<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><!-- generator="wordpress/2.0.5" --><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0">

<channel>
	<title>Celoteh di Jalankenangan</title>
	<link>http://www.jalankenangan.net/celoteh</link>
	<description>karena celoteh kemarin adalah untuk hari ini dan esok</description>
	<pubDate>Sun, 13 Sep 2009 16:28:02 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.0.5</generator>
	<language>en</language>
			<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" href="http://feeds.feedburner.com/Celoteh" type="application/rss+xml" /><feedburner:browserFriendly>This is an XML content feed. It is intended to be viewed in a newsreader or syndicated to another site, subject to copyright and fair use.</feedburner:browserFriendly><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com" /><item>
		<title>uighur experience</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Celoteh/~3/ciBVXNXQxFs/</link>
		<comments>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=288#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Sep 2009 15:40:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanti</dc:creator>
		
		<category>keseharian</category>

		<category>life without highheels</category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=288</guid>
		<description><![CDATA[Malam minggu kemarin, dalam rangka pembubaran (?) panitia Indopendence Day 2009, saya mendapatkan pengalaman kuliner yang unik dan menarik. Acara makan malam yang sedianya akan diadakan di Watermark, sebuah resto buffet yang rada &#8216;wah&#8217; di Glenelg, dipindahkan ke sebuah resto tak dikenal di 580 Port Road. Muti yang berbaik hati nebengin saya dan Sigit kemarin, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="first">M</span>alam minggu kemarin, dalam rangka pembubaran (?) panitia <strong>Indopendence Day 2009</strong>, saya mendapatkan pengalaman kuliner yang unik dan menarik. Acara makan malam yang sedianya akan diadakan di Watermark, sebuah resto buffet yang rada &#8216;wah&#8217; di Glenelg, dipindahkan ke sebuah resto tak dikenal di 580 Port Road. <strong>Muti</strong> yang berbaik hati nebengin saya dan <strong>Sigit</strong> kemarin, sampai harus berputar dua kali untuk menemukan resto mungil ini. Memang nggak seorangpun dari 18 orang peserta pernah makan di sini sebelumnya selain <strong>Angga</strong>, pak ketua.</p>
<p>Resto ini bernama <strong>Uighur</strong>, nama yang mana sumpah mati nggak berarti apa2 buat saya. Saya dan Sigit sempat sepakat bahwa nama ini berbau Mongolia. Jangan tanya kenapa, cuma <em>feeling</em> kok. Dan ketika memasuki restoran ini, saya seperti dikelilingi beberapa tanda tanya kecil2 di atas kepala. <u>Satu</u>, resto ini memajang logo halal besar, yang artinya dimiliki oleh muslim. <u>Dua</u>, pemiliknya berwajah oriental. <u>Tiga</u>, hiasan2 di resto ini berbau Timur Tengah. <u>Empat</u>, nama2 masakan di daftar menu tuh aneh2 banget, tapi ditulis dalam abjad Latin dan China. Euh, halo?</p>
<p><a id="more-288"></a><br />
<span class="shadow" style="float:left"><img src="http://crl.nmsu.edu/say/uighur/uighur_map.jpg" alt="Uyghur" /></span>Pulang dari sana, saya tanya Tante Wiki. Suku Uighur - atau tepatnya Uyghur - ternyata adalah bagian dari rumpun Turki yang tinggal di sisi paling barat China, dekat dengan Kazakhstan dan Mongolia. Seperti leluhurnya yang berasal dari Turki, mereka juga beragama Islam (Sunni). Merupakan bagian dari rute perdagangan yang tersohor sejak ribuan tahun yang lalu, <strong>Silk Road</strong> alias Jalan Sutra, sekarang kawasan itu menjadi bagian dari propinsi <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Xinjiang_Uyghur_Autonomous_Region">Xinjiang</a>. Walaupun secara resmi mereka menggunakan bahasa Mandarin, mereka tetap melestarikan bahasa asli Uyghur. Jadi empat pertanyaan saya di atas tadi terjawab sudah.</p>
<p>Makanannya sendiri sangat terpengaruh masakan Timur Tengah. Saya sempat kaget ketika hidangan pertama datang. Kebab alias semacam sate, dengan tusuk sate sebesar pedang (hiperbola.com). Bahan makanan yang paling banyak terdapat dalam menu adalah daging kambing dan ayam. Bumbu2nya pun rempah2 Timur Tengah, nggak pedas, tapi cukup &#8216;menyengat&#8217; lah. Beberapa hidangan disajikan dengan roti ala Turki. Walaupun begitu, pengaruh Cina juga terasa seperti pada <em>lamb stir-fry with spring onion</em>, atau <em>prawn stir-fry</em> yang aslinya tak mungkin dikenal di Uyghur yang terletak di tengah2 benua dan jauh dari pantai.</p>
<p><img class="blogimg" src="http://jalankenangan.net/images/12092009037a.jpg" alt="Arya &#038; Pedang Ayam :D" style="float:none" /></p>
<p>Semua porsi makanan berukuran jumbo. Jadi sebaiknya kita pesan makanan untuk di-<em>share</em> beramai2. Tapi yang paling menakjubkan sih harganya. Untuk porsi sebesar itu, harga makanan hanya dipatok $10 sampai $25. Menarik kan? Tapi kemarin sumpah deh, saya makan kambing2 enak itu sambil deg2an. Takut kolesterol naik tanpa permisi. Umur emang nggak bisa bohong, hehehe&#8230; </p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Celoteh/~4/ciBVXNXQxFs" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&amp;p=288</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=288</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>jalan2 gratisan</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Celoteh/~3/Era9VDMTVQA/</link>
		<comments>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=287#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Aug 2009 10:07:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanti</dc:creator>
		
		<category>perjalanan</category>

		<category>life without highheels</category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=287</guid>
		<description><![CDATA[Selain semua &#8220;how-to&#8221; yang berhubungan dengan masalah akademis yang tentunya maha penting itu, yang paling ditunggu2 dalam Orientation Program adalah acara jalan2. Gratisan, fun, dan bisa mendekatkan semua teman dalam satu batch sebelum &#8220;the real fun&#8221; dalam masa perkuliahan tiba.
Di minggu pertama, acaranya adalah jalan2 keliling kota Adelaide. Kota ini didesain oleh Colonel William Light [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="first">S</span>elain semua &#8220;how-to&#8221; yang berhubungan dengan masalah akademis yang tentunya maha penting itu, yang paling ditunggu2 dalam Orientation Program adalah acara jalan2. Gratisan, <em>fun</em>, dan bisa mendekatkan semua teman dalam satu <em>batch</em> sebelum <em>&#8220;the real fun&#8221;</em> dalam masa perkuliahan tiba.</p>
<p>Di minggu pertama, acaranya adalah jalan2 keliling kota Adelaide. Kota ini didesain oleh <strong>Colonel William Light</strong> pada tahun 1837. <a href="http://maps.google.com.au/maps?q=Adelaide,+Australia&#038;z=11&#038;utm_campaign=en&#038;utm_medium=ha&#038;utm_source=en-ha-apac-au-sk-gm&#038;utm_term=adelaide%20map">Desain</a> pusat kota ini berbentuk segiempat dengan jalan yang &#8220;kotak2&#8243;. Dijamin kita nggak akan lama kesasar deh!</p>
<p><a id="more-287"></a><br />
<span class="shadow" style="float:left"><img src="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs169.snc1/6329_110429377214_553567214_2339029_4623536_n.jpg" width="200" height="150" alt="Stone garden" /></span>Perjalanan dimulai dari kampus yang terletak di pusat kota Adelaide, Victoria Square, kita menyusuri <strong>North Terrace</strong> yang di sisinya banyak terdapat bangunan2 penting seperti Royal Adelaide Hospital, <a href="http://www.adelaide.edu.au">University of Adelaide</a>, Museum of South Australia, Railway Station, dan sebagainya. Pihak universitas sempat mengingatkan, bahwa di Australia, memotret bangunan2 pemerintahan dan militer seperti pengadilan dan kantor polisi adalah <a href="http://www.4020.net/words/photorights.php">terlarang</a>. </p>
<p>Setelah itu kita dibawa ke <strong>Himeji Garden</strong> di South Terrace. Taman ini bergaya Jepang, termasuk dengan &#8216;taman batu&#8217; alias <em>stone garden</em> yang notabene merupakan susunan batu2 dan kerikil khas taman Jepang. Pada hari itu banyak penduduk senior kota yang duduk di taman dan melukis di sana. Sangat menarik, bagaimana mereka menghabiskan hari tua yang penuh waktu luang.</p>
<div align="center"><img src="http://photos-c.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs125.snc1/5369_117143912214_553567214_2430434_4229961_n.jpg" width="200" height="150" alt="Picnic" class="blogimg" />&nbsp;<img src="http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs169.snc1/6329_110429407214_553567214_2339035_2196947_n.jpg" width="200" height="150" alt="Haigh's Chocolate"  class="blogimg" /></div>
