<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Buletin PILLAR</title>
	<atom:link href="http://www.buletinpillar.org/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.buletinpillar.org</link>
	<description>Buletin Pemuda GRII</description>
	<lastBuildDate>Wed, 28 Oct 2026 12:51:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">210804978</site>	<item>
		<title>Quo Vadis Indonesia?</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/seputar-grii/quo-vadis-indonesia</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[michaelleang]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 28 Oct 2026 12:51:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Seputar GRII]]></category>
		<category><![CDATA[Demokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[IHSG]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[karhutla]]></category>
		<category><![CDATA[kerajaan allah]]></category>
		<category><![CDATA[Korupsi]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpin]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=33954</guid>

					<description><![CDATA[Belakangan ini, kita sedang melihat perkembangan negara-bangsa Indonesia yang sedang tidak baik-baik saja. Selama berbulan-bulan, terjadi pembakaran hutan yang disengaja oleh tangan manusia di Kalimantan, yang tidak hanya berakibat pada ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/seputar-grii/quo-vadis-indonesia">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Belakangan ini, kita sedang melihat perkembangan negara-bangsa Indonesia yang sedang tidak baik-baik saja. Selama berbulan-bulan, terjadi pembakaran hutan yang disengaja oleh tangan manusia di Kalimantan, yang tidak hanya berakibat pada permasalahan kesehatan di Indonesia, tetapi juga berdampak kepada beberapa negara tetangga sampai mengharuskan para siswa untuk PJJ dan penduduknya untuk mengenakan masker. Tidak hanya itu, nilai IHSG telah menurun sampai skor 5000-an dari posisi mula-mula berjumlah 9000-an &#8211; suatu kejatuhan yang serupa saat Covid-19 yang turun sekitar 4000-an. Belum selesai satu musibah, kita sudah dilanda musibah berikutnya yang tidak lebih ringan.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">“<em>In this economy</em>..”. demikianlah kata yang sering muncul dalam pembicaraan kita satu sama lain. Dari segi alam, ekonomi, sosial, politik, sepertinya semua sedang runtuh secara berbarengan.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam hasil suatu survei, kita juga melihat bagaimana 75% dari masyarakat Indonesia sedang merasa stres dengan pemerintahan saat ini. Perkembangan laju pemerintahan periode sekarang telah mengalami kejatuhan ekstrem, jauh lebih dalam dibandingkan pada masa-masa pemerintahan dari para presiden sebelumnya. Korupsi, yang merupakan kanker dan perusak dari suatu keberadaan, telah menyebar menjadi suatu sistem yang membuat pahit kehidupan masyarakat kita. Kita sudah tahu korupsi sudah lama ada, tetapi korupsi yang dilakukan saat ini sungguh telah dilakukan secara terang-terangan dan dilakukan di depan semua orang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di tengah masalah ini, saat terjadi suatu permasalahan yang bersangkutan dengan bangku kekuasaan, maka pihak yang berkuasa akan mencari kambing hitam untuk diperas. Bukannya memperbaiki masalah, tetapi menyalahkan yang memberi kritik dan masukan. Tidak hanya demikian, saat sudah mulai ada <em>influencer</em> dan kritikus dari luar negeri yang mulai berbicara, bahkan ingin memberi bantuan, sikap yang diberikan pemerintah adalah untuk menekan suara dan mendiamkan tawaran bantuan.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mengapa semua ini terjadi? Apa yang membuat situasi pahit seperti saat ini? Apa yang bisa kita lakukan untuk “bertahan hidup” dalam situasi seperti ini?</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Budaya Demokrasi</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang pertama, saya ingin berargumen bahwa budaya demokrasi di negara kita sangat buruk.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Banyak yang berasumsi bahwa dengan adanya sistem demokrasi, maka budaya demokrasi akan menjadi baik. Faktanya, sistem demokrasi adalah salah satu bentuk pemerintahan yang dapat memilih dan mendukung pemimpin yang tepat &#8211; apabila rakyat yang memilihnya juga berbjiaksana. Kata “demokrasi” berasal dari <em>demos</em> yang berarti “rakyat” dan <em>kratos</em> yang adalah “kekuasaan”. Kekuasaan yang berasal dari rakyat merupakan dasar terbentuknya suatu pemerintahan presidensiil. Jadi, jika presiden yang terpilih bermasalah, itu dikarenakan oleh masyarakat yang memilihnya juga bermasalah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk mengetahui permasalahan sekarang, kita perlu memandang kembali kepada akar permasalahan dalam bangsa-negara ini. Secara mendasar, masyarakat Indonesia masih belum dewasa untuk berbagian dalam sistem demokrasi. Banyak orang berteriak, “mengapa pemimpin Indonesia adalah seperti yang sekarang?, bahkan ada juga yang bertanya: “mengapa Allah memilih presiden saat ini yang memegang kursi pemerintahan?” Bagi saya, pertanyaan seperti demikian justru mengkonfirmasi premis yang awal tadi: “kita belum siap untuk menjalankan demokrasi”. Berdasarkan pemilihan presiden tahun 2024, 58.58% dari pemilih berasal dari masyarakat itu sendiri. Jadi, situasi pemerintahan saat ini berawal dari kedewasaan masyarakat Indonesia yang mula-mula memilih kepemimpinan yang sekarang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bukankah sudah diberikan tanda selama belasan tahun tentang apa yang dijanjikan sebelum dia menjadi pemimpin? Bukankah sudah tercatat dalam buku-buku sejarah dan catatan dari berita tentang <em>track record</em> dari yang sedang menjadi calon pemimpin? Bukankah sudah banyak pakar dan tokoh-tokoh masyarakat yang berteriak itu tidak benar? “Dia meludahi etika, itu perihal yang serius loh!” Lalu, mengapa masyarakat kita masih mau memilihnya &#8211; yang berujung pada suatu penyesalan yang mendalam?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jadi, ketika “Tuhan mengirimkan pemimpin yang sekarang”, ada baiknya kita tidak menyalahkan Tuhan. Tuhan mengirimkan pemimpin yang diinginkan oleh masyarakatnya sendiri. Sebagaimana Tuhan sudah memberi “wanti-wanti” melalui manusia yang berhati tulus untuk berhati-hati dalam mengambil keputusan, maka seharusnya kita juga turut mengambil tanggung jawab terhadap situasi yang sedang terjadi saat ini. Bukan hanya pemimpin yang melakukan kerusakan hutan ataupun ekonomi, melainkan rakyatnya sendiri juga mengambil andil dalam berbagai masalah yang terjadi sekarang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seorang pemimpin agama di Indonesia pernah berkata, “Dalam perspektif Kristiani dan sejarah, ketika seorang raja melakukan kesalahan, Tuhan akan mengirim nabi-nabi untuk mengingatkan. Kekuasaan itu berbahaya bila tidak dijalankan dengan baik. Nanti kalau tidak didengarkan, dalam sejarah juga jelas, ketika kekuasaan tidak mendengarkan kritik-kritik, bahayanya adalah tumbang. Itu selalu terjadi seperti itu. Bukan hanya di Indonesia, tetapi di manapun akan terjadi”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya kira, dalam hal ini, pendapat dari Yohanes Calvin adalah benar, “Ketika Tuhan ingin menghakimi suatu bangsa, Dia membangkitkan pemimpin yang bengis”. Pada satu sisi, kita perlu memahami bahwa memang manusia adalah agen aktif yang dapat mengambil suatu pilihan. Rakyat Indonesia datang kepada tempat pencoblosan dan mengambil suatu keputusan secara <em>sadar</em> akan pemimpin yang dituju untuk naik dan menguasainya. Individu mempercayakan suara mereka kepada sosok pemimpin yang ingin diangkatnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sisi lain, dalam kedaulatan-Nya, Tuhan juga mengangkat pemimpin itu dengan menghormati kehendak bebas manusia. Suara manusia yang menjadi semakin keras melalui <em>voting,</em> juga menunjukkan adanya suatu pembiaran yang terjadi oleh karena kebebalan hatinya. Berkali-kali, teguran demi teguran, catatan sejarah demi catatan sejarah, sudah diberikan &#8211; dan hasilnya masyarakat kita tetap mengambil langkah untuk memilih pemimpin yang bermasalah. Barangkali, tanpa adanya rasa penyesalan yang mendalam melalui sistem demokrasi, masyarakat kita belum tentu dapat belajar dan sadar dari kesalahan yang pernah diperbuatnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah Orde Lama dan Orde Baru, pemilihan presiden secara langsung terjadi pada tahun 2004. 22 tahun kemudian setelah demokrasi langsung, tampaknya kita berada pada suatu masa yang lebih buruk. Kita masih belum siap berdemokrasi dengan kesadaran tanggung jawab dan cara berpikir rasional. Tingkat pendidikan kita dan juga kesadaran akan pentingnya hukum masih sangat minim, sehingga masyarakat Indonesia masih jatuh dalam keterpukuran. Nilai moral kemanusiaan yang tertuang dalam aturan tertulis masih dipandang sebagai hal yang receh, dan kerecehan itulah yang menyebabkan kita jatuh dalam kekuasaan yang anti-moral dan anti-kemanusiaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam kisah Alkitab, sudah terdapat beberapa kisah di mana melalui sistem demokrasi rakyat mengambil suatu keputusan yang salah. Pertama, pemilihan raja Saul ketika bangsa Israel menolak Allah sebagai pemimpin yang mengirim hakim-hakim; bangsa Israel ingin menjadi seperti bangsa lain. Kedua, pertarungan Elia dengan 400 nabi Baal yang disaksikan oleh orang Israel yang sedang menanti hujan. Di situ, Elia meminta orang Israel mengambil suatu keputusan untuk mengikut TUHAN atau Baal. Ketiga, penyaliban Yesus yang dilakukan oleh bangsa Yahudi sendiri, bangsa milik-Nya sendiri, untuk dihukum mati dengan tangan pemerintahan Romawi. Masing-masing kisah yang mempunyai jeda belasan abad menunjukkan satu hal: suatu bangsa sering jatuh dalam mengambil keputusan, dan kita sering tidak setia dalam memilih yang benar. Kita menginginkan yang salah, bukan karena kita merasa itu jahat, tetapi yang salah seringkali terasa lebih nyaman dan menyenangkan menurut kehendak dari ego kita.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Hukum dan Keabsahannya</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang kedua, permasalahan yang fundamen adalah penegakan hukum Indonesia yang sedang dikorupsi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kalau kita mempelajari fenomena korupsi, biasanya korupsi tidaklah lepas dari suatu posisi jabatan struktural dan juga transaksi uang yang dilakukan antara dua pihak yang saling memenuhi keinginan satu sama lain, tetapi merugikan masyarakat dan negara secara menyeluruh. Sebagai suatu contoh, ketika ada seorang pengusaha ingin membuka usaha sawit, tetapi tidak mendapatkan izin, maka penguasaha itu akan melakukan suatu transaksi gelap dengan gubernur untuk membuka izin lahan. Sebagai imbalan, pengusaha itu akan menawarkan suatu uang suap, saham, atau “kuota” terhadap sebagian dari pendapatannya. Kedua pihak itu mengunci kesepakatan dalam transaksi yang saling menguntungkan, tetapi transaksi tersebut melanggar hukum dan malah merugikan masyarakat setempat. Rumah rakyat digusur, pohon-pohon dibakar, dan lain sebagainya. Dalam situasi seperti demikian, korupsi tersebut masih dapat ditindaklanjuti dengan jalur hukum. Para hakim berposisi sebagai “otoritas tertinggi” untuk menentukan benar salahnya suatu tindakan yang berujung pada pelanggaran pidana.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Akan tetapi, apa yang terjadi kalau hukum itu sendiri yang dikorupsi? Bukan oleh uang atau sawit, tetapi oleh kepentingan kekuasaan itu sendiri. Apabila seorang pemimpin menginginkan anaknya menjadi presiden, dan dia menemukan hukum itu tidak memperbolehkan, apakah perubahan hukum tertulis yang absah bisa dilakukan? Kalau boleh, tentu tidak boleh. Akan tetapi, faktanya itulah kejadian yang terjadi pada tahun 2024, di mana kekuasaan legislatif yang lebih tinggi daripada kekuasaan eksekutif dan legislatif, telah dikorupsi dan dilenturkan sesuai dengan kehendak dan kepentingan yang berkuasa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di antara ketiga jenis kekuasaan negara: legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Sebetulnya kekuasaan yudikatif adalah kekuasaan yang paling tinggi. Apabila terdapat anggota DPR-MPR atau presiden yang melakukan pelanggaran hukum, maka yang menghakimi adalah para hakim dari Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi. Para “senat” di bangku DPR-MPR maupun “raja” di istana negara tidak memiliki kedudukan yang lebih tinggi atau kebal dari hukum. Setiap manusia mempunyai kedudukan yang sama di mata hukum. Bukan karena seseorang berasal dari golongan bangsawan maka dia mempunyai hak untuk menindas yang berasal dari golongan kelas bawah. Tanpa adanya hukum, maka tidak ada lagi yang benar atau salah, melainkan yang lebih berkuasa dan yang dikuasai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kalau kita salah pilih pemimpin melalui sistem demokrasi, masih ada hukum yang dapat mengendalikan kerusakan yang terjadi. Akan tetapi, kalau entitas hukum itu sendiri yang dikorupsi, apalagi yang dapat menjadi jaminan kepastian bahwa keadilan dapat ditegakkan dalam kehidupan bangsa-negara?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam anugerah umum maupun khusus, hukum adalah “sidik jari” Allah dalam menghadirkan keadilan-Nya. Sebelum bangsa Israel mempunyai hakim-hakim maupun seorang raja, Allah menurunkan 10 Hukum kepada suatu bangsa yang baru dibebaskan dari tanah Mesir. Di dalam hukum itu, tertulis bagaimana seorang raja akan diangkat, menulis hukum yang dipegang oleh para imam dan Lewi, agar dia tidak memandang rendah saudara-saudaranya (Ulangan 17:15-20). Dengan kata lain, raja pun tidak berada di atas hukum. Di hadapan hukum, raja maupun rakyat memiliki kedudukan yang sama dan harus mematuhi hukum. Tanpa adanya hukum, maka kejahatan manusia dapat berkembang dengan sangat liar.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika etika dan moralitas dipandang hina untuk membenarkan kecurangan, maka yang berkuasa dapat melakukan kejahatan apa pun. Ketika seseorang memposisikan diri sebagai yang tertinggi, sekalipun itu ditujukan untuk melakukan hal-hal yang besar, dia sudah mengorbankan kebenaran dan keadilan. Bila kebenaran dan keadilan dipandang sebagai suatu ganjaran untuk mewujudkan suatu kepentingan, maka apa pun masukan dari para pakar dan ahli akan dipandang sebagai suara yang bersifat subversif. Kritik adalah ancaman, suara yang berbeda adalah tandingan. Bila, keadilan hukum saja dipandang sebelah mata, bahkan bisa dibeli dan diplintir, maka apa lagi yang dapat menjadi pilar kepastian dalam kehidupan bermasyarakat?</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Komunitas&nbsp; Nurani</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Apabila kita memerhatikan kondisi Indonesia saat ini, sepertinya konsep “benar dan salah” sudah tidak lagi menjadi “persamaan” (<em>equation</em>) yang dipertimbangkan. Negara sudah masuk ke dalam logika “berkuasa atau tidak berkuasa” sebagai narasi yang dijalankan untuk menggerakkan sistem pemerintahan dari hari demi hari, tahun demi tahun. Yang menderita adalah rakyatnya sendiri &#8211; yang setiap hari menghitung uang untuk makan, minum, tidur, dan untuk biaya ongkos sehari-hari. Lalu, di manakah posisi orang Kristen dalam kehidupan bangsa negara yang sedang tidak baik-baik ini?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam suatu karya yang ditulis oleh Etzioni, <em>The Moral Voice</em>, dijelaskan bahwa suatu masyarakat membutuhkan suatu komunitas yang dapat menyuarakan prinsip nurani di tengah masyarakat. Apabila mekanisme negara dan pasar sudah bergerak di luar jalur kewarasan, setidaknya dibutuhkan suatu komunitas kecil seperti yang disebut sejarahwan Arnold Toynbee sebagai “minoritas kreatif” yang dapat memberikan masukan, suara kritis, dan suara kenabian di tengah masyarakat. Posisi politis dapat dipermainkan, dan hukum dapat diplintir sesuai dengan kehendak elit yang berkuasa.&nbsp; Akan tetapi, bila masih ada suatu kelompok kecil yang mampu menyuarakan kebenaran nurani, maka masyarakat itu masih mempunyai harapan. Di tengah puing-puing kehancuran yang gelap, masih ada suatu lilin kecil yang menyinari malam yang gelap.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Akan tetapi, apakah satu lilin saja cukup untuk bersinar? Bagaimana dengan lahan yang sudah terbakar? Bagaimana dengan bangunan yang sudah hancur dan dirusak oleh banyak rayap, tikus, dan kalajengking? Apa yang perlu diperbuat untuk membersihkan seluruh tanah dari masalah-masalah itu?&nbsp; Apakah kita perlu membangun suatu partai berlambang salib? Apakah kita perlu membuat suatu angkatan bersenjata untuk melakukan revolusi?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak. Bukan itu jawabannya, dan bukan itu juga caranya. Seandainya itu adalah jalannya, sudah lama kekristenan menempuh jalan pedang dan kekuasaan, tetapi itu bukanlah cara kerajaan Allah dihadirkan di bumi ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kekuasaan berganti kekuasaan karena adanya yang menggunakan senjata: yang satu mempertahankan kuasa, dan yang lain menggulingkan kuasa. Akan tetapi, keduanya sama-sama memakai kekuasaan. Kekuasaan hanya berlaku untuk sementara waktu, mungkin 5-10 tahun, mungkin 20 tahun, ada juga yang sampai 32 tahun. Kekuasaan, sepanjang apa pun dia dapat berjaya, tidak akan bertahan selama-lamanya. Ada waktunya dia akan bangkit, dan pula turun, dan hilang dalam kuburan sejarah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bila kita “mengawinkan” gereja dengan kuasa itu, maka gereja juga akan hancur oleh karena kekuasaan itu. Ketika sang penguasa tidak lagi bertakhta, dan terbenam dalam ombak sejarah yang baru, kerajaan Yehuda yang menggantungkan dirinya dengan Mesir juga akan terbenam dengan Mesir. Sebaliknya, bilia gereja hanya kabur, mengunci pintu dari dalam, dan menghindar dari segala masalah &#8211; mungkin saja gereja itu akan bertahan tetapi dunia tetaplah gelap.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Maka dari itu, saat ini Indonesia membutuhkan gereja sebagai komunitas nurani untuk menyuarakan kebenaran. Kata <em>nooraini</em> adalah suatu kata serapan dari bahasa Arab yang berarti “terang”. Ketika suatu bangsa sudah jatuh dalam kebodohan, dan negara menjadi gelap karena ketidakadilan, setidaknya masyarakat itu membutuhkan satu kelompok yang masih berani menyuarakan terang kemanusiaan. Gereja tidak hanya dapat berbicara tentang kasih, tetapi juga kebenaran dan keadilan sebab gereja adalah terang dunia. Kalau bukan gereja yang membawa sinar itu, siapa lagi yang berani berkata sedemikian?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tentunya, penguasa yang jahat tidak menyukai kebenaran sebab kegelapan tidak suka dibongkar oleh terang. Tanggung jawab dalam menegakkan keadilan dipandang sebagai suatu pemberontakan. Hukum dipandang sebagai suatu kandang moral yang mengganggu kebebasan penguasa. Namun, komunitas umat percaya yang dari dulunya sudah sering dipersekusi tanpa melakukan perlawanan balik, sering menyuarakan hukum, kebenaran, dan keadilan. Yang memegang senjata menekan komunitas umat percaya, dengan pedang menyembelih darah tidak bersalah. Akan tetapi, yang pegang senjata juga berakhir dalam kuburan, kerajaannya tidaklah untuk selamanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kerajaan Allah dimulai dengan beberapa nelayan kecil, seorang pemungut cukai, dan kemudian kedatangan seorang mantan-rabbi yang menjadi pembuat tenda. Lalu, menjadi suatu persekutuan di rumah-rumah. Suatu keluarga kecil menjadi keluarga besar, lintas suku dan ras, dan itulah yang disebut sebagai “gereja”. Bukan suatu kekaisaran, bukan gedung-gedung mewah yang tidak bisa dihancurkan, melainkan suatu bangunan dari jiwa-jiwa yang pernah hancur dan ditebus oleh Sang Raja kekal. Sang Raja, juga bukanlah seorang kaisar, tetapi tukang kayu dan mengajak murid-muridnya makan ikan layaknya dalam suatu keseharian hidup. Ya, dimulai dari situlah kekristenan. Roma bangkit dan hancur, kerajaan bangkit dan runtuh, tetapi komunitas yang dibangun atas Firman dan persekutuan di dalam-Nya, senantiasa kekal adanya karena anugerah. Dan sekarang, anugerah yang menyelamatkan itu meminta kita untuk senantiasa hadir untuk berhadapan dengan dunia dan mengajak bangsa-bangsa memandang pada salib, yaitu Mesias yang pernah mati dan bangkit selamanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“<em>The tyrant dies and his rule ends, the martyr dies and his rule begins</em>” &#8211; Soren Kierkegaard</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kevin Nobel Kurniawan<br>Pemuda GRII Pusat</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">33954</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Relasi antara Roh Kudus dan Doa</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/kehidupan-kristen/relasi-antara-roh-kudus-dan-doa</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[heryanto]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 25 Oct 2026 04:06:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kehidupan Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[John Bunyan]]></category>
		<category><![CDATA[pertumbuhan rohani]]></category>
		<category><![CDATA[Roh Kudus]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=33902</guid>

