<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-24095886</id><updated>2026-02-25T18:51:32.268+11:00</updated><category term="PENDIDIKAN"/><category term="OPINI"/><category term="POLITIK"/><category term="SOSIAL"/><category term="KEAGAMAAN"/><category term="guru"/><category term="refleksi"/><category term="ELT"/><category term="Publikasi"/><category term="SBI"/><category term="artikel politik"/><category term="kurikulum"/><category term="pandemi"/><category term="parenting"/><category term="politik pendidikan"/><category term="public speaking"/><category term="ujian nasional"/><title type='text'>Afrianto Daud: The Learning Teacher</title><subtitle type='html'>This is my virtual home; the place to get connected and share. I am a passionate teacher and an unstoppable learner. &#xa;&#xa;Ancora Imparo ~ I am still learning.&#xa;&#xa;Welcome, and enjoy :-)</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://www.afriantodaud.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24095886/posts/default?redirect=false'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.afriantodaud.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24095886/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false'/><author><name>Afrianto Daud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01777049708801606750</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgsG_Vw2pXDI5Ap0Q2qDsrYAqIuWq8wIB2pQc-bCDUr6etKg8SzNh7AAPIKkZQoirocxKc8D9u57SM8U4r3uX2mp8OW6YKomKGrZn7DxFt2rrN_agGCAgEAv_i-IWQGlg/s220/Afrianto2.png'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>73</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24095886.post-1754821961318481599</id><published>2023-11-25T21:31:00.004+11:00</published><updated>2023-11-27T10:23:03.467+11:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="OPINI"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="PENDIDIKAN"/><title type='text'> Eksistensi Guru di Era Kecerdasan Buatan</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;b&gt;Oleh: Afrianto Daud&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;(Associate Professor, Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Riau)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Guru adalah profesi tertua di dunia. Dia adalah ibu dari segala pekerjaan. Profesi lain seperti dokter, pengacara, insinyur, akuntan dan banyak lagi yang lain tidak akan pernah ada tanpa keberadaan guru. Walau guru adalah profesi yang jasanya sering dibalas tak setimpal, merekalah yang sesungguhnya berperan penting memastikan bahwa peradaban terus berlangsung dari satu generasi ke genarasi berikutnya. Merekalah pahlawan di balik rancang bangun kemajuan setiap bangsa di sepanjang empat ribu tahun lebih umur peradaban manusia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://cadiz.co.za/wp-content/uploads/2023/03/iStock-1435014643-1536x822.jpg&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;428&quot; data-original-width=&quot;800&quot; height=&quot;171&quot; src=&quot;https://cadiz.co.za/wp-content/uploads/2023/03/iStock-1435014643-1536x822.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun posisi guru akan tetap ada saat ini dan di masa depan, eksistensi guru sesungguhnya sedang mengalami ancaman dan tantangan baru. Tantangan eksistensial guru terutama terjadi di era teknologi digital sebagai bagian dari revolusi industri 4.0, yang secara massif mentransformasi banyak sektor kehidupan, termasuk sektor pendidikan. Jika dulu guru dianggap sebagai sumber satu-satunya pengetahuan, saat ini sumber pengetahuan menjadi sangat beragam. Siswa, misalnya, dengan mudah memperoleh informasi dan pengetahuan dari berbagai macam platform digital, seperti dengan cara bertanya melalui banyak search engine di internet, website, media sosial, dan&lt;i&gt; platform online&lt;/i&gt; lainnya.&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tidak hanya massifnya berbagai platform pembelajaran online, belakangan juga muncul fenomena &lt;i&gt;artificial intelligence&lt;/i&gt;/ AI (kecerdasan buatan). Ada banyak sekali AI saat ini yang siap membantu manusia, termasuk menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan manusia. Seorang siswa dengan mudah bertanya kepada ChatGPT, misalnya, jika ingin tahu jawaban tentang sebuah topik. Tidak seperti guru manusia yang tak selalu bisa diakses siswa, AI seperti ChatGPT siap melayani pertanyaan seorang siswa kapan saja, tanpa lelah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selain bisa belajar melalui eksplorasi perangkat digital dan AI, saat ini siswa juga bisa belajar secara mandiri melalui platform belajar lain seperti program MOOC (&lt;i&gt;Massive Open Online Courses&lt;/i&gt;). Platform seperti Coursera, U-Demy, Khan Academy dan banyak lainnya bisa melayani siswa belajar banyak hal secara mandiri. Berbayar ataupun tidak.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Masifnya platform pembelajaran yang difasilitasi internet dan juga menjamurnya berbagai robot pintar berbasis AI di atas bisa mengancam eksistensi guru yang selama ini diindentikkan dengan sumber ilmu pengetahuan. Oleh karena itulah, perkembangan teknologi berbasis &lt;i&gt;machine learning&lt;/i&gt; itu dalam batas tertentu bisa saja mengancam eksistensi guru, bahkan bisa mengambil alih kerja-kerja yang selama ini dilakukan guru konvensional. Peran guru dalam hal menjelaskan pelajaran, mentransfer pengetahuan, berceramah di depan kelas, misalnya, adalah diantara kegiatan guru yang saat ini sudah semakin tidak relevan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;Reposisi dan Transformasi Peran Guru&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Reposisi peran guru dan transformasi &lt;i&gt;mindset&lt;/i&gt; guru adalah harga mati agar eksistensi guru masih tetap relevan di zaman ketika pengetahuan ada di ujung-ujung jari manusia seperti saat ini. Reposisi utama adalah terkait peran guru yang sebelumnya sebagai &lt;i&gt;knowledge transmitter&lt;/i&gt; atau sebagai sumber belajar utama di dalam kelas, menjadi lebih sebagai fasilitator dan manager pembelajaran siswa. Ini berarti bahwa guru harus lebih banyak mendesain bagaimana siswa belajar secara aktif melalui pendekatan pembelajaran inovatif, seperti &lt;i&gt;problem based learning, project based learning, case based methods, discovery learning,&lt;/i&gt; dan sejenisnya.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Desain proses pembelajaran aktif tidak hanya akan membuat eksistensi guru tetap relevan, tetapi juga memungkinkan siswa untuk mengembangkan banyak kompetensi yang saat ini dibutuhkan di abad 21, seperti kemampuan untuk memecahkan&amp;nbsp; masalah, kreatifitas, berfikir kritis, berkomunikasi, berkolaborasi, dan berempati dengan masalah sosial dan kehidupan di sekitar mereka.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selain berperan sebagai fasilitator dan manager pembelajaran siswa, guru abad ini juga harus mengambil peran yang tak bisa dilakukan teknologi. Diantaranya adalah peran sebagai agen &lt;i&gt;transfer values &lt;/i&gt;dan penguatan karakter kepada siswa. Hal ini misalnya terlihat dengan secara serius menggarap pendidikan kararakter dan pengembangan soft skills siswa di sekolah. Sejauh ini tak ada teknologi, secanggih apapun, yang bisa menggantikan peran guru di bagian ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ini adalah ruang kosong yang bisa digarap guru dan sekolah secara serius. Sekali lagi, komputer secanggih apapun tidak bisa melakukan pembinaan nilai, seperti penguatan integritas, melatih kejujuran, kemampuan bernegosisasi, berkomunikasi, kemampuan bekerjasama dalam tim, besosialisasi, mengasah kreativitas siswa, termasuk memperkuat daya tahan (resilensi) siswa saat menghadapi kehidupan yang semakin menanantang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kecanggihan teknologi tidak hanya mempermudah proses siswa memperoleh dan memproses pengetahuan, namun juga membawa dampak negatif seperti berubahnya pola hidup anak-anak muda yang menjadi semakin asosial, kurangnya kepedulian terhadap lingkungan sekitar, karena menghabiskan banyak waktu bermain dengan gawai mereka. Selain itu, beberapa data menunjukkan bahwa banyak remaja Indonesia mengalami gangguan kesehatan mental, sering merasa insecure, dan bahkan depresi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Data dari &lt;i&gt;Indonesia National Adolescent Mental Health Survey&lt;/i&gt; (I-NAMHS) tahun 2022, misalnya, menunjukkan bahwa satu dari tiga remaja Indonesia memiliki masalah kesehatan mental. Angka ini setara dengan 15,5 juta dan 2,45 juta remaja. Survey yang sama melaporkan bahwa 1 dari 20 remaja mengalami masalah merasa lebih depresi, lebih cemas, lebih merasa kesepian, dan lebih sulit untuk berkonsentrasi. Inilah yang barangkali menjadi pemicu tingginya angka bunuh diri di kalangan remaja akhir-akhir ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Adalah guru yang diharapkan berdiri di garda depan bersama orangtua dan pemerintah membantu generasi masa depan ini dalam menghadapi tantangan kehidupan mereka yang semakin kompleks. Kecanggihan terknologi tak hanya memungkinkan mereka tahu banyak hal, namun juga bisa membuat mereka mengalami masalah-masalah baru yang tidak dihadapi generasi sebelum mereka. Mereka perlu teman dan pendamping. Gurulah yang paling mungkin mengambil peran ini secara signifikan di sekolah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;Adaptasi terhadap Teknologi&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selain mereposisi peran dan mentransformasi mindset, guruera AI juga harus melakukan adapatasi terus menerus terhadap perkembangan teknologi digital yang berkembang sangat dahsyat seperti saat ini, termasuk teknologi kecerdasan buatan. Adaptasi itu diantaranya dengan mengintegrasikan penggunaan AI ke dalam proses pembelajaran.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pertama, guru bisa menggunakan AI dalam proses pembelajaran untuk memperkaya materi pembelajaran. Guru misalnya bisa menggunakan ChatGPT sebagai tool siswa dalam menganalisis sebuah kasus, atau sebagai asisten dalam mencari solusi masalah pada sesi pembelajaran di kelas.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kemudian, guru bisa menerapkan pembelajaran dengan pendekatan &lt;i&gt;adaptive learning&lt;/i&gt; berbasis analisis yang dilakukan AI dalam mengklasifikasi kemampuan siswa dan kecendruangan gaya belajar siswa. Hasil analisis ini bisa digunakan guru sebagai pertimbangan dalam memutuskan pendekatan pembelajaran yang beragam, konten, media, dan bentuk penilaian pembelajaran yang beragam pada indvidu siswa (pembelajaran berdiferensisasi).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selanjutnya, guru dapat mengadopsi sistem penilaian otomatis berbasis AI. Dengan menggunakan teknologi ini, guru dapat mengurangi beban kerja penilaian mereka. Tes, tugas, atau pekerjaan proyek dapat dinilai secara otomatis, sehingga guru dapat lebih fokus pada interaksi langsung dengan siswa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tidak hanya itu, AI juga dapat membantu guru dalam menganalisis data pembelajaran (&lt;i&gt;learning analytic&lt;/i&gt;). Dengan analisis data berbasis AI, guru dapat memahami kemajuan siswa dengan lebih baik, mengidentifikasi area yang memerlukan perhatian, dan membuat perubahan yang relevan dalam pendekatan pembelajaran mereka.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pengintegrasian AI ke dalam proses pembelajaran tentu berpotensi pada pencapaian tujuan pembelajarans secara lebih efektif. Siswa juga akan merasa bahwa proses pembelajaran mereka di kelas nyambung dengan fenomena perkembangan teknologi di luar sekolah. Yang tak kalah penting adalah siswa tetap merasa bahwa gurunya tetap ada bersama mereka, memfasilitasi pembelajaran. Siswa tetap merasa bahwa walaupun ada banyak AI saat ini, tetap ada orang penting dan yang tak kalah cerdas di sisi mereka saat mereka menata peta jalan menuju masa depan mereka di sekolah. Dialah guru.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Untuk bisa melakukan semua ini, tentu guru perlu tak sekedar ada kemauan untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman, yang paling penting adalah keinginan untuk terus belajar. Guru-guru hebat adalah guru yang tak pernah berhenti belajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat hari guru nasional. Jayalah guru-guru Indonesia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--&lt;br /&gt;* Tulisan ini pertama sekali diterbitkan Harian Riau Pos, tanggal 22 November 2023&lt;br /&gt;https://riaupos.jawapos.com/6359/opini/22/11/2023/eksistensi-guru-di-era-kecerdasan-buatan.html&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.afriantodaud.com/feeds/1754821961318481599/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/24095886/1754821961318481599?isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24095886/posts/default/1754821961318481599'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24095886/posts/default/1754821961318481599'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.afriantodaud.com/2023/11/eksistensi-guru-di-era-kecerdasan-buatan.html' title=' Eksistensi Guru di Era Kecerdasan Buatan'/><author><name>Afrianto Daud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01777049708801606750</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgsG_Vw2pXDI5Ap0Q2qDsrYAqIuWq8wIB2pQc-bCDUr6etKg8SzNh7AAPIKkZQoirocxKc8D9u57SM8U4r3uX2mp8OW6YKomKGrZn7DxFt2rrN_agGCAgEAv_i-IWQGlg/s220/Afrianto2.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24095886.post-9101041467235148597</id><published>2023-11-25T21:05:00.006+11:00</published><updated>2023-11-27T10:23:21.850+11:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="OPINI"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="PENDIDIKAN"/><title type='text'>Artificial Intelligence dan Transformasi Pembelajaran</title><content type='html'>&lt;p&gt;&amp;nbsp;Oleh: Afrianto Daud&lt;/p&gt;&lt;p&gt;(Associate Profesor di Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, FKIP Universitas Riau)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span face=&quot;Arial, sans-serif&quot; style=&quot;background-color: white; color: #363635;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;span face=&quot;Arial, sans-serif&quot; style=&quot;background-color: white; color: #363635;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://calakpendidikan.com/wp-content/uploads/2023/05/63e226d5c74bb-750x375.jpg&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;375&quot; data-original-width=&quot;750&quot; height=&quot;100&quot; src=&quot;https://calakpendidikan.com/wp-content/uploads/2023/05/63e226d5c74bb-750x375.jpg&quot; width=&quot;200&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span face=&quot;Arial, sans-serif&quot; style=&quot;background-color: white; color: #363635;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah menjadi kata kunci yang menjadi perhatian banyak pihak dalam beberapa tahun terakhir. Teknologi AI ini memiliki potensi untuk mengubah hampir setiap aspek kehidupan kita, mulai dari kesehatan dan pendidikan hingga transportasi dan hiburan. Namun, terlepas dari banyak manfaatnya, ada kekhawatiran yang berkembang bahwa AI juga dapat menggantikan pekerja manusia, memperburuk ketidaksetaraan yang ada, dan bahkan menimbulkan ancaman eksistensial terhadap kemanusiaan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span face=&quot;Arial, sans-serif&quot; style=&quot;background-color: white; color: #363635;&quot;&gt;Diskusi dan juga perdebatan tentang keberadaan AI ini semakin mendapatkan tempat dalam satu bulan terakhir, terutama karena munculnya AI yang bernama ChatGPT. Aplikasi chatbot ini bisa menjawab begitu banyak pertanyaan dengan cepat dan dengan tingkat akurasi dan kualitas yang bisa jadi lebih baik dari manusia. Walaupun banyak pihak yang menanggapinya secara positif, tetapi ada juga sebagian yang lain skeptis dan khawatir bahwa ChatGPT bisa disalahgunakan sebagian orang untuk berbuat tidak jujur. Beberapa kampus di Australia, misalnya, mengumumkan bahwa mereka akan kembali menggunakan ujian paper based untuk menghindari kemungkinan mahasiswa berlaku curang dalam ujian dengan menggunakan ChatGPT yang pintar itu.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span face=&quot;Arial, sans-serif&quot; style=&quot;background-color: white; color: #363635;&quot;&gt;Untuk memahami sepenuhnya potensi AI, penting untuk terlebih dahulu memahami apa itu dan bagaimana cara kerjanya. Intinya, AI mengacu pada mesin yang mampu melakukan tugas yang biasanya membutuhkan kecerdasan manusia, seperti mengenali ucapan, memahami bahasa alami, membuat keputusan, dan bahkan menciptakan karya seni. Mesin ini belajar dari data, menggunakan algoritma dan model statistik untuk mengidentifikasi pola dan membuat prediksi. Seiring waktu, mereka menjadi semakin akurat dan efisien, memungkinkan mereka untuk melakukan tugas-tugas yang tidak mungkin dilakukan manusia sendiri. Salah satu bidang AI yang paling menjanjikan adalah di bidang pendidikan. Dengan munculnya platform pembelajaran online dan meningkatnya permintaan untuk pendidikan yang dipersonalisasi (personalized learning), AI berpotensi merevolusi cara kita belajar.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span face=&quot;Arial, sans-serif&quot; style=&quot;background-color: white; color: #363635;&quot;&gt;Di Indonesia, di mana akses ke pendidikan berkualitas seringkali terbatas, alat yang didukung AI dapat membantu menjembatani kesenjangan tersebut, memberikan siswa pengalaman belajar yang disesuaikan dengan kebutuhan dan preferensi masing-masing. Salah satu contoh alat pembelajaran berbasis AI adalah pembelajaran adaptif (adaptive learning). Teknologi ini menggunakan analitik data dan algoritma pembelajaran mesin untuk mempersonalisasi pengalaman belajar setiap siswa.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span face=&quot;Arial, sans-serif&quot; style=&quot;background-color: white; color: #363635;&quot;&gt;Dengan menganalisis data tentang pola dan preferensi belajar siswa, platform pembelajaran adaptif dapat merekomendasikan konten dan aktivitas yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Hal ini tidak hanya membantu siswa belajar lebih efektif, tetapi juga membantu guru mengidentifikasi area di mana siswa kesulitan dan memberikan dukungan yang ditargetkan. Aplikasi AI lain yang menjanjikan dalam pendidikan adalah dalam pembelajaran bahasa. Dengan jutaan orang di seluruh dunia yang mempelajari bahasa Inggris sebagai bahasa kedua, alat pembelajaran bahasa yang didukung AI dapat membantu mempercepat proses pembelajaran dan menjadikannya lebih menarik. Misalnya, chatbot yang menggunakan pemrosesan bahasa alami (NLP) dapat memberikan siswa praktik percakapan dan umpan balik, sekaligus mengidentifikasi area yang perlu mereka tingkatkan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span face=&quot;Arial, sans-serif&quot; style=&quot;background-color: white; color: #363635;&quot;&gt;Namun, meski potensi AI dalam pendidikan sangat besar, ada juga kekhawatiran tentang dampaknya terhadap profesi guru. Beberapa orang khawatir bahwa alat bertenaga AI dapat menggantikan guru manusia sama sekali, yang menyebabkan hilangnya pekerjaan dan penurunan kualitas pendidikan. Yang lain khawatir bahwa algoritme yang digunakan dalam AI dapat melanggengkan bias dan ketidaksetaraan yang ada, terutama jika algoritme tersebut tidak dirancang dengan mempertimbangkan keragaman dan inklusi.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span face=&quot;Arial, sans-serif&quot; style=&quot;background-color: white; color: #363635;&quot;&gt;Untuk mengatasi masalah ini, penting bagi kita untuk mentransformasi pembelajaran, terutama untuk mengadopsi pendekatan baru yang mengkombinasikan keberadaan AI dan guru manusia. Alih-alih memandang AI sebagai pengganti guru manusia, kita harus melihatnya sebagai pelengkap. Alat bertenaga AI dapat membantu guru memberikan instruksi yang lebih personal dan efektif, sekaligus meluangkan waktu untuk aktivitas yang lebih kreatif dan menarik yang memerlukan interaksi manusia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span face=&quot;Arial, sans-serif&quot; style=&quot;background-color: white; color: #363635;&quot;&gt;Pada saat yang sama, sangat penting bahwa AI dirancang dengan mempertimbangkan etika dan inklusivitas. Ini berarti memastikan bahwa algoritme tidak bias terhadap kelompok tertentu, dan algoritme tersebut transparan dan akuntabel. Ini juga berarti memprioritaskan peran guru manusia dalam proses pembelajaran dan memastikan bahwa mereka menerima pelatihan dan dukungan yang mereka perlukan untuk mengintegrasikan AI ke dalam praktik pengajaran mereka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span face=&quot;Arial, sans-serif&quot; style=&quot;background-color: white; color: #363635;&quot;&gt;Di Indonesia, sudah ada contoh alat pendidikan bertenaga AI yang digunakan dengan sangat efektif. Misalnya, Ruangguru, sebuah platform pembelajaran online, menggunakan AI untuk memberikan pengalaman belajar yang dipersonalisasi bagi siswa di seluruh negeri. Sementara itu, program Beasiswa Bakat Digital pemerintah melatih siswa dalam AI dan teknologi baru lainnya, membantu mempersiapkan mereka untuk pekerjaan di masa depan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span face=&quot;Arial, sans-serif&quot; style=&quot;background-color: white; color: #363635;&quot;&gt;Pendeknya, AI berpotensi merevolusi pendidikan di Indonesia dan di seluruh dunia. Dengan memberikan pengalaman belajar yang dipersonalisasi, meningkatkan penilaian dan evaluasi, serta mengidentifikasi area yang perlu dukungan dari siswa, AI dapat membantu meningkatkan kualitas dan aksesibilitas pendidikan untuk semua. Namun, untuk menyadari sepenuhnya potensi AI dalam pendidikan, kita memerlukan upaya bersama dari semua pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, pendidik, dan perusahaan teknologi. Ini berarti berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan, membuat kebijakan yang mempromosikan penggunaan AI secara etis, dan memberikan pelatihan dan dukungan bagi guru untuk mengintegrasikan AI ke dalam praktik pengajaran mereka. Ini juga berarti memastikan bahwa semua siswa, terlepas dari latar belakang atau status sosial ekonomi mereka, memiliki akses ke teknologi ini dan tidak ketinggalan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span face=&quot;Arial, sans-serif&quot; style=&quot;background-color: white; color: #363635;&quot;&gt;Bidang lain di mana AI berpotensi mengubah pendidikan adalah dalam penilaian dan evaluasi. Secara tradisional, penilaian telah dilakukan melalui tes dan ujian standar, yang dapat memakan waktu dan seringkali gagal menangkap kemampuan siswa yang sebenarnya secara akurat. Alat penilaian bertenaga AI, di sisi lain, dapat menganalisis kinerja siswa secara real-time dan memberikan umpan balik langsung, yang memungkinkan guru menyesuaikan strategi pengajaran mereka. Selain itu, AI juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi area di mana siswa kesulitan dan memberikan intervensi yang ditargetkan. Misalnya, sistem bimbingan belajar yang didukung AI dapat memberikan dukungan yang dipersonalisasi kepada siswa secara real-time, membantu mereka mengatasi kesulitan dan meningkatkan kinerja mereka.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span face=&quot;Arial, sans-serif&quot; style=&quot;background-color: white; color: #363635;&quot;&gt;Namun, penting untuk dicatat bahwa alat penilaian yang didukung AI bukannya tanpa tantangan. Ada kekhawatiran bahwa alat-alat ini mungkin tidak secara akurat menangkap seluruh kemampuan siswa, terutama dalam bidang seperti kreativitas dan pemikiran kritis. Selain itu, ada kekhawatiran tentang potensi alat ini untuk mengabadikan bias dan ketidaksetaraan yang ada, terutama jika tidak dirancang dengan mempertimbangkan keragaman dan inklusi.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span face=&quot;Arial, sans-serif&quot; style=&quot;background-color: white; color: #363635;&quot;&gt;Untuk mengatasi masalah ini, penting untuk mengembangkan alat penilaian yang mengambil pandangan holistik dari kemampuan siswa dan menggabungkan berbagai ukuran penilaian. Ini berarti menggabungkan metode tradisional seperti tes dan ujian dengan pendekatan yang lebih inovatif, seperti penilaian berbasis proyek dan evaluasi sejawat.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span face=&quot;Arial, sans-serif&quot; style=&quot;background-color: white; color: #363635;&quot;&gt;Kesimpulannya, AI berpotensi merevolusi pendidikan di Indonesia dan di seluruh dunia. Dengan memberikan pengalaman belajar yang dipersonalisasi, meningkatkan penilaian dan evaluasi, serta mengidentifikasi area yang perlu dukungan dari siswa, AI dapat membantu meningkatkan kualitas dan aksesibilitas pendidikan untuk semua. Namun, untuk menyadari sepenuhnya potensi ini, penting untuk mengadopsi pendekatan baru dalam pembelajaran yang bisa merangkul guru (manusia) dan AI pada saat yang sama, sekaligus memprioritaskan etika dan inklusivitas. Dengan demikian, kita perlu memastikan bahwa AI harus digunakan dengan cara yang bermanfaat bagi semua siswa, terlepas dari latar belakang atau status sosial ekonomi mereka, dan membantu menciptakan masyarakat yang lebih adil dan sejahtera untuk semua.***&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;background-color: white; color: #363635; font-family: Arial, sans-serif;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;background-color: white; color: #363635; font-family: Arial, sans-serif;&quot; /&gt;&lt;span face=&quot;Arial, sans-serif&quot; style=&quot;background-color: white; color: #363635;&quot;&gt;Sumber: www.riaupos.jawapos.com &amp;gt; Opini - Artificial Intelligence dan Transformasi Pembelajaran - Afrianto Daud (Associate Profesor di Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, FKIP Universitas Riau)&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;background-color: white; color: #363635; font-family: Arial, sans-serif;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;background-color: white; color: #363635; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 13px;&quot; /&gt;&lt;span face=&quot;Arial, sans-serif&quot; style=&quot;background-color: white; color: #363635; font-size: 13px;&quot;&gt;Link:&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;background-color: white; color: #363635; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 13px;&quot; /&gt;&lt;a href=&quot;https://riaupos.jawapos.com/6254/opini/03/03/2023/artificial-intelligence-dan-transformasi-pembelajaran.html&quot; style=&quot;background: rgb(255, 255, 255); border: 0px; color: black; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 13px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-decoration-line: none; transition: all 0.2s ease 0s; vertical-align: baseline;&quot;&gt;https://riaupos.jawapos.com/6254/opini/03/03/2023/artificial-intelligence-dan-transformasi-pembelajaran.html&lt;/a&gt;&lt;br style=&quot;background-color: white; color: #363635; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 13px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;background-color: white; color: #363635; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 13px;&quot; /&gt;&lt;span face=&quot;Arial, sans-serif&quot; style=&quot;background-color: white; color: #363635; font-size: 13px;&quot;&gt;Terima kasih telah mengunjungi website kami.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.afriantodaud.com/feeds/9101041467235148597/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/24095886/9101041467235148597?isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24095886/posts/default/9101041467235148597'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24095886/posts/default/9101041467235148597'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.afriantodaud.com/2023/11/artificial-intelligence-dan.html' title='Artificial Intelligence dan Transformasi Pembelajaran'/><author><name>Afrianto Daud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01777049708801606750</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgsG_Vw2pXDI5Ap0Q2qDsrYAqIuWq8wIB2pQc-bCDUr6etKg8SzNh7AAPIKkZQoirocxKc8D9u57SM8U4r3uX2mp8OW6YKomKGrZn7DxFt2rrN_agGCAgEAv_i-IWQGlg/s220/Afrianto2.png'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24095886.post-5694166172774346217</id><published>2023-08-13T20:55:00.003+10:00</published><updated>2023-08-13T20:57:18.798+10:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="PENDIDIKAN"/><title type='text'>Bagaimana Mendesaian Pembelajaran Yang Engaging</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span style=&quot;color: #050505;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white; font-size: 15px; white-space-collapse: preserve;&quot;&gt;Oleh: Afrianto Daud
(Dosen Pendidikan Bahasa Inggris, FKIP Universitas Riau)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;x11i5rnm xat24cr x1mh8g0r x1vvkbs xtlvy1s x126k92a&quot; style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space-collapse: preserve;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Apa diantara hal penting yang mesti dilakukan guru dan dosen saat mengelola kelas? Memastikan adanya engagement adalah diantara jawabannya.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;x11i5rnm xat24cr x1mh8g0r x1vvkbs xtlvy1s x126k92a&quot; style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space-collapse: preserve;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj1dG9mbEah5-l-_0F68ynY2AOZ9216Oyhy9fVevu74mKTdm75FYvm83GsCn6LHxx99f3mpFJAjVtot7wcApySnPPCvNgt4Cr_dMDRHctt4K2NROWEI5s9NGHi5OzDopfwWOR0rsfUyyKxz950n91fcESUrz90oEEbzfkcNLBsLuaBjg0OUpwNagA/s770/blog-20-student-engagement-strategies-captivating-classroom.png&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;600&quot; data-original-width=&quot;770&quot; height=&quot;249&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj1dG9mbEah5-l-_0F68ynY2AOZ9216Oyhy9fVevu74mKTdm75FYvm83GsCn6LHxx99f3mpFJAjVtot7wcApySnPPCvNgt4Cr_dMDRHctt4K2NROWEI5s9NGHi5OzDopfwWOR0rsfUyyKxz950n91fcESUrz90oEEbzfkcNLBsLuaBjg0OUpwNagA/s320/blog-20-student-engagement-strategies-captivating-classroom.png&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Inti &lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;a style=&quot;color: #385898; cursor: pointer; font-family: inherit;&quot; tabindex=&quot;-1&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;dari engagement adalah bahwa ada ikatan bathin (ikatan emosi) antara individu di dalam kelas, baik antar guru dan murid, maupun antar satu siswa dengan siswa yang lain. Engagement yang kuat tidak hanya akan membuat siswa bisa fokus pada proses pembelajaran, tetapi juga memungkinkan terbangunnya sense of community di dalam kelas. Ini akan terasa jika antar individu merasa bahwa mereka adalah bagian penting yang berkontribusi pada kesuksesan kelas.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;x11i5rnm xat24cr x1mh8g0r x1vvkbs xtlvy1s x126k92a&quot; style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space-collapse: preserve;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Tantangannya adalah bagaimana seorang guru bisa membangun ikatan yang kuat ini agar pembelajaran berlangsung efektif? Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan guru.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;x11i5rnm xat24cr x1mh8g0r x1vvkbs xtlvy1s x126k92a&quot; style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space-collapse: preserve;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;1. Libatkan peserta didik dalam proses pembelajaran. Pastikan bahwa anda memandang setiap anggota kelas sebagai individu dengan &#39;gelas setengah penuh&#39;. Setiap orang bukanlah gelas kosong yang hanya siap diisi. Tapi, mereka adalah individu dengan beberapa pengetahuan awal di kepala mereka tentang topik pembahasan (schemata). &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;x11i5rnm xat24cr x1mh8g0r x1vvkbs xtlvy1s x126k92a&quot; style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space-collapse: preserve;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Dengan schemata itu, mereka bisa berkontribusi, bahkan bisa menjadi diantara sumber belajar yang akan memperkaya pembahasan materi di dalam kelas. Dengan demikian, guru dan dosen semestinya tidak mengangap bahwa dia adalah sumber belajar satu-satunya di dalam kelas.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;x11i5rnm xat24cr x1mh8g0r x1vvkbs xtlvy1s x126k92a&quot; style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space-collapse: preserve;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;2. Pelibatan ini kemudian bisa dilakukan dengan cara mendesain kelas partisipatif, interaktif, dan kolaboratif. Siswa harus ditempatkan sebagai subjek pembelajaran, bukan objek yang pasif. Peran guru harus lebih banyak memfasilitasi pembelajaran dengan berbagai kegiatan yang memungkian setiap individu berinteraksi, bersosialisasi, dan berkolaborasi dalam proses pembelajaran. Inilah diantara inti pembelajaran yang berpusat kepada siswa (SCL), yang sekarang banyak diadopsi sebagai pendekatan pembelajaran terkini.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;x11i5rnm xat24cr x1mh8g0r x1vvkbs xtlvy1s x126k92a&quot; style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space-collapse: preserve;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;3. Sebagai fasilitator, pastikan anda bisa mengontrol setiap kegiatan siswa dengan baik. Salah satu cara efetif adalah, berjalan dan berkelilinglah di dalam kelas. Jangan jadi guru pemalas, yang hanya duduk di bangku guru, tak pernah berdiri, dari awal sampai kelas selesai. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;x11i5rnm xat24cr x1mh8g0r x1vvkbs xtlvy1s x126k92a&quot; style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space-collapse: preserve;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;4. Guru adalah derigent yang menentukan warna orkestrasi di dalam kelas. Jadi, meskipun pembelajaran berpusat pada siswa, keberhasilan SCL ini sangat ditentukan oleh ketrampilan guru mengarahkan, menghidupkan, dan mengatur naik turun &#39;nada pembelajaran&#39; selama kelas berlangsung.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;x11i5rnm xat24cr x1mh8g0r x1vvkbs xtlvy1s x126k92a&quot; style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space-collapse: preserve;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;5. Gunakan bantuan teknologi dalam mendesain dan mengorkestrasi pembelajaran. Kerja kelompok, diskusi, presentasi, bahkan permainan di dalam kelas tentu tetap bisa dilakukan dengan cara tradisional, tetapi ada banyak aplikasi yang memungkinkan kegiatan pembelajaran aktif, interaktif, partisipatif, dan kolaboratif ini bisa berlangsung lebih efektif dan lebih efisien.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;x11i5rnm xat24cr x1mh8g0r x1vvkbs xtlvy1s x126k92a&quot; style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space-collapse: preserve;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Dengan demikian, selain menguasai prinsip-prinsip pembelajaran konstruktivisme dan sosial konstruktivisme yang dulu dipopulerkan ahli seperti Piaget dan Vygotsky, guru dan dosen perlu juga memperkaya dengan teori pembelajaran mutakhir di era digital berbasis ide Connectivisme yang diperkenalkan Siemen (2005).&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;x11i5rnm xat24cr x1mh8g0r x1vvkbs xtlvy1s x126k92a&quot; style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space-collapse: preserve;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Bagaimana melihat kualitas engagement di kelas kita? Salah satunya ketika siswa merasa waktu belajar di kelas berjalan seperti malam pertama penganten baru. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;x11i5rnm xat24cr x1mh8g0r x1vvkbs xtlvy1s x126k92a&quot; style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space-collapse: preserve;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Eh, tiba-tiba kok sudah pagi aja harinya. Padahal ... &lt;span class=&quot;x3nfvp2 x1j61x8r x1fcty0u xdj266r xhhsvwb xat24cr xgzva0m xxymvpz xlup9mm x1kky2od&quot; style=&quot;display: inline-flex; font-family: inherit; height: 16px; margin: 0px 1px; vertical-align: middle; width: 16px;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;😁&quot; height=&quot;16&quot; referrerpolicy=&quot;origin-when-cross-origin&quot; src=&quot;https://static.xx.fbcdn.net/images/emoji.php/v9/t4f/1/16/1f601.png&quot; style=&quot;border: 0px;&quot; width=&quot;16&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;x3nfvp2 x1j61x8r x1fcty0u xdj266r xhhsvwb xat24cr xgzva0m xxymvpz xlup9mm x1kky2od&quot; style=&quot;display: inline-flex; font-family: inherit; height: 16px; margin: 0px 1px; vertical-align: middle; width: 16px;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;😅&quot; height=&quot;16&quot; referrerpolicy=&quot;origin-when-cross-origin&quot; src=&quot;https://static.xx.fbcdn.net/images/emoji.php/v9/t53/1/16/1f605.png&quot; style=&quot;border: 0px;&quot; width=&quot;16&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.afriantodaud.com/feeds/5694166172774346217/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/24095886/5694166172774346217?isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24095886/posts/default/5694166172774346217'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24095886/posts/default/5694166172774346217'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.afriantodaud.com/2023/08/bagaimana-mendesaian-pembelajaran-yang.html' title='Bagaimana Mendesaian Pembelajaran Yang Engaging'/><author><name>Afrianto Daud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01777049708801606750</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgsG_Vw2pXDI5Ap0Q2qDsrYAqIuWq8wIB2pQc-bCDUr6etKg8SzNh7AAPIKkZQoirocxKc8D9u57SM8U4r3uX2mp8OW6YKomKGrZn7DxFt2rrN_agGCAgEAv_i-IWQGlg/s220/Afrianto2.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj1dG9mbEah5-l-_0F68ynY2AOZ9216Oyhy9fVevu74mKTdm75FYvm83GsCn6LHxx99f3mpFJAjVtot7wcApySnPPCvNgt4Cr_dMDRHctt4K2NROWEI5s9NGHi5OzDopfwWOR0rsfUyyKxz950n91fcESUrz90oEEbzfkcNLBsLuaBjg0OUpwNagA/s72-c/blog-20-student-engagement-strategies-captivating-classroom.png" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24095886.post-6951769633136359581</id><published>2022-08-30T00:08:00.002+10:00</published><updated>2022-08-30T00:08:17.547+10:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="PENDIDIKAN"/><title type='text'> Ketika siswa (ter)tidur di kelas</title><content type='html'>&lt;p&gt;Oleh. Afrianto Daud&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;l7ghb35v kjdc1dyq kmwttqpk gh25dzvf jikcssrz n3t5jt4f&quot; style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Sedang viral sebuah video yang merekam aksi seorang ibu guru menyiram seorang siswa yang sedang (ter)tidur di kelasnya. Video ini dikomentari banyak orang. Walau satu dua ada yang mencoba memahami mengapa si ibu sampai membangunkan anak dengan cara seperti itu, mayoritas netizen berkomentar negatif. Mereka menyayangkan bahkan mengecam aksi kurang elok yang dilakukan si ibu guru. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;l7ghb35v kjdc1dyq kmwttqpk gh25dzvf jikcssrz n3t5jt4f&quot; style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;a style=&quot;color: #385898; cursor: pointer; font-family: inherit;&quot; tabindex=&quot;-1&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;Tentu sang ibu guru dan siswa yang ada di kelasnya yang persis tahu detail kisahnya, tentang apa yang terjadi sebelum aksi yang terlihat di dalam video. Namun, secara umum keputusan sang ibu guru membangunkan siswa yang tidur dengan cara seperti itu memang tidak tepat. Aksi itu dipandang tidak bijak dilihat dari berbagai sudut pandang, baik secara pedagogis maupun psikologis. Kabarnya sang guru dan pihak sekolah sudah meminta maaf dan berdamai dengan siswa.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;l7ghb35v kjdc1dyq kmwttqpk gh25dzvf jikcssrz n3t5jt4f&quot; style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Penting diingat oleh setiap pendidik dimanapun bahwa pada dasarnya setiap anak sudah memiliki niat baik dari rumah ke sekolah. Mereka berangkat dari rumah dengan niat belajar. Mereka berusaha bangun di pagi hari. Sebagian memaksakan diri mandi. Kemudian berangkat ke sekolah, bahkan kadang tak sempat sarapan pagi. Waktu sekolah di Indonesia memang agak kepagian dibanding jam sekolah di banyak negara.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;l7ghb35v kjdc1dyq kmwttqpk gh25dzvf jikcssrz n3t5jt4f&quot; style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://www.brainbalancecenters.com/hubfs/sleep-schedules-by-age.jpeg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;531&quot; data-original-width=&quot;800&quot; height=&quot;212&quot; src=&quot;https://www.brainbalancecenters.com/hubfs/sleep-schedules-by-age.jpeg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, jika anak yang sebelumnya di pagi hari dengan semangat datang ke sekolah, tetapi kemudian jadi tertidur di ruang kelas, penyebabnya tidaklah tunggal. Penyebabnya tidak selalu bermakna si anak adalah anak pemalas, tak mau diatur, tukang tidur dan sejenisnya. Sangat boleh jadi ada sebab lain.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;l7ghb35v kjdc1dyq kmwttqpk gh25dzvf jikcssrz n3t5jt4f&quot; style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Saya cenderung mengatakan bahwa jika ada kejadian siswa tertidur di kelas, pihak pertama yang wajib melakukan refeleksi adalah guru. Apakah kita para guru telah melakukan proses pembelajaran yang menarik, yang membangkitkan rasa ingin tahu siswa. Apakah kita sudah bisa mengorkestrasi kelas kita sedimikian rupa dengan berbagai metode pembelajaran yang &#39;membangunkan siswa&#39; sehingga anak-anak itu bisa terus hidup di kelas, lupa dengan dunia di luar, bahkan tak sempat untuk menguap? &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;l7ghb35v kjdc1dyq kmwttqpk gh25dzvf jikcssrz n3t5jt4f&quot; style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Jika anda sudah melakukan yang terbaik dalam pengelolaan kelas, kemudian tetap masih ada satu dua anak yang terlihat tidak bisa mengikuti pembelajaran dengan baik, seperti tertidur di kelas itu. Maka, kita para guru perlu bertindak bijak. Mencoba mencari tahu apa sesungguhnya penyebab mereka tertidur. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;l7ghb35v kjdc1dyq kmwttqpk gh25dzvf jikcssrz n3t5jt4f&quot; style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Apakah karena siswa sedang sakit, misalnya. Bisa juga karena siswa semalam kurang tidur karena begadang membuat berbagai tugas yang diberikan guru pada hari sebelumnya, atau karena siswa sudah kecapean dengan berbagai kegiatan di sekolah yang sering padat, dari pagi sampai sore. Sehingga tubuhnya secara natural meminta istirahat. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;l7ghb35v kjdc1dyq kmwttqpk gh25dzvf jikcssrz n3t5jt4f&quot; style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Karena alasan siswa tertidur itu majemuk, maka guru perlu hati-hati menghadapi siswa yang tertidur ini. Diantara cara yang bisa dilakukan guru adalah dengan mendekat secara fisik ke arah siswa yang sedang tertidur, kemudian memanggil namanya tanpa dia duga. Seringkali tidurnya siswa di kelas hanyalah &#39;lalok-lalok&#39; ayam, yang dengan mudah dibangungkan hanya dengan cara guru berdiri di dekat siswa yang sedang lalok-lalok ayam itu. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;l7ghb35v kjdc1dyq kmwttqpk gh25dzvf jikcssrz n3t5jt4f&quot; style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Cara lain, tentu dengan membangunkan siswa baik-baik. Bisa dengan menyentuh pundaknya, menyebut namanya, Biasanya sangat mudah membangunkan dengan cara ini. Setelah terbangun guru dengan baik-baik bisa meminta siswa ke luar kelas, mencuci muka. Seringkali cara ini efektif membuat anak kembali segar dan bisa kembali mengikuti pelajaran.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;l7ghb35v kjdc1dyq kmwttqpk gh25dzvf jikcssrz n3t5jt4f&quot; style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Jika setelah kembali kelas, siswa yang bersangkutan masih tetap terkantuk-kantuk, guru harus sensitif bahwa itu memang adalah tanda-tanda alamiah yang tak bisa dipaksakan. Satu-satunya obat mengantuk memang adalah tidur itu sendiri. Di beberapa sekolah di negara maju bahkan ada jadwal &#39;tidur siang&#39; untuk memberi kesempatan siswa beristirahat.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;l7ghb35v kjdc1dyq kmwttqpk gh25dzvf jikcssrz n3t5jt4f&quot; style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Untuk alasan ini saya pernah mempersilakan seorang mahasiswa yang tetap mengantuk di kelas saya untuk pindah ke ruang kosong di sebelah. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;l7ghb35v kjdc1dyq kmwttqpk gh25dzvf jikcssrz n3t5jt4f&quot; style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&#39;Silakan saudara tidur sekejap di ruang sebelah. Setelah itu balik lagi ke kelas ini&#39;, demikian suatu hari saya memberi kesempatan. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;l7ghb35v kjdc1dyq kmwttqpk gh25dzvf jikcssrz n3t5jt4f&quot; style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Besoknya ketika kembali bertemu dengan mahasiswa, saya tanya, &#39;You mengapa terlihat sering mengantuk di kelas?&#39;, selidik saya.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;l7ghb35v kjdc1dyq kmwttqpk gh25dzvf jikcssrz n3t5jt4f&quot; style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Tak langsung dia jawab, tetapi setelah saya tanya lagi, dia kemudian memberi penjelasan.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;l7ghb35v kjdc1dyq kmwttqpk gh25dzvf jikcssrz n3t5jt4f&quot; style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&quot;Maaf sir. Saya harus bekerja di warnet setiap malam. Saya kuliah atas biaya saya sendiri. Saat ini hanya bekerja di warnet itu yang bisa saya lakukan untuk bisa bertahan kuliah dan bisa tetap hidup&#39;.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;l7ghb35v kjdc1dyq kmwttqpk gh25dzvf jikcssrz n3t5jt4f&quot; style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Saya kemudian menemukan jawaban mengapa si mahasiswa sering terlihat mengantuk. Cerita seperti ini penting diketahui guru ataupun dosen agar tak sembarangan main siram-siraman di dalam kelas, seperti pada video viral itu.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;l7ghb35v kjdc1dyq kmwttqpk gh25dzvf jikcssrz n3t5jt4f&quot; style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Kejadian seperti yang kita lihat di video itu bisa membawa dampak psikologis berupa rasa malu dan bahkan trauma pada diri siswa. Luka psikologis ini bisa menjadi asbab siswa tak mau dan tak mampu mengikuti kelas berikutnya dengan baik. Apalagi kalau sudah sampai viral sedunia. Siswa dan sekolah bisa saja berdamai, tetapi luka psikologis itu bisa tetap bertahan lama. Bisa merusak masa depan siswa. Kita tentu tak ingin itu terjadi pada anak-anak kita. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;l7ghb35v kjdc1dyq kmwttqpk gh25dzvf jikcssrz n3t5jt4f&quot; style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Wallahu a&#39;lam!&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.afriantodaud.com/feeds/6951769633136359581/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/24095886/6951769633136359581?isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24095886/posts/default/6951769633136359581'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24095886/posts/default/6951769633136359581'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.afriantodaud.com/2022/08/ketika-siswa-tertidur-di-kelas.html' title=' Ketika siswa (ter)tidur di kelas'/><author><name>Afrianto Daud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01777049708801606750</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgsG_Vw2pXDI5Ap0Q2qDsrYAqIuWq8wIB2pQc-bCDUr6etKg8SzNh7AAPIKkZQoirocxKc8D9u57SM8U4r3uX2mp8OW6YKomKGrZn7DxFt2rrN_agGCAgEAv_i-IWQGlg/s220/Afrianto2.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24095886.post-7346910338334310384</id><published>2022-08-15T10:44:00.009+10:00</published><updated>2023-11-27T10:31:13.486+11:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="PENDIDIKAN"/><title type='text'>Belajar Luring Penuh dan Potensi &#39;Reverse Culture Shock&#39;</title><content type='html'>&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background: white; line-height: normal; margin-bottom: 0in; text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #050505; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Oleh: &lt;/span&gt;&lt;a href=&quot;https://www.facebook.com/afriantodaud?__cft__%5b0%5d=AZWmmqgm_pXkQc3Vh5eZUFHR_hARe4VKyMfE1zunSmLqyhP1Z4X3pvKDoGBGElR78uk7OJBnSa5a9MDg5dL29PookJ_e7L6TUV29K2ke8JCLF9z4j73o-U2cG7kIClOowruEiksO99cwktMjYwJkcjcE&amp;amp;__tn__=-%5dK-R&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 1pt none windowtext; color: blue; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; mso-border-alt: none windowtext 0in; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; padding: 0in; text-decoration: none; text-underline: none;&quot;&gt;Afrianto Daud&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;color: #050505; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background: white; line-height: normal; margin-bottom: 0in; text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #050505; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;(Dosen FKIP Universitas Riau)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background: white; line-height: normal; margin-bottom: 0in; text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #050505; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background: white; line-height: normal; margin-bottom: 0in;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #050505; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Banyak kampus mulai
mengumumkan bahwa kegiatan perkuliahan akan berlangsung tatap muka penuh di
kampus &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;(full offline)&lt;/i&gt; menyusul
relaksasi aturan prokes dan proses pembelajaran di perguruan tinggi. Diantara
basis aturan kembalinya kampus membuka proses pembelajaran tatap muka penuh ini
adalah Surat Edaran (SE) Mentri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi No.