<p>Kita kembali menuju ke utara, ke <strong>Light&#8217;s Vision</strong> di Montefiore Hill, North Adelaide. Di sana berdiri patung Colonel Light, menunjuk ke arah kota Adelaide yang didesain olehnya. Dan setelah makan ala piknik di hamparan rumput <a href="http://www.environment.sa.gov.au/botanicgardens/">Adelaide Botanic Garden</a>, kita mampir ke <a href="http://haighschocolates.com.au/">Haigh&#8217;s Chocolate Factory</a>. Cokelatnya eksklusif, tak diekspor keluar Australia, dan perusahaan ini masih tetap bertahan menjadi perusahaan keluarga sampai sekarang.</p>
<p><span class="shadow" style="float:right"><img src="http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs189.snc1/6329_110429427214_553567214_2339039_1638705_n.jpg" width="200" height="150" alt="Glenelg and Yunni" /></span>Acara ditutup dengan mengunjungi pantai paling terkenal di Adelaide, yaitu <strong>Glenelg</strong>. Cuaca hari itu sangat mendukung, untuk menikmati pantai. Walaupun air masih terasa dingin, teman saya <strong>Yunni</strong> yang asal China nekat bermain air karena ini adalah pengalaman pertamanya pergi ke pantai.</p>
<p>Foto2 <em>City Tour</em> ada di <a href="http://www.facebook.com/album.php?aid=99048&#038;id=553567214">Facebook saya</a>.</p>
<p><strong>Adelaide Hills</strong></p>
<p>Minggu kedua kita pergi ke daerah perbukitan di sebelah timur kota Adelaide. Berbeda dengan acara jalan2 yang pertama, cuaca kali ini cukup dingin, dengan gerimis dan angin berkecepatan sama dengan mobil di dalam kota. Tapi toh itu semua nggak mengurangi keceriaan kita semua.</p>
<div align="center"><img src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs169.snc1/6329_114540147214_553567214_2396734_2353202_n.jpg" alt="Adelaide Hills Trip Route" width="150" height="200" class="blogimg"  />&nbsp;<img src="http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs169.snc1/6329_114435717214_553567214_2395427_3660867_n.jpg" alt="Francis @ Whispering Wall" width="150" height="200" class="blogimg"  /></div>
<p>Persinggahan pertama adalah Barossa Dam, sebuah bendungan sepanjang 140 m yang memiliki efek akustik yang unik. Kalau kita berbisik di ujung dinding bendungan yang satu, suara akan terdengar di ujung bendungan yang lain. Karena itu bendungan ini juga dikenal dengan nama <strong>&#8220;Whispering Wall&#8221;</strong>. Walaupun angin kencang menyambut kami di sana, kami tetap berjalan di atas dinding bendungan yang hanya selebar gang senggol itu, untuk mencoba efek unik ini.</p>
<p>Dari sana kami menuju <strong>Gumeracha</strong>, ke lokasi sebuah <a href="http://www.thetoyfactory.com.au/">pabrik mainan kayu</a>. Ada dua hal yang sangat menarik di sini selain <em>factory outlet</em> mainan. Yang pertama adalah &#8220;mainan kuda goyang&#8221; terbesar di Australia. Kuda yang memiliki panjang 10,5 meter dan tinggi total lebih dari 18 meter ini menjadi salah satu ikon negara Australia.  Hal menarik lainnya adalah sebuah kebun binatang mini di mana kita bisa bermain dan memberi makan kangguru, kambing, dan bermain dengan burung merak.</p>
<div align="center"><img src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs169.snc1/6329_114435747214_553567214_2395433_5679501_n.jpg alt="Biggest Rocking Horse in The World" width="200" height="150" class="blogimg"  />&nbsp;<img src="http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs189.snc1/6329_114435757214_553567214_2395435_5823337_n.jpg" alt="Feeding Mama Kangaroo" width="200" height="150" class="blogimg"  /></div>
<p><span class="shadow" style="float:left"><img src="http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs189.snc1/6329_114435797214_553567214_2395443_2448248_n.jpg" alt="Me cuddling Koala" width="150" height="200" /></span>Setelah acara makan siang (dan berteduh untuk kami yang berpuasa), kami bergerak ke <a href="http://www.gorgewildlifepark.com.au/">Gorge National Park</a>, masih dalam keadaan hujan rintik2. Bukan sebuah taman nasional yang besar, tapi di sini terdapat banyak jenis hewan. Mulai dari beraneka burung yang cantik2, kangguru, <em>wallaby</em>, kelelawar, sampai monyet. Yang menjadi <em>highlight</em> di sini adalah pada jam2 tertentu, kita bisa menggendong dan berfoto dengan koala. Lucu banget memang, ngemil2 daun kayu putih.Tapi taruhan, pasti mereka pasti bosen banget diajak berfoto begitu <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/tongue.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> .</p>
<p>Setelah mampir di (lagi2) pabrik coklat <a href="http://www.melbaschocolates.com/home/">Melba</a>, kami menuju <a href="http://www.adhills.com.au/tourism/towns/hahndorf/">Hahndorf</a>. Cuaca berubah cerah, matahari muncul, tapi udara masih terasa dingin karena angin bertiup sangat kencang.</p>
<p><span class="shadow" style="float:right"><img src="http://photos-a.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs189.snc1/6329_114435827214_553567214_2395448_313313_n.jpg" alt="Hahndorf" width="200" height="150" /></span>Hahndorf awalnya didirikan oleh pendatang dari Prusia yang dipimpin oleh Kapten Hahn tahun 1638. Pengaruh Jerman sangat terasa di sini. Banyak bangunan bergaya Jerman dengan konstruksi kayunya yang khas, toko2 yang menjual roti dan kue khas Jerman, sosis Jerman, dan tentunya bir Jerman <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> . Sayangnya harga di sini nggak murah, mengingat Hahndorf adalah kota turis.</p>
<p>Foto2 <em>Hills Tour</em> ada di <a href="http://www.facebook.com/album.php?aid=101027&#038;id=553567214">Facebook saya</a>.</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Celoteh/~4/Era9VDMTVQA" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&amp;p=287</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=287</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>CMU, kesan pertama</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Celoteh/~3/NanbqPCR2wA/</link>
		<comments>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=286#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Aug 2009 14:37:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanti</dc:creator>
		
		<category>life without highheels</category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=286</guid>
		<description><![CDATA[Hampir seminggu saya resmi menjadi mahasiswa di Carnegie Mellon University (CMU) Adelaide. Mungkin belum banyak yang tahu, CMU di Adelaide adalah satu dari dua cabang CMU di seluruh dunia, dan merupakan universitas asing pertama di seluruh Australia. Di Adelaide CMU hanya punya dua jurusan: Master of Public Policy Management, dan Master of Information Technology. Kampusnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="first">H</span>ampir seminggu saya resmi menjadi mahasiswa di Carnegie Mellon University (CMU) Adelaide. Mungkin belum banyak yang tahu, CMU di Adelaide adalah satu dari dua cabang CMU di seluruh dunia, dan merupakan universitas asing pertama di seluruh Australia. Di Adelaide CMU hanya punya dua jurusan: Master of Public Policy Management, dan Master of Information Technology. <a href="http://www.heinz.cmu.edu.au/about-us/campus/index.asp">Kampus</a>nya pun terbilang kecil, menempati sebuah gedung tiga lantai yang punya nilai historis di <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Victoria_Square,_Adelaide">Victoria Square</a>.</p>
<p>Dengan total hanya sekitar seratus mahasiswa, nggak banyak orang di luar CMU yang tahu apa itu CMU, hehe.. Padahal konon, untuk Master of Information Technology, CMU Pittsburg adalah salah satu universitas terbaik di seluruh dunia.</p>
<p>Maka percakapan semacam ini sangat umum terjadi, dalam bahasa Indonesia, Inggris, atau apapun:<br />
<a id="more-286"></a><br />
<em>Q: Kuliah di mana, Adelaide Uni atau UniSA (South Australia)?</em><br />
A: Di Carnegie Mellon University, di Victoria Square<br />
<em>Q: HAH? Emang di situ ada kampus? CMU apaan sih?</em><br />
A: (menjelaskan kalimat ketiga dan keempat dari paragraf pertama di atas)</p>
<p>Kapan2 saya akan posting lebih banyak tentang Victoria Square dan bangunan tempat kampus saya berada.</p>
<p><span class="first">M</span>inggu pertama dan kedua di CMU adalah <strong>Introductory Academic and Orientation Program</strong>. Jangan bayangkan ini seperti masa orientasi kampus atau Ospek di Indonesia. Program yang ditawarkan benar2 berguna untuk membuat para mahasiswa baru merasa familiar dan <em>homey</em> di kampus, di Adelaide, dan di Australia secara umum.</p>
<p><span class="shadow"><img src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs189.snc1/6329_110429352214_553567214_2339025_319184_n.jpg" alt="CMU welcomes us!" width="320" height="240" /></span></p>
<p>Informasi yang ditawarkan kira2 ada empat bagian besar:</p>
<ol>
<li><strong>Pengenalan akademik</strong>, seperti sesi singkat tentang cara menulis essay/<em>paper</em>, informasi tentang plagiarisme, pengenalan aturan2 studi (jumlah kredit, matkul prasyarat, dll), <em>overview</em> matkul yang ditawarkan, cara menyusun rencana studi, dan sejenisnya.</li>
