<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1403501357408143111</id><updated>2024-09-19T12:07:48.316-07:00</updated><category term="inspiring story"/><category term="Kisah"/><category term="Guru"/><category term="motivasi"/><category term="berdana"/><category term="burung pipit"/><category term="dhammapada"/><category term="jepang"/><category term="lesson of life"/><category term="moral"/><title type='text'>Bodhi Language 3</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1403501357408143111/posts/default?redirect=false'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>saya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12523795820419711793</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>25</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1403501357408143111.post-6013624067240671554</id><published>2009-02-25T06:26:00.000-08:00</published><updated>2010-01-22T07:33:07.517-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="dhammapada"/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(153, 0, 0);&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;strong&gt;Walaupun seseorang hidup seratus tahun, tetapi malas dan tidak bersemangat, maka sesungguhnya lebih baik kehidupan sehari dari orang yang berjuang dengan penuh semangat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-size:78%;&quot;&gt;Dhammapada 112&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/i&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/feeds/6013624067240671554/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/2009/02/walaupun-seseorang-hidup-seratus-tahun.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1403501357408143111/posts/default/6013624067240671554'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1403501357408143111/posts/default/6013624067240671554'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/2009/02/walaupun-seseorang-hidup-seratus-tahun.html' title=''/><author><name>saya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12523795820419711793</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1403501357408143111.post-1074897727916518857</id><published>2009-02-25T06:20:00.000-08:00</published><updated>2012-11-25T08:10:05.603-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="inspiring story"/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;
Seorang Raja mengadakan sayembara dan akan memberi hadiah yang melimpah kepada siapa saja yang bisa melukis tentang kedamaian. Ada banyak seniman dan pelukis berusaha keras untuk memenangkan lomba tersebut. Sang Raja berkeliling melihat-lihat hasil karya mereka. Hanya ada dua buah lukisan yang benar-benar paling disukainya. Tapi, Sang Raja harus memilih salah satu di antara keduanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lukisan pertama menggambarkan sebuah telaga yang tenang. Permukaan telaga itu bagaikan cermin sempurna yang memantulkan kedamaian gunung-gunung yang menjulang mengitarinya. Di atasnya terpampang langit biru dengan awan putih berarak-arak. Semia yang memandang lukisan ini akan berpendapat. Inilah lukisan terbaik mengenai kedamaian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Lukisan kedua menggambarkan pegunungan juga. Namun tampak kasar dan gundul. Di atasnya terlukis langit yang gelap dan merah menandakan turunnya hujan badai. Sedangkan tampak kilat menyambar-nyambar liar. Di sisi gunung ada air terjun deras yang berbuih-buih. Sama sekali tidak menampakkan ketenangan dan kedamaian. Tapi, sang Raja melihat sesuatu yang menarik. Di balik air terjun itu tumbuh semak-semak kecil di atas sela-sela batu. Di dalam semak-semak itu seekor induk pipit meletakkan sarangnya. Jadi, di tengah-tengah riuh-rendahnya air terjun, seekor induk pipit sedang mengerami telurnya dengan damai. Benar-benar damai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lukisan manakah yang memenangkan lomba?&lt;br /&gt;
Sang Raja memilih lukisan nomor dua. Tahukan Anda mengapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Karena kedamaian bukan brarti anda harus berada di tempat yang tanpa keributan, tanpa kesulitan atau tanpa pekerjaan yang keras dan sibuk. Kedamaian adalah hati yang tenang dan damai meski anda berada di tengah-tengah keributan luar biasa. Kedamaian hati adalah kedamaian sejati.&quot;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/feeds/1074897727916518857/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/2009/02/seorang-raja-mengadakan-sayembara-dan_25.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1403501357408143111/posts/default/1074897727916518857'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1403501357408143111/posts/default/1074897727916518857'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/2009/02/seorang-raja-mengadakan-sayembara-dan_25.html' title=''/><author><name>saya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12523795820419711793</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1403501357408143111.post-8907889399925949415</id><published>2009-02-25T06:16:00.000-08:00</published><updated>2010-02-16T06:37:59.697-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="inspiring story"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="jepang"/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Dahulu kala di Jepang terdapat sebuah kebiasaan yang dilakukan oleh para petani miskin yang disebut &quot;Ubasute&quot; yaitu membuang orang tua mereka yang telah lanjut usia di daerah pegunungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini dilakukan karena mereka terlalu miskin untuk menghidupi orang tua mereka. Cerita ini adalah cerita kuno dan di masa ini tentu saja tidak dilakukan hal seperti itu. Dikisahkan pada suatu hari, seorang ibu tua dengan digendong oleh puteranya berangkat menuju gunung untuk &#39;disisihkan&#39;. Namun perjalanan ia mematahkan ranting-ranting dan menjatuhkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ditanya oleh puteranya, dia menjawab, &quot;Agar kau tidak tersesat pada waktu kembali ke desa.&quot;Mendengar hal itu, puteranya terharu dan menangis lalu menggendong ibunya dan kembali ke rumah mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa kasih sayang orangtua kita tak akan luntur sepanjang jaman, walaupun mungkin kita sendiri telah menjadi orang tua dari anak-anak kita.&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/feeds/8907889399925949415/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/2009/02/dahulu-kala-di-jepang-terdapat-sebuah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1403501357408143111/posts/default/8907889399925949415'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1403501357408143111/posts/default/8907889399925949415'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/2009/02/dahulu-kala-di-jepang-terdapat-sebuah.html' title=''/><author><name>saya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12523795820419711793</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1403501357408143111.post-4432539467647830174</id><published>2009-02-25T06:12:00.000-08:00</published><updated>2012-11-25T08:10:29.238-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="burung pipit"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="inspiring story"/><title type='text'>Kisah Seekor Burung Pipit</title><content type='html'>&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;
Ketika musim kemarau baru saja mulai, seekor Burung Pipit mulai merasakan tubuhnya kepanasan, mengeluh pada lingkungan yang dituduhnya tidak bersahabat. Dia lau memutuskan untuk meninggalkan tempat yang sejak dahulu menjadi habitatnya, terbang jauh ke utara yang konon kabarnya, udaranya selalu dingin dan sejuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, pelan-pelan dia merasakan kesejukan udara, makin ke utara makin sejuk, dia semakin bersemangat memacu terbangnya lebih ke utara lagi. Terbawa oleh nafsu, dia tak merasakan sayapnya yang mulai tertempel salju, makin lama makin tebal dan akhirnya dia jatuh ke tanah karena tubuhnya terbungkus salju. Sampai ke tanah, salju yang menempel di sayapnya justru bertambah tebal.&lt;br /&gt;
&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si Burung pipit tak mampu berbuat apa-apa menyangka bahwa riwayatnya telat tamat. Dia merintih menyesali nasibnya. Mendengar suara rintihan, seekor Kerbau yang kebetulan lewat datang menghampirinya. Namun si Burung kecewa mengapa yang datang hanya seekor Kerbau, dia menghardik si Kerbau agar menjauh dan mengatakan bahwa makhluk yang tolol tak mungkin mampu berbuat sesuatu untuk menolongnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si Kerbau tidak banyak bicara, dia hanya berdiri, kemudian kencing tepat di atas burung tersebut. Si Burung pipit semakin marah dan memaki-maki si Kerbau. Lagi-lagi si Kerbau tidak bisa bicara, dia maju satu langkah lagi, dan mengeluarkan kotoran ke atas tubuh si burung. Seketika itu si Burung tidak dapat bicara karena tertimbun kotoran kerbay. Si Burung mengira lagi bahwa ia segera mati tak bisa bernafas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun perlahan-lahan, dia merasakan kehangatan, salju yang membeku pada bulunya pelan-pelan meleleh oleh hangatnya kotoran kerbau, dia dapat bernafas lega dan melihat kembali langit yang cerah. Si Burung pipit berteriak kegirangan, bernyanyi keras sepuas-puasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar ada suara burung bernyanyi, seekor anak kucing menghampiri sumber suara, mengulurkan tangannya, mengais tubuh si burung dan kemudian menimang-nimang menjilati, mengelus dan membersihkan sisa-sisa salju yang masih menempel pada bulu si burung. Begitu bulunya bersih, si Burung bernyanyi dan menari kegirangan, dia mengira telah mendapatkan temah yang ramah dan baik hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun apa yang terjadi kemudian, seketika itu juga dunia terasa gelap gulita bagi si burung, dan tamatlah riwayat si Burung pipit ditelah oleh si kucing.&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/feeds/4432539467647830174/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/2009/02/kisah-seekor-burung-pipit.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1403501357408143111/posts/default/4432539467647830174'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1403501357408143111/posts/default/4432539467647830174'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/2009/02/kisah-seekor-burung-pipit.html' title='Kisah Seekor Burung Pipit'/><author><name>saya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12523795820419711793</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1403501357408143111.post-1995817301367872969</id><published>2009-02-25T05:56:00.002-08:00</published><updated>2012-11-25T08:10:39.791-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="inspiring story"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kisah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="motivasi"/><title type='text'>Kisah Pengalaman Hidup</title><content type='html'>&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;
&lt;i&gt;Phra Vongsin Labhiko&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sebuah Vihara di Bangkok, Wat Bubpharam, tinggal di vihara tersebut Phra Mahasiri (Phra = Bhikkhu). Beliau menceritakan sebuah pengalaman yang beliau alami dan akan diceritakan di bawah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak beberapa tahun yang lalu saya tinggal di Wat Bubpharam, terlihat seorang ibu yang hampir setiap hari datang ke vihara, ibu tersebut bernama Thanom, ada juga yang memanggilnya ibu Visakha nomer dua, karena jasa kebajikan yang selalu ia lakukan. Ia memiliki keyakinan yang kuat terhadap ajaran agama Buddha, dan menghormat kepada para Bhikkhu / Samanera.&lt;br /&gt;
&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila dilihat dari ketekunannya tidak terlalu salah ia dikatakan sebagai upasika teladan, ia teguh dalam dhamma, sila dan dana. Dalam hal dana, tidak pernah lalai akan kebiasaan baik tersebut ia selalu melaksanakannya. Setiap pagi ia berdiri di depan rumahnya menanti para Bhikkhu dan Samanera yang melaksanakan pindapatta. Setelah memberikan dana ia akan berjongkok dan beranjali satu kali kemudian memegang yang berisi air putih lalu diangkatnya ke atas kepala sambil bertekad sesaat sebelum air tersebut dituang ke tanah. Bhante Mahasiri salah seorang Bhikkhu di antara para Bhikkhu yang berpindapatta dan melewati rumah ibu tersebut, jika pagi hari ibu tersebut tidak terlihat maka sore hari ia akan datang ke vihara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai umat Buddha yang baik, ia mempunyai pengetahuan yang cukup tentang sila atau vinaya para Bhikkhu dan Samanera, sehingga dapat menempatkan diri dengan benar. Tingkah lakunya sopan santun hormat kepada Bhikkhu dan Samanera. Bila ia akan bertanya kepada Bhikkhu / Samanera sebelumnya ia beranjali dan ia bertanya dengan kata-kata yang sopan, begitu pula ketika ditanya ia akan bersikap anjali. Tidak merasa lebih tinggi, sama atau merendahkan kepada para Bhikkhu / Samanera.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebiasaan seperti ini umumnya dimiliki oleh umat Buddhis di Thailand, merupakan adat istiadat budaya yang baik. Karena ia sering datang ke vihara, maka ia mengenal dengan baik para Bhikkhu / Samanera seperti sanak keluarga, begitu pula Bhikkhu / Samanera mengenal ia dengan baik. Ibu Thanom sering bertanya keperluan / kebutuhan Bhikkhu / Samanera, dia suka sekali menolong dengan sepenuh hati dan segenap kemampuannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu hari menjelang sore dalam kesempatan yang baik ketika ibu Thanom bersama cucunya mengunjungi Bhante Mahasiri di kuti beliau, untuk memberikan dana minuman berupa air jeruk, setelah kedua pihak bertutur sapa, dan kemudian Bhante Mahasiri bertanya kepada ibu Thanom.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Bu, bolehkah saya bertanya?&quot;&lt;br /&gt;
