<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/atom10full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" gd:etag="W/&quot;AkYNQH05eSp7ImA9WhRVGEs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3388183797559335990</id><updated>2012-01-18T13:29:51.321+07:00</updated><category term="syariah" /><category term="Tips Menulis" /><category term="Menulis" /><category term="olahraga" /><category term="Kejujuran" /><category term="LSI" /><category term="Mubarak" /><category term="daradasih" /><category term="Sekilas Kenangan" /><category term="statistik" /><category term="Korupsi" /><category term="taufik hidayat" /><category term="sapa" /><category term="fasilitas" /><category term="Wonosegoro" /><category term="mutiara jumat" /><category term="Pemerintah" /><category term="Suara Hilang" /><category term="fathoni arief" /><category term="Perkeratapian Indonesia" /><category term="Sekilas Olah raga" /><category term="ISL" /><category term="Cerita Foto" /><category term="Cerita Kita" /><category term="gosong" /><category term="Knowledge Economy" /><category term="studi di Belanda" /><category term="keuangan" /><category term="merjan" /><category term="Kompetiblog" /><category term="Tips and Trik" /><category term="Timnas" /><category term="Sajak" /><category term="Alfred Riedl" /><category term="Flash Fiction" /><category term="Karanggede" /><category term="demonstrasi" /><category term="Basic Story" /><category term="LPI" /><category term="Kemarau Panjang" /><category term="Profil" /><category term="torres" /><category term="kenangan masa kecil" /><category term="barongsay" /><category term="Liverpool Encyclopedia" /><category term="membaca" /><category term="sepakbola" /><category term="Dejen Gebremeskel" /><category term="Akademi wasit" /><category term="Nirwan Bakri" /><category term="Bincang-bincang" /><category term="motivasi pagi" /><category term="sea games" /><category term="EADC 2007 PF" /><category term="FFK" /><category term="Sawah" /><category term="Kue brownies" /><category term="Sentil" /><category term="Catatan Perjalanan" /><category term="kongres pssi" /><category term="Jerih Payah" /><category term="celoteh Senja" /><category term="el Barca" /><category term="sakura" /><category term="Seleksi" /><category term="Resensi Buku" /><category term="Apakah Anda Tahu" /><category term="catatan Pagi" /><category term="Irfan Bachdim" /><category term="widget" /><category term="info beasiswa" /><category term="menyambut pagi" /><category term="Resah Sukmaku" /><category term="Tim verifikasi" /><category term="emak" /><category term="manusia purba" /><category term="wasit" /><category term="malioboro" /><category term="Review" /><category term="IPTEK" /><category term="ketandan" /><category term="S1" /><category term="OPOSAN" /><category term="selarong" /><category term="ebook" /><category term="Cerita Bersambung" /><category term="piala AFF" /><category term="Boston" /><category term="djohar arifin husein" /><category term="Revolusi PSSI" /><category term="bank" /><category term="George Toisutta" /><category term="grebeg mulud" /><category term="TKI" /><category term="impian" /><category term="Jepang" /><category term="Layang-layang" /><category term="Proses" /><category term="Lirik" /><category term="Petani" /><category term="Arifin Panigoro" /><category term="Homo Wajakensis" /><category term="Temanggung" /><category term="Badrol Bahtiar" /><category term="liburan akhir pekan" /><category term="PSSI" /><category term="sejarah" /><category term="nurdin halid" /><category term="Ahmadiyah" /><category term="aksi massa" /><category term="Man Jadda wajada" /><category term="NH" /><category term="Harimau Malaysia" /><category term="FIFA" /><category term="Cikeusik" /><category term="Suporter" /><category term="Sepak bola" /><category term="investasi" /><category term="kompetisi ganda" /><category term="Repaking" /><category term="konflik" /><category term="Cerita Pendek" /><category term="Air" /><category term="kumpulan" /><category term="Kongres" /><category term="Tionghwa" /><category term="Syafii Maarif" /><category term="suarez" /><category term="bulutangkis" /><category term="Boyolali" /><category term="divisi utama" /><category term="mesir" /><category term="yogyakarta" /><category term="Bintan" /><category term="RD" /><category term="Cabe" /><category term="power of dream" /><category term="peristiwa" /><category term="Deportasi" /><category term="Esai Foto" /><title>Catatan Fathoni Arief</title><subtitle type="html">..Karena rumah yang selalu membuatku tegak adalah perjalanan dengan segala kisah dan serba-serbinya..</subtitle><link rel="http://schemas.google.com/g/2005#feed" type="application/atom+xml" href="http://www.fathoniarief.co.cc/feeds/posts/default" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.fathoniarief.co.cc/" /><link rel="next" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3388183797559335990/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false&amp;v=2" /><author><name>Fathoni Arief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="21" height="32" src="http://3.bp.blogspot.com/_p9u3EivxYwM/TS--Cs8btUI/AAAAAAAADTE/czaA9SDOV8I/S220/pakar.jpg" /></author><generator version="7.00" uri="http://www.blogger.com">Blogger</generator><openSearch:totalResults>572</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/atom+xml" href="http://feeds.feedburner.com/CatatanFathoniArief" /><feedburner:info uri="catatanfathoniarief" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><feedburner:emailServiceId>CatatanFathoniArief</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname>http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><feedburner:browserFriendly></feedburner:browserFriendly><entry gd:etag="W/&quot;A0cCR34-fCp7ImA9WhRVGEg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3388183797559335990.post-1637436421444981588</id><published>2012-01-18T10:36:00.001+07:00</published><updated>2012-01-18T10:57:46.054+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-18T10:57:46.054+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kenangan masa kecil" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sepak bola" /><title>Sepak Bola dan Impian Masa Kecil</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-kQQcwNQ5Of4/TxZBoaau4KI/AAAAAAAADac/CpXUc-OeNrY/s1600/Adu+kemampuan.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="209" src="http://1.bp.blogspot.com/-kQQcwNQ5Of4/TxZBoaau4KI/AAAAAAAADac/CpXUc-OeNrY/s320/Adu+kemampuan.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Hampir tiap hari, pagi dan sore, saya melewati 4 buah lapangan sepak bola. Jika kebetulan cuaca tengah bersahabat, setiap melewati lapangan tersebut saya bisa melihat anak-anak kampung asyik mengolah si kulit bundar. Mencium aroma rumput, melihat anak-anak dan remaja desa mengingatkan saya kenangan masa-masa 15 hingga 20 tahun lalu ketika sepak bola mewarnai hari-hari saya.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koran Pinjaman dan Maradona&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya masih ingat, awal mula ketertarikan saya pada sepak bola berasal dari lembaran-lembaran koran yang dipinjam bapak dari tetangga dan siaran langsung pertandingan dari radio. Dulu di tahun 80an akhir yang lagi seru adalah persaingan di kompetisi sepakbola perserikatan banyak mengisi pemberitaan di halaman olahraga koran tersebut. Dari sana pula saya mulai mengenal tim favorit saya Persebaya. Sedangkan dari siaran radio saya tahu ada namanya piala kemerdekaan, PSSI Garuda dan masih banyak lagi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada satu lagi yang masih membekas di ingatan. Putaran final piala dunia di Mexico. Waktu itu adalah jaya-jayanya Argentina dengan Diego Armando Maradona. Entah kenapa saya ingin jadi Maradona. " Makanya banyak makan bayam biar bisa seperti Maradona," begitu kata-kata Ibu tiap kali membujuk saya agar mau makan sayuran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bermain di alun-alun kota&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dulu, di daerah saya masih memiliki banyak lapangan kosong, salah satunya adalah lapangan luas di tengah kota atau alun-alun. Saat ini lapangan tersebut sudah menjadi taman kota. Setiap sore, ada banyak anak-anak dari daerah di sekitar alun-alun bermain bola mulai dari lepas Ashar hingga jelang Maghrib. Hobi inipun berlanjut hingga saya duduk di bangku SD,SMP dan SMA. Selepas itu saya makin jarang bermain bola meskipun tetap mengikuti berita terkini seputar sepakbola.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang di tengah kesibukan saya merindukan masa-masa dulu, menghabiskan sore menendang bola, mandi keringat di tengah lapangan hijau bersama sahabat-sahabat masa kecil...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://ceritakita.net/"&gt;Berbagi takkan pernah membuatmu merugi&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Perjalanan Fathoni Arief&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3388183797559335990-1637436421444981588?l=www.fathoniarief.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CatatanFathoniArief/~4/OnjTHHaI2rE" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.fathoniarief.co.cc/feeds/1637436421444981588/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3388183797559335990&amp;postID=1637436421444981588&amp;isPopup=true" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3388183797559335990/posts/default/1637436421444981588?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3388183797559335990/posts/default/1637436421444981588?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CatatanFathoniArief/~3/OnjTHHaI2rE/sepak-bola-dan-impian-masa-kecil.html" title="Sepak Bola dan Impian Masa Kecil" /><author><name>Fathoni Arief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="21" height="32" src="http://3.bp.blogspot.com/_p9u3EivxYwM/TS--Cs8btUI/AAAAAAAADTE/czaA9SDOV8I/S220/pakar.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-kQQcwNQ5Of4/TxZBoaau4KI/AAAAAAAADac/CpXUc-OeNrY/s72-c/Adu+kemampuan.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.fathoniarief.co.cc/2012/01/sepak-bola-dan-impian-masa-kecil.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0UCQn85fSp7ImA9WhRVF0o.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3388183797559335990.post-2793368203545143540</id><published>2012-01-17T10:34:00.001+07:00</published><updated>2012-01-17T10:34:23.125+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-17T10:34:23.125+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kumpulan" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Pendek" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="ebook" /><title>E Book Terbaru Lika liku Hati</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div id="__ss_11096059" style="width: 477px;"&gt; &lt;strong style="display: block; margin: 12px 0 4px;"&gt;&lt;a href="http://www.slideshare.net/fathoniarief/likaliku-hati-11096059" target="_blank" title="Likaliku hati"&gt;Likaliku hati&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt; &lt;iframe frameborder="0" height="510" marginheight="0" marginwidth="0" scrolling="no" src="http://www.slideshare.net/slideshow/embed_code/11096059" width="477"&gt;&lt;/iframe&gt; &lt;div style="padding: 5px 0 12px;"&gt; View more &lt;a href="http://www.slideshare.net/" target="_blank"&gt;documents&lt;/a&gt; from &lt;a href="http://www.slideshare.net/fathoniarief" target="_blank"&gt;Fathoni Arief&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbagi takkan pernah membuatmu merugi&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Perjalanan Fathoni Arief&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3388183797559335990-2793368203545143540?l=www.fathoniarief.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CatatanFathoniArief/~4/_ClIq6wUPLY" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.fathoniarief.co.cc/feeds/2793368203545143540/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3388183797559335990&amp;postID=2793368203545143540&amp;isPopup=true" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3388183797559335990/posts/default/2793368203545143540?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3388183797559335990/posts/default/2793368203545143540?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CatatanFathoniArief/~3/_ClIq6wUPLY/e-book-terbaru-lika-liku-hati.html" title="E Book Terbaru Lika liku Hati" /><author><name>Fathoni Arief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="21" height="32" src="http://3.bp.blogspot.com/_p9u3EivxYwM/TS--Cs8btUI/AAAAAAAADTE/czaA9SDOV8I/S220/pakar.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.fathoniarief.co.cc/2012/01/e-book-terbaru-lika-liku-hati.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0AAQH44cCp7ImA9WhRVEk4.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3388183797559335990.post-5052862165610160084</id><published>2012-01-11T04:41:00.001+07:00</published><updated>2012-01-11T04:42:21.038+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-11T04:42:21.038+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="fathoni arief" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Catatan Perjalanan" /><title>Kaliurang, Setahun Setelah Erupsi</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-Frlq9SohMU8/TwywIL2GYMI/AAAAAAAADaU/d9VtGBN3vHc/s1600/tp.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://1.bp.blogspot.com/-Frlq9SohMU8/TwywIL2GYMI/AAAAAAAADaU/d9VtGBN3vHc/s320/tp.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Setahun pasca erupsi, kawasan wisata Kaliurang mulai menggeliat. Setiap hari libur ribuan orang berkunjung. Mereka tak hanya berasal dari Jogja dan sekitarnya saja namun juga dari berbagai daerah lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti tahun-tahun sebelumnya, awal tahun baru seringkali ditandai dengan turunya hujan. Begitupula dengan tahun ini meskipun di malam tahun baru hujan sudah mengguyur kawasan Jogja dan sekitarnya hingga pagi hari pun nampaknya sudah ada tanda-tanda hujan lebih deras bakal mengguyur kota pelajar ini. Tak terpengaruh dengan langit yang mulai tertutup mendung saya ditemani istri memacu sepeda motor menuju Utara Jogja. Tujuan kami adalah kawasan wisata Kaliurang, tempat yang setahun lalu juga jadi saksi dahsyatnya erupsi Gunung Merapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak banyak waktu yang kami habiskan, tak lebih dari setengah  jam, hingga tiba di pintu gerbang utama kawasan wisata Kaliurang. Maklumlah kebetulan kami tinggal di Jalan Kaliurang kilometer 10. Kami pun ikut antrian di loket khusus sepeda motor. Selain kami sudah ada belasan motor dan mobil yang sudah berada di dalam antrian.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menunggu beberapa saat kamipun membayar tiket masuk. Biaya yang harus kami keluarkan untuk masuk kawasan Kaliurang adalah Rp.7000,-. Itu adalah tiket untuk 2 orang dan sepeda motor khusus di hari minggu dan hari libur. Kami pun melanjutkan perjalanan. Untuk menuju kawasan Kaliurang masih harus menempuh beberapa kilometer lagi. Sementara motor kami melaju rintik-rintik hujan mulai berjatuhan. Ternyata pepatah mendung tak berarti hujan tak berlaku kali ini. Mendung benar-benar membawa hujan dan langit pun semakin gelap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
