<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7221655881315686900</id><updated>2024-09-01T07:34:17.694-07:00</updated><category term="hindu"/><category term="Agama"/><category term="Siwa"/><category term="Tuhan"/><category term="cerita"/><category term="Aham"/><category term="Ansuman"/><category term="Asmi"/><category term="Asvamedha"/><category term="Ayodya"/><category term="Brahma"/><category term="Brahman"/><category term="Buddha"/><category term="Buleleng"/><category term="Endih"/><category term="Etika"/><category term="Gangga"/><category term="Gede Prama"/><category term="Indra"/><category term="Kahyangan Jagat"/><category term="Kristen"/><category term="Leak"/><category term="Penataran"/><category term="Pengendalian Diri"/><category term="Pura"/><category term="Sagara"/><category term="Sasih"/><category term="Tampaksiring"/><category term="Toleransi"/><category term="Vihara"/><category term="aksara"/><category term="anand khrisna"/><category term="atma"/><category term="bali"/><category term="bekal"/><category term="cecak"/><category term="cerdik"/><category term="dharma"/><category term="goraksya"/><category term="hakikat"/><category term="ilmu"/><category term="imanen"/><category term="kematian"/><category term="krsi"/><category term="nachiketas"/><category term="neraka"/><category term="niskala"/><category term="pagerwesi"/><category term="pengetahuan"/><category term="saraswati"/><category term="surga"/><category term="tengenan"/><category term="transenden"/><category term="wanijyam"/><title type='text'>Cerita Hindu</title><subtitle type='html'>Berbagai cerita tentang Hindu, juga Pura-pura yang tersebar di seluruh Indonesia lengkap dengan link situs-situs Hindu yang lain.&#xa;&#xa;Jayalah Hindu!!</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ceritahindu.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default?redirect=false'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritahindu.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false'/><author><name>denny0214</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877375447862611766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhoSI_DsGS4z54FdqJXbg2ln57_qhjrAwp_xQ_etL6JAseIPQ4ZQpXvNgFR1E762oGGfdo1RJKWvbrN6rqAyeGzP9fZRs5XYgV8zsJlhEdAncYPBcuz9JVjgxBPVjZpeg/s220/100_3522.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>98</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7221655881315686900.post-7013122265018525911</id><published>2016-05-03T23:28:00.002-07:00</published><updated>2016-05-03T23:28:29.781-07:00</updated><title type='text'>SESUNGGUHNYA SEMUA INI ADALAH TITIPAN DARI HYANG KUASA</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Om Swastiastu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Jangan henti-hentinya memohon Petunjuk, Bimbingan dan Tuntunan ke hadapan Hyang Maha Kuasa, agar kita dapat mengarungi hidup ini di jalur yang benar, sehingga kita dapat berlabuh di pulau harapan kita sekaligus sebagai pulau asal kita.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Banyak sekali contoh yang dapat kita lihat dalam kehidupan ini di masyarakat, seperti; Dulunya dia seorang yang amat ditakuti di masyarakat karena badannya kekar, lengannya besar-besar dan sering bertindak arogansi. Namun tidak lebih dari 15 tahun berlalu, dia menjadi renta. Jangankan memukul orang lagi, jalan saja sudah pakai tongkat. Dulu dia sangat disegani karena kekayaannya berlimpah, namun pelitnya tak ketulungan. Namun tidak lebih dari 15 tahun berlalu dia menjadi orang sakit-sakitan dan tidak bisa makan nasi (makanan mewah), akhirnya dia hanya bisa makan sepotong kentang dan sayur rebus tanpa bumbu. Dulu dia adalah seorang penguasa hebat, maka banyak orang takut sama dia, karena tindakannya sewenang-wenang. Namun hal itu hanya berlangsung 10 tahun, setelah itu dia tidak bisa diterima di lingkungannya termasuk dalam lingkungan keluarganya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Akhirnya saya pernah membaca di dalam kitab Sarasamuscaya Bab, MERTYU. Disitu tertera disalah satu pasal slokanya, sebagai berikut;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&quot;WALAUPUN KAU DAPAT MENJADI PENGUASA DI BUMI YANG BULAT INI, DENGAN KEKAYAAN YANG BERLIMPAH, DAN DI DAMPINGI ISTRI CANTI-CANTIK SELUSIN, MAKA PADA SAATNYA NANTI DATANG KEMATIAN YANG MENJEMPUTMU, KEKUASAAN, HARTA BENDA, DAN ISTRI CANTIK TIDAK BISA MENUNDANYA/MENOLONG DIRIMU.&quot;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menyimak isi dari bacaan tersebut di atas maka kita di suruh HARUS INGAT DENGAN KEMATIAN ITU ADALAH TEMAN SETIA DARI KEHIDUPAN KITA. Walaupun kedatangannya tidak kita ketahui secara pasti, namun yang pasti dia (kematian) itu pasti akan datang. Setelah dia datang semua yang kita agung-agungkan semasih hidup seperti kekayaan, kekuasaan, kemewahan, semuanya tidak ada artinya bagi kita. Semua akan ditinggal disini, termasuk badan yang kita manfaatkan setiap saat diwaktu masih hidup akan ditinggalkan disini.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mereka yang bijaksana mengatakan bahwa; Yang kita bisa bawa pulang ke alam sana hanyalah Karma. Apa itu karma baik (subhakarma) atau karma buruk (asubhakarma). Lalu apa kaitannya dengan kekusaan, kekayaan, dan badan sehat kuat? Sesungguhnya itu adalah sebuah titipan dari Hyang Kuasa untuk kita sampaikan kepada saudara kita yang memerlukan dalam kehidupan disini.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Contoh; Bagi mereka yang dalam hidupnya di sini menjadi penguasa, itu titipan dari Tuhan agar mereka menjalankan swadharmanya sebagai pelayan rakyat dan dapat membahagiakan rakyat. Kalau mereka sadar dan melakukan hal seperti itu, maka mereka sudah berjalan di atas Subhakarma, andai kata mereka tidak menjalankan tugas seperti itu, mereka berjalan diatas jalan Asubhakarma. Inilah yang kan mereka bawa nantinya setelah kematian itu datang menjemputnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Demikian pula kekayaan, semuanya itu adalah titipan sekaligus kesempatan kita untuk meraih Subhakarma, kalau kekayaan itu dimanfaatkan untuk membantu saudara kita yang sangat memerlukan atau digunakan untuk kepentingan orang banyak. Dengan sendirinya semuanya itu didasari oleh logika pemanfaatan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
BILA ADA SEORANG REMAJA JIJIK MELIHAT ORANG TUA RENTA, MAKA ORANG TERSEBUT TIDAK SADAR BAHWA DIRINYA AKAN SEPERTI ITU NANTINYA, KARENA HIDUPNYA DITEMANI OLEH KESOMBONGAN.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Keremajaan itu sifatnya hanya sementara, maka gunakanlah keremajaan itu untuk meraih Subhakarma. Demikian pula mereka yang mendapat titipan kepintaran, bagilah kepintaran itu untuk mereka yang memerlukan, sehingga dari kepintaran kita dapat Subhakarma.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Jadi apa yang kita dapati dalam hidup ini adalah sarana untuk mendapatkan Subhakarma sebagai bekal mudik nanti. Demikian sebaliknya bila kita tidak merasakan itu sebuah titipan dan merasa itu milik kita maka semuanya itu merupakan sarana untuk mendapatkan Asubhakarma, juga sebagai bekal mudik nanti.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Demikianlah tulisan ini saya buat agar dapat digunakan sebagai bahan renungan, di dalam kita melakoni hidup ini. Terima kasih atas perhatian saudara-saudara.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Om Santih, Santih, Santih, Om&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://www.facebook.com/Ida.Pedanda.Gunung/posts/700075003463188&quot;&gt;Sumber&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritahindu.blogspot.com/feeds/7013122265018525911/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/7221655881315686900/7013122265018525911?isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/7013122265018525911'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/7013122265018525911'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritahindu.blogspot.com/2016/05/sesungguhnya-semua-ini-adalah-titipan.html' title='SESUNGGUHNYA SEMUA INI ADALAH TITIPAN DARI HYANG KUASA'/><author><name>denny0214</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877375447862611766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhoSI_DsGS4z54FdqJXbg2ln57_qhjrAwp_xQ_etL6JAseIPQ4ZQpXvNgFR1E762oGGfdo1RJKWvbrN6rqAyeGzP9fZRs5XYgV8zsJlhEdAncYPBcuz9JVjgxBPVjZpeg/s220/100_3522.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7221655881315686900.post-2988692117597152376</id><published>2016-05-03T23:23:00.000-07:00</published><updated>2016-05-03T23:23:07.881-07:00</updated><title type='text'>MARI MERENUNG SEJENAK.</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Om Swastiastu&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setelah beberapa lama saya tidak pernah menulis di forum ini dikarenakan adanya tugas lain yang tidak bisa diwakilkan, maka pada kesempatan ini saya kembali ingin menulis disebabkan oleh rasa prihatin dan rasa kasihan mengamati situasi kehidupan kita seperti sekarang terutama di Bali. Sehingga tulisan saya ini semata-mata mengajak saudara-saudara yang memiliki pemikiran sejenis dengan saya, sehingga saya sama sekali tidak ada keinginan untuk berdebat atau saling adu argumentasi terkait dengan apa yang saya tulis di forum ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Akhir-akhir ini pikiran saya selaku seorang Wiku betul-betul merasakan sesuatu yang kurang bagus di dalam kehidupan kita, yang nota bene kita sedang berada di jaman modern, di jaman globalisasi dan jaman yang sedang masuknya kita ke dalam era globalisasi ekonomi. Yang mana menurut hemat saya kita semestinya berpacu di dalam meningkatkan kualitas diri, meningkatkan SDM, untuk dapat berkompetisi di jaman itu.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Namun yang terjadi kenyataannya adalah &quot;berbanding terbalik&quot;, semakin hari saya baca di media masa terjadi tindakan atau perilaku yang mencirikan terjadinya degradasi moral, antara lain; pencurian, penculikan, perampokan, pemerkosaan, pembuangan bayi dan yang terakhir saya baca di koran terjadinya bentrok sampai adanya korban jiwa. Kenapa sampai hal itu bisa terjadi di alam modern, dalam manusia meyakini kebesaran dan Meyakini kekuasaan Tuhan?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Untuk itulah yang merupakan awal keinginan saya menulis disini dengan judul &quot;MARI MERENUNG SEJENAK&quot;. Saudara-saudara yang saya cintai, mungkin karena kita belum pernah merenung yang merupakan salah satu unsur terjadinya perilaku seperti itu. Maka dengan sangat rendah hati saya mengajak saudara-saudara tercinta untuk merenung sejenak sambil bertanya kepada diri kita, dan sambil pula mencari jawabannya sendiri.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Adapun hal yang dijadikan pettanyaan dan untuk kita terus mencari jawabannya adalah sebagai berikut:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1. SIAPAKAH DAN APAKAH DIRIKU INI?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2. UNTUK APAKAH AKU HIDUP DI ALAM INI?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
3. SETELAH KU HIDUP DI SINI MAU KEMANA AKU?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
4. BILA AKU KE SANA NANTI APA SAJA YANG BISA AKU BAWA KE SANA?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Empat pertanyaan ini pula yang saya jadikan dasar renungan saya setiap hari. Sehingga sejalan dengan mencari jawabannya sendiri maka yang saya rasakan adalah sedikit demi sedikit muncul kesadaran saya untuk memaknai hidup saya ini. Kadang-kadang setelah merenung saya mencari jawabannya di buku-buku, dan bertanya kepada sudara kita yang saya anggap mengetahui, serta tidak henti-hentinya saya berdiskusi dengan saudara saudara yang memiliki pikiran sejalan dengan saya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Saya pernah dikasi tahu oleh orang tua saya bahwa kita manusia adalah satu-satunya makhluk yang amat disayang oleh Tuhan, sehingga hanya kita manusia dianugrahi kemampun untuk berpikir, dengan harapan kita manusia dapat menolong diri kita sendiri dari jeratan jurang neraka, dan hanya kita sendiri dapat menciptakan diri kita mau jadi apa nantinya. Jadi kemampuan berpikir itu bukan digunakan untuk menjadikan diri kita lebih jelek dari sekarang, semestinya kemampuan untuk berpikir itu untuk meningkatkan kehidupan kita di masa datang. Maka dari itulah kita seharusnya mencari jawaban dari bahan renungan diatas tadi. Sehingga mampu memunculkan dan menumbuh kembangkan kesadaran kita untuk mencapai kehidupan yang damai. Hanya kita manusia yang sadar akan mampu memunculkan kedamaian dalam hidup ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tangga menuju hidup yang damai adalah;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1. Yakin dan Bhakti terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa dan leluhur.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2. Cinta sesama manusia tidak pandang Ras, suku dan agama.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
3. Kasih kepada lingkungan dimana kita berada.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mungkin dengan uraian saya diatas saudara-saudara akan bertanya: Apakah Pedanda sudah melaksanakan itu ? Jawabannya SUDAH, walaupaun belum seratus persen namun kehidupan saya sudah mengarah ke jalan itu. Kedamaian yang terjadi di suatu daerah atau di suatu Negara itu berasal dari kedamaian pribadi-pribadi orangnya. Kalau masing-masing orang sudah mendambakan kedamaian dan menciptakan kedamaian dalam hidupnya, maka apakah dia sebagai anggota keluarga, anggota masyarakat, bangsa di suatu negara, secara bersama-sama akan merasakan kedamaian itu.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Adakah diantara kita yang tidak senang DAMAI ? Saya kira semua kita ingin hidup damai, maka dari itu marilah kita menciptakan kedamaian dalam hidup kita ini dengan syarat seperti yang saya tulis diatas. Bersamaan dengan itu saya menghimbau &quot;SANG RUMAGA CATUR GURU, PATUT TALER MIKAYUNI INDIKE PUNIKI &quot;.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Terakhir saya akan mengajak saudara untuk selalu memerangi sifat jahat yang ada pada diri kita. Demikianlah renungan yang saya tulis disini semoga ada gunanya, Mari kita resapi satu persatu lirik dari lagu kebangsaan kita Lagu Indonesia Raya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Om Santih, Santih, Santih, Om.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://www.facebook.com/Ida.Pedanda.Gunung/posts/693503780786977&quot;&gt;Sumber&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritahindu.blogspot.com/feeds/2988692117597152376/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/7221655881315686900/2988692117597152376?isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/2988692117597152376'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/2988692117597152376'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritahindu.blogspot.com/2016/05/mari-merenung-sejenak.html' title='MARI MERENUNG SEJENAK.'/><author><name>denny0214</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877375447862611766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhoSI_DsGS4z54FdqJXbg2ln57_qhjrAwp_xQ_etL6JAseIPQ4ZQpXvNgFR1E762oGGfdo1RJKWvbrN6rqAyeGzP9fZRs5XYgV8zsJlhEdAncYPBcuz9JVjgxBPVjZpeg/s220/100_3522.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7221655881315686900.post-9168467841755748881</id><published>2016-05-03T23:17:00.001-07:00</published><updated>2016-05-03T23:17:06.943-07:00</updated><title type='text'>TUKANG OJEK</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
OM SWASTIASTU&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Selamat ketemu lagi teman-teman, sudah berapa lama kita tidak ketemu karena masing-masing punya kegiatan yang tidak bisa diwakilkan, terutama saya di dalam melayani umat. Pada kesempatan ini saya ingin memnyampaikan cerita singkat judulnya tentang TUKANG OJEK. Sebab saya sangat tertarik dengan pekerjaan seperti tukang ojek, sebab banyak sekali kita ditolong oleh tukang ojek, namun kali ini di dalam cerita saya ini mengenai tukang ojek yang beda dengan teman-teman se-profesinya. Saya punya harapan agar teman-teman yang mebaca cerita ini mau menelaah, dan mengambil maknanya dan selanjutnya dapat mempraktekan di dalam kehidupan sehari-hari.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ceritanya begini; Pada satu Desa yang agak masuk ke pedalaman dari jalan protokol, kira-kira jaraknya 4 km, ada salah satu dari penduduk di sana mau mengambil pekerjaan jadi tukang ojek, kebetulan dia punya sepeda motor, dan dia juga melihat peluang bisnis dari pekerjaan itu cukup menjanjikan, sebab sangat banyak masyarakat disana yang mau bepergian keluar masih berjalan kaki sampai di jalan protokol untuk mencari angkutan umum. Lalu profesinya sebagai tukang ojek dijalankan, kelihatannya memang benar seperti yang dipikirkan oleh dia sebelumnya tentang keuntungan menjadi tukang ojek, dia sangat laris, ongkos satu kali rit sepuluh ribu rupiah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Satu hari dia dapat berkali-kali rit membawa penumpang pulang pergi. Tidak sampai satu tahun dia ngojek, berdampak pada kemajuan ekonomi keluarganya sangat pesat kemajuannya. Sehingga pekerjaan ini semakin serius digeluti mungpung juga belum ada saingannya. Nah pada suatu hari dia sedang mengangkut penumpang tau-tau minyak motornya habis di jalan, sebab karena larisnya dia lupa melihat tanda minyak yang ada di speedometernya, lalu dia minta maaf pada si penumpang karena dia harus membeli minyak di pom bensin. Singkat cerita setelah dapat membeli minyak lalu penumpangnya diangkut lagi ketujuannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Waktu itu hari sudah siang si tukang ojek istirahat makan, di saat selesai makan lalu dia berpikir atas dasar pengalaman minyak motornya habis tadi, nah seketika itu dia punya akal agar minyak motornya tidak habis-habis, sehingga penumpang semakin banyak dapat diangkut dan uang semakin banyak pula didapatinya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Lalu dia membeli jerigen besar dua digantungkan dikiri kanan motornya, di masing-masing jerigen itu disambungkan slang dan diisi kran. Maksudnya bila minyak di tangkinya habis tinggal buka kran minyak di jerigen itu akan mengalir ke tangki, jadinya gampang. Setelah itu dia bekerja sebagaimana biasa, namun si penumpang sudah merasa kurang nyaman sebab adanya jerigen-jerigen menggantung di motornya membuat si penumpang kurang nyaman, tetapi masih bisa jalan bisnisnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Namun di suatu ketika bannya pecah, lalu dia nyari tukang tambal ban. Lagi dia berpikir, agar pekerjaannya tidak terganggu oleh ban pecah maka dia beli ban serep lagi 4, digantungkan di motornya, bila nanti bannya pecah lagi lebih cepat bisa dia ganti. Semakin hari penumpangnya semakin tidak nyaman dibuatnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Nah pada suatu malam dia ngojek tiba-tiba lampunya mati, lalu dia beli serep lampu lagi 4, digantungkan di motornya. Oleh karena motor si tukang ojek itu sangat banyak muat serep-serep maka motornya menjadi sangat ramai dan sangat penuh, jangankan penumpangnya, dia sendiri tidak bisa duduk di sadelnya. Nah selanjutnya dia berjalan kaki sambil mendorong motor kesayanganya yang kepenuhan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Selama mereka ngojek yang amat laris itu, dia tidak pernah bermasyarakat, sehingga hubungan kemasyarakatnya semakin tipis, hubungan persaudaraannya juga semakin tipis, diapun merasa tidak keberatan sebab dia punya pola berpikir begini; &quot; DI JAMAN SEKARANG ASAL SUDAH PUNYA UANG APAPUN BISA DI BELI, MAKA YANG LAINNYA ITU TIDAK TERLALU PERLU, YANG PENTING UANG. Kalau toh saya mati nanti tidak ada banjar yang mau datang, itu gampang sekarang sudah ada tempat yang gampang untuk itu tinggal serahkan uang selesai sudah. Yang penting sekarang punya; UANG....UANG....UANG...!!!!!!! BEREEES SEMUANYA.&quot;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Oleh karena motor si Tukang ojek tadi penuh dengan barang-barang serep, dan dia sendiri menuntun motornya, maka masyarakat tidak lagi ada yang mau numpang. Pada akhir cerita ini, si Tukang ojek jadi gagal berbisnis dan di disegala bidang, dan dia menjadi perhatian negatif di desanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sekian, Semoga ada manfaatnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Terima kasih.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
OM, SANTIH, SANTIH, SANTIH, OM&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://www.facebook.com/Ida.Pedanda.Gunung/posts/672650202872335:0&quot;&gt;Sumber&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritahindu.blogspot.com/feeds/9168467841755748881/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/7221655881315686900/9168467841755748881?isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/9168467841755748881'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/9168467841755748881'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritahindu.blogspot.com/2016/05/tukang-ojek.html' title='TUKANG OJEK'/><author><name>denny0214</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877375447862611766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhoSI_DsGS4z54FdqJXbg2ln57_qhjrAwp_xQ_etL6JAseIPQ4ZQpXvNgFR1E762oGGfdo1RJKWvbrN6rqAyeGzP9fZRs5XYgV8zsJlhEdAncYPBcuz9JVjgxBPVjZpeg/s220/100_3522.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7221655881315686900.post-7936285663785955114</id><published>2016-05-03T23:08:00.005-07:00</published><updated>2016-05-03T23:08:59.317-07:00</updated><title type='text'>KITAB SUCI VEDA ITU ASLI WAHYU TUHAN</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
