<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/atom10full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" gd:etag="W/&quot;DUECQn08fSp7ImA9WhRRFE4.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-7221655881315686900</id><updated>2011-11-27T15:47:43.375-08:00</updated><category term="saraswati" /><category term="Penataran" /><category term="goraksya" /><category term="Pengendalian Diri" /><category term="Aham" /><category term="Asvamedha" /><category term="tengenan" /><category term="Tuhan" /><category term="Agama" /><category term="hindu" /><category term="Ayodya" /><category term="Gangga" /><category term="neraka" /><category term="Vihara" /><category term="bekal" /><category term="surga" /><category term="Tampaksiring" /><category term="Gede Prama" /><category term="cerdik" /><category term="Endih" /><category term="anand khrisna" /><category term="Leak" /><category term="pagerwesi" /><category term="Toleransi" /><category term="Indra" /><category term="Kahyangan Jagat" /><category term="ilmu" /><category term="Brahma" /><category term="bali" /><category term="dharma" /><category term="pengetahuan" /><category term="cerita" /><category term="kematian" /><category term="nachiketas" /><category term="Buleleng" /><category term="Kristen" /><category term="Ansuman" /><category term="krsi" /><category term="niskala" /><category term="Pura" /><category term="Siwa" /><category term="hakikat" /><category term="atma" /><category term="Buddha" /><category term="cecak" /><category term="Sasih" /><category term="Sagara" /><category term="aksara" /><category term="Etika" /><category term="transenden" /><category term="Brahman" /><category term="Asmi" /><category term="imanen" /><category term="wanijyam" /><title>Cerita Hindu</title><subtitle type="html">Berbagai cerita tentang Hindu, juga Pura-pura yang tersebar di seluruh Indonesia lengkap dengan link situs-situs Hindu yang lain.

Jayalah Hindu!!</subtitle><link rel="http://schemas.google.com/g/2005#feed" type="application/atom+xml" href="http://ceritahindu.blogspot.com/feeds/posts/default" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://ceritahindu.blogspot.com/" /><link rel="next" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false&amp;v=2" /><author><name>denny0214</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877375447862611766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://1.bp.blogspot.com/_tHWVsZfq_Sw/SYAVlzkrU6I/AAAAAAAAABI/yVCMbboC02s/S220/100_3522.JPG" /></author><generator version="7.00" uri="http://www.blogger.com">Blogger</generator><openSearch:totalResults>43</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/atom+xml" href="http://feeds.feedburner.com/CeritaHindu" /><feedburner:info uri="ceritahindu" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><entry gd:etag="W/&quot;DEQGQXo-eyp7ImA9WhZWFE8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-7221655881315686900.post-3435688060957155624</id><published>2011-05-14T19:25:00.000-07:00</published><updated>2011-05-14T19:25:20.453-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-05-14T19:25:20.453-07:00</app:edited><title>Hari Raya Pagerwesi</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kata "pagerwesi" artinya pagar dari besi. Ini me-lambangkan suatu perlindungan yang kuat. Segala sesuatu yang dipagari berarti sesuatu yang bernilai tinggi agar jangan mendapat gangguan atau dirusak. Hari Raya Pagerwesi sering diartikan oleh umat Hindu sebagai hari untuk memagari diri yang dalam bahasa Bali disebut magehang awak. Nama Tuhan yang dipuja pada hari raya ini adalah Sanghyang Pramesti Guru.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sanghyang Paramesti Guru adalah nama lain dari Dewa Siwa sebagai manifestasi Tuhan untuk melebur segala hal yang buruk. Dalam kedudukannya sebagai Sanghyang Pramesti Guru, beliau menjadi gurunya alam semesta terutama manusia. Hidup tanpa guru sama dengan hidup tanpa penuntun, sehingga tanpa arah dan segala tindakan jadi ngawur.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hari Raya Pagerwesi dilaksanakan pada hari Budha (Rabu) Kliwon Wuku Shinta. Hari raya ini dilaksanakan 210 hari sekali. Sama halnya dengan Galungan, Pagerwesi termasuk pula rerahinan gumi, artinya hari raya untuk semua masyarakat, baik pendeta maupun umat walaka. Dalam lontar Sundarigama disebutkan:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;"Budha Kliwon Shinta Ngaran Pagerwesi payogan Sang Hyang Pramesti Guru kairing ring watek Dewata Nawa Sanga ngawerdhiaken sarwa tumitah sarwatumuwuh ring bhuana kabeh."&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Artinya:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rabu Kliwon Shinta disebut Pagerwesi sebagai pemujaan Sang Hyang Pramesti Guru yang diiringi oleh Dewata Nawa Sanga (sembilan dewa) untuk mengembangkan segala yang lahir dan segala yang tumbuh di seluruh dunia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pelaksanaan upacara/upakara Pagerwesi sesungguhnya titik beratnya pada para pendeta atau rohaniawan pemimpin agama. Dalam lontar Sundarigama disebutkan:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Sang Purohita ngarga apasang lingga sapakramaning ngarcana paduka Prameswara. Tengahiwengi yoga samadhi ana labaan ring Sang Panca 0Maha Bhuta, sewarna anut urip gelarakena ring natar sanggah.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Artinya:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sang Pendeta hendaknya ngarga dan mapasang lingga sebagaimana layaknya memuja Sang Hyang Prameswara (Pramesti Guru). Tengah malam melakukan yoga samadhi, ada labaan (persembahan) untuk Sang Panca Maha Bhuta, segehan (terbuat dari nasi) lima warna menurut uripnya dan disampaikan di halaman sanggah (tempat persembahyangan).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hakikat pelaksanaan upacara Pegerwesi adalah lebih ditekankan pada pemujaan oleh para pendeta dengan melakukan upacara Ngarga dan Mapasang Lingga.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tengah malam umat dianjurkan untuk melakukan meditasi (yoga dan samadhi). Banten yang paling utama bagi para Purohita adalah "Sesayut Panca Lingga" sedangkan perlengkapannya Daksina, Suci Praspenyeneng dan Banten Penek. Meskipun hakikat hari raya Pagerwesi adalah pemujaan (yoga samadhi) bagi para Pendeta (Purohita) namun umat kebanyakan pun wajib ikut merayakan sesuai dengan kemampuan. Banten yang paling inti perayaan Pegerwesi bagi umat kebanyakan adalah natab Sesayut Pagehurip, Prayascita, Dapetan. Tentunya dilengkapi Daksina, Canang dan Sodaan. Dalam hal upacara, ada dua hal banten pokok yaitu Sesayut Panca Lingga untuk upacara para pendeta dan Sesayut Pageh Urip bagi umat kebanyakan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Makna Filosofi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagaimana telah disebutkan dalam lontar Sundarigama, Pagerwesi yang jatuh pada Budha Kliwon Shinta merupakan hari Payogan Sang Hyang Pramesti Guru diiringi oleh Dewata Nawa Sangga. Hal ini mengundang makna bahwa Hyang Premesti Guru adalah Tuhan dalam manifestasinya sebagai guru sejati.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mengadakan yoga berarti Tuhan menciptakan diri-Nya sebagai guru. Barang siapa menyucikan dirinya akan dapat mencapai kekuatan yoga dari Hyang Pramesti Guru. Kekuatan itulah yang akan dipakai memagari diri. Pagar yang paling kuat untuk melindungi diri kita adalah ilmu yang berasal dari guru sejati pula. Guru yang sejati adalah Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu inti dari perayaan Pagerwesi itu adalah memuja Tuhan sebagai guru yang sejati. Memuja berarti menyerahkan diri, menghormati, memohon, memuji dan memusatkan diri. Ini berarti kita harus menyerahkan kebodohan kita pada Tuhan agar beliau sebagai guru sejati dapat megisi kita dengan kesucian dan pengetahuan sejati.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada hari raya Pagerwesi adalah hari yang paling baik mendekatkan Atman kepada Brahman sebagai guru sejati . Pengetahuan sejati itulah sesungguhnya merupakan "pager besi" untuk melindungi hidup kita di dunia ini. Di samping itu Sang Hyang Pramesti Guru beryoga bersama Dewata Nawa Sanga adalah untuk "ngawerdhiaken sarwa tumitah muang sarwa tumuwuh."&amp;nbsp;Ngawerdhiaken artinya mengembangkan. Tumitah artinya yang ditakdirkan atau yang terlahirkan. Tumuwuh artinya tumbuh-tumbuhan.&amp;nbsp;Mengembangkan hidup dan tumbuh-tumbuhan perlulah kita berguru agar ada keseimbangan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam Bhagavadgita disebutkan ada tiga sumber kemakmuran yaitu:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Krsi yang artinya pertanian (sarwa tumuwuh).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Goraksya, artinya peternakan atau memelihara sapi sebagai induk semua hewan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wanijyam, artinya perdagangan. Berdagang adalah suatu pengabdian kepada produsen dan konsumen. Keuntungan yang benar, berdasarkan dharma apabila produsen dan konsumen diuntungkan. Kalau ada pihak yang dirugikan, itu berarti ada kecurangan. Keuntungan yang didapat dari kecurangan jelas tidak dikehendaki dharma.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kehidupan tidak terpagari apabila tidak berkembangnya sarwa tumitah dan sarwa tumuwuh. Moral manusia akan ambruk apabila manusia dilanda kemiskinan baik miskin moral maupun miskin material. Hari raya Pagerwesi adalah hari untuk mengingatkan kita untuk berlindung dan berbakti kepada Tuhan sebagai guru sejati. Berlindung dan berbakti adalah salah satu ciri manusia bermoral tanpa kesombongan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mengembangkan pertanian dan peternakan bertujuan untuk memagari manusia dari kemiskinan material. Karena itu tepatlah bila hari raya Pagerwesi dipandang sebagai hari untuk memerangi diri dengan kekuatan meterial. Kalau kedua hal itu (pertanian dan peternakan) kuat, maka adharma tidak dapat masuk menguasai manusia. Yang menarik untuk dipahami adalah Pagerwesi adalah hari raya yang lebih diperuntukkan para pendeta (sang purohita). Hal ini dapat dipahami, karena untuk menjangkau vibrasi yoga Sanghyang Pramesti Guru tidaklah mudah. Hanya orang tertentu yang dapat menjangkau vibrasi Sanghyang Pramesti Guru. Karena itu ditekankan pada pendeta dan beliaulah yang akan melanjutkan pada masyarakat umum. Dalam agama Hindu, purohita adalah adi guru loka yaitu guru utama dari masyarakat. Sang Purohita-lah yang lebih mampu menggerakkan atma dengan tapa brata.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam Manawa Dharmasastra V, 109 disebutkan:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Atma dibersihkan dengan tapa bratabudhi dibersihkan dengan ilmu pengetahuan (widia) manah (pikiran) dibersihkan dengan kebenaran dan kejujuran yang disebut satya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penjelasan Manawa Dharmasastra ini adalah bahwa atma yang tidak diselimuti oleh awan kegelapan dari hawa nafsu akan dapat menerima vibrasi spiritual dari Brahman. Vibrasi spiritual itulah sebagai pagar besi dari kehidupan dan itu pulalah guru sejati. Karena itu amat ditekankan pada Hari Raya Pagerwesi para pendeta agar ngarga, mapasang lingga.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ngarga adalah suatu tempat untuk membuat tirtha bagi para pendeta. Sebelum membuat tirtha, terlebih dahulu pendeta menyucikan arga dengan air, dengan pengasepan sampai disucikan dengan mantra-mantra tertentu sehingga tirtha yang dihasilkan betul-betul amat suci. Pembuatan tirtha dalam upacara-upacara besar dilakukan dengan mapulang lingga. Tirtha suci itulah yang akan dibagikan kepada umat. Mengingat ngargha mapasang lingga dianjurkan oleh lontar Sundarigama pada hari Pagerwesi ini, berarti para pendeta harus melakukan hal yang amat utama untuk mencapai vibrasi spiritual payogan Sanghyang Pramesti Guru.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sesayut Panca Lingga dengan inti ketipat Lingga adalah memohon lima manifestasi Siwa untuk memberikan benteng kekuatan (pager besi) dalam menghadapi hidup ini. Para pendetalah yang mempunyai kewajiban menghadirkan lebih intensif dalam masyarakat. Kemahakuasaan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Siwa dengan simbol Panca Lingga, Sesayut Pageh Urip bagi kebanyakan atau umat yang masih walaka. Kata "pageh" artinya "pagar" atau "teguh" sedangkan "urip" artinya "hidup". "Pageh urip" artinya hidup yang teguh atau hidup yang terlindungi. Kata "sesayut" berasal dari bahasa Jawa dari kata "ayu" artinya selamat atau sejahtera.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Natab Sesayut artinya mohon keselamatan atau kerahayuan. Banten Sesayut memakai alas sesayut yang bentuknya bundar dan maiseh dari daun kelapa. Bentuk ini melambangkan bahwa untuk mendapatkan keselamatan haruslah secara bertahap dan beren-cana. Tidak bisa suatu kebaikan itu diwujudkan dengan cara yang ambisius. Demikianlah sepintas filosofi yang terkandung dalam lambang upacara Pagerwesi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di India, umat Hindu memiliki hari raya yang disebut Guru Purnima dan hari raya Walmiki Jayanti. Upacara Guru Purnima pada intinya adalah hari raya untuk memuja Resi Vyasa berkat jasa beliau mengumpulkan dan mengkodifikasi kitab suci Weda. Resi Vyasa pula yang menyusun Itihasa Mahabharatha dan Purana. Putra Bhagawan Parasara itu pula yang mendapatkan wahyu ten-tang Catur Purusartha yaitu empat tujuan hidup yang kemudian diuraikan dalam kitab Brahma Purana.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berkat jasa-jasa Resi Vyasa itulah umat Hindu setiap tahun merayakan Guru Purnima dengan mengadakan persembahyangan atau istilah di India melakukan puja untuk keagungan Resi Vyasa dengan mementaskan berbagai episode tentang Resi Vyasa. Resi Vyasa diyakini sebagai adi guru loka yaitu gurunya alam semesta.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sedangkan Walmiki Jayanti dirayakan setiap bulan Oktober pada hari Purnama. Walmiki Jayanti adalah hari raya untuk memuja Resi Walmiki yang amat berjasa menyusun Ramayana sebanyak 24.000 sloka. Ke-24. 000 sloka Ramayana itu dikembangkan dari Tri Pada Mantra yaitu bagian inti dari Savitri Mantra yang lebih populer dengan Gayatri Mantra. Ke-24 suku kata suci dari Tri Pada Mantra itulah yang berhasil dikembangkan menjadi 24.000 sloka oleh Resi Walmiki berkat kesuciannya. Sama dengan Resi Vyasa, Resi Walmiki pun dipuja sebagai adi guru loka yaitu maha gurunya alam semesta.&amp;nbsp;Sampai saat ini Mahabharata dan Ramayana yang disebut itihasa adalah merupakan pagar besi dari manusia untuk melindungi dirinya dari serangan hawa nafsu jahat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika kita boleh mengambil kesimpulan, kiranya Hari Raya Pagerwesi di Indonesia dengan Hari Raya Guru Purnima dan Walmiki Jayanti memiliki semangat yang searah untuk memuja Tuhan dan resi sebagai guru yang menuntun manusia menuju hidup yang kuat dan suci. Nilai hakiki dari perayaan Guru Purnima dan Walmiki Jayanti dengan Pegerwesi dapat dipadukan. Namun bagaimana cara perayaannya, tentu lebih tepat disesuaikan dengan budaya atau tradisi masing-masing tempat. Yang penting adalah adanya pemadatan nilai atau penambahan makna dari memuja Sanghyang Pramesti Guru ditambah dengan memperdalam pemahaman akan jasa-jasa para resi, seperti Resi Vyasa, Resi Walmiki dan resi-resi yang sangat berjasa bagi umat Hindu di Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(Sumber: Buku "Yadnya dan Bhakti" oleh Ketut Wiana, terbitan Pustaka Manikgeni)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.forumhindu.co.cc/2009/01/hari-raya-pagerwesi.html"&gt;Sumber&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7221655881315686900-3435688060957155624?l=ceritahindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Td3d-v0Wnsj9DX-6J6GFtDwdfdo/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Td3d-v0Wnsj9DX-6J6GFtDwdfdo/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Td3d-v0Wnsj9DX-6J6GFtDwdfdo/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Td3d-v0Wnsj9DX-6J6GFtDwdfdo/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CeritaHindu/~4/xiqY1IK12OU" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://ceritahindu.blogspot.com/feeds/3435688060957155624/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7221655881315686900&amp;postID=3435688060957155624&amp;isPopup=true" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/3435688060957155624?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/3435688060957155624?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CeritaHindu/~3/xiqY1IK12OU/hari-raya-pagerwesi.html" title="Hari Raya Pagerwesi" /><author><name>denny0214</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877375447862611766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://1.bp.blogspot.com/_tHWVsZfq_Sw/SYAVlzkrU6I/AAAAAAAAABI/yVCMbboC02s/S220/100_3522.JPG" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://ceritahindu.blogspot.com/2011/05/hari-raya-pagerwesi.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEcNRXc9fSp7ImA9WhZWFE8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-7221655881315686900.post-5985180070569925989</id><published>2011-05-14T19:21:00.000-07:00</published><updated>2011-05-14T19:21:34.965-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-05-14T19:21:34.965-07:00</app:edited><title>Tumpek Landep</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh: Jero Mangku Sudiada &lt;jeromangku_sudiada@yahoo.com&gt;&lt;/jeromangku_sudiada@yahoo.com&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Om Swastyastu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;SAKING TUHU MANAH GURU&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;MITUTURIN CENING JANI&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;KEWRUHAN LWIR SANJATA&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;NE DADIPRABOTANG SAI&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;KE ANGGEN NGERURUH AMRETE&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;SE-ENUN CENINGE MAURIF&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari hati seorang Guru yang paling dalam&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekarang ini Guru Memberikan nasehat tuk mu&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pengetahuan adalah senjata yang paling ampuh&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang bisa dipakai keseharianmu&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagai senjata tuk menjalankan profesimu&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Engkau &amp;nbsp;gunakan selama hayat masih dikandung badan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rasanya tembang sederhana dipedesaan seperti ini begitu menyentuh, ketika kakek&amp;nbsp;kelawan I Nenek, mengusap-usap rambut cucunya dengan tangannya yang sudah penuh keriput, sambil membelitkan kain batik yang sudah lusuh untuk mengurangi berat&amp;nbsp;beban cucunya karena tangannya sudah terlalu rapuh untuk menyangga beban yang&amp;nbsp;berat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari sudut matanya yang sudah keliatan lamur, namun masih tetap bergulir&amp;nbsp;airmatanya memanjatkan doa kepada Hyang Moho Suci, diakhir dari tembangnya&amp;nbsp;ditujukan kepada cucu kesayangannya agar kelak tumbuh menjadi anak yang berguna,&amp;nbsp;sanggup untuk menyinari “KULAWANDU MANAWA” sambil berharap. “TEHERANG RAGAN&amp;nbsp;I-DEWA SAMPUNANG OBAH” ajegkanlah Hindu, karena lewat engkaulah kakek&amp;nbsp;dan Nenek untuk mewali punarbawa &amp;nbsp;nunas penglugrahan penebusan dosa, mewali&amp;nbsp;manumadi untuk mempebaiki tugas kami yang belum tuntas dalam kehidupan sekarang.&amp;nbsp;Sane mangkin minabang kakek lan dan nenkmu masih menempuh jalan Daksina yana&amp;nbsp;kelahiran yang berulang, sampai akhirnya pencerahan itu datang pada Pekak &amp;amp;&amp;nbsp;nenek mendapatkan pencerahan yang cuckup dumogi mresidayang menempuh jalan&amp;nbsp;Utarayana mewali menunggal Kaula kelawan Igusti, ( Sang Sangkan Paraning Dumadi)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Agak aneh setelah usai gending gending itu dilantunkan mendadak senyum kedamaian&amp;nbsp;menghias bibir Kakek, dan nenek, entah rasa kepuasan apa yang dirasakan setelah&amp;nbsp;menciumi kening cucu cucu kesayanganya tertidur pulas……Hemm…sebening embun pagi,&amp;nbsp;sebersih salju, bila kuusap rambutmu …permata hatiku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seni membuat hidup ini demikian indah sehingga bergairah,&amp;nbsp;IPTEK membuat hidup kita semakin mudah dan…&amp;nbsp;Agama menjadikan hidup kita lebih terarah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tumpek Landep Memuja Sang Hyang Pasupati, Pertajam Idep UMAT Hindu kembali&amp;nbsp;merayakan rerahinan Tumpek Landep, Sabtu Kliwon Wuku Landep (7 Mei 2011) hari&amp;nbsp;ini Sanicara Kliwon uku landep. Pada Tumpek Landep, umat Hindu memuja Ida Sang&amp;nbsp;Hyang Widhi dalam prebawa-nya sebagai Sang Hyang Pasupati yang telah&amp;nbsp;menganugerahkan kecerdasan atau ketajaman pikiran sehingga mampu menciptakan&amp;nbsp;teknologi atau benda-benda yang dapat mempermudah dan memperlancar hidup,&amp;nbsp;seperti sepeda motor, mobil, mesin, komputer (laptop) dan sebagainya. Tetapi&amp;nbsp;dalam konteks itu umat bukanlah menyembah mobil, komputer, tetapi memohon&amp;nbsp;kepada &amp;nbsp;Sang Hyang Pasupati agar benda-benda tersebut betul-betul dapat berguna&amp;nbsp;bagi kehidupan manusia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Landep dalam Tumpek Landep memiliki pengertian lancip. Secara harfiah diartikan&amp;nbsp;senjata tajam seperti tombak dan keris. Benda-benda tersebut dulunya difungsikan&amp;nbsp;sebagai senjata hidup untuk menegakkan kebenaran. Secara sekala, benda-benda&amp;nbsp;tersebut diupacarai dalam Tumpek Landep.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tumpek Landep dalam konsept kekinian, senjata lancip itu sudah meluas. Tak hanya&amp;nbsp;keris dan tombak, juga benda-benda hasil cipta karsa manusia yang dapat&amp;nbsp;mempermudah hidup seperti sepeda motor, mobil, mesin, komputer dan sebagainya.&amp;nbsp;Benda-benda itulah yang diupacarai. Namun harus disadari, dalam konteks itu umat&amp;nbsp;bukanlah menyembah benda-benda teknologi, tetapi umat memohon kepada &amp;nbsp;Sang Hyang&amp;nbsp;Widdhi dalam prebawa-nya sebagai Sang Hyang Pasupati yang telah menganugerahkan&amp;nbsp;kekuatan pada benda tersebut sehingga betul-betul mempermudah hidup.&amp;nbsp;Dalam pengertian, bahwa umat patut bersyukur kepada Tuhan karena telah diberikan&amp;nbsp;kemampuan atau ketajaman pikiran sehingga mampu menciptakan aneka benda atau&amp;nbsp;teknologi yang dapat mempermudah hidup.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sementara dalam kaitan dengan buana alit (diri manusia), Tumpek Landep itu&amp;nbsp;sesungguhnya momentum untuk selalu menajamkan pikiran (landeping idep),&amp;nbsp;menajamkan perkataan (landeping wak) dan menajamkan perbuatan (landeping kaya).&amp;nbsp;Ketiga unsur Tri Kaya Parisuda tersebut perlu lebih dipertajam agar berguna bagi&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;diri sendiri dan orang lain. Buah pikiran perlu dipertajam untuk kepentingan&amp;nbsp;umat manusia, demikian pula perbuatan dan perkataan yang dapat menenteramkan&amp;nbsp;pikiran atau batin orang lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pikiran kita mesti selalu diasah agar mengalami ketajaman. Ilmu pengetahuanlah&amp;nbsp;alat untuk menajamkan pikiran. Komputer yang diciptakan untuk mempertajam&amp;nbsp;pikiran, hendaknya dimanfaatkan dengan baik. Internet mesti digunakan untuk&amp;nbsp;mengakses informasi sehingga wawasan dan kecerdasan bertambah, bukan untuk&amp;nbsp;mengunduh yang lain-lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tumpek Landep memiliki nilai filosofi agar umat selalu menajamkan pikiran.&amp;nbsp;Setiap enam bulan sekali umat diingatkan melakukan evaluasi apakah pikiran sudah&amp;nbsp;selalu dijernihkan atau diasah agar tajam? Sebab, dengan pikiran yang tajam,&amp;nbsp;umat menjadi lebih cerdas, lebih jernih melakukan analisa, lebih tepat&amp;nbsp;menentukan keputusan dan sebagainya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namaste.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7221655881315686900-5985180070569925989?l=ceritahindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/N-X4cn1yvf4V49q_yGSerg7_8Zg/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/N-X4cn1yvf4V49q_yGSerg7_8Zg/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/N-X4cn1yvf4V49q_yGSerg7_8Zg/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/N-X4cn1yvf4V49q_yGSerg7_8Zg/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CeritaHindu/~4/pi77ZxvGrHo" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://ceritahindu.blogspot.com/feeds/5985180070569925989/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7221655881315686900&amp;postID=5985180070569925989&amp;isPopup=true" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/5985180070569925989?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/5985180070569925989?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CeritaHindu/~3/pi77ZxvGrHo/tumpek-landep.html" title="Tumpek Landep" /><author><name>denny0214</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877375447862611766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://1.bp.blogspot.com/_tHWVsZfq_Sw/SYAVlzkrU6I/AAAAAAAAABI/yVCMbboC02s/S220/100_3522.JPG" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://ceritahindu.blogspot.com/2011/05/tumpek-landep.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CkMDSXw7eip7ImA9Wx9XEE0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-7221655881315686900.post-896489786065808818</id><published>2011-01-02T12:34:00.000-08:00</published><updated>2011-01-02T12:34:38.202-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-01-02T12:34:38.202-08:00</app:edited><title>Tenun Geringsing</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Tenun Geringsing&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;WHD No. 461 Juni 2005&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh : IG.B. Ngurah Ardjana, Denpasar&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kerajinan menenun kain gringsing ini merupakan usaha satu-satunya di Bali sampai kini yang hanya terdapat atau dikenal dikalangan masyarakat Desa Tenganan saja. Dan hasil kerajinan menenun ini oleh masyarakat setempat dijadikan pakaian adat disamping mengandung juga nilai estetis, mode show, serta tata nilai yang dipancarkannya dapat menumbuhkan rasa bangga bagi warga masyarakat pendukungnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menenun kain geringsing dan dalam proses pembuatannya adalah merupakan proses yang sangat rumit dengan teknik double ikat yang memakan waktu cukup lama serta dengan bahan-bahan dasar dan bahan pewarnaannya berasal dan alamiah. Kain geringsing juga banyak diperlukan orang lain, karena dapat digunakan untuk keperluan. upacara adat dan agama, mode show dan sebagainya. Menurut pandangan orang Tenganan bahwa kain geringsing mengandung nilai magis. Hal ini dikatakan demikian karena kata geringsing berasal dan dua kata yaitu gering yang berarti “sakit” atau “penyakit” dan sing berarti “tidak” atau “menolong”. Dan kedua akar kata tersebut yaitu kata gering dan sing disatu padukan akan menjadi kata geringsing yang dapat berarti tidak sakit atau menolak penyakit yang dapat diperkirakan akan terhindar dan segala penyakit. Oleh karena demikian orang Tenganan mempunyai pandangan bahwa kain geringsing memiliki peranan/fungsi yang amat penting.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Tata Upacara Pembuatan Tenun Geringsing&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masyarakat Tenganan Pegeringsingan yang menganut agama Hindu sangat percaya bahwa segala sesuatu pekerjaan yang dimulai dengan diawali upacara keagamaan maka hasilnya akan balk dan menjumpai kesalamatan. Dalam memulai pekerjaan menenun Kain Geringsing yang sangat dikematkan inipun mereka sangat memperhatikan aturan yang sudah diwariskan secara turun-temurun oleh leluhurnya. Mereka mengikuti aturan tersebut meskipun secara teknik ilmiah mereka kurang bisa menjelaskan narnun mereka tetap berusaha menaruh perhatian yang besar terhadap pelestarian yang sangat erat kaitannya dengan upacara keagamaan yang harus dilaksanakan demi mempertahankan keaslian tata cara pembuatan kain tenun tradisional Geringsing, satu-satunya yang ada di Bali.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pantangan bagi masyarakat Tenganan Pegeringsingan untuk menenun kain Gringsing pada saat datang bulan (haid). Mengenai upacara keagamaan dilakukan secara bertahap selama proses pembuatan tenun tradisional Geringsing berlangsung.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rentetannya adalah sebagai berikut : setelah proses pembuatan dimulai, diawali dengan mencelupkan benang kedalam minyak lilin (minyak kemiri/malem) dan air serbuk kayu dalam wadah yang terbuat dan tanah hat (jeding) kemudian ditutup dengan kain putih hitam (gotia) guna menghindan adanya pengaruh roh jahat (leak).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah ikatan pertama disimpulkan disertai dengan yadnya kecil yang terdiri dan : kembang sepatu, dauh sirih gulung, kapur sirih dan 2 set uang kepeng 11, pada lubangnya digantungkan benang katun yang diikat 2 kendi. Ikatan terakhir pada bahan hanya dapat diikat oleh wanita yang lewat masa menapouse.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Proses Pembuatan Kain Geringsing&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Proses pembuatan kain Tenun Geringsing diawali dengan penyiapan kapas untuk bahan benang. Kapas yang dipakai adalah kapas keling (bijinya hanya satu satu). Kapas semacam mi didatangkan dan pulau Nusa Penida Kabupaten Daerah Tk. II KlungkungBali.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mula-mula kapas keling dipipis, kemudian ngantih bikin benang. Sesudah menjadi benang, benang itu dicelup kedalam minyak kemiri bercampur air abu/serbuk kayu dan direndam selama 42 han. Setiap tiga hari sekali, maka selajutnya benang tersebut dikeringkan tanpa menjemurnya di sinar matahari, diberi hiasan bunga pucuk (kembang sepatu). Kemudian benang yang sudah kering itu digulung kedalam bambu kecil yang disebut “Ulakan”. Untuk motif kain pendek benang yang sudah kering diproses dengan ngelimbengang, sedang untuk motif kain panjang benang diproses dengan ngerengang. Selanjutnya benang tersebut dibedbed (diikat) untuk dapat dicelup/diwarnai. Dan medbed (mengikat) sampai mendapat warna-warna yang sesuai dengan motif tenunan diperlukan waktu 2 sampai 3 minggu.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah merampungkan pewarnaan benang maka benang bahan kain tenun Geringsing itu sudah siap untuk ditenun. Satu ikatan benang yang sudah berwarna itu menghasilkan/menjadi 5 sampai 6 lembar kain tenun Geringsing, setelah menjalani proses pembuatannya selama kira-kira 4 tahun. Namun kini sudah bisa dipercepat hingga 2 tahun (karena faktor ekonomis).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bahan Pewarna Benang Tenun Geringsing&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada cerita yang menggambarkan bahwa warna merah dari tenun Geringsing bahannya adalah darah manusia. Ternyata cerita tersebut hanya merupakan cerita bohong belaka karena warna merah yang misterius itu tidak dibuat dari darah manusia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cerita itu sengaja dimunculkan mungkin merupakan usaha proteksi masyarakat Tenganan Pegeringsingan agar kain tenun Geringsing yang merupakan kebanggaan masyarakat Tenganan Pegeringsingan sukar ditiru atau tidak ditiru.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adapun bahan-bahan warna alami dan tenun Geringsing itu adalah sebagai berikut:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1) Warna merah dibuat dari “babakan” (kelopak pohon) Kepundung putih dicampur dengan akar pohon Sunti.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2) Warna kuning dibuat dari minyak buah kemiri yang sudah berumur lama, kira-kira 1 tahun dicampur dengan air serbuk/abu kayu kemiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3) Warna hitam dibuat dari pohon Taum.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ragam Jenis Tenun Gringsing&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Konon dahulu, ragam jenis Tenun Geringsing ada 20 jenis. Namun kini yang masih dikerjakan hanya 14 jenis yaitu:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;1) Geringsing Lubeng&lt;/b&gt;,&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;yang terdiri&amp;nbsp;dari: Gringsing Lubeng Luhur,&amp;nbsp;Gringsing Lubeng Petang Dasa dan&amp;nbsp;Gningsing Lubeng Pat Likur.&amp;nbsp;Motifnya bernama Lubeng. &amp;nbsp;Kekhasannya adalah berisi kalajengking. Lubeng Luhur ukurannya paling panjang dengan 3 bunga berbentuk kalajengking yang masih utuh bentuknya. Sedangkan pada Lubeng Petang Dasa bunga kalajengkingnya utuh hanya satu di tengah sedang yang di pinggir hanya setengah-setengah. Sedang Lubeng Pat Likur adalah yang ukurannya terkecil. Fungsinya sebagai busana adat dan upacara agama.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;2) Geringsing Sanan Empeg&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Geringsing Sanan Empeg fungsinya hanya sebagai sarana upacara keagamaan dan adat, yaitu sebagai pelengkap sesajian bagi masyarakat Tenganan Pegeringsingan. Sedangkan bagi masyarakat Bali di luar desa Tenganan hanya dipergunakan sebagai penutup bantal/alas kepala orang melaksanakan upacara manusa yadnya potong gigi. Ciri khas dan motif Sanan Empeg adalah adanya tiga bentuk kotak-kotak/poleng berwarna merah dan hitam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;3) Geringsing Cecempakan&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Geringsing Cecempakan bermotif bunga cempaka. jenisnya: Gringsing Cecempakan Petang Dasa (ukuran empat puluh). Geringsing Cecempakan Putri, Geringsing Cecempakan Pat Likur (ukuran 24 benang).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Fungsinya adalah sebagai busana adat dan upacara agama.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;4) Geringsing Cemplong.&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Motif Geringsing Cemplong adalah karena ada bunga-bunga besar diantara bunga-bunga kecil seolah-olah ada kekosongan/lobang-lobang diantara bunga itu menjadi kelihatan cemplong. Jenisnya : ukuran Pat Likur (24 benang), senteng/anteng (busana di pinggang wanita), sedangkan yang ukuran Petang Dasa (40 benang) sudah hampir punah. Fungsinya adalah sebagai busana adat dan upacara agama.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;5) Geringsing Isi.&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada Geringsing Isi ini sesuai namanya pada motifnya semua berisi atau penuh, tidak ada bagian kain yang kosong, ukuran yang ada hanya ukuran Pat Likur (24 benang) dan berfungsi hanya untuk sarana upacara, bukan untuk busana.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;6) Geringsing Wayang.&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Motifnya ada dua yaitu Geringsing Wayang Kebo dan Geringsing Wayang Putri.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Fungsi dan ukuran kedua kain ini sama yaitu untuk selendang, yang berbeda adalah motifnya. Pada Geringsing Wayang Kebo teledunya (Kalajengkingnya) bergandengan sedangkan pada Gringsing Wayang Putri lepas . Pada tenun Geringsing Wayang Kebo berisi motif wayang laki dan wanita. Sedangkan pada tenun Geringsing Wayang Putri hanya berisi motif Wayang Wanita.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;7) Geringsing Batun Tuung.&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Batun Tuung artinya biji terong. Dengan demikian pada Geringsing Batun Tuung motifnya penuh dengan biji-biji terong. Ukurannya tidak besar, untuk senteng (selendang) pada wanita dan untuk sabuk (ikat pinggang) tubumuhan bagi pria. Jenis Geringsing ini sudah hampir punah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perlu diketahui bahwa pada semua kain Geringsing (double ikat) pasti ada “telupuhnya” (motif pinggirnya) dan juga “penekek” (bagian paling pinggir). Kadang-kadang diisi pula tambang, “tetubahan” semacam hiasan kreasi di pinggir kain sesuai selera pembuat.•&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;sumber:&amp;nbsp;&lt;a href="http://apasihberuetz.blogspot.com/2010/12/cetik-geringsing.html"&gt;http://apasihberuetz.blogspot.com/2010/12/cetik-geringsing.html&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7221655881315686900-896489786065808818?l=ceritahindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/K6kvn1ymCdQnW84FHBjHZFvC0v8/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/K6kvn1ymCdQnW84FHBjHZFvC0v8/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/K6kvn1ymCdQnW84FHBjHZFvC0v8/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/K6kvn1ymCdQnW84FHBjHZFvC0v8/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CeritaHindu/~4/HdMeJ1g1-J8" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://ceritahindu.blogspot.com/feeds/896489786065808818/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7221655881315686900&amp;postID=896489786065808818&amp;isPopup=true" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/896489786065808818?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/896489786065808818?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CeritaHindu/~3/HdMeJ1g1-J8/tenun-geringsing.html" title="Tenun Geringsing" /><author><name>denny0214</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877375447862611766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://1.bp.blogspot.com/_tHWVsZfq_Sw/SYAVlzkrU6I/AAAAAAAAABI/yVCMbboC02s/S220/100_3522.JPG" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://ceritahindu.blogspot.com/2011/01/tenun-geringsing.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A08HR34_cCp7ImA9Wx9SGUk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-7221655881315686900.post-2505221982856776124</id><published>2010-12-09T18:57:00.000-08:00</published><updated>2010-12-09T18:57:16.048-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-12-09T18:57:16.048-08:00</app:edited><title>Hari Raya Hindu di Indonesia dan India : Sebuah perbandingan Pintas</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pattram puspam phalam toyam&lt;br /&gt;
yo me bhaktya prayacchata&lt;br /&gt;
tad aham bhakty upahrtam&lt;br /&gt;
Bhagawadita IX.26.&lt;br /&gt;
(Siapa saja yang sujud kepada Aku dengan&lt;br /&gt;
persembahan sehelai daun, sekuntum bunga,&lt;br /&gt;
sebiji buah-buahan dan seteguk air,&lt;br /&gt;
Aku terima sebagai bhakti persembahan&lt;br /&gt;
dari orang yang berhati suci)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Image Ajaran agama Hindu yang bersumber pada kitab suci Veda dimanapun sama, namun pelaksanaannya berbeda. Perbedaan ini disebabkan oleh berbagai faktor di antaranya lingkungan alam, sosial budaya dan lain sebagainya. Demikian pula hari-hari raya Hindu baik di India maupun di Indonesia, ada yang sama-sama dirayakan dan ada yang tidak. Persamaan dan perbedaan pelaksanaan kehidupan beragama ini merupakan ciri yang memberi kuasa dan mewarnai pelaksanaan agama Hindu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== I Made Titib ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di India seperti halnya umat Hindu di Indonesia mengenal banyak hari-hari besar keagamaan atau hari raya yang seluruhnya dapat dibedakan menjadi tiga 3 kelompok , yaitu : Pertama, hari-hari pesta keagamaan (festivals) yang dilakukan dengan meriah, seperti Chitrra Purinima, Durgapuja atau Navaratri, Dipavali, Gayatri Japa, Guru Purnima. Holi , Makara Sankranti, Raksabandha, Vasanta Panchami dan lain-lain. Kedua, adalah hari peringatan kelahiran tokoh-tokoh suci yang disebut Jayanti atau Janmasthani seperti Ganesa Caturti, Gita Jayanti, Valmiki Jayanti, Hanuman Jayanti, Krisna Janmasthani, Sankara Jayanti, Ramanavami dan lain-lain dan ketiga adalah hari untuk melaksanakan Brata(Vrata) atau Upavasa(Puasa) misalnya Sivaratri, Satyanarayana Vrata, Vara Laksmi Vrata, Ekadasi dan lain-lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Citra Purnima jatuh pada hari purnama bulan Chaitra, yakni bulan pertama dari penanggalan Saka, pemujaan ditujukan kepada dewa Yama, dewa maut dengan mempersembahkan sesajen berupa nasi berisi bumbu (sejenis "bubur pitara" di Bali) yang kemudian setelah dipersembahkan makanan atau prasadam (di Bali disebut "lungsuran") dibagikan kepada mereka yang mengikuti upacara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Durgapuja atau Navaratri disebut juga Dussera atau Dasahara jatuh pada tanggal 1 sampai dengan 10 paro terang bulan Aswasuja atau Asuji (September-Oktober) untuk memperingati kemenangan Dharma terhadap Adharma, Upacara ini adalah untuk menghormati kemengangan Sri Rama melawan Rawana yang disebut juga Dasamukha (berkepala sepuluh). Konon Sri Rama berhasil jaya oleh karena anugerah Dewi Durga, karena itu sebagian umat Hindu memuja -Nya pada hari ini sebagai Durgapuja. Versi lain menyebnutkan sebagai kemenangan Sri Kresna melawan raksasa Narakasura, Upacara yang berlangsung 10 hari, sembilan hari pertama disebut Vijaya Dasani. Hari raya yang disebut juga Dussera ini mirip dengan Galungan dan Kuningan di Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dipavali, artinya persembahan lampu, disebut juga Divali, jatuh dua hari sebelum Tilem ( bulam mati) kartika ( Oktober-November), beliau disambut dengan penyalaan lampu-lampu, kembang api dan mercon semalam suntuk. Pagi hingga siang hari dilakukan persembahyangan keluarga di pura-pura terdekat di samping kunjungan keluarga, suasananya seperti Ngembak Agni di Bali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gayatri Japa, jatuh sehari setelah purnama Sravana (Kasa) bulan Juli atau agustus, sebagai peringatan turunya mantram Gayatri yang kini populer menjadi mantra Japa yang sangat penting dan sangat dikeramatkan oleh umat Hindu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru Purnima jatuh pada hari purnama Asadha (bulan Juli-Agustus), hari ini disebut juga Vyasa Jayanti, hari lahirnya maharesi Vyasa. Makna hari raya ini mirip dengan Pagerwesi. Sejak purnama ini selama 4 bulan ( Caturmasa) para Sanyasin tidak lagi mengembara (karena musim hujan), mereka tinggal di asram-asram mendiskusikan Brahmasutra dan melakukan meditasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Holi, hari ini jatuh pada purnama Phalguna ( Kawulu), bulan Februari-Maret, dirayakan diseluruh India sangat meriah , maknanya untuk menyambut musim panas dikaitkan dengan raksasa perampuan bernama Holika yang akhirnya mati terbakar dikalahkan oleh kenbenaran yang dimanifestasikan oleh Prahlada. Upacaranya mirp dengan mecaru di perempatan-perempatan desa di Bali dan membuat api unggun yang dinyalakan pada saat menjelang malam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makara Sankranti jatuh pada pertengahan januari, pada saat itu matahari mulai bergerak ke arah utara Katulistiwa, sebagian besar umat Hindu menyucikan diri di sungai Gangga atau sungai sungai suci lainya di India, pemujaan ditujukan kepada dewa Surya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Raksabandha jatuh pada hari purnama Sravana(Kasa), Juli- Agustus hari untuk menguatkan tali kasih sayang antara suami-istri, anak orang tua, kemenakan dengan paman/bibi, murid dengan guru dan sebaliknya, mengingatkan cintanya dewi Sachi kepada Indra. Pada hari ini pagi-pagi benar umat Hindu menyucikan diri ke sungai Gangga atau sungai-sungai suci lainya. Selesai sembahyang dilanjutkan dengan pengikatan benang pada pergelangan tangan masing-masing, tanda memperteguh ikatan kasih sayang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Vasanta Panchami jatuh pada hari kelima paro terang ( Suklapaksa Magha masa), yakni bulan Januari-Februari dalam menyambut musim semi (Vasanta), seperti halnya hari-hari suci lainya, pada hari ini juga umat hindu mandi suci di sungai Gangga atau sungai-sungai suci lainya di India, disamping melakukan meditasi atau yoga Sadhana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari-hari lainya yang berkaitan dengan peringatan kelahiran tokoh seperti Ganesa Caturti jatuh pada tanggal 4 paro terang Badrapada ( Agustus - september ) memperingati kelahiran Ganesa putra Siva. Para pemuja Ganesa melakukan japa, bermeditasi mengingat nama-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gita Jayatri adalah memperingati turunya sabda suci Bhagawandgita, jatuh pada Ekadasi Suklapaksa Margasirsa yakni hari ke sebelas paro terang bulan margasirsa (Desember-Januari), seperti dimaklumi Bhagawadgita disampaikan oleh Sri Kresna kepada Arjuna di padang Kurusetra, tepat terjadinya peristiwa rohani ini kini disebut Jyotisara, sekitar 3 kilometer dari tempatnya rsi Bhisma terbaring menunggu matahari bergerak keutara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Valmiki Jayanti jatuh beberapa hari menjelang Dipavali adalah untuk memperingati tokoh hindu, penyusun Ramayana sedang Hanuman Jayanti jatuh pada purnama Chaitra ( Bulan Maret-April) bersamaan dengan hari Chaitra Purnama, untuk memuja Yama, Kresna Janasthami jatuh pada hari ke 8 paro petang bulan Bhadrapada ( Agustus-September) untuk memperingati kelahiran Sri Kresna di kota Mathura, sebuah kota suci ditepi sungai Yamuna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sankara Jayanti jatuh pada tanggal 5 paro terang bulan Vaisaka ( Mei-Juni) untuk menghormati tokoh spiritual India peletak dasar ajaran Advaita Vedanta. Sri Sankara dikenal sebagai gurudeva dari para Sanyasin di seluruh India.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ramanavani Jayanti adalah peringatan hari kelaiharan Sri Rama yang jatuh pada tanggal 9 paro terang bulan Chaitra ( Maret-April) . Sri Rama lahir di kota suci Ayodya, di Uttar Pradesh, India Utara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari yang berkaitan dengan Brata atau Upavasa adalah Sivaratri hari ini jatuh pada tanggal 14 paro gelap bulan Maghadan Phalguna ( yakni bulan januari dan Februari ). Umat Hindu di Indonesia melaksanakannya pada bulan Magha ( sasih Kapitu), sedang umat Hindu di India melakukan pada bulan Phalguna ( Kawulu). Hal ini mungkin disebabkan saat itu merupakan bulan mati paling gelap di India.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satya Narayana Vrata umunya dilakukan pada hari-hari purnama seperti Kartika ( Kapat), Vaisaka ( Kadasa), Sravana(Kasa), dan Chaitra ( Kasanga) dapat juga dilakukan pada saat bulan terbit ( tanggal 1 paro terang/penanggal). Bentuknya sangat sederhana yakni berupa persembahan dana punia kepada para pandita dan pemberian / pembagian makanan kepada orang-orang miskin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ekadasi atau Vaikunta Ekadasi Vrata jatuh pada tanggal dab panglong dan penanggal 11 bulan Margasisra ( Desember-Januari), 2 kali sebulan berupa puasa tidak makan nasi pada hari itu. meraka yang melakukan Ekadasi Vrata terbebas dari segala dosa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Vara Laksmi Vrata , dilakukan pada hari Jumat bulan Sravana ( kasa) bulan Juli - Agustus untuk memohon kesejahteraan lahir dan bathin. Masih banyak kita jumpai informasi tentang Brata atau Upavasa di dalam kitab-kitab Ithiasa dan Puranba yang rupanya beberapa diantaranya dipetik dan diabadikan dalam lontar lontar tentang Bratha di Bali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Telah dijelaskan di depan bahwa hari raya keagamaan yang mirip dengan galuingan dan kuningan adalah hari Durgapuja atau Navaratri yang diakhiri dengan Vijaya Dasani dirayakan hampir diseluruh India.&lt;br /&gt;
