<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2enclosuresfull.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>Blog Bunda</title><link>http://blog-zein.blogspot.com/</link><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/BlogZens" /><description></description><language>en</language><managingEditor>noreply@blogger.com (Blog Bunda)</managingEditor><lastBuildDate>Thu, 14 May 2009 02:40:15 PDT</lastBuildDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/">4</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/">25</openSearch:itemsPerPage><feedburner:info xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" uri="blogzens" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle></itunes:subtitle><item><title>Kekuatan Bunda</title><link>http://blog-zein.blogspot.com/2009/05/kekuatan-bunda.html</link><category>Kutipan Bunda</category><author>noreply@blogger.com (Blog Bunda)</author><pubDate>Thu, 14 May 2009 02:40:15 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4881522633335440424.post-2212175847853270691</guid><description>Seorang anak laki-laki kecil bertanya kepada ibunya "Mengapa engkau menangis?" &lt;br /&gt;"Karena aku seorang wanita", kata sang ibu kepadanya.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tidak mengerti", kata anak itu.       &lt;br /&gt;Ibunya hanya memeluknya dan berkata, "Dan kau tak akan pernah mengerti"  &lt;br /&gt;Kemudian anak laki-laki itu bertanya kepada ayahnya, "Mengapa ibu suka menangis tanpa alasan?"         &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Semua wanita menangis tanpa alasan", hanya itu yang dapat dikatakan oleh ayahnya.&lt;br /&gt;Anak laki-laki kecil itu pun lalu tumbuh menjadi seorang laki-laki dewasa, tetap ingin tahu mengapa wanita menangis.      &lt;br /&gt;Akhirnya ia menghubungi Tuhan, dan ia bertanya, "Tuhan, mengapa wanita begitu mudah menangis?"            &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ketika Aku menciptakan seorang wanita, ia diharuskan untuk menjadi seorang yang istimewa.                  &lt;br /&gt;Aku membuat bahunya cukup kuat untuk menopang dunia; namun, harus cukup lembut untuk memberikan kenyamanan "                 &lt;br /&gt;"Aku memberikannya kekuatan dari dalam untuk mampu melahirkan anak   &lt;br /&gt; dan menerima penolakan yang seringkali datang dari anak-anaknya "  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku memberinya kekerasan untuk membuatnya tetap tegar ketika orang-orang lain menyerah,dan mengasuh keluarganya dengan penderitaan dan kelelahan tanpa mengeluh " &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku memberinya kepekaan untuk mencintai anak-anaknya dalam setiap keadaan,  &lt;br /&gt;bahkan ketika anaknya bersikap sangat menyakiti hatinya "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku memberinya kekuatan untuk mendukung suaminya dalam kegagalannya &lt;br /&gt; dan melengkapi dengan tulang rusuk suaminya untuk melindungi hatinya "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku memberinya kebijaksanaan untuk mengetahui bahwa seorang suami yang baik takkan pernah menyakiti isterinya,tetapi kadang menguji kekuatannya dan ketetapan hatinya untuk berada disisi suaminya tanpa ragu " &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan akhirnya, Aku memberinya air mata untuk diteteskan. &lt;br /&gt;Ini adalah khusus miliknya untuk digunakan kapan pun ia butuhkan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau tahu: &lt;br /&gt;Kecantikan seorang wanita bukanlah dari pakaian yang dikenakannya, sosok yang ia tampilkan, atau bagaimana ia menyisir rambutnya." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kecantikan seorang wanita harus dilihat dari matanya, karena itulah pintu hatinya - tempat dimana cinta itu ada."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='http://res1.blogblog.com/tracker/4881522633335440424-2212175847853270691?l=blog-zein.