<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8262090154000785199</id><updated>2024-11-01T01:17:09.200-07:00</updated><category term="Berita"/><category term="Buku Agama"/><category term="Buku LSAF"/><category term="Buku Filsafat"/><category term="Jurnal Ulumul Qur&#39;an"/><category term="Kliping"/><category term="Buletin Kebebasan"/><category term="Resensi"/><title type='text'>LSAF Press Blog Jakarta</title><subtitle type='html'>Penerbit Buku Indonesia - Penerbit Buku Agama dan Filsafat</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://lsafpress.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8262090154000785199/posts/default'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lsafpress.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17571064918429541953</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>13</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8262090154000785199.post-5158640717282931149</id><published>2012-12-01T06:16:00.002-08:00</published><updated>2012-12-01T06:16:57.882-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Berita"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Buletin Kebebasan"/><title type='text'>Sekularisme, Liberalisme dan Pluralisme</title><content type='html'>&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;float: left; margin-right: 1em; text-align: left;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgCOnK0r-zedF3aMKWbi0cfz86BfUFi1B9UbJom7tRlxHrvfr2hoUyxGf4JuQ7KrD-opul9NKd8gr3CauzCUgjAIvHRI3BJvv3Ca1SteYzaWxk25aSb6tghCCU9ygpRkxlM2_tMJZ4d3Zl4/s1600/_MG_8072.JPG&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;F_Budi_Hardiman_Sekularisme_Liberalisme_Pluralisme&quot; border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgCOnK0r-zedF3aMKWbi0cfz86BfUFi1B9UbJom7tRlxHrvfr2hoUyxGf4JuQ7KrD-opul9NKd8gr3CauzCUgjAIvHRI3BJvv3Ca1SteYzaWxk25aSb6tghCCU9ygpRkxlM2_tMJZ4d3Zl4/s1600/_MG_8072.JPG&quot; title=&quot;Buletin_kebebasan_LSAF&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Buletin Kebebasan Edisi No. 03/V/2007&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;SEKULARISME, LIBERALISME DAN PLURALISME&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;F. Budi Hardiman (Dosen STF. Driyarkara)&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Buletin Kebebasan, No. 03/v/2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya akan menjelaskan tiga “isme” yang sejak orde baru memenuhi lanskap politik masyarakat kita, namun&amp;nbsp; sayang sekali, ketiganya juga kerap disalah mengerti. Yang dimaksud adalah “&lt;u&gt;sekularisme&lt;/u&gt;”, “&lt;u&gt;liberalisme&lt;/u&gt;” dan “&lt;u&gt;pluralisme&lt;/u&gt;”. Para ulama, khususnya yang bersentuhan dengan dimensi kekuasaan, melihat “sekularisme” sebagai lawan main mereka. “Liberalisme”, sekurangnya yang banyak disalah mengerti dinegara kita, lebih dilihat sebagai ideologi ekonomis yang adalah lawan main sosialisme. Dan yang muncul terakhir dan kerap dikaitkan dengan pandangan-pandangan dalam kebudayaan, pluralisme, adlaah lawan main para fundamentalis religius, seperti juga sekularisme. Apakah sebenarnya ketiga “isme” itu? Kita mencoba mengerti ketiganya agar tidak terlalu terburu-buru mengecam atau melaknatkan mereka.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Sekularisme&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sekularisme berbeda dari sekularisasi. Distingsi ini perlu ditegaskan agar kita tidak mencampuradukan sebuah proses sosial dengan sebuah ideologi. Sekularisasi adalah sebuah proses pemisahan institusi-institusi dan simbol-simbol religius. Kebijakan-kebijakan Negara yang mengatur sebuah masyarakat tidak lagi didasarkan pada norma-norma agama, melainkan pada asas-asas non-religius, seperti: etika dan pragmatisme politik. Kelahiran Negara nasional dan Negara konstitusional di zaman modern menandai proses ini. Konstitusi Negara modern tidak lagi didasarkan pada doktrin-doktrin religius, seperti pada Negara-negara tradisional di Eropa abad pertengahan, melainkan pada prosedur-prosedur birokratis rasional yang mengakui kesamaan hak dan kebebasan setiap warga Negara.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Mengapa masyarakat modern menempuh jalan sekularisasi? Dalam masyarakat tradisional, ada kesatuan utuh agama dan politik. Otoritas politis berhimpit dengan otoritas religius, sehingga kebijakan-kebijakan politis dilegitimasikan lewat alasan-alasan religius. Pencampuradukan kedua macam otoritas itu merugikan kebebasan, karena (1) Otoritas politis tidak merasa cukup dengan wewenangnya atas wilayah publik dan ingin juga memberikan regulasi dalam ruang privat seperti yang dilakukan oleh otoritas religius, dan (2) pikiran kritis dicurigai sebagai unsure subversive yang melemahkan kepatuhan kepada otoritas. Sekularisasi adalah upaya memberi batas-batas diantara kedua bidang itu dengan memandang keduanya otonom, yakni yang satu tidak dapat direduksi kepada yang lain. Dengan sekularisasi, urusan-urusan religius dianggap beroperasi di dalam ruang privat, tercakup dalam kebebasan subjektif individu untuk menemukan jalan hidupnya. Efek positif sekularisasi adalah toleransi agama, sebab doktrin-doktrin dan nilai-nilai religius tidak lagi dikalkulasi di dalam politik. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kita berbicara tentang sekularisme jika kita memusatkan perhatian kita pada efek negatif sekularisasi. Sekularisasi dapat mendorong kepada ekstrem atau ekses, yakni suatu sikap berlebih-lebihan untuk menyingkirkan segala alas an, motif atau dimensi religius sebagai omong kosong. Pandangan-pandangan seperti ateisme, materialisme dan saintisme merupakan berbagai aspek dalam sekularisme. Sekularisme dalam arti ini bukanlah sebuah proses sosial-epistemologis, melainkan sebuah ideologi dengan kesempitan berpikir yang tidak dapat mentoleransi eksistensi agama di dalam masyarakat majemuk. Jika agama menghasilkan fundamentalisme religius, proses sekularisasi juga dapat menghasilkan suatu fundamentalisme tertentu, yakni fundamentalisme profane. Itulah sekularisme.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Jadi, disini kita dapat mengatakan bahwa sekularisasi adalah proses yang wajar di dalam modernisasi, karena pemisahan antara agama dan Negara memang diperlukan untuk memungkinkan kebebasan dan keadilan dalam masyarakat majemuk, namun sekularisme harus diwaspadai. Untuk masyarakat kita yang cenderung religius, sekularisme bukanlah ancaman real; fundamentalisme agamalah yang merupakan ancaman real bagi kemajemukan. Yang sebaliknya juga harus dikatakan: sekularisme bukanlah solusi untuk masalah kemajemukan, sebab sekularisme adalah bentuk intoleransi terhadap agama manapun yang merupakan anggota masyarakat majemuk. Yang dibutuhkan masyarakat kita adalah tingkat sekularisasi tertentu (baik secara struktural maupun kutural) agar dapat bersikap “fair” terhadap kemajemukan orientasi nilai di dalam masyarakat kita. Kebijakan-kebijakan politis yang berorientasi agama tertentu, misalnya, tidak dapat begitu saja dijadikan norma publik untuk mengatur keseluruhan masyarakat, karena akan bersikap tidak fair terhadap kelompok-kelompok lain bahkan dalam agama yang sama.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Liberalisme&lt;/b&gt;Liberalisme adalah ideologi modern parexcellence, karena ia muncul bersamaan dengan modernisasi dan segala pertentangan ideologis dalam masyarakat modern tak lain daripada pertentangan dengan liberalisme, sehingga cerita tentang modernitas tak kurang dari cerita tentang liberalisme dan para lawannnya. Kita dapat mulai dari mana saja untuk menjelaskan liberalisme, namun dalam kaitannya dengan sekularisme dan pluralisme, kita harus mulai dari satu dimensi sosial yang lalu menentukan hubungan antara agaman dan Negara, yaitu pasar dan hak-hak milik pribadi. Minat liberalisme adalah kebebasan dan bentuk kebebasan yang spesifik di sini adalah kebebasan indvidu. Dalam arti ini, liberalisme sangat sensitif terhadap kolektivisme dan absolutisme kekuasaan.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ekonomi tidak dapat tumbuh jika terus diintervensi oleh Negara, maka leiberalisme sejak awal mendukung ekonomi pasar bebas. Di dalam pasar orang tidak membeda-bedakan latar-belakang agama dan kebudayaan. Yang penting transaksi itu fair. Dengan kata lain, di dalam transaksi orang melihat agama partner transaksinya sebagai urusan privatnya yang tidak relevan untuk proses pertukaran dalam pasar. Pola transaksi yang melihat agama sebagai persoalan privat yang tidak relevan untuk proses pertukaran itu oleh liberalisme diaplikasikan di dalam hubungan yang lebih luas, yaitu di dalam Negara modern.