<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0">

<channel>
	<title>Budidaya Budaya</title>
	
	<link>http://tongkronganbudaya.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 08 Oct 2009 18:10:52 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain="tongkronganbudaya.wordpress.com" port="80" path="/?rsscloud=notify" registerProcedure="" protocol="http-post" />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/41b4845e44081f6e1701e726b63a174e?s=96&amp;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Budidaya Budaya</title>
		<link>http://tongkronganbudaya.wordpress.com</link>
	</image>
			<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" href="http://feeds.feedburner.com/BudidayaBudaya" type="application/rss+xml" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com" /><item>
		<title>Indonesia Batik Mematen</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/BudidayaBudaya/~3/JIlfSm6J79M/</link>
		<comments>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2009/10/08/indonesia-batik-mematen/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Oct 2009 17:57:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nongkrong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cuplik]]></category>
		<category><![CDATA[Teh Hangat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tongkronganbudaya.wordpress.com/?p=122</guid>
		<description><![CDATA[Hari Batik Nasional
Oleh : Titiek Hariati 
 KabarIndonesia - Tanggal 2 Oktober 2009 kemarin, untuk pertama kalinya bangsa Indonesia memproklamirkan batik sebagai miliknya yang sah dan diakui PBB sebagai World Heritage. Di kantor-kantor, sekolah-sekolah dan jalanan, hari ini banyak orang mengenakan batik, bahkan di layar kaca TV para musisi muda yang biasanya memakai T-shirt dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=122&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="font-size:18px;font-family:Bookman Old Style,Arial;color:blue;"><strong>Hari Batik Nasional</strong></span><br />
<span style="font-size:12px;font-family:Georgia,Times New Roman,Times,serif;color:#818181;"><strong>Oleh : Titiek Hariati </strong></span></p>
<div id="attachment_124" class="wp-caption alignleft" style="width: 255px"><a href="http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=12&amp;jd=Hari+Batik+Nasional&amp;dn=20091002181719"><img class="size-full wp-image-124" title="whuuuuhhh_0" src="http://tongkronganbudaya.files.wordpress.com/2009/10/whuuuuhhh_0.jpg?w=245&#038;h=163" alt="whuuuuhhh_0" width="245" height="163" /></a><p class="wp-caption-text">Membatik</p></div>
<p><span style="font-size:12px;font-family:Georgia,Times New Roman,Times,serif;color:#818181;"><strong> </strong></span><span style="font-size:12px;font-family:Bookman Old Style,Georgia,Times New Roman,Times,serif;"><em><strong><a href="http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=12&amp;jd=Hari+Batik+Nasional&amp;dn=20091002181719">KabarIndonesia </a>- </strong></em>Tanggal 2 Oktober 2009 kemarin, untuk pertama kalinya bangsa Indonesia memproklamirkan batik sebagai miliknya yang sah dan diakui PBB sebagai <em>World Herit</em>age. Di kantor-kantor, sekolah-sekolah dan jalanan, hari ini banyak orang mengenakan batik, bahkan di layar kaca TV para musisi muda yang biasanya memakai<em> T-shirt</em> dan <em>jeans, </em>hari ini tampil sangat Indonesia.</span></p>
<p>Mengharukan bahwa sudah cukup lama bangsa ini tidak menggemakan sebuah gerakan nasional yang menggugah rasa nasionalisme dan kecintaan pada seni budaya Indonesia. Tanpa dikomando oleh pemimpin-pemimpin negeri ini, rakyat dengan penuh kesadaran melakukan sendiri aksinya. Padahal sempat membayangkan bahwa pada tanggal 1 Oktober malam hari akan ada menteri atau presiden yang akan menghimbau<br />
masyarakat untuk mengenakan batik pada tanggal 2 Oktober.</p>
<p>Sepenting itukah batik? Ya. Bahwa batik merupakan salah satu simbol keperkasaan budaya leluhur kita yang terwariskan secara turun-temurun dan menjadi salah satu ikon seni budaya kita di mata dunia. Pengakuan dunia internasional ini penting karena kalau kita tidak mengupayakannya, bisa saja satu saat batik diakui sebagai warisan budaya bangsa lain.<span id="more-122"></span></p>
<p>Memperhatikan seni wayang, baik wayang orang maupun wayang kulit ataupun situs-situs purbakala, kita akan menemukan batik sebagai bagian penting dalam penentuan status seseorang. Pakaian seorang raja berbeda dengan orang awam, bahkan corak dan desain batik antara keduanya pun dibedakan.</p>
<p>Saat ini kita tidak lagi terkotak oleh corak dan desain batik. Tetapi adakah batik akan mampu mensejajarkan dirinya di kalangan generasi muda kita dengan <em>jeans</em> dan <em>T-shirt</em> yang populer? Upaya-upaya mempopulerkannya sudah banyak, sebab di tangan desainer-desainer muda, batik telah dimodifikasi sedemikian rupa, sehingga dapat ditampilkan dengan kesan yang pop bahkan kontemporer.</p>
<p>Batik memang luwes, dia dapat tampil anggun sekaligus <em>nge-rock</em>. Maka kalau bukan kita yang menghargai dan mengagumi sekaligus mempopulerkannya, lalu siapa? Seharusnya di kantor-kantor, bank-bank, sekolah-sekolah dan lain-lain, setiap minggu diadakan hari batik, misalnya hari Senin atau Jumat, meskipun tidak harus seragam. Kurikulum batik pun dimasukkan sebagai <em>ekskul</em> agar sejarah dan cara-cara membatik dapat dipelajari dan menumbuhkan kecintaan pada batik.</p>
<p>Kebetulan penulis sendiri merupakan penggila batik sejak masih di SD, sehingga tidak merasa terpaksa ketika harus berbatik ria pada saat-saat tertentu. Motif, corak, desain, warna dan latar belakang setiap karya batik di masing-masing daerah di tanah air sangatlah khas, misalnya batik Madura dikenal cerah dan menyala, sementara Solo dan Yogya lebih terkesan klasik dan anggun. Lain pula dengan Cirebon dan Malang atau Tuban atau Pekalongan, dan lain-lain.</p>
<p>Kita mungkin baru menyadari betapa sebenarnya Indonesia kaya-raya dan seni budayanya menjadi incaran bangsa asing. Batik yang sudah ada dalam genggaman, jangan kita biarkan lepas tidak terawat dan akhirnya menjadi ladang emas bangsa lain.</p>
<p>Siapkah Anda berbusana batik?(*)</p>
<p><strong>&lt;&lt;&lt;&lt;&lt;&lt;&lt;0&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;</strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;"><span style="color:#800000;"><strong>SEJARAH BATIK INDONESIA</strong></span></p>
<p>Batik secara historis berasal dari zaman nenek moyang yang dikenal sejak abad XVII yang ditulis dan dilukis pada daun lontar. Saat itu motif atau pola batik masih didominasi dengan bentuk binatang dan tanaman. Namun dalam sejarah perkembangannya batik mengalami perkembangan, yaitu dari corak-corak lukisan binatang dan tanaman lambat laun beralih pada motif abstrak yang menyerupai awan, relief candi, wayang beber dan sebagainya. Selanjutnya melalui penggabungan corak lukisan dengan seni dekorasi pakaian, muncul seni batik tulis seperti yang kita kenal sekarang ini.</p>
<p>Jenis dan corak batik tradisional tergolong amat banyak, namun corak dan variasinya sesuai dengan filosofi dan budaya masing-masing daerah yang amat beragam. Khasanah budaya Bangsa Indonesia yang demikian kaya telah mendorong lahirnya berbagai corak dan jenis batik tradisioanal dengan ciri kekhususannya sendiri.</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Perkembangan Batik di Indonesia</strong></span></p>
<p>Sejarah pembatikan di Indonesia berkaitan dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan kerajaan sesudahnya. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa kerajaan Solo dan Yogyakarta.</p>
<p>Kesenian batik merupakan kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluarga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal diluar kraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan ditempatnya masing-masing.</p>
<p>Dalam perkembangannya lambat laun kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga istana, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria.</p>
<p>Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri. Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai terdiri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari : pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanah lumpur.</p>
<p>Jadi kerajinan batik ini di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerajaan Majapahit dan terus berkembang hingga kerajaan berikutnya. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke-XX dan batik cap dikenal baru setelah usai perang dunia kesatu atau sekitar tahun 1920. Kini batik sudah menjadi bagian pakaian tradisional Indonesia.</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Batik Pekalongan</strong></span></p>
<p>Meskipun tidak ada catatan resmi kapan batik mulai dikenal di Pekalongan, namun menurut perkiraan batik sudah ada di Pekalongan sekitar tahun 1800. Bahkan menurut data yang tercatat di Deperindag, motif batik itu ada yang dibuat 1802, seperti motif pohon kecil berupa bahan baju.</p>
<p>Namun perkembangan yang signifikan diperkirakan terjadi setelah perang besar pada tahun 1825-1830 di kerajaan Mataram yang sering disebut dengan perang Diponegoro atau perang Jawa. Dengan terjadinya peperangan ini mendesak keluarga kraton serta para pengikutnya banyak yang meninggalkan daerah kerajaan. Mereka kemudian tersebar ke arah Timur dan Barat. Kemudian di daerah &#8211; daerah baru itu para keluarga dan pengikutnya mengembangkan batik.</p>
<p>Ke timur batik Solo dan Yogyakarta menyempurnakan corak batik yang telah ada di Mojokerto serta Tulungagung hingga menyebar ke Gresik, Surabaya dan Madura. Sedang ke arah Barat batik berkembang di Banyumas, Kebumen, Tegal, Cirebon dan Pekalongan. Dengan adanya migrasi ini, maka batik Pekalongan yang telah ada sebelumnya semakin berkembang.</p>
<p>Seiring berjalannya waktu, Batik Pekalongan mengalami perkembangan pesat dibandingkan dengan daerah lain. Di daerah ini batik berkembang di sekitar daerah pantai, yaitu di daerah Pekalongan kota dan daerah Buaran, Pekajangan serta Wonopringgo.</p>
<p>Perjumpaan masyarakat Pekalongan dengan berbagai bangsa seperti Cina, Belanda, Arab, India, Melayu dan Jepang pada zaman lampau telah mewarnai dinamika pada motif dan tata warna seni batik.</p>
<p>Sehubungan dengan itu beberapa jenis motif batik hasil pengaruh dari berbagai negara tersebut yang kemudian dikenal sebagai identitas batik Pekalongan. Motif itu, yaitu batik Jlamprang, diilhami dari Negeri India dan Arab. Lalu batik Encim dan Klengenan, dipengaruhi oleh peranakan Cina. Batik Belanda, batik Pagi Sore, dan batik Hokokai, tumbuh pesat sejak pendudukan Jepang.</p>
<p>Perkembangan budaya teknik cetak motif tutup celup dengan menggunakan malam (lilin) di atas kain yang kemudian disebut batik, memang tak bisa dilepaskan dari pengaruh negara-negara itu. Ini memperlihatkan konteks kelenturan batik dari masa ke masa.</p>
<p>Batik Pekalongan menjadi sangat khas karena bertopang sepenuhnya pada ratusan pengusaha kecil, bukan pada segelintir pengusaha bermodal besar. Sejak berpuluh tahun lampau hingga sekarang, sebagian besar proses produksi batik Pekalongan dikerjakan di rumah-rumah. Akibatnya, batik Pekalongan menyatu erat dengan kehidupan masyarakat Pekalongan yang kini terbagi dalam dua wilayah administratif, yakni Kotamadya Pekalongan dan Kabupaten Pekalongan.</p>
<p>Pasang surut perkembangan batik Pekalongan, memperlihatkan Pekalongan layak menjadi ikon bagi perkembangan batik di Nusantara. Ikon bagi karya seni yang tak pernah menyerah dengan perkembangan zaman dan selalu dinamis. Kini batik sudah menjadi nafas kehidupan sehari-hari warga Pekalongan dan merupakan salah satu produk unggulan. Hal itu disebabkan banyaknya industri yang menghasilkan produk batik. Karena terkenal dengan produk batiknya, Pekalongan dikenal sebagai KOTA BATIK. Julukan itu datang dari suatu tradisi yang cukup lama berakar di Pekalongan. Selama periode yang panjang itulah, aneka sifat, ragam kegunaan, jenis rancangan, serta mutu batik ditentukan oleh iklim dan keberadaan serat-serat setempat, faktor sejarah, perdagangan dan kesiapan masyarakatnya dalam menerima paham serta pemikiran baru.</p>
<p>Batik yang merupakan karya seni budaya yang dikagumi dunia, diantara ragam tradisional yang dihasilkan dengan teknologi celup rintang, tidak satu pun yang mampu hadir seindah dan sehalus batik Pekalongan.</p>
<p>dilansir dari <a href="http://www.batikmarkets.com/batik.php"><strong>batikmarket</strong></a></p>
Posted in Cuplik, Teh Hangat  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tongkronganbudaya.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tongkronganbudaya.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tongkronganbudaya.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tongkronganbudaya.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/122/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=122&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" /></div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BudidayaBudaya/~4/JIlfSm6J79M" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2009/10/08/indonesia-batik-mematen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8a4e003d1e5ac77fb4b04e490f5ca2b4?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Nongkrong</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tongkronganbudaya.files.wordpress.com/2009/10/whuuuuhhh_0.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">whuuuuhhh_0</media:title>
		</media:content>
	<feedburner:origLink>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2009/10/08/indonesia-batik-mematen/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Kata Sebagai Unsur Paling Esensial dalam Sebuah Sajak</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/BudidayaBudaya/~3/ES554o7OMQQ/</link>
		<comments>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2009/10/03/kata-sebagai-unsur-paling-esensial-dalam-sebuah-sajak/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Oct 2009 18:49:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nongkrong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budi Darma]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Tela'ah Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Orang-Orang Bloominton]]></category>
		<category><![CDATA[Sajak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tongkronganbudaya.wordpress.com/?p=114</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Titon Rahmawan
Budi Darma dalam pengantar atas kumpulan cerpennya yang berjudul &#8216;Orang-Orang Bloomington&#8217; menyatakan bahwa unsur utama yang paling berperanan dalam sebuah cerita pendek adalah tema, namun apakah tema memegang peranan yang sama esensialnya dalam sebuah sajak? Pertanyaan tersebut cukup sering dilontarkan oleh orang awam yang berminat terhadap karya sastra dan mereka yang ingin mendalami [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=114&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oleh: Titon Rahmawan</p>
<p>Budi Darma dalam pengantar atas kumpulan cerpennya yang berjudul &#8216;Orang-Orang Bloomington&#8217; menyatakan bahwa unsur utama yang paling berperanan dalam sebuah cerita pendek adalah tema, namun apakah tema memegang peranan yang sama esensialnya dalam sebuah sajak? Pertanyaan tersebut cukup sering dilontarkan oleh orang awam yang berminat terhadap karya sastra dan mereka yang ingin mendalami sajak pada khususnya, namun ironisnya pertanyaan itu belum tentu dapat dijawab oleh orang yang mengaku dirinya sebagai seorang penyair sekali pun. Mengapa muncul hal yang demikian adalah dikarenakan oleh begitu banyaknya calon penyair yang sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri. Para calon penyair itu terlampau sibuk dalam mengolah gagasan-gagasan untuk menjadikan karyanya sebagai sebuah karya yang fenomenal, sehingga terbebani oleh sejumlah misi untuk menyampaikan &#8217;sesuatu&#8217; kepada pembacanya. Sesuatu itu bisa berupa pesan moral, khotbah, protes politik, kajian filsafat, kritik sosial, masalah cinta, masalah keluarga, atau laporan jurnalistik dengan berbagai gaya ungkap, akan tetapi si penyair lupa bahwa sesunguhnya ia tengah menulis sebuah sajak dan bukannya propaganda politik, pamflet, teks iklan, surat cinta atau berita koran. Banyak calon penyair lupa atau tidak tahu bahwa esensi sebuah sajak sesungguhnya bukan pada masalah tema atau gagasan tapi lebih pada kata-kata, sebagaimana ditegaskan oleh Sapardi Djoko Damono salah seorang penyair terkemuka kita bahwa kata-kata adalah segala-galanya dalam puisi.<br />
<span id="more-114"></span><!--more--><br />
Menurut Marjorie Boulton sebagaimana di kutip oleh Prof. M. Atar Semi unsur-unsur pembentuk sajak dapat di lihat dari dua segi yaitu dari bentuk fisik dan bentuk mental. Bentuk fisik itu meliputi tipografi, diksi, irama, intonasi, enjambemen, repetisi dan berbagai perangkat bahasa lainnya, sementara bentuk mental meliputi tema, asosiasi, simbol, pencitraan, dan emosi. Pembahasan atas setiap unsur-unsur dalam sajak adalah hal yang sangat rumit terutama bila kita tidak melihatnya dalam kaitannya dengan unsur-unsur yang lain, karena sebuah sajak merupakan sebuah totalitas yang unikum, akan tetapi kesadaran seorang penyair atas keberadaan kata sebagai unsur yang paling esensial dalam penulisan sajak akan membantu diri si penyair dalam memahami esensi dari proses kreatif penulisan sajak itu sendiri, sekali pun tentu saja seorang penyair dituntut pula memiliki pemahaman yang sama mendalamnya atas unsur-unsur sajak yang lain sehingga ia mampu melahirkan sajak yang bagus dan berhasil.</p>
<p>Perlu dipahami pula bahwa kata-kata di dalam sajak adalah kata-kata yang sama sekali berbeda dengan teks dalam bentuk yang lain. Kata-kata dalam sajak memiliki peran sangat esensial karena ia tidak saja harus mampu menyampaikan gagasan, tetapi juga dituntut untuk mampu menggambarkan imaji sang penyair dan memberikan impresi ke dalam diri pembacanya, karena itu kata-kata dalam puisi lebih mengutamakan intuisi, imajinasi, dan sintesis sebagaimana dapat kita lihat dari pendekatan puisi itu sendiri bertitik tolak dari bentuk organik puisi menurut Herbert Read yang di kutip oleh Prof. M. Atar Semi yang menyampaikan bahwa puisi adalah &#8216;predominantly intuitive, imaginative, and synthetic&#8217; sementara pilihan kata-kata dalam prosa lebih mengedepankan logika, bersifat konstruktif dan analitis.</p>
