<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Buletin PILLAR</title>
	<atom:link href="http://www.buletinpillar.org/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.buletinpillar.org</link>
	<description>Buletin Pemuda GRII</description>
	<lastBuildDate>Mon, 08 Jun 2026 15:53:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">210804978</site>	<item>
		<title>Beriman Tanpa AI</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/renungan/beriman-tanpa-ai</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[andrian]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 09 Jun 2026 12:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[AI]]></category>
		<category><![CDATA[artificial intelligence]]></category>
		<category><![CDATA[beriman]]></category>
		<category><![CDATA[kristen]]></category>
		<category><![CDATA[Yusuf]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=29368</guid>

					<description><![CDATA[&#8220;Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah; Dialah yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai kuasa atas seluruh tanah ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/renungan/beriman-tanpa-ai">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah; Dialah yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir.&#8221; &#8211; Kejadian 45:8 (TB) </p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Perkembangan teknologi <em>artificial intelligence</em> (AI) sangat memudahkan pekerjaan. Membuat gambar, sekejap saja. Membuat video juga demikian. Membuat tulisan, apalagi. Hanya dalam hitungan detik, tulisan yang biasanya memerlukan waktu cukup lama, menjadi begitu cepat. Asal saja kita mahir menggunakan teknik <em>prompting</em>, tugas besar yang di masa lalu memerlukan waktu yang lama dan proses yang berbelit, bisa selesai dalam waktu yang sangat singkat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun dampaknya, godaan untuk menggunakan AI secara tidak bertanggung-jawab merebak. Saya pernah menerima kiriman <em>file</em> tugas mahasiswa, yang masih memiliki tanda-tanda bahwa itu dikerjakan oleh AI. Ya jelas saja saya tolak. Saya suruh mahasiswanya mengerjakan kembali.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kehadiran teknologi cepat seperti AI sebenarnya merefleksikan bagaimana manusia melihat diri. Meski hanya merupakan mesin, keberadaan AI mencerminkan kehendak khas ras manusia. Di antara banyak natur manusia, salah satunya adalah memiliki hasrat yang sifatnya instan. Ingin segalanya cepat, mudah, kalau bisa dalam hitungan kedipan mata saja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sayangnya, sifat itu pun terbawa dalam kehidupan beriman. Manusia cenderung menolak kesulitan, bahkan menolak adanya penderitaan dan segala prosesnya yang membutuhkan waktu. Ibaratnya, kita ingin hari ini menerima Tuhan, agar besok kita bertumbuh dengan luar biasa. Kita pun sering berasumsi bahwa hari ini berdoa, saat membuka mata, jawaban segera sudah di depan mata. Itulah sifat dasar manusia yang diperburuk oleh kejatuhan manusia dalam dosa. Manusia membenci jika tangan Tuhan terkesan lamban.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mari kita bercermin pada salah satu tokoh penting: Yusuf. Pada awal-awal hidupnya, putaran waktu bagaikan tidak berpihak pada Yusuf. Bayangkan, setelah dijual ke Mesir, Yusuf harus menjalani kehidupan yang mungkin sangat monoton. Di rumah Potifar, ia bekerja sebagai pembantu. Mungkin dalam posisi ini, Yusuf masih bisa memiliki dinamika kehidupan yang berbeda. Ia masih bisa berkeliling, mungkin sekali-sekali ke pasar, mungkin juga ke atap rumah Potifar. Tetapi hidupnya di situ-situ saja. Tidur sebagai pelayan, bangun pun sebagai pelayan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu, akibat fitnah istri Potifar, Yusuf hidup dalam dunia yang tak jauh berbeda dengan kehidupan sebelumnya. Apa-apa, tembok. Mau ke kiri, tembok. Mau ke kanan, tembok. Melangkah sedikit, tembok. Melangkah jauh, juga tembok. Penjara membatasi hidupnya. Sehari dua hari mungkin Yusuf masih bisa merasakan suasana baru. Tetapi ketika waktu di dalam penjara makin lama, tak mudah tentunya. Meski dipercaya mengurus penjara, penjara ya tetap penjara. Yusuf tak bisa berkeliling selain dari sebatas wilayah penjara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yusuf sempat merasa ada sedikit harapan untuk menghirup kebebasan. Tetapi nyatanya waktu seperti tak pernah berpihak padanya. Juru minuman, orang yang pernah berjanji kepada Yusuf untuk membantunya keluar dari penjara, sama sekali tak terdengar lagi kabarnya. Tak ada <em>prompting</em> agar Yusuf dalam sekejap mata keluar penjara. Pun tak pernah hadir sebuah <em>shortcut</em> agar ia segera bebas. Yusuf justru menjalani kehidupan yang begitu lamban, begitu lama, bahkan mungkin saja dalam hatinya pernah ada perasaan bosan dan jenuh. Perjalanan hidup yang begitu-begitu saja, di mana matahari dan bulan bergerak sangat lama. Dan hidup yang seperti itu ternyata harus dialami Yusuf tidak sebentar. Selama 13 tahun Yusuf hidup dalam perjalanan kehidupan yang secara manusiawi sangat membosankan karena sangat lambat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita sering menolak proses seperti itu. Seperti AI yang bekerja cepat, bukankah kita sering ingin sesuatu berjalan cepat, bahkan saat mengikut Tuhan sekali pun? Seberapa sering kita, di dalam hati, punya <em>prompting</em>? Sejauh mana kita mengharapkan perjalanan yang mudah dan jauh dari penderitaan, karena merasa sudah memiliki keistimewaan sebagai anak Tuhan? Sesering apa kita merasa kita pantas menerima <em>reward</em> segera, atas kerajinan kita di dalam pelayanan? Seberapa sering kita di dalam hati begitu kecewa dan merasa tidak adil ketika pelayanan seperti tidak berkembang dengan cepat? Seberapa sering kita menganggap Tuhan bekerja terlalu lama, tidak seperti yang kita harapkan?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sesudah 13 tahun, Yusuf akhirnya tiba di hadapan Firaun. Perjumpaan yang mengubah arah hidup Yusuf itu begitu mengharukan, terlebih karena Yusuf kemudian bersaksi bahwa hal itu adalah karena “rancangan Tuhan”. Setelah melewati hidup yang tidak seinstan AI, Yusuf diserahkan jabatan besar. Sebuah posisi yang tidak pernah dibayangkannya saat ia hanya bekerja sebagai tukang bersih-bersih, dan mungkin hanya petugas penutup pintu penjara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sekolah kehidupan Yusuf selama 13 tahun seharusnya membuat kita mengembalikan cara pandang kita pada Tuhan yang berdaulat. Kecepatan teknologi AI tak pantas membuat kita terpengaruh dan melupakan bahwa setiap tangisan adalah kerinduan Tuhan membentuk kita; setiap lelah adalah cara Tuhan menyiapkan kematangan kita; setiap sakit oleh luka dalam beriman adalah cara Tuhan untuk membalut kita dengan kasih-Nya.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fotarisman Zaluchu<br>Jemaat GRII Medan</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">29368</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Filsafat Asia: Bagian 31</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/transkrip/filsafat-asia-bagian-31</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[andrian]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Jun 2026 04:06:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Transkrip]]></category>
		<category><![CDATA[Filsafat Asia]]></category>
		<category><![CDATA[iman kristen]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah]]></category>
		<category><![CDATA[Konfusius]]></category>
		<category><![CDATA[Stephen Tong]]></category>
		<category><![CDATA[transkrip]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=29364</guid>

					<description><![CDATA[Kelima, orang agung mementingkan situasi yang besar dan persatuan yang menyeluruh, tidak berpikir parsial, terpartai-partai dan bersifat memecah belah. Orang kecil memikirkan golongan-golongan dan bersifat memecah belah dan merusak keutuhan. ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/transkrip/filsafat-asia-bagian-31">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><em>Kelima,</em> orang agung mementingkan situasi yang besar dan persatuan yang menyeluruh, tidak berpikir parsial, terpartai-partai dan bersifat memecah belah. Orang kecil memikirkan golongan-golongan dan bersifat memecah belah dan merusak keutuhan. Ini yang disebut <em>zhou</em>, di mana seseorang memiliki semangat untuk mempersatukan, mengusahakan kepentingan keseluruhan ketimbang kepentingan golongan-golongan atau partai-partai kecil yang kemudian akhirnya memecah belah dan merusak keutuhan semuanya. Kata ini juga punya pengertian “merangkul”. Inilah sikap orang agung (<em>junzi</em>). <em>Bu</em> itu biasanya sering diartikan sebagai perbandingan atau sebagai bagian. Tetapi di sini, pengertiannya lebih kepada seorang agung yang selalu memikirkan yang lebih menyeluruh dan tidak mempartai-partai, atau tidak memecah-belah, suka memisahkan siapa yang suka atau yang tidak suka dengan saya. Orang agung jiwanya selalu lebih memikirkan keseluruhan. Ia memikirkan bagaimana bisa semua lebih menyatu, selalu berupaya merangkul semua pihak supaya tidak terjadi perpecahan. Di dalam Alkitab, hal ini ditunjukkan oleh suatu contoh yang sangat nyata dan tajam, yaitu ketika terjadi pembicaraan antara Allah dan Musa. Tuhan Allah mengatakan kepada Musa bahwa bangsa Israel sudah sedemikian rusak, sehingga Tuhan mau membuang mereka, “Aku akan membangkitkan engkau dengan anak-anakmu untuk menjadi negara yang besar menggantikan mereka.” Tetapi Musa berkata, “Tidak! Lebih baik seluruh Israel diberkati oleh Tuhan.” Ini adalah pemikiran yang luar biasa. Itu tidak berarti Musa rohaninya lebih baik dari Tuhan. Ini lebih merupakan suatu cara pengujian Allah kepada seorang yang agung. Kerohanian seseorang bisa sampai ke tahap untuk bisa diuji atau tidak. Untuk keutuhan seluruhnya, engkau memikirkan yang lebih besar dan tidak memikirkan dirimu sendiri. Kita sering mencari orang yang sama pendapatnya dengan kita. Kita merasa enak untuk berbicara dengan orang demikian. Akibatnya, kita akan terpisah-pisah, terkotak-kotak, terpartai-partai. Ini bukan persekutuan. Persekutuan adalah berani dengan kejujuran dan kasih berbicara kepada yang tidak sama pendapat untuk mendapatkan jalan keluar, suatu konsensus yang didasarkan sikap saling menghormati. Itu sangat tidak mudah. Jadi, orang agung dengan kepribadian yang agung akan selalu mementingkan keseluruhan lebih daripada bagian, yang menyeluruh lebih dari kepingan-kepingan. Tetapi orang kecil hanya memperhatikan kepentingan yang kepingan atau bagian-bagian kecil, bukan keseluruhan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Keenam,</em> seorang agung (<em>gentleman</em>) mempertahankan pendirian dengan tegas tetapi tidak mau berdebat. Seorang agung mempertahankan pendirian, tetapi tidak mau ribut atau berkelahi dengan orang lain. Dia mengutamakan keseluruhan dan tidak menciptakan partai-partai atau menyebabkan perpecahan. Walaupun kita sudah menjadi orang Kristen dan mendengar banyak ajaran Alkitab, namun pada saat kita bisa mempelajari wahyu umum, kita akan melihat banyak keindahan yang Tuhan karuniakan kepada bangsa-bangsa. Justru karena ada filsafat yang sedemikian agung, maka masyarakat yang belum menerima Yesus masih mungkin memiliki ketenangan yang luar bisa. Jika tidak, maka kekacauan akan terjadi luar biasa banyaknya. Orang kecil (<em>xiao ren</em>) lebih suka mementingkan diri sendiri, keluarga sendiri, dan mengorbankan negara. Itu adalah sikap orang rendah.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Ketujuh,</em> seorang agung selalu harmonis walau dengan orang yang berbeda pendapat dengannya. Ia bisa menerima perbedaan, dan berusaha selalu berdamai dan harmonis dengan orang lain. Ia selalu sopan kepada orang lain, walaupun pendiriannya berbeda darinya. Orang picik (<em>xiao</em> <em>ren</em>) atau orang yang hina selalu kelihatan seperti sama dan sejalan dengan kita, tetapi tidak pernah berdamai dengan kita. <em>To be a</em> <em>gentleman is to agree with disagreement.</em> Setuju dengan perbedaan pendapat yang ada. Ketika kita bertemu seseorang, kita harus tetap sopan walaupun kita tahu pendirian kita berbeda. Saya tidak mau sembarangan mengompromikan pendirian saya dengan kamu, tetapi saya harus menghargai kamu sebagai manusia, sopan menerima engkau sebagai kawan. Sebaliknya, orang picik setiap hari mengatakan, “Oh, gampang, gampang,” dan akhirnya semua yang dikatakan “gampang” (mudah) itu menjadi yang paling susah, menjadi paling tidak mudah. Orang yang belum apa-apa sudah tertawa-tawa dengan Anda, berhati-hatilah. Itu seperti orang yang merasa sudah akrab (<em>sok</em> akrab). Seorang pria haruslah berpikir lebih luas dan global, sementara biasanya seorang wanita lebih berpikir saat ini, hal-hal yang lebih rinci dan lebih bersifat pribadi. Hal ini Tuhan berikan sebagai perbedaan, sehingga ada pria yang menjaga sesuatu tugas besar dan ada wanita yang memelihara keluarga yang kecil, maka bisa mendapatkan kondisi yang saling mengisi dan melengkapi. Ini adalah perbedaan yang diperlukan. Maka pria harus belajar menghargai perbedaan seperti ini. Jika tidak, maka dunia dan masyarakat akan kacau. Sebaliknya, para wanita juga harus belajar lebih lapang dada. Ini adalah perbedaan antara Konfusianisme dengan Moisme dari Mo Tzu (Mozi). Mo Tzu mengatakan, kita harus memiliki cinta kasih universal. Jadi kita harus melihat ayah orang lain seperti ayah sendiri, ibu orang lain seperti ibu sendiri, anak orang lain seperti anak sendiri, melihat kawan orang seperti kawan sendiri. Tetapi jangan sampai istri orang lain dilihat seperti istri sendiri. Itu pasti akan menimbulkan kekacauan. Jadi di dalam hal tertentu tetap masih harus ada perbedaan. Kita harus membedakan keluarga saya dan bukan keluarga saya, milik saya dan yang bukan milik saya. Saya tidak setuju bahwa kita harus membuka semua rahasia pribadi kita kepada orang lain, apalagi membuka isi hati kita pada orang lain, termasuk memberitahu kepada psikolog. Jangan kira dia bisa membereskan persoalanmu, karena kecuali Tuhan Allah, tidak ada seorang pun boleh menyentuh tempat paling dalam dari jiwa seseorang. Kecuali Tuhan Allah, tidak ada seorang pun yang bisa menjadi objek kita memaparkan seluruh hati dan jiwa kita kepadanya. Harus ada jarak dan perbedaan antara diri kita dan dia. Dan di dalam hal ini, memang perempuan lebih mengetahui bagaimana daripada laki-laki. Hanya saja, orang yang terlalu eksklusif kalau meledak akan luar biasa keras. Laki-laki kalau terlalu susah, melacur, menyeleweng, meledak marah-marah; perempuan kalau terlalu susah menjadi gila atau bunuh diri; karena yang satu ekstrovert dan yang satu lagi introvert. Ini memang berbeda. Istilah <em>gentleman</em> seperti menghina perempuan, karena harusnya ada <em>gentlewoman.</em> Maka saya lebih suka menggunakan istilah “orang agung” (<em>great person, great personality</em>) daripada istilah <em>gentleman.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Kedelapan,</em> seorang <em>gentleman</em>, bersifat agung, stabil, tetapi tidak sombong. Orang picik sombong tetapi tidak agung dan tidak stabil. Banyak yang tiga tahun lalu sombongnya luar biasa, uangnya banyak, sekarang sudah hilang semua. Itu terjadi karena dia terlalu sombong tetapi tidak stabil. Ketika terjadi krisis moneter, semua ambruk. Jadi hanya gaya atau modelnya saja, tetapi tidak punya fondasi yang cukup kuat, akibatnya mudah ambruk. Itu bukan orang agung. Orang agung itu sangat kuat tetapi tidak sombong, tidak menyatakan kecongkakan di luar, tetapi di dalam memiliki bobot yang sangat besar. Nah, hal ini sudah dipikirkan oleh Konfusius. Konfusius sudah memikirkan berapa dalamnya hidup manusia sehingga ia mengenal begitu kental sifat manusia. Orang yang agung adalah orang yang stabil di dalam, kaya di dalam, luar biasa hebat di dalam, tetapi di luar kelihatan seperti tidak ada apa-apanya. Mengapa kapal Titanic tenggelam? Itu karena seperti orang picik, yang kelihatan megah di luar, hebat di luar, tetapi di dalamnya begitu rapuh. Orang yang pengetahuannya banyak di dalam, yang pengertian hidup dan karakternya agung sekali, di luar biasanya terlihat biasa-biasa saja. Tetapi orang yang luarnya kelihatan hebat tetapi di dalamnya keropos adalah orang picik. Itu sama seperti orang yang belajar silat, yang baru bisa sedikit sudah bergaya luar biasa seperti seorang jagoan, tetapi sebaliknya seorang yang kemampuan silatnya sudah sangat tinggi, di luar terlihat seperti orang bodoh yang tidak bisa silat. Orang yang pandai seringkali terlihat biasa-biasa saja. Peribahasa Tionghoa berkata, “Seorang bijak yang besar terlihat seperti orang goblok. Dan orang yang di dalam tidak ada apa-apanya, suka menonjolkan diri seolah ia hebat luar biasa.”</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Kesembilan,</em> seorang <em>gentleman,</em> seorang agung adalah orang yang hatinya lapang dan seperti sungai yang besar sekali. Seorang agung hatinya lapang dan besar. Tetapi orang picik (<em>xiao ren</em>) setiap hari hanya mengkhawatirkan segala sesuatu. Orang yang hatinya picik selalu takut ini dan itu, khawatir ini dan itu, ragu ini dan itu, dan penuh dengan segala pikiran yang tidak menentu. Di sini dibedakan antara mereka yang berpikiran optimistis dan mereka yang pesimistis. Orang yang agung selalu berpikiran adanya kemungkinan dan semua mungkin. Orang kecil selalu berpikir semua tidak bisa, semua akan celaka, semua akan rugi, dan semua akan membuat susah. Di dalam Kitab Suci, kita belajar bagaimana hidup bersandar pada Tuhan, lalu menjalankan kehendak-Nya, dan dengan demikian, kita boleh dengan iman menghidupkan satu kehidupan yang penuh nikmat karena bersandar kepada Tuhan, sehingga hidup penuh kedamaian. Orang yang takut akan Allah, yang hidupnya disukai oleh Allah, akan bisa tidur dengan nyenyak, dan itu berarti ia bisa hidup menikmati hidup.<a href="#_ftn1" id="_ftnref1"><sup>[1]</sup></a> Orang yang lapang dada, yang hidup berserah, akan hidup damai. Tetapi orang yang hidup penuh kekhawatiran dan ketakutan, hidup tanpa iman, akan menderita. Di satu kota ada dua orang yang dalam pandangan saya sangat-sangat miskin hidupnya. Dua orang wanita tua bersaudara yang tidak menikah, satu berusia 68 tahun dan yang lain berusia 66 tahun. Ketika saya melawat mereka, terlihat mereka sakit dan dengan mobil tua saya, saya bawa mereka ke dokter. Saya membayar biaya dokternya, karena saya kira mereka sangat miskin. Rumahnya begitu sederhana sekali, jendelanya tertutup terus, pintunya jelek. Tidak lama kemudian mereka meninggal. Dan ketika orang memeriksa rumahnya, ternyata mereka memiliki simpanan emas 13 kg. Saat itu honor saya sebagai hamba Tuhan sangat kecil, tetapi saya membayar biaya pengobatan kedua perempuan itu, karena saya kira mereka sangat miskin dan tidak punya uang sama sekali. Seharusnya bukan hanya mereka harus bayar dokter sendiri, tetapi seharusnya juga membayar bensin mobil saya dengan uang yang sedemikian kaya. Tetapi itulah kehidupan orang yang selalu ketakutan dan khawatir. Hidupnya miskin sekali di dalam kekayaannya. Mereka hidup selalu khawatir dan takut, tidak memiliki hati yang luas, mencurigai semua orang akan merugikan dan menyusahkan dirinya. Jadi, apakah orang agung juga bisa miskin? Konfusius menjawab bahwa seorang agung juga bisa menjadi miskin. Tetapi ketika orang picik menjadi miskin, moralnya hancur; tetapi orang agung tidak. Seorang agung ketika menjadi miskin, ia tetap memiliki wibawa karakter yang agung dan tidak mau sembarangan. Ia tidak akan mengambil jalan yang hina atau jalan yang sesat. Ini perbedaannya. Orang picik ketika menjadi miskin, moralnya rusak. Ia mulai berpikir untuk menipu orang, mulai mencuri atau melakukan kejahatan lainnya. Orang picik kalau menjadi miskin, ia mulai tidak jujur, mulai menjadi tamak, dan hidup tidak beres. Jadi orang pada saat kondisi hidupnya minim, itulah waktu yang tepat untuk menguji karakter dirinya. Itulah waktu untuk menguji ketulusan, kesetiaan, dan ketabahan hatinya sampai di mana. Sama juga ketika orang sudah menjadi kaya luar biasa, itu juga saat untuk mengetahui bagaimana dia bisa mendisiplin dirinya untuk tidak sembarangan menyeleweng. Banyak orang yang ketika sudah menjadi kaya, bisa punya istri di sini satu di sana satu dan punya nyonya rahasia, dan banyak simpanan. Waktu miskin tidak demikian, tetapi begitu kaya hidupnya ngawur. Jadi ada dua macam orang yang jangan menjadi kawanmu. Sama-sama miskin baik, begitu dia menjadi kaya kamu dibuang; orang seperti itu jangan menjadi kawanmu. Orang kedua adalah ketika sama-sama kaya dia baik denganmu, begitu kamu miskin, kamu dibuang, janganlah menjadi kawan orang seperti itu. Ketika kondisi aman jadi teman baik, begitu kondisi bahaya dia langsung menuduh atau mempersalahkan kamu dan mengamankan diri sendiri, dengan berani menjual kamu untuk mengamankan diri, itu bukanlah kawan. Kawan sejati adalah kawan di saat kondisi aman, tetapi juga kawan pada saat ada bahaya dan ancaman; Kawan sejati adalah ketika sama-sama miskin jadi kawan, ketika kaya dia tetap jadi kawan. Inilah kawan sejati. Amin.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref1" id="_ftn1"><sup>[1]</sup></a> Roma 11:4-10</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">29364</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Transhumanisme vs Transformasi Roh Kudus (Kehidupan Abadi vs Kehidupan Kekal)</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/isu-terkini/transhumanisme-vs-transformasi-roh-kudus-kehidupan-abadi-vs-kehidupan-kekal</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[heryanto]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Jun 2026 20:01:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Isu Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan Abadi]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan Kekal]]></category>
		<category><![CDATA[Pemberi Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Roh Kudus]]></category>
		<category><![CDATA[Transhumanisme]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=29272</guid>

