<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0">

<channel>
	<title>Jilbab Online</title>
	
	<link>http://jilbab.or.id</link>
	<description>-- Cocok Untuk Akhowat, Perlu Untuk Ikhwan --</description>
	<lastBuildDate>Sat, 06 Mar 2010 23:31:33 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/BlogJilbabOnline" /><feedburner:info uri="blogjilbabonline" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><item>
		<title>Izinkan Anak Berbuat “Salah”</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/BlogJilbabOnline/~3/htNAsv59D3s/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/959-izinkan-anak-berbuat-salah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Mar 2010 23:31:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sutikno bin Tumingan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=959</guid>
		<description><![CDATA[Kesadaran bahwa kesalahan dan kegagalan adalah manusiawi perlu  dimiliki  oleh siapapun, termasuk anak. Mendorong dan melatih anak agar  memandang  kesuksesan dan kegagalan dalam persektif yang benar penting  dilakukan.  Dalam hal ini orang tua berperan penting. Mendorong anak  untuk berhasil  tentu saja wajar dan bahkan harus. Namun hal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Kesadaran bahwa kesalahan dan kegagalan adalah manusiawi perlu  dimiliki  oleh siapapun, termasuk anak. Mendorong dan melatih anak agar  memandang  kesuksesan dan kegagalan dalam persektif yang benar penting  dilakukan.  Dalam hal ini orang tua berperan penting. Mendorong anak  untuk berhasil  tentu saja wajar dan bahkan harus. Namun hal itu perlu  diimbangi dengan meneguhkan  anak untuk bersikap realistis untuk menerima kegagalan.  Orang tua juga  perlu berbagi pengalaman bahwa tidak setiap tujuan pasti  terwujud meski  telah dipersiapkan dengan teliti dan matang.</p></blockquote>
<p><img title="Selebihnya..." src="http://parentingmuslim.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" /><span id="more-959"></span></p>
<p>Ka&#8217;ab bin Malik. Ia salah satu sahabat mulia Rasulullah shallallahu  alaihi wa sallam. Ia juga pemuka sahabat kalangan Anshor dari suku  Khazraj. Berkali-kali ia membersamai Rasulullah Shallallahu Alaihi wa  Sallam dalam berbagai peperangan, tetapi tidak di perang Tabuk. Ketika  sebagian besar sahabat bersiap untuk perang ini, Ka&#8217;ab bin Malik tak  segera melakukan hal yang sama. Pada akhirnya ia memang tertinggal, tak  ikut serta dalam peperangan ini. Karena kesalahan ini, Rasulullah dan  sahabat-sahabat lain mengucilkannya beberapa lama hingga akhirnya  Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberi kabar gembira: <em>&#8220;Berbahagialah  dengan hari terbaik yang engkau jumpai semenjak ibumu melahirkanmu.</em>&#8221;  Itulah kabar tentang diterimanya taubat Ka&#8217;ab bin Malik.</p>
<p>Kesalahan dan kegagalan sesungguhnya merupakan bagian dari perjalanan  hidup karena kita memang tidak sempurna. Siapapun bisa melakukan  kesalahan dan mengalami kegagalan, termasuk sahabat Ka&#8217;ab bin Malik  sebagaimana dikisahkan di atas. Bahkan Nabi Adam pun pernah berbuat  salah. Benar sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagaimana  diriwayatkan At-Tirmidzi dan Ibnu Majah bahwa setiap bani Adam berbuat  salah dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang yang  bertaubat.</p>
<p>Kesalahan dan kegagalan sesungguhnya melekat pada proses  keberhasilan. Thomas Alfa Edison misalnya. Ia berhasil menemukan lampu  pijar setelah melakukan 9.999 kali percobaan. Kegagalan dan kesalahan  tersebut tidak menjadikannya putus asa. Justeru ia mengatakan bahwa  dengan begitu ia mengetahui ribuan cara agar lampu tidak menyala. Sikap  realistis inilah<br />
yang tampaknya menopang kesuksesan Thomas Alfa Edison. Ia menerima  kesalahan dan kegagalan sebagai sesuatu yang wajar dan menjadikannya  titik tolak untuk maju dan berkembang.</p>
<p>Berhati-hati agar tidak melakukan kesalahan dan khawatir mengalami  kegagalan tentu saja wajar. Namun, ketika kekhawatiran itu sangat  berlebihan sehingga menghalangi untuk bertindak apapun, tentu tidak  wajar. Inilah yang mungkin secara tidak sadar dilakukan orang tua yang  sangat protektif kepada anaknya.</p>
<p>Lihatlah bagaimana orang tua dengan segera memegang sang anak yang  sedikit terhuyung ketika sang anak baru berlatih berjalan. Lihat pula  bagaimana orang tua segera mengatakan <strong>&#8220;<em>Nak, jangan pilih warna itu,  tidak cocok, Gunakan yang ini saja</em></strong>&#8221; ketika anak belajar mewarnai.</p>
<p>Orang tua sering begitu protektif dan tidak memberikan kesempatan  kepada anak untuk mencoba berbagai hal dalam proses belajar mereka  karena begitu khawatir anak melakukan kesalahan.</p>
<p>Tak disangsikan bahwa perilaku demikian didasari oleh rasa sayang  mereka. Namun, perilaku demikian berpotensi meneguhkan keyakinan pada  diri anak bahwa melakukan kesalahan dan mengalami kegagalan adalah tabu.  Akibatnya anak cenderung menghindari tindakan apapun yang dipandangnya  dapat menyebabkan kegagalan. Akibat selanjutnya bisa diduga bahwa hal  itu akan membatasi mereka untuk berkreasi dan berkembang.</p>
<p>Kesadaran bahwa kesalahan dan kegagalan adalah manusiawi perlu  dimiliki oleh siapapun, termasuk anak. Mendorong dan melatih anak agar  memandang kesuksesan dan kegagalan dalam persektif yang benar penting  dilakukan. Dalam hal ini orang tua berperan penting. Mendorong anak  untuk berhasil tentu saja wajar dan bahkan harus. Namun hal itu perlu  diimbangi dengan<br />
meneguhkan anak untuk bersikap realistis untuk menerima kegagalan. Orang  tua juga perlu berbagi pengalaman bahwa tidak setiap tujuan pasti  terwujud meski telah dipersiapkan dengan teliti dan matang.</p>
<p>Di kelas, guru juga berperan penting untuk menumbuhkan kesadaran dan  keyakinan bahwa melakukan kesalahan dan mengalami kegagalan adalah  manusiawi. Bagaimana caranya? Sesekali guru perlu mengisahkan  tokoh-tokoh hebat yang dalam kisah suksesnya juga pernah melakukan<br />
kesalahan dan mengalami kegagalan. Kisah Ka&#8217;ab bin Malik dan Thomas Alfa  Edison di atas dapat dijadikan contoh. Guru juga perlu memberikan rasa  aman bagi anak untuk mencoba hal-hal baru dalam proses belajar mereka  tanpa kekhawatiran akan dicerca jika melakukan kesalahan. Guru perlu  meyakini bahwa anak .akan belajar dengan cepat jika mereka berada dalam<br />
lingkungan yang menerima terjadinya kesalahan. Guru sebaiknya  menghindari komentar atau pertanyaan yang bersifat negatif seperti: &#8220;<em>bagaimana  bisa kamu melakukan kesalahan seperti itu?&#8221; atau &#8220;kamu tidak  mendengarkan saya ya&#8230; sehingga bisa salah seperti ini</em>?&#8221;</p>
<p>Dalam kegiatan pembelajaran, guru seharusnya tidak bersegera  memberikan rumus formal kepada anak untuk menyelesaikan suatu soal. Anak  perlu diberikan kebebasan untuk melakukan eksplorasi dan menemukan cara  mereka sendiri tanpa khawatir akan dicerca jika melakukan kesalahan.  Hal ini akan mendorong anak berpikir kreatif dengan melihat berbagai  kemungkinan<br />
cara menyelesaikan soal. Mungkin saja cara mereka lebih kreatif dan  lebih mudah dipahami, setidaknya oleh mereka sendiri. Namun, mungkin  juga anak akan mengalami kesulitan dan menemui jalan buntu. Terhadap hal  ini guru hendaknya membimbing mereka untuk mengenali kesalahan mereka  dan memanfaatkannya untuk proses belajar mereka. Cara demikian akan  memberikan pengalaman dan kemampuan berharga kepada anak. Pengalaman  dimaksud adalah pengalaman menghadapi masalah, bukan menghindarinya, dan  secara bebas berusaha menyelesaikannya tanpa takut gagal. Pengalaman  demikian sangat penting bagi anak mengarungi kehidupannya kelak.</p>
<p>Membelajarkan anak agar menyadari bahwa melakukan kesalahan dan  mengalami kegagalan adalah manusiawi memerlukan proses. Hal itu perlu  dilakukan secara berkelanjutan sehingga anak memiliki perspektif yang  benar dan berimbang dalam memandang keberhasilan dan kegagalan.</p>
<p>dari:<br />
Izinkan Anak Berbuat &#8220;Salah&#8221;: Ali Mahmudi,Dosen Matematika Universitas  Negeri Yogyakarta.<br />
Fahma Vol.7 No.2, Februari 2010, hal. 14-15.</p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=htNAsv59D3s:30hwKDJb2ds:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=htNAsv59D3s:30hwKDJb2ds:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?i=htNAsv59D3s:30hwKDJb2ds:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=htNAsv59D3s:30hwKDJb2ds:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=htNAsv59D3s:30hwKDJb2ds:DN0H40_Ym5U"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=DN0H40_Ym5U" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=htNAsv59D3s:30hwKDJb2ds:V-t1I-SPZMU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=V-t1I-SPZMU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=htNAsv59D3s:30hwKDJb2ds:tr8VpXobKIM"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=tr8VpXobKIM" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=htNAsv59D3s:30hwKDJb2ds:UT3xtbGYFzA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=UT3xtbGYFzA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=htNAsv59D3s:30hwKDJb2ds:u0Zhe-nyOHo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=u0Zhe-nyOHo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=htNAsv59D3s:30hwKDJb2ds:ACf-c_HutVc"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=ACf-c_HutVc" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogJilbabOnline/~4/htNAsv59D3s" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/959-izinkan-anak-berbuat-salah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://jilbab.or.id/archives/959-izinkan-anak-berbuat-salah/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Jangan Salah Mendidik (bag.3)</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/BlogJilbabOnline/~3/U1L9t-3SMyA/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/956-jangan-salah-mendidik-bag-3/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Feb 2010 11:17:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sutikno bin Tumingan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=956</guid>
		<description><![CDATA[JANGAN SALAH MENDIDIK (bag.3)
penyusun: Ust. Zaenal Abidin bin  Syamsudin, Lc
11. Khawatir yang Berlebihan
Perasaan  takut terhadap keselamatan dan rasa khawatir terhadap masa depan anak  merupakan sifat yang wajar ada pada setiap orangtua. Namun, perasaan itu  akan berubah menjadi bahaya bila berlebihan dan berubah menjadi was-was  akan keselamatan anaknya, bersikap bakhil karena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>JANGAN SALAH MENDIDIK (bag.3)<br />
penyusun: Ust. Zaenal Abidin bin  Syamsudin, Lc</p>
<p><strong>11. Khawatir yang Berlebihan</strong><br />
Perasaan  takut terhadap keselamatan dan rasa khawatir terhadap masa depan anak  merupakan sifat yang wajar ada pada setiap orangtua. Namun, perasaan itu  akan berubah menjadi bahaya bila berlebihan dan berubah menjadi was-was  akan keselamatan anaknya, bersikap bakhil karena takut beban biaya  hidup anaknya tidak terpenuhi, dan mencintai anak secara berlebihan.</p>
<p><span id="more-956"></span></p>
<p><img title="Selebihnya..." src="http://parentingmuslim.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" />Ketakutan  seperti itu hanya akan membuat hidup terbebani, tidak percaya dengan  takdir, dan mengurangi ketawakalannya kepada Allah. Yang ada nanti hanya  perasaan tidak tenang dan khawatir terhadap nasib anaknya. Inilah yang  kadang membuat orangtua tidak tega saat melepas anaknya menempuh  pendidikan boarding school (pondok) di pesantren. Padahal, setiap  orangtua harus menyadari bahwa suatu saat nanti anak akan berpisah  dengannya, baik untuk mencari ilmu atau mencari pekerjaan untuk  menghidupi keluarganya setelah menikah kelak.</p>
<p><strong>12.  Kurang Sabar dalam Menerima Hasil</strong><br />
Bisa jadi orangtua sudah punya  target-target tertentu atas pendidikan anaknya, atau boleh jadi  orangtua telah mendidik anaknya untuk mengganti jabatannya atau memegang  perusahaannya setelah  dia meninggal. Namun, ternyata sang anak  mengecewakannya. Bukan karena ia nakal dan membangkang, melainkan karena  bakat sang anak tidak sejalan dengan keinginan dan harapan orangtuanya.  Akhirnya, kita dengar orang tua mencerca anaknya, &#8220;Tinggal belajar saja  kok tidak bisa. Makanya, belajar yang betul!&#8221;</p>
<p>Padahal, kita  semua sadar bahwa Allah subhanahu wa ta&#8217;ala mengaruniakan kecerdasan dan  kemampuan yang berbeda kepada setiap hamba-Nya. Seharusnya orang tua  bersikap bijak.  Kewajiban orangtua hanyalah berusaha semaksimal mungkin  mengarahkan dan membina anak-anaknya, sedangkan hasilnya, Allah Maha  Adil dan Maha Tahu apa yang tetbaik bagi hamba-Nya. Jadi, kenapa  orangtua harus kecewa dengan hasil yang tidak sesuai keinginannya?   Bukankah lebih baik mengutamakan kesabaran dan keistikomahan dalam  mendidik dan mengarahkan anak, daripada terpaku pada hasil akhirnya?</p>
<p><strong>13.  Curiga Berlebihan</strong><br />
Orang tua harus bersikap terbuka dan memberi  kepercayaan kepada anak. Sikap ini akan memperlancar komunikasi dan  interaksi dengan anak maupun anggota keluarga yang lain.  Keterbukaan  dan kepercayaan juga akan membuat anak mencintai orangtuanya secara  tulus dan memandang penuh hormat dan kasih pada keduanya. Sebaliknya,  bila orang tua mudah menuduh<br />
tanpa bukti, mencurigai setiap  gerak-gerik anak tanpa alasan dan menganggap anak berkhianat kepada  orangtuanya, perasaan anak akan tercabik-cabik, kekecewaan tumbuh, dan  kemarahan anak kepada orangtua akan tersulut. Apalagi bila anak merasa  apa yang dituduhkan kepadanya tidak benar.</p>
<p>Oleh karena itu, orang  tua harus berhati-hati dalam menilai anak-anaknya. Jangan mudah curiga  dan menuduh anak dengan sesuatu tanpa alasan dan bukti hanya karena  kurang cinta atau cemburu. Orang tua juga tidak boleh meremehkan  kemampuan dan kelebihan anak dengan menganggapnya masih terlalu kecil.</p>
<p>Di  pihak lain, sang anak pun tak boleh mudah memvonis orangtuanya tidak  sayang dan membencinya. Seharusnya seorang anak bersabar menghadapi  sikap orang tua yang kurang berkenan dan sebaiknya mencari informasi  yang sebenarnya kenapa orangtuanya bersikap demikian, dan menghilangkan  dendam kepada orangtua karena sikapnya tersebut. Sebab, dendam yang  dibiarkan bisa memutus hubungan silaturahim. Maka, pupuklah sikap saling  percaya,  tumbuhkan empati, dan sikap terbuka dalam menghadapi setiap  masalah.</p>
<p><strong>14. Menjauhkan Anak dari Orang Shalih</strong><br />
Kalau  tidak bergaul dengan ulama atau orang shalih, pasti kita akan bergaul  dengan orang-orang bodoh dan ahli maksiat. Kedekatan dengan para ulama  dan orang shalih akan memotivasi anak untuk cinta pada kebaikan, amal  shalih, dan lingkungan yang bagus. Siapa yang berkumpul dengan  orang-orang baik atau hidup di lingkungan yang baik, akan tertular  kebaikannya. Dan siapa yang berkumpul dengan orang-orang buruk atau  hidup di lingkungan yang buruk, akan pula terkena getah keburukannya.</p>
<p>Wahai  anak shalih yang mendambakan surga, jangan biarkan dirimu bergaul  dengan orang buruk berhati serigala, orang munafik, orang fasik dan ahli  bid&#8217;ah perusak agama. Ingat, orang yang baik akan dikumpulkan bersama  orang baik dan orang yang buruk akan berkumpul dengan orang yang buruk.  Dan pada Hari Kiamat kelak, seseorang dikumpulkan bersama orang yang  dicintainya.</p>
<p><em><strong>dari buku:</strong></em><br />
judul: &#8220;Untukmu  Anak Shalih&#8221;<br />
penyusun: Ust. Zaenal Abidin bin Syamsudin, Lc<br />
penerbit:  rumah penerbit al-manar<br />
halaman: 42-45</p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=U1L9t-3SMyA:2ZGm2OaQIYU:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=U1L9t-3SMyA:2ZGm2OaQIYU:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?i=U1L9t-3SMyA:2ZGm2OaQIYU:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=U1L9t-3SMyA:2ZGm2OaQIYU:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=U1L9t-3SMyA:2ZGm2OaQIYU:DN0H40_Ym5U"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=DN0H40_Ym5U" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=U1L9t-3SMyA:2ZGm2OaQIYU:V-t1I-SPZMU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=V-t1I-SPZMU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=U1L9t-3SMyA:2ZGm2OaQIYU:tr8VpXobKIM"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=tr8VpXobKIM" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=U1L9t-3SMyA:2ZGm2OaQIYU:UT3xtbGYFzA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=UT3xtbGYFzA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=U1L9t-3SMyA:2ZGm2OaQIYU:u0Zhe-nyOHo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=u0Zhe-nyOHo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=U1L9t-3SMyA:2ZGm2OaQIYU:ACf-c_HutVc"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=ACf-c_HutVc" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogJilbabOnline/~4/U1L9t-3SMyA" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/956-jangan-salah-mendidik-bag-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://jilbab.or.id/archives/956-jangan-salah-mendidik-bag-3/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Jangan Salah Mendidik (bag 2)</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/BlogJilbabOnline/~3/UexKFJSekxM/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/953-jangan-salah-mendidik-bag-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Feb 2010 23:02:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sutikno bin Tumingan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Pribadi Shalihah]]></category>