.... Bersambung&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fathoni Arief&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbagi takkan pernah membuatmu merugi&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Perjalanan Fathoni Arief&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3388183797559335990-5052862165610160084?l=www.fathoniarief.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CatatanFathoniArief/~4/AXEW26Cu2IQ" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.fathoniarief.co.cc/feeds/5052862165610160084/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3388183797559335990&amp;postID=5052862165610160084&amp;isPopup=true" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3388183797559335990/posts/default/5052862165610160084?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3388183797559335990/posts/default/5052862165610160084?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CatatanFathoniArief/~3/AXEW26Cu2IQ/melihat-merapi-dari-turgo-plawangan-1.html" title="Kaliurang, Setahun Setelah Erupsi" /><author><name>Fathoni Arief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="21" height="32" src="http://3.bp.blogspot.com/_p9u3EivxYwM/TS--Cs8btUI/AAAAAAAADTE/czaA9SDOV8I/S220/pakar.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-Frlq9SohMU8/TwywIL2GYMI/AAAAAAAADaU/d9VtGBN3vHc/s72-c/tp.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.fathoniarief.co.cc/2012/01/melihat-merapi-dari-turgo-plawangan-1.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEICQHc8fSp7ImA9WhRWEEk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3388183797559335990.post-3385792427970798027</id><published>2011-12-28T10:18:00.001+07:00</published><updated>2011-12-28T10:22:41.975+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-28T10:22:41.975+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="PSSI" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sepakbola" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="olahraga" /><title>PSSI di Pusaran Konflik Tanpa Ujung</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-j-ypxM7o15Y/TvqLWTsmkxI/AAAAAAAADaA/8Xt8j9AZ0r4/s1600/image.php.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-j-ypxM7o15Y/TvqLWTsmkxI/AAAAAAAADaA/8Xt8j9AZ0r4/s320/image.php.jpg" width="297" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Pertengahan tahun 2011, pasca kongres PSSI di Solo, harapan besar publik sempat membumbung tinggi terwujudnya PSSI yang lebih baik. Apalagi setelah kongres demi kongres yang terus gagal tanpa hasil. Kongres Solo dengan Ketua Umum baru, Johar Arifin Husein, membawa angin perubahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepercayaan dan harapan publik perlahan justru makin surut. Penyebabnya pengurus PSSI gagal meredam konflik yang terjadi dan menyelesaikan segudang masalah warisan pengurus lama. Satu yang paling mencuat adalah soal kompetisi. Keputusan kontroversial pengurus memasukan sejumlah klub yang sempat melenceng ke LPI (Liga Primer Indonesia, Liga yang digagas pengusaha Arifin Panigoro). Mereka diantaranya : Persebaya, Persema, PSM, Persibo.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ancaman sanksi yang diberikan PSSI bagi klub yang melenceng ke ISL tak membuat mereka gentar. Meskipun kompetisi ISL sudah dibekukan mereka tetap menyelenggarakan dengan penambahan beberapa klub.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Persoalan di tubuh PSSI tak berhenti sampai di situ saja. Suara-suara penolakan di daerah (meski tak semuanya menentang) muncul. Mereka menuntut Pengurus baru mundur dan memilih pengurus pengganti. Pengurus yang adapun juga sudah memasang badan. Mereka menganggap suara-suara tersebut sebagai pembangkang dan tuduhan yang mereka lontarkan fitnah belaka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyikapi ini publik tentunya bertanya-tanya? Kenapa tak bisa akur saja. Masyarakat tau mau ambil pusing siapa yang jadi pengurus asal prestasi sepakbola negeri ini meningkat..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah PSSI...sampai kapan kau dirundung konflik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbagi takkan pernah membuatmu merugi&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Perjalanan Fathoni Arief&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3388183797559335990-3385792427970798027?l=www.fathoniarief.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CatatanFathoniArief/~4/zEOImkc84Rc" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.fathoniarief.co.cc/feeds/3385792427970798027/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3388183797559335990&amp;postID=3385792427970798027&amp;isPopup=true" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3388183797559335990/posts/default/3385792427970798027?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3388183797559335990/posts/default/3385792427970798027?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CatatanFathoniArief/~3/zEOImkc84Rc/pssi-di-pusaran-konflik-tanpa-ujung.html" title="PSSI di Pusaran Konflik Tanpa Ujung" /><author><name>Fathoni Arief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="21" height="32" src="http://3.bp.blogspot.com/_p9u3EivxYwM/TS--Cs8btUI/AAAAAAAADTE/czaA9SDOV8I/S220/pakar.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-j-ypxM7o15Y/TvqLWTsmkxI/AAAAAAAADaA/8Xt8j9AZ0r4/s72-c/image.php.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.fathoniarief.co.cc/2011/12/pssi-di-pusaran-konflik-tanpa-ujung.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CkAAQHk-fyp7ImA9WhRRGEQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3388183797559335990.post-2257099877010232228</id><published>2011-12-03T11:13:00.001+07:00</published><updated>2011-12-03T12:39:01.757+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-03T12:39:01.757+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="PSSI" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="ISL" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="LPI" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kompetisi ganda" /><title>Dualisme Liga Indonesia</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
Terbentuknya kepengurusan baru PSSI di kongres Solo sempat memunculkan satu optimisme saya. Ada jalan keluar dan beragam solusi yang bisa dilakukan oleh para pengurus baru. Waktu itu masalah yang mengemuka salah satunya munculnya dua kompetisi ISL dan LPI. ISL sebagai cerminan pengurus PSSI lama dan LPI adalah para pengusung terbentuknya liga yang lebih baik.Waktu itu ISL menjadi anak emas pengurus PSSI dan LPI adalah liga para pembangkang yang dianggap ilegal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Usai kongres, harapan masyarakat pecinta bola sempat ada. Ide menyeleksi klub dengan persyaratan ketat mulai dari segi pendanaan hingga legalitas. Puluhan tim pun mengikuti seleksi. Di tengah proses verifikasi ulang muncul pergolakan di tingkat tim. Semua berawal dari adanya dualisme kepengurusan dan masing-masing merasa sah sebagai pengurus klub seperti yang terjadi di tubuh Persebaya, Arema dan Persija Jakarta. Konflik itu makin memanas setelah PSSI mensahkan pengurus yang justru dianggap tidak sah oleh pendudukung mereka. Tak cukup sampai di sana keputusan PSSI memasukan Persebaya,Persema, PSM, Persibo dengan gratis langsung menuai kecaman dari sejumlah klub.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Buntut dari konflik tersebut adalah munculnya kembali ISL. Kini kondisinya berbalik ISL dianggap ilegal dan LPI adalah kompetisi legal. Kompetisi amburadul, masing-masing menyatakan dirinya sah dan berhak menjalankan kompetisi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PSSI harusnya bertindak lebih tegas. Cukup ada satu kompetisi profesional di negeri ini. ISL dan IPL harus dilebur bagaimanapun caranya. Namun nsatu yang pasti PSSI adalah miliki masyarakat bola di seluruh Indonesian yang menginginkan prestasi lebih bukan milik Arifin Panigoro,Johar Arifin Husein, Nurdin Halid, Nirwan atau yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbagi takkan pernah membuatmu merugi&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Perjalanan Fathoni Arief&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3388183797559335990-2257099877010232228?l=www.fathoniarief.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CatatanFathoniArief/~4/SFn2pwEilNk" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.fathoniarief.co.cc/feeds/2257099877010232228/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3388183797559335990&amp;postID=2257099877010232228&amp;isPopup=true" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3388183797559335990/posts/default/2257099877010232228?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3388183797559335990/posts/default/2257099877010232228?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CatatanFathoniArief/~3/SFn2pwEilNk/dualisme-liga-indonesia.html" title="Dualisme Liga Indonesia" /><author><name>Fathoni Arief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="21" height="32" src="http://3.bp.blogspot.com/_p9u3EivxYwM/TS--Cs8btUI/AAAAAAAADTE/czaA9SDOV8I/S220/pakar.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.fathoniarief.co.cc/2011/12/dualisme-liga-indonesia.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEINSH0yeCp7ImA9WhRREkU.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3388183797559335990.post-5908415877016918649</id><published>2011-11-26T11:31:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T11:43:19.390+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-11-26T11:43:19.390+07:00</app:edited><title>Pengabdian di Bukit Terjal</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-QNlSt5GDe34/TtBuQWC6geI/AAAAAAAADZQ/O9741ricFS0/s1600/PIN+052.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="228" src="http://2.bp.blogspot.com/-QNlSt5GDe34/TtBuQWC6geI/AAAAAAAADZQ/O9741ricFS0/s320/PIN+052.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Belum&lt;/span&gt; sampai setengah jam saya tiba di tempat kerja, handphone saya berbunyi. Rupanya, istri saya yang menelepon. Sayapun bertanya-tanya ada apa gerangan padahal jam baru menunjukkan pukul delapan seperempat, biasanya jam segitu istri masih dalam perjalanan menuju Puskesmas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ternyata benar, ada berita tak enak yang saya dengar. Istri saya mengalami kecelakaan ringan di jalan dan ini adalah peristiwa kedua dalam sebulan ini. Syukur Alhamdulillah, meskipun mengalami sedikit lebam di kaki, Istri dalam kondisi baik. Motor mengalami sedikit kerusakan, namun tak apalah apa artinya motor dibanding keselamatan istri. Sabar, hanya itu kata yang sering saya ucapkan untuk memberi motivasi istri. Sabarlah pasti dengan niat ibadah suatu saat akan menerima balasan dari Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alhamdulillah hingga sekarang istri masih tegar meskipun godaan dalam bertugas di kanan-kiri seringkali datang. Saya kembali peristiwa teringat awal tahun lalu. Pasca pengumuman hasil penerimaan CPNS dan pembagian Surat Keputusan. Masih tergambar jelas bagaimana ekspresi Istri menerima kenyataan pahit ditempatkan di daerah pelosok, Repaking. Satu nama yang katanya tak ramah bagi mereka yang bertugas di sana.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak cerita simpang siur yang makin menciutkan nyali mulai dari jalan tak bisa dilewati motor, hingga hutan belantara.Sayapun mengakui sempat termakan cerita-cerita itu. Dengan niat berjuang, meskipun begitu berat, istri tetap saya dukung menjalankan tugas barunya. Kali ini tak lagi jadi dokter gigi yang melayani kaum menengah keatas, namun dokter di tempat pelosok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa bulan saya sempat antar jemput istri ke Puskesmas. Saya tak peduli apapun kata orang. Satu yang pasti, saya hanya ingin memberi motivasi istri untuk terus semangat mengabdi. Banyak hal yang pernah kami alami dalam perjalanan bolak-balik dari kontrakan menuju puskesmas. Kami pernah mengalami rantai putus, hingga suatu hari saat kemalaman di tengah hutan yang gelap tiba-tiba lampu mati. Untung saja ada rekan yang menolong dengan memberi pinjaman motor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hingga sekarang sudah hampir delapan bulan istri dinas disana. Ada begitu banyak pengalaman hidup yang dialami. Kisah-kisah bidan dan petugas kesehatan lain yang luar biasa turut menyemangati istri untuk menjadi kuat. Meskipun kini harus naik motor sendiri melewati jalan terjal, berlubang, penuh kubangan air. Semoga engkau terus bersemangat Dik. Jangan patah arang. Tak perlu mengambil jalan pintas mengeluarkan rupiah hanya untuk pindah. Sesaat enak siksa selama-lamanya. Berbagi takkan pernah membuatmu merugi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbagi takkan pernah membuatmu merugi&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Perjalanan Fathoni Arief&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3388183797559335990-5908415877016918649?l=www.fathoniarief.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CatatanFathoniArief/~4/wzFDw4PhglM" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.fathoniarief.co.cc/feeds/5908415877016918649/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3388183797559335990&amp;postID=5908415877016918649&amp;isPopup=true" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3388183797559335990/posts/default/5908415877016918649?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3388183797559335990/posts/default/5908415877016918649?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CatatanFathoniArief/~3/wzFDw4PhglM/pengabdian-di-bukit-terjal.html" title="Pengabdian di Bukit Terjal" /><author><name>Fathoni Arief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="21" height="32" src="http://3.bp.blogspot.com/_p9u3EivxYwM/TS--Cs8btUI/AAAAAAAADTE/czaA9SDOV8I/S220/pakar.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-QNlSt5GDe34/TtBuQWC6geI/AAAAAAAADZQ/O9741ricFS0/s72-c/PIN+052.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.fathoniarief.co.cc/2011/11/pengabdian-di-bukit-terjal.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEQFRHszcSp7ImA9WhRSGUk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3388183797559335990.post-5355272975560332576</id><published>2011-11-22T12:02:00.001+07:00</published><updated>2011-11-22T13:11:55.589+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-11-22T13:11:55.589+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sea games" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Badrol Bahtiar" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Harimau Malaysia" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="RD" /><title>Timnas Indonesia dan Paceklik Gelar Yang Tak Kunjung Usai</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-Pjvgi3m7cnk/Tss88TFtmsI/AAAAAAAADZI/90XIsYvc7t4/s1600/images.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-Pjvgi3m7cnk/Tss88TFtmsI/AAAAAAAADZI/90XIsYvc7t4/s1600/images.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Sumber : detiksport.com&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
Kegagalan Kurnia Meiga menahan tendangan pinalti Badrol Bahtiar, kapten tim Sea Games Malaysia, membuat saya terdiam. Dalam hati saya berkata kita gagal lagi. Kekalahan yang mengingatkan saya pada laga final Sea Games tahun 1997 di Jakarta. Waktu itu kegagalan Uston Nawawi menjebol gawang Thailand membuat timnas takluk oleh tim Gajah Putih. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rupanya paceklik gelar belumlah usai. Di dua ajang tingkat Asia Tenggara kita takluk dengan tim yang sama, Malaysia. Tentunya kita masih ingat timnas senior yang di awal turnamen piala AFF dan sempat memporak-porandakan kesebalasan Malaysia namun akhirnya tak berkutik kala bertanding di babak Final. Meskipun pada pertemuan kedua timnas mampu membalas namun tak mampu menahan tim harimau malaya untuk meraih trofi piala AFF.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang tak ada gunanya saling menyalahkan. Tak ada manfaatnya mengkambinghitamkan akibat jadwal, wasit, faktor non teknis atau apapun. Akuilah kita kalah. Diakui atau tidak tim Harimau muda bermain lebih bagus. Mereka jauh lebih siap dibanding timnas kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu berikutnya tinggal menanti bagaimana pengurus PSSI dan segenap insan sepakbola menyikapinya. Apakah mereka segera bersikap dan berbuat. Tak hanya wacana saja. Atau justru malah saling menyalahkan dan memelihara egonya sendiri-sendiri seperti bakal terselenggaranya dua komptetisi liga yang masing-masing mengaku paling benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bravo Sepakbola Indonesia&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbagi takkan pernah membuatmu merugi&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Perjalanan Fathoni Arief&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3388183797559335990-5355272975560332576?l=www.fathoniarief.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CatatanFathoniArief/~4/LzDpuDJioFM" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.fathoniarief.co.cc/feeds/5355272975560332576/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3388183797559335990&amp;postID=5355272975560332576&amp;isPopup=true" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3388183797559335990/posts/default/5355272975560332576?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3388183797559335990/posts/default/5355272975560332576?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CatatanFathoniArief/~3/LzDpuDJioFM/timnas-indonesia-dan-paceklik-gelar.html" title="Timnas Indonesia dan Paceklik Gelar Yang Tak Kunjung Usai" /><author><name>Fathoni Arief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="21" height="32" src="http://3.bp.blogspot.com/_p9u3EivxYwM/TS--Cs8btUI/AAAAAAAADTE/czaA9SDOV8I/S220/pakar.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-Pjvgi3m7cnk/Tss88TFtmsI/AAAAAAAADZI/90XIsYvc7t4/s72-c/images.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.fathoniarief.co.cc/2011/11/timnas-indonesia-dan-paceklik-gelar.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEQERHk4fSp7ImA9WhRSFko.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3388183797559335990.post-7497582835668600479</id><published>2011-11-19T09:46:00.001+07:00</published><updated>2011-11-19T10:11:45.735+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-11-19T10:11:45.735+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sea games" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="bulutangkis" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="taufik hidayat" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="olahraga" /><title>Harusnya Kali Ini Giliran Pemain Muda</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-R9_6QwxH03U/TsceXFDZwzI/AAAAAAAADZA/MVcoFWbvhnM/s1600/125696010.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="122" src="http://2.bp.blogspot.com/-R9_6QwxH03U/TsceXFDZwzI/AAAAAAAADZA/MVcoFWbvhnM/s200/125696010.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Cabang olahraga bulutangkis di ajang Sea Games sudah memasuki babak final untuk kategori perseorangan. Indonesia sebagai tuan rumah sudah memastikan meraih dua medali emas di nomor ganda putra dan putri. Sementara itu di 3 nomor lain hanya meloloskan satu finalis yaitu melalui Simon Santoso di tunggal putra, Adrianti Firdasari di tunggal putri dan pasangan Liliana Natsir/Ahmad Tontowi di ganda campuran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masuknya semua wakil Indonesia di babak final bukanlah hal yang mengejutkan terutama jika melihat lawan-lawan yang dihadapi. Tak banyak nama-nama besar yang berlaga. Bahkan negara lain termasuk Malaysia berani menurunkan pemain-pemain muda mereka. Ini bertolak belakang dengan kontingen kita. Lihat saja susunan di tunggal putra kenapa yang turun justru Taufik Hidayat bukan Tommy Sugiarto atau Hayom.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika alasanya untuk memastikan emas atau memberi motivasi bagi pemain muda saya kurang setuju dengan hal itu. Lihat saja hasil babak semifinal tunggal putra kemarin. Bagaimana Taufik Hidayat kalah lawan pemain muda Thailand dan ini untuk kedua kalinya di Sea Games kali ini setelah sebelumnya juga takluk saat bertanding di nomor beregu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di tengah merosotnya prestasi bulutangkis kita harusnya pengurus lebih banyak memberi kesempatan bagi pemain muda untuk tampil. Beri kesempatan lebih bagi pemain generasi Tommy dan Hayom hal sama harusnya juga di sektor putri yang masih terjerembab pasca generasi emas Susi Susanti.&lt;br /&gt;
