<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Buletin PILLAR</title>
	<atom:link href="http://www.buletinpillar.org/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.buletinpillar.org</link>
	<description>Buletin Pemuda GRII</description>
	<lastBuildDate>Fri, 28 Aug 2026 18:37:30 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1</generator>
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">210804978</site>	<item>
		<title>Charitable in Disagreement dengan Sesama Orang Kristen dalam Pelayanan</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/renungan/charitable-in-disagreement-dengan-sesama-orang-kristen-dalam-pelayanan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[heryanto]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 28 Aug 2026 18:37:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Charitable Disagreement]]></category>
		<category><![CDATA[Kerendahan Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Kesatuan Tubuh Kristus]]></category>
		<category><![CDATA[Penilaian Rohani]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=31757</guid>

					<description><![CDATA[“Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah,karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan;dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani”.  (1Kor. ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/renungan/charitable-in-disagreement-dengan-sesama-orang-kristen-dalam-pelayanan">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">“Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah,karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan;dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani”.  (1Kor. 2:14)</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Paulus dalam Surat 1 Korintus mengatakan bahwa manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah sebab bagi mereka itu adalah suatu kebodohan. Lebih daripada itu, manusia duniawi tidak dapat memahaminya, karena itu hanya dapat dinilai secara rohani. Paulus berbicara dalam Surat 1 Korintus tentang salib yang berlawanan dengan hikmat duniawi, sehingga orang-orang duniawi, atau, dengan kata lain, natural, tidak dapat memahaminya. Hanya jika Allah yang mengerjakan maka seseorang dapat mengerti, karena dengan demikian seseorang dapat menjadi manusia rohani dan dapat menilai hal-hal rohani.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pelayanan kita, seperti penginjilan, seminar, ibadah dan lain sebagainya, adalah hal-hal rohani sebab tujuannya adalah untuk menggenapkan rencana keselamatan Tuhan bagi dunia, atau, dengan kata lain, berkaitan dengan keselamatan yang dikerjakan oleh Tuhan melalui salib, sehingga pelayanan kita mungkin akan disalah mengerti oleh mereka yang belum mengenal Tuhan. Sebagai contoh, bagi mereka yang belum mengenal Tuhan, pekerjaan kita melayani orang lain agar dapat menjadi orang Kristen adalah pekerjaan yang sia-sia, yang hanya dikerjakan oleh mereka yang fanatik terhadap agama. Ketika kita menghadapi kritik demikian terhadap pelayanan kita, sebagai orang Kristen, mungkin saja kita tidak tersinggung atau hanya tersinggung sedikit. Sebab kita mengerti bahwa manusia duniawi yang tidak memperoleh pekerjaan Roh Kudus tidak dapat menilai hal-hal rohani, bukan? Sehingga sangat wajar ketika orang yang kita layani memberikan penilaian yang salah terhadap pelayanan kita. Seringkali penilaian mereka tidak membawa kita kepada situasi ketidaksetujuan, sehingga kita tidak mencoba untuk mendebat mereka, tetapi dengan tetap sabar melayani mereka, sehingga kita dapat tetap melayani mereka tanpa rasa tersinggung, dengan harapan Tuhan bekerja dalam hati mereka. Namun, faktanya adalah seringkali penilaian dari sesama orang Kristen yang telah menjadi manusia rohani lebih sulit diterima. Seringkali penilaian mereka membawa kepada ketidaksetujuan, bukan? Bagaimana kita dapat menanggapi hal ini?</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ketika orang lain sebagai saudara seiman menilai pelayanan kita dan kita tidak setuju akan penilaian mereka, maka kita harus sadar satu hal. Mereka adalah manusia rohani yang dapat menilai hal-hal rohani sebab mereka telah menerima pekerjaan Roh Kudus. Kita harus sadar bahwa mereka <em>capable</em> dalam menilai pelayanan kita, dan kita tidak boleh menyikapi penilaian mereka dengan tidak baik. Pada saat yang sama, ketika kita tidak setuju akan pelayanan mereka, kita juga tidak boleh sembarangan mengeluarkan penilaian yang negatif terhadap mereka atau ungkapan yang tidak setuju akan apa yang mereka kerjakan. Sebab kita semua adalah umat Allah yang dapat menilai hal-hal rohani. Tentu saja kita mungkin salah sebagai manusia yang terbatas yang tidak mahatahu, tetapi, pada saat yang sama, kita harus sadar bahwa sumber pengenalan kita akan hal-hal rohani adalah Allah yang sama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dengan demikian, kita harus berhati-hati ketika menilai pelayanan orang Kristen lain, dengan kesadaran bahwa orang Kristen lain juga <em>capable</em> akan menilai hal-hal rohani. Bahkan pada momen-momen tertentu kita harus menunda penilaian kita dan melihat apa yang terjadi ke depannya. Pada saat yang sama, ketika pelayanan kita dinilai oleh orang Kristen lain, kita harus sadar bahwa mereka juga <em>capable</em> akan menilai hal-hal rohani, sehingga kita harus mendengarkan dan menghargai penilaian mereka, baik atau buruk. Kita harus memperhitungkan dengan baik penilaian mereka dan jika memang penilaian mereka benar dan disertai masukan, maka kita harus berubah dan bersyukur kepada Tuhan akan apa yang mereka telah kerjakan. Kita harus <em>charitable</em> dalam <em>disagreement</em> dengan orang-orang Kristen lain, mendengar dengan baik, mencoba mengerti dengan baik, dan merespons dengan baik terhadap penilaian orang lain. Dengan demikian, ketidaksetujuan dapat membawa kebaikan kepada gereja, di mana semua pihak dapat saling melengkapi dengan masukan dan pendapat mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>John Tarigan<br>Mahasiswa STTRII</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">31757</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Ketiga Sahabat di Babel</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/isu-terkini/ketiga-sahabat-di-babel</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Susan]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 Aug 2026 09:22:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Isu Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[babel]]></category>
		<category><![CDATA[gempa NTT]]></category>
		<category><![CDATA[hut ri ke-81]]></category>
		<category><![CDATA[pemerintah]]></category>
		<category><![CDATA[Sadrakh Mesakh Abednego]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=31736</guid>

					<description><![CDATA[Baru saja kita melalui masa kemerdekaan Indonesia pada tahun 2026, dan ada beberapa keluhan yang sedang kita rasakan belakangan ini. Yang pertama, kita perlu mendoakan berbagai bencana yang sedang terjadi ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/isu-terkini/ketiga-sahabat-di-babel">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Baru saja kita melalui masa kemerdekaan Indonesia pada tahun 2026, dan ada beberapa keluhan yang sedang kita rasakan belakangan ini. Yang pertama, kita perlu mendoakan berbagai bencana yang sedang terjadi dalam berbagai pulau Indonesia: terdapat gempa yang melanda di NTT, dan juga adanya kebakaran hutan dalam skala besar di Kalimantan. Situasi seperti demikian sudah sepantasnya digolongkan sebagai “bencana nasional”. Yang kedua, terdapat beberapa kelompok dalam masyarakat Indonesia yang mulai menunjukkan gerakan memisahkan diri dari pemerintahan pusat. Di Aceh, pengibaran bendera merah putih digantikan dengan bendera lokal. Demikian juga terjadi pengibaran bendera Dayak di tanah air Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari beberapa peristiwa seperti ini, sebetulnya kita sudah mulai bisa melihat berbagai wujud ekspresi rasa kesal dari masyarakat Indonesia terhadap pemerintahan saat ini. Ketika kondisi yang terjadi di berbagai daerah pelosok mengalami suatu kemirisan, tampaknya pemerintah tidak hadir untuk masyarakat yang berada pada posisi geografis yang demikian jauh itu. Dalam perjalanan waktu, kita juga dapat menyaksikan adanya pengibaran bendera berfoto presiden pada hari raya kemerdekaan Republik Indonesia ke-81. Apa yang biasanya menjadi bendera merah putih, ternyata mulai digantikan dengan wajah seorang pemimpin. Itu merupakan suatu peristiwa yang baru kali pertama terjadi dalam sejarah Indonesia. Bukankah hal itu sudah dideskripsikan dalam buku paket sejarah yang baru mau diterbitkan oleh kementerian budaya, di mana era reformasi sudah berhenti pada tahun 2024?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apabila kita mempelajari pola-pola pemerintahan seperti yang digambarkan oleh George Orwell dalam karyanya 1984,&nbsp;terlihat bahwa prediksi Orwell mengenai totalitarianisme sedang terjadi di tanah air. Penguasaan total terhadap kehidupan bermasyarakat tidak hanya memuncak pada masa perang dingin, tetapi juga setelahnya, khususnya ketika di berbagai belahan dunia para penguasa <em>strongmen</em>&nbsp;sedang mencari panggung politik internasional untuk melebarkan sayap kuasa dan sayap pengaruh. Tanpa terkecuali, apa yang terjadi di Indonesia, sudah menunjukkan suatu pola pemerintahan yang cukup mengkhawatirkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Babel dan Kekuasaannya</strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Apa yang sedang terjadi pada saat ini adalah hadirnya suatu sistem kekuasaan seperti pada masa kerajaan Babel dalam kitab Daniel. Seorang pemimpin yang mempunyai suatu mimpi untuk menjadi raja di atas segala raja yang lain. Dia memandang bahwa masa pemerintahannya tidaklah lama. Bila Babel hanya berhenti pada kepala emas dan akan digantikan dengan kerajaan Persia yang bermuatan perak, maka dia harus menjadikan dirinya sebagai pemimpin abadi. Bila masa pemerintahan saat ini tidak dapat bertahan lama, setidaknya nama dan keberadaannya tercatat dalam sejarah dan kenangan setiap orang. Pemimpin itu maka membuat suatu patung emas yang menyerupai dirinya, dan dia meminta agar setiap orang menyembahnya. “Ya, jika Yang Mahakuasa menentukan masa hidupku hanya berhenti sampai pada titik ini, maka akulah yang akan menjadi mahakuasa untuk menentukan kemuliaanku sampai selama-lamanya. Kerajaan emasku tidak berhenti sampai di kepala, tetapi seluruh tubuh patung itu sampai ke ujung tali sejarah”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nebukadnezar&nbsp;kemudian melihat ada tiga manusia yang berdiri. Mereka menolak menyembah patung itu &#8211; mereka menolak menyembah raja itu. Bagi mereka bertiga, raja itu bukanlah Tuhan: dia hanyalah seorang manusia biasa yang dapat mati kapan pun. Nafas raja berada dalam genggaman tangan Allah. Bagi sang raja, tiga orang itu adalah ancaman paling besar. Tiga orang yang kedua kakinya tidak berteluk lutut artinya adalah tiga tamparan besar terhadap kedaulatan sang raja. Satu orang saja yang tidak tunduk, itu berarti sang raja bukanlah raja sepenuhnya. Mau tidak mau, raja harus memaksa agar setiap orang berlutut dan menyembah patung itu. Kalau tidak, maka orang-orang itu adalah ancaman. Pastinya, dia adalah antek-antek asing yang datang untuk menyusup dalam kerajaannya, dia adalah <em>londo ireng</em>&nbsp;yang bersikap subversif, dan dia adalah para pengkhianat dan musuh negara yang pantas dimasukkan ke dalam dapur api. “Apabila kalian tidak mau menyembah kepada patungku, setidaknya berlutut dan tampil menyembah. Akan tetapi, bila kalian juga tidak mau, maka senjata akan menanti pada detik akhir hidupmu. Sekali lagi, sembahlah patung emas yang menyerupai aku, jadikanlah dirimu menjadi serupa dengan diriku, sebab akulah penguasa dunia”. Baik itu patung emas atau bendera yang menampilkan wajah sang penguasa, manusia yang ingin menjadi penguasa akan menyamakan diri setara dengan Allah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita sudah tahu dengan apa yang terjadi dengan ketiga sahabat Daniel. Ketika semua orang di Babel, dari berbagai suku, bahasa, agama, dan bangsa datang menyembah, mereka tetap berdiri. Mereka melihat pemandangan di sekitarnya, banyak kerumunan yang menyembah dalam ketakutan. Adanya suatu ancaman kematian yang menanti mereka bila mereka tidak berteluk lutut. Ada patung raksasa di hadapan mereka, yang tampak seperti monster yang mengerikan. Wajah monster itu adalah wajah sang raja, dan raja yang sedang melihat seluruh pemandangan sekitar menerima laporan:</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada tiga jiwa yang berdiri, mereka tidak mau menyembah.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Ketiga Sahabat</strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Bayangkan kalau ada seorang raja mendatangi rakyatnya, lalu raja itu memberikan tangan untuk berjabat tangan, seolah-olah sang raja meminta agar rakyat kecil itu bisa merasa dikenal dan didekati oleh orang penting. Bukankah orang itu harusnya merasa senang? Ya, ketika sang raja mengibarkan bendera wajahnya, patung emasnya, dan kebanggaan bahwa dirinya adalah manifestasi dari negara-bangsa Indonesia, lalu mendatangi ketiga sahabat itu serta berkata:</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Apakah benar, hai Sadrakh, Mesakh dan Abednego, bahwa kamu tidak memuja dewaku dan tidak menyembah patung emas yang kudirikan itu? Sekarang, jika kamu bersedia, demi kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus dan serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, sujudlah menyembah patung yang kubuat itu! Tetapi jika kamu tidak menyembah, kamu akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala. Dan dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku?” (Daniel 3:14-18)</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Jika kamu bersedia”, kata-kata itu sudah diucapkan oleh sang raja sebagai suatu undangan, atau bahkan, permohonan. Sembahlah dewaku (diriku), patung emas (wajah kerajaanku), dan tunduklah kepadaku. &nbsp;Ketika kalian mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, dan segala jenis bunyi-bunyian, ya dalam bahasa hari ini, ketika kalian mendengar propaganda pemerintah, polesan para juru bicara, kampanye-kampanye kami di media sosial, alihan ke iklan-iklan, serta suara-suara pidato sang raja&#8230; jangan lupa ya untuk memberi seruan dan tepuk tangan. Dukunglah rajamu itu, meski boros, meski IHSG anjlok, tetapi tetap dukunglah dia. Setidaknya, sang raja bisa merasa nyaman dan aman agar dia tetap berdiri sebagai <em>number one</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan apa yang dilakukan oleh ketiga sahabat itu?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mereka tetap menolaknya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja. Tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku atau menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”<br>(Daniel 3:16–18)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mereka tidak membalas raja dengan seperangkat penjelasan kultural. “Oh, kami baru saja tahu ternyata itu adalah suatu patung yang patut disembah, kami datang dari suatu bangsa yang tidak terbiasa menyembah patung”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mereka juga tidak membalas raja dengan berbagai argumentasi mistik atau filosofis. “Tahukah raja, bahwa patung itu adalah benda mati? Untuk apa kita menyembah sesuatu yang mati, bukankah ada dewa-dewa yang memerintah di atas pemerintahan raja?” Saya percaya Nebucadnezzar juga percaya kepada para dewa, itulah sebabnya dia memanggil Daniel sebagai penasihat yang dipenuhi oleh roh dewa yang kudus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Akan tetapi, permasalahan terletak pada titik ini: mereka melawan sang raja yang merasa dirinya sudah setara dengan Allah. Sampai saja, balasan yang diberikan oleh ketiga sahabat itu menjadi suatu “tamparan” di depan wajah raja secara langsung. Kata “tidak ada gunanya” yang dipakai oleh ketiga sahabat menunjukkan satu hal: raja sudah tuli dan menjadi bodoh, sampai saja raja sudah dianggap tidak lagi berakal untuk mendengarkan kata-kata.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Tidak ada gunanya” juga berarti “kami tidak butuh raja, kami tidak takut pada dirimu. Raja bukanlah Tuhan. Raja hanyalah manusia fana, dan sama seperti manusia lain, kau hanyalah debu”. Tidak ada ancaman militer, tidak ada serangan fisik maupun rencana untuk melakukan <em>assasination</em>. Akan tetapi, respon sang raja yang demikian marah menunjukkan bahwa ketiga sahabat itu menjadi musuh yang lebih menyeramkan daripada mengalahkan Firaun dari Mesir dan Raja Asyur dari Asiria.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hanya tiga jiwa saja kok, kenapa begitu repot?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena yang sedang menantang sang raja bukan hanya tiga jiwa manusia saja, tetapi Allah itu sendiri. “Jika <strong><u><strong>Allah kami</strong></u></strong><strong>&nbsp;</strong>yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jadi, siapakah raja yang sesungguhnya? Raja itu atau Tuhan yang akan menyelamatkan? Raja bukan sedang menentang tiga sahabat Daniel, tetapi Tuhan itu sendiri. “Oh gitu, baik. Saya akan buktikan bahwa Tuhanmu mati dengan mematikan kalian bertiga. Mari kita uji, apakah betul Tuhanmu itu hidup atau mati. Tuhanmu yang lebih berkuasa atau saya!”.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">Jadi, siapakah raja yang sesungguhnya? Raja itu atau Tuhan yang akan menyelamatkan? Raja bukan sedang menentang tiga sahabat Daniel, tetapi Tuhan itu sendiri.</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Dapur Api</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Dapur api atau kematian menanti mereka yang melawan raja. Ketiga sahabat itu dilempar ke tempat pembakaran yang paling mendalam, bahkan sampai ada prajurit yang mati. Namun, Tuhan hadir bersama dengan mereka. Sang raja yang melihat peristiwa itu merasa takjub. Nebukadnezar kemudian mengangkat ketiga sahabat Daniel pada jabatan yang tinggi, serta membuat suatu peraturan baru agar tiap orang menghormati Allah Israel.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Sebab itu aku mengeluarkan perintah, bahwa setiap orang dari bangsa, suku bangsa atau bahasa mana pun ia, yang mengucapkan penghinaan terhadap Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego, akan dipenggal-penggal dan rumahnya akan dirobohkan menjadi timbunan puing, karena tidak ada allah lain yang dapat melepaskan secara demikian itu.” (Dan.&nbsp;3:29)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam ucapan raja, terlihat bahwa raja memberi perintah kepada setiap orang—tetapi bukan untuk dirinya sendiri. Raja&nbsp;bukannya&nbsp;mengaku dosa dan berlutut kepada Allah Israel, tetapi memberi perintah. Dengan demikian, penempatan ketiga sahabat Daniel pada jabatan yang tinggi bukanlah bentuk penghormatan, melainkan suatu pengendalian. “Lalu raja memberi kedudukan tinggi kepada Sadrakh, Mesakh dan Abednego di wilayah Babel.”&nbsp;(Dan.&nbsp;3:30). “Ya, silakan saja kalian bisa menangkal kekuatanku di dapur api, tetapi toh kalian tetap berada di bawah kekuasaanku yang memberikan kalian kedudukan tinggi.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah itu, Nebukadnezar mendapatkan suatu mimpi lagi tentang pohon raksasa yang ditebang oleh malaikat Allah. Itu sudah menjadi suatu peringatan agar raja merendahkan dirinya. Sekali lagi, Daniel yang sama memberikan arti terhadap mimpi itu, tetapi raja tetap tidak mendengarkannya. Raja tetap melakukan ketidakadilan, penindasan, dan tetap merasa dirinya besar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Jadi, ya raja, biarlah nasihatku berkenan pada hati tuanku:&nbsp;lepaskanlah diri tuanku dari pada dosa dengan melakukan keadilan, dan dari pada kesalahan dengan menunjukkan belas kasihan terhadap orang yang tertindas; dengan demikian kebahagiaan tuanku akan dilanjutkan!”&nbsp;(Dan.&nbsp;4:27)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nebukadnezar yang menempatkan ketiga sahabat Daniel pada kedudukan tinggi untuk mengelola Kerajaan Babel, akhirnya tetap meninggikan diri dengan membuat klaim,&nbsp;“Bukankah itu Babel yang besar itu, yang dengan kekuatan kuasaku dan untuk kemuliaan kebesaranku telah kubangun menjadi kota kerajaan?”&nbsp;(Dan.&nbsp;4:30). Raja sudah menyaksikan kerajaannya runtuh, Babel akan berhenti. Sudah melihat Allah Israel yang menyelamatkan umat-Nya dari dapur api. Sudah ditegur dengan sangat keras untuk rendah hati. Raja tetap memilih untuk menjadi angkuh. Pada akhirnya, raja dipukul, kehilangan akalnya, dan menjadi seperti sapi,&nbsp;lebih rendah daripada rakyat jelata yang diinjaknya.&nbsp;Ketika manusia ingin menjadi Allah, maka manusia itu akan jatuh dan menjadi sangat rendah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah tujuh tahun, ketika Nebukadnezar menyadari Allah Israel sebagai satu-satunya Allah yang Maha&nbsp;Tinggi, dia kembali kepada kedudukannya yang semula.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apakah Daniel dan ketiga sahabatnya mencoba untuk menjatuhkan sang raja?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak. Mereka tidak merencanakan suatu gerakan revolusi. Dengan segala usaha, mereka menegur sang raja dalam keteguhan kebenaran bahwa apa yang telah diperbuatnya adalah salah. Berkali-kali raja memberikan Daniel dan ketiga sahabatnya hadiah, pujian, dan kedudukan. Mereka tetap setia sebagai pengikut Allah, yang kebetulan ditempatkan-Nya dalam suatu lingkaran terdalam pada suatu kerajaan raksasa. Melalui kehadiran mereka, Allah menunjukkan kedaulatan-Nya atas sejarah dan kerajaan dunia. Allah Israel bukanlah Allah yang berada di Yerusalem saja. Setiap kerajaan berada di genggaman tangan-Nya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Kota Dunia Indonesia</strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteks hari ini, mungkin saja kita sedang berada dalam masa sesak. Kondisi ekonomi dan politik betul-betul sedang tidak baik-baik saja. Bahkan, sampai pada tahap tertentu, “panasnya” dapur api sampai terasa dalam kehidupan sehari-hari. Bila tidak hati-hati, pemerintahan kita bisa bergerak lebih lanjut dalam mengerahkan kekuatan bersenjata untuk menguasai negara, ancaman dapur api itu selalu ada.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketiga sahabat itu merefleksikan umat Allah yang  berada dalam tekanan dunia. Tidak banyak. Tiga jiwa di antara puluhan juta orang yang tunduk kepada bendera atau patung emas. Bisa jadi, ada juga umat Yahudi yang ikut menyembah kepada patung emas Nebukadnezar. Akan tetapi, dari tiga jiwa itu saja, Tuhan menyatakan kedaulatan-Nya. Hanya TUHAN saja yang berkuasa, dan nama-Nya adalah Yesus Kristus. Tidak ada yang lain: bukan dewa ini atau itu, bukan dari agama ini atau itu. Jika kita sungguh-sungguh setia kepada Kristus, maka dapur api sekalipun tidak dapat menelan kita, dan raja yang berkuasa sekalipun harus berteluk lutut kepada Kristus, “mereka melanggar titah raja, dan menyerahkan tubuh mereka, karena mereka tidak mau memuja dan menyembah allah mana pun kecuali Allah mereka.” (Daniel 3:28)</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">Jika kita sungguh-sungguh setia kepada Kristus, maka dapur api sekalipun tidak dapat menelan kita, dan raja yang berkuasa sekalipun harus berteluk lutut kepada Kristus.</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Ancaman dapur api atau hadiah kedudukan tinggi, keduanya berasal dari tangan raja dunia. Jangan kira ketika pemerintah memberikan suatu privilise, maka pemerintah ingin selalu bersikap baik kepada kita. Barangkali, justru karena kedudukan yang istimewa itulah ada orang-orang tertentu yang menjadi <em>buffer</em>, yang menahan amarah publik kepada raja dengan berdiri sebagai penengah. Sebaliknya, ketika situasi menjadi semakin sulit dan raja sedang kehilangan akal, dapur api dan kukuatan bersenjata akan bergerak untuk menekan apa yang dianggap sebagai “bahaya”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi kita yang berada di Indonesia, kita hadir bukan untuk menyembah wajah seorang manusia, mengikuti berhala menurut sistem ideologi tertentu, melainkan untuk menjadi saksi-Nya di tanah air. Di tengah situasi negara yang semakin tidak baik-baik saja, dan semakin menguatnya penggunaan kekuatan senjata, maka gereja hadir untuk berdiri dan juga harus siap bila dilempar ke dapur api. Babel akan berganti raja, dan pada akhirnya akan berhenti juga masa kerajaan Babel. Patung emas itu akan hancur dan digantikan kerajaan yang lain. Akan tetapi, di mana Kristus menjadi Tuhan dan juruselamat kita, Dia tetap akan menyertai umat-Nya. Kerajaan-Nya adalah kekal dan untuk selamanya, dan kerajaan-Nya dihadiri oleh umat-Nya yang memimpin bukan dengan patung emas atau dapur api, melainkan dengan kasih, kebenaran, dan keadilan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kevin Nobel Kurniawan<br>Pemuda GRII Pusat</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">31736</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Pemerintahan Gereja: Ketika Satu Pihak Berusaha Mengepalai Semua</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/alkitab-theologi/pemerintahan-gereja-ketika-satu-pihak-berusaha-mengepalai-semua</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[heryanto]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 22 Aug 2026 01:20:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Alkitab & Theologi]]></category>
		<category><![CDATA[Infalibilitas]]></category>
		<category><![CDATA[Otoritatif]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintahan gereja]]></category>
		<category><![CDATA[Primasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=31628</guid>

					<description><![CDATA[Dari Para Rasul, Bapa Gereja, Hingga Primasi dan Infalibilitas Uskup Roma Gereja yang jemaat awalnya berjumlah 12 orang saja, bertumbuh hingga ratusan, ribuan, dan jutaan. Banyak orang yang masuk ke ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/alkitab-theologi/pemerintahan-gereja-ketika-satu-pihak-berusaha-mengepalai-semua">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Dari Para Rasul, Bapa Gereja, Hingga Primasi dan Infalibilitas Uskup Roma</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Gereja yang jemaat awalnya berjumlah 12 orang saja, bertumbuh hingga ratusan, ribuan, dan jutaan. Banyak orang yang masuk ke dalam Tubuh Kristus sebagai umat-Nya. Namun, makin tersebarnya pengajaran akan kekristenan, bidat-bidat juga berkembang. Gereja lokal yang bertumbuh secara lokal makin lama juga makin menghadapi ajaran-ajaran palsu yang mencederai Injil Kristus. Setiap terjadi penyimpangan pengajaran, gereja di Roma sering berperan sebagai pengadilan banding. Hal ini dikarenakan uskup dari Roma dianggap sebagai uskup yang memiliki pemahaman iman yang ortodoks, serta dipercayai sebagai gereja yang dibentuk oleh dua rasul paling penting, yakni Paulus dan Petrus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bapa Gereja mula-mula juga menyanjung gereja di Roma karena Roma banyak berperan pada gereja di Korintus di bawah Klemens dari Roma (murid langsung dari Petrus)<a href="#_ftn1" id="_ftnref1"><sup>[1]</sup></a>, penuh dengan kebenaran dan kasih menurut Ignatius dari Antiokhia, dan merupakan tempat dari seorang apologet andal yakni Yustinus Martyr. Gereja di Roma adalah salah satu yang stabil, dan memperoleh visibilitas politik dari Konstantinus Agung ketika kekristenan menjadi agama resmi di Kerajaan Roma. Gereja Roma memperoleh keutamaan kehormatan, tetapi tetap dipandang sebagai satu gereja dengan satu uskup yang setara dengan uskup-uskup gereja lainnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bertahun-tahun Gereja mula-mula mengalami persekusi, memerangi bidat, kemudian gereja di Roma menjadi satu dengan pemerintah. Namun, Kekaisaran Roma yang diatur oleh gereja jatuh karena peperangan demi peperangan. Dari kejatuhan tersebut, gereja Roma tetap berdiri teguh dan bahkan berjuang dalam peperangan. Karena kekuatannya, theolog di Roma seperti Leo Agung dan Gregorius VII kemudian mengembangkan doktrin tentang supremasi uskup Roma terhadap semua umat Kristen: bahwa Keuskupan Roma memiliki yurisdiksi universal atas seluruh umat kristiani. Leo Agung menafsirkan Matius 16:18-19 sebagai Kristus memberikan kunci sorga kepada Rasul Petrus, uskup pertama Roma, sebagai dasar pembenaran akan supremasi kepausan Roma.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berdampingan dengan Roma, Keuskupan Konstantinopel berkembang dan mengalami stabilitas di wilayah Timur sebagai “Roma Baru”. Kemunduran kota Roma sebagai pusat politik dan melemahnya pengaruh administratifnya menjadi salah satu alasan Konstantinus Agung memindahkan ibu kota Kekaisaran Romawi ke Konstantinopel, yang pada saat itu lebih stabil secara politik, militer, dan ekonomi. Pada Konsili Kalsedon (451 M), Kanon 28 menetapkan bahwa “<em>New Rome</em> (Constantinople) <em>shall have equal privileges</em> (Yunani: ισα πρεσβεία, “<em>isa presbeia”</em>) <em>with Old Rome</em>.” Namun Keuskupan Roma menolak kanon ini. Penolakan tersebut menjadi salah satu sumber pergesekan penting dalam relasi antara Roma dan Konstantinopel, yang berkontribusi pada ketegangan jangka panjang hingga akhirnya memuncak dalam Skisma Besar, yakni ketika perdebatan mengenai keutamaan satu keuskupan di atas yang lain (<em>universal bishop</em>) mencapai titik yang tak terjembatani.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;Skisma besar terjadi karena beberapa sebab umum pada mulanya, yakni perbedaan eklesiologi, theologi, dan tensi geopolitik. Salah satu perdebatan theologi yang menonjol adalah tentang isu prosesi/keluarnya Roh Kudus dalam perdebatan <em>et filioque</em>, penggunaan roti beragi atau tak beragi, dan ikonoklasme, yakni pengertian tentang keharusan penghancuran gambar (ikon) yang merepresentasikan Tuhan yang terjadi di antara gereja-gereja Timur.<a href="#_ftn2" id="_ftnref2"><sup>[2]</sup></a> Namun, dengan mencekamnya kondisi geopolitik di Eropa, Keuskupan Roma memberikan pesan kepada semua keuskupan lain untuk bersatu dan menjadikan uskup Roma sebagai satu kepala gereja yang memiliki yurisdiksi universal terhadap seluruh keuskupan pada saat itu. Ide ini ditolak oleh gereja-gereja Timur dengan alasan utamanya adalah sebagai pragmatisme dalam permasalahan geopolitik, serta perbedaan theologi dan tradisi gereja yang pada saat itu juga ada di dalam perdebatan yang mencekam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Atas penolakan tersebut, pada tahun 1054 Kardinal Humbert dari Keuskupan Roma mengekskomunikasi Patriark Cerularius dari keuskupan Konstantinopel, dan juga Cerularius mengekskomunikasi Keuskupan Roma. Keuskupan Gereja Roma kemudian memiliki uskup universal yang disebut dengan Paus, sedangkan Patriark Konstantinopel hari ini menjadi bagian dari Gereja Ortodoks Timur bersama dengan Patriark Alexandria, Yerusalem, dan Antiokhia. Bertahun-tahun kemudian, Gereja Katolik Roma menyatakan bahwa Paus, uskup tertinggi Roma, memiliki infalibilitas dalam penafsiran Alkitab. Telah terjadi di dalam sejarah, bahwa ketika dari banyak pemimpin gereja, satu orang beritikad untuk mengambil otoritas yang paling tinggi dan mengepalai seluruh pemimpin gereja, maka perpecahan sangat mungkin terjadi.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a></a><strong>Dampak Buruk Infalibilitas Satu Pemimpin Gereja yang Otoritatif</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika satu pihak di dalam suatu institusi agama <em>rise to power</em> menjadi kepala yang otoritatif, maka sangat rentan untuk terjadinya penokohan. Hal ini telah terjadi di banyak agama di dunia, termasuk juga di dalam gereja, seperti yang telah dibahas. Penokohan satu orang atau satu posisi yang <em>one above all</em> akan membuat gereja menjadi sangat rentan untuk jatuh ke dalam pengajaran yang salah, karena tidak adanya posisi yang setara di dalam proses pemeriksaan dan keseimbangan doktrin. Pada konteks ini, penulis hendak menekankan pada konteks keseimbangan. Tentu, orang yang ada di satu posisi di bawah dari posisi “kepala” bisa memberikan koreksi terhadap kesalahan “kepala”, tetapi ketika posisinya ada di bawah, komunikasi akan tidak seimbang karena relasi kuasa. Konsekuensi dari ini adalah keputusan doktrinal rentan untuk menjadi keputusan yang tersentralisasi dan bukannya kolegial.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keputusan doktrinal yang tersentralisasi akan menyebabkan perbedaan pandangan pada para pemimpin-pemimpin gereja. Hal ini akan menyebabkan deviasi kecil di dalam persatuan gereja. Tentu, awalnya deviasi ini tidak dapat dilihat. Namun, sepanjang perjalanan waktu, deviasi ini akan terlihat sangat jelas, sangat besar, dan menjadikan gereja rentan terhadap perpecahan. Deviasi ini juga bisa diwarnai dengan politik intra gereja, kondisi ekonomi, dan sosial. Politik menjadi yang utama di atas spiritualitas, penyalahgunaan kekuasaan akan mudah, gereja lokal kehilangan kebebasan, dan otoritas firman Tuhan menjadi makin berkurang di bawah dekret pemimpin. Setelah semuanya kalut, muncullah perpecahan gereja, di mana satu pihak merasa diri paling setia dengan kebenaran yang mula-mula diakui bersama. Ini terjadi di dalam sejarah, terutama umat Protestan. Polanya adalah sebagai berikut: ketika gereja mulai “tidak setia dalam kebenaran”, orang-orang yang konservatif akan memisahkan diri, sedangkan orang-orang yang liberal akan merusak pengajaran gereja. Orang konservatif akan muncul sebagai orang yang berkata, “Gereja ini sudah tidak setia lagi dengan kebenaran, saya akan pergi dari sini dan membuat gereja baru yang setia dengan kebenaran.” Sedangkan orang liberal akan berkata, “Lebih baik kita berdamai, tidak perlu terlalu mengotot dalam hal doktrinal. Tidak ada yang lebih benar, hargai perbedaan dan bersatulah.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Calvin mengecam adanya perpecahan di dalam gereja. Tentang ini ia menulis pada karya <em>Institutes</em>-nya:</p>



