain Arsitektur Undip&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro UNDIP Semarang Jawa Tengah&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25591165-2523418273260746569?l=www.inibandeng.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BerbisnisSambilMenulis/~4/1UNrG-mLkYk" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="related" href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2009/08/12/76477/Memberdayakan.Rusunawa.Kaligawe" title="Memberdayakan Rusunawa Kaligawe" /><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.inibandeng.com/feeds/2523418273260746569/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.inibandeng.com/2009/08/memberdayakan-rusunawa-kaligawe.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/25591165/posts/default/2523418273260746569?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/25591165/posts/default/2523418273260746569?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/BerbisnisSambilMenulis/~3/1UNrG-mLkYk/memberdayakan-rusunawa-kaligawe.html" title="Memberdayakan Rusunawa Kaligawe" /><author><name>sukawi (owner bandeng rizta)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05844298798212557965</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://bp0.blogger.com/_TBwmD5QKi3k/R3xKcdBJ55I/AAAAAAAAABE/Gty6OBBKAHM/S220/sukawi+foto.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.inibandeng.com/2009/08/memberdayakan-rusunawa-kaligawe.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkMFQn48eSp7ImA9WxJTE0w.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-25591165.post-6354311668193230152</id><published>2009-04-21T18:41:00.002+07:00</published><updated>2009-04-21T18:46:53.071+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-04-21T18:46:53.071+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="wacana lokal" /><title>Peta Drainase Kota Semarang</title><content type="html">
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/CEeYwshtR4M-4SXlKCkUjHserOQ/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/CEeYwshtR4M-4SXlKCkUjHserOQ/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/CEeYwshtR4M-4SXlKCkUjHserOQ/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/CEeYwshtR4M-4SXlKCkUjHserOQ/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="awal"&gt;S&lt;/span&gt;aat hujan deras turun dan air menggenangi puluhan titik ruas jalan di Kota Semarang, masyarakat baru kembali teringat soal drainase. Genangan air adalah persoalan klasik kota Semarang yang erat kaitannya dengan masalah saluran pembuangan air. Meskipun sebagian sistem drainase di wilayah Kota telah terbangun sejak puluhan tahun lalu, tetapi setiap musim hujan datang air tetap menggenang di berbagai lokasi. &lt;br /&gt;Salah satu langkah pencegahan adalah perlu segera “action” dari pemerintah kota Semarang untuk membuat peta drainase kota yang menyeluruh dan komprehensif, selain memperbaiki drainase agar sesuai dengan kondisi kota sekarang dan akan datang. Seorang teman pernah berkata, “angkot saja punya peta, masa kota sebesar Semarang tidak punya peta drainase”. &lt;span class="fullpost"&gt;        &lt;br /&gt;Menghadapi musim penghujan, harus ada upaya jangka pendek yang bisa dilakukan diantaranya pengerukan sampah dan endapan di selokan- selokan, terutama di kawasan yang sering terjadi genangan. Selain itu, memperbaiki riol yang menyumbat, memperbaiki drainase, dan membuat sumur resapan di kawasan yang rawan genangan air alias banjir. Bila diperlukan, siapkan pompa air dan selang secukupnya untuk membantu mematus air yang tergenang menuju anak sungai atau drainase terdekat. &lt;br /&gt;Banjir di hilir bisa disebabkan hujan lebat di hulu. Sebab, badan sungai di hilir menyempit atau mengalami pendangkalan. Sementara banjir yang menggenang di suatu tempat bisa disebabkan hanya oleh hujan lokal karena kawasan tersebut kedap air dan tidak memiliki daerah resapan air yang baik. Harus dibuat rencana yang jelas untuk mengatasi ini akibat pembangunan infrastruktur yang tidak terencana.  Koordinasi menangani banjir secara mikro harus terus dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak.  &lt;br /&gt;Selain itu juga perlunya peran serta masyarakat. Perilaku masyarakat juga harus diperbaiki. Masyarakat harus proaktif, jangan membuang sampah di kali dan selokan. Jangan dibebankan semuanya kepada pemerintah. Selain itu perlu dibangun kesadaran, komitmen dan kerjasama dengan komponen masyarakat. Penanganan air yang parsial hanya akan membuahkan kegagalan. Program Kali Bersih seakan tidak ada artinya karena setiap saat masih saja ada yang mencemari sungai. Terbukti, kondisi sungai di perkotaan justru kian tercemar. &lt;br /&gt;Masyarakat ditepi sungai masih menganggap sungai baikan bak sampah raksasa. Semuanya mulai dari sampah rumah tangga sampai kasurpun dibuang di sungai.  Padahal di negara maju, sungai yang membelah di tengah kota seperti Sungai Thames di London, Rhijn di Belanda dan lainnya digarap dengan serius serta dijaga kebersihannya. Sehingga sungai menjadi indah serta dapat dinikmati untuk arena rekreasi. &lt;br /&gt;Terjadinya genangan air atau banjir, karena penampang drainase banyak yang dipersempit, diuruk, atau diperkeras tanpa izin untuk keperluan pendirian bangunan atau pengaspalan. Drainase juga tersumbat karena menjadi saluran pembuangan limbah sehingga kerap dipenuhi sampah, daun, kertas bekas, dan kotoran lain. Selain membersihkan drainase, pelebaran penampang atau penambahan saluran air dapat meminimalkan terjadinya genangan air dalam jangka waktu tertentu. &lt;br /&gt;Pendangkalan akibat banyaknya sampah merupakan problem utama pemeliharaan sungai di Kota Semarang. Coba untuk menyusuri kali Semarang, beberapa bagian banyak yang tertutup dengan beton untuk tempat parkir. Keburukan drainase sekunder dan tersier di kampung-kampung membuat kota Semarang bagian bawah tetap terancam banjir. Belum lagi banyaknya bangunan dan kios pedagang yang berdiri di saluran drainase. Banyak saluran yang berada di bawah bangunan dan terjadi penyempitan. Pemerintah Kota Semarang terutama Dinas Pekerjaan Umum tentu tidak akan mampu menangani sendiri pembersihan sampah dan endapan lumpur yang menyumbat drainase-drainase. Pemerintah perlu menerapkan sistem pengelolaan drainase bersama masyarakat.&lt;br /&gt;Peta drainase dapat berupa peta drainase regional, yaitu berupa skala Kota Semarang secara umum, dan skala meso atau skala wilayah dan kecamatan, serta skala mikro yang mencakup kelurahan, RT, RW, dan kompleks permukiman. Peta ini diperlukan untuk landasan pembuatan keputusan teknis terkait dengan saluran drainase positif. DPU bertugas membersihkan drainase-drainase utama, sedang masyarakat membersihkan drainase-drainase di lingkungan masing-masing secara rutin. Tindakan itu juga perlu diikuti para pengembang perumahan di Kota Semarang. &lt;br /&gt;Selama ini, banyak pengembang yang membangun drainase tanpa ada arahan dari pemerintah bahwa air harus dilarikan ke saluran drainase mana, sehingga air dari drainase permukiman milik pengembang justru membebani drainase yang sudah ada. Hal itu disebabkan belum adanya peta sistem drainase Kota Semarang yang terpadu. Kalau pemerintah mempunyai peta sistem drainase yang terpadu, mereka dapat mengarahkan pengembang dalam pembuatan drainase lingkungan perumahan. &lt;br /&gt;Peta ini dapat menjadi acuhan bagi semua pihak yang akan membangun wilayahnya. Sehingga jelas mana saluran primer, saluran sekunder maupun saluran tersier dalam sistem drainase kota yang terpadu. Selain itu juga mana saluran yang terbuka dan saluran yang dapat ditutup serta titik titik bak kontrolnya. Hal ini harus dapat tersosialisasi sampai lingkungan RT yang terkecil, untuk menghindari sengketa sistem drainase terutama pada lingkungan RT, RW maupun antar permukiman.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis :&lt;br /&gt;Sukawi, Pengajar Arsitektur, Sekretaris D3 Desain Arsitektur UNDIP dan aktivis Komunitas Loenpia.net Semarang.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro UNDIP Semarang Jawa Tengah&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25591165-6354311668193230152?l=www.inibandeng.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BerbisnisSambilMenulis/~4/rw7xSD9-rVk" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.inibandeng.com/feeds/6354311668193230152/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.inibandeng.com/2009/04/s-aat-hujan-deras-turun-dan-air_21.html#comment-form" title="4 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/25591165/posts/default/6354311668193230152?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/25591165/posts/default/6354311668193230152?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/BerbisnisSambilMenulis/~3/rw7xSD9-rVk/s-aat-hujan-deras-turun-dan-air_21.html" title="Peta Drainase Kota Semarang" /><author><name>sukawi (owner bandeng rizta)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05844298798212557965</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://bp0.blogger.com/_TBwmD5QKi3k/R3xKcdBJ55I/AAAAAAAAABE/Gty6OBBKAHM/S220/sukawi+foto.jpg" /></author><thr:total>4</thr:total><feedburner:origLink>http://www.inibandeng.com/2009/04/s-aat-hujan-deras-turun-dan-air_21.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkcBSHc9cCp7ImA9WxJTE0w.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-25591165.post-629822854114514979</id><published>2009-04-21T18:37:00.001+07:00</published><updated>2009-04-21T18:40:59.968+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-04-21T18:40:59.968+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="wacana lokal" /><title>Semarang, Kota Metropolis Semu?</title><content type="html">
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/7zmv8cFKlezuLptQZUcnV_DTbag/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/7zmv8cFKlezuLptQZUcnV_DTbag/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/7zmv8cFKlezuLptQZUcnV_DTbag/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/7zmv8cFKlezuLptQZUcnV_DTbag/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="awal"&gt;S&lt;/span&gt;eperti telah diketahui, Semarang sudah ditasbihkan menjadi sebuah kota Metropolitan. Tetapi dengan atau tanpa kita sadari, sarana dan prasarana yang ada sudahkah mencerminkan sebagai kota Metropolitan? Cakupan penduduk kota Semarang mungkin sudah kriteria metropolitan, tapi mutu layanan dan pengembangan ruang aktivitas kota cenderung sebagai metropolitan semu atau tepatnya jebakan metropolis. &lt;br /&gt;Kota besar yang disebut kota metropolitan itu memiliki banyak syarat, tidak hanya didasarkan pada jumlah penduduknya yang besar. Kota metropolitan ibarat ibu yang mampu mewadahi semua kegiatan dan kehidupan bagi masyarakatnya. Jika hal itu belum terpenuhi maka kota itu belum selayaknya disebut Kota Metropolitan. &lt;br /&gt;Selama ini Indonesia lebih bertumpu pada ukuran jumlah penduduk untuk mengkategorikan skala kota. Jika penduduk satu kota berkisar 100.000 disebut kota kecil, kemudian jika penduduk berkisar 200.000-300.000 disebut kota sedang. Kota besar itu kalau jumlah penduduk antara 500.000 sampai satu juta orang serta kota metropolitan itu penduduknya lebih satu juta orang. &lt;br /&gt;Meminjam istilah Prof Eko Budiharjo, yang terjadi adalah miseropolis. Kota yang penuh kesengsaraan, kekacaubalauan, tak jelas mana yang harus dilindungi dan mana yang harus diganti dan sebagainya. Tekanan urbanisasi yang hebat, ketatakotaan yang berjalan tanpa visi, serta keacuhan warga termasuk institusi pendidikan yang ada menyebabkan tumbuh secara organis dan siap mencaplok ruang publik yang tersisa.&lt;br /&gt;Ruang publik sebagai bagian dari struktur ruang Kota Semarang itu juga tidak luput dari kondisi sekadar menjadi cadangan lahan untuk pengembangan lebih lanjut apa saja yang dilakukan di kota itu. Bahkan nyaris balapan antara pemerintah dengan para pedagang kaki lima.&lt;span class="fullpost"&gt;        &lt;br /&gt; Penyerobotan-penyerobotan ruang publik sering disertai himbauan-himbauan naif dari pemerintah. Seperti menjamurnya billboard-billboard iklan luar ruang yang menutup saujana (lansekap) kota, dibolehkan asal membayar pajak iklan, dan memberikan sumbangan sukarela dengan dalih untuk pengadaan lampu hias kota, plus wajib menempelkan iklan layanan masyarakat. &lt;br /&gt;Ketiadaan ruang publik ini kemudian menjadikan masyarakat membuat ruang publik baru untuk segala aktivitas; ruang pseudo-publik, ruang yang seolah-olah berfungsi sebagai ruang publik, padahal sebenarnya bukan ruang publik. Maka ramailah tempat-tempat seperti shopping mall dan kafe-kafe yang saat ini menjamur pula di Semarang.&lt;br /&gt;Lalu akankah Semarang akan kehilangan ruang publiknya? Arah ke sana sebenarnya bisa nyata kita lihat. Pembangunan mal dan pusat perbelanjaan, perumahan serta hotel belum memperlihatkan tanda-tanda berhenti. Tengok pula saat ini berapa banyak proyek pembangunan yang ditujukan untuk memperluas akses kendaraan bermotor. Bandingkan dengan proyek revitalisasi bagi ruang publik, seperti taman kota, museum atau sekolah dan sarana olahraga.&lt;br /&gt; Seabreg predikat dan kemasyhuran sebagai kota atlas dan kota jasa seakan tak cukup meyakinkan untuk perlakuan layak atas ruang publik kota. pembangunan kota-kota kiranya lebih tepat bila orientasinya lebih ditekankan pada penciptaan kota yang manusiawi (humanopolis) dan sebuah kota yang bersahabat dengan lingkungan (ecopolis).&lt;br /&gt;Kota Metropolitan itu setidaknya dapat dilihat dari tersedianya sarana yang tertata rapi mencakup empat hal yakni wisma, karya, marga, dan suka. Wisma yaitu rumah-rumah di permukiman sudah tertata sehingga tidak ada lagi perkampungan kumuh. Kota adalah karya, di mana masyarakat gampang memperoleh pekerjaan dan lapangan kerja yang bisa diakses oleh semua lapisan masyarakat. &lt;br /&gt;Kemudian marga menyangkut sarana transportasi. Kota Metropolitan sangat mementingkan pelayanan transportasi publik. Jalan-jalan yang ada tertata rapi, angkutan kota cepat, jadwal yang teratur membuat warga mudah memanfaatkan sarana itu ke berbagai tujuan&lt;br /&gt;Kota metropolitan yang mapan tidak bisa hanya ditinjau dari banyaknya gedung bertingkat, jalan layang dan permukiman yang hanya untuk sekelompok orang saja. Perkembangan kota metropolitan harus berkelanjutan dengan mengedepankan masa depan masyarakat agar leluasa dalam bidang ekonomi, pekerjaan, ekologi. Kota juga dibangun atas partisipasi masyarakat yang turut memberikan masukan dan pandangan mengenai perkembangan kotanya sehingga kota itu berkembang atas dasar demokrasi yang dibangun sendiri oleh masyarakatnya. &lt;br /&gt;Ini menjadi sebuah keharusan karena kebanyakan kota-kota besar berkembang dengan mengabaikan kepentingan sosial-budaya masyarakat, dan cenderung merusak keseimbangan ekosistem. Dengan demikian kita dapat terhindar dari apa yang disebut J.O. Simmonds sebagai bunuh diri ekologis (ecological suicide).&lt;br /&gt;Betapapun rumitnya permasalahan yang membelit kota Semarang, kita mesti pancangkan optimisme dan harapan. Kota tetap saja akan tumbuh dan berkembang dan tidak mungkin dihambat lajunya. Persoalannya adalah bagaimana kita mengatur dan mengelola perkembangannya dengan wawasan kemanusiaan (human oriented) dan pendekatan ekologi (ecological approach).&lt;br /&gt;Penulis : Sukawi, Pengajar Ilmu Arsitektur dan Sekretaris Prodi D3 Desain Arsitektur UNDIP dan aktivis Komunitas Loenpia.net Semarang&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro UNDIP Semarang Jawa Tengah&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25591165-629822854114514979?l=www.inibandeng.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BerbisnisSambilMenulis/~4/SnGUyHi4ZnE" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.inibandeng.com/feeds/629822854114514979/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.inibandeng.com/2009/04/semarang-kota-metropolis-semu.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/25591165/posts/default/629822854114514979?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/25591165/posts/default/629822854114514979?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/BerbisnisSambilMenulis/~3/SnGUyHi4ZnE/semarang-kota-metropolis-semu.html" title="Semarang, Kota Metropolis Semu?" /><author><name>sukawi (owner bandeng rizta)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05844298798212557965</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://bp0.blogger.com/_TBwmD5QKi3k/R3xKcdBJ55I/AAAAAAAAABE/Gty6OBBKAHM/S220/sukawi+foto.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.inibandeng.com/2009/04/semarang-kota-metropolis-semu.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEQBQHYycSp7ImA9WxRWEEQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-25591165.post-3558861203633440674</id><published>2008-10-27T14:10:00.000+07:00</published><updated>2008-10-27T14:25:51.899+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-10-27T14:25:51.899+07:00</app:edited><title>Blog : Menjembatani Dua Dunia</title><content type="html">