<p>Lebih lanjut Atar Semi menyampaikan bahwa intuisi di dalam sajak adalah mengacu pada kemampuan sajak itu untuk menyatakan kebenaran yang dapat diterima secara universal, jadi sajak yang baik mutlak mengandung nilai-nilai kebenaran universal (universal truth). Sementara imajinasi dalam sajak adalah merupakan upaya kreatif untuk memperkuat kesan suatu pengalaman puitik yang hendak disampaikan oleh seorang penyair, dengan kata lain proses penulisan sajak sepenuhnya harus lahir melalui sebuah proses kreatif. Selanjutnya Atar Semi menyatakan bahwa sajak adalah merupakan sebuah sintesis yang mengandung maksud bahwa kata-kata dalam sajak haruslah memiliki keunikan yang tidak langsung mengacu pada sesuatu yang diungkapkannya tapi mengandung pengertian yang luas dan mampu menimbulkan kesan rasa dan daya anggap yang jauh lebih mendalam.</p>
<p>Sapardi Djoko Damono dalam esainya &#8216;Puisi Indonesia Mutakhir: Beberapa Catatan&#8217; menegaskan pula bahwa kata-kata dalam sajak berfungsi sebagai jembatan penghubung antara gagasan penyair dengan lentik penafsiran pembacanya oleh karena itu kata-kata dalam sajak harus mampu membentangkan panorama keindahan yang ingin dilukiskan lewat intuisi si penyair. Kekuatan kata-kata tidak semata-mata dalam kemampuannya mengkomunikasikan diri tapi terlebih pada kemampuan menciptakan imaji dan impresi yang akan meninggalkan bekas di dalam diri pembacanya, sehingga kesan itu tetap hidup bergema dalam pikiran, bergetar dalam perasaan, yang menyebabkan pembaca tersentuh oleh rasa haru, sedih, atau pun gembira sesuai impresi sajak.</p>
<p>Hal inilah yang sering luput dari perhatian, bahwa kata-kata dalam percakapan sehari-hari yang bermakna denotatif dapat di pakai begitu saja dalam menulis sebuah sajak sehingga impresi yang muncul adalah sebuah realitas yang naif terlalu apa adanya, tak lebih daripada berita di surat kabar. Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai hal tersebut dapat kita lihat pada sajak karya Theora Agatha sebagai berikut:</p>
<p>BERITA ATAS NAMA</p>
<p>Televisi bukan lagi saluran mimpi, tapi sudah jadi kegeraman menyesak dada, dan koran bukan semata sumber berita tapi lebih banyak menjual kepedihan.</p>
<p>Coba lihat dan dengarkan;<br />
Berita pagi pukul 6 – atas nama cinta seorang wanita kehilangan nyawa<br />
Berita pagi pukul 7 – atas nama harta 2 orang bersaudara saling aniaya<br />
hingga sampai ajalnya<br />
Breaking news pukul 9 – atas nama dendam 1 keluarga tewas ditikam<br />
Breaking news pukul 11 – atas nama solidaritas 10 buruh tewas<br />
dalam aksi demo yang panas<br />
Berita siang pukul 12 – atas nama demokrasi 2 polisi binasa,<br />
8 mahasiswa terluka,<br />
15 orang lagi tak ketahuan rimbanya<br />
Berita kriminal pukul 20 – atas nama setan seorang wanita tewas dianiaya<br />
dan dimakan dagingnya<br />
Berita kriminal pukul 20 – atas nama kemelaratan seorang bayi dibuang ke<br />
tong sampah oleh orang yang tak mau mengaku<br />
sebagai ibunya<br />
Headline news pukul 21 – atas nama kemanusiaan 500,000 orang dipaksa<br />
mengungsi dari negerinya sendiri, tak terhitung<br />
yang tewas karena lapar dan peperangan<br />
Headline news pukul 21 – atas nama tuhan 80 orang tewas dalam ledakan<br />
1,000 orang tewas dalam kebakaran<br />
dan lebih 1,000,000 orang tewas oleh pembantaian</p>
<p>Atas nama apa lagi kita musti meratap dan menangis?</p>
<p>Jakarta, April 2000</p>
<p>Sajak di atas tak ubahnya sebuah laporan jurnalisme, yang sekali pun berupaya menggambarkan realitas dengan gaya ironis atas kondisi sosial masyarakat namun ia hanya berhenti hanya sebagai sebuah protes namun gagal sebagai sebuah sajak, karena tidak mampu menciptakan imaji dan impresi yang mendalam. Karya di atas tak lebih dari sekedar teks yang cukup dibaca sekali saja dan tidak meninggalkan kesan apa pun dalam diri pembaca, karena tak kita rasakan adanya misteri yang menyelubunginya, semua kata tampil demikian apa adanya. Ia hanya menyentuh bagian permukaan kesadaran kita, hanya berusaha menggugah emosi sejenak tanpa menukik lebih jauh ke dalam hati, karena sajak semacam itu hanya lebih menekankan aspek agitasi, tidak begitu orisinil dalam pengungkapan dan pengucapan, yaitu sebatas kutipan berita surat kabar atau berita televisi yang tampil terlalu apa adanya (naif). Pilihan kata-katanya pun terlampau klise karena banyak mengacu pada pendapat masyarakat umum. Tidak kita rasakan adanya sebuah proses kreatif di dalam penulisannya, dan tidak terasa pula adanya keunikan peran individu dalam mengolah karya itu sehingga karya di atas tak lebih dari sebuah kitsch yang tidak memiliki nilai sastra.</p>
<p>Perlu kita garis bawahi bahwa kata-kata dalam sajak mengemban peran yang lebih majemuk, oleh karenanya pemilihan kata-kata atau diksi dalam sajak haruslah melewati suatu proses kreatif dan bersifat distingtif yang sanggup mengkomunikasikan pikiran dan perasaan sekaligus. Kata-kata tidak berhenti sebagai gagasan namun harus diolah kembali untuk mencapai nilai keindahan atau estetika yang tinggi untuk sanggup melahirkan sebuah impresi yang utuh dan menyentuh ke dalam diri pembaca. Impresi atau kesan dapat diperoleh dari aspek bunyi seperti aliterasi (pengulangan konsonan) atau asonansi (pengulangan vokal), kata-kata tersebut lebih mengutamakan susunan atas bunyi yang menciptakan efek merdu dalam pendengaran dan memiliki sifat emotif, yaitu mampu menimbulkan emosi yang berfungsi sebagai frase yang liris atau musikal. Setiap kata yang dipilih diharapkan memiliki asosiasi kepada berbagai kemungkinan penafsiran yang dapat di tinjau dari sensitivitas, intonasi, bunyi, irama, simbol, yang dapat berdiri sendiri secara otonom atau mempunyai pengertian yang mandiri. Di samping itu kata di pakai untuk mampu menciptakan sugesti dan mampu membangkitkan suasana tertentu dalam diri pembacanya</p>
<p>Nilai estetis kata di dalam sajak itu biasanya merujuk kepada intuisi atau kepekaan dan pengalaman puitik seorang penyair sehingga mampu menciptakan pengertian kata dalam dimensinya yang baru, yang lebih segar dan hidup. Dimensi dalam perspektif yang lebih luas dari makna kata-kata itu sendiri dalam kandungan pengertiannya yang lama. Nilai kata-kata dalam sajak haruslah fleksibel atau lentur (plastis) dalam artian tidak semata–mata mengacu pada pengertian leksikon yang baku, tapi terlebih lagi mampu mewujudkan imaji puitis penyairnya. Perlu kita garis bawahi sekali lagi bahwa kata-kata dalam sajak harus memiliki karakter yang otonom dimana kata-kata sanggup berdiri sendiri secara utuh dan tidak tergantikan oleh kata lain bahkan oleh sinonimnya sekali pun dalam mendukung impresi sajak itu sendiri, sehingga kata itu tidak bisa kita hapus atau kita ganti begitu saja tanpa merusak arsitektur bangunan sajak secara keseluruhan.</p>
<p>Seorang penyair yang baik akan memusatkan perhatian sepenuhnya pada pilihan kata-kata untuk menyampaikan pengalaman puitiknya agar tidak terjebak kepada kitsch, slogan, protes, esai atau bahkan prosa. Di sini perlu kita pahami lebih lanjut perbedaan asasi antara sajak dan puisi, sebagaimana dinyatakan oleh Putu Arya Tirtawirya, &#8216;Sajak adalah puisi, tetapi puisi belum tentu sajak&#8217; sebab puisi adalah suatu pengungkapan secara implisit, samar dengan makna tersirat dimana kata-kata condong pada artinya yang konotatif sementara sajak adalah apa yang ada dibalik yang tersirat itu. Sajak adalah cermin tempat manusia berkaca, tampak sosok dirinya dalam masa lalu, masa kini dan masa depan sekaligus.</p>
<p>Dalam esainya &#8216;Arti Komunikasi Dalam Sebuah Sajak&#8217; Putu arya menjelaskan lebih lanjut bahwa di dalam sajak, kata tidak lagi berfungsi sebagai alat komunikasi semata tetapi sesungguhnya merupakan lagu penggambaran jiwa sang penyair sebagai sebuah pribadi yang utuh. Tatkala berhadapan dengan sajak kita tidak lagi berasosiasi dengan kalimat, tetapi justru kepada pemikiran, pengalaman, emosi dan cinta. Oleh karena itu sajak yang baik tidak tampil sebagai sebuah realitas harafiah, ia harus mengandung misteri, terselubung oleh kabut tipis yang gaib tapi tidak sepenuhnya gelap atau pelik, harus ada setitik cahaya yang mengantarkan kita pada pemaknaan, lentik api itu harus terbit untuk merangsang pemikiran dan mampu menggugah perasaan. Kata-kata dalam sajak dipilih untuk menggugah rasa keindahan dan sekaligus harus mengandung kejujuran, karena kejujuran adalah elemen penting dalam setiap karya sastra yang bermutu.</p>
<p>Sajak sebagai sebuah karya seni harus diciptakan dengan kreativitas yang melahirkan perjalanan jiwa seorang penyair, dan diksi di pilih dari unsur yang dihayati oleh sang penyair. Penyair harus dapat menemukan nilai-nilai yang ada dalam masyarakatnya dan mengangkatnya menjadi sebuah karya yang sanggup memberi manfaat bagi kemanusiaan. Budi Darma dalam esainya &#8216;Perkembangan Puisi Indonesia Mutakhir&#8217; menyatakan bahwa salah satu jaminan yang penting dalam kreativitas adalah kejujuran penyairnya terhadap apa yang dia kuasai. Boleh dibilang bobot sebuah sajak dan juga karya sastra lainnya adalah untuk mengungkapkan kebenaran universal. Dimana dalam sajak, kebenaran itu terbungkus oleh metafora layaknya sutera tipis yang indah dan halus motifnya. Disitulah tantangan utama bagi seorang penyair untuk melahirkan sebuah sajak yang bagus, ia harus melewati sebuah perjuangan kreatif yang tidak mudah. Perjuangan merangkai kata-kata menjadi suatu kesatuan unikum yang utuh yang mampu menggelorakan perasaan dan mampu menyentuh kalbu.</p>
<p>Anggapan bahwa esensi sajak adalah tema atau gagasan dan bukannya kata menjadi gugur dengan sendirinya manakala kita melihat kenyataan bahwa sajak bukan semata kerja intelektual tapi lebih merupakan kerja seni, sebagaimana contoh yang pernah dikemukakan oleh Sapardi Djoko Damono bahwa seorang cendekiawan dengan segudang ide belum tentu dapat dengan mudah menulis sebuah sajak yang bagus dan berhasil. Bagi penyair seharusnyalah sajak merupakan sebuah proses pencarian, yaitu sebuah proses mencoba terus menerus dalam usahanya untuk menaklukkan kata.</p>
<p>Setiap penyair yang baik pasti memiliki arah dan punya obsesi tertentu dalam berkarya di mana ia dengan setia dituntut terus menerus mengunyah kata demi kata untuk mencapai kesempurnaan estetiknya, sekali pun proses itu harus ia lewati berulang kali dengan susah payah. Mengolah gagasan yang sama terus menerus adalah merupakan bentuk obsesi, karena kata-kata bisa diciptakan kembali lewat sekian banyak pendekatan atau diproses kembali melalui segala aspek kreatif untuk mencapai sebuah impresi yang baru dan lebih segar dengan gaya pengucapan yang lebih bernas. Oleh sebab itu seorang penyair yang baik pada hakekatnya tidak pernah berhenti bereksperimen karena setiap bentuk percobaan penulisan pengalaman dan perenungan ke dalam sajak adalah upaya untuk memperoleh jawaban dari kegelisahan puitik seorang penyair untuk menemukan kata-kata yang tepat mewakili perasaan dan isi hatinya</p>
<p>Seperti dinyatakan pula oleh Budi Darma bahwa tantangan utama seorang penyair adalah mengasah kreativitas, dan salah satu ciri kreativitas adalah mencari, tetapi bobot utama kreativitas bukan terletak pada usaha mencari itu sendiri melainkan terletak pada keakraban terhadap apa yang dia pakai, garap dan temukan. Oleh sebab itu sudah seharusnya para penyair mengakrabi kata-kata, atau kalau perlu memperlakukan kata-kata sebagai seorang kekasih karena itu merupakan salah satu bentuk pendekatan yang efektif agar kata-kata dapat tampil hidup dalam sajak-sajaknya. Tema memang selalu saja berulang, seorang penyair bisa saja terus menerus menulis tentang cinta, hidup atau kematian tapi setiap kali pula ia bisa menghasilkan sajak yang berbeda sama sekali dari karya yang sebelumnya. Hal ini hanya mungkin berlaku bagi seorang penyair yang mau secara konsisten mengasah bakat, kepekaan dan pengalaman puitiknya sehingga setiap pengalaman, kejadian, maupun gagasan pemikiran yang paling sederhana sekali pun dapat ia ubah lewat inspirasi puitik menjadi sebuah sajak yang bagus tanpa merasa perlu kehabisan kosa kata.</p>
<p>Februari 2004</p>
<p>Bibliografi</p>
<p>Atar Semi, M. tanpa tahun. Anatomi Sastra. Padang: Angkasa Raya<br />
Damono, Sapardi Djoko. 1982. Kesusasteraan Indonesia Modern: Beberapa Catatan. Jakarta: Gramedia<br />
Darma, Budi. 1980. Orang-Orang Bloomington. Jakarta: Sinar Harapan<br />
Darma, Budi. 1995. Harmonium. Yogyakarta: Pustaka Pelajar<br />
Layun Rampan, Korrie. 1984. Kesusasteraan Tanpa Kehadiran Sastra. Jakarta: Gunung Jati<br />
Suwondo, Tirto. 2003. Study Sastra, Beberapa Alternatif. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya<br />
Teeuw. A. 1983. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Gramedia<br />
Tirtawirya, Putu Arya. 1978. Apresiasi Sastra dan Prosa. Ende-Flores: Nusa Indah</p>
<p>Dilansir dari <a href="http://www.ebloggy.com/blog.php?username=Putirenobaiak&amp;id=1&amp;start=80" target="_blank">http://www.ebloggy.com/</a></p>
Posted in Budi Darma, Kritik Sastra, Sastra, Tela'ah Sastra  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tongkronganbudaya.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tongkronganbudaya.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tongkronganbudaya.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tongkronganbudaya.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/114/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=114&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" /></div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BudidayaBudaya/~4/ES554o7OMQQ" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2009/10/03/kata-sebagai-unsur-paling-esensial-dalam-sebuah-sajak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8a4e003d1e5ac77fb4b04e490f5ca2b4?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Nongkrong</media:title>
		</media:content>
	<feedburner:origLink>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2009/10/03/kata-sebagai-unsur-paling-esensial-dalam-sebuah-sajak/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Kepribadian dalam Tuturan Bahasa Jawa</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/BudidayaBudaya/~3/-XwE4HYJTGY/</link>
		<comments>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2009/04/12/kepribadian-dalam-tuturan-bahasa-jawa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Apr 2009 14:30:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nongkrong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Linguistik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tongkronganbudaya.wordpress.com/?p=108</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Laine Berman*
University of Hawaii

Abstrak:

Makalah ini bermaksud menganalisa wacana sehari-hari (sesrawungan sakdina-dinane) untuk memahami bagaimana wong cilik mewujudkan makna di dalam konteks lokal, dan di dalam sistem masyarakat yang sampai kini masih serba tidak adil, meski sudah jaman &#8220;reformasi&#8221;. Dengan menerapkan teori-teori konstruksi sosial (social constructionism), analisis saya mencerminkan bagaimana sekelompok wong cilik, yaitu tenaga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=108&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Oleh: Laine Berman*</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><strong>University of Hawaii</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><strong>Abstrak:</strong></p>
<blockquote>
<p style="margin-bottom:0;">Makalah ini bermaksud menganalisa wacana sehari-hari (<em>sesrawungan sakdina-dinane</em>) untuk memahami bagaimana wong cilik mewujudkan makna di dalam konteks lokal, dan di dalam sistem masyarakat yang sampai kini masih serba tidak adil, meski sudah jaman &#8220;reformasi&#8221;. Dengan menerapkan teori-teori konstruksi sosial (<em>social constructionism</em>), analisis saya mencerminkan bagaimana sekelompok wong cilik, yaitu tenaga kerja wanita dari kota Yogyakarta, mewujudkan identitasnya melalui penggunaan Bahasa Jawa. Untuk tujuan ini, saya menggunakan teori <em>agency </em>, yaitu tanggungjawab pribadi terhadap apa yang dituturkan, kepada lawan bicara, dan siapa yang dibicarakan, yang semuanya dicerminkan dalam wacana. Tampak dari analisis ini bahwa kelompok tersebut menkonstruksikan diri sendiri sesuai dengan hierarki sosial yang berlaku, yang memaksakan mereka nrima ketidakadilan yang dihadapi. Mereka nrima karena memang tidak ada jalan keluar. Hal ini tidak mengherankan bagi mereka yang paham budaya Jawa dan sistem kekuasaan Orde Baru. Namun yang hendak saya tekankan di sini adalah bahwa wong ciliknya sendiri merelakan dirinya tertindas, bahkan memuliakan kebungkaman itu terhadap yang dianggap &#8216;nasib&#8217;. Penindasan ini adalah penindasan psikologis internal dan kepribadian wong cilik tersebut terwujud oleh kebiasaan ini. Karena begitu terbiasa tertindas (yang terwujud dalam struktur &#8220;sopan santun&#8221;), posisi ketidak berdayaan (disempowered) ini juga muncul dalam bahasa ngoko yang sering dianggap kasar, tidak sopan, dan tidak mencerminkan hormat. Hal ini akan saya buktikan dari segi fungsi bahasa dan tidak sekedar struktur (krama, krama inggil, dan sebagainya), yang sampai sekarang masih menguasai analisa Bahasa. Tujuan lain dari makalah ini adalah untuk memperkenalkan pendekatan yang saya pakai, yaitu antropologi linguistik, yang sejauh saya ketahui, belum umum digunakan di dalam bidang akademis maupun penelitian di Indonesia.</p>
