<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Ruhendi.Com &#124; Blog أبو النساء </title>
	<atom:link href="https://abuannisa.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://abuannisa.wordpress.com</link>
	<description>&#34;catatan kecil &#124; berusaha tuk selalu memberi dan berbagi…&#34;</description>
	<lastBuildDate>Fri, 16 May 2025 04:30:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1362456</site><cloud domain='abuannisa.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>https://secure.gravatar.com/blavatar/1eb9b6e765372332fe54ecf07eceb2d08d75481d654d3c0f8bf219682e706c13?s=96&#038;d=https%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fwebclip.png</url>
		<title>Ruhendi.Com &#124; Blog أبو النساء </title>
		<link>https://abuannisa.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="https://abuannisa.wordpress.com/osd.xml" title="Ruhendi.Com &#124; Blog أبو النساء " />
	<atom:link rel='hub' href='https://abuannisa.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
	<item>
		<title>MERUPAKAN SUATU NIKMAT, MEMILIKI TEMAN BAIK</title>
		<link>https://abuannisa.wordpress.com/2025/05/05/merupakan-suatu-nikmat-memiliki-teman-baik/</link>
					<comments>https://abuannisa.wordpress.com/2025/05/05/merupakan-suatu-nikmat-memiliki-teman-baik/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[abuannisa]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 05 May 2025 06:56:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://abuannisa.wordpress.com/?p=538</guid>

					<description><![CDATA[ASSALAMU&#8217;ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH. Innalhamdalillahi nahmaduhu wanasta’iinuhu&#160;wanastaghfiruhu Wana’udzubiillah minsyurruri&#160;‘anfusinaa waminsayyi’ati ‘amaalinnaa Man yahdihillah fala mudhillalah Wa man yudhlil falaa haadiyalah Wa asyhadu allaa ilaaha illallaah wahdahu laa syariikalah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh. Ya ayyuhal-ladzina aamanuttaqullaha haqqa&#160;tuqaatihii wa laa tamuutunna illa wa antum muslimun. Yaa ayyuhaannaasuttaquu rabbakumulladzii khalaqakum min nafsin waahidatin wakhalaqa minhaa zawjahaa &#8230; <a href="https://abuannisa.wordpress.com/2025/05/05/merupakan-suatu-nikmat-memiliki-teman-baik/">Baca lebih lanjut <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>ASSALAMU&#8217;ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Innalhamdalillahi nahmaduhu wanasta’iinuhu&nbsp;wanastaghfiruhu Wana’udzubiillah minsyurruri&nbsp;‘anfusinaa waminsayyi’ati ‘amaalinnaa Man yahdihillah fala mudhillalah Wa man yudhlil falaa haadiyalah Wa asyhadu allaa ilaaha illallaah wahdahu laa syariikalah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ya ayyuhal-ladzina aamanuttaqullaha haqqa&nbsp;tuqaatihii wa laa tamuutunna illa wa antum muslimun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yaa ayyuhaannaasuttaquu rabbakumulladzii khalaqakum min nafsin waahidatin wakhalaqa minhaa zawjahaa wabatstsa minhumaa rijaalan katsiiran wanisaa-an wattaquullaahalladzii tasaa-aluuna bihi wal-arhaama inna allaaha kaana ‘alaykum raqiiban.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yaa ayyuhalladziina aamanuuttaquullaaha wa quuluu qawlan sadiidaan yushlih lakum a’maalakum wayaghfir lakum dzunuubakum waman yuthi’i allaaha warasuulahu faqad faaza fawzan ‘azhiimaan</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Amma ba’du,</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Fainna ash-daqol hadiits kitaabullah wa khairal hadyi Hadyu Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam wa syarral umuuri muhdatsatuhaa Wakulla muhdatsatin bid’ah Wakulla bid’atin dhalaalah Wakulla dhalaalatin finnaar</p>



<p class="wp-block-paragraph">Puji dan Syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Alloh subhanahu wata’ala, yang alhamdulillah sampai saat ini Alloh telah memberikan berbagai macam nikmat yang demikian besar kepada kita semua, berupa nikmat iman, nikmat islam dan nikmat ihsan, juga berbagai macam nikmat yang banyak terkait dengan jasmani dan rohani kita.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Termasuk salah satu bentuk dari bentuk-bentuk nikmat yang dilimpahkan kepada kita dan harus kita senantiasa syukuri yaitu nikmat dipertemukannya kita dengan orang-orang terbaik dalam hidup kita, baik dengan teman, sahabat, saudara ataupun bahkan dengan yang tidak ada hubungan apapun namun terasa dekat di dalam hati kita.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Shalawat serta salam marilah senantiasa kita sanjungkan kepada Nabi kita Nabi Muhammad SAW, pemimpin orang-orang bertaqwa dan Qaa-idil Mujahidin panglima para mujahid yang sebenar-benarnya, kepada keluarganya, para sahabat dan para pengikut yang setia hingga akhir zaman.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perjalanan kehidupan tidaklah senantiasa sesuai harapan, keinginan dan angan-angan, terkadang kita harus melewati jalan demikian terjal dan juga menikmati jalan yang landai atau bahkan turunan yang memanjakan rasa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hari-hari yang kita lewati tentunya akan penuh warna, terkadang gembira, terkadang dihampiri rasa sedih, duka dan nestapa. Tak akan ada yang mampu mengelak dari semua kenyataan ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di antara kesedihan yang mungkin dirasakan menimpa kita yaitu tatkala kita akan berpisah dengan orang-orang yang telah terasa demikian dekat dan sangat baik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian di antara kebahagiaan yang juga mungkin dirasakan kita yaitu tatkala kita ditakdirkan untuk bisa bertemu dengan orang-orang yang sangat baik dan sangat dirasakan kedekatannya yang senantiasa mengajak untuk berbuat baik dan meninggalkan perkara-perkara yang tidak bermanfaat, senantiasa saling mendoakan kebaikan baik diminta ataupun tidak serta dengan senang hati saling tolong menolong dalam kebaikan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Diriwayatkan dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang baik dan orang yang tidak baik bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu; engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Umar bin Khattab berkata, “Tidaklah seseorang diberikan kenikmatan setelah Islam, yang lebih baik daripada kenikmatan memiliki saudara yang shalih. Apabila engkau dapati salah seorang sahabat yang shalih maka pegang lah erat-erat.” [Quutul Qulub]</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam beberapa tahun ini, kita telah berada di tempat tercinta ini bersama-sama dengan orang-orang terbaik, begitu banyak hal yang kita lihat dan kita rasakan, dari tawa, canda, hingga tantangan dan kebersamaan dalam bekerja. Kita telah melalui banyak hal bersama, baik di masa-masa baik maupun masa sulit. Kita harus bersyukur bahwa telah menjadi bagian dari tim ini, tim yang dipimpin oleh orang-orang terbaik, yang senantiasa memberikan arahan dan dukungan terbaik, senantiasa bahu membahu bersama dalam menghadapi setiap tantangan, dan merayakan setiap keberhasilan bersama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bapak dan Ibu Pimpinan yang akan melanjutkan tugas di tempat baru dan meninggalkan Kami disini, perjalanan selama ini telah memberikan begitu banyak pelajaran yang berharga. Kami belajar tidak hanya tentang aspek teknis pekerjaan, tetapi juga tentang makna sejati dari komitmen, loyalitas, dan kerja tim. Selama ini kami terus &nbsp;belajar untuk selalu memberikan yang terbaik dan untuk tidak pernah menyerah, meski menghadapi rintangan yang berat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kami ucapkan terima kasih atas semua kesempatan yang telah diberikan. Dukungan dan kepercayaan yang telah kami terima adalah fondasi yang menguatkan dalam setiap langkah yang kami ambil di sini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti kata pepatah, setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Meskipun terasa berat, kami tetap percaya bahwa ini adalah hanya sebagai suatu proses dan bagian dari perjalanan hidup dan babak baru perjalanan kita sudah menanti di depan. Semoga kita tetap akan menyimpan semua kenangan, pelajaran, dan pengalaman di tempat ini ke dalam perjalanan selanjutnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari hati Kami yang terdalam, mohon maaf apabila selama bersama, banyak kesalahan atau kekhilafan yang mungkin telah menyinggung atau melukai perasaan. Kami berharap kita dapat saling memaafkan dan tetap menjaga hubungan baik yang telah dibangun selama ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Akhir kata, Semoga Bapak Ibu senantiasa dan terus diberikan kekuatan, kesehatan, dan kesuksesan dalam setiap langkah dan perjalanannya. Kami akan selalu merindukan kebersamaan seperti yang telah dilalui Bersama ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>WASSALAMU&#8217;ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH</strong></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://abuannisa.wordpress.com/2025/05/05/merupakan-suatu-nikmat-memiliki-teman-baik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">538</post-id>
		<media:content url="https://0.gravatar.com/avatar/9010ec22bec8a35089ce0678609d38a0007cbacfa08a2f5f2514e4aecbc7194d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abuannisa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BERETIKA KEPADA ORANG YANG LEBIH TUA</title>
		<link>https://abuannisa.wordpress.com/2025/04/25/beretika-kepada-orang-yang-lebih-tua/</link>
					<comments>https://abuannisa.wordpress.com/2025/04/25/beretika-kepada-orang-yang-lebih-tua/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[abuannisa]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 25 Apr 2025 02:31:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://abuannisa.wordpress.com/?p=528</guid>

					<description><![CDATA[ASSALAMU&#8217;ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH, Innalhamdalillahi nahmaduhu wanasta’iinuhu&#160;wanastaghfiruhu Wana’udzubiillah minsyurruri&#160;‘anfusinaa waminsayyi’ati ‘amaalinnaa Man yahdihillah fala mudhillalah Wa man yudhlil falaa haadiyalah Wa asyhadu allaa ilaaha illallaah wahdahu laa syariikalah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh. Ya ayyuhal-ladzina aamanuttaqullaha haqqa&#160;tuqaatihii wa laa tamuutunna illa wa antum muslimun. Yaa ayyuhaannaasuttaquu rabbakumulladzii khalaqakum min nafsin waahidatin wakhalaqa minhaa zawjahaa &#8230; <a href="https://abuannisa.wordpress.com/2025/04/25/beretika-kepada-orang-yang-lebih-tua/">Baca lebih lanjut <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>ASSALAMU&#8217;ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH,</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Innalhamdalillahi nahmaduhu wanasta’iinuhu&nbsp;wanastaghfiruhu Wana’udzubiillah minsyurruri&nbsp;‘anfusinaa waminsayyi’ati ‘amaalinnaa Man yahdihillah fala mudhillalah Wa man yudhlil falaa haadiyalah Wa asyhadu allaa ilaaha illallaah wahdahu laa syariikalah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ya ayyuhal-ladzina aamanuttaqullaha haqqa&nbsp;tuqaatihii wa laa tamuutunna illa wa antum muslimun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yaa ayyuhaannaasuttaquu rabbakumulladzii khalaqakum min nafsin waahidatin wakhalaqa minhaa zawjahaa wabatstsa minhumaa rijaalan katsiiran wanisaa-an wattaquullaahalladzii tasaa-aluuna bihi wal-arhaama inna allaaha kaana ‘alaykum raqiiban.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yaa ayyuhalladziina aamanuuttaquullaaha wa quuluu qawlan sadiidaan yushlih lakum a’maalakum wayaghfir lakum dzunuubakum waman yuthi’i allaaha warasuulahu faqad faaza fawzan ‘azhiimaan</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Amma ba’du,</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Fainna ash-daqol hadiits kitaabullah wa khairal hadyi Hadyu Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam wa syarral umuuri muhdatsatuhaa Wakulla muhdatsatin bid’ah Wakulla bid’atin dhalaalah Wakulla dhalaalatin finnaar</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu akhlak yang mulai banyak hilang saat ini adalah menghormati dan berbuat baik kepada orang yang lebih tua. Padahal Baginda Nabi ﷺ pernah mengatakan, bukan termasuk umatku orang yang tidak memuliakan orang yang lebih tua dan menyayangi anak kecil.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Dari Anas bin Malik ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda tidaklah seorang pemuda menghormati orang yang tua karena umurnya melainkan Allah akan menjadikan untuknya orang yang menghormatinya karena umurnya (di masa tuanya).”&nbsp; (HR: Imam Tirmidzi)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Manusia ada yang seumuran dengan kita, ada pula yang lebih tua atau lebih muda usianya dibandingkan kita. Sikap dan perlakuan kita kepada mereka seharusnya berbeda-beda. Disesuaikan pada porsi yang tepat, sesuai bimbingan syariat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Dari Ibnu Abbas semoga Allah meridhai keduanya, dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata: “Bukan termasuk dari kami (1) orang yang tidak menghormati yang lebih tua(2), dan tidak menyayangi yang lebih kecil (3), serta orang yang tidak memerintah pada kebaikan dan mencegah perbuatan munkar.” (HR: Ahmad, at-Tirmidzi, dan Ibnu Hibban)</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Beberapa dari adab yang baik terhadap orang yang lebih tua :</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>1. Mendahulukan orang yang lebih tua untuk berbicara</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">“Dari Sahl bin Abi Hatsmah ia berkata, Abdullah bin Sahl dan Muhayyishoh bin Mas’ud bin Zaid pergi menuju Khaibar yang saat itu terdapat perdamaian (dengan kaum Yahudi). Keduanya pun berpisah. Kemudian datanglah Muhayyishoh hendak menemui Abdullah bin Sahl, ternyata sudah terbunuh berlumuran darah. Ia pun menguburkannya dan pergi ke Madinah. Abdurrahman bin Sahl, Muhayyishoh dan Huwayyishoh putra Ibnu Mas’ud pergi menuju Nabi shollallahu alaihi wasallam. Abdurrahman yang pertama berbicara padahal ia adalah yang paling muda. Nabi shollallahu alaihi wasallam bersabda: Kabbir kabbir (dahulukan yang lebih tua untuk berbicara).&nbsp;Dia kemudian diam dan keduanya berbicara.” (H.R al-Bukhari dan Muslim)</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>2. Yang lebih muda memulai mengucapkan salam kepada yang lebih tua</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">“Orang yang lebih muda mengucapkan salam terlebih dahulu pada yang lebih tua, orang yang berjalan kepada yang duduk, sekelompok orang yang berjumlah sedikit kepada yang lebih banyak.” (H.R al-Bukhari dari Abu Hurairah)</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>3. Memanggil orang yang lebih tua dengan panggilan yang sopan</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">“Abu Umamah bin Sahl radhiyallahu anhu berkata, Kami pernah shalat Dzhuhur bersama Umar bin Abdil Aziz kemudian kami keluar hingga menemui Anas bin Malik. Kami dapati beliau sedang shalat Ashar. Aku berkata: Wahai paman, shalat apakah yang anda lakukan ini? Beliau menjawab: Ashar. Ini adalah shalat Rasulullah shollallahu alaihi wasallam yang kami shalat bersama beliau.” (H.R al-Bukhari)</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>4. Mendahulukan kebaikan untuk orang yang lebih tua</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">“Malik bin Mighwal rahimahullah menyatakan, Aku pernah berjalan bersama Tholhah bin Mushorrif (seorang Tabi’in). Hingga tibalah kami ke sebuah jalan sempit, maka beliaupun mendahuluiku, seraya berkata kepadaku: “Seandainya aku mengetahui bahwa engkau lebih tua satu hari daripada aku niscaya aku tidak akan mendahuluimu.” (Diriwayatkan oleh Al-Khathiib Al Baghdaady dalam Al Jaami’ li Akhlaaqi Ar Raawii wa Aadaabi As Saami’ (1/285))</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>5. Menjadi pendengar yang baik</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Termasuk adab yang baik dari seorang yang muda yaitu senantiasa bersabar untuk menyimak dan mendengarkan dengan seksama pembicaraan dari seorang yang sudah tua ketika beliau berbicara.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>6. Orang yang lebih muda tidaklah duduk di tempat yang lebih tinggi dari yang lebih tua, kecuali dipersilakan</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">“Ya’qub bin Sufyan rahimahullah berkata, telah sampai kepadaku kabar bahwa Al Hasan dan Ali, anaknya Shalih, adalah dua anak yang kembar; Al Hasan lahir sebelum Ali. Tidaklah Al Hasan dan Ali duduk bersama di sebuah majelis kecuali Ali duduk lebih rendah daripada Al Hasan; dan tidaklah Ali berbicara ketika Al Hasan berbicara apabila keduanya berada dalam satu majelis.” (Diriwayatkan oleh Al-Khathiib Al Baghdaady dalam Al Jaami’ li Akhlaaqi Ar Raawii wa Aadaabi As Saami’ no: 252)</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>7. Mengangkat orang yang paling tua sebagai pemimpin</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">“Qais bin ‘Ashim pernah berwasiat kepada anak-anaknya menjelang kematiannya, bertakwalah kalian kepada Allah dan angkatlah yang paling tua diantara kalian sebagai pemimpin. Karena sesungguhnya suatu kaum apabila mereka mengangkat yang paling tua diantara mereka sebagai pemimpin, maka mereka akan mampu menggantikan kedudukan ayah-ayah mereka. Apabila mereka mengangkat yang paling muda diantara mereka sebagai pemimpin, maka tindakan mereka itu berarti meremehkan orang-orang yang sebaya dengan mereka.” (HR. al-Bukhari no. 361 dalam al-Adabul Mufrad dari Hakim bin Qais bin ‘Ashim)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Semoga kita termasuk ke dalam golongan yang senantiasa menghormati dan berbuat baik kepada orang yang lebih tua serta senantiasa menyayangi dan mengasihi kepada orang yang lebih muda sesuai dengan tuntunan Rasulululloh ﷺ.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cukupkan tulisan ini sebagai sebuah catatan, peringatan dan juga dalam rangka mengambil pelajaran.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>WASSALAMU&#8217;ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://abuannisa.wordpress.com/2025/04/25/beretika-kepada-orang-yang-lebih-tua/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">528</post-id>
		<media:content url="https://0.gravatar.com/avatar/9010ec22bec8a35089ce0678609d38a0007cbacfa08a2f5f2514e4aecbc7194d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abuannisa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KETETAPAN ALLOH ITU YANG TERBAIK</title>
		<link>https://abuannisa.wordpress.com/2025/04/21/ketetapan-alloh-itu-yang-terbaik/</link>
					<comments>https://abuannisa.wordpress.com/2025/04/21/ketetapan-alloh-itu-yang-terbaik/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[abuannisa]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 21 Apr 2025 06:51:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Warta Umum]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://abuannisa.wordpress.com/?p=388</guid>