Harusnya pengurus pusat bulutangkis terinspirasi dari kesuksesan para perenang kita. Diantara mereka bahkan baru berusia belasan namun mampu meraih emas dan memecahkan rekor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbagi takkan pernah membuatmu merugi&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Perjalanan Fathoni Arief&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3388183797559335990-7497582835668600479?l=www.fathoniarief.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CatatanFathoniArief/~4/9rM2MJijj30" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.fathoniarief.co.cc/feeds/7497582835668600479/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3388183797559335990&amp;postID=7497582835668600479&amp;isPopup=true" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3388183797559335990/posts/default/7497582835668600479?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3388183797559335990/posts/default/7497582835668600479?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CatatanFathoniArief/~3/9rM2MJijj30/harusnya-kali-ini-giliran-pemain-muda.html" title="Harusnya Kali Ini Giliran Pemain Muda" /><author><name>Fathoni Arief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="21" height="32" src="http://3.bp.blogspot.com/_p9u3EivxYwM/TS--Cs8btUI/AAAAAAAADTE/czaA9SDOV8I/S220/pakar.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-R9_6QwxH03U/TsceXFDZwzI/AAAAAAAADZA/MVcoFWbvhnM/s72-c/125696010.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.fathoniarief.co.cc/2011/11/harusnya-kali-ini-giliran-pemain-muda.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0EMQHs9fyp7ImA9WhRTGE8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3388183797559335990.post-2362858788641332651</id><published>2011-11-09T13:54:00.001+07:00</published><updated>2011-11-09T13:54:41.567+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-11-09T13:54:41.567+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Pendek" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="emak" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="TKI" /><title>Emak Pulang</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
 &lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; font-size: large;"&gt;Besok&lt;/span&gt; Emak pulang. Rasanya aku sudah tak sabar lagi, melihat langsung seperti apa wajah wanita yang melahirkanku itu. Apakah benar seperti yang selama ini kubayangkan atau diceritakan Kakek dan nenek setiap kali menjelang tidur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam semakin larut. Eyang Kakung dan Uti sudah tertidur lelap. Namun mataku rasanya tetap susah dipejamkan. Aku ingin waktu berjalan dengan begitu cepat. Sudah lama aku menginginkan saat-saat seperti ini. Aku ingin memeluk emak. Aku ingin bisa pergi kemana-mana bersama emak seperti teman-temanku yang lain. Sungguh, tak bisa kugambarkan kebahagiaan yang kini kurasakan. Setelah sekian lama akhirnya aku bakal berjumpa sosok yang selalu kurindukan setiap mimpiku. Sosok yang selalu kuucapkan dalam doa-doaku. Aku rindu emak. &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hingga sekarang ini, saat usiaku menginjak duabelas tahun, aku belum pernah berjumpa dengan emak. Selama ini aku mengenali emak melalui telepon atau melihat foto-fotonya yang dikirim lewat pos. Itupun hanya sesekali saja. Emak bilang tak ingin menghambur-hamburkan duit. Lebih baik duit ditabung buat biaya sekolahku nanti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emak ingin aku jadi anak pintar dan bisa menjadi dokter seperti Pak Doni, menantu pak lurah. Ia tak mau aku jadi orang bodoh seperti dirinya. Maka dari itulah meski jarang menelpon, ia selalu mengingatkan aku selalu belajar dan jangan jadi anak bandel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap bulan emak selalu kirim duit buat biaya sekolahku. Meski begitu Emak tak pernah cerita soal pekerjaanya selama ini. Aku hanya tahu dari cerita Eyang, delapan tahun lalu saat umurku belum genap tiga tahun Emak pergi ke Saudi Arabia menjadi TKW, atas ajakan teman semasa di SMPnya. Semua beban harus emak tanggung setelah cerai dengan Bapak. Dari omongan tetangga aku pernah dengar Bapak kawin lagi dengan orang seberang setelah setahun jadi TKI di Malaysia. Karena itulah emak selalu marap setiap kali aku bertanya soal Bapak. “ Bapakmu sudah mati. Tak usah dicari-cari lagi,” begitu kata Emak dengan nada kesal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya sudah beberapa kali Emak pernah bilang akan pulang kampung. Tapi selalu saja ia tak pernah menepati ucapanya. Aku masih ingat terakhir kali ia janji pulang tiga tahun lalu saat aku ulang tahun. Rasanya masih tergambar jelas bagaimana senangnya perasaanku waktu itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu persis seperti malam ini, aku juga tak bisa tidur. Meski badanku sudah capek karena seharian selepas pulang sekolah mencari hadiah istimewa buat Emak. Sengaja aku mencari aneka macam daun kering dan kubuat menjadi sebuah album foto kecil. Seperti yang sudah diajarkan ibu guru di sekolah. Aku ingin pamer pada emak, aku sudah pandai membuat banyak hal salah satunya figura dari karton berhias daun-daun kering. Rencananya, di figura itu bakal kupasang fotoku saat juara lomba baca puisi tingkat kecamatan. Pada lomba yang diselenggarakan dalam rangka memperingati hari ibu itu, aku menjadi juara kedua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semalaman jantungku berdebar-debar. Aku ingin memeluk Emak. Meski sebenarnya bukan itu satu-satunya alasanku bertemu dia. Aku ingin menagih janjinya bakal membelikanku tas dan sepetu baru jika  nilai raporku berhasil masuk rangking tiga besar. Aku ingin sepatu baru seperti teman-temanku lain, model terbaru. Tak seperti sepatu pemberian Eyang, sudah hampir rusak. Sebelumnya aku beberapa kali merengek minta sepatu baru pada Eyang tapi duitnya memang tak ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi hari sekali, sebelum adzan Subuh aku sudah bangun. Bahkan lebih dulu dari Eyang dan Uti. Aku langsung mandi dan sholat Subuh. Aku ingin terlihat lebih dewasa di depan emak, meski usiaku baru delapan tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menunggu Emak pulang. Satu jam kemudian Emak tak jua datang. Dua jam kemudian juga belum datang. Hingga siang hari ada pak pos datang membawa sebuah kardus besar. Eyang yang menerima kiriman itu. Setelah dibuka isinya aneka macam hadiah ada tas, sepatu, baju baru buatku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ini kiriman dari Emakmu. Selamat ulang tahun ya sayang,” kata Eyang sambil memelukku. Namun, aku hanya diam saja, cemberut, dan bertanya : “Emak mana? Emak katanya pulang?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Emak belum bisa pulang sayang. Ia masih sibuk cari duit buatmu. Bukankah emak sudah mengiirim banyak hadiah,” kata Eyang terus mencoba menghiburku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak peristiwa itu aku kecewa dengan Emak. Ia tak menepati janji. Selama beberapa hari aku menangis dan ngambek tak mau pergi ke sekolah. Eyang dan Uti sempat kewalahan mencoba menghiburku bahkan suatu hari ketika Emak menelpon, aku tak mau bicara dengannya. “Aku benci emak. Emak tukang bohong. Aku tak punya emak,” kataku sambil teriak setiap emak memaksa bicara denganku lewat telepon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin emak merasa bersalah padaku. Sampai-sampai untuk menebus kesalahan setiap bulan ada saja hadiah dari emak. Awalnya aku tak mau menerima. Semua barang itu tersimpan begitu saja di sudut kamar. Namun lambat laun aku kasihan juga dengan emak. Ada perasaan bersalah padanya sehingga suatu hari ketika emak menelpon aku bersedia bicara denganya sambil menangis. “ Emak janji, jangan bohong lagi ya,” kataku pada emak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang tentunya Emak sudah sadar. Aku bukanlah anak kecil lagi yang gampang dibohongi. Aku sudah lulus bangku sekolah dasar dan duduk di kelas satu SMP. Aku juga sudah lebih dewasa. Semoga saja kali ini emak benar-benar memenuhi janjinya. Mataku pun sudah terasa berat. Bayangan Emak terasa makin dekat. Sambil mendekap guling aku terlelap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi buta, kami terbangun oleh kedatangan pak lurah. Aku masih mengantuk sehingga tak jelas mendengar apa yang sedang dibicarakan dengan Eyang dan Uti. Tak lama Pak Lurah bertamu dan sepertinya ada sesuatu yang terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Indah, cepat bangun. Segera mandi, Sholat Subuh. Nanti ikut Eyang dan Uti ke rumah sakit,” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik Eyang,” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera saja aku bangun. Aku masih menyimpan satu tanda tanya apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa harus ikut Eyang dan Uti. Bukankah hari ini rencananya Emak pulang. Jika semua keluar siapa yang akan membukakan pintu. Kasihan Emak sudah datang jauh-jauh dari Saudi Arabia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas Sholat aku pun bersiap. Aku memakai celana kain, kaos lengan panjang dan kerudung warna merah marun. Sebenarnya aku ingin memakai kerudung ini di depan emak tapi ya sudahlah sama saja daripada harus gonta-ganti baju. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata Eyang dan Uti sudah menungguku di teras rumah. Tak hanya mereka berdua saja tapi ada juga pak Lurah dengan membawa mobil vannya. “Aku sudah siap Eyang,”   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamipun segera berangkat. Aku masih bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya terjadi. Kami mau pergi kemana. Pasti ada sesuatu yang sedang terjadi. Satu demi satu kuamati wajah Eyang, Uti dan pak Lurah. Semuanya seperti sedang menyimpan sesuatu. Bahkan sempat air mata menetes dari mata Uti namun secepat kilat Eyang memberi sapu tangan meminta Uti mengusapnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengitari jalanan kota aku baru sadar akan kemana tujuan mobil ini. Tak salah lagi, kami menuju Rumah Sakit daerah. Sebulan lalu Eyang dan Uti pernah mengajakku ke tempat itu membesuk Mbah Warni, adik kandung Eyang. ”Lalu siapa yang sekarang sakit?” pertanyaan itu masih mengusikku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di rumah sakit daerah kami langsung menuju ruang rawat inap. Kami bertiga mengikuti langkah pak Lurah. Di depan sebuah kamar pak lurah berhenti dan mengucapkan sesuatu pada Eyang dan Uti. Ia menunggu di depan sementara Eyang, Uti dan aku masuk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam aku langsung ketakutan. Seseorang tergolek dengan lemas di ranjang. Kondisinya sungguh mengenaskan. Tanganya penuh dengan luka, begitu pula dengan wajahnya. Selang infus tertancap di tangan dan selang oksigen ada di hidungnya. Seorang perawat mencatat sesuatu dan seorang lagi mungkin saja dokter yang bertugas berbicara pada Eyang. Setelah berbisik sesuatu keduanya lalu meninggalkan ruangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Indah, kemari nak!” Uti memanggilku, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ragu-ragu aku mendekat. Begitu mendekat Uti langsung memelukku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang sabar ya nak,” kata Uti sambil terisak dan meneteskan air mata, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih belum mengerti apa maksud Uti berkata demikian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau lihat siapa yang tengah dirawat itu?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak Uti,” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu Emakmu nak,” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata Uti sontak mengagetkanku. Seperti petir yang menyambar-nyambar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak mungkin Uti. Itu bukan Emak. Itu bukan Emak,’ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih belum percaya semua yang dikatakan Uti. Aku meronta-ronta dan tiba-tiba saja tubuhku lemas. Seketika itu juga aku tak sadarkan diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya cukup lama aku tak sadarkan diri. Saat siuman sayup-sayup kudengar lantunan ayat-ayat suci di rumah Eyang. Di dekatku ada bu lurah. Melihatku sadar ia langsung memelukku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sabar ya, nak,” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Emak bohong lagi,” kataku sambil terisak sementara bu Lurah terus mengusap-usap rambutku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karanggede, 29 Juli 2011 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fathoni Arief &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagi takkan pernah membuatmu merugi&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Perjalanan Fathoni Arief&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3388183797559335990-2362858788641332651?l=www.fathoniarief.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CatatanFathoniArief/~4/oZQRRs0AupM" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.fathoniarief.co.cc/feeds/2362858788641332651/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3388183797559335990&amp;postID=2362858788641332651&amp;isPopup=true" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3388183797559335990/posts/default/2362858788641332651?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3388183797559335990/posts/default/2362858788641332651?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CatatanFathoniArief/~3/oZQRRs0AupM/emak-pulang.html" title="Emak Pulang" /><author><name>Fathoni Arief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="21" height="32" src="http://3.bp.blogspot.com/_p9u3EivxYwM/TS--Cs8btUI/AAAAAAAADTE/czaA9SDOV8I/S220/pakar.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.fathoniarief.co.cc/2011/11/emak-pulang.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEABR3Y4fCp7ImA9WhdbFEo.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3388183797559335990.post-5952740320891403590</id><published>2011-10-13T09:24:00.001+07:00</published><updated>2011-10-13T09:25:56.834+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-10-13T09:25:56.834+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Air" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Petani" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Jerih Payah" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sawah" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kemarau Panjang" /><title>Demi satu tujuan "Panen"</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-B2cpdrSz4-w/TpZJL1OaysI/AAAAAAAADYc/dotOsrHPUSI/s1600/sawah.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/-B2cpdrSz4-w/TpZJL1OaysI/AAAAAAAADYc/dotOsrHPUSI/s320/sawah.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Pernahkah kita membayangkan bagaimana jerih payah para petani menanam berbagai macam hasil bumi sebelum akhirnya tersaji di meja makan kita? Tahukah kita bagaimana usaha mereka untuk menghasilkan tanaman dengan kualitas terbaik, meskipun hasil akhir belum tentu sama seperti apa yang mereka harapkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebetulan mertua saya adalah seorang petani. Dari hasil jerih payahnya bercocok tanam sewaktu masih segar bugar beliau berhasil menyekolahkan putra-putrinya hingga ke bangku kuliah, termasuk istri saya yang berprofesi sebagai dokter gigi. Sungguh luar biasa bukan. Namun saya tak ingin bercerita tentang itu namun mengenai suka duka menjadi petani.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak selamanya hasil jerih payah petani selama bercocok tanam menggembirakan. Ada kalanya kegagalan demi kegagalan menyertai langkah mereka. Meskipun sebenarnya mereka sudah berusaha keras dengan berbagai upaya. Kegagalan tersebut bisa karena tidak bisa panen, hasil panen kurang memuaskan atau berhasil panen namun harga jual anjlok sehingga harus menanggung kerugian.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-jTdkJTFUSpk/TpZLJ7o8R1I/AAAAAAAADYk/-35pC-l2aqc/s1600/051.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/-jTdkJTFUSpk/TpZLJ7o8R1I/AAAAAAAADYk/-35pC-l2aqc/s320/051.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Mengenai sukses tidaknya panen ada banyak hal. Satu diantaranya adalah air. Keberadaan air harus pas, tak boleh terlalu banyak atau kebalikanya tak ada sama sekali. air inilah yang sekarang menjadi permasalahan sendiri bagi bapak mertua saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selepas panen padi beberapa bulan lalu, mertua saya memutuskan menanam sawahnya dengan kacang tanah. Keputusan ini tak lepas dari pengalaman bercocok tanam di tahun sebelumnya. Seperti kita ketahui tahun lalu sepanjang tahun terjadi hujan, sehingga hasil panen kacang tahun lalu terbilang lumayan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berpijak dari pengalaman itulah mereka kembali menanam kacang tanah. Namun rupanya cuaca tak bisa diajak kompromi. Sudah beberapa bulan hujan tidak turun. Padahal air di saluran sudah hampir kering. Di masa lalu kondisi ini tidaklah menjadi masalah karena para pengolah sawah bisa mengambil air dari atas di malam hari. Mereka bergotong royong semalaman menjaga aliran air agar tidak ada yang mencuri air tersebut. Namun sekarang sudah sulit mencari tenaga dan ditambah usia bapak yang sudah mulai renta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai solusi, bapak memutuskan membeli mesin pompa air. Meskipun pada prakteknya bapak harus bekerja keras membawa pompa, selang dan perlatan lainya ke sawah dengan menggunakan sepeda onthel tuanya. Karena kelima anaknya tinggal agak jauh termasuk saya dengan istri. Dengan dibantu simbok bapak membawa peralatanya untuk mengairi tanaman kacang tanahnya demi satu kata panen. Untung saja selalu saja ada mereka yang bersedia membantu mengoperasikan pompa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya yang penasaran, Minggu itu membantu membawakan peralatan ke sawah dengan menggunakan sepeda motor. tak sampai sejam di sawah saya bisa merasakan jerih payah para petani dalam bercocok tanam. Meskipun capek berada di sawah seperti ada satu kenikmatan tersendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Petani dengan jerih payahnya berupaya menghasilkan tanaman terbaik. Namun keberadaan mereka makin terancam dengan tanaman beton yang siap mengusur mereka, ketidakpedulian pemerintah dan ancaman impor hasil bumi dari luar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karanggede, 13 Oktober 2011&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbagi takkan pernah membuatmu merugi&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Perjalanan Fathoni Arief&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3388183797559335990-5952740320891403590?l=www.fathoniarief.