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-05-14T16:40:15.528+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>"JIHAD IBU"</title><link>http://blog-zein.blogspot.com/2009/05/jihad-ibu_5035.html</link><category>Kutipan Bunda</category><author>noreply@blogger.com (Blog Bunda)</author><pubDate>Thu, 14 May 2009 02:20:55 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4881522633335440424.post-931857729935113148</guid><description>Rasulullah SAW bersabda, ''Setiap jerih payah istri di rumah sama nilainya&lt;br /&gt;dengan jerih payah suami di medan jihad.'' (HR Bukhari dan Muslim). Pada&lt;br /&gt;dasarnya, Islam telah memberikan keistimewaan kepada para istri untuk tetap&lt;br /&gt;berada di rumahnya. Untuk mendapatkan surga-Nya kelak, para istri cukup&lt;br /&gt;berjuang di rumah tangganya dengan ikhlas. Tetesan keringat mereka di dapur&lt;br /&gt;dinilai sama dengan darah mujahid di medan perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi ibu rumah tangga kedengarannya memang sepele dan remeh, hanya&lt;br /&gt;berkecimpung dengan urusan rumah dari A-Z, namun siapa sangka banyak sekali&lt;br /&gt;kebaikan dan hikmah yang dapat diperoleh. Ibulah yang mengambil porsi&lt;br /&gt;terbesar dalam pembentukan pribadi sebuah generasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertumbuhan suatu generasi bangsa pertama kali berada di buaian para ibu. Di&lt;br /&gt;tangan ibu pula pendidikan anak ditanamkan dari usia dini, dan berkat&lt;br /&gt;keuletan dan ketulusan ibu jualah bermunculan generasi-generasi berkualitas&lt;br /&gt;dan bermanfaat bagi bangsa dan agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Islam, ini adalah tugas besar, namun sangat mulia dan akan&lt;br /&gt;dipertanggungjawabkan di akhirat. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW,&lt;br /&gt;''Seorang istri pemimpin di rumah suaminya dan dia bertanggung jawab atas&lt;br /&gt;kepemimpinannya.'' (HR Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, kebanyakan wanita modern saat ini tidak menyukai aktivitas rumah&lt;br /&gt;tangga. Mereka lebih bangga bekerja di luar rumah karena beranggapan tinggal&lt;br /&gt;di rumah identik dengan ketidakmandirian dan ketidakberdayaan ekonomi. Maka,&lt;br /&gt;jadilah peran ibu di rumah dianggap rendah, dan tidak sedikit ibu rumah&lt;br /&gt;tangga yang malu-malu ketika ditanya apa pekerjaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun seorang wanita tidak bekerja setelah lulus sarjana, ilmunya tidak&lt;br /&gt;akan sia-sia, sebab ia akan menjadi ibu sekaligus pendidik bagi&lt;br /&gt;anak-anaknya. Kebiasaan berpikir ilmiah yang ia dapatkan dari proses belajar&lt;br /&gt;di bangku kuliah itulah yang akan membedakannya dalam mendidik anak. Seorang&lt;br /&gt;ibu memang harus cerdas dan berkualitas, sebab kewajiban mengurus anak tidak&lt;br /&gt;sebatas memberi makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia harus mampu merawat dan mendidik anak-anaknya dengan benar, penuh kasih&lt;br /&gt;sayang, kesabaran, menempanya dengan nilai dan norma agama agar sang anak&lt;br /&gt;mampu menghindar dari pengaruh lingkungan dan kemajuan teknologi yang&lt;br /&gt;merusak akal dan akhlaknya. Hal itu hanya dapat dilakukan oleh seorang ibu&lt;br /&gt;yang cerdas.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='http://res1.blogblog.com/tracker/4881522633335440424-931857729935113148?l=blog-zein.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-05-14T16:20:55.383+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Sebuah kisah salah pengertian yg mengakibatkan kehancuran sebuah rumah tangga.</title><link>http://blog-zein.blogspot.com/2009/05/sebuah-kisah-salah-pengertian-yg.html</link><author>noreply@blogger.com (Blog Bunda)</author><pubDate>Wed, 06 May 2009 01:05:28 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4881522633335440424.post-2369434144935365446</guid><description>Tatkala nilai akhir sebuah kehidupan sudah terbuka, Tetapi segalanya sudah terlambat. Membawa nenek utk tinggal bersama menghabiskan masa tuanya bersama kami, malah telah mengkhianati      ikrar cinta yg telah kami buat selama ini,setelah 2 tahun      menikah, saya dan suami setuju menjemput nenek di kampung   utk tinggal bersama.      Sejak kecil suami saya telah kehilangan ayahnya, dia adalah satu-satunya harapan nenek, nenek pula yg membesarkannya dan menyekolahkan dia hingga tamat kuliah.      Saya terus mengangguk tanda setuju, kami segera menyiapkan  sebuah kamar yg menghadap taman untuk nenek,   agar dia dapat berjemur,  menanam bunga dan sebagainya. Suami berdiri didepan kamar yg sangat kaya dgn sinar matahari, tidak sepatah katapun yg terucap tiba-tiba saja dia mengangkat saya dan memutar-mutar      saya seperti adegan dalam film India dan berkata: "Mari, kita jemput nenek di kampung".      