menurut Svami Sivananda dalam bukunya Fasts &amp;amp; Festivals of India (1991) India bahwa permulaan musim panas dan permulaan musim dingin, dua hal yang sangat penting adalah pengaruh matahari dan Iklim. Pda kedua perioda ini adalah kesempatan yang baik memuja iklim. Durga ( manifestasi Tuhan Yang Maha Esa segabai seorang Ibu) yakni dilakukan bertepatan dengan Ramanavani pada bulan Chaitra ( April-Mei) dan pada Durga Navarartri atau VijayaDasami pada bulan Asuji (September - Oktober) . Sri Rama dipuja pada saat Ramanavami sedang dewi dewi Durga di puja pada Navaratri. Durgapuja ini dirayakan secara besar-besaran dengan menghias altar ( tempat pemujaan keluarga, biasanya dalam kamar suci, tidak mempunyai pemerajan seperti kita di Indonesia). Tiga hari pertama pemujaan ditujukan kepada dewi Durga, tiga hari selanjutnya kepada dewi Laksmi dan tiga hari berikutnya kepada dewi Sarasvati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada Pucak perayaan, hari ke sepuluh ( Vijaya Dasami) sejak pagi hari umat telah melakukan sembahyang dirumah ditujukan kepada ketiga dewi tadi, didahului dengan pemnujaan kepada Ganesa dan diakhiri denan pemujaan kepada dewa Siva atau Istadevata lainya. Selesai pemujaan dilanjutkan denan Dhyana atai meditasi dan pembacaan kitab-kitab suci khusunnya Dewi Sukta dari Rgveda, Dewi Mahatya, Bhagavadgita, Upanisad, Brahmasutra atau kitab Ramayana. Umat pada umumnya sejak pagi sudah mengucapkan Bhajan atau kidung-kidung memuja keagungan Tuhan Yang Maha Esa . Berbagai jenus makanan dipersembahkan dan akhir dari persembahyangan bersama dalam keluarga atau di pura ( Mandir ) selalu dibagikan Pradasam atau lungsuran untuk dinikmati bersama. Dewasa ini resepsi perayaan Durgapuja atau Wijaya Dasami dilakukan puladi kantor-kantor pemerintah dan swasta, juga disekolah-sekolah , selesai persembahyangan pada umumnya umat melakukan Dharmasanti, yakni kunjungan kepada keluarga terdekat, para guru pandita maupun sahabat atau tetangga. Saat ini semua keluarga berkumpul, karena itu beberapa hari kota-kota besar seperti mati, karena suasananya sepi, Ketika malam tiba, mulailah dilaksanakan pembakaran patung patung rawana yang digambarkan berkepala sepuluh, juga adiknya kumbakarna dan putranya meghananda, di India Timur dan selatan dilanjutkan dengan mengarak arca atau patung Durga, seorang dewi yang amat cantik bertangan sepuluh. Pembakaran atau terbunuhnya Rawana dan pengikutnya selalu dudahului dengan drama tari Ramayana dan keesokan harinya umat datang ke sungai-sungai suci untuk mandi menyucikan diri. Demikianlah pelaksanaan Vijaya Dasami, sedang peringatan tahun Baru Saka yang kita kenal dengan hari raya Nyepi tidak dikenal/dirayakan oagi di India, walaupun pada jaman dahulu hampir seluruh India mengenal dan menggunakan tahun Saka. Kini di India hanya pemerintah yang menetapkan tahun baru Saka setiap tanggal 22 Maret bila tahun biasa dan 21 maret bila Tahun Kabisat dan masyarakat umum kurang memperhatikan hal itu. Di India selain tahun Saka, dikenal juga tahun Harsa ( Harsa Sampat), tahun Vikrama ( Vikrama Sampat) dan lain-lain. Informasi yang saya terima tahun yang lalau di Nepal umat Hindu juga merayakan tahun baru Saka bersamaan denan hari raya Nyepi kita di Indonesia. Untuk dimaklumi Nepal adalah satu-satunya kerajaan hindu di dunia yang tempatnya di pegunungan Himalaya. Arsitektur pura di Neval bentukya sama denan Meru di Bali ( Indonesia), manunjukkan hubungan yang erat pengaruh Hindu ( India) terhadap Indonesia. Rupanya karena perbedaan musim dan tidak ada raja yang menjadikan Sri Rama sebagai Istadevata maupun karena sistem kalender yang digunakan di Indonesia, kita hanya mengenal Galungan dua kali dalam setahun, seperti halnya juga Sarasvati puja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selanjutnya bila kita memperhatikan persembahyangan yang dilakukan sehari menjelang hari raya Holi, yakni berupa persembahan biji bijian dan bunga serta pada air pada perempatan-perampatan desa yang telah menyiapkan kayu api untuik apiu unggun mengingat kita pada upacara Catur Tawur Kasanga, sehari menjelang Nyepi, sedang pelaksanaan Sivaratri hampir sama dengan di Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Permulaan Perayaan Galungan di Bali (Indonesia)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sungguh amat sulit memastikan hal ini, bila kita menegok kembali pada sumber tradisi di Bali di antaranya kitab Usana bali dan berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh bapak K.Ginarsa terhadap prasasti-prasasti jaman bali Kuna maka dapat disimpulkan baha Galungan telah dirayakan pada jaman Valajaya atau Tarunajaya yang didalam lontar Usana Bali disebut Jayakusuma putra dari raja Bhatara Guru yang memerintah pada tahun saka 1246 -1250 . Didalam lontar Usana Bali dinyatakan bahwa para raja pendek usianya disebabkan melupakan tradisi untuk merayakan Galungan ( yakni upacara pabhyakalan pada Kala Tiga ning Dungulan )&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila kita melihat upacara Sradha, yakni upacara penyucian roh sang raja Gunapriya Dharmapathi, permaisuri raja Dharma udayana Varmadewa yang memerintah Saka 911-929 dan ketika mangkat rohnya disatukan dengan Istadevata-Nya sebagai Durgamahisa sura mardini, yaitu Dewi Durga sedang membunuh raksasa dalam wujudnya seekor kerbau ( kini arcanya tersimpan di pura kedarman burwan kutri, Gianyar), maka upacara Durgapuja telah dilaksanakan pada waktu itu. Upacara penyatuan roh yang telah disucikan dengan dewata pujaan (Istadevata) disebut mencapai tingkatan Atmasiddhadevata dan hal ini dapat kita lihat dari Informasi penyucian roh leluhur raja Hayam Wuruk, yakni Ratu gayatri di Pura penataran yang dalam kitab Nagarakrtagama, Pura ini disebut Hyang I Palah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Upacara Durgapuja pada waktu itu belum disebut galungan, melainkan disebut " atawuri umah anucyaken pitara" yang artinya upacara selamatan rumah dan penyucian roh ( leluhur), sebagaimana bunyi prasasti Suradhipa tahun Saka 1037.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Istilah Galungan rupanya pertama kali disebut dalam prasasti yang di keluarkan oleh raja Jaya Sakti tahun Saka 1055, disamping juga sesajen yang bernama Tahapan-stri, persembahan yang ditujukan kepada dewi Durga Sakti Siva, karena dewi Durga- lah yang dapat membasmi berbagai bentuk kejahatan dalam wujud raksasa.. Ciri khas persembahan kepada dewi Durga adalah berupa daging babi yang sampai kini masih tersisa di Bengala dan Nepal dan rupanya penggunaan daging babi ( yang juga warisi di Bali) adalah tradisi dari upacara Durgapuja itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selanjnya bila kita melihat penaggalan bali, dalam hitungan hari yang disebut Astawara, maka sejak Radite sampai dengan Anggara Wage Dungulan, hari-hari itu bertepatan dengan Kala, karenanya disebut Sang Kala Tiga, sedang pada hari galungan ( Buda Kliwon Dungulan) adalah Uma, nama lain dari Durga dalam aspek Santa ( damai) pada saat ini umat memohon anugerahnya. Hari Galungan di samping memuja Tuhan Yang Maha Esa dalam aspek beliau sebagai Uma, Durga atau Siva Mahdeva, bagi umat Hindu di Bali adalah juga merupakan hari pemujaan kepada leluhur. Hal ini dapat kita lihat dari rangkaian dari dan upacara Galungan, sejak Sugihan Jawa, Bali sampai dengan Sabtu Umanis Wuku Kuningan , akhir dari rangkaian perayaan Galungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan penjelasan tadi, Galungan telah dimulai sejak jaman Bali Kuna dan hingga kini tetap dirayakan. Jelaslah bagi kita upacara Galungan memiliki kesamaan makna dengan upacara Durgapuja atau Sradha Vijaya Dasani di India. Tentang filsafat Galungan ini kiranya dapat dilihat dari keputusan Seminar Kesatuan Tafsir kiranya dapat aspek-aspek agama hindu I di Amlapura, 1975 yang telah pula ditetapkan oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia, sebagai hari kemenangan Dharma melawan a Dharma, kebenaran melawan kejahatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang tergantung adalah adanya transformasi diri bahwa dengan persembahyangan yang mantap pada hari-hari besar keagamaan diharapkan kita lebbih maju dalam bidang spiritual. Transformasi yang dimaksud adalah perubahan diri dari tadinya yang masih dibelenggu oleh sifat loba atau tamak, angkuh, suka menipu orang dan perbuatan sejenisnya berubah menjadi dermawan, suka menolong hidup lainyua. Transformasi diri akan terjadi dengan sendirinya bila mampu mengaktualisasikan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Apakah artinya berbagai bentuk perayaan dan persembahyangan yang kita lakukan bila tidak terjadi perubahan diri, sipat-sifat Adharma senantiasa menguasai kita. Tentunya hal itu akan sia-sia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya banyak hal yang dapat dilakukan dalam rangka memperingati hari-hari raya keagamaan ini dan sesuai pula dengan pengertian agama yakni mewujudkan "kerahayuan jagat", disamping kegiatan ritual, kegiatan-kegiatan sosial keagamaan dan kemanusiaan sangat mutlak dilakukan. Disinilah pentingnya aktualisasi dan reaktualisasi agama dalam kehidupan bersama dalam masyarakat. Panitia-panitia perayaan yang ada pada lingkungan desa atau kantor instansi pemerintah atau swasta dapat melakukan berbagai kegitan, misalnya dengan donor darah, mengunjungi panti asuhan dan rumah jompo, memberikan pelayanan kesehatan, penghijaun dan lain-lain. Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat melalui Pesamuhan Agung 1989 yang lalu menetapkan 6 meteda pembinaan umat, yakni: Dharma Vacana (yakni kotbah/ceramah agama), Dharma Tula (diskusi/sarasehan agama), Dharma Gita (menyayikan lagu-lagukeagamaan), Dharma Santi (Silaturahmi/resepsi ), Dharma Sadhana (merealisasikan ajaran agama melalui yogasamadi ) dan Dharma atau Tirthayatra mengunjungi tempat-tempat suci untuk mendapatkan kesucian diri ). Bila 6 kegiatan ini dapat dilakukan maka transformasi diri denngan sendirinya terjadi. Semogalah *&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Om Dirghayur astu tat astu svaha&lt;br /&gt;
Om Santih Santih Santih&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sumber: &lt;a href="http://www.parisada.org/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=62&amp;amp;Itemid=121"&gt;Web PHDI&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7221655881315686900-2505221982856776124?l=ceritahindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/5bFyZiLaRrAZsdAh4viv_J7JYAU/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/5bFyZiLaRrAZsdAh4viv_J7JYAU/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/5bFyZiLaRrAZsdAh4viv_J7JYAU/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/5bFyZiLaRrAZsdAh4viv_J7JYAU/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CeritaHindu/~4/9a27Q4YxOM4" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://ceritahindu.blogspot.com/feeds/2505221982856776124/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7221655881315686900&amp;postID=2505221982856776124&amp;isPopup=true" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/2505221982856776124?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/2505221982856776124?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CeritaHindu/~3/9a27Q4YxOM4/hari-raya-hindu-di-indonesia-dan-india.html" title="Hari Raya Hindu di Indonesia dan India : Sebuah perbandingan Pintas" /><author><name>denny0214</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877375447862611766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://1.bp.blogspot.com/_tHWVsZfq_Sw/SYAVlzkrU6I/AAAAAAAAABI/yVCMbboC02s/S220/100_3522.JPG" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://ceritahindu.blogspot.com/2010/12/hari-raya-hindu-di-indonesia-dan-india.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkYAQH4yeyp7ImA9WxFQEUw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-7221655881315686900.post-8123178211636893462</id><published>2010-05-05T19:49:00.000-07:00</published><updated>2010-05-05T19:49:01.093-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-05-05T19:49:01.093-07:00</app:edited><title>Memandang Sudut Pandang</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Om Swastyastu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saudara-saudaraku terkasih, berikut ada posting menarik, saya ambil dari  facebook:&lt;br /&gt;
(&lt;a href="http://www.facebook.com/reqs.php#%21/notes.php?subj=100000869764112"&gt;http://www.facebook.com/reqs.php#!/notes.php?subj=100000869764112&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matahari semakin tenggelam di ujung barat. Langit menjadi  kemerah-merahan. Dua lelaki masih duduk bersila asyik dengan ceritanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pemandangannya semakin luar biasa guru. Sore ini tidak ada kabut  menghalangi mata, sehingga kita bisa bebas melihat pemandangan gunung  yang kuning kemerah-merahan disapu lembut sinar matahari terbenam.” kata  Pawana.&lt;br /&gt;
“Hmm.. Menurut kamu, setelah kabut tidak ada, apakah yang menghalangi  mata kita untuk melihat pemandangan sore ini?” tanya Sang Guru pada  Pawana.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Pohon-pohon yang tumbuh  didepan mata kita. “ kata Pawana.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Nah..Jika  pohon-pohon itu hilang?” tanya sang guru lagi.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Pohon-pohon yang tumbuh di gunung itu”  jawab Pawana.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Bagamana jika  pohon-pohon yang tumbuh di gunung itu juga hilang?” tanya sang guru  kembali.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Saya tidak tahu harus  menjawabnya bagaimana, karena sudah tidak ada yang layak saya lihat  sebagai pemandangan.” kata Pawana.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Mengapa?”  tanya sang guru.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Jika gunung tanpa  pohon, tampaklah sebuah bongkahan batu gersang dan kering, tanah terjal  yang mengerikan jika longsor, saya tidak suka memandang hal seperti  itu.” jawab Pawana dengan lugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pawana balik bertanya pada gurunya, “Menurut guru, jika semua penghalang  mata sudah tidak ada, termasuk tumbuhan yang menutupi gunung, apakah  yang menjadi penghalang mata kita untuk melihat pemandangan?”&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sambil mengelus-elus jenggotnya sang  guru  menjawab, “Gunung itu sendiri.. he..he..he.”&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pawana kebingungan  mendengar jawaban gurunya. Apalagi sambil tertawa terkekeh-kekeh seperti  mengejek. Ia hanya ngedumel dalam hatinya, gurunya sedang sinting  kerasupan siluman dedemit hutan gunung. “Biasanya dedemit suka keluar  menjelang "sandikala" seperti ini, pastilah guru sedang tidak sadar."  katanya dalam hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Guru.. Jika gunung itu bisa dianggap sebagai penghalang mata kita  melihat pemandangan, lalu pemandangan apa yang kita cari di balik gunung  itu? Sangatlah sia-sia kita duduk di sini. Sebaiknya kita duduk di  balik gunung itu saja, sehingga tidak menemui penghalang lagi.” kata  Pawana dengan penasaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pawana.. Semua yang kamu anggap penghalang mata untuk melihat keindahan  pemandangan adalah kekuatan dan vitamin keindahan itu sendiri.  Menghilangkan semua yang kamu anggap sebagai penghalang mata untuk  keindahan yang memuaskan diri sebenarnya dirimu sudah terjebak dalam  ketidaksadaran. Jika kamu orang yang "sakti mandra guna" mungkin  semuanya tersebut akan kamu korbankan untuk disingkirkan. Setelah  gunung, maka bumipun akan kamu singkirkan, kemudian planet-planet,  bintang, bahkan bila perlu matahari, bahkan mahluk lainnya dan sesamamu.  Tetapi kamu tidak akan pernah menemukannya. Akhirnya kamu hanya akan  bertemu dengan dirimu sendiri. Tibalah dirimu pada diri sendiri sebagai  penghalang pemandangan yang sesungguhnya yaitu pikiran dan hatimu  sendiri. Ternyata keindahan pemandangan yang kamu lihat adalah sudut  pandang kamu sendiri yang lahir dari pikiran dan hatimu. Keindahan tidak  terasa indah jika pikiran dan hatimu tidak tenang. Kedamaian tidak  terasa damai karena hati dan pikiranmu bergolak, begitu pula cinta dan  kasih karena hatimu penuh dengan lapisan kebencian. Ambisi karena  keserakahan, membuat dirimu tidak memandang sesuatu dari sudut  sederhana. Pemandangan dalam diri yang sesungguhnya sangatlah bening.  Tetapi karena dilapisi "kotoran berdebu" yang pekat, mempengaruhi sudut  pandangmu. Bahkan sangatlah sulit melihat diri sendiri jika debu-debu  melapisi cermin cukup tebal.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pawana terdiam untuk menangkap makna kata-kata Gurunya. Dalam hatinya,  ternyata gurunya tidak sinting. Kemudian ia bertanya, “Apa yang membuat  pikiran dan hati bisa melihat tanpa penghalang?” Sang guru mulai menatap  wajah Pawana. “Kesadaran yang mampu melahirkan pikiran harmonis.  Kesadaran yang mampu melahirkan kebijaksanaan. Semua itu memerlukan  latihan. Hidup ini penuh dengan cobaan dan latihan. Diperlukan  ketenangan seperti mengupas lapisan kulit bawang agar jangan intinya  rusak. Sangatlah sia-sia singkirkan kabut, pohon-pohon dan gunung, jika  ingin melihat keindahan. Tetapi singkirkan, kabut-kabut, pohon-pohon,  dan gunung penghalang dalam pikiran dan hatimu, dengan cara itu kamu  akan melihat kabut, pohon dan gunung sebagai keindahan. Kamu akan  melihat hal-hal yang sedehana pada sekitarmu sebagai keindahan. Tanah  yang terasa di telapak kakimu, air yang engkau minum, sapaan ibumu, dan  masih banyak lagi menjadi indah adanya. Mengapa? karena hatimu sedang  bersinar cahaya kesadaran ”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang Guru kembali berkata, "Pawana..Sebelum kamu mengkambing hitamkan  yang  di luar dirimu, alangkah baiknya kamu mencari di dalam dirimu. Jika  kamu ingin merasakan keindahan, maka ubahlah suasana hatimu".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Om Shanti Shanti Shanti Om&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;sebuah e-mail dari: I Made Sugi Ardana&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7221655881315686900-8123178211636893462?l=ceritahindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/y9SaW1bv4chGSnTV6leTmiSAMYE/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/y9SaW1bv4chGSnTV6leTmiSAMYE/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/y9SaW1bv4chGSnTV6leTmiSAMYE/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/y9SaW1bv4chGSnTV6leTmiSAMYE/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CeritaHindu/~4/ZpZxpUDf9VY" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://ceritahindu.blogspot.com/feeds/8123178211636893462/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7221655881315686900&amp;postID=8123178211636893462&amp;isPopup=true" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/8123178211636893462?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/8123178211636893462?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CeritaHindu/~3/ZpZxpUDf9VY/memandang-sudut-pandang.html" title="Memandang Sudut Pandang" /><author><name>denny0214</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877375447862611766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://1.bp.blogspot.com/_tHWVsZfq_Sw/SYAVlzkrU6I/AAAAAAAAABI/yVCMbboC02s/S220/100_3522.JPG" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://ceritahindu.blogspot.com/2010/05/memandang-sudut-pandang.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEQNRHs5fSp7ImA9WxFRFU4.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-7221655881315686900.post-2928151682063736019</id><published>2010-04-29T02:13:00.000-07:00</published><updated>2010-04-29T02:13:15.525-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-04-29T02:13:15.525-07:00</app:edited><title>AJARKAN KAMI BERDOA</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salam Kasih&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu malam seorang pria&amp;nbsp; yang sudah kelelahan dan hendak tidur teringat kalau dirinya belum berdoa. Ia segera bangun dan berdoa, “ Tuhan saya lelah, tetapi saya ingin berdoa secara benar, ingin tahu aturan-aturannya. Saya mohon Tuhan, ajari saya bagaimana seharusnya berdoa???&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah saya menundukkan kepala, berlutut ataukah saya berdiri? Apakah saya harus memejamkan mata, mengangkat tangan atau haruskah saya mengatupkan jari-jari tangan saya rapat-rapat? Atau bolehkah saya berdoa sambil duduk? Cara mana yang Kausukai? Selama berdoa, lampunya harus menyala atau padam? Atau haruskah saya menyalakan lilin?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bolehkah&amp;nbsp; saya pakai kaca mata? Atau apakah kaca mata saya harus dilepas? Selama berdoa, apakah saya harus duduk di kursi, di meja atau di lantai?&amp;nbsp; Haruskah saya berbisik atau malah harus berbicara dengan suara keras?&amp;nbsp; Bagaimana soal waktunya? Apakah Engkau menyukai waktu fajar?&amp;nbsp; Haruskah saya berdoa cepat atau malah harus lambat?&amp;nbsp; Apakah lebih&amp;nbsp; berdoa secara singkat atau panjang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuhan, apakah Engkau mendengarkan saya saat ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah itu dia terdiam dalam keheningan namun antara sadar dan tidak dia mendengar suara halus berkata…..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh , anak-Ku tersayang, apakah engkau pikir Aku menuntutmu soal waktu untuk berdoa, atau kamu harus mengucapkan doamu sambil berdiri atau&amp;nbsp; sambil berlutut? Ketahuilah! Aku tidak peduli bagaimana cara atau sikap tubuhmu saat berdoa atau tempat berdoa yang engkau pilih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika ingin menghormati Aku sambil berlutut…..itu baik, tetapi yang terpenting bukalah hatimu, bukalah jiwamu kepada-Ku. Aku tidak punya aturan-aturan lain….. ! Katakan apa yang ada di dalam hatimu, ceritakan apa yang kamu cari, kemukakan kesedihanmu dan semua hal yang membuatmu lemah dan tidak berdaya. Bicaralah kepada-Ku secara pribadi apa yang menjadi hal terpenting bagimu. …..!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu perbuatan-perbuatan baikmu, jadi tidak perlu menyombongkan diri. Anak-Ku…., kamu tidak perlu pelajaran khusus….! Biacara saja kepada-Ku tiap hari.&amp;nbsp; Ceritakan apa saja yang kamu inginkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anak-Ku sayang……, setiap orang mampu berdoa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuhan…..Terima Kasih atas Pelajaran-Mu Hari ini. Semoga Aku Dapat Memuja-Mu Dalam Setiap&amp;nbsp; Nama, Rupa, dan Warna-Mu. Dimana &amp;amp; Kapanpun……..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Serve by: Shri Danu D.P&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(disarikan dari: ketika burung berhenti berdoa)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Silence can be Good &amp;amp; Bad"&lt;br /&gt;
=======&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7221655881315686900-2928151682063736019?l=ceritahindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Izoa5uzUryhKjCBrKy1QhQRwl-A/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Izoa5uzUryhKjCBrKy1QhQRwl-A/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Izoa5uzUryhKjCBrKy1QhQRwl-A/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Izoa5uzUryhKjCBrKy1QhQRwl-A/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CeritaHindu/~4/dUyi7Bs0wIs" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://ceritahindu.blogspot.com/feeds/2928151682063736019/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7221655881315686900&amp;postID=2928151682063736019&amp;isPopup=true" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/2928151682063736019?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/2928151682063736019?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CeritaHindu/~3/dUyi7Bs0wIs/ajarkan-kami-berdoa.html" title="AJARKAN KAMI BERDOA" /><author><name>denny0214</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877375447862611766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://1.bp.blogspot.com/_tHWVsZfq_Sw/SYAVlzkrU6I/AAAAAAAAABI/yVCMbboC02s/S220/100_3522.JPG" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://ceritahindu.blogspot.com/2010/04/ajarkan-kami-berdoa.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0UGQnY-fyp7ImA9WxFSGU0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-7221655881315686900.post-6524076772667630358</id><published>2010-04-21T21:04:00.000-07:00</published><updated>2010-04-21T21:07:03.857-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-04-21T21:07:03.857-07:00</app:edited><title>Bhisma dan Dewi Amba</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;--Dari milis suara utara--&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bhisma, adalah tokoh besar dalam kisah Mahabharata.&amp;nbsp;Ia adalah Putra Mahkota, buah perkawinan Prabu Santanu, Raja Hastina&amp;nbsp;dengan Dewi Gangga. Bhisma Menjadi icon penting, bahkan mungkin yang utama, dari kisah kepahlawanan dalam Mahabharata. Ia menjadi termasyur&amp;nbsp;bukan karena tahta, karena justru Bhismalah yang mengajarkan bahwa&amp;nbsp;Kepahlawanan bukan sesuatu yang ditakdirkan, bukan sesuatu yang ada karena&amp;nbsp;keterkondisian, bukan karena sesorang adalah Raja, Puta Mahkota, Parjurit&amp;nbsp;dsb. Kepahlawanan adalah sebuah pilihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bhisma yang putra mahkota itu mengucapkan sumpah Brahmacari dan tak hendak&amp;nbsp;menduduki tahta Hastina demi meyakinkan Dewi Satyawati, seorang Janda Jelita yang menjadi pujaan hati Santanu, sepeninggal Dewi Gangga yang&amp;nbsp;kembali ke Kahyangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demi menjaga Hidup Prabu Santanu, ia menjemput Dewi Satyawati ke tengah&amp;nbsp;hutan, dan meyakinkannya bahwa hasil pernikahannya dengan Prabhu Santanu&amp;nbsp;kelak adalah pewaris tahta Hastina. Agar sengketa tahta tak berlanjut ke&amp;nbsp;generasi berikutnya, Bhisma memutuskan untuk menempuh Hidup Brahmacari.&amp;nbsp;Tidak hanya berhenti sampai di situ, Bhsima meyakinkan Satyawati dan juga&amp;nbsp;Prabu Santanu bahwa tanpa tahtapun dia tidak akan pernah meninggalkan&amp;nbsp;Hastina dan segala hal yang menjadi kewajibannya seorang Ksatria di tanah Hastina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu segera berlalu, Santanu dan Satyawati hanya mampu melahirkan dua orang&amp;nbsp;anak laki-laki Wicitrawirya dan Wicitranggada yang kesehatannya tidak&amp;nbsp;normal, yang mana para tabib memperkirakan dua putra mahkota itu akan mati&amp;nbsp;muda. Tentu saja Satyawati risau akan haknya. Di sisi lain, Bhisma juga&amp;nbsp;merisaukan keberlangsungan Hastina. Maka ia menyepakati tugas yang&amp;nbsp;dititahkan Dewi Satyawati untuk segera mencarikan jodoh bagi dua putra&amp;nbsp;mahkota itu agar segera menghasilkan keturunan sebelum maut merampas&amp;nbsp;kesempatan itu. Kebetulan di Negara tetangga ada raja yang hendak&amp;nbsp;mencarikan jodoh bagi tiga orang putrinya lewat sayembara. Ketiga orang&amp;nbsp;putri itu adalah Dewi Amba, Dewi Ambika dan Dewi Ambalika. Sebenarnya Dewi&amp;nbsp;Amba enggan diikutkan dalam sayembara itu karena Ia terlanjur jatuh hati&amp;nbsp;pada seorang pangeran dari negeri tetangga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Singkat cerita, Bhisma yang tak diundang karena status-nya yang brahmacari&amp;nbsp;hadir ke tengah sayembara. Tanpa diminta, ia menyampaikan pada hadirin&amp;nbsp;bahwa kehadirannya dalam sayembara bukan untuk dirinya, tetapi untuk dua&amp;nbsp;orang adiknya. Tentu saja banyak pihak yang tak sepakat. Bhisma tak&amp;nbsp;gentar, dan dia hanya memberikan dua pilihan pada Raja dan semua pangeran&amp;nbsp;di sana : Mengijinkannya ikut sayembara atau dia akan merampas semua putri&amp;nbsp;yang disayembarakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bhisma tetap tak diijinkan mengikuti sayembara, sehingga ia memilih cara&amp;nbsp;kedua. Dengan Keretanya yang putih berkilau, Ia menyeruak ke tengah arena.&amp;nbsp;Ketiga putri ditariknya ke atas kereta lalu dengan senjata yg siaga, mata&amp;nbsp;yang awas ia bergegas meninggalkan arena. Tak satupun pangeran yang kuasa&amp;nbsp;menghalanginya. Bhisma hanya sedikit repot ketika Pacar Dewi Amba&amp;nbsp;menghadang dan Dewi Amba sendiri berupaya melarikan diri dari kereta&amp;nbsp;Bhisma. Tapi itupun tidak berlangsung lama karena hanya dengan tiga&amp;nbsp;desingan anak panah sang pacar menyerah. Sang pacar merasa dipermalukan.&amp;nbsp;Dewi Amba …? ia hanya bisa mengiba, menggapai angin dari kereta yang terus&amp;nbsp;semakin laju meningalkan asanya di balik kepulan debu.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Bhisma kembali ke Hastina dengan tiga orang gadis.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sampai di sini, perlulah kita membahas kepahlawanan Bhisma lebih jauh&amp;nbsp;lagi.&amp;nbsp; Untuk hal Kepahlawanan, sepertinya terasa cukup. Namun demikian, mungkin&amp;nbsp;ada baiknya kita menyimak sedikit lagi tentangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bhisma telah menjadi insprirasi bagi ungakapan “&lt;i&gt;Right Or Wrong Is My&amp;nbsp;Country&lt;/i&gt;” karena sikapnya yang tetap kukuh menjaga Kehormatan Negara&amp;nbsp;Hastina, meskipun Hastina diperintah oleh raja yang lalim seperti&amp;nbsp;Duryudana dan para Korawa. Kecintaannya pada Hastina tak dibutakan oleh&amp;nbsp;kasih sayang kepada Para Pandawa yang saat itu telah mendirikan Kerajaan&amp;nbsp;Indraprastha.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baginya, sekuat dan sebenar apapun alasan bagi Pandawa dan Indrapasta&amp;nbsp;untuk berperang, itu adalah dalam urusannya dengan para Korawa. Dan ketika&amp;nbsp;berbagai alasan itu bersinggungan dengan kehormatan Hastina, Bhisma harus&amp;nbsp;tetap berdiri di garis depan, menjadi panglima perang bagi Hastina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bhisma tak akan pernah tertandingi dalam sejarah Kepahlawan.&amp;nbsp;Ia adalah yang pertama dalam urusan menjaga kehormatan Negara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun demikian, adakah ia juga piawai dalam menjaga kehormatan Wanita?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cerita di atas baru sepenggal berkisah tentang itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiga orang gadis dirampasnya, dan kemudia semua dari kita tahu apa yang&amp;nbsp;kemudian terjadi pada Dewi Amba. Tidak Wicitrawirya, tidak juga&amp;nbsp;Wicitranggada yang memilihnya sebagai Istri. Bahkan Ketika Bhisma hendak&amp;nbsp;mengembalikannya pada sang pacar, ia pun ditolak. Dewi Amba akhirnya&amp;nbsp;mengembalikan semua kepada Bhisma sehingga Bhisma terjebak dalam kisah&amp;nbsp;simalakamanya sendiri. Terlepas dari persoalan suka ataupun tidak, Ia yang&amp;nbsp;telah mengangkat sumpah Brahmacari tak mungkin menikahi Amba, dan di sisi&amp;nbsp;lain ia juga tak mampu mengupayakan hal yang lebih baik baginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia yang mulai galau dan berusaha menenggang waktu, tak kuasa menolak&amp;nbsp;karmanya sendiri. Anak panah yang ia selipkan pada rentangan gandewa&amp;nbsp;tiba-tiba lepas dan menghujam deras, tepat di ulu hati Dewi Amba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisakah karma memberikan toleransinya pada bhisma yang sama sekali tak&amp;nbsp;bermaksud membunuh? Pada Bhisma yang hanya ingin menunda waktu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Sang karma harus adil dan memberikan kesempatan pada Dewi Amba untuk&amp;nbsp;selalu menuntut Kebenaran. Maka, atas restu sang Karma, Dewi Amba mengutuk&amp;nbsp;Bhisma, menuntut balas kematian, kelak di medan Kuruksetra.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan … ketika waktunya tiba, Amba dalam wujud Srikandi mendapatkan haknya&amp;nbsp;itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sehari sebelum waktu pembalasan, Bhisma sudah mengetahui kehadiran Amba&amp;nbsp;pada diri Srikandi. Ia yang tak takut pada kematian, ia yang tunduk pada&amp;nbsp;garis kehidupan, nampak ceria melewatkan setiap tanda pergantian waktu&amp;nbsp;dengan bahagia. Ia tak memerintahkan dipersiapkannya pasukan khusus untuk&amp;nbsp;menghalangi pertemuannya dengan Srikandi. Sebaliknya, justru ia&amp;nbsp;sungguh-sungguh mengharapkan segeranya pertemuan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keesokan harinya, di medan Kuru Ksetra, Bhisma tetap berusaha menunaikan&amp;nbsp;tugas ke-Ksatriaannya. Semua yang menghadang harus bersusah payah&amp;nbsp;menghindar dari hujan panah Bhisma. Pun ketika ia melihat Arjuna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesaat setelah menerima penghormatan Arjuna, Bhisma kembali merentangkan&amp;nbsp;anak panah membidik Arjuna. Entah dari mana datangnya, secepat kilat,&amp;nbsp;Srikandi hadir diantara mereka. Bhisma terkesiap dan segera mengarahkan&amp;nbsp;mata panahnya ke tubuh srikandi. Namun, kala itu ia tak punya kesempatan.&amp;nbsp;Tak satupun anak panah yang terlepas menjadi utuh menyentuh tubuh Srikandi&amp;nbsp;karena anak panah Bhisma di tebas panah-panah Arjuna. Sebaliknya Srikandi&amp;nbsp;dapat melepaskan setaip anak panahnya dengan leluasa. Tak satupun panah&amp;nbsp;Srikandi luput menghujam Bhisma. Panah Srikandi, menghujam tepat di setiap&amp;nbsp;simpul cakra Bhisma.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adakah Bhisma panik dan menyimpan amarah karenanya?&amp;nbsp;Tidak …. Bhisma menyambut semua anak panah Srikandi dengan bahagia.&amp;nbsp;Semakin berlaksa, semakin jelas dilihatnya sosok Amba pada diri Srikandi.&amp;nbsp;Bhisma terhuyung, namun ia berusaha tetap berdiri. Tanggannya mengembang,&amp;nbsp;badannya condong … seolah ingin mendekat … ingin menyambutnya …&amp;nbsp;memeluknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya Srikandi menyadari isyarat itu. Perlahan, ia menurunkan anak&amp;nbsp;panahnya. Dengan seksama ia menangkap makna dari tatapan Bhisma yang&amp;nbsp;syahdu. Saat itulah, Dewi Amba dalam wujud Srikandi menemukan jawaban yang&amp;nbsp;jujur dari seorang Bhisma. Lewat matanya, lewat senyumnya, Bhisma&amp;nbsp;menyampaikan pada Amba bahwa sesungguhnya ia sangat menunggu-nunggu&amp;nbsp;kesempatan itu, saat dimana ia dapat melepaskan semua sumpah dan atribut&amp;nbsp;yang duniawinya selama ini yang tak memberinya ruang untuk mengungkapan&amp;nbsp;Cinta. Amba akhirnya tahu, dirinya bukanlah seorang yang ter-sia-sia ….&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bhisma ….&lt;br /&gt;
Ia memang Pahlawan Besar, tak pernah lelah menjaga Kehormatan Hastina.&lt;br /&gt;
Sementara Dewi Amba …&lt;br /&gt;
Perjalan kisahnya juga membawa pesan tersendiri yang tak kalah mulianya.&lt;br /&gt;
Ia telah mengajarkan bahwa Kepahlawan, Kegigihan dalam menjaga Kehormatan Negara tak boleh menjadi alasan pembenar untuk mengabaikan Kehormatan&amp;nbsp;Wanita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bhagavad Gita Mengajarkan :&lt;br /&gt;
“Dimana Kaum Perempuan Di hormati, di sana Rejeki akan berlimpah,&amp;nbsp;Kesejahteraan Masyarakat meningkat, serta Kehormatan bangsa dan Negara&amp;nbsp;terjaga.&amp;nbsp;Sebaliknya, Dimana Kaum Perempuan direndahkan dan diperlakukan sebagai&amp;nbsp;kaum marginal, maka dengan segera Bangsa dan Negara itu akan menjelang&amp;nbsp;Kehancuran”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga kita dapat belajar dari kisah ini.&lt;br /&gt;
Selamat Hari Kartini, 21 April 2010.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-- Tut Widi--&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7221655881315686900-6524076772667630358?l=ceritahindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/NyDaJA6WCVl1ItGz9ZwovqJAJFI/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/NyDaJA6WCVl1ItGz9ZwovqJAJFI/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/NyDaJA6WCVl1ItGz9ZwovqJAJFI/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/NyDaJA6WCVl1ItGz9ZwovqJAJFI/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CeritaHindu/~4/Oy7jrnpaKfM" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://ceritahindu.blogspot.com/feeds/6524076772667630358/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7221655881315686900&amp;postID=6524076772667630358&amp;isPopup=true" title="1 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/6524076772667630358?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/6524076772667630358?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CeritaHindu/~3/Oy7jrnpaKfM/bhisma-dan-dewi-amba.html" title="Bhisma dan Dewi Amba" /><author><name>denny0214</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877375447862611766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://1.bp.blogspot.com/_tHWVsZfq_Sw/SYAVlzkrU6I/AAAAAAAAABI/yVCMbboC02s/S220/100_3522.JPG" /></author><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://ceritahindu.blogspot.com/2010/04/bhisma-dan-dewi-amba.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEcMRnk_fip7ImA9WxBbEk4.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-7221655881315686900.post-1487070935528056964</id><published>2010-03-10T07:48:00.000-08:00</published><updated>2010-03-10T07:48:07.746-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-03-10T07:48:07.746-08:00</app:edited><title>Hari Raya Nyepi  (Kajian Upācāra &amp; Implementasi Pada Kehidupan)</title><content type="html">&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;   &lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" style="text-align: right;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt;Oleh : I Wayan Sudarma (Shri Danu Dharma P)&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Oṁ Swastyastu&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt;Pendahuluan&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size: 11pt;"&gt;”Pada awalnya adalah kegelapan yang sangat pekat. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt;Semua yang ada ini tidak terbatas dan &lt;br /&gt;