OM SWASTIASTU. OM AWIGNAMASTU.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Selamat bertemu lagi teman-teman, semoga semuanya dalam keadaan sehat-sehat. Saya punya cerita dari pengalaman sendiri di rumah.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kurang lebih seminggu yang lalu saya membaca buku 108 Mutiara Veda, yang ditulis oleh Dr.Somvir. Satu pasal saya baca saya lewati, satu pasal saya lewati, artinya sepintas - sepintas saja, namun disaat itu tertarik perhatian saya pada setiap terjemahannya dari setiap pasal, yaitu; tidak satupun terjemahannya berbunyi; &quot; WAHAI KAU UMAT HINDU....&quot; Yang ada adalah; &quot; WAHAI KAU UMAT MANUSIA........&quot; Jadi saya berpikir, kenapa tidak menunjuk WAHAI KAU UMAT HINDU YA.....????? Sedangkan kitab Suci Veda itu adalah kitab suci penganut agama Hindu, artinya Veda itu adalah hanya untuk umat Hindu saja demikian pikiran saya. Tetapi setelah lama saya berpikir seperti itu, lalu muncul dipikiran saya bahwa kalau demikian berarti Veda itu ajarannya untuk umat manusia, kalau kita melihat dari terjemahannya. Memang inilah salah satu ciri dari Veda itu adalah wahyu Tuhan, tidak membedakan siapa dia.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dan adalagi saya ingat waktu masih kuliah dulu, dosen saya pernah saya dengar mengatakan bahwa Veda itu adalah sumber dari segala sumber ilmu. Kalau begitu berarti beliau-beliau atau mereka- mereka yang mempelajari ilmu itu berarti boleh dikatakan sudah mempelajari Veda, itu adalah anggapan saya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Selain dari pada itu, saya juga merasakan bahwa, Veda memiliki sifat penyebaran yang amat istimewa, yaitu; MENGAYOMI, MENGANGKAT DAN MEMAKNAI BUDAYA LOKAL. Artinya, dimana ajaran Veda itu dianut, akan selalu mengayomi, mengangkat dan memaknai budaya lokal. Veda tidak merusak apa lagi menghancurkan budaya lokal, ini salah satu yang amat penting bagi saya memberikan petunjuk bahwa Veda itu asli wahyu dari Tuhan, sebab Tuhan menciptakan semuanya maka ajaran Tuhan itu mengayomi setiap ciptaannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Salah satu contoh; didalam salah satu pasal Yajur Veda ada menuliskan; ...&quot;Vayur anilam amertam athedam basmantam sariram&quot;......... terjemahannya saya baca; &quot;Wahaikau manusia setelah rokhmu meninggalkan jasadmu yang terbentuk dari panca maha Bhuta, secepatnya jasadmu dijadikan abu, rokh akan mendapatkan moksa.&quot; Demikian kurang lebihnya. Maka dari itulah setiap umat Hindu yang meninggal harus diaben, jadi tidak dikubur.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Namun di Bali ada penguburan sementara umat hindu yang telah meninggal. Sistem penguburan mayat di Bali telah ada sejak jaman batu yang disebut jaman neolitium, dengan peninggalannya kita kenal dengan nama sarkopagus, itu budaya lokal namun hal itu tidak dirusak bahkan diayomi dan dimaknai, makanya umat Hindu di Bali yang meninggal, ada yang di aben langsung, ada adapula yang di kubur dalam jangka waktu tertentu baru diaben. kesimpulannya; MENINGGAL ABEN, DAN MENINGGAL KUBUR KEMUDIAN DIABEN, akhirnya semua diaben. Dengan demikian di Bali setiap Desa Pekraman memiliki Setra, yang dari jaman kejaman tidak pernah diperluas, sebab tidak ada mayat yang dikubur terus.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Banyak lagi konsep-konsep kehidupan yang damai termuat di dalam ajaran Veda, namun pada kesempatan ini hanya itu yang tersirat dalam pikiran saya setelah membaca buku 108 Mutiara Veda dari Dr.Somvir.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Terima kasih atas perhatian teman-teman yang membaca tulisan ini.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sekian.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Om Santhi,Santhi, Santhi, Om.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://www.facebook.com/Ida.Pedanda.Gunung/posts/653332111470811&quot;&gt;Sumber&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritahindu.blogspot.com/feeds/7936285663785955114/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/7221655881315686900/7936285663785955114?isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/7936285663785955114'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/7936285663785955114'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritahindu.blogspot.com/2016/05/kitab-suci-veda-itu-asli-wahyu-tuhan.html' title='KITAB SUCI VEDA ITU ASLI WAHYU TUHAN'/><author><name>denny0214</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877375447862611766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhoSI_DsGS4z54FdqJXbg2ln57_qhjrAwp_xQ_etL6JAseIPQ4ZQpXvNgFR1E762oGGfdo1RJKWvbrN6rqAyeGzP9fZRs5XYgV8zsJlhEdAncYPBcuz9JVjgxBPVjZpeg/s220/100_3522.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7221655881315686900.post-4490854568418123319</id><published>2016-05-03T22:57:00.001-07:00</published><updated>2016-05-03T22:57:25.592-07:00</updated><title type='text'>TANPA SARANA YANG MEMADAI KOK BISA YA?</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
OM SWASTIASTU, OM AWIGNAMASTU NAMO SIDAM.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setelah sembahyang, saya duduk memandang bulan terbit dari ufuk timur kebetulan pada waktu itu hari bulan Purnama. Secara pelan namun pasti bulan merangkak naik memantulkan sinarnya ke bumi, bintang-bintangpun ikut kelihatan jelas mengiringi pantulan sinar bulan purnama, langit biru menjadi latar belakangnya, semakin menambah keindahan alam sekitar kita, Apalagi waktu itu saya sedang berada di Pura Besakih yang amat megah dan amat berwibawa, amat suci. Pura yang menjadi jantung kehidupan rohani bagi umat Hindu. Meru-meru berjejer, Padma Tiga yang menjadi pusat atau central dari keseluruhan unsur Pura Besakih kelihatan semakin agung dan semakin berwibawa diterpa oleh pantulan sinar Bulan Purnama.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pada waktu itu saya duduk disalah satu tempat yang kupilih sendiri agak jauh dari keramaian pemedek, sambil melamun tersirat di pikiran saya ; Kapan ya pastinya dibangun Pura Besakih ini? Siapakah arsiteknya waktu itu? Disaat sedang dibangun pura Besakih ini sudah kah ada fasilitas modern seperti sekarang? Misalnya; Jalan hotmix, Damtruk, gergaji batu, Semen dan berapa kira-kira ongkos tukangnya waktu itu? Berapa ongkos pembantu tukangnya waktu itu? Siapa yang memberikan biaya itu semua ya? Apa ada model BANSOS seperti sekarang waktu itu ya? Ya.. macem-macem yang muncul dalam pikiran saya disaat itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kalau menurut pikiran saya sendiri pada waktu itu, belum ada fasilitas seperti apa yang menjadi pertanyaan di atas, namun kenapa Pura Besakih bisa dibangun begitu megahnya tanpa didukung oleh fasilitas seperti itu? Mungkin di jaman itu yang ada adalah rasa Bhakti yang amat kuat, rasa persaudaraan dan persatuan yang amat kuat, rasa gotong royong yang amat tebal, dijiwai oleh rasa ingin ngayah dan adanya keinginan untuk mewariskan hal-hal yang sangat positif bagi generasi muda yang akan datang.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sehingga saat itu saya berpikir balik kepada diri saya sendiri, Kalau sekarang dengan fasilitas yang cukup lengkap dan amat modern telah ada, kalau sekarang kita disuruh membangun pura seperti pura Besakih yang lengkap dan yang amat mengagumkan itu, Bisakah....................???????&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kita bisa membangun Pura seperti Pura Besakih asal ada Rasa Bhakti terhadap Tuhan, ada rasa bangga terhadap agama warisan leluhur, ada rasa persatuan dan kesatuan yang kuat, dan tidak kalah pentingnya adanya rasa tulus dan rasa ikhlas rasa gotong royong dan ada keinginan yang kuat untuk ngayah. Kesemuanya itu dibalut oleh adanya keinginan mewariskan hal-hal yang positif kepada generasi kita, dan generasi penerus kita punya kesadaran dan kebanggaan atas warisan leluhur yang amat mengagumkan itu. Apa lagi didukung oleh sarana dan prasarana yang cukup lengkap dan cukup modern, pasti bisa. Atau kita tidak usah membangun pura seperti pura besakih lagi, karena lahan untuk itu sulit dicari sebab Bali sudah dikepung dengan pembangunan fasilitas wisata, sawah - sawah yang kita banggakan sudah dikapling-kapling, tebing dan pantai sudah hampir habis jadi milik pihak lain.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Namun masih ada jalan keluar kalau ingin membangun pura yang megah, lahannya ada dan masih luas sekali, mungkin sedang ditumbuhi semak-semak, yaitu mari kita bangun pura yang lebih megah lagi dengan persyaratan seperti diatas, yaitu di lahan pikiran kita, kita bangun pura yang megah dan pelihara pura di pikiran kita itu dengan baik dan sempurna, kemudian baru kita lebih mantap dan lebih khusuk memelihara pura Besakih yang kita Sucikan dan kita banggakan. Selanjutnya kita bisa mewariskan kepada generasi yang akan datang.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setelah saya menghayal cukup lama lalu saya dipanggil oleh putra saya untuk makan bersama (nunas lungsuran Bhatara). Sehingga hayalan saya jadi putus sampai disini. Terimakasih atas lowongan waktu teman-teman membaca khayalan saya melalui tulisan ini, semoga khayalan saya ini bisa menjadi kenyataan, sebagai rasa bhakti terhadap leluhur dan rasa cinta terhadap generasi kita yang akan datang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
S E K I A N.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
OM SANTHIH, SANTHIH, SANTHIH, OM.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;https://www.facebook.com/Ida.Pedanda.Gunung/posts/650938308376858:0&quot;&gt;Sumber&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritahindu.blogspot.com/feeds/4490854568418123319/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/7221655881315686900/4490854568418123319?isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/4490854568418123319'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/4490854568418123319'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritahindu.blogspot.com/2016/05/tanpa-sarana-yang-memadai-kok-bisa-ya.html' title='TANPA SARANA YANG MEMADAI KOK BISA YA?'/><author><name>denny0214</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877375447862611766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhoSI_DsGS4z54FdqJXbg2ln57_qhjrAwp_xQ_etL6JAseIPQ4ZQpXvNgFR1E762oGGfdo1RJKWvbrN6rqAyeGzP9fZRs5XYgV8zsJlhEdAncYPBcuz9JVjgxBPVjZpeg/s220/100_3522.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7221655881315686900.post-5003940375944537488</id><published>2016-05-03T01:26:00.003-07:00</published><updated>2016-05-03T01:26:49.131-07:00</updated><title type='text'>SORGA DAN NERAKA OLEH SIAPA?</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
OM Swastiastu&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Om Awignamastu&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
AKU, Seperti apa yang kau lihat,&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Seperti apa yang kau dengar,&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Seperti apa yang kau rasakan, Itulah bentukKU.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
AKU,ada dimana-mana, tak ada ruang yang tak terisi olehKU.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Bila kau ingin mencariKU, carilah AKU lewat jalan Bhakti, Cinta dan Kasih.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Beberapa tahun yang lalu yang lalu sebelum saya mediksa, di Desa Saya ada upacara ngaben yang amat meriah. Upacara tersebut amat meriah dan megah kelihatannya, ada badenya (alat pengusung jasad) menjulang tinggi, Lembunya (alat pembakaran jasad) amat cantik dan besar, karangan bunganya memenuhi kiri - kanan jalan dengan bermacam - macam ucapan yang tertulis di karangan bunga itu, handai taulan dan sahabat serta massa banyak yang mengikuti upacara tersebut, pokoknya cukup meriah. Setelah jasadnya sampai di setra (kuburan) dilanjutkan dengan prosesi sebagaimana mestinya, sampai pada pembakaran jasad tersebut. Masa yang begitu banyaknya bertebaran mencari tempat yang teduh, kebetulan hari itu sinar matahari menyengat panasnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ada sekelompok massa yang berteduh dibawah pohon beringin kurang lebih 5 orang termasuk saya. Entah apa yang mengawali sambil mereka meneguk air untuk menghilangkan dahaganya, terjadi rembug, kedengarannya yang menjadi bahan rembug tersebut sangat ringan, tetapi bila kita resapkan cukup mendalam maknanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Yang diperbincangkan mengenai SORGA DAN NERAKA, ada yang membilang sorga dan neraka itu adalah pemberian dari Tuhan. Ada pula yang membilang SORGA DAN NERAKA itu pemberian dari agama. Disitulah terjadi silang pendapat diantara mereka, saya hanya menjadi pendengar yang baik, sebab saya belum tau kemana arah rembug itu. Rembug tersebut berlanjut sampai acara pembakaran jasad hampir selesai. Kemudian sampailah gilirannya ke saya diberikan waktu menyampaikan pandangan tentang materi pembahasan mengenai SORGA DAN NERAKA. Lalu saya mencoba memberikan pandangan sesuai dengan keyakinan saya, pada saat mau menyampaikan pandangan, saya dahului dengan kata permakluman bahwa apa yang saya sampaikan ini merupakan pemahaman saya tentang ajaran agama Hindu yang saya anut, bila ada diantara kita beda pandangan jangan hal itu dijadikan pertengkaran sampai menjadi bermusuhan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Begini saudara-saudaraku yang tercinta semuanya tanpa saya memandang siapa dan dari mana anda. Menurut pandangan saya tentang SORGA DAN NERAKA itu adalah begini; Tuhan hanya menyediakan yang namanya sorga dan neraka itu, dan Agama yang diwahyukan oleh Tuhan memberikan petunjuk dan persyaratan untuk mencapainya. Jadi menurut pandanganku Tuhan tidak memberikan, tetapi menyediakan. Memberikan dan menyediakan itu ada sedikit perbedaannya. Kalau memberikan tersirat akan adanya pilih kasih, nah jika menyediakan itu mengandung makna, siapapun mereka dan dari manapun mereka asal sudah mengikuti petunjuk yang diberikan oleh agamanya dan memenuhi syarat yang telah ditentukan oleh agamanya, sudah pasti perjalanan mereka akan sampai di sorga. Demikian pula mereka yang sama sekali tidak pernah melakoni ajaran yang diberikan oleh agamanya dan tidak pula memenuhi syarat, tidak akan sampai di sorga. Maka mereka akan sampai di neraka. Jadi kitalah yang menentukan atau memilihnya, menentukan dan memilih pilihan itu bisa kita lakukan semasih kita hidup, dengan cara lakonilah ajaran Tuhan (agama), ajaran agama itu jangan sebatas dibecarakan (didebatkan), atau sebatas dipikirkan saja. Semestinya ajaran agama itu haruslah dipraktikan dalam hidup ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut pandangan saya SORGA DAN NERAKA itu tidak merupakan lokasi dengan ada koordinatnya atau alamatnya, Sorga dan neraka itu adalah RASA DAN SITUASI. Lalu bagaimana kaitannya dengan upacara ngaben ini, demikian teman saya melanjutkan pertanyaannya. Mengenai upacara ngaben adalah pengorbanan dari kita yang masih hidup (perti sentana) kepada Tuhan memohon agar rokh leluhur kita lebih cepat mendapatkan tempat sesuai dengan karmanya. Makanya upacara ngaben sangat perlu dilakukan, namun sesuaikan dengan kriteria yaitu; Kemauan, kemampuan, situasi dan kondisi, serta dengan petunjuk sastra. Itulah pandangan saya tentang topik yang saudara rembugkan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setelah saya menyampaikan pandangan, rembugnya selesai seiring dengan selesainya acara pembakaran jasad tadi. Demikialah cerita saya mengingat masa lampau. Semoga ada manfaatnya, Terima kasih.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Om Shanti, Shanti, Shanti, Om.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sumber:&amp;nbsp;&lt;a href=&quot;https://www.facebook.com/Ida.Pedanda.Gunung/posts/649502168520472:0&quot;&gt;Facebook Ida Pedanda Gede Made Gunung&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritahindu.blogspot.com/feeds/5003940375944537488/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/7221655881315686900/5003940375944537488?isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/5003940375944537488'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/5003940375944537488'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritahindu.blogspot.com/2016/05/sorga-dan-neraka-oleh-siapa.html' title='SORGA DAN NERAKA OLEH SIAPA?'/><author><name>denny0214</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877375447862611766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhoSI_DsGS4z54FdqJXbg2ln57_qhjrAwp_xQ_etL6JAseIPQ4ZQpXvNgFR1E762oGGfdo1RJKWvbrN6rqAyeGzP9fZRs5XYgV8zsJlhEdAncYPBcuz9JVjgxBPVjZpeg/s220/100_3522.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7221655881315686900.post-1881886806733172508</id><published>2016-05-03T00:30:00.002-07:00</published><updated>2016-05-03T00:30:40.141-07:00</updated><title type='text'>DENPASAR DI TAHUN 60-AN</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Om Swastiastu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Om . Sang Hyang Widhi Yang Maha Agung,&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Yang Maha Sempurna.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Yang Maha Suci.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Yang Maha Bijaksana.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Yang Maha Kasih.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Yang Maha Penyayang.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Apapun yang menjadi kehendakMu, tidak ada yang mampu menghalangi, yang kuyakini dan yang kusembah setiap hari.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Saya ingin berbagi pengalaman bersama saudara yang saya cintai. Adapun pengalaman saya di jaman yang cukup lama yaitu ditahun 1960-an. Di Jaman itu kehidupan di Bali sangat sederhana sekali, alamnya masih lestari, jalan-jalan utama masih di apit oleh sawah yang membentang, pohon kelapa yang berjajar dipinggirnya, masih ada daerah yang disebut bengang.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Saya ingat pada waktu itu saya diajak oleh orang tua saya ke Denpasar singgah di rumah saudara saya di Griya Sumerta, posisi Griyanya di pinggir jalan utama menuju Gianyar dari Denpasar. Untuk mendapatkan kendaraan angkutan umum saya harus menunggu cukup lama dipinggir jalan di depan pasar umum Blahbatuh yang dulu. Setelah dapat angkutan umum berupa mobil Bus berbadan kayu, saya naik bersama orang tua saya, singkat cerita di dalam perjalanan pemandangan sangat indah sekali, sawah-sawah menguning padinya, pohon kelapa dipinggr jalan melambai-lambaikan daunnya diterpa angin, selanjutnya sampailah saya di rumah saudara saya di Denpasar.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Orang tua saya langsung masuk ke rumah disitu saya ikut, disambut dengan penuh perasaan bersaudara. Disitulah beliau-beliau bercerita entah apa ceritanya saya kurang tau, saya lalu keluar rumah duduk di bawah pohon mangga (poh golek), sambil melihat-lihat orang lalu lalang di jalan. Disitu saya dengar suara aneh menurut saya, sebab saya belum pernah dengar sebelumnya suara seperti itu. Suaranya begini; Sreeeng...!! Sreeng....!!! Sreeeng...!!!. Lalu saya tanya saudara saya yang sebaya dengan saya yang ikut duduk disamping saya; Suara apa itu? Saudara saya menjawab : Itu suara gongseng kuda. Akhirnya benar suara gongseng kuda, yang sedang menarik kereta (Dokar), sebagai angkutan kota, suara gongsengnya indah kedengaran, langkah kaki kudanya juga berirama mengikuti suara gongsengnya, penumpang dan sais (kusir) duduk dengan tenang sambil tersenyum.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Entah apa yang menyebabkan setelah saya tua seperti sekarang ingat dengan peristiwa itu, lalu saya merenung; Berarti saisnya pinter mengendalikan kudanya, dan saisnya tahu jalan dan taat terhadap rambu-rambu jalan, serta tahu tujuan penumpangnya. Demikian pula kudanya tunduk kepada segala perintah saisnya, serta keretanya (dokar) kelihatan indah dan kuat. Oleh karena itu sudah pasti penumpangnya akan sampai pada tujuannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kalau hidup ini kita sejajarkan dengan sebuah perjalanan, maka bisa kita bandingkan dengan kereta (dokar) yang mengangkut penumpang dan mengantarkan sampai ke tempat tujuan. Lalu saya coba membandingkan; Keretanya adalah tubuh kita, Sais (supir) adalah pikiran kita, kuda adalah panca indra kita, penumpangnya adalah Sang Hyang Atma, jalan adalah hasil dari pengindraan kita. Bila semua unsur itu tidak terpelihara dan tidak terlatih, maka sepanjang jaman penumpangnya tidak akan sampai pada tujuannya, keretanya jadi bolak-balik, mondar-mandir tanpa tau tujuan, demikian pula hidup kita.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Maka dari itu; Pertama-tama keretanya harus di pelihara (servis) secara rutin, demikian tubuh kita harus dipelihara secara rutin baik dari sisi makannya, minumnya, kebersihannya dan kesehatannya dengan berolah raga secara rutin (yoga dan meditasi), maka tubuh akan sehat (kereta sehat dan indah), Kusirnya belajar nyetir, tahu rambu-rambu, dapat menguwasai kuda, tahu jalan dan tahu tujuan. Demikian pikiran kita harus dilatih dengan belajar kerokhanian, mengikuti olah raga yang bernuansa spiritual seperti yoga dan meditasi. Kudanyapun dilatih untuk tunduk kepada saisnya, dipelihara, jaga kesehatannya, demikian panca indra kita, juga perlu dilatih, perlu dipelihara kesehatannya, untuk dapat meyakini Tuhan dengan segala manifestasinya, mengikuti ajarannya serta mempraktekkan setiap hari dan meyakini adanya hukum karma phala, dan sebagainya&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Maka fungsi panca indera di saat mengindera akan relevan dengan perintah pikiran dan dapat berjalan secara bersama di jalan yang benar menuju tujuan. Sehingga perjalanan keretanya berirama, suara gongsengnya sangat menyenangkan hati (ngulangunin), perjalanan akan lancar tujuan pasti tercapai. Demikian pula kita, badan sehat, pikiran sehat, panca indra terkendali, maka perjalanan hidup ini akan lancar menuju tujuannya. Demikian renungan saya untuk menasehati diri saya sendiri, mungkin hal ini ada gunanya bagi saudara tolong direnungkan pula.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sampai disini dulu cerita di jaman kuno dari saya, semoga ada manfaatnya, terima kasih.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Om Santhih, Santhih, Santhih, Om.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sumber:&amp;nbsp;&lt;a href=&quot;https://www.facebook.com/Ida.Pedanda.Gunung/posts/647957732008249:0&quot;&gt;Facebook Ida Pedanda Gede Made Gunung&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritahindu.blogspot.com/feeds/1881886806733172508/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/7221655881315686900/1881886806733172508?isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/1881886806733172508'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/1881886806733172508'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritahindu.blogspot.com/2016/05/denpasar-di-tahun-60-an.html' title='DENPASAR DI TAHUN 60-AN'/><author><name>denny0214</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877375447862611766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhoSI_DsGS4z54FdqJXbg2ln57_qhjrAwp_xQ_etL6JAseIPQ4ZQpXvNgFR1E762oGGfdo1RJKWvbrN6rqAyeGzP9fZRs5XYgV8zsJlhEdAncYPBcuz9JVjgxBPVjZpeg/s220/100_3522.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7221655881315686900.post-8109841636668302499</id><published>2016-05-03T00:23:00.001-07:00</published><updated>2016-05-03T00:23:48.661-07:00</updated><title type='text'>DISKUSI ANAK SD</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