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Di dalam diskusi etika kontemporer, kerap dikatakan bahwa liberalisme membedakan antara the problem of justice dan the problem of good life. Yang pertama adalah masalah-masalah yang melampaui kelompok-kelompok atau nilai-nilai etnis dan religius, seperti masalah ekonomi, masalah keadilan distributive dan masalah-masalah teknis praksis pengelolaan manajemen birokrasi Negara. Yang kedua adalah masalah-masalah nilai-nilai spesifik suatu kelompok etnis atau religius tertentu di dalam sebuah masyarakat modern, seperti ajaran-ajaran agama, nilai-nilai tradisi kutural, atau norma-norma yang terkait dengan komunitas partiklar tertentu. Kepercayaan sebuah komunitas agamaakan keselamatan melalui kepatuhan pada norma-norma agamanya, misalnya, bagi liberalisme adalah the problem of good life yang tidak bisa diuniversalkan sebagai keyakinan publik dalam masyarakat majemuk. Jadi, jika pemerintah menetapkan aturan-aturan agama tertentu bagi masyarakat luas yang juga terdiri atas para penganut agama lain, pemerintah semacam ini bertindak di luar wilayah kewenangannya. Wilayah kewenangan pemerintah hanyalah berurusan dengan the problem of justice yang menjadi kepentingan bersama yang menjadi interseksi kepentingan-kepentingan berbagai orientasi nilai dalam masyarakat majemuk.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Liberalisme ekonomi mengandung bahaya tertentu, yaitu intoleransi terhadap mereka yang dimarginalisasikan secara ekonomis oleh mekanisme pasar bebas itu. Namun liberalisme yang berkaitan dengan pendirian intelektual dan sikap-sikap politis justru membantu sebuah masyarakat untuk toleran terhadap kemajemukan. Jika Negara berkonsentrasi pad the problem of justice dan tidak mengintervensi the problem of good life yang adalah kewenangan kelompok-kelompok dalam masyarakat itu, Negara akan menjadi milik bersama kelompok-kelompok sosial itu dan tidak bersikap diskriminatif. Negara liberal berupaya bersikap netral terhadap agama-agama di dalamnya. Dan ini justru mendukung kebebasan individu. Di sini liberalisme dapat juga dilihat sebagai hasil dari sekularisasi yang tidak secara mutlak perlu bermuara pada sekularisme. Artinya, suatu Negara liberal tidak harus sekularistis, yakni ingin menyingkirkan agama di dalamnya. Negara liberal juga bisa memiliki resprk terhadap agama, namun regulasi-regulasinya tetap secular. Ia bersikap netral dari agama, namun member infrastruktur yang adil bagi agama-agama untuk berkembang, sebab para anggota agama-agama itu adalah juga warga negaranya. Adalah terlalu terburu-buru dan berlebih-lebihan mengecam liberalisme sebagai ancaman. Liberalisme justru merupakan kondisi bagi toleransi dan apa yang sebantar lagi kita ulas: pluralisme.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Pluralisme&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Jika sekularisme berkonfrontasi dengan agama dan liberalisme bersentuhan dengan pasar, pluralisme adalah sebuah pandangan yang beroperasi di dalam kebudayaan dalam bentuk sikap-sikap yang menerima kemajemukan orientasi-oriesntasi nilai di dalam masyarakat modern. Dasar pluralisme adalah the fact of plurality, yakni suatu kenyataan bahwa jika sebuah masyarakat mengalami modernisasi, masyarakat itu mengalami pluralisasi nilai di dalam dirinya. Sekularisasi adlah langkah pertama bagi pluralisasi itu, karena sekarang bidang politik dan agama tidak lagi satu bidang melainkan dua. Namun langkah berikutnya: bidang privat, yaitu masyarakat itu sendiri lewat liberalisasi berpikir dan liberalisasi moralnya, mengalami pluralisasi, karena terbantu aneka ragam kelompok sosial dengan macam-macam nilai religius dan kutural di dalamnya.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pluralitas tidak serta merta memunculkan pluralisme, karena tidak semua orang setuju pluralitas. Kaum konservatif dan monatis, misalnya, akan meratapi pluralitas sebagai simtom disintegrasi sosial dan moral. Namun ada kelompok-kel0mok yang menerima pluralitas sebagai kenyataan hidup bersama dan mencoba hidup bersama secara toleran. Kelompok-kelompok ini bisa berasal dari kalangan agama, cendekia, politikus, atau budayawan. Pandangan yang menerima pluralitas sebagai sebagai realitas hidup bersama dan mencoba mengembangkan sarana-sarana moral dan intelektual untuk membuka ruang kebebasan dan toleransi bagi aneka orientasi nilai etis, religius ataupun ataupun politis di dalam masyarakat modern itu kan sebut pluralitasme.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Jika kita menilik ke belakang, ke dalam sejarah agama-agama itu, kita tidak dapat memisahkan agama dari kebudayaan. Setiap agama “tertanam” dan tumbuh dalam konteks kebudayaan dan juga sejarahnya, maka pluralitas juga menandai sejarah setiap agama. Tidak hanya satu Kristen, satu Hindu, satu Islam atau satu Budhisme, karena di tiap kebudayaan berkembang cara-cara dan simbol-simbol spesifik dalam menghayati Tuhan. Simbol-simbol itu bahkan ‘dipinjam’ dari konteks kebudayaan tertentu, misalnya Jawa, Romawi, India atau Arab. Namun tak semua kelompok agama mau bersikap fair terhadap fakta pluralitas di dalam agama-agama ini. Kelompok-kelompok macam ini – diantara mereka konservatif garis keras – terobsesi kepada sebuah fiksi bahwa agama mereka itu homogeny dan murni dari unsure-unsur kebudayaan. Fiksi itu sudah barang tentu berbahaya sekali karena menjadi intoleran terhadap kemajemukan kebudayaan dan agama.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kelompok-kelompok agama yang menerima fakta kemajemukan bahkan di dalam agama mereka sendiri serta mencoba mengembangkan sebuah teologi pluralis sering dicurigai sebagai sesuatu yang merongrong integritas iman, padahal mereka ini bisa saja justru mendorong cara-cara beriman yang dewasa dan terbuka terhadap perubahan dan perbedaan di dalam masyarakat modern. Mereka dituduh sebagai relativistis. Relativisme adalah pandangan bahwa tidak ada kebenaran mutlak lintas agama dan kebudayaan, karena kebenaran itu tergantung kepada kebudayaan, agama dan sejarah. Padahal seorang pluralis tidak otomatis bersikap relativis.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Toleransi Militan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pada akhir ulasan ini saya ingin mencoba melontarkan sebuah konsep premature tentang toleransi militan. Seorang yang militan tidak harus intoleran terhadap pluralisme nilai. Begitu juga seorang yang toleran tidak harus bersikap relativis dan ‘lunak’ terhadap imannya sendiri. Orang bisa menjadi seorang yang toleran sekaligus militan. Apa maksudnya? Seorang yang memiliki toleransi militan bukanlah seorang yang toleransinya muncul dari sikap laissez faire terhadap imannya sendiri sehingga ia tanpa pendirian bergaul dengan para warga Negara dari iman-iman yang lain tanpa mempedulikan iman-iman mereka pula. Seorang yang toleran secara militan adalah seorang yang menerima fakta kemajemukan orientasi religius, dan penerimaan ini tidak muncul dari ketidakpedulian terhadap imannya sendiri, melainkan justru muncul dari imannya yang dewasa dan terbuka.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Toleransi militan bukanlah sikap netral, melainkan suatu pemihakan. Pemihakan kepada apa? Jawabanya adalah: kepada kebebasan dan keadilan. Seorang toleran yang militan mungkin berasal dari kelompok mayoritas, namun ia tidak menggunakan “kuasa mayoritas” (yang tak lain daripada sekedar kuantitas dan bukan kualitas) untuk cukup merasa nyaman dengan posisinya. Sebaliknya, dia justru berhati-hati terhadap posisinya itu yang sangat rentan terhadap distorsi dan penyalahgunaan. Seorang toleran yang militan-dari imannya sendiri- berjuang membuka ruang-ruang kebebasan bagi terwujudnya kehidupan bersama di dalam masyarakat majemuk. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lsafpress.blogspot.com/feeds/5158640717282931149/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lsafpress.blogspot.com/2012/12/sekularisme-liberalisme-dan-pluralisme.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8262090154000785199/posts/default/5158640717282931149'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8262090154000785199/posts/default/5158640717282931149'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lsafpress.blogspot.com/2012/12/sekularisme-liberalisme-dan-pluralisme.html' title='Sekularisme, Liberalisme dan Pluralisme'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17571064918429541953</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgCOnK0r-zedF3aMKWbi0cfz86BfUFi1B9UbJom7tRlxHrvfr2hoUyxGf4JuQ7KrD-opul9NKd8gr3CauzCUgjAIvHRI3BJvv3Ca1SteYzaWxk25aSb6tghCCU9ygpRkxlM2_tMJZ4d3Zl4/s72-c/_MG_8072.JPG" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8262090154000785199.post-1335618637879928700</id><published>2012-11-29T02:28:00.001-08:00</published><updated>2013-02-21T21:14:58.888-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Berita"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Buku LSAF"/><title type='text'>Islam dan Transformasi Sosial-Ekonomi</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEitPCDLAdaRw8x7u_cOf7Gt4aMN0iYeUAh2bVvv2b97_kyb24KHVyIbE9LRRaarKk6kUw51QFM3-9YGIG6KskSYcfpxyTtkqapz0wIAVimiR3aIXzPf8k4QfyjD6x4PSX49Aa4nKh0Nf9tJ/s1600/dawam.JPG&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;320&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEitPCDLAdaRw8x7u_cOf7Gt4aMN0iYeUAh2bVvv2b97_kyb24KHVyIbE9LRRaarKk6kUw51QFM3-9YGIG6KskSYcfpxyTtkqapz0wIAVimiR3aIXzPf8k4QfyjD6x4PSX49Aa4nKh0Nf9tJ/s320/dawam.JPG&quot; width=&quot;236&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;!--[if !mso]&gt;

