<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Buletin PILLAR</title>
	<atom:link href="http://www.buletinpillar.org/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.buletinpillar.org</link>
	<description>Buletin Pemuda GRII</description>
	<lastBuildDate>Mon, 18 May 2026 13:50:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">210804978</site>	<item>
		<title>Down and Up: Ascension Day</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/kehidupan-kristen/down-and-up-ascension-day</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[heryanto]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 14 May 2026 22:58:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kehidupan Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[Ascension Day]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Besar Agung]]></category>
		<category><![CDATA[Pengantara Allah dan Manusia]]></category>
		<category><![CDATA[Pengharapan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=28690</guid>

					<description><![CDATA[Di Indonesia, Hari Kenaikan Tuhan Yesus Kristus atau Ascension Day adalah hari libur nasional. Umat Kristen di negeri ini memiliki empat hari raya utama yang menjadi hari libur nasional: Natal, Jumat Agung, Paskah, dan Kenaikan Tuhan Yesus. Namun, dibandingkan dengan tiga perayaan lainnya, Kenaikan Tuhan Yesus sering kali kurang mendapat perhatian. Perayaan ini selalu jatuh pada hari Kamis dan biasanya diikuti dengan cuti bersama pada hari Jumat.

Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya kesempatan untuk beristirahat, berkumpul dengan keluarga, atau bepergian. Namun sebagai gereja Tuhan, kita diundang untuk berhenti sejenak dan merenungkan makna rohani yang dalam dari peristiwa ini. Bagaimana kita menghayati signifikansi Kenaikan Tuhan Yesus yang adalah bagian penting dari karya keselamatan Allah yang penuh makna, penuh kuasa, dan penuh pengharapan bagi umat-Nya?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Di Indonesia, Hari Kenaikan Tuhan Yesus Kristus atau <em>Ascension Day</em> adalah hari libur nasional. Umat Kristen di negeri ini memiliki empat hari raya utama yang menjadi hari libur nasional: Natal, Jumat Agung, Paskah, dan Kenaikan Tuhan Yesus. Namun, dibandingkan dengan tiga perayaan lainnya, Kenaikan Tuhan Yesus sering kali kurang mendapat perhatian. Perayaan ini selalu jatuh pada hari Kamis dan biasanya diikuti dengan cuti bersama pada hari Jumat.</p>



<p>Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya kesempatan untuk beristirahat, berkumpul dengan keluarga, atau bepergian. Namun sebagai gereja Tuhan, kita diundang untuk berhenti sejenak dan merenungkan makna rohani yang dalam dari peristiwa ini. Kenaikan Tuhan Yesus bukan sekadar penutup dari kisah kebangkitan, ataupun cerita tambahan dari peristiwa besar karya keselamatan Kristus. Hari Kenaikan adalah bagian penting dari karya keselamatan Allah yang penuh makna, penuh kuasa, dan penuh pengharapan bagi umat-Nya.</p>



<p>Tidak Ada yang Naik ke Sorga Selain Yesus</p>



<p>Dalam Yohanes 3:13 tertulis:</p>



<p>“Tidak ada seorang pun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia.”</p>



<p>Perkataan ini sederhana, tetapi sangat mendalam. Yesus menegaskan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat naik ke sorga selain dari Anak Manusia, yaitu Yesus sendiri. Ya, Alkitab memang mencatat bahwa Henokh dan Elia juga diangkat ke sorga. Namun mereka diangkat ke sorga tidaklah sama dengan kenaikan seperti yang dialami Kristus. Mereka tidak naik sebagai Raja yang menang, tidak duduk di sebelah kanan Allah, dan tidak menerima segala otoritas atas sorga dan bumi. Hanya Yesus yang benar-benar naik sebagai Tuhan yang menang atas dosa, maut, dan Iblis. Yesus berbeda dari semua manusia, karena Dia bukan hanya manusia. Dia adalah Anak Allah yang telah turun dari sorga.</p>



<p>Ada pola indah yang dapat kita perhatikan di sini: <strong>down and up</strong>. Yesus turun dari sorga untuk menyelamatkan kita dan menuntaskan pekerjaan yang Bapa kehendaki, lalu Dia naik kembali ke sorga setelah menyelesaikan karya yang teragung ini. Hal ini mengajarkan bahwa keselamatan dimulai dari Allah yang turun kepada kita di dalam Kristus.</p>



<p>Dalam perayaan Hari Kenaikan tahun ini, ada tiga kebenaran yang dapat kita renungkan bersama sebagai anak-anak Tuhan.</p>



<p>Pertama, <em>Jesus the Savior <strong><u>Reigns</u></strong></em> (Yesus Juruselamat Memerintah)!</p>



<p>Dalam 1 Petrus 3:22, kita membaca bahwa Yesus telah naik ke sorga, berada di sebelah kanan Allah, dan kepada-Nya telah ditaklukkan segala malaikat, kuasa, dan kekuatan. Sering kali kita lebih akrab dengan gambaran Yesus yang lembut, yang mengasihi anak-anak, yang menyembuhkan orang sakit, yang menangis bersama mereka yang berduka. Semua itu benar dan indah. Tetapi Hari Kenaikan mengingatkan kita akan satu dimensi lain dari Kristus: Dia adalah Raja yang bertakhta! Kenaikan bukanlah perpisahan yang menyedihkan antara Yesus dan murid-murid-Nya. Kenaikan adalah <em>enthronement</em> (penobatan). Jika kebangkitan menandai bahwa karya keselamatan-Nya di bumi telah selesai, maka kenaikan menandai dimulainya pelayanan-Nya sebagai Raja.</p>



<p>Mari kita renungkan Yesus sebagai Raja untuk sejenak. Di dunia yang penuh ketidakpastian, apalagi dengan krisis ekonomi, konflik, penyakit, perang, ataupun ketidakadilan, kita sering kali merasa kecil dan tidak berdaya. Berita demi berita membuat manusia hidup dalam ketakutan dan kecemasan. Banyak orang bertanya: Siapa sebenarnya yang memegang kendali atas dunia ini? Namun Hari Kenaikan memberikan jawaban yang jelas: Kristuslah yang memerintah. Takhta Allah tidak pernah kosong. Yesus yang telah bangkit kini duduk di sebelah kanan Bapa, memerintah atas segala sesuatu. Segala malaikat, kuasa, dan kekuatan ada di bawah otoritas-Nya (Mat. 28:18).</p>



<p>Kebenaran ini memberikan penghiburan besar bagi orang percaya. Kita mungkin tidak memahami seluruh jalan hidup kita. Ada doa yang belum terjawab, rencana yang berubah, ataupun penderitaan yang tidak kita mengerti. Namun sebagai anak-anak Tuhan, kita tahu bahwa hidup kita berada di tangan Raja yang baik dan berdaulat. Tidak ada satu pun peristiwa dalam hidup kita yang berada di luar kendali-Nya. Bahkan hal-hal yang tampaknya kacau sekalipun tetap berada dalam pemerintahan Kristus.</p>



<p>Ingatlah hal ini, Kristus memerintah bukan sebagai Raja yang jauh dan dingin. Dia adalah Raja yang pernah turun ke dunia, memikul salib, dan mati bagi umat-Nya. Raja kita memahami penderitaan umat-Nya karena Dia sendiri pernah menderita. Itulah sebabnya pemerintahan Kristus menjadi sumber pengharapan. Kita tidak diperintah oleh kuasa yang kejam, tetapi oleh Juruselamat yang penuh kasih karunia. Karena Kristus memerintah, gereja Tuhan tidak perlu hidup dalam ketakutan. Dunia boleh berubah, kerajaan manusia dapat runtuh, tetapi Kerajaan Kristus tetap berdiri untuk selama-lamanya.</p>



<p>Hari Kenaikan mengajak kita mengangkat mata dari keadaan dunia yang sementara kepada Kristus yang bertakhta di sorga. Ketika hati kita dipenuhi kecemasan, kita diingatkan bahwa Raja kita hidup dan memerintah. Ketika kita merasa lemah, kita diingatkan bahwa kuasa Kristus jauh lebih besar daripada segala kekuatan dunia ini. Dan ketika kita menghadapi masa depan yang tidak pasti, kita boleh berjalan dengan iman, sebab Raja yang memegang masa depan itu adalah Juruselamat kita sendiri.</p>



<p>Kedua, <em>Jesus the Savior <strong><u>Reconnects</u></strong> Heaven and Earth</em> (Yesus Menghubungkan Kembali Sorga dan Bumi)!</p>



<p>Satu Timotius 2:5 mencatat: “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus.” Dosa telah menciptakan jurang yang dalam antara manusia dan Allah. Tidak ada usaha moral, tidak ada ritual keagamaan, tidak ada kebaikan manusia yang dapat menjembatani jurang itu. Hanya ada satu Pengantara, yaitu Kristus Yesus.</p>



<p>Melalui inkarnasi, kematian, kebangkitan, dan kenaikan-Nya, Yesus menyambungkan kembali sorga dan bumi. Dia membuka jalan yang sebelumnya tertutup, menghubungkan hubungan yang sebelumnya putus. Ketika Kristus datang ke dunia, Allah sendiri turun menghampiri manusia berdosa. Dan ketika Kristus naik ke sorga, Dia membawa natur manusia ke hadapan Allah. Di dalam Kristus, hubungan yang telah rusak itu dipulihkan kembali. Karena itu, Hari Kenaikan bukan hanya berbicara tentang Yesus yang pergi ke sorga, tetapi tentang jalan menuju hadirat Allah yang kini terbuka bagi umat-Nya.</p>



<p>Namun ada satu kebenaran yang perlu kita pahami dengan saksama dan rendah hati: hanya satu Pribadi yang benar-benar mampu naik ke sorga, yaitu Kristus sendiri. Jika kita ingin ikut serta, kita harus berada <em>in Christ</em>, “di dalam Dia.” Tidak ada manusia yang dapat datang kepada Allah dengan kekuatannya sendiri. Keselamatan bukan hasil usaha manusia menaiki tangga menuju sorga. Sebaliknya, keselamatan adalah Kristus yang turun mencari dan membawa kita naik bersama-Nya.</p>



<p>Hal ini sangat menguatkan sekaligus merendahkan hati. Kita bukanlah pengemudi perjalanan menuju sorga. Kita hanyalah penumpang. Kristuslah kendaraan keselamatan itu. Kita dipersatukan dengan Dia oleh Roh Kudus, menjadi anggota tubuh-Nya. Artinya, pengharapan kita bukan pada kekuatan iman kita, tetapi pada Pribadi yang kepada-Nya iman itu diarahkan. Kita diselamatkan bukan karena kita cukup—cukup baik, cukup rohani, atau cukup kuat—tetapi karena kita dipersatukan dengan Kristus yang sempurna. Bersatu dengan Kristus berarti ikut ambil bagian dalam kemenangan, kehidupan, dan kenaikan-Nya.</p>



<p>Kebenaran ini juga memberi penghiburan besar bagi kehidupan sehari-hari kita. Banyak orang hidup dengan rasa bersalah, rasa malu, atau ketakutan bahwa mereka tidak cukup layak di hadapan Allah. Namun Injil mengingatkan kita bahwa akses kepada Allah tidak bergantung pada usaha kita, melainkan pada Kristus Sang Pengantara. Karena Kristus telah membuka jalan itu, kita sekarang dapat datang kepada Allah sebagai anak-anak-Nya. Kita dapat berdoa, menyembah, dan hidup dalam pengharapan karena hubungan dengan Allah telah dipulihkan melalui Yesus Kristus.</p>



<p>Ada satu lagu Sekolah Minggu yang menggambarkan hal ini dengan sangat indah:</p>



<p><em>Aduh senangnya naik kereta<br>Kereta besar buatan Tuhan<br>Sopirnya Yesus<br>Jalannya lurus<br>Siapa mau ikut pergi ke sorga</em></p>



<p>Sederhana sekali, tetapi sangat dalam maknanya. Lagu itu mengingatkan bahwa keselamatan bukan tentang kemampuan kita mencapai sorga, melainkan tentang Kristus yang membawa umat-Nya pulang kepada Bapa.</p>



<p>Ketiga dan yang terakhir, <em>Jesus the Savior <strong><u>Remembers</u></strong></em> (Yesus Imam Besar yang Mengingat Kita)!</p>



<p>Ibrani 4:14-16 mengingatkan kita bahwa Yesus adalah Imam Besar Agung yang telah melintasi langit, dan bahwa Yesus bukanlah Imam Besar yang tidak memahami kelemahan kita. Sebaliknya, Dia pernah dicobai dalam segala hal, sama seperti kita, tetapi tanpa dosa. Karena itu, firman Tuhan mengundang kita untuk datang dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan pertolongan pada waktunya.</p>



<p>Sering kali ketika kita mendengar tentang kenaikan Yesus ke sorga, kita dapat merasa seolah-olah Yesus sekarang jauh dari kehidupan kita. Seakan-akan setelah menyelesaikan pekerjaan-Nya di dunia, Dia pergi meninggalkan umat-Nya. Namun Alkitab justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Kenaikan Kristus bukan berarti ketidakhadiran Kristus, melainkan awal dari pelayanan-Nya sebagai Imam Besar yang terus bekerja bagi umat-Nya. Dia hidup untuk menjadi Pengantara bagi kita (Ibr. 7:25). Di hadapan takhta Bapa, Kristus terus membawa umat-Nya dalam kasih dan syafaat-Nya. <em>He remembers</em>!</p>



<p>Betapa menghiburkan kebenaran ini bagi kita yang hidup di dunia yang penuh pergumulan. Ada saat-saat ketika kita merasa tidak dipahami oleh siapa pun. Ada doa-doa yang dipanjatkan sambil menangis dalam kesendirian. Ada pergumulan keluarga, tekanan pekerjaan, kecemasan tentang masa depan, pergumulan melawan dosa, sakit penyakit, kehilangan orang yang dikasihi, bahkan kelelahan rohani yang sulit dijelaskan kepada orang lain. Dalam semua itu, Yesus tahu bagaimana rasanya ditolak, dikhianati, difitnah, lapar, lelah, menangis, dan menderita. Karena itu, ketika kita datang kepada-Nya, kita datang kepada Juruselamat yang memahami dengan sempurna.</p>



<p>Yesus memang tidak hadir secara fisik di tengah-tengah kita saat ini, tetapi Dia tidak pernah melupakan umat-Nya. Dunia mungkin melupakan kita. Manusia bisa mengecewakan kita. Bahkan kita sendiri terkadang merasa gagal dan tidak layak. Namun Kristus tetap setia. Nama umat-Nya terukir di tangan-Nya. Dia memegang hidup kita, menopang iman kita, dan memimpin kita sampai akhir. Kenaikan Kristus menjadi jaminan bahwa kita memiliki Pembela di sorga, Imam Besar yang senantiasa mengingat dan memperhatikan anak-anak-Nya.</p>



<p>Sebagai penutup, malaikat berkata kepada murid-murid dalam Kisah Para Rasul 1:11 bahwa Yesus yang terangkat ke sorga itu akan datang kembali dengan cara yang sama seperti mereka melihat Dia naik ke sorga. Artinya, kenaikan Kristus juga mengarahkan pandangan kita kepada kedatangan Kristus yang kedua kali. Suatu hari nanti, Raja yang naik ke sorga itu akan datang kembali dalam kemuliaan. Pada hari itu, segala penderitaan akan berakhir. Tidak akan ada lagi air mata, dukacita, kematian, atau dosa. Kristus sendiri akan menyambut umat-Nya masuk ke dalam sukacita kekal bersama-Nya. Karena itu, Hari Kenaikan bukan hanya berbicara tentang Yesus yang naik ke sorga, tetapi juga tentang pengharapan umat Tuhan yang sedang berjalan menuju rumah kekal. Kita hidup hari ini dengan mata yang tertuju ke atas, kepada Kristus yang bertakhta (<em>reigns</em>), yang menjadi Pengantara kita (<em>reconnects</em>), dan yang terus mengingat kita semua (<em>remembers</em>)!</p>



<p></p>



<p>Ezra Yoanes Setiasabda Tjung</p>



<p>Jemaat PR San Francisco</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">28690</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Filsafat Asia: Bagian 30</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/transkrip/filsafat-asia-bagian-30</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[heryanto]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 May 2026 02:30:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Transkrip]]></category>
		<category><![CDATA[Etika Moral]]></category>
		<category><![CDATA[Karakter Manusia]]></category>
		<category><![CDATA[Kofusius]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Agung]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi Rohani]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=28604</guid>

					<description><![CDATA[Konfusius membedakan antara Orang Agung dan Orang Kecil. Perbandingan kedua karakter ini merupakan pemikiran penting antropologi konfusianisme. Seseorang dikatakan agung bukan karena ukuran badannya secara fisik, tetapi karena kemurahan hatinya, ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/transkrip/filsafat-asia-bagian-30">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Konfusius membedakan antara Orang Agung dan Orang Kecil. Perbandingan kedua karakter ini merupakan pemikiran penting antropologi konfusianisme. Seseorang dikatakan agung bukan karena ukuran badannya secara fisik, tetapi karena kemurahan hatinya, spiritualitasnya, atau kebesaran karakter kepribadiannya. Jadi orang agung adalah orang yang karakternya, wataknya, sifatnya, pikirannya, dan jiwanya, lapang dadanya besar. Itulah cara untuk mengukur orang agung atau tidak.</p>



<p>Saya sering berpikir seandainya ada kamera rohani, saya ingin membelinya. Kalau kita foto pakai kamera biasa, mungkin kita akan melihat seseorang itu gemuk, kurus, atau tinggi badannya. Tetapi ketika kita memfoto dengan kamera rohani, mungkin yang gemuk dan tinggi besar, ternyata rohaninya kecil sekali, sebaliknya yang badannya kecil mungkin kerohaniannya besar sekali, dan kita bisa melihat siapa yang rohani dan siapa yang tidak. Tetapi hal seperti ini sangat susah dilihat. Terkadang kita harus mengenalnya lebih dari sepuluh tahun barulah kita bisa mengenal karakter orang itu sesungguhnya seperti apa. Mungkin kita baru tahu kalau karakter dia itu seperti setan, atau seperti babi. Sebelumnya kita kira dia seperti malaikat, ternyata salah. Mengerti karakter seseorang sangatlah susah. Tetapi inilah kunci penting untuk kita mengenal orang. Kunci konfusianisme adalah dengan melihat orang itu agung atau tidak.</p>



<p>Mengenai hal ini, Konfusius mengatakan beberapa kalimat yang penting.<a href="#_ftn1" id="_ftnref1">[1]</a></p>



<p><em>Pertama,</em> seorang agung selalu ingin ke atas. Seorang agung selalu mengarahkan kehidupannya ke arah hal yang agung, kepada arus yang mengarah ke atas dan mau maju. Tetapi orang kecil selalu memikirkan hal-hal yang di bawah, yang hina, yang remeh dan rendah. Orang kecil pemikirannya tidak tinggi, melainkan berpikir hal yang di bawah, bicara apa pun akan mengarah ke hal-hal yang rendah. Sebaliknya, orang agung (<em>yunzi</em> / <em>gentleman</em>) selalu mau mengarah ke atas. Dia tidak peduli kalau langkah itu makin sulit dan makin melawan arus. Selama hal itu bisa membawanya naik menjadi lebih agung, dia akan perjuangkan terus. Jadi orang-orang seperti ini, ketika berbicara, ketika berpikir, semuanya untuk bagaimana bisa maju, bagaimana bisa naik makin tinggi, bagaimana meningkatkan moral diri. Ia tidak peduli sesulit apa pun, asal bisa maju. Orang-orang seperti ini jiwanya agung. Tetapi orang kecil (<em>xiao ren</em> / <em>small man</em>) selalu memikirkan yang mudah, yang seenaknya sendiri, tidak peduli apa pun yang dilakukan asal menyenangkan diri. Bahkan berbuat dosa pun dia tidak peduli. Orang-orang seperti ini karakternya terus merosot ke bawah. &nbsp;</p>



<p><em>Kedua,</em> orang agung membicarakan apa pun yang menegakkan dan mementingkan kebenaran dan keadilan. Kata ini di dalam bahasa Alkitab (dalam bahasa Yunani) disebut sebagai <em>dikaiosune</em> yang dalam bahasa Inggris disebut <em>righteousness</em>. Maka jika di dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai kebenaran (yang dalam bahasa Yunani disebut <em>aletheia</em>, atau bahasa Inggris disebut <em>truth</em>), itu sebenarnya kurang tepat. Yang benar adalah kebenaran keadilan (<em>righteousness</em>). Di dalam Alkitab, ketika muncul frasa: “Dibenarkan oleh iman,” itu bukan menggunakan kebenaran (<em>truth</em>), tetapi kebenaran keadilan (<em>righteousness</em>). <em>Righteousness</em> atau <em>dikaiosune</em> dalam bahasa Yunani memiliki pengertian: dijadikan tegak dan benar (dibuktikan secara keadilan bahwa itu terbukti benar). Ini bukan kebenarannya, tetapi penekanannya pada suatu keadilan dan kesucian yang tegak, yang lurus. Jadi, seorang yang agung saat bicara apa pun dia terus memikirkan tentang kebenaran, keadilan, ketegakan dan kelurusan. Tetapi orang kecil berbicara apa pun hanya memikirkan dapat untung apa, bisa mendapatkan manfaat apa, semua hal-hal duniawi yang bisa diperoleh untuk dirinya. Ini adalah pemikiran orang kecil. Orang besar berpikir bagaimana bersumbangsih yang besar dan mulia untuk negara, memikirkan kepentingan yang lebih besar. Mencius, seorang penerus Konfusius, yang hidup sekitar 200 tahun setelah Konfusius, pergi ke negara Qi. Di sana ia memperjuangkan perombakan politik, menolong raja untuk mengatur segala sesuatu. Sesudah itu, raja memikirkan dan mau memberikan uang yang banyak untuk Mencius dan mau dihitung sehari berapa, kemudian sebulan berapa. Namun Mencius mengatakan, “Saya datang ke negara ini betul-betul untuk mau menolong raja, bukan untuk uang.” Dia tidak mau menerima honor. Saya kagum sekali dengan orang-orang seperti ini. Ada penasihat yang hanya memberikan usulan atau anjuran-anjuran dan setelah itu menerima uang, tidak peduli apakah anjurannya terlaksana atau tidak; yang penting sudah beri nasihat, maka perlu dapat uang. Itu adalah <em>xiao ren</em> (orang kecil), yang hanya mau cari keuntungan diri sebelum betul-betul membangun negara. Mencius sudah memberikan anjuran dan nasihat yang sudah menjadikan kerajaan mengalami perbaikan dan kemajuan, tetapi dia tetap tidak mau diberi uang banyak oleh raja. Ini orang agung. Konfusius tidak memedulikan engkau punya berapa banyak gelar akademik, berapa banyak pengetahuan, dan berapa banyak sekolah, tetapi dia lebih melihat karaktermu seperti apa. Jadi bukan masalah punya gelar doktor berapa banyak, tetapi jiwamu agung atau tidak agung. Orang yang hanya memikirkan profit, mencari keuntungan diri, pikirannya hanya berpusat kepada diri sendiri untuk bagaimana mendapatkan uang, adalah orang kecil. Makin banyak uang yang dia terima, ia makin dihina. Tetapi orang yang bukan mementingkan profit, melainkan mementingkan kebenaran, berjuang untuk menegakkan suatu keadilan dalam masyarakat, itu adalah orang agung. Saya rasa, sampai di sini, orang Kristen seharusnya malu jika kita hanya hidup untuk mengejar keuntungan dan uang. Kita bisa-bisa kalah dari moral dari orang-orang konfusianisme yang memiliki standar begitu tinggi. &nbsp;</p>



<p><em>Ketiga,</em> seorang agung akan menuntut keras dirinya, sementara orang kecil menuntut keras orang lain. Orang kecil selalu menuntut orang lain begitu kerasnya, sementara begitu lunaknya terhadap semua kekurangan diri. Ada orang yang mengatakan, “Mengapa engkau mengajar anak tidak beres?” tetapi pada saat yang sama dia sendiri tidak pernah bertanya apakah dia mendidik anaknya sendiri cukup beres. Orang kecil menuntut orang lain harus hidup suci, sementara dirinya sendiri hidup tidak suci. Seseorang mudah menuntut orang lain, memaki-maki orang lain dan melihatnya kurang beres, tetapi menuntut diri dan mendisiplin diri sendiri jauh tidak mudah. Konfusius mengatakan bahwa orang agung menuntut diri, bukan orang lain. Orang kecil suka menuntut orang lain. Saya duga engkau sudah pernah mendengar, bahwa ketika menunjuk seseorang, maka dua jari kita (telunjuk dan jempol) mengarah ke orang itu, sementara tiga jari lainnya, justru menunjuk ke diri kita sendiri. Kita harus sadar lebih banyak jari dan tuntutan kepada diri kita ketimbang kepada orang lain. Yesus juga sempat mengajar pengikut-Nya untuk tidak seperti orang Farisi, yang munafik menuntut orang lain harus hidup suci, tetapi dirinya sendiri penuh dosa. Konfusius hanya menyatakan itu sebagai suatu nasihat atau konsep yang ada di dalam pikirannya, tetapi Yesus langsung menyatakan untuk hidup jangan seperti orang Farisi yang menuntut orang lain, tetapi tidak menuntut dirinya sendiri. Orang agung akan menuntut diri untuk terus maju, sesulit apa pun akan lebih menuntut keras diri sendiri untuk bisa hidup disiplin dan bermoral tinggi.</p>



<p><em>Keempat,</em> orang agung tidak mau diperalat orang lain, atau orang agung tidak membatas diri seperti suatu alat. Menerjemahkan pengertian kata bagian ini cukup sulit. Maksudnya adalah orang agung tidak membiarkan dirinya sekadar seperti suatu alat (<em>tool</em>) yang bisa dipergunakan atau dipakai orang lain untuk kepentingan orang itu. Dia juga tidak mau hanya menjadi wadah yang terbatas dan dibatas oleh orang lain, karena dia ingin menjadi diri yang berkapasitas luas. Sepanjang hidup saya memikirkan satu hal, yaitu saya tidak mau memperalat orang lain dan juga tidak mau diperalat orang lain. Yang boleh memakai saya hanyalah Tuhan, dan saya hanya bisa membangkitkan orang-orang yang akan dipakai oleh Tuhan, bukan saya. Mereka bisa bekerja sama dengan baik dan saling menghormati, karena sama-sama dipakai oleh Tuhan. Ini sikap yang saya nyatakan baik kepada dosen saya, kepada tukang becak, atau sikap kepada sopir, atau kepada siapa pun. Semua sama. Saya tidak akan menganggap dan memperlakukan engkau berbeda karena engkau kaya sekali. Atau saya akan menggertak dan mengancam sambil mengeluarkan nada keras dan menghina kepada orang miskin. Tidak boleh seperti ini sama sekali. Rekan-rekan saya di seminari sangat tahu bagaimana sikap saya kepada para tukang becak sama hormatnya seperti kepada para murid saya, juga dengan rekan-rekan kerja sesama dosen. Semuanya saya perlakukan sama. Semua pendeta yang sejak menjadi rekan kerja saya dahulu adalah murid saya. Saya berjanji dalam diri saya, seberapa tahun engkau ikut melayani bersama saya, saya terus berharap engkau menjadi pendeta yang betul-betul besar dipakai oleh Tuhan. Kita perlu memiliki sikap yang saling menghormati, bukan memperalat orang lain. Itu akan menjadi sifat untuk bagaimana kita bisa dipakai oleh Tuhan terus-menerus. Amin.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p><a href="#_ftnref1" id="_ftn1">[1]</a> Jika perkataan-perkataan ini diberi urutan, sebenarnya Konfusius bukanlah memang berkata dalam urutan tertentu, karena penulisan ini lebih banyak merupakan hasil tanya jawab, di mana ketika Konfusius mengajar, muridnya bertanya dan dia menjawab. Lalu jawaban-jawaban itu dicatat, sehingga bukan merupakan pembahasan yang terencana secara terstruktur menurut urutan tertentu.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">28604</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Kesetiaan dalam Perkara Kecil</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/renungan/kesetiaan-dalam-perkara-kecil</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[michaelleang]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 05 May 2026 12:26:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[kesetiaan]]></category>
		<category><![CDATA[tanggung jawab]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=28261</guid>

