<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Buletin PILLAR</title>
	<atom:link href="http://www.buletinpillar.org/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.buletinpillar.org</link>
	<description>Buletin Pemuda GRII</description>
	<lastBuildDate>Sun, 27 Sep 2026 14:31:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.2</generator>
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">210804978</site>	<item>
		<title>The Good News of Forgiveness</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/kehidupan-kristen/the-good-news-of-forgiveness</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[michaelleang]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 27 Sep 2026 14:31:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kehidupan Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[forgiveness]]></category>
		<category><![CDATA[injil]]></category>
		<category><![CDATA[kasih]]></category>
		<category><![CDATA[Konflik]]></category>
		<category><![CDATA[pengampunan]]></category>
		<category><![CDATA[Permohonan maaf]]></category>
		<category><![CDATA[pertobatan]]></category>
		<category><![CDATA[rekonsiliasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=32655</guid>

					<description><![CDATA[The Dynamics of Forgiveness Dinamika meminta dan menerima pengampunan adalah suatu hal yang terajut sangat dalam di dalam Kitab Suci. Kita melihat ini dalam sistem kurban yang secara rutin dipersembahkan ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/kehidupan-kristen/the-good-news-of-forgiveness">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong><em>The Dynamics of Forgiveness</em></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Dinamika meminta dan menerima pengampunan adalah suatu hal yang terajut sangat dalam di dalam Kitab Suci. Kita melihat ini dalam sistem kurban yang secara rutin dipersembahkan dalam keimaman Israel (Im. 1-7). Kita melihat ini juga dalam Doa Bapa Kami, yang mendorong permohonan dan pemberian maaf sehari-hari (Mat. 6:12). Terlebih lagi, ayat tersebut bukan hanya menunjukkan aspek rutin dari pengampunan, melainkan juga dimensi vertikal serta horizontalnya. Permohonan maaf dan kepastian akan penerimaan pengampunan adalah dinamika yang dapat kita nikmati dalam relasi dengan Tuhan (bdk. 1 Yoh. 1:9). Secara horizontal pun, terintegrasi secara erat dengan pengampunan vertikal, adalah keharusan kita untuk meminta dan memberikan maaf.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><em>Withholding Forgiveness</em></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sayangnya, realitasnya tidak seindah itu.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada satu sisi, kita seringkali menunjukkan keengganan untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf. Bukan hanya enggan, kita lebih semangat melakukan kebalikannya: membenarkan diri, mencari alasan, mengalihkan isu, dan sebagainya. Di dalam Alkitab, kita melihat di kisah kejatuhan yang pertama, Adam dan Hawa mengalihkan kesalahan mereka kepada hal lain (Kej. 3:12-13). Anak mereka, Kain, juga hanya mengikuti contoh mereka (Kej. 4:13-14). Kita mulai melihat tindakan yang menggambarkan kesadaran akan dosa dan usaha memperbaiki kesalahan ketika Yakub berbaikan dengan Esau (Kej. 32:13-20). Namun, di sana pun kita hanya melihat pengakuan dosa, dan bukan permohonan maaf. Permohonan maaf untuk mengampuni dosa baru muncul di 50:17, dan itu pun diutarakan Yakub agar Yusuf mengampuni kakak-kakaknya. Permohonan maaf atas dosa pribadi baru benar-benar muncul di Keluaran 10:16-17, setelah Firaun merasakan beratnya tulah kedelapan—dan ketulusan Firaun juga dapat dipertanyakan. Di Bilangan 12:11-lah kita baru menemukan permohonan maaf yang terkesan lebih tulus atas dosa pribadi ketika Harun meminta maaf atas dosanya dan Miriam yang mempertanyakan otoritas Musa.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada sisi lainnya, manusia juga lebih sering memupuk dendam daripada membagikan pengampunan. Dalam lembar-lembar awal Alkitab, kita melihat Lamekh yang penuh dengan dendam (Kej. 4:23-24). Kita melihat Simeon dan Lewi yang menghabisi Sikhem yang sudah siap untuk membayar utang dosanya (Kej. 34:25-29). Yesus sendiri pun memberikan kisah hamba yang jahat, yang tidak dapat mengampuni seseorang yang berhutang jauh lebih kecil dibanding utangnya yang besar kepada tuannya (Mat. 18:21-35). Intinya jelas di sini: Alkitab menggambarkan manusia sebagai makhluk yang enggan mengakui dan meminta maaf atas kesalahannya.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keengganan ini bukan hanya terlihat di dalam Alkitab, melainkan juga dalam kehidupan kita, bukan? Kita begitu enggan <em>meminta</em> maaf ketika kita salah. Kita melihat begitu banyak orang yang lebih memilih untuk <em>kekeh</em> pada pendiriannya yang tidak benar, daripada membuka celah akan kemungkinan bahwa dirinya bersalah. Dan sedihnya, hal ini bisa merugikan begitu banyak orang, bukan hanya seorang individu saja. Hal ini membuat berbagai tokoh maupun institusi terus memperjuangkan program-program atau proyek-proyek yang menghamburkan uang. Keengganan ini membuat relasi suami-istri menjadi masam, karena sama-sama mau menang sendiri. Keengganan ini bisa membuat sebuah KTB di gereja menjadi dingin karena tidak ada rekonsiliasi antara anggota ketika terjadi konflik.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ujung-ujungnya, semua hal ini hanya menguak hati kita yang sempit dan egois. Kita tidak suka meminta pengampunan, karena menunjukkan bahwa kita ini orang yang bersalah. Mungkin karena pengampunan menunjukkan bahwa kita adalah orang-orang yang kalah, dan kita tidak suka itu, bukan? Kita ingin dinobatkan sebagai pemenang, dan bukan orang kalah yang perlu dikasihani. Kita ingin dipandang sebagai orang-orang yang sempurna, yang patut dikagumi karena prestasi kita yang putih bersih<em>.&nbsp;</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Hati egois ini juga ditunjukkan dalam keengganan <em>memberikan</em> pengampunan. Kita tidak suka memberikan pengampunan karena ego kita yang tersakiti masih terasa bengkak. Kenyamanan kita sudah diganggu oleh orang yang berdosa terhadap kita, dan kita ingin orang tersebut membayar kesalahan mereka, dengan ganjaran yang lebih besar lagi bahkan! Komunitas dengan orang-orang seperti ini di dalamnya akan menjadi sebuah lingkungan yang sangat menyesakkan, karena pintu akan kemungkinan diampuni tertutup rapat. Tidak akan ada rasa percaya dan ruang untuk jadi apa adanya dalam komunitas seperti ini, karena rasa takut bersalah menjadi hal yang mendorong anggota-anggotanya. Ini menghasilkan komunitas yang berada dalam situasi perang dingin secara konstan, yang siap meledak kapan pun.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Betapa mengerikan hati yang miskin pengampunan!</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><em>The Joy of Forgiveness</em></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Padahal, Kitab Suci sudah menyaksikan kepada kita akan kesiapan Allah untuk membagikan pengampunan bagi mereka yang sungguh-sungguh bertobat. Bahkan, kalau kita perhatikan baik-baik, inisiatif Allah seringkali mendahului permohonan maaf manusia. Tanpa meminta pengampunan, Allah sudah memberikan anugerah-Nya kepada Adam dan Hawa (Kej. 3:21). Tanpa permohonan bangsa Israel, Allah juga sudah memberikan sistem kurban untuk pengampunan dosa di sepanjang Keluaran dan Imamat. Tentunya, inisiatif ini ditunjukkan secara paling jelas dalam Yesus Kristus, yang mati bagi bangsa-bangsa yang bahkan tidak meminta-Nya untuk datang. Pada jantung dari Injil, yang seringkali digaung-gaungkan oleh tradisi Reformasi, adalah kemungkinan bahwa kita bisa menerima pengampunan dengan apa adanya. Karena, di dalam Kitab Suci kita menemukan Allah yang <em>suka</em> memberikan pengampunan kepada kaum yang tidak layak (Mkh. 7:18; Mzm. 130:3-4; 1Yoh. 1:9; dsb).&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Timothy Keller sering memaparkan Injil dengan formulasi berikut: “<em>You are more sinful and flawed than you ever dared believe, but more accepted and loved than you ever dared hope</em>.” Ketika kita bertemu dengan Kristus yang tersalib, kita akan sadar bahwa <em>ternyata</em> kita jauh lebih berdosa dan cacat dibanding yang kita pikirkan. Tapi pada sisi yang lain, hal ini tidak membuat kita putus asa. Karena, kita yang separah ini bisa dikasihi dan diterima oleh Kristus, lebih daripada yang kita bisa harapkan.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Maka, kalau Injil seperti ini benar-benar meresap ke dalam hati, harusnya kita dibebaskan dari usaha membenarkan diri kita. Harusnya kita tidak perlu lagi mempertahankan citra diri yang harus sempurna, karena kita tahu bahwa realitasnya jauh lebih buruk dari “selalu benar”. Kita dilucuti dari semua bayangan-bayangan berlebihan akan hebatnya diri kita, dan bisa melihat diri kita dengan benar sekarang.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada saat yang sama, ini tidak membuat kita menjadi minder. Karena, kabar baik ini memberikan kita sebuah citra diri yang kokoh, yaitu bahwa kita adalah penerima kasih yang jauh lebih besar daripada yang kita kira kita layak terima. Sehingga, seharusnya ini juga membebaskan kita untuk membagikan pengampunan kepada orang lain, meskipun mereka tidak layak menerimanya. Karena, seharusnya ini menyadarkan kita bahwa tidak ada satu pun orang yang layak. Karena kita sadar, kita pun diberikan cinta kasih yang jauh lebih besar daripada yang bisa kita bayangkan sebelumnya.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Betapa melegakan hidup yang penuh dengan pengampunan ini! Betapa indahnya komunitas yang membuka ruang akan kesempatan orang untuk bangkit lagi setelah jatuh seperti ini! Dalam komunitas seperti inilah ada potensi untuk bertumbuh dan berkembang dengan sehat, karena komunitas seperti ini menumbuhkan kasih, bukan rasa takut maupun semangat <em>survival of the fittest</em>.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tentu kita sadar akan perlunya akuntabilitas dalam pengampunan. Kita tidak mau dinamika pengampunan ini menjadi hal yang murahan dan mudah dieksploitasi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Perlu ada hikmat dan mekanisme di mana akuntabilitas dan pencegahan eksploitasi dapat ditegakkan. Lagipula, Alkitab sendiri memiliki prinsip-prinsip yang penting untuk dapat dipaparkan juga mengenai hal-hal tersebut. Kita tetap perlu penekanan pada pertobatan, disiplin gereja, dan perlindungan terhadap penyintas kasus-kasus berat. Ini dapat menjadi topik penting untuk dibahas di dalam artikel lain. Tapi di artikel ini, poin yang harus ditekankan adalah: apakah kita lebih sering melihat pengampunan dalam diri dan komunitas kita atau malah melihat sebaliknya?&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena sesungguhnya, seorang Kristen yang miskin pengampunan, baik dalam meminta maupun memberikan, adalah seorang Kristen yang miskin kuasa Injil. Sebuah komunitas yang miskin pengampunan, tidak peduli seberapa besar pencapaiannya, adalah sebuah komunitas yang miskin dengan kuasa Injil. Sadar atau tidak sadar, orang Kristen dan komunitas Kristen yang seperti itu sedang menghidupi kisah yang anti-Injil. Betapa malangnya kekristenan yang mengakui Injil tetapi kehidupannya melawan kuasa pengampunan Injil tersebut!</p>



<p class="wp-block-paragraph">Maka pertanyaan terpenting bagi kita hari ini adalah: apakah kita sudah menerima kuasa Injil tersebut dalam kehidupan kita secara personal? Atau apakah Injil hanya menjadi pintu masuk pertama kita untuk jadi sekadar orang-orang beragama, yang terlihat baik dari luar, yang akhirnya kita tinggalkan ketika kita melanjutkan kehidupan Kristen ini? Mari kita kembali menggali dalamnya pengampunan Allah di dalam Injil. Biarlah itu mendorong kita untuk menghidupi sebuah narasi pengampunan, baik secara vertikal dengan Tuhan, maupun juga secara horizontal bersama sesama kita, sehingga pada akhirnya kita menjadi orang-orang Kristen yang melimpah dengan kuasa Injil tersebut. <em>This is truly good news.&nbsp;</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Jordan Frans Adrian<br>Mahasiswa STTRII</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">32655</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Aksioma Eklesiologi John Calvin dan Kembalinya Pola Presbiterial</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/alkitab-theologi/aksioma-eklesiologi-john-calvin-dan-kembalinya-pola-presbiterial</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[andrian]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Sep 2026 15:19:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Alkitab & Theologi]]></category>
		<category><![CDATA[Eklesiologi]]></category>
		<category><![CDATA[gereja]]></category>
		<category><![CDATA[jan hus]]></category>
		<category><![CDATA[John Calvin]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Rasul]]></category>
		<category><![CDATA[Paus]]></category>
		<category><![CDATA[Presbiterial]]></category>
		<category><![CDATA[reformasi]]></category>
		<category><![CDATA[reformator]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=32467</guid>

					<description><![CDATA[“Therefore, of the one and only Church there is one body and one head, not two heads like a monster.” Pope Boniface VIII, Unam Sanctam: One God, One Faith, One ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/alkitab-theologi/aksioma-eklesiologi-john-calvin-dan-kembalinya-pola-presbiterial">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph"><em>“Therefore, of the one and only Church there is one body and <strong>one head, not two heads</strong> like a monster.”</em></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Pope Boniface VIII, Unam Sanctam: One God, One Faith, One Spiritual Authority, 1302</em></p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Kepala dan Otoritas</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Konsep pemerintahan di dalam gereja tidak dapat terpisahkan dari konsep otoritas dalam gereja. Kita telah mengerti bahwa Alkitab menyatakan bahwa Kristus adalah satu-satunya kepala gereja (Ef. 1:22; Kol. 1:18) yang dari pada-Nya mengalir segala kekuatan, kehidupan, dan kesatuan dalam gereja. Dengan demikian, segala otoritas yang dilakukan di dalam gereja tidak boleh bergerak secara otonom, atau berasal dari manusia, melainkan harus terikat sebagaimana firman Tuhan dinyatakan dan diterapkan di dalam sejarah, terutama dari para rasul. Jika kita percaya bahwa Alkitab adalah firman Allah, dan firman berkata bahwa hanya Kristus yang menjadi kepala gereja secara Ilahi (<em>divine authority</em>), maka sistem pemerintahan di gereja harus mencerminkan pemahaman tersebut. Sepanjang sejarah, gereja telah berusaha untuk mengaplikasikan ini. Namun, setelah Skisma Besar antara gereja Barat dan Timur, bagaimanakah pemerintahan dalam gereja Barat diterapkan?</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Gereja Katolik Roma Pasca Skisma Besar dan Supremasi Paus</strong></p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full is-resized"><img data-recalc-dims="1" fetchpriority="high" decoding="async" width="324" height="159" data-attachment-id="32470" data-permalink="https://www.buletinpillar.org/alkitab-theologi/aksioma-eklesiologi-john-calvin-dan-kembalinya-pola-presbiterial/attachment/image-10" data-orig-file="https://i0.wp.com/www.buletinpillar.org/wp-content/uploads/2026/09/image-2.jpg?fit=324%2C159&amp;ssl=1" data-orig-size="324,159" data-comments-opened="0" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;1&quot;,&quot;alt&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="image" data-image-description="" data-image-caption="" data-large-file="https://i0.wp.com/www.buletinpillar.org/wp-content/uploads/2026/09/image-2.jpg?fit=324%2C159&amp;ssl=1" src="https://i0.wp.com/www.buletinpillar.org/wp-content/uploads/2026/09/image-2.jpg?resize=324%2C159&#038;ssl=1" alt="" class="wp-image-32470" style="aspect-ratio:2.0636942675159236;width:543px;height:auto" srcset="https://i0.wp.com/www.buletinpillar.org/wp-content/uploads/2026/09/image-2.jpg?w=324&amp;ssl=1 324w, https://i0.wp.com/www.buletinpillar.org/wp-content/uploads/2026/09/image-2.jpg?resize=300%2C147&amp;ssl=1 300w" sizes="(max-width: 324px) 100vw, 324px" /><figcaption class="wp-element-caption"><strong>Gambar 1.</strong> King Ghidorah, Monster Berbadan Satu Berkepala Tiga</figcaption></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Pemerintahan Gereja Katolik Roma pasca Skisma Besar merupakan hal yang rumit. Setelah adanya Skisma Besar, Gereja Katolik Roma mengalami pergumulan terkait otoritas antara hierarki gereja dan kekuasaan sekuler. Pada abad ke-11 hingga ke-12, terjadi krisis otoritas sehingga terjadi Kontroversi <em>Investiture</em><a href="#_ftn1" id="_ftnref1"><sup>[1]</sup></a>, di mana pemerintah sekuler dapat melakukan pengangkatan uskup dan pemimpin-pemimpin gereja banyak diatur untuk kepentingan politik, serta terjadi jual beli jabatan gerejawi untuk uang. Pada abad ke-12 hingga ke-13, ada sentralisasi otoritas, keseragaman, dan legalitas dari Gereja Katolik Roma yang makin kuat dengan pembuatan Hukum Kanonik Gereja Katolik. Kondisi kompleks gereja pada periode ini menyusun latar belakang yang memungkinkan untuk terjadinya suatu perpecahan lain yakni Skisma Besar Barat (<em>Great Western Schism</em>)<a href="#_ftn2" id="_ftnref2"><sup>[2]</sup></a>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam Skisma Besar Barat, terjadi perpecahan di mana terdapat tiga paus di saat yang bersamaan, yakni Paus Benedict XIII di Avignon, Paus Gregory XII di Roma, dan Paus John XXIII. Mengapa hal ini bisa terjadi? Pada saat itu pusat dari kepausan Gereja Katolik Roma sempat berpindah dari Roma ke Avignon. Setelah tujuh generasi paus, pusat kepausan berpindah dari Avignon kembali ke Roma. Tidak lama kemudian setelah berpindah, Paus Gregory XI yang waktu itu memindahkan pusat dari Avignon ke Roma, meninggal dunia. Mengetahui hal itu, masyarakat Roma menekan Gereja Katolik Roma untuk melakukan konklafkepausan mengingat sudah sekitar 70 tahun lebih tidak ada pemilihan paus di Roma (karena perpindahan di Avignon). Setelah itu, dipilihlah Paus Urban VI sebagai paus dari Katolik Roma. Namun, para kardinal pada saat itu menyesalkan pemilihan Paus Urban VI sebagai paus dari Katolik Roma karena Paus Urban VI dianggap kontroversial dalam tindakannya terhadap para kardinal. Lagi pula, para kardinal merasa bahwa mereka memilih Paus Urban VI karena tekanan masyarakat Roma. Kemudian mereka menganggap Paus Urban VI tidak sah dan melakukan konklafulang untuk memilih Paus Clement VII yang kemudian menjadikan pusat kepausannya di kota Avignon. Paus Clement VII mengekskomunikasi Paus Urban VI, <strong>tetapi mereka tidak mengakui ke-sah-an otoritas masing-masing paus</strong>. Oleh karena itu, untuk beberapa tahun, terdapat dua paus dan garis kepausan, yakni garis Roma dan garis Avignon. Ketika kedua paus mati, para kardinal dari masing-masing paus memilih kembali penerus dari paus mereka. Pemerintah Eropa pada saat itu memilih untuk berpihak ke satu paus sesuai dengan kepentingan masing-masing. Untuk mengatasi krisis dari skisma ini, paus dapat melakukan <em>ecumenical council</em> (konsili ekumenis) gereja Katolik, tetapi kedua paus ini tidak melakukannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk menyelesaikan permasalahan ini, kardinal dari Prancis dan Roma melakukan konklaflagi dalam Konsili Pisa untuk memilih ulang paus. Setelah itu, dipilihlah Paus John XXIII oleh para kardinal. Namun, kembali lagi ke awal: <strong>kedua Paus tidak mengakui ke-sah-an Konsili Pisa yang dilakukan oleh para kardinal ini</strong>, sehingga sekarang ada tiga paus dan garis kepausan: Roma, Avignon, dan Pisa. Gereja Katolik Roma menjadi satu tubuh berkepala tiga, seperti monster.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full is-resized"><img data-recalc-dims="1" decoding="async" width="394" height="188" data-attachment-id="32469" data-permalink="https://www.buletinpillar.org/alkitab-theologi/aksioma-eklesiologi-john-calvin-dan-kembalinya-pola-presbiterial/attachment/image-9" data-orig-file="https://i0.wp.com/www.buletinpillar.org/wp-content/uploads/2026/09/image.jpg?fit=394%2C188&amp;ssl=1" data-orig-size="394,188" data-comments-opened="0" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;1&quot;,&quot;alt&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="image" data-image-description="" data-image-caption="" data-large-file="https://i0.wp.com/www.buletinpillar.org/wp-content/uploads/2026/09/image.jpg?fit=394%2C188&amp;ssl=1" src="https://i0.wp.com/www.buletinpillar.org/wp-content/uploads/2026/09/image.jpg?resize=394%2C188&#038;ssl=1" alt="" class="wp-image-32469" style="aspect-ratio:2.1129032258064515;width:541px;height:auto" srcset="https://i0.wp.com/www.buletinpillar.org/wp-content/uploads/2026/09/image.jpg?w=394&amp;ssl=1 394w, https://i0.wp.com/www.buletinpillar.org/wp-content/uploads/2026/09/image.jpg?resize=300%2C143&amp;ssl=1 300w" sizes="(max-width: 394px) 100vw, 394px" /><figcaption class="wp-element-caption"><strong>Gambar 2.</strong> Tiga Garis Kepausan pada Skisma Besar Barat (1378-1417)<a href="#_ftn3"><sup>[3]</sup></a></figcaption></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Pengaruh dari perpecahan ini tidak begitu bermain peran pada orang awam secara theologi/doktrinal, karena tidak ada doktrin yang berubah secara signifikan, tetapi sangat berperan secara pastoral, administrasi, dan politik. Jemaat awam tatkala mengurus administrasi menjadi bertanya-tanya: “Paus yang sejati yang mana?” Karena perpecahan gereja Katolik, para pemimpin di Eropa menarik perlindungan mereka terhadap paus Katolik yang berseberangan dengan pihak mereka dan memberikan perlindungan material kepada paus yang mereka akui. Karena itu, terjadi instabilitas dalam diplomasi dan perpajakan. Krisis ini membuat para pemimpin mendesak gereja Katolik untuk mengadakan konsili untuk menyelesaikannya, sehingga diadakanlah konsili Konstanz. Alhasil, Paus Roma (Gregory XII) mengundurkan diri, Paus Pisa (John XXIII) berusaha mengendalikan konsili hingga diburu dan dipenjara, dan Paus Avignon (Benedict XIII) diekskomunikasikan dan diteruskan oleh Anti-Paus Clement VIII yang nantinya mengundurkan diri dan mengakui paus yang dipilih pada Konsili Konstanz, yakni Paus Martin V. Di konsili yang sama, dilakukan juga penetapan dari agenda kedua konsili tersebut: pembahasan dan penetapan bahwa John Wycliffe, seorang pastor dan reformator gereja Katolik, dianggap sesat, juga Jan Hus, yang juga adalah pastor, teolog, dan filsuf Katolik, yang memiliki pemikiran tentang reformasi gereja, dibakar. John Wycliffe dan Jan Hus adalah para pemikir pendahulu dari Protestanisme. Dikatakan bahwa saat dibakar, Jan Hus berkata,</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph"><em>“You are burning a goose, but <strong>in a hundred years</strong> you will have a swan that you cannot roast or boil”</em> &#8211; Jan Hus (1415)</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkinkah kata-kata Jan Hus benar, bahwa seratus tahun kemudian benar-benar ada seseorang yang melakukan reformasi terhadap Gereja Katolik Roma?</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full is-resized"><img data-recalc-dims="1" decoding="async" width="351" height="220" data-attachment-id="32468" data-permalink="https://www.buletinpillar.org/alkitab-theologi/aksioma-eklesiologi-john-calvin-dan-kembalinya-pola-presbiterial/attachment/image-8" data-orig-file="https://i0.wp.com/www.buletinpillar.org/wp-content/uploads/2026/09/image-1.jpg?fit=351%2C220&amp;ssl=1" data-orig-size="351,220" data-comments-opened="0" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;1&quot;,&quot;alt&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="image" data-image-description="" data-image-caption="" data-large-file="https://i0.wp.com/www.buletinpillar.org/wp-content/uploads/2026/09/image-1.jpg?fit=351%2C220&amp;ssl=1" src="https://i0.wp.com/www.buletinpillar.org/wp-content/uploads/2026/09/image-1.jpg?resize=351%2C220&#038;ssl=1" alt="" class="wp-image-32468" style="aspect-ratio:1.610091743119266;width:541px;height:auto" srcset="https://i0.wp.com/www.buletinpillar.org/wp-content/uploads/2026/09/image-1.jpg?w=351&amp;ssl=1 351w, https://i0.wp.com/www.buletinpillar.org/wp-content/uploads/2026/09/image-1.jpg?resize=300%2C188&amp;ssl=1 300w" sizes="(max-width: 351px) 100vw, 351px" /><figcaption class="wp-element-caption"><strong>Gambar 3</strong>. Biarawan Roma Katolik, Martin Luther, Reformator Gereja Tahun 1517, Kurang Lebih 100 Tahun Setelah Pembakaran Jan Hus.</figcaption></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph"><strong>Naluriah Gereja Roma dan Aksioma Eklesiologi John Calvin: <em>Christus Caput Ecclesiae</em></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita tidak akan membahas reformasi Luther pada kesempatan ini karena sudah ada artikel lain yang membahasnya. Namun, apabila kita menelaah sejarah Skisma Besar Barat yang baru saja kita bahas, secara tidak langsung, kita sedang melihat secercah dari pola kolegial, yakni kepemimpinan yang kolegial, cukup ternyatakan beberapa kali di dalam Gereja Katolik Roma waktu permasalahan muncul. Ketika gereja ditekan oleh masyarakat Roma untuk melakukan konklaf, para kardinal berkumpul dan bertindak secara bersama-sama. Ketika muncul permasalahan serius pada kepemimpinan Paus Urban VI, lagi-lagi para kardinal berkumpul, mewakili gereja secara kolegial dan berupaya mencari jalan keluar. Tentu, permasalahan yang ada tidak langsung selesai ataupun mendapatkan solusi ideal. Namun, pola kepemimpinan kolektif ini menunjukkan fungsi korektif yang lebih baik daripada keberlangsungan situasi di mana dua, bahkan tiga paus universal secara bersamaan mengeklaim otoritas tertinggi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Skisma Besar Barat menunjukkan bahwa di tengah kegagalan institusional, gereja secara naluriah kembali kepada bentuk kepemimpinan jamak untuk mengupayakan pemulihan kesatuan gereja, khususnya ketika klaim kepausan tidak dapat diandalkan untuk menyatukan gereja. Memang, para kardinal pada konteks ini tidak sedang melaksanakan pemerintahan kolegial secara utuh, melainkan hanya bertindak hampir menyerupainya, sebagai respons darurat terhadap kegagalan otoritas monarkis. Namun, fenomena ini memberikan kita wawasan historis yang penting: pemulihan gereja dapat dimulai melalui kepemimpinan kolektif dan deliberatif (bersifat sebagai penasihat). Dengan demikian, sejarah memperlihatkan suatu paradoks: Gereja Katolik Roma yang monarkial justru menunjukkan pemulihan ketika otoritas dilakukan di luar mekanisme yang monarkial.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pola kepemimpinan yang dilihat pada konteks Skisma Besar Barat, meskipun hanya sementara dan tidak terlembagakan, menunjukkan kepada kita sedikit tentang cara Kristus memerintah gereja-Nya. Kita telah melihat bagaimana pemerintah gereja bergerak di masa krisis. Dengan demikian, muncul pertanyaan: Apakah pola kepemimpinan kolegial yang hadir pada masa krisis, mungkin, adalah pola pemerintahan gereja yang lebih ideal dibandingkan pola monarki? Penulis tidak sedang mengatakan bahwa pola pemerintahan kolegial adalah yang paling mutlak dan jitu dalam setiap permasalahan dalam gereja, tetapi skisma mendemonstrasikan kegagalan kepemimpinan monarki, kemudian dengan adanya konsiliarisme menunjukkan bahwa Gereja Katolik Roma pun harus meminjam logika kuasi-kolegial di tengah krisis. Pertanyaan inilah yang dijawab secara sistematis oleh John Calvin dalam kerangka Reformasi pada abad ke-16.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aksioma eklesiologi John Calvin dimulai dengan fakta bahwa <strong><em>Christus Caput Ecclesiae</em></strong><em>,</em> yang artinya Kristus merupakan satu-satunya kepala gereja. Terkait hal ini, Calvin menyatakan:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">“<em>Be it, however, as they will have it (though the thing is most absurd; be it), that it were good and useful for the whole world to be under <strong>one monarchy</strong>, I will not, therefore, admit that the same thing should take effect in the government of the Church. <strong>Her only Head is Christ</strong>, under whose government we are all united to each other, according to that order and form of policy which he himself has prescribed.</em>”<a href="#_ftn4" id="_ftnref4"><sup>[4]</sup></a></p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Apabila kita mengakui ini, kita mengakui bahwa sampai detik ini Kristus masih menjadi pemerintah atas gereja-Nya. Sistem pemerintahan dalam gereja sifatnya adalah turunan, dan bukan pengganti Kristus. Oleh karena itu, otoritas gereja bersifat ministerial, dan bukan magisterial. Apakah arti dari ministerial dan magisterial? Calvin mengajarkan dan juga mengingatkan sebagai berikut:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">“<em>I wish to remind the pious reader, that whatever is taught respecting the power of the Church, ought to have reference to the end for which Paul declares (2 Cor. 10:8; 13:10) that it was given—namely, for edification, and not for destruction, those who use it lawfully deeming themselves to be <strong>nothing more than servants of Christ, and, at the same time, servants of the people in Christ</strong>.</em>”<a href="#_ftn5" id="_ftnref5"><sup>[5]</sup></a></p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Dari tulisan Calvin di atas, kita paham sekarang bahwa pemerintahan dalam gereja tidak memiliki otoritas final (magisterial), melainkan hanya Kristus yang dinyatakan di dalam firmanlah yang memilikinya. Pemerintah gereja sifatnya adalah sebagai pelayan (ministerial). Tidak boleh ada supremasi satu jabatan manusia yang dilakukan di dalam gereja, walaupun Calvin sendiri mengakui bahwa ada primasi historis dalam gereja, misalnya seperti Petrus di antara para rasul dan juga kaitannya dengan Gereja Roma. Namun, dia tidak setuju dengan kenyataan bahwa supremasi universal ini diterapkan dalam konteks seluruh dunia, sehingga ia menyatakan:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">“<em>If one man presided over twelve, will it follow that one ought to preside over a hundred thousand? That twelve had one among them to direct all is nothing strange. Nature admits, the human mind requires, that in every meeting, though all are equal in power, there should be one as a kind of moderator to whom the others should look up. … Thus there would be no absurdity were we to confess that the apostles had conferred such a primacy on Peter. <strong>But an arrangement which is effectual among a few must not be forthwith transferred to the whole world, which no one man is able to govern</strong>.</em>”<a href="#_ftn6" id="_ftnref6"><sup>[6]</sup></a></p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Melalui tulisan-tulisannya di <em>Institutio</em>, Calvin mengembalikan sistem pemerintahan gereja yang lebih tua, lebih apostolik, yakni sistem pemerintahan secara kolektif yang “melindungi” otoritas Kristus, yang disebut dengan presbiterianisme. Gereja harus dipimpin oleh para presbiter, yang dalam kehidupannya sehari-hari, dipimpin dalam sinode dan konsili. Saya tidak mengatakan bahwa system ini ideal sempurna dan di dalamnya tidak ada kelemahan; tidak ada gereja yang sempurna. Namun, ini jauh lebih baik daripada adanya kepala lain yang <em>infallible</em> selain Kristus di atas gereja. Dalam artikel-artikel sebelumnya, kita telah belajar bahwa Gereja Mula-mula menggunakan sistem presbiterian, sebagai pelayan firman. Kemudian ketika satu pelayan berusaha mengambil yurisdiksi atas semuanya, untuk menjadi kepala di atas semua, perpecahan terjadi, seperti yang kita lihat dalam Skisma Timur dan Barat. Ketika satu kepala di gereja Barat, yakni paus, merupakan orang yang kontroversial dan bersifat merusak, ternyata mengangkat kepala lain, yakni paus lain yang memiliki kekuatan yang sama, tidak menyelesaikan permasalahan. Sejarah menunjukkan, lagi dan lagi, bahwa kekuasaan besar yang diberikan kepada satu orang dapat membawakan kerusakan. Adalah tugas kita untuk mengerti bahwa gereja harus diperintah dengan sedemikian rupa hingga tidak mungkin bagi siapa pun untuk menggantikan Kristus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mario A. J. Sirait<br>Pemuda GRII Pusat</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref1" id="_ftn1"><sup>[1]</sup></a> Cantor, Norman F. (1958). <em>Church, Kingship, and Lay Investiture in England, 1089-1135</em>. Princeton University Press.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref2" id="_ftn2"><sup>[2]</sup></a> “Western Schism | History, Background, Popes, &amp; Resolution | Britannica”. www.britannica.com. Retrieved 2024-07-22.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref3" id="_ftn3"><sup>[3]</sup></a>Emmons, D. D. (2023, January 18). Schism in the western church. Our Sunday Visitor. https://www.oursundayvisitor.com/schism-in-the-western-church/</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref4" id="_ftn4"><sup>[4]</sup></a> Institutes of the Christian Religion IV.6.9</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref5" id="_ftn5"><sup>[5]</sup></a> Institutes of the Christian Religion IV.8.1</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref6" id="_ftn6"><sup>[6]</sup></a> Institutes of the Christian Religion IV.6.8</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">32467</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Signifikansi Pembelaan Diri Paulus terhadap Iman Kekristenan Hari Ini</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/renungan/signifikansi-pembelaan-diri-paulus-terhadap-iman-kekristenan-hari-ini</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[heryanto]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 17 Sep 2026 08:53:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Galatia]]></category>
		<category><![CDATA[injil]]></category>
		<category><![CDATA[Paulus]]></category>
		<category><![CDATA[Perjanjian Baru]]></category>
		<category><![CDATA[pertobatan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=32341</guid>