&lt;![endif]--&gt;Buku &lt;a href=&quot;http://lsafpress.com/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;u&gt;Islam dan Transformasi Sosial Ekonomi&lt;/u&gt; &lt;/a&gt;yang ada di tangan pembaca ini merupakan refleksi pemikiran &lt;a href=&quot;http://lsafpress.com/category/kolom-dawam/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;b&gt;M. Dawam Rahardjo &lt;/b&gt;&lt;/a&gt;tentang perlunya mempertimbangkan pandangan alternative atas sejumlah persoalan ekonomi, meskipun terbatas dari perspektif keislaman, akan tetapi gagasan yang dikandungnya bukan merupakan terjemahan dari sesuatu yang abstrak, atau berdasarkan kepada doktrin keagamaan yang parokial.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pandangannya justru diangkat dari persoalan empirik yang nyata. Seperti dalam tulisan “Perkembangan Islam Indonesia di Bidang ekonomi” atau “Pasang Surut Pengusaha Muslim Indonesia” menyuarakan keprihatinan para pengusaha yang kebetulan beragama Islam yang senantiasa dianak tirikan bahkan dipinggirkan. Kenyataan tersebut lebih banyak dikarenakan pertimbangan ideologis dan politis bukan &lt;a href=&quot;http://lsafpress.com/category/penerbitan/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;i&gt;persoalan ekonomis&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj042B_r6LIsPaP1MZaTT_Ytzprtdf10h3yT9MpA3krCtfWeUdKOHTB9nQtaPnq097TnzAgiPEtSfUfdklQBIekHYx7uqYQ5VnHX5iSNPmV8BNgs_Z0APx-Tzkf1NVG3yRlDPNkb7WMJR3p/s1600/_MG_8068.JPG&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lsafpress.blogspot.com/feeds/1335618637879928700/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lsafpress.blogspot.com/2012/11/islam-dan-transformasi-sosial-ekonomi.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8262090154000785199/posts/default/1335618637879928700'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8262090154000785199/posts/default/1335618637879928700'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lsafpress.blogspot.com/2012/11/islam-dan-transformasi-sosial-ekonomi.html' title='Islam dan Transformasi Sosial-Ekonomi'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17571064918429541953</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEitPCDLAdaRw8x7u_cOf7Gt4aMN0iYeUAh2bVvv2b97_kyb24KHVyIbE9LRRaarKk6kUw51QFM3-9YGIG6KskSYcfpxyTtkqapz0wIAVimiR3aIXzPf8k4QfyjD6x4PSX49Aa4nKh0Nf9tJ/s72-c/dawam.JPG" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8262090154000785199.post-2351017105104080714</id><published>2012-11-29T02:21:00.003-08:00</published><updated>2012-12-05T09:44:53.056-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Berita"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Buku Agama"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Buku LSAF"/><title type='text'>Islam dan Transformasi Budaya</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjva-Ik_qjv3bGIil9yHg5_qie-fc26XjxQoCBvcolhu7_XT8lHZsvn2nhvovWrwAFmltfWmyabBZTRBLigF6mmitw9NOSnkqcFBzyONvXsSclsuBUeOzXr0mpnV7OIwv-cWCdajgzuh9_a/s1600/islamuq1.JPG&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjva-Ik_qjv3bGIil9yHg5_qie-fc26XjxQoCBvcolhu7_XT8lHZsvn2nhvovWrwAFmltfWmyabBZTRBLigF6mmitw9NOSnkqcFBzyONvXsSclsuBUeOzXr0mpnV7OIwv-cWCdajgzuh9_a/s320/islamuq1.JPG&quot; width=&quot;234&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;&quot;&gt;Buku &lt;b&gt;Islam dan Transformasi Budaya&lt;/b&gt; ini merupakan percikan refleksi M. Dawam Rahardjo mengenai pencarian ideologis tentang peran agama dalam membaca dan memberikan jawaban terhadap perubahan sosial.&amp;nbsp; kedatangan Islampun merupakan antithesis terhadap kondisi masyarakat jaman jahiliyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kini &lt;u&gt;persoalan umat Islam&lt;/u&gt; seperti kemiskinan, kebodohan, ketimpangan sosial, pendidikan dan lain-lain. Beberapa langkah teologis perlu direnungkan kembali dan dicarikan pelaksanaanya secara kreatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Dawam ada dua hal yang perlu menjadi perhatian: Pertama, langkah hermenetis, dalam rangka mencari makna dan simbol-simbol untuk membedakan yang perennial dan modern. Kedua, &lt;i&gt;analisis sosial &lt;/i&gt;pencarian bentuk modern dengan memahami dialektika sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;a href=&quot;http://lsafpress.blogspot.com/2012/11/islam-dan-transformasi-budaya.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Islam dan Transformasi Budaya&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;M. Dawam Rahardjo&lt;br /&gt;ISBN:979-8633-35-0&lt;br /&gt;LSAF 2002&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lsafpress.blogspot.com/feeds/2351017105104080714/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lsafpress.blogspot.com/2012/11/islam-dan-transformasi-budaya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8262090154000785199/posts/default/2351017105104080714'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8262090154000785199/posts/default/2351017105104080714'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lsafpress.blogspot.com/2012/11/islam-dan-transformasi-budaya.html' title='Islam dan Transformasi Budaya'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17571064918429541953</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjva-Ik_qjv3bGIil9yHg5_qie-fc26XjxQoCBvcolhu7_XT8lHZsvn2nhvovWrwAFmltfWmyabBZTRBLigF6mmitw9NOSnkqcFBzyONvXsSclsuBUeOzXr0mpnV7OIwv-cWCdajgzuh9_a/s72-c/islamuq1.JPG" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8262090154000785199.post-1986922072130646271</id><published>2012-11-29T02:13:00.000-08:00</published><updated>2012-12-05T10:01:50.784-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Berita"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Buku LSAF"/><title type='text'> Indonesia Dalam Transisi Menuju Demokrasi</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXfUOeXjVbkHYL7quKqTGAXoNTgSXPMgBotxA6EL-2Jo9ZLPBKblJMWvSvTDM8MIuOejNHz8251vxuKyA3zM-naGIapzbDZndyGZ7uP3_DSb-bFhTOgObvFtdEX1b3BmUEUpa2N1RlASQQ/s1600/islamuq.JPG&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXfUOeXjVbkHYL7quKqTGAXoNTgSXPMgBotxA6EL-2Jo9ZLPBKblJMWvSvTDM8MIuOejNHz8251vxuKyA3zM-naGIapzbDZndyGZ7uP3_DSb-bFhTOgObvFtdEX1b3BmUEUpa2N1RlASQQ/s320/islamuq.JPG&quot; width=&quot;200&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Buku&lt;b&gt; Indonesia dalam Transisi Menuju Demokrasi&lt;/b&gt; ini, bercerita tentang pandangan beberapa tokoh mengenai Indonesia dalam persimpangan menuju demokrasi. proses transisi tersebut dikaji lebih mendalam lewat buku ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi Indonesia yang telah memasuki tahap&lt;b&gt; transisi menuju demokrasi, &lt;/b&gt;masih terdapat kemungkinan untuk mengalami kemunduran atau gelombang balik. Huntington menyebut tujuh factor yang dianggap menjadi penghambat sebuah transisa&amp;nbsp;disamping bisa menjadi pendorong. Factor-faktor&amp;nbsp;&lt;b&gt;negara dalam transisi&lt;/b&gt;&amp;nbsp;diantaranya&amp;nbsp;,: lemahnya nilai-&lt;u&gt;nilai demokratis &lt;/u&gt;baik dikalangan elite maupun masyarakat umum; kemunduran ekonomi yang parah dapat menimbulkan konflik dan menjatuhkan legitimasi pemerintah yang berkuasa;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Factor-faktor &lt;b&gt;transisi negara&lt;/b&gt; &amp;nbsp;tersebut bisa kita lihat di Indonesia sekarang ini yang belum bias menuntaskan kasus-kasus KKN dan &lt;b&gt;&lt;a href=&quot;http://lsafpress.blogspot.com/2012/11/islam-dan-transformasi-sosial-ekonomi.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;pemulihan ekonomi&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;; masih terjadinya polarisasi politik; runtuhnya supremasi hukum dan ketertiban umum yang bias memancing turunnya militer. Pada dasarnya yang menyebabkan turunnya kembali militer dan rezim otoriter adalah kegagalan rezim demokratis dalam mendatangkan kesejahteraan bagi rakyat banyak, kemakmuran, pemerataan, keadilan, ketertiban domestic dan keamanan eksternal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Buku Indonesia dalam transisi menuju demokrasi ini berupaya melihat dinamika wacana demokratisasi di&lt;b&gt; era transisi&lt;/b&gt;. Buku ini merupakan hasil dari pergulatan pemikiran dalam mengisi &lt;u&gt;masa transisi&lt;/u&gt; menuju demokrasi tepatnya tahun 1999, sebagai sebuah lembaga studi, LSAF memilih berpartisipasi didalam dinamika tersebut. Dari serial diskusi tersebut lahirlah buku yang berada ditangan budiman sekarang. Didalamnya terekam jejak pemikiran-pemikiran dari berbagai disiplin, mulai dari politisi, dosen, LSM, agamawan, sosiolog, mahasiswa dan pers.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian sedikit tentang &amp;nbsp;buku terbitan &lt;a href=&quot;http://lsafpress.blogspot.com/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;LSAF Press &lt;/a&gt;&amp;nbsp;Indonesia &lt;b&gt;&lt;a href=&quot;http://lsafpress.blogspot.com/2012/11/indoneisa-dalam-transisi-menuju.