		<category><![CDATA[kesalahan mendidik anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=953</guid>
		<description><![CDATA[JANGAN SALAH MENDIDIK (bagian 2)
penyusun: Ust. Zaenal Abidin bin  Syamsudin, Lc
5. Motivasi yang Kurang Tepat
Kesalahan  orangtua atau guru dalam memberi motivasi kepada anak didiknya bisa  memberi dampak yang kurang baik. Misalnya, mendoromg anak berprestasi  dengan hadiah yang menggiurkan, atau memotivasi anak berprestasi agar  tidak tersaingi oleh teman-temannya, atau memotivasi anak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>JANGAN SALAH MENDIDIK (bagian 2)<br />
penyusun: Ust. Zaenal Abidin bin  Syamsudin, Lc</p>
<p><strong>5. Motivasi yang Kurang Tepat</strong><br />
Kesalahan  orangtua atau guru dalam memberi motivasi kepada anak didiknya bisa  memberi dampak yang kurang baik. Misalnya, mendoromg anak berprestasi  dengan hadiah yang menggiurkan, atau memotivasi anak berprestasi agar  tidak tersaingi oleh teman-temannya, atau memotivasi anak agar bangga  dengan prestasi yang telah dicapainya. Motivasi yang demikian itu akan  merusak watak dan pribadi anak, karena anak terdorong bersungguh-sungguh  dalam menuntut ilmu bukan karena Allah, melainkan karena ingin  berprestasi dan mendapat hadiah yang menggiurkan.<br />
<span id="more-953"></span>Parahnya lagi,  hanya untuk mengejar hadiah yang dijanjikan, si anak bisa saja  menghalalkan segala cara, dengan mencontek atau berbuat curang lainnya,  yang penting hadiah didapat.</p>
<p>Alhasil, bila dia tidak bisa  berprestasi, maka dia akan menjadi orang yang frustasi dan malas  belajar, sedangkan pada anak yang didorong agar tidak tersaingi oleh  teman-temannya akan timbul sifat angkuh, sombong dan egois. Dan anak  yang dimotivasi agar bangga dengan prestasi yang dicapainya, tumbuh  menjadi anak yang tidak pandai bersyukur kepada Allah; ia hanya  bersemangat menuntut ilmu, tapi kehilangan kendali bila gagal.</p>
<p><strong>6.  Membatasi Kreativitas Anak</strong><br />
Ada sebagian orangtua yang membatasi,  memaksa dan selalu menentukan kreativitas anak. Ini akan mengekang  bakat anak, membuat anak kurang percaya diri, tidak pandai bergaul, dan  cenderung memisahkan diri dari teman-temannya. Seharusnya orangtua  mengarahkan, membimbing, mendorong dan memberi fasilitas agar anak  mengembangkan kreativitasnya sepanjang kreativitas itu tidak melanggar  syariat, tidak merugikan dan mengganggu orang lain, dan bermanfaat untuk  diri maupun agamanya. Anak yang merasa didukung kreativitasnya akan  tumbuh dengan kepala yang penuh ide cemerlang dan menjadi orang yang  bertanggung jawab, sekaligus menjadi anak yang bangga dengan  orang-tuanya.</p>
<p><strong>7.  Membatasi Pergaulan</strong><br />
Kadang,  karena tidak ingin anak terpengaruh oleh perilaku buruk teman  bergaulnya, orangtua bertindak sangat protektif terhadap anaknya.  Bahkan, anak tak boleh &#8220;nimbrung&#8221; jika orang tuanya sedang menerima  tamu. Atau, anak hanya diperbolehkan bergaul dengan teman-teman tertentu  yang belum tentu shalih, tapi justru dilarang mendekati temannya yang  shalih, paham As-Sunnah dan rajin beribadah.</p>
<p>Sikap orangtua  seperti di atas membuat anak menjadi pemalu dan tidak pandai bergaul,  atau akan membuat anak mudah merendahkan orang lain yang dianggap tidak  selevel dengannya.</p>
<p>Orangtua bijaksana akan mengawasi pergaulan  anak-anaknya, tanpa terlalu membatasi tapi juga tidak membiarkan anak  bergaul bebas. Orangtua harus selalu mengingatkan dan memantau agar anak  bergaul dengan orang-orang shalih, yang paham As-Sunnah, rajin  beribadah dan berakhlak mulia serta teman-teman yang bisa memotivasinya  menjadi orang yang bermanfaat untuk diri, agama, orang tua dan orang di  sekitarnya.</p>
<p><strong>8. Tidak Disiplin dan Kurang Tertib</strong><br />
Ketidakdisiplinan  dan kurang tertibnya orang tua dalam mendidik anak akan membuat anak  juga tidak disiplin dan tertib dalam menjalani hidupnya. Orangtua dan  para pendidik harus menanamkan hidup disiplin dan tertib sejak usia dini  sehingga anak terbiasa hidup disiplin dan tertib dalam menunaikan  tugas-tugas harian, terutama yang terkait dengan kewajiban agama dan  ibadah kepada Allah, tugas rumah dan tugas sekolahan. Anak harus dilatih  untuk membiasakan shalat fardhu tepat waktu dan berjemaah di masjid  (bagi anak laki-laki), melatih diri untuk berpuasa, serta menaati  perintah orangtua dalam kebaikan, bukan dalam kemaksiatan.</p>
<p>Setiap  orangtua atau pendidik hendaknya membuatkan jadwal rutin harian, yang  berkaitan dengan ibadah, tugas harian maupun tugas sekolah, dan orangtua  harus senantiasa mengontrol dan mengawasinya jangan sampai ada yang  terlewatkan.</p>
<p><strong>9. Hanya Pendidikan Formal</strong><br />
Sebagian  orangtua sudah merasa cukup mendidik anak bila sudah memberi mereka  pendidikan formal atau kursus bimbingan belajar. Padahal, kebanyakan  lembaga tersebut mengajarkan ilmu keduniaan saja, tanpa memedulikan  kebutuhan prinsipil seperti pendidikan akidah, pembinaan akhlak dan  pendidikan yang berbasis pada kemandirian. Alhasil, lulus dari  pendidikan formal, anak tidak bisa menghadapi realitas dan persaingan  hidup. Sebab, kebutuhan ilmu sang anak tidak dapat dipenuhi hanya  melalui madrasah saja.</p>
<p>Dengan kata lain, setiap anak harus  membekali dirinya dengan berbagai pengetahuan yang berkaitan dengan  realitas hidup, perkembangan teknologi, bisnis, informasi, komunikasi,  situasi terkini, dunia tumbuhan dan binatang. Dan untuk itu, orangtua  haruslah aktif dan selektif dalam memilihkan bacaan, yaitu memilihkan  bacaan yang bermanfaat dan tidak bertentangan dengan syariat Islam.  Karenanya, pendidikan non formal, terutama pendidikan agama mutlak  diperlukan, karena dengan pendidikan inilah si anak akan dapat  menyaring, mana ilmu teknologi, bisnis, komunikasi, dan segala hal yang  bermanfaat atau justru berpotensi merusak akidah maupun akhlak  seseorang.</p>
<p><strong>10. Kurang Mengenalkan Tanggung Jawab</strong><br />
Orangtua  harus menumbuhkan kesadaran dan rasa tanggung jawab yang tinggi pada  anak-anaknya akan tugas dan kewajiban mereka, baik yang terkait dengan  urusan agama maupun dunia. Masing-masing harus merasa bahwa tugas  sekecil apa pun merupakan amanah yang harus diemban dan beban tanggung  jawab yang harus dipikul sepenuh kemampuan. Anak harus dilatih untuk  lebih dahulu menunaikan kewajiban dari pada menuntut haknya baik  hubungannya dengan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala maupun kepada sesama  manusia terutama kepada orangtua, sanak-kerabat dan teman-temannya.</p>
<p>Orangtua  harus mengenalkan kepada anak-anaknya tanggung jawab kepada agama,  diri, dan lingkungannya. Bahkan anak harus dikenalkan pada kewajiban  zakat, infak dan sedekah, menyantuni anak yatim dan fakir-miskin agar  tumbuh rasa tanggung jawab dan sensitivitasnya pada agama dan  lingkungan, baik lingkungan rumah maupun sekolah.</p>
<p>11.Khawatir  yang Berlebihan<br />
12.Kurang Sabar dalam Menerima Hasil<br />
13.Curiga  Berlebihan<br />
14.Menjauhkan Anak dari Orang Shalih</p>
<p>keterangan  poin 11-14, edisi depan, <em>insya allah&#8230;</em></p>
<p>dari buku:<br />
judul:  &#8220;Untukmu Anak Shalih&#8221;<br />
penyusun: Ust. Zaenal Abidin bin Syamsudin,  Lc<br />
penerbit: rumah penerbit al-manar<br />
halaman: 38-42</p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=UexKFJSekxM:YZCuFgqVZrc:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=UexKFJSekxM:YZCuFgqVZrc:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?i=UexKFJSekxM:YZCuFgqVZrc:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=UexKFJSekxM:YZCuFgqVZrc:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=UexKFJSekxM:YZCuFgqVZrc:DN0H40_Ym5U"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=DN0H40_Ym5U" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=UexKFJSekxM:YZCuFgqVZrc:V-t1I-SPZMU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=V-t1I-SPZMU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=UexKFJSekxM:YZCuFgqVZrc:tr8VpXobKIM"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=tr8VpXobKIM" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=UexKFJSekxM:YZCuFgqVZrc:UT3xtbGYFzA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=UT3xtbGYFzA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=UexKFJSekxM:YZCuFgqVZrc:u0Zhe-nyOHo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=u0Zhe-nyOHo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=UexKFJSekxM:YZCuFgqVZrc:ACf-c_HutVc"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=ACf-c_HutVc" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogJilbabOnline/~4/UexKFJSekxM" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/953-jangan-salah-mendidik-bag-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://jilbab.or.id/archives/953-jangan-salah-mendidik-bag-2/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>mencetak anak shalih: JANGAN SALAH MENDIDIK</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/BlogJilbabOnline/~3/Ae6r0WYzfIU/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/949-mencetak-anak-shalih-jangan-salah-mendidik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Feb 2010 23:26:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sutikno bin Tumingan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Pribadi Shalihah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=949</guid>
		<description><![CDATA[JANGAN  SALAH  MENDIDIK
penyusun: Ust. Zaenal Abidin bin Syamsudin, Lc
Lembaga pendidikan hanya sebuah sarana dan sekolah hanya sekadar tempat singgah anak untuk menjalani persiapan menuju jenjang pendidikan berikutnya. Namun, sangat disayangkan sebagian lembaga pendidikan ternyata lebih banyak mewarnai perilaku dan tabiat buruk anak. Oleh karena itu, bila sukses dunia-akhirat adalah pertimbangan utama, maka orangtua harus pandai-pandai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>JANGAN  SALAH  MENDIDIK<br />
penyusun: Ust. Zaenal Abidin bin Syamsudin, Lc</p>
<p>Lembaga pendidikan hanya sebuah sarana dan sekolah hanya sekadar tempat singgah anak untuk menjalani persiapan menuju jenjang pendidikan berikutnya. Namun, sangat disayangkan sebagian lembaga pendidikan ternyata lebih banyak mewarnai perilaku dan tabiat buruk anak. Oleh karena itu, bila sukses dunia-akhirat adalah pertimbangan utama, maka orangtua harus pandai-pandai memilih lembaga pendidikan yang sejalan dengan syariat Islam.</p>
<p>Banyak orang awam dan berkantong tebal salah dalam memilih lembaga pendidikan. Alih-alih mempertimbangkan kebersihan akidah dan keluhuran akhlak bagi anak-anaknya, mereka hanya berorientasi pada keberhasilan di dunia. Alhasil, mereka hanya memilih sekolah favorit yang ternama dan bergengsi walaupun harus mengeluarkan biaya yang sangat besar. Sekolah mahal dipakai sebagai alat pengangkat prestise orangtua, sekadar alat untuk menunjukkan bahwa orangtua mampu menyekolahkan anak di sekolah pilihan orang kaya. Bila sudah begini, janganlah terlalu berharap memiliki anak shalih.</p>
<p>Berikut beberapa contoh kesalahan orang tua dalam memberikan pendidikan buat anak-anaknya:<br />
<span id="more-949"></span><strong>1. Salah Tujuan</strong><br />
Seringkali orangtua menyekolahkan anak karena malu pada tetangga bila anaknya bodoh atau kalah kecerdasannya, atau khawatir kelak anaknya tidak mendapat pekerjaaan yang layak. Atau, si orangtua hanya ingin agar anaknya nanti menjadi pengawai negeri dan pejabat tinggi yang banyak harta dan hidup mapan. Padahal, orangtua haruslah berangkat dari niat menjalankan<br />
perintah Allah, yaitu memenuhi kewajiban hamba sebagai orangtua yang memang dituntut untuk mendidik anak-anaknya agar menjadi hamba Allah subhanahu wa ta&#8217;ala yang bertakwa dan shalih, yang menjadi simpanan abadi di akhirat kelak.</p>
<p>Sayangnya, saat ini justru sekolah yang melulu berorientasi pada keberhasilan dunialah yang menjadi prioritas banyak orang awam. Mereka tak memperhatikan apakah terjadi ikhtilat atau tidak. Sehingga kemaksiatan mudah tercipta di sekolah tersebut, karena landasan agama dicampakkan, sementara dunia menjadi tujuan. Lihatlah, di sekolah-sekolah yang ikhtilat,<br />
banyak terjadi kasus zina melalui budaya pacaran, pergaulan bebas, dan asmara buta sehingga kekejian merebak dan perzinahan merajalela.</p>
<p><strong>2. Salah Sekolahan</strong><br />
Bisa jadi orangtua sudah benar dalam niat, tapi karena ilmu agamanya yang minim, ia salah mencarikan lembaga pendidikan bagi anak-anaknya. Misalnya, ia ingin anaknya paham ilmu agama, maka ia main masukkan saja anaknya ke sekolah agama seperti madrasah atau pesantren, tanpa peduli apakah pesantren itu penuh bid&#8217;ah atau tidak, dan apakah akidah dan akhlak para santri benar-benar terkontrol.</p>
<p>Harus diakui, saat ini masih ada sekolah Islam yang di situ bercampur-baur antara pelajar laki-laki dengan perempuan, atau kurang memperhatikan sistem pengajarannya, sehingga bercampur antara pelajaran yang syar&#8217;i dan bid&#8217;ah, bahkan antara ajaran Islam dan ajaran kafir. Alhasil, pemahaman dan efek buruklah yang diterima sang anak. Kelak, ia pun secara sistematis akan tumbuh menjadi generasi dengan pemahaman dan pengamalan Islam yang<br />
menyimpang dari syariat Islam.</p>
<p><strong>3. Salah Teladan</strong><br />
Sebagaimana yang telah saya jelaskan di atas, keteladan memiliki pengaruh kuat dalam proses pendidikan anak. Perilaku orangtua maupun guru berdampak kuat bagi pembentukan kematangan pribadi sang anak. Teladan yang salah akan membuat anak terdidik di atas kebiasaan buruk dan perilaku negatif. Karena itu, orangtua harus memilih pendidik yang menjunjung tinggi<br />
nilai-nilai akidah dan moral, serta memiliki kelebihan ilmu dan amal dibanding murid-muridnya.</p>
<p><strong>4. Salah Metode Pendidikan</strong><br />
Bisa saja pelajaran yang diberikan kepada sang anak sudah baik, tapi cara penyampaiannya yang tidak tepat, sehingga tujuan dan target pendidikan tidak tercapai, atau anak didik menjadi gagal. Mendisiplinkan anak-anak dengan sanksi kekerasan fisik, misalnya, hanya membentuk anak berwatak keras. Sebaliknya, memberi toleransi yang berlebihan akan membuat anak semakin manja. Anak yang selalu diluluskan permintaan materinya akan tumbuh menjadi anak yang cinta dunia, sementara anak yang biasa diabaikan permintaannya, bisa punya kebiasaan mencuri. Di sekolah, anak hanya dicecar dengan hafalan, tapi kurang diajak memahami suatu permasalahan.</p>
<p>5. Motivasi yang Kurang Tepat<br />
6. Membatasi Kreativitas Anak<br />
7. Membatasi Pergaulan<br />
8. Tidak Disipilin dan Kurang Tertib<br />
9. Hanya Pendidikan Formal<br />
10.Kurang Mengenalkan Tanggung Jawab<br />
11.Khawatir yang Berlebihan<br />
12.Kurang Sabar dalam Menerima Hasil<br />
13.Curiga Berlebihan<br />
14.Menjauhkan Anak dari Orang Shalih</p>
<p><em><strong>keterangan poin 5-14, edisi depan, insya allah&#8230;</strong></em></p>
<p>dari buku:<br />
judul: &#8220;Untukmu Anak Shalih&#8221;<br />
penyusun: Ust. Zaenal Abidin bin Syamsudin, Lc<br />
penerbit: rumah penerbit al-manar<br />
halaman: 35-38</p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=Ae6r0WYzfIU:aZkYiZ27FlU:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=Ae6r0WYzfIU:aZkYiZ27FlU:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?i=Ae6r0WYzfIU:aZkYiZ27FlU:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=Ae6r0WYzfIU:aZkYiZ27FlU:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=Ae6r0WYzfIU:aZkYiZ27FlU:DN0H40_Ym5U"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=DN0H40_Ym5U" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=Ae6r0WYzfIU:aZkYiZ27FlU:V-t1I-SPZMU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=V-t1I-SPZMU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=Ae6r0WYzfIU:aZkYiZ27FlU:tr8VpXobKIM"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=tr8VpXobKIM" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=Ae6r0WYzfIU:aZkYiZ27FlU:UT3xtbGYFzA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=UT3xtbGYFzA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=Ae6r0WYzfIU:aZkYiZ27FlU:u0Zhe-nyOHo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=u0Zhe-nyOHo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=Ae6r0WYzfIU:aZkYiZ27FlU:ACf-c_HutVc"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=ACf-c_HutVc" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogJilbabOnline/~4/Ae6r0WYzfIU" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/949-mencetak-anak-shalih-jangan-salah-mendidik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://jilbab.or.id/archives/949-mencetak-anak-shalih-jangan-salah-mendidik/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>“Berikan kami Al Qur’an, bukan cokelat!”</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/BlogJilbabOnline/~3/w_CNTEPh7KE/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/945-berikan-kami-al-quran-bukan-cokelat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jan 2010 23:34:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sutikno bin Tumingan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Teladan]]></category>
		<category><![CDATA[Pribadi Shalihah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=945</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Al Qur&#8217;an! Al Qur&#8217;an! Bukan cokelat! Bukan Cokelat!&#8221; kata anak perempuan setengah berteriak ke beberapa teman lain yang sedang mengurus pengungsi.

