<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>Biar Foto Yang Bicara</title><description>this is the journey to become a good photographer</description><managingEditor>noreply@blogger.com (Anonymous)</managingEditor><pubDate>Fri, 1 Nov 2024 15:42:21 +0700</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">9</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>http://arhiet-photography.blogspot.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>yes</itunes:explicit><itunes:subtitle>this is the journey to become a good photographer</itunes:subtitle><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><title>THE LOVE AND DEVOTION By  Prod  PLUS PRODUCTION WAJO</title><link>http://arhiet-photography.blogspot.com/2013/10/the-love-and-devotion-by-prod-plus_8.html</link><category>Sineas Muda Kab.Wajo</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Tue, 8 Oct 2013 09:15:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4506398015265505122.post-706489768261233938</guid><description>&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="315" src="//www.youtube.com/embed/Gte92Thf0QY" width="420"&gt;&lt;/iframe&gt;

Sebuah karya cipta film maker wajo, tepatnya di kota sengkang yang  perupakan produksi film lokal, sebagai kreasi dan cipta karya yang  menunjukkan kepedulian dan pengembangan sineas muda kabupaten wajo dalam  mengembangkan bakat dan kreasi. The Love and the devotion Produksi Plus  Production yang telah memproduksi beberapa film karya cipta yg  berdurasi 30 menit yg dilaksanakan sejak tahun 2008 - 2009 dalam ajang  festifal film pendek pelajar wajo ( FFPPW ) Film By. Luke Cameramen by.  Muh. Basri (Arhiet)</description><enclosure length="0" type="text/html" url="http://arhiet-photography.blogspot.com/2013/10/the-love-and-devotion-by-prod-plus_8.html"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><itunes:explicit>yes</itunes:explicit><itunes:subtitle>Sebuah karya cipta film maker wajo, tepatnya di kota sengkang yang perupakan produksi film lokal, sebagai kreasi dan cipta karya yang menunjukkan kepedulian dan pengembangan sineas muda kabupaten wajo dalam mengembangkan bakat dan kreasi. The Love and the devotion Produksi Plus Production yang telah memproduksi beberapa film karya cipta yg berdurasi 30 menit yg dilaksanakan sejak tahun 2008 - 2009 dalam ajang festifal film pendek pelajar wajo ( FFPPW ) Film By. Luke Cameramen by. Muh. Basri (Arhiet)</itunes:subtitle><itunes:author>noreply@blogger.com (Anonymous)</itunes:author><itunes:summary>Sebuah karya cipta film maker wajo, tepatnya di kota sengkang yang perupakan produksi film lokal, sebagai kreasi dan cipta karya yang menunjukkan kepedulian dan pengembangan sineas muda kabupaten wajo dalam mengembangkan bakat dan kreasi. The Love and the devotion Produksi Plus Production yang telah memproduksi beberapa film karya cipta yg berdurasi 30 menit yg dilaksanakan sejak tahun 2008 - 2009 dalam ajang festifal film pendek pelajar wajo ( FFPPW ) Film By. Luke Cameramen by. Muh. Basri (Arhiet)</itunes:summary><itunes:keywords>Sineas Muda Kab.Wajo</itunes:keywords></item><item><title/><link>http://arhiet-photography.blogspot.com/2013/10/share-photos-on-twitter-with-twitpic_7.html</link><category>Photo2 Saya</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Mon, 7 Oct 2013 15:39:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4506398015265505122.post-6671093547186125022</guid><description>&lt;a href="http://twitpic.com/dgdyua" title="Share photos on twitter with Twitpic"&gt;&lt;img src="http://twitpic.com/show/thumb/dgdyua.jpg" width="150" height="150" alt="Share photos on twitter with Twitpic"&gt;&lt;/a&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Sinematografi</title><link>http://arhiet-photography.blogspot.com/2013/10/sinematografi.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Fri, 4 Oct 2013 16:51:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4506398015265505122.post-2144288713643714044</guid><description>&lt;h1 class="firstHeading" id="firstHeading" lang="id"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span dir="auto"&gt;Sinematografi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;
&lt;h1 class="firstHeading" id="firstHeading" lang="id" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span dir="auto"&gt;Sinematografi&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; (dari bahasa yunani: &lt;i&gt;kinema&amp;nbsp;&lt;/i&gt; "gerakan" dan &lt;i&gt;graphein&amp;nbsp;&lt;/i&gt; "merekam") adalah pengaturan pencahayaan dan kamera ketika merekam gambar fotografis untuk suatu sinema. Sinematografi sangat erat hubungannya dengan seni fotografi tetap. Banyak kesulitan teknis dan kemungkinan-kemungkinan kreatif yang muncul ketika kamera dan elemen adegan sedang bergerak.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;
&lt;h2&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="mw-headline" id="Pengertian"&gt;Pengertian&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Seorang &lt;b&gt;sinematografer adalah&lt;/b&gt; orang yang bertanggung jawab semua aspek Visual dalam pembuatan sebuah film. Mencakup Interpretasi visual pada skenario, pemilihan jenis Kamera, jenis bahan baku yang akan dipakai, pemilihan lensa,
 pemilihan jenis filter yang akan dipakai di depan lensa atau di depan 
lampu, pemilihan lampu dan jenis lampu yang sesuai dengan konsep sutradara dan cerita dalam skenario. Seorang sinematografer juga memutuskan gerak kamera, membuat konsep Visual, membuat &lt;i&gt;floorplan&lt;/i&gt; untuk ke efisienan pengambilan gambar. Artinya seorang sinematografer adalah orang yang bertanggung jawab baik secara teknis maupun tidak teknis di semua aspek visual dalam film.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Sinematografer harus mendukung visi dari sutradara dan skenario, karena bagaimanapun yang akan di sampaikan ke pada penonton adalah semua informasi dalam bentuk Visual yang sesuai dengan visi sutradara dan visi skenario walaupun di beberapa kasus, sutradara bisa merubah jalan cerita dalam skenario demi keindahan bercerita yang sudah merupakan gaya sutradara tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Sinematografer adalah juga kepala bagian departemen kamera, departemen pencahayaan &lt;i&gt;dan&lt;/i&gt; Grip Departement &lt;i&gt;untuk itulah Sinematogrefer sering juga disebut sebagai&lt;/i&gt; Director of Photography &lt;i&gt;atau disingkat menjadi&lt;/i&gt; DoP&lt;i&gt;.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;b&gt;Pada industri perfilman seorang Sinematografer atau &lt;i&gt;DoP&lt;/i&gt; akan di Bantu oleh sebuah tim yang dibentuknya mulai dari&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;b&gt;1st Camera Assistant&lt;/b&gt; yang bertugas mendampingi dan membantu semua kebutuhan &lt;i&gt;shooting&lt;/i&gt; mulai dari pengecekan alat-alat hingga mempersiapkan sebuah shot.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;b&gt;Focus Puller&lt;/b&gt; yang bertugas membantu sinematografer dalam memutar &lt;i&gt;focus ring&lt;/i&gt; pada lensa sehingga subjek yang diikuti kamera bisa terus dalam area fokus.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;b&gt;Camera boy&lt;/b&gt; istilah ini sering digunakan pada industri film di holywood, adalah seorang asisten kamera yang bertugas membawa kamera atau mempersiapkan kamera mulai dari &lt;i&gt;tripods&lt;/i&gt; hingga memasang kamera pada tripods tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;b&gt;Grip&lt;/b&gt; adalah bertugas untuk memastikan letak kamera seperti yang diinginkan &lt;i&gt;DoP&lt;/i&gt; baik secara level atau tinggi rendahnya. &lt;i&gt;Grip&lt;/i&gt; juga bertanggung jawab dalam perpindahan kamera artinya &lt;i&gt;Grip&lt;/i&gt; departemen yang memasang &lt;i&gt;dolly track&lt;/i&gt; dsb.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;b&gt;Gaffer&lt;/b&gt; adalah istilah untuk seorang yang bertanggung jawab atau kepala departemen pencahayaan. Bersama &lt;i&gt;DoP, Gaffer&lt;/i&gt; akan berdiskusi tentang warna, jenis cahaya dan gaya tata cahaya &lt;i&gt;DoP&lt;/i&gt; tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;b&gt;Lightingman&lt;/b&gt; adalah orang-orang dalam departemen pencahayaan yang bekerja menata lampu sesuai dengan perintah &lt;i&gt;Gaffer&lt;/i&gt; dan kemauan &lt;i&gt;DoP&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Karena film adalah sebuah kerja tim (&lt;i&gt;Team Work&lt;/i&gt;) maka sangatlah penting untuk seorang sinematografer atau &lt;i&gt;DoP&lt;/i&gt; untuk mempunyai tim yang bisa bekerja sama secara tim dengannya. Artinya tidak bekerja secara individu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Seorang sinematografer yang baik harus juga mengenal dengan baik atau
 memahami alat yang akan dipakai dalam pembuatan sebuah film. Karena 
Kamera hanyalah “alat Bantu” atau Tools saja maka seperti alat Bantu 
yang lainnya juga kita sebagai Sinematografer yang memindahkan semua 
ilmu dan pengetahuan kita lewat kamera tersebut. Artinya kamera harus 
menuruti kemauan kita yang sudah menjadi visi sutradara dan visi cerita 
atau scenario.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Untuk memahami kamera kita harus membaca buku prtunjuk dari setiap 
kamera yang akan kita gunakan karena setiap industri kamera mempunyai 
tekhnologinya sendiri-sendiri. Pada prinsipnya semua kamera sama dan 
hanyalah alat Bantu kita mewujudkan gambar yang sesuai dengan yang di 
inginkan akan tetapi alangkah baiknya jika pengguna sudah memahami 
kamera tersebut secara teknis dalam petunjuk di bukunya (&lt;i&gt;manual book&lt;/i&gt;).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Pada masa sekarang kamera secara garis besar terbagi dalam tiga jenis dilihat dari penggunaan bahan baku. Yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;b&gt;Motion Picture Camera&lt;/b&gt; atau kamera dengan bahan baku seluloid baik 35 mm/16mm. Contoh kamera: &lt;i&gt;&lt;b&gt;Arriflex 435 Xtreme – 35 mm camera&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;b&gt;Video Camera&lt;/b&gt; atau kamera dengan bahan baku video tape. Contoh kamera: &lt;i&gt;&lt;b&gt;Sony HDV Video Camcorder&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;b&gt;Digital camera&lt;/b&gt; atau kamera dengan bahan baku 
digital/tapeless. Biasanya menggunakan CF card atau SD card bisa juga 
dengan cakram seperti DVD. Contoh kamera: &lt;i&gt;&lt;b&gt;Sony EX3 – Digital Camcorder. &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;h3&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="mw-headline" id="Anatomi_kamera"&gt;Anatomi kamera&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;b&gt;Pada prinsipnya kamera dibagi menjadi tiga bagian:&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;i&gt;Lens&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;i&gt;Camera body&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;i&gt;Magazine/tape compartments&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;b&gt;Lensa&lt;/b&gt; Pada prinsipnya lensa adalah seperti mata kita atau mata
 kamera, untuk itu kebersihan dan kejernihannya harus di jaga, karena 
lewat lensalah gambar/cahaya akan ditransmisikan ke film atau pita atau 
digital. Dalam sinematografi kita mengenal ada tiga jenis lensa yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;b&gt;Lensa Wide:&lt;/b&gt; adalah lensa dengan sudut pengambilan yang luas&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;b&gt;Lensa Normal:&lt;/b&gt; adalah lensa yang secara prespektif dianggap 
mewakili mata manusia dalam melihat dunia dan sekitarnya. Pada pembuatan
 film, lensa normal ini adalah lensa 50mm.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;b&gt;Lensa Tele:&lt;/b&gt; adalah lensa dengan sudut pengambilan sempit.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Ada lensa yang bisa mengambil sudut pengambilan dari luas ke sempit, lensa seperti ini adalah merupakan lensa dengan &lt;i&gt;variable focal length&lt;/i&gt; atau pada umumnya disebut: &lt;i&gt;Zoom lens&lt;/i&gt;.
