<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>Blog Murid Wali</title><description></description><managingEditor>noreply@blogger.com (murid wali)</managingEditor><pubDate>Fri, 1 Nov 2024 01:18:30 -0700</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">9</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>http://muridwali.blogspot.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle/><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><title>"ALLAH"</title><link>http://muridwali.blogspot.com/2012/10/allah.html</link><category>Al-Asmaul-Husna</category><author>noreply@blogger.com (murid wali)</author><pubDate>Sun, 7 Oct 2012 20:53:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-941542624142067641.post-4839125056401762256</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiqki8icQjXJQCObSTX4CYNgku6sAZFXq7JJEu_dxXwemHvu0Zo4rbWw9svgig8dgF_NXCcBz3smSUJVt6IqDMdW6HveDrz6GtoWkUdH5z5CMa1zlnssHbePPagReg5G3fPXLXSWmubMkdW/s1600/%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiqki8icQjXJQCObSTX4CYNgku6sAZFXq7JJEu_dxXwemHvu0Zo4rbWw9svgig8dgF_NXCcBz3smSUJVt6IqDMdW6HveDrz6GtoWkUdH5z5CMa1zlnssHbePPagReg5G3fPXLXSWmubMkdW/s320/%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;" ALLAH " adalah nama Tuhan yang paling populer, kata "الله" (ALLAH) terulang dalam Al-Qur'an sebanyak 2698 kali.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;Para Ulama dan pakar bahasa mendiskusikan kata tersebut antara lain apakah ia memiliki akar kata atau tidak.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;Banyak para Ula&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="text_exposed_show" style="background-color: white; color: #333333; display: inline; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;
ma yang berpendapat bahwa kata "الله" tidak terambil dari satu akar kata tertentu, tetapi ia adalah Nama yang menunjuk kepada Zat Yang Wajib Wujud-Nya, yang menguasai seluruh hidup &amp;amp; kehidupan, dan yang kepada-Nya seluruh makhluk SEHARUSNYA mengabdi &amp;amp; bermohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi banyak juga para Ulama yang berpendapat bahwa kata "الله" asalnya adalah " الـه " (Ilah) yang dibubuhi huruf Alif dan Lam, dan dengan demikian ALLAH merupakan nama khusus, karena itu tidak dikenal bentuk jamaknya sedang ILAH adalah nama yang bersifat umum dan yang dapat berbentuk jama' (plural) ALIHAH.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Dari segi makna dapat dikemukakan bahwa kata "ALLAH" mencakup segala sifat-sifat-Nya, bahkan Dialah yang menyandang sifat-sifat tersebut. karena itu, jika anda berkata "Ya Allah", maka semua nama-nama/sifat-sifat-Nya telah dicakup oleh kata tersebut, di sisi lain jika anda berkata "ARRAHIM" (Yang Maha Pengasih) maka sesungguhnya yang anda maksud adalah ALLAH, namun kandungan makna ARRAHIM tidak mencakup sifat-sifat-Nya yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INGATLAH atau SEBUTLAH nama "ALLAH" karena dengan demikian HATI kita akan TENANG.&lt;br /&gt;" Dengan mengingat ALLAH, akan menjadi tenteram hati" Q.s. Ar-Ra'ed : 28&lt;br /&gt;Ketenangan dan ketenteraman itu lahir bila kita percaya bahwa ALLAH adalah PENGUASA TUNGGAL dan PENGATUR ALAM RAYA.&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiqki8icQjXJQCObSTX4CYNgku6sAZFXq7JJEu_dxXwemHvu0Zo4rbWw9svgig8dgF_NXCcBz3smSUJVt6IqDMdW6HveDrz6GtoWkUdH5z5CMa1zlnssHbePPagReg5G3fPXLXSWmubMkdW/s72-c/%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Ar-Rahma^n dan Ar-Rahi^m</title><link>http://muridwali.blogspot.com/2012/10/ar-rahman-dan-ar-rahim.html</link><category>Al-Asmaul-Husna</category><author>noreply@blogger.com (murid wali)</author><pubDate>Sun, 7 Oct 2012 20:48:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-941542624142067641.post-1035524330047032019</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj9Hnyu3fwWXP1j0wGR7SUxcXg2aiIFrytDEtfXIQbOhJvQodRYH9NaBoBCXEBMYRthV8M3qXTyqwbOwhOxEwiJC2eWorzpai9nHmpeIrx-Pw7XDN4pVA6pik7tPCjgir-z5grEhJxM714N/s1600/%D8%A7%D9%84%D8%B1%D8%AD%D9%85%D9%86+%D8%A7%D9%84%D8%B1%D8%AD%D9%8A%D9%85.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj9Hnyu3fwWXP1j0wGR7SUxcXg2aiIFrytDEtfXIQbOhJvQodRYH9NaBoBCXEBMYRthV8M3qXTyqwbOwhOxEwiJC2eWorzpai9nHmpeIrx-Pw7XDN4pVA6pik7tPCjgir-z5grEhJxM714N/s320/%D8%A7%D9%84%D8%B1%D8%AD%D9%85%D9%86+%D8%A7%D9%84%D8%B1%D8%AD%D9%8A%D9%85.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span aria-live="polite" class="fbPhotosPhotoCaption" id="fbPhotoSnowliftCaption" style="background-color: white; color: #333333; display: inline; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px; outline: none; width: auto;" tabindex="0"&gt;&lt;span class="hasCaption"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="text_exposed_root text_exposed" id="id_50724b2a47ca05266777632" style="display: inline;"&gt;
Ar-Rahma^n dan Ar-Rahi^m adalah dua Nama Allah yang amat Dominan, oleh karena itu dua nama inilah yang ditempatkan menyusul penyebutan Nama "ALLAH".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata Ar-Rahma^n didalam Al-Qur'an terulang sebanyak 67 kali, sedangkan Ar-Rahi^m sebanyak 95 kali,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para Ulama berpendapat bahwa kata "الرحمن" ( Ar-Rahma^n ) dan "الرحيم" ( Ar-Rahi^m ) itu terambil dari akar kata "رحمة" (Rahmat ) dengan alasan bahw&lt;br /&gt;
&lt;div class="text_exposed_show" style="display: inline;"&gt;
a timbangan kata tersebut dikenal dalam bahasa Arab, "رحمن" (Rahma^n) setimbang dengan "فعلان" (Fa'la^n) dan رحيم (Rahi^m) dengan "فعيل" (Fa'i^l). Timbangan "فعلان" (Fa'la^n) biasanya menunjukkan kepada KESEMPURNAAN dan atau KESEMENTARAAN, sedangkan timbangan "فعيل" (Fa'i^l) menunjuk kepada KESINAMBUNGAN dan KEMANTAPAN. Oleh karena itu tidak ada bentuk jamak dari kata "رحمن" (Rahma^n), karena kesempurnaannya itu, dan tidak ada pula yang wajar dinamai "رحمن" (Rahma^n) kecuali ALLAH SWT. Berbeda dengan kata رحيم (Rahi^m), yang dapat dijamak dengan "رحماء" (Ruhama^u), sebagaimana ia dapat menjadi Sifat Allah dan juga Sifat Makhluk. Dalam Al-Qur'an kata رحيم (Rahi^m) digunakan untuk menunjuk sifat Rasulullah Muhammad SAW yang menaruh belas kasih yang sangat dalam terhadap Ummatnya, sebagaimana Firman Allah dalam Q.s Attaubah : 128.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Menurut Imam Al-Ghazali buah yang dihasilkan oleh "رحمن" (Rahma^n), pada aktifitas seseorang adalah bahwa : " ia akan merasakan rahmat dan kasih sayang kepada hamba-hamba Allah yang lengah, dan ini mengantar yang bersangkutan untuk mengalihkan mereka dari jalan kelengahan, menuju Allah. Dengan memberinya nasihat yang lemah lembut tidak dengan kekerasan, memandang orang-orang berdosa dengan pandangan kasih sayang bukan dengan gangguan. Memandang setiap kedurhakaan yang terjadi di muka bumi, bagai kedurhakaan terhadap dirinya, sehingga ia tidak menyisihkan sedikit upaya pun untuk menghilangkannya sesuai kemampuannya - sebagai pengejewantahan dari rahmatnya terhadap si durhaka jangan sampai ia mendapatkan murka-Nya dan kejauhan dari sisi-Nya".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan buah رحيم (Rahi^m) adalah : " Tidak membiarkan seorang yang butuh kecuali berupaya memenuhi kebutuhannya, tidak juga membiarkan seorang Faqir disekelilingnya atau dinegrinya kecuali dia berusaha untuk membantu &amp;amp; menampik kefakirannya, dengan harta, kedudukan, atau berusaha melalui orang ketiga sehingga terpenuhi kebutuhannya. Kalau semua itu tidak bisa dilakukan maka hendaklah ia membantu dengan Do'a serta menampakkan rasa kesedihan dan kepedihan atas penderitaannya.&lt;br /&gt;
Itu semua, sebagai tanda kasih sayang, dan dengan demikian ia bagaikan serupa dengan yang dikasihinya dalam kesulitan &amp;amp; kebutuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
BACALAH kedua ASMA ini,,, hayati bahwa Allah adalah PEMBERI RAHMAT&lt;br /&gt;
Insya Allah... kita akan menjadi Matahari yg tidak KIKIR atau BOSAN memancarkan cahaya dan kehangatan kepada Siapapun dan Dimanapun.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;span class="fbPhotoTagList" id="fbPhotoSnowliftTagList" style="background-color: white; color: #333333; display: inline; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="fcg" style="color: grey;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj9Hnyu3fwWXP1j0wGR7SUxcXg2aiIFrytDEtfXIQbOhJvQodRYH9NaBoBCXEBMYRthV8M3qXTyqwbOwhOxEwiJC2eWorzpai9nHmpeIrx-Pw7XDN4pVA6pik7tPCjgir-z5grEhJxM714N/s72-c/%D8%A7%D9%84%D8%B1%D8%AD%D9%85%D9%86+%D8%A7%D9%84%D8%B1%D8%AD%D9%8A%D9%85.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>حكم إحياء ليلتي العيد وليلة النصف من شعبان</title><link>http://muridwali.blogspot.com/2012/06/blog-post.html</link><author>noreply@blogger.com (murid wali)</author><pubDate>Mon, 25 Jun 2012 16:44:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-941542624142067641.post-4546142702667714419</guid><description>&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" dir="RTL"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgP0wgBGa3z7Fm3Bx8lPGAHA2QaxV3bu9g0ux3QTK7ISNsA8TGO6A5T53ALo9QbRn9cMcADVKeEYMIj34Xv-FeWJz1tAhOWGaFjLLwogDpbnEbOFXuN_xgDe3B2Wk_kJqTdjLaQEuOvvjjC/s1600/lailat+nisfi+sya'ban.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgP0wgBGa3z7Fm3Bx8lPGAHA2QaxV3bu9g0ux3QTK7ISNsA8TGO6A5T53ALo9QbRn9cMcADVKeEYMIj34Xv-FeWJz1tAhOWGaFjLLwogDpbnEbOFXuN_xgDe3B2Wk_kJqTdjLaQEuOvvjjC/s320/lailat+nisfi+sya'ban.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'Traditional Arabic'; font-size: 18pt; line-height: 115%;"&gt;فيقول المصطفى صلى
الله عليه وسلم : ( إن لله في أيام دهره لنفحات ألا فتعرضوا لنفحات الله ) ومن
حكمة الله أن فضل بعض الليالي على بضع ليغتنمها ذوو الألباب , ومن الليالي الفاضلة
التي ينبغي اغتنامها ليلتا العيد وليلة النصف من شعبان , وهذه بحث موجز في حكم
قيام تلك الليالي وقد جعلته على ثلاثة مباحث :&lt;br /&gt;
المبحث الأول : أقوال الفقهاء وأهل العلم في ذلك&lt;br /&gt;
المبحث الثاني : الأحاديث الواردة في فضل ليلتي العيد وليلة النصف من شعبان&lt;br /&gt;
المبحث الثالث : فوائد متممة تتعلق بليلة النصف من شعبان&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'Traditional Arabic'; font-size: 18pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;
المبحث الأول&lt;br /&gt;
أقوال الفقهاء وأهل العلم في ذلك&lt;br /&gt;
- ذهب جماهير أهل العلم إلى استحباب إحياء ليلتي العيد وليلة النصف من شعبان وقد
اتفقت المذاهب الأربعة على ذلك&lt;br /&gt;
- وجمهور أهل العلم على استحباب الاجتماع لإحياء تلك الليالي , وكره بعض أهل العلم
الاجتماع واستحبوا الإحياء بدون اجتماع&lt;br /&gt;
- والذين استحبوا الاجتماع جمهورهم استحبوا الجماعات الخاصة في البيوت ونحوها دون
الجماعات العامة في المساجد , وبعضهم استحب الجماعات العامة في المساجد كما هو في
التراويح&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
وهذه بعض أقوال أهل العلم من المذاهب الأربعة :&lt;br /&gt;
من أقوال الحنفية :&lt;br /&gt;
قال ابن نجيم في البحر الرائق 2/56 : ( ومن المندوبات إحياء ليالي العشر من رمضان
وليلتي العيدين وليالي عشر ذي الحجة وليلة النصف من شعبان كما وردت به الأحاديث
وذكرها في الترغيب والترهيب مفصلة , والمراد بإحياء الليل قيامه وظاهره الاستيعاب
ويجوز أن يراد غالبه&lt;br /&gt;
ويكره الاجتماع على إحياء ليلة من هذه الليالي في المساجد قال في الحاوي القدسي
ولا يصلي تطوع بجماعة غير التراويح وما روي من الصلوات في الأوقات الشريفة كليلة
القدر وليلة النصف من شعبان وليلتي العيد وعرفة والجمعة وغيرها تصلى فرادى انتهى )
اهـ&lt;br /&gt;
وفي درر الحكام لمنلا خسرو 1/117: ( ومن المندوبات إحياء ليال العشر الأخير من
رمضان وليلتي العيدين وليالي عشر ذي الحجة وليلة النصف من شعبان&lt;br /&gt;
والمراد بإحياء الليل قيامه وظاهره الاستيعاب ويجوز أن يراد غالبه ويكره الاجتماع
على إحياء ليلة من هذه الليالي في المساجد ) اهـ&lt;br /&gt;
وفي شرح الحصكفي 2/25 : ( وإحياء ليلة العيدين والنصف من شعبان والعشر الأخير من
رمضان والأول من ذي الحجة ويكون بكل عبادة تعم الليل أو أكثره ) اهـ&lt;br /&gt;
وفي حاشية ابن عابدين عليه 2/25 : ( مطلب في إحياء ليالي العيدين والنصف وعشر
الحجة ورمضان :&lt;br /&gt;
( قوله وإحياء ليلة العيدين ) الأولى ليلتي بالتثنية : أي ليلة عيد الفطر , وليلة
عيد الأضحى ( قوله والنصف ) أي وإحياء ليلة النصف من شعبان .&lt;br /&gt;
( قوله والأول ) أي وليالي العشر الأول إلخ . وقد بسط الشرنبلالي في الإمداد ما
جاء في فضل هذه الليالي كلها فراجعه . قوله (ويكون بكل عبادة تعم الليل أو أكثره
)...&lt;br /&gt;
[ تتمة ] أشار بقوله فرادى إلى ما ذكره بعد في متنه من قوله ويكره الاجتماع على
إحياء ليلة من هذه الليالي في المساجد , وتمامه في شرحه , وصرح بكراهة ذلك في
الحاوي القدسي .&lt;br /&gt;
قال : وما روي من الصلوات في هذه الأوقات يصلى فرادى غير التراويح ) اه&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
من أقوال المالكية :&lt;br /&gt;
في المدخل لابن الحاج 1/ 232 : ( { فصل } وينبغي للحاج أن يحيي ليلة العيد بالصلاة
. وقد كان عبد الله بن عمر يقوم تلك الليلة كلها وكذلك غيره . وقد استحب العلماء
ذلك في جميع الأقطار . لما ورد في الحديث { من أحيا ليلتي العيد أحيا الله قلبه
يوم تموت القلوب }&lt;br /&gt;
وذلك بشرط أن لا يكون في المساجد ولا في المواضع المشهورة كما يفعل في رمضان , بل
كل إنسان في بيته لنفسه ولا بأس أن يأتم به بعض أهله وولده ) اهـ&lt;br /&gt;
وفي التاج والإكليل 2/574 : ( وندب إحياء ليلته ) روى أبو أمامة : { من أحيا ليلتي
العيد لم يمت قلبه يوم تموت القلوب } ) اهـ&lt;br /&gt;
وفي مواهب الجليل 2/193: ( وندب إحياء ليلته ) : قال في جمع الجوامع للشيخ جلال
الدين السيوطي { من أحيا ليلتي العيدين وليلة النصف من شعبان لم يمت قلبه يوم تموت
القلوب } قال : رواه الحسن بن سفيان عن ابن كردوس عن أبيه&lt;br /&gt;
ولفظ آخر { : من أحيا ليلة الفطر وليلة الأضحى لم يمت قلبه يوم تموت القلوب } قال
رواه الطبراني عن عبادة بن الصامت&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ولفظ آخر { : من أحيا الليالي الأربع وجبت له الجنة ليلة التروية وليلة عرفة وليلة
النحر وليلة الفطر } رواه الديلمي وابن عساكر وابن النجار عن معاذ&lt;br /&gt;
ولفظ آخر { : من قام ليلة العيد محتسبا لم يمت قلبه يوم تموت القلوب } رواه ابن
ماجه وقال الدارقطني المحفوظ أنه موقوف على مكحول انتهى .&lt;br /&gt;
وقال ابن الفرات : استحب إحياء ليلة العيد بذكر الله تعالى والصلاة وغيرها من
الطاعات للحديث { من أحيا ليلة العيد لم يمت قلبه يوم تموت القلوب } وروي مرفوعا
وموقوفا وكلاهما ضعيف لكن أحاديث الفضائل يتسامح فيها . ) اهـ&lt;br /&gt;
وفي الفواكه الدواني 1/275 : ( وندب إحياء ليلته وغسل بعد الصبح وتطيب وتزين وإن
لغير مصل ومشي في ذهابه وفطر قبله في الفطر وتأخيره في النحر , وإنما استحب إحياء
ليلة العيد لقوله صلى الله عليه وسلم : { من أحيا ليلة العيد وليلة النصف من شعبان
لم يمت قلبه يوم تموت القلوب } وفي حديث : { من أحيا الليالي الأربع وجبت له الجنة
} وهي : ليلة الجمعة وليلة عرفة وليلة الفطر وليلة النحر&lt;br /&gt;
ومعنى لم يمت قلبه لم يتحير عند النزع ولا على القيامة , وقيل لم يمت في حب الدنيا
والإحياء يحصل بالذكر والصلاة ولو في معظم الليل ) اهـ&lt;br /&gt;
وفي حاشية الدسوقي 1/399 : ( قوله وندب إحياء ليلته ) أي لقوله عليه الصلاة
والسلام { من أحيا ليلة العيد وليلة النصف من شعبان لم يمت قلبه يوم تموت القلوب }
ومعنى عدم موت قلبه عدم تحيره عند النزع والقيامة بل يكون قلبه عند النزع مطمئنا ,
وكذا في القيامة والمراد باليوم الزمن الشامل لوقت النزع ووقت القيامة الحاصل
فيهما التحير&lt;br /&gt;
( قوله وذكر ) من جملة الذكر قراءة القرآن ( قوله ويحصل بالثلث الأخير من الليل )
واستظهر ابن الفرات أنه يحصل بإحياء معظم الليل وقيل يحصل بساعة , ونحوه للنووي في
الأذكار وقيل يحصل بصلاة العشاء والصبح في جماعة , وقرر شيخنا أن هذا القول والذي
قبله أقوى الأقوال فانظره ) اهـ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
من أقوال الشافعية :&lt;br /&gt;
في الأم للإمام الشافعي 2/264: ( العبادة ليلة العيدين :&lt;br /&gt;
أخبرنا الربيع قال أخبرنا الشافعي قال أخبرنا إبراهيم بن محمد قال أخبرنا ثور بن
يزيد عن خالد بن معدان عن أبي الدرداء قال : " من قام ليلة العيد محتسبا لم
يمت قلبه حين تموت القلوب " .&lt;br /&gt;
قال الشافعي : وبلغنا أنه كان يقال : إن الدعاء يستجاب في خمس ليال في ليلة الجمعة
, وليلة الأضحى , وليلة الفطر , وأول ليلة من رجب , وليلة النصف من شعبان&lt;br /&gt;
أخبرنا الربيع قال أخبرنا الشافعي قال أخبرنا إبراهيم بن محمد قال رأيت مشيخة من
خيار أهل المدينة يظهرون على مسجد النبي صلى الله عليه وسلم ليلة العيد فيدعون
ويذكرون الله حتى تمضي ساعة من الليل , وبلغنا أن ابن عمر كان يحيي ليلة جمع ,
وليلة جمع هي ليلة العيد لأن صبيحتها النحر&lt;br /&gt;
قال الشافعي : وأنا أستحب كل ما حكيت في هذه الليالي من غير أن يكون فرضا ) اه&lt;br /&gt;
وفي البدع والحوادث لأبي شامة ص 44: ( قال الإمام ابن الصلاح في فتوى له : ...