&quot;Silahkan acharn, ada apa gerangan yang ingin acharn tanyakan?&quot; , Jawab Ibu Thanom.&lt;br /&gt;
&quot;Bu, apa yang menyebabkan ibu sangat teguh dalam berbuat kebajikan misalnya berdana, teguh dalam memegang dan menjalankan sila, meditasi, mendengarkan dhamma dan menolong orang-orang atau binatang yang sedang mngalami penderitaan?&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum menjawab, ibu Thanom beranjali dan tersenyum, &quot;Bhante, kalau bhante ingin tahu dan memberi kesempatan kepada saya untuk mengungkapkan penyebab semua ini, dengan sepenuh hati saya akan membukakan segala peristiwa yang pernah terjadi.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Peristiwa-peristiwa yang akan saya ceritakan ini, dapat menimbulkan pemikiran-pemikiran bagi yang mendengar bahwa hal tersebut seperti sandiwara, tetapi peristiwa-peristiwa tersebutlah yang membuat saya teguh dalam ajaran Sang Buddha sampai sekarang ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya telah mengalami sendiri peristiwa yang aneh sekali. Ketika saya masih remaja ibu saya seringkali mengajarkan bahwa kita sebagai umat Buddha, kita harus selalu praktek sesuai dengan ajaran Sang Buddha, misalnya : memberikan dana kepada Bhikkhu Sangha / Samanera, mendengarkan Dhamma dan berbuat kebajikan-kebajikan lainnya dengan kemampuan yang kita miliki. Tetapi saya tidak pernah berdana kepada para Bhikkhu/Samanera karena saya merasa malu terhadap para Bhikkhu / Samanera, terlebih malu lagi terhadap beliau yang berusia muda. Sejak kecil hingga remaja saya tidak pernah berdana walaupun hanya satu kali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika saya berusia 18 tahun, ibu saya mengalami penderitaan di sebabkan oleh penyakit, saya dan sanak keluarga membawa ibu ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan, namun tidak berapa hari kemudian ibu saya meninggal dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada suatu hari sebelum ibu saya meninggal, saya dipanggil oleh ibu, kemudian saya mendekati dan beliau berpesan kepada saya : &quot;Anakku yang kukasihi, ibu merasa tidak bisa bertahan lebih lama lagi berarti ibu akan meninggalkan kalian, inilah nasehatku yang terakhir, selagi engkau masih hidup berusahalah berdana dan selalu berbuat baik, dan kau hanya masih hidup berusahalah berdana dan selalu berbuat baik dan kau hanya tinggal berdua dengan adikmu, ayahmu telah lama meninggal ketika kau berusia 3 tahun, oleh karena itu kembangkanlah rasa cinta kasih di antara kalian berdua. Engkau harus tetap mengasihinya seperti ketika aku masih ada&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan rasa segan dan hormat, saya menyetujui pesan-pesan beliau termasuk pesan beliau dalam&lt;br /&gt;
hal berdana, sebenarnya saya tidak mau dan tidak setuju berbuat demikian. Ketika beliau sudah meninggal, upacara kematian pun berlangsung serta jenazah dikremasikan dengan bantuan sanak keluarga serta tetangga. Tetapi tentang berdana saya belum melaksanakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu tahun kemudian saya sakit keras, suhu badan saya tinggi sekali hingga tak sadarkan diri. Adik perempuan saya serta sanak keluarga menganggap saya sudah meninggal, sepertinya saya sudah tidak bernafas lagi, mereka telah membeli peti mati untuk mayat saya. Bhante, pada waktu saya tak sadarkan diri saya tidak tahu pergi kemana. Di sebuah rumah saya bertemu dengan ibu saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rumah itu bersih dan bagus sekali halamannya luas, ada kebun bunga yang berwarna-warni, rumput hijau. Semuanya nampak indah sekali bagaikan istana raja yang berkuasa. Banyak orang yang tinggal di rumah tersebut semuanya wanita dan wajah mereka cantik-cantik sekali. Bila dibandingkan dengan saya yan kata orang termasuk cantik, saya ini tidak ada apa-apanya. perbandingannya jauh sekali  bagaikan langit dan bumi, usia mereka diperkirakan antara 16-18 tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di antara para wanita cantik itu ada yang wajahnya mirip dengan ibu saya, tetapi wajahnya nampak lebih muda. Ketika saya sedang berpikir wanita itu mirip dengan ibu saya tetapi mengapa tidk tua seperti dulu, wanita itu berkata, &quot;Thanom, engkau jangan ragu-ragu lagi, betul ini adalah saya yang menjadi ibumu dulu, marilah dekat dengan saya&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar ibu memanggil begitu hati saya sangat senang sekali, saya langsung berlari kemudian memeluk ibu, lalu kami berbincang-bincang bertanya tentang kebahagiaan dan keadaan-keadaan yang telah berlalu, ketika itu saya merasa lapar dan melihat buah-buahan yang bagus-bagus tersedia di atas piring, tentunya enak sekali bila di makan. Para wanita cantik mengambil buah-buahan tersebut untuk dimakan, saya merasa lapar dan ingin makan bersama mereka. Kemudian saya berpikir buah-buahan itu milik ibu, saya sebagai anaknya tidak perlu meminta ijin untuk memakannya. Lalu saya menjangkau untuk mengambilnya, begitu pula ketika saya ingn mengambil pisang hal yang sama terjadi lagi. Ibu melihat kejadian itu dan beliau berkata, &quot;Thanom, itu bukan milikmu, milikmu ada di dalam kamar itu, masuklah kalau engkau mau makan.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya memasuki kamar yang ditunjukkan oleh ibu, disana saya melihat sepiring nasi, seekor ikan kembung yang sudah digoreng serta dua setengah buah pisang. Spontan saya ingat ketika berusia sebelas tahun pernah memberikan dana satu kali, itupun terjadi kaarena pada waktu itu ibu tidak ada di rumah karena ada urusan di tempat jauh dan beliau harus bermalam di sana. Ibu menyuruh saya untuk mewakili beliau memberikan dana pada pagi hari. Pisang yang dua setengah itu seharusnya diberikan tiga buah, karena saya menyimpannya tidak hati-hati maka pisang tersebut sebagian digigit tikus dan saya memotongnya sebelum dipersembahkan sebagai dana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya merasa sangat menyesal, sedih dah berkecil hati dengan berlinang air mata saya menyesali diri, sudah menginjak usia 19 tahun, baru hanya mempersembahkan dana hanya satu kali itu pun karena ibu tidak sempat. Saya menjadi orang yang lengah tidak patuh pada nasehat ibu, bahkan menjadi anak yang bandel dan sifat-sifat buruk lainnya, saya begiut menyesali diri dan mencela diri sendiri. Sebagian orang menanam jasa kebajikan, mereka mendapat buah dari berdana yang pernah mereka perbuat dan hasilnya begitu bagus dan menyenangkan. Tetapi saya hanya satu kali mempersembahkan dana sehingga apa yang saya peroleh seperti apa yang sekarang terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepiring nasi putih, seekor ikan kembung yang sudah digoreng dan dua setengah buah pisang. Saya sedih sekali pada wanita-wanita tersebut. Dan saya berjanji dalam hati, kalau saya pulang ke rumah nanti saya akan memberikan dana setiap hari sebanyak-banyaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah selesai makan saya menjumpai ibu, dan beliau berkata, &quot;Thanom anakku, apakah engkau sudah melihat hasil dari persembahan danamu? Saya sudah berpesan engkau harus sering berdana berbuat kebajikan / jasa-jasa lainnya, tetapi engkau tidak mau dan tidak mematuhi pesan saya. Nah! mulai hari ini engkau jangan melalaikan dan melewatkan kesempatan yang baik, kamu beruntung masih memiliki kesempatan yang baik di alam manusia. Berbuatlah kebajikan dengan segenap kemampuanmu serta kesungguhan, hendaklah engkau berusaha berbuat baik sebanyak-banyaknya sampai akhir hayatmu. Perbuatan baik tidak pernah sia-sia, engkau telah menyaksikan sendiri akibat dari apa yang telah kita perbuat. Sekarang engkau pulanglah anakku, dan jangan lupa akan pesanku&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya menyetujui pesan-pesan ibu dengan hati yang tulus ikhlas, ini merupakan yang pertama kali dalam hidup saya menerima semua nasehat ibu dengan ikhlas dan bertekad untuk melaksanakannya. Pesan-pesan ibu masih menggema di hati saya sampai sekarang ini. Kemudian datanglah pegawai yang menjemput, untuk mengantarkan saya kembali, lalu saya ber-anjali dan ber-namaskara kepada ibu serta permisi untuk pulang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika saya siuman, perasaan sakit yang berat hilang semua, tidak usah minum obat lagi tetapi saya merasa amat haus. Saya meminta air kepada mereka yang menjaga saya, mereka menangis dengan rasa haru karena mengetahui saya telah sadar kembali, tidak meninggal dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bhante, saya tidak sadarkan diri selama satu hari satu malam.  Hal ini saya ketahui dari adik dan sanak keluarga saya, kemudian saya makan seperti biasa hingga akhirnya saya benar-benar sembuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak saat itu sampai sekarang ini, saya berusaha mempersembahkan dana setiap hari tidak pernah lalai/lupa, bila saya sedang sakit maka saya akan menyuruh anak atau cucu saya untuk mempersembahkan dana. Saya merasa senang dan beruntung dapat sembuh dari penyakit demam yang menyebabkan saya tak sadarkan diri, sehingga saya masih memiliki kesempatan untuk berbuat baik. Dan saya menyukai perbuatan-perbuatan baik seperti berdana, melaksanakan sila, melaksanakan Samadhi, suka datang ke vihara untuk mendengarkan Dhamma ajaran Sang Buddha dan perasaan malu terhadap Bhikkhu / Samanera sudah tidak ada lagi semenjak saya sembuh dari sakit itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bhante, mungkin banyak orang yang akan berpikir bahwa saya tidak memakai akal sehat, mempercayai hal-hal tersebut dengan membabi buta atau pendapat lainnya, tetapi saya tidak menghiraukan pendapat mereka. Saya mempercayai kejadian yang saya alami itu dengan sungguh-sungguh dan tanpa keraguan di hati saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena saya telah melihat kejadian di alam sana, dan saya menyaksikan sendiri buah dari perbuatan baik bagi mereka yang telah melaksanakannya, saya tidak akan bimbang dan goyah dalam berbuat baik, apalagi meragikan akan Kamma, saya yakin siapa yang berbuat baik akan memetih buah kebaikan yang pernah mereka tanam, begitu pula bagi mereka yang berbuat buruk maka mereka akan memetik buah dari akibat perbuatan buruknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini saya merasa puas hati dan bahagia karena saya telah melakukan kebajikan, sebagai bekal untuk menempuh kehidupan saya selanjutnya. Saya tidak takut akan kematian, saya siap menerima kematian kapan pun datangnya.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah cerita pengalaman hidup ibu Thanom atai ibu Visakha nomor dua uang sangat percaya diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;color: #990000;&quot;&gt;&lt;i&gt;Di dunia ini ia berbahagia di dunia sana ia berbahagia ; Pelaku kebajikan berbahagia di kedua dunia itu. Ia akan berbahagia ketika berpikir, &quot;aku telah berbuat bajik&quot;, dan ia akan lebih berbahagia lagi ketika berada di alam bahagia.&quot;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 85%;&quot;&gt;Dhammapada Yamaka Vagga 18&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/feeds/1995817301367872969/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/2009/02/kisah-pengalaman-hidup.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1403501357408143111/posts/default/1995817301367872969'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1403501357408143111/posts/default/1995817301367872969'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/2009/02/kisah-pengalaman-hidup.html' title='Kisah Pengalaman Hidup'/><author><name>saya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12523795820419711793</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1403501357408143111.post-5911379522274319726</id><published>2009-02-25T05:51:00.000-08:00</published><updated>2012-11-25T08:10:50.090-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="berdana"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="moral"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="motivasi"/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;