OM SWASTIASTU.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sebelum saya lanjut menulis cerita pendek ini saya minta maaf kepada teman-teman karena saya kurang sering buka web, disebabkan oleh sesuatu yang tidak saya bisa wakilkan. Namun saya tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang selalu mengikutinya. Pada kesempatan ini saya akan mencoba bercerita tentang pengalaman saya di rumah mungkin ada manfaatnya bagi teman-teman. Bila hal ini dianggap tidak berguna saya akan minta maaf. Sebab tulisan ini saya gunakan sebagai penyambung tali pertemanan saja. Semoga Tuhan merestui apa yang saya tulis ini. Demikian pula saya merasa sangat terhormat bila saudara-saudara mau membaca tulisan ini apalagi mau meberikan saran untuk itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
DISKUSI ANAK SD.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hari Minggu yang baru lalu, semua cucu saya baik yang SD, TK, maupun yang SMP, kumpul di rumah. Entah apa yang mengawalinya, saya dengar mereka berdiskusi ala mereka tentang Perhiasan terbuat dari Emas. Mungkin pengalamannya di waktu hari Suci Galungan yang baru lalu. Sedang asyiknya mereka saling sahut menyahut dikalangan mereka, entah apa pemicunya saya kurang memperhatikan. Sehingga diantara mereka ada yang menangis.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
LENGKAPNYA BEGINI;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mereka membahas perbedaan antara perhiasan itu baik yang disebut kalung, cincin, gelang, bunga dan sebagainya, ada yang ingin menjadi bunga karena letaknya di kepala, ada yang ingin menjadi cincin yang letaknya di jari. Jadi mereka memilih atas dasar letak dan bentuk, maka sampai ada yang mengatakan ; &quot;Silahkan kamu jadi kepala, kalau tidak ada leher mau apa kepala?&quot; Yang senang gelang mengatakan; &quot;Silahkan ada leher dan ada kepala, namun tidak ada tangan dan kaki mau bilang apa kamu?&quot;. Demikian selanjutnya. Mungkin perbedaan pendapat itu yang memicu jadi pertengkaran, dan selanjutnya ada yang sampai menangis.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Nah datanglah salah satu dari Bapak mereka yang kebetulan menjadi Pemangku, menjelaskan dengan nada dan intonasi bahasa yang lembut, dan memberikan contoh sesuai dengan porsi kemampuan mereka, antara lain begini kata pemangku itu; &quot; Aduuuh anak-anakku yang cakep-cakep, kenapa ada yang menangis sayang? Setelah itu si anak-anak semua mengajukan pendapat berdasarkan argumentasi dari mereka masing-masing mempertahankan kebenaran mereka masing-masing.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Lagi si Pemangku mejelaskan dengan pelan-pelan; &quot;Anak-anak, memang diantara perhiasan itu semua berbeda, sebab makna, fungsi dan posisi dari masing-masing perhiasan itu yang menyebabkan adanya perbedaan tersebut karena ada perbedaan bentuk dan tempatnya. Bila kamu memperdebatkan tentang perbedaan bentuk - bentuk dan perbedaan posisinya, selama matahari terbit dari ufuk timur tidak akan ketemu persamaannya. Walaupun sebenarnya dari semua perhiasan itu ada persamaannya, kalau sudut pandang kamu hanya dari sisi bentuk dan posisinya itu tetap berbeda, namun mari kita cari persamaannya!!! Persamaannya adalah perhiasan itu sama-sama berbahan Emas, Sayang. Coba kamu lihat, kalung itu terbuat dari emas bukan? Gelang juga terbuat dari emas bukan? Demikian juga yang lainnya.&quot;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pada akhir kata Pemangku itu mengatakan marilah kita mencari kesamaan diatas semua perbedaan agar kita dapat merasakan kedamaian di dalam hidup ini. &quot;Untuk apa kita selalu mempertengkarkan perbedaan seperti itu, selain menguras tenaga, energi dan menguras pikiran. Saya tahu kamu baru setingkat SD. dan TK. Tetapi janganlah bertengkar karena perbedaan ya sayang?&quot; Demikianlah nasehat si Pemangku, yang saya dengar. Mengakhiri nasehatnya Pemangku juga berkata begini; &quot;ANAK-ANAKKU JANGANLAH KAMU BERKEINGINAN ORANG LAIN AGAR SEPERTI DIRIMU YA. Andai kata ada orang lain mengikuti jejakmu jangan dilarang, sebaliknya bila orang lain tidak mau bahkan bertentangan dengan pendapatmu jangan marah, apa lagi sampai bertengkar, sebab manusia semua memiliki hak asasi, mereka menentukan nasib mereka ke depan, dan mereka juga yang paling berhak menasehati diri mereka sendiri. Akhirnya semua anak terdiam, mungkin walaupun mereka setingkat TK dan setingkat SD. namun memiliki daya tangkap yang cemerlang, lalu yang menangis jadi tertawa, dan mereka saling berpelukan. Sambil mengucapkan Santhi, Santhi, Santhi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setelah Pemangku itu meninggalkan tempat diskusi anak-anak tadi, saya berpikir; benar juga nasehat dari Pemangku itu, walaupun si Pemangku tidak menasehati saya secara langsung namun saya merasakan mendapat sesuatu yang amat berguna. Terima kasih atas perhatiannya, kurang lebih mohon maaf.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Om, Santhi, Santhi, Santhi, Om.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sumber:&amp;nbsp;&lt;a href=&quot;https://www.facebook.com/Ida.Pedanda.Gunung/?fref=ts&quot;&gt;Facebook Ida Pedanda Made Gunung&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritahindu.blogspot.com/feeds/8109841636668302499/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/7221655881315686900/8109841636668302499?isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/8109841636668302499'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/8109841636668302499'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritahindu.blogspot.com/2016/05/diskusi-anak-sd.html' title='DISKUSI ANAK SD'/><author><name>denny0214</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877375447862611766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhoSI_DsGS4z54FdqJXbg2ln57_qhjrAwp_xQ_etL6JAseIPQ4ZQpXvNgFR1E762oGGfdo1RJKWvbrN6rqAyeGzP9fZRs5XYgV8zsJlhEdAncYPBcuz9JVjgxBPVjZpeg/s220/100_3522.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7221655881315686900.post-8443848840608461831</id><published>2016-05-03T00:10:00.001-07:00</published><updated>2016-05-03T00:10:47.991-07:00</updated><title type='text'>RENUNGAN DISAAT NAIK PESAWAT TERBANG</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
OM SWASTIASTU&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setiap saya mempunyai waktu senggang di rumah, tidak ada diajak bicara &quot;sepi&quot;, hanya suara burung perkutut yang kedengaran bersaut sautan, mungkin mereka sedang diskusi dengan sesamanya, entahlah.......!!! Tangan saya seolah - olah ditarik entah oleh siapa, mungkin oleh keinginan untuk menulis. Mau menulis apa? Saya kurang tahu. Pada waktu itulah muncul keinginan saya menulis pengalaman terbang dengan pesawat, terutama diwaktu saya terbang dari Bandara I Gusti Ngurah Rai menuju Ujung Pandang. Kebetulan di dalam pesawat saya dapat tempat duduk di pinggir di samping jendela. Sewaktu pesawat melintasi diatas laut, saya iseng melihat keluar dari jendela melihat kebawah, aduuh indahnya kelihatan pemandangannya, air laut kelihatan biru, awan tipis berlomba berlari-lari kebelakang. Apa awannya yang lari kebelakang, apa pesawatnya lari kedepan sehingga kelihatannya begitu? Hal itu tidak terpikirkan apalagi didiskusikan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Namun yang penting menurut saya pada waktu itu kelihatan pulau - pulau berjejer banyak sekali entah pulau apa itu saya tidak tau. Antara pulau yang satu dengan yang lain disela oleh air laut, semuanya begitu. Lalu muncul pikiran saya; APAKAH AIR LAUT ITU DISEBUT MEMBATASI ANTARA PULAU YANG SATU DENGAN PULAU YANG LAIN? Kalau jawabannya ya, pantas budaya, adat kita berbeda-beda, karena dibatasi. Kalau perbedaan ini kita saling mempertahankan satu dengan yang lainnya maka kapan kita akan bisa bersatu? Kenyataannya begitu. Ini Baru penilaian dari sisi pandang ditataran permukaannya saja. Kalau kita ingin tau apa ada hubungannya pulau yang satu dengan pulau yang lain? Apa memang pisah - pisah?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Untuk menjawab pertanyaan itu, kita harus bisa dan dapat menyelam kedasar laut, menurut perkiraan saya dan ini benar, setelah kita dapat menyelam ke paling dasar laut maka kita tau bahwa didasar laut pulau yang satu tidak terpisah dengan pulau yang lainnya, atau menyatu, mungkin hal ini berlaku pada pulau - pulau yang lain diseluruh bola bumi ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Bila hal ini kita kaitkan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara terutama di Negri yang kita cintai ini, rasanya sangat pas, sebab negri kita terdiri dari beribu-ribu pulau, beribu-ribu adat budaya, bila kita melihat dari tataran atasnya saja atau tataran yang dangkal maka kita pasti berbeda, namun pendahulu kita sudah memberikan kita alat selam yang lengkap untuk menyelaminya yaitu: &quot; PANCASILA&quot; DAN &quot;BHINEKA TUNGGAL IKA&quot;. Selamilah lautan Nusantara ini, agar kita dapatkan dasarnya atau benang merahnya, sehingga kita akan dapatkan kehidupan yang damai dan bahagia bersama. Hal ini juga berlaku untuk semua aspek kehidupan kita menuju kedamaian baik budaya maupun keyakinan kita. Hal inipun ada hubungannya dengan kemenangan Dharma atas Adharma sebagai esinsi dari hari suci Galungan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dengan merenung yang cukup lama lalu saya dengar peringatan di dalam pesawat, mungkin dari pramugarainya, antara lain: &quot; Para penumpang sebentar lagi kita akan mendarat.....&quot; Lalu saya dengan sedikit kaget, beralihlah pikiran saya kepada suara itu sehingga secara otomatis renungan tadi juga berhenti. Demikianlah tulisan ini saya ajukan sebagai rasa rindu akan kedamaian bersama. Sehingga saya tidak merasa malu menulis, walaupun tulisan ini sangat tidak bermutu. Terima kasih.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
OM SANTHI, SANTHI, SANTHI, OM.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
SEMOGA TUHAN SELALU MENGANUGRAHKAN PIKIRAN YANG BENAR&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sumber:&amp;nbsp;&lt;a href=&quot;https://www.facebook.com/Ida.Pedanda.Gunung/?fref=ts&quot;&gt;Facebook Ida Pedanda Gede Made Gunung&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritahindu.blogspot.com/feeds/8443848840608461831/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/7221655881315686900/8443848840608461831?isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/8443848840608461831'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/8443848840608461831'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritahindu.blogspot.com/2016/05/renungan-disaat-naik-pesawat-terbang.html' title='RENUNGAN DISAAT NAIK PESAWAT TERBANG'/><author><name>denny0214</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877375447862611766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhoSI_DsGS4z54FdqJXbg2ln57_qhjrAwp_xQ_etL6JAseIPQ4ZQpXvNgFR1E762oGGfdo1RJKWvbrN6rqAyeGzP9fZRs5XYgV8zsJlhEdAncYPBcuz9JVjgxBPVjZpeg/s220/100_3522.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7221655881315686900.post-573486431438849981</id><published>2016-05-02T23:56:00.001-07:00</published><updated>2016-05-02T23:56:33.226-07:00</updated><title type='text'>DISKUSI KECIL TENTANG MEMAKNAI GALUNGAN</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Om Swastiastu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Telah banyak para tokoh agama Hindu yang memberikan makna Hari suci Galungan itu, dengan segala argumentasinya dan semuanya kelihatan benar. Namun pada kesempatan ini saya ingin menuliskan pengalaman yang saya pernah rasakan tentang Galungan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pada suatu ketika saya berjalan melintasi tepian sungai, nah disitu ada anak-anak muda berkumpul kurang lebih 5 orang, rasanya mereka sedang memancing ikan di sungai (penghobi mancing). Sedang asiknya mereka mancing, lalu ada temannya melintas di kejauhan kurang lebih 5 meter dari tempat mereka mancing, temannya itu menyapa kelompok pemancing ini dengan kata-kata guyon dan nyindir, antara lain:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&quot;JANGAN DIHABISIN IKANNYA DIPANCING BIAR ADA DIPAKAI GALUNGAN.....!!!!!! &quot;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
antara lain itu yang dikatakan, lalu si kelompok pemancing menjawab begini:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&quot;YA KALAU HABIS IKANNYA DISINI, NANTI UNTUK GALUNGAN BELI SAJA DAGING BABI DI PASAR......!!!!!&quot;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Begitulah guyonan mereka. Selanjutnya diantara si pemancing terjadi diskusi kecil tentang pemaknaan Galungan atas kata guyonan temannya tadi, antara lain; Satu orang bertanya &quot;Apa sih sebenarnya makna Galungan itu? Teman-temannya menjawab sesuai dengan apa yang mereka tau, diantara jawaban yang ada, terdengar salah satu mengatakan; Galungan adalah Hari Suci untuk merayakan kemenangan Dharma melawan Adharma. Kemudian ditanyakan lagi oleh yang satu lagi; Jadi Dharma dengan Adharma itu berperang? Dimana medannya? Kalau Adharma kalah, apa kekalahannya itu menyerah apa kalah mati? kalau kalah menyerah, dimana wilayah kekalahan adharma yang menjadi kekuasaan dharma atas kemenangannya? Kalau adharma itu kalah mati, dimana mayat adharma itu dikubur? Berdasarkan pertanyaan inilah para pemancing itu menjadikan tempat mancingnya sebagai arena diskusi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pada waktu itu kebetulan saya lewat disampingnya, disitulah saya mendengar diskusi mereka, dan saya sangat terketuk hati saya ingin menjawab, namun mereka tidak bertanya ke saya, makanya saya diam saja membiarkan mereka diskusi sepuasnya demi meresapnya inti pemaknaan Galungan yang sebenarnya, dan saya melanjutkan perjalanan pulang. Nah sesampainya saya di rumah, tidak berselang beberapa menit, ternyata mereka si pemancing itu semua datang ke rumah saya. Setelah saya persilahkan duduk, lalu mereka mengulangi pertanyaan yang menjadi perdebatan kusir tadinya. Meraka sebenarnya tidak salah memaknai sesuai dengan apa yang mereka tau, sebab memaknai atau mempelajari ajaran agama Hindu di Bali itu secara berjenjang sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Seperti contoh: Ada anak 3 orang, satu orang baru SD, yang satu sudah SMA dan yang satu lagi sudah sarjana Ilmu Matematika. Lalu ada pertanyaan pada mereka; Coba kalian jawab: 3 X 3 =....? Anak SD menjawab dengan mengambil batu dan menghitungnya, lalu dia dapat jawaban 9. Kemuadian yang SMA. menghitung dengan mengambil kertas orak-orek, jawabannya juga 9. Dia yang sarjana matematika langsung menjawab 9. Pertanyaannya adalah; apakan sembilan dari masing-masing mereka itu berbeda nilainya? Saya kira tidak beda, hanya prosesnya yang berbeda. Demikian pula tentang defenisi Galungan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Namun atas pertanyaan si pemancing perlu di berikan jawaban yang benar, antara lain. Dharma dan adharma itu tidak berperang kayak bertempur, namun keduanya itu saling mempengaruhi, yang mana kuat pengaruhnya diantara keduanya itu, kalau Dharma yang lebih kuat maka dharma dikatakan menang dalam kontek mempengaruhi adharma menjadi dharma, ini yang disebut Galungan. Sehingga tidak ada mayat si adharma dalam hal saling mempengaruhi, sebab itu merupakan sifat, karakter manusia. Lalu dimana arenanya? Arenanya ada di dalam diri manusia, jadi sifat saling mempengaruhi dari dharma dengan adharma itu hanya ada di dalam diri manusia. Bila manusia itu tahu dan sadar akan memaknai hidup ini maka mereka berusaha memenangkan dharma didalam dirinya. Jadi Galungan itu didefinisikan sebagai kemenangan Dharma di dalam diri manusia sendiri, maka mereka akan mewujud nyatakan kegembiraan mereka atas kemenangan itu dengan cara membuat sesaji, membuat penjor, bersembahyang ke pura, dan lain sebagainya sebagai gambaran kegembiraan mereka.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Jadi kemeriahan perayaan galungan dengan penjor yang mahal-mahal, semestinya didasari oleh kemampuan kita mempengaruhi sifat adharma dengan sifat dharma di dalam kehidupan ini, dengan cara belajar agama memahami ajaran agama dan yang terpenting mempraktikan ajaran agama tersebut, nah itu baru lengkap. Akhirnya dengan argumentasi saya seperti itu para pemancing sedikit menyadari apa yang mereka harus lakukan untuk memaknai hidup ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Demikian cerita pendek ini saya tulis disini sebagai sebuah yadnya bagi saudara kita yang mau dan memerlukannya. Cerita ini tidak saya gunakan sebagai bahan diskusi, sekali lagi sebagai ungkapan rasa cinta kepada semua teman-teman.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
OM SANTIH, SANTIH, SANTIH OM.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sumber:&amp;nbsp;&lt;a href=&quot;https://www.facebook.com/Ida.Pedanda.Gunung/?fref=ts&quot;&gt;Facebook Ida Pedanda Gede Made Gunung&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritahindu.blogspot.com/feeds/573486431438849981/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/7221655881315686900/573486431438849981?isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/573486431438849981'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/573486431438849981'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritahindu.blogspot.com/2016/05/diskusi-kecil-tentang-memaknai-galungan.html' title='DISKUSI KECIL TENTANG MEMAKNAI GALUNGAN'/><author><name>denny0214</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877375447862611766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhoSI_DsGS4z54FdqJXbg2ln57_qhjrAwp_xQ_etL6JAseIPQ4ZQpXvNgFR1E762oGGfdo1RJKWvbrN6rqAyeGzP9fZRs5XYgV8zsJlhEdAncYPBcuz9JVjgxBPVjZpeg/s220/100_3522.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7221655881315686900.post-6030716756959856793</id><published>2015-04-14T01:51:00.001-07:00</published><updated>2015-04-14T01:51:51.586-07:00</updated><title type='text'>NYEPI, SEPI DAN HENING TANGGA KEDAMAIAN</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #666666; font-family: helvetica, arial, &#39;lucida grande&#39;, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16.0799999237061px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #666666; font-family: helvetica, arial, &#39;lucida grande&#39;, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16.0799999237061px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; text-align: justify;&quot;&gt;
OM SWASTIASTU&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #666666; font-family: helvetica, arial, &#39;lucida grande&#39;, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16.0799999237061px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; text-align: justify;&quot;&gt;
Sebagai makhluk Tuhan yang masih serba kurang dan jauh dari kesempurnaan, saya memanjatkan puja syukur ke&lt;span class=&quot;text_exposed_show&quot; style=&quot;display: inline;&quot;&gt;hadapanNya atas segala kasih dan sayang serta tuntunanNya semoga badai kehidupan yang amat dahsyat segera berlalu. Demikian pula kepada anda saudara saya yang telah rela meluangkan waktu untuk melihat, apalagi sempat membaca tulisan ini saya ucapkan terima kasih, sebab dengan anda mau membaca tulisan saya ini, saya merasa sangat terhormat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;text_exposed_show&quot; style=&quot;background-color: white; color: #666666; display: inline; font-family: helvetica, arial, &#39;lucida grande&#39;, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16.0799999237061px;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; text-align: justify;&quot;&gt;