<p class="wp-block-paragraph">“<em>By the unity of the Church we must understand an unity into which we feel persuaded that we are truly ingrafted. For <strong>unless we are united with all the other members under Christ our head, no hope of the future inheritance awaits us</strong>.</em>”<a href="#_ftn3" id="_ftnref3"><sup>[3]</sup></a></p>



<p class="wp-block-paragraph">Juga, di dalam tafsiran dia terhadap Efesus 4:3, Calvin mengatakan:</p>



<p class="wp-block-paragraph">“<em>With good reason does he recommend forbearance, as tending to promote the unity of the Spirit. Innumerable offenses arise daily, which might produce quarrels, particularly when we consider the extreme bitterness of man’s natural temper. Some consider the unity of the Spirit to mean that spiritual unity which is produced in us by the Spirit of God. <strong>There can be no doubt that He alone makes us “of one accord, of one mind,” (Philippians 2:2,) and thus makes us one; but I think it more natural to understand the words as denoting harmony of views. This unity, he tells us, is maintained by the bond of peace; for disputes frequently give rise to hatred and resentment. We must live at peace, if we would wish that brotherly kindness should be permanent amongst us</strong>.”<a href="#_ftn4" id="_ftnref4"><sup><strong><sup>[4]</sup></strong></sup></a></em></p>



<p class="wp-block-paragraph">John Calvin adalah seorang reformator Protestan. Dia bergabung pada arus Reformasi yang sedang terjadi saat itu. Sejak Luther, kekristenan Barat terbagi menjadi Katolik dan Protestan, dan mereka yang berbagian pada gerakan Reformasi akan diekskomunikasi oleh Gereja Katolik. Namun dari tulisan-tulisan Calvin, dia tidak memiliki intensi utama untuk memecah gereja. Benar, bahwa bagi dia perpecahan gereja sangatlah melukai tubuh Kristus, tetapi dia pun tidak dapat tunduk kepada otoritas satu kepala universal yang disebut dengan Paus. Terlebih lagi, Paus dan uskup melanggengkan praktis pengultusan relik dan patung orang-orang kudus, serta penjualan surat indulgensia yang bertentangan dengan Injil. Calvin dengan teguh memegang bahwa hanya Kristuslah satu-satunya Kepala Gereja. Ketika Gereja Katolik Roma, yang ada di bawah kepemimpinan Paus, membiarkan patung-patung orang kudus dipakai sebagai media devosi berlebihan, yakni untuk dimintakan doa seakan-akan para patung kudus berkuasa, Calvin menentang dan menulis karya-karyanya untuk menentang otoritas yang menyesatkan ini. Dia melihat bahwa kekristenan telah jatuh berat ke dalam penyembahan berhala yang brutal. Dari tulisannya, dia menegaskan kembali bahwa Kristuslah satu-satunya Kepala atas Gereja, dan Dia tidak akan memberikan tempat bagi yang lain untuk menjadi kepala, seperti Paus, ataupun untuk menjadi mediator kepada Allah Bapa, seperti relik orang-orang kudus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari sejarah ini kita belajar bahwa ketika satu kepala dibangkitkan untuk memiliki kekuatan yang besar, terutama di dalam gereja, dia berpotensi besar untuk membawa penyesatan. Sebagai manusia, kita harus mengerti bahwa kekuasaan perlu dibagi agar sang pemegang kekuasaan tidak benar-benar korup. Kita harus mewariskan pola pemerintahan politik gereja, yang telah dilakukan oleh para rasul. Pada artikel selanjutnya, akan dijelaskan tentang apa yang Calvin tulis untuk menentang otoritas mutlak ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Mario A.J. Sirait<br>Pemuda GRII Pusat</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref1" id="_ftn1"><sup>[1]</sup></a> Clement of Rome, Clement 1: Letter to the Corinthians.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref2" id="_ftn2"><sup>[2]</sup></a> Cross, Frank Leslie; Livingstone, Elizabeth A. (2005). &#8220;Great Schism&#8221;. The Oxford Dictionary of the Christian Church. Oxford: University Press.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref3" id="_ftn3"><sup>[3]</sup></a> Institutes of the Christian Religion IV.1.2</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref4" id="_ftn4"><sup>[4]</sup></a>Calvin, John. &#8220;Commentary on Ephesians 4&#8221;. &#8220;Calvin&#8217;s Commentary on the Bible&#8221;. https://www.studylight.org/commentaries/eng/cal/ephesians-4.html. 1840-57.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">31628</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Teguran di dalam Kasih</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/renungan/teguran-di-dalam-kasih</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[michaelleang]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 18 Aug 2026 12:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[kasih]]></category>
		<category><![CDATA[Kemurahan hati]]></category>
		<category><![CDATA[Menegur]]></category>
		<category><![CDATA[relasi]]></category>
		<category><![CDATA[teguran]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=31483</guid>

					<description><![CDATA[1 Korintus 13 Menegur adalah hal yang sering kita lakukan di dalam kehidupan kita sehari-hari khususnya di dalam berelasi. Namun, di dalam memberikan teguran, kita sering dihadapkan pada hal yang ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/renungan/teguran-di-dalam-kasih">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>1 Korintus 13</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Menegur adalah hal yang sering kita lakukan di dalam kehidupan kita sehari-hari khususnya di dalam berelasi. Namun, di dalam memberikan teguran, kita sering dihadapkan pada hal yang tidak kita harapkan. Teguran yang kita anggap baik justru berujung pada reaksi negatif, seperti kemarahan, tangisan, atau bahkan menimbulkan rasa kepahitan di pihak yang ditegur.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sisi lain, saat kita ditegur, kita pun tak jarang merasa kehilangan rasa respek atau bahkan menimbulkan kepahitan terhadap orang yang menegur. Kondisi seperti inilah yang menunjukkan kita dan orang di sekitar kita sering kali salah atau bahkan keliru dalam cara menegur.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Belajar dari Teladan Kasih Paulus&nbsp;</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Melihat tantangan ini, maka saya mengajak kita untuk belajar dari Rasul Paulus. Rasul Paulus menegaskan bahwa landasan utama dalam setiap interaksi termasuk dalam menegur adalah kasih. Rasul Paulus mendefinisikan kasih sebagai hal yang penting dalam beberapa aspek yaitu: murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri, tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan, tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah, dan tidak menyimpan kesalahan orang lain<strong>.</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteksnya, Rasul Paulus menyatakan hal tentang kasih terhadap jemaat di Korintus agar mereka kembali kepada kehendak Allah. Saat itu, jemaat Korintus cenderung membanggakan karunia yang mereka miliki dan bahkan menganggap karunia yang mereka miliki lebih penting daripada apa yang sesamanya miliki. Oleh karena itu, saya akan mengangkat tiga hal yang akan menjadi dasar kasih di dalam menegur yang dapat kita terapkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Teguran dengan kemurahan hati</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Di tengah-tengah permasalahan yang ada di jemaat Korintus, Paulus tetap menerapkan kasih di dalam menegur mereka dan menjelaskan bagaimana seharusnya hidup di dalam karunia yang kita miliki. Kita dapat melihat keluasan hati Rasul Paulus yang <strong>menegaskan dirinya terlebih dahulu</strong> dengan mengatakan sekalipun dia <strong>mempunyai segala sesuatu, jika tidak mempunyai kasih maka hal itu tidak berguna</strong>. Mempunyai kemurahan hati di dalam menegur seseorang berarti mengajarkan kita terlebih dahulu mengetahui posisi orang tersebut dengan segala keluasan hati. Kita perlu melihat apa yang dibutuhkan oleh seseorang di tengah-tengah segala kesalahan dan permasalahan yang dialami tanpa ingin menjatuhkan orang tersebut. Terkadang tanpa kita sadari, kita cenderung mengatakan apa yang kita anggap “paling benar” bagi mereka yang melakukan kesalahan atau belum bertobat, tanpa kemurahan hati untuk mendengarkan dan memahami kondisi mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan demikian, kita harus belajar bahwa menegur berarti menerima seseorang apa adanya dengan ketulusan hati kita dengan tujuan membuatnya bertumbuh dan bukan terjatuh.&nbsp;</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">Mempunyai kemurahan hati di dalam menegur seseorang berarti mengajarkan kita terlebih dahulu mengetahui posisi orang tersebut dengan segala keluasan hati. Kita perlu melihat apa yang dibutuhkan oleh seseorang di tengah-tengah segala kesalahan dan permasalahan yang dialami tanpa ingin menjatuhkan orang tersebut.</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Menegur dengan tidak memegahkan diri</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Berapa banyak dari kita yang menegur seseorang dengan membandingkan dia dengan kita atau bahkan orang yang lebih baik? Kita perlu memiliki kepekaan dalam berkata-kata kepada seseorang, sebab terkadang kita harus memikirkan hal yang selayaknya untuk diucapkan. Teguran tanpa adanya kemegahan atas diri membuat kita rendah hati. Rasul Paulus selalu menyatakan diri sebagai hamba, bahkan tidak memegahkan diri atas kerasulannya dan menyatakan diri sebagai pelayan. <strong>Kita di dalam menegur harusnya membawa seseorang memandang kepada Kristus dan bukan diri kita</strong>. Kenapa kita tidak boleh membawa kepada diri kita? Karena kita juga mempunyai kelemahan yang sama, bahkan mungkin jauh lebih rumit, karena kita sama-sama adalah orang yang berdosa. Di balik diri kita yang berdosa, sesungguhnya tidak ada yang perlu dimegahkan. Hanya Yesus saja yang mampu menolong serta menyembuhkan setiap kita.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berapa banyak dari kita yang telah membuat hati orang lain makin terpuruk karena tekanan melalui kata-kata kita? Atau berapa banyak di antara kita yang sudah mengalaminya? Kita harus belajar di dalam menegur seseorang untuk tidak hanya menyatakan kesalahan dan hal yang harus diubah, tetapi juga mengulurkan tangan kita kepadanya dan membawanya di dalam kasih Kristus yang sejati, sehingga ia dapat belajar dari hidup dan teladan yang Yesus miliki.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Menegur dengan tidak menyimpan kesalahan orang lain</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Paulus, ketika menegur jemaat Korintus, bukan berfokus pada mengungkit-ungkit masa lalu tetapi mengarahkan kepada pemulihan kepada jalan yang benar. Berbeda dengan Paulus, kita sering menegur seseorang hanya karena kita sudah muak dengan kesalahan-kesalahan mereka yang sudah berlalu. Kita menyimpan terus kesalahan tersebut, yang pada akhirnya membuat teguran kita hanya melampiaskan emosi dan berfokus pada hal-hal negatifnya saja. Kita perlu menyelesaikan asumsi dan hal yang sudah kita simpan dari kesalahan seseorang agar teguran itu dapat bersifat membangun. Kita harus renungkan, apakah Tuhan yang selalu kita sakiti ketika kita datang Ia menyimpan kesalahan kita dan menjatuhkan kita dengan amarah-Nya? Justru Tuhan mengampuni segala kesalahan kita, menyembuhkan diri kita dari dosa, bahkan menebus hidup kita dan memberikan kita mahkota dengan kasih setia-Nya. Terkadang Tuhan memakai orang yang membuat kita kesal untuk memperluas hati kita juga. Kita harus mempunyai kasih yang mementingkan proses terhadap sesama.&nbsp;</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">Kita perlu menyelesaikan asumsi dan hal yang sudah kita simpan dari kesalahan seseorang agar teguran itu dapat bersifat membangun.</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Dari 1 Korintus 13, kita diingatkan bahwa penerapan kasih yang holistik juga tercermin di dalam teguran, sebagaimana Kristus yang menegur dengan kasih harusnya dapat kita terapkan di dalam kehidupan kita. Kiranya melalui teguran juga kita makin bertumbuh dan dalam memberikan teguran kita juga bertumbuh dengan cara yang bijaksana, sehingga relasi terhadap sesama menjadi cerminan buah kasih Kristus kepada kita.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Grecia Agustina Purba<br>Mahasiswi STTRII Konsentrasi Misiologi</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">31483</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Mendambakan Kebangunan Besar</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/kehidupan-kristen/mendambakan-kebangunan-besar</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[michaelleang]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 14 Aug 2026 12:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kehidupan Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[Great Awakening]]></category>
		<category><![CDATA[kebangunan]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Para Rasul]]></category>
		<category><![CDATA[mendambakan]]></category>
		<category><![CDATA[revival]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=31438</guid>

					<description><![CDATA[Setiap pagi ketika bangun dari tidur, apa yang kita dambakan? Kita mungkin memulai hari kita dengan bersyukur atas pagi yang indah, kesehatan yang kita miliki, kita mengucap syukur masih bisa ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/kehidupan-kristen/mendambakan-kebangunan-besar">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Setiap pagi ketika bangun dari tidur, apa yang kita dambakan? Kita mungkin memulai hari kita dengan bersyukur atas pagi yang indah, kesehatan yang kita miliki, kita mengucap syukur masih bisa beraktifitas, masih ada keluarga yang mendukung, ada teman-teman di sekeliling kita, baik di sekolah, kampus, atau kantor, yang menanti kita untuk bercengkrama, berbagi suka-duka, atau sekadar <em>kongkow</em> bersama. Ada begitu banyak hal yang bisa membuat kita bersyukur setiap kali kita diberikan kesempatan membuka mata di pagi hari. Namun, jika kembali ke pertanyaan awal tadi, yaitu apa yang kita dambakan, mungkin butuh beberapa waktu untuk memikirkannya. Merujuk kepada KBBI, kata mendambakan (akar kata: damba) berarti sangat ingin, rindu, bukan sekadar keinginan saja. Ada sebuah keinginan yang sangat kuat. Jadi, pertanyaan mengenai apa yang kita dambakan setiap kali kita bangun di pagi hari bukanlah suatu pertanyaan yang mudah untuk dijawab. Dalam artikel ini, kita akan menelusuri beberapa kisah besar dan membahas mengapa mendambakan perlu ada di dalam diri kita dan apa yang semestinya menjadi kedambaan kita sebagai orang Kristen.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>The Great Awakening</em> yang pertama, sekitar tahun 1730-1740an, adalah suatu kisah besar di dalam sejarah Amerika dan Eropa. Dua tokoh besar yang muncul adalah George Whitefield di Inggris dan Jonathan Edwards di Amerika Utara. George Whitefield (1714-1770) mulai berkhotbah di area terbuka justru setelah dia mendapatkan penolakan berkhotbah di dalam gereja dari penatua gereja-gereja setempat. Penolakan yang demikian tidak membuat Whitefield mundur apalagi merasa rendah diri. Desakan di dalam dirinya untuk berkhotbah dan memanggil orang banyak kepada pertobatan dan konversi lebih kuat dari penolakan yang diterimanya. Whitefield tercatat berkhotbah kepada massa yang besar, bahkan sampai 30.000 orang yang mendengarkannya di dalam satu kali khotbah, yang ketika itu belum ada <em>sound system</em> atau teknologi pengeras suara. Whitefield dikenal dengan cara berkhotbah yang ekspresif dan emosi yang hidup. Setelah banyak melakukan khotbah kebangunan di Inggris, Skotlandia, dan sekitarnya, dia pergi ke Amerika pada tahun 1739 untuk melakukan hal yang sama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di belahan dunia yang lain, Amerika, yang pada waktu itu masih merupakan koloni Inggris, dibangkitkan seorang <em>revivalist </em>yaitu Jonathan Edwards (1703-1758) yang gaya berkhotbahnya tidak terlalu ekspresif seperti George Whitefield. Dia cenderung menulis teks khotbah dengan baik lalu membacakannya di dalam gereja. Dia tidak pernah berkhotbah di area terbuka, hanya di dalam gereja atau dalam pertemuan publik di dalam ruangan. Edwards tidak menggunakan banyak gerakan teatrikal, namun intonasinya dalam membaca naskah khotbah begitu baik dan mendalam, sehingga salah satu khotbahnya yang terkenal “<em>Sinners in the Hands of an Angry God</em>” dapat membuat orang yang mendengarnya pada saat itu di Enfield, Connecticut merasakan gambaran kengerian berhadapan dengan Allah yang murka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kisah <em>revival </em>seperti itu tidak hanya baru muncul pada abad ke-18 saja. Tuhan sudah memunculkannya pada awal abad pertama. Sepuluh hari setelah Yesus terangkat ke surga, terjadi sebuah <em>revival</em> yang pertama dan besar di dalam sejarah kekristenan. Waktu itu tercatat 3.000 orang yang mendengarkan khotbah Petrus kemudian memberi diri mereka untuk dibaptis (Kis. 2: 41). Bagaimana bisa? Pentakosta hanya berselang lima puluh hari dari kebangkitan Yesus, sedangkan berita tentang Yesus bangkit masih simpang siur. Para imam dan tua-tua Yahudi menyuruh serdadu-serdadu yang menjaga makam Yesus untuk bersaksi bahwa murid-murid telah mencuri jasad Yesus (Mat. 28:11-15). Di sisi lain, dalam rentang waktu 40 hari menuju kenaikan, Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya dengan total jiwa yang melihat Yesus bangkit berjumlah sekitar 500 orang (1Kor. 15:6). Sedangkan pada hari Pentakosta, jumlah murid-murid yang menantikan di ruang atas berjumlah 120 orang. Bagaimana mungkin dalam waktu yang hanya berselang sepuluh hari dapat terjadi lonjakan orang menjadi Kristen begitu besar? Ya, sangat mungkin. Karena hal itu telah terjadi di dalam sejarah dan bukan kisah fiksi belaka atau cerita heroik semata.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, apakah kisah-kisah di atas hanya sebatas kisah bersejarah saja yang telah berlalu? Apakah mungkin kisah tersebut dapat terjadi juga pada zaman kita saat ini? Apakah kita boleh mendambakan kisah besar seperti itu muncul di masa yang serba digital ini di mana pertemuan fisik sudah kalah dengan pertemanan di media sosial? Kita dapat menghitung berapa sedikitnya dan siapa saja yang kita temui secara fisik. Tetapi ribuan teman di dunia maya atau <em>followers</em> yang tidak terhitung jumlahnya tidak mampu kita kenali satu persatu atau bahkan kita tidak tahu apakah jumlah tersebut adalah nyata atau banyak <em>fake account</em>. Sebagai catatan, penulis tidak sedang mengatakan bahwa peristiwa turunnya Roh Kudus pada hari Pentakosta akan dapat terulang kembali. Penulis mengerti dengan jelas bahwa hal itu terjadi hanya sekali untuk selamanya, yang penulis maksudkan adalah peristiwa <em>revival</em>, di mana Tuhan menggerakkan hati umat-Nya kembali kepada-Nya. Tuhan bekerja di dalam setiap orang yang dikehendaki-Nya di waktu yang relatif bersamaan dan menyatukan mereka menjadi suatu perkumpulan orang-orang kudus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mari kita menelusuri cerita di dalam Kisah Para Rasul dan kemudian menarik prinsip untuk konteks kita saat ini. Pertama, kita menemukan bahwa bahwa <em>revival</em> adalah kehendak Tuhan. Kisah Para Rasul 1:8 dengan jelas mengatakan bahwa kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem, Yudea, Samaria, dan sampai ke ujung bumi. Pernyataan Tuhan menghendaki kita untuk menjadi saksi-Nya juga ditemukan di dalam Amanat Agung (Mat. 28:19-20). Ini adalah dasar utama dari <em>revival</em>. Tuhanlah yang menghendaki pemberitaan Injil kepada banyak orang. Tuhan yang menuntut murid-murid-Nya mengabarkan berita ini sampai ke pelosok daerah. Mendambakan kebangunan besar adalah kehendak Tuhan dan juga panggilan kita sebagai orang yang telah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Kita dapat mendasari keinginan kita kepada kesempatan berbagian melihat Tuhan menggenapi kehendak-Nya di masa ini. Jadi, kedambaan kita bukanlah hasil dari kumpulan keinginan-keinginan kita sendiri, tetapi dari pengetahuan dan respons kita akan apa yang Tuhan kehendaki.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kedua, kita menemukan di dalam ayat yang sama bahwa kedambaan kita adalah pekerjaan Roh Kudus. Tuhan yang menghendaki kita berbagian di dalam Amanat Agung juga memberikan kuasa melalui Roh Kudus agar kita dapat bersaksi tentang Yesus. Di dalam kebangunan besar, pekerjaan dari Roh Kudus juga sangat besar. Roh Kudus yang membangkitkan orang untuk mau melayani, Dia yang memberikan bijaksana dan kuasa kepada pengkhotbah untuk dapat menyampaikan firman dengan penuh kuasa, Dia juga yang bekerja di dalam hati pendengar untuk dapat mendengar dan merespons panggilan Injil. Tanpa pekerjaan Roh Kudus, bagaimana 3.000 orang dapat bergerak, berkumpul dan mendekati para rasul dan murid-murid, dan mendengarkan Petrus berkotbah? Atau bagaimana 30.000 orang mau datang berkumpul di area terbuka mendengarkan George Whitefield atau ratusan orang dapat menangis di tengah-tengah khotbah Jonathan Edwards? Kedambaan kita akan adanya kebangunan yang besar juga merupakan pekerjaan Roh Kudus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketiga, respons dari orang yang mendapat kebangunan rohani setelah mendengar khotbah Petrus adalah memuji Tuhan (Kis. 2:47, 10:46). Tujuan dari kebangunan besar adalah membawa kembali arah hati manusia kepada yang seharusnya, yaitu memuji Tuhan. Setelah manusia jatuh ke dalam dosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Manusia tidak lagi mencari Tuhan yang sejati, apalagi memuji dan memuliakan Tuhan. Kebangunan besar adalah upaya Allah untuk menarik manusia dari seteru Allah menjadi penerima belas kasihan-Nya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari ketiga hal di atas, Roma 11:36 menyimpulkan, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” Ketika kita mendambakan kebangunan besar, kiranya ayat inilah yang menjadi prinsip yang kita pegang di dalam hati kita, apa yang mendasari, mengapa kita mendambakannya, dan bagaimana kita mendambakannya. Ketika kita berbagian di dalam pekerjaan Tuhan yang besar, kita akan makin didorong oleh rasa syukur yang besar untuk memuliakan Tuhan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tuhan telah melakukan hal besar di dalam sejarah untuk membawa umat pilihan-Nya menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, serta hidup kudus di hadapan Tuhan. Tuhan telah membangkitkan orang-orang di berbagai zaman untuk mengambil bagian di dalam pekerjaan Tuhan. Bagaimana dengan kita di zaman ini? Apakah Tuhan juga menggerakkan hati kita untuk berbagian dalam pengabaran Injil-Nya? Adakah engkau dan saya mendambakan kebangunan besar terjadi di zaman kita? Mungkin kita berpikir, “Ah, mana mungkin ada pertemuan massa yang besar di zaman digital ini?” Orang-orang sudah nyaman dengan dunia mayanya sendiri. Jika kita berpikir demikian, kisah di atas hanya kita anggap sebagai sejarah yang telah lalu. Allah kita bukan Allah yang hanya berkuasa di masa lalu. Dia juga berkuasa di masa kini dan masa yang akan datang. Kiranya kita boleh terus memiliki hati dan memupuknya dengan mendambakan akan kebangunan besar terjadi di masa ini. <em>Soli Deo gloria</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saut Parulian<br>Mahasiswa STTRII</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">31438</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Filsafat Asia: Bagian 33</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/transkrip/filsafat-asia-bagian-33</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[andrian]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 07 Aug 2026 12:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Transkrip]]></category>
		<category><![CDATA[baik]]></category>
		<category><![CDATA[Filsafat Asia]]></category>
		<category><![CDATA[iman kristen]]></category>
		<category><![CDATA[Konfusius]]></category>
		<category><![CDATA[setia]]></category>
		<category><![CDATA[Stephen Tong]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=31317</guid>