tidak dapat dibedakan. Yang ada saat itu adalah kekosongan dan tanpa bentuk. Dengan tenaga panas yang sangat dahsyat,terciptalah kesatuan yang kosong”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt;Ṛgveda X.129.3&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;)&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Kapanpun dan di manapun pelaksanaan Dharma merosot dan hal-hal yang bertentangan Dharma merajalela, pada waktu itulah Aku Sendiri menjelma,&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;wahai putra keluarga Bhārata&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;wbr&gt;&lt;/wbr&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;wbr&gt;&lt;/wbr&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;wbr&gt;&lt;/wbr&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;(&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Bhagavadgītā 4.7).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt;Hari suci keagamaan selalu menempati posisi tersendiri dalam kehidupan manusia dan memiliki makna kesucian yang diorientasikan pada kesempurnaan dengan ajaran-ajaran kerohanian yang berasal dari wahyu Tuhan. Karena orientasi tersebut dimensi hari raya agama tersebut bersifat vertikal. Agama apapun mengajarkan satu kesunyataan yakni Kebenaran. Demikian halnya dengan agama Hindu yang memiliki hari raya keagamaan yang dikelompokkan berdasarkan sasih/bulan dan pawukon/wuku ke dalam dua kelompok besar, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;diantaranya&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt; adalah Nyepi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;, Galungan dan Kuningan, dan yang lainnya&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Hari Suci Nyepi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt;Hari Nyepi merupakan tonggak kebangkitan kerohanian Hindu yang ditandai dengan Toleransi dan Kerukunan. Bermula dari persaingan dan pertikaian &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;bangsa-bangsa di kawasan Asia (sekarang antara: Tibet, Asia Tengah, Persia, Sungai Sindhu, Afganistan, Pakistan, Kashmir, Iran dan India Barat laut) antara bangsa Saka (Scythia) – Pahlava (Parthia)– Yueh-ci (Cina) – Yavana (Yunani) – Malava (India). Mereka sangat berambisi salin menaklukkan satu sama lain sebagai musuh-musuhnya. Selama berabad-abad bangsa-bangsa tadi silih berganti saling menguasai wilayah lawan-lawannya (semacam penguasaan/ penjajahan) memperebutkan daerah yang sangat subur. Akhirnya pada awal tahun 248 SM di India bangsa Pahlava unggul dalam peperangan melawan bangsa Yavana dan Saka serta menguasai wilayah yang sangat luas. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt;Bangsa Saka yang kalah perang mengembara dan mampu secara cepat menyesuaikan diri dan tersebar di seluruh kawasan, namun membawa satu misi kooperatif perdamaian dengan mengedepankan aspek budaya dan humanisme. Bangsa Saka dengan seni budaya dan kombinasi ketata negaraan yang terbuka (ala demokrasi sekarang) mampu menyentuh penguasa yakni Bangsa Pahlava. Artinya bangsa Pahlava mengakui keunggulan bangsa Saka yang mengalihkan perjuangan politiknya dari mengangkat senjata (peperangan) menjadi arah politik : ideology, social-budaya yang bercirikan keharmonisan – perdamaian dengan mengangkat kesejahteraan sebagai issu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;e&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt; global. Pergerakan humanisme sejak tahun 138 – 12 SM terjadi akulturasi dan sinkretisme antara bangsa-bangsa yang tadinya bermusuhan dan berakhir pada peperangan menuju perdamaian. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt;Akibat gerakan kemanusiaan membuat sikap politik bangsa-bangsa tadi berubah menjadi gerakan Lokasamgraha (dunia ini rumah kita, persaudaraan semesta, Torang samua basudara). Terdapat tokoh raja Kaniska I, II dan III (tidak semuanya berasal dari bangsa Saka tapi mereka mengadopsi perjuangan bangsa Saka) dalam percaturan politik yang meraih simpati rakyat dengan gerakan kesejahteraan dan kemanusiaan tadi. Salah satu yang terkenal kemudian adalah raja Kaniska II yang pada tahun 78 M&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;asehi &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt;menetapkan tahun baru sebagai pencerahan bangsa-bangsa yang berdamai dengan memberikan penghargaan kepada bangsa Saka yang memelopori pergerakan tadi menjadi Tahun Baru Saka yang diperingati secara serentak oleh seluruh negeri. Tahun itu dikemudian hari menjadi tahun pencerahan dan dirayakan dengan khidmat melalui tapa – brata – samadhi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt;Rangkaian Hari Raya Nyepi. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt;Perayaan Hari suci Nyepi dan Tahun Baru Saka 193&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt; tahun 20&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;10&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &lt;span lang="EN-US"&gt;di daerah secara otonom dilaksanakan dari tingkat Provinsi sampai tingkat Desa dan perorangan di rumah masing-masing dengan rangkaian sebagai berikut : &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span style="font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt;Melasti/Makiyis&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt; : adalah prosesi spiritual keagamaan sebagai upaya penyucian alam semesta dari segala kekotoran dan kejahatan akibat dari perputaran karma selama 1 tahun yang penuh dengan intrik, gejolak, nafsu, dan berbagai sisi negative terhadap kemanusiaan. Penyucian ini tidak berhenti pada tataran alam semesta, tetapi juga pada diri setiap manusia Hindu, harus menyucikan diri dan lingkungannya. Arah prosesi penyucian itu ditujukan kea rah laut/segara, karena diyakini air bersumber di laut dan air merupakan sumber dari kehidupan. 80 % tubuh kita ini terdiri dari air. Pelaksanaan prosesi ini dilaksanakan sejak seminggu sebelum hari raya nyepi atau maksimal 2 hari sebelum Nyepi.&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt;Di dalam Lontar Sang Hyang Aji Swamandala disebutkan: &lt;i&gt;angayutaken laraning jagat, paklesa letuhing bhuvana&lt;/i&gt;, yang terjemahannya: untuk melenyapkan penderitaan masyarakat dan kotoran dunia ( alam ), sedangkan di dalam lontar Sundarigama dinyataan : &lt;i&gt;amet sarining amrt&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;h&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt;a kamandalu ritelenging samudra&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt;, yang terjemahannya : Untuk memperoleh air suci kehidupan di tengah – tengah lautan. Laut sebagai sumber amerta karena laut/segara dipercaya dan diyakini mampu melebur segala kekotoran yang diakibatkan oleh api nafsu manusia yang berupa tindakan kotor/jahat dll. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span style="font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt;Tawur Kesanga&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt; : adalah upacara Bhuta Yajna, artinya korban suci yang ditujukan kepada penguasa kekuatan yang memberi kemanfaatan bagi seisi alam raya ini berupa Caru. Caru adalah kata bahasa Sanskerta yang berarti mempercantik, menetralisir, memiliki makna spiritual somya yakni membuat semuanya menjadi harmonis. Caru ini berupa sesajen yang dibuat sedemikian rupa dalam rangkaian yang memiliki perhitungan magis, oleh Pendeta dijadikan sebagai sarana untuk menjadikan situasi krodit/disharmoni menjadi normal/harmonis kembali. Tawur kesanga dilaksanakan sehari sebelum Nyepi tepatnya pada bulan Mati/Tilem sasih Kesanga yang jatuh pada tanggal &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;15&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt; Maret 20&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;10&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;span&gt;3.&lt;span style="font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt;Nyepi – Brata Penyepian&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt; : pada tanggal &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;16&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt; Maret 20&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;10&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;adalah hari raya Nyepi yang dilaksanakan perayaannya dengan berpuasa dan berpantang/brata. Dimulai pagi hari jam 06.00&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &lt;span lang="EN-US"&gt;Di antara berbagai bentuk Tapa, Brata, Yoga, Samadi itu, Maunabrata (Monabrata) adalah yang tertinggi, tujuannya adalah amatitis kasunyatan, menuju keheningan sejatai seperti pula disebu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;t&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt;kan di dalam lontar Sundarigama (salah satu lontar yang menjelaskan tentang hari-hari raya Hindu di Indonesia) secara tegas menyatakan:&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt;"..................Nyepi amatigni, tan wenang sajadma anyambut karya sakalwirnya, agnigni saparanya tan wenang, kalinganya wenang sang weruh ring tattwa angelaraken samadhi. tapa, yoga amatitis kasunyatan"&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt; - &lt;i&gt;Hari Nyepi, tidak benar semua orang melakukan pekerjaan, berapi - api, karena mereka yang tahu hakekat agama melaksanakan samadhi,tapa,yoga memusatkan pikiran menuju kesunyataan/keheningan sejati"&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt;Brata Penyepian, dengan &lt;i&gt;amati : gni, karya, lelungan, lelanguna&lt;/i&gt;n, membuat hidup ini terintrospeksi secara sadar atas apa dan siapa diri ini untuk menuju arah yang ditentukan oleh ajaran agama. Selama 1 hari penuh (24 jam) aktivitas direorientasi guna memberikan pembaharuan &lt;i&gt;(Reneweble)&lt;/i&gt; alam semesta sehingga segenap potensinya kembali berfungsi secara maksimal. Bayangkan kota Jakarta jika selama 1 hari tidak ditebari polutan asap kendaraan (polusi udara) dan listrik dipadamkan, aktivitas diliburkan sehari itu saja dalam setahun, berapa besar penghematan yang telah dilakukan oleh Negara, betapa bersihnya udara Jakarta dan kelesuan dapat dipulihkan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;span&gt;4.&lt;span style="font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt;Ngembak Gni&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt; : melakukan aktivitas kembali seperti semula atau membuka api kehidupan normal. Pada hari ini tgl &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;17&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt; Maret 20&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;10&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt; menjadi lembaran baru bagi kehidupan yang cerah penuh pencerahan rohani. &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt;Ngembak Gni mengisyaratkan kepada manusia yang&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;"Multikultural"&lt;/i&gt; untuk bersatu padu, menghargai &lt;i&gt;perbedaan&lt;/i&gt; sebagai&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;kebenaran illahi, memaafkan adalah perbuatan mulia yang akan membuat hidup kita terasa lebih damai&lt;i&gt;. Melayani mereka yang lemah, membantu mereka yang menderita adalah karma utama saat ini, karena sesungguhnya melayani semua mahluk dengan cinta kasih, dan kasih sayang adalah bentuk pemujaan kepada Tuhan (serve to all man kind is serve to the God)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Makna Penjelmaan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Menjelma sebagai manusia menurut ajaran Hindu adalah kesempatan yang paling dan sangat baik, karena hanya manusialah yang dapat menolong dirinya sendiri dengan jalan berbuat baik. Untuk berbuat baik dan benar nampaknya sangat sulit dilakukan oleh karena berbagai tantangan yang dihadapi oleh setiap orang. Tantangan mulai ketika bayi lahir dari kandungan ibunya. Demikian lahir langsung menangis karena ia berhadapan dengan kejamnya alam, udara yang dingin atau kilauannya sinar matahari dan lain-lain. Bayi akan tumbuh menjadi manusia dewasa bila ia mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Tantangan yang paling berat yang dihadapi oleh umat manusia adalah tantangan yang datang dalam dirinya sendiri, yakni sifat-sifat atau kecenderungan jahat yang merupakan sifat-sifat keraksasaan, kebalikan dari&lt;b&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;Daivisampad&lt;/i&gt; yang disebut&lt;b&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;Asurisampad&lt;/i&gt; (sifat-sifat &lt;i&gt;Asura&lt;/i&gt; atau raksasa). Pertarungan antara sifat-sifat kedewataan dengan keraksasaaan inilah yang terus berlangsung dalam diri umat manusia yang sering mengejawantah dalam sikap dan prilaku sehari-hari. Pertarungan ini berlangsung terus tiada hentinya. Siapa yang berhasil memenangkan pertarungan dengan berpihak pada kebajikan atau (Dharma) ialah yang sesungguhnya berhasil menegakkan Dharma.&lt;i&gt; &lt;/i&gt;Hanya dengan berpihak kepada Dharma seseorang akan memperoleh keselamatan, kesejahtraan dan kebahagiaan lahir dan batin. Sebagai diamanatkan dalam terjemahan sloka Māhanārayana Upaniad XXII.1, berikut: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;“Dharmo viśvasya jagataḥ pratiṣṭhā, loke dharmiṣṭhaṁ prajā upasarpanti,Dharmeṇa pāpam apanudanti dharme sarvaṁ, &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;pratiṣṭhaṁ tasmad dharmaṁ paramaṁ vadanti&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;” - “Dharma adalah prinsip dasar dari segala sesuatu yang bergerak dan&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;yang&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;tidak&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;bergerak di alam semesta ini. Seluruh dunia dan&lt;i&gt; &lt;/i&gt;segenap&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;umat&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;manusia&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;hendaknya&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;selalu&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;bergairah mengikuti&lt;i&gt; &lt;/i&gt;ajaran Dharma.&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Yang&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;mengikuti&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;ajaran&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Dharma&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;terbebas dari &lt;i&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;segala&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;dosa.&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Segala&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;sesuatunya&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;akan berjalan mantap bila di jalan Dharma.&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Untuk&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;itu&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;patutlah&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Dharma&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;itu disebut ajaran yang tertinggi”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;“&lt;i&gt;Dharma eva hato hanti&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;dharmo rakṣati rakṣitaḥ, tasmād dharmo na hantavyo mābo dharmo hato’vadhīt” - &lt;/i&gt;“Dharma yang dilanggar menghancurkan pelanggarnya.&lt;i&gt; &lt;/i&gt;Dharma yang dilaksanakan melindungi&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;pelaksananya, oleh karena itu janganlah melanggar Dharma, sebab&lt;i&gt; &lt;/i&gt;bagi&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;yang melanggar&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Dharma&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;akan menghancurkan dirinya sendiri” (Manavadharmaśāstra VIII.15)&lt;i&gt;.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Implementasi &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Dalam Kehidupan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Bagaimana kita dapat memenangkan Dharma dalam era globalisasi? Globalisasi adalah proses atau trend kemajuan dunia melalui Ilmu Pengetatuhan dan Teknologi dengan ditandai oleh derasnya arus informasi, terutama dari masyarakat maju menuju masyarakat yang sedang berkembang. Dalam era globalisasi ini seakan-akan tidak ada batas-batas antar negara atau bangsa-bangsa (&lt;i&gt;Boderless nations and states&lt;/i&gt;) di dunia ini. Kita maklumi bersama bahwa Globalisasi tidaklah selalu berpangaruh dan berdampak negatif, banyak hal-hal positif yang dapat dipetik dalam era globalisasi ini, namun demikian pengaruh dan dampak negatifnya nampaknya cenderung lebih deras terutama menyangkut segi-segi moral, etika dan spiritual yang bersumber pada nilai-nilai agama dan budaya bangsa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Dalam Hindu, dinyatakan bahwa bila orientasi manusia hanya material dan kesenangan belaka, maka orang itu dinyatakan hanya memuaskan &lt;i&gt;Kama &lt;/i&gt;(nafsu duniawi). &lt;i&gt;Kama&lt;/i&gt; manusia tidak akan pernah merasa puas, walaupun usaha memuaskan itu dilakukan terus-menerus dengan berbagai pengorbanan. Memuaskan &lt;i&gt;Kama&lt;/i&gt; dinyatakan sebagai menyiram api yang berkobar besar, tidak dengan air, melainkan dengan minyak tanah, maka api tersebut akan menghancurkan hidup manusia.Di dalam kitab suci Bhagavadgītā dinyatakan bahwa&lt;b&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;Kama&lt;/i&gt;, di samping juga&lt;b&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;Lobha&lt;/i&gt; dan&lt;b&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;Krodha&lt;/i&gt; adalah tiga pintu gerbang yang mengantarkan &lt;i&gt;Ātma&lt;/i&gt; (roh) menuju jurang neraka dan kehancuran. Untuk itu, Tuhan Yang Maha Esa mengajarkan agar umat manusia memilki kesadaran yang tinggi untuk menghindarkan diri dari ketiga belenggu tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Bagaimana caranya kita dapat menghindarkan diri tiga pintu gerbang neraf berupa &lt;i&gt;Kama, Lobha&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Krodha&lt;/i&gt; yang merupakan perwujudan dari perbuatan atau perilaku Adharma ? Jawabannya adalah sederhana, yaitu kita mesti kembali kepada ajaran agama. Peganglah ajaran agama sebaik-baiknya. Biasakanlah berbuat baik dan benar atau berdasarkan Dharma, yang di dalam kitab Taittiriya Upaniṣad I.1.11: &lt;i&gt;Satyaṁ vada Dharmācara svadhyaya mā pramadaḥ&lt;/i&gt; - Berbicaralah jujur/benar, ikutilah ajaran Dharma, kembangkan keingan belajar&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;dan&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;memuja Tuhan Yang Maha Esa dan&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;janganlah lalai/sampai lupa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Memang bila kita berbicara atau hanya membaca ajaran agama, nampaknya segala sesuatunya gampang dilaksanakan, namun dalam prakteknya sungguh berat. Untuk itu hendaknya ada tekad atau pemaksanaan untuk berbuat baik. Pemaksaan diri untuk selalu berbuat baik disebut &lt;i&gt;Pratipaksa&lt;/i&gt;. Untuk kebaikan, paksakanlah, lakukankan, korbankanlah, tekunilah dan doronglah supaya perbuatan benar dan baik itu menjadi identitas kehidupan ini. Identitas atau integritas seseorang dapat dilihat dari kualitas pikiran, ucapan dan tingkah laku seseorang. Untuk selalu dapat berbuat baik, maka diajarkan bahwa setiap orang hendaknya melakukan 4 hal, yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;span&gt;1)&lt;span style="font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Abhyasa&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; yang artinya untuk perbuatan baik lakukanlah dan biasakanlah hal itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;span&gt;2)&lt;span style="font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Tyāga&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;atau &lt;i&gt;Vairagya&lt;/i&gt; yang artinya kendalikanlah atau tinggalkanlah perbuatan-perbuatan yang menjerumuskan hidup kita.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;span&gt;3)&lt;span style="font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Santosa&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; yang artinya beryukurlah terhadap karunia Tuhan Yang Maha Esa, memberikan kita kesempatan menjelma sebagai manusia untuk biasa memperbaiki diri dan kesadaran untuk meningkatkan kualitas hidup dan kehidupan kita untuk mencapai&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Jagadhita&lt;/i&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;(kesejahtraan jasmaniah) dan &lt;i&gt;Moksa&lt;/i&gt; (kebahagiaan sejati).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;span&gt;4)&lt;span style="font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Sthitaprajña&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; yang artinya hidup berkeseimbangan lahir dan batin, tidak terlalu&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;bergembira bila memperoleh keberuntungan dan tidak putus asa bila menghadapi kemalangan atau kedukaan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Hari-hari raya keagamaan akan berlalu begitu saja bila kita tidak menyingkapi makna atau nilai-nilai yang terkandung dalam hari-hari raya itu. Selanjutnya dengan pemahaman terhadap makna atau nilai-nilai itu, seseorang hendaknya dapat mengamalkan atau melaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Nyepi adalah hari perjuangan menuju kesadaran terhadap ajaran Dharma. Hanya dengan Dharma umat manusia akan selamat di dunia ini. Bagaimana mengaktulisasikan ajaran Dharma ini ? Secara sederhana adalah dengan merealisasikan 7 macam perbuatan yang disebut Dharma seperti disebutkan dalam kitab Vṛhaspatitattva, yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;span&gt;1)&lt;span style="font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Sila&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;, yakni senantiasa berbuat baik dan benar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;span&gt;2)&lt;span style="font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Yajña&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;, yakni ikhlas berkorban. Yajna tidaklah hanya terbatas pada pengertian upakara dan upācara saja, melainkan mengembangkan kasih sayang dan keikhlasan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;span&gt;3)&lt;span style="font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Tapa&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;, pengekangan dan pengendalian diri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;span&gt;4)&lt;span style="font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Dana&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;, memberikan pertolongan atau bantuan kepada yang miskin dan yang memerlukan bantuan. Dalam Hindu dinyatakan menolong orang-orang miskin disebutkan sebagai menyembah Tuhan Yang Maha Esa yang ber-&lt;i&gt;abhiseka&lt;/i&gt; (disebut dengan nama) &lt;i&gt;Daridra Nārayana&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;span&gt;5)&lt;span style="font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Pravrijya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;, berusaha menambah ilmu pengetahuan atau kerohanian (spiritual).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;span&gt;6)&lt;span style="font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Dikṣa&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;, penyucian diri dan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;span&gt;7)&lt;span style="font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Yoga&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;, senantiasa menghubungkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Dengan melaksanakan butir-butir perbuatan tersebut di atas sesungguhnya kita sudah dapat mengamalkan ajaran agama. Aktualisasi dari ajaran ini dikaitkan dengan masalah-masalah kekinian, misalnya dengan meningkatkan solidaritas sosial (kesetiakawanan sosial), membantu program pemerintah mengentaskan kemiskinan, mengembangkan moralitas dan mentalitas yang baik dan positif serta senantiasa aktif membangun masyarakat lingkungan di sekitar kita.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt;Berterima kasihlah kepada orang yang telah memberikan kesempatan berbuat baik, berbuat lebih baik dari tidak berbuat apa lagi berbuat yang tidak baik pasti menghasilkan ke-tidak-baik-an, sementara kita ingin mendapat perlakuan yang baik dari orang lain tetapi kita melupakan harus berbuat baik kepada orang lain. Kebaikan tidak pernah datang dengan sendirinya. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt;Lakukan kebenaran dengan cara menyenangkan, tapi jangan &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;me&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11pt;"&gt;lakukan ketidakbenaran walau itu menyenangkanmu&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7221655881315686900" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7221655881315686900" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Oṁ Śāntiḥ Śāntiḥ Śāntiḥ Oṁ &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;span&gt;posted in &lt;a href="http://isudarma.cyberdharma.net/" target="_blank"&gt;http://isudarma.cyberdharma.&lt;wbr&gt;&lt;/wbr&gt;net&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7221655881315686900-1487070935528056964?l=ceritahindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ezdZiIYX9rMirNAzHWC8v6w_mis/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ezdZiIYX9rMirNAzHWC8v6w_mis/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ezdZiIYX9rMirNAzHWC8v6w_mis/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ezdZiIYX9rMirNAzHWC8v6w_mis/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CeritaHindu/~4/fLz8jLX_mTs" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://ceritahindu.blogspot.com/feeds/1487070935528056964/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7221655881315686900&amp;postID=1487070935528056964&amp;isPopup=true" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/1487070935528056964?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/1487070935528056964?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CeritaHindu/~3/fLz8jLX_mTs/hari-raya-nyepi-kajian-upacara.html" title="Hari Raya Nyepi  (Kajian Upācāra &amp; Implementasi Pada Kehidupan)" /><author><name>denny0214</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877375447862611766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://1.bp.blogspot.com/_tHWVsZfq_Sw/SYAVlzkrU6I/AAAAAAAAABI/yVCMbboC02s/S220/100_3522.JPG" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://ceritahindu.blogspot.com/2010/03/hari-raya-nyepi-kajian-upacara.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0EARHgzeSp7ImA9WxBbEk4.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-7221655881315686900.post-577215143725033544</id><published>2010-03-10T07:40:00.000-08:00</published><updated>2010-03-10T07:40:45.681-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-03-10T07:40:45.681-08:00</app:edited><title>Tumpek Landep:  Tirtha Pasupati &amp; Usaha Menajamkan Pikiran</title><content type="html">&lt;strong&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;"&gt;I Wayan Sudarma (Shri Danu D.P)-Bekasi&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span&gt;Oṁ Swastyastu&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;“&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FI"&gt;srayan dravyamayad yajnaj&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FI"&gt;jnanayajnah paramtapa&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FI"&gt;sarvam karma 'khilam partha&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FI"&gt;jnane perimsamapyate&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;” (&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt;Bhagavadgītā&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt; IV.33)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;P&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;ersembahan berupa ilmu pengetahuan, Parantapa&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;lebih bermutu daripada persembahan materi&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;dalam keseluruhannya semua kerja ini&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;berpusat pada ilmu-pengetahuan, Oh Parta&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Salah satu hari suci agama Hindu yang cukup istimewa adalah Tumpek Landep yang jatuh setiap 210 hari sekali tepatnya pada setiap hari Saniscara Kliwon wuku Landep. Secara umum untuk merayakannya, masyarakat Hindu menggelar kegiatan ritual yang khusus dipersembahkan untuk benda-benda dan teknologi, yang berkat jasanya telah mampu memberikan kemudahan bagi umat dalam mencapai tujuan hidup. Utamanya adalah benda-benda pusaka, semisal keris, tombak, sampai kepada kendaraan bermotor, komputer, dan sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Disamping hal tersebut, sesungguhnya hari suci Tumpek Landep merupakan hari Rerahinan gumi dimana umat Hindu bersyukur kepada Ida Sang Hyang Widhi&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;yang telah memberikan kecerdasan, pikiran tajam serta kemampuan yang tinggi kepada umat manusia (Viveka dan Vinaya), sehingga mampu menciptakan berbagai benda yang dapat memudahkan hidup termasuk teknologi. Mesti disadari, dalam konteks itu umat bukanlah memuja benda-benda tersebut, tetapi memuja kebesaran Tuhan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Sarana Upacara&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Dalam setiap upacara; maka keberadaan upakara tentu tidak dapat dikesampingkan, demikian pula halnya ketika umat Hindu melaksanakan upacara Tumpek Landep ini. Adapun sarana/upakara yang dibutuhkan dalam Tumpek Landep, yang paling sederhana adalah canang sari, dupa, dan tirtha pasupati. Yang lebih besar dapat menggunakan upakara Peras, Daksina atau Pejati. Dan yang lebih besar biasanya dapat dilengkapi dengan jenis upakara yang tergolong sesayut, yaitu Sesayut Pasupati.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Dari berbagai jenis upakara tersebut yang terpenting barangkali adalah Tirtha Pasupati; karena umat Hindu masih meyakini betapa pentingnya keberadaan tirtha ini. Tirtha Pasupati biasanya didapat melalui Pandita atau Pinandita melalui tatacara pemujaan tertentu. Tapi bagaimana halnya dengan individu-individu umat Hindu, apa yang mesti dilakukan jika ingin mendapatkan Tirtha Pasupati? Bisakah memohonnya seorang diri tanpa perantara Pinandita dan atau Pandita? Jawabannya tentu saja boleh...!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Cukup menyiapkan sarana seperti di atas (seuaikan dengan desa-kala-patra). Misalnya dengan sarana canang sari, dupa dan air (toya anyar), setelah melakukan pembersihan badan (mandi dsb). Letakkan sarana/ upakara tersebut di pelinggih/ altar/ pelangkiran. Kemudian melaksanakan asuci laksana (asana, pranayama, karasudhana) dan matur piuning (permakluman) sedapatnya baik kepada leluhur, para dewa dan Hyang Widhi, ucapkan mantra berikut ini dengan sikap Deva Pratista atau Amusti Karana sambil memegang dupa dan bunga.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Mantra Pasupati:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Om Sanghyang Pasupati Ang-Ung Mang ya namah svaha&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Om Brahma astra pasupati, Visnu astra pasupati, Siva astra pasupati, Om ya namah svaha&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Om Sanghyang Surya Chandra tumurun maring Sanghyang Aji Sarasvati-tumurun maring Sanghyang Gana, angawe pasupati maha sakti, angawe pasupati maha siddhi, angawe pasupati maha suci, angawe pangurip maha sakti, angawe pangurip maha siddhi, angawe pangurip maha suci, angurip sahananing raja karya teka urip, teka urip, teka urip.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Om Sanghyang Akasa Pertivi pasupati, angurip........&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Om eka vastu avighnam svaha&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Om Sang-Bang-Tang-Ang-Ing-Nang-&lt;wbr&gt;&lt;/wbr&gt;Mang-Sing-Wang-Yang-Ang-Ung-&lt;wbr&gt;&lt;/wbr&gt;Mang&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Om Brahma pasupati&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Om Visnu Pasupati&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Om Siva sampurna ya namah svaha&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;Kemudian masukkan bunga ke dalam air yang telah disiapkan. Dengan demikian maka air tadi sudah menjadi Tirtha Pasupati, dan siap digunakan untuk mempasupati diri sendiri dan benda-benda&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span&gt;Catatan:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span&gt; &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Titik-titik pada mantra di atas adalah sesuatu yang mau dipasupati)-dalam hal ini adalah air untuk tirtha pasupati. Dalam hal tertentu dapat dipakai mempasupati&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;yang lainnya..tergantung kebutuhan (tapi tetap saya sarankan hanya untuk Dharma, karena jika akan dipakai untuk hal-hal negatif maka mantra tersebut tidak akan berguna bahkan akan mencederai yang mengucapkannya)!! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Mantra di atas bersumber dari lontar Sulayang Gni Pura Luhur Lempuyang, koleksi pribadi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Hakikat Tumpek Landep&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;“&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FI"&gt;api ched asi papebhyah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FI"&gt;sarvebhyah papakrittamah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FI"&gt;sarvam jnanaplavenai 'va&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FI"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FI"&gt;vrijinam samtarishyasi&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;” (&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt;Bhagavadgītā&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt; IV.36)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;W&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;alau s&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;eandainya engkau paling berdosa&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;diantara manusia yang memikul dosa den&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;gan perahu ilmu-pengetahuan ini&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;lautan dosa engkau akan seberangi.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Setiap hari suci agama umat Hindu sesungguhnya tak hanya sekadar rerahinan rutin yang mesti dirayakan. Namun, didalamnya ada nilai filosofis yang penting dimaknai dalam kehidupan sehari-hari. Tumpek Landep, misalnya, memiliki nilai filosofi agar umat selalu menajamkan pikiran. Setiap enam bulan sekali umat diingatkan untuk melakukan evaluasi apakah pikiran sudah selalu dijernihkan (disucikan) atau diasah agar tajam? Sebab, dengan pikiran yang jernih dan &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;tajam, umat menjadi lebih cerdas, lebih jernih ketika harus melakukan analisis, lebih tepat menentukan keputusan dan sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Lewat perayaan Tumpek Landep itu umat diingatkan agar selalu menggunakan pikiran yang tajam sebagai tali kendali kehidupan. Misalnya, ketika umat memerlukan sarana untuk memudahkan hidup, seperti mobil, sepeda motor dan sebagainya, pikiran yang tajam itu mesti dijadikan kendali. Keinginan mesti mampu dikendalikan oleh pikiran. Dengan demikian keinginan memiliki benda-benda itu tidak berdasarkan atas nafsu serakah, gengsi, apalagi sampai menggunakan cara-cara yang tidak benar. Semua benda tersebut mestinya hanya difungsikan untuk menguatkan hidup, bukan sebaliknya, justru memberatkan hidup. Dulu, keris dan tombak serta senjata tajam lainnyalah yang digunakan sebagai sarana atau senjata untuk menegakkan kebenaran, kini sarana untuk memudahkan hidup dan menemukan kebenaran &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;itu sudah beragam, seperti kendaraan, mesin dan sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Sehingga pada saat Tumpek Landep diupacarai dengan berbagai upakara seperti: sesayut jayeng perang dan sesayut pasupati, dengan maksud untuk memuja Tuhan, dan lebih mendekatkan konsep atau nilai filosofi yang terkandung dalam Tumpek Landep.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Landep = Lancip/ Tajam&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Kata Landep dalam Tumpek Landep memiliki makna lancip atau tajam. Sehingga secara harfiah diartikan senjata tajam seperti tombak dan keris. Benda-benda tersebut dulunya difungsikan sebagai senjata hidup untuk menegakkan kebenaran. Dalam Tumpek Landep benda-benda tersebut diupacarai. Kini, pengertian landep sudah mengalami pelebaran makna. Tak hanya keris dan tombak, juga benda-benda yang terbuat dari besi atau baja yang dapat mempermudah hidup manusia, di antaranya sepeda motor, mobil, mesin, komputer, radio dan sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Sementara secara konotatif, landep itu memiliki pengertian ketajaman pikiran. Pikiran manusia mesti selalu diasah agar mengalami ketajaman. Ilmu pengetahuanlah alat untuk menajamkan pikiran, sehingga umat mengalami kecerdasan dan mampu menciptakan teknologi. Dengan ilmu pengetahuan pulalah umat menjadi manusia yang lebih bijaksana dan mampu memanfaatkan teknologi itu secara benar atau tepat guna, demi kesejahteraan umat manusia. Bukan digunakan untuk mencederai nilai-nilai kemanusiaan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;“&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FI"&gt;tad viddhi pranipatena&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FI"&gt;paripprasnena sevaya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FI"&gt;upadekshyanti te jnanam&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FI"&gt;jnaninas tattvadarsina&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;” (&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt;Bhagavadgītā&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt; IV.34)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;B&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;elajarlah dengan wujud displin,&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;dengan bertanya dan dengan kerja berbakti, guru budiman yang melihat kebenaran&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;akan mengajarkan padamu ilmu budi-pekerti&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span&gt;Oṁ Śāntiḥ Śāntiḥ Śāntiḥ Oṁ &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;Materi: Naskah Penyuluhan Hari Suci Tumpek Landep, Sabtu Kliwon 13 Maret 2010&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;Also posted in: &lt;a href="http://isudarma.cyberdharma.net/" target="_blank"&gt;http://isudarma.cyberdharma.&lt;wbr&gt;&lt;/wbr&gt;net&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;span style="color: blue; font-weight: bold;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: #00007f;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana,helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: bookman old style,new york,times,serif; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="color: #ff007f;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="color: #ff7f00;"&gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #0000bf;"&gt;&lt;span style="color: #ff7f00;"&gt;Om&lt;/span&gt; &lt;span style="color: #6000bf;"&gt;Namame&lt;/span&gt; smaranam&lt;/span&gt; &lt;span style="color: #823857;"&gt;Om &lt;/span&gt;&lt;span style="color: #a0ff40;"&gt;Padame&lt;/span&gt; sharanam&lt;/span&gt;"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: blue; font-weight: bold;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: #ff007f;"&gt;=======&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: blue; font-weight: bold;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: blue; font-weight: bold;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7221655881315686900-577215143725033544?l=ceritahindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/QO30ofEiKvP9TcQ7f7i93v2y170/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/QO30ofEiKvP9TcQ7f7i93v2y170/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/QO30ofEiKvP9TcQ7f7i93v2y170/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/QO30ofEiKvP9TcQ7f7i93v2y170/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CeritaHindu/~4/NTgSH0sd-p4" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://ceritahindu.blogspot.com/feeds/577215143725033544/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7221655881315686900&amp;postID=577215143725033544&amp;isPopup=true" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/577215143725033544?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/577215143725033544?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CeritaHindu/~3/NTgSH0sd-p4/tumpek-landep-tirtha-pasupati-usaha.html" title="Tumpek Landep:  Tirtha Pasupati &amp; Usaha Menajamkan Pikiran" /><author><name>denny0214</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877375447862611766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://1.bp.blogspot.com/_tHWVsZfq_Sw/SYAVlzkrU6I/AAAAAAAAABI/yVCMbboC02s/S220/100_3522.JPG" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://ceritahindu.blogspot.com/2010/03/tumpek-landep-tirtha-pasupati-usaha.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CkcEQHY7cSp7ImA9WxBXFE0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-7221655881315686900.post-6291824998645450249</id><published>2010-01-24T22:13:00.000-08:00</published><updated>2010-01-24T22:13:21.809-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-01-24T22:13:21.809-08:00</app:edited><title>MANUSIA DALAM KESADARAN TUHAN</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
“ Kewajiban tanpa aksih, patut disesalkan. Kewajiban dengan kasih, patut dipuji. Kasih tanpa kewajiban, bersifat Ilahi”. ( Baba)&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Om Swastyastu-Salam Kasih&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Hormat yang diberikan kepada Tuhan di dalam diri manusia, pada Ātma adalah kebenaran; Ātma adalah kasih murni; Ātma adalah Tuhan; Ātma adalah pengabdian tanpa pamrih. Hormat kepada semua ini adalah harga diri atau hormat pada diri sejati, dan hanya hormat semacam inilah yang dapat mendatangkan kedamaian dan bukan hormat jenis lainnya. Selalu mengingat Tuhan yang penuh belas kasihan, perwujudan kebenaran, Tuhan yang sifatnya kasih, itulah harga diri yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Untuk memperoleh itu kita harus mengesampingkan kehormatan yang diberikan oleh dunia pada kekayaan dan kedudukan, sebagai hal yang tidak berharga, kita harus mengabaikan pujian dan celaan, cemohan dan sanjungan yang menjilat. Kita harus melakukan latihan rohani dengan kepercayaan penuh pada kebenaran dan pada Tuhan. Itulah kedamaian sejati, kedamaian murni dan kedamaian yang abadi.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Hanya manusialah yang memiliki kemampuan dan hak untuk mewujudkan kekuasaan itu, untuk memperoleh kekuasaan Tuhan. Tragisnya setelah mencapai kelahiran sebagai manusia pun sebagian besar orang tidak menyadari kenyataan diri yang abadi itu. Kita bahkan tidak berusaha memahaminya. Jika kesempatan ini disia-siakan, kapan kita dapat mengusahakannya lagi?&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Bahkan tujuan kedatangannya ke dunia tidak dihindahkannya, apakah kita hidup seperti margasatwa, atau seperti burung atau serangga….? Hanya makan, berkelana, tidur, dan mencari kenikmatan? Jika jawabannya tidak, lalu untuk apa? Manusia mempunyai kemampuan yang tidak dimiliki binatang yaitu; daya penalaran, kemampuan meninggalkan (segala&amp;nbsp; keinginan dan ketagihan), serta kemampuan menentukan yang benar dan yang salah. Ini adalah kemampuan khusus dalam diri manusia, tetapi apa gunanya semua itu jika tidak diterapkan dalam perbuatan yang nyata? Jika kemampuan itu digunakan maka sebutan manusia tepat baginya.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Ketiga kemampuan di atas tidak hanya dalam masalah duniawi, tetapi yang terpenting juga adalah dalam mencari kebenaran terakhir. Sesungguhnya jika Viveka, penyangkalan diri dan penyelidikan batin diterapkan pada waktu mengarungi suka-duka kehidupan, pada suatu saat akan timbullah keyakinan bahwa semua ini tidak nyata, bahwa semua ini tidak mempunyai landasan kebenaran. Bila kesadaran ini timbul dan bertumbuh pastilah manusia menempuh jalan spiritual dan melakukan latihan rohani. Kemudian ia akan melaksanakan penyelidikan bathin yang membawanya menuju kebenaran. Inilah tugas yang harus dilaksanakan manusia.. (sumber: Prasanthi Vahini)&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Rahayu&lt;br /&gt;