وأما ليلة النصف من شعبان فلها فضيله واحياؤها بالعبادة مستحب ولكن على الانفراد
من غير جماعة ... ) اهـ&lt;br /&gt;
وفي المجموع للنووي 5/36 : ( قال أصحابنا : يستحب إحياء ليلتي العيدين بصلاة أو
غيرها من الطاعات ( واحتج ) له أصحابنا بحديث أبي أمامة عن النبي صلى الله عليه
وسلم { من أحيا ليلتي العيد لم يمت قلبه يوم تموت القلوب } وفي رواية الشافعي وابن
ماجه : " { من قام ليلتي العيدين محتسبا لله تعالى لم يمت قلبه حين تموت
القلوب } رواه عن أبي الدرداء موقوفا , وروي من رواية أبي أمامة موقوفا عليه
ومرفوعا كما سبق , وأسانيد الجميع ضعيفة ...&lt;br /&gt;
واستحب الشافعي والأصحاب الإحياء المذكور , مع أن الحديث ضعيف , لما سبق في أول
الكتاب أن أحاديث الفضائل يتسامح فيها , ويعمل على وفق ضعيفها&lt;br /&gt;
والصحيح أن فضيلة هذا الإحياء لا تحصل إلا بمعظم الليل , وقيل تحصل بساعة , ويؤيده
ما سبق في نقل الشافعي عن مشيخة المدينة , ونقل القاضي حسين عن ابن عباس أن إحياء
ليلة العيد أن يصلي العشاء في جماعة , ويعزم أن يصلي الصبح في جماعة والمختار ما
قدمته والله أعلم ) اهـ&lt;br /&gt;
وفي روضة الطالبين 2/75 : ( ويستحب استحبابا متأكدا إحياء ليلتي العيد بالعبادة
قلت وتحصل فضيلة الإحياء بمعظم الليل وقيل تحصل بساعة وقد نقل الشافعي رحمه الله
في الأم عن جماعة من خيار أهل المدينة ما يؤيده ونقل القاضي حسين عن ابن عباس أن
إحياء ليلة العيد أن يصلي العشاء في جماعة ويعزم أن يصلي الصبح في جماعة والمختار
ما قدمته&lt;br /&gt;
قال الشافعي رحمه الله وبلغنا أن الدعاء يستجاب في خمس ليال ليلة الجمعة والعيدين
وأول رجب ونصف شعبان قال الشافعي وأستحب كل ما حكيته في هذه الليالي والله أعلم )
اهـ&lt;br /&gt;
وفي مغني المحتاج للشربيني 1/591 : ( ويسن إحياء ليلتي العيد بالعبادة من صلاة
وغيرها من العبادات لخبر { من أحيا ليلتي العيد لم يمت قلبه يوم تموت القلوب }
رواه الدارقطني موقوفا قال في المجموع : وأسانيده ضعيفة , ومع ذلك استحبوا الإحياء
لأن الحديث الضعيف يعمل به في فضائل الأعمال كما مرت الإشارة إليه&lt;br /&gt;
ويؤخذ من ذلك كما قال الأذرعي عدم تأكد الاستحباب , قيل : والمراد بموت القلوب
شغفها بحب الدنيا , وقيل الكفر , وقيل الفزع يوم القيامة&lt;br /&gt;
ويحصل الإحياء بمعظم الليل كالمبيت بمنى , وقيل بساعة منه , وعن ابن عباس رضي الله
تعالى عنهما بصلاة العشاء جماعة والعزم على صلاة الصبح جماعة , والدعاء فيهما وفي
ليلة الجمعة وليلتي أول رجب ونصف شعبان مستجاب فيستحب كما صرح به في أصل الروضة )
اهـ&lt;br /&gt;
وفي نهاية المحتاج للرملي 2/397: ( ويستحب إحياء ليلتي العيد بالعبادة ولو كانت
ليلة جمعة من صلاة وغيرها من العبادات لخبر { من أحيا ليلة العيد لم يمت قلبه يوم
تموت القلوب }&lt;br /&gt;
والمراد بموت القلوب شغفها بحب الدنيا أخذا من خبر { لا تدخلوا على هؤلاء الموتى ؟
قيل من هم يا رسول الله ؟ قال : الأغنياء } وقيل الكفرة أخذا من قوله تعالى { أومن
كان ميتا فأحييناه } أي كافرا فهديناه . وقيل الفزع يوم القيامة أخذا من خبر {
يحشر الناس يوم القيامة حفاة عراة غرلا , فقالت أم سلمة : , أو غيرها واسوأتاه ,
أتنظر الرجال إلى عورات النساء والنساء إلى عورات الرجال ؟ فقال لها النبي صلى
الله عليه وسلم : إن لهم في ذلك اليوم شغلا لا يعرف الرجل أنه رجل ولا المرأة أنها
امرأة }&lt;br /&gt;
ويحصل الإحياء بمعظم الليل وإن كان الأرجح في حصول المبيت بمزدلفة الاكتفاء فيه
بلحظة في النصف الثاني من الليل . وعن ابن عباس يحصل إحياؤهما بصلاة العشاء جماعة
والعزم على صلاة الصبح جماعة , والدعاء فيهما وفي ليلة الجمعة وليلتي أول رجب ونصف
شعبان مستجاب فيستحب ) اهـ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
من أقوال الحنابلة :&lt;br /&gt;
في الفتاوى الكبرى لابن تيمية 2/262 ومجموع الفتاوى 23/131 : ( مسألة : في صلاة نصف
شعبان ؟ .&lt;br /&gt;
الجواب : إذا صلى الإنسان ليلة النصف وحده ، أو في جماعة خاصة كما كان يفعل طوائف
من السلف ، فهو أحسن . وأما الاجتماع في المساجد على صلاة مقدرة . كالإجتماغ على
مائة ركعة ، بقراءة ألف : قل هو الله أحد دائما . فهذا بدعة ، لم يستحبها أحد من
الأئمة . والله أعلم ) اهـ&lt;br /&gt;
وفي مجموع الفتاوي لابن تيمية 23/132 : ( وأما ليلة النصف فقد روى فى فضلها أحاديث
وآثار ونقل عن طائفة من السلف أنهم كانوا يصلون فيها فصلاة الرجل فيها وحده قد
تقدمه فيه سلف وله فيه حجة فلا ينكر مثل هذا وأما الصلاة فيها جماعة فهذا مبنى على
قاعدة عامة فى الاجتماع على الطاعات والعبادات ) اهـ&lt;br /&gt;
وقال بن رجب الحنبلي في لطائف المعارف ص 263: ( وليلة النصف من شعبان كان التابعون
من أهل الشام كخالد بن معدان ومكحول و لقمان بن عامر و غيرهم يعظمونها و يجتهدون
فيها في العبادة و عنهم أخذ الناس فضلها و تعظيمها و قد قيل أنه بلغهم في ذلك آثار
إسرائيلية فلما اشتهر ذلك عنهم في البلدان اختلف الناس في ذلك فمنهم من قبله منهم
وافقهم على تعظيمها منهم طائفة من عباد أهل البصرة و غيرهم ...&lt;br /&gt;
واختلف علماء أهل الشام في صفة إحيائها على قولين :&lt;br /&gt;
أحدهما : أنه يستحب إحياؤها جماعة في المساجد كان خالد بن معدان و لقمان بن عامر و
غيرهما يلبسون فيها أحسن ثيابهم و يتبخرون و يكتحلون و يقومون في المسجد ليلتهم
تلك و وافقهم إسحاق بن راهوية على ذلك و قال في قيامها في المساجد جماعة : ليس
ببدعة نقله عنه حرب الكرماني في مسائله&lt;br /&gt;
و الثاني : أنه يكره الإجتماع فيها في المساجد للصلاة و القصص و الدعاء و لا يكره
أن يصلي الرجل فيها لخاصة نفسه و هذا قول الأوزاعي إمام أهل الشام و فقيههم و
عالمهم و هذا هو الأقرب إن شاء الله تعالى ...&lt;br /&gt;
و لا يعرف للإمام أحمد كلام في ليلة نصف شعبان و يتخرج في استحباب قيامها عنه روايتان
من الروايتين عنه في قيام ليلتي العيد فإنه في رواية لم يستحب قيامها جماعة لأنه
لم ينقل عن النبي صلى الله عليه و سلم و أصحابه و استحبها في رواية لفعل عبد
الرحمن بن يزيد بن الأسود و هو من التابعين&lt;br /&gt;
فكذلك قيام ليلة النصف لم يثبت فيها شيء عن النبي صلى الله عليه و سلم و لا عن
أصحابه و ثبت فيها عن طائفة من التابعين من أعيان فقهاء أهل الشام ) اهـ&lt;br /&gt;
وفي كشاف القناع للبهوتي 1/467 : ( ولا يقومه كله ) لقول عائشة رضي الله عنها {ما
علمت أن النبي صلى الله عليه وسلم قام ليلة حتى الصباح } قال في الفروع : وظاهر
كلامهم : ولا ليالي العشر , فيكون قول عائشة أنه أحيا الليل أي كثيرا منه أو أكثره
ويتوجه بظاهره احتمال ويخرج من ليلة العيد ويحمل قولها الأول : على غير العشر , أو
لم يكثر ذلك منه واستحبه شيخنا وقال قيام بعض الليالي كلها مما جاءت به السنة (
إلا ليلة عيد ) لحديث { من أحيا ليلة العيد أحيا الله قلبه يوم تموت القلوب } رواه
الدارقطني في علله وفي معناها : ليلة النصف من شعبان كما ذكره ابن رجب في اللطائف
) اهـ&lt;br /&gt;
وفي كشاف القناع أيضا 1/444: ( وأما ليلة النصف من شعبان ففيها فضل وكان ) في (
السلف من يصلي فيها , لكن الاجتماع لها لإحيائها في المساجد بدعة ا هـ وفي استحباب
قيامها ) أي ليلة النصف من شعبان ( ما في ) إحياء ( ليلة العيد هذا معنى كلام )
عبد الرحمن بن أحمد ( بن رجب ) البغدادي ثم الدمشقي ( في ) كتابه المسمى ( اللطائف
) في الوظائف . ويعضده حديث { من أحيا ليلتي العيدين وليلة النصف من شعبان , أحيا
الله قلبه يوم تموت القلوب } رواه المنذري في تاريخه بسنده عن ابن كردوس عن أبيه
قال جماعة وليلة عاشوراء وليلة أول رجب وليلة نصف شعبان ) اهـ&lt;br /&gt;
وفي غذاء الألباب للسفاريني 2/506 : ( في قول الناظم رحمه الله تعالى وخذ بنصيب
... إلى آخره إشارة إلى أنه لا يطلب قيام كل الليل . قال علماؤنا : ولا يقومه كله
إلا ليلة عيد . هذه عبارة الإقناع .&lt;br /&gt;
وقال في الفروع : ولا يقوم الليل كله خلافا لمالك في رواية ذكره بعضهم قال وقل من
وجدته ذكر المسألة . وقد قال الإمام أحمد رضي الله عنه : إذا نام بعد تهجده لم يبن
عليه أثر السهر .&lt;br /&gt;
وفي الغنية : يستحب ثلثاه والأقل سدسه , ثم ذكر أن قيام الليل كله عمل الأقوياء
الذين سبقت لهم العناية فجعل لهم موهبة . وقد روي أن عثمان قامه بركعة يختم فيها .
قال وصح عن أربعين من التابعين , ومراده وتابعيهم&lt;br /&gt;
وظاهر كلامهم لا يقومه كله ولا ليالي العشر , فيكون قول عائشة رضي الله عنها {
أحيا الليل } أي كثيرا منه أو أكثره . قال ويتوجه بظاهره احتمال وتخريج من ليلة
العيد , ويكون قولها ما علمت { أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قام ليلة حتى
الصباح أي غير العشر أو لم يكثر ذلك منه } . قال واستحبه شيخنا وقال : قيام بعض
الليالي كلها مما جاءت به السنة ) اهـ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
آثار عن السلف في ذلك إضافة إلى ما تقدم:&lt;br /&gt;
في التلخيص الحبير للحافظ ابن حجر : 2/160 : ( روى الخلال - في كتاب فضل رجب له -
من طريق خالد بن معدان قال : خمس ليال في السنة من واظب عليهن رجاء ثوابهن وتصديقا
بوعدهن أدخله الله الجنة : أول ليلة من رجب يقوم ليلها ويصوم نهارها , وليلة الفطر
, وليلة الأضحى , وليلة عاشوراء , وليلة نصف شعبان . ) اهـ&lt;br /&gt;
وفي التلخيص الحبير للحافظ ابن حجر : 2/160 : ( روى الخطيب في غنية الملتمس بإسناد
إلى عمر بن عبد العزيز أنه كتب إلى عدي بن أرطاة : " عليك بأربع ليال في
السنة , فإن الله يفرغ فيهن الرحمة : أول ليلة من رجب , وليلة النصف من شعبان ,
وليلة الفطر , وليلة النحر ) اهـ&lt;br /&gt;
ومصنف ابن ابي شيبة 2/291 : ( من كان يقوم ليلة الفطر : حدثنا حفص عن الحسن بن
عبيد الله قال كان عبد الرحمن بن الأسود يقوم بنا ليلة الفطر ) اهـ&lt;br /&gt;
وفي البر والصلة للمروزي ص 33 : ( حدثنا الحسين بن الحسن قال سمعت ابن المبارك
يقول : بلغني أنه من أحيا ليلة العيد أو العيدين لم يمت قلبه حين تموت القلوب )
اهـ&lt;br /&gt;
وقال بن رجب الحنبلي في لطائف المعارف ص 263: ( روى سعيد بن منصور حدثنا أبو معشر
عن أبي حازم و محمد بن قيس عن عطاء بن يسار قال : ما من ليلة بعد ليلة القدر أفضل
من ليلة النصف من شعبان ينزل الله تبارك و تعالى إلى السماء الدنيا فيغفر لعباده
كلهم إلا لمشرك أو مشاحن او قاطع رحم ) اهـ&lt;br /&gt;
وقال بن رجب الحنبلي في لطائف المعارف ص 263: ( روي عن كعب قال : إن الله تعالى
يبعث ليلة النصف من شعبان جبريل عليه السلام إلى الجنة فيأمرها أن تتزين و يقول :
إن الله تعالى قد اعتق في ليلتك هذه عدد نجوم السماء و عدد أيام الدنيا و لياليها
و عدد ورق الشجر وزنة الجبال و عدد الرمال ) اهـ&lt;br /&gt;
لفت نظر :&lt;br /&gt;
مما سبق يتبين لنا أن جماهير أهل العلم وعليه المذاهب الأربعة على استحباب قيام
ليلة مزدلفة لأنها ليلة عيد الأضحى خلافا لابن القيم حيث قرر في الهدي أن المشروع
عدم قيامها ولو بالوتر مستدلا بعدم ورود ذلك عن النبي صلى الله عليه وسلم !!!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
المبحث الثاني&lt;br /&gt;
الأحاديث الواردة في فضل ليلتي العيد وليلة النصف من شعبان&lt;br /&gt;
أولا : أحاديث فضل ليلتي العيد :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1-حديث أبي أمامة رضي الله عنه :&lt;br /&gt;
في سنن ابن ماجه 1/567 : ( حدثنا أبو أحمد المرار بن حموية ثنا محمد بن المصفى ثنا
بقية بن الوليد عن ثور بن يزيد عن خالد بن معدان عن أبي أمامة عن النبي صلى الله
عليه وسلم قال : من قام ليلتي العيدين محتسبا لله لم يمت قلبه يوم تموت القلوب )
اهـ&lt;br /&gt;
في خلاصة البدر المنير لابن الملقن 1/230 : ( حديث من أحيى ليلتي العيد لم يمت
قلبه يوم تموت القلوب , ذكره الدارقطني في علله من رواية مكحول عن أبي أمامة قال
ورواه ثور عن مكحول وأسنده معاذ بن جبل والمحفوظ أنه موقوف عن مكحول ...&lt;br /&gt;
قلت : رواه ابن ماجه هكذا من رواية أبي أمامة مرفوعا وليس فيه إلا عنعنة بقية )
اهـ&lt;br /&gt;
وفي الفروع لابن مفلح 1/509 : ( روى ابن ماجة عن أبي أحمد المزار بن حمويه عن محمد
بن مصفى عن بقية عن ثور بن يزيد عن خالد بن معدان عن أبي أمامة مرفوعا من قام
ليلتي العيدين محتسبا لم يمت قلبه يوم تموت القلوب رواية بقية عن أهل بلده جيدة
وهو حديث حسن إن شاء الله تعالى ) اهـ&lt;br /&gt;
2-حديث عبادة بن الصامت رضي الله عنه :&lt;br /&gt;
في المعجم الأوسط للطبراني 1/57 : ( حدثنا أحمد بن يحيى بن خالد بن حيان قال حدثنا
حامد بن يحيى البلخي قال حدثنا جرير بن عبد الحميد عن رجل وهو عمر بن هارون البلخي
عن ثور بن يزيد عن خالد بن معدان عن عبادة بن الصامت أن رسول الله قال : من صلى
ليلة الفطر والأضحى لم يمت قلبه يوم تموت القلوب لم يرو هذا الحديث عن ثور إلا عمر
بن هارون تفرد به جرير ) اهـ&lt;br /&gt;
قال الهيثمي 2/430 : ( رواه الطبراني في الكبير والأوسط وفيه عمر بن هارون البلخي
والغالب عليه الضعف وأثنى عليه ابن مهدي وغيره ولكن ضعفه جماعة كثيرة والله أعلم
.) اهـ&lt;br /&gt;
وذكره الديلمي في مسنده 3/619&lt;br /&gt;
وقال ابن حجر في التلخيص الحبير 2/160 : ( ورواه الحسن بن سفيان من طريق بشر بن
رافع , عن ثور , عن خالد , عن عبادة بن الصامت , وبشر متهم بالوضع ) اهـ&lt;br /&gt;
3-حديث أبي الدرداء رضي الله عنه :&lt;br /&gt;
في الأم للإمام الشافعي 1/384 : ( أخبرنا إبراهيم بن محمد قال : أخبرنا ثور بن
يزيد ، عن خالد بن معدان ، عن أبي الدرداء قال : من قام ليلة العيد محتسبا لم يمت
قلبه حين تموت القلوب .&lt;br /&gt;
قال الشافعي : وبلغنا أنه كان يقال : إن الدعاء يستجاب في خمس ليال : في ليلة
الجمعة ، وليلة الأضحى ، وليلة الفطر ، وأول ليلة من رجب ، وليلة النصف من شعبان .&lt;br /&gt;
أخبرنا إبراهيم بن محمد قال : رأيت مشيخة من خيار أهل المدينة يظهرون على مسجد
النبي صلى الله عليه وسلم ليلة العيد ، فيدعون ، ويذكرون الله ، حتى تمضي ساعة من
الليلة . وبلغنا أن ابن عمر كان يحيي ليلة جمع ، وليلة جمع هي ليلة العيد ، لأن
صبيحتها النحر ) اهـ&lt;br /&gt;
ومن طريق الشافعي رواه البيهقي في السنن 3/319&lt;br /&gt;
4-حديث ابن عمر رضي الله عنه :&lt;br /&gt;
في مصنف عبد الرزاق 4/317 ومن طريقه البيهقي في الشعب 3/342 وفضائل الأوقات ص 311
: ( قال عبد الرزاق وأخبرني من سمع البيلماني يحدث عن أبيه عن بن عمر قال :خمس
ليال لا ترد فيهن الدعاء ليلة الجمعة وأول ليلة من رجب وليلة النصف من شعبان
وليلتي العيدين ) اهـ&lt;br /&gt;
وهذا موقوف لكن له حكم الرفع لأنه لا يقال من قبيل الرأي&lt;br /&gt;
5-حديث كردوس رضي الله عنه :&lt;br /&gt;
قال ابن الجوزي في العلل المتناهية 2/562 : ( انا أبو بكر محمد بن عبيد الله
الزاغوني قال نا طراد أبن محمد قال اخبرنا هلال بن محمد فيما اذن لنا ان نرويه عنه
ان علي بن محمد المصري حدثهم قال حدثنا يحيى بن عثمان هو أبن صالح قال [ نا ] يحيى
بن بكر قال نا المفضل بن فضالة عن عيسى بن ابراهيم القرشي عن سلمه بن سليمان
الجزري عن مروان بن سالم عن أبن كردوس عن ابيه قال قال رسول الله صلى الله عليه
وسلم من احيى ليلتي العيد وليلة النصف من شعبان لم يمت قلبه يوم تموت فيه القلوب&lt;br /&gt;
قال المؤلف : هذا حديث لا يصح عن رسول الله صلى الله عليه وسلم وفيه آفات أما
مروان بن سالم فقال احمد ليس بثقة وقال النسائي والدارقطني والازدي متروك وأما
سلمة بن سليمان فقال الازدي هو ضعيف واما عيسى فقال يحيى [ ليس ] بشيء ) اهـ&lt;br /&gt;
وقال الحافظ في الإصابة 5/580 : ( كردوس غير منسوب ذكره الحسن بن سفيان وعبدان
المروزي وابن شاهين وعلى بن سعيد وغيرهم في الصحابة وأخرجوا من طريق مروان بن سالم
عن بن كردوس عن أبيه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من أحيا ليلتي العيد
وليلة النصف من شعبان لم يمت قلبه يوم تموت القلوب ومروان هذا متروك متهم بالكذب )
اهـ&lt;br /&gt;
وقال في التلخيص الحبير (2/160) : ( روى ابن الأعرابي في معجمه , وعلي بن سعيد
العسكري في الصحابة من حديث كردوس نحو حديث أبي أمامة , وفي إسناده مروان بن سالم
, وهو تالف ) اهـ&lt;br /&gt;
وذكره الديلمي في مسنده 3/619&lt;br /&gt;
6-حديث عائشة رضي الله عنه :&lt;br /&gt;
في مسند الفردوس للديلمي 5/274 : ( عن عائشة : ينسخ الله الخير في أربع ليال نسخا
ليلة الأضحى والفطر وليلة النصف من شعبان تنسخ فيها الآجال والأرزاق ويكتب فيها
الحج وفي ليلة عرفة إلى الآذان ) اهـ&lt;br /&gt;
قوله ( ينسخ الله الخير في أربع ليال نسخا )كذا في نسختي من الديلمي وفي كنز
العمال : ( يسح الله عز وجل من الخير في أربع ليال سحا ... الديلمي - عن عائشة )
اهـ&lt;br /&gt;
وفي الدر المنثور : ( وأخرج الخطيب عن عائشة : سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول
: " يفتح الله الخير في أربع ليال ، ليلة الأضحى والفطر ، وليلة النصف من
شعبان ، ينسخ فيها الآجال والأرزاق ويكتب فيها الحاج ، وفي ليلة عرفة إلى الأذان
" .) اهـ&lt;br /&gt;
7-حديث أبي أمامة بن سهل رضي الله عنه :&lt;br /&gt;
في مسند الديلمي 2/196 : ( عن أبي أمامة : خمس ليال لا ترد فيها دعوة أول ليلة من
رجب وليلة النصف من شعبان وليلة الجمعة وليلتي العيدين ) اهـ&lt;br /&gt;
قال الحافظ في التلخيص الحبير (2/160) : ( وفيه حديث ذكره صاحب مسند الفردوس من
طريق إبراهيم بن أبي يحيى , عن أبي معشر , عن أبي أمامة - هو ابن سهل - مرفوعا )
اهـ&lt;br /&gt;
قال المناوي في فيض القدير 3/455 : ( ابن عساكر ) في تاريخه ( عن أبي أمامة )
ورواه عنه أيضا الديلمي في الفردوس فما أوهمه صنيع المصنف من كونه لم يخرجه أحد
ممن وضع لهم الرموز غير سديد ورواه البيهقي من حديث ابن عمر وكذا ابن ناصر
والعسكري , قال ابن حجر : وطرقه كلها معلولة ) اهـ&lt;br /&gt;
8- حديث معاذ رضي الله عنه :&lt;br /&gt;
في فيض القدير 6/39 : ( من أحيا الليالي الأربع وجبت له الجنة ) وهي ( ليلة
التروية وليلة عرفة وليلة النحر وليلة الفطر ) أي ليلة عيد الفطر وليلة عيد النحر
...( ابن عساكر ) في تاريخه ( عن معاذ ) بن جبل&lt;br /&gt;
قال ابن حجر في تخريج الأذكار : حديث غريب وعبد الرحيم ابن زيد العمي أحد رواته
متروك اهـ&lt;br /&gt;
وسبقه ابن الجوزي فقال : حديث لا يصح وعبد الرحيم قال يحيى : كذاب والنسائي :
متروك ) اهـ&lt;br /&gt;
قال الحافظ في التلخيص الحبير (2/160) :( وذكره صاحب الفردوس من حديث معاذ بن جبل
)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ثانيا : الأحاديث في فضل ليلة نصف شعبان :&lt;br /&gt;
1-حديث عائشة رضي الله عنها :&lt;br /&gt;
في سنن الترمذي : 3/ 116: ( عن عائشة قالت : فقدت رسول الله صلى الله عليه وسلم
ليلة فخرجت فإذا هو بالبقيع فقال أكنت تخافين أن يحيف الله عليك ورسوله قلت يا
رسول الله إني ظننت أنك أتيت بعض نسائك&lt;br /&gt;
فقال إن الله عز وجل ينزل ليلة النصف من شعبان إلى السماء الدنيا فيغفر لأكثر من
