<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/atom10full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" gd:etag="W/&quot;C0MDR3g7cCp7ImA9WhBaEk8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-4736781840520968273</id><updated>2013-05-22T18:17:56.608+07:00</updated><category term="hikayat" /><category term="catatan harian" /><category term="Tugas" /><category term="agenda" /><category term="Makalah" /><category term="puisi" /><category term="Essay" /><category term="editorial" /><category term="cerita" /><category term="Narasi" /><category term="Info" /><category term="serba serbi" /><category term="Artikel" /><category term="laporan khusus" /><category term="Tips" /><category term="Resensi" /><category term="Film" /><category term="william nessen" /><category term="testimoni" /><category term="Beasiswa" /><category term="biografi" /><category term="artis" /><category term="buku" /><category term="foto" /><category term="SEO" /><category term="sosok" /><category term="ReviewMu" /><category term="internet" /><category term="Pemerintah Aceh" /><category term="features" /><category term="cang panah" /><category term="Seri Pemikiran Hasan Tiro" /><category term="catatan" /><category term="Snmptn" /><category term="mutiara" /><category term="Traveling" /><category term="fokus" /><category term="Berita" /><category term="pojok" /><title>JUMPUENG</title><subtitle type="html">From Aceh With Love</subtitle><link rel="http://schemas.google.com/g/2005#feed" type="application/atom+xml" href="http://jumpueng.blogspot.com/feeds/posts/default" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://jumpueng.blogspot.com/" /><link rel="next" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4736781840520968273/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false&amp;v=2" /><author><name>Taufik Al Mubarak</name><uri>https://plus.google.com/103535029759927248968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh4.googleusercontent.com/-ygh4RP4SCtM/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABqI/uKQjuFGJZfI/s512-c/photo.jpg" /></author><generator version="7.00" uri="http://www.blogger.com">Blogger</generator><openSearch:totalResults>510</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/atom+xml" href="http://feeds.feedburner.com/BlogAceh" /><feedburner:info uri="blogaceh" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" /><entry gd:etag="W/&quot;DEQFSX04eip7ImA9WhBbGEg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-4736781840520968273.post-8352658328670888951</id><published>2013-05-18T12:51:00.000+07:00</published><updated>2013-05-18T12:51:58.332+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-05-18T12:51:58.332+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Film" /><title>The Enemy, Film Pelarian Aceh</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
Pada 18 April 2011 silam, &lt;b&gt;The Enemy&lt;/b&gt;, resmi dirilis ke publik melalui website www.dayfc.net. Film ini digarap oleh anak-anak muda Aceh yang kini bermukim di Denmark. Mereka tinggal di salah satu Negara di Skandanavia itu dalam status sebagai pengungsi politik. Sebagian ada yang sudah kembali ke Aceh pasca-damai, namun banyak juga yang masih bertahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The Enemy merupakan film perdana hasil produksi Danes Acehnese Youth Film Club (DAYFC). DAYFC adalah sebuah klub film anak muda yang berbasis di Denmark. DAYFC didirikan oleh beberapa pemuda yang meminati dunia perfilman, seperti Makmur Habib, Tarmizi Busu, Husaini Aziz, Ishak Yusuf dan beberapa kawan lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita bentuk klub ini untuk mengasah bakat pemuda Aceh di luar negeri dalam dunia perfilman,” kata Tarmizi Busu. Tarmizi berharap melalui DAYFC nantinya akan lahir aktor maupun sutradara profesional dari anak-anak Aceh di luar negeri, terutama Denmark.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tarmizi, pria Busu, Pidie sudah 7 lebih bermukim di Denmark. Dia mendapatkan suaka politik ke Denmark ketika masih berada di Malaysia. Menurutnya, semenjak didirikan pada 4 April 2010, DAYFC &amp;nbsp;telah memproduksi film The Enemy sebagai film perdana. “Kita berharap nanti bisa terus memproduksi film-film ini, terutama soal kehidupan orang Aceh di luar negeri,” lanjutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Membuat film diakui Tarmizi sangat sulit, apalagi dukungan peralatan yang sangat terbatas. Pun demikian, berkat kegigihan dan kesabaran dari kru, mereka berhasil juga menyelesaikan film pertama. “Kita akui film pertama ini sangat banyak kekurangan, tapi ke depan kita akan terus meningkatkan kualitas,” katanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, tentang apa film The Enemy? Tarmizi menceritakan, The Enemy mengisahkan tentang pembunuhan Zaki, anak bos mafia, Don John (yang diperankan Makmor Habib). Film ini juga bercerita tentang jaringan pengedaran narkoba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Persaingan sesama pengikut Don John dalam merebut pengaruh dan kekuasaan menjadikan film ini sedikit menegangkan,” katanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh ya, pemain di film ini tak hanya anak Aceh, tetapi juga ada dari Denmark, Brian dan Nicole. Hal ini menambah daya tarik film ini. Selain itu, kata-kata Aceh yang keluar dari pemain film ini sangat khas dan fasih. Ada beberapa kalimat yang membuat kita tersenyum. Penasaran? Download di website www.dayfc.net &amp;nbsp;atau di YouTube. []&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="315" src="http://www.youtube.com/embed/kssMwMA5q0I" width="420"&gt;&lt;/iframe&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogAceh/~4/MQu3StEMaoo" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4736781840520968273/posts/default/8352658328670888951?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4736781840520968273/posts/default/8352658328670888951?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/BlogAceh/~3/MQu3StEMaoo/the-enemy-film-pelarian-aceh.html" title="The Enemy, Film Pelarian Aceh" /><author><name>Taufik Al Mubarak</name><uri>https://plus.google.com/103535029759927248968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh4.googleusercontent.com/-ygh4RP4SCtM/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABqI/uKQjuFGJZfI/s512-c/photo.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://img.youtube.com/vi/kssMwMA5q0I/default.jpg" height="72" width="72" /><feedburner:origLink>http://jumpueng.blogspot.com/2013/05/the-enemy-film-pelarian-aceh.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0YAQHs6cCp7ImA9WhBaEk0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-4736781840520968273.post-146470691805228179</id><published>2013-05-12T21:31:00.001+07:00</published><updated>2013-05-22T14:52:21.518+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-05-22T14:52:21.518+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="catatan" /><title>Aceh, Willem III, dan Bronbeek</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;Saya beruntung
bisa melihat negeri Belanda dari dekat. Pengalaman berkunjung ke negeri Kincir
Angin pada 27 Juli 2010 silam itu masih membekas hingga kini. Sebab, itulah
pertama kalinya saya menginjak kaki di negeri yang dulu pernah berperang dengan
bangsa Aceh (1873-1942).&lt;/span&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;Bagi orang
Aceh, Belanda bukan negeri asing. Sebab, puluhan tahun kedua negeri ini
terlibat perang paling berdarah di Nusantara. Ribuan pasukan dari kedua belah
pihak itu gugur dalam medan tempur. Ingatan sejarah itu pula yang mengiringi
saya ketika berkunjung ke Museum Bronbeek di Arhem, Belanda pada 27 Juli 2010
silam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Tapi, itu
dulu. Belanda hari ini tentu berbeda dengan yang dulu. Kini, Belanda dikenal
sebagai salah satu Negara Eropa yang elok, eksotis dan modern. Negeri
berpenduduk lebih kurang 8 juta orang itu mulai diperhitungkan sebagai kiblat
kemajuan dan pusat pendidikan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Universitas-universitas
di Belanda termasuk dalam peringkat 10 di antara 200 perguruan terbaik di
dunia. Beberapa universitas yang layak dicatat di antaranya, Leiden University,
Utrecht University, University of Amsterdam, University of Groningen (untuk
universitas riset); Amsterdam School of the Arts, Business School of Amsterdam
(untuk universitas terapan), dan sebagainya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Museum-museum
di Belanda juga jadi rujukan dan tempat para ilmuan menggali rujukan sejarah,
di antaranya museum Leiden dan Bronbeek.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Sebelum tiba
di Bronbeek, saya membayangkan museum ini pastilah seperti kebanyakan museum
lain di tempat kita: tak terurus, pengap, berantakan dan sangat tak nyaman
dikunjungi. Namun, begitu memasuki areal museum, kita pun terkagum-kagum;
betapa luar biasanya museum ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Halaman
depannya cukup luas, penuh dengan taman bunga. Beberapa prasasti, ukiran batu,
beberapa patung tentara Belanda di depan museum—mulai dari patung perwira
sampai patung prajurit KNIL (Koninklijk Nederlands-Indisch Leger) langsung terhidang di depan mata.
Gedung-gedung di kawasan Museum itu sekilas seperti bangunan peninggalan
Belanda di tempat kita: kokoh, kuat dan sangat artistik. Di museum inilah kita jadi takjub bagaimana
rapinya Belanda merawat ingatan bangsanya dengan nilai-nilai sejarah: melalui
benda-benda perang (meriam) dan literatur. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Meriam dari
berbegai jenis itu dipajang mengelilingi dinding museum. Benda-benda perang ini
dibawa dari sejumlah wilayah taklukan di Nusantara. Hal itu sebagai bukti yang
menunjukkan betapa seriusnya bangsa Belanda merawat peninggalan sejarahnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Bronbeek&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Museum
Bronbeek ini termasuk salah satu museum tertua di Belanda. Pengelola atau
conservator museum, Drs. Hans van den Akker yang saya wawancarai menyebutkan,
usia museum yang sering disebut Museum Perang ini sudah 150 tahun, sejak
pertama kali dibangun oleh Raja Willem III tahun 1863. Willem sendiri lahir dengan nama&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Bookman Old Style;"&gt;Willem Alexander Paul Frederik Lodewijk van Oranje-Nassau, lahir di Brussels, Belgia, 17 Februari 1817 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;merupakan Raja Belanda dan Grand-Ducal House of Luxembourg.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Bookman Old Style;"&gt;Pada 23 November 1890, dia meninggal (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;pada umur 73 tahun)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;&amp;nbsp;dan mewariskan tahta kepada putrinya, Wilhelmina yang ketika itu baru berumur 10 tahun.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;Menurut Hans,
dulunya Raja Willem III membangun museum ini untuk mengenang pasukan setianya,
KNIL sebagai penghormatan atas jasa mereka. Patung gelap pasukan KNIL memegang
pedang dan senjata di prasasti depan museum dapat menjelaskan hal ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Kenapa museum
ini diberi nama Bronbeek? &lt;i&gt;“Di lokasi dibangun museum ini dulunya terdapat sungai
kecil asli (bukan sungai buatan),”&lt;/i&gt; kata Hans. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-L1KMXJIoJkE/UY-mpj3lAFI/AAAAAAAABug/2x0g_-0RVU0/s1600/IMG_0726.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://4.bp.blogspot.com/-L1KMXJIoJkE/UY-mpj3lAFI/AAAAAAAABug/2x0g_-0RVU0/s320/IMG_0726.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Berpose ria di depan patung KNIL&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;Dalam bahasa
Belanda, Bronbeek berarti aliran air/sungai kecil. Kami sempat melihat bekas
sumber aliran sungai itu di belakang museum.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Meskipun
Bronbeek sebagai destinasi wisata untuk umum, namun museum ini juga menjadi
tempat untuk anak-anak sekolah di Belanda mengenal sejarah bangsanya dari
dekat. Ini tak terlepas dari terobosan sistem pembelajaran yang dianut Belanda.
Sistem ini melatih siswa untuk menganalisis dan memecahkan masalah dengan
praktis dan mandiri melalui penekanan pada cara belajar mandiri dan
kedisiplinan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-_noTZHyEo_4/UY-moNSbDyI/AAAAAAAABuY/1MOakgCbc_g/s1600/IMG_0760.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://4.bp.blogspot.com/-_noTZHyEo_4/UY-moNSbDyI/AAAAAAAABuY/1MOakgCbc_g/s320/IMG_0760.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Tarmizi Busu, pengungsi Aceh di Denmark saat di Bronbekk&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Bahkan,
seperti disinggung di atas, museum Bronbeek ini jadi pilihan para peneliti yang
ingin mempelajari sejarah Belanda dan bangsa-bangsa taklukannya. Mereka dapat
mengakses semua dokumen, benda atau prasasti yang ada di sini untuk keperluan
akademiki/studi. Apalagi, banyak benda-benda penting tersimpan di museum ini
yaitu meriam, seragam tentara, pedang, pangkat dan medali penghargaan militer,
poster proganda masa konflik, patung, senjata ringan, gambar dan beberapa catatan
dan koleksi buku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Bagaimana
dengan anggaran pengelolaan museum? Menurut Hans, dananya semua subsidi dari
kerajaaan. Segela keperluan untuk museum itu memang menjadi tanggung jawab
pihak Kerajaan. Mereka hanya mengurus dan merawatnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Hans ini masih
muda. Dia cukup lancar berbahasa Indonesia. Dia bawa kami berkeliling semua
sudut museum. Kami juga diajak melihat-lihat sudut khusus tempat menyimpan
semua benda dan arsip perang Aceh. Kami sedikit kecewa, karena hasrat kami
untuk melihat langsung bendera perang Aceh, tak kesampaian. Menurut Hans, tahun
depan jika kami berkunjung lagi, kami bisa melihatnya. Pasalnya, ruangan tempat
menyimpan benda-benda itu sedang direhab. Kami sempat melihat beberapa pekerja
yang bongkar pasang di situ.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-TUdM3y5_DVk/UY-mp_gf6XI/AAAAAAAABuo/8lT3FKf7YNw/s1600/IMG_0796.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://1.bp.blogspot.com/-TUdM3y5_DVk/UY-mp_gf6XI/AAAAAAAABuo/8lT3FKf7YNw/s320/IMG_0796.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style'; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Saya dan Drs. Hans van den Akker&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;Sementara W.M
Adrians, pengelola perpustakaan di museum itu, menceritakan, sebagian kebutuhan
buku (termasuk buku klasik) mereka beli dari penerbit lain melalui dana subsidi
kerajaan. &lt;i&gt;“Banyak juga penerbit yang menyumbang buku. Jumlahnya mencapai
ribuan,”&lt;/i&gt; kata Adrian, yang pasih berbahasa Indonesia. Adrian pernah lama
tinggal di Indonesia, di kawasan Maluku.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Tak hanya Hans
dan Adrian yang bisa berbahasa Indonesia. Sejumlah orang yang kami temui semua
mampu berbicara bahasa Indonesia. Mereka rupanya bagian dari 43 veteran perang
masa penjajahan Belanda. Kesan mereka kepada kami cukup baik. Mereka cukup
bangga pada kami yang dari Aceh. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-dEk7Cz-vyyY/UY-mr12m1mI/AAAAAAAABuw/bio060dl7nk/s1600/IMG_0811.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://4.bp.blogspot.com/-dEk7Cz-vyyY/UY-mr12m1mI/AAAAAAAABuw/bio060dl7nk/s320/IMG_0811.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Saya dan W.M Adrians&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;“Orang Aceh kuat-kuat, dan sangat gagah
berani,”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt; ujar seorang
kakek yang usianya sudah 90 lebih. Setiap hari dia bersama-sama temanya menyapa
orang yang berkunjung, membersihkan halaman, dan menyapu. Mereka cukup senang,
hal itu kami tahu dari raut wajah mereka yang selalu mengangkat tangan dan
menyapa kami, termasuk ketika kami berpamit pulang. Dari mereka pula kita bisa
memperoleh cerita-cerita seputar perang di Nusantara. Mereka dengan senang hati
mau berbagi kisah hidup serta pengalaman perang yang mereka alami sewaktu
menjadi tentara kolonial dulunya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Adrian juga
menceritakan, sebagian buku-buku di pustaka Bronbeek yang dikelolanya dikirim
ke Aceh.&lt;i&gt; “Tapi sebagian dari buku itu sudah hilang karena tsunami,”&lt;/i&gt; katanya,
pelan. Kini, sebagian dari buku-buku itu masih bisa diakses dan didownload di
www.acehbooks.org secara gratis. Situs ini disedikan dan dibiayai oleh Menteri
Pendidikan Belanda, yang dikelola oleh KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-,
Land-en Volkenkunde) di Leiden. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;KITLV tersebut
menyedikan sebagian besar literatur tentang Aceh secara digital untuk
diserahkan kepada masyarakat Aceh. Proyek tersebut terutama untuk proses
digitalisasi sejumlah literatur tentang Aceh diawasi oleh Perpustakaan Kerajaan
di Den Haag.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Di website ini
terdapat lebih kurang seribuan lebih file buku Aceh secara digital dalam format
pdf yang bisa didownloads. Informasi dalam website Aceh Books menyebutkan bahwa
judul-judul lain yang berhubungan dengan Aceh akan ditambahkan seiring waktu.
Buku-buku dalam website ini terdapat dalam sejumlah bahasa seperti Indonesia,
Aceh, Inggris, Belanda dan juga dalam bahasa-bahasa Eropa lainnya yang
diterbitkan oleh penerbit-penerbit, baik yang ada di Indonesia maupun di Eropa.
Buku-buku tersebut tertanggal mulai abad 17 hingga hari ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Seperti Museum Aceh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Menurut saya,
museum Bronbeek itu cukup istimewa. Setelah puas berkeliling, kita hampir selalu berpapasan dengan benda-benda perang yang berhubungan dengan Aceh. Kita
akan langsung terbayang pada heroisme pejuang Aceh dulunya. Bayangkan, meriam-meriam
eks perang Aceh dalam ukuran yang berbeda menempati sisi-sisi utama ruangan
berkaca dan melintangi sudut-sudut museum. Kemana saja kita berjalan dalam
museum itu, meriam-meriam itu menjadi pemandangan utama yang cukup kontras,
seperti meriam berukiran keemasan buatan Turki sampai meriam Inggris yang
dihadiahkan kepada Sultan Aceh dahulu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Selepas pintu
masuk utama, tepatnya di dinding sebelah kita, kita akan langsung disapa dengan
wajah gambar-gambar Gubernur Militer Belanda di Aceh, mulai dari Mayor Jendral
Kohler yang mati terbunuh sampai Van Heutz yang buta sebelah sebagai ‘hadiah’
dari pejuang Mujahidin Aceh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Apa yang saya
lihat ini hanyalah sedikit dari bentuk kepedulian Belanda pada pengembangan
pendidikan serta upaya merawat peninggalan sejarah untuk anak cucu. []&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Referensi:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;a href="http://www.nesoindonesia.or.id/sistem-pendidikan/institusi-pendidikan-di-belanda"&gt;http://www.nesoindonesia.or.id/sistem-pendidikan/institusi-pendidikan-di-belanda&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;a href="http://www.defensie.nl/cdc/bronbeek/museum/" style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;http://www.defensie.nl/cdc/bronbeek/museum/&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2012/02/06/0949462/Mengapa.Memilih.Studi.ke.Belanda" style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;http://edukasi.kompas.com/read/2012/02/06/0949462/Mengapa.Memilih.Studi.ke.Belanda&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Willem_III_dari_Belanda" style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;http://id.wikipedia.org/wiki/Willem_III_dari_Belanda&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;a href="http://jumpueng.blogspot.com/2011/05/belanda-yang-lain.html" style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;http://jumpueng.blogspot.com/2011/05/belanda-yang-lain.html&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogAceh/~4/bt2CG3vfmhI" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4736781840520968273/posts/default/146470691805228179?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4736781840520968273/posts/default/146470691805228179?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/BlogAceh/~3/bt2CG3vfmhI/aceh-willem-iii-dan-bronbeek.html" title="Aceh, Willem III, dan Bronbeek" /><author><name>Taufik Al Mubarak</name><uri>https://plus.google.com/103535029759927248968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh4.googleusercontent.com/-ygh4RP4SCtM/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABqI/uKQjuFGJZfI/s512-c/photo.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-L1KMXJIoJkE/UY-mpj3lAFI/AAAAAAAABug/2x0g_-0RVU0/s72-c/IMG_0726.JPG" height="72" width="72" /><feedburner:origLink>http://jumpueng.blogspot.com/2013/05/aceh-willem-iii-dan-bronbeek.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEMBQ346fip7ImA9WhBbFkU.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-4736781840520968273.post-9059581583151749449</id><published>2013-05-05T11:32:00.000+07:00</published><updated>2013-05-16T12:34:12.016+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-05-16T12:34:12.016+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Traveling" /><title>Bronbeek, Sebuah Museum Riset</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;Kepeloporan
Belanda di dunia pendidikan tak perlu diragukan lagi. Universitas-universitas
di Belanda termasuk dalam peringkat 10 di antara 200 perguruan terbaik di
dunia. Beberapa universitas yang layak dicatat di antaranya, &lt;/span&gt;&lt;i style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;Leiden University, Utrecht University,
University of Amsterdam, University of Groningen&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt; (untuk universitas riset);
&lt;/span&gt;&lt;i style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;Amsterdam School of the Arts, Business
School of Amsterdam&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt; (untuk universitas terapan), dan sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-Dz-NWe3zyY4/Tdt8aaxqWyI/AAAAAAAABL4/IVHAUtLTsD0/s1600/IMG_0800.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="212" src="http://1.bp.blogspot.com/-Dz-NWe3zyY4/Tdt8aaxqWyI/AAAAAAAABL4/IVHAUtLTsD0/s320/IMG_0800.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Bahkan, pada
tahun 2011, sebanyak 12 universitas di Belanda masuk dalam peringkat 200 besar
daftar perguruan tertinggi di dunia. Daya tarik dunia pendidikan di Belanda tak
terlepas dari keberadaan beberapa museum. Nama-nama museum itu sangat harum ke
seluruh dunia, seperti Museum Leiden, Bronbeek, Tropen dan lain-lain.