					<description><![CDATA[Bismillah… Innalhamdalillahi nahmaduhu wanasta’iinuhu&#160;wanastaghfiruhu Wana’udzubiillah minsyurruri&#160;‘anfusinaa waminsayyi’ati ‘amaalinnaa Man yahdihillah fala mudhillalah Wa man yudhlil falaa haadiyalah Wa asyhadu allaa ilaaha illallaah wahdahu laa syariikalah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh. Ya ayyuhal-ladzina aamanuttaqullaha haqqa&#160;tuqaatihii wa laa tamuutunna illa wa antum muslimun. Yaa ayyuhaannaasuttaquu rabbakumulladzii khalaqakum min nafsin waahidatin wakhalaqa minhaa zawjahaa wabatstsa minhumaa &#8230; <a href="https://abuannisa.wordpress.com/2025/04/21/ketetapan-alloh-itu-yang-terbaik/">Baca lebih lanjut <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Bismillah…</p>



<p class="wp-block-paragraph">Innalhamdalillahi nahmaduhu wanasta’iinuhu&nbsp;wanastaghfiruhu Wana’udzubiillah minsyurruri&nbsp;‘anfusinaa waminsayyi’ati ‘amaalinnaa Man yahdihillah fala mudhillalah Wa man yudhlil falaa haadiyalah Wa asyhadu allaa ilaaha illallaah wahdahu laa syariikalah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ya ayyuhal-ladzina aamanuttaqullaha haqqa&nbsp;tuqaatihii wa laa tamuutunna illa wa antum muslimun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yaa ayyuhaannaasuttaquu rabbakumulladzii khalaqakum min nafsin waahidatin wakhalaqa minhaa zawjahaa wabatstsa minhumaa rijaalan katsiiran wanisaa-an wattaquullaahalladzii tasaa-aluuna bihi wal-arhaama inna allaaha kaana ‘alaykum raqiiban.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yaa ayyuhalladziina aamanuuttaquullaaha wa quuluu qawlan sadiidaan yushlih lakum a’maalakum wayaghfir lakum dzunuubakum waman yuthi’i allaaha warasuulahu faqad faaza fawzan ‘azhiimaan</p>



<p class="wp-block-paragraph">Amma ba’du,</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fainna ash-daqol hadiits kitaabullah wa khairal hadyi Hadyu Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam wa syarral umuuri muhdatsatuhaa Wakulla muhdatsatin bid’ah Wakulla bid’atin dhalaalah Wakulla dhalaalatin finnaar</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perjalanan kehidupan tidaklah senantiasa sesuai harapan, keinginan dan angan-angan, terkadang kita harus melewati jalan demikian terjal dan juga menikmati jalan yang landau atau bahkan turunan yang memanjakan rasa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hari-hari yang kita lewati tentunya akan penuh warna, terkadang gembira, terkadang dihampiri rasa sedih, duka dan nestapa. Tak akan ada yang mampu mengelak dari semua kenyataan ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di antara kesedihan yang menimpa kita dalam kehidupan ini yaitu dimana kita mungkin dalam kondisi mendapatkan sesuatu yang tidak diharapkannya. Harapan kita tentunya menggapai sesuatu yang kelihatannya baik, mati-matian berusaha mendapatkannya dan sampai-sampai akan mengorbankan segalanya demi terwujudnya impian tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terkadang seseorang akan dengan mudahnya melakukan apapun demi tercapainya sesuatu yang didalam anggapannya sebagai sesuatu yang baik. Padahal, tentunya tidak semua yang makhluk anggap sebagai sesuatu yang baik itu merupakan yang terbaik menurut Alloh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Segala sesuatu yang terjadi, baik hal tersebut tidak sesuai dari apa yang diharapkan maupun yang sesuai dengan harapan adalah merupakan bentuk kasih sayang dari Alloh. Segalanya akan menjadi ujian, dan tentunya ujian itu hadir dengan tujuan menuntut mereka menuju kesempurnaan diri dan kesempurnaan kenikmatan-Nya. Kita tidak boleh mencela dan atau meratapi ujian dan musibah yang Allah berikan, yakinlah ketetapan Allah adalah yang terbaik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada sebuah cerita, pernah suatu waktu, ada seseorang yang begitu merasakan sesuatu yang luar biasa dalam hidupnya. Senantiasa berada dalam lingkungan yang begitu baik kepadanya, senantiasa berada dalam lingkaran orang-orang yang begitu dekat dengannya. Tidak pernah tersirat dalam benaknya bahwa sesuatu akan terjadi dengan dirinya. Hingga suatu waktu, terjadi sesuatu yang membuat seolah-olah kenyataan hidupnya seperti sebuah mimpi. Kenyataan yang ia saksikan berbalik 360 derajat. Yang semula ia selalu anggap sebagai sesuatu yang baik-baik saja, berubah menjadi sesuatu yang ia anggap sebagai sesuatu yang jelek dan tidak baik-baik saja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kehidupan yang semula seolah senantiasa bersahabat dengannya, berubah drastis, berbalik 360 derajat, kehidupan yang dia rasakan menjadi seolah-olah musuh bagi dirinya. Sungguh berat apa yang dia rasakan, andaikan dia tidak percaya dengan takdir baik dan takdir buruk, tentunya dia tidak akan mampu bertahan dan tentunya bisa dibuat merana sepanjang waktu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Inilah kehidupan, terkadang berada di atas dan terkadang di bawah. Terkadang Ketika kita masih di bawah kita tidak sabar dan menyerah dengan keadaan. Ingat, jangan mudah menyerah, jangan mudah mengeluh dan jangan mudah merengek dengan keadaan yang ada. Perjalanan masih panjang, perbekalan kita belum cukup untuk kehidupan yang sebenarnya. Dunia akan ditinggalkan, kehidupan kekal yang tentunya akan jadi tujuan akhir kita.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan berbagai terpaan ujian dan cobaan yang ada, ternyata banyak hikmah yang bisa diambil. Bahwa tidak selamanya yang kita anggap sebagai sesuatu yang terbaik itu merupakan yang terbaik menurut Rabb Kita, dan tidak selamanya pula bahwa sesuatu yang kita anggap sebagai sesuatu yang sangat buruk itu merupakan sesuatu yang buruk menurut Rabb Kita. Kita harus percaya bahwa segala hal baik dan buruk, kenikmatan, ujian dan cobaan bagi seseorang itu merupakan bentuk kasih sayang Rabb kita. Layak bersedih jika dalam kehidupan kita, Rabb kita membiarkan kita berjalan tanpa ada ujian dan cobaan. Rabb kita sangat sayang kepada kita, sehingga setiap Langkah dan gerak gerik kehidupan kita senantiasa diingatkan. Peringatan-peringatan itu senantiasa datang dan nampak, tinggal kita nya saja apakah bisa mengambil pelajaran atau tidak. Apakah kita mampu mengambil hikmah dari semuanya atau tidak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Waktu terus berlalu, biarpun terkadang terasa berjalan sangat lambat. Perasaan perih senantiasa menghampiri. Namun semakin besar keyakinan dengan pilihan Rabb nya. Bahwa Rabb nya sedang memilihkan sesuatu yang terbaik. Biarpun hantaman makin menjadi, namun hikmah yang didapatkan semakin banyak. Semakin hari semakin besar keyakinan bahwa Rabb nya senantiasa Bersama dia. Rabb nya senantiasa memberikan jalan atas semua ujian dan cobaan yang ada. Hari demi hari yang dilewati, menjadi terasa lebih ringan. Perjalanan berat itu tidak disini, tapi disana di negeri kekal nanti. Tidak usah risau dengan apa yang terlewat disini, Rabb kita tidak akan pernah berbuat dzolim terhadap kita, Tidak akan pernah luput dari perhitungan-Nya setitik pun apa yang telah diperbuat disini. Silakan berhitung, Marilah berhitung, apa yang telah diperbuat? Ingatlah bahwa segalanya tidak akan luput dari perhitungan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkin pernah di suatu masa, kita dihadapkan dengan seseorang yang begitu benci terhadap kita. Segala daya dan upaya, makar dan fitnah mungkin pernah orang itu tujukan kepada kita, tentunya dengan tujuan untuk menjatuhkan kita dari segala sisi. Mungkin terasa sesak dada kita, terasa sempit bumi kita yang kita pijak, hari-hari terasa begitu berat, seolah-olah segalanya tidak ada kebaikan bagi kita. Tapi kita harus selalu ingat bahwasanya tidak akan terjadi semua daya, upaya, makar dan fitnah tersebut kecuali semuanya atas ijin dan kehendak Alloh. Sesungguhnya daya, upaya, makar dan kehendak Alloh lebih besar dan lebih berat dibandingkan dengan daya, upaya, makar dan kehendak manusia. Alloh tidak akan menimpakan sesuatu kecuali kepada hambanya yang Alloh nilai sanggup melewatinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ingatlah, bahwa tidak mungkin meningkat derajat kita jika tanpa ada ujian dan cobaan untuk menaikan tingkat dan derajat kita. Seseorang yang biasa-biasa saja tentunya ujian dan cobaannya pun akan biasa-biasa saja dan tentunya kedudukannya pun ya akan biasa-biasa saja. Lantas seseorang yang dengan ujian dan cobaan yang bertubi-tubi dan berat tentunya kedudukan dan derajat yang dijanjikannya pun akan lebih tinggi. Hendaklah kita senantiasa bersabar, tawakal dan tidak pernah mencela musibah, ujian dan cobaan. Tidaklah Alloh memberikan ketetapan kepada Kita, kecuali akan banyak hikmah dan kebaikan di dalamnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam berbagai keterangan, tidak pernah disebutkan bahwa ujian di dunia ini berat, sesunggunya ujian yang sangat berat itu adanya di negeri kekal nanti. Dunia ini tempatnya untuk mempersiapkan bekal untuk nanti hidup di kekekalan. Lantas jika bekal kita sedikit, apa yang bisa kita harapkan di negeri kekekalan nanti? Mumpung masih diberikan waktu kesempatan, perbanyaklah bekal untuk kehidupan kekal nanti.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berharaplah dan berusahalah untuk selalu bisa menggapai keridhoan Alloh pasti kita akan Bahagia, Janganlah sesekali pun berharap dan berusaha untuk selalu bisa mendapatkan ridho manusia karena niscaya kita akan banyak kecewa. Alloh tidak akan pernah mengecewakan hambanya yang bertaqwa dan terus berupaya menggapai keridoan-Nya. Alloh sangat suka dengan hamba-Nya yang senantiasa meminta, Alloh sangat suka dengan hamba-nya yang senantiasa mengeluhkan dan mencurahkan segala apa yang dirasanya kepada-Nya. Beda hal dengan manusia, semakin kita banyak meminta kepada sesama, semakin banyak kita mengeluh kepada sesama, semakin banyak kita mencurahkan perasaan kepada sesama, dan semakin besar upaya untuk mencari ridho dari sesama, maka siap-siaplah kita akan dikecewakan. Ingatlah, Alloh lah tempat segalanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika pernah dalam kehidupan kita diperlukan tidak adil oleh manusia, diperlakukan sebagai seseorang dengan penuh lumuran dosa dihadapannya, dianggap sebagai seseorang yang munafiq, dianggap sebagai seseorang yang mungkin korup, dianggap sebagai seseorang yang mungkin tidak jujur, dianggap sebagai seseorang yang mungkin tidak loyal dan lain-lainnya dari sekian banyaknya anggapan kejelekan kepada kita (Wal-‘Iyadzubillah). Ingatlah, bahwa sangat sulit untuk mendapatkan keridhoan dari semua umat manusia, berharaplah keridhoan itu datangnya dari Alloh. Tidak mengapa, seseorang menimpakan sedemikian banyak anggapan jelek kepada kita, selama apa yang dituduhkan dan ditimpakan itu tidaklah sesuai dengan kenyataan. Alloh itu tidak pernah tidur. Alloh lebih tahu dengan segalanya. Biarkanlah semua berjalan sesuai dengan ketetapan Alloh, jika kita berada dalam kebenaran tentunya suatu saat nanti kebenaran itu akan nampak, dan patut diingat bahwa tidak akan pernah lepas setitik pun dari perhitungan dari setiap kedzoliman yang pernah dilakukan. Berharaplah selalu sama Alloh, Bersabarlah, Bertawakalah dan teruslah berdoa untuk kebaikan kehidupan kita disini dan disana di negeri kekal kita nanti.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika alloh menginginkan kebaikan untuk kita, Alloh akan tunjukan jalan dari arah mana saja yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh kita. Terkadang mungkin secara nalar tidak masuk di akal kita sebagai manusia biasa. Itulah sesungguhnya pertolongan dan jalan keluar dari Alloh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkin kita pernah merasakan, senantiasa dicibir dengan sikap dan penampilan kita, dikata-katai sok islami, sok alim, sok paling baik, sok paling bener, dan anggapan-anggapan jelek lainnya. Hendaklah kita Kembali mengingat, bahwa tidak akan semua suka dengan yang berupaya menunjukan kebenaran, dengan yang berupaya menunjukan kereligiusan, dengan yang berupaya menunjukan indahnya agama ini. Yang ada di mata, pikiran dan perasaan sebagian mereka bahwa yang demikian itu juga semata-mata hanya demi urusan dunia dan sebatas penampilan. Biarkanlah anggapan mereka seperti itu, tidak mengapa, toh kita berpenampilan seperti yang mereka lihat itu bukanlah untuk tujuan dunia semata, tujuan kita untuk mengejar akhirat kita. Kita ingin baik-baik saja di negeri kekal nanti.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkin suatu ketika, pernah juga kita merasa tidak dihargai dalam segala hal di lingkungan dunia kerja, mungkin disisihkan dan dipaksa untuk menepi. Sekilas mungkin itu sebagai petaka bagi kita, bagamana mungkin kita bisa mencari nafkah sementara kita terpinggirkan dari pekerjaan kita ? Jangan salah, jangan terlalu cepat ambil kesimpulan, ingatlah selalu bahwa rezeqi itu datangnya dari Alloh, Alloh lah yang menanggung hidup kita, Alloh lah yang memberikan rezeqi untuk semua makhluk. Jadi jangan risau tatkala kesulitan mendera dalam pekerjaan kita. Rezeqi itu datang dari Alloh, pekerjaan kita itu hanyalah sebagai sebab antara untuk menggapainya. Jikalau usaha kita sudah maksimal, doa kita pun senantiasa terus terucap, maka bertawakallah… niscaya Alloh yang akan perbaiki urusan kita dengan cara yang belum tentu masuk di nalar kita sebagai manusia biasa, pertolongan Alloh akan datang dari arah yang tidak disangka-sangka dan dari apa yang tidak bisa diperkirakan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berdoalah terus agar senantiasa kita dijauhkan dari orang-orang yang senantiasa berbuat dzolim, dan berusahalah juga untuk senantiasa mendoakan mereka yang masih bergelimang dengan kedzoliman, untuk bisa segera kembali menapaki jalan kebenaran. Sesungguhnya mereka belum menyadari bahwa Alloh sedang menguji mereka dengan ujian dan cobaan yang ada di tangan-tangan mereka, dunianya, kekuasaannya dan juga hal-hal lainnya. Alloh maha pengasih dan maha penyayang, jika kita segera Kembali maka sesungguhnya ampunan Alloh sangatlah luas. Namun jika kita tetap dengan kedzoliman-kedzoliman yang ada, maka ingatlah sesungguhnya siksaan Alloh pun sangatlah pedih (Wal-‘Iyadzubillah).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak perlu mendoakan sesama dengan doa-doa kejelekan agar terbalaskan sakit kita, cukuplah berdoa agar kita dimampukan untuk melewatinya dan dimampukan untuk mengambil pelajaran dari apa yang telah kita lalui, serta doakan agar mereka yang berada di jalan yang tidak seharusnya itu segera bisa Kembali ke jalan yang lurus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Akan indah pada waktunya nanti, percayalah…</p>



<p class="wp-block-paragraph">Alloh tidak pernah dzolim terhadap hambanya, yakinlah…</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kasih Sayangnya Alloh terhadap hamba-Nya, melebihi kasih sayang kedua orang tua terhadap anaknya…</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sangatlah luas kasih sayang dan ampunan Alloh…</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kembalilah selagi bisa…</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kembalilah selagi masih diberikan waktu…</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bergegaslah selagi masih ada kesempatan…</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penyesalan itu akan datang belakangan…</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sesal di Akhir tentulah tiada guna…</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bersabarlah, ujian dan cobaan di dunia ini hanyalah sebentar. Ambil sedikit saja dari dunia ini. Kejarlah akhirat kita, niscaya Alloh akan berikan akhirat dan dunia untuk kita. Namun jika sebaliknya, maka sesungguhnya kita tidak akan pernah mendapatkan kebaikan dari sisi manapun juga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cukupkan tulisan ini sebagai sebuah catatan dan dalam rangka mengambil pelajaran.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita panjatkan do&#8217;a untuk mengakhiri majlis kita (<a href="https://www.youtube.com/shorts/cA3qFegIcT8">https://www.youtube.com/shorts/cA3qFegIcT8</a>), semoga keberkahan senantiasa menghampiri kita, Aamiin&#8230;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Walhamdulillah… </p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://abuannisa.wordpress.com/2025/04/21/ketetapan-alloh-itu-yang-terbaik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">388</post-id>
		<media:content url="https://0.gravatar.com/avatar/9010ec22bec8a35089ce0678609d38a0007cbacfa08a2f5f2514e4aecbc7194d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abuannisa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sholat Tarawih</title>
		<link>https://abuannisa.wordpress.com/2023/03/27/sholat-tarawih/</link>
					<comments>https://abuannisa.wordpress.com/2023/03/27/sholat-tarawih/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[abuannisa]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 27 Mar 2023 07:14:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://abuannisa.wordpress.com/?p=517</guid>