					<description><![CDATA[Apakah Anda pernah menonton film-film seperti Avengers: Endgame, Iron Man, atau Robocop? Banyak orang terkesan dengan kecanggihan teknologi dalam film-film tersebut: tubuh manusia diperkuat dengan mesin, pikiran ditingkatkan secara drastis, ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/isu-terkini/transhumanisme-vs-transformasi-roh-kudus-kehidupan-abadi-vs-kehidupan-kekal">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Apakah Anda pernah menonton film-film seperti <em>Avengers: Endgame</em>, <em>Iron Man</em>, atau <em>Robocop</em>? Banyak orang terkesan dengan kecanggihan teknologi dalam film-film tersebut: tubuh manusia diperkuat dengan mesin, pikiran ditingkatkan secara drastis, bahkan kematian seolah dapat ditunda atau dikalahkan. Salah satu contoh yang paling kuat terkait ini adalah tokoh Bucky Barnes (Winter Soldier) atau Alex Murphy (Robocop), yang “dipulihkan” secara fisik dan mental melalui teknologi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sekilas, kisah-kisah ini tampak sebagai hiburan fiksi ilmiah belaka. Namun sesungguhnya, film-film tersebut merefleksikan sebuah ideologi yang semakin berpengaruh dalam dunia modern, yaitu transhumanisme. Apa yang dulu hanya ada di layar lebar, kini mulai memasuki dunia medis, riset ilmiah, dan bahkan cara manusia memandang dirinya sendiri. Oleh karena itu, kita perlu memahami dan menanggapinya dengan terang Firman Tuhan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Apa Itu Transhumanisme?</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara umum, transhumanisme adalah sebuah gerakan intelektual, budaya, serta filosofi yang meyakini bahwa manusia dapat dan seharusnya menggunakan teknologi canggih untuk meningkatkan kondisi biologis, mental, dan emosionalnya, bahkan melampaui batas alami manusia. Tujuan akhirnya adalah mengatasi keterbatasan mendasar manusia, seperti penyakit, penderitaan, penuaan, dan kematian.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berbeda dengan penggunaan teknologi untuk tujuan terapeutik, misalnya prostetik bagi penyandang disabilitas atau pengobatan penyakit, transhumanisme memiliki ambisi yang jauh lebih radikal. Ia tidak hanya ingin memulihkan manusia ke kondisi semula, tetapi meningkatkan manusia menjadi sesuatu yang baru. Dalam visi transhumanis, manusia masa depan tidak lagi sepenuhnya “manusia” dalam pengertian umum, melainkan makhluk transisional menuju apa yang disebut sebagai <em>posthuman</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Dari Fantasi Menuju Dunia Nyata</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Transhumanisme sering disalahpahami sebagai fantasi futuristik yang tidak relevan dengan kehidupan nyata. Namun, perkembangan teknologi saat ini menunjukkan bahwa banyak gagasan transhumanis sedang dan akan terus diwujudkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu konsep penting adalah <em>radical life extension</em>, yaitu upaya ilmiah dan teknologi untuk memperpanjang umur manusia jauh melampaui batas biologis normal. Tujuan praktisnya adalah memperpanjang masa hidup dengan menunda penuaan dan mencegah penyakit degeneratif. Kematian dipandang sebagai masalah teknis yang suatu hari dapat “dipecahkan”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Konsep lain adalah <em>cybernetic immortality</em>, yaitu gagasan bahwa manusia dapat mencapai bentuk keabadian melalui penggantian bagian tubuh biologis dengan komponen non-biologis seperti mesin, atau bahkan dengan memindahkan kesadaran manusia ke dalam medium digital. Dalam pandangan ini, tubuh manusia dipahami sebagai perangkat keras yang usang, sementara identitas manusia direduksi menjadi data yang dapat disalin dan disimpan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu tokoh nyata yang sering dikutip adalah Kevin Warwick, yang dikenal sebagai “cyborg pertama di dunia”, seorang profesor sibernetika yang menanamkan chip ke dalam tubuhnya dan menghubungkan sistem sarafnya dengan komputer. Eksperimen ini menunjukkan bahwa batas antara manusia dan mesin semakin kabur. Teknologi tidak lagi sekadar alat di luar manusia, tetapi mulai menyatu dengan tubuh dan kesadaran manusia itu sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Akar Kuno Transhumanisme</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari mana asal mula transhumanisme ini? Apakah baru muncul pada era kecerdasan buatan abad ke-20, atau sudah sejak revolusi industri, atau bahkan sejak zaman pencerahan?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meskipun istilah transhumanisme terdengar modern, ide dasarnya sangat kuno. Sejak awal sejarah manusia, terdapat kerinduan untuk mengatasi keterbatasan dan menaklukkan kematian. Kisah <em>Epic of Gilgamesh</em> puisi epik dari Mesopotamia kuno (abad ke-18 hingga ke-13 SM) menggambarkan pencarian manusia akan keabadian setelah menghadapi realitas kematian. Ketakutan akan maut mendorong manusia untuk mencari cara melampaui kodratnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada masa Renaisans, pemikiran tentang martabat manusia mengalami perubahan besar. Manusia mulai dipandang sebagai makhluk yang dapat membentuk dirinya sendiri. Di abad ke-17, Francis Bacon mempromosikan sains sebagai sarana utama kemajuan manusia, bahkan sebagai jalan menuju “keselamatan”. Gagasan ini berkembang hingga akhirnya istilah transhumanisme dipopulerkan oleh Julian Huxley pada tahun 1957 dan menjadi gerakan global di akhir abad ke-20.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Mengapa Manusia Mencari Keabadian?</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Transhumanisme berakar pada pencarian manusia akan keabadian. Hal ini terlihat dalam berbagai kebudayaan, dari mitologi Yunani hingga ambisi kaisar Qin Shi Huang yang mencari ramuan hidup abadi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara teologis, pencarian ini berakar pada ketakutan akan kematian. Louis Berkhof menyatakan bahwa kematian terasa mengerikan karena dipandang sebagai sesuatu yang “asing dan bermusuhan” bagi manusia. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, serta memiliki kesadaran akan kekekalan, sehingga memiliki naluri untuk menolak kematian. Maut dipandang sebagai “musuh terakhir” yang menimbulkan kegentaran.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari perspektif ini, transhumanisme bukan sekadar proyek teknologi, tetapi ekspresi kerinduan teologis yang salah arah. Pola ini sebenarnya sudah muncul sejak awal di dalam Alkitab. Dalam Kejadian 3, Allah mencegah manusia untuk meraih hidup tanpa batas melalui akses kepada pohon kehidupan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaan pentingnya adalah: mengapa Allah mencegah manusia untuk memakan buah dari pohon kehidupan setelah kejatuhan? Dan apa yang akan terjadi jika manusia berhasil hidup selamanya dalam kondisi tersebut?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Alkitab menunjukkan bahwa tindakan Allah menghalangi manusia bukanlah tindakan kejam, melainkan tindakan belas kasihan. Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, Allah menutup akses kepada pohon kehidupan agar manusia tidak hidup selamanya dalam keadaan yang rusak dan terasing dari-Nya. Jika manusia hidup abadi dalam kondisi berdosa, maka dosa, penderitaan, dan kerusakan moral akan menjadi kekal tanpa harapan pemulihan. Kematian, dalam pengertian ini, justru menjadi batas yang Allah tetapkan agar kejahatan tidak berlangsung tanpa akhir. Tanpa intervensi ini, manusia akan terjebak dalam eksistensi yang mengerikan yaitu hidup tanpa akhir, tetapi tanpa pembaharuan. Kita dapat membayangkan betapa mengerikannya jika kejahatan seperti yang dilakukan Kain terhadap Habel terus berlangsung tanpa batas. Dunia akan menjadi ruang penderitaan yang kekal, tanpa pengharapan akan pemulihan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Kehidupan Abadi vs Kehidupan Kekal</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sini terlihat perbedaan yang sangat mendasar. Kehidupan abadi yang ditawarkan transhumanisme hanyalah perpanjangan dari kondisi manusia yang lama, tanpa penyelesaian terhadap dosa dan keterpisahan dari Allah. Ia hanya memperpanjang eksistensi manusia dalam natur yang sama yaitu natur yang telah rusak oleh dosa. Sebaliknya, kehidupan kekal dalam iman Kristen bukan sekadar soal durasi hidup, melainkan kualitas hidup yang baru, yaitu hidup dalam persekutuan dengan Allah melalui karya Roh Kudus. Kehidupan kekal dimulai bukan di masa depan, tetapi sudah dimulai sekarang, ketika Roh Kudus tinggal di dalam diri orang percaya dan memberikan hidup yang baru. Lalu seperti apa karya Roh Kudus dalam mentransformasi kehidupan orang percaya?</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Roh Kudus Sang Pemberi Hidup</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Roh Kudus adalah nafas kehidupan (<em>ruach</em>) yang memberikan hidup sejati. Sejak awal penciptaan, kehidupan berasal dari hembusan Allah sendiri, dan dalam karya penebusan, Roh Kudus menghidupkan manusia yang telah mati secara rohani.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Transformasi yang dikerjakan oleh Roh Kudus bukanlah sekadar peningkatan kapasitas manusia lama, melainkan penciptaan manusia baru. Roh Kudus melahirbarukan manusia, mengubah hati yang keras, dan memampukan manusia untuk mengenal Allah secara pribadi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Roh Kudus juga memimpin hidup manusia. Ia bekerja secara aktif dalam proses pengudusan, membentuk karakter orang percaya untuk semakin serupa dengan Kristus. Karya Roh Kudus menghasilkan buah-buah Roh seperti kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, dan penguasaan diri. Hal ini menunjukkan transformasi sejati, transformasi yang bukan sekadar fungsional atau teknologis seperti yang dijanjikan oleh transhumanisme, tetapi juga moral dan relasional. Tidak ada teknologi yang mampu menghasilkan transformasi sejati atau kekudusan hidup seperti karya Roh Kudus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, Roh Kudus juga memulihkan relasi manusia dengan Allah. Transhumanisme berfokus pada otonomi manusia, tetapi Roh Kudus membawa manusia kembali kepada Allah. Kehidupan kekal bukanlah hidup yang mandiri terpisah dari Allah, melainkan hidup yang sepenuhnya dipersatukan dengan Allah melalui kehadiran Roh-Nya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berbeda dengan pandangan transhumanisme, tubuh bukanlah sekadar wadah yang bisa diganti atau ditingkatkan, tetapi merupakan bagian dari ciptaan yang akan ditebus. Roh Kudus yang diam di dalam diri orang percaya menjadikan tubuh sebagai tempat kediaman Allah. Tujuan akhir keselamatan bukanlah menggantikan tubuh dengan logam atau silikon, tetapi mentransformasikan tubuh fana menjadi tubuh rohani (<em>soma pneumatikon</em>). Transformasi ini hanya bisa dikerjakan oleh kuasa Allah, bukan oleh rekayasa manusia.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Roh Kudus sebagai Jaminan Kehidupan Kekal</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Rasul Paulus menyatakan bahwa Roh Kudus tidak hanya memberikan kehidupan baru di masa sekarang, tetapi juga menjadi jaminan akan kehidupan yang akan datang. Kehadiran Roh Kudus di dalam diri orang percaya adalah bukti bahwa masa depan yang dijanjikan Allah sudah mulai digenapi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rasul Paulus menjelaskan ini melalui tiga gambaran utama. Pertama, sebagai “uang muka” (<em>arrabōn</em>), Roh Kudus adalah jaminan bahwa Allah akan menyelesaikan seluruh karya keselamatan-Nya sampai tuntas. Apa yang telah dimulai oleh Allah tidak akan berhenti di tengah jalan. Kedua, sebagai “buah sulung”, Roh Kudus adalah tanda awal dari panen yang lebih besar, yaitu kebangkitan dan penebusan tubuh di masa depan. Ketiga, sebagai “meterai”, Roh Kudus menandai identitas dan kepemilikan Allah, bahwa orang percaya adalah milik Allah yang tidak akan pernah dilepaskan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sinilah kontras dengan transhumanisme menjadi sangat jelas. Transhumanisme mencari jaminan masa depan melalui teknologi, melalui perpanjangan usia atau digitalisasi pikiran manusia. Namun semua itu bersifat tidak pasti, terbatas, dan spekulatif. Sebaliknya, iman Kristen tidak bergantung pada kemungkinan, tetapi pada kepastian, karena jaminannya adalah pribadi Roh Kudus sendiri. Masa depan orang percaya tidak ditentukan oleh perkembangan teknologi, tetapi oleh kesetiaan Allah yang bekerja melalui Roh-Nya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Para pembaca yang dikasihi Tuhan, di tengah perkembangan teknologi yang begitu pesat, manusia semakin tergoda untuk mencari keselamatan melalui ciptaannya sendiri. Transhumanisme menjanjikan kehidupan tanpa batas, tetapi gagal menyentuh akar masalah manusia, yaitu dosa dan keterpisahan dari Allah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebaliknya, Injil menyatakan bahwa Roh Kudus adalah satu-satunya yang sanggup memberikan kehidupan sejati. Ia tidak sekadar memperpanjang hidup manusia, tetapi mengubah manusia menjadi ciptaan baru, memulihkan relasi dengan Allah, dan menjamin kehidupan kekal yang akan datang. Apa yang tidak dapat dilakukan oleh teknologi, dikerjakan oleh Roh Kudus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena itu, di tengah dunia yang semakin mengandalkan teknologi sebagai sumber pengharapan, kita dipanggil untuk kembali menaruh iman kita kepada Allah yang hidup. Jangan menggantungkan masa depan pada kemampuan manusia yang terbatas, tetapi pada karya Roh Kudus yang pasti dan kekal. Biarlah kita hidup dipimpin oleh Roh, bukan oleh ambisi untuk menjadi “lebih dari manusia”, tetapi untuk menjadi manusia yang diperbarui sesuai dengan kehendak Allah.</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Felix Markus Listiyo</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mahasiswa STTRII</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Referensi</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Fee, Gordon D. Paul, the Spirit, and the People of God: The Gospel for the People of God. Peabody, MA: Hendrickson Publishers, 1996.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kärkkäinen, Veli Matti. Pneumatology: The Holy Spirit in Ecumenical, International, and Contextual Perspective. Grand Rapids, MI: Baker Academic, 2002.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Livingstone, David. Transhumanism: The History of a Dangerous Idea. CreateSpace Independent Publishing Platform, 2015.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mercer, Calvin, dan Tracy J. Trothen, eds. Religion and Transhumanism: The Unknown Future of Human Enhancement. Santa Barbara, CA: Praeger, 2014.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Shatzer, Jacob. Transhumanism and the Image of God: Today’s Technology and the Future of Christian Discipleship. Downers Grove, IL: IVP Academic, 2019.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Vanhoozer, Kevin J. Everyday Theology: How to Read Cultural Texts and Interpret Trends. Grand Rapids, MI: Baker Academic, 2007.</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">29272</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Tuhan Memberi Kekuatan di Dalam Kelemahan</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/renungan/tuhan-memberi-kekuatan-di-dalam-kelemahan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[heryanto]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 31 May 2026 22:19:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[Kecewa]]></category>
		<category><![CDATA[kekuatan]]></category>
		<category><![CDATA[kelemahan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=29248</guid>

					<description><![CDATA[Dalam Yesaya 40:28–31, terdapat sebuah pertanyaan, “Apakah engkau tidak tahu dan tidak mendengar? TUHAN adalah Allah yang kekal, pencipta bumi dari ujung ke ujung; Dia tidak pernah merasa lelah dan ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/renungan/tuhan-memberi-kekuatan-di-dalam-kelemahan">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dalam Yesaya 40:28–31, terdapat sebuah pertanyaan, “Apakah engkau tidak tahu dan tidak mendengar? TUHAN adalah Allah yang kekal, pencipta bumi dari ujung ke ujung; Dia tidak pernah merasa lelah dan tidak pernah lesu, pemahaman-Nya tidak terukur. ”Ayat ini mengingatkan kita bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Allah yang tidak pernah kehilangan kekuatan-Nya. Baik, di tengah kelelahan dan kelemahan, kita tetap memiliki Tuhan yang tidak pernah letih menguatkan kita dalam menghadapi setiap pergumulan kehidupan. Kita tahu, bahwa kekuatan manusia itu terbatas, tetapi dibalik itu, kita harus ingat bahwa kita memiliki Allah yang kuasa-Nya tidak akan pernah hilang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam perjalanan hidup ini, sering kali kita merasa sangat letih dan lemah karena masalah yang datang tidak ada habisnya. Terkadang kita merasa sudah berdoa, berusaha, dan bahkan melayani dengan sungguh-sungguh, tetapi seringkali kita merasa energi seolah-olah habis. Namun, dalam saat-saat tersebut justru menjadi pengingat bagi kita bahwa sumber kekuatan bukan hanya dari&nbsp; diri kita sendiri. Karena Tuhan tidak mengharapkan kita kuat dengan kekuatan sendiri, melainkan Ia ingin kita sepenuhnya bergantung kepada-Nya. Dan ketika kita berhenti mengandalkan kemampuan kita, di situlah kekuatan Tuhan dinyatakan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Tuhan memberikan kekuatan bagi mereka yang berharap kepada-Nya.</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Yesaya lalu melanjutkan, “Tetapi orang yang sungguh-sungguh berharap kepada TUHAN akan mendapat kekuatan baru: mereka akan terbang seperti rajawali yang mengangkat sayapnya. ”Artinya, mengharapkan pertolongan Tuhan bukan berarti kita hanya diam, justru kita menaruh semua harapan dan iman kepada Tuhan. Dalam proses dan penantian kita, disitulah Tuhan sedang menguji dan memperbaharui hati dan iman kita. Tuhan mungkin tidak langsung menyelesaikan atau mengangkat setiap beban, pergumulan yang kita hadapi, tetapi Ia memberi kekuatan baru bagi kita. Supaya apa? Supaya kita terus melangkah dengan iman untuk melewati proses kehidupan ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika kita menerima kekuatan yang diberikan oleh Tuhan, itu tidak bergantung pada kondisi kita pada saat itu, melainkan bagaimana hubungan kita dengan Tuhan. Saat kita memilih untuk bersabar dengan iman dan pengharapan, disitulah Tuhan melatih dan menyadarkan kita bahwa Tuhan setia menolong dan menyertai dalam setiap situasi apapun.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Tuhan bekerja meski dalam kelemahan kita.</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Tuhan tidak berjanji bahwa kehidupan tanpa ada kesulitan, tetapi Tuhan berjanji akan senantiasa menyertai kita. Sebab, Tuhan mampu bekerja dalam situasi apapun bahkan saat kita merasa lelah dan penuh air mata. Terkadang, Tuhan membiarkan kita sampai di titik terendah yang membuat kita tidak bisa apa-apa. Supaya kita belajar mengandalkan kasih karunia yang Ia telah berikan sepenuhnya kepada kita. Di dalam kelemahan kita, disitulah kasih Tuhan menerangi kita. Rasul Paulus berkata, “Apabila aku lemah, maka aku kuat karena Kristus”(2 Kor. 12:10).</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Menjalani hidup dengan tetap beriman teguh kepada Tuhan.</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam renungan atau refleksi ini mengingatkan kita bahwa kekuatan yang sejati tidak berasal dari keberhasilan, dukungan orang lain, atau situasi yang mudah, melainkan, berasal dari Tuhan itu sendiri. Saat kita merasa lelah, kecewa, dan sendirian, ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah tidur atau lengah dalam menjaga kita. Dia mengetahui apa yang kita alami dan Ia berjanji memberikan dan memperbaharui kekuatan kita setiap hari. Sehingga, mulai saat ini saya mengajak kita semua. Marilah kita datang kepada Tuhan, bukan dengan semangat yang cepat padam, tetapi dengan hati yang terbakar, yang tetap percaya bahwa Tuhan mampu menguatkan kita. Jalani hidup bersama Tuhan, dan biarkan setiap langkah kita dipandu oleh kekuatan yang bersumber dari-Nya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Soli Deo Gloria.</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Jesiska Danga Lila</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mahasiswi STTRII Misiologi</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">29248</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Kegelapan di Ujung Kekuasaan</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/isu-terkini/kegelapan-di-ujung-kekuasaan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[michaelleang]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 26 May 2026 15:05:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Isu Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Demokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[gereja]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia emas]]></category>
		<category><![CDATA[pemerintah]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpin]]></category>
		<category><![CDATA[Penguasa]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[reformasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=29021</guid>

					<description><![CDATA[Apabila rekan-rekan mengikuti berita di Indonesia saat ini, sepertinya hampir semua orang akan merasa gelisah dengan permasalahan yang muncul dalam negara kita. Apa yang dijanjikan dalam kampanye pada tahun 2024, yaitu Indonesia akan diantar untuk mencapai “Indonesia Emas 2045”, ternyata menjadi suatu kebohongan besar yang telah menampar banyak orang, khususnya kepada yang awalnya berharap besar kepada calon pemimpin yang telah berhasil memenangkan kampanye melalui joget-joget. Setelah kampanye selesai, dan kekuasaan diraih oleh sang penguasa, senjata kembali memakan tuan, kedaulatan rakyat diputarbalikan untuk menjadi alat dari kekuasaan raja jawa. Harapan bahwa perekonomian dan keadilan hukum dapat membawa Indonesia meraih kemakmuran dan kejayaan malah berputar balik, kekuasaan dan institusi negara kembali menekan dan memakan para anak bangsa beserta jasanya.  