					<description><![CDATA[Galatia 1:11-2:21 Surat Galatia adalah surat Paulus yang unik. Salah satu keunikan dari surat ini yaitu bahwa Galatia adalah surat Paulus yang paling emosional. Ketika kita membaca kitab ini, kita ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/renungan/signifikansi-pembelaan-diri-paulus-terhadap-iman-kekristenan-hari-ini">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Galatia 1:11-2:21</p>



<p class="wp-block-paragraph">Surat Galatia adalah surat Paulus yang unik. Salah satu keunikan dari surat ini yaitu bahwa Galatia adalah surat Paulus yang paling emosional. Ketika kita membaca kitab ini, kita bisa merasakan nuansa emosional yang kuat, dan hal ini dilatarbelakangi oleh jemaat Galatia yang dianggapnya begitu lekas berbalik dari Injil yang diberitakannya dan mengikuti suatu injil lain, yang terhadap itu Paulus mengatakan “yang sebenarnya bukan Injil”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal ini terjadi sebelum sidang Yerusalem diadakan, di mana kelompok Kristen Yudais yang berasal dari Yerusalem mengatakan bahwa setiap orang yang ingin menjadi warga Kerajaan Mesianik harus menjadi anggota keluarga Abraham melalui penyunatan dan ketaatan terhadap hukum Taurat. Dengan itu mereka memberitakan Injil yang lain dari yang Paulus beritakan. Lebih dari itu, mereka juga menentang kerasulan Paulus dengan mengatakan bahwa Paulus bukanlah seorang rasul yang sejati karena ia tidak diutus oleh para rasul pertama di Yerusalem, dan ia tidak mempunyai hak memberi petunjuk kepada orang-orang Kristen baru, dan mereka tidak perlu memperhatikan apa yang dia katakan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terhadap semua tuduhan itu Paulus merasa perlu baginya untuk membela panggilan dan integritasnya sebagai seorang rasul Kristus kepada jemaat Galatia. Lalu bagaimana Paulus membela panggilan dan integritasnya? Hal ini dia lakukan dengan memaparkan siapa dia dahulu.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Dia mulanya adalah penganiaya jemaat</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti yang telah kita ketahui bahwa sebelum pertobatannya, Paulus begitu aktif membela keyakinannya yang lama dengan menganiaya jemaat Kristus. Saulus adalah musuh utama orang Kristen Mula-mula. Dia menyetujui pembunuhan Stefanus, dan secara aktif memburu, menangkap, memenjarakan, dan mendukung hukuman mati bagi pengikut Kristus (Kis. 8:3; 9:1-2; 22:4-5; 26:9-11). Pertanyaannya adalah mengapa musuh Injil bisa menjadi pembela Injil? Tentu saja hal ini terjadi bukan karena frustrasi ataupun demi mencari suatu ketenaran seperti yang banyak terjadi di zaman ini; banyak orang meninggalkan kepercayaannya untuk mendapatkan ketenaran. Namun pertobatannya semata-mata disebabkan oleh perjumpaannya dengan Yesus di dalam perjalanannya menuju Damsyik dengan surat resmi untuk menangkap orang Kristen (Kis. 9:3-6; 22:6-11; 26:12-18). Pertemuan itulah yang memberikan kepadanya kewenangan sebagai seorang rasul (Gal. 1:11-12).</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Dia sangat berprestasi di dalam keyakinannya yang lama</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Paulus juga sangat berprestasi di dalam keyakinannya yang lama. Dididik secara ketat menurut hukum Taurat (seperti orang Farisi sejati), ia belajar di Yerusalem di bawah Gamaliel, guru Taurat yang sangat dihormati pada masa itu (Kis. 22:3). Di dalam agama Yahudi, ia jauh lebih maju dari banyak teman sebayanya di antara bangsanya, sebagai orang yang sangat rajin memelihara adat istiadat nenek moyangnya (Gal. 1:14). Dengan latar belakang ini, Paulus dipastikan memiliki karier yang cerah di dalam ke-yahudi-annya seandainya ia tetap pada keyakinan lamanya. Hal ini menunjukkan kepada kita akan kemurnian imannya sebagai rasul yang dipanggil oleh Allah.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Dia 180 derajat berbalik tanpa pernah bertemu dengan rasul Yerusalem</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal berikutnya adalah bahwa sejak pertobatannya, Paulus secara drastis berbalik dari penganiaya jemaat menjadi pemberita Injil yang gigih sekalipun dia belum bertemu seorang pun dari rasul Yerusalem. Hal ini secara otomatis memberi keheranan kepada jemaat di Damsyik karena mereka mengetahui bahwa ia adalah orang yang hendak ke sana dengan maksud untuk menangkap dan membawa orang-orang yang percaya kepada Yesus ke hadapan imam-imam kepala di Yerusalem, namun sekarang malah memberitakan Yesus di rumah-rumah ibadat dan menyatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah (Kis. 9:21). Hal ini juga memberikan keraguan kepada murid-murid yang ada di Yerusalem. Ketika Paulus hendak menggabungkan diri dengan murid-murid di sana, mereka takut kepadanya karena mereka tidak dapat percaya bahwa ia juga seorang murid (Kis. 9:26).</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Dia sejalan dengan para rasul Yerusalem</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Penting untuk digarisbawahi bahwa di dalam pengajarannya, Paulus sejalan dengan para rasul Yerusalem. Karena setelah mereka melihat bahwa kepadanya telah dipercayakan pemberitaan Injil untuk orang-orang tidak bersunat (orang-orang bukan Yahudi), sama seperti kepada Petrus untuk orang-orang bersunat (orang-orang Yahudi), dan setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadanya (melalui perjumpaannya dengan Kristus yang bangkit), maka Yakobus, Kefas, dan Yohanes berjabat tangan dengannya dan dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya mereka pergi kepada orang-orang yang tidak bersunat dan para rasul Yerusalem kepada orang-orang bersunat.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Dia memegang teguh panggilannya, <em>at any cost</em>!</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Surat Galatia ditulis kurang lebih sekitar 48-49 M di Antiokhia, yaitu sekitar 14-15 tahun setelah pertobatan Paulus (33-34 M), dan selama itu dia telah memegang teguh panggilannya <em>at any cost</em>. Dia telah mengelilingi Pulau Siprus dan provinsi Galatia selatan di dalam perjalanan misinya yang pertama dan mengalami banyak sekali kesusahan di dalam perjalanannya memberitakan Injil.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Paulus juga membela integritasnya dengan menunjukkan bahwa ia tidak berkompromi. Paulus tidak ragu-ragu secara terang-terangan menentang Petrus di Antiokhia ketika Petrus menghentikan kebiasaannya untuk makan bersama-sama dengan orang-orang Kristen bukan Yahudi di sana hanya karena beberapa orang Kristen Yahudi tiba dari Yerusalem (Gal. 2:11). Dan sepanjang yang kita ketahui, Petrus tidak menolak teguran yang disampaikan kepadanya pada kesempatan tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berdasarkan pembelaan Paulus di atas, kita dapat melihat bahwa ia adalah rasul sejati yang memiliki kredibilitas sebagai pemberita Injil Kristus, tidak seperti yang telah dituduhkan oleh kelompok Kristen Yudais terhadap dirinya. Namun sekarang, pembelaan Paulus ini bukan hanya menjadi pembelaan terhadap dirinya sendiri, melainkan ini juga menjadi pembelaan bagi iman Kristen, khususnya dalam menghadapi kelompok yang mengeklaim bahwa Paulus telah memberi gagasan baru di dalam ketiga belas suratnya di Perjanjian Baru yang tidak seturut dengan ajaran Perjanjian Lama dan ajaran Kristus. Paulus adalah seorang Yahudi yang memegang ajaran Yahudi dengan ketat yang telah berjumpa secara pribadi dengan Kristus, yang telah menetapkannya menjadi rasul untuk orang-orang bukan Yahudi, dan ia telah dengan setia menunaikan tugas dan panggilannya untuk menyatakan firman Allah kepada dunia oleh kuasa Roh Kudus. Saat ini, sebagaimana orang Kristen Mula-mula, seluruh kekristenan mengakui ketiga belas surat Paulus sebagai firman Allah yang setara dengan Perjanjian Lama yang telah memberkati dan mempertumbuhkan iman jutaan orang Kristen di segala zaman.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Melky Alexander Lingga</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mahasiswa STTRII Konsentrasi Misiologi</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">32341</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Sikap Hati yang Benar di dalam Pelayanan sebagai Seorang Kristen</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/renungan/sikap-hati-yang-benar-di-dalam-pelayanan-sebagai-seorang-kristen</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[michaelleang]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 Sep 2026 14:26:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[gereja]]></category>
		<category><![CDATA[karunia]]></category>
		<category><![CDATA[Melayani]]></category>
		<category><![CDATA[Sikap hati]]></category>
		<category><![CDATA[Tubuh Kristus]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=32074</guid>

					<description><![CDATA[Roma 12:3-8 Di sini Rasul Paulus membahas soal sikap hati yang benar ketika di dalam pelayanan dan menjelaskan bagaimana hidup yang dipersembahkan itu terlihat di dalam pelayanan kita, bukan terlihat ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/renungan/sikap-hati-yang-benar-di-dalam-pelayanan-sebagai-seorang-kristen">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h2 class="wp-block-heading">Roma 12:3-8</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Di sini Rasul Paulus membahas soal sikap hati yang benar ketika di dalam pelayanan dan menjelaskan bagaimana hidup yang dipersembahkan itu terlihat di dalam pelayanan kita, bukan terlihat waktu jumlah jemaatnya banyak, bukan juga karena kedalaman pemahaman kita akan doktrin yang baik. Bukan berarti itu salah, tetapi yang paling terutama Tuhan melihat pada apa? Yaitu pada hati kita yang terdalam itu arahnya bagaimana. Untuk itu, di sini kita akan sama-sama belajar bagaimana seharusnya sikap hati kita kepada Tuhan. Untuk itu, Paulus menulis di dalam Roma 12:3-8 tentang bagaimana sikap hati yang benar di hadapan Tuhan dalam pelayanan. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Melayani dengan kerendahan hati</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Di dalam ayat 3, Paulus mengatakan, <em>“Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku,&nbsp;aku berkata kepada setiap orang di antara kamu:</em> <strong><em>Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan</em></strong><em>, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu</em> <strong><em>menguasai diri menurut ukuran iman</em></strong><em>, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.”</em> Apa artinya? Artinya jangan kita terlalu menilai diri kita terlalu tinggi dengan hasil kemampuan kepintaran kita dan menganggap diri kita itu terlalu penting. Melainkan menguasai diri menurut ukuran iman yang Tuhan anugerahkan bagi kita. Untuk itu, perlu sekali kerendahan hati, karena dengan kerendahan hati inilah kita bisa menyadari bahwa semua yang kita miliki itu tidak ada apa-apanya, semuanya itu hanyalah pemberian dari Tuhan Allah semata. Untuk itu, kerendahan hati bukan berbicara soal kemampuan beretorika, kemampuan belajar, tahu banyak hal tentang doktrin, tetapi jangan sombong karena itu semua adalah karunia yang Tuhan berikan bagi setiap kita. Tuhan bisa saja tidak memakai kita sebagai alat-Nya, Dia bisa saja memakai orang yang kosong yang tidak punya pengetahuan mengenai doktrin mendalam tetapi Tuhan pakai mereka dan jadikan mereka berkat serta Tuhan mengisi mereka dengan pengertian yang murni.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk itu, Rasul Paulus mengajarkan kepada jemaat di Roma untuk rendah hati sesuai dengan panggilan mereka masing-masing.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jadi, prinsip utama dari Rasul Paulus di dalam pelayanannya adalah kerendahan hati. Karena dengan kerendahan hati kita mencerminkan kasih Kristus di dalam hidup kita, sebagaimana kita melihat bahwa Kristus telah merendahkan diri-Nya, bahkan Ia sampai mati di atas kayu salib. Maka ini akan menjadi suatu model untuk kita di dalam kehidupan kita, maka tidak ada ambisi, tidak ada kesombongan di dalam diri kita, atau mencari kepentingan diri sendiri atau iri hati. Melainkan kita menunjukkan nilai kerendahan hati yang mengubah kita, sehingga di dalam pelayanan, hal inilah yang ditunjukkan, yaitu sikap hati kita yang benar. Bukan mencari pujian dan ambisi diri, melainkan dengan sikap hati yang benar dan murni inilah yang mendorong kita untuk tidak ada iri hati kepada saudara seiman kita yang lain. Karena kita tahu bahwa mereka memiliki karunia yang berbeda dengan kita, untuk itu respons kita sebagai orang yang telah ditebus adalah ikut bersyukur dengan karunia yang dimiliki oleh saudara seiman kita yang lain, sehingga karunia itu dipakai untuk melayani Tuhan dan bersama-sama dapat menjadi berkat. Untuk itu mintalah kerendahan hati dari Tuhan sehingga kita dipakai oleh Tuhan untuk menjadi berkat, dan dengan rendah hati kita bekerja sama dengan rekan atau saudara seiman yang berbeda karunia dengan kita.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">Karena kita tahu bahwa mereka memiliki karunia yang berbeda dengan kita, untuk itu respons kita sebagai orang yang telah ditebus adalah ikut bersyukur dengan karunia yang dimiliki oleh saudara seiman kita yang lain, sehingga karunia itu dipakai untuk melayani Tuhan dan bersama-sama dapat menjadi berkat.</p>
</blockquote>



<h2 class="wp-block-heading">Melayani dengan bersama-sama dan saling melengkapi (4-5)</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Di sini Paulus mengatakan, <em>“Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain.” </em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Jelas sekali bahwa setiap panggilan Tuhan bagi setiap orang percaya itu berbeda-beda dan di dalam perbedaan itulah justru dipersatukan berbagai-bagai karunia untuk bersatu di dalam melayani Tuhan. Untuk itu, di ayat 6b-8, Paulus menyebut 7 karunia yang berbeda-beda dan menunjukkan bagaimana karunia-karunia itu harus digunakan untuk melayani Tuhan. Ketujuh karunia itu adalah karunia bernubuat, melayani, mengajar, memberikan nasihat, memberi, memimpin, dan menunjukkan kemurahan. Karunia bernubuat digunakan untuk menyampaikan firman Allah kepada gereja-Nya. Karunia melayani berkaitan dengan pelayanan yang menunjukkan kepedulian terhadap berbagai kebutuhan praktis yang mungkin muncul di dalam gereja. Jika seseorang memiliki karunia mengajar, hendaklah ia mengajar orang lain agar bertumbuh dalam iman Kristen yang benar dan murni. Demikian pula, jika seseorang memiliki karunia untuk memberikan nasihat, dorongan, atau bimbingan, hendaklah ia mendorong dan membimbing orang lain dalam kebenaran agar mereka dapat bertumbuh di dalamnya. Orang yang memiliki karunia memberi dan berkontribusi untuk memenuhi kebutuhan orang lain hendaklah melakukannya dengan murah hati. Paulus mengajarkan bahwa pemberian tidak boleh dilakukan dengan berat hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Orang yang memiliki karunia memimpin hendaklah menjalankannya dengan penuh tanggung jawab dan ketekunan. Orang yang menunjukkan kemurahan kepada mereka yang membutuhkan, seperti orang yang sedang mengalami kesusahan, para janda dan duda, serta anak-anak yatim, hendaklah melakukannya dengan sukacita.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketujuh karunia&nbsp;di atas menunjukkan bahwa Allah memberi anugerah kepada semua orang percaya. Bukan berarti bahwa semua karunia di atas itu kita peroleh, melainkan bahwa karunia yang dimiliki oleh orang-orang itu berbeda-beda, tidak ada yang sama. Karunia yang berbeda-beda itu mendorong kita untuk tidak berkompetisi satu dengan yang lain, melainkan saling melengkapi dan saling mendorong untuk sama-sama melayani pekerjaan Tuhan dan menjadi berkat bagi orang-orang yang dilayani. Untuk itu, pelayanan yang murni adalah pelayanan yang saling melengkapi satu dengan yang lain dengan saudara seiman dengan karunia yang dimiliki secara berbeda-beda.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rasul Paulus dengan sangat jelas menyampaikan bahwa kita adalah anggota-anggota yang berbeda. Namun, perbedaan itu bukan berarti kita tidak menghargai satu sama lain. Sebaliknya, kita harus saling menghargai, membantu, mendorong, dan terlibat bersama saudara seiman. Keterlibatan dengan saudara seiman yang memiliki karunia yang berbeda dapat diwujudkan dengan saling melengkapi dalam pelayanan. Sebagai contoh, perhatikan tangan dan kaki kita. Ketika kaki digigit nyamuk, saraf membawa rasa sakit atau gatal itu ke otak. Otak kemudian memberikan perintah kepada tangan untuk bereaksi dengan menepuk nyamuk tersebut. Kaki dan tangan memiliki fungsi yang berbeda, tetapi keduanya dapat saling membantu dan melengkapi. Demikian pula dalam kehidupan orang percaya. Paulus mengajarkan bahwa setiap orang Kristen yang memiliki karunia harus menghargai, mendorong, dan memperlengkapi satu sama lain. Oleh karena itu, dalam pelayanan janganlah kita merasa mampu mengerjakan segala sesuatu seorang diri, sebab setiap orang memiliki karunia yang berbeda-beda. Kita juga perlu memeriksa hati agar tidak memberi kesempatan kepada Iblis untuk membuat kita membanggakan diri dan menganggap seolah-olah kita mampu mengerjakan semuanya sendiri. Karena itu, hendaklah kita senantiasa berhati-hati dan menyadari bahwa dalam pelayanan kita membutuhkan satu sama lain.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh sebab itu, kita adalah umat yang telah ditebus dengan darah Kristus dan telah menerima Roh Kudus yang telah melahirbarukan kita, sehingga kita telah bersatu dengan Kristus dan juga bersama-sama dengan orang-orang pilihan Tuhan yang memiliki karunia yang berbeda-beda. Untuk itu kita harus sadar bahwa setiap orang memiliki karunia yang Tuhan anugerahkan, sehingga kita harus tetap rendah hati untuk saling bekerja sama dengan saudara seiman yang lain dan saling melengkapi dan mendorong untuk bersama-sama membangun Tubuh Kristus dan memperluas Kerajaan Allah dan memuliakan Tuhan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lucia Santina Moreira<br>Mahasiswi STTRII Konsentrasi Misiologi</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">32074</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Filsafat Asia: Bagian 34</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/transkrip/filsafat-asia-bagian-34</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[michaelleang]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 05 Sep 2026 08:38:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Transkrip]]></category>
		<category><![CDATA[Filsafat Asia]]></category>
		<category><![CDATA[Gentleman]]></category>
		<category><![CDATA[Konfusius]]></category>
		<category><![CDATA[Tata krama]]></category>
		<category><![CDATA[Wahyu Umum]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=31972</guid>