Shri Danu&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7221655881315686900-6291824998645450249?l=ceritahindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/rnSGFg4DYEPGoawR_BGOGC7gGZU/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/rnSGFg4DYEPGoawR_BGOGC7gGZU/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/rnSGFg4DYEPGoawR_BGOGC7gGZU/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/rnSGFg4DYEPGoawR_BGOGC7gGZU/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CeritaHindu/~4/C8hzTO7KEp0" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://ceritahindu.blogspot.com/feeds/6291824998645450249/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7221655881315686900&amp;postID=6291824998645450249&amp;isPopup=true" title="1 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/6291824998645450249?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/6291824998645450249?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CeritaHindu/~3/C8hzTO7KEp0/manusia-dalam-kesadaran-tuhan.html" title="MANUSIA DALAM KESADARAN TUHAN" /><author><name>denny0214</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877375447862611766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://1.bp.blogspot.com/_tHWVsZfq_Sw/SYAVlzkrU6I/AAAAAAAAABI/yVCMbboC02s/S220/100_3522.JPG" /></author><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://ceritahindu.blogspot.com/2010/01/manusia-dalam-kesadaran-tuhan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEMCQ34_eyp7ImA9WxBXEEk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-7221655881315686900.post-6740175248517712712</id><published>2010-01-20T20:00:00.000-08:00</published><updated>2010-01-20T20:01:02.043-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-01-20T20:01:02.043-08:00</app:edited><title>Kedamaian bukanlah keyakinan yang disimpulkan melalui penalaran</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Om Swastyastu-Salam Kasih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disiplin diri  (Sadhana) merupakan landasan utama bagi kehidupan yang sukses. Hanya melalui disiplin dirilah manusia dapat memperoleh kedamaian yang nyata dan langgeng. Tanpa kedamaian tidak mungkin ada kebahagiaan. Kedamaian merupakan sifat Atma. Ia hanya dapat berada dalam hati yang murni; kedamaian tidak pernah berhubungan dengan hati yang serakah, penuh keinginan dan nafsu. Kedamaian merupakan cirri khas yang membedakan para yogi, resi dan orang-orang yang telah mencapai penerangan bhatin. Ia tidak tergantung pada keadaan luar. Kedamaian akan menjauhkan diri dari orang-orang yang penuh hawa nafsu. Orang-orang semacam itu tidak disukainya. Kedamaian merupakan ciri khas Atma yang berada dalam bhatin kita, mengagumkan, tidak tergoyahkan, dan permanen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedamaian mengangkat hidup rohani kita, menganugrahkan kebijaksanaan, dan kebijaksanaan secara wajar mendatangkan kebahagiaan. Meskipun demikian hanya ada satu cara untuk mencapai kedamaian sejati; dengan mengendalikan indera. Hanya setelah itu kedamaian dapat disebut Prasantih. Pada tahap kedamaian dihayati sebagai aliran ketenangan. Dengan menenangkan keresahan mental yang menggelora seperti gelombang, dengan meratakan pusaran serta pergolakan rasa suka, tidak suka, cinta, benci, sedih, gembira, harapan, dan keputusasaan, maka kita akan dapat memperoleh kedamaian dan mempertahankannya tanpa gangguan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedamaian mempunyai sifat yang sama dengan Atma. Atma tidak dapat binasa. Ia tidak mati seperti halnya tubuh dan pikiran. Atma itu universal, halus, dan sifat sesungguhnya adalah pengetahuan, maka kedamaian juga memiliki sifat-sifat khas ini. Pengetahuan Atma melenyapkan ilusi, kesangsian, dan kesedihan. Karena itu penghayatan Atma memberikan kedamaian yang paling mantap, kesucian, dan kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atma bukanlah objek pengetahuan, melainkan asal dari sumber pengetahuan. Jnana menujukkan jalan menuju kematangan, keberhasilan, kebebasan, keabadian, kebahagiaan kekal, dan kedamaian yang langgeng. Orang yang dihanyutkan oleh tarikan atau desakan indera tidak akan mencapai Atma. Brahman adalah Yang Maha Esa, tidak berubah di dunia yang selalu berubah ini. Atma tidak terpengaruh oleh perubahan lahiriah, transformasi, maupun modifikasi. Kesemarakan tubuh bukanlah Atma, karena sesungguhnya Atma tidak dapat didefinisikan, tidak dapat dilukiskan. Atma bukanlah ini atau itu. Atma hanya dapat dikatakan sebagai dirinya sendiri, Sang Brahman ‘Tuhan Yang Maha Mutlak’. Brahman mewujudkan diri sebagai kebenaran (sathya), kasih sayang (prema), cahaya (paramajyotir), kedamaian (santih), pengetahuan kesunyataan (jnana), dan kebahagiaan tertinggi (parama-ananda). Melalui salah satu jalan inilah kita dapat mencapai Tuhan; hal ini tidak perlu kita sangsikan, karena ini adalah kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atma bukan panca indera, budhi, prana, ataupun daya hidup, ia hanya dapat digambarkan sebagai apa yang bukan dia, bukannya sebagai apa yang sesungguhnya. Tidak seorang pun dapat menyatakan bahwa Atma itu demikian dan sebagainya. Jika ada seseorang yang menyatakan bahwa Atma itu demikian, atau Atma itu begini atau begitu, kita dapat beranggapan bahwa ia tidak tahu sedikit pun mengenai Atma. Kita dapat berbicara banyak mengenai sesuatu yang tidak kita ketahui, kita dapat menganggapnya apa saja atau memberinya nama apa saja. Singkatnya, Atma tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata, mustahillah menggambarkannya, siapa pun juga yang mungkin mencoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan merupakan sifat pembawaan manusia. Namun sayangnya manusia mencarinya di tempat lain, dan justru bukan di tempat yang sebenarnya. Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang mati atau non aktif. Ia merupakan nama lain dari kehidupan yang pebuh makna. Kebahagiaan hanya ada bila kedamaian berkuasa dan menetapkan aturan serta pembatasan untuk segala kegiatan. Kedamaian harus dibuat demikian stabil sehingga tidak terpengaruh oleh pikiran yang senantiasa ngelantur ataupun indera yang cenderung mengarah ke dunia luar. Kedamaian hanya dapat dihayati secara pribadi, melalui (kesadaran) yang telah mencapai jnana. Manusia yang memahami Atma yang abadi, tidak dapat binasa, dan tidak berubah, akan menikmati kedamaian, harta yang paling bernilai. Ia pun (kesadaran dirinya yang sejati) tidak akan mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedamaian adalah samudera tanpa tepi, cahaya yang menerangi dunia. Kedamaian memberikan pengetahuan dunia akhirat. Kedamaian membawa manusia  pada penghayatan Brahman (Tuhan Yang Maha Mutlak). Inilah penyempurnaan kehidupan manusia yang diajarkan oleh Vedanta (Saripati dari Veda).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasih murni hanya dapat memancar dari hati yang diliputi kedamaian karena hal ini merupakan suasana yang meresapi (segalanya) dan memurnikan. Kedamaian bukanlah keyakinan yang disimpulkan melalui penalaran. Ia merupakan disiplin dari semua kehidupan yang disiplin. Pada waktu lahir pikiran manusia dapat dimisalkan dengan sehelai kertas putih yang kosong. Segera setelah ia mulai berpikir, merasa, dan melakukan kegiatan, proses pencemaran pikiran pun dimulai. Tubuh tergantung pada prana; ia tergantung pada pikiran, perasaan, serta berbagai keinginan yang meresahkan hati. Kebajikan dan kebenaran dipudarkan oleh tuntutan tata karma, mode, adat, kebiasaan, dan sebagainya, dan individu dicampakkan ke dalam kelompok manusia. Kesendiriannya dilanggar dan direnggut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu pertama-tama pikiran harus ditenangkan dan diheningkan. Hanya dengan demikianlah tubuh dapat menjadi sehat dan akal menjadi tajam. Pada suatu saat pikiran hanya dapat dipusatkan pada satu sasaran, tidak pada berbagai hal. Meskipun demikian pikiran atau ingatan merupakan kumpulan gagasan, keinginan, angan-angan, khayalan, dan sebagainya. Sesungguhnya  dalam pikiran atau ingatan manusia terdapat sejarah seluruh ciptaan dalam bentuk singkat. Itulah cetakan yang membentuk khayalan manusia. Pikiran dan perasaan manusia merupakan  medan pertempuran Kuruksetra (dalam kisah Mahabharata), tempat baik dan buruk, benar serta salah bertanding meraih keunggulan. Besi hanya dapat dijadikan lempengan bila ditempa dengan besi lain. Demikian juga pikiran yang keji dan rendah harus dibentuk  menjadi lebih baik oleh pikiran kita sendiri yang lebih luhur. Kita harus membuat pikiran menjadi unggul, luhur, dan kuat bagi tugas perbaikan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teguklah dalam-dalam air dari alairan kedamaian tersebut, yaitu air disiplin yang ditunjukkan didalamnya; benamkan diri kita didalamnya hingga bersih…semoga kesejukannya menyegarkan kesedihan serta penderitaan dan memadamkan kobaran api dosa…..Om Namo Narayanaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(disarikan dari wejangan Bhagavan Sri Sathya Sai Baba; Prasanti Vahini)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Rahayu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shri Danu&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7221655881315686900-6740175248517712712?l=ceritahindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/lk83ILqrN_BOs7TPOkP3aPbObiI/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/lk83ILqrN_BOs7TPOkP3aPbObiI/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/lk83ILqrN_BOs7TPOkP3aPbObiI/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/lk83ILqrN_BOs7TPOkP3aPbObiI/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CeritaHindu/~4/a4pHciXQxTA" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://ceritahindu.blogspot.com/feeds/6740175248517712712/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7221655881315686900&amp;postID=6740175248517712712&amp;isPopup=true" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/6740175248517712712?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/6740175248517712712?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CeritaHindu/~3/a4pHciXQxTA/kedamaian-bukanlah-keyakinan-yang.html" title="Kedamaian bukanlah keyakinan yang disimpulkan melalui penalaran" /><author><name>denny0214</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877375447862611766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://1.bp.blogspot.com/_tHWVsZfq_Sw/SYAVlzkrU6I/AAAAAAAAABI/yVCMbboC02s/S220/100_3522.JPG" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://ceritahindu.blogspot.com/2010/01/kedamaian-bukanlah-keyakinan-yang.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;Ck8GRng8fyp7ImA9WxNaEk8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-7221655881315686900.post-9088936397647050482</id><published>2009-11-25T23:27:00.000-08:00</published><updated>2009-11-25T23:33:47.677-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-11-25T23:33:47.677-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="niskala" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Endih" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Leak" /><title>Leak Pakai Panca Aksara</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Sebuah tulisan dari &lt;span class="gI"&gt;&lt;span class="ik"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span email="shri_danudp@yahoo.co.id" class="gD" style="color: rgb(0, 104, 28);"&gt; sudarma&lt;/span&gt; &lt;span class="go"&gt;(shri_danudp)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk Endih Leak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leak merupakan suatu ilmu kuno yang diwariskan oleh leluhur Hindu di Bali. Pada zaman sekarang ini orang bertanya-tanya apa betul leak itu ada?, apa betul leak itu menyakiti?  Secara umum leak itu tidak menyakiti, leak itu proses ilmu yang cukup bagus bagi yang berminat.  Karena ilmu leak juga mempunyai etika-etika tersendiri.  Tidak gampang mempelajari ilmu leak.  Dibutuhkan kemampuan yang prima untuk mempelajari ilmu leak.  Di masyarakat sering kali leak dicap menyakiti bahkan bisa membunuh manusia, padahal tidak seperti itu.  Ilmu leak juga sama dengan ilmu yang lainnya yang terdapat dalam lontar-lontar kuno Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu ilmu leak tidak sembarangan orang mempelajari, karena ilmu leak merupakan ilmu yang cukup rahasia sebagai pertahanan serangan dari musuh.  Orang Bali Kuno yang mempelajari ilmu ini adalah para petinggi-petinggi raja disertai dengan bawahannya. Tujuannya untuk sebagai ilmu pertahanan dari musuh terutama serangan dari luar.  Orang-orang yang mempelajari ilmu ini memilih tempat yang cukup rahasia, karena ilmu leak ini memang rahasia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi tidak sembarangan orang yang mempelajari.  Namun zaman telah berubah otomatis ilmu ini juga mengalami perubahan sesuai dengan zamannya.  Namun esensinya sama dalam penerapan. Yang jelas ilmu leak tidak menyakiti.  Yang menyakiti itu ilmu teluh atau nerangjana, inilah ilmu yang bersifat negatif, khusus untuk menyakiti orang karena beberapa hal seperti balas dendam, iri hati, ingin lebih unggul, ilmu inilah yang disebut pengiwa.  Ilmu pengiwa inilah yang banyak berkembang di kalangan masyarakat seringkali dicap sebagai ilmu leak.  Seperti yang dikatakan diatas leak itu memang ada sesuai dengan tingkatan ilmunya termasuk dengan endih leak.  Endih leak ini biasanya muncul pada saat mereka lagi latihan atau lagi bercengkrama dengan leak lainnya baik sejenis maupun lawan jenis. Munculnya endih itu pada saat malam hari khususnya tengah malam.  Harinya pun hari tertentu tidak sembarangan orang menjalankan untuk melakukan ilmu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa ditempat angker?  Ini sesuai dengan ilmu leak dimana orang yang mempelajari ilmu ini harus di tempat yang sepi, biasanya di kuburan atau di tempat sepi.  Endih ini bisa berupa fisik atau jnananya (rohnya) sendiri, karena ilmu ini tidak bisa disama-ratakan bagi yang mempelajarinya. Untuk yang baru-baru belajar, endih itu adalah lidahnya sendiri dengan menggunakan mantra atau dengan sarana.  Dalam menjalankan ilmu ini dibutuhkan sedikit upacara.  Sedangkan yang melalui jnananya (rohnya), pelaku menggunakan sukma atau intisari jiwa ilmu leak.  Sehingga kelihatan seperti endih leak, padahal ia diam di rumahnya. Yang berjalan hanya jiwa atau suksma sendiri.  Bentuk endih leak ini beraneka ragam sesuai dengan tingkatannya.  Ada seperti bola, kurungan ayam, tergantung pakem (etika yang dipakai).  Ilmu ini juga memegang etika yang harus dipatuhi oleh penganutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Endih leak ini tidak sama dengan sinar penerangan lainnya, kalau endih leak ini biasanya tergantung dari yang melihatnya. Kalau yang pernah melihatnya, endih berjalan sesuai dengan arah mata angin, endih ini kelap-kelip tidak seperti penerangan lainnya hanya diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warnanya pun berbeda, kalau endih leak itu melebihi dari satu warna dan endih itu berjalan sedangkan penerangan biasanya warna satu dan diam.  Karena endih leak ini memiliki sifat gelombang elektromagnetik mempunyai daya magnet.  Ilmu leak tidak menyakiti.  Orang yang kebetulan melihatnya tidak perlu waswas. Bersikap sewajarnya saja.  Kalau takut melihat, ucapkanlah nama nama Tuhan. Endih ini tidak menyebabkan panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan endih tidak bisa dipakai untuk memasak karena sifatnya beda.  Endih leak bersifat niskala, tidak bisa dijamah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leak Shopping di Kuburan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya, ilmu leak adalah ilmu kerohanian yang bertujuan untuk mencari pencerahan lewat aksara suci. Dalam aksara Bali tidak ada yang disebut leak.  Yang ada adalah “liya, ak” yang berarti lima aksara (memasukan dan mengeluarkan kekuatan aksara dalam tubuh melalui tata cara tertentu).  Lima aksara tersebut adalah Si, Wa, Ya, Na, Ma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Si adalah mencerminkan Tuhan&lt;br /&gt;    * Wa adalah anugrah&lt;br /&gt;    * Ya adalah jiwa&lt;br /&gt;    * Na adalah kekuatan yang menutupi kecerdasan&lt;br /&gt;    * Ma adalah egoisme yang membelenggu jiwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan aksara ini disebut panca gni (lima api). Manusia yang mempelajari kerohanian apa saja, apabila mencapai puncaknya dia pasti akan mengeluarkan cahaya (aura).  Cahaya ini keluar melalui lima pintu indria tubuh yakni telinga, mata, mulut, ubun-ubun, serta kemaluan.  Pada umumnya cahaya itu keluar lewat mata dan mulut. Sehingga apabila kita melihat orang di kuburan atau tempat sepi, api seolah-olah membakar rambut orang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada prinsipnya, ilmu leak tidak mempelajari bagaimana cara menyakiti seseorang. Yang dipelajari adalah bagaimana mendapatkan sensasi ketika bermeditasi dalam perenungan aksara tersebut.  Ketika sensasi itu datang, maka orang itu bisa jalan-jalan keluar tubuhnya melalui ngelekas atau ngerogo sukmo. Kata ngelekas artinya kontaksi batin agar badan astra kita bisa keluar. Ini pula alasannya orang ngeleak.  Apabila sedang mempersiapkan puja batinnya disebut angeregep pengelekasan. Sampai di sini roh kita bisa jalan-jalan dalam bentuk cahaya yang umum disebut endih.  Bola cahaya melesat dengan cepat. Endih ini adalah bagian dari badan astral manusia (badan ini tidak dibatasi oleh ruang dan waktu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini pelaku bisa menikmati keindahan malam dalam dimensi batin yang lain. Jangan salah, dalam dunia pengeleakan ada kode etiknya.  Sebab tidak semua orang bisa melihat endih. Juga tidak sembarangan berani keluar dari tubuh kasar kalau tidak ada kepentingan mendesak.  Peraturan yang lain juga ada seperti tidak boleh masuk atau dekat dengan orang mati. Orang ngeleak hanya shopping-nya di kuburan (pemuwunan).  Apabila ada mayat baru, anggota leak wajib datang ke kuburan untuk memberikan doa agar rohnya mendapat tempat yang baik sesuai karmanya. Begini bunyi doa leak memberikan berkat :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ong, gni brahma anglebur panca maha butha, anglukat sarining merta. mulihankene kite ring betara guru, tumitis kita dadi manusia mahatama. ong rang sah, prete namah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil membawa kelapa gading untuk dipercikan sebagai tirta. Nah, di sinilah ada perbedaan pandangan bagi orang awam. Dikatakan bahwa leak ke kuburan memakan mayat, atau meningkatkan ilmu. Kenapa harus di kuburan? Paham leak adalah apa pun status dirimu menjadi manusia, orang sakti, sarjana, kaya, miskin, akan berakhir di kuburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi sebagian orang di India tidak ada tempat tersuci selain di kuburan. Kenapa demikian? Di tempat inilah para roh berkumpul dalam pergolakan spirit.  Di Bali kuburan dikatakan keramat, karena sering muncul hal-hal yang menyeramkan. Ini disebabkan karena kita jarang membuka lontar tatwaning ulun setra.  Sehingga kita tidak tahu sebenarnya kuburan adalah tempat yang paling baik untuk bermeditasi dan memberikan berkat doa. Sang Buda Kecapi, Mpu Kuturan, Gajah Mada, Diah Nateng Dirah, Mpu Bradah, semua mendapat pencerahan di kuburan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jawa tradisi ini disebut tirakat. Leak juga mempunyai keterbatasan tergantung dari tingkatan rohani yang dipelajari. Ada tujuh tingkatan leak.  Leak barak (brahma).  Leak ini baru bisa mengeluarkan cahaya merah api. Leak bulan, leak pemamoran, leak bunga, leak sari, leak cemeng rangdu, leak siwa klakah.  Leak Siwa klakah inilah yang tertinggi. Sebab dari ketujuh cakranya mengeluarkan cahaya yang sesuai dengan kehendak batinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap tingkat mempunyai kekuatan tertentu. Di sinilah penganut leak sering kecele, ketika emosinya labil.  Ilmu tersebut bisa membabi buta atau bumerang bagi dirinya sendiri. Hal inilah membuat rusaknya nama perguruan.  Sama halnya seperti pistol, salah pakai berbahaya. Makanya, kestabilan emosi sangat penting, dan disini sang guru sangat ketat sekali dalam memberikan pelajaran.  Selama ini leak dijadikan kambing hitam sebagai biang ketakutan serta sumber penyakit, atau aji ugig bagi sebagian orang.  Padahal ada aliran yang memang spesial mempelajari ilmu hitam disebut penestian. Ilmu ini memang dirancang bagaimana membikin celaka, sakit, dengan kekuatan batin hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pun caranya adalah dengan memancing kesalahan orang lain sehingga emosi. Setelah emosi barulah dia bereaksi.  Emosi itu dijadikan pukulan balik bagi penestian. Ajaran penestian menggunakan ajian-ajian tertentu, seperti aji gni salembang, aji dungkul, aji sirep, aji penangkeb, aji pengenduh, aji teluh teranjana. Ini disebut pengiwa (tangan kiri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa tangan kiri, sebab setiap menarik kekuatan selalu memasukan energi dari belahan badan kiri.  Pengiwa banyak menggunakan rajah-rajah (tulisan mistik). Juga pintar membuat sakit dari jarak jauh, dan dijamin tidak bisa dirontgent di lab.  Yang paling canggih adalah cetik (racun mistik). Aliran ini bertentangan dengan pengeleakan. Apabila perang, beginilah bunyi mantranya, ong siwa gandu angimpus leak, siwa sumedang anundung leak, mapan aku mapawakan segara gni…bla…bla…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu Leak ini sampai saat ini masih berkembang karena pewarisnya masih ada, sebagai pelestarian budaya Hindu di Bali dan apabila ingin menyaksikan leak ngendih datanglah pada hari Kajeng Kliwon Enjitan di Kuburan pada saat tengah malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Lontar Panestian: koleksi pribadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7221655881315686900-9088936397647050482?l=ceritahindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/rsMDl62k-mBznqqGlyaFwTf9xAU/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/rsMDl62k-mBznqqGlyaFwTf9xAU/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/rsMDl62k-mBznqqGlyaFwTf9xAU/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/rsMDl62k-mBznqqGlyaFwTf9xAU/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CeritaHindu/~4/fYKjjFc3LEA" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://ceritahindu.blogspot.com/feeds/9088936397647050482/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7221655881315686900&amp;postID=9088936397647050482&amp;isPopup=true" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/9088936397647050482?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/9088936397647050482?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CeritaHindu/~3/fYKjjFc3LEA/leak-pakai-panca-aksara.html" title="Leak Pakai Panca Aksara" /><author><name>denny0214</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877375447862611766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://1.bp.blogspot.com/_tHWVsZfq_Sw/SYAVlzkrU6I/AAAAAAAAABI/yVCMbboC02s/S220/100_3522.JPG" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://ceritahindu.blogspot.com/2009/11/leak-pakai-panca-aksara.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkIEQHs7eCp7ImA9WxNaEU8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-7221655881315686900.post-3676834560855033182</id><published>2009-11-24T21:46:00.000-08:00</published><updated>2009-11-24T21:55:01.500-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-11-24T21:55:01.500-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="cerita" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="atma" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="surga" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="dharma" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tuhan" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="neraka" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="bekal" /><title>Penemuan Manusia Antara Surga, Neraka, Bumi</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;(Perjalanan Atma, Mencari Bekal di Jalan Dharma)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;sebuah tulisan dari sudarma (shri_danudp@yahoo.co.id)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SESAAT setelah badan jasmani mati, Atma melakukan perjalanan jauh. Cerita perjalanan Atma ada di banyak tempat, dalam berbagai kebudayaan, dan bermacam kepercayaan. Yang sama dari tiap cerita itu, Atma dikabarkan sengsara, kesepian, dan ketakutan. Walaupun perjalanan itu penuh penderitaan, tidak ada cerita Atma menunda perjalanan. Apalagi membatalkan. Sepertinya tidak ada pilihan lain bagi Atma kecuali melakukan perjalanan itu. Ia tak mungkin bertahan tinggal dalam tubuh yang segera akan membusuk. Bagian tubuh yang berasal dari tanah kembali menjadi tanah. Yang berasal dan air kembali menjadi air. Maka Atma mencari rumah baru. Pilihan ada dua, hanya dua menurut cerita : Surga atau Neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atma seseorang yang di dunia berkarma baik diyakini masuk Surga. Sebaliknya, yang berkarma buruk, dipastikan masuk neraka. Kepastian ini sebatas keyakinan. Karena mustahil membuktikannya. Baik Surga maupun neraka konon letaknya jauh di sana, entah di mana. Di mulut tukang cerita lihai, anak-anak sampai menangis mendengar kisah kesengsaraan Atma. Di tangan tukang cerita yang kurang berbakat cerita itu jadi rusak. Sebaliknya, tukang cerita humoris membuat orang terpingkal-pingkal mendengar perilaku Atma yang ternyata juga bisa lucu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang tidak mempercayai kebenaran cerita seperti itu. Tetapi orang yang meyakini kebenarannya, jauh lebih banyak lagi. Namanya juga keyakinan, pasti susah dibuktikan. Sekarang cerita perjalanan dalam bentuk buku. Sudah banyak pula diterjemahkan, dari satu bahasa ke bahasa lain. Sehingga menceritakan atau mendengarkan cerita Atma tidak lagi menakutkan seperti dulu sebelum listrik masuk desa. Sekarang banyak orang mendengarnya sambil makan kacang, minum bir dan goyang-goyang kaki. Tak jarang mereka tarpingkal-pingkal, karena yang sakral dari atma diceritakan dengan vulgar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini, di  Pulau Bali ini, orang mengenal cerita perjalanan Atma lebih banyak lewat pendengaran. Jadi, bukan karena membaca. Kenyataan ini berhubungan dengan lebih donminannya kebiasaan ngobrol daripada kebiasaan menulis dan membaca. Dalam salah satu fragmen kisah perjalanan Atma, diceritakan Atma menyeberangi sebuah jembatan oleng (titi ugal-agil). Dibawah jembatan oleng itu ada jurang menganga. Dari dasar jurang terdengar jeritan Atma yang terjatuh minta tolong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratapan itu didengar oleh Atma yang sedang menyeberang. Makin ciut nyali Atma itu. Beberapa Atma nampak tertancap diruncing batu cadas yang seakan taringnya jurang. Beberapa lainnya tersangkut bergelantungan di ranting pohon pinggir jurang, dipatuk-patuk ular berbisa. Mereka adalah Atma yang gagal menyeberangkan dirinya. Karena berat membawa beban karma buruk selama hidup di dunia. Mereka terjatuh dan menjadi penghuni jurang. Disiksa bermacam binatang buas dan hawa dingin panas bergantian. Hanya karma baik menyebabkan Atma sukses melewati jembatan oleng itu. Atma yang berhasil, setelah melewati jembatan itu, konon akan menemukan jalan bercabang dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cabang pertama berupa jalan bersih, aman, lestari, indah. Itu konon jalan  menuju neraka. Sebaliknya cabang kedua, penuh duri, susah, penuh godaan, berbahaya. Konon itu jalan menuju surga. Diceritakan pada umumnya Atma bingung memilih jalan. Karena itu, keluarga yang masih hidup disarankan menasihati orang yang mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hadapan jenasah, yang hidup dilatih berpesan, agar Atma berani memilih jalan yang sulit Nasihatnya, jangan sekali-sekali tergoda oleh kemudahan sebuah jalan. Jalan yang mulus dan lancar-lancar saja sering menipu. Keluarga yang ditinggalkan ingin agar Atma orang yang mati langsung menuju surga. Karena surga sudah pasti lebih bagus daripada neraka Pengetahuan mereka tentang surga didapat dari bergaul dengan tradisi. Jadi, bukan pengalaman langsung. Karena sangat absurd, bila seseorang harus mati dulu hanya untuk tahu surga maupun neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi di dalam dunia cerita, yang pasti berbeda dengan kenyataan, ada manusia super bisa jalan-jalan ke surga maupun neraka, tanpa harus mati terlebih dahulu. Contoh paling sering disebut-sebut, kisah perjalanan Dharmawangsa setelah istrinya (Drupadi) dan semua adiknya (Pandawa) mati. Setelah perang Bhatayuddha yang maha dahsyat, tinggal ia bersama seekor anjing. Bersama anjing setia itu ia naik ke surga barbadan manusia. Dalam pementasan wayang, tentu ia naik ke surga berbadan wayang. Ternyata adik dan istrinya tidak ada disana. Mereka sudah dimasukkan ke neraka karena kesalahan masing-masing. Ia pun lantas mengunjungi mereka ke neraka. Karena ia manusia suci, ke mana pergi kesucian mengikuti. Kesucian menjadi kekuatan menawan yang tinggi. Neraka kemudian ia ubah menjadi surga dan berhasil. Itulah salah satu contoh manusia yang bisa pergi ke surga ketika masih berbadan kasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih  ada  contoh manusia super masuk Surga tanpa mati terlebih dahulu, seperti dalam cerita rakyat Bali-Lombok, Cupak-Grantang. Bukan karena kesucian ia naik ke Surga, tetapi dengan menyatukan empat saudara mistis kelahirannya. Cerita ini banyak penggemarnya di luar "tembok istana".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahulu Tradisi dibedakan atas tradisi di dalam tembok istana dan tradisi di luar tembok istana. Bila Dharmawangsa datang dari negeri nun jauh di sana, Cupak datang dari dekat-dekat sini. Tampang mereka sangat bertolak belakang. Dharmawangsa berwajah Dewa. Cupak berwajah preman, rambutnya gondrong acak-acakan, tidak pernah disisir dan diminyaki. Matanya selalu marah karena sering mabuk. Cara berpakaiannya pun tidak umum. Keduanya mewakili kelompok dan paham tidak sama. Yang satunya elite yang satunya lagi jelata Yang satunya Shiwa, satunya lagi Bhairawa. Cerita Cupak memang tidak dikelompokkan dalam epos atau mitos, tetapi cerita rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia cerita, bukan hanya manusia super mengunjungi Surga. Raksasa pun diceritakan memasuki surga dengan masih mengenakan badan kasar. Pelukisan badan kasar raksasa memang sangat kasar. Perilakunya kasar. Bicaranya kasar. Makanannya pun yang kasar-kasar. Sangat bertolak belakang dengan para Dewa yang berbadan halus, berbahasa sopan, berperilaku adab, makanannya sari-sari, menghormati kaum lemah seperti bidadari, dan wanita surga. Bila Atma manusia datang untuk menjadi abdi di surga, raksasa datang untuk menggempur istana Dewa. Dalam banyak cerita, raksasa selalu bemafsu merebut kekuasaan dari tangan Dewa. Dewa yang tidak sudi mengotori tangan beliau dengan darah dan kekerasan, meminjam tangan manusia sakti yang beliau temukan di hutan pertapaan lewat utusan bidadari penggoda. Manusia pilihan Dewa pasti berhasil menyelamatkan surga. Karena tuntutan moral cerita. Raksasa harus kalah. Manusia harus berperang di jalan Dharma. Dan Dewa harus suci plus dihormati Tidak ada Dewa tidak suci. Manusia yang menolak berperang dihinakan dan dinistakan.  Raksasa yang kalah perang dimatikan. Tetapi bagaimana cara raksasa datang ke Surga semasih berbadan kasar? Jawabannya tidak dapat diketahui dari dalam cerita. Mereka datang saja ke surga, seakan rumah mereka tidak jauh dari sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surga dan neraka sekadar contoh dualisme yang paling sering disebut-sebut. Bila surga neraka tempat sesudah mati, lantas bumi tempat kita hidup sekarang ini apa? Tradisi menyebutnya “tempat dimana ada kematian”(mertyupada). Yang mematikan adalah Waktu (Kàla). Manusia lahir sebagai bayi di tempat di mana ada kematian. Itu masuk akal. Karena tiap yang lahir langsung terkena vonis mati oleh kehidupan. Hari dan tanggal eksekusi dirahasiakan. Karma baik adalah bekal yang akan menolong perjalanan Atma. Di sinilah agama menghadirkan dirinya sebagai pemandu hidup. Pada zaman seperti sekarang, agama tidak sendirian memandu hidup manusia. Muncul pemandu tandingan merebut kapling agama, seperti ideologi negara, ideologi pasar, dan sebagainya.Di banyak tempat, agama sebagai pemandu hidup telah ditinggalkan. Di lebih banyak tempat di dunia ini, agama sebagai pemandu makin dikukuhkan. Karena bumi di maknai tempat di mana ada kematian (mertyu pada), konsekwensinya pemandu (agama) pun pada saatnya nanti akan mati. Karena hanya di dunia di mana ada kematian ada kelahiran, maka konskwensinya akan muncul pemandu baru yang tidak harus agama. Lalu apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kita akan mati, bumi ini tidak ubahnya sebuah titik persinggahan sementara. Sebuah titik yang sangat besar untuk mampu dijelajahi manusia seorang diri. Hidup seratus tahun akan terasa sangat membosankan bagi orang yang hanya mencari bekal hidup. Bagi yang mencari bekal mati, satu umur manusia konon terlalu pendek. Mungkin karena itu, pameo “aku ingin hidup seribu tahun lagi” lebih dikenal daripada puisi yang memuat kalimat itu. Bagi yang letih berkarma karena konteks sudah tidak mendukung, sering mengambil pilihan memaksa. Waktu mengakhiri pencariannya. Bunuh diri !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam banyak cerita, bumi ditempatkan di bawah. Dewa atau bidadari yang pergi ke bumi secara sukarela maupun terpaksa, disebutkan turun ke bumi. Mereka berjalan melewati langit dan menerobos awan. Arjuna pun disebutkan kembali turun ke bumi, setelah menyelesaikan tugas menyelamatkan surga dari serangan raksasa, dan tentunya setelah usai menikmati limpahan anugerah sebagai pahlawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penganut paham Samkhyadarsana, satu dari enam aliran filsafat Hindu, menempatkan bumi pada urutan paling bawah pada sistem tattwa yang mereka pakai memahami realita. Di atas bumi ada banyak realita yang tidak akan dibicarakan di sini. Bumi disebut realita paling bawah karena semua realita yang ada di atasnya. Dalam realita bumi inilah surga dan neraka diciptakan. Surga dan neraka adalah satu dari beberapa penemuan besar manusia bumi. Penemuan lebih besar adalah agama. Penemuan paling besar, sudah tentu. Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7221655881315686900-3676834560855033182?l=ceritahindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/I3rPn_rQk1qzA3BiFZe220u-pU8/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/I3rPn_rQk1qzA3BiFZe220u-pU8/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/I3rPn_rQk1qzA3BiFZe220u-pU8/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/I3rPn_rQk1qzA3BiFZe220u-pU8/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CeritaHindu/~4/9dwMVtiOR10" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://ceritahindu.blogspot.com/feeds/3676834560855033182/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7221655881315686900&amp;postID=3676834560855033182&amp;isPopup=true" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/3676834560855033182?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/3676834560855033182?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CeritaHindu/~3/9dwMVtiOR10/penemuan-manusia-antara-surga-neraka.html" title="Penemuan Manusia Antara Surga, Neraka, Bumi" /><author><name>denny0214</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877375447862611766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://1.bp.blogspot.com/_tHWVsZfq_Sw/SYAVlzkrU6I/AAAAAAAAABI/yVCMbboC02s/S220/100_3522.JPG" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://ceritahindu.blogspot.com/2009/11/penemuan-manusia-antara-surga-neraka.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DU4GQXg8fSp7ImA9WxNaEU8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-7221655881315686900.post-8407736219202869283</id><published>2009-11-24T21:37:00.000-08:00</published><updated>2009-11-24T21:45:20.675-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-11-24T21:45:20.675-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Brahman" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="transenden" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Aham" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tuhan" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Asmi" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="imanen" /><title>AHAM BRAHMAN ASMI</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;(Aku Adalah Tuhan)&lt;br /&gt;sebuah tulisan dari sudarma (shri_danudp@yahoo.co.id)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini kita sering berkata bahwa tuhan itu ada nun jauh disana, bagaimana anda memaknai slogan di atas yang menjadi topik pada tulisan ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban Sementara:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Tingkat kesadaran seseorang akan hubungan dirinya dengan Tuhan tertuang dalam Filsafat Dwaita (dirinya berada terpisah dengan Tuhan) dan  Adwaita (dirinya berada di dalam Tuhan). Selogan di atas yang berbunyi ’’Tuhan nun jauh di sana’’ menjelaskan bahwa seseorang itu baru menyadari bahwa Tuhan berada terpisah dengan dirinya (Dwaita). Sedangkan pernyataan bahwa ’’aku adalah Tuhan’’ menerangkan bahwa kesadaran orang tersebut sudah mencapai tingkat Filsafat Adwaita, namun berada di dalam Tuhan tidaklah cukup kita harus meningkatkan bhakti dan para bhakti agar dapat benar-benar menyatu dengan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Slogan di atas mengandung makna bahwa Tuhan memiliki dua sifat yaitu transenden dan imanen. Tuhan berada jauh di sana adalah Tuhan yang transenden, bahwa kita sebagai manusia terpisah jauh dari Beliau.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dari slogan ini, saya sebagai insan ciptaan Tuhan ingin mengajak teman-teman untuk merenungi diri kita, tentang keberadaan kita di dunia ini. Mengapa saya katakan begitu, karena kita adalah bagian dari Tuhan, dimana Atman yang bersemayam dalam diri kita adalah bagian dari Tuhan itu sendiri. Seperti yang kita lihat dewasa ini banyak orang mencari Tuhan diluar dirinya, sehingga orang itu merasa jauh dan sangat jauh dari sang pencipta sehingga orang itu sendiri menjadi bingung dan cenderung untuk berbuat anarkis yang mengakibatkan kerugian baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain. Kalau kita menyadari bahwa Tuhan sebenarnya tidak jauh dari kita, maka kita akan merenung, dengan banyak melakukan perenungan (puasa, meditasi, dll) maka sang Atman yang berada dalam diri kita akan membimbing kita kejalan kesadaran batin. Seperti ada kata slogan ”dirimu adalah ibarat sebuah pura”. Dari slogan ini kita dapat mengambil kesimpulan janganlah mencari kebenaran keluar, tetapi galilah potensi yang ada didalam dirimu, karena jika kamu sudah mengetahui potensi yang ada dalam dirimu maka kamu akan mencapai kesadaran dan ketenangan batin .&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Tuhan itu sebenarnya tidak jauh tetapi ada pada diri kita sehingga apa yang kita perbuat apa yang kita lakukan harus sesuai dengan ajaran darma sehingga manusia dapat selalu mawas diri dan merasa dekat  dengan Tuhan  karena kalau kita memikirkan Tuhan yang trasenden maka kita tidak akan tahu bentuk dan wujudnya.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;Telah banyak kita dengar bahwa dalam setiap mahluk hidup yang ada didunia, memiliki esensi yang paling mendasar. Esensi yang dimaksud adalah setiap mahluk hidup ada yang menghidupi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang menghidupi semua itu? Dia adalah Tuhan yang Maha Esa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila Ia menghidupi semua mahluk hidup berarti Ia ada dalam setiap mahluk hidup. Karena berada didalam mahluk hidup, bagaimana dengan manusia yang merupakan bagian dari mahluk hidup? ........ yang pasti didalam diri manusia juga ada Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kita mengetahui bahwa beliau ada dalam diri kita ibarat kita bercermin didalam air. Kita akan bisa melihat dengan jelas bila air itu jernih. Untuk menjernihkan air itu perlu usaha yang keras dengan cara melatih diri untuk menarik indria-indria kita terfokus kedalam diri kita yang dimana disana Tuhan bersemayam dengan dialasi padma yang indah dan berkilauan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7221655881315686900-8407736219202869283?l=ceritahindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/e8_s9FYaHF7qd1WG9EeIpuLhRVc/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/e8_s9FYaHF7qd1WG9EeIpuLhRVc/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/e8_s9FYaHF7qd1WG9EeIpuLhRVc/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/e8_s9FYaHF7qd1WG9EeIpuLhRVc/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CeritaHindu/~4/ADe1ejzQTT0" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://ceritahindu.blogspot.com/feeds/8407736219202869283/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7221655881315686900&amp;postID=8407736219202869283&amp;isPopup=true" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/8407736219202869283?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/8407736219202869283?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CeritaHindu/~3/ADe1ejzQTT0/aham-brahman-asmi.html" title="AHAM BRAHMAN ASMI" /><author><name>denny0214</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877375447862611766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://1.bp.blogspot.com/_tHWVsZfq_Sw/SYAVlzkrU6I/AAAAAAAAABI/yVCMbboC02s/S220/100_3522.JPG" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://ceritahindu.blogspot.com/2009/11/aham-brahman-asmi.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEEDSHkyfip7ImA9WxNbEEQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-7221655881315686900.post-8431471284846977846</id><published>2009-11-12T22:54:00.000-08:00</published><updated>2009-11-12T23:17:59.796-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-11-12T23:17:59.796-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="hindu" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Agama" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kristen" /><title>Apakah semua orang Kristen pergi ke Sorga?</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ditulis atas inspirasi dari kehidupan serta tulisan Stephen Knapp&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Sebuah Pesan Agar umat Hindu tak Mudah Meninggalkan Agamanya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan orang Kristen merasa bahwa mereka pasti pergi ke sorga hanya karena mereka percaya bahwa Kristus mati untuk dosa mereka. Hal ini adalah salah satu prinsip-prinsip dasar Kekristenan, yang merupakan gagasan yang dicetus oleh Paulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang keturunan Yahudi yang terlahir dan dibaptis sebagai seorang Kristen, Stephen Knapp dengan serius belajar Teologi Kekristenan selama 20 tahun dari hidupnya.  