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/XCm9WJISKhIw4T9Rv71psT0q9Kw/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/XCm9WJISKhIw4T9Rv71psT0q9Kw/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/XCm9WJISKhIw4T9Rv71psT0q9Kw/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/XCm9WJISKhIw4T9Rv71psT0q9Kw/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_TBwmD5QKi3k/SQVshoSC_oI/AAAAAAAAAHQ/HtQRlBvly7E/s1600-h/blogtoday.png"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 158px; height: 188px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_TBwmD5QKi3k/SQVshoSC_oI/AAAAAAAAAHQ/HtQRlBvly7E/s200/blogtoday.png" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5261731064656887426" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah tulisan yang berisi pendapat pribadi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="awal"&gt;K&lt;/span&gt;etika saya pribadi mengenal sebuah Blog, terbersit niatan untuk memberikan lebih apa yang aku punya kepada orang lain. &lt;br /&gt;Disini semua pikiran, uneg-uneg, keluh kesah, dan apa yang berkecamuk didalam hati bisa kita tumpahkan tanpa ada beban. &lt;br /&gt;Sebagai seorang penulis dan juga pengajar, sering kali setiap artikel yang aku buang pasti larinya ke tong sampah maupun akan memenuhi space hardisk komputer yang semakin penuh saja.&lt;br /&gt;Tetapi semuanya itu lenyap.... setelah di tahun 2006, tepatnya 2 tahun yang lalu aku mulai berkenalan dengan apa yang namanya BLOG.&lt;br /&gt;Disini semua maslah mulai terurai.... tulisanku yang dimuat di media mulai dari Seputar Semarang, &lt;a href="http://kompas.com"&gt;Kompas&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://suaramerdeka.com"&gt;Suara Merdeka&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://harianjoglosemar.com"&gt;HArian Joglosemar&lt;/a&gt;, bahkan sampe tabloid seperti Tabloid simpang Lima, majalah kampus dan sebagainya sering berserakan dan menjadi kliping yang suatu saat nanti akan menjadi hiasan dinding museum perpustakaan pribadiku.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dengan BLOG seakan menjembatani dunia -ku yang penuh dengan kebisuan dengan dunia luar sana yang ternyata banyak sekali tulisanku yang mungkin berguna bagi orang lain. Mulai dari sekedar membaca dan memberi komentar atas artikelku sampai membuat ijin untuk menge-link artikelku &lt;br /&gt;Bahkan yang lebih mengharukan lagi..... dengan BLOG aku mulai tersambung dengan teman-temen mulai dari SMA, sampai dengan teman2 dimasa kuliah dulu. Duh... senengnya....&lt;br /&gt;Ternyata dengan BLOG , aku memetik buanyak manfaat dan sekaligus dapat menjembatani dua duniaku sehingga selalu dapat meng- update berita untuk mengisi relung-relung memori diotakku untuk menjadi modal menulis artikel di Media massa.&lt;br /&gt;Terima kasih BLOG....&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro UNDIP Semarang Jawa Tengah&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25591165-3558861203633440674?l=www.inibandeng.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BerbisnisSambilMenulis/~4/Q8a0x6vieBw" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.inibandeng.com/feeds/3558861203633440674/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.inibandeng.com/2008/10/blog-menjembatani-dua-dunia.html#comment-form" title="14 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/25591165/posts/default/3558861203633440674?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/25591165/posts/default/3558861203633440674?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/BerbisnisSambilMenulis/~3/Q8a0x6vieBw/blog-menjembatani-dua-dunia.html" title="Blog : Menjembatani Dua Dunia" /><author><name>sukawi (owner bandeng rizta)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05844298798212557965</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://bp0.blogger.com/_TBwmD5QKi3k/R3xKcdBJ55I/AAAAAAAAABE/Gty6OBBKAHM/S220/sukawi+foto.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/_TBwmD5QKi3k/SQVshoSC_oI/AAAAAAAAAHQ/HtQRlBvly7E/s72-c/blogtoday.png" height="72" width="72" /><thr:total>14</thr:total><feedburner:origLink>http://www.inibandeng.com/2008/10/blog-menjembatani-dua-dunia.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0cARHc-fyp7ImA9WxRWEEQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-25591165.post-3181794706348222437</id><published>2008-10-27T14:00:00.000+07:00</published><updated>2008-10-27T14:04:05.957+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-10-27T14:04:05.957+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="wacana lokal" /><title>Mengurai Kemacetan Kota Semarang</title><content type="html">
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Zk9vITKp4IHc_8PmcMfHw68WVZ8/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Zk9vITKp4IHc_8PmcMfHw68WVZ8/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Zk9vITKp4IHc_8PmcMfHw68WVZ8/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Zk9vITKp4IHc_8PmcMfHw68WVZ8/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_TBwmD5QKi3k/SQVnvuR1XYI/AAAAAAAAAHI/puRkX3lymWw/s1600-h/blogtoday.png"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 158px; height: 188px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_TBwmD5QKi3k/SQVnvuR1XYI/AAAAAAAAAHI/puRkX3lymWw/s200/blogtoday.png" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5261725809226636674" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="awal"&gt;M&lt;/span&gt;ASYARAKAT Kota Semarang mungkin boleh iri dengan keberadaan busway di Jakarta yang sedikit mampu mengendalikan kemacetan lalu lintas. Lalu bagaimana Kota ATLAS mampu menyelesaikan persoalan kemacetan di jalan. Busway merupakan suatu sistem perangkutan dengan bus yang sangat teratur dan membutuhkan disiplin tinggi dari penggunanya. Akan selesaikah persoalan kemacetan di ruas jalan Kota Semarang dengan solusi menerapkan sistem itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir dipastikan jawabannya adalah tidak. Dari tahun ke tahun kemacetan di Kota Semarang mulai mendekati kondisi Jakarta. Memang tidak dapat dimungkiri bahwa jumlah kendaraan yang berlalu lalang di Semarang sangat luar biasa, sehingga muncul sedikit gangguan saja dapat berakibat fatal terhadap kelancaran lalu lintas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dicermati, hampir dapat dipastikan sebagian besar penyebab kemacetan lalu lintas di Semarang adalah ketidaktertiban para pengguna jalan. Kondisi itu semakin diperparah dengan pemanfaatan jalan dan kelengkapannya untuk kegiatan yang mengganggu lalu lintas (PKL dan parkir, misalnya) serta perubahan fungsi kawasan yang direstui pemkot meski tidak sesuai dengan rencana tata ruangnya, sehingga muncul banyak sekali simpul jalan yang bottle neck. Coba tengok penggal Jalan Majapahit, Jalan Soekarno Hatta, Jalan Sriwijaya, Jalan Kaligawe, dan masih banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;        &lt;br /&gt;Rencana Tata Ruang&lt;br /&gt;Bagaimana masyarakat Semarang menyikapi kemacetan? Jawabannya adalah rebutan. Mari lihat kemacetan di perempatan jalan yang dilengkapi dengan traffic light pada pagi dan sore hari di saat jam masuk dan pulang kerja.&lt;br /&gt;Pada pihak yang terkena lampu merah, kendaraan yang berada di belakang menempel ketat kendaraan di depannya, seolah kondisi itu adalah pembenaran untuk melanggar lampu merah. Sementara itu di pihak lampu hijau, tanpa peduli apa yang terjadi di depannya, segera bergerak untuk mengambil ”hak”nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu semua baru dari iklim ketertiban yang sama sekali belum disentuh secara sungguh-sungguh oleh pemerintah, aparat, maupun masyarakat. Bagaimana dengan perencanaan kotanya sendiri? Apakah sudah melihat keberkaitan antara pengembangan pusat-pusat kegiatan dengan lalu lintas di Kota ATLAS? Silakan tengok perkembangan kawasan perkantoran, komersial seperti mal dan pusat perbelanjaan sejenis DP Mal, Java Mal, dan ruko-ruko yang menjejali pusat Kota Semarang, kawasan permukiman di Semarang atas dan banyak lagi. Peran rencana tata ruang, tidak lebih dari sekadar macan kertas. Ibarat anjing menggonggong yang tak pernah menggigit. Kelemahan lain adalah tidak adanya posisi tawar (bargaining position) dari rakyat atau warga. Seolah yang serbamenentukan adalah pemerintah, pusat, maupun daerah. Rencana itu mudah diubah sesuai dengan permintaan pasar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pebisnis, yang tentunya tidak buta huruf atau buta peta, cenderung menyiasati rencana tata ruang untuk pengembangan bisnisnya ketimbang membantu upaya pemerintah mengurangi tekanan lalu lintas pada kawasan yang memang sudah padat. Pemerintah pun dengan senang hati mengabulkan keinginan pebisnis itu karena ada keuntungan bagi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa melihat sendiri pusat kota selalu dijejali dengan mal, supermal, department store, pusat perbelanjaan yang serba-wah, tanpa tersedia ruang terbuka hijau yang memadai. Ruang terbuka hijau dengan perlahan diobrak-abrik, taman berubah jadi perkantoran, perbukitan ditanami rumah mewah, pantai diuruk dan dikapling-kapling. Apalagi jika seluruh kapling itu nantinya penuh diisi oleh bangunan (tinggi), berapa tambahan kendaraan yang dibutuhkan untuk mengangkut sejumlah manusia tersebut menuju bangunan baru dan keluar dari bangunan tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa banyak lagi tambahan beban transportasi yang harus dipikul oleh jalan tersebut? Pelan namun pasti, Kota Semarang akan menjadi kota îbaskonî karena penegakan aturan koefisien dasar bangunan (KDB) masih carut marut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pusat Keramaian Baru&lt;br /&gt;Belajar dari konsep perencanaan kota-kota besar di Eropa, tanpa tersedianya sarana transportasi bawah tanah, seharusnya jumlah bangunan tinggi di pusat Kota Semarang dibatasi. Hal itu bertujuan untuk membatasi jumlah manusia per meter persegi lahan yang beraktivitas di kawasan pusat kota itu. Bangunan tinggi sebaiknya di bangun di tepi kota dengan persyaratan KDB yang rendah, untuk menghindari terkonsentrasinya manusia di suatu tempat, dan secara langsung atau tidak langsung mengurangi tingkat konsentrasi lalu lintas di kawasan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemkot bisa memulai dengan berusaha memindahkan pusat-pusat kegiatan ke pinggir kota. Hai itu untuk mengurangi beban aktivitas kota yang selalu berkait dengan masalah beban transportasi. Pusat keramaian baru dibangun di tepi atau bahkan di perbatasan kota, seperti Mangkang, Mijen, Pucanggading, dan Gunungpati. Sementara itu pusat kota tetap diisi oleh bangunan yang rendah guna menghindari terkonsentrasinya lalu lintas yang akan mengakibatkan kemacetan. Jika tidak dipikirkan dari sekarang, perkembangan pusat kota Semarang akan semakin cenderung mengkhawatirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tumbuh pesatnya bangunan baru sebagai pusat aktivitas manusia menimbulkan kemacetan yang sulit diselesaikan. Untuk itu, secepatnya harus membuat strategi baru konsep perencanaan dan perancangan kota. Menurut Wayne Attoe, untuk membangkitkan aktivitas pertumbuhan baru, salah satunya adalah dengan membuat wadah/tempat untuk mengumpulan kegiatan masyarakat kota diiringi dengan penambahan fasilitas publik. Berdasarkan konsep itu, kiranya dapat dipelajari tentang keberhasilan pengembangan pusat kegiatan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa belajar dari kawasan Simpanglima yang mempunyai karakteristik yang dapat digunakan sebagai acuan dalam pembuatan pu-sat keramaian baru di Semarang. Karakteristik yang berhubungan dengan aktivitas publik itu berfungsi sebagai pusat perdagangan, pencapaian yang mudah, kontinuitas kegiatan, dan daya tampung masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan pusat keramaian baru atau bangunan yang akan menyedot banyak manusia atau pengunjung di pusat-pusat kota harus segera dicegah, dialihkan ke tepi kota, atau kawasan yang belum padat. Jika perlu diletakkan di kawasan baru. Tanpa ada goodwill dari penguasa kota untuk mengontrol perkembangan pusat kota, maka dalam beberapa waktu mendatang Semarang akan menjadi tempat yang dapat menyulitkan bagi keberlangsungan hidup warganya sendiri.&lt;br /&gt;dimuat di &lt;a href="http://suaramerdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailberitacetak&amp;id_beritacetak=14355"&gt;Suara Merdeka&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro UNDIP Semarang Jawa Tengah&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25591165-3181794706348222437?l=www.inibandeng.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BerbisnisSambilMenulis/~4/0LcxQoANe2s" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.inibandeng.com/feeds/3181794706348222437/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.inibandeng.com/2008/10/mengurai-kemacetan-kota-semarang.html#comment-form" title="4 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/25591165/posts/default/3181794706348222437?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/25591165/posts/default/3181794706348222437?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/BerbisnisSambilMenulis/~3/0LcxQoANe2s/mengurai-kemacetan-kota-semarang.html" title="Mengurai Kemacetan Kota Semarang" /><author><name>sukawi (owner bandeng rizta)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05844298798212557965</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://bp0.blogger.com/_TBwmD5QKi3k/R3xKcdBJ55I/AAAAAAAAABE/Gty6OBBKAHM/S220/sukawi+foto.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_TBwmD5QKi3k/SQVnvuR1XYI/AAAAAAAAAHI/puRkX3lymWw/s72-c/blogtoday.png" height="72" width="72" /><thr:total>4</thr:total><feedburner:origLink>http://www.inibandeng.com/2008/10/mengurai-kemacetan-kota-semarang.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CkUDSXc8cSp7ImA9WxRWEEQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-25591165.post-6159181092101492645</id><published>2008-10-27T13:45:00.000+07:00</published><updated>2008-10-27T13:51:18.979+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-10-27T13:51:18.979+07:00</app:edited><title>Mewaspadai Ancaman Peneduh Kota</title><content type="html">
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ZVXRLUskSS9bkfl5vBecJLOC_9o/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ZVXRLUskSS9bkfl5vBecJLOC_9o/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ZVXRLUskSS9bkfl5vBecJLOC_9o/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ZVXRLUskSS9bkfl5vBecJLOC_9o/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_TBwmD5QKi3k/SQVkxpUyvvI/AAAAAAAAAHA/C6WvHseRkU0/s1600-h/gardu+a.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 174px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_TBwmD5QKi3k/SQVkxpUyvvI/AAAAAAAAAHA/C6WvHseRkU0/s200/gardu+a.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5261722543721725682" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_TBwmD5QKi3k/SQVkMM42oNI/AAAAAAAAAG4/xoiihP9sd-Q/s1600-h/blogtoday.png"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 158px; height: 188px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_TBwmD5QKi3k/SQVkMM42oNI/AAAAAAAAAG4/xoiihP9sd-Q/s200/blogtoday.png" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5261721900433187026" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="awal"&gt;T&lt;/span&gt;UMBANGNYA pohon-pohon di kota, baik sebagai peteduh jalan maupun taman, kerap terjadi di setiap penghujung musim penghujan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal musibah yang sering menimbulkan kerugian materi dan tidak jarang merenggut jiwa itu tidak perlu berulang kali terjadi dan harus segera dihindari. Cukuplah kiranya memetik pelajaran mahal dari musibah tersebut.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati-hati, di balik rimbunnya pohon yang menjadi peneduh Semarang, ternyata tersimpan bahaya. Pepohonan penghijau yang berperan sebagai paru-paru kota itu kini justru menjadi ancaman serius, karena tak cukup kokoh menahan terpaan angin kencang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buktinya, puluhan pohon jalan tumbang dan mengalami patah dahan di sepanjang Jl dr Wahidin hingga tanjakan Gombel. Bahkan sebuah pohon yang tumbang di depan kantor PLN mengadang jalan, ketika hujan deras diikuti angin yang mengguyur Semarang (SM, 9/10/2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah kejadian berulang dan menjadi langganan tersebut makin membuktikan belum ada perhatian serius dalam mengendalikan salah satu aset kota ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran beberapa jenis pohon, baik jenis-jenis yang telah ’’berumur’’ warisan zaman Belanda seperti kenari (Canarium commune), asam (Tamarindus indica) dan damar (Agatis damara), maupun jenis ’’pionir’’ penghijauan yang cepat tumbuh di belantara hutan beton dan aspal kota di masa Orba, seperti angsana (Pterocarpus indicus), layak diperlakukan sebagai makhluk hidup yang tumbuh, berkembang dan perlu perawatan yang memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut anggapan umum, penyebab tumbangnya pohon adalah umur pohon yang sudah tua, antara 20-30 tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha penanggulangan Dinas Pertamanan dan Pemakaman Kota Semarang adalah dengan menebangi pohon- pohon tua. Sebenarnya pohon angsana umur 20-30 tahun belumlah tua. Dapat dikatakan masih remaja dan seharusnya masih kuat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon angsana banyak ditanam pada 1980-an. Alasannya, pohon itu gampang tumbuh dan tahan penyakit. Karena bongsor, angsana diharapkan cepat menyerap karbondioksida dan logam berat yang dihasilkan knalpot kendaraan bermotor. Kala itu, penanaman banyak dilakukan dengan stek. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;        &lt;br /&gt;Perakaran Tak Kuat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angsana memang gampang ditanam, tapi pohon yang tumbuh dari stek jelas tidak kokoh karena perakarannya tak kuat. Pemeliharaannya pun perlu perhatian. Misalnya, pohon jangan dibiarkan bercabang banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cabang-cabang kecilnya tentu tak sekuat cabang tua yang lebih berotot. Keadaan itu diperparah oleh banyaknya akar yang terpotong karena pembangunan got, penanaman kabel dan pipa air bersih, serta pembangunan trotoar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun mengapa banyak yang menjadi rapuh? Jawabannya sederhana: karena kita menyiksanya, tapi tak menyadarinya. Penyiksaan itu berupa pencemaran udara yang makin hari makin berat, karena semburan gas buang kendaraan bermotor yang makin hari makin banyak. Udara tercemar meracuninya. Permukaan dedaunan tertutup lapisan jelaga hitam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita menyiksa pohon dengan memperlebar jalan, mempersempit trotoar, serta menyemen tempat pohon tumbuh. Dari mana akar mendapat oksigen untuk pernapasannya? Dari mana pula akar mendapatkan air? Kekurangan oksigen juga mengurangi kemampuan akar menyerap air dan zat hara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman penghijau kota harus memenuhi kriteria khusus. Misalnya, akar tidak tumbuh mendatar, sehingga tak merusak badan jalan dan fasilitas kota lainnya. Batang harus tumbuh lurus dengan percabangan terendah minimal tiga meter, dan tidak mengalami perontokan daun berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Kota Semarang, sebagian besar hampir tak punya kendala ekologis dan geografis. Segala jenis pohon, terutama pepohonan dataran rendah, bisa tumbuh baik. Misalnya mahoni (Swiefenio microphylia), tanjung (Mimusops elengi), trembesi (Samonea saman), asam (Tamarindus indica), dan glodogan (Polyafthlea longifolia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pedoman memilih pohon peneduh, yaitu pohon harus bisa tumbuh pada tanah padat, akar tidak menonjol di permukaan tanah, tahan terhadap hembusan angin kuat, dahan dan ranting tidak mudah patah, tidak mudah tumbang, guguran daun sedikit, dan menyerap unsur-unsur pencemar udara dari kendaraan bermotor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat lainnya, pohon tidak rusak oleh pencemaran udara, mudah sembuh jika terluka karena benturan mobil, teduh tetapi tidak terlalu gelap, bisa cocok hidup dengan tanaman lain. Dapatkah kita mempunyai pohon dengan aman dan tidak terancam pohon tumbang? Jawabannya dapat, asal kita mau berhenti menyiksa pohon kota. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkat bahaya pohon ditentukan dua komponen, yaitu bentuk ketidaknormalan struktural pohon, dan objek yang menjadi sasaran. Berdasarkan dua komponen ini, penilaian bentuk ancaman diklasifikasikan dari yang ringan berupa tertimpa ranting sampai yang berat tertimpa batang pohon, dengan menilai kerugian dari objek sasaran baik itu manusia, kendaraan atau rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu pemeliharaan pohon kota harus dilakukan secara kontinyu dengan empat langkah, yaitu: memberi air sesuai kebutuhan, memberi makanan yang sebaiknya pupuk organik, memangkas ranting-ranting kering dan cabang yang membahayakan, menyemprot anti hama. Semoga Semarang menjadi asri, hijau dan nyaman dengan pohon yang sehat dan tidak mengancam keselamatan penghuninya.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dimuat di &lt;a href="http://suaramerdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailberitacetak&amp;id_beritacetak=34496"&gt;Suara Merdeka&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro UNDIP Semarang Jawa Tengah&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25591165-6159181092101492645?l=www.inibandeng.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BerbisnisSambilMenulis/~4/wIVPltaesh0" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.inibandeng.com/feeds/6159181092101492645/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.inibandeng.com/2008/10/mewaspadai-ancaman-peneduh-kota.html#comment-form" title="2 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/25591165/posts/default/6159181092101492645?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/25591165/posts/default/6159181092101492645?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/BerbisnisSambilMenulis/~3/wIVPltaesh0/mewaspadai-ancaman-peneduh-kota.html" title="Mewaspadai Ancaman Peneduh Kota" /><author><name>sukawi (owner bandeng rizta)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05844298798212557965</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://bp0.blogger.com/_TBwmD5QKi3k/R3xKcdBJ55I/AAAAAAAAABE/Gty6OBBKAHM/S220/sukawi+foto.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/_TBwmD5QKi3k/SQVkxpUyvvI/AAAAAAAAAHA/C6WvHseRkU0/s72-c/gardu+a.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://www.inibandeng.com/2008/10/mewaspadai-ancaman-peneduh-kota.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0YERH05eCp7ImA9WxRWEEU.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-25591165.post-2638559480405405709</id><published>2008-10-27T13:24:00.001+07:00</published><updated>2008-10-27T13:31:45.320+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-10-27T13:31:45.320+07:00</app:edited><title>Menyelamatkan Air Tanah Kota</title><content type="html">
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Ny5TtGf4P0uu3__U4R_YKjDEIW4/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Ny5TtGf4P0uu3__U4R_YKjDEIW4/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Ny5TtGf4P0uu3__U4R_YKjDEIW4/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Ny5TtGf4P0uu3__U4R_YKjDEIW4/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_TBwmD5QKi3k/SQVfgZ5SwRI/AAAAAAAAAGw/D_0UyRTEYGM/s1600-h/blogtoday.png"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 158px; height: 188px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_TBwmD5QKi3k/SQVfgZ5SwRI/AAAAAAAAAGw/D_0UyRTEYGM/s200/blogtoday.png" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5261716749963936018" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span class="awal"&gt;P&lt;/span&gt;ada musim kemarau, ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah di Jawa Tengah sangat terbatas, bahkan di beberapa tempat sudah sulit mendapatkan air bersih. Tak terkecuali di Semarang, kekeringan kali ini diperkirakan makin meningkat. Luas daerah yang kekeringan dan kekurangan air bersih bisa lebih parah, karena berkurangnya daerah-daerah resapan yang merupakan tandon air.&lt;br /&gt;Berkurangnya daerah resapan di kawasan perkotaan, termasuk daerah pinggiran akibat kebijakan pembangunan yang tidak terkendali dan mengabaikan aspek lingkungan. Permukiman dan industri yang terus berkembang memerlukan air semakin banyak. Untuk mencukupi kebutuhan tersebut, dilakukan pengeboran air tanah atau pembuatan sumur-sumur bor. Air tanah disedot secara besar-besaran, sehingga terjadi ketidak-seimbangan antara pengambilan/pemanfaatan dengan pembentukan air tanah.&lt;br /&gt;Ketidakseimbangan ini dapat menyebabkan menurunnya permukaan air tanah. Penurunan permukaan air tanah, selain disebabkan oleh pengambilan air tanah yang berlebihan  juga disebabkan oleh berkurangnya daerah resapan air hujan karena tertutup bangunan dan material yang kedap air. Di Kota Semarang, utamanya Semarang Utara, penurunan permukaan air tanah akan mengakibatkan perembesan air laut ke daratan (intrusi) dan ancaman rob.  &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Karena itu, pembuatan sumur artesis yang makin banyak dilakukan warga ataupun pengelola perumahan, termasuk juga yang ada di daerah pinggiran harus dikendalikan. Jika tidak, akan membahayakan. Yakni makin berkurangnya tandon air bawah tanah dan mengakibatkan penurunan permukaan tanah. Salah satu penyebab berkurangnya daerah resapan adalah maraknya pembangunan perumahan di daerah atas yang semestinya menjadi lahan hijau atau konservasi. &lt;br /&gt;Semarang banyak kehilangan daerah resapan akibat pembangunan perumahan. Pemerintah Kota dinilai kurang mempertimbangkan izin, sehingga pembangunan perumahan terkesan tidak terkendali. Daerah atas, terutama yang mempunyai potensi sebagai daerah resapan, tetap dijadikan lahan perumahan. Izin tetap diberikan, sementara aspek pelestarian dan keamanan lingkungan kurang mendapat perhatian. Delapan dari 16 kecamatan di Kota Semarang kini rawan kekeringan. Data dari Badan Kesbanglinmas Kota, menunjukkan kedelapan wilayah rawan kekeringan itu adalah Mijen, Banyumanik, Candisari, Pedurungan, Tugu, Gunungpati, Gajah Mungkur, dan Tembalang. &lt;br /&gt;Penanganan kekeringan, seharusnya sudah dipikirkan jauh sebelum musim kemarau tiba. Saat musim hujan harus dipikirkan bagaimana menampung air hujan, sehingga dapat dimanfaatkan ketika musim kemarau. &lt;br /&gt;Dampak Negatif&lt;br /&gt;Perlu pengendalian dan pengelolaan yang baik, agar air yang diambil tidak melebihi potensi yang ada. Jika berlebihan juga akan merugikan masyarakat, karena menimbulkan rongga-rongga pada bagian bawah tanah. Rongga ini, menyebabkan tanah di atasnya menekan ke bawah jika ada beban di permukaan. Ini akan menimbulkan penurunan permukaan tanah. Untuk jangka panjang, akan lebih menguntungkan bila menampung air pada waduk atau embung. Karena itu, masyarakat diimbau untuk menghemat penggunaan air bersih agar ketersediaan air bersih mencukupi hingga musim hujan nanti. &lt;br /&gt;Menyadari dampak negatif yang akan ditimbulkan dari pemenuhan kebutuhan air melalui pengambilan air bawah tanah secara berlebihan, telah dikeluarkan Peraturan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor: 02.P/101/M.PE/1994 tentang Pengurusan Administrasi Air Bawah Tanah. Air bawah tanah yang dimaksud dalam peraturan ini adalah semua air yang terdapat dalam lapisan mengandung air di bawah permukaan tanah, termasuk mata air yang muncul secara alamiah di atas permukaan tanah.&lt;br /&gt;Dalam peraturan ini disebutkan bahwa pengambilan air bawah tanah hanya dapat dilakukan setelah memperoleh izin dan setiap pengambilan air bawah tanah dikenakan pungutan. Izin pengeboran dan pengambilan air bawah tanah untuk usaha pertambangan dan energi diatur tersendiri oleh Menteri, sedang di luar usaha tersebut izin diberikan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I setelah mendapat saran teknik dari Direktur Jenderal Geologi dan Sumberdaya Mineral.&lt;br /&gt;Pada dasarnya yang perlu dilakukan oleh masyarakat kota adalah: Pertama, menggunakan air secara bijaksana, yaitu hemat air, misalnya menutup kran bila air tidak sedang dipakai, memperbaiki bocoran. Kedua, tidak menutup permukaan tanah dengan lapisan yang dapat menghambat peresapan air.&lt;br /&gt;Penyelamatan air tanah di perkotaan saat ini sudah saatnya menjadi prioritas. Buruknya kondisi air tanah tidak hanya disebabkan oleh pencemaran industri atau intrusi air laut, tetapi juga oleh limbah rumah tangga. Pangkal kerusakan air tanah itu sebenarnya disebabkan pula oleh tidak adanya jaringan infrastruktur sanitasi kota. Limbah rumah tangga, baik itu black water maupun grey water, sangat mencemari. Belum lagi dengan jarak antara sumur dan septic tank tidak lagi ideal, yaitu 15 meter. &lt;br /&gt;Sebenarnya yang diperlukan saat ini adalah sumur resapan untuk konservasi air tanah. Setiap tahun volume air hujan yang terserap selalu menurun. Saat ini sudah ada peraturan tentang pembuatan sumur resapan bagi setiap rumah warga. Akan tetapi, dalam operasionalnya dinilai masih belum efektif dipatuhi masyarakat. &lt;br /&gt;Kecilnya penerapan sumur resapan memperkecil resapan air hujan ke tanah. Lebih parah lagi ketika yang terjadi sekarang daerah resapan (recharge area) yang terus menurun akibat pembangunan yang menyebabkan tanah tertutup aspal, beton dan bangunan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dimuat di Harian &lt;a href="harianjoglosemar.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=21612&amp;Itemid=1"&gt;Joglosemar&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro UNDIP Semarang Jawa Tengah&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25591165-2638559480405405709?l=www.inibandeng.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BerbisnisSambilMenulis/~4/wI72fQ0ED9c" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.inibandeng.com/feeds/2638559480405405709/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.inibandeng.com/2008/10/p-ada-musim-kemarau-ketersediaan-air.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/25591165/posts/default/2638559480405405709?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/25591165/posts/default/2638559480405405709?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/BerbisnisSambilMenulis/~3/wI72fQ0ED9c/p-ada-musim-kemarau-ketersediaan-air.html" title="Menyelamatkan Air Tanah Kota" /><author><name>sukawi (owner bandeng rizta)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05844298798212557965</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://bp0.blogger.com/_TBwmD5QKi3k/R3xKcdBJ55I/AAAAAAAAABE/Gty6OBBKAHM/S220/sukawi+foto.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_TBwmD5QKi3k/SQVfgZ5SwRI/AAAAAAAAAGw/D_0UyRTEYGM/s72-c/blogtoday.png" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.inibandeng.com/2008/10/p-ada-musim-kemarau-ketersediaan-air.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEEAQXk4eip7ImA9WxZbGE8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-25591165.post-3766196029927216332</id><published>2008-04-22T08:02:00.001+07:00</published><updated>2008-04-22T08:10:40.732+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-04-22T08:10:40.732+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kota kita" /><title>Politisasi Jalan Mengabaikan Estetika Kota</title><content type="html">
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/KkR7Xxiu7norhcBu_FrSn1Z-vRY/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/KkR7Xxiu7norhcBu_FrSn1Z-vRY/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/KkR7Xxiu7norhcBu_FrSn1Z-vRY/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/KkR7Xxiu7norhcBu_FrSn1Z-vRY/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="awal"&gt;S&lt;/span&gt;epanjang jalan di kota Semarang sekarang lagi ramai spanduk dan poster kampanye. Masing-masing tim sukses berusaha keras memilih tempat-tempat strategis untuk memasang alat kampanye. Banyaknya spanduk dan baliho calon gubernur maupun wakilnya yang akan maju dalam pemilihan gubernur Jawa Tengah ini secara tidak langsung mengisyaratkan adanya kegiatan "kampanye terselubung". Minimal upaya mensosialisasikan calon yang akan ikut meramaikan pesta demokrasi.&lt;br /&gt;Semarang sebagai ibukota propinsi tidak luput dari sasaran kegiatan promosi cagub dan cawagub. Hampir di setiap titik strategis terpasang spanduk cagub. Ada yang terang-terangan minta dukungan, namun ada pula yang masih "malu-malu". Sekedar memasang gambar dengan gagasan dan konsep pembangunan Jawa Tengah. Hal ini secara tidak langsung pemasangan iklan itu merupakan bentuk kampanye.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pemasangan iklan cagub dan cawagub sebelum waktunya itu menimbulkan persoalan yang cukup kompleks. Setidaknya bagi Pemkot yang wilayahnya menjadi "sasaran" pemasangan, di samping terkadang pemasangannya tidak mengindahkan faktor estetika tata kota. Misalnya penempatan spanduk yang merentang berada di lokasi strategis yang dipasang dengan memakai seutas tali plastik diantara 2 buah pohon, atau diantara tiang listrik maupun tiang telpon. &lt;br /&gt;Di beberapa penggal jalan, sangat sering dijumpai pemasangan spanduk dan poster tumpang tindih dan terkesan asal pasang untuk menperlihatkan kelebihan masing-msing calon. Kita perhatikan pemasangannya sering menghalangi pemandangan papan penunjuk jalan, bahkan rambu lalu lintas. Luas pandangan mata kita di jalan, yang sebenarnya merupakan hak publik, telah dirampas oleh pemandangan spanduk yang hampir menutupi pandangan. Belum lagi banyak poster yang terpasang di pohon-pohon peneduh jalan dengan cara dipaku. Hal ini jelas-jelas tindakan yang tidak bersahabat dengan lingkungan.&lt;br /&gt;Untuk itu, Pemkot harus bersikap tegas terkait maraknya iklan para calon gubernur dan wakilnya. Iklan-iklan itu, khususnya yang tak berizin, wajib ditertibkan. dengan cara menurunkan iklan-iklan "ilegal" itu. Sikap tegas ini bukan berarti Pemkot terlalu profit oriented (orientasi keuntungan), namun hal itu dilakukan semata-mata untuk menegakkan peraturan dan menerapkan azaz keadilan bagi masyarakat.&lt;br /&gt;Pemkot perlu melakukan pengawasan berkala melalui satuan Polisi Pamong Praja. Hal ini untuk mengantisipasi iklan cagub dipasang di sembarang tempat dan dengan konstruksi yang asal-asalan pula. Padahal, pemkot memiliki prosedur soal pemasangan dan konstruksinya. Jika terjadi bencana misalnya ambruk, dan menimpa pengguna jalan, pemkot tidak akan sulit untuk mencari siapa yang bertanggung jawab. &lt;br /&gt;Selanjutnya, Pemkot perlu menetapkan kawasan white area. Kawasan tersebut harus bersih dari  iklan cagub dan cawagub. Kawasan bebas iklan ini dapat mengacu pada Perda tentang Reklame. Pemkot wajib memberikan rekomendasi di ruas jalan mana saja yang bisa dipasangi iklan agar tidak bertentangan dengan keindahan kota. Alangkah indahnya bila pemasangannya tidak mengganggu fasilitas publik (tiang telepon, tiang listrik, pohon jalan, penunjuk jalan hingga rambu lalu lintas).&lt;br /&gt;Memang bukan hal mudah untuk mengurai benang persoalan ini. Bisa dipahami jika cagub dan cawagub punya kepentingan kuat untuk "mengiklankan diri". Tapi mestinya harus tetap mengedepankan etika politik dan menghormati regulasi yang berlaku. Sebab Pemkot juga punya kepentingan untuk menata kotanya supaya terlihat estetik dan menegakkan aturan yang berlaku. Jangan sampai jalan yang kita miliki sebagai ruang publik bersama telah penuh sesak dengan ”produk politik” sehingga yang terjadi hanyalah politisasi jalan raya. Sebagai warga kota, kita tidak ingin Semarang terjadi kesemrawutan visual hanya karena hutan iklan produk politik yang dipasang di sepanjang ruas jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis :&lt;br /&gt;Sukawi, Pengajar Arsitektur UNDIP dan aktivis Komunitas Loenpia.net&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;dimuat di &lt;strong&gt;KOMPAS&lt;/strong&gt; 1 April 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro UNDIP Semarang Jawa Tengah&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25591165-3766196029927216332?l=www.inibandeng.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BerbisnisSambilMenulis/~4/iicS2IiU-MU" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.inibandeng.com/feeds/3766196029927216332/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.inibandeng.com/2008/04/politisasi-jalan-mengabaikan-estetika.html#comment-form" title="1 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/25591165/posts/default/3766196029927216332?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/25591165/posts/default/3766196029927216332?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/BerbisnisSambilMenulis/~3/iicS2IiU-MU/politisasi-jalan-mengabaikan-estetika.html" title="Politisasi Jalan Mengabaikan Estetika Kota" /><author><name>sukawi (owner bandeng rizta)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05844298798212557965</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://bp0.blogger.com/_TBwmD5QKi3k/R3xKcdBJ55I/AAAAAAAAABE/Gty6OBBKAHM/S220/sukawi+foto.jpg" /></author><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://www.inibandeng.com/2008/04/politisasi-jalan-mengabaikan-estetika.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEIDSX48eCp7ImA9WxZbGE8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-25591165.post-1169128523028714471</id><published>2008-04-22T07:59:00.002+07:00</published><updated>2008-04-22T08:09:38.070+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-04-22T08:09:38.070+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="wacana lokal" /><title>Fenomena Generasi Kafe</title><content type="html">
