<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0">

<channel>
	<title>Jilbab Online</title>
	
	<link>http://jilbab.or.id</link>
	<description>-- Cocok Untuk Akhowat, Perlu Untuk Ikhwan --</description>
	<lastBuildDate>Mon, 13 May 2013 12:04:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/BlogJilbabOnline" /><feedburner:info uri="blogjilbabonline" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><item>
		<title>Macam – Macam Ketakutan</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/BlogJilbabOnline/~3/Qg6UfAodhyM/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/1338-macam-macam-ketakutan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 May 2013 12:01:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mustikasari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=1338</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Sumber ilustrasi Macam &#8211; Macam Ketakutan Oleh Mamduh Farhan al-Buhairi Takut adalah sebuah penyakit yang disebabkan oleh reaksi jiwa yang menguasai diri seseorang hingga dia kehinganan keberanian, atau timbul dari penyakit fisik yang tersembunyi. Kemudian terbentuklah seorang lemah yang dikuasai oleh perasaan was-was dan ketakutan. Takut memiliki sebab yang bermacam-macam, di antaranya adalah: &#160; [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://pinterest.com/pin/192951165255135765/"><img class="aligncenter  wp-image-1339" alt="" src="http://jilbab.or.id/wp-content/uploads/2013/05/10bae1283b4e85f4d66079e095191a44.jpg" width="425" height="637" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="font-size: 10px; color: #76838b;"><a style="text-decoration: underline; font-size: 10px; color: #76838b;" href="http://pinterest.com/pin/192951165255135765/">Sumber ilustrasi</a></p>
<p>Macam &#8211; Macam Ketakutan Oleh Mamduh Farhan al-Buhairi</p>
<p>Takut adalah sebuah penyakit yang disebabkan oleh reaksi jiwa yang menguasai diri seseorang hingga dia kehinganan keberanian, atau timbul dari penyakit fisik yang tersembunyi. Kemudian terbentuklah seorang lemah yang dikuasai oleh perasaan was-was dan ketakutan.</p>
<p><span id="more-1338"></span>Takut memiliki sebab yang bermacam-macam, di antaranya adalah:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>1) Takut yang tumbuh dari penyakit was-was, misalnya:</p>
<p>a. Takut akan kematian</p>
<p>b. Takut sakit</p>
<p>c. Takut kejahatan</p>
<p>d. Takut terhadap angan-angan</p>
<p>e. Takut dari kegelapan</p>
<p>f. Takut dari tempat tinggi (takut ketinggian)</p>
<p>g. Takut dari tempat yang tertutup.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>2) Takut yang tumbuh dari khayalan, misalnya:</p>
<p>a. Takut memulai sebuah pekerjaan baru</p>
<p>b. Takut hilang kepercayaan</p>
<p>c. Takut dari kecelakaan tiba-tiba</p>
<p>d. Takut dari khufarat-khufarat</p>
<p>e. Takut dari makhluk aneh atau binatang buas yang membahayakan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>3) Takut yang timbul dari penyakit fisik, misalnya:</p>
<p>a. Takut bimbang di tengah pembicaraan</p>
<p>b. Takut berjalan</p>
<p>c. Takut jatuh.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>4) Takut dari tathayyur (meyakini nasib sial berdasarkan khufarat/keyakinan batil), misalnya:</p>
<p>a. Takut terhadap manusia</p>
<p>b. Takut dari pengaruh buruk angka-angka seperti 9, 13 dan lainnya.</p>
<p>c. Takut melihat jenazah</p>
<p>d. Takut terhadap api</p>
<p>e. Takut terhadap air dan laut</p>
<p>f. Takut sakit.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dari sebuah penelitian terhadap macam-macam takut ini, kita perhatikan adanya faktor luar yang masuk padanya. Jadi, kebanyakan rasa takut tersebut adalah takut terhadap kematian, dan <em>tathayyur</em> pada saat yang bersamaan.</p>
<p>Penderita penyakit ini merasakan jantungnya berdebar-debar, membesar nadinya, dahinya mengeluarkan keringat, kemudian masuklah perasaan takut kepada dirinya dengan disertai sakit fisik yang terus berkembang hingga pusing, atau sembelit, atau mencret. Maka dia berkhayal bahwa itu adalah awal dari sebuah penyakit berbahaya hingga menjadi tegang urat-uratnya dan dia menjadi sangat takut terhadap sesuatu yang akan menimpanya.</p>
<p><strong>Obat dari rasa takut</strong><br />
Untuk penderita penyakit takut, kita tidak akan mampu menyebutkan jamu atau obat apa yang bisa diminum, atau juga operasi yang bisa menyembuhkannya. Yang mampu kita jelaskan dan yang sangat dia butuhkan untuk sembuh dari penyakit yang berbahaya itu adalah keberanian.</p>
<p>Ya sesungguhnya keberanian adalah obat murni yang cukup bagi penyakit tersebut.</p>
<p>Kemudian minta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk, banyak berdzikir kepada Allah, shalat dua rakaat hanya untuk Allah, lalu bertawakkal kepada Allah, berkeyakinan dengan kuat bahwa tidak ada yang bisa menimpanya kecuali apa yang telah Allah tentukan baginya. Dan sesungguhnya berdo&#8217;a kepada Allah lah yang akan menolak keburukan apapun darinya. (AR)<em>*</em>*</p>
<p>Disalin dari majalah Qiblati Edisi 12 tahun II/ September 2007M &#8211; Sya&#8217;ban 1428 H</p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=Qg6UfAodhyM:q6jkvmKKt8A:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=Qg6UfAodhyM:q6jkvmKKt8A:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?i=Qg6UfAodhyM:q6jkvmKKt8A:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=Qg6UfAodhyM:q6jkvmKKt8A:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=Qg6UfAodhyM:q6jkvmKKt8A:DN0H40_Ym5U"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=DN0H40_Ym5U" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=Qg6UfAodhyM:q6jkvmKKt8A:V-t1I-SPZMU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=V-t1I-SPZMU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=Qg6UfAodhyM:q6jkvmKKt8A:tr8VpXobKIM"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=tr8VpXobKIM" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=Qg6UfAodhyM:q6jkvmKKt8A:UT3xtbGYFzA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=UT3xtbGYFzA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=Qg6UfAodhyM:q6jkvmKKt8A:u0Zhe-nyOHo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=u0Zhe-nyOHo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=Qg6UfAodhyM:q6jkvmKKt8A:ACf-c_HutVc"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=ACf-c_HutVc" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogJilbabOnline/~4/Qg6UfAodhyM" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/1338-macam-macam-ketakutan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://jilbab.or.id/archives/1338-macam-macam-ketakutan/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Lukisan Bernyawa dan Foto Kenangan</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/BlogJilbabOnline/~3/aIZ4DjotgMo/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/1320-lukisan-bernyawa-dan-foto-kenangan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 May 2013 09:19:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mustikasari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=1320</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: www.pinterest.com &#160; Di beberapa masjid ditemukan lukisan-lukisan makhluk yang bernyawa. Pertanyaannya, (apakah) sah shalat di dalam masjid itu? Dan bagaimana hukum Islam dalam masalah ini? Jawab: Tidak boleh melukis makhluk yang bernyata, demikian juga (tidak boleh) menggantungnya di dinding masjid atau tempat lainnya, (misalnya) seperti di rumah. Karena keumuman dalil yang mengharamkan lukisan. Imam [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://www.hgtv.com/green-home/kids-bedroom-photos-hgtv-green-home-2010/pictures/index.html"><img class="aligncenter  wp-image-1321" alt="" src="http://jilbab.or.id/wp-content/uploads/2013/04/45be1e5e6a4ae850aa3d2edc2e38d6f6.jpg" width="444" height="591" /></a></p>
<p style="font-size: 10px; color: #76838b;">Sumber: <a style="text-decoration: underline; font-size: 10px; color: #76838b;" href="http://pinterest.com/pin/481674122615925914/">www.pinterest.com</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<h4>Di beberapa masjid ditemukan lukisan-lukisan makhluk yang bernyawa. Pertanyaannya, (apakah) sah shalat di dalam masjid itu? Dan bagaimana hukum Islam dalam masalah ini?</h4>
<p><span id="more-1320"></span>Jawab:</p>
<p>Tidak boleh melukis makhluk yang bernyata, demikian juga (tidak boleh) menggantungnya di dinding masjid atau tempat lainnya, (misalnya) seperti di rumah. Karena keumuman dalil yang mengharamkan lukisan. Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahih, juga Imam Nasa&#8217;i, dari Abdullah bin Umar, bahwa Rasulullah bersabda:</p>
<blockquote><p><em>Sesungguhnya orang-orang yang membuat gambar-gambar ini akan diadzab pada hari Kiamat. Akan dikatakan kepada mereka &#8220;Hidupkanlah apa yang telah kalian buat.&#8221;</em></p></blockquote>
<p>Hadits riwayat Imam Tirmidzi dari Jabir bin Abdullah, dia mengatakan:</p>
<blockquote><p><em>Rasulullah melarang gambar di rumah dan melarang membuatnya</em></p></blockquote>
<p>Dalam kitab Shahih Muslim, riwayat dari Ali bahwasanya Nabi bersabda kepadanya:</p>
<blockquote><p><em>Janganlah engkau membiarkan satu gambarpun kecuali kau hancurkan, dan juga kubur yang ditinggikan kecuali engkau ratakan.</em></p></blockquote>
<p>Adapun shalat di masjid yang ada gambarnya, maka shalatnya sah. Dan wajib memberikan nasihat kepada pengurus masjid agar menghilangkan gambar-gambar yang ada di dalam masjid tersebut.</p>
<p><em>Wabillahit taufiq washallallahu &#8216;ala nabiyina Muhammad wa-alihi wa shaahbihi wa sallam</em>.</p>
<p><strong>(Fatawa Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts Al Ilmiyah wa Al Ifta; 1/690)</strong></p>
<h4>Bolehkah kita mengumpulkan foto untuk kenang-kenangan</h4>
<p>Jawab:<br />
Seorang muslim laki-laki ataupun perempuan tidak boleh mengoleksi foto makhluk yang bernyawa sebagai kenang-kenangan. Sebaliknya foto itu harus dimusnahkan. Berdasarkan sabda Rasulullah kepada Ali:</p>
<blockquote><p><em>Janganlah engkau membiarkan satu gambarpun kecuali kau hancurkan, dan juga kubur yang ditinggikan kecuali engkau ratakan</em> (HR Imam Muslim dalam Shahih Muslim).</p></blockquote>
<p>Dan dalam hadits shahih, Beliau melarang menyimpan gambar dalam rumah, Ketika Nabi memasuki Ka&#8217;bah saat penaklukan kota Makkah. Beliau melihat beberapa gambar di tembok. Nabi meminta air dan kain, lalu Beliau menghapusnya. Adapun gambar benda-benda mati, seperti pepohonan atau pegunungan atau yang semisalnya, maka tidaklah mengapa.</p>
<p><strong>(Majmu&#8217; Fatawa wa Mawalat Mutanawwi&#8217;ah karya Syaikh Ibnu Baaz, 4/225).</strong></p>
<h4>Apa hukum menggantung lukisan di rumah-rumah atau di tempat lain?</h4>
<p>Jawab:</p>
<p>Hukumnya haram, jika lukisan-lukisan itu merupakan gambar makhluk yang bernyawa, seperti gambar manusia atau hewan lainnya. Berdasarkan sabda Nabi kepada Ali:</p>
<blockquote><p><em>Janganlah engkau membiarkan satu gambarpun kecuali kau hancurkan, dan juga kubur yang ditinggikan kecuali engkau ratakan</em> (HR Imam Muslim dalam Shahih Muslim).</p></blockquote>
<p>Dan berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah, bahwa dia menggantung kain yang bergambar pada lubang angin kamarnya. Ketika dilihat oleh Rasulullah, Beliau merobeknya dan rona wajahnya menampakkan kemarahan. Lalu Nabi bersabda:</p>
<p><em>Wahai, Aisyah! Sesungguhnya pemilik-pemilik gambar-gambar ini akan diadzab. Pada hari kiamat akan dikatakan kepada mereka &#8220;Hidupkanlah apa yang telah kalian buat.&#8221;</em></p>
<p>Akan tetapi, jika gambar-gambar itu ada pada tikar yang diinjak-injak atau pada bantal yang dipakai tiduran, maka tidaklah mengapa, (ini) berdasarkan hadits shahih dari Nabi bahwa beliau ada janji dengan malaikat Jibril. Ketika Malaikat Jibril datang, ia enggan masuk. Maka Nabi bertanya, dan Malaikat Jibril menjawab: &#8220;Sesungguhnya di dalam rumah ada patung dan tirai yang bergambar (makhluk hidup) dan anjing. Maka diperintahkanlah agar kepala patung dipotong, agar tirai dijadikan dua bantal yang ditindih, dan perintahkanlah agar anjing dikeluarkan&#8221;. Nabi pun mengerjakan perintah itu, dan (kemudian) Malaikat Jibril masuk rumah. (Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An Nasai dan yang lainnya dengan sanad jayyid).</p>
<p>Dalam hadits lain, Beliau bersabda:</p>
<blockquote><p><em>Malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang terdapat di dalamnya anjing atau gambar.</em> (HR Bukhari dan Muslim)</p></blockquote>
<p>Kisah Jibril ini menunjukkan, bahwa gambar yang ada pada gelaran atau yang sejenisnya tidak menghalangi para malaikat untuk masuk. Demikian juga kisah pada hadits shahih dari Aisyah, dia menjadikan tirai tersebut menjadi bantal untuk bersandar Nabi.</p>
<p><strong>(Majmu&#8217; Fatawa wa Maqalat Mutanawwi&#8217;ah karya Syaikh Ibnu Bazz, 4/223).</strong></p>
<h4>Apakah melukis makhluk yang beryawa itu merupakan perbuatan kufur akbar, kufur ashgar atau maksiat?</h4>
<p>Jawab:</p>
<p>Melukis makhluk yang bernyawa bukan masuk dalam kategori perbuatan <em>kufur akbar</em> (yaitu yang menyebabkan seseorang yang menjadi kafir, Pent.), tetapi termasuk perbuatan dosa besar. Karena adanya ancaman yang berat dan laknat bagi para pelukis. Pada saat yang sama, melukis juga bisa menjadi jalan menuju perbuatan syirik akbar.</p>
<p>Wabillahit taufiq washallallahu &#8216;ala nabiyina Muhammad wa-alihi wa shaahbihi wa sallam.</p>
<p><strong>(Fatawa Lajnah ad Daimah Lil Buhut AL Ilmiyah wa Al Ifta&#8217;, 1/676)</strong></p>