					<description><![CDATA[“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.” (Lukas 16:10, TB) Dalam perjalanan hidup di dunia ini, hampir setiap orang mendambakan keberhasilan. Kita kerap mengagumi pencapaian individu ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/renungan/kesetiaan-dalam-perkara-kecil">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.” (Lukas 16:10, TB)</p>



<p>Dalam perjalanan hidup di dunia ini, hampir setiap orang mendambakan keberhasilan. Kita kerap mengagumi pencapaian individu lain—baik dalam bidang pekerjaan, pendidikan, pelayanan, maupun aspek kehidupan lainnya. Namun, sering kali kita lupa bertanya: bagaimana mereka meraih keberhasilan tersebut?</p>



<p>Firman Tuhan dalam Lukas 16:10 memberikan jawaban yang sangat mendasar namun sering diabaikan: kesetiaan dalam perkara kecil. Ayat ini menekankan bahwa seseorang yang dapat dipercaya dalam hal-hal kecil akan mampu dipercaya dalam tanggung jawab yang lebih besar. Prinsip ini mengajarkan kita bahwa keberhasilan tidak diperoleh secara instan, tetapi melalui proses panjang dan ketekunan dalam menjalankan tanggung jawab sehari-hari, sekecil apa pun itu.</p>



<p>Tuhan tidak menuntut kita untuk langsung melakukan hal-hal besar atau menunjukkan kepandaian, popularitas, dan kehebatan sebelum dipercayakan tugas yang lebih besar. Sebaliknya, Ia menilai kesetiaan dan tanggung jawab kita dalam hal-hal yang mungkin dianggap sepele oleh manusia: membersihkan gereja, menyapu halaman, menjaga ketertiban, atau melayani di balik layar. Di situlah Tuhan menguji dan membentuk karakter kita.</p>



<p>Sering kali kita berambisi untuk menjadi guru yang hebat, hamba Tuhan yang berpengaruh, atau pengusaha yang sukses. Namun, apabila kita mengabaikan tanggung jawab dalam tugas-tugas kecil, bagaimana mungkin kita bisa dipercaya untuk memikul tanggung jawab yang lebih besar? Misalnya, jika seseorang bercita-cita menjadi pendeta yang memimpin banyak jemaat, tetapi ia menganggap remeh pelayanan kepada lima anak sekolah minggu yang dipercayakan kepadanya, maka hal itu menunjukkan ketidaksiapan rohani dan tanggung jawab yang rendah.</p>



<p>Kita dapat belajar dari kisah Daud. Sebelum menjadi raja Israel, ia hanyalah seorang gembala yang mengurus ternak ayahnya. Namun, Daud menjalankan tugas itu dengan sepenuh hati. Ia tidak bersungut-sungut, melainkan menghadapi binatang buas yang mengancam ternaknya dengan keberanian dan tanggung jawab. Tuhan melihat kesetiaannya dan memakai pengalaman itu sebagai fondasi untuk membentuk Daud menjadi raja yang tangguh dan berkenan di hadapan-Nya.</p>



<p>Dari kisah ini, kita belajar bahwa Tuhan tidak langsung mengangkat Daud menjadi raja, tetapi terlebih dahulu mengujinya dalam tanggung jawab yang sederhana. Maka dari itu, kita pun dipanggil untuk menunjukkan kesetiaan dalam setiap tugas yang dipercayakan kepada kita, betapapun kecilnya tugas tersebut menurut penilaian manusia.</p>



<p>Pertanyaannya adalah: sudahkah kita setia dan bertanggung jawab dalam tugas-tugas kecil yang telah dipercayakan kepada kita saat ini? Ataukah kita masih menanti kesempatan besar sebelum menunjukkan dedikasi kita?</p>



<p>Marilah kita menyadari bahwa setiap pekerjaan, sekecil apa pun, merupakan kesempatan untuk membuktikan kesetiaan dan tanggung jawab kita di hadapan Tuhan. Ketika kita mampu menjalankan tanggung jawab itu dengan baik, Tuhan akan mempercayakan hal-hal yang lebih besar. Seperti tertulis dalam Kolose 3:23, “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”</p>



<p>Isty Sauli<br>Mahasiswi STTRII Konsentrasi Misiologi</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">28261</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Olahraga Demi Kemuliaan Allah?</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/kehidupan-kristen/olahraga-demi-kemuliaan-allah</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[michaelleang]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 01 May 2026 12:30:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kehidupan Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[fisik]]></category>
		<category><![CDATA[Gambar dan Rupa Allah]]></category>
		<category><![CDATA[Image of God]]></category>
		<category><![CDATA[Imago Dei]]></category>
		<category><![CDATA[Kemuliaan Allah]]></category>
		<category><![CDATA[kenikmatan]]></category>
		<category><![CDATA[Olahraga]]></category>
		<category><![CDATA[Tubuh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=28172</guid>

					<description><![CDATA[Bagi banyak orang, olahraga adalah aktivitas biasa. Suatu kegiatan sehari-hari yang menyenangkan dan bermanfaat bagi tubuh, tapi tidak ada kaitannya dengan kehidupan rohani. Memang ada hubungannya saya berlari, menendang bola, ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/kehidupan-kristen/olahraga-demi-kemuliaan-allah">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Bagi banyak orang, olahraga adalah aktivitas biasa. Suatu kegiatan sehari-hari yang menyenangkan dan bermanfaat bagi tubuh, tapi tidak ada kaitannya dengan kehidupan rohani. Memang ada hubungannya saya berlari, menendang bola, dan mengangkat beban dengan iman saya kepada Tuhan? Sepertinya tidak ada. Namun, pandangan ini mungkin adalah kesalahan besar yang menghalangi kita mengalami kemuliaan Tuhan dalam salah satu aspek hidup kita.</p>



<p>Jika kita percaya bahwa semua aspek kehidupan harus memuliakan Allah, maka tentu implikasinya tidak ada pemisahan antara <em>sacred</em> dan <em>secular</em>. Pemisahan semacam itu adalah hasil dari semangat zaman dan bukan yang Alkitab nyatakan. Maka seharusnya aspek olahraga juga akan berkait dengan kemuliaan Allah. Tapi pertanyaan utamanya, apa kaitan antara berolahraga dengan kemuliaan Allah? Atau lebih tepatnya, bagaimana mengaitkan keduanya? Untuk memahami kaitan antara kedua hal ini, maka diperlukan kerangka berpikir theologi yang menjadi dasar pemikiran.&nbsp;</p>



<p>Dalam artikel ini, kita akan melihat 3 perspektif kemuliaan Allah. Ada tiga tokoh dengan nama John yang pemikirannya sangat menarik untuk menjadi titik berangkat pembahasan.</p>



<p><strong>1. John Calvin: Tubuh sebagai Teater Kemuliaan Allah</strong></p>



<p>John Calvin di dalam <em>Institutes of the Christian Religion</em> mengatakan bahwa seluruh alam semesta merupakan <em>theatrum gloriae Dei</em>, yaitu teater kemuliaan Allah. Setiap bagian ciptaan adalah panggung di mana Allah mempertunjukkan hikmat, kuasa, dan keindahan-Nya. Kemuliaan-Nya terpancar melalui setiap ciptaan yang Ia buat. Hal ini sangat sesuai dengan Mazmur 19:1, di mana tertulis, “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya.” Seringkali ketika berbicara kemuliaan Allah yang terpancar dalam ciptaan, kita akan melihat ke arah alam yang berada di luar dari diri kita, seperti langit, gunung, keteraturan tatanan alam dan lainnya. Namun, kita juga perlu mengingat bahwa tubuh manusia merupakan bagian dari ciptaan Allah.&nbsp;</p>



<p>Dalam kerangka pemikiran ciptaan sebagai teater kemuliaan Allah, tubuh manusia memiliki keunikannya. Calvin mengagumi karya seorang dokter Yunani kuno bernama Galen, yang menulis tentang betapa menakjubkannya struktur tubuh manusia. Ia menyatakan bahwa tubuh kita adalah sebuah “rangkaian komposisi yang begitu sempurna sehingga Penciptanya pantas dinilai sebagai pekerja ajaib (<em>wonder-worker</em>)”. Ketepatan penempatan sendi, simetri anggota tubuh, keindahan bentuk, dan kegunaan setiap organ, semuanya adalah bukti nyata dari kejeniusan Sang Seniman Agung.</p>



<p>Jika tubuh kita adalah bagian dari panggung kemuliaan Allah, maka merawatnya bukanlah sekadar urusan kesehatan pribadi, melainkan sebuah tindakan menjaga keberlangsungan pertunjukkan kemuliaan Allah. Maka, berolahraga adalah upaya kita untuk menjaga salah satu karya seni terbaik dari Sang Pencipta. Ketika kita melatih tubuh kita, kita sedang merawat “teater” tersebut agar dapat memancarkan keindahan rancangan-Nya. Mengabaikan tubuh hingga menjadi lemah dan sakit&nbsp; adalah seperti membiarkan sebuah mahakarya agung menjadi usang dan tidak terawat. Studi terbaru menunjukkan bagaimana olahraga bukan hanya baik untuk kesehatan secara umum, tetapi berguna dalam setiap fase penanganan kanker, baik itu pencegahan, pengobatan, maupun pemulihan, dengan mengurangi gejala dan efek samping. Berolahraga adalah sebuah bentuk pemeliharaan (<em>means of preservation</em>) atas hikmat Allah yang terpancar melalui tubuh kita.&nbsp;</p>



<p><strong>2. John Walton: Memuliakan Allah dengan Merefleksikan Allah</strong></p>



<p>Perspektif kedua akan berkaitan dengan konsep <em>imago Dei</em>, atau gambar dan rupa Allah. John Walton, seorang theolog Perjanjian Lama, berpendapat bahwa penciptaan manusia sebagai gambar dan rupa Allah bukanlah sekadar mengenai asal usul dan keadaan biologis manusia, melainkan mengenai fungsi yang harus dijalankan. Walton membandingkan kisah penciptaan Alkitab dengan kisah penciptaan dari Timur Dekat Kuno. Berbeda dengan kisah Timur Dekat Kuno, istilah gambar dan rupa Allah disematkan kepada semua manusia, bukan hanya kepada raja. Kontras dengan firaun dan raja-raja Mesopotamia, Musa menuliskan bahwa semua manusia adalah <em>image of God. </em>Maka kita sebagai manusia diciptakan untuk menjadi representasi atau wakil Allah di bumi, dengan inilah Tuhan dipermuliakan. Kita berfungsi sebagai duta Kerajaan Allah bagi seluruh ciptaan.</p>



<p>Jika fungsi utama kita sebagai manusia adalah untuk merepresentasikan Allah, maka kondisi fisik memiliki kaitan yang sangat penting. Olahraga berperan penting dalam memaksimalkan kapasitas fungsional kita. Tubuh yang sehat, bugar, dan berstamina memungkinkan kita untuk menjalankan panggilan Tuhan dengan lebih efektif. Ini juga yang disoroti oleh David Mathis. Menurutnya, olahraga memberikan optimalisasi besar kepada kemampuan berpikir. Jurnal dari studi syaraf otak juga menunjukkan bahwa berolahraga menghasilkan hormon-hormon yang memberikan dampak kepada transmisi saraf di otak. Kemampuan berpikir yang krusial dalam kita bekerja, belajar, dan memahami kebenaran akan sangat meningkat melalui olahraga.</p>



<p>Kita dapat melayani sesama dengan baik jika tubuh kita juga berfungsi dengan baik. Tubuh kita dapat bekerja dengan optimal ketika kita melatih tubuh. Membuat keberadaan fisik yang tidak cepat lelah sehingga dapat bekerja dengan tekun dan belajar dengan pikiran yang jernih merupakan bentuk keseriusan untuk mau berfungsi sebagai wakil Tuhan, sebagai <em>Image of God</em>.</p>



<p>Berolahraga adalah mempersiapkan dan mengoptimalisasi (<em>means of empowerment</em>) alat yang Tuhan berikan agar kita siap sedia melakukan setiap pekerjaan baik yang telah Ia siapkan bagi kita (Ef. 2:10).</p>



<p><strong>3. John Piper: Memuliakan Allah dengan Menikmati Allah</strong></p>



<p>Salah satu theolog besar di abad ini, John Piper, sangat terkenal dengan pernyataannya, “Allah paling dimuliakan di dalam kita, ketika kita paling terpuaskan di dalam Dia.” Prinsip ini mengubah cara kita memandang kenikmatan. Segala sesuatu yang baik, yang dapat kita nikmati di dunia ini, adalah pemberian dari Bapa surgawi. Memuliakan Dia berarti menikmati pemberian-pemberian tersebut dengan hati yang penuh syukur dan mengarahkan kenikmatan itu kembali kepada-Nya sebagai Sang Sumber sukacita sejati.</p>



<p>Ada misteri kenikmatan yang dialami oleh orang-orang yang berolahraga. Beberapa atlet maraton merasakan sensasi nikmat, yang seringkali disebut sebagai “<em>running high</em>”. Sensasi ini bahkan juga dapat dirasakan oleh orang-orang amatir olahraga dan dalam bidang olahraga lainnya. Studi-studi olahraga mencoba menjelaskan dari mana datangnya sensasi kenikmatan tersebut. Ada yang mengatakan bahwa penyebab sensasi nikmat adalah hadirnya hormon endorfin bersama dengan hormon-hormon lainnya. Namun, hal tersebut masih belum menjelaskan mengapa tubuh manusia memiliki mekanisme yang menghasilkan hormon ketika berolahraga. Dengan memakai perspektif Allah sebagai sumber kenikmatan, maka kita mendapatkan jawabannya. Sensasi nikmat dalam olahraga muncul karena itulah tatanan ciptaan yang Allah berikan bagi manusia. Allah begitu mengasihi manusia, hingga aktivitas yang sangat baik untuk tubuh juga dapat dilakukan dengan nikmat.</p>



<p>Memuliakan Tuhan melalui olahraga berarti kita tidak melakukannya dengan terpaksa sebagai sebuah kewajiban yang berat. Sebaliknya, kita melakukannya dengan sukacita, mengakui bahwa kemampuan fisik dan kesempatan untuk bergerak adalah hadiah dari-Nya. Sukacita kita dalam berolahraga menjadi sebuah gema pujian kepada Allah, sebuah pengakuan bahwa Dia adalah Allah yang baik yang memberikan hal-hal yang baik untuk dinikmati oleh anak-anak-Nya.</p>



<p>Berolahraga adalah bagian kita menikmati anugerah Allah di dalam aktivitas olahraga itu sendiri (<em>exercise in itself</em>).</p>



<p><strong>Waspada terhadap Berhala di dalam Olahraga</strong></p>



<p>Namun, seperti semua anugerah baik di dalam dunia yang telah jatuh ke dalam dosa, olahraga sangat rentan untuk diselewengkan menjadi berhala. Ironisnya, masyarakat Yunani Kuno yang sangat dikagumi karena budaya olahraganya, justru menjadi contoh utama. Bagi mereka, olahraga adalah sebuah ritual keagamaan untuk menghormati dewa-dewa. Olimpiade diadakan untuk Zeus, <em>Pythian Games</em> untuk Apollo. Mereka mengejar <em>arete</em> (kesempurnaan fisik) sebagai persembahan kepada dewa-dewa yang mereka bayangkan memiliki fisik sempurna.</p>



<p>Di zaman ini, kita perlu waspada terhadap 3 penyembahan berhala yang sama berbahayanya:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong>Berhala kemalasan:</strong> Berhala pertama adalah gaya hidup yang tidak aktif (<em>sedentary</em>). Dengan menolak untuk merawat tubuh, kita secara implisit sedang menyembah “dewa kemalasan” dan kenyamanan. Kita meninggikan keinginan untuk bersantai di atas panggilan untuk menjadi penatalayan yang baik atas tubuh yang Tuhan anugerahkan. Ini adalah bentuk pengabaian terhadap teater kemuliaan-Nya dan penghambatan terhadap fungsi kita sebagai gambar-Nya. </li>



<li><strong>Berhala kesuksesan:</strong> Berhala kedua adalah gaya hidup yang terlalu sibuk dengan pekerjaan. Kehidupan yang meninggikan pencapaian karir, pengejaran kesuksesan dan uang, cenderung membuat seseorang akhirnya juga mengabaikan olahraga dan kesehatan. Kehidupan semacam ini pada akhirnya membiarkan tubuh tidak terawat dan hanya berfungsi untuk diri sendiri.</li>



<li><strong>Berhala performa dan citra tubuh:</strong> Berhala ketiga adalah menjadikan olahraga itu sendiri sebagai berhala. Ketika tujuan utama kita adalah untuk mencapai citra tubuh yang superior, mendapatkan pengakuan atas pencapaian atletis, atau membangun identitas diri di atas kekuatan fisik, kita telah jatuh ke dalam penyembahan berhala. Pengejaran semacam ini akan sangat mudah menjatuhkan kita kepada memuliakan diri, daripada memuliakan Tuhan. Tubuh yang seharusnya menjadi sarana untuk memuliakan Tuhan, malah menjadi tujuan itu sendiri. Kita mulai menyembah “dewa kecantikan” dan “dewa kekuatan”, menjadikan anugerah sebagai pengganti Sang Pemberi anugerah.</li>
</ul>



<p><strong>Mengembalikan Olahraga pada Tempatnya</strong></p>



<p>Jadi, bagaimana kita berolahraga demi kemuliaan Allah? Jawabannya terletak pada orientasi hati dan mengerti perspektif memuliakan Allah. Maka olahraga memiliki fungsinya:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong>Untuk memelihara teater kemuliaan Allah:</strong> Kita berolahraga sebagai wujud syukur atas tubuh kita yang adalah karya Allah yang ajaib.</li>



<li><strong>Untuk mengoptimalkan fungsi pelayanan:</strong> Kita menjaga kebugaran agar memiliki energi dan kekuatan untuk melayani Tuhan dan sesama dengan lebih efektif.</li>



<li><strong>Untuk menikmati anugerah-Nya dengan sukacita:</strong> Kita bersukacita dalam olahraga sebagai pemberian baik dari Allah, dan mengarahkan rasa syukur kita kembali kepada-Nya.</li>
</ul>



<p>Dengan pengertian dan kesadaran ini, marilah kita memuliakan Allah, sejalan dengan 1 Korintus 10:31:</p>



<p><em>Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.</em></p>



<p><em>Soli Deo gloria.</em></p>



<p>Vik. Adam Kurnia<br>Hamba Tuhan GRII Karawaci</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">28172</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Peperangan Kosmik di dalam Injil Lukas</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/kehidupan-kristen/peperangan-kosmik-di-dalam-injil-lukas</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[andrian]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 24 Apr 2026 12:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kehidupan Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[Iblis]]></category>
		<category><![CDATA[Lukas]]></category>
		<category><![CDATA[Maria]]></category>
		<category><![CDATA[Peperangan]]></category>
		<category><![CDATA[Rohani]]></category>
		<category><![CDATA[yesus]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=27666</guid>

					<description><![CDATA[Ketika kita membaca Alkitab, kita pasti tidak akan asing lagi dengan peperangan, terutama ketika membaca kitab-kitab Perjanjian Lama, mulai dari Keluaran, yaitu ketika bangsa Israel keluar dari Mesir, sampai dengan ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/kehidupan-kristen/peperangan-kosmik-di-dalam-injil-lukas">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika kita membaca Alkitab, kita pasti tidak akan asing lagi dengan peperangan, terutama ketika membaca kitab-kitab Perjanjian Lama, mulai dari Keluaran, yaitu ketika bangsa Israel keluar dari Mesir, sampai dengan Maleakhi. Sepertinya bangsa Israel tidak pernah berhenti berperang, terutama pada masa sebelum masuk Tanah Perjanjian sampai dengan zaman raja-raja Israel sebelum pembuangan. <em>Kingdom of God</em> atau Kerajaan Allah adalah tema keseluruhan dari Alkitab, sehingga kita harus melihat bahwa peperangan itu selalu ada dari awal Kitab Kejadian sampai dengan Kitab Wahyu, bahkan peperangan itu terus berlanjut sampai dengan saat ini dengan bentuk peperangan yang berbeda (tentu masih ada negara yang berperang saat ini). Orang Kristen zaman sekarang ini jarang merasa bahwa dirinya berada di dalam peperangan. Kehidupan Kristen sering kalah karena tidak sadar sedang berada di dalam peperangan rohani. Maka dari itu, kita sebagai orang Kristen harus mengerti bahwa kehidupan Kristen sejak awal adalah peperangan yang tidak ada henti sampai pada akhirnya, yaitu ketika Tuhan kita Yesus Kristus datang kedua kalinya.</p>



<p>Salah satu bentuk peperangan yang akan dibahas di sini adalah <em>cosmic war</em> atau peperangan kosmik, yang terjadi sejak awal Kitab Kejadian, yaitu setelah Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa. Kejadian 3:15, “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” Bahwa akan ada peperangan terus menerus antara keturunan perempuan dan keturunan ular. Narasi ini terus berjalan di dalam sepanjang Perjanjian Lama sampai dengan Perjanjian Baru, tetapi artikel ini akan memfokuskan hanya di dalam Injil Lukas saja, di mana keturunan ular, yaitu Iblis, berusaha menggagalkan kemenangan keturunan perempuan, yaitu Sang Mesias. Iblis berupaya mengagalkan rencana penebusan Sang Mesias, tetapi kita akan melihat bagaimana Tuhan bekerja di dalam setiap peristiwa ini.</p>



<p>Mari kita melihat peristiwa-peristiwa di dalam Kitab Lukas, bagaimana Iblis bisa memakainya untuk menggagalkan rencana penebusan, dan kita akan melihat bagaimana respons yang terjadi di dalam setiap peristiwa.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Perawan Maria mengandung dari Roh Kudus (Luk. 1:26-38)</strong></h3>



<p>Malaikat Allah, yaitu Gabriel, disuruh untuk pergi ke Nazaret di Galilea untuk bertemu dengan seorang perawan yang bernama Maria. Maria sudah bertunangan dengan seseorang bernama Yusuf dari keluarga Daud. Untuk melihat bahaya yang mungkin terjadi, kita harus melihat konteks pernikahan orang Yahudi. Pernikahan orang Yahudi terdiri dari dua langkah; yang pertama adalah adanya pertunangan formal yang disertai dengan kontrak dan juga membayar mahar, lalu setahun kemudian mereka baru menikah (<em>NIV Application Commentary Luke</em>, Darrell Book, 57). Maka, sebenarnya mereka seperti sudah menikah secara status, mereka harus menjaga kesetiaan dan tidak boleh berzinah. Namun, di dalam periode satu tahun ini, sang perempuan masih harus tinggal bersama orang tuanya. Apa yang menjadi masalah? Kita harus juga melihat hukum negara di dalam hukum perkawinan yang tertulis di dalam Ulangan 22:20-24, di mana dikatakan bahwa jika perempuan yang sudah bertunangan tidak didapati tanda keperawanannya, maka perempuan itu bisa dibawa ke depan rumah ayahnya dan orang sekotanya harus melempari dia dengan batu. Gambaran akan hal ini mungkin bisa kita lihat di dalam Kitab Matius yang memperlihatkan Yusuf karena baik hatinya mau menceraikan Maria dengan diam-diam dan tidak menuduh Maria kepada orang tuanya. Namun, kalau kita melihat Kitab Lukas, Maria sudah bersiap akan hal ini. Dia mengetahui risiko yang mungkin terjadi pada dirinya. Bagaimana jika Yusuf menuduh Maria dan melaporkan kepada orang tuanya, bagaimana jika orang tuanya tahu, bagaimana kalau para pemuka agama yang memegang ketat hukum Yahudi tahu? Bukan hanya dirinya dan keluarganya yang dipermalukan, tetapi kehilangan nyawa juga mungkin terjadi. Dengan mengetahui semua risiko itu, malaikat Gabriel memberitahu bahwa Anak yang dilahirkannya harus dinamai Yesus, akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah yang Maha Tinggi. Tuhan Allah akan memberikan takhta Daud kepada-Nya. Malaikat juga mengatakan bahwa Roh Kudus akan turun ke atas Maria dan bahwa Anak yang dilahirkannya itu kudus dan akan disebut Anak Allah. Kita bisa belajar respons Maria di dalam ayat 38: Kata Maria, “Aku ini hamba Tuhan. Jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Ia percaya Tuhan akan memimpin dan menyertai. Kita bersyukur akakn respons Maria ini, sehingga Juruselamat kita Tuhan Yesus bisa lahir dan datang ke dunia. Mungkin konflik ini bisa terlihat lebih jelas kalau dilihat dari sisi Yusuf seperti di dalam Kitab Matius, bahwa jika Yusuf menuduh Maria sudah tidak perawan, Maria akan dibunuh dan anak dalam kandungannya juga tidak bisa dilahirkan.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Maria harus pergi ke Betlehem ketika sudah mengandung (Luk. 2:1-5)</h3>



<p>Maria di dalam kondisi yang sudah hamil beberapa bulan harus menempuh perjalanan jauh ke Betlehem. Pada masa itu, perjalanan sering kali dilakukan dengan berjalan kaki atau mungkin dengan keledai. Jarak yang mereka harus tempuh menurut <em>Baker Exegetical Commentary of the New Testament</em> adalah sekitar 90 mil atau 144 km. Jika menaiki keledai, perlu waktu 30-45 jam. Jika berjalan kaki 3 km per jam, maka perlu 48 jam. Terlebih dengan kondisi Maria sedang hamil, perjalanan tidak akan secepat itu dan kemungkinan perlu berhari-hari. Ini adalah perjalanan yang berat, sehingga mungkin sekali menyebabkan keguguran atau masalah lain.</p>



<p>Dua hal ini adalah gambaran kejadian yang mungkin terjadi untuk menggagalkan kelahiran Tuhan Yesus. Jika kita melihat Kitab Matius, maka ada satu tambahan, yaitu kejadian pembunuhan anak-anak di Betlehem yang berumur di bawah 2 tahun dan mengakibatkan Yusuf dan Maria menyingkir ke Mesir.</p>



<p>Sekarang kita akan melihat bagaimana Yesus dicobai dan juga hal-hal yang terjadi di mana Iblis berusaha menggagalkan misi yang harus dikerjakan oleh Tuhan Yesus.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Pencobaan di Padang Gurun (Luk. 4:1-13)</h3>