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/RP4cfD5WXkaHbNsMLO7Y9ivSlHM/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/RP4cfD5WXkaHbNsMLO7Y9ivSlHM/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/RP4cfD5WXkaHbNsMLO7Y9ivSlHM/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/RP4cfD5WXkaHbNsMLO7Y9ivSlHM/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="awal"&gt;B&lt;/span&gt;agi masyarakat modern, singgah di kafe sudah menjadi keharusan dan kebiasaan. Untuk sekedar bersantai atau mencari variasi hiburan ditengah rutinitas yang padat, duduk sebentar dan minum secangkir kopi menjadi kenikmatan tersendiri. Berbincang dengan relasi terasa lebih rileks dan hangat.  Kini banyak orang kantoran yang memilih mengadakan meeting dengan relasi bisnis ditempat ini. Karena tidak terlalu formal dan cukup representatif  sehingga suasana keakraban akan lebih terasa jika dibanding dengan meeting dikantor. &lt;br /&gt;Keberadaan kafe di Semarang tumbuh bagai jamur dimusim hujan. Warung makan atau restoran yang menyediakan minuman kopi memang banyak, tetapi jelas bukan sekadar secangkir kopi yang dicari. Coba kita tengok kafe yang bertebaran di lingkungan kampus sampai mall dan hotel berbintang. Hadirnya kafe menjawab kebutuhan akan sebuah ruang yang bisa digunakan untuk bertemu kawan sembari berbincang "ngalor-ngidul" cukup ditemani secangkir minuman favorit dalam suasana yang nyaman. &lt;br /&gt;Kata kafe berasal dari bahasa Prancis,cafi, yang secara harfiah diterjemahkan sebagai (minuman) kopi. Namun, tidaklah lantas berarti kafe memiliki pengertian yang sama dengan warung kopi. Meski fungsinya sama, yakni tempat di mana orang bisa minum (kopi) sambil bercakap-cakap, tetapi kafe berada dalam pemaknaan budaya yang berbeda. Kafe bisa saja dianggap sebagai warung kopi bagi mereka yang hidup dalam budaya urban perkotaan modern, yang karena itu pemaknaan kulturalnya berbeda dengan warung kopi dalam masyarakat tradisional.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kafe telah menjadi fenomena menarik di sejumlah kota besar seperti Semarang. Keberadaannya langsung menunjuk pada sejenis gaya hidup eksklusif yang kemudian mewabah ke berbagai sudut kota, bahkan hingga ke kota-kota kecil. Dalam perkembangannya, fenomena ini disambut sebagai peluang usaha baru. Kafe-kafe tumbuh dengan berbagai konsep suasana. &lt;br /&gt;Menurut sejarahnya, kafe tumbuh seiring dengan bangkitnya kesadaran para intelektual Eropa di Abad ke-18. Sejumlah sumber menyebut bagaimana kafe muncul pada periode pencerahan, yang ditandai dengan banyaknya penerbitan karya-karya sastra filsafat, jurnal, surat kabar, serta tumbuhnya minat baca di tengah masyarakat. Kafe di sini, menjadi ruang publik tempat masyarakat dari seluruh lapisan untuk berdiskusi.&lt;br /&gt;Di Paris sejumlah sastrawan tak bisa dipisahkan dari kafe. Kafe menjadi tempat mereka bertemu dan berdiskusi serta melahirkan banyak gagasan. Di sisi lain, kafe sebagai ruang publik yang dalam awal kemunculannya hanya menjadi milik kaum lelaki, membuktikan satu hal, yakni betapa sesungguhnya berkumpul dan ngobrol bukan hanya monopoli kaum perempuan. &lt;br /&gt;Bahkan sejak masa Yunani dan Romawi, kaum lelaki amat suka berkumpul dan berkelompok menurut minat mereka masing-masing, yang kemudian disebut dengan klub. Dalam Encyclopedia Americana, klub disebut sebagai kumpulan individu yang memiliki kesamaan minat. &lt;br /&gt;Sekarang ini banyak kafe yang berada di mall-mall, tersebar di kota Semarang. Ada exxelso, kopi luwak, dan masih banyak lagi. Untuk dapat lebih menarik pengunjung berlama-lama singgah dikafe, ada beberapa fasilitas seperti area hotspot yang didukung wireless akses point ke internet yang tersedia untuk layanan akses internet gratis bagi mereka yang membawa laptop sambil menikmati secangkir minuman. Pengunjung dapat rapat sambil membuat berita acara dengan laptop serta makan siang sekaligus mengakses internet.&lt;br /&gt;Ada banyak alasan mengapa orang suka berkunjung ke kafe. Namun, satu hal yang pasti, mereka betah berlama-lama, entah karena alasan suasananya, keakraban, atau camilan yang disajikan. Tentunya, ini jika kafe yang dipilih sesuai. Saat ini keberadaan kafe bukan lagi sekadar pemuas dahaga atau lapar. Bagi sebagian masyarakat, kafe merupakan sarana untuk membangun kehidupan sosialnya, baik untuk nongkrong, bergaul, atau menjerat pacar. Kafe juga merupakan sarana meneguhkan identitas dan kebanggaan. &lt;br /&gt;Bagi para penggila bola (olah raga), kafe dapat merupakan tempat untuk menyalurkan dan berbagi hobi. Lewat kesukaannya terhadap klub olah raga tertentu atau komunitas blogger misalnya, komunitas ini tidak jarang berkumpul di kafe untuk sekadar membahas agenda acara, nonton bareng pertandingan, perkenalan anggota baru atau sekadar ngobrol “ngalor ngidul”. &lt;br /&gt;Dari generasi kafe ini diharapkan akan terlahir orang-orang muda dengan karya-karya besar bagi umat manusia. Jadi, tidak masalah kalau generasi ini lebih mengenal espresso, cappuccino, ice black coffe, hot capucino, avocado coffe atau macchiato, ketimbang sega kucing, the, jahe, atau kopi tubruk. Asalkan kita bukan sekadar hiruk pikuk di permukaan menikmati gaya dan hedonisme berbalut kultur urban semata.&lt;br /&gt;Semarang sebenarnya telah memiliki kultur wedangan (warung tenda pinggir jalan) yang juga berbasis komunitas. Namun, karakter masyarakat, terutama kalangan anak muda, kini telah bertransformasi sedemikian rupa. Akibatnya, kehadiran kafe saat ini kian menjawab kebutuhan mereka, yakni tetap ingin bernuansa akrab dan berjarak sosial dekat, tetapi bersemangat urban dan populis&lt;br /&gt;Fenomena kafe-kafe yang menjadi ajang berkumpulnya berbagai komunitas ini, agaknya tetap tak bisa mengubah citra kafe sebagai tempat eksklusif. Dalam pencitraannya, kafe tetaplah menjadi ruang yang serba pragmatis. Tempat orang datang untuk menikmati kehadirannya dalam budaya urban perkotaan yang cenderung artifisial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis :&lt;br /&gt;Sukawi, Pengajar Arsitektur UNDIP dan aktivis kuliner Komunitas Loenpia.net&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;dimuat di &lt;strong&gt;Suara Merdeka&lt;/strong&gt;, 18 Maret 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro UNDIP Semarang Jawa Tengah&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25591165-1169128523028714471?l=www.inibandeng.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BerbisnisSambilMenulis/~4/BXQedNNoOvE" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.inibandeng.com/feeds/1169128523028714471/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.inibandeng.com/2008/04/fenomena-generasi-kafe.html#comment-form" title="1 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/25591165/posts/default/1169128523028714471?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/25591165/posts/default/1169128523028714471?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/BerbisnisSambilMenulis/~3/BXQedNNoOvE/fenomena-generasi-kafe.html" title="Fenomena Generasi Kafe" /><author><name>sukawi (owner bandeng rizta)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05844298798212557965</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://bp0.blogger.com/_TBwmD5QKi3k/R3xKcdBJ55I/AAAAAAAAABE/Gty6OBBKAHM/S220/sukawi+foto.jpg" /></author><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://www.inibandeng.com/2008/04/fenomena-generasi-kafe.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEMCR3YyeCp7ImA9WxZbGE8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-25591165.post-7417251382592877719</id><published>2008-03-10T14:45:00.001+07:00</published><updated>2008-04-22T08:07:46.890+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-04-22T08:07:46.890+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kota kita" /><title>Menyelamatkan Jalan Kaligawe</title><content type="html">
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/2kLqRNwLBDyiW8SkKtOppbVnpHE/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/2kLqRNwLBDyiW8SkKtOppbVnpHE/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/2kLqRNwLBDyiW8SkKtOppbVnpHE/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/2kLqRNwLBDyiW8SkKtOppbVnpHE/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="awal"&gt;M&lt;/span&gt;engapa jalan Kaligawe? Di sepanjang jalan ini, terdapat fasilitas transportasi Terminal Induk Terboyo, Rumah Sakit, Perguruan Tinggi dan puluhan perusahaan besar beroperasi, untuk mendukung investasi di kota Semarang khususnya. Di samping itu, Kaligawe merupakan jalan yang sangat vital karena menghubungkan Semarang dengan kota-kota di sepanjang Pantura ke arah Jawa Timur.  &lt;br /&gt;Di sepanjang Jalan Kaligawe telah terjadi aglomerasi spontan di Semarang, terutama sepanjang jalur regional berupa kegiatan komersial. Sering terjadi migrasi keluar-masuk yang kontras pada waktu sibuk yaitu saat masuk dan keluar tempat kerja, terutama para pekerja dari Semarang,Demak, Kudus, dan sekitarnya. Ternyata ribuan orang yang menggantungkan nasib pada penggal jalan Kaligawe ini. Hal ini menunjukkan bahwa sepanjang jalan merupakan ''jantung'' dan “urat nadi” ekonomi Kota Semarang.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Permasalahan spesifik Jalan Kaligawe adalah soal lingkungan hidup, yakni banjir dan rob yang hingga saat ini belum dapat dipecahkan. Jalan yang penting ini tenggelam dalam banjir, rob, kemacetan lalu lintas, jalan rusak parah, teremdamnya pabrik dan penataan tempat usaha yang tidak mempertimbangkan aspek-aspek tata kota, ekologi, dan ekonomi. Kalau tidak segera ditangani, para investor akan ''lari'' dari Semarang.&lt;br /&gt;Untuk menyelamatkan Kaligawe, hal yang perlu dilakukan, pertama  memecah kepadatan arus lalu lintas dengan jalur alternatif. Dari arah timur, dapat dialihkan arus lalu lintas dari Kaligawe (Pasar Genuk) melintasi Jalan Wolter Monginsidi kemudian Jalan Arteri Soekarno-Hatta, begitu juga sebaliknya. Namun, kelemahan jalur alternatif ini adalah masalah jarak dan waktu tempuh. Dengan kondisi jalur alternatif yang kurang layak terlihat di Jalan Wolter Monginsidi, di beberapa titik berlubang, sempit, dan tergenang air. Jarak tempuh Kaligawe menuju ke Batas Kota Semarang-Demak yang seharusnya cukup 3 atau 4 km saja, kenyataannya menjadi sekitar 15 km.&lt;br /&gt;Kedua, sudah waktunya Jalan Kaligawe dibuatkan jalan layang atau jalur lingkar untuk memecah konsentrasi arus lalu lintas yang makin padat. Hal ini harus segera dilakukan karena di Semarang ini tidak ada jalur alternatif yang tepat dan efisien sebagai jalur alternatif. Jalur-jalur yang ada, sebagian kondisi jalannya kurang layak dan yang lain memiliki jarak tempuh cukup jauh.&lt;br /&gt;Ketiga, persoalan penurunan tanah juga harus ditangani. Kecepatan penurunan tanah perlu dikendalikan dengan berbagai cara. Salah satunya mengendalikan penggunaan air bawah tanah (ABT) di kawasan tersebut. Jika pengambilan melebihi air yang bisa meresap ke tanah, penurunan akan lebih cepat terjadi. &lt;br /&gt;Keempat, Rencana perbaikan (peninggian) jalan Kaligawe bertahap harus dilaksanakan konsisten dan tepat waktu, agar peninggian jalan tidak terkesan sepotong-sepotong, tetapi komprehensif. Jika tidak demikian, akan menimbulkan persepsi pemerintah sekadar memindahkan lokasi banjir dan menenggelamkan lingkungan sekitar. Peninggian jalan tersebut hendaknya mempertimbangkan kawasan industri Kaligawe yang sudah terbangun lama. &lt;br /&gt;Kelima, normalisasi saluran Gebangsari, Kaligawe dan Tenggang harus secara rutin dilakukan. Hal ini dikarenakan kondisi saluran sudah memprihatinkan, pada kondisi normal, saja muka air yang sudah sejajar dengan muka jalan dan dipenuhi oleh tumbuhan enceng gondok. Jika terjadi hujan, pasti airnya akan meluap di jalan raya. &lt;br /&gt;Pembenahan infrastruktur kota merupakan hal penting yang perlu diperhatikan Pemkot. Bidang itu dinilai masih menjadi titik lemah sekaligus PR paling berat bagi Pemkot. Mengacu pada dampak akibat bencana banjir yang terjadi rutin setiap tahun menggenangi Kaligawe, maka perlu kesadaran kolektif untuk meminimalisasi kasus ini terulang di kemudian hari. Kesadaran kolektif yang harus terjadi secara vertikal dan horizontal tentu memungkinkan untuk menjaga Kaligawe dari kepungan banjir tahunan.&lt;br /&gt;Penulis :&lt;br /&gt;Sukawi, Dosen Arsitektur UNDIP dan Ketua Litbang Asosiasi Profesi Tenaga Terampil dan Ahli (APTA) Indonesia Cabang Jawa Tengah&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;dimuat di Kompas, 26 Februari 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro UNDIP Semarang Jawa Tengah&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25591165-7417251382592877719?l=www.inibandeng.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BerbisnisSambilMenulis/~4/0XZ7_ycTPO4" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.inibandeng.com/feeds/7417251382592877719/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.inibandeng.com/2008/03/menyelamatkan-jalan-kaligawe.html#comment-form" title="5 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/25591165/posts/default/7417251382592877719?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/25591165/posts/default/7417251382592877719?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/BerbisnisSambilMenulis/~3/0XZ7_ycTPO4/menyelamatkan-jalan-kaligawe.html" title="Menyelamatkan Jalan Kaligawe" /><author><name>sukawi (owner bandeng rizta)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05844298798212557965</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://bp0.blogger.com/_TBwmD5QKi3k/R3xKcdBJ55I/AAAAAAAAABE/Gty6OBBKAHM/S220/sukawi+foto.jpg" /></author><thr:total>5</thr:total><feedburner:origLink>http://www.inibandeng.com/2008/03/menyelamatkan-jalan-kaligawe.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0IDRXk6eSp7ImA9WxZREUQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-25591165.post-5527197528279540173</id><published>2008-02-05T15:04:00.000+07:00</published><updated>2008-02-05T15:19:34.711+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-02-05T15:19:34.711+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kota kita" /><title>Pasar Imlek, Mendongkrak Pesona Pecinan</title><content type="html">
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/PF8vl9ri9l-OkYZ88H8LqHxdwz8/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/PF8vl9ri9l-OkYZ88H8LqHxdwz8/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/PF8vl9ri9l-OkYZ88H8LqHxdwz8/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/PF8vl9ri9l-OkYZ88H8LqHxdwz8/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_TBwmD5QKi3k/R6gbXj-yEeI/AAAAAAAAACA/CWeSY5wMb0U/s1600-h/Resize+of+DSCN2209.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_TBwmD5QKi3k/R6gbXj-yEeI/AAAAAAAAACA/CWeSY5wMb0U/s320/Resize+of+DSCN2209.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163407064389784034" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="awal"&gt;M&lt;/span&gt;enjelang Tahun Baru Imlek 2559, kawasan pecinan Semarang sudah mulai marak dan meriah dengan pernak-pernik Imlek. Para pedagang di sekitar Pecinan, bukan saja menjual aneka hiasan atau perangkat khas Imlek yang bernuansa merah, tetapi juga menghias tokonya dengan berbagai hiasan sehingga suasana Pecinan sangat terasa. &lt;br /&gt;Kawasan pecinan Semarang pada siang hari merupakan sentra bisnis yang cukup ramai dan sibuk, seperti di Jalan Kranggan sebagai pusat penjualan kain dan perhiasan. Ada pasar Gang Baru, ada Gang Beteng, Gang Pinggir, dan Gang Besen, yang juga ramai di waktu siang, tetapi cukup lengang di waktu malam. Untuk itu perlu suntikan aktivitas bisnis di kawasan ini untuk lebih menghidupkan suasana Pecinan di waktu malam. Salah satunya adalah Pasar Imlek Semawis (PIS) yang dimanfaatkan sebagai tujuan wisata kuliner sekaligus memperkenalkan budaya khas Cina.  &lt;br /&gt;Membangun citra Pasar Imlek Semawis, harus lebih dari sekadar menjual pernak-pernik Imlek. &lt;span class="fullpost"&gt;Jika tidak, tentu tak ubahnya bazar atau pasar malam belaka. Pernak-pernik yang menambah maraknya Imlek itu, antara lain lampion-lampion, amplop merah (angpao), spanduk hiasan berwarna merah bertuliskan emas, pakaian etnik China, kembang api,  mainan tikus, kue keranjang, buah jeruk dan pir, serta bunga mei hoa warna merah muda.&lt;br /&gt;Kolaborasi aktivitas perdagangan dan pertunjukan budaya barangkali menjadi poin jual yang bisa dikembangkan. Kekhasan Imlek di Semarang, mestinya tidak melulu difokuskan pada tradisi perayaan tahun baru dalam penanggalan Cina saja. Melainkan, justru pada kemampuan untuk mengeksplorasi karakter yang membedakan perayaan Imlek di Semarang dengan perayaan sejenis di kota lain atau bahkan negara lain. Budaya di kota pesisir Pantai Utara Jawa ini sudah terakulturasi sehingga banyak potensi yang sebenarnya bisa ditonjolkan. &lt;br /&gt;Tujuan wisatawan datang ke pecinan Semarang selain karena makanan khas oriental, juga untuk menikmati suasana, kesenian dan budaya khas pecinan. Untuk itu perlu menciptakan peluang bisnis yang sesuai dengan lingkungan sekaligus dapat menghidupi kawasan tersebut. Misalnya bisnis obat cina (sinse), konsultasi fengsui, kerajinan /suvenir, dan makanan khas China. &lt;br /&gt;Belum lagi makanan khas yang diproduksi di kawasan ini. Ada lunpia Gang Lombok, kue pia Cap Bayi, kue bulan. Ada pula Warung Makan Pak Ndut, Sate Kambing Guci dan Kapuran, Rumah Makan Permata Merah yang sudah berusia satu abad, Es Marem Gang Baru, dan Soto Bonkarang, yang pasti menggoda siapa saja untuk datang mencicipi sambil menikmati suasana malam khas permukiman Pecinan. &lt;br /&gt;Pelestarian tradisi semacam perayaan Sam Poo Besar juga dapat dikemas menjadi event wisata yang menarik. Di samping itu, kesenian semacam Barongsai, Wayang Potehi bisa dikemas dengan tampilan yang disesuaikan dengan kondisi zamannya. Selain warisan leluhur Tionghoa, ada baiknya menampilkan budaya yang sudah berakulturasi dengan kebudayaan timur. Belum lagi potensi wisata budaya dengan tawaran sembilan kelentengnya. Biasanya pada pagi hari pertama Imlek, kelenteng-klenteng di Pecinan dipadati oleh para pengunjung yang sembahyang. Terlebih pada Klenteng Tay Kak Sie di Gang Lombok yang merupakan klenteng induk bagi seluruh klenteng di Semarang. &lt;br /&gt;Suatu saat nanti kawasan pecinan Semarang akan seperti “Kya-Kya” Kembang Jepun, Surabaya atau Kesawan Square di Medan. Di tengah kepadatan rumah dan bangunan tuanya, kawasan pecinan Semarang menyimpan sejuta kisah kejayaan dan potensi wisata yang menjanjikan. Gong Xi Fat Cai.&lt;br /&gt;Penulis : Sukawi, Dosen Arsitektur dan Pusat Studi Pariwisata UNDIP Semarang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di Kompas, Selasa, 5 Februari 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro UNDIP Semarang Jawa Tengah&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25591165-5527197528279540173?l=www.inibandeng.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BerbisnisSambilMenulis/~4/LGTflXO4mGA" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.inibandeng.com/feeds/5527197528279540173/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.inibandeng.com/2008/02/pasar-imlek-mendongkrak-pesona-pecinan.html#comment-form" title="3 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/25591165/posts/default/5527197528279540173?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/25591165/posts/default/5527197528279540173?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/BerbisnisSambilMenulis/~3/LGTflXO4mGA/pasar-imlek-mendongkrak-pesona-pecinan.html" title="Pasar Imlek, Mendongkrak Pesona Pecinan" /><author><name>sukawi (owner bandeng rizta)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05844298798212557965</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://bp0.blogger.com/_TBwmD5QKi3k/R3xKcdBJ55I/AAAAAAAAABE/Gty6OBBKAHM/S220/sukawi+foto.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_TBwmD5QKi3k/R6gbXj-yEeI/AAAAAAAAACA/CWeSY5wMb0U/s72-c/Resize+of+DSCN2209.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>3</thr:total><feedburner:origLink>http://www.inibandeng.com/2008/02/pasar-imlek-mendongkrak-pesona-pecinan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUUMRXcyfSp7ImA9WxZREUQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-25591165.post-1748760969845382165</id><published>2008-01-03T09:50:00.001+07:00</published><updated>2008-02-05T14:41:24.995+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-02-05T14:41:24.995+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="seputar semarang" /><title>Antisipasi Genangan Musim Hujan</title><content type="html">