					<description><![CDATA[FA5-28 (PERTEMUAN 5 RAW 3) Kedua belas, seorang agung tidak boleh dilihat dari hal-hal kecil yang dia lakukan, tetapi seberapa dia bisa diserahi tugas yang besar. Jadi janganlah kita terlalu ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/transkrip/filsafat-asia-bagian-33">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">FA5-28 (PERTEMUAN 5 RAW 3)</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Kedua </em><em>belas</em>, seorang agung tidak boleh dilihat dari hal-hal kecil yang dia lakukan, tetapi seberapa dia bisa diserahi tugas yang besar. Jadi janganlah kita terlalu sibuk membicarakan dan meributkan kesalahan-kesalahan kecil seseorang, tetapi lebih melihat apakah kepada dia bisa dipercayakan hal atau tugas yang besar. Itu yang penting. Di dalam Alkitab ada kalimat: Siapa yang setia pada hal kecil kepadanya akan dipercayakan hal yang besar.<a href="#_ftn1" id="_ftnref1">[1]</a> Sebenarnya pengertian firman Tuhan ini bisa lebih tepat dimengerti dengan “orang yang setia, kecil atau besar tetap akan sama setia.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada orang yang mengatakan. “Untuk hal kecil seperti ini saja dia tidak setia, bagaimana dia bisa mengerjakan pekerjaan besar?” Hal ini bukan kalimat yang sepenuhnya benar. Karena kalimat itu menyebabkan banyak orang hanya sibuk memperhatikan hal-hal kecil dan justru mengabaikan hal yang besar dan penting, karena ingin terlihat setia pada hal-hal yang kecil. Ini kurang tepat. Juga akibatnya banyak orang yang membanggakan keberhasilannya untuk setia dalam hal-hal yang kecil. Tetapi ketika ia diberi tanggung jawab untuk hal yang besar, belum tentu dia bisa tetap setia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kalau mau setia, itu berarti jika mau mengukur beratnya beras maka butir berasnya harus sama banyaknya, bukan? Satu kilo beras berapa banyak butirnya, itu baru setia, karena hanya mengurus hal yang kecil, bukan menghitung berat satu kilonya. Jika setiap hari menghitung seperti ini, engkau akan sia-sia. Jadi kita tidak terlalu perlu memperhatikan hal-hal yang kecil-kecil, sedikit berbeda tidak terlalu penting, kurang berapa butir beras bukanlah hal yang terlalu penting, karena itu bukan mau curang. Terkadang kita beli beras satu kilo ditambah sedikit supaya tidak dianggap curang. Jadi hal-hal kecil tidak terlalu perlu, tetapi kalau dikurangi sedikit itu tidak baik, jadi dilebihkan sedikit itu hal yang baik. Melebihkan sedikit bukan tidak setia, tetapi keinginan memberikan sedikit lebih. Jadi yang penting adalah keseluruhan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika kita membeli kain satu meter, kita tidak pernah menghitung sampai berapa milimeter beda, dan biasa kita beri lebih dua atau tiga centimeter dan itu baik. Kita tidak pernah meributkan kenapa lebih satu milimeter atau kurang satu milimeter. Jadi yang penting kita melihat totalitas. Orang yang membeli kain diberi tambahan dua centimeter tidak pernah marah dan ribut karena berbeda lebih dari satu meter tepat, malah mungkin orang itu akan membeli lagi lebih banyak. Hal ini terjadi di semua hal.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada orang-orang yang memang curang. Ada ukuran meteran yang dikurangi, bukan satu meter, tetapi 95 atau 98 cm. Demikian juga ada timbangan yang dikurangi. Atau bahkan ada pompa bensin yang mengurangi literan bensinnya. Kecurangan-kecurangan seperti ini bisa saja terjadi. Jadi orang agung adalah orang yang bukan terlalu banyak memperhatikan hal kecil, tetapi dia lebih melihat totalitas. Orang kecil justru tidak bisa mengerjakan pekerjaan besar, tetapi dia bisa melihat hal-hal kecil yang tidak beres. Tetapi pemikiran ini secara absolut terbalik dengan pemikiran Konfusius tentang orang agung. Orang yang agung terkadang tidak terlalu memperhatikan hal-hal kecil, tetapi dia memiliki keagungan yang besar dan dia bisa mengerjakan hal-hal besar dengan sangat baik dan rapi. Setiap orang di dunia memiliki kelemahan, jika terus menekan kelemahan seseorang dan kita melupakan keagungannya, kita berbuat salah. Namun, orang yang memang tidak agung dari mulai hal-hal kecil sudah kelihatan bahwa memang betul-betul tidak agung, dan ketika diminta untuk melakukan pekerjaan besar akan makin terlihat ketidakberesannya. Itu artinya orang kecil.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Ketiga </em><em>belas</em>, seorang agung mudah dilayani tetapi sulit dikompromikan. Orang yang agung sangat sulit ditaklukkan, sulit untuk ditipu, sulit diperdaya, dan sulit diganggu atau dipengaruhi pendiriannya. Namun, orang agung mudah dilayani, dia tidak menuntut macam-macam. Sebaliknya, orang picik atau orang hina terbalik. Orang picik sangat sulit disenangkan. Orang agung sangat mudah dilayani, diberi makan apa dia akan dengan senang hati memakannya, disuruh tidur di mana juga diterima, diberi hal yang kurang nikmat dia tidak mengeluh. Ini adalah orang agung.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya mempunyai seorang bapak rohani, yaitu Andrew Gih. Dia mengatakan, “Sama-sama mulut hamba Tuhan, pendeta yang baik makan kelas tiga, khotbah kelas satu; tetapi pendeta yang buruk makan kelas satu, khotbah kelas tiga.” Saya tidak bisa melupakan wejangan ini. Pendeta yang maunya makan enak tetapi khotbahnya buruk adalah pendeta yang buruk. Pendeta yang mau hanya makanan yang mahal-mahal tetapi kalau khotbah jelek sekali adalah orang picik. Pendeta yang baik makan apa saja bisa, makan yang biasa-biasa, tetapi khotbahnya luar biasa. Itulah pendeta yang agung. Kalau pendeta baik, makannya juga baik, itu biasa saja, lumrah orang seperti itu. Saya setelah khotbah dua kali, makan rawon atau makan soto cukup. Ini jauh lebih efisien, karena kalau pergi ke restoran besar, tunggu pesan, tunggu dimasak, disajikan lama luar biasa dan buang waktu. Bahkan sekarang saya setelah dua kali khotbah lebih baik berbaring 30 menit untuk mendapatkan tenaga punya kekuatan, baru makan. Istri saya menyediakan makanan ketika saya tidur, makanan yang sederhana saja. Maka seorang harus bisa makan makanan yang sederhana saja. Mudah dilayani. Saya pergi ke satu tempat, mau dijemput tidak apa, tidak dijemput juga tidak masalah. Saya tidak pernah memerintah hamba Tuhan junior saya untuk menjemput saya di bandara. Saya akan pakai mobil sendiri, kalau tidak, saya pakai taksi, atau istri saya yang mengantar. Saya tidak pernah ingin menyusahkan orang lain. Saya mengajar di seminari selama 25 tahun, dan tidak pernah satu kali pun saya meminjam mobil sekolah untuk keperluan saya. Sebagai dosen dan ketua yayasan, saya punya hak untuk bisa memakai mobil sekolah untuk mengantar saya. Saya punya hak yang paling bebas untuk bisa menggunakannya, tetapi saya tidak pernah meminjamnya satu kali pun. Saya tidak ingin merepotkan orang lain. Ini sifat saya yang terkadang bisa dilihat buruk juga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mudah menyenangkan orang agung, berarti dia memiliki pendirian yang tidak mau kompromi, dia tidak mau diperlakukan sembarangan, tidak bersedia dirayu sembarangan agar dia mau berubah. Dia adalah orang yang memiliki pendirian yang tidak mudah berkompromi. Jika mau menyenangkan dia tanpa prinsip dan kebenaran, maka ia tidak akan mau menerimanya. Seorang agung mudah dilayani, tetapi sangat sulit untuk menyenangkan dia. Untuk seseorang dapat menyenangkan dia, seseorang harus berdiri di dalam kebenaran, atau ia tidak akan mau menerimanya. Saat ini banyak orang besar di Indonesia yang mudah dibuat senang dengan diberikan hadiah yang besar dan mahal. Seseorang diberikan sebuah jam tangan Rolex emas, tetapi dia mengatakan bahwa dia sudah memiliki Rolex emas dan meminta Patek Philippe emas yang bertata berlian di atasnya. Nah itu orang picik, orang hina. Melayani dia tidak mudah, tetapi menyenangkan dia sangat mudah, cukup diberi uang dengan nilai yang besar apa pun juga dia mau. Itu orang picik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jangan harap seorang yang agung bisa disuap dan mudah dibuat senang dengan hal-hal material. Orang agung sangat sulit untuk bisa disuap, dan untuk bisa menyenangkan hatinya perlu ada prinsip firman Tuhan di dalam hidup kita. Sebaliknya, orang hina sulit dilayani tetapi mudah untuk menyenangkan dia. Orang kecil sulit dilayani tetapi mudah menyenangkannya. Ketika menyenangkan dia, meskipun tidak pakai kebenaran, tidak pakai logos, tetap dia akan senang. Orang hina tidak perlu menggunakan kebenaran, cukup pakai hadiah, pakai uang, pakai suapan, diberi mobil atau diberi rumah, maka semua yang tidak bisa menjadi bisa. Semua serba bisa diatur. Ini adalah orang hina.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Orang hina atau orang picik, kalau memakai seseorang tuntutannya luar bisa sempurna, tetapi sebaliknya ia sendiri tidak mau dituntut keras seperti ia menuntut bawahannya. Ia suka menuntut orang lain dengan sangat kejam. Jika engkau mau menjadi pegawai saya, maka engkau harus begini dan begitu, begitu banyak tuntutan yang diberikan. Juga orang hina banyak menuntut orang lain harus memenuhi kualifikasi yang begitu banyak dan tinggi, tetapi kemudian ketika membayar, bayarannya sedikit luar biasa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Banyak orang Tionghoa di Indonesia memberi gaji kepada pembantunya sekitar hanya sepersepuluh dari gaji seorang pembantu di luar negeri, tetapi mereka menuntut pembantunya begitu keras, disuruh kerja dari pagi hingga malam. Juga diharuskan bekerja sepanjang minggu tanpa ada waktu luang atau bisa hidup bebas. Itu dosa. Pembantu juga adalah seorang manusia. Mereka punya hak kebebasan untuk bisa pergi berjalan-jalan paling tidak satu kali seminggu. Hak mau berpacaran juga tidak ada, hak mau telepon ke rumah juga tidak ada. Itu adalah sikap majikan yang adalah orang picik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mereka berargumen kalau pembantunya nanti jadi rusak kalau diberi izin untuk pergi berjalan-jalan keluar. Tetapi mereka sendiri tidak berpikir mereka sudah jadi seperti apa. Mereka melarang orang lain untuk menjadi seperti dia mau menjadi, sementara majikan juga semena-mena. Saya pikir kasihan para pembantu ini. Harusnya, seperti di Hong Kong, setiap Sabtu sore, para pembantu boleh keluar dari rumah majikannya, bisa berjalan-jalan atau bertemu temannya. Mereka bisa ke <em>shopping mall</em>, bertemu dan berkumpul sesama bangsa mereka, yang Filipina sama yang Filipina, yang Indonesia bercengkerama dengan yang sesama Indonesia. Itu hak mereka. Mereka juga manusia yang perlu diperlakukan sebagai manusia yang terhormat.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setiap kita yang memiliki saudara atau teman di Singapura atau Hong Kong mengetahui bahwa memakai seorang pembantu harus membayar dengan harga yang cukup tinggi. Di Hong Kong, paling sedikit gaji pembantu yang dipanggil dari Indonesia dibayar HKD 3,800.00.<a href="#_ftn2" id="_ftnref2">[2]</a> Ini jauh lebih besar dari pembantu yang bekerja di keluarga-keluarga di Indonesia. Kita tidak boleh memperlakukan pembantu kita semena-mena dengan menekan mereka. Itu sikap orang picik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Konfusius mengatakan, “Semua yang baik bagi kita, tetapi tidak baik bagi orang lain, itu adalah pemikiran dan sikap orang picik.” Itu adalah hal yang tidak baik dan tidak patut dilakukan. Apalagi kita pernah mendengar bagaimana ada majikan yang menyiksa pembantunya, ada yang disundut dengan rokok, atau disiram air panas dan berbagai tindakan yang kejam lainnya. Coba kalau dibalik, lalu kita yang diperlakukan seperti itu, apakah kita senang? Tentu tidak. Apa yang kita tidak ingin orang lain lakukan, jangan kita lakukan pada orang lain. Ini yang Konfusius katakan. Kiranya kita belajar tidak menjadi orang picik (<em>xiao ren</em>), tetapi menjadi orang yang agung (<em>junzi</em>). Amin.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref1" id="_ftn1">[1]</a> Matius 25:21.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref2" id="_ftn2">[2]</a> atau sekitar Rp. 8.5 juta rupiah dengan kurs pada Mei 2026 senilai Rp.2.277,- per satu dollar Hongkong.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">31317</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Ia Harus Makin Besar, tetapi Aku Harus Makin Kecil</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/renungan/ia-harus-makin-besar-tetapi-aku-harus-makin-kecil</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[heryanto]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Aug 2026 09:36:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Kristus]]></category>
		<category><![CDATA[Pelayanan Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[penginjilan]]></category>
		<category><![CDATA[Yohanes Pembaptis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=31298</guid>

					<description><![CDATA[Renungan saat teduh Yohanes 3:30 “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” Kalimat dari teks di atas adalah perkataan Yohanes Pembaptis yang memperlihatkan kerendahan hatinya di dalam pelayanannya. ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/renungan/ia-harus-makin-besar-tetapi-aku-harus-makin-kecil">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h4 class="wp-block-heading">Renungan saat teduh Yohanes 3:30</h4>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">“Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil”</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Kalimat dari teks di atas adalah perkataan Yohanes Pembaptis yang memperlihatkan kerendahan hatinya di dalam pelayanannya. Walaupun mengenai dia, Yesus sendiri mengatakan bahwa di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak ada seorangpun yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis (Matius 11:11). Namun, Yohanes menyadari sepenuhnya bahwa panggilannya di dalam pelayanan adalah untuk mempersiapkan jalan bagi juruselamat, Yesus Kristus yang terhadap-Nya Yohanes mengatakan untuk membuka tali kasutnya pun aku tidak layak (Yoh 1:27). Di dalam pelayanannya, ia tidak mengambil kemuliaan bagi dirinya. Ketika para pemuka Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia “Siapakah engkau?”, ia mengaku dan berterus terang, katanya, “Aku bukan Mesias”  (Yoh 1:20). Ketika para muridnya berkata kepadanya mengenai Yesus yang membaptis juga dan semua orang pergi kepada-Nya, Yohanes Pembaptis sekali lagi berterus terang kepada murid-muridnya mengatakan bahwa dirinya bukanlah Mesias, tetapi ia diutus untuk mendahului-Nya (Yoh 3:28). Lalu Yohanes meneruskan mengatakan: &#8220;Yang empunya mempelai perempuan ialah mempelai laki-laki. Namun, sahabat mempelai laki-laki yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh. (Yoh 3:29)&#8221;    </p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sini sekali lagi Yohanes tidak mencoba menonjolkan dirinya melainkan dia membawa murid-muridnya untuk melihat kepada Kristus, sang mempelai laki-laki yang telah datang bagi mempelai perempuan yaitu gereja-Nya. Sehingga ia dapat mengatakan suatu kalimat yang seharusnya menjadi prinsip dari setiap kita sebagai hamba Tuhan di zaman ini: “Kristus harus makin besar, tetapi aku&nbsp;harus makin kecil.” Yohanes sadar bahwa di dalam melayani Tuhan tidak ada tempatnya bagi dirinya untuk mendapat kredit sama sekali. Ia tahu bahwa tujuan dari panggilannya adalah untuk mempersiapkan jalan bagi Sang Juruselamat sehingga ketika Sang Juruselamat telah hadir, ia harus segera undur agar orang boleh melihat kepada Kristus yang telah datang. Sebagai alat yang dipakai oleh Tuhan, kita tidak sedang berusaha untuk membuat diri kita maupun grup kita dikenal, tetapi kita sedang berbagian di dalam misi untuk menyatakan kerajaan Allah di dunia yang gelap ini. Misi kita adalah memberitakan Injil Kristus di manapun kita berada, kepada siapa saja yang kita jumpai agar orang di sekitar kita boleh mengenal Kristus Sang Juruselamat. Sehingga semakin banyak orang berdosa datang kepada-Nya dan diselamatkan. Untuk berbagian di dalam misi kerajaan Allah ini, kita harus menjadi rendah hati sama seperti Yohanes Pembaptis yang tidak membuat dirinya dikenal, melainkan selalu menunjuk kepada Kristus Sang Juruselamat. Yohanes mengatakan bahwa ia bersukacita sebagaimana sahabat dari mempelai laki-laki sangat bersukacita mendengarkan suara dari mempelai laki-laki itu.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagaimana dengan kita? Apakah kita juga memiliki sukacita yang sama seperti sukacita Yohanes Pembaptis? Apakah kita lebih bersukacita ketika orang-orang mengingat khotbah kita? Apakah kita bersukacita ketika orang-orang mengenal kita karena kita cakap di dalam banyak bidang pelayanan? Apakah kita lebih bersukacita ketika kita dikenal oleh pemimpin kita di gereja? Atau kita lebih bersukacita ketika mengetahui ada orang yang bertobat dan datang kepada Kristus? Kalau hal ini telah menjadi sukacita kita, sepatutnya kita menjadi&nbsp;lebih giat lagi di dalam kegiatan mengabarkan Injil dan menyatakan Kristus di manapun kita berada. Kiranya melalui renungan ini setiap dari kita boleh belajar dari kerendahan hati Yohanes Pembaptis yang selalu menyatakan Kristus di dalam pelayanannya. &nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Melky Alexander Lingga<br>Mahasiswa STTRII Konsentrasi Misiologi</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">31298</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Perlukah Kepala Lain selain Kristus, Sang Kepala Gereja?</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/alkitab-theologi/perlukah-kepala-lain-selain-kristus-sang-kepala-gereja</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[michaelleang]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 24 Jul 2026 12:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Alkitab & Theologi]]></category>
		<category><![CDATA[gereja]]></category>
		<category><![CDATA[Kepala Gereja]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintahan gereja]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=30146</guid>

					<description><![CDATA[Kristus Menginstitusikan Gereja (Mat. 16:13-20) Sejak awal, Gereja berdiri bukan atas inisiatif manusia, melainkan Kristus sendiri. Karena Ia adalah Kepala Gereja, maka cara Gereja diperintah tidak boleh dilepaskan dari diri ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/alkitab-theologi/perlukah-kepala-lain-selain-kristus-sang-kepala-gereja">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Kristus Menginstitusikan Gereja (Mat. 16:13-20)</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejak awal, Gereja berdiri bukan atas inisiatif manusia, melainkan Kristus sendiri. Karena Ia adalah Kepala Gereja, maka cara Gereja diperintah tidak boleh dilepaskan dari diri Kristus dan karya-Nya. Hal ini dikarenakan kekuatan dari Gereja seharusnya hanya berasal dari Sang Kepala saja, dan bukan kepala lain. Bayangkan kalau tubuh manusia bermutasi, kemudian memunculkan kepala baru di samping kepala yang asli, lalu “kepala” baru tersebut mulai mengambil alih tubuh manusia tersebut dari kepalanya yang sejati. Tentu mengerikan sekali, bukan? Artikel ini menyoroti bagaimana Kristus harus menjadi dasar dan pola bagi pemerintahan gereja yang diawali dengan bagaimana Kristus menginstitusikan Gereja-Nya di Alkitab.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Matius 16:13-20</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><br><sup>13</sup>Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: &#8220;Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?&#8221;&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><sup>14</sup>Jawab mereka: &#8220;Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.&#8221;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><sup>15</sup>Lalu Yesus bertanya kepada mereka: &#8220;Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?&#8221;&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><sup>16</sup>Maka jawab Simon Petrus: &#8220;Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!&#8221;&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><sup>17</sup>Kata Yesus kepadanya: &#8220;Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><sup>18</sup>Dan Akupun berkata kepadamu: <strong>Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.</strong>&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><sup>19</sup>Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.&#8221;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><sup>20</sup>Lalu Yesus melarang murid-murid-Nya supaya jangan memberitahukan kepada siapapun bahwa Ia Mesias.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari perikop yang kita baca, Alkitab menyatakan bahwa Tuhan Yesus, ketika berinkarnasi di dunia, telah mendirikan suatu kelompok manusia di dunia ini yang disebut Gereja-Nya. Gereja adalah umat Kristus, yang kepada merekalah Kristus mengatakan bahwa alam maut tidak akan menguasainya. Ini artinya, Gereja memiliki kekuatan yang luar biasa. Hal ini makin ditekankan dalam versi bahasa Inggris (KJV) yang menuliskan <em>“the gates of hell shall not prevail against it</em>”, dan bukan “<em>the gates of death</em>” sebagaimana diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Terhadap ayat ini, seorang Bapa Gereja, John Chrysostom, menegaskan bahwa Gereja lebih kuat bukan hanya daripada <em>hell </em>(neraka), tetapi juga daripada <em>heaven</em>. Dalam salah satu homilinya, dia berkata:</p>



<p class="wp-block-paragraph">“<em>For the Father gave to Peter the revelation of the Son; but the Son gave him to sow that of the Father and that of Himself in every part of the world; and to a mortal man He entrusted the authority over all things in Heaven, giving him the keys; </em><strong><em>who extended the church to every part of the world, and declared it to be stronger than heaven</em></strong><em>. ‘For heaven and earth shall pass away, but my word shall not pass away.’ How then is He less, who hath given such gifts, hath effected such things?</em>”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Chrysostom menggunakan permainan kata antara <em>hell</em> dengan <em>heaven</em>, karena selanjutnya beliau mengutip Matius 24:35 yang membandingkan firman Tuhan dengan langit dan bumi. Intinya, kita dapat dengan yakin mengatakan bahwa Gereja memiliki kekuatan yang sangat besar. Gereja punya kekuatan yang demikian besar karena Kristus, yang adalah Allah, merupakan Sang Kepala dari Gereja itu sendiri.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam homili yang sama, Chrysostom menafsirkan bahwa melalui sabda ini, mereka yang termasuk dalam Gereja adalah mereka yang berdiri di atas batu karang (πέτρα, <em>petra</em>) yang teguh. Menurut Chrysostom, batu karang tersebut bukanlah pribadi Petrus (Πέτρος, <em>Petros</em>) sendiri. Batu karang tersebut adalah pengakuan Petrus pada perikop yang telah kita baca sebelumnya, yakni bahwa Kristus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Dengan kata lain, Gereja berdiri di atas pengakuan yang benar mengenai Kristus; dan mereka yang mengakui Dia dengan benar termasuk di dalam Gereja yang dibangun oleh Kristus sendiri. Penafsiran Chrysostom ini senada dengan penafsiran Agustinus selaku Bapa Gereja yang berpengaruh di Kekristenan Barat. Fondasi Gereja bukan terletak pada keuskupan yang dipegang Petrus, yakni Keuskupan Roma, melainkan di dalam pengakuan Petrus tentang siapa Kristus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perbedaan tafsiran ini penting untuk kita soroti, karena inilah yang menjadi perbedaan tafsiran antara Gereja Katolik Roma dengan gereja-gereja Reformed. Katolik Roma menafsirkan bahwa Petruslah yang menjadi batu karang, sehingga Rasul Petrus sebagai uskup di Roma diakui sebagai paus yang pertama. Dari sinilah berkembang konsep penghormatan bagi keuskupan Roma (primasi Roma), yang kemudian menjadi doktrin, dan akhirnya menjadi dogma infalibilitas paus pada Konsili Vatikan I. Namun, gereja-gereja Reformed mengakui pernyataan Chrysostom dan Agustinus, bahwa batu karang yang dimaksud adalah pengakuan Petrus tentang Kristus. Dengan demikian, mereka yang mengaku bahwa Yesus adalah Kristus, Anak Allah yang hidup, termasuk dalam Gereja sejati.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Pemerintahan Gereja di Masa Para Rasul: Pola Presbiterial, Bukan Monarkikal</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Bila kita mengakui bahwa Kristus adalah Kepala Gereja, maka kita mengakui bahwa Dialah yang mempunyai otoritas penuh terhadap Gereja. Karena itu, Gereja harus melanjutkan kehendak Kristus, dan bukan kehendak yang lain dari sumber otoritas manusia. Kehendak Kristus utamanya dinyatakan jelas di dalam Alkitab, sebagai satu-satunya sumber wahyu yang otoritasnya tidak dapat dipersalahkan (<em>infallible</em>). Namun, selain Alkitab, sumber pengajaran lain akan kehendak Kristus dalam Gereja adalah kesaksian Gereja mula-mula, ajaran Bapa-bapa Gereja, dan tradisi apostolik. Sumber ini bernilai penting sebagai pengajaran Gereja, tetapi sifat otoritasnya adalah turunan, sekunder dibanding Alkitab. Sehingga, sumber-sumber ini penting untuk diterapkan di dalam gereja sepanjang semuanya dibaca, dipelajari, dan diterapkan sesuai dengan Alkitab sebagai standar final. Inilah yang dimaksud dengan <em>sola scriptura</em>, bahwa sumber pengajaran Gereja berasal dari Alkitab, tradisi Gereja, dan pengajaran Bapa-bapa Gereja, tetapi satu-satunya sumber yang tidak dapat dipersalahkan adalah Alkitab. Sebagai jemaat dari gereja Reformed, kita tidak membuang penuh tradisi dan pengajaran terdahulu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu warisan dari para rasul adalah pola pemerintahan di gereja, yang terdiri dari <em>presbyteros </em>(penatua) dan <em>episkopos </em>(uskup). Di dalam pemerintahan gereja, kita harus merujuk kembali kepada pola pemerintahan yang diturunkan oleh Yesus, para rasul, dan jemaat mula-mula. Otoritas Gereja mula-mula sifatnya adalah plural, apostolis, dan bukan monarkis. Artinya, semua rasul memiliki otoritas yang setara dan tidak dipusatkan ke satu rasul secara absolut. Tidak ada rasul utama yang lebih tinggi dari semua rasul Yesus yang lain. Otoritas plural inilah yang membentuk sistem presbiterian, penatua dan uskup sebagai setara. Hal ini dapat kita lihat pada Kisah Para Rasul 14:23, di mana di tiap-tiap jemaat di kota Listra, Ikonium, dan Antiokhia, ditetapkan penatua-penatua. Adanya penatua-penatua ini merupakan pengajaran para rasul sekaligus firman Tuhan yang tertulis di Alkitab. Dengan penetapan ini, para rasul mencegah hadirnya satu orang otoritas di atas semua, tetapi juga mencegah terjadinya independensi jemaat yang satu dengan yang lainnya. Dependensi yang satu dengan yang lainnya inilah yang menjadikan para jemaat memiliki kesatuan dalam doktrin, ketersalingan dalam mengoreksi dan dikoreksi, serta dukungan satu sama lain. Jika jemaat dipimpin oleh satu kepala yang memisahkan diri dari yang lain, maka rentan sekali untuk adanya penyelewengan ajaran.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan sistem presbiterial diterapkan, keputusan-keputusan ditetapkan secara demokratis. Hal ini dapat kita lihat pada Kisah Para Rasul 15 tentang Konsili Yerusalem. Pada konsili ini, Yakobus memimpin keseluruhan diskusi dan juga memberikan keputusan final. Hal ini menarik karena Petrus dan Paulus, dua rasul besar yang dihormati karena pelayanannya di Roma, hadir pada konsili tersebut. Jikalau kita lihat, Petrus dan Paulus tunduk pada keputusan konsili yang diputuskan secara bersama. Tidak ada rasul yang mengutamakan kedua rasul ini di dalam pengambilan keputusan, meskipun mereka cukup menonjol. Benar bahwa Petrus merupakan salah satu rasul yang menonjol dan diberitakan pada Alkitab bahwa Tuhan Yesus menjadikan Petrus memiliki peran unik dalam kepemimpinan, mujizat, otoritas, dan tanggung jawab, tetapi Tuhan Yesus tidak pernah menjadikan dia <em>supreme</em> di antara para rasul, hanya <em>prominent</em>. Buktinya, kita dapat melihat bagaimana Paulus menegur Petrus (Gal. 2:11). Dengan demikian, kita bisa melihat bahwa Gereja memiliki otoritas yang plural, di mana keputusan Gereja diputuskan secara kolegial, dan bukan hanya satu kepala saja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari artikel ini, kita telah belajar bahwa Kristus adalah Kepala Gereja. Dari Dialah segala kekuatan yang ada pada Gereja, yang lebih kuat dari gerbang maut. Di dalam dunia ini, Yesus menginstitusikan Gereja yang berfondasikan pengakuan Rasul Petrus tentang diri Yesus, sehingga barangsiapa yang mengaku hal yang sama, dia adalah anggota dari Jemaat Kristus. Di dalam kepemimpinannya, Gereja dipimpin oleh banyak rasul dan penatua, dan bukan satu kepala otoriter saja. Hal ini sesuai dengan firman Tuhan dan tradisi para rasul: bahwa hanya Kristuslah yang layak menjadi Kepala yang berotoritas penuh atas Gereja. Dengan demikian, sistem pemerintahan gereja yang presbiterial bukan hanya ideal, tetapi juga konsisten dengan kebenaran Alkitab dan tradisi. Gereja tidak menjadi independen antara yang satu dengan yang lainnya, tetapi tidak menokohkan atau memusatkan keseluruhan keputusan dan pengajaran kepada satu orang saja. Jikalau hari ini kita beribadah di gereja bertheologi Reformed yang kudus dan am, maka kita harus kembali setia pada firman Tuhan, yang tidak bisa bersalah, dan daripadanya melahirkan pengakuan iman, tradisi para rasul, dan pengajaran. Pada artikel berikutnya, kita akan melihat tentang apa yang akan (dan telah) terjadi ketika satu kepala berusaha untuk mengambil yurisdiksi universal terhadap seluruh gereja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mario A.J. Sirait<br>Pemuda GRII Pusat</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">30146</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Autentikkah Karya Seni Mesin? Seni di antara Manusia dan Mesin (1)</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/seni-budaya/autentikkah-karya-seni-mesin-seni-di-antara-manusia-dan-mesin-1</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[andrian]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 19 Jul 2026 15:57:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[AI]]></category>
		<category><![CDATA[art]]></category>
		<category><![CDATA[artificial intelligence]]></category>
		<category><![CDATA[kecerdasan buatan]]></category>
		<category><![CDATA[komputer]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[seni]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=30004</guid>

					<description><![CDATA[“Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah,dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.Engkau membuat dia berkuasa atas buatan ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/seni-budaya/autentikkah-karya-seni-mesin-seni-di-antara-manusia-dan-mesin-1">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">“Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah,dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu;segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya…”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mazmur 8:4-6</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Kecerdasan buatan telah menjadi suatu topik yang umum dibicarakan di tengah masyarakat kita saat ini. Di dalam masyarakat yang mengandalkan teknologi informasi sebagai bagian dari seluruh aktivitas hidupnya sehari-hari, kecerdasan buatan telah memasuki berbagai dimensi kehidupan yang dahulunya terkesan jauh dari keterlibatannya. Dari berbagai ranah dan dimensi kehidupan manusia, seni dianggap sebagai salah satu dimensi yang paling aman dari perkembangan teknologi kecerdasan buatan. Apakah benar demikian? Perkembangan seni visual digital akhir-akhir ini tentu telah menyadarkan kita bahwa ranah seni juga tidak dapat lepas dari dahsyatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan. Kecerdasan buatan telah mencapai tahap perkembangan yang dinamakan <em>machine learning</em>, di mana batas-batas mesin sebagai sekadar instrumen yang digunakan oleh manusia makin sulit dipahami. Mesin perlahan seakan telah mencapai keberadaan sebagai agensi, suatu entitas yang otonom, memiliki kehendak, pertimbangan, dan keputusan sendiri dalam berinteraksi dengan segala sesuatu yang ada di luar dirinya, sepenuhnya terlepas dari manusia yang menciptakannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perkembangan ini tidak luput dari pergumulan dunia seni. Keterlibatan mesin sebagai instrumen atau alat bantu yang mengekspresikan kehendak, pikiran, dan emosi dari seorang manusia juga telah berevolusi sedemikian rupa sehingga seakan membukakan dunia, dimensi, dan juga bahasa keindahan baru yang selama ini tidak pernah dapat dipersepsikan oleh kapasitas inderawi manusia. Seni seakan kini dimungkinkan tidak lagi identik dengan manusia sebagai satu-satunya makhluk yang dahulu dianggap mampu menghasilkan makna dan nilai. Mesin mampu melakukan hal yang sama, bahkan melampaui apa yang bisa dihasilkan oleh manusia, manusia yang dibatasi oleh tubuh dan persepsi inderawinya.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Manusia dan Seni</strong></h3>



<p class="wp-block-paragraph">Muncul pertanyaan akhir-akhir ini: jika seni telah dilakukan oleh mesin, autentikkah karya seni itu? Pertanyaan ini membuka suatu pergumulan menarik mengenai masa depan dunia yang akan kita hidupi. Mengapa demikian? Karena di balik pertanyaan mengenai autentisitas seni manusia versus mesin, ada satu implikasi antropologis yang menopangnya. Ada satu fondasi besar pemahaman yang terkandung baik dalam ilmu antropologi umum maupun antropologi biblikal mengenai keistimewaan manusia sebagai makhluk hidup, termasuk posisi manusia di dalam tatanan realitas dunia yang kita hidupi ini. Bagi saya, munculnya pertanyaan mengenai seni mesin merupakan satu undangan bagi kita untuk menggumulkan kembali pemahaman kita mengenai manusia, khususnya dalam kapasitas estetisnya. Ibarat kemajuan teknologi pada dunia modern memungkinkan hipotesis, teori, dan pengetahuan manusia di masa lampau diuji atau direvisi, masuknya teknologi kecerdasan buatan ke ranah seni menuntut adanya perenungan ulang mengenai berbagai asumsi atau klaim yang kita pahami mengenai manusia dan seni ke depan. Dibutuhkan pergumulan estetis yang segar, bukan untuk sekadar menolak atau sekadar menerima. Momen ini menarik untuk merenungkan ulang keindahan kapasitas estetis manusia, yang selama ini mungkin tidak kita pahami sebagai keunikan kemanusiaan kita. Dapatkah kita menggunakan rasa keingintahuan kita mengenai seni mesin untuk makin mensyukuri dan merayakan keindahan kemanusiaan kita?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti yang sudah saya sebutkan, di balik pertanyaan autentikkah karya (seni) mesin, tersembunyi banyak pemahaman sebelumnya mengenai manusia dan seni. Seni dapat dikatakan sebagai wilayah realitas manusia yang paling dekat menampilkan kemanusiaannya. Kita mungkin mendengar bahwa salah satu yang membedakan manusia dengan makhluk lain atau mesin (non-makhluk hidup) adalah kapasitas estetisnya, kemampuannya untuk berkesenian. Sejarah panjang estetika (filsafat keindahan) Barat, misalnya, menjadikan autentisitas sebagai salah satu syarat utama untuk sesuatu bisa disebut karya seni. Tentu saja setiap zaman memiliki pemahaman yang berbeda mengenai apa yang menjadikan suatu karya seni autentik. Yang menarik dalam menelusuri berbagai tradisi estetika Barat adalah cara memahami autentisitas karya seni sepertinya selalu terkait dengan <em>sejauh mana jarak atau peran manusia</em> dalam proses terciptanya karya seni tersebut. Manusia sebagai makhluk yang memiliki kesadaran, kehendak, emosi yang dapat diekspresikan melalui dan dapat diterima secara inderawi.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Manusia dan Seni dari Perspektif Estetika Mimesis: Autentisitas dan Orisinalitas</strong></h3>