<p>Iblis berusaha mencobai Yesus tiga kali dengan motif menantang apakah Yesus sungguh Anak Allah yang berkuasa, sehingga dalam tantangan Iblis yang pertama dan kedua dikatakan, “Jika Engkau Anak Allah…” Hal ini dilakukan Iblis untuk menantang Yesus agar Dia tidak tunduk kepada Bapa dan memberontak kepada Bapa-Nya. Jika di dalam hal ini Yesus gagal, maka tidak mungkin Yesus bisa menjalankan hal yang lebih berat, yaitu mengorbankan diri-Nya di atas kayu salib. Pencobaan yang dilakukan kepada Yesus ada tiga hal dan semua adalah paralel dengan bangsa Israel. Yesus berpuasa 40 hari melambangkan orang Israel di padang gurun selama 40 tahun. Pencobaan pertama adalah tentang mengubah batu menjadi roti, dan kita melihat respons Yesus di ayat 4. Ini paralel dengan Ulangan 8:3, yaitu ketika Tuhan memelihara orang Israel di padang gurun dengan roti manna. Pencobaan kedua adalah tentang ajakan untuk menyembah setan dan tidak tunduk kepada Bapa, dengan janji segala kuasa dan kemuliaan akan diberikan kepada Yesus. Sekali lagi Yesus membalasnya dengan mengutip dari Ulangan 6:13, yaitu harus menyembah kepada Allah saja, tidak boleh kepada yang lain. Kita juga harus sadar bahwa Iblis tidak pernah diberikan segala kuasa dan kemuliaan, sehingga dia tidak bisa memberikannya kepada kita. Iblis adalah bapa segala dusta, sehingga segala hal yang Iblis tawarkan hanyalah tipu daya. Yang ketiga, Iblis tidak lagi memakai frase “jika Engkau Anak Allah”. Kali ini Iblis mengutip dari Mazmur 91:11-12. Kita harus berhati-hati bahwa Iblis pun mungkin memiliki pengetahuan tentang Alkitab, tetapi Yesus tahu bahwa Iblis mencoba menguji tentang penjagaan Bapa. Maka Yesus sekali lagi mengutip dari Ulangan 6:16, yang mengatakan: “Jangan mencobai TUHAN, Allahmu, seperti kamu mencobai Dia di Mara.” Ini merujuk pada peristiwa orang Israel bersungut-sungut ketika tidak ada air yang bisa diminum. Tiga kali orang Israel dicobai dan gagal dan tiga kali juga Tuhan Yesus dicobai dan tidak gagal. Kalau Yesus sekali pun saja gagal dan tidak percaya akan pemeliharaan Bapa-Nya, maka Kristus tidak mungkin bisa menanggung hal yang lebih berat lagi, yaitu mati di kayu salib. Namun Kristus menang atas godaan Iblis dan terus setia mengerjakan tugas dari Bapa-Nya.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Taman Getsemani (Luk. 22:39-46)</h3>



<p>Di dalam bagian ini, Yesus mengajak murid-murid-Nya untuk berdoa agar tidak jatuh ke dalam pencobaan. Ini adalah doa terakhir dan momen sebelum Yesus ditangkap. Di dalam segala keletihan pelayanan, Yesus selalu berdoa kepada Bapa-Nya (Luk.6:12). Yesus tetap berdoa kepada Bapa-Nya terutama di dalam momen terakhir ini karena cawan yang begitu berat. Malaikat menampakkan diri dan memberikan kekuatan. Yesus sangat susah, tetapi Dia mengatakan, “Janganlah kehendak-Ku yang jadi, tetapi kehendak Bapa yang jadi.” Ini menunjukkan kerelaan di dalam menjalankan kehendak Bapa. Yesus tidak gagal di dalam hal ini, tidak jatuh ke dalam pencobaan, karena Ia terus berdoa dan percaya kepada Bapa sehingga rencana kekal Bapa bisa terjadi, sedangkan murid-murid-Nya yang tidak berdoa pada waktu itu jatuh ke dalam pencobaan. Mereka semua tidak lama lagi menyangkal Yesus.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Tantangan dari orang ketika Yesus disalib untuk menyelamatkan diri-Nya (Luk. 23:33-43)</h3>



<p>Mari kita lihat ayat 35, 37, dan 39. Mereka menghina dan menantang Tuhan Yesus untuk menyelamatkan diri-Nya. Hinaan dan tantangan yang pertama adalah untuk membuktikan bahwa Yesus adalah Mesias, orang yang dipilih Allah. Tantangan yang kedua adalah tentang Yesus sebagai Raja orang Yahudi. Tantangan yang ketiga sekali lagi menantang apakah Yesus adalah Mesias. Yesus ditantang tiga kali untuk menyelamatkan diri-Nya, tetapi Yesus tahu bahwa Dia harus mati untuk bisa menyelamatkan orang yang percaya kepada-Nya. Bisa dilihat bahwa Iblis menggoda orang-orang yang menghina Tuhan Yesus dan mereka jatuh. Namun Yesus di dalam ketiga tantangan ini diam saja dan tidak merespons orang-orang itu, karena Yesus tahu bahwa inilah yang harus Ia kerjakan. Yesus setelah itu mati dan pada hari ketiga Dia bangkit membuktikan Dia menang atas kematian, dosa, dan juga maut, sehingga Iblis dikalahkan di dalam peperangan kosmik ini, seperti yang dikatakan di dalam Kejadian 3:15. Iblis sudah dikalahkan dan kuasa Iblis jauh berkurang saat ini, tetapi ketika Yesus datang untuk yang kedua kalinya, Iblis akan dikalahkan secara final. Di dalam waktu penantian ini, kiranya kita bisa belajar dari peristiwa-peristiwa yang ada untuk selalu mempercayakan hidup kita kepada pemeliharaan Tuhan. Jangan kita sekali pun percaya kepada Iblis yang berusaha menipu dengan menawarkan yang terlihat menarik padahal semua itu adalah dusta. Kiranya kita bisa belajar dari Yesus untuk melawan Iblis dengan memakai kebenaran, yaitu firman Tuhan, melawan Iblis seperti Yesus di padang gurun dan juga berdoa senantiasa kepada Bapa untuk memberi kita kekuatan untuk melawan godaan Iblis.</p>



<p>Pieter Stefano<br>Mahasiswa STTRII</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">27666</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Allah sebagai Anak di Tengah Manusia</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/seni-budaya/allah-sebagai-anak-di-tengah-manusia</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[michaelleang]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Apr 2026 12:53:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Inkarnasi]]></category>
		<category><![CDATA[kesetiaan]]></category>
		<category><![CDATA[Ketaatan]]></category>
		<category><![CDATA[natur]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=27622</guid>

					<description><![CDATA[Injil Lukas mencatat bahwa ketika Yesus berusia dua belas tahun, Ia tinggal di Bait Allah selama tiga hari tanpa sepengetahuan orang tua-Nya. Maria dan Yusuf tidak langsung menyadari ketidakhadiran-Nya karena ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/seni-budaya/allah-sebagai-anak-di-tengah-manusia">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Injil Lukas mencatat bahwa ketika Yesus berusia dua belas tahun, Ia tinggal di Bait Allah selama tiga hari tanpa sepengetahuan orang tua-Nya. Maria dan Yusuf tidak langsung menyadari ketidakhadiran-Nya karena mereka menyangka Yesus ada di antara rombongan orang-orang yang bepergian bersama mereka (Luk. 2:44). Detail ini menunjukkan bahwa Yesus bukan lagi bayi atau balita. Ia cukup besar, cukup mandiri, dan cukup “biasa” sebagai seorang anak Yahudi pada usianya.</p>



<p>Hal ini menegaskan bahwa Kristus sungguh mengambil natur manusia. Ia hidup dalam tubuh manusia yang bertumbuh dan berkembang secara fisik, serta berada dalam relasi sosial yang normal. Inkarnasi bukan sekadar Allah menyerupai manusia, Ia benar-benar mengambil tubuh manusia dan hidup di dalam batas-batasnya.&nbsp;</p>



<p><strong>Bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya (Luk. 2:52)</strong></p>



<p>Lukas menggambarkan Yesus duduk di tengah-tengah para ahli Taurat, mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan, sehingga semua yang mendengar-Nya heran akan pengertian dan jawaban-jawaban-Nya (Luk. 2:46-47). Kristus bukan hanya bertumbuh fisik-Nya tetapi juga bertumbuh hikmat-Nya. Momen ini divisualisasikan dalam <em>Christ in the Temple </em>karya Heinrich Hofmann, pelukis abad ke-19 yang dikenal melalui penggambaran kisah Injil yang tenang dan naratif.</p>



<p>Secara komposisi, Hofmann menempatkan Yesus tepat di pusat lukisan, dikelilingi para tua-tua yang menatap-Nya. Para ahli Taurat tidak digambarkan sebagai antagonis. Ekspresi mereka menunjukkan keterbukaan, keheranan, dan ketertarikan. Tubuh Kristus yang berusia 12 tahun tidak dominan, namun perhatian seluruh ruangan tertuju kepada-Nya. Komposisi ini menekankan sebuah paradoks, bahwa Kristus hadir sebagai seorang Anak yang belajar, namun juga sebagai Sang Firman yang didengarkan. Kesadaran-Nya akan relasi-Nya dengan Bapa tidak membawa-Nya keluar dari ruang belajar, melainkan menempatkan-Nya tepat di pusatnya. </p>



<p><strong>Sang Ilahi di Tengah Waktu dan Tempat</strong></p>



<p>Kristus, yang sungguh adalah Allah, juga sepenuhnya adalah manusia yang bertubuh dan hidup di dalam waktu dan tempat. Ia hadir di dunia dengan membatasi diri-Nya sesuai dengan konteks lingkungan dimana Ia berada. Kristus menggunakan pikiran manusia, bahasa manusia, dan struktur pendidikan pada zaman-Nya. Ia bahkan tidak berdiri sebagai figur yang terisolasi, melainkan hadir di dalam struktur keluarga dan masyarakat. Inkarnasi tidak menciptakan jalan pintas menuju kedewasaan rohani. Kristus mengetahui siapa diri-Nya, namun Ia tetap tunduk pada waktu dan otoritas yang Allah tetapkan bagi-Nya. Dalam theologi Reformed, ini adalah doktrin <em>state of humiliation </em>dari Kristus, yaitu keadaan ketika Kristus merendahkan diri-Nya dengan hidup sebagai manusia sejati, tunduk pada hukum, waktu, dan perkembangan. Pertumbuhan-Nya dalam waktu dan tempat bukan tanda kelemahan, tetapi bukti dari ketaatan-Nya.</p>



<p>Secara visual, Hofmann menghadirkan cahaya yang lembut dan terfokus pada Kristus, tanpa drama atau kontras ekstrem antara terang dan gelap. Dengan demikian, lukisan ini mengingatkan bahwa Allah tidak hanya menyatakan diri-Nya melalui mukjizat atau peristiwa spektakuler, tetapi juga melalui percakapan yang tampak biasa, di mana hikmat hadir dengan tenang di tengah kehidupan manusia.</p>



<p><strong>Bertumbuh Tanpa Jalan Pintas</strong></p>



<p>Lukisan <em>Christ in the Temple </em>ini tidak menggambarkan kemenangan atau konflik, melainkan sebuah proses. Kehadiran Kristus di Bait Allah, tempat Taurat dibaca, ditafsir, dan diwariskan, menegaskan bahwa pertumbuhan rohani dan pertumbuhan intelektual merupakan bagian dari kehidupan manusia yang juga Ia jalani. Ia menjalani tahun-tahun pembelajaran, ketaatan, dan pertumbuhan yang panjang sebelum pelayanan-Nya kepada publik dimulai. Allah tidak terburu-buru. Penebusan tidak dikerjakan melalui jalan yang instan, melainkan melalui kesetiaan di dalam waktu.</p>



<p>Di ruang belajar, dalam percakapan yang tampak sederhana, dan di pertumbuhan yang sering kita anggap sepele, di sanalah Sang Juruselamat sungguh hidup sebagai manusia, setia berjalan di dalam waktu yang sama dengan waktu kita.</p>



<p>Melalui lukisan ini, kita melihat Allah yang tidak menghindari atau menjauh dari proses manusia. Ia hadir di Bait Allah, di tengah percakapan yang tenang dan berbobot, serta di dalam pertumbuhan yang dijalani secara bertahap. Dengan menjalaninya sendiri, Kristus menegaskan bahwa masa kanak-kanak bukan tahap yang diabaikan, melainkan bagian yang dihargai dalam karya Allah. Ia sungguh Allah dan sungguh manusia, berjalan di tengah manusia, di dalam waktu, dan tanpa jalan pintas.</p>



<p>Sharon Nobel<br>Pemudi GRII Pusat</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">27622</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Fondasi yang Kukuh dan Rapuh</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/renungan/renungan-matius-726-fondasi-yang-kukuh-dan-rapuh</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[michaelleang]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Apr 2026 12:02:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Fondasi]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Bijak]]></category>
		<category><![CDATA[perumpamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Rapuh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=27329</guid>

					<description><![CDATA[Renungan Matius 7:26 “Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir.”Matius 7:26 Dalam sepanjang peradaban manusia, ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/renungan/renungan-matius-726-fondasi-yang-kukuh-dan-rapuh">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Renungan Matius 7:26</strong></p>



<p>“Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir.”<br>Matius 7:26</p>



<p>Dalam sepanjang peradaban manusia, termasuk kita saat ini, ada banyak orang yang memikirkan dan mengerjakan hal-hal membangun. Hal-hal yang dapat membawa perubahan dalam hidup, baik dalam kehidupan sehari-hari, pelayanan, reputasi, bahkan karier. Namun, pertanyaan yang seringkali terlewatkan bukanlah tentang <em>apa</em> yang kita bangun, namun <em>di atas dasar apakah</em> kita membangun. Apakah dasar atau fondasi kita itu kukuh, atau justru rapuh?</p>



<p>Saya ingin mengajak kita untuk melihat di dalam Injil Matius, tentang peringatan keras yang disampaikan oleh Yesus mengenai fondasi yang kukuh dan rapuh. Apakah maksud Yesus memakai perumpamaan ini?&nbsp;</p>



<p>Dalam Matius 7:26, Yesus menyampaikan peringatan keras bahwa <em>orang yang mendengar firman Tuhan tanpa melakukan adalah orang yang bodoh.</em> Seumpama seorang yang membangun rumah yang tampak indah tetapi tidak akan bertahan lama, sebab saat badai datang rumah itu akan runtuh. Begitu juga dalam kehidupan kita, badai senantiasa akan datang dalam bentuk masalah, kehilangan, konflik, tekanan, bahkan kegagalan. Iman kita akan mudah tergoyahkan jika fondasinya kurang kuat.&nbsp;</p>



<p>Saya rindu mengajak kita untuk mengevaluasi fondasi kehidupan yang kita bangun saat ini. Apakah kita hanya sebatas pendengar firman? Ataukah kita adalah pelaku firman?</p>



<p>Yesus juga berbicara kepada orang banyak yang sudah mendengar ajaran-Nya, Ia berkata, “<em>Mereka mungkin merasa cukup hanya dengan tahu apa yang benar, tetapi Aku berkata kepadamu: mendengar saja tidak cukup.” </em>Karena pengetahuan tanpa ketaatan tidak “<em>menyelamatkan”</em>. Kita tahu apa yang harus kita lakukan, namun sering kita tidak melakukannya. Misalnya, dalam hal mengampuni, kita tahu harus mengampuni, tetapi sering kali kita masih menyimpan dendam, kita juga tahu harus jujur dalam segala hal, tetapi keinginan memanipulasi itu masih ada. Kita tahu kita dipanggil untuk mengasihi sesama ataupun musuh kita, namun seringkali kita bersikap kasar terhadap orang-orang yang tidak kita sukai. Kita tahu bahwa Tuhan melarang kekhawatiran yang berlebihan, tetapi kita justru lebih percaya pada pemikiran dan keinginan kita daripada janji-Nya. Yesus menyebut orang seperti ini bodoh. Ini bukan masalah kebodohan dalam arti tidak tahu apa-apa, tetapi kebodohan yang dimaksud adalah sudah mengetahui kebenaran tetapi tidak taat dan tidak melakukan firman yang didengar.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>Saya rindu mengajak kita untuk mengevaluasi fondasi kehidupan yang kita bangun saat ini. Apakah kita hanya sebatas pendengar firman? Ataukah kita adalah pelaku firman?</p>
</blockquote>



<p>Pada ayat 24, Yesus juga menjelaskan kepada orang banyak itu, “Orang yang bijak adalah yang mendengar dan melakukan firman-Nya, yang membangun rumahnya di atas batu.”&nbsp; Walaupun rumah itu ditimpa angin dan banjir datang, rumah itu tetap tegak dan kukuh karena dasarnya sudah kuat. Sehingga rumah yang dibangun di atas adalah cerminan orang yang hidup dalam ketaatan, bukan sekadar rutinitas. Orang yang mengandalkan firman Tuhan akan selalu melakukan segala sesuatu dengan bijak, baik dalam berpikir, berkata dan bertindak, serta menjadikan Yesus sebagai pusat hidup, bukan sekadar pengetahuan. Tetapi, mari periksa diri kita secara jujur. Selama ini, ada banyak firman Tuhan yang telah kita dengarkan, tetapi apakah sudah kita hidupi? Biarlah ini terus menjadi pertanyaan sekaligus peringatan dalam diri kita, dan mari kita meminta pertolongan Roh Kudus untuk menolong kita melakukannya. Ketaatan bukan hanya soal komitmen, tetapi realisasinya dihidupi dalam tindakan nyata sehari-hari: bersikap jujur, mengampuni, berdoa, memberi, mengendalikan lidah, dan melatih kepekaan rohani, itulah gambaran orang yang hidup taat dan takut akan Tuhan.</p>



<p>Melalui perumpamaan tentang rumah yang dibangun di atas batu dan pasir, Yesus menegaskan pentingnya membangun hidup di atas dasar firman Tuhan. Bukan hanya sebagai pendengar, tetapi sebagai pelaku. Ketaatan sejati tercermin dari tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar pengetahuan. Dalam dunia yang penuh badai kehidupan, hanya mereka yang hidup berakar dalam ketaatan kepada Kristus tetap teguh dan tidak tergoyahkan.</p>



<p>Jesiska Danga Lila<br>Mahasiswi STTRII Misiologi</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">27329</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Menapaki “Via Dolorosa”: Refleksi Jumat Agung 2026 &#8211; Indonesia Arena</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/seputar-grii/menapaki-via-dolorosa-refleksi-jumat-agung-2026-indonesia-arena</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[heryanto]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 13 Apr 2026 03:38:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Seputar GRII]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Arena]]></category>
		<category><![CDATA[JUmat Agung]]></category>
		<category><![CDATA[Reformed KTP]]></category>
		<category><![CDATA[Reformed Nominal]]></category>
		<category><![CDATA[Stephen Tong]]></category>
		<category><![CDATA[Via Dolorosa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=27176</guid>

					<description><![CDATA[Bersyukur kepada Tuhan, Kebaktian Jumat Agung yang diselenggarakan di kompleks Gelora Bung Karno (GBK) pada 3 April 2026 lalu dihadiri sekitar 11.000 jiwa untuk memperingati salah satu hari terpenting dalam iman umat kristiani. Pada hari itu sakramen perjamuan kudus juga dapat berjalan. Tubuh Kristus yang dipecahkan, dan darah-Nya yang ditumpahkan, menjadi tanda pendamaian. Allah Anak dikorbankan, supaya musuh-musuh Allah dapat dipertobatkan, dan didamaikan, dari murka Allah Bapa yang dahsyat.

Pdt. Dr. Stephen Tong menjabarkan 5 macam perdamaian yang dihadirkan oleh Yesus Kristus melalui kematian-Nya. Adakah bagian yang bisa kita kerjakan di dalam perdamaian tersebut? Pernahkan kita membawa orang untuk mengenal dan diperdamaikan dengan Allah?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p></p>



<p>Kebaktian dengan jumlah massa besar dan pesan utama yang memberitakan Kristus Yesus yang tersalib mungkin sudah mulai jarang terjadi di dunia, apalagi di Indonesia. Dalam sejarah modern Protestan, khotbah Billy Graham pada 1973 di Seoul mencapai jumlah kehadiran terbanyak; sekitar 1,1 juta orang yang hadir dalam satu waktu dan <em>venue </em>yang sama. Memang tidak tentu momen-momen seperti ini akan terulang, dan terkadang memang tidak akan pernah terjadi lagi. Namun demikian, kebaktian pengabaran Injil yang mengumpulkan banyak orang pada satu tempat dan satu waktu yang sama masih diperlukan oleh zaman ini.</p>



<p>Selain pentingnya firman dan Injil yang murni diberitakan, manusia juga perlu untuk dipertemukan dengan murka Tuhan, tuntutan pertobatan, dan komitmen pembaruan hidup kepada Allah dalam kebaktian kristiani yang sehat. Dan biasanya, kebaktian-kebaktian massa besar untuk kebangunan rohani menekankan hal tersebut; menuntut orang-orang yang hadir untuk berada pada momen eksistensial dalam hidup mereka.</p>



<p>Sisi lain dari kebaktian yang melibatkan jumlah massa besar adalah terciptanya suatu <em>awareness </em>sosial dan atensi yang lebih luas di ruang publik. Terlepas dari beragam respons yang muncul, dari dulu pesan iman Kristen memang telah mengisi ruang publik. Pengajaran-pengajaran Kristus terjadi di ruang publik, mukjizat yang Ia lakukan berada di ruang publik, bahkan penyaliban Kristus pun terjadi di ruang publik; sengaja dipertontonkan kepada khalayak ramai, masyarakat Yerusalem. Kesaksian Injil, sedari awal mulanya, tidak dapat dilepaskan dari kesaksian di ruang publik, menarik atensi dan kesadaran masyarakat sekitar untuk melihat, memikirkan, dan berespons terhadap intervensi Allah atas hiruk-pikuk hidup mereka. Dan intervensi itu adalah kenyataan sejarah bahwa Allah Anak pernah hadir di muka bumi untuk menebus dan mengembalikan hidup mereka kepada kehendak Allah Bapa yang kekal.</p>



<p>Kembali kepada kebaktian massa besar. Ketika kegiatan ini diupayakan, dalam rangka memberitakan firman dan Injil yang murni, kerja-kerja kolektif dari kegiatan semacam ini memunculkan potensi untuk terbangunnya kelekatan yang lebih erat di antara beragam individu dan kelompok Kristen yang mungkin jarang berinteraksi. Solidaritas sosial terbentuk, didasarkan pada ekspresi dari pokok iman yang harus diperjuangkan bersama; pemberitaan atas Kristus yang tersalib, yang mati dan bangkit, dan yang akan kembali untuk menghakimi dunia. Solidaritas kolektif semacam ini sangat diperlukan oleh tubuh Kristus di Indonesia, juga dunia, jika kita menyadari bahwa tantangan bagi gereja tidak pernah sederhana dan sepele.</p>



<p>Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) memang tidak meniadakan tanggung jawab kristiani untuk mengabarkan Injil secara pribadi, ataupun secara kolektif pada skala kecil. Tetapi, hal sebaliknya juga berlaku bahwa kelompok-kelompok kristiani dapat, dan bahkan perlu, untuk mengupayakan secara bersama pemberitaan Injil kepada massa yang lebih luas. Ini dikarenakan oleh, setidaknya dalam argumentasi saya, pertama, peristiwa kematian Allah Anak di kayu salib memiliki signifikansi ultimat dan absolut dalam seluruh keberadaan narasi ciptaan. Tidak ada hal lain di dunia ini yang punya nilai kepentingan, dan kegentingan, lebih tinggi dari kematian Allah Anak di kayu salib.</p>



<p>Kedua, karena pemberitaan tentang pesan Ilahi kepada banyak orang dalam satu waktu dan satu tempat yang sama selalu hadir dalam narasi umat Allah di sepanjang sejarah; baik dalam narasi Alkitab, maupun dalam narasi sejarah gereja. Yang saya maksud “selalu hadir” bukan berarti muncul setiap waktu secara berkala (setiap bulan, setiap tahun, dan atau sejenisnya), melainkan di sepanjang sejarah iman Kristen pemberitaan massal seperti ini pasti selalu memiliki porsinya di dalam sejarah penebusan. Ketika Allah ingin membangkitkan (atau bahkan menghakimi) umat-Nya pada satu kurun waktu tertentu, pemberitaan massal pasti mendapatkan tempatnya dalam kejadian tersebut.</p>



<p><strong>Menilik Kebaktian Jumat Agung di Indonesia Arena</strong></p>



<p>Saya melihat, Kebaktian Jumat Agung yang bisa kita selenggarakan di kompleks Gelora Bung Karno (GBK) pada 3 April 2026 lalu juga merupakan berkat tersendiri bagi Gerakan Reformed Injili (GRI). Karena bagaimanapun juga, gerakan kolektif yang kohesif memerlukan sarana dan momentum. Kerja bersama yang padu memungkinkan tercapainya dampak Injil yang lebih luas; suatu kondisi yang tidak dapat dicapai bila dikerjakan secara terpisah/mandiri. Bersyukur sekali kepada Tuhan, pada tanggal tersebut ada sekitar 11.000 jiwa yang hadir di Indonesia Arena untuk memperingati salah satu hari terpenting dalam iman umat kristiani. Pada hari itu sakramen perjamuan kudus juga dapat berjalan. Hal ini menuntun benak kita kepada bayang-bayang dari masa lalu, dan pengharapan eskatologis di masa depan, yang bertemu pada satu titik; titik ketika roti dan cawan itu diangkat dan terdengar seruan: “Inilah tubuh-Ku yang Kupecahkan bagimu,” dan, “Inilah darah-Ku yang ditumpahkan bagi kamu.”</p>



<p>Tubuh Kristus yang dipecahkan, dan darah-Nya yang ditumpahkan, menjadi tanda pendamaian. Allah Anak dikorbankan, supaya musuh-musuh Allah dapat dipertobatkan, dan didamaikan, dari murka Allah Bapa yang dahsyat. Pdt. Dr. Stephen Tong membawakan pesan Alkitab tersebut di dalam stadion Indonesia Arena. Perdamaian yang pertama melalui kematian Kristus adalah manusia diperdamaikan dengan Allah. Bukan supaya setelahnya manusia dapat hidup suka-suka karena jaminan surga, bukan. Perdamaian ini dikerjakan supaya manusia, yang tidak jadi binasa, menyerahkan hidupnya untuk diperbarui dan dikembalikan kepada Sang Tuan. Diperdamaikan dengan Allah agar hidup sungguh-sungguh bagi Dia, bukan bagi dunia.</p>



<p>Beliau melanjutkan, dari hidup yang diperdamaikan dengan Allah, baru dimungkinkan terjadi perdamaian-perdamaian selanjutnya; berdamai dengan diri, berdamai dengan orang lain, menjadi pendamai antar sesama manusia yang bertikai, dan terakhir mengajak orang supaya berdamai dengan Allah (penginjilan). Pdt. Dr. Stephen Tong menambahkan, sayangnya orang semacam demikian sangat sedikit. Di manakah kita semua yang sudah Kristen kalau orang-orang semacam demikian justru makin sedikit? Bukankah angka penganut agama Kristen adalah yang terbesar di dunia? Apakah itu berarti banyak orang beragama Kristen tetapi tidak pernah membawa orang untuk mengenal dan diperdamaikan dengan Allah?</p>



<p>Dari sini kita jadi menyadari, tanda sejati dari orang yang telah diperdamaikan dengan Allah adalah di dalam hidupnya ia akan berjuang dengan segenap kapasitas untuk membawa orang lain mengenal Tuhan. Tidak harus ia menjadi seorang rohaniwan. Ia bisa merupakan seorang profesional, akademisi, cendekiawan, montir, supir, pengusaha, staf ahli, ibu rumah tangga, dan sebagainya. Dalam Alkitab, ada Priskila dan Akwila, dalam sejarah gereja ada Monika, ibu dari Agustinus, dan masih banyak lagi.</p>



<p><strong>Refleksi Jumat Agung</strong></p>



<p>Kalau memperhatikan perjalanan dari masa ke masa, apa harta terbaik yang dapat diwariskan bagi generasi muda masa kini? Berkaca dari Kebaktian Jumat Agung lalu, salah satu harta terbaik untuk generasi muda Kristen pada tiap masa adalah hadirnya figur-figur teladan yang mengasihi Tuhan dalam tiap zaman. Saya jadi khawatir, betapa miskinnya kita kalau di sepanjang masa hidup kita tidak ada lagi orang-orang yang <em>genuinely </em>mengasihi Allah di sekitar kita; baik itu di keluarga kita, di gereja kita, di masyarakat kita, dan di zaman kita. Kita miskin bukan karena kurang uang. Kita miskin bukan karena kurang kepemilikan barang. Kita miskin karena tidak ada lagi orang-orang yang mencintai Tuhan dengan sungguh-sungguh di dalam masa hidup kita.</p>



<p>Di sepanjang sejarah, kekristenan maju bukan karena banyak orang Kristen yang makmur, bukan karena banyak orang Kristen yang senang-senang. Kekristenan di sepanjang sejarah maju karena banyak orang Kristen yang mau berjuang mengasihi Allah, mengenal Allah, dan hidup menggenapkan kehendak Allah di dunia. Saya mengutip pernyataan Pdt. Budi Sutrisno, Gembala Sidang MRII Lampung, dalam salah satu cuplikan khotbahnya: “Selama ini kita mengabaikan firman Tuhan. Tidak ada sensitivitas lagi. Kita pribadi tidak peka lagi pada pimpinan Tuhan atas hidup kita. Ya bagaimana kita mau peka pimpinan Tuhan atas gereja? Apalagi pimpinan Tuhan dalam zaman ini, kalau pimpinan Tuhan atas diri kita saja kita tidak mau taat.”<a href="#_ftn1" id="_ftnref1"><sup>[1]</sup></a></p>



<p>Akhir kata dari refleksi singkat Jumat Agung Indonesia Arena, apakah kita mau makin taat, makin peka, makin paham kehendak Tuhan atas hidup kita, gereja kita, dan zaman kita? Kalau iya, saya percaya itu tanda dari pekerjaan Allah Roh Kudus atas hidup Anda dan saya yang sudah diperdamaikan dengan Allah. Jika belum, mari kita dengan rendah hati datang kepada Tuhan, memohon kepada Tuhan dengan sungguh dan bertobat, berbalik dari cara pikir dan cara hidup kita yang lama. Kalau tidak, setiap kegiatan religi yang kita alami nantinya hanya menjadi kegiatan simbolik saja.</p>



<p><a></a>Jikalau ada istilah “Kristen nominal” atau “Kristen KTP” yang biasa digunakan untuk mengidentifikasi kehidupan orang Kristen yang jauh dari nilai-nilai pokok kristiani, mungkinkah juga terminologi “Reformed nominal” atau “Reformed KTP” bisa saja mencuat sebagai penanda bagi diri kita? Pada akhirnya sungguh kita memang perlu berseru, bertobat, dan kembali mengikuti Dia sebagai Tuhan. Kematian Anak-Nya tidak pernah diperuntukkan agar kita terbebas dari maut dan kemudian hidup bagi dunia sambil menantikan surga. Allah Anak mati supaya kita kembali hidup untuk melayani kehendak Bapa, Sang Empunya dunia, surga, dan neraka. Oh Tuhan, datanglah segera. Maranatha! Amin.</p>



<p>Nikki Tirta</p>



<p>Dosen Calvin Institute of Technology.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p><a href="#_ftnref1" id="_ftn1"><sup>[1]</sup></a> Sumber: Instagram MRII Lampung.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">27176</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Filsafat Asia: Bagian 29</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/transkrip/filsafat-asia-bagian-29</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[michaelleang]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 10 Apr 2026 12:06:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Transkrip]]></category>
		<category><![CDATA[Gentleman]]></category>
		<category><![CDATA[Konfusius]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[panggilan]]></category>
		<category><![CDATA[Tata krama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=27049</guid>

					<description><![CDATA[Ada bagian yang paling penting dan berharga di dalam mempelajari pemikiran Konfusius, yaitu tentang Ideal Man (Gentleman).