					<description><![CDATA[&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Doa adalah hal yang paling mudah untuk dilakukan sekaligus juga adalah hal yang paling sulit untuk dilakukan; ini adalah paradoks di dalam doa. Kita boleh dengan begitu mudahnya berkomunikasi ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/kehidupan-kristen/relasi-antara-roh-kudus-dan-doa">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Doa adalah hal yang paling mudah untuk dilakukan sekaligus juga adalah hal yang paling sulit untuk dilakukan; ini adalah paradoks di dalam doa. Kita boleh dengan begitu mudahnya berkomunikasi dengan Allah Sang Pencipta kita yaitu hanya melalui doa, tetapi di sisi yang lain justru kita juga sangat sulit untuk berdoa. Sekalipun kita berdoa, tetapi doa kita itu sering kali hambar dan hanya sebagai rutinitas saja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setiap kali kita berdoa, doa kita begitu dingin, kita ingin untuk cepat-cepat mengakhirinya. Kita telah terbiasa dengan sikap hati seperti ini, dan anehnya kita menganggap bahwa apa yang sedang kita lakukan adalah hal yang biasa dan kita tidak merasa bahwa ada sesuatu yang salah pada diri kita, padahal sebenarnya kita sedang “<em>take it for granted</em>”akan Allah. &nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya teringat ketika sedang jatuh cinta kepada seorang perempuan (yang sekarang sudah menjadi istri saya). Pada masa itu ketika kami berpacaran, setiap hari ada suatu kerinduan yang sangat dalam untuk berjumpa dengannya. Pada saat dekat dengannya dan bisa berbagi cerita dengannya, perasaan hati seperti sedang berbunga-bunga dan tidak ingin untuk berpisah. Ketika tiba saatnya kami harus mengakhiri pertemuan itu, sangat sulit sekali untuk mengakhirinya. Saya harus pulang tetapi masih tetap ingin untuk bersama-sama dengannya, ada suatu kerinduan untuk selalu dekat dengannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Demikianlah seharusnya perasaan kita ketika berdoa kepada Tuhan: kita yang mengasihi Tuhan pasti rindu untuk selalu dekat dengan Tuhan. Sehingga pada saat kita berdoa, ada suatu ungkapan doa yang sungguh-sungguh dari ketulusan hati yang terdalam untuk datang kepada Tuhan. Tetapi kita jangan lupa bahwa kita adalah orang berdosa yang sebenarnya tidak layak di hadapan Tuhan. Bahkan di dalam keberdosaan kita, kita tidak memiliki keinginan untuk datang kepada Tuhan. Natur kita yang berdosa inilah yang membuat kita sulit untuk berdoa. Kita bisa betah berlama-lama berkomunikasi dengan orang yang kita cintai di dalam dunia ini, tetapi anehnya, ketika kita berkomunikasi dengan Tuhan di dalam doa, kita begitu dingin dan ingin cepat-cepat untuk menyelesaikannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita harus jujur di hadapan Allah bahwa kita memang kurang mencintai Allah. Fokus, keinginan, dan tujuan hidup kita bukanlah Allah tetapi diri kita. Hati kita telah tercemar oleh dosa sehingga kita tidak mampu mengasihi Allah dengan benar. Tanpa pekerjaan Roh Kudus di dalam diri kita, kita tidak mungkin bisa datang kepada Allah; itulah mengapa Allah Roh Kudus diberikan bagi kita. Roh Kuduslah yang telah melahirbarukan kita, yang membuat kita bisa beriman kepada Kristus, dan yang memimpin hidup kita untuk makin serupa dengan Kristus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di dalam suratnya, Rasul Paulus mengatakan, “Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: ‘ya Abba, ya Bapa!’” (Gal. 4:6).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai orang percaya kepada Kristus, seperti yang diungkapkan oleh Rasul Paulus di dalam surat Galatia 4:6, kita telah menerima Roh Kudus di dalam hati kita. Roh inilah yang memampukan kita untuk memandang Allah sebagai Bapa kita di dalam doa kita. Dan janganlah kita mendukakan Roh Kudus dengan kembali kepada cara hidup kita yang lama, yaitu hidup di dalam dosa-dosa kita. Mari kita kembali kepada Allah, meminta pertolongan Allah Roh Kudus untuk memurnikan hati kita sehingga kita boleh memiliki sikap hati yang benar ketika kita berdoa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Inilah mengapa Allah memberikan Roh Kudus kepada kita, karena tanpa Roh Kudus, setiap doa-doa yang kita ucapkan begitu dingin dan hanya sebatas kata-kata bibir saja. Ketika berdoa di hadapan orang lain, kita mungkin adalah orang yang pandai menyusun kata-kata sedemikian rupa agar terlihat bahwa kita adalah orang yang baik dan rohaniwan, padahal di hadapan Tuhan, sebenarnya kita adalah orang yang munafik. Kita mungkin bisa menipu manusia, tetapi kita tidak mungkin bisa menipu Tuhan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">John Bunyan, seorang yang pernah dipenjarakan selama sekitar 12 tahun karena imannya kepada Tuhan Yesus mengatakan:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Doa adalah curahan hati atau jiwa yang tulus, bijaksana, dan penuh kasih kepada Allah, melalui Kristus, dengan kekuatan dan pertolongan Roh Kudus, untuk hal-hal yang telah dijanjikan oleh Tuhan atau sesuai dengan firman, demi kebaikan gereja, dengan kerendahan hati, dalam iman, kepada kehendak Allah. Hal-hal ini saling bergantung satu sama lain sehingga mustahil ada doa tanpa adanya keterlibatan bersama dari semuanya; sebab meskipun doa itu sangat terkenal, namun tanpa hal-hal ini, doa itu hanyalah doa yang ditolak oleh Allah. Sebab tanpa curahan hati yang tulus, masuk akal, dan penuh kasih kepada Allah, doa itu hanyalah omong kosong belaka; dan jika tidak melalui Kristus, doa itu jauh dari terdengar baik di telinga Allah. Demikian pula, jika tidak dengan kekuatan dan pertolongan Roh Kudus, doa itu hanyalah seperti anak-anak Harun yang mempersembahkan api yang asing (Im. 10:1-2), dan oleh karena itu, untuk saat ini, apa yang tidak dimohonkan melalui pengajaran dan pertolongan Roh Kudus, tidak mungkin hal itu “sesuai dengan kehendak Allah” (Rm. 8:27).<a href="#_ftn1" id="_ftnref1"><strong>[1]</strong></a></em></p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ketika kita berdoa, bukanlah kata-kata bibir kita yang diperhatikan Allah, tetapi yang dilihat Allah adalah ketulusan hati kita. Seperti kisah tentang seorang Farisi dan seorang pemungut cukai yang berdoa kepada Allah, Allah lebih berkenan akan doa seorang pemungut cukai yang datang kepada-Nya dengan hancur hati, menyadari akan ketidaklayakannya dan memohon belas kasihan Tuhan kepadanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita berdoa dengan hati yang tulus, sadar, penuh kasih kepada Allah, dan jangan lupa bahwa hanya melalui Kristuslah kita bisa mendapat akses kepada Allah. Tanpa Kristus, tidak ada satu doa pun yang bisa sampai kepada Allah. Orang yang berdoa melalui Kristus juga harus terlebih dahulu memiliki pengetahuan yang benar tentang Dia dan percaya kepada-Nya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita yang beriman kepada Kristus, Roh Kudus telah mempersatukan kita dengan-Nya sehingga kita bisa datang kepada Allah sebagai anak-anak Allah. Allah tidak melihat kita sebagai seorang pendosa lagi tetapi sebagai seorang yang telah dibenarkan oleh karena Kristus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hanya dengan pertolongan Roh Kudus kita bisa datang kepada Allah melalui Kristus dalam doa kita, seperti yang diungkapkan oleh Rasul Paulus bahwa “Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh tersebut, yaitu bahwa Ia berdoa untuk orang-orang kudus, sesuai dengan kehendak Allah.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Roh Kudus akan memurnikan hati kita untuk makin serupa dengan Tuhan kita Yesus Kristus; inilah tandanya bahwa kita adalah anak-anak Allah bahwa kita hidup sebagai anak-anak terang. Mari kita mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah yaitu firman Tuhan, supaya kita dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis. Di dalam segala doa dan permohonan, marilah kita senantiasa berdoa di dalam Roh dan berjaga-jaga di dalam doa kita. Ketika kita berdoa di dalam Roh, bukan berarti bahwa kita tidak berdoa menggunakan akal budi kita. Mengenai hal ini Rasul Paulus mengatakan, “Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku” (1Kor. 14:15).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Roh Kudus akan menerangi akal budi kita, akan membawa kita kepada pengenalan yang benar akan firman Allah sehingga ketika kita berdoa, doa-doa yang kita naikkan kepada Allah dapat dipanjatkan dengan benar, yang sesuai dengan kehendak-Nya, untuk kemuliaan nama-Nya. Kita berdoa bukan untuk memuaskan keinginan hawa nafsu kita. Kita berdoa agar kehendak Tuhan saja yang terjadi di bumi seperti di sorga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Akhirnya Saudara-saudari yang dikasihi oleh Tuhan, mari kita tidak meninggalkan kehidupan doa kita tiap-tiap hari—bukan hanya berdoa pada saat mau makan, mungkin kita juga berdoa sebelum tidur dan setelah bangun dari tidur, atau ketika sedang dalam kesulitan baru kita berdoa. Jikalau semua doa-doa yang kita panjatkan kepada Tuhan hanya untuk kepentingan diri kita sendiri, bukankah Tuhan sudah memberikan lebih dari apa yang sebenarnya kita butuhkan?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai anak-anak Allah, mari kita belajar berdoa sesuai dengan apa yang Tuhan kehendaki, tidak hanya berdoa untuk kepentingan diri kita sendiri, tetapi mari kita mendoakan yang lain, mendoakan hamba-hamba Tuhan, mendoakan jiwa-jiwa yang sedang terhilang, mereka yang sedang hidup dikuasai oleh dosa, mendoakan pekerjaan Tuhan, dan masih banyak lagi yang bisa kita doakan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berdoa memang mudah untuk dilakukan, kita hanya perlu masuk ke dalam kamar lalu berlutut untuk berdoa, tetapi dengan natur kita yang berdosa, berdoa juga adalah hal yang paling sulit untuk dilakukan; kedagingan dan kemalasan kita akan menarik kita untuk tidak berdoa. Mari kita meminta pertolongan Allah Roh Kudus untuk memampukan kita berdoa dengan benar. Ketika kita datang dengan rendah hati kepada Allah tiap-tiap hari, maka hidup kita juga akan makin disucikan oleh Tuhan. Kiranya Allah Roh Kudus memampukan kita untuk tetap tekun menjalani kehidupan doa kita.</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Kalepta Brema Ginting</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mahasiswa STTRII</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref1" id="_ftn1">[1]</a> John Bunyan, <em>Prayer</em> (Pensacola, FL: Chapel Library, 2022), 9, 15.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">33902</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Pendidikan Agama Kristen</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/3p/pendidikan-agama-kristen</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[michaelleang]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 17 Oct 2026 13:51:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[3P]]></category>
		<category><![CDATA[Christian worldview]]></category>
		<category><![CDATA[Formation]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Agama Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[Sekolah Kristen Calvin]]></category>
		<category><![CDATA[worldview]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=33667</guid>

					<description><![CDATA[“… membentuk (formation) setiap peserta didik untuk berbagian di dalam sebuah narasi besar Alkitab (the Grand Story of the Scripture).”&#160; Firman Tuhan menyatakan manusia diciptakan sebagai gambar dan rupa Allah ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/3p/pendidikan-agama-kristen">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">“… membentuk (<em>formation</em>) setiap peserta didik untuk berbagian di dalam sebuah narasi besar Alkitab (<em>the Grand Story of the Scripture</em>).”&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Firman Tuhan menyatakan manusia diciptakan sebagai gambar dan rupa Allah yang mulia. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang diberikan mandat untuk menaklukkan dunia bagi kemuliaan Allah yang menjadi dasar bagi semua bidang ilmu lainnya.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tujuan dari mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK) bukanlah sekadar memberikan informasi (<em>information</em>) tentang cerita-cerita dan prinsip-prinsip dalam Alkitab, melainkan terutama adalah membentuk (<em>formation</em>) setiap peserta didik untuk berbagian di dalam sebuah narasi besar Alkitab (<em>the Grand Story of the Scripture</em>).&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Peristiwa kejatuhan manusia ke dalam dosa membuat manusia terputus secara relasi dengan Tuhan. Efek dosa bukan hanya membuat manusia terpisah dari Tuhan secara spiritual, tetapi juga membuat keterpisahan dari semua relasi manusia, yaitu relasi antar manusia, manusia dengan dirinya sendiri dan relasi dengan alam. Fakta dosa ini menyebabkan semua interpretasi manusia akan ciptaan – semua bidang ilmu pengetahuan &#8211; menjadi terdistorsi dan menyeleweng.&nbsp;</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">Tujuan dari mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK) bukanlah sekadar memberikan informasi (<em>information</em>) tentang cerita-cerita dan prinsip-prinsip dalam Alkitab, melainkan terutama adalah membentuk (<em>formation</em>) setiap peserta didik untuk berbagian di dalam sebuah narasi besar Alkitab (<em>the Grand Story of the Scripture</em>).&nbsp;</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Banyak sekolah melihat mata pelajaran PAK sebagai pelajaran yang terpisah dari mata pelajaran lainnya. Misalnya mata pelajaran Biologi bisa mengajarkan teori asal mula bumi yang berbeda dari ajaran Alkitab. Sekolah Kristen Calvin berusaha untuk mengintegrasikan semua bidang ilmu pengetahuan di dalam terang firman Tuhan. Segala kebenaran adalah kebenaran Tuhan (<em>all truth is God’s truth</em>). Oleh karena itu, setiap mata pelajaran seharusnya menyatakan kebenaran yang Tuhan rancang dan inginkan pada awalnya. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut Katekismus Westminster, jawaban dari pertanyaan “apakah tujuan hidup umat manusia?” adalah untuk memuliakan Allah dan menikmati Dia untuk selama-lamanya. Panggilan pendidikan Kristen adalah bagaimana setiap ilmu, setiap inci kehidupan ditebus dan dikembalikan bagi kemuliaan Tuhan. Salah satu hal yang menjadi penekanan di dalam SKC adalah bagaimana setiap peserta didik semakin memahami dan menghidupi iman Kristen yang mereka percaya yang tercermin dari karakter kristiani mereka serta perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan firman Tuhan.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apa yang kami harapkan dari peserta didik dalam mata pelajaran PAK ini? Kami berharap peserta didik bukan hanya pandai menghafal ayat-ayat Kitab Suci dan mengerti doktrin namun tanpa pemahaman dan penghayatan. Doa kami adalah dalam mempelajari wawasan pandang Kristen (C<em>hristian worldview</em>) peserta didik akan mampu untuk melihat kaitan dan integrasi yang Tuhan nyatakan melalui alam dan melalui firman Tuhan dalam keseharian hidup. Pada akhirnya kami berharap peserta didik dapat mempunyai pemahaman yang kokoh tentang apa dan mengapa mereka beriman di dalam Tuhan Yesus Kristus, serta mampu mempertanggung jawabkan iman mereka kepada dunia.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pembelajaran iman bukan hanya bersifat kognitif dan personal, melainkan juga bersifat holistik dan komunal dengan melibatkan interaksi dan diskusi kelompok terhadap pertanyaan, studi kasus, maupun presentasi kelompok. Kami berharap lewat rangkaian pengajaran seperti yang digambarkan di atas, peserta didik beroleh anugerah untuk menjadi manusia yang takut akan Tuhan dan berbijaksana serta penuh cinta kasih dalam menyatakan identitas mereka sebagai garam dan terang dunia.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pdt. Heruarto Salim<br>Hamba Tuhan GRII Pusat</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">33667</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Apa yang Anda Harapkan?</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/resensi/apa-yang-anda-harapkan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[andrian]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 15 Oct 2026 02:12:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Resensi Buku]]></category>
		<category><![CDATA[kasih]]></category>
		<category><![CDATA[Kovenan]]></category>
		<category><![CDATA[kristen]]></category>
		<category><![CDATA[Paul Tripp]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=33348</guid>

					<description><![CDATA[Buku “Apa yang Anda Harapkan?” karya Paul David Tripp ini merupakan sebuah buku yang membahas kehidupan pernikahan Kristen secara realistis dan Alkitabiah. Tripp tidak menggambarkan pernikahan sebagai relasi yang selalu ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/resensi/apa-yang-anda-harapkan">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">Buku ini memberikan sebuah perspektif penting bagi pernikahan Kristen: pernikahan bukan terutama tentang menemukan pasangan yang sempurna, tetapi tentang dua orang berdosa yang bersama-sama membutuhkan anugerah Allah dan dipanggil untuk bertumbuh dalam kasih kepada Kristus dan satu sama lain. </p>
</blockquote>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Buku “Apa yang Anda Harapkan?” karya Paul David Tripp ini merupakan sebuah buku yang membahas kehidupan pernikahan Kristen secara realistis dan Alkitabiah. Tripp tidak menggambarkan pernikahan sebagai relasi yang selalu romantis, harmonis, dan bebas konflik. Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa pernikahan merupakan relasi antara dua manusia berdosa yang hidup bersama dan karena itu membutuhkan anugerah Allah, hikmat, pengampunan, serta usaha yang terus-menerus. Melalui baik pengalaman pernikahannya sendiri maupun kisah berbagai pasangan yang pernah dilayaninya, Tripp memperlihatkan bahwa pernikahan yang sehat bukanlah pernikahan tanpa masalah, melainkan pernikahan yang terus-menerus dipulihkan oleh anugerah Allah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keterbukaan Tripp dalam menceritakan pergumulan pernikahannya sendiri adalah kesaksian yang memberkati pembaca. Ia menikah pada usia yang relatif muda yaitu umur 20 tahun. Pada awalnya, dia merasa cukup siap menghadapi kehidupan pernikahan dibandingkan orang lain. Namun, perjalanan pernikahannya memperlihatkan bahwa kesiapan secara pengetahuan tidak otomatis membuat seseorang mampu menjalani pernikahan dengan baik. Dia dan istrinya sering mengalami konflik, pertengkaran, saling menyalahkan, dan harapan yang tidak sesuai dengan kenyataan. Karena itu, Tripp menggambarkan pernikahannya bukan sebagai sebuah pernikahan yang sukses, tetapi pernikahan mereka adalah sebuah kisah cinta yang berulang kali diselamatkan oleh anugerah dan hikmat Allah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada dua nasihat yang penting yang Tripp berikan dalam buku ini. Pertama adalah anugerah yang mengubahkan dan penuh kuasa dari Allah (<em>God’s powerful, transforming grace</em>). Kedua, hikmat yang mengarahkan ulang kehidupan (<em>His life-rearranging wisdom</em>). Tripp menekankan bahwa pernikahan tidak dapat hanya dibangun berdasarkan kemampuan, pengalaman, komunikasi, atau usaha manusia. Pernikahan membutuhkan pekerjaan Allah yang terus-menerus di dalam kehidupan suami dan istri. Anugerah Allah bukan sekadar pengampunan terhadap dosa masa lalu, tetapi juga kuasa yang terus bekerja untuk mengubah hati dan perilaku manusia. Sementara itu, hikmat diperlukan supaya pasangan mampu melihat kembali kehidupan, konflik, harapan, dan keputusan mereka berdasarkan perspektif Allah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tripp memberikan perhatian besar terhadap masalah dosa dalam pernikahan. Menurutnya, salah satu penghancur terbesar pernikahan bukan terutama persoalan ekonomi, perbedaan karakter, komunikasi, atau keadaan eksternal, melainkan dosa yang ada dalam hati manusia. Dosa membuat seseorang berpusat pada diri sendiri, sehingga kebutuhan, keinginan, perasaan, dan kepentingan pribadi menjadi lebih penting daripada kepentingan pasangan. Akibatnya, suami dan istri mudah saling menuduh, mencari alasan, menyimpan daftar kesalahan, membenarkan diri, dan membangun kepahitan. Tripp tidak hanya mengajarkan pasangan untuk memperbaiki komunikasi atau mencari teknik menyelesaikan konflik, tetapi membawa persoalan pernikahan sampai kepada persoalan hati manusia. Masalah eksternal dalam pernikahan sering kali merupakan manifestasi dari masalah internal, yaitu hati yang telah dipengaruhi dosa. Dengan demikian, pembaruan pernikahan membutuhkan pembaruan manusia oleh anugerah Allah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena dosa menjadi masalah utama dalam pernikahan, maka sangat penting untuk menyelesaikan masalah dosa itu. Bagaimana caranya? Dengan pengakuan dosa pada Tuhan yang sungguh-sungguh dan belajar rekonsiliasi dengan pasangan. Pasangan tidak boleh terus berada dalam siklus saling bermusuhan dan menyalahkan. Mereka perlu belajar mengakui dosa dengan rendah hati dan memberikan pengampunan. Rekonsiliasi berarti pemulihan relasi yang telah rusak dan tidak tepat. Dalam perspektif Kristen, pengampunan terhadap pasangan tidak berdiri sendiri, tetapi berakar pada pengampunan yang telah diterima manusia dari Allah melalui Kristus. Karena Allah telah mendamaikan manusia dengan diri-Nya, orang percaya dipanggil untuk mengusahakan rekonsiliasi dalam relasi dengan sesama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu ilustrasi yang menarik dalam buku ini adalah gambaran pernikahan sebagai kegiatan bercocok tanam. Pernikahan tidak dapat diperlakukan seperti sesuatu yang akan tumbuh dengan sendirinya. Sebagaimana tanaman membutuhkan tanah yang baik, benih, air, pemeliharaan, dan perhatian terus-menerus, demikian pula pernikahan membutuhkan usaha yang konsisten. Apa yang ditanam dalam kehidupan pernikahan pada akhirnya akan dituai. Kasih, kesetiaan, pengampunan, kejujuran, dan perhatian yang ditanam setiap hari akan menghasilkan buah dalam relasi. Sebaliknya, kepahitan, egoisme, kebohongan, dan ketidakpedulian juga akan menghasilkan konsekuensi dalam kehidupan pernikahan. Konsep tersebut menegaskan bahwa tidak ada jalan pintas menuju pernikahan yang sehat. Suami dan istri perlu terus-menerus mengusahakan relasi mereka. Pengakuan dosa, pengampunan, komunikasi, pelayanan, kepercayaan, dan kasih harus menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Pernikahan yang sehat bukan hasil dari satu keputusan besar, tetapi buah dari banyak keputusan kecil yang dilakukan secara konsisten.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tripp juga memberikan peringatan mengenai pernikahan yang manipulatif. Relasi suami istri dapat berubah menjadi relasi yang tidak sehat seperti racun ketika salah satu pihak menggunakan ancaman, pembayaran, atau rasa bersalah untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Manipulasi semacam itu bertentangan dengan kasih Kristen karena pasangan tidak lagi diperlakukan sebagai pribadi yang harus dikasihi, melainkan sebagai sarana untuk memenuhi keinginan diri sendiri. Karena itu, kehidupan pernikahan perlu dibangun berdasarkan kasih dan pelayanan, bukan penguasaan dan manipulasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Buku ini juga menekankan bahwa pernikahan merupakan tempat bagi suami dan istri untuk bertumbuh dalam melayani satu sama lain. Pernikahan bukan terutama tempat untuk mendapatkan apa yang diinginkan dari pasangan, melainkan tempat untuk memberikan diri dalam kasih. Kesetiaan, kepercayaan, pengorbanan, empati, perlindungan, dan perhatian menjadi bagian penting dari kehidupan pernikahan Kristen. Prinsip ini sejalan dengan gambaran Alkitab mengenai kasih yang tidak mencari keuntungan diri sendiri dan panggilan suami istri untuk saling mengasihi dalam Tuhan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada bagian akhir, Tripp merumuskan beberapa komitmen praktis yang dapat menjadi kerangka bagi pasangan Kristen dalam membangun pernikahan yang sehat. Enam komitmen tersebut adalah:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Komitmen untuk memberikan diri kepada gaya hidup yang teratur dalam pengakuan dosa dan pengampunan.</li>



<li>Komitmen untuk membangun pertumbuhan iman dan mengubah agenda kehidupan sehari-hari.</li>



<li>Komitmen untuk membangun ikatan kepercayaan yang kokoh.</li>



<li>Komitmen untuk membangun relasi kasih dengan pasangan.</li>



<li>Komitmen untuk menyelesaikan perbedaan dengan penghargaan dan anugerah.</li>



<li>Komitmen untuk melindungi pernikahan.</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Melalui enam komitmen ini, Tripp melihat pernikahan sebagai sebuah proses pengudusan. Pernikahan bukan hanya mengenai kebahagiaan pribadi, tetapi juga merupakan sarana yang Tuhan pakai untuk membentuk karakter, menyatakan dosa, mengajarkan pengampunan, dan menumbuhkan iman. Dengan demikian, pasangan tidak hanya bertanya, “Bagaimana supaya saya bahagia dalam pernikahan?” tetapi juga, “Bagaimana Allah sedang memakai pernikahan ini untuk membentuk saya makin serupa dengan Kristus?”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tripp tidak menawarkan formula sederhana untuk menghilangkan konflik dalam pernikahan. Sebaliknya, ia mengarahkan pasangan kepada realitas dosa, kebutuhan akan anugerah, pentingnya pengakuan dosa, pengampunan, rekonsiliasi, dan pertumbuhan iman. Pernikahan yang sehat bukanlah pernikahan yang tidak pernah mengalami masalah, melainkan pernikahan yang terus kembali kepada Allah dan membiarkan anugerah-Nya bekerja di dalam kehidupan suami dan istri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Buku ini memberikan sebuah perspektif penting bagi pernikahan Kristen: pernikahan bukan terutama tentang menemukan pasangan yang sempurna, tetapi tentang dua orang berdosa yang bersama-sama membutuhkan anugerah Allah dan dipanggil untuk bertumbuh dalam kasih kepada Kristus dan satu sama lain. Pernikahan yang sehat perlu terus diusahakan, dipelihara, dan dilindungi dalam terang firman Tuhan. Dengan demikian, pernikahan bukan hanya menjadi tempat manusia mencari kebahagiaan, tetapi juga menjadi salah satu sarana Allah membentuk umat-Nya makin dewasa dalam iman.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Buku ini sangat direkomendasikan bagi yang masih berpacaran, khususnya pasangan yang sedang mempersiapkan pernikahan, pasangan yang baru menikah, maupun pasangan yang sedang mengalami pergumulan dalam kehidupan rumah tangga. Karena dengan membaca buku ini, mereka dapat diperlengkapi dengan kebenaran firman Tuhan baik tentang relasi suami istri maupun mempersiapkan menghadapi konflik yang dialami. Buku ini juga relevan bagi pendeta, konselor Kristen, pembimbing pranikah, dan pelayan gereja yang mendampingi pasangan dalam menghadapi berbagai persoalan pernikahan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meskipun Tripp sempat menyebutkan gangguan media sosial secara sekilas (seperti menulis respons Facebook), namun buku ini ditulis sebelum era ledakan <em>smartphone</em>, Instagram, TikTok, dan algoritma adiktif. Pasangan muda masa kini bergumul hebat dengan “layar yang memisahkan keintiman di satu ranjang.” Harapan penulis ke depannya adalah tersedianya buku-buku pernikahan yang juga memberikan panduan praktis tentang etika digital dalam pernikahan, batasan privasi di media sosial, serta bahaya pornografi internet yang makin mudah diakses secara instan, sehingga dengan demikian dapat menolong pasangan untuk lebih berhikmat dalam menggunakan media sosial yang menjadi tantangan di zaman ini.<br><br>Pdt. Nathanael Marvin Santino<br>Hamba Tuhan GRII Solo</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">33348</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Roh Kudus dalam Injil Lukas: Sebuah Survei</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/alkitab-theologi/roh-kudus-dalam-injil-lukas-sebuah-survei</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[andrian]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2026 12:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Alkitab & Theologi]]></category>
		<category><![CDATA[Baptis]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[injil]]></category>
		<category><![CDATA[Lukas]]></category>
		<category><![CDATA[Roh Kudus]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan Yesus]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=33106</guid>