Suami berbadan tinggi besar, aku suka sekali menyandarkan kepalaku ke dadanya yg bidang, ada suatu perasaan nyaman dan aman disana. Aku seperti sebuah boneka kecil yg kapan saja bisa diangkat dan dimasukan kedalam kantongnya. Kalau terjadi selisih      paham diantara kami, dia suka tiba-tiba mengangkatku tinggi-tinggi diatas kepalanya dan diputar-putar sampai aku berteriak ketakutan baru diturunkan. Aku sungguh menikmati  saat-saat seperti itu.      Kebiasaan nenek di kampung tidak berubah. Aku suka sekali  menghias rumah dengan bunga segar, sampai akhirnya nenek tidak tahan lagi dan berkata kepada suami:"Istri kamu hidup foya-foya,  buat apa beli bunga? Kan bunga tidak bisa dimakan?" Aku  menjelaskannya kepada nenek: "Ibu, rumah dengan bunga segar membuat rumah terasa lebih nyaman dan suasana hati lebih      gembira". Nenek berlalu sambil mendumel, suamiku berkata sambil  tertawa: "Ibu, ini kebiasaan orang kota , lambat laun ibu akan terbiasa juga. " Nenek tidak protes lagi, tetapi setiap kali melihatku pulang  sambil membawa bunga, dia tidak bisa menahan diri untuk bertanya berapa harga bunga itu,  setiap mendengar jawabanku dia selalu      mencibir sambil  menggeleng-gelengkan kepala.  Setiap membawa pulang barang      belanjaan, dia selalu tanya itu berapa harganya, ini berapa.  Setiap aku jawab, dia selalu berdecak dengan suara keras.      Suamiku memencet hidungku sambil berkata: "Putriku, kan kamu  bisa berbohong. Jangan katakan harga yang sebenarnya.. " Lambat      laun, keharmonisan dalam rumah tanggaku mulai terusik.      Nenek sangat tidak bisa menerima melihat suamiku bangun pagi  menyiapkan sarapan pagi untuk dia sendiri, di mata nenek seorang  anak laki-laki masuk ke dapur adalah hal yang sangat memalukan.      Di meja makan, wajah nenek selalu cemberut dan aku sengaja seperti tidak mengetahuinya. Nenek selalu membuat bunyi-bunyian  dengan alat makan seperti sumpit dan sendok, itulah cara dia protes.      Aku adalah instrukstur tari, seharian terus menari membuat badanku sangat letih, aku tidak ingin membuang waktu istirahatku      dengan bangun pagi apalagi disaat musim dingin. Nenek kadang  juga suka membantuku di dapur, tetapi makin dibantu aku menjadi semakin repot, misalnya:      dia suka menyimpan semua kantong-kantong bekas belanjaan,      dikumpulkan bisa untuk dijual katanya. Jadilah rumahku seperti  tempat pemulungan kantong plastik,  dimana-mana terlihat kantong  plastik besar tempat semua kumpulan kantong plastik.      Kebiasaan nenek mencuci piring bekas makan tidak menggunakan cairan pencuci,  agar supaya dia tidak tersinggung, aku selalu mencucinya sekali lagi pada saat dia sudah tidur. Suatu hari,  nenek mendapati aku sedang mencuci piring malam harinya, dia segera masuk ke kamar sambil membanting pintu dan menangis.      Suamiku jadi serba salah, malam itu kami tidur seperti orang bisu, aku coba bermanja-manja dengan dia, tetapi dia tidak      perduli. Aku menjadi kecewa dan marah."Apa salahku?" Dia melotot sambil berkata: "Kenapa tidak kamu biarkan saja? Apakah memakan  dengan piring itu bisa membuatmu mati?"      Aku dan nenek tidak bertegur sapa untuk waktu yg cukup lama,      suasana menjadi kaku. Suamiku menjadi sangat kikuk, tidak tahu  harus berpihak pada siapa? Nenek tidak lagi membiarkan suamiku  masuk ke dapur, setiap pagi dia selalu bangun lebih pagi dan  menyiapkan sarapan untuknya,  suatu kebahagiaan terpancar di wajahnya jika melihat suamiku makan dengan lahap, dengan sinar mata yang seakan mencemohku sewaktu melihat padaku, seakan  berkata dimana tanggung jawabmu sebagai seorang istri?      Demi menjaga suasana pagi hari agar tidak terganggu, aku selalu membeli makanan diluar pada saat berangkat kerja. Saat tidur,   suami berkata:"Luci, apakah kamu merasa masakan ibu tidak enak dan tidak bersih sehingga kamu tidak pernah makan di rumah?"      sambil memunggungiku dia berkata tanpa menghiraukan air mata yg  mengalir di kedua belah pipiku. Dan dia akhirnya berkata:      "Anggaplah ini sebuah permintaanku, makanlah bersama kami setiap pagi". Aku mengiyakannya dan kembali ke meja makan yg serba canggung itu.  Pagi itu nenek memasak bubur, kami sedang makan dan tiba-tiba ada suatu perasaan yg sangat mual menimpaku, seakan-akan isi  perut mau keluar semua. Aku menahannya sambil berlari ke kamar  mandi, sampai disana aku segera mengeluarkan semua isi perut.      