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CatatanFathoniArief/~4/zyo53941d_Q" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.fathoniarief.co.cc/feeds/5952740320891403590/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3388183797559335990&amp;postID=5952740320891403590&amp;isPopup=true" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3388183797559335990/posts/default/5952740320891403590?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3388183797559335990/posts/default/5952740320891403590?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CatatanFathoniArief/~3/zyo53941d_Q/demi-satu-tujuan-panen.html" title="Demi satu tujuan &quot;Panen&quot;" /><author><name>Fathoni Arief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="21" height="32" src="http://3.bp.blogspot.com/_p9u3EivxYwM/TS--Cs8btUI/AAAAAAAADTE/czaA9SDOV8I/S220/pakar.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-B2cpdrSz4-w/TpZJL1OaysI/AAAAAAAADYc/dotOsrHPUSI/s72-c/sawah.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.fathoniarief.co.cc/2011/10/demi-satu-tujuan-panen.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0MFSX07cCp7ImA9WhdWGE8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3388183797559335990.post-4484867465148126693</id><published>2011-09-12T16:56:00.000+07:00</published><updated>2011-09-12T16:56:58.308+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-09-12T16:56:58.308+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="PSSI" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="ISL" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="LPI" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="djohar arifin husein" /><title>Mau Dibawa Kemana Sepakbola Kita?</title><content type="html">Lepas dari satu masalah muncul masalah lain. Itulah yang saat ini tengah dihadapi oleh persepakbolaan Indonesia. Ingatan publik masih belum hilang beberapa bulan lalu ketika isu penggulingan rezim Nurdin Halid mengemuka. Satu drama panjang yang akhirnya selesai di Solo dengan terpilihnya  Djohar Arifin Husein sebagai Ketua Umum PSSI. Apakah itu akhir dari cerita tentang PSSI, rupanya belum. Kini pengurus baru memiliki pekerjaan rumah besar terkait nasib Liga Super Indonesia dan Liga Profesional Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan ISL dan LPI sebenarnya sudah mencuat jauh hari setelah berlangsungnya piala AFF. Bahkan masalah ini sempat membuat Indonesia terancam sangsi dari FIFA. Mencegah sangsi dari badan sepakbola tertinggi dunia akhirnya PSSI mengakomodir LPI. Solusinya bukan berarti ada dua liga tapi meleburkan LPI dalam kompetisi bentukan PSSI. Meski ternyata  menggabungkan LPI dan ISL tak semudah membalik tangan. &lt;br /&gt; &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Soal peleburan dua liga tersebut rupanya bukanlah satu-satunya masalah yang kini dihadapi. Terhentinya aliran dana APBD dan persyaratan dari AFC mengenai standar klub yang harus dipenuhi peserta liga membuat masalah makin pelik. PSSI memutuskan mengaudit lagi tim divisi Utama, ISL dan LPI terkait dengan 5 persyaratan yaitu : syarat finansial, legal, infrastruktur, personel, dan sporting. Diantara kelima persyaratan tersebut finansial menjadi momok klub yang dulunya begitu bergantung dengan dana APBD. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai reaksi pun muncul. Ada suara pengurus klub yang mempersoalkan mepetnya waktu untuk memenuhi semua persyaratan. Jika dihitung dari awal Agustus hingga saat kompetisi dimulai yaitu tanggal 8 Oktober berarti hanya ada waktu tak sampai 3 bulan.  Melihat fakta-fakta yang ada publik tentunya bertanya-tanya mampukah klub-klub yang ada memenuhi persyaratan yang diajukan AFC tersebut. Apalagi ada sanksi AFC larangan tampil di liga Champion Asia selama 3 musim kompetisi bagi klub-klub Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantas saja jika ekspektasi publik tinggi. Apalagi selama ini sudah beberapa kali terjadi gonta-ganti format kompetisi, namun tak ada perubahan signifikan terhadap kualitas kompetisi dan prestasi sepakbola negeri ini. Sejak berdiri hingga saat ini sudah berkali-kali terjadi perubahan format kompetisi. Kembali ke masa lalu, hingga tahun 1979 satu-satunya kompetisi tingkat nasional di Indonesia adalah Kejuaraan Nasional Perserikatan dan bersifat amatir. Awal mula adanya kompetisi profesional adalah tahun 1979 ditandai dengan terselanggaranya Liga Sepak Bola Utama dan disingkat Galatama. Bahkan waktu itu Galatama menjadi salah satu pioner kompetisi semiprofesional dan profesional di Asia selain Hongkong. Meski demikian, baik Perserikatan maupun Galatama tetap berjalan sendiri-sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di awal kompetisi hingga musim 1982, Galatama memperbolehkan adanya pemain asing. Namun setelah itu pemakaian pemain asing dilarang. Aturan ini tahun demi tahun makin membuat Galatama ditinggalkan penonton. Bahkan lambat laun tak hanya ditinggalkan penonton saja tapi satu persatu klub mengundurkan diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1994 Galatama dan Perserikatan digabung menjadi Liga Indonesia. PSSI menggabungkan Perserikatan dan Galatama dan membentuk Liga Indonesia, memadukan fanatisme yang ada di Perserikatan dan profesionalisme yang dimiliki Galatama. Dengan tujuan meningkatkan kualitas sepak bola Indonesia. Dalam perjalananya Liga Indonesia sempat mengalami beberapa kali perubahan format dari satu wilayah menjadi dua wilayah dan kembali satu wilayah lagi. Pada tahun 2008, PSSI menyelenggarakan Liga Super Indonesia sebagai liga sepak bola profesional pertama di Indonesia, menggantikan Divisi Utama sebagai kompetisi tingkat teratas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan Liga Super Indonesia rupanya kembali terusik. Semua dimulai dari isu pelarangan penggunaan dana APBD oleh Menteri dalam negeri, ditambah munculnya kompetisi mandiri yang dimotori oleh pengusaha Arifin panigoro bernama Liga Primer Indonesia. LPI mengklaim dirinya sebagai kompetisi profesional yang bebas dari dana APBD. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar dari penyelenggaraan liga-liga di masa lalu seharusnya PSSI kali ini bisa menghasilkan keputusan terbaik. Apalagi sekarang pasca penyelanggaraan piala AFF permainan timnasional kita trendnya tengah naik. Semoga saja dengan terbentuknya liga yang benar-benar bermutu, profesional, setidaknya kita bisa meniru Jepang yang sukses dengan liga Jepangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fathoni Arief &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Pemerhati Bola &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berbagi takkan pernah membuatmu merugi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Perjalanan Fathoni Arief&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3388183797559335990-4484867465148126693?l=www.fathoniarief.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CatatanFathoniArief/~4/bY4k99oG6hM" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.fathoniarief.co.cc/feeds/4484867465148126693/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3388183797559335990&amp;postID=4484867465148126693&amp;isPopup=true" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3388183797559335990/posts/default/4484867465148126693?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3388183797559335990/posts/default/4484867465148126693?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CatatanFathoniArief/~3/bY4k99oG6hM/mau-dibawa-kemana-sepakbola-kita.html" title="Mau Dibawa Kemana Sepakbola Kita?" /><author><name>Fathoni Arief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="21" height="32" src="http://3.bp.blogspot.com/_p9u3EivxYwM/TS--Cs8btUI/AAAAAAAADTE/czaA9SDOV8I/S220/pakar.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.fathoniarief.co.cc/2011/09/mau-dibawa-kemana-sepakbola-kita.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CUYBRnoyfyp7ImA9WhdQEEg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3388183797559335990.post-7038855512305958556</id><published>2011-08-11T15:59:00.000+07:00</published><updated>2011-08-11T15:59:17.497+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-08-11T15:59:17.497+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="PSSI" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="ISL" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Revolusi PSSI" /><title>Menjadi Klub Mandiri Tanpa Dana APBD</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Aliran dana APBD bagi klub di musim kompetisi mendatang akhirnya benar-benar di stop. Aturan mengenai pelarangan itu telah dikeluarkan oleh Mendagri, Gamawan Fauzi, melalui Permendagri Nomor 22 Tahun 2011. Aturan tersebut isinya larangan daerah memberi bantuan APBD kepada klub.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Berhentinya kucuran dana dari APBD mendapat reaksi beragam. Ada yang jelas-jelas mendukung dan ada pula yang kurang setuju. Pihak yang mengamini keputusan tersebut berpendapat selama ini adanya dana APBD lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya. Penggunaan dana dari daerah nyata-nyata juga memberi celah pihak-pihak yang tak bertanggung jawab menyelewengkan dana yang ada.. Ingatan publik tentunya masih belum lupa kasus yang menyeret mantan manajer Persisam Samarinda, Aidil Fitri karena dugaan telah membagi-bagikan sejumlah uang kepada sejumlah politisi dan pengurus PSSI. &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Tak hanya itu saja, adanya jaminan dana dari APBD dalam perjalannya membuat pengurus klub bersikap manja sehingga malas untuk berusaha mendapat sumber pemasukan lain ibarat anak sapi yang terus menyusu pada induknya. Akibatnya seringkali mereka tak sadar sudah menjadi alat politik bagi penguasa di daerah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Meskipun kebanyakan mendukung larangan penggunaan dana APBD, tetapi ada juga pihak yang keberatan. Mereka sebagian besar adalah pengelola klub-klub dari daerah. Mereka mengeluhkan selama ini tak gampang mendapatkan sponsor begitu pula pemasukan dari tiket, maka dari itu dana APBD menjadi elemen yang teramat penting.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Mencari Solusi Jitu&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Tertutupnya pintu mendapatkan dana dari APBD membuat pengurus klub harus segera mencari solusi tepat. Tujuanya tentu saja jelas mereka tetap bisa mengikuti kompetisi meskipun harus bersusah payah mencari pemasukan baru. Jika perlu pengurus klub bisa belajar langsung dengan beberapa nama klub yang jauh-jauh hari sudah benar-benar mandiri. Mereka adalah : Arema Indonesia, Pelita Jaya Purwakarta, Semen padang dan Persib bandung. Diantara empat nama klub diatas, Persib Bandung bisa menjadi contoh klub yang dulunya begitu bergantung pada APBD namun kini menjadi klub mandiri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Selain mencari alternatif pendanaan baru ada hal yang perlu juga diperhatikan oleh pengurus klub yaitu soal manajemen klub. Ini terkait dengan banyak hal, diantaranya kepengurusan yang efektif, kebijakan dalam rekrutmen pemain dan disiplin anggaran.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Satu contoh terkait dengan kebijakan rekrutmen pemain adalah pembatasan pemain asing. Diakui atau tidak selama ini kehadiran pemain asing membuat anggaran satu tim membesar apalagi mereka yang memaksimalkan jatah 5 pemain asing. Sebaiknya kedepan pengurus klub tak lagi menghambur-hamburkan uang hanya untuk mendapatkan pemain asing yang belum tentu mampu mendongkrak kualitas tim. Kini saatnya klub memaksimalkan sumberdaya lokal dan mencari bibit-bibit pemain muda yang berkualitas. Beri kesempatan pemain muda untuk mendapatkan pengalaman bermain.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Aturan pembatasan pemain ini ada baiknya disahkan oleh PSSI sehingga nantinya tak ada kesenjangan antara klub beranggaran cekak dan kaya. Jika tidak bisa saja nanti satu klub yang memiliki sponsor besar tetap saja mendatangkan pemain asing sedangkan di sisi lain klub yang tak punya duit hanya mampu merekrut pemain lokal. Bahkan kalau perlu PSSI bisa meniru langkah Malaysia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Dengan adanya beragam upaya yang bisa ditempuh, larangan penggunaan dana APBD seharusnya ditanggapi dengan positif. Jadikan saja batu loncatan demi munculnya klub-klub yang dikelola dengan profesional dan jauh dari berbagai permainan politik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;FATHONI ARIEF&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Pemerhati Bola tinggal di Yogyakarta&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;Berbagi takkan pernah membuatmu merugi&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Perjalanan Fathoni Arief&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3388183797559335990-7038855512305958556?l=www.fathoniarief.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CatatanFathoniArief/~4/laRd1TagBZE" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.fathoniarief.co.cc/feeds/7038855512305958556/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3388183797559335990&amp;postID=7038855512305958556&amp;isPopup=true" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3388183797559335990/posts/default/7038855512305958556?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3388183797559335990/posts/default/7038855512305958556?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CatatanFathoniArief/~3/laRd1TagBZE/menjadi-klub-mandiri-tanpa-dana-apbd.html" title="Menjadi Klub Mandiri Tanpa Dana APBD" /><author><name>Fathoni Arief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="21" height="32" src="http://3.bp.blogspot.com/_p9u3EivxYwM/TS--Cs8btUI/AAAAAAAADTE/czaA9SDOV8I/S220/pakar.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.fathoniarief.co.cc/2011/08/menjadi-klub-mandiri-tanpa-dana-apbd.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DU8EQX88eSp7ImA9WhdREUs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3388183797559335990.post-3041486739410474555</id><published>2011-08-01T10:03:00.000+07:00</published><updated>2011-08-01T10:03:20.171+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-08-01T10:03:20.171+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="PSSI" /><title>Menanti Sentuhan Baru Pengurus Anyar PSSI</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Drama kongres PSSI akhirnya usai juga. Kota Solo rupanya mampu mempertemukan kelompok-kelompok yang selama ini bersitegang dalam satu meja untuk duduk bersama dan membentuk kepengurusan baru. Akhirnya &lt;/span&gt;Djohar Arifin Husin tampil sebagai Ketua Umum baru. &lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Kongres berjalan sukses dan hal terpenting Indonesia luput dari sanksi FIFA.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Usai terbentuk kepengurusan baru, masyarakat sudah menanti seperti apakah kinerja mereka. Adakah hal baru dan semangat baru yang diusung. Atau hanya berganti orang saja namun rasanya tetap saja.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Setidaknya satu keputusan yang terkesan kontroversial sudah dibuat PSSI. Di awal kepengurusanya pelatih tim nasional Indonesia Alfred Riedl adalah korban pertamanya. Pelatih berkebangsaan Austria itu didepak dari kursinya dan diganti &lt;/span&gt;pelatih asal Belanda, Wim Rijsbergen&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;. Padahal sebenarnya kontraknya baru selesai Mei 2012. Bahkan untuk “membuang” Riedl, PSSI rela merogoh koceknya sebagai ganti rugi. Keputusan yang tentunya membuat orang bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi.&amp;nbsp;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Pergantian pelatih yang terkesan mendadak tersebut mengagetkan banyak pihak, termasuk Riedl. Ganti pelatih berarti memulai lagi adaptasi antara pelatih dengan pemain padahal persiapan timnas untuk menghadapi beberapa ajang penting sudah kian mepet. Di depan mata pra kualifikasi piala dunia dan target medali emas di Sea Games sudah menanti.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Nasib LPI dan ISL&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Tak hanya soal ganti pelatih baru saja. Keputusan pengurus baru terkait nasib Liga Primer Indonesia juga dinanti. Seperti apakah formula yang dipakai untuk meleburkan kompetisi bentukan Arifin Panigoro tersebut dengan ISL. Yang jelas hingga sekarang belum ada keputusan final akan hal itu. Terkait Hal itu semoga saja PSSI segera mampu menanganinya. Setidaknya ada waktu hingga usai lebaran nanti.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Satu persoalan lagi yang tak kalah penting adalah terkait pendanaan bagi klub ISL. Seperti telah kita ketahui 2012 penggunaan dana APBD untuk sepakbola sudah benar-benar dilarang. Bagi klub seperti Arema hal ini tak lagi menjadi soal namun tidak demikian halnya dengan klub yang&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;selama ini teramat bergantung pada dana APBD. Situasi ini membuat mereka was-was dengan masa depan mereka. Berkurangnya dana APBD artinya akan ada pengaruh besar pada tim. Mereka&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;harus berfikir keras bagaimana caranya dengan dana cekak mampu membentuk satu tim yang kompetitif dan bisa menjalani serangkaian jadwal ketat dari sebuah kompetisi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Satu langkah yang patut ditiru adalah keputusan mantan juara ISL Persik Kediri untuk tidak mendatangkan pemain luar yang mahal. Mereka lebih memilih mendatangkan pemain potensial hasil dari ajang Porprov. Terlepas dari pertanyaanya apakah kemampuan mereka sudah benar-benar teruji langkah ini patut ditiru. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Dengan kondisi seperti ini publik kini bertanya-tanya. Seperti apakah solusi yang ditawarkan oleh PSSI nanti. Sehingga jangan sampai selepas kompetisi antara LPI dan ISL benar-benar dilebur ada suara-suara sumbang terkait masalah pendanaan. Jangan sampai ada kecemburuan dengan tim LPI yang ada di bawah pendanaan konsorsium.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Bagaimanakah Pak Ketua Umum PSSI? Keputusan-keputusan terkait dengan hal diatas sangat ditunggu masyarakat pecinta. Mampu membenahi liga dan timnas adalah poin penting bagi kami untuk menilai kualitas anda.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;FATHONI ARIEF&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Berbagi takkan pernah membuatmu merugi&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Perjalanan Fathoni Arief&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3388183797559335990-3041486739410474555?l=www.fathoniarief.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CatatanFathoniArief/~4/nWBQGBoPNiw" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.fathoniarief.co.cc/feeds/3041486739410474555/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3388183797559335990&amp;postID=3041486739410474555&amp;isPopup=true" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3388183797559335990/posts/default/3041486739410474555?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3388183797559335990/posts/default/3041486739410474555?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CatatanFathoniArief/~3/nWBQGBoPNiw/menanti-sentuhan-baru-pengurus-anyar.html" title="Menanti Sentuhan Baru Pengurus Anyar PSSI" /><author><name>Fathoni Arief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="21" height="32" src="http://3.bp.blogspot.com/_p9u3EivxYwM/TS--Cs8btUI/AAAAAAAADTE/czaA9SDOV8I/S220/pakar.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.fathoniarief.co.cc/2011/08/menanti-sentuhan-baru-pengurus-anyar.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEcASX86fSp7ImA9WhdSGUQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3388183797559335990.post-4803300146063645760</id><published>2011-07-30T09:14:00.000+07:00</published><updated>2011-07-30T09:14:08.115+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-07-30T09:14:08.115+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Timnas" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="OPOSAN" /><title>Lagi-lagi Masalah Stamina</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Ajang kualifikasi babak ketiga piala dunia sedikit menjawab keraguan publik akan kapabilitas pelatih anyar asal Belanda Wim Rijsberger. Anak asuhan sang meneer mampu mengkandaskan perlawanan Turkmenistan. Dalam pertandingan yang digelar di Gelora Bung Karno Kamis malam tim merah putih menang dengan skor tipis 4-3. Meskipun sebelumnya Indonesia sempat unggul 4-1.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Melihat permainan timnas Indonesia nampak jelas kemampuan teknis bukan lagi menjadi kendala. Bisa kita lihat sendiri bagaimana di awal babak pertama permainan timnas kita. Saya seperti melihat timnas yang beda. Jauh lebih matang dibanding saat piala AFF dulu. Anak-anak garuda memainkan sepakbola indah dari kaki ke kaki. Mereka lebih mengutamakan umpan-umpan pendek dan sentuhan satu dua untuk menerobos pertahanan Turkmenistan. Anak-anak tim berkostum hijau tersebut seperti tak berdaya menghalau kecepatan pemain Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Melalui serangan demi serangan sepanjang awal babak pertama terciptanya gol seperti tinggal menanti waktu saja. Benar saja, lewat sundulan yang akurat Christian Gonzales mampu mengoyak gawang Turkmenistan. Tak cukup sekali, striker naturalisasi ini mampu menambah pundi-pundi golnya setelah menyelesaikan umpan cantik dari Boaz Solossa.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Unggul dua gol, anak-anak asuhan Wim nampaknya tak mau mengendorkan serangan. Peluang-demi peluang tercipta namun hanya satu gol tambahan lagi yang tercipta. Melalui gol spektakuler dari M.Nasuha dari luar kotak penalti.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Babak kedua Indonesia tak melakukan perubahan komposisi pemain. Anak-anak merah putih langsung menggebrak. Namun kali ini Turkmenistan lebih memperkuat pertahanannya. Boaz Salosa yang di babak pertama begitu leluasa bergerak harus berhadapan dengan dua hingga tiga pemain lawan. Begitu pula dengan El Loco. Bahkan karena lengah Indonesia harus kecolongan satu gol. Seakan tak mau kecolongan lagi Indonesia langsung balas menyerang. Usaha ini membuahkan hasil. Melalui sebuah serangan, M ridwan mampu memanfaatkan umpan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Rupanya selepas unggul penyakit lama timnas kambuh. Meskipun unggul jumlah pemain justru Indonesia dikagetkan dengan gol kedua Turkmenistan. Gol ini sempat membuat pemain Indonesia panik. Kondisi fisik yang menurun membuat mereka seperti kehilangan sentuhan yang sudah mereka peragakan di babak pertama. Memanfaatkan situasi ini sekali lagi Turkmenistan memperkecil ketertinggalan menjadi 4-3. Untung saat itu pertandingan sudah memasuki menit ke 86 dan hingga akhir pertandingan skor tak berubah untuk kemenangan Indonesia dan mengantar tim merah putih maju ke babak ke 4 kualifikasi piala dunia brazil. Namun bayangkan saja jika pertandingan masih 15 menit lagi mungkin saja ceritanya bisa beda, tanpa menganggap remeh kemampuan pemain kita.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Mencermati hasil pertandingan semalam terlihat jelas banyak perubahan terjadi pada timnas kita. Permainan mereka lebih rapi, berani memainkan umpan-umpan pendek dan tak banyak membuang bola.&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Mereka tak minder berhadapan dengan pemain Turkmenistan yang rata-rata memiliki postur lebih tinggi. Tapi seperti biasanya masalah stamina rupanya belum sepenuhnya teratasi. Ini bisa kita lihat di pertengahan babak kedua permainan anak merah putih menurun drastis.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Masalah stamina dari tahun ketahun sepertinya selalu menjadi momok yang belum teratasi. Jika sang pelatih baru, Wim Rijkberger, mampu atasi ini saya yakin Indonesia mampu melangkah lebih jauh di babak kualifikasi setidaknya mengulang prestasi di tahun 85 dulu. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Fathoni Arief&lt;/div&gt;Berbagi takkan pernah membuatmu merugi&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Perjalanan Fathoni Arief&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3388183797559335990-4803300146063645760?l=www.fathoniarief.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CatatanFathoniArief/~4/Hvbv5FlSylI" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.fathoniarief.co.cc/feeds/4803300146063645760/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3388183797559335990&amp;postID=4803300146063645760&amp;isPopup=true" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3388183797559335990/posts/default/4803300146063645760?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3388183797559335990/posts/default/4803300146063645760?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CatatanFathoniArief/~3/Hvbv5FlSylI/lagi-lagi-masalah-stamina.html" title="Lagi-lagi Masalah Stamina" /><author><name>Fathoni Arief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="21" height="32" src="http://3.bp.blogspot.com/_p9u3EivxYwM/TS--Cs8btUI/AAAAAAAADTE/czaA9SDOV8I/S220/pakar.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.fathoniarief.co.cc/2011/07/lagi-lagi-masalah-stamina.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;Dk4DQXk8fCp7ImA9WhdSGU0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3388183797559335990.post-5899336549364044543</id><published>2011-07-29T09:02:00.000+07:00</published><updated>2011-07-29T09:02:50.774+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-07-29T09:02:50.774+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Kita" /><title>Manfaat Kafein Bagi Tubuh</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-large;"&gt;&lt;b&gt;S&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;iapa tak mengenal kafein. Zat ini bisa dengan mudah dijumpai dalam keseharian. Apalagi bagi anda para penikmat kopi. Meskipun sebenarnya kafein bisa juga ditemui dalam the, es cream&amp;nbsp; dan coklat.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apakah anda dalam keseharian selalu mengkonsumsi zat ini. Jika anda mengkonsumsi dengan bijak berbahagialah. Ada berbagai manfaat positif yang bisa anda dapatkan. Dalam buku The Miracle Of Cafein Bennet Alan Weinberg dan Bonnie k. Bealer merilis setidaknya ada 13 manfaat yang bisa didapat diantaranya :&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: left;"&gt;&lt;li&gt;Memperbaiki suasana hati&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mempercepat respon&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Meningkatkan daya ingat&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Memperkuat konsentrasi&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Menajamkan logika&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Meningkatkan ketahanan otot dan kapasitas paru&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Meredakan nyeri&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mengurangi nafsu makan&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mempercepat pembakaran lemak&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Meredakan serangan migrain dan asma&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mencegah penyakit parkinson&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mencegah penyakit batu empedu&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Membantu orang agar sehat secara mental dan fisik sehingga mereka tampak lebih muda.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Berbagi takkan pernah membuatmu merugi&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Perjalanan Fathoni Arief&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3388183797559335990-5899336549364044543?l=www.fathoniarief.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CatatanFathoniArief/~4/A809H55JNH4" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.fathoniarief.co.cc/feeds/5899336549364044543/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3388183797559335990&amp;postID=5899336549364044543&amp;isPopup=true" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3388183797559335990/posts/default/5899336549364044543?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3388183797559335990/posts/default/5899336549364044543?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CatatanFathoniArief/~3/A809H55JNH4/manfaat-kafein-bagi-tubuh.html" title="Manfaat Kafein Bagi Tubuh" /><author><name>Fathoni Arief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="21" height="32" src="http://3.bp.blogspot.com/_p9u3EivxYwM/TS--Cs8btUI/AAAAAAAADTE/czaA9SDOV8I/S220/pakar.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Boyolali, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-7.517290999999999 110.59344099999998</georss:point><georss:box>-7.548460499999999 110.55001649999998 -7.486121499999999 110.63686549999998</georss:box><feedburner:origLink>http://www.fathoniarief.co.cc/2011/07/manfaat-kafein-bagi-tubuh.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DE4ESXo7fSp7ImA9WhdSF04.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3388183797559335990.post-8771521510754076300</id><published>2011-07-27T09:36:00.002+07:00</published><updated>2011-07-27T10:21:48.405+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-07-27T10:21:48.405+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="catatan Pagi" /><title>Perilaku Manusia Bisa Dilihat Dari Cara Menyikapi Traffic Light</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-9hWOqmdPOIs/Ti953xV8eWI/AAAAAAAADYY/GVBzRZzxTzI/s1600/220px-Modern_British_LED_Traffic_Light.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-9hWOqmdPOIs/Ti953xV8eWI/AAAAAAAADYY/GVBzRZzxTzI/s1600/220px-Modern_British_LED_Traffic_Light.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Sumber image : wikipedia&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;P&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;ernahkah anda memperhatikan perilaku manusia ketika berada di traffic light. Ternyata saya menemukan satu hal yang menarik dan mungkin saja bisa mencerminkan sifat dari manusia tersebut. Coba saja kapan-kapan ketika tengah berkendara, khususnya di jalan yang relatif sepi anda perhatikan betul. Anda akan menemukan hal 3 tipe manusia seperti di bawah ini.&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tipe manusia pertama adalah mereka yang begitu saja melanggar lampu sinyal. Ketika lampu lalu-lintas sudah berwarna merah mereka seperti tak peduli dan tanpa rasa takut melanggarnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tipe manusia yang kedua adalah mereka yang masih mengambang antara melanggar dan tidak. Jika mereka melihat tak ada orang lain melanggar merekapun berhenti. Namun ketika ada satu saja rekan yang melanggar mereka seperti ikut-ikutan.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Terakhir adalah mereka yang sadar sepenuhnya dan tak pernah berfikir untuk melanggar. Dalam kondisi sepi atau tidak, ada petugas polisi atau tidak mereka selalu mematuhi aturan yang berlaku.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Lalu apakah hal itu juga mencerminkan perilaku keseharian mereka? Jika itu adalah tindakan yang dilakukan berulang-ulang sehingga sudha menjadi kebiasaan jawabanya tentu saja dengan mantap saya katakan iya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Fathoni Arief&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Berbagi takkan pernah membuatmu merugi&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Perjalanan Fathoni Arief&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3388183797559335990-8771521510754076300?l=www.fathoniarief.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CatatanFathoniArief/~4/zFJkY6xzvOY" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.fathoniarief.co.cc/feeds/8771521510754076300/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3388183797559335990&amp;postID=8771521510754076300&amp;isPopup=true" title="2 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3388183797559335990/posts/default/8771521510754076300?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3388183797559335990/posts/default/8771521510754076300?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CatatanFathoniArief/~3/zFJkY6xzvOY/perilaku-manusia-bisa-dilihat-dari-cara.html" title="Perilaku Manusia Bisa Dilihat Dari Cara Menyikapi Traffic Light" /><author><name>Fathoni Arief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="21" height="32" src="http://3.bp.blogspot.com/_p9u3EivxYwM/TS--Cs8btUI/AAAAAAAADTE/czaA9SDOV8I/S220/pakar.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-9hWOqmdPOIs/Ti953xV8eWI/AAAAAAAADYY/GVBzRZzxTzI/s72-c/220px-Modern_British_LED_Traffic_Light.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://www.fathoniarief.co.cc/2011/07/perilaku-manusia-bisa-dilihat-dari-cara.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkcHR308fSp7ImA9WhdSE0U.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3388183797559335990.post-7363875096011080711</id><published>2011-07-23T09:21:00.002+07:00</published><updated>2011-07-23T09:27:16.375+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-07-23T09:27:16.375+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="catatan Pagi" /><title>Cerita Tentang Tikus</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-ARyP6ThwdKE/TioxW-peW3I/AAAAAAAADYU/f9TQk08NK9I/s1600/close+up+of+rodent+face.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/-ARyP6ThwdKE/TioxW-peW3I/AAAAAAAADYU/f9TQk08NK9I/s320/close+up+of+rodent+face.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Sumber Image : rodentpestcontrol.co.nz&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;b&gt;Tikus&lt;/b&gt;, semua pasti tahu seperti apa rupa hewan pengerat ini. Hewan yang lekat dengan kesan kotor dan menjijikan. Saya yakin, Haqqul Yaqin, jika hewan ini keberadaanya ada di sekitar anda akan mengusik ketenangan anda. Tapi kali ini saya akan cerita tentang pejaran hidup yang saya dapat akibat munculnya hewan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentang keberadaan tikus yang terlalu mengganggu sekarang ini juga tengah dialami orang-orang di lingkungan tempat saya tinggal. Dimana-mana itu menjadi topik hangat. Termasuk ketika berkumpul di rumah seorang warga yang mengadakan acara kenduri.