Apa yang kita tau tentang gentleman? Apakah itu tentang berperilaku maskulin? Atau memiliki sopan santun? Atau perhatian dan suka membantu?
Lebih dari itu. Bagi Konfusius, menjadi gentleman adalah tentang menjadi orang yang agung. Bukan secara status di dalam masyarakat, karena setiap manusia itu sama, tidak ada perbedaan yang memperbolehkannya didiskriminasi, melainkan karakter. Konfusius memunculkan perbedaan antara Orang Agung dan Orang Kecil ini dalam tulisannya.
Jadi, apa ciri orang yang agung atau gentleman?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Mulai dari bagian ini, kita akan membahas satu topik yang paling penting dari pemikiran Konfusius, yaitu tentang <em>Ideal Man</em> (<em>Gentleman</em>). Inilah topik yang paling penting dan paling berharga di dalam mempelajari pemikiran Konfusius. &nbsp;</p>



<p>Satu perkataan penting Konfusius, “Seorang <em>gentleman</em> tidak cepat berbicara, tetapi cepat bertindak.” Ada orang yang mulutnya manis sekali, pandai sekali berbicara, banyak bicara, tetapi yang dilakukan berbeda dari yang dikatakan. Kita harus berhati-hati dengan orang seperti ini. Tetapi ada semacam orang yang sulit dan sedikit berbicara, tidak pandai bicara, tetapi ketika diminta mengerjakan sesuatu, ia akan bisa segera melakukannya dan dengan hasil yang sangat baik. Itulah <em>gentleman</em>.&nbsp;</p>



<p>Dalam pikiran saya, salah satu bangsa yang paling pandai berbicara adalah bangsa Indonesia. Semua orang pandai berpidato, cepat sekali berbicara, dan kalau pidato hebat sekali, tetapi begitu pelaksanaan, hasilnya berbeda sama sekali. Konfusius mengatakan, “Anak-anak yang kelihatan tidak bisa berbicara lancar, terlihat diam-diam, tetapi kalau mengerjakan segala sesuatu begitu lincah dan selalu beres, anak itu adalah anak yang baik.” Tuhan Yesus mengatakan, “Ada dua anak yang bersama ayahnya turun ke sawah. Ketika diminta mengerjakan sesuatu, yang pertama mengatakan dengan cepat bahwa dia akan pergi, tetapi akhirnya dia tidak pergi. Sementara anak yang kedua lebih lambat merespons, tetapi akhirnya dia yang pergi dan mengerjakan dengan baik.” &nbsp;</p>



<p>Saya mengamati dengan serius bahwa penginjilan di dalam kebaktian saya, saya mati-matian memakai pikiran saya untuk bisa mengubah konsep pemikiran manusia yang salah untuk kembali kepada firman Tuhan. Khotbah saya lebih panjang dari banyak orang lain, walau kebaktian orang lain terkadang lebih panjang dari kebaktian saya, karena mereka menyanyi begitu panjang dan lama. Ketika saya menantang orang untuk menerima Tuhan Yesus, tidak terlalu banyak yang maju ke depan, karena mereka harus berpikir serius sebelum bisa mengambil keputusan. Namun, setelah saya mengamati selama empat puluh tahun ini, saya melihat setelah mereka mengambil keputusan menjadi orang Kristen, mungkin bukan di depan saya, pada umumnya mereka menjadi buah yang panjang dan sungguh-sungguh. Jadi memang tidak mudah mengatakan “ya” di hadapan Tuhan, tetapi begitu mengatakan “ya”, maka harus menjalankannya dengan serius, seumur hidup mengikut Tuhan dengan baik.&nbsp;</p>



<p>Saya juga mengamati, ketika saya menantang dan memanggil orang untuk menjadi hamba Tuhan, ada semacam orang yang menangis di depan, tetapi akhirnya tidak jadi hamba Tuhan. Dan ada yang ketika dipanggil tidak mudah merespons. Sudah dipanggil tiga kali masih tidak berespons, terakhir di tambah lagi waktu, dan dia menyerah, perlahan-lahan keluar dan maju ke depan. Orang ini yang akhirnya serius mengikut Tuhan. Tetapi jangan juga kemudian disimpulkan semua harus perlahan-lahan dan tidak mau segera berespons jika dipanggil.  </p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>Konfusius mengatakan, “Anak-anak yang kelihatan tidak bisa berbicara lancar, terlihat diam-diam, tetapi kalau mengerjakan segala sesuatu begitu lincah dan selalu beres, anak itu adalah anak yang baik.”</p>
</blockquote>



<p>Seumur hidup, saya sambil mengerjakan pekerjaan Tuhan, sambil melihat bagaimana cara Tuhan bekerja di setiap pekerjaan tersebut. Bukan saya yang bekerja, tetapi saya melihat bagaimana di dalam pekerjaan Tuhan, Tuhan sedang mengerjakannya di mana saya hanya menjadi alat-Nya saja. Kemudian saya melihat bahwa memang perkataan orang agung seperti Konfusius itu cukup masuk akal. Orang yang tidak cepat berbicara, tidak lincah bersilat kata, tidak berkata-kata yang meyakinkan, tetapi ketika bekerja semua beres, itulah <em>gentleman</em>.</p>



<p>Seorang <em>gentleman</em> harus memiliki tiga macam pengetahuan. <em>Pertama</em>, jika seseorang tidak memiliki pengetahuan akan mandat sorga, ia tidak bisa menjadi seorang <em>gentleman</em>. Orang yang mengetahui mandat sorga barulah bisa menjadi seorang yang jantan, yang hidupnya bermoral, dan memiliki watak yang tinggi. Itulah seorang <em>gentleman</em> yang sesungguhnya. Mandat sorgawi adalah bagaimana ia berusaha untuk mengerti apa yang sorga ingin untuk ia lakukan dan bagaimana dia hidup bertanggung jawab kepada sorga (langit). Bagaimana dia bisa bertanggung jawab hidup dan bekerja kepada Tuhan Allah adalah merupakan ukuran utama dan pertama hidupnya. Seorang <em>gentleman</em> harus mengenal mandat sorga.&nbsp;</p>



<p><em>Kedua</em>, dia harus mengetahui dan mengerti tata krama. Orang yang tidak mengerti tata krama tidak bisa menegakkan watak sendiri. Orang yang tidak mengetahui tata krama tidak bisa tegak berdiri dan memiliki keagungan hidup. Orang harus sopan, harus menghormati orang lain, dia harus mengetahui tata krama, mengetahui segala peraturan, sehingga engkau tegak berdiri dan dihormati orang lain. Inilah hal yang kedua.</p>



<p><em>Ketiga</em>, seseorang <em>gentleman</em> harus mengetahui makna perkataan orang lain. Hati-hati untuk jangan menjadi orang yang terus ingin orang lain mendengar apa yang engkau katakan, tetapi tidak siap dan mau mendengar apa yang orang lain katakan. Lambat laun engkau akan dibuang oleh masyarakat. Orang yang berbijaksana adalah orang yang peka dan hati-hati mendengar perkataan orang lain. Namun, itu bukan berarti mendengar untuk mencari apakah perkataannya menyinggung perasaanku atau tidak, atau apakah kalimatnya itu marah kepada saya atau tidak. Bukan demikian. Tetapi ketika mendengar perkataan orang lain, kita bisa belajar apa kebijaksanaannya, apa ajarannya, apa yang penting dari kalimat-kalimatnya, apa hal-hal bermakna yang bisa kita dapat dari perkataannya. Itulah peka mendengar.&nbsp;</p>



<p>Orang seperti ini memiliki sifat seperti <em>sponge.</em> <em>Sponge</em> adalah benda yang begitu didekatkan ke air, ia akan segera menyerap air itu sebanyak-banyaknya. Orang seperti ini adalah orang pintar. Jika engkau tidak memiliki buku, carilah buku; dan jika ada buku, carilah bagian-bagian yang penting yang harus engkau serap; kalimat yang paling berguna, haruslah engkau hafal. Ini bagaikan <em>sponge</em>. Ada orang yang rumahnya penuh buku, tetapi tidak ada yang pernah dibaca. Ada orang yang di rumahnya tidak ada buku, tetapi ketika dia pergi ke rumah orang, dia membaca surat kabar yang ada di meja orang itu; atau ketika ke dokter dia membaca berbagai majalah yang ditaruh di meja, dan segera kalimat-kalimat penting masuk di otaknya. Ini adalah orang pandai.&nbsp;</p>



<p>Ketika engkau berbicara dengan orang lain, engkau mungkin jengkel dan menganggap orang itu begitu cerewet. Kita sering ingin memotong atau menghentikan orang yang sedang berbicara. Kita sepertinya tidak ingin mendengar apa yang dia bicarakan. Tetapi seharusnya kita belajar mendengar apa yang sedang dia katakan. Jika ada satu kata atau kalimat yang bermakna, cepat-cepat harus ditangkap dan diterima. Jadi, mengerti kalimat orang lain itu sangat berharga. Hal-hal seperti ini akan menjadikan engkau pandai. Oleh karena itu, jadilah orang yang mau mengerti dengan mendengar kalimat penting dari orang lain. Janganlah engkau menjadi seorang yang terus mau berbicara tidak habis-habis dan menyuruh orang lain mendengarkannya.&nbsp;</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>Janganlah engkau menjadi seorang yang terus mau berbicara tidak habis-habis dan menyuruh orang lain mendengarkannya.</p>
</blockquote>



<p>Mendengar perkataan orang perlu memiliki saringan otak yang kuat dan membiasakan diri menangkap apa yang penting. Saya tidak sembarangan membeli buku. Saya selalu membeli buku-buku teori lebih banyak dari buku praktik. Buku teori yang berasal dan ditulis oleh orang-orang yang terkenal lebih banyak daripada buku-buku teori dari orang-orang yang sembarangan menulis. Kalau mau membeli buku theologi, siapa theolog yang paling penting, yang betul-betul bermutu, itulah yang saya beli bukunya. Yang kelas dua saya tidak terlalu banyak beli, karena saya mungkin memiliki pemikiran yang tidak kalah dari orang lain. Namun, pikiran dan perkataan orang yang betul-betul merupakan arus pokok, yang paling penting dalam bidangnya, saya harus mengetahuinya, karena pikirannya sudah teruji di dalam sejarah.</p>



<p>Demikian pula ketika melihat surat kabar, membaca setiap majalah, jangan sembarang apa saja dibaca, kecuali engkau di dalam penjara dan tidak ada pekerjaan lain, sehingga harus menjadi pengangguran yang tidak ada kerja dari pagi hingga petang. Tetapi jika engkau begitu banyak pekerjaan, bacalah semua yang penting, lalu ditangkap setiap kalimat penting untuk menjadi landasan pikiran dan hidupmu.</p>



<p>Jadi ini tiga hal. (1) Seumur hidup itu jelas apakah panggilan Tuhan dan mandat sorgawi untuk saya hidup di dunia. Ini harus ditangkap. (2) Mengetahui bagaimana menjadi manusia bertata krama dan bergaul dengan orang lain, dan segala kesopanan, dan segala adat yang baik. (3) Mengetahui bagaimana menyaring, menerima, dan perkataan-perkataan yang penting untuk menjadi ajaran, hendaknya engkau tangkap baik-baik.&nbsp;</p>



<p>Kita perlu belajar bagaimana membedakan seorang <em>gentleman</em> dan seorang kecil. Bagi Konfusius, manusia secara status masyarakat tidak ada perbedaan yang boleh menjadi diskriminasi, tetapi secara karakter ada perbedaan antara orang agung atau orang kecil (orang hina). Bagi saya istilah <em>gentleman</em> kurang begitu tepat untuk penerjemahan pikiran Konfusius, karena lebih tepat dimengerti sebagai orang agung. Orang Inggris menerjemahkan sebagai <em>gentleman</em> atau bisa dipandang sebagai orang berperilaku maskulin. Tetapi pikiran Konfusius mungkin lebih baik disebut sebagai <em>orang agung</em>. Jadi di dalam tulisan Konfusius, khususnya <em>Lun Yu</em>, selalu muncul perbandingan antara Orang Agung dan Orang Kecil atau Orang yang Martabatnya Rendah. Orang Kecil bukan badannya kecil atau orang miskin, melainkan karena martabatnya hina atau rendah. Ini berbeda dan berlawanan dengan karakter atau sikap orang yang agung. Kedua karakter ini dibedakan secara serius oleh Konfusius. Amin.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">27049</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Spiritualitas Kovenan: Janji Allah pada Umat-Nya</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/alkitab-theologi/spiritualitas-kovenan-janji-allah-pada-umat-nya</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[andrian]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 06 Apr 2026 15:31:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Alkitab & Theologi]]></category>
		<category><![CDATA[covenant]]></category>
		<category><![CDATA[Covenant Theology]]></category>
		<category><![CDATA[Institutio]]></category>
		<category><![CDATA[John Calvin]]></category>
		<category><![CDATA[kasih]]></category>
		<category><![CDATA[Kovenan]]></category>
		<category><![CDATA[Kristus]]></category>
		<category><![CDATA[Reformed]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=26769</guid>

					<description><![CDATA[Ketika kita mendengar kata “perjanjian”, sering kali hal yang dibayangkan adalah sebuah perjanjian kerja sama antara dua pihak yang ditulis pada sebuah kontrak, di atas kertas secara hitam dan putih. Kedua pihak harus memenuhi syarat dan ketentuan yang mengikat keduanya secara legal, dan pihak yang melanggar akan mendapatkan sebuah konsekuensi atau hukuman. Sebaliknya, apabila kedua pihak memenuhi syarat-syarat dalam perjanjian tersebut, maka mereka akan mendapatkan keuntungan sesuai dengan kesepakatan.

Namun, apakah konsep “perjanjian” seperti di atas adalah hal yang sama dengan yang terjadi dalam hubungan antara Allah dan umat-Nya dalam catatan Alkitab?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika kita mendengar kata “perjanjian”, sering kali hal yang dibayangkan adalah sebuah perjanjian kerja sama yang ditulis pada sebuah kontrak, yaitu di atas kertas secara hitam dan putih. Ikatan legal antara dua orang atau dua perusahaan, itulah yang menjadi ciri sebuah perjanjian modern. Kedua pihak harus memenuhi syarat dan ketentuan yang mengikat keduanya secara legal. Barangsiapa yang melanggar, maka pihak tersebut akan mendapatkan sebuah konsekuensi atau hukuman. Sebaliknya, apabila kedua pihak memenuhi syarat-syarat dalam perjanjian tersebut, maka mereka akan mendapatkan keuntungan sesuai dengan kesepakatan di awal.</p>



<p>Namun, apakah konsep “perjanjian” seperti ini adalah hal yang sama dengan yang terjadi dalam hubungan antara Allah dan umat-Nya dalam catatan Alkitab?</p>



<p><strong>Asal-usul Theologi Perjanjian</strong></p>



<p>Keunikan dari theologi Reformatoris terletak pada jaminan keselamatan melalui iman. Dalam Gerakan Reformasi, terdapat dua aliran yang berkembang dalam Protestanisme. Yang pertama adalah Lutheran, yang menitikberatkan pada iman (<em>sola fide</em>) dan Injil. Keunggulan dari theologi Lutheran adalah doktrin pembenaran (<em>justification</em>) yang betul-betul memisahkan pekerjaan Allah dari jasa manusia. Manusia tidak berjasa sedikit pun, dan kita yang diselamatkan adalah pendosa sekaligus orang kudus (<em>saint and sinner</em>). Tuhan Yesus memberikan jubah kebenaran-Nya untuk disematkan dan menutupi jubah kita yang berdosa. Manusia hanya bisa berserah secara total kepada Allah. Injil adalah kabar baik yang mewartakan anugerah keselamatan yang datang dari Allah tanpa adanya jasa manusia di dalamnya.</p>



<p>Lalu, apa yang menjadi keunggulan dari theologi Reformed yang membedakannya dari theologi Protestan-Lutheran, Kristen Katolik maupun Kristen Ortodoks?</p>



<p>Salah satu hal yang menjadi keunikan tradisi Reformed adalah theologi perjanjian (<em>covenantal theology</em>). Pada masa Reformasi, yaitu ketika Luther sedang memperjuangkan Reformasi di Jerman, Huldrych Zwingli (1484-1531) dan Heinrich Bullinger (1504-1575) dari Swis juga sedang melakukan Reformasi, yaitu pada tahun-tahun sebelum John Calvin menjadi bagian dari Gerakan Reformasi. Kritik terhadap spiritualitas Gereja Katolik Roma yang dipenuhi dengan takhayul dan tradisi yang bertolak belakang dengan ajaran gereja mula-mula menjadi titik awal yang mendorong Reformasi Protestan. Akan tetapi, Reformasi dari Swis, yang nantinya berkembang menjadi tradisi Reformed, mempunyai sebuah corak tersendiri. Mereka menitikberatkan konsep “perjanjian” antara Allah dan umat-Nya.<a href="#_ftn1" id="_ftnref1"><sup>[1]</sup></a></p>



<p>Heinrich Bullinger mencetuskan sebuah istilah “Perjanjian Kekal” (<em>foedus unum et aeternum</em>). Perjanjian Allah dengan Adam, Nuh, Abraham, umat Israel melalui Musa, Daud, dan kemudian dinyatakan adanya pembaruan janji melalui para nabi seperti Yesaya, Yeremia, dan Yehezkiel—semuanya itu ditujukan kepada Yesus Kristus. Dalam sejarah Israel dan Gereja, Allah mengikatkan sebuah janji keselamatan dengan umat-Nya, yang tidak dapat dipatahkan oleh waktu maupun kondisi yang memahitkan. Hal ini kemudian diutarakan dalam Pengakuan Iman Helvetik yang Kedua, Pasal ke-10:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Dan sekalipun janji-janji Allah dinyatakan kepada kita dengan berbagai cara, namun Kitab Suci mengajarkan bahwa ada <em>satu dan sama</em> perjanjian bagi semua orang beriman sejak permulaan dunia. Sebab semua menerima janji-janji Allah yang sama, melalui satu dan sama Pengantara, yaitu Kristus, yang telah dijanjikan sejak semula. Karena melalui iman kepada-Nya semua orang beriman telah diselamatkan, sedang diselamatkan, dan akan diselamatkan.”</p>
</blockquote>



<p>Apabila hubungan Allah dengan umat, yaitu kaum percaya, hanya dibangun dengan sebuah kertas secara “hitam dan putih”, itu hanyalah sebuah kerangka kontrak legal-politik yang kurang berarti. Masyarakat republikan yang demokratis memang adalah bentuk kepemimpinan yang cukup baik dibandingkan monarki-tirani, tetapi rakyat tanpa Allah bukanlah masyarakat yang baik seperti yang pernah terjadi ketika orang Israel memilih Saul sebagai raja. Jika hubungan itu dibentuk dengan sebuah “rasa percaya” saja (<em>sense of trust</em>), maka kehidupan bermasyarakat bisa mengalami keruntuhan apabila ada yang melanggar janji sosial seperti yang sudah dijelaskan di atas. Dan ketika rasa percaya itu retak, akan sangat sulit untuk memulihkannya kembali. Jadi, dengan “janji” seperti apakah Tuhan membangun hubungan dengan gereja-Nya?</p>



<p>Apabila kita menelusuri Kitab Suci, ada dua bagian yang membedakan <em>Perjanjian</em> <em>Lama</em> dan <em>Perjanjian Baru</em>. Bahasa yang lebih tepat adalah <em>Kovenan Mula</em> dan <em>Kovenan</em> <em>yang Dipulihkan</em>. Perjanjian yang dimaksud di sini bukanlah sebuah perjanjian legal-politik, bukan sebuah perjanjian yang membentuk rasa percaya yang dipulihkan, melainkan jauh lebih dalam daripada itu. Ini adalah sebuah Perjanjian Nikah antara Allah dan umat-Nya. Itulah yang dimengerti sebagai theologi perjanjian. Makna “kovenan” yang mewarnai tradisi Reformed adalah bentuk kedaulatan kasih Allah kepada yang dikasihi-Nya. Barulah dari situ, Tuhan menetapkan Sepuluh Hukum Taurat sebagai bentuk konkret untuk menjalankan syarat-syarat Pernikahan, serta terbentuknya rasa percaya ketika kita mengikuti Hukum yang Terutama, di mana seluruh isi hukum Allah bergantung.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Mat. 22:37-39)</p>
</blockquote>



<p><strong>Kisah Perjanjian Allah dengan Umat-Nya</strong></p>



<p>Perjanjian seperti ini bukanlah sebuah ikatan yang diinisiasi oleh manusia. Bukan manusia yang mencari Allah, tetapi Allah yang memilih, mencari, dan mengikatkan diri-Nya dengan manusia. Padahal, apabila dipikirkan, Tuhan yang berdaulat tidak memerlukan eksistensi manusia yang hanyalah butiran debu. Tuhan juga tidak perlu berelasi dengan manusia, dalam sebuah dialog yang datang dan pergi, tetapi Dia menghadirkan seluruh diri-Nya dalam ikatan kekal. Itu adalah langkah yang sangat berisiko bagi-Nya, khususnya ketika Tuhan mengikat janji dengan sebuah makhluk ciptaan yang sangat mungkin untuk berdosa dan melukai hati-Nya.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>Maka, sesudah matahari terbenam dan hari menjadi gelap, tampaklah perapian yang berasap dan suluh yang berapi lewat di antara potongan-potongan itu. Pada hari itulah TUHAN mengadakan perjanjian dengan Abram serta berfirman: “Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, Sungai Efrat.” (Kej. 15:17-18)</p>
</blockquote>



<p>Ketika Allah berjanji dengan Abram (sebelum namanya diubah menjadi Abraham), perhatikan bahwa ada potongan binatang dari kambing betina, domba, dan burung (Kej. 15:9) yang diletakkan di tanah. Kedua pihak itu seharusnya melalui potongan itu, dan bagi yang melanggar janji tersebut, dia akan dipotong seperti korban binatang. Abraham tidak melalui potongan itu, melainkan Allah sendiri. Seolah-olah Allah sedang berkata, “Aku berjanji akan memberkati engkau, dan jika engkau yang melanggar, Akulah yang akan menerima hukuman—Aku tetap setia mengasihimu dengan janji yang kekal ini.” Perhatikan Allah yang mengikatkan kedaulatan-Nya pada karakter kasih-Nya. “Aku menjadi milikmu, dan kamu menjadi milik-Ku. Akulah jaminannya jika terjadi apa-apa yang membahayakanmu maupun ketika kamu meninggalkanku.”</p>



<p>Kisah Perjanjian ini nantinya akan ditemukan dalam kisah Nabi Hosea dan Gomer. Hosea diperintah oleh Allah untuk menikahi perempuan sundal. Tiga kali perempuan itu mempunyai anak yang bukan keturunan dari Hosea sendiri; Gomer mencari laki-laki lain. Hosea yang membesarkan ketiga anak tersebut. Lalu, ketika Gomer ditangkap dan dijual menjadi seorang budak, tidak ada seorang pun yang mau membeli perempuan “bekasan”. Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang datang untuk menebus perempuan itu, dan dia adalah suaminya yang mula-mula. Hosea datang kembali untuk mencintai Gomer sebagaimana Tuhan mengasihi umat Israel yang berkali-kali berzinah dan meninggalkan-Nya:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Sebab yang menjadi suamimu ialah Dia yang menjadikan engkau, TUHAN semesta alam adalah nama-Nya; dan yang menebus engkau ialah Yang Mahakudus, Allah Israel, Ia disebut Allah seluruh bumi. Sebab seperti isteri yang ditinggalkan dan yang bersusah hati TUHAN memanggil engkau kembali, isteri masa muda—apakah ia akan ditolak, firman Allahmu. Hanya sesaat saja Aku meninggalkan engkau, tetapi karena kasih sayang yang besar Aku mengambil engkau kembali.” (Yes. 54:5-7)</p>