<li><strong>Pengenalan kampus</strong>, seperti perkenalan dengan pimpinan, staf, para dosen, layanan2 yang tersedia di kampus, pengenalan ruangan2 di kampus, dan yang serupa dengan itu. Seperti di sekolah2 di Amerika, semua mahasiswa di sini punya <em>locker</em> kecil dengan <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Combination_lock#Single-dial_locks">gembok ala Amerika</a> pula. Hehe, gaya banget deh!</li>
<li><strong>Pengenalan kehidupan di Adelaide</strong>, seperti akomodasi, pengenalan kota, transportasi, telepon seluler dan provider internet, budaya Australia, visa, kesehatan dan asuransi, serta isu keamanan.</li>
<li>Sesi informal untuk berkenalan dan mencari pengalaman dari para senior dan/atau alumni.</li>
</ol>
<p>Mereka juga memperkenalkan tempat2 perbelanjaan yang penting untuk berbelanja dan mencari makan siang, seperti <strong>Central Market</strong> dan <strong>Rundle Mall</strong>. Ini penting karena kampus kita nggak punya kantin, tapi lokasinya di pusat kota sehingga kita mudah untuk beli makan. Di <em>Student Lounge</em> tersedia air minum, kulkas, <em>microwave</em> untuk kepentingan makan ini juga <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> .</p>
<p><span class="first">S</span>atu hal yang saya tangkap, kuliah di CMU sangat berat. Setiap mata kuliah menuntut begitu banyak tugas. Jangka waktu program yang hanya setahun membuat banyak materi menjadi dipadatkan. Jika mahasiswa di <a href="http://www.unisa.edu.au">University of South Australia (UniSA)</a> atau <a href="http://www.flinders.edu.au">Flinders University</a> banyak yang punya waktu untuk kerja paruh waktu, mahasiswa CMU jarang sekali punya kesempatan seperti itu. Paling2 menjadi asisten profesor atau pekerjaan sampingan lain di kampus. Saya yakin, senior2 saya di CMU seperti <strong>Ika</strong> dan <strong>Budi</strong> setuju akan hal ini. </p>
<p>Kita juga disarankan untuk segera mencari tempat tinggal permanen (bagi yang belum) dan <em>settle down</em> di Adelaide sebelum mulai punya banyak tugas nantinya. Dan yang sangat penting, bertemanlah! Karena teman sejati nggak akan meninggalkan kita di saat2 sulit.</p>
<p><em>Life won&#8217;t be so easy at CMU</em>. Walaupun saya kuliah di &#8220;cabang Adelaide&#8221;, yang notabene sebuah &#8220;kelas jauh&#8221;, toh ijasah saya nantinya akan sama dengan lulusan CMU Pittsburg yang punya peringkat sangat tinggi di dunia. Mereka nggak akan menurunkan standar untuk CMU Adelaide, dan pasti akan banyak yang harus saya berikan dan kerjakan untuk mencapai standar itu. <em>Sleepless nights, having Panda&#8217;s eyes, and becoming a Zombie</em>. Tapi itu adalah harga yang harus dibayar. </p>
<p><em>Maybe I should put myself into this kind of survival test. And when I finish it later, then I can say that I really have achieved something.</em>
</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Celoteh/~4/NanbqPCR2wA" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&amp;p=286</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=286</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>life without highheels</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Celoteh/~3/d_YvoO0-kN4/</link>
		<comments>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=285#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Aug 2009 14:57:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanti</dc:creator>
		
		<category>perjalanan</category>

		<category>life without highheels</category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=285</guid>
		<description><![CDATA[Seminggu ini segalanya berubah dalam hidup saya. Hampir setengah hari perjalanan telah mengantar saya ke Adelaide, berkat &#8220;tendangan sayang&#8221; dari Depkominfo yang mengirim saya mendarat di Carnegie Mellon University untuk mengambil Master of Information Technology.
Saya berangkat tanggal 5 Agustus malam bersama Fajar. Hari itu saya diantar Abang, Naila, Papa, Mama dan tante saya Bu Tuti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="first">S</span>eminggu ini segalanya berubah dalam hidup saya. Hampir setengah hari perjalanan telah mengantar saya ke Adelaide, berkat &#8220;tendangan sayang&#8221; dari Depkominfo yang mengirim saya mendarat di <a href="http://www.cmu.edu.au">Carnegie Mellon University</a> untuk mengambil Master of Information Technology.</p>
<p>Saya berangkat tanggal 5 Agustus malam bersama <strong>Fajar</strong>. Hari itu saya diantar Abang, Naila, Papa, Mama dan tante saya Bu Tuti ke bandara. Saya bilang hari itu, karena berhari2 sebelumnya saya &#8220;diantar&#8221; oleh puluhan teman dalam berbagai acara perpisahan dengan berbagai komunitas. Termasuk penglepasan oleh direksi sehari sebelumnya, yang sudah bikin saya merasa tersanjung karena direksi memberi perhatian begitu besar untuk melepas saya.</p>
<p><a id="more-285"></a></p>
<p>Lebih dari 30 kg bagasi juga ikut menemani saya. Sepuluh kilogram lebih banyak karena tiket saya <em>one-way</em> dan visa saya visa pelajar. Itupun rasanya masih kurang. Dasar cewe, sepertinya banyaaak yang harus dibawa. Tapi akhirnya saya menemukan beberapa poin penting:</p>
<ul>
<li>Nggak bisa hidup tanpa sambal? Takut nggak bisa menemukan mie instan di negara tujuan? Jangan takut, kamu kan &#8220;cuma&#8221; ke negara lain, bukan ke planet Mars. Walaupun mungkin kamu akan sulit menemukan tempe, tapi sambal botol, kecap, mie, dan sejenisnya bisa didapat di toko Asia. Lagipula banyak negara yang cukup ketat melarang masuknya makanan segar maupun kemasan, seperti Australia.<br />
<strong>Jadi daripada menghabiskan kuota bagasi dengan makanan, lebih baik diisi barang lain yang sepertinya lebih berguna.</strong> Pakaian misalnya, jauh lebih murah dibeli di Indonesia. Jadi setidaknya perlengkapan dasar seperti pakaian dalam, kaus kaki, t-shirt, <em>sweater</em>, bahkan jaket musim dingin pun bisa dibawa dari Indonesia.</li>
<li>Pakaian yang tipis2 seperti kaus dalam/singlet, <em>tank top</em>, kaus kaki, <em>stocking</em>, syal, dan sejenisnya, lebih baik jangan dilipat. <strong>Mending digulung saja, dijamin kopermu bakal muat lebih banyak.</strong></li>
<li>Pada dasarnya, <strong>apa yang harus dibawa atau menjadi prioritas untuk masuk koper, sangat tergantung pada kebutuhan masing2 orang</strong>. Saya sih nggak bawa buku sama sekali, tapi ada beberapa <em>e-book</em> di laptop saya. Saya juga nggak bawa <em>rice cooker</em> karena saya fasih bikin nasi dengan cara <em>ngeliwet</em>. Saya juga nggak bawa selimut misalnya. Tapi saya bawa sepatu beberapa pasang, juga tas beberapa biji. Kenapa? Ya karena saya penggila tas dan sepatu, ingat?</li>
</ul>
<p>Sekedar catatan, saya juga punya beberapa tips untuk terbang ke luar negeri secara umum:</p>
<ul>
<li>Persiapkan bagasi <em>carry-on</em> (tentengan) sedemikian rupa sehingga <strong>tidak berisi barang2 yang dilarang masuk pesawat</strong>, seperti benda tajam dan cairan di atas 100 ml per botolnya. Ini termasuk gunting kuku, korek kuping, sabun, sampo, body lotion, air mineral. Kamu bakal kaget melihat koleksi sabun cair dari keamanan bandara yang sedang getol2nya membuka <strong>semua</strong> bagasi tentengan di pintu <em>gate</em> ruang tunggu.</li>
<li>Pastikan dokumen perjalanan seperti paspor, tiket dan <em>boarding pass</em> <strong>ada di tempat yang mudah diambil</strong>, seperti tas selempang kecil atau saku jaket, karena kita bakal bolak balik membutuhkan dokumen2 itu. Jangan lupa bawa bolpen untuk mengisi berbagai form. Juga nggak ada salahnya menyiapkan dokumen2 seperti <em>Confirmation of Enrolment</em> dan <em>Scholarship Award Letter</em> dalam tas tentengan.</li>
<li>Cek in <strong>dua jam sebelum keberangkatan</strong>, dan datang ke <em>gate</em> 30-60 menit sebelum <em>boarding</em>. Saat cek in, tanyakan apakah saat transit kita harus mengambil bagasi dulu, atau bagasi langsung diambil di tujuan akhir.</li>
<li>Langsung berpakaian <strong>sesuai dengan cuaca di kota tujuan</strong>. Kalau kota tujuannya dingin, siapkan beberapa lapis pakaian dan/atau jaket dalam tas tentengan. Tinggal dipakai bila perlu.</li>
<li>Persiapkan uang dalam <strong>mata uang lokal</strong> secukupnya. Nggak usah banyak2 sih, seperlunya saja. Penting terutama kalau kita sampai di kota tujuan di luar jam kerja atau pada akhir minggu.</li>
</ul>
<p><span class="first">E</span>nam jam dalam burung besi <a href="http://www.qantas.au">Qantas</a> ke Sydney lumayan menyenangkan. Saya sempat <em>underestimate</em> makanannya, yang ternyata enyakkkk! Hiburan juga terjamin, karena di kelas ekonomi ini penumpang mendapat <em>display</em> sendiri2 untuk menampilkan <em>movie on demand</em>. Akhirnya saya nonton &#8220;17 Again&#8221;-nya Zac Efron, BUKAN karena saya suka brondong yang satu ini ya, catet! </p>
