<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0">

<channel>
	<title>Jilbab Online</title>
	
	<link>http://jilbab.or.id</link>
	<description>-- Cocok Untuk Akhowat, Perlu Untuk Ikhwan --</description>
	<lastBuildDate>Sat, 21 Nov 2009 00:27:56 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" href="http://feeds.feedburner.com/BlogJilbabOnline" type="application/rss+xml" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com" /><item>
		<title>[kiamat 2012] KIAMAT YANG BEGITU DEKAT, MENGAPA HARUS DIRAMAL?</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/BlogJilbabOnline/~3/1TUrzqtoWU0/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/907-kiamat-2012-kiamat-yang-begitu-dekat-mengapa-harus-diramal/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 00:27:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sutikno bin Tumingan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[kiamat 2012]]></category>
		<category><![CDATA[ramalan kiamat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=907</guid>
		<description><![CDATA[Orang ramai bicara tentang kiamat,  saat kehancuran bumi yang kemudian diikuti dengan dibangkitkannya manusia kembali.  Kini semakin ramai diperbincangkan kembali.  Bukan masalah ada atau tidaknya kiamat, karena hampir semua orang percaya adanya kiamat.  Yang sedang hangat didiskusikan adalah kapan kiamat itu tiba.
Alam dunia adalah salah satu fase kehidupan yang dilalui oleh manusia, suatu saat nanti  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Orang ramai bicara tentang kiamat,  saat kehancuran bumi yang kemudian diikuti dengan dibangkitkannya manusia kembali.  Kini semakin ramai diperbincangkan kembali.  Bukan masalah ada atau tidaknya kiamat, karena hampir semua orang percaya adanya kiamat.  Yang sedang hangat didiskusikan adalah kapan kiamat itu tiba.</p>
<p><span id="more-907"></span>Alam dunia adalah salah satu fase kehidupan yang dilalui oleh manusia, suatu saat nanti  dunia ini akan berakhir dan manusia berpindah kepada fase kehidupan berikutnya yaitu alam akhirat. Akhir kehidupan dunia inilah yang disebut kiamat.</p>
<p>Sesungguhnya setiap makhluk hidup —apakah itu manusia, hewan, atau tumbuh-tumbuhan— memiliki tanda-tanda dari akhir kesudahan hidupnya di dunia.  Tanda-tanda dekatnya kematian manusia adalah rambut beruban, tua, sakit, atau lemah. Begitu juga halnya dengan hewan, hampir sama dengan manusia.  Sementara tumbuhan warna menguning, kering, jatuh, lalu hancur. Demikian juga alam semesta, memiliki tanda-tanda akhir masanya seperti kehancuran dan kerusakan.</p>
<p>Kiamat disebut juga dengan Sa&#8217;ah.   Sa&#8217;ah asalnya adalah sebagian malam atau siang.   Dikatakan juga bahwa sa&#8217;ah segala sesuatu berarti waktunya hilang dan habis.   Dari makna ini, sa&#8217;ah atau kiamat mengandung dua macam, yaitu:</p>
<p>Sa&#8217;ah khusus bagi setiap makhluk, seperti tanaman, binatang dan manusia ketika mati; dan bagi sebuah umat jika datang ajalnya. Itu semua dikatakan telah datang saatnya.</p>
<p>Sa&#8217;ah umum bagi dunia secara keseluruhan ketika ditiup sangkakala, maka hancurlah segala yang di langit dan di bumi.</p>
<p>Bagaimana dengan kiamat yang sebenarnya?  Tentu saja lebih dahsyat, lebih besar, dan lebih mengerikan.   Al-Quran banyak menyebutkan tentang kejadian di hari kiamat. Tanpa keraguan sedikit pun, kaum muslimin meyakini bahwa kiamat memang akan tiba. Kepastian terjadinya ditetapkan oleh dalil-dalil al-Quran dalam jumlah yang banyak.</p>
<p>Di antara dalil-dalil tersebut adalah:</p>
<blockquote><p>&#8220;Dan sesungguhnya Sa&#8217;ah (Hari Kiamat) Itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya;  dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur.&#8221; <strong>(Al-Hajj: 7)</strong>.</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya Hari Kiamat pasti akan datang, tidak ada keraguan tentangnya, akan tetapi kebanyakan manusia tiada beriman.&#8221; <strong>(Ghafir: 59)</strong>.</p></blockquote>
<p><strong>KEDATANGANNYA DIDAHULUI DENGAN TANDA </strong></p>
<p>Terjadinya kiamat adalah hal yang ghaib.  Hanya Allah yang tahu. Tidak satu pun makhluk-Nya mengetahui kapan kiamat, baik para nabi maupun malaikat.</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman,</p>
<blockquote><p>&#8220;Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat.&#8221; <strong>(Luqman:34)</strong></p></blockquote>
<p>Karena itulah, ketika ditanya tentang hal ini,  Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengembalikannya kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala,</p>
<blockquote><p>&#8220;Kepada-Nya lah dikembalikan pengetahuan tentang hari kiamat.&#8221; <strong>(Fushilat:47)</strong></p></blockquote>
<p>Allah merahasiakan terjadinya hari kiamat, dan menerangkan bahwa kiamat akan datang secara tiba-tiba.</p>
<blockquote><p>&#8220;Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: &#8216;Bilakah terjadinya?&#8217; Katakanlah:  &#8216;Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba.&#8217; Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: &#8216;Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui&#8217;&#8221; <strong>(Al-A&#8217;raf: 187)</strong></p></blockquote>
<p>Ibnu Katsir berkata, &#8220;Firman Allah, &#8216;Katakanlah: &#8216;Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku;  tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia&#8217; adalah perintah Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala kepada nabi-Nya Shallallahu Alaihi wa Sallam, apabila beliau ditanya tentang waktu terjadinya kiamat, hendaklah mengembalikan pengetahuan tentang itu kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala.  Sesungguhnya Dialah yang menjelaskan waktu kedatangannya atau mengetahui kejelasan<br />
perkara itu dan kapan kepastian waktunya.&#8217; (<strong>Tafsir Ibnu Katsir juz III hal. 518</strong>)</p>
<p>Meskipun tidak diketahui, kiamat sebenarnya sudah dekat waktu kedatangannya.  Allah nyatakan di dalam al-Quran,</p>
<blockquote><p>&#8220;Manusia bertanya kepadamu tentang Hari Berbangkit. Katakanlah, &#8216;Sesungguhnya pengetahuan tentang Hari Berbangkit itu hanya di sisi Allah.&#8217; Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi Hari Berbangkit itu sudah dekat waktunya.&#8221; <strong>(Al-Ahzab:63)</strong></p></blockquote>
<blockquote><p>&#8220;Telah dekat datangnya sa&#8217;ah itu dan telah terbelah bulan.&#8221; <strong>(Al-Qamar: 1)</strong>.</p></blockquote>
<p>Nabi  Shallalahu Alaihi wa Sallam, di antaranya, pernah bersabda menyatakan betapa dekatnya waktu datangnya hari kiamat,</p>
<blockquote><p>&#8220;Aku diutus, sedangkan aku dan Hari Kiamat adalah seperti ini,&#8217; beliau menyandingkan antara jari tengah dan jari telunjuk.&#8221; <strong>(Syu&#8217;abul Iman juz VII hal 259/260 no. 10235,  menurut penulisnya hadits ini dikeluarkan oleh Bukhari dari hadits Abu Hushain)</strong>.</p></blockquote>
<p>Dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim ketika Jibril datang kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bertanya tentang kapan Kiamat, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab,</p>
<blockquote><p>&#8220;Yang ditanya tentang Hari Kiamat tidak lebih mengetahui dari yang bertanya.&#8221; <strong>(Shahih al-Bukhari no. 48 dan Muslim no. 9)</strong></p></blockquote>
<p>Namun demikian, sesungguhnya Allah dengan rahmat-Nya telah menjadikan kiamat memiliki alamat yang menunjukkan ke arah itu dan tanda-tanda yang mengantarkannya.</p>
<blockquote><p>&#8220;Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat (yaitu) kedatangannya kepada mereka dengan tiba-tiba, karena sesungguhnya telah datang tanda-tanda-nya. Maka apakah faedahnya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila hari kiamat sudah datang?&#8221; <strong>(Muhammad: 18)</strong></p></blockquote>
<blockquote><p>&#8220;Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka), atau kedatangan Tuhanmu atau kedatangan sebagian tanda-tanda Tuhanmu.  Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Tuhanmu tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah:  &#8216;Tunggulah olehmu sesungguhnya kami pun menunggu (pula) <strong>(Al-An&#8217;am: 158)</strong></p></blockquote>
<p>Tanda-tanda kiamat adalah alamat kiamat yang menunjukkan akan terjadinya kiamat tersebut.  Tanda-tanda kiamat ada dua: tanda-tanda kiamat besar dan tanda-tanda kiamat kecil.</p>
<p>Tanda kiamat kecil adalah tanda yang datang sebelum kiamat dengan waktu yang relatif  lama, dan kejadiannya biasa, seperti dicabutnya ilmu, dominannya kebodohan, minum khamr,  berlomba-lomba dalam membangun, dan lain-lain. Terkadang sebagiannya muncul menyertai tanda kiamat besar atau bahkan sesudahnya.</p>
<p>Tanda kiamat besar adalah perkara yang besar yang muncul mendekati kiamat yang kemunculannya tidak biasa terjadi, seperti muncul Dajjal, Nabi Isa, datangnya Ya&#8217;juj dan Ma&#8217;juj, terbit matahari dari Barat, dan lain-lain.</p>
<p>Para ulama berbeda pendapat tentang permulaan yang muncul dari tanda kiamat besar.  Tetapi Ibnu Hajar berkata, &#8220;Yang kuat dari sejumlah berita tanda-tanda kiamat, bahwa keluarnya Dajjal adalah awal dari tanda-tanda kiamat besar, dengan terjadinya perubahan secara menyeluruh di muka bumi. Dan diakhiri dengan wafatnya Isa.&#8221;</p>
<p>Sedangkan terbitnya matahari dari barat adalah awal dari tanda-tanda kiamat besar yang mengakibatkan perubahan kondisi langit. Dan berakhir dengan terjadinya kiamat.&#8221; Ibnu Hajar melanjutkan, &#8220;Hikmah dari kejadian ini bahwa ketika terbit matahari dari barat, maka tertutuplah pintu taubat.&#8221; <strong>(Fathul Bari)</strong></p>
<p>Jadi kalau kita perhatikan, sebagian tanda kiamat kecil di atas jelas sudah kita jumpai di zaman kita dewasa ini. Bahkan bila kita buka kitab para ulama yang menghimpun hadits-hadits mengenai tanda-tanda kecil Kiamat, lalu kita baca satu per satu hadits-hadits tersebut hampir pasti setiap satu hadits selesai kita baca kita akan segera bergumam di dalam hati: &#8220;<em>Wah, yang ini sudah..!</em>&#8221; Hal ini akan selalu terjadi setiap habis kita baca satu hadits.  <em>La haula wa la quwwata illabillah&#8230;.</em></p>
<p>Jika tanda-tanda kecil Kiamat sudah hampir muncul seluruhnya berarti kondisi dunia dewasa ini berada di ambang menyambut kedatangan tanda-tanda besar Kiamat.</p>
<p><strong>SIAPA BISA MERAMAL KIAMAT? </strong></p>
<p>Banyak peramal meramaikan bursa dugaan datangnya kiamat.  Isaac Newton dikabarkan meramalkan kiamat pada tahun 2060. Sebagian orang beranggapan, berdasarkan perhitungan kalander bangsa Maya.   Kiamat, menurut anggapan mereka, terjadi pada tahun 2012, tepatnya 21 &#8216;Desember. Wow!</p>
<p>Bukan berarti anti kiamat,  namun terlalu na&#8217;if membenarkan sebuah prediksi yang kesannya terlalu dipaksakan. Memang saat ini kita masuk kedalam zaman akhir, namun akhir zaman tetaplah sebuah misteri kepunyaan Allah. Tidak ada dalam satu agama manapun yang menyebutkan secara eksplisit kapan terjadinya kiamat dengan secara terbuka.   Semua hanyalah bersifat tanda-tanda. Kiranya dengan begitu manusia menyadari bahwa setiap hari<br />
bisa menjadi akhir untuk hidup mereka di dunia dan tidak ada seorangpun di dunia ini yang diberi sebuah wewenang untuk mengetahui kapan secara pasti hari kiamat akan terjadi. Yang terjadi saat ini adalah sebuah kesoktahuan manusia untuk berusaha memprediksi angka jadi kapan dunia ini akan berakhir.</p>
<p>Terkait dengan akhir penanggalan panjang suku Maya jelas itu hanya hitung-hitungan yang penuh dugaan. Tidak layak seorang muslim mempercayai ramalan semacam itu. Kalaulah benar tahun 5126 M yang bertepatan dengan tahun 2012 M adalah tahun berakhirnya penanggalan mereka yang diyakini pula dengan berakhirnya dunia maka bukanlah berarti bahwa dunia ini akan hancur (kiamat), dikarenakan menurut kosmologi suku Maya bahwa bumi diciptakan 5 kali dan dihancurkan 4 kali. Dengan demikian siklus kalender Maya boleh berakhir, namun siklus baru akan kembali berulang.</p>
<p>Bahkan sebagian ahli mengatakan,</p>
<blockquote><p>&#8216;Ramalan-ramalan itu benar-benar tidak ada dasarnya sama sekali, apalagi di kebudayaan Maya yang kita kenal,&#8221; kata <strong>Stephen Houston, profesor antropologi di Brown University</strong>, yang juga ahli tulisan hieroglif Maya. &#8220;Penggambaran bangsa Maya tidak pernah menyebut-nyebut hal ini.&#8221;katanya.</p></blockquote>
<p>Bangsa Maya melihat bahwa tanggal tersebut adalah tanggal kalender mereka, tapi kemudian mengulang kalender mereka kembali tanpa adanya bencana sama sekali.</p>
<p>Sebagian meramal berdasar teori planet Nibiru, bantahan yang ada dari seorang ahli di NASA mengatakan &#8220;Kami saja sampai sekarang masih berdebat soal Pluto, tiba-tiba ada orang yang mengatakan adanya planet Nibiru. Dari mana ini? Lucu sekali, kami sampai sekarang belum bisa menemukan planet lain, sudah ada yang menemukan planet Nibiru pula,<br />
tanpa ada konfirmasi dari mana berita itu muncul.&#8221;</p>
<p>Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam  bersabda,</p>
<blockquote><p>&#8220;Kunci-kunci ghaib itu lima, &#8216;Sesungguhnya hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat, dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada didalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok, dan tiada yang seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal&#8221; <strong>(Shahih al-Bukharino.4261)</strong></p></blockquote>
<p>Al-Qurthubi menyebutkan pendapat Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa kelima kunci ghaib tersebut tidaklah ada yang mengetahuinya kecuali Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala.  Hal itu juga tidak diketahui oleh para malaikat, para Nabi yang diutus.  Karena itu barang siapa yang beranggapan bahwa dirinya mengetahui sesuatu tentang itu semua, maka orang itu telah mengingkari al-Quran dikarenakan ia telah menyalahinya.  <strong>(Al-Jami&#8217; Li Ahkamil Quran juz XIV hal. 400)</strong></p>
<p>Allah lah yang mengetahui kebenaran hakikinya, bahkan terhadap berbagai penafsiran tentang alam semesta ini, perkembangan alam maupun kehidupan yang seluruhnya merupakan teori-teori, seperti halnya teori ledakan besar, teori ini dan itu.  Sebagaimana sebuah teori, tentu akan ada pula sebagian ilmuwan lainnya yang melakukan penyanggahan terhadapnya dengan berbagai teori lainnya dan begitulah selanjutnya.  Adapun hakikat kebenarannya di dalam permasalahan ini tidaklah ada yang mengetahuinya kecuali Allah Azza wa Jalla, sebagaimana disebutkan didalam Al-Quran.</p>
<p>Lantas mengapa sebagian kita percaya dengan ramalan tersebut bahkan merasa harus menguatkan dengan uthak-athik dalil?</p>
<p>========<br />
disalin dari Majalah Fatawa, Vol. V / No.11 Dzulhijjah 1430-November 2009, hal. 8-11</p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=1TUrzqtoWU0:05rnb5mKEOY:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=1TUrzqtoWU0:05rnb5mKEOY:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?i=1TUrzqtoWU0:05rnb5mKEOY:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=1TUrzqtoWU0:05rnb5mKEOY:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=1TUrzqtoWU0:05rnb5mKEOY:DN0H40_Ym5U"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=DN0H40_Ym5U" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=1TUrzqtoWU0:05rnb5mKEOY:V-t1I-SPZMU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=V-t1I-SPZMU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=1TUrzqtoWU0:05rnb5mKEOY:tr8VpXobKIM"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=tr8VpXobKIM" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=1TUrzqtoWU0:05rnb5mKEOY:UT3xtbGYFzA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=UT3xtbGYFzA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=1TUrzqtoWU0:05rnb5mKEOY:u0Zhe-nyOHo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=u0Zhe-nyOHo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=1TUrzqtoWU0:05rnb5mKEOY:ACf-c_HutVc"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=ACf-c_HutVc" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogJilbabOnline/~4/1TUrzqtoWU0" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/907-kiamat-2012-kiamat-yang-begitu-dekat-mengapa-harus-diramal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://jilbab.or.id/archives/907-kiamat-2012-kiamat-yang-begitu-dekat-mengapa-harus-diramal/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Fitri: BESOK SAYA MAU JADI BAPAK</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/BlogJilbabOnline/~3/kcVnk1zAEm4/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/903-fitri-besok-saya-mau-jadi-bapak/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 23:12:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sutikno bin Tumingan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Obrolan Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Pribadi Shalihah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=903</guid>
		<description><![CDATA[Fitri: Besok Saya Mau Jadi Ayah
&#8220;Fit, tolong bantu Ibu mengemasi piring-piring ya,&#8221; kata Ibu suatu pagi. Saat itu Fitri sedang melihat seorang lelaki dengan berpakaian rapi membawa laptop dan berjalan menuju mobil. Laki-laki itu adalah bapak dari gadis kecil yang setiap pagi memandanginya, Fitri.   Begitu mobil berjalan, Fitripun membalikan badan menuju Ibu.