Setelah agak reda, aku melihat suamiku berdiri didepan pintu      kamar mandi dan memandangku dengan sinar mata yg tajam, diluar      sana terdengar suara tangisan nenek dan berkata-kata dengan      bahasa daerahnya. Aku terdiam dan terbengong tanpa      bisa berkata-kata. Sungguh bukan sengaja aku berbuat demikian!      Pertama kali dalam perkawinanku, aku bertengkar hebat dengan      suamiku, nenek melihat kami dengan mata merah dan berjalan      menjauh…… suamiku segera mengejarnya keluar rumah.      Menyambut anggota baru tetapi dibayar dengan nyawa nenek.      Selama 3 hari suamiku tidak pulang ke rumah dan tidak juga      meneleponku. Aku sangat kecewa, semenjak kedatangan nenek di      rumah ini, aku sudah banyak mengalah, mau bagaimana lagi? Entah      kenapa aku selalu merasa mual dan kehilangan nafsu makan      ditambah lagi dengan keadaan rumahku yang kacau, sungguh sangat      menyebalkan. Akhirnya teman sekerjaku berkata:"Luci, sebaiknya      kamu periksa ke dokter". Hasil pemeriksaan menyatakan aku sedang      hamil. Aku baru sadar mengapa aku mual-mual pagi itu. Sebuah      berita gembira yg terselip juga kesedihan. Mengapa suami dan      nenek sebagai orang yg berpengalaman tidak berpikir sampai      sejauh itu?      Di pintu masuk rumah sakit aku melihat suamiku, 3 hari tidak      bertemu dia berubah drastis, muka kusut kurang tidur, aku ingin      segera berlalu tetapi rasa iba membuatku tertegun dan      memanggilnya. Dia melihat ke      arahku tetapi seakan akan tidak mengenaliku lagi, pandangan      matanya penuh dengan kebencian dan itu melukaiku. Aku berkata      pada diriku sendiri, jangan lagi melihatnya dan segera memanggil      taksi. Padahal aku      ingin memberitahunya bahwa kami akan segera memiliki seorang      anak. Dan berharap aku akan diangkatnya tinggi-tinggi dan      diputar-putar sampai aku minta ampun tetapi..... mimpiku tidak      menjadi kenyataan. Didalam taksi air mataku mengalir dengan      deras. Mengapa kesalah pahaman ini berakibat sangat buruk?      Sampai di rumah aku berbaring di ranjang memikirkan peristiwa      tadi, memikirkan sinar matanya yg penuh dengan kebencian, aku      menangis dengan sedihnya. Tengah malam,aku mendengar suara orang      membuka laci, aku menyalakan lampu dan melihat dia dgn wajah      berlinang air mata sedang mengambil uang dan buku tabungannya.      Aku nenatapnya dengan dingin tanpa berkata-kata. Dia seperti      tidak melihatku saja dan segera berlalu. Sepertinya dia sudah      memutuskan utk meninggalkan aku. Sungguh lelaki yg sangat picik,      dalam saat begini dia masih bisa membedakan antara cinta dengan      uang. Aku tersenyum sambil menitikan air mata.      Aku tidak masuk kerja keesokan harinya, aku ingin secepatnya      membereskan masalah ini, aku akan membicarakan semua masalah ini      dan pergi mencarinya di kantornya.Di kantornya aku bertemu      dengan seketarisnya yg melihatku dengan wajah bingung."Ibunya      pak direktur baru saja mengalami kecelakaan lalu lintas dan      sedang berada di rumah sakit. Mulutku terbuka lebar. Aku segera      menuju rumah sakit dan saat menemukannya, nenek sudah meninggal.      Suamiku tidak pernah menatapku, wajahnya kaku. Aku memandang      jasad nenek yg terbujur kaku.. Sambil menangis aku menjerit      dalam hati: "Tuhan, mengapa ini bisa terjadi?"      Sampai selesai upacara pemakaman, suamiku tidak pernah bertegur      sapa denganku, jika memandangku selalu dengan pandangan penuh      dengan kebencian.      Peristiwa kecelakaan itu aku juga tahu dari orang lain, pagi itu      nenek berjalan ke arah terminal, rupanya dia mau kembali ke      kampung. Suamiku mengejar sambil berlari, nenek juga berlari      makin cepat sampai tidak      melihat sebuah bus yg datang ke arahnya dengan kencang. Aku baru      mengerti mengapa pandangan suamiku penuh dengan kebencian. Jika      aku tidak muntah pagi itu, jika kami tidak bertengkar,      jika........ .... dimatanya, akulah penyebab kematian nenek.      Suamiku pindah ke kamar nenek, setiap malam pulang kerja dengan      badan penuh dengan bau asap rokok dan alkohol. Aku merasa      bersalah tetapi juga merasa harga diriku terinjak-injak. Aku      ingin menjelaskan bahwa semua ini bukan salahku dan juga      memberitahunya bahwa kami akan segera mempunyai anak. Tetapi      melihat sinar matanya, aku tidak pernah menjelaskan masalah ini.      Aku rela dipukul atau dimaki-maki olehnya      walaupun ini bukan salahku. Waktu berlalu dengan sangat lambat.      