</blockquote>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><strong>Pembukaan :</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Analisis wacana yang dipergunakan di sini dimulai dengan merekam dan mentranskripsikan bahasa sehari-hari yang secara alami muncul dari sekelompok perempuan yang bekerja di suatu pabrik di Kota Yogyakarta. Tujuan saya dengan analisis ini adalah menggambarkan bagaimana kelompok tersebut mewujudkan makna dalam konteks lokal. Yang penting di sini adalah penggunaan bahasa sehari-hari,pergaulan manusia yang muncul tanpa tanya-jawab, tanpa intervensi peneliti. Teori yang dianut oleh analisis wacana (dari segi antropologis linguistik dan analisis wacana kritis) menegaskan bahwa bahasa adalah sumber budaya dan wacana adalah praktis budaya. Melalui bahasa, budaya diciptakan, diberi arti, dipelajari, dibentuk, dan direproduksi. Melalui bahasa kita menegakkan hubungan antara sistem budaya dan berbagai bentuk tatanan sosial. Kita juga bisa melihat secara langsung keberadaan (posisi) sekelompok manusia di dalam tatanan sosial tersebut, dan pengertian mereka terhadap dunia/lingkungan sekelilingnya.<span id="more-108"></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Interaksi sosial merupakan sarana pokok bagi masyarakat untuk menafsirkan peristiwa-peristiwa sehari-hari dan menggunakan makna tersebut sebagai sumber pemahaman terhadap berbagai kegiatan, baik yang penting maupun yang sepele. Kita semua disosialisasikan melalui bahasa. Percakapan tidak terpisah dari interaksi sosial, kebudayaan, dan kepribadian. Analisa perilaku manusia seharusnya memperhatikan struktur dan fungsi percakapan yang muncul bersamaan dengan apa yang sedang ditelusurinya. Namun dalam kenyataan dan dalam teori bahasa, posisi kekekuasaanlah yang mendominasi. Sangat terbukti ada berbagai hal yang mampu membentuk atau mengontrol bahasa. Siapa yang menguasai bahasa, juga menguasai makna kehidupan.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Selain memperluas pengetahuan kita terhadap Basa Jawa, tujuan makalah ini adalah untuk membuka kesadaran terhadap masalah kekuasaan dalam bahasa dan nota bene terhadap kepribadian pembicara di bawah beban kekuasaan tersebut. Menurut teori analisa wacana, setiap sosok manusia adalah ahli bahasa (sangat bertentangan dengan teori Chomsky). Maksudnya, kita tidak usah menelaah atau mengecam kemampuan (competence) berbicara seseorang, tetapi menerima apa saja yang diucapkan olehnya sebagai ucapan yang baik, benar, sempurna dan bahkan brilian di dalam konteks aslinya. Lebih penting lagi, dengan teori ini, fokus analisa digeser dari kalimat dan tata bahasa bahasa baku di luar konteks, kepada pembicara dan ucapannya yang tidak dipisahkan dari konteks. Ucapan manusia jelas sangat tergantung pada konteks untuk produksi dan tafsirannya. Tujuannya jelas bukan untuk menggolongkan tingkat tutur atau mengkoreksi bahasa supaya baik dan benar, melainkan untuk memberdayakan pembicara sebagai makluk yang uwis dadi uwong. Dengan kata lain, tujuannya adalah untuk melihat bagaimana mereka menafsirkan keperluan sosial sekelilingnya. Secara struktural, dapat dibuktikan bahwa setiap ucapan membentuk atau membatasi ucapan berikutnya. Contohnya, sebuah pertanyaan mesti diikuti oleh sebuah jawaban yang pantas. Kita bisa yakin bahwa pertanyaan &#8216;apa kabar&#8217; tidak akan dijawab dengan &#8216;belok kiri&#8217;.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Secara fungsional, percakapan juga tersusun secara teratur oleh pembicaranya sendiri. Penataan ini merupakan sumber analisa yang mencerminkan bagaimana pembicara sendiri menafsirkan percakapan yang sedang muncul sesuai dengan norma-norma sosial-budaya yang juga membentuk wacananya. Misalnya peraturan bicara, siapa yang bicara, apa yang bisa dibicarakan, siapa yang berhak bicara lebih banyak, dan lain lain. Melalui analisa ini, bisa ditemukan apa yang harus diketahui atau diikuti agar seseorang mampu bertindak sebagai anggota masyarakat itu.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Menurut para pakar psikologi-sosial dan wacana yang meneliti dalam bahasa Inggris saja, sang pembicara menjelaskan pengertian pribadi secara tata bahasa dalam tindakannya dengan kata ganti &#8217;saya, aku&#8217; atau &#8216;kita, kami&#8217; (O&#8217;Connor, 1994, 1995; Mühlhäusler &amp; Harré, 1990). Tetapi, apakah teori ini masih berlaku dalam masyarakat yang menganggap seseorang yang berbicara tentang dirinya sendiri sebagai orang yang egois? Yang menjadi pertanyaan utama kini, apakah teori-teori barat tentang kepribadian ini bisa juga berlaku dengan sebuah bahasa yang tidak memerlukan ucapan subyek dan kata ganti? Lebih dahsyat lagi, apa sebetulnya diartikan oleh tradisi bahasa yang justru sangat menghargai ucapan yang menutupi subjek maupun jatidiri?</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><strong>Tanggungjawab dan </strong><em><strong>agency </strong></em></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Di Jawa, bahasa dan kepribadian semuanya terkait erat dengan hierarki sosial. Melalui makalah ini saya hendak berusaha menggambarkan bagaimana sekelompok perempuan meng’konstruksikan’ dirinya sendiri sesuai dengan keperluan konteks sebagai kontrak sosial yang terbentuk oleh hierarki tersebut. Keterkaitankepribadian dan hierarki sosial ini digambarkan dalam struktur wacana, dan dengan berbagai macam keterangan yang diucapnya. Kontrak sosial ini, yang mengikat perspektif diatas kepada kepribadian dan makna yang dibentuk oleh sekelompok pembicara, saya sebut <em>agency  bertanggungjawab</em>.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Dalam definisi barat, <em>agency </em>adalah hak pembicara untuk melaksanakan keperluannya sehari-hari sebagai individu, yang jelas tidak berlaku dalam masyarakat Jawa. Dalam tulisan feminis, konsep <em>agency </em> disesuaikan kepada keperluan sosial perempuan. <em>Agency </em> di sini berarti &#8220;kemampuan pembicara untuk membuat makna di dalam interaksi sosial bersama orang lain&#8221; (Mahoney and Yngvesson, 1992:45).</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Dengan pergeseran definisi ini, kita bisa mengaitkan <em>agency</em> kepada hubungan hierarkis dan tindakan strategis, yaitu merendahkan diri (andhap asor), suatu sikap yang esensial di Jawa. Tetapi teori ini masih belum mampu menjelaskan kebungkaman (Berman, 1998), dan cara Jawa yang mengutamakan kompromi daripada kejayaan hak ataupun keperluan individu. <em>Agency </em>harus berbenturan dengan norma-norma social perempuan Jawa yang berkaitan dengan tanggungjawabnya kepada komunitas. Seperti ditulis N. Sullivan (1994), komunitas memaksakan norma-norma sosial kepada sang perempuan, jadi kita harus memahami bagaimana sang perempuan membatasi <em>agency </em>nya sendiri. Tindakan nrima, dalam teori ini, bisa dipahami sebagai pilihan individu yang rasional dan logis. Dalam konteks ini, berarti subyek dan kegiatan social makin luas, rumit, dan peka terhadap norma-norma sosial di Jawa.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Karena penelitian saya berdasar kepada wacana, saya menggeser definisi <em>agency </em>lagi supaya menyinggung pilihan pembicara untuk bertanggungjawab kepada makna dan kerukunan yang sedang dikonstruksikannya pada saat bercakap-cakap. Penjelasan ideologis mengenai budaya Jawa selalu mengutamakan keperluan untuk menjelaskan sapa wonge dengan segala macam nilai relasional. Dalam penuturan yang saya analisa, bisa dilihat bahwa hubungan sosial memang sangat berperan sebagai faktor struktural yang membentuk penuturan, pilihan bahasa, serta pengalaman dan identitas pembicara. Kepekaan terhadap faktor kontekstual yang diutamakan oleh orang Jawa bisa dilihat melalui bermacam-macam &#8217;subjek&#8217; yang muncul, tergantung keperluan atau tekanan konteks. Maka, keterbatasan <em>agency </em> yang muncul di dalam sebuah konteks menunjukkan betapa luas faktor sosial yang terlibat di dalam setiap ucapan yang keluar dari mulut orang Jawa. Oleh karena soal ini, saya sendiri lebih suka memakai istilah <em>agency </em> bertanggungjawab karena di dalam masyarakat hierarkis, wacanalah yang paling penting sebagai siasat untuk membentuk maupun melawan ketidak berdayaan.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Dengan mempelajari wacana dan bagaimana wong cilik menunjukkan keanggotaannya di antara kelompok yang terpinggirkan, kita tidak bisa mengelakkan aspek relasional yang sangat kuat dan selalu menekankan kepribadian sesuai dengan keperluan konteks maupun komunitas. Ketergantungan komunal menekankan kerukunan, yang dilestarikan melalui <em>agency  bertanggungjawab</em>. Dengan kata lain, <em>agency </em>bertanggungjawab merupakan keperluan dasar agar hubungan berdominasi bisa dilestarikan dari dalam komunitas itu sendiri. Maka, dalam jaman yang disebut reformasi ini, dengan analisa yang menyadari masyarakat terhadap pembentukan pemahaman dan kepribadian di dalam kelompok tertentu, <em>agency </em>membantu kita untuk mengerti hambatan-hambatan terhadap perkembangan suatu masyarakat demokratis.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Makalah ini mencoba menjelaskan bagaimana kebutuhan sosial perempuan dicerminkan melalui struktur wacana yang muncul dalam interaksi sosial. Tuturan yang berfungsi ganda ini disebut penuturan percakapan, yang mencerminkan serta mewujudkan posisi sosial para pembicara di dalam konteks lokal, komunitas sekeliling, serta masyarakat. Di dalam budaya Jawa, sudah lama sekali diakui hubungan antara bahasa dan kontrol sosial, khususnya melalui tingkat tutur yang menjamin kerukunan, ketertiban, dan kehalusan. Kerukunan sosial adalah persetujuan moral serta etika yang menjamin tata tenterem yang</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">menempatkan kepentingan tatanan sosial lebih tinggi daripada kepentingan pribadi. <em>Agency </em>bertanggungjawab bisa menembus penjelasan suci yang melegitimasikan ketidakadilan. Selain itu, teori ini bisa menyadari kita akan percakapan sehari-hari sebagai kegiatan untuk menempatkan tanggungjawab pada yang paling tidak berdaya (lihat juga bahasa pejabat). Percakapan dalam kawasan wong cilik itu tidak menyampaikan permaknaan dan keinginan pribadi, tapi lebih berperan sebagai sistem pengendalian sosial.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Dengan latar belakang ini, makalah saya berusaha membuktikan bahwa pengertian resmi tentang interaksi sosial a la Jawa harus diperluas supaya meliputi konteks dan bahasa sehari-hari serta berbagai implikasi ketidakadilan yang terkandung di dalamnya.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><strong>ANALISA</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Wacana yang muncul bersumber dari percakapan yang dianalisa dari beberapa situasi sosial asli di Yogyakarta, antara tahun 1992 hingga 1993. Waktu itu, saya sedang merekam percakapan sehari-hari di dalam lingkungan kekeluargaan selama 2 tahun. Sari, yang berumur 26, adalah anak perempuan kedua di rumahtangga itu. Di adegan pertama, Sari sedang berbicara dengan Sigah dan Endang, teman sepabrik garmen itu. Di adegan kedua, Sari sedang berbicara dengan mbakyune Atik dan seorang tetangga. Yang menarik di sini adalah bagaimana Sari membentuk tuturannya tergantung perubahan peranan sosialnya.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Dalam konteks ini, topik yang sedang dibicarakan adalah pengalaman kerja di pabrik garmen. Setelah kerja hanya beberapa minggu, tiba-tiba gaji buruh perempuan dipotong drastis dan kerja lembur dan masuk 7 hari seminggu langsung dipaksakan. Karena tekanan ekonomi, buruhnya tidak berani minta keluar.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Walaupun tindakan sewenang-wenang seperti itu dilarang, undang-undang hak pekerja jarang ditegakkan. Para buruh pabrik garmen ini belum berpengalaman sama sekali dengan melakukan tindakan protes. Pada mulanya, mereka mempelajari peraturan-peraturan yang sah dan setelah lama mempertimbangkan baik buruknya, mereka mengajukan gugatan kepada DepNaker. Beberapa bulan setelah gugatan diajukan, DepNaKer disogok oleh pabrik dan kasus tersebut ditutup. Para buruh perempuan yang melakukan protes itu semua langsung di PHK, di ancam dengan tuduhan terlibat PKI, dan namanya dimasukkan ke daftar hitam. Tak satupun dapat bekerja lagi selama 2 tahun.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Adegan pembicaraan pertama memperlihatkan bagaimana pembicara bekerjasama untuk membagi tanggungjawab serta mengkonstruksikan makna. Rincian pokok yang muncul di penuturan adalah: a) menutur bersama melalui tata bahasa yang mengikati ucapannya masing-masing, b) penghindaran tanda-tanda perbedaan status seperti tingkat tutur, kata ganti, panggilan mbak, dhi, dan c) repetisi (pengulangan kata).</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Sari, teman sepabrik bernama Sigah, dan saya sedang berada di dapur Sari. Saya bertanya bagaimana pekerjaan baru mereka dan mereka menerangkan permasalahnya. Yang menarik adalah cara bicara yang serba setara. Setiap ucapan dibentuk secara harmonis padahal topik penuturan merupakan topik perlawanan terhadap suatu ketidakadilan yang mereka alami. Kita sama sekali tidak tahu apa yang dialami mereka masing-masing karena dalam penuturan, setiap pembicara membantu satu sama lain. Mereka seperti mengkonstruksikan semacam pembagian ikonis (iconic) antara tuturan, pengalaman, dan tanggungjawab:</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><strong>(1)</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">1. <strong>Sari</strong> : angger entuk akeh <span style="text-decoration:underline;">ngono ki</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">2. rada ora percaya!</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">3. dikurangi sedina meneh ki, telungatus, patangatus,</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">4. <strong>Sigah</strong>: <em><span style="text-decoration:underline;">Tapi</span></em><span style="text-decoration:underline;"> nek </span>kon protes <span style="text-decoration:underline;">ngono ki</span> mbak.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">5. <span style="text-decoration:underline;">dha wedi</span>!</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">6. <strong>Sari</strong> : Nek wong Jawa <span style="text-decoration:underline;">ngono ki</span> <em>kan</em></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">7. wedi di PHK!</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">8. <strong>Sari</strong> : <span style="text-decoration:underline;">Dadi</span> sek lawas ki <span style="text-decoration:underline;">dha metu</span> mbak,</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">9. <span style="text-decoration:underline;">ganti sing anyar</span>!</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">10. mengko sewulan rongwulan <span style="text-decoration:underline;">metu</span>.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">11. <span style="text-decoration:underline;">ganti</span> meneh !</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">12. <strong>Sigah</strong>: <span style="text-decoration:underline;">Nek</span> carane <span style="text-decoration:underline;">ngono</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">13. gajine ora di undak-undaki</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">14. <strong>Laine</strong>: nang kene <span style="text-decoration:underline;">ana</span> undang &#8211; undang lho!</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">15. <strong>Sari</strong> : <span style="text-decoration:underline;">Ana</span> ning wis &#8220;<em><span style="text-decoration:underline;">nggak mau tahu..</span></em>&#8220;</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">16. <em>&#8220;pokoknya&#8221;</em>&#8230;piye wingi kae jawabane,</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">17. <em>&#8220;peraturan </em><span style="text-decoration:underline;">itu dapat</span><em> diubah ?&#8221;</em></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">18. Ana <span style="text-decoration:underline;">peraturan</span> anyar ya ora dikeki ngerti,</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">19. ngko ngerti- ngerti wis <span style="text-decoration:underline;">ganti</span>&#8230;</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">20. <strong>Sigah</strong>: <em>Mana</em> yang diemut</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">21. <em>kalau </em><em><span style="text-decoration:underline;">peraturan-peraturan diubah-ubah!</span></em></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Fungsi bicara-bersama (<em>co-construction</em>) ini adalah pembagian tanggungjawab terhadap konstruksi dan akibat tuturan dan protes, maupun tuturan sebagai protes. Di sini para pembicara mewujudkan posisi yang inklusif. Padahal kesatuan berbicara itu hanya secara semu menutupi tidak adanya dukungan dari buruh lain:</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">4. <strong>Sigah</strong>: <em><span style="text-decoration:underline;">Tapi</span></em><span style="text-decoration:underline;"> nek </span>kon protes <span style="text-decoration:underline;">ngono ki</span> mbak.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">5. <span style="text-decoration:underline;">dha wedi</span>!</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">6. <strong>Sari</strong> : Nek wong Jawa <span style="text-decoration:underline;">ngono ki</span> <em>kan</em></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">7. wedi di PHK!</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Ucapan 4 sampai 7 menjelaskan betapa menakutkan protes itu. Tidak semua buruh terlibat protes, hanya sekitar duapuluh lima dari sejumlah kurang lebih tiga ratus buruh. Yang lain memilih <em>nrima</em> daripada protes. Padahal para pemrotes menerangkan bahwa buruh <em>padha wedi</em>. Dengan tergolong <em>wedi</em>, kita tidak bisa membedakan yang melakukan protes dari yang tidak. Yang protes berbicara seperti bertindak atas kesatuan dan untuk kepentingan semua. Sigah bilang: <em><span style="text-decoration:underline;">dha wedi</span></em>, dan Sari tambah <em>wong Jawa</em> yang takut diPHK. Posisi ‘kebersatuan’ ini menyoroti kelompok ini sebagai kesatuan, kesatuan yang dibersatukan karena sama-sama takut. Mereka tidak pernah menyebut bahwa kelompok ini memang tidak bersatu.