					<description><![CDATA[Keempat belas, seorang agung (gentleman) mempunyai pengetahuan yang luas dan sebanyak mungkin, tetapi selalu membatas diri di dalam peraturan dan tata krama yang ketat. Jadi dia tidak sembarangan melakukan segala ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/transkrip/filsafat-asia-bagian-34">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><em>Keempat belas</em>, seorang agung (<em>gentleman</em>) mempunyai pengetahuan yang luas dan sebanyak mungkin, tetapi selalu membatas diri di dalam peraturan dan tata krama yang ketat. Jadi dia tidak sembarangan melakukan segala hal yang tidak pantas atau tidak sesuai dengan aturan. Sekalipun ia pandai luar biasa, pengetahuannya berlimpah, tetapi ia tetap membatas diri di dalam peraturan dan prinsip-prinsip tata krama yang ada. Oleh karena itu, semua yang tidak sesuai dengan tata krama dan kesopanan yang baik akan dia tolak. Sekalipun sangat pandai dan berlimpah pengetahuannya, ia tidak membiarkan segala sesuatu dilewati dan diterobos dari tata krama yang baik. Semua harus tetap mengikuti prinsip-prinsip tata krama. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan di dalam Alkitab pada Mazmur 119, “Oh Tuhan, lapangkanlah, bukalah hatiku selebar-lebarnya, tetapi pimpin aku hanya berjalan di dalam perintah-Mu.” Jadi, hati boleh selapang mungkin, tetapi kaki dan kelakuannya harus sesempit mungkin. Inilah orang agung.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika saya membaca hal ini, saya mencoba membayangkan ayat-ayat firman Tuhan yang pernah saya hafal, membayangkan juga tulisan Aristotle, tulisan Konfusius, juga René Descartes, Kierkegaard dan para tokoh lain, untuk mengerti apa perbedaan setiap perkataan mereka. Dan kesimpulannya, semua yang ada pada firman Tuhan selalu agung luar biasa. Namun, ketika kita membaca ayat seperti di atas, kita hanya sekadar tahu dan kehilangan makna penting yang terkandung di dalamnya. “Luaskanlah hatiku.” Tuhan ingin kita membuka hati seluas-luasnya, selebar-lebarnya. Tetapi, “supaya aku bisa berjalan di dalam kehendak-Mu saja.” Jalan di jalan yang sempit. Pengertian dikembangkan seluas mungkin, tetapi batasan dari kebebasan dilakukan sedisiplin mungkin.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph"> Hati boleh selapang mungkin, tetapi kaki dan kelakuannya harus sesempit mungkin. Inilah orang agung.</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Kelima belas</em>, seorang agung merangkul moralitas, sedangkan orang picik hanya merangkul tanah liat. Maksud “tanah liat” adalah semua hal-hal kecil yang tidak berarti dan tidak ada harganya. Seorang yang agung selalu merangkul, tetapi hatinya selalu memperhatikan akan hukuman. Sebaliknya, orang picik hanya memperhatikan keuntungan atau hadiah. Jadi seorang yang agung di dalam pikirannya adalah seorang yang selalu memperhatikan semua hukum dan peraturan. Itu yang diperhatikan. Seorang hina atau orang kecil terus berpikir kapan saya bisa dapat hadiah, dapat bonus, dapat uang, dan bisa mendapat segala yang cuma-cuma. Di mana ada hadiah, dia selalu muncul; di mana ada keuntungan, dia selalu ada di sana. Dia selalu hadir di setiap tempat di mana dia bisa mendapatkan keuntungan, mendapat manfaat, hadiah, bonus, dan sejenisnya.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada orang Barat mengatakan, <em>“When all the malls are on sale, Chinese nose comes out.”</em> (Di Amerika Serikat, setiap ada obral, semua hidung orang Tionghoa muncul.) Maksudnya, orang Tionghoa tidak mau beli barang mahal, jadi selalu menunggu sampai waktu obral baru mereka berebutan membelinya. Di Indonesia dan di Hong Kong, kami obral setiap hari, jadi orang Tionghoa muncul setiap hari dan berbelanja. Itu karena di Amerika, harga jual dinaikkan tinggi luar biasa. Orang Tionghoa tahu harga modalnya berapa, jadi mereka tunggu ketika obral. Pakaian dari Korea yang senilai tiga dolar bisa dijual di Amerika seharga lima belas dolar, dengan memberi label merek Amerika.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika saya beli hadiah di Amerika Serikat untuk saya bawa pulang, saya menemukan sesuatu yang unik. Saya membeli baju untuk oleh-oleh istri saya, ternyata ketika dibuka bungkusnya, baju itu buatan India. Demikian juga ketika membeli satu kaleng coklat merek dari Swiss, ternyata ketika tiba di Hong Kong dan dibuka, ternyata buatan Hong Kong. Coklat di beli di Swiss, dibawa ke Hong Kong untuk jadi kado orang Hong Kong, ternyata <em>made in Hong Kong</em> (buatan Hong Kong).&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Melalui pembahasan ini, kita belajar tentang konsep manusia agung, manusia yang berharkat mulia. Saya percaya ini bukan hal kebetulan, melainkan Tuhan rela memberikan wahyu umum kepada orang-orang yang tidak memiliki kesempatan untuk mendengar firman Tuhan, sementara kebenaran alam semesta berjalan di dalam hati banyak orang yang menuntut kebenaran. Tuhan memberi belas kasihan kepada masyarakat-masyarakat kuno yang belum mempunyai kesempatan untuk mendengar Injil Kristus. Dengan demikian, mereka juga bisa mempunyai pikiran yang agung dan melukiskan watak orang agung itu seperti apa. Jika mendapatkan berkat dari pembahasan ini, kiranya tidak berhenti pada diri kita sendiri. Kita harus membagikannya kepada banyak orang di luar yang membutuhkan kebijaksanaan. Hendaknya kita bertobat terlebih dahulu, minta Tuhan mengubah diri kita terlebih dahulu, agar kita dapat menjadi orang yang lebih agung dan lebih agung.&nbsp;</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">Tuhan rela memberikan wahyu umum kepada orang-orang yang tidak memiliki kesempatan untuk mendengar firman Tuhan, sementara kebenaran alam semesta berjalan di dalam hati banyak orang yang menuntut kebenaran. Tuhan memberi belas kasihan kepada masyarakat-masyarakat kuno yang belum mempunyai kesempatan untuk mendengar Injil Kristus.</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Orang yang agung kita pikir sedang mendongak ke atas. Konfusius mengatakan orang yang agung takut mandat sorga, takut orang besar, takut perkataan orang suci. Orang yang sudah mendengar ajaran Konfusius seperti ini, hendaknya takut kepada apa yang Konfusius katakan. Pria harus meneruskan abu orang tua (menghormati orang tua), pria harus menanggung nafkah seluruh keluarganya, dan pria juga yang harus meneruskan juga keturunan keluarga itu.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada satu kalimat dari Konfusius yang sangat menghina orang perempuan. Dia mengatakan, “Susah memelihara dua macam orang, yaitu orang kecil dan perempuan.” Saya kurang bisa mengerti apa yang dimaksud oleh Konfusius. Sangat mungkin para filsuf dan orang-orang agung seperti Konfusius, seperti Sokrates, sulit dimengerti oleh istrinya. Ketika dia sedang memikirkan hal-hal yang besar dan begitu dalam, istrinya tidak menghargai dia. Sokrates sangat sulit di rumah, sehingga ia lebih suka pergi keluar rumah dan lebih banyak bicara dengan murid-muridnya, membicarakan pemikiran filsafat. Ketika dia sampai di rumah, dia sulit berbicara apa pun ke istrinya. Akhirnya, dia mengatakan, “A good wife makes a sweet home for you, a bad wife makes you a philosopher.” (Istri yang baik akan menyediakan rumah tangga yang manis bagimu, sementara istri yang buruk akan membuat engkau menjadi filsuf.) Jadi istri yang buruk jasanya besar juga.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tetapi mungkin hal seperti itu tidak adil bagi istrinya. Bukan Sokrates atau Konfusius yang sulit dengan istrinya, tetapi istrinya juga akan sulit dengan mereka. Istri-istri seperti ini kesulitan apakah suaminya akan pulang atau tidak pulang, akan makan di rumah atau tidak makan di rumah, perlu disediakan atau tidak, karena seperti Sokrates ketika sedang begitu seru berbincang filsafat dengan murid-muridnya, bisa lupa pulang dan lupa makan. Istrinya masak tetapi makanannya tidak dimakan. Tentu istrinya juga merasa tidak dihargai. Juga kalau tiba-tiba dia mengajak muridnya datang ke rumah dan mau makan, sementara istrinya tidak masak atau tidak memasak cukup banyak untuk memberi makan murid-murid yang diajak pulang, tentu istrinya juga akan kerepotan dan malu. Maka, akibatnya jika istrinya marah-marah, seharusnya bisa dimengerti juga. Jadi, sepertinya orang agung itu mengalami kesulitan dalam pernikahan, sehingga ada benarnya kalimat, “Orang yang terlalu bersifat pemikir sebaiknya tidak usah menikah.” Tetapi jika tidak menikah, tentu akan terjadi kesulitan yang lain lagi. Jadi hal ini akan menjadi kesulitan umat manusia secara umum.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di dalam majalah Reader’s Digest pernah ada makalah yang membicarakan tentang pernikahan. Di situ dikatakan bahwa setiap perempuan membutuhkan tiga suami. Ini bukan pemikiran Konfusius, melainkan pemikiran filsafat dunia secara umum. Suami pertama mencari uang secukupnya sehingga dia merasa aman, tidak perlu ada kekuatiran apa pun, tidak ada tegangan atau stres. Suami kedua tiap hari mendampinginya dan terus merayu, mengungkapkan kata-kata cinta seperti sedang berpacaran sebelum menikah. Dan suami ketiga adalah suami yang siap membereskan semua barang-barang dan peralatan yang rusak atau kurang berfungsi baik di dalam rumah, seperti ketika ada lampu yang mati, atau setrika yang tidak panas, atau berbagai kerusakan rumah lainnya.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selesai membaca artikel tersebut, saya kemudian merespons dengan memikirkan bahwa suami juga perlu tiga istri. Istri pertama, cinta-cintaan sama dia, manis-manis setiap hari, intim sekali tidak perlu kerja apa-apa. Istri kedua melahirkan anak, mengurus, dan memelihara keluarga, menjaga rumah, membersihkan rumah, luar biasa sibuknya. Dan istri ketiga menolong suami supaya bisa tetap segar dan sehat. Istri tidak disuruh cari uang, itu tugas suami. Suami yang suruh istri cari uang itu suami kurang ajar. Sekalipun istri bisa cari uang, itu puji Tuhan, tetapi kalau tidak bisa, tidak boleh dipaksa mencari uang, karena memang itu bukan tugasnya. Pria yang belum bisa membiayai keluarga tetapi berani dan mau menikah adalah orang yang butuh iman ganda. Saya tidak mengatakan tidak boleh, tetapi saya hanya mengatakan “butuh iman dobel”. Dan jika pria menikah dengan mencari wanita kaya, itu adalah pria yang hina, pria yang picik (<em>xiao ren</em>). Kiranya kita boleh belajar menjadi orang agung yang berkenan kepada Allah. Amin.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">31972</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Charitable in Disagreement dengan Sesama Orang Kristen dalam Pelayanan</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/renungan/charitable-in-disagreement-dengan-sesama-orang-kristen-dalam-pelayanan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[heryanto]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 28 Aug 2026 18:37:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Charitable Disagreement]]></category>
		<category><![CDATA[Kerendahan Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Kesatuan Tubuh Kristus]]></category>
		<category><![CDATA[Penilaian Rohani]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=31757</guid>

					<description><![CDATA[“Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah,karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan;dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani”.  (1Kor. ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/renungan/charitable-in-disagreement-dengan-sesama-orang-kristen-dalam-pelayanan">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">“Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah,karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan;dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani”.  (1Kor. 2:14)</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Paulus dalam Surat 1 Korintus mengatakan bahwa manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah sebab bagi mereka itu adalah suatu kebodohan. Lebih daripada itu, manusia duniawi tidak dapat memahaminya, karena itu hanya dapat dinilai secara rohani. Paulus berbicara dalam Surat 1 Korintus tentang salib yang berlawanan dengan hikmat duniawi, sehingga orang-orang duniawi, atau, dengan kata lain, natural, tidak dapat memahaminya. Hanya jika Allah yang mengerjakan maka seseorang dapat mengerti, karena dengan demikian seseorang dapat menjadi manusia rohani dan dapat menilai hal-hal rohani.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pelayanan kita, seperti penginjilan, seminar, ibadah dan lain sebagainya, adalah hal-hal rohani sebab tujuannya adalah untuk menggenapkan rencana keselamatan Tuhan bagi dunia, atau, dengan kata lain, berkaitan dengan keselamatan yang dikerjakan oleh Tuhan melalui salib, sehingga pelayanan kita mungkin akan disalah mengerti oleh mereka yang belum mengenal Tuhan. Sebagai contoh, bagi mereka yang belum mengenal Tuhan, pekerjaan kita melayani orang lain agar dapat menjadi orang Kristen adalah pekerjaan yang sia-sia, yang hanya dikerjakan oleh mereka yang fanatik terhadap agama. Ketika kita menghadapi kritik demikian terhadap pelayanan kita, sebagai orang Kristen, mungkin saja kita tidak tersinggung atau hanya tersinggung sedikit. Sebab kita mengerti bahwa manusia duniawi yang tidak memperoleh pekerjaan Roh Kudus tidak dapat menilai hal-hal rohani, bukan? Sehingga sangat wajar ketika orang yang kita layani memberikan penilaian yang salah terhadap pelayanan kita. Seringkali penilaian mereka tidak membawa kita kepada situasi ketidaksetujuan, sehingga kita tidak mencoba untuk mendebat mereka, tetapi dengan tetap sabar melayani mereka, sehingga kita dapat tetap melayani mereka tanpa rasa tersinggung, dengan harapan Tuhan bekerja dalam hati mereka. Namun, faktanya adalah seringkali penilaian dari sesama orang Kristen yang telah menjadi manusia rohani lebih sulit diterima. Seringkali penilaian mereka membawa kepada ketidaksetujuan, bukan? Bagaimana kita dapat menanggapi hal ini?</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ketika orang lain sebagai saudara seiman menilai pelayanan kita dan kita tidak setuju akan penilaian mereka, maka kita harus sadar satu hal. Mereka adalah manusia rohani yang dapat menilai hal-hal rohani sebab mereka telah menerima pekerjaan Roh Kudus. Kita harus sadar bahwa mereka <em>capable</em> dalam menilai pelayanan kita, dan kita tidak boleh menyikapi penilaian mereka dengan tidak baik. Pada saat yang sama, ketika kita tidak setuju akan pelayanan mereka, kita juga tidak boleh sembarangan mengeluarkan penilaian yang negatif terhadap mereka atau ungkapan yang tidak setuju akan apa yang mereka kerjakan. Sebab kita semua adalah umat Allah yang dapat menilai hal-hal rohani. Tentu saja kita mungkin salah sebagai manusia yang terbatas yang tidak mahatahu, tetapi, pada saat yang sama, kita harus sadar bahwa sumber pengenalan kita akan hal-hal rohani adalah Allah yang sama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dengan demikian, kita harus berhati-hati ketika menilai pelayanan orang Kristen lain, dengan kesadaran bahwa orang Kristen lain juga <em>capable</em> akan menilai hal-hal rohani. Bahkan pada momen-momen tertentu kita harus menunda penilaian kita dan melihat apa yang terjadi ke depannya. Pada saat yang sama, ketika pelayanan kita dinilai oleh orang Kristen lain, kita harus sadar bahwa mereka juga <em>capable</em> akan menilai hal-hal rohani, sehingga kita harus mendengarkan dan menghargai penilaian mereka, baik atau buruk. Kita harus memperhitungkan dengan baik penilaian mereka dan jika memang penilaian mereka benar dan disertai masukan, maka kita harus berubah dan bersyukur kepada Tuhan akan apa yang mereka telah kerjakan. Kita harus <em>charitable</em> dalam <em>disagreement</em> dengan orang-orang Kristen lain, mendengar dengan baik, mencoba mengerti dengan baik, dan merespons dengan baik terhadap penilaian orang lain. Dengan demikian, ketidaksetujuan dapat membawa kebaikan kepada gereja, di mana semua pihak dapat saling melengkapi dengan masukan dan pendapat mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>John Tarigan<br>Mahasiswa STTRII</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">31757</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Ketiga Sahabat di Babel</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/isu-terkini/ketiga-sahabat-di-babel</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Susan]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 Aug 2026 09:22:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Isu Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[babel]]></category>
		<category><![CDATA[gempa NTT]]></category>
		<category><![CDATA[hut ri ke-81]]></category>
		<category><![CDATA[pemerintah]]></category>
		<category><![CDATA[Sadrakh Mesakh Abednego]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=31736</guid>

					<description><![CDATA[Baru saja kita melalui masa kemerdekaan Indonesia pada tahun 2026, dan ada beberapa keluhan yang sedang kita rasakan belakangan ini. Yang pertama, kita perlu mendoakan berbagai bencana yang sedang terjadi ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/isu-terkini/ketiga-sahabat-di-babel">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Baru saja kita melalui masa kemerdekaan Indonesia pada tahun 2026, dan ada beberapa keluhan yang sedang kita rasakan belakangan ini. Yang pertama, kita perlu mendoakan berbagai bencana yang sedang terjadi dalam berbagai pulau Indonesia: terdapat gempa yang melanda di NTT, dan juga adanya kebakaran hutan dalam skala besar di Kalimantan. Situasi seperti demikian sudah sepantasnya digolongkan sebagai “bencana nasional”. Yang kedua, terdapat beberapa kelompok dalam masyarakat Indonesia yang mulai menunjukkan gerakan memisahkan diri dari pemerintahan pusat. Di Aceh, pengibaran bendera merah putih digantikan dengan bendera lokal. Demikian juga terjadi pengibaran bendera Dayak di tanah air Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari beberapa peristiwa seperti ini, sebetulnya kita sudah mulai bisa melihat berbagai wujud ekspresi rasa kesal dari masyarakat Indonesia terhadap pemerintahan saat ini. Ketika kondisi yang terjadi di berbagai daerah pelosok mengalami suatu kemirisan, tampaknya pemerintah tidak hadir untuk masyarakat yang berada pada posisi geografis yang demikian jauh itu. Dalam perjalanan waktu, kita juga dapat menyaksikan adanya pengibaran bendera berfoto presiden pada hari raya kemerdekaan Republik Indonesia ke-81. Apa yang biasanya menjadi bendera merah putih, ternyata mulai digantikan dengan wajah seorang pemimpin. Itu merupakan suatu peristiwa yang baru kali pertama terjadi dalam sejarah Indonesia. Bukankah hal itu sudah dideskripsikan dalam buku paket sejarah yang baru mau diterbitkan oleh kementerian budaya, di mana era reformasi sudah berhenti pada tahun 2024?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apabila kita mempelajari pola-pola pemerintahan seperti yang digambarkan oleh George Orwell dalam karyanya 1984,&nbsp;terlihat bahwa prediksi Orwell mengenai totalitarianisme sedang terjadi di tanah air. Penguasaan total terhadap kehidupan bermasyarakat tidak hanya memuncak pada masa perang dingin, tetapi juga setelahnya, khususnya ketika di berbagai belahan dunia para penguasa <em>strongmen</em>&nbsp;sedang mencari panggung politik internasional untuk melebarkan sayap kuasa dan sayap pengaruh. Tanpa terkecuali, apa yang terjadi di Indonesia, sudah menunjukkan suatu pola pemerintahan yang cukup mengkhawatirkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Babel dan Kekuasaannya</strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Apa yang sedang terjadi pada saat ini adalah hadirnya suatu sistem kekuasaan seperti pada masa kerajaan Babel dalam kitab Daniel. Seorang pemimpin yang mempunyai suatu mimpi untuk menjadi raja di atas segala raja yang lain. Dia memandang bahwa masa pemerintahannya tidaklah lama. Bila Babel hanya berhenti pada kepala emas dan akan digantikan dengan kerajaan Persia yang bermuatan perak, maka dia harus menjadikan dirinya sebagai pemimpin abadi. Bila masa pemerintahan saat ini tidak dapat bertahan lama, setidaknya nama dan keberadaannya tercatat dalam sejarah dan kenangan setiap orang. Pemimpin itu maka membuat suatu patung emas yang menyerupai dirinya, dan dia meminta agar setiap orang menyembahnya. “Ya, jika Yang Mahakuasa menentukan masa hidupku hanya berhenti sampai pada titik ini, maka akulah yang akan menjadi mahakuasa untuk menentukan kemuliaanku sampai selama-lamanya. Kerajaan emasku tidak berhenti sampai di kepala, tetapi seluruh tubuh patung itu sampai ke ujung tali sejarah”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nebukadnezar&nbsp;kemudian melihat ada tiga manusia yang berdiri. Mereka menolak menyembah patung itu &#8211; mereka menolak menyembah raja itu. Bagi mereka bertiga, raja itu bukanlah Tuhan: dia hanyalah seorang manusia biasa yang dapat mati kapan pun. Nafas raja berada dalam genggaman tangan Allah. Bagi sang raja, tiga orang itu adalah ancaman paling besar. Tiga orang yang kedua kakinya tidak berteluk lutut artinya adalah tiga tamparan besar terhadap kedaulatan sang raja. Satu orang saja yang tidak tunduk, itu berarti sang raja bukanlah raja sepenuhnya. Mau tidak mau, raja harus memaksa agar setiap orang berlutut dan menyembah patung itu. Kalau tidak, maka orang-orang itu adalah ancaman. Pastinya, dia adalah antek-antek asing yang datang untuk menyusup dalam kerajaannya, dia adalah <em>londo ireng</em>&nbsp;yang bersikap subversif, dan dia adalah para pengkhianat dan musuh negara yang pantas dimasukkan ke dalam dapur api. “Apabila kalian tidak mau menyembah kepada patungku, setidaknya berlutut dan tampil menyembah. Akan tetapi, bila kalian juga tidak mau, maka senjata akan menanti pada detik akhir hidupmu. Sekali lagi, sembahlah patung emas yang menyerupai aku, jadikanlah dirimu menjadi serupa dengan diriku, sebab akulah penguasa dunia”. Baik itu patung emas atau bendera yang menampilkan wajah sang penguasa, manusia yang ingin menjadi penguasa akan menyamakan diri setara dengan Allah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita sudah tahu dengan apa yang terjadi dengan ketiga sahabat Daniel. Ketika semua orang di Babel, dari berbagai suku, bahasa, agama, dan bangsa datang menyembah, mereka tetap berdiri. Mereka melihat pemandangan di sekitarnya, banyak kerumunan yang menyembah dalam ketakutan. Adanya suatu ancaman kematian yang menanti mereka bila mereka tidak berteluk lutut. Ada patung raksasa di hadapan mereka, yang tampak seperti monster yang mengerikan. Wajah monster itu adalah wajah sang raja, dan raja yang sedang melihat seluruh pemandangan sekitar menerima laporan:</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada tiga jiwa yang berdiri, mereka tidak mau menyembah.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Ketiga Sahabat</strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Bayangkan kalau ada seorang raja mendatangi rakyatnya, lalu raja itu memberikan tangan untuk berjabat tangan, seolah-olah sang raja meminta agar rakyat kecil itu bisa merasa dikenal dan didekati oleh orang penting. Bukankah orang itu harusnya merasa senang? Ya, ketika sang raja mengibarkan bendera wajahnya, patung emasnya, dan kebanggaan bahwa dirinya adalah manifestasi dari negara-bangsa Indonesia, lalu mendatangi ketiga sahabat itu serta berkata:</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Apakah benar, hai Sadrakh, Mesakh dan Abednego, bahwa kamu tidak memuja dewaku dan tidak menyembah patung emas yang kudirikan itu? Sekarang, jika kamu bersedia, demi kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus dan serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, sujudlah menyembah patung yang kubuat itu! Tetapi jika kamu tidak menyembah, kamu akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala. Dan dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku?” (Daniel 3:14-18)</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Jika kamu bersedia”, kata-kata itu sudah diucapkan oleh sang raja sebagai suatu undangan, atau bahkan, permohonan. Sembahlah dewaku (diriku), patung emas (wajah kerajaanku), dan tunduklah kepadaku. &nbsp;Ketika kalian mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, dan segala jenis bunyi-bunyian, ya dalam bahasa hari ini, ketika kalian mendengar propaganda pemerintah, polesan para juru bicara, kampanye-kampanye kami di media sosial, alihan ke iklan-iklan, serta suara-suara pidato sang raja&#8230; jangan lupa ya untuk memberi seruan dan tepuk tangan. Dukunglah rajamu itu, meski boros, meski IHSG anjlok, tetapi tetap dukunglah dia. Setidaknya, sang raja bisa merasa nyaman dan aman agar dia tetap berdiri sebagai <em>number one</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan apa yang dilakukan oleh ketiga sahabat itu?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mereka tetap menolaknya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja. Tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku atau menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”<br>(Daniel 3:16–18)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mereka tidak membalas raja dengan seperangkat penjelasan kultural. “Oh, kami baru saja tahu ternyata itu adalah suatu patung yang patut disembah, kami datang dari suatu bangsa yang tidak terbiasa menyembah patung”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mereka juga tidak membalas raja dengan berbagai argumentasi mistik atau filosofis. “Tahukah raja, bahwa patung itu adalah benda mati? Untuk apa kita menyembah sesuatu yang mati, bukankah ada dewa-dewa yang memerintah di atas pemerintahan raja?” Saya percaya Nebucadnezzar juga percaya kepada para dewa, itulah sebabnya dia memanggil Daniel sebagai penasihat yang dipenuhi oleh roh dewa yang kudus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Akan tetapi, permasalahan terletak pada titik ini: mereka melawan sang raja yang merasa dirinya sudah setara dengan Allah. Sampai saja, balasan yang diberikan oleh ketiga sahabat itu menjadi suatu “tamparan” di depan wajah raja secara langsung. Kata “tidak ada gunanya” yang dipakai oleh ketiga sahabat menunjukkan satu hal: raja sudah tuli dan menjadi bodoh, sampai saja raja sudah dianggap tidak lagi berakal untuk mendengarkan kata-kata.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Tidak ada gunanya” juga berarti “kami tidak butuh raja, kami tidak takut pada dirimu. Raja bukanlah Tuhan. Raja hanyalah manusia fana, dan sama seperti manusia lain, kau hanyalah debu”. Tidak ada ancaman militer, tidak ada serangan fisik maupun rencana untuk melakukan <em>assasination</em>. Akan tetapi, respon sang raja yang demikian marah menunjukkan bahwa ketiga sahabat itu menjadi musuh yang lebih menyeramkan daripada mengalahkan Firaun dari Mesir dan Raja Asyur dari Asiria.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hanya tiga jiwa saja kok, kenapa begitu repot?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena yang sedang menantang sang raja bukan hanya tiga jiwa manusia saja, tetapi Allah itu sendiri. “Jika <strong><u><strong>Allah kami</strong></u></strong><strong>&nbsp;</strong>yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jadi, siapakah raja yang sesungguhnya? Raja itu atau Tuhan yang akan menyelamatkan? Raja bukan sedang menentang tiga sahabat Daniel, tetapi Tuhan itu sendiri. “Oh gitu, baik. Saya akan buktikan bahwa Tuhanmu mati dengan mematikan kalian bertiga. Mari kita uji, apakah betul Tuhanmu itu hidup atau mati. Tuhanmu yang lebih berkuasa atau saya!”.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">Jadi, siapakah raja yang sesungguhnya? Raja itu atau Tuhan yang akan menyelamatkan? Raja bukan sedang menentang tiga sahabat Daniel, tetapi Tuhan itu sendiri.</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Dapur Api</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Dapur api atau kematian menanti mereka yang melawan raja. Ketiga sahabat itu dilempar ke tempat pembakaran yang paling mendalam, bahkan sampai ada prajurit yang mati. Namun, Tuhan hadir bersama dengan mereka. Sang raja yang melihat peristiwa itu merasa takjub. Nebukadnezar kemudian mengangkat ketiga sahabat Daniel pada jabatan yang tinggi, serta membuat suatu peraturan baru agar tiap orang menghormati Allah Israel.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Sebab itu aku mengeluarkan perintah, bahwa setiap orang dari bangsa, suku bangsa atau bahasa mana pun ia, yang mengucapkan penghinaan terhadap Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego, akan dipenggal-penggal dan rumahnya akan dirobohkan menjadi timbunan puing, karena tidak ada allah lain yang dapat melepaskan secara demikian itu.” (Dan.&nbsp;3:29)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam ucapan raja, terlihat bahwa raja memberi perintah kepada setiap orang—tetapi bukan untuk dirinya sendiri. Raja&nbsp;bukannya&nbsp;mengaku dosa dan berlutut kepada Allah Israel, tetapi memberi perintah. Dengan demikian, penempatan ketiga sahabat Daniel pada jabatan yang tinggi bukanlah bentuk penghormatan, melainkan suatu pengendalian. “Lalu raja memberi kedudukan tinggi kepada Sadrakh, Mesakh dan Abednego di wilayah Babel.”&nbsp;(Dan.&nbsp;3:30). “Ya, silakan saja kalian bisa menangkal kekuatanku di dapur api, tetapi toh kalian tetap berada di bawah kekuasaanku yang memberikan kalian kedudukan tinggi.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah itu, Nebukadnezar mendapatkan suatu mimpi lagi tentang pohon raksasa yang ditebang oleh malaikat Allah. Itu sudah menjadi suatu peringatan agar raja merendahkan dirinya. Sekali lagi, Daniel yang sama memberikan arti terhadap mimpi itu, tetapi raja tetap tidak mendengarkannya. Raja tetap melakukan ketidakadilan, penindasan, dan tetap merasa dirinya besar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Jadi, ya raja, biarlah nasihatku berkenan pada hati tuanku:&nbsp;lepaskanlah diri tuanku dari pada dosa dengan melakukan keadilan, dan dari pada kesalahan dengan menunjukkan belas kasihan terhadap orang yang tertindas; dengan demikian kebahagiaan tuanku akan dilanjutkan!”&nbsp;(Dan.&nbsp;4:27)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nebukadnezar yang menempatkan ketiga sahabat Daniel pada kedudukan tinggi untuk mengelola Kerajaan Babel, akhirnya tetap meninggikan diri dengan membuat klaim,&nbsp;“Bukankah itu Babel yang besar itu, yang dengan kekuatan kuasaku dan untuk kemuliaan kebesaranku telah kubangun menjadi kota kerajaan?”&nbsp;(Dan.&nbsp;4:30). Raja sudah menyaksikan kerajaannya runtuh, Babel akan berhenti. Sudah melihat Allah Israel yang menyelamatkan umat-Nya dari dapur api. Sudah ditegur dengan sangat keras untuk rendah hati. Raja tetap memilih untuk menjadi angkuh. Pada akhirnya, raja dipukul, kehilangan akalnya, dan menjadi seperti sapi,&nbsp;lebih rendah daripada rakyat jelata yang diinjaknya.&nbsp;Ketika manusia ingin menjadi Allah, maka manusia itu akan jatuh dan menjadi sangat rendah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah tujuh tahun, ketika Nebukadnezar menyadari Allah Israel sebagai satu-satunya Allah yang Maha&nbsp;Tinggi, dia kembali kepada kedudukannya yang semula.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apakah Daniel dan ketiga sahabatnya mencoba untuk menjatuhkan sang raja?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak. Mereka tidak merencanakan suatu gerakan revolusi. Dengan segala usaha, mereka menegur sang raja dalam keteguhan kebenaran bahwa apa yang telah diperbuatnya adalah salah. Berkali-kali raja memberikan Daniel dan ketiga sahabatnya hadiah, pujian, dan kedudukan. Mereka tetap setia sebagai pengikut Allah, yang kebetulan ditempatkan-Nya dalam suatu lingkaran terdalam pada suatu kerajaan raksasa. Melalui kehadiran mereka, Allah menunjukkan kedaulatan-Nya atas sejarah dan kerajaan dunia. Allah Israel bukanlah Allah yang berada di Yerusalem saja. Setiap kerajaan berada di genggaman tangan-Nya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Kota Dunia Indonesia</strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteks hari ini, mungkin saja kita sedang berada dalam masa sesak. Kondisi ekonomi dan politik betul-betul sedang tidak baik-baik saja. Bahkan, sampai pada tahap tertentu, “panasnya” dapur api sampai terasa dalam kehidupan sehari-hari. Bila tidak hati-hati, pemerintahan kita bisa bergerak lebih lanjut dalam mengerahkan kekuatan bersenjata untuk menguasai negara, ancaman dapur api itu selalu ada.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketiga sahabat itu merefleksikan umat Allah yang  berada dalam tekanan dunia. Tidak banyak. Tiga jiwa di antara puluhan juta orang yang tunduk kepada bendera atau patung emas. Bisa jadi, ada juga umat Yahudi yang ikut menyembah kepada patung emas Nebukadnezar. Akan tetapi, dari tiga jiwa itu saja, Tuhan menyatakan kedaulatan-Nya. Hanya TUHAN saja yang berkuasa, dan nama-Nya adalah Yesus Kristus. Tidak ada yang lain: bukan dewa ini atau itu, bukan dari agama ini atau itu. Jika kita sungguh-sungguh setia kepada Kristus, maka dapur api sekalipun tidak dapat menelan kita, dan raja yang berkuasa sekalipun harus berteluk lutut kepada Kristus, “mereka melanggar titah raja, dan menyerahkan tubuh mereka, karena mereka tidak mau memuja dan menyembah allah mana pun kecuali Allah mereka.” (Daniel 3:28)</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">Jika kita sungguh-sungguh setia kepada Kristus, maka dapur api sekalipun tidak dapat menelan kita, dan raja yang berkuasa sekalipun harus berteluk lutut kepada Kristus.</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Ancaman dapur api atau hadiah kedudukan tinggi, keduanya berasal dari tangan raja dunia. Jangan kira ketika pemerintah memberikan suatu privilise, maka pemerintah ingin selalu bersikap baik kepada kita. Barangkali, justru karena kedudukan yang istimewa itulah ada orang-orang tertentu yang menjadi <em>buffer</em>, yang menahan amarah publik kepada raja dengan berdiri sebagai penengah. Sebaliknya, ketika situasi menjadi semakin sulit dan raja sedang kehilangan akal, dapur api dan kukuatan bersenjata akan bergerak untuk menekan apa yang dianggap sebagai “bahaya”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi kita yang berada di Indonesia, kita hadir bukan untuk menyembah wajah seorang manusia, mengikuti berhala menurut sistem ideologi tertentu, melainkan untuk menjadi saksi-Nya di tanah air. Di tengah situasi negara yang semakin tidak baik-baik saja, dan semakin menguatnya penggunaan kekuatan senjata, maka gereja hadir untuk berdiri dan juga harus siap bila dilempar ke dapur api. Babel akan berganti raja, dan pada akhirnya akan berhenti juga masa kerajaan Babel. Patung emas itu akan hancur dan digantikan kerajaan yang lain. Akan tetapi, di mana Kristus menjadi Tuhan dan juruselamat kita, Dia tetap akan menyertai umat-Nya. Kerajaan-Nya adalah kekal dan untuk selamanya, dan kerajaan-Nya dihadiri oleh umat-Nya yang memimpin bukan dengan patung emas atau dapur api, melainkan dengan kasih, kebenaran, dan keadilan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kevin Nobel Kurniawan<br>Pemuda GRII Pusat</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">31736</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Pemerintahan Gereja: Ketika Satu Pihak Berusaha Mengepalai Semua</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/alkitab-theologi/pemerintahan-gereja-ketika-satu-pihak-berusaha-mengepalai-semua</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[heryanto]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 22 Aug 2026 01:20:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Alkitab & Theologi]]></category>
		<category><![CDATA[Infalibilitas]]></category>
		<category><![CDATA[Otoritatif]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintahan gereja]]></category>
		<category><![CDATA[Primasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=31628</guid>