<p>Dan setelah transit 3 jam di Sydney ditambah 2 jam penerbangan lokal, saya sampai di Adelaide. Kesannya? Sepi dan seperti &#8220;kota mainan&#8221; di SimCity. Karena sudah bulan Agustus yang berarti musim dingin sudah hampir berlalu, dan saya juga sudah pernah mengalami cuaca yang jauh lebih dingin daripada suhu belasan derajat Celcius saat ini, saya belum terlalu mengeluhkan soal cuaca.</p>
<p><span class="shadow" style="float:left"><img src="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs169.snc1/6329_107712047214_553567214_2300125_1597078_n.jpg" width="240" height="180" alt="Kent Town Student Village" /></span>Saya dijemput taksi yang dibayar kampus, langsung ke <a href="http://www.studentliving.com.au/prop_detail.php?property_id=22">rumah</a>. Rumah ini bisa dibilang dicarikan oleh pihak kampus. Saya tinggal di sebuah apartemen berkamar dua, dengan seorang teman sekelas dari India, <strong>Shweta</strong>. Rumah ini khusus untuk mahasiswa, nggak terlalu mahal, dan harga sewanya sudah termasuk listrik dan air. Mebel pun sudah lengkap alias <em>furnished</em>, kecuali bantal/selimut dan <em>heater</em> kecil yang bisa saya beli di semua toko yang menjual perlengkapan rumah. Letaknya di <strong>Kent Town</strong>, dipisahkan dengan Adelaide CBD di mana kampus saya berada oleh taman bernama <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Rymill_Park,_Adelaide">Rymill Park</a>, serta cuma sekitar 35 menit jalan kaki ke kampus (bisa pakai bis juga). Pasti ada rumah lain yang lebih murah, pasti ada rumah lain yang bisa saya huni bersama orang Indonesia, tapi pasti rumah2 itu jauh dari kampus. . </p>
<p><span class="shadow" style="float:right"><img src="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs169.snc1/6329_107712102214_553567214_2300133_5715083_n.jpg" width="180" height="240" alt="Kent Town Student Village" /></span>Di rumah ini ada sebuah <em>common kitchen</em> di mana kita bisa masak: ada kompor, <em>microwave</em> dan kulkas. Tapi masih harus menyediakan panci/wajan, piring, gelas, dan sendok garpu. Jadi di hari2 pertama saya sibuk bolak balik belanja melengkapi kamar dan perlengkapan masak. Alhamdulillah, saya nggak pernah punya sindrom khas perut melayu yang harus makan nasi. <em>It does mean something when you&#8217;re away from home and have to prepare your meal on your own.</em> Di sini nggak ada Bibi yang bisa saya suruh masak.</p>
<p><span class="first">S</span>egalanya memang berbeda. Banyak yang menanyakan apakah saya kangen rumah, kangen Naila. Tentu saja saya kangen setengah mati! Nggak cuma kangen orang2 yang saya sayangi. Saya juga kangen suasana lalu lintas Bandung yang biasanya bikin saya emosi pas pulang kantor, karena lalu lintas di sini damai banget. Saya kangen Neng Desi, karena saya di sini ke mana2 naik bis dan jalan kaki sambil kadang bertemu Getz silver di jalan. Saya kangen <em>shopping</em> di FO, karena di sini saya nggak punya keleluasaan finansial untuk <em>shopping</em>. Saya bahkan kangen dipanggil Neng atau Teteh karena di sini nggak ada yang manggil saya begitu. Dan masih banyak lagi.</p>
<p>Kangen itu manusiawi. Asal dalam batas wajar dan nggak jadi beban, harusnya nggak apa2 kan? Kangen bukan berarti saya nggak menikmati berada di sini. Saya masih merasa sangat adaptif dan fleksibel. Dan seharusnya saya bisa melewati satu tahun ini dengan baik. Puasa jauh dari rumah, Lebaran jauh dari rumah, bukankah saya sudah pernah melakukannya lima kali?</p>
<p>Banyak juga yang menanyakan kabar Naila. Di luar dugaan Naila nggak nangis sama sekali, baik di bandara maupun sesudahnya, sampai hari ini. Sepertinya usaha saya untuk memberi pengertian sejak pertama kali memulai proses aplikasi beasiswa, ada hasilnya. Dan memang, saya berusaha untuk nggak merusak suasana hatinya dengan menunjukkan emosi berlebihan. Saya percaya, anak sebetulnya butuh <em>somebody to rely on</em>, dan orang2 di sekitarnya harus menunjukkan bahwa kita bisa dan layak menjadi &#8220;sandaran&#8221; bagi mereka. Dan terlepas dari itu semua, saya kagum dan bangga banget punya anak seperti Naila <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> .</p>
<p><span class="first">I</span>ya, seminggu ini segalanya berubah dalam hidup saya. Sejak Senin lalu saya sudah mengikuti <strong><em>Introductory Academic and Orientation Program</em></strong> di kampus. Sesuatu yang jauh berbeda dengan keseharian saya di Bandung, sebagai karyawan yang juga sibuk ngurus anak. Tapi seperti kata <strong>Charles Darwin</strong>, </p>
<blockquote><p>it is not the strongest of the species that survive, nor the most intelligent, but the one most responsive to change</p></blockquote>
<p>.</p>
<p> Jadi sepertinya memang kita harus selalu siap dengan perubahan.</p>
<p><em>The next few months will be a life without high heels.</em> Selamat datang di dunia mahasiswa, Neng <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> .</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Celoteh/~4/d_YvoO0-kN4" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&amp;p=285</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=285</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>keseharian di TK</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Celoteh/~3/4Wn76BVXV8k/</link>
		<comments>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=284#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Aug 2009 00:15:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanti</dc:creator>
		
		<category>kisah kecil</category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=284</guid>
		<description><![CDATA[Sudah lebih dua minggu Naila duduk di TK B. Dipikir2, Bunda bahkan belum pernah menulis tentang pengalaman dan keseharian Naila di TK. Karena hari ini Bunda mau berangkat ke Adelaide, sepertinya Bunda harus mencatat kenangan yang tersisa di sini, sebelum nanti lupa lagi.
Salah satu hal yang terasa cukup berat di TK Taruna Bakti adalah jam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="first">S</span>udah lebih dua minggu Naila duduk di TK B. Dipikir2, Bunda bahkan belum pernah menulis tentang pengalaman dan keseharian Naila di TK. Karena hari ini Bunda mau berangkat ke Adelaide, sepertinya Bunda harus mencatat kenangan yang tersisa di sini, sebelum nanti lupa lagi.</p>
<p>Salah satu hal yang terasa cukup berat di <a href="http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=260">TK Taruna Bakti</a> adalah jam masuknya yang terbilang pagi: jam 7.00. Wah, tiap pagi ada &#8216;gempa bumi&#8217; di rumah. Karena walaupun Naila dibangunkan jam 5.30, tetap saja kita nggak pernah berangkat lebih pagi dari 06.30. Padahal Jl.Suci macetnya amit2.</p>
<p>Walaupun selalu heboh pagi2, di TK ini Naila belajar mandiri. Tahu Naila &#8216;gengsian&#8217;, Bunda sering &#8216;menantang&#8217; Naila untuk  melakukan sendiri hal2 yang ia sudah bisa melakukan sendiri. Sejak bulan2 awal sekolah, Naila mandi sendiri, sikat gigi sendiri, pakai minyak telon sendiri. Pakai baju pun hanya dibantu saat menarik ritsleting. Sarapan roti juga sendiri, walaupun lama banget. Mending lah, daripada waktu dicoba sarapan nasi, disuapi pun cuma habis 3 suap dalam waktu 30 menit! Hehe..</p>
<p><a id="more-284"></a><br />
<span class="first">B</span>erbeda dengan TK jaman sekarang yang rasio guru-muridnya bisa 1:8 bahkan kurang, di TK Taruna Bakti ada 16-25 anak dalam kelas, dengan 1 guru. Baik-buruknya rasio seperti ini tentu banyak, tinggal ditimbang2 sendiri oleh para orang tua. Tapi sejauh ini sih Naila nggak ada masalah. Di TK A kemarin, Naila di kelas Ibu Ika, dan sekarang TK B dengan Ibu Herna.</p>
<p>Pulang sekolah sekitar jam 10.30. Biasanya Naila dijemput Bibi dan pulang naik angkot. Jadi hanya pagi2 yang diantar Bunda pakai Neng Desi. Tapi sekali seminggu, biasanya hari Rabu, Bunda usahakan kabur dari kantor untuk menjemput Naila. Kalau nggak, Naila suka ngadat sih, hehe..</p>
<p>Naila yang nggak punya teman sebaya di rumah, alhamdulillah nggak ada masalah bersosialisasi di sekolah. Naila punya &#8216;geng&#8217;, hehe, 5 cewe2 mungil, centil dan ceriwis. Sekali2 pernah juga sih, clash sampai ada yang nangis. Katanya sih karena ada yang judes. Tapi waktu dipisah sama Bu Ika, dipindah duduknya atau disuruh main dengan yang lain, pada keukeuh nggak mau. Malah ada yang mau nangis megangin kursinya, takut dipindah, hahaha! Dasar anak sekarang.</p>
<p><img src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs103.snc1/4886_86030947214_553567214_1975017_4737513_n.jpg" alt="Naila and the gang" border="1" /></p>
<p>Waktu TK A dulu, mainan favorit Naila adalah main pasir. Entah gimana mainnya, yang jelas setiap pulang sekolah, Naila bawa pasir di rambut dan sepatunya. Dan gara2 main pasir ini, pernah ada pasir yang menempel di mata, sampai Naila harus <a href="http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=274">dibius</a> di <a href="http://www.netra-klinik.co.id/">klinik mata</a> untuk mengambilnya. Kapok? Nggak.</p>