Dua Pasang Mata di Tengah Salju: Al Qur&#8217;an Bukan Cokelat!
(Banyak yang sebenarnya harus saya catat ketika bekerja menemani anak-anak di berbagai daerah dan negara. Namun,cerita yang satu ini amat berkesan. Menohok konsep diri.)
Anak-anak hebat tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>&#8220;Al Qur&#8217;an! Al Qur&#8217;an! Bukan cokelat! Bukan Cokelat!&#8221; kata anak perempuan setengah berteriak ke beberapa teman lain yang sedang mengurus pengungsi.</p></blockquote>
<p><span id="more-945"></span></p>
<p><strong>Dua Pasang Mata di Tengah Salju: Al Qur&#8217;an Bukan Cokelat!</strong></p>
<p>(<em>Banyak yang sebenarnya harus saya catat ketika bekerja menemani anak-anak di berbagai daerah dan negara. Namun,cerita yang satu ini amat berkesan. Menohok konsep diri.</em>)</p>
<p>Anak-anak hebat tidak selamanya lahir dari fasilitas yang serba lengkap, bahkan sebagian dari mereka disembulkan dari kehidupan sulit yang berderak-derak. Mereka tumbuh dan berkembang dari kekurangan.</p>
<p>Pada sebuah musim dingin yang menggigit, di sebuah pedalaman, di belahan timur Eropa, kisah ini bermula. Kejadian menakjubkan, setidaknya bagi saya.</p>
<p>Salju bagai permadani putih dingin menyelimuti pedalaman yang telah kusut masai dirobek perang yang tak kunjung usai. Dentuman bom dan letupan senjata meraung-raung dimana-mana. Sesekali, terdengar ibu dan anak menjerit dan kemudian hilang.</p>
<p>Di tenda kami, puluhan anak duduk memojok dalam keadaan teramat takut.  Sepi. Takada percakapan. Takada jeritan. Hanya desah pasrah merayap dari mulut mereka terutama ketika terdengar letupan atau ledakan.</p>
<p>Di luar, selimut putih beku telah menutup hampir semua jengkal tanah. Satu-dua pohon perdu masih keras kepala mendongak, menyeruak. Beberapa di antara kami terlihat masih berlari ke sana-kemari. Memangku anak atau membopong anak-anak yang terjebak perang dan musim dingin yang menggigit tulang.</p>
<p>Tiba-tiba dari kejauhan, saya melihat dua titik hitam kecil. Lambat laun, terus bergerak menuju tenda kami. Teman di samping yang berkebangsaan Mesir mengambil teropong.</p>
<p>&#8220;Allahu Akbar!&#8221; teriaknya meloncat sambil melemparkan teropong sekenanya.</p>
<p>Saya juga meloncat dan ikut berlari menyusul dua titik hitam kecil itu. Seperti dua rusa yang dikejar Singa Kalahari, kami berlari.</p>
<p>Dari jarak beberapa meter, dapat kami pastikan bahwa dua titik hitam kecil itu adalah sepasang anak. Anak perempuan lebih besar dan tinggi dari anak lelaki. Anak perempuan yang manis khas Eropa Timur itu terlihat amat lelah. Matanya redup. Sementara, anak lelaki berusaha terus tegar.</p>
<blockquote><p>&#8220;Cokelat &#8230;,&#8221; sodor teman saya setelah mereka sampai di tenda penampungan kami.</p></blockquote>
<p>Anak yang lebih besar dengan mata tajamnya menatap teman saya yang menyodorkan sebungkus cokelat tadi.</p>
<p>Teman saya merasa mendapat perhatian maka dia semakin semangat menyodorkan cokelat. Diangsurnya tiga bungkus cokelat ke kepalan tangan anak yang kecil (yang ternyata adalah adiknya).</p>
<p>Sang Kakak dengan cepat dan mengejutkan kami mengibaskan tangannya menolak dua bungkus cokelat yang diberikan. Teman saya yang berkebangsaan Mesir itu terkesiap.</p>
<blockquote><p>&#8220;Berikan kami Al Qur&#8217;an, bukan cokelat!&#8221; katanya hampir setengah berteriak.</p></blockquote>
<p>Kalimatnya yang singkat dan tegas seperti suara tiang pancang dihantam berkali-kali.</p>
<p>Belum seluruhnya nyawa kami berkumpul, sang Kakak melanjutkan ucapannya,</p>
<blockquote><p>&#8220;Kami membutuhkan bantuan abadi dari Allah! Kami ingin membaca Al Qur&#8217;an. Tapi, ndak ada satu pun Al Qur&#8217;an.&#8221;</p></blockquote>
<p>Saya tercekat apalagi teman saya yang dari Mesir. Kakinya seperti terbenam begitu dalam dan berat di rumput salju. Kami bergeming.</p>
<p>Dua titik hitam yang amat luar biasa meneruskan perjalanannya menuju tenda pengungsi. Mereka berusaha tegap berjalan.</p>
<blockquote><p>&#8220;Al Qur&#8217;an! Al Qur&#8217;an! Bukan cokelat! Bukan Cokelat!&#8221; kata anak perempuan setengah berteriak ke beberapa teman lain yang sedang mengurus pengungsi.</p></blockquote>
<p>Saya dan teman Mesir yang juga adalah kandidat doktor ilmu tafsir Al Qur&#8217;an Universitas Al Azhar Kairo itu kaku.</p>
<p>[<em>Takakan pernah terlupakan kejadian di sekitar Mostar ini. Meski musim dingin dan dalam dentuman senjata pembunuh yang tak terkendali, angsa-angsa terus berenang di sebuah danau berteratai yang luar biasa indahnya. Beberapa anak menangis dipangkuan. Darah menetes. Beberapa anak-anak bertanya, dimana ayah dan ibu mereka. (Saya ingin melupakan tahunnya.</em>)]</p>
<p>== disalin dari:<br />
&#8220;<strong>Aku Mau Ayah! Mungkinkah tanpa sengaja anak Anda telah terabaikan? 45 Kisah Nyata Anak-Anak Yang Terabaikan</strong>&#8220;,  bab &#8220;<strong>Dua Pasang Mata di Tengah Salju: Al Qur&#8217;an Bukan Cokelat</strong>!&#8221; (hal 83-86)<br />
Penulis: Irwan Rinaldi.<br />
Penerbit: Progressio Publishing.<br />
Cetakan Pertama, Juni 2009<br />
==</p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=w_CNTEPh7KE:e-E4UOFlyEY:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=w_CNTEPh7KE:e-E4UOFlyEY:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?i=w_CNTEPh7KE:e-E4UOFlyEY:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=w_CNTEPh7KE:e-E4UOFlyEY:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=w_CNTEPh7KE:e-E4UOFlyEY:DN0H40_Ym5U"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=DN0H40_Ym5U" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=w_CNTEPh7KE:e-E4UOFlyEY:V-t1I-SPZMU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=V-t1I-SPZMU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=w_CNTEPh7KE:e-E4UOFlyEY:tr8VpXobKIM"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=tr8VpXobKIM" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=w_CNTEPh7KE:e-E4UOFlyEY:UT3xtbGYFzA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=UT3xtbGYFzA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=w_CNTEPh7KE:e-E4UOFlyEY:u0Zhe-nyOHo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=u0Zhe-nyOHo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=w_CNTEPh7KE:e-E4UOFlyEY:ACf-c_HutVc"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=ACf-c_HutVc" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogJilbabOnline/~4/w_CNTEPh7KE" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/945-berikan-kami-al-quran-bukan-cokelat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://jilbab.or.id/archives/945-berikan-kami-al-quran-bukan-cokelat/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Aida: “Aku mau sekolah terus, tidak mau bekerja”</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/BlogJilbabOnline/~3/viQ9D-nT_YE/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/940-aida-aku-mau-sekolah-terus-tidak-mau-bekerja/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Jan 2010 08:24:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sutikno bin Tumingan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Obrolan Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=940</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Setelah selesai magister manajemen saya berencana kuliah lagi, jurusan tata boga, terus saya akan kuliah lagi jurusan apa&#8221; belum selesai  mengucapkan jurusan apa. Selanjutnya Pak Yazid tampak terkejut,  &#8220;Aida kamu masak mau sekolah terus, kapan kamu mau kerja&#8221;, sergah pak Yazid dengan penuh penasaran.
Tulisan Ummu Mumtaz (ibu rumah tangga, tinggal di Yogyakarta),- dimuat di &#8216;Fahma&#8217; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>&#8220;Setelah selesai magister manajemen saya berencana kuliah lagi, jurusan tata boga, terus saya akan kuliah lagi jurusan apa&#8221; belum selesai  mengucapkan jurusan apa. Selanjutnya Pak Yazid tampak terkejut,  &#8220;Aida kamu masak mau sekolah terus, kapan kamu mau kerja&#8221;, sergah pak Yazid dengan penuh penasaran.</p></blockquote>
<p>Tulisan <strong>Ummu Mumtaz</strong> (ibu rumah tangga, tinggal di Yogyakarta),- dimuat di &#8216;<strong>Fahma&#8217; Vol 6 No.08 Agustus 2009, hal 16-17</strong>-  ini, banyak yang dapat kita ambil faedahnya, insya Allah.  Apa saja faedah yang bisa kita dapatkan?  Silakan temukan sendiri faedah-faedah yang berserak&#8230;. selamat mencari.</p>
<p><span id="more-940"></span>Aida setiap hari kesepian di rumah, pasalnya bapak dan ibu Aida selalu pulang sore. Aida anak tunggal, kebetulan tetangga dekat tidak mempunyai anak seusia Aida. Sepulang sekolah biasanya Aida menggunakan waktunya untuk mengulang pelajaran sekolah dan jika sudah capek beralih nonton televisi. Begitulah rutinitas Aida sehari-hari.</p>
<p>Ibu Aida biasanya pulang kerja pukul 16.00 WIB,  sedangkan bapak Aida pulang kerja selepas Maghrib.  Oleh-oleh kedua orangtua Aida selalu tak kelupaan buat Aida.  Kadang Aida sendiri yang pesan makanan kesukaanya, bakso.</p>
<p>Karena bekerja seharian ibu Dina orangtua Aida tampak capek sesampai di rumah, ibu Dina seorang manager perusahaan kertas FT Satria Makmur.  Perusahaan di mana ibu Dina menjadi manager, memiliki karyawan 10.000 orang.  Lain halnya dengan pak Yazid,  orang tua Aida ini pengawas mekanik perusahaan tekstil PT Sritex Jaya.  Karena jarak tempuh yang lebih jauh jika di banding tempat kerja ibu Dina, maka pak Yazid harus berangkat lebih dulu dan pulang belakangan.</p>
<p>Hari-hari Aida ditemani oleh seorang pembantu bagian dapur dan seorang pegawai taman.  Perasaan jenuh kerap menimpa Aida ketika menunggu kedua orang tua pulang kerja.  Rumah besar yang dilengkapi berbagai perabot mewah selalu sepi, kecuali sekali waktu ada teman-teman ibu Dina arisan.</p>
<p>Aida perlahan tapi pasti beranjak remaja.  Sekarang kelas dua SMP.  Kisah Aida yang begitu mencengangkan bermula dari kelas dua SMP.</p>
<p>Setiap pulang kerja ibu Aida selain tampak capek juga mengeluh tentang persoalan di tempat kerja. Ibu Aida tak menyadari ekspresi wajah dan keluhan persoalan kerjanya direkam oleh putrinya,  belum selesai ibunya<br />
bercerita,  Aida kedatangan bapaknya pulang kerja.   Cerita serupa meluncur dari pak Yazid ayah Aida.  &#8220;<strong><em>Hari ini sial betul saya, lima mesin macet total secara mendadak,  saya kena teguran keras pimpinan</em></strong>&#8220;, sambil meletakkan tas di atas meja, pak Yazid melanjutkan keluhannya.</p>
<p>Aida tertegun memandangi kedua orangtuanya, ia tidak mendapati tegur sapa kedua orang tuanya.  Tanpa disadari Aida terbersit pikiran negatif tentang dunia kerja.  &#8220;<strong><em>Wah besok aku tidak mau kerja,  kerja itu capek,  ruwet dan tidak menyenangkan,  aku akan sekolah terus saja</em></strong>&#8220;, pikir Aida sambil melamun.</p>
<p>Aida lulus SMP,  orang tua Aida menawari untuk memilih sekolah yang disukai Aida.   Kedua orang tua Aida tampak senang karena nilai UAN Aida bagus.   Aida memilih sekolah berkelas internasional, yang waktu sekolahnya lebih panjang.   Alasan Aida memilih sekolah internasional agar bisa lama di sekolah, berangkat jam 06.00 WIB hingga jam 18.00 WIB. Karena di rumah sepi.</p>
<p>Prestasi akademik Aida luar biasa, setiap hari bisa memberikan kebanggaan buat orangtua.  Perjalanan Aida di SMA cukup gemilang hingga kelas 3.   Aida merasa enjoy di sekolah, karena banyak teman-temannya yang baik dan fasilitas sekolah lengkap.</p>
<p>Waktu ujian akhirpun tiba, Aida telah siap dengan segalanya. Pak Yazid kaget ketika membaca koran, kalau pekan depan sudah tiba saatnya ujian.  Maklum selama ini tidak sempat menanyakan kesiapan ujian pada anaknya.  &#8220;<strong><em>Aida, besok Senin kamu ujian kan, sudahkah kamu siap untuk ujian nak&#8230;?</em></strong>&#8221; teriak Yazid kepada putrinya, Aida.   Aida yang ada di dalam kamar spontan menjawab, &#8220;<strong><em>Sudah</em>&#8220;</strong>.</p>
<p>Usai ujian,  Aida cukup gembira,  nilai sembilan tiap mata pelajaran diraihnya dengan mudah.  &#8220;<strong><em>Saya harus mendapatkan nilai bagus agar saya bisa kuliah, saya tidak mau kerja</em></strong>&#8220;,  gumam Aida.   Masuklah Aida kejurusan ekonomi kelas internasionnal.   Kedua orangtua Aida amat gembira dengan keberhasilan anaknya, Aida.</p>
<p>Seiring dengan karir yang meningkat ibu Dina semakin sibuk, keluhan capek dan keruwetan di kantor semakin nyaring di telinga Aida.   Aida semakin &#8220;alergi&#8221; dengan kerja.   Gelar sarjana begitu cepat diraih Aida,  prestasi akademik diraih dengan gemilang, IPK 3,9 indikatornya.</p>
<p>Kedua orangtua Aida ternyata sempat memperbincangkan lapangan kerja buat satu-satunya buah hati mereka.  Saling tarik-menarik antara pak Yazid dan Ibu Dina terjadi.  Pak Yazid menghendaki Aida masuk dan berkarir di tempatnya kerja PT Tekstil Sritex Jaya,   ibu Dina juga menghendaki Aida bekerja di tempat ia bekerja,  pabrik kertas PT Satria Makmur.   Deadlock pun terjadi.   Akhirnya mereka sepakat menyerahkan pilihan kerja pada yang bersangkutan, Aida.</p>
<p>Selepas makan malam Bu Dina menyempatkan mengajak bicara Aida, pekerjaan apa yang akan ia kehendaki setelah lulus sarjana ekonomi.   &#8220;<strong><em>Aida, ibu sangat ingin kamu bekerja bersama ibu, gajinya bisa besar</em></strong>&#8220;, kata ibu.   Pak Yazid pun menimpali,  &#8220;<strong><em>Aida, kebetulan di tempat bapak kerja membutuhkan tenaga baru, kamu bisa masuk</em></strong>&#8220;.   Tak sepatah katapun keluar di mulut Aida. Kedua orang tuanya, menunggu pilihan kerja di mana yang dikehendaki Aida.</p>
<p>&#8220;<strong><em>Ibu,  bapak,  saya akan sekolah lagi,  saya tidak mau kerja.   Saya akan mengambil program studi magister manajemen</em></strong>&#8220;,  kata Aida.   Kedua orangtua tampak senang walaupun keinginan Aida untuk mengikuti jejak kerjanya tidak terkabul.   Keadaan mendadak berubah menjadi tegang ketika Aida melanjutkan bicaranya.</p>