Apakah ada pengharapan di tengah-tengah kegelapan ini? Apa peran yang dapat diambil oleh gereja?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Apabila rekan-rekan mengikuti berita di Indonesia saat ini, sepertinya hampir semua orang akan merasa gelisah dengan permasalahan yang muncul dalam negara kita. Apa yang dijanjikan dalam kampanye pada tahun 2024, yaitu Indonesia akan diantar untuk mencapai “Indonesia Emas 2045”, ternyata menjadi suatu kebohongan besar yang telah menampar banyak orang, khususnya awalnya berharap besar kepada calon pemimpin yang telah berhasil memenangkan kampanye melalui joget-joget. Setelah kampanye selesai, dan kekuasaan diraih oleh sang penguasa, senjata kembali memakan tuan, kedaulatan rakyat diputarbalikan untuk menjadi alat dari kekuasaan raja jawa. Harapan bahwa perekonomian dan keadilan hukum dapat membawa Indonesia meraih kemakmuran dan kejayaan malah berputar balik, kekuasaan dan institusi negara kembali menekan dan memakan para anak bangsa beserta jasanya. &nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kasus Nadiem Makarim menjadi salah satu yang cukup membuat kaget, demikian juga dengan kasus Tom Lembong. Mengapa negara harus “membunuh” anak-anaknya sendiri? Bukankah hal itu tidak masuk akal? Bagi manusia yang waras, hal ini tidak masuk akal. Akan tetapi, bagi manusia yang haus akan kekuasaan, langkah untuk menekan tokoh-tokoh masyarakat adalah suatu keharusan. Tanpa menekan mereka, suatu hari merekalah yang akan menjadi tokoh yang lebih berkuasa daripada yang sekarang. Ketika ada orang-orang pintar dan berjasa dalam membangun bangsa-negara, itu justru dipandang oleh penguasa sebagai ancaman. Pemegang kekuasaan tidak suka untuk ditandingi oleh kaum bijak, itulah sebabnya dalam berbagai kisah seorang penguasa akan berupaya untuk menekan orang-orang pintar yang bersumbangsih bagi negaranya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jangan lupa, dalam sejarah, Nero menghukum mati Seneka sekalipun Seneka menjadi juru bicara terbaik bagi Nero. Para imam dibunuh oleh Saul sekalipun merekalah yang menjadi tokoh-tokoh penasihat bagi sang raja. Dalam suatu negara yang dipenuhi dengan keinginan untuk berkuasa, rasa curiga dan paranoid akan memenuhi istana kerajaan dan membuat segalanya menjadi gelap. Yang pintar dipandang sebagai pesaing, yang berkuasa dianggap sebagai penyebab makar, dan teguran yang baik dipandang sebagai penghina dari kerajaan. “Kekuasaan cenderung korup, dan kekuasaan absolut mengalami korupsi yang absolut”, demikianlah kata Lord Acton.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya menduga, sejak saat ini, banyak di antara anak muda yang akan menghindari teritori pemerintahan sebagai tempat untuk bekerja. Entah itu menjadi ASN atau PNS, atau menjalin hubungan kerja sama dengan pemerintah, semuanya itu dipandang sebagai <em>dark territory</em>. Tidak hanya itu, para investor yang telah melihat langkah pemerintah yang memeras (<em>squeeze</em>) uang dan jasa dari anak bangsanya sendiri, juga akan merasa khawatir bahwa uang mereka juga akan diperas untuk kepentingan para penguasa yang sedang bertakhta di bumi Indonesia. Ketakutan yang muncul dari luar dan dalam negeri telah menjadikan pemerintah sebagai pusat ketidakpercayaan. Bagi yang berkuasa, kalau kata Machiavelli, yang penting adalah untuk ditakuti, bukan untuk dicintai maupun untuk dipercaya. Akan tetapi, ketika kepercayaan publik menurun, dan pemerintah tidak lagi ditakuti oleh rakyatnya, maka pemerintahan itu juga tidak mempunyai kekuasaan untuk bertakhta.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">Dalam suatu negara yang dipenuhi dengan keinginan untuk berkuasa, rasa curiga dan paranoid akan memenuhi istana kerajaan dan membuat segalanya menjadi gelap. Yang pintar dipandang sebagai pesaing, yang berkuasa dianggap sebagai penyebab makar, dan teguran yang baik dipandang sebagai penghina dari kerajaan. “Kekuasaan cenderung korup, dan kekuasaan absolut mengalami korupsi yang absolut”, demikianlah kata Lord Acton.</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Berikutnya, saya ingin mengangkat masalah ekonomi. Dalam minggu ini, kita menyaksikan nilai rupiah anjlok pada suatu titik yang paling lemah dalam sejarah. Lebih lemah daripada saat terjadinya krisis 1998. Adapun demikian, ketika Presiden sudah menyampaikan pidato di gedung DPR-MPR mengenai kewajiban ekspor Sumber Daya Alam (SDA), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan sebesar 2-3%. Berimbas dari peperangan yang terjadi di Timur Tengah, Indonesia mengalami kesulitan untuk bermanuver dalam krisis energi dan keuangan, belum lagi ditambah dengan situasi APBN yang mengalami kebocoran oleh berbagai kebijakan fiskal yang kurang dialokasikan dengan tepat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dana yang mengalir kepada program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah mengambil sebagian besar dari alokasi keuangan negara. Bayangkan, ketika banyaknya dana yang dapat digunakan untuk menopang pasar yang memutarkan roda ekonomi malah disetorkan ke dalam satu program raksasa yang tidak memiliki justifikasi yang kokoh. Itu pun, dana yang akhirnya dirasakan oleh masyarakat akar rumput masih belum efektif. Dapur-dapur MBG tidak diisi oleh ahli nutrisi yang profesional dalam mengurus masakan, tetapi dikuasai oleh militer dan kepolisian. “ABRI 2.0”, kali ini bekerja dalam bidang makanan, atau lebih tepatnya berbagian dalam mengurus dana triliunan yang telah dialirkan melalui sistem fiskal seperti ini. Padahal, dana untuk kesejahteraan guru dan para pengajar lainnya masih sangat kurang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Agak aneh ketika seorang presiden ingin melakukan sintesis antara retorika Sukarno dan kekuasaan Suharto dalam suatu kesatuan untuk menjadi “presiden terhebat”, malah yang kita temui adalah bayang-bayang kelemahan antara dua diktator besar dalam sejarah Indonesia yang dipadatkan pada satu orang. Baginya, setelah sekian lama berjuang untuk menjadi presiden, kesempatan ini adalah kesempatan terakhir dan satu-satunya untuk berkuasa. Tidak peduli apa yang terjadi dengan pemerintahan, <em>toh</em> nantinya juga ada presiden yang menggantikannya. Tidak peduli dengan nilai rupiah, warga di desa tidak peduli dengan valuta asing. Tidak peduli dengan apa yang terjadi ketika banyak hutan dihancurkan untuk diganti dengan sawit sehingga menimbulkan banjir besar, <em>toh</em> itu cuman tiga provinsi dari puluhan provinsi lainnya yang terkena dampak. Bagi yang sudah mencapai kekuasaan, tragedi-tragedi seperti demikian adalah suatu anomali statistik yang dapat dipandang sebelah mata. Jiwa satu manusia hanyalah suatu angka dan digit dalam suatu laporan, kehidupan atau kematiannya tidak mengubah aransemen makro yang dipandang lebih utama.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lawan-lawan politik yang mencoba untuk melawan presiden dan pemerintahan yang semakin militeristik harus ditekan, salah satunya adalah melalui kasus air keras. Andrie Yunus yang menjadi korban dari air keras, itu pun juga dipandang hanya sebagai salah satu anomali yang perlu “dibereskan”. Sebab dalam struktur kekuasaan yang telah dibangun sedemikian kokoh, “kematian satu orang lebih baik dilakukan daripada kehancuran seluruh aparat kekuasaan”. <em>Sounds familiar</em>? Jika hal itu terjadi pada satu orang, maka siapa pun juga dapat “disahkan” untuk menjadi korban selanjutnya. Apabila kita mempelajari kondisi Indonesia seperti ini, dari segi hukum, ekonomi, dan keamanan sipil &#8211; nyatanya semuanya sudah berada pada titik retak yang mengkhawatirkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Beberapa Hipotesis</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebelumnya, saya sempat mencoba untuk membangun suatu hipotesis bahwa potensi terjadi krisis yang besar seperti 1998. Sebagaimana setiap orde akan bertahan sekitar 20-32 tahun, tampaknya tahun ke-20 tersebut sudah dilalui pada Pilpres 2019 di mana terjadi polarisasi yang sangat tajam antara kubu nasionalis dengan kubu Islamis. Namun, posisi terjadinya ombak tahun ke-30 atau ke-32 akan datang pada tahun 2028-2030. Artinya, kalau kita membaca pola dalam sejarah, “Orde Reformasi” sebetulnya sudah berada pada titik yang cukup krusial. Sebentar lagi kita akan memasuki suatu masa krisis yang mengkhawatirkan. Pada bulan Agustus 2025 yang lalu, ketika gedung-gedung DPR dibakar oleh karena amarah masyarakat kepada anggota legislatif, nyatanya krisis tersebut hanyalah 30% dari keseriusan yang terjadi pada tahun 1998. Itu adalah suatu “pemanasan” tentang potensi demonstrasi dan krisis-krisis yang lebih mendalam, yang sedang menanti di tahun-tahun menjelang 2028-2030.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Akan tetapi, ketika fenomena tersebut terjadi di berbagai kota, itulah yang menjadi kekhawatiran bagi kita semua. Peristiwa kerusuhan 1998 hanya terjadi di Jakarta. Dengan berkembangnya media sosial dan telekomunikasi, api kerusuhan itu berpotensi untuk menyebar di berbagai wilayah kota lain, kita harus bersiap kalau krisis tersebut akan menyebar luas kepada wilayah di luar Jakarta. Saya sendiri merasa gelisah ketika melihat adanya ombak krisis yang akan datang pada akhir tahun 2026, mulai menguat pada tahun 2027, dan kemudian memuncak pada tahun 2028-2029 pada masa kampanye dan pemilihan presiden. Hal ini menunjukkan bahwa sebetulnya kondisi Indonesia sudah diwarnai dengan rasa tidak percaya yang mendalam. Sayangnya, sampai saat ini, kita belum mempunyai suatu jalan alternatif yang memungkinkan suatu proses reformasi terhadap kondisi pemerintahan saat ini. Malah justru sebaliknya, segala upaya untuk melakukan reformasi selama “Orde Reformasi” ini sedang diputarbalik untuk kembali ke masa militerisme pada zaman Orde Baru dan masa pemborosan finansial pada zaman Orde Lama. Seandainya nanti krisis terjadi, hal itu bagaikan sebuah sintesa antara peristiwa 1965 yang dipenuhi oleh konflik intra-militer dan 1998 yang adalah konflik antara militer dan rakyat akar rumput.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tinggal menunggu harga BBM bersubsidi mengalami kenaikan yang signifikan. Inflasi terhadap berbagai produk makanan mengalami kenaikan. Nilai rupiah meningkat sampai Rp 18.000. Kemudian, terjadi <em>money drain</em>, atau hilangnya aliran dana investasi asing ke negeri Indonesia maupun perputaran uang dari para pengusaha Indonesia, oleh sebab munculnya ketidakpastian market. Ditambah juga dengan terjadinya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal. Maka, cepat atau lambat, siklus terjadinya demonstrasi besar-besaran akan berulang, terus menerus sampai terjadinya suatu perubahan pada sosok pemimpin. Akan tetapi, kita perlu memperhatikan bahwa siapapun pemimpinnya, hal itu tidak menunjukkan suatu situasi yang akan lebih baik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rasa penyesalan terhadap pemilihan pemimpin yang salah belum tentu dapat menghasilkan suatu pemilihan yang lebih tepat. Sebaliknya, terdapat potensi terjadi pemilihan pemimpin berikutnya yang justru lebih bermasalah lagi. Optimisme akan suara rakyat untuk dapat memilih pemimpin yang lebih baik hanyalah mungkin jika ada pendidikan dan budaya demokrasi yang memadai. Tampaknya, dengan kondisi seperti ini, masyarakat Indonesia masih belum mampu mengambil suatu pilihan yang tepat. Rasa menyesal di antara 58% tidak berarti adanya suatu kesadaran yang lebih baik, bisa jadi nantinya jika ada suatu calon pemimpin yang terlihat lebih “baik”, dialah yang juga melanjutkan kerusakan yang telah muncul dalam sistem pemerintahan saat ini. Napoleon berkuasa sebagai kaisar dan dengan tangan besi setelah masyarakat Prancis berhasil bebas dari tirani para penguasa Prancis. Akan tetapi, itu tidak berarti Napoleon adalah pemimpin yang lebih baik. Jadi, kita juga tidak bisa berharap banyak kepada masyarakat akar rumput ketika mereka sendiri, yang secara mayoritas, telah menjadi partisipan dalam membangun budaya demokrasi yang buruk seperti saat ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Skenario terbaik adalah terjadinya pemilihan presiden pada tahun 2028-2029 yang terjadi secara tertib dan konstitusional. Skenario terburuk adalah terjadinya suatu demonstrasi, makar, dan upaya kudeta sebelum terjadi pemilihan presiden. Skenario terburuk kedua adalah apabila presiden yang lama terpilih kembali, dan pada periode kedua, terjadi krisis yang jauh lebih buruk atau presiden mengalami sakit penyakit, sehingga memunculkan kegaduhan dan ketidakpastian publik. Di antara itu, tidak menutup kemungkinan akan muncul upaya pengambilan alih dari struktur kekuasaan militer oleh oknum-oknum tertentu, yang sekali lagi, mengulang apa yang terjadi pada transisi setiap pergantian Orde.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Apa yang dapat dilakukan oleh Gereja?</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Kabar baiknya adalah pada masa-masa krisis seperti ini, biasanya kekristenan memang akan mengalami kebangkitan rohani. Bukanlah sesuatu yang asing bagi kita, dalam perkembangan sejarah gereja, untuk menyaksikan banyaknya orang Kristen yang kembali dengan sungguh kepada Tuhan saat terjadinya masa-masa kesulitan. Hal itu tidak berarti kita boleh dengan sengaja mendoakan supaya Tuhan mendatangkan krisis. Akan tetapi, kita perlu mendoakan agar di tengah proses melalui krisis ini, Tuhan memberikan anugerah-Nya agar gereja-Nya dapat menjadi saluran berkat bagi bangsa. Menjadi terang dalam menyuarakan suara kenabian untuk mengkritik ketidakadilan yang telah diperbuat oleh pemilik kekuasaan. Menjadi garam dalam memberikan rasa pengertian dan penyambung damai bagi mereka yang terabaikan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika masyarakat Indonesia berhadapan dengan suatu krisis yang mendalam, banyak orang akan mencari suatu “contoh” sebagai <em>point of reference</em>. Apabila itu bukan pemerintah, maka mereka akan mencari tokoh masyarakat atau tokoh agama. Apabila juga bukan di sana, mereka akan mencari kaum profesional dan cendekiawan. Demikian juga seterusnya. Maka dari itu, sebagai umat Kristiani yang berada di Indonesia, kita seharusnya menjadi tokoh dan institusi nurani bagi masyarakat Indonesia. Satu sisi, gereja bukanlah milik kepentingan negara dan juga bukanlah sarana revolusi dari golongan rakyat. Gereja adalah milik Tuhan yang hadir sebagai suara yang mengungkapkan kebenaran, kasih, dan keadilan. Kita bukanlah milik golongan siapa pun yang sedang berebutan kekuasaan dalam arena sosio-politik dalam negeri ini.&nbsp;</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">&#8230;kita perlu mendoakan agar di tengah proses melalui krisis ini, Tuhan memberikan anugerah-Nya agar gereja-Nya dapat menjadi saluran berkat bagi bangsa. Menjadi terang dalam menyuarakan suara kenabian untuk mengkritik ketidakadilan yang telah diperbuat oleh pemilik kekuasaan. Menjadi garam dalam memberikan rasa pengertian dan penyambung damai bagi mereka yang terabaikan.</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Akan ada banyak pihak yang mencoba untuk memenangkan suara gereja, tetapi gereja seharusnya mengucapkan apa yang telah dituangkan dalam Firman-Nya dan apa yang diajarkan dalam sejarah kekristenan. Oleh karena itu, seharusnya gereja menjadi kelompok yang menyiapkan “tempat penyimpan gandum” seperti yang dilakukan oleh Yusuf untuk menghadapi masa-masa krisis yang akan datang. Setiap jemaat dan pemimpin gereja harus mendisiplinkan diri untuk menyiapkan dana darurat, membukakan jejaring pencarian kerja, dan juga untuk menolong kaum-kaum miskin yang belum percaya kepada Yesus. Tidak hanya itu, gereja seharusnya turut menjadi contoh bagi masyarakat Indonesia. Di tengah krisis kepercayaan publik dan krisis kepemimpinan, sistem pemerintahan gereja dan kepemimpinan yang mencerminkan karakter penggembalaan Kristus turut harus menjadi contoh yang diwartakan kepada jemaat dan juga kepada dunia. Sebagaimana Tuhan Yesus menjadi manusia dan pelayan, demikian juga para tokoh Kristiani turut perlu mencerminkan karakter pemimpin yang melayani sehingga dunia mengetahui bahwa dalam gerejalah terdapat nilai-nilai kepemimpinan yang sejati.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Masyarakat Indonesia yang sudah terikat dalam rasa penyesalan dan kebingungan tidak dapat dengan langsung dan tiba-tiba untuk segera menyadari siapa pemimpin negara yang baik. Akan tetapi, ketika gereja dapat memberikan suatu contoh yang bijaksana dan menawarkan nilai kepemimpinan sebagaimana diekspresikan melalui sosok seperti Kristus, seharusnya itulah yang dapat mengantar umat Kristiani sebagai penyambung lidah akan nilai-nilai demokrasi yang adil dan bijaksana. Bukanlah tanggung jawab gereja untuk masuk ke dalam ranah politik pada sebuah negara, tetapi adalah tanggung jawab gereja untuk mengajarkan kepada jemaat dan dunia tentang apa itu kebenaran dan prinsip-prinsip keadilan, kerendahan hati, dan kasih yang berkorban.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apabila institusi hukum sudah jatuh, institusi politik sudah korup, institusi ekonomi semakin lemah, dan institusi pendidikan semakin rapuh, maka yang tersisa adalah institusi agama. Secara lebih spesifik, institusi agama yang diperankan oleh institusi gereja seharusnya menawarkan suatu model kehidupan masyarakat yang berkomunitas. Prinsip kekuasaan bukanlah untuk kekuasaan itu sendiri, melainkan sebagai tanggung jawab kepada Yang Ilahi. Apabila gereja tidak lagi menjadi model untuk masyarakat Indonesia, maka kita bagaikan garam yang sudah kehilangan rasa asin. Agak disayangkan bila gereja yang seharusnya menjadi contoh, malah turut terseret dalam jerat kekuasaan yang ditawarkan oleh dunia. Kiranya Tuhan berbelas kasihan kepada gereja-Nya dan kepada bangsa Indonesia, semoga melalui krisis ini dan yang mendatang, Tuhan turut bekerja untuk membangkitkan umat Kristiani.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hukum bisa hancur, ekonomi bisa turun, dan banyak institusi yang bisa runtuh. Akan tetapi, komunitas umat percaya yang dipercayakan kebenaran, kasih, dan keadilan-Nya, tidak boleh jatuh melainkan justru semakin mencerminkan terang Kristus di dunia yang berada dalam kegelapan.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kevin Nobel Kurniawan<br>Pemuda GRII Pusat</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">29021</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Down and Up and Down: Pentecost</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/kehidupan-kristen/down-and-up-and-down-pentecost</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[michaelleang]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 23 May 2026 14:39:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kehidupan Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[Doktrin Roh Kudus]]></category>
		<category><![CDATA[Kenaikan Yesus]]></category>
		<category><![CDATA[keselamatan]]></category>
		<category><![CDATA[Pentakosta]]></category>
		<category><![CDATA[Roh Kudus]]></category>
		<category><![CDATA[Tubuh Kristus]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=28905</guid>

					<description><![CDATA[Beberapa waktu yang lalu kita telah merenungkan Hari Kenaikan Tuhan Yesus Kristus. Kita melihat bagaimana Sang Anak Allah turun dari sorga ke dunia yang berdosa ini, mengambil rupa seorang hamba, ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/kehidupan-kristen/down-and-up-and-down-pentecost">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Beberapa waktu yang lalu kita telah merenungkan Hari Kenaikan Tuhan Yesus Kristus. Kita melihat bagaimana Sang Anak Allah turun dari sorga ke dunia yang berdosa ini, mengambil rupa seorang hamba, hidup di tengah manusia, memikul penderitaan, mati di kayu salib untuk menebus umat-Nya, bangkit dalam kemenangan, lalu naik kembali ke sorga dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Kenaikan Kristus mengingatkan kita bahwa takhta sorga tidak pernah kosong. Yesus memerintah sebagai Raja atas segala sesuatu (<em>reign</em>), menjadi Pengantara bagi umat-Nya (<em>reconnect</em>), dan terus memelihara gereja-Nya dengan kasih dan kuasa-Nya (<em>remember</em>). Ia bukan Juruselamat yang jauh dan melupakan umat-Nya, melainkan Tuhan yang hidup dan terus bekerja bagi kita.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kisah keselamatan terus berlanjut dan tidak berhenti pada kenaikan Kristus. Setelah Yesus naik ke sorga, Ia tidak meninggalkan gereja-Nya berjalan sendiri di dunia ini. Dari takhta-Nya yang mulia, Ia mencurahkan Roh Kudus kepada umat-Nya. Jika pola besar karya keselamatan dapat digambarkan sebagai “<em>down and up</em>” (yaitu Kristus turun lalu naik), maka pada hari Pentakosta kita kembali melihat “<em>down</em>” sekali lagi, ketika Roh Kudus turun ke dunia. Jadi pola itu menjadi “<em>down and up and down</em>”. Kristus turun ke dunia untuk menebus, naik ke sorga untuk memerintah, lalu Roh Kudus turun untuk menerapkan karya keselamatan itu di dalam hidup umat percaya. Inilah kelanjutan karya Kristus bagi gereja-Nya sampai hari ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena itu, pertanyaan yang perlu kita renungkan dengan jujur kali ini adalah: Sejauh mana kita benar-benar mengenal Roh Kudus? Sering kali ketika orang mendengar tentang Roh Kudus, yang terbayang adalah sesuatu yang spektakuler atau emosional. Banyak orang mengukur pekerjaan Roh Kudus hanya dari hal-hal yang terlihat luar biasa. Tetapi Alkitab mengajarkan bahwa karya Roh Kudus sering kali bekerja dengan cara yang sunyi namun mendalam; tidak selalu heboh di luar, tetapi nyata mengubah hati manusia dari dalam. Kehadiran Roh Kudus tidak selalu ditandai oleh keramaian atau emosi yang meluap-luap, melainkan oleh perubahan hidup yang makin serupa Kristus. Karena itu kita perlu bertanya: Apa sebenarnya pekerjaan Roh Kudus di dalam kehidupan orang percaya?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertama, <em>the Holy Spirit is the only One to </em><strong><em>unveil</em></strong><em> Jesus</em> (Roh Kudus adalah satu-satunya Pribadi yang menyingkapkan Yesus kepada kita).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tuhan Yesus berkata dalam Yohanes 16:13-14 bahwa ketika Roh Kebenaran datang, Ia akan memimpin umat-Nya ke dalam seluruh kebenaran dan memuliakan Kristus. Roh Kudus tidak datang untuk menarik perhatian kepada diri-Nya sendiri. Ia datang untuk membuka mata manusia supaya melihat kemuliaan Yesus. Sebelum Roh Kudus dicurahkan, para murid masih sering bingung memahami siapa Yesus sebenarnya. Mereka melihat mujizat-Nya, mendengar pengajaran-Nya, bahkan menyaksikan kebangkitan-Nya, tetapi hati mereka masih lambat untuk mengerti. Namun setelah Roh Kudus turun pada hari Pentakosta, semuanya berubah. Petrus yang dahulu takut dan menyangkal Yesus kini berdiri dengan berani di depan banyak orang dan memberitakan bahwa Yesus adalah Mesias dan Tuhan. Roh Kudus membuka mata mereka untuk melihat bahwa salib bukanlah kekalahan, melainkan jalan kemenangan Allah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bahkan ketika Injil mulai diberitakan kepada bangsa-bangsa lain, Roh Kudus menunjukkan bahwa keselamatan Kristus tidak dibatasi oleh suku, budaya, atau bangsa tertentu. Dalam peristiwa di rumah Kornelius, Roh Kudus dicurahkan juga kepada orang-orang non-Yahudi sebagai tanda bahwa Injil adalah kabar baik bagi segala bangsa. Bahasa-bahasa yang terdengar pada hari Pentakosta menjadi lambang bahwa Injil akan melampaui batas etnis dan budaya manusia. Karena itu, tanda utama gereja yang dipenuhi Roh Kudus bukan pertama-tama suasana yang heboh, melainkan Kristus yang makin ditinggikan, diberitakan dengan jelas, dan dikasihi oleh umat-Nya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kedua, <em>the Holy Spirit is the only One to </em><strong><em>unite</em></strong><em> us with Jesus</em> (Roh Kudus adalah satu-satunya yang mempersatukan kita dengan Kristus).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Roh Kudus tidak hanya membuat kita mengenal Kristus secara intelektual; Ia juga menyatukan kita dengan Kristus secara rohani. Tuhan Yesus berkata dalam Yohanes 15, “Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Gambaran pokok anggur dan ranting menunjukkan bahwa hidup rohani tidak dapat berdiri sendiri. Ranting hanya dapat hidup apabila tetap melekat pada pokok anggur. Demikian juga manusia hanya memiliki hidup sejati ketika dipersatukan dengan Kristus. Roh Kuduslah yang menghubungkan kita dengan Dia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tanpa Kristus, kita mungkin tampak hidup secara lahiriah, tetapi sesungguhnya hati kita kering secara rohani. Seperti lampu yang indah tetapi tidak menyala tanpa aliran listrik, demikianlah hidup manusia tanpa hubungan dengan Kristus. Roh Kuduslah yang mengalirkan kehidupan Kristus ke dalam diri kita sehingga ada terang, kekuatan, dan buah rohani yang nyata.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Persatuan ini juga tidak hanya bersifat vertikal antara kita dan Kristus, tetapi juga horizontal antara sesama orang percaya. Roh Kudus membentuk satu tubuh dari berbagai latar belakang manusia. Dari Yerusalem, Yudea, Samaria, sampai ke ujung bumi, Roh Kudus mempersatukan orang-orang yang sebelumnya terpisah oleh budaya, bahasa, bahkan permusuhan. Dalam dunia yang penuh perpecahan, gereja dipanggil menjadi komunitas yang dipersatukan oleh Roh Kudus, karena kita semua melekat kepada satu Kepala yang sama, yaitu Kristus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terakhir, <em>the Holy Spirit is the only One who convicts us of sin and </em><strong><em>uplifts</em></strong><em> us</em> (Roh Kudus adalah satu-satunya yang menyadarkan kita akan dosa sekaligus menghibur dan mengangkat kita kembali).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Roh Kudus bekerja di dalam hati manusia dengan menyingkapkan dosa. Ia membuat kita melihat bukan hanya kesalahan lahiriah, tetapi juga kedalaman hati yang memberontak terhadap Allah. Sering kali kesadaran ini terasa menyakitkan. Kita mulai melihat kesombongan, iri hati, kemunafikan, ketidakmurnian, dan berbagai dosa yang selama ini tersembunyi. Pada saat itu kita dapat merasa malu, hina, bahkan tidak layak datang kepada Allah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun Roh Kudus tidak menegur untuk menghancurkan. Ia menegur untuk memulihkan. Ia menyingkapkan dosa supaya kita membencinya dan berpaling darinya, tetapi pada saat yang sama Ia juga mengarahkan mata kita kepada Kristus yang telah menanggung hukuman dosa itu di kayu salib. Mazmur 22 menggambarkan penderitaan Mesias dengan kata-kata yang begitu dalam, “Aku ini ulat dan bukan orang.” Kristus turun ke tempat kehinaan terdalam supaya kita yang berdosa tidak binasa di bawah rasa bersalah dan penghukuman.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena itu, Roh Kudus tidak hanya membawa kita menangis atas dosa, tetapi juga membawa kita berpegang pada kasih karunia. Tanpa penghiburan Roh Kudus, kesadaran dosa hanya menghasilkan keputusasaan. Tetapi dengan karya Roh Kudus, kesadaran dosa melahirkan pertobatan, pengharapan, dan sukacita baru di dalam Kristus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Itulah sebabnya hidup yang dipenuhi Roh Kudus bukanlah hidup yang liar tanpa kendali atau sekadar penuh ledakan emosi. Efesus 5 menunjukkan bahwa hidup yang penuh Roh terlihat dalam hati yang dipenuhi pujian kepada Tuhan, ucapan syukur, kerendahan hati, dan relasi yang saling mengasihi. Roh Kudus turun bukan untuk menjauhkan kita dari Kristus, tetapi justru untuk membawa kita makin dekat kepada-Nya. Ia menyatakan Kristus kepada kita, mempersatukan kita dengan Kristus, dan mengangkat kita kembali ketika kita jatuh dalam dosa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Maka ketika kita merayakan Pentakosta, kita bukan hanya mengenang sebuah peristiwa yang terjadi dua ribu tahun yang lalu. Kita mengakui bahwa Roh Kudus masih terus bekerja sampai hari ini. Yesus telah turun ke dunia dan naik ke sorga, dan Roh Kudus telah turun ke tengah gereja-Nya. Roh Kudus adalah satu-satunya Pribadi yang menyingkapkan Yesus kepada kita (<em>unveil</em>), yang mempersatukan kita dengan Kristus (<em>unite</em>), dan yang menyadarkan kita akan dosa sekaligus menghibur dan mengangkat kita kembali (<em>uplift</em>). Sekarang, di dalam hati umat percaya, Roh Kudus terus bekerja dengan setia: membuat Kristus makin indah di mata kita, membuat iman makin hidup, membuat pertobatan makin nyata, dan membuat pengharapan makin teguh sampai hari ketika Kristus yang telah naik itu datang kembali dalam kemuliaan-Nya. Amin.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ezra Yoanes Setiasabda Tjung<br>Jemaat PR San Francisco</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">28905</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Damai Kristus dan Eksistensialisme Kierkegaard Sebagai Dasar Penginjilan</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/kehidupan-kristen/damai-kristus-dan-eksistensialisme-kierkegaard-sebagai-dasar-penginjilan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[andrian]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 May 2026 12:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kehidupan Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[kebangkitan]]></category>
		<category><![CDATA[Kierkegaard]]></category>
		<category><![CDATA[Kristus]]></category>
		<category><![CDATA[penginjilan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=28856</guid>