					<description><![CDATA[Dari Para Rasul, Bapa Gereja, Hingga Primasi dan Infalibilitas Uskup Roma Gereja yang jemaat awalnya berjumlah 12 orang saja, bertumbuh hingga ratusan, ribuan, dan jutaan. Banyak orang yang masuk ke ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/alkitab-theologi/pemerintahan-gereja-ketika-satu-pihak-berusaha-mengepalai-semua">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Dari Para Rasul, Bapa Gereja, Hingga Primasi dan Infalibilitas Uskup Roma</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Gereja yang jemaat awalnya berjumlah 12 orang saja, bertumbuh hingga ratusan, ribuan, dan jutaan. Banyak orang yang masuk ke dalam Tubuh Kristus sebagai umat-Nya. Namun, makin tersebarnya pengajaran akan kekristenan, bidat-bidat juga berkembang. Gereja lokal yang bertumbuh secara lokal makin lama juga makin menghadapi ajaran-ajaran palsu yang mencederai Injil Kristus. Setiap terjadi penyimpangan pengajaran, gereja di Roma sering berperan sebagai pengadilan banding. Hal ini dikarenakan uskup dari Roma dianggap sebagai uskup yang memiliki pemahaman iman yang ortodoks, serta dipercayai sebagai gereja yang dibentuk oleh dua rasul paling penting, yakni Paulus dan Petrus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bapa Gereja mula-mula juga menyanjung gereja di Roma karena Roma banyak berperan pada gereja di Korintus di bawah Klemens dari Roma (murid langsung dari Petrus)<a href="#_ftn1" id="_ftnref1"><sup>[1]</sup></a>, penuh dengan kebenaran dan kasih menurut Ignatius dari Antiokhia, dan merupakan tempat dari seorang apologet andal yakni Yustinus Martyr. Gereja di Roma adalah salah satu yang stabil, dan memperoleh visibilitas politik dari Konstantinus Agung ketika kekristenan menjadi agama resmi di Kerajaan Roma. Gereja Roma memperoleh keutamaan kehormatan, tetapi tetap dipandang sebagai satu gereja dengan satu uskup yang setara dengan uskup-uskup gereja lainnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bertahun-tahun Gereja mula-mula mengalami persekusi, memerangi bidat, kemudian gereja di Roma menjadi satu dengan pemerintah. Namun, Kekaisaran Roma yang diatur oleh gereja jatuh karena peperangan demi peperangan. Dari kejatuhan tersebut, gereja Roma tetap berdiri teguh dan bahkan berjuang dalam peperangan. Karena kekuatannya, theolog di Roma seperti Leo Agung dan Gregorius VII kemudian mengembangkan doktrin tentang supremasi uskup Roma terhadap semua umat Kristen: bahwa Keuskupan Roma memiliki yurisdiksi universal atas seluruh umat kristiani. Leo Agung menafsirkan Matius 16:18-19 sebagai Kristus memberikan kunci sorga kepada Rasul Petrus, uskup pertama Roma, sebagai dasar pembenaran akan supremasi kepausan Roma.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berdampingan dengan Roma, Keuskupan Konstantinopel berkembang dan mengalami stabilitas di wilayah Timur sebagai “Roma Baru”. Kemunduran kota Roma sebagai pusat politik dan melemahnya pengaruh administratifnya menjadi salah satu alasan Konstantinus Agung memindahkan ibu kota Kekaisaran Romawi ke Konstantinopel, yang pada saat itu lebih stabil secara politik, militer, dan ekonomi. Pada Konsili Kalsedon (451 M), Kanon 28 menetapkan bahwa “<em>New Rome</em> (Constantinople) <em>shall have equal privileges</em> (Yunani: ισα πρεσβεία, “<em>isa presbeia”</em>) <em>with Old Rome</em>.” Namun Keuskupan Roma menolak kanon ini. Penolakan tersebut menjadi salah satu sumber pergesekan penting dalam relasi antara Roma dan Konstantinopel, yang berkontribusi pada ketegangan jangka panjang hingga akhirnya memuncak dalam Skisma Besar, yakni ketika perdebatan mengenai keutamaan satu keuskupan di atas yang lain (<em>universal bishop</em>) mencapai titik yang tak terjembatani.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;Skisma besar terjadi karena beberapa sebab umum pada mulanya, yakni perbedaan eklesiologi, theologi, dan tensi geopolitik. Salah satu perdebatan theologi yang menonjol adalah tentang isu prosesi/keluarnya Roh Kudus dalam perdebatan <em>et filioque</em>, penggunaan roti beragi atau tak beragi, dan ikonoklasme, yakni pengertian tentang keharusan penghancuran gambar (ikon) yang merepresentasikan Tuhan yang terjadi di antara gereja-gereja Timur.<a href="#_ftn2" id="_ftnref2"><sup>[2]</sup></a> Namun, dengan mencekamnya kondisi geopolitik di Eropa, Keuskupan Roma memberikan pesan kepada semua keuskupan lain untuk bersatu dan menjadikan uskup Roma sebagai satu kepala gereja yang memiliki yurisdiksi universal terhadap seluruh keuskupan pada saat itu. Ide ini ditolak oleh gereja-gereja Timur dengan alasan utamanya adalah sebagai pragmatisme dalam permasalahan geopolitik, serta perbedaan theologi dan tradisi gereja yang pada saat itu juga ada di dalam perdebatan yang mencekam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Atas penolakan tersebut, pada tahun 1054 Kardinal Humbert dari Keuskupan Roma mengekskomunikasi Patriark Cerularius dari keuskupan Konstantinopel, dan juga Cerularius mengekskomunikasi Keuskupan Roma. Keuskupan Gereja Roma kemudian memiliki uskup universal yang disebut dengan Paus, sedangkan Patriark Konstantinopel hari ini menjadi bagian dari Gereja Ortodoks Timur bersama dengan Patriark Alexandria, Yerusalem, dan Antiokhia. Bertahun-tahun kemudian, Gereja Katolik Roma menyatakan bahwa Paus, uskup tertinggi Roma, memiliki infalibilitas dalam penafsiran Alkitab. Telah terjadi di dalam sejarah, bahwa ketika dari banyak pemimpin gereja, satu orang beritikad untuk mengambil otoritas yang paling tinggi dan mengepalai seluruh pemimpin gereja, maka perpecahan sangat mungkin terjadi.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a></a><strong>Dampak Buruk Infalibilitas Satu Pemimpin Gereja yang Otoritatif</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika satu pihak di dalam suatu institusi agama <em>rise to power</em> menjadi kepala yang otoritatif, maka sangat rentan untuk terjadinya penokohan. Hal ini telah terjadi di banyak agama di dunia, termasuk juga di dalam gereja, seperti yang telah dibahas. Penokohan satu orang atau satu posisi yang <em>one above all</em> akan membuat gereja menjadi sangat rentan untuk jatuh ke dalam pengajaran yang salah, karena tidak adanya posisi yang setara di dalam proses pemeriksaan dan keseimbangan doktrin. Pada konteks ini, penulis hendak menekankan pada konteks keseimbangan. Tentu, orang yang ada di satu posisi di bawah dari posisi “kepala” bisa memberikan koreksi terhadap kesalahan “kepala”, tetapi ketika posisinya ada di bawah, komunikasi akan tidak seimbang karena relasi kuasa. Konsekuensi dari ini adalah keputusan doktrinal rentan untuk menjadi keputusan yang tersentralisasi dan bukannya kolegial.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keputusan doktrinal yang tersentralisasi akan menyebabkan perbedaan pandangan pada para pemimpin-pemimpin gereja. Hal ini akan menyebabkan deviasi kecil di dalam persatuan gereja. Tentu, awalnya deviasi ini tidak dapat dilihat. Namun, sepanjang perjalanan waktu, deviasi ini akan terlihat sangat jelas, sangat besar, dan menjadikan gereja rentan terhadap perpecahan. Deviasi ini juga bisa diwarnai dengan politik intra gereja, kondisi ekonomi, dan sosial. Politik menjadi yang utama di atas spiritualitas, penyalahgunaan kekuasaan akan mudah, gereja lokal kehilangan kebebasan, dan otoritas firman Tuhan menjadi makin berkurang di bawah dekret pemimpin. Setelah semuanya kalut, muncullah perpecahan gereja, di mana satu pihak merasa diri paling setia dengan kebenaran yang mula-mula diakui bersama. Ini terjadi di dalam sejarah, terutama umat Protestan. Polanya adalah sebagai berikut: ketika gereja mulai “tidak setia dalam kebenaran”, orang-orang yang konservatif akan memisahkan diri, sedangkan orang-orang yang liberal akan merusak pengajaran gereja. Orang konservatif akan muncul sebagai orang yang berkata, “Gereja ini sudah tidak setia lagi dengan kebenaran, saya akan pergi dari sini dan membuat gereja baru yang setia dengan kebenaran.” Sedangkan orang liberal akan berkata, “Lebih baik kita berdamai, tidak perlu terlalu mengotot dalam hal doktrinal. Tidak ada yang lebih benar, hargai perbedaan dan bersatulah.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Calvin mengecam adanya perpecahan di dalam gereja. Tentang ini ia menulis pada karya <em>Institutes</em>-nya:</p>



<p class="wp-block-paragraph">“<em>By the unity of the Church we must understand an unity into which we feel persuaded that we are truly ingrafted. For <strong>unless we are united with all the other members under Christ our head, no hope of the future inheritance awaits us</strong>.</em>”<a href="#_ftn3" id="_ftnref3"><sup>[3]</sup></a></p>



<p class="wp-block-paragraph">Juga, di dalam tafsiran dia terhadap Efesus 4:3, Calvin mengatakan:</p>



<p class="wp-block-paragraph">“<em>With good reason does he recommend forbearance, as tending to promote the unity of the Spirit. Innumerable offenses arise daily, which might produce quarrels, particularly when we consider the extreme bitterness of man’s natural temper. Some consider the unity of the Spirit to mean that spiritual unity which is produced in us by the Spirit of God. <strong>There can be no doubt that He alone makes us “of one accord, of one mind,” (Philippians 2:2,) and thus makes us one; but I think it more natural to understand the words as denoting harmony of views. This unity, he tells us, is maintained by the bond of peace; for disputes frequently give rise to hatred and resentment. We must live at peace, if we would wish that brotherly kindness should be permanent amongst us</strong>.”<a href="#_ftn4" id="_ftnref4"><sup><strong><sup>[4]</sup></strong></sup></a></em></p>



<p class="wp-block-paragraph">John Calvin adalah seorang reformator Protestan. Dia bergabung pada arus Reformasi yang sedang terjadi saat itu. Sejak Luther, kekristenan Barat terbagi menjadi Katolik dan Protestan, dan mereka yang berbagian pada gerakan Reformasi akan diekskomunikasi oleh Gereja Katolik. Namun dari tulisan-tulisan Calvin, dia tidak memiliki intensi utama untuk memecah gereja. Benar, bahwa bagi dia perpecahan gereja sangatlah melukai tubuh Kristus, tetapi dia pun tidak dapat tunduk kepada otoritas satu kepala universal yang disebut dengan Paus. Terlebih lagi, Paus dan uskup melanggengkan praktis pengultusan relik dan patung orang-orang kudus, serta penjualan surat indulgensia yang bertentangan dengan Injil. Calvin dengan teguh memegang bahwa hanya Kristuslah satu-satunya Kepala Gereja. Ketika Gereja Katolik Roma, yang ada di bawah kepemimpinan Paus, membiarkan patung-patung orang kudus dipakai sebagai media devosi berlebihan, yakni untuk dimintakan doa seakan-akan para patung kudus berkuasa, Calvin menentang dan menulis karya-karyanya untuk menentang otoritas yang menyesatkan ini. Dia melihat bahwa kekristenan telah jatuh berat ke dalam penyembahan berhala yang brutal. Dari tulisannya, dia menegaskan kembali bahwa Kristuslah satu-satunya Kepala atas Gereja, dan Dia tidak akan memberikan tempat bagi yang lain untuk menjadi kepala, seperti Paus, ataupun untuk menjadi mediator kepada Allah Bapa, seperti relik orang-orang kudus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari sejarah ini kita belajar bahwa ketika satu kepala dibangkitkan untuk memiliki kekuatan yang besar, terutama di dalam gereja, dia berpotensi besar untuk membawa penyesatan. Sebagai manusia, kita harus mengerti bahwa kekuasaan perlu dibagi agar sang pemegang kekuasaan tidak benar-benar korup. Kita harus mewariskan pola pemerintahan politik gereja, yang telah dilakukan oleh para rasul. Pada artikel selanjutnya, akan dijelaskan tentang apa yang Calvin tulis untuk menentang otoritas mutlak ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Mario A.J. Sirait<br>Pemuda GRII Pusat</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref1" id="_ftn1"><sup>[1]</sup></a> Clement of Rome, Clement 1: Letter to the Corinthians.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref2" id="_ftn2"><sup>[2]</sup></a> Cross, Frank Leslie; Livingstone, Elizabeth A. (2005). &#8220;Great Schism&#8221;. The Oxford Dictionary of the Christian Church. Oxford: University Press.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref3" id="_ftn3"><sup>[3]</sup></a> Institutes of the Christian Religion IV.1.2</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref4" id="_ftn4"><sup>[4]</sup></a>Calvin, John. &#8220;Commentary on Ephesians 4&#8221;. &#8220;Calvin&#8217;s Commentary on the Bible&#8221;. https://www.studylight.org/commentaries/eng/cal/ephesians-4.html. 1840-57.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">31628</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Teguran di dalam Kasih</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/renungan/teguran-di-dalam-kasih</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[michaelleang]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 18 Aug 2026 12:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[kasih]]></category>
		<category><![CDATA[Kemurahan hati]]></category>
		<category><![CDATA[Menegur]]></category>
		<category><![CDATA[relasi]]></category>
		<category><![CDATA[teguran]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=31483</guid>

					<description><![CDATA[1 Korintus 13 Menegur adalah hal yang sering kita lakukan di dalam kehidupan kita sehari-hari khususnya di dalam berelasi. Namun, di dalam memberikan teguran, kita sering dihadapkan pada hal yang ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/renungan/teguran-di-dalam-kasih">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>1 Korintus 13</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Menegur adalah hal yang sering kita lakukan di dalam kehidupan kita sehari-hari khususnya di dalam berelasi. Namun, di dalam memberikan teguran, kita sering dihadapkan pada hal yang tidak kita harapkan. Teguran yang kita anggap baik justru berujung pada reaksi negatif, seperti kemarahan, tangisan, atau bahkan menimbulkan rasa kepahitan di pihak yang ditegur.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sisi lain, saat kita ditegur, kita pun tak jarang merasa kehilangan rasa respek atau bahkan menimbulkan kepahitan terhadap orang yang menegur. Kondisi seperti inilah yang menunjukkan kita dan orang di sekitar kita sering kali salah atau bahkan keliru dalam cara menegur.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Belajar dari Teladan Kasih Paulus&nbsp;</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Melihat tantangan ini, maka saya mengajak kita untuk belajar dari Rasul Paulus. Rasul Paulus menegaskan bahwa landasan utama dalam setiap interaksi termasuk dalam menegur adalah kasih. Rasul Paulus mendefinisikan kasih sebagai hal yang penting dalam beberapa aspek yaitu: murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri, tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan, tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah, dan tidak menyimpan kesalahan orang lain<strong>.</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteksnya, Rasul Paulus menyatakan hal tentang kasih terhadap jemaat di Korintus agar mereka kembali kepada kehendak Allah. Saat itu, jemaat Korintus cenderung membanggakan karunia yang mereka miliki dan bahkan menganggap karunia yang mereka miliki lebih penting daripada apa yang sesamanya miliki. Oleh karena itu, saya akan mengangkat tiga hal yang akan menjadi dasar kasih di dalam menegur yang dapat kita terapkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Teguran dengan kemurahan hati</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Di tengah-tengah permasalahan yang ada di jemaat Korintus, Paulus tetap menerapkan kasih di dalam menegur mereka dan menjelaskan bagaimana seharusnya hidup di dalam karunia yang kita miliki. Kita dapat melihat keluasan hati Rasul Paulus yang <strong>menegaskan dirinya terlebih dahulu</strong> dengan mengatakan sekalipun dia <strong>mempunyai segala sesuatu, jika tidak mempunyai kasih maka hal itu tidak berguna</strong>. Mempunyai kemurahan hati di dalam menegur seseorang berarti mengajarkan kita terlebih dahulu mengetahui posisi orang tersebut dengan segala keluasan hati. Kita perlu melihat apa yang dibutuhkan oleh seseorang di tengah-tengah segala kesalahan dan permasalahan yang dialami tanpa ingin menjatuhkan orang tersebut. Terkadang tanpa kita sadari, kita cenderung mengatakan apa yang kita anggap “paling benar” bagi mereka yang melakukan kesalahan atau belum bertobat, tanpa kemurahan hati untuk mendengarkan dan memahami kondisi mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan demikian, kita harus belajar bahwa menegur berarti menerima seseorang apa adanya dengan ketulusan hati kita dengan tujuan membuatnya bertumbuh dan bukan terjatuh.&nbsp;</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">Mempunyai kemurahan hati di dalam menegur seseorang berarti mengajarkan kita terlebih dahulu mengetahui posisi orang tersebut dengan segala keluasan hati. Kita perlu melihat apa yang dibutuhkan oleh seseorang di tengah-tengah segala kesalahan dan permasalahan yang dialami tanpa ingin menjatuhkan orang tersebut.</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Menegur dengan tidak memegahkan diri</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Berapa banyak dari kita yang menegur seseorang dengan membandingkan dia dengan kita atau bahkan orang yang lebih baik? Kita perlu memiliki kepekaan dalam berkata-kata kepada seseorang, sebab terkadang kita harus memikirkan hal yang selayaknya untuk diucapkan. Teguran tanpa adanya kemegahan atas diri membuat kita rendah hati. Rasul Paulus selalu menyatakan diri sebagai hamba, bahkan tidak memegahkan diri atas kerasulannya dan menyatakan diri sebagai pelayan. <strong>Kita di dalam menegur harusnya membawa seseorang memandang kepada Kristus dan bukan diri kita</strong>. Kenapa kita tidak boleh membawa kepada diri kita? Karena kita juga mempunyai kelemahan yang sama, bahkan mungkin jauh lebih rumit, karena kita sama-sama adalah orang yang berdosa. Di balik diri kita yang berdosa, sesungguhnya tidak ada yang perlu dimegahkan. Hanya Yesus saja yang mampu menolong serta menyembuhkan setiap kita.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berapa banyak dari kita yang telah membuat hati orang lain makin terpuruk karena tekanan melalui kata-kata kita? Atau berapa banyak di antara kita yang sudah mengalaminya? Kita harus belajar di dalam menegur seseorang untuk tidak hanya menyatakan kesalahan dan hal yang harus diubah, tetapi juga mengulurkan tangan kita kepadanya dan membawanya di dalam kasih Kristus yang sejati, sehingga ia dapat belajar dari hidup dan teladan yang Yesus miliki.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Menegur dengan tidak menyimpan kesalahan orang lain</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Paulus, ketika menegur jemaat Korintus, bukan berfokus pada mengungkit-ungkit masa lalu tetapi mengarahkan kepada pemulihan kepada jalan yang benar. Berbeda dengan Paulus, kita sering menegur seseorang hanya karena kita sudah muak dengan kesalahan-kesalahan mereka yang sudah berlalu. Kita menyimpan terus kesalahan tersebut, yang pada akhirnya membuat teguran kita hanya melampiaskan emosi dan berfokus pada hal-hal negatifnya saja. Kita perlu menyelesaikan asumsi dan hal yang sudah kita simpan dari kesalahan seseorang agar teguran itu dapat bersifat membangun. Kita harus renungkan, apakah Tuhan yang selalu kita sakiti ketika kita datang Ia menyimpan kesalahan kita dan menjatuhkan kita dengan amarah-Nya? Justru Tuhan mengampuni segala kesalahan kita, menyembuhkan diri kita dari dosa, bahkan menebus hidup kita dan memberikan kita mahkota dengan kasih setia-Nya. Terkadang Tuhan memakai orang yang membuat kita kesal untuk memperluas hati kita juga. Kita harus mempunyai kasih yang mementingkan proses terhadap sesama.&nbsp;</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">Kita perlu menyelesaikan asumsi dan hal yang sudah kita simpan dari kesalahan seseorang agar teguran itu dapat bersifat membangun.</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Dari 1 Korintus 13, kita diingatkan bahwa penerapan kasih yang holistik juga tercermin di dalam teguran, sebagaimana Kristus yang menegur dengan kasih harusnya dapat kita terapkan di dalam kehidupan kita. Kiranya melalui teguran juga kita makin bertumbuh dan dalam memberikan teguran kita juga bertumbuh dengan cara yang bijaksana, sehingga relasi terhadap sesama menjadi cerminan buah kasih Kristus kepada kita.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Grecia Agustina Purba<br>Mahasiswi STTRII Konsentrasi Misiologi</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">31483</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Mendambakan Kebangunan Besar</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/kehidupan-kristen/mendambakan-kebangunan-besar</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[michaelleang]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 14 Aug 2026 12:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kehidupan Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[Great Awakening]]></category>
		<category><![CDATA[kebangunan]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Para Rasul]]></category>
		<category><![CDATA[mendambakan]]></category>
		<category><![CDATA[revival]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=31438</guid>