					<description><![CDATA[Tarawih dalam bahasa Arab adalah bentuk jama’ dari yang berarti waktu sesaat untuk istirahat. (Lisanul ‘Arab, 2/462 dan Fathul Bari, 4/294) dan pada bulan Ramadhan dinamakan demikian karena para jamaah beristirahat setelah melaksanakan shalat tiap-tiap 4 rakaat. (Lisanul ‘Arab, 2/462) Shalat yang dilaksanakan secara berjamaah pada malam-malam bulan Ramadhan dinamakan tarawih. (Syarh Shahih Muslim, 6/39 &#8230; <a href="https://abuannisa.wordpress.com/2023/03/27/sholat-tarawih/">Baca lebih lanjut <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Tarawih dalam bahasa Arab adalah bentuk jama’ dari</p>



<p class="wp-block-paragraph">yang berarti waktu sesaat untuk istirahat. (Lisanul ‘Arab, 2/462 dan Fathul Bari, 4/294)</p>



<p class="wp-block-paragraph">dan</p>



<p class="wp-block-paragraph">pada bulan Ramadhan dinamakan demikian karena para jamaah beristirahat setelah melaksanakan shalat tiap-tiap 4 rakaat. (Lisanul ‘Arab, 2/462)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Shalat yang dilaksanakan secara berjamaah pada malam-malam bulan Ramadhan dinamakan tarawih. (Syarh Shahih Muslim, 6/39 dan Fathul Bari, 4/294). Karena para jamaah yang pertama kali bekumpul untuk shalat tarawih beristirahat setelah dua kali salam (yaitu setelah melaksanakan 2 rakaat ditutup dengan salam kemudian mengerjakan 2 rakaat lagi lalu ditutup dengan salam). (Lisanul ‘Arab, 2/462 dan Fathul Bari, 4/294)</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Hukum Shalat Tarawih</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Hukum shalat tarawih adalah mustahab (sunnah), sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Imam An-Nawawi rahimahullah ketika menjelaskan tentang sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Barangsiapa menegakkan Ramadhan dalam keadaan beriman dan mengharap balasan dari Allah ta’ala , niscaya diampuni dosa yang telah lalu.” (Muttafaqun ‘alaih)</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Yang dimaksud dengan qiyamu Ramadhan adalah shalat tarawih dan ulama telah bersepakat bahwa shalat tarawih hukumnya mustahab (sunnah).” (Syarh Shahih Muslim, 6/282). Dan beliau menyatakan pula tentang kesepakatan para ulama tentang sunnahnya hukum shalat tarawih ini dalam Syarh Shahih Muslim (5/140) dan Al-Majmu’ (3/526).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menafsirkan qiyamu Ramadhan dengan shalat tarawih maka Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah memperjelas kembali tentang hal tersebut: “Maksudnya bahwa qiyamu Ramadhan dapat diperoleh dengan melaksanakan shalat tarawih dan bukanlah yang dimaksud dengan qiyamu Ramadhan hanya diperoleh dengan melaksanakan shalat tarawih saja (dan meniadakan amalan lainnya).” (Fathul Bari, 4/295)</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Mana yang lebih utama dilaksanakan secara berjamaah di masjid atau sendiri-sendiri di rumah?</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam masalah ini terdapat dua pendapat:</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pendapat pertama, yang utama adalah dilaksanakan secara berjamaah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ini adalah pendapat Al-Imam Asy-Syafi’i dan sebagian besar sahabatnya, juga pendapat Abu Hanifah dan Al-Imam Ahmad (Masaailul Imami Ahmad, hal. 90) dan disebutkan pula oleh Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni (2/605) dan Al-Mirdawi dalam Al-Inshaf (2/181) serta sebagian pengikut Al-Imam Malik dan lainnya, sebagaimana yang telah disebutkan Al-Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim (6/282).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pendapat ini merupakan pendapat jumhur ulama (Al-Fath, 4/297) dan pendapat ini pula yang dipegang Asy-Syaikh Nashiruddin Al-Albani rahimahullah, beliau berkata: “Disyariatkan shalat berjamaah pada qiyam bulan Ramadhan, bahkan dia (shalat tarawih dengan berjamaah) lebih utama daripada (dilaksanakan) sendirian…” (Qiyamu Ramadhan, hal.19-20).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pendapat kedua, yang utama adalah dilaksanakan sendiri-sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pendapat kedua ini adalah pendapat Al-Imam Malik dan Abu Yusuf serta sebagian pengikut Al-Imam Asy-Syafi’i. Hal ini sebutkan pula oleh Al-Imam An-Nawawi (Syarh Shahih Muslim, 6/282).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Adapun dasar masing-masing pendapat tersebut adalah sebagai berikut:</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dasar pendapat pertama:</p>



<p class="wp-block-paragraph">1. Hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha beliau berkata:</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada suatu malam shalat di masjid lalu para shahabat mengikuti shalat beliau, kemudian pada malam berikutnya (malam kedua) beliau shalat maka manusia semakin banyak (yang mengikuti shalat Nabi), kemudian mereka berkumpul pada malam ketiga atau malam keempat. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak keluar pada mereka, lalu ketika pagi harinya beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda: ‘Sungguh aku telah melihat apa yang telah kalian lakukan, dan tidaklah ada yang mencegahku keluar kepada kalian kecuali sesungguhnya aku khawatir akan diwajibkan pada kalian,’ dan (peristiwa) itu terjadi di bulan Ramadhan.” (Muttafaqun ‘alaih)</p>



<p class="wp-block-paragraph">• Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Dalam hadits ini terkandung bolehnya shalat nafilah (sunnah) secara berjamaah akan tetapi yang utama adalah shalat sendiri-sendiri kecuali pada shalat-shalat sunnah yang khusus seperti shalat ‘Ied dan shalat gerhana serta shalat istisqa’, dan demikian pula shalat tarawih menurut jumhur ulama.” (Syarh Shahih Muslim, 6/284 dan lihat pula Al-Majmu’, 3/499;528)</p>



<p class="wp-block-paragraph">• Tidak adanya pengingkaran Nabi shallallahu alaihi wasallam terhadap para shahabat yang shalat bersamanya (secara berjamaah) pada beberapa malam bulan Ramadhan. (Al-Fath, 4/297 dan Al-Iqtidha’, 1/592)</p>



<p class="wp-block-paragraph">2. Hadits Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Sesungguhnya seseorang apabila shalat bersama imam sampai selesai maka terhitung baginya (makmum) qiyam satu malam penuh.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Majah)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hadits ini dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan Abi Dawud (1/380). Berkenaan dengan hadits di atas, Al-Imam Ibnu Qudamah mengatakan: “Dan hadits ini adalah khusus pada qiyamu Ramadhan (tarawih).” (Al-Mughni, 2/606)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata: “Apabila permasalahan seputar antara shalat (tarawih) yang dilaksanakan pada permulaan malam secara berjamaah dengan shalat (yang dilaksanakan) pada akhir malam secara sendiri-sendiri maka shalat (tarawih) dengan berjamaah lebih utama karena terhitung baginya qiyamul lail yang sempurna.” (Qiyamu Ramadhan, hal. 26)</p>



<p class="wp-block-paragraph">3. Perbuatan ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu dan para shahabat lainnya radiyallahu ‘anhum ‘ajma’in (Syarh Shahih Muslim, 6/282), ketika ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu melihat manusia shalat di masjid pada malam bulan Ramadhan, maka sebagian mereka ada yang shalat sendirian dan ada pula yang shalat secara berjamaah kemudian beliau mengumpulkan manusia dalam satu jamaah dan dipilihlah Ubai bin Ka’b radhiyallahu ‘anhu sebagai imam (lihat Shahih Al-Bukhari pada kitab Shalat Tarawih).</p>



<p class="wp-block-paragraph">4. Karena shalat tarawih termasuk dari syi’ar Islam yang tampak maka serupa dengan shalat ‘Ied. (Syarh Shahih Muslim, 6/282)</p>



<p class="wp-block-paragraph">5. Karena shalat berjamaah yang dipimpin seorang imam lebih bersemangat bagi keumuman orang-orang yang shalat. (Fathul Bari, 4/297)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalil pendapat kedua:</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hadits dari shahabat Zaid bin Tsabit, sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Wahai manusia, shalatlah di rumah kalian! Sesungguhnya shalat yang paling utama adalah shalatnya seseorang yang dikerjakan di rumahnya kecuali shalat yang diwajibkan.” (Muttafaqun ‘alaih)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan hadits inilah mereka mengambil dasar akan keutamaan shalat tarawih yang dilaksanakan di rumah dengan sendiri-sendiri dan tidak dikerjakan secara berjamaah. (Nashbur Rayah, 2/156 dan Syarh Shahih Muslim, 6/282)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pendapat yang rajih (kuat) dalam masalah ini adalah pendapat pertama karena hujjah-hujjah yang telah tersebut di atas. Adapun jawaban pemegang pendapat pertama terhadap dasar yang digunakan oleh pemegang pendapat kedua adalah:</p>



<p class="wp-block-paragraph">• Bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wasallam memerintahkan para shahabat untuk mengerjakan shalat malam pada bulan Ramadhan di rumah mereka (setelah para shahabat sempat beberapa malam mengikuti shalat malam secara berjamaah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam), karena kekhawatiran beliau shallallahu alaihi wasallam akan diwajibkannya shalat malam secara berjamaah (Fathul Bari, 3/18) dan kalau tidak karena kekhawatiran ini niscaya beliau akan keluar menjumpai para shahabat (untuk shalat tarawih secara berjamaah) (Al-Iqtidha’, 1/594). Dan sebab ini (kekhawatiran beliau shallallahu alaihi wasallam akan menjadi wajib) sudah tidak ada dengan wafatnya Nabi n. (Al-‘Aun, 4/248 dan Al-Iqtidha’, 1/595), karena dengan wafatnya beliau shallallahu alaihi wasallam maka tidak ada kewajiban yang baru dalam agama ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan demikian maka pemegang pendapat pertama telah menjawab terhadap dalil yang digunakan pemegang pendapat kedua. Wallahu a’lam.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Waktu Shalat Tarawih</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Waktu shalat tarawih adalah antara shalat ‘Isya hingga terbit fajar sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam:</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Sesungguhnya Allah telah menambah shalat pada kalian dan dia adalah shalat witir. Maka lakukanlah shalat witir itu antara shalat ‘Isya hingga shalat fajar.” (HR. Ahmad, Asy-Syaikh Nashiruddin Al-Albani rahimahullah berkata: “(Hadits) ini sanadnya shahih”, sebagaimana dalam Ash-Shahihah, 1/221 no.108)</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Jumlah Rakaat dalam Shalat Tarawih</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian untuk jumlah rakaat dalam shalat tarawih adalah 11 rakaat berdasarkan:</p>



<p class="wp-block-paragraph">1. Hadits yang diriwayatkan dari Abu Salamah bin ‘Abdurrahman, beliau bertanya pada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang sifat shalat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada bulan Ramadhan, beliau menjawab:</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Tidaklah (Rasulullah) melebihkan (jumlah rakaat) pada bulan Ramadhan dan tidak pula pada selain bulan Ramadhan dari 11 rakaat.” (HR. Al-Imam Al-Bukhari)</p>



<p class="wp-block-paragraph">‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam hadits di atas mengisahkan tentang jumlah rakaat shalat malam Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang telah beliau saksikan sendiri yaitu 11 rakaat, baik di bulan Ramadhan atau bulan lainnya. “Beliaulah yang paling mengetahui tentang keadaan Nabi shallallahu alaihi wasallam di malam hari dari lainnya.” (Fathul Bari, 4/299)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Asy-Syaikh Nashiruddin Al-Albani rahimahullah berkata: “(Jumlah) rakaat (shalat tarawih) adalah 11 rakaat, dan kami memilih tidak lebih dari (11 rakaat) karena mengikuti Rasulullah, maka sesungguhnya beliau shallallahu alaihi wasallam tidak melebihi 11 rakaat sampai beliau shallallahu alaihi wasallam wafat.” (Qiyamu Ramadhan, hal. 22)</p>



<p class="wp-block-paragraph">2. Dari Saaib bin Yazid beliau berkata:</p>



<p class="wp-block-paragraph">“’Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu memerintahkan pada Ubai bin Ka’b dan Tamim Ad-Dari untuk memimpin shalat berjamaah sebanyak 11 rakaat.” (HR. Al-Imam Malik, lihat Al-Muwaththa Ma’a Syarh Az-Zarqani, 1/361 no. 249)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Asy-Syaikh Nashiruddin Al-Albani rahimahullah berkata dalam Al-Irwa (2/192) tentang hadits ini: “(Hadits) ini isnadnya sangat shahih.” Asy-Syaikh Muhammad Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Dan (hadits) ini merupakan nash yang jelas dan perintah dari ‘Umar, dan (perintah itu) sesuai dengannya radhiyallahu ‘anhu karena beliau termasuk manusia yang paling bersemangat dalam berpegang teguh dengan As Sunnah, apabila Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak melebihkan dari 11 rakaat maka sesungguhnya kami berkeyakinan bahwa ‘Umar radhiyallahu ‘anhu akan berpegang teguh dengan jumlah ini (yaitu 11 rakaat).” (Asy-Syarhul Mumti’)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Adapun pendapat yang menyatakan bahwa shalat tarawih itu jumlahnya 23 rakaat adalah pendapat yang lemah karena dasar yang digunakan oleh pemegang pendapat ini hadits-hadits yang lemah. Di antara hadits-hadits tersebut:</p>



<p class="wp-block-paragraph">1. Dari Yazid bin Ruman beliau berkata:</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Manusia menegakkan (shalat tarawih) di bulan Ramadhan pada masa ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu 23 rakaat.” (HR. Al-Imam Malik, lihat Al-Muwaththa Ma’a Syarh Az-Zarqaani, 1/362 no. 250)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Al-Imam Al-Baihaqi rahimahullah berkata: “Yazid bin Ruman tidak menemui masa ‘Umar radiyallahu ‘anhu”. (Nukilan dari kitab Nashbur Rayah, 2/154) (maka sanadnya munqothi/terputus, red).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Asy-Syaikh Nashiruddin Al-Albani rahimahullah men-dha’if-kan hadits ini sebagaimana dalam Al-Irwa (2/192 no. 446).</p>



<p class="wp-block-paragraph">2. Dari Abu Syaibah Ibrahim bin ‘Utsman dari Hakam dari Miqsam dari Ibnu ‘Abbas radiyallahu ‘anhu :</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasallam shalat di bulan Ramadhan 20 rakaat dan witir.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Awsath, 5/324 no. 5440 dan 1/243 no. 798, dan dalam Al-Mu’jamul Kabir, 11/311 no. 12102)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Al-Imam Ath-Thabrani rahimahullah berkata: “Tidak ada yang meriwayatkan hadits ini dari Hakam kecuali Abu Syaibah dan tidaklah diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas kecuali dengan sanad ini saja.” (Al-Mu’jamul Ausath, 1/244)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam kitab Nashbur Rayah (2/153) dijelaskan: “Abu Syaibah Ibrahim bin ‘Utsman adalah perawi yang lemah menurut kesepakatan, dan dia telah menyelisihi hadits yang shahih riwayat Abu Salamah, sesungguhnya beliau bertanya pada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha : “Bagaimana shalat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di bulan Ramadhan? (yaitu dalil pertama dari pendapat yang pertama).” Asy-Syaikh Nashiruddin Al-Albani rahimahullah menyatakan bahwa hadits ini maudhu’ (palsu). (Adh-Dha’ifah, 2/35 no. 560 dan Al-Irwa, 2/191 no. 445)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai penutup kami mengingatkan tentang kesalahan yang terjadi pada pelaksanaan shalat tarawih yaitu dengan membaca dzikir-dzikir atau doa-doa tertentu yang dibaca secara berjamaah pada tiap-tiap dua rakaat setelah salam. Amalan ini adalah amalan yang bid’ah (tidak diajarkan oleh nabi shallallahu ‘alaihi wassallam).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Wallahu a’lam</p>



<p class="wp-block-paragraph">(Dikutip dari tulisan al Ustadz Hariyadi, Lc, judul asli Shalat Tarawih. URL Sumber <a href="http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&#038;id_online=301" rel="nofollow">http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&#038;id_online=301</a>)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Link Sumber : <a href="https://salafy.or.id/shalat-tarawih" rel="nofollow">https://salafy.or.id/shalat-tarawih</a> </p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://abuannisa.wordpress.com/2023/03/27/sholat-tarawih/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">517</post-id>
		<media:content url="https://0.gravatar.com/avatar/9010ec22bec8a35089ce0678609d38a0007cbacfa08a2f5f2514e4aecbc7194d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abuannisa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Keistimewaan Bulan Ramadhan, Keutamaan dan Manfaat Puasa</title>
		<link>https://abuannisa.wordpress.com/2023/03/16/keistimewaan-bulan-ramadhan-keutamaan-dan-manfaat-puasa/</link>
					<comments>https://abuannisa.wordpress.com/2023/03/16/keistimewaan-bulan-ramadhan-keutamaan-dan-manfaat-puasa/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[abuannisa]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 16 Mar 2023 02:55:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://abuannisa.wordpress.com/?p=514</guid>