عدد شعر غنم كلب ) اهـ&lt;br /&gt;
قال الترمذي بعد روايته : ( وفي الباب عن أبي بكر الصديق وحديث عائشة لا نعرفه إلا
من هذا الوجه من حديث الحجاج وسمعت محمدا يضعف هذا الحديث وقال يحيى بن أبي كثير
لم يسمع من عروة والحجاج بن أرطاة لم يسمع من يحيى بن أبي كثير ) اهـ&lt;br /&gt;
ورواه ابن ماجه 1/444 وأحمد 6/238 وابن أبي شيبة 6/108&lt;br /&gt;
وفي أسنى المطالب للبيروتي ص 84 : ( قال الدارقطني : إسناده مضطرب غير ثابت )اهـ&lt;br /&gt;
لكن للحديث طريق أخرى في فضائل الأوقات للبيهقي ص 128 قال : ( حدثنا أبو عبد الله
قال حدثنا أبو حعفر محمد بن صالح بن هانئ قال حدثنا إبراهيم بن إسحاق الغسيلي قال
حدثنا وهب بن بقية قال أخبرنا سعيد بن عبد الكريم الواسطي عن أبي النعمان السعدي
عن أبي الرجاء العطاردي عن أنس بن مالك قال بعثني النبي صلى الله عليه وسلم إلى
منزل عائشة رضي الله عنها في حاجة فقلت لها أسرعي فإني تركت رسو الله صلى الله
عليه وسلم يحدثهم عن ليلة النصف من شعبان فقالت يا أنيس اجلس حتى أحدثك بحديث ليلة
النصف من شعبان وإن تلك الليلة كانت ليلتي من رسول الله صلى الله عليه وسلم ...&lt;br /&gt;
قال يا حميراء أما تعلمين أن هذه الليلة ليلة النصف من شعبان إن لله في هذه الليلة
عتقاء من النار بقدر شعر غنم كلب قلت يا رسول الله وما بال شعر غنم كلب قال لم يكن
في العرب قبيلة قوم أكبر غنما منهم لا أقول ستة نفر مدمن خمر ولا عاق لوالديه ولا
مصر على زنا ولا مصارم ولا مصور ولا قتات ) اهـ&lt;br /&gt;
2-حديث علي بن أبي طالب رضي الله عنه :&lt;br /&gt;
في سنن ابن ماجه 1/444 اه وشعب البيهقي 3/379 ومصنف عبد الرزاق رقم 7923 : ( عن
علي بن أبي طالب قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إذا كانت ليلة النصف من
شعبان فقوموا ليلها وصوموا نهارها فإن الله ينزل فيها لغروب الشمس إلى سماء الدنيا
فيقول ألا من مستغفر لي فأغفر له ألا مسترزق فأرزقه ألا مبتلي فأعافيه ألا كذا ألا
كذا حتى يطلع الفجر ) اهـ&lt;br /&gt;
قال العراقي في تخريج أحاديث الإحياء 203/1: ( إسناده ضعيف )&lt;br /&gt;
وقال البوصيري في مصباح الزجاجة 2/10 : ( هذا إسناد فيه ابن أبي سبرة واسمه أبو
بكر بن عبد الله بن محمد بن أبي سبرة قال أحمد وابن معين يضع الحديث )&lt;br /&gt;
3-حديث أبي موسى رضي الله عنه :&lt;br /&gt;
في سنن ابن ماجه 1/445 : (حدثنا راشد بن سعيد بن راشد الرملي ثنا الوليد عن بن
لهيعة عن الضحاك بن أيمن عن الضحاك بن عبد الرحمن بن عرزب عن أبي موسى الأشعري عن
رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : إن الله ليطلع في ليلة النصف من شعبان فيغفر
لجميع خلقة إلا لمشرك أو مشاحن ) اهـ&lt;br /&gt;
4-حديث عبدالله بن عمرو رضي الله عنهما :&lt;br /&gt;
في مسند أحمد 2/176 : ( عن عبد الله بن عمرو ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال
: يطلع الله عز وجل إلى خلقة ليلة النصف من شعبان فيغفر لعباده الا لاثنين مشاحن
وقاتل نفس ) اهـ&lt;br /&gt;
قال الهيثمي في المجمع 8/126: رواه أحمد وفيه ابن لهيعة، وهو لين الحديث وبقية
رجاله وثقوا ) اهـ&lt;br /&gt;
وصححه أحمد شاكر في تحقيقه لمسند الإمام أحمد&lt;br /&gt;
5-حديث معاذ بن جبل رضي الله عنه :&lt;br /&gt;
في معجم الطبراني الكبير 20/ 189 وحلية أبي نعيم 5/195 : ( عن معاذ بن جبل عن
النبي صلى الله عليه وسلم قال : يطلع الله إلى خلقه في ليلة النصف من شعبان فيغفر
لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن ) اهـ&lt;br /&gt;
وصححه ابن حبان 12/481 قال الهيثمي في المجمع 8/126: رواه الطبراني في الكبير
والأوسط ورجالهما ثقات&lt;br /&gt;
6-حديث أبي ثعلبة رضي الله عنه :&lt;br /&gt;
في معجم الطبراني 22/223 : ( عن أبي ثعلبة أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : يطلع
الله على عباده ليلة النصف من شعبان فيغفر للمؤمنين ويمهل الكافرين ويدع أهل الحقد
بحقدهم حتى يدعوه ) اهـ&lt;br /&gt;
قال الهيثمي 8/127 : رواه الطبراني وفيه الأحوص بن حكيم وهو ضعيف&lt;br /&gt;
7-مرسل كثير بن مرة رضي الله عنه :&lt;br /&gt;
في مسند الحارث 1/ 423: ( عن كثير بن مرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :
ان ربكم يطلع ليلة النصف من شعبان إلى خلقه فيغفر لهم كلهم الا أن يكون مشركا أو
مصارما ) اه&lt;br /&gt;
ورواه ابن أبي شيبة 6/108 بلفظ : ( إن الله ينزل ليلة النصف من شعبان فيغفر فيها
الذنوب إلا لمشرك او مشاحن ) اه ورواه عبد الرزاق موقوفا 4/316&lt;br /&gt;
قال المنذري : رواه البيهقي وقال هذا مرسل جيد ) اه على أن كثير بن مرة قيل عنه
إنه صحابي&lt;br /&gt;
8-حديث الوضين بن عطاء رضي الله عنه :&lt;br /&gt;
في مسند إسحاق 3/981 : ( أخبرنا عبد الرزاق أنا إبراهيم بن عمر الأنباري أنه سمع
الوضين بن عطاء يقول قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إن الله يطلع ليلة النصف
من شعبان فيغفر الذنوب لأهل الأرض إلا لمشرك أو مشاحن وله في تلك الليلة عتقاء عدد
شعر مسوك غنم كلب ) اهـ&lt;br /&gt;
9-حديث أبي بكر رضي الله عنه :&lt;br /&gt;
في مسند البزار 1/157: ( وقد روى مصعب بن أبي ذئب عن القاسم بن محمد عن أبيه أو
عمه عن أبي بكر قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : : إذا كان ليلة النصف من
شعبان ينزل الله تبارك وتعالى إلى سماء الدنيا فيغفر لعباده إلا ما كان من مشرك أو
مشاحن لأخيه ) اهـ&lt;br /&gt;
قال البزار بعد روايته : ( هذه الأحاديث التي ذكرت عن محمد بن أبي بكر عن أبيه في
بعض أسانيدها ضعف ، وهي عندي والله أعلم مما لم يسمعها محمد بن أبي بكر من أبيه
لصغره ، ولكن حدث بها قوم من أهل العلم فذكرنا وبينا العلة فيها ) اه&lt;br /&gt;
ورواه المروزي في مسند أبي بكر 1/171 : حدثنا احمد بن علي قال حدثنا احمد بن عيسى
المصري قال حدثنا ابن وهب قال اخبرني عمرو بن الحارث ان عبد الملك بن عبد الملك
حدثه عن المصعب بن ابي ذئب عن القاسم بن محمد عن ابيه او عن عمه عن جده عن رسول
الله صلى الله عليه وسلم قال ينزل الله تبارك وتعالى ليلة النصف من شعبان إلى
السماء الدنيا فيغفر لكل نفس إلا إنسانا في قلبه شحناء أو مشرك بالله عز وجل&lt;br /&gt;
وهو في شعب البيهقي 3/380 وفي التوحيد لابن خزيمة برقم 90&lt;br /&gt;
وقال الهيثمي في المجمع 8/126 : ( رواه البزار وفيه عبد الملك بن عبد الملك ، ذكره
ابن أبي حاتم في الجرح والتعديل ولم يضعفه ، وبقية رجاله ثقات )اهـ&lt;br /&gt;
وفي العلل المتناهية لابن الجوزي 2/556 : ( هذا حديث لا يصح [ ولا ] يثبت قال ابن
حبان : عبد الملك يروي ما لا يتابع عليه ويعقوب بن حميد قال يحيى والنسائي ليس
بشيء ) اهـ&lt;br /&gt;
10-حديث ابن عباس رضي الله عنه :&lt;br /&gt;
في مسند الديلمي 1/149 : ( عن ابن عباس إن الله عز وجل يلحظ إلى الكعبة في كل عام
لحظة وذلك في ليلة النصف من شعبان فعند ذلك يحن إليها قلوب المؤمنين ) اهـ&lt;br /&gt;
11-حديث عثمان بن أبي العاص رضي الله عنه :&lt;br /&gt;
في فضائل الأوقات للبيهقي 1/124 والشعب 3/383: ( أخبرنا أبو الحسين علي بن محمد بن
عبد الله بن بشران العدل ببغداد قال أخبرنا أبو جعفر محمد بن عمرو الرزاز قال
حدثنا أخبرنا أبو الحسين علي بن محمد بن عبد الله بن بشران العدل ببغداد قال
أخبرنا أبو جعفر محمد بن عمرو الرزاز قال حدثنا صلى الله عليه وسلم قال : إذا كان
ليلة النصف من شعبان نادى مناد هل من مستغفر فأغفر له هل من سائل فأعطيه فلا يسأل
أحد شيئا إلا أعطي لا زانية بفرجها أو مشرك ) اهـ&lt;br /&gt;
12 -حديث أنس رضي الله عنه :&lt;br /&gt;
في كنز العمال : ( أربع لياليهن كأيامهن وأيامهن كلياليهن يبر الله فيهن القسم
ويعتق فيهن النسم ويعطي فيهن الجزيل ليلة القدر وصباحها وليلة عرفة وصباحها وليلة
النصف من شعبان وصباحها وليلة الجمعة وصباحها . ( الديلمي - عن أنس ) ) اهـ&lt;br /&gt;
13-حديث أبي هريرة رضي الله عنه :&lt;br /&gt;
في كشف الأستار 2/435-336 : ( عن أبي هريرة قال : قال رسول الله صلى الله عليه
وسلم : إذا كان ليلة النصف من شعبان ، يغفر الله لعباده ، إلا لمشرك أو مشاحن )
اهـ&lt;br /&gt;
قال الهيثمي 8/126: رواه البزار وفيه هشام بن عبد الرحمن ولم أعرفه ، وبقية رجاله
ثقات.&lt;br /&gt;
14-حديث عوف بن مالك رضي الله عنه :&lt;br /&gt;
في كشف الأستار 2/436 : ( عن عوف بن مالك قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم
: يطلع الله تبارك وتعالى على خلقه ليلة النصف من شعبان ، فيغفر لهم كلهم ، إلا
لمشرك ، أو مشاحن )&lt;br /&gt;
قال الهيثمي 6/126 : رواه البزار، وفيه عبد الرحمن بن زياد بن أنعم، وثقه أحمد بن
صالح ، وضعفه جمهور الأئمة، وابن لهيعة لين وبقية رجاله ثقات ) اهـ&lt;br /&gt;
15-حديث علي آخر :&lt;br /&gt;
أخرج البيهقي عن علي قال : رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم ليلة النصف من شعبان
قام ، فصلى أربع عشرة ركعة ثم جلس بعد الفراغ ، فقرأ بأم القرآن أربع عشرة مرة ،
وقل هو الله أحد أربع عشرة مرة ، وقل أعوذ برب الفلق أربع عشرة مرة ، وقل أعوذ برب
الناس أربع عشرة مرة ، وآية الكرسي مرة ( لقد جاءكم رسول من أنفسكم ) الآية فلما
فرغ من صلاته سألته عما رأيت من صنيعه ؟&lt;br /&gt;
قال : " من صنع مثل الذي رأيت ، كان له ثواب عشرين حجة مبرورة ، وصيام عشرين
سنة مقبولة ، فإذا أصبح في ذلك اليوم صائما كان له كصيام سنتين سنة ماضية وسنة
مستقبلة "&lt;br /&gt;
قال البيهقي : يشبه أن يكون هذا الحديث موضوعا وهو منكر وفي رواته مجهولون ) اهـ&lt;br /&gt;
16-حديث ابن عمر رضي الله عنهما السابق في فضل ليلتي العيد&lt;br /&gt;
17-حديث كردوس رضي الله عنه السابق في فضل ليلتي العيد&lt;br /&gt;
18-حديث عائشة رضي الله عنها السابق في فضل ليلتي العيد&lt;br /&gt;
19-حديث أبي أمامة بن سهل رضي الله عنه السابق في فضل ليلتي العيد&lt;br /&gt;
20- حديث عائشة رضي الله عنها الآخر الآتي في نسخ الآجال&lt;br /&gt;
21- مرسل راشد بن سعد الآتي في نسخ الآجال&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
فهذه أكثر من عشرين حديثا في فضل ليلة النصف من شعبان , وهذه الأحاديث بعضها حسن
وبعضها ضعيف وبعضها موضوع وهي بلا شك تتقوى بمجموعها كما قال ذلك طائفة من أهل
العلم قال صاحب تحفة الأحوذي 3/365: ( اعلم أنه قد ورد في فضيلة ليلة النصف من
شعبان عدة أحاديث مجموعها يدل على أن لها أصلا فمنها ... فهذه الأحاديث بمجموعها
حجة على من زعم أنه لم يثبت في فضيلة ليلة النصف من شعبان شيء والله تعالى أعلم )
اهـ&lt;br /&gt;
وقال المناوي في فيض القدير 2/317 : ( قال المجد ابن تيمية : ليلة نصف شعبان روي
في فضلها من الأخبار والآثار ما يقتضي أنها مفضلة ومن السلف من خصها بالصلاة فيها
وصوم شعبان جاءت فيه أخبار صحيحة ) اهـ&lt;br /&gt;
وقال ابن تيمية في اقتضاء الصراط المستقيم ص 302 : ( ومن هذا الباب ليلة النصف من
شعبان فقد روى في فضلها من الأحاديث المرفوعة والآثار ما يقتضي أنها ليلة مفضلة
وأن من السلف من كان يخصها بالصلاة فيها وصوم شهر شعبان قد جاءت فيه أحاديث صحيحة
...&lt;br /&gt;
لكن الذي عليه كثير من أهل العلم أو أكثرهم من أصحابنا وغيرهم على تفضيلها وعليه
يدل نص أحمد لتعدد الأحاديث الواردة فيها وما يصدق ذلك من الآثار السلفية وقد روى
بعض فضائلها في المسانيد والسنن وإن كان قد وضع فيها أشياء أخر ) اهـ&lt;br /&gt;
وفي السُّنَّة لعبد الله بن الإمام أحمد1 / 273 : ( عن عبَّاد بن العوام قال : قدم
علينا شريك فسألناه عن الحديث : إنَّ الله ينزل ليلة النصف من شعبان ، قلنا : إنَّ
قوماً ينكرون هذه الأحاديث&lt;br /&gt;
قال : فما يقولون ؟ قلنا : يطعنون فيها&lt;br /&gt;
قال : إنَّ الذين جاءوا بهذه الأحاديث هم الذين جاءوا بالقرآن ، وبأنَّ الصلوات
خمس، وبحج البيت ، وبصوم رمضان ، فما نعرف الله إلا بهذه الأحاديث ) اهـ&lt;br /&gt;
وقد صحح الألباني حديث فضل ليلة النصف في السلسلة الصحيحة برقم 1144 وفي صحيح ابن
ماجه 1/233 ، وفي تحقيق السُّنَّة لابن أبي عاصم ص 509 وما بعدها . ولو فرض أن في
الباب حديثا واحدا ضعيفا لجاز العمل به في فضائل الأعمال وللفقير بحث في العمل
بالحديث الضعيف في فضائل الأعمال وهو فصل في كتاب التمذهب .&lt;br /&gt;
من يضعف تلك الأحاديث :&lt;br /&gt;
ومع ذلك فمن أهل العلم من لم يصحح أحاديث فضل ليلة النصف من شعبان ولعلهم لم
يطلعوا على جميع الطرق والشواهد ففي أسنى المطالب للبيروتي ص 84 : قال ابن دحية :
لم يصح في ليلة نصف من شعبان شيء ، ولا نطق بالصلاة فيها ذو صدق من الرواة ، وما
أحدثه إلا متلاعب بالشريعة المحمدية ، راغب في زي المجوسية ) اهـ&lt;br /&gt;
وفي عمدة القاري 11/208: وكان بين الشيخ تقي الدين بن الصلاح والشيخ عز الدين بن
عبد السلام في هذه الصلاة مقاولات فابن الصلاح يزعم أن لها أصلا من السنة وابن عبد
السلام ينكره ) اهـ&lt;br /&gt;
وقال الطرطوشي في الحوادث والبدع : روى ابن وضاح عن زيد بن أسلم : ما أدركنا أحداً
من مشايخنا ولا فقهائنا يلتفتون إلى النصف من شعبان ولا يلتفتون إلى حديث مكحول
ولا يرون لها فضلاً على ما سواها ) اهـ&lt;br /&gt;
وفي روح المعاني للألوسي 5 / 111 : ( وفي البحر قال الحافظ أبو بكر بن العربي : لا
يصح فيها شيء ولا نسخ الآجال فيها . قال الآلوسي : ولا يخلو من مجازفة والله تعالى
أعلم ) اهـ&lt;br /&gt;
وقال ابن تيمية اقتضاء الصراط المستقيم 302 : ( ومن العلماء من السلف من أهل
المدينة وغيرهم من الخلف من أنكر فضلها وطعن في الأحاديث الواردة فيها كحديث إن الله
يغفر فيها لأكثر من عدد شعر غنم بني كلب وقال لا فرق بينها وبين غيرها ) اهـ&lt;br /&gt;
وقال بن رجب الحنبلي في لطائف المعارف ص 263: ( وأنكر ذلك أكثر علماء الحجاز منهم
عطاء و ابن أبي مليكة و نقله عبد الرحمن بن زيد بن أسلم عن فقهاء أهل المدينة و هو
قول أصحاب مالك و غيرهم و قالوا : ذلك كله بدعة ) اهـ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
المبحث الثالث :&lt;br /&gt;
فوائد متممة تتعلق بليلة النصف من شعبان&lt;br /&gt;
الفائدة الأولى :&lt;br /&gt;
إن قيل : إنه قد جاء في الأحاديث أن الله تعالى ينزل إلى سماء الدنيا في كل ليلة
فما ميزة هذه الليلة إذن&lt;br /&gt;
فالجواب : هو ما قال العراقي كما في فيض القدير 2/317 : ( قال الزين العراقي :
مزية ليلة نصف شعبان مع أن الله تعالى ينزل كل ليلة أنه ذكر مع النزول فيها وصف
آخر لم يذكر في نزول كل ليلة وهو قوله فيغفر لأكثر من عدد شعر غنم كلب وليس ذا في
نزول كل ليلة ولأن النزول في كل ليلة مؤقت بشرط الليل أو ثلثه وفيها من الغروب )
اهـ&lt;br /&gt;
وفي مواهب الكريم المنَّان في فضل ليلة النصف من شعبان لنجم الدين الغيطي ص 105 :
( ... أبو حاتم الرازي بسنده عن عبد العزيز بن أبي داود !! قال : نظر عطاء إلى
جماعة في المسجد الحرام ليلة النصف من شعبان ، فقال : ما هذه الجماعة ؟ ، قالوا :
هذا النميري يزعم أنّ الله - عزَّ وجل - ينزل هذه الليلة إلى سماء الدنيا ، فيقول
: هل من داع فأستجيب له ؟ هل من سائل فأعطيه ؟ هل من مستغفر فأغفر له ؟ .&lt;br /&gt;
فقال عطاء : زيادة على النّاس هذا في كل ليلة في السنة كلها .&lt;br /&gt;
قال الحافظ أبو موسى المديني : وقول عطاء هذا صحيح ، غير أن تخصيص ذكر النزول في
هذه الليلة يقتضي تأكيداً ، إمَّا في تكثير الرحمة كما تقدَّم ، أو زيادة زمانه&lt;br /&gt;
يعني كما في الحديث المتقدم إنَّ الله ينزل فيها لغروب الشمس )بخلاف بقية الليالي
، فحين يبقى ثلث الليل الآخر ) اهـ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
الفائدة الثانية :&lt;br /&gt;
ذهب طائفة من أهل العلم إلى أن تحول القبلة من بيت المقدس إلى الكعبة المشرفة كان
في ليلة النصف من شعبان ففي صحيح ابن حبان 4/617 : ( قال أبو حاتم رضي الله عنه :
صلى المسلمون إلى بيت المقدس بعد قدوم المصطفى صلى الله عليه وسلم المدينة سبعة
عشر شهرا وثلاثة أيام سواء وذلك أن قدومه صلى الله عليه وسلم المدينة كان يوم
الإثنين لاثنتي عشرة ليلة خلت من ربيع الأول وأمره الله جل وعلا باستقبال الكعبة
يوم الثلاثاء للنصف من شعبان فذلك ما وصفت على صحة ما ذكرت ) اهـ&lt;br /&gt;
وفي التمهيد لابن عبد البر 8/55 : ( وقال أبو إسحاق الحربي : ثم قدم رسول الله صلى
الله عليه وسلم المدينة في ربيع الأول فصلى إلى بيت المقدس تمام سنة ) إحدى ( عشرة
) وصلى من سنة ثنتين ستة أشهر ثم حولت القبلة في رجب&lt;br /&gt;
وقال موسى بن عقبة وإبراهيم بن سعد عن ابن شهاب عن عبدالرحمن بن عبدالله بن كعب بن
مالك : أن القبلة صرفت في جمادى&lt;br /&gt;
وقال الواقدي :إنما صرفت صلاة الظهر يوم الثلاثاء في النصف من شعبان ) اهـ&lt;br /&gt;
والقول بأن القبلة تحولت في نصف شعبان هو : قول محمد بن حبيب وطائفة من السلف وهو
الذي رجحه النووي في الروضة وذكر الطبري في تاريخه 180/2 أنَّه قول الجمهور الأعظم&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
الفائدة الثالثة :&lt;br /&gt;
وردت أحاديث وآثار كثيرة في أن ليلة النصف من شعبان تكتب فيها الأعمال والآجال
والأرزاق ونحوها ومن تلك الأحاديث :&lt;br /&gt;
1-حديث عائشة :&lt;br /&gt;
في مسند الديلمي 5/274 : ( عن عائشة : ينسخ الله الخير في أربع ليال نسخا ليلة
الأضحى والفطر وليلة النصف من شعبان تنسخ فيها الآجال والأرزاق ويكتب فيها الحج
وفي ليلة عرفة إلى الآذان ) اهـ&lt;br /&gt;
2-حديث آخر لعائشة :&lt;br /&gt;
في فضائل الأوقات للبيهقي 1/126 : ( حدثنا أبو عبد الله الحافظ قال حدثني أبو صالح
خلف بن محمد ببخارى قال حدثنا صالح بن محمد البغدادي الحافظ قال حدثنا محمد بن
عباد قال حدثني حاتم بن إسماعيل المدني عن النضر بن كثير عن يحيى بن سعد عن عروة
بن الزبير عن عائشة رضي الله عنها قالت لما كانت ليلة النصف من شعبان ...&lt;br /&gt;
قالت فما زال رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلي قائما وقاعدا حتى أصبح&lt;br /&gt;
فقال يا عائشة : هل تدرين ما في هذه الليلة قالت ما فيها يا رسول الله فقال فيها
يكتب كل مولود من بني آدم في هذه السنة وفيها أن يكتب كل هالك من بني آدم في هذه
السنة وفيها ترفع أعمالهم وفيها تنزل أرزاقهم ) اهـ&lt;br /&gt;
3-أثر ابن عباس :&lt;br /&gt;
في تفسير البغوي 1/227 : ( روى أبو الضحى عن ابن عباس رضي الله عنهما: أن الله
يقضي الأقضية في ليلة النصف من شعبان، ويسلمها إلى أربابها في ليلة القدر ) اهـ&lt;br /&gt;
وهذه له حكم الرفع لأنه لا يقال من قبيل الرأي&lt;br /&gt;
4-أثر عكرمة :&lt;br /&gt;
في تفسير ابن جرير 11/222 : ( حدثنا الفضل بن الصباح ، والحسن بن عرفة ، قالا :
ثنا الحسن بن إسماعيل البجلي ، عن محمد بن سوقة ، عن عكرمة قال : في ليلة النصف من
شعبان ، يبرم فيه أمر السنة ، وتنسخ الأحياء من الأموات ، ويكتب الحاج فلا يزاد
فيهم أحد ، ولا ينقص منهم أحد .) اه&lt;br /&gt;