 Kelemahan dari lensa-lensa variable focal length adalah karena 
banyaknya elemen lensa di dalamnya maka ada pencurian cahaya yang 
disebabkan oleh pembiasan cahaya pada setiap elemen lensa tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Pada setiap lensa yang professional maupun yang semi professional ada 3 buah ring yaitu yang pertama adalah &lt;i&gt;&lt;b&gt;Focusing ring&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; yang berfungsi untuk mengatur focus dalam sebuah shot. Kemudian ada &lt;i&gt;&lt;b&gt;Focal length ring&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; ( pada lensa &lt;i&gt;zoom&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;variable focal length&lt;/i&gt; ) &lt;i&gt;focal length&lt;/i&gt;
 adalah panjang pendeknya sebuah lensa atau secara tekhnis dikenal 
sebagai jarak dari titik api lensa ke bidang datar atau film plane. Yang
 terakhir adalah &lt;i&gt;&lt;b&gt;F.stop&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;&lt;b&gt;Diafragma ring&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; yang berfungsi untuk mengatur exposure sebuah shot.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Setiap lensa mempunyai cacat atau kelemahan masing-masing karena 
sifat alamiahnya dan saat produksi, seperti distorsi, aberasi, dan 
lain-lain. Kelemahan atau cacat lensa ini tidak selalu dianggap buruk 
karena bisa kita gunakan untuk menguatkan efek dramatik yang ada di 
dalam scenario. Seperti juga setiap lensa mempunyai daerah ketajamannya 
masing-masing, daerah ketajaman ini disebut dengan &lt;i&gt;Depth of Field&lt;/i&gt; disingkat dengan DoF. Jadi &lt;i&gt;depth of field&lt;/i&gt; adalah daerah ketajaman di mana subjek/objek terlihat jelas atau tidak &lt;i&gt;blur&lt;/i&gt; di kamera.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Depth of Field&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; &lt;b&gt;sendiri dipengaruhi oleh beberapa faktor di antaranya:&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;b&gt;Jarak dari kamera ke objek atau subjek&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Jarak dari kamera ke objek atau subjek akan mempengaruhi panjang atau
 pendeknya daerah ketajaman karena semakin dekat objek atau subjek 
dengan kamera maka akan semakin pendek &lt;i&gt;Depth of field&lt;/i&gt;-nya karena setiap lensa hanya memiliki satu fokus poin saja.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;b&gt;Besar kecilnya bukaan diafragma&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Besar kecilnya diafragma juga mempengaruhi panjang pendeknya depth of
 field karena semakin kecil diameter bukaan diafragma akan semakin 
panjang &lt;i&gt;depth of field&lt;/i&gt;-nya berarti semakin besar angka seperti 11 – 16 – 22 dsb akan semakin panjang &lt;i&gt;depth of fieldnya&lt;/i&gt;, sedangkan semakin lebar bukaan diameter diafragma akan semakin pendek &lt;i&gt;depth of fieldnya&lt;/i&gt;, berarti semakin kecil angka seperti 4 – 2,8 – 1,4 dan sebagainya akan semakin pendek &lt;i&gt;depth of field&lt;/i&gt;-nya. &lt;i&gt;Diafragama adalah diameter lingkaran aperture yang juga berfungsi untuk mengatur gelap atau terangnya sebuah gambar.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;b&gt;Panjang pendeknya/&lt;i&gt;Focal length&lt;/i&gt; sebuah lensa.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Semakin panjang sebuah lensa akan mempengaruhi depth of field menjadi
 semakin pendek, sedangkan semakin pendek sebuah lensa akan mempengaruhi
 depth of field menjadi panjang atau luas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;b&gt;Exposure dan Scene Brightness&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Exposure bisa didefinisikan sebagai waktu yang diperlukan dalam 
perekaman gambar.Fungsi dasar sebuah lensa adalah meneruskan cahaya 
sehingga bisa digunakan untuk mencetak gambar. Sama seperti fenomena 
lubang jarum atau &lt;i&gt;pinhole phenomenon&lt;/i&gt; artinya jika kita melepas 
lensa dan menggantikannya dengan kertas hitam dengan lubang di tengahnya
 maka akan bisa juga untuk menangkap imajinasi hanya saja waktu eksposur
 yang diperlukan akan lebih lama.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;b&gt;Camera Body&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Pada bagian inilah gambar direkam atau di tangkap baik secara organik
 dengan seluloid 35mm seperti pada kamera Film maupun perubahan dari 
cahaya ke gelombang electromagnetic pada video atau Digital.
 Pada kamera film bagian ini yang paling penting dijaga dari kontaminasi
 debu, cairan maupun radiasi karena akan mempengaruhi hasil &lt;i&gt;shooting&lt;/i&gt;. Pada kamera video atau digital pada bagian ini akan banyak sekali tombol pengaturan imajinasi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;b&gt;Magazine&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Pada kamera Film, magazine adalah tempat kita memasang film baik sebelum maupun setelah di ekspose. Pada kamera video atau digital bagian ini adalah tape atau &lt;i&gt;card compartments&lt;/i&gt; yaitu bagian di mana kita memasang kartu seperti SD atau CF atau kaset video.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Gunakan sinematografi sebagai seni.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; Yang harus selalu 
kita ingat adalah bahwa untuk mencapai hasil yang maksimal dan 
memuaskan, diperlukan ketrampilan yang cukup. Seorang sinematografer 
harus berusaha agar kamera tidak menjadi benda asing baginya, kita harus
 mengenal setiap detail pada kamera tanpa harus berpikir sehingga 
konsentrasinya dapat dipergunakan untuk bidang kreatif pada 
sinematografi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="mw-headline" id="Sudut_kamera"&gt;Sudut kamera&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;i&gt;Camera angle&lt;/i&gt; atau sudut penempatan kamera juga memegang 
peranan yang sangat penting pada sinematografi. Bagaimanapun juga sebuah
 film dibentuk oleh beberapa banyak shot yang membutuhkan penempatan 
kamera di tempat yang terbaik bagi penonton untuk mengikuti cerita dalam
 film. Penempatan angle yang baik tentu saja bisa memperkuat dramatik 
sebuah film karena angle kamera ini adalah mata penonton melihat 
informasi visual dan juga bisa berarti seberapa besar area yang kita 
gunakan dalam sebuah shot. Penempatan sudut kamera akan memposisikan 
penonton lebih dekat dengan action yang ada dalam film, misalnya dengan 
teknik &lt;i&gt;close up&lt;/i&gt; dan lain sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Penempatan sudut kamera ini sangat dipengaruhi beberapa faktor di 
antaranya analisa pada skenario, penggunaan jenis lensa dan sebagainya. 