<p>&#8220;Berfirmanlah TUHAN kepadaku: &#8216;Pergilah lagi, cintailah perempuan yang suka bersundal dan berzinah, seperti Tuhan juga mencintai orang Israel, sekalipun mereka berpaling kepada allah lain dan menyukai kue kismis.” (Hos. 3:1)</p>
</blockquote>



<p>Dalam hubungan antar manusia, tampaknya sebuah hubungan sering kali bersifat bersyarat dan sementara. Artinya, ketika kita mengasihi orang lain, kita mengasihi pada <em>sesuatu</em> yang dapat kita ambil darinya. Jika sesuatu itu hilang, maka kita tidak lagi mengasihinya. “Jika kamu baik, maka aku baru baik kepadanya. Jika kamu tidak lagi baik, maka aku tidak mau bersikap baik kepadanya. Tampaknya dia sudah berubah, dia bukan lagi orang yang kukenal di mula-mula, maka aku tidak perlu dan tidak mau mengasihinya.” Apabila kasih dimengerti sebagai sesuatu yang <em>conditional</em>, maka itu bukan lagi “kasih” (memberi), tetapi sebuah syarat untuk mengambil demi kepentingan diri sendiri. Bayangkan jika hubungan Allah dengan kita dibangun di atas dasar sebuah kondisi dan kemampuan untuk berperforma, “Jika kamu tidak cukup baik, cukup rohani, cukup Reformed, maka kamu tidak akan kukasihi.” Itu akan menjadi sesuatu hal yang sangat mencemaskan, seolah-olah Tuhan direduksi menjadi “akuntan” dan “hakim” di atas awan, dan hubungan kita dengan Allah adalah sebuah <em>situationship</em> yang dapat berubah.</p>



<p>Tidaklah demikian dengan kisah perjanjian dalam Kitab Suci, di dalam Kristus Saudara Sulung kita, Tuhan adalah <em>Bapa</em> bagi kita, dan dalam Roh-Nya kita menjadi anak-anak-Nya. Perjanjian ini hanyalah mungkin sebab Allah adalah Allah Trinitas yang membagikan kasih kekal kepada ciptaan-Nya. Dia menarik kita untuk masuk dalam persekutuan di dalam-Nya melalui janji yang dimeteraikan oleh darah Yesus dan Roh-Nya. Jika Allah bukan Trinitas, maka Allah bukanlah kasih. Dia bisa saja berkuasa dan berdaulat, tetapi hubungan kita dengannya adalah sebuah hubungan kontrak yang transaksional. Perbuatan baik kita diserahkan kepadanya untuk mengemis perhatian darinya. Jika Allah bersifat transaksional, maka para penyembahnya pun juga akan menjadi transaksional, kompetitif bahkan secara “rohani”, menjadi sombong sekaligus minder tergantung pada “musim kerohaniannya”. Tentunya, itu bukan Allah, melainkan ilah palsu.</p>



<p>Ketika Allah memilih untuk mengasihi kita, Dia memilih untuk mengasihi kita semata-mata karena Dia adalah kasih. Dia memilih kita bukan karena <em>sesuatu</em> dari kita, melainkan Dia memilih untuk membagikan diri-Nya kepada kita (<em>unconditional election</em>). Janji yang melibatkan seluruh kedaulatan diri-Nya, bahkan sampai harus mati di kayu salib dan menanggung hukuman neraka bagi kita. “Bukan kamu yang menanggungnya, biar Aku saja, sebagaimana dahulu Aku pernah berjanji untuk mengasihimu.” Hal inilah yang nantinya menjadi puncak dari ibadah kekristenan, yaitu ketika kita menerima dan mengingat janji Allah, yang berbicara seperti demikian:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” Demikian juga cawan sesudah makan; Ia berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku yang ditumpahkan bagi kamu.” (Luk. 22:19-20)</p>
</blockquote>



<p>Bukan kita yang meminta tubuh dan darah Yesus, melainkan Tuhan Yesus yang menyerahkan diri-Nya sendiri kepada kita. Di dalam iman yang dikaruniai Roh Kudus, kita menerima janji-janji Allah dengan memakan tubuh-Nya dan meminum darah perjanjian-Nya. Dalam misteri Perjamuan Kudus, kita bukan saja sedang menerima anugerah dari Tuhan, roh kita diangkat ke surga, dan menerima Tuhan itu sendiri, yaitu menjadi satu dengan-Nya, dalam janji yang kekal dan tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih-Nya.</p>



<p><strong>Refleksi</strong></p>



<p>Ketika kita mengenal siapa diri kita sebagai manusia berdosa, dan Kristus menjadi Suami bagi Gereja yang ditebus dari dunia pelacuran, kita akan betul-betul menyadari betapa mulia anugerah dan karakter hati Tuhan. Dia bukan Tuhan yang jauh di luar sana, yang berdaulat di atas awan untuk mencipta dan memainkan sejarah dalam percaturan kuasa. Melainkan <em>Engkau</em> adalah Bapa yang Mahakuasa, dan kami adalah anak-anak umat milik-Mu. John Calvin menjelaskan dalam <em>Institutes of the Christian Religion</em>, bahwa tujuan sejati dari kekristenan adalah untuk mengenal Allah dan diri. Pengenalan bukanlah sekadar tahu secara kognitif dan informatif tentang Tuhan. Pengenalan adalah <em>bersatu</em> dengan yang dikenal. Pengetahuan akan Allah bersifat relasional, dan semakin kita mengenal Allah, kita akan menyadari betapa besar kasih anugerah Allah kepada manusia yang berdosa.<a href="#_ftn2" id="_ftnref2"><sup>[2]</sup></a></p>



<p>Karya besar John Calvin, <em>Institutes of the Christian Religion</em>, diawali dan dirangkum dalam sebuah kalimat: Hampir seluruh dari hikmat yang kita miliki, yaitu yang benar dan bijak, terdiri dari dua bagian: pengetahuan tentang Allah dan diri manusia.<a href="#_ftn3" id="_ftnref3"><sup>[3]</sup></a> Saat kita mengetahui siapa diri kita dan siapa diri Allah, maka kita akan memahami betapa dalam, luas, kuat, dan setia-Nya Allah dalam mengasihi kita menurut janji-Nya. Theologi perjanjian (<em>covenantal theology</em>) adalah dasar bagi spiritualitas orang Kristen, dasar yang menggerakan umat percaya untuk penginjilan, hidup berkomunitas dalam persekutuan, dasar bagi sistem pemerintahan gereja, dan lain sebagainya. Sebab intisari dari kehidupan theologi adalah doa, dan doa adalah ekspresi hubungan “Aku dan Engkau” dengan Allah.</p>



<p>Ketika kita mengucapkan janji nikah kepada pasangan hidup, janji itu tidak hanya berbunyi dengan kata-kata saja, tetapi masing-masing pribadi yang mengucapkan janji itu sedang mempertaruhkan nyawa hidupnya sendiri. “Dalam suka maupun duka, sehat maupun sakit, kaya maupun miskin, sampai maut memisahkan kita.” Janji seperti ini tidak mengandalkan perasaan, sebab perasaan dapat berubah, dia datang dan pergi seperti angin. Akan tetapi, ketika kasih sudah disentuh oleh kekekalan, kasih yang digerakkan sebagai sebuah hukum yang diperintah, “kamu harus mengasihi” (<em>you shall love</em>), dia tidak dapat diubah oleh apa pun (<em>Only when it is a duty to love, only then is love eternally secured against every change</em>).<a href="#_ftn4" id="_ftnref4"><sup>[4]</sup></a> Sehingga, makna kasih dalam kekristenan bukan hanya soal perasaan atau kecocokan, tetapi adalah sebuah janji dan tanggung jawab—termasuk ketika kasih itu sulit, ada kerelaan untuk menanggung derita demi mengasihi yang lain (<em>to willingly endure being hated as a reward for one’s love</em>).<a href="#_ftn5" id="_ftnref5"><sup>[5]</sup></a></p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Dari jauh TUHAN menampakkan diri kepadanya: Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal; sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu.” (Yer. 31:3)</p>



<p>“Lihat, Aku telah menggambar engkau pada telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku.” (Yes. 49:16)</p>
</blockquote>



<p>Kita bisa mengasihi sebagai rasa tanggung jawab kepada Tuhan dan gereja (sesama kita) karena Allah terlebih dahulu telah mengasihi kita (1Yoh. 4:19). Theologi perjanjian inilah yang menjadi jantung dan harta karun dalam tradisi Reformed. Bayangkan jika yang berkata seperti itu bukan manusia, melainkan Tuhan itu sendiri dan Ia sudah membuktikannya melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Dalam janji iman kepada Allah, kita bersatu dalam Kristus&nbsp; dan akan diubahkan untuk menjadi serupa dengan-Nya. Apabila kita sungguh-sungguh mengenal Allah yang mengasihi kita seperti demikian, dengan seluruh totalitas diri-Nya, maka kita juga akan mempunyai sikap yang serupa kepada sesama manusia. Bukan karena seseorang berasal dari suatu tradisi gereja, atau karena kita berasal dari strata sosial-ekonomi maupun lapisan kemasyarakatan, atau karena suku, agama, atau ras tertentu, bukan karena kita lebih rohani atau kurang rohani, melainkan semata-mata karena Allah telah mengasihi, dan kita berbagian dalam keluarga Allah menurut janji-Nya. Itulah yang menjadi jaminan dan dasar bagi kehidupan pribadi, cara berkomunitas, serta membangun gereja sebagai tubuh Kristus yang kudus dan am.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”</p>



<p>Roma 8:37-39</p>
</blockquote>



<p>Kevin Nobel Kurniawan<br>Pemuda GRII Pusat</p>



<p><strong>Referensi</strong></p>



<p>Calvin, John. 1559. <em>Institutes of the Christian Religion</em>. Christian Classics Ethereal Library.</p>



<p>Hildebrand, Pierrick. 2024. <em>The Zurich Origins of Reformed Covenant Theology</em>. Oxford University Press.</p>



<p>Kierkegaard, Soren. 1995. <em>Works of Love</em>. Princeton University Press.</p>



<p>Michael Reeves &amp; Tim Chester. 2016. <em>Why the Reformation Still Matters</em>. Crossway</p>



<p></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p><a href="#_ftnref1" id="_ftn1"><sup>[1]</sup></a> Hildebrand, Pierrick. 2024. <em>The Zurich Origins of Reformed Covenant Theology</em>. Oxford University Press.</p>



<p><a href="#_ftnref2" id="_ftn2"><sup>[2]</sup></a> Michael Reeves &amp; Tim Chester, <em>Why the Reformation Still Matters</em>, 60.</p>



<p><a href="#_ftnref3" id="_ftn3"><sup>[3]</sup></a> John Calvin, <em>Institutes of the Christian Religion</em>, 1.1.1.</p>



<p><a href="#_ftnref4" id="_ftn4"><sup>[4]</sup></a> Soren Kierkegaard, <em>Works of Love</em>, 29.</p>



<p><a href="#_ftnref5" id="_ftn5"><sup>[5]</sup></a> Soren Kierekgaard, <em>Works of Love</em>, 114.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">26769</post-id>	</item>
		<item>
		<title>JUMAT AGUNG: CARA ALLAH MENGATASI DOSA</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/renungan/jumat-agung-cara-allah-mengatasi-dosa</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[heryanto]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Apr 2026 10:24:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Besar]]></category>
		<category><![CDATA[JUmat Agung]]></category>
		<category><![CDATA[Pengampunan Dosa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=26657</guid>

					<description><![CDATA[Aku mengobati gatal di leherku dengan caraku sendiri selama 3 minggu tetapi tidak sembuh. Akhirnya aku pergi ke dokter, mengoleskan obat yang diresepkan dan segera sembuh. Begitu juga dengan dosa, ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/renungan/jumat-agung-cara-allah-mengatasi-dosa">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Aku mengobati gatal di leherku dengan caraku sendiri selama 3 minggu tetapi tidak sembuh. Akhirnya aku pergi ke dokter, mengoleskan obat yang diresepkan dan segera sembuh. Begitu juga dengan dosa, kita tidak bisa mengatasi dosa dengan cara kita, melainkan harus dengan cara Allah.</p>



<p>Perjanjian Lama mencatat cara Allah mengatasi dosa manusia. Orang yang berbuat dosa <em>harus</em> memberikan persembahan berupa seekor kambing betina yang tidak bercela, artinya yang baik, tidak boleh yang sakit atau ada cacatnya. Ia <em>harus</em> meletakkan tangannya di atas kepala kambing itu dan menyembelihnya di tempat korban bakaran. Imam <em>harus</em> mengambil dengan jarinya sedikit dari darah korban itu lalu membubuhkannya pada tanduk-tanduk di mezbah yang ada di dalam Kemah Suci. Semua darahnya <em>harus</em> dicurahkan di bagian bawah mezbah. Lemaknya <em>harus</em> dipisahkan dan <em>harus</em> dibakar di atas mezbah menjadi bau yang menyenangkan bagi Allah. Dengan demikian imam mengadakan pendamaian bagi orang itu sehingga ia menerima pengampunan (Im. 4:28-31). Jika yang berdosa adalah imam, maka korbannya adalah seekor lembu jantan muda. Jika yang berdosa adalah pemuka, maka korbannya adalah seekor kambing jantan. Perbuatan baik, standar moral yang tinggi, bahkan perbuatan asketis tidak bisa mengatasi dosa. Semuanya itu seperti kain lap yang kotor di mata Allah.</p>



<p>Korban binatang dan imam dalam Perjanjian Lama adalah gambaran dan bayangan sampai yang sesungguhnya tiba. Perjanjian Baru mencatat bahwa Tuhan Yesus mati di kayu salib sebagai korban yang sempurna. Ia bangkit dan kembali ke sorga sebagai Imam Besar yang mempersembahkan darah-Nya sendiri satu kali untuk selamanya. Tuhan Yesus mengadakan pendamaian bagi orang berdosa yang percaya kepada-Nya sehingga ia menerima pengampunan.</p>



<p>Rasul Paulus mengatakan,</p>



<p>”Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Rm. 12:1-2).</p>



<p>Karena Allah sudah begitu baik kepada kita, orang berdosa, kini sudah sepantasnya kita hidup kudus dan melakukan apa yang baik dan berkenan kepada Allah. Kita <em>harus</em> berubah dalam cara kita berpikir—mematikan keinginan daging (perselisihan, iri hati, amarah, <em>self-centeredness</em>) dan menuruti keinginan Roh (kasih, sukacita, sabar, <em>self-control</em>). Kita <em>harus</em> berhenti menggunakan waktu, kesehatan, potensi, uang untuk hal-hal yang sementara (<em>things you must do before you die</em>) dan mulai menggunakannya untuk hal-hal yang bernilai kekal (<em>things you must do before you meet God</em>). Kita <em>harus</em> lebih sungguh-sungguh membaca Alkitab, menghafalkan ayat-ayat Alkitab, berdoa, bersekutu dengan orang percaya lain, memuji dan melayani Tuhan, menginjili, dan mengasihi sesama. Setiap waktu dan di mana saja, kita hidup di hadapan Tuhan dan bagi Tuhan. Pada siang hari atau malam, ketika kita bicara, makan, nonton; ketika kita berada di rumah, sekolah/tempat kerja, gereja; kita <em>harus</em> menjadi makin serupa dengan Kristus dalam semua perbuatan dan perkataan kita.</p>



<p>Yana Valentina</p>



<p>Jemaat GRII Pusat</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">26657</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Filsafat Pendidikan Kristen</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/3p/filsafat-pendidikan-kristen</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[heryanto]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Mar 2026 09:48:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[3P]]></category>
		<category><![CDATA[Filsafat Pendidikan Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[kerajaan allah]]></category>
		<category><![CDATA[mandat budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Teologi Reformed]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=26342</guid>

					<description><![CDATA[Konsekuensi dari kita memandang secara serius kehidupan kita di sini dan sekarang sebagai suatu penugasan yang sungguh-sungguh berarti dari Tuhan adalah beranak-cucu, menyebar ke segala penjuru dunia, dan memimpin segenap ciptaan itu dengan bertanggung jawab. Ini mencakup hubungan seks dalam suatu ikatan kovenan di hadapan Allah Tritunggal dan jemaat-Nya (pernikahan kudus), melahirkan anak-anak dan merawat mereka, mendidik mereka di dalam ajaran, perintah, dan perjanjian Tuhan, merawat koloni-koloni kita di bumi, serta merawat bumi ini sendiri.

Dengan demikian salah satu mata rantai yang amat penting di dalam melakukan tugas kita sebagai manusia di hadapan Tuhan adalah pendidikan anak-anak. Tugas sebagai umat TUHAN untuk mendidik anak-anak ‘di dalam ajaran dan perintah Tuhan’ ini berpotongan dengan apa yang juga sering kali mendapatkan prioritas paling tinggi di dalam masyarakat secara umum, yakni: sekolah.

Lalu apa itu “pendidikan Kristen”? Apakah yang menjadikan suatu upaya pendidikan dapat disebut sebagai pendidikan kristiani? Dan apa hal-hal pokok dari sebuah “filsafat pendidikan kristiani”?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Tulisan ini dibuat dalam rangka menyambut 10 tahun berdirinya Sekolah Kristen Calvin. Apa yang akan Anda baca adalah upaya saya untuk menjelaskan apakah ‘filsafat’ dari “pendidikan Kristen” itu. Penjelasan tersebut terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama menjelaskan apa yang dimaksudkan dengan filsafat dan mengapakah kita perlu berpikir filosofis. Bagian kedua membahas apa itu “pendidikan Kristen”. Apakah yang menjadikan suatu upaya pendidikan dapat disebut sebagai pendidikan kristiani? Pada bagian ketiga saya akan berupaya untuk menggariskan hal-hal pokok dari sebuah “filsafat pendidikan kristiani”.</p>



<p><strong>Filsafat (dan mengapa kita memerlukannya)</strong></p>



<p>Filsafat, jika dipandang sebagai suatu aktivitas berpikir, adalah suatu aktivitas berpikir yang rasional-konseptual, sistematis, menyeluruh, mendasar (radikal), dan kritis. Tidak semua aktivitas berpikir dapat disebut rasional-konseptual. Misalnya jika kita sedang menimbang-nimbang apakah siang ini mau makan mi bakso atau bihun bebek, biasanya aktivitas berpikir itu tidaklah terlalu rasional-konseptual. Aktivitas berpikir macam begini lebih afeksional-konkret, bahkan jika kita tergolong jenis manusia yang cenderung rasional. Anda mulai berpikir tentang makan barangkali karena Anda mulai lapar, dan jika Anda ingin makan bihun bebek barangkali penyebabnya adalah karena mi bakso terakhir yang Anda makan mengandung buntut cecak dan Anda sudah bosan dengan nasi goreng belacan. Kemungkinan besar Anda tidak membuka-buka kamus filsafat untuk memutuskan akan makan yang mana nanti siang, bukan? Bukan hanya rasional-konseptual, ketika kita berfilsafat, kita coba menjawab pertanyaan-pertanyaan paling mendasar mengenai segala sesuatu di bawah kolong langit ini, baik mengenai hal-hal yang kelihatan maupun tidak, hal-hal di luar diri kita maupun di dalam diri, hal-hal mengenai benda-benda maupun manusia, hal-hal yang mulia dan yang remeh. Pendek kata: segala sesuatu. Tidak ada yang tidak dipertanyakan di dalam aktivitas berfilsafat, seperti dikatakan dengan indah oleh Richard Feynman, “<em>I</em> <em>would rather have questions that can&#8217;t be answered than answers that can&#8217;t be questioned.</em>”</p>



<p>Prinsip bahwa segala sesuatunya harus dipertanyakan dan diuji itu sendiri tentu saja juga tidak lolos dari pengujian. Tanyakan kepada Socrates dan Descartes, Immanuel Kant dan Martin Heidegger, mengapakah segala sesuatu harus dipertanyakan. Bertanya seperti ini adalah mempertanyakan alasan mengapa kita berfilsafat. Seorang filsuf yang konsisten tidak akan membungkam pertanyaan semacam ini. Barangkali seperti seorang teolog yang konsisten, Agustinus dari Hippo misalnya, juga tidak membungkam pertanyaan semacam, “Apakah yang Tuhan lakukan sebelum Ia menciptakan dunia ini?” dengan jawaban tidak bermutu yang menghindari kesulitan pertanyaan itu tanpa sungguh-sungguh berusaha menjawab pertanyaannya, seperti yang dilakukan beberapa orang, “Tuhan menciptakan neraka bagi orang-orang yang bertanya apakah yang Dia kerjakan sebelum menciptakan dunia ini.” Jawaban atas pertanyaan mengapakah kita perlu mempertanyakan segala sesuatu, atau dengan kata lain apakah gunanya aktivitas berfilsafat ini, saya kira, ada setidaknya dua poin: pertama karena, tidak seperti ikan, badak, dan anjing, manusia secara alamiah merefleksikan eksistensinya sendiri—setidaknya pada beberapa fase dalam kehidupannya—baik hal ini dianggap baik ataupun tidak. Jadi berfilsafat itu seperti bernapas, berbicara, makan, minum, dan buang air besar maupun kecil. Anda akan toh melakukannya. Kedua, memang ada alasan yang baik untuk melakukan aktivitas berfilsafat ini, yakni untuk mendapatkan alasan rasional yang kuat dalam menghadapi beratnya kehidupan. Nietzsche mengatakan bahwa orang yang mengetahui untuk apa ia hidup, akan lebih kuat untuk bertahan hidup bagaimanapun keadaan hidupnya. Karena kehidupan ini pada umumnya berat dan berisi banyak penderitaan, maka filsafat itu diperlukan untuk memperlengkapi anak-anak manusia menghadapinya dengan lebih tabah dan berani. Di atas dua poin ini saya akan menambahkan mengapakah kita sebagai orang-orang Kristen, yakni mereka yang percaya bahwa pemerintahan Tuhan telah tiba di bumi, di dalam kedatangan, kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus dari Nazaret, perlu juga untuk berfilsafat.</p>



<p>Pada masa-masa awal perjumpaan orang-orang Kristen dengan filsafat, aktivitas filosofis dilakukan untuk tujuan apologetis. Para Bapa Gereja seperti Justin Martyr, Irenaeus, dan Agustinus—seperti juga para pendahulu mereka seperti Polycarpus, Yohanes, dan Paulus Tarsus—melakukan aktivitas filosofis sebagai bagian dari kegiatan mengabarkan Injil dan menjelaskan bagaimana Injil tidak bertentangan dengan rasionalitas, kebudayaan Yunani, dan orang-orang Kristen juga tidak berniat mendongkel pemerintahan Romawi lewat revolusi. Sepanjang dua ribu tahun sejarah kekristenan, perjumpaan iman Kristen dengan filsafat, yang lahir dari rahim kebudayaan Yunani, telah melewati tahapan-tahapan perkembangan yang panjang sehingga mencapai kematangan filsafat Kristen yang dapat kita jumpai dewasa ini baik di dalam tradisi Protestan (Kierkegaard, Vollenhoven, Dooyeweerd, dan Plantinga) maupun Katolik (Jacques Maritain, Bruno Latour, dan William Desmond). Tentu saja sebuah filsafat tidak disebut filsafat Kristen karena orang yang menghasilkannya “kebetulan” adalah Kristen, sama seperti sepiring nasi goreng tidak tentu adalah “nasi goreng Jawa” hanya karena koki yang membuatnya adalah orang Jawa! Sebuah filsafat dapat “menjadi Kristen,” menurut hemat saya, karena ia memiliki ciri khas yang dimiliki oleh pengharapan kristiani (yaitu Kerajaan Allah, yang adalah pengharapan Israel, telah digenapi oleh Yesus Nazaret) dan dimungkinkan oleh pengharapan yang diterima melalui iman tersebut. Jadi filsafat Kristen dihasilkan oleh aktivitas rasional-konseptual yang terus-menerus secara kritis mempertanyakan segala sesuatu guna mencapai pemahaman yang menyeluruh, mendasar, dan relevan kepada realitas sebagaimana dimungkinkan oleh datangnya Kerajaan Allah di dalam peristiwa-peristiwa di seputar kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus dari Nazaret.</p>



<p>Tujuan filsafat Kristen ini jelas melampaui kegunaan-kegunaan apologetis yang pada mulanya menjadi alasan mengapa orang-orang Kristen berinteraksi dengan filsafat Yunani Kuno. Tujuan orang-orang Kristen mengembangkan filsafat yang kristiani adalah karena aktivitas berfilsafat itu adalah bagian tak terpisahkan dari kemanusiaan dan panggilan kita sebagai manusia; dan sekarang di dalam era datangnya Kerajaan Allah, kita umat Yesus Kristus memiliki apa yang tidak dimiliki mereka yang tidak percaya. Pengharapan kristiani yang kita miliki itu membuat kita dapat melihat lebih banyak dan lebih mendalam kepada kehidupan yang diciptakan Tuhan ini, sehingga tugas dari para filsuf Kristen adalah mempergunakan <em>insight-insight </em>yang baru itu untuk memformulasikan filsafat dan menjawab pertanyaan-pertanyaan <em>perennial </em>khas filsafat, seperti: Mengapakah semua ini ada? Siapakah manusia? Apakah itu kebenaran? Dapatkah kita mengetahui kebenaran? Apakah hidup yang baik itu? Apakah keindahan itu? Apakah realitas itu? Apakah itu keadilan? Ini akan menjadi sumbangsih kita orang-orang percaya kepada peradaban dunia ini. Sekarang kita akan meninjau dahulu apakah yang dimaksudkan dengan ‘pendidikan Kristen’ sebelum kita memikirkan mengenai “filsafat pendidikan yang kristiani”.</p>



<p><strong>Pendidikan Kristen (dan apakah hubungannya dengan makna hidup)</strong></p>



<p>Manusia tidak memiliki umur yang cukup panjang untuk dapat memahami sendiri dari nol apa yang kelihatannya secara alamiah ingin kita pahami dalam-dalam lewat perenungan yang panjang, yakni makna kehidupan itu sendiri. Kelebihan manusia dari hewan, selain bahwa ia memiliki kesadaran eksistensial (kesadaran kita bahwa kita ada, yakni kesadaran yang reflektif) adalah bahwa manusia memiliki kemampuan untuk meneruskan apa yang pernah disadari dan dipahaminya kepada keturunannya secara berkesinambungan.</p>