<p class="wp-block-paragraph">Mari kita melihat betapa pentingnya asumsi mengenai siapakah manusia yang kita pegang, menentukan bagaimana kita akan menjawab pertanyaan mengenai autentisitas seni oleh mesin. Tradisi estetika mimesis memulai kerangka berpikir mengenai keindahan dan seni tertua yang masih umum digunakan saat ini. Tradisi estetika mimesis dan representasi melihat autentisitas ditemukan pada representasi yang setia atau mengimitasi/mereplikasi realitas. Kita menemukan bahwa Plato memahami imitasi senantiasa tidak autentik jika dibandingkan dengan realitas yang sejati, representasi hanyalah apa yang dapat dipersepsikan sebagai realitas yang sesungguhnya. Di sisi lain Aristoteles melihat seni autentik ketika berhasil merepresentasikan dan memaknai apa yang ada, sanggup menangkap suatu kebenaran yang bersifat universal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam perkembangannya berabad-abad kemudian, muncul kesadaran bahwa autentisitas representatif selalu tergantung pada persepsi yang terkondisikan secara kultural, bukan pada adanya akurasi objektif. Para pemikir postmodern dan pascastrukturalisme, misalnya, melihat pertanyaan autentisitas lebih dekat pada apa yang dipikirkan Plato sebelumnya. Ketika Walter Benjamin merespons kehadiran teknologi reproduksi seni di eranya, ia menuliskan dalam <em>The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction</em> (1936) kehancuran dari aura. Aura didefinisikan oleh Walter Benjamin sebagai autentisitas dari karya seni yang orisinal. Ia melihat bahwa ketika teknologi mereproduksi suatu karya seni sehingga terlepas dari kehadirannya secara langsung di dalam waktu dan tempat, karya seni itu sudah kehilangan keberadaan unik di dalam waktu dan tempat di mana karya tersebut ada pada mulanya. Artinya bahwa meskipun suatu teknologi dapat menghasilkan imitasi atau replikasi dari karya tersebut seakurat apa pun di kemudian hari dan di berbagai belahan bumi yang berbeda, autentisitas hanya ada pada saat dan di tempat di mana karya itu pertama kali dihasilkan. Seniman sebagai makhluk yang memiliki kesadaran waktu dan tempat merupakan salah satu kunci kesinambungan dan autentisitas karya tersebut.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Autentisitas dalam Tradisi Estetika Ekspresionisme: Manifestasi Emosional yang Tulus</strong></h3>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam tradisi estetika ekspresionisme autentisitas dikaitkan dengan keaslian penyampaian emosi sang seniman. Tolstoy, salah satu tokoh tradisi estetika ekspresionisme, berpendapat bahwa suatu karya seni hanya dapat dikatakan autentik jika secara tulus mentransmisikan perasaan/emosi sang seniman kepada pemirsanya. Croce melihat autentisitas juga terkait dengan agensi manusia. Seni yang autentik hanya dapat dibangkitkan dari ekspresi emosi intuitif, tidak dimediasi oleh konsepsi-konsepsi. Collingwood berpendapat bahwa autentisitas terjadi ketika emosi tersingkap melalui kreasi seni.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Autentisitas dalam tradisi estetika ekspresionisme senantiasa dikaitkan dengan emosi dalam sang seniman, mengagungkan subjektivitas manusia pencipta seni sebagai sesuatu yang mutlak. Autentisitas transmisi emosi dan ketertangkapan makna mulai dipertanyakan oleh Roland Barthes di dalam karyanya <em>The Death of the Author.</em> Barthes berargumentasi bahwa makna sesungguhnya dikonstruksikan oleh yang melihat, bukan oleh sang seniman. Argumentasi Barthes membuka kesadaran bagi kita bahwa ada dua sisi autentisitas manusia di dalam seni, ada autentisitas dari sisi manusia sebagai pencipta seni, dan ada sisi autentisitas dari manusia sebagai yang mengapresiasi seni tersebut. Kompleksitas menilai apakah suatu karya seni dapat dikatakan autentik atau tidak makin bertambah, kini kita diperhadapkan dengan pertanyaan ini: autentik dalam proses di mana karya tersebut diciptakan atau autentik dalam proses apresiasinya. Kriteria autentisitas estetika ekspresionisme ini makin sulit diterapkan di era digital dan kecerdasan buatan saat ini. Apakah kriteria autentisitas yang diidentikkan dengan ketulusan ekspresi manusia (baik sebagai pencipta karya seni ataupun sebagai subjek yang mengapresiasinya) masih bisa dipertahankan dalam dunia digital saat ini? Mungkinkah autentisitas emosi bertahan di era avatar, simulasi digital, dan relasi sepenuhnya dalam dunia maya? Dari tradisi estetika mimesis ke tradisi estetika ekspresionisme ini, kita bisa melihat bahwa keunikan manusia sebagai makhluk yang sadar akan keberadaan dirinya dalam konteks waktu dan tempat, juga kapasitas emosionalnya untuk menghasilkan dan mengekspresikan makna lewat kapasitas inderawinya, berpotensi menjadi wilayah yang masih susah digantikan oleh mesin.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Tradisi Estetika Formalis: Autentisitas dalam Integritas Estetis yang Murni</strong></h3>



<p class="wp-block-paragraph">Saya akan menutup penelusuran singkat autentisitas dalam tradisi estetika Barat dengan tradisi estetika formalis yang mulai berkembang di abad ke-19. Autentisitas dalam tradisi estetika formalis ditemukan dalam bentuk, komposisi, dan spesifisitas medium yang digunakan, bukan di dalam isi ataupun emosi. Dipengaruhi oleh pemikiran Kant, autentisitas dalam tradisi ini menekankan kemurnian dari apa yang bukan dari dalam karya seni itu sendiri. Bertujuan tanpa tujuan, kenikmatan tanpa kepentingan. Dalam perkembangannya Clive Bell mencetuskan apa yang disebut sebagai bentuk yang signifikan meliputi garis, warna, pengaturan bentuk, atau apa yang Greenberg katakan sebagai bersifat kritis terhadap mediumnya sendiri. Berlawanan dengan dua tradisi sebelumnya yang sepertinya meninggikan subjek manusia dalam menemukan kriteria autentisitas seni, tradisi estetika formalis seakan menjembatani pergeseran ke seni yang makin berjarak dari dimensi historis dan emosional manusia tersebut di atas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Autentisitas ditemukan dalam bentuk, komposisi, dan spesifisitas medium yang digunakan, bukan di dalam isi ataupun emosi. Dalam perkembangannya, abstraksi mencari autentisitas dilepaskan dari konteks, mengejar asumsi bahwa ada autentisitas di dalam menyingkapkan sesuatu yang universal, yang melampaui batas-batas waktu, tempat, dan manusia yang meresponsnya. Autentisitas karya seni ditemukan dalam komposisionalnya, bukan pada subjektivitas manusia yang menciptakan ataupun mengapresiasinya. Dalam perkembangannya kini, kita melihat bahwa seni algoritma dan generatif mendisrupsi gagasan inti bahwa autentisitas komposisional hanya dapat dihasilkan oleh seorang manusia. Manovich, misalnya, mengatakan bahwa <em>new media </em>mengubah urutan proses sehingga sang seniman kini menempati posisi <em>programmer</em> dan pembuatan karya seni itu sendiri dilakukan oleh algoritma. Bahkan, pandangan-pandangan pascahumanisme juga seringkali mengedepankan pola informasi di atas mewujudnya sesuatu secara material.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Seni, Teknologi, dan Ketersingkapan Realitas Baru</strong></h3>



<p class="wp-block-paragraph">Pencarian autentisitas komposisional yang melampaui batas konteks ruang dan waktu secara tidak langsung sepertinya membuka jalan memasuki era mengenai autentisitas karya seni yang menekankan kebaruan medium, atau memperluas jangkauan persepsi manusia yang selama ini dibatasi oleh kapasitas inderawinya. Di dalam upaya ini, teknologi seringkali menawarkan kapasitas ibarat manusia super, memperlihatkan apa yang tidak terlihat oleh mata telanjang, mendengar apa yang tidak terdengar, merancang pengalaman inderawi yang kompleks yang tidak dapat dialami lewat karya seni tradisional. Seniman senantiasa berupaya menemukan cara-cara baru (kreativitas) untuk merespons dimensi realitas baru yang dulunya tidak dikenal, menyingkapkan misteri dari dimensi realitas baru ini, mengekspresikan bagaimana dimensi realitas baru ini mengubah persepsi kita mengenai dunia yang kita pahami selama ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejarah panjang seni sebenarnya menunjukkan jejak konsisten perubahan medium yang dipengaruhi oleh teknologi. Penemuan teknologi pengolahan logam mengubah ekspresi seni berbagai peradaban kuno. Penemuan medium cat minyak di atas kanvas melahirkan seni lukis Barat yang mendominasi ekspresi estetis peradaban Barat selama ratusan tahun. Teknologi optik merevolusi ekspresi visual lukisan, mendatangkan seni fotografi dan film yang kemudian mengambil alih dominasi seni lukis sebagai ekspresi dan representasi visual yang dominan. Proses artistik tidak bisa dipisahkan dari medium yang tersedia dan bagaimana manusia bergelut menemukan proses artistik baru untuk mengekspresikan dan memaknai apa yang diterimanya. Selain dipengaruhi oleh medium, proses artistik ini juga akan dipengaruhi oleh penerimaan di dalam konteks peradaban di mana proses ini pertama kali dicetuskan. Kita dengan mudah dapat membaca bagaimana perubahan seni tidak selalu diterima, bahkan dapat dikatakan bahwa ekspresi estetis hanya dapat dihasilkan, dimaknai, diterima di dalam suatu konteks tertentu. Teori media di awal abad ke-20 membantu kita untuk memahami bahwa berubahnya medium seni apa pun oleh kehadiran teknologi senantiasa mengubah proses artistik manusia dan makna yang dihasilkannya. Manusia yang memiliki kesadaran waktu dan ruang senantiasa menggunakan kapasitas estetisnya di dalam, di waktu, dan di mana ia berada. Meskipun perkembangan teknologi terus mengubah cara keterlibatan manusia dan kreativitasnya, kesinambungan peran manusia dalam memaknainya mungkin dapat direnungkan kembali sebagai keunikan kapasitas estetis manusia yang sesungguhnya.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Seni, Manusia, dan Makna</strong></h3>



<p class="wp-block-paragraph">Kita sudah mencoba menelusuri sejarah tradisi estetika Barat secara singkat. Melalui pertanyaan awal “autentikkah karya seni mesin?”, kita melihat bahwa jejak tradisi estetika Barat memang kemudian membuka peluang untuk berbicara mengenai seni di mana manusia sebagai subjek penciptanya makin berjarak dengan hasil kreasinya. Kita menemukan bahwa kapasitas manusia untuk mengabstraksikan apa yang dipersepsikannya menjadi suatu gagasan atau formulasi tertentu dimaksimalkan dalam tradisi estetika formalis. Ada upaya dalam tradisi ini untuk meminimalkan subjektivitas manusia yang menciptakan maupun mengapresiasi seni. Ada optimisme dan kerinduan menemukan yang universal, melampaui batas-batas partikular dan subjektivitas. Berlawanan dengan dalam tradisi ekspresionisme misalnya, di mana subjektivitas manusia justru diagungkan dan diutamakan. Suzanne Langer, dalam tulisannya <em>Feeling and Form</em> (1953) misalnya, mengembangkan pemikiran estetika di antara interlokutor dua tradisi estetika di atas. Langer, yang berkutat dengan logika, epistemologi, filsafat mengenai pikiran, perasaan, dan kognisi yang menubuh, mengajak kita melihat bahwa apa yang menyatukan segala upaya manusia memahami dunia di mana ia ada adalah pencarian makna. Langer kemudian membangun pemahaman estetika manusia sebagai dunia simbol yang unik dalam kebertubuhannya. Dalam bukunya ini, Langer menegaskan bahwa karya seni bukan semata-mata simptom dari ekspresi subjektif seniman ataupun emosinya. Karya seni selalu adalah simbol, wadah dari makna. Makna merupakan hal mendasar yang hadir melalui kapasitas estetis. Langer memahami makna sebagai sesuatu yang menubuh, menolak dikotomi subjek dan objek, pikiran dan tubuh, nalar dan perasaan. Oleh karena pemahaman ini, kita dapat mengatakan bahwa makna hanya dapat beroperasi pada sesuatu yang menubuh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita sedikit terbantu di sini oleh Langer, untuk memahami bahwa makna merupakan sesuatu yang mendasar di dalam proses berkesenian. Kita juga terbantu untuk melihat bahwa makna bukanlah sesuatu yang dapat dihadirkan tanpa menubuh. Tidak ada cara menghadirkan makna dengan hanya berfokus pada subjek atau objek secara terpisah, tidak ada makna yang bisa dihadirkan murni dari pikiran tanpa keterlibatan perseptual tubuh, tidak ada nalar yang bisa bebas dari perasaan. Pemikiran Langer bisa membantu kita masuk ke bagian kedua dari tulisan ini, ketika kita merenungkan bagaimana teknologi dianggap telah dapat menyamai atau melampaui kapasitas berkesenian manusia. Melalui pemikiran Langer, kita diajak melihat kompleksitas manusia sebagai perbandingan ketika kita mulai membicarakan kelebihan dan kapasitas berkesenian kecerdasan buatan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagaimanakah kelanjutan dari kisah ini? Akankah manusia sungguh dilampaui oleh ciptaannya sendiri? Saya membuka kisah kita ini dengan mengutip Mazmur 8:4-6 untuk mengingatkan kita mengenai begitu kayanya deskripsi konsepsi manusia di dalam Kitab Suci. Pertanyaan autentikkah karya seni mesin akan menjadi kendaraan kita untuk kembali merenungkan pemahaman tentang manusia yang ada di balik isu ini. Semoga masih semangat untuk terus berpikir bersama, ya. <em>Soli Deo gloria</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Elya Kurniawan Wibowo<br>Jemaat GRII BSD</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Referensi</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Lambert Zuidervaart (2004) Artistic Truth: Aesthetics, Discourse, and Imaginative Disclosure.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hans Schwarz (2013) The Human Being: A Theological Anthropology.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">30004</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Mengikut Yesus</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/renungan/mengikut-yesus</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[heryanto]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Jul 2026 12:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Memikul Salib]]></category>
		<category><![CDATA[Mengikut Yesus]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=29940</guid>

					<description><![CDATA[Begitu banyak orang yang mengaku dirinya Kristen, merasa cukup dengan menjalankan kehidupan seperti rajin beribadah dan membaca Alkitab. Namun Tuhan Yesus memanggil kita untuk lebih dari sekadar beribadah dan membaca ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/renungan/mengikut-yesus">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Begitu banyak orang yang mengaku dirinya Kristen, merasa cukup dengan menjalankan kehidupan seperti rajin beribadah dan membaca Alkitab. Namun Tuhan Yesus memanggil kita untuk lebih dari sekadar beribadah dan membaca Alkitab. Ia mengundang kita untuk <em>mengikut Dia</em> dengan menyerahkan seluruh hidup kita. Tentunya ini tidaklah mudah, tetapi ini merupakan jalan yang memiliki arah yang pasti dan tujuan yang kekal.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Lukas 9:23</strong> <em>“Kata-Nya kepada mereka semua: Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.”</em></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Makna mengikut Yesus</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada tiga hal yang Yesus katakan mengenai bagaimana kita dapat mengikut-Nya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Pertama: Menyangkal diri</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita pasti akan berhadapan dengan penderitaan di tengah dunia yang telah berdosa ini. Kita tidak dipanggil untuk menghindari penderitaan di tengah dunia, tetapi kita dipanggil untuk siap menghadapi dan menanggung penderitaan di dalam Tuhan Yesus. Artinya kita rela melepaskan segala sesuatu yang selama ini kita pandang baik—keinginan pribadi dan semua hal yang tidak berkenan kepada Tuhan. Kita harus berkata “tidak” pada dosa, pada kebiasaan hidup yang lama, bahkan pada impian yang bertentangan dengan rencana Tuhan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Kedua: Memikul salib</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Salib merupakan puncak dari penderitaan, pengorbanan, dan ketaatan Tuhan Yesus terhadap Allah Bapa. Ketika mengikuti Yesus, kita harus siap sedia menanggung penderitaan, rela untuk memikul salib. Ini bukan berarti kita kemudian mencari penderitaan, namun jika salib itu disediakan bagi kita, kita harus memikulnya untuk mengikut Tuhan. Ini berarti kita mempersiapkan diri menghadapi segala tantangan, siap ditolak, bahkan siap mengalami ketidaknyamanan setiap hari, demi menghidupi dan melakukan apa yang benar di hadapan Tuhan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Ketiga: Mengikut Dia</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Mengikut Dia berarti kita menjadikan Tuhan Yesus sebagai teladan, arah, jalan, dan tujuan hidup. Mengikut-Nya menjadi dasar dari bagaimana kita bertindak di dalam kehidupan sehari-hari, ketika kita berbicara, bekerja, juga ketika kita berelasi dengan sesama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Melalui perenungan ini, kita merenungkan bahwa panggilan Tuhan adalah menyerahkan keseluruhan hidup secara penuh, karena kita dipanggil untuk menyerupai dan meneladani Kristus, dalam melakukan perbuatan nyata di tengah dunia. Kita dapat memulai dari hal-hal yang sederhana yang kita lakukan setiap hari, seperti hidup jujur di tempat kita bekerja ataupun tempat studi kita.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkin kita akan sering bertemu dengan orang-orang di sekitar kita yang berbuat curang atau mengambil jalan pintas untuk keuntungan pribadi mereka. Di dalam situasi dan kondisi demikian, mengikut Tuhan Yesus melalui hidup yang jujur merupakan kesempatan untuk memberikan kesaksian hidup yang mengikuti Tuhan. Meskipun sebagai konsekuensi, kita mungkin dijauhi, dihina, bahkan mungkin kehilangan pekerjaan kita.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita mungkin pula hidup di tengah keluarga yang selalu menjauhi kita, bahkan menganggap kita hina sebagai akibat dari sikap hidup kita dalam mengikut Yesus. Kita dapat memilih untuk mengampuni mereka. Kita dapat mengampuni karena sadar bahwa Tuhan Yesus telah terlebih dahulu mengasihi dan mengampuni kita, Ia telah mati di atas kayu salib untuk menebus dosa-dosa kita.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia juga yang telah memberikan kepada kita jaminan hidup yang sejati, yang membawa damai, harapan yang pasti menuju hidup yang kekal. Kita tidak akan tersesat, karena Ia adalah Gembala yang baik. Dalam Yohanes 8:12, Tuhan Yesus berkata: <em>“Akulah terang dunia; barang siapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.”</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Kiranya perenungan ini boleh terus mengingatkan kita akan makna mengikuti Yesus. Menjadikan kita makin mencintai Tuhan Yesus sebagai satu-satunya jalan keselamatan yang memberikan terang. Kita boleh menjadi anak-anak terang yang memancarkan kemuliaan Tuhan melalui segala tindakan kita di mana pun kita berada.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Soli Deo gloria.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Rohytlian Yomris Edi</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mahasiswa STTRI Konsentrasi Misiologi&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">29940</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Filsafat Asia: Bagian 32</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/transkrip/filsafat-asia-bagian-32</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[michaelleang]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 10 Jul 2026 16:25:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Transkrip]]></category>
		<category><![CDATA[Filsafat Asia]]></category>
		<category><![CDATA[Gentleman]]></category>
		<category><![CDATA[Konfusius]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=29891</guid>

					<description><![CDATA[Seorang yang agung takut akan tiga hal.&#160; Pertama, takut mandat Sorga. Seorang yang agung takut akan mandat Sorga, yaitu takut akan rencana dari Langit (Sorga). Jadi hidup di dunia ini ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/transkrip/filsafat-asia-bagian-32">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Seorang yang agung takut akan tiga hal.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertama, takut mandat Sorga. Seorang yang agung takut akan mandat Sorga, yaitu takut akan rencana dari Langit (Sorga). Jadi hidup di dunia ini haruslah hanya menjalankan apa yang dimandatkan terhadap seseorang dari Sorga. Inilah perintah dari Atas. Kalau yang di Sorga tidak senang, dan menjadi marah, maka saya akan sangat mengalami kesulitan. Pertimbangan inilah yang paling penting di dalam seseorang mengatur hidupnya. Kalau seseorang sudah menjadi mandiri, sudah berjaya, sudah sukses, sudah berkedudukan tinggi, sudah menjadi bos, menjadi pemimpin dan sudah tidak ada lagi yang bisa mengatur dia, maka ia sedang dalam bahaya. Ketika ia masih menjadi pegawai orang lain, dan masih memiliki pemimpin yang mengatur, ada manajer yang mengekang dia, sehingga dia tidak bisa sembarangan bergerak dan ada batasan yang boleh atau tidak boleh dia lakukan, maka ia lebih terjaga. Tetapi ketika sudah sendiri dan mandiri, apalagi memiliki kekuasaan yang luar biasa besar, saat itu akan menjadi waktu pengujian yang serius akan seberapa agungnya dia. Pertama, apakah dia takut akan Tuhan atau tidak. Orang yang tidak takut kepada Tuhan akan bisa mengerjakan segala macam kejahatan yang lebih jahat dari binatang. Tetapi orang yang masih takut kepada Tuhan, bagaimana dia memiliki kebebasan, dia akan tetap mampu mendisiplin dirinya sendiri.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kedua, takut kepada orang-orang yang agung, yang besar. Ia akan takut dan hormat kepada orang-orang yang lebih agung dari dia. Jadi, orang agung menghargai orang yang besar. Seperti, misalnya, setelah engkau membaca tulisan Konfusius, engkau mengagumi dia dan mulai menghormati dia. Nah, itulah gentleman. Ketika engkau melihat ada teori yang sangat bagus, dan engkau mulai mengaguminya, mempelajarinya, dan menjalankannya, maka engkau adalah orang agung. Ketika orang main-main ketika mendengarkan khotbah yang baik, ketika harus mendengar filsafat yang penting engkau tidak hiraukan, dan ajaran yang penting engkau injak-injak dan hina, maka engkau adalah orang hina (xiao ren). Jadi kita harus belajar menghargai dan menghormati semua orang yang sukses, yang agung, yang hidupnya memiliki mutu.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketiga, takut kepada perkataan-perkataan orang saleh. Orang yang agung sangat memperhatikan perkataan-perkataan dari orang yang saleh dan agung. Jadi ketika orang-orang suci mengatakan suatu kalimat yang penting, itu harus dipertahankan dan dijalankan. Hal ini karena kita harus takut dan hormat pada orang-orang suci itu. Yang dianggap saleh adalah orang-orang kuno yang besar. Konfusius mengatakan, “Saya seumur hidup hanya mengejar dua hal, yaitu: 1) jujur dan 2) belajar dari orang kuno.” Orang kuno yang dianggap saleh oleh Konfusius ada banyak. Raja yang tidak nepotisme sangat dihormati. Zhou Gong sangat dia hormati. Itu semua adalah raja-raja yang begitu berbijaksana. Dia juga hormat sekali kepada Zi Jian (Min Sun). Ketika Zi Jian menjadi seperti seorang presiden di masa kini, dia memerintah dengan sangat keras, semua orang marah karena menganggap dia terlalu keras, terlalu disiplin. Tetapi setelah raja itu mati, seluruh negara menjadi miskin luar biasa. Baru pada saat itu orang menyadari bahwa mereka dahulu memiliki pemimpin yang begitu baik. Jadi Konfusius mengatakan bahwa orang hebat adalah orang yang baru diingat setelah orangnya mati. Jangan kita melupakan keagungan orang-orang yang meninggal.&nbsp;</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">Ketika engkau melihat ada teori yang sangat bagus, dan engkau mulai mengaguminya, mempelajarinya, dan menjalankannya, maka engkau adalah orang agung. Ketika orang main-main ketika mendengarkan khotbah yang baik, ketika harus mendengar filsafat yang penting engkau tidak hiraukan, dan ajaran yang penting engkau injak-injak dan hina, maka engkau adalah orang hina (xiao ren).</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Begitu banyak kesempatan di mana engkau berada di dalam satu situasi atau di dalam lingkungan hadirnya orang agung, tetapi engkau tidak menghargainya. Itu terjadi karena engkau sering kali berpikir itu adalah hal biasa, bukan istimewa, padahal banyak kesempatan yang ada pada zaman kita, mungkin tidak terulang lagi dalam 500 tahun yang akan datang. Oleh karena itu, Konfusius mengatakan, ketika Zi Jian mati, syair di kalangan rakyat berbeda dengan syair baginya ketika ia belum mati. Jadi Konfusius melihat pada zamannya kondisi sudah tidak karuan. Pada zamannya, ada orang yang membunuh ayahnya sendiri, ada orang yang menyeleweng dan memiliki banyak istri, ada yang menjual orang tua atau berbuat kurang ajar, juga ada yang memasukkan ayahnya ke dalam penjara. Konfusius mengatakan jika kondisi masyarakat sudah sedemikian kacau, nanti akan menjadi apa. Dia mengatakan, orang suci hanya bisa mengeluh tentang masyarakat yang penuh kerusakan. Mari kita belajar dari orang kuno yang baik-baik itu, yang mau mempelajari kalimat-kalimat orang agung dan kemudian mengajarkannya kepada murid-muridnya. Dia mengatakan bahwa yang disebut orang suci adalah kehidupan moralitasnya, bukan kekayaannya. Di dalam pikiran Konfusius, orang kaya tidak tentu hidupnya agung. Keagungan selalu bersifat moral, karakter, jiwa, dan watak seseorang, bukan di dalam harta benda.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seorang agung menyempurnakan orang-orang lain di dalam hal-hal yang baik dan tidak menyukseskan hal-hal yang merusak orang lain. Jadi orang agung senang ketika melihat orang lain sukses. Orang lain ketika berusaha di aspek-aspek yang baik dan dengan segala rencana yang baik, haruslah kita dorong supaya semua yang baik itu bisa terjadi. Orang picik justru sebaliknya. Ia tidak suka melihat hal-hal baik dari orang lain dan berusaha untuk menggagalkan atau merusaknya. Orang kecil atau orang picik akan berusaha menjatuhkan, memfitnah, merusak kesuksesan orang lain. Senang akan kesuksesan orang lain, mau melengkapi kesuksesan orang lain, menyempurnakan kemungkinan orang lain untuk dapat lebih sukses lagi, adalah jiwa yang agung dari orang yang agung.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Orang kecil atau orang picik (xiao ren) senang jika orang lain mengalami hal yang buruk. Ketika hal buruk terjadi kita tertawa dan bahkan mengutuki supaya lebih celaka lagi. Itu adalah hal yang tidak baik. Orang agung ingin engkau cepat sukses, engkau cepat pandai, dan selalu menginginkan kebaikan orang lain. Orang agung selalu memiliki kata-kata yang ingin mendorong orang lain maju, mendoakan orang lain sukses, ingin orang lain mengalami kehidupan yang lancar dan penuh damai sejahtera, ingin orang lain sehat dan berkondisi baik, ingin setiap orang bisa bertobat dan hidup suci. Sebaliknya, orang kecil senang kalau orang lain celaka.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jadi, peribahasa Tionghoa mengatakan, “Orang kecil itu mengerjakan dua hal, yaitu: 1) mengutuki dan 2) menjerumuskan.” Orang kecil, pertama, ketika orang lain celaka, ia akan senang dan mensyukurinya; kedua, ketika ada yang terkena hal yang tidak baik atau mengalami kecelakaan, bukan ditolong tetapi makin didorong untuk lebih jatuh atau lebih celaka lagi. Inilah sifat dan sikap orang kecil. Semua hal yang direncanakan orang lain yang baik haruslah disyukuri, tetapi jangan mensyukuri dia yang sudah sakit atau mendapat kecelakaan.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya tahu ada seorang ibu mengajar anaknya untuk membenci seorang musuhnya. Akhirnya, ketika anak itu sudah besar, ia membenci ibunya sendiri, karena dia sudah diajar oleh ibunya, kalau sudah tidak suka harus membencinya. Jadi ketika ia sudah mulai dewasa dan mengerti, maka ia membenci ibunya. Orang ini saya kenal sendiri dan sekarang dia susah luar biasa. Itu karena dia orang picik (xiao ren). Hari itu dia benci seseorang karena orang itu salah mengerti dan dianggap memfitnah dia. Dia menjadi susah sekali, lalu dia mengatakan bahwa dia harus menanamkan kebencian kepada anaknya. Saya sudah memperingatkan dia dan mengatakan untuk jangan melakukan hal itu, karena itu nanti akan kembali kepada dia. Itu terjadi kira-kira 25 tahun yang lalu. Saya sudah berusaha berbicara dan menghalangi ibu itu berbuat demikian. Tetapi ibu itu terus bersikeras untuk mau menanamkan kebencian ini kepada anaknya, supaya anaknya tahu siapa musuh ibunya, siapa kawan ibunya, supaya kelak bisa membalas dendamnya. Saya mengingatkan bahwa jangan beranggapan ketika kita melibatkan orang lain untuk membenci orang lain itu akan menguntungkan dirinya, tetapi sebaliknya justru akan rugi, karena akan menanamkan kebencian kepada diri sendiri. Dan 25 tahun kemudian, dia mengalami balasannya sendiri.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya mengatakan, biarkan anaknya menilai sendiri, karena setiap orang memiliki matanya sendiri. Kita berusaha memaparkan fakta itu boleh, tetapi fakta itu membuat orang itu membenci orang lain itu tidak boleh. Anak kita harus kita ajar untuk dia bisa memiliki jiwa yang menuju ke atas, bukan ke bawah. Kita harus mengajar anak kita untuk mengampuni, ajar anak kita untuk tidak suka mengadu, ajar anak kita untuk bisa menghormati orang tua. Semua ajaran itu nanti akan kena dan kembali kepada diri kita sendiri. Nanti setelah dia besar, dia akan memberikan itu menjadi hadiah bagimu pada saat engkau pensiun. Ini adalah hal yang sangat penting. Jangan menanamkan kebencian kepada generasi kedua, karena mereka tidak bertanggung jawab untuk meneruskan kebencianmu.&nbsp;</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">Anak kita harus kita ajar untuk dia bisa memiliki jiwa yang menuju ke atas, bukan ke bawah. Kita harus mengajar anak kita untuk mengampuni, ajar anak kita untuk tidak suka mengadu, ajar anak kita untuk bisa menghormati orang tua.</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika orang lain yang sukses walaupun sebenarnya dia tidak pantas sukses, lebih baik kita syukuri saja. Silakan restui saja dan jangan dikutuk. Orang Korea mengatakan, sebelum kutukan keluar dari mulutmu, kata itu akan melekat di bibirmu terlebih dahulu sebentar. Itu akan mencelakakan kamu. Sebelum hal celaka itu tiba di mulutmu, melekat di bibir dahulu. Jadi badanmu dan mulutmu sudah kena cemar dari kutukan itu dahulu sebelum keluar dari mulutmu.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Orang yang terus-menerus memperkenalkan keburukan orang lain, pada saat yang sama ia sedang memperkenalkan dirinya sendiri yang suka menjelekkan orang lain. Jadi belajar selalu merestui. Alkitab juga mengajarkan hal itu. Hidup yang selalu memberkati orang lain, merestui orang lain, bukan mengutuki. Kalau orang memang keterlaluan, engkau tidak perlu marah-marah. Kalau memang dia keterlaluan, biar nanti Tuhan yang memotong bagian keterlaluan itu. Tetapi jika kamu mulai mengutuki, maka nanti Tuhan akan memotongmu sekaligus, karena kamu juga sudah ikut keterlaluan.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seorang perempuan datang kepada pendeta dan berkata, “Pak Pendeta, engkau tadi berkhotbah bagus sekali, sayang dasimu terlalu panjang, perlu dipotong.” Kemudian pendeta itu menjawab, “Nyonya, hatimu baik sekali, sayang lidahmu terlalu panjang sedikit, harus dipotong.” Amin.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">29891</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Berhati-hatilah Pada Godaan Dunia</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/renungan/berhati-hatilah-pada-godaan-dunia</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[michaelleang]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 09 Jul 2026 00:06:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Kejatuhan]]></category>
		<category><![CDATA[Pembuangan]]></category>
		<category><![CDATA[Yehuda]]></category>
		<category><![CDATA[Zedekia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=29880</guid>