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/y9Ej4TELrXZbv2WOb-oOHzEH1jc/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/y9Ej4TELrXZbv2WOb-oOHzEH1jc/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/y9Ej4TELrXZbv2WOb-oOHzEH1jc/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/y9Ej4TELrXZbv2WOb-oOHzEH1jc/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_TBwmD5QKi3k/R4Ls_9BJ56I/AAAAAAAAABQ/42GrvoFYehc/s1600-h/DSCN2632.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_TBwmD5QKi3k/R4Ls_9BJ56I/AAAAAAAAABQ/42GrvoFYehc/s200/DSCN2632.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5152941507120588706" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="awal"&gt;H&lt;/span&gt;ujan mulai sering turun. Itu berarti musim hujan mulai dekat, bahkan sudah memasuki musimnya. Seperti biasa, hujan yang mengguyur kota Semarang sering jadi masalah, terutama di daerah-daerah tertentu. Untuk itu, pemerintah harus benar-benar menyiapkan diri mengantisipasi berbagai kemungkinan akibat hujan. Aparat pemda, hingga ke kelurahan harus segera dikerahkan. Jangan menunggu banjir baru ambil tindakan.&lt;br /&gt;Banjir lokal yang akhir-akhir ini melanda sejumlah tempat di Semarang membuat sungai dan saluran air dipenuhi sampah. Berton-ton sampah menyebabkan sungai dan saluran air tak mampu mengatasi derasnya air di musim hujan sehingga banyak wilayah yang terendam. Tumpukan sampah dari berbagai macam material mengakibatkan pendangkalan dan penyempitan sungai. Kota yang langganan banjir ini, sudah berpengalaman betapa sengsaranya akibat dari “sapaan” banjir itu. Selain membuat perumahan terendam air, perkampungan terkepung genangan air, jalan-jalanpun di mana-mana macet, masalah gangguan kebersihan dan kesehatan lingkunganpun kian banyak akibat banjir.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Genangan besar air di kota yang sekitar 34 % tanahnya dataran rendah, memang daerah langganan banjir sejak jaman dulu. Kota yang berkembang di atas tanah bekas rawa-rawa, serta dialiri 6 sungai yang bermuara di Laut Jawa, sudah tercatat sebagai kota yang tidak bebas banjir seperti Tembang Jawa yang didendangkan oleh pesinden terkenal, Waljinah, Semarang Kaline Banjir. Makanya, pemerintah kolonial Belanda tahu betul untuk mengatasi banjir di Semarang, yang sudah berupaya menyelamatkan kota jajahannya ini. Misalnya, Belanda mengadakan penggalian kanal sodetan Kali Garang agar air bisa mengalir dengan cepat ke laut dan tidak menimbulkan genangan lokal. Salah satu upaya yang pernah dilakukan Belanda adalah mengadakan perbaikan tata air dengan membuat dua sungai yang dinamakan Kali Banjir Kanal Barat dan Banjir Kanal Timur. Proyek yang terkenal dengan sebutan Kali Banjir Kanal ini ternyata kesaktiannya hanya mampu bertahan sekitar 40-an tahun. Kenyataan sekarang yang ada, di beberapa lokasi sudah langganan genangan, misalnya di sekitar Jalan Kaligawe, Simpang Lima, Jalan Citarum sampai Bubakan, ujung Jalan Imam Bonjol dekat Johar, dan sebagian Kota Lama.&lt;br /&gt;Ancaman banjir lokal makin besar akibat hilangnya daerah potensi resapan air alami di kota Semarang bawah. Kecenderungan sekarang hampir semua halaman rumah dan perkantoran di pusat kota kini ditutup beton dan aspal yang kedap air untuk tempat parkir. Di beberapa kawasan, kapasitas saluran kurang memadai karena volume air hujan yang masuk meningkat tajam akibat daerah terbangun makin luas. Kondisi ini umumnya terjadi di daerah bekas rawa mapun persawahan, misalnya wilayah Semarang Utara, dan Semarang Tengah. Sistem drainase di pusat kota banyak yang menyempit terkena pelebaran jalan, atau berubah menjadi saluran tertutup. Sehingga drainase tertutup itu sering tersumbat sampah, karena minimnya kesadaran masyarakat dalam membuang sampah.&lt;br /&gt;Kenyataan tentang banyaknya sampah harus menyadarkan semua komponen masyarakat untuk menyadari bahwa banjir merupakan akibat langsung dari perilaku manusia. Banjir terjadi semata-mata bukan karena faktor alam, tetapi lebih karena kecerobohan manusia yang tidak memperhatikan kelestarian dan keseimbangan alam. Urusan sampah, selama ini pemerintah masih terfokus pada pembuangan sampah akhir yang membutuhkan lahan luas. Padahal persoalan sampah menyangkut hal yang jauh lebih luas karena terkait dengan perilaku manusia.&lt;br /&gt;Tetapi, sebenarnya kewajiban mengantisipasi musim hujan itu tidak hanya untuk pemerintah. Warga Kota Semarang juga harus mengambil langkah-langkah antisipatif. Setelah melihat fakta kota Semarang mengenai banjir, maka ada beberapa langkah yang harus ditempuh dalam mengantisipasi musim hujan, diantaranya :&lt;br /&gt;Pertama, perbaikan sungai-sungai Baik dengan nornalisasi sungai maupun penambahan pompa-pompa air, terutama pada pompa-pompa air yang sudah ada sejak jaman Belanda yang belum mendapatkan penggantian pada daerah tertentu rawan banjir lokal.&lt;br /&gt;Kedua, Mengelola Sistem Drainase dengan segera melakukan perhitungan volume dan kedalaman antara saluran primer, sekunder, dan tersier sehingga terbentuk suatu sistem saluran yang saling mendukung. Sistem drainase yang dilengkapi pintu air seperti yang pernah diterapkan Belanda untuk Kota Semarang pada masa lalu perlu diaktifkan kembali. Pintu air yang mudah dibuka tutup sangat penting untuk membagi debit air.&lt;br /&gt;Ketiga, Memberikan pendidikan dan Sosialisasi tentang saluran drainase, sungai dan peranannya kepada masyarakat secara kontinyu Kegiatan ini dapat dilakukan melalui kegiatan tingkat RT maupun kelurahan dengan kerja bakti membersihkan sungai maupun saluran lingkungan. Penyuluhan untuk membuka kesadaran masyarakat agar membuang sampah pada tempatnya, ditindak lanjuti dengan gerakan pembuatan bak sampah di masing-masing rumah tangga. Banjir biasanya disertai beragam penyakit. Para pemimpin lokal di tingkat RT juga harus waspada.&lt;br /&gt;Keempat, daerah-daerah padat yang terdapat sepanjang bantaran sungai sebaiknya dikurangi, untuk mengurangi risiko banjir bandang. Menyelesaikan masalah banjir, luapan, dan genangan air di daerah yang dilandanya, tidak dapat dilakukan di daerah setempat, tetapu harus terpadu mulai dari hulu ke hilir sungai, sehingga Daerah Aliran Sungai (DAS) akan tetap terjaga kelestariannya.&lt;br /&gt;Penulis :&lt;br /&gt;Sukawi, Pengajar Arsitektur di Universitas Diponegoro Semarang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dimuat : Seputar Semarang Edisi 218, 27 November 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro UNDIP Semarang Jawa Tengah&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25591165-1748760969845382165?l=www.inibandeng.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BerbisnisSambilMenulis/~4/yNo2tceuj4k" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.inibandeng.com/feeds/1748760969845382165/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.inibandeng.com/2008/01/antisipasi-genangan-musim-hujan.html#comment-form" title="5 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/25591165/posts/default/1748760969845382165?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/25591165/posts/default/1748760969845382165?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/BerbisnisSambilMenulis/~3/yNo2tceuj4k/antisipasi-genangan-musim-hujan.html" title="Antisipasi Genangan Musim Hujan" /><author><name>sukawi (owner bandeng rizta)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05844298798212557965</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://bp0.blogger.com/_TBwmD5QKi3k/R3xKcdBJ55I/AAAAAAAAABE/Gty6OBBKAHM/S220/sukawi+foto.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/_TBwmD5QKi3k/R4Ls_9BJ56I/AAAAAAAAABQ/42GrvoFYehc/s72-c/DSCN2632.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>5</thr:total><feedburner:origLink>http://www.inibandeng.com/2008/01/antisipasi-genangan-musim-hujan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUcNR3k6fSp7ImA9WxZREUQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-25591165.post-2628452909108338075</id><published>2008-01-03T09:45:00.000+07:00</published><updated>2008-02-05T14:38:16.715+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-02-05T14:38:16.715+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="wisata" /><title>Pesona Sunset ”Manado Tua”</title><content type="html">
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/s2zyBmXeM06X4-HUax3v-h64B3Y/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/s2zyBmXeM06X4-HUax3v-h64B3Y/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/s2zyBmXeM06X4-HUax3v-h64B3Y/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/s2zyBmXeM06X4-HUax3v-h64B3Y/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_TBwmD5QKi3k/R4LvIdBJ57I/AAAAAAAAABY/jqIKavV-rJ0/s1600-h/DSCN2333.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_TBwmD5QKi3k/R4LvIdBJ57I/AAAAAAAAABY/jqIKavV-rJ0/s200/DSCN2333.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5152943852172732338" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Secara psikologis ada kesan luar biasa ketika kami yang bertugas menjadi surveyor untuk mendampingi staff Kementerian Perumahan Rakyat mulai menginjakkan kaki di Bandar Udara Internasional ‘Sam Ratulangi’ Manado. Apakah itu? Pemandangan alamnya yang indah, pohon kelapa berderet beribu-ribu seperti barisan tentara yang siap berperang. Hijau nian! Tak perlu guide untuk menjelaskan segala sesuatu yang bisu itu. Kami berdua sejenak tertegun karena sama-sama pertama kali tiba dibumi nyiur melambai. Apalagi kalau yang datang itu surveyor yang pasti akan menjumpai medan berat menantang untuk ditaklukkan sekaligus berpetualang. &lt;br /&gt;Keluar dari lokasi parkir Bandar Udara, kita dihadapkan dengan lingkungan bersih, tertata rapi, jalan yang baik dan beberapa menit kemudian, pandangan kita tertuju pada monumen Adipura Kencana, suatu monumen peringatan terhadap keberhasilan dalam klasifikasi kota bersih di Indonesia. &lt;br /&gt;Kesempatan yang pertama ini tidak kami sia siakan saat singgah di kota Manado, sebuah kota yang menarik di teluk ujung utara pulau Sulawesi. Sore itu udara terasa sejuk karena sejak tiba siang hari langit kota Manado selalu diselimuti awan yang menggelayut. Setelah melepas lelah di hotel, sorenya kami mencoba menuju ke Boulevard Manado (jantung kota) dan langsung menuju ke pantai Manado untuk menikmati matahari terbenam dengan latar pulau Manado Tua. Pulau Manado Tua merupakan pulau utama dari sekelompok pulau di teluk Manado. Sambil menikmati jajanan di sepanjang pantai Manado, serta semilir angin laut dan memperhatikan muda-mudi baik bergerombol maupun berpasangan menghabiskan senja ditepi pantai.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Diantara derai ombak yang memecah pantai, sekelompok muda-mudi duduk-duduk diatas bongkahan batu besar, menghadap laut sambil menikmati pesona pulau Manado Tua. Semakin petang suasana semakin tambah ramai. Disebelah kiri tepat didepan menara pengawas pantai yang sudah mulai lapuk, beberapa anak berlarian sambil memainkan bola dikaki yang lincah beralaskan pasir.&lt;br /&gt;Semilir angin semakin membuat kulit tubuh ini menginginkan untuk diselimuti dengan jaket tebal. Sambil menjinjing kamera, saya berusaha untuk berbaur dengan sekelompok muda-mudi meloncat dari batu yang satu ke batu lainnya untuk lebih mendekati bibir pantai dan melihat lebih dekat percikan ombak. Saya berusaha untuk mencari posisi yang cukup nyaman untuk mengabadikan momen indah pesona Manado Tua diwaktu senja yang kala itu diselimuti oleh awan sehingga mataharipun enggan untuk menampakkan wajahnya yang cerah.&lt;br /&gt;Sesekali pandangan terlempar pada aktivitas nelayan yang siap-siap untuk berangkat melaut. Selain itu juga hilir mudiknya perahu naga yang mengangkut para wisatawan yang akan berlabuh setelah lelah mengantar para pelancong berkeliling menikmati pesona gugusan pulau Manado Tua dan Bunaken. Primadona pariwisata kota Manado adalah Taman Nasional Bunaken, yang oleh sementara orang disebut sebagai salah satu taman laut terindah di dunia. Letaknya yang hanya sekitar 8 Km dari daratan kota Manado dan dapat ditempuh sekitar ½ s/d 1 jam menyebabkan Taman Nasional ini mudah dikunjungi. Bagi anak-anak juga tersedia wahana sepeda air beraneka macam ditepi pantai dengan hanya merogoh kocek Rp. 6.000 perjam.&lt;br /&gt;Suasana petang di Kawasan Bolevard Manado sungguh terasa istimewa. Pengunjung dapat menyaksikan panorama alam dengan Pulau Manado Tua di tengah lautan. Menurut Jefferson, pemuda setempat, ketika cuaca cerah, matahari yang mulai tergelincir ke ufuk barat akan terlihat jelas, maka proses terjadinya Sunset dapat disaksikan dengan indahnya. &lt;br /&gt;Seiring dengan terbenamnya matahari, kawasan Bolevard menjadi ramai oleh penjual makanan. Mereka menggelar jualannya di sejumlah tenda di pinggiran pantai. Hidangan yang tersedia terdiri dari; nasi goreng, bakso, gado-gado, sampai beraneka ragam sea food. Harganya pun relatif murah. Para pengunjung dapat memilih sesuai selera yang diinginkannya.&lt;br /&gt;Berwisata ke kota Manado sungguh sangat menyenangkan. Banyak pilihan bagi wisatawan untuk berekreasi dan berwisata ria. Dari wisata alam seperti taman laut Bunaken, keindahan pantai, tempat hiburan rakyat, pusat perbelanjaan, hingga restoran, ada di kota ini. Bagi wisatawan yang menyukai alam pantai sebagai tempat rekreasi masih di dalam kota, maka kota Manado-lah tempatnya. Pesona keindahan pantainya dapat disaksikan dari kawasan Malalayang sampai kawasan Bolevard yang ada dipusat kota dengan garis pantai sepanjang 18,7 kilometer.&lt;br /&gt; Manado atau yang lebih di kenal dengan Nyiur Melambai, terkenal dengan keramahan penduduknya yang kemudian di sebut sebagai smiling people. Kota Manado ini mempunyai motto Si Tou Timou Tumou Tou, sebuah filsafat hidup masyarakat Minahasa yang dipopulerkan oleh Sam Ratulangi, yang berarti: "Manusia hidup untuk memajukan orang lain." Dalam ungkapan bahasa Manado, seringkali dikatakan: "Baku beking pande", yang secara harafiah berarti "Saling menambah pintar [orang lain]".&lt;br /&gt;Suasana Manado malam tak jauh beda dengan kota-kota besar di Jawa, musik terus mengalun. Malam hari, kota ini begitu berisik dengan suara musik yang bergema dari ratusan kafe. Bunyi musik juga terdengar dari mobil angkutan umum ”oto mikro”- sebutannya, nyaris memecah gendang telinga penumpang. Suasana kota dan masyarakatnya terbuka, kondusif, dan mudah diakrabi oleh siapa saja. Jalan Roda, misalnya, menjadi salah satu landmark Manado. Terletak di pusat kota, jalan itu berubah menjadi tempat minum kopi dan kongko-kongko dari berbagai kalangan masyarakat. Di situlah tempat warga berkelakar, dan berdiskusi berbagai hal.  &lt;br /&gt;Jalan Boulevard Manado (Jalan Piere Tendean), merupakan landmark yang menjadi kebanggaan karena merupakan jalan terlebar dan jalan pantai terpanjang-4,2 kilometer. Lebih-lebih di malam hari, bertambah semarak karena lampu aneka warna dari billboard dan papan reklame.&lt;br /&gt;Pusat perbelanjaan di Kota Manado mulanya terkonsentrasi di seputar Boulevard Manado. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi, dalam kurun waktu 3 tahun, industri properti dan retail di Manado berkembang cukup pesat. Ditandai dengan dibukanya tiga buah pusat perbelanjaan modern baru yaitu Mega Mal Manado, Manado Town Square dan Bulevard Mall. Ketiga pusat perbelanjaan ini berlokasi di ruas jalan yang sama yaitu jalan Piere Tendean atau yang dikenal dengan Manado Boulevard yang dapat juga dinikmati dari pantai Manado. &lt;br /&gt;Beberapa pusat perbelanjaan lain pun sedang dibangun di ruas jalan ini, terutama di daerah reklamasi pantai. Di sepanjang jalan ini juga terdapat beberapa hotel berbintang, restoran dan cafe yang menjajakan beraneka ragam makanan dan buka hingga larut malam. Pusat cinderamata khas Manado dapat ditemukan di Jalan BW Lapian. Terdapat beberapa toko suvenir yang menjual makanan, busana, dan kerajinan tangan khas Manado.&lt;br /&gt;Wajah kota Manado dapat diketahui dari peran historisnya. Awalnya Manado dibangun sebagai kota benteng, kota kolonial, kota pusat administrasi dan pemerintahan, kota pelabuhan dan transit, kota perdagangan dan jasa. Kemudian dalam perkembangannya, dengan konsep Manado Kota Tinutuan menuju Kota Wisata 2010. Kota Manado sebagai suatu kota yang diusung untuk memposisikan diri sebagai kota pariwisata atau pun wisata dunia pada tahun 2010. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;dimuat : Suara Merdeka Rublik Jalan-Jalan, Minggu 2 Desember 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro UNDIP Semarang Jawa Tengah&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25591165-2628452909108338075?l=www.inibandeng.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BerbisnisSambilMenulis/~4/qjW3srqFIB4" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.inibandeng.com/feeds/2628452909108338075/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.inibandeng.com/2008/01/pesona-sunset-manado-tua.html#comment-form" title="2 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/25591165/posts/default/2628452909108338075?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/25591165/posts/default/2628452909108338075?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/BerbisnisSambilMenulis/~3/qjW3srqFIB4/pesona-sunset-manado-tua.html" title="Pesona Sunset ”Manado Tua”" /><author><name>sukawi (owner bandeng rizta)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05844298798212557965</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://bp0.blogger.com/_TBwmD5QKi3k/R3xKcdBJ55I/AAAAAAAAABE/Gty6OBBKAHM/S220/sukawi+foto.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_TBwmD5QKi3k/R4LvIdBJ57I/AAAAAAAAABY/jqIKavV-rJ0/s72-c/DSCN2333.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://www.inibandeng.com/2008/01/pesona-sunset-manado-tua.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUQMR3c-eip7ImA9WxZREUQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-25591165.post-7232766322527812985</id><published>2007-12-14T08:16:00.000+07:00</published><updated>2008-02-05T14:43:06.952+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-02-05T14:43:06.952+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="forum kompas" /><title>Pelajaran Mahal Minimnya Ruang Bermain</title><content type="html">