<p>Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/IX/1426 H/2005M</p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=aIZ4DjotgMo:TUaJ_X03zCU:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=aIZ4DjotgMo:TUaJ_X03zCU:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?i=aIZ4DjotgMo:TUaJ_X03zCU:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=aIZ4DjotgMo:TUaJ_X03zCU:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=aIZ4DjotgMo:TUaJ_X03zCU:DN0H40_Ym5U"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=DN0H40_Ym5U" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=aIZ4DjotgMo:TUaJ_X03zCU:V-t1I-SPZMU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=V-t1I-SPZMU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=aIZ4DjotgMo:TUaJ_X03zCU:tr8VpXobKIM"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=tr8VpXobKIM" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=aIZ4DjotgMo:TUaJ_X03zCU:UT3xtbGYFzA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=UT3xtbGYFzA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=aIZ4DjotgMo:TUaJ_X03zCU:u0Zhe-nyOHo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=u0Zhe-nyOHo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=aIZ4DjotgMo:TUaJ_X03zCU:ACf-c_HutVc"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=ACf-c_HutVc" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogJilbabOnline/~4/aIZ4DjotgMo" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/1320-lukisan-bernyawa-dan-foto-kenangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://jilbab.or.id/archives/1320-lukisan-bernyawa-dan-foto-kenangan/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Rasulullah Menekankan Membaca Bismillah Sebelum Menyantap Makanan</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/BlogJilbabOnline/~3/5MJOZNaIc9w/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/1295-rasulullah-menekankan-membaca-bismillah-sebelum-menyantap-makanan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 May 2013 12:16:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mustikasari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Doa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=1295</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: www.fab.com Demikian petunjuk Rasulullah berkaitan dalam hal etika makan yang mesti dipatuhi oleh seorang muslim. Pertama kali, beliau memerintahkan agar tidak lupa membaca bismillah di awal menyantap makanan dan mengambilnya dengan menggunakan tangan kanan. Dari &#8216;Umar bin [Abi] Salamah, bahwasanya ia mendatangi Rasulullah, dan di sisinya ada makanan. Beliau bersabda: Sebutlah nama Allah Ta&#8217;ala, [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://fab.com/sale/19736/product/367840/?fref=hardpin_type227&amp;frefl=Pinterest_Hardpin"><img class="aligncenter  wp-image-1297" alt="" src="http://jilbab.or.id/wp-content/uploads/2013/04/cf7aedd1b321be79b1a8498fba114bd3.jpg" width="418" height="418" /></a></p>
<p style="font-size: 10px; color: #76838b;">Sumber: <a style="text-decoration: underline; font-size: 10px; color: #76838b;" href="http://fab.com/sale/19736/product/367840/?fref=hardpin_type227&amp;frefl=Pinterest_Hardpin">www.fab.com</a></p>
<p>Demikian petunjuk Rasulullah berkaitan dalam hal etika makan yang mesti dipatuhi oleh seorang muslim. Pertama kali, beliau memerintahkan agar tidak lupa membaca <em>bismillah</em> di awal menyantap makanan dan mengambilnya dengan menggunakan tangan kanan.</p>
<p>Dari &#8216;Umar bin [Abi] Salamah, bahwasanya ia mendatangi Rasulullah, dan di sisinya ada makanan. Beliau bersabda:</p>
<blockquote><p><em>Sebutlah nama Allah Ta&#8217;ala, makanlah apa yang ada di dekatmu. (Muttafaqun &#8216;alaih).</em></p></blockquote>
<p>Pentingnya <em>tasmiyah</em> (membaca bismillah) ini kian jelas dengan petunjuk Rasulullah bagi orang yang lupa membacanya. Disebutkan dalam satu hadits dari &#8216;Aisyah, ia berkata: Rasulullah bersabda, yang artinya: <em>&#8220;Jika salah seorang dari kalian akan makan, hendaklah menyebut nama Allah Ta&#8217;ala. Apabila lupa menyebut nama Allah Ta&#8217;ala, hendaklah mengucapkan: <strong></strong></em>&#8216;Bismillah awwalahu wa akhirahu&#8217;.&#8221; (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi dan <em>dishahihkan</em> oleh Syaikh al-Albani).</p>
<p><span id="more-1295"></span>Dalam masalah ini, hukum membaca <em>tasmiyah</em> adalah wajib. Jika meninggalkannya dengan sengaja, maka seseorang berdosa dan setan akan menyertainya dalam hidangan tersebut, dan pasti, tidak ada seorang pun yang ingin musuhnya bersama dia menyantap makanan miliknya. (Lihat <em>Riyadhish-Shalihin</em>. Syaikh Muhammad al-&#8217;Utsaimin, 2/1051). Karena, di antara manfaat membaca <em>tasmiyah</em>, ialah untuk menhindari campur tangan setan dalam makanan dan minuman yang hendak dikonsumsi oleh seorang muslim. Sehingga ia pun akan memperoleh keberkahan dengan makanan yang disantapnya.</p>
<p>Jika menyantap makanan atau menikmati minuman tanpa disertai membaca <em>bismillah</em>, berarti seseorang telah menyediakan rizki bagi Iblis (setan). Rasulullah Rasulullah menceritakan:</p>
<blockquote><p><em>Iblis berkata (kepada Allah): &#8220;Setiap makhluk-Mu telah Engkau terangkan rizkinya. Mana rizkiku?&#8221; Allah menjawab: &#8220;Pada makanan yang tidak disebut nama-Ku padanya&#8221;.</em> (Lihat <em>as-Shahihah,</em> 708)</p></blockquote>
<p>Manakala <em>tasmiyah</em> tidak diucapkan, maka setan melakukan &#8220;intervensi&#8221; kepada manusia. Sehingga berakibat, keberkahan makanan yang tengah disantapnya tercabut. Yang pada gilirannya, bisa menyebabkan seseorang akan menghabiskan makanan maupun minuman yang lebih banyak dari kebutuhan.</p>
<p>Dari &#8216;Aisyah, ia berkata: <em>&#8220;Nabi makan bersama enam sahabatnya. Kemudian ada seorang Badui datang dan ikut makan (dengan) dua suapan (tanpa membaca bismillah, <strong>Pen.</strong>)&#8221;. (Maka) Rasulullah bersabda: <strong>&#8216;Seandainya ia mengucapkan bismillah, maka akan menjadi cukup bagi kalian&#8217;</strong>. (Dishahihkan</em> oleh Syaikh al- Albani)</p>
<p>Usai makan, Rasulullah memerintahkan supaya seorang hamba bersyukur kepada Allah ar-Razzaq. Di antara doa yang beliau ajarkan:</p>
<blockquote><p><em>Segala puji bagi Allah yang telah memberi makan ini kepadaku dan yang telah memberi rizki kepadaku tanpa daya dan kekuatan dariku. (Shahih Sunan at-Tirmidzi</em> no. 2751)</p></blockquote>
<p>Demikian secara ringkas etika makan yang diajarkan Rasulullah. Tidak hanya bermanfaat dalam mendatangkan keberkahan, tetapi, sekaligus mencerminkan rasa syukur hamba kepada Allah, Dzat Pemberi kenikmatan. <em>Wallahu a&#8217;lam.</em> <strong>(M. Ashim)</strong></p>
<p>Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun XII Jumadah Tsani 1429 H/ Juni 2008M</p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=5MJOZNaIc9w:qJ87BLGR3mQ:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=5MJOZNaIc9w:qJ87BLGR3mQ:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?i=5MJOZNaIc9w:qJ87BLGR3mQ:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=5MJOZNaIc9w:qJ87BLGR3mQ:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=5MJOZNaIc9w:qJ87BLGR3mQ:DN0H40_Ym5U"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=DN0H40_Ym5U" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=5MJOZNaIc9w:qJ87BLGR3mQ:V-t1I-SPZMU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=V-t1I-SPZMU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=5MJOZNaIc9w:qJ87BLGR3mQ:tr8VpXobKIM"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=tr8VpXobKIM" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=5MJOZNaIc9w:qJ87BLGR3mQ:UT3xtbGYFzA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=UT3xtbGYFzA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=5MJOZNaIc9w:qJ87BLGR3mQ:u0Zhe-nyOHo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=u0Zhe-nyOHo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=5MJOZNaIc9w:qJ87BLGR3mQ:ACf-c_HutVc"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=ACf-c_HutVc" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogJilbabOnline/~4/5MJOZNaIc9w" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/1295-rasulullah-menekankan-membaca-bismillah-sebelum-menyantap-makanan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://jilbab.or.id/archives/1295-rasulullah-menekankan-membaca-bismillah-sebelum-menyantap-makanan/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Nama Istri-istri Rasulullah</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/BlogJilbabOnline/~3/6iAL_xhaYcY/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/1296-nama-istri-istri-rasulullah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Apr 2013 02:16:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mustikasari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih Muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=1296</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: www.pinterest.com Istri-istri Rasulullah kumpulan wanita termulia. Allah memuliakan mereka untuk menemani kehidupan Rasul termulia. Sebuah keutamaan paling besar yang direngkuh kaum wanita, yang tak tertandingi oleh wanita manapun. Mereka juga menjadi istri-istri beliau di akhirat kelak. Tidak ada seorang lelaki pun yang boleh menikahi mereka sepeninggal Rasulullah. Salah satu ayat yang menunjukkan ketinggian martabat [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jilbab.or.id/wp-content/uploads/2013/04/64fac25920b3be9a4fa32a6ed5086cb6.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1300" alt="64fac25920b3be9a4fa32a6ed5086cb6" src="http://jilbab.or.id/wp-content/uploads/2013/04/64fac25920b3be9a4fa32a6ed5086cb6.jpg" width="430" height="537" /></a></p>
<p style="font-size: 10px; color: #76838b;">Sumber: <a style="text-decoration: underline; font-size: 10px; color: #76838b;" href="http://pinterest.com/pin/126874914474774461/">www.pinterest.com</a></p>
<blockquote><p>Istri-istri Rasulullah kumpulan wanita termulia. Allah memuliakan mereka untuk menemani kehidupan Rasul termulia. Sebuah keutamaan paling besar yang direngkuh kaum wanita, yang tak tertandingi oleh wanita manapun. Mereka juga menjadi istri-istri beliau di akhirat kelak. Tidak ada seorang lelaki pun yang boleh menikahi mereka sepeninggal Rasulullah.</p></blockquote>
<p>Salah satu ayat yang menunjukkan ketinggian martabat mereka, Allah berfirman:</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain. Jika kamu bertakwa&#8230; &#8220;</em> (Qs al-Ahzab/ 33:32)</p></blockquote>
<p><span id="more-1296"></span><strong>Nama istri-istri Rasulullah</strong></p>
<ol>
<li>Khadijah binti Khuwailid al-Quraisyiyah al Asadiyah. Khadijah adalah istri pertama Rasulullah. Allah pernah mengirimkan salam melalui malaikat Jibril kepadanya. Lantas, Rasulullah menyampaikannya ke istri beliau tersebut.</li>
<li>Saudah binti Zam&#8217;ah bin Qais al-Quraisyiyah. Wafat di akhir pemerintahan Khalifah &#8216;Umar bin al-Khaththab.</li>
<li>&#8216;Aisyah binti Abi Bakr ash-Shiddiq. Istri Rasulullah yang ini merupakan wanita terpandai dalam masalah agama secara mutlak. Dahulu, para Sahabat menjadikan pendapatnya sebagai rujukan.</li>
<li>Hafshah binti Umar bin al-Kaththab</li>
<li>Zainab binti Khuzaimah bin al-Harits al-Qaisiyah dari Bani Hilal bin Amir. Dikenal juga dengan panggilan <em>Ummul masakin</em> karena sering memberi makan bagi kaum yang papa.</li>
<li>Ummu Salamah binti Abu Umayah bin al-Mughirah al-Makhzumiyah. Pernah melihat malaikat Jibril dalam rupa Sahabat yang bernama Dihyah al-Kalbi. Wafat tahun 62 H.</li>
<li>Zaenab binti Jahsy dari Bani Asad bin Khuzaimah. Putri bibi beliau, Umaimah binti Abdul Muththalib. Wafat di Madinah tahun 10 H. Merupakan istri yang pertama kali meninggal pasca wafatnya Rasulullah. Dimakamkan di Baqi&#8217;.</li>
<li>Juwairiyyah bintil Harits bin Abi Dhirar al-Musthaliqiyah. Pada asalnya, termasuk tawanan dalam Perang Bani Musthaliq. Wafat tahun 56 H.</li>
<li>Ummu Habibah binti Abi Sufyan Shakhr bin Harb al-Quraisyiyah. Wafat di masa pemerintahan saudaranya, Muawiyah bin Abi Sufyan.</li>
<li>Shafiyyah binti Huyai bin Akhtab, tokoh Bani Nazhir, keturunan Harun bin &#8216;Imran, saudara Nabi Musa.</li>
<li>Maemunah bintul Harits al-Hilaliyah. Wanita terakhir yang dinikahi oleh Rasulullah. Wafat di Sarif pada tahun 63 H.</li>
</ol>
<p>Semoga ridha Allah selalu menaungi mereka.</p>