&#8220;Fitri, sebentar lagi mandi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Fitri: Besok Saya Mau Jadi Ayah</strong></p>
<p>&#8220;Fit, tolong bantu Ibu mengemasi piring-piring ya,&#8221; kata Ibu suatu pagi. Saat itu Fitri sedang melihat seorang lelaki dengan berpakaian rapi membawa laptop dan berjalan menuju mobil. Laki-laki itu adalah bapak dari gadis kecil yang setiap pagi memandanginya, Fitri.   Begitu mobil berjalan, Fitripun membalikan badan menuju Ibu.</p>
<p>&#8220;Fitri, sebentar lagi mandi ya, sekarang sudah jam 06.00,&#8221; sambung Ibu. Belum sempat menjawab perintah mandi, Fitri sudah mendengar perintah berikutnya: &#8220;Fit, jadwal pelajaran dibaca ya, buku-buku kamu tata sendiri&#8221;. Fitri melihat ibunya begitu sibuk.  Sepintas Fitri melihat wajah ibu yang kepayahan.<br />
<span id="more-903"></span><br />
Sore hari Fitri menyambut kepulangan bapak setelah bekerja. Tidak lupa orangtua Fitri membawa oleh-oleh buah kesukaannya, apel. &#8220;Fit ini buah kesukaanmu, apel,&#8221; kata bapak. &#8220;Terima kasih bapak,&#8221; ucap Fitri sambil menerima sebungkus buah apel.</p>
<p>Fitri terus memandangi langkah bapak, hingga akhimya menyelinap masuk kamar mandi. Fitri pun menunggu apalagi yang akan dikerjakan bapak setelah mandi.</p>
<p>Sebagaimana biasanya, Fitri melihat ibu membuatkan secangkir teh panas. Diletakkannya secangkir teh di atas meja belakang bersama pisang goreng kesukaan bapak.</p>
<p>Selepas mandi Fitri melihat bapak membawa koran menuju meja yang telah tersedia secangkir teh dan pisang goreng.  Bapak kelihatan asyik membaca koran sambil sesekali menyeruput teh panas buatan Ibu.  Sambil terus membaca koran, pisang goreng kesukaannya dimakan oleh bapak.</p>
<p>&#8220;Bu, nanti setelah Isya bapak ada undangan,  rapat di kampung, tolong anak-anak didampingi belajar ya,&#8221; kata bapak kepada kepada Ibu.</p>
<p>Malampun berjalan. Setelah shalat Isya bapak berangkat menghadiri rapat, ibu pun mendampingi Fitri dan Farhan, kakak Fitri, untuk belajar.</p>
<p>&#8220;Bu, ibu capek ya,&#8221; kata Farhan.&#8221;Iya nak, ibu capek. Ini jari-jari ibu memar terkena muntu saat nguleg lombok, kuku ibu juga tergores saat mengiris bawang,  kaki ibu kutu airnya juga kambuh karena berlama-lama mencuci piring, dan badan ibu juga terasa pegal-pegal karena hari ini listrik mati sehingga ibu tidak bisa mencuci dengan mesin cuci.&#8221;  Begitu banyak keluhan ibu.</p>
<p>Seakan Fitri membaca buku, namun sesungguhnya ia konsentrasi mendengarkan keluhan Ibu. <strong> &#8220;Tidak enak ya jadi ibu, seharian bekerja mengurus rumah, capek,&#8221; celetuk Fitri spontan, &#8220;besok saya mau jadi bapak saja.&#8221;</strong></p>
<p>Fitri anak berusia tujuh tahun yang duduk di bangku kelas dua Seko]ah Dasar merasakan ketidaknyamanannya menjadi Ibu, pagi kerja menyiapkan sarapan untuk semua keluarga dan siang membereskan seisi rumah. Fitri juga melihat enaknya menjadi bapak, pagi telah disiapkan makan dan sepulang kerja bisa santai membaca sambil minum dan makan-makan.<br />
Pemandangan sehari-hari atas bapaknya yang tidak kelihatan bekerja dipandang oleh anak menyenangkan.</p>
<p>Persoalan juga muncul dari ibu, ibu tidak menunjukan antusiasme kepada anak atas pekerjaan yang dilakukannya. Anak terus-menerus mendengar keluhan yang mengakibatkan ingin menghindari pekerjaan sebagaimana yang ibu kerjakan. Lain ceritanya jika ibu mengkomunikasikan atas pekerjaan harian dengan penuh antusias, semangat, dan energik, tentu anakpun akan terobsesi.</p>
<p>Sebagai bapak, mesti menunjukan kebersamaannya dengan keluarga. Sesekali bapak mesti mencuci, mengiris bawang, merebus air, dan mengelap kaca. Hal ini untuk menunjukkan bahwa pekerjaan rurnah merupakan tanggung jawab bersama. Sesekali anak perlu diajak ke tempat kerja bapak, agar anak melihat apa yang dilakukan bapak di tempat kerja.</p>
<p>Insya Allah, jika demikian kondisinya, Fitri akan berkata: <strong>&#8216;Hebat ya, ibu! Bisa menyelesaikan pekerjaan rumah dengan baik, pasti ibu pahalanya banyak. Enak ya jadi ibu, bisa beramal shalih tanpa harus keluar rumah.</strong> Terhadap bapakpun akan punya persepsi positif, <strong>&#8220;Wah ternyata bapak di kantor pekerjaannya banyak juga ya.&#8221;</strong></p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=kcVnk1zAEm4:rlOFHR8oKjk:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=kcVnk1zAEm4:rlOFHR8oKjk:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?i=kcVnk1zAEm4:rlOFHR8oKjk:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=kcVnk1zAEm4:rlOFHR8oKjk:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=kcVnk1zAEm4:rlOFHR8oKjk:DN0H40_Ym5U"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=DN0H40_Ym5U" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=kcVnk1zAEm4:rlOFHR8oKjk:V-t1I-SPZMU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=V-t1I-SPZMU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=kcVnk1zAEm4:rlOFHR8oKjk:tr8VpXobKIM"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=tr8VpXobKIM" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=kcVnk1zAEm4:rlOFHR8oKjk:UT3xtbGYFzA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=UT3xtbGYFzA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=kcVnk1zAEm4:rlOFHR8oKjk:u0Zhe-nyOHo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=u0Zhe-nyOHo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=kcVnk1zAEm4:rlOFHR8oKjk:ACf-c_HutVc"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=ACf-c_HutVc" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogJilbabOnline/~4/kcVnk1zAEm4" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/903-fitri-besok-saya-mau-jadi-bapak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://jilbab.or.id/archives/903-fitri-besok-saya-mau-jadi-bapak/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>AL KHANSA : IBUNDA 4 MUJAHID SEJATI</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/BlogJilbabOnline/~3/Y2574sMrpTQ/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/896-al-khansa-ibunda-4-mujahid-sejati/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Oct 2009 01:53:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sutikno bin Tumingan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=896</guid>
		<description><![CDATA[Pengantar:
Empat putera Khansa yang gugur menyongsong syahadah&#8230;
Siapakah gerangan di balik mereka?
Ada pepatah yang tak asing di telinga kita, di belakang tokoh mulia, pasti ada wanita yang mulia.
Bagaimana Al Khansa, seorang ibu yang mulia, mengantarkan keempat puteranya menjadi seorang mujahid sejati?

Sekelumit kisah beliau, kami salinkan untuk Anda, wahai para Ibunda.  Semoga bermanfaat.