Menurutnya, kebanyakan orang-Kristen berpikir, dan beberapa bahkan berkata, bahwa sekalipun mereka tidak bisa menghilangkan kebiasaan-kebiasaan mereka yang penuh dosa, yang harus mereka perbuat hanyalah percaya akan Yesus dan bahwa Yesus telah mati untuk dosa mereka, dan mereka akan diselamatkan. Hal ini sangat sederhana. Maka ketika mereka membandingkan Kekristenan dengan agama-agama yang lain, mereka akan mengatakan bahwa agama Kristen adalah yang paling mudah dari pada agama lainnya. Terutama sekali mereka melakukan hal ini ketika berkhotbah pada pemeluk Hindu atau Budha untuk mengkonversi mereka menjadi Kristen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kepercayaan akan Yesus dan penyalibannya yang mendasari ajaran Kekristenan saat ini adalah suatu hal yang sangat kontroversial. Tidak semua Injil-Injil yang beredar ketika Perjanjian Baru itu dikompilasi dan menyetujui bahwa penyaliban adalah satu tindakan tobat. Demikian juga jika anda benar-benar belajar tentang ajaran pemikiran elementer Yesus yang salah satu diantaranya adalah tidak membunuh dalam 10 ajaran Yesus. Tentunya hal ini adalah hal yang lebih sulit dari pada sekedar parcaya pada Yesus dan tentang penebusan dosanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pertama orang perlu menyadari bahwa Yesus adalah seorang Yahudi yang pesan-pesannya terutama untuk orang-orang Yahudi. Dalam Matius (10.5-6), Yesus mengatakan kepada dua belas  muridnya untuk pergi berkhotbah, tetapi bukan kepada orang non-Yahudi (nonjews), maupun kepada orang Samaria, tetapi pergi ke domba yang hilang di rumah di Israel. Hal ini menunjukkan kepada siapa pesannya disampaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga pada Matius (15.22-24), seorang wanita memohon kepada Yesus dan meminta kemurahan hatinya karena putrinya diganggu oleh setan. Tetapi Yesus berkata tidak satupun baik dia dan muridnya, yang adalah Yahudi, memintanya  untuk mengutusnya pergi karena dia menangis. Jadi jelas bahwa Yesus datang ke  dunia hanya  untuk domba yang hilang dari Israel. Misinya hanya untuk membantu orang-orang Yahudi. Hanya karena permohonan yang sangat dari seorang ibu, Yesus akhirnya menyembuhkan putri si ibu tersebut.  Jadi  ini juga menunjukkan bahwa minat utama Yesus ada Bangsa Yahudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Bangsa Yahudi  sepenuhnya menolak Yesus. Mereka tidak menerima keilahian Yesus sebagai  juru selamat. Dan ketika ia disalib oleh bangsa Roma, hal ini mengindikasikan bahwa Yesus bukanlah mesias yang digambarkan di dalam ramalan kitab-kitab suci Yahudi. Meskipun begitu, orang-orang non-Yahudi menerima doktrin Kekristenan dan sekarang percaya bahwa mereka akan diselamatkan oleh darah dari Kristus, yang merupakan konsep yang digagas oleh Paulus. Anda tidak akan menemukan ajaran ini sebelum Paulus menyisipkan pemikiran dan tulisannya sendiri ke dalam Kekristenan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah semua orang Kristen akan pergi ke sorga? Jika anda belajar dan memahami Perjanjian Baru, Yesus meninggalkan perintah spesifik yang harus diikuti sebagai pintu masuk ke sorga. Dalam Matius (10.37), Yesus berkata bahwa jika siapapun mencintai dirinya atau ayahnya, ibu, putra, atau putri lebih dari dirinya tidaklah pantas memilikinya. Dan dalam Matius (15.4), Tuhan memerintah agar seseorang harus menghormati ayah dan ibunya, dan ia yang menghinakan ayah atau ibunya harus mati. Jadi Anda harus menghormati orang tua anda, tetapi tidak lebih dari anda mengasihi Yesus atau anda tidak akan memperoleh sorga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus juga menjelaskan dalam Martius (12.36) bahwa setiap kata-kata bohong yang dikatakan manusia akan dihitung pada hari pengadilan nanti. Jadi anda juga harus menjaga mulut anda dari kebohongan dan gosip. Hal ini bukanlah hal yang mudah bagi sebagian besar orang. Kebanyakan orang yang mengaku Kristen yang saya kenal sama sekali tidak berusaha menahan kecenderungan ini. Lebih lanjut dalam Martius (16.23-28) Yesus menjelaskan bahwa setiap manusia harus mengekang dirinya dari keinginan atau kesenangan-kesenang an dan mengangkat salib dan mengikutinya jika dia benar-benar berkeinginan mencari kerajaan Tuhan. Hal ini tentu saja menunjukkan tidak saja keyakinan/keimanan yang harus dimiliki oleh orang Kristen, tetapi berapa banyak dia dapat mengekang dirinya dari nafsu dan keinginan dan mengangkat salib!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Matius (18.34-35), Yesus berkata bahwa Tuhan akan menghukum anda jika anda tidak mengampuni kesalahan setiap orang terhadap anda. Dan kembali pada Matius (25.35-46) kita menemukan bahwa diharapkan seorang Kristen yang baik harus memberi makan dan pakaian pada yang miskin, dan menerima tunawisma, meskipun mereka adalah orang asing, untuk sejumlah yang anda lakukan bagi mereka, anda juga melakukannya untuk Yesus. Dan jika anda mengabaikan seseorang, hal ini juga berarti anda mengabaikan Yesus, dan anda akan memperoleh hukuman kekal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kita dapat melihat bahwa persyaratan untuk bisa mencapai sorga tidaklah semudah yang dikira. Tetapi tunggu dulu, dalam Matius (19.20-30) dikatakan bahwa seorang manusia datang kepada Yesus dan ingin menjadi pengikutnya, tetapi Yesus berkata kepadanya agar pertama-tama menjual segala hal yang ia miliki dan memberikan uangnya kepada yang miskin. Namun, orang itu tidak bisa berbuat demikian dan dengan segera pergi. Yesus menjelaskan kepada murid-muridnya bahwa lebih sulit bagi orang kaya untuk dapat masuk sorga; adalah lebih mudah bagi seekor unta untuk melewati lubang jarum. Lalu muridnya menjadi kagum dan bertanya, dalam kasus ini, siapakah yang dapat diselamatkan? Yesus menjawab bahwa segala sesuatu mungkin bagi Tuhan, tetapi mereka yang sudah meninggalkan rumah, ayah, ibu, istri, anak-anak, atau harta  miliknya, tekun dalam memuji nama-Nya akan mencapai kehidupan kekal. Sehingga kesimpulannya adalah jika anda tidak bisa mengubah pola pikir, pandangan dan tingkah laku anda, maka meski anda mengaku Kristen, anda tidak akan mencapai sorga atau kehidupan kekal di sisi Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga dalam Lukas (6.20, 24-30), Yesus berkata diberkatilah yang miskin, karena mereka akan mencapai Kerajaan Tuhan, dan celakalah yang kaya, celakalah mereka yang berlebihan karena mereka akan lapar, dan celakalah mereka yang tertawa sekarang karena mereka akan berdukacita. Anda harus mengasihi dan berbuat baik pada musuh-musuh anda dan mereka yang benci anda, berikan pipi kanan jika mereka menampar pipi kiri anda, jangan melarang siapapun untuk mengambil mantel anda, dan jangan meminta kebaikan anda akan dikembalikan oleh orang yang pernah anda tolong/beri. (Hal ini merupakan perbedaan yang sangat besar dibandingkan dengan tindakan kaum misionaris yang dengan semangat gospel-nya telah membunuh atau menyiksa siapa saja yang menolak untuk menjadi Kristen.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Lukas (9.61-62), terdapat kisah tentang seorang laki-laki yang datang pada Yesus dan meminta untuk mengikutinya, hanya untuk mengucapkan selamat tinggal pada keluarganya. Tetapi Yesus menolaknya dan berkata bahwa tidak ada manusia, yang menaruh kepalanya pada bajak dan melihat ke belakang yang sesuai untuk Kerajaan Tuhan. Dan dalam Lukas (9.59-60), Yesus menyuruh seseorang untuk mengikutinya, tetapi orang itu meminta Yesus agar pertama-tama mengizinkan dia menguburkan jasad ayahnya. Namun, Yesus  berkata biarlah orang mati menguburkan kematiannya sendiri, dan pergi berkhotbah tentang Kerajaan Allah. Dalam Matius (5.21-22), Yesus menjelaskan bahwa jika seseorang membunuh orang lain maka ia pasti berada dalam bahaya penghakiman. Tetapi lebih lanjut dia menjelaskan bahwa  menjadi marah pada orang lain tanpa sebab jelas juga akan berada dalam bahaya penghakiman.  Dan dalam (Matius 5.20) terkecuali jika kebenaranmu sendiri melebihi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, anda sama sekali tidak dapat masuk kedalam Kerajaan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian jelaslah bahwa tidaklah cukup mengatakan bahwa dengan dibabtis dan menyatakan diri sebagai Kristiani dan mempercayai Yesus sebagai Tuhan yang kematiannya di kayu salib sudah pasti akan membawa anda mencapai Surga. Masih terdapat hukum sebab akibat dan aturan-aturan lain yang diajarkan Yesus yang harus dilaksanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang akan terjadi pada mereka yang tidak dapat mengikuti aturan standar Yesus sebagaimana yang dituliskan dalam Al-Kitab setelah mereka meninggal? Dalam Matius (13.41-42), Yesus berkata bahwa Tuhan akan mengutus para malaikatnya  yang akan berkumpul ke luar segala sesuatu dan   menyerang  orang-orang yang  kejahatan/kebengisa n dan memasukkan mereka ke dalam suatu tungku perapian yang akan menjadi ratapan luar biasa dan mengertakkan gigi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika semua aturan Yesus ini harus diikuti dengan sempurna, beserta dengan semua perintahnya agar semua orang Kristen mencapai surga, tungku perapian yang panas dan membara itu mungkin haruslah lebih besar. Tapi Tuhan seperti apakah yang tega membiarkan mahluknya mendrita selamanya di neraka karena kesalahan singkatnya di dunia? Apa lagi dalam teologi Kristen kehidupan hanya dikatakan sekali, dalam kehidupan satu kali ini seseorang harus sempurna untuk mencapai sorga, atau akan disiksa selamanya di neraka. Apa nilai dari hukuman ini sementara sang jiwa tidak pernah mendapat kesempatan untuk memperbaiki perbuatannya walaupun untuk kesempatan yang kedua kalinya? Kenapa Tuhan menciptakan mahluk hidup yang memang cenderung berbuat salah dan mengirim mereka ke neraka abadi jika tidak mengikuti aturan-aturannya, terutama dalam Al-Kitab dengan tepat? Apakah Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang akan mengancam dan memeberikan teror terhadap mahluknya dengan Neraka abadi? Karena itu konsep Ketuhanan semacam ini perlu dipertanyakan karena hukuman yang diberikan tidak memberikan kesempatan untuk rehabilitasi, tetapi didasarkan oleh sikap kemarahan dan balas dendam. Kenapa Tuhan bisa seperti ini jika memang beliau adalah Yang Maha Pemurah, Pengasih dan Penyayang? Kenapa Tuhan menghabiskan waktunya hanya untuk memunculkan tirani kemarahan dan balas dendam? Tentunya Beliau memiliki hal yang lebih baik daripada menyebar teror kemarahan dan tirani. Dan ketika kita lihat dalam konsepsi Veda, Tuhan dengan sifat-sifat- Nya sebagaimana digambarkan dalam kitab-kitab Purana, kita akan menemukan sangat banyak perbedaan dari apa yang diuraikan dalam kitab-kitab Abrahamik dan dengan sifat-sifat- Nya yang sangat mulia sebagaimana yang seharusnya dimiliki oleh yang maha mutlak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep Ketuhanan dalam Kristen adalah bahawa kita harus takut pada Tuhan. Hal ini ditunjukkan dalam kitab Keluaran (20.5) yang menyatakan Tuhan berkata bahwa Dia adalah Tuhan yang pencemburu. Hanya saja pada kenyataannya seseorang akan memperlihatkan kecemburuannya atau marah jika ia takut kalah, merasa lemah, sedang bersaing dengan orang lain atau tidak mendapatkan sebagaimana yang ia inginkan. Jadi kenapa Tuhan yang merupakan pencipta, penguasa dan pengatur segala sesuatu bisa menjadi pencemburu? Sifat-sifat pencemburu, kegelisahan, rasa tidak aman, marah atau sikap balas dendam adalah sikap yang bisa ditemukan pada kebodohan dan nafsu. Hal seperti ini seharusnya tidak menjamah Tuhan yang maha segalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Bhagavad-gita (9.18), Sri Krishna berkata bahwa Dia adalah pencipta, dasar dari segala sesuatu, pendukung, tujuan, tempat perlindungan, tuan, dan juga sahabat. Hal ini menunjukkan pemahaman yang lebih mendalam tentang Tuhan. Secara alamiah, Dia harus dapat sebagai seorang kawan yang terhormat karena kita merupakan bagian dari energi spiritual-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang membuat seakan-akan terdapat kekuatan yang menentang Tuhan, sebagaimana setan yang dilukiskan dalam ajaran agama-agama Abrahamik hanyalah karena ketidaktahuan akan pengetahuan rohani yang sejati. Bagaimana Tuhan yang maha mutlak tidak mampu mengalahkan setan yang merupakan ciptaannya? Kenapa Tuhan sampai hati menguji ciptaannya dan menjebloskan mereka yang tidak kuat godaan ke neraka abadi selamanya? Kenapa Tuhan sibuk akan hal konyol seperti itu? Tidakkah Tuhan Maha Penyayang? Kalau ya, seharusnya Tuhan tidak menciptakan setan yang selalu mengoda manusia menjadi jahat, sehingga dengan demikian semua manusia menjadi baik dan bahagia dalam surga abadi. Kekonyolah dan Kesalahpahaman konsepsi seperti inilah yang harus diluruskan. Tuhan tidak memiliki musuh, beliau menyayangi semua mahluk ciptaannya dan menurunkan kitab suci kepada kita sebagai panduan akan siapa diri kita yang sejati, dimana kebahagiaan yang abadi dan kemana hidup ini harus di arahkan! Veda sendiri melalui jalan bhakti menuntuk kita untuk mengembangkan sikap cinta kasih dan bhakti kepada Tuhan. Anda tidak akan dapat menyayangi dan mencintai Tuhan jika anda takut dengan-Nya, ketakutan dan kasih sayang adalah suatu hal yang bertentangan. Oleh karena itu seseorang yang secara rohani menyayangi dan mencintai Tuhan, tidak akan pernah bisa menerima bahwa Tuhan sebagai sosok yang pemarah, pencemburu dan pendendam sebagaimana yang diuraikan dalam Alkitab maupun ajaran agama-agama Abrahamik lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa Tuhan marah dan cemburu pada kita jika memang benar Tuhan telah menciptakan hukum alam yang mengatur segala tingkah laku dan konsekuensi tindakan kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua mahluk hidup sejatinya adalah Atman/Jiwa yang merupakan bagian dari Tuhan dan diberikan kebebasan untuk merasakan kehidupan di alam material atau tetap di alam rohani. Tuhan sendiri melalui kitab suci sudah menjelaskan bagaiaman keadaan alam material ini, hanya saja sifat Jiwa yang pengen tahu menuntunnya untuk mencoba mengaruhi dunia material. Berkat kasih sayang dan keadilan-Nya, Tuhan memberikan sang jiwa fasilitas kehidupan dan dengan jenis kehidupan yang diinginkannya. Ada yang memilih badan manusia, ada yang memilih badan tumbuhan, binatang bahkan bakteri. Kenapa Jiwa tidak memilih badan manusia/dewa yang posisinya baik? Nah, kita tidak bisa mengatakan mana yang baik dan buruk disini, semuanya tergantung dari mindset anda. Karena anda manusia dan pernah membaca kitab suci, maka anda mungkin mengatakan bahwa manusialah yang paling baik, mungkin malaikat/dewa di sana akan berpikir bahwa merekalah yang paling baik, demikian juga dengan elien atau mahluk hidup lainnya akan berpikir kalau merekalah yang paling unggul. Untuk menjamin keharmonisan 8.400.000 jenis kehidupan di alam material ini, Tuhan telah menetapkan hukum alam yang memberikan punishment atau reward secara adil dan atas cinta kasihnya selalu memberikan kesempatan rehabilitasi untuk setiap kesalahan ciptaannya lewat proses reinkarnasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7221655881315686900-8431471284846977846?l=ceritahindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/GOwytg0GNYqtXumG3ckaikao3UE/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/GOwytg0GNYqtXumG3ckaikao3UE/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/GOwytg0GNYqtXumG3ckaikao3UE/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/GOwytg0GNYqtXumG3ckaikao3UE/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CeritaHindu/~4/cg5b4oUcA7s" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://ceritahindu.blogspot.com/feeds/8431471284846977846/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7221655881315686900&amp;postID=8431471284846977846&amp;isPopup=true" title="2 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/8431471284846977846?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/8431471284846977846?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CeritaHindu/~3/cg5b4oUcA7s/apakah-semua-orang-kristen-pergi-ke.html" title="Apakah semua orang Kristen pergi ke Sorga?" /><author><name>denny0214</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877375447862611766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://1.bp.blogspot.com/_tHWVsZfq_Sw/SYAVlzkrU6I/AAAAAAAAABI/yVCMbboC02s/S220/100_3522.JPG" /></author><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://ceritahindu.blogspot.com/2009/11/apakah-semua-orang-kristen-pergi-ke.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CUYNSHsyfSp7ImA9WxNUE0Q.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-7221655881315686900.post-9055385582317187236</id><published>2009-11-04T19:49:00.000-08:00</published><updated>2009-11-04T19:53:19.595-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-11-04T19:53:19.595-08:00</app:edited><title>PENCIPTAAN JAGAT RAYA MENURUT HINDU  DAN RESPON TERHADAP TEORI-TEORI   ILMIAH BARU</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Agak Panjang, siapkan waktu untuk membaca...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“In the beginning, there was but the Absolute Self alone.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nothing else was. Brahman willed,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Let me create the world”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                                                      Aitareya Upaniṣad I.1.1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori tentang penciptaan jagat raya bersumber kepada kitab suci Veda dan susastra Hindu. Kitab suci Veda merupakan wahyu Tuhan Yang Maha Esa yang terdiri dari kitab Ṛgveda, Yajurveda, Samaveda dan Atharvaveda. Masing-masing kitab itu disebut Samhita dan keempatnya disebut Catur Veda Samhita. Masing-masing Samhita tersebut memiliki kitab-kitab Brahmana, Aranyaka dan Upaniṣad yang jumlahnya cukup banyak. Seluruh kitab-kitab tersebut digolongkan ke dalam kitab-kitab Sruti atau wahyu Tuhan Yang Maha Esa. Kitab-kitab Upaniṣad juga disebut kitab-kitab Vedānta atau bagian akhir yang merupakan semacam kesimpulan atau intisari Veda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping sumber utama tersebut di atas, sumber lainnya adalah kitab-kitab yang digolongkan ke dalam kitab-kitab susastra Hindu, yaitu kitab-kitab Itihasa seperti Ramayana dan Mahabharata, juga kitab-kitab Purāṇa yang jumlahnya sebanyak 18 buah. Kitab-kitab tersebut menguraikan tentang penciptaan alam semesta, makhluk hidup di dalamnya dan bagaimana proses penciptaan tersebut terjadi. Khusus kitab-kitab Purāṇa, sampradaya atau kelompok keagamaan Hindu Vaiṣṇava memasukkannya ke dalam kitab Veda atau sruti,  yakni wahyu Tuhan Yang Maha Esa dan meyakini mahārṣi Vyasa sebagai penyusun kitab-kitab tersebut juga sebagai avatara-Nya (Penjelmaan Tuhan Yang Maha Esa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penciptaan menurut kitab suci Veda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kitab suci Veda terdapat dua Sūkta (himne) yang secara khusus menguraikan tentang penciptaan jagat raya yang dikenal dengan sebutan Nasadiyasūkta dan Puruṣasūkta. Yang pertama menjelaskan asal atau kejadian alam semesta dan yang kedua merupakan dasar filosofis Veda yang menyatakan bahwa segala sesuatunya berasal dari Yajña, yakni pengorbanan Tuhan Yang Maha Esa yang mesti diikuti oleh umat-Nya sebagai usaha untuk menjaga kelangsungan dan harmoni alam semesta. Berikut dikutipkan terjemahan Nasadiyazūkta (Terjadinya Alam Semesta)(Ṛgveda X.129.1-7) tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Pada waktu itu, tidak ada mahluk (eksistensi) maupun non makhluk (non eksistensi); pada waktu itu tidak ada atmosfir dan juga tidak ada lengkung langit di luarnya. Pada waktu itu apakah yang menutupi, dan di mana ? Airkah di sana, air yang tak terduga dalamnya (1)’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Waktu itu, tidak ada kematian, pun pula tidak ada kehidupan. Tidak ada tanda yang menandakan siang dan malam. Yang Esa bernafas tanpa nafas menurut kekuatannya sendiri. Bernafas menurut kekuatan-Nya sendiri. Di luar Dia tidak ada apa pun juga (2)’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Pada mula pertama kegelapan ditutupi oleh kegelapan.  Semua yang ada ini adalah keterbatasan yang tak dapat dibedakan. Yang ada waktu itu adalah kekosongan dan yang tanpa bentuk. Dengan tapas (tenaga panas) yang luar biasa lahirlah kesatuan yang kosong (3)’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Pada awal mulanya keinginan menjadi bermanifestasi. Yang merupakan benih awal dan benih semangat. Para Ṛṣi setelah meditasi dalam hatinya menemukan dengan kearifannya hubungan antara eksistensi dan non eksistensi  (4)’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Sinar-Nya terentang ke luar, apakah ia melintang, apakah ia di bawah atau di atas. Kemudian ada kemampuan memperbanyak diri dan kekuatan yang luar biasa dahsyatnya, materi gaib ke sini dan energi ke sana (5)’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Siapakah yang sungguh-sungguh mengetahui dan memapar-kannya di sini, dari manakah datangnya alam semesta yang menjadi ada ini? Orang-orang bijaksana lebih belakang  dari ciptaan alam semesta ini, karena itu siapakah yang mengetahui dari mana munculnya (ciptaan) ini (6)’&lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;‘Sesungguhnya Dia yang telah menciptakan alam semesta ini, serta mengendalikannya (di dalam kekuasaan-Nya). Dia yang mengawasi alam semesta ini berada di atas angkasa yang tak terhingga, sesungguhnya Dia mengetahui alam semesta ini seluruhnya dan Wahai Manusia! Janganlah mengakui eksistensi lain yang mana pun sebagai Pencipta alam semesta ini (7)’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari terjemahan mantram Ṛgveda di atas dapat diketahui pandangan yang mendasar tentang misteri dari alam semesta ini. Sūkta di atas menjelaskan tentang asal alam semesta dan Tuhan Yang Maha Esa yang merupakan asal dari alam semesta tersebut. Sūkta pertama menjelaskan bahwa pada mulanya adalah kosong, tidak ada apa pun benda material. Sūkta kedua menjelaskan eksistensi Tuhan Yang Maha Esa yang bernafas dengan kekuatan-Nya sendiri. Sūkta ketiga menjelaskan bahwa pada mulanya adalah kekosongan, tidak ada sesuatu apa pun dan tanpa bentuk. Disebutkan pula dari pada-Nya tenaga panas (energi) muncul yang merupakan proses awal penciptaan. Dari keinginan-Nya muncul penciptaan dan hal ini dapat diketahui oleh para Ṛṣi yang bermeditasi kepada-Nya (Sūkta 4). Sūkta kelima menjelaskan terciptanya benih-benih kehidupan. Sūkta  keenam dan ketujuh menjelaskan terjadinya alam semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klaus K. Klostermaier (1990:110) mengemukakan beberapa kata kunci untuk memahami proses penciptaan menurut Nasadiyasūkta di atas, yaitu: tapas, panas, kekuatan seorang Yogi (Ṛṣi) yang disebut sebagai yang bertanggung jawab pertama dalam proses penciptaan. Kama, keinginan atau dorongan nafsu (keinginan untuk mencipta) yang menyebabkan keserbaragaman dan yang melekat dalam ketidakabadian. V.  Madhusudan Reddy (1991:186) menyatakan bahwa Tuhan Yang Maha Esa dengan kekuatan-Nya yang sangat unik dengan pemusatan pikiran, mewujudkan kekuatan anima (salah satu kekuasaan-Nya menjadikan diri-Nya sangat halus tidak tertangkap oleh indra penglihatan) menciptakan dunia dan alam semesta yang tidak abadi dan berbagai keserbaragaman. Tuhan Yang Maha Esa mengejawantah dalam berbagai hal, dan juga menjadi dasar yang mengatur semua, menyatukan dan mengharmonisasikannya, seperti dinyatakan dalam terjemahan mantra Ṛgveda V.81.2 berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Tuhan Maha Pencipta, Yang memancarkan cahaya-Nya dalam berbagai wujud, dan yang selalu menganugrahkan kebajikan kepada semua ciptaan-Nya. Yang Maha Bercahaya menerangi jagat raya, sorga, dan selalu bercahaya di luar Fajar’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Tuhan Yang Maha Esa yang memancarkan cahaya gemerlapan, menyinari segalanya dan memberikan kesadaran kepada alam semesta. Ia adalah api kedevataan, maha mengetahui dan merupakan nafas hidup dari jagat raya, yang tanpa batas, yang kekuatan tapa-Nya tiada habisnya, bagaikan mentega dan nektar keabadian. Lebih jauh di dalam Ṛgveda III.26.7 dinyatakan bahwa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala sesuatunya merupakan ekspṚṣi pancaran Cahaya dari segala cahaya. Ia yang muncul dari keadaan Gelap (Malam Brahma). Ia yang sangat mengagumkan, Ia yang membentang sangat jauh dan mengejawantahkan diri-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Di dalam Ṛgveda I.113.1 dinyatakan bahwa alam semesta sebagai Wujud Yang Agung (Supreme Form). Hal tersebut merujuk kepada tiga kondisi Yang Maha Suci, yaitu status caratham, jagatas tasthusas dan amritam martyam, yakni yang tidak bergerak dan kekal abadi dan yang berubah-ubah, yang tidak terbatas dan yang terbatas, dan yang hidup abadi dan yang fana (Reddy, 1991:188).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Demikian pula dinyatakan bahwa kekuatan aktif yang bersinar terang benderang merupakan kuasa Tuhan Yang Maha Esa, bermanifestasi melalui hukum-Nya yang abadi, tercipta bersama dengan kausa material alam semesta, dari sana malam (sesudah alam tercipta berlangsung) diciptakan. Dari sana pula samudra atmosfir yang mengandung prinsip-prinsip kosmik menjadi terwujud (Ṛgveda X.190.1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Berdasarkan uraian singkat di atas dapat dinyatakan bahwa Tuhan Yang Maha Esa melalui kekuatan tapas, memancarkan energi (cahaya) dari kegelapan yang pekat dan kosong, kemudian atas kehendak-Nya berlangsung proses penciptaan yang berasal dari energi atau cahaya-Nya yang maha dahsyat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Tentang penciptaan alam semesta lebih jauh dinyatakan dalam Puruṣasūkta (Yajña Tuhan Yang Maha Esa) (Ṛgveda X.90.1-16)  yang terjemahannya dikutipkan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Puruṣa (Manusia Kosmos) berkepala seribu, bermata seribu, berkaki seribu, memenuhi jagat raya, pada semua arah, mengisi seluruh angkasa (1)’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Sesungguhnya Puruṣa adalah semua ini, semua yang ada sekarang dan yang akan datang, Dia adalah raja keabadian yang terus membesar dengan makanan (2)’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Demikian hebat kebenarannya. Dan Puruṣa bahkan lebih besar dari ini. Semua wujud ini adalah seperempat dari diri-Nya. Tiga perempat lagi adalah keabadian ada di sorga (3)’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Tiga perempat dari Puruṣa pergi membubung jauh. Seperempat lagi lagi berada di alam ini yang berproses terus menerus berselang-seling dalam berbagai wujud yang bernyawa  dan yang tidak bernyawa (4)’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Dari Dia Viraj (Dia Yang Bercahaya) lahir dan dari Virāj Dia kembali. Segera setelah Dia lahir Dia mengembang ke seluruh penjuru, mengembang mengatasi alam semesta (5)’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Ketika para Dewa mengadakan upacara kurban dengan Puruṣa sebagai persembahan, maka minyaknya adalah musim semi,  kayu bakarnya adalah musim panas dan sajian persembahannya adalam musim gugur (6)’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Mereka mengorbankan sebagian korban pada rumput. Puruṣa yang lahir pada awal kejadian alam semesta. Pada Dia para Dewa dan semua Sadhya dan para Ṛṣi mempersembahkan kurban (7)’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Dari korban Puruṣa dipersembahkan keluarlah dadih dan mentega yang sudah bercampur. Kemudian Dia jadikan binatang-binatang yang padanya berbeda. Baik binatang buas maupun binatang jinak (8)’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Dari korban  Puruṣa  yang dipersembahkan, Ric (Ṛgveda) dan Sama (Samaveda) muncul. Dari Dia lahirnya metrik. Dari Dia lahirnya Yajus (Yajurveda) (9)’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Dari Dia lahirlah kuda dan binatang apa saja yang mempunyai gigi dua baris. Sapi lahir dari Dia. Dari Dialah lahirnya kambing dan biri-biri (10)’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Ketika mereka menjadikan Puruṣa persembahan, menjadi berapa bagiankah Dia? Dan apakah mereka sebut paha kaki-Nya? (11)’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Dari mulut-Nya muncul Brahmana, dari lengan-Nya muncul Rajanya (Ksatriya), dari paha-Nya muncul Vaisya, dan  Sudra muncul dari kaki-Nya (12)’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Bulan muncul dari pikiran-Nya, matahari dari mata-Nya, Indra dan Agni muncul dari mulut-Nya, dan Vayu dari nafas-Nya (13)’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Dari pusar-Nya cakrawala ini muncul, dari kepala-Nya muncul langit, dari kaki-Nya muncul  bumi, dari telingap-Nya lahir keempat penjuru mata angin, demikianlah Dia membentuk alam semesta ini (14)’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Tujuh pagar kelilingnya upacara korban itu, tiga  kali enam potong kayu bakar disiapkan, ketika para Dewa mempersembahkan upacara itu yang menjadikan Puruṣa sebagai kurban (15)’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Dewa-dewa dengan mengandakan upacara korban memuja Dia (Manusia Kosmos) yang juga merupakan upacara korban itu. Dia yang agung mencapai sorga yang mulia tempat para Sadhyas, Dewa-Dewa zaman dahulu (16)’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Puruṣasūkta adalah sebuah Sūkta (himne) yang menjelaskan kondisi sebelum penciptaan dan pengejawantahan-Nya. Kondisi tersebut merupakan dua kondisi berubah dan kekal abadi, jagatas tasthusas. Hal tersebut merupakan proses abadi yang dari padanya Ia Yang Tidak Terbatas menjadi terbatas. Sūkta tersebut merupakan perubahan bentuk yang direncanakan dari Wujud Manusia Tertinggi (Supreme Person) dan proses terciptanya alam semesta. Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Sempurna dikenal oleh para mahārṣi (orang-orang suci). Mereka menggambarkan Tuhan Yang Maha Esa sebagai Yang Bercahaya seperti cahaya ribuan matahari, yang terletak di samping Kegelapan. Pengetahuan tentang Tuhan Yang Maha Tunggal, dinyatakan oleh para mahārṣi yang membebaskan pencari kebenaran dari segala keterikatan dan menjadikannya kekal abadi (Reddy, 1991: 175).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Puruṣa bukanlah semata-mata Manusia Kosmos, tetapi juga merupakan aspek personal dari seluruh realitas. Konsep manusia meliputi esensi hubungan internal. Segala sesuatunya merupakan bagian dari Yang Esa dan unik yakni Puruṣa. Dari Puruṣa, Viraj, emanasi kedewataan yang pertama menampakkan diri dan berproses. Makhluk yang tidak terciptakan, yang keberadaan-Nya berfungsi sebagai media dalam proses penciptaan, meningkatkan dan juga turun kepada semua makhluk, dan juga kepada keseluruhan aktivitas, Dia juga mengandung aspek feminin, tidak hanya dalam kaitannya dengan gender, tetapi juga dalam hukum-Nya (Panikkar, 1989:73).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Menurut Puruṣasūkta di atas,  Tuhan Yang Maha Esa sendiri yang mengorbankan diri-Nya untuk menciptakan jagat raya ini, yang penampakkan-Nya di alam semesta dalam wujud materi hanya seperempat bagian sedang tiga perempat lainnya tidak terjangkau oleh umat manusia. Seluruh jagat raya berasal dari pada-Nya melalui Viraj, proses alam semesta dan segala isi di dalamnya berlangsung. Proses penciptaan (sristi atau utpati) dan pemeliharaan  (stiti) alam semesta ini berlangsung selama Tuhan Yang Maha Esa menghendakinya dan tentunya juga akan berakhir ketika Dia menghendakinya pula. Proses tercipta, terpelihara, dan peleburan (pralaya) kembali alam semesta berserta seluruh isinya disebut  Trikona, tiga titik kulminasi yang berlangsung terus. Proses tersebut juga dinamakan lila atau krida Tuhan Yang Maha Esa. Menurut A.L.Basham (1992:3240 motivasi penciptaan seperti tersebut, yakni berupa lila atau krida dari Jiwa Alam Semesta dapat dianalogikan dengan hasil karya seni yang muncul dari pikiran seorang artis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Di samping mantra-mantra tentang peenciptaan seperti telah disebutkan di atas terdapat juga mantra yang menjelaskan tentang bibit abadi berupa telur berwarna keemasan (Hiranyagarbha) yang kemudian dari pada-Nya terciptalah seluruh jagat raya seperti dinyatakan dalam Ṛgveda X.121.1 berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awalnya terlahirlah Hiranyagarbha, Dia yang demikian menunjukkan eksistensinya, menjadi raja dari semua makhluk, Dia yang menyangga bumi dan sorga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Di dalam kitab suci Veda dijelaskan tentang awal penciptaan alam semesta ini dan yang pertama eksis adalah Tuhan Yang Maha Esa sendiri, kemudian menjadikan diri-Nya sendiri sebagai Yajna dan kemudian berpikir “aham bahu syam”, “Saya ingin menciptakan yang banyak”. Sejak saat itu mulailah penciptaan alam semesta. Pertama-tama tercipta air. Di sanalah telur Hiranyagarbha berada. Telur itu kemudian pecah menjadi dua bagian, yaitu satu bagian menjadi bumi dan bagian yang lain menjadi angkasa. Segala proses penciptaan alam semesta baru dimulai setelah telur yang mengandung air itu pecah (Somvir, 2001:34-35).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Berdasarkan kutipan terjemahan mantra-mantra Veda di atas, maka penciptaan alam semesta menurut kitab suci Veda dimulai dengan tapas yang memancarkan cahaya (energi), selanjutnya Tuhan Yang Maha Esa berkehendak dan melaksanakan Yajña dan yang terakhir dari pada-Nya pula lahir bibit berupa telur keemasan (Hiranyagarbha) yang di alam semesta tampak plenet-planet yang demikian banyak jumlahnya berwujud sebagai telor dan berwarna keemasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penciptaan menurut kitab-kitab Upaniṣad (Vedānta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Seperti disebutkan di atas, kitab-kitab Upaniṣad juga disebut sebagai sruti (wahyu Tuhan Yang Maha Esa). Kitab-kitab Upaniṣad juga disebut kitab-kitab Uttara Mimaýúa atau Vedānta yang kemudian berkembang menjadi sistem filsafat yang artinya akhir dari Veda  (vedasya antah), kesimpulan maupun tujuan Veda (Radha- krishnan, 1990:24). Di dalam kitab-kitab Upaniṣad, kata yang dipergunakan untuk mengartikan Yang Nyata Maha Tinggi, Ma Pencipta adalah Brahman. Kata ini berasal dari akar kata brh yang berarti berkembang, timbul atau muncul ke mana-mana. Kata turunannya berarti meluap ke luar, berbuih ke luar, perkembangan yang tidak habis-habisnya, brihattvam. Menurut Sankara, Brahman berasal dari akar kata brihati, melampaui, atisayana, kebadian, murni. Menurut Madhva, Brahman adalah oknum yang seluruh sifatnya ada dalam kesempurnaan, brihanto hy asmin gunah. Yang nyata bukanlah suatu abstraksi yang redup, melainkan sangatlah hidup dan dengan vitalitas yang kuat  (Radhakrishan, 1990:52).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Di dalam Brihadaranyaka Upaniṣad (II.1.1-20) dinyatakan bahwa Tuhan Yang Maha Esa sebagai pencipta semua makhluk. Itulah sesungguhnya yang harus dimengerti. Brahman adalah Satyasya Satyam. Yang Nyata dari Yang Nyata, sumber dari semua benda-benda yang ada. Di dalam  Katha Upaniṣad  (II.50) dinyatakan bahwa api setelah memasuki alam semesta mengambil semua bentuk. Di dalam Chandogya Upaniṣad (VI.8.4) dinyatakan bahwa api yang muncul pertama dari Makhluk Pertama, dan dari api muncullah air, dari air muncullah tanah. Pada saat peleburan kembali, tanah dilebur pada air, air pada api, dan api pada Makhluk Pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mandukya Upaniṣad menyatakan bahwa Brahman adalah catus-pat, berkaki empat atau memiliki empat azas, yaitu: Brahman (Impersonal), Isvara (Personal), Hiranyagarbha (bibit seperti telur berwarna keemasan yang melahirkan Brahmanda-Brahmanda, telor-telor Brahman atau planet-planet di alam raya) dan Viraj (energi yang bercahaya). Radhakrishnan (1990:65) menyatakan adanya empat macam status dari Yang Nyata Abadi, yaitu (1) Brahman Yang Mutlak, (2) Isvara, yakni Jiwa yang berkemampuan (Creative Spirit), (3) Hiranyagarbha (Jiwa alam semesta), dan (4) Alam Semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Dalam perkembangan selanjutnya ketika kitab-kitab Upaniṣad dirumuskan menjadi sebuah sistem filsafat yang dikenal dengan nama Vedānta, maka muncullah kitab Vedāntasara atau Vedāntasutra yang disusun oleh mahārṣi Vyasa. Kitab ini diduga sudah ada sebelum 5.000 tahun  yang lalu. Sekitar 5.000 tahun yang lalu muncul kitab Srimadbhagavatam atau Bhagavata Purāṇa yang memberi ulasan terhadap Vedāntasutra. Setelah itu kitab ini dijelaskan oleh beberapa acarya atau guru-guru suci. Ulasan Sankaracarya (sekitar abad delapan Masehi), merupakan ulasan dari perguruan impersonal dan monistik (advaita). Ulasan Ramanujacarya (sekitar abad sebelas Masehi) dari perguruan keesaan khusus (vasistadvaita).Ulasan Nimbarkacarya (sekitar abad dua belas sampai empat belas Masehi) adalah ulasan keesaan dan dualisme  (dvaitadvaita) dan ulasan Madhvacarya (abad tiga belas Masehi) adalah perguruan dualisme (Bhaktisvarupa, 2003:4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Menurut Bhaktisvarupa Damodara Svami (2003:35) Vedānta merupakan bentuk risalat ilmiah dan keagamaan yang paling maju dari warisan kultural dan spiritual India. Makna dasar dari kata Vedānta adalah pengetahuan kebenaran yang tertinggi. Vedānta tidak hanya merujuk kepada Vedāntasutra melainkan juga kepada semua pustaka Veda, yang menjelaskan kesimpulan-kesimpulan dari Veda, khususnya Bhagavadgìtā, Srimadbhagavatam, kitab-kitab Upaniṣad, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Di dalam sutra (aforisme) 1.1.2 dari Vedāntasutra dinyatakan: janmadyasya yatah, yang terjemahannya adalah: Brahman, Kebenaran Mutlak atau Tuhan Yang Maha Esa adalah yang dari Siapa penciptaan, pemeliharaan, dan peleburan alam semesta ini berasal. Secara singkat dapat dinyatakan Tuhan Yang Maha Esa adalah pencipta, pemelihara dan pelebur alam semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Perwujudan alam semesta ini sebagai energi material dipisahkan dengan Tuhan Yang Maha Esa melalui Kala, waktu yang merupakan segi impersonal Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan Yang Maha Esa adalah sumber asli dan sebab dari segala sesuatu sarva karana karanam. Dalam Bhagavadgìtā (X.8), Tuhan Yang Maha Esa, Sri Krisna memberi tahu Arjuna, teman dan penyembah-Nya, “Akulah sumber dari semua dunia spiritual dan material. Segala sesuatu memancar dari-Ku (Bhaktisvarupa, 2003:52).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penciptaan menurut kitab-kitab Purāṇa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isi pokok kitab-kitab Purāṇa umumnya dikenal dengan Pancalaksana, yang terdiri dari: (1) Sarga (ciptaan alam semesta yang pertama/yang sangat halus), (2) Pratisarga (penghancuran dan penciptaan kembali alam semesta), (3) Manvantara (masa dan perubahan Manu-Manu pada setiap masa), (4) Vamsa (cerita dinasti raja-raja yang berkuasa di bumi, dan (5) Vamsanucarita (dinasti raja-raja &amp;amp; Ṛṣi-Ṛṣi dan raja yang  akan datang). Dalam uraian ini dibatasi hanya pada sarga dan pratisarga sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1)  Sarga (ciptaan alam semesta yang pertama/yang sangat halus)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarga adalah (proses) penciptaan (yang halus) berupa lima unsur (Panca Mahabhuta), obyek-obyek indriya, organ indriya dan pikiran, ego (ahamkara) dan prinsip kecerdasan kosmik (mahat), selanjutnya terganggunya keseimbangan dari sifat-sifat alam (guna/bhuta-matendriya-dhiyam janmasarga udaritah). Di kitab-kitab Purāṇa yang lain digambarkan sebagai “evolusi mahat, karena terganggunya keseimbangan Triguna selanjutnya mendorong yang tidak termanifestasikan, avyakrita, yakni unsur materi yang pertama atau Prakriti), dari tiga lapis Ahamkara (keakuan dari Mahat) dan (tiga lapis Ahamkara) dari 5 unsur alam (Bhuta), (sebelas) organ indriya (Panca Budhiriya, Karmendriya dan pikiran) dan obyek-obyek indriya. Penciptaan ada dua jenis, yaitu: (1). Alaukika (kedevataan) dan (2) Laukika (keduniawian). Penciptaan kedevataan merupakan penciptaan yang terdiri dari 33 devata, saat itu Tuhan Yang Maha Esa dalam bentuk Yajna-Varaha, mewujudkan diri-Nya sebagai seekor babi hutan untuk menyelamatkan dunia. Penggambaran penjelmaan Tuhan Yang Maha Esa sebagai seekor babi hutan (yang membunuh raksasa Hiranyaksa) tidak lain maksudnya adalah untuk selamatnya umat manusia, dan hal ini juga menggambarkan ajaran Karma Marga (jalan perbuatan). Penciptaan Laukika (keduniawian), dimaksudkan adalah penciptaan yang menggambarkan evolusi dari alam semesta yang terdiri dari 28 unsur, empat unsur materi/alam (bhuta) dan waktu (kala). Episode yang menguraikan ajaran Kapila (dan istrinya) dalam kitab Bhagavata Purāṇa menggambarkan jalan pengetahuan (Jnana Marga)(Tagare, Vol. Part 5, 1989: XXIV).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kitab Bhagavata Purāṇa (XII.7.11) diuraikan sepintas tentang penciptaan ini ke dalam beberapa topik antara lain evolusi Mahat (prinsip dasar dari kecerdasan kosmik), dari bergejolak dan terganggunya keseimbangan dari Triguna yang belum termanifes (Prakriti, unsur materi/bahan yang permulaan), memimpin evolusi Triguna selanjutnya (tipe-tipe Vaikarika atau Sattvika, Rajasa dan Tamasa, tergantung dari dominasi masing-masing guna), evolusi berlaut pada unsur-unsur alam (bhuta), alat indriya, dan obyeknya (seperti unsur yang kasar dan devata yang bersemayam pada masing-masing organ indriya (Loc.Cit).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Lebih jauh tentang penciptaan ini digambarkan dalam kitab Agni Purāṇa (17.1-16), sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agni bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku akan menjelaskan sekarang penciptaan alam semesta, yang merupakan dari krida (lila) Sang Hyang Visnu (dalam Samkhya disebut Brahma). Beliaulah yang menciptakan sorga dan lain-lain. Pada permulaan ciptaan dan dilengkapi dengan sifat-sifat dan tanpa sifat-sifat (1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1)    Brahma, yang tidak menampakan diri, sesungguhnya Yang Ada. Saat itu tidak ada langit, siang atau malam, dan lain-lain. Sang Hyang Visnu masuk ke-dalam  Prakriti (unsur materi) dan ke dalam Puruṣa (unsur kesadaran) dan menggerakkannya (2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2)    Pada saat penciptaan yang pertama kali terpencar adalah intelek (kecerdasan budi/mahat). Kemudian terwujudlah ego (ahamkara), selanjutnya disusul pertama dari keadaan natural (Vaikarika), kilauan cahaya (taijasa) unsur-unsur alam, dan sebagainya dan kegelapan (tamasa/yang menciptakan kebodohan (3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3)     Kemudian meluaplah ether (akasa) yang merupakan unsur dasar suara (sabda) dari ego (ahamkara). Kemudian angin (vayu) merupakan unsur dasar sentuhan (sparsa) dan api (teja) sebagai unsur dasar warna (rupa) menjadi ada dari padanya (4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4)     Air (apah) sebagai unsur dasar rasa (rāsa/menjadi ada) dari padanya. Tanah (prithivi) sebagai unsur bau (gandha). Dari kegelapan lahirlah ego, indriya (menjadi ada) yang nampak berkilauan (5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5)     Evolusi selanjutnya adalah terciptanya 10 kahyangan dan pikiran, sebelas indriya selanjutnya munculah Sang Hyang Svayambhu (yang ada dengan sendirinya), yakni Sang Hyang Brahma yang berkeinginan menciptakan berbagai tipe mahluk hidup (6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6)    Sang Hyang Brahma menciptakan air yang pertama. Air berhubungan dengan  (disebut)  sebagai narah, karena hal itu merupakan ciptaan spirit yang Tertinggi (7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7)    Dari pergerakkannya yang pertama dari semuanya itu, karenanya Ia disebut Narayana. Kemudian tergeletak (mengambang) telur di atas air yang warnanya keemasan (8).