					<description><![CDATA[Dalam suatu kelas, seorang dosen berkata, “Salah satu utang orang [dari tradisi] Reformed dalam dunia theologi adalah penjelasan yang lebih utuh mengenai Roh Kudus.” Kalimat ini mewakili suatu pergumulan panjang ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/alkitab-theologi/roh-kudus-dalam-injil-lukas-sebuah-survei">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dalam suatu kelas, seorang dosen berkata, “Salah satu utang orang [dari tradisi] Reformed dalam dunia theologi adalah penjelasan yang lebih utuh mengenai Roh Kudus.” Kalimat ini mewakili suatu pergumulan panjang dalam tradisi Reformed untuk dapat menjelaskan Roh Kudus dengan lebih jelas dan komprehensif. Dalam dekade terakhir, kebanyakan pembahasan mengenai Roh Kudus diambil dari theologi Paulus dan theologi Yohanes yang menekankan keselamatan dan kehidupan orang percaya. Namun, ada sisi lain yang dapat dibahas, yaitu pengajaran mengenai Roh Kudus berdasarkan theologi Lukas. Jika kita membaca dengan teliti kitab-kitab dalam Perjanjian Baru, istilah “Roh Kudus” paling sering muncul dalam Injil Lukas dan Kisah Para Rasul, yang juga ditulis oleh Lukas. Kedua kitab ini ditujukan kepada Teofilus untuk menjelaskan bagaimana Kerajaan Allah hadir dalam dunia melalui pelayanan Yesus dan pertumbuhan gereja mula-mula. Lukas menyoroti peran sentral Roh Kudus untuk menggenapi janji Allah dalam sejarah keselamatan.<a href="#_ftn1" id="_ftnref1"><sup>[1]</sup></a> Oleh sebab itu, tulisan ini menyoroti apa yang Lukas tuliskan mengenai Roh Kudus dalam Injil Lukas, terutama dalam mempersiapkan, memurnikan, dan memimpin umat Allah di dalam keselamatan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Roh yang Menyingkapkan Janji Keselamatan</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Lukas banyak membicarakan Roh Kudus pada bagian awal Injilnya, namun frekuensinya menurun seiring berjalannya narasi, dan tidak muncul lagi di bagian akhir. Setelahnya, Roh Kudus baru muncul berulang kali dalam Kisah Para Rasul. Dalam narasi kelahiran Yesus dan peristiwa sekitarnya, Roh Kudus berperan besar dengan memenuhi orang-orang tertentu. (1) Roh Kudus memenuhi Yohanes Pembaptis semenjak dari rahim ibunya, sehingga dia akan membuat orang Israel berbalik kepada Tuhan, yakni melalui seruan pertobatan (1:15-17). (2) Kepada seorang anak dara bernama Maria, Gabriel mengatakan bahwa dia akan dinaungi oleh Roh Kudus sehingga mengandung dan melahirkan “Yang Kudus, Anak Allah” (Luk. 1:35). (3) Elisabet dipenuhi oleh Roh ketika dikunjungi oleh Maria, dan anak dalam kandungannya melonjak kegirangan (1:41). Lonjakan ini menunjukkan sukacita atas janji keselamatan di dalam bayi yang dikandung Maria. (4) Roh Kudus memenuhi Zakharia yang bernubuat mengenai Yohanes yang mempersiapkan jalan bagi Tuhan (1:67-79). Selain itu, (5) Simeon tua yang dipenuhi Roh menyambut kedatangan bayi Yesus dengan sukacita dan memuji Tuhan di Bait Allah (2:25-32). Dari semua peristiwa di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa Roh Kudus menyadarkan umat Allah akan keselamatan dari Mesias yang dinantikan. Tanpa Roh Kudus, umat Allah tidak mengerti pekerjaan yang sedang Allah lakukan. Bagi kita hari ini, kesadaran akan kebutuhan terhadap Injil dan keselamatan hanya dimungkinkan oleh pekerjaan Roh Kudus dalam hati kita. Roh Kuduslah yang membuka hati kita supaya kita dapat menerima Injil dengan sukacita.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Roh yang Memurnikan dengan Api</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu karya Roh Kudus yang penting dinyatakan oleh Yohanes Pembaptis dalam peristiwa pembaptisan Yesus. Dia mengatakan bahwa Yesus akan membaptis dengan Roh Kudus dan dengan api (3:16). Dalam hal ini, Roh Kudus disebut bersamaan dengan api. Untuk memahami kaitan Roh Kudus dan api, maka kita perlu melihat penjelasan dari ayat 17. Konteks dari ucapan Yohanes adalah bahwa Yesus yang membaptis memiliki kuasa untuk melakukan pembersihan dan menyatakan siapa milik Allah yang sejati dengan alat penampi dan api.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beberapa penafsir percaya bahwa yang dimaksudkan dengan api adalah Roh Kudus yang memurnikan (bdk. Yes. 4:4-5).<a href="#_ftn2" id="_ftnref2"><sup>[2]</sup></a> Dalam Kitab Yesaya, Roh diidentikkan dengan api yang mengadili dan membakar, serta menghapuskan segala noda darah yang ada di Yerusalem. Roh Kudus adalah Roh yang menguduskan. Maka bagi orang yang bertobat, Roh membersihkan hati mereka dari dosa dan kecemaran. Namun bagi orang yang keras hati, mereka akan diadili dan dihakimi oleh Kristus. Dari hal ini kita dapat melihat, baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Injil Lukas, Roh Kudus mempersiapkan, menyadarkan, dan memurnikan hati manusia sebagai penggenap karya keselamatan Allah.<a href="#_ftn3" id="_ftnref3"><sup>[3]</sup></a></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Roh yang Mengurapi dan Menguji Ketaatan Sang Putra</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Roh Kudus muncul dalam dua kisah yang berdampingan, yaitu narasi baptisan Yesus dan pencobaan di padang gurun. Dalam narasi baptisan, Roh Kudus turun ke atas Yesus dalam rupa burung merpati (3:22). Turunnya Roh Kudus menunjukkan pengurapan bagi Yesus yang akan memulai misi-Nya. Urapan ini menjadi bukti nyata perkenanan, tanda kelayakan dan pemberian otoritas bagi Yesus sebagai Anak Allah yang menjadi manusia yang sejati.<a href="#_ftn4" id="_ftnref4"><sup>[4]</sup></a> Hal ini kemudian dikonfirmasi oleh suara dari langit bahwa Yesuslah Anak yang dikasihi dan diperkenan oleh Allah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah baptisan, Lukas mencatat bahwa Roh Kudus membawa Yesus ke padang gurun untuk dicobai (4:1-2). Pencobaan ini bukan bertujuan jahat untuk melihat kemungkinan Yesus untuk gagal, sebab Roh Kudus bukanlah Roh yang jahat. Ujian ini bertujuan untuk menunjukkan ketaatan Yesus kepada Bapa dalam pimpinan Roh. Setelah dicobai Iblis, Yesus menang atas pencobaan dan membuktikan bahwa memang Dia menjadi manusia yang sepenuhnya taat kepada Allah. Setelah ujian itulah, baru Roh membawa Yesus untuk memulai pelayanan-Nya (4:14).<a href="#_ftn5" id="_ftnref5"><sup>[5]</sup></a> Dalam hidup kita, dipimpin Roh tidak berarti hidup tanpa masalah. Justru dalam masalah dan ujian, kita dipanggil untuk melihat pembentukan Roh Kudus bagi iman kita. Maka dalam menghadapi keputusan yang sulit dan godaan untuk kompromi, Roh memampukan kita untuk taat kepada Tuhan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Roh yang Memulihkan Kaum Terabaikan</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal menarik saat Yesus memulai pelayanan-Nya di Nazaret adalah penggenapan teks Perjanjian Lama mengenai orang yang memiliki Roh Tuhan dalam dirinya  (4:18-19; bdk. Yes. 61:1-2). Orang yang penuh Roh akan melakukan misi membawa kabar baik bagi kaum miskin, pembebasan para tawanan dan orang-orang tertindas, penglihatan bagi yang buta, dan membawa tahun rahmat Tuhan telah datang. Yesus mengklaim bahwa Dia memiliki Roh Tuhan dan telah diurapi, melalui turunnya Roh Kudus saat baptisan. Bagaimana penggenapan ini tercermin dalam pelayanan Yesus? Misi yang dikerjakan dan mewarnai pelayanan Yesus ditujukan bagi orang-orang sakit, perempuan-perempuan, pemungut cukai, dan orang berdosa, sebagai bukti bahwa Roh Tuhan ada pada Yesus.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Roh yang Menghidupkan Kuasa Doa</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Doa merupakan hal yang penting dalam Injil Lukas. Ketika murid-murid bertanya mengenai doa, pada bagian akhir pengajaran-Nya, Yesus mengaitkan doa dengan Roh Kudus. Yesus mengatakan bahwa orang tua di dunia memberikan yang baik, namun Bapa di sorga tahu memberikan yang terbaik. Bagian terbaik yang Allah berikan bagi kita adalah Roh Kudus (11:13).<a href="#_ftn6" id="_ftnref6"><sup>[6]</sup></a> Dalam hal ini kita mengerti bahwa Bapa mengasihi orang percaya, yaitu dengan memberikan Roh Kudus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menariknya, apa yang Yesus ajarkan mengenai doa juga terjadi pada Yesus. Ketika Yesus dibaptis, Lukas mencatat bahwa Roh Kudus turun ke atas-Nya pada saat Dia sedang berdoa (3:21).<a href="#_ftn7" id="_ftnref7"><sup>[7]</sup></a> Dalam hal ini, Lukas memiliki penekanan ganda terkait doa dan Roh Kudus. Pertama, doa dan Roh Kudus tidak dapat dipisahkan. Roh Kudus justru turun pada saat Yesus berdoa, bukan saat keluar dari air. Kedua, doa dan Roh Kudus merupakan titik penting bagi awal pelayanan Yesus. Melalui doa dan Roh Kudus, Allah menyatakan kuasa dan keterlibatan-Nya secara efektif dalam misi Kerajaan Allah.<a href="#_ftn8" id="_ftnref8"><sup>[8]</sup></a>&nbsp; Demikian juga Tuhan terlibat dalam hidup kita, yaitu melalui doa dan Roh Kudus.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Roh yang Memampukan Kesaksian</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteks penganiayaan dan misi, Yesus mengatakan bahwa yang menghujat Roh Kudus tidak akan diampuni (12:10) dan Roh Kudus akan mengajar apa yang harus dikatakan ketika bersaksi (12:11-12). Menghujat berarti melawan Roh secara sadar, sehingga menandakan kekerasan hati. Penghujatan Roh Kudus berarti menolak secara aktif akan karya Roh Kudus dan meniadakan pertobatan diri.<a href="#_ftn9" id="_ftnref9"><sup>[9]</sup></a> Dalam konteks penganiayaan fisik, penolakan terhadap Roh Kudus dapat termanifestasi dalam bentuk kemurtadan dari iman yang sejati.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika umat nantinya mengalami penganiayaan, Yesus mengajarkan agar murid-murid tidak perlu takut, sebab Roh Kuduslah yang akan memimpin mereka di tengah-tengah kesulitan. Roh Kudus akan memberikan pengertian dan hikmat untuk berkata-kata kepada penganiaya. Dalam hal ini, Roh Kudus akan mendorong dan menyertai mereka dalam menyaksikan iman. Hal ini akan diteruskan dalam kuasa kesaksian dan misi dalam Kisah Para Rasul.<a href="#_ftn10" id="_ftnref10"><sup>[10]</sup></a></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Roh Kudus: Roh yang Tersembunyi dalam Gereja Masa Kini</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Lukas memberitahu kita banyak hal mengenai pekerjaan Roh Kudus. Kita dapat menyadarinya setelah membaca narasi yang Lukas susun bagi kita. Dalam realitas yang kelihatan, pekerjaan Roh bersifat tersembunyi namun memiliki signifikansi yang nyata dalam kehidupan orang percaya. Theologi Lukas memberikan pengertian kepada kita bahwa Roh Kudus bekerja juga secara eksternal dalam misi. Dalam gereja, Roh Kuduslah yang memberikan daya untuk terus bertekun dalam firman, doa, dan kesaksian. Roh Kudus pernah memimpin orang-orang di sekitar Yesus untuk melihat karya keselamatan, demikian pula Roh memimpin gereja untuk melihat dan menyatakan karya keselamatan. Roh Allah memurnikan gereja Tuhan dari dosa dan kecemaran-kecemaran, sehingga gereja menjadi makin murni di hadapan Allah. Roh Kudus memimpin gereja dengan tinggal dalam hati orang percaya dan memimpin kita melewati setiap ujian dalam kehidupan. Roh memampukan gereja untuk berdoa di tengah dunia dan bersaksi memberitakan Injil. Roh Kudus juga mendorong gereja untuk membawa kabar baik dan melakukan pelayanan kepada orang-orang marginal di sekitar kita. Semua ini menunjukkan bahwa Roh Kudus bukan hanya pernah bekerja di masa yang lalu, melainkan memimpin gereja sampai pada hari ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaan untuk diskusi:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Bagaimana gereja hari ini dapat menjadi alat Roh Kudus untuk memikat orang berdosa melalui pemberitaan firman?</li>



<li>Bagaimana gereja dapat tekun dalam doa dan taat pada pimpinan Roh Kudus dalam pelayanan saat ini?</li>



<li>Bagaimana gereja terus peka terhadap pimpinan Roh Kudus untuk melayani kaum marginal dan melakukan penginjilan?</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Glory to God</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Janson Calvindi<br>Mahasiswa STTRII</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref1" id="_ftn1"><sup>[1]</sup></a> Udo Schnelle, <em>Theology of the New Testament</em>, Paperback edition, trans. M. Eugene Boring (Grand Rapids, Michigan: Baker Academic, 2020), 492.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref2" id="_ftn2"><sup>[2]</sup></a> Darrell L. Bock, <em>Luke : 2 Volumes (Baker Exegetical Commentary on the New Testament)</em> (Baker Academic, 1996), 322–23.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref3" id="_ftn3"><sup>[3]</sup></a> Darrell L. Bock, <em>A Theology of Luke and Acts: God’s Promised Program, Realized for All Nations</em>, ed. Andreas J. Kostenberger (Grand Rapids, Michigan: Zondervan Academic, 2012), 216.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref4" id="_ftn4"><sup>[4]</sup></a> Bock, <em>Luke</em>, 335.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref5" id="_ftn5"><sup>[5]</sup></a> Jethro Rachmadi, “Mengungkapkan Realita,” Khotbah, GRII Kelapa Gading, March 1, 2026.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref6" id="_ftn6"><sup>[6]</sup></a> Joel B. Green, <em>The Gospel of Luke</em>, Repr., The New International Commentary on the New Testament (Grand Rapids, Mich.: Eerdmans, 20), 450.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref7" id="_ftn7"><sup>[7]</sup></a> Gregory R. Lanier, <em>Luke: The Christian Standard Commentary</em> (Nashville: Holman Reference, 2025), 195.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref8" id="_ftn8"><sup>[8]</sup></a> David E. Garland, <em>Luke</em>, ed. Clinton E. Arnold (Grand Rapids: Zondervan Academic, 2012), 168–69.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref9" id="_ftn9"><sup>[9]</sup></a> Lanier, <em>Luke</em>, 615–16.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref10" id="_ftn10"><sup>[10]</sup></a> Green, <em>The Gospel of Luke</em>, 484–85.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">33106</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Dua Jenis Upah</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/renungan/dua-jenis-upah</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[heryanto]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Oct 2026 08:13:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[C.S.Lewis]]></category>
		<category><![CDATA[Etika Kerja Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[Ganjaran]]></category>
		<category><![CDATA[Pelayanan Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[Upah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=32956</guid>

					<description><![CDATA[Apa yang terlintas dalam pikiran pembaca ketika mendengar kata “upah”? Kala masih remaja ada ajaran kakek saya, pendeta gereja Pantekosta, yang sulit saya terima. Ajaran itu disenandungkan dalam syair lagu ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/renungan/dua-jenis-upah">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><em>Apa yang terlintas dalam pikiran pembaca ketika mendengar kata “upah”?</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Kala masih remaja ada ajaran kakek saya, pendeta gereja Pantekosta, yang sulit saya terima. Ajaran itu disenandungkan dalam syair lagu yang bunyinya, “Kerja buat Tuhan selalu manise. Biar <em>zonder</em> (tanpa) gaji selalu manise.” Serta satu lagi ajaran yang serupa yaitu “upahmu besar di sorga.” Terus selama hidup di bumi ini, mau makan apa?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita semua tahu jawaban pertanyaan ini, bukan? Ya, makan nasi, roti, ubi, singkong atau pasta. Masak makan rumput? Padahal padi, jagung, dan gandum termasuk jenis rumput. Bahkan ada beberapa jenis rumput liar yang bisa dimakan dan bernutrisi. Jadi, tetap bisa makan rumput juga, <em>kan</em>?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam hidup yang sementara ini, kita sering berpikir bak bunga rumput. Mungkin karena kemuliaan manusia mirip seperti itu. Kita terlalu cepat puas (baca: cepat puas) dengan hal-hal yang sementara. Padahal Tuhan menjanjikan sesuatu yang melebihi yang fana, upah atau boleh juga disebut sebagai ganjaran (<em>reward</em>) yang tidak hanya melampaui waktu, tapi juga jauh lebih bermutu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti kata C.S. Lewis, kita terlalu gampang puas. Orang tua menjanjikan pantai berpasir putih yang lembut dan bersih, tapi anak (baca: kita) puas dengan bermain lumpur. Lebih jauh lagi, C.S. Lewis dalam Weight of Glory menyatakan bahwa ada 2 macam ganjaran atau upah yang bisa kita dapatkan. Yang pertama adalah upah alami yang memiliki hubungan natural dengan hal-hal yang pembaca lakukan untuk mendapatkannya. Tapi ada upah yang kedua, yang bisa dikatakan sebagai upah supra-alami. Upah kedua ini tidak memiliki hubungan alami dengan hal-hal yang kita lakukan untuk memperolehnya. Contohnya? Kata Lewis, uang bukanlah ganjaran alami untuk cinta. Itu <em>matre</em>. Seorang jenderal yang berperang untuk mendapat kemenangan bukanlah tentara bayaran, karena kemenangan adalah ganjaran yang diinginkan dari pertempuran – bukan gelar kebangsawanan misalnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dorothy Sayers dalam esainya berjudul <em>Why Work</em> mengatakan bahwa imbalan yang dapat diberikan sebuah pekerjaan adalah kepuasan melihat kebaikan dan kesempurnaan pekerjaan itu. Ini adalah sesuatu yang melampaui materi. Mirip-mirip dengan apa yang diutarakan oleh Lewis di atas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika Yusuf melayani sebagai budak di rumah Potifar, ia berusaha mengerjakan semua tugasnya dengan baik sampai-sampai membuat Potifar sadar bahwa Tuhan menyertai Yusuf! Lalu apa yang Yusuf dapatkan sebagai ganjarannya? Kepercayaan yang lebih besar. Artinya? Silakan pembaca pikirkan jawabannya karena Alkitab sudah menyediakannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terakhir mari kita lihat perumpamaan hamba dan tuan di Lukas 17:7-10. Apakah upah seorang hamba yang telah berjerih lelah melayani tuannya? Sebuah pengakuan! Pengakuan apa? “Kami sudah melakukan kewajiban kami, meski kami adalah hamba-hamba tak berguna.” Cobalah merenungkan pernyataan ini. Ada 2 hal yang disiratkan di situ yang menunjukkan <em>proper attitude</em> dan sekaligus upah seorang hamba yang baik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kiranya Tuhan menolong kita semua untuk dapat berkata, “Lihat, seperti mata para hamba laki-laki memandang kepada tangan tuannya, seperti mata hamba perempuan memandang kepada tangan nyonyanya, demikianlah mata kita memandang kepada TUHAN, Allah kita, sampai Ia mengasihani kita.” (Mazmur 123:2)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Soli Deo Gloria</p>



<p class="wp-block-paragraph">Vic. Maya Sianturi Huang</p>



<p class="wp-block-paragraph">Wakil Koordinator Bidang Pendidikan Sekolah Kristen Calvin</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">32956</post-id>	</item>
		<item>
		<title>The Good News of Forgiveness</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/kehidupan-kristen/the-good-news-of-forgiveness</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[michaelleang]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 27 Sep 2026 14:31:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kehidupan Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[forgiveness]]></category>
		<category><![CDATA[injil]]></category>
		<category><![CDATA[kasih]]></category>
		<category><![CDATA[Konflik]]></category>
		<category><![CDATA[pengampunan]]></category>
		<category><![CDATA[Permohonan maaf]]></category>
		<category><![CDATA[pertobatan]]></category>
		<category><![CDATA[rekonsiliasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=32655</guid>

					<description><![CDATA[The Dynamics of Forgiveness Dinamika meminta dan menerima pengampunan adalah suatu hal yang terajut sangat dalam di dalam Kitab Suci. Kita melihat ini dalam sistem kurban yang secara rutin dipersembahkan ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/kehidupan-kristen/the-good-news-of-forgiveness">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong><em>The Dynamics of Forgiveness</em></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Dinamika meminta dan menerima pengampunan adalah suatu hal yang terajut sangat dalam di dalam Kitab Suci. Kita melihat ini dalam sistem kurban yang secara rutin dipersembahkan dalam keimaman Israel (Im. 1-7). Kita melihat ini juga dalam Doa Bapa Kami, yang mendorong permohonan dan pemberian maaf sehari-hari (Mat. 6:12). Terlebih lagi, ayat tersebut bukan hanya menunjukkan aspek rutin dari pengampunan, melainkan juga dimensi vertikal serta horizontalnya. Permohonan maaf dan kepastian akan penerimaan pengampunan adalah dinamika yang dapat kita nikmati dalam relasi dengan Tuhan (bdk. 1 Yoh. 1:9). Secara horizontal pun, terintegrasi secara erat dengan pengampunan vertikal, adalah keharusan kita untuk meminta dan memberikan maaf.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><em>Withholding Forgiveness</em></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sayangnya, realitasnya tidak seindah itu.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada satu sisi, kita seringkali menunjukkan keengganan untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf. Bukan hanya enggan, kita lebih semangat melakukan kebalikannya: membenarkan diri, mencari alasan, mengalihkan isu, dan sebagainya. Di dalam Alkitab, kita melihat di kisah kejatuhan yang pertama, Adam dan Hawa mengalihkan kesalahan mereka kepada hal lain (Kej. 3:12-13). Anak mereka, Kain, juga hanya mengikuti contoh mereka (Kej. 4:13-14). Kita mulai melihat tindakan yang menggambarkan kesadaran akan dosa dan usaha memperbaiki kesalahan ketika Yakub berbaikan dengan Esau (Kej. 32:13-20). Namun, di sana pun kita hanya melihat pengakuan dosa, dan bukan permohonan maaf. Permohonan maaf untuk mengampuni dosa baru muncul di 50:17, dan itu pun diutarakan Yakub agar Yusuf mengampuni kakak-kakaknya. Permohonan maaf atas dosa pribadi baru benar-benar muncul di Keluaran 10:16-17, setelah Firaun merasakan beratnya tulah kedelapan—dan ketulusan Firaun juga dapat dipertanyakan. Di Bilangan 12:11-lah kita baru menemukan permohonan maaf yang terkesan lebih tulus atas dosa pribadi ketika Harun meminta maaf atas dosanya dan Miriam yang mempertanyakan otoritas Musa.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada sisi lainnya, manusia juga lebih sering memupuk dendam daripada membagikan pengampunan. Dalam lembar-lembar awal Alkitab, kita melihat Lamekh yang penuh dengan dendam (Kej. 4:23-24). Kita melihat Simeon dan Lewi yang menghabisi Sikhem yang sudah siap untuk membayar utang dosanya (Kej. 34:25-29). Yesus sendiri pun memberikan kisah hamba yang jahat, yang tidak dapat mengampuni seseorang yang berhutang jauh lebih kecil dibanding utangnya yang besar kepada tuannya (Mat. 18:21-35). Intinya jelas di sini: Alkitab menggambarkan manusia sebagai makhluk yang enggan mengakui dan meminta maaf atas kesalahannya.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keengganan ini bukan hanya terlihat di dalam Alkitab, melainkan juga dalam kehidupan kita, bukan? Kita begitu enggan <em>meminta</em> maaf ketika kita salah. Kita melihat begitu banyak orang yang lebih memilih untuk <em>kekeh</em> pada pendiriannya yang tidak benar, daripada membuka celah akan kemungkinan bahwa dirinya bersalah. Dan sedihnya, hal ini bisa merugikan begitu banyak orang, bukan hanya seorang individu saja. Hal ini membuat berbagai tokoh maupun institusi terus memperjuangkan program-program atau proyek-proyek yang menghamburkan uang. Keengganan ini membuat relasi suami-istri menjadi masam, karena sama-sama mau menang sendiri. Keengganan ini bisa membuat sebuah KTB di gereja menjadi dingin karena tidak ada rekonsiliasi antara anggota ketika terjadi konflik.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ujung-ujungnya, semua hal ini hanya menguak hati kita yang sempit dan egois. Kita tidak suka meminta pengampunan, karena menunjukkan bahwa kita ini orang yang bersalah. Mungkin karena pengampunan menunjukkan bahwa kita adalah orang-orang yang kalah, dan kita tidak suka itu, bukan? Kita ingin dinobatkan sebagai pemenang, dan bukan orang kalah yang perlu dikasihani. Kita ingin dipandang sebagai orang-orang yang sempurna, yang patut dikagumi karena prestasi kita yang putih bersih<em>.&nbsp;</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Hati egois ini juga ditunjukkan dalam keengganan <em>memberikan</em> pengampunan. Kita tidak suka memberikan pengampunan karena ego kita yang tersakiti masih terasa bengkak. Kenyamanan kita sudah diganggu oleh orang yang berdosa terhadap kita, dan kita ingin orang tersebut membayar kesalahan mereka, dengan ganjaran yang lebih besar lagi bahkan! Komunitas dengan orang-orang seperti ini di dalamnya akan menjadi sebuah lingkungan yang sangat menyesakkan, karena pintu akan kemungkinan diampuni tertutup rapat. Tidak akan ada rasa percaya dan ruang untuk jadi apa adanya dalam komunitas seperti ini, karena rasa takut bersalah menjadi hal yang mendorong anggota-anggotanya. Ini menghasilkan komunitas yang berada dalam situasi perang dingin secara konstan, yang siap meledak kapan pun.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Betapa mengerikan hati yang miskin pengampunan!</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><em>The Joy of Forgiveness</em></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Padahal, Kitab Suci sudah menyaksikan kepada kita akan kesiapan Allah untuk membagikan pengampunan bagi mereka yang sungguh-sungguh bertobat. Bahkan, kalau kita perhatikan baik-baik, inisiatif Allah seringkali mendahului permohonan maaf manusia. Tanpa meminta pengampunan, Allah sudah memberikan anugerah-Nya kepada Adam dan Hawa (Kej. 3:21). Tanpa permohonan bangsa Israel, Allah juga sudah memberikan sistem kurban untuk pengampunan dosa di sepanjang Keluaran dan Imamat. Tentunya, inisiatif ini ditunjukkan secara paling jelas dalam Yesus Kristus, yang mati bagi bangsa-bangsa yang bahkan tidak meminta-Nya untuk datang. Pada jantung dari Injil, yang seringkali digaung-gaungkan oleh tradisi Reformasi, adalah kemungkinan bahwa kita bisa menerima pengampunan dengan apa adanya. Karena, di dalam Kitab Suci kita menemukan Allah yang <em>suka</em> memberikan pengampunan kepada kaum yang tidak layak (Mkh. 7:18; Mzm. 130:3-4; 1Yoh. 1:9; dsb).&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Timothy Keller sering memaparkan Injil dengan formulasi berikut: “<em>You are more sinful and flawed than you ever dared believe, but more accepted and loved than you ever dared hope</em>.” Ketika kita bertemu dengan Kristus yang tersalib, kita akan sadar bahwa <em>ternyata</em> kita jauh lebih berdosa dan cacat dibanding yang kita pikirkan. Tapi pada sisi yang lain, hal ini tidak membuat kita putus asa. Karena, kita yang separah ini bisa dikasihi dan diterima oleh Kristus, lebih daripada yang kita bisa harapkan.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Maka, kalau Injil seperti ini benar-benar meresap ke dalam hati, harusnya kita dibebaskan dari usaha membenarkan diri kita. Harusnya kita tidak perlu lagi mempertahankan citra diri yang harus sempurna, karena kita tahu bahwa realitasnya jauh lebih buruk dari “selalu benar”. Kita dilucuti dari semua bayangan-bayangan berlebihan akan hebatnya diri kita, dan bisa melihat diri kita dengan benar sekarang.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada saat yang sama, ini tidak membuat kita menjadi minder. Karena, kabar baik ini memberikan kita sebuah citra diri yang kokoh, yaitu bahwa kita adalah penerima kasih yang jauh lebih besar daripada yang kita kira kita layak terima. Sehingga, seharusnya ini juga membebaskan kita untuk membagikan pengampunan kepada orang lain, meskipun mereka tidak layak menerimanya. Karena, seharusnya ini menyadarkan kita bahwa tidak ada satu pun orang yang layak. Karena kita sadar, kita pun diberikan cinta kasih yang jauh lebih besar daripada yang bisa kita bayangkan sebelumnya.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Betapa melegakan hidup yang penuh dengan pengampunan ini! Betapa indahnya komunitas yang membuka ruang akan kesempatan orang untuk bangkit lagi setelah jatuh seperti ini! Dalam komunitas seperti inilah ada potensi untuk bertumbuh dan berkembang dengan sehat, karena komunitas seperti ini menumbuhkan kasih, bukan rasa takut maupun semangat <em>survival of the fittest</em>.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tentu kita sadar akan perlunya akuntabilitas dalam pengampunan. Kita tidak mau dinamika pengampunan ini menjadi hal yang murahan dan mudah dieksploitasi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Perlu ada hikmat dan mekanisme di mana akuntabilitas dan pencegahan eksploitasi dapat ditegakkan. Lagipula, Alkitab sendiri memiliki prinsip-prinsip yang penting untuk dapat dipaparkan juga mengenai hal-hal tersebut. Kita tetap perlu penekanan pada pertobatan, disiplin gereja, dan perlindungan terhadap penyintas kasus-kasus berat. Ini dapat menjadi topik penting untuk dibahas di dalam artikel lain. Tapi di artikel ini, poin yang harus ditekankan adalah: apakah kita lebih sering melihat pengampunan dalam diri dan komunitas kita atau malah melihat sebaliknya?&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena sesungguhnya, seorang Kristen yang miskin pengampunan, baik dalam meminta maupun memberikan, adalah seorang Kristen yang miskin kuasa Injil. Sebuah komunitas yang miskin pengampunan, tidak peduli seberapa besar pencapaiannya, adalah sebuah komunitas yang miskin dengan kuasa Injil. Sadar atau tidak sadar, orang Kristen dan komunitas Kristen yang seperti itu sedang menghidupi kisah yang anti-Injil. Betapa malangnya kekristenan yang mengakui Injil tetapi kehidupannya melawan kuasa pengampunan Injil tersebut!</p>