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Dalam Transisi Menuju Demokrasi, &lt;/a&gt;&lt;/b&gt;semoga bermanfaat</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lsafpress.blogspot.com/feeds/1986922072130646271/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lsafpress.blogspot.com/2012/11/indoneisa-dalam-transisi-menuju.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8262090154000785199/posts/default/1986922072130646271'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8262090154000785199/posts/default/1986922072130646271'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lsafpress.blogspot.com/2012/11/indoneisa-dalam-transisi-menuju.html' title=' Indonesia Dalam Transisi Menuju Demokrasi'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17571064918429541953</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXfUOeXjVbkHYL7quKqTGAXoNTgSXPMgBotxA6EL-2Jo9ZLPBKblJMWvSvTDM8MIuOejNHz8251vxuKyA3zM-naGIapzbDZndyGZ7uP3_DSb-bFhTOgObvFtdEX1b3BmUEUpa2N1RlASQQ/s72-c/islamuq.JPG" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8262090154000785199.post-3959294496874123837</id><published>2012-11-28T21:44:00.003-08:00</published><updated>2012-11-28T21:46:35.181-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Jurnal Ulumul Qur&#39;an"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kliping"/><title type='text'>Jurnal Ulumul Qur&#39;an (UQ) edisi Perdana tahun 1989</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiX4wjCkIVdMUG2tFuOT3mKNRWniELkZHmUWUtSMP_TQdGB72C4J2aABeQJW3Mvm2eRPT2-Ty7RyjeTL1o8d4-DlLlKz9oCmaxy3Wg_o7hD7yNjNgW5WO-jkJSk37_wte0Q6dl5nIlN0-Ph/s1600/uq1.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiX4wjCkIVdMUG2tFuOT3mKNRWniELkZHmUWUtSMP_TQdGB72C4J2aABeQJW3Mvm2eRPT2-Ty7RyjeTL1o8d4-DlLlKz9oCmaxy3Wg_o7hD7yNjNgW5WO-jkJSk37_wte0Q6dl5nIlN0-Ph/s1600/uq1.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Assalamu’alaikum&lt;br /&gt;
Ucapan salam Perdana Jurnal Ulumul Qur’an tahun 1989&lt;br /&gt;
M. Dawam Rahardjo&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga inilah jurnal yang ditungu-tunggu itu. Gagasan untuk menerbitkan sebuah jurnal ilmu dan kebudayaan yang disemangati oleh nur al-Qur’an, sebenarnya sudah lama. Ini dicetuskan diberbagai seminar, diskusi maupun percakapan informal. Selama lebih dari dua tahun, kami, di Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF) mempersiapkannya, dari segi konsep, bahan-bahan maupun modalnya. Setelah brosur Ulumul Qur’an (UQ) kami sebarkan, begitu banyak sambutan yang telah kami terima. Ratusan diantaranya telah membayar, walaupun belum melihat majalahnya sendiri. Kami terharu dan berterima kasih atas kepercayaan yang dikreditkan kepada kami.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
UQ ingin hadir dengan sebuah kepribadian. UQ sebenarnya merupakan sebuah respon terhadap seruan ayat 1, surat al-Alaq: “Iqra”, yang pernah membawa ummat kejalan ilmu pengetahuan dan peradaban baru. Cahaya itu, sudah lama hampir padam di dunia Islam, walaupun menyala bagaikan matahari dibagian-bagian dunia lain. UQ ingin mencoba mengobarkan nyala itu kembali.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Di kawasan pemikiran di Dunia Islam, kita melihat ada empat tema besar yang kini sedang digarap. Tema-tema itu berkaitan satu satu sama lain, namun kesemuanya mengacu ke jurusan yang sama: kebangkitan peradaban profetik yang sangat dibutuhkan dalam masa peralihan abad ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tema pertama adalah kembali kepada al-Qur’an. Para ulama dan sarjana Muslim melihat perlunya kita memahami kembali al-Qur’an dalam cahaya baru. Cahaya baru ini perlu, karena dunia di mana kita hidup ini sudah dan sedang mengalami perubahan. Kita memerlukan hermenetika baru untuk bisa memahami dunia yang sedang berubah ini. Sebaliknya, untuk bisa menangkap isyarat zaman, kita memerlukan cara baru untuk menangkap ilmu-ilmu al-Qur’an. Murtadha Muthahhari pernah mengatakan hal ini dan untuk sebagian telah dimulai oleh Thabathabai’I, Yusuf Ali, Muhammad Asad dan Fazlur Rahman.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Islamisasi ilmu dan teknologi, adalah tema kedua, yang menjadi pokok pembahasan dalam regional Islamic Conference for Asia and Pasific baru-baru ini di Indonesia. Pelopor tema ini adalah Ismail Faruqi, yang nampaknya beroleh gaung paling kuat di bidang ekonomi, politik, antropologi dan kedokteran. Pengertian, metodologi maupun pokok-pokok pembahasan (subject matter) nya, memang masih banyak mengandung kontroversi. Tapi dari sini justru akan tumbul dinamika. UQ ingin mendorong dinamika ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tema ketiga adalah, aktualisasi tradisi ilmu pengetahuan, baik yang klasik maupun yang lebih modern, yang pernah dikembangkan atas nama Islam atau bangsa-bangsa Muslim. Khazanah intelektual Islam, untuk meminjam istilah Dr Nurcholish Madjid perlu digali, dinilai kembali tapi juga perlu diapresiasi, dicari relevansinya dan seterusnya dikembangkan dengan pengetahuan-pengetahuan baru. Dengan cara ini, maka peradaban kaum muslimin di zaman modern, tidak akan kehilangan akar sejarahnya atau tercerabut dari budaya tradisional yang tidak semuanya perlu dibuang. Sayyed Hussein Nashr telah banyak merintis ke jalan ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menggali dan mengaktualisasi Kitab Kuning, merupakan tema yang ramai akhir-akhir ini di lingkungan pesantren yang juga akan di garap oleh UQ ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Terakhir adalah tema futurologist, yang mengantisipasi kejadian masa depan. Ziauddin Sardar, yang pernah bertukar pikiran dengan Alvin Toffler dalam satu siaran TV di Washington, adalah pemikir muslim yang banyak menggarap tema ini. Berbeda dengan Toffler yang mengikuti garis linier dalam melihat masa depan, Sardar mengantisipasikan peradaban alternatif yang dibutuhkan ummat manusia yang mengalami krisis fundamental dewasa ini. Perhatian yang paling besar terhadap soal ini memang datang dari ahli-ahli fisika, komunikasi dan bio-teknologi, namun tokoh ekonom semacam Kenneth Boulding, yang menganut Quaker, juga menampilkan gagasan tentang perlunya membangkitkan ajaran-ajaran agama profetik, guna menyelamatkan peradaban ummat manusia dari krisis global. Sangat berharga kiranya jika UQ ikut mengembangkan tema ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Secara keseluruhan, UQ ingin tampil secara artistik dan sekaligus popular dan komunikatif. Penampilan ini tidak hanya akan muncul dalam bentuk puisi, vignette, kaligrafi, cerpen atau esai-esai kebudayaan, melainkan juga dalam keseluruhan tulisan, gambar atau tata letaknya. Pendalaman rohani memang jadi perhatian jurnal ini., tetapi kami ingin kesegaran, di samping rangsangan terhadap pemikiran kreatif. Semoga kami bisa memenuhi harapan pembaca, yang kami sadari, sangat beragam. Bimbingan dari Allah jualah yang kami harapkan, dalam memenuhi harapan pembaca&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lsafpress.blogspot.com/feeds/3959294496874123837/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lsafpress.blogspot.com/2012/11/jurnal-ulumul-quran-uq-edisi-perdana.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8262090154000785199/posts/default/3959294496874123837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8262090154000785199/posts/default/3959294496874123837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lsafpress.blogspot.com/2012/11/jurnal-ulumul-quran-uq-edisi-perdana.html' title='Jurnal Ulumul Qur&#39;an (UQ) edisi Perdana tahun 1989'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17571064918429541953</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiX4wjCkIVdMUG2tFuOT3mKNRWniELkZHmUWUtSMP_TQdGB72C4J2aABeQJW3Mvm2eRPT2-Ty7RyjeTL1o8d4-DlLlKz9oCmaxy3Wg_o7hD7yNjNgW5WO-jkJSk37_wte0Q6dl5nIlN0-Ph/s72-c/uq1.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8262090154000785199.post-6429037836421566254</id><published>2012-11-25T19:59:00.001-08:00</published><updated>2012-11-29T02:14:26.770-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Berita"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Buku Agama"/><title type='text'>Refleksi Pembaharuan Pemikiran Islam; 70 Tahun Harun Nasution </title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhN8n3czgo6WxS9_BjCz2LMDeMGqkcRBJUVuKsmF-McZVqBRuZpJ952bNVWbHwuI1ZKobMHnpRM_d3Xicr5FzLxRA35Tcs_W8LwaJnSv2G993YxPORK8P1gCZ0F4_-xD0u-gCKPVDg1dEK4/s1600/SAM_3066.JPG&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Buku_Agama_Refleksi_Pembaharuan_Pemiiran_Islam_Indonesia_Harun_Nasution&quot; border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhN8n3czgo6WxS9_BjCz2LMDeMGqkcRBJUVuKsmF-McZVqBRuZpJ952bNVWbHwuI1ZKobMHnpRM_d3Xicr5FzLxRA35Tcs_W8LwaJnSv2G993YxPORK8P1gCZ0F4_-xD0u-gCKPVDg1dEK4/s400/SAM_3066.JPG&quot; height=&quot;400&quot; title=&quot;Buku_Agama_Refleksi_Pembaharuan_Pemikiran_Islam_Harun_Nasution&quot; width=&quot;271&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;Pembaruan Pemikiran Islam Indonesia&lt;/b&gt; merupakan isu yang menarik, sekaligus kontropersial. Isu ini mengandung pro dan kontra, dan merupakan dinamika yang hidup dan menyegarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;u&gt;Pembaruan Pemikiran Islam&lt;/u&gt; bukan barang yang langsung jadi, pembaruan adalah proses dialektis yang sangat panjang, dari tiap generasi pembaruan senantiasa hadir sebagai wacana alternati&lt;b&gt;f&lt;/b&gt; bagi kejumudan pemikiran keislaman yang sedang berkembang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dipenghujung tahun 1989, hadir sebuah buku untuk mengenang 70 Tahun &lt;u&gt;Harun Nasution&lt;/u&gt;, yang bisa dikatakan bapak &lt;u&gt;Pembaruan Islam Indonesia&lt;/u&gt;. Buku ini memuat berbagai tulisan yang menyoroti aspek-aspek penting dalam perkembangan pemikiran Islam. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Buku ini mencoba memberikan prespektif yang lebih luas tentang &lt;i&gt;locus &lt;/i&gt;perdebatan sekitar isu-isu &lt;u&gt;pembaruan pemikiran Islam&lt;/u&gt; tersebut. Dalam buku ini juga dimuat kesan dan pandangan murid dan orang-orang yang dinilai cukup banyak mengetahui tentang pribadi beliau, seperti: Deliar Noer, Nurcholish Madjid (Cak Nur), Karel A. Steenbrink, Franz Magnis Suseno, T.B. Simatupang, S. T. Alisjahbana, Azyumardi Azra, Komaruddin Hidayat, dan pemikir-pemikir lainnya yang sekarang cukup berpengaruh di Indonesia.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lsafpress.blogspot.com/feeds/6429037836421566254/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lsafpress.blogspot.com/2012/11/refleksi-pembaharuan-pemikiran-islam-70.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8262090154000785199/posts/default/6429037836421566254'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8262090154000785199/posts/default/6429037836421566254'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lsafpress.blogspot.com/2012/11/refleksi-pembaharuan-pemikiran-islam-70.html' title='Refleksi Pembaharuan Pemikiran Islam; 70 Tahun Harun Nasution '/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17571064918429541953</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhN8n3czgo6WxS9_BjCz2LMDeMGqkcRBJUVuKsmF-McZVqBRuZpJ952bNVWbHwuI1ZKobMHnpRM_d3Xicr5FzLxRA35Tcs_W8LwaJnSv2G993YxPORK8P1gCZ0F4_-xD0u-gCKPVDg1dEK4/s72-c/SAM_3066.JPG" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8262090154000785199.post-915374350439384515</id><published>2012-11-25T19:32:00.001-08:00</published><updated>2012-11-29T18:07:21.048-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Berita"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Buku Filsafat"/><title type='text'>Buku Reorientasi Pembaruan Islam; Sekularisme, Liberalisme, dan Pluralisme Paradigma Baru Islam Indonesia</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEifoctnO6VoFE1e_GcAFKaarHVDcGnvufdlf_6-kFef0yx1064AWsXbVBZAF5OR5HXLAkpzBcCbBXsljvTyt8CU9ilndzd4EKY6ZGKV1VjfXVOt0gTiQOLNnP1rmRTUW_84NuPBSfstY1n6/s1600/bukubudi.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEifoctnO6VoFE1e_GcAFKaarHVDcGnvufdlf_6-kFef0yx1064AWsXbVBZAF5OR5HXLAkpzBcCbBXsljvTyt8CU9ilndzd4EKY6ZGKV1VjfXVOt0gTiQOLNnP1rmRTUW_84NuPBSfstY1n6/s1600/bukubudi.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Buku Reorientasi Pembaruan Islam; buku ini merupakan buku kajian filsafat yang cukup paradigmatik. konsep besar seperti Sekularisme, Liberalisme, dan Pluralisme sebagai narasi-narasi besar dalam kajian Filsafat digali lebih intens dalam buku ini, tiga narasi besar filsafat tersebut kemudain disandingkan dengan Islam. Islam dalam hal ini sebagai salah satu ajaran yang luhung, dan pandangan tokoh-tokoh Islam yang menganggap masih terdapat benang merah antara keislaman dengan tiga narasi besar tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini merupakan penggabungan dari 4 (empat) monograf sederhana yang dibuat untuk melihat perkembangan pemikiran Islam mutakhir di Indonesia-yang boleh dianggap sebagai agenda baru atau reorientasi pembaruan Islam. Kajian pertama berisi survey atas lembaga-lembaga Islam Progresif yang mewacanakan sekularisme, liberalisme, dan pluralisme. Bagian kedua mengurai argumen Islam untuk sekularisme, bagian ketiga, mengurai argumen Islam untuk liberalism dan bagian keempat mengurai argumen Islam untuk pluralisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini merupakan hasil dari penelitian dari bahan-bahan tertulis, pertemuan dan wawancara dengan tokoh-tokoh “Islam Progresif” dan tokoh lintas agama. Buku ini berisi penggalian atas argumen-argumen keislaman, sekularisme, liberalism, dan pluralism untuk memperkuat dan meneguhkan-secara teologis- pembelaan terhadap kebebasan beragama di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Reorientasi Pembaruan Islam ini memotret tentang perkembangan pemikiran Islam dewasa kini yang sedang dalam masa pertumbuhan yang sangat pesat. Dari pemetaan pemikiran keislaman tentang sekularisme, liberalism dan pluralisme ini diharapkan membantu terciptanya masa depan kebebasan beragama di Indonesia yang lebih baik.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lsafpress.blogspot.com/feeds/915374350439384515/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lsafpress.blogspot.com/2012/11/buku-reorientasi-pembaruan-islam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8262090154000785199/posts/default/915374350439384515'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8262090154000785199/posts/default/915374350439384515'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lsafpress.blogspot.com/2012/11/buku-reorientasi-pembaruan-islam.html' title='Buku Reorientasi Pembaruan Islam; Sekularisme, Liberalisme, dan Pluralisme Paradigma Baru Islam Indonesia'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17571064918429541953</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEifoctnO6VoFE1e_GcAFKaarHVDcGnvufdlf_6-kFef0yx1064AWsXbVBZAF5OR5HXLAkpzBcCbBXsljvTyt8CU9ilndzd4EKY6ZGKV1VjfXVOt0gTiQOLNnP1rmRTUW_84NuPBSfstY1n6/s72-c/bukubudi.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8262090154000785199.post-8890463330742228813</id><published>2012-11-23T21:06:00.002-08:00</published><updated>2012-11-23T21:06:56.849-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Berita"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Buku Agama"/><title type='text'>Pembaharuan Pemikiran Islam Indonesia</title><content type='html'>&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEguxFhEdNt2ZOwOATYtefHRWUC1q2Q9Vsjs6LnQkz15KlD8xIogjuY4E8dPxClghMdZhfEfbtiqw51KKj7_OoIVn0cuPbHfX-3j9HXjqqEkvAAcGP2cLZOcEVODpoBi5SfXhOSiD_LTMD8u/s1600/SAM_3084.JPG&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Penerbitan_Buku_Pembaruan_Pemikiran_Islam_Indonesia&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;320&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEguxFhEdNt2ZOwOATYtefHRWUC1q2Q9Vsjs6LnQkz15KlD8xIogjuY4E8dPxClghMdZhfEfbtiqw51KKj7_OoIVn0cuPbHfX-3j9HXjqqEkvAAcGP2cLZOcEVODpoBi5SfXhOSiD_LTMD8u/s320/SAM_3084.JPG&quot; title=&quot;Penerbitan_Buku_Agama&quot; width=&quot;207&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;Penerbitan Buku Agama&lt;/b&gt; ini mengurai tentang Pembaruan Islam Indonesia. Dalam terminologi Islam Indonesia dewasa kini kita akan dihadapkan kepada dua tema besar yakni: konservatisme yang semakin mengental dan kejumudan pemikiran Islam mutakhir. Gerakan konservatisme tidak hanya berada di dataran teoritik, namun telah merangseg masuk ke wilayah-wilayah politis, hal ini setidaknya bisa dilihat dari maraknya aturan-aturan publik, yang kemudain melegitimasi tindakan-tindakan intoleran yang menghalalkan kekerasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Di sisi lain, sebagaimana di uraikan oleh &lt;u&gt;M. Dawam Rahardjo&lt;/u&gt;, kalangan liberal-progresif miskin pengembangan pemikiran Islam alternatif. Model dualisme keberagaman&amp;nbsp; seperti ini memang tidak hanya terjadi di Indonesia dan di &lt;u&gt;Agama Islam &lt;/u&gt;saja, tetapi juga menggejala di beberapa negara maju seperti Australia, New Zeland, dan beberapa Negara Eropa Lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Gary D Bouma (Sosiolog Monash University, dan Pimpinan UNESCO untuk hubungan Antar Agama dan Antar Budaya Asia Pasifik) mengatakan: manakala absolutisme dan ekslusivisme ber&lt;u&gt;agama &lt;/u&gt;merangsek ke ruang publik, temperatur teologi liberal malah menurun dan kehilangan daya artikulasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Kegelisahan itulah yang kemudian ditanggapi secara serius, setidaknya buku ini merepresentasikan bagaimana sebenarnya gerakan liberal-progresif melihat kecenderungan yang keberagamaan di Indonesia. Para pemikir Islam Progresif kembali menegaskan menganai daya artikulasi yang tidak pernah mati dalam melihat dan memberikan alternatif-alternatif pandangan Islam di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Kegelisahan tersebut diterbitkan oleh &lt;u&gt;LSAF &lt;/u&gt;melalui buku &lt;i&gt;Pembaruan Pemikiran Islam Indoneisa&lt;/i&gt;, buku ini merupakan hasil diskusi dan workshop mengenai pembaruan Islam Indonesia. Kini buku tersebut kehadiran pembaca yang budiman.