7 thun 2022 tentang diskresi &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;pelaksanaan keputusan bersama 4 (empat) menteri
tentang panduan penyelenggaraan pembelajaran di masa pandemi coronavirus
disease 2019 (Covid-19). Salah satu inti dari SE ini adalah bahwa pimpinan
pemerintah daerah bisa melakukan kebijakan dan keputusan sendiri terkait proses
pembelajaran seratus persen dengan mempertimbangkan kondisi daerah masing-masing
tanpa harus terikat secara ketat dengan tiga Keputusan Bersama Empat Menteri
sebelumnya. &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #050505; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background: white; line-height: normal; margin-bottom: 0in;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #050505; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://images.squarespace-cdn.com/content/v1/59d714d59f8dcee4b7a94d02/1582673053956-X1DJFE2WWO5DQZG4T5KZ/Cover+(blog).png?format=1500w&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;400&quot; data-original-width=&quot;800&quot; height=&quot;160&quot; src=&quot;https://images.squarespace-cdn.com/content/v1/59d714d59f8dcee4b7a94d02/1582673053956-X1DJFE2WWO5DQZG4T5KZ/Cover+(blog).png?format=1500w&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran tatap
muka penuh di darat ini bahkan telah dimulai lama oleh satuan pendidikan di
tingkat dasar dan menengah. Satuan pendidikan dasar dan menengah ini bisa
dikatakan &#39;lebih progressif&#39; dalam halam penerapan prokes dan pelaksanaan
pembelajaran luring. Salah satu alasannya tentu adalah karena pandemi yang
melanda dunia sudah mulai menjadi endemi. Bahayanya dianggap tidak
semengkhwatirkan dulu. Angka vaksinasi juga terus meningkat. Sekolah dan kampus
dianggap kembali aman untuk kembali menyelenggarakan proses pendidikan seperti
sebelum pandemi. Tentu, dengan beberapa catatan terkait penerapan prokes.&lt;p&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background: white; line-height: normal; margin-bottom: 0in;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #050505; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Saya menduga akan
terjadi semacam &lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;color: #050505; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;&#39;reverse culture shock&#39;&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;color: #050505; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;
bagi sebagian dosen dan mahasiswa saat akan kembali belajar luring penuh di
kampus. &lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;color: #050505; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Reverse culture shock&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;color: #050505; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt; sendiri
aslinya adalah terkait fenomena yang cenderung dialami oleh individu yang
pernah tinggal sementara di suatu daerah asing dan kembali lagi ke lingkungan
asalnya. Mereka yang lama tinggal di luar negeri dengan segala budayanya akan
mengalama kejut budaya saat mereka kembali ke tanah air. Dalam konteks tulisan
ini, &lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;color: #050505; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;reverse culture shock&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;color: #050505; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt; bermakna
&#39;kejut budaya&#39; yang dialami dosen dan mahasiswa ketika kembali belajar luring
setelah sebelumnya terbiasa dengan belajar daring.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background: white; line-height: normal; margin-bottom: 0in;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #050505; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Ketika di awal pandemi
banyak dosen dan mahasiswa (juga guru dan siswa) yang merasa terkejut dengan
perubahan moda belajar dari tatap muka luring menjadi daring penuh. Dulu,
sebagian dosen dan guru bingung bagaimana bisa mengelola kelas daring secara
efektif. Mereka mengalami &lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;color: #050505; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;culture shock. &lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;color: #050505; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Namun
setelah menjalani proses belajar daring selama lebih dua tahun selama pandemi,
dosen, guru, mahasiswa, dan siswa telah mulai terbiasa dengan segala proses
daring ini. Mereka bisa saja telah memiliki budaya baru dalam hal proses
pembelajaran. Budaya baru itu terkait dengan budaya digital yang difasilitasi
oleh ekosistem pembelajaran virtual.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background: white; line-height: normal; margin-bottom: 0in;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #050505; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Banyak guru dan dosen
makin terampil mempersiapkan pembelajaran daring seperti membuat perangkat
pembelajaran berbasis digital, mengelola materi di Manajemen Sistem
Pembelajaran (LMS), berinteraksi secara &lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;color: #050505; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;synchronous&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;color: #050505; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;
dengan mahasiswa melalui berbagai platform video konfrerensi, membuat video
pembelajaran, sampai melakukan kuis dan penilaian dengan memanfaatkan banyak
fitur pembelajaran berbasis online.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background: white; line-height: normal; margin-bottom: 0in;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #050505; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Pada sa’at yang sama,
mahasiswa juga semakin literat secara digital. Kemampuan mahasiswa dalam
adaptasi dengan budaya pembelajaran digital ini bisa lebih cepat dari sebagian
dosen. Terlepas dari masalah jaringan di beberapa wilayah yang masih belum
begitu kuat, secara teknikal banyak mahasiswa dan juga dosen saat ini sudah
tidak lagi bermasalah dengan proses pembelajaran daring ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background: white; line-height: normal; margin-bottom: 0in;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #050505; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Tak heran jika
beberapa survey terakhir mengindikasikan bahwa mayoritas mahasiswa lebih
memilih belajar daring ketimbang luring. Sebuah survey yang dilakukan oleh &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-image: initial; background-origin: initial; background-position: initial; background-repeat: initial; background-size: initial; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; letter-spacing: 0.75pt;&quot;&gt;Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial
Budaya Universitas Islam Indonesia (UII) di awal tahun 2022&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #050505; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;, misalnya, mencatat bahwa &amp;nbsp;mahasiswa &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-image: initial; background-origin: initial; background-position: initial; background-repeat: initial; background-size: initial; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; letter-spacing: 0.75pt;&quot;&gt;yang memiliki preferensi luring mencapai 71 persen, sisanya
sekitar 29 persen l&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #050505; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;ebih suka daring. Data
ini berbeda ketika survey dengan topik yang sama pada awal pandemi dulu. Survey
Kemendikbud tahun 2020&amp;nbsp; misalnya
mengungkap bahwa 90 persen mahasiswa lebih memilih kuliah tatap muka ketimbang
daring.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background: white; line-height: normal; margin-bottom: 0in;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #050505; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Perubahan penerimaan
mahasiswa terhadap pembelajaran daring ini tak hanya karena pembelajaran daring
memberikan fleksibelitas lebih kepada mahasiswa dan juga dosen dalam hal tempat
dan waktu belajar, tetapi juga saya yakin karena mahasiswa dan dosen semakin
terampil dengan pengelolaan kelas daring ini. Berkembangnya ketrampilan dosen
dan mahasiswa dalam pembelajaran daring ini tentu juga akan meningkatkan
efektivitas pembelajaran daring.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background: white; line-height: normal; margin-bottom: 0in;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #050505; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b style=&quot;mso-bidi-font-weight: normal;&quot;&gt;Menghadapi &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;Reverse Culture Shock&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background: white; line-height: normal; margin-bottom: 0in;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #050505; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Diantara bentuk &lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;color: #050505; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;reverse culture shock&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;color: #050505; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt; itu adalah sangat
bisa jadi dosen akan merasa terkejut ketika berbagai kemudahan yang mereka
rasakan saat belajar daring tidak lagi mereka peroleh saat pembelajaran tatap
muka penuh. Ketika pembelajaran daring, misalnya, mereka dengan mudah berbagi
layar melalui fitur &lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;color: #050505; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;share screen&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;color: #050505; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt; di
platform video konferensi saat kuliah melalui Zoom, Webex, Google Meet, dan
lainnya. Ketika luring&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #050505; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #050505; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;bisa jadi mereka
akan mengalami kesulitian melakukan ini. Kadang sebagian dosen bisa
menghabiskan waktu menunggu mahasiswa mencari infokus atau proyektor yang bisa
tersambung ke laptop dosen di ruang kelas. Tidak semua ruangan di sekolah dan
juga di kampus yang sudah terinstalasi proyektor. Proyektor bahkan mungkin
masih dianggap benda mewah di banyak ruang kelas perkuliahan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background: white; line-height: normal; margin-bottom: 0in;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #050505; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Melalui share screen, dosen juga dengan mudah berbagi banyak materi ajar
seperti video, gambar, animasi, audio, games, dan materi perkuliahan lainnya
secara daring. Kemudahan ini bisa jadi menjadi sesuatu yang tak mudah saat dosen
mengajar luring penuh di kelas. Tak semua kelas yang dilengkapi fasilitas &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;loud speaker&lt;/i&gt; untuk mendengarkan audio,
misalnya. Akibatnya, materi-materi yang sebelumnya dengan mudah digunakan dosen
sebagai pengaya materi pekuliahan ketika daring bisa jadi tak bisa lagi
digunakan secara efektif dan efisien ketika luring penuh itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background: white; line-height: normal; margin-bottom: 0in;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #050505; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Inilah diantara bentuk
potensi ‘budaya kejut balik’ yang mungkin akan dirsakan sebagian dosen dan
mahasiswa. Mereka akan kehilangan beberapa kemudahan saat proses belajar
daring. Ini belum lagi bicara kenyamanan suasana daring yang bakal tak ditemui
saat daring. Dosen dan mahasiswa bisa mengikuti dan melakukan proses belajar
dengan suasana santai ditemani secangkir kopi panas di meja kerja/belajar.
Ketika luring penuh suasana ini sulit diperoleh. Yang ada justru bisa jadi
adalah suasana kering dan kepanasan akibat banyak ruang perkuliahan yang belum
dilengkapi sarana &lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;color: #050505; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;air conditioner&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;color: #050505; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background: white; line-height: normal; margin-bottom: 0in;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #050505; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Tentu adalah hal yang
bagus jika kampus dan sekolah bisa kembali bertatap muka penuh. Apalagi memang
ada beberapa mata kuliah yang tak bisa sepenuhnya daring. Mata kuliah yang
memerlukan praktikum, misalnya. Proses pendidikan yang ideal juga memerlukan
interaksi fisik yang ril di dunia nyata. Namun, kembalinya proses pembelajaran
tatap muka seratus persen itu tidak mesti diartikan kembali persis seperti
sebelum pandemi. &lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;color: #050505; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Life will never be same
again after pandemic&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;color: #050505; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;. Bahwa kehidupan kita tak kan lagi persis sama dengan
sebelum pandemic. Termasuk di dunia pendidikan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background: white; line-height: normal; margin-bottom: 0in;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #050505; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Oleh karena itu,
ketika sekarang kecendrungan semua kampus kembali tatap muka penuh, penting
bagi kampus mempersiapkan beberapa hal, terutama untuk mempertahankan segala
hal baik yang diperoleh selama belajar daring. Kemapuan dosen dan mahasiswa
dengan literasi digital terkait perkuliahan mesti terus difasilitasi kampus.
Pembelajaran dan atau perkuliahan di kampus sebaiknya tidak kembali ke masa
lalu yang jauh dari sentuhan teknologi digital. Segala hal yang baik itu mesti
terus dipertahankan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background: white; line-height: normal; margin-bottom: 0in;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #050505; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Walaupun perkuliahan tatap muka seratus persen, dosen mesti diberikan kebebasan
untuk bisa tetap mempertahankan sebagai budaya belajar virtual itu. Misalnya
dosen bisa mengelola kelasnya dengan moda perkuliahan yang mengadopsi prinsip
pembelajaran bauran &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;(blended learning), &lt;/i&gt;dimana
perkuliahan bisa dilakukan dengan campuran antara tatap muka langsung dan tatap
muka maya. Untuk ini, kampus harus tetap merawat &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;Learning Management System (LMS)&lt;/i&gt; mereka sehingga dosen bisa
mengelola materi perkuliahan dan mahasiswa bisa mengakses materi di sana. Mahasiswa
bisa belajar mandiri secara asinkronous sebelum bertatap muka kembali dengan
dosen pada pertemuan berikutnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background: white; line-height: normal; margin-bottom: 0in;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #050505; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Selain membangun
infrastruktur pembelajaran digital yang kuat, sudah kewajiban kampus juga
membanguan ruangan kelas pintar yang ramah digital (&lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;color: #050505; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;digital smart classroom&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;color: #050505; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;). Kampus wajib memastikan ada akses
internet di setiap ruang kelas. Paling tidak setiap ruang kelas sudah mesti
terinstalasi proyektor dan &lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;color: #050505; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;loud speaker&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;color: #050505; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;
yang cukup baik. Peralatan ini bisa digunakan dosen kapan saja mereka perlu
tanpa harus mencari-cari atau meminjam ke sana kemari sebelum perkuliahan.
Ruangan perkuliahan mesti dibikin senyaman mungkin. Tidak mesti seperti
senyaman hotel. Setidaknya ada pendingin ruangan yang memungkinkan dosen dan
mahasiswa betah dan tidak gerah berlama-lama di ruangan kelas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background: white; line-height: normal; margin-bottom: 0in;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #050505; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Jika semua hal terjadi
karena satu alasan, maka pandemi ini kita yakini juga terjadi karena alasan
tertentu. Ada hikmah dan pelajaran yang bisa kita ambil selama prosesnya,
termasuk pembelajaran atau hal-hal baik terkait pembelajaran daring. Kita perlu
mempertahankan dan terus tumbuhkan segala hal praktik baik terkait pembelajaran
daring itu, walau saat ini kampus telah mengumumkan pembelajaran tatap muka
seratur persen. Sekali lagi, &lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;color: #050505; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;life will
never be same after pandemic&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;color: #050505; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;. Hidup kita tak kan pernah persis sama lagi
seperti sebelum pandemi. &lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;color: #050505; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Wallahu a’alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--&lt;br /&gt;Tulisan ini pertama kali diterbitkan oleh Riau Pos, Senin 15 Agustus 2022&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.afriantodaud.com/feeds/7346910338334310384/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/24095886/7346910338334310384?isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24095886/posts/default/7346910338334310384'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24095886/posts/default/7346910338334310384'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.afriantodaud.com/2022/08/luring-penuh-dan-potensi-reverse.html' title='Belajar Luring Penuh dan Potensi &#39;Reverse Culture Shock&#39;'/><author><name>Afrianto Daud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01777049708801606750</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgsG_Vw2pXDI5Ap0Q2qDsrYAqIuWq8wIB2pQc-bCDUr6etKg8SzNh7AAPIKkZQoirocxKc8D9u57SM8U4r3uX2mp8OW6YKomKGrZn7DxFt2rrN_agGCAgEAv_i-IWQGlg/s220/Afrianto2.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24095886.post-1653944090020236039</id><published>2021-12-28T14:15:00.011+11:00</published><updated>2021-12-28T14:33:24.167+11:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pandemi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="PENDIDIKAN"/><title type='text'>Bergerak Bersama Selama Pandemi: Sebuah Praktik Baik</title><content type='html'>&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: trebuchet; font-size: 12pt; line-height: 107%; mso-ansi-language: IN; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;&quot;&gt;Oleh: Afrianto Daud&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;i style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: trebuchet; font-size: 12pt; line-height: 107%; mso-ansi-language: IN; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;&quot;&gt;(Dosen Pendidikan Bahasa Inggris FKIP
Universitas Riau)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: trebuchet;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-AU; mso-hansi-theme-font: major-bidi;&quot;&gt;Sudah lebih &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-size: 12pt; mso-ansi-language: IN; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-AU; mso-hansi-theme-font: major-bidi;&quot;&gt;satu setengah &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-AU; mso-hansi-theme-font: major-bidi;&quot;&gt;tahun tatanan dunia terguncang hebat karena pandemi
bernama Covid19. Pandemi ini telah menghancurkan&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-size: 12pt; mso-ansi-language: IN; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-AU; mso-hansi-theme-font: major-bidi;&quot;&gt; dan mendisrupsi&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-AU; mso-hansi-theme-font: major-bidi;&quot;&gt; banyak hal, terutama ekonomi, kesehatan dan
pendidikan. Angka pengangguran dan kemiskinan melonjak tajam. Banyak orang yang
tiba-tiba kehilangan pekerjaaan karena pembatasan aktivitas manusia. Laporan
Badan Pusat Statistik (BPS) Agustus lalu, misalnya, menyebut bahwa pertumbuhan
ekonomi Indonesia pada kuartal II 2020 minus 5,32 persen. Sebelumnya, pada
kuartal I 2020, BPS melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya tumbuh
sebesar 2,97 persen, turun jauh dari pertumbuhan sebesar 5,02 persen pada
periode yang sama 2019 lalu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: trebuchet;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-size: 12pt;&quot;&gt;Pada sektor
pendidikan, pandemi telah memaksa &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt;&quot;&gt;jutaan sekolah di dunia &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-size: 12pt;&quot;&gt;tutup secara fisik. Moda pendidikan &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt;&quot;&gt;beralih ke pembelajaran daring&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-size: 12pt;&quot;&gt; secara masif. Semua perubahan yang tiba-tiba ini&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt;&quot;&gt; tentu
telah mengganggu jalannya proses pendidikan &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-size: 12pt;&quot;&gt;bagi&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt;&quot;&gt; 1,5 milyar anak didik di dunia. Pembelajaran &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-size: 12pt;&quot;&gt;daring selama pandemi &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt;&quot;&gt;tidak efektif. Laporan dari Bank
Dunia tahun 2020 menyebut bahwa rata-rata efektivitas pembelajaran daring hanya
berkisar 33-40 persen saja.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: trebuchet;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt;&quot;&gt;Tutupnya sekolah dalam waktu lama telah berakibat
serius pada proses pendidikan. Pembelajaran daring mengalami banyak masalah.
Tidak efektif. Anak-anak kita &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-size: 12pt;&quot;&gt;tidak hanya
mengalami tekanan baru, stress akibat banyak tugas selama belahar daring,
mereka juga &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt;&quot;&gt;sedang berada pada ancama&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-size: 12pt;&quot;&gt;n&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt;&quot;&gt; serius berupa kehilangan kesempatan untuk belajar
(&lt;i&gt;learning loss&lt;/i&gt;). Laporan terbaru UNICEF menyebut bahwa ada 24 juta siswa
terancam putus sekolah karena pandemi.&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-size: 12pt;&quot;&gt; Pada jangka panjang, anak didik kita akan kehilangan banyak ketrampilan
yang seharusnya mereka miliki. Kita terancama kehilangan generasi terbaik.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: trebuchet;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt;&quot;&gt;Pada kondisi
seperti ini sangat diperlukan kerjsama dan sinergi nyata antara berbagai &lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;font-size: 12pt;&quot;&gt;stakeholder&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt;&quot;&gt;
pendidikan: pemerintah, sekolah, dan masyarakat. Jalannya proses pendidikan
adalah tanggung jawab bersama. Pemerintah tentu tak akan sanggup berjalan
sendiri, tanpa ada dukungan dari pihak lain, seperti masyarakat itu. Apalagi
pemerintah juga harus menghadapi tantangan lain akibat pandemi, terutama
bagaimana menekan angka korban kematian akibat pandemi, termasuk bagaimana
menyelematkan ekonomi nasional yang terseok akibat banyak pembatasan selama
pandemi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: trebuchet; font-size: 12pt; mso-ansi-language: IN; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-AU; mso-hansi-theme-font: major-bidi;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: trebuchet; font-size: 12pt; mso-ansi-language: IN; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-AU; mso-hansi-theme-font: major-bidi;&quot;&gt;Praktik Baik
dari Ranah Minang&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background: white; line-height: normal; margin-bottom: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: trebuchet; font-size: 12pt;&quot;&gt;Kita bersyukur
bahwa sinergi dan kolaborasi masyarakat dalam menjalankan pendidikan selama
pandemi ini bisa dicontohkan dengan baik oleh masyarakat pelaku dan pemerhati pendidikan
Minangkabau yang difasilitasi oleh &lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;font-family: trebuchet; font-size: 12pt;&quot;&gt;Minangkabau Diaspora Global Network
(MDGN)&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: trebuchet; font-size: 12pt;&quot;&gt;. Ini adalah jejaring perantau Minang yang tersebar di banyak belahan
dunia. Perkembangan teknologi digital telah memudahkan ratusan ribu perantau
Minang di dunia terhubung melalui jaringan MDGN ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background: white; line-height: normal; margin-bottom: 0in;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: trebuchet; font-size: 12pt;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEj8s4egQFlCFCUMJuip4el8YjvAmeL_Pms2ysEqfqZ-6O3dU4URvV_JIVkg7B8HbLvyO2EvnIKp4aTGpssJMEUIQdJIU8UCINa6lfszrSdpYSv4LXZyW7v3gOApDFPP7oP8VtuRj7jN98Ew-xKluplSp05LpTE9w8KKryXysihgpEz0l2VLAl8=s1280&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;clear: left; float: left; font-family: trebuchet; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;1280&quot; data-original-width=&quot;820&quot; height=&quot;320&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEj8s4egQFlCFCUMJuip4el8YjvAmeL_Pms2ysEqfqZ-6O3dU4URvV_JIVkg7B8HbLvyO2EvnIKp4aTGpssJMEUIQdJIU8UCINa6lfszrSdpYSv4LXZyW7v3gOApDFPP7oP8VtuRj7jN98Ew-xKluplSp05LpTE9w8KKryXysihgpEz0l2VLAl8=w241-h320&quot; width=&quot;241&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: trebuchet;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Selama hampir dua
tahun terakhir, di bawah arahan Prof Fasli Jalal, wakil menteri pendidikan
nasional semasa pemerintahan SBY, dan saudara Burmalis Ilyas, salah seorang
pimpinan di MDGN, MDGN telah melakukan banyak sekali kegiatan inovatif yang
menarik dan bermanfa’at. Salah satunya MDGN mentaja kegiatan workshop berseri
di bidang pendidikan untuk membantu ribuan guru di ranah Minang untuk bisa
bertahan dan tetap produktif menjalankan pendidikan selama pandemi ini.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: trebuchet; font-size: 12pt;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: trebuchet;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt;&quot;&gt;Pelatihan online
berseri ini diisi oleh banyak pakar pendidikan berasal dari beberapa perguruan
tinggi di Sumatera Barat, Riau, Jakarta, dan Australia. Konten pelatihan
beragam, mulai dari filosofi belajar daring, metodologi pengajaran selama
pandemi, media pembelajaran, sampai hal-hal yang lebih praktis, seperti
bagaimana membuat video pembelajaran, LKPD digital, mengelola &lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;font-size: 12pt;&quot;&gt;Learning
Management System&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt;&quot;&gt; (LMS), dan lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: trebuchet; font-size: 12pt;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: trebuchet;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt;&quot;&gt;Yang paling menarik dari proses workshop yang berjalan lebih tiga bulan ini
adalah semuanya dilakukan secara &lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;font-size: 12pt;&quot;&gt;volounteer &lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt;&quot;&gt;dengan biaya yang nyaris
nol. Semua bergerak atas dasar sukarela dan atas dasar kemauan dan kepedulian
terhadap pendidikan di ranah Minang. Setiap pihak seakan berlomba memberikan
sesuatu, berkontribusi yang mereka bisa untuk kemajuan pendidikan di ranah
Minang, terutama selama pandemi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: trebuchet; font-size: 12pt;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: trebuchet; font-size: 12pt;&quot;&gt;Yang tak kalah
mengesankan adalah bahwa workshop ini selalu diikuti oleh ribuan peserta pada
setiap sesinya. Peserta tidak hanya datang dari ribuan guru (SD-SLTA) di
Sumatera Barat, tetapi juga para guru dari daerah lain. Mayoritas guru sangat
antusias mengikuti setiap sesi kegiatan. Hal ini terlihat dari antusiasme
mereka bertanya, termasuk mengerjakan latihan dan atau tugas setelah sesi
materi berlangsung.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: trebuchet; font-size: 12pt;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: trebuchet; font-size: 12pt;&quot;&gt;Suksesnya
kegiatan workshop berseri MDGN selama pandemi juga tak bisa dilepaskan dari
adanya dukungan yang kuat dari pemerintahan provinsi dan pemerintahan daerah di
Sumatera Barat. Pada setiap sesi workshop selalu ada pihak pemerintahan yang
hadir, mulai dari gubernur Sumatera Barat (Irwan Prayitno dan kemudian
dilanjutkan Mahyeldi) sampai para bupati dan walikota. Komitemen pemerintah
daerah mensukseskan kegiatan workshop daring ini salah satunya ditunjukan
dengan himbauan setiap dinas kepada semua guru untuk hadir dan berpartisipasi
pada workshop ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: trebuchet; font-size: 12pt;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: trebuchet;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt;&quot;&gt;Apa yang
dilakukan MDGN dan pemerintahan provinsi/kabupaten/kota di Sumatera Barat jelas
adalah sebuah praktek baik (&lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;font-size: 12pt;&quot;&gt;best practice) &lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt;&quot;&gt;yang pantas ditiru oleh
daerah lain terkait bagaimana berbagai pihak bisa bekerjasama mencari jalan
keluar dalam menghadapi tantangan yang muncul selama pandemi. &amp;nbsp;Praktik baik seperti ini sangat diperlukan
bagi banyak komunitas pendidikan yang sedang mencari cara-cara terbaik menyikapi
dampak pandemi terhadap pendidikan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: trebuchet; font-size: 12pt;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: trebuchet; font-size: 12pt;&quot;&gt;Saat ini
Kementrian Pendidikan Nasional dibawah pimpinan Nadiem Makarim sedang
meluncurkan program Organisasi Penggerak dalam rangka mengakselerasi
ketercapaian program merdeka belajar. Ada anggaran cukup besar (595 milyar) yang
disediakan untuk operasional program ini. Jika banyak organisasi penggerak yang
memperoleh dana cukup besar itu baru saja memulai kerja mereka, MDGN telah
memberikan contoh nyata bagaimana bergerak, berkontribusi, dan memberikan
solusi terhadap pemasalahan pendidikan anak negeri. MDGN sesungguhnya telah
menjadi contoh organisasi penggerak, walau tanpa anggaran pemerintah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: trebuchet;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt;&quot;&gt;Terimakasih dan semoga Allah memberkati. Saya bangga pernah menjadi bagian
kecil dari praktik baik ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.afriantodaud.com/feeds/1653944090020236039/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/24095886/1653944090020236039?isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24095886/posts/default/1653944090020236039'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24095886/posts/default/1653944090020236039'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.afriantodaud.com/2021/12/bergerak-bersama-selama-pandemi-sebuah.html' title='Bergerak Bersama Selama Pandemi: Sebuah Praktik Baik'/><author><name>Afrianto Daud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01777049708801606750</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgsG_Vw2pXDI5Ap0Q2qDsrYAqIuWq8wIB2pQc-bCDUr6etKg8SzNh7AAPIKkZQoirocxKc8D9u57SM8U4r3uX2mp8OW6YKomKGrZn7DxFt2rrN_agGCAgEAv_i-IWQGlg/s220/Afrianto2.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEj8s4egQFlCFCUMJuip4el8YjvAmeL_Pms2ysEqfqZ-6O3dU4URvV_JIVkg7B8HbLvyO2EvnIKp4aTGpssJMEUIQdJIU8UCINa6lfszrSdpYSv4LXZyW7v3gOApDFPP7oP8VtuRj7jN98Ew-xKluplSp05LpTE9w8KKryXysihgpEz0l2VLAl8=s72-w241-h320-c" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24095886.post-48586904057221136</id><published>2021-12-28T13:37:00.007+11:00</published><updated>2023-11-27T10:39:18.073+11:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="KEAGAMAAN"/><title type='text'> Kematian dan Kepulangan</title><content type='html'>&lt;p&gt;Oleh: Afrianto Daud&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;ecm0bbzt hv4rvrfc ihqw7lf3 dati1w0a&quot; data-ad-comet-preview=&quot;message&quot; data-ad-preview=&quot;message&quot; id=&quot;jsc_c_200&quot; style=&quot;font-family: inherit; padding: 4px 16px 16px;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;j83agx80 cbu4d94t ew0dbk1b irj2b8pg&quot; style=&quot;display: flex; flex-direction: column; font-family: inherit; margin-bottom: -5px; margin-top: -5px;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;qzhwtbm6 knvmm38d&quot; style=&quot;font-family: inherit; margin-bottom: 5px; margin-top: 5px;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;d2edcug0 hpfvmrgz qv66sw1b c1et5uql lr9zc1uh a8c37x1j keod5gw0 nxhoafnm aigsh9s9 fe6kdd0r mau55g9w c8b282yb d3f4x2em iv3no6db jq4qci2q a3bd9o3v b1v8xokw oo9gr5id hzawbc8m&quot; color=&quot;var(--primary-text)&quot; dir=&quot;auto&quot; style=&quot;display: block; font-family: inherit; font-size: 0.9375rem; line-height: 1.3333; max-width: 100%; min-width: 0px; overflow-wrap: break-word; word-break: break-word;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql o9v6fnle ii04i59q&quot; style=&quot;font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span color=&quot;var(--primary-text)&quot; style=&quot;font-family: inherit; font-size: 0.9375rem;&quot;&gt;Dari beberapa istilah yang digunakan oleh masyarakat kita dalam merujuk pada kematian, seperti &#39;meninggal&#39;, &#39;sampai ajal&#39;, &#39;tewas, &#39;wafat&#39;, atau &#39;mati&#39; itu sendiri, saya paling suka dengan istilah &#39;berpulang&#39;. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql o9v6fnle ii04i59q&quot; style=&quot;font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Ya, pulang, atau berpulang! &lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgKxTpvEnpTIhuz4CUn40E1bhPAA6UUj5CpFduxtOZkQxw6On_E4Djd3wv35zmWQLr7UHL0V0wQLxCfOMHOwOYzEpaSQrT_awJcFGgohyphenhyphenow8AT_G7clw_ErRGFLYifMXie91VNOTn2qYVj7ZcfWPzmwh8JoBtIW1UARVpjPT9iwhnEiepHBYbGKKw/s600/Death-and-dying_600x300px.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;300&quot; data-original-width=&quot;600&quot; height=&quot;160&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgKxTpvEnpTIhuz4CUn40E1bhPAA6UUj5CpFduxtOZkQxw6On_E4Djd3wv35zmWQLr7UHL0V0wQLxCfOMHOwOYzEpaSQrT_awJcFGgohyphenhyphenow8AT_G7clw_ErRGFLYifMXie91VNOTn2qYVj7ZcfWPzmwh8JoBtIW1UARVpjPT9iwhnEiepHBYbGKKw/s320/Death-and-dying_600x300px.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql o9v6fnle ii04i59q&quot; style=&quot;font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Istilah ini langsung menukik pada substansi kematian itu sendiri dalam hubungannya dengan kehidupan di dunia. Bahwa kematian bukanlah akhir perjalanan kehidupan. Dia hanyalah jembatan yang mengantarkan seseorang untuk pulang ke rumahnya, ke kampung halamannya.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql o9v6fnle ii04i59q&quot; style=&quot;font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Istilah ini sekaligus mengingatkan kita tentang substansi kehidupan di dunia yang sesungguhnya tak lebih dari &#39;negeri rantau&#39;, bukan tempat menetap selamanya. Karenanya, meminjam istilah Ibnu Al Jauzi, seorang perantau seyogianya tidak pantas menjadikan dunia itu sebagai rumah yang diimpikan. Dia hanyalah jembatan.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql o9v6fnle ii04i59q&quot; style=&quot;font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Setiap momen kepulangan pasti dipenuhi suasana emosional. Baik bagi mereka yang akan pergi, maupun yang ditinggalkan. Bagi seorang perantau, momen kepulangan adalah momen yang ditunggu. Kepulangan adalah momen yang dirindu. Tentu bukan pulang dengan tangan hampa. Tetapi, pulang sebagai &#39;perantau sukses&#39;.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql o9v6fnle ii04i59q&quot; style=&quot;font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Bagi yang ditinggalkan, melepas mereka yang pulang (for good) bisa jadi akan diwarnai pelukan erat, dan isak tangis. Normal, sejak dahulu isak tangis dan sedu sedan hampir selalu menjadi bukti paling otentik yang merefleksikan cinta dan kasih sayang saat berpisah.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql o9v6fnle ii04i59q&quot; style=&quot;font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Namun jika kembali kepada filosopi &#39;berpulang&#39; itu, maka seharusnya isak tangis itu tak boleh lama. Toh, semua kita akan berpulang, bukan?&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql o9v6fnle ii04i59q&quot; style=&quot;font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Jika mereka yang tahu dimana rumahnya akan merindu untuk pulang, bisa jadi ada mereka yang tak mau pulang atau tak tahu jalan untuk pulang. Jika sampai pada posisi seperti ini, maka sebagai perantau kita perlu berhenti sejenak; merenungi jalan hidup tentang dimana dan mau kemana.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql o9v6fnle ii04i59q&quot; style=&quot;font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Jangan sampai, kita termasuk mereka yang tak mau &#39;pulang&#39;. Mau atau tidak, kita pasti akan pulang, kawan. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql o9v6fnle ii04i59q&quot; style=&quot;font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Kita tak mau? Tapi akan ada waktunya kita akan &#39;dipaksa pulang&#39;. Inilah kepulangan yang menyedihkan. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql o9v6fnle ii04i59q&quot; style=&quot;font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;THE END!&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql o9v6fnle ii04i59q&quot; style=&quot;font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;l9j0dhe7&quot; id=&quot;jsc_c_201&quot; style=&quot;font-family: inherit; position: relative;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;l9j0dhe7&quot; style=&quot;font-family: inherit; position: relative;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;linmgsc8 opwvks06 i09qtzwb n7fi1qx3 hzruof5a pmk7jnqg j9ispegn kr520xx4&quot; style=&quot;border-bottom: 1px solid var(--media-inner-border); border-top: 1px solid var(--media-inner-border); font-family: inherit; inset: 0px; pointer-events: none; position: absolute;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;n00je7tq arfg74bv qs9ysxi8 k77z8yql i09qtzwb n7fi1qx3 b5wmifdl hzruof5a pmk7jnqg j9ispegn kr520xx4 c5ndavph art1omkt ot9fgl3s&quot; data-visualcompletion=&quot;ignore&quot; style=&quot;border-radius: inherit; font-family: inherit; inset: 0px; opacity: 0; pointer-events: none; position: absolute; transition-duration: var(--fds-duration-extra-extra-short-out); transition-property: opacity; transition-timing-function: var(--fds-animation-fade-out);&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;stjgntxs ni8dbmo4&quot; style=&quot;font-family: inherit; overflow: hidden;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;stjgntxs ni8dbmo4 l82x9zwi uo3d90p7 h905i5nu monazrh9&quot; data-visualcompletion=&quot;ignore-dynamic&quot; style=&quot;border-radius: 0px 0px 8px 8px; font-family: inherit; overflow: hidden;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #1c1e21; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 12px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;tvfksri0 ozuftl9m&quot; style=&quot;font-family: inherit; margin-left: 12px; margin-right: 12px;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;rq0escxv l9j0dhe7 du4w35lb j83agx80 pfnyh3mw i1fnvgqd gs1a9yip owycx6da btwxx1t3 ph5uu5jm b3onmgus e5nlhep0 ecm0bbzt nkwizq5d roh60bw9 mysgfdmx hddg9phg&quot; style=&quot;align-items: stretch; box-sizing: border-box; display: flex; flex-flow: row; flex-shrink: 0; font-family: inherit; justify-content: space-between; margin: -6px -2px; padding: 4px; position: relative; z-index: 0;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;rq0escxv l9j0dhe7 du4w35lb j83agx80 cbu4d94t d2edcug0 hpfvmrgz rj1gh0hx buofh1pr g5gj957u n8tt0mok hyh9befq iuny7tx3 ipjc6fyt&quot; style=&quot;box-sizing: border-box; display: flex; flex-direction: column; flex: 1 1 0px; font-family: inherit; max-width: 100%; min-width: 0px; padding: 6px 2px; position: relative; z-index: 0;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;div aria-label=&quot;Send this to friends or post it on your Timeline.&quot; class=&quot;oajrlxb2 gs1a9yip g5ia77u1 mtkw9kbi tlpljxtp qensuy8j ppp5ayq2 goun2846 ccm00jje s44p3ltw mk2mc5f4 rt8b4zig n8ej3o3l agehan2d sk4xxmp2 rq0escxv nhd2j8a9 mg4g778l pfnyh3mw p7hjln8o kvgmc6g5 cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x tgvbjcpo hpfvmrgz jb3vyjys rz4wbd8a qt6c0cv9 a8nywdso l9j0dhe7 i1ao9s8h esuyzwwr f1sip0of du4w35lb n00je7tq arfg74bv qs9ysxi8 k77z8yql pq6dq46d btwxx1t3 abiwlrkh p8dawk7l lzcic4wl&quot; role=&quot;button&quot; style=&quot;-webkit-tap-highlight-color: transparent; align-items: stretch; background-color: transparent; border-bottom-color: var(--always-dark-overlay); border-left-color: var(--always-dark-overlay); border-radius: inherit; border-right-color: var(--always-dark-overlay); border-style: solid; border-top-color: var(--always-dark-overlay); border-width: 0px; box-sizing: border-box; cursor: pointer; display: inline-flex; flex-basis: auto; flex-direction: row; flex-shrink: 0; font-family: inherit; list-style: none; margin: 0px; min-height: 0px; min-width: 0px; outline: none; padding: 0px; position: relative; text-align: inherit; touch-action: manipulation; user-select: none; z-index: 0;&quot; tabindex=&quot;0&quot;&gt;&lt;div class=&quot;n00je7tq arfg74bv qs9ysxi8 k77z8yql i09qtzwb n7fi1qx3 b5wmifdl hzruof5a pmk7jnqg j9ispegn kr520xx4 c5ndavph art1omkt ot9fgl3s&quot; data-visualcompletion=&quot;ignore&quot; style=&quot;border-radius: 4px; font-family: inherit; inset: 0px; opacity: 0; pointer-events: none; position: absolute; transition-duration: var(--fds-duration-extra-extra-short-out); transition-property: opacity; transition-timing-function: var(--fds-animation-fade-out);&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;cwj9ozl2 tvmbv18p&quot; style=&quot;color: #1c1e21; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 4px;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.afriantodaud.com/feeds/48586904057221136/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/24095886/48586904057221136?isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24095886/posts/default/48586904057221136'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24095886/posts/default/48586904057221136'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.afriantodaud.com/2021/12/kematian-dan-kepulangan.html' title=' Kematian dan Kepulangan'/><author><name>Afrianto Daud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01777049708801606750</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgsG_Vw2pXDI5Ap0Q2qDsrYAqIuWq8wIB2pQc-bCDUr6etKg8SzNh7AAPIKkZQoirocxKc8D9u57SM8U4r3uX2mp8OW6YKomKGrZn7DxFt2rrN_agGCAgEAv_i-IWQGlg/s220/Afrianto2.