					<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah ta’ala Dzat yang telah memberikan anugerah, taufiq dan kenikmatan. Dia-lah yang telah mensyari’atkan kepada hamba-Nya pada bulan Ramadhan untuk melaksanakan ibadah puasa dan menegakkan pada malam harinya ibadah shalat malam (shalat tarawih). Syari’at ini satu kali dalam tiap tahunnya. Allah ta’ala telah menjadikan syariat puasa tersebut sebagai salah satu rukun Islam &#8230; <a href="https://abuannisa.wordpress.com/2023/03/16/keistimewaan-bulan-ramadhan-keutamaan-dan-manfaat-puasa/">Baca lebih lanjut <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Segala puji bagi Allah ta’ala Dzat yang telah memberikan anugerah, taufiq dan kenikmatan. Dia-lah yang telah mensyari’atkan kepada hamba-Nya pada bulan Ramadhan untuk melaksanakan ibadah puasa dan menegakkan pada malam harinya ibadah shalat malam (shalat tarawih). Syari’at ini satu kali dalam tiap tahunnya. Allah ta’ala telah menjadikan syariat puasa tersebut sebagai salah satu rukun Islam dan pondasinya yang agung serta menjadikannya sebagai pembersih jiwa dari kotoran dosa-dosa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Shalawat serta salam tak lupa kita sampaikan kepada Nabi Muhammad yang Allah ta’ala telah memilihnya (di antara hamba-hamba-Nya) untuk menjelaskan hukum-hukum Allah dan menyampaikan syariat Allah Ta’ala kepada manusia. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah seorang yang paling baik dalam hal puasa dan shalat malamnya. Dan memang beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah seorang yang dapat menyempurnakan peribadahan kepada Allah serta beristiqamah di atasnya. Shalawat serta salam tak lupa kita sampaikan pula kepada keluarganya dan para sahabatnya yang mulia serta kepada segenap pengikutnya yang mengikuti jejak langkah beliau dengan baik. Amma ba’du.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sesungguhnya Allah ta’ala telah mewajibkan syariat puasa kepada setiap umat walaupun di sana terdapat perbedaan dalam hal bentuk pelaksanaan dan waktunya. Allah ta’ala berfirman</p>



<p class="wp-block-paragraph">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ</p>



<p class="wp-block-paragraph">Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan berpuasa atas kalian sebagaimana telah diwajibkan atas umat-umat sebelum kalian agar kalian bertakwa. (Al Baqarah: 183)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada tahun kedua hijriyyah, Allah ta’ala mewajibkan kepada umat ini puasa Ramadhan yang diwajibkan kepada setiap muslim yang baligh. Jika seseorang berada pada kondisi sehat dan mukim (tidak dalam keadaan safar), maka wajib baginya melaksanakan puasa tersebut. Jika seseorang sedang dalam keadaan mukim namun sakit (boleh baginya untuk tidak berpuasa) wajib atasnya untuk mengganti hari-hari puasa yang dia tinggalkan. Demikian pula dengan keadaan seorang wanita yang sedang dalam keadaan haid dan nifas, wajib baginya untuk mengganti hari-hari puasa yang dia tinggalkan. Dan kalau seseorang tersebut dalam kondisi sehat dan sedang melakukan perjalanan (safar), maka dia mendapatkan keringanan antara tetap berpuasa atau tidak berpuasa dengan menggantinya pada hari yang lain.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Allah subhanahu wata’ala telah memerintahkan untuk berpuasa selama satu bulan penuh mulai dari awal sampai akhir bulan. Dan Allah Ta’ala telah memberikan batasan awal mulainya puasa dengan batasan yang jelas yang tidak tersamarkan oleh seorangpun yaitu dengan ru’yatul hilal (melihat hilal) atau menyempurnakan jumlah hari pada bulan Sya’ban menjadi 30 hari, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam</p>



<p class="wp-block-paragraph">Janganlah kalian berpuasa sampai kalian melihat hilal, dan janganlah kalian beridul fithri sampai kalian melihat hilal. Maka jika langit terlihat mendung sehingga hilal tidak nampak maka tentukanlah..(Muttafqun ‘Alaihi).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagaimana Allah ta’ala telah memberikan batasan hari dimulainya awal puasa dengan batasan yang jelas, Allah ta’ala juga telah menjadikan batasan yang jelas kapan saat dimulainya berpuasa yaitu sejak terbitnya fajar yang kedua, dan memberikan batasan akhir puasa (berbuka) adalah dengan terbenamnya matahari. Sebagaimana firman Allah ta’ala</p>



<p class="wp-block-paragraph">ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ ۚ</p>



<p class="wp-block-paragraph">Makan dan minumlah kalian sampai jelas bagi kalian perbedaan antara benang putih dan benang yang hitam, yaitu fajar, kemudian sempurnakanlah puasa sampai malam.(Al Baqarah: 187)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan bentuk dan waktu pelaksanaan seperti ini Allah ta’ala telah menetapkan kewajibannya secara pasti dalam firman-Nya</p>



<p class="wp-block-paragraph">فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ</p>



<p class="wp-block-paragraph">Maka barangsiapa di antara kalian menyaksikan (hadir di negerinya) bulan Ramadhan maka wajib atas untuk berpuasa. (Al Baqarah: 185)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Puasa merupakan salah satu rukun dari rukun-rukun Islam. Maka barangsiapa yang menentang dan mengingkari kewajibannya maka sungguh dia telah keluar dari agama Islam (kafir) dan wajib atasnya untuk dimintai taubat. Jika dia mau bertaubat maka diterima kembali keislamannya, dan jika dia tidak mau bertaubat maka dia dibunuh sebagai hukuman atas kekafirannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Barangsiapa yang meyakini kewajiban puasa dan dia sengaja berbuka dengan tanpa ‘udzur (alasan) yang syar’i (dibenarkan oleh syari’at) maka sungguh dia telah melakukan salah satu bentuk dosa besar yang dia berhak untuk mendapatkan celaan dan hukuman.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Inilah wahai para pembaca sekalian, Allah ta’ala telah memberikan keistimewaan pada bulan Ramadhan ini dengan keistimewaan yang banyak dibandingkan dengan bulan-bulan yang lainnya. Dan Allah ta’ala juga mengkhususkan ibadah puasa merupakan bentuk ketaatan yang memiliki keutamaan yang sangat banyak, faidah-faidah yang bermanfaat, dan adab-adab yang mulia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keistimewaan Bulan Ramadhan</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan termasuk dari keistimewaan-keistimewaan bulan Ramadhan adalah sebagai berikut:</p>



<p class="wp-block-paragraph">1. Pada bulan tersebut diwajibkannya puasa Ramadhan. Puasa Ramadhan merupakan rukun keempat dari rukun-rukun Islam dan merupakan pondasi Islam yang agung, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:</p>



<p class="wp-block-paragraph">Islam dibangun di atas 5 pondasi (rukun) : Persaksian bahwasanya tidak ada Ilah yang berhak diibadahi kecuali hanya Allah dan bahwasanya Muhammad adalah Rasulullah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan melaksanakan haji ke Baitullah.(Muttafaqun ‘Alaihi)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal ini termasuk dari perkara agama yang telah diketahui secara umum dan telah disepakati oleh kaum muslimin seluruhnya bahwasanya ibadah puasa termasuk dari ibadah yang wajib dari kewajiban-kewajiban yang Allah ta’ala tetapkan kepada setiap muslim.</p>



<p class="wp-block-paragraph">2. Kewajiban melaksanakan ibadah puasa Ramadhan atas umat ini bersifat fardhu ‘ain, yaitu wajib bagi setiap individu muslim untuk melaksanakannya. Berdasarkan firman Allah ta’ala:</p>



<p class="wp-block-paragraph">فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ</p>



<p class="wp-block-paragraph">Maka barangsiapa diantara kalian menyaksikan (hadir di negerinya) bulan Ramadhan maka wajib baginya untuk berpuasa. (Al Baqarah: 185)</p>



<p class="wp-block-paragraph">3. Pada bulan tersebut diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan (kesesatan) kepada cahaya (petunjuk), menunjuki manusia kepada jalan kebenaran dan bimbingan yang mulia, serta akan menjauhkan manusia dari jalan yang menyimpang dan penuh kesesatan. Dengan Al Qur’an tersebut juga akan memberikan bashirah (ilmu) pada perkara-perkara agama dan dunia mereka dengan jaminan mereka akan mendapatkan kebahagiaan dan kemenangan, baik yang disegerakan di dunia ataupun baru diberikan ketika di akhirat kelak. Allah ta’ala berfirman</p>



<p class="wp-block-paragraph">شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bulan Ramadhan yang telah diturunkan di dalamnya Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan sebagai penjelas dari petunjuk dan pembeda. (Al Baqarah: 185)</p>



<p class="wp-block-paragraph">4. Pada bulan tersebut dibuka pintu-pintu Al Jannah karena banyaknya amalan-amalan shalih yang disyariatkan pada bulan Ramadhan yang akan memasukkan pelakunya ke dalam Al Jannah. Dan pada bulan tersebut ditutup pintu-pintu An Naar karena sedikitnya orang yang berbuat maksiat dan dosa-dosa yang akan memasukkan pelakunya ke dalam An Naar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">5. Pada bulan tersebut para setan dibelenggu dan diikat sehingga kekuatannya menjadi lemah untuk bisa menyesatkan orang-orang yang taat dan memalingkan mereka dari amalan yang shalih. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika telah datang bulan Ramadhan dibukalah pintu-pintu Al Jannah dan ditutuplah pintu-pintu An Naar dan para setan dibelenggu. (HR. Bukhari, Muslim, An Nasa’i).</p>



<p class="wp-block-paragraph">6. Pada bulan tersebut Allah ta’ala memiliki hamba-hamba yang akan dibebaskan dari An-Naar. berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sesungguhnya Allah tabaraka wata’ala setiap kali saat berbuka memiliki hamba-hamba yang berhak untuk dibebaskan dari An Naar, yang demikian itu terjadi pada setiap malam. (HR. Ibnu Majah, Ahmad, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani).</p>



<p class="wp-block-paragraph">7. Pada bulan tersebut Allah Ta’ala melimpahkan ampunan kepada orang-orang yang melaksanakan puasa Ramadhan atas dasar keimanan yang jujur dan mengharapkan pahala di sisi Allah ta’ala berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam</p>



<p class="wp-block-paragraph">Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan atas dasar keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah Ta’ala maka dia akan diampuni dari dosa-dosanya yang telah lalu. (Muttafaqun ‘Alaihi).</p>



<p class="wp-block-paragraph">8. Pada bulan tersebut disunnahkan untuk melaksanakan ibadah shalat tarawih dalam rangka mengikuti sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda</p>



<p class="wp-block-paragraph">Barangsiapa yang menegakkan shalat malam (tarawih) pada bulan Ramadhan atas dasar keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah Ta’ala maka dia akan diampuni dari dosa-dosanya yang telah lalu. (Muttafaqun ‘Alaihi).</p>



<p class="wp-block-paragraph">9. Pada bulan tersebut terdapat satu malam yang lebih baik dari 1000 bulan dan barangsiapa yang dia menghidupkan malam tersebut maka dia akan mendapatkan ampunan dari Allah ta’ala, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sesungguhnya bulan (Ramadhan) ini telah datang kepada kalian, di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Barangsiapa yang diharamkan dari mendapatkan malam tersebut maka sungguh dia telah diharamkan dari kebaikan seluruhnya, dan tidaklah diharamkan dari mendapatkan kebaikan malam tersebut kecuali mereka yang memang orang yang diharamkan untuk mendapatkannya.(HR. Ibnu Majah, Asy-Syaikh Al-Albani mengatakan: hasan shahih).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam</p>



<p class="wp-block-paragraph">Barangsiapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadr atas dasar keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah Ta’ala maka dia akan diampuni dari dosa-dosanya yang telah lalu.(Muttafaqun ‘Alaihi)</p>



<p class="wp-block-paragraph">10. Bahwasanya ibadah puasa Ramadhan yang dilakukan pada tahun ini dan tahun sebelumnya akan menghapuskan dosa-dosa kecil yang dilakukan di antara keduanya dengan syarat dia harus menjauhi dosa-dosa besar, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam</p>



<p class="wp-block-paragraph">Shalat-shalat yang lima waktu, shalat Jum’at yang satu ke Jum’at yang berikutnya, dan puasa Ramadhan yang satu ke Ramadhan berikutnya akan menghapuskan dosa-dosa kecil di antara keduanya jika ia meninggalkan dosa-dosa besar. (HR. Muslim, Ahmad).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lebih dari itu, yang menunjukkan keistimewaan bulan Ramadhan, bahwasanya pada bulan tersebut pernah terjadi beberapa peristiwa penting :</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti perang Badr Kubra yang dengannya terbedakan antara Al-Haq dengan Al-Bathil. Pada perang tersebut Allah ta’ala menolong Islam dan kaum muslimin serta menghancurkan kesyirikan dan kaum musyrikin. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun kedua Hijriyyah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Demikian pula pada bulan Ramadhan terjadi Fathu Makkah dan ketika itu manusia masuk ke dalam Islam secara berbondong-bondong, dihancurkannya kesyirikan dan patung-patung berhala dengan keutamaan dari Allah Ta’ala. Maka sejak saat itulah kota Makkah menjadi negeri kaum muslimin setelah sebelumnya menjadi sarang kesyirikan dan kaum musyrikin. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun kedelapan Hijriyyah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Demikian pula pada bulan Ramadhan tahun 584 Hijriyyah, Allah ta’ala memberikan pertolongan-Nya kepada kaum muslimin di medan pertempuran Hithin dan berhasil mengalahkan kaum salibis (Nasrani) pada pertempuran tersebut, sehingga Baitul Maqdis kembali ke pangkuan kaum muslimin.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan juga pada bulan Ramadhan tahun 658 Hijriyah, Allah Ta’ala memberikan pertolongan kepada kaum muslimin untuk mengalahkan sejumlah besar pasukan Tartar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Inilah gambaran secara umum dari keistimewaan bulan Ramadhan dan keutamaan-keutamaannya yang banyak serta barakahnya yang melimpah. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keutamaan-keutamaan Puasa</p>



<p class="wp-block-paragraph">Adapun keutamaan puasa banyak sekali, di antaranya adalah:</p>



<p class="wp-block-paragraph">1. Dilipatgandakannya kebaikan (pahala) suatu amalan padanya dengan tanpa batas pada jumlah/bilangan tertentu. Sementara amalan-amalan yang lain dilipatgandakan pahalanya oleh Allah ta’ala hanya sebanyak 10 sampai 700 kali lipat. Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setiap amalan anak Adam dilipatgandakan pahalanya sebanyak 10 sampai 700 kali lipat sampai pada yang dikehendaki oleh Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman : “Kecuali puasa, maka sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku-lah yang akan membalasnya. Dia (hamba) meninggalkan syahwat, makan, dan minumnya karena Aku.” Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan: gembira ketika berbuka dan gembira ketika bertemu dengan Rabbnya. Dan sungguh bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah adalah lebih harum dari semerbak minyak wangi misik. (HR. Ibnu Majah, dishahihkan Asy Syaikh Al-Albani).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Maka jelaslah dari hadits ini bahwasanya Allah mengkhususkan puasa untuk diri-Nya daripada amalan-amalan yang lain. Dan Allah mengkhususkan amalan puasa tersebut dengan dilipatgandakannya pahala suatu amalan -sebagaimana yang telah lalu-, dan bahwasanya keikhlasan dalam puasa adalah jauh lebih mendalam nilainya dibanding amalan-amalan yang lain, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dia meninggalkan syahwat, makan, dan minumnya karena Aku (Allah).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagaimana pula Allah subhanahu wata’ala memberikan balasan berikutnya bagi orang yang berpuasa dengan kegembiraan di dunia dan akhirat yaitu kegembiraan yang terpuji dikarenakan dia telah melaksanakan ketaatan kepada Allah ta’ala, sebagaimana yang telah diisyaratkan dalam ayat-Nya</p>



<p class="wp-block-paragraph">قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ</p>



<p class="wp-block-paragraph">Katakanlah dengan keutamaan Allah dan rahmat-Nya maka dengan itu bergembiralah kalian. (Yunus: 58)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagaimana diambil pula faidah bahwa suatu ketaatan yang bisa menimbulkan pengaruh tertentu, maka itu menunjukkan sesuatu yang dicintai oleh Allah ta’ala, sebagai misal adalah apa yang didapatkan dari orang yang berpuasa dari bau mulutnya yang berubah dengan sebab puasa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">2. Di antara keutamaan puasa adalah bahwasanya puasa akan memberikan syafa’at kepada seorang hamba pada hari kiamat dan akan menutupinya dari dosa-dosa dan syahwat yang membahayakan serta akan menjaganya dari An-Naar, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam</p>



<p class="wp-block-paragraph">Puasa dan Al Qur’an keduanya akan memberikan syafa’at kepada seorang hamba pada hari kiamat, Puasa berkata :: Wahai Rabbku aku telah menahannya dari makanan dan syahwat, maka berilah syafa’at kepadanya. Al Qur’an juga berkata : Aku telah menahannya dari tidur pada malam hari maka berilah syafa’at kepadanya. Maka keduanya diberi izin oleh Allah untuk memberikan syafaat.(HR. Ahmad, dishahihkan Asy Syaikh Al Albani).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda</p>



<p class="wp-block-paragraph">Puasa adalah sebagai tameng dan akan membentengi pelakunya dari An Naar. (HR. Ahmad, dishahihkan Asy Syaikh Al Albani).</p>



<p class="wp-block-paragraph">3. Dan di antara keutamaan puasa adalah bahwasanya doa orang yang berpuasa itu dikabulkan oleh Allah ta’ala, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan sesungguhnya bagi setiap muslim pada setiap siang dan malam memiliki doa yang dikabulkan oleh Allah ta’ala. (HR. Ahmad, dishahihkan Asy Syaikh Al Albani).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan telah disebutkan pada pertengahan ayat-ayat puasa (yakni Al Baqarah ayat 183 sampai 187) yang memberikan dorongan kepada orang yang berpuasa untuk memperbanyak doa dalam firman-Nya</p>



<p class="wp-block-paragraph">وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan jika hamba-Ku bertanya kepadamu tentang-Ku maka katakanlah: sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa seseorang jika dia berdoa kepada-Ku. (Al Baqarah: 186)</p>



<p class="wp-block-paragraph">4. Dan di antara keutamaan puasa adalah bahwasanya puasa akan menjauhkan pelakunya dari An Naar pada hari kiamat berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidaklah seorang hamba yang berpuasa satu hari di jalan Allah kecuali dengan (puasa) hari tersebut Allah akan jauhkan wajahnya dari An Naar sejauh perjalanan selama 70 musim.(HR. Muslim, An Nasa’i, Ad Darimi).</p>