Dialah al-Khansa&#8217;, wanita Arab pertama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pengantar:<br />
Empat putera Khansa yang gugur menyongsong syahadah&#8230;<br />
Siapakah gerangan di balik mereka?<br />
Ada pepatah yang tak asing di telinga kita, di belakang tokoh mulia, pasti ada wanita yang mulia.</p>
<p>Bagaimana Al Khansa, seorang ibu yang mulia, mengantarkan keempat puteranya menjadi seorang mujahid sejati?<br />
<span id="more-896"></span><br />
Sekelumit kisah beliau, kami salinkan untuk Anda, wahai para Ibunda.  Semoga bermanfaat.</p>
<p>Dialah al-Khansa&#8217;, wanita Arab pertama yang jago bersyair. Para sejarawan sepakat bahwa sejarah tak pernah mengenal wanita yang lebih jago bersyair dari pada al-Khansa&#8217;, sebelum maupun sepeninggal dirinya. Konon mulanya ia tak pandai bersyair, ia hanya bisa melantunkan dua atau tiga bait saja.</p>
<p>Namun di zaman jahiliyah, tatkala saudara kandungnya yang bernama Mu&#8217;awiyah bin Amru as -Sulami terbunuh, ia meratapi kematiannya dalam beberapa bait syair.<br />
Lalu menyusullah saudara seayahnya yang terbunuh pula, namanya Shakhr.<br />
Konon al-Khansa&#8217; amat mencintai saudaranya yang satu ini, karena ia amat penyabar, penyantun, dan penuh perhatian terhadap keluarga. Kematiannya menyebabkannya sangat terpukul, lalu muncullah bakat bersyairnya yang selama ini terpendam.  Dan mulailah ia melantunkan bait demi baik meratapi kematian saudaranya.  Semenjak itulah ia mulai banyak bersyair dan syairnya semakin indah.</p>
<p><strong>Keislaman al-Khansa&#8217; dan Kaumnya</strong><br />
Tatkala mendengar dakwah Islam, al-Khansa&#8217; datang bersama kaumnya —Bani Sulaim— menghadap Rasulullah dan menyatakan keislaman mereka. Ahli-ahli sejarah menceritakan bahwa pernah suatu ketika Rasulullah menyuruhnya melantunkan syair, kemudian karena kagum keindahan syairnya, beliau mengatakan, &#8220;Ayo teruskan, tambah lagi syairnya, wahai Khansa&#8217;!&#8221; sambil mengisyaratkan dengan telunjuk beliau.</p>
<p><strong>Wasiat al-Khansa&#8217; Bagi Keempat Anaknya</strong><br />
Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa al-Khansa&#8217; dan keempat putranya ikut serta dalam perang al-Qadisiyyah.</p>
<p>Menjelang malam pertama mereka di al-Qadisiyyah, al-Khansa berwasiat kepada putera-puteranya,</p>
<p>&#8220;Wahai anak-anakku, kalian telah masuk Islam dengan taat dan berhijrah dengan penuh kerelaan. Demi Allah yang tiada ilah yang haqq selain Dia. kalian adalah putera dari laki-laki yang satu sebagaimana kalian juga putera dari wanita yang satu. Aku tak pernah mengkhianati ayah kalian, tak pernah mempermalukan khal) kalian, tak pernah mempermalukan nenek moyang kalian, dan tak<br />
pernah menyamarkan nasab kalian.</p>
<p>Kalian semua tahu betapa besar pahala yang Allah siapkan bagi orang-orang yang beriman ketika berjihad melawan orang-orang kafir. Ketahuilah bahwa negeri akhirat yang kekal jauh lebih baik dari negeri dunia yang fana. Allah Azza wa Jalla berfirman,</p>
<blockquote><p>&#8220;Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.&#8221; (Qs. Ali Imran: 200)</p></blockquote>
<p>Andaikata esok kalian masih diberi kesehatan oleh Allah, maka perangilah musuh kalian dengan gagah berani, mintalah kemenangan atas musuhmu dari Ilahi.</p>
<p>Apabila pertempuran mulai sengit dan api peperangan mulai menyala, terjunlah kalian ke jantung musuh, habisilah pemimpin mereka saat perang tengah berkecamuk, mudah-mudahan kalian meraih ghanimah dan kemuliaan di negeri yang kekal dan penuh kenikmatan.&#8221;</p>
<p><strong>Kepahlawanan Keempat Anaknya</strong><br />
Terdorong oleh nasihat ibunya, keempat puteranya tampil dengan gagah berani. Mereka bangkit demi mewujudkan impian sang ibunda. Dan tatkala fajar menyingsing, majulah keempat puteranya menuju kamp-kamp musuh.</p>
<p>Sesaat kemudian, dengan pedang terhunus anak pertama memulai serangannya sambil bersyair,</p>
<blockquote><p>
Saudaraku, ingatlah pesan ibumu<br />
tatkala ia menasehatimu di waktu malam..<br />
Nasehatnya sungguh jelas dan tegas,<br />
&#8220;Majulah dengan geram dan wajah muram!&#8221;</p>
<p>Yang kalian hadapi nanti hanyalah<br />
anjing-anjing Sasan yang mengaum geram..</p>
<p>Mereka telah yakin akan kehancurannya,<br />
maka pilihlah antara kehidupan yang tenteram<br />
atau kematian yang penuh keberuntungan</p></blockquote>
<p>Ibarat anak panah, anak pertama melesat ke tengah-tengah musuh dan berperang mati-matian hingga akhirnya gugur. Semoga Allah merahmatinya.<br />
Berikutnya, giliran yang kedua maju menyerang sembari melantunkan,</p>
<blockquote><p>Ibunda adalah wanita yang hebat dan tabah,<br />
pendapatnya sungguh tepat dan bijaksana</p>
<p>Ia perintahkan kita dengan penuh bijaksana,<br />
sebagai nasihat yang tulus bagi puteranya</p>
<p>Majulah tanpa pusingkan jumlah mereka<br />
dan raihlah kemenangan yang nyata</p>
<p>Atau kematian yang sungguh mulia<br />
di jannatul Firdaus yang kekal selamanya</p></blockquote>
<p>Kemudian ia bertempur hingga titik darah yang penghabisan menyusul saudaranya ke alam baka. Semoga Allah merahmatinya.</p>
<blockquote><p>Lalu yang ketiga ambil bagian. Ia maju mengikuti jejak saudaranya, seraya bersyair,</p>
<p>Demi Allah, takkan kudurhakai perintah ibu<br />
perintah yang sarat dengan rasa kasih sayang</p>
<p>Sebagai kebaktian nan tulus dan kejujuran<br />
maka majulah dengan gagah ke medan perang..</p>
<p>hingga pasukan Kisra terpukul mundur atau biarkan mereka tahu,<br />
bagaimana cara berjuang</p>
<p>Janganlah mundur karena itu tanda kelemahan<br />
raihlah kemenangan meski maut menghadang</p></blockquote>
<p>Kemudian ia terus bertempur hingga mati terbunuh. Semoga Allah merahmatinya.</p>
<p>Lalu tibalah giliran anak terakhir yang menyerang. Ia maju seraya melantunkan,</p>
<blockquote><p>
Aku bukanlah anak si Khansa&#8217; maupun Akhram<br />
tidak juga Umar atau leluhur yang mulia,</p>
<p>Jika aku tak menghalau pasukan Ajam,<br />
melawan bahaya dan menyibak barisan tentara</p>
<p>Demi kemenangan yang menanti, dan kejayaan<br />
ataulah kematian, di jalan yang lebih mulia</p></blockquote>
<p>Lalu ia pun bertempur habis-habisan hingga gugur.  Semoga Allah meridhainya beserta ketiga saudaranya.</p>
<p>Tatkala berita gugurnya keempat anaknya tadi sampai telinga al-Khansa&#8217;, ia hanya tabah sembari mengatakan,<br />
&#8220;Segala puji bagi Allah yang memuliakanku dengan kematian mereka. Aku berharap kepada-Nya agar mengumpulkanku bersama mereka dalam naungan rahmat-Nya.&#8221;</p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=Y2574sMrpTQ:00xeq3lgXOc:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=Y2574sMrpTQ:00xeq3lgXOc:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?i=Y2574sMrpTQ:00xeq3lgXOc:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=Y2574sMrpTQ:00xeq3lgXOc:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=Y2574sMrpTQ:00xeq3lgXOc:DN0H40_Ym5U"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=DN0H40_Ym5U" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=Y2574sMrpTQ:00xeq3lgXOc:V-t1I-SPZMU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=V-t1I-SPZMU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=Y2574sMrpTQ:00xeq3lgXOc:tr8VpXobKIM"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=tr8VpXobKIM" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=Y2574sMrpTQ:00xeq3lgXOc:UT3xtbGYFzA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=UT3xtbGYFzA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=Y2574sMrpTQ:00xeq3lgXOc:u0Zhe-nyOHo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=u0Zhe-nyOHo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=Y2574sMrpTQ:00xeq3lgXOc:ACf-c_HutVc"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=ACf-c_HutVc" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogJilbabOnline/~4/Y2574sMrpTQ" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/896-al-khansa-ibunda-4-mujahid-sejati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://jilbab.or.id/archives/896-al-khansa-ibunda-4-mujahid-sejati/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>SUAMIKU BUKAN LELAKI SEMPURNA</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/BlogJilbabOnline/~3/oJBLyzF353I/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/892-suamiku-bukan-lelaki-sempurna/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Oct 2009 19:27:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sutikno bin Tumingan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Obrolan Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Pribadi Shalihah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=892</guid>
		<description><![CDATA[SUAMIKU BUKAN LELAKI SEMPURNA
Nikah Vol. 4, No. 6, September 2005
Dulu di tengah hangatnya teh panas dan sepotong rotii di pagi hari, saya dan teman-teman satu kos sering ngobrol tentang sosok ikhwan atau suami ideal.
Menurut kami seorang ikhwan yang paham agama pastilah sosok yang amat &#8217;super&#8217;. Super ngemong, sabar, romantis, dan sebagainya, tiada cela dan noda. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SUAMIKU BUKAN LELAKI SEMPURNA<br />
Nikah Vol. 4, No. 6, September 2005</p>
<p>Dulu di tengah hangatnya teh panas dan sepotong rotii di pagi hari, saya dan teman-teman satu kos sering ngobrol tentang sosok ikhwan atau suami ideal.</p>
<p>Menurut kami seorang ikhwan yang paham agama pastilah sosok yang amat &#8217;super&#8217;. Super ngemong, sabar, romantis, dan sebagainya, tiada cela dan noda. Dalam pikiran polos kami saat itu, seorang ikhwan itu pasti <em>ittibaussunnah</em> dalam segala hal, termasuk dalam berumah tangga.</p>
<p>Namun seiring berjalannya waktu akhirnya saya menyadari, ternyata dulu kami melupakan satu hal. Yaitu bahwa seorang ikhwan adalah juga manusia, yang tentu saja memiliki sifat &#8220;manusiawi&#8221;. Mereka pun memiliki sederet masalah, dan mereka bukan malaikat. Jadi, tidak layak tentunya jika berbagai tuntutan kita bebankan kepada mereka.<br />
<span id="more-892"></span><br />
Membangun harapan adalah sah-sah saja. Hanya saja, jangan kaget setelah bertemu realita. Setelah menikah, menyatukan dua hati yang berbeda bukanlah hal mudah. Menginginkan sosok suami yang bisa menyelesaikan konflik tanpa menyisakan sedikit pun sakit hati atau masalah adalah harapan berlebihan.</p>
<p>Apalagi mengharap suami yang full romantis di antara sekian beban yang ditanggungnya. Suami kita hanyalah laki-laki biasa yang punya masa lalu dan latar belakang berbeda dengan kita. Mereka seperti kita juga, punya banyak kelemahan di samping kelebihannya.</p>
<p>Lantas apakah harus kecewa kalau sudah dapat suami tapi masih jauh dari harapan waktu muda? Tidak juga. Hal terpenting adalah jangan lagi berandai-andai dan mengeluh. Berpikirlah progresif, jangan regresif. Pikirkan solusi, jangan mempertajam konflik atau mendramatisir keadaan. Komunikasikan apa yang ada dalam benak kita dalam situasi terbaik.</p>
<p>Fitrah wanita dengan porsi perasaan yang lebih dominan seharusnya menjadikan kaum hawa lebih pintar memilih waktu curhat yang tepat. Sikap &#8220;<em>nrimo</em>&#8221; atas kekurangan suami bisa jadi pilihan tepat untuk mengurangi tingkat kekecewaan.</p>
<p>Konsepnya semakin Anda melihat perbedaan, semakin terluka hati ini (self-fulfilling prophecy).   Jadi, carilah titik persamaan untuk meraih kebahagiaan. Dan ingat, dari sekian akhwat yang ada, Andalah yang terpilih untuk menjadi belahan hatinya. Karena itu cintailah suami Anda apa adanya.</p>
<p>Bagi para akhwat yang belum menikah, tetaplah &#8220;memanusiakan&#8221; manusia. Para ikhwan itu adalah seperti diri kita juga. Mereka bukan Superman. Ingat pula bahwa jodoh ada di tangan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Tetaplah perbaiki diri baik secara dien maupun fisik. Masalah siapa suami dan bagaimana sosok suami kita kelak adalah hak prerogatif Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala.</p>
<p>Singkirkan sederetan tuntutan &#8220;super&#8221; bagi calon suami. Semakin banyak tuntutan, bila tak terpenuhi akan membuat tingkat kekecewaan semakin tinggi. Percayalah pada janji Allah, bahwa suami yang baik adalah untuk istri yang baik pula, insya Allah. Lagi pula Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah menegaskan dalam salah satu haditsnya bahwa memilih suami adalah karena ketinggian agama dan akhlaknya, bukan prioritas sekunder lainnya.</p>
<p>Akhir kata, yuk, sembari menyeruput teh panas, kita ganti topik menjadi ~Bagaimana menjadi istri ideal.~ <em>Wallahu a&#8217;lam</em>.<br />
(Ummu Aisyah).</p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=oJBLyzF353I:P-_j9e1wiew:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=oJBLyzF353I:P-_j9e1wiew:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?i=oJBLyzF353I:P-_j9e1wiew:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=oJBLyzF353I:P-_j9e1wiew:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=oJBLyzF353I:P-_j9e1wiew:DN0H40_Ym5U"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=DN0H40_Ym5U" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=oJBLyzF353I:P-_j9e1wiew:V-t1I-SPZMU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=V-t1I-SPZMU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=oJBLyzF353I:P-_j9e1wiew:tr8VpXobKIM"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=tr8VpXobKIM" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=oJBLyzF353I:P-_j9e1wiew:UT3xtbGYFzA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=UT3xtbGYFzA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=oJBLyzF353I:P-_j9e1wiew:u0Zhe-nyOHo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=u0Zhe-nyOHo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=oJBLyzF353I:P-_j9e1wiew:ACf-c_HutVc"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=ACf-c_HutVc" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogJilbabOnline/~4/oJBLyzF353I" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/892-suamiku-bukan-lelaki-sempurna/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://jilbab.or.id/archives/892-suamiku-bukan-lelaki-sempurna/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Rapatkan dan Luruskan Shaf (Barisan) Sholat</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/BlogJilbabOnline/~3/qGTI-pJl6Bs/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/890-rapatkan-dan-luruskan-shaf-barisan-sholat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 05:55:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ummuumar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=890</guid>
		<description><![CDATA[Penulis memperhatikan bahwa pada sebagian besar masjid/musholla yang telah penulis kunjungi untuk melaksanakan sholat, senantiasa terdapat beberapa wanita yang melaksanakan sholat berjama&#8217;ah namun antar jama&#8217;ah wanita tersebut terdapat jarak/celah yang lebarnya bahkan sampai  1 (satu) meter.  Terkadang bila sholat berjama&#8217;ah dan penulis bermaksud merapatkan shaf, maka jama&#8217;ah disebelah kanan/kiri malah semakin menjauhkan kaki mereka dari kaki penulis.