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgKxTpvEnpTIhuz4CUn40E1bhPAA6UUj5CpFduxtOZkQxw6On_E4Djd3wv35zmWQLr7UHL0V0wQLxCfOMHOwOYzEpaSQrT_awJcFGgohyphenhyphenow8AT_G7clw_ErRGFLYifMXie91VNOTn2qYVj7ZcfWPzmwh8JoBtIW1UARVpjPT9iwhnEiepHBYbGKKw/s72-c/Death-and-dying_600x300px.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24095886.post-1740214230125443388</id><published>2021-12-28T13:08:00.005+11:00</published><updated>2023-11-27T10:34:01.513+11:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="guru"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="PENDIDIKAN"/><title type='text'> Saat Guru di Depan Kelas </title><content type='html'>&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;span color=&quot;var(--primary-text)&quot; style=&quot;font-family: inherit; font-size: 0.9375rem; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;Oleh: Afrianto Daud&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;ecm0bbzt hv4rvrfc ihqw7lf3 dati1w0a&quot; data-ad-comet-preview=&quot;message&quot; data-ad-preview=&quot;message&quot; id=&quot;jsc_c_3ye&quot; style=&quot;font-family: inherit; padding: 4px 16px 16px;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;j83agx80 cbu4d94t ew0dbk1b irj2b8pg&quot; style=&quot;display: flex; flex-direction: column; font-family: inherit; margin-bottom: -5px; margin-top: -5px;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;qzhwtbm6 knvmm38d&quot; style=&quot;font-family: inherit; margin-bottom: 5px; margin-top: 5px;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;d2edcug0 hpfvmrgz qv66sw1b c1et5uql lr9zc1uh a8c37x1j keod5gw0 nxhoafnm aigsh9s9 fe6kdd0r mau55g9w c8b282yb d3f4x2em iv3no6db jq4qci2q a3bd9o3v b1v8xokw oo9gr5id hzawbc8m&quot; color=&quot;var(--primary-text)&quot; dir=&quot;auto&quot; style=&quot;display: block; font-family: inherit; font-size: 0.9375rem; line-height: 1.3333; max-width: 100%; min-width: 0px; overflow-wrap: break-word; word-break: break-word;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql o9v6fnle ii04i59q&quot; style=&quot;font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Ketika guru berdiri di depan kelas, maka dia sesungguhnya sedang menjalankan peran yang kompleks. Tak hanya sekedar bicara menjelaskan pelajaran, tetapi lebih dari itu. Seorang guru sesungguhnya berperan jamak. Ada yang langsung terlihat oleh siswa. Banyak yang tak terlihat.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql o9v6fnle ii04i59q&quot; style=&quot;font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Seorang guru bahkan telah menjalankan tugas itu jauh sebelum dia berdiri di depan kelas. Layaknya sebuah pertunjukan drama, guru adalah penulis naskah &#39;kisah drama&#39; yang akan dia pentaskan di dalam kelas. Untuk ini dia mesti menyusun skenario pembelajaran. Sebutlah itu lesson plan, materi ajar, quiz, dan media pembelajaran.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql o9v6fnle ii04i59q&quot; style=&quot;font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Saat harinya tiba, guru tak hanya menjadi seorang yang mentransfer pengetahuan, dia juga adalah seorang &#39;aktor&#39; yang tengah memainkan peran dari skenario naskah yang dia tulis. Agar sukses dan bisa memikat penonton, dia harus benar-benar bisa menjiwai peran yang dia lakukan. Dia mesti menjalankan peran itu secara penuh. Mengajar sepenuh jiwa - being a passionate teacher.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql o9v6fnle ii04i59q&quot; style=&quot;font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Jika semua kalimat guru adalah magic, maka dalam memainkan perannya sebagai aktor, setiap gerakan guru di depan siswa (besar atau kecil, terlihat atau sumir) bermakna. Ya, setiap gerakan guru sekecil apapun akan menyampaikan banyak pesan kepada siswa. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql o9v6fnle ii04i59q&quot; style=&quot;font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Senyuman guru akan mengalirkan energi positif kepada siswa. Anggukan guru akan memberi keyakinan dan keberanian siswa untuk bereksplorasi. Tepukan kecil di pundak siswa mengalirkan semangat. Sebaliknya, wajah guru yang cemberut akan membuat kelas menjadi tak nyaman. Gelengan kepala guru akan menciutkan nyali siswa. Guru yang terkantuk-kantuk di depan siswa telah membubarkan esensi kelas jauh sebelum lonceng pulang berbunyi.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql o9v6fnle ii04i59q&quot; style=&quot;font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Karena setiap kata dan gerakan tubuh guru bicara, itulah sebabnya guru dianjurkan untuk memperhatikan tampilan fisiknya. Guru mesti tampil rapi dan enak dipandang, misalnya. Jangan sampai guru lupa memasang satu kancing bajunya. Lupa memasang ikat pinggang. Atau malah lupa memasang rensleting celana. Bahaya!&lt;span class=&quot;pq6dq46d tbxw36s4 knj5qynh kvgmc6g5 ditlmg2l oygrvhab nvdbi5me sf5mxxl7 gl3lb2sf hhz5lgdu&quot; style=&quot;display: inline-flex; font-family: inherit; height: 16px; margin: 0px 1px; vertical-align: middle; width: 16px;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql o9v6fnle ii04i59q&quot; style=&quot;font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Guru mesti pandai &#39;berminyak air&#39;, mengelola perasaan. Semarah apapun guru pada sebuah suasana, dia terlarang marah besar, bermerah muka, apalagi sambil membentak-bentak di depan kelas. Dia harus belajar kepada pembaca berita di layar TV, yang tetap tersenyum di hadapan layar, walau hati dan jiwanya mungkin sedang berduka. Ini tak mudah, tapi guru hebat ￼ biasanya bisa melakukannya .&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql o9v6fnle ii04i59q&quot; style=&quot;font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Guru adalah juga dirigen yang memimpin sebuah orkestra. Dia yang menjadi pengarah kemana suasana kelas akan di bawa. Dia yang menentukan naik turun nada. Dialah diantara sumber penting semangat yang mengaliri jiwa siswa. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql o9v6fnle ii04i59q&quot; style=&quot;font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Maka, jika ada siswa yang mengantuk di dalam kelas, itu tak selalu salahnya siswa. Tapi, bisa jadi karena gurunya tak mampu mengorkestrasi kelas sebagaimana seharusnya. Jika ada siswa yang tak paham materi yang diajarkan guru, belum tentu karena siswanya kurang pintar dan sejenisnya. Boleh jadi lebih pada guru yang perlu memperbaiki cara mengajarnya.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql o9v6fnle ii04i59q&quot; style=&quot;font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Tentu tak hanya itu peran jamak guru. Masih banyak lagi. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql o9v6fnle ii04i59q&quot; style=&quot;font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Pernah kau mencoba menghitung banyak bintang di langit? Bisa? Kalau tak bisa. Kira-kira begitulah banyaknya tugas dan peran guru. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql o9v6fnle ii04i59q&quot; style=&quot;font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Karena banyak itulah, wajar jika guru disebut sebagai pahlawan peradaban. Inilah kelompok manusia yang akan pertama masuk surga, jika mereka ikhlas menjalankan tugasnya.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql o9v6fnle ii04i59q&quot; style=&quot;font-family: inherit; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Aamiin&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;--&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;*Foto sebagai ilustrasi saja :-)&lt;/div&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiO9EVrhpzxF0igpsA7frvmMDhrCJawd9_bknGJcyK2OPWeUqxBO3rC3bd6abMSExfdXY0IGyUShWlIxf56cHvFwUeAg3K_g9BQVo24vPRZumLIXQniOmjz4IISumIK_wz5S1zv0FI9vThrZAuucCdbW-vD_WqlZcMLhVarRbANRQiGDGIWrp2C2g/s6000/DSC03928.JPG&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;3376&quot; data-original-width=&quot;6000&quot; height=&quot;360&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiO9EVrhpzxF0igpsA7frvmMDhrCJawd9_bknGJcyK2OPWeUqxBO3rC3bd6abMSExfdXY0IGyUShWlIxf56cHvFwUeAg3K_g9BQVo24vPRZumLIXQniOmjz4IISumIK_wz5S1zv0FI9vThrZAuucCdbW-vD_WqlZcMLhVarRbANRQiGDGIWrp2C2g/w640-h360/DSC03928.JPG&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;stjgntxs ni8dbmo4 l82x9zwi uo3d90p7 h905i5nu monazrh9&quot; data-visualcompletion=&quot;ignore-dynamic&quot; style=&quot;border-radius: 0px 0px 8px 8px; font-family: inherit; overflow: hidden;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #1c1e21; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 12px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;tvfksri0 ozuftl9m&quot; style=&quot;font-family: inherit; margin-left: 12px; margin-right: 12px;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;rq0escxv l9j0dhe7 du4w35lb j83agx80 pfnyh3mw i1fnvgqd gs1a9yip owycx6da btwxx1t3 ph5uu5jm b3onmgus e5nlhep0 ecm0bbzt nkwizq5d roh60bw9 mysgfdmx hddg9phg&quot; style=&quot;align-items: stretch; box-sizing: border-box; display: flex; flex-flow: row; flex-shrink: 0; font-family: inherit; justify-content: space-between; margin: -6px -2px; padding: 4px; position: relative; z-index: 0;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;rq0escxv l9j0dhe7 du4w35lb j83agx80 cbu4d94t d2edcug0 hpfvmrgz rj1gh0hx buofh1pr g5gj957u n8tt0mok hyh9befq iuny7tx3 ipjc6fyt&quot; style=&quot;box-sizing: border-box; display: flex; flex-direction: column; flex: 1 1 0px; font-family: inherit; max-width: 100%; min-width: 0px; padding: 6px 2px; position: relative; z-index: 0;&quot;&gt;&lt;div aria-label=&quot;Like&quot; class=&quot;oajrlxb2 gs1a9yip g5ia77u1 mtkw9kbi tlpljxtp qensuy8j ppp5ayq2 goun2846 ccm00jje s44p3ltw mk2mc5f4 rt8b4zig n8ej3o3l agehan2d sk4xxmp2 rq0escxv nhd2j8a9 mg4g778l pfnyh3mw p7hjln8o kvgmc6g5 cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x tgvbjcpo hpfvmrgz jb3vyjys rz4wbd8a qt6c0cv9 a8nywdso l9j0dhe7 i1ao9s8h esuyzwwr du4w35lb n00je7tq arfg74bv qs9ysxi8 k77z8yql pq6dq46d btwxx1t3 abiwlrkh p8dawk7l lzcic4wl gokke00a&quot; role=&quot;button&quot; style=&quot;-webkit-tap-highlight-color: transparent; align-items: stretch; background-color: transparent; border-bottom-color: var(--always-dark-overlay); border-left-color: var(--always-dark-overlay); border-radius: inherit; border-right-color: var(--always-dark-overlay); border-style: solid; border-top-color: var(--always-dark-overlay); border-width: 0px; box-sizing: border-box; cursor: pointer; display: inline-flex; flex-basis: auto; flex-direction: row; flex-shrink: 0; font-family: inherit; list-style: none; margin: 0px; min-height: 0px; min-width: 0px; outline: none; padding: 0px; position: relative; text-align: inherit; touch-action: none; user-select: none; z-index: 0;&quot; tabindex=&quot;0&quot;&gt;&lt;div class=&quot;rq0escxv l9j0dhe7 du4w35lb j83agx80 rj1gh0hx buofh1pr g5gj957u hpfvmrgz taijpn5t bp9cbjyn owycx6da btwxx1t3 d1544ag0 tw6a2znq jb3vyjys dlv3wnog rl04r1d5 mysgfdmx hddg9phg qu8okrzs g0qnabr5&quot; style=&quot;align-items: center; box-sizing: border-box; display: flex; flex-flow: row; flex: 1 1 0px; font-family: inherit; height: 44px; justify-content: center; margin: -6px -4px; min-width: 0px; padding-left: 12px; padding-right: 12px; padding-top: 0px; position: relative; white-space: nowrap; z-index: 0;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;rq0escxv l9j0dhe7 du4w35lb j83agx80 cbu4d94t pfnyh3mw d2edcug0 hpfvmrgz ph5uu5jm b3onmgus iuny7tx3 ipjc6fyt&quot; style=&quot;box-sizing: border-box; display: flex; flex-direction: column; flex-shrink: 0; font-family: inherit; max-width: 100%; min-width: 0px; padding: 6px 4px; position: relative; z-index: 0;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;d2edcug0 hpfvmrgz qv66sw1b c1et5uql lr9zc1uh a8c37x1j keod5gw0 nxhoafnm aigsh9s9 fe6kdd0r mau55g9w c8b282yb d3f4x2em iv3no6db jq4qci2q a3bd9o3v lrazzd5p m9osqain&quot; color=&quot;var(--secondary-text)&quot; dir=&quot;auto&quot; style=&quot;display: block; font-family: inherit; font-size: 0.9375rem; font-weight: 600; line-height: 1.3333; max-width: 100%; min-width: 0px; overflow-wrap: break-word; word-break: break-word;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Like&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;n00je7tq arfg74bv qs9ysxi8 k77z8yql i09qtzwb n7fi1qx3 b5wmifdl hzruof5a pmk7jnqg j9ispegn kr520xx4 c5ndavph art1omkt ot9fgl3s&quot; data-visualcompletion=&quot;ignore&quot; style=&quot;border-radius: 4px; font-family: inherit; inset: 0px; opacity: 0; pointer-events: none; position: absolute; transition-duration: var(--fds-duration-extra-extra-short-out); transition-property: opacity; transition-timing-function: var(--fds-animation-fade-out);&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div aria-label=&quot;React&quot; class=&quot;oajrlxb2 gs1a9yip g5ia77u1 mtkw9kbi tlpljxtp qensuy8j ppp5ayq2 goun2846 ccm00jje s44p3ltw mk2mc5f4 rt8b4zig n8ej3o3l agehan2d sk4xxmp2 rq0escxv nhd2j8a9 mg4g778l pfnyh3mw p7hjln8o kvgmc6g5 cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x tgvbjcpo hpfvmrgz i1ao9s8h esuyzwwr du4w35lb n00je7tq arfg74bv qs9ysxi8 k77z8yql pq6dq46d btwxx1t3 abiwlrkh p8dawk7l lzcic4wl pphx12oy b4ylihy8 rz4wbd8a b40mr0ww a8nywdso hmalg0qr q45zohi1 g0aa4cga pmk7jnqg gokke00a&quot; role=&quot;button&quot; style=&quot;-webkit-tap-highlight-color: transparent; align-items: stretch; background-color: transparent; border-bottom-color: var(--always-dark-overlay); border-left-color: var(--always-dark-overlay); border-radius: inherit; border-right-color: var(--always-dark-overlay); border-style: solid; border-top-color: var(--always-dark-overlay); border-width: 0px; box-sizing: border-box; clip-path: polygon(0px 0px, 0px 0px, 0px 0px, 0px 0px); clip: rect(0px, 0px, 0px, 0px); cursor: pointer; display: inline-flex; flex-basis: auto; flex-direction: row; flex-shrink: 0; font-family: inherit; list-style: none; margin: 0px; min-height: 0px; min-width: 0px; outline: none; padding: 13px 0px; position: absolute; right: 6px; text-align: inherit; top: 1px; touch-action: none; user-select: none; z-index: 0;&quot; tabindex=&quot;0&quot;&gt;&lt;i class=&quot;hu5pjgll m6k467ps&quot; data-visualcompletion=&quot;css-img&quot; style=&quot;background-image: url(&amp;quot;https://static.xx.fbcdn.net/rsrc.php/v3/ys/r/aiVPn_z-2KM.png?_nc_eui2=AeHXZdGUXlvSJoF4bmp4Q8_5tRn5LarDCHG1GfktqsMIcQo0RDAKGOjRcd976YRmsro&amp;quot;); background-position: 0px -132px; background-repeat: no-repeat; background-size: 190px 150px; display: inline-block; filter: var(--filter-secondary-icon); height: 16px; vertical-align: -0.25em; width: 16px;&quot;&gt;&lt;/i&gt;&lt;div class=&quot;n00je7tq arfg74bv qs9ysxi8 k77z8yql i09qtzwb n7fi1qx3 b5wmifdl hzruof5a pmk7jnqg j9ispegn kr520xx4 c5ndavph art1omkt ot9fgl3s&quot; data-visualcompletion=&quot;ignore&quot; style=&quot;border-radius: inherit; font-family: inherit; inset: 0px; opacity: 0; pointer-events: none; position: absolute; transition-duration: var(--fds-duration-extra-extra-short-out); transition-property: opacity; transition-timing-function: var(--fds-animation-fade-out);&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;rq0escxv l9j0dhe7 du4w35lb j83agx80 cbu4d94t d2edcug0 hpfvmrgz rj1gh0hx buofh1pr g5gj957u n8tt0mok hyh9befq iuny7tx3 ipjc6fyt&quot; style=&quot;box-sizing: border-box; display: flex; flex-direction: column; flex: 1 1 0px; font-family: inherit; max-width: 100%; min-width: 0px; padding: 6px 2px; position: relative; z-index: 0;&quot;&gt;&lt;div aria-label=&quot;Leave a comment&quot; class=&quot;oajrlxb2 gs1a9yip g5ia77u1 mtkw9kbi tlpljxtp qensuy8j ppp5ayq2 goun2846 ccm00jje s44p3ltw mk2mc5f4 rt8b4zig n8ej3o3l agehan2d sk4xxmp2 rq0escxv nhd2j8a9 mg4g778l pfnyh3mw p7hjln8o kvgmc6g5 cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x tgvbjcpo hpfvmrgz jb3vyjys rz4wbd8a qt6c0cv9 a8nywdso l9j0dhe7 i1ao9s8h esuyzwwr f1sip0of du4w35lb n00je7tq arfg74bv qs9ysxi8 k77z8yql pq6dq46d btwxx1t3 abiwlrkh p8dawk7l lzcic4wl&quot; role=&quot;button&quot; style=&quot;-webkit-tap-highlight-color: transparent; align-items: stretch; background-color: transparent; border-bottom-color: var(--always-dark-overlay); border-left-color: var(--always-dark-overlay); border-radius: inherit; border-right-color: var(--always-dark-overlay); border-style: solid; border-top-color: var(--always-dark-overlay); border-width: 0px; box-sizing: border-box; cursor: pointer; display: inline-flex; flex-basis: auto; flex-direction: row; flex-shrink: 0; font-family: inherit; list-style: none; margin: 0px; min-height: 0px; min-width: 0px; outline: none; padding: 0px; position: relative; text-align: inherit; touch-action: manipulation; user-select: none; z-index: 0;&quot; tabindex=&quot;0&quot;&gt;&lt;div class=&quot;rq0escxv l9j0dhe7 du4w35lb j83agx80 rj1gh0hx buofh1pr g5gj957u hpfvmrgz taijpn5t bp9cbjyn owycx6da btwxx1t3 d1544ag0 tw6a2znq jb3vyjys dlv3wnog rl04r1d5 mysgfdmx hddg9phg qu8okrzs g0qnabr5&quot; style=&quot;align-items: center; box-sizing: border-box; display: flex; flex-flow: row; flex: 1 1 0px; font-family: inherit; height: 44px; justify-content: center; margin: -6px -4px; min-width: 0px; padding-left: 12px; padding-right: 12px; padding-top: 0px; position: relative; white-space: nowrap; z-index: 0;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;rq0escxv l9j0dhe7 du4w35lb j83agx80 cbu4d94t pfnyh3mw d2edcug0 hpfvmrgz ph5uu5jm b3onmgus iuny7tx3 ipjc6fyt&quot; style=&quot;box-sizing: border-box; display: flex; flex-direction: column; flex-shrink: 0; font-family: inherit; max-width: 100%; min-width: 0px; padding: 6px 4px; position: relative; z-index: 0;&quot;&gt;&lt;i class=&quot;hu5pjgll m6k467ps&quot; data-visualcompletion=&quot;css-img&quot; style=&quot;background-image: url(&amp;quot;https://static.xx.fbcdn.net/rsrc.php/v3/yS/r/-5nDun15jc_.png?_nc_eui2=AeFb3xIAsc9rBYJo5haN-PQEek3Vglf3B3d6TdWCV_cHd6obwphz2DVAwQU69JzK7nQ&amp;quot;); background-position: 0px -192px; background-repeat: no-repeat; background-size: 26px 562px; display: inline-block; filter: var(--filter-secondary-icon); height: 18px; vertical-align: -0.25em; width: 18px;&quot;&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;rq0escxv l9j0dhe7 du4w35lb j83agx80 cbu4d94t pfnyh3mw d2edcug0 hpfvmrgz ph5uu5jm b3onmgus iuny7tx3 ipjc6fyt&quot; style=&quot;box-sizing: border-box; display: flex; flex-direction: column; flex-shrink: 0; font-family: inherit; max-width: 100%; min-width: 0px; padding: 6px 4px; position: relative; z-index: 0;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;d2edcug0 hpfvmrgz qv66sw1b c1et5uql lr9zc1uh a8c37x1j keod5gw0 nxhoafnm aigsh9s9 fe6kdd0r mau55g9w c8b282yb d3f4x2em iv3no6db jq4qci2q a3bd9o3v lrazzd5p m9osqain&quot; color=&quot;var(--secondary-text)&quot; dir=&quot;auto&quot; style=&quot;display: block; font-family: inherit; font-size: 0.9375rem; font-weight: 600; line-height: 1.3333; max-width: 100%; min-width: 0px; overflow-wrap: break-word; word-break: break-word;&quot;&gt;Comment&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;n00je7tq arfg74bv qs9ysxi8 k77z8yql i09qtzwb n7fi1qx3 b5wmifdl hzruof5a pmk7jnqg j9ispegn kr520xx4 c5ndavph art1omkt ot9fgl3s rnr61an3&quot; data-visualcompletion=&quot;ignore&quot; style=&quot;background-color: var(--hover-overlay); border-radius: 4px; font-family: inherit; inset: 0px; opacity: 0; pointer-events: none; position: absolute; transition-duration: var(--fds-duration-extra-extra-short-out); transition-property: opacity; transition-timing-function: var(--fds-animation-fade-out);&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;rq0escxv l9j0dhe7 du4w35lb j83agx80 cbu4d94t d2edcug0 hpfvmrgz rj1gh0hx buofh1pr g5gj957u n8tt0mok hyh9befq iuny7tx3 ipjc6fyt&quot; style=&quot;box-sizing: border-box; display: flex; flex-direction: column; flex: 1 1 0px; font-family: inherit; max-width: 100%; min-width: 0px; padding: 6px 2px; position: relative; z-index: 0;&quot;&gt;&lt;div aria-label=&quot;Send this to friends or post it on your Timeline.&quot; class=&quot;oajrlxb2 gs1a9yip g5ia77u1 mtkw9kbi tlpljxtp qensuy8j ppp5ayq2 goun2846 ccm00jje s44p3ltw mk2mc5f4 rt8b4zig n8ej3o3l agehan2d sk4xxmp2 rq0escxv nhd2j8a9 mg4g778l pfnyh3mw p7hjln8o kvgmc6g5 cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x tgvbjcpo hpfvmrgz jb3vyjys rz4wbd8a qt6c0cv9 a8nywdso l9j0dhe7 i1ao9s8h esuyzwwr f1sip0of du4w35lb n00je7tq arfg74bv qs9ysxi8 k77z8yql pq6dq46d btwxx1t3 abiwlrkh p8dawk7l lzcic4wl&quot; role=&quot;button&quot; style=&quot;-webkit-tap-highlight-color: transparent; align-items: stretch; background-color: transparent; border-bottom-color: var(--always-dark-overlay); border-left-color: var(--always-dark-overlay); border-radius: inherit; border-right-color: var(--always-dark-overlay); border-style: solid; border-top-color: var(--always-dark-overlay); border-width: 0px; box-sizing: border-box; cursor: pointer; display: inline-flex; flex-basis: auto; flex-direction: row; flex-shrink: 0; font-family: inherit; list-style: none; margin: 0px; min-height: 0px; min-width: 0px; outline: none; padding: 0px; position: relative; text-align: inherit; touch-action: manipulation; user-select: none; z-index: 0;&quot; tabindex=&quot;0&quot;&gt;&lt;div class=&quot;rq0escxv l9j0dhe7 du4w35lb j83agx80 rj1gh0hx buofh1pr g5gj957u hpfvmrgz taijpn5t bp9cbjyn owycx6da btwxx1t3 d1544ag0 tw6a2znq jb3vyjys dlv3wnog rl04r1d5 mysgfdmx hddg9phg qu8okrzs g0qnabr5&quot; style=&quot;align-items: center; box-sizing: border-box; display: flex; flex-flow: row; flex: 1 1 0px; font-family: inherit; height: 44px; justify-content: center; margin: -6px -4px; min-width: 0px; padding-left: 12px; padding-right: 12px; padding-top: 0px; position: relative; white-space: nowrap; z-index: 0;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;rq0escxv l9j0dhe7 du4w35lb j83agx80 cbu4d94t pfnyh3mw d2edcug0 hpfvmrgz ph5uu5jm b3onmgus iuny7tx3 ipjc6fyt&quot; style=&quot;box-sizing: border-box; display: flex; flex-direction: column; flex-shrink: 0; font-family: inherit; max-width: 100%; min-width: 0px; padding: 6px 4px; position: relative; z-index: 0;&quot;&gt;&lt;i class=&quot;hu5pjgll m6k467ps&quot; data-visualcompletion=&quot;css-img&quot; style=&quot;background-image: url(&amp;quot;https://static.xx.fbcdn.net/rsrc.php/v3/yS/r/-5nDun15jc_.png?_nc_eui2=AeFb3xIAsc9rBYJo5haN-PQEek3Vglf3B3d6TdWCV_cHd6obwphz2DVAwQU69JzK7nQ&amp;quot;); background-position: 0px -252px; background-repeat: no-repeat; background-size: 26px 562px; display: inline-block; filter: var(--filter-secondary-icon); height: 18px; vertical-align: -0.25em; width: 18px;&quot;&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;rq0escxv l9j0dhe7 du4w35lb j83agx80 cbu4d94t pfnyh3mw d2edcug0 hpfvmrgz ph5uu5jm b3onmgus iuny7tx3 ipjc6fyt&quot; style=&quot;box-sizing: border-box; display: flex; flex-direction: column; flex-shrink: 0; font-family: inherit; max-width: 100%; min-width: 0px; padding: 6px 4px; position: relative; z-index: 0;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;d2edcug0 hpfvmrgz qv66sw1b c1et5uql lr9zc1uh a8c37x1j keod5gw0 nxhoafnm aigsh9s9 fe6kdd0r mau55g9w c8b282yb d3f4x2em iv3no6db jq4qci2q a3bd9o3v lrazzd5p m9osqain&quot; color=&quot;var(--secondary-text)&quot; dir=&quot;auto&quot; style=&quot;display: block; font-family: inherit; font-size: 0.9375rem; font-weight: 600; line-height: 1.3333; max-width: 100%; min-width: 0px; overflow-wrap: break-word; word-break: break-word;&quot;&gt;Share&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;n00je7tq arfg74bv qs9ysxi8 k77z8yql i09qtzwb n7fi1qx3 b5wmifdl hzruof5a pmk7jnqg j9ispegn kr520xx4 c5ndavph art1omkt ot9fgl3s&quot; data-visualcompletion=&quot;ignore&quot; style=&quot;border-radius: 4px; font-family: inherit; inset: 0px; opacity: 0; pointer-events: none; position: absolute; transition-duration: var(--fds-duration-extra-extra-short-out); transition-property: opacity; transition-timing-function: var(--fds-animation-fade-out);&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;cwj9ozl2 tvmbv18p&quot; style=&quot;color: #1c1e21; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 4px;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.afriantodaud.com/feeds/1740214230125443388/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/24095886/1740214230125443388?isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24095886/posts/default/1740214230125443388'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24095886/posts/default/1740214230125443388'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.afriantodaud.com/2021/12/saat-guru-di-depan-kelas.html' title=' Saat Guru di Depan Kelas '/><author><name>Afrianto Daud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01777049708801606750</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgsG_Vw2pXDI5Ap0Q2qDsrYAqIuWq8wIB2pQc-bCDUr6etKg8SzNh7AAPIKkZQoirocxKc8D9u57SM8U4r3uX2mp8OW6YKomKGrZn7DxFt2rrN_agGCAgEAv_i-IWQGlg/s220/Afrianto2.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiO9EVrhpzxF0igpsA7frvmMDhrCJawd9_bknGJcyK2OPWeUqxBO3rC3bd6abMSExfdXY0IGyUShWlIxf56cHvFwUeAg3K_g9BQVo24vPRZumLIXQniOmjz4IISumIK_wz5S1zv0FI9vThrZAuucCdbW-vD_WqlZcMLhVarRbANRQiGDGIWrp2C2g/s72-w640-h360-c/DSC03928.JPG" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24095886.post-1772086471943320591</id><published>2021-12-28T13:03:00.008+11:00</published><updated>2023-11-27T10:41:43.923+11:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="PENDIDIKAN"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="public speaking"/><title type='text'>Bagaimana Menjadi Public Speaker Hebat</title><content type='html'>&lt;p&gt;Oleh: Afrianto Daud&lt;br /&gt;&lt;span color=&quot;var(--primary-text)&quot; style=&quot;font-family: inherit; font-size: 0.9375rem; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;gwmw style=&quot;display: none;&quot;&gt;&lt;/gwmw&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span color=&quot;var(--primary-text)&quot; style=&quot;font-family: inherit; font-size: 0.9375rem; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;Kemampuan berbicara dan menyampaikan ide di depan banyak orang itu penting. Sebuah ide, sehebat apapun, jika tidak pernah dikomunikasikan dengan baik kepada orang lain, hanya akan tinggal sekedar ide personal yang tak akan berdampak apapun kepada orang lain. Ide hebat yang dikomunikasikan secara baik sangat mungkin bisa menghebatkan orang lain. Itulah diantara alasan mengapa public speaking skills itu penting.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span color=&quot;var(--primary-text)&quot; style=&quot;font-family: inherit; font-size: 0.9375rem; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;Masalahnya, banyak orang yang merasa tak percaya diri tampil di depan khalayak. Banyak yang gugup, berkeringat dingin, mules, dan sejenisnya saat mesti bicara di hadapan banyak orang. &lt;/span&gt;&lt;span color=&quot;var(--primary-text)&quot; style=&quot;font-family: inherit; font-size: 0.9375rem; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;Ini sebenarnya adalah gejala normal. Hampir semua orang pernah mengalaminya. Secara umum ini disebut dengan &#39;stage fright&#39;, atau &#39;demam panggung&#39;. Ada juga yang menyebutnya dengan &#39;speaking anxiety&#39;. Sebuah reaksi psikologis yang normal. Biasanya terjadi pada para pemula. Mereka yang belum memiliki jam terbang yang tinggi berdiri di depan massa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span color=&quot;var(--primary-text)&quot; style=&quot;font-family: inherit; font-size: 0.9375rem; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;Saya masih ingat bagaimana dulu badan saya terasa ringan seperti tidak mencecah bumi, muka pucat, keringat dingin, gemetaran, saat pertama kali berpidato dalam kegiatan &#39;muhadarah&#39; di sekolah Tsanawiah kami. Sekali lagi, ini adalah gejala normal.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span color=&quot;var(--primary-text)&quot; style=&quot;font-family: inherit; font-size: 0.9375rem; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;Berita baiknya adalah bahwa pada dasarnya setiap orang berpotensi menjadi public speaker yang hebat. Separt kata Dale Carnegie, &quot;Great speakers are not born; they are most definitely trained. Bahwa para pembicara hebat itu bukanlah dilahirkan. Mereka berhasil karena dilatih.&quot;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span color=&quot;var(--primary-text)&quot; style=&quot;font-family: inherit; font-size: 0.9375rem; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;Latihan terus menerus adalah kunci. Jam terbang menjadi variabel penting. Semakin sering anda memberanikan diri tampil di depan banyak orang, semakin baik performa anda. Bahkan anda bisa sampai pada satu titik - addicted to public speaking. Percaya ataupun tidak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span color=&quot;var(--primary-text)&quot; style=&quot;font-family: inherit; font-size: 0.9375rem; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;Salah satu poin penting yang perlu anda ingat saat bicara di depan khalayak adalah bahwa audien cenderung akan perhatian dan mendengarkan pembicara yang mereka senangi. People listen to the speakers they like.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span color=&quot;var(--primary-text)&quot; style=&quot;font-family: inherit; font-size: 0.9375rem; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;Karena alasan inilah, penting sekali bagi seorang pembicara untuk membangun hubungan emosi dengan audien sebelum dia menyampaikan inti presentasinya. Hubungan ini biasanya dikenal dengan istilah &#39;rapport&#39;. Semacam koneksi jiwa antara pembicara dan pendengar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span color=&quot;var(--primary-text)&quot; style=&quot;font-family: inherit; font-size: 0.9375rem; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;Agar terbangunnya rapport, diantara yang bisa dilakukan pembicara adalah dengan sedikit berkenalan dengan audien di awal presentasi. Jika anda bisa membuat joke ringan yang bisa membuat audien tersenyum dan tertawa di awal presentasi anda, itu adalah tanda bahwa rapport anda sudah mulai terbangun.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span color=&quot;var(--primary-text)&quot; style=&quot;font-family: inherit; font-size: 0.9375rem; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;Setelah ini anda bisa meneruskan presentasi. Pastikan anda menguasai apa yang anda sampaikan. Siapkan beberapa alat bantu, seperti kartu catatan kecil atau slide ppt untuk membantu anda mengingat poin penting yang akan anda sampaikan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span color=&quot;var(--primary-text)&quot; style=&quot;font-family: inherit; font-size: 0.9375rem; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;Selain menyampaikan dengan bahasa yang mudah dimengerti, dengan nada dan intonasi suara yang tepat, pastikan juga anda memberi perhatian khsusus pada aspek non-verbal communication, seperti gerakan badan, tangan, facial expression, eye contact, dan lainnya. Dalam banyak kasus, non verbal communication ini jauh lebih powerful menyampaikan pesan kepada audien daripada bahasa verbal.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span color=&quot;var(--primary-text)&quot; style=&quot;font-family: inherit; font-size: 0.9375rem; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;Apalagi yang anda perlukan untuk menjadi public speakers yang hebat? Tentu masih banyak lagi. Tapi, saya cukupkan sampai di sini dulu. Kepanjangan untuk sekedar intro postingan foto ini. Wkwkwk . :-)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span color=&quot;var(--primary-text)&quot; style=&quot;font-family: inherit; font-size: 0.9375rem; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEizNFeS_gkanrEEJRg-zfdsfpGkIZtlm7HQx6vnhoI0HvnGFeojE-RSaL2mCl4W68ch4uS9GcdRgW1CgsR_rffmPRPJjjFoQNMI8kSvm9FCqI_i1zHXetGf2eRXXnWMdKqMwAnTaAHLFmlu3QTgnP1cH8SKx8jUujDl63f2pZ7ptgMmAApHu4jv3g/s6000/DSC03922.JPG&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;3376&quot; data-original-width=&quot;6000&quot; height=&quot;225&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEizNFeS_gkanrEEJRg-zfdsfpGkIZtlm7HQx6vnhoI0HvnGFeojE-RSaL2mCl4W68ch4uS9GcdRgW1CgsR_rffmPRPJjjFoQNMI8kSvm9FCqI_i1zHXetGf2eRXXnWMdKqMwAnTaAHLFmlu3QTgnP1cH8SKx8jUujDl63f2pZ7ptgMmAApHu4jv3g/w400-h225/DSC03922.JPG&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span color=&quot;var(--primary-text)&quot; style=&quot;font-family: inherit; font-size: 0.9375rem; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.afriantodaud.com/feeds/1772086471943320591/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/24095886/1772086471943320591?isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24095886/posts/default/1772086471943320591'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24095886/posts/default/1772086471943320591'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.afriantodaud.com/2021/12/bagaimana-menjadi-public-speaker-hebat.html' title='Bagaimana Menjadi Public Speaker Hebat'/><author><name>Afrianto Daud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01777049708801606750</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgsG_Vw2pXDI5Ap0Q2qDsrYAqIuWq8wIB2pQc-bCDUr6etKg8SzNh7AAPIKkZQoirocxKc8D9u57SM8U4r3uX2mp8OW6YKomKGrZn7DxFt2rrN_agGCAgEAv_i-IWQGlg/s220/Afrianto2.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEizNFeS_gkanrEEJRg-zfdsfpGkIZtlm7HQx6vnhoI0HvnGFeojE-RSaL2mCl4W68ch4uS9GcdRgW1CgsR_rffmPRPJjjFoQNMI8kSvm9FCqI_i1zHXetGf2eRXXnWMdKqMwAnTaAHLFmlu3QTgnP1cH8SKx8jUujDl63f2pZ7ptgMmAApHu4jv3g/s72-w400-h225-c/DSC03922.JPG" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24095886.post-1700709467427271815</id><published>2021-12-28T12:55:00.001+11:00</published><updated>2021-12-28T12:55:44.936+11:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="PENDIDIKAN"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Publikasi"/><title type='text'>Publikasi dan Reference Manager</title><content type='html'>&lt;p&gt;&amp;nbsp;Oleh: Afrianto Daud&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;gwmw style=&quot;display: none;&quot;&gt;&lt;/gwmw&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql o9v6fnle ii04i59q&quot; style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEjCbkkAAphxdln939J-GIg5z0bwzxfmW5u82dnU73YAInwhYQ0FmBeP0fBYAtIaSB6EbLiFWZ2HhEku7rI4L7HwvG6flkHnuUElYU4qw3B2DFWafOiNja921ZsiFf-zVYZJyEAbvA97tTZRle2AX4RyXCCB6Jg5V-Vj-MR0TG9gB9jEvJ3sBEg=s1251&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;709&quot; data-original-width=&quot;1251&quot; height=&quot;181&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEjCbkkAAphxdln939J-GIg5z0bwzxfmW5u82dnU73YAInwhYQ0FmBeP0fBYAtIaSB6EbLiFWZ2HhEku7rI4L7HwvG6flkHnuUElYU4qw3B2DFWafOiNja921ZsiFf-zVYZJyEAbvA97tTZRle2AX4RyXCCB6Jg5V-Vj-MR0TG9gB9jEvJ3sBEg=s320&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Geliat dunia publikasi di Indonesia belakangan makin baik. Tidak hanya di kalangan dosen dan guru, tetap juga di kalangan peneliti non dosen yang bekerja di badan perencanaan dan penelitian. Publikasi bahkan juga mulai marak di beberapa lembaga non-profit atau NGO.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql o9v6fnle ii04i59q&quot; style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Tidak mengherankan, bahwa secara kuantitas jumlah publikasi dari penulis Indonesia meningkat tajam dalam 6 tahun terakhir. Dirjen Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi ( Diktiristek ) Kemendikbudristek Prof Nizam mengatakan dalam kurun waktu 6 tahun jumlah publikasi internasional yang dihasilkan para akademisi meningkat 600%. Wow!&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql o9v6fnle ii04i59q&quot; style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Peningkatan kuantitas publikasi ini tentu adalah tanda-tanda baik. Tidak hanya mengindikasikan bahwa banyak orang Indonesia mulai masuk ke khazanah ilmu pengetahuan tingkat dunia, hal ini juga tentu akan memberi dampak jangka panjang pada keberlangsungan pengetahuan. Ilmu yang terpublikasi akan berdampak luas. Dunia yang menglobal membuat jangkauan dampak publikasi seperti nyaris tak terhitung.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql o9v6fnle ii04i59q&quot; style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Selain aspek konten (yang menjadi core publikasi), para penulis juga perlu memiliki kemampuan teknis, seperti membuat sitasi dan menulis referensi dengan benar sesuai standar yang diminta jurnal yang dituju. Kesalahan pada aspek teknis ini tak jarang membuat sebuah publikasi ditolak. Padahal, konten tulisan bisa jadi bagus.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql o9v6fnle ii04i59q&quot; style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Rejection karena aspek layout dan teknis ini terjadi karena biasanya sebuah manuskrip akan pertama kali diperiksa oleh editor jurnal sebelum diteruskan ke reviewer. Selain memeriksa kesesuaian skop tulisan pada jurnal, editor juga akan memeriksa kesesuaian tata cara penulisan (misalnya sitasi dan referensi) dengan guideline jurnal. Jika tidak sesuai, seorang editor bisa saja mengembalikan atau menolak sebuah submission sebelum melihat content secara utuh. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql o9v6fnle ii04i59q&quot; style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Sayang sekali bukan? &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql o9v6fnle ii04i59q&quot; style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Untuk alasan itulah para penulis perlu bekerja dengan apa yang disebut dengan &#39;reference manager&#39;. Sebuah software yang dikembangkan untuk membantu penulis mengelola referensi, termasuk dalam membuat sitasi dan referensi otamatis. Software ini sangat membantu mempermudah sebagian kerja penulisan. Terutama terkait aspek teknis pengutipan sumber tulisan. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql o9v6fnle ii04i59q&quot; style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Bayangkan jika kita membuat sitasi dan referensi secara manual. Biasanya sering ada kesalahan. Selain repot menghapal berbagai bentuk reference style yang beda-beda, juga kadang lupa menuliskan referensi tertentu baik di dalam teks, maupun di daftar pustaka. Belum lagi kalau mesti ganti tulisan dengan 24 referensi atau lebih dengan style tertentu (APA, misalnya) ke style lain (IEEE, misalnya) secara manual. Repot banget!&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql o9v6fnle ii04i59q&quot; style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Di Monash University dulu kami pakai EndNote yang disediakan gratis oleh kampus untuk mahasiswa. Tapi, setelah saya pulang, saya tak lagi punya akses ke EndNote. Kalau tetap mau pakai, mesti beli sendiri &lt;span class=&quot;pq6dq46d tbxw36s4 knj5qynh kvgmc6g5 ditlmg2l oygrvhab nvdbi5me sf5mxxl7 gl3lb2sf hhz5lgdu&quot; style=&quot;display: inline-flex; font-family: inherit; height: 16px; margin: 0px 1px; vertical-align: middle; width: 16px;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;😃&quot; height=&quot;16&quot; referrerpolicy=&quot;origin-when-cross-origin&quot; src=&quot;https://static.xx.fbcdn.net/images/emoji.php/v9/taa/1.5/16/1f603.png&quot; style=&quot;border: 0px;&quot; width=&quot;16&quot; /&gt;&lt;/span&gt;. Saya kemudian beralih ke Mendeley. Tentu, karena software ini GRATIS. &lt;span class=&quot;pq6dq46d tbxw36s4 knj5qynh kvgmc6g5 ditlmg2l oygrvhab nvdbi5me sf5mxxl7 gl3lb2sf hhz5lgdu&quot; style=&quot;display: inline-flex; font-family: inherit; height: 16px; margin: 0px 1px; vertical-align: middle; width: 16px;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;🙂&quot; height=&quot;16&quot; referrerpolicy=&quot;origin-when-cross-origin&quot; src=&quot;https://static.xx.fbcdn.net/images/emoji.php/v9/ta5/1.5/16/1f642.png&quot; style=&quot;border: 0px;&quot; width=&quot;16&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql o9v6fnle ii04i59q&quot; style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Meskipun gratis, fitur-fitur Mendeley lebih dari cukup untuk digunakan dalam membantu membuat sitasi dan referensi otomatis sesuai standar jurnal. Sekali lagi, Mendeley cukup dan recommended digunakan. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql o9v6fnle ii04i59q&quot; style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Yuk, yang mau belajar Mendeley. It helps and saves your time a lot &lt;span class=&quot;pq6dq46d tbxw36s4 knj5qynh kvgmc6g5 ditlmg2l oygrvhab nvdbi5me sf5mxxl7 gl3lb2sf hhz5lgdu&quot; style=&quot;display: inline-flex; font-family: inherit; height: 16px; margin: 0px 1px; vertical-align: middle; width: 16px;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;🙂&quot; height=&quot;16&quot; referrerpolicy=&quot;origin-when-cross-origin&quot; src=&quot;https://static.xx.fbcdn.net/images/emoji.php/v9/ta5/1.5/16/1f642.png&quot; style=&quot;border: 0px;&quot; width=&quot;16&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql o9v6fnle ii04i59q&quot; style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;---&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql o9v6fnle ii04i59q&quot; style=&quot;background-color: white; color: #050505; font-family: &amp;quot;Segoe UI Historic&amp;quot;, &amp;quot;Segoe UI&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 15px; margin: 0.5em 0px 0px; overflow-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;auto&quot; style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Senin lalu, berbagi dengan pegawai Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terkait penggunaan Mendeley.