<p class="wp-block-paragraph">Maka pertanyaan terpenting bagi kita hari ini adalah: apakah kita sudah menerima kuasa Injil tersebut dalam kehidupan kita secara personal? Atau apakah Injil hanya menjadi pintu masuk pertama kita untuk jadi sekadar orang-orang beragama, yang terlihat baik dari luar, yang akhirnya kita tinggalkan ketika kita melanjutkan kehidupan Kristen ini? Mari kita kembali menggali dalamnya pengampunan Allah di dalam Injil. Biarlah itu mendorong kita untuk menghidupi sebuah narasi pengampunan, baik secara vertikal dengan Tuhan, maupun juga secara horizontal bersama sesama kita, sehingga pada akhirnya kita menjadi orang-orang Kristen yang melimpah dengan kuasa Injil tersebut. <em>This is truly good news.&nbsp;</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Jordan Frans Adrian<br>Mahasiswa STTRII</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">32655</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Aksioma Eklesiologi John Calvin dan Kembalinya Pola Presbiterial</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/alkitab-theologi/aksioma-eklesiologi-john-calvin-dan-kembalinya-pola-presbiterial</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[andrian]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Sep 2026 15:19:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Alkitab & Theologi]]></category>
		<category><![CDATA[Eklesiologi]]></category>
		<category><![CDATA[gereja]]></category>
		<category><![CDATA[jan hus]]></category>
		<category><![CDATA[John Calvin]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Rasul]]></category>
		<category><![CDATA[Paus]]></category>
		<category><![CDATA[Presbiterial]]></category>
		<category><![CDATA[reformasi]]></category>
		<category><![CDATA[reformator]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=32467</guid>

					<description><![CDATA[“Therefore, of the one and only Church there is one body and one head, not two heads like a monster.” Pope Boniface VIII, Unam Sanctam: One God, One Faith, One ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/alkitab-theologi/aksioma-eklesiologi-john-calvin-dan-kembalinya-pola-presbiterial">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph"><em>“Therefore, of the one and only Church there is one body and <strong>one head, not two heads</strong> like a monster.”</em></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Pope Boniface VIII, Unam Sanctam: One God, One Faith, One Spiritual Authority, 1302</em></p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Kepala dan Otoritas</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Konsep pemerintahan di dalam gereja tidak dapat terpisahkan dari konsep otoritas dalam gereja. Kita telah mengerti bahwa Alkitab menyatakan bahwa Kristus adalah satu-satunya kepala gereja (Ef. 1:22; Kol. 1:18) yang dari pada-Nya mengalir segala kekuatan, kehidupan, dan kesatuan dalam gereja. Dengan demikian, segala otoritas yang dilakukan di dalam gereja tidak boleh bergerak secara otonom, atau berasal dari manusia, melainkan harus terikat sebagaimana firman Tuhan dinyatakan dan diterapkan di dalam sejarah, terutama dari para rasul. Jika kita percaya bahwa Alkitab adalah firman Allah, dan firman berkata bahwa hanya Kristus yang menjadi kepala gereja secara Ilahi (<em>divine authority</em>), maka sistem pemerintahan di gereja harus mencerminkan pemahaman tersebut. Sepanjang sejarah, gereja telah berusaha untuk mengaplikasikan ini. Namun, setelah Skisma Besar antara gereja Barat dan Timur, bagaimanakah pemerintahan dalam gereja Barat diterapkan?</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Gereja Katolik Roma Pasca Skisma Besar dan Supremasi Paus</strong></p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full is-resized"><img data-recalc-dims="1" fetchpriority="high" decoding="async" width="324" height="159" data-attachment-id="32470" data-permalink="https://www.buletinpillar.org/alkitab-theologi/aksioma-eklesiologi-john-calvin-dan-kembalinya-pola-presbiterial/attachment/image-10" data-orig-file="https://i0.wp.com/www.buletinpillar.org/wp-content/uploads/2026/09/image-2.jpg?fit=324%2C159&amp;ssl=1" data-orig-size="324,159" data-comments-opened="0" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;1&quot;,&quot;alt&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="image" data-image-description="" data-image-caption="" data-large-file="https://i0.wp.com/www.buletinpillar.org/wp-content/uploads/2026/09/image-2.jpg?fit=324%2C159&amp;ssl=1" src="https://i0.wp.com/www.buletinpillar.org/wp-content/uploads/2026/09/image-2.jpg?resize=324%2C159&#038;ssl=1" alt="" class="wp-image-32470" style="aspect-ratio:2.0636942675159236;width:543px;height:auto" srcset="https://i0.wp.com/www.buletinpillar.org/wp-content/uploads/2026/09/image-2.jpg?w=324&amp;ssl=1 324w, https://i0.wp.com/www.buletinpillar.org/wp-content/uploads/2026/09/image-2.jpg?resize=300%2C147&amp;ssl=1 300w" sizes="(max-width: 324px) 100vw, 324px" /><figcaption class="wp-element-caption"><strong>Gambar 1.</strong> King Ghidorah, Monster Berbadan Satu Berkepala Tiga</figcaption></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Pemerintahan Gereja Katolik Roma pasca Skisma Besar merupakan hal yang rumit. Setelah adanya Skisma Besar, Gereja Katolik Roma mengalami pergumulan terkait otoritas antara hierarki gereja dan kekuasaan sekuler. Pada abad ke-11 hingga ke-12, terjadi krisis otoritas sehingga terjadi Kontroversi <em>Investiture</em><a href="#_ftn1" id="_ftnref1"><sup>[1]</sup></a>, di mana pemerintah sekuler dapat melakukan pengangkatan uskup dan pemimpin-pemimpin gereja banyak diatur untuk kepentingan politik, serta terjadi jual beli jabatan gerejawi untuk uang. Pada abad ke-12 hingga ke-13, ada sentralisasi otoritas, keseragaman, dan legalitas dari Gereja Katolik Roma yang makin kuat dengan pembuatan Hukum Kanonik Gereja Katolik. Kondisi kompleks gereja pada periode ini menyusun latar belakang yang memungkinkan untuk terjadinya suatu perpecahan lain yakni Skisma Besar Barat (<em>Great Western Schism</em>)<a href="#_ftn2" id="_ftnref2"><sup>[2]</sup></a>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam Skisma Besar Barat, terjadi perpecahan di mana terdapat tiga paus di saat yang bersamaan, yakni Paus Benedict XIII di Avignon, Paus Gregory XII di Roma, dan Paus John XXIII. Mengapa hal ini bisa terjadi? Pada saat itu pusat dari kepausan Gereja Katolik Roma sempat berpindah dari Roma ke Avignon. Setelah tujuh generasi paus, pusat kepausan berpindah dari Avignon kembali ke Roma. Tidak lama kemudian setelah berpindah, Paus Gregory XI yang waktu itu memindahkan pusat dari Avignon ke Roma, meninggal dunia. Mengetahui hal itu, masyarakat Roma menekan Gereja Katolik Roma untuk melakukan konklafkepausan mengingat sudah sekitar 70 tahun lebih tidak ada pemilihan paus di Roma (karena perpindahan di Avignon). Setelah itu, dipilihlah Paus Urban VI sebagai paus dari Katolik Roma. Namun, para kardinal pada saat itu menyesalkan pemilihan Paus Urban VI sebagai paus dari Katolik Roma karena Paus Urban VI dianggap kontroversial dalam tindakannya terhadap para kardinal. Lagi pula, para kardinal merasa bahwa mereka memilih Paus Urban VI karena tekanan masyarakat Roma. Kemudian mereka menganggap Paus Urban VI tidak sah dan melakukan konklafulang untuk memilih Paus Clement VII yang kemudian menjadikan pusat kepausannya di kota Avignon. Paus Clement VII mengekskomunikasi Paus Urban VI, <strong>tetapi mereka tidak mengakui ke-sah-an otoritas masing-masing paus</strong>. Oleh karena itu, untuk beberapa tahun, terdapat dua paus dan garis kepausan, yakni garis Roma dan garis Avignon. Ketika kedua paus mati, para kardinal dari masing-masing paus memilih kembali penerus dari paus mereka. Pemerintah Eropa pada saat itu memilih untuk berpihak ke satu paus sesuai dengan kepentingan masing-masing. Untuk mengatasi krisis dari skisma ini, paus dapat melakukan <em>ecumenical council</em> (konsili ekumenis) gereja Katolik, tetapi kedua paus ini tidak melakukannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk menyelesaikan permasalahan ini, kardinal dari Prancis dan Roma melakukan konklaflagi dalam Konsili Pisa untuk memilih ulang paus. Setelah itu, dipilihlah Paus John XXIII oleh para kardinal. Namun, kembali lagi ke awal: <strong>kedua Paus tidak mengakui ke-sah-an Konsili Pisa yang dilakukan oleh para kardinal ini</strong>, sehingga sekarang ada tiga paus dan garis kepausan: Roma, Avignon, dan Pisa. Gereja Katolik Roma menjadi satu tubuh berkepala tiga, seperti monster.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full is-resized"><img data-recalc-dims="1" decoding="async" width="394" height="188" data-attachment-id="32469" data-permalink="https://www.buletinpillar.org/alkitab-theologi/aksioma-eklesiologi-john-calvin-dan-kembalinya-pola-presbiterial/attachment/image-9" data-orig-file="https://i0.wp.com/www.buletinpillar.org/wp-content/uploads/2026/09/image.jpg?fit=394%2C188&amp;ssl=1" data-orig-size="394,188" data-comments-opened="0" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;1&quot;,&quot;alt&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="image" data-image-description="" data-image-caption="" data-large-file="https://i0.wp.com/www.buletinpillar.org/wp-content/uploads/2026/09/image.jpg?fit=394%2C188&amp;ssl=1" src="https://i0.wp.com/www.buletinpillar.org/wp-content/uploads/2026/09/image.jpg?resize=394%2C188&#038;ssl=1" alt="" class="wp-image-32469" style="aspect-ratio:2.1129032258064515;width:541px;height:auto" srcset="https://i0.wp.com/www.buletinpillar.org/wp-content/uploads/2026/09/image.jpg?w=394&amp;ssl=1 394w, https://i0.wp.com/www.buletinpillar.org/wp-content/uploads/2026/09/image.jpg?resize=300%2C143&amp;ssl=1 300w" sizes="(max-width: 394px) 100vw, 394px" /><figcaption class="wp-element-caption"><strong>Gambar 2.</strong> Tiga Garis Kepausan pada Skisma Besar Barat (1378-1417)<a href="#_ftn3"><sup>[3]</sup></a></figcaption></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Pengaruh dari perpecahan ini tidak begitu bermain peran pada orang awam secara theologi/doktrinal, karena tidak ada doktrin yang berubah secara signifikan, tetapi sangat berperan secara pastoral, administrasi, dan politik. Jemaat awam tatkala mengurus administrasi menjadi bertanya-tanya: “Paus yang sejati yang mana?” Karena perpecahan gereja Katolik, para pemimpin di Eropa menarik perlindungan mereka terhadap paus Katolik yang berseberangan dengan pihak mereka dan memberikan perlindungan material kepada paus yang mereka akui. Karena itu, terjadi instabilitas dalam diplomasi dan perpajakan. Krisis ini membuat para pemimpin mendesak gereja Katolik untuk mengadakan konsili untuk menyelesaikannya, sehingga diadakanlah konsili Konstanz. Alhasil, Paus Roma (Gregory XII) mengundurkan diri, Paus Pisa (John XXIII) berusaha mengendalikan konsili hingga diburu dan dipenjara, dan Paus Avignon (Benedict XIII) diekskomunikasikan dan diteruskan oleh Anti-Paus Clement VIII yang nantinya mengundurkan diri dan mengakui paus yang dipilih pada Konsili Konstanz, yakni Paus Martin V. Di konsili yang sama, dilakukan juga penetapan dari agenda kedua konsili tersebut: pembahasan dan penetapan bahwa John Wycliffe, seorang pastor dan reformator gereja Katolik, dianggap sesat, juga Jan Hus, yang juga adalah pastor, teolog, dan filsuf Katolik, yang memiliki pemikiran tentang reformasi gereja, dibakar. John Wycliffe dan Jan Hus adalah para pemikir pendahulu dari Protestanisme. Dikatakan bahwa saat dibakar, Jan Hus berkata,</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph"><em>“You are burning a goose, but <strong>in a hundred years</strong> you will have a swan that you cannot roast or boil”</em> &#8211; Jan Hus (1415)</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkinkah kata-kata Jan Hus benar, bahwa seratus tahun kemudian benar-benar ada seseorang yang melakukan reformasi terhadap Gereja Katolik Roma?</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full is-resized"><img data-recalc-dims="1" decoding="async" width="351" height="220" data-attachment-id="32468" data-permalink="https://www.buletinpillar.org/alkitab-theologi/aksioma-eklesiologi-john-calvin-dan-kembalinya-pola-presbiterial/attachment/image-8" data-orig-file="https://i0.wp.com/www.buletinpillar.org/wp-content/uploads/2026/09/image-1.jpg?fit=351%2C220&amp;ssl=1" data-orig-size="351,220" data-comments-opened="0" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;1&quot;,&quot;alt&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="image" data-image-description="" data-image-caption="" data-large-file="https://i0.wp.com/www.buletinpillar.org/wp-content/uploads/2026/09/image-1.jpg?fit=351%2C220&amp;ssl=1" src="https://i0.wp.com/www.buletinpillar.org/wp-content/uploads/2026/09/image-1.jpg?resize=351%2C220&#038;ssl=1" alt="" class="wp-image-32468" style="aspect-ratio:1.610091743119266;width:541px;height:auto" srcset="https://i0.wp.com/www.buletinpillar.org/wp-content/uploads/2026/09/image-1.jpg?w=351&amp;ssl=1 351w, https://i0.wp.com/www.buletinpillar.org/wp-content/uploads/2026/09/image-1.jpg?resize=300%2C188&amp;ssl=1 300w" sizes="(max-width: 351px) 100vw, 351px" /><figcaption class="wp-element-caption"><strong>Gambar 3</strong>. Biarawan Roma Katolik, Martin Luther, Reformator Gereja Tahun 1517, Kurang Lebih 100 Tahun Setelah Pembakaran Jan Hus.</figcaption></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph"><strong>Naluriah Gereja Roma dan Aksioma Eklesiologi John Calvin: <em>Christus Caput Ecclesiae</em></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita tidak akan membahas reformasi Luther pada kesempatan ini karena sudah ada artikel lain yang membahasnya. Namun, apabila kita menelaah sejarah Skisma Besar Barat yang baru saja kita bahas, secara tidak langsung, kita sedang melihat secercah dari pola kolegial, yakni kepemimpinan yang kolegial, cukup ternyatakan beberapa kali di dalam Gereja Katolik Roma waktu permasalahan muncul. Ketika gereja ditekan oleh masyarakat Roma untuk melakukan konklaf, para kardinal berkumpul dan bertindak secara bersama-sama. Ketika muncul permasalahan serius pada kepemimpinan Paus Urban VI, lagi-lagi para kardinal berkumpul, mewakili gereja secara kolegial dan berupaya mencari jalan keluar. Tentu, permasalahan yang ada tidak langsung selesai ataupun mendapatkan solusi ideal. Namun, pola kepemimpinan kolektif ini menunjukkan fungsi korektif yang lebih baik daripada keberlangsungan situasi di mana dua, bahkan tiga paus universal secara bersamaan mengeklaim otoritas tertinggi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Skisma Besar Barat menunjukkan bahwa di tengah kegagalan institusional, gereja secara naluriah kembali kepada bentuk kepemimpinan jamak untuk mengupayakan pemulihan kesatuan gereja, khususnya ketika klaim kepausan tidak dapat diandalkan untuk menyatukan gereja. Memang, para kardinal pada konteks ini tidak sedang melaksanakan pemerintahan kolegial secara utuh, melainkan hanya bertindak hampir menyerupainya, sebagai respons darurat terhadap kegagalan otoritas monarkis. Namun, fenomena ini memberikan kita wawasan historis yang penting: pemulihan gereja dapat dimulai melalui kepemimpinan kolektif dan deliberatif (bersifat sebagai penasihat). Dengan demikian, sejarah memperlihatkan suatu paradoks: Gereja Katolik Roma yang monarkial justru menunjukkan pemulihan ketika otoritas dilakukan di luar mekanisme yang monarkial.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pola kepemimpinan yang dilihat pada konteks Skisma Besar Barat, meskipun hanya sementara dan tidak terlembagakan, menunjukkan kepada kita sedikit tentang cara Kristus memerintah gereja-Nya. Kita telah melihat bagaimana pemerintah gereja bergerak di masa krisis. Dengan demikian, muncul pertanyaan: Apakah pola kepemimpinan kolegial yang hadir pada masa krisis, mungkin, adalah pola pemerintahan gereja yang lebih ideal dibandingkan pola monarki? Penulis tidak sedang mengatakan bahwa pola pemerintahan kolegial adalah yang paling mutlak dan jitu dalam setiap permasalahan dalam gereja, tetapi skisma mendemonstrasikan kegagalan kepemimpinan monarki, kemudian dengan adanya konsiliarisme menunjukkan bahwa Gereja Katolik Roma pun harus meminjam logika kuasi-kolegial di tengah krisis. Pertanyaan inilah yang dijawab secara sistematis oleh John Calvin dalam kerangka Reformasi pada abad ke-16.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aksioma eklesiologi John Calvin dimulai dengan fakta bahwa <strong><em>Christus Caput Ecclesiae</em></strong><em>,</em> yang artinya Kristus merupakan satu-satunya kepala gereja. Terkait hal ini, Calvin menyatakan:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">“<em>Be it, however, as they will have it (though the thing is most absurd; be it), that it were good and useful for the whole world to be under <strong>one monarchy</strong>, I will not, therefore, admit that the same thing should take effect in the government of the Church. <strong>Her only Head is Christ</strong>, under whose government we are all united to each other, according to that order and form of policy which he himself has prescribed.</em>”<a href="#_ftn4" id="_ftnref4"><sup>[4]</sup></a></p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Apabila kita mengakui ini, kita mengakui bahwa sampai detik ini Kristus masih menjadi pemerintah atas gereja-Nya. Sistem pemerintahan dalam gereja sifatnya adalah turunan, dan bukan pengganti Kristus. Oleh karena itu, otoritas gereja bersifat ministerial, dan bukan magisterial. Apakah arti dari ministerial dan magisterial? Calvin mengajarkan dan juga mengingatkan sebagai berikut:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">“<em>I wish to remind the pious reader, that whatever is taught respecting the power of the Church, ought to have reference to the end for which Paul declares (2 Cor. 10:8; 13:10) that it was given—namely, for edification, and not for destruction, those who use it lawfully deeming themselves to be <strong>nothing more than servants of Christ, and, at the same time, servants of the people in Christ</strong>.</em>”<a href="#_ftn5" id="_ftnref5"><sup>[5]</sup></a></p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Dari tulisan Calvin di atas, kita paham sekarang bahwa pemerintahan dalam gereja tidak memiliki otoritas final (magisterial), melainkan hanya Kristus yang dinyatakan di dalam firmanlah yang memilikinya. Pemerintah gereja sifatnya adalah sebagai pelayan (ministerial). Tidak boleh ada supremasi satu jabatan manusia yang dilakukan di dalam gereja, walaupun Calvin sendiri mengakui bahwa ada primasi historis dalam gereja, misalnya seperti Petrus di antara para rasul dan juga kaitannya dengan Gereja Roma. Namun, dia tidak setuju dengan kenyataan bahwa supremasi universal ini diterapkan dalam konteks seluruh dunia, sehingga ia menyatakan:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">“<em>If one man presided over twelve, will it follow that one ought to preside over a hundred thousand? That twelve had one among them to direct all is nothing strange. Nature admits, the human mind requires, that in every meeting, though all are equal in power, there should be one as a kind of moderator to whom the others should look up. … Thus there would be no absurdity were we to confess that the apostles had conferred such a primacy on Peter. <strong>But an arrangement which is effectual among a few must not be forthwith transferred to the whole world, which no one man is able to govern</strong>.</em>”<a href="#_ftn6" id="_ftnref6"><sup>[6]</sup></a></p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Melalui tulisan-tulisannya di <em>Institutio</em>, Calvin mengembalikan sistem pemerintahan gereja yang lebih tua, lebih apostolik, yakni sistem pemerintahan secara kolektif yang “melindungi” otoritas Kristus, yang disebut dengan presbiterianisme. Gereja harus dipimpin oleh para presbiter, yang dalam kehidupannya sehari-hari, dipimpin dalam sinode dan konsili. Saya tidak mengatakan bahwa system ini ideal sempurna dan di dalamnya tidak ada kelemahan; tidak ada gereja yang sempurna. Namun, ini jauh lebih baik daripada adanya kepala lain yang <em>infallible</em> selain Kristus di atas gereja. Dalam artikel-artikel sebelumnya, kita telah belajar bahwa Gereja Mula-mula menggunakan sistem presbiterian, sebagai pelayan firman. Kemudian ketika satu pelayan berusaha mengambil yurisdiksi atas semuanya, untuk menjadi kepala di atas semua, perpecahan terjadi, seperti yang kita lihat dalam Skisma Timur dan Barat. Ketika satu kepala di gereja Barat, yakni paus, merupakan orang yang kontroversial dan bersifat merusak, ternyata mengangkat kepala lain, yakni paus lain yang memiliki kekuatan yang sama, tidak menyelesaikan permasalahan. Sejarah menunjukkan, lagi dan lagi, bahwa kekuasaan besar yang diberikan kepada satu orang dapat membawakan kerusakan. Adalah tugas kita untuk mengerti bahwa gereja harus diperintah dengan sedemikian rupa hingga tidak mungkin bagi siapa pun untuk menggantikan Kristus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mario A. J. Sirait<br>Pemuda GRII Pusat</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref1" id="_ftn1"><sup>[1]</sup></a> Cantor, Norman F. (1958). <em>Church, Kingship, and Lay Investiture in England, 1089-1135</em>. Princeton University Press.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref2" id="_ftn2"><sup>[2]</sup></a> “Western Schism | History, Background, Popes, &amp; Resolution | Britannica”. www.britannica.com. Retrieved 2024-07-22.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref3" id="_ftn3"><sup>[3]</sup></a>Emmons, D. D. (2023, January 18). Schism in the western church. Our Sunday Visitor. https://www.oursundayvisitor.com/schism-in-the-western-church/</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref4" id="_ftn4"><sup>[4]</sup></a> Institutes of the Christian Religion IV.6.9</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref5" id="_ftn5"><sup>[5]</sup></a> Institutes of the Christian Religion IV.8.1</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref6" id="_ftn6"><sup>[6]</sup></a> Institutes of the Christian Religion IV.6.8</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">32467</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Signifikansi Pembelaan Diri Paulus terhadap Iman Kekristenan Hari Ini</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/renungan/signifikansi-pembelaan-diri-paulus-terhadap-iman-kekristenan-hari-ini</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[heryanto]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 17 Sep 2026 08:53:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Galatia]]></category>
		<category><![CDATA[injil]]></category>
		<category><![CDATA[Paulus]]></category>
		<category><![CDATA[Perjanjian Baru]]></category>
		<category><![CDATA[pertobatan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=32341</guid>

					<description><![CDATA[Galatia 1:11-2:21 Surat Galatia adalah surat Paulus yang unik. Salah satu keunikan dari surat ini yaitu bahwa Galatia adalah surat Paulus yang paling emosional. Ketika kita membaca kitab ini, kita ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/renungan/signifikansi-pembelaan-diri-paulus-terhadap-iman-kekristenan-hari-ini">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Galatia 1:11-2:21</p>