Berdana dengan keyakinan menghasilkan tercapainya kekayaan dan keelokan ketika buah dari berdana itu muncul. Dengan memberikan dana disertai pemilihan yang tepat, orang juga memperoleh anak, istri, pegawai dan pelayan yang patuh, tahu tugas dan penuh pengertian. Dengan memberikan dana pada saat yang sesuai., orang tidak hanya memperoleh kekayaan yang besar tetapi juga terpenuhinya kebutuhan tepat pada waktunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan memberikan dana bersama keinginan murni untuk membantu orang lain, orang memperoleh kekayaan yang besar dan kecenderungan untuk menikmati kesenangan-kesenangan indea yang terbaik. Dengan memberikan dana tanpa menyakiti diri sendiri dan orang lain, orang memperoleh keamanan dari bahaya seperti api, banjir, pencuri, raja dan pewaris-pewaris yang tidak disukai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Dana yang diberikan kepada para pertapa dan Brahmana yang mengikuti Jalan Mulia Berunsur Delapan akan memberikan hasil yang luar biasa, seperti halnya benih yang ditanam di ladang yang subur, disiapkan dengan baik dan diairi dengan baik akan menghasilkan panen yang berlimpah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dana yang diberikan tanpa pengharapan apapun dapat membawa seseorang lahir di alam Brahma dan di akhir alam itu dia bisa menjadi &quot;Yang Tak Terlahir Kembali Lagi.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ghatikara Sutta mencatat dana unik di mana bahkan si pendana tidak hadir. Ghantikara si pembuat tembikar adalah penyokong utama Buddha Kassapa. Meskipun sebagai seorang &quot;Yang Tidak Terlahir Kembali Lagi&quot;, dia tidak ingin memasuki Sangha karena dia merawat orang tuanya yang sudah tia dan buta. Dia amat dipercaya Buddha Kassapa karena keluhuran perilaku dan baktinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu hari Buddha Kassapa pergi ke rumah Ghatikara ketika mengumpulkan makanan, tetapi Ghatikara tidak ada. Sang Buddha menanyai orang tua buta itu dimana si pembuat tembikar. Mereka menjawab bahwa dia sedang keluar, tetapi mengundang Sang Buddha untuk mengambil sendiri dari panci dan wadah makanan dan kemudian makan. Sang Buddha melakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Ghatikara kembali dan bertanya siapa yang telah mengambil makanan itu, kedua orang tuanya memberitahukan bahwa Sang Buddha datang dan mereka meminta Beliau untuk mengambil makanan sendiri. Ghatikara merasa amat gembira mendengar berita ini karena dia merasa bahwa Sang Buddha menaruh kepercayaan yang amat besar kepada dirinya. Dikatakan bahwa suka cita dan kebahagiaan yang dialaminya tidak hilang selama dua minggu, dan suka cita orangtua dan kebahagiaan mereka tidak luntur selama seminggu penuh.&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/feeds/5911379522274319726/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/2009/02/berdana-dengan-keyakinan-menghasilkan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1403501357408143111/posts/default/5911379522274319726'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1403501357408143111/posts/default/5911379522274319726'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/2009/02/berdana-dengan-keyakinan-menghasilkan.html' title=''/><author><name>saya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12523795820419711793</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1403501357408143111.post-1311503327085284101</id><published>2009-02-25T05:48:00.001-08:00</published><updated>2012-11-25T08:11:38.103-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Guru"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="inspiring story"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kisah"/><title type='text'>Cara Mengajar Terbaik</title><content type='html'>&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;
Hiduplah seorang guru yang bijaksana, guru tersebut memiliki beberapa orang murid, salah satu di antara muridnya ada yang gagu. Suatu hari sang guru menyuruh muridnya yang gagu untuk turun gunung. Sang guru berkata &quot;Besok, turun gununglah dan sebarkanlah ajaran Kebenaran yang telah kubabarkan kepada semua orang.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Muridnya yang gagu itu merasa rendah diri dan segera menulis di atas kertas, &quot;Maafkan saya Guru, bagaimana mungkin saya dapat menyebarkan ajaran Guru, saya ini kan gagu. Mengapa Guru tidak menyuruh murid lain saja yang tentu mampu membabarkan muridnya merasakan sebiji anggur yang diberikan olehnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&quot;Anggur ini manis sekali, &quot;tulis muridnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang Guru kembali memberikan sebiji anggur yang lain. &quot;Anggur ini masam sekali, &quot;tulis muridnya. Kemudian Gurunya melakukan hal yang sama pada seekor burung beo. Biarpun diberi anggur yang manis maupun masam beo itu tetap saja mengoceh, &quot;Masam...masam...&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang Guru menjelaskan pada muridnya, &quot;Kebenaran bukanlah untuk dihafal, bukan pula cuma untuk dipelajari, tapi yang terutama adalah untuk dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Cacat tubuh yang kita miliki janganlah menjadi rintangan dalam mengembangkan batin kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita jangan seperti sebuah sendok yang penuh dengan madu itu. Kita jangan seperti beo yang pintar mengoceh, tapi tidak mengerti apa yang diocehkannya. Engkau memang tidak mampu berbicara baik, tapi bukankah engkau bisa menyebarkan kebenaran dengan cara-cara lain, misalnya menulis buku? Dan yang lebih penting, bukankah perilaku kamu yang sesuai dengan Kebenaran akan menjadi panutan bagi yang lain?&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah cara mengajar yang terbaik : teladankan Kebenaran dalam perilakumu, bukan cuma dalam ucapanmu....&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/feeds/1311503327085284101/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/2009/02/cara-mengajar-terbaik.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1403501357408143111/posts/default/1311503327085284101'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1403501357408143111/posts/default/1311503327085284101'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/2009/02/cara-mengajar-terbaik.html' title='Cara Mengajar Terbaik'/><author><name>saya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12523795820419711793</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1403501357408143111.post-6498465874443469244</id><published>2009-02-25T05:47:00.000-08:00</published><updated>2012-11-25T08:11:57.099-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Guru"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="inspiring story"/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;
Atista (928 - 1054), adalah seorang guru India yang pernah belajar ke Sriwijaya selama 14 tahun, &amp;nbsp;atas perintah gurunya (Dharmakirti) pergi untuk melestarikan Buddha Dharma hingga ke daerah Bamiyan (Afganistan), Pakistan, India, Sriwijaya dan datang ke Tibet pada tahun 1042.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu ketika beliau ditanya oleh muridnya :&lt;br /&gt;
&quot;Apakah ajaran yang tertinggi itu?&quot;&lt;br /&gt;
Atisha menjawab :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Kepandaian tertinggi adalah membuang keakuan.&lt;br /&gt;
Kemuliaan tertinggi adalah menguasai pikiran sendiri.&lt;br /&gt;
Kebajikan tertinggi adalah memiliki keinginan menolong makhluk lain.&lt;br /&gt;
Suka tertinggi adalah menjaga kewaspadaan terus-menerus.&lt;br /&gt;
Obat tertinggi adalah menyadari ketidaknyataan segala sesuatu.&lt;br /&gt;
Kebebasan tertinggi adalah tak terpengaruh oleh hal-hal duniawi.&lt;br /&gt;
Pencapaian tertinggi adalah mengurangi dan mengubah setiap keinginan.&lt;br /&gt;
Pemberian tertinggi terdapat tanpa kemelekatan.&lt;br /&gt;
Latihan batin tertinggi adalah pikiran yang tenang.&lt;br /&gt;
Kesabaran tertinggi adalah kerendahan hati.&lt;br /&gt;
Usaha tertinggi adalah pikiran tanpa keinginan.&lt;br /&gt;
Kenijakan tertinggi adalah tidak melkat pada apapun yang tampak.&quot;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/feeds/6498465874443469244/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/2009/02/atista-928-1054-adalah-seorang-guru.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1403501357408143111/posts/default/6498465874443469244'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1403501357408143111/posts/default/6498465874443469244'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/2009/02/atista-928-1054-adalah-seorang-guru.html' title=''/><author><name>saya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12523795820419711793</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1403501357408143111.post-3659092658488731426</id><published>2009-02-25T05:40:00.000-08:00</published><updated>2012-11-25T08:12:07.486-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="inspiring story"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kisah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="lesson of life"/><title type='text'>Lesson of Life</title><content type='html'>&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;
Penumpang yang kehujanan malam itu pukul setengah dua belas malam, seorang wanita negro rapi yang sudah berumur, sedang berdiri di tepi jalan tol Alabama. Ia nampak mencoba bertahan dalam hujan yang sangat deras, yang hampir seperti badai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mobilnya kelihatannya lagi rusak, dan perempuan ini sangat ingin menumpang mobil. Dalam keadaan basah kuyup, ia mencoba menghentikan setiap mobil yang lewat. Mobil berikutnya dikendarai oleh seorang pemuda bule, dia berhenti untuk menolong ibu ini.&lt;br /&gt;
&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannyaa si bule ini tidak paham akan konflik etnis tahun 1960-an yaitu pada saat itu. Pemuda ini akhirnya membawa si ibu negro selamat hingga suatu tempat, untuk mendapatkan pertolongan, lalu mencarikan si ibu ini taksi. Walaupun terlihat sangat tergesa-gesa, si ibu tadi bertanya tentang alamat si pemuda itu, menulisnya, lalu mengucapkan terima kasih pada si pemuda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tujuh hari berlalu, dan tiba-tiba pintu rumah pemuda bule ini diketuk seseorang. Kejutan baginya, karena yang datang ternyata kiriman sebuah televisi set besar bewarna khusus dikirim ke rumahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terselip surat kecil tertempel di televisi, yang isinya adalah :&lt;br /&gt;
&quot;Terima Kasih nak, karena membantuku di jalan tol malam itu. Hujan tidak hanya membasahi bajuku, tetapi juga jiwaku. Untung saa anda datang dan menolong saya. Karena pertolongan anda, saya masih sempat untuk hadir di sisi suamiku yang sedang sekarat.. hingga wafatnya. Tuhan memberkati anda, karena membantu saya dan tidak mementingkan dirimu pada saat itu&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ny. Nat King Cole.&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/feeds/3659092658488731426/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/2009/02/lesson-of-life.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1403501357408143111/posts/default/3659092658488731426'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1403501357408143111/posts/default/3659092658488731426'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/2009/02/lesson-of-life.html' title='Lesson of Life'/><author><name>saya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12523795820419711793</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1403501357408143111.post-543241538478431972</id><published>2009-02-25T05:33:00.000-08:00</published><updated>2012-11-25T08:12:17.669-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;