					<description><![CDATA[2 Raja-raja 25:7 (TB) Orang menyembelih anak-anak Zedekia di depan matanya, kemudian dibutakannyalah mata Zedekia, lalu dia dibelenggu dengan rantai tembaga dan dibawa&#160;ke&#160;Babel.&#160; Tragis.&#160; Itulah yang terjadi pada Raja Zedekia, ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/renungan/berhati-hatilah-pada-godaan-dunia">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">2 Raja-raja 25:7 (TB) Orang menyembelih anak-anak Zedekia di depan matanya, kemudian dibutakannyalah mata Zedekia, lalu dia dibelenggu dengan rantai tembaga dan dibawa&nbsp;ke&nbsp;Babel.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tragis.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Itulah yang terjadi pada Raja Zedekia, raja terakhir Yehuda, yang berkuasa di Yerusalem. Di hadapan matanya sendiri, ia melihat orang-orang dari Babel, bangsa barbar yang tidak mengenal Tuhan, menyembelih anak-anaknya. Darah dagingnya sendiri. Anak-anaknya satu demi satu diseret. Pedang satu demi satu dihunuskan dan digunakan untuk mengakhiri nyawa anak-anaknya itu. Perih dan pedih hatinya menyaksikan anak-anaknya mendapatkan perlakuan yang begitu kejam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tetapi penderitaan batin Zedekia belum berakhir. Kematian anak-anaknya itu bahkan tak sempat ditangisinya. Matanya tak sempat mengeluarkan air mata kesedihan. Karena segera sesudah melihat kekejaman itu, mata Zedekia pun dibutakan. Tak ada duka yang begitu mendalam selain dari keadaan itu. Tak sempat memuaskan mata karena kehilangan anak-anak, ia segera kehilangan mata sendiri. Tak sempat melihat setidaknya untuk terakhir kalinya anak-anaknya terbujur kaku, mata Zedekia dicungkil.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan dalam keadaan seperti itu, ia dibelenggu, diseret ke Babel. Ia dibuang ke negeri yang jauh dari tanah kelahirannya. Bersedih dan berduka tak lagi sempat, apalagi melawan. Zedekia bahkan tak pernah bisa kembali lagi melihat kerajaan Yehuda di Yerusalem.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kisah Zedekia adalah kisah sebuah bangsa yang berakhir begitu kelam. Negeri itu dahulunya berlimpah susu dan madu, begitu makmur. Namun kemudian menjadi negeri yang hina dina dan miskin papa, dihisap oleh negara-negara tetangganya. Negara itu dahulunya begitu kuat dan penuh kejayaan, begitu ditakuti oleh orang lain. Namun seluas mata memandang, di seantero negeri itu hanya tinggal puing-puing. Rumah Tuhan yang begitu indah dan pernah membuat bangsa-bangsa lain tunduk terhormat, kini porak-poranda. Bangsa yang dahulunya begitu perkasa dan gagah berani, kini hanya ditinggali orang-orang yang lemah. Negara yang dahulunya penuh dengan para pahlawan perang, disegani kawan, dan ditakuti musuh, kini para teruna dan anak-anak mudanya diangkut paksa ke tanah tempat para dewa Babel di Sinear.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Itulah yang terjadi pada bangsa Israel yang jauh-jauh dibawa dari Mesir, ditentukan sebagai anak, dijadikan bangsa pilihan, tetapi justru melawan Tuhan.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bangsa itu tergoda pada hidup bangsa-bangsa di sekitar mereka. Diminta memusnahkan bangsa barbar, mereka tergoda berbelaskasihan yang tak perlu. Diminta memuliakan Tuhan sebagai satu-satunya Raja, mereka tergoda punya raja sendiri. Diminta taat pada pimpinan Tuhan, mereka tergoda mengandalkan kekuatan manusia, baik diri mereka sendiri maupun bangsa kafir. Diminta menggunakan hikmat kebijaksanaan Tuhan, mereka tergoda membangun kejayaan diri sendiri.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berkali-kali Tuhan kirim peringatan agar mereka kembali pada Tuhan, bahwa mereka harus memulihkan hubungan dengan Tuhan yang begitu mengasihi mereka sejak zaman dahulu kala. Tak juga berubah. Belasan peristiwa Tuhan sajikan di depan mata mereka, agar bangsa itu hanya percaya pada Tuhan semata. Tak mempan mendidik mereka. Berganti-ganti nabi Tuhan kirimkan menyampaikan pesan agar bangsa itu berpaling kepada Tuhan. Tak juga bangsa itu mendengarkan. Kejatuhan Israel Utara kerap dijadikan contoh agar Yehuda bertobat dari kebebalan. Tuhan tetap tak dianggap.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Maka pasukan Babel pun tiba. Pemusnahan negara itu oleh bangsa penyembah berhala, adalah bukti jika godaan menjadi serupa dengan bangsa sekitar, memilih meninggalkan Tuhan, berakhir pada nasib tragis. Alih-alih beroleh kejayaan, bangsa itu dilucuti habis. Seorang raja yang dibutakan, dibelenggu, dan dikirim ke pembuangan adalah wujud tak berharganya lagi sebuah bangsa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Godaan menjadi serupa dengan dunia sekitar adalah tantangan siapa pun. Gereja masa kini, komunitas orang beriman masa kini, individu beriman masa kini, tak luput dari hal yang sama. Mungkin kita hidup di sebuah gereja besar. Mungkin kita berada dalam persekutuan yang begitu indah. Mungkin kita hidup dalam keluarga yang mempraktikkan kasih. Mungkin kita adalah teruna-teruna iman yang begitu baik.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ribuan tahun yang lalu, Zedekia dan bangsa itu menutup mata mereka dari memandang Tuhan. Mereka memilih membuka mata pada kemewahan, kemegahan kehidupan tanpa Tuhan. Mereka memilih membuka mata pada tradisi nenek moyang, pada kata-kata bijak dari dunia. Mereka memilih membuka mata pada kepintaran dunia, pada ilmu ukuran dunia. Mereka memilih membuka mata pada cara hidup manusia kafir, pada cara mereka mematut diri. Mereka memilih membuka mata pada ajaran dunia, pada setiap narasi dan bicara mereka. Mereka memilih membuka mata untuk hal-hal yang tak disukai Tuhan.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berhati-hatilah. Kisah Yehuda, Zedekia, dan bangsa yang terbuang itu bisa saja terjadi pada kita. Sebab sejarah dapat berulang dengan caranya sendiri. Semua yang ada di sekeliling kita saat ini begitu menggoda. Kita berada dalam dunia yang terlihat begitu rupawan dan agung. Kita berada dalam dunia yang terlihat begitu bijak dan baik. Kita berada dalam dunia yang tampak ramah dan benar.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berhati-hatilah. Gereja yang besar, persekutuan yang besar, individu yang beriman besar, bisa tinggal menjadi sekadar pernah bernama besar.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tragis.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fotarisman Zaluchu<br>Jemaat GRII Medan</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">29880</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Dua Kota: Perziarahan Umat Kristiani</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/isu-terkini/dua-kota-perziarahan-umat-kristiani</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[heryanto]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 04 Jul 2026 08:18:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Isu Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Agustinus]]></category>
		<category><![CDATA[city of god]]></category>
		<category><![CDATA[pancasila]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=29647</guid>

					<description><![CDATA[Apabila kita mempelajari kehidupan seorang pengikut Yesus, perjalanan kita di tengah dunia ini bagaikan seorang musafir yang diutus ke tengah dunia. Bagi yang cukup familiar dengan buku yang ditulis oleh ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/isu-terkini/dua-kota-perziarahan-umat-kristiani">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Apabila kita mempelajari kehidupan seorang pengikut Yesus, perjalanan kita di tengah dunia ini bagaikan seorang musafir yang diutus ke tengah dunia. Bagi yang cukup <em>familiar</em> dengan buku yang ditulis oleh John Bunyan, <em>The Pilgrim’s Progress</em> (Perjalanan Sang Musafir), kita akan menemukan suatu cerita tentang setiap diri kita, engkau dan saya, dalam suatu peziarahan batin menuju kota Allah (<em>the celestial city</em>). Perjalanan tersebut bermula dengan seorang bernama “Kristen” yang harus meninggalkan kota kehancuran (<em>the city of destruction</em>). Dia harus memilih untuk mengikut perintah dalam Kitab Suci untuk meninggalkan Kota Dunia atau memilih untuk berdiam bersama keluarganya. Maka, protagonis itu meninggalkan keluarganya dan berjalan menuju Kota Allah, suatu kota yang akhirnya dia capai setelah melalui lembah kematian. Tidak hanya itu, seisi keluarga protagonis, Kristiani dan ketiga putranya, juga menyusul jejak sang ayah menuju Kota Surga yang dijanjikan itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Novel berbahasa Inggris pertama yang ditulis oleh John Bunyan adalah suatu buku yang ditulis pada masanya di balik penjara. John Bunyan menulis suatu karya besar yang sampai hari menjadi buku kedua yang paling banyak dibaca selain daripada Alkitab. Buku <em>The Pilgrim’s Progress</em> sudah diadopsi menjadi suatu film, dan saya sangat menganjurkan para pembaca untuk membaca dan menonton, serta mengantarkan cerita <em>The Pilgrim’s Progress</em> sebagai salah satu koleksi cerita fiksi Kristen yang diberikan kepada anak-anak. Selain dari <em>Chronicles of Narnia</em> dari C.S Lewis, <em>The Lord of The Rings</em> dari J.R.R Tolkien, karya John Bunyan turut menjadi suatu karya fiksi Kristen yang bisa kita pelajari dan nikmati bersama. Mereka adalah sastrawan Kristen yang merangkum kisah Alkitab dalam bentuk fiksi yang tidak terlupakan. Dari manakah konsep peziarahan dan pertarungan rohani ini berasal?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam kesempatan ini, saya ingin mengajak para pembaca untuk berkenalan dengan suatu buku <em>The City of God</em>, suatu karya dari Agustinus dari Hippo. Bapak Agustinus menulis sangat banyak buku. Di antara yang ternama adalah Pengakuan-Pengakuan (<em>The Confessions</em>) dan Kota Allah (<em>The City of God</em>). Karya pertama bercerita tentang perjalanan Agustinus menuju pertobatan dan juga bagaimana dia memandang anugerah Allah yang dikaruniakan kepadanya melalui sang ibu Monika dan sang guru Ambrosius, yang pada akhirnya mengubah seorang manusia yang kecanduan dengan nafsu badaninya, menjadi bapak gereja besar dalam gereja Barat, baik itu gereja Katolik maupun Protestan historis. Karya kedua adalah suatu kumpulan tulisan sistematik dari Agustinus yang merangkai suatu susunan doktrinal secara sistematik, serta menjadi suatu tulisan apologetis yang menolak tuduhan orang Roma yang mengkambinghitamkan orang Kristen atas kehancuran kekaisaran Romawi. Agustinus menulis berbagai karya tentang para dewa, kehancuran Romawi yang disebabkan oleh dosa, serta posisi umat Kristiani di tengah dunia untuk menjadi garam dan terang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apabila teman-teman membaca karya Kota Allah, kita akan <em>relate</em> dengan permasalahan sosial yang sedang kita hadapi di Indonesia. Agustinus membedakan kota Dunia dan kota Allah. Salah satu kota bekerja dengan prinsip kekuasaan yang tertuju kepada kematian, yang satu lagi bekerja dalam prinsip kasih yang tertuju kepada hidup yang kekal. Di tengah dunia, kita semua sedang berada dan menduduki Kota Dunia, baik itu orang yang percaya Yesus maupun tidak. Kita hidup dalam suatu sistem yang beroperasi dalam logika kekuasaan (<em>will-to-power</em>). Akan tetapi, di kota tersebut juga ada umat Kristiani yang kewarganegaraan asalinya berasal dari Kota Allah, yang sedang mengalami proses peziarahan untuk bersaksi di Kota Dunia, beradaptasi dan melakukan resistensi terhadap tawaran dunia. Demikian juga dengan kondisi kita saat ini, kita sedang berada di “Kota Dunia Indonesia”. Sistem kekuasaan Jawa dengan siklus naik-turunnya raja Jawa dan ratu Adil, serta pertarungan antara “dua matahari” yang sedang menyebabkan konflik politik Prabowo-Jokowi, menjadi suatu gempa yang mengganggu sistem yang sedang bekerja saat ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagaimana kita sebagai umat Kristiani harus hidup dan bersaksi di tengah kota dunia Indonesia?</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Sistem Kekuasaan dalam Kota Dunia</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Apabila kita mempelajari sejarah Nusantara, yaitu sebelum lahirnya Indonesia sebagai negara-bangsa yang berdaulat, kerajaan Majapahit seringkali dipandang sebagai suatu “negara prototipe”. Luas wilayah Majapahit berkembang dengan sangat besar, layaknya kekaisaran Romawi di Eropa Barat dan Timur pada saat itu. Bayangan masyarakat Nusantara yang bangga akan masa keemasan dan kejayaan Nusantara berpijak pada kerajaan Majapahit itu. Raja Jawa Hayamwuruk dan jenderal besarnya Gajah Mada menjadi tokoh-tokoh besar yang membuat mereka ingin membawa Indonesia kembali ke masa kerajaan itu. Setelah kolonialisme VOC-Belanda dan Jepang, masa revolusi Indonesia menginginkan suatu gerakan kembali kepada situasi sosial pada masa majapahit. Pada masa Orde Lama dan Orde Baru, tokoh kharismatik seperti Soekarno dan Soeharto adalah refleksi dari bangkitnya Raja Jawa yang mencoba membawa kembali kerajaan Majapahit ke dalam konteks Indonesia pasca kemerdekaan. Tidak hanya itu, konsep utopis “Indonesia Emas 2045” juga merujuk kepada kerajaan Majapahit yang dulunya pernah mengalami masa keemasan yang tidak tertandingi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu, apa yang menjadi masalah dengan “Kota Dunia Majapahit” di Indonesia?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu permasalahan yang kita hadapi dalam masyarakat Indonesia adalah terjadinya pengkultusan terhadap raja Jawa dan sentralisasi kekuasaan yang berakibat pada korupsi.<a> Pada artikel sebelumnya, <em>Kegelapan di Balik Janji Emas</em>,</a><a href="#_msocom_1">[1]</a>&nbsp; saya pernah menjelaskan tentang struktur kekuasaan yang dipahami dalam kebudayaan Jawa.<a href="#_ftn1" id="_ftnref1">[1]</a> Pada dasarnya, kebudayaan Jawa menitikberatkan keabdian individu kepada Allah sebagai Satu Asal (Sang Gusti, <em>Sang Hyang Tunggal</em>) dan membangun <a>harmon</a><a href="#_msocom_2">[2]</a>&nbsp;i dalam kehidupan sosial dan ekologis. Kehadiran raja Jawa sebagai raja dan orang sakti berperan sebagai titik sentral untuk membangun harmonisitas antara dunia alam, dunia sosial, dan dunia spiritual. Titah sang raja dipandang sebagai suara nabi yang akan berdampak ke dalam kehidupan sosial, dan posisinya sebagai imam berdiri di antara dunia spiritual dan dunia alam. Jadi, seorang raja Jawa betul-betul mempunyai posisi yang sangat penting dalam benak masyarakat Jawa. Di Indonesia, sosok raja Jawa dapat ditemukan dalam kehadiran Sultan di Yogyakarta dan para presiden yang menduduki takhta kekuasaan dalam panggung pemerintahan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam hal ini, sebagai warga Indonesia, kita dapat mengkritik konsep kekuasaan yang ditawarkan dalam konsep raja Jawa di tengah Kota Dunia Indonesia. Yang pertama, secara konstitusional seorang presiden bukanlah raja Jawa. Presiden bertanggung jawab kepada rakyat yang memilihnya melalui pemilihan umum. Dalam sistem pemerintahan republik, rakyat berhak untuk meminta pertanggungjawaban dari presiden, bahkan untuk menjatuhkannya melalui MPR-DPR apabila terjadi suatu pelanggaran yang sungguh mengecewakan. Sistem republik yang ditawarkan oleh Jean-Jacques Rousseau dalam karyanya, Kontrak Sosial (<em>The Social Contract</em>), menandakan bahwa pemimpin tertinggi negara sekalipun wajib tunduk kepada hukum dan suara rakyat. Dengan kata lain, apabila kita merasa tidak puas terhadap presiden, sepatutnya kita tidak memandang presiden sebagai raja yang mengatasi hukum maupun rakyat yang memilihnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang kedua, andaikan seorang presiden mengambil posisi sebagai raja Jawa serta melakukan sentralisasi kekuasaan yang absolut, maka itu menjadi suatu pelanggaran terhadap prinsip kekuasaan. Dalam hal ini, terdapat suatu kecenderungan dari kekuasaan Jawa untuk menjadi Leviathan. Menurut Thomas Hobbes, Leviathan adalah sosok penguasa yang menakut-nakuti rakyat agar tidak melakukan pelanggaran hukum dan pelanggaran moral. Demi membangun kestabilan sosial dan harmoni, maka Leviathan menjadi sosok monster yang memegang kendali penuh atas masyarakat. Selain Leviathan, tidak boleh ada entitas lain yang boleh memegang kekuasaan, termasuk kekuasaan yang bersifat sisa, agar seluruh kestabilan sosial dapat terjadi. Segala cara dapat dihalalkan selama kekuasaan absolut dapat dipertaruhkan untuk menjaga harmoni. Tampaknya, nuansa kekuasaan seperti ini cenderung terkesan <a>Machiavellian</a><a href="#_msocom_3">[3]</a>&nbsp;.<a href="#_ftn2" id="_ftnref2">[2]</a> Akan tetapi, bila teman-teman membaca berita tentang bagaimana para pemimpin berkuasa, bagaimana oposisi disogok, diberikan kue, dan ditelan untuk tidak lagi memperhatikan kelompok rakyat kelas bawahnya sendiri, kita akan melihat dengan jelas pola-polanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Ketika Sistem Matrix Runtuh</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi sebagian besar orang Indonesia, sistem kekuasaan Jawa adalah suatu <em>default system</em> yang menjadi <a>sistem matrix </a><a href="#_msocom_4">[4]</a>&nbsp;yang menguasainya.<a href="#_ftn3" id="_ftnref3">[3]</a> Itu adalah realitas satu-satunya yang dihidupi dan dipercaya sebagai jalan kehidupan. Ketika calon pemimpin dan sosok ratu adil yang menjadi sosok mesianis mencoba untuk naik dalam panggung pemerintahan, mereka akan melakukan kampanye dengan menawarkan roti dan sirkus (<em>bread and circus</em>). Bodohnya, melalui sistem demokrasi yang sudah matang secara prosedural, masyarakatnya dapat dihipnotis oleh “makan siang gratis” (<em>bread</em>) dan joget-joget tiktok (<em>circus</em>). Hal itu terjadi karena mayoritas masyarakat Indonesia kurang terdidik <em>dan</em> tidak sadar akan nurani kebangsaan. Menurut Yohanes Calvin, “apabila Allah ingin menghakimi suatu bangsa, maka Allah akan membangkitkan seorang pemimpin bengis untuk bertakhta atas bangsa itu”. Jika Allah sedang membangkitkan pemimpin yang keras dan korup, yang memandang rakyatnya sebagai salah satu anomali statistik, itu menunjukkan bahwa selama ini masyarakat Indonesia sudah banyak melakukan kesalahan: melupakan sejarah, memilih pemimpin yang memainkan hukum, dan memandang rendah etika. <a>Dalam artikel <em>Kegelapan di Ujung Kekuasaan</em></a><a href="#_msocom_5">[5]</a>&nbsp;, saya memandang bahwa masyarakat kita sudah mengalami perasaan menyesal yang mendalam, tetapi tidak mampu melakukan apa-apa.<a href="#_ftn4" id="_ftnref4">[4]</a></p>



<p class="wp-block-paragraph">Di tengah dua matahari yang saling bertarung dalam “saling melanjutkan” sekaligus “saling menggeser” satu sama lain, banyak sekali jiwa-jiwa yang menjadi korban ekonomi, korban politik, dan korban ekologis. Pada satu sisi, matahari lama (Jokowi) mulai terbenam dan memantau kondisi negara dari belakang layar dan di balik putranya yang menduduki posisi sebagai wakil presiden. Di sisi yang lain, matahari baru (Prabowo) mulai bangkit dan mencoba untuk menggeser Raja Jawa yang lama. Kubu kejaksaaan menjebak orang-orang Jokowi dalam hukuman penjara, kubu KPK menjatuhkan orang-orang Prabowo dalam kasus pemeriksaan korupsi. Yang satu dengan tim kepolisian, yang satu lagi dengan tim tentara. Siapa yang naik dan diturunkan dalam proses <em>reshuffle </em>kementerian menunjukkan negosiasi dan perebutan posisi politik tersebut. Tarik ulur dalam tali tambang tersebut menimbulkan banyak friksi dan peperangan internal dalam panggung pemerintahan. Korbannya, tokoh-tokoh masyarakat yang tulus dan juga masyarakat akar rumput yang sedang sekarat secara ekonomis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada saat ini, ketika dua matahari saling bertarung, situasi bangsa-negara sedang mengalami suatu ketidakpastian yang sungguh mengkhawatirkan. Apakah nantinya hanya salah satu matahari yang berkuasa? Atau jangan-jangan, nanti akan muncul matahari ketiga yang akan menguasai dan menggeser dua yang sebelumnya. Entah apa pun itu hasilnya, panggung kekuasaan yang sedang bekerja saat ini sedang digelut oleh para tokoh yang ingin berkuasa, menyingkirkan dan menginjak yang lain untuk mengambil posisi yang lebih tinggi, atau kalau dia harus jatuh &#8211; dia akan menyeret yang lain bersamanya. SItuasi saat ini menjadi suatu bahan tontonan yang sangat kasar dan kotor, suatu pendidikan kewarganegaraan yang sangat bertolak belakang dengan prinsip-prinsip yang termuat dalam Pancasila.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagaimana setiap kekuasaan itu ada titik retaknya bila dikumpulkan terlalu kuat, maka demikian juga kita sedang melihat fase “retak menuju pecah”. Di bulan-bulan dan tahun-tahun yang mendatang, kita akan menyaksikan kenaikan biaya hidup, demonstrasi, kerusuhan, konflik internal militer yang akan mengarah kepada tindakan makar. Dalam skenario terbaik, kita akan melewati fase pemilihan pemimpin yang baru secara konstitusional pada tahun 2029 dengan kondisi finansial dan institusional yang sudah sangat buruk. Dalam skenario sedang, proses pemilihan presiden dan wakil presiden baru terpilih secara konstitusional walaupun dipenuhi dengan nuansa kerusuhan. Terakhir, dalam skenario terburuk, akan terjadi kerusuhan besar, berbagai kematian yang berdarah, dan juga perang sipil-militer antar kubu dan antara fraksi politik dan kelas ekonomi yang melibatkan unsur SARA (suku, agama, dan ras).</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Warganegara Kerajaan Allah</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah kita memaparkan tentang kota dunia, dan dalam hal ini, sistem kekuasaan pada masyarakat Indonesia, kita akan melanjutkan analisis dengan posisi umat Kristiani di tengah krisis kekuasaan. Umat Kristiani bukanlah mereka yang lepas dan terkarantina dari realitas hidup. Sakit pahit yang terjadi di dunia juga turut dirasakan oleh warga kerajaan Allah. Perbedaannya adalah ketika warga dunia merasa kota Dunia adalah <em>satu-satunya realitas sosial</em> yang dihidupinya. Bagi mereka yang merasakan Kota Dunia sebagai satu-satunya realitas hidup, mereka akan melakukan segala cara, dengan mengkonstruksikan utopia dan menjalankan kekerasan untuk mewujudkan cita-cita fantasi itu.&nbsp; Sebaliknya, umat Kristiani menyadari bahwa realitas kota Dunia hanyalah <em>salah satu Mesir</em> yang sedang dihadapinya &#8211; masih ada Kota Perjanjian yang menanti di ujung perjalanan hidup yang sementara ini, dan Raja dari Kota Allah itu sudah hadir bersama-sama kita untuk berperang di tengah dunia yang rusak. Kita tidak perlu mengkonstruksikan utopia tersebut yang hanyalah suatu proyeksi dari hati manusia yang berdosa: entah itu populisme, komunisme, nazisme, fasisme, radikalisme menuju negara agama, dan berbagai janji-janji emas tentang Indonesia &#8211; itu semua hanyalah suatu fantasi ideologis dari keinginan hati manusia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk membawa kesejahteraan ke Kota Dunia, umat Kristiani perlu mempelajari nilai-nilai kemanusiaan yang masih menjadi anugerah umum. Lalu, kita melakukan interpretasi ulang terhadap anugerah umum tersebut dengan lensa interpretatif anugerah khusus, yaitu kisah Injil dalam Alkitab. Sebagai suatu contoh, ketika sistem kekuasaan Jawa mencoba untuk melakukan sentralisasi kekuasaan, Alkitab justru mengajarkan yang sebaliknya. Posisi raja-imam-nabi harus dipisahkan satu sama lain layaknya sistem <em>trias politica</em>. Kecuali Tuhan Yesus yang berdaulat penuh tanpa dosa yang bisa menjabat sebagai raja-imam-nabi, maka tidak ada manusia lain yang mampu dan berhak mengambil seluruh bidak catur kekuasaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Contoh yang lain, ketika ratu adil mencoba untuk menjadi sosok mesianik yang kharismatik untuk mewakili bangsa dan menggantikan kuasa negara. Raja Jawa maupun ratu adil yang adalah manusia berdosa ingin naik dan mempertahankan kekuasaan. Sekali naik, mereka tidak ingin turun. Manusia, dalam keberdosaannya, ingin menjadi allah &#8211; atau menggantikannya dengan menduduki takhta kekuasaan di tengah dunia. Sebaliknya, Tuhan Yesus yang adalah raja di atas segala raja, menjadi manusia dan mati baginya. Allah dan Sang Raja satu-satunya justru turun, melepaskan kekuasaan, dan menyerahkan diri-Nya untuk penebusan dosa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apabila kita ingin memahami bagaimana sistem kekuasaan yang sejati bekerja, maka kita perlu belajar dari cara kerja Allah dalam menghadapi kekuasaan yang berlaku dalam dunia. Api tidak dapat menghanyutkan api. Melawan kuasa kegelapan dengan kuasa yang serupa hanya akan menambah masalah. Cara Allah bekerja untuk menghadapi kekuasaan adalah dengan melepaskannya. Langkah untuk mengkritik logika Kota Dunia dengan bahasa yang digunakannya sendiri melalui narasi Injil.<br><a></a><a href="#_msocom_6">[6]</a>&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan mengacu kepada karya T.B Simatupang, <em>Iman Kristen dan Pancasila</em>, saya ingin mengajukan suatu kutipan yang mungkin perlu kita pikirkan bersama:</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Gereja menjalankan tugasnya dalam negara kita yang akan menjalankan pemilihan umumnya yang kedua dengan menyerukan agar baik Pemerintah dan alat-alatnya, maupun golongan-golongan yang mengambil bagian dalam pemilihan umum itu, dan masyarakat umumnya menjalankan hak dan kewajibannya masing-masing dengan rasa tanggung jawab yang sepenuh-penuhnya terhadap Tuhan dan terhadap sesama manusia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Gereja bukan Negara. Gereja bukan partai politik. Gereja bukan golongan karya. Gereja bukan kekuasaan politik. Gereja adalah gereja. Sebagai gereja dia mendampingi, melayani, membimbing manusia sebagai individu dan sebagai kelompok agar dia sanggup dan mampu menjalankan hak dan kewajibannya sebagai warganegara yang melalui apa yang dijalankan atau tidak dijalankannya dalam pemilihan umum itu turut bertanggung jawab terhadap Tuhan dan terhadap sesama manusianya mengenai kesejahteraan umum dalam negara Pancasila kita yang sedang membangun ini.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kutipan dari T.B Simatupang menjelaskan bahwa posisi gereja mempunyai otonomi yang bersifat independen. Gereja bukanlah aparatur negara maupun suatu partai representasi dari kelompok kerakyatan, gereja juga bukan alat bisnis para konglomerat ataupun suatu perangkat politik. Kemiripan gereja dengan suatu institusi sipil yang bersifat non-profit memang membuatnya terkesan <em>defensive</em> atau <em>pacifist</em> di tengah arena kekuasaan. Akan tetapi, gereja juga mampu mengambil posisi yang kritis dan ofensif dalam menyuarakan suara kenabian di tengah negara-bangsa. Tuhan mengutus Yesaya untuk menegur umat-Nya sendiri, dan juga mengutus Yunus untuk menegur bangsa Asyur di Ibukota Niniwe. Demikian juga, kiranya umat Kristiani dimampukan untuk mengambil peran untuk menyuarakan prinsip firman Allah, melalui interpretasi terhadap Pancasila, untuk mengingatkan para pemimpin dan rakyat untuk kembali kepada nurani kebangsaan yang semestinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kevin Nobel Kurniawan</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pemuda GRII Pusat</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref1" id="_ftn1">[1]</a> https://www.buletinpillar.org/isu-terkini/kegelapan-di-balik-janji-emas-tanggapan-calvin-dan-kuyper-terhadap-kekuasaan-jawa</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref2" id="_ftn2">[2]</a> “Machiavellian” berasal dari pemikiran Machiavelli, <em>The Prince</em>, yang mengungkapkan bahwa seorang penguasa harus memakai setiap sarana, baik maupun jahat, untuk mencapai tujuan yang diinginkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref3" id="_ftn3">[3]</a> <em>Matrix</em> adalah sebuah film yang diluncurkan pada tahun 1999 yang menceritakan tentang kehidupan manusia yang terjebak dalam suatu dunia mimpi atau dunia simulasi yang dikelola oleh AI. Film ini meminjam ide dari alegori Plato yang menjelaskan adanya manusia yang terjebak dalam suatu realitas semi, memandang pada bayang-bayang dalam goa, sampai suatu saat dia bebas, memandang matahari, dan tercelikan dari dunia bayangan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref4" id="_ftn4">[4]</a> https://www.buletinpillar.org/isu-terkini/kegelapan-di-ujung-kekuasaan</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a id="_msocom_5"></a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">29647</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Jangan Hanya Urus Perilaku, Sentuh Hatinya!</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/pendidikan-pernikahan-pengasuhan-anak/jangan-hanya-urus-perilaku-sentuh-hatinya</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[andrian]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 29 Jun 2026 12:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pendidikan, Pernikahan, & Pengasuhan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[hati]]></category>
		<category><![CDATA[orangtua]]></category>
		<category><![CDATA[parenting]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Anak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=29608</guid>