Kami hidup serumah tetapi seperti tidak mengenal satu sama lain.      Dia pulang makin larut malam. Suasana tegang didalam rumah.      Suatu hari, aku berjalan melewati sebuah café, melalui      keremangan lampu dan kisi-kisi jendela, aku melihat suamiku      dengan seorang wanita didalam. Dia sedang menyibak rambut sang      gadis dengan mesra. Aku tertegun dan mengerti apa yg telah      terjadi. Aku masuk kedalam dan berdiri di depan mereka sambil      menatap tajam kearahnya. Aku tidak menangis juga tidak berkata      apapun karena aku juga tidak tahu harus berkata apa. Sang gadis      melihatku dan ke arah suamiku dan segera hendak berlalu. Tetapi      dicegah oleh suamiku dan menatap kembali ke arahku dengan sinar      mata yg tidak kalah tajam dariku. Suara detak jantungku terasa      sangat keras, setiap detak suara seperti suara menuju kematian.      Akhirnya aku mengalah dan berlalu dari hadapan mereka, jika      tidak.. mungkin aku akan jatuh bersama bayiku dihadapan mereka.      Malam itu dia tidak pulang ke rumah. Seakan menjelaskan padaku      apa yang telah terjadi. Sepeninggal nenek, rajutan cinta kasih      kami juga sepertinya telah berakhir. Dia tidak kembali lagi ke      rumah, kadang sewaktu pulang ke rumah, aku mendapati lemari      seperti bekas dibongkar.      Aku tahu dia kembali mengambil barang-barang keperluannya. Aku      tidak ingin menelepon dia walaupun kadang terbersit suatu      keinginan untuk menjelaskan semua ini. Tetapi itu tidak      terjadi..... ...., semua berlalu begitu saja.      Aku mulai hidup seorang diri, pergi check kandungan seorang      diri. Setiap kali melihat sepasang suami istri sedang check      kandungan bersama, hati ini serasa hancur. Teman-teman      menyarankan agar aku membuang saja bayi ini, tetapi aku seperti      orang yg sedang histeris mempertahankan miliknya. Hitung-hitung      sebagai pembuktian kepada nenek bahwa aku tidak bersalah.      "Suatu hari pulang kerja, aku melihat dia duduk didepan ruang      tamu. Ruangan penuh dengan asap rokok dan ada selembar kertas      diatas meja, tidak perlu tanya aku juga tahu surat apa itu. 2      bulan hidup sendiri, aku sudah bisa mengontrol emosi. Sambil      membuka mantel dan topi aku berkata kepadanya: "Tunggu sebentar,      aku akan segera menanda tanganinya". Dia melihatku dengan      pandangan awut-awutan demikian juga aku. Aku berkata pada diri      sendiri, jangan menangis, jangan menangis. Mata ini terasa sakit      sekali tetapi aku terus bertahan agar air mata ini tidak keluar.      Selesai membuka mantel, aku berjalan ke arahnya dan ternyata dia      memperhatikan perutku yg agak membuncit. Sambil duduk di kursi,      aku menanda tangani surat itu dan menyodorkan kepadanya."Luci,      kamu hamil?" Semenjak nenek meninggal, itulah pertama kali dia      berbicara kepadaku. Aku tidak bisa lagi membendung air mataku yg      mengalir keluar dengan derasnya. Aku menjawab: "Iya, tetapi      tidak apa-apa. Kamu sudah boleh pergi". Dia tidak pergi, dalam      keremangan ruangan kami saling berpandangan. Perlahan-lahan dia      membungkukan badannya ke tanganku, air matanya terasa menembus      lengan bajuku. Tetapi di lubuk hatiku, semua sudah berlalu,      banyak hal yg sudah pergi dan tidak bisa diambil kembali.      Entah sudah berapa kali aku mendengar dia mengucapkan kata:      "Maafkan aku, maafkan aku". Aku pernah berpikir untuk      memaafkannya tetapi tidak bisa. Tatapan matanya di cafe itu      tidak akan pernah aku lupakan. Cinta diantara kami telah ada      sebuah luka yg menganga. Semua ini adalah sebuah akibat      kesengajaan darinya.      Berharap dinding es itu akan mencair, tetapi yang telah berlalu      tidak akan pernah kembali. Hanya sewaktu memikirkan bayiku, aku      bisa bertahan untuk terus hidup. Terhadapnya, hatiku dingin      bagaikan es, tidak pernah menyentuh semua makanan pemberian dia,      tidak menerima semua hadiah pemberiannya tidak juga berbicara      lagi dengannya. Sejak menanda tangani surat itu, semua cintaku      padanya sudah berlalu, harapanku telah lenyap tidak berbekas.      Kadang dia mencoba masuk ke kamar untuk tidur bersamaku, aku      segera berlalu ke ruang tamu, dia terpaksa kembali ke kamar      nenek. Malam hari, terdengar suara orang mengerang dari kamar      nenek tetapi aku tidak perduli.. Itu adalah permainan dia dari      dulu. Jika aku tidak perduli padanya, dia akan berpura-pura      sakit sampai aku menghampirinya dan bertanya apa yang sakit. Dia      lalu akan memelukku sambil tertawa terbahak-bahak. Dia      lupa........ , itu adalah dulu, saat cintaku masih membara,      sekarang apa lagi yg aku miliki?      Begitu seterusnya, setiap malam aku mendengar suara orang      mengerang sampai anakku lahir. Hampir setiap hari dia selalu      membeli barang-barang perlengkapan bayi, perlengkapan anak-anak      dan buku-buku bacaan untuk anak-anak. Setumpuk demi setumpuk      sampai kamarnya penuh sesak dengan barang-barang. Aku tahu dia      mencoba menarik simpatiku tetapi aku tidak bergeming. Terpaksa      dia mengurung diri dalam kamar, malam hari dari kamarnya selalu      terdengar suara pencetan keyboard komputer. Mungkin dia lagi      tergila-gila chatting dan berpacaran di dunia maya pikirku.      Bagiku itu bukan lagi suatu masalah.      Suatu malam di musim semi, perutku tiba-tiba terasa sangat sakit      dan aku berteriak dengan suara yg keras. Dia segera berlari      masuk ke kamar, sepertinya dia tidak pernah tidur. Saat inilah      yg ditunggu-tunggu olehnya. Aku digendongnya dan berlari mencari      taksi ke rumah sakit. Sepanjang jalan, dia mengenggam dengan      erat tanganku, menghapus keringat dingin yg mengalir di dahiku.      Sampai di rumah sakit, aku segera      digendongnya menuju ruang bersalin. Di punggungnya yg kurus      kering, aku terbaring dengan hangat dalam dekapannya. Sepanjang      hidupku, siapa lagi yg mencintaiku sedemikian rupa jika bukan dia?      Sampai dipintu ruang bersalin, dia memandangku dengan tatapan      penuh kasih sayang saat aku didorong menuju persalinan, sambil      menahan sakit aku masih sempat tersenyum padanya. Keluar dari      ruang bersalin, dia memandang aku dan anakku dengan wajah penuh      dengan air mata sambil tersenyum bahagia. Aku memegang      tangannya, dia membalas memandangku dengan bahagia, tersenyum      dan menangis lalu terjerambab ke lantai. Aku berteriak histeris      memanggil namanya.      Setelah sadar, dia tersenyum tetapi tidak bisa membuka matanya……      aku pernah berpikir tidak akan lagi meneteskan sebutir air      matapun untuknya, tetapi kenyataannya tidak demikian, aku tidak      pernah merasakan sesakit seperti saat ini. Kata dokter, kanker      hatinya sudah sampai pada stadium mematikan, bisa bertahan      sampai hari ini sudah merupakan sebuah mukjizat. Aku tanya      kapankah kanker itu terdeteksi? 5 bulan yg lalu kata dokter,      bersiap-siaplah menghadapi kemungkinan terburuk. Aku tidak lagi      peduli dengan nasehat perawat, aku segera pulang ke rumah dan ke      kamar nenek lalu menyalakan komputer.      Ternyata selama ini suara orang mengerang adalah benar apa      adanya, aku masih berpikir dia sedang bersandiwara…… Sebuah      surat yg sangat panjang ada di dalam komputer yg ditujukan      kepada anak kami. "Anakku, demi dirimu aku terus bertahan,      sampai aku bisa melihatmu. Itu adalah harapanku.. Aku tahu dalam      hidup ini, kita akan menghadapi semua bentuk kebahagiaan dan      kekecewaan, sungguh bahagia jika aku bisa melaluinya bersamamu      tetapi ayah tidak mempunyai kesempatan untuk itu. Didalam      komputer ini, ayah mencoba memberikan saran dan nasehat terhadap      segala kemungkinan hidup yg akan kamu hadapi. Kamu boleh      mempertimbangkan saran ayah. "Anakku, selesai menulis surat ini,      ayah merasa telah menemanimu hidup selama bertahun-tahun. Ayah      sungguh bahagia.. Cintailah ibumu, dia sungguh menderita, dia      adalah orang yg paling mencintaimu dan adalah orang yg paling      ayah cintai".      Mulai dari kejadian yg mungkin akan terjadi sejak TK , SD , SMP,      SMA sampai kuliah, semua tertulis dengan lengkap didalamnya. Dia      juga menulis sebuah surat untukku. "Kasihku, dapat menikahimu      adalah hal yg paling bahagia aku rasakan dalam hidup ini..      Maafkan salahku, maafkan aku tidak pernah memberitahumu tentang      penyakitku. Aku tidak mau kesehatan bayi kita terganggu oleh      karenanya. Kasihku, jika engkau menangis sewaktu membaca surat      ini, berarti kau telah memaafkan aku. Terima kasih atas cintamu      padaku selama ini. Hadiah-hadiah ini aku tidak punya kesempatan      untuk memberikannya pada anak kita.. Pada bungkusan hadiah      tertulis semua tahun pemberian padanya".      