Memang lewat pengalaman panjang dan ketrampilan penempatan kamera bisa 
di lakukan secara intuisif sifatnya. Akan tetapi jika kita 
mempelajarinya tentu akan mempermudah kita dalam membuat sebuah shot.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Penempatan sudut kamera juga berpengaruh pada kondisi psikologis penonton, contohnya adalah jika kita menggunakan &lt;i&gt;High Angle&lt;/i&gt;
 – kamera lebih tinggi dari garis axis kamera, maka penonton akan 
diposisikan lebih tinggi dari subjek, hal ini yang membuat penonton 
merasa subjek lebih kecil baik secara fisik atau lebih rendah derajatnya
 dalam tatanan sosial. Pada film hal ini sering digunakan untuk 
memperlihatkan pengemis, rakyat jelata dsb. Sedangkan penggunaan &lt;i&gt;Low Angle&lt;/i&gt;
 – Kamera lebih rendah dari garis aksis kamera, maka penonton 
diposisikan lebih rendah dari subjek, hal ini yang membuat penonton 
merasa subjek lebih tinggi secara fisik atau lebih tinggi derajatnya 
dalam tatanan sosial. Hal seperti ini banyak kita temukan di film untuk 
memperlihatkan raja, hakim, dan sebagainya. Kemudian ada juga yang 
disebut dengan &lt;i&gt;Eye level&lt;/i&gt; – kamera sama tingginya dengan level 
subjek atau jika subjek berdiri/duduk kamera berada pada aksis yang sama
 dengan posisi subjek. Bisa dikatakan sebagai pandangan subjek ke subjek
 lain dalam sebuah potongan tapi bukan &lt;i&gt;Point of View&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;b&gt;Pada dasarnya kamera angle dibagi dalam tiga jenis yaitu:&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;b&gt;Obyektif camera angle&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Angle objektif maksudnya adalah kamera menjadi &lt;i&gt;point of view&lt;/i&gt; 
cerita, artinya penonton melihat semua elemen visual yang sutradara 
berikan dalam filmnya. Contoh yang paling gampang adalah dalam film 
dokumenter di mana orang-orang tidak melihat ke arah lensa kamera atau 
dalam &lt;i&gt;candid shot&lt;/i&gt;/kamera tersembunyi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;b&gt;Subyektif camera angle&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Angle subjektif maksudnya adalah seperti &lt;i&gt;personal view point&lt;/i&gt; 
artinya penonton berpartisipasi dalam sebuah shot seperti pengalaman 
sendiri. Contohnya adalah shot dari udara atau aerial shot yang 
memperlihatkan pemandangan kota. Atau &lt;i&gt;birds point of view&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Jika seorang aktor melihat langsung ke arah lensa/penonton maka 
penonton di sini juga berpartisipasi dalam sebuah shot tersebut, maka 
bisa juga disebut angle subjektif.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;b&gt;Point of view&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;i&gt;Point of view&lt;/i&gt; adalah pandangan subjektif dari subjek dalam 
scene. Maksudnya jika kita melihat seorang aktor melihat ke arah langit 
kemudian shot selanjutnya adalah arak-arakan mega di langit maka shot ke
 dua tersebut adalah &lt;i&gt;point of view&lt;/i&gt; subjek tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="mw-headline" id="Jenis_rekaman"&gt;Jenis rekaman&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;b&gt;Shot&lt;/b&gt; sering didefinisikan sebagai sebuah aktivitas perekaman 
dimulai dari menekan tombol rekam pada kamera hingga diakhiri dengan 
stop. Sedangkan &lt;b&gt;Scene&lt;/b&gt; adalah sering diartikan sebagai tempat atau
 setting di mana sebuah cerita akan dimainkan, hal ini tentu saja 
terpengaruh dari dunia teater atau panggung. Sebuah Scene bisa terdiri 
dari beberapa shot atau bisa saja satu shot panjang yang disebut sebagai
 Sequence shot. &lt;b&gt;Sequence&lt;/b&gt; adalah rangkaian dari beberapa scene dan shot dalam satu kesatuan yang utuh.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Tipe-tipe dari shot dibagi dalam beberapa bagian, hal ini akan sangat
 membantu pada komunikasi visual, ketika kita bercerita kepada penonton 
atau menyampaikan informasi kepada penonton maka kita memerlukan 
beberapa penekanan atas informasi penting tersebut, maka dari itu kita 
memerlukan detail penyampaian informasi tersebut untuk itulah kita 
memerlukan beberapa tipe shot, misalnya kita membuat &lt;i&gt;close up&lt;/i&gt; dari sebuah benda agar penonton bisa lebih melihat detail atau menerima dengan jelas atas informasi yang kita berikan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Type of shot:&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;i&gt;Long shot&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;i&gt;Medium close up&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;i&gt;Medium shot&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;i&gt;Knee shot&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;i&gt;Full shot&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;i&gt;Close shot&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;i&gt;Extreme close up&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;i&gt;Close up&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="mw-headline" id="Komposisi"&gt;Komposisi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Komposisi adalah bagian yang paling terpenting pada komunikasi visual
 karena komposisi adalah usaha untuk menata semua elemen visual dalam 
frame. Menata elemen visual di sini bisa diartikan kita mengarahkan 
perhatian penonton pada informasi yang kita berikan kepada mereka. Atau 
dalam arti lain kita mengarahkan penonton pada Point of Interest (POI) 
dalam gambar yang kita buat. Dengan mengarahkan penonton pada PoI maka 
penonton akan bisa mengikuti cerita dalam film kita dengan emosi 
sepenuhnya. Jika kita terlalu banyak meletakan Poi dalam sebuah gambar 
maka mata atau perhatian penonton akan terbagi-bagi, akhirnya perhatian 
mereka pada cerita juga akan terganggu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Dalam film atau dalam komunikasi visual kita harus memanfaatkan waktu
 seefisien mungkin agar penonton bisa mendapatkan semua informasi yang 
dibutuhkan dalam memahami film kita. Komposisi memang mempunyai 
aturan-aturan yang sangat ketat, akan tetapi kita bisa saja melawan 
aturan tersebut asalkan tetap bisa mengarahkan perhatian penonton pada 
Poi. Banyak sekali factor yang mempengaruhi komposisi di antaranya; 
warna, garis, tekstur, bentuk, ukuran, dan sebagainya. Yang menjadi 
sedikit mempunyai tantangan adalah dalam film kita mengkomposisi gerak. 
Karena bisa saja subjek atau kamera bergerak terus menerus sehingga kita
 harus terus mengatur elemen-lemen visual tersebut dalam frame kita, 
sehingga penonton tetap setia pada Poi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="mw-headline" id="Pencahayaan"&gt;Pencahayaan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Cahaya adalah salah satu elemen terpenting dalam sinematografi. Bahkan tak salah kiranya jika ada ungkapan &lt;i&gt;Film are Light&amp;nbsp;!&lt;/i&gt;
 atau film adalah cahaya, karena memang untuk meng-exposed sebuah gambar
 kita memerlukan cahaya dan bahkan untuk melihat sebuah benda di alam 
ini kita memerlukan pantulan cahaya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Seni menata cahaya dalam film menjadi bagian yang terpenting karena 
bisa mempengaruhi juga perhatian penonton terhadap cerita. Tata cahaya 
film sangat dipengaruhi oleh pengalaman kita melihat kondisi cahaya 
dalam dunia nyata, bagaimanapun juga cahaya dalam film meniru cahaya 
alam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Secara Teori cahaya dalam film adalah 45 derajat tinggi dan jaraknya 
dari kamera, hal ini dikarenakan masalah estetis saja, artinya dalam 
sudut 45 derajat sudut cahaya yang mengenai wajah akan terlihat seperti 
yang kita lihat di alam nyata.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Dalam sinematografi kita hanya mengenal dua warna cahaya atau yang sering di sebut sebagai &lt;i&gt;Daylight&lt;/i&gt; atau cahaya matahari dan &lt;i&gt;Tungsten&lt;/i&gt; atau cahaya lampu ruangan. Dua jenis warna cahaya tersebut diukur dengan satuan &lt;i&gt;Kelvin&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Karena hanya ada dua jenis warna cahaya dalam film maka kita bisa 
membaginya sebagai menggunakan warna Daylight untuk scene siang dan 
warna tungsten untuk scene malam. Tentu saja untuk tujuan kreatif hal 
ini juga bisa tidak dihiraukan, akan tetapi secara prinsip dua suhu 
warna tersebut yang harus kita gunakan dalam bercerita.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Film juga sangat sensitive dalam menangkap beberapa spectrum cahaya yang tak terlihat oleh mata kita seperti &lt;i&gt;Ultra violet&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Infra red&lt;/i&gt;. Maka kita juga harus memperhatikan dua elemen spectrum tersebut dalam membuat film.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Hal yang perlu diperhatikan dalam menata lighting adalah bayangan atau &lt;i&gt;shadow&lt;/i&gt;
 karena bayangan tersebut bisa mengganggu atau membantu gambar kita. 