<p class="wp-block-paragraph">Surat Galatia adalah surat Paulus yang unik. Salah satu keunikan dari surat ini yaitu bahwa Galatia adalah surat Paulus yang paling emosional. Ketika kita membaca kitab ini, kita bisa merasakan nuansa emosional yang kuat, dan hal ini dilatarbelakangi oleh jemaat Galatia yang dianggapnya begitu lekas berbalik dari Injil yang diberitakannya dan mengikuti suatu injil lain, yang terhadap itu Paulus mengatakan “yang sebenarnya bukan Injil”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal ini terjadi sebelum sidang Yerusalem diadakan, di mana kelompok Kristen Yudais yang berasal dari Yerusalem mengatakan bahwa setiap orang yang ingin menjadi warga Kerajaan Mesianik harus menjadi anggota keluarga Abraham melalui penyunatan dan ketaatan terhadap hukum Taurat. Dengan itu mereka memberitakan Injil yang lain dari yang Paulus beritakan. Lebih dari itu, mereka juga menentang kerasulan Paulus dengan mengatakan bahwa Paulus bukanlah seorang rasul yang sejati karena ia tidak diutus oleh para rasul pertama di Yerusalem, dan ia tidak mempunyai hak memberi petunjuk kepada orang-orang Kristen baru, dan mereka tidak perlu memperhatikan apa yang dia katakan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terhadap semua tuduhan itu Paulus merasa perlu baginya untuk membela panggilan dan integritasnya sebagai seorang rasul Kristus kepada jemaat Galatia. Lalu bagaimana Paulus membela panggilan dan integritasnya? Hal ini dia lakukan dengan memaparkan siapa dia dahulu.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Dia mulanya adalah penganiaya jemaat</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti yang telah kita ketahui bahwa sebelum pertobatannya, Paulus begitu aktif membela keyakinannya yang lama dengan menganiaya jemaat Kristus. Saulus adalah musuh utama orang Kristen Mula-mula. Dia menyetujui pembunuhan Stefanus, dan secara aktif memburu, menangkap, memenjarakan, dan mendukung hukuman mati bagi pengikut Kristus (Kis. 8:3; 9:1-2; 22:4-5; 26:9-11). Pertanyaannya adalah mengapa musuh Injil bisa menjadi pembela Injil? Tentu saja hal ini terjadi bukan karena frustrasi ataupun demi mencari suatu ketenaran seperti yang banyak terjadi di zaman ini; banyak orang meninggalkan kepercayaannya untuk mendapatkan ketenaran. Namun pertobatannya semata-mata disebabkan oleh perjumpaannya dengan Yesus di dalam perjalanannya menuju Damsyik dengan surat resmi untuk menangkap orang Kristen (Kis. 9:3-6; 22:6-11; 26:12-18). Pertemuan itulah yang memberikan kepadanya kewenangan sebagai seorang rasul (Gal. 1:11-12).</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Dia sangat berprestasi di dalam keyakinannya yang lama</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Paulus juga sangat berprestasi di dalam keyakinannya yang lama. Dididik secara ketat menurut hukum Taurat (seperti orang Farisi sejati), ia belajar di Yerusalem di bawah Gamaliel, guru Taurat yang sangat dihormati pada masa itu (Kis. 22:3). Di dalam agama Yahudi, ia jauh lebih maju dari banyak teman sebayanya di antara bangsanya, sebagai orang yang sangat rajin memelihara adat istiadat nenek moyangnya (Gal. 1:14). Dengan latar belakang ini, Paulus dipastikan memiliki karier yang cerah di dalam ke-yahudi-annya seandainya ia tetap pada keyakinan lamanya. Hal ini menunjukkan kepada kita akan kemurnian imannya sebagai rasul yang dipanggil oleh Allah.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Dia 180 derajat berbalik tanpa pernah bertemu dengan rasul Yerusalem</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal berikutnya adalah bahwa sejak pertobatannya, Paulus secara drastis berbalik dari penganiaya jemaat menjadi pemberita Injil yang gigih sekalipun dia belum bertemu seorang pun dari rasul Yerusalem. Hal ini secara otomatis memberi keheranan kepada jemaat di Damsyik karena mereka mengetahui bahwa ia adalah orang yang hendak ke sana dengan maksud untuk menangkap dan membawa orang-orang yang percaya kepada Yesus ke hadapan imam-imam kepala di Yerusalem, namun sekarang malah memberitakan Yesus di rumah-rumah ibadat dan menyatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah (Kis. 9:21). Hal ini juga memberikan keraguan kepada murid-murid yang ada di Yerusalem. Ketika Paulus hendak menggabungkan diri dengan murid-murid di sana, mereka takut kepadanya karena mereka tidak dapat percaya bahwa ia juga seorang murid (Kis. 9:26).</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Dia sejalan dengan para rasul Yerusalem</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Penting untuk digarisbawahi bahwa di dalam pengajarannya, Paulus sejalan dengan para rasul Yerusalem. Karena setelah mereka melihat bahwa kepadanya telah dipercayakan pemberitaan Injil untuk orang-orang tidak bersunat (orang-orang bukan Yahudi), sama seperti kepada Petrus untuk orang-orang bersunat (orang-orang Yahudi), dan setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadanya (melalui perjumpaannya dengan Kristus yang bangkit), maka Yakobus, Kefas, dan Yohanes berjabat tangan dengannya dan dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya mereka pergi kepada orang-orang yang tidak bersunat dan para rasul Yerusalem kepada orang-orang bersunat.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Dia memegang teguh panggilannya, <em>at any cost</em>!</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Surat Galatia ditulis kurang lebih sekitar 48-49 M di Antiokhia, yaitu sekitar 14-15 tahun setelah pertobatan Paulus (33-34 M), dan selama itu dia telah memegang teguh panggilannya <em>at any cost</em>. Dia telah mengelilingi Pulau Siprus dan provinsi Galatia selatan di dalam perjalanan misinya yang pertama dan mengalami banyak sekali kesusahan di dalam perjalanannya memberitakan Injil.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Paulus juga membela integritasnya dengan menunjukkan bahwa ia tidak berkompromi. Paulus tidak ragu-ragu secara terang-terangan menentang Petrus di Antiokhia ketika Petrus menghentikan kebiasaannya untuk makan bersama-sama dengan orang-orang Kristen bukan Yahudi di sana hanya karena beberapa orang Kristen Yahudi tiba dari Yerusalem (Gal. 2:11). Dan sepanjang yang kita ketahui, Petrus tidak menolak teguran yang disampaikan kepadanya pada kesempatan tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berdasarkan pembelaan Paulus di atas, kita dapat melihat bahwa ia adalah rasul sejati yang memiliki kredibilitas sebagai pemberita Injil Kristus, tidak seperti yang telah dituduhkan oleh kelompok Kristen Yudais terhadap dirinya. Namun sekarang, pembelaan Paulus ini bukan hanya menjadi pembelaan terhadap dirinya sendiri, melainkan ini juga menjadi pembelaan bagi iman Kristen, khususnya dalam menghadapi kelompok yang mengeklaim bahwa Paulus telah memberi gagasan baru di dalam ketiga belas suratnya di Perjanjian Baru yang tidak seturut dengan ajaran Perjanjian Lama dan ajaran Kristus. Paulus adalah seorang Yahudi yang memegang ajaran Yahudi dengan ketat yang telah berjumpa secara pribadi dengan Kristus, yang telah menetapkannya menjadi rasul untuk orang-orang bukan Yahudi, dan ia telah dengan setia menunaikan tugas dan panggilannya untuk menyatakan firman Allah kepada dunia oleh kuasa Roh Kudus. Saat ini, sebagaimana orang Kristen Mula-mula, seluruh kekristenan mengakui ketiga belas surat Paulus sebagai firman Allah yang setara dengan Perjanjian Lama yang telah memberkati dan mempertumbuhkan iman jutaan orang Kristen di segala zaman.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Melky Alexander Lingga</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mahasiswa STTRII Konsentrasi Misiologi</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">32341</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Sikap Hati yang Benar di dalam Pelayanan sebagai Seorang Kristen</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/renungan/sikap-hati-yang-benar-di-dalam-pelayanan-sebagai-seorang-kristen</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[michaelleang]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 Sep 2026 14:26:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[gereja]]></category>
		<category><![CDATA[karunia]]></category>
		<category><![CDATA[Melayani]]></category>
		<category><![CDATA[Sikap hati]]></category>
		<category><![CDATA[Tubuh Kristus]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=32074</guid>

					<description><![CDATA[Roma 12:3-8 Di sini Rasul Paulus membahas soal sikap hati yang benar ketika di dalam pelayanan dan menjelaskan bagaimana hidup yang dipersembahkan itu terlihat di dalam pelayanan kita, bukan terlihat ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/renungan/sikap-hati-yang-benar-di-dalam-pelayanan-sebagai-seorang-kristen">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h2 class="wp-block-heading">Roma 12:3-8</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Di sini Rasul Paulus membahas soal sikap hati yang benar ketika di dalam pelayanan dan menjelaskan bagaimana hidup yang dipersembahkan itu terlihat di dalam pelayanan kita, bukan terlihat waktu jumlah jemaatnya banyak, bukan juga karena kedalaman pemahaman kita akan doktrin yang baik. Bukan berarti itu salah, tetapi yang paling terutama Tuhan melihat pada apa? Yaitu pada hati kita yang terdalam itu arahnya bagaimana. Untuk itu, di sini kita akan sama-sama belajar bagaimana seharusnya sikap hati kita kepada Tuhan. Untuk itu, Paulus menulis di dalam Roma 12:3-8 tentang bagaimana sikap hati yang benar di hadapan Tuhan dalam pelayanan. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Melayani dengan kerendahan hati</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Di dalam ayat 3, Paulus mengatakan, <em>“Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku,&nbsp;aku berkata kepada setiap orang di antara kamu:</em> <strong><em>Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan</em></strong><em>, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu</em> <strong><em>menguasai diri menurut ukuran iman</em></strong><em>, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.”</em> Apa artinya? Artinya jangan kita terlalu menilai diri kita terlalu tinggi dengan hasil kemampuan kepintaran kita dan menganggap diri kita itu terlalu penting. Melainkan menguasai diri menurut ukuran iman yang Tuhan anugerahkan bagi kita. Untuk itu, perlu sekali kerendahan hati, karena dengan kerendahan hati inilah kita bisa menyadari bahwa semua yang kita miliki itu tidak ada apa-apanya, semuanya itu hanyalah pemberian dari Tuhan Allah semata. Untuk itu, kerendahan hati bukan berbicara soal kemampuan beretorika, kemampuan belajar, tahu banyak hal tentang doktrin, tetapi jangan sombong karena itu semua adalah karunia yang Tuhan berikan bagi setiap kita. Tuhan bisa saja tidak memakai kita sebagai alat-Nya, Dia bisa saja memakai orang yang kosong yang tidak punya pengetahuan mengenai doktrin mendalam tetapi Tuhan pakai mereka dan jadikan mereka berkat serta Tuhan mengisi mereka dengan pengertian yang murni.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk itu, Rasul Paulus mengajarkan kepada jemaat di Roma untuk rendah hati sesuai dengan panggilan mereka masing-masing.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jadi, prinsip utama dari Rasul Paulus di dalam pelayanannya adalah kerendahan hati. Karena dengan kerendahan hati kita mencerminkan kasih Kristus di dalam hidup kita, sebagaimana kita melihat bahwa Kristus telah merendahkan diri-Nya, bahkan Ia sampai mati di atas kayu salib. Maka ini akan menjadi suatu model untuk kita di dalam kehidupan kita, maka tidak ada ambisi, tidak ada kesombongan di dalam diri kita, atau mencari kepentingan diri sendiri atau iri hati. Melainkan kita menunjukkan nilai kerendahan hati yang mengubah kita, sehingga di dalam pelayanan, hal inilah yang ditunjukkan, yaitu sikap hati kita yang benar. Bukan mencari pujian dan ambisi diri, melainkan dengan sikap hati yang benar dan murni inilah yang mendorong kita untuk tidak ada iri hati kepada saudara seiman kita yang lain. Karena kita tahu bahwa mereka memiliki karunia yang berbeda dengan kita, untuk itu respons kita sebagai orang yang telah ditebus adalah ikut bersyukur dengan karunia yang dimiliki oleh saudara seiman kita yang lain, sehingga karunia itu dipakai untuk melayani Tuhan dan bersama-sama dapat menjadi berkat. Untuk itu mintalah kerendahan hati dari Tuhan sehingga kita dipakai oleh Tuhan untuk menjadi berkat, dan dengan rendah hati kita bekerja sama dengan rekan atau saudara seiman yang berbeda karunia dengan kita.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">Karena kita tahu bahwa mereka memiliki karunia yang berbeda dengan kita, untuk itu respons kita sebagai orang yang telah ditebus adalah ikut bersyukur dengan karunia yang dimiliki oleh saudara seiman kita yang lain, sehingga karunia itu dipakai untuk melayani Tuhan dan bersama-sama dapat menjadi berkat.</p>
</blockquote>



<h2 class="wp-block-heading">Melayani dengan bersama-sama dan saling melengkapi (4-5)</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Di sini Paulus mengatakan, <em>“Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain.” </em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Jelas sekali bahwa setiap panggilan Tuhan bagi setiap orang percaya itu berbeda-beda dan di dalam perbedaan itulah justru dipersatukan berbagai-bagai karunia untuk bersatu di dalam melayani Tuhan. Untuk itu, di ayat 6b-8, Paulus menyebut 7 karunia yang berbeda-beda dan menunjukkan bagaimana karunia-karunia itu harus digunakan untuk melayani Tuhan. Ketujuh karunia itu adalah karunia bernubuat, melayani, mengajar, memberikan nasihat, memberi, memimpin, dan menunjukkan kemurahan. Karunia bernubuat digunakan untuk menyampaikan firman Allah kepada gereja-Nya. Karunia melayani berkaitan dengan pelayanan yang menunjukkan kepedulian terhadap berbagai kebutuhan praktis yang mungkin muncul di dalam gereja. Jika seseorang memiliki karunia mengajar, hendaklah ia mengajar orang lain agar bertumbuh dalam iman Kristen yang benar dan murni. Demikian pula, jika seseorang memiliki karunia untuk memberikan nasihat, dorongan, atau bimbingan, hendaklah ia mendorong dan membimbing orang lain dalam kebenaran agar mereka dapat bertumbuh di dalamnya. Orang yang memiliki karunia memberi dan berkontribusi untuk memenuhi kebutuhan orang lain hendaklah melakukannya dengan murah hati. Paulus mengajarkan bahwa pemberian tidak boleh dilakukan dengan berat hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Orang yang memiliki karunia memimpin hendaklah menjalankannya dengan penuh tanggung jawab dan ketekunan. Orang yang menunjukkan kemurahan kepada mereka yang membutuhkan, seperti orang yang sedang mengalami kesusahan, para janda dan duda, serta anak-anak yatim, hendaklah melakukannya dengan sukacita.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketujuh karunia&nbsp;di atas menunjukkan bahwa Allah memberi anugerah kepada semua orang percaya. Bukan berarti bahwa semua karunia di atas itu kita peroleh, melainkan bahwa karunia yang dimiliki oleh orang-orang itu berbeda-beda, tidak ada yang sama. Karunia yang berbeda-beda itu mendorong kita untuk tidak berkompetisi satu dengan yang lain, melainkan saling melengkapi dan saling mendorong untuk sama-sama melayani pekerjaan Tuhan dan menjadi berkat bagi orang-orang yang dilayani. Untuk itu, pelayanan yang murni adalah pelayanan yang saling melengkapi satu dengan yang lain dengan saudara seiman dengan karunia yang dimiliki secara berbeda-beda.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rasul Paulus dengan sangat jelas menyampaikan bahwa kita adalah anggota-anggota yang berbeda. Namun, perbedaan itu bukan berarti kita tidak menghargai satu sama lain. Sebaliknya, kita harus saling menghargai, membantu, mendorong, dan terlibat bersama saudara seiman. Keterlibatan dengan saudara seiman yang memiliki karunia yang berbeda dapat diwujudkan dengan saling melengkapi dalam pelayanan. Sebagai contoh, perhatikan tangan dan kaki kita. Ketika kaki digigit nyamuk, saraf membawa rasa sakit atau gatal itu ke otak. Otak kemudian memberikan perintah kepada tangan untuk bereaksi dengan menepuk nyamuk tersebut. Kaki dan tangan memiliki fungsi yang berbeda, tetapi keduanya dapat saling membantu dan melengkapi. Demikian pula dalam kehidupan orang percaya. Paulus mengajarkan bahwa setiap orang Kristen yang memiliki karunia harus menghargai, mendorong, dan memperlengkapi satu sama lain. Oleh karena itu, dalam pelayanan janganlah kita merasa mampu mengerjakan segala sesuatu seorang diri, sebab setiap orang memiliki karunia yang berbeda-beda. Kita juga perlu memeriksa hati agar tidak memberi kesempatan kepada Iblis untuk membuat kita membanggakan diri dan menganggap seolah-olah kita mampu mengerjakan semuanya sendiri. Karena itu, hendaklah kita senantiasa berhati-hati dan menyadari bahwa dalam pelayanan kita membutuhkan satu sama lain.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh sebab itu, kita adalah umat yang telah ditebus dengan darah Kristus dan telah menerima Roh Kudus yang telah melahirbarukan kita, sehingga kita telah bersatu dengan Kristus dan juga bersama-sama dengan orang-orang pilihan Tuhan yang memiliki karunia yang berbeda-beda. Untuk itu kita harus sadar bahwa setiap orang memiliki karunia yang Tuhan anugerahkan, sehingga kita harus tetap rendah hati untuk saling bekerja sama dengan saudara seiman yang lain dan saling melengkapi dan mendorong untuk bersama-sama membangun Tubuh Kristus dan memperluas Kerajaan Allah dan memuliakan Tuhan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lucia Santina Moreira<br>Mahasiswi STTRII Konsentrasi Misiologi</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">32074</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Filsafat Asia: Bagian 34</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/transkrip/filsafat-asia-bagian-34</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[michaelleang]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 05 Sep 2026 08:38:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Transkrip]]></category>
		<category><![CDATA[Filsafat Asia]]></category>
		<category><![CDATA[Gentleman]]></category>
		<category><![CDATA[Konfusius]]></category>
		<category><![CDATA[Tata krama]]></category>
		<category><![CDATA[Wahyu Umum]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=31972</guid>

					<description><![CDATA[Keempat belas, seorang agung (gentleman) mempunyai pengetahuan yang luas dan sebanyak mungkin, tetapi selalu membatas diri di dalam peraturan dan tata krama yang ketat. Jadi dia tidak sembarangan melakukan segala ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/transkrip/filsafat-asia-bagian-34">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><em>Keempat belas</em>, seorang agung (<em>gentleman</em>) mempunyai pengetahuan yang luas dan sebanyak mungkin, tetapi selalu membatas diri di dalam peraturan dan tata krama yang ketat. Jadi dia tidak sembarangan melakukan segala hal yang tidak pantas atau tidak sesuai dengan aturan. Sekalipun ia pandai luar biasa, pengetahuannya berlimpah, tetapi ia tetap membatas diri di dalam peraturan dan prinsip-prinsip tata krama yang ada. Oleh karena itu, semua yang tidak sesuai dengan tata krama dan kesopanan yang baik akan dia tolak. Sekalipun sangat pandai dan berlimpah pengetahuannya, ia tidak membiarkan segala sesuatu dilewati dan diterobos dari tata krama yang baik. Semua harus tetap mengikuti prinsip-prinsip tata krama. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan di dalam Alkitab pada Mazmur 119, “Oh Tuhan, lapangkanlah, bukalah hatiku selebar-lebarnya, tetapi pimpin aku hanya berjalan di dalam perintah-Mu.” Jadi, hati boleh selapang mungkin, tetapi kaki dan kelakuannya harus sesempit mungkin. Inilah orang agung.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika saya membaca hal ini, saya mencoba membayangkan ayat-ayat firman Tuhan yang pernah saya hafal, membayangkan juga tulisan Aristotle, tulisan Konfusius, juga René Descartes, Kierkegaard dan para tokoh lain, untuk mengerti apa perbedaan setiap perkataan mereka. Dan kesimpulannya, semua yang ada pada firman Tuhan selalu agung luar biasa. Namun, ketika kita membaca ayat seperti di atas, kita hanya sekadar tahu dan kehilangan makna penting yang terkandung di dalamnya. “Luaskanlah hatiku.” Tuhan ingin kita membuka hati seluas-luasnya, selebar-lebarnya. Tetapi, “supaya aku bisa berjalan di dalam kehendak-Mu saja.” Jalan di jalan yang sempit. Pengertian dikembangkan seluas mungkin, tetapi batasan dari kebebasan dilakukan sedisiplin mungkin.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph"> Hati boleh selapang mungkin, tetapi kaki dan kelakuannya harus sesempit mungkin. Inilah orang agung.</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Kelima belas</em>, seorang agung merangkul moralitas, sedangkan orang picik hanya merangkul tanah liat. Maksud “tanah liat” adalah semua hal-hal kecil yang tidak berarti dan tidak ada harganya. Seorang yang agung selalu merangkul, tetapi hatinya selalu memperhatikan akan hukuman. Sebaliknya, orang picik hanya memperhatikan keuntungan atau hadiah. Jadi seorang yang agung di dalam pikirannya adalah seorang yang selalu memperhatikan semua hukum dan peraturan. Itu yang diperhatikan. Seorang hina atau orang kecil terus berpikir kapan saya bisa dapat hadiah, dapat bonus, dapat uang, dan bisa mendapat segala yang cuma-cuma. Di mana ada hadiah, dia selalu muncul; di mana ada keuntungan, dia selalu ada di sana. Dia selalu hadir di setiap tempat di mana dia bisa mendapatkan keuntungan, mendapat manfaat, hadiah, bonus, dan sejenisnya.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada orang Barat mengatakan, <em>“When all the malls are on sale, Chinese nose comes out.”</em> (Di Amerika Serikat, setiap ada obral, semua hidung orang Tionghoa muncul.) Maksudnya, orang Tionghoa tidak mau beli barang mahal, jadi selalu menunggu sampai waktu obral baru mereka berebutan membelinya. Di Indonesia dan di Hong Kong, kami obral setiap hari, jadi orang Tionghoa muncul setiap hari dan berbelanja. Itu karena di Amerika, harga jual dinaikkan tinggi luar biasa. Orang Tionghoa tahu harga modalnya berapa, jadi mereka tunggu ketika obral. Pakaian dari Korea yang senilai tiga dolar bisa dijual di Amerika seharga lima belas dolar, dengan memberi label merek Amerika.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika saya beli hadiah di Amerika Serikat untuk saya bawa pulang, saya menemukan sesuatu yang unik. Saya membeli baju untuk oleh-oleh istri saya, ternyata ketika dibuka bungkusnya, baju itu buatan India. Demikian juga ketika membeli satu kaleng coklat merek dari Swiss, ternyata ketika tiba di Hong Kong dan dibuka, ternyata buatan Hong Kong. Coklat di beli di Swiss, dibawa ke Hong Kong untuk jadi kado orang Hong Kong, ternyata <em>made in Hong Kong</em> (buatan Hong Kong).&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Melalui pembahasan ini, kita belajar tentang konsep manusia agung, manusia yang berharkat mulia. Saya percaya ini bukan hal kebetulan, melainkan Tuhan rela memberikan wahyu umum kepada orang-orang yang tidak memiliki kesempatan untuk mendengar firman Tuhan, sementara kebenaran alam semesta berjalan di dalam hati banyak orang yang menuntut kebenaran. Tuhan memberi belas kasihan kepada masyarakat-masyarakat kuno yang belum mempunyai kesempatan untuk mendengar Injil Kristus. Dengan demikian, mereka juga bisa mempunyai pikiran yang agung dan melukiskan watak orang agung itu seperti apa. Jika mendapatkan berkat dari pembahasan ini, kiranya tidak berhenti pada diri kita sendiri. Kita harus membagikannya kepada banyak orang di luar yang membutuhkan kebijaksanaan. Hendaknya kita bertobat terlebih dahulu, minta Tuhan mengubah diri kita terlebih dahulu, agar kita dapat menjadi orang yang lebih agung dan lebih agung.&nbsp;</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">Tuhan rela memberikan wahyu umum kepada orang-orang yang tidak memiliki kesempatan untuk mendengar firman Tuhan, sementara kebenaran alam semesta berjalan di dalam hati banyak orang yang menuntut kebenaran. Tuhan memberi belas kasihan kepada masyarakat-masyarakat kuno yang belum mempunyai kesempatan untuk mendengar Injil Kristus.</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Orang yang agung kita pikir sedang mendongak ke atas. Konfusius mengatakan orang yang agung takut mandat sorga, takut orang besar, takut perkataan orang suci. Orang yang sudah mendengar ajaran Konfusius seperti ini, hendaknya takut kepada apa yang Konfusius katakan. Pria harus meneruskan abu orang tua (menghormati orang tua), pria harus menanggung nafkah seluruh keluarganya, dan pria juga yang harus meneruskan juga keturunan keluarga itu.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada satu kalimat dari Konfusius yang sangat menghina orang perempuan. Dia mengatakan, “Susah memelihara dua macam orang, yaitu orang kecil dan perempuan.” Saya kurang bisa mengerti apa yang dimaksud oleh Konfusius. Sangat mungkin para filsuf dan orang-orang agung seperti Konfusius, seperti Sokrates, sulit dimengerti oleh istrinya. Ketika dia sedang memikirkan hal-hal yang besar dan begitu dalam, istrinya tidak menghargai dia. Sokrates sangat sulit di rumah, sehingga ia lebih suka pergi keluar rumah dan lebih banyak bicara dengan murid-muridnya, membicarakan pemikiran filsafat. Ketika dia sampai di rumah, dia sulit berbicara apa pun ke istrinya. Akhirnya, dia mengatakan, “A good wife makes a sweet home for you, a bad wife makes you a philosopher.” (Istri yang baik akan menyediakan rumah tangga yang manis bagimu, sementara istri yang buruk akan membuat engkau menjadi filsuf.) Jadi istri yang buruk jasanya besar juga.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tetapi mungkin hal seperti itu tidak adil bagi istrinya. Bukan Sokrates atau Konfusius yang sulit dengan istrinya, tetapi istrinya juga akan sulit dengan mereka. Istri-istri seperti ini kesulitan apakah suaminya akan pulang atau tidak pulang, akan makan di rumah atau tidak makan di rumah, perlu disediakan atau tidak, karena seperti Sokrates ketika sedang begitu seru berbincang filsafat dengan murid-muridnya, bisa lupa pulang dan lupa makan. Istrinya masak tetapi makanannya tidak dimakan. Tentu istrinya juga merasa tidak dihargai. Juga kalau tiba-tiba dia mengajak muridnya datang ke rumah dan mau makan, sementara istrinya tidak masak atau tidak memasak cukup banyak untuk memberi makan murid-murid yang diajak pulang, tentu istrinya juga akan kerepotan dan malu. Maka, akibatnya jika istrinya marah-marah, seharusnya bisa dimengerti juga. Jadi, sepertinya orang agung itu mengalami kesulitan dalam pernikahan, sehingga ada benarnya kalimat, “Orang yang terlalu bersifat pemikir sebaiknya tidak usah menikah.” Tetapi jika tidak menikah, tentu akan terjadi kesulitan yang lain lagi. Jadi hal ini akan menjadi kesulitan umat manusia secara umum.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di dalam majalah Reader’s Digest pernah ada makalah yang membicarakan tentang pernikahan. Di situ dikatakan bahwa setiap perempuan membutuhkan tiga suami. Ini bukan pemikiran Konfusius, melainkan pemikiran filsafat dunia secara umum. Suami pertama mencari uang secukupnya sehingga dia merasa aman, tidak perlu ada kekuatiran apa pun, tidak ada tegangan atau stres. Suami kedua tiap hari mendampinginya dan terus merayu, mengungkapkan kata-kata cinta seperti sedang berpacaran sebelum menikah. Dan suami ketiga adalah suami yang siap membereskan semua barang-barang dan peralatan yang rusak atau kurang berfungsi baik di dalam rumah, seperti ketika ada lampu yang mati, atau setrika yang tidak panas, atau berbagai kerusakan rumah lainnya.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selesai membaca artikel tersebut, saya kemudian merespons dengan memikirkan bahwa suami juga perlu tiga istri. Istri pertama, cinta-cintaan sama dia, manis-manis setiap hari, intim sekali tidak perlu kerja apa-apa. Istri kedua melahirkan anak, mengurus, dan memelihara keluarga, menjaga rumah, membersihkan rumah, luar biasa sibuknya. Dan istri ketiga menolong suami supaya bisa tetap segar dan sehat. Istri tidak disuruh cari uang, itu tugas suami. Suami yang suruh istri cari uang itu suami kurang ajar. Sekalipun istri bisa cari uang, itu puji Tuhan, tetapi kalau tidak bisa, tidak boleh dipaksa mencari uang, karena memang itu bukan tugasnya. Pria yang belum bisa membiayai keluarga tetapi berani dan mau menikah adalah orang yang butuh iman ganda. Saya tidak mengatakan tidak boleh, tetapi saya hanya mengatakan “butuh iman dobel”. Dan jika pria menikah dengan mencari wanita kaya, itu adalah pria yang hina, pria yang picik (<em>xiao ren</em>). Kiranya kita boleh belajar menjadi orang agung yang berkenan kepada Allah. Amin.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">31972</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Charitable in Disagreement dengan Sesama Orang Kristen dalam Pelayanan</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/renungan/charitable-in-disagreement-dengan-sesama-orang-kristen-dalam-pelayanan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[heryanto]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 28 Aug 2026 18:37:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Charitable Disagreement]]></category>
		<category><![CDATA[Kerendahan Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Kesatuan Tubuh Kristus]]></category>
		<category><![CDATA[Penilaian Rohani]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=31757</guid>