<p class="wp-block-paragraph">5. Dan di antara keutamaan puasa adalah dikhususkannya bagi orang yang berpuasa dengan salah satu pintu dari pintu-pintu Al Jannah yang mereka akan masuk ke dalamnya tanpa selain mereka, sebagai bentuk pemuliaan dan sebagai balasan atas ibadah puasa yang mereka lakukan. Berdasarkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sesungguhnya di Al Jannah ada sebuah pintu yang dinamakan dengan Ar Rayyan, orang-orang yang berpuasa masuk melalui pintu tersebut pada hari kiamat, yang tidak akan masuk ke dalamnya selain orang-orang yang berpuasa. Maka kemudian dikatakan : mana orang-orang yang berpuasa? maka bangkitlah orang-orang yang berpuasa dan merekapun memasukinya. Dan jika mereka telah masuk ke dalamnya, ditutuplah pintu tersebut dan tidak ada lagi yang masuk ke dalamnya seorangpun. (Muttafaqun ‘Alaihi).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Manfaat Puasa</p>



<p class="wp-block-paragraph">Adapun manfaat-manfaat puasa adalah sangat besar pengaruhnya dalam mensucikan jiwa dan mendidik akhlak serta memberikan kesehatan pada badan. Dan di antara manfaat puasa adalah melatih dan membiasakan jiwa untuk sabar, menahan dirinya untuk meninggalkan sesuatu yang biasa dilakukan, meninggalkan syahwat yang dia inginkan. Dengan puasa akan dapat menghentikan dan mengalahkan hawa nafsunya yang selalu menyeru kepada kejelekan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seorang yang berpuasa akan bisa menahan diri dari syahwatnya untuk membantu dia dalam mencari puncak kebahagiaan dan menerima sesuatu yang bisa membersihkan dirinya (berupa kebaikan) yang dengan itu akan menentukan dia di kehidupannya yang abadi nanti. Maka semakin sempitlah jalan-jalan setan dengan semakin sedikitnya porsi makan dan minum. Jiwanya akan diingatkan dengan keadaan orang-orang yang lapar dari kalangan orang orang miskin. meninggalkan sesuatu yang dia sukai dari hal-hal yang membatalkan puasa karena cintanya kepada Rabbul ‘Alamin. Dan inilah rahasia antara seorang hamba dan sesembahannya, itulah hakikat dari puasa dan tujuannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan di antara manfaat berpuasa adalah dapat membuat hati manusia menjadi luluh dan mudah untuk mengingat Allah, sehingga Allah akan memudahkan pula baginya untuk menempuh jalan-jalan ketaatan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan di antara manfaat puasa adalah bahwa puasa akan menjadikan hati manusia untuk bertakwa kepada Allah dan dapat melemahkan syahwat yang ada pada dirinya. Allah ta’ala berfirman</p>



<p class="wp-block-paragraph">لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ</p>



<p class="wp-block-paragraph">Agar kamu menjadi orang-orang yang bertakwa. (Al Baqarah: 183)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tujuan diwajibkannya berpuasa karena puasa merupakan sebab ketakwaan. Dengan puasa akan mempersempit ruang gerak syahwatnya dan bahkan bisa tersingkir dari dirinya. Manakala seseorang sedikit makannya, maka keinginan syahwatnya pun akan melemah, dan manakala keinginan syahwatnya lemah, maka akan kecil pula kecenderungannya untuk berbuat maksiat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan di antara manfaat puasa dari tinjauan medis adalah bahwa dengan berpuasa dapat berpengaruh pada kesehatan tubuh manusia karena dengan berpuasa seseorang akan terlindungi tubuhnya dari berbagai macam zat yang terkandung dalam makanan yang bisa menyebabkan berbagai penyakit. Karena puasanya pula -dengan izin Allah- akan terjagalah kesehatan organ-organ luar dan organ-organ dalam tubuh sebagaimana hal ini telah diakui oleh para dokter.</p>



<p class="wp-block-paragraph">sumber <a href="http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=361066" rel="nofollow">http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=361066</a></p>



<p class="wp-block-paragraph">(Sumber <a href="http://www.assalafy.org/mahad/?p=341&#038;print=1" rel="nofollow">http://www.assalafy.org/mahad/?p=341&#038;print=1</a>)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Link Sumber : <a href="https://salafy.or.id/keistimewaan/" rel="nofollow">https://salafy.or.id/keistimewaan/</a></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://abuannisa.wordpress.com/2023/03/16/keistimewaan-bulan-ramadhan-keutamaan-dan-manfaat-puasa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">514</post-id>
		<media:content url="https://0.gravatar.com/avatar/9010ec22bec8a35089ce0678609d38a0007cbacfa08a2f5f2514e4aecbc7194d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abuannisa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hukum Ringkas Puasa Ramadhan</title>
		<link>https://abuannisa.wordpress.com/2023/03/14/hukum-ringkas-puasa-ramadhan/</link>
					<comments>https://abuannisa.wordpress.com/2023/03/14/hukum-ringkas-puasa-ramadhan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[abuannisa]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Mar 2023 06:21:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://abuannisa.wordpress.com/?p=505</guid>

					<description><![CDATA[Menyambut Ramadhan, banyak acara digelar kaum muslimin. Diantara acara tersebut ada yang telah menjadi tradisi yang “wajib” dilakukan meski syariat tidak pernah memerintahkan untuk membuat berbagai acara tertentu menyambut datangnya bulan mulia tersebut. Puasa Ramadhan merupakan salah satu dari kewajiban puasa yang ditetapkan syariat yang ditujukan dalam rangka taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah. Hukum puasa &#8230; <a href="https://abuannisa.wordpress.com/2023/03/14/hukum-ringkas-puasa-ramadhan/">Baca lebih lanjut <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Menyambut Ramadhan, banyak acara digelar kaum muslimin. Diantara acara tersebut ada yang telah menjadi tradisi yang “wajib” dilakukan meski syariat tidak pernah memerintahkan untuk membuat berbagai acara tertentu menyambut datangnya bulan mulia tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Puasa Ramadhan merupakan salah satu dari kewajiban puasa yang ditetapkan syariat yang ditujukan dalam rangka taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hukum puasa sendiri terbagi menjadi dua, yaitu puasa wajib dan puasa sunnah. Adapun puasa wajib terbagi menjadi 3 : puasa Ramadhan, puasa kaffarah (puasa tebusan), dan puasa nadzar.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Keutamaan Bulan Ramadhan</strong><br>Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al Qur’an. Allah Ta’ala berfirman:</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang batil).” (Al-Baqarah: 185)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada bulan ini para setan dibelenggu, pintu neraka ditutup dan pintu surga dibuka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda:</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Bila datang bulan Ramadhan dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu-pintu neraka dan dibelenggulah para setan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada bulan Ramadhan pula terdapat malam Lailatul Qadar. Allah Ta’ala berfirman:</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Qur’an pada malam kemuliaan. Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan hingga terbit fajar.” (Al-Qadar: 1-5)</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Penghapus Dosa</strong><br>Ramadhan adalah bulan untuk menghapus dosa. Hal ini berdasar hadits Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda:</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Shalat lima waktu, dari Jum’at (yang satu) menuju Jum’at berikutnya, (dari) Ramadhan hingga Ramadhan (berikutnya) adalah penghapus dosa di antaranya, apabila ditinggalkan dosa-dosa besar.” (HR. Muslim)</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan mengharap ridha Allah, akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah z)</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Rukun Berpuasa</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">a. Berniat sebelum munculnya fajar shadiq. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam :</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya.” (Muttafaqun ‘alaih dari hadits ‘Umar bin Al-Khaththab radiyallahu ‘anhu )<br>Juga hadits Hafshah radiyallahu ‘anha, bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam:</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Barangsiapa yang tidak berniat berpuasa sebelum fajar maka tidak ada puasa baginya.” (HR. Ahmad dan Ashabus Sunan)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah menyatakan bahwa hadits ini mudhtharib (goncang) walaupun sebagian ulama menghasankannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun mereka mengatakan bahwa ini adalah pendapat Ibnu ‘Umar, Hafshah, ‘Aisyah radiyallahu ‘anha, dan tidak ada yang menyelisihinya dari kalangan para shahabat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Persyaratan berniat puasa sebelum fajar dikhususkan pada puasa yang hukumnya wajib, karena Rasulullah n pernah datang kepada ‘Aisyah radiyallahu ‘anha pada selain bulan Ramadhan lalu bertanya: “Apakah kalian mempunyai makan siang? Jika tidak maka saya berpuasa.” (HR. Muslim)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Masalah ini dikuatkan pula dengan perbuatan Abud-Darda, Abu Thalhah, Abu Hurairah, Ibnu ‘Abbas dan Hudzaifah ibnul Yaman rahimahumullah. Ini adalah pendapat jumhur.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Para ulama juga berpendapat bahwa persyaratan niat tersebut dilakukan pada setiap hari puasa karena malam Ramadhan memutuskan amalan puasa sehingga untuk mengamalkan kembali membutuhkan niat yang baru. Wallahu a’lam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berniat ini boleh dilakukan kapan saja baik di awal malam, pertengahannya maupun akhir. Ini pula yang dikuatkan oleh jumhur ulama [1]</p>



<p class="wp-block-paragraph">b. Menahan diri dari setiap perkara yang membatalkan puasa dimulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari.<br>Telah diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim hadits dari ‘Umar bin Al-Khaththab radiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda:</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Jika muncul malam dari arah sini (barat) dan hilangnya siang dari arah sini (timur) dan matahari telah terbenam, maka telah berbukalah orang yang berpuasa.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Puasa dimulai dengan munculnya fajar. Namun kita harus hati-hati karena terdapat dua jenis fajar, yaitu fajar kadzib dan fajar shadiq. Fajar kadzib ditandai dengan cahaya putih yang menjulang ke atas seperti ekor serigala. Bila fajar ini muncul masih diperbolehkan makan dan minum namun diharamkan shalat Shubuh karena belum masuk waktu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fajar yang kedua adalah fajar shadiq yang ditandai dengan cahaya merah yang menyebar di atas lembah dan bukit, menyebar hingga ke lorong-lorong rumah. Fajar inilah yang menjadi tanda dimulainya seseorang menahan makan, minum dan yang semisalnya serta diperbolehkan shalat Shubuh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal ini berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas radiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda:</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Fajar itu ada dua, yang pertama tidak diharamkan makan dan tidak dihalalkan shalat (Shubuh). Adapun yang kedua (fajar) adalah yang diharamkan makan (pada waktu tersebut) dan dihalalkan shalat.” (HR. Ibnu Khuzaimah, 1/304, Al-Hakim, 1/304, dan Al-Baihaqi, 1/377)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun para ulama menghukumi riwayat ini mauquf (hanya perkataan Ibnu ‘Abbas c dan bukan sabda Nabi n). Di antara mereka adalah Al-Baihaqi, Ad-Daruquthni dalam Sunan-nya (2/165), Abu Dawud dalam Marasil-nya (1/123), dan Al-Khathib Al-Baghdadi dalam Tarikh-nya (3/58). Juga diriwayatkan dari Tsauban dengan sanad yang mursal. Sementara diriwayatkan juga dari hadits Jabir dengan sanad yang lemah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Wallahu a’lam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Footnote :<br>1. Cukup dengan hati dan tidak dilafadzkan dan makan sahurnya seseorang sudah menunjukkan dia punya niat berpuasa, red</p>



<p class="wp-block-paragraph">Siapa yang Diwajibkan Berpuasa?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Orang yang wajib menjalankan puasa Ramadhan memiliki syarat-syarat tertentu. Telah sepakat para ulama bahwa puasa diwajibkan atas seorang muslim yang berakal, baligh, sehat, mukim, dan bila ia seorang wanita maka harus bersih dari haidh dan nifas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara itu tidak ada kewajiban puasa terhadap orang kafir, orang gila, anak kecil, orang sakit, musafir, wanita haidh dan nifas, orang tua yang lemah serta wanita hamil dan wanita menyusui.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bila ada orang kafir yang berpuasa, karena puasa adalah ibadah di dalam Islam maka tidak diterima amalan seseorang kecuali bila dia menjadi seorang muslim dan ini disepakati oleh para ulama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Adapun orang gila, ia tidak wajib berpuasa karena tidak terkena beban beramal. Hal ini berdasarkan hadits ‘Ali bin Abi Thalib radiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Diangkat pena (tidak dicatat) dari 3 golongan: orang gila sampai dia sadarkan diri, orang yang tidur hingga dia bangun dan anak kecil hingga dia baligh.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan At-Tirmidzi)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meski anak kecil tidak memiliki kewajiban berpuasa sebagaimana dijelaskan hadits di atas, namun sepantasnya bagi orang tua atau wali yang mengasuh seorang anak agar menganjurkan puasa kepadanya supaya terbiasa sejak kecil sesuai kesanggupannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebuah hadits diriwayatkan Ar-Rubayyi’ bintu Mu’awwidz radiyallahu ‘anha:<br>“Utusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam mengumumkan di pagi hari ‘Asyura agar siapa di antara kalian yang berpuasa maka hendaklah dia menyempurnakannya dan siapa yang telah makan maka jangan lagi dia makan pada sisa harinya. Dan kami berpuasa setelah itu dan kami mempuasakan kepada anak-anak kecil kami. Dan kami ke masjid lalu kami buatkan mereka mainan dari wol, maka jika salah seorang mereka menangis karena (ingin) makan, kamipun memberikan (mainan tersebut) padanya hingga mendekati buka puasa.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara itu, bagi orang-orang lanjut usia yang sudah lemah (jompo), orang sakit yang tidak diharapkan sembuh, dan orang yang memiliki pekerjaan berat yang menyebabkan tidak mampu berpuasa dan tidak mendapatkan cara lain untuk memperoleh rizki kecuali apa yang dia lakukan dari amalan tersebut, maka bagi mereka diberi keringanan untuk tidak berpuasa namun wajib membayar fidyah yaitu memberi makan setiap hari satu orang miskin.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berkata Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhuma:<br>“Diberikan keringanan bagi orang yang sudah tua untuk tidak berpuasa dan memberi makan setiap hari kepada seorang miskin dan tidak ada qadha atasnya.” (HR. Ad-Daruquthni dan Al-Hakim dan dishahihkan oleh keduanya)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Anas bin Malik radiyallahu ‘anhu tatkala sudah tidak sanggup berpuasa maka beliau memanggil 30 orang miskin lalu (memberikan pada mereka makan) sampai mereka kenyang. (HR. Ad-Daruquthni 2/207 dan Abu Ya’la dalam Musnad-nya 7/204 dengan sanad yang shahih. Lihat Shifat Shaum An-Nabi, hal. 60)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Orang-orang yang diberi keringanan untuk tidak berpuasa namun wajib atas mereka menggantinya di hari yang lain adalah musafir, dan orang yang sakit yang masih diharap kesembuhannya yang apabila dia berpuasa menyebabkan kekhawatiran sakitnya bertambah parah atau lama sembuhnya.<br>Allah Ta’ala berfirman:</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan lalu ia berbuka, maka wajib baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkan pada hari-hari yang lain.” (Al-Baqarah: 184)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Demikian pula bagi wanita hamil dan menyusui yang khawatir terhadap janinnya atau anaknya bila dia berpuasa, wajib baginya meng-qadha puasanya dan bukan membayar fidyah menurut pendapat yang paling kuat dari pendapat para ulama.<br>Hal ini berdasar hadits Anas bin Malik Al-Ka’bi, bersabda Rasulullah :</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Sesungguhnya Allah telah meletakkan setengah shalat dan puasa bagi orang musafir dan (demikian pula) bagi wanita menyusui dan yang hamil.” (HR. An-Nasai, 4/180-181, Ibnu Khuzaimah, 3/268, Al-Baihaqi, 3/154, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang tidak wajib berpuasa namun wajib meng-qadha (menggantinya) di hari lain adalah wanita haidh dan nifas.<br>Telah terjadi kesepakatan di antara fuqaha bahwa wajib atas keduanya untuk berbuka dan diharamkan berpuasa. Jika mereka berpuasa, maka dia telah melakukan amalan yang bathil dan wajib meng-qadha.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Diantara dalil atas hal ini adalah hadits Aisyah radiyallahu ‘anha:</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Adalah kami mengalami haidh lalu kamipun diperintahkan untuk meng-qadha puasa dan tidak diperintahkan meng-qadha shalat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Wallahu a’lam</p>



<p class="wp-block-paragraph">(Dikutip dari tulisan Al-Ustadz Abu Abdirrahman Al-Bugisi, judul asli Hukum Ringkas Puasa Ramadhan. URL Sumber <a href="http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&#038;id_online=295" rel="nofollow">http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&#038;id_online=295</a>)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Link Sumber : <a href="https://salafy.or.id/hukum-ringkas-puasa-ramadhan" rel="nofollow">https://salafy.or.id/hukum-ringkas-puasa-ramadhan</a></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://abuannisa.wordpress.com/2023/03/14/hukum-ringkas-puasa-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">505</post-id>
		<media:content url="https://0.gravatar.com/avatar/9010ec22bec8a35089ce0678609d38a0007cbacfa08a2f5f2514e4aecbc7194d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abuannisa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perayaan Nisyfu Sya’ban dalam sorotan Ulama</title>
		<link>https://abuannisa.wordpress.com/2023/03/07/perayaan-nifsu-syaban-dalam-sorotan-ulama/</link>
					<comments>https://abuannisa.wordpress.com/2023/03/07/perayaan-nifsu-syaban-dalam-sorotan-ulama/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[abuannisa]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 Mar 2023 03:37:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://abuannisa.wordpress.com/?p=497</guid>