					<description><![CDATA[Sering kali, fokus kita sebagai orang tua dan pendidik cenderung tertuju pada hal-hal yang dapat diukur secara kasat mata, yaitu perilaku eksternal. Biasanya, kita merasa lega saat anak menunjukkan sopan ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/pendidikan-pernikahan-pengasuhan-anak/jangan-hanya-urus-perilaku-sentuh-hatinya">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Sering kali, fokus kita sebagai orang tua dan pendidik cenderung tertuju pada hal-hal yang dapat diukur secara kasat mata, yaitu perilaku eksternal. Biasanya, kita merasa lega saat anak menunjukkan sopan santun, meraih nilai baik, atau patuh pada aturan. Tetapi, benarkah kepatuhan luar ini menjamin hasil akhir yang kita inginkan? Pengalaman biasanya menunjukkan bahwa fokus yang tertuju pada pembentukan perilaku—tanpa menyentuh akar utama permasalahan—hanya akan menghasilkan perubahan sementara, bukan transformasi yang sejati. Inti dari tantangan pengasuhan anak (<em>parenting</em>) sebenarnya bukan hanya sekadar mengurus tingkah laku, melainkan sungguh menyentuh hati mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita perlu menyadari bahwa tugas mengasuh anak (<em>parenting</em>) adalah sebuah amanat agung dari Tuhan. Sayangnya, sebagai orang tua, kita sering kali tidak menyadari batas waktu yang ada. Kita bisa saja sangat teliti mempersiapkan anak untuk kegiatan jangka pendek, misalnya <em>camping</em> tiga hari dua malam, memastikan semua perlengkapan mereka tersedia dengan rapi. Namun, ironisnya, kita sering kali tidak menerapkan ketelitian yang sama dalam membekali anak-anak kita untuk mengarungi perjalanan kehidupan yang jauh lebih panjang dan penuh tantangan kelak, yaitu dengan memastikan kesiapan hati mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Kesadaran Akan Waktu yang Terbatas</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebelum membahas mengenai pentingnya mengubah hati anak, kita perlu menyadari terlebih dahulu hakikat hubungan antara anak dengan orang tua. Jika melihat hubungan antara suami dan istri, ini adalah sebuah kovenan seumur hidup (<em>lifetime covenant</em>), yang hanya dapat dipisahkan oleh kematian. Sebaliknya, kovenan antara orang tua dan anak adalah kovenan yang memiliki tanggal kadaluarsa (<em>expiry date</em>). Kita diberi waktu terbatas—sekitar 18 hingga 21 tahun—hingga akhirnya kita harus melepaskan mereka, mengutus mereka untuk menjalani <em>the journey of life by himself or by herself</em>. Bagi orang tua yang anaknya masih kecil, waktu mungkin terasa panjang, ya. Tetapi bagi mereka yang anaknya segera kuliah di luar kota atau luar negeri, waktu yang tersisa hanya tinggal hitungan tahun atau bahkan bulan saja. Maka, hal ini membuat urgensi membentuk hati anak menjadi suatu hal yang mendesak untuk segera dilakukan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kesadaran akan singkatnya waktu ini harus menjadi pemicu bagi kita, para orang tua dan para pendidik, untuk memfokuskan energi pada hal-hal yang paling esensial. Menyadari bahwa tujuan utama <em>parenting</em> bukanlah untuk mengikat anak agar patuh terhadap banyaknya aturan, melainkan melatih mereka sehingga mereka mampu dilepaskan sebagai individu yang bertanggung jawab di hadapan Tuhan. Anak-anak kita, pada akhirnya mampu berjalan sendiri dan mengambil keputusan yang benar untuk hidup mereka. Tentu saja tepat, kalau tujuan <em>parenting </em>adalah untuk melepaskan mereka, maka tugas utama kita dalam jangka waktu yang tersisa ini haruslah fokus pada membentuk hati mereka, dan bukan sekadar menghabiskan energi untuk mengurus perilaku, karena perubahan perilaku hanyalah bersifat sementara dan sering kali tidak mengubah isi hati anak-anak kita.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Hati: Pusat Kendali Kehidupan dan Bahaya Fokus Perilaku</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Fokus pada perubahan hati haruslah menjadi prioritas, karena hati adalah pusat kendali (<em>wellspring</em>) dari seluruh kehidupan. Kita perlu memahami konsep hati dalam konteks ini dengan tepat, karena ada nuansa yang berbeda antara pengasuhan yang berakar pada iman dibandingkan sekadar praktik modifikasi perilaku duniawi. Jika kita hanya melihat <em>what</em> yang salah pada perilaku anak tanpa memahami <em>why</em> dibalik motivasi hati mereka, intervensi kita akan selalu dangkal, hanya menghasilkan perbaikan <em>superficial</em> yang tidak berkelanjutan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kitab Amsal dengan terang mengajarkan sebuah prinsip fundamental terkait hal ini: &#8220;Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan” (Amsal 4:23). Hati pada bagian ini bisa juga diibaratkan seperti mata air. Jika sumber airnya kotor, setiap aliran yang keluar darinya—pikiran, perkataan, dan perilaku—juga akan menjadi kotor. Nah, ini berarti kita tidak cukup hanya membersihkan saluran airnya (mengubah perilaku) saja, tanpa membersihkan sumber utamanya (hati), sebab hati adalah akar atau dasar dari setiap perbuatan dan perilaku anak kita.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seorang anak bisa saja melakukan perilaku yang benar, misalnya rajin beribadah, tetapi bukan karena cinta yang tulus. Anak bisa saja rajin hanya karena mengharapkan <em>reward</em> atau pujian eksternal semata. Jika kita hanya fokus pada perilaku, kita hanya akan memuji kepalsuan anak, kemudian kita kehilangan kesempatan untuk melakukan penataan hati mereka. Sebagai orang tua dan pendidik, kita harus belajar mengajukan pertanyaan yang sering terlupakan kepada mereka: &#8220;<em>Why do you do the things that you do?</em>&#8221; Pertanyaan ini akan menggeser fokus kita terhadap anak, dari niat untuk memberikan hukuman langsung atas adanya perilaku yang keliru, menjadi penyelidikan motivasi anak atas perbuatannya. Tindakan untuk mempertanyakan motivasi anak akan membuat kita para orang tua dan pendidik tahu cara meresponi mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Menghindari Perangkap Orang Farisi</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Orang tua dan pendidik perlu menyadari bahwa peperangan terbesar dalam hidup setiap anak sebenarnya terjadi di dalam hati mereka. Iblis tidak selalu menyerang melalui perilaku yang terang-terangan buruk. Ia lebih cerdik dengan menawan hati anak kepada keduniawian dan kedagingan. Bahkan, ketika perilaku luar mereka terlihat sangat saleh, bisa jadi hati anak kita menyimpang dari kehendak Tuhan. Karena itu, tugas pendidikan Kristen (<em>Christian Education</em>) bukanlah sekadar menghasilkan <em>well-behaved children, </em>melainkan menghasilkan anak-anak yang hatinya terpaut pada Tuhan, yang taat kepada Tuhan karena didorong oleh kasih, bukan kewajiban atau perintah semata.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pendekatan duniawi memang sering kali berfokus pada modifikasi perilaku (<em>behavior modification</em>), yang tentu saja menawarkan solusi cepat, tetapi sebenarnya bersifat <em>superficial </em>dan menuntut supervisi terus-menerus. Jika orang tua, sekolah, dan gereja hanya berfokus pada perilaku, kita berisiko menuai generasi yang mirip dengan orang-orang Farisi dalam Alkitab. Orang-orang Farisi ini, adalah kelompok yang secara lahiriah paling ketat dalam perilaku dan ketaatan hukum, tetapi kekosongan dan kesombongan di hati mereka nyata dan sangat dikritik keras oleh Yesus. Kita harus meniru Kristus yang dapat melihat hati Nikodemus dan memulihkan hati perempuan yang berzina. Kedua sosok ini mengalami perubahan sejati karena hati mereka kini bertaut kepada Tuhan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Membayar Harga Transformasi Sejati</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Mengurus hati anak tentu jauh lebih lama, lebih sulit, dan memerlukan upaya jangka panjang, tetapi hasilnya akan sangat menjanjikan. Ini adalah prinsip yang serupa dengan &#8220;<em>pay me now or pay me later</em>&#8220;. Kalau orang tua dan pendidik membayar sekarang dengan kesabaran, waktu, dan upaya dalam menata hati anak secara rutin, kita pasti akan mendapatkan hasilnya. Akan tetapi, jika kita memilih jalan mudah dan instan (misalnya memberikan <em>gadget</em> tanpa batas waktu, hanya untuk menenangkan mereka), kita berisiko membayar jauh lebih mahal di kemudian hari. Ibarat kendaraan yang “turun mesin” total akibat tidak adanya perawatan yang konsisten, hidup anak juga akan berlangsung demikian. Mereka akan mengalami kerusakan total akibat tidak adanya penataan hati. Mungkin banyak dari kita yang mengalaminya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena itu, sebagai orang tua dan para pendidik, kita harus menjalankan setidaknya tiga peran penting berikut sewaktu menata hati anak:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>1. Menjadi Gembala Hati (<em>Shepherding the Heart</em>)</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Orang tua dan pendidik perlu hadir sebagai gembala yang <em>concern</em> bukan hanya terhadap bahaya eksternal, tetapi juga terhadap bahaya internal. Mengingat bahwa anak kita akan dipengaruhi oleh dua faktor besar: Pengaruh Pembentuk Eksternal (<em>External Shaping Influences</em>) dan Orientasi Hati Internal (<em>Internal Godward Orientation</em>). Makin besar anak, tentu makin luas lingkup pengaruh eksternalnya, mulai dari lingkungan terdekat, teman, sekolah, gereja, dan media. Tugas kita tentu saja memastikan semua pengaruh eksternal ini selaras dengan kehendak Tuhan. Kemudian, mengenai aspek internal, sebagai orang tua, kita harus ingat bahwa anak bukanlah kertas putih (<em>tabula rasa</em>) atau spons pasif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mereka juga lahir sebagai orang berdosa (<em>original sin</em>). Sangat tepat jika anak diibaratkan seperti tanah liat: bisa dibentuk tetapi bisa juga memberontak. Tentu saja, dosa adalah faktor “x” yang menyebabkan anak dapat berperilaku jahat. Alkitab menunjukkan hal ini dengan kisah anak-anak orang saleh yang juga bisa berlaku fasik di dalam hidup mereka. Dengan demikian, semakin teranglah bahwa hati adalah medan pertempuran antara kuasa dosa dan kuasa Injil.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>2. Sebagai Duta Allah (<em>God&#8217;s Ambassador</em>)</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Perlu diingat bahwa peran orang tua dan pendidik bukanlah sebagai pemilik (<em>owner</em>) anak. Kita bukanlah orang yang berhak memplot masa depan mereka (sebagai contoh misalnya, &#8220;Nak, kamu harus mewarisi pabrik Papa, ya!&#8221; atau &#8220;Nak, pokoknya kamu harus menikah dengan sesama suku, ya!&#8221;). Tentu tidak demikian. Orang tua dan pendidik perlu hadir sebagai <em>duta Allah</em> di dalam hidup setiap anak. Menyadari bahwa pemilik mutlak atas hidup anak ialah Allah itu sendiri. Sebagai duta Allah, orang tua dan pendidik haruslah mewakili karakter, kasih, dan tujuan dari pihak yang mengutusnya, yaitu Allah sendiri. Ketika kita sadar anak adalah milik Tuhan, kita haruslah melepaskan mentalitas <em>owner</em> atas hidup anak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai duta, kita harus menjadi representasi karakter Tuhan di hadapan anak. Anak-anak yang tidak bisa melihat Tuhan secara abstrak, akan melihat karakter Tuhan lewat karakter Papa dan Mama mereka. Sebagai orang tua dan pendidik, kita juga bukanlah polisi moral. Polisi berfokus pada pelanggaran hukum. Sementara itu, pengasuhan yang baik dimulai dengan menyadari bahwa anak kita adalah milik Tuhan, dan fokus kita adalah mempersiapkan mereka untuk bertanggung jawab kepada-Nya, bukan kepada rencana kita sendiri sebagai ciptaan. Dengan bertindak sebagai duta Allah, anak akan dapat menyaksikan dan merasakan kasih Tuhan lewat teladan hidup dan cinta kasih dari orang tua dan guru mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>3. Menjadi Nabi</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, orang tua dan pendidik juga harus menerima peran sebagai nabi yang ditetapkan Tuhan bagi anak-anak kita. Tipe orang tua yang lepas tangan (&#8220;serahkan saja pada guru atau guru sekolah minggu&#8221;) merupakan sikap yang meremehkan panggilan Tuhan. Ini hal yang penting bahwa, anak dititipkan kepada kita, bukan kepada profesional, karena Tuhan ingin agar orang tua menjadi guru yang pertama dan pembentuk karakter utama bagi anak. Otoritas kita sebagai orang tua tidak datang dari gelar atau kekayaan, melainkan dari Firman Tuhan dan keteladanan hidup.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di dalam Alkitab, nabi yang sejati selalu berujar, &#8220;Demikianlah firman Tuhan!&#8221; sebelum mereka menyerukan pertobatan. Demikian juga, otoritas orang tua di mata anak hanya akan ditegakkan ketika hidup kita berpaut pada Tuhan terlebih dahulu dan secara konsisten mematuhi perintah-perintah-Nya. Maka, akan sangat sulit meminta anak berkelakuan baik, jika kita sendiri tidak menaati kehendak Tuhan. Anak-anak kita sebenarnya bisa diibaratkan seperti &#8220;CCTV&#8221; yang selalu memantau, dan <em>mereka belajar dari perilaku kita lebih banyak daripada perkataan kita</em>. Ketika kita meminta anak untuk tidak bermain <em>handphone</em> saat membaca Alkitab, tetapi kita sendiri membalas pesan saat berdoa, mereka akan dengan cepat menangkap ketidakkonsistenan ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Menyambut Tujuan Akhir: <em>God-Centered Direction</em></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Jadi, fokus akhir dari penataan hati ini adalah untuk mengarahkan hati anak supaya berorientasi dan berpusat pada Tuhan (<em>God-centered direction</em>). Kita mungkin tidak dapat menjamin kesempurnaan perilaku mereka, tetapi kita dapat berjuang untuk memastikan arah hati mereka tepat dan benar. Cara yang dapat kita lakukan untuk menata hati mereka adalah dengan memperlengkapi anak untuk memiliki pandangan alkitabiah yang kuat (<em>biblical worldview</em>).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di zaman media sosial dan kecerdasan buatan (AI) sekarang ini, orang tua tentu tidak lagi memiliki filter eksternal yang sempurna. Namun, perlu diingat bahwa, tugas orang tua bukanlah untuk melindungi anak dari segala sesuatu, melainkan tugas kita adalah untuk memperlengkapi mereka dengan filter internal yang memungkinkan mereka dapat menyaring informasi dengan tepat. Mereka harus mampu mengidentifikasi, mana pemahaman yang benar dan mana yang harus dibuang, bahkan termasuk soal lagu atau film sekuler. Dengan <em>worldview</em> yang tepat, kalau anak-anak kita di kemudian hari dilepas untuk kuliah ke luar negeri atau menghadapi lingkungan pertemanan baru, mereka dapat mengambil keputusan yang teguh: memilih teman seiman, menolak tawaran yang merusak, dan menentukan karir yang berpaut pada kehendak Tuhan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tujuan kita adalah agar suatu hari kita dapat berkata kepada anak-anak kita, seperti perkataan inspiratif dari ibu Pdt. Stephen Tong kepadanya, &#8220;Nak, kamu boleh pergi ke mana pun kamu suka, karena Mama sudah melihat takut akan Tuhan ada di dalam hatimu.&#8221; Melepas anak dengan damai hanya mungkin terjadi ketika kita yakin bahwa hati anak-anak kita sudah ditata dan berorientasi kepada Sang Pencipta. Transformasi sejati dimulai di dalam hati, dan panggilan terbesar kita sebagai orang tua dan pendidik adalah untuk membentuk hati mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>(Artikel ini dirangkum dari seminar orang tua dan guru Sekolah Kristen Calvin: “Seri Menata Hati I: Jangan Hanya Urus Perilaku, Sentuh Hatinya!” oleh Pdt. Heruarto Salim, M.Th. pada tanggal 19 September 2025)</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Yohansen Wyckliffe Gultom<br>Guru Sekolah Kristen Calvin</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">29608</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Surprised by Jokes: Humor dan Kekristenan </title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/kehidupan-kristen/surprised-by-jokes-humor-dan-kekristenan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[michaelleang]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 16 Jun 2026 17:31:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kehidupan Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[Alkitab]]></category>
		<category><![CDATA[Genre]]></category>
		<category><![CDATA[homo humoris]]></category>
		<category><![CDATA[Humor]]></category>
		<category><![CDATA[Lelucon]]></category>
		<category><![CDATA[sukacita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=29467</guid>

					<description><![CDATA[Homo humoris Pembaca yang terkasih, pernahkah Saudara merasa bahwa gereja merupakan komunitas yang terlalu serius? Atau pernahkah Saudara merasa bahwa ketika tertawa, Saudara menjadi kurang rohani? Seakan-akan pertumbuhan rohani kita ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/kehidupan-kristen/surprised-by-jokes-humor-dan-kekristenan">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong><em>Homo humoris</em></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Pembaca yang terkasih, pernahkah Saudara merasa bahwa gereja merupakan komunitas yang terlalu serius? Atau pernahkah Saudara merasa bahwa ketika tertawa, Saudara menjadi kurang rohani? Seakan-akan pertumbuhan rohani kita bergantung pada seberapa murung dan cemberutnya kita? Dengan begitu, kekristenan sejati seakan-akan identik dengan hilangnya sukacita dan <em>sense of fun</em>. Humor menjadi hal yang negatif, bahkan tabu. Lagi pula, Alkitab mencatat bahwa Yesus menangis, tetapi tidak pernah mencatat Yesus <em>tertawa</em>, bukan?&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ini hal yang menarik, karena kalau kita selidiki, humor merupakan pengalaman universal yang ditemukan dalam semua budaya manusia. Tidak peduli Saudara ada di Indonesia, Australia, Afrika, bahkan Alaska sekalipun—kita bisa menemukan humor. Kita akan menemukan berbagai macam guyonan asyik, sarkasme, kisah-kisah komedi, dan sebagainya. Mungkin kita bahkan dapat mengatakan bahwa <em>to be human is to have a sense of humor—homo humoris</em>.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lantas, bagaimana kita menyelaraskan dua pandangan dalam alinea-alinea di atas? Kalau kita adalah <em>homo humoris</em>, kenapa kekristenan kita seakan-akan menegasikan humor? Jawabannya adalah, tentunya, bahwa kekristenan pun tidak melawan humor. Bahkan, Alkitab sendiri pun sebenarnya penuh dengan gambaran-gambaran humoris.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Melepaskan kacamata kita&nbsp;</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Tunggu dulu, Alkitab humoris? Ya, benar. Mungkin mudah terabaikan oleh kita, tetapi humor sebenarnya terpatri dalam teks Alkitab. Hanya saja, kita tidak sadar akan hal tersebut, karena setidaknya tiga hal. Alasan pertama adalah Alkitab merupakan sebuah dokumen kuno yang ditulis dalam bahasa asing. Ada banyak hal kontekstual yang tidak semudah itu diterjemahkan baik ke dalam bahasa maupun budaya Indonesia. Pelesetan-pelesetan kata tertentu, contohnya, sangat sulit untuk diterjemahkan. Kita bisa mengambil guyonan kontemporer sebagai contoh sulitnya melakukan penerjemahan ini.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berikut sebuah guyonan dalam bahasa Inggris:&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaan: <em>Why don’t skeletons fight each other?&nbsp;</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Jawaban: <em>Because they don’t have the guts.&nbsp;</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Lelucon ini lucu karena kata “<em>guts</em>”. Dalam bahasa Inggris, <em>guts </em>bisa diartikan sebagai berbagai organ pencernaan dalam tubuh kita. Tetapi kata tersebut juga dapat diartikan sebagai “keberanian”. Maka, tentu saja tulang belulang tidak bertengkar, karena mereka tidak punya keberanian! Contoh ini sangat menunjukkan betapa kontekstualnya lelucon itu. Lelucon dalam Alkitab pun juga begitu, dan hal ini membuat kita mudah melewatkan bagian-bagian tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kedua, mungkin juga kita membaca Alkitab dengan <em>overly serious</em>. <em>Ya, tentu</em>, Alkitab itu adalah sebuah kitab yang suci yang harus kita hormati dengan serius. Tetapi penghormatan yang kita berikan itu juga harus dibarengi dengan perhatian terhadap tujuan penulisan dan berbagai macam <em>genre</em> yang kita temukan di dalam Alkitab. Tidak semua teks dalam Alkitab ditulis dalam <em>genre</em> narasi, contohnya. Ketika kita membaca puisi sebagai narasi, kita akan membaca puisi tersebut dengan salah.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aneh sekali kalau kita membaca teks seperti Mazmur 18:9, contohnya, sebagai sebuah narasi. Allah digambarkan mengeluarkan asap dari hidung-Nya, api dari mulut-Nya, dan bara dari diri-Nya. Tetapi kalau dibaca sebagai <em>genre </em>puisi, kita akan dapat menghargai teks tersebut dengan benar. Teks ini bukan sedang memberikan catatan harfiah bahwa Allah benar-benar mengeluarkan asap, api, dan bara, melainkan sedang menyatakan fakta kemarahan Tuhan secara puitis, karena murka Allah sering kali digambarkan sebagai api yang menghanguskan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Maka, seperti yang sering dikatakan oleh Pdt. Jethro Rachmadi, kita harus berusaha untuk tidak memaksakan celana yang terlalu sempit kepada Alkitab. Celana sempit ini bagaikan kategori yang tidak tepat dengan <em>genre</em> dari teks yang sedang kita tafsirkan. Karena itu, perhatian mendalam terhadap konteks dan fitur sastra setiap bagian Alkitab adalah hal yang harus kita miliki.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terakhir, pemaksaan celana sempit itu bisa terjadi juga karena <em>overfamiliarity</em> dengan teks Alkitab. Mungkin kita sudah membaca Alkitab selama belasan, bahkan puluhan tahun. Kita merasa sudah mengerti apa yang dibahas oleh tiap bagian, lengkap dengan suara tertentu bagi narator dan tokoh-tokoh Alkitab di dalam pikiran kita. Sering kali, pasti suara tersebut terdengar selalu serius, dan bahkan mungkin monoton. Dalam penggalian kita akan Alkitab, kita harus memiliki sikap yang siap untuk dikejutkan oleh kelimpahan Alkitab, yang mungkin akan tertutup kalau kita membacanya dengan sikap hanya ingin mengonfirmasi asumsi-asumsi pribadi kita.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Maka secara garis besar, kita perlu melepaskan kacamata kita dan membersihkannya, atau bahkan mencoba-coba kacamata yang berbeda, supaya kita bisa makin menyelami kedalaman dan kelimpahan Alkitab. Ketika kita melakukan hal tersebut, kita akan sadar bahwa sebagian sikap kita dalam kehidupan Kristen <em>mungkin </em>berasal dari gambaran Tuhan yang kita warisi dari budaya dan bukan Alkitab.&nbsp;</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">Dalam penggalian kita akan Alkitab, kita harus memiliki sikap yang siap untuk dikejutkan oleh kelimpahan Alkitab, yang mungkin akan tertutup kalau kita membacanya dengan sikap hanya ingin mengonfirmasi asumsi-asumsi pribadi kita. </p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Humor di dalam Alkitab&nbsp;</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Mari kita ambil beberapa contoh humor dari dalam Alkitab. Salah satu bagian Alkitab terawal yang menunjukkan kisah humoris adalah Menara Babel di Kejadian 11. Kisah ini digambarkan dengan begitu humoris dan “berlebihan”. Dikatakan bahwa manusia membangun sebuah menara yang mereka anggap begitu tinggi, sampai mencapai langit. Tetapi apa yang dilakukan Tuhan? Penulis menggambarkan bahwa Tuhan malah harus turun untuk melihat “menara yang tinggi” ini. Jikalau menara ini memang setinggi itu, perlukah Tuhan turun? Sanksi yang Tuhan berikan kepada orang-orang yang ingin bersatu ini pun cukup lucu: melipatgandakan bahasa mereka sehingga membuat mereka tidak bisa berbicara kepada satu sama lain.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di kitab Musa lainnya, kita juga melihat humor yang sangat lucu, yaitu dalam kisah Bileam. Setiap kali Balak memerintahkan Bileam untuk mengutuk Israel, yang sebaliknya terus terjadi. Kita bisa membayangkan raut muka Balak bak <em>moustache-twirling villain</em> berubah dari senyum jahat menjadi kesal karena kegagalan Bileam mengutuk Israel. Terlebih lagi, kisah keledai Bileam sebenarnya juga hal yang sangat lucu, bukan? Seekor <em>keledai</em>, tiba-tiba bisa berbicara kepada seorang <em>nabi</em>. Kisah Bileam menunjukkan gambaran yang sangat absurd dan kocak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Maka, humor dalam Alkitab menunjukkan absurditas dosa melawan Tuhan. Kita tidak bisa melawan Tuhan. Tuhan menertawakan musuh-musuh-Nya, para penguasa dunia yang merasa mereka bisa melawan Tuhan Sang Penguasa langit dan bumi (Mzm. 2:4). Ilah-ilah yang disembah oleh bangsa-bangsa tersebut tidak ada apa-apanya di hadapan Tuhan. Dewa-dewi Timur Dekat Kuno tidak menjawab doa orang-orang yang mengikut mereka…bahkan ketika para nabi Baal berseru-seru seperti orang gila, Baal mungkin sedang merenung, pergi ke toilet, <em>travelling</em>, tidur, belum bangun (parafrasa 1Raj. 18:27 menurut bahasa aslinya).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Absurditas dosa umat Tuhan pun mendapat sorotan secara humoris. Hal ini paling terlihat dalam kisah Yunus. Cara penulisan kitab tersebut sangat komikal, dan hal tersebut jelas dalam tingkah laku sang nabi, yang digambarkan dengan sangat komikal. Ketika Allah berfirman kepadanya, sang nabi malah melakukan kebalikannya. Ketika para pelaut yang tidak kenal Tuhan mulai memuji-muji-Nya, sang nabi malah terus melawan Tuhan. Ketika bahkan hewan-hewan di Niniwe bertobat, Yunus mengambek, dan seterusnya. Humor digunakan untuk menggambarkan betapa absurdnya Yunus dibandingkan Allah yang murah hati terhadap Niniwe.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tetapi humor tidak selalu digunakan secara <em>profetik </em>seperti di atas. Ya, dosa manusia ditelanjangi dan kebenaran pun disingkapkan melalui cara yang lucu—menghasilkan tawa sembari memaparkan absurditas dari dosa. Tetapi ada juga bagian lain yang lebih bersifat meringankan suasana, dalam rangkaian argumentasi. Hal tersebut dilihat dalam Kitab Filemon, contohnya. Dalam surat singkat itu, Paulus mendorong Filemon untuk menerima kembali Onesimus, seorang mantan budak yang kabur dari rumah Filemon. Nama Onesimus itu berhubungan dengan kata “untung” atau “guna”. Mungkin kalau diparafrasakan, bisa diubah namanya menjadi Pak Untung atau Pak Gunawan. Maka Paulus di ayat 11 mendorong Filemon untuk menerima Untung/Gunawan kembali, karena meski tadinya ia <em>tidak berguna</em>, sekarang telah berubah menjadi <em>berguna</em>.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Yesus dan humor&nbsp;</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Yesus pun juga menggunakan humor, terutama di dalam perumpamaan-Nya. Gambaran debu di mata dan balok di mata sendiri (Mat. 7:3-5) merupakan gambaran yang sangat kocak. Gambaran orang buta menuntun orang buta sendiri sangat konyol (Luk. 6:39). Lalu, pernahkah kita bayangkan seseorang menelan unta (Mat. 23:23-24)? Semua gambaran ini sebenarnya memiliki kemasan yang sangat humoris, meski tentu dipergunakan dengan tujuan menelanjangi dosa.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari perspektif sistematika, kita juga dapat merenungkan hubungan Yesus dengan humor dari segi Kalsedonian. Jikalau natur Yesus memang, seperti diakui orang Kristen sepanjang zaman, merupakan Allah sejati dan manusia sejati, menegasikan humor dari gambaran kita tentang Yesus akan menimbulkan pertanyaan mengenai kemanusiaan-Nya. Seperti ditulis dalam pembukaan, humor adalah sebuah fenomena universal yang ditemukan dalam semua budaya manusia, dan bahkan dalam segala lapisan masyarakat. Jikalau gambaran kita tentang Yesus menegasikan sama sekali aspek humor, muncul pertanyaan mengenai kemanusiaan-Nya.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Tertawa dengan Tuhan&nbsp;</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Tentu, artikel ini bukan ditulis dengan tujuan memuliakan humor. Tentu ada humor yang buruk, yang tidak berguna, jorok, menipu, dan menghancurkan orang lain (Ams. 26:18-19; Pkh. 2:2; Ef. 5:4). Ada humor yang tidak tahu waktu dan tempat. Tentu, adalah sebuah masalah yang amat besar jikalau seseorang terus bercanda tanpa melihat konteks (kejiwaan orang tersebut pun dipertanyakan), apalagi kalau orang tersebut tampaknya tidak pernah bisa diajak mengobrol dengan serius.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tetapi pada saat yang sama, agaknya gambaran mengenai kekristenan yang miskin humor dan <em>playfulness</em> adalah juga gambaran yang tidak utuh. Kita perlu mengadopsi pandangan yang sehat mengenai humor dan tawa. Lagi pula, bukankah tawa dan humor menjadi salah satu hal yang mengalir keluar dari diri orang percaya, karena sukacita yang dihasilkan oleh Injil? Kabar baik ini adalah suatu hal yang membebaskan orang dari berbagai belenggu, termasuk belenggu kesedihan dan kegelapan.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal ini dimengerti oleh Martin Luther. Sebelum mengenal Injil yang sejati, ia merupakan seseorang yang begitu terbelenggu oleh keputusasaan. Tetapi setelah mengenal Injil, ia benar-benar menjadi orang yang bebas. Anugerah telah membebaskannya untuk tertawa terbahak-bahak. Pertanyaannya bagi kita, apakah anugerah itu juga telah membukakan tabir-tabir sukacita dari dalam hati kita? Maka, mari kita bertumbuh dalam kesucian yang penuh sukacita—sebuah kekudusan yang tahu waktu untuk menangis, dan waktu untuk tertawa (Pkh. 3:4).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jordan Frans Adrian<br>Mahasiswa praktik STTRII</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">29467</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Manusia Menjadi Allah</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/isu-terkini/manusia-menjadi-allah</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[michaelleang]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Jun 2026 14:02:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Isu Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[AI]]></category>
		<category><![CDATA[artificial intelligence]]></category>
		<category><![CDATA[Data]]></category>
		<category><![CDATA[Digital]]></category>
		<category><![CDATA[IT]]></category>
		<category><![CDATA[Kemanusiaan]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=29457</guid>