					<description><![CDATA[Di dalam sejarah gereja, hari kebangkitan Yesus, yakni Paskah, bukan merupakan peringatan yang hanya dirayakan dalam satu hari di mana Yesus bangkit saja, melainkan di dalam satu musim. Hal ini ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/kehidupan-kristen/damai-kristus-dan-eksistensialisme-kierkegaard-sebagai-dasar-penginjilan">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Di dalam sejarah gereja, hari kebangkitan Yesus, yakni Paskah, bukan merupakan peringatan yang hanya dirayakan dalam satu hari di mana Yesus bangkit saja, melainkan di dalam satu musim. Hal ini dinyatakan di dalam Alkitab, yakni di Kisah Para Rasul 1:3 di mana Yesus bangkit dan menampakan diri-Nya berkali-kali, berhari-hari; bukan di dalam satu hari yang bersamaan ke seluruh murid. Selama 40 hari itulah yang disebut dengan &#8220;musim&#8221; Paskah, yang sama-sama bersifat musiman seperti perayaan Minggu Penantian (Advent, sebelum Natal) dan Minggu Pra-paskah (Lent, sebelum Paskah). Kristus bangkit, dan bukan hanya bangkit, tetapi selama 40 hari Dia menampakkan diri-Nya kepada orang-orang yang Dia kasihi, sehingga dapat dikatakan bahwa para saudara mengalami kebangkitan Kristus juga di dalam dimensi yang lebih personal. Oleh karena itu, karena tulisan ini ditulis masih saat musim Paskah 2026, tulisan ini akan membahas hal terkait tentang Jumat Agung dan Paskah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada tanggal 3 April 2026, Gerakan Reformed Injili telah mengadakan KKR Jumat Agung di Indonesia Arena. Kita bersyukur bahwa ada lebih dari 14.000 orang yang boleh datang atas undangan Tuhan untuk mendengar Firman yang disampaikan oleh hamba-Nya Pdt. Stephen Tong. Pada KKR tersebut, Pdt. Stephen Tong berkhotbah yang berjudul &#8220;Kematian yang Memperdamaikan&#8221;. Dalam khotbahnya, Pdt. Stephen Tong memberikan 5 point penting yang merupakan hasil dari kematian Kristus yang dapat kita renungkan: Kematian Kristus menjadikan kita dapat berdamai dengan Allah, berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan orang lain, memperdamaikan orang lain dengan orang lain, memperdamaikan orang lain dengan Allah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jikalau kita perhatikan, ke-5 poin ini sifatnya sekuensial (berlangsung secara berurutan). Mengapa hal ini sekuensial? Karena kita tidak dapat mengubah urutannya. Ketika kita merenungkan poin tersebut, poin yang belakangan (<em>latter points</em>) tidak dapat berdiri tanpa poin yang terdahulu (<em>former points</em>). Berdamai dengan diri sendiri tidak mungkin terjadi tanpa adanya perdamaian dengan Allah, dan baru ketika kita berdamai dengan Allah, kita bisa berdamai dengan orang lain, dan seterusnya.&nbsp; Namun, setelah kita mengetahui karya Kristus di kayu salib agar kita boleh berdamai dengan Allah, bagaimana kita berdamai dengan diri sendiri?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seorang filsuf Kristen Lutheran yang adalah seorang bapak filsafat eksistensialisme bernama Soren Aabye Kierkegaard di dalam bukunya, <em>Concluding Unscientific Postscript to Philosophical Fragments</em>, menyatakan suatu ide tentang kebenaran, yakni <em>Subjectivity of Truth</em>. Dalam pemikirannya, Kierkegaard TIDAK mengatakan bahwa kebenaran adalah sesuatu yang subyektif, seakan-akan berkata: &#8220;untukmu kebenaranmu, untukku kebenaranku&#8221; ala postmodernist. Kierkegaard percaya bahwa kebenaran itu sifatnya objektif, tetapi kebenaran yang sifatnya objektif tidak boleh hanya berhenti menjadi sebagai satu hal di luar diri seorang yang menyaksikannya, melainkan kebenaran tersebut harus masuk, ber-inkarnasi, ke dalam jiwa sang pengamat. Kebenaran tersebut harus menjadi komitmen eksistensial sang pengamat. Inilah yang disebut subjektivitas kebenaran. Jikalau dokter memberi hasil analisis kepada dua pasien sakit kritis, yang satu mengerti analisisnya tetapi pola hidupnya tidak berubah, sedangkan yang lain tidak mengerti analisisnya tetapi percaya terhadap dokter, maka yang satu akan hidup dan yang lain tidak. Pertanyaan besar bagi kita adalah: setelah kita mengetahui bahwa Kristus disalibkan dan mati untuk memperdamaikan kita dengan Allah, maka selanjutnya apa?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kembali ke khotbah Pdt Stephen Tong, sekuens selanjutnya adalah perdamaian dengan diri sendiri. Bagaimana kita bisa berdamai dengan diri sendiri? Kita harus mengerti apa itu &#8220;diri&#8221;. Di dalam buku Kierkegaard yang lain, yakni <em>The Sickness Unto Death</em>, dia menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk yang berpribadi. Apa itu diri? Diri adalah sebuah relasi yang mengikat diri dengan diri. Diri tersebut, utamanya, adalah relasi, yang berelasi dengan diri kita sendiri. Bagaimana mengerti hal rumit ini? Singkatnya, Kierkegaard berusaha mengatakan bahwa diri manusia itu bukan satu benda statis, tetapi diri kita adalah sebuah sintesis di dalam ruang dan waktu. Kita bercakap-cakap dengan diri sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apa arti dari sintesis? Sintesis adalah penyatuan dari dua hal yang berbeda, menjadi satu kesatuan yang utuh. Misalnya: Air dingin dan air panas bersintesis menjadi air hangat. Dalam konteks diri, jiwa kita adalah sintesis antara hal-hal yang berseberangan: yang terbatas dengan yang tidak terbatas, yang kekal dan sementara, yang kebutuhan dan kemungkinan. Kita menyadari bahwa kita punya fisik dan waktu terbatas, tetapi kita punya mimpi dan harapan yang tidak terbatas; di dalam kesementaraan, kita hidup, bekerja, dan makan, tetapi kita punya pikiran akan hal yang kekal seperti tujuan dan makna hidup. Ketika bersintesis, diri kita tidak menjadi kekal atau tidak kekal secara penuh, tidak menjadi sekedar terbatas atau tidak terbatas, maupun tidak hanya realistis atau optimis. Diri kita bersintesis untuk menjadi sesuatu di antara ketegangan-ketegangan tersebut, dan di dalam prosesnya kita sadar bahwa kita adalah makhluk yang memiliki diri yang utuh dan seimbang, dan sadar bahwa kita berelasi dengan sesuatu yang lain.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika diri kita bersintesis, kita sedang sadar menilai diri kita sendiri. Kita sadar bahwa kita hanyalah sementara, tetapi kita tahu bahwa kita harus punya nilai-nilai yang baik, yang sifatnya kekal. Kita menilai diri kita sendiri di hadapan Yang Kekal, yakni Allah. Jadi, ketika kita berelasi dengan diri kita sendiri, kita pun juga sedang berhadapan dengan Allah &#8211; berelasi dengannya. Inilah yang dimaksud Kierkegaard bahwa diri berelasi dengan diri dan kemudian berelasi dengan sesuatu yang lain. Sesuatu yang lain tersebut adalah Allah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Manusia seharusnya berelasi dengan Allah, karena hanya dengan cara tersebutlah manusia boleh berelasi dengan aktif dan berdamai dengan diri sendiri. Namun, banyak manusia yang tidak berelasi dengan Allah, dan itu mengakibatkan apa yang Kierkegaard katakan sebagai keputusasaan (<em>despair</em>). Keputusasaan bukanlah hanya sekedar perasaan emosional, tetapi kondisi jiwa, yakni ketika manusia yang seharusnya menemukan peristirahatan di dalam Allah, tetapi tidak terjadi. Terdapat tiga jenis keputusasaan: putus asa karena tidak mau menjadi diri sendiri, putus asa karena terlalu ingin menjadi diri sendiri (tanpa Tuhan), dan putus asa karena diri tidak sadar akan pendiriannya. Ringkasnya, manusia putus asa karena terlalu membenci dirinya, karena terlalu mencintai dirinya, dan tidak sadar atau peduli bahwa dia adalah seorang pribadi. Keputusasaan membuat manusia kehilangan dirinya, merasa kosong, gelisah, dan akhirnya terpisah dari Tuhan. Dari luar bisa terlihat normal, tapi di dalam sebenarnya tidak utuh. Badannya hidup tapi jiwanya penuh kematian, jiwanya ingin mati tapi badannya tidak mampu. Inilah kondisi keputusasaan yang terkait dengan kejatuhan manusia dalam dosa, sehingga manusia tidak dapat berdamai dengan diri sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Manusia yang telah jatuh ke dalam dosa (yakni kita semua) pasti pernah berada dan bersintesis di antara tiga kondisi keputusasaan tersebut. Ini senada dengan Firman Tuhan yang mengatakan bahwa semua manusia telah menyeleweng dan kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:12-23). Oleh penyelewengan kita di dalam Adam, dosa telah masuk ke dalam dunia dan ke dalam diri kita, dan oleh dosa itu juga maut (Roma 5:12). Ketika kita membaca ini, mungkin kita mengatakan “ah tidak ah, saya tidak pernah merasa di dalam keputusasaan.” itu sama saja seperti kita tidak mengakui bahwa kita tidak pernah berada di dalam dosa, sehingga sama saja seperti kita membohongi diri kita sendiri (1 Yoh 1:8). Keputusasaan yang paling bahaya adalah ketika kita tidak sadar bahwa diri kita sedang berada di dalam keputusasaan, sehingga kita akan hidup sebagaimana angin bertiup, sebagaimana air mengalir, tanpa adanya kesadaran bahwa diri bertanggung jawab di hadapan Allah. Tidak mungkin manusia yang berputus asa bisa berdamai dengan diri sendiri, karena obat dari keputusasaan adalah beristirahat di dalam kekuatan yang menopangnya, yakni Allah. Perlu ada kuasa yang menarik manusia dari keputusasaan tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kembali ke khotbah Pdt. Stephen Tong, Allah menetapkan satu hari dalam sejarah di mana Anak Allah yang berinkarnasi dihukum mati di salib. Hari tersebut adalah hari yang disebut dengan Jumat Agung. Namun, kematian Anak Allah bukanlah kematian biasa. Semua filsuf mati, semua kaisar agung mati, dan sama halnya semua pemimpin agama mati. Namun, tidak ada satu pun dari kematian tersebut yang memperdamaikan pengikutnya dengan Allah. Hanya kematian Yesus lah yang memperdamaikan manusia dengan Allah. Bagaimana caranya? Dengan mengambil keberdosaan kita dan mati di kayu salib. Kristus mengambil seluruh pemberontakan kita, rasa malu (<em>shame),</em> dan rasa bersalah (<em>guilt</em>) kita di hadapan Allah, dan menebus kita darinya melalui salib.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh kematian Kristus, manusia bisa diperdamaikan dengan Allah. Inilah yang Kierkegaard katakan sebagai obat dari keputusasaan, yakni diri manusia bisa beristirahat secara transparan di hadapan Allah karena Kristus telah menanggung dosa kita. Dengan kematian Kristus, murka Allah tidak lagi dicurahkan kepada kita, dan kebaikan Kristus diperhitungkan kepada kita, sehingga kita dapat dipandang sebagai anak-anak Allah. Sebagai anak-anak Allah, diri kita sekarang dapat kembali berelasi dengan apa adanya di hadapan kuasa yang menopangnya, yakni Allah. Berelasi (secara transparan) maksudnya adalah mengakui bahwa kita terbatas dan mengakui kesalahan kita di hadapan Allah, lalu bertobat. Jika kita mengakui dosa kita, maka Allah adalah setia dan adil (1 Yoh. 1:9). Inilah Injil itu: Kematian Kristus memperdamaikan kita dengan Allah supaya kita bisa berdamai dengan diri sendiri. Ketika kita menerima diri kita di hadapan Allah, kita dapat berdamai dengan orang lain karena pertikaian, penghakiman, perkataan, perbuatan orang lain tidak lagi berdampak kepada diri kita. Tentu ini semua tidak terjadi dengan instan, melainkan diri kita sekarang disatukan dengan Allah, sehingga kita semakin dibentuk sesuai serupa dengan Allah. Ketika kita berdamai dengan orang lain, kita dapat menginjili orang lain sehingga orang lain bisa berdamai dengan orang lain, dan nantinya berujung orang lain berdamai dengan Allah.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a></a>Ketika kita mengetahui kebenaran ini, jikalau kita sungguh-sungguh percaya bahwa Yesus Kristus disalib untuk menebus kita dari dosa, kita sadar bahwa kebenaran ini mengubahkan kita secara pribadi. Kita sadar bahwa kebenaran yang obyektif ini, telah berinkarnasi ke dalam diri kita, yang olehnya, kita boleh berdamai dengan diri kita sendiri. Sama seperti Kristus, Allah, Kebenaran yang hidup, telah berinkarnasi ke dunia ini dan memberikan diri-Nya agar kita boleh diubahkan dan bertobat. Sayangnya, hari ini banyak orang di luar sana yang tidak berdamai dengan dirinya sendiri. Banyak orang yang secara tidak sadar, terlalu membenci dirinya, terlalu mencintai dirinya, atau tidak sadar bahwa dirinya adalah pribadi di hadapan Tuhan. Banyak orang pada akhirnya putus asa, dan menghidupi kehidupan hanya untuk memuaskan dirinya. Inilah yang menjadi dasar bagi penginjilan kita, bahwa relasi dengan Allah begitu membebaskan kita. Seseorang harus memberitakannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mario A. J. Sirait<br>Pemuda GRII Pusat</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">28856</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Down and Up: Ascension Day</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/kehidupan-kristen/down-and-up-ascension-day</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[heryanto]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 14 May 2026 22:58:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kehidupan Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[Ascension Day]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Besar Agung]]></category>
		<category><![CDATA[Pengantara Allah dan Manusia]]></category>
		<category><![CDATA[Pengharapan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=28690</guid>

					<description><![CDATA[Di Indonesia, Hari Kenaikan Tuhan Yesus Kristus atau Ascension Day adalah hari libur nasional. Umat Kristen di negeri ini memiliki empat hari raya utama yang menjadi hari libur nasional: Natal, Jumat Agung, Paskah, dan Kenaikan Tuhan Yesus. Namun, dibandingkan dengan tiga perayaan lainnya, Kenaikan Tuhan Yesus sering kali kurang mendapat perhatian. Perayaan ini selalu jatuh pada hari Kamis dan biasanya diikuti dengan cuti bersama pada hari Jumat.

Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya kesempatan untuk beristirahat, berkumpul dengan keluarga, atau bepergian. Namun sebagai gereja Tuhan, kita diundang untuk berhenti sejenak dan merenungkan makna rohani yang dalam dari peristiwa ini. Bagaimana kita menghayati signifikansi Kenaikan Tuhan Yesus yang adalah bagian penting dari karya keselamatan Allah yang penuh makna, penuh kuasa, dan penuh pengharapan bagi umat-Nya?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Di Indonesia, Hari Kenaikan Tuhan Yesus Kristus atau <em>Ascension Day</em> adalah hari libur nasional. Umat Kristen di negeri ini memiliki empat hari raya utama yang menjadi hari libur nasional: Natal, Jumat Agung, Paskah, dan Kenaikan Tuhan Yesus. Namun, dibandingkan dengan tiga perayaan lainnya, Kenaikan Tuhan Yesus sering kali kurang mendapat perhatian. Perayaan ini selalu jatuh pada hari Kamis dan biasanya diikuti dengan cuti bersama pada hari Jumat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya kesempatan untuk beristirahat, berkumpul dengan keluarga, atau bepergian. Namun sebagai gereja Tuhan, kita diundang untuk berhenti sejenak dan merenungkan makna rohani yang dalam dari peristiwa ini. Kenaikan Tuhan Yesus bukan sekadar penutup dari kisah kebangkitan, ataupun cerita tambahan dari peristiwa besar karya keselamatan Kristus. Hari Kenaikan adalah bagian penting dari karya keselamatan Allah yang penuh makna, penuh kuasa, dan penuh pengharapan bagi umat-Nya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak Ada yang Naik ke Sorga Selain Yesus</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam Yohanes 3:13 tertulis:</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Tidak ada seorang pun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perkataan ini sederhana, tetapi sangat mendalam. Yesus menegaskan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat naik ke sorga selain dari Anak Manusia, yaitu Yesus sendiri. Ya, Alkitab memang mencatat bahwa Henokh dan Elia juga diangkat ke sorga. Namun mereka diangkat ke sorga tidaklah sama dengan kenaikan seperti yang dialami Kristus. Mereka tidak naik sebagai Raja yang menang, tidak duduk di sebelah kanan Allah, dan tidak menerima segala otoritas atas sorga dan bumi. Hanya Yesus yang benar-benar naik sebagai Tuhan yang menang atas dosa, maut, dan Iblis. Yesus berbeda dari semua manusia, karena Dia bukan hanya manusia. Dia adalah Anak Allah yang telah turun dari sorga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada pola indah yang dapat kita perhatikan di sini: <strong>down and up</strong>. Yesus turun dari sorga untuk menyelamatkan kita dan menuntaskan pekerjaan yang Bapa kehendaki, lalu Dia naik kembali ke sorga setelah menyelesaikan karya yang teragung ini. Hal ini mengajarkan bahwa keselamatan dimulai dari Allah yang turun kepada kita di dalam Kristus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam perayaan Hari Kenaikan tahun ini, ada tiga kebenaran yang dapat kita renungkan bersama sebagai anak-anak Tuhan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertama, <em>Jesus the Savior <strong><u>Reigns</u></strong></em> (Yesus Juruselamat Memerintah)!</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam 1 Petrus 3:22, kita membaca bahwa Yesus telah naik ke sorga, berada di sebelah kanan Allah, dan kepada-Nya telah ditaklukkan segala malaikat, kuasa, dan kekuatan. Sering kali kita lebih akrab dengan gambaran Yesus yang lembut, yang mengasihi anak-anak, yang menyembuhkan orang sakit, yang menangis bersama mereka yang berduka. Semua itu benar dan indah. Tetapi Hari Kenaikan mengingatkan kita akan satu dimensi lain dari Kristus: Dia adalah Raja yang bertakhta! Kenaikan bukanlah perpisahan yang menyedihkan antara Yesus dan murid-murid-Nya. Kenaikan adalah <em>enthronement</em> (penobatan). Jika kebangkitan menandai bahwa karya keselamatan-Nya di bumi telah selesai, maka kenaikan menandai dimulainya pelayanan-Nya sebagai Raja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mari kita renungkan Yesus sebagai Raja untuk sejenak. Di dunia yang penuh ketidakpastian, apalagi dengan krisis ekonomi, konflik, penyakit, perang, ataupun ketidakadilan, kita sering kali merasa kecil dan tidak berdaya. Berita demi berita membuat manusia hidup dalam ketakutan dan kecemasan. Banyak orang bertanya: Siapa sebenarnya yang memegang kendali atas dunia ini? Namun Hari Kenaikan memberikan jawaban yang jelas: Kristuslah yang memerintah. Takhta Allah tidak pernah kosong. Yesus yang telah bangkit kini duduk di sebelah kanan Bapa, memerintah atas segala sesuatu. Segala malaikat, kuasa, dan kekuatan ada di bawah otoritas-Nya (Mat. 28:18).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kebenaran ini memberikan penghiburan besar bagi orang percaya. Kita mungkin tidak memahami seluruh jalan hidup kita. Ada doa yang belum terjawab, rencana yang berubah, ataupun penderitaan yang tidak kita mengerti. Namun sebagai anak-anak Tuhan, kita tahu bahwa hidup kita berada di tangan Raja yang baik dan berdaulat. Tidak ada satu pun peristiwa dalam hidup kita yang berada di luar kendali-Nya. Bahkan hal-hal yang tampaknya kacau sekalipun tetap berada dalam pemerintahan Kristus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ingatlah hal ini, Kristus memerintah bukan sebagai Raja yang jauh dan dingin. Dia adalah Raja yang pernah turun ke dunia, memikul salib, dan mati bagi umat-Nya. Raja kita memahami penderitaan umat-Nya karena Dia sendiri pernah menderita. Itulah sebabnya pemerintahan Kristus menjadi sumber pengharapan. Kita tidak diperintah oleh kuasa yang kejam, tetapi oleh Juruselamat yang penuh kasih karunia. Karena Kristus memerintah, gereja Tuhan tidak perlu hidup dalam ketakutan. Dunia boleh berubah, kerajaan manusia dapat runtuh, tetapi Kerajaan Kristus tetap berdiri untuk selama-lamanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hari Kenaikan mengajak kita mengangkat mata dari keadaan dunia yang sementara kepada Kristus yang bertakhta di sorga. Ketika hati kita dipenuhi kecemasan, kita diingatkan bahwa Raja kita hidup dan memerintah. Ketika kita merasa lemah, kita diingatkan bahwa kuasa Kristus jauh lebih besar daripada segala kekuatan dunia ini. Dan ketika kita menghadapi masa depan yang tidak pasti, kita boleh berjalan dengan iman, sebab Raja yang memegang masa depan itu adalah Juruselamat kita sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kedua, <em>Jesus the Savior <strong><u>Reconnects</u></strong> Heaven and Earth</em> (Yesus Menghubungkan Kembali Sorga dan Bumi)!</p>



<p class="wp-block-paragraph">Satu Timotius 2:5 mencatat: “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus.” Dosa telah menciptakan jurang yang dalam antara manusia dan Allah. Tidak ada usaha moral, tidak ada ritual keagamaan, tidak ada kebaikan manusia yang dapat menjembatani jurang itu. Hanya ada satu Pengantara, yaitu Kristus Yesus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Melalui inkarnasi, kematian, kebangkitan, dan kenaikan-Nya, Yesus menyambungkan kembali sorga dan bumi. Dia membuka jalan yang sebelumnya tertutup, menghubungkan hubungan yang sebelumnya putus. Ketika Kristus datang ke dunia, Allah sendiri turun menghampiri manusia berdosa. Dan ketika Kristus naik ke sorga, Dia membawa natur manusia ke hadapan Allah. Di dalam Kristus, hubungan yang telah rusak itu dipulihkan kembali. Karena itu, Hari Kenaikan bukan hanya berbicara tentang Yesus yang pergi ke sorga, tetapi tentang jalan menuju hadirat Allah yang kini terbuka bagi umat-Nya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun ada satu kebenaran yang perlu kita pahami dengan saksama dan rendah hati: hanya satu Pribadi yang benar-benar mampu naik ke sorga, yaitu Kristus sendiri. Jika kita ingin ikut serta, kita harus berada <em>in Christ</em>, “di dalam Dia.” Tidak ada manusia yang dapat datang kepada Allah dengan kekuatannya sendiri. Keselamatan bukan hasil usaha manusia menaiki tangga menuju sorga. Sebaliknya, keselamatan adalah Kristus yang turun mencari dan membawa kita naik bersama-Nya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal ini sangat menguatkan sekaligus merendahkan hati. Kita bukanlah pengemudi perjalanan menuju sorga. Kita hanyalah penumpang. Kristuslah kendaraan keselamatan itu. Kita dipersatukan dengan Dia oleh Roh Kudus, menjadi anggota tubuh-Nya. Artinya, pengharapan kita bukan pada kekuatan iman kita, tetapi pada Pribadi yang kepada-Nya iman itu diarahkan. Kita diselamatkan bukan karena kita cukup—cukup baik, cukup rohani, atau cukup kuat—tetapi karena kita dipersatukan dengan Kristus yang sempurna. Bersatu dengan Kristus berarti ikut ambil bagian dalam kemenangan, kehidupan, dan kenaikan-Nya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kebenaran ini juga memberi penghiburan besar bagi kehidupan sehari-hari kita. Banyak orang hidup dengan rasa bersalah, rasa malu, atau ketakutan bahwa mereka tidak cukup layak di hadapan Allah. Namun Injil mengingatkan kita bahwa akses kepada Allah tidak bergantung pada usaha kita, melainkan pada Kristus Sang Pengantara. Karena Kristus telah membuka jalan itu, kita sekarang dapat datang kepada Allah sebagai anak-anak-Nya. Kita dapat berdoa, menyembah, dan hidup dalam pengharapan karena hubungan dengan Allah telah dipulihkan melalui Yesus Kristus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada satu lagu Sekolah Minggu yang menggambarkan hal ini dengan sangat indah:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Aduh senangnya naik kereta<br>Kereta besar buatan Tuhan<br>Sopirnya Yesus<br>Jalannya lurus<br>Siapa mau ikut pergi ke sorga</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sederhana sekali, tetapi sangat dalam maknanya. Lagu itu mengingatkan bahwa keselamatan bukan tentang kemampuan kita mencapai sorga, melainkan tentang Kristus yang membawa umat-Nya pulang kepada Bapa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketiga dan yang terakhir, <em>Jesus the Savior <strong><u>Remembers</u></strong></em> (Yesus Imam Besar yang Mengingat Kita)!</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibrani 4:14-16 mengingatkan kita bahwa Yesus adalah Imam Besar Agung yang telah melintasi langit, dan bahwa Yesus bukanlah Imam Besar yang tidak memahami kelemahan kita. Sebaliknya, Dia pernah dicobai dalam segala hal, sama seperti kita, tetapi tanpa dosa. Karena itu, firman Tuhan mengundang kita untuk datang dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan pertolongan pada waktunya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sering kali ketika kita mendengar tentang kenaikan Yesus ke sorga, kita dapat merasa seolah-olah Yesus sekarang jauh dari kehidupan kita. Seakan-akan setelah menyelesaikan pekerjaan-Nya di dunia, Dia pergi meninggalkan umat-Nya. Namun Alkitab justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Kenaikan Kristus bukan berarti ketidakhadiran Kristus, melainkan awal dari pelayanan-Nya sebagai Imam Besar yang terus bekerja bagi umat-Nya. Dia hidup untuk menjadi Pengantara bagi kita (Ibr. 7:25). Di hadapan takhta Bapa, Kristus terus membawa umat-Nya dalam kasih dan syafaat-Nya. <em>He remembers</em>!</p>



<p class="wp-block-paragraph">Betapa menghiburkan kebenaran ini bagi kita yang hidup di dunia yang penuh pergumulan. Ada saat-saat ketika kita merasa tidak dipahami oleh siapa pun. Ada doa-doa yang dipanjatkan sambil menangis dalam kesendirian. Ada pergumulan keluarga, tekanan pekerjaan, kecemasan tentang masa depan, pergumulan melawan dosa, sakit penyakit, kehilangan orang yang dikasihi, bahkan kelelahan rohani yang sulit dijelaskan kepada orang lain. Dalam semua itu, Yesus tahu bagaimana rasanya ditolak, dikhianati, difitnah, lapar, lelah, menangis, dan menderita. Karena itu, ketika kita datang kepada-Nya, kita datang kepada Juruselamat yang memahami dengan sempurna.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yesus memang tidak hadir secara fisik di tengah-tengah kita saat ini, tetapi Dia tidak pernah melupakan umat-Nya. Dunia mungkin melupakan kita. Manusia bisa mengecewakan kita. Bahkan kita sendiri terkadang merasa gagal dan tidak layak. Namun Kristus tetap setia. Nama umat-Nya terukir di tangan-Nya. Dia memegang hidup kita, menopang iman kita, dan memimpin kita sampai akhir. Kenaikan Kristus menjadi jaminan bahwa kita memiliki Pembela di sorga, Imam Besar yang senantiasa mengingat dan memperhatikan anak-anak-Nya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai penutup, malaikat berkata kepada murid-murid dalam Kisah Para Rasul 1:11 bahwa Yesus yang terangkat ke sorga itu akan datang kembali dengan cara yang sama seperti mereka melihat Dia naik ke sorga. Artinya, kenaikan Kristus juga mengarahkan pandangan kita kepada kedatangan Kristus yang kedua kali. Suatu hari nanti, Raja yang naik ke sorga itu akan datang kembali dalam kemuliaan. Pada hari itu, segala penderitaan akan berakhir. Tidak akan ada lagi air mata, dukacita, kematian, atau dosa. Kristus sendiri akan menyambut umat-Nya masuk ke dalam sukacita kekal bersama-Nya. Karena itu, Hari Kenaikan bukan hanya berbicara tentang Yesus yang naik ke sorga, tetapi juga tentang pengharapan umat Tuhan yang sedang berjalan menuju rumah kekal. Kita hidup hari ini dengan mata yang tertuju ke atas, kepada Kristus yang bertakhta (<em>reigns</em>), yang menjadi Pengantara kita (<em>reconnects</em>), dan yang terus mengingat kita semua (<em>remembers</em>)!</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ezra Yoanes Setiasabda Tjung<br>Jemaat PR San Francisco</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">28690</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Filsafat Asia: Bagian 30</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/transkrip/filsafat-asia-bagian-30</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[heryanto]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 May 2026 02:30:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Transkrip]]></category>
		<category><![CDATA[Etika Moral]]></category>
		<category><![CDATA[Karakter Manusia]]></category>
		<category><![CDATA[Kofusius]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Agung]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi Rohani]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=28604</guid>