Kedua kondisi diatas membuat sedih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis memperhatikan bahwa pada sebagian besar masjid/musholla yang telah penulis kunjungi untuk melaksanakan sholat, senantiasa terdapat beberapa wanita yang melaksanakan sholat berjama&#8217;ah namun antar jama&#8217;ah wanita tersebut terdapat jarak/celah yang lebarnya bahkan sampai  1 (satu) meter.  Terkadang bila sholat berjama&#8217;ah dan penulis bermaksud merapatkan shaf, maka jama&#8217;ah disebelah kanan/kiri malah semakin menjauhkan kaki mereka dari kaki penulis.</p>
<p>Kedua kondisi diatas membuat sedih penulis,  karena dalam Islam pada saat melaksanakan sholat berjama&#8217;ah kita dianjurkan untuk senantiasa meluruskan shaf dan menutup celahnya (merapatkannya).</p>
<p>Hal tersebut berdasarkan hadits &#8216;Aisyah Radhiallahu &#8216;anha, dia bercerita : Rasulullah Shollallahu &#8216;alayhi wa Sallam bersabda :<span id="more-890"></span></p>
<p>“Sesungguhnya Allah dan Para Malaikat-Nya bershalawat atas orang-orang yang menyambung barisan. Barang siapa menutupi kerenggangan (yang ada dalam barisan), niscaya dengannya Allah akan meninggikannya satu derajat.” (HR. Ibnu Majah,Ahmad, Ibnu Khuzaimah,Al-Hakim,  dinilai Shahih oleh Adz-Dzahabi dan al-Albani).</p>
<p>Dari &#8216;Abdullah bin &#8216;Umar Radhiallahu &#8216;anhumaa, Rasulullah Shollallahu &#8217;alayhi wa Sallam bersabda:</p>
<p>“Barang siapa yang menyambung shaff niscaya Allah akan menyambungnya. Dan barang siapa memutuskan shaff niscaya Allah &#8216;Azza wa Jalla pun akan memutuskannya”. (HR. An-nasa&#8217;i, Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah, Al-Hakim, dinilai shahih oleh Al-Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi dan dinilai shahih oleh Al-Albani).</p>
<p>Dari Abu Mas&#8217;ud radhiallahu &#8216;anhu, ia berkata : “Adalah Rasulullah Shollallahu &#8216;alayhi wa Sallam mengusap pundak-pundak kami dengan berkata :</p>
<p>“Luruskanlah shaf-shaf kalian dan janganlah berselisih sehingga hati kalian akan berselisih”. (HR. Muslim)</p>
<p>Beliau juga pernah berkata :<br />
“Luruskanlah shaf-shaf kalian, jika tidak, maka Allah akan menimpakan<br />
perselisihan di antara kalian”. (HR. Bukhari &amp; Muslim)</p>
<p>Sehingga bengkoknya shaf akan mengakibatkan permusuhan dan pertentangan hati, kekurangan iman dan hilangnya kekhusyu&#8217;an.</p>
<p>Sebagaimana lurusnya sebuah shaf termasuk (sebagian dari) kesempurnaan sholat, yang demikian itu diungkapkan  di dalam sabda Rasulullah shollallaahu &#8216;alayhi wa Sallam,</p>
<p>“Karena lurusnya shaf itu sebagian dari kesempurnaan shalat.” (HR. Muslim).</p>
<p>Di dalam riwayat lain :</p>
<p>“Karena lurusnya shaf itu sebagian dari baiknya sholat”(HR. Al-Bukhari &amp; Muslim).</p>
<p>Ya Ukhty Muslimah, mari rapatkan dan luruskan shaf kita. Semoga dengannya, Allah mengangkat derajat kita, menjauhkan perselisihan dan permusuhan di antara kita. Amiin&#8230;</p>
<p>Sumber :<br />
1.Ensiklopedi Shalat menurut Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah, Dr. Sa&#8217;id bin &#8217;Ali bin Wahf al-Qahthani, Pustaka Imam Asy-Syafi&#8217;i , Hal 580-581<br />
2.Ensiklopedi Mini Keutamaan Sholat Berjama&#8217;ah , Prof. Dr. Fadhl Ilahi ,  Salwa Press, Hal. 42<br />
3.Pengaruh Shalat terhadap Iman dan Jiwa Menurut Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah, Husain bin &#8216;Audah al-&#8217;Awayisyah, Pustaka Imam Asy-Syafi&#8217;i, Hal. 18</p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=qGTI-pJl6Bs:VtPjEzcN-FE:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=qGTI-pJl6Bs:VtPjEzcN-FE:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?i=qGTI-pJl6Bs:VtPjEzcN-FE:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=qGTI-pJl6Bs:VtPjEzcN-FE:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=qGTI-pJl6Bs:VtPjEzcN-FE:DN0H40_Ym5U"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=DN0H40_Ym5U" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=qGTI-pJl6Bs:VtPjEzcN-FE:V-t1I-SPZMU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=V-t1I-SPZMU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=qGTI-pJl6Bs:VtPjEzcN-FE:tr8VpXobKIM"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=tr8VpXobKIM" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=qGTI-pJl6Bs:VtPjEzcN-FE:UT3xtbGYFzA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=UT3xtbGYFzA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=qGTI-pJl6Bs:VtPjEzcN-FE:u0Zhe-nyOHo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=u0Zhe-nyOHo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=qGTI-pJl6Bs:VtPjEzcN-FE:ACf-c_HutVc"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=ACf-c_HutVc" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogJilbabOnline/~4/qGTI-pJl6Bs" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/890-rapatkan-dan-luruskan-shaf-barisan-sholat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://jilbab.or.id/archives/890-rapatkan-dan-luruskan-shaf-barisan-sholat/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Suamiku Super Ganteng…</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/BlogJilbabOnline/~3/z-Ux2pH8Y1U/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/849-suamiku-super-ganteng%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 02:07:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>JO admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Nikah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=849</guid>
		<description><![CDATA[Mas Budi –sebut saja begitu- tersenyum. Sejenak ia memandang wajah istrinya. Agak heran, “Ada apa, ya, dengan istriku, kok pakai memuji segala?” Begitulah salah satu reaksi suami ketika pertama kali menjumpai sang istri memuji dirinya. Hampir semua suami pasti senang mendengarnya,tak jarang malah melambung tinggi ke udara, apalagi yang memuji tersebut adalah orang yang paling [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mas Budi –sebut saja begitu- tersenyum. Sejenak ia memandang wajah istrinya. Agak heran, “Ada apa, ya, dengan istriku, kok pakai memuji segala?” Begitulah salah satu reaksi suami ketika pertama kali menjumpai sang istri memuji dirinya. Hampir semua suami pasti senang mendengarnya,tak jarang malah melambung tinggi ke udara, apalagi yang memuji tersebut adalah orang yang paling dicintai. Memuji suami adalah sesuatu yang dianjurkan bagi para istri.Ini termasuk perkara yang terpuji dalam rangka menyenangkan hati suami. Bila ikhlas dilakukan demi sang suami tercinta, insya Alloohu Ta’ala berpahala.</p>
<p><span id="more-849"></span><strong>Kaum Adam pun Sama</strong></p>
<p>Urusan puji memuji bukan hanya spesial buat kaum wanita. Pria pun ingin dan butuh suatu pujian. Kalau para suami itu mau jujur, sebenarnya perasaan mereka tidak jauh beda dengan para istri, dalam hal keinginan untuk dipuji.</p>
<p>Pujian, bagi kita menandakan suatu penghargaan terhadap kelebihan atau usaha jerih payah kita. Sudah jadi kodratnya, manusia itu suka dihargai dan berharap sekali setiap orang menghargai terlebih istri tercinta.</p>
<p>Reaksi suami ketika dipuji pun tak beda jauh dengan para istri. Tersenyum, tertawa, malu-malu, atau yang lainnya sebagaimana umum terjadi pada wanita.</p>
<p><strong>Yang boleh dan dilarang</strong><br />
Pada asalnya hukum memuji boleh-boleh saja. Kapan pun dan buat siapa pun. Namun, ada pengecualian dan itu termasuk pujian yang dilarang, yaitu jika pujian kita tersebut berlebihan, atau ada tujuan tertentu yang bertentangan dengan syariat agama, seperti menjilat atasan, dan lain sebagaimanya. Termasuk juga dalam larangan yaitu pujian yang membuat sombong, sum’ah dan ujub.</p>
<p>Larangan memuji demikian itu diisyaratkan oleh Rasulullaah shalallahu’alaihi wassallaam,</p>
<blockquote><p>“Janganlah kalian mengagungkanku seperti yang diperbuat orang Nasrani terhadap Isa bin Maryam, karena sebenarnya aku tidak lebih dari hamba Allah. Sebut saja aku ini hamba Allah dan rasul-Nya (Riwayat Bukhari).</p></blockquote>
<p>Dari hadits di atas dapat diambil pelajaran bahwa pujian itu harus sesuai dengan kenyataan, tidak boleh berlebih-lebihan (sampai keluar dari yang sebenarnya).</p>
<p><strong>Saat tepat memuji suami</strong><br />
Agar manjur pujian Anda (para istri), hendaknya Anda tahu kapan saat yang tepat memuji sang suami. Karena saat yang tepat itulah akan tercapai tujuan, yaitu membuat suami ternyum, malu-malu, bahagia dan semakin cinta pada Anda.</p>
<p>Bagaimana caranya? Tips berikut insyaAllah bisa Anda pratikkan:</p>
<ol>
<li><strong>Puji suami saat berhasil dalam tugasnya</strong>, caranya:
<ul>
<li>Seusai suami menceritakan keberhasilannya dalam tugas (apa pun), peluklah dirinya dan bisikkan kata-kata mesra, seperti <em>I love you</em>, mas hebat deh, aku bangga dengan mas dan lain sebagainya</li>
<li>Cium suami sebagai tanda terima kasih atas pengorbanan dia demi membahagiakan keluarga</li>
<li>Butkan masakan spesial sebagai hadiah buat dirinya. Katakan kalau ini hadiah istimewa dari Anda, insya Allah suami akan tambah sayang</li>
</ul>
</li>
<li><strong>Puji suami sehabis ia mandi</strong>, caranya:
<ul>
<li>Sehabis mandi, saat ia sedang berhias memperganteng diri pujilah ia, <em>“Aduh, suamiku kok ganteng banget yah!”</em>. Yakinlah ia akan tersenyum atau malu-malu.</li>
<li>Cemburui dia saat tampil rapi, tunjukkan bahwa Anda takut kalau-kalau penampilannya tersebut membuat wanita lain meliriknya. Tunjukkan pula kalau Anda takut kehilangan dia.</li>
</ul>
</li>
<li><strong>Puji suami saat bangun tidur</strong>, caranya:
<ul>
<li>Baik bangun tidur untuk shalat malam maupun bangun tidur biasa, pujilah dirinya. Sambil tersenyum katakan, <em>“Mas, matanya sipit tambah cakep, deh!”</em> kemudian cium tangannya.</li>
<li>Tanyakan padanya minta dibuatkan masakan apa untuk sarapan atau makan siang. Ingatkan suami untuk segera mandi, sholat atau segera menyelesaikan pekerjaannya. Ini akan membuat suami merasa benar-benar diperhatikan.</li>
</ul>
</li>
<li><strong>Puji suami setelah membantu Anda</strong>, caranya:
<ul>
<li>Saat membantu, sediakan baginya minuman hangat atau sekedar camilan.</li>
<li>Cium tangannya, dan katakan, <em>“Mas adalah suami yang hebat, sayang banget sama istri, ya?”</em>. Sebagai penghargaan kepadanya karena sudah membantu pekerjaan Anda.</li>
<li>Tawari untuk memijat dirinya jika ia kelelahan.</li>
<li>Katakan padanya kalau nanti dirinya mengerjakan sesuatu dan butuh bantuansuruh bilang saja, Anda akan siap membantunya.</li>
</ul>
</li>
<li><strong>Puji suami sehabis jima’</strong>, caranya:
<ul>
<li>Pandangi wajah suami, ucapkan terima kasih padanya karena telah memberi yang terbaik buat Anda.</li>
<li>Segera mengambil minuman untuk suami, dan kalau bisa diminum bersama sebagai tanda sayang dan untuk menambah kemesraan.</li>
</ul>
</li>
</ol>
<p>Demikianlah sekelumit contoh sederhana dalam membahagiakan suami Anda wahai para Istri…</p>
<p><strong>Buat Anda, para Suami</strong><br />
Bila suami sering dipuji sang istri, itu artinya istri semakin sayang kepada Anda. Istri senang, bahagia dan bangga dengan apa yang Anda lakukan kepadanya dan berharap untuk senantiasa seperti itu, kalau bisa selamanya. Pujian istri juga bermakna bahwa Anda telah menyenangkan dirinya, membuatnya bahagia. Satu kisah dari Ibnu Abbas radhiallahu anhu seorang sahabat Nabi shalallahu’alaihi wassallaam, bisa menjadi pelajaran bagi Anda akan pentingnya menyenangkan hati istri, sebagaimana Anda juga berharap demikian. Ibnu Abbas radhiallahu anhu berkata,</p>
<blockquote><p>“Aku berdandan diri untuk kepentingan istriku sebagaimana ia berdandan untuk kepentinganku. Aku tidak mau hanya menikmati hakku dari dirinya tetapi aku pun ingin ia memperoleh haknya dariku. Karena Allah subhannahu ta’ala telah menyatakan,</p>
<blockquote><p>“…dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf..” (Al-baqarah: 228)</p></blockquote>
</blockquote>
<p>Dengan demikian, satu hal yang lumrah bila Anda harus berbuat yang terbaik buat sang istri tercinta. Namun perlu jadi catatan, apa pun pujian istri terhadap Anda tidak kemudian menjadikan Anda sombong atau ujub. Pula, jangan sampai setiap apa yang Anda lakukan buat istri bertujuan agar dipuji olehnya. Klau niatnya sudah begitu jelas hal tersebut keliru. Biarlah pujian itu keluar secara alamiah, bukan sesuatu yang menjadi niat Anda. Niat Anda tetap satu yaitu ingin menyenangkan hati istri, menyayangi dirinya, dan menjalankan perintah agama.karena yang demikian itu yang berpahala, selain itu berdosa. Wallaahu a’lam.</p>
<p>Oleh karena itu, kenapa harus berat atau malu untuk memuji sang kekasih hati? (Abu Zalfa)</p>
<p><strong>Rujukan:</strong></p>
<ol>
<li><strong>Bimbingan Islam untuk Pribadi dan Masyarakat</strong> oleh Syaikh Muhammad bin Zainu.</li>
<li><strong>40 Tanggung Jawab Suami Terhadap Istri</strong> oleh Drs. M. Thalib</li>
</ol>
<hr />Ditulis kembali dengan sedikit revisi oleh Ummu Tsaqiif dari majalah <strong>Nikah vol.2 No.10 2004</strong>.</p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=z-Ux2pH8Y1U:XBh4WWqV5dQ:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=z-Ux2pH8Y1U:XBh4WWqV5dQ:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?i=z-Ux2pH8Y1U:XBh4WWqV5dQ:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=z-Ux2pH8Y1U:XBh4WWqV5dQ:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=z-Ux2pH8Y1U:XBh4WWqV5dQ:DN0H40_Ym5U"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=DN0H40_Ym5U" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=z-Ux2pH8Y1U:XBh4WWqV5dQ:V-t1I-SPZMU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=V-t1I-SPZMU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=z-Ux2pH8Y1U:XBh4WWqV5dQ:tr8VpXobKIM"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=tr8VpXobKIM" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=z-Ux2pH8Y1U:XBh4WWqV5dQ:UT3xtbGYFzA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=UT3xtbGYFzA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=z-Ux2pH8Y1U:XBh4WWqV5dQ:u0Zhe-nyOHo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=u0Zhe-nyOHo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=z-Ux2pH8Y1U:XBh4WWqV5dQ:ACf-c_HutVc"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=ACf-c_HutVc" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogJilbabOnline/~4/z-Ux2pH8Y1U" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/849-suamiku-super-ganteng%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://jilbab.or.id/archives/849-suamiku-super-ganteng%e2%80%a6/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Hadiah Nabawiyah Untuk Menghapus Musibah</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/BlogJilbabOnline/~3/rauq048Ruq4/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/877-hadiah-nabawiyah-untuk-menghapus-musibah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Oct 2009 14:57:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sutikno bin Tumingan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Pribadi Shalihah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=877</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Abu Maryam Majdi Fathi As-Sayyid
Saudariku Muslimah &#8230;
Ini adalah hadiah nabawiyah kepada para wanita yang dengannya Allah menghapus musibah darimu,  mengeluarkanmu dari kesulitan-kesulitan dan menjadikan sebuah kebahagiaan untukmu dari kesedihan dan jalan keluar dari kesusahan.
Ini benar-benar hadiah.
Ini benar-benar ghanimah (harta ramapasan perang).