Silakan japri saya bagi yang tertarik belajar Mendeley ya.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.afriantodaud.com/feeds/1700709467427271815/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/24095886/1700709467427271815?isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24095886/posts/default/1700709467427271815'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24095886/posts/default/1700709467427271815'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.afriantodaud.com/2021/12/publikasi-dan-reference-manager.html' title='Publikasi dan Reference Manager'/><author><name>Afrianto Daud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01777049708801606750</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgsG_Vw2pXDI5Ap0Q2qDsrYAqIuWq8wIB2pQc-bCDUr6etKg8SzNh7AAPIKkZQoirocxKc8D9u57SM8U4r3uX2mp8OW6YKomKGrZn7DxFt2rrN_agGCAgEAv_i-IWQGlg/s220/Afrianto2.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEjCbkkAAphxdln939J-GIg5z0bwzxfmW5u82dnU73YAInwhYQ0FmBeP0fBYAtIaSB6EbLiFWZ2HhEku7rI4L7HwvG6flkHnuUElYU4qw3B2DFWafOiNja921ZsiFf-zVYZJyEAbvA97tTZRle2AX4RyXCCB6Jg5V-Vj-MR0TG9gB9jEvJ3sBEg=s72-c" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24095886.post-3372501637026861362</id><published>2021-01-17T14:06:00.003+11:00</published><updated>2021-01-18T18:28:36.429+11:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="PENDIDIKAN"/><title type='text'>Pembelajaran Daring dan 3 M (Media, Metode, dan Materi)</title><content type='html'>&lt;p&gt;Oleh: AFRIANTO DAUD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Praktisi Pembelajaran Digital, Dosen FKIP Universitas Riau)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Tulisan ini pertama sekali diterbitkan harian Riau Pos pada Senin 13 Juli 2020.&amp;nbsp;&lt;a href=&quot;https://riaupos.jawapos.com/citizen-jurnalis/13/07/2020/234850/pembelajaran-daring-dan-3-m-media-metode-dan-materi.html&quot;&gt;Klik disini&lt;/a&gt;&amp;nbsp;untuk membaca dari artikel sumber pertama.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjVSQEMAaQw2N2Hs8C4sguJzdMx5omgih3qC7DfgqRQzqskTqlxqk7-LRnvedgz7cyn15LeKjPeeBl3vCKqUFbUw3sEKxPiV67NT7HcKoGQmiroaC6zWavTPxsRAoBQwUHFDc3lwA/s865/jamboard.png&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;532&quot; data-original-width=&quot;865&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjVSQEMAaQw2N2Hs8C4sguJzdMx5omgih3qC7DfgqRQzqskTqlxqk7-LRnvedgz7cyn15LeKjPeeBl3vCKqUFbUw3sEKxPiV67NT7HcKoGQmiroaC6zWavTPxsRAoBQwUHFDc3lwA/s320/jamboard.png&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Wabah Covid-19 telah mengubah dan mendisrupsi banyak aspek kehidupan kita, termasuk ekonomi, kesehatan, politik, sosial budaya, keagamaan, dan pendidikan. Dalam bidang pendidikan, misalnya, Corona telah memaksa jutaan sekolah tutup secara fisik. Data UNESCO (2020) melaporkan bahwa 91,3% atau sekitar 1,5 milyar siswa di dunia tidak bisa masuk sekolah seperti biasa akibat dampak Covid. Mereka harus belajar dari rumah melalui berbagai media yang ada. Mereka ini termasuk sekitar 60 juta siswa dan 4 juta guru di 565 ribu sekolah di Indonesia yang mengalami nasib yang sama.&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sejak pandemi Covid, pembelajaran daring tidak lagi menjadi pilihan. Daring menjadi kewajiban yang tak terelakkan. Dia menjadi pilihan satu-satunya untuk memastikan pembelajaran berjalan. SKB 4 Menteri terakhir menegaskan bahwa pembelajaran daring di mayoritas wilayah Indonesian bakal diperpanjang sampai akhir tahun. Hal ini tentu menambah tantangan baru bagi setiap pelaku pendidikan di Indonesia. Kewajiban belajar daring ini telah menambah kompleksnya permasalahan pendidikan nasional yang sebelumnya juga sudah kompleks.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Diantara masalah pembelajaran daring di Indonesia adalah besarnya gap akses masyarakat terhadap ketersediaan layanan internet di Indonesia (digital divide). Masyarakat yang tinggal di Pulau Jawa cukup beruntung karena relatif meratanya infrastruktur internet, tetapi semakin ke luar Jawa, apalagi Indonesia bagian timur, akses internet semakin memprihatinkan (Statistik Indonesia, 2018). Ada lebih 40 ribu sekolah di Indonesia bahkan berada di wilayah blankspot, wilayah yang sama sekali belum ada jaringan seluler.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selain masalah infrastruktur jaringan internet yang belum merata di Indonesia, masalah pembelajaran daring di Indonesia juga terkait dengan gap kompetensi (competency divide) di kalangan guru. Cukup banyak guru dan bahkan dosen yang belum sepenuhnya siap untuk melakukan pembelajaran daring ini. Data dari beberapa penelitian semisal studi Widodo &amp;amp; Riandi (2013 sebagaimana dikutip dalam Koh et al, 2018) menunjukkan bahwa kemampuan guru terkait penguasaan ICT sangat jomplang antar satu wilayah di Indonesia. Survey dari Kemendikbud (2020) juga mengungkap bahwa lebih 76% guru mengaku lemah dari sisi penguasaan teknologi digital untuk pembelajaran.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karena ketidaksiapan ini, di awal-awal Covid tak sedikit guru yang secara sederhana melakukan pembelajaran daring dengan memberikan tugas yang bertumpuk kepada siswa. Survey dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada April 2020 menunjukkan bahwa mayoritas guru lebih banyak melakukan pembelajaran daring dengan memberikan penugasan kepada siiswa melalaui beberapa platform seperti whatsapp di awal-awal kewajiban belajar daring. Survey KPASI juga melaporkan bahwa 58,8% guru yang disurvey mengaku bahwa mereka memberikan tugas yang sama untuk semua siswa tanpa mempertimbangkan kondisi sosial ekonomi dan personal siswa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Memperhatikan beberapa fenomena di atas, menjadi sangat penting dan relevan bagi guru dan dosen untuk membekali diri mereka dengan teori dan prinsip pembelajaran daring sebelum melaksanakannya. Guru dan dosen wajib terus belajar menningkat pemahaman dan kompetensi mereka terkait pembelajaran daring ini dengan segala variannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;3 M (Media, Metode, dan Materi)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada beberapa webinar terkait pembelajaran daring selama pandemic yang saya isi, saya hampir selalu mengingatkan pentingnya guru/dosen saat ini fokus menguasai 3 M di atas. Agar pembelajaran bisa berjalan dengan relatif baik. Bukan 3 milyar, tapi media, metode, dan materi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Media&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;adalah terkait dengan platform apa saja yang bisa digunakan guru untuk memastikan pembelajaran daring bisa berjalan. Sudah sangat banyak webinar yang membahas ini. Baik yang dilakukan pemerintah, maupun beberapa lembaga swasta, dalam maupun luar negeri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya menduga guru dan dosen kita saat ini sudah semakin kaya dengan berbagai alternatif media atau platform yang bisa digunakan. Baik yang sederhana, maupun platform yang lebih canggih. Misalnya, what’sapp, blog, zoom, webex, google meet, messengger, instagram live, youtube live, g suite, moodle, edmudo, dan banyak lagi yang lain. Beberapa sekolah bahkan mungkin sudah memiliki dan membangun sistem e-learning sendiri. That’s good!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setelah mengenal berbagai alternatif platform atau media pembelajaran online, yang tidak &amp;nbsp;kalah penting untuk dipelajari para guru/dosen dalam pelaksanaan pembelajaran daring adalah terkait M berikutnya,&amp;nbsp;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;metode&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;. Ini terkait bagaimana guru/dosen men-deliver konten secara efektif. Bagaimana guru/dosen bisa menyusun strategi pembelajaran (instructional strategies) daring yang notabene berbeda dengan pembelajaran luring ini secara efektif.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Penting diingat bahwa berbagai macam platform itu, mulai dari yang sederhana seperti whatsapp sampai beberapa LMS yang agak kompleks seperti Moodle dan G Suite itu hanyalah media atau alat untuk memfasilitasi pembelajaran. Bukan penentu keberhasilan. Sementara kualitas hasil pembelajaran tetap ditentukan oleh bagaimana guru men-deliver materi pembelajarannya. Tidak ada hubungan langsung antara kualitas hasil pembelajaran dengan keren tidaknya platform yang digunakan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ke depan, setelah mengenal berbagai macam media pembelajaran daring, berbagai webinar atau pelatihan yang diadakan perlu memperbanyak pembahasan ‘bagaimana’, tak lagi sekedar ‘apa’. Guru dan dosen mesti memperkaya diri dengan berbagai ide kreatif tentang bagaimana membelajarkan siswa secara efektif dengan bertumpu pada jaringan internet dan komunikasi maya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Terkait desain pembelajara daring, penting bagi guru untuk memastikan adanya interaksi, ada umpan balik, ada komunikasi yang terencana antar siswa dengan guru atau antara satu siswa dengan siswa yang lain selama masa pandemi. Dengan interkasi dan komunikasi yang efektif diharapkan tumbuhnya sense of community diantara siswa dan guru. Guru juga perlu mendesain aktivitas pembelajaran yang variatif. Tidak hanya bertumpu pada video konferensi yang sinkronous, tetapi juga platform belajar dengan moda asinkronous. Guru juga perlu mempertimbangkan pemakaian teknologi yang hightech atau lowtech yang nanti akan berakibat pada pemakaian data siswa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada saat yang sama, guru tentu perlu memperkaya M berikutnya,&amp;nbsp;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;materi&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;atau resources (materi ajar). Guru juga harus bergerak dan mengakselerasi kemampuannya untuk mencari atau bahkan membuat materi ajar digital. Setidaknya pandai mendigitalisasi materi yang sebelumnya manual. Pelatihan pembuatan konten digital menjadi juga penting dilakukan. Guru atau dosen perlu membekali diri mereka dengan skill video editing, misalnya. Termasuk bagaimana menyimpan dan mendesiminasi konten digital mereka melalui berbagai platform yang tak hanya bisa diakses secara terbatas oleh siswa atau mahasiswa mereka, tetapi juga oleh siswa dan mahasiswa lain.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sampai di sini porsi webinar yang biasanya lebih banyak ‘satu arah’ perlu dikurangi. Kegiatan seperti pelatihan (workshop) online yang memungkinkan peserta bekerja dan berlatih perlu diperbanyak.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mari terus bersemangat untuk belajar. Jadikan keterbatasan karena Covid sebagai peluang untuk mempelajari banyak hal. Semakin banyak yang dipelajari guru, semakin besar peluangnya untuk melaksanakan pengajaran yang lebih efektif. Tetap terus bergerak. Jika pandemi ini adalah badai, maka cara terbaik bertahan di tengah badai adalah dengan tetap bergerak ke depan. Bukan diam. Apalagi mundur. Pun, begitu dengan kita para insan pendidikan Indonesia. Terus belajar 3M di atas adalah cara kita bertahan di tengah badai pandemi. Wallahua’lam.&lt;/p&gt;&lt;gdiv id=&quot;ginger-floatingG-container&quot; style=&quot;left: 0px; position: absolute; top: 0px;&quot;&gt;&lt;gdiv class=&quot;ginger-floatingG ginger-floatingG-closed&quot; style=&quot;display: none;&quot;&gt;&lt;gdiv class=&quot;ginger-floatingG-disabled-main&quot;&gt;&lt;gdiv class=&quot;ginger-floatingG-bar-tool-tooltip&quot;&gt;Enable Ginger&lt;/gdiv&gt;&lt;/gdiv&gt;&lt;gdiv class=&quot;ginger-floatingG-offline-main&quot;&gt;&lt;gdiv class=&quot;ginger-floatingG-bar-tool-tooltip&quot;&gt;&lt;em&gt;Cannot connect to Ginger&lt;/em&gt; Check your internet connection&lt;br /&gt; or reload the browser&lt;/gdiv&gt;&lt;/gdiv&gt;&lt;gdiv class=&quot;ginger-floatingG-enabled-main&quot;&gt;&lt;gdiv class=&quot;ginger-floatingG-bar&quot;&gt;&lt;gdiv class=&quot;ginger-floatingG-bar-tool ginger-floatingG-bar-tool-disable&quot;&gt;&lt;ga&gt;&lt;/ga&gt;&lt;gdiv class=&quot;ginger-floatingG-bar-tool-tooltip&quot;&gt;Disable in this text field&lt;/gdiv&gt;&lt;/gdiv&gt;&lt;gdiv class=&quot;ginger-floatingG-bar-tool&quot;&gt;&lt;ga class=&quot;ginger-floatingG-bar-tool-edit&quot;&gt;Edit&lt;/ga&gt;&lt;gdiv class=&quot;ginger-floatingG-bar-tool-tooltip&quot;&gt;Edit in Ginger&lt;/gdiv&gt;&lt;/gdiv&gt;&lt;gdiv class=&quot;ginger-floatingG-bar-tool ginger-floatingG-bar-tool-mistakes&quot;&gt;&lt;ga&gt;&lt;span class=&quot;ginger-floatingG-bar-tool-mistakes-count&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/ga&gt;&lt;gdiv class=&quot;ginger-floatingG-bar-tool-tooltip&quot;&gt;Edit in Ginger&lt;/gdiv&gt;&lt;/gdiv&gt;&lt;/gdiv&gt;&lt;/gdiv&gt;&lt;gdiv class=&quot;ginger-floatingG-contentPopup&quot;&gt;&lt;gdiv class=&quot;ginger-floatingG-contentPopup-wrap&quot;&gt;&lt;ga class=&quot;ginger-floatingG-contentPopup-close&quot;&gt;×&lt;/ga&gt;&lt;gdiv class=&quot;ginger-floatingG-contentPopup-frame&quot;&gt;&lt;iframe scrolling=&quot;no&quot;&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/gdiv&gt;&lt;/gdiv&gt;&lt;/gdiv&gt;&lt;/gdiv&gt;&lt;/gdiv&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.afriantodaud.com/feeds/3372501637026861362/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/24095886/3372501637026861362?isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24095886/posts/default/3372501637026861362'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24095886/posts/default/3372501637026861362'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.afriantodaud.com/2021/01/pembelajaran-daring-dan-3-m-media.html' title='Pembelajaran Daring dan 3 M (Media, Metode, dan Materi)'/><author><name>Afrianto Daud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01777049708801606750</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgsG_Vw2pXDI5Ap0Q2qDsrYAqIuWq8wIB2pQc-bCDUr6etKg8SzNh7AAPIKkZQoirocxKc8D9u57SM8U4r3uX2mp8OW6YKomKGrZn7DxFt2rrN_agGCAgEAv_i-IWQGlg/s220/Afrianto2.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjVSQEMAaQw2N2Hs8C4sguJzdMx5omgih3qC7DfgqRQzqskTqlxqk7-LRnvedgz7cyn15LeKjPeeBl3vCKqUFbUw3sEKxPiV67NT7HcKoGQmiroaC6zWavTPxsRAoBQwUHFDc3lwA/s72-c/jamboard.png" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24095886.post-6863596418790811039</id><published>2020-11-03T15:31:00.005+11:00</published><updated>2020-11-03T16:18:29.774+11:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="PENDIDIKAN"/><title type='text'>Pelatihan Mendeley, Grammarly, Turnitin, dan NVivo 12</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEggJb7orgbeKdXI0RIByw-ZqE9VNYBWPtnrLzys6SR_JzLuZLwt_OMnHobh1aqoF-QmLk2S1q8W2hdcxGbwvnz5wsxtf5VvPe6yaBlLrD21YYHIyvGT61EJe6F787MasPUCCZVlng/s1000/Workshop+2.jpg&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;1000&quot; data-original-width=&quot;995&quot; height=&quot;200&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEggJb7orgbeKdXI0RIByw-ZqE9VNYBWPtnrLzys6SR_JzLuZLwt_OMnHobh1aqoF-QmLk2S1q8W2hdcxGbwvnz5wsxtf5VvPe6yaBlLrD21YYHIyvGT61EJe6F787MasPUCCZVlng/w199-h200/Workshop+2.jpg&quot; width=&quot;199&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Dunia penelitian dan publikasi terus berkembang saat ini di Indonesia. Pemerintah terus mendorong para guru, dosen, peneliti, bahkan mahasiswa untuk terus produktif meneliti, menulis, dan memiliki publikasi. Semakin banyak publikasi orang Indonesia pada jurnal bereputasi, baik jurnal nasional maupun internasional, tentu akan memberi dampak baik pada performa Indonesia di khalayak akademik dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tantangannya adalah bahwa dunia riset dan publikasi adalah bidang yang tak bisa diselesaikan dalam satu hari. Dia membutuhkan ketrampilan yang kompleks. Tak hanya tentang bagaimana mencari ide, melakukan penelitian, mengumpulkan data, sampai memperoleh temuan, juga tentang bagaimana melaporkan hasil penelitian dengan bahasa yang baik sesuai dengan standar internasional. Itulah sebabnya, riset dan publikasi sering menjadi momok bagi sebagian mahasiswa dan akademisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar baiknya adalah bahwa saat ini kita hidup di era digital, zaman di mana kita terkoneksi dengan jaringan internet yang masif. Pada saat yang sama, kita bisa mengenal dan menggunakan berbagai macam software dan atau aplikasi yang bisa membantu sebagian proses riset itu menjadi lebih mudah dan lebih efektif.&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Sejak pulang sekolah dari Australia, saya cukup aktifkan memperkenalkan beberapa aplikasi ini ke mahasiswa, guru, dosen, dan peneliti di Indonesia melalui serangkaian pelatihan atau workshop. Bekerjasama dengan beberapa lembaga pengembangan sumber daya manusia, seperti Genfath Institute dan Bljar.ID saya, telah melakukan serangkaian workshop daring maupun luring. Workshop itu lebih dikenal dengan &#39;Workshop on Technologies for Effective Research and Publication&#39;.&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjOjbdySA-PhCH_6MkouSAmhaGXbJ8H1blpDGTYW7kWEHq18Yj7LwGVAKYU_t9mHkc7EsMr4dtdISvQjCuyKuK7SD3Il4sJXA8XI5pEPtLTm2Wlr1v41bvbTCZQQcEVgyRDjrM88g/s1280/Workshop+1.jpg&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;1080&quot; data-original-width=&quot;1280&quot; height=&quot;338&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjOjbdySA-PhCH_6MkouSAmhaGXbJ8H1blpDGTYW7kWEHq18Yj7LwGVAKYU_t9mHkc7EsMr4dtdISvQjCuyKuK7SD3Il4sJXA8XI5pEPtLTm2Wlr1v41bvbTCZQQcEVgyRDjrM88g/w400-h338/Workshop+1.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Beberapa materi yang dibahas dalam workshop berseri ini adalah sebagai berikut:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;Sesi 1:&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;- Memanfaatkan database untuk menemukan literature yang relevan&lt;br /&gt;- Mengelola sitasi dan referensi dengan aplikasi Mendeley&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sesi 2: &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Mengenal dan menggunakan artificial intellegence untuk plagiarism checker, pharaphrasing dan proof reading&lt;br /&gt;- Mengenal NVivo 12 untuk mengolah data kualitatif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sesi 3: &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Pengantar teknik Penulisan Artikel Ilmiah Internasional Bereputasi&lt;br /&gt;- Teknis kepenulisan abstrak yang komprehensif&lt;br /&gt;- Teknik memilih jurnal ilmiah internasional bereputasi dan mengidentifikasi jurnal abal-abal&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, sejauh ini workshop berjalan dengan baik. Mayoritas peserta berkesan baik dengan konten dan pelaksanaan workshop.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhImWmmo97SnBw2iNf69iejRGaxiixAz1kGJR9Q_wWDjVtXxRx-SvmH863gia6LQfXUpw7zS7eFjji1p-TloKLOqASanGysxLJSeZ2r8ssZerDgNdaBKrIfku1d3E2GUI3_E7SF2Q/s1280/Testimoni3.jpg&quot; style=&quot;clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em; text-align: center;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;1280&quot; data-original-width=&quot;1280&quot; height=&quot;320&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhImWmmo97SnBw2iNf69iejRGaxiixAz1kGJR9Q_wWDjVtXxRx-SvmH863gia6LQfXUpw7zS7eFjji1p-TloKLOqASanGysxLJSeZ2r8ssZerDgNdaBKrIfku1d3E2GUI3_E7SF2Q/s320/Testimoni3.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda membutuhkan workshop dengan teman seperti di atas, silakan kontak kami. Anda bisa email saya di afrianto.a@lecturer.unri.ac.id atau follow akun IG saya di udo_anto, atau teks via WA di 081266777651.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terimakasih.&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhz3ZZI7fBP6sxLLqsmaw_-vM76jkJKY6ZP0TyvJp7oy-5eMV31DKCPcCtrPnMzepAtIB2oCJ6xgUW8mMuR7J2mFjSzLWVAjmjAzI0jxcij2uNLedoUbJq1Q5XEz_E9gVlSFysNbQ/s1005/Testimoni2.jpg&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;981&quot; data-original-width=&quot;1005&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhz3ZZI7fBP6sxLLqsmaw_-vM76jkJKY6ZP0TyvJp7oy-5eMV31DKCPcCtrPnMzepAtIB2oCJ6xgUW8mMuR7J2mFjSzLWVAjmjAzI0jxcij2uNLedoUbJq1Q5XEz_E9gVlSFysNbQ/s320/Testimoni2.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjWAkCbsinRPPDaqQXc6hzITz4CNMUulkLWb5wY41phtfV1A30TM36mV_g5tDNEpxc6S0E77AFZcLK0aB-4AyF_MlsMQGU0s_fE2xvAwmumpGNno5q2hzQS2FpSey_o2OdKN_K9Xg/s993/testimoni1.jpg&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;981&quot; data-original-width=&quot;993&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjWAkCbsinRPPDaqQXc6hzITz4CNMUulkLWb5wY41phtfV1A30TM36mV_g5tDNEpxc6S0E77AFZcLK0aB-4AyF_MlsMQGU0s_fE2xvAwmumpGNno5q2hzQS2FpSey_o2OdKN_K9Xg/s320/testimoni1.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;gdiv id=&quot;ginger-floatingG-container&quot; style=&quot;left: 0px; position: absolute; top: 0px;&quot;&gt;&lt;gdiv class=&quot;ginger-floatingG ginger-floatingG-closed&quot; style=&quot;display: none;&quot;&gt;&lt;gdiv class=&quot;ginger-floatingG-disabled-main&quot;&gt;&lt;gdiv class=&quot;ginger-floatingG-bar-tool-tooltip&quot;&gt;Enable Ginger&lt;/gdiv&gt;&lt;/gdiv&gt;&lt;gdiv class=&quot;ginger-floatingG-offline-main&quot;&gt;&lt;gdiv class=&quot;ginger-floatingG-bar-tool-tooltip&quot;&gt;&lt;em&gt;Cannot connect to Ginger&lt;/em&gt; Check your internet connection&lt;br /&gt; or reload the browser&lt;/gdiv&gt;&lt;/gdiv&gt;&lt;gdiv class=&quot;ginger-floatingG-enabled-main&quot;&gt;&lt;gdiv class=&quot;ginger-floatingG-bar&quot;&gt;&lt;gdiv class=&quot;ginger-floatingG-bar-tool ginger-floatingG-bar-tool-disable&quot;&gt;&lt;ga&gt;&lt;/ga&gt;&lt;gdiv class=&quot;ginger-floatingG-bar-tool-tooltip&quot;&gt;Disable in this text field&lt;/gdiv&gt;&lt;/gdiv&gt;&lt;gdiv class=&quot;ginger-floatingG-bar-tool&quot;&gt;&lt;ga class=&quot;ginger-floatingG-bar-tool-edit&quot;&gt;Edit&lt;/ga&gt;&lt;gdiv class=&quot;ginger-floatingG-bar-tool-tooltip&quot;&gt;Edit in Ginger&lt;/gdiv&gt;&lt;/gdiv&gt;&lt;gdiv class=&quot;ginger-floatingG-bar-tool ginger-floatingG-bar-tool-mistakes&quot;&gt;&lt;ga&gt;&lt;span class=&quot;ginger-floatingG-bar-tool-mistakes-count&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/ga&gt;&lt;gdiv class=&quot;ginger-floatingG-bar-tool-tooltip&quot;&gt;Edit in Ginger&lt;/gdiv&gt;&lt;/gdiv&gt;&lt;/gdiv&gt;&lt;/gdiv&gt;&lt;gdiv class=&quot;ginger-floatingG-contentPopup&quot;&gt;&lt;gdiv class=&quot;ginger-floatingG-contentPopup-wrap&quot;&gt;&lt;ga class=&quot;ginger-floatingG-contentPopup-close&quot;&gt;×&lt;/ga&gt;&lt;gdiv class=&quot;ginger-floatingG-contentPopup-frame&quot;&gt;&lt;iframe scrolling=&quot;no&quot;&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/gdiv&gt;&lt;/gdiv&gt;&lt;/gdiv&gt;&lt;/gdiv&gt;&lt;/gdiv&gt;&lt;gdiv id=&quot;ginger-floatingG-container&quot; style=&quot;left: 0px; position: absolute; top: 0px;&quot;&gt;&lt;gdiv class=&quot;ginger-floatingG ginger-floatingG-closed&quot; style=&quot;display: none;&quot;&gt;&lt;gdiv class=&quot;ginger-floatingG-disabled-main&quot;&gt;&lt;gdiv class=&quot;ginger-floatingG-bar-tool-tooltip&quot;&gt;Enable Ginger&lt;/gdiv&gt;&lt;/gdiv&gt;&lt;gdiv class=&quot;ginger-floatingG-offline-main&quot;&gt;&lt;gdiv class=&quot;ginger-floatingG-bar-tool-tooltip&quot;&gt;&lt;em&gt;Cannot connect to Ginger&lt;/em&gt; Check your internet connection&lt;br /&gt; or reload the browser&lt;/gdiv&gt;&lt;/gdiv&gt;&lt;gdiv class=&quot;ginger-floatingG-enabled-main&quot;&gt;&lt;gdiv class=&quot;ginger-floatingG-bar&quot;&gt;&lt;gdiv class=&quot;ginger-floatingG-bar-tool ginger-floatingG-bar-tool-disable&quot;&gt;&lt;ga&gt;&lt;/ga&gt;&lt;gdiv class=&quot;ginger-floatingG-bar-tool-tooltip&quot;&gt;Disable in this text field&lt;/gdiv&gt;&lt;/gdiv&gt;&lt;gdiv class=&quot;ginger-floatingG-bar-tool&quot;&gt;&lt;ga class=&quot;ginger-floatingG-bar-tool-edit&quot;&gt;Edit&lt;/ga&gt;&lt;gdiv class=&quot;ginger-floatingG-bar-tool-tooltip&quot;&gt;Edit in Ginger&lt;/gdiv&gt;&lt;/gdiv&gt;&lt;gdiv class=&quot;ginger-floatingG-bar-tool ginger-floatingG-bar-tool-mistakes&quot;&gt;&lt;ga&gt;&lt;span class=&quot;ginger-floatingG-bar-tool-mistakes-count&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/ga&gt;&lt;gdiv class=&quot;ginger-floatingG-bar-tool-tooltip&quot;&gt;Edit in Ginger&lt;/gdiv&gt;&lt;/gdiv&gt;&lt;/gdiv&gt;&lt;/gdiv&gt;&lt;gdiv class=&quot;ginger-floatingG-contentPopup&quot;&gt;&lt;gdiv class=&quot;ginger-floatingG-contentPopup-wrap&quot;&gt;&lt;ga class=&quot;ginger-floatingG-contentPopup-close&quot;&gt;×&lt;/ga&gt;&lt;gdiv class=&quot;ginger-floatingG-contentPopup-frame&quot;&gt;&lt;iframe scrolling=&quot;no&quot;&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/gdiv&gt;&lt;/gdiv&gt;&lt;/gdiv&gt;&lt;/gdiv&gt;&lt;/gdiv&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.afriantodaud.com/feeds/6863596418790811039/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/24095886/6863596418790811039?isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24095886/posts/default/6863596418790811039'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24095886/posts/default/6863596418790811039'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.afriantodaud.com/2020/11/pelatihan-mendeley-grammarly-turnitin.html' title='Pelatihan Mendeley, Grammarly, Turnitin, dan NVivo 12'/><author><name>Afrianto Daud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01777049708801606750</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgsG_Vw2pXDI5Ap0Q2qDsrYAqIuWq8wIB2pQc-bCDUr6etKg8SzNh7AAPIKkZQoirocxKc8D9u57SM8U4r3uX2mp8OW6YKomKGrZn7DxFt2rrN_agGCAgEAv_i-IWQGlg/s220/Afrianto2.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEggJb7orgbeKdXI0RIByw-ZqE9VNYBWPtnrLzys6SR_JzLuZLwt_OMnHobh1aqoF-QmLk2S1q8W2hdcxGbwvnz5wsxtf5VvPe6yaBlLrD21YYHIyvGT61EJe6F787MasPUCCZVlng/s72-w199-h200-c/Workshop+2.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24095886.post-2951491854083644383</id><published>2019-12-13T12:27:00.004+11:00</published><updated>2019-12-16T23:03:08.807+11:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="PENDIDIKAN"/><title type='text'>Menyorot Langkah Mentri Nadiem</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15764977547637867060694&quot;&gt;Oleh&lt;/gwmw&gt;: Afrianto Daud&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjjBrrRvDYkfnAgiI7ahk7_DPikCPadiBekrG617YGnp99LhcxNBqBzpTFCR6g0xzeaqdcQwzsd-mn14iIRK2Ax_DmOCOfzFMdA7JEl-QGhebT5ygl-BsdXtmHOhd5fBlWhEYZpJg/s1600/Nadiem.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;480&quot; data-original-width=&quot;640&quot; height=&quot;240&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjjBrrRvDYkfnAgiI7ahk7_DPikCPadiBekrG617YGnp99LhcxNBqBzpTFCR6g0xzeaqdcQwzsd-mn14iIRK2Ax_DmOCOfzFMdA7JEl-QGhebT5ygl-BsdXtmHOhd5fBlWhEYZpJg/s320/Nadiem.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Satu setengah bulan sudah kabinet Indonesia Maju bekerja setelah dilantik presiden Joko Widodo sekitar akhir Oktober lalu. Salah satu mentri yang paling disorot dan ditunggu kerjanya adalah kerja mentri pendidikan dan kebudayaan, Nadiem Makarim. Nadiem sendiri sebenarnya telah menyedot perhatian publik sejak pertama kali muncul di istana presiden sebelum kabinet diumumkan. Salah satunya, tentu, karena dia adalah satu dari dua generasi mileneal yang sekarang dipercaya menjadi kelompok elit pemerintahan, menjadi menteri, membantu presiden menjalankan roda pemerintahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15764977565211216487293&quot;&gt;Harap&lt;/gwmw&gt;-Harap Cemas&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penunjukkan Nadiem sebagai mentri paling muda untuk memimpin kementrian yang mengurusi jantung, otak, dan hati sumber daya manusia Indonesia adalah eksperimen paling berani (untuk tidak mengatakan ‘pertaruhan terbesar’) Jokowi untuk masa depan anak-anak Indonesia. Ini adalah kementrian paling strategis dengan tantangan dan masalah yang kompleks. Kementrian ini tidak hanya mengurusi pendidikan sekitar 45,3 juta jiwa anak Indonesia di level pendidikan dasar dan menengah, juga sekitar 7 juta mahasiswa Indonesia, termasuk mengelola sekitar hampir 2,8 juta guru dan dosen dari ribuan sekolah dan universitas yang tersebar di ribuan pulau Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain apresiasi terhadap penunjukkan Nadiem Makarim sebagai mentri pendidikan, cukup banyak kalangan yang juga ‘harap-harap cemas’ (untuk tidak mengatakan khwatir) dengan dipilihnya mantan CEO PT Gojek Indonesia ini. Mereka tentu berharap Nadiem bisa melakukan perbaikan sistem, meningkatkan kualitas pendidikan nasional, menjaga agar tujuan pendidikan nasional tetap on the right track, sekaligus cemas apakah mas mentri bisa melakukan itu semua dengan baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betul bahwa Nadiem sukses mengelola Gojek Indonesia, namun rekam jejaknya di dunia pendidikan Indonesia belum banyak terdengar. Berbeda dengan mayoritas menteri pendidikan sebelumnya, Nadiem sebelumnya bukanlah guru, bukan dosen, bukan peneliti, bukan aktivis pendidikan, bukan guru besar. Bahwa dia anak muda yang berhasil menari dengan perkembangan zaman, tertutama di dunia ekonomi digital, sudah terbukti. Namun, bisakah Nadiem mengelola kementrian pendidikan dan kebudayaan dengan kompleksitas masalah dan tantangannya? Publik menunggu dengan harap-harap cemas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Daur Ulang Ide Lama&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu terlalu pagi untuk menilai berhasil atau tidak. Wong baru saja mulai bekerja. Namun demikian, kita sudah bisa mengomentari arah-arah kebijakan mas mentri baru ini dari pernyataan dan pidatonya di beberapa momen, baik yang lisan maupun tertulis. Secara pribadi saya terus membaca dan mengikuti substansi statemen pak mentri. &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15764977617963710873019&quot;&gt;Sebagian&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15764977617968057562759&quot;&gt;pernyataannya&lt;/gwmw&gt; viral. Dikomentari cukup banyak netizen. Dalam tulisan ini saya akan komentari beberapa diantaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut saya substansi dari berbagai statemen mas Nadiem sejak dia dilantik belum ada yang benar-benar baru. Nadiem hanya membahasakan ulang sesuatu yang sesungguhnya telah menjadi perhatian dan pekerjaan insan pendidik Indonesia sejak lama. Termasuk ketika Nadiem berbicara tentang permasalahan dan tantangan pendidikan Indonesia saat ini dan di masa depan. Ide-ide Nadiem hanyalah pengulangan dan paraphrasing dari ide-ide yang sudah ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Nadiem berbicara tentang &lt;i&gt;link and match&lt;/i&gt;, misalnya, beberapa sa’at setelah dia dilantik. Isu tentang link and match, atau bagaimana menyambungkan antara apa yang dipelajari di sekolah dan peguruan tinggi dengan kebutuhan dunia industri, bukanlah hal yang baru. Sejak zaman presiden Habibie, persisnya ketika Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dipimpin oleh Prof Wardiman Djojonegoro, ide tentang l&lt;i&gt;ink and macth&lt;/i&gt; ini sudah mengemuka. Berbagai kebijakan pendidikan nasional, seperti penguatan sekolah vokasi, sejak zaman Habibie sampai SBY dan juga Jokowi adalah bagian dari usaha &lt;i&gt;link and match&lt;/i&gt; ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pun begitu ketika Nadiem menyebut bahwa pendidikan kita harus berbasis kompetensi dan karakter. Isu tentang kompetensi juga bukanlah hal yang baru. Perhatian pemerintah terhadap kompetensi dan karakter ini sudah dimulai lama. Kurikulum 2004 bahkan disebut dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Kurikulum 2013 juga memberikan perhatian khusus kepada aspek kompetensi, dengan menekankan keseimbangan antara aspek pengetahuan, sikap dan ketrampilan. Penguatan karakter dalam pendidikan nasional juga telah diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 87 tahun 2017.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kesempatan berbeda, Nadiem mewacanakan penghapusan Ujian Nasional. Wacana ini sempat menarik perhatian netizen, terutama orang tua yang selama ini merasakan bahwa UN lebih banyak bikin heboh ketimbang bikin tenang. Inipun bukanlah ide baru. Suara banyak kalangan, terutama para aktivis pendidikan untuk menghentikan Ujian Nasional sudah dimulai sejak lebih satu dekade yang lalu. &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15764977681490578304884&quot;&gt;Debatnya&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15764977681490973339890&quot;&gt;sudah&lt;/gwmw&gt; lama. Sudah banyak kajian akademik terkait ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penghapusan UN adalah janji politik pemerintahan Joko Widodo yang belum ditunaikan di periode pertama. &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15764977694574122258125&quot;&gt;Sekarang&lt;/gwmw&gt; Nadiem &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15764977694576506611519&quot;&gt;kembali&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15764977694577745937152&quot;&gt;mewacanakan&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15764977694570884941176&quot;&gt;hal&lt;/gwmw&gt; yang sama. &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15764977705145853136494&quot;&gt;Wacana&lt;/gwmw&gt; yang kemudian &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15764977705145338225410&quot;&gt;dia&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-3&quot; id=&quot;gwmw-15764977705145054337513&quot;&gt;ralat&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15764977705149855607699&quot;&gt;sendiri&lt;/gwmw&gt;. Bahwa UN akan tetap ada pada tahun 2020. Penghapusan baru akan dilakukan tahun setelahnya. Inipun belum tentu akan benar-benar jadi. Sangat bisa jadi janji penghapusan ini akan kembali menguap karena beberapa alasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernyaatan lain dari mas mentri yang sempat viral adalah cuplikan isi pidato beliau ketika perayaan hari guru nasional tanggal 25 November yang lalu. &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15764977728930359686713&quot;&gt;Banyak&lt;/gwmw&gt; yang share &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15764977728930139021879&quot;&gt;di&lt;/gwmw&gt; media &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15764977728934533323639&quot;&gt;sosial&lt;/gwmw&gt;. &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15764977734065420320388&quot;&gt;Ditanggapi&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15764977734069224304953&quot;&gt;beragam&lt;/gwmw&gt;. Apa yang disampaikan mas mentri secara substansi memang menarik. Saya setuju dengan banyak ide dalam pidato itu. &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15764977749066748359099&quot;&gt;Tapi&lt;/gwmw&gt;, &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15764977749060978663307&quot;&gt;adakah&lt;/gwmw&gt; yang &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15764977749068173432820&quot;&gt;baru&lt;/gwmw&gt;? Menurut saya, polanya sama. Nadiem hanya menyampaikan ulang prinsip-prinsip pembelajaran yang sebenarnya sudah diketahui banyak pendidik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Nadiem mengatakan, misalnya, bahwa guru perlu melakukan perubahan di kelas dengan cara mengajak siswa berdiskusi, bukan hanya mendengar. Memberikan kesempatan kepada murid untuk mengajar di kelas. Mencetuskan proyek bakti sosial yang melibatkan seluruh kelas. Ini adalah &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15764977785128814245008&quot;&gt;diantara&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15764977785121462042857&quot;&gt;bentuk&lt;/gwmw&gt; pengejawantahan dari pendekatan pembelajaran yang &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15764977785125140906904&quot;&gt;disebut&lt;/gwmw&gt; &lt;i&gt;active learning&lt;/i&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15764977785120365270002&quot;&gt;atau&lt;/gwmw&gt; &lt;i&gt;student centered learning&lt;/i&gt; (SCL). Himbauan dan endorsement pemerintah untuk melakukan SCL bukan cerita baru. Ide ini bahkan sudah dimulai didengungkan sejak Kurikulum 1984 dengan pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) sampai Kurikulum 2013 yang menekankan aspek &lt;i&gt;discovery, inquiry&lt;/i&gt;, dan &lt;i&gt;project based learning&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya tentu tidak sedang mengatakan bahwa apa yang disampaikan mas mentri tak perlu dan tak relevan. Semua yang disampaikan mas Nadiem tetap perlu dan masih relevan untuk tetap diulang dan diingatkan. Tapi, yang lebih penting sebenarnya adalah bagaimana membuat ide-ide bagus itu terlaksana secara efektif di lapangan. Di sini kita menunggu terobosan seorang Nadiem Makarim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai sosok muda yang disambut euphoria sebagian kalangan di awal masa baktinya, sejauh ini belum ada ide-ide yang benar-benar genuine yang disampaikan mas mentri muda ini. Ini termasuk statemen pak mentri ketika melantik rektor Universitas Indonesia baru-baru ini, bahwa kita memasuki era dimana gelar akademik tidak menjamin kompetensi. Sejak dahulu sebenarnya eranya juga sama, bahwa gelar sarjana tidak pernah memberikan jaminan kompetensi, apalagi jaminan kerja. Kompetensi dan keberhasilan di dunia kerja tak bisa diukur hanya dari selembar ijazah. Dari dulu juga begitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15764977830937062621787&quot;&gt;Antara&lt;/gwmw&gt; Kurikulum, Guru &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15764977830937462409049&quot;&gt;dan&lt;/gwmw&gt; Infrastruktur&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kesempatan yang lain, mas Nadiem mengisyaratkan bahwa dia juga akan mengkaji ulang kurikulum, merombak yang sudah ada, membuat yang baru. Saya ingin sampaikan kepada pak mentri agar tidak terlalu cepat mengambil pilihan yang sudah biasa itu. Jangan sampai mas Nadiem meneruskan adagium lama, ganti mentri ganti kurikulum. &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15764977845145020171319&quot;&gt;Rakyat&lt;/gwmw&gt; trauma &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15764977845149293193002&quot;&gt;dengan&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15764977845144258082314&quot;&gt;kebiasaan&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15764977845149644519004&quot;&gt;ini&lt;/gwmw&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahwa kurikulum perlu ditinjau ulang adalah hal yang biasa. Konten kurikulum memang perlu terus dikaji dan diselaraskan dengan kebutuhan dan perkembangan zaman. Namun mengutak atik Kurikulum 2013 yang masih relatif baru tanpa kajian komprehensif adalah kecerobohan. Butuh waktu lama untuk melihat hasil sebuah kurikulum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena masalah pendidikan begitu kompleks, saya ingin sampaikan kepada mas mentri agar tetap memprioritaskan pengelolaan guru. Mulai dari perekrutan calon guru, &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15764977871264990193175&quot;&gt;memperbaiki&lt;/gwmw&gt; proses &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15764977871264358981983&quot;&gt;pendidikan&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15764977871262757608102&quot;&gt;mereka&lt;/gwmw&gt;. Meningkatkan kualitas &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15764977875843550928198&quot;&gt;mereka&lt;/gwmw&gt;. &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-anim ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15764977881099181304111&quot;&gt;Mensejahterakan&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-anim ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15764977881099978759381&quot;&gt;mereka&lt;/gwmw&gt;. Pada akhirnya, kurikulum sebagus apapun tak akan pernah teraplikasi dengan baik jika tidak didukung oleh guru-guru yang profesional. Sebaliknya, kurikulum sesederhana apapun akan menjadi hebat di tangan guru-guru hebat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkait guru, kita sudah &lt;i&gt;on the right track&lt;/i&gt;, walau masih banyak PR yang mesti diselesaikan. Komitmen negara terkait profesionalisme sudah dimulai sejak UU No 14/2005 tentang guru dan dosen. Sejak itu negara sudah memberi perhatian khusus terhadap keberadaan guru, termasuk kesejahteraan mereka. Permasalahnnya tentu belum semua terurai, termasuk gap perhatian negara terhadap guru negeri dan guru honorer. Juga gap kualitas antar individu guru dan penyebaran guru di perkotaan dan di daerah terpencil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beratnya beban administratif guru seperti yang disebut oleh mas mentri Nadiem adalah diantara benang kusut manajemen guru dan dosen yang mesti diselesaikan. Saya setuju bagaimana negara bisa menyederhanakan beban administratif guru dan dosen ini. Guru harus lebih banyak menghabiskan waktu bagaimana mengelola kelas dengan lebih kreatif dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Mereka harus lebih banyak berinteraksi dengan siswa. Memutakhirkan sumber belajar. Mencari cara terbaik melaksanakan pembelajaran. Merekfleksi pembelajaran. Tak saatnya lagi guru menghabiskan banyak waktu menyiapkan dokumen perangkat pembelajaran, misalnya. Tak ada urgensinya guru mesti membuat dokumen Rencana Pembelajaran yang rumit dan berpanjang-panjang. Jika bisa dibuat sederhana, mengapa harus dibuat rumit dan sulit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain fokus pada manajemen guru, kemendikbud juga perlu memprioritaskan melengkapi infrastruktur dan fasilitas sekolah dan kampus. Guru-guru hebat akan semakin melejit kehebatannya jika ditopang oleh sarana dan parasarana pembelajaran yang memadai. Maka anggaran kemendikbud yang mencapai hampir 36 triliun itu perlu lebih banyak dialokasikan untuk pemenuhan infrastruktur sekolah dan perguruan tinggi, sebagaimana amanat dari Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, khususnya standar sarana dan para sarana. Agar tak ada lagi sekolah yang tidak punya ruang kelas. Agar tak ada lagi sekolah yang tak memiliki perpustakaan. Atau agar tak ada lagi kampus bahkan yang tak punya ruang khusus untuk dosen mereka sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masih banyak hal yang perlu menjadi perhatian, jika mau diurai lebih panjang. Termasuk infrastruktur jaringan internet dengan segala perangkatnya di sekolah dan kampus di seluruh Indonesia. Bagaimana mungkin kita bicara era revolusi industri 4.0 jika bahkan untuk mengakses internet saja siswa tak bisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Dimana Akhlak, Iman dan Taqwa?