					<description><![CDATA[Setiap pagi ketika bangun dari tidur, apa yang kita dambakan? Kita mungkin memulai hari kita dengan bersyukur atas pagi yang indah, kesehatan yang kita miliki, kita mengucap syukur masih bisa ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/kehidupan-kristen/mendambakan-kebangunan-besar">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Setiap pagi ketika bangun dari tidur, apa yang kita dambakan? Kita mungkin memulai hari kita dengan bersyukur atas pagi yang indah, kesehatan yang kita miliki, kita mengucap syukur masih bisa beraktifitas, masih ada keluarga yang mendukung, ada teman-teman di sekeliling kita, baik di sekolah, kampus, atau kantor, yang menanti kita untuk bercengkrama, berbagi suka-duka, atau sekadar <em>kongkow</em> bersama. Ada begitu banyak hal yang bisa membuat kita bersyukur setiap kali kita diberikan kesempatan membuka mata di pagi hari. Namun, jika kembali ke pertanyaan awal tadi, yaitu apa yang kita dambakan, mungkin butuh beberapa waktu untuk memikirkannya. Merujuk kepada KBBI, kata mendambakan (akar kata: damba) berarti sangat ingin, rindu, bukan sekadar keinginan saja. Ada sebuah keinginan yang sangat kuat. Jadi, pertanyaan mengenai apa yang kita dambakan setiap kali kita bangun di pagi hari bukanlah suatu pertanyaan yang mudah untuk dijawab. Dalam artikel ini, kita akan menelusuri beberapa kisah besar dan membahas mengapa mendambakan perlu ada di dalam diri kita dan apa yang semestinya menjadi kedambaan kita sebagai orang Kristen.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>The Great Awakening</em> yang pertama, sekitar tahun 1730-1740an, adalah suatu kisah besar di dalam sejarah Amerika dan Eropa. Dua tokoh besar yang muncul adalah George Whitefield di Inggris dan Jonathan Edwards di Amerika Utara. George Whitefield (1714-1770) mulai berkhotbah di area terbuka justru setelah dia mendapatkan penolakan berkhotbah di dalam gereja dari penatua gereja-gereja setempat. Penolakan yang demikian tidak membuat Whitefield mundur apalagi merasa rendah diri. Desakan di dalam dirinya untuk berkhotbah dan memanggil orang banyak kepada pertobatan dan konversi lebih kuat dari penolakan yang diterimanya. Whitefield tercatat berkhotbah kepada massa yang besar, bahkan sampai 30.000 orang yang mendengarkannya di dalam satu kali khotbah, yang ketika itu belum ada <em>sound system</em> atau teknologi pengeras suara. Whitefield dikenal dengan cara berkhotbah yang ekspresif dan emosi yang hidup. Setelah banyak melakukan khotbah kebangunan di Inggris, Skotlandia, dan sekitarnya, dia pergi ke Amerika pada tahun 1739 untuk melakukan hal yang sama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di belahan dunia yang lain, Amerika, yang pada waktu itu masih merupakan koloni Inggris, dibangkitkan seorang <em>revivalist </em>yaitu Jonathan Edwards (1703-1758) yang gaya berkhotbahnya tidak terlalu ekspresif seperti George Whitefield. Dia cenderung menulis teks khotbah dengan baik lalu membacakannya di dalam gereja. Dia tidak pernah berkhotbah di area terbuka, hanya di dalam gereja atau dalam pertemuan publik di dalam ruangan. Edwards tidak menggunakan banyak gerakan teatrikal, namun intonasinya dalam membaca naskah khotbah begitu baik dan mendalam, sehingga salah satu khotbahnya yang terkenal “<em>Sinners in the Hands of an Angry God</em>” dapat membuat orang yang mendengarnya pada saat itu di Enfield, Connecticut merasakan gambaran kengerian berhadapan dengan Allah yang murka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kisah <em>revival </em>seperti itu tidak hanya baru muncul pada abad ke-18 saja. Tuhan sudah memunculkannya pada awal abad pertama. Sepuluh hari setelah Yesus terangkat ke surga, terjadi sebuah <em>revival</em> yang pertama dan besar di dalam sejarah kekristenan. Waktu itu tercatat 3.000 orang yang mendengarkan khotbah Petrus kemudian memberi diri mereka untuk dibaptis (Kis. 2: 41). Bagaimana bisa? Pentakosta hanya berselang lima puluh hari dari kebangkitan Yesus, sedangkan berita tentang Yesus bangkit masih simpang siur. Para imam dan tua-tua Yahudi menyuruh serdadu-serdadu yang menjaga makam Yesus untuk bersaksi bahwa murid-murid telah mencuri jasad Yesus (Mat. 28:11-15). Di sisi lain, dalam rentang waktu 40 hari menuju kenaikan, Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya dengan total jiwa yang melihat Yesus bangkit berjumlah sekitar 500 orang (1Kor. 15:6). Sedangkan pada hari Pentakosta, jumlah murid-murid yang menantikan di ruang atas berjumlah 120 orang. Bagaimana mungkin dalam waktu yang hanya berselang sepuluh hari dapat terjadi lonjakan orang menjadi Kristen begitu besar? Ya, sangat mungkin. Karena hal itu telah terjadi di dalam sejarah dan bukan kisah fiksi belaka atau cerita heroik semata.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, apakah kisah-kisah di atas hanya sebatas kisah bersejarah saja yang telah berlalu? Apakah mungkin kisah tersebut dapat terjadi juga pada zaman kita saat ini? Apakah kita boleh mendambakan kisah besar seperti itu muncul di masa yang serba digital ini di mana pertemuan fisik sudah kalah dengan pertemanan di media sosial? Kita dapat menghitung berapa sedikitnya dan siapa saja yang kita temui secara fisik. Tetapi ribuan teman di dunia maya atau <em>followers</em> yang tidak terhitung jumlahnya tidak mampu kita kenali satu persatu atau bahkan kita tidak tahu apakah jumlah tersebut adalah nyata atau banyak <em>fake account</em>. Sebagai catatan, penulis tidak sedang mengatakan bahwa peristiwa turunnya Roh Kudus pada hari Pentakosta akan dapat terulang kembali. Penulis mengerti dengan jelas bahwa hal itu terjadi hanya sekali untuk selamanya, yang penulis maksudkan adalah peristiwa <em>revival</em>, di mana Tuhan menggerakkan hati umat-Nya kembali kepada-Nya. Tuhan bekerja di dalam setiap orang yang dikehendaki-Nya di waktu yang relatif bersamaan dan menyatukan mereka menjadi suatu perkumpulan orang-orang kudus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mari kita menelusuri cerita di dalam Kisah Para Rasul dan kemudian menarik prinsip untuk konteks kita saat ini. Pertama, kita menemukan bahwa bahwa <em>revival</em> adalah kehendak Tuhan. Kisah Para Rasul 1:8 dengan jelas mengatakan bahwa kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem, Yudea, Samaria, dan sampai ke ujung bumi. Pernyataan Tuhan menghendaki kita untuk menjadi saksi-Nya juga ditemukan di dalam Amanat Agung (Mat. 28:19-20). Ini adalah dasar utama dari <em>revival</em>. Tuhanlah yang menghendaki pemberitaan Injil kepada banyak orang. Tuhan yang menuntut murid-murid-Nya mengabarkan berita ini sampai ke pelosok daerah. Mendambakan kebangunan besar adalah kehendak Tuhan dan juga panggilan kita sebagai orang yang telah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Kita dapat mendasari keinginan kita kepada kesempatan berbagian melihat Tuhan menggenapi kehendak-Nya di masa ini. Jadi, kedambaan kita bukanlah hasil dari kumpulan keinginan-keinginan kita sendiri, tetapi dari pengetahuan dan respons kita akan apa yang Tuhan kehendaki.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kedua, kita menemukan di dalam ayat yang sama bahwa kedambaan kita adalah pekerjaan Roh Kudus. Tuhan yang menghendaki kita berbagian di dalam Amanat Agung juga memberikan kuasa melalui Roh Kudus agar kita dapat bersaksi tentang Yesus. Di dalam kebangunan besar, pekerjaan dari Roh Kudus juga sangat besar. Roh Kudus yang membangkitkan orang untuk mau melayani, Dia yang memberikan bijaksana dan kuasa kepada pengkhotbah untuk dapat menyampaikan firman dengan penuh kuasa, Dia juga yang bekerja di dalam hati pendengar untuk dapat mendengar dan merespons panggilan Injil. Tanpa pekerjaan Roh Kudus, bagaimana 3.000 orang dapat bergerak, berkumpul dan mendekati para rasul dan murid-murid, dan mendengarkan Petrus berkotbah? Atau bagaimana 30.000 orang mau datang berkumpul di area terbuka mendengarkan George Whitefield atau ratusan orang dapat menangis di tengah-tengah khotbah Jonathan Edwards? Kedambaan kita akan adanya kebangunan yang besar juga merupakan pekerjaan Roh Kudus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketiga, respons dari orang yang mendapat kebangunan rohani setelah mendengar khotbah Petrus adalah memuji Tuhan (Kis. 2:47, 10:46). Tujuan dari kebangunan besar adalah membawa kembali arah hati manusia kepada yang seharusnya, yaitu memuji Tuhan. Setelah manusia jatuh ke dalam dosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Manusia tidak lagi mencari Tuhan yang sejati, apalagi memuji dan memuliakan Tuhan. Kebangunan besar adalah upaya Allah untuk menarik manusia dari seteru Allah menjadi penerima belas kasihan-Nya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari ketiga hal di atas, Roma 11:36 menyimpulkan, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” Ketika kita mendambakan kebangunan besar, kiranya ayat inilah yang menjadi prinsip yang kita pegang di dalam hati kita, apa yang mendasari, mengapa kita mendambakannya, dan bagaimana kita mendambakannya. Ketika kita berbagian di dalam pekerjaan Tuhan yang besar, kita akan makin didorong oleh rasa syukur yang besar untuk memuliakan Tuhan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tuhan telah melakukan hal besar di dalam sejarah untuk membawa umat pilihan-Nya menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, serta hidup kudus di hadapan Tuhan. Tuhan telah membangkitkan orang-orang di berbagai zaman untuk mengambil bagian di dalam pekerjaan Tuhan. Bagaimana dengan kita di zaman ini? Apakah Tuhan juga menggerakkan hati kita untuk berbagian dalam pengabaran Injil-Nya? Adakah engkau dan saya mendambakan kebangunan besar terjadi di zaman kita? Mungkin kita berpikir, “Ah, mana mungkin ada pertemuan massa yang besar di zaman digital ini?” Orang-orang sudah nyaman dengan dunia mayanya sendiri. Jika kita berpikir demikian, kisah di atas hanya kita anggap sebagai sejarah yang telah lalu. Allah kita bukan Allah yang hanya berkuasa di masa lalu. Dia juga berkuasa di masa kini dan masa yang akan datang. Kiranya kita boleh terus memiliki hati dan memupuknya dengan mendambakan akan kebangunan besar terjadi di masa ini. <em>Soli Deo gloria</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saut Parulian<br>Mahasiswa STTRII</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">31438</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Filsafat Asia: Bagian 33</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/transkrip/filsafat-asia-bagian-33</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[andrian]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 07 Aug 2026 12:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Transkrip]]></category>
		<category><![CDATA[baik]]></category>
		<category><![CDATA[Filsafat Asia]]></category>
		<category><![CDATA[iman kristen]]></category>
		<category><![CDATA[Konfusius]]></category>
		<category><![CDATA[setia]]></category>
		<category><![CDATA[Stephen Tong]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=31317</guid>

					<description><![CDATA[Kedua belas, seorang agung tidak boleh dilihat dari hal-hal kecil yang dia lakukan, tetapi seberapa dia bisa diserahi tugas yang besar. Jadi janganlah kita terlalu sibuk membicarakan dan meributkan kesalahan-kesalahan ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/transkrip/filsafat-asia-bagian-33">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><em>Kedua </em><em>belas</em>, seorang agung tidak boleh dilihat dari hal-hal kecil yang dia lakukan, tetapi seberapa dia bisa diserahi tugas yang besar. Jadi janganlah kita terlalu sibuk membicarakan dan meributkan kesalahan-kesalahan kecil seseorang, tetapi lebih melihat apakah kepada dia bisa dipercayakan hal atau tugas yang besar. Itu yang penting. Di dalam Alkitab ada kalimat: Siapa yang setia pada hal kecil kepadanya akan dipercayakan hal yang besar.<a href="#_ftn1" id="_ftnref1">[1]</a> Sebenarnya pengertian firman Tuhan ini bisa lebih tepat dimengerti dengan “orang yang setia, kecil atau besar tetap akan sama setia.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada orang yang mengatakan. “Untuk hal kecil seperti ini saja dia tidak setia, bagaimana dia bisa mengerjakan pekerjaan besar?” Hal ini bukan kalimat yang sepenuhnya benar. Karena kalimat itu menyebabkan banyak orang hanya sibuk memperhatikan hal-hal kecil dan justru mengabaikan hal yang besar dan penting, karena ingin terlihat setia pada hal-hal yang kecil. Ini kurang tepat. Juga akibatnya banyak orang yang membanggakan keberhasilannya untuk setia dalam hal-hal yang kecil. Tetapi ketika ia diberi tanggung jawab untuk hal yang besar, belum tentu dia bisa tetap setia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kalau mau setia, itu berarti jika mau mengukur beratnya beras maka butir berasnya harus sama banyaknya, bukan? Satu kilo beras berapa banyak butirnya, itu baru setia, karena hanya mengurus hal yang kecil, bukan menghitung berat satu kilonya. Jika setiap hari menghitung seperti ini, engkau akan sia-sia. Jadi kita tidak terlalu perlu memperhatikan hal-hal yang kecil-kecil, sedikit berbeda tidak terlalu penting, kurang berapa butir beras bukanlah hal yang terlalu penting, karena itu bukan mau curang. Terkadang kita beli beras satu kilo ditambah sedikit supaya tidak dianggap curang. Jadi hal-hal kecil tidak terlalu perlu, tetapi kalau dikurangi sedikit itu tidak baik, jadi dilebihkan sedikit itu hal yang baik. Melebihkan sedikit bukan tidak setia, tetapi keinginan memberikan sedikit lebih. Jadi yang penting adalah keseluruhan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika kita membeli kain satu meter, kita tidak pernah menghitung sampai berapa milimeter beda, dan biasa kita beri lebih dua atau tiga centimeter dan itu baik. Kita tidak pernah meributkan kenapa lebih satu milimeter atau kurang satu milimeter. Jadi yang penting kita melihat totalitas. Orang yang membeli kain diberi tambahan dua centimeter tidak pernah marah dan ribut karena berbeda lebih dari satu meter tepat, malah mungkin orang itu akan membeli lagi lebih banyak. Hal ini terjadi di semua hal.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada orang-orang yang memang curang. Ada ukuran meteran yang dikurangi, bukan satu meter, tetapi 95 atau 98 cm. Demikian juga ada timbangan yang dikurangi. Atau bahkan ada pompa bensin yang mengurangi literan bensinnya. Kecurangan-kecurangan seperti ini bisa saja terjadi. Jadi orang agung adalah orang yang bukan terlalu banyak memperhatikan hal kecil, tetapi dia lebih melihat totalitas. Orang kecil justru tidak bisa mengerjakan pekerjaan besar, tetapi dia bisa melihat hal-hal kecil yang tidak beres. Tetapi pemikiran ini secara absolut terbalik dengan pemikiran Konfusius tentang orang agung. Orang yang agung terkadang tidak terlalu memperhatikan hal-hal kecil, tetapi dia memiliki keagungan yang besar dan dia bisa mengerjakan hal-hal besar dengan sangat baik dan rapi. Setiap orang di dunia memiliki kelemahan, jika terus menekan kelemahan seseorang dan kita melupakan keagungannya, kita berbuat salah. Namun, orang yang memang tidak agung dari mulai hal-hal kecil sudah kelihatan bahwa memang betul-betul tidak agung, dan ketika diminta untuk melakukan pekerjaan besar akan makin terlihat ketidakberesannya. Itu artinya orang kecil.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Ketiga </em><em>belas</em>, seorang agung mudah dilayani tetapi sulit dikompromikan. Orang yang agung sangat sulit ditaklukkan, sulit untuk ditipu, sulit diperdaya, dan sulit diganggu atau dipengaruhi pendiriannya. Namun, orang agung mudah dilayani, dia tidak menuntut macam-macam. Sebaliknya, orang picik atau orang hina terbalik. Orang picik sangat sulit disenangkan. Orang agung sangat mudah dilayani, diberi makan apa dia akan dengan senang hati memakannya, disuruh tidur di mana juga diterima, diberi hal yang kurang nikmat dia tidak mengeluh. Ini adalah orang agung.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya mempunyai seorang bapak rohani, yaitu Andrew Gih. Dia mengatakan, “Sama-sama mulut hamba Tuhan, pendeta yang baik makan kelas tiga, khotbah kelas satu; tetapi pendeta yang buruk makan kelas satu, khotbah kelas tiga.” Saya tidak bisa melupakan wejangan ini. Pendeta yang maunya makan enak tetapi khotbahnya buruk adalah pendeta yang buruk. Pendeta yang mau hanya makanan yang mahal-mahal tetapi kalau khotbah jelek sekali adalah orang picik. Pendeta yang baik makan apa saja bisa, makan yang biasa-biasa, tetapi khotbahnya luar biasa. Itulah pendeta yang agung. Kalau pendeta baik, makannya juga baik, itu biasa saja, lumrah orang seperti itu. Saya setelah khotbah dua kali, makan rawon atau makan soto cukup. Ini jauh lebih efisien, karena kalau pergi ke restoran besar, tunggu pesan, tunggu dimasak, disajikan lama luar biasa dan buang waktu. Bahkan sekarang saya setelah dua kali khotbah lebih baik berbaring 30 menit untuk mendapatkan tenaga punya kekuatan, baru makan. Istri saya menyediakan makanan ketika saya tidur, makanan yang sederhana saja. Maka seorang harus bisa makan makanan yang sederhana saja. Mudah dilayani. Saya pergi ke satu tempat, mau dijemput tidak apa, tidak dijemput juga tidak masalah. Saya tidak pernah memerintah hamba Tuhan junior saya untuk menjemput saya di bandara. Saya akan pakai mobil sendiri, kalau tidak, saya pakai taksi, atau istri saya yang mengantar. Saya tidak pernah ingin menyusahkan orang lain. Saya mengajar di seminari selama 25 tahun, dan tidak pernah satu kali pun saya meminjam mobil sekolah untuk keperluan saya. Sebagai dosen dan ketua yayasan, saya punya hak untuk bisa memakai mobil sekolah untuk mengantar saya. Saya punya hak yang paling bebas untuk bisa menggunakannya, tetapi saya tidak pernah meminjamnya satu kali pun. Saya tidak ingin merepotkan orang lain. Ini sifat saya yang terkadang bisa dilihat buruk juga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mudah menyenangkan orang agung, berarti dia memiliki pendirian yang tidak mau kompromi, dia tidak mau diperlakukan sembarangan, tidak bersedia dirayu sembarangan agar dia mau berubah. Dia adalah orang yang memiliki pendirian yang tidak mudah berkompromi. Jika mau menyenangkan dia tanpa prinsip dan kebenaran, maka ia tidak akan mau menerimanya. Seorang agung mudah dilayani, tetapi sangat sulit untuk menyenangkan dia. Untuk seseorang dapat menyenangkan dia, seseorang harus berdiri di dalam kebenaran, atau ia tidak akan mau menerimanya. Saat ini banyak orang besar di Indonesia yang mudah dibuat senang dengan diberikan hadiah yang besar dan mahal. Seseorang diberikan sebuah jam tangan Rolex emas, tetapi dia mengatakan bahwa dia sudah memiliki Rolex emas dan meminta Patek Philippe emas yang bertata berlian di atasnya. Nah itu orang picik, orang hina. Melayani dia tidak mudah, tetapi menyenangkan dia sangat mudah, cukup diberi uang dengan nilai yang besar apa pun juga dia mau. Itu orang picik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jangan harap seorang yang agung bisa disuap dan mudah dibuat senang dengan hal-hal material. Orang agung sangat sulit untuk bisa disuap, dan untuk bisa menyenangkan hatinya perlu ada prinsip firman Tuhan di dalam hidup kita. Sebaliknya, orang hina sulit dilayani tetapi mudah untuk menyenangkan dia. Orang kecil sulit dilayani tetapi mudah menyenangkannya. Ketika menyenangkan dia, meskipun tidak pakai kebenaran, tidak pakai logos, tetap dia akan senang. Orang hina tidak perlu menggunakan kebenaran, cukup pakai hadiah, pakai uang, pakai suapan, diberi mobil atau diberi rumah, maka semua yang tidak bisa menjadi bisa. Semua serba bisa diatur. Ini adalah orang hina.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Orang hina atau orang picik, kalau memakai seseorang tuntutannya luar bisa sempurna, tetapi sebaliknya ia sendiri tidak mau dituntut keras seperti ia menuntut bawahannya. Ia suka menuntut orang lain dengan sangat kejam. Jika engkau mau menjadi pegawai saya, maka engkau harus begini dan begitu, begitu banyak tuntutan yang diberikan. Juga orang hina banyak menuntut orang lain harus memenuhi kualifikasi yang begitu banyak dan tinggi, tetapi kemudian ketika membayar, bayarannya sedikit luar biasa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Banyak orang Tionghoa di Indonesia memberi gaji kepada pembantunya sekitar hanya sepersepuluh dari gaji seorang pembantu di luar negeri, tetapi mereka menuntut pembantunya begitu keras, disuruh kerja dari pagi hingga malam. Juga diharuskan bekerja sepanjang minggu tanpa ada waktu luang atau bisa hidup bebas. Itu dosa. Pembantu juga adalah seorang manusia. Mereka punya hak kebebasan untuk bisa pergi berjalan-jalan paling tidak satu kali seminggu. Hak mau berpacaran juga tidak ada, hak mau telepon ke rumah juga tidak ada. Itu adalah sikap majikan yang adalah orang picik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mereka berargumen kalau pembantunya nanti jadi rusak kalau diberi izin untuk pergi berjalan-jalan keluar. Tetapi mereka sendiri tidak berpikir mereka sudah jadi seperti apa. Mereka melarang orang lain untuk menjadi seperti dia mau menjadi, sementara majikan juga semena-mena. Saya pikir kasihan para pembantu ini. Harusnya, seperti di Hong Kong, setiap Sabtu sore, para pembantu boleh keluar dari rumah majikannya, bisa berjalan-jalan atau bertemu temannya. Mereka bisa ke <em>shopping mall</em>, bertemu dan berkumpul sesama bangsa mereka, yang Filipina sama yang Filipina, yang Indonesia bercengkerama dengan yang sesama Indonesia. Itu hak mereka. Mereka juga manusia yang perlu diperlakukan sebagai manusia yang terhormat.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setiap kita yang memiliki saudara atau teman di Singapura atau Hong Kong mengetahui bahwa memakai seorang pembantu harus membayar dengan harga yang cukup tinggi. Di Hong Kong, paling sedikit gaji pembantu yang dipanggil dari Indonesia dibayar HKD 3,800.00.<a href="#_ftn2" id="_ftnref2">[2]</a> Ini jauh lebih besar dari pembantu yang bekerja di keluarga-keluarga di Indonesia. Kita tidak boleh memperlakukan pembantu kita semena-mena dengan menekan mereka. Itu sikap orang picik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Konfusius mengatakan, “Semua yang baik bagi kita, tetapi tidak baik bagi orang lain, itu adalah pemikiran dan sikap orang picik.” Itu adalah hal yang tidak baik dan tidak patut dilakukan. Apalagi kita pernah mendengar bagaimana ada majikan yang menyiksa pembantunya, ada yang disundut dengan rokok, atau disiram air panas dan berbagai tindakan yang kejam lainnya. Coba kalau dibalik, lalu kita yang diperlakukan seperti itu, apakah kita senang? Tentu tidak. Apa yang kita tidak ingin orang lain lakukan, jangan kita lakukan pada orang lain. Ini yang Konfusius katakan. Kiranya kita belajar tidak menjadi orang picik (<em>xiao ren</em>), tetapi menjadi orang yang agung (<em>junzi</em>). Amin.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref1" id="_ftn1">[1]</a> Matius 25:21.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref2" id="_ftn2">[2]</a> atau sekitar Rp. 8.5 juta rupiah dengan kurs pada Mei 2026 senilai Rp.2.277,- per satu dollar Hongkong.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">31317</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Ia Harus Makin Besar, tetapi Aku Harus Makin Kecil</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/renungan/ia-harus-makin-besar-tetapi-aku-harus-makin-kecil</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[heryanto]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Aug 2026 09:36:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Kristus]]></category>
		<category><![CDATA[Pelayanan Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[penginjilan]]></category>
		<category><![CDATA[Yohanes Pembaptis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=31298</guid>