<p>Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 09 Thn X!! Dzhulhijjah 1429/Desember 2008</p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=6iAL_xhaYcY:1eQWuJo0RGM:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=6iAL_xhaYcY:1eQWuJo0RGM:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?i=6iAL_xhaYcY:1eQWuJo0RGM:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=6iAL_xhaYcY:1eQWuJo0RGM:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=6iAL_xhaYcY:1eQWuJo0RGM:DN0H40_Ym5U"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=DN0H40_Ym5U" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=6iAL_xhaYcY:1eQWuJo0RGM:V-t1I-SPZMU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=V-t1I-SPZMU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=6iAL_xhaYcY:1eQWuJo0RGM:tr8VpXobKIM"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=tr8VpXobKIM" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=6iAL_xhaYcY:1eQWuJo0RGM:UT3xtbGYFzA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=UT3xtbGYFzA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=6iAL_xhaYcY:1eQWuJo0RGM:u0Zhe-nyOHo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=u0Zhe-nyOHo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=6iAL_xhaYcY:1eQWuJo0RGM:ACf-c_HutVc"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=ACf-c_HutVc" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogJilbabOnline/~4/6iAL_xhaYcY" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/1296-nama-istri-istri-rasulullah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://jilbab.or.id/archives/1296-nama-istri-istri-rasulullah/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Rasulullah Mentadaburi Bacaan Al-Qur’an</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/BlogJilbabOnline/~3/QnpQBb9D5cQ/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/1311-rasulullah-mentadaburi-bacaan-al-quran-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Apr 2013 07:43:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mustikasari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih Muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=1311</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: www.allposters.com Tadabbur al-Qur&#8217;an bermakna merenungi makna-maknanya, konsentrasi dalam memikirkannya, dan memahami prinsip-prinsip ajarannya dan hal-hal yang berhubungan dengannya[1]. Allah berfirman: Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapatkan pelanaran orang-orang yang mempunyai pikiran (QS. Shad/38:29) &#8220;Inilah hikmah al-Qur&#8217;an diturunkan. Yakni, agar manusia mentadabburi ayat-ayatnya, [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.allposters.com/-sp/Stained-Glass-Ceiling-at-Beit-Al-Quran-Museum-Manama-Bahrain-Posters_i3449612_.htm"><img class="aligncenter size-full wp-image-1312" alt="" src="http://jilbab.or.id/wp-content/uploads/2013/04/walter-bibikow-stained-glass-ceiling-at-beit-al-quran-museum-manama-bahrain1.jpg" width="366" height="488" /></a></p>
<p style="font-size: 10px; color: #76838b;">Sumber: <a style="text-decoration: underline; font-size: 10px; color: #76838b;" href="http://www.allposters.com/-sp/Stained-Glass-Ceiling-at-Beit-Al-Quran-Museum-Manama-Bahrain-Posters_i3449612_.htm">www.allposters.com</a></p>
<p>Tadabbur al-Qur&#8217;an bermakna merenungi makna-maknanya, konsentrasi dalam memikirkannya, dan memahami prinsip-prinsip ajarannya dan hal-hal yang berhubungan dengannya[1]. Allah berfirman:</p>
<blockquote><p><em>Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapatkan pelanaran orang-orang yang mempunyai pikiran</em> (QS. Shad/38:29)</p></blockquote>
<p>&#8220;Inilah hikmah al-Qur&#8217;an diturunkan. Yakni, agar manusia mentadabburi ayat-ayatnya, menguak ilmu-ilmunya, dan merenungkan rahasia-rahasia dan hukum-hukumnya&#8230; Ini menunjukkan ajakan untuk mentadabbur al-Qur&#8217;an, danitu termasuk amalan paling utama. Sekaligus (juga) menunjukkan bahwa bacaan yang berisi tadabbur lebih baik daripada bacaan cepat yang tidak mendatangkan hasil (tadabbur)&#8221;. [2]<br />
<span id="more-1311"></span></p>
<h2>Rasulullah dan Tadabbur al-Qur&#8217;an</h2>
<p>Nabi Muhammad telah mencapai tingkatan tertinggi dan kedudukan puncak dalam mentadabburi al-Qur&#8217;an dan mengambil pelajaran darinya.</p>
<p>Dari &#8216;Atha: <em>&#8220;Aku bersama &#8216;Ubaid bin &#8216;Umair menemui &#8216;Aisyah. &#8216;Ubaid bin &#8216;Umair berkata (meninta keterangan dari &#8216;Aisyah): &#8220;(Tolong) ceritakan kepada kami satu peristiwa yang paling menakjubkan yang pernah engkau saksikan pada diri Rasulullah&#8221;. &#8216;Aisyah bercerita, &#8220;Satu malam, beliau bangun serta berkata (kepadaku): &#8220;Wahai &#8216;Aisyah, biarkan aku beribadah kepada Rabbku&#8221;. &#8216;Aisyah menjawab, &#8220;Demi Allah, aku suka berdampingan denganmu. Dan aku menyukai apa yang menyenangkanmu&#8221;. Kemudian beliau bangun, dan mengambil air wudhu, dan selanjutnya shalat. (Dalam shalatnya), beliau menangis sampai (air matanya) membasuhi tanah. Kemudian Bilal datang mengabari beliau shalat. Tatkala menyaksikan Nabi sedang menangis, Bilal bertanya, &#8220;Wahai Rasulullah, (mengapa) engkau menangis, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang sudah berlalu dan yang akan datang?. Nabi menjawab, &#8220;Tidakkah boleh aku menjadi hamba yang bersyukur? Malam ini, telah turun kepadaku beberapa ayat. Celaka bagi siapa saja yang tidak memikirkan kandungannya yaitu firman Allah: {Sesungguhnya dalam penciptaan langint dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal (QS. Ali &#8216;Imran/3:190)}</em> [3]</p>
<p>Lebih mengharukan lagi, pernyataan Sahabat Ibnu &#8216;Abbas yang menceritakan tentang pengaruh tadabbur ayat-ayat al-Qur&#8217;an yang memuat berita-berita hari Kiamat pada fisik Rasulullah, tepatnya perubahan warna rambut beliau. Sahabat Ibnu &#8216;Abbas meriwayatkan, &#8220;Abu Bakar berkata kepada Rasulullah, &#8220;Wahai Rasulullah, engkau telah beruban&#8221;. Rasulullah menjawab, <em>&#8220;Surat Hud, al-Waqi&#8217;ah, al-Mursalat, &#8216;Amma Yatasa-alun dan Idzasysyamsu kuwwirat</em> [4], <em>telah membuatku beruban.&#8221;</em></p>
<p>Para Ulama menerangkan, tampaknya hal itu (memutihkan rambut) dikarenakan kandungan surat-surat tersebut yang memuat berita menakutkan yang sangat menggetarkan jiwa dan ancaman yang sangat pedih. Meski surat-surat itu pendek, akan tetapi mengabarkan kondisi orang-orang di akherat, dan kesengsaraan-kesengsaraan di sana, dan orang-orang yang binasa dan tersiksa, disamping pada sebagaian surat itu (Surat Hud) terdapat kandungan perintah agar selalu istiqomah (di jalan Allah). [5]</p>
<h2>Sahabat Nabi dan Membaca al-Qur&#8217;an</h2>
<h3>Abu Bakar ash-Shiddiq</h3>
<p>&#8216;Aisyah, istri Nabi meriwayatkan <em>&#8220;Abu Bakar (ayahnya) adalah seorang lelaki yang mudah menangis. Beliau tidak mampu menahan air mata ketika membaca al-Qur&#8217;an&#8221;</em> (Shahihul Bukhari no. 3905)</p>
<h3>Umar bin Khaththab</h3>
<p>Dari &#8216;Abdullah bin Syaddad bin Had mengatakan, <em>&#8220;Aku pernah mendengar &#8216;Umar membaca surat Yusuf dalam shalat Subuh dan aku mendengar isakannya. Aku berada di akhir shaf. (Isakannya saat) beliau sedang membaca (QS. Yusuf/12:86): &#8220;Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku&#8221;.</em> [6]</p>
<h3>Dari Nafi, maula Ibnu &#8216;Umar, ia berkata,</h3>
<p><em>&#8220;Tidaklah Ibnu &#8216;Umar membaca dua ayat ini dari akhir surat al-Baqarah kecuali pasti menangis. (Yaitu ayat no, 284): &#8220;Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan. niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka, Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu&#8221;. Setelah membacanya, Ibnu&#8217; Umar mengatakan, &#8220;perhitungan ini sangat menyulitkan.&#8221;</em>[7]</p>
<p>Ini sebagian kecil potret tadabbur <em>Salafus Shaleh</em> ketika membaca <em>Kitabullah</em>. Di akhir tulisan ini, mari kita renungi perkataan Imam Ibnu Jarir ath-Thabari, &#8220;Aku betul-betul merasa aneh terhadap orang yang membaca al-Qur&#8217;an, akan tetapi ia tidak mengetahui tafsirnya, bagaimana ia bisa menikmati membaca al-Qur&#8217;an?. <em>Wallau a&#8217;lam</em>&#8221;</p>
<p>Catatan Kaki:</p>
<ol>
<li>Lihat <em>Tafsir as-Sa&#8217;di</em></li>
<li><em>Tafsir as-Sa&#8217;di</em> hlm. 777</li>
<li>HR. Ibnu Hibban dengan sanad jayyid. Lihat <em>ash-Shahihah</em> 68</li>
<li>HR. at-Tirmidzi, Lihat <em>ash-Shahihah</em> no. 955</li>
<li><em>Jami&#8217;ul Ushul,</em>Ibnul Atsir 2/193</li>
<li><em>Manawibu &#8216;Umar bin Kaththab,</em> Imam Ibnul Juzi hlm. 159</li>
<li><em>Hilyatul Auliya,</em> Iman Abu Nu&#8217;aim 1/305</li>
</ol>
<p>Tulisan oleh Abu Minhal ini disalin dari majalah As-Sunnah No. 02 Tahun VX</p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=QnpQBb9D5cQ:XPwVlh4cV6s:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=QnpQBb9D5cQ:XPwVlh4cV6s:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?i=QnpQBb9D5cQ:XPwVlh4cV6s:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=QnpQBb9D5cQ:XPwVlh4cV6s:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=QnpQBb9D5cQ:XPwVlh4cV6s:DN0H40_Ym5U"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=DN0H40_Ym5U" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=QnpQBb9D5cQ:XPwVlh4cV6s:V-t1I-SPZMU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=V-t1I-SPZMU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=QnpQBb9D5cQ:XPwVlh4cV6s:tr8VpXobKIM"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=tr8VpXobKIM" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=QnpQBb9D5cQ:XPwVlh4cV6s:UT3xtbGYFzA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=UT3xtbGYFzA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=QnpQBb9D5cQ:XPwVlh4cV6s:u0Zhe-nyOHo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=u0Zhe-nyOHo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=QnpQBb9D5cQ:XPwVlh4cV6s:ACf-c_HutVc"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=ACf-c_HutVc" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogJilbabOnline/~4/QnpQBb9D5cQ" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/1311-rasulullah-mentadaburi-bacaan-al-quran-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://jilbab.or.id/archives/1311-rasulullah-mentadaburi-bacaan-al-quran-2/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Pendidikan vs Kebodohan</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/BlogJilbabOnline/~3/v_6vHkQDhpQ/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/1225-pendidikan-vs-kebodohan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Apr 2013 00:47:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mustikasari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=1225</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: www.pinterest.com Wajibnya Mengikuti Pendidikan/Menuntut Ilmu Pendidikan yang berarti mengandung amalan-amalan belajar-mengajar, bertanya-menjawab, memperhatikan, menuntut ilmu dan sebagainya, merupakan suatu amalan yang wajib dilakukan oleh setiap muslim, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah, &#8220;Menuntut ilmu merupakan kewajiban atas setiap muslim.&#8221; (H.R. Ibnu Majah no. 224) Memberi pendidikan pun wajib dilakukan sebagaimana sabda Rasulullah, &#8220;Perintahkan anak-anak shalat jika [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pinterest.com/pin/22729173092024196/"><img class="size-full wp-image-1234 aligncenter" alt="" src="http://jilbab.or.id/wp-content/uploads/2013/04/c17856b87875de95eed39afe4b9d10a01.jpg" width="400" height="600" /></a></p>
<p style="font-size: 10px; color: #76838b;">Sumber: <a style="text-decoration: underline; font-size: 10px; color: #76838b;" href="http://pinterest.com/pin/22729173092024196/">www.pinterest.com</a></p>
<p><strong>Wajibnya Mengikuti Pendidikan/Menuntut Ilmu</strong></p>
<p>Pendidikan yang berarti mengandung amalan-amalan belajar-mengajar, bertanya-menjawab, memperhatikan, menuntut ilmu dan sebagainya, merupakan suatu amalan yang wajib dilakukan oleh setiap muslim, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah,</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Menuntut ilmu merupakan kewajiban atas setiap muslim.&#8221;</em> (H.R. Ibnu Majah no. 224)</p></blockquote>
<p>Memberi pendidikan pun wajib dilakukan sebagaimana sabda Rasulullah,</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Perintahkan anak-anak shalat jika sudah berumur 7 tahun, dan jika telah berumur 10 tahun, maka pukullah jika mereka meninggalkannya (shalat).&#8221;</em> (H.R. Abu Dawud no. 494)</p></blockquote>
<p>Dalam sebuah hadits lain, Rasulullah bersabda:</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Barangsiapa meniti suatu jalan untuk mencari ilmu, niscaya -dengan hal itu- Allah jalankan dia di atas salah satu jalan dari jalan-jalan surga. Sesungguhnya para malaikat membentangkan sayap-sayap mereka karena ridha terhadap thalibul ilmi (pencari ilmu agama). Dan sesungguhnya seorang alim itu dimintakan ampun oleh siapa saja yang ada di langit dan di bumi dan oleh ikan-ikan di dalam air. Sesungguhnya keutamaan seorang alim atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan purnama dariapda seluruh bintang-bintang di langit. Dan sesungguhnya para ulama itu pewaris para nabi. Para nabi itu tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya, maka dia mengambil bagian yang banyak.&#8221;</em> (H.R. Abu Dawud no 3641, dan lainnya. Lihat al-Hilali dalam Bahjatun Nadzirin II/470 hadits no. 1388)</p></blockquote>
<p>Menurut Syaikh Utsaimin, &#8220;Telah diketahui bahwa ilmu yang diwariskan oleh para nabi adalah ilmu syariat Allah, bukan lainnya. Sehingga para nabi tidaklah mewariskan ilmu teknologi dan yang berkaitan dengannya kepada manusia.&#8221; (Kitab al-&#8217;Ilm hal. 11 karya Syaikh al-Utsaimin.)</p>
<p>Sementara itu Syaikul Islam Ibnu Taimiyah berkata, &#8220;Menuntut ilmu syar&#8217;i adalah fardhu kifayah, kecuali hal-hal yang wajib bagi setiap manusia. Seperti, setiap orang wajib menuntut ilmu tentang hal-hal yang diperintahkan Allah dan yang dilarang-Nya; karena sesungguhnya hal (seperti) ini wajib (fardhu &#8216;ain) atas setiap manusia. &#8221; (Majmu Fatawa XXVIII/80)</p>
<p><span id="more-1225"></span><strong>Kebodohan, Sesuatu yang Harus Dihindari</strong></p>
<p>Sementara itu kebodohan, sesungguhnya merupakan penyakit yang harus segera diobati dengan ilmu dan bukan dengan lainnya. Hal ini mengandung pengertian bahwa yang jahil tidak boleh meminta atau memberi fatawa kepada yang jahil lainnya. Sebagaimana seorang butak tidak boleh menuntut atau dituntun orang buta lainnya.</p>
<p>Lihatlah, bagaimana tepatnya sabda Rasulullah dalam sebuah (penggalan) hadits yang panjang,</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Tidakkah mereka bertanya ketidak tidak tahu, padahal sesungguhnya obat kebodohan hanyalah bertanya.&#8221;</em> (H.R. Abu Dawud no. 336)</p></blockquote>