Museum-museum di Belanda menjadi destinasi dan tempat para ilmuan menggali
rujukan sejarah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-L1KMXJIoJkE/UY-mpj3lAFI/AAAAAAAABug/2x0g_-0RVU0/s1600/IMG_0726.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://4.bp.blogspot.com/-L1KMXJIoJkE/UY-mpj3lAFI/AAAAAAAABug/2x0g_-0RVU0/s320/IMG_0726.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Saya beruntung
bisa melihat negeri Belanda dari dekat, terutama bisa mengunjungi Museum
Bronbeek di Arhem, Belanda pada 27 Juli 2010 silam. Selain menyimpan banyak
benda-benda bersejarah, museum Bronbeek menjadi istimewa karena terdapat 43
veteran perang. Dari mereka pula kita bisa memperoleh cerita-cerita seputar
perang di Nusantara. Mereka dengan senang hati mau berbagi kisah hidup serta
pengalaman perang yang mereka alami sewaktu menjadi tentara kolonial dulunya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Tak mengherankan
jika negeri berpenduduk lebih kurang 8 juta orang itu mulai diperhitungkan
sebagai kiblat kemajuan dan pusat pendidikan. Hal itu pula yang menyebabkan museum-museum
di Belanda ramai dikunjungi para peneliti, pelajar, mahasiswa dan professor
dari seluruh dunia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Awalnya saya
membayangkan museum Bronbeek pastilah seperti kebanyakan museum lain di tempat
kita: tak terurus, pengap, berantakan dan sangat tak nyaman dikunjungi. Namun,
begitu memasuki areal museum, kita pun terkagum-kagum. Kita dapat melihat bagaimana
rapinya Belanda merawat ingatan bangsanya dengan nilai-nilai sejarah: melalui
benda-benda perang (meriam) dan literatur. Meriam dari berbegai jenis itu
dipajang mengelilingi dinding museum. Benda-benda perang ini dibawa dari
sejumlah wilayah taklukan di Nusantara.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-_noTZHyEo_4/UY-moNSbDyI/AAAAAAAABuY/1MOakgCbc_g/s1600/IMG_0760.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://4.bp.blogspot.com/-_noTZHyEo_4/UY-moNSbDyI/AAAAAAAABuY/1MOakgCbc_g/s320/IMG_0760.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;Museum
Bronbeek ini termasuk salah satu museum tertua di Belanda. Pengelola atau
conservator museum, Drs. Hans van den Akker menyebutkan, usia museum yang
sering disebut Museum Perang ini sudah 150 tahun, sejak pertama kali dibangun
oleh Raja Willem III tahun 1863.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Willem atau
Willem Alexander Paul Frederik Lodewijk van Oranje-Nassau, lahir di Brussels,
Belgia, 17 Februari 1817 merupakan Raja Belanda dan Grand-Ducal House of
Luxembourg. Pada 23 November 1890, dia meninggal (pada umur 73 tahun) dan
mewariskan tahta kepada putrinya, Wilhelmina (ketika itu baru berumur 10 tahun).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Menurut Hans,
Raja Willem III membangun museum ini untuk mengenang pasukan setianya, KNIL
sebagai penghormatan atas jasa mereka. Nama Bronbeek diberikan karena “&lt;i&gt;di lokasi dibangun museum ini dulunya
terdapat sungai kecil asli (bukan sungai buatan),”&lt;/i&gt; kata Hans. Dalam bahasa
Belanda, Bronbeek berarti aliran air/sungai kecil. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-dEk7Cz-vyyY/UY-mr12m1mI/AAAAAAAABuw/bio060dl7nk/s1600/IMG_0811.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://4.bp.blogspot.com/-dEk7Cz-vyyY/UY-mr12m1mI/AAAAAAAABuw/bio060dl7nk/s320/IMG_0811.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Meskipun
Bronbeek sebagai destinasi wisata untuk umum, museum ini juga menjadi tempat
untuk anak-anak sekolah di Belanda mengenal sejarah bangsanya. Ini tak terlepas
dari terobosan sistem pembelajaran yang dianut Belanda, melatih siswa untuk
menganalisis dan memecahkan masalah dengan praktis dan mandiri melalui
penekanan pada cara belajar mandiri dan kedisiplinan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-TUdM3y5_DVk/UY-mp_gf6XI/AAAAAAAABus/HKf-meMCkhQ/s1600/IMG_0796.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://2.bp.blogspot.com/-TUdM3y5_DVk/UY-mp_gf6XI/AAAAAAAABus/HKf-meMCkhQ/s320/IMG_0796.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;Museum
Bronbeek ini jadi pilihan para peneliti yang ingin mempelajari sejarah Belanda
dan bangsa-bangsa taklukannya. Mereka dapat mengakses semua dokumen, benda atau
prasasti yang ada di sini untuk keperluan akademiki/studi. []&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Referensi:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;a href="http://www.nesoindonesia.or.id/sistem-pendidikan/institusi-pendidikan-di-belanda"&gt;http://www.nesoindonesia.or.id/sistem-pendidikan/institusi-pendidikan-di-belanda&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;a href="http://www.defensie.nl/cdc/bronbeek/museum/"&gt;http://www.defensie.nl/cdc/bronbeek/museum/&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2012/02/06/0949462/Mengapa.Memilih.Studi.ke.Belanda"&gt;http://edukasi.kompas.com/read/2012/02/06/0949462/Mengapa.Memilih.Studi.ke.Belanda&lt;/a&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Willem_III_dari_Belanda"&gt;http://id.wikipedia.org/wiki/Willem_III_dari_Belanda&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;a href="http://jumpueng.blogspot.com/2011/05/belanda-yang-lain.html"&gt;http://jumpueng.blogspot.com/2011/05/belanda-yang-lain.html&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----- &amp;gt; &lt;i&gt;Tulisan ini merupakan edisi pendek (hasil revisi) untuk lomba Kompetiblog 2013 dari tulisan sebelumnya&amp;nbsp;&lt;b&gt;http://jumpueng.blogspot.com/2013/05/aceh-willem-iii-dan-bronbeek.html&lt;/b&gt;&amp;nbsp;yang menurut admin kompetiblog terlalu panjang (syarat tulisan tak lebih dari 500 kata).&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogAceh/~4/aUD3q9ACDNE" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4736781840520968273/posts/default/9059581583151749449?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4736781840520968273/posts/default/9059581583151749449?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/BlogAceh/~3/aUD3q9ACDNE/bronbeek-sebuah-museum-riset.html" title="Bronbeek, Sebuah Museum Riset" /><author><name>Taufik Al Mubarak</name><uri>https://plus.google.com/103535029759927248968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh4.googleusercontent.com/-ygh4RP4SCtM/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABqI/uKQjuFGJZfI/s512-c/photo.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-Dz-NWe3zyY4/Tdt8aaxqWyI/AAAAAAAABL4/IVHAUtLTsD0/s72-c/IMG_0800.JPG" height="72" width="72" /><feedburner:origLink>http://jumpueng.blogspot.com/2013/05/bronbeek-sebuah-museum-riset.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A04FQnw-eyp7ImA9WhBVGEo.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-4736781840520968273.post-8677982345109899117</id><published>2013-04-24T23:53:00.000+07:00</published><updated>2013-04-25T15:51:53.253+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-04-25T15:51:53.253+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Artikel" /><title>Bendera dan Perdamaian Aceh</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;i&gt;Di Aceh na alam peudeung&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="p3"&gt;
&lt;i&gt;Cap sikeurueng bak jaroe raja&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="p3"&gt;
&lt;i&gt;Phon di Aceh troh u Pahang&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="p3"&gt;
&lt;i&gt;Tan soe teuntang Iskandar Muda&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="p3"&gt;
..........&lt;/div&gt;
&lt;div class="p3"&gt;
(Nadham Aceh)&lt;/div&gt;
&lt;div class="p2"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="p3"&gt;
Halaman konflik Aceh tiba-tiba terbuka kembali. Cerita ‘bendera’ dan ‘lambang’ Aceh menjadi isu seksi sebagai santapan media. Aceh yang secara ejaan cukup singkat di lidah ternyata begitu rumit, kompleks dan sensitif. Bayangan konflik seperti di masa lalu pun terhidang di benak kita.&lt;/div&gt;
&lt;div class="p2"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="p3"&gt;
Pemicunya adalah pengesahan Qanun Nomor 3 tahun 2013 tentang &lt;a href="http://jumpueng.blogspot.com/2013/03/makna-bendera-dan-lambang-gam.html" target="_blank"&gt;Bendera dan Lambang Aceh&lt;/a&gt; oleh Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Jumat (22/3). Pemerintah Aceh di bawah kepemimpinan Zaini Abdullah dan Muzakkir Manaf, sejak Senin (25/3/2013) resmi menetapkan bendera dan lambang Gerakan Aceh Merdeka (GAM) itu sebagai bendera dan lambang resmi Propinsi Aceh.&lt;/div&gt;
&lt;div class="p2"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="p3"&gt;
Pengesahan tersebut menempatkan Aceh dan Jakarta pada posisi berhadap-hadapan. Di Aceh bendera dan lambang menjadi harga mati yang tak boleh ditawar-tawar. Rakyat pun larut dalam euphoria kemenangan. Sementara Jakarta jelas tak memberi restu. Bendera dan lambang tersebut diyakini akan menghidupkan kembali semangat separatisme rakyat Aceh. Penolakan serupa juga disuarakan masyarakat Gayo dan beberapa daerah yang masih memendam keinginan membentuk propinsi tersendiri, terpisah dari Aceh.&lt;/div&gt;
&lt;div class="p2"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="p3"&gt;
Semua pihak hendaknya berhati-hati dan menyikapi persoalan ini dengan kepala jernih. Semua diskusi, pendapat, sikap dan kebijakan terkait isu bendera dan lambang harus ditempatkan dalam kerangka perdamaian. Bagi kita, ada dua pertanyaan penting yang perlu segera dijawab adalah, apakah bendera dan lambang Aceh itu sebagai simbol kedaulatan? Ataukah bendera itu hanya sekadar ‘obat pelelap tidur’ sambil dinina-bobo ‘dongeng’ romantisme sejarah!&lt;/div&gt;
&lt;div class="p2"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="p3"&gt;
&lt;b&gt;Kesepakatan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="p3"&gt;
Pasca-MoU Helsinki dan lahirnya Undang-Undang Nomor 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA) menciptakan kondisi sosial-politik-ekonomi yang kondusif di Aceh. Aceh dapat menjalankan pemerintahan sendiri. Banyak mantan kombatan GAM berpartisipasi dalam Pemilihan Kepala Pemerintahan Daerah (Pilkada), mulai tingkat Gubernur hingga Bupati/Walikota serta Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) dan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), sesuatu yang mustahil saat Aceh masih dibalut konflik.&lt;/div&gt;
&lt;div class="p2"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="p3"&gt;
Kebersediaan berunding dan memilih penyelesaian Aceh secara damai berarti secara tidak langsung mengakui dan menerima apapun konsekuensi hasilnya. Hal ini sangat disadari dan dipahami oleh juru runding kedua belah pihak (RI dan GAM) saat itu. Bahwa, ada kompensasi-kompensasi yang akan diberikan kepada pihak lain. Di antaranya, kehadiran Partai Politik Lokal, pemusnahan senjata, dan distribusi ekonomi yang lebih adil.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div class="p2"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="p3"&gt;
Kompensasi itu tentu saja tidak gratis. GAM sebagai sebagai sebuah subjek pelaku konflik bersedia menutup rapat-rapat keinginan memerdekakan Aceh untuk selamanya. MoU memuluskan jalan bagi integrasi total Aceh ke dalam konstitusi Indonesia, dan Aceh tak boleh lagi bicara referendum atau merdeka.&lt;/div&gt;
&lt;div class="p2"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="p3"&gt;
Rupanya, kesepahaman itu tak semulus yang dikira. Poin paling sensitif dan krusial tentu saja terkait bendera, lambang dan himne. Dalam MoU Helsinki (artikel 1.1.5) disebutkan, &lt;i&gt;“Aceh memiliki hak untuk menggunakan simbol-simbol wilayah termasuk bendera, lambang dan himne.” &lt;/i&gt;Poin ini kemudian diterjemahkan dalam UUPA, pada pasal 246 ayat (2), &lt;i&gt;“Selain Bendera Merah Putih sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pemerintah Aceh dapat menentukan dan menetapkan bendera daerah Aceh sebagai lambang yang mencermnkan keistimewaan dan kekhususan. &lt;/i&gt;Artinya, penentuan dan penetapan bendera Aceh dibolehkan selama bukan dimaksudkan sebagai &lt;i&gt;simbol kedaulatan dan tidak diberlakukan sebagai bendera kedaulatan di Aceh&lt;/i&gt; (ayat 3), serta penetapan bendera, lambang dan himne diatur bentuk Qanun yang berpedoman pada perundang-undangan (ayat 4).&lt;/div&gt;
&lt;div class="p2"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="p3"&gt;
&lt;b&gt;Resistensi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="p3"&gt;
Semua pihak mesti bijak memandang masalah krusial ini. Jangan sampai sikap resistensi yang berlebihan justru memupuk kembali semangat konfrontasi secara lebih terbuka. Hal ini menjadi penting, karena: &lt;i&gt;Pertama,&lt;/i&gt; semangat penetapan bendera dan lambang Aceh kini sama sekali berbeda dengan saat ketika Hasan Tiro memproklamirkan Aceh Merdeka tahun 1976 serta ketika puncak konflik Aceh (1999-2002).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div class="p2"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="p3"&gt;
Faktor Pemilu 2014 tak boleh dikesampingkan. Elit Partai Aceh yang kini mendominasi pemerintahan dan parlemen Aceh menyadari dukungan terhadap mereka pada 2014 bakal merosot tajam. Kinerja mereka sejauh ini tidak begitu menggembirakan, dan publik Aceh mulai pesimistis terhadap kinerja mereka. Untuk tetap memikat hati pemilih, mereka memerlukan jualan baru. Bendera dan lambang diyakini akan kembali memulihkan kepercayaan publik Aceh terhadap mereka. Kehadiran bendera dan lambang Aceh setidaknya akan membuat rakyat terlena dan lupa dengan kondisi ril yang terjadi.&lt;/div&gt;
&lt;div class="p2"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="p3"&gt;
&lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, tak semua pihak di Aceh sepakat dengan Qanun tersebut. Penolakan muncul di mana-mana, baik secara diam-diam maupun secara terbuka. Penolakan itu dapat disimak melalui komentar tokoh-tokoh di media, obrolan di jejaraing soal (Facebook dan Twitter). Mereka beralasan bahwa bendera Aceh itu sama sekali tak bisa menggantikan beras sebagai kebutuhan riil masyarakat. Sementara penolakan secara terbuka disuarakan oleh komunitas Gayo dan masyarakat beberapa kabupaten yang memang memendam keinginan untuk menalak tiga provinsi induk, Aceh.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div class="p2"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="p3"&gt;
Tak hanya Qanun bendera dan lambang yang mereka tolak, melainkan juga Qanun Wali Nanggroe. Mereka yang menolak beralasan bahwa Qanun Wali Nanggroe sangat diskriminatif. Yang mereka sorot tak hanya soal anggaran, melainkan beberapa point dalam Qanun seperti calon Wali Nanggroe harus mampu berbicara bahasa Aceh secara fasih. Seperti diketahui, di Aceh tak semua suku berbicara dalam bahasa Aceh, seperti misalnya masyarakat Gayo, Alas, dan Aneuk Jamee.&lt;/div&gt;
&lt;div class="p2"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="p3"&gt;
&lt;b&gt;Semangat perdamaian&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="p3"&gt;
Kita berharap Pemerintah Aceh (juga Parlemen Aceh) dan Pemerintah Pusat segera menemukan jalan tengah terkait pro-kontra bendera dan lambang Aceh. Persoalan bendera dan lambang ini jangan sampai mencederai semangat perdamaian yang sedang dinikmati rakyat Aceh.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div class="p2"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="p3"&gt;
Diakui atau tidak, secara historis bendera dan lambang Aceh yang disahkan DPR Aceh itu sangat berbau separatisme. Sehingga diyakini akan menguak lagi hasrat dan birahi Aceh untuk melawan Jakarta. Apalagi jika ditelaah makna dari bendera dan lambang, merupakan bentuk penegasan kedaulatan Aceh. Inilah yang menjadi batu sandungan dan kerikil tajam terhadap masa depan perdamaian Aceh.&lt;/div&gt;
&lt;div class="p2"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="p3"&gt;
Perlu segera dicari solusi alternatif, agar yang menjadi bendera dan lambang Aceh benar-benar merupakan simbol perdamaian. Sehingga mau tak mau mewajibkan semua pihak di Aceh untuk tak lagi mengungkit luka yang bisa mencederai perdamaian.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div class="p2"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="p3"&gt;
&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/f/fe/Flag_of_the_Aceh_Sultanate.png" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="203" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/f/fe/Flag_of_the_Aceh_Sultanate.png" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Alam Peudeung (wikimedia.org)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
Jika yang diusung adalah semangat perdamaian serta menghormati sejarah masa lalu Aceh, maka &lt;i&gt;alam peudeung&lt;/i&gt; (Bendera Pedang) seperti termaktub dalam &lt;i&gt;nadham &lt;/i&gt;(syair) Aceh yang memiliki warna dasar merah, pedang dan bulan bintang, jauh lebih memungkinkan. Selain tak mengusik persatuan Aceh, &lt;i&gt;alam peudeung&lt;/i&gt; sangat cocok dengan semangat perdamaian.&lt;/div&gt;
&lt;div class="p2"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="p3"&gt;
Alam &lt;i&gt;peudeung&lt;/i&gt; akan memupuk rasa bangga pada sejarah masa lalu Aceh. Ini untuk menegaskan, bahwa romantisme Aceh tak dimulai pada 1976 ketika Hasan Tiro memaklumkan perang terhadap Jakarta, melainkan pada masa keemasan Aceh ketika diperintah Sultan Iskandar Muda, seperti terlukis dalam &lt;i&gt;nadham&lt;/i&gt; Aceh yang dikutip di awal tulisan ini.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div class="p2"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="p3"&gt;
Penggunaan &lt;i&gt;alam peudeung&lt;/i&gt; itu sekaligus untuk meminimalisir klaim pihak-pihak tertentu sebagai yang paling berjasa bagi terciptanya perdamaian. Buah perdamaian Aceh harus dinikmati oleh seluruh masyarakat Aceh, baik yang tergabung dalam Gerakan Aceh Merdeka (GAM) maupun yang tidak. Semua memiliki jasa dan saham atas lahirnya perdamaian.&lt;/div&gt;
&lt;div class="p2"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="p3"&gt;
Pada akhirnya, dialog merupakan kunci untuk menyelesaikan polemik bendera dan lambang secara bermartabat, tak ada pihak yang harus kehilangan muka. Bahwa perdamaian Aceh terlalu mahal untuk dinodai, untuk dan oleh alasan apapun! []&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogAceh/~4/WBJWnAYwrcw" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4736781840520968273/posts/default/8677982345109899117?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4736781840520968273/posts/default/8677982345109899117?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/BlogAceh/~3/WBJWnAYwrcw/bendera-dan-perdamaian-aceh.html" title="Bendera dan Perdamaian Aceh" /><author><name>Taufik Al Mubarak</name><uri>https://plus.google.com/103535029759927248968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh4.googleusercontent.com/-ygh4RP4SCtM/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABqI/uKQjuFGJZfI/s512-c/photo.jpg" /></author><feedburner:origLink>http://jumpueng.blogspot.com/2013/04/bendera-dan-perdamaian-aceh.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkUARXs8cSp7ImA9WhBWFkg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-4736781840520968273.post-3223079888471800972</id><published>2013-03-26T23:28:00.002+07:00</published><updated>2013-04-11T12:30:44.579+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-04-11T12:30:44.579+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="catatan" /><title>Makna Bendera dan Lambang GAM</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
Euphoria &lt;b&gt;&lt;a href="http://www.jumpueng.blogspot.com/2013/03/makna-bendera-dan-lambang-gam.html" target="_blank"&gt;bendera dan lambang Aceh&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; menjalar di seluruh Aceh. Beberapa pengguna BB memasang lambang atau bendera GAM sebagai display picture (DP), begitu juga pengguna twitter mengganti dengan gambar bendera atau lambang, termasuk juga pengguna facebook.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Beberapa daerah, warga mulai berkonvoi mengarak bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Apakah Aceh sudah merdeka sehingga rakyat berani mengarak bendera yang pernah ‘diharamkan’ pemerintah pusat dikibarkan di Aceh?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Euphoria itu merupakan buntut dari pengesahan Qanun Nomor 3 Tahun 2013 tentang Bendera dan Lambang Aceh oleh DPRA pada Jumat (22/3/2013). Pemerintah Aceh di bawah kepemimpinan duet mantan GAM, Zaini Abdullah dan Muzakkir Manaf, mulai Senin (25/3/2013) resmi menetapkan &lt;i&gt;bendera dan lambang Gerakan Aceh Merdeka&lt;/i&gt; tersebut sebagai bendera dan lambang resmi propinsi Aceh. Qanun tersebut sudah diundangkan dan ditempatkan dalam Lembaran Aceh tahun 2013 Nomor 3 dan tambahan Lembaran Aceh Nomor 49.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam Qanun Bendera dan Lambang Aceh itu, bendera Aceh berbentuk segi empat persegi panjang dengan ukuran lebar 2/3 dari panjang, 2 buah garis lurus putih di bagian atas, 2 buah garus lurus putih di bagian bawah, 1 garis hitam di bagian atas, 1 garis hitam di bagian bawah. Pada bagian tengah bendera terdapat gambar bulan bintang dengan warna dasar merah, putih, dan hitam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk lambang terdiri atas gambar singa, buraq, rencong, gliwang, perisai, rangkaian bunga, daun padi, jangkar, huruf ta tulisan Arab, kemudi dan bulan bintang dengan semboyan &lt;i&gt;Hudep Beu Sare Mate Beu Sajan.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, apa makna &lt;u&gt;bendera dan lambang&lt;/u&gt; tersebut? Begitulah kata kunci (keyword) yang dicari beberapa pengguna internet, dan kebetulan menjadi kata kunci yang paling banyak dicari di blog saya. Baiklah, saya akan bahas singkat saja, berdasarkan pengetahuan dan literature yang saya tahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang saya tulis ini berdasarkan pengetahuan yang saya peroleh dari dua kali mengikuti Acehnese Education, pertama di Alue Dua, Nisam, Aceh Utara, dan kedua pengajian rutin di Kantor Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA) saat bulan ramadhan. Di kedua kesempatan tersebut, hadir Teungku Yahya Muaz, yang sebelumnya dikenal sebagai Juru Penerangan ASNLF Komando Pusat Tiro.&lt;br /&gt;
&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-ffgHINgIRz8/UVHL06Ne5xI/AAAAAAAABqs/_nXgUq3CggQ/s1600/Lambang.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="146" src="http://4.bp.blogspot.com/-ffgHINgIRz8/UVHL06Ne5xI/AAAAAAAABqs/_nXgUq3CggQ/s400/Lambang.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Bendera dan lambang GAM&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;BENDERA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Garis hitam memiliki makna bahwa kerajaan Aceh sempat vakum (kekosongan kekuasaan) sekaligus sebagai tanda mengingat para syuhada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Garis putih memiliki makna bahwa perang mencapai kemerdekaan merupakan perang suci, dan yang gugur dalam perang tersebut mendapat pahala syahid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dasar (tanah) berwarna merah memiliki makna bahwa Bangsa Aceh wajib mempertahankan dan membela yang hak serta menghancurkan yang bathil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bintang lima memiliki makna representasi rukun Islam lima, sementara bulan berarti sebagai cahaya iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Singkatnya, makna umum bendera GAM tersebut adalah bangsa Aceh rela berkubang darah untuk membela yang hak dan menghancurkan yang bathil, menjalankan rukun islam di bawah lindungan cahaya Iman (Bansa Atjheh neutem meuro darah untuk peudong njang hak dan peu hantjoe njang bateu neupeudjak rukon Islam dimijueb lindungan tjahaja iman.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengibaran bendera GAM sering dilakukan berbarengan dengan lantunan suara adzan. Kenapa harus adzan? Dasar hukumnya adalah, ketika Rasulullah menaklukkan kota Mekkah, Rasulullah meminta Bilal bin Rabbah mengundangkan adzan sekaligus pengibaran bendera kemenangan. Ini sesuai dengan salah satu lafaz adzan, haiya-alal-falah (mari menuju kemenangan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;LAMBANG&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
SINGA merupakan sebagai simbol kedaulatan Aceh &lt;i&gt;(The Lion crowned: Symbol of sovereignty of the state of Aceh)&lt;/i&gt;. Artinya, Aceh merupakan Negara berdaulat dan independen di Pulau Sumatera, memiliki territorial, rakyat, memiliki kepala Negara dan konstitusi, dan berlaku Adat bak Po Teumeureuhom.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
BURAQ merupakan binatang yang berlari secepat kilat dalam mitologi Islam &lt;i&gt;(Buraq: Islamic mythology)&lt;/i&gt;. Buraq di sini berarti cahaya. Dalam mitologi Islam, buraq berarti adalah kenderaan yang digunakan Nabi Muhammad SAW selama Isra’ dan Mi’raj (Perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa di Jerusalem, dan dari sana sampai ke Sidratul Muntaha, dan kembali lagi ke Mekkah). Filosofinya, ini adalah simbol komunikasi yang sangat cepat, keindahan, loyalitas, dan global. Artinya, orang Aceh harus berpikir global dan bertindak lokal. Selain itu, Buraq berarti hukom bak Syiah Kuala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
BULAN SABIT dan BINTANG (&lt;i&gt;Crescent &amp;amp; Star&lt;/i&gt;). Bulan dan Bintang lazim disebut sebagai simbol Islam. Islam adalah konstitusi negara dan cara hidup orang Aceh &lt;i&gt;(The Symbol of Islam. Islam is the constitution of the state and the way of life of the Achehnese)&lt;/i&gt;. Artinya, bintang berarti rukun Islam yang lima, sementara bulan merupakan cahaya iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