Tulisan ini merupakan tuangan dari isi hati saya untuk dipergunakan sebagai sarana yadnya menyambut kedatangan hari Suci Nyepi tahun ini. Oleh karena dasar pikiran saya adalah beryadnya, maka segala kekurangannya mohon di maafkan. Saya sengaja mengemukakan Judul seperti diatas, karena mengamati perkembangan demi perkembangan dari tahun ketahun, umat Hindu, semakin jauh kelihatannya dari makna yang terkandung didalam pelaksanaan hari-hari suci. Seperti misalnya; &quot; Galungan hampir identik dengan Bazar, Nyepi hampir identik dengan ogoh-ogoh, dan Siwaratri diidentikan dengan hari penebusan dosa, dan hari suci yang lainnya&quot;. Oleh karena itu saya mencoba menyampaikan isi hati saya menerjemahkan dengan bebas makna hari Nyepi itu menjadi; NYEPI, SEPI DAN HENING TANGGA KEDAMAIAN. Mungkin banyak lagi makna yang terkandung di dalam hari suci nyepi, namun saya hanya melihatnya dari sudut itu tadi. Sekali lagi tulisan ini hanya berdasarkan pengamatan dilapangan, dan getaran-getaran hati saya yang muncul disaat duduk sendiri, sehingga hampir tidak menggunakan reprensi dari buku maupun lontar. Oleh karena itu tulisan ini bisa dianggap orak-orek kertas buram, bila tidak berguna bisa dibuang ke tong sampah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: 1em; margin-top: 1em;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;line-height: 16.0799999237061px;&quot;&gt;NYEPI;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;line-height: 16.0799999237061px;&quot;&gt;Kata nyepi mengandung unsur; &quot; kata kerja&quot;, sebab Nyepi itu berasal dari kata sepi diolah menjadi nyepi (tata bahasa Bali), seperti; sampat menjadi nyampat, sambut menjadi nyambut, dan yang lainnya lagi. Sehingga kata nyepi itu menuntut kita belajar dan berusaha membikin suasan kehidupan yang sepi. Sepi dalam arti, tidak ada kegaduhan, tidk ada pertengkaran, tidak ada hiruk pikuk yang membikin kita stres dan lain sebagainya, pokoknya suasana hidup yang damai, tenang dan bahagia. Inilah yang diwujud nyatakan oleh leluhur kita dengan sebuah prosesi upacara yaitu; upacara makiis dalam rangkaian Nyepi, yang mengandung makna agar kita dapat mencari hal-hal yang sepi di dalam keramaian alami. Coba kita perhatikan secara saksama, mekiyis itu ke laut, situasinya; panas, suara ombak gemuruh terus menerus, semua itu kejadian alam. disitulah kita semua ( peserta upacara ), merasa kepanasan, kehausan, kelaparan dan mungkin kecapekan. Semua yang kita rasakan ini merupakan hal yang tidak kita inginkan. Siapa yang ingin lapar terus? Oleh karena itulah saat makiyis kita dituntun mencari sepi dengan memaknai ngiring Bhatara, dengan perasaan yang penuh bhakti, tulus dan ikhlas, maka perasaan lapar dan yang lainnya akan tidak terasa semuanya. Di dalam sastra yang menuntun kita untuk melaksanakan upacara mekiyis, disebutkan upacara makiyis itu tidak lain adalah sebuah prosesi penyucian dan prosesi Ida Bhatara mengambil Amerta di tengah samudra. Kenapa Amerta itu dilukiskan berada di tengah samudra? Sebab kebahagiaan itu, kedamaian itu, sangat sulit kita wujudkan di dalam hidup ini kalau tidak dilandasi oleh keyakinan, ketekunan dan kedisiplinan. Pendek kata inti upacara makiyis adalah pembelajaran bagi manusia untuk mewujudkan kedamaian dan kebahagiaan hidup secara bersama-sama, dibawah tuntunan Tuhan melalui ajaran agama yang diwujud nyatakan dalam upacara makiyis. Sehingga saat makiyis yang dilakoni melalui segala prosesinya harus dilandasi oleh ketulusan dan keikhlasan, jauhkan pikiran pamerih, ekonomis, praktis dan gelis. Prosesi inilah saya simak, sebuah prosesi Nyepi atau melangkah menuju sepi, dengan mendaur ulang yang kita anggap kurang baik, atau kurang berguna yang datang dari luar diri kita,menjadi baik dan menjadi berguna. Makna seperti ini semestinya kita harus lakoni setiap hari sedikit demi sedikit. Kemudian dilanjutkan dengan prosesi tawur, tawur ini juga Nyepi atau mencari sepi didalam godaan yang datang dari dalam diri kita, sebab inti tawur itu menetralisir kekuatan Bhuta Kala. Siapa Bhuta Kala itu? Dalam sebuah bacaan disebutkan; Manusia itu Dewa ya, Bhuta ya. Jadi Bhuta kala itu adalah suatu sifat dan prilaku yang tidak dapat mewujudkan kedamaian, dan kebahagiaan makanya kita Nyepi mencari sepi. dengan menetralisir segala yang bersifat negatif menjadi sifat positif melaui pemaknaan upacara tawur.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: 1em; margin-top: 1em;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;line-height: 16.0799999237061px;&quot;&gt;SEPI.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;line-height: 16.0799999237061px;&quot;&gt;Bila dikaitkan dengan prosesi hari suci Nyepi itu, saat hari &quot;H&quot; betul betul kita menikmati merasakan ketenangan dan kedamaian. Sepi disini bukan berarti kosong, sepi lebih dekat artinya kepada ketenangan dan kedamaian. Oleh karena itu bila ada saudara-saudara saya disaat Nyepi itu menggunakan kesempatan untuk melampyaskan hawa nafsu dalam bentuk apa saja, tolong tahanlah keinginan seperti itu, marilah kita maknai hidup ini dengan benar, dan hormati agama kita, hargai jerih payah leluhur kita untuk mewujudkan sesuatu yang sangat berguna bagi kita. kita harus bangga; SIAPAKAH YANG DAPAT MEMBUAT SUASANA TIDAK BERMOBIL, TIDAK BEAKTIFITAS SEHARIAN PENUH? Selain kita di Bali!!! Marilah kita belajar Nyepi untuk mencari sepi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: 1em; margin-top: 1em;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;line-height: 16.0799999237061px;&quot;&gt;HENING.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;line-height: 16.0799999237061px;&quot;&gt;Apa bila kita dapat melakoni semua tahapan seperti tersebut diatas dan memaknai serta menerapkan di dalam kehidupan sehari hari niscaya kita akan menjadi orang yang berpikiran hening (jernih), disaat pikiran hening semua permasalahan akan sirna pelan-pelan. Ada untaian kata-kata yang indah pernah saya baca dan senada dengan masalah yang kita uraikan diatas adalah; HNING, HNENG, ELING, AWAS. Bila kita lihat urutannya secara pertikal; Hning berposisi paling atas Awas paling bawah. Sebab situasi itu merupakan ajaran dari Tuhan. Hning itu salah satu sifat Tuhan yang kita akan cari atau wujudkan di dalam hidup ini, maka untuk mencari hning itu dari kita manusia harus melalui Awas (waspada) duluan, kemudian setelah kita dapat melakoni kewaspadaan dalam hidup ini baru mencapai Eling ( ingat/sadar ), setelah sadar baru kita mencapai Hneng ( tenang ), terakhir pasti kita mencapi situasi Hning ( Jernih ). Tak ubahnya pikiran kita seperti air di sebuah tempayan, bila air itu jernih dan tenang akan jelas dapat dilihat bayangan Bulan yang amat indah dan menyejukan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; text-align: justify;&quot;&gt;
Demikian seklumit buah pikiran saya didalam menyikapi keberadaan jaman seperti sekarang melalui tinjauan makna hari suci nyepi lewat konsep; &quot;NYEPI, SEPI DAN HENING TANGGA KEDAMAIAN.&quot;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; text-align: justify;&quot;&gt;
OM SANTIH, SANTIH, SANTIH, OM&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; text-align: justify;&quot;&gt;
Sumber: &lt;a href=&quot;https://www.facebook.com/Ida.Pedanda.Gede.Made.Gunung?fref=ts&quot;&gt;Facebook Ida Pedanda Gede Made Gunung&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritahindu.blogspot.com/feeds/6030716756959856793/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/7221655881315686900/6030716756959856793?isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/6030716756959856793'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/6030716756959856793'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritahindu.blogspot.com/2015/04/nyepi-sepi-dan-hening-tangga-kedamaian.html' title='NYEPI, SEPI DAN HENING TANGGA KEDAMAIAN'/><author><name>denny0214</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877375447862611766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhoSI_DsGS4z54FdqJXbg2ln57_qhjrAwp_xQ_etL6JAseIPQ4ZQpXvNgFR1E762oGGfdo1RJKWvbrN6rqAyeGzP9fZRs5XYgV8zsJlhEdAncYPBcuz9JVjgxBPVjZpeg/s220/100_3522.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7221655881315686900.post-7587519795949604255</id><published>2015-04-14T01:50:00.000-07:00</published><updated>2015-04-14T01:50:06.923-07:00</updated><title type='text'>SI BURUNG NURI TELAH MENDEKATI KEMATIANNYA</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #141823; font-family: helvetica, arial, &#39;lucida grande&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px; margin-bottom: 6px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #141823; font-family: helvetica, arial, &#39;lucida grande&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;&quot;&gt;
OM SWASTIASTU.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #141823; font-family: helvetica, arial, &#39;lucida grande&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;&quot;&gt;
Para pembaca dan saudara-saudaraku yang tercinta, masihkah saudara ingat pada rubrik ini saya pernah menulis cerita ; SI BURUNG NURI yang menukar bulu sayapnya dengan cacing yang di bawa oleh si Tikus? Mudah-mudahan masih ingat.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #141823; font-family: helvetica, arial, &#39;lucida grande&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;&quot;&gt;
Berkat mimpi saya yang sangat mengerikan, maka saya ingin mengulasnya lagi cerita tersebut. Sebab cerita teresebut sangat mirip dengan mimpi saya. Seiring dengan cerita tersebut saya semakin jelas rasanya menjadi kenyataan, Khususnya di di Bali yang kita sangat cintai ini. Pada suatu hari saya dimohon untuk memberi Dharma Wacana di sebuah Desa di pegunungan, umat disana akan mengadakan upacara memungkah. Desa tersebut walaupun berposisi di pegunungan namun keindahan alamnya rasanya tidak ada duanya di dunia menurut saya, maka tamu manca negara silih berganti mengunjunginya, demikian pula tamu domestik. Mereka ke sana sudah pasti menikmati keindahan alam, yang mana sawahnya berundak-undak menambah asrinya lingkungan disana. Saya sebagai orang Bali sangat kagum dan bahagia diwarisi alam yang indah seperti itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #141823; font-family: helvetica, arial, &#39;lucida grande&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;&quot;&gt;
Namun disaat saya melintas di tempat yang indah itu, hati saya tersentak dan langsung sedih. Sebab saya ingat memberikan tugas kepada pengiring saya mencatat kalau disepanjang jalan dari Blahbatuh menuju ke Desa itu, bila ada umat yang keluar dari rumahnya berjalan di tepi jalan yang saya lalui apakah mereka sedang ke pasar atau kemana, memakai kain (mekamen, bahasa Bali). Disitulah pengiring saya menyampaikan hasil catatannya, ternyata yang keluar rumah memakai kain hanya 4 orang, yang lainnya memakai celana pendek, apakah itu anak muda, orang tua nenek-nenek, kakek-kakek semuanya bercelana pendek. Dan tidak terhitung anak gadis kita yang cantik-cantik naik motor sekarang sudah memakai celana pendek (sependek pendeknya). Perjalanan saya dari Blahbatuh kesana memakan waktu 1,5 jam pakai mobil berkecepatan rata-rata 60 km per jam.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #141823; font-family: helvetica, arial, &#39;lucida grande&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;&quot;&gt;
Pada saat itulah saya ingat kembali kepada cerita saya yang pernah dimuat di media ini berjudul SI BURUNG NURI. Saya tidak menghindar apa lagi menolak kemajuan jaman dan teknologi, namun yang saya inginkan mengikuti kemajuan jaman dan kemajuan teknologi jangan sampai menghilangkan budaya sebagai identitas dan warisan leluhur yang di kagumi oleh orang-orang diseluruh dunia. Bali ini sangat terkenal dan dikenal berkat; Budaya, seni, adat istiadatnya yang dijiwai oleh tattwa agama Hindu. Dari situlah gemercingnya dolar, euro dan yen di Bali. Apa artinya Bali tanpa itu tidak ada keunikan yang bisa diandalkan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #141823; font-family: helvetica, arial, &#39;lucida grande&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;&quot;&gt;
Sawah yang menunjang kehidupan kita, kehidupan beragama Hindu (agraris), sudah hampir habis dijual di kapling-kapling, Budaya berbahasa Bali sudah hampir sirna, menurut saya bahasa Bali itu adalah bahasa yang mengadung makna yang amat dalam perlu diteliti untuk mengetahuinya. Budaya menulis Bali sudah amat langka, sedangkan tulisan Bali sarat dengan ajaran kerokhanian, Budaya sanggul (pusung) bagi Ibu-ibu sudah semakin langka, budaya berpakaian adat semakin dijauhi, budaya nonton arja, nonton wayang, nonton joged, nonton Sang Hyang dan tarian yang lainnya yang diwarisi oleh leluhur kita semakin langka. Apa lagi sekarang saya lihat adanya baju kebaya bertangan seperempat (tuklung bahasa Balinya), rasanya kurang pas di bawa ke pura, itu yang sedang digemari dan ditonjolkan. Inilah yang saya kaitkan dengan cerita burung nuri terdahulu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #141823; font-family: helvetica, arial, &#39;lucida grande&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;&quot;&gt;
Lalu siapa yang harus melestarikannya? Dari mana kita harus mulai? Kalau hal ini tidak cepat di tanggulangi, maka kehilangan budaya selain sulit untuk mengembalikan juga kehancuran kita semakin mendekat. Bila ada yang bertanya; Mengapa Pedanda berbicara soal budaya, adat dsb? Jawabannya adalah; karena agama Hindu yang kita anut dalam pelaksanaannya tidak dapat dilepaskan dari budaya, adat dan seni sebagai medianya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #141823; font-family: helvetica, arial, &#39;lucida grande&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;&quot;&gt;
Sekian dulu tulisan ini, nanti bila diperlukan saya akan lanjutkan dengan tulisan; MENGEMBALIKAN EXISTENSI KEHIDUPAN BURUNG NURI.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #141823; display: inline; font-family: helvetica, arial, &#39;lucida grande&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px; margin-top: 6px;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;line-height: 19.3199996948242px;&quot;&gt;OM SANTIH, SANTIH, SANTIH OM. SUKSMA.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;line-height: 19.3199996948242px;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;line-height: 19.3199996948242px;&quot;&gt;Source: &lt;a href=&quot;https://www.facebook.com/Ida.Pedanda.Gede.Made.Gunung?fref=ts&quot;&gt;Facebook Ida Pedanda Gede Made Gunung&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritahindu.blogspot.com/feeds/7587519795949604255/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/7221655881315686900/7587519795949604255?isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/7587519795949604255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/7587519795949604255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritahindu.blogspot.com/2015/04/si-burung-nuri-telah-mendekati.html' title='SI BURUNG NURI TELAH MENDEKATI KEMATIANNYA'/><author><name>denny0214</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877375447862611766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhoSI_DsGS4z54FdqJXbg2ln57_qhjrAwp_xQ_etL6JAseIPQ4ZQpXvNgFR1E762oGGfdo1RJKWvbrN6rqAyeGzP9fZRs5XYgV8zsJlhEdAncYPBcuz9JVjgxBPVjZpeg/s220/100_3522.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7221655881315686900.post-2391977591349593576</id><published>2015-04-14T01:48:00.000-07:00</published><updated>2015-04-14T01:48:11.103-07:00</updated><title type='text'>CERITA SI BURUNG NURI</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #141823; font-family: helvetica, arial, &#39;lucida grande&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px; margin-bottom: 6px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;line-height: 19.3199996948242px;&quot;&gt;Om Swastiastu,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #141823; font-family: helvetica, arial, &#39;lucida grande&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;&quot;&gt;
Pada kesempatan yang amat baik ini saya ingin berbagi cerita dengan saudara-saudara yang saya amat banggakan. Cerita ini adalah cerita anak-anak, namun menurut saya cerita ini banyak sekali mengandung makna. Tetapi sebelumnya saya minta maaf jika ada diantara saudara yang kurang berkenan atas cerita ini, namun saya tetap menganggap cerita ini merupakan sebuah sarana guna mempererat tali persahabatan. Adapun ceritanya adalah sebagai berikut;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #141823; font-family: helvetica, arial, &#39;lucida grande&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;&quot;&gt;
Ada seekor burung nuri yang amat cantik, bulunya berwarna kuning keemasan di dadanya, hijau kebiru-biruan dipunggungnya, paruhnya berwarna merah sama dengan warna kakinya, matanya merah. Suaranya melengking dan ekornya panjang serupa dengan ekor burung srigunting. Setiap hari burung nuri itu terbang melayang-layang diangkasa sambil bersuara melengking memamerkan bulunya yang amat indah dipandang mata. Banyak orang yang terpikat oleh kecantikan dan keindahannya, ada yang ingin memilikinya, ada pula yang hanya ingin menikmati kecantikannya hanya lewat memandang saja, dan ada pula yang memotretnya. Tidak ada burung nuri secantik itu selain dia, namun ada juga kekurangnya (kejelekannya) burung itu, walaupun dia cantik dipandang mata, tetapi dia sangat senang makan cacing tanah, bahkan sangat rakus bila menyantap cacing tanah. Setiap hari dia terbang berputar putar sambil melihat kebawah mengamati cacing tanah yang sedang keluar dari sarangnya untuk dimakan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #141823; font-family: helvetica, arial, &#39;lucida grande&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;&quot;&gt;
Pada suatu hari, seperti biasa dia terbang melayang-layang sambil mengeluarkan suaranya yang nyaring, lalu dia melihat seekor tikus sedang menarik gerobak penuh berisi cacing tanah, maka si nuri segera menurunkan ketinggian terbangnya pelan-pelan tak ubahnya seperti pesawat terbang yang mau mendarat, akhirnyaya si burung nuri itu bertengger di pinggir gerobak yang ditarik oleh si tikus. Oleh karena si burung nuri tidak tahan nafsu makannya, ingin segera menyantap cacing tanah itu, maka dia bertanya kepada si tikus, begini kata burung nuri; Hai sahabatku tikus mau kemana kau menarik gerobak berisi cacing tanah sebanyak ini. Si tikuspun menjawab dengan santai; Saya hanya ingin berkeliling-keliling saja sambil melihat pemandangan yang indah. Si nuri lagi bertanya; Apa saya boleh membeli beberapa ekor cacing yang kamu bawa ini? Si Tikus menjawab: Maaf sahabatku saya tidak menjualnya. Si nuri; Kalau begitu boleh saya minta satu ekor saja? Si tikus; tidak juga. Si nuri lagi mendesak bertanya; Apa yang harus saya lakukan agar saya dapat satu ekor cacing tanah kamu itu? Si tikus menjawab lagi; Kalau kamu mau cacing tanahku ini hanya boleh ditukar dengan satu batang bulu sayapmu untuk satu ekor. Lalu si nuri menjawab dengan tegas; Yaaaa!!!! benar begitu?, kalu benar gampang kok tidak dari tadi kau bilang seperti itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #141823; font-family: helvetica, arial, &#39;lucida grande&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;&quot;&gt;
Kemudian si nuri sempat berguman didalam hatinya; &quot; satu batang bulu sayap dicabut, toh nanti akan tumbuh lagi.&quot; Lalu dengan tidak berpikir pajang lebar lagi si nuri mencabut satu batang bulu sayapnya, ditukar dengan satu ekor cacing tanah, kemudian si nuri terbang menuju dahan pohon yang rindang untuk menikmati santapan sedap itu. Karena dia kekenyangan lalu dia tidur, di saat tidurnya yang amat lelap si nuri bermimpi tentang enaknya rasa cacing tanah tadi, maka setelah dia bangun perutnya merasa lapar lagi, pikirannya tertuju pada si tikus, lalu dia terbang mencari-cari sitikus untuk nukar bulu sayapnya dengan cacing, singkat cerita bertemu dia denga si tikus, lagi dicabut dua bulu sayapnya kemudian ditukar dengan dua ekor cacing, yang seekor lagi untuk persiapan makan besoknya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #141823; font-family: helvetica, arial, &#39;lucida grande&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;&quot;&gt;
Nah lanjut ceritanya, setelah dua hari kemudian si burung nuri lagi berpikir, agar tidak setiap hari mencari si tikus, akan lebih baik sekalian saja tukar sepuluh bulu sayapku untuk persiapan sepuluh kali makan enak. Lalu si nuri lagi menemui si tikus untuk nukar sepuluh bulu sayapnya, singkat cerita sesudah mendapatkan sepuluh cacing tanah si nuri mencari wadah untuk membawanya, semua cacing tanah dimasukan ke wadah tas plastik, lalu dia terbang, ternyata dia si nuri tidak kuasa terbang karena bulu sayapnya yang berjumlah dua belas kiri kanan telah habis dicabut sendiri untuk nukar cacing tanah. Lalu si nuri minta tolong pada si tikus untuk membantu agar dia bisa terbang, namun si tikus menjawab; itu bukan urusa saya, itu sepenuhnya urusan kamu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #141823; font-family: helvetica, arial, &#39;lucida grande&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;&quot;&gt;
Kemudian si nuri mencoba terbang berkali-kali jatuh, lalu datanglah si kucing lapar, melihat si nuri tidak bisa terbang maka sikucing sangat bahagia mendapt makanan gratis, diterkamlah si nuri dan lajut dimakan oleh si kucing, tamatlah riwayat si nuri yang di bangga-banggakan mati karena ketidak mampuannya mengendalikan nafsunya. keindahan dan kecantikan si nuri berakhir dimulut kucing, atas jasa si tikus. Demikianlah cerita si nuri, mudah-mudahan para pembaca berkenan dan dapat menjadikan hiburan cerita ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #141823; display: inline; font-family: helvetica, arial, &#39;lucida grande&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px; margin-top: 6px;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;line-height: 19.3199996948242px;&quot;&gt;Om, Santih, Santih, Santih, Om&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;line-height: 19.3199996948242px;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;line-height: 19.3199996948242px;&quot;&gt;Source: &lt;a href=&quot;https://www.facebook.com/Ida.Pedanda.Gede.Made.Gunung?fref=ts&quot;&gt;Facebook Ida Pedanda Gede Made Gunung&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritahindu.blogspot.com/feeds/2391977591349593576/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/7221655881315686900/2391977591349593576?isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/2391977591349593576'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/2391977591349593576'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritahindu.blogspot.com/2015/04/cerita-si-burung-nuri.html' title='CERITA SI BURUNG NURI'/><author><name>denny0214</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877375447862611766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhoSI_DsGS4z54FdqJXbg2ln57_qhjrAwp_xQ_etL6JAseIPQ4ZQpXvNgFR1E762oGGfdo1RJKWvbrN6rqAyeGzP9fZRs5XYgV8zsJlhEdAncYPBcuz9JVjgxBPVjZpeg/s220/100_3522.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7221655881315686900.post-1703080323863210467</id><published>2015-04-14T01:42:00.000-07:00</published><updated>2015-04-14T01:42:26.841-07:00</updated><title type='text'>BERLATIH UNTUK MENJAGA SIFAT DEWATA DALAM DIRI</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #141823; font-family: helvetica, arial, &#39;lucida grande&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px; margin-bottom: 6px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #141823; font-family: helvetica, arial, &#39;lucida grande&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;&quot;&gt;
OM SWASTIASTU,&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #141823; font-family: helvetica, arial, &#39;lucida grande&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;&quot;&gt;