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8)    Dari pada itu, Sang Hyang Brahma lahir dengan keinginannya sendiri, oleh karenanya kita mengenal sebagai yang lahir dengan sendirinya (Svayambhu). Hidup (di dalamnya) sepanjang tahun, karenanya disebut Hiranyagarbha, kemudian menjadikan telur itu dua bagian, yaitu menjadi sorga dan bumi. Di antara kedua bagian itu, Tuhan Yang Maha Esa menciptakan langit (9-10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9)    Sepuluh penjuru menyangga bumi yang mengambang di atas air. Kemudian Sang Hyang Prajapati (Brahma yang merupakan pencipta mahluk hidup dan alam semesta) berkeinginan mencipta, menciptakan waktu, pikiran, perkataan, keinginan, kemarahan, keterikatan dan yang lain-lain. Dari cahaya Ia menciptakan petir dan mendung, bianglala, dan burung-burung. Ia pertama menciptakan Parjanya (Indra, dewa hujan). Kemudian menciptakan Ṛgveda (Rcah), Yajurveda (Yajumsi), dan Samaveda (Samani) untuk menyelesaikan Yajña-Nya (11-13).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10) Mereka yang ingin menyelesaikan (Yajña), memuja para devata dengan (merapalkan) mantra-mantra tersebut. Mahluk hidup yang tinggi dan rendah diciptakan-Nya. Ia menciptakan Sanatkumara dan Rudra, yang lahir dari kemarahan-Nya (14).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11) Kemudian Ia menciptakan para Ṛṣi Marici, Atri, Angirasa, Pulastya, Pulaha, Kratu, Vasistha, yang diyakini sebagai putra-putra yang lahir dari pikiran Sang Hyang Brahma (15).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12) Oh, Yang Mulia! Para Ṛṣi tersebut melahirkan (banyak) mahluk hidup, membagi diri-Nya atas dua bagian, separo menjadi laki-laki dan saparoh lagi menjadi perempuan. Selanjutnya Brahma melahirkan anak-anak-Nya melalui separoh bagiannya yakni bagian yang perempuan (16/Gangadharan, Vol.27, Part I, 1984: 39-41).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian lain, kitab Agni Purāṇa (20.9.1-8) menjelaskan lebih terperinci   proses penciptaan alam semesta yang digambarkan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1)    Ciptaan pertama adalah intelek atau kecerdasan budi (mahat) dari Brahma. Ciptaan yang kedua adalah unsur materi yang sangat halus (tanMatra) yang dikenal dengan nama Bhutasarga (penciptaan elemen alam semesta/pañca mahabhuta (1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2)    Ciptaan yang ketiga adalah evolusi (vaikarikasarga) yakni penciptaan organ indriya (aindriyasarga). Ciptaan tersebut adalah ciptaan pertama (prakritasarga) yang ke luar dari intelek (kecerdasan budi) (2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3)    Ciptaan yang keempat adalah ciptaan dasar/utama (mukhyasarga). Sesuatu yang tidak bergerak dikenal sebagai dasar (penciptaan). Penciptaan kelima disebut penciptaan kualitas yang lebih rendah (tiryaksrota) yang dinamakan  sebagai ciptaan mahluk di bawah manusia (seperti binatang, burung-burung, dan lain-lain (3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4)    Ciptaan yang keenam adalah mahluk-mahluk yang lebih tinggi (urdhvasrota) dikenal sebagai ciptaan kahyangan. Penciptaan yang ketujuh disebut ciptaan menengah (arvaksrota), yakni terciptanya umat manusia (4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5)    Ciptaan yang kedelapan adalah Anugrahasarga (kasih sayang devata), disusun dari karakter (Sattvika dan Tamasika). Kelima ciptaan  yang terakhir dikenal dengan Vaikritasarga (ciptaan subyek yang akan berubah). Ciptaan yang kesembilan disebut Kaumarsarga (penciptaan Sanatkumara, dan lain-lain). demikianlah sembilan ciptaan sang Hyang Brahma yang merupakan dasar terciptanya alam semesta (5-6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6)    Bhrigu dan lain-lain mengawini Khyāti dan putri-putri yang dari Daksa. Ciptaan terdiri dari tiga jenis disebut orang, yaitu yang selalu (biasa) berlangsung (nitya), penciptaan yang menimbulkan ciptaan yang lain (naimittika) dan yang berlangsung setiap hari (dainandinì). Ciptaan yang sedang berlangsung ketika masa peleburan disebut Dainandinì. Penciptaan yang selalu berlangsung (tiada hentinya) disebut nitya (7-8).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Teori penciptaan alam semesta (sarga) yang dikenal dengan sembilan ciptaan Sang Hyang Brahma diuraikan pula secara sistematis dan terinci dalam kitab Brahmanda Purāṇa, yang dapat diringkas (direkapitulasi), sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Ciptaan pertama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1). Mahat (ciptaan kesadaran yang tinggi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           (2). Tanmatra (ciptaan disini disebut  juga Bhutasarga)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           (3). Vaikarika (ciptaan Aindriyasarga)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           Seluruh ciptaan di atas adalah ciptaan Prakrita (dari kata Prakriti), sebagai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           awal ciptaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1)    Penciptaan yang kedua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4). Mukhyasarga (ciptaan yang tidak bergerak)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           (5). Tiryaksrota (ciptaan mahluk rendahan dan binatang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           (6). Urdhvasrota (ciptaan berupa dewa-dewa dan mahluk-mahluk sorga).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           (7). Arvaksrota (ciptaan umat manusia)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           (8). Anugrahasarga (baik Sattvika maupun Tamasika)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelimanya (4-8) tersebut di atas disebut Vaikrita (ciptaan kedua) dan fungsi  mereka tanpa kesadaran atau bagian depan (sebelum) pengetahuan (a-budhi-purvaka).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2)    Penciptaan (setelah) kedua (?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(9). Kaumarasarga (penciptaan putra-putra yang lahir dari pikiran). Ketika Sanatkumara  dan yang lain-lain menjadi seorang Yogi dan tidak melahirkan putra-putra, Sang Hyang Brahma (I.1.5.70-76) menciptakan putra-putra yang lahir dari pikiran-Nya kembali, maka lahirlah: Bhrigu, Angirasa, Marìci, Pulastya, Pulaha, Kratu, Daksa, Atri dan Vasistha dari berbagai bagian badan-Nya (Tagare, Vol.22, Part I, 1993: XXXIV).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. V. Tagare dalam terjemahan kitab Vayu Purāṇa, pada bagian kata pengantarnya (XXIII) menyatakan bahwa tentang penciptaan alam semesta (Sarga) bahwa di dalam kitab-kitab Purāṇa  ditemukan tiga teori tentang penciptaan alam semesta, yakni (1). Teori Samkhya-Vedānta, (2). Teori Purāṇa dan (3). Teori Samkhya. Berikut dijelaskan ketiga teori tersebut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1)    Teori Samkhya-Vedānta. Penciptaan mulai dengan prinsip dasar yang disebut Mahat dan berakhir dengan Visesa, yakni perbedaan antara lima unsur  yang sangat halus dan yang kasar (kasat mata) yang disebut Pañca Mahabhuta dan Pañca Tanmatra. Sumber alam semesta adalah Brahman yang abadi, tanpa awal dan tanpa akhir, tidak dilahirkan, dan tidak dapat dibandingkan dengan apapun. Pada awalnya adalah kegelapan dan Ia yang meresapi seluruh alam semesta yang diselubungi dalam kegelapan (Ia yang tidak termanifest), saat itu Guna dalam keadaan seimbang. Brahman juga disebut Atman. Pada awal penciptaan Ksetrajña (Devata Tertinggi) memimpin Pradhana, menggerakkan Guna dan prinsip dasar Mahat berkembang. Ketika Guna Sattva menjadi sangat dominan di dalam Mahat, unsur spirit yang sangat halus pada jasmani berkembang dan dipimpin oleh Ksetrajña. Kitab-kitab Purāṇa memberikan etimologi yang populer dari sinonim Brahman, Ksetrajña, dan lain-lain, semacam Samanvaya dan perbedaan istilah dan teori. Ketika Mahat didorong (oleh keinginan Tuhan Yang Maha Esa), terciptalah alam semesta yang besar, Samkalpa (kekuatan pikiran) dan Adhyavasaya (kebulatan/tekad) dalam 2 tendensi (Vritti-dvayam/ I.1.4,16).  Teori sintese Samkhya-Vedānta tentang penciptaan ini dapat dijumpai dalam beberapa Purāṇa, antara lain: Agni Purāṇa XVII.2-26, Brahmanda Purāṇa I.1.3.6, dan Kurma Purāṇa I.2.3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2)    Teori Purāṇa. Ksetrajña disebut Brahma yang  bangkit dari telur kosmos. Ia adalah mahluk yang pertama mengambil wujud (yang berwujud pertama kali). Ia pencipta dari seluruh Pañca Mahabhuta (baik unsur material maupun mahluk hidup). Hiranyagarbha (Brahman) dalam empat wajah adalah Ksetrajña, baik pada saat penciptaan maupun pada saat Pralaya (penghancuran) alam semesta. Telur kosmos terdiri dari tujuh dunia, bumi dengan tujuh benua, samudra-samudra dan segala sesuatunya termasuk  matahari, bulan, bintang-bintang, Loka (Saptaloka) dan Aloka (Saptapatala). dari luar telur kosmos ini dilapisi oleh tujuh lapisan (I.1.1.44-45). Empat yang pertama terdiri dari 4 elemen, yaitu: air, api, angin dan ether (akasa), masing-masing selubung 10 kali lebih besar dibandingkan selubung yang pertama (sebelumnya/yang ditengahnya) dan tiga selubung lainnya terdiri dari Bhutadi, Mahat dan Pradhana yang tidak termanifest. Avyakta (yang tidak termanifest) disebut Ksetra dan Brahma disebut Ksetrajña. Prakrita-sarga dipimpin oleh Brahma. Penciptaan berlangsung tanpa pra-rencana (abuddhipurvaka) seperti halnya kerdipan cahaya (I.1.4.68.-78).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3)    Teori Samkhya. Teori Vedānta, Samkhya  dan Purāṇa dipadukan dalam teori ini. Analisis yang terang ditunjukkan bahwa Prakrita Sarga adalah penciptaan dari Prakriti. Teori Samkhya yang teistik dapat lebih dijelaskan secara lebih ekplisit dinyatakan dalam uraian (II.5.104) sebagai berikut: “Sebelum penciptaan alam semesta adalah kondisi laya (keseimbangan) dari semua Guna. dalam wujudnya yang Avyakta (tidak termanifestasi), secara potensial terbentang seperti minyak susu (ghee) di dalam susu. Tuhan Yang Maha Agung, dengan kekuatan Yoga-Nya, menciptakan ketidak-seimbangan dari Tri Guna dan terciptalah Tiga Devata Utama (Tri Murti), Brahma (dari Rajas), Api atau Rudra (dari Tamas) dan Visnu (dari Sattva). Sesungguhnya Tuhan Yang Maha Esa yang membagi diri-Nya ke dalam 3 fungsi utama itu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kutipan di atas, maka jelaslah bagi kita teori evolusi yang tercantum dalam kitab-kitab Purāṇa rupanya merupakan perpaduan antara teori penciptaan alam semesta menurut kitab suci Veda (Brahmana dan Upaniṣad/Vedānta) dan sistem filsafat Hindu Samkhya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Pratisarga (penghancuran dan penciptaan kembali alam semesta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penciptaan alam semesta tidaklah sebuah kenyataan yang permanen (kekal), semua ciptaan akan berakkhir pada masa penghancuran yang selanjutnya berulang pada masa penciptaan kembali. Demikianlah, dalam kitab-kitab Purāṇa diuraikan beberapa macam penghancuran besar dan kecil (Shastri, Vol.3, Part I, 1990:XXI).Di dalam kitab-kitab Purāṇa dinyatakan sebuah penghancuran total terjadi pada setiap hari Brahma yang lamanya sama dengan satu Kalpa, satu periode yang lamanya 432 juta tahun manusia. Satu Kalpa terdiri dari 14 Manvantara. Jadi satu hari Brahma sama dengan satu Kalpa terdiri dari 14 kali penghancuran. Tetapi penghancuran tersebut tidak merupakan penghancuran total, melainkan parsial. Pada akhir Manvantara (akhir Manvantara yang ke-14), sama dengan sehari Brahma dan hal itu merupakan satu Kalpa, yang sama dengan sebuah penghancuran yang besar. Hal itu juga merupakan sebuah penghancuran yang lengkap ketika Brahma mengakhiri kehidupan-Nya. Sebelum penghancuran ini (Prakritaprakaya), mahluk hidup dan benda-benda yang bergerak dan yang tidak bergerak, para devata, Asura, ular-ular, raksasa, dan lain-lain semuanya hancur lebur. Segala sesuatunya itu lenyap danm kembali kepada Prakriti yang masuk dan tersembunyi ke dalam devata tertinggi Sang Hyang Siva. Sang Hyang Siva sendiri yang bertahan, tidak ada mahluk apapun di mana-mana (Linga Purāṇa I.85.7-8).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika awal penciptaan kembali setelah masa penghancuran, Sang Hyang Siva tampil dalam 2 wujud, yaitu berupa Prakriti dan Atman. Sang Hyang Visnu mengambil wujud sebagai Prakriti dan terletang dalam sikap seorang yogi  (yoganidra) di tengah-tengah air. Selanjutnya Brahma lahir dari sebuah bunga padma yang muncul dari pusar Sang Hyang Visnu. Brahma meminta Sang Hyang Siva untuk memberikan kekuatan untuk menciptakan kembali alam  semesta bersama seluruh isinya (Ibid., I.85. 10-11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitab Kurma Purāṇa menyebut Pratisarga dengan Pratisañcara dan menguraikan dua versi yang berbeda, satu menunjukkan pengaruh Vaiṣṇava dan yang lain menunjukkan pengaruh Saiva. Terdapat 4 macam penghancuran (laya), yakni: Nitya, Naimittika, Prakrita dan Atyanta. Nitya adalah ketidak munculannya sehari-hari dari bumi ini dalam kegelapan dan Atyantika adalah persatuan tertinggi dan terakhir dari setiap roh individu ke-dalam alam Visnu melalui pengetahuan spiritual. Dalam tiap Pralaya ini, roh individu tidak kembali lagi menjelma dari alam baka. Naimittika Pralaya mengambil tempat pada akhir setiap Kalpa. Pada saat itu, terjadi kekeringan yang mengerikan selama ratusan tahun dan semua samudra menguap yang menjadikan panas matahari sangat kejam. Api kehancuran meledak dan membakar habis segalanya dan Sang Hyang Visnu (Prajapati) dalam wujud sebagai seorang Yogi dalam posisi tidur (Yoganidra) untuk satu Kalpa lamanya. Terdapat beberapa jenis Kalpa (Kurma II.45). Prakrita Pralaya datang setelah dua tahun parardha. Sang Hyang Mahadeva berwujud api yang memusnahkan dan membakar seluruh jagat raya termasuk para devata Brahma, Visnu dan Siva (tiga devata ini lebih rendah tingkatannya dibanding dengan Tuhan Yang Maha Agung). Menggunakan hiasan karangan bunga dari tengkorak manusia, Mahadeva menunjukkan tarian Tandava. Devi (pasangannya) masuk ke dalam tubuh Sang Hyang Mahadeva dan proses penarikan kembali semua unsur  Pañca Mahabhuta berlangsung, unsur Prithivi (tanah) bersama dengan Guna (seperti bau) menyatu ke dalam unsur air dan seterusnya, sampai segala sesuatunya lebur dan bersatu ke dalam Mahat, yang akhirnya kembali ke dalam diri Sang Hyang Mahadeva. Pradhana dan Puruṣa kembali terpisah, saat itu terjadi keseimbangan unsur Tri Guna dari Prakriti (Kurma I.5.19, II.45. dan 46, 1-25).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses peleburan dan penciptaan kembali dapat pula kita jumpai dalam Visnu (I.7.41-43; VI.3.2) dan Brahmanda Purāṇa (II.4.132-190, II.4.3.1-24; II.4.1.1311). Berikut kami kutipkan penjelasan tentang proses peleburan dan penciptaan kembali  menurut kitab Brahmanda Purāṇa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1)  Nitya Pralaya (yang biasa) yakni segala sesuatu yang terjadi setiap hari seperti hidup dan matinya semua mahluk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2)  Naimitika Pralaya (secara periodik), mengambil bagian pada akhir sebuah Kalpa, yakni pada akhir satu set ribuan (Catur) Yuga. Sang Hyang Brahma memulai menarik semua unsur alam semesta ke dalam diri-Nya. Terjadi kekeringan yang berkelanjutan ratusan tahun lamanya, matahari dengan 7 pancaran sinarnya membakar segala sesuatu dan semua samudra menguap. Api Samvartaka membakar Catur Loka (Bhur, Bhuvah, Svah dan Mahat). Selanjutnya mendung Samvartaka menebarkan hujan yang sangat deras dan s egala sesuatu yang bergerak dan tidak bergerak hancur lebur menjadi satu dalam bentuk samudra luas membentang dan Sang Hyang Brahma berwujud ribuan mata, ribuan kepala menyatu padu dan tertidur nyanyak untuk  seribu set Catur Yuga (siang dan malamnya Brahma) (II.4.132-190). Pada akhir malamnya Brahma, Ia bangkit kembali dan kembali mencipta. Siang dan malam Brahma, yang merupakan satu hari Brahma disebut Visesakalpa (Ibid. 190-210).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3)  Prakritika Pralaya terjadi pada saat berakhirnya periode Brahma. Ketika itu berlangsung Pratyahara (tertariknya seluruh alam semesta) dalam waktu yang singkat, Bhuta (unsur materi yang kasar dan halus) langsung lenyap, evolusi Prakriti mulai dengan Mahat dan berakhir dengan Visesa hancur lebur. Air menelan  sifat tertentu seperti bau di bumi, api di dalam air meluap sampai ke Akasa, yang kemudian bersatu ke dalam Bhutadi. Dalam hal ini, evolusi Prakriti menelan semua yang lebih rendah, sampai Mahat menyatu ke dalam Gunasamya (keseimbangan Guna). Hanya Atman yang tersisa. Proses leburnya kembali prinsip dasar (Tattvasamya) berulang-ulang kembali (Bhagavata II.4.3.1-24).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4)  Atyantika Pralaya bila seseorang mampu membebaskan dirinya melalui pengetahuan spiritual. Ia tidak mengambil wujud apapun, seperti halnya kecambah (tidak pernah muncul ke luar) ketika benih terbakar (Ibid.80-84). Hal  ini disebut penghancuran jalan spiritual (II.4.1.131)(Tagare, Vol. 22. Part I, XXXV).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian tersebut, proses Pralaya dalam kitab-kitab Purāṇa pada prinsipnya sama, dalam beberapa hal terjadi perbedaan namun hal tersebut tidaklah demikian penting dan teori tersebut sangat dekat dengan ajaran filsafat Samkhya dan Vedānta. Lebih jauh tentang penciptaan alam semesta, Sri Sathya Sai Avatar (2001:30) menyatakan: “There was no one to know who I am...... Till I created this world at my pleasure.....  With one word....”. Dari Omkara muncullah unsur-unsur alam yang disebut Panca Mahabhuta, yaitu yang pertama adalang ether. Dari ether muncul udara, dari udara muncul api, dari api muncul air, dari air  terciptalah bumi. Dari pusat Omkara munculah Kebenaran dan seluruh jagat raya ada dalam Keagungan dan Kemuliann-Nya. Dari samudra universal mucul Waktu (Kala) yang menguasai setiap saat. Yang mengatur siang dan malam. Selanjutnya, seperti sebelumnya. Tuhan Maha Pencipta menciptakan  matahari, bulan dan sorga, dan bumi. Di bumi segera saju muncul gunung-gunung, segera juga muncul sungai-sungai yang mengalirklan airnya. Bumi posisinya di bawah dan angkasa di atas. Terciptalah samudra-samudra dan lautan-lautan, tanah dan batas air, matahari, bulan dan pasir di gurun. Dia menciptakan angkasa, bumi dan sorga di luar itu dan air di bawah. “To prove my existence...... came all forms.......beasts.....and birds flying.....human beings......mankind......speaking ......hearing......And all powers.......were bestowed upon them under my orders”. “The fist place was granted to mankind and My knowledge was placed in his mind”. Yang terakhir ini kiranya berkaitan dengan God Spot yang terdapat pada bagian otak manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Respon Hindu Tentang Penciptaan Terhadap Teori-Teori Ilmiah Baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Kebanyakan teori sains modern mengenai asal mula alam semesta didasarkan pada konsep Big Bang (ledakan besar) dan variasinya. Teori ini pertama-tama disusun pada tahun 1927 oleh seorang pendeta Belgia yang bernama Georges Lamaitre. Gagasan utama dari Big Bang adalah bahwa seluruh jagat raya diledakkan dari suatu keadaan padatan yang tak terbatas, pada tingkatan suhu dan tekanan yang sangat tinggi. Akibatnya, alam semesta terpecah-pecah dan mengalami pendinginan. Para pendukung teori Big Bang menjelaskan bahwa pada suatu tingkat ekspansi tersebut terwujudlah berbagai partikel sub-atom. Setelah itu elemen-elemen cahaya seperti hidrogen dan helium terbentuk diikutim oleh elemen-elemen berat. Dengan terbentuknya elemen-elemen, tidak ada elektron bebeas yang tersisa yang memancarkan foton cahaya dan jagat raya ini menjadi transparan untuk radiasi, yang diamati sekarang sebagai latar belakang kosmik (Bhaktisvarupa, 2003:39).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Teori penciptaan alam semesta  Big Bang ini adalah teori yang sangat terkenal. Teori ini semakin mendapat dukungan dari berbagai kalangan ilmuwan karena menunjukkann bukti-bukti yang sangat kuat  dan dapat diterima secara meluas. Bahkan banyak kalangan agamawan akhirnya mendukung teori ini. Pengajuan teori ini didasarkan pada kenyataan bahwa alam semesta  ini sekarang sedang mengembang. Pengamatan telah dilakukan dengan teleskop Hubble milik Amerika Serikat. Sebagai catatan teleskop Hubble diluncurkan oleh NASA pada 1990. Setahun kemudian, 1991 menyusul telekop Compton yang lebih canggih, bisa mendeteksi pancaran sinar Gama. Dan tahun 2003 NASA meluncurkan teleskop Spitzer yang bisa mendeteksi sinar infra merah. Data dari teleskop yang sangat canggih itu mencatat bahwa ternyata semua benda langit sedang bergerak saling menjauhi. Dan itu terjadi secara merata di berbagai penjuru langit. Jadi kalau kita melihat ke ‘atas’, maka diperoleh dasta bahwa benda-benda langit itu saling menjauhi. Demikian puka kalau kita melihat ke arah ‘bawah’ benda-benda langit pun bergerak saling menjauhi. Begitu pula bila kita melihat langit sebelah kiri dan kanan, semuanya sama, benda-benda langit bergerak saling menjauhi. Maka hanya ada satu kesimpulan, yaitu: alam semesta ternyata sedang mengembang. Bila demikian adanya, maka berarti, dulu alam semesta ini berukuran lebih kecil dibandingkan dengan sekarang. Atau dengan kata lain benda-benda langit berada pada posisi lebih dekat. Dan jika kita runut lebih ke belakang lagi, benda-benda langit itu dalam posisi sangat dekat. Dan akhirnya, sekian miliar tahun yang lalu,  semua benda langit berada dalam satu tempat. Di pusat alam semesta. Seluruhnya dimampatkan ke dalam satu titik. Betapa dahsyatnya pemampatan itu, karena material yang tak berhingga besarnya ditambah dengan energi yang sangat besar tak terkira ‘dipakska” berada dalam titik yang sama. Seperti sebuah pegas yang ditekan, maka dia cenderung akan melawan untuk melenting menuju posisi seimbangnya (Mustofa, 2005:54).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Teori Big Bang mengatakan bahwa alam semesta yang dikompres ke dalam satu titik itu lantas menjadi tidak stabil, dan meledak dengan kekuatan yang luar biasa dahsyatnya. Sehingga seluruh material cikal bakal alam semesta itu terhambur ke segala penjuru langit, itulah saat penciptaan alam semesta dimulai. Kejadian itu, diperkirakan oleh para pakar astronomi terjadi sekitar 12 miliar tahun yang lalu. Dalam kurun waktu 12 miliar tahun itulah alam semesta mengalami pendinginan secara berangsur-angsur. Dalam masa itu juga tercipta berbagai benda langit secara bertahap, seperti nebula, galaksi, matahari, planet dan satelit. Akibat ledakkan itu seluruh alam semesta mengembang. Bagaikan balon udara yang sedang ditiup (Mustofa, 2005:55).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Ada beberapa tahapan proses penciptaan alam semesta ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1)  Tahap pertama adalah ketika alam semesta berupa cikal bakalnya yang disebut sebagai Sop Kosmos. Pada tahapan tersebut cikal bakal alam semesta itu berada dalam kondisi yang sangat labil disebabkan tempratur dan tekanan yang sangat tinggi. Zat yang ada di dalam Sop Kosmos itu tidak bisa didefinisikan sesuai dengan ragam zat yang ada sekarang. Dia bukan zat padat, bukan zat cair, juga bukan gas. Semacam kumpulan energi yang sangat ekstrim. Sebab semua material dan energi di alam ini dikompres ke dalam sebuah titik yang berukuran hampir nol, di mana ruang dan waktu juga berada di dalamnya. Semuanya terdapat dalam cikal bakal alam semesta dalam ukuran ‘Hampir Tiada’. Bahkan ada yang berpendapat bahwa cikal bakal itu sebenarnya adalah sebuah ‘Ketiadaan Mutlak. Alam semesta ini muncul dari ‘Tidak Ada’ menjadi ‘Ada’ lewat sebuah ledakan mahadahsyat. Sebelum itu, ruang tidak ada. Waktu pun tidak ada. Demikian pula materi dan energi. Yang ada hanya Ketiadaan Mutlak (Mustofa, 2005:56).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Tahap pertama teori Big Bang di atas bahwa  alam semesta ini muncul dari ‘Tidak Ada’ menjadi ‘Ada’ lewat sebuah ledakan mahadahsyat. Sebelum itu, ruang tidak ada. Demikian pula materi dan energi. Yang ada hanya ‘Ketiadaan Mutlak’ sejalan dengan teori penciptaan menurut NasadiyaSūkta, kitab suci Ṛgveda (X.129.1-7) di atas. Teori Big Bang hampir sama dengan proses Pralaya (peleburan kembali) menuju Sristi atau Utpati (proses penciptaan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2)  Tahap kedua adalah sesaat setelah ledakan terjadi. Pada detik pertama, suhu alam semesta turun menjadi 10 pangkat 10 derajat Kelvin. Ini sama dengan suhu di pusat matahari. Atau sama dengan suhu di bintang yang paling panas. Dan beberapa jam kemudian, mulailah terbentuk partikel-partikel elementer pembentuk alam semesta. Dan kemudian tercipta atom-atom bermassa rendah seperti Hidrogen dan Helium (Mustofa, 2005:56). Tahap kedua ini tampak seperti proses terciptanya Panca Tanmatra (lima unsur halus yang tidak dapat diukur) yakni: Gandha (unsur bau), Rasa (unsur rasa), Rupa (unsur panas), Sparsa (unsur air) dan Sabda (unsur suara) yang nantinya memadat menjadi Panca Mahabhuta (lima unsur) yang lebih padat, yakni: Prathivi (tanah), Teja (api) Vayu (udara), Apah (air), dan Akasa (ether).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Tahap ketiga, selama jutaan tahun kemudian, alam semesta tidak mengalami perubahan yang berarti. Akan tetapi terus menerus mengembang ke segala penjuru. Puluhan jenis unsur alam semesta terbentuk. Ruang alam semesta semakin membesar. Waktu pun ikut bergerak maju (Mustofa, 2005:56). Proses tersebut sangat dekat maknanya dengan proses sthiti, yakni stabilnya alam semesta namun bergerak terus pada porosnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4)  Tahap keempat, selama kurun waktu miliaran tahun kemudian, terbentuklah benda-benda langit akibat pengelompokkan atom-atom dan molekul-molekul yang bersenyawa. Pada pembentukan generasi pertama, terciptalah bintang-bintang atau gugusan bintang dari material yang memang hanya ada di waktu itu, yaitu Hidrogen dan Helium. Hidrogen dan Helium ini masih tersisa di dalam matahari maupun bintang-bintang di jagad semesta. Dan setiap saat terjadi perubahan empat atom Hidrogen menjadi satu Helium sehingga menghasilkan panas jutaan derajat. Dan kemudian, panas itulah yang menghidupi ‘planet-planet’ yang mengorbit di sekitar matahari. Termasuk di dalamnya adalah bumi. Tanpa matahari, planet bumi tidak bisa memunculkan kehidupan. Allah menciptakan matahari agar di bumi terjadi kehidupan. Jika, suatu ketika, matahari padam, maka bumi pun ikut ‘mati’. Dan matahari memang akan mati di suatu saat nanti, sekian ratus juta tahun ke depan. Kenapa begitu? Ya, karena matahari itu sebuah tabung ‘gas’ yang sangat besar, namun terus-menerus mengalami penurunan jumlahnya akibat terbakar terus menerus. Reaksi yang terjadi di dalam matahari itu disebut sebagai reaksi termonuklir alias reaksi fusi. Lama kelamaan atom Hidrogennya habis, yang ada hanya atom Helium. Maka berhentilah proses pembakaran di sana. Dan matahari itu pun padam. Matahari kita tersebtuk sekitar 5 miliar tahun yang lalu. Dia termasuk kelompok matahari generasi kedua, karena di dalamnya ditemukan gas-gas yang memiliki massa lebih besar dari Hidrogen dan helium. Sekitar 2 persen massa matahari ternyata mengandung Oksigen dan Carbon (Mustofa, 2005:56-57). Tahap keempat ini tampak seperti terciptanya Brahmanda-Brahmanda (telur Brahman, yakni planet-planet di jagat raya) dan matahari disebut sebagai yang terbesar dan yang memancarkan cahaya yang sangat besar di antara Brahmanda-Brahmanda tersebut. Di dalam Veda matahari (surya) disebut jyotir uttamamam, devam adidevam (cahaya yang gemerlapan dan utama, terbesar di antara planet-planet di alam raya) dan dsebut juga sebagai surya atma jagatas tasthusas ca (sumber hidup di jagat raya baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5)  Tahap kelima. Matahari, dulunya berasal dari gas panas (nebula) yang berpusar. Di tengah-tengah pusaran itu terbentuk matahari. Sedangkan di pinggirannya terjadi pendirnginan lokal yang lebih cepat dari pada pusatnya. Akibat pendinginan itu, maka terjadilah padatan-padatan, yang kemudian terpental akibat gaya putra (sentrifugal). Bagian yang terpental itu adalah cikal bakal planet-planet. Termasuk di dalamnya adalah planet bumi. Ini terjadi sekitar 5 miliar tahun yang lalu. Jadi bumi kita sebenarnya sudah berusia sangat tua. Alam semesta sendiri berumur lebih tua, diperkirakan 12 miliar tahun. Dan sampai sekarang, proses penciptaan alam tersebut belum berhenti. Setiap saat selalu ada bintang atau matahari yang tercipta. Sebagaimana juga selalu ada matahari dan bintang yang padam. Demikian pula selalu ada planet-planet yang tercipta dan yang mengalami kehancuran. Benda-benda langit jumlahnya hampir tak berhingga. Di alam semesta ini diperkirakan ada sekitar 10 pangkat 80 partikel yang bisa teramati oleh para peneliti. Dalam waktu yang bersamaan, alam semesta juga terus berkembang. Hal ini teramati melalui teleskop Hubble. Sampai kapankah alam semesta terus berkembang? Diperkirakan sampai 3 miliar tahun lagi. Setelah waktu itulah, diperkirakan alam akhirat akan dimulai oleh Allah (Mustofa, 2005:57-58). Uraian tahap kelima ini masih sama seperti terciptanya Brahmanda-Brahmanda di jagat raya ini dan total umur alam semesta dinyatakan dalam kosmologi Vedānta adalah: 100 tahun Brahma = 100 x 360 x 2 x 1 Brahma = 311 triliun dan 40 milir tahun dan pada setiap 311.040 miliar tahun terjadilah peleburan total atau keseluruhan. Setelah itu penciptaan dimulai lagi (Bhaktisvarupa, 2003:76).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6)  Tahap keenam adalah tahap diciptakan oleh-Nya makhluk hidup di permukaan planet bumi hingga drama kehidupan yang digelar sampai kiamat nanti (Mustofa, 2005:58). Tentang bentuk kehidupan di bumi, kitab Padma Purāṇa menyatakan sebagai berikut. “Secara keseluruhan terdapat 8.400.000 bentuk kehidupan. 900.000 bentuk kehidupan di dalam air, dan 2000.000 bentuk pohon dan tumbuh-tumbuhan. Selanjutnya,  terdapat  1.100.000 species binatang, serangga, dan reptil, dan 1.000.000 species burung. Akhirnya, terdapat 3.000.000 jenis hewan dan 400.000 species manusia” (Bhaktisvarupa, 2003:24).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori Big Vision&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Teori Big Vision dikemukakan oleh Bhaktisvarupa Damodara Svami, yang ketika belum diinisiasi menjadi seorang rohaniwan bernama T. D. Singh, Ph.D. Menurutnya teori Big Vision adalah teori asal mula kehidupan dan penciptaan jagat raya yang terwujud berdasarkan Vedānta. Konsep sentral dari Big Vision ini adalah bahwa jagat raya mempunyai tujuan untuk membimbing para makhluk hidup pada jalan kebahagiaan yang sempurna. Karena merasa kagum  terhadap  benda-benda  unik dan tidak dapat dipahami di dunia ini seperti hukum-hukum alam yang teratur (susunan kecerdasan, dan nilai unik dari konstanta fisika dari jagat raya. Banyak ilmuwan dan sarjana terkemuka merasa bahwa barangkali ada tujuan tertentu dari penciptaan jagat raya ini. Banyak orang berpikir bahwa jagat raya kita ini adalah sangat spesial dan memiliki suatu tujuan.  Semua pernyataan ini secara tidak langsung mendukung model Big Vision Vedānta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Menurut Vedānta, tujuan di balik  manifestasi dunia material ini adalah untuk membawa para makhluk hidup  yang sedang mengkhayal menuju kepada tingkat  kebahagiaan yang sejati dengan membangkitkan bhakti, yoga, dan pengabdian di dalam diri setiap orang. Bhakti merupakan sifat pengabdian yang paling luhur yang menghubungkan individu dengan Jiwa Yang Tertinggi – Tuhan Yang Maha Esa dengan kerendahan hati yang paling dalam serta pelayanan yang murni. Dengan salah menggunakan kebebasan bertindak (memilih/kehendak bebas), makhluk hidup di jagat raya ini ingin mengambil peran sebagai Majikan Yang Tertinggi dan menikmati secara tidak terbatas dengan berusaha untuk memuaskan permintaan pikiran dan indera-indera yang tiada habis-habisnya. Ketika seseorang serius telah memahami kedudukannya yang salah dan telah mengalami bahwa ia tidak akan bisa mendapatkan kebahagiaan sejati secara material maka ia akan mulai bertanya, “Apakah kesalahan saya? Bagaimana caranya  saya mendapatkan kebahagiaan sejati?” Maka ia akan berpaling kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk memohon pertolongan. Pencarian untuk memahami makna kehidupan yang lebih dalam ini merupakan saat penetuan  (titik balik) dari kehidupan suatu individu (Bhaktisvarupa, 2003:56).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Kosmologi Vedānta didasarkan pada Big Vision yang agung dari Tuhan Yang Maha Esa yang memberikan kebahagiaan tertinggi kepada seluruh makhluk hidup. Demikianlah ia memberikan jawaban terhadap pertanyaan, “Mengapa jagat raya ini diciptakan?” Oleh karena itu Vedānta menjelaskan kosmologi ketuhanan. Dalam kitab suci Bhagavadgìtā (IX.10) Tuhan Yang Maha Esa menyatakan bahwa Beliau adalah sumber dari segala sesuatu. Orang mendapatkan sekilas prinsip-prinsip dasar Big Vision dengan mengamati beberapa gejala di dalam laboratorium kosmik, antara lain: (1) Hekakat kehidupan material yang bersifat sementara, (2) Evolusi kesadaran dan keunikan dari kehidupan manusia, (3) Tuntunan dari Paramatma, Tuhan Yang Maha Esa, dan (4) Elemen-elemen kosmik (Bhaktisvarupa, 2003:56-59).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Berdasarkan uraian tersebut di atas, teori Big Vision dimaksudkan untuk membangun teori atau kosmologi yang berbasis ajaran ketuhanan, karena eksperimen manusia yang menggunakan daya nalar dan daya pikir sangat terbatas, sedang kitab suci yang merupakan sabda Tuhan Yang Maha Esa tidak diragukan lagi kebenarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Demikianlah penciptaan jagat raya menurut Hindu dan respon terhadap teori-teori ilmiah baru tentang penciptaan alam semesta yang perlu lebih dikembangkan lagi dalam memahami proses penciptaan itu. Mengakhiri tulisan ini dikutipkan ulasan Deepak Chopra terhadap karya Rabindranath Tagore Pantai Keabadian, sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tagore mengenal dirinya sendiri dengan kejernihan dan keyakinan yang luar biasa. Dia tahu bahwa rumah sejatinya adalah keabadian. Dia tidak pergi ke mana-mana setelah mati, sebab keabadian tidak memiliki masa lalu, masa sekarang atau pun masa depan. Ilmu pengetahuan telah membuktikan pendapat ini. Benda-benda materi memang terasa padat ketika disentuh, tetapi pada level kuantum 99,999 persen dari sebuah atom sebenarnya adalah ruang kosong dan kepadatan itu akan lebur menjadi sekumpulan energi yang memancar. Energi ini tidak pernah diciptakan dan tidak pernah dihancurkan. Energi ini menyala ke luar masuk dalam wilayah prekuantum sebanyak jutaan kali setiap detiknya. Itulah satu-satunya kelahiran dan kematian dalam arti yang nyata yang bisa kita alami. Tubuh kita sama sekali bukanlah kejadian yang unik sebab tubuh kita mati ratusan kali sebelum mata anda selesai membaca satu kata dalam kalimat yang sedangkan anda baca ini. Apa yang kita sebut kematian adalah sebuah kesalahan istilah, kematian adalah sekadar terhentinya proses muncul dan hilang. Setelah menghembuskan nafas yang terakhir, kita kembali kepada situasi di mana waktu tidak ada lagi. Apa yang kita sebut maut sebenarnya adalah terhentinya kelahiran dan kematian” (Chopra, 2004:19-20).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Om Santih Santih Santih Om&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;by: I Wayan Sudarma @ 5 Nop 2009&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7221655881315686900-9055385582317187236?l=ceritahindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/hBU7jOakuTAKTseI1udmETpITko/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/hBU7jOakuTAKTseI1udmETpITko/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/hBU7jOakuTAKTseI1udmETpITko/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/hBU7jOakuTAKTseI1udmETpITko/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CeritaHindu/~4/7Jh-P-tlkfM" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://ceritahindu.blogspot.com/feeds/9055385582317187236/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7221655881315686900&amp;postID=9055385582317187236&amp;isPopup=true" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/9055385582317187236?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/9055385582317187236?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CeritaHindu/~3/7Jh-P-tlkfM/penciptaan-jagat-raya-menurut-hindu-dan.html" title="PENCIPTAAN JAGAT RAYA MENURUT HINDU  DAN RESPON TERHADAP TEORI-TEORI   ILMIAH BARU" /><author><name>denny0214</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877375447862611766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://1.bp.blogspot.com/_tHWVsZfq_Sw/SYAVlzkrU6I/AAAAAAAAABI/yVCMbboC02s/S220/100_3522.JPG" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://ceritahindu.blogspot.com/2009/11/penciptaan-jagat-raya-menurut-hindu-dan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEANSHs_cCp7ImA9WxNXGEQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-7221655881315686900.post-12046716103116903</id><published>2009-10-06T21:58:00.000-07:00</published><updated>2009-10-06T22:19:59.548-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-10-06T22:19:59.548-07:00</app:edited><title>MAKNA HARI RAYA GALUNGAN DAN KUNINGAN</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pendahuluan.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;Perayaan Galungan bagi umat Hindu di Bali sudah sangat memasyarakat dari abad keabad. Tetapi sangat kita sayangkan memasyarakatnya Galungan tersebut sangat tidak seimbang antara Tattwa atau kasuksman Galungan,Susila dengan Upakaranya. Artinya antara Tattwa yang tercantum dalam teks pustaka Sundarigama dengan wujud susila dan upakara Galungan dalam kehidupan empirisnya sampai saat ini masih tidak nyambung. Bahkan kadang-kadang bertentangan.antara Tattwa Galungan yang  demikian luhur dan idial dinyatakan dalam teks Pustakanya dengankenyataan perayaan  Galungan dalam kehidupan empiris setiap perayaan Galungan yang dirayakan setiap enam bulan wuku (210 hari).&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;Ada kalanya disuatu waktu dan tempat perayaan Galungan lebih menonjolkan perayaan Galungan dengan pesta-pesta pora yang  bersifat hedonis. Makan masakan khas daerah yang lebih nikmat dari sehari-harinya.Demikian pula Galungan diwujudkan dengan berpakaian serba baru,pergi ketempat-tempat hiburan dan melakukan hal-hal yang lebih menekankan keikmatan indria. Padahal Galungan adalah sebagai suatu peringatan untuk menajamkan daya spiritual untuk mensinergikan penerapan Jnyana atau ilmu pengetahuan suci untuk mencerahkan hati nurani umat sehingga dapat membangun kehidupan yang cerah dan bergaiarah untuk mengamalkan Dharma. Galungan bukan sebagai media untuk lebih mendinamisir dominasi indria dalam diri. Sesungguhnya untuk mengimplementasikan  Tattwa Galungan banyak hal yang dapat kita perbuat dengan mengembangkan Tattwa Galungan kedalam berbagai program nyata sehingga Tattwa Galungan menjadi nyata dalam wujud susila dan upakara nya Inilah tujuan utama penulisan tentang Galungan dan Kuningan dalam tulisan singkat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Pengartian Umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata “Galungan” berasal dari bahasa Jawa Kuna yang artinya menang atau bertarung. Galungan juga sama artinya dengan dungulan, yang juga berarti menang. Karena itu di Jawa, wuku yang kesebelas disebut Wuku Galungan, sedangkan di Bali wuku yang kesebelas itu disebut Wuku Dungulan. Namanya berbeda, tapi artinya sama saja. Seperti halnya di Jawa dalam rincian pancawara ada sebutan Legi sementara di Bali disebut Umanis, yang artinya sama : manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agak sulit untuk memastikan bagaimana asal-usul Hari Raya Galungan ini. Kapan sebenarnya Galungan  dirayakan pertama kali di Indonesia, terutama di Jawa dan di daerah lain khususnya di Bali. Drs. I Gusti Agung Gede Putra (mantan Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Departemen Agama RI) memperkirakan, Galungan telah lama dirayakan umat Hindu di Indonesia sebelum hari raya itu popular dirayakan di Pulau Bali. Dugaan ini didasarkan pada lontar berbahasa Jawa Kuna yang bernama Kidung Panji Amalat Rasmi. Tetapi, kapan tepatnya Galungan itu dirayakan di luar Bali dan apakah namanya juga sama Galungan, masih belum terjawab dengan pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di Bali, ada sumber yang memberikan titik terang. Menurut lontar Purana Bali Dwipa, Galungan pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat, Budha Kliwon Dungulan, tahun Saka 804 atau tahun 882 Masehi. Dalam lontar itu disebutkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Punang act Galungan ika ngawit, Bu, Ka, Dungulan sasih kacatur, tanggal  15,&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;isaka 804. Bangun indria Buwana ikang Bali rajya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;Perayaan (upacara) Hari Raya Galungan itu pertama-tama adalah pada hari Rabu Kliwon, (Wuku) Dungulan sasih kapat tanggal 15, tahun 804 Saka. Keadaan Pulau Bali bagaikan Indra Loka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu Galungan terus dirayakan oleh umat Hindu di Bali secara meriah. Setelah Galungan ini dirayakan kurang lebih selama tiga abad, tiba-tiba entah apa dasar pertimbangannya pada tahun 1103 Saka perayaan hari raya itu dihentikan. Itu terjadi ketika Raja Sri Ekajaya memegang tampuk pemerintahan. Galungan juga belum dirayakan ketika tampuk pemerintahan dipegang Raja Sri Dhanadi. Selama Galungan tidak dirayakan, konon musibah datang tak henti-henti. Umur para pejabat kerajaan konon  menjadi relatif pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Sri Dhanadi mangkat dan digantikan Raja Sri Jayakasunu pada tahun 1126 Saka, barulah Galungan dirayakan kembali, setelah sempat terlupakan kurang lebih selama 23 tahun. Keterangan ini bisa dilihat pada lontar Sri Jayakasunu. Dalam lontar tersebut diceritakan bahwa Raja Sri Jayakasunu merasa heran mengapa raja dan pejabat-pejabat raja sebelumnya selalu berumur pendek. Untuk mengetahui penyebabnya, Raja Sri Jayakasunu mengadakan tapa brata dan samadhi di Bali yang terkenal dengan istilah Dewa Sraya artinya mendekatkan diri pada Dewa. Dewa Sraya itu dilakukan di Pura Dalem Puri, tak jauh dari Pura Besakih. Karena kesungguhannya melakukan tapa brata. Raja Sri Jayakasunu mendapatkan pawisik atau“bisikan religius” dari Dewi Durgha, sakti dari Dewa Siwa. Dalam pawisik itu Dewi Durgha menjelaskan kepada raja bahwa leluhurnya selalu berumur pendek karena  tidak lagi merayakan Galungan. Karena itu Dewi Durgha meminta kepada Raja Sri Jayakasunu supaya kembali merayakan Galungan setiap Rabu Kliwon Dungulan sesuai dengan tradisi yang pernah berlaku. Di samping itu disarankan pula supaya seluruh umat Hindu memasang penjor pada hari Penampahan Galungan (sehari sebelum Galungan). Disebutkan pula, inti pokok perayaan hari Penampahan Galungan adalah melaksanakan byakala yaitu upacara yang bertujuan untuk melepaskan kekuatan negatif (Buta Kala) dari diri manusia dan lingkungannya. Semenjak Raja Sri Jayakasunu mendapatkan bisikan religius itu, Galungan dirayakan lagi dengan hikmat dan meriah oleh umat Hindu di Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Makna Filosofis Galungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Galungan adalah suatu upacara sakral yang memberikan kekuatan spiritual agar mampu membedakan mana dorongan hidup yang berasal dari adharma dan mana dari budhi atma yaitu berupa suara  kebenaran (dharma) dalam diri manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu juga memberi kemampuan untuk membeda-bedakan kecenderungan karaksasaan (asura sampad) dan kecendrungan kedewaan (dewa sampad). Harus disadari bahwa hidup yang berbahagia atau ananda adalah hidup yang memiliki kemampuan untuk menguasai kecenderungan keraksasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Galungan adalah juga salah satu upacara agama Hindu untuk mengingatkan manusia secara ritual dan spiritual agar selalu memenangkan Dewa Sampad untuk menegakkan dharma melawan adharma. Dalam lontar Sunarigama, Galungan dan rincian upacaranya dijelaskan dengan mendetail. Mengenai makna Galungan dalam lontar Sunarigama dijelaskan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Budha Kliwon Dungulan Ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi, galang apadang maryakena sarwa byapaning   idep&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan, arahkan bersatunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, inti Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani agar mendapat pikiran dan pendirian yang terang. Bersatunya rohani dan pikiran yang terang inilah wujud dharma dalam diri. Sedangkan segala kekacauan pikiran itu (byaparaning idep) adalah wujud adharma. Dari konsepsi lontar Sunarigama inilah didapatkan kesimpulan bahwa hakikat Galungan adalah merayakan menangnya dharma melawan adharma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memenangkan dharma itu ada serangkaian kegiatan yang dilakukan sebelum dan setelah Galungan. Sebelum Galungan ada disebut Sugihan Jawa dan Sugihan Bali. Kata Jawa di sini sama dengan Jaba, artinya luar. Sugihan Jawa bermakna menyucikan bhuana  agung (bumi ini) di luar dari manusia. Sugihan Jawa dirayakan pada hari Wrhaspati Wage Wuku Sungsang, enam hari sebelum Galungan. Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Sugihan Jawa itu merupakan Pasucian dewa kalinggania pamrastista batara kabeh (Penyucian Dewa, karena itu hari penyucian semua bhatara). Pelaksanaan upacara ini adalah dengan membersihkan segala tempat dan peralatan upacara di masing-masing tempat suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan pada hari Jumat Kliwon Wuku Sungsang disebutkan: Kalinggania amretista raga tawulan (Oleh karenanya menyucikan badan jasmani masing-masing). Karena itu Sugihan Bali disebutkan menyucikan diri sendiri. Kata Bali dalam bahasa Sansekerta berarti kekuatan yang ada di dalam diri. Dan itulah yang disucikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Redite Paing Wuku Dungulan diceritakan Sang Kala Tiga Wisesa turun mengganggu manusia.  Karena itulah pada hari tersebut dianjurkan anyekung Jñana, artinya: mendiamkan pikiran agar jangan dimasuki oleh Butha Galungan. Dalam lontar itu juga disebutkan nirmalakena (orang yang pikirannya selalu suci) tidak akan dimasuki oleh Butha Galungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari Senin Pon Dungulan disebut Penyajaan Galungan. Pada hari ini orang yang paham tentang yoga dan samadhi melakukan pemujaan. Dalam lontar disebutkan, “Pangastawaningsang ngamongyoga samadhi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari Anggara Wage wuku Dungulan disebutkan Penampahan Galungan. Pada hari inilah dianggap sebagai hari untuk mengalahkan Butha Galungan dengan upacara pokok yaitu membuat banten byakala yang disebut pamyakala lara melaradan. Umat kebanyakan pada hari ini menyembelih babi sebagai binatang korban. Namun makna sesungguhnya adalah pada hari ini hendaknya membunuh sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri.&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;Demikian urutan upacara yang mendahului Galungan. Setelah hari raya Galungan yaitu hari Kamis Umanis wuku Dungulan disebut Manis Galungan. Pada hari ini umat mengenang betapa indahnya kemenangan dharma. Umat pada umumnya melampiaskan kegembiraan dengan mengunjungi tempat-tempat hiburan terutama panorama yang indah. Juga mengunjungi sanak saudara sambil bergembira-ria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari berikutnya adalah hari Sabtu Pon Dungulan yang disebut hari Pemaridan Guru. Pada hari ini, dilambangkan dewata kembali ke sorga dan meninggalkan anugrah berupa kadirghayusaan yaituhidup sehat panjang umur. Pada hari ini umat dianjurkan menghaturkan canang meraka dan matirta gocara. Upacara tersebut barmakna, umat menikmati waranugraha Dewata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari Jumat Wage Kuningan disebut hari Penampahan Kuningan. Dalam lontar Sundarigama tidak disebutkan  upacara yang mesti dilangsungkan. Hanya dianjurkan melakukan kegiatan rohani yang dalam lontar disebutkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sapuhakena malaning jnyana &lt;/span&gt;(lenyapkanlah kekotoran pikiran). Keesokan harinya, Sabtu Kliwon disebut Kuningan. Dalam lontar Sunarigama disebutkan, upacara menghaturkan sesaji pada hari ini hendaknya dilaksanakan pada pagi hari dan hindari menghaturkan upacara lewat tengah hari. Mengapa? Karena pada tengah hari para Dewata dan Dewa Pitara “diceritakan” kembali ke Swarga (D&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ewa mur mwah maring Swarga&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;Demikianlah makna Galungan dan Kuningan ditinjau dari sudut pelaksanaan&lt;br /&gt;upacaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Macam-macam Galungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun Galungan itu disebut “Rerahinan Gumi” artinya semua umat wajib melaksanakan, ada pula perbedaan dalam hal perayaannya. Berdasarkan sumber-sumber kepustakaan lontar dan tradisi yang telah berjalan dari abad ke  abad telah dikenal adanya tiga jenis Galungan yaitu: Galungan (tanpa ada embel-embel), Galungan Nadi dan Galungan Nara Mangsa. Penjelasannya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.  Galungan&lt;br /&gt;Adalah hari raya yang wajib dilakukan oleh umat Hindu untuk merayakan kemenangan dharma melawan adharma. Berdasarkan keterangan lontar Sundarigama disebutkan “Buda Kliwon Dungulan ngaran Galungan.” Artinya, Galungan itu dirayakan setiap Rabu Kliwon wuku Dungulan. Jadi Galungan itu dirayakan, setiap 210 hari karena yang dipakai dasar menghitung Galungan adalah Panca Wara, Sapta Wara dan Wuku. Kalau Panca Waranya Kliwon, Sapta Waranya Rabu, dan wukunya Dungulan, saat bertemunya ketiga hal itu disebut Hari Raya Galungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.  Galungan Nadi&lt;br /&gt;Galungan yang pertama dirayakan oleh umat Hindu di Bali berdasarkan lontar Purana Bali Dwipa adalah Galungan Nadi yaitu Galungan yang jatuh pada  sasih Kapat (Kartika) tanggal 15 (purnama) tahun 804 Saka (882 Masehi) atau pada bulan Oktober.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan dalam lontar itu, bahwa pulau Bali saat dirayakan Galungan pertama itu bagaikan Indra Loka. Ini menandakan betapa meriahnya perayaan Galungan pada waktu itu. Perbedaannya dengan Galungan biasa adalah dari segi besarnya upacara dan kemeriahannya. Memang merupakan suatu tradisi di kalangan umat Hindu bahwa kalau upacara agama yang digelar bertepatan dengan bulan purnama maka mereka akan melakukan upacara lebih semarak. Misalnya upacara ngotoninatau upacara hari kelahiran berdasarkan wuku, kalau bertepatan dengan purnama mereka melakukan dengan upacara yang lebih utama dan lebih meriah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping karena ada keyakinan bahwa hari Purnama itu adalah hari yang diberkahi oleh Sanghyang Ketu yaitu Dewa kecemerlangan. Ketu artinya terang (lawan katanya adalah Rau yang artinya  gelap). Karena itu Galungan, yang bertepatan dengan bulan purnama disebut Galungan Nadi. Galungan Nadi ini datangnya amat jarang yaitu kurang lebih setiap 10 tahun sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.   GalunganNara Mangsa&lt;br /&gt;Galungan Nara Mangsa jatuh bertepatan dengan tilem sasih Kapitu atau sasih Kesanga. Dalam lontar Sundarigama disebutkan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Yan Galungan nuju sasih Kapitu, Tilem Galungan, mwang sasih kesanga, rah 9, tenggek 9,Galungan Nara Mangsa ngaran."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila Wuku Dungulan bertepatan dengan sasih Kapitu, Tilem Galungarniya dan bila bertepatan dengan sasih Kesanga rah 9, tenggek 9, Galungan Nara Mangsa namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lontar Sanghyang Aji Swamandala ada menyebutkan hal yang hampir sama sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nihan Bhatara ring Dalem pamalan dina ring wong Bali, poma haywa lali  elingakna. Yan tekaning sasih Kapitu, anemu wuku Dungulan mwang tilem ring Galungan ika, tan wenang ngegalung wong Baline, Kala Rau ngaranya yon mengkana. Tan kawasa mabanten tumpeng. Mwah yan anemu sasih Kesanga, rah 9 tenggek 9, tunggal kalawan sasih Kapitu, sigug ya mengaba gering ngaran. Wenang mecaru wong Baline pabanten caru ika, nasi cacahan maoran keladi, yan tan anuhut ring Bhatara ring Dalem yanya manurung, moga ta sira kapereg denira Balagadabah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah petunjuk Bhatara di Pura Dalem (tentang) kotornya hari bagi manusia, semoga tidak lupa, ingatlah. Bila tiba sasih Kapitu bertepatan dengan wuku Dungulan dan Tilem, pada hari Galungan itu, tidak boleh merayakan Galungan, Kala Rau namanya, bila demikian tidak dibenarkan menghaturkan sesajen yang berisi tumpeng. Dan bila bertepatan dengan sasih Kasanga rah 9, tenggek 9 sama artinya dengan  sasih kapitu. Tidak baik itu, membawa penyakit adanya. Seyogyanya orang mengadakan upacara caru yaitu sesajen caru, itu nasi cacahan dicampur ubi keladi. Bila tidak mengikuti petunjuk Bhatara di Pura Dalam (maksudnya bila melanggar) kalian akan diserbu oleh Balagadabah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah dua sumber pustaka lontar yang berbahasa Jawa Kuna menjelaskan tentang Galungan Nara Mangsa. Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Galungan Nara Mangsa disebutkan “Dewa Mauneb bhuta turun” yang artinya, Dewa tertutup (tapi) Bhutakala yang hadir. Ini berarti Galungan Nara Mangsa itu adalah Galungan raksasa, pemakan daging manusia. Oleh karena itu pada hari Galungan Nara Mangsa tidak dilangsungkan upacara Galungan sebagaimana mestinya terutama tidak menghaturkan sesajen “tumpeng Galungan”. Pada Galungan Nara Mangsa justru umat dianjurkan menghaturkan caru, berupa nasi cacahan bercampur  keladi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pengertian Galungan Nara Mangsa. Palaksanaan upacara Galungan di Bali biasanya diiiustrasikan dengan cerita Mayadanawa yang diuraikan panjang lebar dalam lontar Usana Bali sebagai lambang, pertarungan antara aharma melawan adharma. Dharma dilambangkan sebagai Dewa Indra sedangkan adharma dilambangkan oleh Mayadanawa. Mayadanawa diceritakan sebagai raja yang tidak percaya pada adanya Tuhan dan tidak percaya pada keutamaan upacara agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Galungan di India&lt;br /&gt;Hari raya Hindu untuk mengingatkan umat atas pertarungan antara adharma melawan dharma dilaksanakan juga oleh umat Hindu di India. Bahkan kemungkinan besar, parayaan hari raya Galungan di Indonesia mendapat inspirasi atau direkonstruksi dari perayaan upacara&lt;br /&gt;Wijaya Dasami di India. Ini bisa dilihat dari kata “Wijaya” (bahasa Sansekerta) yang bersinonim dengan kata  “Galungan” dalam bahasa Jawa Kuna. Kedua kata itu artinya “menang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Raya Wijaya Dasami di India disebut pula “Hari Raya Dasara”. Inti perayaan Wijaya Dasami juga dilakukan sepuluh hari seperti Galungan dan Kuningan. Sebelum puncak perayaan, selama sembilan malam umat Hindu di sana melakukan upacara yang disebut Nawa Ratri (artinya sembilan malam).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upacara Nawa Ratri itu dilakukan dengan upacara persembahyangan yang sangat khusuk dipimpin oleh pendeta di rumah-rumah penduduk. Nawa Ratri lebih menekankan nilai-nilai spiritual sebagai dasar perjuangan melawan adharma. Nawa Ratri itu dilakukan dengan mumuja Dewi Durgha selama tiga hari. Tiga hari berikutnya memuja Dewi Saraswati dan tiga hari terakhir memuja Dewi Laksmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga hari memuja Dewi Durgha bertujuan untuk membangun niat baik dalam hati nurani. Membangun niat baik inilah pekerjaan yang paling sulit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga hari memuja Dewi Saraswati artinya untuk meningkatkan kemampuan kita menguasai ilmu pengetahuan. Niat baik saja tidak cukup.Niat baik itu harus disertai dengan kemampuan untuk menguasai ilmu pengetahuan untuk menuntun hidup manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga hari terakhir memuja Dewi Laksmi. Ini artinya puncak dari perjuangan membangun niat baik dan menguasai ilmu pengetahuan adalah  hidup sejahtra lahir batin. Niat baik dan ilmu pengetahuan itu tidak ada apa-apanya kalau tidak menghasilkan hidup sejahtera lahir batin. Pemujaan pada dewi Laksmi ini bertujuan agar niat baik dan ilmu pengetahuan itu benar-benar diarahkan untuk mewujudkan hidup sejahtra Sekala dan Niskala. Untuk membangun hidup sejahtra itu tidak mudah,karena itu harus dilakukan upaya spiritual dengan memuja Tuhan sebagai Dewi Laksmi pada tiga hari terakhir dari Nawa Ratri tersebut. Pada hari kesepuluh berulah dirayakan Wijaya Dasami  atau Dasara. Wijaya Dasami lebih menekankan pada rasa kebersamaan, kemeriahan dan kesemarakan untuk masyarakat luas.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perayaan Wijaya Dasami dirayakan dua kali setahun dengan perhitungan tahun Surya. Perayaan dilakukan pada bulan Kartika (Oktober) dan bulan Waisaka (April). Perayaan Dasara pada bulan Waisaka atau April disebut pula Durgha Nawa Ratri. Durgha Nawa Ratri ini merupakan perayaan untuk kemenangan dharma melawan adharma dengan ilustrasi cerita kemenangan Dewi Parwati (Dewi Durgha) mengalahkan raksasa Durgha yang bersembunyi di dalam tubuh Mahasura yaitu lembu raksasa yang amat sakti. Karena Dewi Parwati menang, maka diberi julukan Dewi Durgha. Dewi Durgha di India dilukiskan seorang dewi yang amat cantik menunggang singa. Selain itu diyakini sebagai dewi kasih sayang dan amat sakti. Pengertian sakti di India adalah kuat, memiliki kemampuan yang tinggi. Kasih sayang  sesungguhnya kasaktian yang paling tinggi nilainya. Berbeda dengan di Bali. Kata sakti sering diartikan sebagai kekuatan yang berkonotasi angker, seram, sangat menakutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perayaan Durgha Nawa Ratri adalah perjuangan umat untuk meraih kasih sayang Tuhan. Karunia berupa kasih sayang Tuhan adalah karunia yang paling tinggi nilainya. Untuk melawan adharma pertama-tama capailah karunia Tuhan berupa kasih sayang Tuhan. Kasih sayang Tuhanlah merupakan senjata yang paling ampuh melawan adharma.&lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;Sedangkan upacara Wijaya Dasami pada bulan Kartika (Oktober) disebut Rama Nawa Ratri. Pada Rama Nawa Ratri pemujaan ditujukan pada Sri Rama sebagai Awatara Wisnu. Selama sembilan malam umat mengadakan kegiatan keagamaan yang lebih menekankan pada bobot spiritual untuk mendapatkan kemenangan rohani dan menguasai, keganasan hawa nafsu. Pada hari kesepuluh  atau hari Dasara, umat merayakan Wijaya Dasami atau kemenangan hari kesepuluh. Pada hari ini, kota menjadi ramai. Di mana-mana, orang menjual panah sebagai lambang kenenangan. Umumnya umat membuat ogoh-ogoh berbentuk Rahwana, Kumbakarna atau Surphanaka. Ogoh-ogoh besar dan tinggi itu diarak keliling beramai-ramai. Di lapangan umum sudah disiapkan pementasan di mana sudah ada orang yang terpilih untuk&lt;br /&gt;memperagakan tokoh Rama, Sita, Laksmana dan Hanuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puncak dari atraksi perjuangan dharma itu yakni Sri Rama melepaskan anak panah di atas panggung yang telah dipersiapkan sebelumnya. Panah itu diatur sedemikian rupa sehingga begitu ogoh-ogoh Rahwana kena panah Sri Rama, ogoh-ogoh itu langsung terbakar dan masyarakat penontonpun bersorak-sorai gembira-ria. Orang yang memperagakan diri sebagai Sri Rama, Dewi Sita, Laksmana dan Hanuman mendapat penghormatan luar biasa dari  masyarakat Hindu yang menghadiri atraksi keagamaan itu. Anak-anak ramai-ramai dibelikan panah-panahan untuk kebanggaan mereka mengalahkan adharma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita simak makna hari raya Wijaya Dasami yang digelar dua kali setahun yaitu pada bulan April (Waisaka) dan pada bulan Oktober (Kartika) adalah dua perayaan yang bermakna untuk mendapatkan kasih sayang Tuhan. Kasih sayang itulah suatu “sakti” atau kekuatan manusia yang maha dahsyat untukmengalahkan adharma. Sedangkan pada bulan Oktober atau Kartika pemujaan ditujukan pada Sri Rama. Sri Rama adalah Awatara Wisnu sebagai dewa Pengayoman atau pelindung dharma. Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan filosofi dari hari raya Wijaya Dasami adalah mendapatkan kasih sayang dan perlindungan Tuhan. Kasih sayang dan perlindungan itulah merupakan kekuatan yang harus dicapai oleh menusia untuk memenangkan dharma. Kemenangan dharma adalah  terjaminnya kehidupan yang bahagia lahir batin.&lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;Kemenangan lahir batin atau dharma menundukkan adharma adalah suatu kebutuhan hidup sehari-hari. Kalau kebutuhan rohani seperti itu dapat kita wujudkan setiap saat maka hidup yang seperti itulah hidup yang didambakan oleh setiap orang. Agar orang tidak sampai lupa maka setiap Budha Kliwon Dungulan, umat diingatkan melalui hari raya Galungan yang berdemensi ritual dan spiritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7221655881315686900-12046716103116903?l=ceritahindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/m-o5p9gabEkFnRVCibLxLrNKHcE/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/m-o5p9gabEkFnRVCibLxLrNKHcE/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/m-o5p9gabEkFnRVCibLxLrNKHcE/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/m-o5p9gabEkFnRVCibLxLrNKHcE/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CeritaHindu/~4/-rzfWMWJycA" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://ceritahindu.blogspot.com/feeds/12046716103116903/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7221655881315686900&amp;postID=12046716103116903&amp;isPopup=true" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/12046716103116903?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/12046716103116903?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CeritaHindu/~3/-rzfWMWJycA/makna-hari-raya-galungan-dan-kuningan.html" title="MAKNA HARI RAYA GALUNGAN DAN KUNINGAN" /><author><name>denny0214</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877375447862611766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://1.bp.blogspot.com/_tHWVsZfq_Sw/SYAVlzkrU6I/AAAAAAAAABI/yVCMbboC02s/S220/100_3522.JPG" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://ceritahindu.blogspot.com/2009/10/makna-hari-raya-galungan-dan-kuningan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0YDSHo_eip7ImA9WxNTEEk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-7221655881315686900.post-688883581028568219</id><published>2009-08-11T19:21:00.000-07:00</published><updated>2009-08-11T19:46:19.442-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-08-11T19:46:19.442-07:00</app:edited><title>Menemukan Makna Hidup</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari sebuah e-mail...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesemuanya dharma (tindakan tepat), artha (keamanan sosial), kama (kenyamanan dasar) dan moksha atau kebebasan - lazimnya dianggap sebagai empat purushartha, empat pilar terpenting dari struktur kehidupan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Purusharta berasal dari bahasa Sansekerta, sebenarnya terdiri atas dua kata, purusha dan artha. Purusha biasanya diterjemahkan sebagai pria; tapi makna ini, dapat diperluas mencakup wanita juga. Jadi Purusha ialah keduanya, laki-laki dan perempuan - manusia. Artha dapat berarti kekayaan, uang dan bahkan makna. Ini ialah sesuatu yang memberi arti bagi hidupmu. Jadi keempat Purushartha semuanya memberi makna pada kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, anda tak harus menjadi orang Bali untuk setuju bahwa mereka, sejatinya, merupakan empat hal terpenting dalam hidup ini. Semuanya disebut pilar struktur kehidupan manusia. Kita semua butuh untuk tahu apa yang tepat dan apa yang tidak tepat. Kita semua membutuhkan sesuatu seperti keamanan sosial, kenyamanan dan kebebasan. Itulah kebutuhan dasar dan lazim dari semua manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kita memenuhi kebutuhan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kita menggapainya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leluhur kita menasehati kita untuk memulainya dengan dharma. Seseorang harus tahu apa yang tepat, dan apa yang tidak tepat dilakukan. Dengan pemahaman semacam ini, seseorang harus memperoleh kemampuan yang dibutuhkan dan keahlian untuk menjalankan bidang tindakan yang dipilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dahulukan yang penting,” begitulah nasehat yang dipopulerkan Stephen Covey. Pertama, kita harus mendapatkan dharma. Tanpa kebijaksanaan untuk memilah apa yang tepat dan apa yang tak tepat, kita tak dapat berhasil dalam hidup. Dan untuk mengembangkan kebijaksananaan semacam itu, sangatlah penting bahwa kita memiliki sebuah pikiran yang tajam dan kemauan untuk belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijaksanaan ialah buah dari pembelajaran. Kita belajar dari buku. Kita juga belajar dari mengamati orang lain dan pengalaman hidup mereka. Yang terpenting, kita belajar dari pengalaman kita sendiri. Dalam beberapa tahun pertama kehidupan kita, kita belajar dengan mengamati orang lain. Itu yang kita lakukan saat kita masih anak-anak. Kita tak dapat membaca; kita tak bisa menulis; tapi kita bisa mengamati. Membaca dan menulis datang kemudian - yang pertama ialah observasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak, yang kekurangan kemampuan pengamatan ini umumnya tak terlalu ingin tahu. Mereka tidak banyak bertanya. Kita mungkin menganggapnya sebagai anak yang bertipe pendiam. Kita mungkin merasa senang dengan hal tersebut, karena mereka tak menggangu kita seperti halnya tipe anak yang suka bertanya. Kendati demikian, hal ini tak bagus. Anak-anak yang kurang observasi tak hanya tumbuh secara kurang bijaksana, tapi juga kurang dinamis. Inilah alasan kenapa kita mempunyai banyak motivator di hari-hari belakangan ini. Sebagian dari kita yang kurang mengobservasi saat masa kanan-kanak tak bisa melakukan apa-apa tanpa mereka. Kita pelu dimotivasi, dan didorong untuk mencapai tujuan kita dalam kehidupan, untuk memenuhi dan meraih segalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amati anak-anak anda dan periksa seberapa kerap ia melakukan observasi. Anak yang observan bukanlah anak yang nakal dan bandel, tapi ia yang selalu bertanya, “apa ini? apa itu?”. Ini ialah pikiran yang bertanya yang membantu anak mekar menjadi manusia yang utuh. Tanpa pikiran yang bertanya, kita tetaplah separuh manusia. Pikiran yang kritis bertanya, kendati demikian, tak dapat diperbudak. Memang ada komunitas, masyarakat dan sistem sosial yang tak suka dengan pikiran yang kritis. Mereka melecehkan intelegensia. Mereka mengharapkan pikiran yang tumpul yang dapat diarahkan dan dikuasai. Penguasa di manapun, dan di bidang apapun menentang orang cerdas, karena mereka tak bisa diperbudak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Purushaartha, seperti yang diwariskan leluhur kita, ialah bukan untuk para budak. Selain perbudakan, mereka tak punya pilihan lain dalam hidup. Perbudakan ialah satu-satunya makna dalam hidup mereka. Mereka tak dapat meraih dharma, artha, kama dan moksa. Mereka tak bebas melakukan apapun. Mereka telah diperbudak begitu lama sehingga mereka tak lagi merasa berharga, atau bahkan memahami, arti kebebasan dan kemerdekaan itu sendiri. Sayangnya, perbudakan bukan tradisi yang usang dan mati. Pada zaman Musa perbudakan begitu kasat mata dan dan tumbuh subur. Sekarang kita mempunyai penguasa genre baru. Di mana pemerintah tak lagi kejam, ekonomi, sosial, religius dan institusi yang sejenis lainnya menjadi para penguasa baru. Mereka dapat mengontrol pemerintah dari balik layar sehingga tetap terlihat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menggapai keempat purushaartha ialah untuk mematahkan rantai perbudakan, dan membebaskan pikiran kita. Tapi seperti yang telah saya katakan, jika kita terlalu lama dipebudak, kita bahkan bisa jadi tak memahami arti kebebasan. Kita mungkin malah menikmati perbudakan, dan merasa nyaman. Oleh sebab itu, dari waktu ke waktu, kita membutuhkan seorang Musa atau seorang Muhammad, seorang Buddha atau seorang Krishna, seorang Washington atau seorang Gandhi untuk menunjukan pada kita jalan keluar dari pebudakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para mesias, nabi, manusia tuhan, avatar atau apapun sebutan anda bagi mereka sebenarnya “orang bebas.” Mereka mengetahui arti kebebasan. Mereka ialah manusia dengan pikiran yang tajam dan intelegensia super. Mereka bisa merangkul keempat Purushartha dan menghayati kehidupan dengan gayanya sendiri. Dan mereka hendak berbagi dengan kita jenis kebebasan yang mereka nikmati. Mereka menghampiri kita untuk menunjukkan pada kita jalan keluar dari perbudakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, itu ialah apa yang mereka tepatnya lakukan. Mereka “menunjukkan” pada kita jalan menuju kebebasan, kemandirian, kemerdekaan dan keadilan untuk semua. Kita masih harus menapaki jalan itu. Mereka tak bisa berjalan untuk kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7221655881315686900-688883581028568219?l=ceritahindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/9IADZfzLeUih_rOFj1XMaY21G4Y/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/9IADZfzLeUih_rOFj1XMaY21G4Y/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/9IADZfzLeUih_rOFj1XMaY21G4Y/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/9IADZfzLeUih_rOFj1XMaY21G4Y/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CeritaHindu/~4/kwrFnLDg4Gs" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://ceritahindu.blogspot.com/feeds/688883581028568219/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7221655881315686900&amp;postID=688883581028568219&amp;isPopup=true" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/688883581028568219?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/688883581028568219?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CeritaHindu/~3/kwrFnLDg4Gs/menemukan-makna-hidup.html" title="Menemukan Makna Hidup" /><author><name>denny0214</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877375447862611766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://1.bp.blogspot.com/_tHWVsZfq_Sw/SYAVlzkrU6I/AAAAAAAAABI/yVCMbboC02s/S220/100_3522.JPG" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://ceritahindu.blogspot.com/2009/08/menemukan-makna-hidup.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;Dk8DRXY7fCp7ImA9WxJaEkU.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-7221655881315686900.post-6533154627752245619</id><published>2009-08-03T00:31:00.000-07:00</published><updated>2009-08-03T00:34:34.804-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-08-03T00:34:34.804-07:00</app:edited><title>Hari Raya Saraswati</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saraswati adalah nama dewi, Sakti Dewa Brahma (dalam konteks ini, sakti berarti istri). Dewi Saraswati diyakini sebagai manifestasi Tuhan Yang Maha Esa dalam fungsi-Nya sebagai dewi ilmu pengetahuan. Dalam berbagai lontar di Bali disebutkan "Hyang Hyangning Pangewruh." Di India umat Hindu mewujudkan Dewi Saraswati sebagai dewi yang amat cantik bertangan empat memegang: wina (alat musik), kropak (pustaka), ganitri (japa mala) dan bunga teratai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi Saraswati dilukiskan berada di atas angsa dan di sebe-lahnya ada burung merak. Dewi Saraswati oleh umat di India dipuja dalam wujud Murti Puja. Umat Hindu di Indonesia memuja Dewi Saraswati dalam wujud hari raya atau rerahinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_tHWVsZfq_Sw/SnaSmpxip6I/AAAAAAAAAQI/NvYabHYve4I/s1600-h/goddess_with_script.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 357px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_tHWVsZfq_Sw/SnaSmpxip6I/AAAAAAAAAQI/NvYabHYve4I/s400/goddess_with_script.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5365637198804854690" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari raya untuk memuja Saraswati dilakukan setiap 210 hari yaitu setiap hari Sabtu Umanis Watugunung. Besoknya, yaitu hari Minggu Paing wuku Sinta adalah hari Banyu Pinaruh yaitu hari yang merupakan kelanjutan dari perayaan Saraswati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perayaan Saraswati berarti mengambil dua wuku yaitu wuku Watugunung (wuku yang terakhir) dan wuku Sinta (wuku yang pertama). Hal ini mengandung makna untuk mengingatkan kepada manusia untuk menopang hidupnya dengan ilmu pengetahuan yang didapatkan dari Sang Hyang Saraswati. Karena itulah ilmu penge-tahuan pada akhirnya adalah untuk memuja Tuhan dalam mani-festasinya sebagai Dewi Saraswati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari Sabtu wuku Watugunung itu, semua pustaka terutama Weda dan sastra-sastra agama dikumpulkan sebagai lambang stana pemujaan Dewi Saraswati. Di tempat pustaka yang telah ditata rapi dihaturkan upacara Saraswati. Upacara Saraswati yang pa-ling inti adalah banten (sesajen) Saraswati, daksina, beras wangi dan dilengkapi dengan air kumkuman (air yang diisi kembang dan wangi-wangian). Banten yang lebih besar lagi dapat pula ditambah dengan banten sesayut Saraswati, dan banten tumpeng dan sodaan putih-kuning. Upacara ini dilangsungkan pagi hari dan tidak boleh lewat tengah hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut keterangan lontar Sundarigama tentang Brata Saraswati, pemujaan Dewi Saraswati harus dilakukan pada pagi hari atau tengah hari. Dari pagi sampai tengah hari tidak diper-kenankan membaca dan menulis terutama yang menyangkut ajaran Weda dan sastranya. Bagi yang melaksanakan Brata Saraswati dengan penuh, tidak membaca dan menulis itu dilakukan selama 24 jam penuh. Sedangkan bagi yang melaksanakan dengan biasa, setelah tengah hari dapat membaca dan menulis. Bahkan di malam hari dianjurkan melakukan malam sastra dan sambang samadhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besoknya pada hari Radite (Minggu) Paing wuku Sinta di-langsungkan upacara Banyu Pinaruh. Kata Banyu Pinaruh artinya air ilmu pengetahuan. Upacara yang dilakukan yakni menghaturkan laban nasi pradnyam air kumkuman dan loloh (jamu) sad rasa (mengandung enam rasa). Pada puncak upacara, semua sarana upacara itu diminum dan dimakan. Upacara lalu ditutup dengan matirtha. Upacara ini penuh makna yakni sebagai lambang meminum air suci ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Filosofi dan Mitologi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upacara dan upakara dalam agama Hindu pada hakikatnya mengandung makna filosofis sebagai penjabaran dari ajaran agama Hindu. Secara etimologi, kata Saraswati berasal dari Bahasa San-sekerta yakni dari kata Saras yang berarti "sesuatu yang mengalir" atau "ucapan". Kata Wati artinya memiliki. Jadi kata Saraswati secara etimologis berarti sesuatu yang mengalir atau makna dari ucapan. Ilmu pengetahuan itu sifatnya mengalir terus-menerus tiada henti-hentinya ibarat sumur yang airnya tiada pernah habis mes-kipun tiap hari ditimba untuk memberikan hidup pada umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana disebutkan, Saraswati juga berarti makna ucapan atau kata yang bermakna. Kata atau ucapan akan memberikan makna apabila didasarkan pada ilmu pengetahuan. Ilmu penge-tahuan itulah yang akan menjadi dasar orang untuk menjadi manusia yang bijaksana. Kebijaksanaan merupakan dasar untuk mendapatkan kebahagiaan atau ananda. Kehidupan yang bahagia itulah yang akan mengantarkan atma kembali luluh dengan Brahman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam upacara atau hari raya Saraswati, bagi umat Hindu di Indonesia, upacara dihaturkan dalam tumpukan lontar-lontar atau buku-buku keagamaan dan sastra termasuk pula buku-buku ilmu pengetahuan lainnya. Bagi umat Hindu di Indonesia aksara yang merupakan lambang itulah sebagai stana Dewi Saraswati. Aksara dalam buku atau lontar adalah rangkaian huruf yang membangun ilmu pengetahuan aparawidya maupun parawidya. Aparawidya adalah ilmu pengetahuan tentang ciptaan Tuhan seperti Bhuana Alit dan Bhuana Agung. Parawidya adalah ilmu pengetahuan tentang sang pencipta yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu di Indonesia — juga di Bali — tidak ada pelinggih khusus untuk memuja Saraswati yang di Bali diberi nama lengkap Ida Sang Hyang Aji Saraswati. Gambar atau patung Dewi Saraswati yang dikenal di Indonesia berasal dari India. Dewi Saraswati ada digam-barkan duduk dan ada pula versi yang berdiri di atas angsa dan bunga padma. Ada juga yang berdiri di atas bunga padma, sedang-kan angsa dan burung meraknya ada di sebelah menyebelah dengan Dewi Saraswati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang perbedaan versi tadi bukanlah masalah dan memang tidak perlu dipersoalkan. Yang terpenting dari penggambaran Dewi Saraswati itu adalah makna filosofi yang ada di dalam simbol gambar tadi. Dewi yang cantik dan berwibawa menggambarkan bahwa ilmu pengetahuan itu adalah sesuatu yang amat menarik dan mengagumkan. Kecantikan Dewi Saraswati bukanlah kemo-lekan yang dapat merangsang munculnya nafsu birahi. Kecantikan Dewi Saraswati adalah kecantikan yang penuh wibawa. Memang orang yang berilmu itu akan menimbulkan daya tarik yang luar biasa. Karena itu dalam Kakawin Niti Sastra ada disebutkan bahwa orang yang tanpa ilmu pengetahun, amat tidak menarik biarpun yang bersangkutan muda usia, sifatnya bagus dan keturunan bangsawan. Orang yang demikian ibarat bunga merah menyala tetapi tanpa bau harum sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan cakepan atau daun lontar yang dibawa Dewi Saraswati merupakan lambang ilmu pengetahuan. Sedangkan genitri adalah lambang bahwa ilmu pengetahuan itu tiada habis-habisnya. Genitri juga lambang atau alat untuk melakukan japa. Ber-japa yaitu aktivitas spiritual untuk menyebut nama Tuhan berulang-ulang. Ini pula berarti, menuntut ilmu pengetahuan merupakan upaya manusia untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Ini berarti pula, ilmu pengetahuan yang mengajarkan menjauhi Tuhan adalah ilmu yang sesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wina yaitu sejenis alat musik, yang di Bali disebut rebab. Suaranya amat merdu dan melankolis. Ini melambangkan bahwa ilmu pengetahuan itu mengandung keindahan atau estetika yang amat tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunga padma adalah lambang Bhuana Agung stana Tuhan Yang Maha Esa. Ini berarti ilmu pengetahuan yang suci itu memiliki Bhuana Alit dan Bhuana Agung. Teratai juga merupakan lambang kesucian sebagai hakikat ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angsa adalah jenis binatang unggas yang memiliki sifat-sifat yang baik yaitu tidak suka berkelahi dan suka hidup harmonis. Angsa juga memiliki kemampuan memilih makannan. Meskipun makanan itu bercampur dengan air kotor tetapi yang masuk ke perutnya adalah hanya makanan yang baik saja, sedangkan air yang kotor keluar dengan sendirinya. Demikianlah, orang yang telah dapat menguasai ilmu pengetahuan, kebijaksanaan mereka memiliki kemampuan wiweka. Wiweka artinya suatu kemampuan untuk membeda-bedakan yang baik dengan yang jelek dan yang benar dengan yang salah. Bunga Padma atau bunga teratai adalah bunga yang melambangkan alam semesta dengan delapan penjuru mata anginnya (asta dala) sebagai stana Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Burung merak adalah lambang kewibawaan. Orang yang mampu menguasai ilmu pengetahuan adalah orang yang akan mendapatkan kewibawaan. Sehubungan dengan ini, Swami Sakuntala Jagatnatha dalam buku Introduction of Hinduisme menjelaskan bahwa ilmu yang dapat dimiliki oleh seseorang akan menyebabkan orang-orang itu menjadi egois atau sombong. Karena itu ilmu itu harus diserahkan pada Dewi Saraswati sehingga pe-miliknya menjadi penuh wibawa karena egoisme atau kesom-bongan itu telah disingkirkan oleh kesucian dari Dewi Saraswati. Ilmu pengetahuan adalah untuk memberi pelayanan kepada manusia dan alam serta untuk persembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam upakara yang disebut Banten Saraswati salah satu unsurnya ada disebut jajan Saraswati. Jajan ini dibuat dari tepung beras berwarna putih dan berisi lukisan dua ekor binatang cecak. Mata cecak itu dibuat dari injin (beras hitam) dan di sebelahnya ada telur cecak. Dalam banten Saraswati itu mempunyai arti yang cukup dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut para ahli Antropologi, bangsa-bangsa Austronesia memiliki kepercayaan bahwa binatang melata seperti cecak diyakini memiliki kekuatan dan kepekaan pada getaran-getaran spiritual. Jajan Saraswati yang berisi gambar cecak memberi pelajaran bahwa ilmu pengetahuan itu jangan hanya berfungsi mengembangkan kekuatan ratio atau pikiran saja, tetapi harus mampu mendorong manusia untuk memiliki kepekaan intuisi sehingga dapat menangkap getaran-getaran rohani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lontar Saraswati juga memakai daun beringin. Daun beringin adalah lambang kelanggengan atau keabadian serta pengayoman. Ini berarti ilmu pengetahuan itu bermaksud mengantarkan kepada kehidupan yang kekal abadi. Ilmu pengetahuan juga berarti pengayoman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang Dewi Saraswati ada cerita menarik yang terdapat dalam Utara Kanda bagian dari epos Ramayana. Dalam cerita tersebut dikisahkan Dewi Saraswati bersemayam secara gaib di lidah Kumbakarna sehingga dunia terhindar dari kekacauan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah Resi Waisrawa beristri Dewi Kaikaisi. Pasangan Resi ini berputra empat orang, tiga orang laki dan seorang perempuan. Putra sang resi yang pertama bernama Dasa Muka (Rahwana), kedua Kumbakarna, ketiga bernama Dewi Surpanaka dan yang terkecil bernama Gunawan Wibhisana. Sang Resi menugaskan putra laki-lakinya supaya bertapa di gunung Gokarna. Ketiga putra Resi Waisrawa itu kemudian membangun tempat pertapaan yang terpisah-pisah di gunung Gokarna. Bertahun-tahun mereka bertapa dengan teguh dan tekunnya. Karena ketekunannya itu, lalu Dewa Brahma berkenan memberikan anugrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama Dewa Brahma mendatangi Rahwana. Dewa Brahma menanyakan tentang apa yang diharapkan dalam tapanya ini. Rahwama mengajukan permohonan dapat kiranya Dewa Brahma menganugrahkan kekuasaan di seluruh dunia. Semua dewa, gandarwa, manusia dan seluruh makhluk di dunia ini tunduk padanya. Permohonan Rahwana ini dikabulkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya Dewa Brahma menuju pertapaan Gunawan Wibhisana dan menyatakan pula akan memberikan anugrah atas tapanya. Gunawan Wibhisana menyampaikan permohonannya dapat kiranya Dewa Brahma memberikan anugrah berupa kese-hatan dan ketenangan rohani, memiliki sifat-sifat utama dan taat melakukan pemujaan kepada Tuhan. Dewa Brahma mengabulkan permohonan Wibhisana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu Dewa Brahma akan beranjak menuju pertapaan Kumbakarna para dewa berdatang sembah kepada Dewa Brahma. Para dewa memohon agar Dewa Brahma tidak menganugrahkan permohonan Kumbakarna. Pasalnya, Kumbakarna berbadan rak-sasa yang maha hebat. Kalau ia punya kesaktian, sungguh sangat membahayakan keselamatan manusia di dunia. Meskipun ada permohonan para dewa itu, Dewa Brahma bertekad memberikan anugrah. Sebab, jika tidak, Brahma merasa berlaku tidak adil kepada ketiga putra Resi Waisrawa. Apalagi Kumbakarna juga melakukan tapa yang tekun sehingga layak mendapat anugrah. Namun untuk memenuhi permohonan para dewa itu, Dewa Brahma punya akal. Istri atau saktinya yaitu Dewi Saraswati diutus supaya berstana di lidah Kumbakarna dan bertugas untuk membuat lidahnya salah ucap. Setelah itu Dewa Brahma datang memberikan anugrah pada Kumbakarna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumbakarna memohon anugrah yakni agar selama hidupnya selalu senang. Karena itu ia semestinya mengucapkan "suka sada". Namun akibat Saraswati membelokkan lidah Kumbakarna, ucapan yang terlontar dari mulut raksasa tinggi besar itu adalah "supta sada" yang artinya selalu tidur. Suka artinya senang dan supta artinya tidur. Andaikata Kumbakarna mendapatkan anugrah hidup bersenang-senang, maka besar kemungkinannya ia selalu meng-humbar hawa nafsu. Raksasa yang menghumbar hawa nafsu tentu akan dapat mengacaukan kehidupan di dunia. Demikianlah peranan Dewi Saraswati, dengan kata-kata yang tersaring dalam lidah dapat menyelamatkan dunia dari kekacauan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kesusastraan Weda, Saraswati adalah nama sungai yang disebut Dewa Nadi artinya sungainya para dewa. Sungai Saraswati terletak di selatan daerah Brahmawarta atau Kuruksetra. Di sebelah utara Kuruksetra ada sungai bernama sungai Dasdwati. Kedua sungai itu diyakini berasal dari Indraloka. Karena itulah disebut Dewa Nadi. Keterangan ini juga diuraikan dalam Manawa Dharmasastra II,17. Karena itulah sungai Saraswati amat dihormati dalam puja mantra agama Hindu seperti dalam mantra Sapta Tirtha atau Sapta Gangga uang menyebutkan tujuh sungai utama di India. Tujuh sungai itu yaitu sungai Gangga, Saraswati, Shindu, Wipasa, Kausiki, Yamuna dan Serayu. Dalam mantram Surya Sewana, Saraswati dipuja pula dalam Catur Resi yaitu Sarwa Dewa, Sapta Resi, Sapta Pitara dan Saraswati. Dewi Saraswati diyakini pula sebagai pemelihara kitab suci Weda. Hal ini diceritakan dalam Salya Parwa sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lembah sungai Saraswati, terdapat tujuh resi ahli Weda yaitu Resi Gautama, Bharadwaja, Wiswamitra, Yamadageni, Resi Wasistha, Kasiyapa dan Atri. Ketika musim kemarau datang, keadaan di lembah sungai Saraswati itu kering. Tumbuh-tumbuhan tidak dapat tumbuh dengan baik. Bahan makanan pun menjadi sulit didapat. Karena keadaan alam yang gersang seperti itu, Sapta Resi itupun pindah ke tempat lain. Sedangkan putra Dewi Saras-wati yang bernama Saraswata masih setia bertempat tinggal di lembah sungai Saraswati. Karena kesetiaannya tinggal di tempat itu, Saraswata mendapat perlindungan dari ibunya. Saraswata tetap mendapat bahan makanan dari lembah sungai itu. Para Resi yang meninggalkan lembah sungai Saraswati, lambat laun tidak tahan pada keadaan yang dialaminya. Karena di tempatnya yang baru, mereka sulit juga mengubah nasib. Lagi pula para resi tadi telah lupa pada isi Weda. Padahal, memahami Weda merupakan suatu kewajiban yang mutlak sebagai identitas seorang resi. Gelar resinya akan tanpa makna kalau sampai lupa pada isi Weda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan itu menyebabkan sang Sapta Resi kembali ke lembah sungai Saraswati. Di lembah sungai Saraswati itulah para resi mohon kesediaan Dewi Saraswati membangkitkan kesadarannya untuk kembali dapat memahami isi Weda yang merupakan tugas pokoknya. Dewi Saraswati memberi anugrah apabila para resi bersedia menjadi siswanya. Para resi bertanya, apakah patut orang yang lebih tua berguru pada yang muda karena Dewi Saraswati masih sangat muda. Terhadap pertanyaan ini, Dewi Saraswati menjelaskan, seorang guru kerohanian tidaklah tergantung pada umurnya, kekayaannya, kebangsawanannya. Seorang guru kerohanian patut dilihat dari kemampuannya menguasai dan menyampaikan isi Weda. Kedewasaan spiritual Wedalah yang menjadi patokan utama. Penjelasan itu yang menyebabkan semua resi tetap berguru pada Dewi Saraswati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kejadian itu, datang lagi enam puluh ribu orang menghadap Dewi Saraswati agar diterima sebagai murid karena ingin mendalami lautan rohani Weda. Lewat para resi dan siswa tadi, Dewi Saraswati mengidupkan dan menyebarkan isi Veda ke seluruh pelosok dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mitologi Dewi Saraswati dijelaskan pula dalam kitab Aiterya Brahmana. Dikisahkan seorang pendeta bernama Resi Kawasa keturunan Sudra Wangsa. Pada suatu hari, sang resi memimpin suatu upacara yajña. Karena resi itu keturunan Sudra Wangsa, maka sang resi dilarang memimpin upacara oleh pendeta dari Wangsa Brahmana. Sang resi Kawasa diusir dan dibuang ke padang pasir dengan tujuan agar ia mati di tengah-tengah padang pasir yang gersang itu. Setelah ia berada di tengah-tengah padang pasir, Resi Kawasa tetap melakukan pemujaan kepada Tuhan. Karena khusuknya pemujaan, turunlah Dewi Saraswati dengan penuh kasih sayang. Resi Kawasa pun diajarkan Weda mantra lengkap dengan Stuti dan Stotranya. Karena ketekunannya, semua pelajaran dari Dewi Saraswati dapat dikuasainya dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesucian dan kemampuan Resi Kawasa akhirnya jauh meningkat dari sebelumnya. Dewi Saraswati menganggap, kemampuan Resi Kawasa sudah luar biasa. Sang resi pun diizinkan kembali ke tempatnya oleh Dewi Saraswati. Setelah ia sampai di tempatnya semula, pendeta dari Wangsa Brahmana itu amat kagum atas keberhasilan Resi Kawasa. Resi Kawasa memang mampu menujukkan kemahirannya tentang Weda baik teori maupun praktek kehidupan sehari-hari berupa tingkah laku yang bersusila tinggi. Akibat keutamaannya itu, Resi Kawasa diakui semua umat dan semua resi sebagai brahmana pendeta sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah kekuasaan Dewi Saraswati akan dapat mem-berikan peningkatan kesucian dan kehormatan kepada mereka yang memujanya dengan sungguh-sunguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pada Hari Raya Saraswati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang bunga padma yang di Bali disebut bunga tunjung dipegang oleh salah satu tangan patung atau gambar Dewi Saraswati adalah memiliki lambang-lambang tersendiri. Di dalam Kakawin Saraswati disebutkan, bunga padma putih yang sedang kembang merupakan lambang jantung di Bhuana Alit. Padma merah ada dalam hati, padma biru ada dalam empedu. Budi suci sebagai aliran sungai Sindhu selalu meyakini kesuburan bunga-bunga padma yang berwarna-warni itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecakapan bagaikan aliran sungai Narmada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemurnian hatiku sebagai sungai Gangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi Saraswati berstana di lidah dan Dewi Irawati berstana di mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah tujuan pemujaan Dewi Saraswati. Kalau tujuan pemujaan Dewi Saraswati dapat tercapai maka terhindarlah kita dari godaan penyakit, kelakuan jahat dan buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua perumpamaan itu adalah suatu metoda seni sastra agama untuk mendatang kehalusan budi. Agama mengarahkan hidup, ilmu pengetahuan memudahkan hidup, sedangkan seni meng-haluskan hidup. Karena itulah, memuja Tuhan Yang Maha Esa menurut pandangan Hindu juga menggunakan aspek seni. Pe-mujaan kepada Dewi Saraswati tiada lain adalah memuja Tuhan Yang Maha Esa dalam aspeknya sebagai sumber ilmu pengetahuan suci Weda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggapai kesucian Weda hendaknya juga melalui seni budaya yang indah. Khususnya yang didasarkan oleh keindahan seni itulah yang akan dapat dijadikan dasar untuk mencapai kesucian Sang Hyang Weda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sumber: Buku "Yadnya dan Bhakti" Oleh Ketut Wiana, terbitan Pustaka Manikgeni)&lt;br /&gt;Publish by: &lt;a href="http://cyberdharma.net/v1/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=334:hari-raya-saraswati-&amp;amp;catid=2:share-t-world"&gt;cyberdharma.net&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7221655881315686900-6533154627752245619?l=ceritahindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ZPubphAcOid0KDB4UuqX3n0fWcA/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ZPubphAcOid0KDB4UuqX3n0fWcA/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ZPubphAcOid0KDB4UuqX3n0fWcA/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ZPubphAcOid0KDB4UuqX3n0fWcA/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CeritaHindu/~4/kdxwloqBSM8" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://ceritahindu.blogspot.com/feeds/6533154627752245619/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7221655881315686900&amp;postID=6533154627752245619&amp;isPopup=true" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/6533154627752245619?