<p>Sampai hari ini kita tidak melihat secara jelas apakah hewan-hewan meneruskan apa yang satu generasi pernah pahami tentang kehidupan kepada generasi berikutnya. Itu sebabnya burung-burung membangun sarang yang secara desain begitu-begitu saja selama ribuan, bahkan puluhan ribu tahun ini, sedangkan manusia membangun rumahnya secara sangat berbeda: ada sejarah perkembangan kebudayaan, sains, dan teknologi. Penerusan pencapaian-pencapaian manusia dalam peradaban kepada generasi berikutnya inilah yang menjadi jantung dari pendidikan. Melakukan riset, menulis buku, menghasilkan karya seni, melakukan kodifikasi undang-undang dan aturan hukum, menghasilkan produk ekonomis, dan mengembangkan bahasa adalah sesuatu yang tak selesai dalam satu generasi. Saya kira, inilah yang ingin disampaikan orang-orang yang menulis dan meneruskan kisah penciptaan dalam Kitab Kejadian sampai kepada generasi kita. Tuhan yang menciptakan langit dan bumi pada klimaks penciptaan membuat manusia dari debu tanah, mengembusinya dengan Roh-Nya sendiri yang menghidupkan, lalu mengutusnya sebagai penatalayan dan pemerintah ciptaan. Bagaimanakah Tuhan ingin kita manusia memerintah, mengembangkan, dan melestarikan ciptaan ini? Penulis Kitab Kejadian mengatakan bahwa Tuhan memerintahkan manusia demikian: <em>&#8220;Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.&#8221; </em>Ada tiga perintah yang saling berkaitan diberikan Allah kepada umat manusia untuk mereka kerjakan dengan setia seumur hidupnya: 1) bertambah banyak, 2) memenuhi bumi, 3) menaklukkan ciptaan. Ketiga poin ini sering kali disalahpahami sehingga orang-orang Kristen dituduh telah meletakkan dasar-dasar bagi kerusakan lingkungan.</p>



<p>Lynn Townsend White, Jr., seorang profesor sejarah Abad Pertengahan yang mengajar di Princeton dan Stanford, anak dari seorang profesor Calvinis, dalam sebuah kuliah yang ia berikan pada forum AAAS di tahun 1966 yang bertajuk “<em>The Historical Roots of Our Ecologic Crisis” </em>mengatakan bahwa akar dari krisis ekologis yang kita hadapi dapat ditemukan pada tafsiran Abad Pertengahan atas Kejadian 1:28 tersebut. Menurut White, para teolog Abad Pertengahan menegaskan dua poin sehubungan dengan pemahaman tentang manusia dan relasinya dengan lingkungan hidup: 1) Manusia dipanggil untuk ‘menguasai’ alam, 2) Manusia lebih tinggi daripada makhluk-makhluk ciptaan yang lain (barangkali karena kita memiliki jiwa).</p>



<p>Di dalam hipotesis yang diajukan White, kedua poin di atas membuat manusia bersikap merendahkan alam lingkungannya, dan sikap itu selanjutnya membuat orang modern yang telah memiliki kekuatan yang jauh lebih besar berkat kemajuan sains dan teknologi bersikap sembrono terhadap lingkungan hidup dan akhirnya membawa kita kepada krisis ekologis dewasa ini. Pada akhir paparannya, White mengusulkan agar kita menganut sikap yang lebih ‘demokratis’ dalam berelasi dengan alam dan meneladani sikap dari Santo Fransiskus dari Assisi yang ‘menghormati segala makhluk hidup’ dan membatasi dominasi manusia atas alam. Sudah banyak tulisan dibuat untuk merespons kuliah Lynn White ini, termasuk apakah kita memang dapat menemukan sikap seperti yang dikatakan White ini pada Fransiskus Assisi. Saya tidak hendak mengulangi kembali apa yang dapat Anda baca sendiri dalam interaksi White dengan para pengkritiknya. Yang hendak saya katakan hanyalah bahwa Kejadian 1:28 ini justru hendak menggambarkan tanggung jawab kita yang begitu indah sebagai wakil Tuhan dalam dunia ini. Kisah penciptaan dalam Kitab Kejadian itu tidak menggambarkan alam ciptaan sebagai suatu tanah liar tak bertuan sehingga manusia dapat pergi untuk “menaklukkan” dan “menjinakkan”-nya—barangkali seperti yang dipahami bangsa Eropa yang pergi ke tanah Amerika untuk ‘menaklukkan’ negeri itu dan membuatnya menjadi ‘berbudaya’ dan ‘beradab’. Kitab Kejadian hendak menggambarkan alam ciptaan sebagai suatu kediaman bagi Tuhan Sang Pencipta dengan manusia sebagai yang memerintah bersama Allah, bukan sebagai penjajah dan tuan yang bengis atas alam itu, melainkan sebagai tuan yang baik dan bijaksana untuk membuat segenap ciptaan itu boleh berkembang secara lestari sehingga kehidupan di dalamnya menjadi makin penuh. Jika ada yang dapat diambil dari kuliah White tersebut saya kira adalah kita harus mawas diri terhadap <em>antroposentrisme </em>dalam melihat relasi kita dengan bumi. Bumi dan segala isinya adalah milik Allah yang diserahkan kepada kita bukan untuk dieksploitasi demi sebesar-besarnya kesenangan dan ambisi berdosa kita, melainkan untuk dikelola bagi kemuliaan Allah—yang berarti adalah kepenuhan kehidupan bagi segenap makhluk itu sendiri. Bumi ada bagi manusia, betul, tetapi manusia juga ada bagi bumi. Manusia adalah <em>manager </em>yang diangkat Tuhan untuk mengelola bumi, dan pada akhirnya keduanya ada bagi Tuhan.</p>



<p>Barangkali Anda sekarang mulai bertanya-tanya untuk apakah kita membahas secara panjang lebar nas Kejadian 1:28 ini. Tafsiran yang Anda baca di atas itu adalah posisi dari para pemikir Calvinis (seperti nama sekolah kita!) yang mengikuti John Calvin (1509-64) dalam melihat alam semesta ini bukan sebagai sesuatu yang hanya ‘ruang tunggu’ sebelum masuk ‘surga’ di mana orang-orang suci yang telah ditebus dalam eksistensi tanpa tubuh akan mengenakan jubah putih (entah bagaimana mereka melakukannya) dan bermain harpa dalam acara kebaktian yang akan berlangsung untuk selama-lamanya. Calvin melihat alam semesta material ini sebagai ciptaan Tuhan yang memiliki arti begitu penting, sedemikian bahkan ia menyebutnya sebagai ‘jubah Tuhan’ yang memancarkan kemuliaan-Nya. Tuhan menciptakan kita untuk mengembangkan dan merawat ciptaan ini, dan itu bukan hanya suatu ‘masa pengujian’ sebelum kita masuk kepada suatu keadaan yang sama sekali tidak ada kontinuitas dan relevansinya dengan moda kehidupan yang ‘sementara ini’ di bumi.</p>



<p>Apakah konsekuensi dari kita memandang secara serius kehidupan kita di sini dan sekarang sebagai suatu penugasan yang sungguh-sungguh berarti dari Tuhan? Konsekuensinya adalah beranak-cucu, menyebar ke segala penjuru dunia (panggilan untuk melakukan ‘kolonialisasi’—yakni membuat ‘koloni-koloni kehidupan’ di lima benua), dan memimpin segenap ciptaan itu dengan bertanggung jawab adalah sesuatu yang kita percaya merupakan tugas utama kita dalam kehidupan ini. Ini berarti melakukan hubungan seks dalam suatu ikatan kovenan di hadapan Allah Tritunggal dan jemaat-Nya (pernikahan kudus), melahirkan anak-anak dan merawat mereka, mendidik mereka di dalam ajaran, perintah, dan perjanjian Tuhan, merawat koloni-koloni kita di bumi, serta merawat bumi ini sendiri, adalah alasan mengapa kita ‘ada, hidup, dan bergerak di dalam Tuhan’. Yesus tidak mengajarkan kita berdoa agar Tuhan mengangkat kita dari bumi dan terbang ke surga. Tuhan kita itu mengajarkan kita agar berdoa demikian: “Bapa kami yang di sorga &#8230; datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga” (Mat. 6:9-10). Dengan demikian salah satu mata rantai yang amat penting di dalam melakukan tugas kita sebagai manusia di hadapan Tuhan itu adalah ini: pendidikan anak-anak. Tugas sebagai umat TUHAN untuk mendidik anak-anak ‘di dalam ajaran dan perintah Tuhan’ ini berpotongan (dan tidak berpotongan, dan juga berseberangan!) dengan apa yang juga sering kali mendapatkan prioritas paling tinggi di dalam masyarakat secara umum, yakni: sekolah. Sekarang kita siap untuk masuk ke dalam pembahasan mengenai filsafat pendidikan yang kristiani.</p>



<p><strong>Filsafat Pendidikan Kristen</strong></p>



<p>Filsafat pendidikan yang kristiani dapat diartikan sebagai prinsip-prinsip dasar dari pendidikan yang “khas Kristen” atau “dimotivasi” oleh sumber-sumber atau penggerak-penggerak Kristen. Seperti kita lihat di atas, motivasi orang-orang yang percaya kepada datangnya Kerajaan Allah untuk mendidik anak-anak mereka (atau anak-anak orang lain yang dipercayakan kepada mereka) adalah karena mereka melihat aktivitas pendidikan anak-anak itu sebagai tugas yang tidak terpisahkan dari “memenuhi” dan “memimpin” dunia ini secara bertanggung jawab dengan kepenuhan kehidupan, keadilan, kelimpahan, kegembiraan, keindahan, dan segala yang baik, yang senantiasa mengelilingi Tuhan Sang Pencipta.</p>



<p>Kehendak Tuhan ketika Ia menciptakan dunia ini adalah untuk menjadikannya rumah, kediaman, bagi diri-Nya bersama dengan kita, bersama dengan segenap makhluk ciptaan. Inilah sebabnya ketika umat Israel hendak masuk ke tanah Kanaan, Tuhan memerintahkan kepada mereka melalui Musa untuk <em>“&#8230; mengajarkannya kepada anak-anakmu dengan membicarakannya, apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun; engkau harus menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu &#8230;” </em>(Ul. 11:19-20). Perintah yang diberikan kepada sekumpulan budak yang empat puluh tahun sebelumnya dibebaskan dari cengkeraman Mesir ini berkaitan erat dengan misi utama mereka, yaitu untuk menjadi permulaan yang baru bagi segenap ciptaan. Umat manusia yang telah memberontak kepada pemerintahan Tuhan dan menyeret segenap makhluk kepada “kesia-siaan” dan “penderitaan” (Rm. 8:18-30) ini diberikan kesempatan lagi untuk kembali memimpin segenap makhluk untuk menghadirkan Eden, kediaman Tuhan di bumi di mana Tuhan dan umat-Nya memerintah ciptaan ke dalam kehidupan yang penuh (walaupun kemudian hari, di dalam kitab para nabi kita membaca, umat Israel benar-benar gagal dalam menghidupi pesan Musa ini sehingga mereka dibuang ke Babel).</p>



<p><br>Jadi bagaimanakah filsafat pendidikan yang Kristen itu? Saya kira walaupun Alkitab memang tidak mendedikasikan satu bab yang secara sistematis dan eksplisit menggariskan <em>blueprint </em>atau <em>masterplan </em>bagi “filsafat pendidikan Kristen” (jika demikian Anda dapat langsung membacanya di dalam Alkitab saja, tidak perlu membaca tulisan ini), tetapi ada beberapa tempat di dalam Alkitab yang dapat kita jadikan sumber bagi praktik pendidikan Kristen, khususnya dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mendasar bagi pendidikan manusia (baik pendidikan anak-anak maupun dewasa, Kristen maupun bukan, pendidikan formal maupun non-formal, pendidikan watak maupun akademis), yakni: siapakah manusia itu, apakah panggilan kita, apakah yang paling utama untuk diperjuangkan dalam hidup kita, apakah kejahatan itu dan dari manakah ia, apakah pengharapan kita, bagaimanakah kita mengetahui kebenaran, dan seterusnya. Alkitab menyediakan orientasi mendasar bagi pertanyaan-pertanyaan abadi yang mendasar ini—dari sanalah kita menggariskan filsafat pendidikan Kristen. Dan akhirnya, tentu saja filsafat pendidikan kristiani, seperti juga segala macam filsafat, tidak pernah berkesudahan—ia haruslah selalu mempertanyakan dirinya sendiri, tidak pernah <em>settle </em>dengan suatu skema besar yang statis, seberapa pun megah dan konsisten skema itu. Ada dua penyebab: karena kita ini makhluk ciptaan, dan sebagai ciptaan kita ini terbatas adanya—dan keterbatasan itu baik, sebab Tuhan menghendakinya demikian. Kedua, proyek besar datangnya Kerajaan Tuhan, yang telah dimulai di dalam Kristus, belumlah sampai kepada kesudahannya, maka pengetahuan kita mengenai apa pun juga, termasuk mengenai bagaimanakah seharusnya mendidik anak-anak kita juga belum usai.</p>



<p>Pdt. Jadi S. Lima</p>



<p>Dosen STT Reformed Injili Internasional</p>



<p><em>*Tulisan ini berasal dari dari buku HUT SKC tahun 2018</em></p>



<p></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">26342</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Yesus di Antara Para Pemimpin</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/isu-terkini/yesus-di-antara-para-pemimpin</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[michaelleang]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Mar 2026 12:39:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Isu Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Geopolitik]]></category>
		<category><![CDATA[jalan salib]]></category>
		<category><![CDATA[Konflik]]></category>
		<category><![CDATA[Mesias]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpin]]></category>
		<category><![CDATA[yesus]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=26308</guid>

					<description><![CDATA[Di tengah panasnya konflik AS-Israel dengan Iran, yang menyebabkan selat Hormuz ditutup dan naiknya harga BBM di seluruh dunia, Benjamin Netanyahu mengutip seorang ateis ternama, Will Durant, dalam melakukan sebuah ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/isu-terkini/yesus-di-antara-para-pemimpin">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Di tengah panasnya konflik AS-Israel dengan Iran, yang menyebabkan selat Hormuz ditutup dan naiknya harga BBM di seluruh dunia, Benjamin Netanyahu mengutip seorang ateis ternama, Will Durant, dalam melakukan sebuah komparasi antara Yesus dengan Genghis Khan. Netanyahu memandang bahwa seorang manusia asal Nazaret atau “kota Arab” di tengah Israel yang bernama Yesus adalah manusia yang tidak memiliki kekuatan untuk mengubah dunia &#8211; apabila Yesus dibandingkan dengan pemimpin raksasa bernama Genghis Khan.</p>



<p>Apabila kita mempelajari situasi perang saat ini, tampaknya baik Trump maupun Netanyahu sudah berada pada masa akhir kepemimpinan mereka. Setelah mereka, belum tentu ada presiden Amerika atau perdana menteri Israel berikutnya yang mampu mengambil langkah untuk melakukan serangan ke negeri musuh itu. Iran harus dilemahkan sebagai suatu negara yang mempunyai potensi membangun senjata nuklir yang setara dengan negara-negara pemegang nuklir lainnya (Amerika, Israel, Rusia, Tiongkok, dll). Tidak hanya itu, minyak yang menjadi sumber daya alam utama seluruh dunia dan selat Hormuz yang mengatur 20% dari lalu lintas minyak perlu dikuasai agar monopoli negara adidaya terhadap negara saingan dapat dilakukan.&nbsp;</p>



<p>“Anda tahu, jika orang ingin bersikap naif sehingga tidak melihat seperti apa dunia yang kita tinggali sekarang ini, maka tidak cukup hanya menjadi bermoral. Tidak cukup hanya menjadi adil, tidak cukup hanya menjadi benar.</p>



<p>Anda tahu, salah satu penulis terbesar abad ke-20, seseorang yang sangat saya kagumi, adalah sejarawan Will Durant. Ia menulis banyak jilid buku, dan saya membaca sebagian besar darinya. Ia juga menulis <em>The Lessons of History</em>, sebuah buku yang sangat ringkas, sekitar 100 halaman, di mana ia mengatakan bahwa sejarah membuktikan sayangnya dan dengan tidak menyenangkan bahwa <strong>Yesus Kristus tidak memiliki keunggulan atas Genghis Khan, karena jika seseorang cukup kuat, cukup kejam, cukup berkuasa, maka kejahatan akan mengalahkan kebaikan; agresi akan mengalahkan moderasi.</strong></p>



<p>Jadi, jika Anda melihat dunia sebagaimana adanya saat ini, Anda harus buta untuk tidak melihat bahwa negara-negara demokrasi yang dipimpin oleh Amerika Serikat harus menegaskan kembali kehendak mereka untuk membela diri dan melawan musuh-musuh mereka tepat waktu selagi masih ada waktu sebelum dentang keras bahaya membangunkan mereka, dan membangunkan mereka terlambat. Inilah posisi kita sekarang.</p>



<p>Fakta bahwa banyak orang tidak melihat hal itu, bahwa banyak media berita terus menyoroti berbagai berita palsu, tetapi juga banyak berpikir secara sempit, dan tidak melihat periode sejarah serta pergumulan historis yang sedang kita jalani saat ini, tidak meniadakan kebenaran-kebenaran ini. Kita harus kuat. Kita harus bersenjata. Kita harus lebih kuat daripada para “barbar”, atau mereka tidak hanya akan berada di gerbang mereka akan menerobos gerbang kita dan menghancurkan masyarakat kita.</p>



<p>Itulah yang sedang dilakukan Israel sekarang bersama Amerika Serikat.”</p>



<p>Ketika Netanyahu mengutip Will Durant untuk menunjukkan bahwa sosok moral seperti Yesus yang tidak memiliki pengaruh dominan seperti Genghis Khan, besar kemungkinan kutipan tersebut ditujukan untuk membenarkan kebijakan negara Israel untuk menguatkan dominasi di Timur Tengah. Ada yang mengatakan hal itu sebagai <em>Pax </em><em>Judaica</em> yang menunjukkan intensi dari Netanyahu untuk mengambil posisi-posisi strategis di Timur Tengah. Untuk itu, agresi militer sebagai bentuk kekuasaan perlu diterapkan. Tanpa adanya agresi militer, maka tidak ada jalan untuk membasmi “kaum Amalek” itu. Jika bukan kelompok “kami” yang menyerang terlebih dahulu, nantinya “mereka” yang akan menyerang dan menghabisi kami. Bagi Netanyahu, kekuatan, kekejaman, kekuasaan, dan kejahatan adalah unsur-unsur penting untuk membangun kerajaan manusia. Kejahatan akan mengalahkan kebaikan. Dengan demikian, Netanyahu memakai analisis historis dari Will Durant untuk menunjukkan bahwa jalan diplomasi maupun dialog lintas bangsa adalah suatu hal yang bodoh. Dalam analisis seperti ini juga, sebagai orang Kristen, apa yang dikatakan oleh Netanyahu adalah “jalan salib yang ditempuh oleh Yesus adalah suatu hal yang hina”</p>



<p>Dalam analisis seperti ini, penulis bukan membenarkan apa yang dilakukan oleh lawan politik Trump dan Netanyahu, yaitu rezim dari pemerintahan Iran yang melakukan opresi terhadap warganya sendiri dan turut berkontribusi dalam membangun jejaring terorisme secara global. Memilih salah satu dari penguasa yang melakukan kekerasan tetap berkontribusi terhadap kekerasan yang ditimbulkan dalam dunia.</p>



<p>Apabila kekuasaan menjadi suatu tolak ukur untuk menegakkan “perdamaian dan keamanan”, maka konsekuensi logisnya adalah tokoh-tokoh penguasa lainnya dapat dipandang sebagai “yang baik”. Jangan lupa, kejahatan dan kekerasan bermula dengan suatu motivasi yang “baik”. Bila kita mau konsisten dengan pernyataan Netanyahu, maka apa yang dilakukan oleh penguasa lainnya seperti fNapoleon dan Hitler, Stalin dan Mao Zedong &#8211; turut dapat dibenarkan. Bagi para penguasa dunia, logika yang dipegang adalah <em>the end justifies the means</em> (tujuan akhir membenarkan sarana), termasuk sarana yang paling terburuk sekalipun. Akan tetapi, pernyataan tersebut tidaklah benar. <em>The means will always determine the end</em> (sarana akan selalu menentukan tujuan akhir). Apabila sarana yang dipakai salah, maka tujuannya juga pasti salah.</p>



<p>Mengapa Yesus tidak dapat dibandingkan dengan Genghis Khan? Mengapa kekristenan tidak dapat disamakan dengan kekaisaran kristen (Kristendom)?</p>



<p>Dalam tulisan Dostoevsky, <em>The Grand Inquisitor</em>, bab tersebut bergulat dengan pertanyaan tersebut. Mengapa Tuhan kita mengambil jalan salib dan bukan jalan pedang? Dostoevsky menggambarkan kedatangan Yesus kedua kali ke dunia. Namun, bukan sebagai Mesias yang mahatinggi, tetapi sekali lagi sebagai manusia yang rendah. Yesus ditangkap dan diinterogasi, dan berbagai pertanyaan yang muncul dalam interogasi itu berbunyi seperti demikian: “Kalau Engkau adalah Anak Allah, mengapa Engkau tidak mengubah batu menjadi roti agar menghilangkan kemiskinan dan penderitaan? Mengapa tidak lompat dari Bait Allah agar semua orang langsung mengenal Engkau?</p>



<p>Mengapa Engkau tidak menerima seluruh kerajaan yang ditawarkan kepada-Mu? Bukankah dengan kekuasaan absolut, Engkau akan membuat dunia berada di bawah kaki-Mu dan dunia tidak perlu jatuh dalam peperangan? Segala masalah di dunia ini terjadi sebab Engkau tidak mengiyakan tawaran yang diberikan kepada-Mu pada saat Engkau dicobai di padang gurun. Dan lihat, Engkau harus mati sebagai manusia fana dan hina, dan dunia tetap tidak menerima-Mu sebagai Tuhan dan Juruselamat”</p>



<p>Pada akhirnya, Dostoevsky mengambil suatu kesimpulan: Jika Yesus datang kembali ke dunia dan gereja, Dia tetap akan disalibkan.</p>



<p>Dalam kekristenan, jalan salib adalah suatu kebodohan yang tidak masuk akal bagi dunia. Bagaimana mungkin peperangan di Timur Tengah dapat diselesaikan dengan pengorbanan seorang manusia asal Nazaret yang mati di Golgota 2000 tahun yang lalu? Bukankah peperangan saat ini justru untuk mendatangkan kembalinya Yesus kedua kali dengan lebih cepat &#8211; kalau perlu kitalah yang menentukan kedatangan Yesus. Semakin banyak darah yang ditumpahkan, semakin banyak kekejaman, kekuasaan, dan kejahatan yang diperbuat &#8211; bukankah itu justru akan membawa Sang Mesias untuk menunjukkan bahwa Yesus akan datang untuk membawa kemenangan dan membela mereka yang mendukung peperangan ini?</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>Pada akhirnya, Dostoevsky mengambil suatu kesimpulan: Jika Yesus datang kembali ke dunia dan gereja, Dia tetap akan disalibkan.</p>
</blockquote>



<p>Kapankah Tuhan akan mengembalikan kerajaan Israel yang dinanti-nantikan oleh kelompok yang menantikan mesias dan Kristendom itu?</p>



<p>Apabila Yesus menjawab “ya” kepada tawaran iblis, kita bisa saja hidup di dunia tanpa peperangan maupun persekusi, dunia akan terlihat seperti sebuah utopia di mana semuanya akan damai-damai saja. Bahkan, Yesus seperti demikian akan mempunyai kekuasaan yang lebih besar daripada Genghis Khan yang menguasai wilayah dari Jepang sampai Eropa, Iskandar Agung, Darius Agung, Napoleon dan Hitler. Akan tetapi, “yesus” seperti ini bila disandingkan dengan manusia-manusia penguasa itu, Dia bukan lagi Juruselamat, melainkan Juru-penguasa. Apakah kita bisa membayangkan Yesus yang “cukup kuat, cukup kejam, cukup berkuasa” yang menjadi mesias? Saya kira jika memang seperti itu, saya yakin kekristenan akan menjadi agama yang paling jahat dan mengerikan dalam dunia.</p>



<p>Akan tetapi, Yesus tidak menjawab “ya” kepada iblis. Terhadap apa yang kuat, kejam, berkuasa, semuanya itu ditolak oleh Tuhan kita. Jalan pedang bukanlah jalan salib. Barangsiapa menguasai dunia dengan pedang, akan mati sebagai manusia fana. Barangsiapa hidup menurut jalan salib, seperti yang dijalankan oleh Tuhan kita yang menjadi manusia, hamba, dan mati di kayu salib, akan kekal selamanya.</p>



<p>“Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Markus 10:42–45)</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>Jalan pedang bukanlah jalan salib. Barangsiapa menguasai dunia dengan pedang, akan mati sebagai manusia fana. Barangsiapa hidup menurut jalan salib, seperti yang dijalankan oleh Tuhan kita yang menjadi manusia, hamba, dan mati di kayu salib, akan kekal selamanya.</p>
</blockquote>



<p>Suatu hari nanti, para penguasa besar yang akan diperhadapkan di hadapan takhta Allah. Trump dan Netanyahu, Khamenei, Xi Jin Ping, dan Putin, yang saat ini berkuasa dengan mengancam dunia dengan “tombol nuklir” akan diperhadapkan kepada Yesus untuk memberi pertanggungjawaban. Sebagaimana raja Asyur di Niniwe, Nebukadnezar, Darius dan Xerxes, Napoleon, Hitler, dan Stalin telah kembali menjadi debu dan menunggu penghakiman, demikianlah mereka yang menjadi raja dunia akan diperhadapkan dengan Raja di atas segala raja. Dan siapa pun sosok mesias yang akan menyatukan dunia secara global tidaklah lain daripada antikristus yang ingin meniru sekaligus menggeser kerajaan Allah yang sejati.</p>



<p>Tuhan kita tidak dapat dibandingkan dengan Genghis Khan dan manusia sejenisnya yang menumpahkan darah untuk berkuasa. Tuhan adalah Tuhan yang kudus. Mereka adalah manusia fana yang berdosa, yang dalam perjalanan sejarah dan dalam kesementaraan, telah dititipkan kekuasaan dari Yang Mahakuasa. Mereka memakai kekuasaan itu untuk melawan Allah itu sendiri. Seperti kapak yang melawan pemilik kapak. “Adakah kapak memegahkan diri terhadap orang yang memakainya atau gergaji membesarkan diri terhadap orang yang mengayunkannya? Seakan-akan tongkat mengayunkan orang yang mengangkatnya, atau gada mengangkat orang yang bukan kayu!”(Yesaya 10:15)</p>



<p>Kekristenan adalah kisah tentang pengorbanan, bukan kekuasaan. Kekuasaan sejati yang ditawarkan oleh kekristenan adalah kisah salib dan kubur kosong. Jumat Agung dan Paskah adalah perayaan tentang kematian dan kemenangan Tuhan kita atas kejahatan dan kematian, tertuju kepada kehidupan yang kekal. Barangsiapa yang percaya akan berita Injil dan perjamuan bersama Allah, yaitu berita kebodohan bagi dunia, adalah mereka yang mempunyai kehidupan abadi yang tidak pernah dapat dimiliki oleh penguasa-penguasa dunia.</p>



<p>Sebaliknya, bagi mereka yang menempuh jalan salib, akan duduk semeja bersama Tuhan dan Juruselamat di meja perjamuan Allah. Tidak harus nanti, sekarang pun sudah, yaitu ketika kita menyantap roti dan anggur, di dalam iman dan roh, untuk menerima tubuh dan darah Kristus sendiri. Apa yang akan terjadi dalam beberapa minggu kemudian adalah suatu deklarasi peperangan rohani, bahwa apa yang dikejar-kejar oleh dunia suatu hari akan menjadi debu dan menghilang dalam kefanaan, tetapi bagi mereka yang percaya kepada-Nya, akan duduk dan berkuasa bersama-Nya dalam kerajaan yang kekal, di dalam kasih, kebenaran, dan keadilan.</p>