<p>&#8220;<strong><em>Setelah selesai magister manajemen saya berencana kuliah lagi,  jurusan tata boga,  terus saya akan kuliah lagi jurusan apa&#8230;</em></strong>&#8221; belum selesai mengucapkan jurusan apa.   Selanjutnya Pak Yazid tampak terkejut.   &#8220;<strong><em>Aida kamu masak mau sekolah terus, kapan kamu mau kerja</em></strong>&#8220;, sergah pak Yazid dengan penuh penasaran.</p>
<p>&#8220;<strong><em>Aku tidak mau kerja, aku mau sekolah terus, kerja itu capek banyak persoalan dan tidak enak</em></strong>&#8220;, lanjut Aida.</p>
<p>Kedua orangtua Aida nampak berpandangan, terbersit saling menyalahkan antara keduanya.</p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=viQ9D-nT_YE:WPo9M1_OJU8:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=viQ9D-nT_YE:WPo9M1_OJU8:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?i=viQ9D-nT_YE:WPo9M1_OJU8:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=viQ9D-nT_YE:WPo9M1_OJU8:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=viQ9D-nT_YE:WPo9M1_OJU8:DN0H40_Ym5U"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=DN0H40_Ym5U" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=viQ9D-nT_YE:WPo9M1_OJU8:V-t1I-SPZMU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=V-t1I-SPZMU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=viQ9D-nT_YE:WPo9M1_OJU8:tr8VpXobKIM"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=tr8VpXobKIM" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=viQ9D-nT_YE:WPo9M1_OJU8:UT3xtbGYFzA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=UT3xtbGYFzA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=viQ9D-nT_YE:WPo9M1_OJU8:u0Zhe-nyOHo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=u0Zhe-nyOHo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=viQ9D-nT_YE:WPo9M1_OJU8:ACf-c_HutVc"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=ACf-c_HutVc" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogJilbabOnline/~4/viQ9D-nT_YE" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/940-aida-aku-mau-sekolah-terus-tidak-mau-bekerja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://jilbab.or.id/archives/940-aida-aku-mau-sekolah-terus-tidak-mau-bekerja/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Indahnya Rumah Tangga di Bawah Naungan Manhaj  Nubuwwah</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/BlogJilbabOnline/~3/35iBOSXJqOI/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/922-indahnya-rumah-tangga-di-bawah-naungan-manhaj-nubuwwah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Jan 2010 21:50:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>JO admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Nikah]]></category>
		<category><![CDATA[rumah tangga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=922</guid>
		<description><![CDATA[


Oleh Ust. Abu Ahmad bin Syamsyuddin
Rumah Tangga Sebuah Amanah
Kewajiban paling utama, tanggung jawab paling besar, dan amanah paling berat adalah pendidikan terhadap keluarga dan bimbingan untuk rumah tangga, berawal dari diri sendiri kemudian istri, anak-anak , dan kerabatnya. Inilah yang dimaksud firman Alloh:
يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارً۬ا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡہَا مَلَـٰٓٮِٕكَةٌ غِلَاظٌ۬ [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center">
<p style="text-align: center"><img class="size-full wp-image-927 aligncenter" src="http://jilbab.or.id/wp-content/uploads/2010/01/63.jpg" alt="63" width="258" height="196" /></p>
<p style="text-align: center">
<p style="text-align: center"><span style="color: #000000">Oleh Ust. Abu Ahmad bin Syamsyuddin</span></p>
<p><span style="color: #800080"><strong>Rumah Tangga Sebuah Amanah</strong></span></p>
<p><span style="color: #000000">Kewajiban paling utama, tanggung jawab paling besar, dan amanah paling berat adalah pendidikan terhadap keluarga dan bimbingan untuk rumah tangga, berawal dari diri sendiri kemudian istri, anak-anak , dan kerabatnya. Inilah yang dimaksud firman Alloh:</span></p>
<p><span style="color: #000000">يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارً۬ا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡہَا مَلَـٰٓٮِٕكَةٌ غِلَاظٌ۬ شِدَادٌ۬ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ (﻿٦﻿)</span></p>
<p><span style="color: #000000"><em>Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api naar yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa ang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. 66:6)</em></span></p>
<p><span style="color: #000000"><em><span id="more-922"></span></em>Pendidikan keluarga bukan sekedar kegiatan sambilan, pemikiran sedeharna, atau upaya ala kadarnya. Namun pendidikan keluarga merupakan kebutuhan asasi dan masalah yang sangat urgen serta memiliki konsekuensi jauh ke depan dalam menentukan masa depan rumah tangga. Seorang muslim harus bertanggung jawab atas segala kekurangan dan kesesatan yang terjadi di tengah keluarganya. Dari Ibnu Umar Rodhiyalloohu ‘Anhuma berkata: aku mendengar Rosulullooh Shololloohu ‘alaihi wassallam bersabda:</span></p>
<p><span style="color: #000000"><strong>“</strong><strong><em>Kamu sekalian adalah pemimpin, dan </em></strong><strong><em>akan diminta </em></strong><strong><em>tanggung</em></strong><strong><em> </em></strong><strong><em>jawab</em></strong><strong><em> </em></strong><strong><em>atas </em></strong><strong><em>ke</em></strong><strong><em>pimpin</em></strong><strong><em>an</em></strong><strong><em>nya</em></strong><strong><em>, s</em></strong><strong><em>eorang </em></strong><strong><em>imam</em></strong><strong><em> adalah pemimpin, dan </em></strong><strong><em>akan diminta </em></strong><strong><em>tanggung</em></strong><strong><em> </em></strong><strong><em>jawab</em></strong><strong><em> </em></strong><strong><em>atas kepemimpinannya</em></strong><strong><em> dan seorang</em></strong><strong><em> laki-laki </em></strong><strong><em>adalah</em></strong><strong><em> pemimpin dan </em></strong><strong><em>akan diminta </em></strong><strong><em>tanggung</em></strong><strong><em> </em></strong><strong><em>jawab</em></strong><strong><em> </em></strong><strong><em>atas atas kepemimpinannya</em></strong><strong><em>, dan wanita adalah penanggung jawab terhadap rumah suaminya </em></strong><strong><em> dan </em></strong><strong><em>akan diminta </em></strong><strong><em>tanggung</em></strong><strong><em> </em></strong><strong><em>jawa</em></strong><strong><em>bnya</em></strong><strong><em>, </em></strong><strong><em>serta pembantu penanggung jawab atas harta benda majikannya dan akan diminta </em></strong><strong><em>tanggung</em></strong><strong><em> </em></strong><strong><em>jawa</em></strong><strong><em>bnya</em></strong><strong><em>”</em></strong><strong><em>.</em></strong><strong><em> </em></strong><em>(</em><em>Shohih, diriwayatkan oleh</em><em> Bukh</em><em>o</em><em>ri</em><em> dalam </em><em>Shohih</em><em>-nya: 893, 2409, 2554, 2558, 2571, 5188, dan 7138. </em><em> Muslim</em><em> dalam </em><em>Shohih</em><em>-nya: 4701, dan Tirmidzi dalam </em><em>Sunan</em><em>-nya: 1705)</em><em> </em></span></p>
<p><span style="color: #000000">Keluarga yang baik merupakan nikmat yang paling agung dan karunia yang palingberharga dan tidak ada yang mampu menghargai dan mengenali nilainya kecuali orang yang telah memiliki keluarga hancur dan rumah tangga berantakan sehingga kehidupan laksana terkurung oleh hawa neraka, dan hari-harinya hampir diwarnai perih dan pilu karena keluarga berantakan.</span></p>
<p><span style="color: #800080"><strong>Bekal Membina Rumah Tangga</strong></span></p>
<p><span style="color: #000000">Ketahuilah bahwa berbagai macam problem kehidupan dalam rumah tangga sering timbul akibat kebodohan terutama terhadap ilmu agama. Dan sebagai obatnya adalah belajar, sebagaimana sabda Nabi Shololloohu ‘alaihi wassallam kepada para sahabat Rodhiyalloohu ‘Anhuma:</span></p>
<p><span style="color: #000000"><em>“Mengapa mereka tidak bertanya jika tidah tahu? Sesungguhnya obat kebodohan adalah bertanya”.</em> (Hasan, diriwayatkan Imam Abu Dawud dalam <em>Sunan</em>-nya: 337 dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya:572. Dan dihasankan syaikh al-Albani dalam Shohih <em>Sunan </em>Abu Dawud: 337)</span></p>
<p><span style="color: #000000">Kedunguan hati dari ilmu dan kebisuan lisan dari berbicara dinyatakan sebagai penyakit. Dan obatnya adalah bertanya kepada ulama, sehingga meraih ilmu yang bermanfaat, sebab ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang terpancar dari lentera Al-Qur’an dan as-Sunnah sesuai dengan pemahaman  para sahabat dan tabi’in , termasuk perkara yang terkait dengan ma’rifat kepada Alloh, hukum halal-haram, zuhud, kebersihan hati dan akhlaq mulia, serta mengatur kehidupan rumah tangga.</span></p>
<p><span style="color: #000000">Ilmu yang bermanfaat berfungsi sebagai pemusnah secara tuntas dua penyakit rohani yang paling berbahaya dan menjadi biang penyakit hati yaitu syubhat dan syahwat. Maka sebagai seorang pendidik, sebelum membina keluarganya, harus membekali dirinya dengan ilmu agama yang cukup. Sehingga dengan bekal ilmu agama yang bermanfaat, semua urusan rumah tangga menjadi mudah dan berdakwah di tengah keluarga menjadi lancar. Apalagi bila ilmu telah meresap ke dalam hati maka akan melenyapkan penyakit syubhat dan syahwat, mencabut kedua penyakit itu sampai ke akar-akarnya. Ibaratnya orang yang sedang minum obat, segala macam kuman akan hancur dan musnah, sementara obat yang paling manjur adalah obat yang cepat meresap ke dalam tubuh dan tidak membuat kuman kebal, tetapi untuk memusnahkan.</span></p>
<p><span style="color: #800080"><strong>Akhlaq Seorang Pendidik</strong></span></p>
<p><span style="color: #000000">Seorang pembina rumah tangga harus berilmu, berperangai lemah lembut, bersabar dalam mendidik, sehingga akan memberikan kesan yang baik pada keluarga, seperti firman Alloh Subhannahu Ta’ala:</span></p>
<p><span style="color: #000000">فَبِمَا رَحۡمَةٍ۬ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡ‌ۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَ‌ۖ فَٱعۡفُ عَنۡہُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ وَشَاوِرۡهُمۡ فِى ٱلۡأَمۡرِ‌ۖ فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ (﻿١٥٩﻿)</span></p>
<p><span style="color: #000000"><em>Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.</em> (QS. Ali Imran [3]: 159)</span></p>
<p><span style="color: #000000">Syaikhul islam Ibnu taimiyah Rohimahulloh berkata:</span></p>
<p><span style="color: #000000"><em>“Hendaknya tidak menyeru kebaikan dan melarang kemungkaran kecuali setelah memiliki tiga bekal: berilmu sebelum menyeru kebaikan dan melarang kemungkaran, berperangai lemah lembut ketika menyeru kebaikan dan melarang kemungkaran, serta bersabar setelah menyeru kebaikan dan melarang kemungkaran.”</em> (al-Amr bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Munkar, Ibnu Taimiyah, hal. 57)</span></p>
<p><span style="color: #000000">Hendaknya seorang pendidik paling terdepan dalam memberi contoh karena sangat berat ancaman orang yang tidak konsekuen terhadap ajakannya, sebagaimana sabda Nabi Shololloohu ‘alaihi wassallam:</span></p>
<p><span style="color: #000000">“<em>Nanti pada hari kiamat ada seseorang didatangkan lalu dilemparkan ke dalam neraka, maka ususnya keluar. Lalu ia berputar-putar di sekitar penggilingan. Kemudian penghuni neraka mengerumuninya dan bertanya, ‘Hai Fulan, ada apa denganmu? Bukankah kamu yang menyeru kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran?’ Ia menjawab, ‘Ya, aku telah menyeru kepada kebaikan tetapi aku sendiri tidak mengerjakannya dan aku melarang orang dari kemungkaran tetapi aku sendiri mengerjakannya.”</em> (Shohih, diriwayatkan Imam Bukhori dalam <em>Shohih</em>-nya: 3267, 7098. Dan Imam Muslim dalam <em>shohih-</em>nya: 7408)</span></p>
<p><span style="color: #000000">Hadits shohih di atas memberi petunjuk bahwa orang yang mengetahui kebaikan dan kemungakaran lalu melanggarnya lebih berat siksaannya daripada orang yang tidak mengetahuinya karena ia seperti orang yang menghina larangan Alloh dan meremehkan syari’at-Nya, sehingga ia termasuk ahli ilmu yang tidak bermanfaat ilmunya.</span></p>
<p><span style="color: #800000"><strong>Wahai saudaraku, para suami&#8230;</strong></span></p>
<p><span style="color: #000000"><strong> </strong>Wahai sang suami, sungguh engkaulah pemegang kendali rumah tangga, ikatan pernikahan dan perjanjian yang berat, karena Alloh berfirman:</span></p>
<p><span style="color: #000000">&#8230;.. وَّاَخَذۡنَ مِنۡكُمۡ مِّيۡثَاقًا غَلِيۡظًا</span></p>
<p><span style="color: #000000"><em>Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat. (QS. 4:21)</em></span></p>
<p><span style="color: #000000">Anda telah memikul tanggung jawab, memegang amanat dan beban rumah tangga. Hubungan penikahan merupakan kemuliaan bagi laki-laki dan perempuan, maka secara fitroh dan naluri masing-masing memiliki tugas hidup agar kehidupan rumah tangga berjalan normal dan lurus seperti firman Alloh:</span></p>
<p><span style="color: #000000">ٱلرِّجَالُ قَوَّٲمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٍ۬ وَبِمَآ أَنفَقُواْ مِنۡ أَمۡوَٲلِهِمۡ‌ۚ فَٱلصَّـٰلِحَـٰتُ قَـٰنِتَـٰتٌ حَـٰفِظَـٰتٌ۬ لِّلۡغَيۡبِ بِمَا حَفِظَ ٱللَّهُ‌ۚ وَٱلَّـٰتِى تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَٱهۡجُرُوهُنَّ فِى ٱلۡمَضَاجِعِ وَٱضۡرِبُوهُنَّ‌ۖ فَإِنۡ أَطَعۡنَڪُمۡ فَلَا تَبۡغُواْ عَلَيۡہِنَّ سَبِيلاً‌ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيًّ۬ا ڪَبِيرً۬ا (﻿٣٤﻿)</span></p>
<p><span style="color: #000000"><em>Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka [laki-laki] atas sebahagian yang lain [wanita], dan karena mereka [laki-laki] telah menafkahkan sebagian dari harta  mereka. </em>(QS. An-Nisa’ [4]: 34)</span></p>