RENCONG, PERISAI, dan GLIWANG adalah simbol reusam Negara Aceh (Reusam adalah alat untung menegakkan adat dan hukum, dalam hal ini dilakukan oleh laksamana dan bintara). Rencong merupakan senjata khas Aceh yang merupakan simbol pertahanan. Rencong dibuat dengan desain khusus dari kata Arab: "Bismillah" artinya dengan nama Allah (The Symbol of defence, Rincong is made with special design from the Arabic word: "Bismillah" means with the name of Allah)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Padi merupakan lambang kemakmuran. Pade peunadjoh phon bansa Aceh (Padi merupakan makanan sehari-hari orang Aceh). Simbol rantai (renek-renek) merupakan Qanun Neugara Aceh. Lambang Sauh merupakan tempat tersangkut pulau Aceh, dua garis di atas sauh melambangkan majelis tuha peut Neugara Aceh, dan empat garis silang melambangkan Majelis Tuha Lapan Neugara Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teks di bawah lambang “hudep beusare mate beu sajan” merupakan rakyat Aceh harus hidup secara jantan dan mati bersama-sama &lt;i&gt;("Tiger in life, together in death").&lt;/i&gt; Simbol ini juga bermakna loyalitas nasional &lt;i&gt;(Symbol of national loyality)&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam lambang tersebut juga ada roda kemudi yang memiliki huruf T dalam roda. Huruf "T" adalah simbol dari kata pertama dari abjad gelar kebangsawanan Aceh. Yaitu Tuanku, Tengku dan Teuku. Ini adalah simbol persatuan dari penguasa Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa lambang itu dieja Lambang Buraq-Singa? Padahal kalau diperhatikan lambang, kita harus mengejanya dengan Lambang Singa-Buraq (gambar Singa lebih duluan). Dalam bukunya, Buraq vs Garuda, Indra J Piliang yang meneliti khusus pengaruh lambang dalam perang Aceh-Jakarta menyimpulkan, sistem membaca orang Aceh mengikuti ejaan Arab, dari kanan ke kiri. Jadilah, lambang itu disebut duluan Buraq (berada di sisi kanan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lambang tersebut merupakan hasil ciptaan pendiri Gerakan Aceh Merdeka, Teungku  Hasan di Tiro. Deskripsi lambang dalam bahasa Inggris dilakukan oleh dr Husaini Hasan. Sekilas lambang itu mirip dengan lambang kerajaan Turki. []&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;---- note: tulisan ini saya tulis karena banyak sekali pengguna internet mencari kata kunci “Makna Lambang Buraq-Singa” yang didirect ke blog saya ini. Mudah-mudahan ini bisa menjawab keingintahuan kita bersama. &lt;/i&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogAceh/~4/2tLAL09IQPY" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4736781840520968273/posts/default/3223079888471800972?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4736781840520968273/posts/default/3223079888471800972?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/BlogAceh/~3/2tLAL09IQPY/makna-bendera-dan-lambang-gam.html" title="Makna Bendera dan Lambang GAM" /><author><name>Taufik Al Mubarak</name><uri>https://plus.google.com/103535029759927248968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh4.googleusercontent.com/-ygh4RP4SCtM/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABqI/uKQjuFGJZfI/s512-c/photo.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-ffgHINgIRz8/UVHL06Ne5xI/AAAAAAAABqs/_nXgUq3CggQ/s72-c/Lambang.jpg" height="72" width="72" /><feedburner:origLink>http://jumpueng.blogspot.com/2013/03/makna-bendera-dan-lambang-gam.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CkYBQHc7eCp7ImA9WhBQGEs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-4736781840520968273.post-5140565520094934064</id><published>2013-03-21T16:34:00.002+07:00</published><updated>2013-03-21T17:02:31.900+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-03-21T17:02:31.900+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="catatan" /><title>Ranup dan Ureueng Aceh</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
Masih ingat &lt;a href="http://jumpueng.blogspot.com/2008/01/memahami-aceh-lewat-humor.html" target="_blank"&gt;humor yang beredar di masyarakat saat Aceh&lt;/a&gt; dibalut konflik? Salah satu cerita banyak beredar dari mulut ke mulut yaitu cerita soal ‘sirih’*).  Cerita ini tentang seorang serdadu yang bertamu ke sebuah rumah untuk meminta ‘sirih’ (ranup**) dalam bahasa Aceh).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu hari, saat berpatroli di gampong, seorang serdadu mampir ke sebuah rumah warga. Kebetulan rumah itu hanya didiami seorang ibu lanjut usia. Si ibu ini takut bukan main. Karena biasanya, jika serdadu mampir pasti ada masalah atau ada saja orang yang ditangkap. Terjadilah dialog keduanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
+ Serdadu: Ada sirih, bu?&lt;br /&gt;
- Ibu: &lt;i&gt;Hana si rih, ka dijak u blang&lt;/i&gt; (Si ibu ini punya anak bernama Idris, sering dipanggil ‘Si Rih’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
+ Serdadu: Apa?&lt;br /&gt;
- Ibu: &lt;i&gt;Apa pih ka u blang cit&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si serdadu, selain bingung juga kesal. Obrolan dia dan si ibu seperti tak nyambung. Sambil, si Serdadu mengomel, “Ngomong apa si ibu ini, nggak nyambung.” Si ibu kebetulan mendengar ucapan "Ngomong" yang dipikirnya 'umong'***), dia pun menyahut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibu: &lt;i&gt;Hana le, puet naleih sagai!&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Serdadu itu pun berlalu sambil bicara tak jelas. Dalam hatinya, dia mengira si ibu itu kurang waras. Memang sih, saat Aceh dibalut konflik, orang waras pun menjadi tak waras. Namun, yang terjadi adalah faktor komunikasi yang tak nyambung. Banyak orang-orang tua di kampung di Aceh memang tak mahir bicara bahasa Indonesia, sementara para serdadu yang dikirim ke desa itu rata-rata bicara bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Aceh, sebenarnya tak sulit mendapatkan sirih (ranup). Karena banyak ibu-ibu suka konsumsi ranub/sirih. Cuma karena kendala komunikasi, si ibu itu tak tahu kalau serdadu meminta sirih. Si ibu ini mikirnya, serdadu menanyakan anaknya, Idris (yang sering dipanggil Sirih).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah, yang menarik sebenarnya bukan soal dialog serdadu dengan si ibu, tapi filosofi ranup (sirih). Dalam acara-acara resmi penyambutan tamu, orang Aceh sering menyuguhkan tari ranup lampuan yang diselilingi dengan pemberian ranub kepada tamu yang datang. Pemberian ini sebagai bentuk penghormatan dan penerimaan sebagai saudara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setidaknya ada dua &lt;a href="http://www.jumpueng.blogspot.com/2012/09/aceh-dan-filosofi-menara.html" target="_blank"&gt;makna filosofi &lt;/a&gt;di balik pemberian ranup (sirih)****) kepada tamu (terutama tamu dari luar Aceh). Pertama, sirih itu rasanya pedas. Ini semacam peringatan halus kepada sang tamu agar berhati-hati dalam berbicara. Sebab, kata-kata si empunya rumah atau kata-kata orang Aceh bisa lebih pedas dari rasa sirih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua, sirih yang dikunyah itu akan keluar warna merah. Perhatikan saja orang yang doyan makan sirih, mulut dan bibirnya pasti berwarna kemerah-merahan. Jadi, para tamu hendaknya berbicara secara jelas, tidak bertele-tele dan tidak ambigu. Dia harus bicara sejelas warna merah di bibir dan mulut mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepada siapa saja yang datang ke Aceh, dia mesti harus jelaskan apa maksud dan tujuannya. Tak boleh ada agenda tersembunyi, harus bermaksud baik agar diterima dengan baik pula. Dia tak boleh mengumbar permusuhan atau ingin membinasakan orang Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dulu, banyak orang yang datang ke Aceh untuk mengumbar permusuhan, sehingga mengundang resistensi dari rakyat Aceh. Kalau tujuan sang tamu baik-baik, maka dia akan diterima dengan baik pula. []&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Note:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
*) Sirih: Di Aceh, orang yang bernama Idris sering dipanggil si rih.&lt;br /&gt;
**) Ranup: sirih&lt;br /&gt;
***) Umong (blang): Sawah&lt;br /&gt;
****) Filosofi ini saya tahu dari komentar seorang pembaca blog ini&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
---- hana si rih ka dijak u blang (Tidak ada si Idris, sudah pergi ke sawah)&lt;br /&gt;
---- Apa pih ka dijak u blang (Paman juga sudah pergi ke sawah)&lt;br /&gt;
---- Hana le, puet naleih sagai (Tidak banyak, 1 hektar saja). Naleih itu ukuran sawah.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogAceh/~4/wYOBN2KsQ2g" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4736781840520968273/posts/default/5140565520094934064?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4736781840520968273/posts/default/5140565520094934064?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/BlogAceh/~3/wYOBN2KsQ2g/ranup-dan-ureueng-aceh.html" title="Ranup dan Ureueng Aceh" /><author><name>Taufik Al Mubarak</name><uri>https://plus.google.com/103535029759927248968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh4.googleusercontent.com/-ygh4RP4SCtM/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABqI/uKQjuFGJZfI/s512-c/photo.jpg" /></author><feedburner:origLink>http://jumpueng.blogspot.com/2013/03/ranup-dan-ureueng-aceh.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CkECR387fSp7ImA9WhBRFEo.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-4736781840520968273.post-6714180230784217045</id><published>2013-02-19T20:09:00.000+07:00</published><updated>2013-03-05T15:04:26.105+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-03-05T15:04:26.105+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="catatan" /><title>Aceh Itu Lucu </title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
Yah, Aceh itu lucu! Tentu saja ini kesimpulan yang terlalu prematur serta terbuka untuk diperdebatkan. Bagi yang tak setuju, pasti akan mengajukan pertanyaan: Apanya yang lucu? Bukankah apa yang lahir dan terjadi di Aceh, lebih banyak terlampau serius. Lalu, di mana letak lucunya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
Oh ya, penilaian itu sah-sah saja. Tapi, jangan salah juga, meski banyak kebijakan lahir karena faktor betapa seriusnya orang yang pegang kuasa di Aceh, ada juga sisi lucunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saking seriusnya Aceh, kita tak bolah melucu. Dalam kondisi perang pun, orang Aceh masih sempat melucu. Tidak percaya? Silakan baca buku kumpulan humor tentang Aceh, &lt;a href="http://jumpueng.blogspot.com/2008/01/memahami-aceh-lewat-humor.html" target="_blank"&gt;“Geer Aceh Merdeka (GAM)” terbitan Garba Budaya&lt;/a&gt;. Buku ini berisi cerita unik terkait perang Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika buku itu tak cukup meyakinkan anda bahwa Aceh ini lucu, silahkan simak cerita-cerita dalam episode perang Aceh yang berdarah-darah itu. Sebab, di tengah kondisi yang sangat tegang, orang Aceh masih sempat melucu. Kita sudah sering mendengar ungkapan begini: &lt;i&gt;Lam film, perang sep biet-biet, tapi mate pura-pura. Di Aceh, perang pura-pura, tapi mate biet-biet&lt;/i&gt;. Ini membuktikan, orang Aceh memandang perang itu sebagai sebuah sandiwara belaka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daripada berdebat panjang lebar seperti di TV-TV, tapi tak jelas kesimpulannya, yuk kita simak saja beberapa hal lucu yang pernah terjadi di Aceh.  Jangan kaitkan dengan apapun ya, ini murni hanya untuk memperlihatkan betapa lucunya Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kebijakan Rok&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Masih ingat kebijakan Bupati Aceh Barat, Ramli? Saat memimpin Aceh Barat, sang Bupati mengeluarkan kebijakan wanita wajib memakai rok. Siapa pun yang masuk ke kantor Bupati tidak pakai rok, maka tak akan dilayani. Pemkab pun kemudian sibuk memikirkan proyek pengadaan rok. Tak pelak, permintaan rok di Meulaboh meningkat. Satu sisi menguntungkan penjual, tapi di sisi lain tak sedikit pula penjual rok yang diminta menyumbang untuk menutupi kebutuhan rok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebijakan itu tak hanya gempar  di Meulaboh, tapi juga hingga ke Banda Aceh. Dalam beberapa kesempatan, kebijakan rok itu menjadi &lt;i&gt;trending topics&lt;/i&gt; (isu yang sedang hangat dibincangkan). Saya menyimak sendiri beberapa obrolan di warung kopi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
+ Wah, Bupati &lt;i&gt;kok&lt;/i&gt; otaknya dalam rok ya&lt;br /&gt;
- Tapi itu kebijakan bagus &lt;i&gt;loh&lt;/i&gt;. Top markotop&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
+ Bagus apanya. Ini hanya kedok untuk menutupi kelemahan. Dia tak punya visi &lt;br /&gt;
- Secara agama &lt;i&gt;kan&lt;/i&gt; kebijakan itu harus didukung, biar perempuan berpakaian islami&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
+ Alah, mana ada itu. Paling karena dia tak punya program saja. &lt;br /&gt;
- Jangan &lt;i&gt;negative thinking&lt;/i&gt; lah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
+ Bukan &lt;i&gt;negative thinking&lt;/i&gt; hai. Ini &lt;i&gt;positive thinking&lt;/i&gt; malah. Paling dia ingin terkenal. Isu syariat sekarang &lt;i&gt;kan&lt;/i&gt; paling laku dijual &lt;br /&gt;
- Nyerah deh kalau udah singgung-singgung syariat. Aku gak komen&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
+ Tahu nggak, pasti ada udang di balik bak wan (eh di balik kebijakan rok) &lt;br /&gt;
- Jangan ngawur deh. Magrib-magrib kok ngawur&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
+ Bukan ngawur. Coba perhatikan kalau pakai rok kan paling gampang disibak. Beda dengan celana Jeans, butuh waktu. &lt;br /&gt;
- Apaan sih!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kebijakan Ngangkang &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Peristiwa lucu lainnya terjadi baru-baru ini. Di Lhokseumawe, sang Walikota mengeluarkan surat edaran. Isinya melarang perempuan yang dibonceng duduk dengan cara mengangkang. Kebijakan ini juga tak kalah hebohnya dari kebijakan wajib pakai rok Bupati Ramli.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Walikota beralasan, kebijakan itu dikeluarkan karena melihat banyak sekali muda-mudi duduknya dengan cara &lt;i&gt;‘pheng’&lt;/i&gt; alias ngangkang. Menurutnya, cara duduk seperti itu membahayakan dan rawan mesum, apalagi iman para pemuda di Lhokseumawe sangat lemah. Nah, tak pelak kebijakan itu mengundang pro dan kontra.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;
“Walikota kayak nggak pernah muda ya?” begitu komentar orang-orang yang berkomentar.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
“Dia enak tak perlu ngangkang, anak gadisnya juga nggak perlu ngangkang, karena kemana-mana pakai mobil,” komentar orang lain lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin dia kalau tidurin istrinya tak pake gaya ngangkang ya,” kata orang lain lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Orang Bugil &lt;i&gt;Ngurus&lt;/i&gt; Dayah&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Lupakan dulu soal ngangkang. Karena ternyata, banyak kejadian lain justru lebih lucu. Bayangkan, dalam mutasi beberapa waktu lalu, seorang pelaku mesum berinisial HBU yang diciduk Wilayatul Hisbah (WH) sedang bugil di sebuah Salon di Banda Aceh diberi jabatan strategis sebagai Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan SDM pada Badan Pendidikan Pembinaan Dayah (BPPD) Provinsi Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu sangat ironis. Padahal, pemerintah Aceh sedang bersemangatnya menegakkan Syariat Islam secara kaffah.  “Lucunya, dia diberi jabatan untuk mengurusi dayah, pasti hancur deh moral &lt;i&gt;aneuk nanggroe,&lt;/i&gt;” komentar beberapa orang. Olok-olokan serupa sangat mudah kita temui di Twitter, Facebook dan Blackberry Messenger (BBM). Untung saja, beberapa waktu lalu yang bersangkutan dicabut SK-nya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Orang Meninggal Dapat Jabatan &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Ini benar-benar Aceh (eh aneh) tapi nyata. Selain melantik pelaku mesum, ternyata mutasi dan pelatikan pejabat eselon III dan IV di jajaran Pemerintah Aceh membuat kita tak naik ketawa (&lt;i&gt;han ek takhem)&lt;/i&gt;. Pasalnya orang yang sudah meninggal setahun lalu masuk dalam list nama pejabat yang dilantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang pejabat yang meninggal itu diketahui bernama Rahmad Hidayat, SH, MH. Dia dilantik menjadi pejabat eleson IV sebagai Kasubbag Pembinaan Hukum Kabupaten/Kota pada Biro Hukum Setda Aceh, padahal Rahmat telah meninggal pada Januari 2012 silam. Banyak tudingan miring dialamatkan terhadap Gubernur Aceh. Ada juga yang meminta agar Kepala Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) Aceh, Nasrullah Muhammad diganti. Kekeliruan itu dianggap tak terlepas dari buruknya dan tidak becusnya orang di BKPP. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam mutasi beberapa waktu lalu, Gubernur Aceh pun mengganti Kepala BKPP, Nasrullah Muhammad. Jabatannya diberikan kepada TA Rasyid. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pernah DPO Jadi Kadis &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Jika saya punya kuasa di Museum Rekor Indonesia (MURI) seperti Jaya Suprana, maka saya akan perjuangkan Pemerintah Aceh masuk rekor MURI. Alasannya, tak hanya melantik pelaku mesum, memberi jabatan orang yang sudah meninggal, tetapi juga melantik orang yang masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) menjadi Kepala Dinas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti banyak dilansir media, Safwan SE dilantik menjabat sebagai Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Aceh. Padahal, yang bersangkutan masuk DPO Polres Lhokseumawe sejak 10 Agustus 2011. Safwan menjadi tersangka dalam kasus dugaan penipuan terhadap Mukhlis, seorang hakim yang kini bertugas di Pengadilan Tapaktuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nilai utang-piutang itu pun tak tanggung-tanggung. Rp270 juta. Disebutkan, Safwan meminjam uang dari Mukhlis Rp 270 juta dengan jaminan sertifikat tanah di kawasan Mon Geudong Lhokseumawe yang luasnya sekitar 3 ribu meter persegi. Dalam pertemuan itu juga disepakati utang dibayar paling lambat 5 April 2010. Bila tidak dilunasi maka tanah tersebut akan menjadi milik Muklis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitulah kondisi nanggroe keuneubah indatu akhir-akhir ini. Satu sisi sangat memiriskan hati, namun di sisi lain kejadian-kejadian tersebut jadi bahan tertawaan masyarakat Aceh. Kapan juga kita bisa tertawa jika Aceh serius melulu, ya kan? []&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;----&amp;gt; Note:&lt;i&gt; Lam film, perang sep biet-biet, tapi mate pura-pura. Di Aceh, perang pura-pura, tapi mate biet-biet&lt;/i&gt;. (Di dalam film perangnya benaran, tapi matinya pura-pura. Di Aceh, perangnya pura-pura tapi matinya serius)&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogAceh/~4/QDAWi5rUplM" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4736781840520968273/posts/default/6714180230784217045?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4736781840520968273/posts/default/6714180230784217045?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/BlogAceh/~3/QDAWi5rUplM/aceh-itu-lucu.html" title="Aceh Itu Lucu " /><author><name>Taufik Al Mubarak</name><uri>https://plus.google.com/103535029759927248968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh4.googleusercontent.com/-ygh4RP4SCtM/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABqI/uKQjuFGJZfI/s512-c/photo.jpg" /></author><feedburner:origLink>http://jumpueng.blogspot.com/2013/02/aceh-itu-lucu.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkYBR3s_fip7ImA9WhBSEEw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-4736781840520968273.post-3696916863290055599</id><published>2013-02-16T17:53:00.003+07:00</published><updated>2013-02-16T18:29:16.546+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-02-16T18:29:16.546+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Traveling" /><title>Semalam di Singapore (8)</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
Saya dan Popon mulai bergerilya memburu barang untuk oleh-oleh buat keluarga. Kami berpindah dari satu blok ke blok lain. Antara satu blok dengan blok lain lumayan jauh juga. Semua yang jualan di situ menawarkan barang-barang bagus, dan layak untuk dibeli. Tapi, karena kondisi kantong yang tidak stabil, kami terpaksa memilih barang yang benar-benar penting dan perlu, tentu saja yang harganya terjangkau.&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
&lt;i&gt;Baca tulisan sebelumnya &lt;a href="http://www.jumpueng.blogspot.com/2012/11/semalam-di-singapore-7.html"&gt;Semalam di Singapore (7)&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;
Begitu berada di dalam, kami tidak langsung membeli, melainkan melihat-lihat dulu seisi mall. Minimal sebelum membeli, kami sudah memiliki bayangan apa saja yang hendak dibeli. Kami ingin memanjakan mata dulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saking terlalu asyik melihat barang dagangan di suatu blok, saya dan Popon sering terpisah. Untung, kami saling memantau satu sama lain, karena jika sampai terpisah ribet juga. Sesekali saya memilih duduk di tangga tiap lantai karena kecapaen, plus mengecek apakan ada wifi gratis yang bisa dipakai untuk online.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Praktis, akhirnya setelah berkeliling, kami sepakat untuk membeli beberapa barang saja. Pilihannya jatuh pada bross. Ada beberapa blok yang punya koleksi bross. Saya cukup bingung ketika harus membeli beberapa bross pesanan teman. Terus terang saya tak bisa membedakan mana bross yang cocok dan bagus. Akhirnya, saya asal beli saja. Tentunya yang harganya terjangkau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah puas memilih barang, kami pun segera beranjak ke blok lain, sembari melihat-lihat barang lainnya. Karena sudah tak bisa menahan lagi, saya ingin segera pipis. Tapi, di mana cari toilet di tempat luas seperti ini. Beruntung, karena tak jauh dari meja kasir, saya melihat seorang pelayan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Excuse me, mrs. Where is toilet?”&lt;/i&gt; saya beranikan diri tanya dengan bahasa Inggris. Teman saya, si Popon, hampir muntah dia. Dia memang begitu jika melihat sesuatu yang aneh. Lalu, si pelayan itu menjawab, bahwa toilet berada di lantai 3. Kami pun segera menuju ke sana. “Duh, merdeka rasanya bisa mengencingi Singapore,” gumam saya dalam hati begitu berada di dalam toilet. Popon juga pipis di toilet sebelah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai pipis, kami tak langsung keluar mall. Kami masih belum puas berjalan-jalan di dalam mall itu. Maklum, kita orang kampung yang sedang terdampar di kota metropolitan seperti Singapore. Jadi, sebelum kembali ke Aceh, tak ada salahnya memuaskan diri dulu. Kapan lagi kami bisa berlagak seperti artis di Jakarta yang suka berburu barang bagus di Singapore. Bedanya, jika artis sering memborong barang, kami sudah cukup puas hanya dengan melihat dan memegang saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya punya kebiasaan unik. Tiap mengunjungi mall di mana saja, selalu menyempatkan diri untuk membeli buku, minimal satu buku. Hal ini pula yang saya lakukan saat berada di mall itu. Setelah tanya sama pelayan di mana bookstore, saya pun bergegas. Satu persatu buku saya perhatikan. Koleksi buku di situ lebih banyak dalam bahasa Inggris, sedikit sekali dalam bahasa Melayu. Si Popon juga demikian, dia perhatikan tiap rak buku. Dia mencari-cari buku tentang pendidikan, seperti konsentrasi pendidikan dia di UKM.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Puas rasanya bisa melihat dan membolak-balik buku di toko itu. Kami kadang berlagak seperti professor yang mencari bahan referensi di perpustakaan. Sekilas, jika ada yang melihat gaya kami mencari buku, mereka pasti mengira kami ini mahasiswa teladan yang tidak punya kendala dengan bahasa Inggris. Meski fakta sebenarnya, bahasa Inggris kami seperti kata pepatah rakitan di Aceh, &lt;i&gt;“Like a goat walking on the stone”&lt;/i&gt; alias “Lagee kameng jak ateuh batee”. Hehehe.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, saya ketemu dua buku bagus. Judulnya, &lt;i&gt;&lt;b&gt;How to Read HITLER&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;, dan satu lagi buku biografi: &lt;i&gt;&lt;b&gt;Disraeli&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;. Setelah saya bolak-balik dan melihat harga yang tercetak di belakang buku, saya sempat termenung sebentar. Bukan apa-apa, saya sedang menghitung apakah uang di dompet saya cukup untuk membeli dua buka itu. Setelah merasa, bahwa uang saya lebih dari cukup, saya ambil buku itu dan membawa ke meja kasir untuk membayar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami pun kemudian keluar dari mall itu. Belum ada tanda-tanda sang sopir taxi yang berjanji menjemput kami tiba di lokasi. Dalam hati, kami takut juga, jangan-jangan dia tak jadi menjemput dan sudah pergi entah kemana. Dengan sabar kami menunggu sambil duduk di lantai depan mall. Dalam hati kami berdoa, agar si sopir taxi tidak melanggar janji. [bersambung]&lt;/div&gt;