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Kesatuan semu ini dibangun melalui wacana yang mampu memperdayakan kelompok ini &#8211; padahal juga secara semu. Dalam teks 1, kedua pembicara memfokus ucapannya kepada poin yang sama dan mengulangi kata-kata pokok. Selain itu, mereka berdua sama-sama menghilangkan rinci-rinci yang menyoroti sikap perbedaan di dalam tuturan maupun konteks sosial. Strategi yang sering muncul supaya penuturan bersama makin jelas adalah mengikat setiap ucapan kepada yang sebelumnya, sebagai mata rantai.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Sigah memakai kata tapi pada ucapan 4, yang memperlihatkan ucapannya sebagai kelanjutan dari ucapan Sari. Selain kelanjutannya, ucapan Sigah menambahi keterangan dengan mengevaluasikan anak kalimat Sari. <em>Tapi</em>, seperti <em>but</em> di dalam bahasa Inggeris, berfungsi untuk membandingkan suatu anak kalimat dengan yang sebelumnya, sambil melanjutkannya. Sari mengatakan bahwa para buruh baru kena potongan gaji lagi dan Sigah menambahkan dengan sebuah penjelasan yang sekaligus mengevaluasi ucapan Sari.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Ada lagi tanda wacana yang berfungsi khusus untuk menyatukan ucapan mereka. Sari mengatakan <em>wong Jawa ngono ki</em>, yang memakai petunjuk teks (text deictic, lihat Levinson, 1983; Berman, 1998) <em>ngono ki</em> yang menunjuk, sekaligus mengikat, topik Sari kepada yang baru disebut Sigah. Kata <em>nek</em> pada baris 4, 6, dan 12, biasanya diterjemahkan sebagai hubungan syarat tetapi mungkin lebih cocok diartikan dengan <em>sesuai dengan ini</em>… pada konteks ini. Maka, <em>nek</em> menandakan ucapan sebagai kelanjutan yang sebelumnya:</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">8. <strong>Sari</strong> : <span style="text-decoration:underline;">Dadi</span> sek lawas ki <span style="text-decoration:underline;">dha metu</span> mbak,</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">9. <span style="text-decoration:underline;">ganti sing anyar</span>!</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">10. mengko sewulan rongwulan <span style="text-decoration:underline;">metu</span>.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">11. <span style="text-decoration:underline;">ganti</span> meneh !</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">12. <strong>Sigah</strong>: <span style="text-decoration:underline;">Nek</span> carane <span style="text-decoration:underline;">ngono</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">13. gajine ora di undak-undaki</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Ucapan 6 dan 12 tidak bermakna sendiri tapi secara langsung menandakan topiknya berada di ucapan sebelumnya, maka tergantung pada ucapan lawan bicaranya untuk melengkapi maknanya. Sari memakai kata <em>dadi</em> (baris <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> yang menandakan ucapannya sebagai sebuah ide yang berhubungan erat secara kausal dengan yang baru dikatakan Sigah. Petunjuk wacana ini berfungsi khusus sebagai pengikat, di mana pemahaman dan pemaknaan terikat dan ditempatkan antar pembicara. Secara simbolis, dua pembicaramenjadi satu suara dengan membangun makna serta pengalaman bersama-sama di dalam penuturannya -sesuatu yang memang sangat lumrah dalam percakapan antar perempuan Jawa.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Setelah teman sepabrik bernama Endang datang, para buruh membicarakan peristiwa dengan bersemangat. Dari wacananya, kita tidak bisa membedakan status, pengalaman, maupun ucapan antara mereka bertiga. Semua memilih cara wacana yang setara melalui cara menceritakan peristiwa itu. Para pembicara tidak memakai kata mbak atau adik, kata ganti, atau <em>basa</em>. Ketidakberadaan simbol-simbol hierarkis seperti ini sangat bertentangan dengan adat Jawa yang seharusnya selalu menunjukkan status dan hormat (Errington, 1988; Keeler, 1984; Wolfowitz, 1991; Wolff &amp; Poedjosoedarmo, 1982:40-46). Selain kata <em>mbak</em> yang ditujukan kepada saya semata, hanya muncul dua perkecualian di dalam rekaman percakapan selama 45 menit ini. Kehadiran kata <em>mbak</em> dan <em>adi</em> membuktikan bahwa yang bicara betul-betul tahu siapa yang lebih tua dan siapa yang lebih muda, tapi mereka memilih untuk tidak memakainya dalam percakapan ini. Justru mereka bermaksud untuk tidak memecah kesatuan yang ditafsirkan mereka sebagai suatu kebutuhan di dalam konteks ini. Keberdayaan (semu) yang sedang dibangun tidak mungkin muncul melalui system bahasa baku yang didasarkan pada tingkat tutur. Jadi, daripada dianggap salah atau aneh, cara bicara ini saya anggap brilian, sebagai siasat yang secara lokal boleh dipakai untuk memberdayakan yang tertindas. Melihat konteks ini secara luas, terbukti juga bahwa penggunaan wacana ini memang satu-satunya sarana yang bisa dipakai oleh yang tertindas.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Pada tuturan 2, <em>agency </em>sebagai tanggungjawab kepada kesatuan kelompoknya juga menonjol:</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><strong>(2)</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">72. <strong>Sari</strong> : jarene &#8220;<em><span style="text-decoration:underline;">saya nggak mau tahu</span></em>&#8220;</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">73. mbayangke we sedih apa.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">74. enek, sing nglakoni [ha ha ha...]</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">75. direwangi <span style="text-decoration:underline;">nangis-nangis</span> <span style="text-decoration:underline;">ora entuk mulih</span>.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">76. <strong>Sigah</strong>: Ha.a. <span style="text-decoration:underline;">nangis</span> neng ngarep lawang,</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">77. <span style="text-decoration:underline;">ora entuk bali</span> tetepan &#8230;..</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">78. <strong>Endang</strong>: nganti jam telu</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">79. ngantek aneng kantin anu</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">80. &#8220;kowe ki seka ngendi wae ta ?&#8221;</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">81. &#8220;ngelih pak&#8221; ngono.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Dengan ucapan ini kita bisa melihat adegan di pabrik: para buruh perempuan yang lelah, lapar, dan menangis, berdiri di depan pintu gerbang yang terkunci. Bukannya diperbolehkan pulang, malah tangisan mereka dibalas dengan jawaban tegas, &#8220;saya nggak mau tahu&#8221;. Ucapan dari mulut penguasa ini sering diulangi oleh buruh sebagai simbol kebungkaman yang terpaksa mereka terima di pabrik. Dengan sering munculnya ucapan ini di dalam tuturan, bisa dilihat bahwa pembicarapun sering turut mendengungkan ucapan ini (lihat baris 15 juga). Jauh dari pabrik, mereka meminjam suara penindasan supaya bisa melawan kekejamannya (Bakhtin, 1981). Berbagai peneliti menulis bahwa dengan mengutip ucapan orang lain (<em>reported speech</em>), tanggungjawab pembicara semakin kurang terhadap ucapan tersebut (misalnya Duranti, 1993; Graham, 1993; Shuman, 1993). Namun, justru disini pembicara melakukan keterbaliknya. Dengan mengutip suara majikan yang sedang membungkamkannya, mereka memberdayakan <em>&#8216;hidden transcript&#8217; </em>(Scott, 1990), dan memperkuat suara kesatuan dan pelawanan.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Sigah mengulangi ucapan Sari (baris 76 dan 77) untuk menegakkan kebersatuan dengan Sari sambil menambahi keterangkan lokasi. Ucapan Endang (baris 78-81) memindahkan adegan kekejaman ke kantin di mana beberapa buruh sedang bersembunyi. Endang mengulangi lagi apa yang disebut di sana, sambil menjelaskan perselisihan antara penguasa dan yang tertindas. Dengan tuturan ini, sang penguasa marah karena sang tertindas meninggalkan tempat kerja.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Yang paling penting di tuturan ini adalah bahwa tidak satupun ucapan menegaskan posisi individu, karena yang terlibat sama sekali tidak dimunculkan. Setiap subjek kosong. Dengan bertutur bersama, merekasedang membangun riwayat kebersatuan di mana setiap buruh bersama-sama dikorbankan oleh ketidakadilan. Strategi (<em>agency</em>) ini menggambarkan perasaan tanggungjawab mereka secara kolektif untuk membangun solidaritas dengan menghilangkan kepribadian individu. Kepribadian masyarakat Jawa yang didasarkan pada unsur-unsur hierarki, sedang dihindari di sini sebagai unsur ketidak-berdayaannya.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Para pemrotes ini jelas tahu bahwa yang di posisikan di bawah di dalam tatanan sosial itu tidak boleh menentang legitimasi tatanan tersebut. Kaitan langsung antara partisipasi dalam sebuah perlawanan dan tanggungjawab terhadapnya berlaku kuat, yang berarti bahwa setiap sosok buruh yang berada di dalam konteks ini sama-sama bertanggungjawab atas pembentukan dan pemaknaan tuturan perlawanannya.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Mereka bertutur melalui satu suara tanpa membeda-bedakan status atau kepribadian karena mereka sangat membutuhkan kesatuan untuk menolak ketidakadilan yang tidak mampu mereka tolak. Konsekuensinya sudah sama-sama kita ketahui.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Sekarang kita akan pindah situasi untuk mendengarkan tuturan lagi tentang pabrik itu. Sari bersama dengan temannya sudah di PHK dan dituduh PKI oleh pasukan militer yang menungguinya di depan pabrik. Kira-kira dua minggu setelahnya, interaksi ini terjadi dengan mbakyunya, Atik, dan tetangganya, Yanti. Atik bekerja sebagai pegawai di sebuah SMP. Yanti, yang paling tua adalah guru SMP, dan memegang posisi paling terhormat dalam konteks ini. Kebertanggungjawaban muncul di sini sesuai dengan adat Jawa:</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><strong>(3)</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">17. <strong>Yanti</strong>: lha nggih</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">18. ning mikir awak.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">19. <strong>Sari</strong>: <span style="text-decoration:underline;">niki tha</span> gek jaman ting Taman Tirto tu</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">20. nganti nglembur niku</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">21. tekan jam loro bengi barang.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">22. <strong>Atik</strong> : <span style="text-decoration:underline;">nglembur</span> napa?</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">23. <strong>Sari</strong>: ha nek aku yo wegah.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">24. <strong>Atik</strong> : jam loro bengi!</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">25. lha kok le ngereh awak..</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">26. <strong>Sari</strong>: nek kula ngono.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">27. Mbok wis trima matur nuwun,</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">28. ha: mung ngga sepuluh ewu ta!</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">29. <strong>Yanti</strong>: ha nggih kula ta misale</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">30. tekan jam pitu ngono</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Setelah Yanti membuka topik pembicaraan, yaitu kesehatan, Sari menjelaskan bahwa dia pernah kerja lembur di pabrik garmennya sampai jam 2 malam. Posisi subjek pada baris 19 sampai 21 tidak menegaskan pengalaman pribadi, yaitu, tidak ada kata ganti orang pertama. Selain itu, Sari membuka tuturan dengan <em>niki tho</em> untuk mengikat ucapannya agar tergantung pada ucapan Yanti. Siasat ini memang biasa supaya yang berstatus rendah sedang menghormati yang berstatus tinggi. Sebagai tanda status rendah Sari, tuturan pabrik akan muncul sesuai dengan topik dan harapan yang sudah ditentukan oleh Yanti.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Hubungan kekuasaan berhierarkis masih berlaku di dalam keluarga sendiri dan dengan teman lama seperti terbukti di sini. Atik juga mengikuti topik Yanti dan geseran topik adiknya pada baris 22. Atik ulangi kata <em>nglembur</em> sambil menambahi tanda bertanya <em>nopo</em> dengan <em>basa madya</em>, yang membuktikan bahwa ucapan ini diungkapkan kepada Yanti dan bukan adiknya. Atik sedang minta ijin Yanti untuk menggeser topic kesehatan supaya juga menyentuh masalah nglembur. Yanti diam saja, berarti tidak berkeberatan.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Tuturan singkat Sari dan bagaimana dia menempatkan dirinya di dalamnya akan saya fokuskan:</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">23. <strong>Sari</strong>: ha nek aku yo wegah.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">26. <strong>Sari</strong>: nek kula ngono.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">27. Mbok wis trima matur nuwun,</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">28. ha: mung ngga sepuluh ewu ta!</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Tuturan Sari merupakan ekspresi pribadinya terhadap <em>nglembur</em> pada baris 23, &#8220;<em>ha nek aku ya, wegah!</em>&#8221; <em>Wegah</em> adalah kata yang menempatkan pembicara secara tegas. Sari memperlihatkan bahwa dia dengan tegas berhak menolak kerja <em>nglembur</em>nya. Lain dari tuturan protes di atas, posisi Sari ditegaskan melalui kata ganti pertama, <em>aku</em>, yang merupakan tanda utama <em>agency</em>nya (atau hak/kemampuan bertindak begitu).</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Di sini Sari menegakkan <em>agency</em>nya terhadap pabriknya mulai dengan baris 26, yang dilanjutkan oleh ucapannya yang sangat dramatik dan langsung menolak ketidakberdayaannya yang kita tahu sudah menimpanya di pabrik. Dengan istilah <em>trima</em> Sari menyentuh jantung alusnya wong cilik atau orang siapapun yang terpaksa ngalah sesuai dengan sistem sopan santun Jawa. Tapi perlawanannya ditandai dengan <em>Mbok</em>, sebuah penunjuk wacana yang menandai konflik pada tingkat wacana maupun konteks. Mbok menunjuk secara kontekstual bahwa penguasa pabrik mengharap kehendaknya akan diterima <em>toh</em>, dan yang keberatan akan diam saja (<em>nrima</em>). <em>Mbok</em> (irrealis= kecewa tapi tidak berdaya untuk membantah) memperlihatkan pada tingkat wacana juga bahwa ada konflik; <em>mbok</em> bertanda sarkasme yang muncul melalui ucapan yang berikutnya pada baris 28: <em>ha. mung ngga sepuluh ewu toh!</em></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Sesuai dengan struktur partisipasi, Sari menempatkan dirinya sendiri sebagai agen yang berkuasa sesuai dengan definisi <em>agency </em>barat. Padahal dia muncul sebagai agen di dalam peristiwa yang sama sekali berbeda dari yang kita lihat tadi. Sari sudah tahu bahwa Yanti dan Atik tidak pernah mengalami masalah <em>nglembur</em> seperti dia, maka dia tidak menuturkannya. Walaupun Yanti dan Atik pasti sudah tahu tentang masalah itu, Sari tidak menceritakannya karena dia tidak berani merusak kerukunan konteks. Daripada membicarakan topik yang sudah diketahui tetapi tidak dialami orang lain, Sari harus mengutamakan apa yang bersama antara anggota kelompok sosial ini. Maka Sari berbicara sebagai seorang yang juga menghadapi persoalan kantor yang bisa diatasi.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Penelitian partisipasi (barat) biasanya dimulai dengan golongan kepribadian yang terikat pada kata ganti, karena kata ganti tersebut dianggap petunjuk <em>agency </em>utama (Mühlhäusler &amp; Harré, 1990; Benveniste, 1971). Tetapi dalam wacana Sari, <em>agency </em>kelihatan tidak berfungsi sesuai dengan harapan itu karena Sari menempatkan dirinya sebagai orang yang berkuasa (agen), dan malah mampu melawan ketidakadilan-sedangkan kita sudah tahu bahwa ucapannya tidak betul. Menempatkan dirinya secara tegas, bisa disebut bahwa Sari sedang memamerkan sistem sopan santun Jawa sesuai dengan pengertiannya terhadap kepribadian Jawanya yang sangat rumit. Tuturan Sari tidak menempatkan dirinya secara fisik dan alami di dalam pabrik, tapi secara bertanggungjawab moral terhadap ketidakadilan yang menimpanya di pabrik sesuai dengan batasan konteks lokal yang ditafsirkannya sendiri. Kalau Sari menafsirkan konteks percakapan itu memerlukan sebuah tuturan maupun kepribadian tertentu, itulah juga membutuhkan dukungan penuh- dan pembohongan sama sekali tidak terhitung. Justru karena keluwesan seperti ini yang sangat diperlukan wong Jawa, saya mengutarakan teori <em>agency bertanggungjawab</em> ini.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Walaupun tidak satupun tuturan yang tertera di sini memamerkan Basa Jawa yang alus secara struktural, tuturan semuanya memamerkan sikap sopan santun melalui fungsi, yaitu <em>andhap asor, tepa slira</em>, yaitu kepekaan terhadap konteks sosial. Jelas sang pembicara semua sangat mengerti budi pekerti sesuai dengan keperluan sosial. <em>Agency </em>Sari di tuturan 3 bukan tanda petunjuk tempat kuat di dalam tuturannya, melainkan tanda kesediaannya untuk merendahkan dirinya sesuai dengan keperluan konteks. Maka, definisi umum tentang <em>basa ngoko</em> sebagai tingkat tutur tanpa tanda alus maupun sopan santun, terlalu sempit. Tanpa ucapan yang tergolong <em>basa</em>, Sari dan kawannya terbukti sangat terikat kepada sistem hormat sesuai dengan budi pekerti. Saya juga mau menanyakan apa artinya budi pekerti luhur. Dalam prakteknya, artinya adalah kemampuan pembicara untuk merendahkan dirinya (menghapus tanda kepribadiannya) sesuai dengan keperluan konteks. Apa mungkin budaya Jawa mampu menghilangkan unsur ketidakadilan dan penindasan dari praktek ini? Yang tertindas jelas melaksanakan budi pekerti sesuai dengan sistem sopan santun Jawa (lihat Berman 1998). Untuk betul-betul mencapai tujuan tema konferensi ini, yaitu membangun manusia Indonesia baru yang memiliki budi pekerti luhur, <em>wong gede</em> tidak boleh dibebaskan dari tindakan mulia itu seperti yang terlihat di pabrik &#8211; dan juga telihat dimana-mana dalam masyarakat.