<p>Syaikul Islam Ibnu Taimiyah berkata, &#8220;Kebaikan anak Adam ialah dengan iman dan amal shalih. Tidaklah mengeluarkan mereka dari kebaikan, kecuali dua perkara. Pertama, kebodohan, kebalikan dari ilmu; sehingga orang-orang akan menjadi sesat. Kedua, mengkuti hawa nafsu dan syahwat yang keduanya ada di dalam jiwa; sehingga orang-orang akan mengikuti hawa nafsu dan dimurkai (Allah).&#8221; (Majmu&#8217; Fatawa XV/242)</p>
<p>Menurut Syaikul Islam Ibnu Taimiyah, &#8220;Sehingga orang-orang yang beribadah kepada Allah dengan kebodohan (tanpa pengetahuan) sesungguhnya akan lebih banyak merusak daripada membangun, sebagaimana dikatakan oleh sebagian salafus shalil, &#8216;Barangsiapa beribadah kepada Allah dengan kebodohan, dia telah membauat kerusakan lebih banyak daripada membuat kebaikan.&#8217;&#8221; (Majmu&#8217; Fatawa XXV/281)</p>
<p><strong>Dunia Pendidikan Dewasa Ini</strong></p>
<p>Di bidang pendidikan dewasa ini, manusia lebih banyak secara sangat serius menekuni ilmu-ilmu dunia dibandingkan dengan ilmu-ilmu akhirat. Tidak terkecuali bahwa sebagian kaum muslimin juga melakukan hal yang serupa. Padahal amalan ini sangat dibenci oleh Allah sebagaimana dalam firman-Nya:</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedangkan mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.&#8221;</em> (Q.S. ar-Rum: 7)</p></blockquote>
<p>Tafsir ayat ini menurut Syaikh Abdurrahman as-Sa&#8217;di, &#8220;Hati, kecintaan, dan kehendak mereka (kebanyakan manusia -red) tertuju kepada dunia, selera-selera dan kesenangannya, sehingga mereka bekerja untuk meraihnya, berusaha, datang dan pergi karenanya, tetapi lalai terhadap akhirat.</p>
<p>Mereka tidak merindukan surga, tidak takut ataupun khawatir terhadap neraka. Mereka tidak cemas atau takut berdiri menghadap-Nya dan bertemu dengan-Nya (di akhirat -red). Itulah tanda kecelakaan, dan lalai dari akhirat.&#8221;</p>
<p>Yang mengherankan, bahwa kelompok manusia tersebut kebanyakan sangat pandai dan cerdas dalam perkara dunia secara lahiriah, sampai perkara yang membingungkan akal dan mencengangkan pikiran. Mereka mampu menampakkan keajaiban-keajaiban masalah atom, listrik, kendaraan darat, laut, dan udara. Perkara-perkara yang mereka dapat melebihi yang lainnya dan menonjol. Dan mereka menganggap orang lain tidak mampu melakukan apa yang Allah telah berikan kemampuan kepada mereka. Sehingga mereka memandang orang lain rendah atau remeh.</p>
<p>Walaupun demikian mereka adalah orang yang paling bodoh terhadap perkara agama mereka, paling lalai terhadap akhirat, paling sedikit pengetahuannya terhadap akibat-akibat (segala akibat -red). Orang-orang yang memiliki pandangan tajam, melihat bahwa mereka berbuat ceroboh dengan kebodohannya, bingung dalam kesesatan, dan terombang-ambing dengan kebatilannya. Mereka lupa kepada Allah, maka Allah melupakan atas (kebaikan untuk -red) diri mereka. Mereka adalah orang-orang fasik&#8230;&#8230;. Perkara-perkara (ilmu-ilmu) dunia seandainya diiringin keimanan pastilah membuahkan kemajuan yang tinggi dan kehidupan yang baik. Akan tetapi karena kebanyakan dibangun atas kekafiran, maka tidaklah membuahkan (hasil) kecuali merosotnya akhlak dan sarana-sarana kebinasaan dan kehancuran. (Taisir Karrimir Rahman ar-Rum:7)</p>
<p>Kaum kuffar memprioritaskan sukses di dunia sebagai tujuan utama, sehingga apapun akan dilakukan untuk memperoleh predikat &#8220;yang paling top&#8221;. Misalnya, seorang penjual (sales) harus paling banyak menjual, selebritis harus menjadi mahabintang, manajer harus yang paling besar gajinya, dan seterusnya. Anak-anak kecil pun dididik atau bahkan &#8220;dipaksakan&#8221; untuk menjadi paling pandai, mendapat rangking, dan sebagainya. Sedangkan jika sudah dewasa harus mempunyai gelar, sehingga kalau perlu gelar pun dibeli tanpa mempunyai kepandaian atau keahlian dalam suatu bidang. Bahkan untuk bidang ilmu ghaib pun, manusia bisa memperoleh (baca: membeli) gelar Doktor.</p>
<p>Renungkanlah sabda Rasulullah,</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku takutkan atas kalian, tetapi yang aku takutkan (justru) jika dunia dilapangkan buat kalian, sebagaimana telah dilapangkan buat orang-orang sebelum kalian. Lantas kalian saling berlomba (untuk mendapatkan) dunia, sebagaimana mereka berlomba (untuk mendapatkan) duniam kemudia dunia itu membinasakan kalian sebagaimana telah membinasakan orang-orang sebelum kalian.&#8221;</em> (Bukhari no. 3761, 6061, Muslim no. 2961 HSR Ibnu Majah (Al Fitan) 2462Muslim (Zud War Raqoiq no 296). Lafadz lain (HSR Bukhari (Riqaq) dari sahabat &#8216;Amr bin Auf al Anshari)</p></blockquote>
<p>Di samping itu terdapat kenyataan bahwa jumlah kaum kuffar yang milyaran itu jauh lebih banyak dibandingkan dengan jumlah kaum muslimin yang ratusan juta saja. Belum lagi kalau dibandingkan dengan jumlah kaum yang menempuh jejak <em>Salafus Salih</em>, yang tentunya lebih sedikit lagi. Pola hidup dan pola pikir mayoritas kaum kuffar ini yang sangat mendominasi pola hidup dan pola pikir manusia, termasuk juga mempengaruhi oila hidup dan pola pikir kaum muslimin. Sehingga akhirnya di sana-sini terjadi berbagai penyelewengan aqidah. Kaum muslimin sedikit demi sedikit, secara sadar atau tidak sadar mengikuti kaum kuffar, sebagaimana disinyalir oleh Nabi dalam sabdanya:</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Kalian betul-betul akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum, kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, bahkan kalau mereka masuk ke dalam lubang biawak, niscaya kalian mengikuti mereka (memasukinya).&#8221;</em> Kami (para sahabat) bertanya, &#8220;Wahai Rasulullah, (yang Anda maksud) orang-orang Yahudi dan Nasrani? Rasulullah menjawab, <em>&#8220;(Kalau bukan mereka,) lalu siapa lagi?&#8221;</em> (H.R. al-Bukhari no. 6889, Muslim no.2669)</p></blockquote>
<p>Hal ini juga terjadi di dunia pendidikan kaum muslimin, mereka terpaksa atau dipaksa untuk mengikuti pola kaum kuffar. Di antaranya keharusan <em>ikhlilath</em> (campur gaul lelaki perempuan bukan mahram), mengkuti pendidikan olahraga yang membuka aurat, belajar musik, melukis binatang dan manusia, dan lain sebagainya. Bahkan kejadian yang terakhir di Perancis, murid-murid muslimat dilarang memakai jilbab.</p>
<p>Pada pola pendidikan Barat (baca: modern), seorang guru hanya berfungsi sebagai pegawai yang menerima gaji setiap bulan. Hal ini juga terlihat pada sekolah-sekolah yang memakai nama Islam. Pada sisi lain (pola Islam) seorang guru (ustadz) harus menjadi suri tauladan bagi anak-didiknya. Namun sekarang anak-anak didik kehilangan suri tauladan yang baik <em>(uswatun hasanah)</em> dari gurunya.</p>
<p>Padalah Allah berfirman,</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Sesungguhnya telah pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu bagi bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.&#8221;</em> (Q.S. al-Ahzab:21)</p></blockquote>
<p><strong>Malas Menuntut Ilmu dan Timbulnya Kebodohan</strong></p>
<p>Akibat malas menuntut ilmu, timbullah kebodohan, dan pada akhirnya membuahkan hasil bahwa mayoritas umat Islam secara sedikit demi sedikit kehilangan kepercayaan atas kebenaran agama Islam yang mulia ini. Mereka lebih percaya kepada berbagai ajaran non-Islam. Di bidang ekonomi mereka lebih percaya kepada sistem perbankan, sampai timbul keraguan haram tidaknya bunga bank. Di bidang politik, mereka lebih senang demokrasi, sampai mencari-cari ayat dan hadits untuk membenarkan demokrasi. Di bidang ilmu umum mereka lebih sukfa filsafat. Di bidang etika pergaulan mereka lebih suka etika model Barat dan Timur. Dan sebagainya.</p>
<p>Hal ini diperparah dengan berkurangnya kepercayaan sebagian besar kaum muslimin terhadap firman Allah tentang telah sempurnanya agama Islam,</p>
<blockquote><p><em>&#8220;&#8230; Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu sebagai agamamu.. &#8220;</em></p></blockquote>
<p>Sehingga mereka merasa perlu memperbaiki atau menyempurnakan tata cara beribadah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah, misalnya mengadakan zikir massal, istigatsah kubra, berdakwah dengan iringan musik, liberaliasi agama Islam, modernisasi dakwah dengan sistim manajemen, dan lain sebagainya.</p>
<p><strong>Mengatasi Akibat-Akibat Kebodohan</strong></p>
<p>Setiap muslim hendaknya memahami posisi masing-masing dalam masyarakat. Apakah dia seorang penguasa, seorang ulama, atau seorang awam. Jika dia seorang awam (baca: jahil) hendaklah berlaku sebagai orang awam; tidak bersikap melampaui batas seolah-olah dia adalah seorang penguasa atau ulama atau tergesa-gesa berkesimpulan bahwa dirinya penguasa atau ulama. Sebaiknya dia bersabar dan berkonsentrasi terhadap kewajibannya, tugas dan wewenangnya (sebagai orang awam) dalam beribadah kepada Allah, sehingga terjadi kemaslahatan bagi semua pihak. Misalnya, dapat dihindari adanya tindakan main hakim sendiri, dihindari sibuk memikirkan bagaimana memperbaiki negara, sehingga tidak berselisih dengan para penguasa, dihindari berdakwah atau mengajar tanpa ilmu, dan lain sebagainya.</p>
<p>Untuk membangun masyarakat islami yang sebenarnya, maka tidak ada cara lain kecuali dengan membentuk generasi yang berilmu, generasi yang cinta mempelajari ilmu secara benar dan kemudian mengajarkannya kepada orang awam dengan baik dan benar pula, termasuk memberi contoh (<em>uswatun hasanah</em>). Metode inilah yang disebut para ulama sebagai metode <em>tashfiyah wat tarbiyah</em>.</p>
<p>Menurut Syaikh Ali Hasan Al Atsari, <strong>tashfiyah</strong> artinya membuang semua teori non-Islam yang menyusup ke dalam Islam serta memasukkan kembali ajaran-ajaran Islam yang terlupakan (terbuang). Sehingga Islam menjadi bersih kembali seperti saat diturunkan kepada Nabi dan difahami oleh seluruh sahabat dan para pengikutnya.</p>
<p><strong>Tarbiyah</strong> artinya mendidik generasi Islam tentang ajaran Islam yang sudah bersih, sehingga mereka faham ajaran Islam yang benar dan bukannya tercampuri oleh bid&#8217;ah, khurafat dan kekufuran. (Lihat at-Tashfiyah wa at-Tarbiyah wa Atsaruha fi Isti&#8217;nasi al_hayat al-Islamiyah oleh Syeikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid al-Atsari).</p>
<p>Pola pendidikan disebut positif jika berhasil mendekatkan umat dengan ulama dan dikatakan negatif jika semakin menjauhkan umat dengan ulama.</p>
<p>Jika pendidikan ini hanya bertumpu pada teori-teori Barat (teori modern, yang tak pernah selesai dimodernisasi) untuk mencetak orang yang sangat cinta duniawi, tanpa pengetahuan tentang ajaran agama yang haq, maka hasilnya adalah &#8220;mimpi belaka atau omong kosong saja&#8221;. Apalagi jika hasilnya nanti berupa sintesa atau kompromi antara pemahaman iman dan kufur, tentunya akan lebih buruk lagi daripada sekedar tanpa ada hasilnya.</p>
<p><em>Wallahu a&#8217;lam bisshawab</em></p>
<p>Artikel ini disusun oleh Ahmad Abu Ari yang terdapat dalam majalah Fatawa Volume 04 Tahun II/1425H-2004M.</p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=v_6vHkQDhpQ:BmVF2wbMWmM:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=v_6vHkQDhpQ:BmVF2wbMWmM:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?i=v_6vHkQDhpQ:BmVF2wbMWmM:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=v_6vHkQDhpQ:BmVF2wbMWmM:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=v_6vHkQDhpQ:BmVF2wbMWmM:DN0H40_Ym5U"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=DN0H40_Ym5U" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=v_6vHkQDhpQ:BmVF2wbMWmM:V-t1I-SPZMU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=V-t1I-SPZMU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=v_6vHkQDhpQ:BmVF2wbMWmM:tr8VpXobKIM"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=tr8VpXobKIM" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=v_6vHkQDhpQ:BmVF2wbMWmM:UT3xtbGYFzA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=UT3xtbGYFzA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=v_6vHkQDhpQ:BmVF2wbMWmM:u0Zhe-nyOHo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=u0Zhe-nyOHo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=v_6vHkQDhpQ:BmVF2wbMWmM:ACf-c_HutVc"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=ACf-c_HutVc" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogJilbabOnline/~4/v_6vHkQDhpQ" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/1225-pendidikan-vs-kebodohan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://jilbab.or.id/archives/1225-pendidikan-vs-kebodohan/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Hukum Sinetron, Drama, &amp; Seni Cerita</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/BlogJilbabOnline/~3/ymOhko6bPCU/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/1264-hukum-sinetron-drama-seni-cerita/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Apr 2013 03:42:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mustikasari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih Muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=1264</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: www.camera-studio-rental.com Pada Qiblati edisi 04/II hal. 18, 19, 87 telah dimuat makalah berjudul &#8220;Hukum Cerita Fiktif&#8221;, kini kita hadirkan makalah lanjutan tentang cerita fiktif, sinetron dan sandiwara. Berkaitan dengan cerita fiktif, Qiblati telah mengajukan pertanyaan sebagai berikut: &#8220;Apakah boleh menulis cerita fiktif, terutama jika bertujuan dan dapat mewujudkan nilai-nilai yang luhur?&#8221; &#8220;Maka Dr. Abdul [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://www.camera-studio-rental.com/clubsnapad/small_studio.jpg"><img class="wp-image-1273 aligncenter" alt="" src="http://jilbab.or.id/wp-content/uploads/2013/04/5a2708a040cc0175710c3bb01dc4f298.jpg" width="464" height="309" /></a></p>