Seorang anak laki-laki umur 10-an tahun masuk ke Coffee Shop Hotel, dan duduk di meja. Seorang pelayan wanita menghampiri dan memberikan air putih di hadapannya. Anak ini kemudian bertanya &quot;Berapa ya... harga satu ice cream sundae?&quot;. &quot;50 sen...&quot;, balas si pelayan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak kemudian mengeluarkan isi sakunya dan menghitung dan mempelajari koin-koin di kantongnya....&quot;Wah... Kalau ice cream yang biasa saja berapa?&quot; katanya lagi. Tetapi kali ini orang-orang yang duduk d meja-meja lain sudah mulai banyak ... dan pelayan ini mulai tidak sabar. &quot;35 sen&quot; kata si pelayan sambil uring-uringan. Anak ini mulai menghitung dan mempelajari lagi koin-koin  yang tadi di kantongnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&quot;Bu... Saya pesan ice cream yang biasa saja ya.. &quot;ujarnya. Sang Pelayan kemudian membawa ice cream tersebut, meletakkan kertas kuitansi di atas meja dan terus melengos berjalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak kemudian memakannya, bayar di kasir dan pergi. Ketika si pelayan wanita ini kembali untuk membersihkan meja si anak kecil tadi, dia mulai menangis terharu. Rapi tersusun di samping piring kecilnya yang kosong, ada 2 buah koin 10 sen dan 5 buah koin 1 sen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anak kecil iini tidak bisa pesan ice cream sundae, karena tidak memiliki cukup untuk memberi sang pelayan uang tip yang &quot;layak&quot;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/feeds/543241538478431972/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/2009/02/seorang-anak-laki-laki-umur-10-tahun.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1403501357408143111/posts/default/543241538478431972'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1403501357408143111/posts/default/543241538478431972'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/2009/02/seorang-anak-laki-laki-umur-10-tahun.html' title=''/><author><name>saya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12523795820419711793</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1403501357408143111.post-2656749186416755068</id><published>2009-02-25T05:26:00.000-08:00</published><updated>2012-11-25T08:12:30.736-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;
Pada jaman Sang Buddha, banyak juga guru-guru lainnya, yaitu para brahmana dari Hindu. Di sebuah desa, ada seorang guru yang sangat terkenal akan kebijaksanaannya. Dia mempunyai &amp;nbsp;beberapa orang murid yang taat dan patuh padanya. Tetapi dia juga mempunyai seorang putri yang sangat dia kasihi. Sudah adatnya ketika anak gadis dewasa, orang tua harus mencarikan jodoh untuk mereka karena anak gadis jaman dulu tidak bersosialisasi. Sebagai seorang guru, dia tentu akan memilih menantunya dari salah seorang muridnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru ini sulit memilih karena muridnya semua baik dan setia, dan masing-masing mempunyai keunggulan. Pada suatu malam, guru itu mendapatkan sebuah ide. Dia mengumpulkan muridnya yang berjumlah 7 orang dan berkata pada mereka, &quot;Sebagai guru kalian, apakah kalian akan taat pada apa yang aku minta kalian lakukan tanpa pertanyaa?&quot; Muridnya semua mengangguk menyetujui.&lt;br /&gt;
&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Sekarang saya mau kalian pergi mencuri barang apapun sebanyak mungkin, tetapi tidak boleh diketahui orang. Siapa yang membawa pulang barang curian paling banyak tanpa sepengetahuan orang lain dialah yang menjadi pemenang dan akan saya nikahkan kepada putri ku satu-satunya.&lt;br /&gt;
Pergilah kalian sekarang juga, tetapi harus kembali sebelum subuh.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka pergilah mereka dan semua kembali sebelum subuh membawa banyak sekali barang-barang perhiasan, alat dapur, perabotan sampai dengan makanan. Melihat muridnya semua sangat taat padanya dia terharu tetapi juga kelihatan lesu dan sedih. Kemudian dia perhatikan salah seorang dari muridnya berdiri di paling belakang tanpa apa-apa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru itu mulai bisa tersenyum dan segera dia menyuruhnya ke depan dan bertanya, &quot;Kenapa kamu tidak taat pada perkataan saya? Tidakkah kamu menganggap saya sebagai gurumu? Lihatlah saudara seperguruanmu semua membawa banyak barang-barang pulang, teta[i kamu pulang hanya dengan tangan kosong!&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Murid itu menjawab, &quot;Ampun guruku, ampun guruku, saya tidak bermaksud melawan ataupun tidak taat padamu. Saya berusaha seperti kata guru, saya harus mencuri tanpa sepengetahuan orang lain. Tetapi saya tetap merasa ada bayangan  yang melihat saya mencuri, saya melihat diri saya sendiri mencuri. Saya tidak bisa melakukannya karena mengingat saya harus patuh pada kata guru.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mendengar penjelasannya, guru itu bertepuk tangan dengan gembira. &quot;Akhirnya, saya temukan juga seorang murid yang bijaksana&quot;, dua menjelaskan pada murid-murid lainnya bahwa ini adalah satu ujian buat mereka. &quot;Setelah begitu lama mengikuti saya, tidakkah kalian tahu kelakuan saya, bagaimana mungkin saya menyuruh murid saya pergi mencuri? Sekarang, pulangkanlah barang-barang itu ke tempatnya masing-masing dan minta maaflah pada pemiliknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya guru itu menikahkan putrinya ke murid yang tidak mencuri itu. Karena dia adalah orang yang bisa dipercaya, tidak akan berbuat tidak jujur pada dirinya sendiri ataupun orang lain.&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/feeds/2656749186416755068/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/2009/02/pada-jaman-sang-buddha-banyak-juga-guru.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1403501357408143111/posts/default/2656749186416755068'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1403501357408143111/posts/default/2656749186416755068'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/2009/02/pada-jaman-sang-buddha-banyak-juga-guru.html' title=''/><author><name>saya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12523795820419711793</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1403501357408143111.post-7154498366120306580</id><published>2009-02-25T05:07:00.000-08:00</published><updated>2012-11-25T08:12:39.998-08:00</updated><title type='text'>Menjadi Orang Yang Berpikir Positif</title><content type='html'>&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;
Jerry adalah seorang manager restoran di Amerika. Dia selalu dalam semangat yang baik dan selalu punya hal positif untuk dikatakan. Jika seseorang bertanya kepadanya tentang apa yang sedang dia kerjakan, dia akan selalu menjawab,&quot;Jika aku dapat yang lebih baik, aku lebih suka menjadi orang kembar!&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak pelayan di restorannya keluar jika Jerry pindah kerja, sehingga mereka dapat tetap mengikutinya dari satu restoran ke restoran lain. Alasan mengapa para pelayan restoran tersebut keluar mengikuti Jerry adalah karena sikapnya. Jerry adalah seorang motivator alami. Jika karyawannya sedang mengalami hari yang buruk, dia selalu ada di sana, memberitahu karyawan tersebut bagaimana melihat sisi positif dari situasi yang tengah dialami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Melihat gaya tersebut benar-benar membuat aku penasaran, jadi suatu hari aku temui Jerry dan bertanya padanya, &quot;Aku tidak mengerti! Tidak mungkin seseorang menjadi orang yang berpikiran positif sepanjang waktu. Bagaimana kamu dapat melakukannya?&quot; .&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jerry menjawab, &quot;Tiap pagi aku bangun dan berkata pada diriku, aku punya dua pilihan hari ini. Aku dapat memilih untuk ada di dalam suasana yang baik. Tiap kali sesuatu terjadi, aku dapat memilih untuk menjadi korban atau belajar dari kejadian itu. Aku selalu memilih belajar dari hal itu. Setiap ada seseorang menyampaikan keluhan, aku dapat memilih untuk menerima keluhan mereka atau aku dapat mengambil sisi positifnya. Aku selalu mengambil sisi positifnya.&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Tetapi tidak selalu semudah itu,&quot; protesku. &quot;Ya, memang begitu,&quot;kata Jerry, &quot;Hidup adalah sebuah pilihan. Saat kamu membuang seluruh masalah, setiap keadaan adalah sebuah pilihan. Kamu memilih bagaimana bereaksi terhadap semua keadaan. Kmu memilih bagaimana orang-orang di sekelilingmu terpengaruh oleh keadaanmu. Kamu memilih untuk ada dalam keadaan yang baik atau buruk. Itu adalah pilihanmu, bagaimana kamu hidup.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa tahun kemudian, aku dengar Jerry mengalami musibah yang tak pernah terpikirkan terjadi dalam bisnis restoran : membiarkan pintu belakang tidak terkunci pada suatu pagi dan dirampok oleh tiga orang bersenjaya. Saat mencoba membuka brankas, tangannya gemetaran karena gugup dan salah memutar nomor kombinasi. Para perampok panik dan menembaknya. Untungnya, Jerry cepat ditemukan dan segera dibawa ke rumah sakit. Setelah menjalani operasi selama 18 jam dan seminggu perawatn intensif, Jerry dapat meninggalkan rumah sakit dengan beberapa bagian peluru masih berada di dalam tubuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat Jerry enam bulan setelah musibah tersebut. Saat aku tanya Jerry bagaimana keadaannya, dia menjawab, &quot;Jika aku dapat yang lebih baik, aku lebih suka menjadi orang kembar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mau melihat bekas luka-lukaku?&quot; Aku menunduk melihat luka-lukanya, tetapi aku masih juga bertanya apa yang dia pikirkan saat terjadinya perampokan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Hal pertama yang terlintas dalam pikiranku adalah bahwa aku harus mengunci pintu belakang,&quot;&lt;br /&gt;
jawab Jerry. &quot;Kemudian setelah mereka menembak dan aku tergeletak di lantai, aku ingat bahwa aku punya dua pilihan : aku dapat memilih untuk hidup atau mati. Aku memilih untuk hidup.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Apakah kamu tidak takut?&quot; tanyaku. Jerry melanjutkan, &quot;Para ahli medisnya hebat. Mereka terus berkata bahwa aku akan sembuh. Tapi saat mereka mendorongku ke ruang gawat darurat dan melihat ekspresi wajah para dokter dan suster aku jadi takut. Mata mereka berkata &quot;Orang ini akan mati&quot;. Aku tahu aku harus mengambil tindakan.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Apa yang kamu lakukan?&quot; tanya saya.&lt;br /&gt;
&quot;Di sana ada suster gemuk yang bertanya padaku, &quot;kata Jerry. &quot;Dia bertanya apakah aku punya alergi. &quot;Ya&quot; jawabku. Para dokter dan suster berhenti bekerja dan mereka menunggu jawabanku. Aku menarik nafas dalam-dalam dan berteriak, &quot;Peluru!&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditengah tertawa mereka aku katakan, &quot;Aku memilih untuk hidup. Tolong aku dioperasi sebagai orang hidup, bukan orang mati&quot;. Jerry dapat hidup karena keahlian para dokter, dan juga karena sikap hidupnya yang mengagumkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku belajar dari dia bahwa tiap hari kamu dapat memiliih apakah kamu akan menikmati hidupmu atau membencinya. Satu hal yang benar-benar milikmu yang tidak bisa dikontrol oleh orang lain adalah sikap hidupmu, sehingga jika kamu bisa mengendalikannya dan segala hal dalam hidup akan jadi lebih mudah.&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/feeds/7154498366120306580/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/2009/02/menjadi-orang-yang-berpikir-positif.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1403501357408143111/posts/default/7154498366120306580'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1403501357408143111/posts/default/7154498366120306580'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/2009/02/menjadi-orang-yang-berpikir-positif.html' title='Menjadi Orang Yang Berpikir Positif'/><author><name>saya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12523795820419711793</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1403501357408143111.post-7641442339575884417</id><published>2009-02-25T05:02:00.000-08:00</published><updated>2012-11-25T08:12:54.759-08:00</updated><title type='text'>Punnovada Sutta</title><content type='html'>&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: #990000;&quot;&gt;&lt;i&gt;(sutta ke 145 dari Majjhima Nikaya)&lt;br /&gt;Ajaran untuk Selalu Berpikir Positif&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sutta dibuka demikian :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[SUTTA] :&lt;br /&gt;
&quot;Demikianlah yang telah kudengar. Pada suatu kesempatan Yang Terberkahi sedang berdiam di&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Savatthi di Hutan Jeta, Taman Anathapindika.&quot; Pada sore hari itu, Yang Arya Punna bangkit dari&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
meditasinya dan memohon wejangan Dhamma singkat dari Sang Buddha, karena setelahnya beliau&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
akan mengasingkan diri, berlatih dengan rajin dan hati yang teguh. Sang Buddha kemudian&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
memberikan wejangan demikian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
[SUTTA] :&lt;br /&gt;
&quot;Punna, ada bentuk-bentuk yang ditangkap oleh mata, [kemudia] diharapkan, diingini, dapat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dirasakan cocok [dengannya] [agreeable], dapat disukai, [lalu] bersinggungan dengan hawa nafsu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
keinginan serta bujukan nafsu. Jika seorang Bhikkhu menyukainya, membiarkan [perasaan itu]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
terjadi (welcomes them), serta membiarkan melekat padanya, perasaan senang [akan hal tersebut]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