Manusia memiliki sifat yang sangat kuat dalam dirinya yaitu; kebiasaan. Semestinya sifat seperti itu sangat perlu dipertahankan dan dikembangkan ke arah yang positif. Artinya kebiasaan itu dapat menciptakan kebahagiaan di atas bumi ini, dengan cara mengikuti petunjuk Ida Sang Hyang Widhi yang telah tertuang dalam ajaran Agama Hindu. Lalu bagaimana mengembangkan kebiasaan yang positif? Sebenarnya kita tidak perlu terlalu jauh berfikir, cukup dengan cara yang sederhana yaitu; sembahyang dan meditasi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #141823; font-family: helvetica, arial, &#39;lucida grande&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;&quot;&gt;
Semakin sering kita mendekatkan diri kepada Tuhan melalui sembahyang dan meditasi maka kita telah membuka diri kita untuk dialiri dengan sifat - sifat Dewata yang secara otomatis juga akan menjauhkan sifat - sifat Bhutakala dari diri kita. Hal ini pedanda dapatkan dari sebuah rumusan yang sederhana, yaitu ketika pedanda melihat seorang anak kecil yang memainkan dua buah balon gas yang terhubung tali satu sama lain. Ketika si anak kecil tersebut menarik balon berwarna putih, maka secara otomatis balon yang berwarna hitam menjadi menjauh, begitu pula sebaliknya. Hal ini pedanda hubungkan dengan sifat yang ada pada diri manusia, yaitu sifat Dewata dan Bhutakala. Bila manusia menarik sifat Dewata maka sifat Bhutakana menjauh, demikian pula jika manusia menarik sifat Bhutakana maka sifat Dewata akan semakin menjauh. Dengan bersembahyang secara rutin, itu berarti kita telah menarik sifat Dewata ke dalam diri kita yang akan menjauhkan sifat Bhutakala. Jika diikuti dengan perilaku sehari - hari yang penuh kesabaran, kasih sayang dan pemaaf, maka sifat Dewata akan terjaga dan semakin tumbuh subur dalam diri kita.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #141823; font-family: helvetica, arial, &#39;lucida grande&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;&quot;&gt;
Mungkin ada yang bertanya, apa perbedaan antara sembahyang dan meditasi? Secara garis besar Pedanda dapat memberikan pemahaman sebagai berikut; jika kita bersembahyang maka kita memusatkan pikiran menuju Sang Hyang Widhi, sedangkan jika kita bermeditasi maka itu artinya kita telah membuka hati kita untuk didatangi Sang Hyang Widhi dan menstanakan beliau di sana. lalu manakan yang lebih baik? Keduanya harus dilakukan dengan secara seimbang, ibarat melihat dua sisi mata uang yang jika hanya dilihat satu sisi nilainya tidak akan bebeda atau menjadi dua kali lipat jika kita melihat kedua sisnya, namun dengan melihat kedua sisi maka kita mengetahui bentuk uang yang seutuhnya. Dengan melakukan keduanya secara seimbang maka kita akan dapat menikmati kebahagiaan di dalam hidup sebagai benteng terjaganya sifat Kedewataan dalam diri kita.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #141823; font-family: helvetica, arial, &#39;lucida grande&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px; text-align: justify;&quot;&gt;
Sesungguhnya dalam diri manusia unsur Ketuhanan telah bersemayam yang dalam sloka disebutkan dengan &quot;Aham Brahma Asmi&quot; yang semestinya hal tersebut tercermin dalam perilaku kita sehari - hari. Inilah yang semestinya kita sadari dan ditumbuh kembangkan melalui sembahyang dan meditasi serta ditunjang dengan penerapan sifat kesabaran, cinta kasih dan pemaaf. Yang tidak kalah pentingnya juga adalah memilih makanan, karena makanan adalah sumber energi yang akan mempengaruhi jiwa. Makan dan minumlan makanan yang sukla atau tidak cemer, yang mulai proses pembuatanya, alat - alat yang digunakan untuk memasak dan juga menghidangkan, dan juga kondisi lingkungan tempat makanan itu dibuat. Agama hindu sangat menekankan akan pentingnya kesucian dan menghindari hal - hal yang cemer atau leteh, karena menjaga sifat Dewata dalam diri harus dilakukan secara sekala dan niskala.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #141823; display: inline; font-family: helvetica, arial, &#39;lucida grande&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px; margin-top: 6px;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;line-height: 19.3199996948242px;&quot;&gt;OM, SANTIH, SANTIH, SANTIH, OM&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;line-height: 19.3199996948242px;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;line-height: 19.3199996948242px;&quot;&gt;Sumber: &lt;a href=&quot;https://www.facebook.com/Ida.Pedanda.Gede.Made.Gunung?fref=ts&quot;&gt;Facebook Ida Pedanda Made Gunung&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritahindu.blogspot.com/feeds/1703080323863210467/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/7221655881315686900/1703080323863210467?isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/1703080323863210467'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/1703080323863210467'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritahindu.blogspot.com/2015/04/berlatih-untuk-menjaga-sifat-dewata.html' title='BERLATIH UNTUK MENJAGA SIFAT DEWATA DALAM DIRI'/><author><name>denny0214</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877375447862611766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhoSI_DsGS4z54FdqJXbg2ln57_qhjrAwp_xQ_etL6JAseIPQ4ZQpXvNgFR1E762oGGfdo1RJKWvbrN6rqAyeGzP9fZRs5XYgV8zsJlhEdAncYPBcuz9JVjgxBPVjZpeg/s220/100_3522.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7221655881315686900.post-8939348474978937043</id><published>2015-04-14T01:38:00.000-07:00</published><updated>2015-04-14T01:38:26.645-07:00</updated><title type='text'>N Y E P I</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #666666; font-family: helvetica, arial, &#39;lucida grande&#39;, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16.0799999237061px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;line-height: 16.0799999237061px;&quot;&gt;OM SWASTIASTU&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #666666; font-family: helvetica, arial, &#39;lucida grande&#39;, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16.0799999237061px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; text-align: justify;&quot;&gt;
Sebentar lagi tepatnya hari Sabtu tanggal 21 Maret 2015, umat Hindu diseluruh Indonesia melakoni hari suci NYEPI. Hari suci ini datangny&lt;span class=&quot;text_exposed_show&quot; style=&quot;display: inline;&quot;&gt;a setiap satu tahun sekali yaitu tahun Saka. Sehingga secara dangkal bisa disebut hari untuk menyambutan tahun baru Saka. Nyepi tepatnya dilaksanakan di hari pertama sasih (bulan) kedasa, sasih kedasa (kesepuluh) sebagai sasih pertama dari tahun Saka, dan sasih ke sanga (sembilan) adalah sasih terakhir atau sasih berakhirnya tahun saka terdahulu. Hal ini banyak sekali menimbulkan pertanyaan, kenapa begitu? Kenapa tidak di bulan ke 12 seperti tahun masehi? Jawabannya adalah memang seperti itu hukumnya tahun Saka itu. Namun ada juga maknanya; Sebab setiap sasih ke sanga disebutkan sasih panca roba (sasih kotor), jadi keadaan alam di saat sasih ini sangatlah kotor (sekala dan niskala), sebab sudah melalui 12 bulan perputaran dari tahun Saka yang terdahulu, sehingga tahun saka yang datang diawali dengan sasih kedasa ( kedas + a ), kedas (bhs Bali artinya bersih). Banyak lagi tafsir-tafsir tentang hal itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;text_exposed_show&quot; style=&quot;background-color: white; color: #666666; display: inline; font-family: helvetica, arial, &#39;lucida grande&#39;, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16.0799999237061px;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; text-align: justify;&quot;&gt;
Hari suci nyepi mempunyai makna : HNENG, HNING, ELING, AWAS. keempatnya ini semestinya dilaksana setiap nyepi ( juga di dalam kehidupan sehari-hari ), HNENG artinya Tenang, HNING artinya jernih, ELING artinya sadar, dan AWAS artinya waspada. ke-empatnya ini dimulai dari pikiran. Sebab di dalam situasi seperti itu kita dapat memaknai hidup ini dengan tepat, dan memandang masa depan dengan jelas. Serangkaian dengan hal itu, jangan lupa menanamkan di dalam diri kita masing-masing hal-hal sebagai berikut;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: 1em; margin-top: 1em;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;line-height: 16.0799999237061px;&quot;&gt;1. Bhakti terhadap Tuhan dg segala manifestasinya, serta terhadap leluhur.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;line-height: 16.0799999237061px;&quot;&gt;2. Cinta terhadap sesama manusia tidak memandang Ras, Suku dan agama.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;line-height: 16.0799999237061px;&quot;&gt;3. Kasih terhadap alam lingkungan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; text-align: justify;&quot;&gt;
Hneng, Hning, Eling dan Awas itu bisa mewujudkan karakter seperti itu, dan sebaliknya karakter seperti itu akan mengarahkan kita ke alam Hneng, Hning, Eling dan Awas. Oleh karena itulah hari suci umat hindu tidak berdiri sendiri, demikian pula hari suci nyepi ada rangkaiannya, sebelum dan sesudahnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; text-align: justify;&quot;&gt;
Rangkaian hari Suci Nyepi;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: 1em; margin-top: 1em;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;line-height: 16.0799999237061px;&quot;&gt;1. Mekiyis.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;line-height: 16.0799999237061px;&quot;&gt;2, Tawur (kesanga),&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;line-height: 16.0799999237061px;&quot;&gt;3. Sipeng (nyepi),&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;line-height: 16.0799999237061px;&quot;&gt;4. Ngembak Gni.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; text-align: justify;&quot;&gt;
Semua rangkaian ini bermakna antara lain; 1. Mekiyis (melasti/makekobok), Makna utamanya adalah Rasa Bhakti terhadap Tuhan dgn segala manifestasinya. Sehingga mekiyis defenisinya di dalam lontar Sundarigama, lontar Swamandala adalah; ....&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; text-align: justify;&quot;&gt;
IDA BHATARA DALEM KAIRING DENING KAHYANGAN-KAHYANGAN, DANGKA-DANGKA, MWANG PANJAK SAGEREHAN ALELASTI KESEGARA, ANGANYUDIN MALANING BHUMI, ANGAMET TIRTHA AMERTA RI TENGAHING SEGARA DI PULO MANYETI......&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; text-align: justify;&quot;&gt;
Kalau kita semak secara dangkal dapat dimaknai upacara itu sebagai upacara timbal balik antara Bhakti dengan asih. Yaitu manusia Bhakti dan Tuhanpun akan asih. Ini artinya serasi dan selarasnya hubungan manusia dengan Tuhan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; text-align: justify;&quot;&gt;
Setelah itu ada upacara tawur, upacara ini tergolong upacara Bhuta Yadnya yaitu Menetralisir (nyomya), energi negatif dari alam menjadi energi positif yang dapat membantu manusia dan makhluk lainnya dapat hidup dengan bahagia. Ini ada makna yang terkandung keserasian hubungan manusia dengan alam, bila manusia tidak menaruh kasih kepada alam, maka alampun akan semakin mengganas terhadap manusia itu sendiri.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; text-align: justify;&quot;&gt;
Keesokan harinya kita umat Hindu, melakoni sipeng dengan catur bratha panyepiannya, yang dapat mewujudkan karakter Hneng, Hning, Eling dan Awas. Mengarungi kehidupan berlandaskan kedamaian dan kebahagiaan. Ini berarti hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Sebab semuanya harus diawali dari diri sendiri.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; text-align: justify;&quot;&gt;
Yang terakhir adalah Hari Ngembak Gni; ini menyelaraskan hubungan manusia antar manusia yang dilandasi oleh prilaku; Yang pinter memberitau yang bodoh, yang kuat membantu yang lemah, yang kaya membantu yang miskin, dan yang sehat membantu yang sakit.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; text-align: justify;&quot;&gt;
Ada beberapa hal penting saya ingat kaitannya dengan nyepi, disaat saya merenung muncul di hati saya pikiran begini; Kalau saja konsep nyepi ini bisa dilakukan di seluruh dunia atau di Indonesia, maka banyak hal yang bisa memberikan pengaruh positif, bukannya saya ingin mempengaruhi orang dengan ajaran Hindu, sama sekali tidak. Yang saya katakan konsepnya, tentang namanya silahkan. Sebab disaat Nyepi (khususnya di Bali), berapa liter bahan bakar dapat diirit, sebab semua orang di Bali pada hari itu tidak menggunakan kendaraan, pabrik-pabrik, industri-industri semuanya stop. Kalau umpamanya kesehariannya di Bali menghabiskan 100 liter bahan bakar, maka disaat Nyepi dapat mengirit 100 liter dan pada saat itu polusi udara sudah pasti menurun. Binatang-binatang dan tumbuh-tumbuhan dapat hidup bebas satu hari, sampai semutpun berkeliaran di jalan tidak ada yang melindas, karena manusia sedang tidak beraktifitas. Alangkah damainya hidup ini. TERIMA KASIH PARA PENDAHULUKU YANG MENCANANGKAN KONSEP NYEPI, SAYA DIBIKIN TERUS BANGGA MENJADI ORANG HINDU. Walaupun disana-sini masih ada kekurangannya namun secara garis besarnya hari Nyepi memberi manfaat positif kepada manusia dan alam lingkungan kita.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; text-align: justify;&quot;&gt;
Oleh karena itu melalui tulisan ini saya menghimbau dan mengajak saudara-saudara untuk melakoni Hari suci Nyepi dengan baik, jangan berbuat sesuatu yang dapat menodai hari yang kita sucikan. Kepada pemerintah saya ucapkan terima kasih atas dukungannya di segala bidang, terutama menutup bandara dan pelabuhan serta menutup semua jenis transportasi, menutup penyiaran media di saat Nyepi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; text-align: justify;&quot;&gt;
SELAMAT MENYAMBUT TAHUN BARU SAKA 1937&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; text-align: justify;&quot;&gt;
OM, SHANTIH, SHANTIH, SHANTIH, OM&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; text-align: justify;&quot;&gt;
Sumber: &lt;a href=&quot;https://www.facebook.com/Ida.Pedanda.Gede.Made.Gunung?fref=ts&quot;&gt;Facebook Ida Pedanda Gede Made Gunung&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritahindu.blogspot.com/feeds/8939348474978937043/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/7221655881315686900/8939348474978937043?isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/8939348474978937043'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/8939348474978937043'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritahindu.blogspot.com/2015/04/n-y-e-p-i.html' title='N Y E P I'/><author><name>denny0214</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877375447862611766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhoSI_DsGS4z54FdqJXbg2ln57_qhjrAwp_xQ_etL6JAseIPQ4ZQpXvNgFR1E762oGGfdo1RJKWvbrN6rqAyeGzP9fZRs5XYgV8zsJlhEdAncYPBcuz9JVjgxBPVjZpeg/s220/100_3522.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7221655881315686900.post-2939531310928811686</id><published>2015-04-14T01:33:00.000-07:00</published><updated>2015-04-14T01:33:02.692-07:00</updated><title type='text'>CATUR BRATHA PENYEPIAN, DARI KITA, OLEH KITA UNTUK KITA.</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #666666; font-family: helvetica, arial, &#39;lucida grande&#39;, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16.0799999237061px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #666666; font-family: helvetica, arial, &#39;lucida grande&#39;, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16.0799999237061px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; text-align: justify;&quot;&gt;
OM SWASTIASTU.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #666666; font-family: helvetica, arial, &#39;lucida grande&#39;, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16.0799999237061px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; text-align: justify;&quot;&gt;
Sebentar lagi umat Hindu akan menyucikan Hari Nyepi, yang datangnya setahun (saka) sekal&lt;span class=&quot;text_exposed_show&quot; style=&quot;display: inline;&quot;&gt;i. Pada hari itu kita akan tutup tahun saka 1936, dan memasuki atau membuka lembaran baru tahun saka 1937. Apa yang bisa kita lakukan? Hari Nyepi ini datangnya rutin setiap tahun, agar jangan monoton setiap tahun tidak ada perkembangan terutama perkembangan moralitas. Apa lagi sekarang umat Hindu menyebar diseluruh Indonesia. Bagaimana saudara kita yang ada di luar Bali, terutama di daerah yang umat Hindunya sedikit. Bagaimana dia melakoni Penyepian? Sudah pasti mereka tidak akan bisa melakoni Catur Bratha Panyepian seperti di Bali. Namun jangan kaget, sesuai dengan apa yang pernah saya lihat langsung, bahwa pelaksanaan Penyepian di luar Bali itu lebih terasa secara bathiniah. Maaf di Bali masih lebih terasa secara luarnya saja. Maaf sekali lagi walaupun tidak semua umat Hindu di Bali melakoni catur bratha panyepian itu ada kadarnya, namun masih ada yang begitu walaupun telah banyak pula yang tekun melakoni catur bratha panyepian dengan sungguh-sungguh. Maunya saya agar di Bali semua Umat Hindu saat hari Nyepi itu dengan tekun, taat dan disiplin melakoni catur bratha penyepian itu supaya tidak perlu lagi adanya petugas yang mengawasi. Apa sebab saya mempunyai pemikiran seperti itu? ada alasan saya:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;text_exposed_show&quot; style=&quot;background-color: white; color: #666666; display: inline; font-family: helvetica, arial, &#39;lucida grande&#39;, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16.0799999237061px;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; text-align: justify;&quot;&gt;
1. Kita harus menghargai, menghormati dan bangga atas keputusan pemerintah menjadikan Nyepi itu dijadikan hari libur nasional.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; text-align: justify;&quot;&gt;
2. Kita harus menghargai, menghormati, dan bangga atas perjuangan Pemerintah Propinsi Bali didalam memberikan kesempatan sekaligus menghormati Hari Suci Kita dengan menutup Bandara, pelabuhan, dan menyetop lalu-lalangnya kendaraan di jalan, dan menyetop pengusaha agar tidak beraktifitas selama 24 jam disaat Penyepian.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; text-align: justify;&quot;&gt;
3. Bila kita berbicara Hindu, masih terasa Balinya walaupun Hindu itu tidak saja di Bali, namun kelengketannya masih terasa. Sehingga kita harus sadar menjadi umat Hindu yang masih di Bali, sudah dapat dipastikan kita menjadi barometer dari pelaksaan Kehinduan kita. Untuk itulah sekarang saya mengajak saudara-saudara saya memaknai Catur Bratha Penyepian itu melalui konsep; Dari kita, oleh kita, dan untuk kita. Kalau tidak kita memulai, siapa lagi???&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: 1em; margin-top: 1em;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;line-height: 16.0799999237061px;&quot;&gt;DARI KITA;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;line-height: 16.0799999237061px;&quot;&gt;Kalau kita amati dan resapi pelan-pelan,muncul pertanyaan: APAKAH YANG MENJADI KEWAJIBAN POKOK SEBAGAI PEMELUK AGAMA (HINDU)??? Jawabannya menurut saya adalah; siapapun memeluk agama apapun, mereka mempunyai kewajiban pokok UNTUK MENTAATI DAN MELAKONI AJARAN AGAMANYA DENGAN BENAR. Maka dari itu kita yang memeluk agama Hindu, apa lagi dari kelahirannya Hindu memiliki kewajiban dan tanggung jawab atas pelaksanaan ajaran agama kita. Maaf kalau mereka hanya beragama di KTP saja, ya pantaslah tidak memiliki kewajiban dan tanggung jawab. Oleh karena Nyepi itu adalah salah satu ajaran agama Hindu, maka kita harus mentaatinya dengan cara melakoni persyaratannya dengan benar (Catur Bratha penyepian). Disini saya tidak lagi menguraikan unsur yang disebut catur bratha panyepian, sebab sudah terlalu sering dikatakan, dan saya anggap semua umat Hindu sudah tau kecuali bayi, dan umat yang tidak sadar. Menurut saya apa sih susahnya untuk diam dan tidak beraktifitas selama 24 jam dalam setahun? Biasanya banyak orang mengeluh dalam kesehariannya karena mereka kurang istirahat, dan ada juga yang sampai sakit karena kurang istirahat. Kalau tidak dari kita yang mau mengistirahatkan diri kita siapa lagi yang disuruh? Namun istirahat di sini artinya tidak sama dengan istirahat dalam kelelahan. Istirahat yang mengandung arti mengenang dan memuja kebesaran Tuhan. Melihat dan mengevaluasi diri sendiri untuk meningkatkan subhakarma di tahun baru nanti.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; text-align: justify;&quot;&gt;
DENGAN MEMBACA DAN MENDENGARKAN KISAH AJARAN YANG TERKANDUNG DI DALAMANYA, MAKA ORANG YANG BAIK BERUBAH MENJADI ALIM DAN SUCI. DENGAN APAPUN ORANG ITU AKAN SEGERA MENCAPAI KESADARAN SIWA. (Siwa Purana. 13. 12).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; text-align: justify;&quot;&gt;
Artinya disaat Nyepi semua aktifitas kita harus dicurahkan kepada kebesaran Siwa (Tuhan), baik dengan membaca, mendengarkan atau dengan memujanya melalui lagu-lagu yang mengarah kepada kemaha kuasaan dan kesucianNya, maka secara pelan-pelan setiap tahun (setiap saat) kita lakukan kita akan sampai kepada kesadaran Siwa. Hentikan mengumbar hawa nafsu, hentikan aktifitas, hentikan menghibur diri, hanya 24 jam dalam setahun. Untuk kita memberikan tubuh kita jiwa kita kesempatan menghayati asalnya yang mana asalnya itu juga yang menjadi tujuannya hidup. Semuanya itu harus dimulai dari diri kita sendiri, sebab kita semua lahir sendiri dan pulangpun sendiri nanti, disini kita harus mencari bekal yang bermanfaat untuk kita bawa pulang nanti.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: 1em; margin-top: 1em;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;line-height: 16.0799999237061px;&quot;&gt;OLEH KITA;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;line-height: 16.0799999237061px;&quot;&gt;Seperti apa yang saya uraikan diatas, siapa yang semestinya melakoni semua itu? Jawabannya pastilah kita. Sebab kalau diruntut kebelakang dengan beberapa pertanyaan; Siapa yang menyuruh kita meyakini Tuhan melalui ajaran Weda? Untuk apa kita meyakininya kalau kita tidak mau melakoninya? Menurut pendapat saya, dari mulai kita sadar sebagai penganut ajaran agama Hindu, maka kita sudah merasa mempunyai kewajiban dan tanggung jawab kepada diri sendiri untuk melakoninya. Dengan sendirinya sesuai dengan kemampuan serta ruang dan waktu. Inilah yang perlu kita pahami.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: 1em; margin-top: 1em;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;line-height: 16.0799999237061px;&quot;&gt;UNTUK KITA.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;line-height: 16.0799999237061px;&quot;&gt;Sesuai dengan makna dari hukum karma phala, maka barang siapa yang berbuat apa saja, mereka sendirilah yang akan mendapatkan karmanya. Pahala dari karma seseorang tidak bisa diwariskan, tidak bisa dijual, digadaikan apa lagi dicuri. Maka dari itulah untuk memantapkan pelaksanaan catur beratha penyepian itu, kita pahami dari sudut; Dari kita, oleh kita dan untuk kita. Terutama saya mengajak generasi muda untuk bisa menjadi pelopor, sebab tumpuan harapan saya untuk masa depan adalah para generasi muda. Karena saya sendiri sadar bahwa saya sudah tua, tak ubahnya seperti matahari yang menunjukan pukul 4 sore, dia akan menunggu terbenamnya saja. anda lah nantinya yang memegang tanggung jawab di kemudian hari.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; text-align: justify;&quot;&gt;