					<description><![CDATA[Konfusius membedakan antara Orang Agung dan Orang Kecil. Perbandingan kedua karakter ini merupakan pemikiran penting antropologi konfusianisme. Seseorang dikatakan agung bukan karena ukuran badannya secara fisik, tetapi karena kemurahan hatinya, ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/transkrip/filsafat-asia-bagian-30">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Konfusius membedakan antara Orang Agung dan Orang Kecil. Perbandingan kedua karakter ini merupakan pemikiran penting antropologi konfusianisme. Seseorang dikatakan agung bukan karena ukuran badannya secara fisik, tetapi karena kemurahan hatinya, spiritualitasnya, atau kebesaran karakter kepribadiannya. Jadi orang agung adalah orang yang karakternya, wataknya, sifatnya, pikirannya, dan jiwanya, lapang dadanya besar. Itulah cara untuk mengukur orang agung atau tidak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya sering berpikir seandainya ada kamera rohani, saya ingin membelinya. Kalau kita foto pakai kamera biasa, mungkin kita akan melihat seseorang itu gemuk, kurus, atau tinggi badannya. Tetapi ketika kita memfoto dengan kamera rohani, mungkin yang gemuk dan tinggi besar, ternyata rohaninya kecil sekali, sebaliknya yang badannya kecil mungkin kerohaniannya besar sekali, dan kita bisa melihat siapa yang rohani dan siapa yang tidak. Tetapi hal seperti ini sangat susah dilihat. Terkadang kita harus mengenalnya lebih dari sepuluh tahun barulah kita bisa mengenal karakter orang itu sesungguhnya seperti apa. Mungkin kita baru tahu kalau karakter dia itu seperti setan, atau seperti babi. Sebelumnya kita kira dia seperti malaikat, ternyata salah. Mengerti karakter seseorang sangatlah susah. Tetapi inilah kunci penting untuk kita mengenal orang. Kunci konfusianisme adalah dengan melihat orang itu agung atau tidak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mengenai hal ini, Konfusius mengatakan beberapa kalimat yang penting.<a href="#_ftn1" id="_ftnref1">[1]</a></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Pertama,</em> seorang agung selalu ingin ke atas. Seorang agung selalu mengarahkan kehidupannya ke arah hal yang agung, kepada arus yang mengarah ke atas dan mau maju. Tetapi orang kecil selalu memikirkan hal-hal yang di bawah, yang hina, yang remeh dan rendah. Orang kecil pemikirannya tidak tinggi, melainkan berpikir hal yang di bawah, bicara apa pun akan mengarah ke hal-hal yang rendah. Sebaliknya, orang agung (<em>yunzi</em> / <em>gentleman</em>) selalu mau mengarah ke atas. Dia tidak peduli kalau langkah itu makin sulit dan makin melawan arus. Selama hal itu bisa membawanya naik menjadi lebih agung, dia akan perjuangkan terus. Jadi orang-orang seperti ini, ketika berbicara, ketika berpikir, semuanya untuk bagaimana bisa maju, bagaimana bisa naik makin tinggi, bagaimana meningkatkan moral diri. Ia tidak peduli sesulit apa pun, asal bisa maju. Orang-orang seperti ini jiwanya agung. Tetapi orang kecil (<em>xiao ren</em> / <em>small man</em>) selalu memikirkan yang mudah, yang seenaknya sendiri, tidak peduli apa pun yang dilakukan asal menyenangkan diri. Bahkan berbuat dosa pun dia tidak peduli. Orang-orang seperti ini karakternya terus merosot ke bawah. &nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Kedua,</em> orang agung membicarakan apa pun yang menegakkan dan mementingkan kebenaran dan keadilan. Kata ini di dalam bahasa Alkitab (dalam bahasa Yunani) disebut sebagai <em>dikaiosune</em> yang dalam bahasa Inggris disebut <em>righteousness</em>. Maka jika di dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai kebenaran (yang dalam bahasa Yunani disebut <em>aletheia</em>, atau bahasa Inggris disebut <em>truth</em>), itu sebenarnya kurang tepat. Yang benar adalah kebenaran keadilan (<em>righteousness</em>). Di dalam Alkitab, ketika muncul frasa: “Dibenarkan oleh iman,” itu bukan menggunakan kebenaran (<em>truth</em>), tetapi kebenaran keadilan (<em>righteousness</em>). <em>Righteousness</em> atau <em>dikaiosune</em> dalam bahasa Yunani memiliki pengertian: dijadikan tegak dan benar (dibuktikan secara keadilan bahwa itu terbukti benar). Ini bukan kebenarannya, tetapi penekanannya pada suatu keadilan dan kesucian yang tegak, yang lurus. Jadi, seorang yang agung saat bicara apa pun dia terus memikirkan tentang kebenaran, keadilan, ketegakan dan kelurusan. Tetapi orang kecil berbicara apa pun hanya memikirkan dapat untung apa, bisa mendapatkan manfaat apa, semua hal-hal duniawi yang bisa diperoleh untuk dirinya. Ini adalah pemikiran orang kecil. Orang besar berpikir bagaimana bersumbangsih yang besar dan mulia untuk negara, memikirkan kepentingan yang lebih besar. Mencius, seorang penerus Konfusius, yang hidup sekitar 200 tahun setelah Konfusius, pergi ke negara Qi. Di sana ia memperjuangkan perombakan politik, menolong raja untuk mengatur segala sesuatu. Sesudah itu, raja memikirkan dan mau memberikan uang yang banyak untuk Mencius dan mau dihitung sehari berapa, kemudian sebulan berapa. Namun Mencius mengatakan, “Saya datang ke negara ini betul-betul untuk mau menolong raja, bukan untuk uang.” Dia tidak mau menerima honor. Saya kagum sekali dengan orang-orang seperti ini. Ada penasihat yang hanya memberikan usulan atau anjuran-anjuran dan setelah itu menerima uang, tidak peduli apakah anjurannya terlaksana atau tidak; yang penting sudah beri nasihat, maka perlu dapat uang. Itu adalah <em>xiao ren</em> (orang kecil), yang hanya mau cari keuntungan diri sebelum betul-betul membangun negara. Mencius sudah memberikan anjuran dan nasihat yang sudah menjadikan kerajaan mengalami perbaikan dan kemajuan, tetapi dia tetap tidak mau diberi uang banyak oleh raja. Ini orang agung. Konfusius tidak memedulikan engkau punya berapa banyak gelar akademik, berapa banyak pengetahuan, dan berapa banyak sekolah, tetapi dia lebih melihat karaktermu seperti apa. Jadi bukan masalah punya gelar doktor berapa banyak, tetapi jiwamu agung atau tidak agung. Orang yang hanya memikirkan profit, mencari keuntungan diri, pikirannya hanya berpusat kepada diri sendiri untuk bagaimana mendapatkan uang, adalah orang kecil. Makin banyak uang yang dia terima, ia makin dihina. Tetapi orang yang bukan mementingkan profit, melainkan mementingkan kebenaran, berjuang untuk menegakkan suatu keadilan dalam masyarakat, itu adalah orang agung. Saya rasa, sampai di sini, orang Kristen seharusnya malu jika kita hanya hidup untuk mengejar keuntungan dan uang. Kita bisa-bisa kalah dari moral dari orang-orang konfusianisme yang memiliki standar begitu tinggi. &nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Ketiga,</em> seorang agung akan menuntut keras dirinya, sementara orang kecil menuntut keras orang lain. Orang kecil selalu menuntut orang lain begitu kerasnya, sementara begitu lunaknya terhadap semua kekurangan diri. Ada orang yang mengatakan, “Mengapa engkau mengajar anak tidak beres?” tetapi pada saat yang sama dia sendiri tidak pernah bertanya apakah dia mendidik anaknya sendiri cukup beres. Orang kecil menuntut orang lain harus hidup suci, sementara dirinya sendiri hidup tidak suci. Seseorang mudah menuntut orang lain, memaki-maki orang lain dan melihatnya kurang beres, tetapi menuntut diri dan mendisiplin diri sendiri jauh tidak mudah. Konfusius mengatakan bahwa orang agung menuntut diri, bukan orang lain. Orang kecil suka menuntut orang lain. Saya duga engkau sudah pernah mendengar, bahwa ketika menunjuk seseorang, maka dua jari kita (telunjuk dan jempol) mengarah ke orang itu, sementara tiga jari lainnya, justru menunjuk ke diri kita sendiri. Kita harus sadar lebih banyak jari dan tuntutan kepada diri kita ketimbang kepada orang lain. Yesus juga sempat mengajar pengikut-Nya untuk tidak seperti orang Farisi, yang munafik menuntut orang lain harus hidup suci, tetapi dirinya sendiri penuh dosa. Konfusius hanya menyatakan itu sebagai suatu nasihat atau konsep yang ada di dalam pikirannya, tetapi Yesus langsung menyatakan untuk hidup jangan seperti orang Farisi yang menuntut orang lain, tetapi tidak menuntut dirinya sendiri. Orang agung akan menuntut diri untuk terus maju, sesulit apa pun akan lebih menuntut keras diri sendiri untuk bisa hidup disiplin dan bermoral tinggi.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Keempat,</em> orang agung tidak mau diperalat orang lain, atau orang agung tidak membatas diri seperti suatu alat. Menerjemahkan pengertian kata bagian ini cukup sulit. Maksudnya adalah orang agung tidak membiarkan dirinya sekadar seperti suatu alat (<em>tool</em>) yang bisa dipergunakan atau dipakai orang lain untuk kepentingan orang itu. Dia juga tidak mau hanya menjadi wadah yang terbatas dan dibatas oleh orang lain, karena dia ingin menjadi diri yang berkapasitas luas. Sepanjang hidup saya memikirkan satu hal, yaitu saya tidak mau memperalat orang lain dan juga tidak mau diperalat orang lain. Yang boleh memakai saya hanyalah Tuhan, dan saya hanya bisa membangkitkan orang-orang yang akan dipakai oleh Tuhan, bukan saya. Mereka bisa bekerja sama dengan baik dan saling menghormati, karena sama-sama dipakai oleh Tuhan. Ini sikap yang saya nyatakan baik kepada dosen saya, kepada tukang becak, atau sikap kepada sopir, atau kepada siapa pun. Semua sama. Saya tidak akan menganggap dan memperlakukan engkau berbeda karena engkau kaya sekali. Atau saya akan menggertak dan mengancam sambil mengeluarkan nada keras dan menghina kepada orang miskin. Tidak boleh seperti ini sama sekali. Rekan-rekan saya di seminari sangat tahu bagaimana sikap saya kepada para tukang becak sama hormatnya seperti kepada para murid saya, juga dengan rekan-rekan kerja sesama dosen. Semuanya saya perlakukan sama. Semua pendeta yang sejak menjadi rekan kerja saya dahulu adalah murid saya. Saya berjanji dalam diri saya, seberapa tahun engkau ikut melayani bersama saya, saya terus berharap engkau menjadi pendeta yang betul-betul besar dipakai oleh Tuhan. Kita perlu memiliki sikap yang saling menghormati, bukan memperalat orang lain. Itu akan menjadi sifat untuk bagaimana kita bisa dipakai oleh Tuhan terus-menerus. Amin.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref1" id="_ftn1">[1]</a> Jika perkataan-perkataan ini diberi urutan, sebenarnya Konfusius bukanlah memang berkata dalam urutan tertentu, karena penulisan ini lebih banyak merupakan hasil tanya jawab, di mana ketika Konfusius mengajar, muridnya bertanya dan dia menjawab. Lalu jawaban-jawaban itu dicatat, sehingga bukan merupakan pembahasan yang terencana secara terstruktur menurut urutan tertentu.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">28604</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Kesetiaan dalam Perkara Kecil</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/renungan/kesetiaan-dalam-perkara-kecil</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[michaelleang]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 05 May 2026 12:26:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[kesetiaan]]></category>
		<category><![CDATA[tanggung jawab]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=28261</guid>

					<description><![CDATA[“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.” (Lukas 16:10, TB) Dalam perjalanan hidup di dunia ini, hampir setiap orang mendambakan keberhasilan. Kita kerap mengagumi pencapaian individu ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/renungan/kesetiaan-dalam-perkara-kecil">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.” (Lukas 16:10, TB)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam perjalanan hidup di dunia ini, hampir setiap orang mendambakan keberhasilan. Kita kerap mengagumi pencapaian individu lain—baik dalam bidang pekerjaan, pendidikan, pelayanan, maupun aspek kehidupan lainnya. Namun, sering kali kita lupa bertanya: bagaimana mereka meraih keberhasilan tersebut?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Firman Tuhan dalam Lukas 16:10 memberikan jawaban yang sangat mendasar namun sering diabaikan: kesetiaan dalam perkara kecil. Ayat ini menekankan bahwa seseorang yang dapat dipercaya dalam hal-hal kecil akan mampu dipercaya dalam tanggung jawab yang lebih besar. Prinsip ini mengajarkan kita bahwa keberhasilan tidak diperoleh secara instan, tetapi melalui proses panjang dan ketekunan dalam menjalankan tanggung jawab sehari-hari, sekecil apa pun itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tuhan tidak menuntut kita untuk langsung melakukan hal-hal besar atau menunjukkan kepandaian, popularitas, dan kehebatan sebelum dipercayakan tugas yang lebih besar. Sebaliknya, Ia menilai kesetiaan dan tanggung jawab kita dalam hal-hal yang mungkin dianggap sepele oleh manusia: membersihkan gereja, menyapu halaman, menjaga ketertiban, atau melayani di balik layar. Di situlah Tuhan menguji dan membentuk karakter kita.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sering kali kita berambisi untuk menjadi guru yang hebat, hamba Tuhan yang berpengaruh, atau pengusaha yang sukses. Namun, apabila kita mengabaikan tanggung jawab dalam tugas-tugas kecil, bagaimana mungkin kita bisa dipercaya untuk memikul tanggung jawab yang lebih besar? Misalnya, jika seseorang bercita-cita menjadi pendeta yang memimpin banyak jemaat, tetapi ia menganggap remeh pelayanan kepada lima anak sekolah minggu yang dipercayakan kepadanya, maka hal itu menunjukkan ketidaksiapan rohani dan tanggung jawab yang rendah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita dapat belajar dari kisah Daud. Sebelum menjadi raja Israel, ia hanyalah seorang gembala yang mengurus ternak ayahnya. Namun, Daud menjalankan tugas itu dengan sepenuh hati. Ia tidak bersungut-sungut, melainkan menghadapi binatang buas yang mengancam ternaknya dengan keberanian dan tanggung jawab. Tuhan melihat kesetiaannya dan memakai pengalaman itu sebagai fondasi untuk membentuk Daud menjadi raja yang tangguh dan berkenan di hadapan-Nya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari kisah ini, kita belajar bahwa Tuhan tidak langsung mengangkat Daud menjadi raja, tetapi terlebih dahulu mengujinya dalam tanggung jawab yang sederhana. Maka dari itu, kita pun dipanggil untuk menunjukkan kesetiaan dalam setiap tugas yang dipercayakan kepada kita, betapapun kecilnya tugas tersebut menurut penilaian manusia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaannya adalah: sudahkah kita setia dan bertanggung jawab dalam tugas-tugas kecil yang telah dipercayakan kepada kita saat ini? Ataukah kita masih menanti kesempatan besar sebelum menunjukkan dedikasi kita?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Marilah kita menyadari bahwa setiap pekerjaan, sekecil apa pun, merupakan kesempatan untuk membuktikan kesetiaan dan tanggung jawab kita di hadapan Tuhan. Ketika kita mampu menjalankan tanggung jawab itu dengan baik, Tuhan akan mempercayakan hal-hal yang lebih besar. Seperti tertulis dalam Kolose 3:23, “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Isty Sauli<br>Mahasiswi STTRII Konsentrasi Misiologi</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">28261</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Olahraga Demi Kemuliaan Allah?</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/kehidupan-kristen/olahraga-demi-kemuliaan-allah</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[michaelleang]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 01 May 2026 12:30:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kehidupan Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[fisik]]></category>
		<category><![CDATA[Gambar dan Rupa Allah]]></category>
		<category><![CDATA[Image of God]]></category>
		<category><![CDATA[Imago Dei]]></category>
		<category><![CDATA[Kemuliaan Allah]]></category>
		<category><![CDATA[kenikmatan]]></category>
		<category><![CDATA[Olahraga]]></category>
		<category><![CDATA[Tubuh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=28172</guid>

					<description><![CDATA[Bagi banyak orang, olahraga adalah aktivitas biasa. Suatu kegiatan sehari-hari yang menyenangkan dan bermanfaat bagi tubuh, tapi tidak ada kaitannya dengan kehidupan rohani. Memang ada hubungannya saya berlari, menendang bola, ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/kehidupan-kristen/olahraga-demi-kemuliaan-allah">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Bagi banyak orang, olahraga adalah aktivitas biasa. Suatu kegiatan sehari-hari yang menyenangkan dan bermanfaat bagi tubuh, tapi tidak ada kaitannya dengan kehidupan rohani. Memang ada hubungannya saya berlari, menendang bola, dan mengangkat beban dengan iman saya kepada Tuhan? Sepertinya tidak ada. Namun, pandangan ini mungkin adalah kesalahan besar yang menghalangi kita mengalami kemuliaan Tuhan dalam salah satu aspek hidup kita.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika kita percaya bahwa semua aspek kehidupan harus memuliakan Allah, maka tentu implikasinya tidak ada pemisahan antara <em>sacred</em> dan <em>secular</em>. Pemisahan semacam itu adalah hasil dari semangat zaman dan bukan yang Alkitab nyatakan. Maka seharusnya aspek olahraga juga akan berkait dengan kemuliaan Allah. Tapi pertanyaan utamanya, apa kaitan antara berolahraga dengan kemuliaan Allah? Atau lebih tepatnya, bagaimana mengaitkan keduanya? Untuk memahami kaitan antara kedua hal ini, maka diperlukan kerangka berpikir theologi yang menjadi dasar pemikiran.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam artikel ini, kita akan melihat 3 perspektif kemuliaan Allah. Ada tiga tokoh dengan nama John yang pemikirannya sangat menarik untuk menjadi titik berangkat pembahasan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>1. John Calvin: Tubuh sebagai Teater Kemuliaan Allah</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">John Calvin di dalam <em>Institutes of the Christian Religion</em> mengatakan bahwa seluruh alam semesta merupakan <em>theatrum gloriae Dei</em>, yaitu teater kemuliaan Allah. Setiap bagian ciptaan adalah panggung di mana Allah mempertunjukkan hikmat, kuasa, dan keindahan-Nya. Kemuliaan-Nya terpancar melalui setiap ciptaan yang Ia buat. Hal ini sangat sesuai dengan Mazmur 19:1, di mana tertulis, “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya.” Seringkali ketika berbicara kemuliaan Allah yang terpancar dalam ciptaan, kita akan melihat ke arah alam yang berada di luar dari diri kita, seperti langit, gunung, keteraturan tatanan alam dan lainnya. Namun, kita juga perlu mengingat bahwa tubuh manusia merupakan bagian dari ciptaan Allah.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam kerangka pemikiran ciptaan sebagai teater kemuliaan Allah, tubuh manusia memiliki keunikannya. Calvin mengagumi karya seorang dokter Yunani kuno bernama Galen, yang menulis tentang betapa menakjubkannya struktur tubuh manusia. Ia menyatakan bahwa tubuh kita adalah sebuah “rangkaian komposisi yang begitu sempurna sehingga Penciptanya pantas dinilai sebagai pekerja ajaib (<em>wonder-worker</em>)”. Ketepatan penempatan sendi, simetri anggota tubuh, keindahan bentuk, dan kegunaan setiap organ, semuanya adalah bukti nyata dari kejeniusan Sang Seniman Agung.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika tubuh kita adalah bagian dari panggung kemuliaan Allah, maka merawatnya bukanlah sekadar urusan kesehatan pribadi, melainkan sebuah tindakan menjaga keberlangsungan pertunjukkan kemuliaan Allah. Maka, berolahraga adalah upaya kita untuk menjaga salah satu karya seni terbaik dari Sang Pencipta. Ketika kita melatih tubuh kita, kita sedang merawat “teater” tersebut agar dapat memancarkan keindahan rancangan-Nya. Mengabaikan tubuh hingga menjadi lemah dan sakit&nbsp; adalah seperti membiarkan sebuah mahakarya agung menjadi usang dan tidak terawat. Studi terbaru menunjukkan bagaimana olahraga bukan hanya baik untuk kesehatan secara umum, tetapi berguna dalam setiap fase penanganan kanker, baik itu pencegahan, pengobatan, maupun pemulihan, dengan mengurangi gejala dan efek samping. Berolahraga adalah sebuah bentuk pemeliharaan (<em>means of preservation</em>) atas hikmat Allah yang terpancar melalui tubuh kita.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>2. John Walton: Memuliakan Allah dengan Merefleksikan Allah</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Perspektif kedua akan berkaitan dengan konsep <em>imago Dei</em>, atau gambar dan rupa Allah. John Walton, seorang theolog Perjanjian Lama, berpendapat bahwa penciptaan manusia sebagai gambar dan rupa Allah bukanlah sekadar mengenai asal usul dan keadaan biologis manusia, melainkan mengenai fungsi yang harus dijalankan. Walton membandingkan kisah penciptaan Alkitab dengan kisah penciptaan dari Timur Dekat Kuno. Berbeda dengan kisah Timur Dekat Kuno, istilah gambar dan rupa Allah disematkan kepada semua manusia, bukan hanya kepada raja. Kontras dengan firaun dan raja-raja Mesopotamia, Musa menuliskan bahwa semua manusia adalah <em>image of God. </em>Maka kita sebagai manusia diciptakan untuk menjadi representasi atau wakil Allah di bumi, dengan inilah Tuhan dipermuliakan. Kita berfungsi sebagai duta Kerajaan Allah bagi seluruh ciptaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika fungsi utama kita sebagai manusia adalah untuk merepresentasikan Allah, maka kondisi fisik memiliki kaitan yang sangat penting. Olahraga berperan penting dalam memaksimalkan kapasitas fungsional kita. Tubuh yang sehat, bugar, dan berstamina memungkinkan kita untuk menjalankan panggilan Tuhan dengan lebih efektif. Ini juga yang disoroti oleh David Mathis. Menurutnya, olahraga memberikan optimalisasi besar kepada kemampuan berpikir. Jurnal dari studi syaraf otak juga menunjukkan bahwa berolahraga menghasilkan hormon-hormon yang memberikan dampak kepada transmisi saraf di otak. Kemampuan berpikir yang krusial dalam kita bekerja, belajar, dan memahami kebenaran akan sangat meningkat melalui olahraga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita dapat melayani sesama dengan baik jika tubuh kita juga berfungsi dengan baik. Tubuh kita dapat bekerja dengan optimal ketika kita melatih tubuh. Membuat keberadaan fisik yang tidak cepat lelah sehingga dapat bekerja dengan tekun dan belajar dengan pikiran yang jernih merupakan bentuk keseriusan untuk mau berfungsi sebagai wakil Tuhan, sebagai <em>Image of God</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berolahraga adalah mempersiapkan dan mengoptimalisasi (<em>means of empowerment</em>) alat yang Tuhan berikan agar kita siap sedia melakukan setiap pekerjaan baik yang telah Ia siapkan bagi kita (Ef. 2:10).</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>3. John Piper: Memuliakan Allah dengan Menikmati Allah</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu theolog besar di abad ini, John Piper, sangat terkenal dengan pernyataannya, “Allah paling dimuliakan di dalam kita, ketika kita paling terpuaskan di dalam Dia.” Prinsip ini mengubah cara kita memandang kenikmatan. Segala sesuatu yang baik, yang dapat kita nikmati di dunia ini, adalah pemberian dari Bapa surgawi. Memuliakan Dia berarti menikmati pemberian-pemberian tersebut dengan hati yang penuh syukur dan mengarahkan kenikmatan itu kembali kepada-Nya sebagai Sang Sumber sukacita sejati.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada misteri kenikmatan yang dialami oleh orang-orang yang berolahraga. Beberapa atlet maraton merasakan sensasi nikmat, yang seringkali disebut sebagai “<em>running high</em>”. Sensasi ini bahkan juga dapat dirasakan oleh orang-orang amatir olahraga dan dalam bidang olahraga lainnya. Studi-studi olahraga mencoba menjelaskan dari mana datangnya sensasi kenikmatan tersebut. Ada yang mengatakan bahwa penyebab sensasi nikmat adalah hadirnya hormon endorfin bersama dengan hormon-hormon lainnya. Namun, hal tersebut masih belum menjelaskan mengapa tubuh manusia memiliki mekanisme yang menghasilkan hormon ketika berolahraga. Dengan memakai perspektif Allah sebagai sumber kenikmatan, maka kita mendapatkan jawabannya. Sensasi nikmat dalam olahraga muncul karena itulah tatanan ciptaan yang Allah berikan bagi manusia. Allah begitu mengasihi manusia, hingga aktivitas yang sangat baik untuk tubuh juga dapat dilakukan dengan nikmat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Memuliakan Tuhan melalui olahraga berarti kita tidak melakukannya dengan terpaksa sebagai sebuah kewajiban yang berat. Sebaliknya, kita melakukannya dengan sukacita, mengakui bahwa kemampuan fisik dan kesempatan untuk bergerak adalah hadiah dari-Nya. Sukacita kita dalam berolahraga menjadi sebuah gema pujian kepada Allah, sebuah pengakuan bahwa Dia adalah Allah yang baik yang memberikan hal-hal yang baik untuk dinikmati oleh anak-anak-Nya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berolahraga adalah bagian kita menikmati anugerah Allah di dalam aktivitas olahraga itu sendiri (<em>exercise in itself</em>).</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Waspada terhadap Berhala di dalam Olahraga</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, seperti semua anugerah baik di dalam dunia yang telah jatuh ke dalam dosa, olahraga sangat rentan untuk diselewengkan menjadi berhala. Ironisnya, masyarakat Yunani Kuno yang sangat dikagumi karena budaya olahraganya, justru menjadi contoh utama. Bagi mereka, olahraga adalah sebuah ritual keagamaan untuk menghormati dewa-dewa. Olimpiade diadakan untuk Zeus, <em>Pythian Games</em> untuk Apollo. Mereka mengejar <em>arete</em> (kesempurnaan fisik) sebagai persembahan kepada dewa-dewa yang mereka bayangkan memiliki fisik sempurna.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di zaman ini, kita perlu waspada terhadap 3 penyembahan berhala yang sama berbahayanya:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong>Berhala kemalasan:</strong> Berhala pertama adalah gaya hidup yang tidak aktif (<em>sedentary</em>). Dengan menolak untuk merawat tubuh, kita secara implisit sedang menyembah “dewa kemalasan” dan kenyamanan. Kita meninggikan keinginan untuk bersantai di atas panggilan untuk menjadi penatalayan yang baik atas tubuh yang Tuhan anugerahkan. Ini adalah bentuk pengabaian terhadap teater kemuliaan-Nya dan penghambatan terhadap fungsi kita sebagai gambar-Nya. </li>



<li><strong>Berhala kesuksesan:</strong> Berhala kedua adalah gaya hidup yang terlalu sibuk dengan pekerjaan. Kehidupan yang meninggikan pencapaian karir, pengejaran kesuksesan dan uang, cenderung membuat seseorang akhirnya juga mengabaikan olahraga dan kesehatan. Kehidupan semacam ini pada akhirnya membiarkan tubuh tidak terawat dan hanya berfungsi untuk diri sendiri.</li>