<p><span class="first">B</span>ahasa Inggris diperkenalkan dua kali seminggu di sekolah. Seminggu sekali Naila belajar main pianika. Pelajaran komputer, pengenalan kesehatan gigi dan ekstrakurikuler juga begitu. Naila memilih ekskul vokal, di antara pilihan2 menggambar dan angklung. Tiap Senin pagi pun Naila upacara bendera, jadi sudah hafal lagu Indonesia Raya dan beberapa lagu wajib.</p>
<p>Setiap bulan sekali sekolah mengadakan kegiatan luar sekolah seperti kunjungan ke kebun binatang, <a href="http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=266">Museum Geologi</a>, kebun stroberi, dan sebagainya. Dan beberapa kali Naila diikutsertakan dalam lomba sebagai wakil sekolah. Bahkan sempat juara harapan <a href="http://www.youtube.com/watch?v=sA22Ux9Oyjk">lomba menyanyi solo</a> dan <a href="http://www.youtube.com/watch?v=Z64CklYhEU4">lomba paduan suara</a>.</p>
<p><img src="http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs013.snc1/4203_71328172214_553567214_1772959_5566066_n.jpg" alt="Tim Paduan Suara TK Taruna Bakti" border="1" /></p>
<p><span class="shadow" style="float:right"><img src="http://photos-a.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs084.snc1/4895_87456382214_553567214_1995152_5669720_s.jpg" alt="Flying Fox" /></span><span class="first">A</span>cara kenaikan kelas diadakan di rumah makan dan <a href="http://www.facebook.com/album.php?aid=86497&#038;id=553567214">tempat outbond</a> Sindang Reret, Cikole, Lembang. Nggak disangka, Naila berani lho ikutan flying fox! Mungkin karena semua teman2nya berani, jadi ya Naila ikut berani. </p>
<p><span class="shadow" style="float:left"><img src="http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs104.snc1/4895_87446392214_553567214_1994787_853082_s.jpg" alt="Juara Kelas" align="left" /></span>Selama setahun, Ayahbunda melihat perkembangan Naila semakin baik. Menurut Bu Herna, guru Naila di TK B ini, Naila sangat <strong>mandiri dan nggak manja</strong>, padahal anak satu2nya sejauh ini. Ya, menurut Ayahbunda, anak satu2nya nggak boleh jadi alasan untuk memanjakan. Bahkan Naila mendapat hadiah <strong>juara kedua</strong> di kelas TK A3 kemarin. Walaupun tentu kriterianya masih sangat subyektif, Ayahbunda bangga sekali. Semoga Naila tetap mempertahankan prestasi, kemandirian dan kematangannya, bahkan semakin baik ya Nai!
</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Celoteh/~4/4Wn76BVXV8k" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&amp;p=284</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=284</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>ngebut menuju beasiswa (6) - essay dan hasilnya</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Celoteh/~3/AtDD-qHWkfw/</link>
		<comments>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=283#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Jul 2009 18:24:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanti</dc:creator>
		
		<category>keseharian</category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=283</guid>
		<description><![CDATA[Waktu apply beasiswa bulan Februari lalu juga saya harus menjawab beberapa pertanyaan, masing2 sekitar 100-200 kata. Ya ujung2nya memang seperti essay. Tapi essay untuk aplikasi studi ke universitas biasanya berupa personal statement atau motivation letter yang utuh, harus terstruktur dan tentunya dalam bahasa Inggris. Haduuuh, susaaaah! Terus terang essay adalah salah satu momok terbesar saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="first">W</span>aktu <em>apply</em> beasiswa bulan Februari lalu juga saya harus menjawab beberapa pertanyaan, masing2 sekitar 100-200 kata. Ya ujung2nya memang seperti essay. Tapi essay untuk aplikasi studi ke universitas biasanya berupa <em>personal statement</em> atau <em>motivation letter</em> yang utuh, harus terstruktur dan tentunya dalam bahasa Inggris. Haduuuh, susaaaah! Terus terang essay adalah salah satu momok terbesar saya dalam rangkaian proses ini. <em>I&#8217;m not a good writer, and definitely not in English!</em></p>
<p>Tapi tenang, semua pasti ada solusinya. Pertama2, cermati dulu syarat essay yang diminta di situs aplikasi universitas. <strong>Berapa kata panjangnya, dan apa saya yang harus dimuat di dalamnya</strong>. Ada yang bilang, buat saja dalam bahasa Indonesia dulu, lalu diterjemahkan. Yang jelas, saya harus bolak balik merevisi, menambahkan, mengurangi, meminta orang lain mengecek, sampai rasanya sudah &#8220;sempurna&#8221;. </p>
<p><a id="more-283"></a><br />
Ada <a href="http://www.articlesnatch.com/Article/Three-steps-to-write-a-winning-personal-statement-for-college-admission/439611">tips</a> yang cukup bagus tentang menulis <em>Personal Statement</em>. Juga ada beberapa <a href="http://www.scholarshipnet.info/scholarship-tips/sample-statement-of-purpose/">contoh</a>. Yang harus selalu diingat adalah kita menulis dengan jujur, nggak perlu berbunga2 dengan kalimat2 basi, atau justru <em>ngebodor</em>. Tapi tetap harus impresif loh ya!<br />
<strong><br />
Sebagai gambaran</strong>, saya menulis tentang ketertarikan saya pada dunia IT sejak dulu, juga alasannya. Lalu tentang latar belakang kuliah saya (yang judulnya <em>telco</em> tapi matkul pilihan yang saya ambil berbau IT semua <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/tongue.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  ), tentang pengalaman kerja saya di dunia IT, tentang cita2 saya ke depan. Juga tentang manfaat studi yang akan saya ambil ini untuk kemajuan pribadi, perusahaan, dan untuk Indonesia tertjintah. Lalu dihubungkan dengan program studi yang ditawarkan oleh universitas ybs. Periksa kurikulumnya di situs web mereka, dan pinter2nya kita saja bikin kalimat yang meyakinkan, hehe.</p>
<p>Oh ya, nggak ada salahnya juga pada essay ini saya mencantumkan kelebihan dan kekurangan saya. Juga beberapa kalimat lagi yang intinya menegaskan kenapa saya merasa mampu mengambil program studi tersebut</p>
<p><span class="first">K</span>arena paspor saya sudah <em>wafat</em> bulan November 2008 lalu, saya harus buat paspor baru. Kebetulan saya (hihi ngaku deh) pakai biro jasa, jadi cuma perlu datang sekali ke kantor imigrasi untuk mengurus paspor. Betenya, pas hari saya datang itu, 6 Mei 2009, hujan lebat. Walaupun sudah pakai payung tetap saja hasil foto saya di paspor itu <em>kucluk</em> abis. Ih, sebel.</p>
<p>Dan sepulangnya dari kantor imigrasi, saya mendapati sebuah <em>buzz</em> dari <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1316079734">Didin</a> di Yahoo! Messenger. <strong>Saya mendapatkan beasiswa luar negeri Depkominfo untuk studi S2 ke Australia.</strong> Walaupun saya langsung jadi gemetar, walaupun saya belum dapat sekolah, walaupun saya agak gamang menghadapi kenyataan ke depan, tetap saja, alhamdulillaah. Saya yakin, ini jawaban atas doa saya minta dipilihkan yang terbaik.</p>
<p><i>Saya sudah hampir berangkat, makanya saya harus NGEBUT menyelesaikan seri ngebut ini =))</i></p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Celoteh/~4/AtDD-qHWkfw" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&amp;p=283</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=283</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>ngebut menuju beasiswa (5) - terjemahan ijasah dan surat rekomendasi</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Celoteh/~3/dUejOKw6aoE/</link>
		<comments>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=282#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Jul 2009 18:14:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanti</dc:creator>
		
		<category>keseharian</category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=282</guid>
		<description><![CDATA[Sembari menunggu hasil IELTS, saya mempersiapkan terjemahan ijasah dan surat rekomendasi. Untuk penerjemahan memang agak complicated karena ijasah saya berbahasa Jerman, dan harus diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh penerjemah tersumpah. Artinya saya harus mencari penerjemah tersumpah Jerman - Inggris yang berdomisili di Indonesia. Kan nggak mungkin saya terjemahkan Jerman - Indonesia lalu Indonesia - [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="first">S</span>embari menunggu <a href="http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=281">hasil IELTS</a>, saya mempersiapkan terjemahan ijasah dan surat rekomendasi. Untuk penerjemahan memang agak <em>complicated</em> karena ijasah saya berbahasa Jerman, dan harus diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh penerjemah tersumpah. Artinya saya harus mencari penerjemah tersumpah Jerman - Inggris yang berdomisili di Indonesia. Kan nggak mungkin saya terjemahkan Jerman - Indonesia lalu Indonesia - Inggris, itu mah jadi <em>lost in translation</em> atuh!</p>