وذكر السيوطي في الدر المنثور : أنه أخرجه ابن جرير وابن المنذر وابن أبي حاتم&lt;br /&gt;
5-أثر عطاء بن يسار :&lt;br /&gt;
ففي مصنف عبد الرزاق 4/317 : ( عبد الرزاق عن بن عيينة عن مسعر عن رجل عن عطاء بن
يسار قال تنسخ في النصف من شعبان الآجال حتى أن الرجل ليخرج مسافرا وقد نسخ من
الأحياء إلى الأموات ويتزوج وقد نسخ من الأحياء إلى الأموات ) اهـ&lt;br /&gt;
وفي الدر المنثور : ( أخرج ابن أبي الدنيا ، عن عطاء بن يسار قال : إذا كان ليلة
النصف من شعبان دفع إلى ملك الموت صحيفة ، فيقال اقبض من في هذه الصحيفة ، فإن
العبد ليفرش الفراش وينكح الأزواج ويبني البنيان وإن اسمه قد نسخ في الموتى .) اهـ&lt;br /&gt;
6-مرسل راشد بن سعد :&lt;br /&gt;
في المجالسة للدينوري (303/3) : ( عن راشد بن سعد أنَّ النبي صلى الله عليه وآله
وسلم قال : إنَّ اللهَ تبارك وتعالى يَطَّلِعُ إلى عباده ليلة النصف من شعبان ،
فيغفر لخلقه كلِّهم ؛ إلا المشركَ والمُشَاحِنَ ، وفيها يوحي اللهُ تبارك وتعالى
إلى مَلَكِ الموت لقبض كلِّ نَفْسٍ يريدُ قبضَها في تلك السنة ) اهـ&lt;br /&gt;
وفي كنز العمال : ( عن عطاء بن يسار قال :إذا كان ليلة النصف من شعبان نسخ الملك
من يموت من شعبان إلى شعبان وإن الرجل ليظلم ويتجر وينكح النسوان وقد نسخ اسمه من
الأحياء إلى الأموات ما من ليلة بعد ليلة القدر أفضل منها ينزل الله إلى السماء
الدنيا فيغفر لكل أحد إلا لمشرك أو مشاحن أو قاطع رحم . ) اه&lt;br /&gt;
وهناك أحاديث وآثار كثيرة فيها أن ما سبق ذكره من كتابة الآجال والأرزاق ونحوها
يكون في شعبان من غير تحديد بليلة النصف فمنها :&lt;br /&gt;
1-حديث عائشة :&lt;br /&gt;
في تاريخ ابن عساكر 61/250 : ( أخبرنا أبو الفتح نصر الله بن محمد الفقيه أنا
القاضي أبو منصور محمد بن أحمد ابن علي نا أحمد بن موسى بن مردويه الحافظ نا محمد
بن أحمد بن علي نا أبو عوانة موسى بن يوسف بن موسى القطان نا محمد بن عتبة الكندي
نا محمد بن عبيد النخعي نا مهاجر الصايغ عن عطاء بن يسار عن عائشة قالت :لم يكن
رسول الله صلى الله عليه وسلم في شهر أكثر صياما منه في شعبان لأنه ينسخ فيه أرواح
الأحياء في الأموات حتى إن الرجل يتزوج وقد رفع اسمه فيمن يموت ) اهـ&lt;br /&gt;
وذكر السيوطي في الدر المنثور : أنه أخرجه ابن مردويه وابن عساكر وقال : وأخرج أبو
يعلى ، عن عائشة أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يصوم شعبان كله ، فسألته ؟ قال
:" إن الله يكتب فيه كل نفس مبتة تلك السنة ، فأحب أن يأتيني أجلي وأنا صائم
" ) اهـ&lt;br /&gt;
وفي الدر المنثور أيضا : ( أخرج الخطيب وابن النجار ، عن عائشة رضي الله عنها قالت
: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصوم شعبان كله حتى يصله برمضان ولم يكن يصوم
شهرا تاما إلا شعبان ، فقلت يا رسول الله : إن شعبان لمن أحب الشهور إليك أن تصومه
؟&lt;br /&gt;
فقال : " نعم يا عائشة إنه ليس نفس تموت في سنة إلا كتب أجلها في شعبان ،
فأحب أن يكتب أجلي وأنا في عبادة ربي وعمل صالح "&lt;br /&gt;
ولفظ ابن النجار " يا عائشة إنه يكتب فيه ملك الموت ومن يقبض ، فأحب أن لا
ينسخ اسمي إلا وأنا صائم " ) اهـ&lt;br /&gt;
2-حديث آخر لعائشة :&lt;br /&gt;
روى الخطيب في تاريخ بغداد 4 /437: ( عن عائشة رضي الله عنها من حديث طويل ، قال
صلى الله عليه وآله وسلم : ( يَا عائشة&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-size: 18pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgP0wgBGa3z7Fm3Bx8lPGAHA2QaxV3bu9g0ux3QTK7ISNsA8TGO6A5T53ALo9QbRn9cMcADVKeEYMIj34Xv-FeWJz1tAhOWGaFjLLwogDpbnEbOFXuN_xgDe3B2Wk_kJqTdjLaQEuOvvjjC/s72-c/lailat+nisfi+sya'ban.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Portal untuk Jalan Tijani</title><link>http://muridwali.blogspot.com/2012/06/portal-untuk-jalan-tijani.html</link><author>noreply@blogger.com (murid wali)</author><pubDate>Thu, 7 Jun 2012 09:00:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-941542624142067641.post-3670133143133326765</guid><description>&lt;a href="http://www.dar-sirr.com/tijanism.htm#.T9DQIiybCFA.blogger"&gt;Portal untuk Jalan Tijani&lt;/a&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>UWAIS AL QARNI</title><link>http://muridwali.blogspot.com/2012/06/uwais-al-qarni.html</link><category>Tokoh</category><author>noreply@blogger.com (murid wali)</author><pubDate>Mon, 4 Jun 2012 11:01:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-941542624142067641.post-3658158246767482591</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Nama Uwais al-Qarani memainkan peranan penting dalam biografi mistikal nabi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;"Sesungguhnya aku merasakan nafas ar-Rahman, nafas dari Yang Maha Pengasih, mengalir kepadaku dari Yaman!” Demikian sabda Nabi SAW tentang diri Uwais, yang kemudian dalam tradisi tasawuf menjadi contoh bagi mereka yang memasuki tasawuf tanpa dituntun oleh sang guru yang hidup.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Para sufi yang mengaku dirinya telah menempuh jalan tanpa pemba’iatan formal kemudian disebut dengan istilah Uwaisi. Mereka ini dibimbing langsung oleh Allah di jalan tasawuf, atau telah ditasbihkan oleh wali nabi yang misterius, Khidhir. Uwais yang bernama lengkap Uwais bin Amir al-Qarani berasal dari Qaran, sebuah desa terpencil di dekat Nejed. Tidak diketahui kapan beliau dilahirkan. Ia kilahirkan oleh keluarga yang taat beribadah. Ia tidak pernah mengenyam pendidikan kecuali dari kedua orang tuanya yang sangat ditaatinya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Untuk membantu meringankan beban orang tuanya, ia bekerja sebagai penggembala dan pemelihara ternak upahan. Dalam kehidupan kesehariannya ia lebih banyak menyendiri dan bergaul hanya dengan sesama penggembala di sekitarnya. Oleh karenanya, ia tidak dikenal oleh kebanyakan orang disekitarnya, kecuali para tuan pemilik ternak dan sesamanya, para penggembala. Hidupnya amat sangat sederhana. Pakaian yang dimiliki hanya yang melekat di tubuhnya. Setiap harinya ia lalui dengan berlapar-lapar ria. Ia hanya makan buah kurma dan minum air putih, dan tidak pernah memakan makan yang dimasak atau diolah. Oleh karenanya, ia merasakan betul derita orang-orang kecil disekitarnya. Tidak cukup dengan empatinya yang sedemikian, rasa takutnya kepada Allah mendorongnya untuk selalu berdoa kedapa Allah : “Ya Allah, janganlah Engkau menyiksaku, karena ada yang mati karena kelaparan, dan jangan Engaku menyiksaku karena ada yang kedinginan.” Ketaatan dan kecintaannya kepada Allah, juga termanifestasi dalam kecintaannya dan ketaatannya kepada Rasulullah dan kepada kedua orang tuanya, sangat luar biasa.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di siang hari, ia bekerja keras, dan dimalam hari, ia asik bermunajat kepada Allah swt. Hati dan lisannya tidak pernah lengah dari berdzikir dan bacaan ayat-ayat suci al-Qur’an, meskipun ia sedang bekerja. Ala kulli hal, ia selalu berada bersama Tuhan, dalam pengabdian kepada-Nya. Rasulullah saw menuturkan keistimewaan Uwais di hadapan Allah kepada Umar dan Ali bahwa dihari kiamat nanti, disaat semua orang dibangkitkan kembali, Uwais akan memberikan syafaat kepada sejumlah besar umatnya, sebanyak jumlah domba yang dimiliki Rabbiah dan Mudhar (keduanya dikenal karena mempunyai domba yang banyak). Karena itu, Rasulullah menyarankan kepada mereka berdua agar menemuinya, menyampaikan salam dari Rasulullah, dan meminta keduanya untuk mendoakan keduanya, yang digambarkan bahhwa Uwais memiliki tinggi badan yang sedang dan berambut lebat, dan memiliki tanda putih sebesar dirham pada bahu kiri dan telapak tangannya. Sejak Rasulullah menyarankan keduanya untuk menemuinya, sejak itu pula keduanya selalu penasaran ingin segera bertemu dengan Uwais.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setiap kali Umar maupun Ali bertemu dengan rombongan orang-orng Yaman, ia selalu berusaha mencaru tahu dimana keberadaan Uwais dari rombongan yang ditemuinya. Namun, keduanya selalu gagal mendapatkan informasi tentang Uwais. Barulah setalah Umar diangkat menjadi khalifah, informasi tentang Uwais keduanya perolih dari serombongan orang Yaman, “Ia tampak gila, tinggal sendiri dan tidak brgaul dengan masyarakat. Ia tidak makan apa yang dimakan oleh kebanyakan orang, dan tidak tampak susan atau senang. Ketika orang-orang tersenyum ia menangis, dan ketika orang-orang menangis ia tersenyum”. Demikian kata rombongan orang-orang Yaman tersebut. Mendengar cerita orang-orang Yaman tersebut, Umar dan Ali segera berangkat menuju tempat yang ditunjukkan oleh orang-orang Yaman tadi. Akhirnya, keduanya bertemu dengan Uwais di suatu tempat terpencul. Abi Naim al-Afshani menuturkan dialog yang kemudian terjadi antara Umar dan Ali dengan Uwai al-Qarani sebagai berikut: Umar : Apa yang anda kerjakan disini ? Uwais : Saya bekerja sebagai penggembala Umar : Siapa nama Anda? Uwais : Aku adalah hamba Allah Umar : Kita semua adalah hamba Allah, akan tetapi izinkan kami untuk mengetahui anda lebih dekat lagi Uwais : Silahkan saja. Umar dan Ali : Setelah kami perhatikan, andalah orang yang pernah diceritakan oleh Rasulullah SAW kepada kami. Doakan kami dan berilah kami nasehat agar kami beroleh kebahagiaan dunia dan di akherat kelak. Uwais : Saya tidak pernah mendoakan seseorang secara khusus.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setiap hari saya selalu berdoa untuk seluruh umat Islam. Lantas siapa sebenarnya anda berdua. Ali : Beliau adalah Umar bin Khattab, Amirul Mu’minin, dan saya adalah Ali bin Abi Thalib. Kami berdua disuruh oleh Rasulullah SAW untuk menemui anda dan menyampaikan salam beliau untuk anda. Umar : Berilah kami nasehat wahai hamba Allah Uwais : Carilah rahmat Allah dengan jalan ta’at dan penuh harap dan bertawaqal kepada Allah. Umar :Terimakasih atas nasehat anda yang sangat berharga ini. Sebagai tanda terima kasih kami, kami berharap anda mau menerima seperangkat pakaian dan uang untuk anda pakai. Uwais : Terimakasih wahai Amirul mu’minin. Saya sama sekali tidak bermaksud menolak pemberian tuan, tetapi saya tidak membutuhkan apa yang anda berikan itu. Upah yang saya terima adalah 4 dirham itu sudah lebih dari cukup. Lebihnya saya berikan kepada ibuku. Setiap hari saya cukup makan buah kurma dan minum air putih, dan tidak pernah makan makan yang di masak. Kurasa hidupku tidak akan sampai petang hari dan kalau petang, kurasa tidak akan sampai pada pagi hari. Hatiku selalu mengingat Allah dan sangat kecewa bila sampai tidak mengingat-Nya. Ketika orang-orang Qaran mulai mengetahui keduduka spiritualnya yang demikian tinggi di mata Rasulullah saw, mereka kemudian berusaha untuk menemui dan memuliakannya. Akan tetapi, Uwais yang sehari-harinya hidup penuh dengan kesunyian ini, diam-diam meninggalkan mereka dan pergi menuju Kufah, melanjutkan hidupnya yang sendiri. Ia memilih untuk hidup dalam kesunyian, hati terbatas untuk yang selain Dia. Tentu saja, “kesunyian” disini tidak identik dengan kesendirian (pengasingan diri).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hakekat kesendirian ini terletak pada kecintaanya kepada Tuhan. Siapa yang mencintai Tuhan, tidak akan terganggu oleh apapun, meskipun ia hidup ditengah-tengah keramaian. Alaisa Allah-u bi Kafin abdahu? Setelah seorang sufi bernama Harim bin Hayyam berusaha untuk mencari Uwais setelah tadak menemukannya di Qaran. Kemudian ia menuju Basrah. Di tengah perjalanan menuju Basrah, inilah, ia menemukan Uwais yang mengenakan jubah berbulu domba sedang berwudhu di tepi sungai Eufrat. Begitu Uwais beranjak naik menuju tepian sungai sambil merapikan jenggotnya. Harim mendekat dan memberi salam kepadanya. Uwais : menjawab: “ Wa alaikum salam”, wahai Harim bin Hayyan. Harim terkejut ketika Uwais menyebut namanya. “Bagaimana engakau mengetahui nama saya Harim bin Hayyan?’ tanya Harim. “Roku telah mengenal rohmmu”, demikian jawan Uwais. Uwais : kemudian menasehati Harim untuk selalu menjaga hatinya. Dalam arti mengarahkannya untuk selalu dalam ketaatan kepada-Nya melalui mujahadah, atau mengarahkan diri “dirinya “ untuk mendengar dan mentaati kata hatinya. Meski Uwais menjalani hidupnya dalam kesendirian dan kesunyian, tetapi pada saat-saat tertentu ia ikut berpartisipasi dalam kegiatan jihad untuk membela dan mempertahankan agama Allah. Ketika terjadi perang Shiffin antara golongan Ali melawan Muawiyah, Uwais berdiri di golongan Ali. Saat orang islam membebaskan Romawi, Uwais ikut dalam barisan tentara Islam. Saat kembali dari pembebasan tersebut, Uwais terserang penyakit dan meninggal saat itu juga. (t.39 H). Demikianlah sekelumit tentang Uais al-Qarani, kemudian hri namanya banyak di puji oleh masyarakat. Yunus Emre misalnya memujinya dalam satu sajak syairnya : Kawan tercinta kekasih Allah; Di tanah Yaman, Uwais al-Qarani. Dia tidak berbohong ; dan tidak makan makan haram Di tanah Yaman, Uwais al-Qarani Di pagi hari ia bangun dan mulai bekerja, Dia membaca dalam dzikir seribu satu malam Allah; Dengan kata Allahu Akbar dia menghela unta-unta Di tanah Yaman, Uwais alQarani Negeri Yaman “negeri di sebelah kanan “, negeri asal angin sepoi-sepoi selatan yang dinamakan nafas ar-rahman, Nafas dari Yang Maha Pengasih, yang mencapai Nabi dengan membawa bau harum dari ketaatan Uwais al-Qarani, sebagaimana angin sepoi-sepoi sebelumnya yang mendatangkan keharuman yang menyembuhkan dari kemeja Yusuf kepada ayahnya yang buta. Ya’kub (QS, 12: 95), telah menjadi simbul dari Timur yang penuh dengan cahaya, tempat dimana cahaya muncul, yang dalam karya Suhrawadi menggambarkan rumah keruhanian yang sejati. “Negeri di sebelah kanan “ itu adalah tanah air Uwais al-Qarani yanag memeluk Islam tanpa pernah betemu dengan nabi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hikmah Yamaniyyah, “Kebijaksanaan Yaman,” dan Hikmah Yamaniyyah,”filosofi Yanani”, bertentangan, sebagaimana makrifat intuitif dan pendekatan intelektual, sebagaimana Timur dan Barat. Doa dan Dzikir Satu hal yang perlu digarisbawahi dari diri Uwais al-Qarani, kemudian menjadi landasan dalam tareqat-tareqat sufi, selain baktinya yang luar biasa terhadap kedua orang tuanya dan sikap zuhudnya, adalah doa dan dzikirnya. Uwais tidak pernah berdoa khusus untuk seseorang, tetapi selalu berdoa untuk seluruh umat kaum muslim. Uwais juga tidak pernah lengah dalam berdzikir meskipun sedang sibuk bekerja, mengawasi dan menggiring ternak-ternaknya. Doa dan dzikir bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Hakekatnya adalah satu. Sebab, jelas doa adalah salah satu bentuk dari dzikir, dan dzikir kepada–Ku hingga ia tidak sempat bermohon (sesuatu) kepada-Ku, maka Aku akan mengaruniakan kepadanya sesuatu yang terbaik dari yang diminta orang yang berdoa kepada-Ku”. Uwais selalu bedoa untuk seluruh muslimin. Doa untuk kaum muslim adalah salah satu bentuk perwujudan dari kepedulian terhadap “urusan kaum muslim”. Rasulullah saw. Pernah memperingatkan dengan keras: Siapa yang tidap peduli dengan urusan kaum muslim, maka ia tidak termasuk umatku.” Dalam hal ini, Rasulullah saw menyatakan bahwa permohonan yang paling cepat dikabulkan adalah doa seseorang untuk saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan dan mendahulukan doa untuk selain dirinya. Dan Uwais lebih memilih untuk medoakan seluruh saudaranya seiman. Suatu ketika Hasan bin Ali terbangun tengah malam dan melihat ibunya, Fatimah az-Zahra, sedang khusu’ berdoa. Hasan yang pensasaran ingin tahu apa yang diminta ibunya dalam doanya berusaha untuk menguping. Namun Hasan agak sedikit kecewa, karena dari awal hingga akhir doanya, ibunya, hanya meminta pengampunan dan kebahagian hidup untuk seluruh kaum muslimin di dunia dan di akhirat kelak. Selesai berdoa, segera Hasan bertanya kepada ibunya perihal doanya yang sama sekali tidak menyisakan doanya untuk dirinya sendiri. Ibunya tersenyum, lalu menjawab bahwa apapun yang kita panjatkan untuk kebahagiaan hidup kaum muslim, hakekatnya, permohonan itu akan kembali kepada kita. Sebab para malaikat yang menyaksikan doa tersebut akan berkata “Semoga Allah mengabulkanmu dua kali lipat.” Dari prinsip tersebut, para sufi kemudian menarik suatu prinsip yang lebih umum yang padanya bertumpu seluruh rahasia kebahagiaan. Apa yang kita cari dalam kehidupan ini, harus kita berikan kepad orang lain. Jika kebajikan yang kita cari, berikanlah; jika kebaikan, berikanlah; jika pelayanan, berikanlah. Bagi para sufi, dunia adalah kubah, dan perilaku seseorang adalah gema dari pelaku yang lain. Secuil apapun kebaikan yang kita lakukan, ia akan kembali. Jika bukan dari seseorang, ia akan datang dari orang lain. Itulah gemanya. Kita tidak mengetahui dari mana sisi kebaikan itu akan datang, tetapi ia akan datang beratus kali lipat dibanding yang kita berikan. Demikianlah, berdoa untuk kaum mulim akan bergema di dalam diri yang tentu saja akan berdampak besar dan positif dalam membangun dan meningkatkan kualitas kehidupan spiritual seseorang. Paling tidak, doa ini akan memupus ego di dalam diri yang merupakan musuh terbesar, juga sekalihgus akan melahirkan dan menanamkan komitmen dalam diri “rasa Cinta”dan “prasangka baik”terhadap mereka, yang merupakan pilar lain dari ajaran sufi, sebagai manifestasi cinta dan pengabdian kepada Allah swt. Uwais tidak pernah lengah untuk berdzikir, mengingat dan mnyebut-nyebut nama Allah meskipun ia sedang sibuk mengurus binatang ternaknya. Dzikir dalam pengertiannya, yang umum mencakup ucapan segala macam ketaatan kepada Allah swt.