Kembali ke rumah sakit, suamiku masih terbaring lemah. Aku      menggendong anak kami dan membaringkannya diatas dadanya sambil      berkata: "Sayang, bukalah matamu sebentar saja, lihatlah anak      kita. Aku mau dia merasakan kasih sayang dan hangatnya pelukan      ayahnya". Dengan susah payah dia membuka matanya, tersenyum...      ....... anak itu tetap dalam dekapannya, dengan tangannya yg      mungil memegangi tangan ayahnya yg kurus dan lemah. Tidak tahu      aku sudah menjepret berapa kali momen itu dengan kamera di      tangan sambil berurai air mata........ ..........      Teman2 terkasih, aku sharing cerita ini kepada kalian, agar kita      semua bisa menyimak pesan dari cerita ini. Mungkin saat ini air      mata kalian sedang jatuh mengalir atau mata masih sembab sehabis      menangis, ingatlah      pesan dari cerita ini: "Jika ada sesuatu yg mengganjal di hati      diantara kalian yg saling mengasihi, sebaiknya utarakanlah      jangan simpan didalam hati".      Siapa tau apa yg akan terjadi besok? Ada sebuah pertanyaan: Jika      kita tahu besok adalah hari kiamat, apakah kita akan menyesali      semua hal yg telah kita perbuat? atau apa yg telah kita ucapkan?      Sebelum segalanya      menjadi terlambat, pikirlah matang2 semua yg akan kita lakukan      sebelum kita menyesalinya seumur hidup.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='http://res1.blogblog.com/tracker/4881522633335440424-2369434144935365446?l=blog-zein.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-05-06T15:05:28.153+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Memberi yang terbaik untuk Allah</title><link>http://blog-zein.blogspot.com/2009/04/dampa-pengobatannya.html</link><author>noreply@blogger.com (Blog Bunda)</author><pubDate>Wed, 06 May 2009 02:26:26 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4881522633335440424.post-6174631448409841949</guid><description>Taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah) memiliki akar kata yang sama dengan kata ‘Qurban’ atau Kurban. Ya! kurban yang kita kenal dengan cara menyembelih hewan seperti domba, kambing, kerbau, sapi, atau unta.&lt;br /&gt;Kata Taqarrub dan Qurban berasal dari akar kata qaf-ra-ba, yang berarti dekat. Seperti dalam berkurban yang disyariatkan dalam ajaran Islam, bahkan jauh sebelum itu, seperti dalam kisah dua anak nabiyullah Adam As bahwa qurban adalah pola terbaik yang Allah Swt ajarkan kepada manusia untuk dapat mendekatkan diri kepada-Nya. Kisah awal kurban ini selengkapnya akan kami bahas kemudian.&lt;br /&gt;Namun hal yang hendak dipetik dalam kesempatan ini adalah bahwa seperti semangat dalam berkurban adalah memberikan yang terbaik kepada Allah Swt, maka dalam bertaqarrub kepada Allah Swt pun selayaknya manusia memberikan yang terbaik kepada-Nya. Sebab, siapa yang memberikan hal terbaik kepada Allah Swt, maka Allah Swt pun akan memberikan hal terbaik juga kepadanya. Dan itu pasti!&lt;br /&gt;Allah Swt berfirman:&lt;br /&gt;“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna di sisi Allah), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. Ali 'Imran, 3:92)&lt;br /&gt;Seorang pria asal Malang Jawa Timur pada tahun 1994 terbersit untuk berangkat haji. Dialah Muhammad Kasim, bukan nama asli. Meski dia tahu bahwa dirinya bukanlah orang yang berada. Dengan rezeki seadanya, ia hidupi istri dan anak-anaknya dengan cara memborong bangunan. Tahun itu, Kasim baru saja memiliki modal yang cukup. Tapi entah mengapa, Allah mengilhami kerinduan untuk datang ke Baitullah dalam hatinya.&lt;br /&gt;Uang yang biasa ia pakai modal untuk memborong bangunan pun ia setorkan ke bank sebagai Ongkos Naik Haji (ONH). Kasim adalah manusia kesekian yang melakukan hal yang sama seperti jutaan jemaah haji lainnya. Mereka berniat berjumpa dengan Allah Swt tanpa perhitungan keduniawian sama sekali. Mereka mencoba untuk datang menghadap Allah Swt dengan memberikan hal terbaik yang pernah mereka miliki.&lt;br /&gt;Subhanallah! Langkah Kasim menuju rumah-Nya mendapat kemudahan. Ia pun berangkat di tahun yang sama. Sesampainya di sana, ia melakukan ibadah dengan khusyuk dan nikmat. Belum pernah ia merasakan hal seperti itu sebelumnya! Bahkan karena terlalu khusyuk, ia tidak resah meninggalkan keluarganya tanpa bekal, bahkan ia tidak pernah mengingat usahanya yang kini sudah tiada lagi bermodal. Semua uang yang ia miliki, seluruhnya telah ia habiskan untuk datang menghadap Tuhannya. Kenikmatan ibadah itu pun terus berlangsung, dan Kasim larut dalam lautan cinta Tuhannya.