<p><span style="color: #000000">Upayakanlah kendali rumah tangga, terutama isterimu, tetap berada di tanganmu. Jangan bersikap lemah dan tidak berwibawa serta tidak berdaya di hadapan tuntutan dan tekanan isterimu, akhirnya ia menghinamu, memperbudakmu, dan merendahkanmu sehingga kehidupan rumah tanggamu berantakan bagaikan neraka. Begitu pula, jangan engkau menghinanya dan menzholiminya, serta menganggapnya seperti barang tak berguna, sebab sikap semena-mena terhadap orang yang lemah seperti isterimu menunjukkan kerdilnya sebuah kepribadian. Terimalah kebaikan yang telah diberikan kepadamu dengan senang hati dan bersabarlah atas berbagai kekurangannya, serta jangan mengangan-angankan kesempurnaan darinya karena dia diciptakan oleh Alloh dari tulang rusuk yang bengkok sebagaimana sabda Rosululloh Shololloohu ‘alaihi wassallam:</span></p>
<p><span style="color: #000000">((إِنَّ الْمَرْأَةََ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ, لَنْ تَسْتَقِيْمَ لَكَ عَلَى طَرِيْقَةٍ, فَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اِسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَفِيْهَا عِوَجٌ, وَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهَا كَسَرْتَهَا وَكَسْرُهَا طَلاَقُهَا))<br />
<em>&#8220;Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk, ia tidak bisa lurus bersamamu di atas satu jalan. Jika kamu menikmatinya maka kamu menikmatinya dalam kondisi bengkok, namun bila anda ingin  meluruskannya, maka boleh jadi patah dan patahnya adalah talak.”</em> (Shohih, diriwayatkan Imam Muslim dalam <em>Shohih</em>-nya: 3631)</span></p>
<p><span style="color: #800000"><strong>Wahai saudaraku, para isteri&#8230;</strong></span></p>
<p><span style="color: #000000">Setiap kesalahan yang dilakukan seorang isteri, perasaan mengikuti hawa nafsu, sikap terlalu cemburu, atau was-was hanya merupakan bisikan setan dan bersumber dari lemahnya iman kepada Alloh, sehingga rumah tangga berubah meikan bagnjadi berantakan laksana neraka dan rumah tangga menjadi porak-poranda bagaikan bangunan disambar halilintar; akibatnya, semua pihak menyesali pernikahan tersebut. Atau boleh jadi karena kesalahan isteri menjadi penyebab talak (perceraian), kemudian jiwa menjadi goncang dan ditimpa kegelisahan yang sangat berat.</span></p>
<p><span style="color: #000000">Betapa indahnya bila anda meluruskan hati, ahlak, dan tabiat ketika bergaul dengan suami dan kerabat suami anda. Betapa eloknya bila anda selalu menggunakan akal sehat dan kesabaran dalam setiap menghadapi urusan rumah tangga. Betapa mulianya ketika seorang isteri mampu menjadi pendamping setia bagi suami, dan betapa agung kedudukannya di hati sang suami bahkan ia mampu memikat perasaan suami ketika sang isteri berkata: “Aku mendengar dan mentaati”.</span></p>
<p><span style="color: #000000">Semoga saudariku muslimah mendapa taufiq dan hidayah dengan etika Islam, mau menyempurnakan akal pikiran dengan ilmu dan ma’rifah, dan menyembuhkan hatinya dengan keimanan kepada Alloh, sehingga kehidupan penuh dengan suasana bahagia dan hidup bersama sang suami penuh dengan ketenangan dan ketentraman serta kegembiraan.</span></p>
<p><span style="color: #000000">Wahai para isteri, tunaikanlah kewajibanmu terhadap suamimu, niscaya engkau akan mendapat kasih sayang dan cintanya!.</span></p>
<p><span style="color: #ff00ff"><strong>Kewajiban Seorang Suami</strong></span></p>
<p><span style="color: #000000">Kewajiban sebagai seorang suami banyak sekali namun yang terpenting antara lain:</span></p>
<p><span style="color: #000000">1.  Kewajiban materi meliputi pemberian nafkah, kebutuhan pakaian, dan kebutuhan pendidikan keluarga serta kebutuhan tempat tinggal</span></p>
<p><span style="color: #000000">2.  Tidak boleh memberatkan isteri dengan mengajukan berbagai tuntutan kebutuhan di luar kemampuannya, dan tidak boleh membuat suasana kacau karena permasalahan sepele, sebagaimana yang telah diwasiatkan Rosululloh Shololloohu ‘alaihi wassallam:</span></p>
<p><span style="color: #000000"><em>“Ingatlah dan berwasiatlah kepada wanita dengan kebaikan, karena mereka berada disisimu bagaikan pelayan, dan kalian tidak bisa memiliki lebih dari itu kecuali mereka telah melakukan perbuatan keji yang jelas</em>.”(Shohih, diriwayatkan Tirmidzi dalam <em>Sunan</em>-nya: 1163 dan Ibnu Majah dalam <em>Sunan</em>-nya: 1851)</span></p>
<p><span style="color: #000000">3.  Kewajiban non materi seorang suami meliputi menggembirakan isteri dan bersikap lemah lembut dalam bertutur kata. Sang suami harus bermusyawarah dan mengambil pendapat sang isteri dalam rangka menunaikan kebaikan. Begitu juga, sang suami harus berterima kasih atas jerih payah isterinya, dan tidak boleh mendiamkan di atas tiga hari karena urusan keduniaan.</span></p>
<p><span style="color: #000000">4.  Hendaknya seorang suami memberi kesempatan bagi isterinya untuk beramal sholih, bersedekah dengan hartanya, memberi hadiah, menyambut tamu dari keluarga dan kerabatnya, serta setiap orang yang mempunyai hak atasnya.</span></p>
<p><span style="color: #000000">5.  Hendaknya mengambil waktu yang cukup untuk tinggal di rumah dan berusaha semaksimal mungkin menghindari keluar rumah tanpa tujuan dan sering berpergian, sering keluar rumah untuk bergadang tanpa manfaat, karena yang demikian itu bisa membawa kehancuran.</span></p>
<p><span style="color: #000000">6.  Hendaknya sang suami tidak melarang isterinya berkunjung kepada keluarga dan kerabatnya, asal tidak berlebihan.</span></p>
<p><span style="color: #000000">7.  Wanita dalah mahluk yang lemah, maka wajib bagi laki-laki memberi perhatian cukup, melarangnya keluar ke pasar dan lainnya seorang diri, dan harus menjauhkannya dari tempat yang i<em>khtilath</em> (bercampur) dan <em>kholwah</em></span> (berduaan/menyepi) dengan laki-laki lain. Begitu juga seorang suami harus menjauhkan sasuatu yang merusak aqidah dan akhlaq keluarganya, dan menyingkirkan segala sarana maksiat yang menghancurkan kehormatan, seperti alat musik.</p>
<p><span style="color: #000000">8.  Seorang suami harus mengajarkan kepada isterinya ilmu agama dan mendidiknya di atas kebaikan, serta menyiapkan segala kebutuhannya dalam rangka meraih ilmu dan istiqomah dalam beragama sesuai dengan ajaran Alloh</span></p>
<p><span style="color: #ff00ff"><strong>Kewajiban Seorang Isteri</strong></span></p>
<p>Di antara Kewajiban sebagai Seorang Isteri yang paling utama dan prinsip, antara lain:</p>
<p>1.<span style="color: #000000"> Mentaati dan mematuhi perintah suami selagi tidak menganjurkan maksiat kepada Alloh, karena tidak ada ketaatan kepada mahluk bila menganjurkan kepada maksiat dan pelanggaran kepada Alloh, seperti sabda Rosululloh Shololloohu ‘alaihi wassallam:</span></p>
<p><span style="color: #000000"><em>“Tidak ada ketaatan bagi orang yang bermaksiat kepada Allah Subahanahu wa Ta’ala”</em>. (Shahih. Diriwayatkan Muslim dalam <em>Shahih-</em>nya: 4840, at-Tirmidzi dalam <em>Sunan</em>-nya: 1707 dan Ibnu Majah dalam <em>Sunan-</em>nya: 2865 dengan lafazh Ibnu Majah serta dishahihkan Syaikh al-Albani.)</span></p>
<p><span style="color: #000000"> 2.  Dalam bidang materi, seorang isteri harus memberikan pelayanan fisik, baik yang berkaitan dengan kebutuhan pribadi suami atau rumah tangganya, sehingga ibadah <em>nafilah</em> (sunnah) menjadi gugur demi menunaikan tugas tersebut.</span></p>
<p><span style="color: #000000">Dari Abu Hurairoh sesungguhnya Rosululloh Shololloohu ‘alaihi wassallam: bersabda:</span></p>
<p><span style="color: #000000"><em>“Tidak boleh bagi seorang isteri berpuasa (sunnat) sementara suami ada di rumah kecuali atas izinnya (suami), tidak boleh ia mengizinkan orang lain masuk rumahnya kecuali atas izinnya (suami), dan setiap harta suami yang diinfaqkan sang isteri tanpa seizinnya, maka sang suami mendapatkan pahala separuh baginya.”</em> (Shohih, diriwayatkan Imam Bukhari dalam <em>Shahih</em>-nya: 2066 dan 5360, Imam Muslim dalam <em>Shahih</em>-nya: 2367 dan Abu Dawud dalam <em>Sunan</em>-nya: 1687, 2458).</span></p>
<p><span style="color: #000000"> 3.  Dalam bidang rohani, seorang isteri harus menjaga perasaan suami dan menciptakan suasana tenang dan kondusif dalam rumah tangga serta membantu meringankan beban dan penderitaan yang menimpa suaminya.</span></p>
<p><span style="color: #000000"> 4.  Dalam bidang kesejahteraan, seorang isteri harus mengingatkan suami tentang kebaikan, membantu dalam kebajikan dan ketaatan, membantu dalam bidang sosial, menyantuni fakir miskin dan membantu orang-orang yang lemah untuk memenuhi kebutuhan mereka.</span></p>
<p><span style="color: #000000"> 5.  Dalam bidang pendidikan, seorang isteri harus membantu suami dengan jiwa raga dan menerima segala nasehat dan arahannya. Begitu juga dia harus membantunya dalam mendidik dan meluruskan adab anak-anak serta menghindarkan sikap antipati dan masa bodoh terhadap masa depan pendidikan anak-anak.</span></p>
<p><span style="color: #000000"> 6. Hendaklah seorang isteri tidak mengajukan tuntutan nafkah atau lainnya yang memberatkan suami atau mempersulit suami.</span></p>
<p><span style="color: #000000">7.  Tidak berkhianat dalam dirinya, harta benda suami dan rahasia-rahasianya</span>.</p>
<p><span style="color: #800080"><strong>Balasan Bagi Rumah Tangga yang Berhasil</strong></span></p>
<p>Tiada amal sholih yang dianggap sia-sia oleh agama. Setiap kebaikan sekecil apapun pasti mendapat balasan. Setiap benih kebaikan yang disemai di ladang subur, pada musim panen pasti akan memetik hasilnya, maka suami dan isteri yang telah membina rumah tangga yang baik dan mengerahkan berbagai macam pengorbanan untuk mendidik keluarga. Alloh akan memberi balasan yang besar. Cukuplah balasan nikmat baginya berupa sanjungan, pujian, dan pahala yang besar setelah wafatnya, seperti yang telah ditegaskan sebuah hadits dari Abu Hurairoh Rodhiyalloohu ‘anhu ia berkata bahwa Rosululloh Shololloohu ‘alaihi wassallam bersabda:</p>
<p>“<em>Jika manusia meninggal maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara,: shodaqoh jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholih yang mendo’akannya</em>.” (HR. Bukhori 7/247 no.6514, dan Muslim 3/1016 no.1631)</p>
<p>Balasan yang lebih besar lagi, ia dikumpulkan di surga bersama para kekasih dan kerabatnya dalam satu tempat tinggal di surga, sebagai karunia dan balasan yang baik dari Alloh, seperti firman Allohu ta’ala:</p>
<p>وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَٱتَّبَعَتۡہُمۡ ذُرِّيَّتُہُم بِإِيمَـٰنٍ أَلۡحَقۡنَا بِہِمۡ ذُرِّيَّتَہُمۡ وَمَآ أَلَتۡنَـٰهُم مِّنۡ عَمَلِهِم مِّن شَىۡءٍ۬‌ۚ كُلُّ ٱمۡرِىِٕۭ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ۬ (﻿٢١﻿)</p>
<p><em>Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka.Tiap-tiap manusia terikat dengan apayang dikerjakannya. (QS. 52:21)</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em>Pembinaan rumah tangga secara baik, mampu mengangkat martabat, memperbaiki nasib rezeki, mengukir prestasi, memelihara moral generasi, dan menanggulangi dekadensi sehingga membuat hati tenang dan jiwa lapang. Maka pembinaan harus berbasis penumbuhan kesadaran, keimanan, ketaqwaan dan pengendalian diri, serta mampu membentuk suasana damai dan mesra sehingga perasaan kasih sayang tumbuh subur. Allohu musta’an</p>
<p><em>Diketik ulang oleh Ummu Tsaqiif al-Atsariyyah dari majalah Mawaddah Edisi 1 Tahun ke-1 (1428/2007) untuk </em><a href="../"><em>http://jilbab.or.id</em></a><em>)</em></p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=35iBOSXJqOI:BEAz8qGB7-I:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=35iBOSXJqOI:BEAz8qGB7-I:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?i=35iBOSXJqOI:BEAz8qGB7-I:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=35iBOSXJqOI:BEAz8qGB7-I:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=35iBOSXJqOI:BEAz8qGB7-I:DN0H40_Ym5U"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=DN0H40_Ym5U" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=35iBOSXJqOI:BEAz8qGB7-I:V-t1I-SPZMU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=V-t1I-SPZMU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=35iBOSXJqOI:BEAz8qGB7-I:tr8VpXobKIM"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=tr8VpXobKIM" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=35iBOSXJqOI:BEAz8qGB7-I:UT3xtbGYFzA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=UT3xtbGYFzA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=35iBOSXJqOI:BEAz8qGB7-I:u0Zhe-nyOHo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=u0Zhe-nyOHo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=35iBOSXJqOI:BEAz8qGB7-I:ACf-c_HutVc"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=ACf-c_HutVc" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogJilbabOnline/~4/35iBOSXJqOI" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/922-indahnya-rumah-tangga-di-bawah-naungan-manhaj-nubuwwah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://jilbab.or.id/archives/922-indahnya-rumah-tangga-di-bawah-naungan-manhaj-nubuwwah/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>DOA DARI 70 RIBU MALAIKAT !!</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/BlogJilbabOnline/~3/7s_h9rFHuFU/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/912-doa-dari-70-ribu-malaika/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Dec 2009 23:09:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sutikno bin Tumingan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[adab menjenguk orang sakit]]></category>
		<category><![CDATA[doa untuk orang sakit]]></category>
		<category><![CDATA[sakit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=912</guid>
		<description><![CDATA[

Tiada seorang muslim pun yang membesuk saudaranya yang sakit, melainkan Allah mengutus baginya 70.000 malaikat agar mendoakannya kapan pun di siang hari hingga sore harinya, dan kapan pun di sore hari hingga pagi harinya. (musnad ahmad 2/110, syaikh ahmad syakir mengatakan bahwa sanadnya shahih).