<li><strong>Berhala performa dan citra tubuh:</strong> Berhala ketiga adalah menjadikan olahraga itu sendiri sebagai berhala. Ketika tujuan utama kita adalah untuk mencapai citra tubuh yang superior, mendapatkan pengakuan atas pencapaian atletis, atau membangun identitas diri di atas kekuatan fisik, kita telah jatuh ke dalam penyembahan berhala. Pengejaran semacam ini akan sangat mudah menjatuhkan kita kepada memuliakan diri, daripada memuliakan Tuhan. Tubuh yang seharusnya menjadi sarana untuk memuliakan Tuhan, malah menjadi tujuan itu sendiri. Kita mulai menyembah “dewa kecantikan” dan “dewa kekuatan”, menjadikan anugerah sebagai pengganti Sang Pemberi anugerah.</li>
</ul>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Mengembalikan Olahraga pada Tempatnya</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Jadi, bagaimana kita berolahraga demi kemuliaan Allah? Jawabannya terletak pada orientasi hati dan mengerti perspektif memuliakan Allah. Maka olahraga memiliki fungsinya:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong>Untuk memelihara teater kemuliaan Allah:</strong> Kita berolahraga sebagai wujud syukur atas tubuh kita yang adalah karya Allah yang ajaib.</li>



<li><strong>Untuk mengoptimalkan fungsi pelayanan:</strong> Kita menjaga kebugaran agar memiliki energi dan kekuatan untuk melayani Tuhan dan sesama dengan lebih efektif.</li>



<li><strong>Untuk menikmati anugerah-Nya dengan sukacita:</strong> Kita bersukacita dalam olahraga sebagai pemberian baik dari Allah, dan mengarahkan rasa syukur kita kembali kepada-Nya.</li>
</ul>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan pengertian dan kesadaran ini, marilah kita memuliakan Allah, sejalan dengan 1 Korintus 10:31:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Soli Deo gloria.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Vik. Adam Kurnia<br>Hamba Tuhan GRII Karawaci</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">28172</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Peperangan Kosmik di dalam Injil Lukas</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/kehidupan-kristen/peperangan-kosmik-di-dalam-injil-lukas</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[andrian]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 24 Apr 2026 12:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kehidupan Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[Iblis]]></category>
		<category><![CDATA[Lukas]]></category>
		<category><![CDATA[Maria]]></category>
		<category><![CDATA[Peperangan]]></category>
		<category><![CDATA[Rohani]]></category>
		<category><![CDATA[yesus]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=27666</guid>

					<description><![CDATA[Ketika kita membaca Alkitab, kita pasti tidak akan asing lagi dengan peperangan, terutama ketika membaca kitab-kitab Perjanjian Lama, mulai dari Keluaran, yaitu ketika bangsa Israel keluar dari Mesir, sampai dengan ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/kehidupan-kristen/peperangan-kosmik-di-dalam-injil-lukas">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Ketika kita membaca Alkitab, kita pasti tidak akan asing lagi dengan peperangan, terutama ketika membaca kitab-kitab Perjanjian Lama, mulai dari Keluaran, yaitu ketika bangsa Israel keluar dari Mesir, sampai dengan Maleakhi. Sepertinya bangsa Israel tidak pernah berhenti berperang, terutama pada masa sebelum masuk Tanah Perjanjian sampai dengan zaman raja-raja Israel sebelum pembuangan. <em>Kingdom of God</em> atau Kerajaan Allah adalah tema keseluruhan dari Alkitab, sehingga kita harus melihat bahwa peperangan itu selalu ada dari awal Kitab Kejadian sampai dengan Kitab Wahyu, bahkan peperangan itu terus berlanjut sampai dengan saat ini dengan bentuk peperangan yang berbeda (tentu masih ada negara yang berperang saat ini). Orang Kristen zaman sekarang ini jarang merasa bahwa dirinya berada di dalam peperangan. Kehidupan Kristen sering kalah karena tidak sadar sedang berada di dalam peperangan rohani. Maka dari itu, kita sebagai orang Kristen harus mengerti bahwa kehidupan Kristen sejak awal adalah peperangan yang tidak ada henti sampai pada akhirnya, yaitu ketika Tuhan kita Yesus Kristus datang kedua kalinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu bentuk peperangan yang akan dibahas di sini adalah <em>cosmic war</em> atau peperangan kosmik, yang terjadi sejak awal Kitab Kejadian, yaitu setelah Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa. Kejadian 3:15, “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” Bahwa akan ada peperangan terus menerus antara keturunan perempuan dan keturunan ular. Narasi ini terus berjalan di dalam sepanjang Perjanjian Lama sampai dengan Perjanjian Baru, tetapi artikel ini akan memfokuskan hanya di dalam Injil Lukas saja, di mana keturunan ular, yaitu Iblis, berusaha menggagalkan kemenangan keturunan perempuan, yaitu Sang Mesias. Iblis berupaya mengagalkan rencana penebusan Sang Mesias, tetapi kita akan melihat bagaimana Tuhan bekerja di dalam setiap peristiwa ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mari kita melihat peristiwa-peristiwa di dalam Kitab Lukas, bagaimana Iblis bisa memakainya untuk menggagalkan rencana penebusan, dan kita akan melihat bagaimana respons yang terjadi di dalam setiap peristiwa.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Perawan Maria mengandung dari Roh Kudus (Luk. 1:26-38)</strong></h3>



<p class="wp-block-paragraph">Malaikat Allah, yaitu Gabriel, disuruh untuk pergi ke Nazaret di Galilea untuk bertemu dengan seorang perawan yang bernama Maria. Maria sudah bertunangan dengan seseorang bernama Yusuf dari keluarga Daud. Untuk melihat bahaya yang mungkin terjadi, kita harus melihat konteks pernikahan orang Yahudi. Pernikahan orang Yahudi terdiri dari dua langkah; yang pertama adalah adanya pertunangan formal yang disertai dengan kontrak dan juga membayar mahar, lalu setahun kemudian mereka baru menikah (<em>NIV Application Commentary Luke</em>, Darrell Book, 57). Maka, sebenarnya mereka seperti sudah menikah secara status, mereka harus menjaga kesetiaan dan tidak boleh berzinah. Namun, di dalam periode satu tahun ini, sang perempuan masih harus tinggal bersama orang tuanya. Apa yang menjadi masalah? Kita harus juga melihat hukum negara di dalam hukum perkawinan yang tertulis di dalam Ulangan 22:20-24, di mana dikatakan bahwa jika perempuan yang sudah bertunangan tidak didapati tanda keperawanannya, maka perempuan itu bisa dibawa ke depan rumah ayahnya dan orang sekotanya harus melempari dia dengan batu. Gambaran akan hal ini mungkin bisa kita lihat di dalam Kitab Matius yang memperlihatkan Yusuf karena baik hatinya mau menceraikan Maria dengan diam-diam dan tidak menuduh Maria kepada orang tuanya. Namun, kalau kita melihat Kitab Lukas, Maria sudah bersiap akan hal ini. Dia mengetahui risiko yang mungkin terjadi pada dirinya. Bagaimana jika Yusuf menuduh Maria dan melaporkan kepada orang tuanya, bagaimana jika orang tuanya tahu, bagaimana kalau para pemuka agama yang memegang ketat hukum Yahudi tahu? Bukan hanya dirinya dan keluarganya yang dipermalukan, tetapi kehilangan nyawa juga mungkin terjadi. Dengan mengetahui semua risiko itu, malaikat Gabriel memberitahu bahwa Anak yang dilahirkannya harus dinamai Yesus, akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah yang Maha Tinggi. Tuhan Allah akan memberikan takhta Daud kepada-Nya. Malaikat juga mengatakan bahwa Roh Kudus akan turun ke atas Maria dan bahwa Anak yang dilahirkannya itu kudus dan akan disebut Anak Allah. Kita bisa belajar respons Maria di dalam ayat 38: Kata Maria, “Aku ini hamba Tuhan. Jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Ia percaya Tuhan akan memimpin dan menyertai. Kita bersyukur akakn respons Maria ini, sehingga Juruselamat kita Tuhan Yesus bisa lahir dan datang ke dunia. Mungkin konflik ini bisa terlihat lebih jelas kalau dilihat dari sisi Yusuf seperti di dalam Kitab Matius, bahwa jika Yusuf menuduh Maria sudah tidak perawan, Maria akan dibunuh dan anak dalam kandungannya juga tidak bisa dilahirkan.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Maria harus pergi ke Betlehem ketika sudah mengandung (Luk. 2:1-5)</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Maria di dalam kondisi yang sudah hamil beberapa bulan harus menempuh perjalanan jauh ke Betlehem. Pada masa itu, perjalanan sering kali dilakukan dengan berjalan kaki atau mungkin dengan keledai. Jarak yang mereka harus tempuh menurut <em>Baker Exegetical Commentary of the New Testament</em> adalah sekitar 90 mil atau 144 km. Jika menaiki keledai, perlu waktu 30-45 jam. Jika berjalan kaki 3 km per jam, maka perlu 48 jam. Terlebih dengan kondisi Maria sedang hamil, perjalanan tidak akan secepat itu dan kemungkinan perlu berhari-hari. Ini adalah perjalanan yang berat, sehingga mungkin sekali menyebabkan keguguran atau masalah lain.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dua hal ini adalah gambaran kejadian yang mungkin terjadi untuk menggagalkan kelahiran Tuhan Yesus. Jika kita melihat Kitab Matius, maka ada satu tambahan, yaitu kejadian pembunuhan anak-anak di Betlehem yang berumur di bawah 2 tahun dan mengakibatkan Yusuf dan Maria menyingkir ke Mesir.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sekarang kita akan melihat bagaimana Yesus dicobai dan juga hal-hal yang terjadi di mana Iblis berusaha menggagalkan misi yang harus dikerjakan oleh Tuhan Yesus.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Pencobaan di Padang Gurun (Luk. 4:1-13)</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Iblis berusaha mencobai Yesus tiga kali dengan motif menantang apakah Yesus sungguh Anak Allah yang berkuasa, sehingga dalam tantangan Iblis yang pertama dan kedua dikatakan, “Jika Engkau Anak Allah…” Hal ini dilakukan Iblis untuk menantang Yesus agar Dia tidak tunduk kepada Bapa dan memberontak kepada Bapa-Nya. Jika di dalam hal ini Yesus gagal, maka tidak mungkin Yesus bisa menjalankan hal yang lebih berat, yaitu mengorbankan diri-Nya di atas kayu salib. Pencobaan yang dilakukan kepada Yesus ada tiga hal dan semua adalah paralel dengan bangsa Israel. Yesus berpuasa 40 hari melambangkan orang Israel di padang gurun selama 40 tahun. Pencobaan pertama adalah tentang mengubah batu menjadi roti, dan kita melihat respons Yesus di ayat 4. Ini paralel dengan Ulangan 8:3, yaitu ketika Tuhan memelihara orang Israel di padang gurun dengan roti manna. Pencobaan kedua adalah tentang ajakan untuk menyembah setan dan tidak tunduk kepada Bapa, dengan janji segala kuasa dan kemuliaan akan diberikan kepada Yesus. Sekali lagi Yesus membalasnya dengan mengutip dari Ulangan 6:13, yaitu harus menyembah kepada Allah saja, tidak boleh kepada yang lain. Kita juga harus sadar bahwa Iblis tidak pernah diberikan segala kuasa dan kemuliaan, sehingga dia tidak bisa memberikannya kepada kita. Iblis adalah bapa segala dusta, sehingga segala hal yang Iblis tawarkan hanyalah tipu daya. Yang ketiga, Iblis tidak lagi memakai frase “jika Engkau Anak Allah”. Kali ini Iblis mengutip dari Mazmur 91:11-12. Kita harus berhati-hati bahwa Iblis pun mungkin memiliki pengetahuan tentang Alkitab, tetapi Yesus tahu bahwa Iblis mencoba menguji tentang penjagaan Bapa. Maka Yesus sekali lagi mengutip dari Ulangan 6:16, yang mengatakan: “Jangan mencobai TUHAN, Allahmu, seperti kamu mencobai Dia di Mara.” Ini merujuk pada peristiwa orang Israel bersungut-sungut ketika tidak ada air yang bisa diminum. Tiga kali orang Israel dicobai dan gagal dan tiga kali juga Tuhan Yesus dicobai dan tidak gagal. Kalau Yesus sekali pun saja gagal dan tidak percaya akan pemeliharaan Bapa-Nya, maka Kristus tidak mungkin bisa menanggung hal yang lebih berat lagi, yaitu mati di kayu salib. Namun Kristus menang atas godaan Iblis dan terus setia mengerjakan tugas dari Bapa-Nya.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Taman Getsemani (Luk. 22:39-46)</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Di dalam bagian ini, Yesus mengajak murid-murid-Nya untuk berdoa agar tidak jatuh ke dalam pencobaan. Ini adalah doa terakhir dan momen sebelum Yesus ditangkap. Di dalam segala keletihan pelayanan, Yesus selalu berdoa kepada Bapa-Nya (Luk.6:12). Yesus tetap berdoa kepada Bapa-Nya terutama di dalam momen terakhir ini karena cawan yang begitu berat. Malaikat menampakkan diri dan memberikan kekuatan. Yesus sangat susah, tetapi Dia mengatakan, “Janganlah kehendak-Ku yang jadi, tetapi kehendak Bapa yang jadi.” Ini menunjukkan kerelaan di dalam menjalankan kehendak Bapa. Yesus tidak gagal di dalam hal ini, tidak jatuh ke dalam pencobaan, karena Ia terus berdoa dan percaya kepada Bapa sehingga rencana kekal Bapa bisa terjadi, sedangkan murid-murid-Nya yang tidak berdoa pada waktu itu jatuh ke dalam pencobaan. Mereka semua tidak lama lagi menyangkal Yesus.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Tantangan dari orang ketika Yesus disalib untuk menyelamatkan diri-Nya (Luk. 23:33-43)</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Mari kita lihat ayat 35, 37, dan 39. Mereka menghina dan menantang Tuhan Yesus untuk menyelamatkan diri-Nya. Hinaan dan tantangan yang pertama adalah untuk membuktikan bahwa Yesus adalah Mesias, orang yang dipilih Allah. Tantangan yang kedua adalah tentang Yesus sebagai Raja orang Yahudi. Tantangan yang ketiga sekali lagi menantang apakah Yesus adalah Mesias. Yesus ditantang tiga kali untuk menyelamatkan diri-Nya, tetapi Yesus tahu bahwa Dia harus mati untuk bisa menyelamatkan orang yang percaya kepada-Nya. Bisa dilihat bahwa Iblis menggoda orang-orang yang menghina Tuhan Yesus dan mereka jatuh. Namun Yesus di dalam ketiga tantangan ini diam saja dan tidak merespons orang-orang itu, karena Yesus tahu bahwa inilah yang harus Ia kerjakan. Yesus setelah itu mati dan pada hari ketiga Dia bangkit membuktikan Dia menang atas kematian, dosa, dan juga maut, sehingga Iblis dikalahkan di dalam peperangan kosmik ini, seperti yang dikatakan di dalam Kejadian 3:15. Iblis sudah dikalahkan dan kuasa Iblis jauh berkurang saat ini, tetapi ketika Yesus datang untuk yang kedua kalinya, Iblis akan dikalahkan secara final. Di dalam waktu penantian ini, kiranya kita bisa belajar dari peristiwa-peristiwa yang ada untuk selalu mempercayakan hidup kita kepada pemeliharaan Tuhan. Jangan kita sekali pun percaya kepada Iblis yang berusaha menipu dengan menawarkan yang terlihat menarik padahal semua itu adalah dusta. Kiranya kita bisa belajar dari Yesus untuk melawan Iblis dengan memakai kebenaran, yaitu firman Tuhan, melawan Iblis seperti Yesus di padang gurun dan juga berdoa senantiasa kepada Bapa untuk memberi kita kekuatan untuk melawan godaan Iblis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pieter Stefano<br>Mahasiswa STTRII</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">27666</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Allah sebagai Anak di Tengah Manusia</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/seni-budaya/allah-sebagai-anak-di-tengah-manusia</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[michaelleang]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Apr 2026 12:53:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Inkarnasi]]></category>
		<category><![CDATA[kesetiaan]]></category>
		<category><![CDATA[Ketaatan]]></category>
		<category><![CDATA[natur]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=27622</guid>

					<description><![CDATA[Injil Lukas mencatat bahwa ketika Yesus berusia dua belas tahun, Ia tinggal di Bait Allah selama tiga hari tanpa sepengetahuan orang tua-Nya. Maria dan Yusuf tidak langsung menyadari ketidakhadiran-Nya karena ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/seni-budaya/allah-sebagai-anak-di-tengah-manusia">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Injil Lukas mencatat bahwa ketika Yesus berusia dua belas tahun, Ia tinggal di Bait Allah selama tiga hari tanpa sepengetahuan orang tua-Nya. Maria dan Yusuf tidak langsung menyadari ketidakhadiran-Nya karena mereka menyangka Yesus ada di antara rombongan orang-orang yang bepergian bersama mereka (Luk. 2:44). Detail ini menunjukkan bahwa Yesus bukan lagi bayi atau balita. Ia cukup besar, cukup mandiri, dan cukup “biasa” sebagai seorang anak Yahudi pada usianya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal ini menegaskan bahwa Kristus sungguh mengambil natur manusia. Ia hidup dalam tubuh manusia yang bertumbuh dan berkembang secara fisik, serta berada dalam relasi sosial yang normal. Inkarnasi bukan sekadar Allah menyerupai manusia, Ia benar-benar mengambil tubuh manusia dan hidup di dalam batas-batasnya.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya (Luk. 2:52)</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Lukas menggambarkan Yesus duduk di tengah-tengah para ahli Taurat, mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan, sehingga semua yang mendengar-Nya heran akan pengertian dan jawaban-jawaban-Nya (Luk. 2:46-47). Kristus bukan hanya bertumbuh fisik-Nya tetapi juga bertumbuh hikmat-Nya. Momen ini divisualisasikan dalam <em>Christ in the Temple </em>karya Heinrich Hofmann, pelukis abad ke-19 yang dikenal melalui penggambaran kisah Injil yang tenang dan naratif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara komposisi, Hofmann menempatkan Yesus tepat di pusat lukisan, dikelilingi para tua-tua yang menatap-Nya. Para ahli Taurat tidak digambarkan sebagai antagonis. Ekspresi mereka menunjukkan keterbukaan, keheranan, dan ketertarikan. Tubuh Kristus yang berusia 12 tahun tidak dominan, namun perhatian seluruh ruangan tertuju kepada-Nya. Komposisi ini menekankan sebuah paradoks, bahwa Kristus hadir sebagai seorang Anak yang belajar, namun juga sebagai Sang Firman yang didengarkan. Kesadaran-Nya akan relasi-Nya dengan Bapa tidak membawa-Nya keluar dari ruang belajar, melainkan menempatkan-Nya tepat di pusatnya. </p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Sang Ilahi di Tengah Waktu dan Tempat</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Kristus, yang sungguh adalah Allah, juga sepenuhnya adalah manusia yang bertubuh dan hidup di dalam waktu dan tempat. Ia hadir di dunia dengan membatasi diri-Nya sesuai dengan konteks lingkungan dimana Ia berada. Kristus menggunakan pikiran manusia, bahasa manusia, dan struktur pendidikan pada zaman-Nya. Ia bahkan tidak berdiri sebagai figur yang terisolasi, melainkan hadir di dalam struktur keluarga dan masyarakat. Inkarnasi tidak menciptakan jalan pintas menuju kedewasaan rohani. Kristus mengetahui siapa diri-Nya, namun Ia tetap tunduk pada waktu dan otoritas yang Allah tetapkan bagi-Nya. Dalam theologi Reformed, ini adalah doktrin <em>state of humiliation </em>dari Kristus, yaitu keadaan ketika Kristus merendahkan diri-Nya dengan hidup sebagai manusia sejati, tunduk pada hukum, waktu, dan perkembangan. Pertumbuhan-Nya dalam waktu dan tempat bukan tanda kelemahan, tetapi bukti dari ketaatan-Nya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara visual, Hofmann menghadirkan cahaya yang lembut dan terfokus pada Kristus, tanpa drama atau kontras ekstrem antara terang dan gelap. Dengan demikian, lukisan ini mengingatkan bahwa Allah tidak hanya menyatakan diri-Nya melalui mukjizat atau peristiwa spektakuler, tetapi juga melalui percakapan yang tampak biasa, di mana hikmat hadir dengan tenang di tengah kehidupan manusia.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Bertumbuh Tanpa Jalan Pintas</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Lukisan <em>Christ in the Temple </em>ini tidak menggambarkan kemenangan atau konflik, melainkan sebuah proses. Kehadiran Kristus di Bait Allah, tempat Taurat dibaca, ditafsir, dan diwariskan, menegaskan bahwa pertumbuhan rohani dan pertumbuhan intelektual merupakan bagian dari kehidupan manusia yang juga Ia jalani. Ia menjalani tahun-tahun pembelajaran, ketaatan, dan pertumbuhan yang panjang sebelum pelayanan-Nya kepada publik dimulai. Allah tidak terburu-buru. Penebusan tidak dikerjakan melalui jalan yang instan, melainkan melalui kesetiaan di dalam waktu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di ruang belajar, dalam percakapan yang tampak sederhana, dan di pertumbuhan yang sering kita anggap sepele, di sanalah Sang Juruselamat sungguh hidup sebagai manusia, setia berjalan di dalam waktu yang sama dengan waktu kita.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Melalui lukisan ini, kita melihat Allah yang tidak menghindari atau menjauh dari proses manusia. Ia hadir di Bait Allah, di tengah percakapan yang tenang dan berbobot, serta di dalam pertumbuhan yang dijalani secara bertahap. Dengan menjalaninya sendiri, Kristus menegaskan bahwa masa kanak-kanak bukan tahap yang diabaikan, melainkan bagian yang dihargai dalam karya Allah. Ia sungguh Allah dan sungguh manusia, berjalan di tengah manusia, di dalam waktu, dan tanpa jalan pintas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sharon Nobel<br>Pemudi GRII Pusat</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">27622</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Fondasi yang Kukuh dan Rapuh</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/renungan/renungan-matius-726-fondasi-yang-kukuh-dan-rapuh</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[michaelleang]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Apr 2026 12:02:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Fondasi]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Bijak]]></category>
		<category><![CDATA[perumpamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Rapuh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=27329</guid>

					<description><![CDATA[Renungan Matius 7:26 “Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir.”Matius 7:26 Dalam sepanjang peradaban manusia, ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/renungan/renungan-matius-726-fondasi-yang-kukuh-dan-rapuh">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Renungan Matius 7:26</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">“Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir.”<br>Matius 7:26</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam sepanjang peradaban manusia, termasuk kita saat ini, ada banyak orang yang memikirkan dan mengerjakan hal-hal membangun. Hal-hal yang dapat membawa perubahan dalam hidup, baik dalam kehidupan sehari-hari, pelayanan, reputasi, bahkan karier. Namun, pertanyaan yang seringkali terlewatkan bukanlah tentang <em>apa</em> yang kita bangun, namun <em>di atas dasar apakah</em> kita membangun. Apakah dasar atau fondasi kita itu kukuh, atau justru rapuh?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya ingin mengajak kita untuk melihat di dalam Injil Matius, tentang peringatan keras yang disampaikan oleh Yesus mengenai fondasi yang kukuh dan rapuh. Apakah maksud Yesus memakai perumpamaan ini?&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam Matius 7:26, Yesus menyampaikan peringatan keras bahwa <em>orang yang mendengar firman Tuhan tanpa melakukan adalah orang yang bodoh.</em> Seumpama seorang yang membangun rumah yang tampak indah tetapi tidak akan bertahan lama, sebab saat badai datang rumah itu akan runtuh. Begitu juga dalam kehidupan kita, badai senantiasa akan datang dalam bentuk masalah, kehilangan, konflik, tekanan, bahkan kegagalan. Iman kita akan mudah tergoyahkan jika fondasinya kurang kuat.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya rindu mengajak kita untuk mengevaluasi fondasi kehidupan yang kita bangun saat ini. Apakah kita hanya sebatas pendengar firman? Ataukah kita adalah pelaku firman?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yesus juga berbicara kepada orang banyak yang sudah mendengar ajaran-Nya, Ia berkata, “<em>Mereka mungkin merasa cukup hanya dengan tahu apa yang benar, tetapi Aku berkata kepadamu: mendengar saja tidak cukup.” </em>Karena pengetahuan tanpa ketaatan tidak “<em>menyelamatkan”</em>. Kita tahu apa yang harus kita lakukan, namun sering kita tidak melakukannya. Misalnya, dalam hal mengampuni, kita tahu harus mengampuni, tetapi sering kali kita masih menyimpan dendam, kita juga tahu harus jujur dalam segala hal, tetapi keinginan memanipulasi itu masih ada. Kita tahu kita dipanggil untuk mengasihi sesama ataupun musuh kita, namun seringkali kita bersikap kasar terhadap orang-orang yang tidak kita sukai. Kita tahu bahwa Tuhan melarang kekhawatiran yang berlebihan, tetapi kita justru lebih percaya pada pemikiran dan keinginan kita daripada janji-Nya. Yesus menyebut orang seperti ini bodoh. Ini bukan masalah kebodohan dalam arti tidak tahu apa-apa, tetapi kebodohan yang dimaksud adalah sudah mengetahui kebenaran tetapi tidak taat dan tidak melakukan firman yang didengar.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">Saya rindu mengajak kita untuk mengevaluasi fondasi kehidupan yang kita bangun saat ini. Apakah kita hanya sebatas pendengar firman? Ataukah kita adalah pelaku firman?</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Pada ayat 24, Yesus juga menjelaskan kepada orang banyak itu, “Orang yang bijak adalah yang mendengar dan melakukan firman-Nya, yang membangun rumahnya di atas batu.”&nbsp; Walaupun rumah itu ditimpa angin dan banjir datang, rumah itu tetap tegak dan kukuh karena dasarnya sudah kuat. Sehingga rumah yang dibangun di atas adalah cerminan orang yang hidup dalam ketaatan, bukan sekadar rutinitas. Orang yang mengandalkan firman Tuhan akan selalu melakukan segala sesuatu dengan bijak, baik dalam berpikir, berkata dan bertindak, serta menjadikan Yesus sebagai pusat hidup, bukan sekadar pengetahuan. Tetapi, mari periksa diri kita secara jujur. Selama ini, ada banyak firman Tuhan yang telah kita dengarkan, tetapi apakah sudah kita hidupi? Biarlah ini terus menjadi pertanyaan sekaligus peringatan dalam diri kita, dan mari kita meminta pertolongan Roh Kudus untuk menolong kita melakukannya. Ketaatan bukan hanya soal komitmen, tetapi realisasinya dihidupi dalam tindakan nyata sehari-hari: bersikap jujur, mengampuni, berdoa, memberi, mengendalikan lidah, dan melatih kepekaan rohani, itulah gambaran orang yang hidup taat dan takut akan Tuhan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Melalui perumpamaan tentang rumah yang dibangun di atas batu dan pasir, Yesus menegaskan pentingnya membangun hidup di atas dasar firman Tuhan. Bukan hanya sebagai pendengar, tetapi sebagai pelaku. Ketaatan sejati tercermin dari tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar pengetahuan. Dalam dunia yang penuh badai kehidupan, hanya mereka yang hidup berakar dalam ketaatan kepada Kristus tetap teguh dan tidak tergoyahkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jesiska Danga Lila<br>Mahasiswi STTRII Misiologi</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">27329</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Menapaki “Via Dolorosa”: Refleksi Jumat Agung 2026 &#8211; Indonesia Arena</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/seputar-grii/menapaki-via-dolorosa-refleksi-jumat-agung-2026-indonesia-arena</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[heryanto]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 13 Apr 2026 03:38:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Seputar GRII]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Arena]]></category>
		<category><![CDATA[JUmat Agung]]></category>
		<category><![CDATA[Reformed KTP]]></category>
		<category><![CDATA[Reformed Nominal]]></category>
		<category><![CDATA[Stephen Tong]]></category>
		<category><![CDATA[Via Dolorosa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=27176</guid>

					<description><![CDATA[Bersyukur kepada Tuhan, Kebaktian Jumat Agung yang diselenggarakan di kompleks Gelora Bung Karno (GBK) pada 3 April 2026 lalu dihadiri sekitar 11.000 jiwa untuk memperingati salah satu hari terpenting dalam iman umat kristiani. Pada hari itu sakramen perjamuan kudus juga dapat berjalan. Tubuh Kristus yang dipecahkan, dan darah-Nya yang ditumpahkan, menjadi tanda pendamaian. Allah Anak dikorbankan, supaya musuh-musuh Allah dapat dipertobatkan, dan didamaikan, dari murka Allah Bapa yang dahsyat.