					<description><![CDATA[“Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah,karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan;dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani”.  (1Kor. ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/renungan/charitable-in-disagreement-dengan-sesama-orang-kristen-dalam-pelayanan">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">“Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah,karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan;dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani”.  (1Kor. 2:14)</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Paulus dalam Surat 1 Korintus mengatakan bahwa manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah sebab bagi mereka itu adalah suatu kebodohan. Lebih daripada itu, manusia duniawi tidak dapat memahaminya, karena itu hanya dapat dinilai secara rohani. Paulus berbicara dalam Surat 1 Korintus tentang salib yang berlawanan dengan hikmat duniawi, sehingga orang-orang duniawi, atau, dengan kata lain, natural, tidak dapat memahaminya. Hanya jika Allah yang mengerjakan maka seseorang dapat mengerti, karena dengan demikian seseorang dapat menjadi manusia rohani dan dapat menilai hal-hal rohani.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pelayanan kita, seperti penginjilan, seminar, ibadah dan lain sebagainya, adalah hal-hal rohani sebab tujuannya adalah untuk menggenapkan rencana keselamatan Tuhan bagi dunia, atau, dengan kata lain, berkaitan dengan keselamatan yang dikerjakan oleh Tuhan melalui salib, sehingga pelayanan kita mungkin akan disalah mengerti oleh mereka yang belum mengenal Tuhan. Sebagai contoh, bagi mereka yang belum mengenal Tuhan, pekerjaan kita melayani orang lain agar dapat menjadi orang Kristen adalah pekerjaan yang sia-sia, yang hanya dikerjakan oleh mereka yang fanatik terhadap agama. Ketika kita menghadapi kritik demikian terhadap pelayanan kita, sebagai orang Kristen, mungkin saja kita tidak tersinggung atau hanya tersinggung sedikit. Sebab kita mengerti bahwa manusia duniawi yang tidak memperoleh pekerjaan Roh Kudus tidak dapat menilai hal-hal rohani, bukan? Sehingga sangat wajar ketika orang yang kita layani memberikan penilaian yang salah terhadap pelayanan kita. Seringkali penilaian mereka tidak membawa kita kepada situasi ketidaksetujuan, sehingga kita tidak mencoba untuk mendebat mereka, tetapi dengan tetap sabar melayani mereka, sehingga kita dapat tetap melayani mereka tanpa rasa tersinggung, dengan harapan Tuhan bekerja dalam hati mereka. Namun, faktanya adalah seringkali penilaian dari sesama orang Kristen yang telah menjadi manusia rohani lebih sulit diterima. Seringkali penilaian mereka membawa kepada ketidaksetujuan, bukan? Bagaimana kita dapat menanggapi hal ini?</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ketika orang lain sebagai saudara seiman menilai pelayanan kita dan kita tidak setuju akan penilaian mereka, maka kita harus sadar satu hal. Mereka adalah manusia rohani yang dapat menilai hal-hal rohani sebab mereka telah menerima pekerjaan Roh Kudus. Kita harus sadar bahwa mereka <em>capable</em> dalam menilai pelayanan kita, dan kita tidak boleh menyikapi penilaian mereka dengan tidak baik. Pada saat yang sama, ketika kita tidak setuju akan pelayanan mereka, kita juga tidak boleh sembarangan mengeluarkan penilaian yang negatif terhadap mereka atau ungkapan yang tidak setuju akan apa yang mereka kerjakan. Sebab kita semua adalah umat Allah yang dapat menilai hal-hal rohani. Tentu saja kita mungkin salah sebagai manusia yang terbatas yang tidak mahatahu, tetapi, pada saat yang sama, kita harus sadar bahwa sumber pengenalan kita akan hal-hal rohani adalah Allah yang sama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dengan demikian, kita harus berhati-hati ketika menilai pelayanan orang Kristen lain, dengan kesadaran bahwa orang Kristen lain juga <em>capable</em> akan menilai hal-hal rohani. Bahkan pada momen-momen tertentu kita harus menunda penilaian kita dan melihat apa yang terjadi ke depannya. Pada saat yang sama, ketika pelayanan kita dinilai oleh orang Kristen lain, kita harus sadar bahwa mereka juga <em>capable</em> akan menilai hal-hal rohani, sehingga kita harus mendengarkan dan menghargai penilaian mereka, baik atau buruk. Kita harus memperhitungkan dengan baik penilaian mereka dan jika memang penilaian mereka benar dan disertai masukan, maka kita harus berubah dan bersyukur kepada Tuhan akan apa yang mereka telah kerjakan. Kita harus <em>charitable</em> dalam <em>disagreement</em> dengan orang-orang Kristen lain, mendengar dengan baik, mencoba mengerti dengan baik, dan merespons dengan baik terhadap penilaian orang lain. Dengan demikian, ketidaksetujuan dapat membawa kebaikan kepada gereja, di mana semua pihak dapat saling melengkapi dengan masukan dan pendapat mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>John Tarigan<br>Mahasiswa STTRII</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">31757</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Ketiga Sahabat di Babel</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/isu-terkini/ketiga-sahabat-di-babel</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Susan]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 Aug 2026 09:22:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Isu Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[babel]]></category>
		<category><![CDATA[gempa NTT]]></category>
		<category><![CDATA[hut ri ke-81]]></category>
		<category><![CDATA[pemerintah]]></category>
		<category><![CDATA[Sadrakh Mesakh Abednego]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=31736</guid>

					<description><![CDATA[Baru saja kita melalui masa kemerdekaan Indonesia pada tahun 2026, dan ada beberapa keluhan yang sedang kita rasakan belakangan ini. Yang pertama, kita perlu mendoakan berbagai bencana yang sedang terjadi ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/isu-terkini/ketiga-sahabat-di-babel">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Baru saja kita melalui masa kemerdekaan Indonesia pada tahun 2026, dan ada beberapa keluhan yang sedang kita rasakan belakangan ini. Yang pertama, kita perlu mendoakan berbagai bencana yang sedang terjadi dalam berbagai pulau Indonesia: terdapat gempa yang melanda di NTT, dan juga adanya kebakaran hutan dalam skala besar di Kalimantan. Situasi seperti demikian sudah sepantasnya digolongkan sebagai “bencana nasional”. Yang kedua, terdapat beberapa kelompok dalam masyarakat Indonesia yang mulai menunjukkan gerakan memisahkan diri dari pemerintahan pusat. Di Aceh, pengibaran bendera merah putih digantikan dengan bendera lokal. Demikian juga terjadi pengibaran bendera Dayak di tanah air Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari beberapa peristiwa seperti ini, sebetulnya kita sudah mulai bisa melihat berbagai wujud ekspresi rasa kesal dari masyarakat Indonesia terhadap pemerintahan saat ini. Ketika kondisi yang terjadi di berbagai daerah pelosok mengalami suatu kemirisan, tampaknya pemerintah tidak hadir untuk masyarakat yang berada pada posisi geografis yang demikian jauh itu. Dalam perjalanan waktu, kita juga dapat menyaksikan adanya pengibaran bendera berfoto presiden pada hari raya kemerdekaan Republik Indonesia ke-81. Apa yang biasanya menjadi bendera merah putih, ternyata mulai digantikan dengan wajah seorang pemimpin. Itu merupakan suatu peristiwa yang baru kali pertama terjadi dalam sejarah Indonesia. Bukankah hal itu sudah dideskripsikan dalam buku paket sejarah yang baru mau diterbitkan oleh kementerian budaya, di mana era reformasi sudah berhenti pada tahun 2024?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apabila kita mempelajari pola-pola pemerintahan seperti yang digambarkan oleh George Orwell dalam karyanya 1984,&nbsp;terlihat bahwa prediksi Orwell mengenai totalitarianisme sedang terjadi di tanah air. Penguasaan total terhadap kehidupan bermasyarakat tidak hanya memuncak pada masa perang dingin, tetapi juga setelahnya, khususnya ketika di berbagai belahan dunia para penguasa <em>strongmen</em>&nbsp;sedang mencari panggung politik internasional untuk melebarkan sayap kuasa dan sayap pengaruh. Tanpa terkecuali, apa yang terjadi di Indonesia, sudah menunjukkan suatu pola pemerintahan yang cukup mengkhawatirkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Babel dan Kekuasaannya</strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Apa yang sedang terjadi pada saat ini adalah hadirnya suatu sistem kekuasaan seperti pada masa kerajaan Babel dalam kitab Daniel. Seorang pemimpin yang mempunyai suatu mimpi untuk menjadi raja di atas segala raja yang lain. Dia memandang bahwa masa pemerintahannya tidaklah lama. Bila Babel hanya berhenti pada kepala emas dan akan digantikan dengan kerajaan Persia yang bermuatan perak, maka dia harus menjadikan dirinya sebagai pemimpin abadi. Bila masa pemerintahan saat ini tidak dapat bertahan lama, setidaknya nama dan keberadaannya tercatat dalam sejarah dan kenangan setiap orang. Pemimpin itu maka membuat suatu patung emas yang menyerupai dirinya, dan dia meminta agar setiap orang menyembahnya. “Ya, jika Yang Mahakuasa menentukan masa hidupku hanya berhenti sampai pada titik ini, maka akulah yang akan menjadi mahakuasa untuk menentukan kemuliaanku sampai selama-lamanya. Kerajaan emasku tidak berhenti sampai di kepala, tetapi seluruh tubuh patung itu sampai ke ujung tali sejarah”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nebukadnezar&nbsp;kemudian melihat ada tiga manusia yang berdiri. Mereka menolak menyembah patung itu &#8211; mereka menolak menyembah raja itu. Bagi mereka bertiga, raja itu bukanlah Tuhan: dia hanyalah seorang manusia biasa yang dapat mati kapan pun. Nafas raja berada dalam genggaman tangan Allah. Bagi sang raja, tiga orang itu adalah ancaman paling besar. Tiga orang yang kedua kakinya tidak berteluk lutut artinya adalah tiga tamparan besar terhadap kedaulatan sang raja. Satu orang saja yang tidak tunduk, itu berarti sang raja bukanlah raja sepenuhnya. Mau tidak mau, raja harus memaksa agar setiap orang berlutut dan menyembah patung itu. Kalau tidak, maka orang-orang itu adalah ancaman. Pastinya, dia adalah antek-antek asing yang datang untuk menyusup dalam kerajaannya, dia adalah <em>londo ireng</em>&nbsp;yang bersikap subversif, dan dia adalah para pengkhianat dan musuh negara yang pantas dimasukkan ke dalam dapur api. “Apabila kalian tidak mau menyembah kepada patungku, setidaknya berlutut dan tampil menyembah. Akan tetapi, bila kalian juga tidak mau, maka senjata akan menanti pada detik akhir hidupmu. Sekali lagi, sembahlah patung emas yang menyerupai aku, jadikanlah dirimu menjadi serupa dengan diriku, sebab akulah penguasa dunia”. Baik itu patung emas atau bendera yang menampilkan wajah sang penguasa, manusia yang ingin menjadi penguasa akan menyamakan diri setara dengan Allah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita sudah tahu dengan apa yang terjadi dengan ketiga sahabat Daniel. Ketika semua orang di Babel, dari berbagai suku, bahasa, agama, dan bangsa datang menyembah, mereka tetap berdiri. Mereka melihat pemandangan di sekitarnya, banyak kerumunan yang menyembah dalam ketakutan. Adanya suatu ancaman kematian yang menanti mereka bila mereka tidak berteluk lutut. Ada patung raksasa di hadapan mereka, yang tampak seperti monster yang mengerikan. Wajah monster itu adalah wajah sang raja, dan raja yang sedang melihat seluruh pemandangan sekitar menerima laporan:</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada tiga jiwa yang berdiri, mereka tidak mau menyembah.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Ketiga Sahabat</strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Bayangkan kalau ada seorang raja mendatangi rakyatnya, lalu raja itu memberikan tangan untuk berjabat tangan, seolah-olah sang raja meminta agar rakyat kecil itu bisa merasa dikenal dan didekati oleh orang penting. Bukankah orang itu harusnya merasa senang? Ya, ketika sang raja mengibarkan bendera wajahnya, patung emasnya, dan kebanggaan bahwa dirinya adalah manifestasi dari negara-bangsa Indonesia, lalu mendatangi ketiga sahabat itu serta berkata:</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Apakah benar, hai Sadrakh, Mesakh dan Abednego, bahwa kamu tidak memuja dewaku dan tidak menyembah patung emas yang kudirikan itu? Sekarang, jika kamu bersedia, demi kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus dan serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, sujudlah menyembah patung yang kubuat itu! Tetapi jika kamu tidak menyembah, kamu akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala. Dan dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku?” (Daniel 3:14-18)</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Jika kamu bersedia”, kata-kata itu sudah diucapkan oleh sang raja sebagai suatu undangan, atau bahkan, permohonan. Sembahlah dewaku (diriku), patung emas (wajah kerajaanku), dan tunduklah kepadaku. &nbsp;Ketika kalian mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, dan segala jenis bunyi-bunyian, ya dalam bahasa hari ini, ketika kalian mendengar propaganda pemerintah, polesan para juru bicara, kampanye-kampanye kami di media sosial, alihan ke iklan-iklan, serta suara-suara pidato sang raja&#8230; jangan lupa ya untuk memberi seruan dan tepuk tangan. Dukunglah rajamu itu, meski boros, meski IHSG anjlok, tetapi tetap dukunglah dia. Setidaknya, sang raja bisa merasa nyaman dan aman agar dia tetap berdiri sebagai <em>number one</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan apa yang dilakukan oleh ketiga sahabat itu?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mereka tetap menolaknya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja. Tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku atau menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”<br>(Daniel 3:16–18)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mereka tidak membalas raja dengan seperangkat penjelasan kultural. “Oh, kami baru saja tahu ternyata itu adalah suatu patung yang patut disembah, kami datang dari suatu bangsa yang tidak terbiasa menyembah patung”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mereka juga tidak membalas raja dengan berbagai argumentasi mistik atau filosofis. “Tahukah raja, bahwa patung itu adalah benda mati? Untuk apa kita menyembah sesuatu yang mati, bukankah ada dewa-dewa yang memerintah di atas pemerintahan raja?” Saya percaya Nebucadnezzar juga percaya kepada para dewa, itulah sebabnya dia memanggil Daniel sebagai penasihat yang dipenuhi oleh roh dewa yang kudus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Akan tetapi, permasalahan terletak pada titik ini: mereka melawan sang raja yang merasa dirinya sudah setara dengan Allah. Sampai saja, balasan yang diberikan oleh ketiga sahabat itu menjadi suatu “tamparan” di depan wajah raja secara langsung. Kata “tidak ada gunanya” yang dipakai oleh ketiga sahabat menunjukkan satu hal: raja sudah tuli dan menjadi bodoh, sampai saja raja sudah dianggap tidak lagi berakal untuk mendengarkan kata-kata.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Tidak ada gunanya” juga berarti “kami tidak butuh raja, kami tidak takut pada dirimu. Raja bukanlah Tuhan. Raja hanyalah manusia fana, dan sama seperti manusia lain, kau hanyalah debu”. Tidak ada ancaman militer, tidak ada serangan fisik maupun rencana untuk melakukan <em>assasination</em>. Akan tetapi, respon sang raja yang demikian marah menunjukkan bahwa ketiga sahabat itu menjadi musuh yang lebih menyeramkan daripada mengalahkan Firaun dari Mesir dan Raja Asyur dari Asiria.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hanya tiga jiwa saja kok, kenapa begitu repot?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena yang sedang menantang sang raja bukan hanya tiga jiwa manusia saja, tetapi Allah itu sendiri. “Jika <strong><u><strong>Allah kami</strong></u></strong><strong>&nbsp;</strong>yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jadi, siapakah raja yang sesungguhnya? Raja itu atau Tuhan yang akan menyelamatkan? Raja bukan sedang menentang tiga sahabat Daniel, tetapi Tuhan itu sendiri. “Oh gitu, baik. Saya akan buktikan bahwa Tuhanmu mati dengan mematikan kalian bertiga. Mari kita uji, apakah betul Tuhanmu itu hidup atau mati. Tuhanmu yang lebih berkuasa atau saya!”.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">Jadi, siapakah raja yang sesungguhnya? Raja itu atau Tuhan yang akan menyelamatkan? Raja bukan sedang menentang tiga sahabat Daniel, tetapi Tuhan itu sendiri.</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Dapur Api</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Dapur api atau kematian menanti mereka yang melawan raja. Ketiga sahabat itu dilempar ke tempat pembakaran yang paling mendalam, bahkan sampai ada prajurit yang mati. Namun, Tuhan hadir bersama dengan mereka. Sang raja yang melihat peristiwa itu merasa takjub. Nebukadnezar kemudian mengangkat ketiga sahabat Daniel pada jabatan yang tinggi, serta membuat suatu peraturan baru agar tiap orang menghormati Allah Israel.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Sebab itu aku mengeluarkan perintah, bahwa setiap orang dari bangsa, suku bangsa atau bahasa mana pun ia, yang mengucapkan penghinaan terhadap Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego, akan dipenggal-penggal dan rumahnya akan dirobohkan menjadi timbunan puing, karena tidak ada allah lain yang dapat melepaskan secara demikian itu.” (Dan.&nbsp;3:29)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam ucapan raja, terlihat bahwa raja memberi perintah kepada setiap orang—tetapi bukan untuk dirinya sendiri. Raja&nbsp;bukannya&nbsp;mengaku dosa dan berlutut kepada Allah Israel, tetapi memberi perintah. Dengan demikian, penempatan ketiga sahabat Daniel pada jabatan yang tinggi bukanlah bentuk penghormatan, melainkan suatu pengendalian. “Lalu raja memberi kedudukan tinggi kepada Sadrakh, Mesakh dan Abednego di wilayah Babel.”&nbsp;(Dan.&nbsp;3:30). “Ya, silakan saja kalian bisa menangkal kekuatanku di dapur api, tetapi toh kalian tetap berada di bawah kekuasaanku yang memberikan kalian kedudukan tinggi.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah itu, Nebukadnezar mendapatkan suatu mimpi lagi tentang pohon raksasa yang ditebang oleh malaikat Allah. Itu sudah menjadi suatu peringatan agar raja merendahkan dirinya. Sekali lagi, Daniel yang sama memberikan arti terhadap mimpi itu, tetapi raja tetap tidak mendengarkannya. Raja tetap melakukan ketidakadilan, penindasan, dan tetap merasa dirinya besar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Jadi, ya raja, biarlah nasihatku berkenan pada hati tuanku:&nbsp;lepaskanlah diri tuanku dari pada dosa dengan melakukan keadilan, dan dari pada kesalahan dengan menunjukkan belas kasihan terhadap orang yang tertindas; dengan demikian kebahagiaan tuanku akan dilanjutkan!”&nbsp;(Dan.&nbsp;4:27)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nebukadnezar yang menempatkan ketiga sahabat Daniel pada kedudukan tinggi untuk mengelola Kerajaan Babel, akhirnya tetap meninggikan diri dengan membuat klaim,&nbsp;“Bukankah itu Babel yang besar itu, yang dengan kekuatan kuasaku dan untuk kemuliaan kebesaranku telah kubangun menjadi kota kerajaan?”&nbsp;(Dan.&nbsp;4:30). Raja sudah menyaksikan kerajaannya runtuh, Babel akan berhenti. Sudah melihat Allah Israel yang menyelamatkan umat-Nya dari dapur api. Sudah ditegur dengan sangat keras untuk rendah hati. Raja tetap memilih untuk menjadi angkuh. Pada akhirnya, raja dipukul, kehilangan akalnya, dan menjadi seperti sapi,&nbsp;lebih rendah daripada rakyat jelata yang diinjaknya.&nbsp;Ketika manusia ingin menjadi Allah, maka manusia itu akan jatuh dan menjadi sangat rendah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah tujuh tahun, ketika Nebukadnezar menyadari Allah Israel sebagai satu-satunya Allah yang Maha&nbsp;Tinggi, dia kembali kepada kedudukannya yang semula.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apakah Daniel dan ketiga sahabatnya mencoba untuk menjatuhkan sang raja?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak. Mereka tidak merencanakan suatu gerakan revolusi. Dengan segala usaha, mereka menegur sang raja dalam keteguhan kebenaran bahwa apa yang telah diperbuatnya adalah salah. Berkali-kali raja memberikan Daniel dan ketiga sahabatnya hadiah, pujian, dan kedudukan. Mereka tetap setia sebagai pengikut Allah, yang kebetulan ditempatkan-Nya dalam suatu lingkaran terdalam pada suatu kerajaan raksasa. Melalui kehadiran mereka, Allah menunjukkan kedaulatan-Nya atas sejarah dan kerajaan dunia. Allah Israel bukanlah Allah yang berada di Yerusalem saja. Setiap kerajaan berada di genggaman tangan-Nya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Kota Dunia Indonesia</strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteks hari ini, mungkin saja kita sedang berada dalam masa sesak. Kondisi ekonomi dan politik betul-betul sedang tidak baik-baik saja. Bahkan, sampai pada tahap tertentu, “panasnya” dapur api sampai terasa dalam kehidupan sehari-hari. Bila tidak hati-hati, pemerintahan kita bisa bergerak lebih lanjut dalam mengerahkan kekuatan bersenjata untuk menguasai negara, ancaman dapur api itu selalu ada.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketiga sahabat itu merefleksikan umat Allah yang  berada dalam tekanan dunia. Tidak banyak. Tiga jiwa di antara puluhan juta orang yang tunduk kepada bendera atau patung emas. Bisa jadi, ada juga umat Yahudi yang ikut menyembah kepada patung emas Nebukadnezar. Akan tetapi, dari tiga jiwa itu saja, Tuhan menyatakan kedaulatan-Nya. Hanya TUHAN saja yang berkuasa, dan nama-Nya adalah Yesus Kristus. Tidak ada yang lain: bukan dewa ini atau itu, bukan dari agama ini atau itu. Jika kita sungguh-sungguh setia kepada Kristus, maka dapur api sekalipun tidak dapat menelan kita, dan raja yang berkuasa sekalipun harus berteluk lutut kepada Kristus, “mereka melanggar titah raja, dan menyerahkan tubuh mereka, karena mereka tidak mau memuja dan menyembah allah mana pun kecuali Allah mereka.” (Daniel 3:28)</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">Jika kita sungguh-sungguh setia kepada Kristus, maka dapur api sekalipun tidak dapat menelan kita, dan raja yang berkuasa sekalipun harus berteluk lutut kepada Kristus.</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Ancaman dapur api atau hadiah kedudukan tinggi, keduanya berasal dari tangan raja dunia. Jangan kira ketika pemerintah memberikan suatu privilise, maka pemerintah ingin selalu bersikap baik kepada kita. Barangkali, justru karena kedudukan yang istimewa itulah ada orang-orang tertentu yang menjadi <em>buffer</em>, yang menahan amarah publik kepada raja dengan berdiri sebagai penengah. Sebaliknya, ketika situasi menjadi semakin sulit dan raja sedang kehilangan akal, dapur api dan kukuatan bersenjata akan bergerak untuk menekan apa yang dianggap sebagai “bahaya”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi kita yang berada di Indonesia, kita hadir bukan untuk menyembah wajah seorang manusia, mengikuti berhala menurut sistem ideologi tertentu, melainkan untuk menjadi saksi-Nya di tanah air. Di tengah situasi negara yang semakin tidak baik-baik saja, dan semakin menguatnya penggunaan kekuatan senjata, maka gereja hadir untuk berdiri dan juga harus siap bila dilempar ke dapur api. Babel akan berganti raja, dan pada akhirnya akan berhenti juga masa kerajaan Babel. Patung emas itu akan hancur dan digantikan kerajaan yang lain. Akan tetapi, di mana Kristus menjadi Tuhan dan juruselamat kita, Dia tetap akan menyertai umat-Nya. Kerajaan-Nya adalah kekal dan untuk selamanya, dan kerajaan-Nya dihadiri oleh umat-Nya yang memimpin bukan dengan patung emas atau dapur api, melainkan dengan kasih, kebenaran, dan keadilan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kevin Nobel Kurniawan<br>Pemuda GRII Pusat</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">31736</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Pemerintahan Gereja: Ketika Satu Pihak Berusaha Mengepalai Semua</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/alkitab-theologi/pemerintahan-gereja-ketika-satu-pihak-berusaha-mengepalai-semua</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[heryanto]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 22 Aug 2026 01:20:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Alkitab & Theologi]]></category>
		<category><![CDATA[Infalibilitas]]></category>
		<category><![CDATA[Otoritatif]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintahan gereja]]></category>
		<category><![CDATA[Primasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=31628</guid>