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Warga di sini memang sudah begitu resah dengan tikus. Betapa tidak, sudah ketiga kalinya secara berturut-turut panen mereka gagal total. Padi yang belum sempat dipanen rusak masuk ke perut hewan menjijikan tersebut. Inilah yang sekaligus menjawab rasa penasaran saya kenapa begitu banyak areal persawahan dibiarkan ngganggur begitu saja. Ternyata beberapa hari ini warga sangat getol menyatakan perang dengan tikus. Secara gotong royong mereka mengadakan gropyokan guna membasmi hama yang sangat merugikan warga tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Soal munculnya hama tikus ini ternyata ada satu pendapat warga yang bagi saya begitu mengena. Menurut pak Fulan, seharusnya munculnya hama tersebut menjadi sarana untuk introspeksi diri. Dulu petani bergotong royong memanen padi, lalu dibawa pulang ke rumah masing-masing. Sesampainya dirumah mereka tak lupa mengikat bagian-bagian hasil panen yang bakal diberikan kepada sanak saudara dan mereka yang membantu sebagai bagian dari rasa syukur.Kebiasaan tersebut di tempat saya sekarang ini kata pak fulan sudah mulai ditinggalkan.Warga memilih sistem tebas atau padi dibeli langsung di sawah. " Akhirnya kantong mereka bolong juga ya. Bagian yang seharusnya dibagi tetap saja hilang digerogoti tikus," katanya dengan spontan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ucapan pak Fulan coba saya resapi dalam-dalam. Ternyata memang betul juga. Munculnya aneka macam wabah bukanya itu sebagai musibah dan salah satu senjata ampuh yang bisa menghindarinya adalah dengan bersedekah. Hmmm... kini saya mencoba memahami permasalahan yang tengah dialami negeri ini. Begitu banyak harta negara digerogoti oleh tikus-tikus berambut hitam. Mungkin satu solusi ampuh yang bisa dilakukan adalah negara ini lebih banyak memperhatikan nasib orang miskin, lemah dan semua pejabat hingga rakyat membiasakan diri selalu bersedekah dan berbagi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karanggede, 23 Juli 2011&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbagi takkan pernah membuatmu merugi&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Perjalanan Fathoni Arief&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3388183797559335990-7363875096011080711?l=www.fathoniarief.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CatatanFathoniArief/~4/9CBQK8HfZ9c" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.fathoniarief.co.cc/feeds/7363875096011080711/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3388183797559335990&amp;postID=7363875096011080711&amp;isPopup=true" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3388183797559335990/posts/default/7363875096011080711?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3388183797559335990/posts/default/7363875096011080711?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CatatanFathoniArief/~3/9CBQK8HfZ9c/cerita-tentang-tikus.html" title="Cerita Tentang Tikus" /><author><name>Fathoni Arief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="21" height="32" src="http://3.bp.blogspot.com/_p9u3EivxYwM/TS--Cs8btUI/AAAAAAAADTE/czaA9SDOV8I/S220/pakar.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-ARyP6ThwdKE/TioxW-peW3I/AAAAAAAADYU/f9TQk08NK9I/s72-c/close+up+of+rodent+face.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.fathoniarief.co.cc/2011/07/cerita-tentang-tikus.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0YCQ3g-fyp7ImA9WhZaFEU.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3388183797559335990.post-7298560159917395847</id><published>2011-07-01T08:52:00.000+07:00</published><updated>2011-07-01T08:52:42.657+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-07-01T08:52:42.657+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="catatan Pagi" /><title>Cerita Jumat Pagi, Ular di  bawah Kasur</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Memulai &lt;/span&gt;hari dengan semangat baru. Wow, rupanya lebih dari sebulan blog ini tak tersentuh. Selama bulan Juni praktis tak ada satupun artikel yang saya posting. Untung saja dari catatan statistik blog masih ada saja pengynjung yang singgah baik secara sengaja maupun tidak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kali ini saya ingin bercerita tentang ular dan bagaimana seandainya tanpa anda sadari hewan melata tersebut ada di dekat anda. Hmm.. hal inilah yang sempat kami alami. Menemukan ular, meskipun ukuranya tak terlalu besar, di bawah karpet pelapis lantai di bawah springbed yang setiap hari kami tiduri. Sebagai catatan rumah yang kami sewa memang kondisinya begitu minimalis, sebuah rumah yang baru saja dibangun hingga lantaipun baru sebatas diplester saja.&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ceritanya seperti biasa malam hari istri bersih-bersih kamar. Awalnya ia menemukan seekor katak kecil. Hmm meskipun kecil keberadaan reptilia yang satu ini sudah sangat mengganggu. Langsung saja dengan sapu lidi istri mencoba mengusir katak. Eh rupanya sang katak justru ngumpet, di balik karpet. Tak mau si katak masuk, istri membuka-buka karpet namun bukanya katak yang ia temukan justru sesuatu yang panjang dengan ukuran tak wajar. Iapun berteriak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kaget mendengar teriakan istri saya yang waktu itu tengah berada di dekat dapur langsung bertanya ada apa. Awalnya saya tak percaya kok di dalam kamar ada ular. Tapi ternyata istri saya tak salah lihat ketika karpet saya buka-buka seekor ular dengan panjang sekitar 30 cm berukuran sebesra jempol tangan orang dewasa melingkar di pinggir dinding tepat di bawah kepala kami setiap tidur. Hmm...saya ikut-ikutan kaget juga.Untung saja ular tersebut berhasil dibunuh oleh pemilik kontrakan. Kejadian yang cukup membuat kami trauma. Tak mau kecolongan malam itupun saya menburi garam di sekitar rumah dan kamar. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kejadian yang memberi kami satu pelajaran berharga. Di tempat yang saya kira aman rupanya terkadang menyimpan bahaya yang mengancam jika kita tak waspada. Kedua sering-seringlah membersihkan kamar dan selalu menutup kamar ketika ditinggal.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Berbagi takkan pernah membuatmu merugi&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Perjalanan Fathoni Arief&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3388183797559335990-7298560159917395847?l=www.fathoniarief.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CatatanFathoniArief/~4/DUkshdtsTTY" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.fathoniarief.co.cc/feeds/7298560159917395847/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3388183797559335990&amp;postID=7298560159917395847&amp;isPopup=true" title="1 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3388183797559335990/posts/default/7298560159917395847?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3388183797559335990/posts/default/7298560159917395847?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CatatanFathoniArief/~3/DUkshdtsTTY/cerita-jumat-pagi-ular-di-bawah-kasur.html" title="Cerita Jumat Pagi, Ular di  bawah Kasur" /><author><name>Fathoni Arief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="21" height="32" src="http://3.bp.blogspot.com/_p9u3EivxYwM/TS--Cs8btUI/AAAAAAAADTE/czaA9SDOV8I/S220/pakar.jpg" /></author><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://www.fathoniarief.co.cc/2011/07/cerita-jumat-pagi-ular-di-bawah-kasur.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CUMBRHw9eip7ImA9WhZVE0U.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3388183797559335990.post-6214523958675134697</id><published>2011-05-26T11:17:00.000+07:00</published><updated>2011-05-26T11:17:35.262+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-05-26T11:17:35.262+07:00</app:edited><title>Renungan Mei</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;Mei, tak terasa kini sudah memasuki hari ke 26 di bulan pertengahan tahun ini. Ya, waktu berjalan terasa begitu cepat meski peristiwa demi peristiwa yang datang silih berganti seperti baru kemarin dialami. Begitupula dengan kenangan dan rasa yang selalu berbeda menemani di setiap bulan Mei.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bulan Mei, pernah terisi dengan suka cita di masa kanak-kanak. Ketika di malam hari jadi bunyi takbir berkumandang dan satu hadiah ulang tahun sebuah tas baru dari ibu kuterima. Di bulan Mei, juga masih terbayang jelas. Suatu malam, di sudut Yogya, aku mengutarakan niat bakal melamar calon istri.Tapi terkadang Mei terisi dengan kesunyian, ketidakberdayaan, dan kekalahan. Seperti Mei tahun ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kadang naik dan kadang turun, kadang di atas dan kadang di bawah, seperti itulah yang selalu kualami di bulan Mei. Itulah hidup. Semuanya harus dihadapi. Semua orang memiliki permasalahan dan persoalan sendiri yang penting harus tetap berusaha semangat serta bangkit kembali.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Boyolali, 26 Mei 2011&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Berbagi takkan pernah membuatmu merugi&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Perjalanan Fathoni Arief&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3388183797559335990-6214523958675134697?l=www.fathoniarief.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CatatanFathoniArief/~4/Om3oy2OGGk8" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.fathoniarief.co.cc/feeds/6214523958675134697/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3388183797559335990&amp;postID=6214523958675134697&amp;isPopup=true" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3388183797559335990/posts/default/6214523958675134697?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3388183797559335990/posts/default/6214523958675134697?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CatatanFathoniArief/~3/Om3oy2OGGk8/renungan-mei.html" title="Renungan Mei" /><author><name>Fathoni Arief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="21" height="32" src="http://3.bp.blogspot.com/_p9u3EivxYwM/TS--Cs8btUI/AAAAAAAADTE/czaA9SDOV8I/S220/pakar.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.fathoniarief.co.cc/2011/05/renungan-mei.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0MGQ3k_eyp7ImA9WhZXEE0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3388183797559335990.post-2170803569692409338</id><published>2011-04-28T21:37:00.000+07:00</published><updated>2011-04-28T21:37:02.743+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-04-28T21:37:02.743+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kongres pssi" /><title>Menanti Akhir Episode Drama Persepakbolaan Negeri Ini</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Ibarat serial drama&lt;/span&gt;, prosesi pemilihan ketua umum PSSI sudah sampai tahap yang membosankan. Bukan akhir cerita yang didapat namun cerita demi cerita baru yang diulur-ulur dengan terlalu banyak episode. Seperti halnya menonton sinetron yang tak kunjung selesai ceritanya, mengikuti konflik di tubuh PSSI ini, masyarakat sudah jenuh mengikuti konflik demi konflik, adegan demi adegan dan sudah menanti-nanti seperti apa akhir cerita drama tersebut. Mereka tak sabar menanti siapa yang bakal menjadi ketua umum, pengurus dan mau dibawa kemana PSSI kita.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam sejarah pemilihan ketua umum satu induk olahraga di tanah air, mungkin pemilihan ketua umum PSSI bakal dicatat sebagai satu prosesi begitu panjang dan rumit. Betapa tidak, untuk mengganti pengurus saja harus diiringi dengan berbagai konflik dan intrik yang terjadi. Dimulai dari dugaan penggalangan kekuatan di Bali, kecurangan terhadap bakal calon, hilangnya surat suara, pemindahan lokasi kongres.&amp;nbsp;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Puncaknya adalah kericuhan saat berlangsungnya kongres di Pekanbaru. Kericuhan yang terjadi dalam kongres yang berlangsung 26 Maret lalu berawal dari kedatangan pihak yang mengaku sebagai KPPN tanpa membawa tanda pengenal mereka memaksa masuk ke dalam ruang sidang. Buntut dari kekisruhan ini Ketua Umum, Sekjen PSSI, meninggalkan ajang kongres dan menggelar sidang darurat di Bandara Sutan Syarif Hasim II. Mereka secara sepihak memutuskan kongres dibatalkan karena situasi yang dinilai tidak lagi memungkinkan. Meskipun  saat yang bersamaan, KPPN tetap melanjutkan kongres.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menanggapi kisruh tersebut FIFA akhirnya bersikap. Mereka mengambil alih PSSI dan menunjuk satu komite Normalisasi. Komite ini terdiri dari beberapa nama yang bertugas mengawal hingga berlangsungnya kongres PSSI tanggal 20 Mei nanti.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rupanya itu belumlah usai, konflik kepentingan ternyata masih terjadi dan masih ada pihak yang belum puas dengan keputusan FIFA. Setidaknya melalui pengakuan salah satu anggota Komite Normalisasi, FX Rudi Hadyatmo. Wakil Walikota Solo ini merasa ditekan oleh para pemilik suara atau yang menamakan diri sebagai kelompok 78 untuk menandatangani surat pencabutan keputusan-keputusan Komite Eksekutif dan Komite Disiplin PSSI periode 2007-2011. Untung saja ketua KN, Agum Gumelar termasuk pihak yang menolak menandatangani.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Meski diwarnai sejumlah masalah yang belum selesai proses pemilihan bakal calon ketua masih terus berjalan. Hingga saat ini beberapa nama yang telah didaftarkan sebagai calon Ketua Umum adalah Adhyaksa Dault, George Toisutta, Adhan Dambea, Diza Rasyid Ali, Djohar Arifin Husin, Wahidin Halim dan Arifin Panigoro. Nama-nama tersebut masih mungkin bertambah atau justru menyusut saat komite Pemilihan mengumumkan siapa-siapa saja yang berhak maju sebagai calon ketua umum di kongres nanti. Apalagi dalam daftar tersebut terdapat nama yang sudah ditolak FIFA.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mengamati rentetan demi rentetan kejadian, bisa kita amati betapa susahnya memilih pengurus baru di tubuh PSSI.  Bisa dibayangkan betapa menguras energi, fikiran dan biaya. Walaupun ada tanda-tanda cerita bakal usai namun seperti apa akhirnya masyarakat hanya bisa menduga seperti apa akhir dari drama suksesi di tubuh PSSI. Harapan masyarakat konflik di organisasi sepakbola negeri ini segera usai dan diwarnai dengan lancarnya penyelenggaraan kongres nanti. Sehingga bisa memunculkan nama pengurus baru yang benar-benar merupakan representasi suara dari masyarakat, dan tentunya memiliki kemauan untuk memajukan sepakbola negeri ini yang tengah terpuruk. Semoga saja ini juga sebagai akhir episode drama yang sudah terlalu menjemukan dan membosankan, karena tugas kita tak hanya memilih pengurus namun mengembalikan kejayaan sepakbola negeri ini setidaknya di tingkat Asia Tenggara.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Fathoni Arief&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pemerhati Sepakbola&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berbagi takkan pernah membuatmu merugi&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Perjalanan Fathoni Arief&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3388183797559335990-2170803569692409338?l=www.fathoniarief.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CatatanFathoniArief/~4/quyxql99otI" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.fathoniarief.co.cc/feeds/2170803569692409338/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3388183797559335990&amp;postID=2170803569692409338&amp;isPopup=true" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3388183797559335990/posts/default/2170803569692409338?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3388183797559335990/posts/default/2170803569692409338?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CatatanFathoniArief/~3/quyxql99otI/menanti-akhir-episode-drama.html" title="Menanti Akhir Episode Drama Persepakbolaan Negeri Ini" /><author><name>Fathoni Arief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="21" height="32" src="http://3.bp.blogspot.com/_p9u3EivxYwM/TS--Cs8btUI/AAAAAAAADTE/czaA9SDOV8I/S220/pakar.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.fathoniarief.co.cc/2011/04/menanti-akhir-episode-drama.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0cBQXc5eCp7ImA9WhZQE0o.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3388183797559335990.post-5011483780665607083</id><published>2011-04-21T14:30:00.000+07:00</published><updated>2011-04-21T14:30:50.920+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-04-21T14:30:50.920+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Repaking" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Boyolali" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Wonosegoro" /><title>Repaking Menanti Jalan Baru</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-oW38bf58YwQ/Ta_c_mrMENI/AAAAAAAADX4/t2k9IM6jyCw/s1600/Repaking.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-oW38bf58YwQ/Ta_c_mrMENI/AAAAAAAADX4/t2k9IM6jyCw/s1600/Repaking.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;Alunan lagu campursari Didi Kempot terdengar dari kejauhan. Suara yang semula hanya sayup-sayup tersebut makin jelas mengikuti laju sepeda motor penjual&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;kue gethuk. Satu boks kecil &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;sound system&lt;/i&gt; ternyata sengaja dipasang di atas barang dagangan di jok belakang. Mungkin karena asyik dengan lantunan lagu-lagu pengendara tersebut seperti tak peduli lagi dengan jalanan hancur, berbatu dan berlubang. Motor bebeknya melaju dengan kencang melewati jalan Repaking-Karangjati.