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/atkkHx9SrMrmTP0GsimHjaIyVwg/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/atkkHx9SrMrmTP0GsimHjaIyVwg/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/atkkHx9SrMrmTP0GsimHjaIyVwg/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/atkkHx9SrMrmTP0GsimHjaIyVwg/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_TBwmD5QKi3k/R4LyE9BJ58I/AAAAAAAAABg/sN9Ra7zrOo4/s1600-h/DSCN2283.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_TBwmD5QKi3k/R4LyE9BJ58I/AAAAAAAAABg/sN9Ra7zrOo4/s200/DSCN2283.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5152947090578073538" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Suasana kegembiraan para mahasiswi Fakultas Pendidikan Taman Kanak-Kanak IKIP Veteran Semarang yang bermain dengan penuh canda di Taman Bermain Wonderia Semarang berubah dengan duka. Terdapat lima belas orang, diantaranya 9 korban mengalami retak tulang belakang akibat wahana plane tower yang jatuh dari ketinggian 3-4 m (Kompas, 16/11/2007). Dari peristiwa ini timbul pertanyaan, masih adakah ruang untuk bermain yang aman di kota ini? &lt;br /&gt;Kurangnya ruang bermain bagi anak di kota Semarang ini, dapat dilihat pada hari Minggu atau hari libur. Dimana setiap hari Minggu kawasan Simpang Lima sangat padat oleh lautan manusia yang berebut untuk mencari ruang bermain, berolahraga ataupun berbelanja. Anak anak terpaksa bermain di tempat bermain khusus dan tidak menggunakan tempat bermain di ruang terbuka yang merupakan sebuah ruang publik yang nyaman, karena memang tidak ada lagi ruang terbuka untuk bermain. Sering kita lihat banyak anak-anak bermain bola di jalanan beraspal, yang membahayakan nyawa mereka. Bahkan, kolam di Bundaran Tugu Muda dan Bubakan Semarang pun menjadi tempat bermain mereka. Lahan-lahan terbuka, tempat bermain, taman, dan ruang publik kota lainnya sudah lama secara perlahan berganti dengan gedung-gedung komersial. &lt;br /&gt;Ruang terbuka di Semarang memang tidak pernah bertambah, bahkan yang ada pun berubah fungsi dan terjadi privatisasi di dalamnya. Seleksi untuk masuk di dalamnya harus dilalui lewat tiket pembayaran. Ruang publik ini sudah tidak sesuai dengan fungsi sebenarnya dimana ruang publik mampu diakses oleh semua golongan masyarakat. Berkurangnya ruang terbuka publik ini tidak saja merupakan persoalan pakar lingkungan, tetapi menjadi beban psikologis masyarakat kota akan kebutuhan ruang sebagai aktualisasi diri. &lt;br /&gt;Saatnya kita harus mengambil pelajaran mahal atas peristiwa di Wonderia tersebut. &lt;span class="fullpost"&gt; Maraknya pembangunan gedung (mall, ruko, kantor) semakin meminggirkan anak-anak yang sangat membutuhkan ruang terbuka hijau untuk tempat bermain. Hal ini dialami oleh penulis, setiap kali ingin mengajak anak-anak bersantai, selalu kebingungan. Ke mana lagi akan membawa mereka supaya bisa bermain dengan bebas, tidak perlu dibatasi oleh tembok yang terdapat di mall. Di mana lagi anak-anak dapat menikmati udara yang berhembus di antara pepohonan, tidak perlu menghirup udara ber-air conditioner. Di mana lagi anak-anak bisa bermain dengan alam, di antara pepohonan, bermain bola di lapangan rumput, sehingga tidak perlu menghabiskan waktu di depan play station/ game net. Di mana lagi anak-anak bisa bermain bersama teman sebaya seperti sepak bola, petak umpet, lompat tali, sehingga tidak perlu berebutan satu wahana permainan.&lt;br /&gt;Berkembangnya game net menurut antropolog UGM Nicolaas Warouw, salah satunya disebabkan minimnya ruang publik yang ada di perkotaan. Keterbatasan ruang publik yang mengakibatkan orang lebih memilih tempat seperti ini. Saat ini tidak banyak ruang publik yang bisa memberikan tempat untuk berekspresi. Di game net, para gamer akan memiliki ruang untuk imajinasi, dan mereka bisa masuk dengan bebas, tidak ada kriminalisasi, tidak perlu ada sanksi moral, dan tekanan dari pihak mana pun. &lt;br /&gt;Kita merasa prihatin, bahwa dengan tiadanya ruang terbuka untuk bermain bersama, akan berdampak dengan semakin banyaknya anak-anak yang egois tidak memiliki semangat kebersamaan, karena permainan yang hampir selalu mereka mainkan adalah permainan individu. Sesungguhnya, sejak lima tahun lalu telah disahkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (UUPA). Namun, tidak bisa dipungkiri bila keberadaan UUPA belum terlalu berdampak terhadap perbaikan tumbuh-kembangnya anak. &lt;br /&gt;Secara alamiah, dunia anak adalah dunia belajar dan bermain, bukan dunia bekerja mencari uang. Bermain merupakan suatu kegiatan yang dilakukan anak-anak untuk memperoleh kesenangan, tanpa mempertimbangkan hasil akhir. Beberapa ahli psikologi mengatakan bahwa permainan sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa anak. Papalia (1995), mengatakan bahwa anak berkembang dengan cara bermain. Dunia anak-anak adalah dunia bermain. Dengan bermain anak-anak menggunakan otot tubuhnya, menstimulasi indra-indra tubuhnya, mengeksplorasi dunia sekitarnya, menemukan seperti apa lingkungan yang ia tinggali dan menemukan seperti  apa diri mereka sendiri. Dengan bermain, anak-anak menemukan dan mempelajari hal-hal atau keahlian  baru dan belajar (learn) kapan harus menggunakan keahlian tersebut, serta memuaskan apa yang menjadi kebutuhannya (need). Lewat bermain, fisik anak akan terlatih, kemampuan kognitif dan kemampuan berinteraksi dengan orang lain.&lt;br /&gt;Menurut Hughes (1999), bermain merupakan kegiatan anak yang dirasakan olehnya menyenangkan dan dinikmati (pleasurable and enjoyable). Hanya sekedar berlari-lari keliling taman, kalau kegiatan tersebut dirasakan menyenangkan oleh anak, maka kegiatan itupun sudah dapat disebut bermain. Pentingnya ruang bermain bagi anak-anak di kota, seperti diungkapkan Pearce (1980), ruang bermain merupakan tempat dimana anak-anak tumbuh dan mengembangkan intelegensinya. Tempat dimana mereka membuat kontak dan proses dengan lingkungan, serta membantu sistem sensor dan proses otak secara keseluruhan. Dari tempat bermain pula, anak belajar sportivitas, disiplin dan mengembangkan kepribadiannya.&lt;br /&gt;Bagaimana dengan keberadaan lahan bermain sekarang? Jumlahnya juga kian terbatas. Itu sebabnya, anak-anak pun menggunakan taman, trotoar, bahkan badan jalan sebagai lahan bermain. Akibatnya, sering kita lihat tiba-tiba ada bola nyelonong ke tengah jalan yang kemudian diikuti oleh anak berlari mengejar bola tersebut. Atau anak-anak berlarian mengejar layang-layang yang putus. Kondisi ini sangat membahayakan keselamatan anak. &lt;br /&gt;Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia F Hatta menyebutkan, lima kota, yaitu Solo, Sidoarjo, Kutai Kartanegara, Jambi, dan Gorontalo, sebagai contoh kota layak anak. Kota ramah anak mensyaratkan jaminan hak setiap anak sebagai warga kota, untuk berperan dan berpartisipasi aktif dalam perencanaan dan pembangunan kota, tentunya sesuai kemampuan dan kebutuhan anak. Anak-anak berhak mendapat pelayanan fasilitas kota, sarana air bersih, pelayanan kesehatan, pendidikan murah, transportasi mudah, dan jaminan keamanan. Memperbanyak taman bermain anak adalah salah satu bentuk yang tepat. Taman dan kota yang ramah anak menjadi ruang edukasi dan pembelajaran nyata bagi mereka. &lt;br /&gt;Kehadiran ruang terbuka, ruang bermain, atau ruang komunal yang merupakan ruang  bagi masyarakat untuk melakukan integrasi dengan sesamanya di suatu kawasan perkotaan, seperti hadirnya taman dan ruang terbuka hijau sangat dibutuhkan Semarang. Namun yang kita lihat, hak-hak anak atas ruang bermain semakin hari semakin sempit. Pemerintah hanya menginginkan sisi komersial dari setiap pembangunan ruang bermain itu. Bukan semata-mata memberikan hak yang sepatutnya diterima masyarakat, khususnya bagi anak-anak. &lt;br /&gt;Harus diakui, keberadaan ruang terbuka merupakan bagian integral kegiatan pembangunan dan keberadaan suatu kawasan perkotaan. Namun saat ini semuanya terkesan cuma kosmetik. Kegiatan pembangunan ruang terbuka publik hingga kini masih belum dilakukan. Padahal, untuk di daerah padat hunian sangat membutuhkan ruang terbuka dan taman. Tidak hanya dalam konteks tata ruang dan kualitas lingkungan, tetapi yang terpenting dalam kaitan dengan manfaat sosial seperti areal bersosial, rekreasi,  santai, eduksi, dan kesehatan. &lt;br /&gt;Perlu diketahui, anak yang dibesarkan dalam lingkungan homogen lebih kecil kemampuannya mengembangkan rasa empati terhadap orang lain serta tidak siap hidup dalam masyarakat yang beragam (Carmona, et.al., 2003). Konsumtif, egois, manja, kedengarannya bukan hal aneh saat ini, bukan? Untuk itu marilah Pemkot untuk menambah ruang terbuka hijau yang akan dapat bermanfaat bagi publik &lt;br /&gt;Dalam rangka untuk menambah Ruang Terbuka, perlu diperhatikan beberapa hal. Pertama, untuk menghindari terjadinya penurunan jumlah dan luas taman, perlu adanya keputusan dan petunjuk teknis yang dapat memberikan kejelasan tentang jenis/klasifikasi taman, fungsi atau peruntukannya, pengaturan pengelolaan, serta sanksinya. &lt;br /&gt;Kedua, Perlunya penyediaan fasilitas sosial (fasos) dan fasilitas umum (fasum), termasuk taman di pemukiman baru yang diusahakan oleh pengembang. Keberadaan taman-taman di pemukiman baru tersebut, paling tidak dapat merededuksi jumlah taman yang harus dibangun oleh pemerintah. &lt;br /&gt;Ketiga, Pemerintah hendaknya mengambil prakarsa dengan memberi dorongan, support, bonus, atau apa pun namanya, yang bertujuan memberi spirit bagi pengembang yang setia bersahabat dengan lingkungan. Atau pemerintah membuat regulasi untuk menindak pengembang yang merusak lingkungan, atau mengabaikan regulasi tentang lingkungan hidup. &lt;br /&gt;Keempat, untuk meningkatkan jumlah dan luas ruang terbuka serta pelibatan tanggung jawab masyarakat dan stakeholder, perlu dikaji penerapan adanya insentif dan disinsentif yang berupa Green Tax pemanfaatan ruang terbuka di pemukiman (pekarangan rumah). Pajak tersebut selanjutnya dapat digunakan untuk memelihara dan membangun taman-taman baru.  Jadi, masih beranikah kita tidak peduli terhadap pengembangan ruang terbuka di Semarang, yang sekaligus menjamin kelangsungan ketersediaan ruang bermain  bagi anak cucu kita?&lt;br /&gt;Penulis :&lt;br /&gt;Sukawi, Pengajar di Arsitektur Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;dimuat di Kompas 22 November 2007&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.kompas.com/kompas-cetak/0711/22/jogja/1044940.htm"&gt;http://www.kompas.com/kompas-cetak/0711/22/jogja/1044940.htm&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro UNDIP Semarang Jawa Tengah&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25591165-7232766322527812985?l=www.inibandeng.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BerbisnisSambilMenulis/~4/BLXbi6Ll98g" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.inibandeng.com/feeds/7232766322527812985/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.inibandeng.com/2007/12/pelajaran-mahal-minimnya-ruang-bermain.html#comment-form" title="1 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/25591165/posts/default/7232766322527812985?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/25591165/posts/default/7232766322527812985?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/BerbisnisSambilMenulis/~3/BLXbi6Ll98g/pelajaran-mahal-minimnya-ruang-bermain.html" title="Pelajaran Mahal Minimnya Ruang Bermain" /><author><name>sukawi (owner bandeng rizta)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05844298798212557965</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://bp0.blogger.com/_TBwmD5QKi3k/R3xKcdBJ55I/AAAAAAAAABE/Gty6OBBKAHM/S220/sukawi+foto.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/_TBwmD5QKi3k/R4LyE9BJ58I/AAAAAAAAABg/sN9Ra7zrOo4/s72-c/DSCN2283.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://www.inibandeng.com/2007/12/pelajaran-mahal-minimnya-ruang-bermain.html</feedburner:origLink><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="enclosure" href="http://feedproxy.google.com/~r/BerbisnisSambilMenulis/~5/VN55nMZi_S0/1044940.htm" length="0" type="text/html" /><feedburner:origEnclosureLink>http://www.kompas.com/kompas-cetak/0711/22/jogja/1044940.htm</feedburner:origEnclosureLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUcNR3k6fip7ImA9WxZREUQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-25591165.post-7790104338079624806</id><published>2007-11-19T10:57:00.000+07:00</published><updated>2008-02-05T14:38:16.716+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-02-05T14:38:16.716+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="wisata" /><title>Masjid Terapung Diatas Danau</title><content type="html">
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/x1A_Vzs19eQ1NCdp56bZFczVQ_0/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/x1A_Vzs19eQ1NCdp56bZFczVQ_0/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/x1A_Vzs19eQ1NCdp56bZFczVQ_0/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/x1A_Vzs19eQ1NCdp56bZFczVQ_0/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_TBwmD5QKi3k/R4L0i9BJ59I/AAAAAAAAABo/ah-9YQRVTXg/s1600-h/masjid+dilihat+dari+danau+putra.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_TBwmD5QKi3k/R4L0i9BJ59I/AAAAAAAAABo/ah-9YQRVTXg/s200/masjid+dilihat+dari+danau+putra.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5152949804997404626" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jam menunjukkan pukul 09.00 waktu setempat, ketika rombongan kami yang terdiri dari para mahasiswa tiba disebuah ruang terbuka seperti alun-alun di Jawa yang dinamakan dataran Putra. Agenda pertama kami hari itu adalah mengunjungi Masjid Putra dan Putrajaya Holding Company. Rasa penasaran langsung menyergap begitu melihat kemegahan Masjid Putra yang berada di sebelah barat dataran dengan kubah yang berwarna merah muda sangat menawan. Belum sampai rasa penasaran itu hilang, saya terkaget-kaget melihat banyak sekali turis asing yang hanya mengenakan kaos oblong dan celana pendek baru saja keluar dari pintu gerbang masjid.&lt;br /&gt;Semua itu terjawab ketika rombongan kami tiba dipintu gerbang masjid yang cukup megah. Semua orang tanpa kecuali baik muslim dan non muslim dapat menikmati keindahan kawasan masjid putra tetapi harus berpakaian yang menutup aurat. Bagi yang non muslim tidak usah takut karena di gerbang ini terdapat penyewaan baju jubah dilengkapi dengan kerudung bagi wanita untuk dapat masuk kawasan masjid Putra. &lt;br /&gt;Kesan monumental langsung menyapa bagi siapa saja yang memasuki kompleks masjid Putra ini. &lt;span class="fullpost"&gt; Masjid ini merupakan sebuah masjid yang dirancang dengan menggabungkan ciri–ciri arsitektur modern dan tradisional. Masjid yang terlihat mengapung diatas danau menjadi lambang kemegahan dan landmark bagi kota baru Putrajaya. Masjid ini mempunyai segala ciri khas arsitektur modern tanpa mengabaikan unsur-unsur Islam mulai dari bentuk sampai ornamennya dan budaya masyarakat setempat. Nama masjid Putra diambil sebagai penghormatan terhadap Perdana Menteri Pertama Malaysia Tuanku Abdul Rahman Putra Al Haj. &lt;br /&gt;Sebelum memasuki masjid Putra kita dihadapkan pada sebuah bangunan gerbang masjid yang tinggi dan megah. Gerbang ini dilengkapi dengan hiasan bermotifkan bentuk geometris yang merupakan ciri arsitektur islam serta seni kaligrafi yang indah. Gerbang dibentuk mirip dengan gerbang pada Masjid Raja Hassan di Casablanca di Maroko. Dari segi arsitektur berasaskan seni bangunan Persia pada jaman Safavid sehingga bercirikan konsep Timur Tengah dan dikombinasikan dengan seni - seni tradisional melayu. Gerbang dibuat monumental dengan material dari granit, sehingga manusia akan merasa kecil bila melintasi gerbang masjid. Gerbang ini juga dilengkapi ruang informasi dan tangga menuju tempat wudlu di lantau dasar.