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Kutipan singkat dari proses penuturan perempuan Jawa bersama teman-temannya dan anggota keluarganya bisa memperlihatkan bagaimana ketatnya sistem kerukunan (semu) yang berlaku. Seperti ditulis Duranti tentang konteks paralel, &#8220;semakin tinggi status seseorang, semakin boleh menonjolkan kepribadianpembicara&#8221; (1993:44). Maka, sesuai dengan budi pekerti atau tahu dirinya a la Jawa, kita bisa melihat betapa pengalaman Sari sendiri terikat kepada rasa tanggung jawabnya kepada orang lain. Bukan masalah pribadi dan kebenaran yang penting, melainkan konteks sosial. Tetapi konteks yang dilestarikan adalah konteks yang serba tidak adil, yang melestarikan tindakan ABS (asal bapak seneng), dan kerukunan sosial yang semu. Semuanya didasarkan kepada hierarki dan penindasan wong cilik, karena justru yang paling tidak berdayalah yang paling bertanggungjawab membentuk kerukunan itu.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Dengan ketiga adegan yang tertera di sini, <em>agency bertanggungjawab</em> terlihat sebagai kontrak sosial yang menjamin kerukunan sesuai dengan tafsiran sang pembicara. Dengan analisa singkat ini, kita mulai melihat bahwa tuturan bahasa Jawa adalah sarana yang menunjukkan posisi sosial pembicara di dalam komunitas, di dalam konteks, dan di dalam konstruksi realitas yang diwujudkan melalui percakapan. Karena dasar hierarki ini, tuturan di konteks Jawa sangat berbeda dengan definisi tuturan baku (baca: barat). Di barat, narasi adalah semacam laporan tentang pengalaman dan tafsiran pribadi yang dituturkan oleh yang mengalaminya sendiri. Perbedaan dasar struktur dan fungsi narasi juga menyinggung perbedaan dalam konstruksi kepribadian dan identitas sosial, yang penting untuk meningkatkan pemahaman terhadap psikologi sosial dan kepribadian orang tertindas. Yang lebih mudah untuk diperlihatkan adalah bahwa kebiasaan interaksi sebagai tanggungjawab terhadap tatanan sosial melegitimasikan maupun memuliakan dominasi elit. Yang berkuasa boleh mengharap bawahan nrima terhadap ketidakadilan yang menimpanya. Dan kalau sudah terlewat batasan <em>nrima</em> itu, meletuskan konflik horizontal karena konflik vertikal itu tidak mungkin jadi.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Makalah ini menggambarkan secara singkat bagaimana tatanan sosial memaksakan warganya bertanggungjawab terhadap praksis percakapan sehari-hari yang juga membentuk bagaimana warganya memperlihatkan dirinya sendiri dan nota bene menghasilkan dan menghilangkan <em>agency </em> di Jawa Tengah. Walaupun tradisi Jawa sering disebut mulia, kebiasaan untuk menghargai tindakan alus lahir-batin bisa juga disamakan dengan semacam penindasan terhadap diri sendiri maupun masyarakat sekelilingnya.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Hasilnya adalah ketercekikan sosial yang mampu mengulangi tatanan sosial yang opresif sebagai nilai budaya luhur. Maka, dengan memakai pendekatan yang berdasar pada konteks dan bahasa sehari-hari, analisa wacana bisa mengutarakan kebenaran tanpa ditutupi oleh ideologi dan mitos.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><strong>Honolulu, 3 Maret 2001</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Makalah ini akan saya selenggarakan di Kongres Bahasa Jawa III, Juli 15-21, 2001.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><strong>PUSTAKA:</strong></p>
<p><span style="font-size:x-small;">Bakhtin, M. [1934]1981. The Dialogical Imagination. C. Emerson and M. Holquist eds. and trans. Austin: University of Texas Press.</span><br />
<span style="font-size:x-small;">Benveniste, E. 1971. The nature of pronouns. In Problems in General Linguistics. 217-222. Coral Gables, FL: University of Miami Press.</span><br />
<span style="font-size:x-small;">Berman, L. 1998. Speaking through the Silence: Narratives, Social Conventions and Power in Java. New York: Oxford University Press.</span><br />
<span style="font-size:x-small;">Davies, B. 1990. </span><span style="font-size:x-small;"><em>Agency </em></span><span style="font-size:x-small;"> as a form of discursive practice: A classroom scene observed. British Journal of Sociology of Education, 11 (3).</span><br />
<span style="font-size:x-small;">Duranti, A. 1993. Intentions, self and responsibility: An essay in Samoan ethnopragmatics. In Responsibility and evidence in oral discourse, ed., J. H. Hill and J. T. Irvine, 24-47. Cambridge University Press.</span><br />
<span style="font-size:x-small;">Errington, J. 1988. Structure and Style in Javanese. Philadelphia, PA: University of Pennsylvania Press.Graham, L. 1993. A public sphere in Amazonia?: The depersonalized collaborative construction of discourse in Xavante. American Ethnologist, 20:717-741.</span><br />
<span style="font-size:x-small;">Keeler, Ward. 1984. Javanese: A Cultural Approach. Ohio University SEAsian Series Monograph #69. Athens, OH: Ohio University Press.</span><br />
<span style="font-size:x-small;">Levinson, S. 1983 Pragmatics. Cambridge: Cambridge University Press.</span><br />
<span style="font-size:x-small;">Linde, C. 1993. Life stories: The creation of coherence. New York: Oxford University Press.</span><br />
<span style="font-size:x-small;">Mahoney, M and Yngvesson, B. 1992. The construction of subjectivity and the paradox of resistance: Reintegrating feminist anthropology and psychology. Signs, Journal of Women in Culture and Society. 18(1):45-72.</span><br />
<span style="font-size:x-small;">Mühlhäusler, P. and R. Harré. 1990. Personal pronouns. Oxford: Basil Blackwell.</span><br />
<span style="font-size:x-small;">O&#8217;Connor, P. 1994. Narratives of prisoners: A contribution to the grammar of </span><span style="font-size:x-small;"><em>agency </em></span><span style="font-size:x-small;">. Unpublished dissertation. Georgetown University, Washington, DC.</span><br />
<span style="font-size:x-small;">Schiffrin, D. 1987. Discourse markers. Cambridge: Cambridge University Press.</span><br />
<span style="font-size:x-small;">Scott, J. 1990. Domination and the Arts of Resistance. New Haven, CN: Yale University Press</span><br />
<span style="font-size:x-small;">Shuman, A. 1993. &#8220;Get outta my face&#8221;: Entitlement and authoritative discourse. In Responsibility and evidence in oral discourse, ed., J. H. Hill and J. T. Irvine, 135-160. Cambridge University Press.</span><br />
<span style="font-size:x-small;">Tannen, D. 1989. Talking voices: Repetition, dialogue, and imagery in conversational discourse. Cambridge University Press.</span><br />
<span style="font-size:x-small;">Wolff, J. and S. Poedjosoedarmo. 1982. Communicative Codes in Central Java. Data Paper #116 Southeast Asia Program. Ithaca: Cornell University Press.</span><br />
<span style="font-size:x-small;">Wolfowitz, Clare. 1991. Language style and social space: Stylistic choice in Suriname Javanese. Illinois Studies in Anthropology No. 18. Urbana: University of Illinois Press.</span><br />
<span style="font-size:x-small;"><strong>*BIODATA</strong></span><br />
<span style="font-size:x-small;"><strong>Nama</strong></span><span style="font-size:x-small;">: Dr. Laine Bermantempat: New York, USA</span><br />
<span style="font-size:x-small;"><strong>Tanggal</strong></span><span style="font-size:x-small;"> lahir: 20 Juli 1955</span><br />
<span style="font-size:x-small;"><strong>Pekerjaan</strong></span><span style="font-size:x-small;">: ketua jurusan Bahasa Indonesia, University of Hawaii</span><br />
<span style="font-size:x-small;"><strong>Karya-karya: Buku:</strong></span><br />
<span style="font-size:x-small;">Speaking through the Silence: Narratives, Social Conventions, and Power in Java. 1998. New York: Oxford University Press.</span><br />
<span style="font-size:x-small;"><strong>Jurnal:</strong></span><br />
<span style="font-size:x-small;">&#8220;Comics as social commentary in Java, Indonesia.&#8221; In press. In J. Lent (ed.) Illustrating Asia: Comics, Humor Magazines, and Picture Books. London: Curzon Press.</span><br />
<span style="font-size:x-small;">&#8220;Dignity in tragedy: How Javanese women speak of emotion.&#8221; In G. Palmer &amp; D. Occhi (eds.) Languages of Sentiment. Pp. 65-105. London: John Benjamins. 2000.</span><br />
<span style="font-size:x-small;">&#8220;Surviving on the streets of Java: Homeless children’s narratives of violence.&#8221; In Discourse &amp; Society. 11(2):149-174. 2000.</span><br />
<span style="font-size:x-small;">&#8220;The art of street politics in Indonesia.&#8221; In T. Lindsey &amp; H. O’Neill (eds.) Awas! Recent art from Indonesia. Pp. 75-84. Melbourne: Indonesian Arts Society. 1999.</span><br />
<span style="font-size:x-small;">&#8220;Strategies of positioning in ‘national’ discourses.&#8221; In L. van Langenhove &amp; R. Harré (eds.) Positioning Theory: Moral Contexts of Intentional Action. Pp. 138-159. Oxford: Blackwell. 1999.</span></p>
Posted in Linguistik  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tongkronganbudaya.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tongkronganbudaya.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tongkronganbudaya.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tongkronganbudaya.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/108/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=108&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" /></div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BudidayaBudaya/~4/-XwE4HYJTGY" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2009/04/12/kepribadian-dalam-tuturan-bahasa-jawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8a4e003d1e5ac77fb4b04e490f5ca2b4?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Nongkrong</media:title>
		</media:content>
	<feedburner:origLink>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2009/04/12/kepribadian-dalam-tuturan-bahasa-jawa/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Sair Sajak Edi Slenger (1)</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/BudidayaBudaya/~3/uqoDPQnSGpM/</link>
		<comments>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2009/03/19/sair-sajak-edi-slenger-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Mar 2009 16:26:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nongkrong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tongkronganbudaya.wordpress.com/?p=104</guid>
		<description><![CDATA[NARASI XIX
(Sangsi)

Tidakkah kau saksikan
Burung-burung di atas gereja
Itu memeram rindu semisal
Aku yang kau tinggalkan dengan
Puisi tak jadi lantaran sebuah kata
Yang lupa aku rangkai


Namun entah mengapa kudapati jawabmu
— Takada seekor burungpun yang kusaksikan
di atas gereja itu —


Malang, 2007


NARASI XX


Gugur layu bunga
: Kemarau berdendang
di penghujung waktu


 Malang, 2007

NARASI XXI


Bulan sabit di pinggir telaga
Mengeram kejora di kening ibu
Taukah kau? [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=104&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="margin-bottom:0;" lang="fi-FI"><strong>NARASI XIX</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;"><em>(Sangsi)</em></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="fi-FI">
<p style="margin-bottom:0;" lang="fi-FI">Tidakkah kau saksikan</p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="fi-FI">Burung-burung di atas gereja</p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="fi-FI">Itu memeram rindu semisal</p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="fi-FI">Aku yang kau tinggalkan dengan</p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="fi-FI">Puisi tak jadi lantaran sebuah kata</p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="fi-FI">Yang lupa aku rangkai</p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="fi-FI">
<p style="margin-bottom:0;" lang="fi-FI">
<p style="margin-bottom:0;" lang="fi-FI">Namun entah mengapa kudapati jawabmu</p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="fi-FI">— Takada seekor burungpun yang kusaksikan</p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="fi-FI">di atas gereja itu —</p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="fi-FI">
<p style="margin-bottom:0;" lang="fi-FI">
<p style="margin-bottom:0;"><em>Malang, 2007</em></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE">
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE">
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE"><strong>NARASI XX</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE">
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE">
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE">Gugur layu bunga</p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="de-DE">: Kemarau berdendang</p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="de-DE">di penghujung waktu</p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="de-DE">
<p style="margin-bottom:0;" lang="de-DE">
<p style="margin-bottom:0;" lang="de-DE"><em> Malang, 2007</em></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="de-DE">
<p style="margin-bottom:0;" lang="it-IT"><strong>NARASI XXI</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="it-IT">
<p style="margin-bottom:0;" lang="it-IT">
<p style="margin-bottom:0;" lang="it-IT">Bulan sabit di pinggir telaga</p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="it-IT">Mengeram kejora di kening ibu</p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="it-IT">Taukah kau? Kau tak menjawab</p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="it-IT">Malah berpaling ke semak-semak</p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="it-IT">
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE">Lalu beranjak</p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE">
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE">
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE"><em>Malang, 2007 </em></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE">
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE">
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE"><strong>NARASI XXII</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE">
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE">Gerimis di luar itu</p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="fi-FI">Kini berganti hujan</p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="fi-FI">“Ya berganti hujan, hujan</p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="fi-FI">kata namanya” kemudian</p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="fi-FI">menulis dauanan di halaman</p>
<p style="margin-bottom:0;">bersama diammu</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><em> Malang, 2007</em></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><strong>NARASI XXII</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Hujan yang rintik menulismu pada</p>
<p style="margin-bottom:0;">Daunan yang mengering, padahal</p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="fi-FI">Tak kemarau</p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="fi-FI">Kaupun memulainya dengan kuncup</p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE">Lalu kembang tanpa bertanya tentang layu</p>
<p style="margin-bottom:0;"><em>Malang, 2007</em></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><em><img class="alignleft size-full wp-image-105" title="n1511464492_9978" src="http://tongkronganbudaya.files.wordpress.com/2009/03/n1511464492_9978.jpg?w=88&#038;h=116" alt="n1511464492_9978" width="88" height="116" />*Edi Slenger</em>, lahri di Madura 1986, mahasiswa Aktif Studi Bahasa dan Sastra Inggris UIN Malang. Pegiat di sanggar sastra “Tinta Langit Malang”, Teater K2 UIN Malang. Publikasi Karya: Puisi “Nyanyian Ibu” (Koran Harian Malang Post), Puisi “Pijar Sabda” (Juara 1 Lomba sajak UIN Malang), Puisi “Perjalanan 1” (Majalah sastra el-Madani). Puisi “Narasi dan Kidung Senja” (Koran Harian Surya) Email: <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><a class="western" href="mailto:edislenger@telkom.net"><span style="color:#0000ff;">edislenger@telkom.net</span></a></span></span></p>
Posted in Puisi, Sastra  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tongkronganbudaya.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tongkronganbudaya.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tongkronganbudaya.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tongkronganbudaya.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/104/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=104&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" /></div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BudidayaBudaya/~4/uqoDPQnSGpM" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2009/03/19/sair-sajak-edi-slenger-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8a4e003d1e5ac77fb4b04e490f5ca2b4?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Nongkrong</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tongkronganbudaya.files.wordpress.com/2009/03/n1511464492_9978.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">n1511464492_9978</media:title>
		</media:content>
	<feedburner:origLink>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2009/03/19/sair-sajak-edi-slenger-1/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Sajak Dan Anggapan Umum</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/BudidayaBudaya/~3/qw3qWF7h9aM/</link>
		<comments>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2009/03/19/sajak-dan-anggapan-umum/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Mar 2009 15:06:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nongkrong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Tela'ah Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tongkronganbudaya.wordpress.com/?p=101</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Edi Slenger*
Puisi bukanlah pameran sengkarut imaji atau sulapan bunyi, melainkan rangkaian sari 
bening kata yang di suling dari dunia sehari-hari (osip mandelstam)