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Kerusakan jalan, memang menjadi masalah sendiri bagi warga desa yang letaknya di kecamatan Wonosegoro, kabupaten Boyolali dan tepatnya di bagian Utara Barat. Bertahun-tahun jalan tersebut dibiarkan rusak tanpa perbaikan. Kondisi tersebut diperparah dengan lewatnya truk-truk pengangkut kayu selain kondisi tanah yang labil. ”Diperbaiki sih belum tentu, namun kalau makin parah iya,” kata seorang perawat di Puskesmas tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Buruknya jalan akses di sana juga berdampak pada banyak hal diantaranya pemenuhan kebutuhan sehari-hari dan kesehatan. Untung saja sekarang di desa Repaking, terdapat beberapa fasilitas penting seperti pendidikan dan kesehatan bahkan puskesmas yang ada sudah melayani rawat inap. Meskipun demikian jika ternyata Puskesmas tak mampu menangani pasien kebanyakan dirujuk ke rumah sakit di Salatiga. Maklum perjalanan menuju Salatiga lebih singkat dibanding dengan Boyolali kota. Sebagai perbandingan dari kota Boyolali menuju desa Repaking, menggunakan sepeda motor paling cepat bisa ditempuh dalam waktu satu setengah jam, sedangkan Salatiga hanya sejam dengan kondisi jalan yang relatif lebih bagus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Sebenarnya separah apakah jalan menuju desa Repaking? Jika anda kebetulan pernah kuliah tentang perkerasan jalan atau setidaknya pernah membaca literatur mengenai itu jalan di sini sudah cukup menjadi contoh. Semua contoh ada di sana mulai dari jalan berlubang hingga membentuk seperti kubangan kerbau tiap kali habis diguyur hujan, jalan bergelombang, retak, hancur hingga amblas karena beban kendaraan yang &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;overload&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Bertahun-tahun warga menanti guyuran dana perbaikan namun yang ditunggu tak kunjung datang. Wacana perbaikan jalan tersebut bukanya tidak ada. Laporan mengenai buruknya kondisi jalan juga sudah sampai pemerintah kabupaten. Bahkan angin surga pernah bertiup ketika musim kampanye pencalonan bupati bakal diguyurkanya dana lebih bermilyar-milyar untuk membuat jalan mulus kembali. Tetapi seperti biasanya, seperti janji-janji yang lain hingga kini jalan tersebut kondisinya masih tetap sama meskipun ada satu kabar baik bulan Juni ini bakal dimulai perbaikan jalan. Padahal&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;jika perbaikan jalan benar-benar terwujud para pengusaha angkutan sudah antri ancang-ancang membuka trayek di sana.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Sungguh ironis, di Repaking bisa melihat jalan rusak dibiarkan bertahun-tahun tanpa perbaikan sedangkan di sana, di Senayan sana gedung miring sedikit sudah hirup pikuk ribut meminta gedung baru senilai kurang dari 1,3 Triliun. Satu nilai yang jika dibagikan untuk perbaikan jalan bisa membuat mulus ratusan bahkan ribuan jalan yang nasibnya seperti repaking.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Fathoni Arief&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Berbagi takkan pernah membuatmu merugi&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Perjalanan Fathoni Arief&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3388183797559335990-5011483780665607083?l=www.fathoniarief.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CatatanFathoniArief/~4/VFmHY3I_JcQ" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.fathoniarief.co.cc/feeds/5011483780665607083/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3388183797559335990&amp;postID=5011483780665607083&amp;isPopup=true" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3388183797559335990/posts/default/5011483780665607083?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3388183797559335990/posts/default/5011483780665607083?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CatatanFathoniArief/~3/VFmHY3I_JcQ/repaking-menanti-jalan-baru.html" title="Repaking Menanti Jalan Baru" /><author><name>Fathoni Arief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="21" height="32" src="http://3.bp.blogspot.com/_p9u3EivxYwM/TS--Cs8btUI/AAAAAAAADTE/czaA9SDOV8I/S220/pakar.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-oW38bf58YwQ/Ta_c_mrMENI/AAAAAAAADX4/t2k9IM6jyCw/s72-c/Repaking.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.fathoniarief.co.cc/2011/04/repaking-menanti-jalan-baru.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0YHRXo5cSp7ImA9WhZQEks.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3388183797559335990.post-254618934756810551</id><published>2011-04-20T10:07:00.001+07:00</published><updated>2011-04-20T10:12:14.429+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-04-20T10:12:14.429+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="celoteh Senja" /><title>Susahnya Mensyukuri Nikmat</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Bersyukur&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;, Hal yang begitu mudah diucapkan namun dalam pelaksanaanya gampang-gampang susah.&amp;nbsp;Coba saja Tanya pada hati anda yang paling dalam, sudahkah anda selalu bersyukur dalam setiap&amp;nbsp;kondisi? Silahkan anda jawabanya sendiri. Namun, mungkin saja saya termasuk dalam orang-orang yang belum sepenuhnya bersyukur.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam kehidupan sehari-hari bersyukur atas nikmat seperti selalu mendapat rizki, kesehatan, kesempatan relatif lebih mudah dibandingkan saat mendapat anugerah rizki yang pas-pasan, kesempatan yang tak kunjung datang. Dalam kondisi seperti itu seringkali kita lupa untuk mensyukuri &amp;nbsp;nikmat yang lain seperti meskipun rizki pas-pasan namun masih diberi kesehatan, iman dan Islam. Tapi begitulah manusia termasuk saya selalu saja melihat kanan-kiri.&amp;nbsp;Ada satu potongan syair yang menyentuh, pernah dibacakan oleh Gus Dur sewaktu masih hidup.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="color: #282828; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 9pt; line-height: 115%;"&gt;Gampang kabujuk nafsu angkoro&lt;br /&gt;
Ing pepahese gebyareng dunyo&lt;br /&gt;
Iri lan meri sugieh tonggo&lt;br /&gt;
Mulo atine peteng lan nisto&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: #282828; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 9pt; line-height: 115%;"&gt;.....&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="color: #282828; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 9pt; line-height: 115%;"&gt;Uripe ayem rumongso aman&lt;br /&gt;
Dununge roso tondo yen iman&lt;br /&gt;
Sabar narimo nadjan pas-pasan&lt;br /&gt;
Kabeh dinakdir saking pengeran&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: #282828; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 9pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br style="mso-special-character: line-break;" /&gt; &lt;br style="mso-special-character: line-break;" /&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: #282828; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 9pt; line-height: 115%;"&gt;(Syair Gus Dur)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Membaca petikan syair diatas, sepertinya langsung mengena pada diri saya. Kata-kata yang menggambarkan kepicikan saya sebagai manusia yang tengah tenggelam dalam hiruk pikuk dunia. Selalu melihat yang atas dan kurang memperhatikan yang bawah dalam hal urusan dunia persis seperti “Gampang kabujuk nafsu angkoro, Ing pepahese gebyareng dunyo, Iri lan meri sugieh tonggo, Mulo atine peteng lan nisto.”&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ah, meskipun sulit marilah kita selalu bersyukur atas nikmat dan karunia Allah. Bukankah Allah telah menjanjikan siapa yang bersyukur bakal mendapat nikmat-nikmat yang lain. Belajar bersyukur supaya hati tidak selalu gelap dan nista.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Karanggede, 22 April 2011&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;Berbagi takkan pernah membuatmu merugi&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Perjalanan Fathoni Arief&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3388183797559335990-254618934756810551?l=www.fathoniarief.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CatatanFathoniArief/~4/EXKos5sWH2c" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.fathoniarief.co.cc/feeds/254618934756810551/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3388183797559335990&amp;postID=254618934756810551&amp;isPopup=true" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3388183797559335990/posts/default/254618934756810551?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3388183797559335990/posts/default/254618934756810551?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CatatanFathoniArief/~3/EXKos5sWH2c/susahnya-mensyukuri-nikmat.html" title="Susahnya Mensyukuri Nikmat" /><author><name>Fathoni Arief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="21" height="32" src="http://3.bp.blogspot.com/_p9u3EivxYwM/TS--Cs8btUI/AAAAAAAADTE/czaA9SDOV8I/S220/pakar.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.fathoniarief.co.cc/2011/04/susahnya-mensyukuri-nikmat.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0YMSXk9fSp7ImA9WhZREUk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3388183797559335990.post-5460567090848515319</id><published>2011-04-07T09:59:00.000+07:00</published><updated>2011-04-07T09:59:48.765+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-04-07T09:59:48.765+07:00</app:edited><title>Desa Itu Bernama Repaking</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;i&gt;Repaking, tak pernah kami membayangkan bakal menjalani kehidupan di sekitar wilayah ini. Tapi begitulah tugas, mau tak mau, suka tak suka harus kami jalani meskipun berat.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya yakin tak banyak orang tahu keberadaan desa ini, bahkan mendengarpun juga. Begitupula dengan saya.&amp;nbsp;Pertama kali saya tahu lokasi desa inipun juga hanya dari simpang siur cerita orang dan gambaran peta satelit dari google earth. Dari peta tersebut bisa dilihat suatu daerah di ujung Barat dan Utara Kabupaten Boyolali. Wilayah yang berdekatan dengan Kabupaten Semarang.&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Desa Repaking sebenarnya bukanlah desa yang sepi. Penduduk yang tinggal di sekitarnya bahkan mencapai puluhan ribu. Satu angka yang termasuk besar jika melihat bagaimana desa ini terletak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk menuju desa ini jika lewat wilayah Kabupaten Boyolali bisa melalui Kecamatan Karanggede. Dari perempatan Kuda kota satelit di Utara Boyolali ini langsung menuju arah Utara hingga masuk kecamatan Wonosegoro.&amp;nbsp;Dari Karanggede &amp;nbsp;kita masih bisa menikmati jalan yang relatif mulus namun jangan senang dulu, perjalanan masih panjang dengan kondisi jalan mulai dari mulus rusak, hingga rusak parah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bersambung&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Berbagi takkan pernah membuatmu merugi&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Perjalanan Fathoni Arief&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3388183797559335990-5460567090848515319?l=www.fathoniarief.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CatatanFathoniArief/~4/0Wb_HT0XBaY" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.fathoniarief.co.cc/feeds/5460567090848515319/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3388183797559335990&amp;postID=5460567090848515319&amp;isPopup=true" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3388183797559335990/posts/default/5460567090848515319?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3388183797559335990/posts/default/5460567090848515319?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CatatanFathoniArief/~3/0Wb_HT0XBaY/desa-itu-bernama-repaking.html" title="Desa Itu Bernama Repaking" /><author><name>Fathoni Arief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="21" height="32" src="http://3.bp.blogspot.com/_p9u3EivxYwM/TS--Cs8btUI/AAAAAAAADTE/czaA9SDOV8I/S220/pakar.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.fathoniarief.co.cc/2011/04/desa-itu-bernama-repaking.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C04ERns8fyp7ImA9WhZSFkw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3388183797559335990.post-4721631182284624632</id><published>2011-04-01T05:47:00.001+07:00</published><updated>2011-04-01T05:51:47.577+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-04-01T05:51:47.577+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Repaking" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Boyolali" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Wonosegoro" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Karanggede" /><title>Cerita Dari Repaking</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Petualangan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;, ah rupanya angan-anganku dulu sebelum menikah bena-benar dikabulkan oleh Allah. Meski tak pernah meminta bahkan berharap, istri yang diterima menjadi CPNS di&amp;nbsp;Boyolali, kota kecil di Utara Solo, mendapatkan entah itu cobaan atau ujian. Satu lembar SK pengangkatan CPNS yang diterima istri menyebutkan lokasi Puskesmas Wonosegoro II.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Asal tahu saja, lokasi puskesmas ini berada di desa Repaking, satu desa di ujung Barat dan Utara Boyolali berbatasan dengan Kabupaten Semarang. Dari berbagai cerita dan info dari internet, lokasi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;tersebut tak lama lagi menjadi tempat petualangan baru bagi kami. Berbagai tantangan sudah menanti. Di sinilah kami memulai kisah baru, hidup di wilayah pinggiran, sama sekali berbeda jangankan dibanding Jakarta, di sini tak lebih ramai dari Tulungagung, kota kelahiranku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berbagai cerita mengenai pengalaman kami selama berada di sana akan kami ceritakan dalam blog ini. Semoga mampu memberi inspirasi dan motivasi bagi kita semua serta membuka mata mereka yang punya kedudukan di sana gambaran ketidakmerataan pembangunan di pulau Jawa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Simo, 1 April 2011&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Berbagi takkan pernah membuatmu merugi&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Perjalanan Fathoni Arief&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3388183797559335990-4721631182284624632?l=www.fathoniarief.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CatatanFathoniArief/~4/RQp4DHhQilg" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.fathoniarief.co.cc/feeds/4721631182284624632/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3388183797559335990&amp;postID=4721631182284624632&amp;isPopup=true" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3388183797559335990/posts/default/4721631182284624632?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3388183797559335990/posts/default/4721631182284624632?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CatatanFathoniArief/~3/RQp4DHhQilg/cerita-dari-repaking.html" title="Cerita Dari Repaking" /><author><name>Fathoni Arief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="21" height="32" src="http://3.bp.blogspot.com/_p9u3EivxYwM/TS--Cs8btUI/AAAAAAAADTE/czaA9SDOV8I/S220/pakar.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.fathoniarief.co.cc/2011/04/cerita-dari-repaking.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEUGSHY8fyp7ImA9WhZTFEg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3388183797559335990.post-6250203885211251388</id><published>2011-03-18T20:50:00.000+07:00</published><updated>2011-03-18T20:50:29.877+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-03-18T20:50:29.877+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Pendek" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="FFK" /><title>Lika-liku Hati</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="wp-caption aligncenter" id="attachment_96846" style="background-color: #f3f3f3; border-bottom-color: rgb(221, 221, 221); border-bottom-left-radius: 3px 3px; border-bottom-right-radius: 3px 3px; border-bottom-style: solid; border-bottom-width: 1px; border-left-color: rgb(221, 221, 221); border-left-style: solid; border-left-width: 1px; border-right-color: rgb(221, 221, 221); border-right-style: solid; border-right-width: 1px; border-top-color: rgb(221, 221, 221); border-top-left-radius: 3px 3px; border-top-right-radius: 3px 3px; border-top-style: solid; border-top-width: 1px; display: block; margin-bottom: 10px; margin-left: auto; margin-right: auto; margin-top: 10px; padding-top: 4px; text-align: center; width: 487px;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;img alt="13004479411316755764" class="aligncenter size-full wp-image-96846" height="358" src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2011/03/13004479411316755764.jpg" style="border-bottom-style: none; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-style: none; border-left-width: 0px; border-right-style: none; border-right-width: 0px; border-top-style: none; border-top-width: 0px; display: block; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;" title="13004479411316755764" width="477" /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div class="wp-caption-text" style="font-size: 11px; line-height: 17px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 5px; padding-left: 4px; padding-right: 4px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;sumber image : gettyimages.com&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;Aku berjalan dengan langkah gontai. Rasanya kaki ini menjadi makin rapuh seiring bertambahnya usiaku. Kulitku yang keriput seakan bosan melindungi tubuhku yang sekarang tak berguna, sehingga panas yang menyengat terasa menembus langsung ke tulangku. Dengan hati-hati aku berjalan menuju sekumpulan motor dan mobil di perhentian lampu merah. Tanganku terjulur di hadapan mereka sambil bergetar karena lelah, wajah yang memelas menjadi penyempurna pekerjaanku.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Sejenak langkahku terhenti, ketika seorang lelaki, tengah berlari kencang, menabrakku. Tubuh lelaki itu langsung tersungkur menabrak tiang rambu lalu lintas, seperti tak merasakan sakit, ia segera bangkit dan tergesa-gesa berlari menjauh. Sesuatu terjatuh dari balik bajunya. Ternyata sebuah dompet kulit. Langsung saja aku mengambil dompet itu dan memanggilnya namun ia sudah terlalu jauh.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;“Copeeeeetttt!” entah darimana asal suara tersebut, tiba-tiba saja sekelompok massa sudah berkerumun dan mengepungku.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Tanpa basa basi dompet kulit di tanganku direbut oleh salah satu dari mereka. Yang lainnya memakiku dan mengarahkan kepalan tangan ke perutku. Pertama mereka memukuliku sampai aku meringkuk. Lalu kaki-kaki mereka mulai menendangku dengan ritme cepat. Aku memohon ampun. Tapi suaraku yang parau tidak mampu menantang teriakan dan makian mereka.&lt;br /&gt;