Sahabiyah yang mulia Ummu Salamah radhiyallahu &#8216;anhuma meriwayatkan kepada kita, dia berkata: Saya mendengar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Abu Maryam Majdi Fathi As-Sayyid</p>
<p>Saudariku Muslimah &#8230;<br />
Ini adalah hadiah nabawiyah kepada para wanita yang dengannya Allah menghapus musibah darimu,  mengeluarkanmu dari kesulitan-kesulitan dan menjadikan sebuah kebahagiaan untukmu dari kesedihan dan jalan keluar dari kesusahan.</p>
<p>Ini benar-benar hadiah.<br />
Ini benar-benar ghanimah (harta ramapasan perang).</p>
<p><span id="more-877"></span></p>
<p>Sahabiyah yang mulia Ummu Salamah radhiyallahu &#8216;anhuma meriwayatkan kepada kita, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:</p>
<blockquote><p>&#8220;Tidaklah seorang hamba yang tertimpa musibah lalu dia berkata &#8216;<strong><em>Inna lillaahi wa innaa ilaihi rooji&#8217;uun, allohumma &#8216;jurni fii mushiibatii wa akhlif lii khoirom-minhaa&#8217; </em></strong>(Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali, ya Allah berikanlah pahala kepadaku dalam musibahku dan gantilah untukku yang lebih baik daripadanya), kecuali Allah subhanahu wa ta&#8217;ala memberikan pahala kepadanya dalam musibahnya dan menggantinya dengan yang lebih baik.&#8221;<br />
<strong>[Hadits shahih diriwayatkan oleh Muslim 918, Abu Daud 3119, Ahmad 6/313, Abdur Razzaq 5/564 dalam Al-Mushannaf, At-Tirmidzi 3578, Ibnu Majah 1598, dan Ath-Thayalisi 809]</strong></p></blockquote>
<p>Ummu Salamah radhiyallahu &#8216;anhuma berkata: Ketika Abu Salamah meninggal, saya mengucapkan: &#8220;Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu pahala di sisi-Mu dengan musibahku tentang Abu Salamah, ya Allah berilah ganti kepadaku dengan yang lebih baik daripadanya, dan aku<br />
mengulang-ulang dalam diriku: Yang lebih baik dari Abu Salamah, maka datanglah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melamarku dan menikahiku.&#8221;</p>
<p><strong>&#8220;Tidak ada seorang hamba yang tertimpa musibah&#8221;, </strong><br />
musibah disini mencakup musibah yang sedikit dan banyak, yang besar maupun yang kecil, sebab lafazhnya dalam bentuk nakirah (tanpa alif dan lam) dengan di tanwin, hal itu menunjukan umum dan menyeluruh.</p>
<p><strong><em>Inna lillaahi wa innaa ilaihi rooji&#8217;uun </em></strong><br />
&#8220;Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali&#8221;, yakni Dzat kita dan semua yang dinisbatkan kepada kita adalah milik dan makhluk Allah, Dia berbuat kepada kita sebagaimana kehendak-Nya, semuanya adalah pinjaman yang (mesti) dikembalikan sebagaimana ditunjukkan oleh Allah subhanahu wa ta&#8217;ala dengan firman-Nya: &#8220;Dan kepada-Nya lah kami kembali.&#8221;</p>
<p>Maka kita wajib sabar terhadap musibah dan merenungkan hakikat perkara ini. Manfaat perkara ini bagi wanita yang tertimpa musibah tidak terletak pada pengucapan lafazh doa itu semata, hal itu tidak berguna, akan tetapi manfaatnya diperoleh dengan merenungkannya dengan sebenar-benarnya, sungguh hal itu adalah obat mujarab yang mendorong kepada kesempurnaan kesabaran bahkan itulah hakikat ridha.</p>
<p>Saudariku Muslimah &#8230;<br />
Allah subhanahu wa ta&#8217;ala menjadikan kalimat-kalimat mulia ini sebagai pegangan bagi orang-orang yang tertimpa musibah karena terkandung di dalamnya makna-makna yang penuh berkah dan rahasia-rahasia Rabbaniyah.</p>
<p><em><strong>allohumma &#8216;jurni</strong></em><br />
&#8220;Berikanlah ganjaran dan pahala kepadaku &#8220;.</p>
<p><em><strong>fii mushiibatii</strong></em><br />
&#8220;Musibah&#8221;, adalah semua hal yang tidak diinginkan yang terjadi pada diri seseorang, yakni berikanlah pahala kepadaku, pahala yang menyertai musibah atau karenanya.</p>
<p><em><strong>wa akhlif lii </strong></em><br />
&#8216;<em>akhlafa&#8217;</em> dari <em>&#8216;ikhlaafu&#8217;</em> karena apa yang terganti dikatakan kepadanya (<em>akhlafa alaika</em>) dan apa yang tidak terganti seperti ayah yang meninggal dinamakan (<em>kholafa alaika</em>).</p>
<p><strong>&#8220;Allah mengganti baginya dengan yang lebih baik&#8221;, </strong><br />
hal itu karena ketenangannya di bawah keputusan-keputusan Allah, kesabarannya terhadap apa yang menimpanya dan Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang baik dalam beramal.</p>
<p>Hadiah nabawiyah yang satu ini banyak dilupakan oleh kebanyakan manusia kecuali yang diberi rahmat oleh Allah subhanahu wa ta&#8217;ala.</p>
<p>Dan engkau wahai Saudariku muslimah membutuhkannya untuk menghapus musibah yang menimpamu siang malam. Oleh karena itu, jadikanlah doa-doa nabawiyah tersebut sebagai benteng dan perisaimu yang menjaga dan melindungimu dari musibah yang menimpamu.</p>
<p>Di dalam hadiah nabawiyah di atas, terdapat janji pemberian ganti yang lebih baik atas musibah, baik di dunia -dan itulah kabar gembira yang disegerakan bagi seorang mukminah-, maupun di akhirat, dan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.</p>
<p>==dari: Bingkisan Istimewa bagi Muslimah, Abu Maryam Majdi Fathi As-Sayid, Darul Haq, hal138-140==</p>
<p><!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } 		A.sdfootnoteanc { font-size: 57% } --></p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=rauq048Ruq4:RW9wefzGG5M:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=rauq048Ruq4:RW9wefzGG5M:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?i=rauq048Ruq4:RW9wefzGG5M:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=rauq048Ruq4:RW9wefzGG5M:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=rauq048Ruq4:RW9wefzGG5M:DN0H40_Ym5U"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=DN0H40_Ym5U" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=rauq048Ruq4:RW9wefzGG5M:V-t1I-SPZMU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=V-t1I-SPZMU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=rauq048Ruq4:RW9wefzGG5M:tr8VpXobKIM"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=tr8VpXobKIM" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=rauq048Ruq4:RW9wefzGG5M:UT3xtbGYFzA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=UT3xtbGYFzA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=rauq048Ruq4:RW9wefzGG5M:u0Zhe-nyOHo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=u0Zhe-nyOHo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=rauq048Ruq4:RW9wefzGG5M:ACf-c_HutVc"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=ACf-c_HutVc" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogJilbabOnline/~4/rauq048Ruq4" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/877-hadiah-nabawiyah-untuk-menghapus-musibah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://jilbab.or.id/archives/877-hadiah-nabawiyah-untuk-menghapus-musibah/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Dengan 5 Hal Ini, Kau Akan Berbahagia Bersamaku, Istriku…*</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/BlogJilbabOnline/~3/5Z2nwEXyqC4/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/856-dengan-5-hal-ini-kau-akan-berbahagia-bersamaku-istriku%e2%80%a6%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Sep 2009 03:46:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Mu'amalah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=856</guid>
		<description><![CDATA[*diketik ulang oleh Humaira Ummu Abdillah dari majalah al-mawwaddah, Edisi I Tahun ke-3,Sya’ban 1430H/2009,Rubrik: Taman Pasutri, oleh: Ustadz Abu Amar al-Ghoyami hal:29-30*
Suami Anda mungkin tidak pernah berkata-kata secara terbuka dan apa adanya kepada Anda. Setiap Anda bertanya kepadanya ia selalu menjawab dengan mendahulukan perasaannya. Akibatnya, Anda tidak bisa puas dengan jawabannya yang memang sangat sedikit.Bila [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>*diketik ulang oleh Humaira Ummu Abdillah dari majalah al-mawwaddah, Edisi I Tahun ke-3,Sya’ban 1430H/2009,Rubrik: Taman Pasutri, oleh: Ustadz Abu Amar al-Ghoyami hal:29-30*</p>
<p>Suami Anda mungkin tidak pernah berkata-kata secara terbuka dan apa adanya kepada Anda. Setiap Anda bertanya kepadanya ia selalu menjawab dengan mendahulukan perasaannya. Akibatnya, Anda tidak bisa puas dengan jawabannya yang memang sangat sedikit.Bila ini terjadi pada suami Anda, maka Anda harus tahu bahwa memang tidak semua laki-laki bisa begitu saja terbuka, namun benar-benar ada tipe suami yang memang pendiam dan pemalu.<span id="more-856"></span></p>
<p>Berikut tips yang bisa digunakan oleh istri untuk mengambil hati suaminya yang pendiam dan pemalu yang menurut hasil penelitan telah terbukti banyak memberi faedah bagi istri untuk bisa hidup berbahagia bersama suaminya.</p>
<p> <strong>1. Jadilah Istri Yang Menghormati Suami</strong></p>
<p>Bila istri menghormati suaminya, maka dengan mudahnya suami pun akan menghormatinya. Namun, bila istri tidak bisa menghormati suaminya maka selamanya ia akan menderita disisi suaminya. Mengapa? Apakah memang sikap saling menghormati merupakan kebutuhan asasi bagi suami yang tidak bisa ditawar-tawar lagi sehingga mereka mewajibkannya atas istri?</p>
<p>Banyak istri yang bila telah melahirkan anak suaminya beranggapan bahwa ia akan terus damai disisi suaminya. Ia menyangka akan senantiasa bahagia disisi suaminya hanya dengan telah lahirnya anak suaminya. Akibat dari sangkaan dan duga-duga ini akhirnya banyak istri yang lupa atau tidak lagi memandang perlu sikap hormat kepada suaminya. Ia banyak merendahkan suaminya dan menyepelekannya.</p>
<p>Ketahuilah, istri yang menghormati suaminya ialah istri-istri penduduk surga. Tidaklah Anda ingin meneladani mereka? Rasulullah shalallahu alaihi wassalam pernah bersabda:</p>
<blockquote><p> “Maukah aku kabarkan kepada kalian para istri kalian di surga? Wanita yang penyayang, sangat subur, dan suka kembali berbuat baik yang apabila berbuat aniaya ia akan mengatakan, ‘ Ini tanganku ada diatas tanganmu, aku tidak bisa sekejap pun memejamkan mata sehingga engkau ridho kepadaku”</p></blockquote>
<p>Bukankah meminta maaf merupakan bentuk penghormatan yang tinggi? Bukankah mengulurkan tangan mengharapkan maaf suami merupakan sikap hormat istri kepadanya?  Maka, bila Anda ingin menghormati suami, jadilah istri yang sabar atas kekhilafannya. Jadilah istri yang tidak pernah menentang suami saat ia marah. Jadilah istri yang menghargai dan menghormati cemburu suami. Jadilah istri yang bisa menjaga suami. Jadilah istri yang tidak enggan meminta maaf. Enggan meminta maaf suami adalah bukti kesombongan istri. Tunjukkan rasa hormat dan perhatian Anda kepada suami dihadapan orang lain, baik saat ia bersamamu maupun saat ia tidak hadir disisimu. Dengan begitu, Anda telah menghormatinya dan insya Allah Anda akan senantiasa bahagia disisinya. Perkataan yang mudah terucap dan mudah menghancurkan rumah tangga ialah, “ Aku tidak akan menghormatimu lagi”.</p>
<p> <strong>2. Jadilah Istri Yang Bertanggung Jawab</strong></p>
<p>Banyak istri mengeluhkan perihal suaminya yang tidak bertanggung jawab. Sementara banyak pula suami yang menganggap istrinya tidak bertanggung jawab.</p>
<p>Dalam masalah ini, penting sekali kita menilik kisah Asma’, putri Abu Bakar ash Shidiq. Ia adalah istri yang ikut memikul tanggung jawab dirumah suaminya secara sempurna. Bahkan ia tetap menjaga dan menghormati perasaan serta kecemburuan suaminya.</p>
<p>Suaminya ialah Zubair, seorang sahabat yang fakir. Asma’ pun tahu bahwa suaminya sangat membutuhkan kesiapannya untuk ikut memikul tanggung jawab keluarga bersamanya. Ia biasa mengurusi makanan kuda Zubair, menjahit tempat airnya, menumbuk gandum, mengusung biji-bijian dari kebun dan lain-lainnya. Namun begitu, ia sangat menyadari bahwa keadaanya tidak boleh mengurangi rasa hormatnya kepada suaminya. Ia tetap menjaga perasaan suaminya dan kecemburuannya. Ia lebih memilih mengusung biji-bijian diatas pundaknya dengan berjalan kaki daripada naik untuk padahal ada kaum laki-laki bersamanya. Hal itu hanya demi menghargai kecemburuan suaminya. Sehingga dihadapan istri yang sangat menghargai dan bertanggung jawab inilah sosok seorang suami pun luluh hatinya sehingga ia berkata, “ Demi Allah, pengorbananmu untuk membawa biji-bijian itu jauh lebih berat bagiku daripada dudukmu diatas unta Rasulullah shalallahu aalaihi wassalam”.Memang , Asma’ lebih mendahulukan kecemburuan suaminya sehingga tidak menerima tawaran Rasulullah Shalallahualaihi wassalam untuk naik di unta beliau saat mengusung biji-bijian.</p>
<p> <strong>3. Jadilah Istri Yang Terbuka dan Menghargai Perasaan</strong></p>
<p>Ketenteraman perasaan dipengaruhi oleh terungkapnya isi hati pasutri. Ungkapan isi hati tentang rasa cinta kasih istri terhadap suami merupakan factor utama untuk mewujudkan kebahagiaan rumah tangga. Para suami sangat membutuhkan hal itu, sebagaimana istripun membutuhkannya. Bahkan Rasulullah Shalallahu aalaihi wassalam membolehkan istri berdusta dalam pengungkapan rasa cinta dan kasihnya terhadap suaminya demi terwujudnya kehangatan hubungan berumah tangga dan demi terpeliharanya ikatan pernikahan.  Lalu,mengapa pasutri tidak melakukannya? Mengapa para istri tidak mengutarakan isi hatinya kepada suaminya tentang sesuatu yang bisa membahagiakan kehidupan rumah tangganya?</p>
<p><strong>4. Percayalah Kepada Suamimu</strong></p>
<p>Rasa cemburu merupakan bukti yang sangat kuat akan besarnya cinta dan kasih istri kepada suaminya. Sehingga rasa cemburu terkadang dibutuhkan untuk mengungkapkan isi hati istri kepada suaminya bahwa ia mencintai dan mengasihinya. Bahkan, sifat pencemburu merupakan hal yang lazim bagi wanita. Namun cemburu ada dua, sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam:</p>