timbul dalam dirinya. Dengan timbulnya kesenangan tersebut, maka timbul [pula] penderitaan,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[demikianlah] yang Kukatakan.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian Sang Buddha mengulangi nasehat yang sama untuk telinga dengan obyek suara, hidung&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dengan obyek bebauan dan lain sebagainya. Sang Buddha menjelaskan juga bahwa dengan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
lenyapnya keinginan maka di sana pulalah lenyapnya penderitaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[SUTTA] :&lt;br /&gt;
&quot;Jika seorang Bhikkhu tidak merasa suka padanya, tidak membiarkan [perasaan itu] terjadi, dan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tidak melekat padanya, [maka] musnahlah perasaan senang [akan hal tersebut]. Dengan musnahnya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
perasaan senang [akan hal tersebut] musnah pula penderitaan, [demikianlah] yang Kukatakan.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang Buddha lalu menanyakan ke negeri manakah Yang Arya Punna hendak mengasingkan diri ke&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Negeri Sunaparanta. Sang Buddha mengingatkan bahwa penduduk negeri tersebut amat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
mengerikan dan kasar, serta menanyakan apakah yang akan terjadi bila mereka mencaci maki dan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
mengancam Yang Arya Punna. Punna memberikan jawaban yang bagus untuk diteladani.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[SUTTA]&lt;br /&gt;
&quot;Yang Mulia, jika warga Sunaparanta mengancam dan mencaci makiku, maka aku akan berpikir&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[demikian] : &quot;Warga Sunaparanta ini [memang] luar biasa, benar-benar luar biasa, mereka tidak&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
meninjuku. &quot;Maka aku seharusnya berpikir demikian, Yang terberkahi, aku seharusnya berpikir&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
demikian, Yang Mulia.&lt;br /&gt;
&quot;Namun, Punna, Jika warg Sunaparanta benar-benar meninjumu, maka apa yang akan pikirkan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kemudian?&quot;&lt;br /&gt;
&quot;Yang Mulia, jika warga Sunaparanta benar-benar meninjuku, maka aku seharusnya berpikir&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[demikian] : &quot;Waga Sunaparanta ini memang luar biasa, benar-benar luar biasa, karena mereka&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tidak melempariku dengan segumpal tanah. &quot;Maka aku seharusnya berpikir demikian, Yang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terberkahi, aku seharusnya berpikir demikian, Yang Mulia.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Namun, Punna, jika warga Sunaparanta benar-benar melemparimu dengan tanah, maka apa yang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
akan engkau pikirkan kemudian?&quot;&lt;br /&gt;
&quot;Yang Mulia, jika warga Sunaparanta benar-benar melempariku dengan tanah, maka aku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
seharusnya berpikir [demikina] :&quot;Warga Sunaparanta ini memang luar biasa, benar-benar luar&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
biasa, karena mereka tidak memukulku dengan tongkat,&quot; Maka aku seharusnya berpikir demikian,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang Terberkahi, aku seharusnya berpikir demikian, Yang Mulia.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Namun, Punna, jika warga Sunaparanta benar-benar memukulmu dengan tongkat, maka apa yang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
akan engkau pikirkan kemudian?&quot;&lt;br /&gt;
&quot;Yang Mulia, jika warga Sunaparanta benar-benar memukulku dengan tongkat, maka aku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
seharusnya berpikir [demikian] :&quot;Warga Sunaparanta ini memang luar biasa, benar-benar luar&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
biasa, karena mereka tidak menusukku dengan pisau.&quot; Maka aku seharusnya berpikir demikian,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang Terberkahi, aku seharusnya berpikir demikian, Yang Mulia.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Namun, Punna, jika warga Sunaparanta benar-benar menusukmu dengan pisau, maka apa yang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
akan engkau pikirkan kemudian?&quot;&lt;br /&gt;
&quot;Yang Mulia, jika warga Sunaparanta benar-benar menusukku dengan pisau,maka aku seharusnya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
berpikir [demikian]: &quot;Warga Sunaparanta ini memang luar biasa, benar-benar luar biasa, karena&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
mereka belum membunuhku dengan pisau tajam.&quot; Maka aku seharusnya berpikir demikian, Yang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terberkahi, aku seharusnya berpikir demikian, Yang Mulia.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Namun, Punna, jika warga Sunaparanta benar-benar membunuhmu dengan pisau tajam, maka apa&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
yang engkau pikirkan kemudian?&quot;&lt;br /&gt;
&quot;Yang Mulia, jika warga Sunaparanta benar-benar membunuhku dengan pisau tajam, maka aku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
seharusnya berpikir demikian : &quot;Telah ada murid-murid Yang Terberkahi yang jijik, direndahkan, dan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
muak, dengan tubuh dan kehidupan, telah berharap agar dibunuh. Namun aku telah mengalami&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
pembunuhan ini tanpa mencarinya.&quot; Maka aku seharusnya berpikir demikian, Yang Terberkahi, aku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
seharusnya berpikir demikian, Yang Mulia.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Bagus, Bagus, Punna! Engkau memiliki pengendalian diri dan kedamaian, engkau akan sanggup&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
berdiam di Negeri Sunaparanta. Kini, Punna, saatnya untuk melakukan, apa yang engkau rasa&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
baik.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu berangkatlah Punna ke negeri tersebut, dan ia berhasil membawa masing-masing 500 orang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
penganut awam pria dan 500 penganut awam wanita ke dalam Dhamma serta ia sendiri mencapai&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nibbana.&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/feeds/7641442339575884417/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/2009/02/punnovada-sutta.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1403501357408143111/posts/default/7641442339575884417'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1403501357408143111/posts/default/7641442339575884417'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/2009/02/punnovada-sutta.html' title='Punnovada Sutta'/><author><name>saya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12523795820419711793</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1403501357408143111.post-7177430416722307169</id><published>2009-02-25T04:58:00.000-08:00</published><updated>2012-11-25T08:13:06.312-08:00</updated><title type='text'>Jangan Melihat Ke Belakang</title><content type='html'>&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;
Niccolo Paganini, seorang pemain biola yang terkenal di abad 19, memainkan konser untuk para pemujanya yang memenuhi ruangan. Dia bermain biola dengan diiringi orkestra penuh. Tiba-tiba salah satu senar biolanya putus. Keringat dingin mulai membasahi dahinya tapi dia meneruskan memainkan lagunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kejadian yang sangat mengejutkan senar biolanya yang lain pun putus satu persatu hanya meninggalkan satu senar, tetapi dia tetap main. Ketika para penonton melihat dia hanya memiliki satu senar dan tetap bermain, mereka berdiri dan berteriak, &quot;Hebat, hebat&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah bertepuk tangan riuh memujanya. Paganini menyuruh mereka untuk duduk. Mereka menyadari tidak mungkin dia dapat bermain dengan satu senar. Paganini memberi hormat pada para penonton dan memberi isyarat pada dirigen orkestra untuk meneruskan bagian akhir dari lagunya itu. Dengan mata berbinar dia berteriak, &quot;Paganini dengan satu senar&quot; Dia menaruh biolanya di dagunya dan memulai memainkan bagian akhir dari lagunya tersebut dengan indahnya. Penonton sangat terkejut dan kagum pada kejadian ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: #990000;&quot;&gt;Hidup kita dipenuhi oleh persoalan, kekuatiran, kekecewaan dan semua hal yang tidak baik. Secara jujur, kita seringkali mencurahkan terlalu banyak waktu mengkonsentrasikan pada senar kita yang putus dan segala sesuatu yang kita tidak dapat ubah. Apakah anda masih memikirkan senar-senar Anda yang putus dalam hidup Anda? Apakah senar terakhir nadanya tidak indah lagi? Jika demikian, janganlah melihat ke belakang, majulah terus, mainkan senar satu-satunya itu. Mainkanlah itu dengan indahnya.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/feeds/7177430416722307169/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/2009/02/jangan-melihat-ke-belakang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1403501357408143111/posts/default/7177430416722307169'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1403501357408143111/posts/default/7177430416722307169'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/2009/02/jangan-melihat-ke-belakang.html' title='Jangan Melihat Ke Belakang'/><author><name>saya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12523795820419711793</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1403501357408143111.post-7583475053401557045</id><published>2009-02-25T04:56:00.000-08:00</published><updated>2012-11-25T08:13:18.141-08:00</updated><title type='text'>Resep Dokter</title><content type='html'>&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;
Seseorang jatuh sakit dan berkonsultasi ke dokter. Sang dokter memeriksanya dan menuliskan resep untuknya. Orang itu sangat percaya kepada dokternya, dia pulang dan menaruh foto sang dokter di ruang doanya. Dia lalu mengambil resep dari sang dokter dan menguncarkan tulisan di dalam resep tersebut, &quot;Pagi 2 pil! Siang 2 pil! Malam 2 pil !&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena begitu besar kepercayaan orang itu kepada dokternya, setiap hari selama berminggu-minggu dia terus menguncarkan isi rese itu, tetapi tetap saja resep itu tidak membantu menyembuhkan penyakitnya. Dia memutuskan untuk menemui sang dokter lagi untuk mengetahui lebih lanjut tentang resep itu. Ia bertanya kepada sang dokter, &quot;Kenapa Dokter memberi resep ini? Bagaimana resep ini bisa menolong saya?&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Sebagai orang yang bijaksana, sang dokter menjelaskan, &quot;Begini... ini penyakitmu, ini penyebab dari penyakitmu. Jika kamu minum obat yang saya resepkan, obat itu akan mengatasi penyebab penyakitmu. Kalau penyebab penyakitmu sudah teratasi, dengan sendirinya penyakitmu akan tersembuhkan.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang itu berpikir, &quot;Wow, luar biasa! Dokterku sangat pintar ! Resepnya sangat ampuh!&quot; Dia pulang dan mulai bertikai dengan para tetangga dan temannya, &quot;Dokterku adalah dokter terhebat! Dokter lain tidak ada gunanya!&quot; Namun apa yang dia dapatkan? Seumur hidup mungkin saja dia terus bertikai, tetapi tetap saja ia tidak tertolong. Hanya dengan meminum obatnya, orang itu akan tersembuhkan dari penyakitnya, dari penderitaannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang yang tercerahkan itu bagaikan dokter. Atas dasar belas kasih, ia memberikan resep berisi nasihat kepada orang-orang mengenai cara untuk membebaskan diri mereka dari penderitaan. Jika orang mengembangkan keimanan membuta kepada orang bijak tersebut, mereka mengubah resep itu menjadi ayat suci dan mulai bertikai dengan aliran lain, menyatakan bahwa ajaran pendiri aliran mereka lebih hebat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun demikian, tak ada yang sadar untuk mempraktikkan apa yang diajarkan, untuk meminum obat yang diresepkan agar terbebas dari penderitaan. Memiliki keyakinan pada dokter itu bermanfaat kalau memang bisa mendorong pasien untuk mengikuti nasihatnya. Memahami cara kerja obat juga bermanfaat jika itu bisa mendorong obatnya, mana bisa sembuh dari penyakit? Anda harus meminum sendiri obatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 78%;&quot;&gt;shared by Vijjavati , Yangon.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/feeds/7583475053401557045/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/2009/02/resep-dokter.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1403501357408143111/posts/default/7583475053401557045'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1403501357408143111/posts/default/7583475053401557045'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/2009/02/resep-dokter.html' title='Resep Dokter'/><author><name>saya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12523795820419711793</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1403501357408143111.post-5607781018780927169</id><published>2009-02-25T04:53:00.000-08:00</published><updated>2012-11-25T08:13:26.395-08:00</updated><title type='text'>Empat Istri</title><content type='html'>&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;