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Namun yang dilakukan Uwais disini adlah berdzikir dengan menyebut nama-nama Allah dan meningat Allah, juga termasuk sifat-sifat Allah. Ibn Qayyim al-Jauziyyah ketika memaparkan berbagai macam faedah dzikir dalm kitabnya “al-wabil ash-shayyab min al-kalim at-thayyib” menyebutkan bahwa yang paling utama pada setiap orang yang bramal adalah yang paling banyak berdzikir kepad Allah swt. Ahli shaum yang paling utama adalah yang paling banyak dzikirnya; pemberi sedekah yang paling baik adalah yang paling banyak dzikirnya; ahli haji yang paling utama adalah yang paling banyak berdzikir kepada Allah swt; dan seterusnya, yang mencakup segala aktifitas dan keadaan. Syaikh Alawi dalam “al-Qawl al-Mu’tamad,” menyebutkan bahwa mulianya suatu nama adalah kerena kemuliaan pemilik nama itu, sebeb nama itu mengandung kesan sipemiliknya dalam lipat tersembunyi esensi rahasianya dan maknanya. Berdzikir dan mengulang-ulang Asma Allah, Sang Pemilik kemuliaan, dengan demikian, tak diragukan lagi akan memberikan sugesti, efek, dan pengaruh yang sangat besar. Al-Ghazali menyatakan bahwa yang diperoleh seorang hamba dari nama Allah adalah ta’alluh (penuhanan), yang berarti bahwa hati dan niatnya tenggelan dalam Tuhan, sehingga yang dilihat-Nya hanyalah Dia. Dan hal ini, dalam pandangan Ibn Arabi, berarti sang hamba tersebut menyerap nama Allah, yang kemudian merubahnya dengan ontologis. Demikianlah, setiap kali kita menyerap asma Allah lewat dzikir kepada-Nya, esensi kemanusiaan kita berubah. Kita mengalami tranformasi. Yanag apada akhirnya akan membuahkan akhlak al-karimah yang merupakan tujuan pengutusan rasulullah Muhammad saw. Dilihat dari sudut panang psikologis sufistik, pertama-tama dzikir akan memberi kesan pada ruh seseorang, membentuknya membangun berbagai kualitas kebaikan, dan kekuatan inspirasi yang disugestikan oleh nama-nama itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dan mekanisme batiniah seseorang menjadi semakin hidup dari pengulangan dzikir itu, yang kemudian mekanisme ini berkembang pada pengulangan nama-nama secara otomatis. Jadi jika seseorang telah mengilang dzikirnya selama satu jam, misalnya, maka sepanjang siang dan malam dzikir tersebut akan terus berlanjut terulang, karena jiwanya mengulangi terus menerus. Pengulangan dzikir ini, juga akan terefleksi pada ruh semesta, dan mekanisme universal kemudian mengulanginya secara otomatis. Dengan kata lain, apa yang didzikirkan manusia dengan menyebutnya berulang-ulang. Tuhan kemudian mulai mengulanginya, hingga termaterialisasi dan menjadi suatu realita di semua tingkat eksistensi. Wallahu a’lam bis-shawab.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sumber : Dari berbagai Sumber&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;</description></item><item><title>KH. Badruzzaman Perintis Tarekat Tijaniyah Garut</title><link>http://muridwali.blogspot.com/2012/06/kh-badruzzaman-perintis-tarekat.html</link><category>Tokoh</category><author>noreply@blogger.com (murid wali)</author><pubDate>Sun, 3 Jun 2012 00:06:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-941542624142067641.post-5440058066203400634</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgzAvPma_uGkrhGSC56lhHBkXBVRbZdGFBXaGny8j_1Q8J2T0tif42rK8UQeBic0sQ-dBZqlExLUbe7PGjgNV8TyIkLs_kwkB9DQsZ88rCeAMJxfZaoUTaDKW6KsBFFAnbHc9mSRSX6gn2g/s1600/syaekhuna.bmp" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgzAvPma_uGkrhGSC56lhHBkXBVRbZdGFBXaGny8j_1Q8J2T0tif42rK8UQeBic0sQ-dBZqlExLUbe7PGjgNV8TyIkLs_kwkB9DQsZ88rCeAMJxfZaoUTaDKW6KsBFFAnbHc9mSRSX6gn2g/s200/syaekhuna.bmp" width="150" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;KH. Badruzaman diangkat sebagai muqaddam Tarekat Tijaniyah berdasarkan penunjukan langsung dari Syaikh ‘Ali b. ‘Abdullah at-Toyib. Dalam pengangkatan ini KH. Badruzzaman bisa membuka, menyebarkan dan mengembangkan murid-murid secara lebih luas di daerah yang belum tumbuh dan berkembangn Tarekat Tijaniyah, terutama di Garut, Jawa Barat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Ciri khas periode kepemimpinan KH. Badruzzaman adalah (i) periode perintisan pertumbuhan dan penyebaran Tarekat Tijaniyah dan (ii) periode perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan bangsa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Perintisan dan penyebaran Tarekat Tijaniyah, mula-mula dilakukan KH. Badruzzaman melalui pengajaran kepada santri-santri pesantren dan masyarakat . Usahanya dalam pengajaran Tarekat Tijaniyah kepada santri-santri — walaupun Tarekat Tijaniyah bukan bagian dari kurikulum resmi pesantren — besar fungsinya untuk mempercepat perintisan penyebaran Tarekat Tijaniyah. Dari pengajaran di pesantren, Tarekat Tijaniyah kemudian menyebar secara luas di Garut. Faktor-fakltor yang mempercepat pengembangan ini diantaranya adalah loyalitas santri kepada gurunya sebab dengan loyalitasnya santri-santri berjasa mempercepat perluasan pengikut Tarekat Tijaniyah. Faktor lainnya adalah karisma KH. Badruzzaman yang didukung beberapa faktor: Pengetahuan ilmu agama yang luas, dan disegani oleh semua kalangan di Kab. Garut, (sebagai ulama) sebagai pemimpin umat dan sebagai pejuang dalam membela bangsa (Pemimpin Politik) dengan demikian kharisma, yang telah dimiliki jauh sebelum masuk Tarekat Tijaniyah, KH. Badruzzaman sangat mudah memperoleh pengikut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Proses kepemimpinan KH. Badruzzaman — dalam masa-masa perintisan penyebaran — juga dihadapakan dengan masa-masa sulit, yaitu perjuangan melawan pemerintah kolonial, merebut dan membela kemerdekaan Bangsa RI (masa pra kemerdekaan ) dan yang kemudian perjuangan politik dengan pembangunan (pasca kemerdekaan). Ada dua gerakan perjuangan yang paling menonjol dari beberapa gerakan perjuangan merebut kemerdekaan yakni gerakan “khalwat” dan “hijrah”. Gerakan perjuangan ini dilakukan oleh mayoritas warga Tijaniyah bersama masyarakat lainnya, dibawah komando langsung KH. Badruzzaman, yang menempuh perjalanan panjang, dari beberapa wilayah yang saling berjauhan. Gerakan Khalwat adalah riyadah atau tarbiah rohani dalam memantapkan tauhid sebagai kader pejuang kemerdekaan sebelum di terjunkan kekancah pertempuran fisik melawan penjajah yang bergabung dengan gerakan Hisbullah secara umum praktek khalwat diikuti oleh kader potensial pengikut katarekat Tijaniyah dengan cara menyepi di ruang bawah tanah. Gerakan ini mengantarkan Pesantren Al-Falah sebagai pusat gerakan Hisbullah. Di pihak lain keadaan demikian menjadikan Pessantren Al-Falah sebagai target sasaran mortir serangan Belanda yang waktu itu diarahkan dari Malayu . Keadaan demikian memaksa KH. Badruzzaman untuk melakukan gerakan Hijrah “dari satu tempat ke tempat lain. Pada mulanya hijrah dilakukan antar Desa dan Kecamatan di Kab. Garut. Dari Pesantren Al-Falah ia hijrah ke Kp. Leuceun kemudian ke Kp. Sangkan dari sangkan ke Kp. Lamping dari lamping ke Kp. Nunggal kemudian Kp. Cimencek kemudian Kp. Cijugul kemudian Kp. Cidadali kemudian kawah Kamojang. Dan setiap tempat yang disinggahi menjadi sasaran serangan Belanda. Kemudian melakukan hijrah antar Kabupaten dari Garut ke Cikalong kemudian ke Majenang kemudian ke Tasikmalaya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Perjuangan dalam gerakan “Hijrah” tampaknya justru membawa hasil positif, yakni semakin bertambahnya masyarakat di daerah-daerah hijrah itu kemudian turut bergabung dengan KH. Badruzzaman dan mengikuti Tarekat Tijaniyah. Belakangan daerah-daerah pengungsian menjadi basis warga Tijaniyah. Perjuangan kaum Tijaniyah dalam merebut kemerdekaan berlanjut dalam gerakan mengisi kemerdekaan melalui aktifitas politik dan bergabung dengan organisasi politik Masyumi, sebagai wadah alternatif organisasi penyalur aspirasi politik mereka dalam usaha partisipasi mengisi kemerdekaan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setelah Masumi dibubarkan, pengabdian bangsa melalui politik dilakukan melalui SI ( Serikat Islam) PERTI ( Persatuan Tarbiyah Islamiyah ), dan wadah-wadah lokal : Al-Muwafakah dan POE (Persatuan dalam Indonesia). Meskipun pejuangan meraih kemerdekaan dan mengisi kemerdekaan cukup menyita aktifitas Tarekat Tijaniyah, tetapi aktifitas tarekat seperti pembinaan, pengamalan wirid, dan pengajaran kepada murid-murid terus berjalan. Pengabdian kepada agama melalui pendidikan santri-santri pesantren, masyarakat dan pembinaan murid-murid Tijaniyah menjadi bagian yang tidak terpisahkan bagi KH. Badruzzaman pada masa kepemimpinannya di Tarekat Tijaniyah. Pada masa kepemimpinannya, KH. Badruzzaman pernah mengangkat Muqaddam (Muqayad) sebanyak sepuluh orang di berbagai daerah untuk membina untuk membina muri-murid tijaniyah di daerah masing-masing. Kepemimpinannya yang berlangsung selama sekitar 45 tahun menghasilkan ribuan murid Tijaniyah di Garut (beliau wafat tahun 1972). (IB)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber :&amp;nbsp;http://tijaniyahgarut.wordpress.com/&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgzAvPma_uGkrhGSC56lhHBkXBVRbZdGFBXaGny8j_1Q8J2T0tif42rK8UQeBic0sQ-dBZqlExLUbe7PGjgNV8TyIkLs_kwkB9DQsZ88rCeAMJxfZaoUTaDKW6KsBFFAnbHc9mSRSX6gn2g/s72-c/syaekhuna.bmp" width="72"/></item><item><title>Syekh Ahmad Al-Tijani</title><link>http://muridwali.blogspot.com/2012/06/syekh-ahmad-al-tijani.html</link><category>Tokoh</category><author>noreply@blogger.com (murid wali)</author><pubDate>Fri, 1 Jun 2012 06:32:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-941542624142067641.post-1396532998244795599</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbqzIIJExg3Fn3L83NfqaW0aeRemx24tPXj5Wb7hpIBdOoKBVk4l4o8faSyxF8K31GvSgXU71v3SpBm3XDC44cHn5mP0jCbbVJsFe8JDDzwIa1rH1y4mVKTGZ5433gawSU285UyMsWIb3b/s1600/maqom+sidi+syeikh.bmp" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;Oleh : DR. KH. Ikyan Badruzzaman&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Sekilas tentang Syekh Ahmad al-Tijani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbqzIIJExg3Fn3L83NfqaW0aeRemx24tPXj5Wb7hpIBdOoKBVk4l4o8faSyxF8K31GvSgXU71v3SpBm3XDC44cHn5mP0jCbbVJsFe8JDDzwIa1rH1y4mVKTGZ5433gawSU285UyMsWIb3b/s1600/maqom+sidi+syeikh.bmp" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbqzIIJExg3Fn3L83NfqaW0aeRemx24tPXj5Wb7hpIBdOoKBVk4l4o8faSyxF8K31GvSgXU71v3SpBm3XDC44cHn5mP0jCbbVJsFe8JDDzwIa1rH1y4mVKTGZ5433gawSU285UyMsWIb3b/s200/maqom+sidi+syeikh.bmp" /&gt;&lt;/a&gt;Syekh Ahmad al-Tijani, dilahirkan pada tahun 1150 H. (1737 M.) di `Ain Madi, sebuah desa di Al-Jazair.&lt;br /&gt;
Secara geneologis Syekh Ahmad al-Tijani memiliki nasab sampai kepada Rasulullah saw. lengkapnya adalah Abu al-Abbas Ahmad Ibn Muhammad Ibn Mukhtar Ibn Ahmab Ibn Muhammad Ibn Salam Ibn Abi al-Id Ibn Salim Ibn Ahmad al-`Alawi Ibn Ali Ibn Abdullah Ibn Abbas Ibn Abd Jabbar Ibn Idris Ibn Ishak Ibn Zainal Abidin Ibn Ahmad Ibn Muhammad al-Nafs al-Zakiyyah Ibn Abdullah al-Kamil Ibn Hasan al-Musana Ibn Hasan al-Sibti Ibn Ali Ibn Abi Thalib, dari Sayyidah Fatimah al-Zahra putri Rasuluullah saw. Beliau wafat pada hari Kamis, tanggal 17 Syawal tahun 1230 H., dan dimakamkan di kota Fez Maroko.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Biografi Syekh Ahmad al-Tijani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
• Fase menuntut Ilmu&lt;br /&gt;
Sejak umur tujuh tahun Syekh Ahmad al-Tijani telah hafal al-Qur’an dan sejak kecil beliau telah mempelajari berbagai cabang ilmu seperti ilmu Usul, Fiqh, dan sastra. Dikatakan, sejak usia remaja, Syekh Ahmad al-Tijani telah menguasai dengan mahir berbagai cabang ilmu agama Islam, sehingga pada usia dibawah 20 tahun beliau telah mengajar dan memberi fatwa tentang berbagai masalah agama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
• Fase Menuntut Ilmu Tasawuf &lt;br /&gt;
Pada usia 21 tahun, tepatnya pada tahun 1171 H. Syekh Ahmad al-Tijani pindah ke kota Fez Maroko. untuk memperdalam ilmu tasawuf. Selama di Fez beliau menekuni ilmu tasawuf melalui kitab Futuhat al-Makiyyah, di bawah bimbingan al-Tayyib Ibn Muhammad al-Yamhalidan Muhammad Ibn al-Hasan al-Wanjali. Al-Wanjali mengatakan kepada Syekh Ahmad al-Tijani : اَنَّكَ تُدْرِكَ مَقَامَ الشَّاذِلِى “Engkau akan mencapai maqam kewalian sebagaimana maqam al-Syazili”” . Selanjutnya beliau menjumpai Syekh Abdullah Ibn Arabi al-Andusia, dan kepadanya dikatakan : “الله ُ يَأخُذُ بِـيَدِكَ. (Allah yang membimbingmu); “Kata-kata ini di ulang sampai tiga kali”. Kemudian beliau berguru kepada Syekh Ahmad al-Tawwasi, dan mendapat bimbingan untuk persiapan masa lanjut. Ia menyarankan kepada Syekh Ahmad al-Tijani untuk berkhalwat (menyendiri) dan berzikir (zikr) sampai Allah memberi keterbukaan (futuh). Kemudian ia mengatakan : “Engkau akan memperoleh kedudukan yang agung (maqam ‘azim)”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
• Fase Pengidentifikasian Diri &lt;br /&gt;
Ketika Syekh Ahmad al-Tijani memasuki usia 31 tahun, beliau mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah swt., melalui amalan beberapa thariqat. Thariqat pertama yang beliau amalkan adalah thariqat Qadiriyah, kemudian pindah mengamalkan thariqat Nasiriyah yang diambil dari Abi Abdillah Muhammad Ibn Abdillah, selanjutnya mengamalkan thariqat Ahmad al-Habib Ibn Muhammaddan kemudian mengamalkan thariqat Tawwasiyah. Setelah beliau mengamalkan beberapa thariqat tadi, kemudian beliau pindah ke Zawiyah (pesantren sufi) Syekh Abd al-Qadir Ibn Muhammad al-Abyadh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tahun 1186 H. Beliau berangkat ke tanah suci untuk melaksanakan ibadah haji. Ketika beliau tiba di Aljazair, beliau menjumpai Sayyid Ahmad Ibn Abd al-Rahman al-Azhari seorang tokoh thariqat Khalwatiah, dan beliau mendalami ajaran thariqat ini. Kemudian beliau berangkat ke Tunise dan menjumpai seorang Wali bernama Syekh Abd al-Samad al-Rahawi. Di kota ini beliau belajar thariqat sambil mengajar tasawuf. Diantara buku yang diajarkannya adalah kitab al-Hikam. Kemudian beliau pergi ke Mesir. Di negeri ini beliau menjumpai seorang sufi yang sangat terkenal pada waktu itu yakni Syekh Mahmud al-Kurdi, ia seorang tokoh thariqat khalwatiyah. Dari tokoh ini Syekh Ahmad al-Tijani menyempurnakan ajaran thariqat Kholwatiyahnya. Dalam perjumpaan pertama dengan Syekh Mahmud al-Kurdi, kepada Syekh ahmad al-Tijani dikatakan: (أنت محبوب عندالله في الدنيا والاخرة ) Engkau kekasih Allah di dunia dan di akherat” lalu ia Al-Tijani bertanya (من اين لك هدا ) “Dari mana pengetahuan ini ?” Jawab Al-Kurdi ( من الله ) “Dari Allah”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beberapa hari Syekh Mahmud al-Kurdy bertanya kepada Syekh Ahmad : “(مامطلبك ؟) Apa cita-citamu ?” Jawab Syekh Ahmad Al-Tijani (مطلبي القطبانـية لعظمى) “Cita-cita saya menduduki maqam al-Qutbaniyah al-‘Udzma”. Jawab al-Kurdi (لك اكثرمنها ) “Bagimu lebih dari itu” Berkata Syekh Ahmad Al-Tijani (عليك) “Engkau yang menanggungnya ?” Jawab al-Kurdi (نعم) “Ya”. Pada bulan Syawwal tahun 1187 H. Sampailah beliau ke Makkah pada waktu itu di Makkah ada seorang wali bernama Syekh al-Imam Abi al-Abbas Sayyid Muhammad Ibn Abdillah al-Hindi. Sewaktu Syekh Ahmad al-Tijani berkunjung kepadanya, ia mengungkapkan kepada Syekh Ahmad al-Tijani melalui surat lewat khadamnya yang berbunyi :أنت وارث علمي واسرارى وموا هبي وانوارى Artinya : “Engkau pewaris ilmuku, rahasia-rahasiaku, karunia-karuniaku dan cahaya-cahayaku”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai melaksanakan ibadah haji, Syekh Ahmad al-Tijani terus berziarah ke makam Rasulullah saw., di Madinah. Di kota ini beliau menjumpai seorang wali Quthb Syekh Muhammad Ibn Abd al-Karim al-Saman. Dalam salah satu pertemuannya, dikatakan bahwa Syekh Ahmad al-Tijani akan mencapai maqam kewalian al-Quthb’ al-Jami’. Pertemuan Syekh Ahmad al-Tijani dengan para wali sebagaimana disebutkan di atas, menunjukan hampir semua wali yang dikunjunginya melihat dan meyakini bahwa Syekh Ahmad al-Tijani akan mencapai maqam kewalian yang tinggi lebih dari apa yang dicita-citakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tahun 1196 H., tepatnya ketika Syekh Ahmad al-Tijani berusia 46 tahun, beliau pergi ke pedalaman Aljazair, yaitu Abu Samghun, yang terletak di padang Sahara. Disitu beliau melakukan khalwat (kehidupan menyendiri). Di tempat inilah beliau mengalami pembukaan besar (al-Fath al-Akbar), beliau bertemu dengan Rasulullah saw., dalam keadaan jaga (yaqzhah). Selanjutnya Syekh Ahmad al-Tijani ditalqin (dibimbing) istighfar 100 kali dan shalawat 100 kali, selanjutnya Rasulullah saw. bersabda kepada Syekh Ahmad Al-Tijani :&lt;br /&gt;