					<description><![CDATA[Renungan saat teduh Yohanes 3:30 “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” Kalimat dari teks di atas adalah perkataan Yohanes Pembaptis yang memperlihatkan kerendahan hatinya di dalam pelayanannya. ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/renungan/ia-harus-makin-besar-tetapi-aku-harus-makin-kecil">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h4 class="wp-block-heading">Renungan saat teduh Yohanes 3:30</h4>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">“Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil”</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Kalimat dari teks di atas adalah perkataan Yohanes Pembaptis yang memperlihatkan kerendahan hatinya di dalam pelayanannya. Walaupun mengenai dia, Yesus sendiri mengatakan bahwa di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak ada seorangpun yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis (Matius 11:11). Namun, Yohanes menyadari sepenuhnya bahwa panggilannya di dalam pelayanan adalah untuk mempersiapkan jalan bagi juruselamat, Yesus Kristus yang terhadap-Nya Yohanes mengatakan untuk membuka tali kasutnya pun aku tidak layak (Yoh 1:27). Di dalam pelayanannya, ia tidak mengambil kemuliaan bagi dirinya. Ketika para pemuka Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia “Siapakah engkau?”, ia mengaku dan berterus terang, katanya, “Aku bukan Mesias”  (Yoh 1:20). Ketika para muridnya berkata kepadanya mengenai Yesus yang membaptis juga dan semua orang pergi kepada-Nya, Yohanes Pembaptis sekali lagi berterus terang kepada murid-muridnya mengatakan bahwa dirinya bukanlah Mesias, tetapi ia diutus untuk mendahului-Nya (Yoh 3:28). Lalu Yohanes meneruskan mengatakan: &#8220;Yang empunya mempelai perempuan ialah mempelai laki-laki. Namun, sahabat mempelai laki-laki yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh. (Yoh 3:29)&#8221;    </p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sini sekali lagi Yohanes tidak mencoba menonjolkan dirinya melainkan dia membawa murid-muridnya untuk melihat kepada Kristus, sang mempelai laki-laki yang telah datang bagi mempelai perempuan yaitu gereja-Nya. Sehingga ia dapat mengatakan suatu kalimat yang seharusnya menjadi prinsip dari setiap kita sebagai hamba Tuhan di zaman ini: “Kristus harus makin besar, tetapi aku&nbsp;harus makin kecil.” Yohanes sadar bahwa di dalam melayani Tuhan tidak ada tempatnya bagi dirinya untuk mendapat kredit sama sekali. Ia tahu bahwa tujuan dari panggilannya adalah untuk mempersiapkan jalan bagi Sang Juruselamat sehingga ketika Sang Juruselamat telah hadir, ia harus segera undur agar orang boleh melihat kepada Kristus yang telah datang. Sebagai alat yang dipakai oleh Tuhan, kita tidak sedang berusaha untuk membuat diri kita maupun grup kita dikenal, tetapi kita sedang berbagian di dalam misi untuk menyatakan kerajaan Allah di dunia yang gelap ini. Misi kita adalah memberitakan Injil Kristus di manapun kita berada, kepada siapa saja yang kita jumpai agar orang di sekitar kita boleh mengenal Kristus Sang Juruselamat. Sehingga semakin banyak orang berdosa datang kepada-Nya dan diselamatkan. Untuk berbagian di dalam misi kerajaan Allah ini, kita harus menjadi rendah hati sama seperti Yohanes Pembaptis yang tidak membuat dirinya dikenal, melainkan selalu menunjuk kepada Kristus Sang Juruselamat. Yohanes mengatakan bahwa ia bersukacita sebagaimana sahabat dari mempelai laki-laki sangat bersukacita mendengarkan suara dari mempelai laki-laki itu.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagaimana dengan kita? Apakah kita juga memiliki sukacita yang sama seperti sukacita Yohanes Pembaptis? Apakah kita lebih bersukacita ketika orang-orang mengingat khotbah kita? Apakah kita bersukacita ketika orang-orang mengenal kita karena kita cakap di dalam banyak bidang pelayanan? Apakah kita lebih bersukacita ketika kita dikenal oleh pemimpin kita di gereja? Atau kita lebih bersukacita ketika mengetahui ada orang yang bertobat dan datang kepada Kristus? Kalau hal ini telah menjadi sukacita kita, sepatutnya kita menjadi&nbsp;lebih giat lagi di dalam kegiatan mengabarkan Injil dan menyatakan Kristus di manapun kita berada. Kiranya melalui renungan ini setiap dari kita boleh belajar dari kerendahan hati Yohanes Pembaptis yang selalu menyatakan Kristus di dalam pelayanannya. &nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Melky Alexander Lingga<br>Mahasiswa STTRII Konsentrasi Misiologi</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">31298</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Perlukah Kepala Lain selain Kristus, Sang Kepala Gereja?</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/alkitab-theologi/perlukah-kepala-lain-selain-kristus-sang-kepala-gereja</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[michaelleang]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 24 Jul 2026 12:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Alkitab & Theologi]]></category>
		<category><![CDATA[gereja]]></category>
		<category><![CDATA[Kepala Gereja]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintahan gereja]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=30146</guid>

					<description><![CDATA[Kristus Menginstitusikan Gereja (Mat. 16:13-20) Sejak awal, Gereja berdiri bukan atas inisiatif manusia, melainkan Kristus sendiri. Karena Ia adalah Kepala Gereja, maka cara Gereja diperintah tidak boleh dilepaskan dari diri ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/alkitab-theologi/perlukah-kepala-lain-selain-kristus-sang-kepala-gereja">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Kristus Menginstitusikan Gereja (Mat. 16:13-20)</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejak awal, Gereja berdiri bukan atas inisiatif manusia, melainkan Kristus sendiri. Karena Ia adalah Kepala Gereja, maka cara Gereja diperintah tidak boleh dilepaskan dari diri Kristus dan karya-Nya. Hal ini dikarenakan kekuatan dari Gereja seharusnya hanya berasal dari Sang Kepala saja, dan bukan kepala lain. Bayangkan kalau tubuh manusia bermutasi, kemudian memunculkan kepala baru di samping kepala yang asli, lalu “kepala” baru tersebut mulai mengambil alih tubuh manusia tersebut dari kepalanya yang sejati. Tentu mengerikan sekali, bukan? Artikel ini menyoroti bagaimana Kristus harus menjadi dasar dan pola bagi pemerintahan gereja yang diawali dengan bagaimana Kristus menginstitusikan Gereja-Nya di Alkitab.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Matius 16:13-20</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><br><sup>13</sup>Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: &#8220;Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?&#8221;&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><sup>14</sup>Jawab mereka: &#8220;Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.&#8221;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><sup>15</sup>Lalu Yesus bertanya kepada mereka: &#8220;Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?&#8221;&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><sup>16</sup>Maka jawab Simon Petrus: &#8220;Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!&#8221;&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><sup>17</sup>Kata Yesus kepadanya: &#8220;Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><sup>18</sup>Dan Akupun berkata kepadamu: <strong>Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.</strong>&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><sup>19</sup>Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.&#8221;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><sup>20</sup>Lalu Yesus melarang murid-murid-Nya supaya jangan memberitahukan kepada siapapun bahwa Ia Mesias.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari perikop yang kita baca, Alkitab menyatakan bahwa Tuhan Yesus, ketika berinkarnasi di dunia, telah mendirikan suatu kelompok manusia di dunia ini yang disebut Gereja-Nya. Gereja adalah umat Kristus, yang kepada merekalah Kristus mengatakan bahwa alam maut tidak akan menguasainya. Ini artinya, Gereja memiliki kekuatan yang luar biasa. Hal ini makin ditekankan dalam versi bahasa Inggris (KJV) yang menuliskan <em>“the gates of hell shall not prevail against it</em>”, dan bukan “<em>the gates of death</em>” sebagaimana diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Terhadap ayat ini, seorang Bapa Gereja, John Chrysostom, menegaskan bahwa Gereja lebih kuat bukan hanya daripada <em>hell </em>(neraka), tetapi juga daripada <em>heaven</em>. Dalam salah satu homilinya, dia berkata:</p>



<p class="wp-block-paragraph">“<em>For the Father gave to Peter the revelation of the Son; but the Son gave him to sow that of the Father and that of Himself in every part of the world; and to a mortal man He entrusted the authority over all things in Heaven, giving him the keys; </em><strong><em>who extended the church to every part of the world, and declared it to be stronger than heaven</em></strong><em>. ‘For heaven and earth shall pass away, but my word shall not pass away.’ How then is He less, who hath given such gifts, hath effected such things?</em>”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Chrysostom menggunakan permainan kata antara <em>hell</em> dengan <em>heaven</em>, karena selanjutnya beliau mengutip Matius 24:35 yang membandingkan firman Tuhan dengan langit dan bumi. Intinya, kita dapat dengan yakin mengatakan bahwa Gereja memiliki kekuatan yang sangat besar. Gereja punya kekuatan yang demikian besar karena Kristus, yang adalah Allah, merupakan Sang Kepala dari Gereja itu sendiri.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam homili yang sama, Chrysostom menafsirkan bahwa melalui sabda ini, mereka yang termasuk dalam Gereja adalah mereka yang berdiri di atas batu karang (πέτρα, <em>petra</em>) yang teguh. Menurut Chrysostom, batu karang tersebut bukanlah pribadi Petrus (Πέτρος, <em>Petros</em>) sendiri. Batu karang tersebut adalah pengakuan Petrus pada perikop yang telah kita baca sebelumnya, yakni bahwa Kristus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Dengan kata lain, Gereja berdiri di atas pengakuan yang benar mengenai Kristus; dan mereka yang mengakui Dia dengan benar termasuk di dalam Gereja yang dibangun oleh Kristus sendiri. Penafsiran Chrysostom ini senada dengan penafsiran Agustinus selaku Bapa Gereja yang berpengaruh di Kekristenan Barat. Fondasi Gereja bukan terletak pada keuskupan yang dipegang Petrus, yakni Keuskupan Roma, melainkan di dalam pengakuan Petrus tentang siapa Kristus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perbedaan tafsiran ini penting untuk kita soroti, karena inilah yang menjadi perbedaan tafsiran antara Gereja Katolik Roma dengan gereja-gereja Reformed. Katolik Roma menafsirkan bahwa Petruslah yang menjadi batu karang, sehingga Rasul Petrus sebagai uskup di Roma diakui sebagai paus yang pertama. Dari sinilah berkembang konsep penghormatan bagi keuskupan Roma (primasi Roma), yang kemudian menjadi doktrin, dan akhirnya menjadi dogma infalibilitas paus pada Konsili Vatikan I. Namun, gereja-gereja Reformed mengakui pernyataan Chrysostom dan Agustinus, bahwa batu karang yang dimaksud adalah pengakuan Petrus tentang Kristus. Dengan demikian, mereka yang mengaku bahwa Yesus adalah Kristus, Anak Allah yang hidup, termasuk dalam Gereja sejati.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Pemerintahan Gereja di Masa Para Rasul: Pola Presbiterial, Bukan Monarkikal</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Bila kita mengakui bahwa Kristus adalah Kepala Gereja, maka kita mengakui bahwa Dialah yang mempunyai otoritas penuh terhadap Gereja. Karena itu, Gereja harus melanjutkan kehendak Kristus, dan bukan kehendak yang lain dari sumber otoritas manusia. Kehendak Kristus utamanya dinyatakan jelas di dalam Alkitab, sebagai satu-satunya sumber wahyu yang otoritasnya tidak dapat dipersalahkan (<em>infallible</em>). Namun, selain Alkitab, sumber pengajaran lain akan kehendak Kristus dalam Gereja adalah kesaksian Gereja mula-mula, ajaran Bapa-bapa Gereja, dan tradisi apostolik. Sumber ini bernilai penting sebagai pengajaran Gereja, tetapi sifat otoritasnya adalah turunan, sekunder dibanding Alkitab. Sehingga, sumber-sumber ini penting untuk diterapkan di dalam gereja sepanjang semuanya dibaca, dipelajari, dan diterapkan sesuai dengan Alkitab sebagai standar final. Inilah yang dimaksud dengan <em>sola scriptura</em>, bahwa sumber pengajaran Gereja berasal dari Alkitab, tradisi Gereja, dan pengajaran Bapa-bapa Gereja, tetapi satu-satunya sumber yang tidak dapat dipersalahkan adalah Alkitab. Sebagai jemaat dari gereja Reformed, kita tidak membuang penuh tradisi dan pengajaran terdahulu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu warisan dari para rasul adalah pola pemerintahan di gereja, yang terdiri dari <em>presbyteros </em>(penatua) dan <em>episkopos </em>(uskup). Di dalam pemerintahan gereja, kita harus merujuk kembali kepada pola pemerintahan yang diturunkan oleh Yesus, para rasul, dan jemaat mula-mula. Otoritas Gereja mula-mula sifatnya adalah plural, apostolis, dan bukan monarkis. Artinya, semua rasul memiliki otoritas yang setara dan tidak dipusatkan ke satu rasul secara absolut. Tidak ada rasul utama yang lebih tinggi dari semua rasul Yesus yang lain. Otoritas plural inilah yang membentuk sistem presbiterian, penatua dan uskup sebagai setara. Hal ini dapat kita lihat pada Kisah Para Rasul 14:23, di mana di tiap-tiap jemaat di kota Listra, Ikonium, dan Antiokhia, ditetapkan penatua-penatua. Adanya penatua-penatua ini merupakan pengajaran para rasul sekaligus firman Tuhan yang tertulis di Alkitab. Dengan penetapan ini, para rasul mencegah hadirnya satu orang otoritas di atas semua, tetapi juga mencegah terjadinya independensi jemaat yang satu dengan yang lainnya. Dependensi yang satu dengan yang lainnya inilah yang menjadikan para jemaat memiliki kesatuan dalam doktrin, ketersalingan dalam mengoreksi dan dikoreksi, serta dukungan satu sama lain. Jika jemaat dipimpin oleh satu kepala yang memisahkan diri dari yang lain, maka rentan sekali untuk adanya penyelewengan ajaran.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan sistem presbiterial diterapkan, keputusan-keputusan ditetapkan secara demokratis. Hal ini dapat kita lihat pada Kisah Para Rasul 15 tentang Konsili Yerusalem. Pada konsili ini, Yakobus memimpin keseluruhan diskusi dan juga memberikan keputusan final. Hal ini menarik karena Petrus dan Paulus, dua rasul besar yang dihormati karena pelayanannya di Roma, hadir pada konsili tersebut. Jikalau kita lihat, Petrus dan Paulus tunduk pada keputusan konsili yang diputuskan secara bersama. Tidak ada rasul yang mengutamakan kedua rasul ini di dalam pengambilan keputusan, meskipun mereka cukup menonjol. Benar bahwa Petrus merupakan salah satu rasul yang menonjol dan diberitakan pada Alkitab bahwa Tuhan Yesus menjadikan Petrus memiliki peran unik dalam kepemimpinan, mujizat, otoritas, dan tanggung jawab, tetapi Tuhan Yesus tidak pernah menjadikan dia <em>supreme</em> di antara para rasul, hanya <em>prominent</em>. Buktinya, kita dapat melihat bagaimana Paulus menegur Petrus (Gal. 2:11). Dengan demikian, kita bisa melihat bahwa Gereja memiliki otoritas yang plural, di mana keputusan Gereja diputuskan secara kolegial, dan bukan hanya satu kepala saja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari artikel ini, kita telah belajar bahwa Kristus adalah Kepala Gereja. Dari Dialah segala kekuatan yang ada pada Gereja, yang lebih kuat dari gerbang maut. Di dalam dunia ini, Yesus menginstitusikan Gereja yang berfondasikan pengakuan Rasul Petrus tentang diri Yesus, sehingga barangsiapa yang mengaku hal yang sama, dia adalah anggota dari Jemaat Kristus. Di dalam kepemimpinannya, Gereja dipimpin oleh banyak rasul dan penatua, dan bukan satu kepala otoriter saja. Hal ini sesuai dengan firman Tuhan dan tradisi para rasul: bahwa hanya Kristuslah yang layak menjadi Kepala yang berotoritas penuh atas Gereja. Dengan demikian, sistem pemerintahan gereja yang presbiterial bukan hanya ideal, tetapi juga konsisten dengan kebenaran Alkitab dan tradisi. Gereja tidak menjadi independen antara yang satu dengan yang lainnya, tetapi tidak menokohkan atau memusatkan keseluruhan keputusan dan pengajaran kepada satu orang saja. Jikalau hari ini kita beribadah di gereja bertheologi Reformed yang kudus dan am, maka kita harus kembali setia pada firman Tuhan, yang tidak bisa bersalah, dan daripadanya melahirkan pengakuan iman, tradisi para rasul, dan pengajaran. Pada artikel berikutnya, kita akan melihat tentang apa yang akan (dan telah) terjadi ketika satu kepala berusaha untuk mengambil yurisdiksi universal terhadap seluruh gereja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mario A.J. Sirait<br>Pemuda GRII Pusat</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">30146</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Autentikkah Karya Seni Mesin? Seni di antara Manusia dan Mesin (1)</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/seni-budaya/autentikkah-karya-seni-mesin-seni-di-antara-manusia-dan-mesin-1</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[andrian]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 19 Jul 2026 15:57:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[AI]]></category>
		<category><![CDATA[art]]></category>
		<category><![CDATA[artificial intelligence]]></category>
		<category><![CDATA[kecerdasan buatan]]></category>
		<category><![CDATA[komputer]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[seni]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=30004</guid>

					<description><![CDATA[“Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah,dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.Engkau membuat dia berkuasa atas buatan ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/seni-budaya/autentikkah-karya-seni-mesin-seni-di-antara-manusia-dan-mesin-1">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">“Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah,dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu;segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya…”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mazmur 8:4-6</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Kecerdasan buatan telah menjadi suatu topik yang umum dibicarakan di tengah masyarakat kita saat ini. Di dalam masyarakat yang mengandalkan teknologi informasi sebagai bagian dari seluruh aktivitas hidupnya sehari-hari, kecerdasan buatan telah memasuki berbagai dimensi kehidupan yang dahulunya terkesan jauh dari keterlibatannya. Dari berbagai ranah dan dimensi kehidupan manusia, seni dianggap sebagai salah satu dimensi yang paling aman dari perkembangan teknologi kecerdasan buatan. Apakah benar demikian? Perkembangan seni visual digital akhir-akhir ini tentu telah menyadarkan kita bahwa ranah seni juga tidak dapat lepas dari dahsyatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan. Kecerdasan buatan telah mencapai tahap perkembangan yang dinamakan <em>machine learning</em>, di mana batas-batas mesin sebagai sekadar instrumen yang digunakan oleh manusia makin sulit dipahami. Mesin perlahan seakan telah mencapai keberadaan sebagai agensi, suatu entitas yang otonom, memiliki kehendak, pertimbangan, dan keputusan sendiri dalam berinteraksi dengan segala sesuatu yang ada di luar dirinya, sepenuhnya terlepas dari manusia yang menciptakannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perkembangan ini tidak luput dari pergumulan dunia seni. Keterlibatan mesin sebagai instrumen atau alat bantu yang mengekspresikan kehendak, pikiran, dan emosi dari seorang manusia juga telah berevolusi sedemikian rupa sehingga seakan membukakan dunia, dimensi, dan juga bahasa keindahan baru yang selama ini tidak pernah dapat dipersepsikan oleh kapasitas inderawi manusia. Seni seakan kini dimungkinkan tidak lagi identik dengan manusia sebagai satu-satunya makhluk yang dahulu dianggap mampu menghasilkan makna dan nilai. Mesin mampu melakukan hal yang sama, bahkan melampaui apa yang bisa dihasilkan oleh manusia, manusia yang dibatasi oleh tubuh dan persepsi inderawinya.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Manusia dan Seni</strong></h3>



<p class="wp-block-paragraph">Muncul pertanyaan akhir-akhir ini: jika seni telah dilakukan oleh mesin, autentikkah karya seni itu? Pertanyaan ini membuka suatu pergumulan menarik mengenai masa depan dunia yang akan kita hidupi. Mengapa demikian? Karena di balik pertanyaan mengenai autentisitas seni manusia versus mesin, ada satu implikasi antropologis yang menopangnya. Ada satu fondasi besar pemahaman yang terkandung baik dalam ilmu antropologi umum maupun antropologi biblikal mengenai keistimewaan manusia sebagai makhluk hidup, termasuk posisi manusia di dalam tatanan realitas dunia yang kita hidupi ini. Bagi saya, munculnya pertanyaan mengenai seni mesin merupakan satu undangan bagi kita untuk menggumulkan kembali pemahaman kita mengenai manusia, khususnya dalam kapasitas estetisnya. Ibarat kemajuan teknologi pada dunia modern memungkinkan hipotesis, teori, dan pengetahuan manusia di masa lampau diuji atau direvisi, masuknya teknologi kecerdasan buatan ke ranah seni menuntut adanya perenungan ulang mengenai berbagai asumsi atau klaim yang kita pahami mengenai manusia dan seni ke depan. Dibutuhkan pergumulan estetis yang segar, bukan untuk sekadar menolak atau sekadar menerima. Momen ini menarik untuk merenungkan ulang keindahan kapasitas estetis manusia, yang selama ini mungkin tidak kita pahami sebagai keunikan kemanusiaan kita. Dapatkah kita menggunakan rasa keingintahuan kita mengenai seni mesin untuk makin mensyukuri dan merayakan keindahan kemanusiaan kita?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti yang sudah saya sebutkan, di balik pertanyaan autentikkah karya (seni) mesin, tersembunyi banyak pemahaman sebelumnya mengenai manusia dan seni. Seni dapat dikatakan sebagai wilayah realitas manusia yang paling dekat menampilkan kemanusiaannya. Kita mungkin mendengar bahwa salah satu yang membedakan manusia dengan makhluk lain atau mesin (non-makhluk hidup) adalah kapasitas estetisnya, kemampuannya untuk berkesenian. Sejarah panjang estetika (filsafat keindahan) Barat, misalnya, menjadikan autentisitas sebagai salah satu syarat utama untuk sesuatu bisa disebut karya seni. Tentu saja setiap zaman memiliki pemahaman yang berbeda mengenai apa yang menjadikan suatu karya seni autentik. Yang menarik dalam menelusuri berbagai tradisi estetika Barat adalah cara memahami autentisitas karya seni sepertinya selalu terkait dengan <em>sejauh mana jarak atau peran manusia</em> dalam proses terciptanya karya seni tersebut. Manusia sebagai makhluk yang memiliki kesadaran, kehendak, emosi yang dapat diekspresikan melalui dan dapat diterima secara inderawi.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Manusia dan Seni dari Perspektif Estetika Mimesis: Autentisitas dan Orisinalitas</strong></h3>



<p class="wp-block-paragraph">Mari kita melihat betapa pentingnya asumsi mengenai siapakah manusia yang kita pegang, menentukan bagaimana kita akan menjawab pertanyaan mengenai autentisitas seni oleh mesin. Tradisi estetika mimesis memulai kerangka berpikir mengenai keindahan dan seni tertua yang masih umum digunakan saat ini. Tradisi estetika mimesis dan representasi melihat autentisitas ditemukan pada representasi yang setia atau mengimitasi/mereplikasi realitas. Kita menemukan bahwa Plato memahami imitasi senantiasa tidak autentik jika dibandingkan dengan realitas yang sejati, representasi hanyalah apa yang dapat dipersepsikan sebagai realitas yang sesungguhnya. Di sisi lain Aristoteles melihat seni autentik ketika berhasil merepresentasikan dan memaknai apa yang ada, sanggup menangkap suatu kebenaran yang bersifat universal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam perkembangannya berabad-abad kemudian, muncul kesadaran bahwa autentisitas representatif selalu tergantung pada persepsi yang terkondisikan secara kultural, bukan pada adanya akurasi objektif. Para pemikir postmodern dan pascastrukturalisme, misalnya, melihat pertanyaan autentisitas lebih dekat pada apa yang dipikirkan Plato sebelumnya. Ketika Walter Benjamin merespons kehadiran teknologi reproduksi seni di eranya, ia menuliskan dalam <em>The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction</em> (1936) kehancuran dari aura. Aura didefinisikan oleh Walter Benjamin sebagai autentisitas dari karya seni yang orisinal. Ia melihat bahwa ketika teknologi mereproduksi suatu karya seni sehingga terlepas dari kehadirannya secara langsung di dalam waktu dan tempat, karya seni itu sudah kehilangan keberadaan unik di dalam waktu dan tempat di mana karya tersebut ada pada mulanya. Artinya bahwa meskipun suatu teknologi dapat menghasilkan imitasi atau replikasi dari karya tersebut seakurat apa pun di kemudian hari dan di berbagai belahan bumi yang berbeda, autentisitas hanya ada pada saat dan di tempat di mana karya itu pertama kali dihasilkan. Seniman sebagai makhluk yang memiliki kesadaran waktu dan tempat merupakan salah satu kunci kesinambungan dan autentisitas karya tersebut.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Autentisitas dalam Tradisi Estetika Ekspresionisme: Manifestasi Emosional yang Tulus</strong></h3>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam tradisi estetika ekspresionisme autentisitas dikaitkan dengan keaslian penyampaian emosi sang seniman. Tolstoy, salah satu tokoh tradisi estetika ekspresionisme, berpendapat bahwa suatu karya seni hanya dapat dikatakan autentik jika secara tulus mentransmisikan perasaan/emosi sang seniman kepada pemirsanya. Croce melihat autentisitas juga terkait dengan agensi manusia. Seni yang autentik hanya dapat dibangkitkan dari ekspresi emosi intuitif, tidak dimediasi oleh konsepsi-konsepsi. Collingwood berpendapat bahwa autentisitas terjadi ketika emosi tersingkap melalui kreasi seni.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Autentisitas dalam tradisi estetika ekspresionisme senantiasa dikaitkan dengan emosi dalam sang seniman, mengagungkan subjektivitas manusia pencipta seni sebagai sesuatu yang mutlak. Autentisitas transmisi emosi dan ketertangkapan makna mulai dipertanyakan oleh Roland Barthes di dalam karyanya <em>The Death of the Author.</em> Barthes berargumentasi bahwa makna sesungguhnya dikonstruksikan oleh yang melihat, bukan oleh sang seniman. Argumentasi Barthes membuka kesadaran bagi kita bahwa ada dua sisi autentisitas manusia di dalam seni, ada autentisitas dari sisi manusia sebagai pencipta seni, dan ada sisi autentisitas dari manusia sebagai yang mengapresiasi seni tersebut. Kompleksitas menilai apakah suatu karya seni dapat dikatakan autentik atau tidak makin bertambah, kini kita diperhadapkan dengan pertanyaan ini: autentik dalam proses di mana karya tersebut diciptakan atau autentik dalam proses apresiasinya. Kriteria autentisitas estetika ekspresionisme ini makin sulit diterapkan di era digital dan kecerdasan buatan saat ini. Apakah kriteria autentisitas yang diidentikkan dengan ketulusan ekspresi manusia (baik sebagai pencipta karya seni ataupun sebagai subjek yang mengapresiasinya) masih bisa dipertahankan dalam dunia digital saat ini? Mungkinkah autentisitas emosi bertahan di era avatar, simulasi digital, dan relasi sepenuhnya dalam dunia maya? Dari tradisi estetika mimesis ke tradisi estetika ekspresionisme ini, kita bisa melihat bahwa keunikan manusia sebagai makhluk yang sadar akan keberadaan dirinya dalam konteks waktu dan tempat, juga kapasitas emosionalnya untuk menghasilkan dan mengekspresikan makna lewat kapasitas inderawinya, berpotensi menjadi wilayah yang masih susah digantikan oleh mesin.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Tradisi Estetika Formalis: Autentisitas dalam Integritas Estetis yang Murni</strong></h3>



<p class="wp-block-paragraph">Saya akan menutup penelusuran singkat autentisitas dalam tradisi estetika Barat dengan tradisi estetika formalis yang mulai berkembang di abad ke-19. Autentisitas dalam tradisi estetika formalis ditemukan dalam bentuk, komposisi, dan spesifisitas medium yang digunakan, bukan di dalam isi ataupun emosi. Dipengaruhi oleh pemikiran Kant, autentisitas dalam tradisi ini menekankan kemurnian dari apa yang bukan dari dalam karya seni itu sendiri. Bertujuan tanpa tujuan, kenikmatan tanpa kepentingan. Dalam perkembangannya Clive Bell mencetuskan apa yang disebut sebagai bentuk yang signifikan meliputi garis, warna, pengaturan bentuk, atau apa yang Greenberg katakan sebagai bersifat kritis terhadap mediumnya sendiri. Berlawanan dengan dua tradisi sebelumnya yang sepertinya meninggikan subjek manusia dalam menemukan kriteria autentisitas seni, tradisi estetika formalis seakan menjembatani pergeseran ke seni yang makin berjarak dari dimensi historis dan emosional manusia tersebut di atas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Autentisitas ditemukan dalam bentuk, komposisi, dan spesifisitas medium yang digunakan, bukan di dalam isi ataupun emosi. Dalam perkembangannya, abstraksi mencari autentisitas dilepaskan dari konteks, mengejar asumsi bahwa ada autentisitas di dalam menyingkapkan sesuatu yang universal, yang melampaui batas-batas waktu, tempat, dan manusia yang meresponsnya. Autentisitas karya seni ditemukan dalam komposisionalnya, bukan pada subjektivitas manusia yang menciptakan ataupun mengapresiasinya. Dalam perkembangannya kini, kita melihat bahwa seni algoritma dan generatif mendisrupsi gagasan inti bahwa autentisitas komposisional hanya dapat dihasilkan oleh seorang manusia. Manovich, misalnya, mengatakan bahwa <em>new media </em>mengubah urutan proses sehingga sang seniman kini menempati posisi <em>programmer</em> dan pembuatan karya seni itu sendiri dilakukan oleh algoritma. Bahkan, pandangan-pandangan pascahumanisme juga seringkali mengedepankan pola informasi di atas mewujudnya sesuatu secara material.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Seni, Teknologi, dan Ketersingkapan Realitas Baru</strong></h3>