<p style="font-size: 10px; color: #76838b;">Sumber: <a style="text-decoration: underline; font-size: 10px; color: #76838b;" href="http://www.camera-studio-rental.com/clubsnapad/small_studio.jpg">www.camera-studio-rental.com</a></p>
<p>Pada Qiblati edisi 04/II hal. 18, 19, 87 telah dimuat makalah berjudul <em>&#8220;Hukum Cerita Fiktif&#8221;</em>, kini kita hadirkan makalah lanjutan tentang cerita fiktif, sinetron dan sandiwara. Berkaitan dengan cerita fiktif, <em>Qiblati</em> telah mengajukan pertanyaan sebagai berikut:</p>
<blockquote><p>&#8220;Apakah boleh menulis cerita fiktif, terutama jika bertujuan dan dapat mewujudkan nilai-nilai yang luhur?&#8221;<br />
&#8220;Maka Dr. Abdul Wadud Hanif (mantan Imam Masjid Nabawi), Dr. Yahya Zamzami (mantan Wakil Dekan Fakultas Dakwah dan Ushuluddin, Universitas Ummul Qura&#8217; Makkah) dan DR. Shalih al-Furaih (Wakil Dekan pada Fakultas yang sama sekarang) menjawab: &#8220;Hal itu diperbolehkan dan tidak bermasalah.&#8221; (11 Muharram 1428/30 Januari 2007).</p></blockquote>
<p>Selanjutnya kita mengutip dari tulisan Syekh Abdul Qadir Ahmad Atha dalam Kitabnya <em>Hadza Halal Wa Hadza Haram</em>. Tulisan beliau dimuat apa adanya (dengan tambahan keterangan penjelas dalam tanda kurung atau dalam catatan kaki) meskipun ada yang kurang pas bagi sebagian kita, karena kita memaklumi bahwa dalam masalah ijtihadiyyah sangat wajar adanya perbedaan hasil ijtihad. Insya Allah pada edisi yang lain kita hadirkan tulisan ulama ahlus sunnah yang lain. Tulisan beliau tersebut adalah sebagai berikut:</p>
<blockquote><p>&#8220;Industri sinema, sinetron, dan panggung sandiwara berdiri di atas dasar seni cerita (<em>al-Fann al-Qashashi</em>). Dari seni ini industri dunia peran (<em>al-Tamtsil</em>) bermula, yang kemudian diiringi dengan industri-industri lain seperti, tari, nyanyian, tata busana, tata rambut, shooting, pencahayaan, desain, dan lain-lain.&#8221;</p></blockquote>
<p>Telah banyak penulis muslim yang mengeluarkan hukum-hukum syar&#8217;i dalam kasus ini secara global tanpa ada perincian, tanpa membandingkan dan men<em>qiyas</em>kan dengan hukum-hukum lain yang serupa.</p>
<p>Pembicaraan dalam kasus ini memerlukan perincian dalam dua tema ini yaitu: <em>kisah fiktif dan penayangannya dalam bentuk cerita bergambar yang dapat berbicara, atau dalam bentuk peragaan panggung/pentas</em>.</p>
<p><span id="more-1264"></span><strong>Pertama: Kisah fiktif (<em>Khayali</em>)</strong></p>
<p>Ini termasuk semacam dusta, jika dilihat dari segi ia tidak mengungkapkan peristiwa yang benar-benar terjadi, akan tetapi dirangkai sesuai dengan keinginan penulis untuk menggambarkan suatu ide yang memiliki suatu tujuan berdasarkan kreasi dan daya cipta khayalnya. Jadi hukumnya secara syar&#8217;i tunduk kepada hukum &#8220;<strong><em>pemberitaan tentang hal yang tidak nyata</em></strong>&#8221; atau semacam (dusta) [1]; yang mubah dibolehkan dan yang tidak mubah tidak diperbolehkan.</p>
<p>Imam Muslim meriwayatkan dari Ummu Kultsum Binti &#8216;Uqbah ibnu Abi Mu&#8217;ith bahwasanya ia mendengar Rasulullah bersabda:</p>
<blockquote><p>&#8220;<em>Bukan pendusta orang yang mendamaikan manusia, yang berkata baik dan menyampaikan</em> [2] <em>yang baik.</em>&#8220;[3] (HR. Muslim: 6585) [4] Az-Zuhri (perawi yang meriwayatkan hadits ini dari Humaid ibn Abdur Rahman ibn Auf dari Ummu Kultsum ibunya) berkata: &#8220;Saya tidak pernah mendengar Rasulullah membolehkan sesuatu dari ucapan manusia secara dusta kecuali dalam 3 perkara: Perang, <em>ishlah</em> (mendamaikan) antara manusia, ucapan suami kepada istrinya dan istri kepada suaminya.&#8221; [5] (Muslim: 6585) Qadhi Iyadh berkata: &#8220;Tidak ada khilaf tentang bolehnya dusta dalam perkara-perkara ini. Al-Thabari berkata: Hukum asalnya, dusta itu tidak diperbolehkan sama sekali. Akan tetapi yang diperbolehkan adalah <em>Tauriyah</em> (menyembunyikan maksud dengan ungkapan yang memunginkan bagi pendengar memahami apa yang tidak dimaksudkan oleh si pembicara) dan penggunaan <em>Ma&#8217;aridh</em> (sindiran-sindiran).&#8221;</p></blockquote>
<p>Berdasarkan hal ini, maka kisah fiktif yang tidak nyatam hukumnya adalah:<br />
1. Halal jika dimaksudkan untuk memperbaiki aib sosial guna mewujudhkan akhlak dan norma-norma Islam.<br />
2. Haram jika bukan untuk <em>ishlah</em>, atau jika untuk menanamkan nilai norma politik dan sosial, (atau apapun) yang bertentangan dengan Islam.</p>
<p>Kisah yang mengajak kepada paham dan gaya hidup sosialisme (komunis) liberalisme (kapitalis), (atau yang menanamkan kecintaan kepada klenik, perdukunan dan kesyirikan dan kebid&#8217;ahan), atau yang mengajak kaum wanita bekerja di bidang hiburan, film dan sinetron, atau mengajak untuk memuliakan para artis, aktris bintang film secara umum sebagaimana yang tersebar dalam banyak tema kisah-kisah fiktif dan kisah-kisah asmara, atau menunjukkan, pada sarana-sarana dan cara-cara pemuasan nafsu birahi (hubungan asmara dan pergaulan bebas laki perempuan), atau apa saja yang termasuk dalam pornografi kasar maupun pornografi lembut, semua itu haram, karena merusak masyarakat, bukan membangun dan memperbaiki. Dengan demikian mengangkatnya dalam sinema atau sinetron dan panggung juga haram.</p>
<p>Adapun <em>kisah komedi</em> maka berlaku padanya hukum canda dan humor dalam Islam. Tirmidzi (2352), Nasa&#8217;i (11551) dan Abu Dawud (4986) meriwayatkan dari Bahz Ibn Hakim dari bapaknya (Hakim) dari kakenya (Mu&#8217;awiyah Ibn Haidah) bahwasanya:</p>
<blockquote><p>&#8220;<em>Celaka bagi orang yang bercerita lalu dusta untuk membuat orang-orang tertawa, celaka untuknya, celaka untuknya</em>&#8220;. Ancaman keras membuktikan haramnya cerita dusta atau fiktif yang bersifat lawakan dan komedi yang bertujuan untuk membuat orang tertawa, karena kisah fiktik (<em>khayali</em>) berbeda dengan cerita komedi (<em>Hazli</em>). Sesuatu yang bertujuan ishlah dan diperbolehkan berdasarkan nash hadits, adapun komedi maka telah datang ancaman atasnya tanpa ada rukhshah. [6]</p></blockquote>
<p><strong>Kedua: Mementaskan dan menfilmkan cerita fiktif</strong></p>
<p>Adapun jika ingin ditampilkan melalui seni panggung/seni peran di hadapan publik maka biasanya ada dua cara:</p>
<ol>
<li><strong>Panggung/pentas sandiwara</strong> (<em>al-Tamtsil al-Masrahi</em>). Di dalamnya ada kisah fiktif yang mubah; yaitu kisah yang bertujuan <em>ishlah</em>, tidak menentang syari&#8217;at Islam dengan para pemeran tertentu yang masing-masing menunaikan perannya di atas panggung untuk menampakkan ide dan pemikiran yang membangun, dengan menggambarkan emosi yang dapat mempengaruhi audiens dan meyakinkan ide yang diperjuangkan. Sandiwara model begini -jika memenuhi syarat- maka hukumnya mubah, selagi tidak mengandung perkara yang diharamkan syara&#8217; seperti memerankan percintaan antara laki-laki dan perempuan, lewat ciuman, sentuhan, jabat tangan, atau memerankan sikap membanci baik dari laki-laki maupun dari perempuan. [7]</li>
<li><strong>Sinema dan sinetron</strong> (<em>al-Tamtsil al-Sinimai</em>). Industri perfilman ini bertumpu pada pengambilan gambar sosok para pemeran dan gerakan-gerakan mereka, seolah-olah mereka hidup saling berkomunikasi seolah-olah nyata dalam kehidupan. Di sini hukum syar&#8217;i bercabang menjadi: Hukum gambar bergerak yang dapat berbicara, dan hukum <em>ikhtilath</em> (campur antara laki-laki dan perempuan) serta menampilkan apa-apa yang haram.</li>
</ol>
<p><strong>a. Hukum bergambar bergerak yang berbicara, </strong>mungkin ia dapat dikiaskan dengan gambar 3 dimensi (patung) [8], bahkan lebih kuat keharamannya dari pada patung, karena patung menyaingi mahkluk ciptaan Allah secara diam sedang gambar-gambar bergerak ini mengandung unsur menyaingi unsur gerakan dan ucapan, juga ada unsur peran seseorang yang menirukan orang lain dengan gerakannya, diamnya dan segala tabiatnya. Oleh karena itu atas dasar ini maka ia haram seperti haramnya gambar patung atau lebih haram lagi. [9]</p>
<p><strong>b. Hukum campur laki-laki dan perempuan</strong>, memerankan adegan-adegan asmara, jabat tangan, ciuman, khamer dan nyanyian, (adegan suami istri, atau adik kakak, atau orang tua dan anak, padahal mereka bukan mahramnya). Ini semua haram. Jadi ringkasnya: <em>Tamtsil Masrahi</em> yang mendidik dan membangun, tidak bertentangan dengan syari&#8217;at Islam, yang bebas dari hal-hal haram, maka ia adalah halal, jika tidak menjadi saran untuk meninggalkan yang wajib.</p>
<p>Adapun <em>Tamtsil Masrahi</em> (sinetron, film) maka ia tidak halal, tidak boleh membuatnya maupun menyaksikannya.&#8221; Demikian fatwa Syekkh Abdul Qadir Ahmad Atha dalam Kitabnya <em>Hadza Halal Hadza Haram</em>, Darul Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. cet .3/1405 H, hal. 197-199.</p>
<p>Sebagai penegasan, akhirnya kami ketengahkan di sini kritikan dan sisi negatif yang lazim ada dalam film atau sinetron, yaitu:</p>
<p><!--more--><strong>Pertama,</strong> film atau sinetron tersebut ada yang berisi sesuatu yang merusak syari&#8217;at Islam, seperti perkara-perkara yang menyelisihi dasar-dasar Islam, ibadah-ibadah Islam, akhlak-akhlaknya, adab-adabnya, seperti, melecehkan dan merendahkan syariat atau mengunggulkan dan memuji hal yang melawan syariat, baik dengan ucapan, perbuatan atau gerakan.</p>
<p><strong>Kedua,</strong> adanya peran wanita yang bertabarruj atau mempertontonkan perhiasannya atau auratnya tanpa rasa malu atau melakukan gerakan yang tidak patut baginya.</p>
<p><strong>Ketiga,</strong> adanya <em>ikhtilath</em> antara pemeran laki-laki dan perempuan.</p>
<p><strong>Keempat,</strong> memerankan adegan maksiat atau syirik dan kufur.</p>
<p><strong>Kelima,</strong> adanya musik sebagai <em>backsound</em> dari film itu sendiri dan konsumennya tidak dapat menghindarinya.</p>
<p>Inilah hal-hal yang menyelisihi atau paling tidak sudah melanggar batas yang dilarang dalam Islam. <em>Wallahu A&#8217;lam. </em>Semoga Allah melindungi kita semua dari fitnah ini dan fitnah-fitnah yang lain.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Disalin dari majalah Qiblati edisi 06 tahun II, Maret 2007 M &#8211; Shafat 1428 H</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Catatan Kaki:</p>
<p>[1] Seperti pada edisi 04/II telah kita katakan bahwa khayal sendiri itu bukan berarti dusta, berkhayal bukan berdusta. Kapan khayal masuk ke dalam ketegori dusta? Jika cerita khayal itu diberitakan sebagai sebuah kisah nyata maka ia berarti dusta, karena &#8220;berita&#8221; itu tidak sesuai dengan kenyataan. Akan tetapi jika cerita itu tetap dalam ruang pengandaian, illustrasi belaka dan perumpamaan maka tidak dapat dihukumi sebagai dusta karena tidak masuk dalam kategori berita (kabar) melainkan masuk dalam kategori insya&#8217;. Oleh karena itu latihan-latihan peragaan dalam pengajaran nilai yang memerlukan ketrampilan seperti memeragakan shalat atau gerakan-gerakan tertentu dari shalat, merawat jenazah, memeragakan manasik haji, latihan memadamkan kebakaran, latihan perang-perangan, latihan operasi bedah, dan lain-lain tidak bisa dikatakan dusta secara bahasa. Kalaupun ada yang mengatakan dusta misalnya, maka dusta itu ada yang diperbolehkan, seperti yang dijelaskan di makalah ini.</p>
<p>Ini berbeda dengan Syekh Shalih Fauzan yang memandang bahwa sandiwara <em>(masrahiyyah)</em> latihan-latihan dan peragaan <em>(tamtsil)</em> tersebut &#8211;seperti peragaan merawat jenazah&#8211; tidak perlu, tidak ada gunanya, <em>lahwun</em> dan bukan perbuatan umat Islam, akan tetapi kebiasaan orang kafir. Lihat Syekh Shalih al-Fauzan, <em>al-Ijabat al-Muhimmah fil Masyakil al-Mulimmah</em>, cet.2 1425/2004, hal.182-189. 193, 196, 203, 212.</p>
<p>[2] Menyampaikan yang baik saja dari apa yang diucapkan dan dilakukanoleh orang yang sedang ia ceritakan untuk tujuan <em>ishlah</em> (perbaikan).</p>
<p>[3] Dusta dalam perang: menampakkan diri seolah-olah perkasa, memberi motivasi dan membesarkan jiwa pasukannya. Dusta kepada istri/suami; memuji lebih dari yang sebenarnya, ucapan yang menghibur dan dapat melanggengkan ikatan rumah tangga serta memperbaiki akhlaknya. (Lihat selengkapnya di <em>Faidhul Qadir</em>: 7581)</p>
<p>[4] HR. Bukhari: 2637, Muslim: 6585, Ahmad: 26863, Baihaqi: 21293, Nasa&#8217;i: 8548. Thabrani meriwayatkannya dari Syaddad ibnu Aus.</p>
<p>[5] Sedangkan Ahmad: 26863, Baihaqi: 21293, dan Nasa&#8217;i: 8548 menjadikannya sebagai ucapan Ummu Kultsum.</p>
<p>[6] Al-Munawi berkata: &#8220;Dusta sendiri merupakan kepala setiap yang tercela dan muara setiap air, maka jika digabung dengan melawak yang itu mematikan hati, melalaikan dan membuat lupa maka ia menjadi keburukan yang terburuk. (<em>Faidhul Qadir:</em> 9648, lihat keterangan sangat berharga dalam <em>Subulus Salam</em>: 4/2030))&#8221;</p>
<p>[7] Syekh Athiyah Shaqr mengatakan:</p>
<p>&#8220;<em>Jika tujuannya benar, materinya tidak mengandung perkara yang terlarang (termasuk hal terlarang kata beliau: memerankan para nabi dan sahabat, dan memerankan adegan maksiat seperti orang minum khamr), penampilannya konsisten dengan adab-adab Islam, belajarnya dan prakteknya sebagai sebuah profesi tidak mengakibatkan pada sikap meremehkan kewajiban, atau tidak menyebabkan madharat pada badannya, atau akalnya, atau hartanya, atau akhlaknya, atau madharat apa saja maka tamtsil (pentas, peran perfilman) halal hukumnya, dapat digunakan sebagai sarana untuk menampakkan makna-makna dalam bentuk visual, seolah-olah nyata.</em>&#8221;</p>