&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogAceh/~4/okLd-r3mKVA" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4736781840520968273/posts/default/3696916863290055599?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4736781840520968273/posts/default/3696916863290055599?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/BlogAceh/~3/okLd-r3mKVA/semalam-di-singapore-8.html" title="Semalam di Singapore (8)" /><author><name>Taufik Al Mubarak</name><uri>https://plus.google.com/103535029759927248968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh4.googleusercontent.com/-ygh4RP4SCtM/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABqI/uKQjuFGJZfI/s512-c/photo.jpg" /></author><feedburner:origLink>http://jumpueng.blogspot.com/2013/02/semalam-di-singapore-8.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0MASX8_fCp7ImA9WhBSEE0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-4736781840520968273.post-5325305174658131085</id><published>2013-01-30T17:21:00.000+07:00</published><updated>2013-02-16T16:04:08.144+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-02-16T16:04:08.144+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Artikel" /><title>Bumi, Air dan Kehidupan</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;i&gt;“Tanpa kita, Bumi akan baik-baik saja dan akan tetap hidup; namun tanpa Bumi, kita bahkan tidak mungkin ada.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah Anda pernah mendengar kata Tangse, durian Tangse, atau beras Cantik Manis? Kalau belum, jika sempat singgah di Kabupaten Pidie, cobalah untuk menyambangi Tangse, kawasan yang terletak di kaki pegunungan Bukit Barisan. Wilayah ini berada di selatan Kabupaten Pidie dan sangat gampang dicari. Dari arah Kota Beureuneun, Mutiara, Tangse hanya berjarak lebih kurang 50 kilometer atau dua jam perjalanan dengan sepeda motor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cerita yang beredar dari mulut ke mulut, Tangse berasal dari kata Tangsi, yang artinya barak militer. Menurut si empunya cerita, pada zaman dulu, Belanda menjadikan Tangse sebagai benteng pertahanan, sekaligus sebagai tempat pengasingan untuk rakyat Aceh agar mudah dikontrol Belanda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, bukan itu saja yang menarik dari Tangse. Bagi kami di Aceh, mendengar Tangse, yang muncul di benak adalah Dara (gadis) Tangse yang terkenal cantik dan berkulit mulus. Tangse juga terkenal dengan buah durian yang punya rasa khas: manis, ranum dan legit. Itu saja? Tentu saja tidak. Karena Tangse juga dikenal sebagai penghasil beras dengan kualitas bagus: Beras Cantik Manis. Harganya di atas harga beras biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tangse punya pemandangan menakjubkan: Gunung masih perawan, sungai belum tercemar, dan hawanya cukup sejuk. Air di sungai Tangse masih jernih dan dingin. Kita bisa melihat batu besar dan kecil dengan jelas di dalam sungai. Sungai itu menghidupkan warga Tangse, yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani. Salah satu andalannya ya Beras Cantik Manis. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, apa yang terjadi di Tangse, pada awal Maret 2011 dan Februari 2012? Banjir Bandang. Sungai meluap. Tanah longsor. Ratusan rumah warga hanyut, puluhan orang meninggal. Ini merupakan banjir yang terulang, seperti halnya banjir di Jakarta. Padahal, Tangse sudah lama tak dilanda banjir besar, setelah banjir besar 1980-an.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa bencana itu terjadi? Pemerhati lingkungan menyebutkan karena massifnya praktik illegal logging, perambahan hutan, konversi lahan hutan menjadi perkebunan, dan juga akibat proses eksplorasi dan eksploitasi tambang yang sangat marak di sana. Alam Tangse yang eksotis itu rusak, hanya sedikit saja yang masih tersisa. Itu pun dalam kondisi tak terjamin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Bumi Manusia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Kisah hancurnya Tangse itu mengingatkan saya pada ungkapan bijak di atas. Ungkapan itu Saya kutip dari penutup buku &lt;i&gt;The World Without Us&lt;/i&gt; yang diterjemahkan dan diterbitkan Gramedia (Juni 2009) berjudul ‘Dunia Tanpa Manusia’. Buku karya Alan Weisman, mantan editor di Los Angeles Times ini menjadi buku nonfiksi terbaik pilihan majalah Time.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi saya, buku ini layak dibaca dan menjadi bahan renungan untuk kita yang akhir-akhir ini sering memperlakukan bumi bukan lagi sebagai tempat yang aman untuk hidup, bukan lagi sebagai teman dan sahabat, melainkan musuh yang tak henti-hentinya kita eksploitasi dan dikuras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai manusia, kita seperti alpa, bahwa bumi menyediakan semua keperluan manusia untuk bertahan hidup: Laut tak pernah absen menyediakan berbagai macam jenis ikan untuk disantap manusia; Gunung dan hutan menyediakan bermacam jenis pohon dan tumbuhan, untuk keperluan manusia membangun peradaban. Di perut bumi mengandung bermacam sumber daya alam, fosil, dan material. Semua diperoleh manusia secara gratis. Bumi tak menuntut bayaran apapun pun. Tapi apa yang kita berikan untuk bumi? Kehancuran, kehancuran dan kehancuran!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hutan yang dulu lebat dan rimbun, perlahan-lahan menjadi botak, gundul, dan sebagian sisinya terkuras karena manusia tak henti-hentinya menambang tanah. Pemukiman baru dibuka, termasuk untuk lahan pertanian, sawit dan sebagainya. Pohon-pohon ditebang, sebagian menggunakan cara primitif: membakar hutan! Pemandangan itu dapat disaksikan gratis dari udara. Kita akan melihat luka di setiap pegunungan yang kebetulan kita lewati melalui udara (dengan pesawat). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Laut yang selalu setia menyediakan kebutuhan ikan, juga tak luput dari upaya penjarahan. Manusia tak pernah kehilangan akal untuk meraih sesuatu secara instan. Mereka membuat pukat harimau untuk mengeruk isi laut. Jangankan ikan besar, benih pun tersapu. Sebagian lagi mencuri terumbu karang yang jadi hiasan laut, tempat ikan berkembang biak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Manusia seakan tak sadar, bahwa ini adalah bumi manusia; tempat manusia beranak-pinak dan membangun peradaban. Manusia wajib menjaganya, seperti mereka menjaga diri sendiri. Manusia tak boleh lupa, bahwa tanpa bumi ini, manusia tak berarti apa-apa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bapak Nasional India, Mahatma Gandhi, pernah menyindir manusia-manusia serakah yang tak henti-hentinya menguras dan mengerok isi bumi, seakan tak puas-puasnya. &lt;i&gt;“Bumi mampu memenuhi kebutuhan semua manusia. Namun tidak cukup untuk melayani segelintir manusia yang serakah.”&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita baru sadar dan kelabakan, saat bumi mulai protes: kering, panas, gersang, tanaman mati sebelum dipanen, yang ditanam tak pernah tumbuh, dan sulitnya sumber air. Belum lagi, ketika bumi murka: banjir, gunung meletus, dan longsor. Saat itulah kita ingat,&amp;nbsp;bahwa “Tanpa bumi, kita bahkan tak mungkin ada!”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Air dan Peradaban&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Air tak sekadar kebutuhan dasar manusia, tapi juga sumber kehidupan&lt;/b&gt;. Di mana ada air, yakinlah di situ pasti ada kehidupan. Dalam buku-buku sejarah, kita menemukan bukti, bahwa banyak peradaban kuno bermula dari penemuan sumber air. Kita mengenal peradaban Mesopotamia, yang berpunca pada dua aliran sungai besar, Eufrat dan Tigris (kini wilayah Irak). Begitu pula peradaban Mesir Kuno, ada di sungai Nil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cina modern yang kita kenal hari ini juga tak bisa lepas dari peradaban yang disebut peradaban Lembah Sungai Kuning atau Sungai Yangtze. Kita juga membaca sejarah peradaban di Sungai Indus (Pakistan) atau sungai Gangga (India). Tanpa penemuan sumber air Zam Zam pada masa Siti Hajar (Ibunda Nabi Ismail), mungkin saja tak akan ada kehidupan di tanah Arab, Mekkah dan Medinah yang kita kenal hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peradaban umat manusia terbentuk tak lepas dari ketergantungan terhadap sumber air. Tak pelak, perebutan sumber air ini pula membawa kepada perang. Sejarah mencatat demikian. Konflik Palestina dan Israel tak melulu urusan soal agama, melainkan perebutan wilayah yang kaya sumber air, seperti Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Jerusalem Timur. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Manusia mungkin bisa hidup tanpa rumah, tanpa ketersediaan bahan makanan. Tapi sangat sedikit penduduk bumi yang bisa hidup tanpa sumber air. Kita tentu tak bisa bayangkan bagaimana bumi yang 70 persen lebih permukaannya adalah air tiba-tiba mengering, gersang, dan tandus. Sementara tubuh manusia butuh lebih 80 persen air. Bagaimana kita bisa hidup?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita boleh saja berkilah, bahwa air adalah sumber daya alam yang dapat diperbaharui. Tapi jangan salah, kualitas dan kuantitas air itu sangat tergantung pada sejauhmana kita manjaganya. Belum lagi, sumber air terbesar itu, lebih 97 persen, ada di laut, yang rasanya asin. Hanya 3 persen saja air tawar untuk keperluan kita sehari-hari. Dari jumlah itu pun, dua pertiganya adalah gletser dan es di kutub untuk menstabilkan iklim global, dan hanya satu pertiganya saja yang dapat dimanfaatkan 7 miliar jiwa manusia (&lt;a href="http://www.wwf.or.id/"&gt;www.wwf.or.id&lt;/a&gt;).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malah, menurut PBB seperti dikutip wwf.or.id, lebih dari satu miliar orang tidak memiliki akses terhadap air bersih, tiga miliar orang tidak memiliki layanan sanitasi yang memadai, dan angka kematian akibat penyakit menular melalui air yang kurang bersih mencapai tiga juta kematian per tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Air dan Kehidupan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Benar, bahwa manusia hidup tak bisa dilepaskan dari ketersediaan sumber air. Apalagi, air tak hanya untuk sumber minuman, tapi juga keperluan mandi, mencuci, untuk pertanian dan kebutuhan penting lainnya. Dalam kondisi ini, air adalah sahabat manusia. Tapi dalam kondisi tertentu, air adalah sumber malapetaka. &lt;i&gt;Air bukan lagi sumber kehidupan&lt;/i&gt;, melainkan kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini sangat tergantung pada cara kita memperlakukan bumi yang 80 persen permukaannya adalah air. Sedikit salah dalam mengelola bumi dan alam, maka tunggulah akibatnya. Contoh Tangse di atas sepertinya bisa menjelaskan kondisi ini. Bahwa, jika kita terus merusak alam, maka alam akan membalasnya. Air yang kodratnya menghidupi manusia, akan menjadi sumber malapetaka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang terjadi di Tangse, tak terlepas karena manusia tak memperlakukan bumi dan alam dengan semestinya. Karena yang kita lakukan adalah mengundang bala. Air yang seharusnya menjadi sumber penghidupan, justru kemudian menjadi penyebab kematian kita, karena kesalahan kita sendiri. Padahal, kehidupan kita di bumi, sangat tergantung pada bagaimana kita bersahabat dan memperlakukan bumi, sebagai tempat kita berpijak. Ingat, &lt;i&gt;“Tanpa kita, Bumi akan baik-baik saja dan akan tetap hidup; namun tanpa Bumi, kita bahkan tidak mungkin ada.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mudah-mudahan ini menjadi renungan bersama. Bersahabatlah dengan bumi sebagai ibu kandung &lt;u&gt;air untuk kehidupan&lt;/u&gt; kita! [Taufik Al Mubarak]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
---Tulisan ini merupakan artikel yang diikutkan untuk Lomba Anugerah Jurnalistik Aqua 2012&lt;/div&gt;
&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogAceh/~4/0CMwjCO9J9M" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4736781840520968273/posts/default/5325305174658131085?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4736781840520968273/posts/default/5325305174658131085?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/BlogAceh/~3/0CMwjCO9J9M/bumi-air-dan-kehidupan.html" title="Bumi, Air dan Kehidupan" /><author><name>Taufik Al Mubarak</name><uri>https://plus.google.com/103535029759927248968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh4.googleusercontent.com/-ygh4RP4SCtM/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABqI/uKQjuFGJZfI/s512-c/photo.jpg" /></author><feedburner:origLink>http://jumpueng.blogspot.com/2013/01/bumi-air-dan-kehidupan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0IHQXg8eip7ImA9WhBSEkQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-4736781840520968273.post-6749551403892294909</id><published>2012-12-30T17:26:00.002+07:00</published><updated>2013-02-19T23:32:10.672+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-02-19T23:32:10.672+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="editorial" /><title>Piala Gubernur dan Citra Aceh</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style'; font-size: 12px;"&gt;Turnamen Sepakbola Internasional "Gubernur Aceh Cup 2012" baru saja usai. Kita pun sudah mengetahui klub yang menjadi kampiun juara, yaitu Atjeh FC setelah membungkam Semen Padang 2-0. Turnamen itu sekaligus menjadi sajian hiburan bagi publik Aceh di akhir tahun, yang selama ini tak pernah melewatkan momen pertandingan sepak bola.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="font-family: 'Bookman Old Style'; font-size: 12px; min-height: 14px;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: 'Bookman Old Style'; font-size: 12px;"&gt;
Kita pantas bergembira, setidaknya karena dua alasan: Pertama, turnamen sepakbolaa tersebut berjalan aman, damai, dan tanpa diwarnai 'adegan' kekerasan, seperti layaknya event-event serupa di Indonesia. Ini sekaligus membuktikan bahwa sepak bola tak melulu harus berdarah-darah. Dan kita pantas memberi apreasiasi untuk pihak-pihak yang terlibat di dalamnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: 'Bookman Old Style'; font-size: 12px; min-height: 14px;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-2nD4vbPgWwo/UOAWf0pOsZI/AAAAAAAABoo/5gb5_lc4-c4/s1600/IMG-20121229-00332.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-2nD4vbPgWwo/UOAWf0pOsZI/AAAAAAAABoo/5gb5_lc4-c4/s320/IMG-20121229-00332.jpg" width="215" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;cover offside 04&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="font-family: 'Bookman Old Style'; font-size: 12px;"&gt;
Kedua, lancarnya pelaksanaan turnamen tersebut menunjukkan bahwa Aceh mampu menggelar event-event 'berstatus' turnamen internasional. Hal ini semakin menegaskan bahwa Aceh terbuka terhadap dunia internasional, dan dunia tidak perlu khawatir dengan stigma Aceh tidak kondusif. Citra Aceh jadi terangkat, dan semoga saja menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke Aceh. Tujuan akhirnya, bagaimana para investor mau menanamkan modalnya di Aceh.&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: 'Bookman Old Style'; font-size: 12px; min-height: 14px;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: 'Bookman Old Style'; font-size: 12px;"&gt;
Alasan-alasan itu menjadi masuk akal, apalagi momen yang digelar di penutup tahun itu mengusung tujuan memperkenalkan Aceh plus sebagai ajang promosi Aceh. Melalui momen tersebut Pemerintah Aceh yang sedang menggalakkan visit Aceh 2013 berharap mampu meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke Aceh. Prinsip sekali mendayung dua pulau terlampaui, setidaknya lekas tercapai: wisatawan meningkat, investor terpikat, dan masyarakat Aceh juga terhibur.&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: 'Bookman Old Style'; font-size: 12px; min-height: 14px;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: 'Bookman Old Style'; font-size: 12px;"&gt;
Layaknya sebuah turnamen, pastilah ada kelemahan di sana-sini. Tak selalu persiapan membuahkan hasil maksimal. Sebut saja, kejadian memalukan yang mengiringi perhelatan itu, seperti terekam dalam laga Semen Padang versus DPNM Brunai Darussalam. Saat laga sedang berjalan, listrik tiba-tiba padam. Bagi publik Aceh, kejadian listrik padam sudah hal biasa dan menjadi menu sehari-hari. Tapi tidak halnya bagi tim dari negeri seberang, Brunai Darussalam.&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: 'Bookman Old Style'; font-size: 12px; min-height: 14px;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: 'Bookman Old Style'; font-size: 12px;"&gt;
"Ini pengalaman pertama saya setelah 20 tahun selama menjadi pelatih," kata pelatih Brunai. Selaku tuan rumah (tamu), kita pantas malu dengan kejadian tersebut. Wajar jika kemudian muncul cemoohan dan olok-olokan, mulai di warung-warung kopi hingga di jejaring sosial. &lt;i&gt;"Peumalee jamee adat geutanyoe"&lt;/i&gt; yang dipelesetkan dari tagline visit Banda Aceh 2012 &lt;i&gt;"Peumulia jamee adat geutanyoe".&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: 'Bookman Old Style'; font-size: 12px; min-height: 14px;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: 'Bookman Old Style'; font-size: 12px;"&gt;
Soal mati listrik ini hanya satu contoh dari ulasan Tabloid kita di edisi 4 ini, “Tak ada gading yang tak retak”. Selebihnya masih banyak laporan menarik lainnya, termasuk rangkuman istri atau pacar pemain sepakbola yang paling eksis sepanjang 2012, transfer jitu pemain liga primer Inggris. Jangan lewatkan pula ulasan liga-liga Eropa, seperti sebelumnya. Edisi penutup tahun ini hadir lebih elegan, termasuk galeri foto tentang euphoria kemenangan tim Aceh FC. Selamat membaca!&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: 'Bookman Old Style'; font-size: 12px;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: 'Bookman Old Style'; font-size: 12px;"&gt;
---offside no 04 (1-7 januari 2013)&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogAceh/~4/NTYDM5Oo2dw" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4736781840520968273/posts/default/6749551403892294909?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4736781840520968273/posts/default/6749551403892294909?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/BlogAceh/~3/NTYDM5Oo2dw/piala-gubernur-dan-citra-aceh.html" title="Piala Gubernur dan Citra Aceh" /><author><name>Taufik Al Mubarak</name><uri>https://plus.google.com/103535029759927248968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh4.googleusercontent.com/-ygh4RP4SCtM/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABqI/uKQjuFGJZfI/s512-c/photo.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-2nD4vbPgWwo/UOAWf0pOsZI/AAAAAAAABoo/5gb5_lc4-c4/s72-c/IMG-20121229-00332.jpg" height="72" width="72" /><georss:featurename>Banda Aceh, Indonesia</georss:featurename><georss:point>5.546182 95.31905400000005</georss:point><georss:box>5.4197465 95.15769250000005 5.6726175 95.48041550000005</georss:box><feedburner:origLink>http://jumpueng.blogspot.com/2012/12/piala-gubernur-dan-citra-aceh.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0MFQ3o9fip7ImA9WhNVEEQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-4736781840520968273.post-783794172306801297</id><published>2012-12-01T15:05:00.001+07:00</published><updated>2012-12-21T19:03:32.466+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-12-21T19:03:32.466+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="catatan" /><title>Dua Model Ideologi Sepakbola</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
Musuh abadi dalam dunia sepakbola bukanlah tim, melainkan sistem. Kita mengenal dua sistem yang saling bertolak belakang: Total Football versus Catenaccio. Jika yang pertama mengandalkan sepakbola indah dan menyerang, yang kedua sangat memuja sistem bertahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setidaknya, demikian kesimpulan yang saya dapat ketika membaca trilogi &lt;i&gt;Bola di Balik Bulan&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Air Mata Bola&lt;/i&gt;, dan &lt;i&gt;Bola-bola Nasib&lt;/i&gt; karya  Sindhunata, jurnalis dan pemimpin redaksi Majalah Basis. Sindhunata dikenal karena kolom-kolom sepakbolanya menyihir dan menginspirasi, yang dimuat di Kompas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;/div&gt;
Total Football identik dengan De Oranje (Belanda). Sementara Catenaccio melekat lama pada tim-tim Italia, meski sesekali sering melakukan serangan balik mematikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Total football (sepakbola indah) mulai diperkenalkan Rinus Michels bersama seniman sepakbola Johann Cruyff, ketika keduanya berkolaborasi di tim Ajax Amsterdam. Ajaran Michels saat itu cukup singkat: larilah ke tempat di mana kamu akan kesakitan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak hanya itu, secara tegas Michels mengajari Cruyff cara menundukkan lawan: jangan pernah melumpuhkan lawan dengan pedang, jika kamu dapat menggilasnya dengan tank! Cruyff kemudian memodifikasi ajaran itu sehingga melahirkan sebuah dogma: jika pemain depan menyerang, pemain tengah dan belakang segera ke depan pula. Sementara saat diserang, pemain depan harus turun ke belakang untuk mempersempit ruang gerak lawan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cruyff pula yang membawa sistem total football ke tanah Spanyol melalui klub Barcelona. Belakangan, di tanah Spanyol, sistem ini dikenal dengan Tiki Taka, sistem sepakbola dengan mengandalkan bola dari kaki-ke-kaki dan operan-operan pendek. Tiki Taka mengharamkan bola menganggur lama di kaki pemain. Melalui sistem ini, bola mengalir sangat lincah, dan seperti tak pernah menganggur. Masing-masing pemain dalam posisi siaga, karena harus cepat-cepat bergerak saat operan bola mengarah padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menguasai bola berarti memberi harapan bahwa bola itu akan segera mengalir, dengan demikian sulit dihentikan. Peluang menciptakan gol juga lebih besar. “Segera setelah kami menguasai bola, kami merasa nyaman,” kata Pelatih Spanyol, Vicente del Bosque, seusai menundukkan Jerman 1-0 saat Piala Dunia 2010 silam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara Catenaccio, sistem sepakbola yang mementingkan pertahanan. Dalam sistem ini dikenal, bertahan adalah format terbaik bagi serangan! Pelopornya Helinio Herrera yang dikenal sebagai birokrat sistem super catenaccio. Helinio Herrera menerapkan sistem ini saat menangani Inter Milan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hasilnya sangat luar biasa: Inter Milan juara Italia tahun 1963, 1965, dan 1966. Tak hanya itu, sistem ini pula mengantarkan Inter Milan menjadi juara Liga Champion tahun 1964 dan 1965, dan terakhir pada 2010 saat ditangani Jose Mourinho.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sistem ini pernah dipuja Cesare Maldini, murid dari Nereo Rocco, bapak Catenaccio. Namun, Maldini saat menangani Italia tak puas hanya mengandalkan bertahan saja. Dia kemudian menyerap ilmu dari Enzo Bearzot, ekstremis serangan balik. Sehingga lahirlah ciri permainannya: serangan yang terkontrol dan terbangun perlahan-lahan, lahir dari kukuhnya pertahanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dunia kemudian terbelah. Satu sisi orang menginginkan sepakbola indah dan juara. Di sisi lain orang tak memperdulikan sepakbola indah, namun yang penting bisa juara. Dua final Liga Champions, Barcelona versus Intermilan (2010) dan Bayern Muenchen versus Chelsea (2012) sudah cukup menjelaskan dua model ideologi sepakbola ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika dirujuk ke belakang, ironisme sepakbola indah pernah terjadi pada Piala Dunia 1974. Belanda yang memesona dunia melalui sistem total footballnya, di final ditundukkan Der Panzer Jerman yang kemudian jadi juara. Namun, pesona sepakbola indah tak lantas mati. Karena keampuhan total football kembali memukau pada Piala Dunia 1978, tapi juaranya Argentina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nasib lebih tragis terjadi lagi pada Piala Dunia 1998 di Perancis. Meski sempat digadang-gadang sebagai juara, Belanda sama sekali tak berkutik di bawah tarian Samba Brazil. Sepakbola indah Belanda harus puas finish di urutan keempat setelah ditundukkan Kroasia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, Belanda sudah meninggalkan warisan berharga, bahwa bola itu harus indah dan menghibur. Juara akan datang dengan sendirinya. Toh, sepakbola indah juga sebenarnya juara itu sendiri. Meski, banyak yang menyebutkan, kadang-kala sepakbola indah juga membosankan, seperti mulai bosannya orang-orang pada permainan Barcelona. Entahlah! [TA] &lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