&lt;br /&gt;Disamping Masjid, terdapat sebuah menara yang berdiri megah setinggi 116 meter di sebelah kiri pintu gerbang Masjid Putra. Menara ini diilhami dari bentuk menara masjid Sheik Omar di Baghdad, berbentuk bintang segi delapan yang terdiri dari 8 penjuru yang  melambangkan delapan arah mata angin. Menara ini berfungsi untuk mengumandangkan adzan ke segala penjuru.  Terdapat lima tingkatan pada menara ini yang melambangkan lima Rukun Islam dan juga sholat lima waktu. Bagian paling atas dari menara juga berwarna merah muda yang sangat serasi dengan warna kubah utama.&lt;br /&gt;Kubah yang berwarna merah muda ini menurut takmir masjid Putra ustad Kamaruzaman bin Abdul Aziz melambangkan modernitas dan mengikuti perkembangan zaman serta keterbukaan bagi siapapun yang inginmengunjungi masjid termegah di Putrajaya ini. Sisi luar dari kubah ini tersusun dari batu granit yang menbentuk ormanen geometris khas islami. Sedangkan pada sisi dalampun dominan warna merah muda dengan ormanen geometris dan disekelilingnya terdapat hiasan kaligradi yang melingkar.&lt;br /&gt;Masjid ini dibangun pada lokasi yang sangat penting di Putrajaya yang merupakan pusat pemerintahan administratif Negara Malaysia yang berada di daerah Multimedia Super Coridor (MSC), dimana Putrajaya memberikan catatan pada sejarah baru mengenai perencanaan kota modern di Malaysia. &lt;br /&gt;Masjid Putra dibangun dengan tiga konsep dasar ideologi yang sederhana: Pertama, hubungan manusia dengan pencipta, Hubungan ini diwujudkan dengan penerapan desain bangunan yang bernuansa Islami serta membangun masjid sebagai tempat untuk senantiasa mengingat Tuhan. Masjid Putra merupakan salah satu bangunan yang dibuat pertama kali di Putrajaya sebelum bangunan lainnya didirikan.&lt;br /&gt;Kedua, hubungan manusia dengan manusia, Hubungan ini diwujudkan melalui sifat kawasan masjid Putra yang terbuka untuk umum baik yang muslim maupun non muslim. Terdapat banyak fasilitas-fasilitas social yang mendukung kegiatan sosialisasi antar masyarakat serta tempat-tempat umum lainnya, baik untuk kegiatan seminar, resepsi perkawinan sampai untuk wisata ataupun beberapa ruang terbuka yang sengaja diciptakan sebagai wadah untuk tempat berkumpul dan bersosialisasi.&lt;br /&gt;Ketiga, hubungan manusia dengan alam, Untuk menciptakan hubungan antara manusia dengan alam diwujudkan melalui pembangunan yang ramah lingkungan. Meletakkan banyak ruang terbuka dan hijau di sekitar masjid yang bertujuan selain untuk penghijauan juga sebagai bentuk apresiasi terhadap alam sekitar. Hampir 50 % tepi kawasan masjid Putra berada di Tasik Putra yang berfungsi sebagai danau buatan di Putrajaya. Hal – hal tersebut diciptakan melalui pengaturan landscape kota yang teratur.&lt;br /&gt;Masjid Putra ini terletak disebelah barat Dataran Putra, yang merupakan open space yang menghubungkan sumbu utama koridor kota Putrajaya. Sumbu sepanjang 5 km ini menghubungkan Kantor Perdana Menteri Malaysia dengan Putrajaya International Convension Center (PICC). Dataran Putra ini berbentuk lingkaran dengan keliling 300 m yang dilengkapi dengan kolam air serta bentuk bintang ditengahnya dengan sudut berjumlah 13 yang melambangkan jumlah negara bagian di Malaysia. Masjid Putra dikelilinggi oleh Danau Tasik Putrajaya sehingga dapat dilihat keindahan lingkungan kawasan sekitarnya serta menjadikan Masjid Putra kelihatan terapung-apung di permukaan danau. Selain itu juga memanfaatkan udara segar untuk ventilasi alami dari danau untuk menyejukkan kawasan masjid. Jembatan Putra dan Kompleks Perdana Menteri juga dapat dilihat dengan jelas dari lingkungan masjid ini.&lt;br /&gt; Seni bangunan berarsitektur Islam berkembang secara kontinyu dan terus menerus mengikut perkembangan kota dan ilmu yang diawali dari masjid Rasullullah SAW di Medinah. Kemahiran dalam seni bangunan  merupakan lambang dari tingginya ilmu dan peradaban suatu bangsa. Seni bangunan Islam sangat dikagumi hingga sekarang ini walaupun usianya telah menjangkau beratus-ratus tahun bahkan ribuan tahun seperti yang banyak terdapat di Turki, Maroko, Spanyol dan sebagainya. Banyak sekali ukiran kaligrafi yang diadopsi dari Timur Tengah menghiasi setiap ormanen Masjid Putra, terutama pada  ruang sholat utama.&lt;br /&gt;Potensi alam yang ada disekitar Masjid berupa hembusan angin yang cukup kuat merupakan sistem penghawaan alam yang digunakan pada Masjid Tuanku Abdul Rahman Putra Al Haj atau Masjid Putra. Bangunan ini menggunakan sistem penghawaan alami untuk ruang sholat utama, dan ruang sholat jemaah wanita. Sedangkan untuk ruang yang lain seperti Auditorium, ruang makan besar, Exhibision hall menggunakan penghawaan buatan. Masjid Putra dirancang dan dibangun pada kawasan dengan angin bertiup cukup kuat. Angin dari Danau Tasik Putrajaya ditangkap di lantai dasar dan disalurkan menuju lorong dan rongga kolom-kolom yang berjumlah 12 buah yang mengelilingi ruang utama sholat dan rongga pada 4 kolom utama, sehingga kolom berbentuk bujur sangkar yang terdapat di ruang sholat utama ini berongga ditengahnya. Udara dingin dari rongga kolom dikeluarkan pada sisi bawah kolom melalui kisi-kisi dari kayu yang menyatu dengan lemari untuk tempat Al Quran dan buku-buku Islami yang mengelilingi setiap kolom. Jadi pada ruang sholat utama Masjid Putra menggunakan sistem penghawaan alami dan tidak mempunyai penghawaan buatan baik Air Conditioning (AC) maupun kipas angin. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;dimuat di : Suara Merdeka, Minggu 11 November 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro UNDIP Semarang Jawa Tengah&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25591165-7790104338079624806?l=www.inibandeng.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BerbisnisSambilMenulis/~4/385U4mj4sYo" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.inibandeng.com/feeds/7790104338079624806/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.inibandeng.com/2007/11/masjid-terapung-diatas-danau.html#comment-form" title="1 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/25591165/posts/default/7790104338079624806?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/25591165/posts/default/7790104338079624806?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/BerbisnisSambilMenulis/~3/385U4mj4sYo/masjid-terapung-diatas-danau.html" title="Masjid Terapung Diatas Danau" /><author><name>sukawi (owner bandeng rizta)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05844298798212557965</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://bp0.blogger.com/_TBwmD5QKi3k/R3xKcdBJ55I/AAAAAAAAABE/Gty6OBBKAHM/S220/sukawi+foto.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/_TBwmD5QKi3k/R4L0i9BJ59I/AAAAAAAAABo/ah-9YQRVTXg/s72-c/masjid+dilihat+dari+danau+putra.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://www.inibandeng.com/2007/11/masjid-terapung-diatas-danau.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUUFSXsycCp7ImA9WxZREUQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-25591165.post-7251969229603871806</id><published>2007-10-23T15:24:00.000+07:00</published><updated>2008-02-05T14:40:18.598+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-02-05T14:40:18.598+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kota kita" /><title>Jam Kota, Bukan Sekedar Elemen Estetis Kota</title><content type="html">
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/evAeP-t1CxlozLwcsB50jJ0lQUY/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/evAeP-t1CxlozLwcsB50jJ0lQUY/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/evAeP-t1CxlozLwcsB50jJ0lQUY/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/evAeP-t1CxlozLwcsB50jJ0lQUY/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;Jam atau arloji merupakan salah satu benda penting sebagai penunjuk waktu. Tempo dulu, arloji termasuk benda mewah sehingga yang memiliki hanya orang-orang tertentu. Mengingat jam atau arloji itu sangat dibutuhkan masyarakat maka pemerintah Belanda pernah mendirikan jam kota di dekat Pasar Johar yang sekarang sudah hilang tergusur trotoar pasar Ja’ik. Saat ini kita sering menjumpai jam kota yang didirikan pihak swasta di beberapa penggal jalan protokol. Jam kota dapat kita jumpai diantaranya di Pertigaan Kaliwiru, Perempatan Metro Peterongan, sudut Taman Diponegoro, sekitar Taman Menteri Supeno, taman di jalan Sudirman dan banyak lagi. &lt;br /&gt;Tetapi alangkah sedihnya, saat ini apabila kita berkendara dan menjumpai jam kota banyak yang mati dan tidak berfungsi. Rasa kecewa bertambah lagi ketika jam kota yang mahal ini tidak ada yang bertanggung jawab terhadap pemeliharaan rutin dan perbaikannya. Padahal sebenarnya kehadiran jam kota yang tersebar di jalan-jalan kota Semarang ini dimaksudkan untuk mengingatkan waktu kepada warga Semarang.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Penunjuk waktu yang selanjutnya disebut jam ternyata sudah dikenal sejak 1.500 tahun sebelum Masehi oleh bangsa Mesir dengan sebutan sundial, sebuah instrumen penunjuk waktu dengan memanfaatkan bayang-bayang benda dari sinar matahari. Baru kemudian sundial dikenal bangsa China, Mesopotamia, dan Yunani. &lt;br /&gt;Kehadiran jam kota sangat dibutuhkan warga, sehingga letaknya harus strategis, jumlahnya harus cukup, sehingga bisa dilihat banyak orang. Meski tampak sepele, namun jam kota tersebut tidak sedikit jasanya bagi masyarakat sehingga dapat dijadikan sebagai penanda/ tetenger kawasan kota. Pemahaman makna tentang nilai, keunikan, karakteristik suatu tempat akan membentuk suatu identity. Identitas akan memberikan "arti" sebagai pembentukan image suatu tempat (place). (Lynch,1960).&lt;br /&gt;Salah satu di antaranya dapat menjadi identitas kota karena keunikan dari bentuknya. Seperti menara jam di Gedung Parlemen Inggris, yang terkenal dengan sebutan Big Ben. Di Bukittinggi, Sumatera Barat, ada jam Gadang yang menjadi identitas dan landmark kota. Jam ini dibangun oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1827 sebagai tempat pengintaian pada saat berkecamuk perang Padri (1825-1830). Tugu ini didirikan di dataran paling puncak Bukit Kandang Kabau yang berada di pusat Kota Bukittinggi. Lonceng juga berbunyi setiap jam dan penduduk Bukittinggi biasa menjadikan Jam Gadang sebagai panduan waktu karena dentangan loncengnya terdengar hingga jarak yang jauh.&lt;br /&gt;Sebenarnya pembangunan jam kota di Semarang ini agar dapat meningkatkan tingkat kedisiplinan masyarakat Semarang. Selama ini kita menilai tingkat kedisiplinan orang semarang sangat rendah. Banyak kita jumpai tindakan main serobot baik di jalan raya maupun antrean ditempat umum lainnya. Budaya main terobos inilah yang perlu terus diingatkan di jalan raya, dengan selalu mematuhi setiap rambu lalu lintas. Jangan sampai jam kota yang berdiri di tempat-tempat strategis kota hanya sebagai hiasan untuk memperindah jalan.&lt;br /&gt;Tugu jam bukan sekedar elemen estetis kota, melainkan benar-benar dapat dimanfaatkan masyarakat baik fungsinya sebagai penunjuk waktu, sebagai nilai keindahan/estetis kota serta dapat berguna untuk membudayakan sikap tepat waktu dan disiplin, di jalan raya maupun di tempat umum. Warga kota Semarang terus bermimpikan suasana tertib dan disiplin dijalan raya, walau tidak jelas kapan mimpi itu terealisasi, karena kita memelihara jam kota yang sudah ada pun tidak mampu dan tidak mau…&lt;br /&gt;Penulis :&lt;br /&gt;Sukawi, Pengajar Arsitektur di Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;dimuat di Kompas selasa, 23 Oktober 2007 &lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.kompas.com/kompas-cetak/0710/23/jateng/61536.htm"&gt;http://www.kompas.com/kompas-cetak/0710/23/jateng/61536.htm&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro UNDIP Semarang Jawa Tengah&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25591165-7251969229603871806?l=www.inibandeng.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BerbisnisSambilMenulis/~4/IpUnbw1pqQE" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.inibandeng.com/feeds/7251969229603871806/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.inibandeng.com/2007/10/jam-kota-bukan-sekedar-elemen-estetis.html#comment-form" title="2 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/25591165/posts/default/7251969229603871806?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/25591165/posts/default/7251969229603871806?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/BerbisnisSambilMenulis/~3/IpUnbw1pqQE/jam-kota-bukan-sekedar-elemen-estetis.html" title="Jam Kota, Bukan Sekedar Elemen Estetis Kota" /><author><name>sukawi (owner bandeng rizta)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05844298798212557965</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://bp0.blogger.com/_TBwmD5QKi3k/R3xKcdBJ55I/AAAAAAAAABE/Gty6OBBKAHM/S220/sukawi+foto.jpg" /></author><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://www.inibandeng.com/2007/10/jam-kota-bukan-sekedar-elemen-estetis.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUUMRXcyfip7ImA9WxZREUQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-25591165.post-388316540092795200</id><published>2007-07-27T09:32:00.000+07:00</published><updated>2008-02-05T14:41:24.996+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-02-05T14:41:24.996+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="seputar semarang" /><title>Pemkot, manager Real Estate</title><content type="html">
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/UyWPhxUkQPcDEvw0WVv_SaTm0wo/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/UyWPhxUkQPcDEvw0WVv_SaTm0wo/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/UyWPhxUkQPcDEvw0WVv_SaTm0wo/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/UyWPhxUkQPcDEvw0WVv_SaTm0wo/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;em&gt;Keberhasilan pengembangan suatu kawasan oleh pihak swasta selalu dibayangi oleh ketidaksiapan atau ketidakmampuan pemerintah mengantisipasi dampak-dampak yang mungkin terjadi, misalnya kemacetan dan ketidakteraturan. Sebagian besar proyek konstruksi yang dikembangkan di Semarang atas adalah proyek pengembangan perumahan, sisanya adalah pembangunan mal, ruko dan perkantoran. Namun, tidak terlihat adanya pembangunan infrastruktur yang mendukung, misalnya pelebaran jalan atau penambahan jembatan.&lt;br /&gt;Padahal dengan logika sederhana saja, jika suatu kawasan bertambah penghuninya, tentu volume arus lalu lintas pasti bertambah, untuk itu daya dukung ruas jalan juga harus ditambah. Kalau tidak, tentu akan timbul kesemrawutan dan kemacetan sehingga merugikan warga. Sudah terjadi di Semarang bagian Selatan, ketika kita akan menuju kawasan perumahan idaman yang rapi dan asri, selalu diawali dengan susah payah untuk menembus kemacetan dan kesemrawutan lalu lintas. Hal ini telah menunjukkan bahwa tidak adanya kesamaan tujuan dan langkah antara pengembang dan pemerintah setempat yang mempunyai tanggung jawab dan wewenang menyediakan prasarana wilayahnya.&lt;br /&gt;Booming Perumahan&lt;br /&gt;Ketika kita menyimak perkembangan permukiman di kawasan Samarang Selatan, suatu kawasan yang sebenarnya ada dua magnet perkembangan permukiman disini, yaitu Banyumanik dan Tembalang. Dengan potensi yang berada didaerah perbukitan, di sini ada beberapa perumahan yang dikembangkan sekitar tahun 1990-an sampai sekarang, antara lain Bukit Sari, Bukit Agung, Srondol Bumi Indah, Tembalang Asri, dan masih banyak lagi. Kini, perumahan-perumahan ini ada yang masih dikembangkan terus dan sebagian sudah tidak dikembangkan lagi karena keterbatasan lahan.&lt;br /&gt;Booming penjualan properti di Semarang Selatan ini dipicu terjadinya rob dan banjir yang dimulai pada awal tahun 2000-an. Saat itu banyak penduduk perumahan elite di daerah Tanah Mas dan sebagainya mulai berpikir untuk "mengungsi" ke kawasan bebas banjir, pilihan jatuh antara lain di Semarang Selatan. Kawasan seluas ribuan hektar yang masih mempunyai keunggulan: hawa asri dan sejuk, dekat dari keramaian, dan bebas banjir.&lt;br /&gt;Hingga saat ini developer masih mengincar kawasan ini sehingga muncul perumahan generasi berikutnya yang saat ini dalam tahap pembangunan, antara lain Tembalang Regency, Graha Estetika, Bukit Hijau, sampai Taman Diponegoro yang pencapaian dari pusat kota sangat mudah dengan jalan bebas hambatan (tol).&lt;br /&gt;Jika membandingkan peran pemerintah dan pengembang dalam mengelola kawasan, terlihat ada perbedaan yang mencolok. Pengembang rupanya lebih jago dalam menata wilayahnya dibandingkan dengan pemerintah kota (pemkot). Pengembang sangat menjaga kenyamanan, keamanan, dan berusaha memenuhi kebutuhan warganya dengan fasilitas yang memadai, sebut saja mulai dari pintu gerbang, kita sudah merasakan layanan para pengembang berupa taman dan pepohonan yang rindang dengan disambut ramah oleh anggota satuan pengamanan. Jalan aspal dan trotoar lebar, didukung pula rambu-rambu dan lampu jalan yang cukup. Tidak ada sampah berceceran dan pedagang kaki lima yang membuka tenda sembarangan. Tapi, Anda tidak akan susah mendapatkan jajanan kaki lima karena developer telah meyediakan kawasan khusus yang semua tertata rapi.&lt;br /&gt;Namun, citra yang sangat berbeda muncul ketika Anda masuk wilayah Semarang pinggiran mulai dari Ngaliyan, Kedung Mundu sampai daerah Semarang Timur. Jika masuk ke jalan Majapahit di pagi maupun sore hari, Anda akan disambut kemacetan dan kesemrawutan khas persimpangan lampu lalu lintas. Angkot nyerobot lampu merah dan ngetem pada saat lampu hijau. Ojek berkerumun di bahu jalan, warung makanan berjejer tidak beraturan. Tidak ada trotoar untuk pejalan kaki, bahkan hingga mendekati ruas jantung kota, di depan kantor kelurahan dan di depan sekolah-sekolah pun Anda tidak akan menemukan trotoar (pedestrian). Padahal arus lalu lintas cukup padat sepanjang hari.&lt;br /&gt;Di Jalan Kedung Mundu dan Fatmawati misalnya, Anda akan disuguhi kemacetan yang sebenarnya tidak perlu karena alasan klasik: keluar masuk parkir, putaran arus lalu lintas dan angkutan kota berhenti sembarangan, khususnya di depan pasar dan pusat keramaian. Diperparah lagi, sepanjang jalan ini Anda tidak akan menemukan halte dan juga pos polisi.