&lt;br /&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lsafpress.blogspot.com/feeds/8890463330742228813/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lsafpress.blogspot.com/2012/11/pembaharuan-pemikiran-islam-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8262090154000785199/posts/default/8890463330742228813'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8262090154000785199/posts/default/8890463330742228813'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lsafpress.blogspot.com/2012/11/pembaharuan-pemikiran-islam-indonesia.html' title='Pembaharuan Pemikiran Islam Indonesia'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17571064918429541953</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEguxFhEdNt2ZOwOATYtefHRWUC1q2Q9Vsjs6LnQkz15KlD8xIogjuY4E8dPxClghMdZhfEfbtiqw51KKj7_OoIVn0cuPbHfX-3j9HXjqqEkvAAcGP2cLZOcEVODpoBi5SfXhOSiD_LTMD8u/s72-c/SAM_3084.JPG" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8262090154000785199.post-699598752560844030</id><published>2012-11-21T12:05:00.002-08:00</published><updated>2012-11-21T12:14:48.454-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kliping"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Resensi"/><title type='text'>Kritik Nalar Islamisme dan Kebangkitan Islam</title><content type='html'>&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhX14oxhTHYrcesV__xBKLTfCrBVb374EBfpKsm1ig2sPNke9sw7eWwcD5UqbDw5VfDvIxvmbxg1IbX4OV7FoarA5QEvIPMKq42dojqIcSmivFXvVoUAJtHLhWpGOZZzu3323NF03m64zuG/s1600/_MG_7574.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;kritik_nalar_islamisme_kebangkitan_islam&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;282&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhX14oxhTHYrcesV__xBKLTfCrBVb374EBfpKsm1ig2sPNke9sw7eWwcD5UqbDw5VfDvIxvmbxg1IbX4OV7FoarA5QEvIPMKq42dojqIcSmivFXvVoUAJtHLhWpGOZZzu3323NF03m64zuG/s320/_MG_7574.jpg&quot; title=&quot;Kritik Nalar Islamisme dan Kebangkitan Islam&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Bagi yang akrab dengan perkembangan pemikiran Islam kontemporer, &lt;b&gt;judul buku&lt;/b&gt; Kritik Nalar Islamisme dan Kebangkitan Islam ini akan segera mengingatkan kita pada gagasan besar yang digarap oleh Mohammed Arkoun melalui proyek “kritik nalar Islam” dan Mohammed Abid al-Jabiri dengan “kritik Nalar Arab”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun demikian, tidak sebagaimana Arkoun dan Jabiri yang sejak awal berupaya menjelaskan apa yang dimaksud dengan istilah yang digunakannya tersebut secara ketat dan sophisticated, &lt;b&gt;M. Dawam Rahardjo&lt;/b&gt;, penulis buku ini, cenderung “mengabaikan” masalah klarifikasi istilah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class=&quot;tr_bq&quot;&gt;
Judul : &lt;b&gt;Kritik Nalar Islamisme dan Kebangkitan Islam&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Penulis : M. Dawam Rahardjo&lt;br /&gt;
Penerbit : Freedom Institute, Jakarta&lt;br /&gt;
Cetakan : April 2012&lt;br /&gt;
Tebal : xlii+ 390 Halaman&lt;/blockquote&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
Dengan banyak mengacu kepada Arkoun dan al-Jabiri, sangat jelas bahwa Dawam ingin ambil bagian dari proyek “kritik nalar” yang sudah dicanangkan oleh kedua pemikir garda depan tersebut. Dawam rupanya secara sengaja menjadikan proyek “kritik nalar” Arkoun dan al-Jabiri sebagai otoritas referensial atau kerangka acuan bagi proyek “kritik nalar Islamisme” yang dilakukannya. Karenanya, penjelasan tentang definisi tentang apa yang dimaksudkan dengan “kritik nalar”, ia tampaknya menyetujui dan mengambil begitu saja pengertian istilah tersebut dari Arkoun dan al-Jabiri. Adapun pemilihan kata “Islamisme” sepertinya dibuat secara berbeda dengan kata “Islam” dalam proyek “kritik nalar Islam” miliki Arkoun dan kata “Arab” dalam “kritik nalar Arab” milik al-Jabiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi Dawam, gagasan mengenai&lt;i&gt; ideologi Islamisme&lt;/i&gt; dari gerakan Islam sendiri mulai muncul pada belahan kedua dasawarsa 1930an. Tapi wacana itu berbentuk negatif, yaitu dalam melawan gagasan sekulerisme yang ditawarkan oleh Sukarno. Wacana ideologi pada waktu itu berbentuk kritik dan penentangan dan bukan gagasan kreatif. Ketika muncul gagasan untuk membentuk khilafah di dunia Islam di Timur Tengah, sikap gerakan Islam di Indonesia pun juga tidak jelas atau tidak ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada waktu itu, memang muncul dua komite khilafah. Yang satu dipimpin oleh H.O.S. Tjokroaminoto untuk menghadiri pertemuan di Kairo dan yang kedua ketuai oleh K.H. Wahab Hasbullah untuk pergi ke Jeddah. Tapi, kedua-duanya, menurut Gus Dur, bukan untuk menerima gagasan mendirikan Khilafah Islam, melainkan hanya berjanji untuk menghadiri undangan pertemuan. Gagasan yang jelas mengenai konsep negara dan sistem politik itu sendiri tidak jelas (hal. 41).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam makna nalar kebangkitan Islam, Dawam menyebut dunia Islam dewasa ini ditandai oleh kebangkitan revivalisme. Di sini ada dua makna kebangkitan. Pertama, kebangkitan sebuah peradaban baru di masa modern. Kedua, menghidupkan kembali masa lampau, misalnya masa al-khulafa’ al-Rasyidin atau masa Salafi, yakni generasi awal ketika peradaban Islam yang baru tumbuh itu masih belum dipengaruhi oleh peradaban lain, khususnya Yunani.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebangkitan dalam arti pertama itulah yang dimaksud dalam kebangkitan Abad ke-14 Hijriyah. Tapi, kebangkitan ini tidak terjadi, paling tidak hanya parsial saja dan penuh dengan kegamangan. Sedangkan kebangkitan dalam arti kedua adalah revivalisme yang dikemukakan oleh John Naisbit dan Peter Berger yang tak lain adalah kebangkitan fundamentalisme agama yang sebenarnya terjadi juga pada agama-agama lain. Ini justru menimbulkan kerisauan, karena kebangkitan tersebut disertai dengan konflik, tindak kekerasan dan terorisme (hal 209-210).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gagasan bernas Dawam tersebut seakan mengamini pendapat Mochtar Naim (2011). Mochtar Naim menulis dunia Islam sekarang telah memasuki era tamadun Gelombang Ketiga. Tujuh abad pertama adalah era tamadun Gelombang Pertama yaitu dari munculnya Islam di padang pasir Arabia pada abad VII Masehi ke puncak kegemilangannya di Baghdad dan Kordoba pada abad XIV. Lalu tiba masa menurunnya selama tujuh abad kedua, berupa era tamadun Gelombang Kedua yang dirundung kegelapan dan berada di bawah supremasi kekuasaan Barat. Kemudian Perang Dunia II sebagai titik nadirnya sekaligus awal dari era kebangkitan kembali tamadun Gelombang Ketiga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tamadun Gelombang Ketiga merupakan tantangan sekaligus peluang bagi umat Islam bangkit. Kebangkitan ini tentunya berawal dari sebuah kesadaran diri dan lingkungan (kesejarahan) bahwa umat Islam memeliki khasanah intelektual. Setidaknya hal ini dibuktikan dengan kejayaan Islam di era Abbasiyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi Dawam, kebangkitan dunia Islam hanya dapat diraih melalui pencerahan nalar. Yaitu dengan memilih rasaionalisme sebagai pijakan berpikir dalam melihat segala sesuatu. Melalui rasionalisme ini, diharapkan agar Dunia Islam bisa mengembangkan ilmu pengetahuan secara sungguh-sungguh dan tidak terjebak dengan semata-mata mengembangkan ilmu-ilmu keagamaan yang pada dasarnya bersifat metafisik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tampaknya Dawam serius dengan proyek nalar islamismenya ini. Hal ini tampak pada setiap penjelasan yang dihadirkan berdasarkan permenungan mendalam dalam berbagai kajian keilmuan. Maka benarlah kata Moh Shofan dalam epilognya. Pikiran-pikiran Dawam dalam buku ini, boleh dibilang seperti elang yang merentangkan sayapnya menjelajah semua wilayah, yakni memotret semua disiplin keilmuan; budaya, politik, agama, ideologi, dan ekonomi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*) Benni Setiawan, Alumnus Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PERNAH DIMUAT&amp;nbsp;Koran Tempo, Minggu, 5 Agustus 2012</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lsafpress.blogspot.com/feeds/699598752560844030/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lsafpress.blogspot.com/2012/11/kritik-nalar-islamisme-dan-kebangkitan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8262090154000785199/posts/default/699598752560844030'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8262090154000785199/posts/default/699598752560844030'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lsafpress.blogspot.com/2012/11/kritik-nalar-islamisme-dan-kebangkitan.html' title='Kritik Nalar Islamisme dan Kebangkitan Islam'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17571064918429541953</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhX14oxhTHYrcesV__xBKLTfCrBVb374EBfpKsm1ig2sPNke9sw7eWwcD5UqbDw5VfDvIxvmbxg1IbX4OV7FoarA5QEvIPMKq42dojqIcSmivFXvVoUAJtHLhWpGOZZzu3323NF03m64zuG/s72-c/_MG_7574.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8262090154000785199.post-7676991766757871465</id><published>2012-11-21T06:28:00.004-08:00</published><updated>2012-11-21T06:31:06.080-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Berita"/><title type='text'>Jurnal Ulumul Quran Terbit Kembali</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEixcXyTFCwh6eA1yHmE4m4yb3W-QiXxPfl1BrC_tuUsLz1_ijF5rkr8veqSAgvC2taTelPuQqB6Na5xI_HEBt9K7A3Wh9OUNe4z4eLWXoTY9U6mEX_R22eoBzbdL8-GwCVqmIVE_ud9wxcA/s1600/Jurnal+Blog.