					<description><![CDATA[Sejarah Perkembangan Teknologi Pengalaman hidup manusia tidak dapat dilepaskan daripada perkembangan teknologi. Apabila kita mempelajari sejarah, perkembangan teknologi yang sangat pesat terjadi pada tahun 1700-an ketika ditemukan mesin uap. Sistem ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/isu-terkini/manusia-menjadi-allah">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Sejarah Perkembangan Teknologi</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Pengalaman hidup manusia tidak dapat dilepaskan daripada perkembangan teknologi. Apabila kita mempelajari sejarah, perkembangan teknologi yang sangat pesat terjadi pada tahun 1700-an ketika ditemukan mesin uap. Sistem transportasi dan produksi telah mengalami perubahan yang cukup besar, di mana manusia mampu melakukan mobilisasi lintas tempat dan produksi massal secara masif. Sebelumnya, sistem ekonomi agrikultur perlu menanti waktu berbulan-bulan untuk mendapatkan hasil panen. Pada abad ke-18, transisi menuju era industri memungkinkan manusia untuk melakukan hal-hal yang sangat besar. Dalam waktu sehari, manusia mampu memproduksi barang yang perlu menunggu waktu selama berbulan-bulan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ombak perubahan yang sangat besar juga terjadi pada abad ke-21, yaitu pada masa yang sedang kita hidupi saat ini. Bagi para pembaca yang lahir pada tahun 2000-an, mungkin Anda sudah menjadi <em>digital natives</em>, yaitu individu yang lahir di suatu masa di mana <em>smartphone</em> dan penggunaan alat digital sudah terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari. Berbeda dengan para remaja dan pemuda hari ini, kami yang lahir sebelum tahun 2000-an menyaksikan transisi teknologi komunikasi. Berawal dari menonton film <em>Tom and Jerry</em> dengan alat “piring hitam”, penggunaan telepon genggam <em>Nokia</em> yang sangat keras dan diisi dengan game <em>snake</em> yang berwarna hitam putih, berpindahnya penggunaan <em>desktop</em> menjadi <em>laptop</em>, lalu berpindah lagi menjadi <em>tab</em>, dan lain sebagainya. Yang terbaru saat ini adalah hadirnya <em>Artificial Intelligence</em> setelah kita melalui ombak pandemi Covid-19.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut Heidegger, penggunaan teknologi turut mengubah penggunanya. Teknologi mengubah manusia yang memakainya. Barangkali, kita cenderung fokus kepada kemajuan teknologi beserta fitur-fitur tanpa sungguh-sungguh menyadari tujuan dan nilai kemanusiaan yang melatarbelakangi penggunaannya. Siapa sangka penggunaan mesin uap dan sistem produksi massal pada masa modern, yaitu abad ke-18, akan berujung kepada produksi senjata yang mengakibatkan Perang Dunia Pertama dan Kedua. Siapa sangka internet yang kita miliki sekarang, berawal dari sebuah perangkat komunikasi militer pada masa Perang Dingin, dan sekarang berakibat kepada Perang Budaya dan munculnya <em>Cancel Culture</em>, di mana umat manusia menjadi tersegregasi secara kultur dan politik. Kita bisa melihat ini dalam <em>Twitter</em> dan <em>Tiktok</em>, di mana orang dari kelompok yang saling berseberangan (konservatif vs liberal) memandang sesamanya bukan sebagai manusia, melainkan sebagai sebuah <em>avatar</em> atau <em>username</em> anonim, yang dapat diserang. Para <em>keyboard warriors</em> dan <em>digital social justice warrior </em>memakai kesempatan itu untuk “berperang”, dan memang dikondisikan untuk berperang oleh sistem algoritma. Semakin banyak kegaduhan di platform digital, maka semakin besar tayangan dan <em>profit</em> yang diperoleh &#8211; meskipun kerusuhan yang membakar di dunia digital nantinya akan berdampak ke realitas faktual.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemajuan teknologi saat ini membuat kita memiliki kemampuan yang tidak pernah ada dalam garis sejarah sebelumnya. Kita bisa melihat dan mendengar suara <em>blackhole</em> yang dibayangkan oleh Einstein, sampai melihat struktur molekul dari DNA manusia. Menurut Jonathan Sacks, saat ini kita bisa mengirimkan pesan dan berkomunikasi secara audio-visual lintas benua, dalam hitungan detik dan secara sinkronus, ketika para leluhur kita membutuhkan waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun untuk mengirimkan suatu pesan. Akan tetapi, hal-hal yang paling sederhana dan mendasar yang mendefinisikan kita sebagai manusia, yaitu dalam membangun interaksi dan relasi bermakna, barangkali menjadi sesuatu hal yang sangat sulit, atau bahkan, menjadi sesuatu hal yang hampir mustahil.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Industri Digital</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sekarang, kita melihat sekarang perkembangan teknologi sudah dipegang oleh perusahaan besar seperti <em>Google</em>, <em>Meta</em>, <em>Apple</em>, <em>Amazon</em>, dan lainnya. Mereka beroperasi sebagai “gada terdepan” dalam memajukan perkembangan teknologi dalam gerak sejarah dunia. Sumber “kode” dimiliki oleh perusahaan IT tersebut tidak dibagikan kepada masyarakat secara umum. Mereka mampu untuk menyimpan arsitektur sistem teknologi yang dimiliki oleh para pemilik perusahaan dan dikonstruksi oleh para <em>software engineers</em> yang datang dari berbagai belahan dunia. Bisa dikatakan, untuk bekerja di tempat-tempat ini merupakan sebuah <em>dreamwork</em> yang diidam-idamkan oleh para mahasiswa lulusan <em>computer science</em>, yang dihujani dengan gaji besar dan gaya hidup super nyaman.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebaliknya, perkembangan teknologi juga ada yang <em>Open Source</em> seperti yang dikembangkan oleh <em>Linux</em>. Arsitektur dari sistem teknologi atau “cetak biru” tersebut dibagikan kepada masyarakat secara umum. Setiap orang dapat mengaksesnya secara gratis, melakukan editing, dan juga membagikannya kepada orang lain. Mirip seperti website <em>Wikipedia</em> yang membagikan pengetahuan kepada kalangan umum. <em>Open Source</em> belum tentu memiliki daya “kemajuan” sekuat perusahaan IT raksasa maupun kemampuan perkembangan dalam menghasilkan dan melakukan <em>maintenance</em> terhadap produk-produk baru. Akan tetapi, <em>Open Source</em> menjadi sebuah alternatif bagi laju teknologi pada saat ini yang berbeda dengan <em>Closed Source, </em>di mana resep-resep “rahasia” perusahaan justru disimpan erat dalam dapur server yang mendalam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang menjadi permasalahan adalah baik di dalam perusahaan IT yang <em>Closed Source</em> maupun di sumber <em>Open Source</em>, perkembangan AI (<em>Artificial Intelligence</em>) secara perlahan sudah mulai menggantikan tenaga kerja manusia. Pada tahun 2023, perusahaan IT mulai melakukan <em>layoff</em> secara cukup masif terhadap para programmer. Apabila salah satu perusahaan tersebut melakukannya, misal seperti <em>Google</em> yang melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), maka perusahaan IT lainnya juga akan mengikuti ombak kebijakan tersebut demi memajukan program efisiensi. Bagi para investor maupun pemegang saham perusahaan besar, yang mereka pentingkan adalah <em>profit</em> (keuntungan). <em>Profit</em> tercepat dan juga efektif dalam memutarkan roda ekonomi, jika tidak berasal dari pemasukan, akan berawal dari penghematan dari pembiayaan gaji para programmer. Programmer yang nantinya dicari bukan lagi mereka yang berasal dari lulusan “universitas top” dengan Indeks Prestasi Kumulatif tertinggi, tetapi dari negara-negara Dunia Ketiga yang rela untuk digaji lebih rendah, bekerja lebih efisien, dan memiliki kemampuan dalam menggunakan AI untuk menghasilkan <em>coding</em> yang lebih canggih dan cepat. Sekarang, sudah sekitar 25% dari infrastruktur <em>coding</em> diproduksi oleh AI.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yuval Noah Harrari, dalam bukunya <em>Homo Deus</em>, menyebutkan bahwa manusia tidak perlu menanti suatu masa di mana para mesin memiliki “kesadaran” dan menguasai kita. Film-film seperti <em>The Matrix, Robot</em>, maupun <em>Terminator</em> tampaknya adalah sesuatu yang cukup “lebay” dalam menjelaskan bagaimana manusia dijadikan objek dari penguasaan para mesin seperti <em>Skynet</em>. Di saat ini juga, manusia sudah mulai perlahan digantikan oleh mesin. Sebagaimana dulu mobilitas manusia digerakan oleh kereta kuda, dan manusia takut akan adanya kecelakaan dengan berpindahnya ke mobil bensin, tetapi toh manusia tetap beralih pada mobil bensin &#8211; nantinya sejarah akan mengulang peristiwa yang sama. Kali ini, bukan lagi soal kuda digantikan oleh mobil, tetapi manusia digantikan oleh mesin.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Integrasi (Infiltrasi) Teknologi dalam Berbagai Dimensi Hidup</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam buku <em>The Sane Society</em> yang ditulis oleh Erich Fromm, perkembangan era industri memunculkan sebuah fenomena yang baru, yaitu <em>man-use-of-man</em> (manusia memakai manusia) untuk menghasilkan barang secara masif. Manusia mengerjakan pekerjaan pada bagiannya. Dia hanya melihat yang “kecil”, yaitu apa yang sedang dia lakukan di mejanya, <em>coding-coding</em> yang tampil di layar laptop, dicek apakah sistemnya sudah berjalan, lalu disubmit kepada manajer. Akan tetapi, kita tidak bisa melihat sistem birokrasi dan arsitektur dari pemrograman yang lebih “besar”. Bagi seorang pekerja di depan layar, dia mungkin saja seorang profesional dan ahli <em>coding</em> yang handal, tetapi di balik itu semuanya, dia sedang menggerakkan sebuah mesin raksasa (<em>unknown giant</em>) yang tidak diketahui arahnya ke mana. Kita bisa menyebut ini sebagai <em>machine-use-of-man</em> (mesin menggunakan manusia), atau bahkan jika kita konsisten dengan perkembangan AI, ini akan mengarah kepada <em>machine-use-of-machine</em> (mesin menggunakan mesin). Masih mending, jika “mesin raksasa” itu memakai manusia, di mana manusia masih bisa bekerja dan digaji, tetapi tampaknya proses itu akan berkembang lebih pesat lagi. Ketika manusia yang menyusun <em>coding</em> untuk AI, nantinya AI akan menyusunnya sendiri, dan membuat manusia bergantung kepadanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Efisiensi ekonomi yang dilakukan oleh AI masih merupakan sebuah awal dari perkembangan teknologi ini. Ketika AI diintegrasikan ke dalam sektor ekonomi, maka kita akan melihat menurunnya tenaga kerja manusia dalam industri digital. Apa yang awalnya merupakan sebuah motivasi untuk membangun “efektivitas”, menjadi sebuah “efisiensi” terhadap manusia. Saya menduga AI nantinya akan diintegrasikan ke dalam ranah hukum dan keamanan. Motivasi untuk membangun “keamanan”, akan menjadi sebuah “pengawasan” dan “pengendalian” terhadap perilaku manusia. Seperti di Tiongkok, sistem kredit sosial dan pengawasan berbasis CCTV yang ditempatkan di ruang publik dan juga dalam gedung gereja, menjadi sarana pengawasan pemerintah (<em>governmentality</em>) terhadap warga negara. Inilah yang dikhawatirkan oleh John Lennox, dalam bukunya <em>2084</em>, yang ditulis untuk menyuarakan kekhawatiran Orwellian dalam buku <em>1984</em>, ketika pemerintahan totaliter melakukan pengawasan atas segalanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkin ini yang ditakuti oleh Edward Snowden ketika dia melihat upaya pemerintah Amerika pada saat itu yang alih-alih berfokus kepada “pengawasan akan terorisme” malah menjadi pengawasan akan hidup privat individu. Tentunya, perdebatan akan apakah yang dilakukan oleh Edward Snowden itu etis maupun sebuah tindakan anti-nasionalis bermunculan ketika dia membocorkan program dan data internal pemerintah. Terlepas dari itu, kita bisa menyaksikan satu hal: baik itu negara yang menganut komunisme maupun liberal-demokrasi, isu mengenai pengawasan dan pengendalian massa berbasis data besar (<em>big data</em>) sudah terjadi. Perusahaan IT yang besar sudah melakukan sistem kapitalisme pengawasan terhadap perilaku penggunanya dan kemudian dipasarkan, nantinya kita akan melihat instansi yang serupa dalam mengendalikan, mengatur, atau bahkan menanamkan “pola perilaku berwarga negara” secara sistematis, masif, dan teknologis. Jika itu perusahaan gelap yang melakukan untuk mendapatkan uang melalui Judi Online, perusahaan dan pemerintah besar melakukan itu melalui Registrasi dan Laporan Online.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam situasi yang lebih jauh, nantinya perkembangan teknologi akan diintegrasikan bukan kepada permasalahan ekonomi maupun hukum, tetapi kepada kehidupan personal dan relasional. Pada saat ini, generasi Z sudah mulai melakukan konsultasi kepada <em>ChatGpt</em>, untuk bertanya, curhat, atau bahkan, melakukan pengakuan dosa (<em>confession of sin</em>). Apa yang biasanya dilakukan oleh manusia, dalam sebuah tindakan pengakuan, itu terjadi di antara anggota keluarga maupun dengan seorang rohaniawan. Itu adalah sebuah pengalaman yang sangat intim, dan ternyata teknologi seperti demikian, sudah bisa menggantikan hal tersebut.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita tidak perlu melihat kepada film <em>Detroit</em> yang adalah <em>Android</em> mengambil bentuk tubuh manusia dan menjadi “sosok intim” yang menggantikan hubungan antar manusia yang beresiko. Ketika teman-teman membaca tulisan ini juga, kita sudah menemukan anak-anak remaja dan pemuda yang merasa kesepian, bingung akan situasi hidup, yang beralih kepada AI untuk memperoleh “wejangan”, bahkan dalam aspek-aspek spiritual. Tanpa adanya rasa dihakimi, manusia menyerahkan rohnya untuk diayomi oleh mesin. Mungkin saja, nantinya keputusan pencarian pekerjaan, jodoh, atau bahkan pertanyaan penting mengenai hidup, tidak lagi dicari kepada pendeta, imam, uztad, dukun, tetapi kepada “sahabat yang selalu ada” di telapak tangan tangan kita: <em>Chatgpt</em>, <em>Gemini</em>, <em>Deepseek</em>, dan lainnya. Biarkan saja aplikasi-aplikasi itu dihasilkan oleh perusahaan dan pemerintah yang sedang perang dingin ekonomi, tetapi bagi penggunanya di seluruh dunia, kita bisa menjadi <em>customer</em> yang menerima manfaat secara gratis. Siapa tahu dari sekian banyak data yang digodok dan disimpan dalam “brankas data besar”, aku yang partikular bisa mendapatkan arahan yang tepat. Kita dijadikan serupa dengan mesin, yaitu dengan pengalaman universal yang disebut sebagai “data besar” (<em>big data</em>).</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Membangun Menara Babel</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Apabila kita memerhatikan perkembangan ini semua, sebetulnya kita sedang mengalami regresi dalam jati diri kemanusiaan kita. Ya, bisa saja progres perkembangan teknologi terjadi sedemikian hebat, tetapi pengguna teknologi telah dimanjakan dan dibuat bergantung kepada objek yang kita buat sendiri. Teknologi sebetulnya dapat dipakai sebagai sarana untuk memajukan dan “menebus” dimensi hidup manusia yang kurang maksimal.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai suatu contoh, para dokter sudah menggunakan AI untuk mendeteksi kanker dan perihal medis secara efektif. Para mahasiswa bisa menggunakan <em>search engine</em> dalam mempelajari konsep dan ilmu yang baru secara <em>self-study</em>. Pengetahuan manusia dapat digerakkan secara lebih cepat untuk memahami hal-hal baru dan didukung oleh mesin. Akan tetapi, semuanya ini akan menjadi sehat jika manusia memposisikan mesin sebagai objek, dan manusia sebagai subjek, yaitu mesin yang harus mendukung manusia (<em>men-use-of-machine</em>). Pada dimensi-dimensi lebih tinggi seperti iman, etika, moralitas, dan kehidupan sosial yang jauh lebih rumit, mesin tidak dapat dipakai sebagai alat untuk menentukan keputusan dan karakter hidup manusia.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Belakangan, sudah ada riset dan perangkat teknologi AI yang dapat mendeteksi pengguna yang mengalami “depresi” atau gejala yang kurang baik melalui teks yang ditulis pada media sosial. Dalam hal lain, kita juga bisa menemukan terbentuknya komunitas jejaring melalui game online, platform diskusi, maupun <em>discord</em> yang bisa membuat kita berkenalan dengan orang di tempat lain yang sama-sama memiliki <em>concern</em> dan minat yang sama. Di situ, pertemanan yang terjadi secara <em>onl</em><em>i</em><em>ne</em> kadangkala bisa menghasilkan diskusi yang konstruktif. Akan tetapi, sepertinya fenomena seperti ini sangatlah langka dibandingkan <em>ramble</em> yang terjadi di ranah digital. Zygmunt Bauman menjelaskan bahwa dalam dunia digital, manusia cenderung terjebak dalam <em>echo-chamber</em>. Kita berbagian dalam sebuah komunitas, tetapi sebuah jejaring dimiliki oleh individu, kita merasa berada dalam kendali: aku bisa memilih siapa yang kuajak berteman, dan aku bisa memilih siapa yang bisa kuhapus dan blok.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari semuanya ini, sebetulnya kita bisa bertanya dua hal. Yang pertama, “ke manakah semuanya ini akan tertuju?” (<em>what is the ultimate end</em>). Dan yang kedua, “perkembangan teknologi ini sebetulnya menunjukkan apa tentang diri kita?”&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perkembangan teknologi sebetulnya adalah sebuah ekspresi manusia untuk melampaui dirinya. Ada sebuah istilah yang disebut sebagai transhumanisme yang merujuk kepada upaya manusia untuk mencapai sebuah puncak pengalaman dan kapasitas tertinggi. Manusia yang biasanya berjalan kaki sudah bisa mengendarai pesawat, yang biasanya berbicara tatap muka sudah bisa berkomunikasi lintas benua secara tatap layar, dan lainnya. Efisiensi dan efektivitas yang di-<em>amplify</em> oleh mesin memungkinkan manusia untuk menjadi “sesuatu yang lebih dari ditentukan”. Pada satu sisi, jika mesin ditempatkan secara tepat, manusia memang telah mengelola alam dan menguasai bumi.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika manusia terlalu bergantung kepada mesin dan menjadikannya tuan atas dirinya, itu menjadi sebuah ekspresi bahwa manusia ingin menjadi “diri yang luar biasa”, atau “dia tidak ingin menjadi manusia”. Teknologi bisa membuat kita menjadi manusia yang mampu melakukan hal-hal besar. Akan tetapi, teknologi juga bisa membuat kita membenci akan diri sendiri, yaitu dengan meremehkan hal-hal kecil yang justru menjadikan kita sebagai manusia: bermain bola, berkomunikasi tatap wajah, dan melakukan hal-hal lain yang biasa-biasa saja.&nbsp; Barangkali, kita ingin menjadi “super” dan <em>extra-ordinary</em> dengan <em>scientific tools</em>, sebuah ekspresi dari manusia untuk merasa unggul.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Memang, keunggulan itu adalah hal yang lumrah bagi kita, kita ingin “naik ke atas” menjadi sama seperti Allah, sama seperti orang-orang yang membangun menara Babel itu. Kita ingin menjadi <em>extra</em>, dan meninggalkan yang <em>ordinary</em>. Teknologi menawarkan <em>extra-extra</em> tersebut: ekstra cepat, ekstra banyak, ekstra cerdas. Akan tetapi, kemanusiaan kita justru menunjukkan bahwa kita perlu menjadi <em>ordinary</em> untuk dapat mengendalikan segala objek <em>extra</em> yang bersifat artifisial di sekitar kita. Dunia yang sudah jatuh dalam dosa bukanlah sebuah dunia tanpa kemajuan teknologi. Menara Babel menunjukkan adalah kemajuan besar, itu adalah sebuah peradaban manusia pasca air Bah dan pre-Sumeria, yang membangun sebuah menara demikian tinggi. Akan tetapi, yang menjadi permasalahan adalah untuk apa dan siapa kemajuan itu ditujukan?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemajuan dan perubahan yang dibuat oleh manusia ternyata tidak dapat lagi dikendalikan maupun dihentikan, manusia akan melakukan kemajuan semata-mata itu bisa membuatnya “maju” tanpa memperhitungkan resiko yang menanti di baliknya. Seorang sosiolog, Georg Simmel, menjelaskan bahwa keberadaan uang kertas adalah awal dari tragedi kebudayaan masyarakat modern di mana manusia diukur dari kebergunaannya melalui sebuah angka moneter dalam rekening bank. Akan tetapi, sekarang kita akan dan sudah menemukan masyarakat digital yang mengukur manusia berdasarkan akses yang dimilikinya terhadap teknologi digital, baik itu AI, teknologi <em>blockchain</em> (kripto), judi online, dan lain sebagainya. Itu pun masih sebuah permulaan, nantinya kita akan menemukan hal-hal yang lebih besar lagi.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam dunia seperti ini, hanya segelintir manusia yang tergolong “elit”, yang memiliki dana dan pengetahuan, yang bisa mendapatkan keuntungan dari kemajuan teknologis. <em>Closed source</em> bukanlah untuk semua orang, melainkan untuk mereka yang kuat, adaptif, dan memiliki kendali atas alat teknologi, yaitu kunci terhadap kehidupan buatan. Serupa dengan film <em>2012</em>, sebuah adegan apokaliptik, di mana yang beruntung dan kaya yang bisa masuk ke dalam “bahtera” teknologis, demikian juga keselamatan buatan tersebut disediakan sebagai sebuah <em>limited &amp; closed source</em> bagi mereka yang memiliki akses istimewa. Sebaliknya, bagi yang lain, akses terhadap teknologi mungkin saja terbuka secara <em>open source,</em> tetapi masih belum cukup untuk masuk ke dalam “bahtera” tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Kegelapan dan Kejatuhan Babel</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Apabila kita mendalami tentang perkembangan teknologi dalam sejarah, sebetulnya itu juga menunjukkan bahwa manusia ingin mencari “hidup yang abadi”. Belakangan ini, Presiden Putin dari Rusia bertemu dengan Presiden Xi Jinping dari Tiongkok dan mendiskusikan bahwa manusia dapat hidup sampai 150 tahun. Keinginan manusia untuk memperoleh “hidup abadi” dari kisah-kisah mitologi Yunani, pencarian obat abadi dari Qin Shi Huang, penelusuran <em>Epic of Gilgamesh</em> dari Sumeria adalah sebuah ekspresi manusia mencari sesuatu yang kekal. Mereka mencari suatu “teknologi” atau sebuah sarana untuk menggapai yang abadi itu.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada saat ini, sudah ada seorang miliuner, Bryan John, yang melakukan investasi besar dalam <em>project blueprint</em> yang ditujukan untuk melakukan <em>reverse aging</em>. Nantinya akan ada orang-orang yang ingin “hidup abadi”, menuju masa depan, dengan tidur dalam pembekuan. Modifikasi DNA untuk menghilangkan <em>down syndrome</em> sudah terjadi di Jepang. Bisa jadi, di kemudian hari, manusia ingin menggantikan bagian dari tubuhnya, atau bahkan seluruh tubuhnya, dengan mesin-mesin yang bertahan lebih lama daripada usianya. Tubuh yang berdaging ini ingin digantikan dengan tubuh mesin yang tidak dapat layu. Bisa saja layu, tetapi dapat diberikan <em>maintenance</em> untuk bisa bertahan hidup seperti <em>Astroboy</em>, yang lebih lama dan memiliki daya tahan daripada “daging biologis” <em>homo sapiens. </em>Dari debu tanah “berevolusi” menjadi besi mesin, dari roh manusia menjadi kecerdasan yang terprogram, dan lainnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berawal dari berubahnya dimensi kehidupan ekonomi yang digantikan oleh AI, yang nantinya akan berkembang menjadi <em>cyber-security</em> dan <em>mass population surveillance</em>, yaitu pengendalian perilaku hukum masyarakat massal. Seiring berjalannya waktu, perubahan pola intimasi manusia, dari hubungan interpersonal menjadi hubungan intim dengan mesin, sampai nantinya terjalin sebuah perubahan struktur tubuh manusia menjadi mesin itu sendiri. Hanya kesadaran kita yang dilestarikan, dan tubuh material daging akan digantikan dengan material mesin berbasis silikon yang lebih tahan lama sekaligus mempertahankan corak daging manusia. Manusia yang mencoba untuk melampaui hidupnya yang akan mati, bisa saja rela untuk mengubah dirinya menjadi objek abadi. Namun, tawaran dari efisiensi ekonomi berbasis AI sampai pengabadian tubuh berbasis teknologi hanya menunjukkan karakter manusia yang dekat dengan sifat memanfaatkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sistem yang ditawarkan oleh Babel merujuk kepada hubungan yang bersifat utilitarian dan yang mengobjekan. Bapak Gereja Agustinus dari Hippo menjelaskan bahwa manusia akan saling memanfaatkan satu dengan yang lain (<em>uti</em>) sehingga menyebabkan proses objektivasi tersebut. Di dalam hubungan yang mengobjekan, terdapat objek yang lebih berguna dan objek yang bisa dibuang. Bukan hanya sikap itu berlaku terhadap suatu objek ekonomi dan teknologi, tetapi juga kepada sesama manusia yang telah direduksi sebagai objek. Dalam dunia ini, manusia harus membuktikan dirinya harus “cukup baik”, kuat, dan berkemajuan &#8211; agar dapat diterima oleh masyarakat. Bagi mereka yang tidak mampu, akan dibuang dan “ditiadakan”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sistem seperti ini meskipun memiliki corak dehumanisasi, sepertinya itu sudah menjadi sebuah sistem yang lumrah dijalankan. Kita “dipaksakan” harus menjalankan sistem itu kalau ingin hidup, seolah-olah seluruh ekosistem, atmosfer, dan “oksigen” yang dihirup sudah diwarnai dengan kenyataan yang tidak semestinya. Dunia simulasi yang dijalankan oleh <em>Matrix</em> membuat semua penghuninya terikat dalam sebuah realitas indah, tetapi nyatanya manusia yang hidup di dalamnya menjadi sebuah “baterai” untuk menguatkan sistem itu. Kota Dunia (<em>City of Men</em>) yang dideskripsikan oleh Agustinus atau <em>City of Destruction </em>yang digambarkan oleh John Bunyan mencerminkan pola hidup manusia dalam dosa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perkembangan teknologi mengekspresikan keinginan manusia untuk melampaui kondisi keberdosaannya yang akan berakhir dalam maut. Keinginan akan keabadian (<em>will-to-immortality</em>) adalah jeritan hati manusia yang ingin lepas dari maut. Seandainya kita hidup dalam imortalitas sekalipun, di mana kita tidak bisa mati, memakan “buah kehidupan” yang direkayasa oleh mesin, itu pun tetap adalah hidup dalam dosa.. Manusia diberikan kematian untuk meringankan dia dari kutukan dosa, memori-memori yang menyakitkan tidak selamanya ditabung dalam tubuh abadi, sebab jika seperti itu, manusia akan mengalami penderitaan yang lebih besar lagi. Teknologi yang menawarkan hidup abadi juga tidak menjamin manusia bisa sungguh bahagia dan bersukacita. Kita butuh sesuatu hal lain yang lebih besar daripada keabadian. Kita butuh penebusan dosa dan kebangkitan, dan itu dapat ditemukan dalam Tuhan Yesus.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Kabar Baik</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Taman Eden sudah dikunci dan hilang dari planet bumi. Akses kepada pohon kehidupan disembunyikan dan dijaga oleh Kerubim, malaikat-malaikat penjaga Allah, agar manusia tidak memungutnya dan hidup abadi dalam dosa. Setelah Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, kita hidup di dalam kefanaan. Namun, Tuhan sudah menjanjikan bahwa melalui keturunan perempuan, Bunda Maria, akan lahir seorang Juruselamat (Kej 3:15), yaitu Yesus yang secara fisik sedang berjalan dengan bunyi langkah TUHAN Allah di Taman Eden (Kej 3:8). Ketika manusia jatuh dalam dosa di Taman Allah, perhatikan bagaimana manusia menyembunyikan diri dari Allah, menyalahkan Allah dan sesamanya, tetapi Allah yang memberikan janji keselamatan kepada mereka. Melalui satu kesalahan, keinginan manusia untuk menjadi seperti Allah, Adam dan Hawa diusir dari Eden dan dosa menguasai seluruh ciptaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Akan tetapi, juga nantinya melalui Tuhan Yesus, seluruh umat manusia dan ciptaan menemukan sebuah jalan keluar. Bukan lagi manusia yang harus membangun menara Babel untuk “naik ke atas” dalam mencari keabadian, melainkan Tuhan Yesus sendiri yang “turun ke bawah” dalam mencari manusia, debu yang fana. Kita tidak dapat membeli surga dan keabadian dengan perbuatan baik maupun kecerdasan teknologis, yaitu pekerjaan manusia. Akan tetapi, kehidupan kekal tanpa dosa disediakan oleh pekerjaan dan pengorbanan Yesus yang sempurna bagi kita. Yang bisa kita lakukan adalah memberi diri untuk dikasihi Allah, yaitu untuk menerima kasih Allah &#8211; demikianlah makna iman Kristiani, yaitu kita berserah secara total kepada tangan-Nya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Agama yang dibuat oleh manusia seperti sebuah perangkat teknologis yang menawarkan “jalan keluar”. Semua agama mengajarkan manusia untuk berbuat baik. Akan tetapi, bagi kita yang sedang tenggelam dalam ombak dosa yang besar, sepertinya yang kita butuhkan bukanlah sebuah “resep teknologis” bagaimana menyelamatkan diri sendiri. Kita butuh seorang Juruselamat, yang datang untuk menjemput kita dari lautan yang tenggelam, dan membawa kita pulang ke sisi-Nya. Rahmat anugerah Allah yang diberikan dengan cuma-cuma, semata-mata karena Allah mengasihi kita, itulah yang membuat kita menjadi hidup sebagai anak-anak Allah. &nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sekali lagi, kita bukan lagi hamba yang harus bekerja untuk mendapatkan pengakuan Allah, melainkan kita sudah ditebus menjadi anak-anak-Nya, sehingga dimampukan untuk mengasihi-Nya. Jika kita dibebaskan dari hukuman atau berbuat baik supaya “Tuhan berkenan kepada kita”, maka kita bisa saja merasa bersyukur kepada Allah, tetapi Dia tetaplah seorang hakim di mata kita. Akan tetapi, ketika kita sadar bahwa Allah mengasihi kita sampai kepada inti diri kita, maka Dia sungguh menjadi Bapa, dan kita sebagai anak-anak-Nya akan mewartakan berita pendamaian bagi umat manusia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.&nbsp; Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya. (Efesus 2:8-10)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Itu bukan sebuah <em>closed source</em> yang hanya disediakan kepada “elit-elit rohani”, itu juga bukan sebuah <em>open source</em> yang manusia bisa mengerjakan kemajuan secara bersama-sama dan dapat dikooptasi oleh kelompok tertentu. Itu adalah <em>given open source of grace</em>, yang telah diutus dan diberikan oleh Allah Bapa kepada manusia. Di dalam Roh Kudus, kita telah menerima Firman, Tubuh yang dipecahkan dan Darah Perjanjian yang menjadikan kita sebagai milik Allah. Kita tidak perlu lagi bersusah-susah mencari taman Eden dan buah pohon kehidupan, kita sudah mendapatkannya di dalam Tuhan Yesus. Di dalam kematian dan kebangkitan-Nya, kita pun juga turut akan berbagian di dalamnya, yaitu untuk menjadi saksi Kristus, menjadi garam dan terang dunia.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Warga negara Kerajaan Allah</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Menjadi garam dan terang dunia tidak hanya berbuat baik agar dunia bisa melihat Allah Bapa melalui tindakan kita. Kadangkala, menjadi garam dan terang berarti menjadi orang yang tidak disukai oleh sistem masyarakat, tetapi itu adalah hal yang dibutuhkan. Sistem dunia, seperti Menara Babel, menunjukkan bahwa pengobjekan dan ketidakadilan adalah <em>necessary evil</em> yang harus dipelihara agar dunia tetap berputar. Ketika kita hadir di tengah sistem seperti ini, bersekutu sebagai anak-anak Allah yang membawa pendamaian, itu juga berarti kita sedang beraksi sebagai terang yang membukakan bahwa ketidakadilan ini adalah hal yang jahat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam bukunya <em>The Pilgrim’s Progress</em> yang ditulis oleh John Bunyan, diceritakan tentang seorang pengikut Yesus (<em>christian</em>) yang menyatakan kepada penduduk di <em>Vanity Fair</em> (seperti dunia fantasi) bahwa apa yang ditawarkan oleh dunia tidak bisa mencukupi kehausan hati manusia. Ya memang, dunia bisa menawarkan uang, kemajuan, kekuasaan, keindahan, dan kenikmatan lainnya. Akan tetapi, dunia tidak bisa menawarkan damai sejahtera, sukacita, kasih karunia, kekudusan, dan persatuan yang tulus dalam Allah dan anak-anak-Nya. Manusia menjadi <em>fake</em> dalam dunia itu, dan di dalam hati yang kecil mereka, mereka tahu akan kenyataan itu &#8211; makanya mereka membenci kebenaran.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bapak Gereja Agustinus dari Hippo menyatakan bahwa “Tuhan telah mencipta kita untuk Diri-Nya sendiri, maka kita hanya akan menemukan peristirahatan di dalam Dia”. Seperti batu akan jatuh ke bumi, dan api naik ke atas, jiwa manusia tertuju kepada Allah, dan ketidakpuasan itu akan selalu bersuara agar kita berpulang kepada-Nya. Blaise Pascal, seorang matematikawan dan fisikawan, menyatakan: “Setiap tindakan manusia adalah untuk mencapai kebahagiaan, apa pun jalan yang ditempuh adalah untuk tujuan itu, termasuk mereka yang bunuh diri. Di dalam hati manusia terdapat sebuah vakum raksasa yang tidak dapat dipuaskan oleh sesuatu ciptaan apa pun, dan hanya dapat diisi oleh kasih Allah yang kekal, yang dinyatakan melalui Yesus Kristus”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. (Efesus 2:19-20)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai pengikut Yesus yang sudah mendapatkan “cicipan surga”, yaitu melalui Firman dan sakramen, sarana anugerah di mana Allah memberikan Diri-Nya sendiri, kita adalah umat milik-Nya. Kita bukan menunggu di depan pintu keluarga Allah, kita adalah di dalam-Nya sebagai satu tubuh dalam Kristus. Artinya, sebagai warga negara kerajaan Allah (<em>City of God</em>) kita akan melihat beberapa kejanggalan di dalam kota kerajaan Dunia (<em>City of Men</em>). Bapak Agustinus menyatakan bahwa kita memiliki dua kewarganegaraan, ibarat mempunyai dua KTP, satu di dunia ini tetapi identitas asali berasal dari kerajaan Allah. Kita masih berada dalam dunia, tetapi bukan milik dunia. Hanya sebagai musafir yang sedang berziarah di tengah dunia, di situlah kita tidak dimakan oleh sistem dunia, tetapi bisa menjadi berkat untuk menyatakan ketidakadilan dan mewartakan Kabar Baik itu kepada warga dunia yang belum percaya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita masih berada dalam dunia <em>Matrix</em>, tetapi kali ini bukan sebagai “warga” yang dijadikan baterai untuk menjalankan sistem dunia. Kita ada di dalamnya untuk menyatakan kepada sesama manusia bahwa kita harus “bangun” dari sistem ketidakadilan, dan kemajuan teknologi yang membuat regresi dalam kemanusiaan kita. Umat Kristiani yang sudah ditebus justru harus berani mengisi posisi-posisi sebagai pemrogram dan manajer produk teknologi, bukan untuk merancang sistem kode dan produk yang mengobjekan manusia, tetapi untuk membangun pengalaman hidup manusia. Kita harus hadir untuk mengarahkan perkembangan teknologi di tengah “sistem mesin raksasa” yang dinahkodai oleh anonimitas. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Bila Yuval Noah Harari menyatakan, “Orang paling kaya di dunia teknologi bukanlah manusia”, melainkan sebuah algoritma mesin. Mungkin yang perlu kita balas kembali adalah “yang paling penting dalam dunia teknologi bukanlah mesin, melainkan untuk kehidupan manusia secara utuh”. Nilai-nilai hidup dan kemanusiaan seharusnya bisa kita gemakan, sebab kita bukan hanya dicipta menurut peta teladan Allah saja, kita sudah ditebus oleh Allah itu sendiri. Maka, “kode kehidupan kekal” melalui Firman dan misteri yang kita terima dalam Kitab Suci dan Meja Perjamuan Allah, semestinya mewarnai perkembangan sistem teknologi dalam sejarah yang sedang berlangsung ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berapa banyak dari kita yang berbagian dalam <em>digital ministry</em>, yaitu membuat konten-konten yang mampu menjangkau individu yang sedang mengalami depresi dan mencari jawabannya di dunia media sosial? Kita membutuhkan analis-analisis algoritma teknologi untuk mengidentifikasi selera dan preferensi manusia, dan mengarahkannya untuk mendapatkan konten yang membangun, bukan untuk mengikatkannya dalam konten yang lebih candu (<em>brain rot</em>) demi mendapatkan tayangan lebih lama dan <em>profit</em> yang dikapitalisasi secara digital. Ada siapa di antara kita yang memiliki bakat dalam <em>coding</em> dan mampu untuk membangun arsitektur kecerdasan buatan dalam mengarahkan manusia untuk memperoleh pengetahuan yang luas dan tepat, bukan pengetahuan yang diinginkannya saja?&nbsp; Dari satu “iota” <em>coding</em> sampai terbentuknya sistem algoritma dan produk digital, garam itu dapat dirasakan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Masih banyak hal yang dapat dikembangkan. Termasuk pada “titik buta” perkembangan teknologi yang bisa menimbulkan proses objektivasi dan dehumanisasi, saya kira justru di teritori seperti itulah seharusnya orang Kristen, yaitu pengikut Yesus, dapat hadir untuk membawa etika penebusan dari Allah kita (<em>the ethics of redemption</em>), agar perangkat teknologi yang kita miliki dapat menjadi berkat bagi banyak orang. Sebagaimana Yusuf membangun lumbung-lumbung penyimpanan makanan di tujuh tahun kemakmuran untuk “menebus” tujuh tahun kelaparan, saya kira kita perlu menjadi “Yusuf-Yusuf” berikutnya untuk melakukan perbuatan baik agar nama Allah kita dapat dikenal oleh dunia.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:16).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tuhan Yesus memberkati.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kevin Nobel Kurniawan<br>Pemuda GRII Pusat</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">29457</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Beriman Tanpa AI</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/renungan/beriman-tanpa-ai</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[andrian]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 09 Jun 2026 12:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[AI]]></category>
		<category><![CDATA[artificial intelligence]]></category>
		<category><![CDATA[beriman]]></category>
		<category><![CDATA[kristen]]></category>
		<category><![CDATA[Yusuf]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=29368</guid>