--------&amp;gt;sumber: Tabloid Offside edisi 02 1-10 Desember 2012&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogAceh/~4/OOYwjqMft7s" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4736781840520968273/posts/default/783794172306801297?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4736781840520968273/posts/default/783794172306801297?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/BlogAceh/~3/OOYwjqMft7s/dua-model-ideologi-sepakbola.html" title="Dua Model Ideologi Sepakbola" /><author><name>Taufik Al Mubarak</name><uri>https://plus.google.com/103535029759927248968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh4.googleusercontent.com/-ygh4RP4SCtM/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABqI/uKQjuFGJZfI/s512-c/photo.jpg" /></author><feedburner:origLink>http://jumpueng.blogspot.com/2012/12/dua-model-ideologi-sepakbola.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkIHSXk_cSp7ImA9WhNQF0o.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-4736781840520968273.post-2164426077530358934</id><published>2012-11-24T14:47:00.001+07:00</published><updated>2012-11-25T00:35:38.749+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-11-25T00:35:38.749+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="catatan" /><title>Apalah Arti Sebuah Nama?</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;b&gt;"Apalah arti sebuah nama"&lt;/b&gt; kata William Shakespeare. Sekilas kita mungkin sepakat dengan penulis Romeo Juliet ini. Tapi, dapatkah kita membayangkan semua orang yang ada di dunia ini tanpa nama? Bagaimana kita mengenali seseorang yang tak punya nama? Dunia pasti menjadi sangat kacau. Kita menjadi bingung dalam berkomunikasi terutama ketika merujuk pada benda-benda yang tidak punya nama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang sih, nama hanya urusan sepele dan tidak begitu penting. "Dia (nama) sebenarnya milikmu, tapi orang lain yang justru menggunakannya," demikian biasanya orang mengajukan teka-teki, dan jawabannya adalah nama. Tahukah anda bahwa sebenarnya nama sebuah jenis kata khusus dan sangat menarik ditelaah, terutama dari segi semiotik. Apalagi dalam banyak kasus, misalnya, "nama secara langsung mengaitkan pemiliknya dengan budaya tempat dia lahir," tulis Marcel Danesi, dalam &lt;b&gt;Pesan, Tanda dan Makna&lt;/b&gt; (2012).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Danesi menjelaskan studi tentang nama bisa ditemukan dalam sebuah cabang semiotik maupun linguistik yang bernama onomastik (dari bahasa Yunani onoma, "nama"). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika merujuk pada Al Quran terutama kisah penciptaan Adam, moyang pertama umat manusia, kita menemukan bukti lagi betapa nama begitu penting. Untuk menunjukkan kelebihan Adam dibanding ciptaanNya yang lain (Malaikat dan Iblis) Tuhan mengajarkan nama-nama benda kepada Adam. Berbekal pengetahuan dari Tuhan itulah, Adam bisa menjelaskan nama-nama benda yang ada di Surga berikut fungsi dari benda-benda itu. Hal ini mengundang kekaguman dari Malaikat dan Iblis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengetahuan tersebut tidak diajarkan kepada makhluk sebelum Adam. Karena itulah, posisi Adam lebih tinggi dari Malaikat maupun Iblis, dan sudah sepantasnya makhluk-makhluk itu menghormati Adam. Hanya karena merasa proses dan sumber penciptaannya lebih mulia dari Adam, yang membuat Iblis tak mau tunduk kepada Adam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang, coba perhatikan bagaimana orang tua di tempat kita memberikan nama untuk anak-anaknya. Nama yang dipilih untuk si buah hatinya tidaklah secara kebetulan. Pasti ada pesan dan makna di balik nama yang diberikan. Orang tua kita pasti merujuk pada suatu harapan yang ingin dicapai oleh anak-anaknya, terutama jika nama-nama yang diberikan itu mengadopsi nama tokoh tenar. Tak sedikit pula yang mengaitkan nama dengan sebuah doa, agar si anak yang menyandang nama itu berperilaku seperti makna yang di kandung dalam namanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka muncullah nama-nama seperti Muammar Khadafi, Saddam Hussein, Ahmadinejad, Hosni Mubarak serta nama tokoh lain. Orang tua pasti berharap anaknya mengikuti jejak pesohor dan tokoh-tokoh dunia Islam tersebut yang berani melawan Barat. Namun tak sedikit pula, orang tua yang harus mengganti nama anaknya menjadi nama biasa karena sang anak tak sanggup menanggung beban 'harapan' dari nama yang disandangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di pelbagai budaya, jelas Danesi, bayi yang baru lahir tidak dianggap sepenuhnya sebagai bagian dari budaya itu hingga ia diberi nama. "Tindakan menamai bayi yang baru lahir merupakan ritual perubahan status yang harus ia jalani dalam masyarakat, dan ia diidentifikasi sebagai seorang individu tersendiri dengan kepribadian yang unik," tulisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Prosesi memberi nama itu selain karena bentuk kebanggaan, melainkan juga sebagai penegasan kepada masyarakat bahwa, "Ini &lt;i&gt;loh&lt;/i&gt; namanya." Sebab, jika tak diberi nama, maka masyarakatlah yang akan memberi nama. Meski sudah punya nama, ada juga yang memiliki nama panggilan tersendiri di masyarakat, biasanya merujuk pada perilaku si anak. (Coba mengingat-ingat nama-nama lucu di kampungmu).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Singkatnya, setiap nama yang diberikan kepada sang anak bukan secara kebetulan, melainkan si pemberi nama itu mengetahui maknanya serta kisah dari nama itu jika merujuk pada nama-nama tokoh dunia dunia. Yang jelas, si pemberi nama tidak sedang galau saat memilih nama-nama untuk anaknya yang baru lahir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kita membaca literature, orang Eropa juga sangat memperhatikan makna dari nama-nama yang diberikan kepada anaknya. Namun, kebanyakan mereka merujuk pada nama-nama dalam bahasa Ibrani, Latin, Yunani, atau Teutonik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama-nama Ibrani biasanya diadopsi dari Bibel dan menjadi sumber penting bagi nama-nama dalam tradisi Barat. Sebut saja, John (berkah yang pengasih dari Tuhan), Mary (diharapkan), Michael (seperti tuhan), David (dikasihi), Elizabeth (sumpah Tuhan), James (semoga Tuhan melindungi, atau ia yang menggantikan orang lain), Hannah (Tuhan telah memilihku), Joseph (Tuhan akan menambahkan), dan Samuel (Tuhan telah mendengar). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara nama-nama Yunani atau Latin sering merujuk pada sifat-sifat abstrak, misalnya, Alexander (penolong umat manusia), Barbara (orang asing), George (petani), Helen (cahaya), Margaret (mutiara), Philip (pecinta kuda), Stephen (mahkota atau karangan bunga), Clarence (terkenal), Emily (memuji), Patricia (lahir sebagai bangsawan), Victor (penakluk), dan Virginia (bagai perawan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, nama-nama Teutonik umumnya terdiri atas dua unsur yang digabungkan tanpa mengindahkan hubungannya satu sama lain. Misalnya, William terdiri atas dua unsur nama, Wille (kehendak atau ketetapan) dan Helm (helmet).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahu nggak, awalnya nama-nama yang diberikan dalam budaya Barat itu bersifat indeksikal, artinya mengindentifikasi individu berdasarkan nama tempat. Misalnya di Inggris, seseorang yang tinggal di dekat atau tempat tumbuhnya pohon apel akan dinamai John Appleby (John tempat apel tumbuh). Silahkan terjemah sendiri nama-nama seperti Wood, Lake, Brook, Stone, Field dan Ford.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah, masihkah kita bertanya&amp;nbsp;&lt;u&gt;"Apalah arti sebuah nama?"&lt;/u&gt; seperti judul posting ini? Semua terserah anda. []&lt;/div&gt;
&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogAceh/~4/6L4yGbwFC90" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4736781840520968273/posts/default/2164426077530358934?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4736781840520968273/posts/default/2164426077530358934?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/BlogAceh/~3/6L4yGbwFC90/apalah-arti-sebuah-nama.html" title="Apalah Arti Sebuah Nama?" /><author><name>Taufik Al Mubarak</name><uri>https://plus.google.com/103535029759927248968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh4.googleusercontent.com/-ygh4RP4SCtM/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABqI/uKQjuFGJZfI/s512-c/photo.jpg" /></author><feedburner:origLink>http://jumpueng.blogspot.com/2012/11/apalah-arti-sebuah-nama.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DU8FSXo8eip7ImA9WhNQF0o.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-4736781840520968273.post-8663462875383670160</id><published>2012-11-18T12:54:00.000+07:00</published><updated>2012-11-25T00:23:38.472+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-11-25T00:23:38.472+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="editorial" /><title>Offside, Sebuah Pengantar</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
Dalam politik, kita sering beradu debat dan siasat. Tak putus-putusnya, hingga membuat kita terbelah-belah. Dan kita menganggapnya sesuatu yang lumrah. Meski kita tahu, banyak hal yang mesti kita korbankan untuk sesuatu yang kita bilang 'lumrah' itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biasanya, dalam politik yang membuat kita terbelah itu, kita masih bisa berkilah. Malah, dalam kondisi tertentu, sesama kita sudah saling menumpahkan darah. Sebab, kita cenderung memahami politik sebagai perang.&amp;nbsp;Padahal, kita yakini bersama, politik adalah perang yang tidak menumpahkan&amp;nbsp;darah!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski dalam politik kita berbeda sikap dan warna,&amp;nbsp;semua kita pasti sepakat&amp;nbsp;olahraga terutama sepakbola bisa menyatukan hati yang terkoyak, memupus dendam yang tak terbalas, meminggirkan ego dan&amp;nbsp;perbedaan-perbedaan. Dalam&amp;nbsp;banyak kisah, ada perang yang terhenti, konflik dan perang saudara mereda. Semua karena sepakbola. Dua kubu bertikai bisa berdamai di depan layar yang menyiarkan pertandingan sepakbola.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Olahraga ini menjadikan dunia tempat kita berpijak menjadi serba indah. Orang-orang yang berbeda haluan dan kendaraan&amp;nbsp;politik luluh dan bahu-membahu membela tim idola. Jika dalam politik saling berhadap-hadapan dan kerap-kali bertulak kisah, tapi dalam urusan sepakbola mereka menyatu bagai saudara. Sepakbola menjadi sarana relaksasi ketika pikiran&amp;nbsp;kita banyak tersita oleh lakon politik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena sepakbola menjadi bahasa universal, merekatkan warga dunia dalam satu irama. Sepakbola tak hanya bercerita soal lapangan hijau, skor, bola bundar, pemain bintang, melainkan menjamah ke semua lini kehidupan. Ada prestasi, ada kebanggaan (prestise), ada sisi perjuangan, sisi humanisme. Bahkan sepakbola sudah dipuja mendekati sebentuk religiusitas masyarakat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai-sampai, seorang filsuf eksistensialis dari Perancis keturunan Aljazair, Albert Camus mau tidak mau harus memberi perhatian pada olahraga yang diminati sejagat ini. "Dalam hal keutamaan dan&lt;br /&gt;
tanggung jawab akan tugas, saya belajar dan berhutang budi pada sepakbola," katanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-yfclEdq7pEM/ULECRDj8QsI/AAAAAAAABns/Pm0WDUvFDNU/s1600/offsidelog.png" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="90" src="http://4.bp.blogspot.com/-yfclEdq7pEM/ULECRDj8QsI/AAAAAAAABns/Pm0WDUvFDNU/s400/offsidelog.png" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;logo Tabloid Offside&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
Lalu, kenapa menerbitkan media dengan segmen&amp;nbsp;olahraga, sementara media&amp;nbsp;dengan tema politik lebih diminati? Ini soal pilihan.&amp;nbsp;Kita di sini memilih 'sedikit' menjauh dari hiruk-pikuk politik. Politik sering membuat kita terpecah-belah, bermusuhan, dan sering hanya&amp;nbsp;menghasilkan debat kusir&amp;nbsp;berkepanjangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Politik itu tema serius, tak menyediakan ruang untuk relaksasi, sementara masyarakat kita sudah gerah dengan lakon politik yang dibumbui kekerasan.&amp;nbsp;Banyak harapan diusung dan diperjuangkan kawan-&lt;br /&gt;
kawan di sini: menerapkan&amp;nbsp;laku jurnalisme secara benar: ada sisi hiburan, pendidikan dan informasi. Intinya, tabloid olahraga kita ini tak akan mengambil salah satu dengan&amp;nbsp;meninggalkan yang lain. Semua akan diberikan porsi yang seimbang. Kita akan menggabungkan sisi entertainment plus infotainment tanpa&amp;nbsp;melupakan sisi informasi dan pendidikan. Kita juga&amp;nbsp;berusaha menjauhkan laku&amp;nbsp;jurnalisme di media kita ini dari sisi propaganda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarlah urusan bersilat&amp;nbsp;lidah dan bertulak kisah cukup kita temukan di media yang meminati konten politik. Kita juga berharap bisa menjaga dari pengaruh fiksi dan rekayasa yang bertujuan menipu publik.&amp;nbsp;Lazim diketahui, bahwa entertainment (hiburan) dan&amp;nbsp;sepupunya infotainment&amp;nbsp;hanya berfokus pada hal-hal yang menggembirakan&amp;nbsp;hati, kesenangan dan hiburan semata. Sementara, propaganda lebih memilih menyeleksi fakta atau mengarang fakta demi kepentingan yang sebenarnya:&amp;nbsp;persuasi dan manipulasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fiksi mengarang skenario untuk sampai pada kesan&amp;nbsp;yang lebih personal dari&amp;nbsp;apa yang disebut kebenaran. Menurut Bill Kovach,&amp;nbsp;dari semua model itu,&amp;nbsp;hanya jurnalisme yang sejak awal berfokus untuk&amp;nbsp;menceritakan apa yang&amp;nbsp;terjadi setepat-tepatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai jurnalis, kita meyakini ada garis yang tak boleh kita lewati dan langgar. Garis-garis ini bisa berupa kode etik, bisa&amp;nbsp;undang-undang, atau pun kearifan yang kita yakini kebenarannya. Kita&lt;br /&gt;
memperlakukan garis ini&amp;nbsp;sebagai panduan dan petunjuk, pembatas, dan titik pemisah, agar kita terus berjalan pada sisi yang benar. Sebab, jika kita sudah melewati garis itu,&amp;nbsp;apapun yang kita lakukan menjadi tidak berguna dan&amp;nbsp;sia-sia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita menyebut garis pembatas itu sebagai 'offside',&amp;nbsp;untuk nama media baru&amp;nbsp;ini. Offside ini suatu istilah yang digunakan dalam sepakbola, dan secara bebas diartikan 'di luar posisi'. Kata ini biasa diterjemahkan sebagai &lt;i&gt;the mistake of occupying an illegal position on the playing&amp;nbsp;field&lt;/i&gt; (kesalahan menduduki posisi ilegal di lapangan bermain). Jika sang pemain yang sudah terjebak dalam posisi offside memasukkan bola ke gawang lawan, gol tersebut&amp;nbsp;akan dianulir (tidak sah).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita memilih nama offside untuk tabloid, karena kata&amp;nbsp;ini bisa mewakili keseluruhan isi media ini. Di samping itu, kata ini juga relevan digunakan&amp;nbsp;untuk bidang lain, tak hanya dalam sepakbola. Apapun yang dilakukan selama&amp;nbsp;tidak keluar dari batas yang ditentukan, sah-sah saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karenanya, kita berharap media baru ini tidak melewati batas, terutama yang digariskan oleh kode etik profesi dan undang-undang yang berlalu. Sehingga media ini terus diterima dan menjadi kebanggaan kita bersama.&amp;nbsp;Besar harapan kami, meski&amp;nbsp;tabloid ini produk lokal, mudah-mudahan semangatnya mencerminkan universalitas sepakbola. Selamat membaca!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
---&amp;gt;Sudah dimuat di edisi percobaan Tabloid Offside, 15-25 November 2012&lt;/div&gt;
&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogAceh/~4/NO-FMMhcBkE" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4736781840520968273/posts/default/8663462875383670160?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4736781840520968273/posts/default/8663462875383670160?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/BlogAceh/~3/NO-FMMhcBkE/offside-sebuah-pengantar.html" title="Offside, Sebuah Pengantar" /><author><name>Taufik Al Mubarak</name><uri>https://plus.google.com/103535029759927248968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh4.googleusercontent.com/-ygh4RP4SCtM/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABqI/uKQjuFGJZfI/s512-c/photo.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-yfclEdq7pEM/ULECRDj8QsI/AAAAAAAABns/Pm0WDUvFDNU/s72-c/offsidelog.png" height="72" width="72" /><feedburner:origLink>http://jumpueng.blogspot.com/2012/11/offside-sebuah-pengantar.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEICQno7eSp7ImA9WhBSEEw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-4736781840520968273.post-6648118763957162821</id><published>2012-11-08T02:49:00.000+07:00</published><updated>2013-02-16T18:02:43.401+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-02-16T18:02:43.401+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Traveling" /><title>Semalam di Singapore (7)</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;Sang sopir taxi
seperti bisa menangkap rasa penasaran yang terlintas di benak kami berdua. Dia
pun bercerita, bahwa tarif wanita di kawasan itu bervariasi. Wanita berwajah
mandarin berbeda harganya dengan yang berwajah India. Begitu juga, wanita yang
sudah berumur beda dengan yang masih muda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;
&lt;i&gt;“Yang murah itu biasanya yang masuk
dari Batam,”&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt; katanya. &lt;i&gt;“Apa mau mencoba?”&lt;/i&gt; sopir itu seperti
menggoda kami.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Kami nyaris
tersedak mendengar pertanyaan spontan itu. Untung saja, pesanan kami segera
tiba. Kami memilih tidak menjawab. Hidangan di atas meja itu kini mulai kami
tarik lebih mendekat, agar nyaman ketika menyantap. Kini kami pun mulai sibuk
dengan makanan masing-masing. Sesekali saja kami saling menyahut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Saat menyantap
hidangan, sering mata kami melirik ke sana ke mari, apalagi jika ada tamu yang
datang. Persis seperti orang hutan yang baru turun ke kota. Suasana di tempat
itu memang terlalu indah untuk dilewatkan. Makanya kami sering mencuri-curi
pandang, lebih-lebih pada cewek berwajah bersih dan fresh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Tak terasa, kami
sudah hampir mengosongkan piring masing-masing. Itu saking laparnya kami malam
itu. Soal apakah makanan di situ enak seperti kata si sopir tak kami
perdulikan. Yang penting, kini perut sudah terisi. Ini akan menambah energi
untuk kami, terutama menghabiskan malam yang hampir pamit. Rencana kami pun
sudah bulat, bahwa kami tak perlu mencari penginapan. Karena serba tanggung.
Belum lagi, kami sama sekali tak tahu berapa tarif kamar hotel di Singapore.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Di sela-sela
menuntaskan melahap sisa makanan, obrolan kami berlanjut. Rasa penasaran berapa
tarif sekali booking cewek di kawasan itu, memaksa saya mencari jawab.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;“Berapa
biasanya sekali booking cewek di sini?” saya membuang jauh-jauh perasaan tak
enak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Teman saya,
Teuku Irwani, terkejut mendengar pertanyaan tersebut. Dia tidak mengira saya
akan seberani itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;“Apa serius
mau booking cewek?” sang sopir juga setengah tak percaya. Saya tarik nafas
dalam-dalam sebelum mengeluarkan suara. “Saya hanya ingin tahu saja, berapa
tarifnya,” saya tak bisa menyembunyikan rasa malu. “Minimal saya tahu, apalagi
jika nanti ada yang bertanya,” saya memberi alasan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;“Bilang saja
mau booking,” teman saya menyeletuk. Selepas itu dia tertawa keras,
sampai-sampai beberapa pasang mata di warung itu memalingkan muka melihat ke arah
kami.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;“Harganya
tergantung pada berapa lama kita booking,” jawab sang sopir. “Kalau untuk
sekali kencan (short time) ya paling 50 dollar (Singapore),” lanjutnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;“Kalau untuk
semalam?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;“Itu mahal,
bisa 400-700 dollar (Singapore),” jelasnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Menurut si
sopir, untuk sekali kencan yang 50 dollar sudah termasuk sewa kamar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;“Harga sekali
pakai 45 dollar, yang 5 dollar lagi untuk sewa kamar,” jelasnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Saya
perhatikan, di sepanjang jalan itu memang banyak berdiri penginapan sederhana.
Penginapan-penginapan di kawasan itu memang khusus untuk keperluan kencan.
Jarang ada yang khusus menginap di situ.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Si sopir kini
tahu, bahwa pertanyaan saya soal harga hanya sekedar basa-basi. Dia yakin, kami
tak berniat untuk mencobanya. Apalagi, dia tahu kami datang dari Aceh yang
Islamnya kuat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;“Suatu saat
Saya ingin ke Aceh, melihat langsung bagaimana perkembangan Islam di sana,”
katanya. Dia mengaku banyak mendengar soal Aceh, daerah yang dikenal dengan
daerah yang memberlakukan hukum Islam. Dia berharap, jika sempat ke Aceh, kami
mau menemaninya jalan-jalan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Selanjutnya,
tak banyak topik yang kami bicarakan lagi. Dia pun menawarkan, apakah sudah
saatnya berangkat. Kami mengangguk. Selesai melunasi bayaran, kami segera
menyingkir dari warung yang kini semakin ramai saja. Di jalan-jalan juga cewek
berpakaian menor makin banyak. Ada yang sudah mengapit pasangan, ada yang masih
setia mencari mangsa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;“Sekarang
kemana lagi?” si sopir taxi membuka pembicaraan begitu kami sudah berada di
dalam mobil. Kami meminta diantarkan kembali ke kawasan patung Merlion, dan
berniat menghabiskan malam di sana.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Namun, si
sopir mengusulkan bagaimana kalau kami mampir dulu di Mustafa Center, pusat
perbelanjaan. “Kalian bisa membeli oleh-oleh di sana untuk dibawa pulang.
Mustafa itu buka 24 jam,” katanya menjelaskan. Kami mengiyakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Jadilah, kami
meluncur ke Mustafa Center. Dalam perjalanan, tak banyak yang kami bicarakan.
Pasalnya, kami masih belum puas menikmati gemerlapnya Singapore di malam hari.
Jadi, pandangan kami tak pernah lepas dari memandang ke segala sisi, melihat
pemandangan kota.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Di tengah
perjalanan, tiba-tiba, sang sopir menghentikan lamunan kami. “Di mana kalian
menaruh passport?” tanya dia. Tak menunggu kami menjawab, dia melanjutkan, “di
depan ada razia. Pasport kantongi saja. Nanti kalian diam saja, biar saya yang
bicara,” lanjutnya. Dia pun memastikan agar kami memakai sabuk dengan benar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Terus terang,
kami gugup juga. Soalnya, kok ada razia selarut itu. “Mereka sering menggelar
razia dadakan, mencari orang yang masuk secara illegal. Atau biasanya kalau ada
kasus,” jelasnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Untung saja,
mobil kami tidak distop, dan dibiarkan segera lewat. Kami pun jadi tenang. Tak
lama kemudian, kami memasuki kawasan Mustafa Center. Dia berhenti tepat di
depan pintu masuk. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;“Kalian masuk
saja, belanja segala keperluan. Saya mau ke tempat lain sebentar. Nanti saya
balik menjemput kalian,” katanya. Kami hanya mengangguk. Dalam hati muncul rasa
takut juga, kalau tiba-tiba dia tidak balik lagi. Soalnya, selarut itu sulit
mencari taxi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;“Tenang saja,
tak mungkin dia tak menjemput kita. Soalnya ongkos taxi belum kita bayar,” kata
teman saya. Si sopir pamit sebentar, dan segera melajukan taxinya. Kami pun
melangkahkan kaki memasuki pusat perbelanjaan yang buka 24 jam itu.[] ---&amp;gt;&lt;a href="http://www.jumpueng.blogspot.com/2013/02/semalam-di-singapore-8.html" target="_blank"&gt;bersambung&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;!--EndFragment--&gt;&lt;/div&gt;
&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogAceh/~4/oYc3u453Wrk" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4736781840520968273/posts/default/6648118763957162821?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4736781840520968273/posts/default/6648118763957162821?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/BlogAceh/~3/oYc3u453Wrk/semalam-di-singapore-7.html" title="Semalam di Singapore (7)" /><author><name>Taufik Al Mubarak</name><uri>https://plus.google.com/103535029759927248968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh4.googleusercontent.com/-ygh4RP4SCtM/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABqI/uKQjuFGJZfI/s512-c/photo.jpg" /></author><feedburner:origLink>http://jumpueng.blogspot.com/2012/11/semalam-di-singapore-7.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0AESX04fCp7ImA9WhNRE0g.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-4736781840520968273.post-3229244067931331009</id><published>2012-11-07T23:30:00.000+07:00</published><updated>2012-11-08T14:28:28.334+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-11-08T14:28:28.334+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Traveling" /><title>Semalam di Singapore (6)</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;Beberapa saat
kemudian, taxi yang kami tumpangi memasuki kawasan Geylang.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;Laju taxi diperlambat. Setiap melewati blok
(bisa disebut lorong, tapi ukurannya lebih besar), sang Sopir menunjuk ke arah
cewek yang berseliweran di lorong itu. Dia bercerita, cewek yang 'melacurkan'
diri tersebut, kebanyakan didatangkan dari Batam, Riau.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;Menurut sopir,
meski jumlah blok sangat banyak, hanya beberapa saja yang lebih 'ramai', parah
serta tempat mangkal wanita-wanita nakal. Kami pun diajak untuk mampir di
Geylang 17 dan 21. Menurut dia, di kawasan ini paling banyak cewek ‘nakal’ dari
Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-RjUw2HKJbow/UJQarnmajyI/AAAAAAAABms/eJFPVw9Fdxc/s1600/02052009889.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/-RjUw2HKJbow/UJQarnmajyI/AAAAAAAABms/eJFPVw9Fdxc/s320/02052009889.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;“Tapi usia
mereka sudah berkepala empat. Mungkin kalah bersaing dengan cewek-cewek muda di
Batam, sehingga mereka berpindah ke sini (Singapore, pen),” jelas sopir kami.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;Terus terang,
saya tak fokus lagi menyimak omongan dia. Mata saya dan teman saya (Popon) tak
pernah lepas melihat ke pinggir jalan. Terasa sekali kita memasuki kawasan
nakal. Di setiap sudut toko, simpang atau di pinggir jalan, kami lebih banyak
melihat cewek-cewek nakal. Mereka menyetop dan melambai ke setiap pria yang
lewat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;Pakaian mereka
super minim. Rok pendek di atas lutut. Malah ada super pendek, nyaris seperti
memamerkan CD yang mereka pakai. Betis indah mereka bisa dinikmati gratis.
Namun, baju mereka sedikit lebih sopan: lengan pendek dengan sedikit tampak
belahan dada. Tapi ada juga yang super menor. Seperti tak memakai baju. Ketika
disorot lampu mobil, kita bisa melihat lekuk-lekuk tubuh mereka. Bentuk dan
warna Beha tercetak jelas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;“Kita duduk di
warung itu saja,” kata sang Sopir sambil menunjuk ke warung masakan India.
Menurut dia, selain menunya lengkap, masakannya juga enak. Harganya murah
meriah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;“Iya, kami
sudah lapar sekali,” kata T Irwani (Popon). Teman saya ini memang hobi makan.
Tak heran jika tubuhnya tambun.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;Kami memilih
duduk di meja belakang, di sisi luar warung. Soalnya, meja di depan sudah penuh
terisi. Di beberapa meja kami melihat sudah dikuasai cewek-cewek berpakaian
menor. Mereka bercengkrama antar sesama. Sesekali tertawa lebar. Asap rokok di
atas meja mereka tak henti-hentinya mengepul, mirip&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;cerobong di perusahaan pengeboran minyak.
Kami melihat beberapa pria bule menemani mereka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;Di warung ini,
saya memesan canai kuah kare, plus teh o (teh kosong). Teman saya, seperti
biasa memesan mie pakai telur. Sementara si sopir hanya memesan minuman kaleng.
Sambil menunggu makanan tiba, kami memperhatikan sekeliling. Beberapa cewek
berwajah chinese bolak-balik di lorong samping warung tempat kami nongkrong.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;Jangan
coba-coba memotret aktivitas dan suasana di kawasan itu. Jika ketahuan,
urusannya bisa panjang. “Sebaiknya jangan memotret di sini,” sang sopir taxi
memperingatkan kami. Sebenarnya, saya sudah bersiap-siap mengambil beberapa
angle foto. Rencana memotret terpaksa saya urungkan. Takut menimbulkan masalah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;Jalan itu
gelap. Ukurannya tak sampai lima meter. Di sisinya berdiri pohon rindang. Di
pinggir jalan itu, kami melihat beberapa mobil parkir sembarangan. Tak jauh
dari itu, kami juga melihat beberapa cewek sedang duduk sambil menghisap rokok.