Mungkin banyak uraian saya tadi kurang memuaskan anda, dan tidak terlepas dari segala kekurangan dan kesalahannya saya mohon maaf. semoga seklumit ajakan saya bisa dijadikan bahan pertimbangan bagi anda. Yang terpenting anda para pembaca dapat menangkap jiwa dari pada tulisan saya. Mari kita tunjukan bahwa Hindu adalah ajaran agama yang mampu membangkitkan dan mewujudkan kedamaian dan kebahagiaan bersama. Bagi umat Hindu yang berada diluar Bali yang lingkungannya tidak seperti di Bali, saya harapkan melakoni makna nyepi itu di dalam hati nurani sendiri dengan mengambil tempat di tempat suci atau di dalam kamar sendiri.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; text-align: justify;&quot;&gt;
OM, SANTIH, SANTIH, SANTIH, OM&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; text-align: justify;&quot;&gt;
Sumber: &lt;a href=&quot;https://www.facebook.com/Ida.Pedanda.Gede.Made.Gunung?fref=ts&quot;&gt;Facebook Ida Pedanda Gede Made Gunung&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritahindu.blogspot.com/feeds/2939531310928811686/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/7221655881315686900/2939531310928811686?isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/2939531310928811686'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/2939531310928811686'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritahindu.blogspot.com/2015/04/catur-bratha-penyepian-dari-kita-oleh.html' title='CATUR BRATHA PENYEPIAN, DARI KITA, OLEH KITA UNTUK KITA.'/><author><name>denny0214</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877375447862611766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhoSI_DsGS4z54FdqJXbg2ln57_qhjrAwp_xQ_etL6JAseIPQ4ZQpXvNgFR1E762oGGfdo1RJKWvbrN6rqAyeGzP9fZRs5XYgV8zsJlhEdAncYPBcuz9JVjgxBPVjZpeg/s220/100_3522.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7221655881315686900.post-4749642006159423643</id><published>2014-09-14T08:43:00.000-07:00</published><updated>2014-09-14T08:43:20.108-07:00</updated><title type='text'>UPACARA AGAMA MEMBENTUK MASYARAKAT KREATIF DAN PRODUKTIF</title><content type='html'>&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;OM SWASTIASTU&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Masyarakat Hindu khususnya yang berada di Bali, hampir setiap hari disibukkan oleh kegiatan upacara agama, dengan kata lain bisa disebut; Tiada hari tanpa upacara. Mak&lt;span class=&quot;text_exposed_show&quot; style=&quot;display: inline;&quot;&gt;anya banyak mengundang pertanyaan dari berbagai pihak. Ada yang bertanya karena memang ingin tahu, ada yang bertanya bernada sinis, dan lain sebagainya. Terlepas dari semuanya itu, apakah ada manfaat upacara dilihat dari kehidupan bermasyarakat? Inilah yang perlu direnungkan. Saya sangat setuju bila kita dapat mengangkat pengaruh nilai-nilai positif dari aktivitas upacara dalam kehidupan kita, lebih-lebih di dalam kita memasuki zaman global yang tidak bisa dihindari. Saya kira itu pasti ada, hanya saja belum ada yang dapat mengangkat atau menggalinya, sehingga kegiatan upacara agama banyak mendapat kritik-kritik yang bisa berakibat melemahnya semangat untuk melaksanakan upacara agama.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;text_exposed_show&quot; style=&quot;background-color: white; display: inline;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Jika hal itu benar-benar terjadi, apa jadinya agama kita? Sebab agama Hindu terdiri dari tiga kerangka dasar yaitu;&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
• Tattwa (Filosofi)&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
• Susila (Etika)&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
• Upacara (Ritual)&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ketiga kerangka dasar ini harus dijalankan secara serasi seimbang dan harmonis. Kalau satu tidak ada berarti kesemuanya tidak jalan. Untuk selalu terjaga keseimbangan ketiga kerangka tersebut, kita harus memahami melalui tatacara seperti ini;&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
MELALUI PELAKSANAAN UPACARA KITA MENDALAMI TATTWA DAN MENERAPKAN SUSILA.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Nah sekarang saya akan kembali ke masalah pokok dari renungan saya tadi, mengenai dampak pelaksanaan upacara agama terhadap kehidupan bermasyarakat. Para perumus ajaran veda di jaman dahulu, pasti sudah berpikir agar pelaksanaan ajaran veda di manapun dan kapanpun itu dapat memberikan dampak positif bagi kehidupan manusia. Jika tidak seperti itu, tidak akan mungkin masih dianut oleh umat manusia sampai zaman sekarang dari zaman 5 ribu tahun sebelum masehi. Dan perlu juga diketahui bahwa agama Hindu yang kita anut sekarang (agama Hindu seperti di Bali), menurut cerita beberapa tokoh agama terkemuka, itu masih asli artinya belum pernah mengalami perubahan atau pergeseran. Pernah juga saya dengar kata-kata bahwa, untuk belajar agama Hindu yang utuh belajarlah di Bali. Dengan demikian, kita tidak perlu lagi mengutak-atiknya, karena dampak positifnya telah kita rasakan bersama.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Melalui pelaksanaan upacara agama diterapkan pendidikan kepada masyarakat agar selalu berkreatvitas dan berproduktifitas secara berkesinambungan. Maka dari itulah, kita dapat melihat setiap acara upacara agama dilaksanakan, kreasi-kreasi baru berkembang dengan pesat, dan ikut memberikan rasa bangga dan rasa bahagia, karena kreasi yang dikembangkan tidak lepas dari lingkaran tattwa dan susila, bahkan sebaliknya dapat memantapkan rasa bhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Jadi Beliaupun tidak merasa percuma memberikan umat manusia kelebihan berpikir dibandingkan makhluk lain ciptaanNya, karena kita mampu memanfaatkan pikiran secara positif.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Demikian pula halnya terhadap pelaksanaan upacara agama dapat memberikan pendidikan untuk menciptakan masyarakat produktif. Orang-orang Hindu di Bali terkenal dengan masyarakat yang sangat produktif. Pernah suatu ketika saya di mohon untuk muput yadnya di rumah asal ibu saya, yaitu di daerah Kendran masih wilayah kecamatan Tegalalang. Dalam perjalanan menuju Kendran lewat Desa Pliatan ke utara, dipinggir jalan raya banyak sekali toko-toko yang menjual hasil kerajinan tangan (barang seni). Di situ saya sempat kaget melihat ada patung itik (bebek) yang menurut saya teramat seni, dan bahannya adalah dari pangkal bambu yang masih ada akaranya. Pada hal kesehariannya pangkal bambu seperti itu luput dari perhatian, selain digunakan sebagai kayu bakar. Apalagi di zaman sekarang kayu bakar semakin kurang dapat pasaran yang disebabkan maraknya penggunaan kompor berbagai macam jenis yang dianggap lebih praktis.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Berdasarkan kreatif dan produktifnya orang Bali akhirnya benda yang biasanya di buang, menjadi barang yang sangat berharga. Banyak lagi barang-barang produksi seniman Bali semacam itu. Jadi dipikiran saya terlintas apa yang menyebabkan masyarakat Hindu di Bali menjadi seperti itu? Setelah beberapa kali berpikir bulak balik, akhirnya saya teringat bahwa ada kaitannya dengan kegiatan rutin umat Hindu di Bali, seperti saban hari melakukan upacara agama. Permasalahan inilah saya akan mencoba untuk menguraikan sesuai dengan suara hati saya.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Begini saudara-saudara pembaca; Sebelum upacara agama itu berlangsung, ada kegiatan masyarakat yang dilakukan secara gotong royong dalam mempersiapkannya, seperti misalnya; ”majejaitan” (merajut), membuat jajan banten, menganyam, matanding (menyajikan), dan lain sebagainya. Kesemua kegiatan tersebut memerlukan perhatian yang cukup serius, diskusi, tanya jawab terus menerus. Karena di saat itu terjadi pula proses pendidikan dengan menggunakan metoda kejar, yaitu Kerja sambil Belajar. Peristiwa semacam itu menuntun mereka untuk berpikir kritis, rumit dan dinamis. Di dalam masyarakat yang berpikir rumit, kritis dan dinamis, akan terbentuk pula masyarakat yang produktif.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Masyarakat Hindu di Bali semasih mau membuat banten sendiri akan tetap berpikiran kritis, rumit dan dinamis, otomatis masyarakat produktif tetap bisa dipertahankan. Nah bukti-bukti di lapangan sudah terlihat bahwa masyarakat Hindu di Bali telah mulai berpikir; praktis, ekonomis, dan gelis (serba cepat), kalau diwaktu kita melakukan kegiatan agama berdasarkan pola pikir seperti itu, rasanya tidak tepat, dan mempercepat proses terbentuknya masyarakat konsumtif. Arah pola pikir masyarakat seperti yang telah saya sebutkan di atas muncul di Bali disertai bukti-bukti, hampir semua sarana upacara sekarang dari membeli. Bahkan banyak pula umat Hindu yang lebih senang membeli banten untuk upacara dibandingkan mereka membuat sendiri. Jangankan banten yang berskala besar, canang saripun yang begitu sederhananya mereka masih membeli.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mereka tidak peduli entah bagaimana proses membuatnya, apakah sudah memenuhi standar kesucian, demikian pula kelengkapannya. Karena mereka sudah berada di dalam pola berpikir praktis, ekonomis dan gelis. Lucunya lagi banyaknya pedagang banten (canang) bukan dari orang Hindu, yang nota bene belum memahami proses pembuatan banten sesuai dengan ketentuan-ketentuan sastra agama. Menurut hemat saya upacara agama yang menggunakan sarana banten dari membeli dibandingkan dengan banten yang dari membikin secara gotong royong, bobotnya sangat berbeda. Banten yang dari membeli sudah jelas tatanan di waktu membuatnya sudah dibayangi oleh pemikiran untung dan rugi, juga pasti ada langkah-langkah yang semestinya harus ditempuh akan ditinggalkan, misalnya; upacara mepada, upacara panca kerta, upacara pengalang dan lain sebagainya.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pernah saya dengar, ada upacara berskala besar di suatu tempat, bantennya keseluruhan dari membeli. Si pedagang banten semestinya memotong kerbau, tetapi mereka hanya membeli kulit (belulang) kerbau dan beberapa kilo dagingnya. Mereka yang membeli banten tidak peduli, mungkin lantaran tidak tahu atau lantaran berpikir, toh kita sudah membeli. Jika hal ini benar-benar terjadi, sangat disayangkan sekali, sebab prosesi upacara mapepada jelas tidak dilakukan, kita sudah mengetahui bahwa upacara mapepada itu sangat penting artinya. Demikianlah sedikit gambaran mengenai pelaksanaan upacara agama yang dilakukan berlandaskan pemikiran praktis, ekonomis dan gelis (cepat), sehingga latihan berpikir rumit, kritis dan dinamis semakin berkurang, karena aktivitas membuat banten sudah semakin dijauhi.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Akibatnya proses terbentuknya masyarakat konsumtif semakin cepat meninggalkan masyarakat produktif. Kalau hal ini sudah membudaya, masyarakat pada umumnya tidak lagi memiliki kesabaran, tidak memiliki kesadaran, dan rasa kasih, rasa sayang, serta sifat pemaaf akan sirna. Sifat individu semakin menonjol, sifat egois tumbuh subur, yang tidak kalah pentingnya adalah penyakit masyarakat semakin dipelihara dengan subur.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Adapun penyakit masyarakat yang saya maksudkan yaitu PANCA MA. Saya merasa sangat ngeri sekali karena, apabila itu betul-betul memasyarakat, sorga akan berbalik menjadi neraka, sudah barang tentu predikat pulau Bali sebagai pulau sorga akan berbalik menjadi Bali sebabai Pulau Neraka. Perlu saya jelaskan di sini mengenai apa yang dimaksudkan dengan Panca Ma tadi, yaitu;&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1. Ma, artinya mamotoh (berjudi), prosentasa penjudi semakin hari semakin tinggi di masyarakat. Seperti telah diketahui bersama, bahwa penjudi itu kebanyakan malas bekerja, dan kurang memperhatikan keluarga, dan sering melanggar aturan yang telah ditetapkan. Mereka hanya berpikir asal punya uang untuk keperluan main judi itu paling penting.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2. Ma, artinya mamunyah (mabuk), di sini saya lebih menekankan pada mengkonsumsi minuman keras. Apabila memunyah ini sudah memasyarakat, pertengkaran, konflik yang memakan korban jiwa maupun arta benda sulit dihindari, kesadaran manusia semakin menurun.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
3. Ma, artinya mamadat (pecandu), antara lain merokok, narkoba, yang semuanya itu dapat merusak kesehatan, dan merusak masa depan. Jika hal ini tidak dapat ditanggulangi, berarti kehancuran generasi penerus sudah berada di ambang pintu.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
4. Ma, artinya mamadon (berselingkuh), dalam bahasa kawi disebut anyolong semara, perbuatan seperti ini akan merusak kebahagiaan hidup, meracuni generasi penurus.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
5. Ma, artinya mamaling (mencuri), mencuri adalah perbuatan yang paling meresahkan masyarakat, dapat menghilangkan ketentraman masyarakat. Bila penyakit ini telah muncul dimasyarakat, bisa dipastikan kehancuran sudah dekat. Baik kehancuran moral maupun kehancuran dibidang spiritual.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Inilah penyakti masyarakat yang bisa terjadi di dalam masyarakat berpola konsumtif. Makanya para pendahulu kita telah berpikir jauh ke depan untuk membentuk masyarakat produktif, melatih masyarakat melalui kegiatan spiritual, salah satu di antaranya adalah upacara agama. Di jaman masyarakat produktif, jarang kita temui perselisihan-perselisihan, konflik-konflik. Mereka hidup bersaudara sesama manusia, berteman akrab dengan lingkungan, dan memperlakukan alam seperti menyayangi dirinya sendiri. Hidup menjadi rukun, damai dan sejahtera, tak ubahnya seperti hidup di sorga, gelak tawa kedengaran seperti kidung rohani menuntun kedamaian turun ke bumi, senyum menghiasi setiap bibir manusia. Jeritan tangis dan rintihan ditelan oleh gelombang kedamaian. Kapan kondisi seperti itu bisa kita nikmati.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Jangan biarkan leluhur kita sedih di alam sana, melihat konsep-konsep kehidupan ”adhi luhung” telah kita hancurkan. Jangan pula dibiarkan generasi penerus kita kehilangan pegangan dan kehilangan arah dikemudian hari. Kalau itu tidak kita pikirkan, generasi penerus kita tak ubahnya seperti ”tokek hanyut” dalam arus yang sangat deras (tuke anyud, bahasa bali. Pati grape), begitu jadinya mereka nanti.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Suara hati saya memanggil saudara-saudara untuk bisa diajak bersama mewujudkan hidup bahagia melalui penerapan konsep kedamaian dari leluhur kita.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
OM, SANTIH, SANTIH, SANTIH, OM&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span class=&quot;text_exposed_show&quot; style=&quot;background-color: white; display: inline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sumber: &lt;a href=&quot;https://www.facebook.com/Ida.Pedanda.Gede.Made.Gunung?ref=ts&amp;amp;fref=ts&quot;&gt;Facebook Ida Pedanda Gede Made Gunung&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritahindu.blogspot.com/feeds/4749642006159423643/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/7221655881315686900/4749642006159423643?isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/4749642006159423643'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/4749642006159423643'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritahindu.blogspot.com/2014/09/upacara-agama-membentuk-masyarakat.html' title='UPACARA AGAMA MEMBENTUK MASYARAKAT KREATIF DAN PRODUKTIF'/><author><name>denny0214</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877375447862611766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhoSI_DsGS4z54FdqJXbg2ln57_qhjrAwp_xQ_etL6JAseIPQ4ZQpXvNgFR1E762oGGfdo1RJKWvbrN6rqAyeGzP9fZRs5XYgV8zsJlhEdAncYPBcuz9JVjgxBPVjZpeg/s220/100_3522.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7221655881315686900.post-3114395263028690418</id><published>2014-09-14T08:32:00.002-07:00</published><updated>2014-09-14T08:32:21.532-07:00</updated><title type='text'>ORANG HINDU SELALU MENERAPKAN KONSEP KESUCIAN DALAM HIDUPNYA</title><content type='html'>&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;OM SWASTIASTU&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kadang-kadang orang menyamakan pengertian antara suci dan cemer dengan bersih dan kotor. Sebenarnya dua pasang kata-kata itu memiliki perbedaan yang sangat mencolo&lt;span class=&quot;text_exposed_show&quot; style=&quot;display: inline;&quot;&gt;k. Tetapi untuk mendapatkan pengertian yang sebenarnya, perlu kita merenung secara mendalam. Pulau Bali sebenarnya sebuah pulau yang bermakna kesucian. Jadi pulau ini dibangun dan ditata melalui konsep kesucian. Oleh karena kesucian itu selalu berdampingan dengan cemer, yang diatur melalui hukum rwa bhineda, namun sekarang ini akan diungkapkan lewat kata hati saya adalah tentang konsep kesuciannya saja. Sehingga yang berlawanan dengan konsep kesucian itu adalah merupakan cemer.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;text_exposed_show&quot; style=&quot;background-color: white; display: inline;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kesucian itu tiada lain adalah kesan rokhani yang jernih dan tenang. Untuk menjaga kesucian Bali, masyarakat Hindu mulai dari menerapkan kesucian diri pribadinya masing-masing. Baik secara jasmaniah maupun secara rohaniah. Misalnya; Orang Bali (Hindu), dari cara membuat makanan sudah menerapkan konsep kesucian. Alat-alat memasak tidak boleh dicampur kegunaannya dengan kepentingan lain, seperti digunakan untuk mencuci pakaian dan lain sebagainya. Makanya orang Hindu mempunyai ember lebih dari satu. Ember untuk keperluan masak makanan berbeda dengan ember yang digunakan untuk mencuci pakaian. Demikian pula terhadap alat-alat lain yang dipergunakan untuk kepentingan hidupnya. Hal seperti ini selalu dipertahankan untuk tetap menjaga kesucian diri pribadinya.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Lalu saya ingat sebuah cerita Mahabharata, sewaktu sedang berkecamukanya Bharata Yudha, Bhagawan Bisma rebah kena panah Arjuna di Kuru Ksetra. Pada malam harinya saat perang sedang istrirahat, Panca Pandawa bersama Drupadi menjenguk kakeknya (Bhagawan Bisma), di dalam pertemuan antara cucu dengan kakek itu terjadi dialog. Diawali oleh Bhagawan Bisma, menyapa dan menasehati Dewi Drupadi, inti nasehatnya agar Dewi Drupadi tetap tabah, dan setia melayani para suaminya, serta tetap konsisten menjaga kesucian diri. Mendengar nasehat sang kakek seperti itu, Dewi Drupadi jadi tersinggung, sebab dia teringat pada waktu ditelanjangi oleh Dusasana di depan orang banyak, termasuk di depan mata para Maha Rsi, dan di depan mata Bhagawan Bisma, kok beliau tidak ada keinginan untuk mencegahnya, atau menasehati si Dursasana dan si Duryodana. Kekesalan yang ada di dalam hati Drupadi seperti ini lah di utarakan dihadapan kakeknya yang sedang sekarat, melalui kalimat-kalimat yang cukup tajam dan pedas. Antara lain; Kenapa baru sekarang kakek menasihati saya dengan kata-kata penuh makna? Sewaktu saya ditelanjangi oleh Dursasana, kakek kan ada disana, kenapa waktu itu kakek membiarkan kejadian yang memalukan dan menginjak martabat saya, serta martabat kaum perempuan? Kemana kepintaran kakek saat itu? Bhagawan Bisma menjawab sambil tersenyum; Cucuku yang aku sangat sayangi, pada waktu itu kesucian pikiran kakek terbungkus oleh kejahatan, yang diakibatkan oleh makanan, minuman, yang kakek nikmati di Korawa. Sebab semua yang diberikan oleh orang jahat, sudah pasti pemberiannya itu dicemari oleh sifat mereka. Nah sekarang saat darahku yang tercemar itu mengalir membasahi bumi, barulah kesucian pikiran kakek nampak. Saat sekarang pula kakek baru dapat menasihati kalian.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Di samping itu perlu kalian ketahui, bahwa makanan sangat berpengaruh bagi pikiran manusia. Untuk itu hati-hatilah kalian makan, pililah makanan yang tidak tercemari oleh hal-hal yang bersifat cemer, agar pikiran kalian tidak ikut cemer. Berdasarkan cerita tersebut, orang-orang Hindu sangat memperhatikan kesucian makanan, dan kesucian segalanya agar mereka dapat hidup di alam kesucian. Di Bali pedagang makananpun (Yang saya tahu pedagang beragama Hindu), mereka tetap menjaga kesucian dari barang dagangannya. Sebab di Hindu berdasarkan konsep Tri Hittakarana, Dewa yang menjadi pujaan para pedagang adalah Bhatari Melanting. Maka dari itulah mereka harus tetap menjaga kesucian dagangan mereka, sehingga si pembeli tetap dapat menikmati kesucian.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kalau hal seperti ini dapat dipertahankan, saya yakin orang-orang Hindu tetap akan dapat melihat yang mana benar dan yang mana salah, karena pikirannya tidak dicemari oleh kekotoran (cemer). Jika perhatian kita kurang terhadap kesucian, dengan cara makan apa saja, dan belanja dimana saja. Tercemarlah pikiran kita, tingkah laku kitapun akan berubah menjadi sadis, kurang bersahabat, kurang kasih sayang. Dunia menjadi gelap, langkah tidak menentu, tujuan hidup semakin sulit dicapai. Untuk itu saya pikir bagi semua umat Hindu, agar memperhatikan kesucian makanan terutama makanan yang dibeli di warung dan di tempat lain yang menjual makanan, kalau kalian mau menjaga kesucian diri pribadi kalian.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Di samping itu, mulai dari cara makanpun tercermin kepribadian seseorang. Cara makan yang paling terhormat dan mencerminkan kesucian diri adalah duduk bersila, duduk di kursi atau tempat duduk yang tersedia dengan sikap duduk yang sopan. Selain cara makan seperti itu masih dianggap kurang sopan dan tidak mencerminkan kesucian.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Demikianlah cara-cara orang Hindu di Bali menjaga kesucian, melalui cara menjaga kesucian diri mereka masing-masing. Kemudian dilanjutkan menjaga kesucian keluarga dan rumah, kesucian lingkungan, melalui penerapan konsep-konsep ; Tri Mandala, Tri Hittakarana, konsep memanusiakan alam dan lingkungan.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Saya sangat merasa bangga bila semua orang-orang Hindu menyadari prihal seperti tersebut di atas. Lebih-lebih dapat mentaati peraturan untuk tidak makan daging sapi. Hentikanlah prilaku dan tindakan yang bertentangan dengan ajaran agama. Marilah secara perlahan-lahan menuju kesucian diri (buana alit dan buana agung). Pesan-pesan kesucian telah diwariskan kepada kita, untuk tetap menjaga predikat Bali sebagai pulau sorga, Bali sebagai pulau Dewata, serta predikat-predikat lain yang telah terbukti membawa nama harum pulau Bali sampai ke pelosok dunia.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