Pada zaman dahulu, ada seorang pedagang kaya yang memiliki empat orang istri. Dia paling mencintai istri ke-4 dan memanjakannya dengan berbagai fasilitas hidup yang bagus. Dia sangat penuh perhatian terhadap istri ke-4 dan selalu memberinya yang terbaik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sangat mencintai istri ke-3 nya. Dia sangat membanggakan dan selalu ingin memamerkannya kepada teman-temannya. Namun demikian, sang pedagang senantiasa khawatir kalau istri ke-3 ini kabur dengan pria lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia juga mencintai istri ke-2 nya. Istri ke-2 ini adalah wanita yang penuh pengertian, penyabar dan menjadi sandaran sang pedagang. Bilamana sang pedagang menghadapi masalah, istri kedua selalu datang dan membantunya memberikan jalan keluar dari masalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Sang istri pertama adalah wanita yang sangat setia dan telah berjasa besar dalam menjaga kekayaan dan kejayaan sang pedagang, serta mengurus rumah tangga mereka. Namun demikian, sang pedagang kurang mencintai istri pertamanya dan jarang memperhatikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu hari, sang pedagang jatuh sakit dan tak berapa lama dia menyadari bahwa dia akan segera meninggal. Dia teringat kehidupan mewah yang telah dijalaninya dan merenung : &quot;Di sini aku punya empat istri yang mencintaiku, tapi kalau aku mati ... aku akan sendirian. Aku akan kesepian!&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka dia bertanya kepada istri ke-4. &quot;Aku paling mencintaimu, melimpahimu dengan busana terbaik, dan mencurahkan perhatian besar kepadamu. Sebentar lagi aku akan mati, maukah kamu pergi bersamaku?&quot; . &quot;Tidak bisa!&quot;, Jawab istri ke-4 sambil bergegas meninggalkan jawaban itu laksana pisau tajam yang langsung menusuk hati sang pedagang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pedagang yang kecewa itu lalu bertanya kepada istri ke-3 nya, &quot;Aku mencintaimu dengan segenap hidupk, tapi aku akan mati, maukah kamu pergi bersamaku?&quot; &quot;Tidak mau!&quot;, jawab istri ke-3. &quot;Hidup ini begitu indah! Aku akan menikah lagi kalau kamu sudah mati.&quot; Mendengar jawaban ini, hati sang pedagang jadi runtuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan sedih, dia bertanya kepada istri ke-2, &quot;Aku selalu berpaling padamu dan kamu selalu menolongku. Sekarang aku butuh pertolonganmu lagi. Kalau aku mati, maukah kamu pergi bersamaku?&quot; &quot;Maaf, kali ini aku tidak sanggup menolongmu, &quot;jawab istri ke-2. &quot;Paling-paling aku hanya bisa mengirimmu ke krematorium.&quot; Jawaban ini bagaikan halilintar dan membuat sang pedagang diam terlongong-longong...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba terdengar suara, &quot;Aku akan tinggal bersamamu. Aku akan ikut ke mana pun kamu pergi,&quot; Sang pedagang menoleh dan dia melihat istri pertamanya. Ia begitu kurus, lemah dan tampak kurang gizi. Sang pedagang sangat trenyuh.. dan meratap lirih, &quot;Aku seharusnya memperhatikanmu selagi aku bisa...&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikianlah, istri ke-4 adalah ibarat tubuh kita. Tak peduli seberapa lama dan besar usaha kita untuk mempercantik tubuh, tubuh tidak akan pergi bersama kita ketika kita mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Istri ke-3 ibarat jabatan dan kekayaan kita. Ketika kita mati, tidakkah mereka pergi menjadi milik orang lain? Tidakkah orang lain mengambil alih posisi kita?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Istri ke-2 adalah ibarat keluarga dan teman-teman kita. Tak peduli betap baiknya mereka saat kita hidup, paling jauh mereka hanya akan bisa mengantar kita ke krematorium.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Istri pertama, diibaratkan sebagai kesadaran atau sisi spiritual kita, yang telah kita abaikan sepanjang waktu dalam pengejaran kesenangan material dan indrawi. Padahal, justru kesadaran inilah yang merupakan satu-satunya hal yang terus bersama kita ke mana pun kita pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, sudah semestinya kita mulai mengembangkan dan melatih kesadaran kita, alih-alih menunggu sampai menjelang ajal dan meratap. &quot;Aku seharusnya memperhatikanmu selagi aku bisa...&quot;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/feeds/5607781018780927169/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/2009/02/empat-istri.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1403501357408143111/posts/default/5607781018780927169'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1403501357408143111/posts/default/5607781018780927169'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/2009/02/empat-istri.html' title='Empat Istri'/><author><name>saya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12523795820419711793</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1403501357408143111.post-3819585496140112469</id><published>2009-02-25T04:50:00.001-08:00</published><updated>2012-11-25T08:13:54.462-08:00</updated><title type='text'>Orang Tua dan Kalajengking</title><content type='html'>&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;
Suatu pagi setelah selesai bermeditasi, si bapak tua membuka matanya dan melihat seekor kalajengking mengapung tanpa daya di air. Sewaktu kalajengking itu hanyut ke pohon, bapak tua itu menjulurkan badannya di sebuah akar yang bercabang ke air dan menolong makhluk yang tenggelam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sewaktu ia menyentuh, kalajengking itu menyengatnya. Secara refleks sang bapak menarik tangannya. Tak lama setelah ia dapat menyeimbangkan badannya lagi, ia menjulurkan lagi badannya untuk menolong kalajengking. Kali ini sang kalajengking menyengat si bapak dengan parah dengan ekornya yang beracun sehingga tangan bapak itu bengkak dan berdarah dan mukanya meringis kesakitan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada waktu itu ada yang lewat dan melihat si bapak menjulurkan badan dari akar pohon dan berjuang menolong kalajengking dan ia pun berteriak :&lt;br /&gt;
&quot;Hei orang tua bodoh, ada apa dengan kau? Hanya orang bodoh yang mau menolong makhluk yang jelek dan jahat itu. Tidaklah kau tahu bahwa kau akan terbunuh karena mencoba menyelamatkan kalajengking yang tidak tahu terima kasih itu?.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang Bapak tua menatap orang yang lewat itu dan berkata dengan tenang &quot;Kawanku. Hanya karena sifat binatang itu suka menyengat tidak merubah sifatku untuk menolong&quot;.&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/feeds/3819585496140112469/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/2009/02/orang-tua-dan-kalajengking.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1403501357408143111/posts/default/3819585496140112469'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1403501357408143111/posts/default/3819585496140112469'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/2009/02/orang-tua-dan-kalajengking.html' title='Orang Tua dan Kalajengking'/><author><name>saya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12523795820419711793</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1403501357408143111.post-6444968764976005756</id><published>2009-02-25T04:48:00.001-08:00</published><updated>2012-11-25T08:14:09.832-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;
Seorang Maharaja akan berkeliling negeri untuk melihat keadaan rakyatnya. Ia memutuskan untuk berjalan kaki saja. Baru beberapa meter berjalan di luar istana, kakinya terluka karena terantuk batu. Ia berpikir, &quot;Ternyata jalan-jalan di negeriku ini jelek sekali. Aku harus memperbaikinya.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maharaja lalu memanggil seluruh menteri istana. Ia memerintahkan untuk melapisi seluruh jalan-jalan di negerinya dengan kulit sapi terbaik. Seger saja para menteri istana melakukan persiapan-persiapan. Mereka mengumpulkan sapi-sapi dari seluruh negeri. Di tengah-tengh kesibukan yang luar biasa itu, datanglah seorang pertapa menghadap Maharaja. Ia berkata pada Maharaja, &quot;Wahai paduka, mengapa Paduka endak membuat sekian banyak kulit sapi untuk melapisi jalan-jalan di negeri ini, padahal sesungguhnya yang Paduka perlukan hanyalah dua potong kulit sapi untuk melapisi telapak kaki Paduka saja.&quot;Konon sejak itulah dunia menemukan kulit pelapis telapak kai yang kita sebut &quot;Sandal&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Ada pelajaran yang berharga dari cerita itu. Untuk membuat dunia menjadi tempat yang nyaman untuk hidup, kadangkala kita harus mengubah cara pandang kita dan diri kita sendiri, dan bukan dengan cara mengubah dunia ini. Karena kita seringkali keliru dalam menafsirkan dunia. Dunia dalam pikiran kita, kadang hanyalah suatu bentuk personal. Dunia, kita artikan sebagai milik kita sendiri, yang pemainnya adalah kita sendiri. Tad ada orang lain yang terlibat di sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, memang jalan kehidupan yang kita tempuh masih terjal dan berbatu. Manakah yang kita pilih, melapisi setiap jalan itu dengan permadani berbulu agar kita tak pernah merasa sakit, atau melapisi hati kita dengan kulit pelapis, agar kita dapat bertahan melalui jalan-jalan?&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/feeds/6444968764976005756/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/2009/02/seorang-maharaja-akan-berkeliling.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1403501357408143111/posts/default/6444968764976005756'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1403501357408143111/posts/default/6444968764976005756'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/2009/02/seorang-maharaja-akan-berkeliling.html' title=''/><author><name>saya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12523795820419711793</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1403501357408143111.post-7328702620739980156</id><published>2009-02-25T04:45:00.000-08:00</published><updated>2012-11-25T08:14:24.282-08:00</updated><title type='text'>Hati seluas Dunia</title><content type='html'>&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;
Dahulu kala, hiduplah seorang guru yang terkenal bijaksana. Pada suatu pagi, datanglah seorang pemuda dengan langkah lunglai dan rambut masai. Pemuda itu sepertinya tengah dirudung masalah. Tanpa membuang waktu, dia mengungkapkan keresahannya : impiannya gagal, karir, cinta dan hidupnya tak pernah berakhir bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang guru mendengarkannya dengan teliti dan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Dia taburkan garam itu ke dalam gelas, lalu dia aduk dengan sendok. &quot;Coba minum ini, dan katakan bagaimana rasanya?&quot; pinta Sang Guru. &quot;Asin dan pahit, pahit sekali,&quot; jawab pemuda itu, sembari meludah ke tanah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Sang Guru hanya tersenyum. Ia lalu mengajak tamunya berjalan ke tepi telaga di hutan dekat kediamannya. Kedua orang itu berjalan beriringan dalam diam. Sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu. Sang Guru lalu menaburkan segenggam garam tadi ke dalam telaga. Dengan sebilah kayu, diaduknya air telaga, membuat gelombang dan riak kecil. Setelah air telaga tenang, ia pun berkata, &quot;Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat tamu itu selesai meneguk air telagaaa, Sang Guru bertanya, &quot;Bagaimana rasanya?&quot;&lt;br /&gt;
&quot;Segar,&quot; sahut pemuda itu.&lt;br /&gt;
&quot;Apakah kamu masih merasakan garam di dalam air itu?&quot; tanya Sang Guru.&lt;br /&gt;
&quot;Tidak,&quot; jawab si anak muda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang Guru menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk bersimpuh di tepi telaga.&lt;br /&gt;