Pdt. Dr. Stephen Tong menjabarkan 5 macam perdamaian yang dihadirkan oleh Yesus Kristus melalui kematian-Nya. Adakah bagian yang bisa kita kerjakan di dalam perdamaian tersebut? Pernahkan kita membawa orang untuk mengenal dan diperdamaikan dengan Allah?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Kebaktian dengan jumlah massa besar dan pesan utama yang memberitakan Kristus Yesus yang tersalib mungkin sudah mulai jarang terjadi di dunia, apalagi di Indonesia. Dalam sejarah modern Protestan, khotbah Billy Graham pada 1973 di Seoul mencapai jumlah kehadiran terbanyak; sekitar 1,1 juta orang yang hadir dalam satu waktu dan <em>venue </em>yang sama. Memang tidak tentu momen-momen seperti ini akan terulang, dan terkadang memang tidak akan pernah terjadi lagi. Namun demikian, kebaktian pengabaran Injil yang mengumpulkan banyak orang pada satu tempat dan satu waktu yang sama masih diperlukan oleh zaman ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain pentingnya firman dan Injil yang murni diberitakan, manusia juga perlu untuk dipertemukan dengan murka Tuhan, tuntutan pertobatan, dan komitmen pembaruan hidup kepada Allah dalam kebaktian kristiani yang sehat. Dan biasanya, kebaktian-kebaktian massa besar untuk kebangunan rohani menekankan hal tersebut; menuntut orang-orang yang hadir untuk berada pada momen eksistensial dalam hidup mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sisi lain dari kebaktian yang melibatkan jumlah massa besar adalah terciptanya suatu <em>awareness </em>sosial dan atensi yang lebih luas di ruang publik. Terlepas dari beragam respons yang muncul, dari dulu pesan iman Kristen memang telah mengisi ruang publik. Pengajaran-pengajaran Kristus terjadi di ruang publik, mukjizat yang Ia lakukan berada di ruang publik, bahkan penyaliban Kristus pun terjadi di ruang publik; sengaja dipertontonkan kepada khalayak ramai, masyarakat Yerusalem. Kesaksian Injil, sedari awal mulanya, tidak dapat dilepaskan dari kesaksian di ruang publik, menarik atensi dan kesadaran masyarakat sekitar untuk melihat, memikirkan, dan berespons terhadap intervensi Allah atas hiruk-pikuk hidup mereka. Dan intervensi itu adalah kenyataan sejarah bahwa Allah Anak pernah hadir di muka bumi untuk menebus dan mengembalikan hidup mereka kepada kehendak Allah Bapa yang kekal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kembali kepada kebaktian massa besar. Ketika kegiatan ini diupayakan, dalam rangka memberitakan firman dan Injil yang murni, kerja-kerja kolektif dari kegiatan semacam ini memunculkan potensi untuk terbangunnya kelekatan yang lebih erat di antara beragam individu dan kelompok Kristen yang mungkin jarang berinteraksi. Solidaritas sosial terbentuk, didasarkan pada ekspresi dari pokok iman yang harus diperjuangkan bersama; pemberitaan atas Kristus yang tersalib, yang mati dan bangkit, dan yang akan kembali untuk menghakimi dunia. Solidaritas kolektif semacam ini sangat diperlukan oleh tubuh Kristus di Indonesia, juga dunia, jika kita menyadari bahwa tantangan bagi gereja tidak pernah sederhana dan sepele.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) memang tidak meniadakan tanggung jawab kristiani untuk mengabarkan Injil secara pribadi, ataupun secara kolektif pada skala kecil. Tetapi, hal sebaliknya juga berlaku bahwa kelompok-kelompok kristiani dapat, dan bahkan perlu, untuk mengupayakan secara bersama pemberitaan Injil kepada massa yang lebih luas. Ini dikarenakan oleh, setidaknya dalam argumentasi saya, pertama, peristiwa kematian Allah Anak di kayu salib memiliki signifikansi ultimat dan absolut dalam seluruh keberadaan narasi ciptaan. Tidak ada hal lain di dunia ini yang punya nilai kepentingan, dan kegentingan, lebih tinggi dari kematian Allah Anak di kayu salib.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kedua, karena pemberitaan tentang pesan Ilahi kepada banyak orang dalam satu waktu dan satu tempat yang sama selalu hadir dalam narasi umat Allah di sepanjang sejarah; baik dalam narasi Alkitab, maupun dalam narasi sejarah gereja. Yang saya maksud “selalu hadir” bukan berarti muncul setiap waktu secara berkala (setiap bulan, setiap tahun, dan atau sejenisnya), melainkan di sepanjang sejarah iman Kristen pemberitaan massal seperti ini pasti selalu memiliki porsinya di dalam sejarah penebusan. Ketika Allah ingin membangkitkan (atau bahkan menghakimi) umat-Nya pada satu kurun waktu tertentu, pemberitaan massal pasti mendapatkan tempatnya dalam kejadian tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Menilik Kebaktian Jumat Agung di Indonesia Arena</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya melihat, Kebaktian Jumat Agung yang bisa kita selenggarakan di kompleks Gelora Bung Karno (GBK) pada 3 April 2026 lalu juga merupakan berkat tersendiri bagi Gerakan Reformed Injili (GRI). Karena bagaimanapun juga, gerakan kolektif yang kohesif memerlukan sarana dan momentum. Kerja bersama yang padu memungkinkan tercapainya dampak Injil yang lebih luas; suatu kondisi yang tidak dapat dicapai bila dikerjakan secara terpisah/mandiri. Bersyukur sekali kepada Tuhan, pada tanggal tersebut ada sekitar 11.000 jiwa yang hadir di Indonesia Arena untuk memperingati salah satu hari terpenting dalam iman umat kristiani. Pada hari itu sakramen perjamuan kudus juga dapat berjalan. Hal ini menuntun benak kita kepada bayang-bayang dari masa lalu, dan pengharapan eskatologis di masa depan, yang bertemu pada satu titik; titik ketika roti dan cawan itu diangkat dan terdengar seruan: “Inilah tubuh-Ku yang Kupecahkan bagimu,” dan, “Inilah darah-Ku yang ditumpahkan bagi kamu.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tubuh Kristus yang dipecahkan, dan darah-Nya yang ditumpahkan, menjadi tanda pendamaian. Allah Anak dikorbankan, supaya musuh-musuh Allah dapat dipertobatkan, dan didamaikan, dari murka Allah Bapa yang dahsyat. Pdt. Dr. Stephen Tong membawakan pesan Alkitab tersebut di dalam stadion Indonesia Arena. Perdamaian yang pertama melalui kematian Kristus adalah manusia diperdamaikan dengan Allah. Bukan supaya setelahnya manusia dapat hidup suka-suka karena jaminan surga, bukan. Perdamaian ini dikerjakan supaya manusia, yang tidak jadi binasa, menyerahkan hidupnya untuk diperbarui dan dikembalikan kepada Sang Tuan. Diperdamaikan dengan Allah agar hidup sungguh-sungguh bagi Dia, bukan bagi dunia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau melanjutkan, dari hidup yang diperdamaikan dengan Allah, baru dimungkinkan terjadi perdamaian-perdamaian selanjutnya; berdamai dengan diri, berdamai dengan orang lain, menjadi pendamai antar sesama manusia yang bertikai, dan terakhir mengajak orang supaya berdamai dengan Allah (penginjilan). Pdt. Dr. Stephen Tong menambahkan, sayangnya orang semacam demikian sangat sedikit. Di manakah kita semua yang sudah Kristen kalau orang-orang semacam demikian justru makin sedikit? Bukankah angka penganut agama Kristen adalah yang terbesar di dunia? Apakah itu berarti banyak orang beragama Kristen tetapi tidak pernah membawa orang untuk mengenal dan diperdamaikan dengan Allah?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari sini kita jadi menyadari, tanda sejati dari orang yang telah diperdamaikan dengan Allah adalah di dalam hidupnya ia akan berjuang dengan segenap kapasitas untuk membawa orang lain mengenal Tuhan. Tidak harus ia menjadi seorang rohaniwan. Ia bisa merupakan seorang profesional, akademisi, cendekiawan, montir, supir, pengusaha, staf ahli, ibu rumah tangga, dan sebagainya. Dalam Alkitab, ada Priskila dan Akwila, dalam sejarah gereja ada Monika, ibu dari Agustinus, dan masih banyak lagi.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Refleksi Jumat Agung</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Kalau memperhatikan perjalanan dari masa ke masa, apa harta terbaik yang dapat diwariskan bagi generasi muda masa kini? Berkaca dari Kebaktian Jumat Agung lalu, salah satu harta terbaik untuk generasi muda Kristen pada tiap masa adalah hadirnya figur-figur teladan yang mengasihi Tuhan dalam tiap zaman. Saya jadi khawatir, betapa miskinnya kita kalau di sepanjang masa hidup kita tidak ada lagi orang-orang yang <em>genuinely </em>mengasihi Allah di sekitar kita; baik itu di keluarga kita, di gereja kita, di masyarakat kita, dan di zaman kita. Kita miskin bukan karena kurang uang. Kita miskin bukan karena kurang kepemilikan barang. Kita miskin karena tidak ada lagi orang-orang yang mencintai Tuhan dengan sungguh-sungguh di dalam masa hidup kita.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sepanjang sejarah, kekristenan maju bukan karena banyak orang Kristen yang makmur, bukan karena banyak orang Kristen yang senang-senang. Kekristenan di sepanjang sejarah maju karena banyak orang Kristen yang mau berjuang mengasihi Allah, mengenal Allah, dan hidup menggenapkan kehendak Allah di dunia. Saya mengutip pernyataan Pdt. Budi Sutrisno, Gembala Sidang MRII Lampung, dalam salah satu cuplikan khotbahnya: “Selama ini kita mengabaikan firman Tuhan. Tidak ada sensitivitas lagi. Kita pribadi tidak peka lagi pada pimpinan Tuhan atas hidup kita. Ya bagaimana kita mau peka pimpinan Tuhan atas gereja? Apalagi pimpinan Tuhan dalam zaman ini, kalau pimpinan Tuhan atas diri kita saja kita tidak mau taat.”<a href="#_ftn1" id="_ftnref1"><sup>[1]</sup></a></p>



<p class="wp-block-paragraph">Akhir kata dari refleksi singkat Jumat Agung Indonesia Arena, apakah kita mau makin taat, makin peka, makin paham kehendak Tuhan atas hidup kita, gereja kita, dan zaman kita? Kalau iya, saya percaya itu tanda dari pekerjaan Allah Roh Kudus atas hidup Anda dan saya yang sudah diperdamaikan dengan Allah. Jika belum, mari kita dengan rendah hati datang kepada Tuhan, memohon kepada Tuhan dengan sungguh dan bertobat, berbalik dari cara pikir dan cara hidup kita yang lama. Kalau tidak, setiap kegiatan religi yang kita alami nantinya hanya menjadi kegiatan simbolik saja.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a></a>Jikalau ada istilah “Kristen nominal” atau “Kristen KTP” yang biasa digunakan untuk mengidentifikasi kehidupan orang Kristen yang jauh dari nilai-nilai pokok kristiani, mungkinkah juga terminologi “Reformed nominal” atau “Reformed KTP” bisa saja mencuat sebagai penanda bagi diri kita? Pada akhirnya sungguh kita memang perlu berseru, bertobat, dan kembali mengikuti Dia sebagai Tuhan. Kematian Anak-Nya tidak pernah diperuntukkan agar kita terbebas dari maut dan kemudian hidup bagi dunia sambil menantikan surga. Allah Anak mati supaya kita kembali hidup untuk melayani kehendak Bapa, Sang Empunya dunia, surga, dan neraka. Oh Tuhan, datanglah segera. Maranatha! Amin.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nikki Tirta</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dosen Calvin Institute of Technology.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref1" id="_ftn1"><sup>[1]</sup></a> Sumber: Instagram MRII Lampung.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">27176</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Filsafat Asia: Bagian 29</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/transkrip/filsafat-asia-bagian-29</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[michaelleang]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 10 Apr 2026 12:06:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Transkrip]]></category>
		<category><![CDATA[Gentleman]]></category>
		<category><![CDATA[Konfusius]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[panggilan]]></category>
		<category><![CDATA[Tata krama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=27049</guid>

					<description><![CDATA[Ada bagian yang paling penting dan berharga di dalam mempelajari pemikiran Konfusius, yaitu tentang Ideal Man (Gentleman).

Apa yang kita tau tentang gentleman? Apakah itu tentang berperilaku maskulin? Atau memiliki sopan santun? Atau perhatian dan suka membantu?
Lebih dari itu. Bagi Konfusius, menjadi gentleman adalah tentang menjadi orang yang agung. Bukan secara status di dalam masyarakat, karena setiap manusia itu sama, tidak ada perbedaan yang memperbolehkannya didiskriminasi, melainkan karakter. Konfusius memunculkan perbedaan antara Orang Agung dan Orang Kecil ini dalam tulisannya.
Jadi, apa ciri orang yang agung atau gentleman?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Mulai dari bagian ini, kita akan membahas satu topik yang paling penting dari pemikiran Konfusius, yaitu tentang <em>Ideal Man</em> (<em>Gentleman</em>). Inilah topik yang paling penting dan paling berharga di dalam mempelajari pemikiran Konfusius. &nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Satu perkataan penting Konfusius, “Seorang <em>gentleman</em> tidak cepat berbicara, tetapi cepat bertindak.” Ada orang yang mulutnya manis sekali, pandai sekali berbicara, banyak bicara, tetapi yang dilakukan berbeda dari yang dikatakan. Kita harus berhati-hati dengan orang seperti ini. Tetapi ada semacam orang yang sulit dan sedikit berbicara, tidak pandai bicara, tetapi ketika diminta mengerjakan sesuatu, ia akan bisa segera melakukannya dan dengan hasil yang sangat baik. Itulah <em>gentleman</em>.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam pikiran saya, salah satu bangsa yang paling pandai berbicara adalah bangsa Indonesia. Semua orang pandai berpidato, cepat sekali berbicara, dan kalau pidato hebat sekali, tetapi begitu pelaksanaan, hasilnya berbeda sama sekali. Konfusius mengatakan, “Anak-anak yang kelihatan tidak bisa berbicara lancar, terlihat diam-diam, tetapi kalau mengerjakan segala sesuatu begitu lincah dan selalu beres, anak itu adalah anak yang baik.” Tuhan Yesus mengatakan, “Ada dua anak yang bersama ayahnya turun ke sawah. Ketika diminta mengerjakan sesuatu, yang pertama mengatakan dengan cepat bahwa dia akan pergi, tetapi akhirnya dia tidak pergi. Sementara anak yang kedua lebih lambat merespons, tetapi akhirnya dia yang pergi dan mengerjakan dengan baik.” &nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya mengamati dengan serius bahwa penginjilan di dalam kebaktian saya, saya mati-matian memakai pikiran saya untuk bisa mengubah konsep pemikiran manusia yang salah untuk kembali kepada firman Tuhan. Khotbah saya lebih panjang dari banyak orang lain, walau kebaktian orang lain terkadang lebih panjang dari kebaktian saya, karena mereka menyanyi begitu panjang dan lama. Ketika saya menantang orang untuk menerima Tuhan Yesus, tidak terlalu banyak yang maju ke depan, karena mereka harus berpikir serius sebelum bisa mengambil keputusan. Namun, setelah saya mengamati selama empat puluh tahun ini, saya melihat setelah mereka mengambil keputusan menjadi orang Kristen, mungkin bukan di depan saya, pada umumnya mereka menjadi buah yang panjang dan sungguh-sungguh. Jadi memang tidak mudah mengatakan “ya” di hadapan Tuhan, tetapi begitu mengatakan “ya”, maka harus menjalankannya dengan serius, seumur hidup mengikut Tuhan dengan baik.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya juga mengamati, ketika saya menantang dan memanggil orang untuk menjadi hamba Tuhan, ada semacam orang yang menangis di depan, tetapi akhirnya tidak jadi hamba Tuhan. Dan ada yang ketika dipanggil tidak mudah merespons. Sudah dipanggil tiga kali masih tidak berespons, terakhir di tambah lagi waktu, dan dia menyerah, perlahan-lahan keluar dan maju ke depan. Orang ini yang akhirnya serius mengikut Tuhan. Tetapi jangan juga kemudian disimpulkan semua harus perlahan-lahan dan tidak mau segera berespons jika dipanggil.  </p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">Konfusius mengatakan, “Anak-anak yang kelihatan tidak bisa berbicara lancar, terlihat diam-diam, tetapi kalau mengerjakan segala sesuatu begitu lincah dan selalu beres, anak itu adalah anak yang baik.”</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Seumur hidup, saya sambil mengerjakan pekerjaan Tuhan, sambil melihat bagaimana cara Tuhan bekerja di setiap pekerjaan tersebut. Bukan saya yang bekerja, tetapi saya melihat bagaimana di dalam pekerjaan Tuhan, Tuhan sedang mengerjakannya di mana saya hanya menjadi alat-Nya saja. Kemudian saya melihat bahwa memang perkataan orang agung seperti Konfusius itu cukup masuk akal. Orang yang tidak cepat berbicara, tidak lincah bersilat kata, tidak berkata-kata yang meyakinkan, tetapi ketika bekerja semua beres, itulah <em>gentleman</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seorang <em>gentleman</em> harus memiliki tiga macam pengetahuan. <em>Pertama</em>, jika seseorang tidak memiliki pengetahuan akan mandat sorga, ia tidak bisa menjadi seorang <em>gentleman</em>. Orang yang mengetahui mandat sorga barulah bisa menjadi seorang yang jantan, yang hidupnya bermoral, dan memiliki watak yang tinggi. Itulah seorang <em>gentleman</em> yang sesungguhnya. Mandat sorgawi adalah bagaimana ia berusaha untuk mengerti apa yang sorga ingin untuk ia lakukan dan bagaimana dia hidup bertanggung jawab kepada sorga (langit). Bagaimana dia bisa bertanggung jawab hidup dan bekerja kepada Tuhan Allah adalah merupakan ukuran utama dan pertama hidupnya. Seorang <em>gentleman</em> harus mengenal mandat sorga.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Kedua</em>, dia harus mengetahui dan mengerti tata krama. Orang yang tidak mengerti tata krama tidak bisa menegakkan watak sendiri. Orang yang tidak mengetahui tata krama tidak bisa tegak berdiri dan memiliki keagungan hidup. Orang harus sopan, harus menghormati orang lain, dia harus mengetahui tata krama, mengetahui segala peraturan, sehingga engkau tegak berdiri dan dihormati orang lain. Inilah hal yang kedua.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Ketiga</em>, seseorang <em>gentleman</em> harus mengetahui makna perkataan orang lain. Hati-hati untuk jangan menjadi orang yang terus ingin orang lain mendengar apa yang engkau katakan, tetapi tidak siap dan mau mendengar apa yang orang lain katakan. Lambat laun engkau akan dibuang oleh masyarakat. Orang yang berbijaksana adalah orang yang peka dan hati-hati mendengar perkataan orang lain. Namun, itu bukan berarti mendengar untuk mencari apakah perkataannya menyinggung perasaanku atau tidak, atau apakah kalimatnya itu marah kepada saya atau tidak. Bukan demikian. Tetapi ketika mendengar perkataan orang lain, kita bisa belajar apa kebijaksanaannya, apa ajarannya, apa yang penting dari kalimat-kalimatnya, apa hal-hal bermakna yang bisa kita dapat dari perkataannya. Itulah peka mendengar.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Orang seperti ini memiliki sifat seperti <em>sponge.</em> <em>Sponge</em> adalah benda yang begitu didekatkan ke air, ia akan segera menyerap air itu sebanyak-banyaknya. Orang seperti ini adalah orang pintar. Jika engkau tidak memiliki buku, carilah buku; dan jika ada buku, carilah bagian-bagian yang penting yang harus engkau serap; kalimat yang paling berguna, haruslah engkau hafal. Ini bagaikan <em>sponge</em>. Ada orang yang rumahnya penuh buku, tetapi tidak ada yang pernah dibaca. Ada orang yang di rumahnya tidak ada buku, tetapi ketika dia pergi ke rumah orang, dia membaca surat kabar yang ada di meja orang itu; atau ketika ke dokter dia membaca berbagai majalah yang ditaruh di meja, dan segera kalimat-kalimat penting masuk di otaknya. Ini adalah orang pandai.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika engkau berbicara dengan orang lain, engkau mungkin jengkel dan menganggap orang itu begitu cerewet. Kita sering ingin memotong atau menghentikan orang yang sedang berbicara. Kita sepertinya tidak ingin mendengar apa yang dia bicarakan. Tetapi seharusnya kita belajar mendengar apa yang sedang dia katakan. Jika ada satu kata atau kalimat yang bermakna, cepat-cepat harus ditangkap dan diterima. Jadi, mengerti kalimat orang lain itu sangat berharga. Hal-hal seperti ini akan menjadikan engkau pandai. Oleh karena itu, jadilah orang yang mau mengerti dengan mendengar kalimat penting dari orang lain. Janganlah engkau menjadi seorang yang terus mau berbicara tidak habis-habis dan menyuruh orang lain mendengarkannya.&nbsp;</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">Janganlah engkau menjadi seorang yang terus mau berbicara tidak habis-habis dan menyuruh orang lain mendengarkannya.</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Mendengar perkataan orang perlu memiliki saringan otak yang kuat dan membiasakan diri menangkap apa yang penting. Saya tidak sembarangan membeli buku. Saya selalu membeli buku-buku teori lebih banyak dari buku praktik. Buku teori yang berasal dan ditulis oleh orang-orang yang terkenal lebih banyak daripada buku-buku teori dari orang-orang yang sembarangan menulis. Kalau mau membeli buku theologi, siapa theolog yang paling penting, yang betul-betul bermutu, itulah yang saya beli bukunya. Yang kelas dua saya tidak terlalu banyak beli, karena saya mungkin memiliki pemikiran yang tidak kalah dari orang lain. Namun, pikiran dan perkataan orang yang betul-betul merupakan arus pokok, yang paling penting dalam bidangnya, saya harus mengetahuinya, karena pikirannya sudah teruji di dalam sejarah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Demikian pula ketika melihat surat kabar, membaca setiap majalah, jangan sembarang apa saja dibaca, kecuali engkau di dalam penjara dan tidak ada pekerjaan lain, sehingga harus menjadi pengangguran yang tidak ada kerja dari pagi hingga petang. Tetapi jika engkau begitu banyak pekerjaan, bacalah semua yang penting, lalu ditangkap setiap kalimat penting untuk menjadi landasan pikiran dan hidupmu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jadi ini tiga hal. (1) Seumur hidup itu jelas apakah panggilan Tuhan dan mandat sorgawi untuk saya hidup di dunia. Ini harus ditangkap. (2) Mengetahui bagaimana menjadi manusia bertata krama dan bergaul dengan orang lain, dan segala kesopanan, dan segala adat yang baik. (3) Mengetahui bagaimana menyaring, menerima, dan perkataan-perkataan yang penting untuk menjadi ajaran, hendaknya engkau tangkap baik-baik.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita perlu belajar bagaimana membedakan seorang <em>gentleman</em> dan seorang kecil. Bagi Konfusius, manusia secara status masyarakat tidak ada perbedaan yang boleh menjadi diskriminasi, tetapi secara karakter ada perbedaan antara orang agung atau orang kecil (orang hina). Bagi saya istilah <em>gentleman</em> kurang begitu tepat untuk penerjemahan pikiran Konfusius, karena lebih tepat dimengerti sebagai orang agung. Orang Inggris menerjemahkan sebagai <em>gentleman</em> atau bisa dipandang sebagai orang berperilaku maskulin. Tetapi pikiran Konfusius mungkin lebih baik disebut sebagai <em>orang agung</em>. Jadi di dalam tulisan Konfusius, khususnya <em>Lun Yu</em>, selalu muncul perbandingan antara Orang Agung dan Orang Kecil atau Orang yang Martabatnya Rendah. Orang Kecil bukan badannya kecil atau orang miskin, melainkan karena martabatnya hina atau rendah. Ini berbeda dan berlawanan dengan karakter atau sikap orang yang agung. Kedua karakter ini dibedakan secara serius oleh Konfusius. Amin.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">27049</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Spiritualitas Kovenan: Janji Allah pada Umat-Nya</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/alkitab-theologi/spiritualitas-kovenan-janji-allah-pada-umat-nya</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[andrian]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 06 Apr 2026 15:31:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Alkitab & Theologi]]></category>
		<category><![CDATA[covenant]]></category>
		<category><![CDATA[Covenant Theology]]></category>
		<category><![CDATA[Institutio]]></category>
		<category><![CDATA[John Calvin]]></category>
		<category><![CDATA[kasih]]></category>
		<category><![CDATA[Kovenan]]></category>
		<category><![CDATA[Kristus]]></category>
		<category><![CDATA[Reformed]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=26769</guid>

					<description><![CDATA[Ketika kita mendengar kata “perjanjian”, sering kali hal yang dibayangkan adalah sebuah perjanjian kerja sama antara dua pihak yang ditulis pada sebuah kontrak, di atas kertas secara hitam dan putih. Kedua pihak harus memenuhi syarat dan ketentuan yang mengikat keduanya secara legal, dan pihak yang melanggar akan mendapatkan sebuah konsekuensi atau hukuman. Sebaliknya, apabila kedua pihak memenuhi syarat-syarat dalam perjanjian tersebut, maka mereka akan mendapatkan keuntungan sesuai dengan kesepakatan.