Dari gaya berpakaian, mereka sepertinya sedang menunggu seseorang untuk
membooking mereka. Hal itu kami ketahui, karena mereka sering menyapa dan
menegur setiap pria yang lewat, lebih-lebih yang baru turun dari mobil.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;Di sisi tempat
kami duduk, sudah tak terhitung entah berapa cewek yang lewat. Kami pun bisa mencium
berbagai macam aroma parfum. Dari yang wanginya biasa saja, sampai yang bisa
membangkitkan birahi. Hidung kami menjadi terlatih untuk membuat analisa: ini
pasti parfum mahal bermerek! Ini pasti parfum muriah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;Kebanyakan
mereka memang menggunakan parfum yang baunya menyengat. Dari bau saja sudah
membuat kita tertarik untuk mendekati si cewek.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;Kami tidak
tahu, apakah gaya kami mirip anak kampung yang baru lepas ke kota. Soalnya
beberapa cewek yang duduk di depan kami sering kali melihat ke arah kami.
Kadang saling beradu pandang. Gaya mereka sedikit menggoda. Pura-pura mengacung
rokok. Sering juga sambil mengedip mata. Senyum dibuat segenit mungkin.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;Cewek-cewek di
situ semua siap tempur. Kita tak perlu takut mencari tempat melampiaskan nafsu
semalam. Karena tak jauh dari tempat itu, terdapat beberapa motel atau losmen
yang memang khusus untuk berbuat begituan.&amp;nbsp;
Hal itu kami ketahui, karena beberapa pasangan keluar-masuk motel
tersebut. Saat masuk, pasangan yang mau naik ke bulan itu saling berangkulan,
berpegang tangan. Tapi ketika keluar, mereka seperti tidak saling kenal. Mungkin
karena si wanita sudah menerima bayaran sesuai tarif.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;Tapi berapa
kira-kira tarif mereka untuk sekali kencan? Ini pertanyaan yang sejak awal kami
simpan. Mau bertanya, malu. Tak bertanya, bikin penasaran. Minimal, kami perlu
tahu berapa harga untuk sekali short time dengan cewek-cewek nakal itu?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Ayo...Mau tahu
berapa tarif mereka? Simak sambungannya. --&amp;gt;&lt;a href="http://jumpueng.blogspot.com/2012/11/semalam-di-singapore-7.html"&gt;Bersambung&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogAceh/~4/VwFiYAcu27E" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4736781840520968273/posts/default/3229244067931331009?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4736781840520968273/posts/default/3229244067931331009?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/BlogAceh/~3/VwFiYAcu27E/semalam-di-singapore-6.html" title="Semalam di Singapore (6)" /><author><name>Taufik Al Mubarak</name><uri>https://plus.google.com/103535029759927248968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh4.googleusercontent.com/-ygh4RP4SCtM/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABqI/uKQjuFGJZfI/s512-c/photo.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-RjUw2HKJbow/UJQarnmajyI/AAAAAAAABms/eJFPVw9Fdxc/s72-c/02052009889.jpg" height="72" width="72" /><feedburner:origLink>http://jumpueng.blogspot.com/2012/11/semalam-di-singapore-6.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CkYCSHo9cCp7ImA9WhNRE0s.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-4736781840520968273.post-3014728213145988371</id><published>2012-11-06T01:00:00.000+07:00</published><updated>2012-11-08T14:36:09.468+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-11-08T14:36:09.468+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Traveling" /><title>Semalam di Singapore (5)</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;Jika dihitung,
lebih setengah jam pasangan sedang dimabuk asmara itu memadu kasih di sana.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;Kami pun sudah tak
lagi memperdulikan mereka. Soalnya banyak pemandangan lain yang lebih menarik
untuk dilihat, daripada memantau mereka. Apalagi, bayangan keduanya sudah tak
terlihat lagi.&lt;/span&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Sebelumnya &lt;i&gt;&lt;a href="http://jumpueng.blogspot.com/2012/11/semalam-di-singapore-4.html"&gt;Semalam di Singapore (4)&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Kami beranjak dari taman itu, berjalan menuju tempat di mana patung Merlion
berada. Tujuan kami selain untuk berfoto juga melihat dari dekat simbol
Singapore itu. Kami juga akan mencari mencari sedikit makanan untuk mengganjal perut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-LgqM91SmCiE/UJQaCDOxtbI/AAAAAAAABmk/9s0M1JwCvPw/s1600/02052009866.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://3.bp.blogspot.com/-LgqM91SmCiE/UJQaCDOxtbI/AAAAAAAABmk/9s0M1JwCvPw/s320/02052009866.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Dengan kondisi
fisik yang lemah, kami terus berjalan, sembari mata tak pernah berkedip melihat
pemandangan indah di depan kami. Anak-anak ABG, di tangannya camera digital dan
ponsel cerdas canggih, asyik berfoto bersama, sambil berlari-lari, dan tentu
saja dengan gaya genit. Dalam hati, ingin rasanya bisa berfoto dengan mereka.
Tapi, apa boleh buat, daripada dikira kampung, niat itu kami urungkan. Melihat
mereka tentu saja membuat kami senang, meski perut kami sudah tak mungkin
diajak kompromi lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;Meski sudah
larut malam, jumlah pengunjung makin ramai. Kawasan itu benar-benar tempat
rekreasi yang menyenangkan. Wanita muda dengan wajah cantik
berseliweran di sekitar kami. Sementara tak jauh dari patung itu, suara musik
kian gaduh. Beberapa pengunjung cafe berjoget ria. Entah karena penasaran atau
memang hasrat untuk menikmati sedikit gemerlapnya kehidupan malam di Singapore
kami berdua mendekat. Duh, sesak nafas kami. Suara musik juga bikin telinga kami pekak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;Sejumlah
wanita berpakaian menor memamerkan betis seksi dan buah dada, tak hanya kepada
kami tetapi juga kepada setiap orang yang lewat. Di tangan mereka memegang
rokok, dan sesekali mereka hisap dalam-dalam. Asap mengepul di muka mareka. Dalam hati terbersit,
"mereka pasti cewek-cewek nakal."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;Pun begitu,
kami berdua tak sedikit pun tergerak menggoda dan menanyakan tarif. Dalam hati
kami menduga-duga, harga mereka pasti lebih mahal dari cewek-cewek yang sering mangkal di
jalan Jaksa, Jakarta Pusat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;Saat asyik melihat-lihat, kami membaca tulisan yang sangat gampang dieja: toilet.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;"Ini tempat yang kita cari," kata saya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;Soalnya sejak pertama menginjak kaki di
Singapore, saya sama sekali belum ke toilet. Hanya kawan yang pernah sekali, itu pun di mall kawasan Esplanade. Secara bergantian pula kami membuang sesuatu yang sudah mengumpal
dan membuat kami tak nyaman. Meski harus naik tangga ke lantai dua, kami cukup
puas karena tak ada yang perlu dirisaukan lagi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;Setelah
selesai di sana, kami kembali berjalan. Tak jauh dari tempat kami buang air
kecil tadi, duduk seorang cewek, sendirian. Meski meja-kursi banyak di situ,
tapi dia hanya sendirian. Tempatnya juga gelap. Di atas mejanya terdapat
segelas air berbusa, yang kami taksir sejenis minuman beralkohol. Kami juga
melihat sebungkus rokok, tepat di samping gelas minumnya. Si cewek yang kami
taksir berumur 21 tahun itu berpakaian serba hitam. Baju hitam berlengan pendek
dipadu rok mini yang sangat minim dengan dibalut stocking hitam hingga ke atas
lutut. Kami sama sekali tak bisa menikmati betis dan pahanya yang putih-mulus. Merasa sedang diperhatikan, cewek itu memasang muka cemberut. Tak ada senyum genit tersungging
dari bibirnya. Dia seperti ingin sendiri. Kami pun tak berniat sekedar menegur.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;Kami
kembali ke patung Merlion. Belum cukup rasanya kami berfoto-foto ria. Setelah
jepret sana-jepret sini, kami beristirahat sebentar. Kebetulan ada tempat duduk
kosong di situ. Kami berdua kemudian mencoba membuat rencana, mau kemana lagi.
Soalnya jam masih menunjukkan pukul 01.00 dinihari. Menyewa kamar sudah
kepalang tanggung. Jika tetap memilih menyewa kamar, jadwal kepulangan kami
besok bisa berantakan. Karena besok, sesuai jadwal di tiket, pukul 14.00 sudah
harus ke Tanjung Pagar. Kami naik kereta api kembali ke Kajang, Malaysia. Terus terang kami takut kesiangan jika memilih
beristirahat di kamar hotel.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;Akhirnya kami
mengambil kesimpulan tak jadi menyewa hotel. Jika pun rasa kantuk tak bisa kami
tahan, kami bisa saja tidur di taman yang ada tempat duduknya dan bisa kami
pergunakan sekedar rebahan. Lagian, tak lama lagi juga sudah subuh. Sambil kami
mengatur rencana, tak jauh dari kami ada sepasang muda-mudi berpelukan mesra.
Meski tempat sedikit gelap, kami bisa melihat mereka dengan jelas. Saya
mengarahkan kamera dengan sedikit zoom. Gambar mereka terekam meski sedikit
kabur. Terlihat mereka sangat menikmati percumbuan itu. Si cewek berkali-kali
memeluk erat cowoknya sambil berciuman. Tubuh mereka seperti ditarik-tarik,
menunjukkan kalau nafsu sudah di ubun-ubun. Hehehe.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;Selanjutnya
kami memotong jalan dan terus berjalan ke lapangan yang cukup luas, tempat kami
lewat pertama kali. Jika tak salah lihat, di satu sisinya, terdapat gedung
parlemen Singapore. Itu kami tahu, karena terdapat patung Rafles, yang dikenal
sebagai pendiri Singapore.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;Setelah
mencapai ujung jalan, di perempatan, kami mencoba mencari tempat makan. Tak
ketemu. Malah perempatan itu kami lewat berkali-kali. Sama sekali tak kami
temui tempat makan. Sementara perut kami sudah tak bisa diajak kompromi lagi.
Saat kami terbengong-bengong dan sedikit kelihatan bodoh, sebuah taxi berhenti
di depan kami. Pertama kami tak berniat menaikinya, karena terus terang kami
tak tahu mau kemana lagi. Namun, karena si sopir taxi menyapa sangat ramah,
kami pun setuju untuk naik ke taxi-nya. Di dalam taxi, si sopir berwajah melayu
itu bertanya tujuan kami mau kemana. Secara serentak kami mengatakan bahwa kami
hendak mencari tempat makan. Dia mengaku tahu lokasi makan yang enak dan tentu
saja murah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;Katanya, di
kawasan Geylang ada tempat makan melayu. Di sana juga kami bisa menikmati
kehidupan malam.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;“Saya ingin ajak kalian melihat perempuan-perempuan Indonesia
melacurkan diri di Geylang,” ucapnya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;Kami mengangguk setuju. Katanya, di
Geylang banyak perempuan-perempuan nakal yang dibawa dari Batam, Kepulauan Riau. Sepanjang
perjalanan dia bercerita. Kami hanya mendengarkan saja dan sesekali
menimpalinya. Pikiran kami tentu saja terbayang pada kemolekan tubuh
wanita-wanita yang diceritakan itu. --&amp;gt;&lt;a href="http://jumpueng.blogspot.com/2012/11/semalam-di-singapore-6.html"&gt;Bersambung&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;!--EndFragment--&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogAceh/~4/wTUD8n4HKgA" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4736781840520968273/posts/default/3014728213145988371?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4736781840520968273/posts/default/3014728213145988371?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/BlogAceh/~3/wTUD8n4HKgA/semalam-di-singapore-5.html" title="Semalam di Singapore (5)" /><author><name>Taufik Al Mubarak</name><uri>https://plus.google.com/103535029759927248968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh4.googleusercontent.com/-ygh4RP4SCtM/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABqI/uKQjuFGJZfI/s512-c/photo.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-LgqM91SmCiE/UJQaCDOxtbI/AAAAAAAABmk/9s0M1JwCvPw/s72-c/02052009866.jpg" height="72" width="72" /><feedburner:origLink>http://jumpueng.blogspot.com/2012/11/semalam-di-singapore-5.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CkcBSHc7fyp7ImA9WhNRE0s.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-4736781840520968273.post-5249454042719270031</id><published>2012-11-05T01:00:00.000+07:00</published><updated>2012-11-08T14:34:19.907+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-11-08T14:34:19.907+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Traveling" /><title>Semalam di Singapore (4)</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Kami membeli minuman ringan di sebuah kios di pinggir taman, masih dalam kawasan Esplanade. Sama sekali bukan kami sengaja membeli Coca-cola, minuman yang biasa diminum Wali Nanggroe Hasan Tiro, melainkan hanya minuman itu yang kami lihat. Coca Cola yang dikasih pun dalam botol senang. Sebenarnya kami mau membeli dalam bentuk kaleng, namun miss komunikasi dengan penjual, akhirnya kami hanya mengiyakan saja minuman yang dikasih tersebut. Maklum saja, kami berdua sudah duluan mati guru bahasa Inggris sehingga tak sempat belajar. Hehehe.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-11k6-ly1xZ4/UJPpxdDc1mI/AAAAAAAABmU/Sy5p1N0tnR0/s1600/02052009885.jpg" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-11k6-ly1xZ4/UJPpxdDc1mI/AAAAAAAABmU/Sy5p1N0tnR0/s320/02052009885.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Sebelumnya &lt;i&gt;&lt;a href="http://jumpueng.blogspot.com/2012/11/semalam-di-singapore-3.html"&gt;Semalam di Singapore (3)&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Selesai membeli minuman, kami terus berjalan, dan mencari tempat istirahat di kawasan pinggir pantai, masih di kawasan Marina, sambil minum dan menghisap rokok. Kami juga berlagak sudah biasa main di kawasan itu, dan berbicara panjang lebar. Rencana selanjutnya kami atur sambil menghabiskan rokok yang kami bawa dari Aceh. Terus terang, kami sama sekali tak akrab dengan tempat yang kami singgahi. Jadi kami buat enjoy aja. Kami terus mengisap rokok sambil berbicara dan sesekali ketawa karena senang sudah tiba di Singapore. Rokok sudah setengahnya kami hisap. Setelah membuang puting ke danau itu, kami baru tahu kalau posisi kami duduk dengan patung Singa, yang dikenal Merlion atau Harimau laut, tak begitu jauh. Kami berdua terlihat cukup bersemangat, meski tak segera beranjak dari tempat itu...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, Times New Roman, serif;"&gt;Maklum, malam-malam kami jalan kaki, meski tak sempat kami hitung berapa jauh kami sudah berjalan. Akhirnya, kami bisa melihat dengan dekat patung Singa yang jadi icon Singapura.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Merlion atau Harimau laut, merupakan patung yang berkepala Singa dan berbadan seperti ikan. Namanya, menurut informasi yang saya baca, merupakan gabungan dari ikan duyung dan singa. Merlion sendiri dirancang oleh Fraser Brunner untuk Badan Pariwisata Singapura (STB) tahun 1964 dan dipergunakan sebagai logonya hingga 1997. Perdana Menteri Singapore saat itu, Lee Kuan Yew, meresmikan upacara pemasangan Merlion di Singapore pada 15 September 1972. Merlion tetap menjadi lambang merek dagangnya hingga sekarang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Sebagai informasi, patung asli Merlion berdiri di mulut Sungai Singapura, sementara sebuah replika yang lebih tinggi dapat ditemukan di Pulau Sentosa. Tinggi Merlion sendiri 8,6 meter dan beratnya 70 ton, dan dibangun dari campuran semen oleh seniman Singapore Lim Nang Seng.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Dalam sejumlah kampanye pariwisata Singapore, disebutkan, makhluk berkepala singa dan bertubuh ikan itu untuk mengingatkan kisah tentang Sang Nila Utama, yang katanya legendaris. Menurut cerita, Sang Nila melihat seekor singa selagi berburu di sebuah pulau dalam perjalanannya ke Malaka, Malaysia. Pulau itu belakangan dikenal sebagai pelabuhan Temasek, yang kemudian menjadi Singapura.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Selama 15 menit kami duduk di taman, kami baru menyadari, bahwa di tempat itu hanya kami berdua yang duduk cowok+cowok. Pengunjung yang berada di samping, di depan maupun yang agak jauhan dari kami, semuanya berpasangan, cowok dan cewek. Ada juga cewek berwajah China bercengkerama dengan Bule, entah dari mana. Di depan kami lalu-lalang pasangan yang jalan sambil berpelukan, bahkan sesekali berciuman. Mata kami berdua tak lepas dari setiap momen ‘mesum’ yang kami lihat. Saat menyadarinya, kami pun jadi malu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;“Jangan-jangan mereka beranggapan kalau kita pasangan gay,” kata saya memecahkan konsentrasi Teuku Irwani yang tak pernah lepas melihat pasangan mesra yang duduk di sebelah kirinya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;“Hehehe…sepertinya kita harus segera berpisah, dan mencari pasangan masing-masing,” jawab T. Irwani bersemangat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Kami berdua kemudian tertawa. “Tak ada yang mau sama kita, mereka jalan sama cowoknya masing-masing. Salah-salah kita kena gebuk,” saya bicara sekenanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;“Lebih baik kita segera pindah, kita perlu foto-foto di patung Singa, biar orang yakin kita sudah ke Singapura,” jawab Irwani, sambil membuang puntung rokok ke air.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Kami pun berjalan menuju Patung Merlion, sambil mata tak pernah berkedip melihat pasangan yang asyik bercumbu di sepanjang taman yang kami lewat. Singapore benar-benar bebas, dan jadi tempat yang nyaman untuk berbuat mesum. Kalau pemandangan seperti itu di Aceh, anggota WH pasti sudah bermandi keringat menangkap mereka, maupun mengejar siapa saja yang mencoba melarikan diri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Karena taman yang harus kami lewati cukup jauh, kami kemudian memilih beristirahat sambil mengamati orang-orang di depan kami yang juga berjalan menuju patung Merlion. Maklum, kami sama sekali tak tahu jalan menuju ke sana. Daripada sok tahu, dan juga tak berani bertanya sama orang-orang, maklum bahasa Inggris yang patah-patah, kami memilih mengamati orang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Tak jauh dari tempat kami duduk, ada satu pasangan, yang cowoknya sudah berumur sementara yang cewek masih cukup muda, antara 24-26 tahun. Mereka seperti pasangan yang baru kenal, tak henti-hentinya memamerkan ciuman. Sesekali sambil berpeluk-pelukan. Cukup hot. Tak puas sambil duduk, si cewek pun tidur dalam pangkuan lelaki. Mata kami tak pernah lepas. Jarang-jarang dapat pemandangan seperti itu. Hp kamera yang saya pegang hendak mengabadikan momen itu, tapi takut mengganggu privacy orang. Saya menyimpannya kembali.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Mereka makin berani, apalagi si cewek memakai baju minim, dan sebagian belahan dadanya terlihat jelas. Tangan si lelaki tak pernah lepas dari dada si cewek. Duh, mereka benar-benar merasa dunia hanya milik mereka berdua. Mereka sama sekali tak tahu, bahwa kami jadi ikut terpancing. Namun, adegan itu tak lama. Karena kemudian mereka memilih tempat di dalam taman yang dikelilingi bunga-bunga setinggi pinggang orang dewasa. Tanpa alas, mereka berdua berbaring. Hal itu kami tahu, karena setelah mereka berada di sana, keduanya tak terlihat lagi. Sesekali kepala si cowok yang kelihatan, bisa jadi sedang memantau kondisi. --&amp;gt;&lt;a href="http://jumpueng.blogspot.com/2012/11/semalam-di-singapore-5.html"&gt;Bersambung&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogAceh/~4/Ib6T9t7NlE0" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4736781840520968273/posts/default/5249454042719270031?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4736781840520968273/posts/default/5249454042719270031?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/BlogAceh/~3/Ib6T9t7NlE0/semalam-di-singapore-4.html" title="Semalam di Singapore (4)" /><author><name>Taufik Al Mubarak</name><uri>https://plus.google.com/103535029759927248968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh4.googleusercontent.com/-ygh4RP4SCtM/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABqI/uKQjuFGJZfI/s512-c/photo.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-11k6-ly1xZ4/UJPpxdDc1mI/AAAAAAAABmU/Sy5p1N0tnR0/s72-c/02052009885.jpg" height="72" width="72" /><feedburner:origLink>http://jumpueng.blogspot.com/2012/11/semalam-di-singapore-4.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CkcEQ305eSp7ImA9WhNRE0s.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-4736781840520968273.post-5196350576380690009</id><published>2012-11-04T01:00:00.000+07:00</published><updated>2012-11-08T14:33:22.321+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-11-08T14:33:22.321+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Traveling" /><title>Semalam di Singapore (3)</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Bookman Old Style';"&gt;Di dalam taxi,
mata kami berdua tak sedetikpun terpejam. Terlalu indah untuk dilewatkan.
Singapore begitu gemerlap. Bagi kami yang pertama kali berkunjung ke Singapore
tentu saja apa yang kami lihat itu benar-benar menyihir. Dalam hati, saya
sempat bergumam, kapan bisa kembali lagi ke sini? Kami tak menghayal yang
muluk-muluk, bahwa Aceh harus seperti Singapore, meski dilihat dari letak
geografis dan hasil alam, Aceh bisa dibangun melebihi Singapore.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-mbI3rgIa69g/UJPnqsbnbJI/AAAAAAAABmM/kvpCI7NLOUk/s1600/02052009853.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/-mbI3rgIa69g/UJPnqsbnbJI/AAAAAAAABmM/kvpCI7NLOUk/s320/02052009853.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: Bookman Old Style;"&gt;Sebelumnya &lt;i&gt;&lt;a href="http://jumpueng.blogspot.com/2012/11/semalam-di-singapore-2.html"&gt;Semalam di Singapore (2)&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Tak terasa,
taxi yang kami tumpangi memasuki kawasan Marina. Di beberapa persimpangan yang
sempat kami baca, menunjukkan bahwa kami benar-benar sudah berada di kawasan
Marina. Namun, kami baru pertama kali berkunjung, kami tidak tahu harus turun
di mana. Tak ada keramaian di situ. Bangunan yang kami lihat kebanyakan seperti
apartemen, gedung pemerintahan dan gedung-gedung pencakar langit lainnya. Kami
pun bingung. Sopir taxi kemudian memberitahukan bahwa kami sudah berada di
Marina Bay.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Melihat kami
hanya diam saja, si sopir pun kemudian bicara lebih keras. “Kita sudah sampai
marina bay, turun di mana?” tanyanya (ini sudah saya terjemahkan, hehehe). Di
tengah keterkejutan itu, kami menjawab, bahwa tujuan kami Marina Bay. Entah
kesal dengan kebodohan kami atau memang wataknya yang seolah-olah superior karena
berhadapan dengan kami yang dari Aceh, si sopir seperti membentak, “Many-many
marina bay…” dengan gerak-gerik tangan menunjuk ke segala arah. Saya tak
memperhatikannya, tapi membuka kembali pesan di Hp. Kemudian saya tunjukkan ke
muka sopir. Dia geleng-geleng kepala, sambil berucap bahwa kami sudah sampai di
marina bay.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Kami pun tak
hilang akal, meski sudah melewati perjalanan selama delapan jam dari Kajang ke
Singapore. Saya baca kembali pesan di Hp dan kemudian memberitahu bahwa kami
mau diantar ke Hall City (dalam hati kami yakin bahwa Hall City pasti seperti
kota kebanyakan, ada pusat perbelanjaan yang buka hingga larut malam dan ada
tempat nongkrong). Si sopir kemudian memastikan apakah kami benar-benar mau ke
Hall City. Kami berdua langsung mengiyakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Taxi pun
kemudian putar haluan. Kami tak lagi mendengar suara si sopir, dia pun
sepertinya sibuk sendiri (atau berpikir bahwa kami berdua yang menumpangi
taxinya benar-benar orang kampung yang kesasar di Kota seperti Singapore). Di
kiri-kanan kami, kelap-kelip lampu dari bangunan-bangunan megah menyilaukan
mata. Sebagian sempat kami baca tulisan yang terbentuk dari lampu-lampu itu.