&quot;Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan seumpama segenggam garam, jumalh dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama. Tetapi kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah atau tempat yang kita pakai. Kepahitan itu, selalu berasal dari bagaimana cara kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan atau kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang boleh kamu lakukan : lapangkanlah dadamu untuk menerima semuanya. Luaskan lah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu. Luaskan cara pandang terhadap kehidupan. Kamu akan banyak belajar dari keluasan itu.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Hatimu anakku, adalah wadah itu. Batinmu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah hatimu seluas telaga yang mampu meredam setiap kepahitan. Hati yang seluas dunia!&quot; Keduanya beranjak pulang. Sang Guru masih menyimpan &quot;segenggam garam&quot; untuk orang-orang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 78%;&quot;&gt;shared by Didi Suryadi&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/feeds/7328702620739980156/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/2009/02/hati-seluas-dunia.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1403501357408143111/posts/default/7328702620739980156'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1403501357408143111/posts/default/7328702620739980156'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/2009/02/hati-seluas-dunia.html' title='Hati seluas Dunia'/><author><name>saya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12523795820419711793</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1403501357408143111.post-1713682451742901546</id><published>2009-02-25T04:43:00.000-08:00</published><updated>2012-11-25T08:14:38.183-08:00</updated><title type='text'>Kehilangan sama dengan Mendapatkan</title><content type='html'>&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: #990000;&quot;&gt;Losing is Winning ~ in so many ways&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu hari seorang bapak tua hendak menumpang bus. Pada saat ia menginjakkan kakinya ke tangga, salah satu sepatunya terlepas dan jatuh ke jalan. Lalu pintu tertutup dan bus mulai bergerak, sehingga ia tidak bisa memungut sepatu yang terlepas tadi. Lalu si bapak tua itu dengan tenang melepas sepatunya yang sebelah dan melemparkannya keluar jendela.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang pemuda yang duduk dalam bus melihat kejadian itu, dan bertanya kepada si bapak tua. &quot;Saya memperhatikan apa yang Anda lakukan Pak. Mengapa Anda melemparkan sepatu Anda yang sebelah juga? &quot;Si bapak tua menjawab, &quot;Supaya siapa pun yang menemukan sepatu ku bisa memanfaatkannya.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Si Bapak tua dalam cerita di atas memahami filosofi dasar dalam hidup - jangan mempertahankan sesuatu hanya karena kamu ingin memilikinya atau karena kamu tidak ingin orang lain memilikinya.&lt;br /&gt;
Kita kehilangan banyak hal di sepanjang masa hidup. Kehilangan tersebut pada awalnya tampak seperti tidak adil dan merisaukan, tapi itu terjadi supaya ada perubahan positif yang terjadi dalam hidup kita.&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/feeds/1713682451742901546/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/2009/02/kehilangan-sama-dengan-mendapatkan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1403501357408143111/posts/default/1713682451742901546'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1403501357408143111/posts/default/1713682451742901546'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/2009/02/kehilangan-sama-dengan-mendapatkan.html' title='Kehilangan sama dengan Mendapatkan'/><author><name>saya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12523795820419711793</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1403501357408143111.post-6464797314870673000</id><published>2009-02-25T04:42:00.001-08:00</published><updated>2012-11-25T08:14:47.156-08:00</updated><title type='text'>Sebuah Pelajaran Untuk Disampaikan</title><content type='html'>&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;
Namanya Ny. Thompson. Ia berdiri di depan ruang kelas 5 pada hari pertama tahun pengajaran, dan berbohong kepada murid-muridnya. Seperti kebanyakan pengajar, ia memandang ke seluruh murid dan berkata bajwa ia memperhatikan seluruh murid dengan adil. Tetapi hal itu tidak mungkin, karena di barisan depan, ada seorang anak yang duduk dengan menggelesot namanya Teddy Stoddard.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ny. Thompson sudah mengawasi Teddy setahun sebelumnya dan ia memperhatikan bahwa dia tidak bisa bermain dengan baik bersama anak lain karena bajunya morat-marit dan terlihat selau perlu untuk dimandikan. Dan Teddy bisa jadi tidak suka. Itu semua mendapat penilaian, dimana Ny. Thompson kenyataannya akan memberikan tanda khusu di laporan Teddy dengan tinta merah besar, membuat X tebal dan memberi tanda F besar di atas kertas laporan Teddy.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Di sekolah tempat Ny. Thompson mengajar, ia diminta untuk melihat ulang catatan murid-muridnya di tahun sebelumnya, dan ia membiarkan catatan Teddy di giliran terakhir. Saat membaca catatan Teddy ia terkejut. Guru kelas Teddy menulis, bahwa Teddy adalah anak yang cemerlang dan ceria. Ia mengerjakan pekerjaannya dengan rapi dan memiliki  hal-hal yang baik. Ia membawa kegembiraan sekitarnya. Guru kelas duanya menulis, bahwa Teddy murid yang sempurna, sangat disukai oleh seluruh temannya, tetapi ia terganggu karena ibnya sakit stroke dan untuk tinggal di rumah adalah suatu perjuangan bagi Teddy. Guru kelas tiganya menulis, bahwa Ia mendengar kematian ibunya, ia berusaha untuk melakukan yang terbaik, tetapi ayahnya tidak menungjukkan ketertarikannya dan kehiidupan di rumah akan segera mempengaruhinya jika tidak ada langkah-langkah yang dilakukan. Guru kelas empat Teddy menulis, Teddy menjadi mundur dan tidak tertarik ke sekolah, ia tidak punya banyak teman dan terkadang tertidur di kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah itu, Ny. Thompson menyadari masalahnya dan dia malu terhadap dirinya sendiri. Ia merasa tidak enak ektika murid-muridnya membawa hadiah natal, dibungkus dengan pita-pita yang indah dan kertas yang menyala, kecuali pemberian Teddy. Hadiah dari Teddy kumal bentuknya dan dibungkus dengan kertas coklat yang diambil dari tas belanja. Ny. Thompson dengan terharu membuka kado Teddy ditengah-tengah kado lain. Anak-anak mulai tertawa saat ia menemukan gelang batu dimana beberapa batu hilang, dan sebuah botol yang berisi parfum setengahnya. Tetapi ia menyuruh murid-muridnya diam dan menyatakan bahwa gelang pemberian Teddy sangat indah, serta mengoleskan parfum di pergelangan tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah sekolah usai, Teddy Stoddard tetap tinggal, menunggu cukup lama untuk mengatakan, Ny. Thompson, hari ini bau wangi anda seperti ibu saya. Setelah murid-muridnya pergi, Ny. Thompson menangis hampir selama satu jam. Hari berikutnya Ny. Thompson berhenti mengajar membaca, menulis dan aritmatika. Sebagai gantinya ia mulai mengajar anak didiknya. Ny.Thompson memberi perhatian khusus kepada Teddy. Selama bekerja dengannya, pkiran Teddy mulai hidup. Semakin ia mendorong Teddy, semakin cepat Teddy memberikan tanggapan. Di akhir tahun, Teddy menjadi anak terpandai di kelas, akan tetapi Ny. Thompson jadi berbohong dengan mengatakan bahwa ia akan memperhatikan murid-muridnya secara adil, karena Teddy telah menjadi murid kesayangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu tahun berlau, Ny. Thompson menemukan sebuah surat di bawah pintu, dari Teddy, yang mengatakan bahwa ia adalah guru terbaik yang pernah dimiliki sepanjang hidupnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Enam tahun berlalu sebelum ia menerima surat lain dari Teddy. Ia menulis sudah menamatkan SMU, peringkat tiga di kelas, dan Ny. Thompson tetap guru terbaik yang pernah dimiliki sepanjang hidupnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Empat tahun berikutnya, ia menerima surat yang lain, mengatakan bahwa saat orang memikirkan banyak hal, ia tetap tinggal di sekolah dan mempertahankannya, dan segera lulus dari akademi dengan penghargaan tertinggi. Dia meyakinkan Ny. Thompson, bahwa dia tetap guru yang disukai dan paling baik yang pernah dimiliki sepanjang hidupnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian empat tahun berlalu dan surat yang lain datang lagi. Saat ini dia menjelaskan setelah menyelesaikan gelar sarjananya, dia memutuskan untuk melanjutkan sedikit lagi. Surat itu menjelaskan bahwa Ny. Thompson tetap guru yang disukai dan paling baik yang pernah dimiliki sepanjang hidupnya. Tetapi namanya telah sedikit lebih panjang surat ditanda tangani oleh Theodore F. Stoddard, MD.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kisahnya tidak berakhir di sini. Masih ada surat lagi pada musim semi itu. Teddy berkata bahwa ia bertemu dengan seorang gadis dan merencanakan untuk menikah. Ia mengatakan bahwa Ayahnya telah meninggal beberapa tahun yang lalu dan dia berharap Ny. Thompson bersedia duduk di kursi yang biasanya disediakan untuk ibu pengantin. Tentu saja Ny. Thompson bersedia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan coba tebak apa berikutnya? Ny. Thompson mengenakan gelang batu yang beberapa batunya telah hilang. Dan ia memastikan memakai parfum yang diingat Teddy dipakai ibunya pada Natal sebelumnya bersama-sama. Mereka berpelukan, dan Dr. Stoddard berbisik di telinga Ny. Thompson, Terima Kasih Ny. Thompson, anda mempercayai saya. Terima Kasih karena sudah membuat saya merasa begitu penting dan memperlihatkan bahwa saya dapat membuat perubahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ny. Thompson dengan air mata berlinang, balik berbisik. Ia berkata, Teddy, semua yang kamu katakan keliru. Kamu adalah orang yang telah mengajari bahwa aku dapat membuat perubahan. Aku sungguh tidak tahu bagaimana caranya mengajar sampai bertemu denganmu.&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/feeds/6464797314870673000/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/2009/02/sebuah-pelajaran-untuk-disampaikan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1403501357408143111/posts/default/6464797314870673000'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1403501357408143111/posts/default/6464797314870673000'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/2009/02/sebuah-pelajaran-untuk-disampaikan.html' title='Sebuah Pelajaran Untuk Disampaikan'/><author><name>saya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12523795820419711793</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1403501357408143111.post-9125606390458213186</id><published>2009-02-25T04:40:00.000-08:00</published><updated>2009-02-25T04:41:12.189-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&quot;Bolehkah saya menjadi siswa Anda?&quot;&lt;br /&gt;&quot;Anda merupakan seorang siswa hanya karena mata Anda tertutup. Hari manakala Anda membukanya, Anda akan mengetahui kalau tak ada yang bisa Anda pelajari dari saya atau siapa pun jua.&quot;&lt;br /&gt;&quot;Lantas apa gunanya seorang Master?&quot;&lt;br /&gt;&quot;Untuk membuat Anda melihat betapa tiada gunanya punya Guru&quot;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/feeds/9125606390458213186/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/2009/02/bolehkah-saya-menjadi-siswa-anda-anda.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1403501357408143111/posts/default/9125606390458213186'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1403501357408143111/posts/default/9125606390458213186'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/2009/02/bolehkah-saya-menjadi-siswa-anda-anda.html' title=''/><author><name>saya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12523795820419711793</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1403501357408143111.post-7680812697913120931</id><published>2009-02-25T04:33:00.000-08:00</published><updated>2012-11-25T08:15:17.040-08:00</updated><title type='text'>Kisah Rabinowitz</title><content type='html'>&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;