&lt;br /&gt;Dari gambaran di atas sangat jelas perbedaan mencolok dalam perlakuan pemerintah dan pengembang dalam mengelola kawasan. Seharusnya pemerintah mengakui kekurangannya dan merangkul para pengembang untuk berbagi pengalaman membangun kota. Dan kemudian sedikit demi sedikit menata kawasan dengan tujuan meningkatkan pelayanan bagi warganya.&lt;br /&gt;Jika terkendala masalah dana, pemerintah bisa menggandeng swasta, misalnya dalam penataan kawasan persimpangan jalan dengan cara menjadikannya sebagai kawasan komersial city walk misalnya. Menggandeng swasta untuk menyediakan angkutan masal yang nyaman dan terjangkau. Sehingga jalanan tidak penuh dengan kendaraan pribadi sehingga akan memberi kenyamanan bagi orang untuk bisa leluasa berpindah moda transportasi dan juga bisa berbelanja.&lt;br /&gt;Dengan ini diharapkan dapat menyelesaikan sebagian masalah dan sekaligus memberikan peluang bisnis baru yang juga bisa meningkatkan pendapatan bagi kas daerah. Sampai kapan daerah pinggiran tertinggal dengan kawasan perumahan elit di Semarang Selatan dan sampai kapan pula kemacetan dapat diurai? Untuk menjawab, tidak ada salahnya penguasa segera belajar kepada pengusaha dalam mengelola wilayah dan memberikan pelayanan bagi warganya. Hingga nantinya pemerintah berperan juga sebagai manajer ”real estate”  bagi wilayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis :&lt;br /&gt;Sukawi&lt;br /&gt;Pengajar di Arsitektur Universitas Diponegoro Semarang&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dimuat di : Seputar Semarang, Juli 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro UNDIP Semarang Jawa Tengah&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25591165-388316540092795200?l=www.inibandeng.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BerbisnisSambilMenulis/~4/buiuWLWR7Ao" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.inibandeng.com/feeds/388316540092795200/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.inibandeng.com/2007/07/pemkot-manager-real-estate.html#comment-form" title="1 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/25591165/posts/default/388316540092795200?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/25591165/posts/default/388316540092795200?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/BerbisnisSambilMenulis/~3/buiuWLWR7Ao/pemkot-manager-real-estate.html" title="Pemkot, manager Real Estate" /><author><name>sukawi (owner bandeng rizta)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05844298798212557965</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://bp0.blogger.com/_TBwmD5QKi3k/R3xKcdBJ55I/AAAAAAAAABE/Gty6OBBKAHM/S220/sukawi+foto.jpg" /></author><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://www.inibandeng.com/2007/07/pemkot-manager-real-estate.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUcNR3k6fip7ImA9WxZREUQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-25591165.post-6592307702929938446</id><published>2007-06-12T15:14:00.000+07:00</published><updated>2008-02-05T14:38:16.716+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-02-05T14:38:16.716+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="wisata" /><title>Melayang di Puncak Lawang</title><content type="html">
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/qWPXhZspBmzMpEoflwxU_u7Dhbk/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/qWPXhZspBmzMpEoflwxU_u7Dhbk/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/qWPXhZspBmzMpEoflwxU_u7Dhbk/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/qWPXhZspBmzMpEoflwxU_u7Dhbk/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;MENJELANG malam, saya bersama &lt;strong&gt;Tim P5 Undip&lt;/strong&gt; di Kota Padang setelah melakukan survei tata ruang dan harus menempuh perjalanan cukup melelahkan. Bayangkan, 12 jam kami harus melintasi jalur darat yang berkelok-kelok antara Sibolga dan Padang. Karena esok adalah hari Minggu, sebagai pelepas lelah, Pak Fauzi yang memandu kami mengajak berburu suvenir sekaligus menikmati keindahan alam pesona Danau Maninjau hingga Bukittinggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin berembus semilir di Kabupaten Agam. Hawa sejuk pun menjamah tubuh dengan penuh kelembutan. Sementara itu, keindahan alam makin terasa tatkala kemegahan gunung yang terhampar tegar di wilayah kabupaten yang beribukotakan Lubuk Basung itu menebar pesona. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Danau Maninjau berada sekitar 140 kilometer sebelah utara Kota Padang, dan 38 km sebelah barat dari Kota Bukittingi. Maninjau yang merupakan danau vulkanik ini berada di ketinggian 500 meter di atas permukaan laut, dengan luas sekitar 99,5 km persegi dan memiliki kedalaman maksimal 495 meter. Airnya biru jernih dan dikitari bebukitan indah sehingga menambah cantiknya pemandangan di sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut cerita tua, Maninjau ini berkembang dari legenda Bujang Sembilan. Ada sebuah keluarga terdiri atas 10 orang: 9 orang laki-laki (bujang) dan seorang perempuan bernama Sani. Keelokkan paras dan perilaku si gadis memikat pemuda bernama Sigiran. Meraka lalu menjalin asmara. Datanglah tuduhan dari Bujang bahwa selama menjalin asmara telah melakukan perbuatan amoral. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membuktikan kedua sejoli itu tak melakukan seperti yang dituduhkan, keduanya harus terjun ke kawah gunung Tinjau. Kalau terbukti, gunung itu akan meletus dan menenggelamkan kampung itu. Dan terbuktilah. Maka seperti sebuah pembenaran, hingga sekarang masih bisa kita jumpai kawah di Danau Maninjau. Adapun Bujang Sembilan itu dikutuk menjadi ikan, dan konon masih hidup hingga kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Danau Maninjau telah menjadi salah satu objek wisata internasional, terlebih dengan adanya kawasan wisata Puncak Lawang. Kejuaraan paralayang berkelas internasional berkali-kali dilakukan di sana. Menurut para penggemar paralayang, Puncak Lawang merupakan lokasi terbaik di Asia Tenggara untuk olah raga tersebut. Dari ketinggian Puncak Lawang itu kita bisa menyaksikan keindahan Danau Maninjau yang memukau dengan air yang tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amboi, dinginnya kawasan tersebut langsung menyapa begitu kami turun dari mobil. Kabut tebal dan angin dingin segera membungkus tubuh kami. Pepohonan pinusnya seolah-olah riang bersiul diterpa angin. Panoramanya sangat mirip kalau kita berada di Swiss. Bayangkan saja hingga jam 11.00, kabut tak jua pergi dan mewarnai suasana bak pagi hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Puncak Lawang memang surga bagi penggemar paralayang. Mereka bisa ber jam-jam melayang di atas danau ini. Tak heran, setiap bulan Juli selalu ada lomba di sana. Bahkan karena kekagumannya, Presiden RI pertama Soekarno pun juga pernah membuat puisi mengenai keindahan panorama Danau Maninjau itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menikmati keindahan panorama dan paralayang, kami harus menaiki tangga yang cukup terjal. Didekat gardu pandang, terdapat lapangan yang cukup luas untuk take off paralayang. Saat kami mencapai puncak, sudah ada tiga orang penerbang paralayang yang bersiap-siap melayang-layang. Masing-masing membawa ransel punggung seberat 15 kilogram berisi payung terjun. Angin bertiup semilir menerpa wajah-wajah yang kedinginan. Ketika diukur, kecepatannya baru mencapai 5 hingga 7 kilometer per jam. Untuk terbang, diperlukan kecepatan angin minimal 10 kilometer per jam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menunggu cukup lama, sekitar pukul 12.00, seorang demi seorang penerbang yang disebut pilot di dunia paralayang itu mulai terbang. Dimulai dengan sedikit ancang-ancang sambil melihat bendera sebagai indikator arah angin, si pilot berlari menuju bibir jurang yang rimbun. Di belakangnya, dua orang membantu memegangi parasut. Satu-dua menit kemudian, parasut itu membentuk payung memanjang dan mulai melayang di udara. Sang pilot berlari-lari kecil dan tampak bergelayutan pada tali-temali paraglider-nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berhasil, terdengar sorak penonton yang dari tadi mengikuti atraksi tersebut. Banyak di antara wisatawan yang mengabadikan momen tersebut dengan kamera maupun handycam. Jadi, wisatawan yang biasanya hanya menikmati keindahan danau kini disuguhi atraksi yang menarik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lepas landas dan melayang layang menikmati keindahan Danau Maninjau, para penggemar paralayang mendarat nun di bawah sana di tepi Danau Maninjau yang dinamakan Rizal Beach. Tempat itu merupakan padang hijau yang cukup luas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencapai kawasan Puncak Lawang, kita akan melewati perjalanan dengan 44 belokan. Itu sebabnya rute ini dinamakan Kelok Ampek Puluah Ampek, yang dalam bahasa Indonesianya tikungan 44. Tikungannya tajam dan bisa membuat pengunjung mengalami mual perut atau kepala pusing. Tapi itu lantas dibayar oleh keindahan panorama yang tersaji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gula Khas &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila Anda masih punya waktu di Puncak Lawang, jangan lupa membeli dan mencicipi manisnya Saka Lawang. Ya, perjalanan ke sana yang melelahkan itu bisa sejenak diobati dengan rehat dan menghilangkan dahaga dengan menikmati manisnya gula dari batang tebu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui, hampir di seluruh daerah tersebut terdapat perkebunan tebu rakyat yang sengaja ditanam sebagai mata pencaharian masyarakat Puncak Lawang. Melalui proses tradisional, tebu itu diolah menjadi gula tebu (saka) yang digunakan sebagai bahan pemanis untuk masakan, terutama kue. Saka Lawang cukup populer bagi masyarakat Minang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sela-sela rimbunan kebun tebu, berdiri gubuk bertiang kayu, beratap ilalang. Meski amat sederhana, ratusan gubuk seperti itulah yang telah menebarkan manisnya gula ke antero ranah Minang. Orang-orang Puncak Lawang menyebut ratusan gubuk seperti itu kilang gula merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses pembuatan gula, menurut Pak Fauzi, dosen di Universitas Bung Hatta Padang yang juga kelahiran Lawang Kecamatan Matur, tebu-tebu ditebas dan dibersihkan daunnya. Air sari tebu yang manis diperas lewat gerinda kayu atau besi yang diputar dengan menggunakan tenaga tradisional yaitu kerbau. satwa itu ditutup matanya dengan tempurung kelapa agar patuh terhadap perintah sebagai pemutar gerinda. Ya, kerbau sudah menjadi rekan setia para perajin gula merah Puncak Lawang selama dua generasi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, air sari tebu dituang dalam kuali besar untuk kemudian dipanaskan dalam tungku batu berbahan bakar kayu dan ampas tebu. Dan bila air tebu telah mengental coklat kemerahan, itulah saatnya menyiapkan cetakan-cetakan kayu. Pasta coklat dituangkan, setelah gula merah mengeras, maka siap dipasarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika saja potensi yang cukup besar tersebut diolah dan ditata dengan baik pasti akan menimbulkan minat dan kesan tersendiri bagi para wisatawan. Benarlah bahwa Danau Maninjau itu rancak bana. Indah nian. Karena itu, kalau Anda berniat untuk berwisata ke Sumatra Barat, jangan lupa memasukkan Danau Maninjau berikut Kelok Ampek Puluah Ampek dan Puncak Lawangnya ke dalam agenda perjalanan Anda. Sungguh, Anda takkan menyesal. &lt;br /&gt;(Sukawi/73) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dimuat di :&lt;br /&gt;Rublik Jalan-jalan &lt;strong&gt;Suara Merdeka, minggu 3 juni 2007&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro UNDIP Semarang Jawa Tengah&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25591165-6592307702929938446?l=www.inibandeng.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BerbisnisSambilMenulis/~4/cqpazKBBR0o" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.inibandeng.com/feeds/6592307702929938446/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.inibandeng.com/2007/06/melayang-di-puncak-lawang.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/25591165/posts/default/6592307702929938446?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/25591165/posts/default/6592307702929938446?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/BerbisnisSambilMenulis/~3/cqpazKBBR0o/melayang-di-puncak-lawang.html" title="Melayang di Puncak Lawang" /><author><name>sukawi (owner bandeng rizta)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05844298798212557965</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://bp0.blogger.com/_TBwmD5QKi3k/R3xKcdBJ55I/AAAAAAAAABE/Gty6OBBKAHM/S220/sukawi+foto.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.inibandeng.com/2007/06/melayang-di-puncak-lawang.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUcNR3k6fip7ImA9WxZREUQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-25591165.post-3378887679279025304</id><published>2007-05-21T09:28:00.000+07:00</published><updated>2008-02-05T14:38:16.716+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-02-05T14:38:16.716+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="wisata" /><title>Bawomataluo dan Hombo Batu</title><content type="html">
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/CbRLwCtk9G0SmNKPbpMOKh-sWzI/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/CbRLwCtk9G0SmNKPbpMOKh-sWzI/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/CbRLwCtk9G0SmNKPbpMOKh-sWzI/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/CbRLwCtk9G0SmNKPbpMOKh-sWzI/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;Cerita tentang Nias Selatan nyaris tidak lepas dari rumah adatnya dan tradisi hombo batu. Atraksi lompat batu khas daerah ini pernah menghiasi lembaran uang seribu rupiah. Tradisi lompat batu masih dilestarikan di desa adat Bawomataluo. Ini merupakan desa adat yang sering dikunjungi wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Tradisi ini dahulunya merupakan sarana untuk melatih pemuda dan prajurit dalam persiapan perang antar suku. Batu ini berupa tugu yang tersusun dari batu yang lebih kecil yang mempunyai ketinggian sekitar 2 m dan bagian atas tugu tersebut mempunyai lebar 90 x 60 cm. &lt;br /&gt; Kompleks rumah adat Nias yang paling besar adalah Desa Bawamataluo lengkap dengan daya tarik berupa masih aslinya kehidupan masyarakat di sana dengan berbagai tradisi, seperti rumah adat, ritus lompat batu, tarian perang, dan tinggalan budaya megalitik. Berada di Desa Bawomataluo seakan terlempar ke masa silam. Deretan rumah tradisional terbuat dari kayu dengan arsitektur khas Nias itu dihuni sebagai mana layaknya kompleks perumahan. Ukiran batu megalitik menghias di beberapa tempat.&lt;br /&gt;Ketika menginjakkan kaki dihalaman gerbang bawah bawomataluo, kita dihadapkan pada dua patung penjaga gerbang desa adat berupa patung hewan berkepala lasara. Dengan menaiki tangga berjumlah 64 buah, kita sampai di desa adat Bawomataluo yang dalam bahasa Nias artinya adalah Matahari Terbit. Kita langsung disambut dengan anak-anak kecil yang menjajakan cinderamata khas Nias seperi perlengkapan perang mulai dari pelindung leher yang terbuat dari tempurung kelapa, dan souvenir dari kulit penyu dan patung-patung dari kayu.&lt;br /&gt;  Ada ungkapan yang terkenal disana, “Belum ke Nias jika belum ke Bawomataluo dan melihat atraksi Hombo Batu”. Dengan merogoh sedikit kocek sekitar Rp 150.000, kita bisa melihat atraksi Hombo Batu. Tiga orang pemuda dengan pakaian adat perang siap untuk unjuk kebolehan. Dalam hitungan detik, sedikit ancang-ancang sejauh 15 m, mereka lari dan mendekati batu langsung melompat dan melayang melintasi tugu batu serta memutar tubuh dan mendarat dengan sigap dan tetap berdiri menghadap tugu batu tersebut. Untuk mengabadikan momen tersebut, wisatawan diijinkan untuk memakai pakaian adat perang dan diabadikan gambarnya untuk kenang-kenangan. &lt;br /&gt;Dari beberapa desa adat yang tim P5 Undip kunjungi diantaranya di Botohilitano, Orahili, Bawomataluo dan Hilinawa Mazinge, tidak semua melestarikan tradisi Hombo Batu. Hanya di Bawomataluo satu-satunya desa adat yang masih memegang teguh tradisi dan meletarikannya. Bowomataluo mempunyai jumlah rumah adat terbesar dengan jumlah sekitar 250 unit dengan Oma Sebua (rumah besar) yang paling besar di Nias. Saat ini penghuni desa adat Bawomataluo berjumlah sekitar 700 kepala keluarga.&lt;br /&gt;Hasil rapat UN Join Program yang pernah diikuti oleh Tim, Desa adat Bawomataluo sedang dalam penanganan UNESCO yang direncanakan akan dicanangkan menjadi Kawasan warisan cagar budaya dunia pada tahun 2010. Untuk itu segala persiapan termasuk perbaikan rumah adat yang rusak mulai dilakukan dengan bekerjasam pula dengan BRR Aceh Nias. Kita sebagai bangsa Indonesia wajib untuk mendukung Desa Adat Bawomataluo untuk menjadi Warisan Budaya Dunia pada tahun 2010 agar warisan luhur budaya kita dapat lestari dan tetap terpelihara sampai anak cucu kita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro UNDIP Semarang Jawa Tengah&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25591165-3378887679279025304?l=www.inibandeng.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BerbisnisSambilMenulis/~4/f2suZbZcKsQ" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.inibandeng.com/feeds/3378887679279025304/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.inibandeng.com/2007/05/bawomataluo-dan-hombo-batu.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/25591165/posts/default/3378887679279025304?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/25591165/posts/default/3378887679279025304?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/BerbisnisSambilMenulis/~3/f2suZbZcKsQ/bawomataluo-dan-hombo-batu.html" title="Bawomataluo dan Hombo Batu" /><author><name>sukawi (owner bandeng rizta)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05844298798212557965</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://bp0.blogger.com/_TBwmD5QKi3k/R3xKcdBJ55I/AAAAAAAAABE/Gty6OBBKAHM/S220/sukawi+foto.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.inibandeng.com/2007/05/bawomataluo-dan-hombo-batu.html</feedburner:origLink></entry></feed>