					<description><![CDATA[Dari Para Rasul, Bapa Gereja, Hingga Primasi dan Infalibilitas Uskup Roma Gereja yang jemaat awalnya berjumlah 12 orang saja, bertumbuh hingga ratusan, ribuan, dan jutaan. Banyak orang yang masuk ke ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/alkitab-theologi/pemerintahan-gereja-ketika-satu-pihak-berusaha-mengepalai-semua">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Dari Para Rasul, Bapa Gereja, Hingga Primasi dan Infalibilitas Uskup Roma</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Gereja yang jemaat awalnya berjumlah 12 orang saja, bertumbuh hingga ratusan, ribuan, dan jutaan. Banyak orang yang masuk ke dalam Tubuh Kristus sebagai umat-Nya. Namun, makin tersebarnya pengajaran akan kekristenan, bidat-bidat juga berkembang. Gereja lokal yang bertumbuh secara lokal makin lama juga makin menghadapi ajaran-ajaran palsu yang mencederai Injil Kristus. Setiap terjadi penyimpangan pengajaran, gereja di Roma sering berperan sebagai pengadilan banding. Hal ini dikarenakan uskup dari Roma dianggap sebagai uskup yang memiliki pemahaman iman yang ortodoks, serta dipercayai sebagai gereja yang dibentuk oleh dua rasul paling penting, yakni Paulus dan Petrus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bapa Gereja mula-mula juga menyanjung gereja di Roma karena Roma banyak berperan pada gereja di Korintus di bawah Klemens dari Roma (murid langsung dari Petrus)<a href="#_ftn1" id="_ftnref1"><sup>[1]</sup></a>, penuh dengan kebenaran dan kasih menurut Ignatius dari Antiokhia, dan merupakan tempat dari seorang apologet andal yakni Yustinus Martyr. Gereja di Roma adalah salah satu yang stabil, dan memperoleh visibilitas politik dari Konstantinus Agung ketika kekristenan menjadi agama resmi di Kerajaan Roma. Gereja Roma memperoleh keutamaan kehormatan, tetapi tetap dipandang sebagai satu gereja dengan satu uskup yang setara dengan uskup-uskup gereja lainnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bertahun-tahun Gereja mula-mula mengalami persekusi, memerangi bidat, kemudian gereja di Roma menjadi satu dengan pemerintah. Namun, Kekaisaran Roma yang diatur oleh gereja jatuh karena peperangan demi peperangan. Dari kejatuhan tersebut, gereja Roma tetap berdiri teguh dan bahkan berjuang dalam peperangan. Karena kekuatannya, theolog di Roma seperti Leo Agung dan Gregorius VII kemudian mengembangkan doktrin tentang supremasi uskup Roma terhadap semua umat Kristen: bahwa Keuskupan Roma memiliki yurisdiksi universal atas seluruh umat kristiani. Leo Agung menafsirkan Matius 16:18-19 sebagai Kristus memberikan kunci sorga kepada Rasul Petrus, uskup pertama Roma, sebagai dasar pembenaran akan supremasi kepausan Roma.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berdampingan dengan Roma, Keuskupan Konstantinopel berkembang dan mengalami stabilitas di wilayah Timur sebagai “Roma Baru”. Kemunduran kota Roma sebagai pusat politik dan melemahnya pengaruh administratifnya menjadi salah satu alasan Konstantinus Agung memindahkan ibu kota Kekaisaran Romawi ke Konstantinopel, yang pada saat itu lebih stabil secara politik, militer, dan ekonomi. Pada Konsili Kalsedon (451 M), Kanon 28 menetapkan bahwa “<em>New Rome</em> (Constantinople) <em>shall have equal privileges</em> (Yunani: ισα πρεσβεία, “<em>isa presbeia”</em>) <em>with Old Rome</em>.” Namun Keuskupan Roma menolak kanon ini. Penolakan tersebut menjadi salah satu sumber pergesekan penting dalam relasi antara Roma dan Konstantinopel, yang berkontribusi pada ketegangan jangka panjang hingga akhirnya memuncak dalam Skisma Besar, yakni ketika perdebatan mengenai keutamaan satu keuskupan di atas yang lain (<em>universal bishop</em>) mencapai titik yang tak terjembatani.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;Skisma besar terjadi karena beberapa sebab umum pada mulanya, yakni perbedaan eklesiologi, theologi, dan tensi geopolitik. Salah satu perdebatan theologi yang menonjol adalah tentang isu prosesi/keluarnya Roh Kudus dalam perdebatan <em>et filioque</em>, penggunaan roti beragi atau tak beragi, dan ikonoklasme, yakni pengertian tentang keharusan penghancuran gambar (ikon) yang merepresentasikan Tuhan yang terjadi di antara gereja-gereja Timur.<a href="#_ftn2" id="_ftnref2"><sup>[2]</sup></a> Namun, dengan mencekamnya kondisi geopolitik di Eropa, Keuskupan Roma memberikan pesan kepada semua keuskupan lain untuk bersatu dan menjadikan uskup Roma sebagai satu kepala gereja yang memiliki yurisdiksi universal terhadap seluruh keuskupan pada saat itu. Ide ini ditolak oleh gereja-gereja Timur dengan alasan utamanya adalah sebagai pragmatisme dalam permasalahan geopolitik, serta perbedaan theologi dan tradisi gereja yang pada saat itu juga ada di dalam perdebatan yang mencekam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Atas penolakan tersebut, pada tahun 1054 Kardinal Humbert dari Keuskupan Roma mengekskomunikasi Patriark Cerularius dari keuskupan Konstantinopel, dan juga Cerularius mengekskomunikasi Keuskupan Roma. Keuskupan Gereja Roma kemudian memiliki uskup universal yang disebut dengan Paus, sedangkan Patriark Konstantinopel hari ini menjadi bagian dari Gereja Ortodoks Timur bersama dengan Patriark Alexandria, Yerusalem, dan Antiokhia. Bertahun-tahun kemudian, Gereja Katolik Roma menyatakan bahwa Paus, uskup tertinggi Roma, memiliki infalibilitas dalam penafsiran Alkitab. Telah terjadi di dalam sejarah, bahwa ketika dari banyak pemimpin gereja, satu orang beritikad untuk mengambil otoritas yang paling tinggi dan mengepalai seluruh pemimpin gereja, maka perpecahan sangat mungkin terjadi.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a></a><strong>Dampak Buruk Infalibilitas Satu Pemimpin Gereja yang Otoritatif</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika satu pihak di dalam suatu institusi agama <em>rise to power</em> menjadi kepala yang otoritatif, maka sangat rentan untuk terjadinya penokohan. Hal ini telah terjadi di banyak agama di dunia, termasuk juga di dalam gereja, seperti yang telah dibahas. Penokohan satu orang atau satu posisi yang <em>one above all</em> akan membuat gereja menjadi sangat rentan untuk jatuh ke dalam pengajaran yang salah, karena tidak adanya posisi yang setara di dalam proses pemeriksaan dan keseimbangan doktrin. Pada konteks ini, penulis hendak menekankan pada konteks keseimbangan. Tentu, orang yang ada di satu posisi di bawah dari posisi “kepala” bisa memberikan koreksi terhadap kesalahan “kepala”, tetapi ketika posisinya ada di bawah, komunikasi akan tidak seimbang karena relasi kuasa. Konsekuensi dari ini adalah keputusan doktrinal rentan untuk menjadi keputusan yang tersentralisasi dan bukannya kolegial.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keputusan doktrinal yang tersentralisasi akan menyebabkan perbedaan pandangan pada para pemimpin-pemimpin gereja. Hal ini akan menyebabkan deviasi kecil di dalam persatuan gereja. Tentu, awalnya deviasi ini tidak dapat dilihat. Namun, sepanjang perjalanan waktu, deviasi ini akan terlihat sangat jelas, sangat besar, dan menjadikan gereja rentan terhadap perpecahan. Deviasi ini juga bisa diwarnai dengan politik intra gereja, kondisi ekonomi, dan sosial. Politik menjadi yang utama di atas spiritualitas, penyalahgunaan kekuasaan akan mudah, gereja lokal kehilangan kebebasan, dan otoritas firman Tuhan menjadi makin berkurang di bawah dekret pemimpin. Setelah semuanya kalut, muncullah perpecahan gereja, di mana satu pihak merasa diri paling setia dengan kebenaran yang mula-mula diakui bersama. Ini terjadi di dalam sejarah, terutama umat Protestan. Polanya adalah sebagai berikut: ketika gereja mulai “tidak setia dalam kebenaran”, orang-orang yang konservatif akan memisahkan diri, sedangkan orang-orang yang liberal akan merusak pengajaran gereja. Orang konservatif akan muncul sebagai orang yang berkata, “Gereja ini sudah tidak setia lagi dengan kebenaran, saya akan pergi dari sini dan membuat gereja baru yang setia dengan kebenaran.” Sedangkan orang liberal akan berkata, “Lebih baik kita berdamai, tidak perlu terlalu mengotot dalam hal doktrinal. Tidak ada yang lebih benar, hargai perbedaan dan bersatulah.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Calvin mengecam adanya perpecahan di dalam gereja. Tentang ini ia menulis pada karya <em>Institutes</em>-nya:</p>



<p class="wp-block-paragraph">“<em>By the unity of the Church we must understand an unity into which we feel persuaded that we are truly ingrafted. For <strong>unless we are united with all the other members under Christ our head, no hope of the future inheritance awaits us</strong>.</em>”<a href="#_ftn3" id="_ftnref3"><sup>[3]</sup></a></p>



<p class="wp-block-paragraph">Juga, di dalam tafsiran dia terhadap Efesus 4:3, Calvin mengatakan:</p>



<p class="wp-block-paragraph">“<em>With good reason does he recommend forbearance, as tending to promote the unity of the Spirit. Innumerable offenses arise daily, which might produce quarrels, particularly when we consider the extreme bitterness of man’s natural temper. Some consider the unity of the Spirit to mean that spiritual unity which is produced in us by the Spirit of God. <strong>There can be no doubt that He alone makes us “of one accord, of one mind,” (Philippians 2:2,) and thus makes us one; but I think it more natural to understand the words as denoting harmony of views. This unity, he tells us, is maintained by the bond of peace; for disputes frequently give rise to hatred and resentment. We must live at peace, if we would wish that brotherly kindness should be permanent amongst us</strong>.”<a href="#_ftn4" id="_ftnref4"><sup><strong><sup>[4]</sup></strong></sup></a></em></p>



<p class="wp-block-paragraph">John Calvin adalah seorang reformator Protestan. Dia bergabung pada arus Reformasi yang sedang terjadi saat itu. Sejak Luther, kekristenan Barat terbagi menjadi Katolik dan Protestan, dan mereka yang berbagian pada gerakan Reformasi akan diekskomunikasi oleh Gereja Katolik. Namun dari tulisan-tulisan Calvin, dia tidak memiliki intensi utama untuk memecah gereja. Benar, bahwa bagi dia perpecahan gereja sangatlah melukai tubuh Kristus, tetapi dia pun tidak dapat tunduk kepada otoritas satu kepala universal yang disebut dengan Paus. Terlebih lagi, Paus dan uskup melanggengkan praktis pengultusan relik dan patung orang-orang kudus, serta penjualan surat indulgensia yang bertentangan dengan Injil. Calvin dengan teguh memegang bahwa hanya Kristuslah satu-satunya Kepala Gereja. Ketika Gereja Katolik Roma, yang ada di bawah kepemimpinan Paus, membiarkan patung-patung orang kudus dipakai sebagai media devosi berlebihan, yakni untuk dimintakan doa seakan-akan para patung kudus berkuasa, Calvin menentang dan menulis karya-karyanya untuk menentang otoritas yang menyesatkan ini. Dia melihat bahwa kekristenan telah jatuh berat ke dalam penyembahan berhala yang brutal. Dari tulisannya, dia menegaskan kembali bahwa Kristuslah satu-satunya Kepala atas Gereja, dan Dia tidak akan memberikan tempat bagi yang lain untuk menjadi kepala, seperti Paus, ataupun untuk menjadi mediator kepada Allah Bapa, seperti relik orang-orang kudus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari sejarah ini kita belajar bahwa ketika satu kepala dibangkitkan untuk memiliki kekuatan yang besar, terutama di dalam gereja, dia berpotensi besar untuk membawa penyesatan. Sebagai manusia, kita harus mengerti bahwa kekuasaan perlu dibagi agar sang pemegang kekuasaan tidak benar-benar korup. Kita harus mewariskan pola pemerintahan politik gereja, yang telah dilakukan oleh para rasul. Pada artikel selanjutnya, akan dijelaskan tentang apa yang Calvin tulis untuk menentang otoritas mutlak ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Mario A.J. Sirait<br>Pemuda GRII Pusat</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref1" id="_ftn1"><sup>[1]</sup></a> Clement of Rome, Clement 1: Letter to the Corinthians.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref2" id="_ftn2"><sup>[2]</sup></a> Cross, Frank Leslie; Livingstone, Elizabeth A. (2005). &#8220;Great Schism&#8221;. The Oxford Dictionary of the Christian Church. Oxford: University Press.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref3" id="_ftn3"><sup>[3]</sup></a> Institutes of the Christian Religion IV.1.2</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref4" id="_ftn4"><sup>[4]</sup></a>Calvin, John. &#8220;Commentary on Ephesians 4&#8221;. &#8220;Calvin&#8217;s Commentary on the Bible&#8221;. https://www.studylight.org/commentaries/eng/cal/ephesians-4.html. 1840-57.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">31628</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Teguran di dalam Kasih</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/renungan/teguran-di-dalam-kasih</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[michaelleang]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 18 Aug 2026 12:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[kasih]]></category>
		<category><![CDATA[Kemurahan hati]]></category>
		<category><![CDATA[Menegur]]></category>
		<category><![CDATA[relasi]]></category>
		<category><![CDATA[teguran]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=31483</guid>

					<description><![CDATA[1 Korintus 13 Menegur adalah hal yang sering kita lakukan di dalam kehidupan kita sehari-hari khususnya di dalam berelasi. Namun, di dalam memberikan teguran, kita sering dihadapkan pada hal yang ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/renungan/teguran-di-dalam-kasih">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>1 Korintus 13</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Menegur adalah hal yang sering kita lakukan di dalam kehidupan kita sehari-hari khususnya di dalam berelasi. Namun, di dalam memberikan teguran, kita sering dihadapkan pada hal yang tidak kita harapkan. Teguran yang kita anggap baik justru berujung pada reaksi negatif, seperti kemarahan, tangisan, atau bahkan menimbulkan rasa kepahitan di pihak yang ditegur.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sisi lain, saat kita ditegur, kita pun tak jarang merasa kehilangan rasa respek atau bahkan menimbulkan kepahitan terhadap orang yang menegur. Kondisi seperti inilah yang menunjukkan kita dan orang di sekitar kita sering kali salah atau bahkan keliru dalam cara menegur.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Belajar dari Teladan Kasih Paulus&nbsp;</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Melihat tantangan ini, maka saya mengajak kita untuk belajar dari Rasul Paulus. Rasul Paulus menegaskan bahwa landasan utama dalam setiap interaksi termasuk dalam menegur adalah kasih. Rasul Paulus mendefinisikan kasih sebagai hal yang penting dalam beberapa aspek yaitu: murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri, tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan, tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah, dan tidak menyimpan kesalahan orang lain<strong>.</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteksnya, Rasul Paulus menyatakan hal tentang kasih terhadap jemaat di Korintus agar mereka kembali kepada kehendak Allah. Saat itu, jemaat Korintus cenderung membanggakan karunia yang mereka miliki dan bahkan menganggap karunia yang mereka miliki lebih penting daripada apa yang sesamanya miliki. Oleh karena itu, saya akan mengangkat tiga hal yang akan menjadi dasar kasih di dalam menegur yang dapat kita terapkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Teguran dengan kemurahan hati</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Di tengah-tengah permasalahan yang ada di jemaat Korintus, Paulus tetap menerapkan kasih di dalam menegur mereka dan menjelaskan bagaimana seharusnya hidup di dalam karunia yang kita miliki. Kita dapat melihat keluasan hati Rasul Paulus yang <strong>menegaskan dirinya terlebih dahulu</strong> dengan mengatakan sekalipun dia <strong>mempunyai segala sesuatu, jika tidak mempunyai kasih maka hal itu tidak berguna</strong>. Mempunyai kemurahan hati di dalam menegur seseorang berarti mengajarkan kita terlebih dahulu mengetahui posisi orang tersebut dengan segala keluasan hati. Kita perlu melihat apa yang dibutuhkan oleh seseorang di tengah-tengah segala kesalahan dan permasalahan yang dialami tanpa ingin menjatuhkan orang tersebut. Terkadang tanpa kita sadari, kita cenderung mengatakan apa yang kita anggap “paling benar” bagi mereka yang melakukan kesalahan atau belum bertobat, tanpa kemurahan hati untuk mendengarkan dan memahami kondisi mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan demikian, kita harus belajar bahwa menegur berarti menerima seseorang apa adanya dengan ketulusan hati kita dengan tujuan membuatnya bertumbuh dan bukan terjatuh.&nbsp;</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">Mempunyai kemurahan hati di dalam menegur seseorang berarti mengajarkan kita terlebih dahulu mengetahui posisi orang tersebut dengan segala keluasan hati. Kita perlu melihat apa yang dibutuhkan oleh seseorang di tengah-tengah segala kesalahan dan permasalahan yang dialami tanpa ingin menjatuhkan orang tersebut.</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Menegur dengan tidak memegahkan diri</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Berapa banyak dari kita yang menegur seseorang dengan membandingkan dia dengan kita atau bahkan orang yang lebih baik? Kita perlu memiliki kepekaan dalam berkata-kata kepada seseorang, sebab terkadang kita harus memikirkan hal yang selayaknya untuk diucapkan. Teguran tanpa adanya kemegahan atas diri membuat kita rendah hati. Rasul Paulus selalu menyatakan diri sebagai hamba, bahkan tidak memegahkan diri atas kerasulannya dan menyatakan diri sebagai pelayan. <strong>Kita di dalam menegur harusnya membawa seseorang memandang kepada Kristus dan bukan diri kita</strong>. Kenapa kita tidak boleh membawa kepada diri kita? Karena kita juga mempunyai kelemahan yang sama, bahkan mungkin jauh lebih rumit, karena kita sama-sama adalah orang yang berdosa. Di balik diri kita yang berdosa, sesungguhnya tidak ada yang perlu dimegahkan. Hanya Yesus saja yang mampu menolong serta menyembuhkan setiap kita.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berapa banyak dari kita yang telah membuat hati orang lain makin terpuruk karena tekanan melalui kata-kata kita? Atau berapa banyak di antara kita yang sudah mengalaminya? Kita harus belajar di dalam menegur seseorang untuk tidak hanya menyatakan kesalahan dan hal yang harus diubah, tetapi juga mengulurkan tangan kita kepadanya dan membawanya di dalam kasih Kristus yang sejati, sehingga ia dapat belajar dari hidup dan teladan yang Yesus miliki.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Menegur dengan tidak menyimpan kesalahan orang lain</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Paulus, ketika menegur jemaat Korintus, bukan berfokus pada mengungkit-ungkit masa lalu tetapi mengarahkan kepada pemulihan kepada jalan yang benar. Berbeda dengan Paulus, kita sering menegur seseorang hanya karena kita sudah muak dengan kesalahan-kesalahan mereka yang sudah berlalu. Kita menyimpan terus kesalahan tersebut, yang pada akhirnya membuat teguran kita hanya melampiaskan emosi dan berfokus pada hal-hal negatifnya saja. Kita perlu menyelesaikan asumsi dan hal yang sudah kita simpan dari kesalahan seseorang agar teguran itu dapat bersifat membangun. Kita harus renungkan, apakah Tuhan yang selalu kita sakiti ketika kita datang Ia menyimpan kesalahan kita dan menjatuhkan kita dengan amarah-Nya? Justru Tuhan mengampuni segala kesalahan kita, menyembuhkan diri kita dari dosa, bahkan menebus hidup kita dan memberikan kita mahkota dengan kasih setia-Nya. Terkadang Tuhan memakai orang yang membuat kita kesal untuk memperluas hati kita juga. Kita harus mempunyai kasih yang mementingkan proses terhadap sesama.&nbsp;</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">Kita perlu menyelesaikan asumsi dan hal yang sudah kita simpan dari kesalahan seseorang agar teguran itu dapat bersifat membangun.</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Dari 1 Korintus 13, kita diingatkan bahwa penerapan kasih yang holistik juga tercermin di dalam teguran, sebagaimana Kristus yang menegur dengan kasih harusnya dapat kita terapkan di dalam kehidupan kita. Kiranya melalui teguran juga kita makin bertumbuh dan dalam memberikan teguran kita juga bertumbuh dengan cara yang bijaksana, sehingga relasi terhadap sesama menjadi cerminan buah kasih Kristus kepada kita.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Grecia Agustina Purba<br>Mahasiswi STTRII Konsentrasi Misiologi</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">31483</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Mendambakan Kebangunan Besar</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/kehidupan-kristen/mendambakan-kebangunan-besar</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[michaelleang]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 14 Aug 2026 12:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kehidupan Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[Great Awakening]]></category>
		<category><![CDATA[kebangunan]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Para Rasul]]></category>
		<category><![CDATA[mendambakan]]></category>
		<category><![CDATA[revival]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=31438</guid>