Mengganggu dalam arti jika kita salah menempatkan cahaya maka di wajah 
aktor/aktris akan terlihat bayangan hidung, dahi, dan sebagainya hal ini
 tentu saja bisa mengganggu penonton atau bahkan mengurangi 
kecantikan/estetika gambar kita. Pada film horor, sering bayangan 
digunakan sebagai elemen bercerita yang sangat efektif. Penonton bisa 
merasakan kehadiran makhluk halus dengan melihat sebuah bayangan 
melintas di depan frame dan sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="mw-headline" id="Pergerakan_kamera"&gt;Pergerakan kamera&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Pergerakan kamera atau lebih dikenal sebagai camera movement adalah 
sebuah usaha menggerakan kamera atau subjek untuk lebih mengenalkan 
ruang atau memberi kesan tiga dimensi sebuah ruangan, di mana penonton 
seakan bergerak masuk/keluar atau bergerak ke kanan/ke kiri mengikuti 
atau meninggalkan subjek.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;b&gt;Pada dasarnya Camera Movement terbagi dalam beberapa bagian besar yaitu:&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Subjek bergerak ke arah kamera/meninggalkan kamera&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Kamera bergerak ke arah subjek/meninggalkan subjek&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Kamera dan Subjek bergerak/mengikuti subjek&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Zooming atau pergerakan optis. Disebut pergerakan optis karena optik yg bergerak di dalam lensa.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Sebelum menggerakan kamera/subjek sebenarnya ada hal yang paling mendasar bagi cinematographer maupun filmmakernya yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Kapan kamera/subjek harus bergerak&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Mengapa kamera/subjek harus bergerak&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Hal ini berkaitan erat dengan pengadeganan atau mise en scene, di 
mana penonton akan mengikuti atau tidak bisa mengikuti cerita dalam film
 tersebut. Artinya karena gerak kamera terlalu cepat atau asal bergerak 
maka cerita yang ingin disampaikan atau informasi yang harus diketahui 
oleh penonton akan terlewatkan atau penonton tidak memahami/mendapatkan 
informasi tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="mw-headline" id="Anatomi_kamera"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sinematografi" target="_blank"&gt;next,....&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;
&lt;h1 class="firstHeading" id="firstHeading" lang="id" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span dir="auto"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Heliografi</title><link>http://arhiet-photography.blogspot.com/2013/10/foto-heliografi-dengan-subyek.html</link><category>Photography</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Fri, 4 Oct 2013 16:28:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4506398015265505122.post-8446921099236937762</guid><description>&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh5CuPgW2kPsqSzoBj1GKS7-HU9pHP6O25rz8UfiCMBjZAohVpzYyQdUQ4nCLofD4lDFrdjixx5-yWeCQi8ja_NSNUpqNxe2NZVF7wKjnsZDIlIJWYyTppHxfpbupNVPKRzuXYfnN-yl9s/s1600/View_from_the_Window_at_Le_Gras,_Joseph_Nic%C3%A9phore_Ni%C3%A9pce.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="222" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh5CuPgW2kPsqSzoBj1GKS7-HU9pHP6O25rz8UfiCMBjZAohVpzYyQdUQ4nCLofD4lDFrdjixx5-yWeCQi8ja_NSNUpqNxe2NZVF7wKjnsZDIlIJWYyTppHxfpbupNVPKRzuXYfnN-yl9s/s320/View_from_the_Window_at_Le_Gras,_Joseph_Nic%C3%A9phore_Ni%C3%A9pce.jpg" width="320" /&gt;&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Foto &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Heliografi&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Heliografi (halaman belum tersedia)"&gt;Heliografi&lt;/a&gt; dengan subyek pemandangan yang pertama dibuat oleh &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Joseph_Nic%C3%A9phore_Ni%C3%A9pce&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Joseph Nicéphore Niépce (halaman belum tersedia)"&gt;Joseph Nicéphore Niépce&lt;/a&gt; pada tahun 1826.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Deskripsi&lt;/b&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;a href="http://commons.wikimedia.org/wiki/Joseph_Nic%C3%A9phore_Ni%C3%A9pce" title="Joseph Nicéphore Niépce"&gt;Joseph Nicéphore Niépce&lt;/a&gt;: &lt;i&gt;&lt;a href="http://commons.wikimedia.org/wiki/Category:Point_de_vue_du_Gras" title="Category:Point de vue du Gras"&gt;Point de vue du Gras&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="description mw-content-ltr fr" dir="ltr" lang="fr" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="language fr" title="Français"&gt;Français&amp;nbsp;:&lt;/span&gt; &lt;a class="extiw" href="http://fr.wikipedia.org/wiki/Nic%C3%A9phore_Ni%C3%A9pce" title="fr:Nicéphore Niépce"&gt;Nicéphore Niépce&lt;/a&gt; (1826 ou 1827). &lt;a class="extiw" href="http://fr.wikipedia.org/wiki/Point_de_vue_du_Gras" title="fr:Point de vue du Gras"&gt;Vue de la fenêtre du domaine du Gras&lt;/a&gt;, à &lt;a class="extiw" href="http://fr.wikipedia.org/wiki/Saint-Loup-de-Varennes" title="fr:Saint-Loup-de-Varennes"&gt;Saint-Loup-de-Varennes&lt;/a&gt; (Saône-et-Loire, Bourgogne, France). Première photographie permanente jamais réalisée.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="description mw-content-ltr en" dir="ltr" lang="en" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="language en" title=""&gt;English:&lt;/span&gt; Enhanced version by the Swiss Helmut Gersheim (1913–1995), performed &lt;i&gt;ca&lt;/i&gt;. 1952, of Niépce's &lt;i&gt;&lt;a class="extiw" href="http://en.wikipedia.org/wiki/View_from_the_Window_at_Le_Gras" title="en:View from the Window at Le Gras"&gt;View from the Window at Le Gras&lt;/a&gt;,&lt;/i&gt; (Harry Ransom Humanities Research Center, University of Texas, Austin)&lt;i&gt;View from the Window at Le Gras,&lt;/i&gt; the first successful permanent photograph created by &lt;a class="extiw" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Nic%C3%A9phore_Ni%C3%A9pce" title="en:Nicéphore Niépce"&gt;Nicéphore Niépce&lt;/a&gt; in 1826 or 1827, in &lt;a class="extiw" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Saint-Loup-de-Varennes" title="en:Saint-Loup-de-Varennes"&gt;Saint-Loup-de-Varennes&lt;/a&gt;
 (Saône-et-Loire, Bourgogne, France). Captured on 20×25 cm oil-treated 
bitumen. Due to the 8-hour exposure, the buildings are illuminated by 
the sun from both right and left.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="description mw-content-ltr de" dir="ltr" lang="de" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="language de" title="Deutsch"&gt;Deutsch:&lt;/span&gt; &lt;a class="extiw" href="http://de.wikipedia.org/wiki/Joseph_Nic%C3%A9phore_Ni%C3%A9pce" title="de:Joseph Nicéphore Niépce"&gt;Joseph Nicéphore Niépce&lt;/a&gt; (1826–1827): &lt;i&gt;&lt;a class="extiw" href="http://de.wikipedia.org/wiki/Blick_aus_dem_Arbeitszimmer" title="de:Blick aus dem Arbeitszimmer"&gt;Blick aus dem Arbeitszimmer in Le Gras&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;.
 20×25 cm auf ölbehandeltem Asphalt. Durch die 8-stündige 
Belichtungszeit erscheinen die Gebäude sowohl rechter- als auch 
linkerhand sonnenbeschienen. Dieses Foto gilt allgemein als erstes der 
Welt.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="description mw-content-ltr es" dir="ltr" lang="es" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="language es" title="Español"&gt;Español:&lt;/span&gt; &lt;i&gt;&lt;a class="extiw" href="http://es.wikipedia.org/wiki/Vista_desde_la_ventana_en_Le_Gras" title="es:Vista desde la ventana en Le Gras"&gt;Vista de Le Gras desde una ventana&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; primera fotografía permanente tomada con éxito por &lt;a class="extiw" href="http://es.wikipedia.org/wiki/Joseph_Nic%C3%A9phore_Ni%C3%A9pce" title="es:Joseph Nicéphore Niépce"&gt;Nicéphore Niépce&lt;/a&gt; en 1826 o 1827, &lt;a class="extiw" href="http://es.wikipedia.org/wiki/Saint-Loup-de-Varennes" title="es:Saint-Loup-de-Varennes"&gt;Saint-Loup-de-Varennes&lt;/a&gt;. 20×25 cm. Precisó de ocho horas de exposición.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="description mw-content-ltr hu" dir="ltr" lang="hu" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="language hu" title=""&gt;Magyar:&lt;/span&gt; A &lt;i&gt;&lt;a class="extiw" href="http://hu.wikipedia.org/wiki/Kil%C3%A1t%C3%A1s_a_dolgoz%C3%B3szob%C3%A1b%C3%B3l" title="hu:Kilátás a dolgozószobából"&gt;Kilátás a dolgozószobából&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; a legrégebbi fennmaradt fotográfia, melyet &lt;a class="extiw" href="http://hu.wikipedia.org/wiki/Nic%C3%A9phore_Ni%C3%A9pce" title="hu:Nicéphore Niépce"&gt;Nicéphore Niépce&lt;/a&gt;
 készített Saint-Loup-de-Varennes-ben (Saône-et-Loire, Bourgogne, 
France), saját dolgozószobájának ablakából, feltehetően 1826-1827 
nyarán.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="description mw-content-ltr ru" dir="ltr" lang="ru" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="language ru" title=""&gt;Русский:&lt;/span&gt; &lt;a class="extiw" href="http://ru.wikipedia.org/wiki/%D0%92%D0%B8%D0%B4_%D0%B8%D0%B7_%D0%BE%D0%BA%D0%BD%D0%B0" title="ru:Вид из окна"&gt;Вид из окна на Le Gras&lt;/a&gt;,
 первая из фотографий, созданная Нисефором Ньепсом в 1826-1827 году, 
Сен-Лу-де-Варенн (Saône-et-Loire, Bourgogne, France). Использовалась 
пластина, сделанная из сплава олова со свинцом и покрытая асфальтом. 