Berbicara tentang sebuah sajak memang tidak akan terlepas dari nilai-nilai ke indahan (estetik) sebab ia lahir dari kesunyian jiwa, rasa, hati seorang penyair, namun terkadang hal itu atau bahkan sudah lumrah dan nota [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=101&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="margin-bottom:0;" align="center"><strong><span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;">Oleh: Edi Slenger*</span></strong></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center"><span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><em>Puisi bukanlah pameran sengkarut imaji atau sulapan bunyi, melainkan rangkaian sari </em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center"><span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><em>bening kata yang di suling dari dunia sehari-hari (osip mandelstam)</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;">Berbicara tentang sebuah sajak memang tidak akan terlepas dari nilai-nilai ke indahan (estetik) sebab ia lahir dari kesunyian jiwa, rasa, hati seorang penyair, namun terkadang hal itu atau bahkan sudah lumrah dan nota bene-nya dijadikan streotipe bahwa sajak haruslah estetik <em>(bahasa yang indah),</em> jadi tidak heran ketika ada pemula yang menulis sebuah sajak dengan bahasa melangit ataupun yang terbiasa walaupun pada kenyataannya <em>(esensi)</em> kandungan atau nilai <em>(pesan)</em> yang akan disampaikan tidak sampai ketangan para pembaca dikarenakan semraut bahkan terlalu mendayu-dayu, hingga pembaca sendiri kebingungan menangkap apa yang disampaikan oleh si penulis.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;">Angapan umum <em>(common sense)</em> pada sajak disini sering dibuat pijakan hampir oleh mayoritas kalangan yang memahaminya secara parsial, ialah bahwa bahasa sajak harus indah. Dan anggapan ini adalah salah, seperti yang di ungkap oleh Abdul Hadi W. M. <em>“Salah satu anggapan umum yang keliru mengenai sajak ialah bahwa bahasanya mesti indah ungkapannya atau dapat mengguncangkan pembaca. Maka tidak jarang penulis memenuhi sajaknyua dengan ungkapan atau kata-kata berbunga atau memenuhi dengan citraan-citraan liar. Padahal yang disebut pengucapan indah dalam sajak ialah terletak pada ketepatan dan ketajaman daya ucapnya dalam menghidupkan gagasan, perasaan atau suasana puitik”.<span id="more-101"></span> </em></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;">Permasalahan yang sangat fundamental dan krusial sekali adalah, bagaimana kita bisa menghilangkan dan menghapus padangan-pandangan —asumsi— atau klaim yang tidak pas terhadap sejatinya sajak, supaya mereka mengerti betul kalau bahasa sebuah sajak yang digunakan tidak mesti dan selalu indah, khususnya pada semua mereka yang masih dini mempelajari dan mengetahuinya. Seperti yang juga di ungkap oleh Nawal El-Sadawi </span><span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"><em>“Saatnya membawa pembaca membaca diatas kesadarannya, bukan lagi dibawah kesadarannya</em></span><em>&#8220;</em><span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"> dalam artian bagaimana kita menyuguhkan karya kita yang baik sehingga pembaca tidak kebingungan dalam mersepon serta mereka tetap membaca diatas kesadaran —memahami karya sastra secara utuh— dan tidak </span><span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"><em>taken for granted.</em></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;">Maka dari itu —sebuah tuntutan bagi kita— kita harus paham betul ketika kita mau menulis sajak agar apa yang akan kita tulis dan sampaikan bisa di tangkap dengan mudah yaitu dalam membangun citraan. Mengapa demikian, sebab citraan disini sangat penting untuk membangun ketajaman serta terlahirnya sajak yang memiliki ruh bagi khalayak dan mudah di tangkap.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"> </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;">Satu contoh sajak sederhana tapi menakjubkan yaitu dalam sajaknya Sapardi Joko Damono, yang dibangun dengan citraan dan tidak memprioritaskan kata yang berbunga namun aksentuasinya langsung pada sinergisitas penciptaan dan nilai dalam sajak yang akan disampaikan pada pembaca, “</span><span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"><em>Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, lewat kata yang tak sempat di ucapkan kayu pada api yang menjadikannya abu, aku ingin mencintaimu dengan  sederhana, lewat isyarat yang taksempat disampaikan awan pada hujan yang menjadikannya tiada”</em></span><span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"> sajak ini lahir dari spritualitas kontemplatif aku </span><span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"><em>(lirik)</em></span><span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"> dalam memenuhi ruang sejatinya sajak, yaitu citraan dan bukan semata-mata pada sejatinya kata, sebab jika dibangun dengan sejatinya kata maka yang di prioritaskan adalah bahasa dan kata yang berbunga serta melangit tapi alpa dari makna.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"> </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;">Paparan diatas ini adalah gambaran sekilas bagi kita dan ruang publik agar dalam merespon dan menginterpretasikan juga memahami karya sastra <em>(sajak)</em> tidak menyimpang, meskipun secara faktual ketika sebuah tulisan berada ditangan para pembaca, adalah hak atau otoritas pembaca itu sendiri. <em>Wallahu a’lam</em></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p><span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"><em>*Edi Slenger</em>, mahasiswa Aktif Studi Bahasa dan Sastra Inggris UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Pegiat di sanggar sastra “Tinta Langit Malang” Teater K2. <span style="color:#0000ff;">email: edislenger@telkom.net</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
Posted in Sastra, Tela'ah Sastra  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tongkronganbudaya.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tongkronganbudaya.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tongkronganbudaya.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tongkronganbudaya.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/101/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=101&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" /></div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BudidayaBudaya/~4/qw3qWF7h9aM" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2009/03/19/sajak-dan-anggapan-umum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8a4e003d1e5ac77fb4b04e490f5ca2b4?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Nongkrong</media:title>
		</media:content>
	<feedburner:origLink>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2009/03/19/sajak-dan-anggapan-umum/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Senjakala Kematian Danarto dan Budi Darma</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/BudidayaBudaya/~3/rIGhD9iwqzE/</link>
		<comments>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2009/01/09/senjakala-kematian-danarto-dan-budi-darma/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Jan 2009 22:04:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nongkrong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budi Darma]]></category>
		<category><![CDATA[Danarto]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Tela'ah Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tongkronganbudaya.wordpress.com/?p=94</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Musthafa Amin*

Kematian adalah sesuatu yang tidak terelakkan. Sebagai salah satu prima pincipia kehidupan, kematian adalah pilihan yang tidak memiliki opsi. Ia adalah hal yang tak terelakkan bagi manusia. Satu kepastian tunggal dengan proses yang beragam. Sejenak bila membaca tulisan Fayyadl di dalam Blognya, dengan tema Filsafat Kematian (Philosophy of Death): Sebuah Hantaran Metodologis Awal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=94&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="font-family:Garamond,serif;"><strong>Oleh: Musthafa Amin*</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<div id="attachment_95" class="wp-caption alignleft" style="width: 130px"><img class="size-medium wp-image-95" title="danarto-darma" src="http://tongkronganbudaya.files.wordpress.com/2009/01/baca-buku-2.jpg?w=120&#038;h=185" alt="danarto-darma" width="120" height="185" /><p class="wp-caption-text">Kacapiring, Laki-Laki Lain Dalam Secarik Surat</p></div>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Kematian adalah sesuatu yang tidak terelakkan. Sebagai salah satu <em>prima pincipia</em> kehidupan, kematian adalah pilihan yang tidak memiliki opsi. Ia adalah hal yang tak terelakkan bagi manusia. Satu kepastian tunggal dengan proses yang beragam. Sejenak bila membaca tulisan Fayyadl di dalam Blognya, dengan tema <em>Filsafat Kematian (Philosophy of Death): Sebuah Hantaran Metodologis Awal </em>ada satu hal yang menggelikan, bahkan saya pun sempat tertegun ketika teringat tentang banyak orang yang membicarakan kematian. Manusia sebenarnya membicarakan kematian secara apriori. Bagaimana kita berbicara tentang kematian, sementara kita belum pernah mengalaminya? </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Toh, kemudian, landasan filosofis masih belum bisa menghentikan keinginan manusia untuk selalu menguraikan tentang kematian bahkan proses setelah itu, melangkah jauh hingga ke bagian eskatologi, tentang hari pembalasan sebagai batasan-batasan perilaku manusia sebagai makhluk unggul. </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Tulisan ini, dengan sekedarnya, ingin memaparkan bagaimana ketika seorang sastrawan berkehendak melakukan eskplorasi tentang “kematian” dalam karyanya, bagaimana mereka menyikapi kematian sebagai pilihan hidup yang tidak bisa ditawar. Pilihan tokoh sastrawan berikut tidak memiliki landasan ilmiah apapun, karena ini adalah sebuah kebetulan saja penulis menemukan sebuah karya dua orang sastrawan yang menjadikan “kematian” sebagai tema dalam salah satu prosanya. Keduanya adalah Danarto dan Budi Darma.<span id="more-94"></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Dalam cerpen pembuka <em>Jantung Hati</em>, dalam buku kumpulan cerpen <em>Kacapiring</em> (2008), Danarto memosisikan keakuannya dalam kematian. Tokoh utama adalah aku-lirik yang jasadnya sudah mati dikebumikan. Ia meninggal karena serangan jantung. Jantungnya berhenti berdetak karena ledakan bom di dekatnya. Dalam karya ini, dikisahkan tentang perjalanan sang tokoh utama setelah meninggal. Jadi, cerita ini dimulai dengan aku-lirik yang “hidup” di alam baka atau lebih tepatnya proses penafsiran Danarto tentang alam kubur. Bagaimana proses dia sampai menuju akhirat, akhir segala sesuatu, akhir di mana segala perbuatan dipertanggungjawabkan, akhir ditentukannya seseorang akan berakhir di mana dan akan diapakan; disiksa atau dijamu. Meski, pada akhirnya, di luar dugaan adalah bagaimana rupa surga ketika diwajahkan Danarto di akhir cerita. </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"></p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 118px"><span><span><img title="danarto" src="http://www.tamanismailmarzuki.com/tokoh/danarto_files/image004.jpg" alt="Danarto" width="108" height="162" /></span></span><p class="wp-caption-text">Danarto</p></div>
<p>Beliau, Danarto, bila disebut sebagai pelopor realisme magis—sebagaimana ditulis Goenawan Muhammad di pengantar, cukup beralasan, sebab tema yang diangkat Danarto adalah fenomena sehari-hari dengan diselingi dengan perjalanan yang sering membuat pembaca menganga, perjalanan yang bernuansa mitos dan metafisik. Apalagi <em>suspense </em>yang diberikan di akhir cerita, sering mengejutkan dan menggiring kita ke pelabuhan yang tidak kita tuju pada awalnya. </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Kematian diuraikan oleh Sastrawan yang cukup religius ini sebagai sebuah kendaraan. Tidak ada beda antara hidup dan mati, keduanya adalah kendaraan yang hanya berbeda nama. Kematian itu hanyalah perpindahan ke alam lain. Dengan demikian, “kematian’ itu bisa dipahami sebagai akhir satu kehidupan dan awal dari kehidupan yang baru. Toh, kenapa kematian itu harus ditakuti bilama kita masih akan hidup dengan jasad yang sama, meski dengan alam yang berbeda dengan alam yang kita diami sebelumnya. Apalagi, ditilik lebih lanjut, sebenarnya, merujuk pada kepercayaan Islam, kita diajarkan tentang lima alam yang akan kita lewati, yaitu alam roh, alam rahim, alam dunia, alam kubur, dan alam akhirat. Toh, walau begitu cerpen ini hanya mengimajinasikan tiga alam terakhir. </span></span></p>
<blockquote>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="color:#ff0000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Ternyata kematian itu membahagiakan. Sungguh di luar dugaan. Kematian itu tidak terbatas. Luas bagai cakrawala. Mengapa harus ditangisi? Jelas ini salah tafsir (Danarto, 2008: 10). </span></span></span></p>
</blockquote>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Cerpen pertama <em>Jantung Hati</em> karya Danarto sangat lekat dengan wilayah doktriner-doktriner keagamaan. Meski bertabur metafor, dari awal kalimat hingga cerpen berkesudahan masih erat mengglambyarkan nuansa doktriner agama, agama Islam tentunya. Tapi di sinilah cerdiknya Danarto, kesan doktrin agama yang kaku berubah menjadi menarik dan unik, tiada kesan instruktif tetapi menyelami kesadaran dan merubahnya. Taburan metafor itu terungkap dari kalimat berikut. </span></span></p>
<blockquote>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="color:#ff0000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Tubuh malaikat itu dipenuhi mata yang bukan main banyaknya, boleh jadi tak terhitung…Setiap satu mata Izrail mengedip, satu nyawa tercabut dari tubuh manusia…(Danarto, 2008: 08 )</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="color:#ff0000;"> </span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="color:#ff0000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Tiba-tiba Izrail lenyap digantikan oleh sekuntum malaikat lain yang berbeda. Tubuh malaikat yang muncul tiba-tiba itu berubah bentuknya, dari mawar, lalu melati, kemudian kenanga, lantas bunga matahari, lalu berubah lagi menjadi anggrek putih dengan sejumlah noktah berwarna violet, hijau dan oranye. Kembang-kembang itu ukurannya lebih besar ketimbang manusia. Kadang mekar besar sekali memenuhi angkasa. (Danarto, 2008: 09) </span></span></span></p>
</blockquote>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Izrail adalah suatu lambang kematian, dialah malaikat pencabut nyawa. Imaji banyak mata di atas identik dengan sikap Izrail yang terkesan tanpa belas kasihan, hanya berlandaskan ketetapan yang termaktub dalam <em>lauh mahfudz</em>, dan tanpa tedeng aling-aling dia mencabut nyawa manusia dengan mudah ibarat seseorang yang mengedipkan mata. Meski begitu, analogi tercerabutnya nyawa dengan kedipan mata yang dilakukan Izrail bukannya menjelaskan bahwa tiada kontrol darinya, namun itu adalah sebuah keteraturan tunggal. Hal tersebut melambangkan tentang tidak berdayanya ikhtiar manusia atas keniscayaan universal (takdir?). </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Sementara imaji bunga sebagai rupa tubuh Izrail ketika menemui sang aku-lirik menggambarkan sosok kelembutan, sebagaimana sosok bunga dalam karya sastra lain yang identik dengan cinta, kelembutan, keramahan dan cinta. Bentuk bunga ini dimaknai sebagai pertanda Izrail pun bisa berlaku ramah, karena sang aku-lirik meninggal dengan keadaan syahid. </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Tokoh Izrail tersebut memiliki dua identitas berbeda dan kesan yang berbeda pula, berdasarkan bentuknya. Dengan demikian, ada oposisi sejajar di sini atau homologi empat terma (<em>four-term homology</em>)—jika meminjam istilah Kris Budiman, atau kaum strukturalis—yang bisa diskemakan sebagai berikut.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Mata : Bunga		—		Kedip : Mekar </strong></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Predikat yang melekat dengan subjek bunga adalah kedip (berkedip) yang mana mata berkedip adalah tanda hilangnya satu nyawa. Sebuah kematian yang menyisakan duka banyak orang. Sementara bunga memiliki predikat atau verba mekar, yang seringkali dimaknai dengan keindahan. Kecantikan sering dipandang dengan bunga yang mekar karena bau harum yang akan tercium. Terlepas bentuk Izrail yang sebenarnya, sosok yang ditawarkan Danarto ini cukup mengubah citra Izrail yang menakutkan. </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Ini adalah bentuk penafsiran baru Danarto tentang dunia selanjutnya, dunia kubur dan akhirat. Apa yang ditawarkan Danarto dalam karyanya ini adalah pengungkapan bahwa dunia gaib tidak selamanya identik dengan wajah yang sudah digambarkan banyak tokoh keagamaan. Sebut lagi contoh, adalah akhir perjalanan sang aku-lirik di dalam cerpen ini. Sangat tidak terduga. Dengan diselingi kabut tebal pertanda begitu rahasia dan tertutup, rupa surga—sepenafsiran saya, ternyata tidak dipenuhi bidadari-bidadari atau dayang-dayang dari Kahyangan. Yang hadir di sana adalah keluarga sang aku-lirik yang terdiri dari istri dan anak-anaknya. Memang tidak bisa dipungkiri, dan lagi-lagi memang beralasan, keluarga lah yang menjadikan hidup lebih berarti, lebih sedap dan menyenangkan. Kira-kira itulah bentuk surga, berkumpul dengan keluarga di alam fana. </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Akhirnya, dapat saya temukan relasi judul (<em>lead</em>) dengan tubuh cerita (<em>story</em>). Saya dapat mengait-kelindankan hubungan keluarga ini dengan judul cerpen itu sendiri. Jantung Hati, dalam bahasa sehari-hari memang identik dengan putra atau putri kita. Barangkali cukup menjebak pada awalnya, dengan judul <em>Jantung Hati</em>, ditambah lagi dengan sebab meninggalnya tokoh utama, aku-lirik, karena penyakit jantung, seolah menjelaskan bahwa kematian itu adalah jantung kehidupan itu sendiri. Kematian adalah proses lahirnya putra yang kita idam-idamkan. Kelahiran dunia baru, dunia penuh rahasia yang kita harapkan sebelumnya. Namun pada kenyataannya, <em>Jantung Hati</em> memang bermakna secara literlek sebagai putra atau keluarga, bagaimana pentingnya arti keluarga. Sehingga di dalam “surga” pun keluarga dihadirkan untuk mendampingi. Dengan demikian, proses penempuhan alam kubur itu adalah perantara untuk memahami hal tersebut. </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"></p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 131px"><span><span><img title="darma" src="http://www.pusatbahasa.diknas.go.id/laman/images/tokoh/budi_darma.jpg" alt="Budi Darma" width="121" height="134" /></span></span><p class="wp-caption-text">Budi Darma</p></div>