					<description><![CDATA[Segala puji hanyalah bagi Allah, yang telah menyempurnakan agamaNya bagi kita, dan mencukupkan nikmat-Nya kepada kita, semoga shalawat dan salam selalu terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, pengajak ke pintu taubat dan pembawa rahmat. Amma ba’du : Sesungguhnya Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman : “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu &#8230; <a href="https://abuannisa.wordpress.com/2023/03/07/perayaan-nifsu-syaban-dalam-sorotan-ulama/">Baca lebih lanjut <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Segala puji hanyalah bagi Allah, yang telah menyempurnakan agamaNya bagi kita, dan mencukupkan nikmat-Nya kepada kita, semoga shalawat dan salam selalu terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, pengajak ke pintu taubat dan pembawa rahmat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Amma ba’du :</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sesungguhnya Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman :</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridloi Islam sebagai agama bagimu” (QS. Al Maidah, 3)</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Apakah mereka mempunyai sesembahan sesembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diridloi Allah ? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang orang yang dhalim itu akan memperoleh azab yang pedih” (QS. As syuro, 21).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari Aisyah, Radliyallahu ‘anhu berkata : bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Barang siapa yang mengada-adakan sesuatu perbuatan (dalam agama) yang sebelumnya tidak pernah ada, maka tidak akan diterima”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan dalam riwayat imam Muslim, Rasulullah bersabda :</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Barang siapa mengerjakan suatu perbuatan yang belum pernah kami perintahkan, maka ia tertolak”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam shahih Muslim dari Jabir radhiyallahu ‘anhu ia berkata : bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam salah satu khutbah Jum’at nya :</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Amma ba’du : sesungguhnya sebaik baik perkataan adalah Kitab Allah (Al Qur’an), dan sebaik baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan sejelek jelek perbuatan (dalam agama) adalah yang diada adakan, dan setiap bid’ah (yang diada-adakan) itu sesat” (HR. Muslim).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Masih banyak lagi hadits hadits yang senada dengan hadits ini, hal mana semuanya menunjukkan dengan jelas, bahwasanya Allah telah menyempurnakan untuk umat ini agamanya, Dia telah mencukupkan nikmatNya bagi mereka, Dia tidak akan mewafatkan Nabi Muhammad kecuali sesudah beliau menyelesaikan tugas penyampaian risalahnya kepada umatnya, dan menjelaskan kepada mereka seluruh syariat Allah, baik melalui ucapan maupun perbuatan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau menjelaskan bahwa segala sesuatu yang akan diada adakan oleh sekelompok manusia sepeninggalnya dan dinisbatkan kepada ajaran Islam baik berupa ucapan maupun perbuatan, semuanya itu bad’ah yang ditolak, meskipun niatnya baik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Para Sahabat dan para Ulama mengetahui hal ini, maka mereka mengingkari perbuatan perbuatan bid’ah dan memperingatkan kita dari padanya, hal itu disebutkan oleh mereka yang mengarang tentang penerapan Sunnah dan pengingkaran bid’ah, seperti Ibnu Waddhoh At Thorthusyi dan As Syaamah dan lain lain.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Diantara bid’ah yang biasa dilakukan oleh banyak orang ialah bid’ah mengadakan upacara peringatan malam Nisfu Sya’ban (tanggal 15 sya’ban, red), dan menghususkan pada hari tersebut dengan puasa tertentu, padahal tidak ada satupun dalil yang dapat dijadikan sandaran, ada hadits-hadits yang menerangkan tentang fadlilah malam tersebut, tetapi hadits-hadits tersebut dhoif, sehingga tidak dapat dijadikan landasan, adapun hadits-hadits yang berkenaan dengan sholat pada hari itu adalah maudlu /palsu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam hal ini, banyak diantara para ulama yang menyebutkan tentang lemahnya hadits-hadits yang berkenaan dengan penghususan puasa dan fadlilah sholat pada hari Nisfu Sya’ban, selanjutnya akan kami sebutkan sebagian dari ucapan mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pendapat para ahli Syam diantaranya Al Hafidz Ibnu Rajab dalam bukunya “Lathoiful Ma’arif” mengatakan bahwa perayaan malam nisfu sya’ban adalah bid’ah, dan hadits-hadits yang menerangkan keutamaannya semuanya lemah, hadits yang lemah bisa diamalkan dalam ibadah jika asalnya didukung oleh hadits yang shoheh, sedangkan upacara perayaan malam Nisfu Sya’ban tidak ada dasar yang shohih, sehingga tidak bisa didukung dengan dalil hadits-hadits yang dlo’if.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibnu Taimiyah telah menyebutkan kaidah ini, dan kami akan menukil pendapat para ulama kepada para pembaca, sehingga masalahnya menjadi jelas. Para ulama telah bersepakat bahwa merupakan suatu keharusan untuk mengembalikan segala apa yang diperselisihkan manusia kepada Kitab Allah (Al-Qur’an) dan sunnah Rasul (Al Hadits), apa saja yang telah digariskan hukumnya oleh keduanya atau salah satu dari padanya, maka wajib diikuti, dan apa saja yang bertentangan dengan keduanya maka harus ditinggalkan, serta segala sesuatu amalan ibadah yang belum pernah disebutkan (dalam Al Qur’an dan As Sunnah) adalah bid’ah, tidak boleh dikerjakan, apalagi mengajak untuk mengerjakannya dan menganggapnya baik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat An Nisa’ :</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Hai orang orang yang beriman, taatilah Allah, dan taatilah Rasul(Nya), dan Ulil Amri (pemimpin) diantara kamu, kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesutu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (Al Hadits), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS. An nisa’, 59).</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah (yang mempunyai sifat sifat demikian), itulah Tuhanku, KepadaNya-lah aku bertawakkal dan kepadaNya-lah aku kembali” (QS. Asy syuro, 10).</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Katakanlah, jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu ” (QS. Ali Imran, 31).</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa sesuatu keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya ” (QS. An Nisa’, 65).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan masih banyak lagi ayat ayat Al Qur’an yang semakna dengan ayat ayat diatas, ia merupakan nash atau ketentuan hukum yang mewajibkan agar supaya masalah masalah yang diperselisihkan itu dikembalikan kepada Al Qur’an dan Al Hadits, selain mewajibkan kita agar rela terhadap hukum yang ditetapkan oleh keduanya. Sesungguhnya hal itu adalah konsekwensi iman, dan merupakan perbuatan baik bagi para hamba, baik di dunia atau di akherat nanti, dan akan mendapat balasan yang lebih baik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam pembicaraan masalah malam Nisfu Sya’ban, Ibnu Rajab berkata dalam bukunya “Lathoiful Ma’arif” : para Tabi’in penduduk Syam (Syiria sekarang) seperti Kholid bin Ma’daan, Makhul, Luqman bin Amir, dan lainnya pernah mengagung-agungkan dan berijtihad melakukan ibadah pada malam Nisfi Sya’ban, kemudian orang-orang berikutnya mengambil keutamaan dan bentuk pengagungan itu dari mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dikatakan bahwa mereka melakukan perbuatan demikian itu karena adanya cerita-cerita israiliyat, ketika masalah itu tersebar ke penjuru dunia, berselisihlah kaum muslimin, ada yang menerima dan menyetujuinya, ada juga yang mengingkarinya, golongan yang menerima adalah ahli Bashrah dan lainnya, sedangkan golongan yang mengingkarinya adalah mayoritas penduduk Hijaz (Saudi Arabia sekarang), seperti Atho dan Ibnu Abi Mulaikah, dan dinukil oleh Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dari Ulama fiqih Madinah, yaitu ucapan para pengikut Imam Malik dan lain lainnya ; mereka mengatakan bahwa semua perbuatan itu bid’ah, adapun pendapat ulama Syam berbeda dalam pelaksanaannya dengan adanya dua pendapat :<br>1- Menghidup-hidupkan malam Nisfu Sya’ban dalam masjid dengan berjamaah adalah mustahab (disukai Allah).<br>Dahulu Khalid bin Ma’daan dan Luqman bin Amir memperingati malam tersebut dengan memakai pakaian paling baru dan mewah, membakar kemenyan, memakai sipat (celak), dan mereka bangun malam menjalankan shalatul lail di masjid, ini disetujui oleh Ishaq bin Rahawaih, ia berkata : “Menjalankan ibadah di masjid pada malam itu secara berjamaah tidak dibid’ahkan”, keterangan ini dicuplik oleh Harbu Al Karmaniy.<br>2- Berkumpulnya manusia pada malam Nisfi Sya’ban di masjid untuk shalat, bercerita dan berdoa adalah makruh hukumnya, tetapi boleh dilakukan jika menjalankan sholat khusus untuk dirinya sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ini pendapat Auza’iy, Imam ahli Syam, sebagai ahli fiqh dan ulama mereka, Insya Allah pendapat inilah yang mendekati kebenaran, sedangkan pendapat Imam Ahmad tentang malam Nisfu Sya’ban ini, tidak diketahui.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada dua riwayat yang menjadi sebab cenderung diperingatinya malam Nisfu Sya’ban, dari antara dua riwayat yang menerangkan tentang dua malam hari raya (Iedul Fitri dan Iedul Adha), dalam satu riwayat berpendapat bahwa memperingati dua malam hari raya dengan berjamaah adalah tidak disunnahkan, karena hal itu belum pernah dikerjakan oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, riwayat yang lain berpendapat bahwa memperingati malam tersebut dengan berjamaah disunnahkan, karena Abdurrahman bin Yazid bin Aswad pernah mengerjakannya, dan ia termasuk Tabi’in. Begitu pula tentang malam nisfu sya’ban, Nabi belum pernah mengerjakannya atau menetapkannya, termasuk juga para sahabat, itu hanya ketetapan dari golongan Tabiin ahli fiqh (yuris prudensi) yang di Syam (syiria), demikian maksud dari Al Hafidz Ibnu Rajab (semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia mengomentari bahwa tidak ada suatu ketetapan pun tentang malam Nisfi Sya’ban ini, baik itu dari Nabi maupun dari para Sahabat. Adapun pendapat Imam Auza’iy tentang bolehnya (istihbab) menjalankan sholat pada malam hari itu secara individu dan penukilan Al Hafidz Ibnu Rajab dalam pendapatnya itu adalah gharib dan dloif, karena segala perbuatan syariah yang belum pernah ditetapkan oleh dalil dalil syar’i tidak boleh bagi seorang pun dari kaum muslimin mengada-adakan dalam Islam, baik itu dikerjakan secara individu ataupun kolektif, baik itu dikerjakan secara sembunyi sembunyi ataupun terang terangan, landasannya adalah keumuman hadits Nabi :</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Barangsiapa mengerjakan suatu perbuatan yang belum pernah kami perintahkan, maka ia tertolak”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan banyak lagi hadits hadits yang mengingkari perbuatan bid’ah dan memperingatkan agar dijauhi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Imam Abu Bakar At Thorthusyi berkata dalam bukunya “Al Hawadits wal bida” : diriwayatkan oleh Wadhoh dari zaid bin Aslam berkata : kami belum pernah melihat seorang pun dari sesepuh dan ahli fiqh kami yang menghadiri perayaan malam nisfu sya’ban, tidak mengindahkan hadits Makhul yang dloif, dan tidak pula memandang adanya keutamaan pada malam tersebut terhadap malam malam lainya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dikatakan kepada Ibnu Abi Mulaikah bahwasanya Zaid An numairy berkata : “Pahala yang didapat (dari ibadah) pada malam Nisfu Sya’ban menyamai pahala lailatul qadar, Ibnu Abi Mulaikah menjawab : “Seandainya saya mendengarnya sedang di tangan saya ada tongkat pasti saya pukul, Zaid adalah seorang penceramah”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Al ‘Allamah Asy Syaukani menulis dalam bukunya “Al Fawaidul Majmuah” sebagai berikut : bahwa hadits yang mengatakan :</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Wahai Ali, barang siapa yang melakukan sholat pada malam Nisfu Sya’ban sebanyak 100 rakaat, ia membaca setiap rakaat Al fatihah dan Qul huwallah ahad sebanyak sepuluh kali, pasti Allah memenuhi segala kebutuhannya … dan seterusnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hadits ini adalah maudhu’, pada lafadz-lafadznya menerangkan tentang pahala yang akan diterima oleh pelakunya adalah tidak diragukan kelemahannya bagi orang berakal, sedangkan sanadnya majhul (tidak dikenal), hadits ini diriwayatkan dari kedua dan ketiga jalur sanad, kesemuanya maudhu dan perawi-perawinya tidak diketahui.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam kitab “Al Mukhtashor” Syaukani melanjutkan : hadits yang menerangkan tentang sholat Nisfu Sya’ban adalah bathil, Ibnu Hibban meriwayatkan hadits dari Ali bin Abi Tholib Radhiyallahu ‘anhu : jika datang malam Nisfu Sya’ban bersholat malamlah dan berpuasalah pada siang harinya, adalah dloif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam buku “Allaali” diriwayatkan bahwa : “Seratus rakaat pada malam Nisfi sya’ban (dengan membaca surah) Al ikhlas sepuluh kali (pada setiap rakaat) bersama keutamaan keutamaan yang lain, diriwayatkan oleh Ad Dailami dan lainya bahwa itu semua maudlu’ (palsu), dan mayoritas perowinya pada ketiga jalur sanadnya majhul (tidak diketahui) dan dloif (lemah).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Imam As Syaukani berkata : Hadits yang menerangkan bahwa dua belas rakaat dengan (membaca surat) Al Ikhlas tiga puluh kali itu maudlu’ (palsu), dan hadits empat belas rakaat … dan seterusnya adalah maudlu’ (tidak bisa diamalkan dan harus ditinggalkan, pent).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Para fuqoha (ahli yurisprudensi) banyak yang tertipu dengan hadits hadits diatas, seperti pengarang Ihya Ulumuddin dan lainnya, juga sebagian dari para ahli tafsir, karena sholat pada malam ini, yakni malam Nisfu Sya’ban telah diriwayatkan melalui berbagai jalur sanad, semuanya adalah bathil / tidak benar dan haditsnya adalah maudlu’.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal ini tidak bertentangan dengan riwayat Turmudzi dan hadits Aisyah, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pergi ke Baqi’ dan Tuhan turun ke langit dunia pada malam Nisfu Sya’ban, untuk mengampuni dosa sebanyak jumlah bulu domba dan bulu kambing, karena pembicaraan kita berkisar tentang sholat yang diadakan pada malam Nisfu Sya’ban itu, tetapi hadits Aisyah ini lemah dan sanadnya munqothi’ (tidak bersambung) sebagaimana hadits Ali yang telah disebutkan diatas, mengenai malam Nisfu Sya’ban, jadi dengan jelas bahwa sholat (khusus pada) malam itu juga lemah dasar hukumnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Al Hafidz Al Iraqi berkata : hadits (yang menerangkan) tentang sholat Nisfi Sya’ban itu maudlu dan pembohongan atas diri Rasulallah”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam kitab “Al Majmu” Imam Nawawi berkata : sholat yang sering kita kenal dengan sholat Roghoib ada (berjumlah) dua dua belas rakaat, dikerjakan antara maghrib dan Isya’, pada malam Jum’at pertama bulan Rajab, dan shalat seratus rakaat pada malam Nisfu Sya’ban, dua sholat ini adalah bid’ah dan munkar, tidak boleh seseorang terpedaya oleh kedua hadits itu, hanya karena disebutkan di dalam buku “Quutul qulub” dan “ Ihya Ulumuddin” (Al Ghozali, red) sebab pada dasarnya hadits hadits tersebut bathil (tidak boleh diamalkan), kita tidak boleh cepat mempercayai orang orang yang tidak jelas bagi mereka hukum kedua hadits itu, yaitu mereka para imam yang kemudian mengarang lembaran-lembaran untuk membolehkan pengamalan kedua hadits itu, karena ia telah salah dalam hal ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Syekh Imam Abu Muhammad Abdurrahman bin Ismail Al Maqdisi telah mengarang sebuah buku yang berharga, beliau menolak (menganggap bathil) kedua hadits diatas (tentang malam Nisfu Sya’ban dan malam Jum’at pertama pada bulan Rajab), ia bersikap (dalam mengungkapkan pendapatnya) dalam buku tersebut, sebaik mungkin, dalam hal ini telah banyak pendapat para ulama, jika kita hendak menukil pendapat mereka itu, akan memperpanjang pembicaraan kita. Semoga apa-apa yang telah kita sebutkan tadi, cukup memuaskan bagi siapa saja yang berkeinginan untuk mendapat sesuatu yang haq.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari penjelasan di atas tadi, seperti ayat-ayat Al Qur’an dan beberapa hadits, serta pendapat para ulama, jelaslah bagi pencari kebenaran (haq) bahwa peringatan malam Nisfu Sya’ban dengan pengkhususan sholat atau lainnya, dan pengkhususan siang harinya dengan puasa, itu semua adalah bid’ah dan munkar, tidak ada landasan dalilnya dalam syariat Islam, bahkan hanya merupakan pengada-adaan saja dalam Islam setelah masa para sahabat Radhiyallahu ‘anhum, marilah kita hayati ayat Al Qur’an di bawah ini :</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu ni’matKu, dan telah Kuridloi Islam sebagai agama bagimu” (QS. Al Maidah, 3).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan banyak lagi ayat-ayat lain yang semakna dengan ayat di atas, selanjutnya marilah kita hayati sabda Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam :</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Barang siapa yang mengada-adakan sesuatu perbuatan (dalam agama) yang sebelumnya tidak pernah ada, maka ia tertolak”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Janganlah kamu sekalian mengkhususkan malam Jum’at dari pada malam malam lainnya dengan sholat tertentu, dan janganlah kamu sekalian mengkhususkan siang harinya dari pada hari-hari lainnya dengan berpuasa tertentu, kecuali jika hari bertepatan dengan hari yang ia biasa berpuasa (bukan puasa khusus tadi)” (HR. Muslim).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seandainya pengkhususan malam itu dengan ibadah tertentu diperbolehkan oleh Allah, maka bukanlah malam Jum’at itu lebih baik dari pada malam malam lainnya, karena pada hari itu adalah sebaik-baik hari yang disinari oleh matahari ? hal ini berdasarkan hadits hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang shohih.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang untuk mengkhususkan sholat pada malam hari itu dari pada malam lainnya, hal itu menunjukkan bahwa pada malam lainpun lebih tidak boleh dihususkan dengan ibadah tertentu, kecuali jika ada dalil shohih yang mengkhususkan/menunjukkan adanya pengkhususan, ketika malam Lailatul Qadar dan malam malam bulan puasa itu disyariatkan supaya sholat dan bersungguh-sungguh dengan ibadah tertentu, maka Nabi mengingatkan dan menganjurkan kepada umatnya agar supaya melaksanakannya, beliau pun juga mengerjakannya, sebagaimana disebutkan dalam hadits shohih :</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Barang siapa yang berdiri (melakukan sholat) pada bulan Ramadlan dengan penuh rasa iman dan harapan (pahala), niscaya Allah Subhaanahu wa Ta’ala akan mengampuni dosanya yang telah lewat, dan barang siapa yang berdiri (melakukan sholat) pada malam lailatul qadar dengan penuh rasa iman dan harapan (pahala), niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lewat” (Muttafaqun ‘alaih).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika seandainya malam Nisfu Sya’ban, malam Jum’at pertama pada bulan Rajab, serta malam isra’ dan mi’raj itu diperintahkan untuk dikhususkan, dengan upacara atau ibadah tertentu, pastilah Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan kepada umatnya, atau beliau melaksanakannya sendiri, jika memang hal itu pernah terjadi niscaya telah disampaikan oleh para sahabat kepada kita ; mereka tidak akan menyembunyikannya, karena mereka adalah sebaik-baik manusia dan paling banyak memberi nasehat setelah para Nabi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari pendapat para ulama tadi anda dapat menyimpulkan bahwasanya tidak ada ketentuan apapun dari Rasulullah, ataupun dari para sahabat tentang keutamaan malam Nisfu Sya’ban dan malam Jum’at pertama pada bulan Rajab.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan dari sini kita mengetahui bahwa memperingati perayaan kedua malam tersebut adalah bid’ah yang diada adakan dalam Islam, begitu pula pengkhususan malam tersebut dengan ibadah tertentu adalah bid’ah mungkar, sama halnya dengan malam 27 Rajab yang banyak diyakini orang sebagai malam Isra’ dan Mi’raj, begitu juga tidak boleh dihususkan dengan ibadah ibadah tertentu, selain tidak boleh dirayakan dengan upacara upacara ritual, berdasarkan dalil dalil yang disebutkan tadi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal ini, jika (malam kejadian Isra’ dan Mi’raj itu) diketahui, padahal yang benar adalah pendapat para ulama yang menandaskan tidak diketahuinya malam Isra’ dan Mi’raj secara tepat. Omongan orang bahwa malam Isra’ dan Mi’raj itu pada tanggal 27 Rajab adalah bathil, tidak berdasarkan pada hadits-hadits yang shahih, maka benar orang yang mengatakan :</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Sebaik-baik perkara adalah yang telah dikerjakan oleh para Salaf, yang telah mendapatkan petunjuk dan sejelek-jelek perkara (dalam agama) adalah yang diada adakan berupa bid’ah bid’ah”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Allahlah tempat bermohon untuk melimpahkan taufiq-Nya kepada kita dan kaum muslimin semua, taufiq untuk berpegang teguh dengan sunnah dan konsisten kepada ajarannya, serta waspada terhadap hal-hal yang bertentangan dengannya, karena hanya Allah lah Maha Pemberi dan Maha Mulia.<br>Semoga sholawat dan salam selalu terlimpahkan kepada hamba-Nya dan RasulNya Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, begitu pula kepada keluarga dan para sahabatnya, Amiin.</p>