Размер 20 × 25. Из-за 8-часовой экспозиции, здания освещаются солнцем 
справа и слева.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="description mw-content-ltr ru" dir="ltr" lang="ru" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="description mw-content-ltr ru" dir="ltr" lang="ru" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="description mw-content-ltr ru" dir="ltr" lang="ru" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="description mw-content-ltr ru" dir="ltr" lang="ru" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="description mw-content-ltr ru" dir="ltr" lang="ru" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="description mw-content-ltr ru" dir="ltr" lang="ru" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;/span&gt;Tanggal
&lt;time class="dtstart" datetime="1825"&gt;1825&lt;/time&gt; or &lt;time class="dtstart" datetime="1827"&gt;1827&lt;/time&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="description mw-content-ltr ru" dir="ltr" lang="ru" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="description mw-content-ltr ru" dir="ltr" lang="ru" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;time class="dtstart" datetime="1827"&gt;&lt;a href="http://dcl.umn.edu/" target="_blank"&gt;Sumber Rebecca A. Moss, Coordinator of Visual Resources and Digital Content Library, via email. College of Liberal Arts Office of Information Technology, University of Minnesota.&lt;/a&gt;&amp;nbsp; &lt;/time&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh5CuPgW2kPsqSzoBj1GKS7-HU9pHP6O25rz8UfiCMBjZAohVpzYyQdUQ4nCLofD4lDFrdjixx5-yWeCQi8ja_NSNUpqNxe2NZVF7wKjnsZDIlIJWYyTppHxfpbupNVPKRzuXYfnN-yl9s/s72-c/View_from_the_Window_at_Le_Gras,_Joseph_Nic%C3%A9phore_Ni%C3%A9pce.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Using Reflectors - Photography &amp; Video Tutorial</title><link>http://arhiet-photography.blogspot.com/2013/10/using-reflectors-photography-video.html</link><category>Photography</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Fri, 4 Oct 2013 15:53:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4506398015265505122.post-8640294497008541058</guid><description>&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="344" src="//www.youtube.com/embed/yzq0Oj3szAY" width="459"&gt;&lt;/iframe&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title/><link>http://arhiet-photography.blogspot.com/2013/10/fotografi-fotografi-dari-bahasa-inggris.html</link><category>Photography</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Fri, 4 Oct 2013 15:49:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4506398015265505122.post-6038874994251020541</guid><description>&lt;h1 class="firstHeading" id="firstHeading" lang="id"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span dir="auto"&gt;Fotografi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Fotografi&lt;/b&gt; (dari &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Inggris" title="Bahasa Inggris"&gt;bahasa Inggris&lt;/a&gt;: &lt;i&gt;photography&lt;/i&gt;,
 yang berasal dari kata Yunani yaitu "photos"&amp;nbsp;: Cahaya dan "Grafo"&amp;nbsp;: 
Melukis/menulis.) adalah proses melukis/menulis dengan menggunakan media
 &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Cahaya" title="Cahaya"&gt;cahaya&lt;/a&gt;. Sebagai istilah umum, fotografi berarti proses atau metode untuk menghasilkan gambar atau &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Foto" title="Foto"&gt;foto&lt;/a&gt;
 dari suatu obyek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai obyek 
tersebut pada media yang peka cahaya. Alat paling populer untuk 
menangkap cahaya ini adalah &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kamera" title="Kamera"&gt;kamera&lt;/a&gt;. Tanpa cahaya, tidak ada foto yang bisa dibuat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Prinsip fotografi adalah memokuskan cahaya dengan bantuan pembiasan 
sehingga mampu membakar medium penangkap cahaya. Medium yang telah 
dibakar dengan ukuran luminitas cahaya yang tepat akan menghailkan 
bayangan identik dengan cahaya yang memasuki medium pembiasan 
(selanjutnya disebut lensa).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Untuk menghasilkan intensitas cahaya yang tepat untuk menghasilkan 
gambar, digunakan bantuan alat ukur berupa lightmeter. Setelah mendapat 
ukuran pencahayaan yang tepat, seorang fotografer bisa mengatur 
intensitas cahaya tersebut dengan mengubah kombinasi ISO/ASA (&lt;i&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kecepatan_film" title="Kecepatan film"&gt;ISO Speed&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;), &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Diafragma_%28fotografi%29" title="Diafragma (fotografi)"&gt;diafragma&lt;/a&gt; (&lt;i&gt;Aperture&lt;/i&gt;), dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kecepatan_rana" title="Kecepatan rana"&gt;kecepatan rana&lt;/a&gt; (&lt;i&gt;speed&lt;/i&gt;). Kombinasi antara ISO, Diafragma &amp;amp; Speed disebut sebagai &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pajanan" title="Pajanan"&gt;pajanan&lt;/a&gt; (&lt;i&gt;exposure&lt;/i&gt;).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di era fotografi digital dimana film tidak digunakan, maka kecepatan film yang semula digunakan berkembang menjadi Digital ISO.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;h2&gt;
&lt;span class="mw-headline" id="Sejarah_fotografi"&gt;Sejarah fotografi&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;
&lt;h2&gt;
&lt;span class="mw-headline" id="Sejarah_fotografi"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Kronologi perkembangan fotografi&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; dimulai dengan:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;
&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;1822 – &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Joseph_Nic%C3%A9phore_Ni%C3%A9pce&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Joseph Nicéphore Niépce (halaman belum tersedia)"&gt;Joseph Nicéphore Niépce&lt;/a&gt; membuat &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Foto" title="Foto"&gt;foto&lt;/a&gt; &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Heliografi&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Heliografi (halaman belum tersedia)"&gt;Heliografi&lt;/a&gt; yang pertama dengan subyek &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Paus_Pius_VII" title="Paus Pius VII"&gt;Paus Pius VII&lt;/a&gt;, menggunakan &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Proses_heliografik&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Proses heliografik (halaman belum tersedia)"&gt;proses heliografik&lt;/a&gt;. Salah satu foto yang bertahan hingga sekarang dibuat pada tahun 1825.&lt;sup class="reference" id="cite_ref-utexas_1-1"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Fotografi#cite_note-utexas-1"&gt;[1]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;1826 – &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Joseph_Nic%C3%A9phore_Ni%C3%A9pce&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Joseph Nicéphore Niépce (halaman belum tersedia)"&gt;Joseph Nicéphore Niépce&lt;/a&gt; membuat foto pemandangan yang pertama,&lt;sup class="reference" id="cite_ref-utexas_1-2"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Fotografi#cite_note-utexas-1"&gt;[1]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; yang dibuat dengan pajanan selama 8 jam.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;1835 – &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/William_Henry_Fox_Talbot" title="William Henry Fox Talbot"&gt;William Henry Fox Talbot&lt;/a&gt; menemukan proses fotografi yang baru.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;1839 – &lt;a class="mw-redirect" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Louis_Daguerre" title="Louis Daguerre"&gt;Louis Daguerre&lt;/a&gt; mematenkan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Daguerreotype" title="Daguerreotype"&gt;daguerreotype&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;1839 – &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/William_Henry_Fox_Talbot" title="William Henry Fox Talbot"&gt;William Henry Fox Talbot&lt;/a&gt; menemukan proses positif/negatif yang disebut &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Tabotype&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Tabotype (halaman belum tersedia)"&gt;Tabotype&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;1839 – &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/John_Herschel" title="John Herschel"&gt;John Herschel&lt;/a&gt; menemukan film negatif dengan larutan &lt;i&gt;Sodium thiosulfate&lt;/i&gt;/hyposulfite of soda &lt;i&gt;yang disebut&lt;/i&gt; hypo &lt;i&gt;atau&lt;/i&gt; fixer&lt;i&gt;.&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;1851 – &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Frederick_Scott_Archer&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Frederick Scott Archer (halaman belum tersedia)"&gt;Frederick Scott Archer&lt;/a&gt; memperkenalkan &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Proses_koloid&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Proses koloid (halaman belum tersedia)"&gt;proses koloid&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;1854 – &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Andr%C3%A9_Adolphe_Eug%C3%A8ne_Disd%C3%A9ri&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="André Adolphe Eugène Disdéri (halaman belum tersedia)"&gt;André Adolphe Eugène Disdéri&lt;/a&gt; memperkenalkan &lt;i&gt;rotating camera&lt;/i&gt;
 yang dapat merekam 8 citra berbeda dalam satu film. Setelah hasilnya 
dicetak di atas kertas albumen, citra tersebut dipotong menjadi 8 bagian
 terpisah dan direkatkan pada lembaran kartu. Kartu ini menjadi 
inspirasi penyebutan (&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Perancis" title="Bahasa Perancis"&gt;fr&lt;/a&gt;:&lt;i&gt;carte de visite&lt;/i&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Inggris" title="Bahasa Inggris"&gt;bahasa Inggris&lt;/a&gt;:&lt;i&gt;visiting card&lt;/i&gt;)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;1861 – Foto berwarna yang pertama diperkenalkan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/James_Clerk_Maxwell" title="James Clerk Maxwell"&gt;James Clerk Maxwell&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;1868 – &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Louis_Ducos_du_Hauron&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Louis Ducos du Hauron (halaman belum tersedia)"&gt;Louis Ducos du Hauron&lt;/a&gt; mematenkan metode &lt;i&gt;&lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Subtractive_color_photography&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Subtractive color photography (halaman belum tersedia)"&gt;subtractive color photography&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;1871 – &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Richard_Maddox&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Richard Maddox (halaman belum tersedia)"&gt;Richard Maddox&lt;/a&gt; menemukan &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Film_fotografis&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Film fotografis (halaman belum tersedia)"&gt;film fotografis&lt;/a&gt; dari &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Emulsi_gelatin&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Emulsi gelatin (halaman belum tersedia)"&gt;emulsi gelatin&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;1876 – F. Hurter &amp;amp; V. C. Driffield memulai evaluasi sistematis 