“Sudah hentikan!” teriak seseorang dengan lantang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Pandanganku buram. Seluruh tubuhku sakit. Hingga aku tidak dapat menangkap sosok yang menembus kerumunan itu. Seketika aku pasrah. Membiarkan semuanya menjadi gelap. Dan suara itu masih tertangkap oleh pendengaranku yang mulai terganggu. Suara seorang wanita.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;****&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Rupanya cukup lama aku tidak sadarkan diri. Ketika aku membuka mata, hari sudah menjelang petang. Namun, aku tak tahu dimana diriku berada. Kini aku berada di atas ranjang empuk di dalam sebuah kamar yang terlalu luas untuk ukuranku. Bahkan lebih luas dari rumah gubuk yang hampir sepuluh tahun aku huni.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;Perlahan aku bangkit, mencari tahu dimana aku sekarang berada. Perhatianku kini tertuju pada deretan foto yang terpajang di dinding kamar. Kulihat satu persatu wajah-wajah dalam foto tersebut. Mataku terhenti pada salah satu foto.&lt;br /&gt;
“Dok dok dok,” tiba-tiba saja pintu diketuk lalu seorang wanita paruh baya masuk kedalam ruangan, sambil membawa pakaian dan makanan. “Kata Nyonyah, bapak silahkan mandi dan ganti pakaian lalu makan seadanya. Bapak jangan pergi dulu. Sebentar lagi Nyonyah pulang,” kata wanita itu.&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;Aku masih belum bisa merangkai kejadiannya yang terlewati. Setelah aku dipukuli. Bagaimana bisa aku berada disini? Dan Nyonyah? Siapa yang dia maksud dengan Nyonyah?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span&gt;Sudah sepuluh tahun aku berada di kota besar ini. Tanpa sanak saudara atau pun teman. Aku berangkat dari desa di kaki bukit menuju tempat dimana aku berharap dapat mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk anakku. Tapi aku tersesat. Atau lebih tepatnya menyesatkan diri karena malu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;“Bapak belum makan?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;Aku tersentak. Kaget melihat seorang wanita yang tiba-tiba hadir di hadapanku. Wanita yang elegan, cantik, ramah, dan berusia sekitar 20-an. Suaranya sangat aku kenal. Tapi tidak mungkin! Suara itu baru aku dengar tadi siang. Dia yang menolongku dan membawaku kesini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;“Pak..” sekali lagi wanita itu memanggilku. Aku hanya mengangguk, sebagai satu jawaban. Sedari kemarin malam aku belum makan sesuap nasipun. Perutku hanya terisi segelas teh hangat pemberian kuli bangunan di lokasi proyek dekat gubugku.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;“Tunggu sebentar ya Pak. Makanan sedang disiapkan Bibi. Silahkan istirahat dulu kalau masih sakit”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span&gt;Wanita itu lalu keluar dari kamar ini. Mataku mengikuti langkah demi langkah wanita itu. Aku mencoba mengingat-ingat, menelusuri masa laluku. Barangkali saja aku pernah mengenalnya. Tapi rupanya aku tak menemukan jawabnya meskipun kata hatiku mengatakan wanita ini seperti sudah lama kukenal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;Aku kembali berdiri meraih pakaian bagus yang sudah disiapkan di dekat ranjangku. Aku melangkah menuju kamar mandi yang terletak di sudut kamar. Kamar mandi yang begitu mewah bahkan lebih bagus dari kamar mandi milik pak lurah di kampungku dulu. Lantainya dari batu alam tapi tidak licin seperti rumahku di kampung dan ada cermin besar di salah satu dindingnya. Akupun mendekati cermin besar itu memandangi diriku dan baru kusadari hampir sepuluh tahun aku tak pernah memandang cermin. Kupandangi wajah kusut, kurus, berkumis dan berjenggot tebal. “Apakah ini benar-benar diriku?” aku masih tak percaya dengan bayanganku sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;Usia bayanganku di dalam cermin jauh lebih tua dariku. Belum lagi dihiasi lebam-lebam dan darah kering di ujung bibirku. Bola mataku sama sekali tidak bercahaya seperti dulu. Air mukaku sangat keruh. Tidak memancarkan sinar bahagia seperti dulu. Tidak seperti saat aku bermain bersama anakku. Dan merangkai mimpi-mimpi indah yang aku yakin akan terwujud di kota ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span&gt;“Aku merindukanmu nak…” rintihku hingga sesuatu mengalir di pipiku. Basah. Dan rasanya semakin sesak. Tubuhku bergetar dan aku benar-benar menangis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;Kekayaan. Hanya itu yang aku inginkan untuk anakku. Aku ingin membuatnya bahagia dengan membelikan semua yang dia pinta. Dan istriku, dia tidak perlu lagi berjualan di pasar. Dia tidak akan lagi digoda bahkan diancam oleh preman-preman pasar. Aku… sangat ingin menempatkan mereka di istana. Bukan di rumah mungil di sisi sawah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;Sejenak aku tersadar. Aku sedang berada di rumah mewah. Rumah seseorang yang kaya dan juga sangat baik. “Apakah aku bisa membawakan semua ini pada anakku?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;*****&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;“Mari langsung dimakan saja pak !” kata wanita cantik yang kuduga sebagai pemilik rumah ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;“Terima kasih mbak,” jawabku sambil menundukkan kepala. Ada beragam menu makanan yang sudah disajikan di hadapanku. Semuanya nampak lezat. Ada ayam goreng, sup, sambal, tahu, tempe dan makanan asing yang belum pernah kumakan. Ingin rasanya mencoba satu demi satu makanan tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Menu pertama yang kuraih adalah ayam goreng. Aku mengambil satu potongan ayam besar, bagian paha. Perlahan-lahan potongan paha tersebut sudah sampai di mulutku dan ada diantara gigiku. Rasa dagingnya benar-benar empuk dan gurih. Namun tiba-tiba saja aku kembali teringat anak semata wayangku.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Masih jelas tergambar dalam ingatanku, saat ia hanya bisa memandang seorang anak yang tengah menikmati ayam goreng di warung dekat kantor kecamatan. Betapa hatiku rasanya seperti teriris-iris, saat melihat anak itu dengan gampangnya membuang satu potongan ayam, yang baru dimakan sedikit, dan diam-diam aku memulung potongan tersebut. Potongan itupun kubersihkan dan kubawa pulang buat anakku. Waktu itu aku sangat terharu melihat anakku melahap potongan ayam tersebut tanpa tahu itu sebenarnya sisa orang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Sambil melahap makanan, aku memperhatikan suasana di rumah ini. Hingga saat ini, aku hanya melihat wanita cantik dan seorang pembantunya. Kuamati berbagai perkakas dan barang yang ada di sekitar ruang makan. Niat burukku muncul lagi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;Aku mengenyahkan rencana-rencana jahat di kepalaku. Aku tidak mungkin melakukannya! Wanita ini sudah sangat baik. Meskipun kami baru bertemu sekali dan tidak saling mengenal, tanpa prasangka dia membawaku kesini. Membiarkanku menikmati kemewahannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span&gt;Daging ayam yang ku makan tersangkut di tenggorokan. Aku tersedak. Dengan panik wanita itu datang menyodorkan segelas air dan menepuk-nepuk punggungku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;“Makannya jangan terburu-buru pa,” katanya lembut. Suaranya… lagi-lagi suara itu mengingatkanku pada sesuatu yang terlupa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;“Nama mba siapa?” tanyaku memberanikan diri.&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;Wanita itu tersenyum ramah. Dia kembali duduk di depanku. “Oiaa.. saya lupa mengenalkan diri! Nama saya Sarah Amalia,” jawabnya sambil mengalihkan pandangan ke makanannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span&gt;Sarah Amalia. Sarah Amalia… Nama yang benar-benar asing.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;“Pak… besok saya akan pergi ke luar kota. Bapak boleh tinggal di sini dulu.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;“Tapi mbak,… bukannya kita baru kenal?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;Lagi-lagi dia tersenyum dan menjelaskan, “Saya tahu bapak. Saya sering melihat bapak di perempatan. Dan bapak tinggal di dekat lokasi proyek Ayah saya. “&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;“Ayah anda tinggal disini?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;Dia terdiam. Matanya menatap nasi yang dipermainkan dengan sendoknya. Ekspresinya seketika berubah. Dia sedih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;“Apakah ayah anda lelaki dalam foto di kamar tadi?” tanyaku ingin tahu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;Dia tak bersuara. Hanya mengangguk mengiyakan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;“Astaga,” apakah lelaki misterius yang sering membawa makanan ke gubugku adalah orang dalam foto itu. Lelaki yang seminggu terakhir tak pernah muncul lagi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;“Heri,” tiba-tiba saja keluar nama itu dari mulutku.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;“Benar, itu nama ayah saya,”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;****&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;Setahun lalu aku bertemu seorang lelaki usianya mungkin seumuran denganku di sebuah stasiun KRL di tengah kota. Waktu itu ia nampang bingung, mondar-mandir dan hampir saja mengakhiri nyawanya di rel kereta api. Untung saja aku melihat lelaki itu dan mampu membujuk di urungkan niatnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;“Percuma saja saya hidup. Sebentar lagi virus ini bakal mengakhiri hidup saya. Perkiraan dokter usia saya tinggal sebulan lagi,” kata lelaki itu sambil terisak. Ia begitu putus asa, tak kuat menghadapi cobaan hidupnya.&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Sejak perjumpaan yang kebetulan itu lelaki yang akhirnya kuketahui bernama Heri itu sering mampir ke gubugku. Biasanya dua hari sekali atau terkadang setiap sore sambil membawa sebungkus nasi padang dan gorengan. Lewat pertemuan demi pertemuan itulah kami akhirnya berkarib meskipun aku tak tahu asal usul dan dimana dia tinggal. Lagi pula dia selalu menghindar jika aku bertanya soal rumah dan keluarganya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Seminggu lalu, itulah terakhir kali aku bertemu Heri. Ia sempat berpamitan, katanya bakal pergi ke suatu tempat yang jauh. Sejak saat itu ia tak pernah datang lagi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;****&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;Aku sedang berbaring di kasur empuk, tapi kenapa rasanya jadi sangat tidak nyaman. Aku tidak bisa menutup mataku. Aku terus mencari posisi yang tepat untuk terlelap. Tapi tetap saja rasanya seperti tidur diatas duri.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span&gt;Aku benar-benar tidak menyangka kalau Heri telah tiada. Dan kini aku berada satu atap dengan anaknya. Dua orang yang sangat baik. Bahkan terlalu baik untuk menjadi bagian dalam hidupku. Aku tidak akan bisa sebaik Heri. Aku tidak bisa menggantikan posisi Heri!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;Aku bangkit. Melihat kesekeliling. Terlintas dipikiranku untuk meminjam sesuatu di rumah ini hanya untuk ongkos pulang ke kampung. Aku berjanji akan mengembalikannya, setelah mengumpulkan uang dari hasil kerja menjadi petani dan membantu mengurus ternak tetangga. Aku sangat ingin pulang… Aku ingin kembali bersama keluarga kecilku yang semoga saja mereka masih mencintaiku seperti dulu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;Aku menuju lemari kayu jati yang berukir antik di kamar ini. Aku membukanya perlahan. Ragu karena perasaan bersalah kalah oleh hasratku untuk meminjam barang mereka. Tapi apa ini bisa disebut mencuri? Benarkah itu yang akan aku lakukan? Selama ini aku berusaha mempertahankan prinsipku untuk berlaku jujur dan tidak pernah berhutang, sekali pun dalam keadaan terdesak. Tapi saat ini entah kenapa… aku berpikir jika aku meminjam beberapa barang mereka itu tidak akan berpengaruh banyak. Mereka tidak akan langsung jatuh miskin kan?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span&gt;Baju-baju bermerek dengan warna natural tertata dengan sangat rapih. Baju-baju ini mungkin punya Sarah. Dan ada kotak besar berwarna coklat di dalam lemari baju itu! Dengan tangan gemetar aku membuka perlahan. Ada sebuah foto. Wajah difoto itu sangat mirip dengan orang yang dulu sangat dekat denganku. Orang yang sangat aku cinta. Tapi benarkah ini? Sekarang aku tahu kenapa suara Sarah sangat akrab di telingaku. Dia mirip sekali dengannya. Istriku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;Lalu bagaimana dengan anakku?! Dia kemanakan anakku?!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;Ah ini semua hanya perasaanku saja. Dia tetaplah Sarah bukan Saraswati istriku. Jika memang dia istriku tak mungkin penampilanya masih seperti itu. Dia lebih mirip wanita di usia 20 tahunan sedangkan istriku hanya selisih 5 tahun dari aku.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;****&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Bus antarprovinsi mengantar perjalanan pulangku ke kampung halaman. Sepuluh tahun sudah aku meninggalkan semuanya, rumahku, istriku, anakku. Ah seperti apa mereka sekarang. Setidaknya kini aku pulang tidak dengan tangan hampa ada banyak oleh-oleh buat anakku dan sedikit kejutan buat istriku. Aku akan memulai hidup baru di kampung, membuka warung kecil-kecilan untuk mencukupi semua kebutuhan keluargaku.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Ratusan kilometer meninggalkan ibukota, tetapi aku tak bisa lepas dari bayangan wanita itu. Dengan cara seperti inikah aku membalas kebaikan wanita itu? Dengan mencuri jam tangan dan cincin emas peninggalan Ayah wanita itu, Heri, orang yang selama ini terlalu baik buatku.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Ah peduli apa dengan wanita itu, dia sudah memiliki semuanya tentunya dia tak peduli jika hanya jam tangan dan cincin yang laku kujual seharga satu setengah juta di pasar. Aku hanya meminjam, ini semua terpaksa, sudah lama aku meninggalkan keluargaku. Aku janji nanti jika usahaku lancar bakal meminta maaf mengembalikan semuanya. Aku bukanlah pencuri dan orang yang tak tahu diri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;****&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;Akhirnya sampai juga aku di jalan kampungku. Aku menelusuri jalan menuju rumahku. Rupanya ada banyak kemajuan di sini, jalan yang dulu berupa batu-batu yang ditata kini sudah diaspal bagus. Aku terus melangkah. Tapi entah kenapa aku tak dapat menemukan rumahku padahal meski sudah sepuluh tahun aku masih hafal dan tak mungkin salah jalan. Di lokasi itu justru aku hanya menjumpai sebuah bangunan besar yang sekelilingnya diberi pagar tinggi. Di pintu depan ada seorang security yang menjaga, disana berdiri pabrik kulit.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span&gt;Ketika tengah berjalan mondar-mandir seorang karyawan pabrik itu memanggilku. “Mas Adi..,” teriak lelaki itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;Ternyata dia Yanto, tetanggaku dulu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;Yanto merangkulku, mengajaku duduk di sebuah warung kecil dekat pabrik. Sambil menikmati kopi dan gorengan kami berbincang-boncang dan tentunya aku bertanya keberadaan istri dan anakku.&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;“Dimana mereka saat ini Yan?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;Yanto tiba-tiba terdiam. Sambil menyeruput kopi panas, ia menarik nafas panjang. ” Sudah meninggal lima tahun lalu kena banjir bandang,”&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;“Apa,” kakiku tiba-tiba saja lemas, mataku berkaca-kaca, sambil memandang barang-barang hasil menjual jam dan cincin Ayah Sarah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;Jogja-Solo, Maret 2011&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;(81)&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.kompasiana.com/wishoshi" style="color: #1170a0; text-decoration: none;"&gt;Hana Sisworini&lt;/a&gt;&amp;nbsp;+ Fathoni Arief (&lt;strong&gt;duet Kemungkinan&lt;/strong&gt;)&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;UNTUK MEMBACA TULISAN PARA PESERTA FFK YANG LAIN MAKA DIPERSILAKAN MENGUNJUNGI BLOG Kampung Fiksi sbb:&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.kompasiana.com/kampungfiksi" style="color: #1170a0; text-decoration: none;"&gt;KampungFiksi@Kompasiana&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Berbagi takkan pernah membuatmu merugi&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Catatan Perjalanan Fathoni Arief&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3388183797559335990-6250203885211251388?l=www.fathoniarief.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CatatanFathoniArief/~4/5CE6xJj-1L4" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.fathoniarief.co.cc/feeds/6250203885211251388/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3388183797559335990&amp;postID=6250203885211251388&amp;isPopup=true" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3388183797559335990/posts/default/6250203885211251388?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3388183797559335990/posts/default/6250203885211251388?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CatatanFathoniArief/~3/5CE6xJj-1L4/lika-liku-hati.html" title="Lika-liku Hati" /><author><name>Fathoni Arief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="21" height="32" src="http://3.bp.blogspot.com/_p9u3EivxYwM/TS--Cs8btUI/AAAAAAAADTE/czaA9SDOV8I/S220/pakar.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.fathoniarief.co.cc/2011/03/lika-liku-hati.html</feedburner:origLink></entry></feed>