<p>Berkat <a href="http://jalankenangan.net/images/ubersetzerliste.pdf">daftar penerjemah</a> dari <a href="http://www.jakarta.diplo.de">Kedutaan Besar Jerman</a>, saya menemukan alamat <strong>Ibu Ursula Suharto</strong>, satu2nya penerjemah tersumpah Jerman - Inggris. </p>
<p>Bersamaan dengan itu, saya menghubungi <em>International Office</em> di <a href="http://www.reutlingen-university.de">Reutlingen University</a> tempat saya kuliah dulu. Kata mereka, <u>jasa penerjemahan disediakan gratis, dengan cukup mengirimkan hasil <em>scan</em> ijasah lewat email</u>. </p>
<p><a id="more-282"></a><br />
Setelah melalui berbagai pertimbangan, salah satunya karena saya nggak perlu melegalisir ulang terjemahan tersebut, akhirnya saya memilih menggunakan jasa <em>International Office</em> eks kampus saya itu. Memang nggak lancar2 amat juga sih, karena kepotong liburan Paskah, plus mereka nggak mau mengirimkan <em>softcopy</em> hasil terjemahan (hanya mau lewat pos). Masalah lain, mereka tadinya nggak mau menerjemahkan transkrip lengkap. Baru bersedia setelah saya <em>forward</em>kan email dari <a href="http://www.usyd.edu.au/future_students/international_postgraduate_coursework/admissions/index.shtml">International Office</a> University of Sydney!</p>
<p>Oh ya, sebagian besar universitas di luar negeri memungkinkan kita <em>apply</em> secara online. Semua dokumen di-<em>scan</em> dan diunggah lewat situs tersebut. Nyaman dan mudah. Tapi tetap ada pengecualiannya: khusus untuk ijasah dan transkrip, kita tetap harus mengirimkan <em>hardcopy</em>  yang dilegalisir. Ada beberapa universitas di Australia yang menerima hasil <em>scan</em>, asalkan dikirim lewat (dengan asumsi sudah dicek keasliannya oleh) agen resmi pendidikan Australia seperti <a href="http://www.indonesia.idp.com/">IDP</a>.</p>
<p><strong>Surat Rekomendasi</strong></p>
<p>Sudah merupakan sesuatu yang umum di dunia Barat, bahwa orang membutuhkan surat rekomendasi untuk bisa mendapatkan tempat untuk kuliah, melamar pekerjaan, bahkan untuk bisa menyewa rumah! Tapi nggak semua universitas di Australia mensyaratkan surat rekomendasi, sebaliknya bisa dibilang semua universitas di Inggris mensyaratkan hal ini.</p>
<p>Pihak universitas biasanya meminta minimal dua surat rekomendasi. Kalau belum pernah bekerja, harus semuanya dari dosen yang pernah membimbing kita, sebaiknya sih pembimbing skripsi atau mantan dosen wali, atau dosen2 lain yang <strong>kenal kita secara personal</strong>. Sementara kalau sudah pernah bekerja, satu dari dosen seperti di atas, dan sisanya orang yang pernah bekerja sama dengan kita (sebaiknya <em>supervisor, team leader, manager</em>).</p>
<p>Apa yang harus ditulis dalam surat rekomendasi? Baca saja baik2 keterangan di situs aplikasi masing2 universitas, karena bisa jadi berbeda untuk tiap universitas. Juga di sana biasanya tercantum, <strong>bagaimana surat rekomendasi itu harus di-<em>submit</em></strong>: lewat pos dalam amplop tertutup yang ditandatangani bagian <em>lid</em>-nya, atau bisa disubmit lewat email oleh ybs., atau malah harus mengisi semacam form isian di situs aplikasi universitas. Tapi yang utama selalu ada poin2 berikut:</p>
<ul>
<li>Nama dan jabatan/profesi pemberi referensi</li>
<li>Hubungan pemberi referensi dengan kita, berapa lama kenal/bekerja sama</li>
<li>Kemampuan komunikasi, intelektual, analisis, dan kelebihan serta (mungkin) kekurangan kita menurut pemberi referensi</li>
<li>Kesimpulan, apakah pemberi referensi merekomendasikan kita untuk menjalani studi di jurusan yang kita <em>apply</em> itu</li>
</ul>
<p>Untuk referensi akademis, saya berusaha menghubungi profesor yang pernah membimbing saya menulis <em>Studienarbeit</em> alias &#8220;Tugas Kecil&#8221;. Beliau juga pernah mengajar berbagai mata kuliah selama 3 semester. <em>Secara</em> saya sudah hampir sepuluh tahun meninggalkan kampus (yup, udah tua kan gue!), agak susah juga mencari profesor yang tersisa. Alhamdulillaah, <strong>Prof.Dr.A.Oehler</strong> masih ingat sama saya, bahkan sama topik tugas yang pernah saya tulis di bawah bimbingan beliau. </p>
<p>Sementara untuk referensi dari kantor, saya minta kesediaan dua orang. Yang pertama tentunya kepala divisi saya saat itu. Yang kedua adalah seorang <em>partner in crime</em> dalam hal ngegaring dan nge<em>junk</em> di status FB <em>that happened to be my supervisor for seven years</em>. Yup, <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1412492592">Oom Aji</a> =))
</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Celoteh/~4/dUejOKw6aoE" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&amp;p=282</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=282</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>ngebut menuju beasiswa (4) - IELTS</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Celoteh/~3/kZ_0_-BUF30/</link>
		<comments>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=281#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Jul 2009 10:28:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanti</dc:creator>
		
		<category>keseharian</category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=281</guid>
		<description><![CDATA[Untuk butir yang pertama dari to do list, saya putuskan untuk mengambil tes IELTS di IDP Bandung. Karena pendaftaran di universitas-universitas di Australia rata2 tutup akhir April atau pertengahan Mei, saya mencari tes yang diadakan beberapa hari ke depan. Pokoknya ASAP! 
Menurut website, ada tes IELTS yang akan diadakan di Bandung hari Sabtu berikutnya, 4 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="first">U</span>ntuk butir yang pertama dari <a href="http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=280"><em>to do list</em></a>, saya putuskan untuk mengambil tes <a href="http://www.ielts.org">IELTS</a> di <a href="http://www.indonesia.idp.com/our_branches/bandung.aspx">IDP Bandung</a>. Karena pendaftaran di universitas-universitas di Australia rata2 tutup akhir April atau pertengahan Mei, saya mencari tes yang diadakan beberapa hari ke depan. Pokoknya <em>ASAP</em>! </p>
<p>Menurut <a href="http://www.indonesia.idp.com/ielts_information_2009/jadwal_tes_ielts_2009.aspx">website</a>, ada tes IELTS yang akan diadakan di Bandung hari Sabtu berikutnya, 4 April. <a href="http://www.ets.org/toefl/">International TOEFL</a> juga ada sih di Bandung, tapi IELTS bisa <em>paper-based</em> (TOEFL hanya bisa <em>internet-based</em>, males ah). Saya ingat banget, Kamis saya wawancara di Depkominfo. Hari Jumat pagi saya telepon IDP Bandung, diminta untuk telepon lagi jam 9 karena petugas IELTSnya baru datang jam segitu. Tepat jam 9 saya telepon lagi.</p>
<p><strong>Saya (Y)</strong>: <em>Mba masih bisa daftar IELTS untuk tanggal 4 besok?</em><br />
<strong>Mbaknya (M)</strong>: Boleh, paling lambat hari ini jam 10 ya<br />
<strong>Y</strong>: <em>HAH? Satu jam lagi?</em><br />
<a id="more-281"></a><strong>M</strong>: Iya<br />
<strong>Y</strong>: <em>OK deh mba saya sekarang ke sana</em><br />
<strong>M</strong>: Caranya harus bayar biayanya dulu mba, ke <a href="http://www.commbank.co.id">Commonwealth Bank</a> yang di Asia Afrika. Nomor <em>account</em>nya punya?<br />
<strong>Y</strong>: <em>Iya ini nemu di website</em><br />
<strong>M</strong>: Biayanya USD 180 ya, nanti tanya kurs saat ini berapa, bayarnya ke <em>account</em> yang rupiah.<br />
<strong>Y</strong>: (lemes) <em>OK deh mba, makasih ya<br />
</em><br />
Jadi bisa diduga, langkah berikutnya saya ke ATM di depan kantor. Tarik 2,2 juta rupiah, lalu NGEBUT sengebut2-nya ke Asia Afrika. Duh mana harus nunggu satu orang lagi pula di <em>teller</em>. Setelah urusan duit selesai, saya ngebut sambil pasrah ke IDP di Sulanjana. Sampai di IDP, jamnya Neng Desi bilang sudah jam 10:05. </p>
<p>Jadi begitu masuk, saya langsung nanya ke mbak2 yang menerima saya, <em>&#8220;Mba, kalo di sini udah jam 10 belum?&#8221;</em><br />
<strong>Mbaknya (M)</strong>: (bingung) Udah, kenapa emang mba?<br />
<strong>Y</strong>: <em>Mau daftar IELTS buat besok masih bisa?</em><br />
Mbak yang di depan memandang Mbak Petugas IELTS.<br />
Dan Mbak Petugas IELTS mengangguk!!!! Aduh, girangnya dakuuuu!!!</p>
<p><span class="first">S</span>aya cuma punya waktu satu hari buat mempersiapkan diri. Nggak main2, mempertaruhkan biaya tes sebesar dua juta lebih, bukan uang yang sedikit untuk saya. Tapi saya harus tetap optimis dan semangat kan? (lirik para motivator)</p>
<p>Pertama2, cari tahu tentang apa itu IELTS. Baca2 di <a href="http://www.ielts.org/PDF/Information_for_Candidates_2007.pdf">brosur resmi</a>nya, ya mirip jugalah dengan TOEFL. <strong>Persamaannya</strong>, </p>
<ul>
<li>Seperti juga International TOEFL, IELTS adalah tes bahasa Inggris untuk orang2 yang berbahasa ibu non-Inggris. Berlaku dua tahun, dan lumayan mahal, hehe.. </li>
<li>Sama2 menguji kemampuan membaca, mendengar, berbicara dan menulis dalam bahasa Inggris. Ini bedanya dengan Institutional TOEFL yang banyak diselenggarakan oleh lembaga2 bahasa: ada komponen berbicara dan menulis, dan nggak terlalu mementingkan tatabahasa (<em>grammar</em>).</li>