Syaikh Ahmad Abdurrahman al Banna dalam syarahnya menjelaskan, &#8216;Shalawat malaikat bagi anak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } --></p>
<blockquote>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: normal;"><strong>Tiada seorang muslim pun yang membesuk saudaranya yang sakit, melainkan Allah mengutus baginya 70.000 malaikat agar mendoakannya kapan pun di siang hari hingga sore harinya, dan kapan pun di sore hari hingga pagi harinya.</strong> (musnad ahmad 2/110, syaikh ahmad syakir mengatakan bahwa sanadnya shahih).</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: normal;"><span id="more-912"></span></p>
</blockquote>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: normal;">Syaikh Ahmad Abdurrahman al Banna dalam syarahnya menjelaskan, &#8216;Shalawat malaikat bagi anak adam ialah dengan mendoakan agar mereka diberi rahmat dan maghfirah.  Sedang yang dimaksud dengan &#8216;kapanpun di siang hari&#8217; yakni waktu ia menjenguk.  Jika ia menjenguknya di siang hari, maka malaikat mendoakannya hingga sore hari dan bila ia menjenguknya di malam hari, maka malaikat mendoakannya hingga pagi. Oleh karena itu, orang yang berniat hendaknya berangkat sepagi mungkin di awal siang, atau bersegera begitu malam menjelang, agar semakin banyak didoakan malaikat.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: normal;">&#8216;Siapa yang membesuk orang sakit di pagi hari akan diiring oleh 70.000 malaikat, semuanya memohonkan ampun untuknya hingga sore hari, dan ia mendapat taman di jannah.  Jika ia membesuknya di sore hari, ia akan diiring oleh 70 ribu malaikat yang semuanya memintakan ampun untuknya hingga pagi, dan ia mendapat taman di jannah.&#8217; (musnad ahmad 2/206, hadits 975. Syaikh ahmad syakir menilai hadits ini shahih)</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">
<p style="margin-bottom: 0cm;">
<p style="margin-bottom: 0cm;"><strong>AKU SAKIT, TETAPI KAMU TIDAK MENJENGUK-KU!</strong></p>
<blockquote>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya pada hari kiamat Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">&#8216;Hai Anak Adam, Aku Sakit, tetapi kamu tidak menjenguk-Ku.&#8217;</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Dia berkata. &#8216;Wahai Rabb-ku, bagaimana saya menjenguk-Mu, padahal Engkau adalah Rabb semesta alam?!&#8217;</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Dia berfirman, &#8216;Tidak tahukah kamu bahwa hamba-Ku, fulan, sakit, tetapi kamu tidak menjenguknya.  Tidak tahukah kamu jika kamu menjenguknya, kamu akan mendapati Aku berada di sisi-Nya.&#8217;</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: normal;">(diriwayatkan oleh Muslim, no. 2569)</p>
</blockquote>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;"><strong>HUKUM MENJENGUK ORANG SAKIT</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">Menjenguk orang sakit diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam.  Al Bara bin Azib radhiyallahu anhu meriwayatkan, “Nabi menyuruh kita tujuh hal dan melarang kita tujuh hal.  Beliau menyuruh kita untuk mengantarkan jenazah, menjenguk orang sakit, memenuhiundangan, menolong orang yang teraniaya, melaksanakn sumpah, menjawab salam, dan mendoakan orang yang bersin.  Dan beliau melarang kita memakai wadah (bejana) dari perak, cincin emas, kain sutera, <em>dibaj </em>(sutera halus), <em>qasiy</em> (sutera kasar), dan <em>istibraq</em> (sutera tebal). <strong>(Bukhari no.1239; Muslim no.2066)</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">Hadits-hadits yang memerintahkan kita untuk menjenguk orang sakit, membuat Imam Bukhari  membuat “bab Wujubi &#8216;Iyadatil-Maridh” (Bab Kewajiban Menjenguk Orang Sakit) di dalam kitab shahih nya.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">Imam Ath Thabari menekankan bahwa menjenguk orang sakit merupakan kewajiban bagi orang yang diharapkan berkah (dari Allah datang lewat diri) nya, disunnahkan bagi orang yang memelihara kondisinya, dan mubah bagi mereka.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">Imam Nawawi mengutip kesepakatan ulama bahwa menjenguk orang sakit hukumnya bukan wajib, yakni wajib &#8216;ain, (melainkan wajib kifayah).</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;"><strong>MANFAAT MENJENGUK ORANG SAKIT</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">Selain mendapat keutamaan sebagaimana hadits-hadits yang disebutkan diatas, menjenguk orang sakit memiliki beberapa manfaat, diantaranya:</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">Menjenguk 	orang sakit berpotensi memberi perasaan dan kesan kepadanya bahwa ia 	diperhatikan orang-orang disekitarnya, dicintai, dan diharapkan 	segera sembuh dari sakitnya. Hal ini dapat menentramkan hati si 	sakit.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">Menjenguk 	orang sakit dapat menumbuhkan semangat, motivasi, dan sugesti dari 	pasien; hal ini dapat menjadi kekuatan khusus dari dalam jiwanya 	untuk melawan sakit yang dialaminya.  Dalam dirinya ada energi hebat 	untuk sembuh.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">mencari tahu 	apa yang diperlukan si sakit.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">mengambil 	pelajaran dari penderitaan yang dialami si sakit.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">mendoakan si 	sakit</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">melakukan 	ruqyah (membaca ayat-ayat tertentu dari Al Quran) yang syar&#8217;i.</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;"><strong>MESKI SAKIT RINGAN, TETAP DIJENGUK!</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">Hadits-hadits yang ada, menyuruh dan mengajurkan untuk menjenguk orang sakit, baik yang sakit kecil maupun dewasa, anak-anak maupun orang tua, dari kaum laki-laki maupun wanita.  Sakit ringan maupun berat. Yang sakit terpelajar atau bukan, orang kota maupun desa, pejabat maupun rakyat jelata, miskin maupun kaya, mengerti makna menjenguk orang sakit atau pun tidak.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">Menjenguk orang sakit tetap dianjurkan, bahkan terkadang, dalam kondisi tertentun menjadi wajib, tanpa melihat bentuk penyakit tersebut, apakah tergolong parah atau ringan.  Hal ini sudah mulai memudar di antara kita, bahkan seringkali sebagian kita hanya merasa perlu menjenguk teman, saudara, atau kenalan yang sakit; jika sudah masuk rumah sakit.  Sekian lama terbaring di rumah, hanya sedikit yang menjenguknya.  Apalagi jika penyakit tersebut digolongkan penyakit ringan.  Padahal, nabi shallallahu alaihi wa sallam menjenguk salah seorang sahabatnya yang &#8216;hanya&#8217; sakit mata. Sakit mata biasa, bukan sejenis kebutaan atau penyakit mata berat lainnya!</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">Al Hafizh Ibnu Hajar berkata, &#8216;mengenai menjenguk orang yang sakit mata, bahkan sudah ada hadits khusus yang membicarakannya, yaitu hadits Zaid bin Arqam, dia menceritakan, &#8216;Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjenguk saya karena saya sakit mata.&#8217; (lihat adabul mufrad, no.532)</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;"><strong>MENJENGUK LAWAN JENIS?</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">Wanita boleh menjenguk laki-laki yang sedang sakit, ataupun sebaliknya; meskipun bukan mahramnya.  Akan tetapi, hal ini dengan syarat aman dari fitnah, menutup aurat, dan tidak terjadi khalwat (berduaan dengan lawan jenis).</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">Aisyah radhiyallahu anha meriwayatkan, Ketika Rasulullah shallalallahu alaihi wa sallam tiba di madinah, Abu Bakar dan Bilal terserang demam.  Kemudian, kata Aisyah, aku menemui mereka dan bertanya, &#8216;Ayah, bagaimana keadaanmu?&#8217; &#8216;Wahai Bilal, bagaimana keadaanmu?” <strong>(HR. Bukhari no.5654)</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">Ibnu Syihab meriwayatkan dari Abu Umamah bin Sahal bin Hanaif, &#8216;Bahwa dirinya diberitahu bahwasanya ada seorang wanita miskin yang sedang sakit.  Kemudian Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam pun diberitahu tentang sakitnya wanita tersebut.  Dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dahulu suka menjenguk orang-orang miskin dan menanyakan keadaan mereka.” <strong>(HR. Malik, Al Muwaththo&#8217; no.531)</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;"><strong>BOLEHKAN MENJENGUK ORANG MUSYRIK?</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">Menjenguk orang kafir oleh sabagian ulama dihukumi makruh.  Hal ini dikarenakan: secara implisit (tidak langsung) merupakan penghormatan kepada mereka. (lihat At-Tamhid, Ibnu Abdil Bar, 24/276).</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">Namun sebagia ulama yang lain berpendapat bolehnya menjenguk orang kafir apabila ada harapan untuk masuk islam.  Pendapat ini lebih dekat kepada apa yang dilakukan oleh Rasullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">Anas bin Malik meriwayatkan, &#8216;Bahwasanya ada seorang anak muda Yahudi yang pernah menjadi pembantu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.  Dia sakit, lalu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam datang menjenguknya.  Kemudian beliau bersabda, &#8216;Masuklah Islam!”  Maka dia pun masuk Islam.” <strong>(HR. Bukhari no.5657)</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">Sa&#8217;id bin Musayyib meriwayatkan dari ayahnya, dia berkata, &#8216;Ketika Abu Thalib hendak dijemput kematian. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendatanginya seraya bersabda, &#8216;Ucapkanlah &#8216;Laa ilaaha illa Allah&#8217; sebuah kalimat yang bisa aku jadikan sebagai hujjah untukmu di sisi Allah kelak.&#8217; <strong>(HR. Bukhari no.6681)</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;"><strong>KAPAN WAKTU MENJENGUK ORANG SAKIT?</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Tidak ada keterangan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang menerangkan waktu-waktu tertentu untuk menjenguk orang sakit.  Oleh karena itu, dapat dilakukan kapan saja, selama tidak merepotkan si sakit dan keluarganya.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Salah satu alasan menjenguk orang sakit adalah meringankan penderitaan si sakit dan memberinya dukungan moral, sehingga sangat tidak bijaksana jika kedatangan kita malah merepotkan yang bersangkutan.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Waktu yang tepat untuk menjenguk berbeda-beda pada setiap keadaan.  Berbeda-beda dari waktu ke waktu dan antara satu tempat dengan tempat lainnya.  Oleh karena itu, kita harus jeli mencari waktu yang pas untuk menjenguk, mampu memperkirakan kondisi si sakit &amp; keluarganya (sedang beristirahat atau tidak, sedang banyak tamu atau tidak, dan lain sabagainya).</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;"><strong>PERSINGKAT WAKTU KUNJUNGAN!</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Hendaknya kita memperhatikan waktu ketika menjenguk orang sakit.  Jangan sampai terlalu lama, karena hal ini bisa membebani bahkan menambah penderitaan si sakit ataupun keluarganya.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Ibnu Thowuss mengatakan bahwa ayahnya pernah berkata, &#8216;Sebaik-baik kunjungan kepada orang sakit ialah yang paling singkat.&#8217;</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Asy-Sya&#8217;bi mengatakan, &#8216;Kunjungan orang dungu lebih berat dirasakan oleh keluarga si sakit daripada sakitnya salah seorang angota keluarga mereka.  Yaitu, orang yang datang menjenguk pada waktu yang tidak tepat dan duduk terlalu lama.&#8217; (lihat At-Tamhid, Ibnu Abdil Bar, 24/277)</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Namun, apabila si sakit suka berlama-lama dengan penjenguknya, dan ingin dikunjungi sesering mungkin, maka sebaiknya keinginan tersebut dikabulkan oleh si penjenguk.  Sebab, hal ini berarti memberikan kegembiraan dan dukungan moral kepada si sakit.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Hal ini pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam terhadap Sa&#8217;ad bin Mu&#8217;adz sewaktu ia menjadi korban perang Khandaq.  Ketika itu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan agar Sa&#8217;ad dibuatkan kemah di dalam masjid agar beliau bisa menjenguknya dari dekat.  Sahabat mana yang tidak suka ditunggui oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan dikunjungi berulang kali? (lihat Bukhari no.463)</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;"><strong>BERAPA KALI MENJENGUK SESEORANG?</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Hal ini dikembalikan kepada kebiasaan, kondisi penjenguk, kondisi si sakit, berapa jauh hubungan yang bersangkutan dengan si sakit.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Orang yang lama jatuh sakit, maka dia dijenguk dari waktu ke waktu, dalam hal ini tidak ada batasan waktu tertentu.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;"><strong>MENJENGUK ORANG YANG PINGSAN ATAU KOMA</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Orang sakit yang dapat merasakan kehadiran kita dan yang tidak dapat merasakan kehadiran kita (misalnya karena pingsan atau koma), sama-sama memiliki hak untuk dijenguk.  Janganlah kita enggan menjenguknya, dengan alasan, toh&#8230;mereka tidak tahu dijenguk atau tidak&#8230;mereka tidak dapat merasakan kehadiran kita.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, &#8216;Anjuran menjenguk orang sakit tidak hanya ditujukan agar si sakit mengetahui penjenguknya.  Sebab, di balik kunjungan itu ada dukungan moral kepada keluarganya, harpaan mendapatkan berkah dari doa penjenguk, sentuhan tangannya kepada si sakit, meniupkan bacaan mu&#8217;awwidzat, dan lain-lain.&#8217;  (Fathul baari, 10/119)</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;"><strong>DIMANA POSISI DUDUK PENJENGUK?</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Orang yang menjenguk, dianjurkan duduk di dekat si sakit.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">&#8216;Adalah nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika menjenguk orang sakit, beliau duduk di sisi kepalanya.&#8217; <strong>(HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad, no.536, hadits shahih)</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Diantara manfaat duduk di sisi kepala si sakit: memberi rasa akrab kepada si sakit, dan memungkinkan bagi penjenguk untuk menyentuh si sakit, memanjatkan doa untuknya, meniupnya dengan ruqyah, dan lain sebagainya.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;"><strong>MENANYAKAN KEADAAAN SI SAKIT</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Ada baiknya kita menanyakan keadaan si sakit, sebagaimana yang dilakukan oleh Aisyah Radhiyallahu Anha,  Ketika Rasulullah shallalallahu alaihi wa sallam tiba di madinah, Abu Bakar dan Bilal terserang demam.  Kemudian, kata Aisyah, aku menemui mereka dan bertanya, &#8216;Ayah, bagaimana keadaanmu?&#8217; &#8216;Wahai Bilal, bagaimana keadaanmu?” <strong>(HR. Bukhari no.5654)</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;"><strong>JANGAN PAKSA SI SAKIT BERCERITA PANJANG LEBAR!</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Diantara maksud mengunjungi si sakit adalah untuk meringankan kan penderitaannya, oleh karena itu jangan sampai membebani bahkan menambah penderitaan si sakit ataupun keluarganya.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Satu hal yang dapat membebani si sakit atau keluarganya adalah pertanyaan kronologis musibah atau penyakit.  Si sakit atau keluarga diminta untuk menceritakan kronologis kejadian yang cukup panjang; dan repotnya lagi, cerita ini harus diceritakan berulang kali karena hampir setiap pembesuk menanyakan, &#8216;awal mulanya bagaimana?&#8217;   ; &#8216;kejadiannya bagaimana?&#8217; </p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;"><strong>HIBUR &amp; BERIKAN HARAPAN SEMBUH!</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Ada baiknya penjenguk menghibur si sakit atau keluarga si sakit dengan pahala-pahala yang akan di dapat mereka.</p>
<blockquote>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">&#8216;Setiap muslim yang terkena musibah penyakit atau yang lainnya, pasti akan Allah hapuskan berbagai kesalahannya, seperti sebuah pohon meruntuhkan daun-daunnya.&#8217; <strong>(HR. Muslim)</strong></p>