<p>Sementara, beralih pada karya Budi Darma, <em>Krematorium Itu untukku, </em>dalam buku kumpulan <em>Laki-Laki Lain dalam Secarik Surat</em> (2008), Budi Darma memberikan saya perjalanan yang melelahkan, untuk menemukan inti cerita tentang kematian. Tokoh utama yang juga digayakan dengan aku-lirik, mengeksplorasi banyak hal tentang tentang hal-hal yang berelasi dengan persoalan sosial. Misalkan pekuburan, yang menjadi peristirahatan terakhir, tidak mendapat perhatian penuh pemerintah. Lahan-lahan tempat berbaring orang mati itu menjadi wilayah kekuasaan kaum miskin untuk mengais nafkah. </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Tokoh utama, aku-lirik, diceritakan sebagai pemuda yang sakitnya belum pulih benar. Dia sedang menunggu pemakaman ayah sahabatnya. Lama dia berdiam di pekuburan, sampai akhirnya dia tahu bahwa ayah sahabatnya itu tidak dimakamkan melainkan dikremasi. Akhirnya, dibantu anak-anak kecil pencari nafkah di kuburan, dia menuju krematorium untuk menjemput takdirnya di sana; di bakar hidup-hidup. Itulah secara sekilas gambaran cerita ini.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Cerita ini penuh sosok-sosok manusia ganjil, aneh, amoral dengan gaya penceritaan yang kadangkala absurd, kendati Budi Darma juga menyodorkan problematika sosial yang sedang berkembang semisal legalisasi tempat pelacuran oleh pemerintah kota dalam suatu kawasan. Sehingga bisa jadi, perkuburan pun menjadi alternatif transaksi seksual dan persetubuhannya.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Sedangkan dari sudut memaknai kematian, Budi Darma menciptakan dikotomi muda dan tua. Dia memaparkan bahwa sikap manusia menangapi kematian seseorang tergantung pada umurnya. Apakah dia mati muda atau tua. Hal ini bisa dieksplorasi dalam kalimat berikut. </span></span></p>
<blockquote>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><span style="color:#ff0000;">Dan setiap orang muda mati pasti dia ditangisi sejadi-jadinya. Dan kalau yang mati orang yang sudah tua yang sudah tidak dibutuhkan tenaganya, yang hanya menjadi beban orang lain saja karena sudah tidak mampu lagi bekerja, tak akan banyak orang yang menangisi (Darma, 2008: 03).</span></span></span></p>
</blockquote>
<blockquote>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><span style="color:#ff0000;">Dan rupa-rupanya orang-orang yang mengiringkan jenazah ini tidak menunjukkan rasa duka. Yang meninggal pasti bukan orang yang masih muda (Darma, 2008: 03).</span> </span></span></p>
</blockquote>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Jikalau demikian, pemahaman yang ada dari teks tersebut di atas, adalah orang yang mati muda lebih meninggalkan duka ketimbang orang mati tua, karena dianggap memang sudah seharusnya mati. Dengan demikian, kita juga menemukan oposisi sejajar di sini atau homologi empat terma, yaitu:</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="color:#ff0000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>Tua : muda		—  	tidak ditangisi : ditangisi</strong></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Danarto pun, meski tidak menjadikannya tema utama dan hanya sekedarnya saja menuliskannya di paragraf pertama, menceritakan tentang kehilangan keluarga sang tokoh utama karena dia masih muda. Seperti yang tertulis dalam kalimat <span style="color:#ff0000;">[<em>Mereka seperti tidak percaya bahwa hari ini tubuh saya yang masih segar dimasukkan ke liang lahat. Mereka sangat kehilangan karena kepergian saya yang tiba-tiba dalam usia muda</em> (Danarto, 2008: 07)]</span>.  Meskipun demikian, dua oposisi ini masih perlu dipertanyakan bilamana melihat konstruksi kalimat majemuk di dua paragraf cerpen <em>Krematorium Itu untukku</em> di atas. Seolah-olah oposisi ini akan hancur jika orang tua yang mati itu masih dibutuhkan tenaganya, tidak menjadi beban. Dengan demikian homologi empat terma ini pun mengalami substitusi, sebagaimana berikut. </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="color:#ff0000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>Lemah : Kuat		—	Harus Mati : Jangan Mati </strong></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Secara keseluruhan, substitusi ini sebenarnya adalah model pemaknaan ulang terhadap runtutan cerita di mana tokoh utama ini akhirnya pun dibakar hidup-hidup di dalam krematorium itu bersama jasad ayah Corie. Dan disebutkan sejak awal, bahwa dengan keadaan dia yang masih belum pulih, pucat dan kurang sehat dia, diceritakan, dipandang orang dengan aneh. Apalagi umpatan-umpatan yang keluar dari penjaga krematorium yang membuatnya naik darah, dan meludahi wajah sang penjaga berulang-ulang. Juga, ketika dia sedang diusung ramai-ramai untuk dibakar, salah seorang sahabatnya berteriak bahwa dia sedang sakit. Hingga hemat penulis, sosok tua atau muda pun bukan masalah besar karena orang meninggal, dia akan ditangisi atau tidak berdasarkan dia mampu memberikan kenangan manis bukan beban. Pun tidak memandang dia tua ataupun muda, yang seharusnya meninggal jika memang harus ada, adalah mereka yang lemah dan tertindas. </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>Epilog </strong></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Dua karya berbeda dengan sastrawan yang beda karakter tentu akan menghasilkan karya yang berbeda meski tema yang diangkat secara umum sama. Penulis bisa klasifikasikan kematian diangkat kedua sastrawan sebagai peristiwa sebelum dan setelah. Memang jelas, dengan kematian sebagai keniscayaan universal memiliki ragam proses dan kesudahan. Bila Danarto menyederhanakan imaji-imaji perjalanan alam kubur dengan mendalam yang estetis, Budi Darma dengan model cerita yang abnormal dan kadang cenderung absurd, baik tokoh atau alur cerita lebih menekankan pada realita sosio-kultural masyarakat. Lebih-lebih perihal dominasi kaum-kaum elit dan kesengsaraan kaum bawah.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><strong><span style="font-family:Garamond,serif;"><span style="font-size:x-small;">* Mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris UIN Malang. Kontributor Blog Tongkrongan Budaya (TB) wilayah Malang.<span style="font-size:x-small;"> </span></span></span></strong></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Tulisan ini sekedarnya, meski tidak mengada-ada. Berikut adalah puisi Moehammad Zaini tentang “kematian”—jika memang itu yang dimaksud. </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><strong><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">PAGI DI MATA YANG REDUP</span></span></strong></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Pagi di mata yang redup</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Sepasang sandal melintas di tatapannya</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Tubuh kumuh berbicara</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Terseret-seret di langkah lunglai</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Bocah itu dengan tanah apa beda</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Tubuh terbungkus hitam</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Sengatan matahari</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Bercerita sepanjang jalan</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Tentang doa yang bisu</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Mata yang kabut</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Oleh darah dan tanpa arah</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Luka-luka kerikil</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Dan pagi lenyap</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Tertimbun di kuburan tua.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Yogyakarta, 18-10-2008</span></span></p>
Posted in Budi Darma, Danarto, Kritik Sastra, Sastra, Tela'ah Sastra, Tokoh  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tongkronganbudaya.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tongkronganbudaya.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tongkronganbudaya.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tongkronganbudaya.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/94/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=94&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" /></div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BudidayaBudaya/~4/rIGhD9iwqzE" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2009/01/09/senjakala-kematian-danarto-dan-budi-darma/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8a4e003d1e5ac77fb4b04e490f5ca2b4?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Nongkrong</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tongkronganbudaya.files.wordpress.com/2009/01/baca-buku-2.jpg?w=194" medium="image">
			<media:title type="html">danarto-darma</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.tamanismailmarzuki.com/tokoh/danarto_files/image004.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">danarto</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.pusatbahasa.diknas.go.id/laman/images/tokoh/budi_darma.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">darma</media:title>
		</media:content>
	<feedburner:origLink>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2009/01/09/senjakala-kematian-danarto-dan-budi-darma/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Blogger; Status (Kelas) Sosial dari Dunia Maya</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/BudidayaBudaya/~3/AXEJxQz-Ti0/</link>
		<comments>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/12/09/blogger-status-kelas-sosial-dari-dunia-maya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Dec 2008 16:36:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nongkrong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teh Hangat]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[kompas]]></category>
		<category><![CDATA[marx]]></category>
		<category><![CDATA[tempo]]></category>
		<category><![CDATA[yasraf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tongkronganbudaya.wordpress.com/?p=90</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Muhammad Zaini
 Mungkin tak seberapa dalam saya mengenal dunia blog, namun saya sedikit  tergelitik, pasalnya minggu lalu tanggal 23 November, saya membaca uraian  menarik di Kompas dengan judul “Mabuk Dunia Maya, Sampai Lupa Etika”.  Saya tidak terlalu rajin membaca dan membeli koran, tetapi seketika koran  itu tergeletak di kamar salah seorang teman, mata saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=90&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Oleh: Muhammad Zaini</strong></p>
<p><a href="http://diazhandsome.files.wordpress.com/2008/04/blog-im.jpg"><img class="alignleft" title="blog" src="http://diazhandsome.files.wordpress.com/2008/04/blog-im.jpg?w=244&#038;h=162" alt="" width="244" height="162" /></a> Mungkin tak seberapa dalam saya mengenal dunia blog, namun saya sedikit  tergelitik, pasalnya minggu lalu tanggal 23 November, saya membaca uraian  menarik di Kompas dengan judul “Mabuk Dunia Maya, Sampai Lupa Etika”.  Saya tidak terlalu rajin membaca dan membeli koran, tetapi seketika koran  itu tergeletak di kamar salah seorang teman, mata saya merayap sampai di  judul itu. “Wah, etika dunia maya?” saya tertarik, sebab mungkin saya juga  punya blog di dunia maya atau seolah seolah-olah kata-kata itu menuding  saya “apa kamu beretika?” he..he..<br />
Tapi etika bagaimana yang dimaksud? Namun terlepas dari persoalan tentang  etika (yang saya kurang memahami prihal etika), ada beberapa kesimpulan  yang di benak saya prihal dunia maya, terutama apa yang disebut dengan  blogger. Saya terbayang sosok dan pemikiran Marx (saya bukan Marxis, neo,  atau komunis) tentang status social. Mungkin ia harus hidup lagi di sini, di  dunia maya, dan mungkin ia akan terkejut, dan lebih parah lagi, ia akan  menambahkan footnote panjang untuk apa yang disebut dengan blogger di buku Das Kapitalnya. Bukan di dunia nyata, tapi di dunia maya. Saya kira sosiolog perlu meneliti ini lagi, dan menamakan komunitasnya sebagai masyarakat blogger, he..<br />
Sekilas tentang blogger di mata saya, ia merupakan status baru dalam social yang entah sejak kapan ia lahir. Menurut Wicaksono salah satu wartawn Tempo yang juga mempunyai blog ndorokakung.com yang diurai di Kompas, di Indonesia, blog dikenal sejak tahun 2004 dan mulai sangat disenangi pada 2007. Sedang di dunia Internasional, blog dikenal sejak 1998. Lalu status seperti apakah sosok blogger di benak saya? Yang jelas bukan borjuis atau ploretar seperti yang dikatakan Marx. Sekali lagi atas dasar bayangan dan tanpa penelitian yang ilmiah, bagi saya sosok blogger hampir mirip dengan sosok borjuis tanpa exploitasi. Leptop atau komputer dimuka dengan segelas kopi dan beberapa bungkus rokok dan kacamata yang sedikit agak kusut, he..</p>
<p>Bukan, bukan sepenuhnya itu maksud saya. Kalau di dunia nyata ada sosok tokoh agama, kapitalis, rakyat miskin, ploretar dan semacamnya (entah apa bedanya??), di dunia maya ada yang namanya blogger. Seperti kata Yasraf yang menyebut dunia maya ini dunia hiperrealitas, maka mungkin saya menyebut status blogger, status hiperrealitas. Sebab, ketika saya serius membaca tentang dunia blogger di Kompas, saya seolah-olah berada pada dunia yang sebenarnya, benar-benar nyata. Tapi saya tidak tahu apa sebenarnya hiperrelitas, apakah nyata dari yang sebenarnya tidak nyata atau tidak nyata dari yang nyata. Entahlah.. (maaf pak Yasraf, saya gurau soal status hiperrealitas, he..). tapi bagaimana jika benar, akan berkembang suatu saat masyarakat blogger? Kelas seperti apakah yang akan disebut oleh Marx?<br />
Seperti telah dijelaskan di Kompas, bahwa beberapa komunitas blogger telah bergerak di dalam kegiatan kemasyarakatan. Memang, mereka (blogger) merupakan bagian dari msyarakat di dunia nyata, akan tetapi saya melihat berbeda jika kegiatan itu mengatas namakan komunitas blogger. Oleh karena itu saya sedikit punya asumsi akan berkembangnya komunitas tersebut sebagai masyarakat baru yang hidup di dunia maya dan mengada di dunia nyata. Jadi tidakkah ini menarik untuk di kaji, walaupun apa yang saya utarakan tidak berdasar ilmiah (tanpa dasar) akan tetapi sekedar uneg-uneg. Akan tetapi mereka dan apa yang telah diperbuat, tak lain merupakan bagian dari budaya yang mulai berkembang di masyarakat kita.</p>
<p>Jadi, ada apa dengan etika dunia maya? Yang jelas sangat tidak bisa dipisahkan dengan dunia nyata. Etika dunia maya menentukan mental masyarakat kita.. begitukah yang disebut hiperrealitas pak Yasraf? (saya punya buku anda dan saya tidak paham, he..)</p>
Posted in Teh Hangat  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tongkronganbudaya.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tongkronganbudaya.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tongkronganbudaya.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tongkronganbudaya.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/90/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=90&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" /></div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BudidayaBudaya/~4/AXEJxQz-Ti0" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/12/09/blogger-status-kelas-sosial-dari-dunia-maya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8a4e003d1e5ac77fb4b04e490f5ca2b4?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Nongkrong</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://diazhandsome.files.wordpress.com/2008/04/blog-im.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">blog</media:title>
		</media:content>
	<feedburner:origLink>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/12/09/blogger-status-kelas-sosial-dari-dunia-maya/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Sair Sajak I. G. Jali (2)</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/BudidayaBudaya/~3/qOZWCiN_Nc8/</link>
		<comments>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/11/13/sair-sajak-i-g-jali-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Nov 2008 19:27:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nongkrong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Ghozali]]></category>
		<category><![CDATA[Imam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tongkronganbudaya.wordpress.com/?p=88</guid>
		<description><![CDATA[TAPI SAMPAI KAPAN
semua tahu
kita ini orang beriman
tapi sampai kapan
semua tahu
kita ini orang-orang pasrah
tapi sampai kapan
semua tahu
siapa kenal diri sendiri
akan kenal siapa tuhannya
tapi kapan
o orang sekarang
sudah kenal tuhan
hingga mereka lupa daratan
orang sekarang
kebanyakan ngobrol sama tuhan
dari pada tidur malam
o ya berbahagialah
orang yang lupa diri
dan selalu ingat tuhan
tapi sampai kapan
krapyak, 26 ramadan 1429
ROTI TAWAR
saat makan roti tawar
aku teringat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=88&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>TAPI SAMPAI KAPAN</strong></p>
<p>semua tahu<br />
kita ini orang beriman<br />
tapi sampai kapan</p>
<p>semua tahu<br />
kita ini orang-orang pasrah<br />
tapi sampai kapan</p>
<p>semua tahu<br />
siapa kenal diri sendiri<br />
akan kenal siapa tuhannya</p>
<p>tapi kapan</p>
<p>o orang sekarang<br />
sudah kenal tuhan<br />
hingga mereka lupa daratan</p>
<p>orang sekarang<br />
kebanyakan ngobrol sama tuhan<br />
dari pada tidur malam</p>
<p>o ya berbahagialah<br />
orang yang lupa diri<br />
dan selalu ingat tuhan</p>
<p>tapi sampai kapan</p>
<p>krapyak, 26 ramadan 1429</p>
<p><strong>ROTI TAWAR</strong></p>
<p>saat makan roti tawar<br />
aku teringat hidupku<br />
melekat di langit-langit<br />
lengket di gigi dan guzi<br />
sulit dikunyah secara kasar<br />
dan tak mudah menelannya<br />
aku kerepotan jadinya</p>
<p>tapi waktu menatap kau<br />
justru hidup ingat padaku<br />