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejauh ini pak menteri telah menyampaikan beberapa kekhawatiran dan mimpi-mimpi beliau tentang masa depan pendidikan Indonesia. Namun, sepanjang yang saya amati dalam pidato-pidato beliau, mas mentri nyaris belum pernah secara khusus berbicara tentang akhlak, iman dan taqwa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah bagus jika mas mentri prihatin dengan lemahnya penguasaan Bahasa Inggris anak Indonesia. Adalah juga penting mas mentri bicara tentang &lt;i&gt;new literacy&lt;/i&gt;, seperti &lt;i&gt;digital literacy&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;data literacy&lt;/i&gt; yang harus dimiliki anak-anak muda Indonesia di masa depan. Juga relevan jika mas mentri bicara tentang pentingnya berbagai soft skills untuk bisa sukses di dunia kerja. Tapi, tak kalah pentingnya mas Nadiem juga mesti bicara tentang moralitas anak bangsa, tentang akhlak, tentang kebertuhanan, tentang iman dan taqwa dalam konteks pendidikan nasional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu hari di depan wartawan mas mentri mileneal ini dengan percaya diri mengatakan sebagai pribadi yang mengerti tentang masa depan. &lt;i&gt;That’s great! &lt;/i&gt;Tapi, jangan lupa bahwa filosopi pendidikan kita jauh melewati kepentingan materialistis di dunia. Masa depan yang dimaksud oleh pendidikan kita tak hanya sedang menyiapkan anak didik untuk hidup di dunia yang sementara, tapi jauh lebih dari itu – hidup di akherat kelak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya bisa saja menulis lebih panjang lagi. Karena bicara pendidikan dimensinya sungguh luas dan tak akan pernah selesai. Tapi, saya cukupkan sampai di sini. Terakhir izinkan saya menuliskan ulang tujuan pendidikan nasional yang tertulis dalam konstitusi kita – UU No 20/2003 tentang sistem pendidikan nasional, “mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab” (Pasal 3). Semoga kemendikbud konsisten bekerja mengelola pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Besok atau lusa, saya berharap mas mentri Nadiem sesekali juga bicara tentang bagaimana mempersiapkan peserta didik yang beriman dan bertakwa itu, memperkuat spiritualitas mereka, disamping bagaimana mempersiapkan mereka agar bisa makan, bisa cari kerja setelah mereka selesai sekolah atau kuliah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selamat bekerja. Semoga Allah beri petunjuk dan kekuatan. Serius kita berharap ada perubahan yang substantif dalam kabinet baru, bukan sekedar perubahan &lt;i&gt;dresscode&lt;/i&gt; seorang mentri dalam menghadiri acara resmi sekolah dan kampus.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.afriantodaud.com/feeds/2951491854083644383/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/24095886/2951491854083644383?isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24095886/posts/default/2951491854083644383'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24095886/posts/default/2951491854083644383'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.afriantodaud.com/2019/12/menyorot-langkah-mentri-nadiem-oleh_13.html' title='Menyorot Langkah Mentri Nadiem'/><author><name>Afrianto Daud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01777049708801606750</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgsG_Vw2pXDI5Ap0Q2qDsrYAqIuWq8wIB2pQc-bCDUr6etKg8SzNh7AAPIKkZQoirocxKc8D9u57SM8U4r3uX2mp8OW6YKomKGrZn7DxFt2rrN_agGCAgEAv_i-IWQGlg/s220/Afrianto2.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjjBrrRvDYkfnAgiI7ahk7_DPikCPadiBekrG617YGnp99LhcxNBqBzpTFCR6g0xzeaqdcQwzsd-mn14iIRK2Ax_DmOCOfzFMdA7JEl-QGhebT5ygl-BsdXtmHOhd5fBlWhEYZpJg/s72-c/Nadiem.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24095886.post-7694894416518212358</id><published>2019-09-06T14:32:00.001+10:00</published><updated>2019-09-06T14:33:05.317+10:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="PENDIDIKAN"/><title type='text'>Debat di Kampus dan Kemampuan Berfikir Kritis</title><content type='html'>&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677441642378149860214&quot;&gt;Oleh&lt;/gwmw&gt;: Afrianto Daud&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;(Pembina Komunitas Debat Universita Riau)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg97NkAhTiRnf4hdm1rWILkqlBPsV5Ml7sQqI9EsAuOEpYG39D_E_vGvndpz5J3HDWIV0EZrw5elLQK02dBpDk12cigTMulRHI9nRGktIhjrm_2778pV8Gy53sYx7hb6inGnJim1A/s1600/debate.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;941&quot; data-original-width=&quot;1600&quot; height=&quot;188&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg97NkAhTiRnf4hdm1rWILkqlBPsV5Ml7sQqI9EsAuOEpYG39D_E_vGvndpz5J3HDWIV0EZrw5elLQK02dBpDk12cigTMulRHI9nRGktIhjrm_2778pV8Gy53sYx7hb6inGnJim1A/s320/debate.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-size: 12.0pt; line-height: 107%; mso-ansi-language: IN; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-bidi-font-family: Calibri; mso-hansi-font-family: Calibri;&quot;&gt;Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan
(Kemendikbud) baru saja menyelesaikan satu iven nasional yang dikenal dengan &lt;i&gt;National
School Debating Championship&lt;/i&gt; (NSDC) atau Lombat Nasional Debat Antar
Sekolah. Kegiatan itu berlangsung di &lt;span style=&quot;background: white;&quot;&gt;Banjarmasin,
Kalimantan Selatan (Kalsel) pada 14-20 Agustus 2019 diikuti perwakilan siswa
dari 34 provinsi, termasuk Riau.&lt;/span&gt; Ini adalah kegiatan lomba debat
berbahasa Inggris tahunan yang diselenggarakan oleh Kementrian Pendidikan
Nasional, disamping lomba debat berbahasa Indonesia. &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677441695367478076951&quot;&gt;Pada&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677441695362132104071&quot;&gt;sa’at&lt;/gwmw&gt; yang sama, &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677441695369794318021&quot;&gt;di&lt;/gwmw&gt;
tingkat &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677441695369618776115&quot;&gt;universitas&lt;/gwmw&gt; Kemenristekdikti &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677441695365392678410&quot;&gt;juga&lt;/gwmw&gt; menyelenggarakan lomba &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677441695368601995259&quot;&gt;debat&lt;/gwmw&gt; yang
&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677441695364653885518&quot;&gt;mirip&lt;/gwmw&gt; – &lt;i&gt;National University Debating Championship &lt;/i&gt;(NUDC). NUDC 2019
dilaksanakan di kampus Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya Juli yang lalu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-size: 12.0pt; line-height: 107%; mso-ansi-language: IN; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-bidi-font-family: Calibri; mso-hansi-font-family: Calibri;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;calibri light&amp;quot; , sans-serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;Kegiatan lomba debat antar&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt; siswa (dan mahasiswa) ini adalah kegiatan yang bagus, karena bisa memberi
cukup banyak dampak positif. Lomba debat tidak hanya memotivasi siswa/mahasiswa
untuk berprestasi, tetapi juga bisa melatih mereka dengan beberapa kemampuan
penting yang mesti dimiliki manusia abad 21, seperti kemampuan berkomunikasi,
kemampuan berfikir kritis, kemampuan mencipta gagasan, dan berkolaborasi, hidup
bersama dalam perbedaan. &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677441722890038623851&quot;&gt;Dunia&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677441722892624274712&quot;&gt;pendidikan&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677441722892080450610&quot;&gt;sekarang&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677441722892235236537&quot;&gt;mengenal&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677441722895667271155&quot;&gt;kemampuan&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677441722899692310468&quot;&gt;ini&lt;/gwmw&gt;
dengan sebutan &lt;i&gt;4 C-skills &lt;/i&gt;(&lt;i&gt;communication, critical thinking,
collaboration, and creativity&lt;/i&gt;).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Higher Order
Thinking Skills (HOTS)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Salah satu poin
penting &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677441741747254766656&quot;&gt;dari&lt;/gwmw&gt; Kurikulum 2013 yang sekarang &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677441741746150797580&quot;&gt;berlaku&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677441741745261786740&quot;&gt;adalah&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677441741747008466313&quot;&gt;pentingnya&lt;/gwmw&gt; guru
melakukan proses pembelajaran yang memungkinkan siswa memiliki kemampuan
berfikir tingkat tinggi, yang dikenal dengan HOTS (&lt;i&gt;higher order thinking
skills&lt;/i&gt;). Penekanan pada pembelajaran pada HOTS ini berbasis pada teori
Taksonomi Bloom yang pertama kali diperkenalkan oleh seorang pakar psikologi
pendidikan berkebangsaan Amerika Serikat, &lt;/span&gt;&lt;a href=&quot;https://id.wikipedia.org/wiki/Benjamin_s._bloom&quot; title=&quot;Benjamin s. bloom&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;background: white; font-family: &amp;quot;arial&amp;quot; , sans-serif; font-size: 10.5pt; line-height: 107%;&quot;&gt;Benjamin S. Bloom&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt; (1956), &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677441756345380862095&quot;&gt;dan&lt;/gwmw&gt; kemudian direvisi &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677441756347230121913&quot;&gt;atau&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677441756341154428931&quot;&gt;dikembangkan&lt;/gwmw&gt;
&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677441756344423545480&quot;&gt;muridnya&lt;/gwmw&gt;, David R. &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677441762040953033113&quot;&gt;Krathwohl&lt;/gwmw&gt;, empat puluh lima tahun kemudian.&amp;nbsp; Secara umum, Bloom membagi tujuan pendidikan
menjadi tiga ranah: kognitif, afektif, dan psikomotor.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Untuk ranah
kognitif (aspek berfikir atau ranah intelektual), Bloom menjelaskan kemampuan
berfikir seseorang dengan menyusunnya menjadi beberapa level kemampuan, dari
rendah sampai tinggi. Level kemampuan berfikir &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677441786928854371724&quot;&gt;tingkat&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677441786928043667923&quot;&gt;rendah&lt;/gwmw&gt; (&lt;i&gt;lower order
thinking skills&lt;/i&gt;) &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677441786923844926716&quot;&gt;adalah&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677441786925718857338&quot;&gt;termasuk&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677441786922539018024&quot;&gt;kemampuan&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677441786925681000072&quot;&gt;mengingat&lt;/gwmw&gt;, memahami, &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677441786926679145672&quot;&gt;dan&lt;/gwmw&gt;
&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677441786920179889495&quot;&gt;mengaplikasikan&lt;/gwmw&gt;. Sementara kemampuan berfikir tingkat tinggi (&lt;i&gt;higher order
thinking skills)&lt;/i&gt; pada edisi revisi adalah kemampuan menganalisa, kemampuan
mengevaluasi, dan kemampuan mencipta. Kemampuan berfikir kritis masuk pada
bagian kemampuan ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Selama ini dunia
pendidikan kita cenderung masih berkutat pada pengembangan kemampuan berfikir
tingkat rendah. Ada banyak pendekatan pembelajaran dan juga bentuk soal ujian di
sekolah masih berputar di sekitar kemampuan mengingat dan memahami materi yang
diajarkan. Tak jarang sebagian guru berhenti pada tahap mengajarkan siswa dalam
menghapal dan memahami saja. Jika siswa sudah hapal dan paham, sebagian guru
merasa dia sudah sukses mengajar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Sementara
kemampuan menganalisa dan atau kemampuan berfikir kritis kurang berkembang.
Belum banyak metodologi pengajaran yang mendorong siswa untuk sampai pada
kemampuan berfikir tingkat tinggi ini. Akibatnya siswa Indonesia cenderung
kesulitan dalam hal analisa masalah. Belum banyak siswa/mahasiswa Indonesia,
misalnya, yang berani berbeda pendapat dengan guru atau dosen ketika proses
pembelajaran. Padahal beda pendapat, selama dikomunikasikan dengan cara-cara
yang beterima, adalah hal yang biasa dalam proses pembelajaran. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677441843129134138523&quot;&gt;Rendahnya&lt;/gwmw&gt; kemampuan
berfikir &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677441843128159737385&quot;&gt;analitis&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677441843129484925027&quot;&gt;dan&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677441843125763505332&quot;&gt;kritis&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677441843124654930934&quot;&gt;siswa&lt;/gwmw&gt; Indonesia, misalnya, bisa dilihat dari hasil
&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;background: white; color: #191919;&quot;&gt;sejumlah survei &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677441843127985506247&quot;&gt;pendidikan&lt;/gwmw&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;background: white; color: #191919;&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677441843124593500861&quot;&gt;seperti&lt;/gwmw&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;background: white; color: #191919;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;background: white; color: #191919;&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677441843122952406343&quot;&gt;Programme&lt;/gwmw&gt;
for International Student Assessment&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;background: white; color: #191919;&quot;&gt; (PISA)&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;background: white; color: #191919;&quot;&gt; yang diselenggarakan &lt;/span&gt;oleh &lt;i&gt;Organization
for Economic Cooperation and Development&lt;/i&gt; (OECD)&lt;span style=&quot;background: white; color: #191919;&quot;&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;background: white; color: #191919;&quot;&gt; &lt;/span&gt;Berdasarkan
hasil survei PISA tahun 2012 Indonesia hanya sedikit lebih baik dari Peru yang
berada di ranking terbawah. Ratarata skor &lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;M&lt;/span&gt;atematika
anak-anak Indonesia &lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;adalah &lt;/span&gt;375.
Indonesia hanya menduduki rangking 64 dari 65 negara dengan rata-rata skor 375,
sementara rata-rata skor internasional adalah 500. Hal ini menunjukkan
kemampuan siswa Indonesia dalam menyelesaikan soal-soal yang menuntut kemampuan
analisis, evaluasi, kreasi, serta logika dan penalaran sangat kurang&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Inilah diantara alasan
mengapa pengembangan kemampuan berfikir tingkat tinggi ini menjadi mendesak dan
penting dilakukan di dunia pendidikan kita. Guru ditantang untuk mencari cara
atau metode pembelajaran yang bisa mengasah kemampuan berfikir tingkat tinggi
ini. Sekolah dan juga kampus ditantang mencari bentuk kegiatan yang bisa
berkontribusi pada pengembangan kemampuan HOTS ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Kegiatan Debat, Diantara
Solusi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Selain penerapan model
pembelajaran aktif, seperti &lt;i&gt;problem based learning &lt;/i&gt;(pembelajaran
berbasis masalah), &lt;i&gt;inquiry based learning &lt;/i&gt;(pembelajaran berbasis
penemuan)&lt;i&gt;, project based learning &lt;/i&gt;(pembelajaran berbasis proyek), dan
lainnya, saya berpendapat bahwa kegiatan debat bisa menjadi salah satu metode
efektif yang bisa dilakukan guru (dan dosen) di kelas atau sekolah/kampus untuk
mengembangkan kemampuan analitis, kritis, dan evaluatif ini. Ini karena proses
debat melatih siswa (dan mahasiswa), langsung atau tidak langsung, untuk
belajar banyak hal. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Pertama, seorang &lt;i&gt;debater&lt;/i&gt;
akan termotivasi untuk lebih banyak membaca, mendengar, dan memperhatikan
berbagai isu dan fenomena di sekitarnya. Seorang tak akan bisa berdebat dengan
baik, jika dia tak menguasai materi yang diperdebatkan. &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677441902796179134381&quot;&gt;Wawasan&lt;/gwmw&gt; yang luas
&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677441902798934873031&quot;&gt;adalah&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677441902798772185566&quot;&gt;diantara&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677441902792916876443&quot;&gt;kunci&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677441902795419876726&quot;&gt;menjadi&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677441902791083738634&quot;&gt;pendebat&lt;/gwmw&gt; yang baik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Kedua, proses debat akan
membiasakan siswa untuk berfikir kritis, logis, dan analitis. Seorang pendebat
akan terlatih untuk bertanya dan mempertanyakan sesuatu. Mereka terlatih untuk
tidak menerima sebuah informasi begitu saja. Mereka terbiasa melihat sebuah
fenomena dari beragam perspektif. Bahwa sebuah objek bisa dimaknai berbeda oleh
individu yang berbeda. Mereka belajar menganalisa sebuah kejadian menggunakan
pengetahuan yang mereka punya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Ketiga, kegiatan debat
melatih siswa untuk berbicara dan berkomunikasi dengan baik. Siswa belajar berargumen
secara santun, berbasis data dan fakta. Pada saat yang sama, mereka belajar tetap
berusaha menghormati pendapat yang berbeda. &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677441946104167689547&quot;&gt;Kemampuan&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677441946108031957943&quot;&gt;berargumen&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677441946102371984252&quot;&gt;adalah&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677441946107240777353&quot;&gt;satu&lt;/gwmw&gt;
&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677441946104448741618&quot;&gt;hal&lt;/gwmw&gt; yang penting. &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677441953308908906425&quot;&gt;Menghormati&lt;/gwmw&gt; pendapat yang berbeda &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677441953302988202274&quot;&gt;adalah&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677441953302557767522&quot;&gt;hal&lt;/gwmw&gt; lain yang tak
kalah penting. Dalam lomba debat, siswa diajarkan untuk kembali cair dan
berteman akrab dengan lawan tanding setelah lomba selesai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Cukup banyak hasil
penelitian menunjukkan bahwa kegiatan debat dapat meningkatkan kemampuan
berbicara sisiswa, kemampuan bertanya, kemampuan berargumen, kemampuan
berdiskusi, kemampuan menganalisis isu, dan kemampuan berfikir kritis. Oleh
karena itu, saatnya guru-guru sekolah &amp;nbsp;atau dosen di PT mengadopsi kegiatan ini sebagai
salah satu bentuk kegiatan pembelajaran di kelas. Pada saat yang sama, pihak
sekolah/kampus perlu memberikan dukungan lebih pada pengembangan kegiatan debat
di sekolah mereka. Membuat dan membina komunitas debat di sekolah/kampus adalah
satu yang bisa dilakukan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Ke depan saya bayangkan
jika semakin banyak siswa dan mahasiswa yang terbiasa dengan kegiatan debat,
maka kita akan memperoleh siswa/mahasiswa yang tidak hanya siap ikut kompetisi
debat sejenis NSDC atau NUDC, tetapi siswa yang juga memiliki wawasan yang
luas, artkulatif, kritis, analitis, sekaligus rendah hati. Dalam jangka
panjang, kemampuan berfikir tingkat tinggi ini tidak hanya memungkinkan siswa
ini untuk tidak mudah termakan berita &lt;i&gt;hoax&lt;/i&gt; dan sejenisnya, bukan tak
mungkin mereka yang terbiasa berargumen ini akan muncul menjadi sosok-sosok
pemimpin masa depan kita. Pemimpin yang artikulatif, berwawasan luas, bisa
berargumen dengan bangsa lain di dunia, seperti yang dulu dicontohkan oleh para
pendahulu bangsa seperti Sukarno, Haji Agus Salim, dan M Natsir. Wallahu
a’alam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.afriantodaud.com/feeds/7694894416518212358/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/24095886/7694894416518212358?isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24095886/posts/default/7694894416518212358'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24095886/posts/default/7694894416518212358'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.afriantodaud.com/2019/09/debat-di-kampus-dan-kemampuan-berfikir.html' title='Debat di Kampus dan Kemampuan Berfikir Kritis'/><author><name>Afrianto Daud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01777049708801606750</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgsG_Vw2pXDI5Ap0Q2qDsrYAqIuWq8wIB2pQc-bCDUr6etKg8SzNh7AAPIKkZQoirocxKc8D9u57SM8U4r3uX2mp8OW6YKomKGrZn7DxFt2rrN_agGCAgEAv_i-IWQGlg/s220/Afrianto2.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg97NkAhTiRnf4hdm1rWILkqlBPsV5Ml7sQqI9EsAuOEpYG39D_E_vGvndpz5J3HDWIV0EZrw5elLQK02dBpDk12cigTMulRHI9nRGktIhjrm_2778pV8Gy53sYx7hb6inGnJim1A/s72-c/debate.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24095886.post-1140818815703305738</id><published>2019-09-06T14:18:00.000+10:00</published><updated>2019-09-06T14:18:51.065+10:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="PENDIDIKAN"/><title type='text'>Smartphone di Sekolah: Dilarang atau Dibatasi?</title><content type='html'>&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677429659015196792396&quot;&gt;Oleh&lt;/gwmw&gt;: Afrianto Daud&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;(&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677429665460714942796&quot;&gt;Dosen&lt;/gwmw&gt; FKIP Universitas Riau, PhD in Teacher
Education, Monash University Australia)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjpEYcna6Ov9wG9Utv3f0iQiO9lm9MIJFTzsHXkup1pHzpZlkmRVNWclWlR6pJMqXq1NuS6ovrGYsEnqi9y_PIUhNPKRnWPxiCKqtzok0PENP4Ky4VqUJFoUNsFKbJURgRnffIVZg/s1600/smartphone.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;398&quot; data-original-width=&quot;600&quot; height=&quot;212&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjpEYcna6Ov9wG9Utv3f0iQiO9lm9MIJFTzsHXkup1pHzpZlkmRVNWclWlR6pJMqXq1NuS6ovrGYsEnqi9y_PIUhNPKRnWPxiCKqtzok0PENP4Ky4VqUJFoUNsFKbJURgRnffIVZg/s320/smartphone.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span id=&quot;goog_1414769344&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href=&quot;https://www.blogger.com/&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;span id=&quot;goog_1414769345&quot;&gt;&lt;/span&gt;Sebuah video viral di media sosial yang memperlihatkan sekelompok guru
menghancurkan setumpuk gawai atau telepon genggam ramai dibicarakan netizen. Konon
penghancuran telepon genggam cerdas itu terjadi di sebuah pesantern yang sejak
awal memberlakukan aturan melarang siswa membawa gawai ke sekolah. Ada pro
kontra, tentu. Sebagian netizen beranggapan bahwa praktek seperti ini sudah tak
relevan lagi di zaman dimana smartphone adalah bagian tak bisa dipisahkan dari
kehidupan sa’at ini. Sebagian lagi berpendapat bahwa apa yang dilakukan guru di
sekolah itu sudah benar. Pertama, karena memang sudah ada kesepakatan aturan
sejak awal terkait larangan membawa gadget. Kedua, karena smartphone dan
sejenisnya sering membawa dampak negatif terhadap siswa di sekolah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Saat ini, mayoritas sekolah di Indonesia memang masih menerapkan aturan
larangan membawa mobile phone ke sekolah. Pelarangan ini biasanya berdasarkan
kekhawatiran pihak sekolah tentang bahaya gadget. Gawai &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677429719801188111631&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677435031334877678469&quot;&gt;semisal&lt;/gwmw&gt;&lt;/gwmw&gt; smartphone
&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677429719804218368925&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677435031331805933286&quot;&gt;memang&lt;/gwmw&gt;&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677429719805867744552&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677435031335497674785&quot;&gt;bisa&lt;/gwmw&gt;&lt;/gwmw&gt; berbahaya. &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677429724601916422383&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677435031415979237014&quot;&gt;Dia&lt;/gwmw&gt;&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677429724607382867975&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677435031411500999282&quot;&gt;bisa&lt;/gwmw&gt;&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677429724600234633134&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677435031412274681950&quot;&gt;mencandu&lt;/gwmw&gt;&lt;/gwmw&gt;. Telepon genggam itu bisa merusak
tumbuh kembang anak secara psikis dan sosiologis. Anak-anak yang &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677429735284251459948&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677435031596662361250&quot;&gt;kecanduan&lt;/gwmw&gt;&lt;/gwmw&gt;
gadget &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677429735283017334065&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677435031595335628412&quot;&gt;bisa&lt;/gwmw&gt;&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677429735282385883466&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677435031590056049988&quot;&gt;tidak&lt;/gwmw&gt;&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677429735286298589487&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677435031595707659851&quot;&gt;konsentrasi&lt;/gwmw&gt;&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677429735288705327822&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677435031592300028398&quot;&gt;dalam&lt;/gwmw&gt;&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677429735285406360577&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677435031592869239903&quot;&gt;belajar&lt;/gwmw&gt;&lt;/gwmw&gt;. Gadget &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677429743724813882735&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677435031680246126982&quot;&gt;bisa&lt;/gwmw&gt;&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677429743722046716006&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677435031681301871706&quot;&gt;sangat&lt;/gwmw&gt;&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677429743723509318933&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677435031682051555009&quot;&gt;disruptif&lt;/gwmw&gt;&lt;/gwmw&gt;
selama proses pembelajaran &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677429743724517258545&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677435031680675295612&quot;&gt;di&lt;/gwmw&gt;&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677429743729180631346&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677435031688243273453&quot;&gt;sekolah&lt;/gwmw&gt;&lt;/gwmw&gt;. Siswa bisa melakukan hal lain, semisal
mengupdate status di media sosial, ketika sedang belajar. Anak-anak usia remaja
itu bisa dengan mudah mengakses situs tertentu yang bisa jadi tak pantas dan
tak baik untuk pertumbuhan jiwa mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Beberapa studi terkait dampak smartphone (dalam konteks penggunaan media
sosial oleh remaja melalui smartphone) bahkan menunjukkan bahwa akses media
sosial melalui smarthone bisa meningkatkan tingkat stress, berkurangnya self
esteem, bertambahnya rasa takut, bahkan meningkatnya angka bunuh diri di kalangan
remaja. Bayangkan jika anak-anak usia sekolah itu juga bebas mengkases
smartphone mereka selama di sekolah, maka masalah ini dikhawatirkan akan
bertambah parah. Oleh karena itu, banyak sekolah melarang siswanya membawa
smartphone ke sekolah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Pelarangan ini tidak hanya terjadi di tanah air, tetapi juga terjadi di
banyak negara di dunia. New South Wales, Perancis, dan UK adalah diantara
negara yang tegas melarang penggunaan smarphone selama di gedung sekolah.&amp;nbsp; Konsensus umum yang diterima di banyak negara
selama ini adalah penggunaan smartphone di sekolah lebih banyak membawa dampak
negatif kepada siswa ketimbang positifnya. Hal ini juga disampaikan oleh Profesor
Jean Twenge dari San Diego University bahwa penggunaan telepon pintar dan media
sosial bertepatan dengan lonjakan meningkatnya perasaan tidak berguna (&lt;i&gt;feeling
of uselessness&lt;/i&gt;) di kalangan remaja, serta dengan menurunnya tingkat
kepuasan dan kebahagiaan mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Revolusi Industri 4.0&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Ketika kita masih memberlakukan pelarangan total pada penggunaan smartphone
bagi siswa di sekolah, dunia pendidikan kita juga tengah memasuki era baru yang
kita sebut era Revolusi Industri 4.0. Ini adalah zaman dimana dunia industri
mengalami perubahan dahsyat karena manusia dan mesin semakin terkoneksi melalui
jaringan internet. Salah satu ciri dari Revolusi Industri 4.0 adalah terjadinya
digitalisasi banyak proses kegiatan manusia. Digitalisasi ini tidak hanya
terjadi di dunia industri, tetapi juga di berbagai bidang yang lain, termasuk
dunia pendidikan. Maraknya program Massive Open Online Course (MOOC) di
berbagai negara adalah diantara dampak turunan dari digitalisasi pendidikan
ini. Bahwa pendidikan hari ini tidak mesti dalam bentuk tatap muka secara fisik
antara guru dan siswa di ruang-ruang kelas konvensional sebagaimana selama ini.
Proses &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677429818347421999442&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677435033206045527120&quot;&gt;belajar&lt;/gwmw&gt;&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677429818340432960368&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677435033209249454331&quot;&gt;dimungkinkan&lt;/gwmw&gt;&lt;/gwmw&gt; dilakukan secara virtual &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677429818341519517395&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677435033209554840934&quot;&gt;melalui&lt;/gwmw&gt;&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677429818341450709145&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677435033207790565337&quot;&gt;pembelajaran&lt;/gwmw&gt;&lt;/gwmw&gt;
daring (online).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background: white; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Menjawab peluang ini, pemerintah sekarang sedang menggalakkan salah satu
pendekatan belajar aktif yang dikenal dengan &lt;i&gt;blended learning. &lt;/i&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677429852952936787482&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677435033367707282385&quot;&gt;Inti&lt;/gwmw&gt;&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677429852950735918402&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677435033369141825691&quot;&gt;dari&lt;/gwmw&gt;&lt;/gwmw&gt;
&lt;i&gt;blended learning &lt;/i&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677429852952054265055&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677435033360055867648&quot;&gt;adalah&lt;/gwmw&gt;&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677429852950093877310&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677435033365279834774&quot;&gt;bagaimana&lt;/gwmw&gt;&lt;/gwmw&gt; guru &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677429852954222337841&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677435033362214992935&quot;&gt;bisa&lt;/gwmw&gt;&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677429852950781922910&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677435033362231144339&quot;&gt;mengkombinasikan&lt;/gwmw&gt;&lt;/gwmw&gt;
pembelajaran tatap muka &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677429852959491409710&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677435033366060291056&quot;&gt;konvensional&lt;/gwmw&gt;&lt;/gwmw&gt; (offline) &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677429852954783496393&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677435033367469588653&quot;&gt;dengan&lt;/gwmw&gt;&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677429852954735270672&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677435033360945250076&quot;&gt;pembelajaran&lt;/gwmw&gt;&lt;/gwmw&gt; daring
(online). Pemerintah mendorong bagaimana para pendidik Indonesia bisa mengelola
pembelajaran dengan pendekatan kombinasi ini. Beberapa studi (seperti &lt;/span&gt;Murphy, 2002; Osguthorpe &amp;amp; Graham,&amp;nbsp; 2003&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;) &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;menunjukkan bahwa
pembelajaran ‘campuran’ seperti ini efektif dalam peningkatan kemampuan siswa
dalam melakukan proses belajar mandiri, &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;mengubah&amp;nbsp; pola&amp;nbsp; pembelajaran yang&amp;nbsp; sebelumnya&amp;nbsp;
berpusat&amp;nbsp; pada&amp;nbsp; guru&amp;nbsp;
menjadi berpusat&amp;nbsp; pada&amp;nbsp; siswa &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;(learner-centered
learning dan &lt;i&gt;self regulated learning&lt;/i&gt;).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background: white; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Sampai di sini kemudian pertanyaannya adalah bagaimana guru bisa
melaksanakan &lt;i&gt;blended learning&lt;/i&gt; jika siswa dilarang membawa smartphone ke
dalam kelas? Siswa mungkin bisa membawa laptop atau bekerja dengan PC. Tetapi masalah
dengan laptop dan PC, selain tidak praktis karena ukuran, juga lebih banyak
siswa yang tidak memiliki laptop dibanding siswa yang tidak memiliki
smartphone. Dengan kata lain, smartphone &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677429898674755947596&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677435033917606314987&quot;&gt;sesungguhnya&lt;/gwmw&gt;&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677429898674820808704&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677435033915764558751&quot;&gt;adalah&lt;/gwmw&gt;&lt;/gwmw&gt; media yang
&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677429898675431572839&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677435033915467965429&quot;&gt;praktis&lt;/gwmw&gt;&lt;/gwmw&gt;, efektif, &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677429898676028322476&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677435033912838133949&quot;&gt;dan&lt;/gwmw&gt;&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677429898678648802992&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677435033910670693900&quot;&gt;ekonomis&lt;/gwmw&gt;&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677429898676636145035&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677435033913437001772&quot;&gt;untuk&lt;/gwmw&gt;&lt;/gwmw&gt; digunakan dalam proses pembelajaran &lt;i&gt;blended&lt;/i&gt;.