					<description><![CDATA[&#8220;Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah; Dialah yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai kuasa atas seluruh tanah ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/renungan/beriman-tanpa-ai">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah; Dialah yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir.&#8221; &#8211; Kejadian 45:8 (TB) </p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Perkembangan teknologi <em>artificial intelligence</em> (AI) sangat memudahkan pekerjaan. Membuat gambar, sekejap saja. Membuat video juga demikian. Membuat tulisan, apalagi. Hanya dalam hitungan detik, tulisan yang biasanya memerlukan waktu cukup lama, menjadi begitu cepat. Asal saja kita mahir menggunakan teknik <em>prompting</em>, tugas besar yang di masa lalu memerlukan waktu yang lama dan proses yang berbelit, bisa selesai dalam waktu yang sangat singkat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun dampaknya, godaan untuk menggunakan AI secara tidak bertanggung-jawab merebak. Saya pernah menerima kiriman <em>file</em> tugas mahasiswa, yang masih memiliki tanda-tanda bahwa itu dikerjakan oleh AI. Ya jelas saja saya tolak. Saya suruh mahasiswanya mengerjakan kembali.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kehadiran teknologi cepat seperti AI sebenarnya merefleksikan bagaimana manusia melihat diri. Meski hanya merupakan mesin, keberadaan AI mencerminkan kehendak khas ras manusia. Di antara banyak natur manusia, salah satunya adalah memiliki hasrat yang sifatnya instan. Ingin segalanya cepat, mudah, kalau bisa dalam hitungan kedipan mata saja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sayangnya, sifat itu pun terbawa dalam kehidupan beriman. Manusia cenderung menolak kesulitan, bahkan menolak adanya penderitaan dan segala prosesnya yang membutuhkan waktu. Ibaratnya, kita ingin hari ini menerima Tuhan, agar besok kita bertumbuh dengan luar biasa. Kita pun sering berasumsi bahwa hari ini berdoa, saat membuka mata, jawaban segera sudah di depan mata. Itulah sifat dasar manusia yang diperburuk oleh kejatuhan manusia dalam dosa. Manusia membenci jika tangan Tuhan terkesan lamban.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mari kita bercermin pada salah satu tokoh penting: Yusuf. Pada awal-awal hidupnya, putaran waktu bagaikan tidak berpihak pada Yusuf. Bayangkan, setelah dijual ke Mesir, Yusuf harus menjalani kehidupan yang mungkin sangat monoton. Di rumah Potifar, ia bekerja sebagai pembantu. Mungkin dalam posisi ini, Yusuf masih bisa memiliki dinamika kehidupan yang berbeda. Ia masih bisa berkeliling, mungkin sekali-sekali ke pasar, mungkin juga ke atap rumah Potifar. Tetapi hidupnya di situ-situ saja. Tidur sebagai pelayan, bangun pun sebagai pelayan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu, akibat fitnah istri Potifar, Yusuf hidup dalam dunia yang tak jauh berbeda dengan kehidupan sebelumnya. Apa-apa, tembok. Mau ke kiri, tembok. Mau ke kanan, tembok. Melangkah sedikit, tembok. Melangkah jauh, juga tembok. Penjara membatasi hidupnya. Sehari dua hari mungkin Yusuf masih bisa merasakan suasana baru. Tetapi ketika waktu di dalam penjara makin lama, tak mudah tentunya. Meski dipercaya mengurus penjara, penjara ya tetap penjara. Yusuf tak bisa berkeliling selain dari sebatas wilayah penjara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yusuf sempat merasa ada sedikit harapan untuk menghirup kebebasan. Tetapi nyatanya waktu seperti tak pernah berpihak padanya. Juru minuman, orang yang pernah berjanji kepada Yusuf untuk membantunya keluar dari penjara, sama sekali tak terdengar lagi kabarnya. Tak ada <em>prompting</em> agar Yusuf dalam sekejap mata keluar penjara. Pun tak pernah hadir sebuah <em>shortcut</em> agar ia segera bebas. Yusuf justru menjalani kehidupan yang begitu lamban, begitu lama, bahkan mungkin saja dalam hatinya pernah ada perasaan bosan dan jenuh. Perjalanan hidup yang begitu-begitu saja, di mana matahari dan bulan bergerak sangat lama. Dan hidup yang seperti itu ternyata harus dialami Yusuf tidak sebentar. Selama 13 tahun Yusuf hidup dalam perjalanan kehidupan yang secara manusiawi sangat membosankan karena sangat lambat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita sering menolak proses seperti itu. Seperti AI yang bekerja cepat, bukankah kita sering ingin sesuatu berjalan cepat, bahkan saat mengikut Tuhan sekali pun? Seberapa sering kita, di dalam hati, punya <em>prompting</em>? Sejauh mana kita mengharapkan perjalanan yang mudah dan jauh dari penderitaan, karena merasa sudah memiliki keistimewaan sebagai anak Tuhan? Sesering apa kita merasa kita pantas menerima <em>reward</em> segera, atas kerajinan kita di dalam pelayanan? Seberapa sering kita di dalam hati begitu kecewa dan merasa tidak adil ketika pelayanan seperti tidak berkembang dengan cepat? Seberapa sering kita menganggap Tuhan bekerja terlalu lama, tidak seperti yang kita harapkan?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sesudah 13 tahun, Yusuf akhirnya tiba di hadapan Firaun. Perjumpaan yang mengubah arah hidup Yusuf itu begitu mengharukan, terlebih karena Yusuf kemudian bersaksi bahwa hal itu adalah karena “rancangan Tuhan”. Setelah melewati hidup yang tidak seinstan AI, Yusuf diserahkan jabatan besar. Sebuah posisi yang tidak pernah dibayangkannya saat ia hanya bekerja sebagai tukang bersih-bersih, dan mungkin hanya petugas penutup pintu penjara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sekolah kehidupan Yusuf selama 13 tahun seharusnya membuat kita mengembalikan cara pandang kita pada Tuhan yang berdaulat. Kecepatan teknologi AI tak pantas membuat kita terpengaruh dan melupakan bahwa setiap tangisan adalah kerinduan Tuhan membentuk kita; setiap lelah adalah cara Tuhan menyiapkan kematangan kita; setiap sakit oleh luka dalam beriman adalah cara Tuhan untuk membalut kita dengan kasih-Nya.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fotarisman Zaluchu<br>Jemaat GRII Medan</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">29368</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Filsafat Asia: Bagian 31</title>
		<link>https://www.buletinpillar.org/transkrip/filsafat-asia-bagian-31</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[andrian]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Jun 2026 04:06:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Transkrip]]></category>
		<category><![CDATA[Filsafat Asia]]></category>
		<category><![CDATA[iman kristen]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah]]></category>
		<category><![CDATA[Konfusius]]></category>
		<category><![CDATA[Stephen Tong]]></category>
		<category><![CDATA[transkrip]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.buletinpillar.org/?p=29364</guid>

					<description><![CDATA[Kelima, orang agung mementingkan situasi yang besar dan persatuan yang menyeluruh, tidak berpikir parsial, terpartai-partai dan bersifat memecah belah. Orang kecil memikirkan golongan-golongan dan bersifat memecah belah dan merusak keutuhan. ... <span class="more"><a class="more-link" href="https://www.buletinpillar.org/transkrip/filsafat-asia-bagian-31">...selengkapnya</a></span>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><em>Kelima,</em> orang agung mementingkan situasi yang besar dan persatuan yang menyeluruh, tidak berpikir parsial, terpartai-partai dan bersifat memecah belah. Orang kecil memikirkan golongan-golongan dan bersifat memecah belah dan merusak keutuhan. Ini yang disebut <em>zhou</em>, di mana seseorang memiliki semangat untuk mempersatukan, mengusahakan kepentingan keseluruhan ketimbang kepentingan golongan-golongan atau partai-partai kecil yang kemudian akhirnya memecah belah dan merusak keutuhan semuanya. Kata ini juga punya pengertian “merangkul”. Inilah sikap orang agung (<em>junzi</em>). <em>Bu</em> itu biasanya sering diartikan sebagai perbandingan atau sebagai bagian. Tetapi di sini, pengertiannya lebih kepada seorang agung yang selalu memikirkan yang lebih menyeluruh dan tidak mempartai-partai, atau tidak memecah-belah, suka memisahkan siapa yang suka atau yang tidak suka dengan saya. Orang agung jiwanya selalu lebih memikirkan keseluruhan. Ia memikirkan bagaimana bisa semua lebih menyatu, selalu berupaya merangkul semua pihak supaya tidak terjadi perpecahan. Di dalam Alkitab, hal ini ditunjukkan oleh suatu contoh yang sangat nyata dan tajam, yaitu ketika terjadi pembicaraan antara Allah dan Musa. Tuhan Allah mengatakan kepada Musa bahwa bangsa Israel sudah sedemikian rusak, sehingga Tuhan mau membuang mereka, “Aku akan membangkitkan engkau dengan anak-anakmu untuk menjadi negara yang besar menggantikan mereka.” Tetapi Musa berkata, “Tidak! Lebih baik seluruh Israel diberkati oleh Tuhan.” Ini adalah pemikiran yang luar biasa. Itu tidak berarti Musa rohaninya lebih baik dari Tuhan. Ini lebih merupakan suatu cara pengujian Allah kepada seorang yang agung. Kerohanian seseorang bisa sampai ke tahap untuk bisa diuji atau tidak. Untuk keutuhan seluruhnya, engkau memikirkan yang lebih besar dan tidak memikirkan dirimu sendiri. Kita sering mencari orang yang sama pendapatnya dengan kita. Kita merasa enak untuk berbicara dengan orang demikian. Akibatnya, kita akan terpisah-pisah, terkotak-kotak, terpartai-partai. Ini bukan persekutuan. Persekutuan adalah berani dengan kejujuran dan kasih berbicara kepada yang tidak sama pendapat untuk mendapatkan jalan keluar, suatu konsensus yang didasarkan sikap saling menghormati. Itu sangat tidak mudah. Jadi, orang agung dengan kepribadian yang agung akan selalu mementingkan keseluruhan lebih daripada bagian, yang menyeluruh lebih dari kepingan-kepingan. Tetapi orang kecil hanya memperhatikan kepentingan yang kepingan atau bagian-bagian kecil, bukan keseluruhan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Keenam,</em> seorang agung (<em>gentleman</em>) mempertahankan pendirian dengan tegas tetapi tidak mau berdebat. Seorang agung mempertahankan pendirian, tetapi tidak mau ribut atau berkelahi dengan orang lain. Dia mengutamakan keseluruhan dan tidak menciptakan partai-partai atau menyebabkan perpecahan. Walaupun kita sudah menjadi orang Kristen dan mendengar banyak ajaran Alkitab, namun pada saat kita bisa mempelajari wahyu umum, kita akan melihat banyak keindahan yang Tuhan karuniakan kepada bangsa-bangsa. Justru karena ada filsafat yang sedemikian agung, maka masyarakat yang belum menerima Yesus masih mungkin memiliki ketenangan yang luar bisa. Jika tidak, maka kekacauan akan terjadi luar biasa banyaknya. Orang kecil (<em>xiao ren</em>) lebih suka mementingkan diri sendiri, keluarga sendiri, dan mengorbankan negara. Itu adalah sikap orang rendah.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Ketujuh,</em> seorang agung selalu harmonis walau dengan orang yang berbeda pendapat dengannya. Ia bisa menerima perbedaan, dan berusaha selalu berdamai dan harmonis dengan orang lain. Ia selalu sopan kepada orang lain, walaupun pendiriannya berbeda darinya. Orang picik (<em>xiao</em> <em>ren</em>) atau orang yang hina selalu kelihatan seperti sama dan sejalan dengan kita, tetapi tidak pernah berdamai dengan kita. <em>To be a</em> <em>gentleman is to agree with disagreement.</em> Setuju dengan perbedaan pendapat yang ada. Ketika kita bertemu seseorang, kita harus tetap sopan walaupun kita tahu pendirian kita berbeda. Saya tidak mau sembarangan mengompromikan pendirian saya dengan kamu, tetapi saya harus menghargai kamu sebagai manusia, sopan menerima engkau sebagai kawan. Sebaliknya, orang picik setiap hari mengatakan, “Oh, gampang, gampang,” dan akhirnya semua yang dikatakan “gampang” (mudah) itu menjadi yang paling susah, menjadi paling tidak mudah. Orang yang belum apa-apa sudah tertawa-tawa dengan Anda, berhati-hatilah. Itu seperti orang yang merasa sudah akrab (<em>sok</em> akrab). Seorang pria haruslah berpikir lebih luas dan global, sementara biasanya seorang wanita lebih berpikir saat ini, hal-hal yang lebih rinci dan lebih bersifat pribadi. Hal ini Tuhan berikan sebagai perbedaan, sehingga ada pria yang menjaga sesuatu tugas besar dan ada wanita yang memelihara keluarga yang kecil, maka bisa mendapatkan kondisi yang saling mengisi dan melengkapi. Ini adalah perbedaan yang diperlukan. Maka pria harus belajar menghargai perbedaan seperti ini. Jika tidak, maka dunia dan masyarakat akan kacau. Sebaliknya, para wanita juga harus belajar lebih lapang dada. Ini adalah perbedaan antara Konfusianisme dengan Moisme dari Mo Tzu (Mozi). Mo Tzu mengatakan, kita harus memiliki cinta kasih universal. Jadi kita harus melihat ayah orang lain seperti ayah sendiri, ibu orang lain seperti ibu sendiri, anak orang lain seperti anak sendiri, melihat kawan orang seperti kawan sendiri. Tetapi jangan sampai istri orang lain dilihat seperti istri sendiri. Itu pasti akan menimbulkan kekacauan. Jadi di dalam hal tertentu tetap masih harus ada perbedaan. Kita harus membedakan keluarga saya dan bukan keluarga saya, milik saya dan yang bukan milik saya. Saya tidak setuju bahwa kita harus membuka semua rahasia pribadi kita kepada orang lain, apalagi membuka isi hati kita pada orang lain, termasuk memberitahu kepada psikolog. Jangan kira dia bisa membereskan persoalanmu, karena kecuali Tuhan Allah, tidak ada seorang pun boleh menyentuh tempat paling dalam dari jiwa seseorang. Kecuali Tuhan Allah, tidak ada seorang pun yang bisa menjadi objek kita memaparkan seluruh hati dan jiwa kita kepadanya. Harus ada jarak dan perbedaan antara diri kita dan dia. Dan di dalam hal ini, memang perempuan lebih mengetahui bagaimana daripada laki-laki. Hanya saja, orang yang terlalu eksklusif kalau meledak akan luar biasa keras. Laki-laki kalau terlalu susah, melacur, menyeleweng, meledak marah-marah; perempuan kalau terlalu susah menjadi gila atau bunuh diri; karena yang satu ekstrovert dan yang satu lagi introvert. Ini memang berbeda. Istilah <em>gentleman</em> seperti menghina perempuan, karena harusnya ada <em>gentlewoman.</em> Maka saya lebih suka menggunakan istilah “orang agung” (<em>great person, great personality</em>) daripada istilah <em>gentleman.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Kedelapan,</em> seorang <em>gentleman</em>, bersifat agung, stabil, tetapi tidak sombong. Orang picik sombong tetapi tidak agung dan tidak stabil. Banyak yang tiga tahun lalu sombongnya luar biasa, uangnya banyak, sekarang sudah hilang semua. Itu terjadi karena dia terlalu sombong tetapi tidak stabil. Ketika terjadi krisis moneter, semua ambruk. Jadi hanya gaya atau modelnya saja, tetapi tidak punya fondasi yang cukup kuat, akibatnya mudah ambruk. Itu bukan orang agung. Orang agung itu sangat kuat tetapi tidak sombong, tidak menyatakan kecongkakan di luar, tetapi di dalam memiliki bobot yang sangat besar. Nah, hal ini sudah dipikirkan oleh Konfusius. Konfusius sudah memikirkan berapa dalamnya hidup manusia sehingga ia mengenal begitu kental sifat manusia. Orang yang agung adalah orang yang stabil di dalam, kaya di dalam, luar biasa hebat di dalam, tetapi di luar kelihatan seperti tidak ada apa-apanya. Mengapa kapal Titanic tenggelam? Itu karena seperti orang picik, yang kelihatan megah di luar, hebat di luar, tetapi di dalamnya begitu rapuh. Orang yang pengetahuannya banyak di dalam, yang pengertian hidup dan karakternya agung sekali, di luar biasanya terlihat biasa-biasa saja. Tetapi orang yang luarnya kelihatan hebat tetapi di dalamnya keropos adalah orang picik. Itu sama seperti orang yang belajar silat, yang baru bisa sedikit sudah bergaya luar biasa seperti seorang jagoan, tetapi sebaliknya seorang yang kemampuan silatnya sudah sangat tinggi, di luar terlihat seperti orang bodoh yang tidak bisa silat. Orang yang pandai seringkali terlihat biasa-biasa saja. Peribahasa Tionghoa berkata, “Seorang bijak yang besar terlihat seperti orang goblok. Dan orang yang di dalam tidak ada apa-apanya, suka menonjolkan diri seolah ia hebat luar biasa.”</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Kesembilan,</em> seorang <em>gentleman,</em> seorang agung adalah orang yang hatinya lapang dan seperti sungai yang besar sekali. Seorang agung hatinya lapang dan besar. Tetapi orang picik (<em>xiao ren</em>) setiap hari hanya mengkhawatirkan segala sesuatu. Orang yang hatinya picik selalu takut ini dan itu, khawatir ini dan itu, ragu ini dan itu, dan penuh dengan segala pikiran yang tidak menentu. Di sini dibedakan antara mereka yang berpikiran optimistis dan mereka yang pesimistis. Orang yang agung selalu berpikiran adanya kemungkinan dan semua mungkin. Orang kecil selalu berpikir semua tidak bisa, semua akan celaka, semua akan rugi, dan semua akan membuat susah. Di dalam Kitab Suci, kita belajar bagaimana hidup bersandar pada Tuhan, lalu menjalankan kehendak-Nya, dan dengan demikian, kita boleh dengan iman menghidupkan satu kehidupan yang penuh nikmat karena bersandar kepada Tuhan, sehingga hidup penuh kedamaian. Orang yang takut akan Allah, yang hidupnya disukai oleh Allah, akan bisa tidur dengan nyenyak, dan itu berarti ia bisa hidup menikmati hidup.<a href="#_ftn1" id="_ftnref1"><sup>[1]</sup></a> Orang yang lapang dada, yang hidup berserah, akan hidup damai. Tetapi orang yang hidup penuh kekhawatiran dan ketakutan, hidup tanpa iman, akan menderita. Di satu kota ada dua orang yang dalam pandangan saya sangat-sangat miskin hidupnya. Dua orang wanita tua bersaudara yang tidak menikah, satu berusia 68 tahun dan yang lain berusia 66 tahun. Ketika saya melawat mereka, terlihat mereka sakit dan dengan mobil tua saya, saya bawa mereka ke dokter. Saya membayar biaya dokternya, karena saya kira mereka sangat miskin. Rumahnya begitu sederhana sekali, jendelanya tertutup terus, pintunya jelek. Tidak lama kemudian mereka meninggal. Dan ketika orang memeriksa rumahnya, ternyata mereka memiliki simpanan emas 13 kg. Saat itu honor saya sebagai hamba Tuhan sangat kecil, tetapi saya membayar biaya pengobatan kedua perempuan itu, karena saya kira mereka sangat miskin dan tidak punya uang sama sekali. Seharusnya bukan hanya mereka harus bayar dokter sendiri, tetapi seharusnya juga membayar bensin mobil saya dengan uang yang sedemikian kaya. Tetapi itulah kehidupan orang yang selalu ketakutan dan khawatir. Hidupnya miskin sekali di dalam kekayaannya. Mereka hidup selalu khawatir dan takut, tidak memiliki hati yang luas, mencurigai semua orang akan merugikan dan menyusahkan dirinya. Jadi, apakah orang agung juga bisa miskin? Konfusius menjawab bahwa seorang agung juga bisa menjadi miskin. Tetapi ketika orang picik menjadi miskin, moralnya hancur; tetapi orang agung tidak. Seorang agung ketika menjadi miskin, ia tetap memiliki wibawa karakter yang agung dan tidak mau sembarangan. Ia tidak akan mengambil jalan yang hina atau jalan yang sesat. Ini perbedaannya. Orang picik ketika menjadi miskin, moralnya rusak. Ia mulai berpikir untuk menipu orang, mulai mencuri atau melakukan kejahatan lainnya. Orang picik kalau menjadi miskin, ia mulai tidak jujur, mulai menjadi tamak, dan hidup tidak beres. Jadi orang pada saat kondisi hidupnya minim, itulah waktu yang tepat untuk menguji karakter dirinya. Itulah waktu untuk menguji ketulusan, kesetiaan, dan ketabahan hatinya sampai di mana. Sama juga ketika orang sudah menjadi kaya luar biasa, itu juga saat untuk mengetahui bagaimana dia bisa mendisiplin dirinya untuk tidak sembarangan menyeleweng. Banyak orang yang ketika sudah menjadi kaya, bisa punya istri di sini satu di sana satu dan punya nyonya rahasia, dan banyak simpanan. Waktu miskin tidak demikian, tetapi begitu kaya hidupnya ngawur. Jadi ada dua macam orang yang jangan menjadi kawanmu. Sama-sama miskin baik, begitu dia menjadi kaya kamu dibuang; orang seperti itu jangan menjadi kawanmu. Orang kedua adalah ketika sama-sama kaya dia baik denganmu, begitu kamu miskin, kamu dibuang, janganlah menjadi kawan orang seperti itu. Ketika kondisi aman jadi teman baik, begitu kondisi bahaya dia langsung menuduh atau mempersalahkan kamu dan mengamankan diri sendiri, dengan berani menjual kamu untuk mengamankan diri, itu bukanlah kawan. Kawan sejati adalah kawan di saat kondisi aman, tetapi juga kawan pada saat ada bahaya dan ancaman; Kawan sejati adalah ketika sama-sama miskin jadi kawan, ketika kaya dia tetap jadi kawan. Inilah kawan sejati. Amin.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="#_ftnref1" id="_ftn1"><sup>[1]</sup></a> Roma 11:4-10</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">29364</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