<p><em>Ini adalah batasan-batasan rinci untuk menetapkan tamtsil halal dari yang lainnya. Keluar dari salah satunya menjadikannya sebagai tamtsil yang terlarang, seukuran dengan pelanggarannya, dari kemakruhannya dan keharamannya.</em> (<em>Fatawa al-Azhar:</em> 10/105, Athiyah Shaqr, Mei 1997, Hukum <em>Tamtsil</em>; mempelajarinya dan menggelutinya sebagai profesi)</p>
<p>Para ulama dalam komite tetap untuk riset dan fatwa yang dipimpin oleh Syekh Abdul Aziz bin Bzz juga menyatakan bahwa di antara yang haram adalah memerankan orang kafir dan orang musyrik. Lihat <em>Fatwa Lajnah Daimah</em>: no. 4723, 4/482</p>
<p>[8] Syekh Abdullah ibnu Sulaiman al-Mani&#8217; termasuk yang memperbolehkan photografi, dan video dengan sudut pandang yang berbeda dengan Syekh Abdul Qadir, yaitu bahwa gambar yang dihasilkan oleh karena tidak mengandung unsur menyerupai dan menyaingi ciptaan Allah, melainkan ia adalah bayangan dari ciptaan Allah yang diabadikan, seperti saat kita melihat diri kita di kaca cermin. Kesimpulannya bahwa video dapat menjadi satu sarana dakwah dan pendidikan, dan hal ini telah dilakukan di lemabga pendidikan di Saudi Arabia. Termasuk Syekh Ibnu Bazz pernah mengisi kuliah yang disiarkan langsung ke ruang kuliah putri (<em>Majmu&#8217; Fatawa wa Buhuts,</em> Darul Ashimah, cet 1/1/420H, 1/154-161).</p>
<p>[9] Syekh Muhammad Shalih al-Utsaimin tidak memperbolehkan mendengar dan melihat film pelajaran bahasa Inggris yang tentunya ia adalah fiktif dan peragaan, bukan kenyataan. (Lihat <em>Kitabul Ilmi</em>, daru al-Tsurayya, cet.2/1417, hal 125)</p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=ymOhko6bPCU:lbn0LcQ6eic:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=ymOhko6bPCU:lbn0LcQ6eic:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?i=ymOhko6bPCU:lbn0LcQ6eic:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=ymOhko6bPCU:lbn0LcQ6eic:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=ymOhko6bPCU:lbn0LcQ6eic:DN0H40_Ym5U"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=DN0H40_Ym5U" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=ymOhko6bPCU:lbn0LcQ6eic:V-t1I-SPZMU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=V-t1I-SPZMU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=ymOhko6bPCU:lbn0LcQ6eic:tr8VpXobKIM"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=tr8VpXobKIM" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=ymOhko6bPCU:lbn0LcQ6eic:UT3xtbGYFzA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=UT3xtbGYFzA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=ymOhko6bPCU:lbn0LcQ6eic:u0Zhe-nyOHo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=u0Zhe-nyOHo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=ymOhko6bPCU:lbn0LcQ6eic:ACf-c_HutVc"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=ACf-c_HutVc" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogJilbabOnline/~4/ymOhko6bPCU" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/1264-hukum-sinetron-drama-seni-cerita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://jilbab.or.id/archives/1264-hukum-sinetron-drama-seni-cerita/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Penyisir Putri Fir’aun</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/BlogJilbabOnline/~3/pj_uY8B6OA0/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/1265-penyisir-putri-firaun/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Apr 2013 04:32:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mustikasari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Teladan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=1265</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: www.pinterest.com Kisah ini ditulis oleh Mamduh Farhan Al-Buhairi dalam majalah Qiblati edisi 03 tahun IV, 12-1429/12-2008. Seorang wanita shalihah hidup bersama suaminya di bawah naungan kerajaan Fir&#8217;au. Sejarah tidak pernah mencatat namanya, namun sejarah telah mencatat perbuatannya. Dia adalah seorang pembantu dan perawat bagi putri-putri Fir&#8217;aun, yang biasa disebut Masyithah karena pekerjaannya menyisir rambut [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="font-size: 10px; color: #76838b; text-align: left;"><a href="http://pinterest.com/pin/528610074982838000/"><img class="aligncenter  wp-image-1278" alt=" " src="http://jilbab.or.id/wp-content/uploads/2013/04/92082dd3422bf1609bc0da8eecdf3f14.jpg" width="405" height="271" /><br />
</a>Sumber: <a style="text-decoration: underline; font-size: 10px; color: #76838b;" href="http://pinterest.com/pin/528610074982838000/">www.pinterest.com</a></p>
<p>Kisah ini ditulis oleh Mamduh Farhan Al-Buhairi dalam majalah Qiblati edisi 03 tahun IV, 12-1429/12-2008.</p>
<p>Seorang wanita shalihah hidup bersama suaminya di bawah naungan kerajaan Fir&#8217;au. Sejarah tidak pernah mencatat namanya, namun sejarah telah mencatat perbuatannya.</p>
<p>Dia adalah seorang pembantu dan perawat bagi putri-putri Fir&#8217;aun, yang biasa disebut <strong>Masyithah</strong> karena pekerjaannya menyisir rambut putri Fir&#8217;aun. Allah telah memberinya anugerah keimanan. Tidak seberapa lama, Fir&#8217;aun mengetahui keimanan suaminya, kemudian dia membunuhnya. Akan tetapi sang istri shalihah tersebut tetap bekerja di istana Fir&#8217;aun menyisir rambut putri-putri Fir&#8217;aun, memberikan nafkah kepada kelima anaknya, memberi makan mereka sebagaimana burung memberi makan anak-anaknya.</p>
<p>Di saat dia menyisir salah satu putri Fir&#8217;aun, tiba-tiba sisir yang ada di tangannya terjatuh&#8230; lantar dia berkata <em>bismillah</em>.</p>
<p>Berkatalah putri Fir&#8217;aun, <em>&#8220;Allah&#8230;? Ayahku&#8230;?&#8221;</em></p>
<p>Tukang sisir itu pun berkata, <em>&#8220;Sekali-kali tidak, bahkan Allah adalah Tuhanku, Tuhanmu, dan Tuhan ayahmu&#8230;&#8221;</em></p>
<p>Sang putripun tercengang, ada Tuhan lain yang disembah selain ayahnya?! Kemudian dia laporkan hal itu kepada ayahnya. Ayahnya pun kaget dan geram. Ada orang di istananya yang menyembah selain dirinya?!</p>
<p><span id="more-1265"></span>Fir&#8217;aun pun memanggil penyisir tersebut seraya bertanya, <em>&#8220;Siapa Tuhanmu?&#8221;</em></p>
<p>Dia menjawab, <em>&#8220;Tuhanku, dan Tuhanmu adalah Allah.&#8221;</em></p>
<p>Fir&#8217;aun pun memerintahkannya untuk kembali keluar dari agamanya, memenjarakannya, dan memukulinya. Namun dia tetap tegar, tidak keluar dari agamanya. Maka Fir&#8217;aun pun memerintahkan untuk mendatangkan satu kuali tembaga yang besar kemudian dipenuhi dengan minyak, lalu dididihkan hingga bergolak.</p>
<p>Fir&#8217;aun pun mendirikan penyisir tersebut di hadapan kuali. Di saat sang penyisir itu melihat adzab (penyiksaan), dia yakin bahwa dia hanyalah satu nyawa yang akan keluar kemudian bertemu dengan Allah.</p>
<p>Fir&#8217;aun tahu bahwa manusia yang paling dicintai oleh sang penyisir tersebut adalah kelima anaknya, lima anak yatim yang dia mencari nafkah untuk mereka, dan memberi makan mereka. Fir&#8217;aun pun berkeinginan untuk menambah adzabnya. Lalu dihadirkanlah kelima anak-anak tersebut, mata-mata mereka berputar kebingungan, mereka tidak tahu kemana mereka akan dituntun.</p>
<p>Tatkala mereka melihat ibu mereka, merekapun bergelayutan padanya sembari menangis. Sang penyisir tersebut mendekat dan menciumi mereka lalu menangis. Diapun mengambil yang paling kecil di antara mereka, lalu didekap di dadanya dan menyusuinya. Tatkala Fir&#8217;aun melihat pemandangan ini, dia memerintahkan untuk mengambil si sulung. Para serdadupun menyeret dan mendorongnya menuju minyak yang mendidih. Anak itupun berteriak memanggil ibunya, dan meminta tolong, memohon belas kasihan kepada serdadu, juga kepada Fir&#8217;aun. Dia berusaha melepaskan diri dan lari. Dia menyeru kepada adik-adiknya. Dia pukuli para serdadu itu dengan kedua tangan mungilnya sementara mereka memukul dan mendorongnya. Sang ibu melihat kepadanya dan mengucapkan salam perpisahan dengannya.</p>
<p>Tidaklah berselang lama, bocah kecil itupun dilemparkan ke dalam minyak yang mendidih, sementara sang ibu menangis sembari melihatnya. Adik-adiknyapun menutupi wajah-wajah mereka dengan tangan-tangan kecil mereka. Hingga setelah daging tubuhnya hancur, serta tulang putihnya menyembul di atas minyak yang bergolak, Fir&#8217;aun melihat kepadanya dan memerintahkannya untuk kufur kepada Allah. Sang ibupun tetap menolak.</p>
<p>Lalu Fir&#8217;aun murka, dan memerintahkan untuk mengambil putra keduanya. Anak itupun direbut dari sisi ibunya, anak itupun menangis dan meminta tolong. Lalu dia dilemparkan ke dalam minyak, sementara sang ibu melihat kepadanya hingga tulang-tulang putihnya menyembuhl dan bercampur dengan tulang belulang saudaranya. Sang ibu tetap teguh di atas agamanya, yakin terhadap pertemuan dengan Rabbnya.</p>
<p>Lalu Fir&#8217;aun memerintahkan untuk mengambil putra yang ketiga. Diapun diseret dan didekatkan ke kuali yang mendidih, kemudian dia dilempar dan hilang di dalam minyak yang mendidih. Dia diperlalukan seperti perlakuan terhadap kedua saudaranya. Sementara sang ibu tetap teguh di atas agamanya.</p>
<p>Fir&#8217;aunpun memerintahkan untuk melemparkan anaknya yang ke empat. Serdadupun menuju pada anak itu. Anak kecil yang tengah berpegang dengan baju ibunya. Di saat serdadu-serdadu itu merebutnya dari sang ibu, dia menangis dan berpegang kedua kaki ibunya&#8230; air matanya mengalir di atas kedua kaki ibunya&#8230; Sang ibupun berusaha untuk menggendongnya bersama adik kecilnya&#8230; Dia berusaha untuk mengucapkan salam perpisahan dengannya, serta menciumnya sebelum berpisah dengannya. Lalu serdadu-serdadu itupun memisahkan kedua ibu dan anak itu. Merekapun memegang kedua anak kecil yang sedang menangis dan meminta tolong itu&#8230; Dia berteriak dengan kalimat-kalimat yang tidak dimengerti, semetara mereka tidak berbelas hati kepadanya. Sebentar kemudian dia telah tenggelam di dalam minyak yang mendidih, tubuhnya menghilang&#8230; dan suaranyapun menghilang&#8230; Sang ibu mencium bau daging anak-anaknya&#8230; tulang-tulang kecil putih menyembul di atas permukaan minyak yang mendidih. Sang ibu melihat kepadanya&#8230; Sungguh anaknya telah pergi meninggalkannya menuju negeri lain; di alam baqa&#8217;. Diapun menangis, hatinya berkeping-keping karena berpisah dengannya. Selama ini dia timang di dadanya, dia susui dengan payudaranya, selama ini dia terjaga karena keterjagaannya, dan menangis karena tangisannya. Betapa banyak malam dia tidur di pangkuannya, dan bermain dengan rambutnya&#8230; Diapun berusaha untuk tabah dan teguh&#8230;</p>
<p>Merekapun menoleh kepada sang ibu, merebut si bungsu yang masih dalam susuan dari hadapannya. Saat itu dia sedang minum air susu ibunya&#8230; Saat dia direbut, si bungsu berteriak menangis&#8230; sang ibupun menangis. Tatkala Allah melihat hatinya yang hancur berkeping-keping karena putranya, Allah menjadikan lisan si bungsu berbicara di gendongannya, <em>&#8220;Wahai ibu, bersabarlah, sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran.&#8221;</em></p>
<p>Lalu terputuslah suaranya&#8230; dan menghilang di dalam kuali bersama saudara-saudaranya&#8230; Dia telah dilemparkan ke dalam minyak, sementara di mulutnya masih tersisa air susu ibunya, di tangannya terdapat rambut ibunya, di bajunya tersisa sebagian air mata ibunya.</p>
<p>Pergilah kelima puteranya&#8230; Itulah tulang belulang mereka&#8230; Menyembul di permukaan kuali, semnetara daging-daging mereka telah dipisahkan oleh minyak.</p>
<p>Sang ibu melihat kepada tulang-tulang kecil tersebut&#8230; Itu adalah tulang anak-anaknya, yang telah lama memenuhi rumah dengan tawa dan kebahagiaan mereka. Mereka adalah kenikmatan jiwanya, buah hatinya, buah hatinya, yang belum pernah berpisah dengannya&#8230; seakan-akan jantungnya telah dikeluarkan dari dadanya. Selama ini mereka berlarian menuju kepadanya&#8230; saling lempar di hadapannya&#8230; memeluk mereka di dadanya&#8230; memberi pakaian mereka dengan tangannya&#8230; serta mengusap air mata mereka dengan jari jemarinya. Kemudian, mereka telah direbut dari hadapannya, dan dibunuh di hadapan pandangannya. Mereka tinggalkan sang ibu sendirian dan berpaling darinya serta dari kerabat yang akan bersama mereka.</p>
<p>Adalah sang ibu, bisa saja membebaskan mereka dari adzab dengan satu kalimat <em>kufur</em> yang dia perdengarkan kepada Fir&#8217;aun. Akan tetapi dia tahu bahwa apa yang ada di sisi Allah jauh lebih baik dan kekal.</p>
<p>Kemudian, saat tidak tersisa kecualo dia&#8230; mereka menghadap kepadanya seperti anjing pemburu. Mereka mendorongnya ke kuali. Tatkala mereka membawanya untuk dilemparkan ke dalam minyak, dia melihat kepada tulang belulang putra-putranya&#8230; lalu ingat berkumpulnya mereka di kehidupan&#8230; lantas dia menoleh kepada Fir&#8217;aun dan berkata: <em>&#8220;Aku punya permintaan kepadamu.&#8221;</em></p>
<p>Fir&#8217;aun berteriak, <em>&#8220;Apa keperluanmu?&#8221;</em></p>
<p>Dia menjawab, <em>&#8220;Kumpulkanlah tulangku dan tulang anak-anakku, dan kuburkanlah dalam satu kuburan!&#8221;</em></p>
<p>Kemudian dia pejamkan kedua matanya, lalu dia dilemparkan ke dalam kuali&#8230; tubuhnyapun terbakar&#8230; dan tenggelamlah tulang-belulangnya.</p>
<p>Sungguh indah&#8230; Betapa agung ketabahannya&#8230; Betapa banyak pahalanya&#8230;!</p>
<p>Sungguh, Nabi telah melihat satu nikmat dari kenikmatannya saat malam Isra&#8217;. Lalu beliau menceritakannya kepada para sahabatnya, dan bersabda kepada mereka, seperti yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi, <em>&#8220;Tatkala aku di isra&#8217;kan, aku melalui dan mencium bau wangi, lalu kukatakan, &#8216;Wangi apakah ini?&#8217;</em> Maka dikatakan kepadaku, <em>&#8220;Ini adalah tukang sisir putri Fir&#8217;aun dan putra-putranya.&#8221;</em></p>