لامنة لمخلوق عليك من مشايخ الطريق فانا واسطتك وممدك على التخقيق. فاترك عنك جميع ما احذت من جميع الطريق. الزم هذه الطريقة من غير خلوة ولااعتزال عن الخلق حتى تصل مقامك الذى وعدت به وانت على حالك من غير ضيق ولاحرج ولاكثرة مجاهدة واترك عنك جميع الاولياء.&lt;br /&gt;
Artinya : “Tak ada karunia bagi seorang makhlukpun dari guru-guru thariqat atas kamu. Maka akulah wasithah (perantaramu) dan pemberi dan atau pembimbingmu dengan sebenar-benarnya (oleh karena itu), tinggalkanlah apa yang kamu telah ambil dari semua thariqat. Tekunilah thariqat ini tanpa khalwat dan tidak menjauh dari manusia sampai kamu mencapai kedudukan yang telah dijanjikannya padamu, dan kamu tetap di atas perihalmu ini tanpa kesempitan, tanpa susah-susah dan tidak banyak berpayah-payah, dan tinggalkanlah semua para Wali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dua macam wirid sebagaiman telah disebutkan di atas, yaitu : Istighfar 100 kali dan Shalawat 100 kali berjalan selama 4 tahun dan pada tahun 1200 H., wirid itu disempurnakan Rasulullah saw., dengan ditambah Hailallah (la Ilaha Illa Allah) 100 kali. Pada bulan Muharram tahun 1214 H. Syekh Ahmad al-Tijani mencapai maqam kewalian yang pernah dicita-citakannya yakni maqam al-Quthbaniyyat al-‘Udhma. Dan pada tanggal 18 Safar pada tahun yang sama Syekh Ahmad al-Tijani mendapat karunia dari Allah swt., memperoleh maqam tertinggi kewalian ummat Nabi Muhammad yakni maqam al-Khatm wal-Katm atau al-Qutb al-Maktum dan Khatm al-Muhammadiyy al-Ma’lum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan setiap tanggal dan bulan tersebut murid-murid Syekh Ahmad al-Tijani, di Indonesia misalnya mensyukuri melalui peringatan ‘Idul Khatmi Lil Qutbil Maktum Syekh Ahmad al-Tijani Ra. Seperti halnya kita berkumpul disini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
• Fase Pengembangan Dakwah&lt;br /&gt;
Di Maroko, Syekh Ahmad al-Tijani dan Maulay Sulaiman (penguasa Maroko) bekerjasama dalam memerangi khurafat yang menimbulkan kebodohan, kejumudan, dan kemalasan, sampai beliau dilantik sebagai anggota “Dewan Ulama”.&lt;br /&gt;
Dalam keadaan masyarakat yang demikian rusak baik secara moral maupun akidah Syekh Ahmad al-Tijani menyatakan bahwa : “Pada umumnya masyarakat pada waktu itu melakukan ziarah kepada wali-wali Allah hanyalah untuk tujuan yang rusak (agrad fasidat) yakni hanya untuk mengharapkan kesenangan dan syahwat duniawi.” Dalam posisi inilah Syekh Ahmad al-Tijani menetapkan batasan yang sangat ketat kepada murid-muridnya dalam melakukan ziarah kepada wali-wali Allah swt., hal ini dimaksudkan untuk memelihara kemurnian akidah dan kelurusan ibadah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Upaya Syekh Ahmad al-Tijani dalam melakukan dakwah-dakwah Islam, selain melaksanakan kerjasama dengan Maulay Sulaiman, beliau juga aktif memimpin Zawiyah di kota Fez Maroko, sampai wafatnya pada Hari Kamis tanggal 17 bulan Syawwal tahun 1230 H. Di Kota ini beliau sering dikunjungi orang-orang dari seluruh Maroko ataupun negara-negara tetangganya, dan membina orang yang berminat mendalami ajarannya, sampai melantiknya sebagai pemuka Thariqat Tijaniyah (muqaddam) di daerah masing-masing. Sampai saat menjelang wafatnya Syekh Ahmad al-Tijani tidak pernah lalai dalam melaksanakan tugas dakwahnya, beliau selalu aktif memberi petunjuk dan bimbingan kepada ummat Islam, terutama dalam membina dan mengarahkan murid beliau melalui Zawiyah yang beliau dirikan maupun melalui surat-surat yang beliau kirim keberbagai lapisan masyarakat (fukoro, masakin, agniya, pedagang, fuqaha dan umaro).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berikut sebagian kutipan surat dakwah syekh Ahmad al-Tijani:&lt;br /&gt;
“Saya berwasiat pada sendiri dan kalian semua dengan perkara yang telah diwasiatkan dan diperintahkan oleh Allah swt. Yaitu menjaga batas-batas agama, melaksanakan perintah ilahiyah dengan segenap kemampuan dan kekuatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesungguhnya pada jaman sekarang, sendi-sendi pokok agama ilahi telah rapuh dan ambruk. Baik secara langsung dan global ataupun secara perlahan-lahan dan rinci. Manusia lebih banyak tenggelam dalam urusan yang mengkhawatirkan, secara ukhrawi dan duniawinya. Mereka tersesat tidak kembali dan tertidur pulas tidak terjaga. Hal ini dikarenakan berbagai persoalan yang telah memalingkan hati dari Allah swt., dan aturan-aturan (perintah dan larangannya). Pada masa dan waktu kini sudah tidak ada seorangpun yang peduli untuk mejalankan dan memenuhi perintah-perintah Allah dan persoalan-persoalan agama yang lainnya. Kecuali orang yang benar-benar ma’rifat kepada-Nya paling tidak orang yang mendekati sifat tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wasiat ini dilatarbelakangi atas keprihatinan terhadap kemunduran ummat Islam, baik secara akidah maupun ibadah. Sikap ini menunjukan kepedulian Syekh Ahmad al-Tijani sebagai shahibut thariqah terhadap problematika ummat Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada bagian lain dikatakan : Hendaklah kamu sekalian berusaha membiasakan bersedekah setiap hari jika mampu. Meskipun sekedar uang recehan ataupun sesuap makanan, disamping tetap menjaga pelaksaan perkara-perkara fardu yang di wajibkan dalam harta benda, seperti zakat. Sesungguhnya pertolongan Allah swt., lebih dekat kepada mereka yang selalu mengerjakan dan menjaga kewajiban-kewajiban yang bersifat umum/kemasyarakatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada bagian lain Syekh Ahmad al-Tijani mengatakan :&lt;br /&gt;
“Hendaknya kamu sekalian selalu menjaga silaturahim/menyambung tali persaudaraan dengan norma-norma yang dapat membuat hati menjadi lapang dan menimbulkan rasa kasih sayang. Meskipun hanya menyediakan waktu luang dan memberikan salam. Jauhilah sebab-sebab yang menjadikan kebencian dan permusuhan di antara sanak saudara, atau perpecahan orang tua dan segala hal yang menyulut api dendam dalam relung hati sanak saudara”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hendaklah menjauhi segala pembicaraan yang mengorek aib dan kekurangan sesama muslim. Mereka yang gemar melakukan itu, Allah swt., akan membuka aib/cacat kekurangannya dan mengoyak kekurangan-kekurangan generasi setelahnya”. Wasiat ini menegaskan pentingnya membangun kepedulian sosial dan membangun keutuhan masyarakat, bangsa dan negara. Pada dasarnya, Syekh Ahmad al-Tijani tidak menginginkan seorang sufi yang hanya memusatkan perhatiannya pada kontemplasi dan zikir, dan mengabaikan masalah kemasyarakatan. Sufi, sebagaimana ditegaskan dalam pengamalan thariqat tijaniyah, harus senantiasa aktif berjuang bersama masyarakat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikianlah sekilas peran dakwah Syekh Ahmad al-Tijani. Lewat ajarannya, dapat dilihat bagaimana beliau memandang penting arti tampilnya seorang sufi/wali di tengah masyarakat, hal ini merupakan bentuk lain dari ketaatannya pada Allah dan Rasul-Nya. Pada masa modern ini, murid tarikat tijaniyah terus aktif melakukan dakwah Islam, di berbagai kawasan Afrika dan mereka mendirikan Zawiyah (Pesantren Sufi). Sampai sekarang mereka aktif mengembangkan dakwah Islam di Amerika, Perancis, dan Cina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tahun 1987 , Syekh Idris al-‘Iraqi, (muqaddam zawiyah thariqat tijaniyah Fez, Maroko) berkunjung ke Indonesia, menurut pengakuannya sampai saat ini di Perancis, terdapat puluhan zawiyah (pesantren sufi) thariqat tijaniyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tahun 1985/1406 H., di Kota Fez, Maroko diselenggarakan muktamar thariqat tijaniyah dan dihadiri utusan dari 18 negara, seperti : Kerajaan Maroko, Pakistan, Tunisia, Mali, Mesir, Mauritania, Nigeria, Gana, Gambia, Gina, Pantai Gading, Sudan Senegal, Cina, Amerika Serikat, Perancis dan Indonesia. Utusan dari Indonesia adalah KH. Umar Baidhowi dan KH. Badri Masduqi. Pada pembukaan muktamar tersebut, Raja Hasan II (Raja Maroko) berkenan memberikan sambutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gambaran di atas menunjukan efektifitas metoda tarikat dalam pengembangan dakwah Islam.&lt;br /&gt;
Demikianlah sekilas riwayat hiudp Syekh Ahmad al-Tijani, semoga bermanfaat.</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbqzIIJExg3Fn3L83NfqaW0aeRemx24tPXj5Wb7hpIBdOoKBVk4l4o8faSyxF8K31GvSgXU71v3SpBm3XDC44cHn5mP0jCbbVJsFe8JDDzwIa1rH1y4mVKTGZ5433gawSU285UyMsWIb3b/s72-c/maqom+sidi+syeikh.bmp" width="72"/></item><item><title>SYEIKH YUSUF AL-MAKASSARI</title><link>http://muridwali.blogspot.com/2012/05/syeikh-yusuf-al-makassari.html</link><category>Tokoh</category><author>noreply@blogger.com (murid wali)</author><pubDate>Thu, 31 May 2012 08:36:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-941542624142067641.post-6528398051397167881</guid><description>&lt;span style="color: #006600; font-family: verdana; font-size: 25px; font-weight: bold;"&gt;Pejuang yang Berdakwah Tanpa Henti&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;div&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjbrE_HC2BPgN4ue36gVAR8pVj4pJtROyVAQtFhyphenhyphenQX-iuH1vBZP7SpEXzVT-l9Bsv-KgDsxNUcpA9E3l_CKvC_-L5_va7gtXIEvFIrZPv02LaFd-mVj9t61ktO7DWZeSEXu27NXMw1Q3ADM/s1600/kiyai+yusuf+makasar.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjbrE_HC2BPgN4ue36gVAR8pVj4pJtROyVAQtFhyphenhyphenQX-iuH1vBZP7SpEXzVT-l9Bsv-KgDsxNUcpA9E3l_CKvC_-L5_va7gtXIEvFIrZPv02LaFd-mVj9t61ktO7DWZeSEXu27NXMw1Q3ADM/s200/kiyai+yusuf+makasar.jpg" width="133" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Muhammad Yusuf lahir di Gowa Sulawesi Selatan pada 13 Juli 1627. Ayahnya bernama Abdullah, sementara ibunya adalah seorang wanita keluarga Kerajaan Gowa Sultan Ala’uddin yang bernama Aminah. Nama Muhammad Yusuf diberikan oleh Sultan Ala’uddin sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kesultanan Gowa adalah salah satu kerajaan Islam yang terdapat di daerah Sulawesi Selatan. Rakyat dari kerajaan ini berasal dari Suku Makassar yang berdiam di ujung selatan dan pesisir barat Sulawesi. Kerajaan ini terletak di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Kabupaten Gowa dan beberapa kabupaten di sekitarnya termasuk Kotamadya Makassar.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Muhammad Yusuf dididik menurut tradisi Islam, diajari bahasa Arab, fikih, tauhid dan ilmu-ilmu &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;keagamaan lainnya sejak dini. Sebagai seorang putera keluarga bangsawan, Muhammad Yusuf berkesempatan mengenyam pendidikan yang sangat bagus dengan belajar kepada ulama-ulama ternama pada zamannya, termasuk berkesempatan menimba ilmu di pusat-pusat pendidikan ternama pada zamannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Karena salah satu pusat pendidikan keagamaan yang bagus berada di Cikoang, sebagai seorang putera keluarga bangsawan maka Muhammad Yusuf pun berkesempatan belajar ke sana. Cikoang pada saat itu merupakan perkampungan para guru-guru agama. Mereka adalah keluarga-keluargasayyid Arab yang diyakini sebagai keturunan (dzurriyat) Rasulullah Muhammad SAW.  Pada usia 15 tahun Muhammad Yusuf belajar di Cikoang pada seorang sufi, ahli tasawuf, mistik, guru agama, dan dai yang berkelana. Beberapa di antara para guru Muhammad Yusuf yang terkenal adalah Syeikh Jalaludin al-Aidit, Sayyid Ba’lawi At-Thahir dan Daeng Ri Tassamang.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Secara geografis, Cikoang saat ini berada termasuk ke dalam wilayah kecamatan Mangarabombang Kabupaten Talakar yang terletak di bagian selatan Provinsi Sulawesi Selatan dengan jarak 60 km dari Kota Metropolitan Makassar. Hingga saat ini, di Cikoang terkenal dengan ritual Maulid Akbar Cikoang atau biasa disebut Maudu’ Lompoa Cikoang (dalam bahasa Makassar) yang merupakan perayaan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dalam perayaan ini digelar berbagai atraksi budaya dengan ritual-ritual keagamaan yang digelar setiap tahun di Bulan Rabiul Awal.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Berdakwah dan Mengembara&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sekembalinya belajar dari Cikoang Muhammad Yusuf menikah dengan seorang putri Sultan Goa. Pada usia 18 tahun kemudian Muhammad Yusuf memulai pengembaraannya dalam menuntut ilmu. Pada tahun 1644, dengan menumpang kapal Melayu, Muhammad Yusuf segera berlayar untuk menunaikan ibadah haji dan memperdalam ilmu-ilmu agama di Timur Tengah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sesuai rute perjalanan kapal Melayu yang singgah di berbagai pelabuhan kerajaan-kerajaan Nusantara waktu itu, Muhammad Yusuf banyak menyinggahi berbagai daerah Nusantara. Salah satu yang kemudian menjadi sangat penting dalam perjalanan hidup dan perjuangan Muhammad Yusuf adalah Banten, sebuah pelabihan dagang yang dikendalikan oleh Kerajaan Islam Banten. Sebagai seorang bangsawan, Muhammad Yusuf bersahabat dengan putra mahkota yang kelak memerintah sebagai Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1683), seorang penguasa terakhir Kesultanan Banten. Selain Banten, Muhammad Yusuf juga sempat singgah di Aceh dalam perjalanan pengembarannya ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dari Aceh, Muhamamad Yusuf kemudian berlayar ke Gujarat, Sebuah kawasan yang menjadi salah satu negara bagian India sejak 1 Mei 1960. Gujarat dikenal sebagai tempat yang asal para wali penyebar agama Islam di Nusantara, termasuk beberapa wali songo yang kemudian bermukin di Jawa.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di Gujarat inilah dikabarkan Muhammad Yusuf sempat bertemu dengan Syeikh Nuruddin Ar-Raniri, salah seorang penasihat Sultonah Shofiyatuddin, raja perempuan Aceh. Syeikh Nuruddin Ar-Raniri adalah negarawan, ahli fikih, teolog, sufi, sejarawan dan sastrawan penting dalam sejarah Melayu pada abad ke-17. Nama aslinya adalah Nuruddin bin Ali bin Hasanji bin Muhammad Hamid Ar-Raniri. Ia lahir di Ranir (Rander), Gujarat, India, dan mengaku memiliki darah suku Quraisy,&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Beberapa pendapat menyatakan bahwa Muhammad Yusuf bertemu dangan Syeikh Nuruddin Ar-Raniri ketika Muhammad Yusuf singgah di Aceh. Hal ini didasarkan pada pendapat yang menyatakan bahwa Syeikh Nuruddin Ar-Raniri meninggal dunia pada 22 Zulhijjah 1069 H./21 September 1658 M. di Aceh. Pada masa-masa sebelum 1658 M. inilah Muhammad Yusuf bertemu dengan Syeikh Nuruddin Ar-Raniri di Aceh. Dari Syeikh Nuruddin Ar-Raniri inilah Muhammad Yusuf belajar dan mendapatkan ijazah Tarekat Qodiriyah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dari Aceh, Muhammad Yusuf kemudian bertolak ke Gujarat, Yaman, Damaskus (Suriyah) hingga akhirnya ke Mekkah dan Madinah. Konon, Muhammad Yusuf sempat berkelana hingga ke Istanbul (Turki) yang disebut dalam tambo-tambo Melayu sebagai “Negeri Rum”. Di Yaman, Muhamamd Yusuf berguru pada Syeikh Abdullah Muhammad bin Abd Al-Baqi,&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di Damaskus Muhammad Yusuf berguru kepada Syeikh Abu Al-Barkah Ayyub&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