<blockquote><p>“ Ada diantara sifat cemburu ada yang dicintai dan ada pula yang dibenci oleh Allah. Adapun cemburu yang dicintai Allah adalah cemburu dalam keragu-raguan, sedangkan cemburu yang dibenci oleh Allah ialah cemburu tidak dalam keragu-raguan”</p></blockquote>
<p>Cemburu tidak boleh menghilangkan kepercayaan istri kepada suaminya dengan memastikan bahwa suaminya telah salah dan menyeleweng, misalnya si istri mengatakan: “ Mengapa kamu telat pulang?” atau “ Darimana saja tadi kamu pergi?” atau “ Berapa banyak wanita yang bekerja ditempat kerjamu?” Semua perkataan ini dan yang senada ialah cemburu yang tidak baik sebab didasari penetapan bahwa suaminya telah salah dan menyeleweng, bukan dibangun diatas kepercayaan atau sekadar duga-duga dan rasa ragu yang akan hilang dengan penjelasan dari suami.</p>
<p> <strong>5. Jadilah Istri Yang Berakhlak Terpuji</strong></p>
<p>Seorang suami yang shahih akan merasa bahagia dan terpenuhi kebutuhan asasinya bila beristrikan seorang wanita yang baik akhlaknya. Wanita yang buruk ialah wanita yang perkataannya selalu bermakna ancaman, ucapan dan suaranya kasar, tidak mau tahu kebaikan orang lain atasnya, dan suka mencari-cari keburukan orang lain. Selain itu, ia juga tidak mengasihi suami, sedikit rasa malunya, suka mencela, pemarah, rumahnya kotor, suka menunjuk dengan tangan dan jarinya, biasa berdusta, dan selalu meneteskan air mata buaya. Istri yang berakhlak terpuji tidak memiliki sifat-sifat tersebut. Bahkan, disaat ia sedang cemburu sekalipun, ia hanya akan menyebut kebaikan suami yang tidak bisa tidak harus membuatnya cemburu.Semoga dengan 5 hal in Anda, para istri , akan berbahagia bersama suami Anda. Wallahul Muwaffiq.</p>
<hr />
<p style="text-align: justify;"><strong>Catatan kaki:</strong></p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=5Z2nwEXyqC4:XcWzbL9q_ZI:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=5Z2nwEXyqC4:XcWzbL9q_ZI:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?i=5Z2nwEXyqC4:XcWzbL9q_ZI:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=5Z2nwEXyqC4:XcWzbL9q_ZI:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=5Z2nwEXyqC4:XcWzbL9q_ZI:DN0H40_Ym5U"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=DN0H40_Ym5U" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=5Z2nwEXyqC4:XcWzbL9q_ZI:V-t1I-SPZMU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=V-t1I-SPZMU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=5Z2nwEXyqC4:XcWzbL9q_ZI:tr8VpXobKIM"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=tr8VpXobKIM" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=5Z2nwEXyqC4:XcWzbL9q_ZI:UT3xtbGYFzA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=UT3xtbGYFzA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=5Z2nwEXyqC4:XcWzbL9q_ZI:u0Zhe-nyOHo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=u0Zhe-nyOHo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=5Z2nwEXyqC4:XcWzbL9q_ZI:ACf-c_HutVc"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=ACf-c_HutVc" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogJilbabOnline/~4/5Z2nwEXyqC4" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/856-dengan-5-hal-ini-kau-akan-berbahagia-bersamaku-istriku%e2%80%a6%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://jilbab.or.id/archives/856-dengan-5-hal-ini-kau-akan-berbahagia-bersamaku-istriku%e2%80%a6%e2%80%a6/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Jangan Biarkan Puasa Anda Sia-Sia (bag.2)</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/BlogJilbabOnline/~3/NsjmWBfY_7U/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/838-jangan-biarkan-puasa-anda-sia-sia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Sep 2009 23:44:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sutikno bin Tumingan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[kesalahan puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=838</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Betapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain lapar dan dahaga.&#8221; (Hr. Ahmad)
Pada bagian kedua ini, syaikh Abdul Aziz As Sadhan memaparkan koreksi beliau mengenai:

 mengakhirkan adzan maghrib
mengakhirkan berbuka
tidak bersiwak setelah matahari condong ke barat
merasa tertekan karena di pagi hari dalam kondisi junub

Selamat membaca&#8230;
7. Mengakhirkan Adzan Maghrib
Kesalahan lain yang berkaitan dengan muadzin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>&#8220;Betapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain lapar dan dahaga.&#8221; (Hr. Ahmad)</p></blockquote>
<p>Pada bagian kedua ini, syaikh Abdul Aziz As Sadhan memaparkan koreksi beliau mengenai:</p>
<ol>
<li> mengakhirkan adzan maghrib</li>
<li>mengakhirkan berbuka</li>
<li>tidak bersiwak setelah matahari condong ke barat</li>
<li>merasa tertekan karena di pagi hari dalam kondisi junub</li>
</ol>
<p>Selamat membaca&#8230;</p>
<p><span id="more-838"></span><strong>7. Mengakhirkan Adzan Maghrib</strong></p>
<p>Kesalahan lain yang berkaitan dengan muadzin pada bulan Ramadhan, ada sebagian orang tidak mengumandangkan adzan kecuali setelah kegelapan merata, dan tidak cukup hanya dengan terbenamnya matahari saja. Mereka beranggapan bahwa itu merupakan sikap lebih berhati-hati dalam ibadah. Perbuatan ini termasuk menyelisihi sunnah. Sebab, menurut sunnah, hendaknya adzan dikumandangkan ketika matahari terbenam dengan sempurna, sedangkan acuan yang lain tidak dianggap. Allah Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<blockquote><p>&#8220;&#8230;kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam&#8230;&#8221; (Al-Baqarah: 187)</p></blockquote>
<p>Allah Ta&#8217;ala menjadikan batasan puasa dengan masuknya waktu malam. Sedangkan, masuknya waktu malam ditandai dengan terbenamnya matahari, sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:</p>
<blockquote><p>&#8220;Apabila waktu malam telah tiba dari sini dan waktu siang telah pergi dari sini dan matahari telah terbenam, maka orang yang puasa (boleh) berbuka.&#8221; (HR. Bukhari dan Muslim)</p></blockquote>
<p>Imam Muhammad bin Nashr Al-Marwazi rahimahullahu, setelah menyebutkan ayat di atas, mengatakan, &#8220;Para ulama sepakat bahwa bila matahari telah terbenam, berarti telah masuk waktu malam dan orang yang puasa dibolehkan berbuka.&#8221;</p>
<p><strong><em>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah</em></strong> pernah ditanya tentang terbenamnya matahari, apakah dibolehkan bagi orang yang puasa berbuka dengan sekedar melihat terbenamnya matahari? Syaikhul Islam rahimahullah menjawab, &#8220;Bila bulatan matahari seluruhnya telah terbenam, maka orang yang berpuasa boleh berbuka. Sodangkan, warna merah menyala yang masih terlihat di ufuk itu tidak perlu dianggap. Bila bulatan matahari seluruhnya telah sirna, maka akan tampak warna hitam di ufuk timur, sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,</p>
<blockquote><p>&#8220;Apabila waktu malam telah tiba dari sini dan waktu siang telah pergi dari sini dan matahari telah terbenam, maka orang yang puasa (boleh) berbuka&#8221; </p></blockquote>
<p><strong>8. Mengakhirkan Berbuka</strong></p>
<p>Termasuk kesalahan yang banyak dilakukan kaum muslimin adalah mengakhirkan buka puasa. Di sini ada dua kesalahan;</p>
<p><em><span style="text-decoration: underline;">pertama</span></em><span style="text-decoration: underline;">,</span> hal itu pada umumnya akan menyebabkan terlambatnya pelaksanaan shalat Maghrib. Bahkan, terkadang bisa menyebabkan habisnya waktu shalat Maghrib secara keseluruhan. Ini tentu saja musibah yang lebih besar dan lebih pahit. Karena itu, seorang muslim harus segera buka puasa agar bisa shalat berjamaah bersama kaum muslimin.</p>
<p><em><span style="text-decoration: underline;">Kedua</span></em><span style="text-decoration: underline;">,</span> mengakhirkan buka puasa berarti menyelisihi sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan menyerupai kaum yahudi dan nasrani. Hal ini dijelaskan oleh dalil-dalil berikut. Diriwayatkan dari Sahl bin Sa&#8217;ad, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,</p>
<blockquote><p>&#8220;Manusia senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.&#8221; (HR. Bukhari dan Muslim).</p></blockquote>
<p>Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda:</p>
<blockquote><p>&#8220;Umatku senantiasa di atas sunnahku selama tidak menunggu munculnya bintang-bintang untuk berbuka puasa.&#8221; (HR. Ibnu Hibban).</p></blockquote>
<p>Diriwayatkan dari Abu Darda&#8217;, ia berkata,</p>
<blockquote><p>&#8220;Ada tiga akhlak kenabian; menyegerakan berbuka puasa; mengakhirkan makan sahur; dan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di dalam shalat.&#8221; (HR. Thabarani, hadits mauquf).</p></blockquote>
<p>Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:</p>
<blockquote><p>&#8216;Agama (Islam) ini akan senantiasa unggul selama pemeluknya menyegerakan berbuka, karena yahudi dan nasrani mengakhirkan (berbuka).&#8221; (HR. Ahmad dan Tirmidzi)</p></blockquote>
<p><strong><em>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu</em></strong> mengatakan, &#8220;Ini merupakan dalil, bahwa kemenangan agama Islam yang didapatkan dengan menyegerakan berbuka puasa itu karena menyelisihi kaum yahudi dan nasrani. Bila menyelisihi mereka merupakan sebab kemenangan agama, sedangkan Allah mengutus para rasul agar agama yang hak dimenangkan-Nya terhadap semua agama, maka menyelisihi orang-orang yahudi dan nasrani termasuk tujuan terbesar diutusnya rasul.&#8221;</p>
<p><strong>9. Tidak Bersiwak Setelah Matahari Condong ke Bara</strong>t</p>
<p>Kesalahan lain yang berkaitan dengan puasa adalah keengganan sebagian umat Islam bersiwak setelah matahari condong ke Barat. Mereka juga mengingkari orang yang bersiwak pada waktu tersebut. Di antara argumen pengingkaran mereka bahwa bersiwak itu menghilangkan bau mulut, padahal di sisi Allah, bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi dari minyak kasturi, sebagaimana yang tertera dalam sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:</p>
<blockquote><p>&#8220;Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, bau mulut orang puasa itu lebih wangi di sisi Allah daripada minyak kasturi.&#8221; (HR. Bukhari dan Muslim) </p></blockquote>
<p><strong><em>Imam Asy-Syaukani</em></strong> mengisyaratkan hal ini dalam kitab Nailul Author ketika menyebutkan perbedaan pendapat terkait bau mulut orang puasa, apakah itu terjadi di dunia atau di akhirat. Asy-Syaukani mengatakan, &#8220;Perbedaan pendapat ini berakibat munculnya pendapat yang memakruhkan bersiwak bagi orang berpuasa.&#8221; </p>
<p>Dalil lain yang mereka jadikan argumen adalah hadits yang diriwayatkan oleh Baihaqi, Ath- Thabrani, dan Daruquthni dari Ali radhiyallahu anhu secara mauquf serta dari Khabbab radhiyallahu anhu secara marfu&#8217; bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,</p>
<blockquote><p>&#8220;Bila kalian puasa, maka bersiwaklah pada pagi hari dan jangan bersiwak pada sore hari. Karena sesungguhnya, tidaklah kedua bibir orang puasa kering pada sore hari, kecuali akan menjadi cahaya antara kedua matanya pada hari kiamat.&#8221;</p></blockquote>
<p><strong>Ini adalah hadits dha&#8217;if marfu&#8217;, dan mauquf. Hadits ini dinyatakan lemah oleh Al-&#8217;Iraqi, Ibnu Hajar, dan Asy-Syaukani</strong></p>
<p>Orang yang enggan bersiwak saat matahari telah condong ke Barat atau sore hari, berdalil dengan riwayat yang berasal dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu yang berkata,</p>
<blockquote><p>&#8220;kamu boleh bersiwah sampai waktu ashar. Bila kamu telah shalat (ashar), maka tinggalkan siwak itu. Sesungguhnya, aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda, &#8216;&#8230; bau mulut orang puasa itu lebih wangi di sisi Allah &#8230; “(HR. Daruquthni) </p></blockquote>
<p><strong><em>Asy Syaukani rahimahullahu</em></strong> berkata, &#8220;Perkataan Abu Hurairah -selain konteksnya tidak menunjukkan sebuah permintaan- tidak bisa dijadikan hujjah karena di dalam sanadnya terdapat Umar bin Qais. Ia tidak dipakai haditsnya. Pendapat yang benar, bersiwak itu disunnahkan bagi orang yang puasa, baik pada pagi maupun sore hari. Inilah pendapat jumhur ulama.&#8221; Dalil yang menunjukkan bolehnya bersiwak adalah keumuman sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:</p>
<blockquote><p>&#8220;Seandainya aku tidak memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka bersiwak setiap kali akan shalat (Muttafaqun &#8216;Alaih)</p></blockquote>
<p><strong><em>Imam Bukhari mengatakan,</em></strong> &#8220;Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak memberikan kekhususan bagi orang yang puasa dari yang lain.&#8221; Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda:</p>
<blockquote><p>&#8220;Siwak itu pembersih mulut dan diridhai Rabb.&#8221; </p></blockquote>
<p>Dalil yang menguatkan pendapat di atas adalah riwayat yang dikeluarkan oleh Ath-Thabrani dengan sanad yang dinyatakan bagus oleh Ibnu Hajar.</p>
<p>Disebutkan dari Abdurrahman bin Ghanmin, ia berkata, &#8220;Aku bertanya kepada Mu&#8217;adz bin Jabal,&#8217; Apakah aku mesti bersiwak saat aku puasa?&#8217; Ia menjawab, &#8216;Ya.&#8217; &#8216;Kapan waktunya?&#8217; tanyaku. &#8216;Sesukamu, pagi atau sore,&#8217; jawabnya. Aku bertanya lagi, &#8216;Orang-orang enggan bersiwak di sore hari. Mereka berkata bahwa Rasulullah bersabda, &#8216;Bau mulut orang puasa itu lebih wangi di sisi Allah daripada minyak kasturi?&#8217; Ia menjawab, &#8216;Subhanallah, beliau telah memerintahkan mereka bersiwak, sedang beliau mengetahui bahwa orang puasa itu pasti bau mulutnya tidak sedap, meski ia bersiwak. Orang yang menyuruh orang lain agar dengan sengaja membuat bau mulutnya tidak sedap, maka tidak ada kebaikannya sama sekali, bahkan yang ada adalah keburukan. Kecuali, bila orang tersebut sedang diuji dengan mendapat musibah dan tidak mendapatkan jalan keluarnya sama sekali&#8217;.Aku bertanya lagi, &#8216;Apakah debu akibat berjuang di jalan Allah akan dibalas dengan pahala, yaitu bagi orang yang dipaksa keluar ke sana dan tidak mendapatkan jalan keluar darinya?&#8217; Ia menjawab, &#8216;Benar. Adapun, orang yang sengaja melemparkan dirinya ke dalam kebinasaan, maka ia tidak mendapatkan pahala&#8217;. </p>