<p>Kevin Nobel Kurniawan<br>Pemuda GRII Pusat</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">26308</post-id>	</item>
		<item>
		<title>“AKU DISELAMATKAN, MAKA AKU HIDUP: Menemukan eksistensi di dalam Kristus”</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/iman-kristen-pekerjaan/aku-diselamatkan-maka-aku-hidup-menemukan-eksistensi-di-dalam-kristus</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[michaelleang]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 20 Mar 2026 12:30:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Iman Kristen & Pekerjaan]]></category>
		<category><![CDATA[Coram Deo]]></category>
		<category><![CDATA[Eksistensi Manusia]]></category>
		<category><![CDATA[keselamatan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=26239</guid>

					<description><![CDATA[PENDAHULUAN Dewasa ini, di tengah kemajuan teknologi yang begitu pesat, manusia tetap terus bertanya mengenai keberadaan diri dan tujuan hidupnya. Berbagai upaya dilakukan untuk menemukan identitas dan makna hidup tetapi ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/iman-kristen-pekerjaan/aku-diselamatkan-maka-aku-hidup-menemukan-eksistensi-di-dalam-kristus">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>PENDAHULUAN</strong></p>



<p>Dewasa ini, di tengah kemajuan teknologi yang begitu pesat, manusia tetap terus bertanya mengenai keberadaan diri dan tujuan hidupnya. Berbagai upaya dilakukan untuk menemukan identitas dan makna hidup tetapi tetap ada kekosongan hati yang tidak terhindarkan. Manusia gagal menemukan sesuatu di dalam dunia ciptaan yang dapat mengisi kekosongan hatinya.</p>



<p>Kekosongan hati berasal dari ketidakmampuan manusia mendefinisikan eksistensinya sendiri. Seperti yang diungkapkan oleh Blaise Pascal,</p>



<p><em>“Manusia mencoba mengisi kekosongan ini dengan segala sesuatu yang mengelilinginya, namun gagal, mencari pertolongan dalam hal-hal yang tak ada, yang tak dapat ia temukan pada mereka yang hadir, tetapi semua tak mampu mendapatkannya. Jurang tak terbatas ini hanya dapat diisi dengan suatu objek yang tak terbatas dan tak berubah, yaitu, Tuhan sendiri.”</em></p>



<p>Pencarian akan keberadaan dan makna hidup yang berpusat pada diri tidak mampu mengisi kekosongan hati dan hanya membuat manusia kehilangan pusat kehidupan sejati.</p>



<p>Melalui telaah filosofis dan melihat pandangan Alkitab yang dilakukan secara singkat terhadap modernitas, tulisan ini berupaya mengurai relasi antara keberadaan diri, makna hidup, dan kekosongan hati, serta menunjukkan bahwa jawabannya hanya ditemukan dalam anugerah keselamatan yang Allah berikan melalui Kristus. Tesis utamanya adalah “Aku diselamatkan, maka aku hidup”, yang menunjukkan bahwa keselamatan bukan hanya tentang perubahan moral tetapi juga keberadaan diri secara ontologis.</p>



<p><strong>KRISIS EKSISTENSI MANUSIA</strong></p>



<p>Filsafat modern memulai konsep eksistensi dengan menempatkan manusia sebagai pusat realitas. René Descartes, seorang filsuf modern, terkenal dengan teorinya “<em>Cogito ergo sum</em> (aku berpikir, maka aku ada).” Baginya keberadaan manusia dibuktikan melalui kesadaran akan dirinya sendiri yang sedang meragukan segala sesuatu. Identitas dan makna hidup berpusat pada diri sendiri. Efeknya, manusia menjadi pengatur makna, bukan penerima makna.</p>



<p>Rasio manusia akhirnya menjadi penentu nilai, moralitas, dan makna hidup. Tetapi, meskipun menjadi ukuran bagi segala sesuatu, ternyata manusia justru kehilangan makna hidupnya. Ketika manusia modern menyingkirkan Allah dari tempatnya, mereka justru malah mengalami krisis metafisik yaitu kehilangan makna dan dasar keberadaan dirinya.</p>



<p>Pada modernitas, rasio menjadi absolut dan berujung pada kehilangan makna hidup serta kecenderungan nihilistik. Jauh sebelum era tersebut, di taman Eden (Kej. 3), manusia mencoba menjadi seperti Allah. Usaha tersebut hanya membuat manusia kehilangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23). Permasalahan utamanya yaitu manusia terpisah dari Allah.</p>



<p>Dengan demikian, krisis manusia adalah krisis teologis. Manusia menyingkirkan Allah dari pusat realitas dan menggantinya dengan diri sendiri. Ia menolak menjadi ciptaan namun tidak mampu menjadi pencipta. Upaya manusia mencari makna melalui kekuasaan, pencapaian, pengetahuan, bahkan spiritualitas tetap gagal, karena makna hidup bersifat transenden. Tanpa sumber yang absolut dan transenden, makna hidup menjadi rapuh, relatif, dan sementara. Inilah titik dimulainya kekosongan hati–suatu kekosongan eksistensial yang terjadi ketika manusia sadar bahwa hal-hal duniawi tidak mampu menopang keberadaannya.</p>



<p><strong>EKSISTENSI DIRI BUKAN DARI KESADARAN</strong></p>



<p>Dasar eksistensi modernitas berangkat dari kesadaran “aku berpikir,” sementara pemahaman Alkitab adalah antitesisnya. Alkitab memberikan pemahaman yang lebih mendasar, yaitu eksistensi kita semata-mata karena apa yang telah Allah kerjakan bagi kita, yaitu aku diselamatkan, maka aku hidup. Manusia tidak pernah menjadi sumber eksistensinya sendiri.</p>



<p>Alkitab menjelaskan bahwa setelah jatuh dalam dosa, kerohanian kita telah mati. Oleh sebab itu, tidaklah mungkin bagi kita yang telah mati secara rohani dapat sadar akan hidup. Ia beranugerah memberikan kehidupan. Kita tidak ditentukan oleh pikiran atau kesadaran kita akan sesuatu, melainkan ditentukan oleh Allah.</p>



<p>Menyadari hal di atas tidak semudah membalikkan telapak tangan. John Calvin dalam <em>Institutes</em> (I.1.2) mengatakan bahwa pengenalan akan diri yang sejati hanya dapat kita peroleh setelah kita memandang wajah Allah dan selanjutnya memeriksa diri kita sendiri. Ia menegaskan bahwa pengetahuan tentang Allah dan pengetahuan akan diri saling berkaitan dengan erat (<em>Institutes</em> I.1.1). Artinya, kita tidak dapat mengenal diri tanpa mengenal Allah, dan saat mengenal Allah maka kita mengenal diri.</p>



<p><strong>ONTOLOGI EKSISTENSI SEJATI</strong></p>



<p>Ketika manusia memisahkan diri dari Allah, ia kehilangan identitasnya. Secara jasmani masih hidup, tetapi secara rohani ia telah mati. Seorang filsuf bernama Martin Heidegger dalam bukunya <em>Being and Time</em> menyatakan manusia sebagai <em>being–toward–death</em>, yaitu makhluk yang keberadaannya terarah pada kematian. Baginya, kehidupan manusia adalah pencarian makna dalam keterbatasan. Kematian datang secara tiba-tiba kepada siapa saja tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. Kematian adalah sesuatu yang pasti bagi manusia. Di tengah ironi ini, Injil justru menyatakan dengan lantang, melampaui pemikiran manusia, hidup kekal yang dianugerahkan Allah melalui karya-Nya yang agung.</p>



<p>Kehidupan kekal tidak dimulai setelah kematian jasmani, tetapi sudah dimulai saat ini. Eksistensi manusia menemukan dasar dan kepenuhannya saat diselamatkan. Bukan berarti sebelumnya manusia tidak ada, melainkan arah dan tujuan keberadaannya dipulihkan dalam Kristus. Kita diselamatkan bukan oleh hasil usaha kita, bukan karena perbuatan baik ataupun jasa-jasa kita, tetapi karena kita dikasihi oleh-Nya. Kasih Allah menyelamatkan kita, maka kita beroleh kehidupan kekal. Paulus dalam Galatia 2:20 menyatakan bahwa “… aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.…” Eksistensi kita diperbaharui dalam persatuan dengan Kristus (<em>union with Christ</em>).</p>



<p>Manusia yang diselamatkan, statusnya diubah menjadi manusia yang baru (2Kor. 5:17-21). Keselamatan bukan semata-mata perubahan moral, tetapi pembaruan keberadaan manusia pada relasi, arah, dan dasar hidupnya di hadapan Allah. Dalam rekonsiliasinya dengan Allah, manusia lama mati dan manusia baru hidup di dalam Kristus. Setelah kejatuhan di taman Eden, manusia menjadi musuh Allah tetapi oleh karya Kristus diperdamaikan dengan Allah. Kita yang diperdamaikan dengan Allah menjadi memiliki persatuan dengan Allah melalui Kristus (<em>union with Christ</em>) yang dikerjakan oleh Roh Kudus. <em>Union with Christ</em> merupakan dasar eksistensi rohani manusia.</p>



<p>Pusat eksistensi adalah Kristus itu sendiri, Ia menjadi dasar keberadaan kita (Kol. 1:17; Yoh. 1:1-4). Manusia baru mendefinisikan dirinya di dalam Kristus. Maka ungkapan “aku diselamatkan, maka aku hidup” berarti pernyataan ontologis, di mana eksistensi diri adalah partisipasi dalam keberadaan Kristus. Dalam Kristus kita menemukan identitas sejati; itu adalah anugerah, bukan hasil usaha kita (Ef. 2:8).</p>



<p><strong>PERGUMULAN HIDUP MANUSIA BARU</strong></p>



<p>Keselamatan membuat kita menjadi manusia yang baru, yaitu hidup di hadapan Allah (<em>coram Deo</em>). Hidup menjadi tidak sembarangan. Kita tidak lagi hidup bagi diri kita sendiri tetapi bagi Allah. Baik pikiran maupun kehendak tidak boleh menguasai segala tindakan tetapi harus dikuasai oleh Allah. Jika eksistensi menjawab pertanyaan mengapa manusia ada, maka makna hidup menjawab untuk apa manusia hidup setelah diperdamaikan dengan Allah. Inilah makna hidup kita, yaitu menjadi milik-Nya, umat yang telah ditebus oleh-Nya harus hidup bagi Dia dan mati bagi Dia. Hidup <em>coram Deo</em> memberikan arah baru menuju keserupaan dengan Kristus.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>Pencarian dasar keberadaan dan makna hidup di luar Allah akan berakhir pada kekosongan hati. Allah memperbaharui status manusia melalui karya penebusan yang dikerjakan oleh Kristus dan diaplikasikan oleh Roh Kudus. Hanya di dalam Dia manusia memiliki kemungkinan untuk mengenal diri dengan benar.</p>
</blockquote>



<p>Manusia baru harus menyadari bahwa seluruh hidupnya merupakan ibadah di hadapan Allah. Tidak ada dikotomi sakral (rohani) atau profan (duniawi) dalam kehidupan kita. Ketika paradigma modern mengalami kekosongan, manusia baru justru mengalami kehadiran Allah yang aktif dalam kehidupannya. Maka, iman Kristen akan berperan aktif di tengah dunia. Panggilan kita adalah mengerjakan segala sesuatu untuk kemuliaan Allah (<em>soli Deo gloria</em>). Kita dipanggil untuk menjadi alat kasih-Nya dalam dunia.</p>



<p>Manusia baru hidup dalam pengharapan, eksistensinya bersifat eskatologis. Dasar pengharapannya adalah firman Allah yang pasti. Meskipun telah diselamatkan, manusia terus hidup dalam pergumulan dan belum dimuliakan. Karenanya, manusia baru masih dapat merasakan kekosongan dalam proses pengudusannya. Kita mengenal hal ini sebagai “<em>already and not yet</em>”–secara status sudah diselamatkan tetapi belum dalam kepenuhannya. Maka dalam kehidupan saat ini, penderitaan, ujian, dan kematian bukanlah tanda kita kehilangan eksistensi melainkan sebuah tanda menuju kemenangan total. Dalam salib Kristus, kita menemukan bahwa Allah menjadi manusia yang setia sampai mati untuk menebus kita. Mahkota diperoleh melalui salib, sehingga manusia baru bergerak dinamis menuju kemenangan untuk kemuliaan Allah.</p>



<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>



<p>Ketika konsep keberadaan diri, makna hidup, dan kekosongan hati bertemu dalam satu titik, maka ini menegaskan bahwa eksistensi manusia merupakan anugerah dari Allah. Kekosongan hati muncul ketika manusia mencari makna hidup dalam diri dan dengan usahanya sendiri. Sejak kejatuhan di taman Eden, manusia mengalami kematian rohani dan berseteru dengan Allah. Dosa telah merusak struktur keberadaan kita. Oleh sebab itu, keselamatan bukanlah sesuatu yang ditambahkan pada kita tetapi sebuah penciptaan kembali. Manusia lama kita telah mati dan manusia baru telah datang. Kematian rohani dibangkitkan oleh Allah. Dalam Kristus, kita tidak lagi tersesat dalam dunia nihilisme tetapi berada dalam persatuan dengan-Nya. Tesis “aku diselamatkan, maka aku hidup” menjadi antitesis terhadap modernitas. Manusia baru tidak menuju kebinasaan kekal tetapi memperoleh kehidupan yang sejati. Sehingga dalam dunia yang rusak kita tidak lagi mencari makna, karena dalam Kristus kita telah memiliki makna di hadapan Allah. Di dalam Dia kita, tidak hanya diselamatkan dari dosa, melainkan diselamatkan juga dari absurditas.&nbsp;</p>



<p><em>Soli Deo Gloria</em>.</p>



<p>Akira Riofuku<br>Jemaat GRII Pusat</p>



<p><strong>DAFTAR PUSTAKA<br></strong>Calvin, John. <em>Institutio Christianae Religionis: Ajaran-Ajaran Agama Kristen (Institutes of the Christian Religion), Jilid 1; Penerjemah Arvin Saputra, Philip Manurung, dan Irwan Tjulianto</em>. Surabaya: Momentum Christian Literature, 2023.<br>Descartes, René. <em>Diskursus dan Metode; Penerjemah, Ahmad Faridi Ma’ruf</em>. Yogyakarta: IRCiSoD, 2015.<br>Heidegger, Martin. <em>Being And Time; A Translation Of Sein Und Zeit, Joan Stambaugh</em>. New York: State University Of New York Press, 1996.<br>Indonesia, Lembaga Alkitab. <em>Alkitab Terjemahan Baru Edisi Kedua (TB2)</em>. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2023.<br>Pascal, Blaise. <em>Pensees and Other Writings; Translated by Honor Levi</em>. New York: Oxford University Press Inc., 1995.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">26239</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Pabrik Berhala</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/renungan/pabrik-berhala</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[andrian]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2026 12:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[bela diri]]></category>
		<category><![CDATA[berhala]]></category>
		<category><![CDATA[calvin]]></category>
		<category><![CDATA[paskah]]></category>
		<category><![CDATA[pembenaran diri]]></category>
		<category><![CDATA[yesus]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=26184</guid>

					<description><![CDATA[Paskah adalah perayaan terpenting umat percaya, karena di situlah dasar pengharapan kita terletak. Maka, mempersiapkan diri menyambut Paskah tentunya dibutuhkan. Salah satu hal yang perlu kita lakukan dalam masa Prapaskah ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/renungan/pabrik-berhala">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Paskah adalah perayaan terpenting umat percaya, karena di situlah dasar pengharapan kita terletak. Maka, mempersiapkan diri menyambut Paskah tentunya dibutuhkan. Salah satu hal yang perlu kita lakukan dalam masa Prapaskah (<em>Lent</em>) ini adalah menjenguk kembali ke dalam bagian hati kita yang terdalam. Ada apa di sana?</p>



<p>Calvin mengatakan, dalam karya monumentalnya <em>Institutes of the Christian Religion</em>, bahwa hati manusia dapat dikatakan sebagai pabrik berhala yang tidak henti-hentinya memproduksi. Seberapa jauh kita <em>ngeh</em> akan hal ini? Karena hal itu akan mempengaruhi rutinitas kita untuk menilik ke dalam hati, lalu mendorong kita untuk tekun meminta pertolongan Roh-Nya menyingkirkan koleksi berhala-berhala yang merongrong diri kita itu.</p>



<p>Di dalam mitologi Yunani, ada pemimpin dewa, lalu ada 3 dewa besar yang ternyata <em>brothers</em> dan kemudian 12 dewa-dewi utama. Meminjam cerita tersebut, mungkinkah kita dapat membuat semacam analogi bahwa di hati kita juga ada berhala yang lebih utama? Apakah “pembenaran diri” dapat dinobatkan sebagai berhala utama? Kisah-kisah kejatuhan manusia dan tokoh-tokoh beriman di Alkitab dapat menunjukkan hal itu. Kisah kejatuhan manusia pertama, Adam, sampai perumpamaan Tuhan Yesus tentang orang Farisi dan pemungut cukai (Luk. 18:9-14) dapat menjadi rujukan yang cukup jelas akan berhala pembenaran diri.</p>



<p>Mengapa pembenaran atau pembelaan diri bisa menjadi berhala utama dalam diri kita? Jawabannya sederhana. Kita selalu punya alasan atas setiap kesalahan. Alasan-alasan itu menyatakan apa <em>sih</em> sebenarnya? <em>Self-righteousness</em>. Pembelaan diri karena selalu merasa benar. Di dalam alasan-alasan kita membela diri, sebetulnya dapat ditemukan berhala yang lebih spesifik. Misalnya, saat Tuhan mengajukan dua pertanyaan pada Adam setelah kejatuhannya dalam dosa (Kej. 3:11), Adam langsung mengeluarkan berhala <em>ignorance</em> (tidak menjawab pertanyaan pertama), berhala pilih-pilih pertanyaan, berhala <em>playing victim</em> (menyalahkan orang lain dan Tuhan), berhala melemparkan tanggung jawab, dan berhala lari dari kenyataan. Paling tidak itu yang dapat saya temukan. Lalu siapa pemimpin berhala-berhala itu? Berhala pembenaran diri.</p>



<p>Sebetulnya, <em>capek gak sih</em> menjalani hidup dengan terus berusaha membela diri? Bukankah ini menjadi semacam lingkaran setan yang makin sulit untuk dipatahkan? Seberapa frustrasi Saudara melihat kondisi hati yang seperti ini? Kabar baiknya adalah makin kita frustrasi mestinya kita makin menginginkan kuasa kebangkitan Yesus Kristus untuk melepaskan kita.</p>



<p>Yesus Kristus tidak pernah membela diri karena Dia adalah wujud dari Kebenaran. Yesus Kristus bahkan rela dijadikan bersalah dan berdosa, agar kebenaran diri-Nya bisa diimputasikan ke dalam hati kita. Di dalam Kristus, kita tidak perlu membela diri dan membenarkan diri. Yesus dan Roh-Nya sudah melakukannya untuk kita. Inilah yang memberikan <em>shalom</em> dalam hati kita dan sukacita dalam menjalani masa-masa yang sulit, termasuk ketika kita melakukan kesalahan.</p>



<p>Kiranya di momen persiapan perayaan Paskah ini kita meminta agar makin sadar akan karya pembenaran Kristus, sehingga kita makin rela untuk membuang segala berhala.</p>



<p><em>Anak-anakku, waspadalah terhadap segala berhala (1Yoh. 5:21).</em></p>



<p>SDG</p>



<p>Vik. Maya Sianturi Huang<br>Wakil Koordinator Bidang Pendidikan Sekolah Kristen Calvin</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">26184</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Penerapan Konsep Imago Dei terhadap Prinsip Equality Before the Law dalam Sistem Hukum Indonesia</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/isu-terkini/penerapan-konsep-imago-dei-terhadap-prinsip-equality-before-the-law-dalam-sistem-hukum-indonesia</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[andrian]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 15 Mar 2026 02:13:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Isu Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[injil]]></category>
		<category><![CDATA[Kekristenan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=26029</guid>

					<description><![CDATA[Dalam diskursus hukum modern, prinsip equality before the law biasanya dibahas dalam kerangka negara hukum dan perlindungan hak asasi manusia. Namun demikian, refleksi teologis juga dapat memberikan kontribusi penting dalam memahami dasar moral dari prinsip kesetaraan tersebut. Khususnya dalam teologi Reformed, konsep Imago Dei (gambar Allah) menyatakan bahwa setiap manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, sehingga memiliki martabat yang sama.

Konsep ini tidak hanya memiliki makna teologis, tetapi juga implikasi etis dan sosial yang luas. Jika setiap manusia adalah pembawa gambar Allah, maka setiap individu memiliki nilai yang sama dan harus diperlakukan secara adil dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam sistem hukum dan politik. Tulisan ini mencoba merefleksikan bagaimana konsep Imago Dei dalam teologi Reformed dapat memberikan perspektif teologis terhadap prinsip equality before the law serta relevansinya bagi praktik hukum di Indonesia.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Salah satu prinsip utama dalam negara hukum modern adalah <em>equality before the law</em>, yaitu bahwa setiap individu memiliki kedudukan yang sama di hadapan hukum. Prinsip ini menegaskan bahwa hukum tidak boleh membedakan manusia berdasarkan status sosial, kekayaan, jabatan, maupun kekuasaan politik. Dalam sistem hukum Indonesia, prinsip tersebut secara eksplisit diatur dalam pasal 27 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 menyatakan bahwa “Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.”</p>



<p>Meskipun secara normatif prinsip tersebut telah diakui secara jelas, namun praktik penegakan hukum di Indonesia masih sering menimbulkan perdebatan mengenai sejauh mana prinsip kesetaraan tersebut benar-benar diterapkan. Fenomena yang sering disebut sebagai “hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas” menggambarkan adanya ketimpangan dalam perlakuan hukum terhadap kelompok masyarakat yang berbeda. Dalam berbagai kasus, masyarakat kecil sering kali mengalami proses hukum yang cepat dan tegas, sementara kasus yang melibatkan elite politik atau pejabat publik terkadang menghadapi proses yang lebih kompleks dan berlarut-larut.</p>



<p>Dalam diskursus hukum modern, prinsip <em>equality before the law</em> biasanya dibahas dalam kerangka negara hukum (<em>rule of law</em>) dan perlindungan hak asasi manusia. Namun demikian, refleksi teologis juga dapat memberikan kontribusi penting dalam memahami dasar moral dari prinsip kesetaraan tersebut. Dalam tradisi teologi Kristen, khususnya dalam teologi Reformed, konsep <em>Imago Dei</em> (gambar Allah) menyatakan bahwa setiap manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, sehingga memiliki martabat yang sama.</p>



<p>Konsep ini tidak hanya memiliki makna teologis, tetapi juga implikasi etis dan sosial yang luas. Jika setiap manusia adalah pembawa gambar Allah, maka setiap individu memiliki nilai yang sama dan harus diperlakukan secara adil dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam sistem hukum dan politik. Oleh karena itu, tulisan ini mencoba merefleksikan bagaimana konsep <em>Imago Dei</em> dalam teologi Reformed dapat memberikan perspektif teologis terhadap prinsip <em>equality before the law</em> serta relevansinya bagi praktik hukum di Indonesia.</p>



<p><strong>Dialog Imago Dei dan Hak Asasi Manusia dalam Prinsip Kesetaraan di Hadapan Hukum</strong></p>



<p>Perkembangan pemikiran hukum modern sangat dipengaruhi oleh gagasan mengenai martabat manusia yang melekat pada setiap individu. Dalam kerangka ini, hak asasi manusia dipahami sebagai hak yang dimiliki oleh setiap manusia sejak lahir dan tidak dapat dicabut oleh kekuasaan negara. Prinsip tersebut menjadi landasan bagi berbagai instrumen hukum internasional maupun nasional, termasuk prinsip <em>equality before the law</em> yang menegaskan bahwa setiap orang memiliki kedudukan yang sama di hadapan hukum.</p>



<p>Menariknya, gagasan tentang martabat manusia yang menjadi dasar pemikiran hak asasi manusia memiliki kesamaan konseptual dengan doktrin <em>Imago Dei</em> dalam teologi Kristen. Dalam tradisi teologi Reformed, doktrin ini menegaskan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kejadian 1:26–27). Pemahaman ini memberikan dasar teologis bagi pengakuan bahwa setiap manusia memiliki nilai dan martabat yang melekat, terlepas dari status sosial, ekonomi, ras, maupun kekuasaan politik yang dimilikinya.</p>



<p>Pemikir Reformed seperti John Calvin menekankan bahwa pengakuan terhadap <em>Imago Dei</em> memiliki implikasi etis dalam relasi antar manusia. Dalam <em>Institutes of the Christian Religion</em>, Calvin menyatakan bahwa manusia harus menghormati sesamanya karena di dalam diri setiap manusia terdapat refleksi dari gambar Allah. Dengan demikian, penghormatan terhadap manusia bukan semata-mata didasarkan pada kualitas moral atau kedudukan sosial seseorang, melainkan pada kenyataan bahwa manusia adalah ciptaan Allah yang memiliki martabat intrinsik.</p>



<p>Pemikiran ini kemudian berkembang dalam tradisi Reformed yang lebih luas. Abraham Kuyper, misalnya, menegaskan bahwa pengakuan terhadap martabat manusia memiliki konsekuensi sosial dan politik. Kuyper berpendapat bahwa karena setiap manusia diciptakan menurut gambar Allah, maka tidak ada individu atau kelompok yang secara moral memiliki legitimasi untuk menindas atau memperlakukan manusia lain secara tidak adil. Dalam konteks kehidupan bernegara, gagasan ini memberikan landasan moral bagi prinsip kesetaraan dalam sistem hukum.</p>



<p>Dalam diskursus hak asasi manusia modern, konsep martabat manusia sering kali dijelaskan dalam kerangka sekuler tanpa referensi teologis yang eksplisit. Namun demikian, sejumlah sarjana berpendapat bahwa perkembangan gagasan hak asasi manusia tidak dapat sepenuhnya dipisahkan dari warisan pemikiran teologis, khususnya tradisi Kristen di Eropa. John Witte Jr., misalnya, menunjukkan bahwa konsep martabat manusia dalam tradisi hukum Barat memiliki akar historis dalam pemahaman teologis tentang manusia sebagai ciptaan Allah yang memiliki nilai intrinsik.</p>



<p>Dialog antara konsep <em>Imago Dei</em> dan hak asasi manusia menjadi penting karena keduanya menawarkan pendekatan yang saling melengkapi dalam memahami martabat manusia. Hak asasi manusia memberikan kerangka normatif dan institusional untuk melindungi manusia dari penyalahgunaan kekuasaan, sementara teologi memberikan dasar moral yang lebih mendalam bagi penghormatan terhadap manusia. Dengan kata lain, jika hak asasi manusia menjelaskan bagaimana martabat manusia harus dilindungi dalam sistem hukum, maka doktrin <em>Imago Dei</em> menjelaskan mengapa manusia harus diperlakukan dengan martabat tersebut.</p>



<p>Dalam konteks ini, prinsip <em>equality before the law</em> dapat dipahami sebagai salah satu manifestasi konkret dari pengakuan terhadap martabat manusia. Kesetaraan di hadapan hukum tidak sekadar merupakan prinsip prosedural dalam sistem peradilan, melainkan juga mencerminkan keyakinan moral bahwa setiap manusia memiliki nilai yang sama sehingga tidak boleh diperlakukan secara diskriminatif oleh negara.</p>



<p>Namun demikian, penerapan prinsip kesetaraan di hadapan hukum dalam praktik sering kali menghadapi berbagai tantangan. Sistem hukum tidak beroperasi dalam ruang yang netral, melainkan dalam konteks sosial, politik, dan ekonomi yang kompleks. Oleh karena itu, meskipun kesetaraan di hadapan hukum telah diakui secara normatif dalam berbagai konstitusi modern, implementasinya dalam praktik tidak selalu berjalan secara konsisten.</p>