<p class="wp-block-paragraph">(Dikutip dari Tulisan Syaikh Abdullah Bin Abdul Aziz Bin Baz, Mufti Saudi Arabia dalam Majmu’ Fatawa Samahat al-Shaikh ‘Abdul-‘Aziz ibn Baz, 2/882. Penerbit Departemen Agama Saudi Arabia. Edisi Indonesia “Waspada terhadap Bid’ah”). </p>



<p class="wp-block-paragraph">Posting ulang dari <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&#038;id_artikel=472" rel="nofollow">http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&#038;id_artikel=472</a>)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Link Sumber : <a href="https://salafy.or.id/perayaan-nifsu-syaban-dalam-sorotan-ulama/" rel="nofollow">https://salafy.or.id/perayaan-nifsu-syaban-dalam-sorotan-ulama/</a></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://abuannisa.wordpress.com/2023/03/07/perayaan-nifsu-syaban-dalam-sorotan-ulama/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">497</post-id>
		<media:content url="https://0.gravatar.com/avatar/9010ec22bec8a35089ce0678609d38a0007cbacfa08a2f5f2514e4aecbc7194d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abuannisa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Enam Poin Penting terkait Bulan Sya’ban</title>
		<link>https://abuannisa.wordpress.com/2023/03/07/enam-poin-penting-terkait-bulan-syaban/</link>
					<comments>https://abuannisa.wordpress.com/2023/03/07/enam-poin-penting-terkait-bulan-syaban/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[abuannisa]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 Mar 2023 03:30:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://abuannisa.wordpress.com/?p=494</guid>

					<description><![CDATA[Oleh asy-Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin. Amma Ba’du Wahai kaum muslimin, kita berada di bulan Sya’ban. Kami akan menjelaskan tentangnya dalam enam poin. Kami akan menjelaskan di dalamnya apa yang wajib atas kami untk menjelaskannya. Kita memohon kepada Allah agar memberikan rizki kepada kami dan kepada Anda semua ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. &#8230; <a href="https://abuannisa.wordpress.com/2023/03/07/enam-poin-penting-terkait-bulan-syaban/">Baca lebih lanjut <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Oleh asy-Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Amma Ba’du</p>



<p class="wp-block-paragraph">Wahai kaum muslimin, kita berada di bulan Sya’ban. Kami akan menjelaskan tentangnya dalam enam poin. Kami akan menjelaskan di dalamnya apa yang wajib atas kami untk menjelaskannya. Kita memohon kepada Allah agar memberikan rizki kepada kami dan kepada Anda semua ilmu yang bermanfaat dan amal shalih.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Poin pertama</strong> :</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Puasa Sya’ban</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Apakah bulan Sya’ban memiliki kekhususan untuk dilakukan padanya puasa, dibanding bulan-bulan lainnya?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jawabannya : Iya. Sesungguhnya dulu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak berpuasa padanya (pada bulan Sya’ban, pen). Hingga beliau berpuasa pada Sya’ban semua kecuali sedikit (yakni beberapa hari saja yang tidak berpuasa).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Atas dasar ini, termasuk sunnah adalah seseorang MEMPERBANYAK PUASA PADA BULAN SYA’BAN, dalam rangka mentauladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Poin kedua :</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Puasa Nishfu Sya’ban (Pertengahan Sya’ban)</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Yakni berpuasa pada hari pertengahan Sya’ban secara khusus. Maka dalam masalah ini, ada beberapa hadits lemah, tidak sah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tidak boleh diamalkan. Karena segala sesuatu yang tidak sah dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka TIDAK BOLEH SESEORANG UNTUK BERIBADAH KEPADA ALLAH DENGANNYA.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Atas dasar ini, tidak boleh dilakukan puasa pada pertengahan Sya’ban secara khusus. Karena amalan itu tidak ada dasarnya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesuatu yang tidak ada dasarnya MAKA ITU BID’AH.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Poin ketiga :</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Tentang Keutamaan Malam Nishfu Sya’ban</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam masalah ini juga ada hadits-hadits yang lemah, tidak sah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Atas dasar itu, malam Nishfu (pertengahan) Sya’ban kedudukannya seperti malam pertengahan Rajab, atau pertengahan Rabi’ul Awal atau akhir, atau pertengahan Jumada, dan bulan-bulan lainnya. Tidak ada kelebihan untuk malam tersebut – yakni malam Nishfu Sya’ban – sedikitpun. KARENA HADITS-HADITS YANG ADA TENTANGNYA ADALAH LEMAH.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Poin Keempat :</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Mengkhususkan Malam Nishfu Sya’ban dengan Qiyamullail.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Ini juga merupakan BID’AH. Tidak ada dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau dulu mengkhususkan malam tersebut dengan Qiyamullail.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, malam tersebut kedudukannya seperti malam-malam lainnya. Apabila seseorang sudah terbiasa melaksanakan Qiyamullail, maka silakan dia melakukan Qiyamullail pada malam tersebut, melanjutkan kebiasaannya pada malam-malam lainnya. Apabila seseorang bukan kebiasaannya Qiyamullail, maka DIA TIDAK BOLEH MENGKHUSUSKAN MALAM NISHFU SYA’BAN DENGAN QIYAMULLAIL, karena itu tidak ada dasarnya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang lebih jauh dari ini, bahwa sebagian orang mengkhusus qiyamullail pada malam ini dengan jumlah rakaat tertentu, yang tidak ada dasarnya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jadi, KITA TIDAK MENGKHUSUSKAN MALAM NISHFU SYA’BAN DENGAN QIYAMULLAIL</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Poin Kelima :</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Benarkah Ada Penentuan Takdir Pada Malam Tersebut?</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Maknanya : Apakah Pada malam tersebut (yakni Nishfu Sya’ban) ditentukan Takdir pada tahun tersebut?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jawabannya : TIDAK. Malam itu bukanlah Lailatul Qadar. Adapun Lailatul Qadar ada pada bulan Ramadhan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Sesungguhnya Kami menurunkannya” yakni al-Qur`an.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Seseungguhnya Kami menurunkannya (al-Qur`an) pada Lailatul Qadar. Apakah yang kalian tahu tentang lailatul Qadar? Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan.” (al-Qadar : 1-3)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman juga, “Bulan Ramadhan yang diturunkan padanya al-Qur`an.” (al-Baqarah : 185)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Atas dasar ini, Lailatul Qadar itu ada pada bulan Ramadhan. Karena malam tersebut merupakan malam yang Allah menurunkan al-Qur`an. Al-Qur’an turun pada bulan Ramadhan. Maka pastilah, bahwa Lailatul Qadar itu pada bulan Ramadhan, bukan pada bulan-bulan lainnya. Termasuk malam Nishfu Sya’ban, malam itu bukanlah malam Lailatul Qadar. Pada malam Nishfu Sya’ban tidak ada penentuan Takdir apapun yang terjadi tahun tersebut. Namun malam tersebut adalah seperti malam-malam lainnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Poin Keenam :</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Membuat Makanan pada hari pertengahan Sya’ban.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagian orang membuat makanan pada hari pertengahan Sya’ban, untuk dibagikan kepada kaum fakir, dengan mengatakan, “Ini atas makan malam dari Ibu”, “Ini makan malam dari ayah”, atau “Ini makan malam dari kedua orang tua”. Ini juga BID’AH. Karena itu tidak ada dasarnya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak pula dari shahabat radhiyallahu ‘anhum.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Inilah enam poin yang aku ketahui. Mungkin saja masih ada hal-hal lain yang tidak aku ketahui, yang wajib atasku untuk menjelaskannya kepada Anda semua.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku memohon kepada agar menjadikan kami dan Anda semua termasuk orang-orang yang menebarkan Sunnah dan meninggalkan Bid’ah, menjadikan kami dan Anda semua para pembimbing yang mendapat hidayah, serta menjadikan kami dan Anda semua termasuk orang-orang yang bertauladan dan mengambil bimbingan dari bimbingan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Link Sumber : <a href="https://salafy.or.id/enam-poin-penting-terkait-bulan-syaban/" rel="nofollow">https://salafy.or.id/enam-poin-penting-terkait-bulan-syaban/</a></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://abuannisa.wordpress.com/2023/03/07/enam-poin-penting-terkait-bulan-syaban/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">494</post-id>
		<media:content url="https://0.gravatar.com/avatar/9010ec22bec8a35089ce0678609d38a0007cbacfa08a2f5f2514e4aecbc7194d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abuannisa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hakikat Mencari dan Meminta Jabatan</title>
		<link>https://abuannisa.wordpress.com/2023/02/20/hakikat-mencari-dan-meminta-jabatan/</link>
					<comments>https://abuannisa.wordpress.com/2023/02/20/hakikat-mencari-dan-meminta-jabatan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[abuannisa]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Feb 2023 07:04:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://abuannisa.wordpress.com/?p=392</guid>

					<description><![CDATA[Meminta jabatan atau mencalonkan diri dalam etika politik merupakan hal lumrah. Padahal Islam melarang keras perbuatan yang berakar dari budaya Barat ini. Hadits berikut memberikan penjelasan secara gamblang bagaimana sesungguhnya Islam memandang sebuah jabatan yang telah menjadi simbol status sosial ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menasehatkan kepada Abdurrahman bin Samurah radliallahu ‘anhu: “Wahai Abdurrahman &#8230; <a href="https://abuannisa.wordpress.com/2023/02/20/hakikat-mencari-dan-meminta-jabatan/">Baca lebih lanjut <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Meminta jabatan atau mencalonkan diri dalam etika politik merupakan hal lumrah. Padahal Islam melarang keras perbuatan yang berakar dari budaya Barat ini. Hadits berikut memberikan penjelasan secara gamblang bagaimana sesungguhnya Islam memandang sebuah jabatan yang telah menjadi simbol status sosial ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menasehatkan kepada Abdurrahman bin Samurah radliallahu ‘anhu:</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta kepemimpinan. Karena jika engkau diberi tanpa memintanya, niscaya engkau akan ditolong (oleh Allah dengan diberi taufik kepada kebenaran). Namun jika diserahkan kepadamu karena permintaanmu, niscaya akan dibebankan kepadamu (tidak akan ditolong)”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hadits ini diriwayatkan Al-Imam Bukhari dalam Shahih-nya no. 7146 dengan judul “Siapa yang tidak meminta jabatan, Allah akan menolongnya dalam menjalankan tugasnya” dan no. 7147 dengan judul “Siapa yang minta jabatan akan diserahkan kepadanya (dengan tidak mendapat pertolongan dari Allah dalam menunaikan tugasnya)”. Diriwayatkan pula oleh Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya no. 1652 yang diberi judul oleh Al-Imam Nawawi “Bab larangan meminta jabatan dan berambisi untuk mendapatkannya”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Masih berkaitan dengan permasalahan di atas, juga didapatkan riwayat dari Abu Dzar Al Ghifari radliallahu ‘anhu. Ia berkata: “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tidakkah engkau menjadikanku sebagai pemimpin?” Mendengar permintaanku tersebut, beliau menepuk pundakku seraya bersabda:</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Wahai Abu Dzar, engkau seorang yang lemah sementara kepemimpinan itu adalah amanah. Dan nanti pada hari kiamat, ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan kecuali orang yang mengambil dengan haknya dan menunaikan apa yang seharusnya ia tunaikan dalam kepemimpinan tersebut.” (HR. Muslim no. 1825).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai Abu Dzar, aku memandangmu seorang yang lemah, dan aku menyukai untukmu apa yang kusukai untuk diriku. Janganlah sekali-kali engkau memimpin dua orang dan jangan sekali-kali engkau menguasai pengurusan harta anak yatim.” (HR. Muslim no. 1826).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Al-Imam Nawawi rahimahullah membawakan kedua hadits Abu Dzar di atas dalam kitab beliau Riyadlus Shalihin, bab “Larangan meminta jabatan kepemimpinan dan memilih untuk meninggalkan jabatan tersebut jika ia tidak pantas untuk memegangnya atau meninggalkan ambisi terhadap jabatan”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kepemimpinan yang diimpikan dan diperebutkan</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menjadi seorang pemimpin dan memiliki sebuah jabatan merupakan impian semua orang kecuali sedikit dari mereka yang dirahmati oleh Allah. Mayoritas orang justru menjadikannya sebagai ajang rebutan khususnya jabatan yang menjanjikan lambaian rupiah (uang dan harta) dan kesenangan dunia lainnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sungguh benar apa yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau menyampaikan hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu: “Sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi terhadap kepemimpinan, padahal kelak di hari kiamat ia akan menjadi penyesalan.” (HR. Bukhari no. 7148).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagaimana tidak, dengan menjadi seorang pemimpin, memudahkannya untuk memenuhi tuntutan hawa nafsunya berupa kepopuleran, penghormatan dari orang lain, kedudukan atau status sosial yang tinggi di mata manusia, menyombongkan diri di hadapan mereka, memerintah dan menguasai, kekayaan, kemewahan serta kemegahan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Wajar kalau kemudian untuk mewujudkan ambisinya ini, banyak elit politik atau ‘calon pemimpin’ di bidang lainnya, tidak segan-segan melakukan politik uang dengan membeli suara masyarakat pemilih atau mayoritas anggota dewan. Atau ‘sekedar’ uang tutup mulut untuk meminimalisir komentar miring saat berlangsungnya masa pencalonan atau kampanye, dan sebagainya. Bahkan yang ekstrim, ia pun siap menghilangkan nyawa orang lain yang dianggap sebagai rival dalam perebutan kursi kepemimpinan tersebut. Atau seseorang yang dianggap sebagai duri dalam daging yang dapat menjegal keinginannya meraih posisi tersebut. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Nasalullah as salamah wal `afi`ah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berkata Al Muhallab sebagaimana dinukilkan dalam Fathul Bari (13/135): “Ambisi untuk memperoleh jabatan kepemimpinan merupakan faktor yang mendorong manusia untuk saling membunuh. Hingga tertumpahlah darah, dirampasnya harta, dihalalkannya kemaluan-kemaluan wanita (yang mana itu semuanya sebenarnya diharamkan oleh Allah) dan karenanya terjadi kerusakan yang besar di permukaan bumi”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seseorang yang menjadi penguasa dengan tujuan seperti di atas, tidak akan mendapatkan bagiannya nanti di akhirat kecuali siksa dan adzab. Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:</p>