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;jurnal_ulumul_quran  &quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;212&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEixcXyTFCwh6eA1yHmE4m4yb3W-QiXxPfl1BrC_tuUsLz1_ijF5rkr8veqSAgvC2taTelPuQqB6Na5xI_HEBt9K7A3Wh9OUNe4z4eLWXoTY9U6mEX_R22eoBzbdL8-GwCVqmIVE_ud9wxcA/s320/Jurnal+Blog.jpg&quot; title=&quot;jurnal Ulumul Quran &quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Setelah sepuluh tahun tak terbit, &lt;b&gt;&lt;a href=&quot;http://lsafpress.blogspot.com/2012/11/jurnal-ulumul-quran.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;jurnal ilmiah paling&amp;nbsp;bergengsi &lt;/a&gt;&lt;/b&gt;dan tercatat sebagai &lt;i&gt;jurnal paling tua &lt;/i&gt;di Indonesia Ulumul Qur&#39;an kembali diterbitkan Lembaga &lt;a href=&quot;http://lsafpress.blogspot.com/2012/11/penerbitan-buku-buku-filsafat.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Studi Agama dan Filsafat (LSAF).&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Menandai kebangkitan jurnal tersebut, LSAF dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Jakarta menyelenggarakan Lounching&lt;b&gt; Jurnal&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;Ulumul Quran&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;di Auditorium Syahid UIN Jakarta Kamis, (10/5) beberapa bulan lalu.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Kegiatan lounching dirangkaikan dengan&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&amp;nbsp;seminar bertema &quot;Perkembangan Partai Politik di Indonesia: Kartel dan Ideologis&quot;. Kegiatan Laounching dan Seminar tersebut&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;dihadiri langsung olah penggagas dan inspirator&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Ulumul Qur&#39;an,&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;Prof. Dr. Dawam Rahardjo&lt;/b&gt;,&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Rektor Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, pengamat politik Fachry Ali, MA, dan Dekan FISIP Prof. Dr. Bakhtiar Effendy.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Hadi Mulyo, MSc &lt;i&gt;pimpinan Umum Jurnal&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;i&gt;Ulumul Qur&#39;an&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;, mengatakan,&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&amp;nbsp;Jurnal tersebut telah terbit sejak&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;April 1989, namun&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;sejak&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;1998&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;karena&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;jurnal ini mati suri karena&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;terkendala dana dan SDM.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;u&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Visi jurnal&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Ulumul Qur&#39;an&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&amp;nbsp;adalah mengapresiasi dan menghimpun kecenderungan wacana perkembangan pemikiran Islam kala itu seperti gagasan&lt;u&gt; reaktualisasi pemikiran Islam &lt;/u&gt;Munawir Sjadzali, Islamisasi ilmu dari Ismail R. al-Faruqi, pembaharuan pemikiran Islam dari Fazlur Rahman, dan kajian Islam tentang kecenderungan masa depan dari Ziauddin Sardar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Sementara itu, inisiator dan pendiri&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Jurnal&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Ulumul Qur&#39;an&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Prof. Dr. Dawam Raharjo mengatakan , semangat&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Jurnal&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Ulumul Qur&#39;an&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&amp;nbsp;adalah bagaiamana menjadikan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Alqur’an sebagai sumber ilmu pengetahuan dan budaya&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Ia menambahkan,&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Jurnal&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Ulumul Qur&#39;an&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&amp;nbsp;sebenarnya manivestasi &lt;b&gt;&lt;a href=&quot;http://lsafpress.blogspot.com/2012/11/penerbitan-buku-buku-filsafat.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;wajah madzhab Ciputat&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&quot;Kalau saya boleh bilang,&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Ulumul Qur&#39;an&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&amp;nbsp;itu wajah dari intelektual Islam madzhab Ciputat, tanpa menafikan teman-teman, seperti Syafi&#39;i Anwar dari UI dan Haidar Bagir dari ITB,&quot; tandasnya.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Sementara itu, Rektor &lt;b&gt;UIN Syahid&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Prof. Dr. Komaruddin Hidayat&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;mengatakan, ciri khas civitas akademika UIN Jakarta adalah terletak pada intelektualisme keislamannya sementara Jurnal&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Ulumul Qur&#39;an&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&amp;nbsp;termasuk salah satu ruang terbuka yang mengakomodir intelektualisme&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;.[Dari Berbagai Sumber]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lsafpress.blogspot.com/feeds/7676991766757871465/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lsafpress.blogspot.com/2012/11/jurnal-ulumul-quran-terbit-kembali.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8262090154000785199/posts/default/7676991766757871465'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8262090154000785199/posts/default/7676991766757871465'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lsafpress.blogspot.com/2012/11/jurnal-ulumul-quran-terbit-kembali.html' title='Jurnal Ulumul Quran Terbit Kembali'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17571064918429541953</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEixcXyTFCwh6eA1yHmE4m4yb3W-QiXxPfl1BrC_tuUsLz1_ijF5rkr8veqSAgvC2taTelPuQqB6Na5xI_HEBt9K7A3Wh9OUNe4z4eLWXoTY9U6mEX_R22eoBzbdL8-GwCVqmIVE_ud9wxcA/s72-c/Jurnal+Blog.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8262090154000785199.post-9159986076303443357</id><published>2012-11-21T00:19:00.001-08:00</published><updated>2012-11-21T00:23:23.324-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Buku Filsafat"/><title type='text'>Penerbitan Buku-Buku Filsafat</title><content type='html'>&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj-_P4OyIOMX_FbZFB9G7GtbSrHhKabWvVDIFW6Xq9Gg-yaVO4Zbg9mkyCOxW7eYygbe6E05f9dxQ6pkBHRMEINC0Sdtr3Yrm-lItTzhPQaCYMHlruu5V2u7uVWWuT0A5cdcN2BmIcj6kpQ/s1600/0a.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;buku_filsafat_dan_agama&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;212&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj-_P4OyIOMX_FbZFB9G7GtbSrHhKabWvVDIFW6Xq9Gg-yaVO4Zbg9mkyCOxW7eYygbe6E05f9dxQ6pkBHRMEINC0Sdtr3Yrm-lItTzhPQaCYMHlruu5V2u7uVWWuT0A5cdcN2BmIcj6kpQ/s320/0a.jpg&quot; title=&quot;buku buku filsafat&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;b&gt;Penerbitan buku-buku filsafat&lt;/b&gt; saat ini menjadi kebutuhan mendasar
para &lt;b&gt;&lt;a href=&quot;http://lsafpress.blogspot.com/2012/11/jurnal-ulumul-quran.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;penulis filsafat&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; di Indonesia. Maraknya&lt;u&gt; &lt;b&gt;kajian-kajian filsafat&lt;/b&gt; &lt;/u&gt;terutama di
kampus-kampus islam tidak dibarengi dengan adanya lembaga-lembaga penerbitan
yang memfasilitasi para penulis untuk menerbitkan buku mereka.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
Satu hal yang kerapkali menjadi pertimbangan penerbit sehingga
enggan menerbitkan &lt;b&gt;&lt;i&gt;buku genre filsafat&lt;/i&gt; &lt;/b&gt;karena, buku-buku jenis ini dianggap jenis
“buku berat” sehingga susah laku dipasar. Padahal, tak demikian adanya. Jika
mau ditelisik, ada ratusan ribu &lt;b&gt;mahasiswa Filsafat&lt;/b&gt; yang tersebar di puluhan
kampus di Indonesia yang membutuhkan buku jenis ini. &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
Nah &lt;b&gt;LSAF Press&lt;/b&gt; mengambil peran itu, lembaga yang bernaung
dibawah devisi penerbitan &lt;a href=&quot;http://lsafpress.blogspot.com/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;b&gt;Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF)&lt;/b&gt; &lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;a href=&quot;http://lsafpress.blogspot.com/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Jakarta&lt;/a&gt; &amp;nbsp;&lt;/b&gt;ini berupaya menerbitkan buku-buku &lt;b&gt;aliran