&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Ada cukup banyak hal yang bisa dilakukan siswa melalui &lt;i&gt;smarthphone&lt;/i&gt;
di dalam kelas, tentu di bawah kontrol guru. Mulai dari &lt;i&gt;searching&lt;/i&gt;
informasi tertentu terkait pembelajaran secara cepat melalui &lt;i&gt;search engine&lt;/i&gt;,
membaca materi pembelajaran tertentu yang telah disiapkan dan diposting guru
secara online, sampai pada membuat tugas, berkolaborasi dengan siswa lain, dan
memperoleh &lt;i&gt;feedback&lt;/i&gt; dari guru secara online melalui smartphone mereka. Penggunaan
aplikasi &lt;i&gt;Google Classroom&lt;/i&gt;, salah satu aplikasi gratis untuk dunia
pendidikan yang dilaunching Google, adalah satu contoh sederhana bagaimana
smartphone bisa digunakan sebagai media untuk mengakselerasi pembelajaran &lt;i&gt;blended&lt;/i&gt;
melalui perangkat telepon pintar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677429922824566590398&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677435034266896195487&quot;&gt;Jika&lt;/gwmw&gt;&lt;/gwmw&gt; guru &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677429922823028609668&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677435034262330579889&quot;&gt;kreatif&lt;/gwmw&gt;&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677429922826009919199&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677435034264925492951&quot;&gt;dan&lt;/gwmw&gt;&lt;/gwmw&gt; IT friendly, guru bisa melakukan banyak &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677429922825459429470&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677435034260532226898&quot;&gt;hal&lt;/gwmw&gt;&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677429922824060720754&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677435034265134570527&quot;&gt;lainnya&lt;/gwmw&gt;&lt;/gwmw&gt;
&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677429922824268290407&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677435034264831180523&quot;&gt;melalui&lt;/gwmw&gt;&lt;/gwmw&gt; smartphone. Guru &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677429934845086267106&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677435034346339725947&quot;&gt;bahkan&lt;/gwmw&gt;&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677429934849349853302&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677435034345858278682&quot;&gt;bisa&lt;/gwmw&gt;&lt;/gwmw&gt; menggunakan media sosial &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677429934846195601168&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677435034349057491796&quot;&gt;seperti&lt;/gwmw&gt;&lt;/gwmw&gt; Instagram
(platform media &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677429934840259988863&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677435034340337942217&quot;&gt;sosial&lt;/gwmw&gt;&lt;/gwmw&gt; paling populer &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677429934842818888202&quot;&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677435034346884357180&quot;&gt;di&lt;/gwmw&gt;&lt;/gwmw&gt; kalangan remaja) sebagai media
pembelajaran. Guru bisa memposting materi tertentu dalam grup Instagram yang
dibuat khusus untuk kelas mereka, misalnya. Guru juga bisa menggunakan berbagai
aplikasi pembelajaran, seperti Edmundo, Ruangguru, BimelSmart, Zenius, Brainly,
dan lainnya. Aplikasi ini dengan mudah bisa dipakai dan dimanfa’atkan untuk
pembelajaran jika siswa bisa mengakses smartphone mereka yang sudah ternstall
dengan berbagai aplikasi itu. Pendeknya, selain membawa potensi masalah,
smartphone jelas juga menjanjikan berbagai manf’at untuk membantu proses
pembelajaran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Lebih Baik Dibatasi, Bukan Dilarang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Teknologi pada dasarnya adalah alat yang netral. &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677429962429231254951&quot;&gt;Tergantung&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677429962425380315107&quot;&gt;kepada&lt;/gwmw&gt; siapa
yang memakainya. Dia bisa jadi membawa berbahaya, bisa juga memberi manafaat. Sekali
lagi, tergantung siapa yang menggunakannya. &lt;i&gt;The man behind the gun does
matter. &lt;/i&gt;Karenanya, dalam konteks teknologi smartphone, saatnya kita
memikirkan bagamaiana pemanfaatan smartphone di kalangan siswa diatur sedemikan
rupa. Kita perlu memikirkan cara bagaimana memanfa’atkannya dengan bijak di
sekolah. Bukan dengan sama sekali melarang membawanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Diantara yang bisa dilakukan sekolah sekarang adalah membuat kesepakatan
dengan siswa dan orangtua terhadap penggunaan smatphone ini. Untuk keperluan
belajar seperti yang sudah dibahas di atas, siswa dibolehkan membawa smartphone
ke sekolah dengan beberapa ketentuan. Sesampai di sekolah, siswa bisa menyimpan
dulu smartphone mereka di loker tertentu yang sudah disiapkan sekolah. Saat
pembelajaran yang membutuhkan siswa mengakses smartphone, siswa bisa mengambil
kembali smartphone mereka sampai pembelajaran selesai. Setelah itu, mereka
kembali menyimpan smartphone di tempat yang sudah disiapkan, sampai waktu
pulang sekolah datang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Pada saat yang sama, sekolah kita tentu harus melatih guru-guru mereka
untuk memiliki kemampuan menggunakan teknologi seperti gawai pintar ini dalam
proses belajar mereka. Guru &lt;i&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677430016965555349263&quot;&gt;zaman&lt;/gwmw&gt; now &lt;/i&gt;&lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677430016966880789788&quot;&gt;adalah&lt;/gwmw&gt; guru yang &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677430016962506124368&quot;&gt;melek&lt;/gwmw&gt; &lt;gwmw class=&quot;ginger-module-highlighter-mistake-type-1&quot; id=&quot;gwmw-15677430016960058239630&quot;&gt;teknologi&lt;/gwmw&gt;.
Guru yang memandang teknologi sebagai peluang untuk kebaikan yang lebih besar,
bukan menganggapnya sebagai ancaman. Guru-guru kita perlu terus dilatih
bagaimana mengintegrasikan teknologi ke dalam kelas mereka. Masalah akan
terjadi jika siswa dibiarkan membawa smartphone ke dalam kelas, sementara guru
sama sekali tidak berusaha menggunakannya dalam proses pembelajaran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Selain itu, kita juga harus terus melakukan penyadaran kepada siswa tentang
bagaimana mereka bisa beradaptasi dengan teknologi secara bijak. Mereka perlu
diberi penyadaran terus menerus bahwa teknologi adalah ibarat pisau bermata
dua. Dia bisa memberi manfaat membantu pekerjaan, tetapi sebilah pisau juga bisa
membunuh. Mereka perlu diberi kemampuan bagaimana menggunakan teknologi secara
sehat. Pelatihan internet sehat kepada siswa, misalnya, perlu terus dilakukan
secara simultan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
* Tulisan ini pertama kali diterbitkan Harian Riau Pos, 29 Juli 2019.&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.afriantodaud.com/feeds/1140818815703305738/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/24095886/1140818815703305738?isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24095886/posts/default/1140818815703305738'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24095886/posts/default/1140818815703305738'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.afriantodaud.com/2019/09/smartphone-di-sekolah-dilarang-atau.html' title='Smartphone di Sekolah: Dilarang atau Dibatasi?'/><author><name>Afrianto Daud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01777049708801606750</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgsG_Vw2pXDI5Ap0Q2qDsrYAqIuWq8wIB2pQc-bCDUr6etKg8SzNh7AAPIKkZQoirocxKc8D9u57SM8U4r3uX2mp8OW6YKomKGrZn7DxFt2rrN_agGCAgEAv_i-IWQGlg/s220/Afrianto2.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjpEYcna6Ov9wG9Utv3f0iQiO9lm9MIJFTzsHXkup1pHzpZlkmRVNWclWlR6pJMqXq1NuS6ovrGYsEnqi9y_PIUhNPKRnWPxiCKqtzok0PENP4Ky4VqUJFoUNsFKbJURgRnffIVZg/s72-c/smartphone.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24095886.post-7229473903006407467</id><published>2017-09-28T19:49:00.001+10:00</published><updated>2017-09-28T19:53:11.929+10:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="PENDIDIKAN"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="politik pendidikan"/><title type='text'>Megawati dan Undang Undang Sisdiknas (Tanggapan Untuk Pak Rektor)</title><content type='html'>&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;Oleh: Afrianto Daud&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;(Tulisan ini awalnya ditulis untuk harian Padang Ekspres)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgToT2kLlTna2gDLO8jnTG4YoqRiqrom4x03PyXaeB5U0rBALuCsVwMzskRKxq1CvIK9WnZuWZlFAeNOTE-b-lfqD4ky7vai-3jjpwT2Eo4pSM8SpzjGdHKr81ma4nMmzwuCfCgPQ/s1600/megawati.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;540&quot; data-original-width=&quot;960&quot; height=&quot;180&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgToT2kLlTna2gDLO8jnTG4YoqRiqrom4x03PyXaeB5U0rBALuCsVwMzskRKxq1CvIK9WnZuWZlFAeNOTE-b-lfqD4ky7vai-3jjpwT2Eo4pSM8SpzjGdHKr81ma4nMmzwuCfCgPQ/s320/megawati.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;Bapak rektor Universitas Negeri Padang (UNP), Prof.
Ganefri, menulis di harian &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;Padang Ekspres&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt; (Selasa, 26 Sepetember 2017) dengan judul
‘Anugerah Doktor Honoris Causa’. Tulisan beliau tentu disampaikan dengan maksud
memperjelas alasan universitas dan sekaligus menjawab pro kontra yang
berlangsung di masyarakat Sumatera Barat, terutama diantara alumni UNP terkait
keputusan UNP untuk &amp;nbsp;memberikan gelar
Doktor Honoris Causa (selanjutnya akan disingkat DHC) kepada presiden&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt; RI ke-5&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;, ibu Megawati Sukarno Putri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;Kita tentu mengapresiasi tulisan dan atau penjelasan pak
rektor sebagai bentuk pertanggungjawaban publik terkait keputusan itu. Tulisan
itu setidaknya semakin memperjelas bagaimana alur cerita atau basis akademis
sekaligus dasar hukum pemberian gelar HDC itu. Tulisan &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;pak rector &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;itu bisa menjadi referensi resmi untuk menjawab pertanyaan banyak pihak,
terutama alumni UNP, yang terus bertanya-tanya, ada apa dan mengapa kampus yang
mereka cinta membuat keputusan besar ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;Tulisan ini saya maksudkan sebagai tanggapan atas nama
saya pribadi yang pernah dididik dan dibesarkan secara akademis oleh banyak guru
saya di UNP. Hormat dan kabanggan saya terhadap para guru dan almamater tentu
tak akan berkurang. Namun&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt; ijinkan saya berbeda pandangan dengan para
guru di UNP terkait &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;keputusan &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;penganugerahan DHC kepada Bu Megawati ini. Saya
sadar bahwa tulisan ini tentu tak akan bisa merubah keputusan senat UNP. &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;Apalagi acara seremonialnya kemaren sudah selesai. &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;Tapi, setidaknya tulisan ini bisa memberi tahu
civitas akademika UNP bahwa ada pandangan berbeda di luar sana.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;Tulisan pak rektor itu memuat banyak informasi penting
terkait dengan apa itu DHC, bagaimana DHC telah dipraktekkan di banyak negara
dan universitas, serta contoh siapa saja yang telah memperoleh gelar DHC itu. Tidak
ada perdebatan sampai di situ. Apa yang bapak sampaikan bersifat informati&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;f&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt; dan normatif. Sayang
sekali, tulisan pak rektor hanya menyebut sedikit alasan mengapa ibu Megawati
pantas dipilih dan dianugerahkan DHC. Padahal yang menjadi perdebatan di banyak
alumni (mungkin juga di masyarakat) bukanlah tentang apa itu DHC, bagaimana
sejarahnya, dan lain-lain, tetapi justru adalah tentang mengapa ibu Megawati
pantas dianugerahi DHC, dan mengapa mesti UNP.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;Saya sepakat bahwa sebagai mantan presiden, ibu Megawati
adalah sosok penting yang telah berjasa dalam proses pembangunan Indonesia di
era reformasi. Beliau adalah tokoh dan politisi lintas zaman. &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;Belau b&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;isa bertahan dan membesarkan PDIP setelah ditekan rezim Orde Baru yang
represif. PDIP bahkan bisa mengantarkan salah satu kader terbaiknya – Pak
Jokowidodo – sebagai presiden&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt; RI&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;. Ini tentu tak lepas dari prestasi ibu
Megawati sebagai politisi ulung. Tapi, menyematkan gelar DHC bidang (politik)
pendidikan kepada beliau &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;telah memaksa&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt; banyak orang &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;jadi
&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;‘tergelitik’, untuk tidak mengatakan
‘terkagum-kagum’ dan tak percaya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;UU No.20/2003 dan Megawati&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;Membaca tulisan Prof. Ganefri, saya bisa simpulkan bahwa
ibu Megawati dianggap UNP sebagai individu dengan prestasi luar biasa yang
bermanfaat untuk banyak orang di bidang politik pendidikan, karena di masa ibu
Megawati lahir UU No 20/2003 tentang sistem pendidikan nasional. &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;Saya membaca dua kali tulisan pak rektor, untuk mencari alasan
lain. Sepertinya inti dari basis alasan penganugerahan ini memang hanya terkait
Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;Adalah benar bahwa UU Sisdiknis ini adalah sebuah produk
politik sangat penting yang melahirkan paradigma baru dalam reformasi
pendidikan nasional. Sekali lagi, adalah betul bahwa Undang-Undang ini menjadi
basis legal formal untuk melakukan banyak perubahan besar dalam sistem
pendidikan kita. Undang-Undang Sisdiknas ini, diantaranya, memuat perintah
konstitusi yang mewajibkan anggaran 20 persen untuk pendidikan, desentralisasi
pendidikan nasional, hilangnya dikotomi sekolah negeri dan swasta dalam politik
anggaran, dan juga embrio lahirnya profesionalisasi pendidikan di banyak
sektor, termasuk profesionalisasi guru dan dosen. Sebagaimana juga disebut oleh
pak rektor, UU 14/2005 tentang guru dan dosen adalah kelanjutan dari ruh UU
Sisdiknas itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;Tak ada perdebatan &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;sampai &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;di poin it&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;u&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;. Namun, poin kritisnya, menurut saya, adalah
ketika UNP menisbahkan (baca: mempersonalisasi) lahirnya UU Sisdiknas ini
sebagai prestasi luar biasa pribadi Megawati sebagai presiden RI pada waktu
itu. Secara prosedur hukum tata negara, undang-undang adalah sebuah produk
politik bersama antara legislatif dan eksekutif. Eksekutif bisa saja mengusulkan
pembuatan undang-undang, namun usulan itu tidak akan pernah jadi undang-undang
tanpa persetujuan legislatif (DPR). Demikian juga sebaliknya. Karenanya
lahirnya UU Sisdiknas adalah sebuah prestasi dan karya bersama berbagai&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt; elemen&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt; &lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;anak
bangsa pasca reformasi yang melibatkan banyak pihak di situ. Ada pihak
pemerintah, tentu. Tapi juga ada anggota DPR, tokoh politik lain, pihak
akademisi yang menulis naskah akademis rancangan undang-undang, bahkan juga
masyarkat luas yang berhak dan telah memberikan pertimbangan dan masukan ketika
sebuah rancangan undang-undang akan dibahas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;Jika ingin melihat bagaimana posisi pribadi ibu Megawati
terkait UU Sisdiknas, barangkali akan lebih &lt;i&gt;genuine&lt;/i&gt; kita melihat
bagaimana rekam jejak fraksi PDIP sebelum UU Sisdiknas disahkan. Kenapa PDIP?
Karena bu Megawati pada waktu itu adalah ketua umum PDIP disamping sebagai
presiden RI. Jangan lupa bahwa sejarah pengesahan Sisdiknas ini diwarnai proses
pengesahan yang alot, panas dan dramatis, karena beberapa kali fraksi PDIP
mencoba melakukan perlawanan politik, menolak beberapa substansi isi Sisdiknas,
terutama terkait pasal pendidikan agama (Pasal 12 ayat 1, misalnya). Sejarah
bahkan mencatat bahwa UU No. 20/2003 itu disahkan tanpa kehadiran Fraksi PDIP,
karena mereka meninggalkan sidang paripurna (&lt;i&gt;walkout&lt;/i&gt;). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;Walkout&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;nya PDIP ini tentu tidak bisa dipisahkan
dengan sosok Megawati sebagai pimpinan partai. &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;Dari
kaca mata organisasi dan melihat kultur politik PDIP, t&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;idak hadirnya Fraksi PDIP hampir pasti atas
perintah dan restu ketua umum. Dengan tidak hadirnya PDIP dalam paripurna
pengesahan RUU menjadi Undang-Undang bisa dikatakan bahwa PDIP dan atau Megawati
secara politik tidaklah memiliki cerita dan akar sejarah yang kuat dengan
lahirnya UU No.20/2003 itu. &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;Betul bahwa akhirnya Undang-Undang tetap ditandatangani
presiden. Tapi, penandatanganan undang-undang oleh presiden itu lebih sebagai
sebuah konsekwensi prosedur ketatanegaraan, bukan benar-benar &lt;i&gt;genuine&lt;/i&gt;
sebagai bentuk dukungan kepada isi undang-undang. Terus, kemudian apakah
relevan ketika UNP menyebut nama Megawati sebagai individu yang telah memiliki
jasa dan prestasi luar biasa dalam politik pendidikan, khususnya dengan
lahirnya UU 20/2003 itu, dan menjadikannya poin penting sebagai dasar DHC? Mari
merenung sejenak, prof!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;Secara legal formal dan prosedural, tentu tak ada yang
salah dalam proses penganugerahan ini. Pak rektor telah menyebutkan bahwa semua
itu sudah melalui pembahasan panjang di internal UNP, sudah mengikuti tata cara
yang telah diatur oleh Permen &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12pt; line-height: 107%;&quot;&gt;Ristek
Dikti-RI, No. 65/2016 tentang Gelar Doktor Kehormatan&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12pt; line-height: 107%;&quot;&gt; sebagai ganti p&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12pt; line-height: 107%;&quot;&gt;eraturan Mendikbud, No 21/2013.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12pt; line-height: 107%;&quot;&gt;Namun, bukankah di atas segala
aturan itu ada yang disebut &lt;i&gt;wisdom&lt;/i&gt; (kebijaksanaan) yang sering lahir
dari &lt;i&gt;common sense &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;conscience. &lt;/i&gt;Di titik inilah banyak alumni&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12pt; line-height: 107%;&quot;&gt; yang merasakan bahwa seperti ada sesuatu yang tak
biasa&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12pt; line-height: 107%;&quot;&gt;.
Bahwa ada suasana kebatinan sebagian besar alumni dan keluarga besar UNP yang
tidak nyambung dengan keputusan ini. Jumlah yang tidak setuju bisa sangat
banyak. Pak rektor bisa turun dan tanyak banyak alumni yang tersebar di banyak
tempat, tentang bagaimana mereka merekasi berita ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12pt; line-height: 107%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12pt; line-height: 107%;&quot;&gt;Epilog&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12pt; line-height: 107%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12pt; line-height: 107%;&quot;&gt;Apa yang saya sampaikan tentu berdasarkan
subjektivitas saya. Sebagaimana keputusan UNP tentu didasarkan subjektivitas
para pengambil kebijaksanaan dan keputusan di UNP. Dalam ranah sosial, biasanya
memang tak ada yang benar-benar objektif. Pak rektor telah memutuskan. Pak
rektor tentu sudah siap dan tahu apa konsekwensi pemberian gelar DHC ini
terhadap lembaga kita tercinta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12pt; line-height: 107%;&quot;&gt;Walau termasuk yang mempertanyakan keputusan
ini, saya berharap bahwa keputusan ini akan membawa kebaikan kepada kampus UNP
ke depan. Kebaikan untuk memajukan pendidikan di Sumatera Barat, khusunya, dan
di Indonesia pada umumnya. Semoga asumsi sebagian alumni yang skeptis dan
menyebut bahwa penganugerahan ini lebih sebagai sesuatu yang politis ketimbang
akademis adalah salah. Semoga pak rektor makin berjaya memimpin kapal
Universitas Negeri Padang. Salam hormat dari saya, sang murid bapak. Maafkan
jika ada tutur kata yang salah.&lt;i&gt; Wallahu a’lam.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12pt; line-height: 107%;&quot;&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;* &lt;/b&gt;Penulis adalah a&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12pt; line-height: 17.12px;&quot;&gt;lumnus Universitas Negeri Padang, Dosen FKIP Universitas Riau&lt;i&gt;.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.afriantodaud.com/feeds/7229473903006407467/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/24095886/7229473903006407467?isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24095886/posts/default/7229473903006407467'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24095886/posts/default/7229473903006407467'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.afriantodaud.com/2017/09/megawati-dan-undang-undang-sisdiknas.html' title='Megawati dan Undang Undang Sisdiknas (Tanggapan Untuk Pak Rektor)'/><author><name>Afrianto Daud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01777049708801606750</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgsG_Vw2pXDI5Ap0Q2qDsrYAqIuWq8wIB2pQc-bCDUr6etKg8SzNh7AAPIKkZQoirocxKc8D9u57SM8U4r3uX2mp8OW6YKomKGrZn7DxFt2rrN_agGCAgEAv_i-IWQGlg/s220/Afrianto2.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgToT2kLlTna2gDLO8jnTG4YoqRiqrom4x03PyXaeB5U0rBALuCsVwMzskRKxq1CvIK9WnZuWZlFAeNOTE-b-lfqD4ky7vai-3jjpwT2Eo4pSM8SpzjGdHKr81ma4nMmzwuCfCgPQ/s72-c/megawati.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24095886.post-573190761715984479</id><published>2017-03-08T20:35:00.004+11:00</published><updated>2023-11-27T10:28:53.476+11:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="OPINI"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="PENDIDIKAN"/><title type='text'>Pendidikan Kita dan &#39;Bangsa Yang Terbelah&#39;</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;background-color: white; box-sizing: border-box; color: #222222; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px;&quot;&gt;
&lt;strong style=&quot;box-sizing: border-box;&quot;&gt;Oleh: Afrianto Daud&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; box-sizing: border-box; color: #222222; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;box-sizing: border-box;&quot;&gt;(Tulisan ini pertama kali diterbitkan oleh &lt;a href=&quot;http://indonesianpride.com/&quot;&gt;indonesianpride.com&lt;/a&gt;, 23 Februari 2017)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; box-sizing: border-box; color: #222222; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://images.squarespace-cdn.com/content/v1/500ee7a3c4aaf86e468510a3/1616075539053-ZA7WKHJU9P8Y45JTMUMQ/divide.jpg?format=1500w&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;489&quot; data-original-width=&quot;800&quot; height=&quot;122&quot; src=&quot;https://images.squarespace-cdn.com/content/v1/500ee7a3c4aaf86e468510a3/1616075539053-ZA7WKHJU9P8Y45JTMUMQ/divide.jpg?format=1500w&quot; width=&quot;200&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Jika kita memperhatikan apa yang terjadi di sekitar kita dalam beberapa tahun terakhir, maka akan kita saksikan bahwa ada pembelahan yang kasat mata antara anak bangsa, terutama setelah pemilihan presiden 2014. Bangsa ini seperti terbelah pada dua kutub ekstrim yang saling menegasikan. Sisa-sisa sampah politik berupa kubu-kubuan dari pilpres itu tak kunjung bersih, bahkan cenderung kembali meningkat eskalasinya akhir-akhir ini. Fenomena ini bisa dengan mudah dilihat di halaman media sosial, dimana banyak orang masih saja saling menebar kebencian, olok-olokan, bahkan saling sebar fitnah. Akibatnya, tidak sedikit mereka yang sebelumnya berteman baik, kemudian tidak lagi saling sapa, bahkan kemudian bermusuhan. Dalam beberapa kasus, rusaknya silaturrahim itu tidak hanya terjadi antar teman baik, tetapi juga bahkan antar saudara dalam satu keluarga yang sama. Bagi sebagian orang, politik seperti telah menjadi ‘agama baru’ yang harus dibela mati-matian.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; box-sizing: border-box; color: #222222; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px;&quot;&gt;
Fenomena ini tentu mengkhawatirkan. Tidak hanya karena kebencian dan permusuhan tidak akan pernah membawa kebaikan bagi siapapun, tetapi yang lebih merisaukan adalah bahwa pembelahan yang ekstrim akibat politik itu juga bisa mengancam tenun kebangsaan kita di masa depan. Permusuhan itu mengancam kebinnekaan kita sebagai bangsa Indonesia yang justru besar karena perbedaan yang terkelola dengan baik. Sebagai bangsa, kita tentu tidak ingin bahwa persatuan dan kebersamaan yang selama ini sudah kita nikmati harus hancur gara-gara pembelahan dan kubu-kubuan tak sehat di ranah politik itu. Pada contoh yang ekstrim, kita tidak ingin seperti Suriah yang berkeping. Kita juga tak mau mengulang sejarah pecahnya Yogoslavia menjadi negara-negara kecil.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; box-sizing: border-box; color: #222222; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px;&quot;&gt;
&lt;strong style=&quot;box-sizing: border-box;&quot;&gt;Kesalahan Sistem Pendidikan?&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; box-sizing: border-box; color: #222222; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px;&quot;&gt;
Fenemone pembelahan di atas bisa jadi disebabkan oleh beberapa faktor yang saling terkait, seperti faktor kepemimpinan yang gagal mengelola perbedaan dan memberi contoh yang baik, faktor ekonomi dimana ada pihak tertentu yang menjadikan politik kebencian sebagai komoditas yang laku untuk dijual, dan faktor sistem politik kita yang belum berhasil menciptakan kader politik yang berjiwa kenegarawanan. Namun, sebagai seorang pendidik pada tulisan ini saya ingin melihat fenomena itu dari aspek pendidikan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; box-sizing: border-box; color: #222222; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px;&quot;&gt;
Hemat saya, sepertinya fenomena ini tidak bisa dipisahkan dari gagalnya pendidikan kita dalam mendidik dan membentuk mentalitas anak bangsa untuk memiliki sikap atau karakter yang bisa hidup damai dalam perbedaan. Pendidikan kita belum berhasil mengajarkan perilaku toleran dan hormat pada perbedaan itu. Sehingga perbedaan apapun, terutama perbedaan pilihan politik, sering menjadi sumber masalah. Pada saat yang sama, kita seperti belum melihat hasil pendidikan kita terkait tentang bagaimana anak bangsa bisa menempatkan jiwa kesatria saat berkompetisi: legowo menerima kekalahan dan tidak jumawa saat memperoleh kemenangan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; box-sizing: border-box; color: #222222; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px;&quot;&gt;
Akarnya adalah karena sejak lama sistem pendidikan kita mengajarkan anak didik kita untuk terus bersaing atau berkompetisi, tetapi abai mengajarkan mereka tentang sikap kesatria itu. Nuansa kompetisi itu telah terasa sejak saat pertama kita masuk sekolah, dimana dulu kita sudah harus mengikuti beberapa jenis tes, berkompetisi, mengalahkan yang lain untuk memperoleh bangku di sebuah sekolah. Suasana yang sama bertahan sampai saat kita belajar di ruang kelas, dan ketika kita akan lulus dari sekolah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; box-sizing: border-box; color: #222222; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px;&quot;&gt;
Sekali lagi, iklim kompetisi inilah yang lebih dominan kita rasakan saat kita bersekolah. Hampir setiap hari kita didorong untuk jadi juara kelas, misalnya, mengalahkan teman yang lain. Akibatnya tak heran jika, misalnya, salah satu yang sering ditunggu oleh siswa dan orangtua di akhir smester adalah tengang ‘siapa juara berapa, atau siapa rangking berapa? Kita juga terus dimotivasi untuk selalu menjadi nomor satu pada banyak keadaan: ketika kita berolahraga, saat kita belajar menyanyi, saat kita pramuka, bahkan saat kita membaca Al-Quran.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; box-sizing: border-box; color: #222222; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px;&quot;&gt;
Tradisi kompetisi dalam dunia pendidikan kita tentu tak sepenuhnya salah. Karena bagaimanapun bahwa hidup memang kadang butuh berkompetisi. Kita perlu menjadi yang terbaik dan berprestasi dalam perjalanan kehidupan kita. Ada masanya kita harus berhadapan dengan kenyataan bahwa kehidupan kadang memang keras. Ada yang kalah dan ada yang menang. Ada yang tersisih dan ada yang menyisihkan. Ada yang memperoleh sesuatu, dan ada yang kehilangan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; box-sizing: border-box; color: #222222; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px;&quot;&gt;
Namun, hidup tidaklah melulu tentang kompetisi. Dalam banyak kejadian kehidupan justru butuh lebih banyak kebersamaan, saling membantu, saling hormat, dan saling menjaga. Siapapun kita, sehebat apapun kita, dalam hidup kita pasti membutuhkan orang lain. Karenanya, kehidupan yang hanya sekali ini terlalu rendah jika hanya dilihat dari perspektf menang kalah. Untuk itu, proses pendidikan seharusnya tidak lagi hanya mendorong siswa untuk berkompetisi, tetapi yang tak kalah penting adalah bagaimana menyikapi kemenangan dan kekalahan, atau tentang bagaimana agar bisa hidup bersama dalam perbedaan, termasuk perbedaan agama, ras, dan pandangan politik.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; box-sizing: border-box; color: #222222; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px;&quot;&gt;
&lt;strong style=&quot;box-sizing: border-box;&quot;&gt;Membangun Nilai Baru&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; box-sizing: border-box; color: #222222; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px;&quot;&gt;
Menyikapi pembelahan yang mengkhawatirkan itu, mendesak dan perlu bagi dunia pendidikan kita untuk merespon dan melakukan penyesuaian dalam proses pendidikan kita. Salah satunya adalah dengan cara mereformasi kurikulum atau merubah cara pandang pendidikan kita di masa datang. Paradigma punia pendidikan di berbagai belahan dunia sebenarnya telah lama bergeser dari paradigma kompetisi ke paradigma kerjasama. Ini terjadi mengikuti visi pendidikan dunia yang pernah dikeluarkan oleh UNESCO (&lt;em style=&quot;box-sizing: border-box;&quot;&gt;The&lt;/em&gt;&amp;nbsp;&lt;em style=&quot;box-sizing: border-box;&quot;&gt;United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization&lt;/em&gt;&lt;em style=&quot;box-sizing: border-box;&quot;&gt;) pada awal tahun 2000. B&lt;/em&gt;ahwa pendidikan seharusnya bisa mengembangkan empat pilar pendidikan abad 21: 1)&amp;nbsp;&lt;em style=&quot;box-sizing: border-box;&quot;&gt;Learning to know&amp;nbsp;&lt;/em&gt;(belajar untuk tahu/memperoleh pengetahuan); 2)&amp;nbsp;&lt;em style=&quot;box-sizing: border-box;&quot;&gt;Learning to be&lt;/em&gt;&amp;nbsp;(belajar menjadi diri sendiri/membangun identitas, 3)&amp;nbsp;&lt;em style=&quot;box-sizing: border-box;&quot;&gt;Learning to do&lt;/em&gt;&amp;nbsp;(belajar untuk bisa melakukan sesuatu/memilik skill untuk bertahan hidup); 3)&amp;nbsp;&lt;em style=&quot;box-sizing: border-box;&quot;&gt;Learning to live together&lt;/em&gt;&amp;nbsp;(belajar untuk hidup bersama).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; box-sizing: border-box; color: #222222; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px;&quot;&gt;
Mengikuti paradigma pendidikan UNESCO poin ketiga (&lt;em style=&quot;box-sizing: border-box;&quot;&gt;learning to live together)&lt;/em&gt;, pada satu dekade terakhir dunia pendidikan telah mulai mengurangi iklim kompetisi dalam proses belajar. Banyak sekolah kemudian lebih banyak mempraktekkan pendekatan&amp;nbsp;&lt;em style=&quot;box-sizing: border-box;&quot;&gt;cooperative learning,&amp;nbsp;&lt;/em&gt;misalnya, termasuk dalam kurikulum nasional kita. Pendekatan ini diharapkan bisa membantu siswa untuk belajar agar bisa hidup bersama, karena pendekatan ini menekankan pentingnya kerjasama antar siswa selama proses belajar. Kerjasama itu, misalnya, ditandai dengan banyaknya kegiatan yang memungkinkan siswa untuk berbagi ide dengan teman dalam kelompok kecil, dengan teman satu kelas, atau bahkan dengan teman dari kelas yang berbeda. Intinya, pembelajaran kooperatif mendidik siswa untuk bekerja dalam tim, berinteraksi, bekerjasama dengan baik dan menerima keragaman di lingkungan belajarnya untuk mencapai tujuan bersama.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; box-sizing: border-box; color: #222222; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px;&quot;&gt;
Dalam pelaksanaanya, tentu penting memastikan bagaimana sistem belajar kooperatif ini bisa dilaksanakan dengan maksimal dan konsisten dengan sistem penilaian dan evaluasi pendidikan. Suasana kompetisi yang ekstra ketat itu sudah harus dikurangi. Secara khusus, penting bagi para guru untuk memberi perhatian spesial pada pengembangan beberapa karakter penting dalam konteks membangun nilai dan kemampuan hidup bersama dengan orang lain itu.&amp;nbsp;&lt;em style=&quot;box-sizing: border-box;&quot;&gt;Pertama,&amp;nbsp;&lt;/em&gt;sekolah harus terus kreatif mencari cara bagaimana menanamkan nilai&amp;nbsp;&lt;em style=&quot;box-sizing: border-box;&quot;&gt;respect&amp;nbsp;&lt;/em&gt;(sikap hormat) pada orang lain atau pada perbedaan di sekitar kita.&amp;nbsp;&lt;em style=&quot;box-sizing: border-box;&quot;&gt;Respect&lt;/em&gt;&amp;nbsp;adalah jantung atau intisari dari sikap toleran. Jika nilai ini tumbuh pada anak didik, maka saya yakin mereka akan menjadi pribadi yang siap menerima perbedaan secara dewasa.&amp;nbsp;&lt;em style=&quot;box-sizing: border-box;&quot;&gt;Kedua,&amp;nbsp;&lt;/em&gt;peserta didik harus terus dituntun untuk mau berbagi (&lt;em style=&quot;box-sizing: border-box;&quot;&gt;sharing&lt;/em&gt;) dengan orang lain. Berbagi dalam maknanya yang luas merupakan karakter indah yang akan mengurangi jiwa egosime pada diri seseorang.&amp;nbsp;&lt;em style=&quot;box-sizing: border-box;&quot;&gt;Ketiga,&amp;nbsp;&lt;/em&gt;berfikir kritis. Adalah penting generasi masa depan Indonesia memiliki kemampuan ini, agar mereka bisa memilah serbuan informasi yang membanjir.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; box-sizing: border-box; color: #222222; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px;&quot;&gt;
Tentu tidak hanya tiga karakter itu yang perlu dikembangkan, namun menurut saya tiga ini yang paling penting diseriusi oleh para pendidik dalam rangka mengurangi atau mencegah kembali terpecahnya anak bangsa gara-gara pilihan politik yang sebenarnya semu saja. Semoga ‘demam’ anak bangsa gara-gara virus jahat politik bisa tersembuhkan. Semoga pendidikan berperan signifikan dalam menyembuhkannya.&amp;nbsp;&lt;em style=&quot;box-sizing: border-box;&quot;&gt;Wallahua’lam.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; box-sizing: border-box; color: #222222; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px;&quot;&gt;
&lt;em style=&quot;box-sizing: border-box;&quot;&gt;* Penulis adalah dosen FKIP Universitas Riau.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.afriantodaud.com/feeds/573190761715984479/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/24095886/573190761715984479?isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24095886/posts/default/573190761715984479'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24095886/posts/default/573190761715984479'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.afriantodaud.com/2017/03/pendidikan-kita-dan-bangsa-yang-terbelah.html' title='Pendidikan Kita dan &#39;Bangsa Yang Terbelah&#39;'/><author><name>Afrianto Daud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01777049708801606750</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgsG_Vw2pXDI5Ap0Q2qDsrYAqIuWq8wIB2pQc-bCDUr6etKg8SzNh7AAPIKkZQoirocxKc8D9u57SM8U4r3uX2mp8OW6YKomKGrZn7DxFt2rrN_agGCAgEAv_i-IWQGlg/s220/Afrianto2.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24095886.post-8229212403726337328</id><published>2016-12-09T20:00:00.000+11:00</published><updated>2016-12-11T03:35:04.814+11:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="OPINI"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="PENDIDIKAN"/><title type='text'>Menimbang Moratorium Ujian Nasional</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;background-color: white; box-sizing: border-box; color: #222222; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;strong style=&quot;box-sizing: border-box;&quot;&gt;Oleh: Afrianto Daud&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; box-sizing: border-box; color: #222222; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;em style=&quot;box-sizing: border-box;&quot;&gt;(Tulisan ini pertama kali diterbitkan di indonesiapride.com)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; box-sizing: border-box; color: #222222; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; box-sizing: border-box; color: #222222; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj5Anj_YgpAtPM1aaK9M6y_XbhNegLFNRj9z8Dy9GiPLOG7EQ1BsHv4ab59-N1Ky_EE0PbcP6mwpr98RS7dHTqIiaKxVnuEXj5JNU267EgujdHmi0sMDLOX2iqS1s-cpcs0fDXX/s1600/wp-1480129836411.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;213&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj5Anj_YgpAtPM1aaK9M6y_XbhNegLFNRj9z8Dy9GiPLOG7EQ1BsHv4ab59-N1Ky_EE0PbcP6mwpr98RS7dHTqIiaKxVnuEXj5JNU267EgujdHmi0sMDLOX2iqS1s-cpcs0fDXX/s320/wp-1480129836411.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Muhadjir Effendi, baru saja mengumumkan ke publik tentang rencana pemerintah untuk melakukan moratorium (penghentian sementara sampai batas waktu yang tidak ditentukan) Ujian Nasional untuk siswa sekolah menengah mulai tahun 2017 (Republika, 24/11/2016). Walaupun masih bersifat usulan, karena harus menunggu ijin dan persetujuan presiden, ide moratorium ini saya pikir adalah terobosan yang bagus dan menarik. Sejak dilaksanakan tahun 2004, UN memang selalu menuai kontroversi setiap tahun. Kontroversi dan atau perdebatan di sekitar UN biasanya menyoroti aspek keadilan karena besarnya gap kualitas antar daerah, penyempitan kurikulum karena UN hanya menguji beberapa mata pelajaran, ketidaktepatan penggunaan karena UN (dulu) juga dijadikan syarat kelulusan siswa, dan juga pada aspek fenomena ketidakjujuran ketika UN berlangsung.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; box-sizing: border-box; color: #222222; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px; text-align: justify;&quot;&gt;
Sesungguhnya pemerintahan Jokowi telah mencoba mendengarkan suara masyarakat yang keberatan dengan keberadaan UN itu. Karenanya, ketika Anies Baswedan masih menjadi menteri Pendidikan Nasional, misalnya, pemerintah telah meniadakan salah satu aturan UN terkait menjadikan UN sebagai salah satu syarat kelulusan siswa dari sekolah. Sejak tahun 2016, UN resmi digunakan lebih sebagai alat pemetaan kualitas pendidikan nasional. Sementara kelulusan siswa sepenuhnya diserahkan ke sekolah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; box-sizing: border-box; color: #222222; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px; text-align: justify;&quot;&gt;
Diharapkan peniadaan aturan ini bisa mengurangi suasana menakutkan yang selama ini menghantui banyak siswa di Indonesia. Kenyataannya, apa yang diharapkan belumlah sepenuhnya menjadi kenyataan. Karena masih sangat jelas terlihat di lapangan bahwa pelaksanaan UN di masa Anies Baswedan itu masih saja menakutkan banyak pihak: siswa, sekolah, guru, dan orangtua. Suasana sebelum dan ketika UN di sekolah belum banyak berubah – tetap menegangkan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; box-sizing: border-box; color: #222222; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px; text-align: justify;&quot;&gt;
Ini terjadi karena masyarakat dan sekolah masih terbawa dengan suasana lama yang seakan menjadikan UN sebagai ‘hantu pendidikan’. Karenanya, suasana ‘mencekam’ masih terlihat sebelum UN dilaksanakan di banyak sekolah. Selain kegiatan sekolah sore persiapan UN, acara sejenis&amp;nbsp;&lt;em style=&quot;box-sizing: border-box;&quot;&gt;istighosah&lt;/em&gt;&amp;nbsp;atau&amp;nbsp;&lt;em style=&quot;box-sizing: border-box;&quot;&gt;do’a akbar&lt;/em&gt;&amp;nbsp;sebelum UN masih banya terlihat di sekolah. Istighosah dan do’a tentu baik-baik saja. Tetapi, jika itu diadakan sebagai cara melawan ketakutan akibat hawa UN yang mencekam, inilah yang kemudian menjadi isu serius.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; box-sizing: border-box; color: #222222; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px; text-align: justify;&quot;&gt;
Sebagai orangtua dengan anak yang juga sedang bersekolah di sekolah menengah, saya amati bahwa banyak orangtua tetap khawatir dengan nilai UN anak mereka, walaupun tidak lagi dijadikan syarat kelulusan. Kekhawatiran orangtua tersebut barangkali disebabkan fakta bahwa nilai asli UN ternyata justru tak kalah pentingnya dari sebagai syarat kelulusan itu. Karena di hampir semua tempat, sekolah nyaris hanya melihat hasil UN itu sebagai dasar penerimaan siswa di jenjang berikutnya. Siswa yang nilai UNnya rendah tak punya banyak pilihan untuk sekolah di tempat yang bagus, walaupun sekolah itu sangat dekat dari rumahnya. Akibatnya, sekali lagi UN tetap saja dianggap sebagai ujian yang mengkhawatirkan, membuat siswa dan orangtua stress, cemas dengan kemana anak mereka bisa menlanjutkan sekolah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; box-sizing: border-box; color: #222222; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;strong style=&quot;box-sizing: border-box;&quot;&gt;Sisi Baik Moratorium&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; box-sizing: border-box; color: #222222; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;strong style=&quot;box-sizing: border-box;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;box-sizing: border-box;&quot; /&gt;&lt;/strong&gt;Sekali lagi, rencana moratorium ini adalah langkah positif dari pemerintah. Menteri Muhadjir sepertinya mencoba mendengar, menjalankan dan memenuhi keputusan Mahkamah Agung pada 2009 yang memperkuat putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tahun 2007. Dalam putusan itu, pemerintah diperintahkan meningkatkan kualitas guru, kelengkapan sarana dan prasarana sekolah, serta akses informasi di seluruh Indonesia sebagai prasyarat menjalankan UN. Ini semua diperlukan bagi pelaksanaan UN. Kalau tidak, UN akan terus menimbulkan keributan seperti yang terjadi selama ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; box-sizing: border-box; color: #222222; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px; text-align: justify;&quot;&gt;
Dengan demikian, pemberlakuan moratorium ini diharapkan bisa menjadi solusi terbaik dari berbagai kekisruhan akibat UN selama ini. Moratorium ini, misalnya, bisa mengurangi efek psikologis yang selama ini membebani banyak pihak selama pelaksanaan UN. Orangtua, siswa, dan juga guru tentu akan lebih lega, karena tak harus dihantui dengan beban mengejar target lulus atau nilai tinggi pada UN sebagaimana yang terjadi selama ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; box-sizing: border-box; color: #222222; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px; text-align: justify;&quot;&gt;
Moratorium ini diharapkan juga bisa mengembalikan suasana belajar menjadi lebih manusiawi di dalam kelas dimana guru bisa mengajar sesuai dengan metode pengajaran yang diamanahkan di dalam kurikulum, tidak lagi kelas yang mati karena lebih banyak dipenuhi oleh kegiatan&amp;nbsp;&lt;em style=&quot;box-sizing: border-box;&quot;&gt;drilling&amp;nbsp;&lt;/em&gt;cara menjawab soal UN, sebagaimana yang selama ini terjadi. Guru juga diharapkan bisa mengembangkan aspek kognitif, afektif dan psikomotor secara seimbang, melakukan penilaian secara komprehensif, dan memberikan penghargaan kepada setiap siswa sesuai dengan tingkat perkembangan mereka.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; box-sizing: border-box; color: #222222; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px; text-align: justify;&quot;&gt;
Lebih jauh, moratorium ini tentu juga bagus bagi pemerintah sendiri dalam hal alokasi dana pendidikan nasional. Anggaran UN yang selama ini bisa menghabiskan uang negara lebih Rp. 560 miliar setiap tahun itu bisa diperuntukkan untuk perbaikan infrastruktur dan fasiltas sekolah, terutama untuk sekolah-sekolah di daerah terpencil. Pemerintah juga bisa mengalokasikan anggaran itu untuk peningkatan kesejahteraan guru (terutama guru honorer), pengembangan profesional guru, dan juga program pendampingan khusus bagi sekolah yang termasuk kategori sekolah di bawah standar nasional.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; box-sizing: border-box; color: #222222; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px; text-align: justify;&quot;&gt;
Jika pemerintah benar-benar melakukan usaha pemerataan kualitas pendidikan nasional melalui program pengadaan dan perbaikan fasilitas sekolah sampai pelosok negeri, kemudian pada saat yang sama terus melakukan perbaikan dan peningkatan kesejahteraan dan kualitas para pendidik, maka pada waktunya Ujian Nasional bisa kembali dilaksanakan, tentu dengan aturan-aturan baru yang bisa disesuaikan kemudian.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; box-sizing: border-box; color: #222222; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; box-sizing: border-box; color: #222222; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;strong style=&quot;box-sizing: border-box;&quot;&gt;Tantangan Moratorium&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; box-sizing: border-box; color: #222222; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px; text-align: justify;&quot;&gt;
Selain menjanjikan hal-hal yang baik untuk pendidikan nasional kita, rencana moratorium UN ini juga berpotensi mendatangkan masalah baru. Tantangan terbesarnya, menurut saya, adalah dalam hal sistem evaluasi pengganti dari ketiadaan UN. Dari paparan bapak menteri diketahui bahwa pemerintah akan menyerahkan evaluasi akhir siswa di sekolah menengah kepada pemerintahan provinsi, dan pemerintahan kota untuk ujian akhir SD. Pertanyaannya, seperti apa sistem ujian akhir di tingkat provinsi. Apakah akan mirip seperti UN yang&amp;nbsp;&lt;em style=&quot;box-sizing: border-box;&quot;&gt;high stakes&amp;nbsp;&lt;/em&gt;itu atau bagaimana. Ini yang belum dijelaskan pemerintah. Jika yang berubah hanyalah pelaksanannya saja, dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah dan kota, sementara bentuk soal, kegunaan ujian masih sama dengan UN, tentu moratorium ini sama sekali tidak akan menyelesaikan masalah UN selama ini. Ini belum lagi menyebut tantangan dari sisi kesiapan daerah dalam melaksanakan ujian di tingkat daerah masing-masing.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; box-sizing: border-box; color: #222222; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px; text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut saya, penting bagi pemerintah untuk memastikan bahwa apapun bentuk ujian atau sistem evaluasi yang dilaksanakan pemerintah daerah nantinya ketika moratorium, ujian yang dilaksanakan haruslah tetap fokus pada penggunaan hasil ujian sebagai pemetaan kualitas (&lt;em style=&quot;box-sizing: border-box;&quot;&gt;quality mapping&lt;/em&gt;) saja. Dalam konteks ini, pemerintah perlu membuat aturan yang tegas bahwa nilai ujian itu tidak boleh dijadikan dasar penerimaan siswa pada jenjang berikutnya. Inilah model ujian yang dilaksanakan di beberapa negara maju, seperti Australia, dimana hasil ujian siswa tidak digunakan sebagai basis penerimaan siswa di jenjang beikutnya, tetapi lebih sebagai&amp;nbsp;&lt;em style=&quot;box-sizing: border-box;&quot;&gt;quality mapping&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; box-sizing: border-box; color: #222222; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px; text-align: justify;&quot;&gt;
Kemudian, pemerintah juga perlu memperkuat kebijakan rayon untuk penerimaan siswa baru. Bahwa siswa melanjutkan pendidikan pada sekolah yang paling dekat dengan domisilinya. Ini penting agar semua siswa dipastikan bisa memperoleh sekolah untuk kelanjutan pendidikannya sebagaimana semangat wajib belajar 12 tahun yang sedang kita lakukan. Pemerataan fasilitas dan kualitas antar sekolah tentu dengan sendirinya akan mengurangi keinginan siswa tertentu untuk menyebrang ke sekolah di luar rayonnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; box-sizing: border-box; color: #222222; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 24px; margin-bottom: 24px; text-align: justify;&quot;&gt;
Terakhir, yang tak kalah penting adalah bagaimana pemerintah bisa mensosialisasikan kebijakan baru ini secara efektif kepada seluruh&amp;nbsp;&lt;em style=&quot;box-sizing: border-box;&quot;&gt;stakeholders&lt;/em&gt;&amp;nbsp;pendidikan. Jangan pernah ada kebingungan atau keterkejutan pada pihak tertentu yang bisa memperlambat pelaksanaan moratorium. Jangan sampai niat baik moratorium justru menjadi kegalauan baru bagi insan pendidikan di tanah air, karena ketidakjelasan segala sistem pelaksanaanya. Tetapi, jika semua hal sudah direncanakan dengan matang. Saya ucapkan ‘Selamat Datang Moratorium Ujian Nasional!’ Semoga menjadi awal yang baik untuk perbaikan pendidikan nasional kita di masa yang akan datang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* &lt;i&gt;Penulis adalah d&lt;/i&gt;&lt;em style=&quot;background-color: transparent; box-sizing: border-box; text-align: center;&quot;&gt;osen FKIP Universitas Riau, Doktor Ilmu Pendidikan di Monash University Australia)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.afriantodaud.com/feeds/8229212403726337328/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/24095886/8229212403726337328?isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24095886/posts/default/8229212403726337328'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24095886/posts/default/8229212403726337328'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.afriantodaud.com/2016/12/menimbang-moratorium-ujian-nasional.html' title='Menimbang Moratorium Ujian Nasional'/><author><name>Afrianto Daud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01777049708801606750</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgsG_Vw2pXDI5Ap0Q2qDsrYAqIuWq8wIB2pQc-bCDUr6etKg8SzNh7AAPIKkZQoirocxKc8D9u57SM8U4r3uX2mp8OW6YKomKGrZn7DxFt2rrN_agGCAgEAv_i-IWQGlg/s220/Afrianto2.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj5Anj_YgpAtPM1aaK9M6y_XbhNegLFNRj9z8Dy9GiPLOG7EQ1BsHv4ab59-N1Ky_EE0PbcP6mwpr98RS7dHTqIiaKxVnuEXj5JNU267EgujdHmi0sMDLOX2iqS1s-cpcs0fDXX/s72-c/wp-1480129836411.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24095886.post-5139820376721694615</id><published>2016-09-21T20:10:00.001+10:00</published><updated>2016-12-04T23:48:56.694+11:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="OPINI"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="PENDIDIKAN"/><title type='text'>Membangun Sekolah Tanpa Kekerasan</title><content type='html'>&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgOt5HtgkUkLaLjcWxlwcjpEZXcTC0-xzGTpKIUCuh-f_OCJq1bxeoEq5sDfo9jwpDzxAPQaKt9-DbIZJ1C8rySXSpVbmkDmE0pfvzAFSn974hmo5OrKNx5HE0JflflKuuDIfK-/s1600/stop_school_violence10.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgOt5HtgkUkLaLjcWxlwcjpEZXcTC0-xzGTpKIUCuh-f_OCJq1bxeoEq5sDfo9jwpDzxAPQaKt9-DbIZJ1C8rySXSpVbmkDmE0pfvzAFSn974hmo5OrKNx5HE0JflflKuuDIfK-/s1600/stop_school_violence10.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 12.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;Belakangan dunia pendidikan kita kembali dihebohkan oleh
beberapa kasus kekerasan yang melibatkan siswa, guru, dan orangtua. Kekerasan
itu tidak lagi hanya dalam bentuk cerita lama berupa tawuran atau bentrok fisik
antar siswa, tetapi yang menyedihkan adalah bahwa bentuk kekerasan dalam dunia
pendidikan kita telah muncul dalam bentuk wajah yang baru, yaitu kekerasan
antara siswa dan guru, bahkan antara orangtua siswa dan guru. Kasus pemukulan
seorang oknum orangtua terhadap seorang guru di Sulawesi Selatan yang membuat
heboh netizen belum lama ini, misalnya, adalah diantara contoh bahwa tindak
kekerasan di sekolah kita telah berkembang menjadi berbagai bentuk wajah. &amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 12.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background: white; line-height: 115%; margin-bottom: 11.25pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;Sekali lagi, apa yang terjadi pada
seorang guru bernama Adnan Achmad, guru SMKN 2 Makasar, itu bukanlah kali yang
pertama. Sebelumnya publik juga dihebohkan oleh guru yang dipenjara karena
mendisiplinkan siswa mereka. Kita belum lagi bicara tentang kekerasan yang
menempatkan siswa sebagai korban. Kasus kekerasan itu memang telah banyak dan
terjadi di banyak wilayah di Indonesia. Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia
(KPAI), seperti dilansir keterangan tertulis Kemdikbud (2016), mencatat bahwa
sepanjang Januari 2011 sampai Juli 2015 sedikitnya ada 1.880 kasus kekerasan
yang terjadi di lingkungan pendidikan. Sebagian tindak kekerasan ini adalah
berupa kekerasan guru terhadap siswa atau antara siswa itu sendiri. Sebagian lainnya
berbentuk kekerasan atau teror orangtua kepada guru. Angka ini jauh meningkat
dari beberapa tahun sebelumnya dimana pada 2011, tercatat ‘hanya’ 276 tindak
kekerasan terjadi di sekolah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 12.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;Meningkatnya angka kekerasan di sekolah ini tentu adalah
sesuatu yang mengkhawatirkan. Oleh karenanya penting dan mendesak dipikirkan
cara yang sistematis bagaimana mengurangi atau bahkan menghilangkan fenomena
kekerasan di dalam pendidikan kita ini. Edaran Anis Baswedan, mantan Menteri
Kemendikbud yang melarang sekolah untuk melakukan praktek perpeloncoan dalam
Masa Orientasi Siswa Baru di sekolah itu adalah relevan dalam konteks ini.