<p class="wp-block-paragraph">Pencarian autentisitas komposisional yang melampaui batas konteks ruang dan waktu secara tidak langsung sepertinya membuka jalan memasuki era mengenai autentisitas karya seni yang menekankan kebaruan medium, atau memperluas jangkauan persepsi manusia yang selama ini dibatasi oleh kapasitas inderawinya. Di dalam upaya ini, teknologi seringkali menawarkan kapasitas ibarat manusia super, memperlihatkan apa yang tidak terlihat oleh mata telanjang, mendengar apa yang tidak terdengar, merancang pengalaman inderawi yang kompleks yang tidak dapat dialami lewat karya seni tradisional. Seniman senantiasa berupaya menemukan cara-cara baru (kreativitas) untuk merespons dimensi realitas baru yang dulunya tidak dikenal, menyingkapkan misteri dari dimensi realitas baru ini, mengekspresikan bagaimana dimensi realitas baru ini mengubah persepsi kita mengenai dunia yang kita pahami selama ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejarah panjang seni sebenarnya menunjukkan jejak konsisten perubahan medium yang dipengaruhi oleh teknologi. Penemuan teknologi pengolahan logam mengubah ekspresi seni berbagai peradaban kuno. Penemuan medium cat minyak di atas kanvas melahirkan seni lukis Barat yang mendominasi ekspresi estetis peradaban Barat selama ratusan tahun. Teknologi optik merevolusi ekspresi visual lukisan, mendatangkan seni fotografi dan film yang kemudian mengambil alih dominasi seni lukis sebagai ekspresi dan representasi visual yang dominan. Proses artistik tidak bisa dipisahkan dari medium yang tersedia dan bagaimana manusia bergelut menemukan proses artistik baru untuk mengekspresikan dan memaknai apa yang diterimanya. Selain dipengaruhi oleh medium, proses artistik ini juga akan dipengaruhi oleh penerimaan di dalam konteks peradaban di mana proses ini pertama kali dicetuskan. Kita dengan mudah dapat membaca bagaimana perubahan seni tidak selalu diterima, bahkan dapat dikatakan bahwa ekspresi estetis hanya dapat dihasilkan, dimaknai, diterima di dalam suatu konteks tertentu. Teori media di awal abad ke-20 membantu kita untuk memahami bahwa berubahnya medium seni apa pun oleh kehadiran teknologi senantiasa mengubah proses artistik manusia dan makna yang dihasilkannya. Manusia yang memiliki kesadaran waktu dan ruang senantiasa menggunakan kapasitas estetisnya di dalam, di waktu, dan di mana ia berada. Meskipun perkembangan teknologi terus mengubah cara keterlibatan manusia dan kreativitasnya, kesinambungan peran manusia dalam memaknainya mungkin dapat direnungkan kembali sebagai keunikan kapasitas estetis manusia yang sesungguhnya.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Seni, Manusia, dan Makna</strong></h3>



<p class="wp-block-paragraph">Kita sudah mencoba menelusuri sejarah tradisi estetika Barat secara singkat. Melalui pertanyaan awal “autentikkah karya seni mesin?”, kita melihat bahwa jejak tradisi estetika Barat memang kemudian membuka peluang untuk berbicara mengenai seni di mana manusia sebagai subjek penciptanya makin berjarak dengan hasil kreasinya. Kita menemukan bahwa kapasitas manusia untuk mengabstraksikan apa yang dipersepsikannya menjadi suatu gagasan atau formulasi tertentu dimaksimalkan dalam tradisi estetika formalis. Ada upaya dalam tradisi ini untuk meminimalkan subjektivitas manusia yang menciptakan maupun mengapresiasi seni. Ada optimisme dan kerinduan menemukan yang universal, melampaui batas-batas partikular dan subjektivitas. Berlawanan dengan dalam tradisi ekspresionisme misalnya, di mana subjektivitas manusia justru diagungkan dan diutamakan. Suzanne Langer, dalam tulisannya <em>Feeling and Form</em> (1953) misalnya, mengembangkan pemikiran estetika di antara interlokutor dua tradisi estetika di atas. Langer, yang berkutat dengan logika, epistemologi, filsafat mengenai pikiran, perasaan, dan kognisi yang menubuh, mengajak kita melihat bahwa apa yang menyatukan segala upaya manusia memahami dunia di mana ia ada adalah pencarian makna. Langer kemudian membangun pemahaman estetika manusia sebagai dunia simbol yang unik dalam kebertubuhannya. Dalam bukunya ini, Langer menegaskan bahwa karya seni bukan semata-mata simptom dari ekspresi subjektif seniman ataupun emosinya. Karya seni selalu adalah simbol, wadah dari makna. Makna merupakan hal mendasar yang hadir melalui kapasitas estetis. Langer memahami makna sebagai sesuatu yang menubuh, menolak dikotomi subjek dan objek, pikiran dan tubuh, nalar dan perasaan. Oleh karena pemahaman ini, kita dapat mengatakan bahwa makna hanya dapat beroperasi pada sesuatu yang menubuh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita sedikit terbantu di sini oleh Langer, untuk memahami bahwa makna merupakan sesuatu yang mendasar di dalam proses berkesenian. Kita juga terbantu untuk melihat bahwa makna bukanlah sesuatu yang dapat dihadirkan tanpa menubuh. Tidak ada cara menghadirkan makna dengan hanya berfokus pada subjek atau objek secara terpisah, tidak ada makna yang bisa dihadirkan murni dari pikiran tanpa keterlibatan perseptual tubuh, tidak ada nalar yang bisa bebas dari perasaan. Pemikiran Langer bisa membantu kita masuk ke bagian kedua dari tulisan ini, ketika kita merenungkan bagaimana teknologi dianggap telah dapat menyamai atau melampaui kapasitas berkesenian manusia. Melalui pemikiran Langer, kita diajak melihat kompleksitas manusia sebagai perbandingan ketika kita mulai membicarakan kelebihan dan kapasitas berkesenian kecerdasan buatan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagaimanakah kelanjutan dari kisah ini? Akankah manusia sungguh dilampaui oleh ciptaannya sendiri? Saya membuka kisah kita ini dengan mengutip Mazmur 8:4-6 untuk mengingatkan kita mengenai begitu kayanya deskripsi konsepsi manusia di dalam Kitab Suci. Pertanyaan autentikkah karya seni mesin akan menjadi kendaraan kita untuk kembali merenungkan pemahaman tentang manusia yang ada di balik isu ini. Semoga masih semangat untuk terus berpikir bersama, ya. <em>Soli Deo gloria</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Elya Kurniawan Wibowo<br>Jemaat GRII BSD</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Referensi</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Lambert Zuidervaart (2004) Artistic Truth: Aesthetics, Discourse, and Imaginative Disclosure.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hans Schwarz (2013) The Human Being: A Theological Anthropology.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">30004</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Mengikut Yesus</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/renungan/mengikut-yesus</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[heryanto]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Jul 2026 12:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Memikul Salib]]></category>
		<category><![CDATA[Mengikut Yesus]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=29940</guid>

					<description><![CDATA[Begitu banyak orang yang mengaku dirinya Kristen, merasa cukup dengan menjalankan kehidupan seperti rajin beribadah dan membaca Alkitab. Namun Tuhan Yesus memanggil kita untuk lebih dari sekadar beribadah dan membaca ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/renungan/mengikut-yesus">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Begitu banyak orang yang mengaku dirinya Kristen, merasa cukup dengan menjalankan kehidupan seperti rajin beribadah dan membaca Alkitab. Namun Tuhan Yesus memanggil kita untuk lebih dari sekadar beribadah dan membaca Alkitab. Ia mengundang kita untuk <em>mengikut Dia</em> dengan menyerahkan seluruh hidup kita. Tentunya ini tidaklah mudah, tetapi ini merupakan jalan yang memiliki arah yang pasti dan tujuan yang kekal.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Lukas 9:23</strong> <em>“Kata-Nya kepada mereka semua: Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.”</em></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Makna mengikut Yesus</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada tiga hal yang Yesus katakan mengenai bagaimana kita dapat mengikut-Nya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Pertama: Menyangkal diri</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita pasti akan berhadapan dengan penderitaan di tengah dunia yang telah berdosa ini. Kita tidak dipanggil untuk menghindari penderitaan di tengah dunia, tetapi kita dipanggil untuk siap menghadapi dan menanggung penderitaan di dalam Tuhan Yesus. Artinya kita rela melepaskan segala sesuatu yang selama ini kita pandang baik—keinginan pribadi dan semua hal yang tidak berkenan kepada Tuhan. Kita harus berkata “tidak” pada dosa, pada kebiasaan hidup yang lama, bahkan pada impian yang bertentangan dengan rencana Tuhan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Kedua: Memikul salib</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Salib merupakan puncak dari penderitaan, pengorbanan, dan ketaatan Tuhan Yesus terhadap Allah Bapa. Ketika mengikuti Yesus, kita harus siap sedia menanggung penderitaan, rela untuk memikul salib. Ini bukan berarti kita kemudian mencari penderitaan, namun jika salib itu disediakan bagi kita, kita harus memikulnya untuk mengikut Tuhan. Ini berarti kita mempersiapkan diri menghadapi segala tantangan, siap ditolak, bahkan siap mengalami ketidaknyamanan setiap hari, demi menghidupi dan melakukan apa yang benar di hadapan Tuhan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Ketiga: Mengikut Dia</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Mengikut Dia berarti kita menjadikan Tuhan Yesus sebagai teladan, arah, jalan, dan tujuan hidup. Mengikut-Nya menjadi dasar dari bagaimana kita bertindak di dalam kehidupan sehari-hari, ketika kita berbicara, bekerja, juga ketika kita berelasi dengan sesama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Melalui perenungan ini, kita merenungkan bahwa panggilan Tuhan adalah menyerahkan keseluruhan hidup secara penuh, karena kita dipanggil untuk menyerupai dan meneladani Kristus, dalam melakukan perbuatan nyata di tengah dunia. Kita dapat memulai dari hal-hal yang sederhana yang kita lakukan setiap hari, seperti hidup jujur di tempat kita bekerja ataupun tempat studi kita.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkin kita akan sering bertemu dengan orang-orang di sekitar kita yang berbuat curang atau mengambil jalan pintas untuk keuntungan pribadi mereka. Di dalam situasi dan kondisi demikian, mengikut Tuhan Yesus melalui hidup yang jujur merupakan kesempatan untuk memberikan kesaksian hidup yang mengikuti Tuhan. Meskipun sebagai konsekuensi, kita mungkin dijauhi, dihina, bahkan mungkin kehilangan pekerjaan kita.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita mungkin pula hidup di tengah keluarga yang selalu menjauhi kita, bahkan menganggap kita hina sebagai akibat dari sikap hidup kita dalam mengikut Yesus. Kita dapat memilih untuk mengampuni mereka. Kita dapat mengampuni karena sadar bahwa Tuhan Yesus telah terlebih dahulu mengasihi dan mengampuni kita, Ia telah mati di atas kayu salib untuk menebus dosa-dosa kita.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia juga yang telah memberikan kepada kita jaminan hidup yang sejati, yang membawa damai, harapan yang pasti menuju hidup yang kekal. Kita tidak akan tersesat, karena Ia adalah Gembala yang baik. Dalam Yohanes 8:12, Tuhan Yesus berkata: <em>“Akulah terang dunia; barang siapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.”</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Kiranya perenungan ini boleh terus mengingatkan kita akan makna mengikuti Yesus. Menjadikan kita makin mencintai Tuhan Yesus sebagai satu-satunya jalan keselamatan yang memberikan terang. Kita boleh menjadi anak-anak terang yang memancarkan kemuliaan Tuhan melalui segala tindakan kita di mana pun kita berada.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Soli Deo gloria.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Rohytlian Yomris Edi</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mahasiswa STTRI Konsentrasi Misiologi&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">29940</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Filsafat Asia: Bagian 32</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/transkrip/filsafat-asia-bagian-32</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[michaelleang]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 10 Jul 2026 16:25:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Transkrip]]></category>
		<category><![CDATA[Filsafat Asia]]></category>
		<category><![CDATA[Gentleman]]></category>
		<category><![CDATA[Konfusius]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=29891</guid>

					<description><![CDATA[Seorang yang agung takut akan tiga hal.&#160; Pertama, takut mandat Sorga. Seorang yang agung takut akan mandat Sorga, yaitu takut akan rencana dari Langit (Sorga). Jadi hidup di dunia ini ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/transkrip/filsafat-asia-bagian-32">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Seorang yang agung takut akan tiga hal.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertama, takut mandat Sorga. Seorang yang agung takut akan mandat Sorga, yaitu takut akan rencana dari Langit (Sorga). Jadi hidup di dunia ini haruslah hanya menjalankan apa yang dimandatkan terhadap seseorang dari Sorga. Inilah perintah dari Atas. Kalau yang di Sorga tidak senang, dan menjadi marah, maka saya akan sangat mengalami kesulitan. Pertimbangan inilah yang paling penting di dalam seseorang mengatur hidupnya. Kalau seseorang sudah menjadi mandiri, sudah berjaya, sudah sukses, sudah berkedudukan tinggi, sudah menjadi bos, menjadi pemimpin dan sudah tidak ada lagi yang bisa mengatur dia, maka ia sedang dalam bahaya. Ketika ia masih menjadi pegawai orang lain, dan masih memiliki pemimpin yang mengatur, ada manajer yang mengekang dia, sehingga dia tidak bisa sembarangan bergerak dan ada batasan yang boleh atau tidak boleh dia lakukan, maka ia lebih terjaga. Tetapi ketika sudah sendiri dan mandiri, apalagi memiliki kekuasaan yang luar biasa besar, saat itu akan menjadi waktu pengujian yang serius akan seberapa agungnya dia. Pertama, apakah dia takut akan Tuhan atau tidak. Orang yang tidak takut kepada Tuhan akan bisa mengerjakan segala macam kejahatan yang lebih jahat dari binatang. Tetapi orang yang masih takut kepada Tuhan, bagaimana dia memiliki kebebasan, dia akan tetap mampu mendisiplin dirinya sendiri.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kedua, takut kepada orang-orang yang agung, yang besar. Ia akan takut dan hormat kepada orang-orang yang lebih agung dari dia. Jadi, orang agung menghargai orang yang besar. Seperti, misalnya, setelah engkau membaca tulisan Konfusius, engkau mengagumi dia dan mulai menghormati dia. Nah, itulah gentleman. Ketika engkau melihat ada teori yang sangat bagus, dan engkau mulai mengaguminya, mempelajarinya, dan menjalankannya, maka engkau adalah orang agung. Ketika orang main-main ketika mendengarkan khotbah yang baik, ketika harus mendengar filsafat yang penting engkau tidak hiraukan, dan ajaran yang penting engkau injak-injak dan hina, maka engkau adalah orang hina (xiao ren). Jadi kita harus belajar menghargai dan menghormati semua orang yang sukses, yang agung, yang hidupnya memiliki mutu.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketiga, takut kepada perkataan-perkataan orang saleh. Orang yang agung sangat memperhatikan perkataan-perkataan dari orang yang saleh dan agung. Jadi ketika orang-orang suci mengatakan suatu kalimat yang penting, itu harus dipertahankan dan dijalankan. Hal ini karena kita harus takut dan hormat pada orang-orang suci itu. Yang dianggap saleh adalah orang-orang kuno yang besar. Konfusius mengatakan, “Saya seumur hidup hanya mengejar dua hal, yaitu: 1) jujur dan 2) belajar dari orang kuno.” Orang kuno yang dianggap saleh oleh Konfusius ada banyak. Raja yang tidak nepotisme sangat dihormati. Zhou Gong sangat dia hormati. Itu semua adalah raja-raja yang begitu berbijaksana. Dia juga hormat sekali kepada Zi Jian (Min Sun). Ketika Zi Jian menjadi seperti seorang presiden di masa kini, dia memerintah dengan sangat keras, semua orang marah karena menganggap dia terlalu keras, terlalu disiplin. Tetapi setelah raja itu mati, seluruh negara menjadi miskin luar biasa. Baru pada saat itu orang menyadari bahwa mereka dahulu memiliki pemimpin yang begitu baik. Jadi Konfusius mengatakan bahwa orang hebat adalah orang yang baru diingat setelah orangnya mati. Jangan kita melupakan keagungan orang-orang yang meninggal.&nbsp;</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">Ketika engkau melihat ada teori yang sangat bagus, dan engkau mulai mengaguminya, mempelajarinya, dan menjalankannya, maka engkau adalah orang agung. Ketika orang main-main ketika mendengarkan khotbah yang baik, ketika harus mendengar filsafat yang penting engkau tidak hiraukan, dan ajaran yang penting engkau injak-injak dan hina, maka engkau adalah orang hina (xiao ren).</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Begitu banyak kesempatan di mana engkau berada di dalam satu situasi atau di dalam lingkungan hadirnya orang agung, tetapi engkau tidak menghargainya. Itu terjadi karena engkau sering kali berpikir itu adalah hal biasa, bukan istimewa, padahal banyak kesempatan yang ada pada zaman kita, mungkin tidak terulang lagi dalam 500 tahun yang akan datang. Oleh karena itu, Konfusius mengatakan, ketika Zi Jian mati, syair di kalangan rakyat berbeda dengan syair baginya ketika ia belum mati. Jadi Konfusius melihat pada zamannya kondisi sudah tidak karuan. Pada zamannya, ada orang yang membunuh ayahnya sendiri, ada orang yang menyeleweng dan memiliki banyak istri, ada yang menjual orang tua atau berbuat kurang ajar, juga ada yang memasukkan ayahnya ke dalam penjara. Konfusius mengatakan jika kondisi masyarakat sudah sedemikian kacau, nanti akan menjadi apa. Dia mengatakan, orang suci hanya bisa mengeluh tentang masyarakat yang penuh kerusakan. Mari kita belajar dari orang kuno yang baik-baik itu, yang mau mempelajari kalimat-kalimat orang agung dan kemudian mengajarkannya kepada murid-muridnya. Dia mengatakan bahwa yang disebut orang suci adalah kehidupan moralitasnya, bukan kekayaannya. Di dalam pikiran Konfusius, orang kaya tidak tentu hidupnya agung. Keagungan selalu bersifat moral, karakter, jiwa, dan watak seseorang, bukan di dalam harta benda.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seorang agung menyempurnakan orang-orang lain di dalam hal-hal yang baik dan tidak menyukseskan hal-hal yang merusak orang lain. Jadi orang agung senang ketika melihat orang lain sukses. Orang lain ketika berusaha di aspek-aspek yang baik dan dengan segala rencana yang baik, haruslah kita dorong supaya semua yang baik itu bisa terjadi. Orang picik justru sebaliknya. Ia tidak suka melihat hal-hal baik dari orang lain dan berusaha untuk menggagalkan atau merusaknya. Orang kecil atau orang picik akan berusaha menjatuhkan, memfitnah, merusak kesuksesan orang lain. Senang akan kesuksesan orang lain, mau melengkapi kesuksesan orang lain, menyempurnakan kemungkinan orang lain untuk dapat lebih sukses lagi, adalah jiwa yang agung dari orang yang agung.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Orang kecil atau orang picik (xiao ren) senang jika orang lain mengalami hal yang buruk. Ketika hal buruk terjadi kita tertawa dan bahkan mengutuki supaya lebih celaka lagi. Itu adalah hal yang tidak baik. Orang agung ingin engkau cepat sukses, engkau cepat pandai, dan selalu menginginkan kebaikan orang lain. Orang agung selalu memiliki kata-kata yang ingin mendorong orang lain maju, mendoakan orang lain sukses, ingin orang lain mengalami kehidupan yang lancar dan penuh damai sejahtera, ingin orang lain sehat dan berkondisi baik, ingin setiap orang bisa bertobat dan hidup suci. Sebaliknya, orang kecil senang kalau orang lain celaka.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jadi, peribahasa Tionghoa mengatakan, “Orang kecil itu mengerjakan dua hal, yaitu: 1) mengutuki dan 2) menjerumuskan.” Orang kecil, pertama, ketika orang lain celaka, ia akan senang dan mensyukurinya; kedua, ketika ada yang terkena hal yang tidak baik atau mengalami kecelakaan, bukan ditolong tetapi makin didorong untuk lebih jatuh atau lebih celaka lagi. Inilah sifat dan sikap orang kecil. Semua hal yang direncanakan orang lain yang baik haruslah disyukuri, tetapi jangan mensyukuri dia yang sudah sakit atau mendapat kecelakaan.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya tahu ada seorang ibu mengajar anaknya untuk membenci seorang musuhnya. Akhirnya, ketika anak itu sudah besar, ia membenci ibunya sendiri, karena dia sudah diajar oleh ibunya, kalau sudah tidak suka harus membencinya. Jadi ketika ia sudah mulai dewasa dan mengerti, maka ia membenci ibunya. Orang ini saya kenal sendiri dan sekarang dia susah luar biasa. Itu karena dia orang picik (xiao ren). Hari itu dia benci seseorang karena orang itu salah mengerti dan dianggap memfitnah dia. Dia menjadi susah sekali, lalu dia mengatakan bahwa dia harus menanamkan kebencian kepada anaknya. Saya sudah memperingatkan dia dan mengatakan untuk jangan melakukan hal itu, karena itu nanti akan kembali kepada dia. Itu terjadi kira-kira 25 tahun yang lalu. Saya sudah berusaha berbicara dan menghalangi ibu itu berbuat demikian. Tetapi ibu itu terus bersikeras untuk mau menanamkan kebencian ini kepada anaknya, supaya anaknya tahu siapa musuh ibunya, siapa kawan ibunya, supaya kelak bisa membalas dendamnya. Saya mengingatkan bahwa jangan beranggapan ketika kita melibatkan orang lain untuk membenci orang lain itu akan menguntungkan dirinya, tetapi sebaliknya justru akan rugi, karena akan menanamkan kebencian kepada diri sendiri. Dan 25 tahun kemudian, dia mengalami balasannya sendiri.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya mengatakan, biarkan anaknya menilai sendiri, karena setiap orang memiliki matanya sendiri. Kita berusaha memaparkan fakta itu boleh, tetapi fakta itu membuat orang itu membenci orang lain itu tidak boleh. Anak kita harus kita ajar untuk dia bisa memiliki jiwa yang menuju ke atas, bukan ke bawah. Kita harus mengajar anak kita untuk mengampuni, ajar anak kita untuk tidak suka mengadu, ajar anak kita untuk bisa menghormati orang tua. Semua ajaran itu nanti akan kena dan kembali kepada diri kita sendiri. Nanti setelah dia besar, dia akan memberikan itu menjadi hadiah bagimu pada saat engkau pensiun. Ini adalah hal yang sangat penting. Jangan menanamkan kebencian kepada generasi kedua, karena mereka tidak bertanggung jawab untuk meneruskan kebencianmu.&nbsp;</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">Anak kita harus kita ajar untuk dia bisa memiliki jiwa yang menuju ke atas, bukan ke bawah. Kita harus mengajar anak kita untuk mengampuni, ajar anak kita untuk tidak suka mengadu, ajar anak kita untuk bisa menghormati orang tua.</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika orang lain yang sukses walaupun sebenarnya dia tidak pantas sukses, lebih baik kita syukuri saja. Silakan restui saja dan jangan dikutuk. Orang Korea mengatakan, sebelum kutukan keluar dari mulutmu, kata itu akan melekat di bibirmu terlebih dahulu sebentar. Itu akan mencelakakan kamu. Sebelum hal celaka itu tiba di mulutmu, melekat di bibir dahulu. Jadi badanmu dan mulutmu sudah kena cemar dari kutukan itu dahulu sebelum keluar dari mulutmu.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Orang yang terus-menerus memperkenalkan keburukan orang lain, pada saat yang sama ia sedang memperkenalkan dirinya sendiri yang suka menjelekkan orang lain. Jadi belajar selalu merestui. Alkitab juga mengajarkan hal itu. Hidup yang selalu memberkati orang lain, merestui orang lain, bukan mengutuki. Kalau orang memang keterlaluan, engkau tidak perlu marah-marah. Kalau memang dia keterlaluan, biar nanti Tuhan yang memotong bagian keterlaluan itu. Tetapi jika kamu mulai mengutuki, maka nanti Tuhan akan memotongmu sekaligus, karena kamu juga sudah ikut keterlaluan.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seorang perempuan datang kepada pendeta dan berkata, “Pak Pendeta, engkau tadi berkhotbah bagus sekali, sayang dasimu terlalu panjang, perlu dipotong.” Kemudian pendeta itu menjawab, “Nyonya, hatimu baik sekali, sayang lidahmu terlalu panjang sedikit, harus dipotong.” Amin.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">29891</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Berhati-hatilah Pada Godaan Dunia</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/renungan/berhati-hatilah-pada-godaan-dunia</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[michaelleang]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 09 Jul 2026 00:06:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Kejatuhan]]></category>
		<category><![CDATA[Pembuangan]]></category>
		<category><![CDATA[Yehuda]]></category>
		<category><![CDATA[Zedekia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=29880</guid>