kembali menyuguhiku pilihan<br />
memberi sajakku suatu warna<br />
dan aku baru sadar<br />
bahwa puja-puji ini<br />
telah kuulang ribuan kali</p>
<p>Krapyak, 07 Ramadan 1429<br />
07 September 2008</p>
<p>TERBALAS IMPAS</p>
<p>terhenti lagi kenapa<br />
gita cita cinta rindu<br />
dan tak ada<br />
padahal hanya tintaku<br />
perlu geli dan baca</p>
<p>tuh terhenti lagi<br />
tadi sudah sampai<br />
di pintu rumah<br />
tapi tiba-tiba menjauh<br />
terdampar disini</p>
<p>melambung lagi<br />
ke dalam sepi<br />
mendalam<br />
meluas<br />
tak terangkum lagi</p>
<p>bagai jailangkung<br />
ia berkata:<br />
ini aku<br />
kata yang tertulis<br />
saban datang<br />
kau acuhkan<br />
kini kubalas<br />
kutikam<br />
dengan kerinduan</p>
<p>jogja, 22 nopember 2007<br />
pagi rindukan hangat<br />
padahal sesaat lagi<br />
juga bakal datang<br />
<span id="more-88"></span><strong> MAWAR JINGGA SAAT SENJA</strong><br />
buat Innama M.</p>
<p>mawar jingga saat senja<br />
menggali mayat hasrat<br />
toh telah lama terkubur<br />
dalam keremangan kenangan<br />
lalu berkata, &#8220;di sini aku<br />
saksikan sesuatu terjadi:<br />
bukan perpisahan; bukan<br />
jua puisi bersua.&#8221;</p>
<p>o sore yang kusam<br />
tapi samar-samar<br />
masih dapat kuterka<br />
garis-garis putih<br />
penghubung mawar jingga<br />
dengan senja di sana<br />
meski nafas demi nafas<br />
kian memberi pucat<br />
yang sempurna</p>
<p>rimbunan pepohonan<br />
dan desir angin<br />
saat mentari mulai<br />
tersiram hawa malam<br />
seolah hanya piringan hitam:<br />
tak lebih dari perekam<br />
suasana tak gelap tak terang<br />
entah karena mata<br />
telah hilang tajamnya<br />
atau sebab hati<br />
sudah luntur gitanya</p>
<p>bagi kelelawar malam<br />
lembaran baru telah terbuka<br />
ia menulis kisahnya<br />
dalam setiap gigitan<br />
pada mangga yang ranum<br />
kepakan sayapnya meramai<br />
seperti derap sepatu<br />
kuli-kuli pagi yang lapar</p>
<p>kami sama-sama bermasalah<br />
dengan matahari dan<br />
berbeda dalam penyelesaiannya:<br />
ia hanya puas sebab musuhnya<br />
terlelap dalam waktu<br />
dan aku marah saja dan saja<br />
sebab mawar di ujung sana<br />
tak akan tampak jingga<br />
seandainya cahaya<br />
tidak dibawa pergi juga</p>
<p>o sore yang berat<br />
entah terlelap atau dibawa<br />
toh kami tetap tak bersepakat<br />
untuk mengeroyok matahari<br />
meski kami sama-sama<br />
merasa ada urusan dengannya<br />
tapi aku tak akan berhenti<br />
untuk mencari tempat di mana<br />
senja enggan menyentuhnya</p>
<p>sebab tak kunjung mengerti<br />
siapa pengirim sore:<br />
matahari yang tersiram kantuk<br />
kelelawar yang akrab<br />
namun tak bersahabat<br />
atau mawar entah jingga entah apa<br />
tiba-tiba aku kau kurung<br />
dalam kata yang kau gantung<br />
tak di langit tak di angin<br />
anehnya aku merasa kauajari<br />
bagaimana mengapung di udara<br />
dan tetap bernafas<br />
ya tetap bernafas<br />
dalam sore yang berat</p>
<p>Krapyak, 09 Juli 2008<br />
06 Rajab 1429</p>
<p><strong>CHALEGGEN EVERY DAY</strong></p>
<p>malam gemerlap dan tak sepi<br />
ramai asap dan lajang tubuh jerami<br />
maka instingku kambuh: tersedak<br />
bukan karena  tiada minuman<br />
dan monumen tanpa sejarah<br />
tapi nafasku terhenti di dada<br />
oleh nafsu<br />
dan bukan karena kalam hati<br />
namun oleh kelam hati</p>
<p>akan kau giring kemana<br />
malam gemerlap dan tak sepi itu<br />
ke persembunyianku, desa lugu<br />
hanya memangku dagu termangu<br />
tak senyum tak kata<br />
tak tangis tak nyata</p>
<p>tersengal lagi nafasku<br />
lantaran nafsu terburu-buru<br />
melihat sunyiku, tempat kita<br />
memanjakan cinta<br />
diusik mata telanjang</p>
<p>di trotoar<br />
di selokan<br />
di tengah jalan<br />
dalam mobil<br />
di hutan-gunung<br />
di mana-mana<br />
percumbuan merayuku malayang<br />
di lorong panjang tak berujung<br />
hanya di jantung<br />
degupnya bergantung<br />
dan tanpa untung</p>
<p>tak siang tak malam<br />
tak barat tak terang<br />
tak kasar tak matang<br />
tesedak dan tersengal nafasku<br />
entah kali berapakah<br />
dan sampai kapan<br />
menatap cumbu yang tak lagi<br />
punya cemburu atau cemburu<br />
yang tak lagi punya malu</p>
<p>jogja, 23 nopember 2007<br />
usai kunikmati aroma perkotaan<br />
tepat senja menyejarahkan perpacaran<br />
antara asap dan daun kaktus<br />
pas di tengah alun-alun</p>
Posted in Puisi, Sastra  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tongkronganbudaya.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tongkronganbudaya.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tongkronganbudaya.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tongkronganbudaya.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/88/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=88&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" /></div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BudidayaBudaya/~4/qOZWCiN_Nc8" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/11/13/sair-sajak-i-g-jali-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8a4e003d1e5ac77fb4b04e490f5ca2b4?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Nongkrong</media:title>
		</media:content>
	<feedburner:origLink>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/11/13/sair-sajak-i-g-jali-2/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Sair Sajak Moehammad Zaini (7)</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/BudidayaBudaya/~3/kSj2crdm4V4/</link>
		<comments>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/11/13/sair-sajak-moehammad-zaini-7/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Nov 2008 17:28:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nongkrong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[anak luka]]></category>
		<category><![CDATA[moehammad zaini]]></category>
		<category><![CDATA[petang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tongkronganbudaya.wordpress.com/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[
ANAK LUKA DAN ANAK TANGGA
Aku mengenal luka lagi, luka yang riang bermain anak tangga. Anak tangga selalu punya cerita di satu pertahapnya. Anak tangga dan aku yang anak luka. Riang di rumah. Melempar lemari ke bawah, atau membawa sofa ke atap rumah. Setiap tergelincir, aku tertawa, lalu anak tangga mengajakku ke teras rumah. Melihat jalanan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=85&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="aphied.blogspot.com/.../ belajar-dari-jalan.html"><img class="alignleft" title="anak" src="http://3.bp.blogspot.com/_TwlSbzhkN98/R5CBvf0TF6I/AAAAAAAAADE/40CHLLPjGtc/s1600/anak.jpg" alt="" width="215" height="300" /></a></p>
<p><strong>ANAK LUKA DAN ANAK TANGGA</strong></p>
<p>Aku mengenal luka lagi, luka yang riang bermain anak tangga. Anak tangga selalu punya cerita di satu pertahapnya. Anak tangga dan aku yang anak luka. Riang di rumah. Melempar lemari ke bawah, atau membawa sofa ke atap rumah. Setiap tergelincir, aku tertawa, lalu anak tangga mengajakku ke teras rumah. Melihat jalanan kecil yang lupa pada luka. “Mereka lupa padamu, anak luka!”, anak tangga berteriak. Jalanan itu luka. Anak tangga terdiam lalu mengajakku tergelincir di tangga berikutnya. “Bawa tubuhmu sekalian, kita berhenti di dapur, dan makan tubuhmu bersama”, sambil berlari anak tangga menuju dapur, tergelincir, jatuh, bangun, lari, terjerembab, bangun.. lalu aku berteriak, “ kau teman paling setia anak tangga, selalu menyempatkan jatuh dan terluka saat kau berlari, kau selalu mengingatku..” ia hanya tersenyum.</p>
<p>Aku anak luka, terus bermain setiap bertemu anak tangga yang berikutnya..</p>
<p>30-10-2008</p>
<p><strong>PAGI DI MATA YANG REDUP</strong></p>
<p>Pagi di mata yang redup<br />
Sepasang sandal melintas di tatapannya<br />
Tubuh kumuh berbicara<br />
Terseret-seret di langkah lunglai</p>
<p>Bocah itu dengan tanah apa beda<br />
Tubuh terbungkus hitam<br />
Sengatan matahari<br />
Bercerita sepanjang jalan<br />
Tentang doa yang bisu</p>
<p>Mata yang kabut<br />
Oleh darah dan tanpa arah<br />
Luka-luka kerikil<br />
Dan pagi lenyap<br />
Tertimbun di kuburan tua.</p>
<p>Yogyakarta, 18-10-2008</p>
<p><strong>SENIN PETANG</strong></p>
<p>Senin petang di pintu kamar<br />
Kau duduk serupa majnun di hatiku<br />
Terakhir kali kau menggantung di gantungan baju<br />
Belakang pintu<br />
Sesaat setelah bekas merah di mukena itu</p>
<p>Malam ini biarkan kamar memelukmu</p>
<p>20-10-2008</p>
<p><strong>SETENGAH MENIT MENUNGGUMU</strong></p>
<p><a href="http://tongkronganbudaya.files.wordpress.com/2008/11/young-woman-with-silk-neckerchief-modigliani.jpg"><img class="size-full wp-image-86 alignright" title="young-woman-with-silk-neckerchief-modigliani" src="http://tongkronganbudaya.files.wordpress.com/2008/11/young-woman-with-silk-neckerchief-modigliani.jpg?w=297&#038;h=396" alt="young-woman-with-silk-neckerchief-modigliani" width="297" height="396" /></a>Aku menunggumu seperti batu di kamar ini. Batu yang lumut. Tapi yang aku kira aku adalah batu kecil yang tersangkut di jempol jari kakimu, ikut dan terjatuh di karpet kamar. Tapi tak salah jika aku ingin terbang ke rak-rak buku yang menggigil tak pernah peroleh dekap, ke baju-baju di lemari yang tak pernah hangat oleh setrika dan parfum, ke piring-sendok yang memikul sisa ludah dan butir dari mulut, atau kasur yang semalam ketumpahan teh sehabis kau mampir dan tidur di atasnya.</p>
<p>Aku menunggumu serupa kopyah di sajadah itu, selepas aku sembahyang, berlalu dan berdoa di bibirmu. Kopyah yang hanya bisa melihat kita berciuman dan segera menjadi penutup pagut bibir kita saat pintu tiba-tiba terbuka. Sebab dari luar hujan segera masuk tiba-tiba. “Di luar dingin”, kata hujan. Kopyah mengerti kita, menyembunyikan muka malu kita, dan tak memberitahukan pada siapapun sampai ia kembali di atas sajadah menjadi sujud bulan yang beku.</p>
<p>29-10-2008</p>
Posted in Puisi, Sastra  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tongkronganbudaya.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tongkronganbudaya.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tongkronganbudaya.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tongkronganbudaya.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/85/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=85&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" /></div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BudidayaBudaya/~4/kSj2crdm4V4" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/11/13/sair-sajak-moehammad-zaini-7/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8a4e003d1e5ac77fb4b04e490f5ca2b4?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Nongkrong</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://3.bp.blogspot.com/_TwlSbzhkN98/R5CBvf0TF6I/AAAAAAAAADE/40CHLLPjGtc/s1600/anak.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">anak</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tongkronganbudaya.files.wordpress.com/2008/11/young-woman-with-silk-neckerchief-modigliani.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">young-woman-with-silk-neckerchief-modigliani</media:title>
		</media:content>
	<feedburner:origLink>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/11/13/sair-sajak-moehammad-zaini-7/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Biografi; Chairil Anwar</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/BudidayaBudaya/~3/zs2Bk31xfc4/</link>
		<comments>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/11/07/biografi-chairil-anwar/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Nov 2008 18:13:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nongkrong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>
		<category><![CDATA[Chairil Anwar]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Binatang Jalang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tongkronganbudaya.wordpress.com/?p=80</guid>
		<description><![CDATA[Chairil Anwar dilahirkan di Medan, 26 Julai 1922. Dia dibesarkan dalam keluarga yang cukup berantakan. Kedua ibu bapanya bercerai, dan ayahnya berkahwin lagi. Selepas perceraian itu, saat habis SMA, Chairil mengikut ibunya ke Jakarta.
Semasa kecil di Medan, Chairil sangat rapat dengan neneknya. Keakraban ini begitu memberi kesan kepada hidup Chairil. Dalam hidupnya yang amat jarang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=80&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://www.indonesiaindonesia.com/imagehosting/images/7737/large/1_chairil.jpg"><img class="alignleft" title="chairil" src="http://www.indonesiaindonesia.com/imagehosting/images/7737/large/1_chairil.jpg" alt="" width="145" height="200" /></a>Chairil Anwar dilahirkan di Medan, 26 Julai 1922. Dia dibesarkan dalam keluarga yang cukup berantakan. Kedua ibu bapanya bercerai, dan ayahnya berkahwin lagi. Selepas perceraian itu, saat habis SMA, Chairil mengikut ibunya ke Jakarta.</p>
<p>Semasa kecil di Medan, Chairil sangat rapat dengan neneknya. Keakraban ini begitu memberi kesan kepada hidup Chairil. Dalam hidupnya yang amat jarang berduka, salah satu kepedihan terhebat adalah saat neneknya meninggal dunia. Chairil melukiskan kedukaan itu dalam sajak yang luar biasa pedih:</p>
<blockquote><p>Bukan kematian benar yang menusuk kalbu/ Keridlaanmu menerima segala tiba/ Tak kutahu setinggi itu atas debu/ Dan duka maha tuan bertahta</p></blockquote>
<p>Sesudah nenek, ibu adalah wanita kedua yang paling Chairil puja. Dia bahkan terbiasa membilang nama ayahnya, Tulus, di depan sang Ibu, sebagai tanda menyebelahi nasib si ibu. Dan di depan ibunya, Chairil acapkali kehilangan sisinya yang liar. Beberapa puisi Chairil juga menunjukkan kecintaannya pada ibunya.<br />
Sejak kecil, semangat Chairil terkenal kedegilannya. Seorang teman dekatnya Sjamsul Ridwan, pernah membuat suatu tulisan tentang kehidupan Chairil Anwar ketika semasa kecil. Menurut dia, salah satu sifat Chairil pada masa kanak-kanaknya ialah pantang dikalahkan, baik pantang kalah dalam suatu persaingan, maupun dalam mendapatkan keinginan hatinya. Keinginan dan hasrat untuk mendapatkan itulah yang menyebabkan jiwanya selalu meluap-luap, menyala-nyala, boleh dikatakan tidak pernah diam. Rekannya, Jassin pun punya kenangan tentang ini:</p>
<blockquote><p>Kami pernah bermain bulu tangkis bersama, dan dia kalah. Tapi dia tak mengakui kekalahannya, dan mengajak bertanding terus. Akhirnya saya kalah. Semua itu kerana kami bertanding di depan para gadis.</p></blockquote>
<p>Wanita adalah dunia Chairil sesudah buku. Tercatat nama Ida, Sri Ayati, Gadis Rasyid, Mirat, dan Roosmeini sebagai gadis yang dikejar-kejar Chairil. Dan semua nama gadis itu bahkan masuk ke dalam puisi-puisi Chairil. Namun, kepada gadis Karawang, Hapsah, Chairil telah menikahinya.</p>
<p><a href="http://tongkronganbudaya.files.wordpress.com/2008/02/anwar1.jpg"><img class="aligncenter" title="chairil 2" src="http://tongkronganbudaya.files.wordpress.com/2008/02/anwar1.jpg?w=420&#038;h=315" alt="" width="420" height="315" /></a>Pernikahan itu tak berumur panjang. Disebabkan kesulitan ekonomi, dan gaya hidup Chairil yang tak berubah, Hapsah meminta cerai. Saat anaknya berumur 7 bulan, Chairil pun menjadi duda.<br />
Tak lama setelah itu, pukul 15.15 WIB, 28 April 1949, Chairil meninggal dunia. Ada beberapa versi tentang sakitnya. Tapi yang pasti, TBC kronis dan sipilis.</p>
<p>Umur Chairil memang pendek, 27 tahun. Tapi kependekan itu meninggalkan banyak hal bagi perkembangan kesusasteraan Indonesia. Malah dia menjadi contoh terbaik, untuk sikap yang tidak bersungguh-sungguh di dalam menggeluti kesenian. Sikap inilah yang membuat anaknya, Evawani Chairil Anwar, seorang notaris di Bekasi, harus meminta maaf, saat mengenang kematian ayahnya, di tahun 1999,  Saya minta maaf, karena kini saya hidup di suatu dunia yang bertentangan dengan dunia Chairil Anwar.</p>
<p>Tulisan ini dilansir dari <a title="chairil" href="http://www.indonesiaindonesia.com/f/28393-chairil-anwar/" target="_blank">indonesiaindonesia.com</a></p>
<p>Biografi Chairil Anwar juga bisa dilihat di:</p>
<p>- <a href="id.wikipedia.org/wiki/Chairil_Anwar" target="_blank">wikipedia.com</a><br />
- <a href="www.mesias.8k.com/chairil.htm" target="_blank">mesiass.com</a><br />
- <a href="penyair.wordpress.com/2007/02/05/biografi-chairil-anwar-1922-1949/" target="_blank">penyair.wordpress.com</a></p>
<p>Beberapa tulisan Tongkrongan Budaya tentang Chairil Anwar:<br />
&gt; <a href="http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/07/24/memaknai-kemiskinan-ala-chairil-anwar/" target="_blank">Memaknai Kemiskinan Ala Chairil Anwar</a><br />
&gt; <a href="http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/02/22/6/" target="_blank">Chairil (Tidak) di Indonesia</a></p>
Posted in Biografi, Chairil Anwar, Sastra, Tokoh  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tongkronganbudaya.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tongkronganbudaya.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tongkronganbudaya.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tongkronganbudaya.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/80/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=80&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" /></div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BudidayaBudaya/~4/zs2Bk31xfc4" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/11/07/biografi-chairil-anwar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8a4e003d1e5ac77fb4b04e490f5ca2b4?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Nongkrong</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.indonesiaindonesia.com/imagehosting/images/7737/large/1_chairil.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">chairil</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tongkronganbudaya.files.wordpress.com/2008/02/anwar1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">chairil 2</media:title>
		</media:content>
	<feedburner:origLink>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/11/07/biografi-chairil-anwar/</feedburner:origLink></item>
	</channel>
</rss>