					<description><![CDATA[Setiap pagi ketika bangun dari tidur, apa yang kita dambakan? Kita mungkin memulai hari kita dengan bersyukur atas pagi yang indah, kesehatan yang kita miliki, kita mengucap syukur masih bisa ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/kehidupan-kristen/mendambakan-kebangunan-besar">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Setiap pagi ketika bangun dari tidur, apa yang kita dambakan? Kita mungkin memulai hari kita dengan bersyukur atas pagi yang indah, kesehatan yang kita miliki, kita mengucap syukur masih bisa beraktifitas, masih ada keluarga yang mendukung, ada teman-teman di sekeliling kita, baik di sekolah, kampus, atau kantor, yang menanti kita untuk bercengkrama, berbagi suka-duka, atau sekadar <em>kongkow</em> bersama. Ada begitu banyak hal yang bisa membuat kita bersyukur setiap kali kita diberikan kesempatan membuka mata di pagi hari. Namun, jika kembali ke pertanyaan awal tadi, yaitu apa yang kita dambakan, mungkin butuh beberapa waktu untuk memikirkannya. Merujuk kepada KBBI, kata mendambakan (akar kata: damba) berarti sangat ingin, rindu, bukan sekadar keinginan saja. Ada sebuah keinginan yang sangat kuat. Jadi, pertanyaan mengenai apa yang kita dambakan setiap kali kita bangun di pagi hari bukanlah suatu pertanyaan yang mudah untuk dijawab. Dalam artikel ini, kita akan menelusuri beberapa kisah besar dan membahas mengapa mendambakan perlu ada di dalam diri kita dan apa yang semestinya menjadi kedambaan kita sebagai orang Kristen.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>The Great Awakening</em> yang pertama, sekitar tahun 1730-1740an, adalah suatu kisah besar di dalam sejarah Amerika dan Eropa. Dua tokoh besar yang muncul adalah George Whitefield di Inggris dan Jonathan Edwards di Amerika Utara. George Whitefield (1714-1770) mulai berkhotbah di area terbuka justru setelah dia mendapatkan penolakan berkhotbah di dalam gereja dari penatua gereja-gereja setempat. Penolakan yang demikian tidak membuat Whitefield mundur apalagi merasa rendah diri. Desakan di dalam dirinya untuk berkhotbah dan memanggil orang banyak kepada pertobatan dan konversi lebih kuat dari penolakan yang diterimanya. Whitefield tercatat berkhotbah kepada massa yang besar, bahkan sampai 30.000 orang yang mendengarkannya di dalam satu kali khotbah, yang ketika itu belum ada <em>sound system</em> atau teknologi pengeras suara. Whitefield dikenal dengan cara berkhotbah yang ekspresif dan emosi yang hidup. Setelah banyak melakukan khotbah kebangunan di Inggris, Skotlandia, dan sekitarnya, dia pergi ke Amerika pada tahun 1739 untuk melakukan hal yang sama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di belahan dunia yang lain, Amerika, yang pada waktu itu masih merupakan koloni Inggris, dibangkitkan seorang <em>revivalist </em>yaitu Jonathan Edwards (1703-1758) yang gaya berkhotbahnya tidak terlalu ekspresif seperti George Whitefield. Dia cenderung menulis teks khotbah dengan baik lalu membacakannya di dalam gereja. Dia tidak pernah berkhotbah di area terbuka, hanya di dalam gereja atau dalam pertemuan publik di dalam ruangan. Edwards tidak menggunakan banyak gerakan teatrikal, namun intonasinya dalam membaca naskah khotbah begitu baik dan mendalam, sehingga salah satu khotbahnya yang terkenal “<em>Sinners in the Hands of an Angry God</em>” dapat membuat orang yang mendengarnya pada saat itu di Enfield, Connecticut merasakan gambaran kengerian berhadapan dengan Allah yang murka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kisah <em>revival </em>seperti itu tidak hanya baru muncul pada abad ke-18 saja. Tuhan sudah memunculkannya pada awal abad pertama. Sepuluh hari setelah Yesus terangkat ke surga, terjadi sebuah <em>revival</em> yang pertama dan besar di dalam sejarah kekristenan. Waktu itu tercatat 3.000 orang yang mendengarkan khotbah Petrus kemudian memberi diri mereka untuk dibaptis (Kis. 2: 41). Bagaimana bisa? Pentakosta hanya berselang lima puluh hari dari kebangkitan Yesus, sedangkan berita tentang Yesus bangkit masih simpang siur. Para imam dan tua-tua Yahudi menyuruh serdadu-serdadu yang menjaga makam Yesus untuk bersaksi bahwa murid-murid telah mencuri jasad Yesus (Mat. 28:11-15). Di sisi lain, dalam rentang waktu 40 hari menuju kenaikan, Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya dengan total jiwa yang melihat Yesus bangkit berjumlah sekitar 500 orang (1Kor. 15:6). Sedangkan pada hari Pentakosta, jumlah murid-murid yang menantikan di ruang atas berjumlah 120 orang. Bagaimana mungkin dalam waktu yang hanya berselang sepuluh hari dapat terjadi lonjakan orang menjadi Kristen begitu besar? Ya, sangat mungkin. Karena hal itu telah terjadi di dalam sejarah dan bukan kisah fiksi belaka atau cerita heroik semata.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, apakah kisah-kisah di atas hanya sebatas kisah bersejarah saja yang telah berlalu? Apakah mungkin kisah tersebut dapat terjadi juga pada zaman kita saat ini? Apakah kita boleh mendambakan kisah besar seperti itu muncul di masa yang serba digital ini di mana pertemuan fisik sudah kalah dengan pertemanan di media sosial? Kita dapat menghitung berapa sedikitnya dan siapa saja yang kita temui secara fisik. Tetapi ribuan teman di dunia maya atau <em>followers</em> yang tidak terhitung jumlahnya tidak mampu kita kenali satu persatu atau bahkan kita tidak tahu apakah jumlah tersebut adalah nyata atau banyak <em>fake account</em>. Sebagai catatan, penulis tidak sedang mengatakan bahwa peristiwa turunnya Roh Kudus pada hari Pentakosta akan dapat terulang kembali. Penulis mengerti dengan jelas bahwa hal itu terjadi hanya sekali untuk selamanya, yang penulis maksudkan adalah peristiwa <em>revival</em>, di mana Tuhan menggerakkan hati umat-Nya kembali kepada-Nya. Tuhan bekerja di dalam setiap orang yang dikehendaki-Nya di waktu yang relatif bersamaan dan menyatukan mereka menjadi suatu perkumpulan orang-orang kudus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mari kita menelusuri cerita di dalam Kisah Para Rasul dan kemudian menarik prinsip untuk konteks kita saat ini. Pertama, kita menemukan bahwa bahwa <em>revival</em> adalah kehendak Tuhan. Kisah Para Rasul 1:8 dengan jelas mengatakan bahwa kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem, Yudea, Samaria, dan sampai ke ujung bumi. Pernyataan Tuhan menghendaki kita untuk menjadi saksi-Nya juga ditemukan di dalam Amanat Agung (Mat. 28:19-20). Ini adalah dasar utama dari <em>revival</em>. Tuhanlah yang menghendaki pemberitaan Injil kepada banyak orang. Tuhan yang menuntut murid-murid-Nya mengabarkan berita ini sampai ke pelosok daerah. Mendambakan kebangunan besar adalah kehendak Tuhan dan juga panggilan kita sebagai orang yang telah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Kita dapat mendasari keinginan kita kepada kesempatan berbagian melihat Tuhan menggenapi kehendak-Nya di masa ini. Jadi, kedambaan kita bukanlah hasil dari kumpulan keinginan-keinginan kita sendiri, tetapi dari pengetahuan dan respons kita akan apa yang Tuhan kehendaki.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kedua, kita menemukan di dalam ayat yang sama bahwa kedambaan kita adalah pekerjaan Roh Kudus. Tuhan yang menghendaki kita berbagian di dalam Amanat Agung juga memberikan kuasa melalui Roh Kudus agar kita dapat bersaksi tentang Yesus. Di dalam kebangunan besar, pekerjaan dari Roh Kudus juga sangat besar. Roh Kudus yang membangkitkan orang untuk mau melayani, Dia yang memberikan bijaksana dan kuasa kepada pengkhotbah untuk dapat menyampaikan firman dengan penuh kuasa, Dia juga yang bekerja di dalam hati pendengar untuk dapat mendengar dan merespons panggilan Injil. Tanpa pekerjaan Roh Kudus, bagaimana 3.000 orang dapat bergerak, berkumpul dan mendekati para rasul dan murid-murid, dan mendengarkan Petrus berkotbah? Atau bagaimana 30.000 orang mau datang berkumpul di area terbuka mendengarkan George Whitefield atau ratusan orang dapat menangis di tengah-tengah khotbah Jonathan Edwards? Kedambaan kita akan adanya kebangunan yang besar juga merupakan pekerjaan Roh Kudus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketiga, respons dari orang yang mendapat kebangunan rohani setelah mendengar khotbah Petrus adalah memuji Tuhan (Kis. 2:47, 10:46). Tujuan dari kebangunan besar adalah membawa kembali arah hati manusia kepada yang seharusnya, yaitu memuji Tuhan. Setelah manusia jatuh ke dalam dosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Manusia tidak lagi mencari Tuhan yang sejati, apalagi memuji dan memuliakan Tuhan. Kebangunan besar adalah upaya Allah untuk menarik manusia dari seteru Allah menjadi penerima belas kasihan-Nya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari ketiga hal di atas, Roma 11:36 menyimpulkan, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” Ketika kita mendambakan kebangunan besar, kiranya ayat inilah yang menjadi prinsip yang kita pegang di dalam hati kita, apa yang mendasari, mengapa kita mendambakannya, dan bagaimana kita mendambakannya. Ketika kita berbagian di dalam pekerjaan Tuhan yang besar, kita akan makin didorong oleh rasa syukur yang besar untuk memuliakan Tuhan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tuhan telah melakukan hal besar di dalam sejarah untuk membawa umat pilihan-Nya menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, serta hidup kudus di hadapan Tuhan. Tuhan telah membangkitkan orang-orang di berbagai zaman untuk mengambil bagian di dalam pekerjaan Tuhan. Bagaimana dengan kita di zaman ini? Apakah Tuhan juga menggerakkan hati kita untuk berbagian dalam pengabaran Injil-Nya? Adakah engkau dan saya mendambakan kebangunan besar terjadi di zaman kita? Mungkin kita berpikir, “Ah, mana mungkin ada pertemuan massa yang besar di zaman digital ini?” Orang-orang sudah nyaman dengan dunia mayanya sendiri. Jika kita berpikir demikian, kisah di atas hanya kita anggap sebagai sejarah yang telah lalu. Allah kita bukan Allah yang hanya berkuasa di masa lalu. Dia juga berkuasa di masa kini dan masa yang akan datang. Kiranya kita boleh terus memiliki hati dan memupuknya dengan mendambakan akan kebangunan besar terjadi di masa ini. <em>Soli Deo gloria</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saut Parulian<br>Mahasiswa STTRII</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">31438</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Filsafat Asia: Bagian 33</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/transkrip/filsafat-asia-bagian-33</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[andrian]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 07 Aug 2026 12:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Transkrip]]></category>
		<category><![CDATA[baik]]></category>
		<category><![CDATA[Filsafat Asia]]></category>
		<category><![CDATA[iman kristen]]></category>
		<category><![CDATA[Konfusius]]></category>
		<category><![CDATA[setia]]></category>
		<category><![CDATA[Stephen Tong]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=31317</guid>

					<description><![CDATA[Kedua belas, seorang agung tidak boleh dilihat dari hal-hal kecil yang dia lakukan, tetapi seberapa dia bisa diserahi tugas yang besar. Jadi janganlah kita terlalu sibuk membicarakan dan meributkan kesalahan-kesalahan ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/transkrip/filsafat-asia-bagian-33">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><em>Kedua </em><em>belas</em>, seorang agung tidak boleh dilihat dari hal-hal kecil yang dia lakukan, tetapi seberapa dia bisa diserahi tugas yang besar. Jadi janganlah kita terlalu sibuk membicarakan dan meributkan kesalahan-kesalahan kecil seseorang, tetapi lebih melihat apakah kepada dia bisa dipercayakan hal atau tugas yang besar. Itu yang penting. Di dalam Alkitab ada kalimat: Siapa yang setia pada hal kecil kepadanya akan dipercayakan hal yang besar.<a href="#_ftn1" id="_ftnref1">[1]</a> Sebenarnya pengertian firman Tuhan ini bisa lebih tepat dimengerti dengan “orang yang setia, kecil atau besar tetap akan sama setia.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada orang yang mengatakan. “Untuk hal kecil seperti ini saja dia tidak setia, bagaimana dia bisa mengerjakan pekerjaan besar?” Hal ini bukan kalimat yang sepenuhnya benar. Karena kalimat itu menyebabkan banyak orang hanya sibuk memperhatikan hal-hal kecil dan justru mengabaikan hal yang besar dan penting, karena ingin terlihat setia pada hal-hal yang kecil. Ini kurang tepat. Juga akibatnya banyak orang yang membanggakan keberhasilannya untuk setia dalam hal-hal yang kecil. Tetapi ketika ia diberi tanggung jawab untuk hal yang besar, belum tentu dia bisa tetap setia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kalau mau setia, itu berarti jika mau mengukur beratnya beras maka butir berasnya harus sama banyaknya, bukan? Satu kilo beras berapa banyak butirnya, itu baru setia, karena hanya mengurus hal yang kecil, bukan menghitung berat satu kilonya. Jika setiap hari menghitung seperti ini, engkau akan sia-sia. Jadi kita tidak terlalu perlu memperhatikan hal-hal yang kecil-kecil, sedikit berbeda tidak terlalu penting, kurang berapa butir beras bukanlah hal yang terlalu penting, karena itu bukan mau curang. Terkadang kita beli beras satu kilo ditambah sedikit supaya tidak dianggap curang. Jadi hal-hal kecil tidak terlalu perlu, tetapi kalau dikurangi sedikit itu tidak baik, jadi dilebihkan sedikit itu hal yang baik. Melebihkan sedikit bukan tidak setia, tetapi keinginan memberikan sedikit lebih. Jadi yang penting adalah keseluruhan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika kita membeli kain satu meter, kita tidak pernah menghitung sampai berapa milimeter beda, dan biasa kita beri lebih dua atau tiga centimeter dan itu baik. Kita tidak pernah meributkan kenapa lebih satu milimeter atau kurang satu milimeter. Jadi yang penting kita melihat totalitas. Orang yang membeli kain diberi tambahan dua centimeter tidak pernah marah dan ribut karena berbeda lebih dari satu meter tepat, malah mungkin orang itu akan membeli lagi lebih banyak. Hal ini terjadi di semua hal.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada orang-orang yang memang curang. Ada ukuran meteran yang dikurangi, bukan satu meter, tetapi 95 atau 98 cm. Demikian juga ada timbangan yang dikurangi. Atau bahkan ada pompa bensin yang mengurangi literan bensinnya. Kecurangan-kecurangan seperti ini bisa saja terjadi. Jadi orang agung adalah orang yang bukan terlalu banyak memperhatikan hal kecil, tetapi dia lebih melihat totalitas. Orang kecil justru tidak bisa mengerjakan pekerjaan besar, tetapi dia bisa melihat hal-hal kecil yang tidak beres. Tetapi pemikiran ini secara absolut terbalik dengan pemikiran Konfusius tentang orang agung. Orang yang agung terkadang tidak terlalu memperhatikan hal-hal kecil, tetapi dia memiliki keagungan yang besar dan dia bisa mengerjakan hal-hal besar dengan sangat baik dan rapi. Setiap orang di dunia memiliki kelemahan, jika terus menekan kelemahan seseorang dan kita melupakan keagungannya, kita berbuat salah. Namun, orang yang memang tidak agung dari mulai hal-hal kecil sudah kelihatan bahwa memang betul-betul tidak agung, dan ketika diminta untuk melakukan pekerjaan besar akan makin terlihat ketidakberesannya. Itu artinya orang kecil.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Ketiga </em><em>belas</em>, seorang agung mudah dilayani tetapi sulit dikompromikan. Orang yang agung sangat sulit ditaklukkan, sulit untuk ditipu, sulit diperdaya, dan sulit diganggu atau dipengaruhi pendiriannya. Namun, orang agung mudah dilayani, dia tidak menuntut macam-macam. Sebaliknya, orang picik atau orang hina terbalik. Orang picik sangat sulit disenangkan. Orang agung sangat mudah dilayani, diberi makan apa dia akan dengan senang hati memakannya, disuruh tidur di mana juga diterima, diberi hal yang kurang nikmat dia tidak mengeluh. Ini adalah orang agung.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya mempunyai seorang bapak rohani, yaitu Andrew Gih. Dia mengatakan, “Sama-sama mulut hamba Tuhan, pendeta yang baik makan kelas tiga, khotbah kelas satu; tetapi pendeta yang buruk makan kelas satu, khotbah kelas tiga.” Saya tidak bisa melupakan wejangan ini. Pendeta yang maunya makan enak tetapi khotbahnya buruk adalah pendeta yang buruk. Pendeta yang mau hanya makanan yang mahal-mahal tetapi kalau khotbah jelek sekali adalah orang picik. Pendeta yang baik makan apa saja bisa, makan yang biasa-biasa, tetapi khotbahnya luar biasa. Itulah pendeta yang agung. Kalau pendeta baik, makannya juga baik, itu biasa saja, lumrah orang seperti itu. Saya setelah khotbah dua kali, makan rawon atau makan soto cukup. Ini jauh lebih efisien, karena kalau pergi ke restoran besar, tunggu pesan, tunggu dimasak, disajikan lama luar biasa dan buang waktu. Bahkan sekarang saya setelah dua kali khotbah lebih baik berbaring 30 menit untuk mendapatkan tenaga punya kekuatan, baru makan. Istri saya menyediakan makanan ketika saya tidur, makanan yang sederhana saja. Maka seorang harus bisa makan makanan yang sederhana saja. Mudah dilayani. Saya pergi ke satu tempat, mau dijemput tidak apa, tidak dijemput juga tidak masalah. Saya tidak pernah memerintah hamba Tuhan junior saya untuk menjemput saya di bandara. Saya akan pakai mobil sendiri, kalau tidak, saya pakai taksi, atau istri saya yang mengantar. Saya tidak pernah ingin menyusahkan orang lain. Saya mengajar di seminari selama 25 tahun, dan tidak pernah satu kali pun saya meminjam mobil sekolah untuk keperluan saya. Sebagai dosen dan ketua yayasan, saya punya hak untuk bisa memakai mobil sekolah untuk mengantar saya. Saya punya hak yang paling bebas untuk bisa menggunakannya, tetapi saya tidak pernah meminjamnya satu kali pun. Saya tidak ingin merepotkan orang lain. Ini sifat saya yang terkadang bisa dilihat buruk juga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mudah menyenangkan orang agung, berarti dia memiliki pendirian yang tidak mau kompromi, dia tidak mau diperlakukan sembarangan, tidak bersedia dirayu sembarangan agar dia mau berubah. Dia adalah orang yang memiliki pendirian yang tidak mudah berkompromi. Jika mau menyenangkan dia tanpa prinsip dan kebenaran, maka ia tidak akan mau menerimanya. Seorang agung mudah dilayani, tetapi sangat sulit untuk menyenangkan dia. Untuk seseorang dapat menyenangkan dia, seseorang harus berdiri di dalam kebenaran, atau ia tidak akan mau menerimanya. Saat ini banyak orang besar di Indonesia yang mudah dibuat senang dengan diberikan hadiah yang besar dan mahal. Seseorang diberikan sebuah jam tangan Rolex emas, tetapi dia mengatakan bahwa dia sudah memiliki Rolex emas dan meminta Patek Philippe emas yang bertata berlian di atasnya. Nah itu orang picik, orang hina. Melayani dia tidak mudah, tetapi menyenangkan dia sangat mudah, cukup diberi uang dengan nilai yang besar apa pun juga dia mau. Itu orang picik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jangan harap seorang yang agung bisa disuap dan mudah dibuat senang dengan hal-hal material. Orang agung sangat sulit untuk bisa disuap, dan untuk bisa menyenangkan hatinya perlu ada prinsip firman Tuhan di dalam hidup kita. Sebaliknya, orang hina sulit dilayani tetapi mudah untuk menyenangkan dia. Orang kecil sulit dilayani tetapi mudah menyenangkannya. Ketika menyenangkan dia, meskipun tidak pakai kebenaran, tidak pakai logos, tetap dia akan senang. Orang hina tidak perlu menggunakan kebenaran, cukup pakai hadiah, pakai uang, pakai suapan, diberi mobil atau diberi rumah, maka semua yang tidak bisa menjadi bisa. Semua serba bisa diatur. Ini adalah orang hina.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Orang hina atau orang picik, kalau memakai seseorang tuntutannya luar bisa sempurna, tetapi sebaliknya ia sendiri tidak mau dituntut keras seperti ia menuntut bawahannya. Ia suka menuntut orang lain dengan sangat kejam. Jika engkau mau menjadi pegawai saya, maka engkau harus begini dan begitu, begitu banyak tuntutan yang diberikan. Juga orang hina banyak menuntut orang lain harus memenuhi kualifikasi yang begitu banyak dan tinggi, tetapi kemudian ketika membayar, bayarannya sedikit luar biasa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Banyak orang Tionghoa di Indonesia memberi gaji kepada pembantunya sekitar hanya sepersepuluh dari gaji seorang pembantu di luar negeri, tetapi mereka menuntut pembantunya begitu keras, disuruh kerja dari pagi hingga malam. Juga diharuskan bekerja sepanjang minggu tanpa ada waktu luang atau bisa hidup bebas. Itu dosa. Pembantu juga adalah seorang manusia. Mereka punya hak kebebasan untuk bisa pergi berjalan-jalan paling tidak satu kali seminggu. Hak mau berpacaran juga tidak ada, hak mau telepon ke rumah juga tidak ada. Itu adalah sikap majikan yang adalah orang picik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mereka berargumen kalau pembantunya nanti jadi rusak kalau diberi izin untuk pergi berjalan-jalan keluar. Tetapi mereka sendiri tidak berpikir mereka sudah jadi seperti apa. Mereka melarang orang lain untuk menjadi seperti dia mau menjadi, sementara majikan juga semena-mena. Saya pikir kasihan para pembantu ini. Harusnya, seperti di Hong Kong, setiap Sabtu sore, para pembantu boleh keluar dari rumah majikannya, bisa berjalan-jalan atau bertemu temannya. Mereka bisa ke <em>shopping mall</em>, bertemu dan berkumpul sesama bangsa mereka, yang Filipina sama yang Filipina, yang Indonesia bercengkerama dengan yang sesama Indonesia. Itu hak mereka. Mereka juga manusia yang perlu diperlakukan sebagai manusia yang terhormat.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setiap kita yang memiliki saudara atau teman di Singapura atau Hong Kong mengetahui bahwa memakai seorang pembantu harus membayar dengan harga yang cukup tinggi. Di Hong Kong, paling sedikit gaji pembantu yang dipanggil dari Indonesia dibayar HKD 3,800.00.<a href="#_ftn2" id="_ftnref2">[2]</a> Ini jauh lebih besar dari pembantu yang bekerja di keluarga-keluarga di Indonesia. Kita tidak boleh memperlakukan pembantu kita semena-mena dengan menekan mereka. Itu sikap orang picik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Konfusius mengatakan, “Semua yang baik bagi kita, tetapi tidak baik bagi orang lain, itu adalah pemikiran dan sikap orang picik.” Itu adalah hal yang tidak baik dan tidak patut dilakukan. Apalagi kita pernah mendengar bagaimana ada majikan yang menyiksa pembantunya, ada yang disundut dengan rokok, atau disiram air panas dan berbagai tindakan yang kejam lainnya. Coba kalau dibalik, lalu kita yang diperlakukan seperti itu, apakah kita senang? Tentu tidak. Apa yang kita tidak ingin orang lain lakukan, jangan kita lakukan pada orang lain. Ini yang Konfusius katakan. Kiranya kita belajar tidak menjadi orang picik (<em>xiao ren</em>), tetapi menjadi orang yang agung (<em>junzi</em>). Amin.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref1" id="_ftn1">[1]</a> Matius 25:21.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref2" id="_ftn2">[2]</a> atau sekitar Rp. 8.5 juta rupiah dengan kurs pada Mei 2026 senilai Rp.2.277,- per satu dollar Hongkong.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">31317</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Ia Harus Makin Besar, tetapi Aku Harus Makin Kecil</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/renungan/ia-harus-makin-besar-tetapi-aku-harus-makin-kecil</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[heryanto]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Aug 2026 09:36:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Kristus]]></category>
		<category><![CDATA[Pelayanan Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[penginjilan]]></category>
		<category><![CDATA[Yohanes Pembaptis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=31298</guid>

					<description><![CDATA[Renungan saat teduh Yohanes 3:30 “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” Kalimat dari teks di atas adalah perkataan Yohanes Pembaptis yang memperlihatkan kerendahan hatinya di dalam pelayanannya. ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/renungan/ia-harus-makin-besar-tetapi-aku-harus-makin-kecil">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h4 class="wp-block-heading">Renungan saat teduh Yohanes 3:30</h4>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">“Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil”</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Kalimat dari teks di atas adalah perkataan Yohanes Pembaptis yang memperlihatkan kerendahan hatinya di dalam pelayanannya. Walaupun mengenai dia, Yesus sendiri mengatakan bahwa di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak ada seorangpun yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis (Matius 11:11). Namun, Yohanes menyadari sepenuhnya bahwa panggilannya di dalam pelayanan adalah untuk mempersiapkan jalan bagi juruselamat, Yesus Kristus yang terhadap-Nya Yohanes mengatakan untuk membuka tali kasutnya pun aku tidak layak (Yoh 1:27). Di dalam pelayanannya, ia tidak mengambil kemuliaan bagi dirinya. Ketika para pemuka Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia “Siapakah engkau?”, ia mengaku dan berterus terang, katanya, “Aku bukan Mesias”  (Yoh 1:20). Ketika para muridnya berkata kepadanya mengenai Yesus yang membaptis juga dan semua orang pergi kepada-Nya, Yohanes Pembaptis sekali lagi berterus terang kepada murid-muridnya mengatakan bahwa dirinya bukanlah Mesias, tetapi ia diutus untuk mendahului-Nya (Yoh 3:28). Lalu Yohanes meneruskan mengatakan: &#8220;Yang empunya mempelai perempuan ialah mempelai laki-laki. Namun, sahabat mempelai laki-laki yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh. (Yoh 3:29)&#8221;    </p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sini sekali lagi Yohanes tidak mencoba menonjolkan dirinya melainkan dia membawa murid-muridnya untuk melihat kepada Kristus, sang mempelai laki-laki yang telah datang bagi mempelai perempuan yaitu gereja-Nya. Sehingga ia dapat mengatakan suatu kalimat yang seharusnya menjadi prinsip dari setiap kita sebagai hamba Tuhan di zaman ini: “Kristus harus makin besar, tetapi aku&nbsp;harus makin kecil.” Yohanes sadar bahwa di dalam melayani Tuhan tidak ada tempatnya bagi dirinya untuk mendapat kredit sama sekali. Ia tahu bahwa tujuan dari panggilannya adalah untuk mempersiapkan jalan bagi Sang Juruselamat sehingga ketika Sang Juruselamat telah hadir, ia harus segera undur agar orang boleh melihat kepada Kristus yang telah datang. Sebagai alat yang dipakai oleh Tuhan, kita tidak sedang berusaha untuk membuat diri kita maupun grup kita dikenal, tetapi kita sedang berbagian di dalam misi untuk menyatakan kerajaan Allah di dunia yang gelap ini. Misi kita adalah memberitakan Injil Kristus di manapun kita berada, kepada siapa saja yang kita jumpai agar orang di sekitar kita boleh mengenal Kristus Sang Juruselamat. Sehingga semakin banyak orang berdosa datang kepada-Nya dan diselamatkan. Untuk berbagian di dalam misi kerajaan Allah ini, kita harus menjadi rendah hati sama seperti Yohanes Pembaptis yang tidak membuat dirinya dikenal, melainkan selalu menunjuk kepada Kristus Sang Juruselamat. Yohanes mengatakan bahwa ia bersukacita sebagaimana sahabat dari mempelai laki-laki sangat bersukacita mendengarkan suara dari mempelai laki-laki itu.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagaimana dengan kita? Apakah kita juga memiliki sukacita yang sama seperti sukacita Yohanes Pembaptis? Apakah kita lebih bersukacita ketika orang-orang mengingat khotbah kita? Apakah kita bersukacita ketika orang-orang mengenal kita karena kita cakap di dalam banyak bidang pelayanan? Apakah kita lebih bersukacita ketika kita dikenal oleh pemimpin kita di gereja? Atau kita lebih bersukacita ketika mengetahui ada orang yang bertobat dan datang kepada Kristus? Kalau hal ini telah menjadi sukacita kita, sepatutnya kita menjadi&nbsp;lebih giat lagi di dalam kegiatan mengabarkan Injil dan menyatakan Kristus di manapun kita berada. Kiranya melalui renungan ini setiap dari kita boleh belajar dari kerendahan hati Yohanes Pembaptis yang selalu menyatakan Kristus di dalam pelayanannya. &nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Melky Alexander Lingga<br>Mahasiswa STTRII Konsentrasi Misiologi</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">31298</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