&lt;br /&gt;Hingga, saat perpisahan dengan rumah Allah Swt pun tiba. Dalam tawaf wada’ yang ia lakukan, air mata Kasim mengalir deras. Perasaannya hanyut dan hatinya hancur tak kuat meninggalkan rumah tersuci itu. Di depan Multazam , sambil mengangkat tangan seraya berdoa... Dengan air mata yang jatuh menetes di pipi... Suara tersengguk dengan isak tangis itu pun terdengar dari mulutnya:&lt;br /&gt;Ya Allah.... Kini tiba waktu perpisahan diriku dengan rumah-Mu. Berilah aku kesempatan untuk dapat mengunjunginya lagi, bila itu tak terwujud, maka janjikanlah padaku surga sebagai ganti.&lt;br /&gt;Allah...., tak tahu apa yang dapat aku berikan kepada-Mu... Namun sesampainya di rumah, aku akan berikan 1000 hariku di jalan-Mu, dan aku tidak berharap pamrih dari manusia. Aku ingin memberi yang terbaik untuk-Mu, ya Rabbi!&lt;br /&gt;Entah apa yang merasuki benak Kasim? Ia sendiri tidak mengerti mengapa ia berucap sedemikian. Namun ia merasakan sebuah cinta yang terdalam. Begitu membekas dan memberi cahaya dalam hatinya. Kasim mengerti bahwa inilah yang disebut sebagai cinta sejati.&lt;br /&gt;Kasim pun pulang ke tanah air. Sepanjang jalan menuju rumah kediaman, baru muncul kembali di benaknya gambaran istri dan anak-anaknya. Tak lupa setan pun memunculkan kembali kekhawatiran akan usaha yang tidak mungkin lagi berjalan sebab modal yang telah habis. Namun, Kasim masih tetap tenang. Tetap tersenyum sebab ia telah mendapatkan cinta Tuhannya.&lt;br /&gt;Siapa yang memberikan hal terbaik kepada Allah Swt, maka Dia Swt akan membalas dengan hal terbaik yang Dia miliki!&lt;br /&gt;Kasim tiba di rumah. Itu adalah hari pertama nazarnya kepada Allah Swt. Banyak sanak keluarga yang berdatangan, tak lupa juga para tetangga. Semua datang untuk bersilaturrahmi kepada Kasim yang baru pulang dari tanah suci.&lt;br /&gt;Semua bahagia tatkala mendapat oleh-oleh dan hadiah dari Kasim. Tiba giliran seorang tetangga yang datang berjalan dengan kaki kanan terseret. Kasim menatap tajam ke arah kaki tersebut. Setelah tetangga itu duduk mendekat ke arah Kasim, baru ia ketahui bahwa tetanggaya baru saja terkena stroke.&lt;br /&gt;Kasim merasa kasihan. Saat ia tinggalkan kampungnya, tetangga ini masih sehat-sehat saja. Namun kini ia dapati, tetangganya telah terserang stoke dan sulit untuk bergerak.&lt;br /&gt;Entah apa yang menggerakkan tangan Kasim..., tiba-tiba tangan Kasim bergerak ke arah kaki tetangganya. Kain celana yang menutupi kaki kanan tetangganya ia singkapkan. Subhanallah! Kasim seolah tak percaya... ia mampu melihat jalur dan susunan urat saraf yang ada di kaki tetangganya. Sungguh, Allah Swt telah menyingkapkan sebuah rahasia pandangan yang tidak Dia Swt berikan kepada makhluk lainnya. Kasim dapat melihat struktur urat saraf dengan mata kepalanya sendiri!&lt;br /&gt;Ia sendiri tak tahu apa yang harus dilakukan. Titik-titik urat syaraf yang terlihat terhambat olehnya, kemudian ia sentuh dengan jari-jari tangannya. Ya, hanya sentuhan bukan pijitan. Subhanallah! Dengan beberapa sentuhan ringan..., wajah tetangganya yang terkena stroke terlihat meringis kesakitan. Hanya dalam hitungan menit, Kasim pun menyudahi praktek pertamanya.&lt;br /&gt;Kasim sendiri tidak percaya atas apa yang ia lakukan, namun berbeda dengan tetangganya, ia terlihat agak plong dan rasa sakit yang dideritanya mulai agak ringan ia rasakan. Tetangga itu berkali-kali minta Kasim untuk melakukan hal yang sama hingga ia pun dengan izin Allah menemukan kesembuhan. Alhamdulillah!&lt;br /&gt;Sudah banyak orang yang mendapatkan kesembuhan atas penyakit yang diderita lewat tangan Kasim. Hingga hari yang keseribu, ia bekerja tanpa pamrih manusia, Lillahi Ta’ala!&lt;br /&gt;Terakhir, Kasim memberitahukan bahwa sudah dua presiden RI yang berobat kepadanya dan ia pun masih bekerja tanpa pamrih.&lt;br /&gt;Siapa yang memberikan hal terbaik kepada Allah Swt, maka dengan mudah Dia Swt akan memberikan yang terbaik pula kepadanya. Yakinilah hal itu, dan mulai amalkan!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='http://res1.blogblog.com/tracker/4881522633335440424-6174631448409841949?l=blog-zein.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-05-06T16:26:26.221+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><media:rating>nonadult</media:rating></channel></rss>