<p><strong><em>Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu</em></strong> berkata, &#8220;Orang yang puasa tidak batal puasanya hanya dengan bersiwak. Bahkan, siwak adalah sunnah baginya dan bagi selainnya di setiap waktu, baik pagi atau sore hari.&#8221; </p>
<p><strong>10. Merasa Tertekan Karena di Pagi Hari Dalam Kondis Junub</strong></p>
<p>Kesalahan lain adalah perasaan sangat tertekan yang dialami oleh sebagian umat Islam bila bangun pagi dalam kondisi junub. Kepada mereka, perlu disampaikan, &#8220;Tidak ada dosa atas kalian Sempurnakanlah puasa kalian. Sebab, Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah mendapatkan waktu Subuh dalam keadaan junub. Lalu, beliau mandi dan puasa.&#8221;</p>
<p>Syaikh Abdul Aziz bin Baz pernah ditanya tentang orang yang puasa yang mimpi basah pada siang hari bulan Ramadhan; apakah puasanya batal atau tidak dan apakah ia wajib segera mandi. Ia menjawab, &#8220;Mimpi basah tidak membatalkan puasa. Sebab, itu bukan atas kemauan orang puasa. Hendaknya ia mandi janabat bila ia mendapati air mani pada dirinya. Seandainya ia mimpi basah setelah shalat Subuh dan mengakhirkan mandi sampai waktu Zhuhur, maka hal tersebut tidaklah mengapa.</p>
<p>Pun demikian, seandainya ia mengauli istrinya pada malam hari dan baru mandi setelah terbit fajar, maka tidak ada dosa atasnya. Ada riwayat shahih dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahwa pada waktu Subuh beliau pernah junub karena bersetubuh, lalu beliau mandi dan berpuasa.</p>
<p>Wanita yang sedang haid atau nifas juga sama, seandainya keduanya telah suci pada malam hari dan baru mandi setelah terbit fajar, maka tidak ada dosa atas mereka, dan puasanya tetap sah. Akan tetapi, keduanya tidak boleh mengakhirkan mandi atau shalat sampai terbitnya matahari. Mereka harus segera mandi sebelum terbit matahari, sehingga mereka bisa menunaikan shalat tepat waktunya. Seorang lelaki harus segera mandi janabat sebelum waktu shalat Subuh, sehingga ia bisa melaksanakan shalat dengan berjamaah. Wallahu waliyyut taufiq.&#8221; </p>
<p>Terkait masalah ini, Syaikh Muhammad bin Utsaimin mengatakan, &#8220;Bila fajar telah terbit, maka puasa orang yang sedang junub tetap sah dan tidak ada masalah dengannya. Dalil mengenai ini ada dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Adapun dalil dari Al-Quran adalah firman Allah Ta&#8217;ala:</p>
<blockquote><p>&#8220;Maka, sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. ..&#8221; (Al-Baqarah : 187)</p></blockquote>
<p>Allah menghalalkan bersetubuh pada malam hari sampai fajar tampak jelas. Ini berkonsekuensi bahwa orang itu tidak mandi kecuali setelah terbit fajar. Sebab, bila perbuatan ini dibolehkan untuknya sampai terbit fajar, maka ia akan tetap dalam kondisinya sampai akhir malam yang singkat itu, dan pasti mandinya akan dilakukan setelah terbit fajar.</p>
<p>Adapun dalil dari As-Sunnah adalah riwayat yang shahih dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, bahwa beliau pernah dalam keadaan junub pada waktu pagi dan beliau pun berpuasa. Akan tetapi, yang utama bagi orang yang junub hendaklah segera mandi agar ia dalam kondisi suci. Bila itu tidak mungkin, maka hendaklah ia berwudhu, karena wudhu dapat meringankan janabat.</p>
<p>Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah ditanya tentang orang yang tidur dalam kondisi junub. Beliau menjawab,</p>
<blockquote><p>&#8220;Bila ia telah wudhu, silakan tidur.&#8221; (HR. Bukhari).</p></blockquote>
<p>Ini merupakan dalil bahwa wudhu bisa meringankan janabat, juga sebagai dalil bahwa seseorang itu semestinya tidur dalam keadaan suci. Bisa jadi suci secara sempurna yaitu dengan mandi atau suci yang meringankan yaitu dengan berwudhu.</p>
<hr />disalin dari buku <strong>&#8216;Jangan Biarkan Puasa Anda Sia-Sia!</strong> terjemahan dari: Mukhalafat Ramadhan, Syaikh Abdul Aziz As Sadhan, Penerbit Qiblatuna &#8211; Solo, hal 41-64</p>
<hr />
<p style="text-align: justify;"><strong>Catatan kaki:</strong></p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=NsjmWBfY_7U:swUgTq8A3H8:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=NsjmWBfY_7U:swUgTq8A3H8:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?i=NsjmWBfY_7U:swUgTq8A3H8:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=NsjmWBfY_7U:swUgTq8A3H8:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=NsjmWBfY_7U:swUgTq8A3H8:DN0H40_Ym5U"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=DN0H40_Ym5U" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=NsjmWBfY_7U:swUgTq8A3H8:V-t1I-SPZMU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=V-t1I-SPZMU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=NsjmWBfY_7U:swUgTq8A3H8:tr8VpXobKIM"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=tr8VpXobKIM" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=NsjmWBfY_7U:swUgTq8A3H8:UT3xtbGYFzA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=UT3xtbGYFzA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=NsjmWBfY_7U:swUgTq8A3H8:u0Zhe-nyOHo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=u0Zhe-nyOHo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=NsjmWBfY_7U:swUgTq8A3H8:ACf-c_HutVc"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=ACf-c_HutVc" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogJilbabOnline/~4/NsjmWBfY_7U" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/838-jangan-biarkan-puasa-anda-sia-sia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://jilbab.or.id/archives/838-jangan-biarkan-puasa-anda-sia-sia/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Jangan Biarkan Puasa Anda Sia-Sia (bag 1)</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/BlogJilbabOnline/~3/zd4NDcIdFxM/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/819-jangan-biarkan-puasa-anda-sia-sia-1/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Sep 2009 00:22:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sutikno bin Tumingan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[kesalahan puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=819</guid>
		<description><![CDATA[Puasa Ramadhan adalah karunia luar biasa bagi umat Islam. Maka, sungguh merugi, bila puasa yang dikerjakan selama bulan ini tak mendatangkan pahala lantaran tidak sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Beliau bersabda, &#8220;Betapa banyak orang yang berpuasa, tapi mereka tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga&#8221;(HR. Ahmad).
Syaikh Abdul Aziz As [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">Puasa Ramadhan adalah karunia luar biasa bagi umat Islam. Maka, sungguh merugi, bila puasa yang dikerjakan selama bulan ini tak mendatangkan pahala lantaran tidak sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Beliau bersabda, <strong><em>&#8220;Betapa banyak orang yang berpuasa, tapi mereka tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga&#8221;</em></strong>(HR. Ahmad).</p>
<p style="text-align: left;">Syaikh Abdul Aziz As Sadhan, dalam buku  &#8216;Jangan Biarkan Puasa Anda Sia-Sia!&#8217; -terjemahan dari &#8216;mukhalafat ramadhan&#8217; menjelaskan berbagai kesalahan-kesalahn yang sering dilakukan ketika bulan puasa. Tulisan beliau, insya Allah mampu membimbing kita dalam mengoreksi berbagai praktik yang salah tersebut. Semoga artikel ini bermanfaat dan dapat menjadi panduan setiap muslim dalam menjalani bulan penuh berkah ini. Semoga, kita mampu menjalankan puasa sesuai dengan sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam; dan tidak membiarkannya sia-sia tanpa mendapatkan apa-apa, kecuali lapar dan dahaga.Selamat membaca!<span id="more-819"></span><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong><strong>1. Tetap Makan Sahur Sampai Mendengar Lafazh Adzan : Hayya &#8216;Alash Shalah</strong></p>
<p>Sebagian orang bila mendengar muadzin mengumandangkan adzan shalat Subuh,mereka baru bangun tidur untuk makan dan minum. Bila Anda menasihati dan menjelaskan bahwa itu salah,mereka akan menjawab bahwa hal itu dibolehkan sampai muadzin mengucapkan: Hayya &#8216;alash shalah. Bila muadzin mengucapkan kalimat ini, maka makan dan minum tidak dibolehkan lagi. Pendapat ini tentu membutuhkan dalil yang shahih.Setelah kami teliti dan tanyakan, bahwa hal itu tidak ada dalilnya. Bahkan, itu hanyalah perbuatan yang dianggap baik oleh sebagian orang dan tertolak berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:</p>
<blockquote><p>&#8220;Barangsiapa mengada-adakan perkara baru dalam urusan (agama) kami yang bukan berasal darinya, maka itu tertolak.&#8221;(HR. Bukhari dan Muslim)</p></blockquote>
<p>Dalam lafal riwayat yang lain:</p>
<blockquote><p>&#8220;Barangsiapa mengerjakan suatu amalan yang bukan atas dasar perintah kami, maka itu tertolak.&#8221; (HR. Muslim)</p></blockquote>
<p>Nash Al-Quran dan As-Sunnah telah menetapkan batasan imsak, yaitu ketika telah terang benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Bila fajar telah diketahui, maka orang yang sahur hendaklah meninggalkan makan dan minum. Inilah yang benar. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman,</p>
<blockquote><p>&#8220;&#8230;Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.&#8221;(Al-Baqarah: 187).</p></blockquote>
<p>Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,</p>
<blockquote><p>&#8220;Sesungguhnya, Bilal mengumandangkan adzan pada malam hari. Maka, makan dan minumlah hingga Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan (Subuh).&#8221; (HR. Bukhari).</p></blockquote>
<p>Ibnu Ummi Maktum adalah sahabat yang buta. Ia tidak akan mengumandangkan adzan sebelum ada orang yang mengatakan kepadanya, &#8220;Waktu Subuh telah tiba. Waktu Subuh telah tiba.&#8221;</p>
<p>Dari ayat dan hadits di atas, jelaslah bahwa batasan imsak itu adalah terbitnya fajar, sedangkan adzan hanya sebagai pemberitahuan hal itu. Maka, saat muadzin mulai mengumandangkan adzan, berarti waktu imsak telah masuk. Jadi, waktu imsak itu bukan dibatasi pada ucapan muadzin: Hayya &#8216;alash shalah.</p>
<p><strong>2. Makan Sahur Lebih Awal</strong></p>
<p>Kesalahan lain yang dilakukan oleh orang yang puasa adalah bersegera makan sahur pada awal waktu. Ini merupakan tindakan menyia-nyiakan pahala yang banyak. Sebab, menurut As-Sunnah, seorang muslim hendaknya mengakhirkan makan sahur agar mendapatkan pahala karena mencontoh Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Anas radhiyallahu anhu meriwayatkan dari Zaid bin Tsabit  radhiyallahu anhu, ia berkata,</p>
<blockquote><p>&#8220;Kami pernah makan sahur bersama Nabi. Setelah itu, beliau bangkit menuju shalat. Aku (Anas) bertanya, &#8216;Berapa lama waktu antara adzan dan makan sahur?&#8217; Zaid bin Tsabit menjawab, &#8216;Kira-kira selama bacaan 50 ayat&#8217;.&#8221; (HR. Bukhari dan Muslim).</p></blockquote>
<p><strong>3. Sengaja Minum Saat Adzan Subuh</strong></p>
<p>Kesalahan lain terkait dengan puasa, sengaja minum saat adzan Subuh kedua yang dilakukan sebagian orang. Menjelang adzan dikumandang, Anda melihatnya hanya duduk santai. Namun, saat muadzin mulai mengumandangkan adzan, ia justru bergegas untuk mengambil air dan meminumnya. Bila diingatkan, ia menjawab, &#8220;Aku boleh makan dan minum sampai adzan selesai.&#8221; Dengan perbuatannya itu, ia telah merusak puasanya, terutama bila muadzin teliti dalam melihat jadwal adzan. Allah Ta&#8217;ala telah mensyariatkan waktu imsak ketika masuk waktu shubuh dengan firman-Nya:</p>
<blockquote><p>&#8220;.. .dan makan dan minumlah hingga terang bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.&#8217;(Al-Baqarah: 187).</p></blockquote>
<p>Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda,</p>
<blockquote><p>&#8220;Sesungguhnya Bilal mengumandangkan adzan pada malam hari. Maka, maka makan dan minumlah hingga Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan (Subuh).&#8221; (HR. Bukhari-Muslim).</p></blockquote>
<p>Kata &#8216;hatta&#8217; dalam ayat dan hadits di atas berarti masuk, maksudnya kalian boleh makan dan minum sampai waktu Subuh. Hanya saja, ada permasalahan yang harus dijelaskan berkaitan dengan hal ini. Yaitu, seorang muslim boleh minur air di gelas yang telah berada di tangannya saat muadzin mengumandangkan adzan. Ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:</p>
<blockquote><p>&#8220;Bila salah seorang di antara kalian mendengar seruan adzan sedangkan gelas minuman masih di tangannya, maka janganlah ia meletakkannya sebelum melaksanakan keinginannya untuk minum.&#8221; (HR. Abu Dawud, Ibnu Jarir, Hakim, Baihaqi, dan lainnya. Hadits ini memiliki banyak penguat).</p></blockquote>
<p>Perlu ditambahkan juga terkait hal ini, bahwa seorang muslim masih dibolehkan makan dan minum setelah adzan bilamana muadzin mengumandangkan adzan sebelum waktunya. Adzan tersebut tidak berlaku, sehingga orang yang puasa tidak diharamkan dari apa pun yang dibolehkan oleh Allah baginya di waktu ifthar. Shalat Subuh juga tidak dianjurkan untuk segera dilaksanakan karena waktunya belum masuk.</p>