</blockquote>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">&#8216;Cobaan itu akan selalu menimpa seorang mukmin dan mukminah, baik pada dirinya, pada anaknya, ataupun pada hartanya, sehingga ia bertemu dengan Allah tanpa dosa sedikitpun.&#8217;  <strong>(HR. Tirmidzi)</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">&#8216;Saat orang-orang tertimpa musibah diberi pahala di hari kiamat nanti, orang-orang yang selamat dari berbagai musibah tersebut berharap seandainya dahulu di dunia kulit mereka dikerat dengan gergaji besi&#8230;&#8217; <strong>(HR. Tirmidzi)</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Ada baiknya pula penjenguk memberikan harapan sembuh kepada si sakit.  Misalnya dengan mengatakan.   <em>&#8216;Tidak perlu kuatir, insya Allah Anda akan sembuh.&#8217; </em>atau &#8216;<em>penyakit ini tidak berbahaya, Anda akan segera sembuh,insya Allah.&#8217; </em>atau kalimat-kalimat lain yang dapat menumbuhkan semangatnya untuk sembuh.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;"><strong>JANGAN MENAKUT-NAKUTI!</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Apa yang kita sampaikan kepada si sakit maupun keluarganya, harus kita perhatikan benar-benar.  Ucapkanlah kalimat-kalimat yang baik, yang dapat menumbuhkan motivasi atau meringankan musibah yang dialami mereka.  Jangan sampai apa yang kita sampaikan malah menimbulkan rasa takut &amp; cemas terhadap si sakit maupun keluarganya.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Diantara yang dapat menimbulkan rasa takut adalah cerita atau kabar bahwa seseorang mengalami hal yang sama, namun berakhir dengan cacat seumur hidup, dengan kematian&#8230;.; kalau maksud yang bercerita adalah agar keluarga si sakit berhati-hati dan waspada terhadap musibah yang diderita si sakit, alangkah baiknya jika di kemas dengan kalimat-kalimat yang baik.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;"><strong>MEMAHAMI KELUHAN SI SAKIT</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Keluhan yang diucapkan si sakit ada dua kemungkinan:</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;"><strong><em>Pertama</em></strong>, diucapkan sebagai ekspresi kekesalan dan kejengkelan. Hal ini tentnu saja dilarang oleh agama Islam, karena merupakan indikator lemahnya keyakinan dan tidak rela terhadap qadha dan qadar Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala.  Apabila kita mendengar keluhan semacam ini, si sakit segera diingatkan, dinasehati dengan cara yang baik.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;"><strong><em>Kedua</em>,</strong> diucapkan dalam rangka memberi informasi tentang dirinya tanpa mengharap belas kasih kepada makhluk dan tidak pula menggantungkan harapan kepada mereka.  Hal ini tentu saja boleh dilakukan, bahkan didukung oleh dalil syari:</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Ibnu Mas&#8217;ud meriwayatkan:</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">&#8216;Aku pernah menghadap Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, sementara beliau sedang menderita demam.  Lalu aku menyentuhnya dengan tanganku, kemudian aku mengatakan, &#8216;Sungguh, Engkau menderita demam yang sangat berat.&#8217; Beliau menjawab, &#8216;Ya, seperti layaknya demam yang diderita oleh dua orang dari kalian.&#8217;  &#8216;Engkau mendapat dua pahala?&#8217; tanya Ibnu Mas&#8217;ud.  Beliau menjawab ,&#8217;Ya.  Tidaklah seorang muslim mengalami penderitaan -sakit dan sebagainya- melainkan Allah akan merontokkan keburukan-keburukannyaa sebagaimana pohon merontokkan daunnya.” <strong>(HR. Bukhari no.5667)</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;"><strong>MENANGIS DI TEMPAT ORANG YANG SAKIT?</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Yang nampak dari kita, hukumnya boleh.  Sebab, Abdullah bin Umar meriwayatkan,</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">&#8216;Sa&#8217;ad bin Ubadah pernah mengeluhkan sakit yang di deritanya, kemudian Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam datang menjenguknya bersama dengan Abdurrahman bin Auf, Sa&#8217;ad bin Abi Waqqash dan Abdullah bin Mas&#8217;ud.  Ketika beliau menemuinya, beliau mendapatinya sedang dikerumuni oleh keluarganya.  Lalu beliau bertanya, &#8216;Apakah dia sudah meninggal?&#8217;  Mereka menjawab, &#8216;Tidak ya Rasulullah!&#8217;  Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menangis, dan ketika orang-orang melihat tangisan nabi, maka mereka pun menangis.  Lalu beliau bersabda, &#8216;Tidakkah kalian mendengar, sesungguhnya Allah tidak mengadzab karena linangan air mata maupun kesedihan hati, melainkan mengadzab karena ini -dan beliau menunjuk ke arah lidahnya- atau Dia berbelas kasih.  Dan sesungguhnya mayit itu akan disiksa karena tangisan keluarganya yang meratapi (kepergian) nya.&#8217;  <strong>(HR. Bukhori no.1304)</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;"><strong>MENDOAKAN SI SAKIT</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Orang yang menjenguk orang sakit hendaknya tidak berkata-kata kecuali sesuatu yang baik.  Sebab para malaikat akan mengamini apa yang akan diucapkannya.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Dari Ummu Salamah, doa mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:</p>
<blockquote>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">&#8216;Apabila kamu mendatangi orang sakit atau mayit, maka ucapkanlah kata-kata yang baik.  Karena sesungguhnya malaikat mengamini apa yang kamu ucapkan.&#8217;  Kemudian, kata Ummu Salamah, ketika Abu Salamah meninggal dunia, aku pun mendatangi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam seraya mengatakan, &#8216;Ya Rasulullah, Abu Salamah sudah meninggal dunia.&#8217; Beliau lantas bersabda, <strong>&#8216;Ucapkanlah: Ya Allah, ampunilah aku dan dia, dan berilah aku pengganti yang baik.</strong>&#8216;  Ummu Salamah berkata, &#8216;Lalu aku mengatakannya.  Kemudian Allah memberiku pengganti yang lebih baik bagiku daripada dia (Abu Salamah), yakni Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.&#8217; <strong>(HR. Muslim no.919)</strong></p>
</blockquote>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;"><strong><br />
</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Orang yang menjenguk orang sakit dianjurkan berdoa agar si sakit diberikan rahmat, ampunan, kebersihan dari dosa, keselamatan, dan kebebasan dari penyakit.  Diantara doa yang pernah dibaca oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam:</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">1.  Mengucapkan:<strong> “Laa ba&#8217;sa thohuurun in syaa&#8217;allooh.” &#8216;tidak mengapa, semoga dapat membersihkan kamu (dari dosa) insya Allah.&#8217; </strong>(riwayat Bukhari dalam al fath: 10/118)</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Kata &#8216;tidak mengapa&#8217; maksudnya ialah bahwa sakit itu dapat menghapus kesalahan.  Jika mendapat kesembuhan setelah sakit, maka berarti mendapatkan dua keuntungan sekaligus.  Dan jika tidak, maka akan mendapatkan keuntungan berpa penghapusan dosa.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">2.  Membaca doa: “ <strong>As alukalloohal-&#8217;azhiima, robbal &#8216;arsyil-&#8217;azhiimi, ayyasyfiyaka.” (7x) </strong>“<strong>Aku memohon kepada Allah yang Maha Agung, Rabb &#8216;Arsy yang agung agar menyembuhkanmu.”</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">&#8216;Tidak ada seorang muslim yang menjenguk seorang yang sedang sakit yang belum sampai kepada ajalnya, lalu dia membacakan doa  <strong>As alukalloohal-&#8217;azhiima, robbal &#8216;arsyil-&#8217;azhiimi, ayyasyfiyaka </strong>tujuh kali, kecuali dia akan sembuh.&#8217;  (Shahih At Tirmidzi: 2/210)</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;"><strong>RUQYAH KEPADA SI SAKIT</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Orang yang menjenguk orang sakit dianjurkan untuk melakukan ruqyah terhadapnya. Terutama kalau si penjenguk termasuk orang yang bertakwa dan shalih.  Karena ruqyah yang dilakukannya akan memberikan manfaat yang lebih besar daripada orang lain (karena faktor ketakwaan &amp; keshalihannya tersebut).</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Di antara ruqyah syariah yang ada:</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">1.  <strong>Ruqyah dengan mu&#8217;awwidzatain</strong> (surat al ikhlas, al falaq, dan an naas)</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">&#8216;adalah rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika salah satu dari keluarganya sakit, beliau meniup keluarganya  dengan (bacaan)  mu&#8217;awwidzat&#8230;&#8217; (HR. Muslim no.2192)</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;"><strong>2. Ruqyah dengan surat al fatihah</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Hal ini pernah dilakukan oleh Abu Said al Khudri terhadap kepala suku yang tersengat serangga.  (lihat HR. Muslim no.2201)</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;"><strong>3. Ruqyah dengan doa</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">&#8216;Adalah rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam ketika salah seorang dari kami mengeluh sakit, maka beliau mengusapnya dengan tangan kanannya, kemudian beliau mengucapkan: “Hilangkanlah penderitaan ini wahai Rabb manusia.  Sembuhkanlah, karena Engkaulah yang Maha Menyembuhkan.  Tiada kesembuhan melainkan kesembuhan-Mu.  Kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.” (HR. Muslim no.2191)</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;"><strong>KARANGAN BUNGA?</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Ada sebagian orang yang ketika mengunjungi orang sakit selalu menyempatkan diri untuk membawa karangan bunga kepada si sakit.  Ada pula yang menelipkan tulisan yang berisi ungkapan dan harapan agar lekas sembuh.  Hal ini dilarang, karena:</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">tradisi semacam ini berasal dari agama lain, padahal kita dilarang 	untuk menyerupai perilaku mereka.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">mengganti doa untuk si sakit agar diberikan kesucian, rahmat, 	ampunan, dan kesehatan dengan ungkapan-ungkapan kering dan 	harapan-harapan yang tidak bisa dimajukan atau diundur.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">mengganti ruqyah yang syari melalui bacaan ayat-ayat al quran maupun 	hadits dengan karangan bunga yang barangkali akan layu sehari atau 	dua hari kemudian.</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;"><strong>MEMBACAKAN SURAT YASIN?</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Ada sebagian orang yang membacakan surat yasin kepada orang yang sakit, terutama jika si sakit sudah sangat parah, koma, atau jika dalam keadaan menjemput ajal.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Mereka berdasarkan pada:</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: normal;">“<strong>Tidak seorang pun yang akan mati, lalu dibacakan buatnya surat yasin, kecuali pasti diringankan/dimudahkan kematiannya.” </strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Keterangan:</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">hadits ini derajatnya <strong>“Maudhu/palsu</strong>”, diriwayatkan oleh Abu Nu&#8217;aim dalan Akhbar al Asbahan 1/188, di dalamnya ada seorang perowi yang suka memalsukan hadits yang bernama &#8216;Marwan bin Salim Al Jazari&#8217;.  Imam Bukhori dan Muslim mengatakan bahwa Marwan bin Salim dalam meriwayatkan hadits tergolong &#8216;MUNGKARUL HADITS&#8217; (lihat: Mizanul I&#8217;tidal 4/90). <br />
</em></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">“<strong>Bacakanlah surat Yasin untuk orang-orang yang akan mati di antara kamu.”</strong>(Riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, Nasa&#8217;i. Derajat hadits Dhaif.)</em></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Karena hadits-hadits di atas adalah dhaif &amp; maudhu/palsu, maka pembacaan surat yasin untuk orang-orang yang akan mati tidak dapat diamalkan.  Hal ini sebagaimana keterangan para ulama bahwa hadits lemah tidak dapat dipakai sebagai dasar suatu amalam meskipun hanya fadhaail amal.  Soal aqidah, ibadah, muamalah, maupun fadhaail amal harus berdasarkan dalil yang shahih.  Di antara salah satu sebab munculnya bidah adalah karena pengamalan hadits-hadits lemah maupun palsu.  Tidak dibenarkan menetapkan hukum syari, baik hukum mustahab (sunnat) atau hukum lainnya dengan hadits lemah.  Inilah pendapat yang benar.  Konsekuensinya, tidak ada perbedaan antara hadits tentang fadhaail amal dengan hadits tentang hukum.   Inilah pendapat mayoritas ulama, seperti Al Hafizh Ibnu Hajar al Asqolani, Imam Asy Syaukani, Al Allamah Shiddiq Hasan Khan dan Syaikh Muhammad Syakir serta lainnya.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;"><strong>PERLUKAH EUTHANASIA?</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Terkadang, karena sakit yang diderita sangat berat, atau keluarga sudah tidak tega melihatnya; serta menurut ilmu medis, pasien tersebut tidak dapat sembuh, baginya kematian hanya soal waktu;  seseorang disarankan atau meminta suntikan euthanasia, sehingga si sakit dapat segera terbebas dari penderitaan yang sering dialaminya selama ia masih hidup.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Euthanasia sebaiknya tidak dilakukan, hal ini karena:  euthanasia menghalangi si sakit ataupun orang-orang di sekitar si sakit untuk mendapatkan manfaat dari status kehidupannya.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Dengan tetap hidup dengan kondisi semacam itu, si sakit akan dihapus catatan buruknya dan diangkat derajatnya, jika ia memiliki iman dan ihsan.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Dengan tetap hidup, yang bersangkutan terkadang mendapatkan doa yang baik dan diterima oleh Allah.  Sehingga disembuhkan oleh Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, atau diampuni dosa-dosanya berkat doa sesama muslim yang ditujukan kepadanya.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Dengan tetap hidup, maka catatan buruk keluarganya yang dirundung kesedihan dan kegelisahan akan dihapus.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">&#8216;Tidaklah seorang muslim mengalami kepayahan, kesakitan, kegelisahan, kesedihan, gangguan, maupun kesusahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan dengan itu Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya. &#8216; (HR. Bukhari no.5642)</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Dengan tetap hidup, maka kebajikannya akan tetap mengalir dan tidak terputus, terutama jika yang bersangkutan adalah seorang ayah atau ibu.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Dan dengan tetap hidup, maka pahala akan tetap melimpah kepada orang yang menjenguk dan mengunjungi si sakit.  Penjenguk akan mendapatkan shalawat dari 70 ribu malaikat yang ditugaskna mendoakannya, insya Allah.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Semoga bermanfaat, Allahu A&#8217;lam </p>
</li>
</ol>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Wonorejo, 8 Juli 2008</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=7s_h9rFHuFU:BksVfg05E6g:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=7s_h9rFHuFU:BksVfg05E6g:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?i=7s_h9rFHuFU:BksVfg05E6g:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=7s_h9rFHuFU:BksVfg05E6g:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=7s_h9rFHuFU:BksVfg05E6g:DN0H40_Ym5U"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=DN0H40_Ym5U" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=7s_h9rFHuFU:BksVfg05E6g:V-t1I-SPZMU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=V-t1I-SPZMU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=7s_h9rFHuFU:BksVfg05E6g:tr8VpXobKIM"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=tr8VpXobKIM" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=7s_h9rFHuFU:BksVfg05E6g:UT3xtbGYFzA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=UT3xtbGYFzA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=7s_h9rFHuFU:BksVfg05E6g:u0Zhe-nyOHo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=u0Zhe-nyOHo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=7s_h9rFHuFU:BksVfg05E6g:ACf-c_HutVc"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=ACf-c_HutVc" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogJilbabOnline/~4/7s_h9rFHuFU" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/912-doa-dari-70-ribu-malaika/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://jilbab.or.id/archives/912-doa-dari-70-ribu-malaika/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>[kiamat 2012] KIAMAT YANG BEGITU DEKAT, MENGAPA HARUS DIRAMAL?</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/BlogJilbabOnline/~3/1TUrzqtoWU0/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/907-kiamat-2012-kiamat-yang-begitu-dekat-mengapa-harus-diramal/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 00:27:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sutikno bin Tumingan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[kiamat 2012]]></category>
		<category><![CDATA[ramalan kiamat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=907</guid>
		<description><![CDATA[Orang ramai bicara tentang kiamat,  saat kehancuran bumi yang kemudian diikuti dengan dibangkitkannya manusia kembali.  Kini semakin ramai diperbincangkan kembali.  Bukan masalah ada atau tidaknya kiamat, karena hampir semua orang percaya adanya kiamat.  Yang sedang hangat didiskusikan adalah kapan kiamat itu tiba.
Alam dunia adalah salah satu fase kehidupan yang dilalui oleh manusia, suatu saat nanti  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Orang ramai bicara tentang kiamat,  saat kehancuran bumi yang kemudian diikuti dengan dibangkitkannya manusia kembali.  Kini semakin ramai diperbincangkan kembali.  Bukan masalah ada atau tidaknya kiamat, karena hampir semua orang percaya adanya kiamat.  Yang sedang hangat didiskusikan adalah kapan kiamat itu tiba.</p>
<p><span id="more-907"></span>Alam dunia adalah salah satu fase kehidupan yang dilalui oleh manusia, suatu saat nanti  dunia ini akan berakhir dan manusia berpindah kepada fase kehidupan berikutnya yaitu alam akhirat. Akhir kehidupan dunia inilah yang disebut kiamat.</p>
<p>Sesungguhnya setiap makhluk hidup —apakah itu manusia, hewan, atau tumbuh-tumbuhan— memiliki tanda-tanda dari akhir kesudahan hidupnya di dunia.  Tanda-tanda dekatnya kematian manusia adalah rambut beruban, tua, sakit, atau lemah. Begitu juga halnya dengan hewan, hampir sama dengan manusia.  Sementara tumbuhan warna menguning, kering, jatuh, lalu hancur. Demikian juga alam semesta, memiliki tanda-tanda akhir masanya seperti kehancuran dan kerusakan.</p>
<p>Kiamat disebut juga dengan Sa&#8217;ah.   Sa&#8217;ah asalnya adalah sebagian malam atau siang.   Dikatakan juga bahwa sa&#8217;ah segala sesuatu berarti waktunya hilang dan habis.   Dari makna ini, sa&#8217;ah atau kiamat mengandung dua macam, yaitu:</p>
<p>Sa&#8217;ah khusus bagi setiap makhluk, seperti tanaman, binatang dan manusia ketika mati; dan bagi sebuah umat jika datang ajalnya. Itu semua dikatakan telah datang saatnya.</p>
<p>Sa&#8217;ah umum bagi dunia secara keseluruhan ketika ditiup sangkakala, maka hancurlah segala yang di langit dan di bumi.</p>
<p>Bagaimana dengan kiamat yang sebenarnya?  Tentu saja lebih dahsyat, lebih besar, dan lebih mengerikan.   Al-Quran banyak menyebutkan tentang kejadian di hari kiamat. Tanpa keraguan sedikit pun, kaum muslimin meyakini bahwa kiamat memang akan tiba. Kepastian terjadinya ditetapkan oleh dalil-dalil al-Quran dalam jumlah yang banyak.</p>
<p>Di antara dalil-dalil tersebut adalah:</p>
<blockquote><p>&#8220;Dan sesungguhnya Sa&#8217;ah (Hari Kiamat) Itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya;  dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur.&#8221; <strong>(Al-Hajj: 7)</strong>.</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya Hari Kiamat pasti akan datang, tidak ada keraguan tentangnya, akan tetapi kebanyakan manusia tiada beriman.&#8221; <strong>(Ghafir: 59)</strong>.</p></blockquote>
<p><strong>KEDATANGANNYA DIDAHULUI DENGAN TANDA </strong></p>
<p>Terjadinya kiamat adalah hal yang ghaib.  Hanya Allah yang tahu. Tidak satu pun makhluk-Nya mengetahui kapan kiamat, baik para nabi maupun malaikat.</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman,</p>
<blockquote><p>&#8220;Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat.&#8221; <strong>(Luqman:34)</strong></p></blockquote>
<p>Karena itulah, ketika ditanya tentang hal ini,  Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengembalikannya kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala,</p>