Namun, apakah konsep “perjanjian” seperti di atas adalah hal yang sama dengan yang terjadi dalam hubungan antara Allah dan umat-Nya dalam catatan Alkitab?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Ketika kita mendengar kata “perjanjian”, sering kali hal yang dibayangkan adalah sebuah perjanjian kerja sama yang ditulis pada sebuah kontrak, yaitu di atas kertas secara hitam dan putih. Ikatan legal antara dua orang atau dua perusahaan, itulah yang menjadi ciri sebuah perjanjian modern. Kedua pihak harus memenuhi syarat dan ketentuan yang mengikat keduanya secara legal. Barangsiapa yang melanggar, maka pihak tersebut akan mendapatkan sebuah konsekuensi atau hukuman. Sebaliknya, apabila kedua pihak memenuhi syarat-syarat dalam perjanjian tersebut, maka mereka akan mendapatkan keuntungan sesuai dengan kesepakatan di awal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, apakah konsep “perjanjian” seperti ini adalah hal yang sama dengan yang terjadi dalam hubungan antara Allah dan umat-Nya dalam catatan Alkitab?</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Asal-usul Theologi Perjanjian</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Keunikan dari theologi Reformatoris terletak pada jaminan keselamatan melalui iman. Dalam Gerakan Reformasi, terdapat dua aliran yang berkembang dalam Protestanisme. Yang pertama adalah Lutheran, yang menitikberatkan pada iman (<em>sola fide</em>) dan Injil. Keunggulan dari theologi Lutheran adalah doktrin pembenaran (<em>justification</em>) yang betul-betul memisahkan pekerjaan Allah dari jasa manusia. Manusia tidak berjasa sedikit pun, dan kita yang diselamatkan adalah pendosa sekaligus orang kudus (<em>saint and sinner</em>). Tuhan Yesus memberikan jubah kebenaran-Nya untuk disematkan dan menutupi jubah kita yang berdosa. Manusia hanya bisa berserah secara total kepada Allah. Injil adalah kabar baik yang mewartakan anugerah keselamatan yang datang dari Allah tanpa adanya jasa manusia di dalamnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu, apa yang menjadi keunggulan dari theologi Reformed yang membedakannya dari theologi Protestan-Lutheran, Kristen Katolik maupun Kristen Ortodoks?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu hal yang menjadi keunikan tradisi Reformed adalah theologi perjanjian (<em>covenantal theology</em>). Pada masa Reformasi, yaitu ketika Luther sedang memperjuangkan Reformasi di Jerman, Huldrych Zwingli (1484-1531) dan Heinrich Bullinger (1504-1575) dari Swis juga sedang melakukan Reformasi, yaitu pada tahun-tahun sebelum John Calvin menjadi bagian dari Gerakan Reformasi. Kritik terhadap spiritualitas Gereja Katolik Roma yang dipenuhi dengan takhayul dan tradisi yang bertolak belakang dengan ajaran gereja mula-mula menjadi titik awal yang mendorong Reformasi Protestan. Akan tetapi, Reformasi dari Swis, yang nantinya berkembang menjadi tradisi Reformed, mempunyai sebuah corak tersendiri. Mereka menitikberatkan konsep “perjanjian” antara Allah dan umat-Nya.<a href="#_ftn1" id="_ftnref1"><sup>[1]</sup></a></p>



<p class="wp-block-paragraph">Heinrich Bullinger mencetuskan sebuah istilah “Perjanjian Kekal” (<em>foedus unum et aeternum</em>). Perjanjian Allah dengan Adam, Nuh, Abraham, umat Israel melalui Musa, Daud, dan kemudian dinyatakan adanya pembaruan janji melalui para nabi seperti Yesaya, Yeremia, dan Yehezkiel—semuanya itu ditujukan kepada Yesus Kristus. Dalam sejarah Israel dan Gereja, Allah mengikatkan sebuah janji keselamatan dengan umat-Nya, yang tidak dapat dipatahkan oleh waktu maupun kondisi yang memahitkan. Hal ini kemudian diutarakan dalam Pengakuan Iman Helvetik yang Kedua, Pasal ke-10:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">“Dan sekalipun janji-janji Allah dinyatakan kepada kita dengan berbagai cara, namun Kitab Suci mengajarkan bahwa ada <em>satu dan sama</em> perjanjian bagi semua orang beriman sejak permulaan dunia. Sebab semua menerima janji-janji Allah yang sama, melalui satu dan sama Pengantara, yaitu Kristus, yang telah dijanjikan sejak semula. Karena melalui iman kepada-Nya semua orang beriman telah diselamatkan, sedang diselamatkan, dan akan diselamatkan.”</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Apabila hubungan Allah dengan umat, yaitu kaum percaya, hanya dibangun dengan sebuah kertas secara “hitam dan putih”, itu hanyalah sebuah kerangka kontrak legal-politik yang kurang berarti. Masyarakat republikan yang demokratis memang adalah bentuk kepemimpinan yang cukup baik dibandingkan monarki-tirani, tetapi rakyat tanpa Allah bukanlah masyarakat yang baik seperti yang pernah terjadi ketika orang Israel memilih Saul sebagai raja. Jika hubungan itu dibentuk dengan sebuah “rasa percaya” saja (<em>sense of trust</em>), maka kehidupan bermasyarakat bisa mengalami keruntuhan apabila ada yang melanggar janji sosial seperti yang sudah dijelaskan di atas. Dan ketika rasa percaya itu retak, akan sangat sulit untuk memulihkannya kembali. Jadi, dengan “janji” seperti apakah Tuhan membangun hubungan dengan gereja-Nya?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apabila kita menelusuri Kitab Suci, ada dua bagian yang membedakan <em>Perjanjian</em> <em>Lama</em> dan <em>Perjanjian Baru</em>. Bahasa yang lebih tepat adalah <em>Kovenan Mula</em> dan <em>Kovenan</em> <em>yang Dipulihkan</em>. Perjanjian yang dimaksud di sini bukanlah sebuah perjanjian legal-politik, bukan sebuah perjanjian yang membentuk rasa percaya yang dipulihkan, melainkan jauh lebih dalam daripada itu. Ini adalah sebuah Perjanjian Nikah antara Allah dan umat-Nya. Itulah yang dimengerti sebagai theologi perjanjian. Makna “kovenan” yang mewarnai tradisi Reformed adalah bentuk kedaulatan kasih Allah kepada yang dikasihi-Nya. Barulah dari situ, Tuhan menetapkan Sepuluh Hukum Taurat sebagai bentuk konkret untuk menjalankan syarat-syarat Pernikahan, serta terbentuknya rasa percaya ketika kita mengikuti Hukum yang Terutama, di mana seluruh isi hukum Allah bergantung.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Mat. 22:37-39)</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Kisah Perjanjian Allah dengan Umat-Nya</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Perjanjian seperti ini bukanlah sebuah ikatan yang diinisiasi oleh manusia. Bukan manusia yang mencari Allah, tetapi Allah yang memilih, mencari, dan mengikatkan diri-Nya dengan manusia. Padahal, apabila dipikirkan, Tuhan yang berdaulat tidak memerlukan eksistensi manusia yang hanyalah butiran debu. Tuhan juga tidak perlu berelasi dengan manusia, dalam sebuah dialog yang datang dan pergi, tetapi Dia menghadirkan seluruh diri-Nya dalam ikatan kekal. Itu adalah langkah yang sangat berisiko bagi-Nya, khususnya ketika Tuhan mengikat janji dengan sebuah makhluk ciptaan yang sangat mungkin untuk berdosa dan melukai hati-Nya.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">Maka, sesudah matahari terbenam dan hari menjadi gelap, tampaklah perapian yang berasap dan suluh yang berapi lewat di antara potongan-potongan itu. Pada hari itulah TUHAN mengadakan perjanjian dengan Abram serta berfirman: “Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, Sungai Efrat.” (Kej. 15:17-18)</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika Allah berjanji dengan Abram (sebelum namanya diubah menjadi Abraham), perhatikan bahwa ada potongan binatang dari kambing betina, domba, dan burung (Kej. 15:9) yang diletakkan di tanah. Kedua pihak itu seharusnya melalui potongan itu, dan bagi yang melanggar janji tersebut, dia akan dipotong seperti korban binatang. Abraham tidak melalui potongan itu, melainkan Allah sendiri. Seolah-olah Allah sedang berkata, “Aku berjanji akan memberkati engkau, dan jika engkau yang melanggar, Akulah yang akan menerima hukuman—Aku tetap setia mengasihimu dengan janji yang kekal ini.” Perhatikan Allah yang mengikatkan kedaulatan-Nya pada karakter kasih-Nya. “Aku menjadi milikmu, dan kamu menjadi milik-Ku. Akulah jaminannya jika terjadi apa-apa yang membahayakanmu maupun ketika kamu meninggalkanku.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kisah Perjanjian ini nantinya akan ditemukan dalam kisah Nabi Hosea dan Gomer. Hosea diperintah oleh Allah untuk menikahi perempuan sundal. Tiga kali perempuan itu mempunyai anak yang bukan keturunan dari Hosea sendiri; Gomer mencari laki-laki lain. Hosea yang membesarkan ketiga anak tersebut. Lalu, ketika Gomer ditangkap dan dijual menjadi seorang budak, tidak ada seorang pun yang mau membeli perempuan “bekasan”. Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang datang untuk menebus perempuan itu, dan dia adalah suaminya yang mula-mula. Hosea datang kembali untuk mencintai Gomer sebagaimana Tuhan mengasihi umat Israel yang berkali-kali berzinah dan meninggalkan-Nya:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">“Sebab yang menjadi suamimu ialah Dia yang menjadikan engkau, TUHAN semesta alam adalah nama-Nya; dan yang menebus engkau ialah Yang Mahakudus, Allah Israel, Ia disebut Allah seluruh bumi. Sebab seperti isteri yang ditinggalkan dan yang bersusah hati TUHAN memanggil engkau kembali, isteri masa muda—apakah ia akan ditolak, firman Allahmu. Hanya sesaat saja Aku meninggalkan engkau, tetapi karena kasih sayang yang besar Aku mengambil engkau kembali.” (Yes. 54:5-7)</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Berfirmanlah TUHAN kepadaku: &#8216;Pergilah lagi, cintailah perempuan yang suka bersundal dan berzinah, seperti Tuhan juga mencintai orang Israel, sekalipun mereka berpaling kepada allah lain dan menyukai kue kismis.” (Hos. 3:1)</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam hubungan antar manusia, tampaknya sebuah hubungan sering kali bersifat bersyarat dan sementara. Artinya, ketika kita mengasihi orang lain, kita mengasihi pada <em>sesuatu</em> yang dapat kita ambil darinya. Jika sesuatu itu hilang, maka kita tidak lagi mengasihinya. “Jika kamu baik, maka aku baru baik kepadanya. Jika kamu tidak lagi baik, maka aku tidak mau bersikap baik kepadanya. Tampaknya dia sudah berubah, dia bukan lagi orang yang kukenal di mula-mula, maka aku tidak perlu dan tidak mau mengasihinya.” Apabila kasih dimengerti sebagai sesuatu yang <em>conditional</em>, maka itu bukan lagi “kasih” (memberi), tetapi sebuah syarat untuk mengambil demi kepentingan diri sendiri. Bayangkan jika hubungan Allah dengan kita dibangun di atas dasar sebuah kondisi dan kemampuan untuk berperforma, “Jika kamu tidak cukup baik, cukup rohani, cukup Reformed, maka kamu tidak akan kukasihi.” Itu akan menjadi sesuatu hal yang sangat mencemaskan, seolah-olah Tuhan direduksi menjadi “akuntan” dan “hakim” di atas awan, dan hubungan kita dengan Allah adalah sebuah <em>situationship</em> yang dapat berubah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidaklah demikian dengan kisah perjanjian dalam Kitab Suci, di dalam Kristus Saudara Sulung kita, Tuhan adalah <em>Bapa</em> bagi kita, dan dalam Roh-Nya kita menjadi anak-anak-Nya. Perjanjian ini hanyalah mungkin sebab Allah adalah Allah Trinitas yang membagikan kasih kekal kepada ciptaan-Nya. Dia menarik kita untuk masuk dalam persekutuan di dalam-Nya melalui janji yang dimeteraikan oleh darah Yesus dan Roh-Nya. Jika Allah bukan Trinitas, maka Allah bukanlah kasih. Dia bisa saja berkuasa dan berdaulat, tetapi hubungan kita dengannya adalah sebuah hubungan kontrak yang transaksional. Perbuatan baik kita diserahkan kepadanya untuk mengemis perhatian darinya. Jika Allah bersifat transaksional, maka para penyembahnya pun juga akan menjadi transaksional, kompetitif bahkan secara “rohani”, menjadi sombong sekaligus minder tergantung pada “musim kerohaniannya”. Tentunya, itu bukan Allah, melainkan ilah palsu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika Allah memilih untuk mengasihi kita, Dia memilih untuk mengasihi kita semata-mata karena Dia adalah kasih. Dia memilih kita bukan karena <em>sesuatu</em> dari kita, melainkan Dia memilih untuk membagikan diri-Nya kepada kita (<em>unconditional election</em>). Janji yang melibatkan seluruh kedaulatan diri-Nya, bahkan sampai harus mati di kayu salib dan menanggung hukuman neraka bagi kita. “Bukan kamu yang menanggungnya, biar Aku saja, sebagaimana dahulu Aku pernah berjanji untuk mengasihimu.” Hal inilah yang nantinya menjadi puncak dari ibadah kekristenan, yaitu ketika kita menerima dan mengingat janji Allah, yang berbicara seperti demikian:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” Demikian juga cawan sesudah makan; Ia berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku yang ditumpahkan bagi kamu.” (Luk. 22:19-20)</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Bukan kita yang meminta tubuh dan darah Yesus, melainkan Tuhan Yesus yang menyerahkan diri-Nya sendiri kepada kita. Di dalam iman yang dikaruniai Roh Kudus, kita menerima janji-janji Allah dengan memakan tubuh-Nya dan meminum darah perjanjian-Nya. Dalam misteri Perjamuan Kudus, kita bukan saja sedang menerima anugerah dari Tuhan, roh kita diangkat ke surga, dan menerima Tuhan itu sendiri, yaitu menjadi satu dengan-Nya, dalam janji yang kekal dan tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih-Nya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Refleksi</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika kita mengenal siapa diri kita sebagai manusia berdosa, dan Kristus menjadi Suami bagi Gereja yang ditebus dari dunia pelacuran, kita akan betul-betul menyadari betapa mulia anugerah dan karakter hati Tuhan. Dia bukan Tuhan yang jauh di luar sana, yang berdaulat di atas awan untuk mencipta dan memainkan sejarah dalam percaturan kuasa. Melainkan <em>Engkau</em> adalah Bapa yang Mahakuasa, dan kami adalah anak-anak umat milik-Mu. John Calvin menjelaskan dalam <em>Institutes of the Christian Religion</em>, bahwa tujuan sejati dari kekristenan adalah untuk mengenal Allah dan diri. Pengenalan bukanlah sekadar tahu secara kognitif dan informatif tentang Tuhan. Pengenalan adalah <em>bersatu</em> dengan yang dikenal. Pengetahuan akan Allah bersifat relasional, dan semakin kita mengenal Allah, kita akan menyadari betapa besar kasih anugerah Allah kepada manusia yang berdosa.<a href="#_ftn2" id="_ftnref2"><sup>[2]</sup></a></p>



<p class="wp-block-paragraph">Karya besar John Calvin, <em>Institutes of the Christian Religion</em>, diawali dan dirangkum dalam sebuah kalimat: Hampir seluruh dari hikmat yang kita miliki, yaitu yang benar dan bijak, terdiri dari dua bagian: pengetahuan tentang Allah dan diri manusia.<a href="#_ftn3" id="_ftnref3"><sup>[3]</sup></a> Saat kita mengetahui siapa diri kita dan siapa diri Allah, maka kita akan memahami betapa dalam, luas, kuat, dan setia-Nya Allah dalam mengasihi kita menurut janji-Nya. Theologi perjanjian (<em>covenantal theology</em>) adalah dasar bagi spiritualitas orang Kristen, dasar yang menggerakan umat percaya untuk penginjilan, hidup berkomunitas dalam persekutuan, dasar bagi sistem pemerintahan gereja, dan lain sebagainya. Sebab intisari dari kehidupan theologi adalah doa, dan doa adalah ekspresi hubungan “Aku dan Engkau” dengan Allah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika kita mengucapkan janji nikah kepada pasangan hidup, janji itu tidak hanya berbunyi dengan kata-kata saja, tetapi masing-masing pribadi yang mengucapkan janji itu sedang mempertaruhkan nyawa hidupnya sendiri. “Dalam suka maupun duka, sehat maupun sakit, kaya maupun miskin, sampai maut memisahkan kita.” Janji seperti ini tidak mengandalkan perasaan, sebab perasaan dapat berubah, dia datang dan pergi seperti angin. Akan tetapi, ketika kasih sudah disentuh oleh kekekalan, kasih yang digerakkan sebagai sebuah hukum yang diperintah, “kamu harus mengasihi” (<em>you shall love</em>), dia tidak dapat diubah oleh apa pun (<em>Only when it is a duty to love, only then is love eternally secured against every change</em>).<a href="#_ftn4" id="_ftnref4"><sup>[4]</sup></a> Sehingga, makna kasih dalam kekristenan bukan hanya soal perasaan atau kecocokan, tetapi adalah sebuah janji dan tanggung jawab—termasuk ketika kasih itu sulit, ada kerelaan untuk menanggung derita demi mengasihi yang lain (<em>to willingly endure being hated as a reward for one’s love</em>).<a href="#_ftn5" id="_ftnref5"><sup>[5]</sup></a></p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">“Dari jauh TUHAN menampakkan diri kepadanya: Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal; sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu.” (Yer. 31:3)</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Lihat, Aku telah menggambar engkau pada telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku.” (Yes. 49:16)</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Kita bisa mengasihi sebagai rasa tanggung jawab kepada Tuhan dan gereja (sesama kita) karena Allah terlebih dahulu telah mengasihi kita (1Yoh. 4:19). Theologi perjanjian inilah yang menjadi jantung dan harta karun dalam tradisi Reformed. Bayangkan jika yang berkata seperti itu bukan manusia, melainkan Tuhan itu sendiri dan Ia sudah membuktikannya melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Dalam janji iman kepada Allah, kita bersatu dalam Kristus&nbsp; dan akan diubahkan untuk menjadi serupa dengan-Nya. Apabila kita sungguh-sungguh mengenal Allah yang mengasihi kita seperti demikian, dengan seluruh totalitas diri-Nya, maka kita juga akan mempunyai sikap yang serupa kepada sesama manusia. Bukan karena seseorang berasal dari suatu tradisi gereja, atau karena kita berasal dari strata sosial-ekonomi maupun lapisan kemasyarakatan, atau karena suku, agama, atau ras tertentu, bukan karena kita lebih rohani atau kurang rohani, melainkan semata-mata karena Allah telah mengasihi, dan kita berbagian dalam keluarga Allah menurut janji-Nya. Itulah yang menjadi jaminan dan dasar bagi kehidupan pribadi, cara berkomunitas, serta membangun gereja sebagai tubuh Kristus yang kudus dan am.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">“Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Roma 8:37-39</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Kevin Nobel Kurniawan<br>Pemuda GRII Pusat</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Referensi</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Calvin, John. 1559. <em>Institutes of the Christian Religion</em>. Christian Classics Ethereal Library.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hildebrand, Pierrick. 2024. <em>The Zurich Origins of Reformed Covenant Theology</em>. Oxford University Press.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kierkegaard, Soren. 1995. <em>Works of Love</em>. Princeton University Press.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Michael Reeves &amp; Tim Chester. 2016. <em>Why the Reformation Still Matters</em>. Crossway</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref1" id="_ftn1"><sup>[1]</sup></a> Hildebrand, Pierrick. 2024. <em>The Zurich Origins of Reformed Covenant Theology</em>. Oxford University Press.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref2" id="_ftn2"><sup>[2]</sup></a> Michael Reeves &amp; Tim Chester, <em>Why the Reformation Still Matters</em>, 60.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref3" id="_ftn3"><sup>[3]</sup></a> John Calvin, <em>Institutes of the Christian Religion</em>, 1.1.1.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref4" id="_ftn4"><sup>[4]</sup></a> Soren Kierkegaard, <em>Works of Love</em>, 29.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref5" id="_ftn5"><sup>[5]</sup></a> Soren Kierekgaard, <em>Works of Love</em>, 114.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">26769</post-id>	</item>
		<item>
		<title>JUMAT AGUNG: CARA ALLAH MENGATASI DOSA</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/renungan/jumat-agung-cara-allah-mengatasi-dosa</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[heryanto]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Apr 2026 10:24:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Besar]]></category>
		<category><![CDATA[JUmat Agung]]></category>
		<category><![CDATA[Pengampunan Dosa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=26657</guid>

					<description><![CDATA[Aku mengobati gatal di leherku dengan caraku sendiri selama 3 minggu tetapi tidak sembuh. Akhirnya aku pergi ke dokter, mengoleskan obat yang diresepkan dan segera sembuh. Begitu juga dengan dosa, ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/renungan/jumat-agung-cara-allah-mengatasi-dosa">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Aku mengobati gatal di leherku dengan caraku sendiri selama 3 minggu tetapi tidak sembuh. Akhirnya aku pergi ke dokter, mengoleskan obat yang diresepkan dan segera sembuh. Begitu juga dengan dosa, kita tidak bisa mengatasi dosa dengan cara kita, melainkan harus dengan cara Allah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perjanjian Lama mencatat cara Allah mengatasi dosa manusia. Orang yang berbuat dosa <em>harus</em> memberikan persembahan berupa seekor kambing betina yang tidak bercela, artinya yang baik, tidak boleh yang sakit atau ada cacatnya. Ia <em>harus</em> meletakkan tangannya di atas kepala kambing itu dan menyembelihnya di tempat korban bakaran. Imam <em>harus</em> mengambil dengan jarinya sedikit dari darah korban itu lalu membubuhkannya pada tanduk-tanduk di mezbah yang ada di dalam Kemah Suci. Semua darahnya <em>harus</em> dicurahkan di bagian bawah mezbah. Lemaknya <em>harus</em> dipisahkan dan <em>harus</em> dibakar di atas mezbah menjadi bau yang menyenangkan bagi Allah. Dengan demikian imam mengadakan pendamaian bagi orang itu sehingga ia menerima pengampunan (Im. 4:28-31). Jika yang berdosa adalah imam, maka korbannya adalah seekor lembu jantan muda. Jika yang berdosa adalah pemuka, maka korbannya adalah seekor kambing jantan. Perbuatan baik, standar moral yang tinggi, bahkan perbuatan asketis tidak bisa mengatasi dosa. Semuanya itu seperti kain lap yang kotor di mata Allah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Korban binatang dan imam dalam Perjanjian Lama adalah gambaran dan bayangan sampai yang sesungguhnya tiba. Perjanjian Baru mencatat bahwa Tuhan Yesus mati di kayu salib sebagai korban yang sempurna. Ia bangkit dan kembali ke sorga sebagai Imam Besar yang mempersembahkan darah-Nya sendiri satu kali untuk selamanya. Tuhan Yesus mengadakan pendamaian bagi orang berdosa yang percaya kepada-Nya sehingga ia menerima pengampunan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rasul Paulus mengatakan,</p>



<p class="wp-block-paragraph">”Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Rm. 12:1-2).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena Allah sudah begitu baik kepada kita, orang berdosa, kini sudah sepantasnya kita hidup kudus dan melakukan apa yang baik dan berkenan kepada Allah. Kita <em>harus</em> berubah dalam cara kita berpikir—mematikan keinginan daging (perselisihan, iri hati, amarah, <em>self-centeredness</em>) dan menuruti keinginan Roh (kasih, sukacita, sabar, <em>self-control</em>). Kita <em>harus</em> berhenti menggunakan waktu, kesehatan, potensi, uang untuk hal-hal yang sementara (<em>things you must do before you die</em>) dan mulai menggunakannya untuk hal-hal yang bernilai kekal (<em>things you must do before you meet God</em>). Kita <em>harus</em> lebih sungguh-sungguh membaca Alkitab, menghafalkan ayat-ayat Alkitab, berdoa, bersekutu dengan orang percaya lain, memuji dan melayani Tuhan, menginjili, dan mengasihi sesama. Setiap waktu dan di mana saja, kita hidup di hadapan Tuhan dan bagi Tuhan. Pada siang hari atau malam, ketika kita bicara, makan, nonton; ketika kita berada di rumah, sekolah/tempat kerja, gereja; kita <em>harus</em> menjadi makin serupa dengan Kristus dalam semua perbuatan dan perkataan kita.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yana Valentina</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jemaat GRII Pusat</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">26657</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