OM SANTIH, SANTIH, SANTIH, OM&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, lucida grande, tahoma, verdana, arial, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;Sumber:&lt;a href=&quot;https://www.facebook.com/Ida.Pedanda.Gede.Made.Gunung?ref=ts&amp;amp;fref=ts&quot;&gt; Facebook Ida Pedanda Gede Made Gunung&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritahindu.blogspot.com/feeds/3114395263028690418/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/7221655881315686900/3114395263028690418?isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/3114395263028690418'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/3114395263028690418'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritahindu.blogspot.com/2014/09/orang-hindu-selalu-menerapkan-konsep.html' title='ORANG HINDU SELALU MENERAPKAN KONSEP KESUCIAN DALAM HIDUPNYA'/><author><name>denny0214</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877375447862611766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhoSI_DsGS4z54FdqJXbg2ln57_qhjrAwp_xQ_etL6JAseIPQ4ZQpXvNgFR1E762oGGfdo1RJKWvbrN6rqAyeGzP9fZRs5XYgV8zsJlhEdAncYPBcuz9JVjgxBPVjZpeg/s220/100_3522.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7221655881315686900.post-1424159107980467097</id><published>2014-09-14T08:27:00.000-07:00</published><updated>2014-09-14T08:27:29.712-07:00</updated><title type='text'>KAWITAN ADALAH PENGINGAT ASAL</title><content type='html'>&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;OM SWASTIASTU&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kawitan itu berasal dari bahasa sansekerta yaitu Wit yang artinya asal mula. Asal mula manusia adalah Tuhan, maka sesungguhnya setiap orang punya kawitan. Di luar Bali kawitan itu ada tetapi tidak secara visual dalam bentuk merajan. Konsep merajan kawitan ada mulai abad ke-11 yang ditetapkan oleh Ida Mpu Kuturan di Bali sebagai benteng, karena bercermin&amp;nbsp;&lt;span class=&quot;text_exposed_show&quot; style=&quot;display: inline;&quot;&gt;dari pengalaman sejarah runtuhnya kerajaan Hindu di Jawa.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span class=&quot;text_exposed_show&quot; style=&quot;display: inline;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span class=&quot;text_exposed_show&quot; style=&quot;display: inline;&quot;&gt;Kawitan di Jawa &amp;nbsp;tidak sedetail di Bali, yang ada adalah dalam bentuk candi pemujaan kerajaan leluhur dan sebagainya yang lebih bersifat umum, yang ikatannya tidak sekuat konsep kawitan di Bali. Mengenai adanya banyak kawitan, ini bersumber dari kondisi sosial dan kedudukan leluhur kita di masyarakat pada jaman dahulu. Jika misalnya leluhur kita dahulu pernah menjadi raja, maka keturunannya akan memakai nama kawitan tersebut. Begitu pula jika seandainya leluhur kita dulu menjadi wiku, maka keturunannya akan memakai mana kawitan tersebut. Hal ini bertujuan untuk mengingatkan kita, bahwa sesungguhnya kita punya kawitan para leluhur yang luar biasa, yang sakti, bijaksana, dharma dan berwibawa.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span class=&quot;text_exposed_show&quot; style=&quot;display: inline;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span class=&quot;text_exposed_show&quot; style=&quot;display: inline;&quot;&gt;Dengan mengingat kawitan maka seolah kita ditantang, apakah dengan sikap dan perilaku kita seperti sekarang ini kita layak menyandang nama kawitan sebagai keturunan beliau? Kawitan adalah pengingat wit atau asal.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;text_exposed_show&quot; style=&quot;background-color: white; display: inline;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
OM, SANTIH, SANTIH, SANTIH, OM&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, lucida grande, tahoma, verdana, arial, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;Sumber: &lt;a href=&quot;https://www.facebook.com/Ida.Pedanda.Gede.Made.Gunung?ref=ts&amp;amp;fref=ts&quot;&gt;Facebook Ida Pedanda Gede Made Gunung&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritahindu.blogspot.com/feeds/1424159107980467097/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/7221655881315686900/1424159107980467097?isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/1424159107980467097'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/1424159107980467097'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritahindu.blogspot.com/2014/09/kawitan-adalah-pengingat-asal.html' title='KAWITAN ADALAH PENGINGAT ASAL'/><author><name>denny0214</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877375447862611766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhoSI_DsGS4z54FdqJXbg2ln57_qhjrAwp_xQ_etL6JAseIPQ4ZQpXvNgFR1E762oGGfdo1RJKWvbrN6rqAyeGzP9fZRs5XYgV8zsJlhEdAncYPBcuz9JVjgxBPVjZpeg/s220/100_3522.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7221655881315686900.post-4044134755708868094</id><published>2014-09-14T08:21:00.000-07:00</published><updated>2014-09-14T08:21:04.352-07:00</updated><title type='text'>UPACARA MEMPUNYAI KEDUDUKAN YANG PENTING</title><content type='html'>&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;OM SWASTIASTU&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Upacara merupakan bagian dari pelaksanaan ajaran agama Hindu Bali yang berfokus pada karma sandyasa. Namun dalam pelaksanaanya jangan sampai keluar dari rel yang ditentukan. Dari sudu&lt;span class=&quot;text_exposed_show&quot; style=&quot;display: inline;&quot;&gt;t artha atau kemampuan secara materi sudah ada tingkatan yang bisa dipilih yaitu Khanista, Madya dan Utama dan semua tingkatan itu sama mulianya, yang terpenting dipersembahkan dengan tulus ikhlas. Jadi sesuaikan kemampuan materi kita dengan tingkatan yang bisa dilakukan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;text_exposed_show&quot; style=&quot;background-color: white; display: inline;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ini yang sering keliru dipahami oleh umat sehingga timbul kesan bahwa upacara itu adalah sebuah pemborosan. Seperti yang sering pedanda sampaikan, ada 4 kritera seseorang Nangun Yadnya, yaitu kemauan, kemampuan, situasi dan kondisi serta harus ada landasan sastra. Berupacara haruslah didasari atas kemauan atau keinginan berbhakti kepada Sang Hyang Widhi yang mana tingkatan upacara harus disesuaikan dengan kemampuan materi, situasi saat itu dan juga dalam pelaksanaanya mengacu pada sastra agama. Sangat salah bila kita berupacara terlalu memaksakan diri sehingga malah menjadi berhutang. Yang sering menjadi masalah adalah perasaan gengsi jika tidak berupacara dengan mewah padahal kemampuan tidak memadai. Lain halnya jika dari segi materi kita mampu maka itu tidak menjadi masalah karena tidak akan membebani ekonomi keluarga dan disamping itu juga memutar perekonomian karena semua lapisan masyarakat mulai dari dagang busung, dagang babi dan lainya ikut mendapatkan rejeki dari pelaksanaan upacara tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Upacara adalah media pendidikan atau sebuah sarana pembelajaran guna dapat memahami tatwa agama sehingga bisa diterapkan dalam tingkah laku sehari-hari/susila. Upacara adalah sebuah wujud bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi yang dalam pelaksanaanya dilandasi dengan Tatwa atau filsafat agama, jadi semestinya saat kita melakukan suatu upacara kita harus bisa memahami tatwa atau filsafat apa yang terkandung dalam upacara tersebut, sehingga nilai – nilai filsafat itu bisa diimplementasikan dalam kehidupan sehari – hari. Inilah yang tidak nyambung sekarang ini, sehingga seolah – olah upacara berdiri sendiri dan menjadi lebih dominan daripada tatwa dan susila, yang mana seharusnya ketiganya seiring sejalan. Seharusnya, semakin sering berupacara, semakin banyak tahu tatwa, semakin banyak tahu tatwa semakin bagus mental dan spiritual, semakin bagus mental dan spiritual maka makin baik pula tingkah laku kita.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
OM, SANTIH, SANTIH, SANTIH, OM&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span class=&quot;text_exposed_show&quot; style=&quot;background-color: white; display: inline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sumber: &lt;a href=&quot;https://www.facebook.com/Ida.Pedanda.Gede.Made.Gunung?ref=ts&amp;amp;fref=ts&quot;&gt;Facebook Ida Pedanda Gede Made Gunung&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritahindu.blogspot.com/feeds/4044134755708868094/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/7221655881315686900/4044134755708868094?isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/4044134755708868094'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/4044134755708868094'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritahindu.blogspot.com/2014/09/upacara-mempunyai-kedudukan-yang-penting.html' title='UPACARA MEMPUNYAI KEDUDUKAN YANG PENTING'/><author><name>denny0214</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877375447862611766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhoSI_DsGS4z54FdqJXbg2ln57_qhjrAwp_xQ_etL6JAseIPQ4ZQpXvNgFR1E762oGGfdo1RJKWvbrN6rqAyeGzP9fZRs5XYgV8zsJlhEdAncYPBcuz9JVjgxBPVjZpeg/s220/100_3522.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7221655881315686900.post-2202587674605862989</id><published>2014-09-14T08:15:00.002-07:00</published><updated>2014-09-14T08:15:37.497-07:00</updated><title type='text'>TANGKIL KE PURA UNTUK NGAYAH DAN BERSEMBAHYANG MERUPAKAN LANGKAH MEMPRAKTEKKAN YOGA</title><content type='html'>&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;OM SWASTIASTU. OM AWIGNAMASTU.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mengamati banyak pura kuno yang ada di Bali, sebagian besar letaknya di tempat-tempat yang sulit dijangkau. Seperti misalnya&lt;span class=&quot;text_exposed_show&quot; style=&quot;display: inline;&quot;&gt;; Pura Pasar Agung di wilayah Karangasem, Pura Lempuyang juga di wilayah Karangasem, Pura Pucak Manik di wilayah Singaraja dan banyak lagi yang tidak dapat saya sebutkan semuanya. Letak pura seperti ini yang sangat menggugah pikiran saya untuk mengetahui. Kenapa bisa seperti itu? Apakah leluhur kita dahulu tidak bisa mencari tempat strategis pada saat dibangunnya pura tersebut? Saya kira tidak sulit mencari lahan untuk membangun pura, mau mencari lahan di kota, di pedesaan itu sangat mudah. Kenapa beliau tidak mau lakukan itu?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;text_exposed_show&quot; style=&quot;background-color: white; display: inline;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tetapi di zaman sekarang, konsepnya berbalik. Jika ada yang ingin membangun pura, mencari tempat yang strategis, supaya dapat dipinggir jalan besar biar mudah dijangkau. Lucunya lagi, pura yang dibangun oleh leluhur kita, seperti yang saya katakan tadi cukup sulit dijangkau, dibuatkan jalan agar mudah dijangkau oleh semua orang. Apakah pemikiran seperti itu sudah boleh dikatakan benar?&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sudahkah langkah yang diambil seperti itu sesuai dengan konsep dasar pemikiran leluhur kita sewaktu membangun pura tersebut? Inilah pokok permasalahan yang saya ingin tuangkan, dengan mencoba melihat dari sudut latihan yoga. Sekaligus saya menginginkan adanya pemahaman dan pengertian di antara kita. Yoga merupakan aktivitas yang mampu meningkatkan kerohanian, dan mampu menuntun umat manusia untuk menemukan jati dirinya (mewali ring sangkanin dumadi). Itulah pemahaman bebas dari saya tentang yoga untuk memberikan batasan agar dapat kita menguraikan selanjutnya.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Oleh karena, begitu luhurnya ajaran yoga, maka para pendahulu kita ingin keturunannya dapat melakukan yoga secara rutin, untuk dapat merasakan kebahagiaan hidup yang sejati. Namun beliau juga sudah memahami sifat-sifat dasar manusia salah satu diantaranya adalah malas (ngekoh dalam bahasa Bali), sifat ingin yang gampang-gampang saja dan sifat lainnya yang sejenis. Namun yoga akan merubah sifat-sifat semacam itu. Disinilah kelihatannya agak kontradiktif. Maka dari itu ajaran yoga dikemas secara halus sekali sehingga tidak nampak. Artinya mereka yang melakukan yoga tersebut tidak merasa apa yang mereka sedang lakukan adalah sesuatu yang sangat luhur dan bermanfaat bagi hidupnya (gerakan yoga).&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sebelum saya melanjutkan uraian tadi, kata yoga di dalam masyarakat umum (Hindu di Bali), sangat disucikan, bahkan kelewatan caranya menyucikan akhirnya muncul rasa ketakutan mendengar kata yoga (dianggap serem). Perkembangan pemikiran seperti itu sudah dibayangkan sebelumnya oleh leluhur kita, makanya saya katakan tadi yoga itu dikemas secara halus biar mudah dapat dilakukan, bahkan tidak terasa melakukan yoga. Namun pada intinya yoga itu dapat menyentuh lapisan masyarakat terbawah dengan tidak membedakan kemampuan intelektual, kemampuan ekonomi dan kemampuan yang lainnya. Dasar pemikiran seperti itu dituwangkan di dalam konsep pendirian pura, konsep ngayah di pura pada waktu ada pujawali atau pada waktu ada kegiatan di pura, dan banyak lagi penjabaran yoga dalam kehidupan bermasyarakat Hindu.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kita akan kembali pada pokok bahasan tentang pembangunan pura yang berlandaskan konsep yoga. Seperti kita ketahui pura kuno dibangun di atas gunung, di tepi tebing, di dalam lautan, di dalam guwa, pokoknya di tempat yang agak sulit dijangkau. Untuk dapat dipahami secara jelas pembangunan pura berdasarkan konsep yoga, harus juga dimulai dari menguraikan tahapan yoga, kemudian sesuaikan dengan konsep pembangunan pura tadi. Saya akan mencoba untuk menguraikan tahapan yoga secara umum saja yaitu;&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
• Panca Yama brata&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
• Panca Niyama brata&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
• Asana&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
• Pranayama&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
• Dyana (semadi)&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mungkin tahapan yoga yang saya uraikan ini tidak lengkap sekali, karena saya ingin mencari yang paling menonjol kaitannya dengan pembangunan pura. Panca yamabrata dan panca niyamabrata ditekankan agar dilakukan setiap hari, di dalam kehidupan sehari-hari. Lalu asana, pranayama dan dyana agak jarang dilakukan, sebenarnya ini juga harus setiap hari dilakukan. Dikarenakan oleh adanya suatu sebab yang kurang jelas, maka tahapan yoga bagian asana, pranayama dan dyana kurang tekun dilakukan.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Nah sekarang kaitannya dengan pembangunan pura yang lokasinya seperti yang telah diuraikan tadi, itu akan memberikan peluang yang sangat besar untuk melakukan asana, pranayama dan dyana dengan tidak kita sadari. Misalnya untuk bisa sembahyang atau ngayah ke pura yang sulit dijangkau, memerlukan persiapan fisik dan mental yang memadai serta melalui tahapan-tahapan yang tidak mudah.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sekarang kita ambil contoh mau sembahyang ke Pura Pucak Manik di wilayah Grokgak Singaraja. Sebelumnya orang yang mau sembahyang harus siap mental artinya, harus sehat, dan berkonsentrasi, tidak boleh ragu-ragu, pakaian sederhana, barang bawaan secukupnya dan sepantasnya, sebab perjalanan akan melalui medan yang cukup berat dan posisinya naik. Di dalam perjalanan melalui jalan setapak, tebing-tebing, hanya ada pohon dan akar yang dapat digapai sebagai pembantu. Nafas terengah-engah, CO2 keluar dengan derasnya demikian pula O2 akan masuk dengan deras pula melalui hidung kita, pertukaran udara akan terjadi antara orang yang tangkil dengan tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitar areal perjalanan. Rasanya paru-paru dicuci bersih, jantung terasa berat memompa darah, sehingga dada terasa berdebar.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setelah perjalanan berakhir di areal pura, nafas masih terengah-engah, sudah pasti memerlukan waktu istirahat barang 10 menit, kemudian baru berkemas-kemas mempersiapkan segala sesuatunya untuk keperluan sembahyang. Setelah nafas agak sempurna, dada terasa ringan, beban pikiran menjadi ringan, perasaan jadi sangat tenang. Kita duduk dengan pikiran hening, lalu melakukan persembahyangan melalui urutan sebagaimana mestinya. Setelah bersembahyang ketenangan sangat terasa, perutpun mulai terasa lapar, mau tidak mau ”lungsuran banten” (banten yang telah dihanturkan) dimakan habis. Dalam keadaan seperti itu semua orang yang mengalami tangkil ke pura yang sejenis medannya dengan Pura Pucak Manik, akan tidak menyadari dirinya telah melakukan yoga dari tahap awal sampai tahap dyana.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Perjalanan mendaki yang diuraikan tadi, itu sama dengan asana yang sangat sempurna, keringat bercucuran. Nafas terengah-engah, itu sama dengan pranayama yang sempurna. Setelah tenang duduk lalu bersembahyang itu adalah dyana semadi/meditasi yang tidak kalah bobotnya. Demikian bijaknya para leluhur kita melatih generasi penerusnya untuk selalu dapat melaksanakan yoga, sehingga bisa terbentuknya moral yang luhur. Di samping itu adapula makna yang dapat dipetik, bahwa tidak sembarangan orang dapat sembahyang langsung di pura itu. Bagi mereka yang berpikir ragu-ragu pasti tidak bisa, mereka yang sakit-sakitan, ibu-ibu hamil, anak-anak yang belum cukup umur, cacat fisik, sangat sulit menempuh perjalanan seperti itu. Mereka akan sembahyang di pura yang mudah dijangkau oleh mereka.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Demikian pemahaman saya mengenai pembangunan pura yang letaknya sulit dijangkau oleh masyarakat umum, bila dikaitkan dengan penerapa yoga secara praktis, halus sehingga hampir tidak dapat dirasakan oleh si pelaku.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Permasalahannya sekarang adalah, sebagian besar pura seperti tadi sudah dibuatkan jalan untuk mudah dapat dijangkau oleh semua golongan, bahkan sampai pedagang kaki limapun ikut menyemarakkan, pura jadi ramai, dagang kaset itu memutar kasetnya agar laku dijual. Pemandangan yang muncul tak ubahnya semakin jauh. Bagi mereka yang bersembahyang pun tidak mengalami proses yoga yang benar dan mantap. Judi semarak, menurut pengamatan saya pura yang merupakan tempat mencari kesucian, berubah menjadi tempat mencari hiburan.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Saya rasa, menangis leluhur kita di alam sana, karena kita sebagai pewarisnya tidak mampu memanfaatkan pura seperti langkah dan tujuan leluhur kita terdahulu. Jika begini terus habislah segala warisan yang adhi luhung itu. Wahai generasi penerus, engkau tidak akan dapat menikmati Bali yang sempurna seperti dahulu.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Saya kira masih ada kesempatan untuk melestarikannya, kalau kita sama-sama menyadari demi keturunan kita nanti. Marilah berbuat bukan hanya untuk dinikmati sekarang saja, berbuatlah untuk generasi masa datang.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mungkin ada di antara pembaca yang ingin bertanya. Jadi kalau begitu pemahamannya, rasanya ada unsur membedakan antara umat yang kuat dan umat yang lemah untuk dapat mengikuti yoga? Sebenarnya tidak ada yang membedakan. Kecuali mereka sendiri yang membedakan dirinya dengan yang lain. Maksudnya mereka yang sakit pasti berbeda dengan mereka yang sehat. Mereka yang sungguh-sungguh ingin menyembah Ida Sang Hyang Widhi akan berbeda dengan orang yang sekedar memamerkan pakaian, memamerkan kekayaan, memamerkan postur tubuh datang ke pura. Kalau memang mereka merasa sama tidak ada larangan untuk tangkil bersembahyang. Begitu mereka tangkil ke pura, otomatis mereka sudah melakukan yoga.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kesimpulannya itu sangat tergantung pada kesungguhan dan ketekunan kita. Sebagai orang awam, begitulah pemahan saya tentang dibangunnya pura yang letaknya ditempat yang sulit dijangkau. Jangalah diutak-atik lagi, yang sifatnya memudahkan dan tidak mendidik. Mudah menjangkau beda bobotnya dengan yang sulit dijangkau.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
OM, SHANTIH, SHANTIH, SHANTIH, OM&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, lucida grande, tahoma, verdana, arial, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;b&gt;Sumber: &lt;a href=&quot;https://www.facebook.com/Ida.Pedanda.Gede.Made.Gunung?ref=ts&amp;amp;fref=ts&quot;&gt;Facebook Ida Pedanda Gede Made Gunung&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritahindu.blogspot.com/feeds/2202587674605862989/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/7221655881315686900/2202587674605862989?isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/2202587674605862989'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/2202587674605862989'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritahindu.blogspot.com/2014/09/tangkil-ke-pura-untuk-ngayah-dan.html' title='TANGKIL KE PURA UNTUK NGAYAH DAN BERSEMBAHYANG MERUPAKAN LANGKAH MEMPRAKTEKKAN YOGA'/><author><name>denny0214</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877375447862611766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhoSI_DsGS4z54FdqJXbg2ln57_qhjrAwp_xQ_etL6JAseIPQ4ZQpXvNgFR1E762oGGfdo1RJKWvbrN6rqAyeGzP9fZRs5XYgV8zsJlhEdAncYPBcuz9JVjgxBPVjZpeg/s220/100_3522.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7221655881315686900.post-6245395618925812709</id><published>2014-09-14T08:10:00.000-07:00</published><updated>2014-09-14T08:10:10.226-07:00</updated><title type='text'>HIDUP ITU SEPERTI SEBUAH PERJALANAN</title><content type='html'>&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;OM SWASTIASTU. OM AWIGNAMASTU&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