Tapi kebanyakan kami mengabaikannya karena tulisannya dalam bahasa China. Bukan
mau menyombongkan diri, jika kami benar-benar memang tak mengerti bahasa langit
itu. Hehehe (logika kalimatnya nggak masuk ya).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Terus terang,
sebenarnya kami berdua sudah lapar banget, tapi karena masih penasaran dengan
Singapore, rasa lapar itu pun hilang. Ada satu tekad dalam hati kami masing-masing,
bahwa meski kami berasal dari kampung, kami tak mau kelihatan kampungan. Ada
rasa bangga dalam diri kami bahwa jika Aceh mampu diurus dengan lebih baik,
tentu kita bisa mengalahkan Singapore yang kecil ini. Hehehe. Malam ini juga
kami berdua harus menaklukkan Singapore (dalam pengertian bahwa kami tak
terkesan bodoh berada di kota besar itu).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Taxi terus
melaju. Kami berdua larut dalam pikiran masing-masing. Tak begitu lama
kemudian, si sopir taxi bilang bahwa kami sudah memasuki kawasan Hall City. Kami
berdua yang dari tadi asyik melihat keluar, melihat banyak ada muda yang lagi
nongkrong di pinggir jalan, di pinggir lapangan dan di atas trotoar sambil
bermain sepadu roda. Setelah membayar seperti yang tertulis di Argometer, kami
pun turun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Kami mencoba
bergaya bahwa kami bukan berasal dari kampung. Biar tak kelihatan kaku, kami
pura-pura jalan cepat dan mencoba bercanda seadanya. Mata kami berdua tak
henti-hentinya melihat kawanan orang-orang yang nongkrong, apalagi terdapat
cewek yang berpakain mini dan seksi. Inilah godaan pertama. Kami tak mau
munafik, bahwa pemandangan ini sangat kami nikmati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;“Nyoe ho tajak
pon (Sekarang mau kemana kita Pon)?” tanya saya sama T. Irwani yang sepertinya
baru melihat orang bermain sepatu roda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;“Kita cari
makan dulu, sudah lapar,” jawabnya singkat. Kami pun berjalan memotong lapangan
yang terletak di depan gedung dewan Singapore, karena dari kejauhan kami
melihat ada yang mirip mall. Benar saja, bahwa itu adalah mall, begitu kami
sudah berada di dalam. Kami berjalan terus menerus, sambil tak pernah lepas
memandang orang-orang yang lewat di depan kami. Terus terang, entah itu rezeki
untuk kami atau memang di Singapore itu hal biasa, semua cewek yang kami temui
benar-benar seksi dengan pakaian yang keliatan belahan dadanya. Kalau mereka
tak pakai Bra, mungkin ‘barang’nya sudah terbang kemana-mana dan mengenai
kepala orang.hehehe.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Sebelum turun
lift yang menuju ke tempat karoeke, kawan saya memberitahu mau ke toilet karena
di sebelah kiri lift turun itu terdapat toilet. Saya langsung turun
mencoba-coba lihat keadaan di bawah. Saya terus berjalan, dan tak terasa bahwa
di depan saya sudah terpampang semacam danau, di mana orang-orang ramai
nongkrong di tempat santai yang khusus disediakan. Tak lama kemudian muncul
kawan saya dengan nafas yang terengah-engah. Mungkin capai atau kebingungan
mencari saya yang terus berjalan (meski tak tahu kemana-mana). --&amp;gt;&lt;a href="http://jumpueng.blogspot.com/2012/11/semalam-di-singapore-4.html"&gt;Bersambung&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogAceh/~4/M-DByKlknSk" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4736781840520968273/posts/default/5196350576380690009?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4736781840520968273/posts/default/5196350576380690009?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/BlogAceh/~3/M-DByKlknSk/semalam-di-singapore-3.html" title="Semalam di Singapore (3)" /><author><name>Taufik Al Mubarak</name><uri>https://plus.google.com/103535029759927248968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh4.googleusercontent.com/-ygh4RP4SCtM/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABqI/uKQjuFGJZfI/s512-c/photo.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-mbI3rgIa69g/UJPnqsbnbJI/AAAAAAAABmM/kvpCI7NLOUk/s72-c/02052009853.jpg" height="72" width="72" /><feedburner:origLink>http://jumpueng.blogspot.com/2012/11/semalam-di-singapore-3.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A04ERHcyeyp7ImA9WhNRE0g.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-4736781840520968273.post-4150686409765432642</id><published>2012-11-03T13:00:00.000+07:00</published><updated>2012-11-08T14:31:45.993+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-11-08T14:31:45.993+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Traveling" /><title>Semalam di Singapore (2)</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
Terus terang, setiba di imigrasi Singapore, perasaan saya tidak enak. Biasanya jika sudah ada perasaan tidak enak, pasti akan terjadi sesuatu. Kawan saya ternyata juga merasakan hal demikian. Pun begitu, seolah tanpa beban saya menyerahkan pasport ke petugas imigrasi saat diminta mendekat. Kebetulan yang di loket itu seorang cewek, tubuhnya gempal dan dari wajahnya menunjukkan jika dia beretnis China. Saya merasa lega karena biasanya lebih gampang jika pemeriksanya seorang cewek.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-Q38CNpZ5lyw/UJPj9dN_7pI/AAAAAAAABl8/FX2gJ7pYX0w/s1600/01052009822.jpg" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-Q38CNpZ5lyw/UJPj9dN_7pI/AAAAAAAABl8/FX2gJ7pYX0w/s320/01052009822.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small; text-align: start;"&gt;Di dekat patung Merlion&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
---&amp;gt;Sebelumnya &lt;a href="http://jumpueng.blogspot.com/2012/11/semalam-di-singapore-1.html"&gt;Semalam di Singapore (1)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah pasport saya dipegang dan discan di mesin, muncul masalah. Tak bisa discan dan tak keluar previewnya. Si cewek itu kemudian bertanya, apakah itu pasport baru? Saya jawab 'ya'. Saya kemudian diminta masuk ke dalam ruangan yang berada tak jauh dari situ, di sebelah kanan. Setelah pasport saya diambil, saya dipersilakan menunggu di luar, kebetulan ada bangku kosong di sana, khusus untuk tempat duduk. Dua petugas berbaju preman mendekat. Dari gayanya saya bisa menebak jika mereka dari personil intelijen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mulailah saya ditanya macam-macam. Mulai apa pekerjaan, untuk apa ke Singapore, menginap dimana di Singapore, kemana saja nanti akan pergi ketika sudah di Singapore, dan selama di Malaysia tempo hari saya ngapain aja. Sementara seorang lagi juga melakukan hal yang sama pada kawan saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah merasa cukup mereka pun masuk kembali ke ruangan. Tak lama kemudian, kedua orang itu balik lagi dan menginterogasi kami secara bergantian. Mereka sepertinya ingin mencocokkan keterangan yang saya berikan dengan keterangan kawan saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya merasakan kondisi itu mirip saat Aceh masih dibalut konflik, terutama saat kita ditangkap petugas. Namun, karena merasa tidak bersalah, saya mencoba untuk santai. Kemudian saya dipanggil ke dalam. Ada seorang petugas yang duduk di depan komputer, tak henti-hentinya memperhatikan mimik wajah saya, setiap kali mengajukan pertanyaan. Tak jauh dari meja itu, ada beberapa petugas Imigrasi termasuk beberapa yang berpakaian preman ikut menimpali dan bertanya, saat petugas yang di depan komputer asyik mencocokkan identitas saya dengan yang ada di komputer mereka. Entah apa yang mereka lakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teman-teman yang menghadapi hal serupa mungkin bisa merasakan bagaimana posisi kita saat diinterogasi tersebut. Apalagi bahasa Inggris saya pas-pasan (untuk tidak mengatakan jelek), dan bahasa Melayu yang patah-patah. Pernah saya menjawab menggunakan bahasa Inggris yang sudah saya bagus-bagusin. Tapi petugas dari etnis Melayu (saya tahu karena dia sendiri yang memperkenalkan diri), bilang: "Bicara bahaya Melayu saja tak benar, pake bahasa Inggris pula (begitu kira-kira, terjemahan yang benar), nanti saya tanya dengan bahasa Inggris kamu tidak tahu harus menjawab apa."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya kemudian diam saja dan memperhatikan cara kerja mereka. Petugas yang berada di depan komputer, dengan kacamatanya yang sudah minus berapa, bertanya kepada saya berapa uang yang saya bawa untuk pergi ke Singapore. Saya mencoba menjawab jujur, bahwa saya mengantongi 500 USD Singapore (karena cuma sehari), dan mengaku dalam kartu kredit ada beberapa dana lagi (padahal itu kartu PermataBank yang bisa digunakan sebagai kartu kredit).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak lama kemudian, saya diminta masuk ke ruang di sebelahnya lagi. Di ruang itu, saya diambil sidik jari. Karena terlalu tegang hingga saya berkeringat dingin. Beberapa diambil sidik jari saya tak keluar di mesin itu. Kemudian saya dikasih tissu, barulah mereka bisa mengambil semua sidik jari saya. Sepertinya, saat itu saya menjadi orang yang begitu berbahaya. Setelah diambil sidik jari, saya dipersilahkan keluar bersama pasport yang sudah dibuat catatan dan diantar seorang petugas. Pasport saya kemudian baru diberi cap Singapore (jujur saya hanya ingin pasport saya bisa dicap).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, sebelum meninggalkan Imigrasi itu, tas saya sempat dibuka dan dilihat isinya. Setelah saya beritahu bahwa hanya ada Laptop dan baju, baru diminta untuk menutup kembali. Saya mencatat ada sekitar 20 menit saya dalam pemeriksaan. Sementara pihak kereta api masih menunggu di luar. Ternyata hanya tinggal kami di Imigrasi itu. Oleh petugas yang mirip intel itu, kami diminta untuk lari agar tidak tinggal kereta (hehehe, lucu).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu mencapai kereta, kami mencari tempat duduk seperti tertera di tiket. Ternyata sudah ada penumpang lain yang duduk di tempat kami duduk, yang ternyata wajahnya beretnis China. Karena banyak tempat masih kosong, kami tak selera mendebat, apalagi di negeri orang. Kami duduk dengan perasaan lega karena sebentar lagi kami sudah tiba di Singapore. Hanya hitungan menit, kereta yang kami tumpangi berhenti di Stasion Tanjung Pagar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jam di dinding Stasion tersebut menunjukkan pukul 22 (pukul 10 malam) kurang. Kami segera keluar, dan mengikuti satu rombongan bule. Terus terang kami tak begitu tahu tentang Singapore, dan jujur nama Kota-kota penting di Singapore tak kami catat. Ternyata bule itu hilang ketika menyeberang jalan, sekitar 400 meter dari Stasion. Kami kemudian bingung mau kemana...ada satu halte di situ. Kami mencoba memahami peta yang ada di Halte itu, ternyata membuat kami tambah bingung. Sudah kami coba bertanya pada seorang cewek yang menunggu di Halte itu, tapi sebelum kami habis bertanya, dia sudah naik bus. Jadilah kami tambah bengong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami kemudian balik lagi ke Stasion Tanjung Pagar untuk mencari Taksi. Tapi, kami tak tahu mau pergi kemana. Kebetulan sisa pulsa yang masih di Hp saya gunakan untuk mengontak kawan-kawan di Facebook, beruntung ada seseorang yang membalas, dan mengabari agar kami ke Marina Bay, City Hall atau Orchad. Kami kemudian menunggu taksi, setelah terlebih dulu bertanya pada orang yang duduk di luar Stasion.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah tahu beberapa ongkos taksi, kami kemudian menunggu di pinggir jalan. Tak berapa lama, sebuah taksi berhenti. Setelah kami kasih tahu tujuan kami kemana, kami pun dipersilahkan naik. Mesin argo pun dihidupkan, saya lupa mencatat berapa harga pertama naik. Dalam taksi, saya dan kawan saya asyik melihat pemandangan malam di Singapore dengan gedung-gedung pencakar langit. Tak ada perkampungan di sana. Malam begitu indah. Kami bagai berada di kota Impian dan menghayal kapan Aceh bisa seperti Singapore? --&amp;gt; &lt;a href="http://jumpueng.blogspot.com/2012/11/semalam-di-singapore-3.html"&gt;Bersambung&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogAceh/~4/lg605FMp9T0" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4736781840520968273/posts/default/4150686409765432642?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4736781840520968273/posts/default/4150686409765432642?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/BlogAceh/~3/lg605FMp9T0/semalam-di-singapore-2.html" title="Semalam di Singapore (2)" /><author><name>Taufik Al Mubarak</name><uri>https://plus.google.com/103535029759927248968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh4.googleusercontent.com/-ygh4RP4SCtM/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABqI/uKQjuFGJZfI/s512-c/photo.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-Q38CNpZ5lyw/UJPj9dN_7pI/AAAAAAAABl8/FX2gJ7pYX0w/s72-c/01052009822.jpg" height="72" width="72" /><feedburner:origLink>http://jumpueng.blogspot.com/2012/11/semalam-di-singapore-2.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0QAQn4-eSp7ImA9WhNRE0g.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-4736781840520968273.post-8504241456343366521</id><published>2012-11-02T18:00:00.000+07:00</published><updated>2012-11-08T14:22:23.051+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-11-08T14:22:23.051+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Traveling" /><title>Semalam di Singapore (1)</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
NOTE: Posting ini awalnya berjudul Menguji Mr. P. Karena pertimbangan etika dan kepantasan, serta menghindari teguran dari mbah Google, saya terpaksa mengganti dan memposting ulang tulisan lawas ini dengan memberi judul baru Semalam di Singapore.&lt;br /&gt;
---------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Sebagai salah seorang pendukung, wajar Aku shock saat MU menjadi bulan-bulanan Barcelona dalam laga final Liga Champions di Olimpico, Roma, Kamis (28/05/2009) dinihari. Malah, sejak MU kalah 1-0 pada babak pertama, Aku terlihat bengong dan tak sepatah kata pun keluar dari mulutku. Tak bersemangat. Rokok A Mild tak henti-hentinya Aku hisap, sampai-sampai kawan di sampingku ngomel, “Cerutu pun tak enak lagi kalo dihisap.” Aku tetap diam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-QbRHckw2Qnk/UJPgB0tonQI/AAAAAAAABls/jxWR68GNp0Q/s1600/01052009772.jpg" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-QbRHckw2Qnk/UJPgB0tonQI/AAAAAAAABls/jxWR68GNp0Q/s320/01052009772.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="text-align: start;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Bersantai di kawasan Esplanade&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
Pulang dari nonton bola tersebut, Aku jatuh sakit. Badanku panas dan langsung tertidur. Ketika bangun sudah agak sore, kepalaku pusing, dan meminta seorang kawan memberitahu ke kantor bahwa Aku tak masuk kerja. Aku jatuh sakit. Seorang kawan di kantor, bahkan sampai menulis posting di blognya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daripada tidak melakukan apa-apa, aku kemudian menulis kisah saat pergi ke Singapore, beberapa waktu lalu menggunakan Handphone. Apalagi belakangan Aku jarang menulis, sehingga blog ini sudah beberapa hari dibiarkan kosong tak terisi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanggal 1 Mei 2009, Aku dan seorang teman, Teuku Irwani, &lt;b&gt;pergi ke Singapore&lt;/b&gt;. Teuku Irwani atau biasa kami panggil Popon, sedang mengambil kuliah di Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM). Pun demikian, dia belum sekali pun pergi ke Singapore, meski hasrat untuk berangkat sudah lama tertanam. Jadi, bagi kami berdua, kepergian ke negeri Singa tersebut merupakan yang pertama kali. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Niat kami sudah bulat, ingin berlibur dan melihat dari dekat negeri Singa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sendiri sudah jauh hari merencanakannya jika sudah tiba di Malaysia, selain ke Thailand, tentunya. Setelah menyiapkan segala keperluan jadilah kami berangkat, dengan pengetahuan tentang Singapore yang sama-sama nol.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak tanggal 29 April 2009 kami memesan tiket kereta api di stasiun KL Sentral. Sengaja kami memilih kereta api, bukan bus atau pesawat, karena ingin menikmati perjalanan, termasuk melihat suasana di sepanjang jalur kereta api. Selain itu harga tiket juga murah, hanya RM 66 untuk pulang-pergi. Namun, semua kursi sudah penuh, akhirnya kami dapat jatah berangkat tanggal 1 Mei, pukul 14.40. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pukul 13 lewat kami sudah berada di Stasiun Kajang. Di tiket tertera kami berangkat pukul14.40. Karena masih lama, kami memilih mengisi perut dulu di warung milik orang India, tak jauh dari stasiun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena dari pagi Aku tak makan, Aku juga memesan makanan, meski tak begitu suka dengan makanan mereka. Oh ya, selama di Malaysia Aku lebih sering makan Tomyam, yang cita rasanya sama dengan kuah asam keueng di Aceh. Selesai mengisi perut di situ, kami kembali ke stasiun, dan menunggu kereta yang akan membawa &lt;i&gt;&lt;b&gt;kami ke Singapore&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat pukul 14.40, kereta yang ditunggu pun tiba. Aku dan Popon mencari tempat duduk seperti tertera di tiket.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
"Tanyoe ka jadeh tajak u Singapore," Popon membuka pembicaraan. Aku sendiri larut dalam bayangan tentang kota Singapore.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kita belum ke Singapore. Setelah paspor kita ada cap Singapore baru boleh kita bilang sudah ke Singapore." Aku menjawab singkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam kereta api itu, kami larut dalam pikiran masing-masing. Sesekali Aku tersenyum bercampur heran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Benarkah aku ke singapore?" gumamku dalam hati. Sesekali Aku mencubit lengan sendiri, untuk membuktikan bahwa Aku sedang tak bermimpi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lengan yang kucubit terasa sakit, berarti benar Aku sedang tak bermimpi. Aku juga meminta sang kawan untuk mencubitnya, dan memang benar ada rasa sakit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepanjang perjalanan, Aku hanya melihat perkebunan sawit yang membentang luas. Sepintas jalur kereta api itu mirip dengan jalan di Tamiang yang dipenuhi kebun sawit. Ternyata, masih banyak areal perkampungan dan minim penghuni di negeri yang mengklaim Asia yang sebenarnya. Di sebagian tempat Aku lihat sedang berbenah, dan sejumlah bangunan pencakar langit sedang dibangun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sangat menikmati perjalanan selama 9 jam ke Singapore tersebut. Banyak daerah yang bisa dilihat meski hanya melalui jendela kereta api. Tapi di situlah letak indahnya. Setiap tiba di stasiun, kereta selalu berhenti. Ada yang turun dan banyak penumpang baru yang naik. Kondisi tersebut mengingatkan saya pada perjalanan dari stasiun Pasar Turi, Surabaya ke Jakarta yang juga via kereta pada 2002 silam. Bedanya, jika di kereta api dari Surabaya setiap berhenti tak hanya penumpang baru yang bertambah, melainkan juga pedagang. Selain itu, karena penumpang yang selalu bertukar, bau di dalam kereta juga bervariasi. Umumnya memang tak sedap. Kita tak bisa melakukan protes, karena salah sendiri pesan tiket kelas ekonomi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika tiba di Johor sekitar pukul 21.00 lewat, kereta yang membawa kami berhenti, karena ada pemeriksaan imigrasi dari Malaysia. Hatiku sempat gelisah dan deg-degan juga. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imigrasi adalah tempat yang paling Aku benci setiap kali bepergian. Mereka suka bertanya aneh-aneh, dan merasa bahwa Negara mereka adalah hebat. Dan menganggap pendatang seperti budak yang mencari pekerjaan di negeri mereka. Namun, rasa deg-degan langsung hilang, karena yang memeriksa parporku adalah seorang cewek Melayu. Dia berkerudung, kulitnya hitam manis. Suaranya juga lembut dan sopan. Sambil dia membolak-bolak paspor, Aku asyik memandang wajah anggunnya. Duh betapa cantiknya anak melayu itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kartu imigrasi mana?” tanyanya kemudian. Aku bengong. “Kartu imigrasi apalagi?” tanyaku dalam hati. Namun, dalam sekejab, Aku teringat, bahwa ada kartu yang sudah Aku pisahkan dari paspor. Kebetulan saja, kartu itu masih ada di tas, kalau tidak ada pasti jadi masalah. Pemeriksaan itu tak berlangsung lama. Mereka juga tak memberi cap di paspor, hanya menggunakan tulisan tangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah selesai semuanya, kereta api kemudian melanjutkan perjalanan. Namun, menurut petugas di kereta api, 10 menit lagi, kereta akan berhenti karena ada pemeriksaan dari imigrasi Singapore.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak lama kemudian, kereta api pun berhenti di stasiun Johor Bahru. Semua penumpang turun dan masuk &lt;b&gt;&lt;u&gt;ke imigrasi Singapore&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;. Aku mencari loket untuk pasport internasional dan mencari yang ada ceweknya. Karena biasanya mereka lebih manusiawi dan sopan serta tak banyak ulah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menunggu antrian, Aku sempat berbisik sama kawan, bahwa perasaanku tak enak. Dia diam saja. ---&amp;gt;&lt;a href="http://jumpueng.blogspot.com/2012/11/semalam-di-singapore-2.html"&gt;Bersambung&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogAceh/~4/CNHHWdO2h-4" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4736781840520968273/posts/default/8504241456343366521?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4736781840520968273/posts/default/8504241456343366521?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/BlogAceh/~3/CNHHWdO2h-4/semalam-di-singapore-1.html" title="Semalam di Singapore (1)" /><author><name>Taufik Al Mubarak</name><uri>https://plus.google.com/103535029759927248968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh4.googleusercontent.com/-ygh4RP4SCtM/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABqI/uKQjuFGJZfI/s512-c/photo.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-QbRHckw2Qnk/UJPgB0tonQI/AAAAAAAABls/jxWR68GNp0Q/s72-c/01052009772.jpg" height="72" width="72" /><georss:featurename>8, 27100 Padang Tengku, Pahang, Malaysia</georss:featurename><georss:point>4.210484 101.975766</georss:point><georss:box>-40.479861 21.116390999999993 48.900829 -177.164859</georss:box><feedburner:origLink>http://jumpueng.blogspot.com/2012/11/semalam-di-singapore-1.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CUcFSHo5eCp7ImA9WhNSGEU.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-4736781840520968273.post-1358376538257043621</id><published>2012-10-19T02:17:00.001+07:00</published><updated>2012-11-03T02:03:39.420+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-11-03T02:03:39.420+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="catatan" /><title>Newsweek dan Tesis Meyer</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Geneva;"&gt;&lt;b&gt;Salah satu majalah
terkemuka, Newsweek&lt;/b&gt;, sudah mengumumkan menghentikan edisi cetak pada akhir
Desember 2012. Mereka memantapkan diri akan terbit versi online, mulai awal
tahun depan, dengan nama Newsweek Global. &lt;/span&gt;&lt;i style="font-family: Geneva;"&gt;"Kami
mengalihkan Newsweek, tidak menyatakan selamat tinggal,"&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Geneva;"&gt; seperti
tertulis dalam pernyataan Tina Brown, pemimpin redaksi dan pendiri situs
internet Newsweek Daily Beast Company seperti dilansir BBC.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://blogs-images.forbes.com/jeffbercovici/files/2012/10/jpeg-turn-of-page-for-newsweek.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://blogs-images.forbes.com/jeffbercovici/files/2012/10/jpeg-turn-of-page-for-newsweek.jpg" width="298" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: Geneva;"&gt;Kenapa pemilik majalah yang
sudah berusia 80 tahun mengambil keputusan radikal tersebut? Alasannya, terjadi
penurunan pendapatan dari iklan dan pelanggan mulai menyusut. Majalah tersebut
dikabarkan terus merugi sejak beberapa tahun terakhir. Pada 2008, &lt;b&gt;&lt;i&gt;Newsweek&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;
mengalami kerugian operasional US$15,4 juta, lalu pada 2009 nilai kerugian
meningkat lagi menjadi US$28,1 juta. Pada tahun 2010, Majalah tersebut tetap
merugi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Geneva;"&gt;Bagi saya, informasi ini
sama sekali tidak mengejutkan. Kenapa? Di Amerika Serikat, jumlah koran terus
menurun sejak tahun 1959. Sebanyak 300 ribu lebih koran sudah tutup sejak itu. Direktur
online broadcast di Committee of Concerned Journalistics (CCJ), Wally Dean,
menyebutkan, oplah koran terus menurun sebesar 1 persen setiap tahunnya dalam
20 tahun terakhir ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Geneva;"&gt;Penyebabnya tak hanya
karena media online tumbuh pesat, melainkan pendapatan dari iklan mulai
berkurang, oplah merosot, pemasang iklan juga mulai beralih ke media online,
sementara harga kertas melambung. Bayangkan, Tribune Company yang memiliki
Koran-koran besar seperti Los Angeles Times, Chicago Tribune, dan lain-lain
mengajukan diri bangkrut, setelah pemasukan mereka turun cukup tajam, dan juga
menanggung hutang 13 miliar dollar AS. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Geneva;"&gt;Sebenarnya, sejak 6 tahun
lalu, penulis buku &lt;i&gt;The Vanishing
Newspaper&lt;/i&gt;, Philip Meyer, sudah memprediksikan hal ini. Bahwa media cetak
akan banyak ditinggalkan, kecuali di Negara-negara yang perkembangan teknologi
informasi berjalan lambat serta masyarakat masih mengandalkan informasi dari
Koran cetak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Geneva;"&gt;Namun, kata Meyer, pembaca
koran terakhir akan menghilang pada September 2043 &lt;i&gt;(The last daily reader will disappear in September 2043).&lt;/i&gt; Malah,
sebutnya, pada April 2043 hanya tersisa satu orang kiri yang masih membaca
koran. Pertanyaannya, apakah begitu tragisnya nasib media cetak sampai
ditinggalkan oleh pembaca setianya? Tak juga. Jika media mau berbenah, masih
ada harapan untuk tetap menjaga eksistensi media cetak. Caranya, memperkuat
konten dengan tulisan-tulisan mendalam menggunakan gaya narasi yang memikat.