Bahwa negara dan masyarakat harus berusaha menciptakan ruang belajar dan
suasana sekolah yang ramah anak, yang aman, dan jauh dari kekerasan fisik dan
non fisik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 12.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 12.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;Dalam rangka menciptakan sekolah tanpa kekerasan itu, ada
beberapa hal yang bisa kita lakukan bersama. Pertama, dalam rangka melindungi
guru dari berbagai potensi kekerasan jenis apapun, penting memastikan dan
memberi tahu semua pihak bahwa guru adalah profesi terhormat yang dilindungi
hukum dan atau undang-undang dalam menjalankan profesi kependidikan mereka.
Perlindungan ini tidak hanya dalam bentuk perlindungan ekonomi, sosial dan hak
untuk pengembangan diri, tetapi juga yang tak kalah pentingnya adalah
perlindungan dari rasa takut akibat teror fisik dan non fisik yang mereka
terima dari siapapun, termasuk dari masyarakat dan orangtua.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 12.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12.0pt; line-height: 115%; mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-theme-font: minor-latin;&quot;&gt;Dalam
konteks ini, selain perlindungan profesi dari UU No. 14/2005 tentang guru dan
dosen, sesungguhnya para pendidik di tanah air juga telah dilindungi peraturan
perundang-undangan dalam menjalankan setiap aktivitas kependidikan mereka,
termasuk saat memberikan hukuman kepada para siswa dalam rangka menegakkan
disiplin. &lt;span style=&quot;background: white;&quot;&gt;Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 74
tahun 2008 dan Pasal 39&lt;span class=&quot;apple-converted-space&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href=&quot;http://disdik.kaltimprov.go.id/read/pdfview/15&quot;&gt;&lt;span style=&quot;background: white; border: none windowtext 1.0pt; color: windowtext; font-size: 12.0pt; line-height: 115%; mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-theme-font: minor-latin; mso-border-alt: none windowtext 0cm; padding: 0cm; text-decoration: none; text-underline: none;&quot;&gt;PP No 78
tahun 2008 tentang Guru&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class=&quot;apple-converted-space&quot;&gt;&lt;span style=&quot;background: white; font-size: 12.0pt; line-height: 115%; mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-theme-font: minor-latin;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;background: white; font-size: 12.0pt; line-height: 115%; mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-theme-font: minor-latin;&quot;&gt;menyatakan bahwa guru
memiliki kebebasan memberikan sanksi kepada peserta didiknya yang melanggar
norma agama, norma kesusilaan, norma kesopanan, peraturan tertulis maupun tidak
tertulis yang ditetapkan guru, peraturan tingkat satuan pendidikan, dan peraturan
perundang-undangan dalam proses pembelajaran yang berada di bawah
kewenangannya. Guru dapat memberikan sanksi berupa teguran dan/atau peringatan,
baik lisan maupun tulisan, serta hukuman yang bersifat mendidik sesuai dengan
kaedah pendidikan, kode etik guru, dan peraturan perundang-undangan. Jika
pemberian sanksi terhadap pelanggaran tersebut di luar kewenangan guru, maka
guru dapat melaporkannya &amp;nbsp;kepada pemimpin satuan pendidikan.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12.0pt; line-height: 115%; mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-theme-font: minor-latin;&quot;&gt; Dengan demikian, seorang guru tidak bisa
disalahkan apalagi dipidanakan karena alasan HAM karena melakukan tindakan
tegas kepada siswa yang melanggar aturan sekolah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12.0pt; line-height: 115%; mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-theme-font: minor-latin;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 12.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;Masalahnya adalah bahwa belum banyak guru yang mengetahui
perlindungan hukum ini. Pada saat yang sama, ada banyak orangtua yang tidak
paham dengan perlindungan hukum ini. Oleh sebab itu, penting bagi organisasi profesi
keguruan, semisal PGRI terus melakukan sosialisasi tentang perlindungan atau
aturan yang sudah ada. Pada saat yang sama PGRI wajib terus melakukan advokasi
atau bantuan hukum kepada guru yang menjadi korban tindak kekerasan tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 12.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 12.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;Kedua, untuk mengurangi atau meniadakan tindak kekerasan di
level siswa, perlu memasukkan materi bagaimana menghadapi sifat dan sikap
kekerasan di kalangan siswa. Materi tentang etika, penghormatan sesama, dan
menjauhi perilaku &lt;i&gt;bullying&lt;/i&gt; (baik
fisik maupun non fisik) ke dalam kurikulum kita. Substansi materi ini
sebenarnya sudah &lt;i&gt;embeded&lt;/i&gt; dalam banyak
materi pelajaran kita. Namun, sepertinya penting dan mendesak untuk membahas
dan mengajarakan materi anti kekerasan ini secara lebih massif dan efektif
kepada siswa di sekolah. Bahwa kekerasan adalah tindakan tidak terpuji.
Kekerasan tak pernah membawa kebaikan apapun, kecuali melahirkan kekerasan
bentuk baru di waktu yang lain dengan cara yang sama ataupun berbeda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 12.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 12.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;Ketiga, sekolah perlu melibatkan orangtua bagaimana
mengurangi tindak kekerasan di sekolah. Karena sangat bisa jadi bahwa perilaku
jahat seorang oknum siswa di sekolah justru dia bawa dari perilaku ayah
bundanya di rumah yang suka mendidik anak mereka dengan kekerasan. Misalnya
anak-anak itu terbiasa mendengar kata kasar, umpatan, celaan, atau bahkan
serangan fisik dari orangtua mereka di rumah. Akibatnya, sadar atau tidak,
pengalaman buruk di rumah ini biasanya akan menular pada kebiasaan anak di
sekolah. Karenanya sekolah perlu berdialog dan mendengarkan bagaimana orangtua
mendidik anak-anak mereka di rumah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 12.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 12.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;Keempat, tak kalah pentingnya adalah bagaimana guru dan
tenaga kependidikan di sekolah bisa menjadi contoh utama dalam menciptakan
susasana sekolah yang jauh dari kekerasan, baik kekerasan fisik maupun non
fisik. Seorang guru misalnya sebisa mungkin harus menghindari hukuman fisik
berupa pemukulan kepada siswa. Dalam beberapa kasus, hukuman fisik inilah yang
menjadi awal dari tidak terimanya orangtua terhadap pelakuan guru. Guru
ditantang untuk mencari cara-cara yang lebih beradab dan lebih edukatif dalam menghadapi
tingkah laku siswa yang tidak sesuai harapan di sekolah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 12.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 12.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;Para guru juga wajib menghindari penggunaan kalimat keras
yang berpotensi melukai perasaan dan jiwa anak didik selama proses belajar.
Guru harus mengganti kalimat negatif menjadi kalimat positif yang lebih sehat.
Ketimbang mengatakan ‘kamu kok tak paham juga’, guru bisa mengatakan ‘kamu
hanya butuh usaha lebih keras lagi untuk paham’. Daripada mengatakan anak
muridnya ‘nakal’, guru yang baik seharusnya memandang murid jenis ini sebagai
murid yang butuh perhatian kesabaran ekstra dalam menghadapinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 12.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 12.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;Kekerasan di sekolah sesungguhnya tidak berdiri sendiri. Dia
terkait dengan banyak hal, termasuk budaya dan lingkungan sosial masyarakat.
Oleh karena itu, usaha untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan tanpa
kekerasan juga perlu melibatkan berbagai unsur itu, negara, pihak sekolah, dan
masyarakat. Kesamaan visi dari semua unsur ini sangat penting. Bahwa sekolah
yang baik dan kondusif itu adalah sekolah yang aman bagi semua penghuninya. Wallahu’alam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 12.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;Penulis adalah&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 13pt; line-height: 19.9333px;&quot;&gt;Doktor Ilmu Pendidikan Monash University Australia, Dosen FKIP Universitas Riau&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 13pt; line-height: 19.9333px;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 17.3333px;&quot;&gt;(Tulisan ini pertama kali ditulis untuk Riau Pos)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.afriantodaud.com/feeds/5139820376721694615/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/24095886/5139820376721694615?isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24095886/posts/default/5139820376721694615'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24095886/posts/default/5139820376721694615'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.afriantodaud.com/2016/09/membangun-sekolah-tanpa-kekerasan.html' title='Membangun Sekolah Tanpa Kekerasan'/><author><name>Afrianto Daud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01777049708801606750</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgsG_Vw2pXDI5Ap0Q2qDsrYAqIuWq8wIB2pQc-bCDUr6etKg8SzNh7AAPIKkZQoirocxKc8D9u57SM8U4r3uX2mp8OW6YKomKGrZn7DxFt2rrN_agGCAgEAv_i-IWQGlg/s220/Afrianto2.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgOt5HtgkUkLaLjcWxlwcjpEZXcTC0-xzGTpKIUCuh-f_OCJq1bxeoEq5sDfo9jwpDzxAPQaKt9-DbIZJ1C8rySXSpVbmkDmE0pfvzAFSn974hmo5OrKNx5HE0JflflKuuDIfK-/s72-c/stop_school_violence10.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24095886.post-6193421323728933413</id><published>2016-09-21T20:00:00.000+10:00</published><updated>2016-12-04T23:49:32.981+11:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="OPINI"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="PENDIDIKAN"/><title type='text'>Menimbang Full Day School</title><content type='html'>&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhNFGSQJ5HCPmN78JlN1z8GUFADYrt6oyGhicBR_hUsp7aVObdhYhi8PfqS8uQExdGV0LifHc0A5eThox7oO1Me4CISfWOIrqqJPSRuRaKWDNmXQsVNQZmkBeL4yropoiisNPJc/s1600/full-day-school-57a89cefda9373bc18fd42ac.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;163&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhNFGSQJ5HCPmN78JlN1z8GUFADYrt6oyGhicBR_hUsp7aVObdhYhi8PfqS8uQExdGV0LifHc0A5eThox7oO1Me4CISfWOIrqqJPSRuRaKWDNmXQsVNQZmkBeL4yropoiisNPJc/s320/full-day-school-57a89cefda9373bc18fd42ac.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: #1d2129; font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Tak lama setelah pelantikannya sebagai mentri baru di Kementrian Pendidikan dan
Kebudayaan dalam kabinet hasil &lt;i&gt;reshuffle&lt;/i&gt;
jilid 2, Prof. Muhajir Effendi segera bekerja menjalankan amanahnya memimpin
operasional pendidikan nasional. Selain mengingatkan pentingnya spirit ibadah
dalam bekerja di jajaran kementriannya, dan pernyataannya tentang pentingnya untuk
terus meningkatkan kualitas pendidik sebagai ujung tombak pelaksanaan
kurikulum, beliau juga mulai mengkomunikasikan beberapa rencana programnya ke
publik. Salah satu yang mendapat respon luas dari masyarakat (terutama netizen)
beberapa hari belakangan adalah ide yang beliau sampaikan tentang perlunya
Indonesia menerapkan sistem &lt;i&gt;full day
school &lt;/i&gt;(sekolah sehari penuh). Kemendikbud belum menyatakan secara spesifk
berapa jam persisnya siswa akan berada di sekolah. Namun, diperkirakan akan
berkisar antara 8-9 jam. Menyikapi pro-kontra itu, kemaren Prof. Muhajir
menyatakan bahwa ide FDS ini akan dibatalkan, jika mendapat banyak penolakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: #1d2129; font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span class=&quot;textexposedshow&quot;&gt;&lt;span style=&quot;background: white; color: #1d2129; font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;Terlepas dari pernyataan terbaru pak menteri
tentang rencana pembatalan ide ini, tulisan ini akan mengeksplorasi beberapa
catatan kritis terkait &lt;i&gt;full day school&lt;/i&gt;
(FDS). Tulisan ini diharapkan menjadi tambahan perspektif dalam menilai dan
mengambil keputusan tentang perlu atau tidaknya FDS di Indonesia untuk saat
ini. Sebenarnya ide tentang FDS di tanah air bukanlah hal yang baru. Beberapa
Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) bahkan sudah lama menerapkannya. Saya
sendiri pernah bekerja di sebuah yayasan pendidikan yang memiliki FDS. Saat
ini, salah seorang anak saya bahkan juga sedang bersekolah di sebuah sekolah
madrasah/sawasta yang menerapkan sistem sekolah penuh hari ini. Sejauh ini saya
perhatikan tidak ada resistensi dari pihak orangtua.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span class=&quot;textexposedshow&quot;&gt;&lt;span style=&quot;background: white; color: #1d2129; font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;background: white; color: #1d2129; font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;Walau bukan hal yang baru, rencana bapak mentri ini penting
untuk dikaji dan memang layak dikritisi secara terbuka. Apakah keberhasilan
beberapa SDIT dalam FDS bisa jadi referensi untuk kebijakan secara nasional? Jika
wacana ini pada akhirnya menjadi kebijakan yang mengikat ratusan ribu sekolah
sekolah dasar dan menengah di tanah air, maka dia tentu akan berpengaruh pada
banyak pihak. Tidak hanya siswa di sekolah, tetapi juga guru, orangtua,
termasuk masyarakat secara umum dengan segala keunikan masalahnya. Pengaruh itu
bisa positif ataupun negatif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;background: white; color: #1d2129; font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;background: white; color: #1d2129; font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;Ide Baik, Butuh Kajian Dalam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;background: white; color: #1d2129; font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;background: white; color: #1d2129; font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;Membaca alasan-alasan yang dikemukakan oleh pak menteri, saya
bisa memahami &lt;i&gt;political will&lt;/i&gt; pak menteri.
FDS tentu ide yang baik, agar anak-anak bisa fokus belajar dan menghabiskan
waktu di sekolah, sampai orangtua mereka bisa menjemput mereka di sore hari
setelah orangtua pulang kerja. Ini tentu praktis bagi orangtua. Terutama
orangtua yang bekerja kantoran di daerah urban dengan jam kerja hampir sama
dengan jam belajar anak di sekolah, jika sekolah full day. Disamping itu,
sekolah bisa mengefektifkan proses pelajaran tambahan di sekolah saja, seperti
kegiatan bimbingan atau kursus yang biasanya dilakukan siswa di sore hari di
berbagai lembaga di luar sekolah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;background: white; color: #1d2129; font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;background: white; color: #1d2129; font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;Namun, ada beberapa catatan penting yang wajib menjadi
perhatian pemerintah. &lt;i&gt;Pertama, &lt;/i&gt;jangan
lupa bahwa orangtua siswa itu tidak hanya terdiri dari mereka yang kerja
kantoran, tetapi juga ada jutaan orangtua di pedesaan yang bekerja sebagai
petani dan nelayan. Tidak bisa dipungkiri bahwa orang tua jenis kedua ini
kadang membutuhkan kehadiran anak mereka sepulang sekolah untuk menemani mereka
bekerja di sawah atau di ladang (untuk tidak mengatakan membantu pekerjaan
mereka). Saya tentu mengerti bahwa tugas utama anak-anak usia sekolah itu
seharusnya adalah belajar. Tetapi, adalah fakta bahwa karena masalah ekonomi,
ada jutaan anak yang terpaksa ikut membantu orangtuanya bekerja mencari nafkah.
Ini adalah Indonesia dengan segala kompleksitas latar sosial masyarakatnya,
yang tidak bisa disamakan dengan negara maju seperti Finlandia yang menjadi
inspirasi bapak menteri terkait ide FDS.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;background: white; color: #1d2129; font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;textexposedshow&quot;&gt;&lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;,
tantangan terbesar kebijakan FDS ini adalah bagaimana pihak sekolah bisa
menciptakan suasana belajar yang kondusif di sepanjang hari itu. Suasana
belajar yang dinamis, menantang, tetapi sekaligus menyenangkan. Lingkungan
belajar yang kondusif ini penting agar peserta didik tidak merasa stress atau
tertekan dengan berbagai tugas dan kegiatan belajar yang membosankan dalam
kurun waktu yang panjang itu. Bukankah diantara masalah pendidikan nasional
kita selama ini adalah adanya indikasi bahwa peserta didik kita merasa berat
dan terlalu dibebani oleh target-target kurikulum yang cenderung ambisius?
Jangan sampai-sampai kuncup-kuncup generasi kita itu layu karena suasana
belajar yang tidak menggairahkan jiwa mereka selama FDS.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;background: white; color: #1d2129; font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;textexposedshow&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span class=&quot;textexposedshow&quot;&gt;&lt;span style=&quot;background: white; color: #1d2129; font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;Dalam konteks kekhawatiran kita terhadap
kemampuan sekolah untuk menciptakan suasana belajar yang efektif dan
menyenangkan, kita juga perlu mengkaji kesiapan para guru dalam menjalani tugas
sebagai pendidik selama FDS ini. Tantangannya tidak hanya bagaimana mereka bisa
produktif dan efektif selama proses pembelajaran, tetapi juga bukankah para
guru itu adalah juga orangtua pada saat yang sama? Saya khwatir kebijakan FDS
akan menambah beban para guru yang sudah dibuat lelah dengan berbagai kewajiban
yang telah mereka lakukan selama ini. Jangan sampai para guru kita kemudian berperan
ganda sebagai ‘babysitter’ di sore hari di sekolah mereka, dan tak lagi punya
waktu menjadi ‘babysitter’ anak kandung mereka sendiri di rumah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;background: white; color: #1d2129; font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;textexposedshow&quot;&gt;&lt;i&gt;Ketiga&lt;/i&gt;, yang
juga tak boleh dilupakan adalah bahwa peserta didik juga punya hak untuk
bersosialisasi dan mengekplorasi lingkungannya. FDS dikhawatirkan akan semakin
meminimalisir kemungkinan anak-anak usia sekolah itu untuk bergaul dengan dunia
di sekitar mereka. Mereka akan kehilangan waktu untuk bermain dan mengekplorasi
alam sekitar, seperti yang dulu saya nikmati saat menjadi siswa SD di kampung
saya. Mereka akan kehilangan keindahan masa kecil saat bisa bermain kelereng
dengan teman sebaya, bermain bola di lapangan dekat rumah di sore hari, mencari
burung di semak-semak di sekitar kampung, atau mandi di kali ketika pulang
sekolah. Lebih jauh, FDS ini berpotensi menjadikan anak-anak kita menjadi
asosial, karena waktunya kemudian habis hanya di sekolah dan di rumah saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;background: white; color: #1d2129; font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;textexposedshow&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span class=&quot;textexposedshow&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;background: white; color: #1d2129; font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;Keempat,
&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;textexposedshow&quot;&gt;&lt;span style=&quot;background: white; color: #1d2129; font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;pentingnya juga dikaji tentang dampak FDS ini pada kegiatan
belajar informal yang dilakukan sebagian siswa di luar sekolah pada sore hari.
Pada kegaiatan belajar mengaji di TPA, misalnya, atau pada berbagai jenis
kursus yang dipilih siswa sesuai dengan bakat mereka. Secara bisnis dan
ekonomi, FDS ini mengancam eksistensi ribuan TPA, lembaga Bimbingan Belajar,
kursus ketrampilan, dan sejenisnya di Indonesia. Bisa jadi, kelompok inilah
salah satu yang keberatan dengan kebijakan sekolah sehari penuh ini, karena
mengganggu jalannya roda usaha mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span class=&quot;textexposedshow&quot;&gt;&lt;span style=&quot;background: white; color: #1d2129; font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span class=&quot;textexposedshow&quot;&gt;&lt;span style=&quot;background: white; color: #1d2129; font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;Memperhatikan beberapa poin di atas, sepertinya
ide baik pemerintah ini memang perlu didahului dengan kajian mendalam dan
komprehensif sebelum dilempar ke publik atau sebelum dijadikan keputusan.
Memulai dengan beberapa sekolah pilihan sebagai &lt;i&gt;pilot project &lt;/i&gt;barangkali adalah salah satu solusi bijak. Kebijakan
berbasis riset dengan data yang sohih adalah poin penting lainnya, agar
anak-anak didik kita tidak terus menjadi ‘kelinci percobaan’ dari sebuah rezim
yang terus berubah. &lt;i&gt;Wallahu’alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis adalah d&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;background: white; color: #1d2129; font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12pt; line-height: 18.4px;&quot;&gt;osen FKIP Universitas Riau, alumnus Fakultas Pendidikan Monash University Australia&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;background: white; color: #1d2129; font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 12pt; line-height: 18.4px;&quot;&gt;&lt;i style=&quot;color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: medium;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-image: initial; background-origin: initial; background-position: initial; background-repeat: initial; background-size: initial; color: #1d2129; font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 18.4px;&quot;&gt;(Tulisan ini pertama kali diterbitkan oleh Riau Pos, 24 Agustus 2016)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.afriantodaud.com/feeds/6193421323728933413/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/24095886/6193421323728933413?isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24095886/posts/default/6193421323728933413'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24095886/posts/default/6193421323728933413'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.afriantodaud.com/2016/09/menimbang-full-day-school.html' title='Menimbang Full Day School'/><author><name>Afrianto Daud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01777049708801606750</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgsG_Vw2pXDI5Ap0Q2qDsrYAqIuWq8wIB2pQc-bCDUr6etKg8SzNh7AAPIKkZQoirocxKc8D9u57SM8U4r3uX2mp8OW6YKomKGrZn7DxFt2rrN_agGCAgEAv_i-IWQGlg/s220/Afrianto2.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhNFGSQJ5HCPmN78JlN1z8GUFADYrt6oyGhicBR_hUsp7aVObdhYhi8PfqS8uQExdGV0LifHc0A5eThox7oO1Me4CISfWOIrqqJPSRuRaKWDNmXQsVNQZmkBeL4yropoiisNPJc/s72-c/full-day-school-57a89cefda9373bc18fd42ac.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24095886.post-6351841124498974388</id><published>2016-09-21T19:54:00.002+10:00</published><updated>2016-12-04T23:49:52.512+11:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="OPINI"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="PENDIDIKAN"/><title type='text'>Pendidikan Pasca Reshuffle</title><content type='html'>&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEie81jKXzcszZ1-HUF03w8jMzwMR0c9CE0Bj7Vj8bvMwDY3Vwd3lRsxAKrOJWrookqznZmVKk5NqSjxXQdB6CcTf7cdh4Ogif7aD0uzia3gRwugEK0oRAEfg9qhb-mjAsFd2kl6/s1600/ini-harapan-pgri-pada-mendikbud-baru-pasca-reshuffle-kabinet-antG2jyG5F.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;178&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEie81jKXzcszZ1-HUF03w8jMzwMR0c9CE0Bj7Vj8bvMwDY3Vwd3lRsxAKrOJWrookqznZmVKk5NqSjxXQdB6CcTf7cdh4Ogif7aD0uzia3gRwugEK0oRAEfg9qhb-mjAsFd2kl6/s320/ini-harapan-pgri-pada-mendikbud-baru-pasca-reshuffle-kabinet-antG2jyG5F.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 15.05pt;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;;&quot;&gt;Presiden
Joko Widodo baru saja mengumumkan pergantian personil menteri di jajaran
Kabinet Kerjanya sebagai bagian dari reshuffle kabinet jilid 2 yang dia lakukan
sejak terpilih menjadi presiden dua tahun silam. Terdapat ada 13 kementerian
yang dikocok ulang. 5 menteri berpindah posisi, seperti halnya &lt;/span&gt;&lt;a href=&quot;http://nasional.kompas.com/tag/Luhut%20Binsar%20Pandjaitan?utm_source=RD&amp;amp;utm_medium=inart&amp;amp;utm_campaign=khiprd&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; text-decoration: none;&quot;&gt;Luhut Binsar Pandjaitan &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; mso-bidi-font-weight: bold; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: IN;&quot;&gt;yang &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;background: white; font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;;&quot;&gt;didaulat menjadi Menteri Koordinator
Kemaritiman, menggantikan&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: IN;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;a href=&quot;http://nasional.kompas.com/tag/Rizal%20Ramli?utm_source=RD&amp;amp;utm_medium=inart&amp;amp;utm_campaign=khiprd&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; text-decoration: none;&quot;&gt;Rizal Ramli&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;background: white; font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;;&quot;&gt;. Sebelumnya, Luhut menjabat sebagai Menteri Koordinator bidang Politik,
Hukum, dan Keamanan&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;;&quot;&gt;.
Sementara, ada tujuh menteri lain diganti dengan yang baru, termasuk di
dalamnya nama Anis Baswedan yang digantikan oleh Prof. Muhadjir Effendy sebagai
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Tulisan ini akan khusus membahas apa yang
sudah dilakukan oleh Anis Baswedan sebagai Mendikbud yang lalu dan apa harapan
serta tantangan yang akan dihadapi oleh bapak menteri yang baru.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 15.05pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;;&quot;&gt;Lazimnya
sebuah keputusan politik, &lt;i&gt;reshuffle&lt;/i&gt;
jilid 2 ini juga direspon beragam oleh masyarakat. Pro kontra senantiasa ada
dalam setiap keputusan pemerintah. Cukup banyak masyarakat, misalnya, yang
mempertanyakan keputusan presiden mencopot Anis Baswedan. Bisa jadi karena Anis
sejauh ini dianggap sebagai salah satu menteri dengan performa cukup baik.
Beberapa survey sepanjang tahun 2015 tentang kinerja menteri Kabinet Kerja
menunjukkan bahwa Anis dianggap memiliki kinerja baik dengan selisih nilai
sedikit berada di bawah menteri Susi. Survey Indo Barometer yang dilakukan di
34 provinsi di Indonesia pada bulan Maret 2015, misalnya, menunjukkan bahwa
Anis Baswedan disebut sebagai menteri dengan kinerja paling baik, setelah
menteri Kelautan dan Perikananan, &lt;span style=&quot;background: white; color: #2d2d2d;&quot;&gt;Susi
Pudjiastuti&lt;span class=&quot;apple-converted-space&quot;&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;background: white; color: #2d2d2d;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;apple-converted-space&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;;&quot;&gt;Walaupun
masih belum cukup parameter untuk menilai hasil pendidikan di bawah komando
Anis Baswedan, setidaknya Anis telah menawarkan sebuah sistem pendidikan yang
lebih humanis, ramah anak, dan partisipatif. Kebijakan meniadakan UN sebagai
syarat kelulusan siswa, penghapusan MOS yang militeristik atau bahkan
perpoloncoan, penekanan pada pentingnya rasa aman di sekolah, dan pentingnya
pendidikan keluarga adalah diantara hal-hal baik yang telah dimulai Anis
Baswedan. &lt;span class=&quot;apple-converted-space&quot;&gt;&lt;span style=&quot;background: white; color: #2d2d2d;&quot;&gt;Terlepas dari survey dan opini di masyarakat&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;,
pada akhirnya semua orang harus paham bahwa menteri itu adalah jabatan politik.
Keberadaan siapapun di sana tak lepas dari kemauan seorang presiden dengan hak
perogratifnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;;&quot;&gt;Menteri Baru:
Lanjutkan dan Ditingkatkan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;;&quot;&gt;Ada
kekhawatiran klasik di kalangan masyarakat bahwa kebijakan pendidikan nasional
selama ini cenderung mengikuti gaya dan maunya pejabat di kementerian.
Pergantian pejabat menteri tak jarang juga diikuti oleh berubahnya sistem dan kebijakan.
Ini tentu tak elok untuk perjalanan pendidikan nasional kita di masa sekarang
dan masa yang akan datang. Karena pendidikan itu seharunya berkelanjutan, terencana,
dan sistematis. Tidak tambal sulam, tukar tambah, dan bisa berubah seiring
perubahan angin politik. Karenanya kita berharap kepada kepada bapak menteri
yang baru untuk bisa meneruskan hal-hal baik yang telah dimulai pak Anis dan
juga pejabat sebelumnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;;&quot;&gt;Prof.
Muhadjir &amp;nbsp;Effendy sendiri bukanlah orang
baru dalam dunia pendidikan nasional. Sebagai mantan rektor, beliau bahkan
lebih senior dari Anis Baswedan dalam hal pengalaman di dunia pendidikan. Latar
belakangnya yang aktif di kepengurusan Muhammadiyah juga memberi poin penting
bagi pak menteri yang baru ini dalam menata pendidikan nasional kita. Karena
Muhammadiyah adalah organisasi masyarakat yang sudah lama mengabdikan diri di
bidang pendidikan. Peran Muhammadiyah dalam mempercepat perkembangan dan
peningkatan kualitas pendidikan nasional tentu tak kan bisa terbantahkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;;&quot;&gt;Selain
harapan untuk meneruskan program baik dari menteri sebelumnya, sejumlah
tantangan telah menunggu kerja keras dari menteri pendidikan yang baru.