bin Ahmad bin Ayyub Al-Khalwati Al-Quraisyi. Konon gurunya inilah yang memberikan laqob (gelar panggilan) kepada Muhammad Yusuf  dengan “Al-Makassari.”  Syeikh Abu Al-Barkah adalah gurunya yang memberikan ijazah Tarekat Khalwatiyah kepadanya. Kelak, setelah Muhammad Yusuf menjadi seorang ursyid, Ijazah Tarekat Khalwatiyah inilah yang kemudian menjadikannya dikenal sebagai Syeikh Yusuf Tajul Khalwati.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Semenjak berada di Haramain (Makkah-Madinah) Muhamamd Yusuf telah dipandang sebagai guru agama oleh orang-orang Melayu-Indonesia yang datang naik haji ke Tanah Suci. Konon Muhammad Yusuf yang telah menjadi guru dan dipanggil sebagai Syeikh Muhammad Yusuf al-Makassari ini sempat menikah dengan salah seorang putri keturunan Imam Syafi’i di Mekkah yang meninggal dunia waktu melahirkan bayi. Sebelum akhirnya pulang kembali ke Nusantara, Syeikh Muhammad Yusuf al-Makassari sempat menikah lagi dengan seorang perempuan asal Sulawesi di Jeddah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Berjuang Melawan Penjajahan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dengan Kedua Isterinya, isteri pertama yang menemaninya selama berkelana dan isteri ketiga yang baru dinikahinya sewaktu di Jeddah, Syeikh Yusuf al-Makassari pun kembali ke Nusantara. Beberapa sumber menyebutkan, Syeikh Yusuf al-Makassari tidak pernah kembali ke Gowa, namun langsung menetap di Banten. Sementara beberapa pendapat menyebutkan, setelah Kesultanan Gowa mengalami kekalahan dalam peperangan melawan Belanda, Syeikh Yusuf al-Makassari kembali berlayar ke Banten, ke tempat sahabatnya semasa remaja yang kini telah menjadi seorang raja bergelar Sultan Ageng Tirtayasa.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di Banten, Sekitar tahun 1670 Syeikh Yusuf al-Makassari diangkat menjadi mufti (penesehat spiritual) dengan murid dari berbagai daerah, termasuk 400 orang asal Makassar yang dipimpin oleh Ali Karaeng Bisai. Syeikh Yusuf al-Makassari tinggal kemudian menikah lagi dengan Putri Sultan Ageng Tirtayasa.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kedalaman ilmu yang dimiliki Syeikh Yusuf menjadikan Beliau begitu cepat terkenal dan menjadikan Banten sebagai Pusat pendidikan Islam. Banyak Murid murid yang berdatangan dari berbagai penjuru negeri untuk belajar kepada Syeikh Yusuf al-Makassari. Disamping mengajarkan tentang ilmu-ilmu syariat beliau juga mengajarkan ilmu beladiri untuk berjuang bersama melawan penjajah Belanda. Sehingga banyak di antara para pendekar di kesultanan Banten adalah murid Syeikh Yusuf al-Makassari.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Murid -murid Syeikh yusuf Al makassari terkenal sebagai pendekar pendekar Banten yang kebal terhadap Senjata membuat Pasukan Belanda kalang kabut. Syeikh Yusuf al-Makassari memiliki pengaruhnya yang sangat besar terhadap rakyat Banten untuk melawan Penjajah Belanda. Syeikh Yusuf al-Makassari memiliki peran sangat penting dalam penyerbuan Banten ke Batavia. Ketika Belanda berhasil memecah belah serta mengadu domba terhadap keluarga Sultan, maka Banten terpaksa direpotkan oleh pemberontakan dari dalam keluarga kerajaan sendiri. Sultan Ageng Tirtayasa pun terpaksa berperang melawan puteranya sendiri yang bernama Sultan Haji dengan dukungan militer Belanda. Syeikh Yusuf al-Makassari beserta 4.000 tentara Makassar dan Bugis memihak Sultan Ageng Tirtayasa.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ketika pasukan Sultan Ageng dikalahkan Belanda tahun 1682, Syeikh Yusuf  al-Makassari pun turut terlibat dalam perang gerilya. Syeikh Yusuf  al-Makassari terus memimpin pasukannya bersama Pangeran Purabaya mengobarkan perang gerilya. Pasukan yang dipimpinnya bergerilya hingga ke Karang dekat Tasikmalaya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Namun pada tahun ini juga Syeikh Yusuf  al-Makassari dapat ditangkap oleh Belanda. Awalnya, Syeikh Yusuf  al-Makassari ditahan di Cirebon kemudian dipindahkan ke Batavia (Jakarta). Karena pengaruhnya yang begitu besar dianggap membahayakan kompeni Belanda. Syeikh Yusuf  al-Makassari dan keluarga kemudian diasingkan ke Sri Lanka.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada bulan September 1684, Syeikh Yusuf  al-Makassari bersama dua istrinya, beberapa anak, 12 murid, dan sejumlah perempuan pembantu dibuang ke pulau Ceylon, kini Sri Lanka. Sementara Sultan Ageng Tirtayasa sendiri berhasil ditangkap dan dikurung di Batavia hingga meninggal sebagai tawanan Belanda pada tahun 1692 M.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Karena telah berada dalam pengasingan Belanda, maka sejak di Sri Lanka inilah secara praktis, Syeikh Yusuf  al-Makassari tidak lagi dapat menjalani dan memimpin perjuangan fisik. Maka Syeikh Yusuf  al-Makassari pun mulai mencurahkan seluruh hidupnya untuk diabdikan dalam penyebaran dan pengembangan agama Islam. Syeikh Yusuf  al-Makassari kemudian menulis karya-karya keagamaan dalam bahasa Arab, Melayu, dan Bugis.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di pengasingannya di Sri Lanka, Syeikh Yusuf  al-Makassari bertemu dengan ulama Sri langka bernama Syeikh Ibrahim bin Mi’an dan sering mengadakan diskusi kegamaan dan majlis ta’lim. Pembahasan tentang konsep Tasawuf yang diajarkan oleh Syeikh Yusuf  al-Makassari sangat menarik minta para ulama serta jama’ah setempat dan mereka meminta kepada Syeikh Yusuf  al-Makassari untuk membuat sebuah kitab tentang tasawuf. Syeikh Yusuf  al-Makassari  akhirnya mengarang Kitab tentang konsep tawasuf yang berjudul “Kaifiyatut Tasawwuf.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dari pengasingannya, Syeikh Yusuf  al-Makassari aktif menyusun sebuah jaringan Islam yang luas di kalangan para haji yang singgah di Sri Lanka, di kalangan para penguasa, dan raja-raja di Nusantara. Melalui jamaah haji yang singgah ke Sri Lanka, Syeikh Yusuf masih dapat berkomunikasi dengan para pengikutnya di Nusantara. Para kafilah haji inilah yang membawa karya-karya Syeikh Yusuf  al-Makassari ke Nusantara sehingga dapat dibaca di Indonesia sampai sekarang. Di Sri Lanka, Syeikh Yusuf  al-Makassari tetap aktif menyebarkan agama Islam, sehingga memiliki murid ratusan, yang umumnya berasal dari India Selatan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dakwah Tiada Henti&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mengingat aktivitas dakwah Syeikh Yusuf al-Makassari yang terus meningkat dan dinilai membahayakan stabilitas politik penjajahan Belanda, maka VOC lalu mengambil keputusan memindahkan Syeikh Yusuf al-Makassari ke Kaapstad di Afrika Selatan. Belanda khawatir dampak dakwah agama Syeikh Yusuf al-Makassari akan berpengaruh buruk bagi dan politik Belanda di Nusantara. Murid-murid Syeikh Yusuf al-Makassari terus mengobarkan perlawanan-perlawanan yang mengancam kekuasaan Belanda di Nusantara.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam usia 68 tahun, Syeikh Yusuf al-Makassari beserta rombongan pengikutnya terdiri dari 49 orang tiba di Tanjung Harapan tanggal 2 April 1694 dengan menumpang kapal Voetboog. Syeikh Yusuf al-Makassari di tempatkan di Zandvliet, desa pertanian di muara Eerste Rivier, dengan tujuan supaya tidak bisa berhubungan dengan orang-orang Indonesia yang telah datang lebih dahulu. Syeikh Yusuf al-Makassari membangun pemukiman di Cape Town yang sekarang dikenal sebagai Macassar.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bersama ke-12 pengikutnya yang dinamakan imam-imam, Syeikh Yusuf al-Makassari memusatkan kegiatan pada menyebarkan agama Islam di kalangan budak belian dan orang buangan politik, termasuk di kalangan orang-orang Afrika kulit hitam yang telah dibebaskan dan disebut Vryezwarten.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Syeikh Yusuf al-Makassari terus berjuang menyebarkan syiar Islam, memelihara dan mempertahankan agama Islam di Afrika Selatan. Syeikh Yusuf al-Makassari kemudian hidup sebagai sufi yang mengajarkan tarekat Qadiriyyah, Shattariyyah, dan Rifaiyyah di kalangan Muslim Afrika Selatan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Karomah dan Kewalian&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sebagai seorang mursyid tarekat, Syeikh Yusuf al-Makassari dikisahkan memiliki berbagai karomah dan kewalian. Salah satu yang sangat terkenal adalah mengislamkan kapten kapal yang membawanya ke pengasingan terakhir menuju Afrika Selatan. Menurut cerita, dalam pelayaran yang membawanya menuju Kapstaad, atas kapal Voetboog yang ditumpanginya beserta rombongan dihantam oleh badai besar yang membuat nakhoda berkebangsaan Belanda, Van Beuren, ketakutan karena mengira kapalnya akan tenggelam. Namun berkat wibawa dan karisma Syeikh Yusuf al-Makassari kapten beserta nahkoda kapal dapat tetap tenang dan mengendalikan kapal dengan selamat sampai di Kaapstad. Akibat pengalaman tersebut, sang kapten memeluk agama Islam dan turut tinggal di pengasingan bersama Syeikh Yusuf al-Makassari. Sampai sekarang keturunan kapten kapal ini tetap memeluk Islam Muslim masih bermukim di Afrika Selatan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di Afrika Selatan, Syeikh Yusuf al-Makassari tetap berdakwah, dan memiliki banyak pengikut. Ketika ia wafat pada tanggal 23 Mei 1699 M. para pengikut Syeikh Yusuf al-Makassari menjadikan hari wafatnya sebagai hari peringatan. Syeikh Yusuf al-Makassari dimakamkan di Faure, Cape Town. Makamnya terkenal sebagai Karamah yang berarti keajaiban  atau mukjizat. Bahkan, Nelson Mandela, mantan Presiden Afrika Selatan, menyebut Syeikh Yusuf al-Makassari yang juga salah seorang pahlawan nasional Indonesia ini sebagai 'Salah Seorang Putra Afrika Terbaik'.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sultan Gowa meminta kepada VOC supaya jenazah Syeikh Yusuf al-Makassari dibawa kembali ke Tanah Airnya. Permintaan ini dikabulkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda, sehingga jasad Syeikh Yusuf al-Makassari pun diboyong kembali ke Nusantara. Jasad Syeikh Yusuf al-Makassari tiba di Goa pada tanggal 5 April 1705 dan dimakamkan kembali di Lakiung (sebuah wilayah di kerajaan Gowa) pada hari Selasa tanggal 6 April 1705 M./12 Zulhidjah 1116 H.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Seperti makamnya di Faure, makamnya di Lakiung juga banyak diziarahi masyarakat. (Syaifullah Amin)&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjbrE_HC2BPgN4ue36gVAR8pVj4pJtROyVAQtFhyphenhyphenQX-iuH1vBZP7SpEXzVT-l9Bsv-KgDsxNUcpA9E3l_CKvC_-L5_va7gtXIEvFIrZPv02LaFd-mVj9t61ktO7DWZeSEXu27NXMw1Q3ADM/s72-c/kiyai+yusuf+makasar.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>KH Raden Asnawi</title><link>http://muridwali.blogspot.com/2012/05/kh-raden-asnawi-berjalan-kaki-18-km-ke.html</link><category>Tokoh</category><author>noreply@blogger.com (murid wali)</author><pubDate>Thu, 31 May 2012 07:56:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-941542624142067641.post-170849304029655546</guid><description>&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="color: blue; font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif; font-size: x-large;"&gt;&lt;b&gt;Berjalan Kaki 18 Km. Ke Gunung Muria untuk Mengajar&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjwWUwlr-Rn-w6rxnDiXokdB8jlqVx44lZSu6nKZ7XiZi07pKhQFeohDXokd32anDyiLcc-i1rEFqFfhJ_WCGU5cEiwlwPrl7BQ47QE2IiW1juPOlLhRdUG2xzZ1hiiCIm8-hKjLNrxDe1q/s1600/RD+Asnawi.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjwWUwlr-Rn-w6rxnDiXokdB8jlqVx44lZSu6nKZ7XiZi07pKhQFeohDXokd32anDyiLcc-i1rEFqFfhJ_WCGU5cEiwlwPrl7BQ47QE2IiW1juPOlLhRdUG2xzZ1hiiCIm8-hKjLNrxDe1q/s200/RD+Asnawi.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Kudus adalah daerah yang terkenal dengan nama kota Kretek dan kota Santri dalam wilayah propinsi Jawa Tengah. Kota ini dibangun oleh Sunan Kudus (Sayyid Ja’far Shodiq) dengan rentetan historisitas yang berpusat pada kerajaan Islam pertama di Jawa (Demak). Hal ini ditengarai dari inskripsi batu nisan yang ada di atas mihrab Masjid al-Aqsha Menara Kudus.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Di belakang Masjid al-Aqsa Menara Kudus inilah, di Komplek Makam Sunan Kudus, hampir selalu ada saja yang mengaji. Baik yang dengan tujuan untuk berziarah, maupun santri yang niat tabarrukan agar diberi kemudahan dalam berbagai urusan. Di antara deretan nisan di komplek makam tersebut, terdapat makam KH Raden Asnawi. Salah seorang ulama keturunan ke-14 Sunan Kudus (Raden Ja’far Shodiq) dan keturunan ke-5 KH Mutamakkin Kajen, Margoyoso, Pati.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kelahiran Pada hari Jum’at Pon, kisaran tahun 1861 M (1281 H) di daerah Damaran lahir seorang bayi yang diberi nama Raden Ahmad Syamsyi. Putra dari pasangan H. Abdullah Husnin dan Raden Sarbinah ini lahir di sebuah rumah milik Mbah Sulangsih. Tempat tinggal Mbah Sulang begitu ia akrab disapa menjadi ramai didatangi oleh sanak saudara dan tetangga sekitar lantaran kelahiran anak pembarep. Sudah menjadi tradisi masyarakat Kudus, setiap ada babaran (melahirkan bayi), tetangga ikut merasakan bahagia dengan menjenguk ibu dan anak yang dilahirkan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