Saya kira ini yang mulai dilakukan media-media cetak di luar negeri, meski ini
juga tidak begitu menolong.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Geneva;"&gt;Setidaknya ini alasan yang
diberikan oleh pemilik Newsweek. "Keputusan ini bukan tentang kualitas
merek atau jurnalistik, karena masih akan tetap kuat selamanya. Ini merupakan
tantangan ekonomi dalam percetakan dan distribusi." &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Geneva;"&gt;Saya yakin, &lt;u&gt;&lt;b&gt;Newsweek&lt;/b&gt;&lt;/u&gt; bukan
media terakhir yang mengambil keputusan demikian!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;!--EndFragment--&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogAceh/~4/RC90Mcrk_PA" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4736781840520968273/posts/default/1358376538257043621?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4736781840520968273/posts/default/1358376538257043621?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/BlogAceh/~3/RC90Mcrk_PA/newsweek-dan-tesis-meyer.html" title="Newsweek dan Tesis Meyer" /><author><name>Taufik Al Mubarak</name><uri>https://plus.google.com/103535029759927248968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh4.googleusercontent.com/-ygh4RP4SCtM/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABqI/uKQjuFGJZfI/s512-c/photo.jpg" /></author><feedburner:origLink>http://jumpueng.blogspot.com/2012/10/newsweek-dan-tesis-meyer.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CkIBRXc8fyp7ImA9WhNSF0s.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-4736781840520968273.post-4182732862508435588</id><published>2012-09-28T11:36:00.000+07:00</published><updated>2012-11-01T16:02:34.977+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-11-01T16:02:34.977+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="catatan" /><title>Ide Liar di Saat Mancing</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
Banyak orang dilahirkan dengan bakat luar biasa. Tak sedikit yang kemudian hanyut dalam pusara sejarah, dan lalu  dilupakan. Tapi beberapa yang beruntung mereka mampu membuat keajaiban dan melukiskan namanya pada papan sejarah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Di Aceh, nama Hasan Tiro adalah sebuah perkecualian. Di usia muda, Tiro mampu membangun reputasi politik yang mumpuni. Meski awalnya dikenal sebagai pembela panji merah putih, tapi rasa nasionalisme yang mengental dalam tubuh mungilnya sebagai keturunan dinasti Tiro memaksanya membalikkan haluan sejarah. Berawal dari aktivis DI/TII, Tiro kemudian sukses mengelola sebuah organisasi perlawanan bersenjata, kemudian menjadi salah satu icon perjuangan Aceh melawan Jakarta. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bakat kepemimpinan yang dimilikinya sungguh luar biasa. Seperti Daud Beureue-eh, Tiro juga mengomandoi ribuan pasukan bersenjata, mendidik kesadaran sejarah ke-Aceh-an, plus visi tentang Aceh yang terbebas dari Indonesia. Jika Daud berjuang masih dalam kerangka NKRI, maka Tiro menolak sesuatu yang berbau Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayangnya, kecerdasan, militansi, dan kesadaran ke-Aceh-an yang diajarkan Tiro tak ada yang mampu meneruskan. Perang yang dikobarkan Tiro pada akhirnya dijadikan sebagai bargaining memperekat kembali ikatan Aceh dan Jakarta oleh pengikutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Padahal, jika belajar pada Sudan Selatan, Kosovo, Bosnia dan negara-negara pecahan Soviet bagaimana mereka memperoleh kemerdekaan, peluang Aceh untuk merdeka juga sama besarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak yang menyalahkan bahwa tsunami menutup peluang Aceh, namun alasan ini sangatlah lemah. Saya melihat, kelemahan diplomasi-lah yang membuat Aceh mengikat kakinya sendiri untuk tak bisa berjalan lagi meraih apa yang sudah diajarkan oleh Tiro. Kelemahan tim runding kita, dapat dibaca dengan jelas dalam buku 'Damai di Aceh' karya Hamid Awaluddin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu, tertutupnya peluang Aceh untuk merdeka juga karena masyarakat sipil Aceh menyerahkan bulat-bulat wewenang merundingkan Aceh kepada Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Sebab ketika mandat ini disalahgunakan (menerima otonomi) peluang memerdekakan Aceh kembali harus dimulai dari awal. Perjuangan yang kian terjal. []&lt;/div&gt;
&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogAceh/~4/6LxZ6cvQe5g" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4736781840520968273/posts/default/4182732862508435588?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4736781840520968273/posts/default/4182732862508435588?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/BlogAceh/~3/6LxZ6cvQe5g/ide-liar-di-saat-mancing.html" title="Ide Liar di Saat Mancing" /><author><name>Taufik Al Mubarak</name><uri>https://plus.google.com/103535029759927248968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh4.googleusercontent.com/-ygh4RP4SCtM/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABqI/uKQjuFGJZfI/s512-c/photo.jpg" /></author><feedburner:origLink>http://jumpueng.blogspot.com/2012/09/ide-liar-di-saat-mancing.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0QCQHc7eip7ImA9WhBQFko.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-4736781840520968273.post-572967838735857463</id><published>2012-09-13T15:11:00.001+07:00</published><updated>2013-03-19T13:42:41.902+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-03-19T13:42:41.902+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Berita" /><title>Bashaer Othman, Walikota Termuda di Dunia </title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Bashaer Othman, Walikota Termuda di Dunia.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; Sudah cantik, muda dan terkenal lagi. Dialah &lt;b&gt;&lt;a href="http://jumpueng.blogspot.com/2012/09/bashaer-othman-walikota-termuda-di-dunia.html" target="_blank"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Bashaer Othman&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;, sosok yang dinobatkan sebagai Walikota termuda di dunia. Saat ini, Bashaer menjabat sebagai Walikota Allar, sebuah kota kecil berbukitan di Tepi Barat utara, Palestina. Kota ini memang tidak begitu besar, karena hanya memiliki penduduk 9.000 jiwa. Tapi, kota itu menjadi terkenal karena figure Bashaer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bashaer adalah bungsu dari lima bersaudara. Dia adalah anak dari keluarga petani, pasangan Thariq Othman dan Salwa Othman dan lahir pada 24 Agustus 1996. Dia menjadi wali kota untuk masa jabatan 2 bulan sejak 2 Juli lalu setelah menyisihkan lebih dari 1.000 calon dalam sebuah jenjang seleksi yang ketat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-tS98qeDYFFg/UFGU2pn_3qI/AAAAAAAABlQ/TGkjLVFJ3KE/s1600/s-BASHAER-large300.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="233" src="http://3.bp.blogspot.com/-tS98qeDYFFg/UFGU2pn_3qI/AAAAAAAABlQ/TGkjLVFJ3KE/s320/s-BASHAER-large300.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;i&gt;Bashaer Othman&lt;/i&gt; mengambil alih jabatan itu dari walikota sebenarnya, Sufiyan Shadid. Dia menduduki posisi itu bagian dari sebuah proyek parlemen pemuda nasional, yaitu Forum Pemuda Sharek. Proyek ini digagas untuk melibatkan anak-anak muda pada kerja sehari-hari pemerintah daerah Palestina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://app03.skypost.hk/fileData/iphone/data/20120904/014/bashaer1-174015_20120904_L.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="179" src="http://app03.skypost.hk/fileData/iphone/data/20120904/014/bashaer1-174015_20120904_L.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;Menurut Shadid, tujuan pengambilalihan jabatan Walikota selama musim panas untuk memberikan kaum muda kesempatan untuk berpartisipasi dalam masyarakat sipil dan lebih percaya diri untuk menjadi bagian dari sistem politik di masa depan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama menjabat, kata Shadid, Bashaer melakukan banyak pekerjaan besar. “Dia memiliki karisma, kepribadian kepemimpinan yang kuat,” katanya seperti dikutip The Guardian, 22 Agustus 2012. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap pagi, siswi kelas 1 di Sekolah Menengah Perempuan Allar, datang ke kantor dan melalukan kontrol penuh terhadap jalannya pemerintahan, kecuali masalah keuangan. Dia juga membuat pidato, menandatangani dokumen, memimpin rapat, menghadiri pertemuan dengan warga. Padahal, anak seusianya, biasa menghabiskan liburan musim panas dengan berkumpul bersama teman atau membantu keluarga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bashaer termasuk sukses mengemban tugas. Di tengah masa jabatannya, dia mewacanakan mendirikan sebuah departemen pemadam kebakaran setempat dan membangun taman publik pertama Allar sebagai taman bermain anak-anak. Tak hanya itu, sebagai walikota dia mewakili Allar dalam perjalanan ke Qatar. Menurut Bashaer, isu paling penting di kota yang dipimpinnya adalah pengangguran, khususnya di kalangan pemuda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan Senin (10/9) lalu, &lt;u&gt;Bashaer Othman&lt;/u&gt; datang ke Jakarta atas sponsor World Peace Movement. Kedatangannya ke Jakarta untuk mempromosikan pesan damai bahwa kaum muda dapat menjadi obor perdamaian bagi komunitasnya. []&lt;/div&gt;
&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogAceh/~4/wFdk9IBmOaM" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4736781840520968273/posts/default/572967838735857463?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4736781840520968273/posts/default/572967838735857463?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/BlogAceh/~3/wFdk9IBmOaM/bashaer-othman-walikota-termuda-di-dunia.html" title="Bashaer Othman, Walikota Termuda di Dunia " /><author><name>Taufik Al Mubarak</name><uri>https://plus.google.com/103535029759927248968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh4.googleusercontent.com/-ygh4RP4SCtM/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABqI/uKQjuFGJZfI/s512-c/photo.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-tS98qeDYFFg/UFGU2pn_3qI/AAAAAAAABlQ/TGkjLVFJ3KE/s72-c/s-BASHAER-large300.jpg" height="72" width="72" /><feedburner:origLink>http://jumpueng.blogspot.com/2012/09/bashaer-othman-walikota-termuda-di-dunia.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0AARHo4fyp7ImA9WhBSEE0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-4736781840520968273.post-7018209539488930015</id><published>2012-09-12T19:17:00.001+07:00</published><updated>2013-02-16T17:15:45.437+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-02-16T17:15:45.437+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="catatan" /><title>Filosofi Menara</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
Ada perumpamaan dalam Al Quran, bahwa "kalimat yang baik itu seperti pohon: dahannya menjulang ke langit dan akarnya menghunjam ke bumi." Karenanya, pohon itu pun kokoh meski saban waktu diterpa angin. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menara juga demikian. Satu sisi dia tegak menjulang ke langit, sementara pondasinya tertanam kokoh di dasar bumi. Pondasi itu pula berfungsi sebagai penyangga dan penahan, sehingga menara tetap kokoh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Awalnya, menara jelas dibangun sebagai simbol kesombongan, lambang kegagahan. Bahkan, ada menara yang khusus dibangun untuk memamerkan majunya sebuah peradaban, seperti Burj Khalifa (bahasa Arab untuk 'Menara Khalifa') yang sebelumnya bernama Burj Dubai. Menara ini adalah sebuah pencakar langit di Dubai, Uni Emirat Arab, diresmikan pembukaannya pada 4 Januari 2010. Ketinggian pencakar langit ini adalah 828 meter (2.717 kaki) dan menjadi menara paling tinggi di dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak pesan-pesan luhur (filosofi) yang terkandung dari sebuah menara. Tegaknya menara melambangkan kekuatan, percaya diri dan memiliki kelebihan. Tapi, setinggi-tingginya menara, selalu ada sesuatu di atasnya yang tak terlampaui. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara filosofis, menara itu kuat, percaya diri dan bangga dengan kelebihan yang dimiliki karena punya dasar yang kokoh. Dasar itulah yang kita sebut sebagai ideologi: tak mudah terombang-ambing mengikuti kemana arah angin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sejumlah tempat, menara kadang-kadang menjadi simbol, sekaligus penanda. Simbol kota Paris yang eksotis-romantis itu, misalnya, ada di Menara Eiffel. Cara mudah menandai kota London itu ya di menara jam Gadang. Simbol kota Roma ada di menara miring Pisa, begitu juga New York ada di menara yang disebut Freedom Tower. Nafas Kuala Lumpur karena ditopang oleh menara kembar (twin tower) yang dikenal dengan Petronas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai simbol, menara sering dianggap sakral. Dunia pernah gempar. Amerika kelabakan ketika pesawat yang dibajak teroris menabrak menara kembar WTC (simbol kapitalisme). Begitulah, ternyata menara tak sekedar gedung pencakar langit, tapi juga tanda kejantanan, seperti filosofi monumen nasional (Monas) Jakarta, demikian visi Soekarno saat merintisnya dulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita di Aceh juga punya menara, meski tak setenar Eifel atau Pisa, yaitu menara juang di Masjid Raya Banda Aceh. Menara ini berdiri kokoh, melambangkan semangat juang syuhada Aceh mempertahankan masjid dari gempuran kaphe Belanda. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi kita di Aceh, hendaknya, iman dan ideologi perjuangan itu tetap kokoh. Dia bukan barang yang mudah digadaikan. Kita boleh kalah dalam pertempuran, tapi jangan sampai kalah perang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'Kita boleh tunduk, tapi tak boleh takluk!' Seperti semangat yang digelorakan Goenawan Mohammad ketika melawan Pemerintah saat TEMPO dibredel. []&lt;/div&gt;
&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogAceh/~4/MJ_fl3KauS8" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4736781840520968273/posts/default/7018209539488930015?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4736781840520968273/posts/default/7018209539488930015?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/BlogAceh/~3/MJ_fl3KauS8/aceh-dan-filosofi-menara.html" title="Filosofi Menara" /><author><name>Taufik Al Mubarak</name><uri>https://plus.google.com/103535029759927248968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh4.googleusercontent.com/-ygh4RP4SCtM/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABqI/uKQjuFGJZfI/s512-c/photo.jpg" /></author><feedburner:origLink>http://jumpueng.blogspot.com/2012/09/aceh-dan-filosofi-menara.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C04DQ3o5fip7ImA9WhNSF0s.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-4736781840520968273.post-856785220173949970</id><published>2012-09-11T17:07:00.004+07:00</published><updated>2012-11-01T16:26:12.426+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-11-01T16:26:12.426+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Traveling" /><title>Pengalaman Jalan-jalan di Eropa</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
Berkunjung ke Eropa atau salah satu negara di Eropa, sama sekali tak pernah terlintas di pikiran saya. Namun, ketika kesempatan itu datang, saya senang sekali dan tak menyia-nyiakannya. Karena pasti banyak cerita menarik yang bisa dibagi sebagai oleh-oleh dari perjalanan, yang bagi saya paling berkesan.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya ingat, medio Juli 2010 silam, mimpi saya mengunjungi benua biru itu bukan lagi sekedar cita-cita, melainkan hampir jadi kenyataan. Saya merasa inilah kesempatan melihat kemajuan Eropa yang sebelumnya hanya saya saksikan di film-film. Segala persiapan, dari pengurusan visa, tiket dan keperluan lain, benar-benar menyita perhatian saya. Namun, saya tak mengeluh. Ini kesempatan, yang mungkin datang sekali seumur hidup. Saya tak peduli, harus pakai dana sendiri, toh, untuk tiket sudah ditanggung oleh Pemerintah Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
22 Juli 2010. Saya, dan dua teman, Zamah Sari dan Sayyid Machfud Zikri, berangkat dari Bandara Sultan Iskandar Muda menggunakan pesawat Batavia Air dengan tujuan Medan. Rute keberangkatan kami ke Denmark memang melalui Banda Aceh-Medan-Singapore-Denmark.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Polonia Medan, kami menumpang pesawat Silk Air dengan tujuan Changi Airport Singapore. Kami berangkat dari Medan sekitar jam 19.00 malam. Perjalanan dari Medan ke Singapore hanya memakan waktu beberapa jam saja. Sekitar pukul 10 malam, kami tiba di Singapore Changi Air Port. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi saya, ini pengalaman pertama berada di bandara yang termasuk salah satu bandara terbesar di Asia. Saya takjub sekali. Kami sempat beristirahat sejenak dan ngopi-ngopi bersama teman-teman, termasuk dua orang dari Aceh Utara, Fahmi dan Tgk Khaidir (anggota DPRK Aceh Utara dari Partai Aceh). Kami bertemu mereka secara tak sengaja setelah check in di Bandara Polonia, karena sama-sama tujuan Singapore dan Denmark.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil beristirahat, saya memanfaatkan kesempatan untuk bermain internet di seputaran café tempat kami nongkrong. Kebetulan sekali di bandara ini memang tersedia beberapa computer untuk mengakses internet gratis. Saya memanfaatkannya untuk menghubungi pemesan tiket, meminta agar dikirimkan bukti tiket (e-ticket) kami pulang nantinya. Selain itu, saya manfaatkan untuk memantau berita atau perkembangan terbaru, termasuk status facebook tentunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pukul 01.00 dinihari, kami sudah berada di ruang tunggu internasional Bandara Changi. Tak lama datang dua petugas, satu cowok dan 1 cewek kru dari Singapore Airlines, mengecek jadwal keberangkatan kami. Kami pun didata kembali dan dimita segera check-in. Tak lama kemudian, sudah ada panggilan untuk segera masuk ke pesawat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam pesawat, saya hanya melihat bule-bule dan beberapa orang berwajah Asia (chines). Wajar saja, karena pesawat ini tujuan Denmark, pasti banyak bule. Tak seperti pesawat dari Banda Aceh ke Medan. Hehehe.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perjalanan udara itu hanya membutuhkan waktu kurang dari 10 Jam. Tapi, dalam pesawat terasa sangat lama. Tak terhitung, berapa kali kami harus bolak-balik toilet dan tempat duduk. Kami juga menyempatkan diri untuk tidur dan melepaskan kantuk. Setiap kali bangun, kami sadar bahwa masih berada di atas awan. Beberapa kali saya memantau layar di depan tempat duduk, mengecek sudah sampai di mana. Ternyata, di layar kami sudah melewati beberapa Negara, seperti Turki, Rusia, dan lain-lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
23 Juli 2010. Pukul 08.00 pagi waktu setempat kami mendarat di Copenhagen Airport. Seperti bule-bule lainnya, kami mengikuti saja arah keluar dari bandara. Kami sempat tertahan sebentar di pemeriksaan (Imigrasi). Kami berlima memilih posisi yang berdekatan. Tujuannya, saat diperiksa nanti, kami bisa saling membantu. Untung saja, hanya Tgk Khaidir yang sedikit lama berada di Imigrasi. Mungkin karena perawakannya yang berjenggot, sehingga diangap berbahaya. Saya sendiri tak ditanya apa-apa, hanya diminta menunjukkan surat undangan dari lembaga yang mengundang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama 15 hari di Eropa, tentu saja banyak pengalaman yang kami dapatkan. Selain itu, agar kunjungan perdana ini tak sia-sia, kami pun berniat mengunjungi beberapa Negara Eropa terdekat, tak hanya Denmark. Akhirnya, berkat bantuan teman-teman, Tarmizi Busu, dan Husaini, saya (bersama Zamah Sari dan Sayyid Machfud) bisa mengunjungi 7 Negara Eropa, selain Denmark yaitu Jerman, Belanda, Belgia, Perancis, Swiss, Austria, dan Republik Ceko. Sedikitnya, 11 kota besar Eropa kami singgahi seperti Hamburg, Muenchen, Berlin, Amsterdam, Brussels, Paris, Jenewa, Bern, Zurich, Wina, dan Praha.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Mengunjungi Paris&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Berada di Paris, salah satu kota terbesar di Eropa, sangat menyenangkan. Kami memasuki kota Paris sore hari. Tujuan kami sudah mantap ingin melihat dari dekat symbol kota Paris yaitu, menara Eifel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
Setelah puas mengelilingi kota, kami pun memutuskan untuk mencari tempat parkir yang dekat dengan kawasan Eifel. Beruntung, tak jauh dari lokasi itu, kami menemukan tempat parkir gratis. Kami tahu gratis setelah bertanya pada beberapa orang yang lewat. Dan mereka semua mengatakan jika parkir di ruas jalan sempit itu tak perlu bayar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-2MrRzNj86Ss/UE8M9BrpfHI/AAAAAAAABkk/ulyB33IdZHQ/s1600/Paris.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-2MrRzNj86Ss/UE8M9BrpfHI/AAAAAAAABkk/ulyB33IdZHQ/s320/Paris.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small; text-align: start;"&gt;Saya, Tarmizi, Zamah, Sayyid Machfud&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
Dari sana kami  berlima berjalan pelan-pelan. Semua pemandangan di hadapan kami tak pernah luput. Kami juga menyempatkan diri berfoto di beberapa lokasi yang menarik. Sesekali mata kami melirik puncak Eifel. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini sangat luar biasa. Tak terduga kita bisa mampir di kota ini,” kata saya pada teman-teman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ternyata untuk masuk ke dalam kawasan menara itu tak dipungut biaya. Kita hanya perlu membayar jika ingin menikmati pemandangan dari atas menara. Harganya bervariasi, tergantung berapa puncak yang ingin kita naiki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya kami ingin mencoba sensasi naik ke atas menara dan ingin melihat kota Paris, tapi karena banyaknya antrian, mencapai puluhan meter dari tiga pintu yang dibuka, membuat kami tak selera dan tak sanggup menunggu. Soalnya, kami juga memburu waktu dan ingin segera bisa mencapai kota lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kira-kira pukul 11 malam, kami semua lapar. Di kawasan menara tak ada yang jual makanan, kecuali minuman beralkohol yang kebanyakan dijajakan oleh pria dari timur tengah. Karena itu, kami pun memutuskan mencari makanan di luar kawasan menara. Itu artinya, kami harus berjalan kaki lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kawan kami, Tarmizi, segera menyetel GPS dan mencari tempat makan yang terdekat. Karena sulit mencari makanan yang halal, apalagi sudah pukul 11 malam, kami semua memutuskan mencari KFC. Itu makanan yang cukup netral. Di layar GPS terlihat bahwa kami harus berjalan kaki 3 kilometer untuk mencapai lokasi itu. Awalnya kami cukup bersemangat, tapi lama-kelamaan kaki kami makin pegal dan tak sanggup berjalan. Dalam hati kami juga bertanya-tanya, jangan-jangan setelah berjalan sejauh ini KFCnya tutup pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terasa sekali. Soalnya, saya sudah jarang jalan kaki yang jaraknya 3 kilometer. Bisa dibayangkan bagaimana capeknya. Untunglah, pemandangan kota Paris sangat indah, sehingga tak terasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kawan kami, Husaini, seorang pengungsi politik Aceh di Denmark yang bersama-sama dengan kami, memberi saran agar kami menggunakan sepeda yang disewakan di sejumlah tempat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Paris ini, bersepeda bisa menjadi alternatif transportasi, terutama bagi turis. Gerakan bersepeda sepertinya mendapat dukungan dari pemerintah, dan pemerintah menyediakan semua fasilitasnya. Sistem ini disebut Velib.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat kami mencari makan, di sejumlah tempat kami menemui keberadaan sepeda-sepeda ini, tapi dalam keadaan terkunci. Husaini sudah mencoba mencari tempat penyewaan, tetapi sepertinya tak didapat. Padahal, untuk bisa menyewa sepeda itu memerlukan sejenis kartu khusus atau menggunakan kartu kredit. Hal ini kami tahu setelah melihat reklame di lokasi dengan jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Velib ini pertama kali muncul atas inisiatif  Walikota Paris saat itu, Bertrand Delanoe, pertama diluncurkan pada 15 Juli 2007. Pada tahap pertama itu, digelontorkan 7 ribu unit sepeda motor yang tersebar di 750 stasiun penyewaan otomatis, masing-masing bisa menyimpan 15 unit. Tahun berikutnya, tercatat ada 20.600 sepeda yang disebar pada 1.450 stasiun sewa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rupanya, untuk menggunakan Velib ini, calon penyewa cukup memasukkan kartu navigo (semacam abonemen transportasi), kartu kredit atau kartu berlangganan ke setiap mesin yang ada di tempat sewa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai orang baru di Kota Paris, kami tak tahu menahu. Akhirnya, kami pun hanya melihat saja sepeda yang diparkir secara berderet itu, karena tak tahu cara menyewanya. [bersambung]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;!--EndFragment--&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogAceh/~4/35EcczhRct8" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4736781840520968273/posts/default/856785220173949970?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4736781840520968273/posts/default/856785220173949970?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/BlogAceh/~3/35EcczhRct8/pengalaman-jalan-jalan-di-eropa.html" title="Pengalaman Jalan-jalan di Eropa" /><author><name>Taufik Al Mubarak</name><uri>https://plus.google.com/103535029759927248968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh4.googleusercontent.com/-ygh4RP4SCtM/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABqI/uKQjuFGJZfI/s512-c/photo.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-2MrRzNj86Ss/UE8M9BrpfHI/AAAAAAAABkk/ulyB33IdZHQ/s72-c/Paris.jpg" height="72" width="72" /><feedburner:origLink>http://jumpueng.blogspot.com/2012/09/pengalaman-jalan-jalan-di-eropa.html</feedburner:origLink></entry></feed>