<p>Demikianlah, wanita mukmin ini berlalu menuju Sang Pencipta, serta berada di sisi-Nya. Terwujudlah sudah firman Allah yang artinya:<br />
<em>&#8220;Salamun &#8216;alaikum bima shabartum [keselamatan atasmu berkat kesabaranmu]. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.&#8221;</em> (QS. Ar. Ra&#8217;d: 24)</p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=pj_uY8B6OA0:-IYS---wcJQ:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=pj_uY8B6OA0:-IYS---wcJQ:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?i=pj_uY8B6OA0:-IYS---wcJQ:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=pj_uY8B6OA0:-IYS---wcJQ:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=pj_uY8B6OA0:-IYS---wcJQ:DN0H40_Ym5U"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=DN0H40_Ym5U" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=pj_uY8B6OA0:-IYS---wcJQ:V-t1I-SPZMU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=V-t1I-SPZMU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=pj_uY8B6OA0:-IYS---wcJQ:tr8VpXobKIM"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=tr8VpXobKIM" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=pj_uY8B6OA0:-IYS---wcJQ:UT3xtbGYFzA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=UT3xtbGYFzA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=pj_uY8B6OA0:-IYS---wcJQ:u0Zhe-nyOHo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=u0Zhe-nyOHo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=pj_uY8B6OA0:-IYS---wcJQ:ACf-c_HutVc"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=ACf-c_HutVc" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogJilbabOnline/~4/pj_uY8B6OA0" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/1265-penyisir-putri-firaun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://jilbab.or.id/archives/1265-penyisir-putri-firaun/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Belum Waktunya</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/BlogJilbabOnline/~3/FQSaMABUack/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/1260-belum-waktunya-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Apr 2013 03:13:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mustikasari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisahku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=1260</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: www.prettie-sweet.tumblr.com Mungkin ada benarnya bila ada orang berkata, teori belum tentu sama ketika dipraktikkan. Tapi kalau orang sudah praktik secara otomatis ia akan tahu teorinya. Apalagi bila seseorang sering praktik, meski ia bukan seorang pelajar/tidak pernah belajar teori, bila ditanya pasti akan bisa tahu teorinya, bahkan secara &#8220;insting&#8221; ia akan tahu apa yang kurang [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://prettie-sweet.tumblr.com/post/40531614015"><img class="wp-image-1261 aligncenter" alt="" src="http://jilbab.or.id/wp-content/uploads/2013/04/tumblr_mgmpeyjO951rydqpho1_1280.jpg" width="426" height="640" /></a></p>
<p style="font-size: 10px; color: #76838b;">Sumber: <a style="text-decoration: underline; font-size: 10px; color: #76838b;" href="http://prettie-sweet.tumblr.com/post/40531614015">www.prettie-sweet.tumblr.com</a></p>
<p>Mungkin ada benarnya bila ada orang berkata, teori belum tentu sama ketika dipraktikkan. Tapi kalau orang sudah praktik secara otomatis ia akan tahu teorinya. Apalagi bila seseorang sering praktik, meski ia bukan seorang pelajar/tidak pernah belajar teori, bila ditanya pasti akan bisa tahu teorinya, bahkan secara &#8220;insting&#8221; ia akan tahu apa yang kurang bila hasil akhirnya kurang baik. Demikian juga dengan melahirkan, antara teori dan praktik kadang terjadi perbedaan&#8230;</p>
<p>Kisah ini adalah kisah Ummu Afra di K, yang disalin dari majalah Sakinah, Volume 10, No. 5, 15 Agustus &#8211; 15 September 2011 / Sya&#8217;ban &#8211; Ramadhan 1432.</p>
<p>Pernikahan yang aku bangun delapan tahun lalu telah menghadirkan empat momongan. Dua anak laki-laki dan dua perempuan. Tiga buah hatiku lahir sehat dan normal. Semuanya dibantu bidan desa.</p>
<p><span id="more-1260"></span>Si sulung lahir tepat satu setengah tahun pernikahanku. Persis 9 bulan 10 hari. Selama mengandungnya pun aku tak mengalami kendala berarti. <em>Morning sick</em> hanya kualami sebulan, usai itu semua terasa biasa saja, makan apa saja <em>oke</em> dan tak mengidam aneh-aneh. Makanya tak heran, bobot normalku yang cuma 38 kg bisa tembus angka 62 kg! Dokter sempat mengingatkanku. &#8220;<em>Ngga&#8217;</em> bagus lho Bu, <em>kalo</em> berat berlebihan.&#8221;</p>
<p>Saat hendak melahirkan si sulung, hampir aku ditolak bu bidan. Bukan apa-apa, tapi karena tak kebagian ranjang, karena saat itu memang cuma muat untuk tiga pasien. Tapi aku memaksa, sakit di perutku sudah membuatku gemetar luar biasa. Akhirnya, oleh bu bidan aku digelarkan kasur di lantai. <em>Qadarullah</em>, tak sampai setengah jam di sana, aku yang merupakan pasien yang terakhir justru melahirkan lebih dulu. <em>Alhamdulillah</em>, proses melahirkanku diberi kemudahan oleh Allah. Kalau orang jawa bilang <em>&#8220;gampang-gangsar&#8221;</em>. Pagi pukul sembilan melahirkan, sore sudah diizinkan pulang.</p>
<p>Anak keduaku lahir dibantu oleh bidan yang sama. Meski sudah tua, bu bidan tetap banyak pasien. Di samping beliau ramah, beliau punya banyak pengalaman. Sudah kenyang makan asam garam membantu pasien. Selain itu, jiwa sosialnya tinggi. Jadi, pasien merasa senang dan nyaman berobat ke sana, termasuk aku.</p>
<p>Anak keduaku lahir selang 18 bulan dari si sulung. <em>Alhamdulillah</em>, seperti halnya si kakak, tak ada kendala berarti saat aku melahirkannya. Hanya saja aku harus mengejan ekstra dari saat pertama. Kalau kuhitung-hitung, aku mengejan belasan kali. Hal ini karena bayiku terlilit tali pusar. Jadi begitu kepala sudah mulai terlihat di jalan lahir, bila kontraksi berhenti atau aku kurang keras mengejan, bayi akan masuk kembali. Dan itu terjadi berulang kali. Kuingat betul, tiap jeda aku bisa istirahat, aku selalu minta minum teh hangat. Dan bu bidan melayaniku dengan sabar. <em>Nah</em>, begitu kontraksi datang, aku siap dengan tenaga baru. <em>Alhamdulillah</em>, setelah bayi keluar masuk belasan kali, dengan sisa tenaga yang kupunya putriku lahir selamat dengan berat 3,4 kg.</p>
<p>Persalinan ini merupakan persalinan dengan bu bidan lama. Beliau pensiun dan kembali ke daerah asalnya. Banyak yang kehilangan beliau.</p>
<p>Tak sampai sebulan, bidan muda dari kota menggantikan tugas beliau. Saat anak ketigaku lahir, bu bidan baru ini yang menolongku. Meski ramah, ia terlihat masih sedikit canggung. Dan saat persalinan anak ketigaku, ada peristiwa lucu.</p>
<p>Aku terus mengalami kontraksi terus-menerus. Bayi terasa kuat mendorong, maka dengan spontan aku pun mengejan, bu bidan itu menegusku. &#8220;Jangan mengejan dulu Bu, belum waktunya!&#8221;</p>
<p>Dalam hati aku membatin, bayinya saja sudah mendorong <em>pengin</em> keluar, <em>masa&#8217;</em> saya tahan-tahan? Kalau <em>ngga&#8217;</em> boleh mengejan, kapan bayinya bisa keluar?! Coba kalau bu bidan yang merasakan sendiri&#8230;,&#8221; ucapku setengah tinggi.</p>
<p>Bu bidan cuma tersenyum sambil meminta maaf.</p>
<p>&#8220;Aduh maaf Bu.. Teori yang saya terima begitu. Kalau soal rasa dan praktiknya saya belum tahu sendiri. <em>Kan</em> saya belum menikah&#8230;?&#8221; Ucapnya polos, Spontan kami berdua tertawa. O, pantas saja. bu bidan baru tahu teori dan belum pernah &#8220;praktik&#8221; melahirkan sendiri. Ternyata ia masih <em>single</em>, ia belum terlalu tahu, &#8220;medan&#8221;. Lain dengan bu bidan lama, yang tak cuma tahu teori tapi juga &#8220;sudah praktik sendiri&#8221; rasanya bersalin. Jadi lebih &#8220;menjiwai&#8221; dan mengerti pasien. Bila melihat pasien mulai kontraksi, ia akan segera tanggap &#8220;lahir batin&#8221;.</p>
<p><em>Alhamdulillah</em>, putri ketigaku akhirnya lahir selamat. Dan saat aku melahirkan anak keempat, aku bisa melihat dan merasakan bu bidan muda ini sudah terlihat luwes dan menyatu dengan profesionya. Ia sudah banyak pengalaman menangani pasien. Dan ia tak kalah dari bu bidan lama, untuk soal pengabdian. Dan memang benar, pengalaman akan selalu membuat orang belajar menjadi lebih baik.</p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=FQSaMABUack:t7X0A6Y28Jk:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=FQSaMABUack:t7X0A6Y28Jk:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?i=FQSaMABUack:t7X0A6Y28Jk:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=FQSaMABUack:t7X0A6Y28Jk:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=FQSaMABUack:t7X0A6Y28Jk:DN0H40_Ym5U"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=DN0H40_Ym5U" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=FQSaMABUack:t7X0A6Y28Jk:V-t1I-SPZMU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=V-t1I-SPZMU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=FQSaMABUack:t7X0A6Y28Jk:tr8VpXobKIM"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=tr8VpXobKIM" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=FQSaMABUack:t7X0A6Y28Jk:UT3xtbGYFzA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=UT3xtbGYFzA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=FQSaMABUack:t7X0A6Y28Jk:u0Zhe-nyOHo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=u0Zhe-nyOHo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=FQSaMABUack:t7X0A6Y28Jk:ACf-c_HutVc"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=ACf-c_HutVc" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogJilbabOnline/~4/FQSaMABUack" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/1260-belum-waktunya-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://jilbab.or.id/archives/1260-belum-waktunya-2/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Cinta Sehidup Semati</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/BlogJilbabOnline/~3/FRnNGP-68mM/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/1227-cinta-sehidup-semati/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Apr 2013 04:43:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mustikasari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Teladan]]></category>
		<category><![CDATA[Pribadi Shalihah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=1227</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: www.whimsicalraindropcottage.tumblr.com Cinta adalah sebuah perkara besar yang Allah ciptakan di dalam hati manusia. Ia adalah sebuah fitrah yang Allah tanamkan dalam sanubari kita. Betapa indah sebuah cinta bila ia jujur sebagaimana cinta dari Zainab binti Rasulillah kepada suaminya sekaligus putra bibinya, Abul &#8216;Ash bin ar-Rabi&#8217; yang membalas cintanya dengan cinta. Dan kisah cinta itulah [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://whimsicalraindropcottage.tumblr.com/"><img class="size-full wp-image-1228 aligncenter" alt="" src="http://jilbab.or.id/wp-content/uploads/2013/04/tumblr_mkfzq5or901qatbyfo1_400.jpg" width="333" height="500" /></a></p>
<p style="font-size: 10px; color: #76838b;">Sumber: <a style="text-decoration: underline; font-size: 10px; color: #76838b;" href="http://whimsicalraindropcottage.tumblr.com/">www.whimsicalraindropcottage.tumblr.com</a></p>
<p>Cinta adalah sebuah perkara besar yang Allah ciptakan di dalam hati manusia. Ia adalah sebuah fitrah yang Allah tanamkan dalam sanubari kita. Betapa indah sebuah cinta bila ia jujur sebagaimana cinta dari Zainab binti Rasulillah kepada suaminya sekaligus putra bibinya, Abul &#8216;Ash bin ar-Rabi&#8217; yang membalas cintanya dengan cinta. Dan kisah cinta itulah yang akan kami ketengahkan kepada Anda semua;</p>
<p><span id="more-1227"></span>Abul &#8216;Ash adalah putra saudari Sayyidah Khadijah. Dia termasuk laki-laki terpandang di suku Quraisy, dan Nabi mencintainya. Kisah ini bermula setelah perginya Abul &#8216;Ash kepada Nabi sebelum kenabian seraya berkata kepada beliau, &#8216;Saya ingin menikahi Zainab putri sulung Anda.&#8221;</p>
<p>Maka berkatalah Nabi, &#8216;Aku tidak akan melakukannya hingga aku meminta izinnya.&#8217; Maka masuklah Nabi kepadanya, &#8216;Putra bibimu mendatangiku, dan telah menyebut namamu, maka apakah kamu ridha dia menjadi suami bagimu?&#8217;</p>
<p>Maka merah merona wajahnya, yang kemudian disusul dengan senyum. Lalu Nabi keluar dan memberitahukan persetujuan Zainab.</p>
<p>Lalu menikahlah Zainab dengan Abul &#8216;Ash bin ar-Rabi&#8217;; kemudian melahirkan 2 orang anak: Ali dan Umamah.</p>
<p>Setelah itu, sebuah permasalahan besar dimulai; yaitu saat Nabi diutus dan menjadi seorang Rasul, sementara kala itu Abul &#8216;Ash tengah dalam perjalanan. Ketika dia kembali, dia mendapati istrinya telah masuk Islam. Maka masuklah dia kepada istrinya dari safarnya, lalu sang istri berkata kepadanya, &#8216;Saya memiliki sebuah berita besar untukmu&#8217;. Maka dia pun bangkit dan meninggalkan istrinya. Tercenganglah Zainab, lalu mengikutinya seraya berkata, &#8216;Sungguh ayahandaku telah diutus sebagai seorang Nabi, dan aku telah masuk Islam.&#8217; Maka dia berkata, &#8216;Mengapa engkau tidak meminta izinku sebelum Engkau masuk islam?&#8217;</p>
<p>Permasalahan besar, lagi berbahaya terus terjadi di antara keduanya; yaitu permasalahan aqidah. Zainab berkata kepada suaminya, &#8216;Tidaklah aku mendustakan bapakku, dan bukanlah bapakku seorang pendusta. Dia seorang yang jujur lagi terpercaya. Buka hanya aku yang masuk Islam, ibuku juga telah masuk Islam, saudari-saudariku telah masuk Islam, putra pamanku (Ali ibn Abi Thalib) telah masuk Islam, putra bibimu (&#8216;Utsman bin &#8216;Affan) telah masuk Islam, dan sahabatmu (Abu Bakar as-Shiddiq) telah masuk Islam.&#8217;</p>