pada kepekaan emulsi fotografis yang kemudian dikenal dengan istilah &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sensitometri&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Sensitometri (halaman belum tersedia)"&gt;sensitometri&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;1878 – &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Eadweard_Muybridge" title="Eadweard Muybridge"&gt;Eadweard Muybridge&lt;/a&gt; membuat sebuah &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Foto" title="Foto"&gt;foto&lt;/a&gt; &lt;i&gt;high-speed photographic&lt;/i&gt; dari seekor kuda yang berlari.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;1887 – Film &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Seluloid" title="Seluloid"&gt;Seluloid&lt;/a&gt; yang pertama diperkenalkan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;1888 – &lt;a class="mw-redirect" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kodak" title="Kodak"&gt;Kodak&lt;/a&gt; memasarkan &lt;i&gt;box camera&lt;/i&gt; n°1, kamera &lt;i&gt;easy-to-use&lt;/i&gt; yang pertama.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;1887 – &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gabriel_Lippmann" title="Gabriel Lippmann"&gt;Gabriel Lippmann&lt;/a&gt; menemukan reproduksi warna pada foto.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;1891 – &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Thomas_Alva_Edison" title="Thomas Alva Edison"&gt;Thomas Alva Edison&lt;/a&gt; mematenkan &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kamera_kinetoskopis&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Kamera kinetoskopis (halaman belum tersedia)"&gt;kamera kinetoskopis&lt;/a&gt; &lt;i&gt;(motion pictures)&lt;/i&gt;.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;1895 – &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Auguste_and_Louis_Lumi%C3%A8re&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Auguste and Louis Lumière (halaman belum tersedia)"&gt;Auguste and Louis Lumière&lt;/a&gt; menemukan &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Cin%C3%A9matographe&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Cinématographe (halaman belum tersedia)"&gt;cinématographe&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;1898 – Kodak memperkenalkan produk &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kamera_folding&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Kamera folding (halaman belum tersedia)"&gt;kamera folding&lt;/a&gt; Pocket Kodak.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;1900 – Kodak memperkenalkan produk &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kamera_Brownie&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Kamera Brownie (halaman belum tersedia)"&gt;kamera Brownie&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;1901 – Kodak memperkenalkan &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=120_film&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="120 film (halaman belum tersedia)"&gt;120 film&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;1902 – &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Arthur_Korn&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Arthur Korn (halaman belum tersedia)"&gt;Arthur Korn&lt;/a&gt; membuat teknologi &lt;i&gt;phototelegraphy;; yang mengubah citra menjadi sinyal yang dapat ditransmisikan melalui kabel.&lt;/i&gt; Wire-Photos &lt;i&gt;digunakan luas di daratan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Eropa" title="Eropa"&gt;Eropa&lt;/a&gt; pada tahun 1910 dan transmisi antarbenua dimulai sejak 1922.&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;1907 – &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Autochrome_Lumi%C3%A8re&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Autochrome Lumière (halaman belum tersedia)"&gt;Autochrome Lumière&lt;/a&gt; merupakan pemasaran proses fotografi berwarna yang pertama.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;1912 – &lt;i&gt;Vest Pocket Kodak&lt;/i&gt; menggunakan &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=127_film&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="127 film (halaman belum tersedia)"&gt;127 film&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;1913 – &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kinemacolor&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Kinemacolor (halaman belum tersedia)"&gt;Kinemacolor&lt;/a&gt;, sebuah sistem "natural color" untuk penayangan komersial, ditemukan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;1914 – Kodak memperkenalkan sistem &lt;i&gt;autographic film&lt;/i&gt;.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;1920s – &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Yasujiro_Niwa&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Yasujiro Niwa (halaman belum tersedia)"&gt;Yasujiro Niwa&lt;/a&gt; menemukan peralatan untuk transmisi &lt;i&gt;phototelegraphic&lt;/i&gt; melalui &lt;a class="mw-redirect" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gelombang_radio" title="Gelombang radio"&gt;gelombang radio&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;1923 – Doc &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Harold_Edgerton&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Harold Edgerton (halaman belum tersedia)"&gt;Harold Edgerton&lt;/a&gt; menemukan &lt;i&gt;xenon flash lamp&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;strobe photography&lt;/i&gt;.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;1925 – &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Leica" title="Leica"&gt;Leica&lt;/a&gt; memperkenalkan format film 35mm pada &lt;i&gt;still photography&lt;/i&gt;.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;1932 – Tayangan berwarna pertama dari &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Technicolor&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Technicolor (halaman belum tersedia)"&gt;Technicolor&lt;/a&gt; bertajuk &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Flowers_and_Trees&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Flowers and Trees (halaman belum tersedia)"&gt;Flowers and Trees&lt;/a&gt; dibuat oleh &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Disney" title="Disney"&gt;Disney&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;1934 – Kartrid &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Film_135&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Film 135 (halaman belum tersedia)"&gt;film 135&lt;/a&gt; diperkenalkan, membuat kamera 35mm mudah digunakan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;1936 – IHAGEE membuat Ihagee Kine &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Exakta&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Exakta (halaman belum tersedia)"&gt;Exakta&lt;/a&gt; 1. Kamera SLR 35mm yang pertama.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;1936 – &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kodachrome&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Kodachrome (halaman belum tersedia)"&gt;Kodachrome&lt;/a&gt; mengembangkan &lt;i&gt;multi-layered reversal color film&lt;/i&gt; yang pertama.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;1937 – &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Agfacolor&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Agfacolor (halaman belum tersedia)"&gt;Agfacolor-Neu&lt;/a&gt; mengembangkan &lt;i&gt;reversal color film&lt;/i&gt;.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;1939 – &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Agfacolor&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Agfacolor (halaman belum tersedia)"&gt;Agfacolor&lt;/a&gt; membuat &lt;i&gt;"print" film&lt;/i&gt; modern yang pertama dengan materi warna positif/negatif.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;1939 – &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=View-Master&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="View-Master (halaman belum tersedia)"&gt;View-Master&lt;/a&gt; memperkenalkan kamera &lt;i&gt;stereo viewer&lt;/i&gt;.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;1942 – &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kodacolor&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Kodacolor (halaman belum tersedia)"&gt;Kodacolor&lt;/a&gt; memasarkan &lt;i&gt;"print" film&lt;/i&gt; Kodak yang pertama.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;1947 – &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dennis_Gabor" title="Dennis Gabor"&gt;Dennis Gabor&lt;/a&gt; menemukan &lt;i&gt;holography&lt;/i&gt;.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;1947 – &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Harold_Edgerton&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Harold Edgerton (halaman belum tersedia)"&gt;Harold Edgerton&lt;/a&gt; mengembangkan &lt;i&gt;rapatronic camera&lt;/i&gt; untuk pemerintah Amerika Serikat.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;1948 – Kamera &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Hasselblad&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Hasselblad (halaman belum tersedia)"&gt;Hasselblad&lt;/a&gt; mulai dipasarkan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;1948 – &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Edwin_H._Land&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Edwin H. Land (halaman belum tersedia)"&gt;Edwin H. Land&lt;/a&gt; membuat &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kamera_instan&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Kamera instan (halaman belum tersedia)"&gt;kamera instan&lt;/a&gt; yang pertama dengan merk &lt;a class="mw-redirect" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Polaroid" title="Polaroid"&gt;Polaroid&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;1952 – Era &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=3-D_film&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="3-D film (halaman belum tersedia)"&gt;3-D film&lt;/a&gt; dimulai.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;1954 – &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Leica_M&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Leica M (halaman belum tersedia)"&gt;Leica M&lt;/a&gt; diperkenalkan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;1957 – &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Asahi_Pentax&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Asahi Pentax (halaman belum tersedia)"&gt;Asahi Pentax&lt;/a&gt; memperkenalkan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kamera_SLR" title="Kamera SLR"&gt;kamera SLRnya&lt;/a&gt; yang pertama.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;1957 – Citra digital yang pertama dibuat dengan komputer oleh &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Russell_Kirsch&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Russell Kirsch (halaman belum tersedia)"&gt;Russell Kirsch&lt;/a&gt; di &lt;i&gt;U.S. National Bureau of Standards&lt;/i&gt; (sekarang bernama National Institute of Standards and Technology, NIST). &lt;a class="external autonumber" href="http://www.nist.gov/public_affairs/techbeat/tb2007_0524.htm#image" rel="nofollow"&gt;[2]&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;1959 – &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Nikon_F&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Nikon F (halaman belum tersedia)"&gt;Nikon F&lt;/a&gt; diperkenalkan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;1959 – &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Agfa-Gevaert" title="Agfa-Gevaert"&gt;AGFA&lt;/a&gt; memperkenalkan kamera otomatis yang pertama, &lt;i&gt;Optima&lt;/i&gt;.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;1963 – &lt;a class="mw-redirect" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kodak" title="Kodak"&gt;Kodak&lt;/a&gt; memperkenalkan &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Instamatic&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Instamatic (halaman belum tersedia)"&gt;Instamatic&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;1964 – &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kamera" title="Kamera"&gt;Kamera&lt;/a&gt; &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pentax_Spotmatic&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Pentax Spotmatic (halaman belum tersedia)"&gt;Pentax Spotmatic&lt;/a&gt; &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Single-lens_reflex_camera&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Single-lens reflex camera (halaman belum tersedia)"&gt;SLR&lt;/a&gt; diperkenalkan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;1973 – &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Fairchild_Semiconductor" title="Fairchild Semiconductor"&gt;Fairchild Semiconductor&lt;/a&gt; memproduksi sensor &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Charge-coupled_device&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Charge-coupled device (halaman belum tersedia)"&gt;CCD&lt;/a&gt; skala besar yang terdiri dari 100 baris dan 100 kolom.