<p><strong><em>Syaikhul Islam mengatakan</em></strong>, &#8220;Bila muadzin mengumandangkan adzan sebelum fajar terbit, sebagaimana Bilal mengumandangkan adzan sebelum fajar pada masa Nabi dan adzannya para muadzin di Damaskus dan kota lainnya, maka makan dan minum setelah itu tidak ada masalah dengan waktu secukupnya.&#8221;</p>
<p><strong><em>Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan</em></strong>, &#8220;Adzan shalat Subuh, baik setelah terbit fajar atau sebelumnya, jika dikumandangkan setelah terbit fajar, maka orang yang sahur wajib berhenti makan dan minum dengan sekedar mendengar adzan saja. Sebab, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya, Bilal mengumandangkan adzan pada malam hari, maka makan dan minumlah sampai kalian mendengar adzan Ibnu Ummi Maktum. Dia tidak mengumandangkan adzan kecuali fajar telah terbit.&#8221; (HR. Bukhari-Muslim).</p>
<p>Jika kalian mengetahui bahwa muadzin mengumandangkan adzan setelah terbit fajar Subuh, maka berhentilah makan dan minum ketika mendengar adzan itu.&#8221;</p>
<p><strong><em>Syaikh Abdul Aziz bin Baz </em></strong>mengatakan saat menjawab masalah ini dan hal-hal yang berkaitan dengannya, &#8220;Seorang mukmin yang berpuasa wajib menahan diri dari makan dan minum serta lainnya bila terbitnya fajar sudah ia ketahui. Itu dalam puasa wajib, seperti; puasa Ramadhan, puasa nadzar, dan puasa kafarat. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala:</p>
<blockquote><p>&#8220;&#8230; Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar, kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.&#8221; (Al-Baqarah: 187).</p></blockquote>
<p>Selain itu, bila ia mendengar adzan dan mengetahui bahwa itu adzan Subuh, maka ia wajib berhenti dari makan dan minum. Bila muadzin mengumandangkan adzan sebelum terbit fajar atau setelahnya, maka yang utama dan selamat adalah berhenti makan dan minum bila telah mendengarnya. Tidak ada masalah, seandainya seseorang minum atau makan sekedarnya ketika terdengar adzan, karena ia tidak mengetahui terbitnya fajar.</p>
<p>Telah diketahui bersama bahwa masyarakat yang tinggal di tengah-tengah kota yang terdapat banyak cahaya listrik mereka tidak bisa mengetahui terbitnya fajar dengan mata kepalanya sendiri pada waktu tersebut. Namun, ia hendaknya berhati-hati dalam menggunakan jadwal adzan dan kalender waktu yang membatasi terbitnya fajar dengan jam dan menit sebagai bentuk pengamalan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:</p>
<blockquote><p>&#8220;Tinggalkanlah sesuatu yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu.&#8221; (HR. Bukhari)</p></blockquote>
<p>Juga sabda beliau shallallahu alaihi wa sallam,</p>
<blockquote><p>&#8220;Barangsiapa menjauhi sesuatu yang samar (syubhat), berarti ia telah menjaga agama dan kehormatannya.&#8221; (HR. Bukhari dan Abu Dawud).</p></blockquote>
<p>Hanya Allah sebagai pelindung dan pemberi taufiq.&#8221;</p>
<p><strong>4. Memajukan Waktu Adzan Subuh</strong></p>
<p>Kesalahan lain yang berkaitan dengan puasa adalah adzan Subuh beberapa saat sebelum waktunya yang dilakukan sebagian muadzin. Mereka menganggap bahwa itu merupakan bentuk kehati-hatian dalam beribadah. Perbuatan mereka ini sangat buruk. Mereka tidak berhak mendapatkan citra baik yang diberikan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam kepada muadzin, dengan sabda beliau:</p>
<blockquote><p>&#8220;Muadzin itu dipercaya.&#8221; (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu)</p></blockquote>
<p><strong><em>Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu</em></strong> mengatakan, &#8220;Di antara bid&#8217;ah munkar yang diada-adakan pada zaman sekarang adalah mengumandangkan adzan kedua sebelum terbit fajar sekitar 1/3 jam dalam bulan Ramadhan. Demikian juga, mematikan lampu-lampu sebagai tanda larangan makan dan minum bagi siapa saja yang ingin berpuasa. Orang yang mengadakan bid&#8217;ah itu mengklaim bahwa itu untuk kehati-hatian dalam beribadah, dan hanya segelintir orang yang tahu hal itu. Perbuatan itu telah menyeret mereka untuk tidak mengumandangkan adzan kecuali beberapa menit setelah matahari terbenam untuk memantapkan waktu. Dengan keyakinan itu, mereka telah mengakhirkan buka puasa dan menyegerakankan sahur. Mereka telah menyelisihi sunnah. Karena itu, kebaikan mereka hanya sedikit, sedangkan keburukan mereka bertambah banyak. Hanya kepada Allah kita meminta pertolongan.&#8221;</p>
<p>Di samping menyelisihi sunnah, memajukan waktu adzan juga menyebabkan seorang muslim terhalang untuk makan yang pada dasarnya itu masih dibolehkan oleh Allah baginya. Akibatnya, shalat sunah qabliyah dikerjakan sebelum waktunya.</p>
<p><strong>5. Merasa Berdosa Karena Lupa Makan dan Minum Saat Berpuasa</strong></p>
<p>Sebagian orang terkadang merasa berdosa sekali bila mengingat dirinya telah makan atau minum saat puasa karena faktor lupa. Ia bahkan merasa ragu terhadap keabsahan puasanya. Untuk masalah seperti ini dan semisalnya, perlu dikatakan, bahwa tidak ada dosa seberat biji sawi pun, dan puasa tersebut tetap sah, insya Allah. Hendaklah puasa tersebut tetap disempurnakan. Inilah pendapat yang benar. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:</p>
<blockquote><p>&#8220;Bila salah seorang dari kalian lupa, sehingga ia pun makan dan minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya. Allah telah memberinya makan dan minum.&#8221; (HR.Bukhari)</p></blockquote>
<p>Dalam hal ini, tidak ada bedanya apakah makanan dan minuman itu sedikit atau banyak. Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, &#8220;Hadits tersebut mengandung makna kelembutan Allah kepada para hamba-Nya dan bentuk kemudahan bagi mereka, serta diangkatnya kesukaran dan kesempitan dari mereka.&#8221; </p>
<p><strong><em>Syaikh Muhammad bin Utsaimin</em></strong> ketika menjawab pertanyaan terkait masalah ini mengatakan, &#8220;Siapa saja yang makan atau minum saat berpuasa karena lupa, maka puasanya tetap sah. Akan tetapi, bila ia teringat, maka ia harus berhenti dan mengeluarkan makanan atau minuman yang ada di mulutnya. Adapun, dalil sempurnanya puasa karena lupa makan adalah hadits shahih yang disabdakan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu anhu: &#8221;Bila salah seorang dari kalian lupa, sehingga ia pun makan dan minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya. Allah telah memberinya makan dan minum.&#8221; (HR. Muslim).</p>
<p>Karena, lupa itu tidak menyebabkan seseorang dihukum karena mengerjakan perbuatan terlarang. Ini berdasarkan firman Allah yang menyebutkan orang yang meminta ampun akibat lupa, &#8220;Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami khilaf.&#8221; (Al-Baqarah [2]: 286). Allah pun menjawab, &#8216;Telah Aku ampuni&#8217;.&#8221;</p>
<p><strong>6. Tidak Mengingatkan Orang Lain yang Makan dan Minum Karena Lupa</strong></p>
<p>Kesalahan lain yang berkaitan dengan puasa adalah sebagian orang membiarkan orang lain makan dan minum karena lupa hingga ia menyelesaikannya. Orang yang mengetahui hal itu beranggapan bahwa bila orang yang lupa itu diingatkan, maka ia akan terhalang mendapatkan rezeki dari Allah. Orang tersebut tidak sadar kalau sikapnya itu merupakan sebuah kemunkaran dan menyetujui kemunkaran dengan kebodohannya itu.</p>
<p>Di sini, kami akan menyampaikan fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz yang berkaitan dengan permasalahan ini. Ada orang yang bertanya, &#8220;Sebagian orang mengatakan, &#8216;Bila Anda melihat seorang muslim berpuasa, lalu makan atau minum pada siang hari bulan Ramadhan karena lupa, maka Anda tidak semestinya mengingatkannya. Sebab, Allah telah memberinya makan dan minum sebagaimana disebutkan dalam hadits. Apakah tindakan ini benar? Berilah kami fatwa, semoga Anda dibalas pahala.&#8221;</p>
<p><strong><em>Syaikh Ibnu Baz menjawab</em></strong>, &#8220;Siapa pun yang melihat orang berpuasa yang minum atau makan, atau menelan apa saja pada siang hari bulan Ramadhan, maka ia wajib mengingkarinya. Sebab, memperlihatkan makan dan minum pada siang hari bulan puasa adalah bentuk kemunkaran, meskipun pelakunya memiliki alasan dalam perkara itu. Tujuannya, agar orang-orang tidak akan berani terang-terangan melanggar larangan Allah, dengan makan dan minum pada siang hari bulan puasa dengan alasan lupa.Bila pelakunya memang jujur dalam hal klaim kelupaannya itu, maka ia tidak mengganti (menqadha&#8217;) puasanya itu. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,</p>
<blockquote><p>&#8220;Bila salah seorang dari kalian lupa, sehingga ia pun makan dan minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya. Allah telah memberinya makan dan minum.&#8221; (Muttafaqun&#8217;Alaih).</p></blockquote>
<p>Pun demikian dengan musafir, ia tidak boleh menampakkan makan dan minumnya di hadapan orang-orang yang tidak bepergian karena mereka tidak mengetahui statusnya. Ia harus mencari tempat tertutup supaya tidak dituduh melanggar larangan Allah, juga agar orang lain tidak berani berbuat serupa.Orang-orang kafir juga sama, mereka dilarang memperlihatkan makan, minum dan semisalnya di hadapan kaum muslimin. Celah penyepelean ini harus ditutup rapat. Sebab, mereka dilarang menampakkan syi&#8217;ar agama mereka yang batil di hadapan kaum muslimin. Hanya Allah sebagai pelindung dan pemberi taufiq.&#8221;</p>
<p>Kami sampaikan juga <strong><em>fatwa Syaikh Muhammad bin Al Utsaimin</em></strong> terkait masalah ini. Syaikh Utsaimin pernah ditanya tentang hukum makan dan minum karena lupa, apakah orang yang melihat pelakunya wajib mengingatkan puasanya?</p>
<p>Ia menjawab, &#8220;Siapa saja yang makan atau minum saat berpuasa karena lupa, maka puasanya tetap sah. Akan tetapi, bila ia teringat, maka ia harus berhenti dan mengeluarkan makanan atau minuman yang ada di mulutnya. Adapun dalil yang menunjukkan kesempurnaan puasa karena lupa makan adalah hadits shahih yang disabdakan Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu anhu,</p>
<blockquote><p>&#8216;Barangsiapa terlupa sedang ia berpuasa sehingga terlanjur makan dan minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya. Allah telah memberinya makan dan minum.&#8217; (HR. Muslim).</p></blockquote>
<p>Karena, lupa itu tidak menyebabkan seseorang dihukum karena mengerjakan perbuatan terlarang. Ini berdasarkan firman Allah yang menyebutkan orang yang meminta ampun akibat lupa, &#8220;Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami khilaf.&#8221; (Al-Baqarah [2]: 286). Allah pun menjawab, &#8216;Telah Aku ampuni.&#8217;Adapun orang yang melihat orang makan dan minum saat berpuasa karena lupa, maka ia wajib mengingatkannya. Karena, ini termasuk mengubah kemunkaran. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:</p>
<blockquote><p>&#8216;Barangsiapa di antara kalian melihat kemunkaran, maka hendaklah ia mengubah dengan tangannya. Bila tidak mampu maka hendaklah mengubah dengan lisannya. Bila tidak mampu, maka dengan hatinya! (HR. Muslim)</p></blockquote>
<p>Tidak diragukan lagi bahwa tindakan makan dan minum yang dilakukan oleh orang yang berpuasa adalah bentuk kemungkaran. Akan tetapi, pelakunya dimaafkan bila dalam kondisi lupa karena memang tidak ada sangsi hukuman baginya. Adapun, orang yang melihat perbuatan itu, maka tidak ada alasan baginya untuk tidak mengingkarinya.&#8221;</p>
<p>Berkaitan dengan masalah ini, <strong><em>Syaikh Ibnu Jibrin</em></strong> mengatakan, &#8220;Ada sebagian orang yang mengatakan, &#8216;Kami tidak akan mengingatkan orang yang lupa. Kami tidak akan menghentikan rezeki makanan dan minuman yang dikaruniakan oleh Allah kepadanya.&#8217; Yang benar, orang yang melihat hendaknya mengingatkannya, karena itu wajib hukumnya dan lermasuk bentuk amar makruf nahi munkar. Hal yang sama juga berlaku, ketika seseorang melakukan sesuatu yang bisa membatalkan puasa selain makan dan minum karena dianalogikan dengan kedua hal tersebut.&#8221; Bersambung pada tulisan kedua, insya Allah.</p>
<hr />disalin dari buku <strong>&#8216;Jangan Biarkan Puasa Anda Sia-Sia!</strong> terjemahan dari: Mukhalafat Ramadhan, Syaikh Abdul Aziz As Sadhan, Penerbit Qiblatuna &#8211; Solo, hal 41-64</p>
<hr />
<p style="text-align: justify;"><strong>Catatan kaki:</strong></p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=zd4NDcIdFxM:qdvMIhRhy98:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=zd4NDcIdFxM:qdvMIhRhy98:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?i=zd4NDcIdFxM:qdvMIhRhy98:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=zd4NDcIdFxM:qdvMIhRhy98:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=zd4NDcIdFxM:qdvMIhRhy98:DN0H40_Ym5U"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=DN0H40_Ym5U" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=zd4NDcIdFxM:qdvMIhRhy98:V-t1I-SPZMU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=V-t1I-SPZMU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=zd4NDcIdFxM:qdvMIhRhy98:tr8VpXobKIM"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=tr8VpXobKIM" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=zd4NDcIdFxM:qdvMIhRhy98:UT3xtbGYFzA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=UT3xtbGYFzA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=zd4NDcIdFxM:qdvMIhRhy98:u0Zhe-nyOHo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=u0Zhe-nyOHo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=zd4NDcIdFxM:qdvMIhRhy98:ACf-c_HutVc"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=ACf-c_HutVc" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogJilbabOnline/~4/zd4NDcIdFxM" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/819-jangan-biarkan-puasa-anda-sia-sia-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://jilbab.or.id/archives/819-jangan-biarkan-puasa-anda-sia-sia-1/</feedburner:origLink></item>
	</channel>
</rss>