<li>Skor International TOEFL dan IELTS pun sama2 dirinci untuk setiap bagian (<em>reading, listening, writing, speaking</em>), selain tentu ada skor totalnya.</li>
</ul>
<p><strong>Perbedaannya</strong>:</p>
<ul>
<li>TOEFL lebih fokus ke penggunaan akademis, sementara IELTS punya dua macam tes: <em>academic</em> dan <em>general purpose</em>.</li>
<li>TOEFL di Indonesia harus <em>internet-based</em>, termasuk <em>speaking</em>-nya (tapi tetap hanya bisa dilakukan di tempat2 tertentu). IELTS bisa <em>paper-based</em> dan <em>speaking</em>-nya <em>one-on-one</em> dengan seorang <em>native speaker</em>.</li>
<li>TOEFL itu berbasis Amerika Utara, sementara IELTS berbasis Inggris, Australia dan negara2 Commonwealth lainnya.</li>
<li>Skala skor IELTS adalah 1 sampai 10. Sebagian besar universitas di Australia mensyaratkan skor minimal 6,5 dengan nilai <em>writing</em> minimal 6.</li>
</ul>
<p>Sebaiknya memang persiapan untuk menjalani sebuah tes dilakukan sejak jauh2 hari. Ada tips yang bisa dipraktekkan di <a href="http://about-scholarship.com/blog/2009/04/bagaimana-tips-supaya-nilai-toeflielts-bisa-bagus/">sini</a>. Sayangnya saya nggak sempat melakukan itu semua. Tapi saya nemu sebuah <a href="http://www.ielts-exam.net/">situs</a> yang sangat berguna untuk mengetahui tipe soal IELTS dan latihan sampe <em>m&eacute;jr&eacute;t</em>. Terutama saya memfokuskan diri pada latihan menulis dan mempersiapkan beberapa topik untuk <em>speaking</em>.</p>
<p><span class="first">A</span>pa daya, sejak Jumat sore Naila panas. Alhasil saya cuma sempat belajar sebentar di kantor. Malamnya ya boro2. Sabtu pagi itu, setelah mengantar saya ke tempat tes di TBI Dipati Ukur, Abang membawa Naila ke dokter. Parahnya lagi, Minggu pagi Naila mimisan, padahal Minggu siang itu saya tes <em>speaking</em>! Haduuuh, gini emang jadi ibu2 <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' />  .</p>
<p><em>Secara</em> Naila nggak pernah mimisan sebelumnya, saya dan Abang membawa Naila ke dokter, lalu tes darah karena khawatir demam berdarah. Alhamdulillaah thrombositnya masih normal. Semua orang menenangkan saya: Naila <em>will be just fine</em>, mereka akan menjaga Naila selama saya tes. Saya berusaha tenang dan menjalani tes <em>speaking</em> jam dua siang itu, dengan hati super deg2an (yang tentunya bukan karena tegang mau ujian!). Saya ingat kebagian topik tentang sport, dan kemudian mengarah kepada sport dan anak2. </p>
<p>Entahlah, rasanya semua sudah diatur oleh Sang Maha Pengatur. Saya &#8220;tinggal&#8221; melakukan semaksimal yang saya bisa, berdoa sebanyak yang saya bisa, dan minta didoakan oleh orang2 yang menyayangi saya. Saya hanya minta diberi yang terbaik, karena Dia Maha Mengetahui, apakah sebaiknya saya lolos atau nggak.</p>
<p><strong><em>Moral of the story</em>: persiapan jauh2 hari SELALU lebih baik</strong>. Terhindar dari resiko diserempet angkot atau nyerempet BMW (amit2), dan bisa belajar lebih banyak walaupun pas <em>last minute</em> anak sakit.
</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Celoteh/~4/kZ_0_-BUF30" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&amp;p=281</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=281</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>ngebut menuju beasiswa (3) - wawancara</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Celoteh/~3/uZhUgdfQtmI/</link>
		<comments>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=280#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Jul 2009 08:54:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanti</dc:creator>
		
		<category>keseharian</category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=280</guid>
		<description><![CDATA[Yuk, lanjut lagi ngebutnya. Saya ternyata dipanggil wawancara oleh panitia beasiswa. Agak susah dipercaya, mengingat hasil TOEFL dan TPA baru saya kirimkan di awal minggu itu.
To be honest, I&#8217;m not a big fan of interviews. Saya nggak pintar ngomong, nggak pintar &#8216;menjual&#8217; kelebihan. Tapi seorang teman saya bilang, yang penting jadi diri sendiri. Yanti yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="first">Y</span>uk, lanjut lagi ngebutnya. Saya ternyata <a href="http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=279">dipanggil wawancara</a> oleh panitia beasiswa. Agak susah dipercaya, mengingat hasil TOEFL dan TPA baru saya kirimkan di awal minggu itu.</p>
<p><em>To be honest, I&#8217;m not a big fan of interviews</em>. Saya nggak pintar ngomong, nggak pintar &#8216;menjual&#8217; kelebihan. Tapi seorang teman saya bilang, yang penting jadi diri sendiri. Yanti yang menyenangkan buat diajak ngobrol, dan coba sembunyikan dulu itu garing dan judesnya, hehe.</p>
<p>Tanggal 2 April saya datang ke Gedung Depkominfo di Medan Merdeka. Ketemu dan ngobrol2 dengan kandidat2 lain, antara lain dgn <a href="http://www.facebook.com/home.php#/profile.php?id=1316079734">Didin</a> yg ternyata temannya adik ipar saya (Bandung memang cuma selebar kolor superman), dan dgn <a href="http://www.facebook.com/dewi.muthia">Muthia</a> yg maniiiis. Ih, ternyata saya termasuk <strong>golongan manula untuk ukuran kandidat S2</strong>. Yang lain rata2 angkatan 2000an dan umurnya belum 30. Humm, kebayangnya saya lagi jadi tomat merah-tua-menjelang-busuk di antara tomat2 lain yang baru mau jadi merah, hehe.</p>
<p><a id="more-280"></a><br />
Wawancara itu sendiri, alhamdulillah lancar2 saja. Bu Gati dan rekannya - seorang bapak yang saya lupa namanya - malah banyak memberi bumbu ketawa. Wawancara yang berlangsung sekitar 30 menit dalam bahasa Inggris itupun jadi nggak terlalu menegangkan. Pertanyaannya seputar motivasi kenapa saya mau sekolah lagi, kenapa saya mengambil jurusan IT, lalu apa saja pengalaman saya di dunia kerja, dan kenapa saya selingkuh dari dunia <em>telco</em> ke dunia IT.</p>
<p><strong><em>To do list </em></strong></p>
<p>Entah kenapa optimisme saya bangkit saat wawancara itu. Tiba2 saya merasa punya peluang yang cukup besar. Apalagi saat di akhir wawancara, Bu Gati bilang, &#8216;<em>Wah ini Yanti harus cepat2 cari sekolah nih. Kan kalau diterima, harus berangkat tahun ini</em>&#8216;.</p>
<p>Saya jadi panik sendiri. Nggak ada yang bisa diajak ikut panik. Dan panik ini benar2 saya buat sendiri. Salah sendiri kemarin2 itu saya nggak cepat2 cari sekolah sejak awal daftar beasiswa. Hmm, tapi kan saya nggak akan ngira kalau punya peluang diterima. Wek <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/tongue.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Terhitung sejak malam itu, saya jadi rajin bergadang. Tau sih, kata Bang Haji nggak boleh. Tapi ini ada tujuannya kok: <em>browsing</em>2 sekolah. Seperti sudah saya ceritakan sebelumnya, negara tujuan studi haruslah salah satu dari yang sudah ditetapkan Depkominfo: Inggris, Belanda, Perancis, Swedia atau Australia. Universitasnya pun sudah tertentu, seperti yang ada dalam <em>shortlist</em>.</p>
<p>Saya memilih Australia krn dekat, jadi harga tiket kalau2 mau pulang liburan pun masih terjangkau (Abang nggak bisa ikut, ingat kan?). Abang juga usul untuk mencari sekolah di Inggris, karena program master di sana hanya setahun.<br />
Jadi saya kombinasikan: prioritas pertama ada pada <strong>program2 master of IT di Australia yang lamanya cuma setahun, dan harus ada dalam <em>shortlist</em> universitas</strong> dari Depkominfo. Misalnya di <a href="http://www.usyd.edu.au/courses/?detail=1&#038;course_sef_id=Master_of_Information_Technology_420">University of Sydney</a>.</p>
<p>Terlepas dari ke universitas manapun saya memasukkan aplikasi, ada beberapa hal yang harus saya persiapkan:<br />
1. Tes bahasa Inggris yang diakui internasional, International TOEFL atau IELTS<br />
2. Terjemahan ijasah<br />
3. Rekomendasi (termasuk minimal satu dari profesor ketika studi S1 dulu)<br />
4. Essay<br />
5. Paspor, kalau2 jadi berangkat</p>
<p>Whoa, banyak ya PR saya. Di tulisan berikutnya ya <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />
</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Celoteh/~4/uZhUgdfQtmI" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&amp;p=280</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=280</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>ngebut menuju beasiswa (2) - TOEFL dan TPA</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Celoteh/~3/gLYVcA6rRRs/</link>
		<comments>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=279#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Jun 2009 15:19:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanti</dc:creator>
		
		<category>keseharian</category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=279</guid>
		<description><![CDATA[Mari kita lanjutkan acara kebut2an.