Beberapa tahun yang lalu di wilayah Lower East Side di New York terdapat sebuah shteibel kecil (rumah ibadah kecil). Apabila sepuluh pria berkumpul untuk sembahyang, ruangan itu menjadi ruangan berdiri saja. Dahulu ruangan itu adalah kedai tukang kunci, tidak begitu luas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedai tukang kunci tua itu telah kosong selama bertahun-tahun, sampai Rabbi Seigel pindah ke wilyaha permukiman tersebut dan bertanya kepada pemiliknya apakah ia dapat menggunakan kedai kosong itu bagi umatnya dan ibadat keagamaan mereka. Ia berjanji akan mengosongkan segera pemiliknya medapatkan seorang penyewa. Pemilik itu. Moris Rabinowitz, menyadari bahwa masyrakat Yahudi di permukimannya membutuhkan tempat berdoa, tetapi ini adalah tahun-tahun depresi dan jemaat tersebut tak mampu mengumpulkan cukup uang untuk menyewa bahkan sebuah ruangan kecil macam itu. Tabi, Rabinowitz adalah seorang pria yang baik hati, dan ia mengizinkan orang-orang menggunakan ruangan itu. &quot;Sampai aku mendapatkan seorang penyewa,&quot; katanya mengingatkan mereka. &quot;Lalu aku terpaksa meminta kalian untuk pergi. Aku pun perlu mencari nafkah.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Dan begitulah selama bertahun-tahun kemudian, ruangan itu tetap tidak disewakan, dan jemaat berkumpul di sana setiap pagi dan sore untuk berdoa. Rabinowitz itu memiliki hati yang baik, suka menolong orang lain. Celakanya, tahuun-tahun depresi tidak bersikap ramah terhadap Rabinowitz. Ia kehilangan sebagian besar harta rumah dan pekarangan yang dimilikinya dan hanya beberapa saja yang tinggal, termasuk shteibel kecil itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia tinggal sendiri, dengan penghasilan yang amat sedikit. Pada suatu hari istri sahabat llamanya mendatangi Rabinowitz untuk menjelaskan bahwa anak laki-lakinya telah ditangkap dan dia membutuhkan $300 untuk menyewa pengacara. Maukah ia menolongnya? Rabinowitz pergi ke bank dan menanyakan saldonya kepada kasir muda. Ia mempunyai $532. Ia menarik $300 dan memberikannya ke wanita itu. Wanita itu mengucap syukur kepadanya dan berjnji membayarnya kembali segera setelah ia mampu. Rabinowitz tersenyum dan berkata,&quot;Dengarlah, kalau kau mendapatkannya kau akan mengembalikannya kepadaku. Bukan sebelumnya!&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa bulan kemudian sahabat yang lain mendekati Rabinowitz dan bertanya apakah ia dapat meminjamkan $500 untuk perkawinan putrinya. Rabinowitz mengatakan ia tidak mempunyai uang sebanyak itu, tetapi ia akan sangat gembira memberikan apa yang dimilikinya. Ia bergegas ke bank, mengisi formulir penarikan dan menyampaikan ke kasir ,&quot;Anda adalah kasir favoritku,&quot; katanya kepada gadis muda itu. &quot;Anda lihat, aku benar-benar buth $500 utnuk menolong Rosen, tetapi berilah aku berapa saja yang tersisa di rekeningku,&quot; katanya dengan ramah. Fadis muda itu membalas tersenyum dan berkata,&quot;Tuan Rabinowitz, Anda memiliki $5.532 di rekening anda. &quot;Itu musatahil!&quot; serunya. Gadis itu memerikasa rekeningnya lagi dan berkata,&quot;Bnar, saya tidak bohong. Anda memilik $5.532 dalam rekening Anda.&quot;&lt;br /&gt;
&quot;Oke, kalau begitu, berikan aku $500 yang diperlukan Rosen untuk pernikahan putrinya.&quot; Kasir itu menyerahkan uang tersebut kepadanya. Dan Rabinowits pergi, masi amat bingung. Ketika ia berpikir sendir,&quot;Barangkali Tuhan yang baik hati itu telah membuka buku-buku mereka dengan paksa agar aku dapat memiliki cukup banyak uang untuk Rosen. Siapakah aku ini kok mau mempertanyakan jalan-jalan Tuhan ?&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa minggu kemudian, Rabbi dari shteibel kecil itu datang kepada Rabinowitz. &quot;Morris,&quot; ia berkata. &quot;Aku tahu segala sesuatunya tidak berjalan begitu baik bagimu akhir-akhir ini, tetapi kami sangat membutuhkan uang. Kau tahu keluarga Goldberg yang tinggal di sudut seberang toko bahan makanan itu? Anak mereka harus segera dioperasi. Dapatkah kau meminjamkan kurang lebih $5.000 kepada mereka untuk menyelamatkan nyawa anak mereka?&quot; Rabinowitz melenguh. &quot;Aku tidak genap mempunyai uang $5.000, tetapi aku akan memberimu apa saja yang kumiliki. Uang menyelamatkan nyawa seorang anak; apa lagi yang dapat lebih penting dari ini?&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekali lagi Rabinowitz pergi ke bank. Ia memberikan lembar penarikan kepada kasir favoritnya untuk menutup rekeningnya. &quot;Anda tidak harus menutup rekening Anda apabila anda menghendaki $5.000, Tuan Rabinowitz. Anda mempunyai $10.000 di rekening Anda.&quot; &quot;Sepuluh ribu dolar! Aku sudah berminggu-minggu tidak menabung!&quot; teriak Rabinowitz. Gadis itu memeriksa ulang dan tersenyum. &quot;Anda memang mempunyai $10.000 di rekening anda&quot;. &quot;Apakah Anda yakin?&quot; tanya Rabinowitz. &quot;Yakinkah Anda? Aku tidak ingin Bank ni mengejar-ngejar aku untuk mendapatkan uang itu. &quot;Gadis itu memeriksa lagi dan bahkan menelpon manager bank tersebut. Ia menegaskan bahwa rekening itu berisi $10.000. Gadis itu memberi Rabinowitz sebuah cek bank seharga $5.000 dan ia membawanya ke shteibel dan menyerahkan cek itu kepada Rabbi. Tetapi Rabinowitz tidak pernah mengatakan sepatah kata pun bagaimana uang itu tampaknya tumbuh di rekening banknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa waktu kemudian, seorang wanita tua datang kepada Rabinowitz dan mengatakan kepadanya bahwa cucunya ingin menjadi seorang dokter; ia tidak mempunyai uang untuk membiayainya ke perguruan tinggi. Rabinowitz tidak pernah mengatakan sepatah kata pun bagaimana uang itu tampaknya tumbuh di rekening banknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa waktu kemudian, seorang wanita tua datang kepada Rabinowitz dan mengatakan kepadanya bahwa cucunya ingin menjadi seorang dokter; ia tidak mempunya uang untuk membiayainya ke perguruan tinggi. Rabinowitz tersebyum, &quot;Marilah kita lihat apa yang terjadi dengan rekeningku. Kalau aku memilikinya, uang itu milikmu.&quot; Ia pergi ke bank itu, mendekati kasir favoritnya, dan meminta agar dia menutup rekeningnya agar ia dapat memberikan berapa pun uang yang tersisa di rekening itu bagi cucu wanita tua itu. &quot;Bagus,&quot; kata gadis itu. &quot;Apakah Anda menghendaki seluruh jumlah $25.000?&quot; Dua puluh lima ribu dolar!&quot; katanya terperangah. &quot;Itu mustahil! Aku tidak mengunjungi bank ini semenjak terakhir kalinya aku menarik uang itu!&quot; Gadis itu menelpon manajer bank. Manager menegaskan bahwa sisa saldo itu betul. Rabinowitz menarik $24.000 dan segera membawanya kepada wanita tua itu. &quot;Aku mempunyai $1.000 yang tersisa,&quot; katanya kepada wanita tua itu. &quot;Kembalillah apabila kau membutuhkan lebih banyak.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan begitulah sepanjang hidupnya, Rabinowitz yang tidak mempunyai keluarga dan tidak pernah menikah-terus melaukan mukjizat-mukjizat kecil bagi teman-temannya di permukiman tersebut, memberikan apa yang dimilikinya kepada orang-orang lain. Bukan untuk dirinya sendiri. Tahun-tahun berlalu, dan ia menjadi rapuh. Anak muda yang dibiayainya menyelesaikan sekolah kedokteran itu merawatnya siang malam. Ketika Rabinowitz menjadi semakin parah, gadis muda yang maskawinnya dibayar Rabinowitz itu merawatnya. Anak muda yang pernah membutuhkan operasi untuk menyelamatkan nyawanya itu sekarang menjadi seorang bankir kaya yang mengusahakan apa saja yang dibutuhkan Rabinowitz agar tidak ekurangna sesuatu. Gedung yang menjadi tempat shteibel itu diberikan kepada Rabbi, yang dengan bantuan Rabinowitz, yang berhasil menghimpun cukup banyak uang untuk mengubah gedung itu menjadi sebuah sinagoga yang indah dimana kaum beriman dapat berdoa setiap pagi dan malam. Jadi, hidup Rabinowitz berakhirlah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan bagaimana misteri rekening bank yang bertambah itu? Gadis muda yang menjadi kasir favorit Rabinowitz itu adalah putri seorang pria yang dahulu pernah menghadapi kesulitan keuangan yang serius. Rabinowitz telah menolong pria itu. Karena sedang beruntung, pria ini yang bukan orang Yahudi, membeli lotere Irlandia dan menang berjuta-juta dolar. Ia menanamkan uang itu dengan bijaksana dan mempunyai lebih banyak daripada yang diperlukannya. Ketika ia menyadari bahwa putrinya ingin terus bekerja di bank dimana rekening Rabinowitz berada, ia mempunyai ide. Ia mendepositokan uang satu juta dolar di bank tersebut dengan perintah kepada putrinya untuk mengusahakan agar rekening Rabinowitz senantiasa penuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan karena Rabinowitz senantiasa pergi ke kasir yang sama. Ia senantiiasa mampu mengusahakan agar ada uang di situ bagi keperluan apa saja yang diminta oleh Rabinowitz. Rabinowitz meninggal dunia tanpa pernah mengetahui salah satu dari hal ini, dan sampai meninggal dunia pun, ia menganggap kasir muda yang manis itu sebagai seorang malaikat yang menyamar, dikirim untuk memberkati seorang pria sengsara yang kesepian ketika ia memberkati orang-orang lain.&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/feeds/7680812697913120931/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/2009/02/kisah-rabinowitz.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1403501357408143111/posts/default/7680812697913120931'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1403501357408143111/posts/default/7680812697913120931'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/2009/02/kisah-rabinowitz.html' title='Kisah Rabinowitz'/><author><name>saya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12523795820419711793</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1403501357408143111.post-1853817500780327181</id><published>2009-02-25T04:25:00.000-08:00</published><updated>2012-11-25T08:15:26.183-08:00</updated><title type='text'>Butir Padi Pertanda Kasih</title><content type='html'>&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;
Dua orang bersaudara bekerja bersama-sama di ladang milik keluarga mereka. Yang seorang telah menikah dan memiliki sebuah keluarga besar. Yang lainnya masih lajang. Ketika hari mulai senja, dua bersaudara itu membagi sama rata hasil yang mereka peroleh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada suatu hari, saudara yang masi lajang itu berpikir,&quot;Tidak adil jika kami membagi rata semua hasil yang kami peroleh. Aku masih lajang dan kebutuhanku hanya sedikit. &quot;Karena itu, setiap malam ia mengambil sekarung padi dari lumbung miliknya dan menaruh di lumbung milik saudaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Sementara itu, saudara yang telah menikah itu berpikir dalam hatinya, &quot;Tidak adil jika kami membagi rata semua hasil yang kami peroleh. Aku punya istri dan anak-anak yang akan merawatku di masa tua nanti, sedangkan saudaraku tidak memiliki siapa pun dan tidak seorang pun akan peduli padanya pada masa tuanya.&quot; Karena itu, setiap malam ia pun mengambil sekarung padi dari lumbung miliknya dan menaruh di lumbung milik saudara satu-satunya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama bertahun-tahun dua bersaudara itu menyimpan rahasia itu masing-masing, sementara padi mereka sesungguhnya tidak pernah berkurang, hingga suatu malam keduanya bertemu, dan barulah saat itu mereka tahu apa yang terjadi. Mereka pun berpelukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: #990000;&quot;&gt;Jangan biarkan persaudaraan rusak karena harta&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/feeds/1853817500780327181/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/2009/02/butir-padi-pertanda-kasih.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1403501357408143111/posts/default/1853817500780327181'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1403501357408143111/posts/default/1853817500780327181'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/2009/02/butir-padi-pertanda-kasih.html' title='Butir Padi Pertanda Kasih'/><author><name>saya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12523795820419711793</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1403501357408143111.post-3067282054102661739</id><published>2009-02-25T04:18:00.000-08:00</published><updated>2009-02-25T04:23:57.833-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align=&quot;left&quot;&gt;Berbuat baik kepada orang yang kita cintai atau kita sukai, adalah hal yang mudah dilakukan.&lt;br /&gt;Berbuat baik kepada orang lain yang tidak kita kenal, adalah hal yang cukup sulit dilakukan&lt;br /&gt;Berbuat baik kepada orang yang kita benci atau tidak kita sukai adalah hal yang tersulit untuk dilakukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbuat baik dengan harapan atau balas jasa, adalah hal yang mudah dilakukan&lt;br /&gt;Berbuat baik  tanpa mengharapkan balas jasa atau harapan, adalah hal yang cukup sulit dilakukan&lt;br /&gt;Berbuat baik tanpa ikatan dan kemelekatan, adalah hal tersulit untuk dilakukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbuat baik satu kali, adalah hal yang mudah dilakukan&lt;br /&gt;Berbuat baik lebih dari satu kali adalah hal yang cukup sulit dilakukan&lt;br /&gt;Berbuat baik terus menerus tanpa ikatan adalah hal tersulit untuk dilakukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat berbuat baik sangat sulit untuk dilakukan, kita harus berperang dan menaklukkan ego kita&lt;br /&gt;Kadang kita ragu untuk melakukannya&lt;br /&gt;Berbuat baik tanpa harapan dan ikatan, akan membuat kita lebih bahagia&lt;br /&gt;Karena perbuatan baik mendatangkan kebahagiaan, dan perbuatan jahat mendatangkan penderitaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/feeds/3067282054102661739/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/2009/02/berbuat-baik-kepada-orang-yang-kita.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1403501357408143111/posts/default/3067282054102661739'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1403501357408143111/posts/default/3067282054102661739'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bodhi-language3.blogspot.com/2009/02/berbuat-baik-kepada-orang-yang-kita.html' title=''/><author><name>saya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12523795820419711793</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>