Tantangan ini menjadi lebih bermakna di tengah tingginya harapan masyarakat
untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas dan merata, seiring dengan
meningkatkanya anggaran pendidikan nasional sesuai amanat undang-undang. Tidak
hanya kualitas dalam bentuk angka-angka numerik di ranah afektif, tetapi yang
tak kalah penting adalah bagaimana membangun anak-anak Indonesia yang
berkarater, cerdas secara emosional dan spiritual.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;;&quot;&gt;Unruk
memenuhi harapan publik ini, tantangan utama adalah bagaimana meneruskan
peningkatan kualitas tenaga pendidik sebagai ujung tombak pelaksanaan sistem
pendidikan nasional di lapangan. Program sertifikasi guru dan pelatihan guru
pembelajar yang sedang berjalan harus terus dievaluasi, agar keberadaannya
tidak hanya memenuhi aspek administratif manajemen pendidikan. Namun, bisa
dirasakan manfaatnya pada kinerja dan peningkatan kompetensi para pendidik ini
di lapangan. Kualitas guru ini tidak hanya terkait dengan para guru yang sudah
bertugas mengajar di sekolah, tetapi juga berhubungan dengan kualitas para
calon guru. Untuk poin kedua, Kemendikbud perlu berkoordinasi intens dengan
Kemenristekdikti yang membawahi ratusan Lembaga Pendidikan dan Pelatihan
Kependidikan (LPTK) sebagai institusi yang memproduksi calon guru.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;;&quot;&gt;Pelaksanaan
kurikulum adalah tantangan lainnya. Selain terus memantau dan mengevaluasi
pelaksanaan kurikulum saat ini (KTSP), perlu usaha keras untuk memastikan
apakah Kurikulum 2013 (K13) yang sebelumnya dihentikan sementara pelaksanaannya
oleh Mendikbud yang lalu masih akan tetap dipending, atau sudah saatnya
diberlakukan dengan segera secara nasional. Ini penting, karena secara
konseptual Kurikulum 2013 sebenarnya menjanjikan cukup banyak perubahan
substantif dalam pada aspek pengajaran dan sistem evaluasi pendidikan. Mendikbud
yang baru harus bisa memastikan bahwa seluruh perangkat penunjang kurikulum,
seperti kemampuan guru, dan fasilitas sekolah sudah siap agar K13 bisa segera
dipakai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;;&quot;&gt;Pemerataan
kualitas pendidikan adalah juga tantangan serius. Bapak menteri yang baru perlu
menerjemahkan visi pemerintahan Jokowi yang menyebut pembangunan nasional
melalui strategi membangun Indonesia dari pinggiran. Ini tentu tidak hanya
berarti membangun infrasturktur yang baik di daerah, tetapi juga membangun sumber
daya manusia yang berkualitas sampai ke pelosok Indonesia yang terserak
diantara ribuan pulau. Ini tentu tak mudah. Untuk menjawab tantangan ini,
Kemendikbud sepertinya perlu memperbanyak program pengiriman tenaga pendidik
dan kependidikan yang kompeten ke berbagai pelosok Indonesia, persis semangat
program Indonesia Mengajar yang dipelopori Anis Baswedan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;;&quot;&gt;Tentu,
tantangan menteri yang baru tidak hanya berhenti pada beberapa poin yang
disebutkan di atas. Masalah pendidikan kita sungguh kompleks. Termasuk juga
bagaimana menteri baru mengelola sistem penerimaan siswa baru, pelaksanaan
Ujian Nasional, pengadaan sarana dan para sarana pembelajaran, dan membangun
hubungan yang tidak terputus antara pendidikan menengah dengan harapan
perguruan tinggi yang notabene dikelola oleh dua kementerian berbeda. Ini belum
bicara tentang efektifitas pengelolaan keuangan kementerian dengan anggaran
yang fantastis (mencapai &lt;span style=&quot;background: white;&quot;&gt;Rp 42,6 triliun pada
tahun 2016). Anggaran yang sangat besar ini tentu butuh dikelola secara tepat
dan efektif agar penggunaannya bisa dirasakan manfaatnya oleh seluruh rakyat
Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;background: white;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;background: white; font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;;&quot;&gt;Pada akhirnya tentu perlu kita ingat bahwa pemerintah tidak
bisa bekerja sendirian. Dukungan dan partisipasi publik sangat diperlukan.
Dengan demikian, sinergi antara orangtua, masyarakat, sekolah dan dunia kerja
perlu terus diciptakan dan ditingkatkan. Mengingat begitu rumitnya masalah
pendidikan nasional kita, kita tentu tak bisa berharap akan selesai dalam
sebulan dua bulan, bahkan juga tidak dalam satu dua tahun. Namun, yang pasti
semua pihak bisa memulai dan berpartisipasi sesuai kapasitas masing-masing
untuk menciptakan pendidikan yang lebih baik sejak hari ini. Selamat bekerja
dan berkarya bapak mentri yang baru!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis adalah d&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; text-align: center;&quot;&gt;osen FKIP Universitas Riau, alumnus Fakultas Pendidikan Monash University Australia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot;, serif; text-align: center;&quot;&gt;(Tulisan ini pertama kali diterbitkan Harian Riau Pos, tanggal 3 Agustus 2016)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.afriantodaud.com/feeds/6351841124498974388/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/24095886/6351841124498974388?isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24095886/posts/default/6351841124498974388'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24095886/posts/default/6351841124498974388'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.afriantodaud.com/2016/09/pendidikan-pasca-reshuffle.html' title='Pendidikan Pasca Reshuffle'/><author><name>Afrianto Daud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01777049708801606750</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgsG_Vw2pXDI5Ap0Q2qDsrYAqIuWq8wIB2pQc-bCDUr6etKg8SzNh7AAPIKkZQoirocxKc8D9u57SM8U4r3uX2mp8OW6YKomKGrZn7DxFt2rrN_agGCAgEAv_i-IWQGlg/s220/Afrianto2.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEie81jKXzcszZ1-HUF03w8jMzwMR0c9CE0Bj7Vj8bvMwDY3Vwd3lRsxAKrOJWrookqznZmVKk5NqSjxXQdB6CcTf7cdh4Ogif7aD0uzia3gRwugEK0oRAEfg9qhb-mjAsFd2kl6/s72-c/ini-harapan-pgri-pada-mendikbud-baru-pasca-reshuffle-kabinet-antG2jyG5F.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24095886.post-1104596874923465772</id><published>2016-02-15T05:06:00.001+11:00</published><updated>2016-12-05T00:22:25.489+11:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="PENDIDIKAN"/><title type='text'>Rangking Kelas, Masih Perlukah?</title><content type='html'>&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;
&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhqJnjh-nh1l6nWL1pEalEs9Y2yE3YO9ow7TMEBd3Ee373gk4EQu4_ZyuISIHcHNMbfFxurhzHw381f3Gi2sF2FlP0EcFgDjSwSsXJEk-DhSza30hso5BkBFBGOBkaP2QLwUjKa0Q/s320/0bagi+raport2.jpg&quot; /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Jutaan siswa sekolah dasar dan menengah di tanah air baru saja menerima laporan pencapaian belajar mereka selama satu semester terakhir melalui buku rapor yang diberikan sekolah. Bagi siswa dan (apalagi) orangtua, rapor itu adalah diantara buku yang ditunggu. Selain karena mereka ingin tahu bagaimana perkembangan anaknya selama satu semester di sekolah mereka, cukup banyak orangtua yang juga menunggu data tentang bagaimana prestasi anak mereka di sekolah jika dibandingkan dengan siswa lainnya. Maka jadilah hari penerimaan rapor itu sebagai hari yang spesial. Biasanya sekolah mengundang orangtua untuk datang ke sekolah agar bisa langsung menerima buku laporan ini. Ranking kelas menjadi isu penting pada hari pembagian rapor itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Walau mulai ada sekolah yang tidak lagi menuliskan rangking di rapor siswa, tak sedikit sekolah yang masih menggunakan perangkingan ini di buku laporan anak didik mereka. Sebagaimana dulu, hari ini masih banyak sekolah yang membuat kegiatan khusus pada hari penerimaan rapor ini, yang puncaknya biasanya dengan mengumumkan para juara kelas di hadapan guru dan orangtua. Pada saat yang sama, untuk sekolah yang tidak mengumumkan juara kelas, ada banyak orangtua yang tetap bertanya kepada pihak sekolah terkait rangking anak mereka. Sebagian orangtua tetap mendesak wali kelas anaknya untuk melihat catatan si wali kelas terkait urutan nilai rata-rata anaknya dibanding anak-anak lainnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sebagai sebuah tradisi di dunia pendidikan sejak lama, penulisan rangking kelas di buku rapor anak didik itu di satu sisi bisa jadi memiliki sisi positif. Ada waktunya seorang siswa perlu mendapat gambaran tentang seberapa jauh pencapaiannya dalam proses belajarnya jika dibandingkan dengan rekannya yang lain di dalam kelas yang sama. Seorang siswa yang menyadari bahwa capaiannya tidak sebaik temannya diharapkan bisa termotivasi untuk belajar lebih giat, mengejar ketertinggalannya, dan pada akhirnya bisa tercipta iklim kompetisi dan suasana belajar yang sehat di dalam kelas.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Namun, hemat saya, karena beberapa alasan yang akan saya jelaskan berikut, perlu dipertimbangkan ulang apakah sistem ini masih relevan dipertahankan dalam sistem pendidikan kita. Pertama, sistem perangkingan yang kita punya sepertinya lebih banyak dampak negatifnya terhadap anak dan orangtua. Alih-alih bisa memotivasi siswa untuk belajar lebih giat, rangking itu bisa menjadi ‘sumber penyakit’ bagi siswa dan orangtua. Sistem rangking itu sadar atau tidak telah mendistorsi bentuk penghargaan yang seharusnya diberikan kepada semua anak, betapapun kecilnya perkembangan belajarnya. Perangkingan kelas bisa membunuh motivasi anak untuk belajar. Rangking yang rendah bisa menjadi stimulus negatif kepada seorang siswa dalam memandang dirinya, bahwa dia tidak sebaik yang lain. Pada jangka panjang, dia bisa melabel dirinya hanyalah sebagai anak biasa dengan segala keterbatasannya. Padahal bisa jadi, siswa yang bersangkutan memiliki potensi terpendam yang selama ini tidak dihargai, akhirnya tidak berkembang.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Perangkingan itu bisa juga menjadi pemicu suasana belajar yang penuh persaingan tak sehat. Anak-anak bisa tumbuh dalam suasana kompetisi belajar  ‘menang-kalah’. Bukan tak mungkin, ada anak tertentu tak mau belajar bersama, berbagi ilmu dan ketrampilan dengan teman sekelasnya, karena khawatir kehilangan ‘mahkota juara kelas’. Padahal, berbagi, bekerjasama, saling dukung, dalam proses belajar adalah iklim yang sedang dikembangkan dalam proses pendidikan di dunia. Pada jangka panjang, pembelajaran dengan nuansa kooperatif itu bisa mengantarkan anak didik agar bisa hidup bersama orang lain di dunia nyata mereka.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dari sisi orangtua, perangkingan ini juga bisa berakibat tak baik. Sebagian orangtua yang sangat terobsesi anaknya untuk menjadi juara kelas, misalnya, mungkin akan merasa sedih mendapatkan fakta bahwa anaknya tidak menjadi juara kelas. Kesedihan orangtua itu, jika tidak terkontrol dengan baik, bisa berakibat pada cara orangtua memberlakukan anaknya. Memaksa anaknya untuk belajar lebih keras lagi, misalnya, padahal sang anak sangat  bisa jadi sudah mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Akibatnya anak bisa stress atau malah trauma dalam proses belajarnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kedua, masalah utama rangking kelas pada buku rapor siswa itu adalah karena penilaian di buku rapor yang masih lebih banyak mengukur aspek kognitif siswa yang biasanya dilaporkan secara kuantitatif berupa angka. Aspek afektif yang bersifat kualitatif, seperti perkembangan karakter mereka, kemampuan berkomunikasi, kemampuan bersosialisasi, bekerjasama, sikap bertanggung jawab, kemandirian, dan sejenisnya, tidak sepenuhnya dinilai dan tidak terlaporkan pada sistem buku rapor anak didik kita.  Akibatnya, para juara kelas itu tetap saja didominasi oleh mereka yang memiliki keunggulan akademik atau yang memiliki nilai tinggi di ranah kognitif. Padahal bisa jadi dia memiliki kelemahan pada aspek non-akademis.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dengan demikian, jika sistem perangkinan seperti yang ada sekarang masih diteruskan, maka adalah tidak fair bagi siswa yang sesungguhnya memiliki kelebihan di bidang lain (non akademis). Fakta seperti ini tentu ironis, karena sesunggunya tujuan pendidikan nasional kita, sebagaimana tertulis dalam UU No. 20/2003 tentang sistem pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan anak didik menjadi manusia seutuhya – otak, badan, dan hati mereka. Persisnya, undang-undang pendidikan menyebut bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Sistem rangking dalam buku rapor seperti yang sekarang kita punya, dalam batas tertentu, bisa dikatakan bertentangan dengan substansi undang-undang pendidikan nasional itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ketiga, di dunia nyata, keberhasilan anak didik tidak hanya ditentukan oleh faktor akademik itu, tetapi yang tak kalah pentingnya adalah juga oleh faktor non-akademis. Hasil survey dari Pew Research Centre, sebuah lembaga riset yang berbasis di Amerika Serikat, misalnya, melaporkan bahwa jajak pendapat yang mereka lakukan kepada orang dewasa di Amerika tentang kemampuan apa yang paling penting dimiliki generasi hari ini untuk sukses dalam hidup, 90 persen responden mengatakan, salah satunya, adalah kemampuan berkomunikasi. 77 persen lainnya menjawab kemampuan bekerjasama dalam tim. Dua kemampuan ini berada dalam ranah non akademis. Karenanya ada banyak sekolah di negara maju yang memberi perhatian khsusus kepada pengembangan soft skills ini. Di negara-negara maju, seperti di Australia, sistem rangking kelas ini sudah tak lagi dipakai sejak lama. Mereka juga tidak punya hari khusus untuk penerimaan rapor. Karena buku rapor cukup dikirim via email kepada orangtua siswa.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Karenanya, pada masa yang akan datang jikapun sekolah masih tetap mempertahankan tradisi pengumuman para juara, sekolah sudah harus memperluas makna juara kelas itu saat pembagian buku rapor. Setiap anak bisa menjadi juara dengan kelebihan mereka masing-masing. Siswa yang memang jago di bidang Matematika, misalnya, mendapat penghargaan sebagai ‘juara Matematika’. Sementara siswa yang menunjukkan prestasi di bidang lain, seperti olahraga dan seni, juga harus diharga sama oleh sekolah. Setiap siswa memiliki kecerdasan mereka masing-masing yang unik. Howard Gardener, guru besar di Harvard University, menyebut poin ini sebagai  ‘multiple intelligence’ (kecerdasan majemuk). Saatnya sekolah kita memberi perhatian kepada berbagai jenis kecerdasan itu secara seimbang. Wallahu a’alam.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
* Penulis adalah Dosen FKIP Universitas Riau, alumnus Fakultas Pendidikan Monash University Australia&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
(Tulisan ini pertama kali diterbitkan oleh Riau Pos, 27 Januari 2016)&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.afriantodaud.com/feeds/1104596874923465772/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/24095886/1104596874923465772?isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24095886/posts/default/1104596874923465772'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24095886/posts/default/1104596874923465772'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.afriantodaud.com/2016/02/rangking-kelas-masih-perlukah.html' title='Rangking Kelas, Masih Perlukah?'/><author><name>Afrianto Daud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01777049708801606750</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgsG_Vw2pXDI5Ap0Q2qDsrYAqIuWq8wIB2pQc-bCDUr6etKg8SzNh7AAPIKkZQoirocxKc8D9u57SM8U4r3uX2mp8OW6YKomKGrZn7DxFt2rrN_agGCAgEAv_i-IWQGlg/s220/Afrianto2.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhqJnjh-nh1l6nWL1pEalEs9Y2yE3YO9ow7TMEBd3Ee373gk4EQu4_ZyuISIHcHNMbfFxurhzHw381f3Gi2sF2FlP0EcFgDjSwSsXJEk-DhSza30hso5BkBFBGOBkaP2QLwUjKa0Q/s72-c/0bagi+raport2.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24095886.post-1709760147581606481</id><published>2016-01-20T12:09:00.001+11:00</published><updated>2016-12-04T23:54:41.355+11:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="PENDIDIKAN"/><title type='text'>Toward a Holistic Teacher Competency Test</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiiGtNOJ4l-DAEjDxw7Gvq2a6PkqQdvLIkMSPtMiqdIzZxc9fDNzYBkJ73H84p4teR629ZZYvsB1YjKv1JZVWxw7nbGBqyXQMM1jpLRodAPE-AKtPnCY097LYoKmGWTEzv7LN9EBA/s1600/UKG.jpg&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;246&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiiGtNOJ4l-DAEjDxw7Gvq2a6PkqQdvLIkMSPtMiqdIzZxc9fDNzYBkJ73H84p4teR629ZZYvsB1YjKv1JZVWxw7nbGBqyXQMM1jpLRodAPE-AKtPnCY097LYoKmGWTEzv7LN9EBA/s320/UKG.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
As a part of public accountability and quality control, the government through the Ministry of Culture and Primary and Secondary Education (Kemenbuddikdasmen) has been conducting Teacher Competency Test (UKG) to nearly 3 million teachers across Indonesia since 2013. This program is not only intended as a means of mapping the quality and competence of teachers nationally, but will also be a basis for the government to formulate a training plan for quality improvement and professional development of teachers nationwide in the future.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
As stated by the Director General of Teachers and Education Personnel of the Ministry of Education and Culture Sumarna Surapranata, the UKG will be routinely done every year. Although there is no term &#39;pass and faill, the government is targeting a constant growth in the teachers’ scores from year to year. This year, for example, of 60-100 questions prepared and performed for 120 minutes, the government is targeting the mean score of teachers’ knowledge competency is 5.5. It is expected to increase by 6.5 next year. And at the end of 2019, it is targetted  to be 8.0 (Kompas, 11/3/2015).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
In one side, the government&#39;s efforts to conduct the competency test needs to be highly appreciated. The government should indeed ensure that our teachers’ quality is well monitored and their competency is continously developed. As a nation we must be very concerned with the quality of our educators as the quality of the teachers have a direct impact on improving the quality of our national education.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
This is especially a case if it is linked with the teacher certification program that has spent a large amount of our national budget. The improvement and control of the  quality of teachers become mandatory. The UKG is then important and relevant, so that the certification which has used up the state budget for almost 80 trillion rupiah every year had a significant impact on increasing the professionalism of the educators. In short, a certified teacher is a professional teacher. A professional teacher is a qualified teacher. The qualified teacher is the main player in our efforts to increase the quality of national education with its all complexed problem.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
But on the other hand, it is important to look more closely at the technical implementation of this UKG. It needs to be evaluated whether the test is valid and trusted as a means of measuring the competence of a teacher. Could this test really measure what is supposed to measure (validity). This question is important, because an unreliable test will result in incorrect data. The inaccurate data certainly can not be the basis for making important decisions, such as teacher training programs.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
The most crucial points of the current model of the UKG is in the aspect of the test models used. As explained in the manual published by Kemendibud, the UKG will measure and map the competence of teachers in their field of study (subject matter) and teaching (pedagogic). The test is conducted in the form of multiple choice questions (60-100 for 120 minutes). From the perspective of test validity, this kind of test can not fully answer the initial objectives of the UKG, to obtain information and map the pedagogical competence and professional of the teachers.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Not only because the test does not asssess the four aspects of teachers’ competency as mandated by the Law on teachers (the UKG does not assess the social competence and personal competence of the teachers), this test also leaves a lot of questions related to its realibility to accurately depict the competence of teachers. Teachers’ professional competence are in fact a very complex notion. From the aspect of pedagogic competence, for example, it is questionable how the test is able to obtain valid information about the ability of the teachers in planning the lesson, effectively starting their classes, and managing the class. Can the test assess their competency in terms of creating a live dynamic and conducive class, or in explaining a complex material in order to be easily understood by students. How the multiple choice questions can provide accurate information about the ability of teachers to ask, answer questions, to anticipate unexpected things in the classroom, or how the teachers motivate the students.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Even if the current UKG has tested things such details above, how to ensure that the cognitive knowledge of teachers in the answer sheet is in line with what he is doing in the classroom. What often happens is that a person can understand a concept in the level of theory, but he or she may not practice what s/he knows in the classroom. Thus, a teacher with a high score in the UKG may not necessarily mean that he or she is an eminent pedagogue in the field. Because the world of practices usually have their own space and art. This is why the validity of the UKG test result does really matter.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Not to mention potential technical problems which may hinder particular goup of teachers to perform well during the test. As majority of teachers take the computer-based UKG, some senior teachers who are not too familiar with the use of IT devices are likely to feel uncomfortable with this kind of test models. They are not troubled by the content of the test, but more on the technical aspects of how to operate the computer and the device. As a result, their test results can be worse than their actual ability. In the field, they are infact senior teachers with may be more with 20 years of eperience. They may have sucesfully educated and inspired thousands of their pupils before.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Considering some issues as mentioned before, it is urgent and necessary to find  alternative models of assessments with a more holistic instrument in assessing teachers’ competence in the future time. This is certainly not an easy job given the broad scope and complexity of teachers’ competence as discussed above. Even in some developed countries like America which has carried out this kind of test for a long time, many reports indicate that the teacher competency test failed to provide the necessary information as a basis to help teachers grow and develop their competencies. Therefore most teachers in America just consider the test as &#39;a joke&#39;, because they do not feel a direct impact of the test on improving their performance as teachers (Lucy Steiner, 2010).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hence my point is how we can keep thinking of a more appropriate way to assess our teachers’ competency and minimise potential  bias due to inaccuracies in test instruments. We can use the current model as a starting point to develop a more holistic examination. In addition to assessing teachers’ mastery on their subject matter thorugh existing multiple choice, consideration may also be given to the use of other assessment instruments. Referring to the teacher assessment framework in some other countries like in the UK, Mexico, Canda and Singapore, assessments through classroom observation, self-assessment, or teachers’ portfolio are amongst other instruments that could be developed.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Equally important is how to involve the principal, school superintendent, or even the public in assessing the performance of these teachers. Especially for their social competence and personality that can only be assessed by asking or observing directly into the field of how teachers behave and act in the school and surrounding community. Furthermore, feedback from the &#39;relevant customers&#39; of teachers like parents and students also need to be considered. Consequently, the assessment process can be no longer fully implemented by the central government, as is the case now. Decentralization of the assessment process is important to think about.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
With such a holistic assessment tools, we can hope to get a more reliable picture related to the competence of our teachers. It will result in more accurate data to be used by the government as the basis of teachers’ career development and teacher training and professional development programs in the future. Otherwise, we are concerned that this UKG is only going to be another &#39;joke&#39; among teachers, or simply be a new land for new projects in Kemendikdasmen, as feared by some people.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
*The writer is teaching at the Faculty of Education of Riau University. He has just completed his doctoral degree from Monash University in Australia.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
(This article was initially written for The Jakarta Post)&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.afriantodaud.com/feeds/1709760147581606481/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/24095886/1709760147581606481?isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24095886/posts/default/1709760147581606481'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24095886/posts/default/1709760147581606481'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.afriantodaud.com/2016/01/toward-holistic-teacher-competency-test.html' title='Toward a Holistic Teacher Competency Test'/><author><name>Afrianto Daud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01777049708801606750</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgsG_Vw2pXDI5Ap0Q2qDsrYAqIuWq8wIB2pQc-bCDUr6etKg8SzNh7AAPIKkZQoirocxKc8D9u57SM8U4r3uX2mp8OW6YKomKGrZn7DxFt2rrN_agGCAgEAv_i-IWQGlg/s220/Afrianto2.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiiGtNOJ4l-DAEjDxw7Gvq2a6PkqQdvLIkMSPtMiqdIzZxc9fDNzYBkJ73H84p4teR629ZZYvsB1YjKv1JZVWxw7nbGBqyXQMM1jpLRodAPE-AKtPnCY097LYoKmGWTEzv7LN9EBA/s72-c/UKG.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24095886.post-886978863244712444</id><published>2015-04-14T09:55:00.000+10:00</published><updated>2016-12-04T23:55:11.174+11:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="OPINI"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="POLITIK"/><title type='text'>Pauline Hanson, among Islam, Racism and Reclaim Australia</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEifgaSWXhM2A0kg09_eh_tS0pZnBWa1Xc07JoilB_XjvNpAKnOqv9gZIzA1GggZDnxWwp8p5g_mlBgtgdsKW8c-R4gjB5FpNNlJmLwr9gtjHWSp2wr1hDxKMvSj4HKTbnMWu3Js/s1600/512954-42c08bee-dd91-11e4-8461-b7104adad679.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;180&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEifgaSWXhM2A0kg09_eh_tS0pZnBWa1Xc07JoilB_XjvNpAKnOqv9gZIzA1GggZDnxWwp8p5g_mlBgtgdsKW8c-R4gjB5FpNNlJmLwr9gtjHWSp2wr1hDxKMvSj4HKTbnMWu3Js/s320/512954-42c08bee-dd91-11e4-8461-b7104adad679.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Australian public was rather shocked of a rally by a group
of people with a theme of &lt;i&gt;Reclaim Australia &lt;/i&gt;on Saturday, 04/04/2015. It
was conducted simultaneously in all states of Australia, including Victoria. The
movement is strongly supported by a liberal party politician Pauline Hanson.
Messages delivered in the rally filled with nuances of hatred against Islam as
one of important religions in Australia. Among the themes presented by the
protesters were a rejection of the tax for halal certification, the refusal of
practice of Islamic law, and a reminder for the phenomenon of Islamization in
Australia. The demonstrators even specifically chanted with &quot;no more
mosques&#39;, or &#39;no more burqa&#39;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
According to the 2006 census, there are at least five
million (24%) of Australians are immigrants with different cultural and
religious backgrounds. Approximately 450,000 of them are Muslims from various
countries, including Indonesia. So far, all communities can live in harmony.
They live with mutual respect for each other&#39;s culture under the principle of
multiculturalism that becomes an important value of the Australian community.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
As a politician, Pauline Hanson seemed to be trying to
propitiate the Australian community through this movement. Islam and terrorism
is indeed currently becoming a hot topic across the globe. Massive coverage of
Islamic state movement (ISIS) has got a special attention from international
community. Therefore, the issue on terrorism can be a good commodity for sales
in the political market. Pauline&#39;s statement that also attacked Abbott’s
administrative for not doing any necessary action regarding the potential
dominance of the Muslim community in Australia is an indication that what she did
is a clear political movement.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Having looked at the track record of this politician, the &lt;i&gt;Reclaim
Australia&lt;/i&gt; is not the first controversial action undertaken and supported by
Pauline Hanson. In a political statement during a campaign season to become a
member of the Federal Parliament in 1996, for example, she has been harshly
criticized the Australian government&#39;s immigration policy. She mentioned that
the idea of multiculturalism is risky for the future of Australia. Therefore,
the multiculturalism policy should be resisted. She argued that why Australia
is filled by many immigrants from Asia was because the idea of the
multiculturalism. In the eyes of Pauline, many immigrants cannot be assimilated
well with Australian culture. In short, in her stance, these immigrants are
only a source of problems.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
In 2006, Pauline returned outspoken about the dangers of
these immigrants. At that time she was specifically concerned about immigrants
from Africa who could be carrying the disease from the country of origin,
including the possibility of suffering from AIDS. Pauline mentioned that
African immigrants had absolutely no benefit to Australia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pauline herself refused to call herself as a racist. She
said that what she did was only a way she expressed her criticism for the sake
of Australia in the future. However, for those who think sane, Pauline&#39;s
criticism is very clear that the substance contains racism. This is because she
spreads hatred and discrimination against certain groups of people. For this
reason, quite a lot of Australians themselves oppose the idea of the Reclaim
Australia movement. Some of those who oppose the idea even involved in physical
fights with demonstrators last Saturday.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Although Pauline Hanson&#39;s racism does not get a proper place
in the mainstream of Australian politic, it does not necessarily mean that the
idea is without support. Hundreds of people demonstrating simultaneously at a
rally last Saturday proved that this racism is not completely dead. They
continue to multiply and consolidate themselves.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
The idea of &#39;Reclaim Australia&#39; movement itself does sound
strange and was impressed to be silly. There are many loop holes within the
idea of this movement. First, the theme has been biased from the beginning. The
selection of the word &#39;reclaim&#39; (retake) does not only mislead as if Australia
had been taken over by a particular group politically, culturally, and
economically (which is certainly not true), it also spread a wrong message
saying that Islam and the Muslims have occupied Australia in many aspects of
life. The selection of this word has indirectly put Islam and the Australian Muslims
on more powerful and more hegemonic than the actual facts. This is indeed an exaggeration.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Secondly, the theme is also against common sense. Paulin&#39;s
statement mentioning that the halal food certification in Australia as a way to
finance international terrorist is full of ignorance. The halal certification itself
is not a dark business because they are easily monitored by the Australian
government. Halal certification is growing in Australia along with the
increasing demand for halal food because of the increasing number of Muslim
communities in Australia (mostly immigrants). Among their main motivation is a purely
from a business drive. Therefore do not be surprised if many non-Muslim owned companies
also provide halal certificate. Again, the process is transparent. Therefore,
the explanation from the Australian Food and Grocery Council (AFGC) one day
after the rally regarding the transparency and certification process could
clarify that the allegations by Paulin Hanson is like a fairy tale story in broad
daylight.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Third, the attacks and discrimination against Muslims in
Australia can be easily understood as an action which is contrary to the
principles of multiculturalism as important values of Australians, as discussed
above. Australia is a country which was built on the basis of respect for this
diversity. Thus, the racism movement by Paulin, if left unchecked, will not
only spoil the harmony of life of the plurality of the Australian society, it
can also tarnish the Australian culture in the eyes of the international
community. Although the number of supporters today is not significant, the core
message is very dangerous.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Considering the potential serious side effects, I think the
Australian government and the community need to perform special measures in
dealing with the issue of racism. Sentiment towards Islam could develop into
sentiment against other immigrants. Today they are targeting Muslim community;
it is highly likely that they are also targeting the existence of other groups
in the near future. Therefore, it is reasonable if the vice president of the
African Community Association of Australia, Edward Solo, said that the
yesterday&#39;s rally as something painful. &quot;It is really a fearful
message,&quot; he said as quoted by The Guardian (06/04/2015).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Politically, the Abbott’s government needs to make an
official statement that the government cannot allow the attitude and behaviour
of racism to happen. Abbott needs to make clear that the government is
committed to respecting all forms of cultural uniqueness of its citizens,
including by providing a protection to the Australian Muslim community.
Otherwise, what is feared by the secretary of the Islamic Council of Victoria,
Ghaith Krayem, who called Abbott government&#39;s silence on the racial acts as a
form of injustice shown by Abbott’s administrative in dealing with racial
attacks and extremism is true (The Age, 04/07/2015).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
At the same time, the Muslim community and all immigrant
groups have to think of better ways that promote a more intensive and effective
activities to build mutual understanding among all groups who live in
Australia. This is because the racism is likely happen due to lack of
communication and interaction between these diverse groups. Pauline Hanson&#39;s
statement saying that Muslims do not need the halal certification, because
whole foods can be permissible only by reciting a prayer (&lt;i&gt;bismillah&lt;/i&gt;) is
a crystal clear example that Pauline does not really understand what Islam and
Muslims are.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
* The writer is&amp;nbsp;&lt;span style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;a scholar at Monash University, former president of Monash Indonesian Islamic Society - MIIS.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;(This article was first written for The Australian)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.afriantodaud.com/feeds/886978863244712444/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/24095886/886978863244712444?isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24095886/posts/default/886978863244712444'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24095886/posts/default/886978863244712444'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.afriantodaud.com/2015/04/islam-racism-and-reclaim-australia.html' title='Pauline Hanson, among Islam, Racism and Reclaim Australia'/><author><name>Afrianto Daud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01777049708801606750</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgsG_Vw2pXDI5Ap0Q2qDsrYAqIuWq8wIB2pQc-bCDUr6etKg8SzNh7AAPIKkZQoirocxKc8D9u57SM8U4r3uX2mp8OW6YKomKGrZn7DxFt2rrN_agGCAgEAv_i-IWQGlg/s220/Afrianto2.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEifgaSWXhM2A0kg09_eh_tS0pZnBWa1Xc07JoilB_XjvNpAKnOqv9gZIzA1GggZDnxWwp8p5g_mlBgtgdsKW8c-R4gjB5FpNNlJmLwr9gtjHWSp2wr1hDxKMvSj4HKTbnMWu3Js/s72-c/512954-42c08bee-dd91-11e4-8461-b7104adad679.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-24095886.post-7204477576603527428</id><published>2015-01-29T10:36:00.001+11:00</published><updated>2016-12-04T23:55:59.197+11:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="PENDIDIKAN"/><title type='text'>From Curriculum Revision to LPTK Regulation</title><content type='html'>&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;In our rush to reform education, we have forgotten a
simple truth: reform will never be achieved by renewing appropriations,
restructuring schools, rewriting curricula, and revising texts, if we continue
to demean and dishearten the human resource called the teacher on whom so much
depends (Palmer, 1998)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjrbW_vK-iTbSpqwWmDHxPDhYjM9mUhKyGW08H7ZFNixKHhhS4lZ1bq09LruQXw_hA7xZvXqkfkDg3g6xqYjftqUcFGeKfAP-rhkjTSzXDdKUB6hVy6ncUNwuCLrR0w4lA3Un1Axg/s1600/reform-logo.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;152&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjrbW_vK-iTbSpqwWmDHxPDhYjM9mUhKyGW08H7ZFNixKHhhS4lZ1bq09LruQXw_hA7xZvXqkfkDg3g6xqYjftqUcFGeKfAP-rhkjTSzXDdKUB6hVy6ncUNwuCLrR0w4lA3Un1Axg/s1600/reform-logo.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;In the last few months or so the education in
Indonesia again stuck on the old debate on curriculum, especially when the new
government decided to stop the implementation of Curriculum 2013 (K13) which
has just launched at the end of the SBY administration. Although the
implementation of the pilot program of the new curriculum in 6221 schools still
continues, the dismissal of the implementation in all non pilot schools still
trigger wide polemics.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;Some deplore the attitude of the Ministry of
Basic Education and Culture who seemed to be in hurry in making such a big
decision; but on the other hand, the government argues that many schools and
teachers seem to have a lack of preparation to run the K13. In addition, there
has been no comprehensive study on why Curriculum 2006 should be replaced.
Therefore, the new government assumed that the Curriculum 2006 was still fit
for use. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;I do not intend to continue the debate on
whether to continue K-13 or re-use the 2006 curriuclum, as the decision has
been taken place. This article is intended to remind the government and
education policy makers in Indonesia not to spend too much energy on the debate
about what kind of curriculum that we shall use. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;Polemics about the curriculum should not make
us forget one important thing to be taken seriously in order to improve the
quality of national education, which is how we could constantly prepare
qualified prospective teachers. At the end, we have to admit that, as the
strong quote from Palmer (1998) on the epigraphs, education reform will never
succeed if we only focused on techincal issues such as school restructuring
program or rewrite the curriculum. No matter how great the curriculum, it will
never run well in the field if it is not supported by qualified teachers. Yes,
because the the teachers are indeed the keys and the major players for successful
implementation of a curriculum. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;In regard to our endeavor on preparing qualified
teachers, there is a good point left by the previous government. Along the
enactment of Law No.14 / 2005 on teachers and lecturers, some programs of SBY
administration as a part of restoration of the teacher as an honorable
profession in community deserve to be continued and improved. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;Teacher certification program that has been
going on for almost seven years gradually began to have a positive impact on
our education, especially in the increased interest of Indonesian youths to
choose the teaching profession as their career choice. Unlike what happneed in the
past when student teachers were more those who failed to choose another field
of study (non-educational), now many student teachers deliberateley chose
education as their top choice. This occurs because the teaching profession
began to be regarded as not only socially and culturally respectable, but also
financially promising. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;The rise interest can be tracked from the
large number of applicants currently enrolled into the Institute of Teachers
Training and Education (LPTK). As reported by Alhumami (2013), data from the
Joint Selection State University (SBMPTN) in 2013, for example, showed that
there were 407,000 (69.4%) out of 585.789 participants chose a course in LPTK.
This figure increased significantly compared to 2012, which previously numbered
about 350 thousand participants. The number of applicants for LPTKs through the
National Selection of State University (SNMPTN) also increased sharply in 2013.
It even reached 300% higher than the preceding year. This figure was the
highest record in the history of LPTKs. This data did not include yet those who
enrolled at private LPTKs which could be two to three times more than state
LPTKs. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;The growing interest of the younger generation
of Indonesia to study at LPTK is certainly a good signal that the government&#39;s
campaign to restore teaching as a respectable profession is significantly achieved.
This certainly could be an entry point to improve the quality of teacher
education. When there are more and more candidates, the competition to join with
LPTKs will be harder. This competition then allows LPTKs (especially the state
ones) to have better prospective teachers in terms of their academic quality. In
the long term, good quality of teacher candidates is highly strategic in our
efforts to advance the quality of national education through the provision of qualified
teachers. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;However, this recent booming could also be a
dangerous &#39;ticking time bomb&#39; if the government did not immediately impose a strict
regulation and take control on the selection process as well as on the quality
of a learning process in LPTKs. Of the main challenges are related to the ratio
of the number of student teachers with our need for teachers in ten or fifteen
years to come; and the quality of the learning process in LPTK itself. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;According to data from &lt;i&gt;Kemdikbud&lt;/i&gt;, currently there are at least 429 LPTKs with 1.440.770 students.
It is estimated that each year there will be a minimum of 300,000 new
undergraduates with Bachelor degree in education. In fact, we would need a new
teacher only about 40,000 people per year. This means that every year there will
be an excess supply of teachers as many as 260,000 people. Think of five or ten
years to come, how many excess we are going to have. This figure is certainly
potential to add to our unemployment rate as well as social problems.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;Another serious challenge is how to monitor
the quality of the educational process in the LPTKs, especially in many private
LPTKs which currently grows in large numbers. As explained by Muchlis Samani
(2013), there is even a few LPTKs operating before obtaining license from the
Ministry of Higher Education. Some of these LPTK tend to accept students in
large numbers, exceeding their capacity for qualified lecturers and necessary
facilities. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;Such conditions can certainly result in a
lower quality of graduates. Therefore, the government’s plan to create a
National Standard of Teacher Education (SNPG) certainly is the right step. This
standardization is expected to minimize some potential problems as I mentioned
above. The standardization is further expected to be not only as a reference for
all LPTKs to play their roles as institutions for “teachers production’; but
also as a selection to determine which LPTK deserves to be keept operating.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;To be more specific, there are at least two issues
that need to be clearly defined in this SNPG. First, the government must be
firmed in setting up quota limits for the number of students to be accepted in
each LPTK considering their available resources and capacity. The quota limit also
needs to be applied in to student teachers for Professional Teacher Education
program (PPG), which is already underway. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;Furthermore, the government must make strict
criteria in the selection process of prospective students. The criteria should
enable the LPTKs to have students from the best high school graduates. In this context,
we can have a look at how some developed countries, such as Finland, South
Korea, and Singapore select their student teachers. These three countries
consistently apply a very strict system in their student selection process in
which they apply a merit based selection system. They only recruit students from
highest-achieving (high) school graduates. So, they only accept student teachers
with brilliant academic achievement. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;In the Indonesian context, the strict
criterion is not new. Since the era of independence until 1960s, the government
used to apply strict criteria for accepting prospective students to be educated
in teacher training institutions. To be accepted in the SGB (School Teacher B)
and SGA (School of Higher Teachers), for example, candidates must be the best
graduates from the School of the People (&lt;i&gt;Sekolah
Rakyat&lt;/i&gt;). The same pattern also applied when the government made a new
institution, the School of Teacher Education (SPG), which also accepted
students with the best academic background. I think there is no harm if the
government re-adopts this strict recruitment system for todays teacher
education. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;In regard to the quality of learning process
in LPTK, although article 9 of Regulation No.19/2005 on National Education
Standards states that the each LPTK is given the freedom to develop their own
curriculum system, I would argue that the national curriculum for teacher
education which comprise &amp;nbsp;Content
Standards and some basic competences is also important. Through this national
curriculum the government enacts to make sure that every LPTK is on the right
track in developing the four competencis as professional teacher mandated by laws;
pedagogical competence, professional competence, personal competence and social
competence. The dormitory system within teacher education and intensive
training we used to have are also worth to be considered as an alternative
model of the learning process for our teacher candidates. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;* The writer teaches at the Faculty of
Teachers Training and Education of Riau University, currently pursuing his
doctoral degree in the Faculty of Education, Monash University Australia.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;-webkit-text-stroke-width: 0px; color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: medium; font-style: normal; font-variant-caps: normal; font-variant-ligatures: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; orphans: 2; text-align: start; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;-webkit-text-stroke-width: 0px; color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: medium; font-style: normal; font-variant-caps: normal; font-variant-ligatures: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; orphans: 2; text-align: center; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;margin: 0px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: georgia, &amp;quot;times new roman&amp;quot;, serif;&quot;&gt;(This article was first written for The Jakarta Post)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.afriantodaud.com/feeds/7204477576603527428/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/24095886/7204477576603527428?isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24095886/posts/default/7204477576603527428'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/24095886/posts/default/7204477576603527428'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.afriantodaud.com/2015/01/from-curriculum-revision-to-lptk.html' title='From Curriculum Revision to LPTK Regulation'/><author><name>Afrianto Daud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01777049708801606750</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgsG_Vw2pXDI5Ap0Q2qDsrYAqIuWq8wIB2pQc-bCDUr6etKg8SzNh7AAPIKkZQoirocxKc8D9u57SM8U4r3uX2mp8OW6YKomKGrZn7DxFt2rrN_agGCAgEAv_i-IWQGlg/s220/Afrianto2.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjrbW_vK-iTbSpqwWmDHxPDhYjM9mUhKyGW08H7ZFNixKHhhS4lZ1bq09LruQXw_hA7xZvXqkfkDg3g6xqYjftqUcFGeKfAP-rhkjTSzXDdKUB6hVy6ncUNwuCLrR0w4lA3Un1Axg/s72-c/reform-logo.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>