<p><strong>Refleksi Kritis terhadap Praktik Equality Before the Law di Indonesia</strong></p>



<p>Dalam sistem hukum Indonesia, prinsip kesetaraan di hadapan hukum telah ditegaskan secara konstitusional. Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 telah mengatur ketentuan ini dengan menunjukkan bahwa secara normatif negara Indonesia mengakui prinsip <em>equality before the law</em> sebagai salah satu fondasi dari negara hukum.</p>



<p>Namun demikian, dalam praktiknya prinsip tersebut sering kali menjadi bahan perdebatan publik. Berbagai kasus hukum yang muncul di ruang publik menunjukkan bahwa masyarakat masih merasakan adanya ketimpangan dalam penegakan hukum. Persepsi ini muncul terutama ketika kasus yang melibatkan pejabat tinggi negara atau individu dengan kekuatan politik dan ekonomi tertentu tampak berjalan lebih lambat atau lebih kompleks dibandingkan dengan kasus yang melibatkan masyarakat biasa.</p>



<p>Salah satu contoh penting yang sering dijadikan refleksi mengenai kesenjangan antara prinsip normatif hukum dan praktik penegakannya di Indonesia adalah rangkaian pelanggaran HAM berat menjelang dan sesudah Reformasi 1998. Sejumlah peristiwa yang sering disebut dalam diskursus hukum dan HAM antara lain penghilangan paksa aktivis prodemokrasi tahun 1997–1998, Tragedi Trisakti (12 Mei 1998) yang menewaskan empat mahasiswa Universitas Trisakti dalam demonstrasi menuntut pengunduran diri Presiden Soeharto, Kerusuhan Mei 1998 yang menimbulkan banyak korban jiwa dan kekerasan terhadap warga sipil, serta Tragedi Semanggi I (1998) dan Semanggi II (1999) yang kembali menimbulkan korban dari kalangan mahasiswa dan masyarakat sipil.</p>



<p>Meskipun berbagai penyelidikan telah dilakukan oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) dan sejumlah laporan menyimpulkan adanya dugaan pelanggaran HAM berat, proses hukum terhadap kasus-kasus tersebut hingga kini masih menghadapi berbagai hambatan institusional dan politik. Dalam beberapa kesempatan, berkas penyelidikan bahkan bolak-balik antara Komnas HAM dan Kejaksaan Agung tanpa mencapai tahap penyidikan yang tuntas. Kondisi ini menyebabkan munculnya kritik publik bahwa prinsip <em>equality before the law</em> belum sepenuhnya terwujud secara nyata dalam sistem hukum Indonesia, khususnya ketika kasus-kasus tersebut menyangkut aktor negara atau struktur kekuasaan yang kuat.</p>



<p>Situasi tersebut juga melahirkan bentuk partisipasi moral masyarakat sipil, salah satunya melalui Aksi Kamisan, yaitu aksi diam yang dilakukan setiap hari Kamis di depan Istana Negara oleh keluarga korban pelanggaran HAM dan para aktivis. Aksi ini telah berlangsung selama bertahun-tahun sebagai simbol pengingat bahwa pencarian keadilan bagi korban masih belum selesai. Dalam perspektif teologi Reformed, realitas ini dapat dibaca sebagai manifestasi dari keterbatasan dan kerusakan moral manusia akibat dosa, yang membuat kekuasaan berpotensi disalahgunakan. Oleh karena itu, sistem hukum tidak hanya memerlukan perangkat normatif yang baik, tetapi juga komitmen moral yang kuat agar penegakan hukum benar-benar mencerminkan penghormatan terhadap martabat manusia yang setara sebagai ciptaan Allah.</p>



<p>Fenomena belum terselesaikannya berbagai kasus pelanggaran HAM tersebut memperlihatkan adanya jarak antara prinsip normatif kesetaraan di hadapan hukum dan realitas praktik penegakan hukum. Pada titik inilah refleksi teologis mengenai martabat manusia menjadi relevan untuk memperdalam analisis hukum. Jika setiap manusia dipahami sebagai ciptaan Allah yang membawa Imago Dei, maka setiap bentuk ketidakadilan hukum tidak hanya merupakan persoalan prosedural dalam sistem hukum, tetapi juga merupakan persoalan moral yang menyangkut penghormatan terhadap martabat manusia itu sendiri. Dengan demikian, kegagalan sistem hukum dalam memberikan keadilan kepada korban pelanggaran HAM dapat dipahami sebagai kegagalan untuk mengakui sepenuhnya nilai dan martabat manusia yang setara.</p>



<p><strong>Teladan Kristus sebagai Dasar Etis dan Sumber Pengharapan</strong></p>



<p>Refleksi mengenai martabat manusia dan kesetaraan di hadapan hukum dalam perspektif teologi Kristen pada akhirnya menemukan puncaknya dalam pribadi dan karya Yesus Kristus. Dalam iman Kristen, Kristus tidak hanya dipahami sebagai pengajar moral, tetapi sebagai perwujudan sempurna kasih dan keadilan Allah dalam sejarah manusia. Oleh karena itu, teladan hidup dan pelayanan Kristus memberikan dasar etis yang penting bagi refleksi mengenai penghormatan terhadap martabat manusia.</p>



<p>Dalam berbagai kisah Injil, Yesus secara konsisten menunjukkan sikap yang menegaskan nilai manusia tanpa memandang status sosial atau latar belakang seseorang. Salah satu contoh yang menonjol adalah peristiwa ketika Yesus berinteraksi dengan perempuan Samaria di sumur Yakub (Yohanes 4:7–26). Pada masa itu, relasi antara orang Yahudi dan Samaria dipenuhi dengan ketegangan sosial dan religius. Selain itu, dalam budaya Yahudi pada masa tersebut, interaksi publik antara laki-laki dan perempuan juga sangat terbatas. Namun demikian, Yesus justru membuka percakapan dengan perempuan Samaria tersebut dan memperlakukannya dengan hormat. Tindakan ini menunjukkan bahwa dalam pandangan Yesus, martabat seseorang tidak ditentukan oleh identitas sosial atau etnisnya.</p>



<p>Kisah lain yang menunjukkan penghormatan Kristus terhadap martabat manusia adalah peristiwa perempuan yang tertangkap berzinah (Yohanes 8:1–11). Dalam peristiwa tersebut, para ahli Taurat dan orang Farisi membawa perempuan tersebut kepada Yesus dengan maksud menjebak-Nya secara hukum. Mereka mengutip hukum Taurat yang menetapkan hukuman rajam bagi pelanggaran tersebut. Namun, Yesus merespons dengan pernyataan yang terkenal: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu” (Yohanes 8:7). Pernyataan ini tidak hanya menyingkapkan kemunafikan para penuduh, tetapi juga menunjukkan bagaimana keadilan harus selalu disertai dengan kesadaran akan kelemahan manusia.</p>



<p>Selain itu, Injil juga mencatat bagaimana Yesus memberikan perhatian khusus kepada kelompok-kelompok yang sering dipinggirkan dalam masyarakat. Dalam Injil Lukas, misalnya, Yesus makan bersama dengan pemungut cukai dan orang-orang berdosa (Lukas 5:29–32). Pada masa itu, pemungut cukai dianggap sebagai pengkhianat bangsa karena bekerja untuk pemerintah Romawi. Namun Yesus justru menyatakan bahwa Ia datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa supaya mereka bertobat. Tindakan ini menunjukkan bahwa kasih dan perhatian Kristus melampaui batas-batas sosial yang sering kali digunakan manusia untuk membedakan satu sama lain.</p>



<p>Kisah-kisah Injil tersebut menunjukkan bahwa pelayanan Kristus secara konsisten menegaskan nilai manusia yang tidak ditentukan oleh status sosial, kekayaan, atau kekuasaan. Dalam konteks refleksi mengenai <em>equality before the law</em>, teladan Kristus memberikan perspektif moral yang penting: bahwa keadilan tidak boleh dipisahkan dari penghormatan terhadap martabat manusia.</p>



<p>Di tengah realitas dunia berdosa, iman Kristen memberikan suatu sumber pengharapan yang melampaui keterbatasan manusia. Pengharapan ini berakar pada karya penebusan Kristus yang tidak hanya memulihkan relasi manusia dengan Allah, tetapi juga membuka kemungkinan bagi pembaruan kehidupan manusia dan masyarakat. Dengan demikian, perjuangan untuk menegakkan keadilan dan kesetaraan dalam kehidupan sosial dapat dipahami sebagai bagian dari panggilan moral yang lahir dari iman.</p>



<p>Pada akhirnya, teladan Kristus tidak hanya memberikan inspirasi etis bagi manusia, tetapi juga menjadi sumber pengharapan bagi dunia yang masih bergumul dengan berbagai bentuk ketidakadilan. Dalam terang iman Kristen, pengakuan bahwa setiap manusia diciptakan menurut gambar Allah mendorong upaya yang terus-menerus untuk membangun sistem hukum yang menghormati martabat manusia. Meskipun realitas ketidakadilan masih sering terjadi, iman kepada Kristus memberikan pengharapan bahwa keadilan sejati pada akhirnya akan dipulihkan sepenuhnya.</p>



<p><strong>Kesimpulan</strong></p>



<p>Prinsip <em>equality before the law</em> merupakan salah satu pilar utama dalam sistem negara hukum modern. Dalam sistem hukum Indonesia, prinsip ini telah diakui secara konstitusional dan menjadi bagian penting dari perlindungan hak asasi manusia. Namun demikian, praktik penegakan hukum masih menghadapi berbagai tantangan yang menunjukkan adanya kesenjangan antara prinsip normatif dan realitas sosial.</p>



<p>Konsep <em>Imago Dei</em> dalam teologi Reformed memberikan perspektif teologis yang dapat memperkaya pemahaman mengenai dasar moral dari prinsip kesetaraan tersebut. Dengan menegaskan bahwa setiap manusia diciptakan menurut gambar Allah, konsep ini menekankan bahwa setiap individu memiliki martabat yang sama dan harus diperlakukan secara adil.</p>



<p>Melalui dialog antara teologi, hak asasi manusia, dan teori hukum, refleksi mengenai <em>Imago Dei</em> dapat memberikan kontribusi penting bagi upaya memperkuat penerapan prinsip <em>equality before the law</em> dalam sistem hukum Indonesia. Dengan demikian, integrasi antara refleksi teologis dan praktik hukum dapat membantu mendorong terciptanya sistem hukum yang lebih adil dan menghormati martabat manusia.</p>



<p>Aria Kiven<br>Jemaat GRII Pondok Indah</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p><strong>Referensi</strong></p>



<p>Bavinck, Herman. <em>Reformed Dogmatics</em>. Grand Rapids: Baker Academic.</p>



<p>Calvin, John. <em>Institutes of the Christian Religion</em>. Louisville: Westminster John Knox Press.</p>



<p>Kuyper, Abraham. <em>Lectures on Calvinism</em>. Grand Rapids: Eerdmans.</p>



<p>Asshiddiqie, Jimly. <em>Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia</em>. Jakarta: Sinar Grafika.</p>



<p>Rahardjo, Satjipto. <em>Ilmu Hukum</em>. Bandung: Citra Aditya Bakti.</p>



<p>Wolterstorff, Nicholas. <em>Justice: Rights and Wrongs</em>. Princeton: Princeton University Press.</p>



<p>United Nations. <em>Universal Declaration of Human Rights</em>. 1948.</p>



<p>Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">26029</post-id>	</item>
		<item>
		<title>PERANG, PROVIDENSIA, DAN MARANATHA</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/isu-terkini/perang-providensia-dan-maranatha</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[michaelleang]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 Mar 2026 13:18:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Isu Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Iran]]></category>
		<category><![CDATA[Israel]]></category>
		<category><![CDATA[Konflik]]></category>
		<category><![CDATA[Maranatha]]></category>
		<category><![CDATA[Perang]]></category>
		<category><![CDATA[Providensia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=25400</guid>

					<description><![CDATA[Sejak halaman-halaman awal Alkitab, peperangan sudah hadir sebagai tanda dunia yang retak. Konflik demi konflik terjadi mulai dari kitab Kejadian, Keluaran, Hakim-Hakim, bahkan Raja-Raja. Alkitab mengajarkan sesuatu yang sering terlewat ketika orang membahas konflik modern. Perang tidak pernah sekadar “Tuhan melawan Tuhan”, seolah-olah ada duel kosmik setara antara ilah-ilah. Alkitab justru menertawakan ilah palsu. Sementara ada kecenderungan masyarakat religius melihat peperangan di era sekarang ini, adalah peperangan antar agama, peperangan antar Tuhan, maka harus diluruskan. Alkitab memberi peringatan keras bahwa manusia sangat piawai mengutip langit untuk menutupi bumi, menyebut “kebenaran”, “martabat”, “keselamatan”, sementara kalkulasi yang berjalan di balik layar adalah kuasa, rasa takut, prestise, dan kepentingan.

Dalam artikel ini, kita diajak menggunakan kerangka Creation–Fall–Redemption–Consummation untuk menjadi framework yang penting dalam membaca konflik dan eskalasi yang terjadi sekarang ini.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sejak halaman-halaman awal Alkitab, peperangan sudah hadir sebagai tanda dunia yang retak. Allah menetapkan perang antara keturunan perempuan dan keturunan ular. Kita membaca kisah Kain yang menumpahkan darah Habel, lalu sejarah bergerak ke bangsa-bangsa yang saling menekan, menaklukkan, dan membalas.&nbsp;</p>



<p>Di Kitab Kejadian, konflik muncul karena hati manusia yang ingin menjadi pusat. Di Keluaran dan Yosua, kita melihat peperangan terjadi di tengah sejarah penebusan yakni keras, kompleks, dan sering membuat kita bergumul.&nbsp;</p>



<p>Di zaman hakim-hakim, Israel pun mengalami siklus yang memalukan. Bangsa ini jatuh ke penyembahan berhala, ditindas, berseru, lalu diselamatkan. Ketika kerajaan berdiri, peperangan makin terstruktur.</p>



<p>Saul, Daud, hingga raja-raja setelahnya menjalani realitas politik, terkungkung dalam peperangan. Lalu para nabi memukul Israel dengan satu tuduhan yang tajam. Masalah utama dari dosa adalah konsep <em>hamartia</em> (ἁμαρτία). Penyimpangannya terlihat sepele, pengkhianatan di dalam, namun berujung kepada hati yang berzinah dengan ilah-ilah.</p>



<p>Alkitab mengajarkan sesuatu yang sering terlewat ketika orang membahas konflik modern. Perang tidak pernah sekadar “Tuhan melawan Tuhan”, seolah-olah ada duel kosmik setara antara ilah-ilah. Alkitab justru menertawakan ilah palsu. Karena kita melihat ada kecenderungan masyarakat religius melihat peperangan di era sekarang ini, adalah peperangan antar agama, peperangan antar Tuhan, maka harus diluruskan.</p>



<p>Lensa ini menolong kita membaca eskalasi hari ini ketika Amerika Serikat dan Israel bersekutu menghantam Iran, lalu Iran membalas. Banyak orang melihat bahwa para aktornya berasal dari masyarakat yang mengaku beragama. Itu fakta sosial.&nbsp;</p>



<p>Namun menjadikan “agama” sebagai kambing hitam tunggal sering berakhir sebagai jalan pintas analisis. Seolah-olah perang ini soal iman murni, dan pihak-pihaknya sedang bertarung demi Tuhan. Alkitab memberi peringatan keras bahwa manusia sangat piawai mengutip langit untuk menutupi bumi, menyebut “kebenaran”, “martabat”, “keselamatan”, sementara kalkulasi yang berjalan di balik layar adalah kuasa, rasa takut, prestise, dan kepentingan.</p>



<p>Di sini kerangka <em>Creation–Fall–Redemption–Consummation</em> tetap perlu menjadi <em>framework</em> yang cukup penting.</p>



<p>Allah menciptakan dunia ini baik. Geografi Timur Tengah sangat indah. Timur Tengah menjadi jembatan antar benua, jalur dagang, simpul migrasi, sekaligus panggung sejarah yang padat makna.&nbsp;</p>



<p>Selat-selat strategis dan jalur komoditas global hari ini, terutama Selat Hormuz membuat konflik di kawasan itu bergaung sampai jauh. Ketika jalur energi terganggu, pasar dunia bergejolak, rantai pasok goyah, dan harga naik, negara-negara yang tidak ikut menembak ikut terdorong. Dunia ciptaan saling terikat. Luka di satu titik bisa menjalar ke seluruh tubuh.</p>



<p>Allah juga memberi manusia kecerdasan untuk mengolah ciptaan. Teknologi muncul dari mandat budaya. Manusia memahami, membangun, memetakan, menyembuhkan, mempermudah. Namun dunia yang jatuh mengubah arah.&nbsp;</p>



<p>Yang mestinya menjadi alat pemeliharaan hidup dapat berubah menjadi alat pemotongan hidup. <em>Drone</em>, rudal presisi, sistem pertahanan udara, perang siber, satelit pengintai, keren sekali, maju sekali. Semuanya menampilkan ironi modern, yakni kecanggihan bertemu kehancuran, efisiensi bertemu kematian.&nbsp;</p>



<p><em>Fall</em>, baik secara arah maupun struktur, membuat kemampuan manusia tidak lagi bergerak lurus menuju kebaikan. Alasan bisa terlihat “rasional” namun kehilangan belas kasihan.</p>



<p>Di dalam dunia yang jatuh, setiap pihak selalu memiliki narasi pembenaran. Ada bahasa keamanan, ada bahasa pencegahan ancaman, ada bahasa <em>deterrence</em>, ada bahasa kehormatan nasional dan omong kosong lainnya.&nbsp;</p>



<p>Di atas kertas, semuanya tampak logis. Di lapangan, tubuh-tubuh tetap bergelimpangan. Perang, pada hakikatnya, adalah pernyataan bahwa manusia bersedia merusak demi tujuan yang dianggap lebih tinggi. Dan di situlah ketajaman moral Kristen perlu diperjelas.</p>



<p>Perang itu jahat. Perang dilakukan oleh manusia berdosa. Masing-masing pihak merasa paling benar. Pembenaran selalu tersedia. Akan tetapi nyawa yang hilang adalah nyawa ciptaan Tuhan, manusia yang memikul gambar dan rupa Allah.&nbsp;</p>



<p>Mereka bukan angka statistik, “kerugian yang dapat diterima”, apalagi <em>collateral</em> yang disapu oleh istilah teknis. Mereka adalah sesama manusia di hadapan Pencipta.</p>



<p>Lalu bagaimana perspektif Reformed merespons?</p>



<p>Di tengah keberdosaan manusia, Allah tetap memegang sejarah. Providensia tidak boleh dilihat sebagai <em>placebo</em>/obat penenang, melainkan pengakuan bahwa dunia ini ada di dalam kendali Allah.</p>



<p>Di dalam ranah publik, Allah memakai berbagai sarana untuk menahan kejahatan. Diplomasi, hukum, tekanan internasional, juga kekuatan negara untuk mengekang agresi.&nbsp;</p>



<p>Di situ adagium <em>Si vis pacem, para bellum</em> punya tempat sebagai realisme politik. Kesiapan dapat mencegah serangan. Tetapi iman Reformed menolak menjadikan adagium itu sebagai injil baru.&nbsp;</p>



<p>Kekuatan yang dimaksudkan menahan kejahatan sering tergoda menjadi alat dominasi. Ketika pedang berubah menjadi berhala, negara pun ikut jatuh ke liturgi baru, liturgi superioritas, liturgi rasa takut, liturgi balas dendam yang dibaptis dengan kata-kata mulia. Makin ke sini, makin menjijikkan melihat kemunafikan.</p>



<p>Di sinilah penebusan harus ada. Kristus tercatat di Alkitab, tidak datang sebagai panglima perang yang membangun damai lewat pemaksaan, melainkan sebagai Anak Domba yang menanggung dosa. Kehadiran Kristus menyingkap akar persoalan, yakni manusia butuh pertobatan!</p>



<p>Gereja, karena itu, dipanggil untuk menyatakan kebenaran tanpa mencomot Tuhan sebagai stempel politik. Gereja dipanggil untuk menolak penyembahan berhala modern. Kadang berhala itu bernama “keamanan mutlak”, kadang bernama “kejayaan bangsa”. Gereja dipanggil untuk meratap, sebab ratapan adalah bentuk iman yang menolak menormalisasi pertumpahan darah.</p>



<p>Akhirnya, <em>Consummation</em> menjaga kita dari dua jurang putus asa, dan euforia. Putus asa lahir ketika kita menganggap sejarah hanya siklus kekerasan tanpa arah. Euforia lahir ketika kita percaya satu blok geopolitik akan membawa keselamatan dunia.</p>



<p>Penggenapan mengajar bahwa damai Raja Shalom, yakni Kristus datang kembali sebagai Hakim yang adil dan Raja yang memulihkan ciptaan. Pada hari itu, propaganda runtuh, ilah-ilah palsu tersingkap, dan setiap nyawa yang selama ini dianggap murah akan diperlakukan sesuai martabatnya.</p>



<p>Maka, ketika kita menatap eskalasi yang terjadi, di wilayah yang sarat sejarah Alkitab, sarat persilangan peradaban, sarat jalur ekonomi global, kita belajar melihat lebih dalam daripada label “agama”. Alkitab menuntun kita untuk bertanya.&nbsp;</p>



<p>“Ilah apa yang sedang disembah? Kuasa apa yang sedang diberi absolut? Kebenaran apa yang sedang dipakai untuk membenarkan kekerasan?”</p>



<p>Dan ketika kita melihat korban, kita diingatkan bahwa mereka juga diciptakan dalam rupa dan gambar Allah.</p>



<p>Di dunia yang menciptakan teknologi lalu mempersenjatainya, di dunia yang menganggap stabilitas bisa dijaga dengan ancaman, gereja harus berdiri dengan satu pengakuan yang tenang dan tajam bahwa Allah berdaulat, manusia berdosa, Kristus menebus, dan dunia menantikan pemulihan.&nbsp;</p>



<p>Kita berdoa bagi para pemimpin agar menahan diri, bagi korban agar dipelihara, bagi gereja agar tetap setia, dan bagi diri sendiri agar tidak mabuk oleh narasi yang membius nurani.</p>



<p>Dan kita menutup dengan pengharapan yang tidak sentimental, namun kokoh…</p>



<p>Tuhan, datanglah. Maranatha.</p>



<p>Hans Yulizar Sebastian<br>Jemaat GRII Pusat</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">25400</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Tuhan, Mengapa Engkau Diam?</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/renungan/tuhan-mengapa-engkau-diam</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[heryanto]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 Mar 2026 04:22:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Badai]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[Kedaulatan Allah]]></category>
		<category><![CDATA[yesus]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=25317</guid>

					<description><![CDATA[Renungan Markus 4:35-41 Pendahuluan Hari sudah petang ketika Yesus mengajak murid-murid-Nya menyeberangi Danau Galilea. Mereka baru saja bersama-Nya sepanjang hari, mendengarkan pengajaran dan menyaksikan kuasa-Nya. Tetapi saat mereka menuruti perintah ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/renungan/tuhan-mengapa-engkau-diam">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Renungan Markus 4:35-41</strong></p>



<p><strong>Pendahuluan</strong></p>



<p>Hari sudah petang ketika Yesus mengajak murid-murid-Nya menyeberangi Danau Galilea. Mereka baru saja bersama-Nya sepanjang hari, mendengarkan pengajaran dan menyaksikan kuasa-Nya. Tetapi saat mereka menuruti perintah Yesus dan menaiki perahu, badai datang menerpa. Bukan sekadar angin kencang, tetapi Markus mencatat: “maka mengamuklah taufan yang sangat dahsyat, dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air.”</p>



<p>Perhatikan ini: murid-murid ada di dalam bahaya bukan karena mereka tidak taat, melainkan karena mereka taat. Mereka tidak sedang menyimpang dari jalan Tuhan, mereka justru sedang berjalan persis dalam perintah-Nya. Namun badai tetap datang. Hal ini menantang pemikiran banyak orang bahwa jika kita setia, maka hidup kita akan tenang dan diberkati secara lahiriah. Injil tidak mengajarkan demikian.</p>



<p>Sementara murid-murid panik dan perahu nyaris tenggelam, Yesus tidur di buritan, di atas bantal. Tidur! Sebuah detail kecil yang sarat makna. Ini bukan hanya menunjukkan sisi kemanusiaan Yesus yang letih setelah pelayanan, tetapi juga menyatakan kedamaian-Nya di tengah kekacauan. Ia tidak terguncang oleh situasi. Tetapi bagi murid-murid yang diliputi ketakutan, ini tidak masuk akal. Mereka membangunkan Dia dan berseru, “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?”</p>



<p>Seruan ini adalah suara hati kita juga. Berapa banyak dari kita yang, saat hidup terasa seperti diterpa badai, bertanya, “Tuhan, Engkau tidak peduli? Engkau diam saja?” Kita tahu Tuhan Maha Kuasa, tetapi mengapa seolah-olah Dia tidak bertindak?</p>



<p>Namun, kisah ini berbalik arah. Yesus bangun, menghardik angin dan danau, “Diam! Tenanglah!” Dan seketika itu juga semuanya reda. Angin pun taat kepada suara-Nya. Tetapi pelajaran yang paling penting bukan hanya bahwa Yesus sanggup meredakan badai, melainkan bahwa Ia adalah Tuhan atas badai. Dialah yang menciptakan dan mengatur alam semesta. Bukan hanya kuasa-Nya yang besar, tetapi otoritas-Nya mutlak.</p>



<p>Setelah menenangkan danau, Yesus menegur murid-murid-Nya, “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Ini bukan pertanyaan retoris. Ini adalah panggilan untuk melihat ke dalam. Apakah iman kita hanya bertahan ketika situasi baik-baik saja? Apakah kita lebih takut kepada badai daripada percaya kepada Tuhan yang ada bersama kita di perahu?</p>



<p>Sebagai orang Kristen, kita tidak dijanjikan hidup bebas dari kesulitan. Tetapi kita dijanjikan kehadiran Kristus yang tidak pernah meninggalkan. Dia mungkin tampak diam, tetapi bukan berarti Ia tidak peduli. Dia sedang mengerjakan sesuatu di balik diam-Nya—mengajar kita memercayai Dia, bukan keadaan.</p>



<p>Iman yang sejati bukan bergantung pada apakah badai mereda, tetapi pada siapa yang menyertai kita dalam badai. Di sinilah iman Reformed berdiri: bukan pada optimisme kosong, tetapi pada Allah yang berdaulat mutlak, yang menetapkan setiap gelombang dan setiap angin untuk maksud yang kekal dan baik.</p>



<p>Yesus dalam perahu bukanlah janji bahwa badai tidak akan datang, melainkan jaminan bahwa kita tidak akan binasa. Salib-Nya adalah bukti terbesar bahwa Dia peduli. Dia tidak hanya meneduhkan badai alam, tetapi juga menanggung badai murka Allah demi keselamatan kita. Tidak ada badai yang lebih besar dari itu. Dan jika Dia telah menang atas badai terbesar, mengapa kita tidak percaya kepada-Nya dalam badai yang lebih kecil?</p>



<p>Kiranya kita tidak hanya kagum seperti para murid yang berkata, “Siapa gerangan orang ini?” tetapi boleh berkata dengan yakin, “Dialah Tuhanku. Dialah Penopangku di tengah badai.”</p>



<p>Soli Deo Gloria</p>



<p>Wulanda Agustika<br>Mahasiswi STTRII Konsentrasi Misiologi</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">25317</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