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;1975 – &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Bryce_Bayer&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Bryce Bayer (halaman belum tersedia)"&gt;Bryce Bayer&lt;/a&gt; dari &lt;a class="mw-redirect" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kodak" title="Kodak"&gt;Kodak&lt;/a&gt; mengembangkan &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pola_mosaic&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Pola mosaic (halaman belum tersedia)"&gt;pola mosaic&lt;/a&gt; &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Filter_Bayer&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Filter Bayer (halaman belum tersedia)"&gt;filter Bayer&lt;/a&gt; untuk &lt;i&gt;CCD color image sensor&lt;/i&gt;.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;1986 – Ilmuwan &lt;a class="mw-redirect" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kodak" title="Kodak"&gt;Kodak&lt;/a&gt; menemukan sensor dengan kapasitas &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Megapiksel&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Megapiksel (halaman belum tersedia)"&gt;megapiksel&lt;/a&gt; yang pertama.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;2005 – &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=AgfaPhoto&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="AgfaPhoto (halaman belum tersedia)"&gt;AgfaPhoto&lt;/a&gt; menyatakan bangkrut. Produksi film konsumen bermerk Agfa terhenti.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;2006 – &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Dalsa&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Dalsa (halaman belum tersedia)"&gt;Dalsa&lt;/a&gt; membuat sensor &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Charge-coupled_device&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Charge-coupled device (halaman belum tersedia)"&gt;CCD&lt;/a&gt; dengan kapasitas 111 megapixel, yang terbesar saat itu.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;2008 – &lt;a class="mw-redirect" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Polaroid" title="Polaroid"&gt;Polaroid&lt;/a&gt; mengumumkan penghentian semua produksi produk film instan berkaitan dengan semakin berkembangnya teknologi citra digital.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;2009 - &lt;a class="mw-redirect" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kodak" title="Kodak"&gt;Kodak&lt;/a&gt; mengumumkan penghentian film Kodachrome.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;h2&gt;
&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Fotografi#Jenis_Kamera" target="_blank"&gt;&lt;span class="mw-headline" id="Sejarah_fotografi"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="short_text" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span class="hps"&gt;source of&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;article&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://fauzanzusmi.wordpress.com/dasar-dasar-teknik-photography/#comment-254" target="_blank"&gt;&lt;span class="short_text" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span class="hps"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;h1 class="firstHeading" id="firstHeading" lang="id"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span dir="auto"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Teknik Photography</title><link>http://arhiet-photography.blogspot.com/2013/10/teknik-photography.html</link><category>Photography</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Fri, 4 Oct 2013 15:32:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4506398015265505122.post-1012365498399561231</guid><description>&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;header class="entry-header"&gt;
  &lt;h1 class="entry-title"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="color: #444444;"&gt;Dasar-Dasar Teknik&amp;nbsp;Photography&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/h1&gt;
&lt;/header&gt;

 
  Kata photography berasal dari kata photo yang berarti cahaya dan 
graph  yang berarti gambar. Jadi photography bisa diartikan 
menggambar/melukis  dengan cahaya.&lt;br /&gt;
Jenis-jenis kamera&lt;br /&gt;
a) Kamera film, sekarang juga disebut dengan kamera analog oleh beberapa  orang.&lt;br /&gt;
Format film&lt;br /&gt;
Sebelum kita melangkah ke jenis-jenis kamera film ada baiknya kita  mengenal terlebih dahulu berbagai macam format/ukuran film.&lt;br /&gt;
1. APS, Advanced Photography System. Format kecil dengan ukuran film  
16x24mm, dikemas dalam cartridge. Meski format ini tergolong baru, namun
  tidak populer. Toko yang menjual film jenis ini susah dicari di  
Indonesia&lt;br /&gt;
2. Format 135. Dikenal juga dengan film 35mm. Mempunyai ukuran 24x36mm, 
 dikemas dalam bentuk cartridge berisi 20 atau 36 frame. Format ini  
adalah format yang paling populer, banyak kita temui di sekitar kita&lt;br /&gt;
3. Medium format&lt;br /&gt;
4. Large format&lt;br /&gt;
Jenis Film&lt;br /&gt;
1. Film B/W, film negatif hitam putih&lt;br /&gt;
2. Film negatif warna. Paling populer, sering kita pakai&lt;br /&gt;
3. Film positif, biasa juga disebut slide. Lebih mahal dan rawan  
overexposure. Meski demikian warna-warna yang dihasilkan lebih bagus  
karena dapat menangkap rentang kontras yang lebih luas&lt;br /&gt;
Jenis-jenis kamera Film&lt;br /&gt;
1. Pocket/compact. Kamera saku. Populer bagi orang awam, sederhana dan  mudah dioperasikan. Menggunakan film format 35mm&lt;br /&gt;
2. Rangefinder. Kamera pencari jarak. Kecil, sekilas mirip dengan kamera
  saku. Bedanya, kamera ini mempunyai mekanisme fokusing (karenanya  
disebut rangefinder). Umumnya menggunakan film format 35mm&lt;br /&gt;
3. SLR, Single Lens Reflex. Kamera refleks lensa tunggal. Populer di  
kalangan profesional, amatir dan hobiis. Umumnya mempunyai lensa yang  
dapat diganti. Menggunakan film format 35mm. Disebut juga kamera sistem&lt;br /&gt;
4. TLR, Twin Lens Reflex. Kamera refleks lensa ganda. Biasanya  menggunakan format medium&lt;br /&gt;
5. Viewfinder. Biasanya menggunakan format medium&lt;br /&gt;
Kamera manual dan kamera otomatis. Kamera-kamera SLR terbaru umumnya 
 sudah dilengkapi sistem autofokus dan autoexposure namun masih dapat  
dioperasikan secara manual.&lt;br /&gt;
b ) Kamera digital&lt;br /&gt;
Menggunakan sensor digital sebagai pengganti film&lt;br /&gt;
1. Consumer. Kamera saku, murah, mudah pemakaiannya. Lensa tak dapat  
diganti. Sebagian besar hanya punya mode full-otomatis. Just point and  
shoot. Beberapa, seperti Canon seri A, memiliki mode manual.&lt;br /&gt;
2. Prosumer. Kamera SLR-like, harga menengah. Lensa tak dapat diganti.  Shooting Mode manual dan auto&lt;br /&gt;
3. DSLR. Digital SLR&lt;br /&gt;
Lensa Kamera&lt;br /&gt;
mata dari kamera, secara umum menentukan kualitas foto yang 
dihasilkan  lensa memiliki 2 properties penting yaitu panjang fokal dan 
aperture  maksimum.&lt;br /&gt;
Field of View (FOV)&lt;br /&gt;
tiap lensa memiliki FOV yang lebarnya tergantung dari panjang fokalnya  dan luas film/sensor yang digunakan.&lt;br /&gt;
Field of View Crop&lt;br /&gt;
sering disebut secara salah kaprah dengan focal length multiplier.  
Hampir semua kamera digital memiliki ukuran sensor yang lebih kecil  
daripada film 35mm, maka pada field of view kamera digital lebih kecil  
dari pada kamera 35mm. Misal lensa 50 mm pada Nikon D70 memiliki FOV  
yang sama dengan lensa 75mm pada kamera film 35mm (FOV crop factor 1.5x)&lt;br /&gt;
Jenis-jenis Lensa&lt;br /&gt;
a. berdasarkan prime-vario&lt;br /&gt;
1. Fixed focal/Prime, memiliki panjang fokal tetap, misal Fujinon 35mm  
F/3.5 memiliki panjang fokal 35 mm. Lensa prime kurang fleksibel, namun 
 kualitasnya lebih tinggi daripada lensa zoom pada harga yang sama&lt;br /&gt;
2. Zoom/Vario, memiliki panjang fokal yang dapat diubah, misal Canon  
EF-S 18-55mm F/3.5-5.6 memiliki panjang fokal yang dapat diubah dari 18 
 mm sampai 55 mm. Fleksibel karena panjang fokalnya yang dapat diatur&lt;br /&gt;
b. berdasarkan panjang focal&lt;br /&gt;
1. Wide, lensa dengan FOV lebar, panjang fokal 35 mm atau kurang.  Biasanya digunakan untuk memotret pemandangan dan gedung&lt;br /&gt;
2. Normal, panjang fokal sekitar 50 mm. Lensa serbaguna, cepat dan  harganya murah&lt;br /&gt;
3. Tele, lensa dengan FOV sempit, panjang fokal 70mm atau lebih. Untuk  memotret dari jarak jauh&lt;br /&gt;
c. berdasarkan aperture maksimumnya&lt;br /&gt;
1. Cepat, memiliki aperture maksimum yang lebar&lt;br /&gt;
2. Lambat, memiliki aperture maksimum sempit&lt;br /&gt;
d. lensa-lensa khusus&lt;br /&gt;
1. Lensa Makro, digunakan untuk memotret dari jarak dekat&lt;br /&gt;
2. Lensa Tilt and Shift, bisa dibengkokan&lt;br /&gt;
Ketentuan lensa lebar/tele (berdasarkan panjang focal) di atas 
berlaku  untuk kamera film 35mm. Lensa Nikkor 50 mm menjadi lensa normal
 pada  kamera film 35mm, tapi menjadi lensa tele jika digunakan pada 
kamera  digital Nikon D70. Pada Nikon D70 FOV Nikkor 50 mm setara dengan
 FOV  lensa 75 mm pada kamera film 35mm&lt;br /&gt;
Peralatan bantu lain&lt;br /&gt;
- Tripod , diperlukan untuk pemotretan dengan kecepatan lambat. Pada  
kecepatan lambat, menghindari goyangan kamera jika dipegang dengan  
tangan (handheld). Secara umum kecepatan minimal handhel adalah 1/focal.&lt;br /&gt;
Membawa tripod saat hunting bisa merepotkan. Untuk keperluan hunting  
biasanya tripod yang dibawa adalah tripod yang ringan dan kecil.&lt;br /&gt;
- Monopod , mirip tripod, kaki satu. Lebih mudah dibawa. Hanya dapat  menghilangkan goyangan vertikal saja.&lt;br /&gt;
- Flash/blitz/lampu kilat , untuk menerangai obyek dalam kondisi gelap&lt;br /&gt;
- Filter , untuk menyaring cahaya yang masuk. Ada banyak jenisnya :&lt;br /&gt;
UV, menyaring cahaya UV agar tidak terjadi hazy pada foto2 landscape,  sering digunakan untuk melindungi lensa dari debu.&lt;br /&gt;
PL/CPL (Polarizer/Circular Polarizar) untuk mengurangi bayangan pada  
permukaan non logam. Bisa juga untuk menambah kontras langit&lt;br /&gt;
Exposure&lt;br /&gt;
jumlah cahaya yang masuk ke kamera, tergantung dari aperture dan  kecepatan.&lt;br /&gt;
- Aperture/diafragma . Makin besar aperture makin banyak cahaya yang  
masuk. Aperture dinyatakan dengan angka angka antara lain sebagai  
berikut: f/1,4 f/2 f/3,5 f/5.6 f/8. semakin besar angkanya (f number),  
aperture makin kecil aperturenya&lt;br /&gt;
- Shutter speed/kecepatan rana . Makin cepat, makin sedikit cahaya yang  masuk&lt;br /&gt;
- ISO , menyatakan sensitivitas sensor/film. Makin tinggi ISOnya maka  
jumlah cahaya yang dibutuhkan makin sedikit. Film ISO 100 memerlukan  
jumlah cahaya 2 kali film ISO 200&lt;br /&gt;
Contoh: kombinasi diafragma f/5.6 kec. 1/500 pada ISO 100 setara dengan 
 diafragma f/8 kec 1/500 atau f/5.6 kec. 1/1000 pada ISO 200.&lt;br /&gt;
Exposure meter , pengukur cahaya. Hampir tiap kamera modern memiliki 
 pengukur cahaya internal. Selain itu juga tersedia pengukur cahaya  
eksternal&lt;br /&gt;
Exposure metering ( sering disingkat dengan metering )&lt;br /&gt;
adalah metode pengukuran cahaya&lt;br /&gt;
1. Average metering , mengukur cahaya rata-rata seluruh frame&lt;br /&gt;
2. Center-weighted average metering , mengukur cahaya rata-rata dengan  titik berat bagian tengah&lt;br /&gt;
3. Matrix/Evaluative metering , Mengukur cahaya di berbagai bagian dari 
 frame, untuk kemudian dikalkulasi dengan metode-metode otomatis 
tertentu&lt;br /&gt;
4. Spot metering , mengukur cahaya hanya pada bagian kecil di tengah  frame saja&lt;br /&gt;
Exposure compensation, 18% grey . Exposure meter selalu mengukur 
cahaya  dan menhasilkan pengukuran sehingga terang foto yang dihasilkan 
berkisar  pada 18% grey. Jadi kalau kita membidik sebidang kain putih 
dan  menggunakan seting exposure sebagaimana yang ditunjukan oleh meter,
 maka  kain putih tersebut akan menjadi abu-abu dalam foto. Untuk 
mengatasi  hal tersebut kita harus melakukan exposure compensation. 