Untuk melengkapi persyaratan aplikasi beasiswa Depkominfo, saya harus melakukan tes TOEFL dan TPA. Tes TOEFL cukup yang berjenis ITP (Institutional Test Program), alias yang dilakukan oleh institusi lokal dan biasanya hanya berlaku lokal juga. Seperti sudah saya ceritakan sebelumnya, saya sudah daftar TOEFL di UPT Bahasa ITB.
Pada hari yang ditentukan, sekitar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="first">M</span>ari kita lanjutkan acara <a href="http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=278">kebut2an</a>.</p>
<p>Untuk melengkapi persyaratan aplikasi beasiswa Depkominfo, saya harus melakukan tes TOEFL dan TPA. Tes TOEFL cukup yang berjenis <a href="http://www.ets.org/portal/site/ets/menuitem.1488512ecfd5b8849a77b13bc3921509/?vgnextoid=ebe32d3631df4010VgnVCM10000022f95190RCRD&#038;vgnextchannel=fe117f95494f4010VgnVCM10000022f95190RCRD">ITP</a> (<em>Institutional Test Program)</em>, alias yang dilakukan oleh institusi lokal dan biasanya hanya berlaku lokal juga. Seperti sudah saya ceritakan <a href="http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=278">sebelumnya</a>, saya sudah daftar TOEFL di <a href="http://www.lc.itb.ac.id/">UPT Bahasa ITB</a>.</p>
<p>Pada hari yang ditentukan, sekitar akhir Februari, saya menjalani test TOEFL tersebut. Benar2 tanpa persiapan, karena entah kenapa, malam sebelumnya saya malaaaaaas banget belajar. Jangan ditiru ya <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> . Dan jangan dikira perjalanan kali ini bebas kebut2an loh.. Saya berangkat rada mepet dari kantor, dan berakibat pensil 2B saya ketinggalan! Ampun Nyaaahh!!!!!</p>
<p><a id="more-279"></a><br />
Jadi saya setengah lari2 dari tempat saya memarkir Neng Desi di pinggiran masjid Salman, ke kantin seberang lapangan basket untuk beli pensil. Lalu lari2 ke Labtek VIII, sekedar untuk tahu ruang tesnya. Lari2 lagi ke <em>basement</em> tempat diselenggarakannya tes. Dengan <em>high heels</em> ya, catat, <em>secara</em> saya memang jarang banget nggak pakai <em>high heels</em>. Alhamdulillaah, walaupun keringatan dan kaki pegal (tapi belum berhasil bikin saya kurusan) saya masih bisa menjalani tes dengan baik. Bahkan saat dua minggu kemudian hasilnya keluar, alhamdulillaah skor saya lumayan banget.</p>
<p><strong>Tes Potensi Akademik (TPA)</strong></p>
<p>Kali ini nggak pakai ngebut dong ah! Cape kaliii, ngebut mulu!</p>
<p>Jadi seminggu sebelum tes, saya beli buku contoh soal TPA di toko buku dekat rumah. Malam sebelum  berangkat ke Jakarta, saya dengan tertib berlatih mengerjakan soal. Nggak lama2 sih, sekitar 2 jam doang, untuk mengetahui <em>big picture</em> tesnya kira2 seperti apa. Besoknya saya pulang kantor lebih cepat, lalu  naik <a href="http://www.cititrans.co.id/">travel</a> ke Jakarta.</p>
<p>Tes Potensi Akademik adalah semacam tes <a href="http://www.ets.org/portal/site/ets/menuitem.fab2360b1645a1de9b3a0779f1751509/?vgnextoid=b195e3b5f64f4010VgnVCM10000022f95190RCRD">Graduate Record Examination</a> (GRE) versi Indonesia. Terdiri dari empat bagian besar yang harus dikerjakan selama kira2 3 jam, yaitu
<ol>
<li><strong>Verbal (bahasa)</strong>, meliputi tes sinonim (persamaan kata), antonim (lawan kata), padanan hubungan kata, dan pengelompokan kata. </li>
<li><strong>Numerik (angka)</strong>, meliputi tes aritmetik (menghitung), deret angka dan huruf, logika angka dan soal berhitung dalam cerita</li>
<li><strong>Logika</strong>, meliputi tes logika umum, analisis pernyataan dan kesimpulan (silogisme), logika cerita dan tes logika diagram (semacam diagram Venn)
</li>
<li><strong>Spasial(gambar)</strong>, meliputi padanan hubungan gambar, deret gambar, pengelompokan gambar, bayangan gambar dan identifikasi gambar. </li>
</ol>
<p>Menurut saya sih TPA nggak yang susaaaaah banget gitu, TAPI soalnya banyaaaaaaaaaaakkkkkk banget. Asli. Jadi nggak perlu khawatir kalau nggak bisa mengerjakan semua soal, karena sepertinya hampir nggak ada orang yang bisa mengerjakan semua soal kecuali yang jenius atau menghitung kancing. Cuma satu hal nih, mungkin karena saya cewe yg KATANYA secara kodrati kecerdasan spasialnya lebih lemah dibanding cowo, soal2 yang benda diputar2 (bayangan dan identifikasi) itu bener2 KARTU MATI buat saya, haha!</p>
<p>Sekedar tips:</p>
<ul>
<li>Sering2 latihan kali ya, soalnya kan muter2 di situ2</li>
<li>Jangan tergoda untuk <em>ngulik</em> di satu soal. Kerjakan yg bisa dulu, karena semua soal kan bobotnya sama</li>
<li>Kalau ada yang bisa dikira2 ya dikira2 aja, kalau dihitung malah kelamaan <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/grin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </li>
<li>Hafalkan bilangan 2 pangkat 1-10 sama 3 pangkat 1-5, juga kuadrat bilangan 1-20. Ini mempersingkat waktu coret2 <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/grin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </li>
<li>Ingat2 aritmetika dasar seperti pecahan, persentase</li>
<li>Tenang, nggak akan ada kalkulus rumit. Paling banter persamaan kuadrat, persamaan dengan 2 variabel, akar kuadrat, dan menghitung pecahan</li>
<li><em>Be creative</em> dalam menjawab soal2 deret</li>
<li>Khusus untuk tes verbal, sering2 baca koran atau majalah2 yg sering memuat istilah2 asing, dan pahami benar padanan artinya dalam bahasa Indonesia.</li>
</ul>
<p>Yang berhak mengadakan TPA ini adalah OTO (<em>Overseas Training Office</em>) <a href="http://pusbindiklatren.bappenas.go.id">Bappenas</a>. Jadi semua penyelenggara TPA, misalnya panitia seleksi S2 di universitas2, selalu bekerja sama dengan OTO Bappenas ini. Kita bisa saja ikut TPA di manapun, karena selama penyelenggaranya bekerja sama dengan Bappenas, pasti skornya diakui sebagai skor TPA yang sah. Informasi tentang jadwal TPA bisa didapat di  021-3911627. Waktu itu saya ikut di kelas jauh <a href="http://www.mmugm.ac.id/index.php?Itemid=143&#038;id=38&#038;option=com_content&#038;task=view">MM UGM</a> di Jakarta, biayanya sekitar 350 ribu rupiah. </p>
<p><strong>Dan hasilnya&#8230;</strong></p>
<p>Singkat kata, dua minggu kemudian saya sudah punya skor TOEFL dan TPA seperti yang disyaratkan Depkominfo. Lumayan banget ternyata, daripada lumanyuuuun.. Hasil2 tes segera saya fotokopi dan kirimkan ke panitia beasiswa. Seingat saya hari itu hari Selasa. Perkiraan saya sih Kamis tentunya panitia sudah menerima berkas2 tersebut. </p>
<p>Jumat jam lima sore, saya mendapat email undangan untuk wawancara di Depkominfo tanggal 2 April. Yang artinya saya sudah lolos seleksi tahap pertama. Jreng jreng!
</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Celoteh/~4/gLYVcA6rRRs" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&amp;p=279</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=279</feedburner:origLink></item>
	</channel>
</rss>