<p>Maka Abul &#8216;Ash berkata, &#8216;Adapun aku, maka aku tidak suka jika manusia mengatakan bahwa aku merendahkan kaumnya, dan kufur kepada nenek moyangnya demi membuat ridha istrinya. Sedangkan bapakmu bukanlah orang yang diragukan (tertuduh dusta).&#8217; Kemudian dia berkata kepada istrinya, &#8216;Apakah engkau tidak menerima dan menghargai alasanku ini?&#8217; Maka Zainab menjawab, &#8216;Siapa lagi yang akan memaklumi, kalau kau tidak memaklumi?&#8217; Akan tetapi aku adalah istrimu, aku akan membantumu di atas kebenaran hingga engkau ditakdirkan di atasnya.</p>
<p>Lalu berjalanlah hari demi hari, dan tahun demi tahun. Setelah 13 tahun, Rasulullah diperintahkan untuk hijrah ke Madinah. Maka musibah besar menimpa Zainab. Dia akan kehilangan bapaknya, dan saudari-saudarinya yang akan pergi ke Madinah, dan dia akan tetap tinggal di Makkah. Hal ini sebelum turunnya perintah memisahkan dua pasang suami istri (yang berbeda agama).</p>
<p>Ketika permusuhan antara Rasulullah dan orang-orang Quraisy memanas, maka berkatalah sebagian mereka kepada sebagian yang lain, &#8216;Celaka kalian, sungguh kalian telah memikul beban Muhamad dengan menikahkan pemuda-pemuda kalian dengan putri-putrinya. Maka seandainya kalian mengembalikan mereka kepadanya, maka pastilah dia akan sibuk terhadap mereka dari kalian.&#8217; Maka mereka berkata, &#8216;Sebaik-baik pendapat&#8217;. Lalu mereka pun berjalan keada Abul &#8216;Ash dan berkata padanya, &#8216;Ceraikanlah istrimu wahai Abul &#8216;Ash, dan kembalikanlah dia ke rumah bapaknya, kami akan menikahkanmu dengan wanita mulia Quraisy mana saja yang kamu kehendaki.&#8217;</p>
<p>Dia pun menjawab, &#8216;Tidak, demi Allah, sesungguhnya aku tidak akan menceraikan istriku, dan aku tidak suka seluruh wanita dunia sebagai gantinya.&#8217;</p>
<p>Sikap kepahlawanan ini berbeda dengan sikap suami Ruqayyah dan Ummu Kultsum. Keduanya telah diceraikan dan dibawa ke rumah Nabi yang beliau sangat berbahagia dengan dikembalikannya mereka berdua kepadanya. Dan beliau berharap agar seandainya Abul &#8216;Ash melakukan seperti yang dilakukan oleh kedua temannya. Tetapi beliau tidak memiliki kekuatan untuk memaksanya akan hal itu. Saat itu masih belum disyariatkan pengharaman pernikahan seorang mukmian dengan orang musyrik.</p>
<p>Zainab terus berada di Makkah hingga terjadi perang Badar. Abul &#8216;Ash terpaksa keluar bersama mereka (pasukan kafir) karena kedudukannya dalam kaumnya, padahal tidak ada keinginan pada dirinya untuk membunuh kaum muslimin.</p>
<p>Adalah Zainab sangat mengkhawatirkan suasana ini, di mana suaminya akan memerangi bapaknya. Dia pun menangis dan berkata, &#8216;Ya Allah, sesungguhnya aku khawatir dari satu hari yang matahari terbit dari tempat terbitnya, kemuan anakku menjadi yatim, atau aku kehilangan bapakku.&#8217;</p>
<p>Maka keluarlah Abul &#8216;Ash bin ar-Rabi&#8217;, dan ikut serta dalam perang Badar (di pihak orang kafir). Kemudian selesailah peperangan tersebut, dan Abul &#8216;Ash tertawan. Maka pergilah dia mencari berita suaminya di Makkah.</p>
<p>Dia bertanya, &#8216;Apa yang dilakukan oleh bapakku?&#8217;</p>
<p>Maka dikatakan kepadanya, &#8216;Kaum muslimin menang.&#8217;</p>
<p>Maka diapun sujud syukur kepada Allah. Kemudian dia bertanya, &#8216;Lalu apa yang dilakukan oleh suamiku?&#8217;</p>
<p>Mereka menjawab, &#8216;Ditawan oleh mertuanya.&#8217;</p>
<p>Maka dia berkata, &#8216;Kirimkanlah tebusan bagi suamiku.&#8217; Dan kala itu dia tidak memiliki sesuatu apapun yang berharga yang dapat dijadikan sebagai tebusan bagi suaminya.&#8217; Dia tidak menemukan apapun kecuali dia tanggalkan kalung ibunya yang menjadi perhiasan di dadanya. Kemudian dia mengirimkan kalung itu bersama saudara kandung Abul &#8216;Ash bin ar-Rabi&#8217; yang pergi ke Madinah untuk menyerahkan tebusan suami Zainab.</p>
<p>Adalah Nabi duduk sambil memperhatikan seluruh tebusan bagi masing-masing tawanan dan membebaskannya. Ketika beliau melihat kalung Sayyidah Khadijah, beliau bertanya, &#8216;Ini tebusan siapa?&#8217;</p>
<p>Mereka menjawab, &#8216;Ini tebusan Abul &#8216;Ash ar-Rabi.&#8217;</p>
<p>Maka menangislah Nabi dan berkata, &#8216;Ini adalah kalung Khadijah.&#8217;</p>
<p>Kemudian beliau bangkit seraya berkata, &#8216;Wahai manusia, sesungguhnya laki-laki ini tidak pernah kami cela sebagai seorang menantu, maka bolehkah aku membebaskannya? Tidakkah kalian menerima untuk mengembalikan kalung ini kepadanya (Zaenah putra Nabi)&#8217;</p>
<p>Maka mereka menjawab, &#8216;Ya, wahai Rasulullah.&#8217;</p>
<p>Maka Nabi pun menyerahkan kalung itu kepadanya kemudian berkata kepadanya, &#8216;Katakanlah kepada Zainab, janganlah menghilangkan kalung Khadijah.&#8217;</p>
<p>Kemudian beliau berkata kepadanya, &#8216;Maukah kamu aku berbicara rahasia kepadamu?&#8217;</p>
<p>Kemudian beliau menyepi bersamanya lalu bersabda, &#8216;Wahai Abul &#8216;Ash, sesungguhnya Allah telah memerintahkanku untuk memisahkan antara seorang muslimah dengan orang kafir, maka apakah kamu mau mengembalikan kepadaku putriku?&#8217;</p>
<p>Dia pun menjawab, &#8216;Ya.&#8217;</p>
<p>Keluarlah Zainab menyambut Abul &#8216;Ash di pintu-pintu Makkah. Maka Abul &#8216;Ash berkata kepadanya saat melihatnya, &#8216;Sesungguhnya aku akan pergi.&#8217;</p>
<p>Dia pun menjawab, &#8216;Kemana?&#8217;</p>
<p>Abul &#8216;Ash berkata, &#8216;Bukan aku yang akan pergi, akan tetapi kamulah yang akan pergi ke bapakmu&#8217;</p>
<p>Dia bertanya, &#8216;Mengapa?&#8217;</p>
<p>Abul &#8216;Ash menjawab, &#8216;Untuk memisahkan antara aku denganmu. Maka kembalikan kepada bapakmu&#8217;.</p>
<p>Dia bertanya, &#8216;Apakah kamu akan menyertaiku dan masuk Islam?&#8217;</p>
<p>Dia menjawab, &#8216;Tidak.&#8217;</p>
<p>Maka Zainab mengambil putra dan putrinya, lalu pergi ke Madinah.</p>
<p>Mulailah para pelamar maju untuk melamarnya selama enam tahun tersebut. Dan dia pun menolak dengan harapan suaminya akan kembali kepadanya.</p>
<p>Setelah beberapa tahun, Abul &#8216;Ash keluar dengan kafilah dagang dari Makkah menuju Syam demi perniagaan penduduk Makkah. Ketika dia kembali menuju Makkah, dan bersama rombongannya yang mencapai seratus ekor onta, dan lebih dari seratus orang laki-laki, muncullah pasukan kecil dari pasukan-pasukan Rasulullah dekat Madinah. Maka pasukan itu pun menghadang rombongan dan menawan kaum laki-laki. Akan tetai Abul &#8216;Ash meloloskan diri darinya, dan pasukan itu tidak berhasil menangkapnya. Maka saat malam menjelang, Abul &#8216;Ash bersembunyi di kegelapan malam, lalu masuk ke Madinah dengan mengendap-endap, penuh ketakutan, hingga dia sampai ke Zainab, lalu meminta suaka kepadanya, dan dia pun memberikan suaka.</p>
<p>Zainab bertanya kepadanya saat dia melihat Abul &#8216;Ash, &#8216;Apakah kamu datang sebagai seorang muslim?&#8217;</p>
<p>Dia menjawab, &#8216;Bahkan aku sedang dalam keadaan melarikan diri.&#8217;</p>
<p>Zainab bertanya, &#8216;Maukah kamu masuk Islam?&#8217;</p>
<p>Dia menjawab, &#8216;Tidak.&#8217;</p>
<p>Zainab berkata, &#8216;Maka jangan takut, selamat datang wahai putra bibi, selamat datang wahai ayah Ali dan Umamah.&#8217;</p>
<p>Setelah Nabi mengimami kaum muslimin dalam shalat fajar, tiba-tiba terdengar suara dari belakang masjid, &#8216;Aku telah memberikan suaka kepada Abul &#8216;Ash ar-Rabi.&#8217;</p>
<p>Maka Nabi bersabda, &#8216;Apakah kalian mendengar apa yang telah kudengar?&#8217;</p>
<p>Mereka menjawab, &#8216;Ya, wahai Rasulullah.&#8217;</p>
<p>Berkatalah Zainab, &#8216;Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abul &#8216;Ash, jika dia jauh, maka dia adalah putra bibi, dan jika dia dekat, maka dia adalah ayah anak-anak-(ku), dan sungguh aku telah memberinya suaka wahai Rasulullah.&#8217;</p>
<p>Maka berdirilah Nabi seraya bersabda, &#8216;Wahai manusia, sesungguhnya laki-laki ini tidaklah aku mencelanya sebagai seorang menantu.&#8217; Dan sesungguhnya laki-laki ini berjanji kepadaku, dan menepatinya untukku. Maka jika kalian mau untuk mengembalikan hartanya, dan membiarkannya kembali ke negerinya, maka itu lebih aku sukai. Dan jika kalian menolak, maka perkaranya adalah ada pada kalian, dan hak kalian, aku tidak akan mencela kalian karenanya.&#8217;</p>
<p>Maka berkatalah manusia, &#8216;Bahkan kami berikan kepadanya hartanya, wahai Rasulullah.&#8217;</p>
<p>Maka Nabi bersabda, &#8216;Sungguh kami telah memberikan suaka kepada orang yang telah engkau beri suaka wahai Zainab.&#8217;</p>
<p>Kemudian beliau pergi ke rumah Zainab seraya berkata kepadanya, &#8216;Wahai Zainab muliakanlah dia, karena dia adalah putra bibimu, dan dia adalah ayah anak-anakmu, akan tetapi jangan sekali-kali dia mendekatimu, karena dia tidak halal bagimu.&#8217;</p>
<p>Zainab menjawab, &#8216;Ya, wahai Rasulullah.&#8217;</p>
<p>Maka Zainan pun masuk, dan berkata kepada Abul &#8216;Ash ar-Rabi&#8217;, &#8216;Wahai Abul &#8216;Ash, apakah ringan atasmu perpisahan kita? Maukah kamu masuk Islam dan tinggal bersama kami?</p>
<p>Dia menjawab, &#8216;Tidak. Lalu dia mengambil hartanya, dan kembali ke Makkah. Dan sesampainya dia di Makkah, dia berdiri seraya berkata, &#8216;Wahai manusia, ini adalah harta-harta kalian, apakah masih tersisa bagi kalian sesuatu?&#8217;</p>
<p>Maka mereka berkata, &#8216;Mudah-mudahan Allah membalasmu dengan kebaikan, engkau telah menunaikannya dengan sebaik-baiknya.&#8217;</p>
<p>Dia pun berkata, &#8216;Maka sesungguhnya aku telah bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah, dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah.&#8217;</p>
<p>Lalu dia pun kembali, dan masuk Madinah di waktu fajar, lalu menghadap kepada Nabi seraya berkata, &#8216;Wahai Rasulullah, kemarin Anda telah memberikan suaka perlindungan kepada saya, dan hari ini saya mengucapkan persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah, dan bahwa Anda adalah Rasulullah.&#8217;</p>
<p>Lalu dia berkata, &#8216;Wahai Rasulullah, apakah Anda mengizinkan saya untuk ruju&#8217; kepada Zainab?&#8217;</p>
<p>Maka Nabi pun memegangnya seraya berkata, &#8216;Mari bersamaku.&#8217;</p>
<p>Lalu beliau berdiri di rumah Zainab, kemudian mengetuk pintu seraya berkata, &#8216;Wahai Zainab, sesungguhnya putra bibimu datang kepadaku hari ini, dan meminta izin untuk meruju&#8217;mu, maka apakah kamu menerima?</p>
<p>Maka memerahlah wajahnya, dan tersenyum. Kemudian kembalilah suaminya, Abul &#8216;Ash kepadanya. Akan tetapi tidaklah berlangsung satu tahun sejak kembalinya mereka berdua sebagai pasangan suami istri melainkan Sayyidah Zainab meninggal. Lalu Abul &#8216;Ash pun menangisinya dengan tangisan yang keras, hingga manusia melihat Rasulullah mengusapnya dan menenangkannya.</p>
<p>Dia berkata kepada beliau, &#8216;Wahai Rasulullah, aku tidak kuasa menanggung dunia tanpa Zainab.&#8217; Maka diapun hidup dalam kesedihan karena kehilangan istrinya yang setia, yang hidup memenuhi hak-haknya. Saat ayah dan keluarganya hijrah bersama mereka, dia tidak meninggalkannya dan tidak meminta hijrah bersama mereka, lalu dia rela tinggal seorang diri di Makkah bersamanya.</p>
<p>Saat suaminya tertawan, dia menebusnya dengan harta termahal yang dimilikinya. Dan saat dia sampai di Madinah, dia bersabar dan tidak menerima pernikahan selainnya. Dan saat suaminya datang di Madinah, dia memuliakannya, dan meminta kepada bapaknya untuk melindunginya. Maka Abul &#8216;Ash tidak pernah melupakan semua itu.</p>
<p>Maka Abul &#8216;Ash pun hidup dalam kesedihan mengingat ketulusan cinta Zainab. Demikian pula Abul &#8216;Ash pun setia kepadanya, saat dia berdiri di hadapan seluruh Quraisy dan menolak permintaan mereka untuk menceraikannya.</p>
<p>Tidak lama setalah dua tahun kematian Sayyidah Zainab, dia pun meninggal dunia, dan seakan-akan dia ingin menyusul istrinya&#8230;</p>
<p>Dan terakhir, tidaklah kita mengatakan, kecuali mudah-mudahan Allah meridhai keduanya. <em>Aamiin.</em></p>
<p>Disalin dari majalan Qiblati edisi 01 tahun VII, November 2011 M &#8211; Rabi&#8217;ul Awwal 1432 H</p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=FRnNGP-68mM:aZWoEip9gL8:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=FRnNGP-68mM:aZWoEip9gL8:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?i=FRnNGP-68mM:aZWoEip9gL8:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=FRnNGP-68mM:aZWoEip9gL8:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=FRnNGP-68mM:aZWoEip9gL8:DN0H40_Ym5U"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=DN0H40_Ym5U" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=FRnNGP-68mM:aZWoEip9gL8:V-t1I-SPZMU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=V-t1I-SPZMU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=FRnNGP-68mM:aZWoEip9gL8:tr8VpXobKIM"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=tr8VpXobKIM" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=FRnNGP-68mM:aZWoEip9gL8:UT3xtbGYFzA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=UT3xtbGYFzA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=FRnNGP-68mM:aZWoEip9gL8:u0Zhe-nyOHo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=u0Zhe-nyOHo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=FRnNGP-68mM:aZWoEip9gL8:ACf-c_HutVc"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=ACf-c_HutVc" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogJilbabOnline/~4/FRnNGP-68mM" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/1227-cinta-sehidup-semati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://jilbab.or.id/archives/1227-cinta-sehidup-semati/</feedburner:origLink></item>
	</channel>
</rss><!-- Dynamic Page Served (once) in 2.361 seconds -->