Exposure kita  tambah sehingga kain menjadi putih.&lt;br /&gt;
Under exposured = foto terlalu gelap karena kurang exposure&lt;br /&gt;
Over exposured = foto terlalu terang karena kelebihan exposure&lt;br /&gt;
Istilah stop&lt;br /&gt;
Naik 1 stop, artinya exposure dinaikkan menjadi 2 kali.&lt;br /&gt;
Naik 2 stop, artinya exposure dinaikkan menjadi 4 kali.&lt;br /&gt;
Turun 1 stop exposure diturunkan menjadi 1/2 kali.&lt;br /&gt;
Turun 2 stop exposure diturunkan menjadi 1/4 kali.&lt;br /&gt;
Kenaikan 1 stop pada aperture sebagai berikut: f/22; f/16; f/11; f/8;  f/5,6; f/4; f/2,8; f/2.&lt;br /&gt;
Beda f number tiap stop adalah 0,7 kali (1/ akar2).&lt;br /&gt;
Kenaikan 1 stop pada kec. Rana sebagai berikut: 1/2000; 1/1000; 1/500;  1/250; 1/125; 1/60; 1/30; 1/15; 1/8; 1/4; 1/2; 1.&lt;br /&gt;
Beda speed tiap stop adalah 2 kali&lt;br /&gt;
DOF , Depth of Field, kedalaman medan. DOF adalah daerah tajam di  sekitar fokus.&lt;br /&gt;
Kedalaman medan dipengaruhi oleh besar aperture, panjang fokal, dan  jarak ke obyek.&lt;br /&gt;
1. Aperture, semakin besar aperture (f number makin kecil) maka DOF akan  makin dangkal/sempit&lt;br /&gt;
2. Panjang fokal (riil), semakin panjang fokal, DOF makin dangkal/sempit&lt;br /&gt;
3. Jarak ke obyek, semakin dekat jarak ke obyek maka DOF makin  dangkal/sempit&lt;br /&gt;
Pemilihan DOF&lt;br /&gt;
- Jika DOF sempit, FG dan BG akan blur. DOF sempit digunakan jika kita  
ingin mengisolasi/menonjolkan obyek dari lingkungan sekitarnya misalnya 
 pada foto-foto portrait atau foto bunga.&lt;br /&gt;
- Jika DOF lebar, FG dan BG tampak lebih tajam. DOF lebar digunakan jika
  kita menginginkan hampir seluruh bagian pada foto nampak tajam, 
seperti  pada foto landscape atau foto jurnalistik.&lt;br /&gt;
Shooting mode&lt;br /&gt;
Mode auto , mode point and shoot, tinggal bidik dan jepret&lt;br /&gt;
1. Full auto, kamera yang menentukan semua parameter&lt;br /&gt;
2. Portrait, kamera menggunakan aperture terbesar untuk menyempitkan DOF&lt;br /&gt;
3. Landscape, kamera menggunakan aperture terkecil&lt;br /&gt;
4. Nightscene, menggunakan kecepatan lambat dan flash untuk menangkap  obyek dan BG sekaligus&lt;br /&gt;
5. Fast shuter speed&lt;br /&gt;
6. Slow shutter speed&lt;br /&gt;
Creative zone&lt;br /&gt;
1. P, program AE. Mirip dengan mode auto dengan kontrol lebih. Dengan  
mode ini kita bisa mengontrol exposure compensation, ISO, metering mode,
  Auto/manual fokus, white balance, flash on/off, dan continues 
shooting.&lt;br /&gt;
2. Tv, shutter speed priority AE. Kita menetukan speed, kamera akan  menghitung aperture yang tepat&lt;br /&gt;
3. Av, aperture priority AE. Kita menentukan aperture, kamera mengatur  speed&lt;br /&gt;
4. M, manual exposure. Kita yang menentukan aperture dan speed secara  manual&lt;br /&gt;
Komposisi dan Angle&lt;br /&gt;
Komposisi adalah penempatan obyek dalam frame foto&lt;br /&gt;
Angle adalah sudut pemotretan, dari bawah, atas, atau sejajar&lt;br /&gt;
Komposisi dan angle lebih menyangkut ke seni dari fotografi. Faktor  selera fotografer sangat besar pengaruhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga Bermanfaat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://fauzanzusmi.wordpress.com/dasar-dasar-teknik-photography/#comment-254" target="_blank"&gt;&lt;span class="short_text" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span class="hps"&gt;source of&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;article&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/a&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Advanced One Light Setups - Photography &amp; Video Tutorial</title><link>http://arhiet-photography.blogspot.com/2013/10/advanced-one-light-setups-photography.html</link><category>Photography</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Fri, 4 Oct 2013 13:32:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4506398015265505122.post-1657811762741619879</guid><description>&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="270" src="//www.youtube.com/embed/F9gVQFhCXEQ" width="480"&gt;&lt;/iframe&gt;</description><enclosure length="0" url="http://www.youtube.com/watch?v=F9gVQFhCXEQ"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><itunes:explicit>yes</itunes:explicit><itunes:subtitle/><itunes:author>noreply@blogger.com (Anonymous)</itunes:author><itunes:summary/><itunes:keywords>Photography</itunes:keywords></item><item><title>Potret Nelayan</title><link>http://arhiet-photography.blogspot.com/2013/09/potret-nelayan.html</link><category>Photo2 Saya</category><category>Photography</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Mon, 30 Sep 2013 12:01:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4506398015265505122.post-4669518206756891227</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEihWtYuw-IPTZCxIDqXqaQEfte14XEiOKJH93wT4ZyU-T_BMMHgT_QRsL0NOqym3ftv1-kG1F6fcE9OTwc-Rxm8UDC_inb4qUoEDZY3S298HnYhbwP0CZ64HF_MCrJ9Io9DNKOSNROYGNY/s1600/4.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="212" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEihWtYuw-IPTZCxIDqXqaQEfte14XEiOKJH93wT4ZyU-T_BMMHgT_QRsL0NOqym3ftv1-kG1F6fcE9OTwc-Rxm8UDC_inb4qUoEDZY3S298HnYhbwP0CZ64HF_MCrJ9Io9DNKOSNROYGNY/s320/4.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhdPUQkv-Js_Q0svI_t8ea31XNHPqSmMtVrDmtI-fSCF1x9HrOfmzWOxBls84uvs_TVaNnzCXaxcNI9E2TRMrl7bCtECggJ_SH8hpJTkBEarCvRxJdLC1TDZ2tdDJ7_QheOcGfjt6ucQMI/s1600/5.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="212" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhdPUQkv-Js_Q0svI_t8ea31XNHPqSmMtVrDmtI-fSCF1x9HrOfmzWOxBls84uvs_TVaNnzCXaxcNI9E2TRMrl7bCtECggJ_SH8hpJTkBEarCvRxJdLC1TDZ2tdDJ7_QheOcGfjt6ucQMI/s320/5.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEihWtYuw-IPTZCxIDqXqaQEfte14XEiOKJH93wT4ZyU-T_BMMHgT_QRsL0NOqym3ftv1-kG1F6fcE9OTwc-Rxm8UDC_inb4qUoEDZY3S298HnYhbwP0CZ64HF_MCrJ9Io9DNKOSNROYGNY/s72-c/4.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><georss:featurename xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">South Sulawesi, Indonesia</georss:featurename><georss:point xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-3.6687994 119.9740534</georss:point><georss:box xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-11.7431789 109.64690490000001 4.405580099999999 130.3012019</georss:box></item></channel></rss>