<blockquote><p>&#8220;Kepada-Nya lah dikembalikan pengetahuan tentang hari kiamat.&#8221; <strong>(Fushilat:47)</strong></p></blockquote>
<p>Allah merahasiakan terjadinya hari kiamat, dan menerangkan bahwa kiamat akan datang secara tiba-tiba.</p>
<blockquote><p>&#8220;Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: &#8216;Bilakah terjadinya?&#8217; Katakanlah:  &#8216;Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba.&#8217; Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: &#8216;Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui&#8217;&#8221; <strong>(Al-A&#8217;raf: 187)</strong></p></blockquote>
<p>Ibnu Katsir berkata, &#8220;Firman Allah, &#8216;Katakanlah: &#8216;Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku;  tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia&#8217; adalah perintah Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala kepada nabi-Nya Shallallahu Alaihi wa Sallam, apabila beliau ditanya tentang waktu terjadinya kiamat, hendaklah mengembalikan pengetahuan tentang itu kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala.  Sesungguhnya Dialah yang menjelaskan waktu kedatangannya atau mengetahui kejelasan<br />
perkara itu dan kapan kepastian waktunya.&#8217; (<strong>Tafsir Ibnu Katsir juz III hal. 518</strong>)</p>
<p>Meskipun tidak diketahui, kiamat sebenarnya sudah dekat waktu kedatangannya.  Allah nyatakan di dalam al-Quran,</p>
<blockquote><p>&#8220;Manusia bertanya kepadamu tentang Hari Berbangkit. Katakanlah, &#8216;Sesungguhnya pengetahuan tentang Hari Berbangkit itu hanya di sisi Allah.&#8217; Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi Hari Berbangkit itu sudah dekat waktunya.&#8221; <strong>(Al-Ahzab:63)</strong></p></blockquote>
<blockquote><p>&#8220;Telah dekat datangnya sa&#8217;ah itu dan telah terbelah bulan.&#8221; <strong>(Al-Qamar: 1)</strong>.</p></blockquote>
<p>Nabi  Shallalahu Alaihi wa Sallam, di antaranya, pernah bersabda menyatakan betapa dekatnya waktu datangnya hari kiamat,</p>
<blockquote><p>&#8220;Aku diutus, sedangkan aku dan Hari Kiamat adalah seperti ini,&#8217; beliau menyandingkan antara jari tengah dan jari telunjuk.&#8221; <strong>(Syu&#8217;abul Iman juz VII hal 259/260 no. 10235,  menurut penulisnya hadits ini dikeluarkan oleh Bukhari dari hadits Abu Hushain)</strong>.</p></blockquote>
<p>Dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim ketika Jibril datang kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bertanya tentang kapan Kiamat, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab,</p>
<blockquote><p>&#8220;Yang ditanya tentang Hari Kiamat tidak lebih mengetahui dari yang bertanya.&#8221; <strong>(Shahih al-Bukhari no. 48 dan Muslim no. 9)</strong></p></blockquote>
<p>Namun demikian, sesungguhnya Allah dengan rahmat-Nya telah menjadikan kiamat memiliki alamat yang menunjukkan ke arah itu dan tanda-tanda yang mengantarkannya.</p>
<blockquote><p>&#8220;Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat (yaitu) kedatangannya kepada mereka dengan tiba-tiba, karena sesungguhnya telah datang tanda-tanda-nya. Maka apakah faedahnya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila hari kiamat sudah datang?&#8221; <strong>(Muhammad: 18)</strong></p></blockquote>
<blockquote><p>&#8220;Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka), atau kedatangan Tuhanmu atau kedatangan sebagian tanda-tanda Tuhanmu.  Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Tuhanmu tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah:  &#8216;Tunggulah olehmu sesungguhnya kami pun menunggu (pula) <strong>(Al-An&#8217;am: 158)</strong></p></blockquote>
<p>Tanda-tanda kiamat adalah alamat kiamat yang menunjukkan akan terjadinya kiamat tersebut.  Tanda-tanda kiamat ada dua: tanda-tanda kiamat besar dan tanda-tanda kiamat kecil.</p>
<p>Tanda kiamat kecil adalah tanda yang datang sebelum kiamat dengan waktu yang relatif  lama, dan kejadiannya biasa, seperti dicabutnya ilmu, dominannya kebodohan, minum khamr,  berlomba-lomba dalam membangun, dan lain-lain. Terkadang sebagiannya muncul menyertai tanda kiamat besar atau bahkan sesudahnya.</p>
<p>Tanda kiamat besar adalah perkara yang besar yang muncul mendekati kiamat yang kemunculannya tidak biasa terjadi, seperti muncul Dajjal, Nabi Isa, datangnya Ya&#8217;juj dan Ma&#8217;juj, terbit matahari dari Barat, dan lain-lain.</p>
<p>Para ulama berbeda pendapat tentang permulaan yang muncul dari tanda kiamat besar.  Tetapi Ibnu Hajar berkata, &#8220;Yang kuat dari sejumlah berita tanda-tanda kiamat, bahwa keluarnya Dajjal adalah awal dari tanda-tanda kiamat besar, dengan terjadinya perubahan secara menyeluruh di muka bumi. Dan diakhiri dengan wafatnya Isa.&#8221;</p>
<p>Sedangkan terbitnya matahari dari barat adalah awal dari tanda-tanda kiamat besar yang mengakibatkan perubahan kondisi langit. Dan berakhir dengan terjadinya kiamat.&#8221; Ibnu Hajar melanjutkan, &#8220;Hikmah dari kejadian ini bahwa ketika terbit matahari dari barat, maka tertutuplah pintu taubat.&#8221; <strong>(Fathul Bari)</strong></p>
<p>Jadi kalau kita perhatikan, sebagian tanda kiamat kecil di atas jelas sudah kita jumpai di zaman kita dewasa ini. Bahkan bila kita buka kitab para ulama yang menghimpun hadits-hadits mengenai tanda-tanda kecil Kiamat, lalu kita baca satu per satu hadits-hadits tersebut hampir pasti setiap satu hadits selesai kita baca kita akan segera bergumam di dalam hati: &#8220;<em>Wah, yang ini sudah..!</em>&#8221; Hal ini akan selalu terjadi setiap habis kita baca satu hadits.  <em>La haula wa la quwwata illabillah&#8230;.</em></p>
<p>Jika tanda-tanda kecil Kiamat sudah hampir muncul seluruhnya berarti kondisi dunia dewasa ini berada di ambang menyambut kedatangan tanda-tanda besar Kiamat.</p>
<p><strong>SIAPA BISA MERAMAL KIAMAT? </strong></p>
<p>Banyak peramal meramaikan bursa dugaan datangnya kiamat.  Isaac Newton dikabarkan meramalkan kiamat pada tahun 2060. Sebagian orang beranggapan, berdasarkan perhitungan kalander bangsa Maya.   Kiamat, menurut anggapan mereka, terjadi pada tahun 2012, tepatnya 21 &#8216;Desember. Wow!</p>
<p>Bukan berarti anti kiamat,  namun terlalu na&#8217;if membenarkan sebuah prediksi yang kesannya terlalu dipaksakan. Memang saat ini kita masuk kedalam zaman akhir, namun akhir zaman tetaplah sebuah misteri kepunyaan Allah. Tidak ada dalam satu agama manapun yang menyebutkan secara eksplisit kapan terjadinya kiamat dengan secara terbuka.   Semua hanyalah bersifat tanda-tanda. Kiranya dengan begitu manusia menyadari bahwa setiap hari<br />
bisa menjadi akhir untuk hidup mereka di dunia dan tidak ada seorangpun di dunia ini yang diberi sebuah wewenang untuk mengetahui kapan secara pasti hari kiamat akan terjadi. Yang terjadi saat ini adalah sebuah kesoktahuan manusia untuk berusaha memprediksi angka jadi kapan dunia ini akan berakhir.</p>
<p>Terkait dengan akhir penanggalan panjang suku Maya jelas itu hanya hitung-hitungan yang penuh dugaan. Tidak layak seorang muslim mempercayai ramalan semacam itu. Kalaulah benar tahun 5126 M yang bertepatan dengan tahun 2012 M adalah tahun berakhirnya penanggalan mereka yang diyakini pula dengan berakhirnya dunia maka bukanlah berarti bahwa dunia ini akan hancur (kiamat), dikarenakan menurut kosmologi suku Maya bahwa bumi diciptakan 5 kali dan dihancurkan 4 kali. Dengan demikian siklus kalender Maya boleh berakhir, namun siklus baru akan kembali berulang.</p>
<p>Bahkan sebagian ahli mengatakan,</p>
<blockquote><p>&#8216;Ramalan-ramalan itu benar-benar tidak ada dasarnya sama sekali, apalagi di kebudayaan Maya yang kita kenal,&#8221; kata <strong>Stephen Houston, profesor antropologi di Brown University</strong>, yang juga ahli tulisan hieroglif Maya. &#8220;Penggambaran bangsa Maya tidak pernah menyebut-nyebut hal ini.&#8221;katanya.</p></blockquote>
<p>Bangsa Maya melihat bahwa tanggal tersebut adalah tanggal kalender mereka, tapi kemudian mengulang kalender mereka kembali tanpa adanya bencana sama sekali.</p>
<p>Sebagian meramal berdasar teori planet Nibiru, bantahan yang ada dari seorang ahli di NASA mengatakan &#8220;Kami saja sampai sekarang masih berdebat soal Pluto, tiba-tiba ada orang yang mengatakan adanya planet Nibiru. Dari mana ini? Lucu sekali, kami sampai sekarang belum bisa menemukan planet lain, sudah ada yang menemukan planet Nibiru pula,<br />
tanpa ada konfirmasi dari mana berita itu muncul.&#8221;</p>
<p>Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam  bersabda,</p>
<blockquote><p>&#8220;Kunci-kunci ghaib itu lima, &#8216;Sesungguhnya hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat, dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada didalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok, dan tiada yang seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal&#8221; <strong>(Shahih al-Bukharino.4261)</strong></p></blockquote>
<p>Al-Qurthubi menyebutkan pendapat Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa kelima kunci ghaib tersebut tidaklah ada yang mengetahuinya kecuali Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala.  Hal itu juga tidak diketahui oleh para malaikat, para Nabi yang diutus.  Karena itu barang siapa yang beranggapan bahwa dirinya mengetahui sesuatu tentang itu semua, maka orang itu telah mengingkari al-Quran dikarenakan ia telah menyalahinya.  <strong>(Al-Jami&#8217; Li Ahkamil Quran juz XIV hal. 400)</strong></p>
<p>Allah lah yang mengetahui kebenaran hakikinya, bahkan terhadap berbagai penafsiran tentang alam semesta ini, perkembangan alam maupun kehidupan yang seluruhnya merupakan teori-teori, seperti halnya teori ledakan besar, teori ini dan itu.  Sebagaimana sebuah teori, tentu akan ada pula sebagian ilmuwan lainnya yang melakukan penyanggahan terhadapnya dengan berbagai teori lainnya dan begitulah selanjutnya.  Adapun hakikat kebenarannya di dalam permasalahan ini tidaklah ada yang mengetahuinya kecuali Allah Azza wa Jalla, sebagaimana disebutkan didalam Al-Quran.</p>
<p>Lantas mengapa sebagian kita percaya dengan ramalan tersebut bahkan merasa harus menguatkan dengan uthak-athik dalil?</p>
<p>========<br />
disalin dari Majalah Fatawa, Vol. V / No.11 Dzulhijjah 1430-November 2009, hal. 8-11</p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=1TUrzqtoWU0:05rnb5mKEOY:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=1TUrzqtoWU0:05rnb5mKEOY:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?i=1TUrzqtoWU0:05rnb5mKEOY:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=1TUrzqtoWU0:05rnb5mKEOY:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=1TUrzqtoWU0:05rnb5mKEOY:DN0H40_Ym5U"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=DN0H40_Ym5U" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=1TUrzqtoWU0:05rnb5mKEOY:V-t1I-SPZMU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=V-t1I-SPZMU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=1TUrzqtoWU0:05rnb5mKEOY:tr8VpXobKIM"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=tr8VpXobKIM" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=1TUrzqtoWU0:05rnb5mKEOY:UT3xtbGYFzA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=UT3xtbGYFzA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=1TUrzqtoWU0:05rnb5mKEOY:u0Zhe-nyOHo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=u0Zhe-nyOHo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=1TUrzqtoWU0:05rnb5mKEOY:ACf-c_HutVc"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=ACf-c_HutVc" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogJilbabOnline/~4/1TUrzqtoWU0" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/907-kiamat-2012-kiamat-yang-begitu-dekat-mengapa-harus-diramal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://jilbab.or.id/archives/907-kiamat-2012-kiamat-yang-begitu-dekat-mengapa-harus-diramal/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Fitri: BESOK SAYA MAU JADI BAPAK</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/BlogJilbabOnline/~3/kcVnk1zAEm4/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/903-fitri-besok-saya-mau-jadi-bapak/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 23:12:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sutikno bin Tumingan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Obrolan Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Pribadi Shalihah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=903</guid>
		<description><![CDATA[Fitri: Besok Saya Mau Jadi Ayah
&#8220;Fit, tolong bantu Ibu mengemasi piring-piring ya,&#8221; kata Ibu suatu pagi. Saat itu Fitri sedang melihat seorang lelaki dengan berpakaian rapi membawa laptop dan berjalan menuju mobil. Laki-laki itu adalah bapak dari gadis kecil yang setiap pagi memandanginya, Fitri.   Begitu mobil berjalan, Fitripun membalikan badan menuju Ibu.
&#8220;Fitri, sebentar lagi mandi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Fitri: Besok Saya Mau Jadi Ayah</strong></p>
<p>&#8220;Fit, tolong bantu Ibu mengemasi piring-piring ya,&#8221; kata Ibu suatu pagi. Saat itu Fitri sedang melihat seorang lelaki dengan berpakaian rapi membawa laptop dan berjalan menuju mobil. Laki-laki itu adalah bapak dari gadis kecil yang setiap pagi memandanginya, Fitri.   Begitu mobil berjalan, Fitripun membalikan badan menuju Ibu.</p>
<p>&#8220;Fitri, sebentar lagi mandi ya, sekarang sudah jam 06.00,&#8221; sambung Ibu. Belum sempat menjawab perintah mandi, Fitri sudah mendengar perintah berikutnya: &#8220;Fit, jadwal pelajaran dibaca ya, buku-buku kamu tata sendiri&#8221;. Fitri melihat ibunya begitu sibuk.  Sepintas Fitri melihat wajah ibu yang kepayahan.<br />
<span id="more-903"></span><br />
Sore hari Fitri menyambut kepulangan bapak setelah bekerja. Tidak lupa orangtua Fitri membawa oleh-oleh buah kesukaannya, apel. &#8220;Fit ini buah kesukaanmu, apel,&#8221; kata bapak. &#8220;Terima kasih bapak,&#8221; ucap Fitri sambil menerima sebungkus buah apel.</p>
<p>Fitri terus memandangi langkah bapak, hingga akhimya menyelinap masuk kamar mandi. Fitri pun menunggu apalagi yang akan dikerjakan bapak setelah mandi.</p>
<p>Sebagaimana biasanya, Fitri melihat ibu membuatkan secangkir teh panas. Diletakkannya secangkir teh di atas meja belakang bersama pisang goreng kesukaan bapak.</p>
<p>Selepas mandi Fitri melihat bapak membawa koran menuju meja yang telah tersedia secangkir teh dan pisang goreng.  Bapak kelihatan asyik membaca koran sambil sesekali menyeruput teh panas buatan Ibu.  Sambil terus membaca koran, pisang goreng kesukaannya dimakan oleh bapak.</p>
<p>&#8220;Bu, nanti setelah Isya bapak ada undangan,  rapat di kampung, tolong anak-anak didampingi belajar ya,&#8221; kata bapak kepada kepada Ibu.</p>
<p>Malampun berjalan. Setelah shalat Isya bapak berangkat menghadiri rapat, ibu pun mendampingi Fitri dan Farhan, kakak Fitri, untuk belajar.</p>
<p>&#8220;Bu, ibu capek ya,&#8221; kata Farhan.&#8221;Iya nak, ibu capek. Ini jari-jari ibu memar terkena muntu saat nguleg lombok, kuku ibu juga tergores saat mengiris bawang,  kaki ibu kutu airnya juga kambuh karena berlama-lama mencuci piring, dan badan ibu juga terasa pegal-pegal karena hari ini listrik mati sehingga ibu tidak bisa mencuci dengan mesin cuci.&#8221;  Begitu banyak keluhan ibu.</p>
<p>Seakan Fitri membaca buku, namun sesungguhnya ia konsentrasi mendengarkan keluhan Ibu. <strong> &#8220;Tidak enak ya jadi ibu, seharian bekerja mengurus rumah, capek,&#8221; celetuk Fitri spontan, &#8220;besok saya mau jadi bapak saja.&#8221;</strong></p>
<p>Fitri anak berusia tujuh tahun yang duduk di bangku kelas dua Seko]ah Dasar merasakan ketidaknyamanannya menjadi Ibu, pagi kerja menyiapkan sarapan untuk semua keluarga dan siang membereskan seisi rumah. Fitri juga melihat enaknya menjadi bapak, pagi telah disiapkan makan dan sepulang kerja bisa santai membaca sambil minum dan makan-makan.<br />
Pemandangan sehari-hari atas bapaknya yang tidak kelihatan bekerja dipandang oleh anak menyenangkan.</p>
<p>Persoalan juga muncul dari ibu, ibu tidak menunjukan antusiasme kepada anak atas pekerjaan yang dilakukannya. Anak terus-menerus mendengar keluhan yang mengakibatkan ingin menghindari pekerjaan sebagaimana yang ibu kerjakan. Lain ceritanya jika ibu mengkomunikasikan atas pekerjaan harian dengan penuh antusias, semangat, dan energik, tentu anakpun akan terobsesi.</p>
<p>Sebagai bapak, mesti menunjukan kebersamaannya dengan keluarga. Sesekali bapak mesti mencuci, mengiris bawang, merebus air, dan mengelap kaca. Hal ini untuk menunjukkan bahwa pekerjaan rurnah merupakan tanggung jawab bersama. Sesekali anak perlu diajak ke tempat kerja bapak, agar anak melihat apa yang dilakukan bapak di tempat kerja.</p>
<p>Insya Allah, jika demikian kondisinya, Fitri akan berkata: <strong>&#8216;Hebat ya, ibu! Bisa menyelesaikan pekerjaan rumah dengan baik, pasti ibu pahalanya banyak. Enak ya jadi ibu, bisa beramal shalih tanpa harus keluar rumah.</strong> Terhadap bapakpun akan punya persepsi positif, <strong>&#8220;Wah ternyata bapak di kantor pekerjaannya banyak juga ya.&#8221;</strong></p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=kcVnk1zAEm4:rlOFHR8oKjk:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=kcVnk1zAEm4:rlOFHR8oKjk:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?i=kcVnk1zAEm4:rlOFHR8oKjk:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=kcVnk1zAEm4:rlOFHR8oKjk:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=kcVnk1zAEm4:rlOFHR8oKjk:DN0H40_Ym5U"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=DN0H40_Ym5U" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=kcVnk1zAEm4:rlOFHR8oKjk:V-t1I-SPZMU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=V-t1I-SPZMU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=kcVnk1zAEm4:rlOFHR8oKjk:tr8VpXobKIM"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=tr8VpXobKIM" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=kcVnk1zAEm4:rlOFHR8oKjk:UT3xtbGYFzA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=UT3xtbGYFzA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=kcVnk1zAEm4:rlOFHR8oKjk:u0Zhe-nyOHo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=u0Zhe-nyOHo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=kcVnk1zAEm4:rlOFHR8oKjk:ACf-c_HutVc"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=ACf-c_HutVc" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogJilbabOnline/~4/kcVnk1zAEm4" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/903-fitri-besok-saya-mau-jadi-bapak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>30</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://jilbab.or.id/archives/903-fitri-besok-saya-mau-jadi-bapak/</feedburner:origLink></item>
	</channel>
</rss>