H. Abdullah Husnin terkenal seorang pedagang konfeksi yang tergolong besar. Memang sudah menjadi hal yang lumrah, rata-rata penduduk di desa ini mempunyai penggautan (kerja) di bidang konfeksi. Potensi ekonomi masyarakatnya mengandalkan kreatifitas memproduksi kain menjadi pakain, kerudung, rukuh, dan lain sebagainya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sejak kecil, Ahmad Syamsyi diasuh oleh kedua orang tuanya, dikenalkan pada pelajaran agama dan tata cara bermasyarakat menurut ajaran-ajaran Islam. Selain itu, Ahmad Syamsyi juga diajarkan berdagang sejak dini. Kemudian semenjak usia 15 tahun, pada kisaran tahun 1876 M. orang tuanya memboyong ke Tulungagung Jawa Timur. Di sana H Abdullah Husnin mengajari anaknya berdagang pagi hingga siang.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Keinginannya mencetak putra sholih mengantarkan Husnin untuk mengikutsertakan Syamsi mengaji di Pondok Pesantren Mangunsari Tulungagung. Waktu mengaji adalah sepulang dari berdagang mulai sore hingga malam. Tidak diketahui apa kitab yang ditekuni kala itu. Selain mengaji di Tulungagung, Ahmad Syamsi kemudian melanjutkan mengaji kepada KH. Irsyad Naib Mayong, Jepara.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pergantian Nama dan Mengajar AgamaSewaktu umur 25 tahun, kira-kira pada tahun 1886 M. Ahmad Syamsi menunaikan ibadah haji yang pertama dan sepulangnya dari ibadah haji ini, KHR. Asnawi mulai mangajar dan melakukan tabligh agama.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kira-kira umur 30 tahun KHR. Asnawi diajak oleh ayahnya untuk pergi haji yang kedua dengan niat untuk bermukim di tanah suci. Di saat-saat melakukan ibadah haji, ayahnya pulang ke rahmatullah, meskipun demikian, niat bermukim tetap diteruskan selama 20 tahun. Selama itu KHR. Asnawi juga pernah pulang ke Kudus beberapa kali untuk menjenguk ibunya yang masih hidup beserta adik yang bernama H. Dimyati yang menetap di Kudus hingga wafat. Ibunya wafat di Kudus sewaktu KHR. Asnawi telah kembali ke tanah suci untuk meneruskan cita-citanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sepulangnya dari haji pertamanya, nama Raden Ahmad Syamsi diganti dengan Raden Haji Ilyas. Pergantian nama sepulang dari tanah suci sudah menjadi hal yang wajar, namun nama Ilyas juga tidak menjadi nama hingga wafatnya. Nama Ilyas ini kemudian diganti lagi dengan Raden Haji Asnawi, setelah pulang dari menunaikan ibadah haji untuk ketiga kalinya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Selanjutnya nama Asnawi ini yang menjadi terkenal dalam pengembanagan Ahlussunnah Waljama’ah di daerah Kudus dan sekitarnya. Dari sinilah kharismanya muncul dan masyarakat memanggilnya dengan sebutan Kiai. Sehingga nama harum yang dikenal masyarakat luas menyebut dengan Kiai Haji Raden Asnawi (KHR. Asnawi).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sebagaimana lazimnya, sebutan Kiai ini tidaklah muncul begitu saja, atau dedeklarasikan dalam sebuah peristiwa, namun ia diperoleh melalui pengakuan masyarakat yang diajarkan agama secara berkesinambungan sejak KHR. Asnawi berumur 25 tahun. Pada setiap Jumu’ah Pahing, sesudah shalat Jumu’ah, KHR. Asnawi mengajar Tauhid di Masjid Muria (Masjid Sunan Muria) yang berjarak + 18 Km dari kota Kudus, dan jalan pegunungan yang menanjak ini ditempuhnya dengan berjalan kaki. KHR. Asnawi juga selalu berkeliling mengajar dari masjid ke masjid sekitar kota saat shalat Shubuh.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Secara khusus KHR. Asnawi juga mengadakan pengajian rutin, seperti Khataman TafsirJalalain dalam bulan Ramadlan di pondok pesantren Bendan Kudus. Khataman kitab Bidayatul Hidayah dan al-Hikam dalam bulan Ramadlan di Tajuk Makam Sunan Kudus. Membaca kitab Hadist Bukhari yang dilakukan setiap jamaah fajar dan setiap sesudah jama’ah shubuh selama bulan Ramadhan bertempat di Masjid al-Aqsha Kauman Menara Kudus, sampai KHR. Asnawi wafat, kitab ini belum khatam, makanya diteruskan oleh al-Hafidh KHM. Arwani Amin sampai khatam.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kegiatan tabligh KHR. Asnawi untuk menyebarkan akidah Ahlusunnah wal Jamaah tidaklah terbatas daerah Kabupaten Kudus saja, melainkan juga menjangkau ke daerah lain seperti Demak, Jepara, Tegal, Pekalongan, Semarang, Gresik, Cepu, dan Blora.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di antara ilmu yang diutamakan oleh KHR. Asnawi adalah Tauhid dan Fiqih. Karenanya, bagi masyarakat Kudus dan sekitarnya, KHR. Asnawi hingga kini masih selalu diingat melalui karya populernya yang kini dikenal dengan “Shalawat Asnawiyyah.”  Selain itu karya Asnawi seperti Soal Jawab Mu’taqad Seket, Fasholatan Kyai Asnawi (yang disusun oleh KH. Minan Zuhri), Syi'ir Nasihat, Du’aul ‘Arusa’in, Sholawat Asnawiyyah dan syi’iran lainnya juga tetap diajarkan di pengajian-pengajian pesantren dan masjid-masjid hingga saat ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mukim di Tanah SuciDi Makkah, KHR. Asnawi tinggal di rumah Syeikh Hamid Manan (Kudus). Namun setelah menikahi Nyai Hj. Hamdanah (janda Almaghfurlah Syeikh Nawawi al-Bantani), KHR. Asnawi pindah ke kampung Syami’ah. Dalam perkawinannya dengan Nyai Hj. Hamdanah ini, KHR. Asnawi dikaruniai 9 putera. Namun hanya 3 puteranya yang hidup hingga tua. Yaitu H. Zuhri, Hj. Azizah (istri KH. Shaleh Tayu) dan Alawiyah (istri R. Maskub Kudus).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Selama bermukim di Tanah Suci, di samping menunaikan kewajiban sebagai kepala rumah tangga, KHR. Asnawi masih mengambil kesempatan untuk memperdalam ilmu agama dengan para ulama besar, baik dari Indonesia (Jawa) maupun Arab, baik di Masjidil Haram maupun di rumah. Para Kyai Indonesia yang pernah menjadi gurunya adalah KH. Saleh Darat (Semarang), KH. Mahfudz (Termas), KH. Nawawi (Banten) dan Sayid Umar Shatha.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Selain itu, KHR. Asnawi juga pernah mengajar di Masjidil Haram dan di rumahnya, di antara yang ikut belajar padanya, antara lain adalah KH. Abdul Wahab Hasbullah (Jombang), KH. Bisyri Sansuri (Pati/Jombang), KH. Dahlan (Pekalongan), KH. Shaleh (Tayu pati), KH. Chambali Kudus, KH. Mufid Kudus dan KHA. Mukhit (Sidoarjo). Di samping belajar dan mengajar agama Islam, KHR. Asnawi turut aktif mengurusi kewajibannya sebagai seorang Komisaris SI (Syariat Islam) di Mekah bersama dengan kawan-kawannya yang lain.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada waktu bermukim ini, KHR. Asnawi pernah mengadakan tukar pikiran dengan salah seorang ulama besar, Mufti Mekah bernama Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau tentang beberapa masalah keagamaan. Pembahasan ini dilakukan secara tertulis dari awal masalah hingga akhir, meskipun tidak memperoleh kesepakatan pendapat antara keduanya. Karena itu KHR. Asnawi bermaksud ingin memperoleh fatwa dari seorang Mufti di Mesir, maka semua catatan baik dari tulisan KHR. Asnawi dan Syeikh Ahmad Khatib tersebut dikirim ke alamat Sayid Husain Bek seorang Mufti di Mesir, akan tetapi Mufti Mesir itu tidak sanggup memberi fatwanya. (sayang, catatan-catatan itu ketinggalan di Mekah bersama kitab-kitabnya dan sayang keluarga KHR. Asnawi lupa masalah apa yang dibahas, meskipun sudah diberitahu).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Melihat tulisan dan jawaban KHR. Asnawi terhadap tulisan Syeikh Ahmad Khatib itu, tertariklah hati Sayid Husain Bek untuk berkenalan dengan KHR. Asnawi. Karena belum kenal, maka Mufti Mesir itu meminta bantuan Syeikh Hamid Manan untuk diperkenalkan dengan KHR. Asnawi Kudus. Akhirnya disepakati waktu perjumpaan yaitu sesudah shalat Jum’ah. Oleh Syeikh Hamid Manan maksud ini diberitahukan kepada KHR. Asnawi dan diatur agar KHR. Asnawi nanti yang melayani mengeluarkan jamuan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sesudah shalat Jum’ah datanglah Sayyid Husain Bek ke rumah Syeikh Hamid Manan dan KHR. Asnawi sendiri yang melayani mengeluarkan minuman. Sesudah bercakap-cakap, bertanyalah tamu itu: “Fin, Asnawi?” (Dimana Asnawi?), “Asnawi? Hadza Huwa” (Asnawi ? Inilah dia) sambil menunjuk KHR. Asnawi yang sedang duduk di pojok, sambil mendengarkan percakapan tamu dengan tuan rumah. Setelah ditunjukkan, Mufti segera berdiri dan mendekat KHR. Asnawi, seraya membuka kopiah dan diciumlah kepala KHR. Asnawi sambil berkenalan. Kata Mufti Sayyid Husain Bek kepada Syeikh Hamid Manan: "Sungguh saya telah salah sangka, setelah berkenalan dengan Asnawi. Saya mengira tidaklah demikian, melihat jasmaniahnya yang kecil dan rapih".&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Madrasah, Masjid Menara dan PenjaraSaat menjenguk kampung halamannya, bersama kawan-kawannya KHR. Asnawi mendirikan Madrasah Madrasah Qudsiyyah (1916 M). Dan tidak berselang lama, KHR. Asnawi juga memelopori pembangunan Masjid Menara secara gotong royong. Malam hari para santri bersama-sama mengambil batu dan pasir dari Kaligelis untuk dikerjakan pada siang harinya. Di tengah-tengah melaksanakan pembangunan itulah, terjadi huru-hara pada tahun 1918 H. Di mana KHR. Asnawi dan kawan-kawannya terpaksa menghadapi tantangan kaki tangan kaum penjajah Belanda yang menghina Islam.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di tengah-tengah umat Islam bergotong royong membangun Masjid Menara siang malam, orang-orang Cina malah mengadakan pawai yang akan melewati depan Masjid Menara. Para Ulama dan pemimpin-pemimpin Islam pun mengirim surat kepada pemimpin Cina, agar tidak menjalankan pawai lewat depan masjid Menara, karena banyak umat Islam yang melakukan pengambilan batu dan pasir pada malam hari.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Permintaan itu tidak digubris. Pawai tetap digelar. Ironisnya, dalam rentetan pawai itu, juga menampilkan adegan yang sangat menghina umat Islam. Di mana ada dua orang Cina yang memakai pakaian haji dengan merangkul seorang wanita yang berpakaian seperti wanita nakal. Orang awam menyebutnya Cengge. Pawai Cina yang datang dari depan masjid Manara menuju selatan, itu pun berpapasan dengan santri-santri yang sedang bergotongroyong mengambil pasir dan batu dengan grobak dorong (songkro). Kedua pihak tidak ada yang mengalah. Hingga terjadi pemukulan terhadap seorang santri oleh orang Cina.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pemukulan terhadap salah seorang santri ditambah adanya Cengge itulah, insiden Cina-Islam di Kudus yang dikenal dengan huru hara Cina, terjadi. Ejekan dan hinaan dari orang-orang Cina terus saja terjadi. Hingga orang-orang Islam terpaksa mengadakan perlawanan. Para Ulama memandang beralasan untuk mengadakan pembelaan, namun tidak sampai pada pembunuhan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ironisnya, dalam insiden tersebut, ada pihak ketiga yang mengambil kesempatan untuk mengambil barang-barang orang Cina. Dan tanpa sengaja, menyentuh lampu gas pom yang menimbulkan kebakaran beberapa rumah, baik milik orang Cina maupun orang Jawa.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kejadian inilah yang berbuntut penangkapan terhadap KH. Asnawi dan rekannya KH. Ahmad Kamal Damaran, KH. Nurhadi dan KH. Mufid Sunggingan dan lain-lain, dengan dalih telah mengadakan pengrusakan dan perampasan oleh pemerintah penjajah. Mereka pun akhirnya dimasukkan ke dalam penjara dengan masa hukuman 3 tahun.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tidak sekali saja KHR. Asnawi di penjara. Pada zaman penjajahan Belanda, KHR. Asnawi  sering dikenakan hukuman denda karena pidatonya tentang Islam serta menyisipkan ruh nasionalisme dalam pidatonya. Pun pada masa pendudukan Jepang. KHR. Asnawi pernah dituduh menyimpan senjata api, sehingga rumah dan pondok KHR. Asnawi dikepung oleh tentara Dai Nippon. KHR. Asnawi pun dibawa ke markas Kempetai di Pati.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Meski sering menghadapi ancaman hukuman, namun KHR. Asnawi tidak pernah berhenti berdakwah, amar ma'ruf nahi munkar. Bahkan di dalam penjara sekalipun, KHR. Asnawi tetap melakukan amar ma'ruf nahi munkar. KHR. Asnawi tetap membuka pengajian di penjara. Banyak kemudian di antara para penjahat kriminal yang dipenjara bersamanya, kemudian menjadi murid KHR. Asnawi.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada masa-masa revolusi kemerdekaan terutama menjelang agresi militer Belanda ke-1, KHR. Asnawi mengadakan gerakan ruhani dengan membaca sholawat Nariyah dan do’a surat Al-Fiil. Tidak sedikit pemuda-pemuda yang tergabung dalam laskar-laskar bersenjata berdatangan meminta bekal ruhaniyah sebelum berangkat ke medan pertempuran melawan penjajah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Larangan Berdasi dan Prinsip PerjuanganDalam memperjuangkan Islam, KHR. Asnawi memiliki pendirian yang teguh. Prinsip-prinsip hidupnya sangat keras dan watak perjuangnnya terkenal galak, sebab kala itu bangsa Indonesia sedang dirundung nestapa penjajahan kaum kafir. Keyakinan inilah yang dipeganginya sangat kokoh sekali. Bagi KHR. Asnawi, segala hal yang dilaksanakan oleh Belanda tidak boleh ditiru. Bahkan tidak segan-segan KHR. Asnawi memfatwakan hukum agama dengan sangat tegas, anti-kolonialisme, seperti mengharamkan segala macam bentuk tasyabbuh (menyerupai) perilaku para penjajah dan antek-anteknya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Salah satu diantara fatwanya yang keras ini adalah larangan untuk memakai berdasi dan menghidupkan radio, termasuk menyerupai gaya jalan orang-orang kafir (Belanda dan China). Fatwa larangan berdasinya ini sangat terkenal, hingga suatu ketika KH Saifuddin Zuhri melepaskan dasi dan sepatunya ketika mengunjungi KHR. Asnawi. KH Saifuddin Zuhri kala itu sedang menjabat Menteri Agama, namun demi menghormati KHR. Asnawi, ia bertamu hanya dengan memakai sandal tanpa dasi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kemauan keras KHR. Asnawi agar Islam tetap eksis tanpa campur tangan penjajah kafir sudah menjadi pertaruhan jiwa dan raganya. KHR. Asnawi memadukan pola keulamaan dan gerakan taushiyah dengan pesan melaksanakan jihad atas pemberontakan bangsa kafir.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada kisaran tahun 1927 M. KHR. Asnawi membangun pondok pesantren di Desa Bendan Kerjasan Kudus, di atas tanah wakaf dari KH. Abdullah Faqih (Langgar Dalem) dan dukungan dari para dermawan dan umat Islam. Pada tahun ini pula, Charles Olke Van Der Plas (1891-1977), seorang pegawai sipil di Hindia Belanda, pernah datang ke rumah KHR. Asnawi untuk meminta kesediaannya memangku jabatan penghulu di Kudus. Secara tegas KHR. Asnawi menolak penawaran tersebut.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam pandangan KHR. Asnawi, jika dirinya diangkat sebagai penghulu, maka tidak akan lagi dapat bebas melakukan amar ma’ruf nahi mungkar terhadap para pejabat. Beda halnya jika tetap menjadi orang partikelir, ia dapat berdakwah tanpa harus menanggung rasa segan (ewuh pakewuh).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada tahun 1924 M. KHR. Asnawi ditemui oleh KH Abdul Wahab Chasbullah Jombang untuk bermusyawarah guna membentengi pertahanan akidah Ahlussunah wal Jamaah dan menyetujui gagasan tamu yang pernah belajar kepadanya ini. Selanjutnya, bersama-sama dengan para Ulama yang hadir di Surabaya pada tanggal 16 Rajab 1344 H./31 Januari 1926 M. KHR. Asnawi turut membidani lahirnya jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Semasa hidupnya, KHR. Asnawi KH. Raden Asnawi telah berjasa besar bagi Islam dan bangsa Indonesia melalui keterlibatannya dalam organisasi pergerakan kemerdekaan. Selain itu, KHR. Asnawi juga menjalin hubungan dengan tokoh-tokoh pergerakan nasional dari berbagai kalangan, seperti Semaun, H Agus Salim dan HOS. Cokroaminoto.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Syahadatain TerakhirKHR. Asnawi berpulang ke rahmatullah pada Sabtu Kliwon, 25 Jumadil Akhir 1378 H. bertepatan tanggal 26 Desember 1959 M. pukul 03.00 WIB. KHR. Asnawi meninggal dunia dalam usia 98 tahun, dengan meninggalkan 3 orang istri, 5 orang putera, 23 cucu dan 18 cicit (buyut).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kepulangan ulama besar Kudus ke rahmatullah ini tidak terduga. Sebab satu minggu sebelum wafatnya KHR. Asnawi masih masih nampak segar bugar ketika turut bermusyawarah dalam muktamar NU XII di Jakarta.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pukul 02.30 WIB Sabtu itu Asnawi bangun dari tidurnya dan bergegas menuju kamar mandi yang tidak jauh dari kamarnya untuk mengambil air wudlu. Setelah dari kamar mandi Asnawi dengan didampingi istrinya, Nyai Hj. Hamdanah, kembali berbaring di atas tempat tidur. Kondisinya semakin tidak berdaya. Dan dua kalimat syahadat (syahadatain/Asyhadu an laa ilaaha illallah wa Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah) adalah kalimat terakhir yang mengantarkan arwahnya kerahmatullah.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kabar wafatnya KH.R Asnawi disiarkan di Radio Republik Indonesia (RRI) Pusat Jakarta lewat berita pagi pukul 06.00 WIB. Penyiaran itu atas inisiataif Menteri Agama RI KH Wahab Chasbullah yang ditelephon oleh HM. Zainuri Noor. (Disadur dari berbagai sumber oleh Syaifullah Amin)&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjwWUwlr-Rn-w6rxnDiXokdB8jlqVx44lZSu6nKZ7XiZi07pKhQFeohDXokd32anDyiLcc-i1rEFqFfhJ_WCGU5cEiwlwPrl7BQ47QE2IiW1juPOlLhRdUG2xzZ1hiiCIm8-hKjLNrxDe1q/s72-c/RD+Asnawi.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item></channel></rss>