<p class="wp-block-paragraph">تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Itulah negeri akhirat yang Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri di muka bumi dan tidak pula membuat kerusakan. Dan akhir yang baik itu hanya untuk orang-orang yang bertakwa.” (Al-Qashshash: 83).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Al-Hafidh Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya mengatakan: “Allah ta`ala mengabarkan bahwasanya negeri akhirat dan kenikmatannya yang kekal yang tidak akan pernah lenyap dan musnah, disediakan-Nya untuk hamba-hamba-Nya yang beriman, yang tawadhu` (merendahkan diri), tidak ingin merasa tinggi di muka bumi yakni tidak menyombongkan diri di hadapan hamba-hamba Allah yang lain, tidak merasa besar, tidak bertindak sewenang-wenang, tidak lalim, dan tidak membuat kerusakan di tengah mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/412).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berkata Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah: “Seseorang yang meminta jabatan seringnya bertujuan untuk meninggikan dirinya di hadapan manusia, menguasai mereka, memerintahkannya dan melarangnya. Tentunya tujuan yang demikian ini jelek adanya. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Maka sebagai balasannya, ia tidak akan mendapatkan bahagiannya di akhirat. Oleh karena itu dilarang seseorang untuk meminta jabatan.” (Syarh Riyadlus Shalihin, 2/469).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sedikit sekali orang yang berambisi menjadi pimpinan, kemudian berpikir tentang kemaslahatan umum dan bertujuan memberikan kebaikan kepada hamba-hamba Allah dengan kepemimpinan yang kelak bisa ia raih. Kebanyakan mereka justru sebaliknya, mengejar jabatan untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Program perbaikan dan janji-janji muluk yang digembar-gemborkan sebelumnya, tak lain hanyalah ucapan yang manis di bibir. Hari-hari setelah mereka menjadi pemimpin lah yang kemudian menjadi saksi bahwa mereka hanyalah sekedar mengobral janji kosong dan ucapan dusta yang menipu. Bahkan yang ada, mereka berbuat zalim dan aniaya kepada orang-orang yang dipimpinnya. Ibaratnya ketika belum mendapatkan posisi yang diincar tersebut, yang dipamerkan hanya kebaikannya. Namun ketika kekuasaan telah berada dalam genggamannya, mereka lantas mempertontonkan apa yang sebenarnya diinginkannya dari jabatan tersebut. Hal ini sesuai dengan pepatah musang berbulu domba. Ini sungguh merupakan perbuatan yang memudharatkan diri mereka sendiri dan nasib orang-orang yang dipimpinnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Betapa rakus dan semangatnya orang-orang yang menginginkan jabatan ini, sehingga Rasullah shallallahu alaihi wasallam menggambarkan kerakusan terhadap jabatan lebih dari dua ekor serigala yang kelaparan lalu dilepas di tengah segerombolan kambing. Beliau bersabda:</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Tidaklah dua ekor serigala yang lapar dilepas di tengah gerombolan kambing lebih merusak daripada merusaknya seseorang terhadap agamanya disebabkan ambisinya untuk mendapatkan harta dan kedudukan yang tinggi.” (HR. Tirmidzi no. 2482, dishahihkan Syaikh Muqbil dalam Ash Shahihul Musnad, 2/178).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sifat seorang pemimpin<br>Di tengah gencarnya para elit politik menambang suara dalam rangka memperoleh kursi ataupun jabatan, maka layak sekali apabila hadits yang diriwayatkan dari Abdurrahman bin Samurah dan Abu Dzar di atas dihadapkan kepada mereka, khususnya lagi pada hadits Abu Dzar yang menyebutkan kriteria yang harus diperhatikan dan merupakan hal mutlak jika ingin menjadi pemimpin. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepada Abu Dzar radliallahu anhu: “Wahai Abu Dzar, engkau seorang yang lemah”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ucapan seperti ini bila disampaikan secara terang-terangan memang akan memberatkan bagi yang bersangkutan dan akan membekas di hatinya. Namun amanahlah yang menuntut hal tersebut. Maka hendaknya dijelaskan kepada orang tersebut mengenai sifat lemah yang melekat padanya. Namun jika seseorang itu kuat, maka dikatakan padanya ia seorang yang kuat. Dan sebaliknya, bila ia seorang yang lemah maka dikatakan sebagaimana adanya. Yang demikian ini merupakan satu nasehat. Dan tidaklah berdosa orang yang mengucapkan seperti ini bila tujuannya untuk memberikan nasehat bukan untuk mencela atau mengungkit aib yang bersangkutan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berkata Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah: “Makna ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Abu Dzar adalah beliau melarang Abu Dzar menjadi seorang pemimpin karena ia memiliki sifat lemah, sementara kepemimpinan membutuhkan seorang yang kuat lagi terpercaya. Kuat dari sisi ia punya kekuasaan dan perkataan yang didengar/ ditaati, tidak lemah di hadapan manusia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena apabila manusia menganggap lemah seseorang, maka tidak tersisa kehormatan baginya di sisi mereka, dan akan berani kepadanya orang yang paling dungu sekalipun, sehingga jadilah ia tidak teranggap sedikitpun. Akan tetapi apabila seseorang itu kuat, dia dapat menunaikan hak Allah, tidak melampaui batasan-batasan-Nya, dan punya kekuasaan. Maka inilah sosok pemimpin yang hakiki.” (Syarh Riyadhus Shalihin, 2/472). Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga menyatakan kepada Abu Dzar bahwa kepemimpinan itu adalah sebuah amanah. Karena memang kepemimpinan itu memiliki dua rukun, kekuatan dan amanah, hal ini dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dengan dalil:</p>



<p class="wp-block-paragraph">قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ ۖ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” (Al-Qashash: 26).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berkata penguasa Mesir kepada Yusuf alaihis salam:</p>



<p class="wp-block-paragraph">إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Sesungguhnya kamu mulai hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami.” (Yusuf: 54).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Allah ta`ala menyebutkan sifat Jibril dengan menyatakan:</p>



<p class="wp-block-paragraph">إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ</p>



<p class="wp-block-paragraph">ذِي قُوَّةٍ عِندَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ</p>



<p class="wp-block-paragraph">مُّطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar firman Allah yang dibawa oleh utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah, yang memiliki Arsy, yang ditaati di kalangan malaikat lagi dipercaya.” (At-Takwir: 19-21).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau rahimahullah berkata: “Amanah itu kembalinya kepada rasa takut pada Allah, tidak menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, dan tidak takut kepada manusia. Inilah tiga perangai yang Allah tetapkan terhadap setiap orang yang memutuskan hukuman atas manusia. Allah berfirman:</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Maka janganlah kalian takut kepada mereka, tapi takutlah kepada-Ku. Dan jangan pula kalian menjual ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Siapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan maka mereka itu adalah orang-orang kafir.” (Al Maidah: 44) (As-Siyasah Asy-Syar`iyyah, hal. 12-13).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Al-Imam Qurthubi rahimahullah menyebutkan beberapa sifat dari seorang pemimpin ketika menafsirkan ayat: “Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), kemudian Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman:</p>



<p class="wp-block-paragraph">قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ۖ قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِي ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِي</p>



<p class="wp-block-paragraph">‘Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu sebagi Al-Imam (pemimpin) bagi seluruh manusia’. Ibrahim berkata: ‘(Dan saya mohon juga) dari keturunanku’. Allah berfiman: ‘Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang dzalim’.” (Al-Baqarah: 124).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau berkata: “Sekelompok ulama mengambil dalil dengan ayat ini untuk menyatakan seorang Al-Imam (pemimpin) itu harus dari kalangan orang yang adil, memiliki kebaikan dan keutamaan, juga dengan kekuatan yang dimilikinya untuk menunaikan tugas kepemimpinan tersebut.” (Al-Jami`li Ahkamil Qur’an, 2/74).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebenarnya masih ada beberapa syarat pemimpin yang tidak disebutkan di sini karena ingin kami ringkas. Mudah-mudahan, pada kesempatan yang lain bisa kami paparkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nasehat bagi mereka yang sedang berlomba merebut jabatan/ kepemimpinan<br>Kepemimpinan adalah amanah, sehingga orang yang menjadi pemimpin berarti ia tengah memikul amanah. Dan tentunya, yang namanya amanah harus ditunaikan sebagaimana mestinya. Dengan demikian tugas menjadi pemimpin itu berat. Sehingga sepantasnya yang mengembannya adalah orang yang cakap dalam bidangnya. Karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang orang yang tidak cakap untuk memangku jabatan karena ia tidak akan mampu mengemban tugas tersebut dengan semestinya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga bersabda:</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Apabila amanah telah disia-siakan, maka nantikanlah tibanya hari kiamat. Ada yang bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan menyia-nyiakan amanah?’ Beliau menjawab: ‘Apabila perkara itu diserahkan kepada selain ahlinya, maka nantikanlah tibanya hari kiamat”.” (HR. Bukhari no. 59).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, jabatan tidak boleh diberikan kepada seseorang yang memintanya dan berambisi untuk mendapatkannya. Abu Musa radliallahu ‘anhu berkata: “Aku dan dua orang laki-laki dari kaumku pernah masuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka salah seorang dari keduanya berkata: “Angkatlah kami sebagai pemimpin, wahai Rasulullah”. Temannya pun meminta hal yang sama. Bersabdalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kami tidak menyerahkan kepemimpinan ini kepada orang yang memintanya dan tidak pula kepada orang yang berambisi untuk mendapatkannya.” (HR. Bukhari no. 7149 dan Muslim no. 1733).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hikmah dari hal ini, kata para ulama, adalah orang yang memangku jabatan karena permintaannya, maka urusan tersebut akan diserahkan kepada dirinya sendiri dan tidak akan ditolong oleh Allah, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Abdurrahman bin Samurah di atas :”Bila engkau diberikan dengan tanpa memintanya, niscaya engkau akan ditolong (oleh Allah dengan diberi taufik kepada kebenaran). Namun bila diserahkan kepadamu karena permintaanmu niscaya akan dibebankan kepadamu (tidak akan ditolong).” Siapa yang tidak ditolong maka ia tidak akan mampu. Dan tidak mungkin jabatan itu diserahkan kepada orang yang tidak cakap. (Syarah Shahih Muslim, 12/208, Fathul Bari, 13/133, Nailul Authar, 8/294) Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: “Sepantasnya bagi seseorang tidak meminta jabatan apa pun. Namun bila ia diangkat bukan karena permintaannya, maka ia boleh menerimanya. Akan tetapi jangan ia meminta jabatan tersebut dalam rangka wara’ dan kehati-hatiannya dikarenakan jabatan dunia itu bukanlah apa-apa.” (Syarh Riyadlus Shalihih, 2/470).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Al-Imam Nawawi rahimahullah berkata ketika mengomentari hadits Abu Dzar: “Hadits ini merupakan pokok yang agung untuk menjauhi kepemimpinan terlebih lagi bagi seseorang yang lemah untuk menunaikan tugas-tugas kepemimpinan tersebut. Adapun kehinaan dan penyesalan akan diperoleh bagi orang yang menjadi pemimpin sementara ia tidak pantas dengan kedudukan tersebut atau ia mungkin pantas namun tidak berlaku adil dalam menjalankan tugasnya. Maka Allah menghinakannya pada hari kiamat, membuka kejelekannya, dan ia akan menyesal atas kesia-siaan yang dilakukannya. Adapun orang yang pantas menjadi pemimpin dan dapat berlaku adil, maka akan mendapatkan keutamaan yang besar sebagaimana ditunjukkan oleh hadits-hadits yang shahih seperti hadits: “Ada tujuh golongan yang Allah lindungi mereka pada hari kiamat, di antaranya Al-Imam (pemimpin) yang adil”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan juga hadits yang disebutkan setelah ini tentang orang-orang yang berbuat adil nanti di sisi Allah (pada hari kiamat) berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Demikian pula hadits-hadits lainnya. Kaum muslimin sepakat akan keutamaan hal ini. Namun bersamaan dengan itu karena banyaknya bahaya dalam kepemimpinan tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperingatkan darinya, demikian pula ulama. Beberapa orang yang shalih dari kalangan pendahulu kita mereka menolak tawaran sebagai pemimpin dan mereka bersabar atas gangguan yang diterima akibat penolakan tersebut.” (Syarah Shahih Muslim, 12/210-211).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada sebagian orang menyatakan bolehnya meminta jabatan dengan dalil permintaan Nabi Yusuf alaihis salam kepada penguasa Mesir:</p>



<p class="wp-block-paragraph">قَالَ اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ ۖ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir), sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.” (Yusuf: 55).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Maka dijawab, bahwa permintaan beliau alaihis salam ini bukan karena ambisi beliau untuk memegang jabatan kepemimpinan. Namun semata karena keinginan beliau untuk memberikan kemanfaatan kepada manusia secara umum sementara beliau melihat dirinya memiliki kemampuan, kecakapan, amanah dan menjaga terhadap apa yang tidak mereka ketahui. (Taisir Al-Karimur Rahman, hal. 401).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Al-Imam Syaukani berkata: “Nabi Yusuf alahis salam meminta demikian karena kepercayaan para Nabi terhadap diri mereka dengan sebab adanya penjagaan dari Allah terhadap dosa-dosa mereka (ma`shum). Sementara syariat kita yang sudah kokoh (tsabit) tidak bisa ditentang oleh syariat umat yang terdahulu sebelum kita, karena mungkin meminta jabatan dalam syariat Nabi Yusuf alaihis salam pada waktu itu dibolehkan.” (Nailul Authar, 8/ 294).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketahuilah wahai mereka yang sedang memperebutkan kursi jabatan dan kepemimpinan, sementara dia bukan orang yang pantas untuk mendudukinya, kelak pada hari kiamat kedudukan itu nantinya akan menjadi penyesalan karena ketidakmampuannya dalam menunaikan amanah sebagaimana mestinya. Berkata Al-Qadli Al-Baidlawi: “Karena itu tidak sepantasnya orang yang berakal, bergembira dan bersenang-senang dengan kelezatan yang diakhiri dengan penyesalan dan kerugian.” (Fathul Bari, 13/134).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Faedah hadits<br>1. Kepemimpinan, jabatan, kekuasaan, dan kedudukan tidak boleh diberikan kepada orang yang memintanya, berambisi untuk meraihnya, dan menempuh segala cara untuk dapat mendapatkannya<br>2. Orang yang paling berhak menjadi pemimpin, penguasa, dan memangku jabatan/ kedudukan adalah orang yang menolak ketika diserahkan kepemimpinan, jabatan dan kedudukan tersebut dalam keadaan ia benci dan tidak suka dengannya.<br>3. Kepemimpinan adalah amanah yang besar dan tanggung jawab yang berat. Maka wajib bagi orang yang menjadi pemimpin untuk memperhatikan hak orang-orang yang di bawah kepemimpinannya dan tidak boleh mengkhianati amanah tersebut.<br>4. Keutamaan dan kemuliaan bagi seseorang yang menjadi pemimpin dan penguasa apabila memang ia pantas memegang kepemimpinan dan kekuasaan tersebut, sama saja ia seorang pemimpin negara yang adil, ataukah bendahara yang terpercaya atau karyawan yang menguasai bidangnya.<br>5. Ajakan kepada manusia agar jangan berambisi untuk meraih kedudukan tertentu, khususnya bila ia tidak pantas mendapat kedudukan tersebut.<br>6. Kerasnya hukuman bagi orang yang tidak menunaikan kepemimpinan dengan semestinya, tidak memperhatikan hak orang-orang yang dipimpin dan tidak melakukan upaya optimal dalam memperbagus urusan kepemimpinannya.<br></p>



<p class="wp-block-paragraph">Wallahu ta`ala a`lam bishawwab </p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Link SUMBER : <a href="https://salafy.or.id/meminta-jabatan">https://salafy.or.id/meminta-jabatan</a> (Dikutip dari <a href="http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&amp;id_online=762">http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&amp;id_online=762</a>)</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://abuannisa.wordpress.com/2023/02/20/hakikat-mencari-dan-meminta-jabatan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">392</post-id>
		<media:content url="https://0.gravatar.com/avatar/9010ec22bec8a35089ce0678609d38a0007cbacfa08a2f5f2514e4aecbc7194d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abuannisa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Duhai Jiwa&#8230;</title>
		<link>https://abuannisa.wordpress.com/2022/01/06/duhai-jiwa/</link>
					<comments>https://abuannisa.wordpress.com/2022/01/06/duhai-jiwa/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[abuannisa]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 06 Jan 2022 02:27:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Warta Umum]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://abuannisa.wordpress.com/?p=373</guid>

					<description><![CDATA[Wahai engkau yang sedang berdiri di sana Nada tinggi suaramu jelas terdengar dari seberang sana Wahai engkau yang sedang duduk bersimpuh Lirihnya bisikanmu menambah jelas nada tinggi suara itu Wahai engkau yang dengan suara tinggi itu Bisakah merasa betapa getirnya jiwa yang di seberang sana Wahai engkau yang dengan bisikan lirih itu Tidak kah engkau &#8230; <a href="https://abuannisa.wordpress.com/2022/01/06/duhai-jiwa/">Baca lebih lanjut <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Wahai engkau yang sedang berdiri di sana</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nada tinggi suaramu jelas terdengar dari seberang sana</p>



<p class="wp-block-paragraph">Wahai engkau yang sedang duduk bersimpuh</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lirihnya bisikanmu menambah jelas nada tinggi suara itu</p>



<p class="wp-block-paragraph">Wahai engkau yang dengan suara tinggi itu</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bisakah merasa betapa getirnya jiwa yang di seberang sana</p>



<p class="wp-block-paragraph">Wahai engkau yang dengan bisikan lirih itu</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak kah engkau mengerti, lirihnya bisikan itu sangat menyayat hati yang di seberang sana</p>



<p class="wp-block-paragraph">Wahai engkau yang di seberang sana</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bersabarlah, karena Alloh tidaklah diam</p>



<p class="wp-block-paragraph">Wahai engkau yang jiwanya tersayat</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berlapangdadalah, karena akan tiba saatnya</p>



<p class="wp-block-paragraph">Wahai engkau yang hatinya gundah</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak usah resah dengan yang luput dari hadapanmu</p>



<p class="wp-block-paragraph">Akan tiba harimu nanti</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph"> </p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://abuannisa.wordpress.com/2022/01/06/duhai-jiwa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">373</post-id>
		<media:content url="https://0.gravatar.com/avatar/9010ec22bec8a35089ce0678609d38a0007cbacfa08a2f5f2514e4aecbc7194d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abuannisa</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