					<description><![CDATA[2 Raja-raja 25:7 (TB) Orang menyembelih anak-anak Zedekia di depan matanya, kemudian dibutakannyalah mata Zedekia, lalu dia dibelenggu dengan rantai tembaga dan dibawa&#160;ke&#160;Babel.&#160; Tragis.&#160; Itulah yang terjadi pada Raja Zedekia, ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/renungan/berhati-hatilah-pada-godaan-dunia">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">2 Raja-raja 25:7 (TB) Orang menyembelih anak-anak Zedekia di depan matanya, kemudian dibutakannyalah mata Zedekia, lalu dia dibelenggu dengan rantai tembaga dan dibawa&nbsp;ke&nbsp;Babel.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tragis.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Itulah yang terjadi pada Raja Zedekia, raja terakhir Yehuda, yang berkuasa di Yerusalem. Di hadapan matanya sendiri, ia melihat orang-orang dari Babel, bangsa barbar yang tidak mengenal Tuhan, menyembelih anak-anaknya. Darah dagingnya sendiri. Anak-anaknya satu demi satu diseret. Pedang satu demi satu dihunuskan dan digunakan untuk mengakhiri nyawa anak-anaknya itu. Perih dan pedih hatinya menyaksikan anak-anaknya mendapatkan perlakuan yang begitu kejam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tetapi penderitaan batin Zedekia belum berakhir. Kematian anak-anaknya itu bahkan tak sempat ditangisinya. Matanya tak sempat mengeluarkan air mata kesedihan. Karena segera sesudah melihat kekejaman itu, mata Zedekia pun dibutakan. Tak ada duka yang begitu mendalam selain dari keadaan itu. Tak sempat memuaskan mata karena kehilangan anak-anak, ia segera kehilangan mata sendiri. Tak sempat melihat setidaknya untuk terakhir kalinya anak-anaknya terbujur kaku, mata Zedekia dicungkil.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan dalam keadaan seperti itu, ia dibelenggu, diseret ke Babel. Ia dibuang ke negeri yang jauh dari tanah kelahirannya. Bersedih dan berduka tak lagi sempat, apalagi melawan. Zedekia bahkan tak pernah bisa kembali lagi melihat kerajaan Yehuda di Yerusalem.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kisah Zedekia adalah kisah sebuah bangsa yang berakhir begitu kelam. Negeri itu dahulunya berlimpah susu dan madu, begitu makmur. Namun kemudian menjadi negeri yang hina dina dan miskin papa, dihisap oleh negara-negara tetangganya. Negara itu dahulunya begitu kuat dan penuh kejayaan, begitu ditakuti oleh orang lain. Namun seluas mata memandang, di seantero negeri itu hanya tinggal puing-puing. Rumah Tuhan yang begitu indah dan pernah membuat bangsa-bangsa lain tunduk terhormat, kini porak-poranda. Bangsa yang dahulunya begitu perkasa dan gagah berani, kini hanya ditinggali orang-orang yang lemah. Negara yang dahulunya penuh dengan para pahlawan perang, disegani kawan, dan ditakuti musuh, kini para teruna dan anak-anak mudanya diangkut paksa ke tanah tempat para dewa Babel di Sinear.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Itulah yang terjadi pada bangsa Israel yang jauh-jauh dibawa dari Mesir, ditentukan sebagai anak, dijadikan bangsa pilihan, tetapi justru melawan Tuhan.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bangsa itu tergoda pada hidup bangsa-bangsa di sekitar mereka. Diminta memusnahkan bangsa barbar, mereka tergoda berbelaskasihan yang tak perlu. Diminta memuliakan Tuhan sebagai satu-satunya Raja, mereka tergoda punya raja sendiri. Diminta taat pada pimpinan Tuhan, mereka tergoda mengandalkan kekuatan manusia, baik diri mereka sendiri maupun bangsa kafir. Diminta menggunakan hikmat kebijaksanaan Tuhan, mereka tergoda membangun kejayaan diri sendiri.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berkali-kali Tuhan kirim peringatan agar mereka kembali pada Tuhan, bahwa mereka harus memulihkan hubungan dengan Tuhan yang begitu mengasihi mereka sejak zaman dahulu kala. Tak juga berubah. Belasan peristiwa Tuhan sajikan di depan mata mereka, agar bangsa itu hanya percaya pada Tuhan semata. Tak mempan mendidik mereka. Berganti-ganti nabi Tuhan kirimkan menyampaikan pesan agar bangsa itu berpaling kepada Tuhan. Tak juga bangsa itu mendengarkan. Kejatuhan Israel Utara kerap dijadikan contoh agar Yehuda bertobat dari kebebalan. Tuhan tetap tak dianggap.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Maka pasukan Babel pun tiba. Pemusnahan negara itu oleh bangsa penyembah berhala, adalah bukti jika godaan menjadi serupa dengan bangsa sekitar, memilih meninggalkan Tuhan, berakhir pada nasib tragis. Alih-alih beroleh kejayaan, bangsa itu dilucuti habis. Seorang raja yang dibutakan, dibelenggu, dan dikirim ke pembuangan adalah wujud tak berharganya lagi sebuah bangsa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Godaan menjadi serupa dengan dunia sekitar adalah tantangan siapa pun. Gereja masa kini, komunitas orang beriman masa kini, individu beriman masa kini, tak luput dari hal yang sama. Mungkin kita hidup di sebuah gereja besar. Mungkin kita berada dalam persekutuan yang begitu indah. Mungkin kita hidup dalam keluarga yang mempraktikkan kasih. Mungkin kita adalah teruna-teruna iman yang begitu baik.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ribuan tahun yang lalu, Zedekia dan bangsa itu menutup mata mereka dari memandang Tuhan. Mereka memilih membuka mata pada kemewahan, kemegahan kehidupan tanpa Tuhan. Mereka memilih membuka mata pada tradisi nenek moyang, pada kata-kata bijak dari dunia. Mereka memilih membuka mata pada kepintaran dunia, pada ilmu ukuran dunia. Mereka memilih membuka mata pada cara hidup manusia kafir, pada cara mereka mematut diri. Mereka memilih membuka mata pada ajaran dunia, pada setiap narasi dan bicara mereka. Mereka memilih membuka mata untuk hal-hal yang tak disukai Tuhan.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berhati-hatilah. Kisah Yehuda, Zedekia, dan bangsa yang terbuang itu bisa saja terjadi pada kita. Sebab sejarah dapat berulang dengan caranya sendiri. Semua yang ada di sekeliling kita saat ini begitu menggoda. Kita berada dalam dunia yang terlihat begitu rupawan dan agung. Kita berada dalam dunia yang terlihat begitu bijak dan baik. Kita berada dalam dunia yang tampak ramah dan benar.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berhati-hatilah. Gereja yang besar, persekutuan yang besar, individu yang beriman besar, bisa tinggal menjadi sekadar pernah bernama besar.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tragis.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fotarisman Zaluchu<br>Jemaat GRII Medan</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">29880</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Dua Kota: Perziarahan Umat Kristiani</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/isu-terkini/dua-kota-perziarahan-umat-kristiani</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[heryanto]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 04 Jul 2026 08:18:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Isu Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Agustinus]]></category>
		<category><![CDATA[city of god]]></category>
		<category><![CDATA[pancasila]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=29647</guid>

					<description><![CDATA[Apabila kita mempelajari kehidupan seorang pengikut Yesus, perjalanan kita di tengah dunia ini bagaikan seorang musafir yang diutus ke tengah dunia. Bagi yang cukup familiar dengan buku yang ditulis oleh ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/isu-terkini/dua-kota-perziarahan-umat-kristiani">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Apabila kita mempelajari kehidupan seorang pengikut Yesus, perjalanan kita di tengah dunia ini bagaikan seorang musafir yang diutus ke tengah dunia. Bagi yang cukup <em>familiar</em> dengan buku yang ditulis oleh John Bunyan, <em>The Pilgrim’s Progress</em> (Perjalanan Sang Musafir), kita akan menemukan suatu cerita tentang setiap diri kita, engkau dan saya, dalam suatu peziarahan batin menuju kota Allah (<em>the celestial city</em>). Perjalanan tersebut bermula dengan seorang bernama “Kristen” yang harus meninggalkan kota kehancuran (<em>the city of destruction</em>). Dia harus memilih untuk mengikut perintah dalam Kitab Suci untuk meninggalkan Kota Dunia atau memilih untuk berdiam bersama keluarganya. Maka, protagonis itu meninggalkan keluarganya dan berjalan menuju Kota Allah, suatu kota yang akhirnya dia capai setelah melalui lembah kematian. Tidak hanya itu, seisi keluarga protagonis, Kristiani dan ketiga putranya, juga menyusul jejak sang ayah menuju Kota Surga yang dijanjikan itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Novel berbahasa Inggris pertama yang ditulis oleh John Bunyan adalah suatu buku yang ditulis pada masanya di balik penjara. John Bunyan menulis suatu karya besar yang sampai hari menjadi buku kedua yang paling banyak dibaca selain daripada Alkitab. Buku <em>The Pilgrim’s Progress</em> sudah diadopsi menjadi suatu film, dan saya sangat menganjurkan para pembaca untuk membaca dan menonton, serta mengantarkan cerita <em>The Pilgrim’s Progress</em> sebagai salah satu koleksi cerita fiksi Kristen yang diberikan kepada anak-anak. Selain dari <em>Chronicles of Narnia</em> dari C.S Lewis, <em>The Lord of The Rings</em> dari J.R.R Tolkien, karya John Bunyan turut menjadi suatu karya fiksi Kristen yang bisa kita pelajari dan nikmati bersama. Mereka adalah sastrawan Kristen yang merangkum kisah Alkitab dalam bentuk fiksi yang tidak terlupakan. Dari manakah konsep peziarahan dan pertarungan rohani ini berasal?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam kesempatan ini, saya ingin mengajak para pembaca untuk berkenalan dengan suatu buku <em>The City of God</em>, suatu karya dari Agustinus dari Hippo. Bapak Agustinus menulis sangat banyak buku. Di antara yang ternama adalah Pengakuan-Pengakuan (<em>The Confessions</em>) dan Kota Allah (<em>The City of God</em>). Karya pertama bercerita tentang perjalanan Agustinus menuju pertobatan dan juga bagaimana dia memandang anugerah Allah yang dikaruniakan kepadanya melalui sang ibu Monika dan sang guru Ambrosius, yang pada akhirnya mengubah seorang manusia yang kecanduan dengan nafsu badaninya, menjadi bapak gereja besar dalam gereja Barat, baik itu gereja Katolik maupun Protestan historis. Karya kedua adalah suatu kumpulan tulisan sistematik dari Agustinus yang merangkai suatu susunan doktrinal secara sistematik, serta menjadi suatu tulisan apologetis yang menolak tuduhan orang Roma yang mengkambinghitamkan orang Kristen atas kehancuran kekaisaran Romawi. Agustinus menulis berbagai karya tentang para dewa, kehancuran Romawi yang disebabkan oleh dosa, serta posisi umat Kristiani di tengah dunia untuk menjadi garam dan terang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apabila teman-teman membaca karya Kota Allah, kita akan <em>relate</em> dengan permasalahan sosial yang sedang kita hadapi di Indonesia. Agustinus membedakan kota Dunia dan kota Allah. Salah satu kota bekerja dengan prinsip kekuasaan yang tertuju kepada kematian, yang satu lagi bekerja dalam prinsip kasih yang tertuju kepada hidup yang kekal. Di tengah dunia, kita semua sedang berada dan menduduki Kota Dunia, baik itu orang yang percaya Yesus maupun tidak. Kita hidup dalam suatu sistem yang beroperasi dalam logika kekuasaan (<em>will-to-power</em>). Akan tetapi, di kota tersebut juga ada umat Kristiani yang kewarganegaraan asalinya berasal dari Kota Allah, yang sedang mengalami proses peziarahan untuk bersaksi di Kota Dunia, beradaptasi dan melakukan resistensi terhadap tawaran dunia. Demikian juga dengan kondisi kita saat ini, kita sedang berada di “Kota Dunia Indonesia”. Sistem kekuasaan Jawa dengan siklus naik-turunnya raja Jawa dan ratu Adil, serta pertarungan antara “dua matahari” yang sedang menyebabkan konflik politik Prabowo-Jokowi, menjadi suatu gempa yang mengganggu sistem yang sedang bekerja saat ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagaimana kita sebagai umat Kristiani harus hidup dan bersaksi di tengah kota dunia Indonesia?</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Sistem Kekuasaan dalam Kota Dunia</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Apabila kita mempelajari sejarah Nusantara, yaitu sebelum lahirnya Indonesia sebagai negara-bangsa yang berdaulat, kerajaan Majapahit seringkali dipandang sebagai suatu “negara prototipe”. Luas wilayah Majapahit berkembang dengan sangat besar, layaknya kekaisaran Romawi di Eropa Barat dan Timur pada saat itu. Bayangan masyarakat Nusantara yang bangga akan masa keemasan dan kejayaan Nusantara berpijak pada kerajaan Majapahit itu. Raja Jawa Hayamwuruk dan jenderal besarnya Gajah Mada menjadi tokoh-tokoh besar yang membuat mereka ingin membawa Indonesia kembali ke masa kerajaan itu. Setelah kolonialisme VOC-Belanda dan Jepang, masa revolusi Indonesia menginginkan suatu gerakan kembali kepada situasi sosial pada masa majapahit. Pada masa Orde Lama dan Orde Baru, tokoh kharismatik seperti Soekarno dan Soeharto adalah refleksi dari bangkitnya Raja Jawa yang mencoba membawa kembali kerajaan Majapahit ke dalam konteks Indonesia pasca kemerdekaan. Tidak hanya itu, konsep utopis “Indonesia Emas 2045” juga merujuk kepada kerajaan Majapahit yang dulunya pernah mengalami masa keemasan yang tidak tertandingi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu, apa yang menjadi masalah dengan “Kota Dunia Majapahit” di Indonesia?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu permasalahan yang kita hadapi dalam masyarakat Indonesia adalah terjadinya pengkultusan terhadap raja Jawa dan sentralisasi kekuasaan yang berakibat pada korupsi.<a> Pada artikel sebelumnya, <em>Kegelapan di Balik Janji Emas</em>,</a><a href="#_msocom_1">[1]</a>&nbsp; saya pernah menjelaskan tentang struktur kekuasaan yang dipahami dalam kebudayaan Jawa.<a href="#_ftn1" id="_ftnref1">[1]</a> Pada dasarnya, kebudayaan Jawa menitikberatkan keabdian individu kepada Allah sebagai Satu Asal (Sang Gusti, <em>Sang Hyang Tunggal</em>) dan membangun <a>harmon</a><a href="#_msocom_2">[2]</a>&nbsp;i dalam kehidupan sosial dan ekologis. Kehadiran raja Jawa sebagai raja dan orang sakti berperan sebagai titik sentral untuk membangun harmonisitas antara dunia alam, dunia sosial, dan dunia spiritual. Titah sang raja dipandang sebagai suara nabi yang akan berdampak ke dalam kehidupan sosial, dan posisinya sebagai imam berdiri di antara dunia spiritual dan dunia alam. Jadi, seorang raja Jawa betul-betul mempunyai posisi yang sangat penting dalam benak masyarakat Jawa. Di Indonesia, sosok raja Jawa dapat ditemukan dalam kehadiran Sultan di Yogyakarta dan para presiden yang menduduki takhta kekuasaan dalam panggung pemerintahan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam hal ini, sebagai warga Indonesia, kita dapat mengkritik konsep kekuasaan yang ditawarkan dalam konsep raja Jawa di tengah Kota Dunia Indonesia. Yang pertama, secara konstitusional seorang presiden bukanlah raja Jawa. Presiden bertanggung jawab kepada rakyat yang memilihnya melalui pemilihan umum. Dalam sistem pemerintahan republik, rakyat berhak untuk meminta pertanggungjawaban dari presiden, bahkan untuk menjatuhkannya melalui MPR-DPR apabila terjadi suatu pelanggaran yang sungguh mengecewakan. Sistem republik yang ditawarkan oleh Jean-Jacques Rousseau dalam karyanya, Kontrak Sosial (<em>The Social Contract</em>), menandakan bahwa pemimpin tertinggi negara sekalipun wajib tunduk kepada hukum dan suara rakyat. Dengan kata lain, apabila kita merasa tidak puas terhadap presiden, sepatutnya kita tidak memandang presiden sebagai raja yang mengatasi hukum maupun rakyat yang memilihnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang kedua, andaikan seorang presiden mengambil posisi sebagai raja Jawa serta melakukan sentralisasi kekuasaan yang absolut, maka itu menjadi suatu pelanggaran terhadap prinsip kekuasaan. Dalam hal ini, terdapat suatu kecenderungan dari kekuasaan Jawa untuk menjadi Leviathan. Menurut Thomas Hobbes, Leviathan adalah sosok penguasa yang menakut-nakuti rakyat agar tidak melakukan pelanggaran hukum dan pelanggaran moral. Demi membangun kestabilan sosial dan harmoni, maka Leviathan menjadi sosok monster yang memegang kendali penuh atas masyarakat. Selain Leviathan, tidak boleh ada entitas lain yang boleh memegang kekuasaan, termasuk kekuasaan yang bersifat sisa, agar seluruh kestabilan sosial dapat terjadi. Segala cara dapat dihalalkan selama kekuasaan absolut dapat dipertaruhkan untuk menjaga harmoni. Tampaknya, nuansa kekuasaan seperti ini cenderung terkesan <a>Machiavellian</a><a href="#_msocom_3">[3]</a>&nbsp;.<a href="#_ftn2" id="_ftnref2">[2]</a> Akan tetapi, bila teman-teman membaca berita tentang bagaimana para pemimpin berkuasa, bagaimana oposisi disogok, diberikan kue, dan ditelan untuk tidak lagi memperhatikan kelompok rakyat kelas bawahnya sendiri, kita akan melihat dengan jelas pola-polanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Ketika Sistem Matrix Runtuh</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi sebagian besar orang Indonesia, sistem kekuasaan Jawa adalah suatu <em>default system</em> yang menjadi <a>sistem matrix </a><a href="#_msocom_4">[4]</a>&nbsp;yang menguasainya.<a href="#_ftn3" id="_ftnref3">[3]</a> Itu adalah realitas satu-satunya yang dihidupi dan dipercaya sebagai jalan kehidupan. Ketika calon pemimpin dan sosok ratu adil yang menjadi sosok mesianis mencoba untuk naik dalam panggung pemerintahan, mereka akan melakukan kampanye dengan menawarkan roti dan sirkus (<em>bread and circus</em>). Bodohnya, melalui sistem demokrasi yang sudah matang secara prosedural, masyarakatnya dapat dihipnotis oleh “makan siang gratis” (<em>bread</em>) dan joget-joget tiktok (<em>circus</em>). Hal itu terjadi karena mayoritas masyarakat Indonesia kurang terdidik <em>dan</em> tidak sadar akan nurani kebangsaan. Menurut Yohanes Calvin, “apabila Allah ingin menghakimi suatu bangsa, maka Allah akan membangkitkan seorang pemimpin bengis untuk bertakhta atas bangsa itu”. Jika Allah sedang membangkitkan pemimpin yang keras dan korup, yang memandang rakyatnya sebagai salah satu anomali statistik, itu menunjukkan bahwa selama ini masyarakat Indonesia sudah banyak melakukan kesalahan: melupakan sejarah, memilih pemimpin yang memainkan hukum, dan memandang rendah etika. <a>Dalam artikel <em>Kegelapan di Ujung Kekuasaan</em></a><a href="#_msocom_5">[5]</a>&nbsp;, saya memandang bahwa masyarakat kita sudah mengalami perasaan menyesal yang mendalam, tetapi tidak mampu melakukan apa-apa.<a href="#_ftn4" id="_ftnref4">[4]</a></p>



<p class="wp-block-paragraph">Di tengah dua matahari yang saling bertarung dalam “saling melanjutkan” sekaligus “saling menggeser” satu sama lain, banyak sekali jiwa-jiwa yang menjadi korban ekonomi, korban politik, dan korban ekologis. Pada satu sisi, matahari lama (Jokowi) mulai terbenam dan memantau kondisi negara dari belakang layar dan di balik putranya yang menduduki posisi sebagai wakil presiden. Di sisi yang lain, matahari baru (Prabowo) mulai bangkit dan mencoba untuk menggeser Raja Jawa yang lama. Kubu kejaksaaan menjebak orang-orang Jokowi dalam hukuman penjara, kubu KPK menjatuhkan orang-orang Prabowo dalam kasus pemeriksaan korupsi. Yang satu dengan tim kepolisian, yang satu lagi dengan tim tentara. Siapa yang naik dan diturunkan dalam proses <em>reshuffle </em>kementerian menunjukkan negosiasi dan perebutan posisi politik tersebut. Tarik ulur dalam tali tambang tersebut menimbulkan banyak friksi dan peperangan internal dalam panggung pemerintahan. Korbannya, tokoh-tokoh masyarakat yang tulus dan juga masyarakat akar rumput yang sedang sekarat secara ekonomis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada saat ini, ketika dua matahari saling bertarung, situasi bangsa-negara sedang mengalami suatu ketidakpastian yang sungguh mengkhawatirkan. Apakah nantinya hanya salah satu matahari yang berkuasa? Atau jangan-jangan, nanti akan muncul matahari ketiga yang akan menguasai dan menggeser dua yang sebelumnya. Entah apa pun itu hasilnya, panggung kekuasaan yang sedang bekerja saat ini sedang digelut oleh para tokoh yang ingin berkuasa, menyingkirkan dan menginjak yang lain untuk mengambil posisi yang lebih tinggi, atau kalau dia harus jatuh &#8211; dia akan menyeret yang lain bersamanya. SItuasi saat ini menjadi suatu bahan tontonan yang sangat kasar dan kotor, suatu pendidikan kewarganegaraan yang sangat bertolak belakang dengan prinsip-prinsip yang termuat dalam Pancasila.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagaimana setiap kekuasaan itu ada titik retaknya bila dikumpulkan terlalu kuat, maka demikian juga kita sedang melihat fase “retak menuju pecah”. Di bulan-bulan dan tahun-tahun yang mendatang, kita akan menyaksikan kenaikan biaya hidup, demonstrasi, kerusuhan, konflik internal militer yang akan mengarah kepada tindakan makar. Dalam skenario terbaik, kita akan melewati fase pemilihan pemimpin yang baru secara konstitusional pada tahun 2029 dengan kondisi finansial dan institusional yang sudah sangat buruk. Dalam skenario sedang, proses pemilihan presiden dan wakil presiden baru terpilih secara konstitusional walaupun dipenuhi dengan nuansa kerusuhan. Terakhir, dalam skenario terburuk, akan terjadi kerusuhan besar, berbagai kematian yang berdarah, dan juga perang sipil-militer antar kubu dan antara fraksi politik dan kelas ekonomi yang melibatkan unsur SARA (suku, agama, dan ras).</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Warganegara Kerajaan Allah</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah kita memaparkan tentang kota dunia, dan dalam hal ini, sistem kekuasaan pada masyarakat Indonesia, kita akan melanjutkan analisis dengan posisi umat Kristiani di tengah krisis kekuasaan. Umat Kristiani bukanlah mereka yang lepas dan terkarantina dari realitas hidup. Sakit pahit yang terjadi di dunia juga turut dirasakan oleh warga kerajaan Allah. Perbedaannya adalah ketika warga dunia merasa kota Dunia adalah <em>satu-satunya realitas sosial</em> yang dihidupinya. Bagi mereka yang merasakan Kota Dunia sebagai satu-satunya realitas hidup, mereka akan melakukan segala cara, dengan mengkonstruksikan utopia dan menjalankan kekerasan untuk mewujudkan cita-cita fantasi itu.&nbsp; Sebaliknya, umat Kristiani menyadari bahwa realitas kota Dunia hanyalah <em>salah satu Mesir</em> yang sedang dihadapinya &#8211; masih ada Kota Perjanjian yang menanti di ujung perjalanan hidup yang sementara ini, dan Raja dari Kota Allah itu sudah hadir bersama-sama kita untuk berperang di tengah dunia yang rusak. Kita tidak perlu mengkonstruksikan utopia tersebut yang hanyalah suatu proyeksi dari hati manusia yang berdosa: entah itu populisme, komunisme, nazisme, fasisme, radikalisme menuju negara agama, dan berbagai janji-janji emas tentang Indonesia &#8211; itu semua hanyalah suatu fantasi ideologis dari keinginan hati manusia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk membawa kesejahteraan ke Kota Dunia, umat Kristiani perlu mempelajari nilai-nilai kemanusiaan yang masih menjadi anugerah umum. Lalu, kita melakukan interpretasi ulang terhadap anugerah umum tersebut dengan lensa interpretatif anugerah khusus, yaitu kisah Injil dalam Alkitab. Sebagai suatu contoh, ketika sistem kekuasaan Jawa mencoba untuk melakukan sentralisasi kekuasaan, Alkitab justru mengajarkan yang sebaliknya. Posisi raja-imam-nabi harus dipisahkan satu sama lain layaknya sistem <em>trias politica</em>. Kecuali Tuhan Yesus yang berdaulat penuh tanpa dosa yang bisa menjabat sebagai raja-imam-nabi, maka tidak ada manusia lain yang mampu dan berhak mengambil seluruh bidak catur kekuasaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Contoh yang lain, ketika ratu adil mencoba untuk menjadi sosok mesianik yang kharismatik untuk mewakili bangsa dan menggantikan kuasa negara. Raja Jawa maupun ratu adil yang adalah manusia berdosa ingin naik dan mempertahankan kekuasaan. Sekali naik, mereka tidak ingin turun. Manusia, dalam keberdosaannya, ingin menjadi allah &#8211; atau menggantikannya dengan menduduki takhta kekuasaan di tengah dunia. Sebaliknya, Tuhan Yesus yang adalah raja di atas segala raja, menjadi manusia dan mati baginya. Allah dan Sang Raja satu-satunya justru turun, melepaskan kekuasaan, dan menyerahkan diri-Nya untuk penebusan dosa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apabila kita ingin memahami bagaimana sistem kekuasaan yang sejati bekerja, maka kita perlu belajar dari cara kerja Allah dalam menghadapi kekuasaan yang berlaku dalam dunia. Api tidak dapat menghanyutkan api. Melawan kuasa kegelapan dengan kuasa yang serupa hanya akan menambah masalah. Cara Allah bekerja untuk menghadapi kekuasaan adalah dengan melepaskannya. Langkah untuk mengkritik logika Kota Dunia dengan bahasa yang digunakannya sendiri melalui narasi Injil.<br><a></a><a href="#_msocom_6">[6]</a>&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan mengacu kepada karya T.B Simatupang, <em>Iman Kristen dan Pancasila</em>, saya ingin mengajukan suatu kutipan yang mungkin perlu kita pikirkan bersama:</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Gereja menjalankan tugasnya dalam negara kita yang akan menjalankan pemilihan umumnya yang kedua dengan menyerukan agar baik Pemerintah dan alat-alatnya, maupun golongan-golongan yang mengambil bagian dalam pemilihan umum itu, dan masyarakat umumnya menjalankan hak dan kewajibannya masing-masing dengan rasa tanggung jawab yang sepenuh-penuhnya terhadap Tuhan dan terhadap sesama manusia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Gereja bukan Negara. Gereja bukan partai politik. Gereja bukan golongan karya. Gereja bukan kekuasaan politik. Gereja adalah gereja. Sebagai gereja dia mendampingi, melayani, membimbing manusia sebagai individu dan sebagai kelompok agar dia sanggup dan mampu menjalankan hak dan kewajibannya sebagai warganegara yang melalui apa yang dijalankan atau tidak dijalankannya dalam pemilihan umum itu turut bertanggung jawab terhadap Tuhan dan terhadap sesama manusianya mengenai kesejahteraan umum dalam negara Pancasila kita yang sedang membangun ini.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kutipan dari T.B Simatupang menjelaskan bahwa posisi gereja mempunyai otonomi yang bersifat independen. Gereja bukanlah aparatur negara maupun suatu partai representasi dari kelompok kerakyatan, gereja juga bukan alat bisnis para konglomerat ataupun suatu perangkat politik. Kemiripan gereja dengan suatu institusi sipil yang bersifat non-profit memang membuatnya terkesan <em>defensive</em> atau <em>pacifist</em> di tengah arena kekuasaan. Akan tetapi, gereja juga mampu mengambil posisi yang kritis dan ofensif dalam menyuarakan suara kenabian di tengah negara-bangsa. Tuhan mengutus Yesaya untuk menegur umat-Nya sendiri, dan juga mengutus Yunus untuk menegur bangsa Asyur di Ibukota Niniwe. Demikian juga, kiranya umat Kristiani dimampukan untuk mengambil peran untuk menyuarakan prinsip firman Allah, melalui interpretasi terhadap Pancasila, untuk mengingatkan para pemimpin dan rakyat untuk kembali kepada nurani kebangsaan yang semestinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kevin Nobel Kurniawan</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pemuda GRII Pusat</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref1" id="_ftn1">[1]</a> https://www.buletinpillar.org/isu-terkini/kegelapan-di-balik-janji-emas-tanggapan-calvin-dan-kuyper-terhadap-kekuasaan-jawa</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref2" id="_ftn2">[2]</a> “Machiavellian” berasal dari pemikiran Machiavelli, <em>The Prince</em>, yang mengungkapkan bahwa seorang penguasa harus memakai setiap sarana, baik maupun jahat, untuk mencapai tujuan yang diinginkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref3" id="_ftn3">[3]</a> <em>Matrix</em> adalah sebuah film yang diluncurkan pada tahun 1999 yang menceritakan tentang kehidupan manusia yang terjebak dalam suatu dunia mimpi atau dunia simulasi yang dikelola oleh AI. Film ini meminjam ide dari alegori Plato yang menjelaskan adanya manusia yang terjebak dalam suatu realitas semi, memandang pada bayang-bayang dalam goa, sampai suatu saat dia bebas, memandang matahari, dan tercelikan dari dunia bayangan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref4" id="_ftn4">[4]</a> https://www.buletinpillar.org/isu-terkini/kegelapan-di-ujung-kekuasaan</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a id="_msocom_5"></a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">29647</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