MATANGNYN HAYWA JUGA WWANG MANASTAPA,AN TAN PARIBAWA, SI DADI WWANG TA PWA KANGONGAKNA RI AMBEK APAYAPAN PARAMADURLABHA SI JANMAMANUSA NGARAN YA, YADYAPI CANDALAYONI TWI. (&lt;span class=&quot;text_exposed_show&quot; style=&quot;display: inline;&quot;&gt;SS. 4. hal. 8).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;text_exposed_show&quot; style=&quot;background-color: white; display: inline;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Artinya;&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Oleh karena itu, janganlah bersedih hati, sekalipun hidup tidak makmur, dilahirkan menjadi manusia itu, hendaknya menjadikan berbesar hati, sebab amat sukar untuk dapat dilahirkan menjadi manusia, sekalipun kelahiran cacat sekalipun.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setelah direnungkan kalimat tersebut diatas, maka penyesalan atas segala yang kita hadapi dalam hidup ini tidaklah perlu, walaupun keadaan hidup sekarang ini kurang, cacat fisik. Sebab dengan menjadi manusia itu saja kita harus berbesar hati. Sebab dengan lahir menjadi manusia kita dapat berbuat baik untuk menyempurnakan (melebur) perbuatan yang buruk.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Memang prakteknya sangat sulit, namun dengan keyakinan dan ketekunan untuk menghayati hidup ini maka semua yang kita anggap sulit akan menjadi terbiasa. Oleh karena itulah saya mengumpamakan hidup ini tidak lebih seperti sebuah perjalanan untuk menuju tujuan. Dalam perjalanan tersebut sudah pasti kita pernah melewati jalan rusak jalan naik, jalan berkelak-kelok, jalan bagus dan jalan turun atau jalan datar, jalan lurus. Maka dari itu disaat melalui jalan yang bagiamanapun kita harus selalu hati-hati dan waspada.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Janganlah hidup yang sudah berat ini lagi ditambah dengan beban yang lebih berat seperti penyesalan. Lakoni hidup ini dengan 4 jalan;&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1. Berbhaktilah kepada Tuhan, orang tua (ayah dan ibu), karena beliau memberi kita jalan lahir hidup menjadi manusia.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2. Belajarlah ilmu agama (sastra) dan praktekan dalam hidup ini, sebab agama memberikan kita penerangan jalan yang akan kita lalui.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
3. Jangan lupa di dalam menjalani hidup ini melakoni/taat terhadap etika kehidupan, sebab etika itu merupakan rambu-rambu jalan yang kita lalui untuk selamat sampai di tujuan.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
4. Tuhan sebagai tujuan akhir dari perjalanan hidup kita ini.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Janganlah sia-siakan kesempatan hidup ini yang kita dapati dalam waktu yang amat singkat pula. Yang dimaksudkan menyia-nyiakan kesempatan hidup adalah, perbuatan yang dapat merugikan diri sendiri, merugikan keluarga dan merugikan orang lain.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
SEKIAN DAN TERIMA KASIH. SELAMAT MERESAPI DAN MERENUNGKAN.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
OM SANTIH, SANTIH, SANTIH, OM.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, lucida grande, tahoma, verdana, arial, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;Sumber: &lt;a href=&quot;https://www.facebook.com/Ida.Pedanda.Gede.Made.Gunung?ref=ts&amp;amp;fref=ts&quot;&gt;Facebook Ida Pedanda Gede Made Gunung&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritahindu.blogspot.com/feeds/6245395618925812709/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/7221655881315686900/6245395618925812709?isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/6245395618925812709'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/6245395618925812709'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritahindu.blogspot.com/2014/09/hidup-itu-seperti-sebuah-perjalanan.html' title='HIDUP ITU SEPERTI SEBUAH PERJALANAN'/><author><name>denny0214</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877375447862611766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhoSI_DsGS4z54FdqJXbg2ln57_qhjrAwp_xQ_etL6JAseIPQ4ZQpXvNgFR1E762oGGfdo1RJKWvbrN6rqAyeGzP9fZRs5XYgV8zsJlhEdAncYPBcuz9JVjgxBPVjZpeg/s220/100_3522.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7221655881315686900.post-7686160276953150247</id><published>2014-09-14T08:06:00.000-07:00</published><updated>2014-09-14T08:06:32.977-07:00</updated><title type='text'>MENCOCOKAN BUDAYA HIDUP PALING SULIT</title><content type='html'>&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;OM SWASTIASTU, OM AWIGNAMASTU.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Cerita ini adalah sebuah fakta di lapangan, walaupun yang dimaksud dengan fakta di sini tidak merupakan hasil dari penelitian, namun hanya berdasarkan pengamatan saja. Se&lt;span class=&quot;text_exposed_show&quot; style=&quot;display: inline;&quot;&gt;kalipun demikian kenyataannya hal seperti ini sering terjadi. Bila hal ini tidak di ketahui secara dini, kemungkinan besar bisa akan terjadi hal-hal yang sangat kita tidak harapkan di dalam menjaga keharmonisan berumah tangga. Untuk itulah harapan saya semoga apa yang mampu saya tuwangkan di dalam tulisan ini semoga dapat membantu didalam mewujudkan rumah tangga yang harmonis dan rumah tangga yang bahagia seukuran manusia. Maka dari itu Tulisan ini didahului dengan sebuah cerita nyata namun tanpa menuliskan identitas yang sebenarnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;text_exposed_show&quot; style=&quot;background-color: white; display: inline;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Cerita;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pada suatu hari ada sepasang remaja sedang memaduh kasih, disaat itu bayangan yang ada di hati mereka berdua tidak lain adalah gambaran kebahagiaan, keindahan, bermanja-manja. Bila si Pemudi kakinya tersandung sedikit, maka si pemuda akan bertanya dengan kalimat yang indah dan intonasi bahasa yang amat sopan: &quot; Bagaimana sayaaaang......!!!! Sakit sayaaaaang...! Hati-hati sayaaaaang....!!!. Sambil mengusap-ngusap kaki si perempuan yang dikatakan tersandung &quot;. Disaat itu kelihatan mereka berdua tak ubahnya berperilaku seperti Dewa dan Dewi.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Si Pemuda setiap hari menawarkan diri untuk mengantar pacarnya kemana saja maunya, dengan tulus dan ikhlas. Siapapun melihat peristiwa itu pasti turut merasakan kebahagiaan yang mereka sedang lakukan, dan turut mendoakan agar situasi dan kondisi seperti itu bisa dipertahankan sampai mereka menyusun rumah tangga nantinya.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Namun sangat berbeda kondisinya setelah mereka melakoni perkawinan, kadang-kadang berubah 180 derajat. Bila istrinya yang nota bena mantan pancarnya itu lagi kesandung kakinya, kalimat yang keluar dari bibir suaminya, Rasa bahasanya dan intonasinya sangat berubah; keras, kadang-kadang bernada marah. Tidak lagi mau atau jarang-jarang mau mengantar istrinya ke pasar membeli bahan makanan untuk keperluan mereka. Pokoknya ada perubahan.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kalau kita lihat secara nyata, yang pacaran dulu adalah mereka, yang kawin juga mereka, dan secara fisik tidak ada perubahan, kenapa sikap bisa terjadi perubahan???? Perlu saya tekankan disini, memang tidak semua pasangan suami istri yang seperti itu, masih banyak pula yang sadar dapat memelihara hubungan harmonis mereka seperti saat mereka pacaran. Namun dalam tulisan ini yang disorot adalah mereka yang kurang mampu mempertahankan keharmonisan itu. Disamping itu untuk menghindari terjadinya rumah tangga yang berantakan. Tolong renungkan hal ini bagi saudara yang belum berumah tangga maupun saudara yang telah berumah tangga.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Masing-masing punya kelemahan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kaum laki dan kaum perempuan masing-masing punya kelemahan, maka dari itu didalam berumah tangga hal ini perlu diketahui dan pun bisa digunakan sebagai alat untuk menuju hal-hal yang positif (keluarga yang harmonis). Kaum laki kelemahannya di mata, dan kaum perempuan kelemahannya di telinga. Walaupun hal ini tidak berdasarkan penelitian maka kenyataannya dilapangan sudah seperti itu.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Misalnya;&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kalau kita bersuami istri, bila si suami sedang marah atau sedikit tersinggung, bila kita berpegang pada teori diatas, &quot;Laki punya kelemahan di mata&quot;. Istri jangan ikut berbicara (melawan), kalau ikut melawan akan terjadi hal yang lebih rumit lagi. Lalu berprilakulah yang dapat menarik perhatiannya, misalnya; masuk ke kamar hias, berhiaslah yang dengan sempurna dan pakain sedikit menarik perhatiannnya (yang disenangi oleh mereka), setelah itu berjalanlah, usahakan dapat melintas minimal 2X lewat didepannya. Sudah pasti marahnya sedikit turun bahkan seketika mereda. Sebaliknya bila si istri marah atau ngomel, si laki jangan ikut melawan dengan bahasa yang keras, jangan digertak sebab disaat seperti itu si Istri akan tidak mau mundur (hindari KDRT ). lalu si laki harus menurunkan nada bahasanya, menghaluskan intonasi bahasanya saat menyaut, sebab kelemahan perempuan ada di telinga. Pasti marah istri itu akan mereda.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mencocokan budaya hidup.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Yang paling sulit di dalam perkawinan adalah mencocokan budaya hidup, sebab budaya seseorang sangat sulit untuk dirubah, walaupun bisa akan memakan waktu sangat lama.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Misalnya:&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pada waktu pacaran sebelum nikah semua gambaran hidup yang bahagia, gembira, indah yang keluar, namun kebiasaan yang kurang baik jarang diutarakan bahkan tidak pernah dimunculkan, seperti misalnya salah satu dari mereka setiap tidur mendengkur, atau setiap tidur ngorok, lalu pasangannya tidak bisa tidur lelap bila tidur bersama dengan orang yang biasa mendengkur/biasa ngorok. ini akan menjadi masalah yang kemungkinan akan terjadi hal yang tidak diharapkan. Itu salah satu contoh, mungkin banyak lagi contoh yang bisa diambil.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Lalu bagaimana caranya supaya hal seperti itu tidak menjadi latar blakang pertengkaran. Solusinya begini;&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1. Syukurilah apa yang kita dapati memang itu merupakan bagian dari hidup kita, sebab kitalah yang memilihnya sehingga terjadi pernikahan.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2. Disaat pacaran bila perlu utarakan hal-hal atau kebiasaan yang kita miliki, agar lawan jenis (calon pasangan) kita atau calon kita jauh sebelumnya sudah menyadarinya.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Demikianlah sekilas tulisan ini semoga ada manfaatnya demi keutuhan keluarga kita. Bila ada hal-hal yang tidak atau kurang berkenan di dalam tulisan ini mari kita mohonkan ampun kehadapan yang Maha Kuasa dengan ucapan parama santi;&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
OM SANTIH, SANTIH, SANTIH, OM.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, lucida grande, tahoma, verdana, arial, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;Sumber: &lt;a href=&quot;https://www.facebook.com/Ida.Pedanda.Gede.Made.Gunung?ref=ts&amp;amp;fref=ts&quot;&gt;Facebook Ida Pedanda Gede Made Gunung&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritahindu.blogspot.com/feeds/7686160276953150247/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/7221655881315686900/7686160276953150247?isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/7686160276953150247'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/7686160276953150247'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritahindu.blogspot.com/2014/09/mencocokan-budaya-hidup-paling-sulit.html' title='MENCOCOKAN BUDAYA HIDUP PALING SULIT'/><author><name>denny0214</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877375447862611766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhoSI_DsGS4z54FdqJXbg2ln57_qhjrAwp_xQ_etL6JAseIPQ4ZQpXvNgFR1E762oGGfdo1RJKWvbrN6rqAyeGzP9fZRs5XYgV8zsJlhEdAncYPBcuz9JVjgxBPVjZpeg/s220/100_3522.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7221655881315686900.post-6695847425065933793</id><published>2014-09-14T08:03:00.000-07:00</published><updated>2014-09-14T08:03:02.256-07:00</updated><title type='text'> KE MANA DAN BAGAIMANA SAAT SIWARATRI.</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span class=&quot;userContent&quot; data-ft=&quot;{&amp;quot;tn&amp;quot;:&amp;quot;K&amp;quot;}&quot;&gt;OM SWASTIASTU&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;
 Hari Siwaratri telah dikenal dan terkenal utamanya dikalangan umat 
Hindu, namun masih dalam tataran mengenal &quot;belum melakoni dengan baik&quot;, walaupun sudah ada yang melakoni dengan khusuk, namun masih banyak 
yang hanya ikut-ikutan. Ada yang melakoni Siwaratri itu dengan bersepeda
 motor berbanyak menggunakan knalpot broong, ada yang menuju tempa&lt;span class=&quot;text_exposed_show&quot;&gt;t
 sepi hanya berdua dengan yang mereka senangi, ada yang duduk-duduk di 
jalan sehingga menghambat orang berlalu lintas, dan yang paling parah 
adalah ada yang sambil meminum minuman keras (mabuk mabukan). Disini 
saya tidak menyalahkan, sebab saya sadar kapasitas saya bukan tukang 
salahin, karena di alam ini selalu ada dua hal yang bertolak belakang, 
oleh karena itu mereka yang melakoni seperti itu mungkin sedang melakoni
 BHUTARATRI. Sebab ada Dewa, ada Bhuta. Oleh karena itulah disini saya 
akan menulis &quot; KE MANA DAN BAGAIMANA SAAT SIWARATRI &quot; dengan harapan 
semakin tahun semakin menjadi bermakna Siwaratri itu bagi kehidupan 
kita. Tulisan ini bersumber dari kitab Bratha Siwaratri. Mungkin ada 
sumber lain yang menulis berbeda, namun jangan perbedaannya yang 
dipertdebatkan apalagi dipertentangkan, mari kita cari maknanya, pasti 
tidak akan berbeda, semuanya mengarahkan kita untuk mendapatkan rasa 
dari Siwratri itu sendiri.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Ke mana saat Siwaratri:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; 
Pagi kira - kira jam 6 pagi atau galang tanah pada saat hari Siwaratri; 
Kita harus asuci laksana, mandi, keramas selengkapnya, lalu metirtha ( 
bila punya tirtha dari Wiku ), bila tidak boleh menggunakan air bungkak 
kelapa gading, kemudian sembahyang di merajan. Setelah itu, bagi yang 
tidak bekerja atau yang tidak melakukan kegiatan, lanjutkan sembahyang 
kepura (Kahyangan Tiga). Bagi yang kerja silahkan bekerja seperti biasa,
 namun tidak terlepas dari persyaratan Siwaratri (pengendalian pikiran 
salah satunya ). Setelah siang hari lagi sembahyang, di sore hari lagi 
sembahyang. Hal ini bisa dilakukan di rumah sendiri dan bisa di pura 
secara bersama-sama. Di Pura mana saja boleh, namun sebaiknya di Pura 
Dalem. Bila ada program pemusatan pelaksanaan Siwaratri oleh siapa saja 
(Desa atau Pemerintah) kalau berkenan ikut bisa ikut bersama. Bisa juga 
dengan menyepi sendirian.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Bagaimana saat Siwaratri;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; 
Saat Siwaratri, kita harus melek ( tidak tidur selama 36 jam ) mulai jam
 6 pagi pada hari &quot;H&quot;, sampai jam 6 sore besoknya, bila tidak mampu 
karena sesuatu dan lain hal, lakukan melek selama 24 jam, bila tidak 
mampu, lakukan 12 jam di malam hari saja, namun yang paling penting 
lakukan melek rokhani selama Hidup kita. Sambil melek untuk menghalau 
kantuknya, baca buku kerokhanian, atau berdiskusi tentang kerokhanian, 
atau berjapa.&lt;br /&gt; Bila ada yang mau lebih lagi, bisa melakukan upawasa, 
dan mono, selama waktu yang kita mampu sesuai denga keterangan di atas. 
Atau upawasa saja, mungkin hanya melek saja semalam suntuk boleh juga. 
Jangan memaksakan diri, sesuaikan dengan kemampuan masing-masing, disini
 tidak ada memaksa, dan kita tidak berlomba secara sekala, namun secara 
niskala boleh berkompetisi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Jadikan Siwaratri ini sebagai 
kebutuhan hidup untuk menuju tujuan hidup kita, dan lakoni siwaratri itu
 dengan slogan: DARI KITA OLEH KITA DAN UNTUK KITA. Sebab urusan manusia
 dengan Tuhannya itu hal yang amat pribadi. Saran saya jangan sampai 
kita memiliki pikiran atau tidak akan berprilaku, dan berbicara yang 
sampai menodai hari Suci Siwaratri itu. Kalau tidak kita yang menjaga 
kesucian itu, siapa lagi? Ini merupakan kesempatan emas yang kita dapati
 dari ajaran Tuhan Yang Maha Kasih dan Maha Penyayang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; 
Lakukanlah Siwaratri itu mulai dari kesadaran diri sendiri, tidak ada 
yang akan bisa membantu kita melepaskan diri dari keterikatan dengan 
hal-hal yang negatif menurut pandangan agama, selain diri kita sendiri, 
dan tidak ada yang mampu menciptakan diri kita mau jadi apa? selain 
dimulai dari diri kita sendiri. Jangan menunggu orang lain.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; 
Terima kasih atas perhatian saudara. Semoga Hindu yang kita cintai 
semakin bersinar dapat memberikan pencerahan kepada alam serta isinya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Om Santhih, Santhih, Santhih, Om.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span class=&quot;userContent&quot; data-ft=&quot;{&amp;quot;tn&amp;quot;:&amp;quot;K&amp;quot;}&quot;&gt;&lt;span class=&quot;text_exposed_show&quot;&gt;Sumber:&amp;nbsp;&lt;a href=&quot;https://www.facebook.com/Ida.Pedanda.Gede.Made.Gunung?fref=ts&quot;&gt;Facebook Ida Pedanda Gede Made Gunung&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;userContent&quot; data-ft=&quot;{&amp;quot;tn&amp;quot;:&amp;quot;K&amp;quot;}&quot;&gt;&lt;span class=&quot;text_exposed_show&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritahindu.blogspot.com/feeds/6695847425065933793/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/7221655881315686900/6695847425065933793?isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/6695847425065933793'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/6695847425065933793'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritahindu.blogspot.com/2014/09/ke-mana-dan-bagaimana-saat-siwaratri.html' title=' KE MANA DAN BAGAIMANA SAAT SIWARATRI.'/><author><name>denny0214</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877375447862611766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhoSI_DsGS4z54FdqJXbg2ln57_qhjrAwp_xQ_etL6JAseIPQ4ZQpXvNgFR1E762oGGfdo1RJKWvbrN6rqAyeGzP9fZRs5XYgV8zsJlhEdAncYPBcuz9JVjgxBPVjZpeg/s220/100_3522.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7221655881315686900.post-1907365429462669593</id><published>2014-09-14T08:01:00.000-07:00</published><updated>2014-09-14T08:01:01.335-07:00</updated><title type='text'>PURNAMA DAN TILEM SANGAT PENTING BAGI KITA</title><content type='html'>&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;OM SWASTIASTU,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Saya memandang sangat perlu menulis disini tentang hari Purnama dan hari Tilem, agar hari suci tersebut tidak terlewati begitu saja. Adapun hari Purnama dan Tilem itu datangnya mas&lt;span class=&quot;text_exposed_show&quot; style=&quot;display: inline;&quot;&gt;ing-masing 30 hari sekali. Pada hari ini disebut hari sesucian terhadap Sanghyang Rwa Bhineda, yaitu; Sanghyang Surya dan Sanghyang Ratih. Kalau hari purnama, Sanghyang Ratih (Bulan) beryoga, kalau hari tilem Sanghyang Surya beryoga. Dengan demikian pada hari tersebut bagi para Sulinggih, dan para umat Hindu patut melakukan penyucian diri (asuci laksana), juga menghaturkan sesaji; wangi-wangian, canang dihaturkan di merajan dan di pelangkiran dengan tujuan agar para Dewata dan para leluhur senantiasa menuntun hidup kita ke arah yang lebih baik, selanjutnya bagi para sulinggih melakukan pemujaan dan persembahyangan di pagi hari, demikian pula umat agar melakukan persembahyangan di pagi hari, memuja kebesaran Tuhan dan memohon ampun atas segala kesalahan kita serta memohon tuntunan. Jangan lupa mohon air suci atau wangsuh pada.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;text_exposed_show&quot; style=&quot;background-color: white; display: inline;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
SELAMAT MELAKONI, UNTUK KEBAIKAN DIRI KITA.&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
OM, SANTIH, SANTIH, SANTIH, OM&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, &#39;lucida grande&#39;, tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, lucida grande, tahoma, verdana, arial, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://www.facebook.com/Ida.Pedanda.Gede.Made.Gunung?ref=ts&amp;amp;fref=ts&quot;&gt;Sumber: Facebook Ida Pedanda Gede Made Gunung&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritahindu.blogspot.com/feeds/1907365429462669593/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/7221655881315686900/1907365429462669593?isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/1907365429462669593'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/1907365429462669593'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritahindu.blogspot.com/2014/09/purnama-dan-tilem-sangat-penting-bagi.html' title='PURNAMA DAN TILEM SANGAT PENTING BAGI KITA'/><author><name>denny0214</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877375447862611766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhoSI_DsGS4z54FdqJXbg2ln57_qhjrAwp_xQ_etL6JAseIPQ4ZQpXvNgFR1E762oGGfdo1RJKWvbrN6rqAyeGzP9fZRs5XYgV8zsJlhEdAncYPBcuz9JVjgxBPVjZpeg/s220/100_3522.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>