filsafat&lt;/b&gt;, tidak sekadar menyasar pasar potensial khsusnya mahasiswa &lt;b&gt;jurusan filsafat&lt;/b&gt;,
tetapi juga berupaya menghidupkan lagi &lt;b&gt;&lt;a href=&quot;http://lsafpress.blogspot.com/2012/11/tentang-lsaf-press.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;wacana-wacana filsafat&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; di Indonesia yang
nyaris mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah jika anda ingin buku anda diterbitkan LSAF Press, silakan anda kontak kami di email lsaf.press@gmail.com atau tlp. 081806446625 (Josep) Atau 081936772005 (Jumaili)&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lsafpress.blogspot.com/feeds/9159986076303443357/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lsafpress.blogspot.com/2012/11/penerbitan-buku-buku-filsafat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8262090154000785199/posts/default/9159986076303443357'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8262090154000785199/posts/default/9159986076303443357'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lsafpress.blogspot.com/2012/11/penerbitan-buku-buku-filsafat.html' title='Penerbitan Buku-Buku Filsafat'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17571064918429541953</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj-_P4OyIOMX_FbZFB9G7GtbSrHhKabWvVDIFW6Xq9Gg-yaVO4Zbg9mkyCOxW7eYygbe6E05f9dxQ6pkBHRMEINC0Sdtr3Yrm-lItTzhPQaCYMHlruu5V2u7uVWWuT0A5cdcN2BmIcj6kpQ/s72-c/0a.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8262090154000785199.post-3487651927353379765</id><published>2012-11-18T23:35:00.001-08:00</published><updated>2012-12-05T10:11:18.634-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Jurnal Ulumul Qur&#39;an"/><title type='text'>Jurnal Ulumul Qur&#39;an Jakarta</title><content type='html'>&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;float: left; margin-right: 1em; text-align: left;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEib5lDf-iq2NNk5gKG_Zn-pRYTFuNzjCNCoypQDEwWgB0XIwb4xtpkqxWJSM9s8MalxEg-umuszvjeh1vtGdUvqCw8XbEjiOP9tcI_ERSuS0AIhw03ZoirROBMyg4uIHziAQfnjHsoMrbhn/s1600/h.JPG&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Jurnal_Ulumul_Qur&#39;an_Jurnal_Peradaban_dan_Ilmu&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;278&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEib5lDf-iq2NNk5gKG_Zn-pRYTFuNzjCNCoypQDEwWgB0XIwb4xtpkqxWJSM9s8MalxEg-umuszvjeh1vtGdUvqCw8XbEjiOP9tcI_ERSuS0AIhw03ZoirROBMyg4uIHziAQfnjHsoMrbhn/s400/h.JPG&quot; title=&quot;Jurnal_Ulumul_Qur&#39;an&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Jurnal Kebudayaan dan Peradaban; Ulumul Qur&#39;an &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Jurnal Ulumul Qur&#39;an&amp;nbsp;&lt;/b&gt;- merupakan salah satu&lt;b&gt; Jurnal tertua di Indonesia.&amp;nbsp;&lt;/b&gt;Jurnal Ulumul Qur&#39;an banyak menyarikan tulisan-tulisan dari berbagai disiplin keilmuan, baik &lt;u&gt;teologi&lt;/u&gt;, &lt;u&gt;filsafat&lt;/u&gt;, bahkan &lt;u&gt;saint&lt;/u&gt;.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ulumul Quran hadir sejak tahun 1989, ditengah kegersangan dan kuatnya dominasi negara dalam pemikiran apapun.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ulumul Qur&#39;an hadir di atas kekeringan sarana transformasi gagasan &lt;u&gt;pemikiran baru&lt;/u&gt; tersebut. tidak kurang dari 35 Jurnal dari tahun 1989-1998 hadir ke hadapan pambaca yang budiman. namun pasca 1998 jurnal inipun mengalami kemunduran (Tidak terbit lagi, penj).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tahun 2012 merupakan salah satu tonggak bergeliatnya kembali dunia pemikiran, hal ini senada dengan diterbitkanyya kembali Jurnal Ulumul Qur&#39;an yang baru. Jurnal Ulumul Quran kini digawangi oleh redaktur-redaktur muda yang sarat pengalaman dibimbing oleh para sesepuh redaktur Ulumul Qur&#39;an seperti &lt;u&gt;M. Dawam Rahardjo.&lt;/u&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kini, &lt;i&gt;&lt;a href=&quot;http://www.skripsidoc.com/search/label/Judul%20Skripsi%20PAI&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Ulumul Qur&#39;an&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; terbit kembali setiap bulan dengan materi dan pemikiran baru dan membaru setiap edisinya.[Josep]&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lsafpress.blogspot.com/feeds/3487651927353379765/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lsafpress.blogspot.com/2012/11/jurnal-ulumul-quran.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8262090154000785199/posts/default/3487651927353379765'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8262090154000785199/posts/default/3487651927353379765'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lsafpress.blogspot.com/2012/11/jurnal-ulumul-quran.html' title='Jurnal Ulumul Qur&#39;an Jakarta'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17571064918429541953</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEib5lDf-iq2NNk5gKG_Zn-pRYTFuNzjCNCoypQDEwWgB0XIwb4xtpkqxWJSM9s8MalxEg-umuszvjeh1vtGdUvqCw8XbEjiOP9tcI_ERSuS0AIhw03ZoirROBMyg4uIHziAQfnjHsoMrbhn/s72-c/h.JPG" height="72" width="72"/><thr:total>2</thr:total><georss:featurename>Kalibata, Jakarta 12740, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-6.264319 106.842164</georss:point><georss:box>-6.280103 106.822423 -6.248535 106.861905</georss:box></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8262090154000785199.post-9115313340077335955</id><published>2012-11-18T12:06:00.001-08:00</published><updated>2013-01-16T02:56:20.813-08:00</updated><title type='text'>Tentang Lsaf Press</title><content type='html'>&lt;b&gt;LSAF Press&lt;/b&gt; merupakan penerbit buku-buku berkualitas yang sesuai dengan perkembangan ilmu dan pengetahuan. Sebagai bagian dari &lt;u&gt;Lembaga Studi Agama dan Filsafat&lt;/u&gt;, LSAF press menjadi salah satu media dan katalisator gagasan-gagasan terbaru baik dalam pemikiran keagamaan, filsafat, sains, ilmu-ilmu sosial, dan sastra. Bahkan menjadi media dialog bagi ragamnya pemikiran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;LSAF Press&lt;/b&gt; berkeyakinan bahwa sulit untuk mewadahi semua, tapi setidaknya dengan media penerbitan ini menjadi tonggak awal bangkitnya dialog antar agama, kebudayaan dan peradaban. Dengan Motto &lt;b&gt;&lt;i&gt;Dialog Ilmu, Kebudayaan dan Peradaban&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, kami berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan sumbangan dalam pengembangan Sumber daya Manusia yang berkualitas yang mampunyai daya saing yang tinggi, serta kritis dalam membangun Indonesia berkeadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;VISI DAN MISI&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;VISI&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Menjadi penerbit buku terdepan dalam menciptakan ruang dialog ilmu, kebudayaan dan Peradaban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;MISI&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Menerbitkan buku-buku berkualitas sesuai dengan perkembangan ilmu dan pengetahuan&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Menjadi sarana dialog bagi kemajuan ilmu dan pengetahuan&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Mendistribusikan gagasan-gagasan baru tentang kemajuan ilmu&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Menjadi Kiblat industry kreatif penerbitan Buku Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;POSITIONING&lt;/b&gt;Menerbitkan ragam literasi yang mencerahkan dan dinamis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;SEGMENTASI&lt;/b&gt;•&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Kaum aktivis, akademisi, Praktisi dan Peneliti&lt;br /&gt;•&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Masyarakat luas dengan lintas usia dan lintas Agama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;MOTTO&lt;/b&gt;Dialog Ilmu, Kebudayaan dan Peradaban&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Hubungi Kami&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
Jl. Kalibata Timur Raya no. 31A Empang Tiga Jakarta Selatan&lt;br /&gt;Tlp. 021-7984918 Faks. 021-79191126&lt;br /&gt;lsaf.press@gmail.com&lt;br /&gt;lsafpress.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;atau hubungi Yusep Munawar Sofyan 0818 0644 6625&lt;br /&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lsafpress.blogspot.com/feeds/9115313340077335955/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lsafpress.blogspot.com/2012/11/tentang-lsaf-press.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8262090154000785199/posts/default/9115313340077335955'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8262090154000785199/posts/default/9115313340077335955'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lsafpress.blogspot.com/2012/11/tentang-lsaf-press.html' title='Tentang Lsaf Press'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17571064918429541953</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>