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/6533154627752245619?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CeritaHindu/~3/kdxwloqBSM8/hari-raya-saraswati.html" title="Hari Raya Saraswati" /><author><name>denny0214</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877375447862611766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://1.bp.blogspot.com/_tHWVsZfq_Sw/SYAVlzkrU6I/AAAAAAAAABI/yVCMbboC02s/S220/100_3522.JPG" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/_tHWVsZfq_Sw/SnaSmpxip6I/AAAAAAAAAQI/NvYabHYve4I/s72-c/goddess_with_script.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://ceritahindu.blogspot.com/2009/08/hari-raya-saraswati.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkcGQHk9fCp7ImA9WxJaEkU.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-7221655881315686900.post-2558382491970690049</id><published>2009-08-03T00:08:00.000-07:00</published><updated>2009-08-03T00:20:21.764-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-08-03T00:20:21.764-07:00</app:edited><title>Pura Agung Sriwijaya - Palembang Sumatera Selatan</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menelusuri Kotaraja Kerajaan Sriwijaya yang kini lebih dikenal dengan Kota Palembang, tidaklah lengkap jika tidak meluangkan waktu untuk menikmati Jembatan Ampera yang dibangun bersebelahan dengan benteng pertahanan Belanda. Benteng yang disekitarnya dahulu adalah tumpukan sampah berbau menyegat hidung kini telah berbenah. Makin lengkap pula jika menikmati panorama yang cukup indah sambil menikmati berbagai macam penganan khas Palembang, seperti burgo dan pempek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_tHWVsZfq_Sw/SnaPQsev4sI/AAAAAAAAAQA/Pzsp_6ssr80/s1600-h/petapurasriwijaya.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 316px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_tHWVsZfq_Sw/SnaPQsev4sI/AAAAAAAAAQA/Pzsp_6ssr80/s400/petapurasriwijaya.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5365633523039331010" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Peta Pura Sriwijaya&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Namun bagi yang bergama Hindu tidaklah lengkap jika singgah di Palembang namun tidak senyempatkan diri untuk bersembahyang di Pura Agung Sriwijaya yang merupakan satu-satunya pura yang ada di Kota Palembang, sekitar 10 kilometer dari Jembatan Ampera. Meskipun penduduk yang beragama Hindu di Kota Palembang tidak banyak, namun Pura tersebut berdiri dengan megahnya. Pura yang diresmikan oleh Pangdam Sriwijaya, Brigjen TNI Try Sutrisno tahun 1982 ini telah melakukan upacara ngenteglinggih pada usia ke 25 tahun, yaitu tahun 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan pembangunan Kota Palembang, mencari lokasi pura ini tidaklah sulit karena telah termasuk dalam kawasan pusat kota. Dari Bandara Sultan Mahmud Badarudin II menuju kota, berbelok ke kiri di simpang polda, dan berbelok kekiri kembali setelah tiba di simpang empat patal menuju jalan MP. Mangku Negara. +/- 100 meter dari simpang empat patal, ada jalan Seduduk Putih, lokasi tepatnya di belakang kompleks koveleri Kenten Palembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pura ini akan ramai setiap hari minggu sore, dimana dimanfaatkan untuk lokasi sekolah mingguan, latihan tari, koordinasi organisasi Hindu seperti Banjar, Parisada dan KMHDI. Persembahyangan bersama biasanya di mulai pukul 17:00WIB. Bila merasa lapar dilokasi ini, tidak perlu khawatir karena di sudut lokasi Pura ada Warung Pak Kumis yang siap dengan hidangan lawarnya. Di rantau pun kita bisa tetap Hindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;a href="http://cyberdharma.net/v1/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=5:pura-agung-sriwijaya-palembang-sumatera-selatan&amp;amp;catid=8:rumah-kita"&gt;cyberdharma.net&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7221655881315686900-2558382491970690049?l=ceritahindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/J2oddVddzDJuHnuBSB_t279z0lM/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/J2oddVddzDJuHnuBSB_t279z0lM/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/J2oddVddzDJuHnuBSB_t279z0lM/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/J2oddVddzDJuHnuBSB_t279z0lM/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CeritaHindu/~4/tz0HwXsHPYA" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://ceritahindu.blogspot.com/feeds/2558382491970690049/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7221655881315686900&amp;postID=2558382491970690049&amp;isPopup=true" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/2558382491970690049?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/2558382491970690049?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CeritaHindu/~3/tz0HwXsHPYA/pura-agung-sriwijaya-palembang-sumatera.html" title="Pura Agung Sriwijaya - Palembang Sumatera Selatan" /><author><name>denny0214</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877375447862611766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://1.bp.blogspot.com/_tHWVsZfq_Sw/SYAVlzkrU6I/AAAAAAAAABI/yVCMbboC02s/S220/100_3522.JPG" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/_tHWVsZfq_Sw/SnaPQsev4sI/AAAAAAAAAQA/Pzsp_6ssr80/s72-c/petapurasriwijaya.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://ceritahindu.blogspot.com/2009/08/pura-agung-sriwijaya-palembang-sumatera.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DE8HRXY9eSp7ImA9WxJbGEg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-7221655881315686900.post-2494444164142354131</id><published>2009-07-29T01:29:00.000-07:00</published><updated>2009-07-29T01:40:34.861-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-07-29T01:40:34.861-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tengenan" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="cecak" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="saraswati" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pengetahuan" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="cerdik" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="bali" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="aksara" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="ilmu" /><title>SIMBOL ILMU PENGETAHUAN = CECAK??</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setiap umat Hindu merayakan Hari Raya Saraswati, dalam banten-nya selalu ada jajan berwujud cecek atau seekor cecak. Bila ditanya mengapa dibuat jajan dengan bentuk seperti itu, jawaban yang kita peroleh, karena lambang ilmu pengetahuan Sang Hyang Aji Saraswati adalah cecak. Cecak adalah binatang yang bijak, sakti, dan magis. Buktinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JIKA umat Hindu di Bali ketika sedang nobrol atau berbicara kemudian terdengar bunyi cecak, berarti apa yang bicarakan diyakini telah dibenarkan oleh sang cecak. Sehingga terlontarlah ucapan, "Pukulun Batara Sang Hyang Aji Saraswati". Lantas, mengapa dipilih wujud seekor cecak sebagai lambang ilmu pengetahuan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang menjawab bahwa cecak itu adalah binatang keramat atau hewan suci dan cerdik. Ketika dikejar oleh pemangsanya, dia akan melepaskan ekornya. Ekor ini, setelah lepas, akan bergerak-gerak sendiri. Lalu, pemangsa akan tertarik dan perhatiannya beralih ke potongan ekor cecak yang bergerak-gerak tersebut, bukan kepada cecaknya. Dengan cara ini, cecak dapat meloloskan dirinya dari kejaran pemangsanya. Cecak akhirnya bebas berlari dan selamat dari terkaman pemangsanya. Jawaban pembenaran lainnya, bahwa cecak itu mampu berjalan merayap di dinding dan di langit-langit rumah dengan punggung menghadap ke bawah. Telapak kakinya mempunyai alat khusus untuk menempel di dinding dan plafon rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita tambahan lainnya, bahwa Prabu Anglingdharma yang sakti mandraguna, sampai bertengkar dengan permaisurinya gara-gara mendengarkan percakapan dua ekor cecak. Oleh karena Sang Prabu tidak mau menceritakan apa yang telah didengarnya, Sang Permaisuri kemudian melakukan labuh geni, menceburkan dirinya ke dalam api yang berkobar-kobar sehingga hangus terbakar dan tewas. Inilah akibat merahasiakan apa yang telah didengar tentang percakapan dua ekor cecak yang merupakan pasangan suami istri tersebut. Dampaknya amat fatal pada kelangsungan kehidupan rumah tangganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Aksara Bali&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betulkah cecak itu binatang yang bijaksana, serba tahu, sakti, keramat, magis, ibarat penjelmaan Sang Hyang Aji Saraswati, lambang ilmu pengetahuan? Benarkah cecak cocok dan tepat dipergunakan sebagai simbol ilmu pengetahuan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjawab pertanyaan tersebut, marilah kita simak terlebih dahulu aksara Bali. Aksara Bali terbagi atas aksara biasa dan aksara suci. Aksara biasa terdiri atas aksara wreastra -- aksara yang dipergunakan sehari-hari, terdiri atas 18 aksara (lihat boks penjelasan aksara Bali), misalnya: a, na, ca, ra, ka, dan aksara swalalita atau aksara yang dipergunakan pada kesusastraan Kawi yang terdiri atas 47 aksara, misalnya: a, i, u, e, o.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksara suci terbagi atas aksara wijaksara atau bijaksara (aksara swalalita + aksara amsa, misalnya: ong, ang, ung, mang) dan modre atau aksara lukisan magis. Aksara amsa terdiri atas ardhacandra (bulan sabit), windu (matahari, bulatan,) dan nadha (bintang, segi tiga). Ketiganya melambangkan Dewa Tri Murti -- utpatti-sthiti-pralina atau lahir-hidup-mati. Dewa Brahma dengan lambang api, Dewa Wisnu dengan simbol air dan Dewa Siwa atau Iswara dengan lambang udara. Aksara amsa adalah lambang Hyang Widhi dalam wujud Tri Murti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, dalam aksara Bali ada yang disebut pangangge tengenan. Tengenan adalah aksara wianjana (huruf konsonan, huruf mati) yang terletak pada akhir kata yang melambangkan fonem konsonan. Tengenan ini dilukiskan dengan pangangge tengenan serta gantungan (ditulis di bawah aksara) atau gempelan (digabungkan dengan aksara di depannya). Contoh pangangge tengenan: cecek (ng), surang (r), bisah (h), dan adeg-adeg atau tanda bunyi mati. Misalnya kata gamang, kasar, asah, dan aad. Jika kita perhatikan tulisan aksara mang, dapat ditulis ma dengan cecek sebagai aksara biasa atau ma dengan amsa sebagai aksara wijaksara/bijaksara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, dilihat dari fungsinya sebagai pangangge tengenan, cecek sama dengan aksara amsa yang berbunyi ng. Berdasarkan hal ini, logislah kalau pangangge tengenan atau aksara amsa yang merupakan simbol Dewa Tri Murti (Brahma, Wisnu, Siwa), niasa Hyang Widhi, oleh umat Hindu di Bali dilukis atau diwujudkan dengan simbol binatang cecek atau cecak. Ini bukan berarti binatang cecak itu binatang bijak, cerdik, sakti, magis, atau religius, tetapi semata-mata karena binatang tersebut namanya sama dengan pangangge tengenan cecek atau amsa, yang bunyinya ng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, agar logis, rasional, dan konsisten pada ajaran Hindu, maka dipergunakanlah binatang itu, yang hanya memiliki dwi pramana (bayu dan sabda, tanpa idep atau pikiran) sebagai simbol Sang Aji Saraswati, lambang ilmu pengetahuan dalam banten Saraswati. Bukan karena cecak itu binatang bijak, cerdik, sakti dan sebagainya. Kemampuan melepaskan ekornya atau merayap di dinding, bukan hasil kreativitasnya atau inovasinya sendiri berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi karena tidak mempunyai idep, tetapi memang merupakan kodratnya sebagai binatang cecak yang diciptakan dan ditakdirkan oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa harus demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PENJELASAN PERIHAL AKSARA BALI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*    Aksara Wreastra:      = a,      = na,     = ca,     = ra,      = ka, dstnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*    Aksara Swalalita:      = a,      = i,       = u,      = e,      = o.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*   Aksara Suci terbagi atas aksara Wijaksara atau Bijaksara (aksara Swalalita + aksara Amsa, misalnya : = ong, = ang, = ung, = mang) dan Modre (aksara lukisan magis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*   Aksara Amsa  (  Omkara  ) terdiri atas: ( ں  )Ardhacandra (bulan sabit), (  ๐) Windu (matahari, bulatan,) dan  (  ٠ )Nadha (bintang, segi tiga).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*   Dewa Brahma berlambang api (  A   ), Dewa Wisnu berlambang air ( U    ), dan Dewa Siwa atau Iswara berlambang udara (  M   ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*    Contoh Pangangge Tengenan: cecek (     ) = ng, surang (     ) = r, bisah (     ) = h, dan adeg-adeg (     ) = tanda bunyi mati. Aksara "mang", dapat ditulis        (ma dengan cecek, sebagai aksara biasa) atau        (ma dengan Amsa, sebagai aksara Wijaksara/Bijaksara).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*  Jadi, dilihat dari fungsinya sebagai Pangangge Tengenan, cecek sama dengan aksara Amsa yang berbunyi "ng". Berdasarkan hal ini, ia merupakan simbol Dewa Tri Murti (Brahma, Wisnu, Siwa) -- umat Hindu di Bali melukiskan dengan simbol binatang cecek atau cecak. Ini bukan berarti binatang cecak itu binatang bijak, cerdik, sakti, magis, atau religius, tetapi semata-mata karena binatang tersebut namanya sama dengan Pangangge Tengenan cecek atau Amsa, yang bunyinya "ng" (........).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;source:  an e-mail from I Wayan Sudarma (&lt;span class="gI"&gt;peradah-indonesia@yahoogroups.com&lt;/span&gt;&lt;strong style="font-weight: normal;"&gt;&lt;/strong&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7221655881315686900-2494444164142354131?l=ceritahindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/dvgchpvZsVLGOzmB7bOJIp8Jcio/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/dvgchpvZsVLGOzmB7bOJIp8Jcio/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/dvgchpvZsVLGOzmB7bOJIp8Jcio/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/dvgchpvZsVLGOzmB7bOJIp8Jcio/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CeritaHindu/~4/Y1ywqJJlcHA" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://ceritahindu.blogspot.com/feeds/2494444164142354131/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7221655881315686900&amp;postID=2494444164142354131&amp;isPopup=true" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/2494444164142354131?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/2494444164142354131?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CeritaHindu/~3/Y1ywqJJlcHA/simbol-ilmu-pengetahuan-cecak.html" title="SIMBOL ILMU PENGETAHUAN = CECAK??" /><author><name>denny0214</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877375447862611766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://1.bp.blogspot.com/_tHWVsZfq_Sw/SYAVlzkrU6I/AAAAAAAAABI/yVCMbboC02s/S220/100_3522.JPG" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://ceritahindu.blogspot.com/2009/07/simbol-ilmu-pengetahuan-cecak.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0EHRXc5eCp7ImA9WxJUFk4.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-7221655881315686900.post-460675289403351277</id><published>2009-07-14T22:05:00.000-07:00</published><updated>2009-07-14T22:27:14.920-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-07-14T22:27:14.920-07:00</app:edited><title>Kebangkitan Gerakan Agama Hindu di Jawa, Indonesia</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mungkin berita ini sudah agak lama, tapi masih layak diperbincangkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebangkitan Gerakan Agama Hindu di Jawa, Indonesia &lt;br /&gt;Oleh Thomas Reuter &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama 1000 tahun, kerajaan-kerajaan Hindu subur di Jawa, sampai datangnya Islam di abad ke 15. Tetapi, di tahun 1970-an, bangkit kembali  sebuah gerakan Hindu yang menyebar ke seluruh kepulauan Indonesia.  Agama Hindu bahkan mendapat lebih banyak pengikut di saat negara  sedang menghadapi berbagai krisis, terutama di Jawa, pusat politik  di Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan riset etnografis atas lima kelompok masyarakat pada  candi-candi Hindu besar, tulisan ini menelaah sejarah politik dan  dinamika sosial bangkitnya kembali agama Hindu di Jawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tertarik pada Jawa setelah melakukan penelitian selama 10 tahun  di Bali. Kebanyakan masyarakat Bali menganggap diri mereka sebagai  keturunan kaum ningrat kerajaan Hindu Jawa Majapahit yang  menaklukkan Bali di abad ke 14. Jumlah orang Bali yang berziarah ke  kuil-kuil Hindu di Jawa semakin bertambah. Malah mereka sering terlibat  dalam pembangunan kuil-kuil dan pelaksanaan ibadah Hindu baru di Jawa.  Mereka juga mendominasi perwakilan kaum Hindu di taraf nasional. Dan  banyak pendeta-pendeta Hindu Jawa yang dilatih di Bali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang paling mempengaruhi gerakan ini : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kebangkitan Agama Hindu dalam Konteks Sejarah dan Politik &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Banyak orang Jawa masih mempertahankan kepercayaan warisan tradisiHindu selama berabad-abad sambil juga memeluk Islam. Kepercayaan ini dikenal sebagai agama Jawa (kejawen) atau Islam Jawa (Islam abangan, nama yang dipakai Geertz 1960). Beberapa kelompok masyarakat terpencil masih tetap memeluk Hindu secara terbuka. Salah satu kelompok ini adalah masyarakat Hindu yang tinggal di dataran tinggi Tengger (Hefner 1985, 1990) di Jawa Timur. Orang-orang `Hindu' Jawa yang ditulisdi laporan ini adalah mereka yang tadinya Muslim dan kemudian murtad untuk memeluk agama Hindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laporan tahun 1999 yang tidak pernah diumumkan oleh Kantor Statistik  Nasional Indonesia memperkirakan terdapat 100.000 orang Jawa yang  secara resmi murtad atau `kembali lagi' pindah dari Islam ke Hindu  dalam waktu 20 tahun terakhir. Pada saat yang bersamaan, cabang &lt;br /&gt;organisasi Hindu (PHDI) Jawa Timur mengatakan bahwa umatnya  bertambah sampai berjumlah 76.000 di tahun ini saja. Angka ini tidak  sepenuhnya dapat dipercaya, dan tidak dapat pula menggambarkan  besarnya kebangkitan agama Hindu di Jawa karena ini hanya  berdasarkan nama agama yang tercantum di KTP dan hanya berdasarkan  laporan agama resmi. Menurut pengamatan saya, banyak yang pindah  agama tapi tidak melaporkan diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian, perhitungan jumlah orang Hindu di Jawa ternyata  lebih banyak daripada orang Hindu di Bali. Data yang dikumpulkan  secara independen selama penelitian saya di Jawa Timur menunjukkan  bahwa tingkat cepatnya proses pindah agama melesat secara dramatis  selama dan setelah jatuhnya Pemerintahan Rezim Suharto di tahun  1998. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum tahun 1962, agama Hindu tidak diakui secara nasional  sehingga orang-orang beragama Hindu tidak bisa mencantumkan agama mereka  secara resmi. [2] Permohonan pengakuan Hindu sebagai agama resmi  diajukan oleh organisasi agama dari Bali dan dikabulkan di tahun  1962 demi kepentingan masyarakat Bali yang mayoritas adalah Hindu.  Organisasi yang terbesar yakni Parisada Hindu Dharma Bali yang  kemudian diubah menjadi PHD Indonesia (PHDI) di tahun 1964, berupaya  untuk memperkenalkan Hindu secara nasional dan bukan hanya milik  Bali saja (Ramstedt 1998). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di awal tahun 70-an, orang-orang Toraja Sulawesi mengambil kesempatan ini  dengan memeluk agama nenek moyang mereka yang banyak dipengaruhi  oleh Hindu. Masyarakat Batak Karo dari Sumatra di tahun 1977 dan  masyarakat Dayak Ngaju di Kalimantan di tahun 1980 juga melakukan  hal yang sama (Bakker 1995). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Identitas agama menjadi masalah hidup-mati saat agama Hindu  memperoleh status resminya, yakni di saat terjadinya kerusuhan anti  komunis di tahun 1965-66 (Beatty 1999). Orang-orang yang tidak dapat  menyebutkan agamanya digolongkan sebagai orang atheis dan dituduh  komunis. Terlepas alasan politis ini, kebanyakan orang menganut  Hindu karena juga ingin mempertahankan agama nenek moyang dan bagi  masyarakat di luar Jawa, Hindu merupakan pilihan terbaik  dibandingkan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, kebanyakan orang Jawa tidaklah  melihat Hindu sebagai agama pilihan di saat itu karena kurang adanya  organisasi Hindu dan juga karena takut pembalasan organisasi-organisasi Islam besar seperti Nahdatul Ulama (NU). Anggota-anggota muda NU tidak hanya  aktif membunuhi orang-orang komunis tapi juga unsur-unsur Jawa Kejawen atau  anti Islam yang banyak dianut Partai Nasionalis Islam milik Sukarno  selama tahap pertama pembunuhan masal di jaman itu (Hefner 1987).  Demi keslamatan nyawa, para pengikut Kejawen terpaksa mengumumkan  diri mereka sebagai Muslim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal Orde Baru, Presiden Suharto tidak mengikuti paham agama  apapun. Baru di tahun 1990-an, Suharto mulai mendekati organisasi-organisasi Islam. Awalnya Suharto adalah pembela aliran Kejawen yang gigih,  tapi ia lalu mengajukan tawaran-tawaran kepada kelompok Islam di masa itu  karena berkurangnya dukungan masyarakat dan militer terhadap  rezimnya. Tindakannya yang paling jelas tampak pada dukungannya atas  Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), yang anggotanya secara  terbuka menginginkan negara dan masyarakat Islam Indonesia (Hefner  1997). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatiran mulai tumbuh tatkala ICMI menjadi organisasi yang  mendominasi birokrasi nasional dan melaksanakan program-program pendidikan  Islam besar-besaran dan pembangunan mesjid-mesjid melalui Departemen Agama dan  sekali lagi menyerang aliran dan penganut Kejawen. Pada waktu yang  sama, terjadi pembunuhan-pembunuhan oleh ekstrimis Muslim atas orang-orang yang  dituduh sebagai dukun yang melakukan pengobatan tradisional Kejawen.  (Ingat serentetan kasus pembunuhan dukun santet oleh `ninja' yang  terjadi di desa-desa terpencil di Jawa?) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman-Pengalaman pahit dan penindasan-penindasan membuat para penganut Kejawen  takut dan juga benci. Dalam wawancara yang dilakukan di tahun 1999,  orang-orang yang baru saja murtad dan memeluk Hindu di Jawa Tengah dan  Timur mengaku bahwa mereka sebenarnya tidak keberatan dengan  identitas Islam. Tapi mereka sakit hati saat harus meninggalkan  tradisi Hindu Jawa dengan tidak lagi melakukan upacara-upacara tertentu  yang sudah menjadi bagian hidup mereka. Untuk menyalurkan hasrat  politik, banyak penganut Kejawen dan pemeluk baru agama Hindu yang  menjadi anggota partai politik Megawati Sukarnoputri. Sumber-sumber keterangan dari kelompok ini menyatakan bahwa kembalinya mereka  kepada agama Majapahit (Hindu) merupakan kebanggaan nasional dan ini  diwujudkan melalui pandangan politik baru yang penuh rasa percaya  diri.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kebangkitan Agama Hindu dalam Konteks Sosial dan Ekonomi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri-ciri umum yang tampak di masyarakat baru Hindu di Jawa adalah  kecenderungan untuk berkumpul di pura-pura yang baru saja dibangun atau  candi-candi kuno yang dinyatakan kembali sebagai tempat ibadah masyarakat  Hindu. Satu dari Pura-pura Hindu yang baru dibangun di Jawa Timur adalah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh, Candi Mandaragiri Semeru Agung, di bukit dekat Gunung  Semeru. Ketika candi ini selesai dibangun pada bulan Juli 1992 dengan  bantuan keuangan Bali, hanya segelintir keluarga setempat secara  resmi memeluk agama Hindu. Penelitian di bulan Desember 1999  menunjukkan masyarakat Hindu lokal berkembang menjadi lebih dari  5.000 keluarga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpindahan agama besar-besaran yang sama juga terjadi di daerah sekitar  Candi Agung Blambangan yang merupakan candi baru yang dibangun di  daerah sisa-sisa kerajaan Blambangan, pusat kekuatan politis Hindu  terakhir di Jawa. Yang tidak kalah pentingnya adalah Candi Loka  Moksa Jayabaya (di desa Menang dekat Kediri), di mana raja dan  petinggi Hindu, Jayabaya, dipercaya mencapai moksa (kemerdekaan  spiritual). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan Hindu lain yang juga mulai tampak terjadi di daerah sekitar  Candi Pucak Raung (di Jawa Timur) yang baru saja dibangun. Daerah  ini disebut dalam sastra Bali sebagai tempat di mana begawan Hindu,  Maharishi Markandeya, mengumpulkan pengikutnya untuk melakukan &lt;br /&gt;perjalanan ke Bali dan dengan itu membawa agama Hindu ke Bali di  abad 5 M. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebangkitan agama Hindu juga tampak di daerah Candi Hindukuno di  Trowulan dekat Mojokerto. Daerah ini dikenal sebagai ibukota  kerajaan Hindu Majapahit. Gerakan Hindu setempat berusaha untuk  mendapatkan ijin menggunakan candi yang baru saja digali sebagai  tempat ibadah agama Hindu. Candi ini akan dipersembahkan bagi Gajah  Mada, perdana menteri Majapahit yang berhasil mengembangkan kerajaan  Hindu kecil itu sampai meliput wilayah dari Sabang sampai Merauke. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun terdapat lebih banyak pertentangan dari kelompok Islam di  Jawa Tengah daripada di Jawa Timur, masyarakat Hindu ternyata juga  berkembang di Jawa Tengah (Lyon 1980). Contohnya adalah di Klaten di  dekat Candi Prambanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Candi Prambanan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu candi-candi besar Hindu juga dapat mendatangkan kemakmuran  baru bagi masyarakat setempat. Selain mengundang biaya bagi  pekerja-pekerja, pelebaran dan perbaikan candi itu sendiri, mengalirnya  peziarah Bali yang terus menerus ke candi-candi nasional itu menciptakan  suatu industri baru bagi penduduk setempat. Di sepanjang jalan utama  menuju Candi Semeru terdapat sederetan hotel dan toko-toko yang  menawarkan sesajen siap pakai, angkutan, dan makanan bagi para  pendatang. Pada hari-hari raya besar, puluhan ribu peziarah akan datang  setiap hari. Peziarah yang memberi sumbangan dana besar bagi candi  besar itu juga ternyata menarik perhatian penduduk setempat.  Kemakmuran ekonomi orang-orang Bali juga membuat penduduk setempat  berpendapat bahwa `budaya Hindu ternyata lebih banyak mendatangkan  keberhasilan pariwisata internasional dibandingkan budaya Islam'. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kebangkitan Hindu sebagai Pemenuhan Ramalan Utopia (negara  impian) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihak pendukung dan penentang agama Hindu biasanya menghubungkan  bangkitnya agama Hindu secara tiba-tiba di Jawa dengan ramalan terkenal  Sabdapalon dan Jayabaya. Dalam ramalan itu dinyatakan beberapa  utopia dan bencana alam dahsyat, meskipun pengertian akan ramalan  ini berbeda antara kedua pihak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan terpenuhinya ramalan itu merupakan cermin ketidakpuasan yang  semakin membesar atas Pemerintahan Suharto yang korup dan tangan  besi di tahun 1990-an sampai berakhir di tahun 1998, yang diikuti  dengan demonstrasi mahasiswa di berbagai kota di Jawa sejalan dengan &lt;br /&gt;krisis ekonomi Asia. Krisis politik dan ekonomi yang lebih besar  yang terus berlangsung di Indonesia saat ini juga semakin  menumbuhkan harapan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden Abdurahman Wahid, presiden Indonesia pertama yang terpilih  secara demokratis, ternyata mengundang banyak kritik karena pada  masanya terjadi pertentangan agama, pemberontakan di Aceh dan Papua  Barat dan skandal korupsi di Pemerintahan. [3] Masyarakat luas  menduga ketidakstabilan politik di bawah Pemerintahan Megawati  Sukarnoputri (sejak tanggal 23 Juli 2001) akan terus berlangsung.  Selain itu dikhawatirkan penindasan seperti yang terjadi di jaman  Suharto akan terulang lagi. Menurut penentang dan pendukung gerakan  baru agama Hindu, keadaan politik yang tak menentu saat ini sesuai  dengan ramalan Sabdapalon dan Jayabaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut legenda, Sabdapalon adalah pendeta dan penasehat Brawijaya  V, raja terakhir kerajaan Hindu Majapahit. Dikisahkan pula bahwa  Sabdapalon mengutuk rajanya yang meninggalkan agama Hindu untuk  memeluk agama Islam di tahun 1478. Sabdapalon lalu berjanji untuk  kembali setelah waktu 500 tahun berlalu di masa merajalelanya  korupsi politik dan bencana2-bencana alam besar, untuk mengenyahkan Islam  dari pulau Jawa dan membangkitkan kembali agama dan masyarakat Hindu  Jawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa candi Hindu baru yang pertama dibangun di Jawa memang  selesai dibangun sekitar tahun 1978, misalnya Candi Blambangan di  daerah Banyuwangi. Sesuai dengan ramalan, Gunung Semeru meledak di  waktu itu pula. Semua ini dianggap sebagai bukti tepatnya ramalan  Sabdapalon. Pihak penentang Hindu dari agama Islam menerima prinsip  ramalan itu, meskipun menafsirkannya secara berbeda. Beberapa  kalangan Islam menganggap murtadin yang memeluk Hindu disebabkan  karena kelemahan sesaat dalam masyarakat Islam itu sendiri, dengan  menyalahkan sifat materialisme di dunia modern dan turunnya nilai-nilai Islami atau karena penerapan Islam yang tak murni melalui tatacara  ibadat Kejawen (Soewarno 1981). Menurut pendapat mereka, `kembalinya  Sabdapalon' berarti ujian bagi Islam dan perlunya memurnikan dan  membangkitkan kembali iman Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramalan yang lain yang juga terkenal di seluruh Jawa dan Indonesia  adalah ramalan Jayabaya. Buku tentang ramalan ini yang ditulis oleh  Soesetro &amp;amp; Arief (1999) telah jadi best seller nasional. Ramalan  Jayabaya juga seringkali didiskusikan di koran-koran. Ramalan-ramalan kuno ini  memang bagian dari percakapan dan diskusi sehari-hari dalam  masyarakat Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh legendaris Sri Mapanji Jayabaya berkuasa di kerajaan Kediri di  Jawa Timur dari tahun 1135 sampai 1157 M (Buchari 1968:19). Dia  terkenal atas usahanya menyatukan kembali Jawa setelah pecah karena  kematian raja sebelumnya, Airlangga. Jayabaya juga terkenal karena  keadilan dan kemakmuran kerajaannya dan karena pengabdiannya bagi  kesejahteraan rakyatnya. Jayabaya dikenal sebagai titisan dewa  Wishnu dan dianggap sebagai `ratu adil' yakni raja yang bijaksana  yang muncul di jaman edan di akhir putaran tata surya untuk  menegakkan kembali keadilan sosial, keteraturan dan keseimbangan di  dunia. Banyak yang percaya waktu datangnya sang ratu adil yang baru  telah dekat (seperti yang disebutkan dalam ramalan itu, "jika  kendaraan-kendaraan besi bergerak sendiri tanpa kuda-kuda dan kapal-kapal berlayar  menembus langit"), dan ia akan datang untuk menyelamatkan dan  menyatukan Indonesia kembali setelah krisis hebat yang mengantarkan  kepada awal jaman keemasan yang baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dugaan terjadinya bencana besar dan utopia ini mengingatkan akan  berakhirnya putaran tatasurya di masa kejayaan yang lampau untuk  masuk ke jaman sekarang yang penuh kebobrokan moral, dan perlu  diperbaiki kembali di masa depan dengan mengulangi kembali kejayaan  di masa lampau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Hindu Jawa mengenang Sabdapalon dan Jayabaya dengan penuh  kebanggaan karena mewakili jaman keemasan sebelum Islam. Kalangan  Islam sendiri sebaliknya percaya bahwa Jayabaya itu sebetulnya  adalah seorang Muslim dan Sabdapalon tidak mau masuk Islam karena  saat itu dia berhadapan dengan bentuk Islam yang salah dan tidak  murni lagi (Soewarno 1981). Meskipun begitu, para penelaah ramalan  dari pihak Muslim dan Hindu setuju bahwa sekaranglah masa terjadinya  bencana hebat. Mungkin dalam bentuk reformasi politik besar-besaran dan  mungkin pula sebuah revolusi. Kedua belah pihak juga setuju bahwa  sistem pemerintahan demokrasi yang murni hanya dapat terlaksana  dengan adanya pemimpin yang bermoral sangat tinggi yang mencampurkan  kesadaran demokrasi modern dengan karisma kepemimpinan tradisional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh ramalan Jayabaya tampak nyata pada diri masyarakat  Indonesia dari berbagai kalangan dan ini tampak pula dengan  kunjungan-kunjungan rahasia yang dilakukan Presiden Abdurahman Wahid (sekali  sebelum dia dicalonkan untuk jadi presiden dan sekali lagi sebelum  dia terpilih) sewaktu menjabat ketua NU ke candi keramat Raja  Jayabaya di Bali, Pura Pucak Penulisan. [4] Setelah kunjungan  pribadi malam hari di pura Hindu kuno ini, demikian menurut  pengakuan pendeta-pendeta Hindu setempat, Gus Dur berbicara dengan mereka  untuk waktu lama tentang ramalan-ramalan Jayabaya dan kedatangan kembali  ratu adil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukit Penulisan &lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;- -- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Footnotes &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Islam, for example, incorporated elements from the tribal  traditions of Arab peoples and from Jewish and Christian texts such  as the 'Old Testament'. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] The other four state-recognized religions (agama) are Islam,  Catholicism, Protestantism, and Buddhism (mainly Indonesians of  Chinese ethnicity). Unrecognized religions are categorized by the  state as minor  'streams of belief' (aliran kepercayaan) or are simply treated as a  part of different local 'customs and traditions' (adat). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] As I am writing this, parliamentary procedures have been set  into motion so as to impeach President Abdurahman Wahid on  allegations of his involvement in corruption scandals. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Pura Pucak Penulisan is still an important regional temple, and  was a state temple of Balinese kings from the eighth century AD  (Reuter 1998). Many statues of Balinese kings are still found in its  inner sanctum, including one depicting Airlangga's younger brother  Anak Wungsu. Literary sources suggest that intimate ties of kinship  connected the royal families of Bali with the dynasties of Eastern  Javanese kingdoms, including Kediri. Jayabaya's predecessor  Airlannga, for example, was a Balinese prince. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] Sometimes apocalyptic expectations can reach such a pitch that  members of the movement concerned may feel a need to bring about the  very cataclysm the have been predicting. The poison gas attack in  Tokyo launched by Japan's AUM Shinokio sect is a recent example. It  is still uncertain whether the recent bomb attacks on Javanese  Christian churches over the christmas period of 2000 were the  responsibility of radical religious groups, or were instigated by  other political interest groups wishing to destabilize the country  by inciting simmering inter-religious conflicts in Java to the same  level of violence as in the troubled Molukka Province. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;References &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adorno, T. W. 1978. 'Freudian Theory and the Pattern of Fascist  Propaganda'. In A. Arato &amp;amp; E. Gebhardt (eds), The Essential  Frankfurt School Reader. Oxford: Basil Blackwell. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bakker, F. 1995. Bali in the Indonesian State in the 1990s: The  religious aspect. Paper presented at the Third International Bali  Studies Workshop, 3-7 July 1995. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beatty, A. 1999. Varieties of Javanese Religion. Cambridge:  Cambridge University Press. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buchari 1968. 'Sri Maharaja Mapanji Garasakan'. Madjalah Ilmu-Ilmu  Sastra Indonesia, 1968(4):1-26. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ellingsen, P. 1999. 'Silence on Campus: How academics are being  gagged as universities toe the corporate line'. Melbourne: The Age  Magazine, 11.12.1999:26-32. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fox, J. &amp;amp; Sathers, C. (eds) 1996. Origins, Ancestry and Alliance:  Explorations in Austronesian Ethnography. Canberra: Department of  Anthropology, Research School of Pacific and Asian Studies,  Australian National University. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Geertz, C. 1960. The Religion of Java. Chicago: The University of  Chicago Press. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hefner, R. 1985. Hindu Javanese: Tengger Tradition and Islam.  Princeton: Princeton University Press. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hefner, R. 1987. 'The Political Economy of Islamic Conversion in  Modern East Java'. In W. Roff (ed.), Islam and the Political Economy  of Meaning. London: Croom Helm. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hefner, R. 1990. The Political Economy of Mountain Java. Berkeley:  University of California Press. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hefner, R. 1997. 'Islamization and Democratization in Indonesia'. In  R. Hefner &amp;amp; P. Horvatich (eds), Islam in an Era of Nation States:  Politics and Religious Renewal in Muslim Southeast Asia. Honolulu:  University of Hawaii Press. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaplan, M. 1995. Neither Cargo nor Cult: Ritual Politics and the  Colonial Imagination in Fiji. Durham (NC): Duke University Press. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lee, K. 1999. A Fragile Nation: The Indonesian Crisis. River Edge  (N.J.): World Scientific. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lindstrom, L. 1993. Cargo Cult: Strange Stories of Desire from  Melanesia and Beyond. Honolulu: University of Hawaii Press. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lyon, M. 1980. 'The Hindu Revival in Java". In J. Fox (ed.),  Indonesia: The making of a Culture. Canberra: Research School of  Pacific and Asian Studies, Australian National University. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramstedt, M. 1998. 'Negotiating Identity: 'Hinduism' in Modern  Indonesia'. Leiden: IIAS Newsletter, 17:50. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reuter, T. 1998. 'The Banua of CandiPucak Penulisan: A Ritual Domain  in the Highlands of Bali'. Review of Indonesian and Malaysian  Affairs, 32 (1):55-109. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Schwartz, H. 1987. 'Millenarianism: An overview'. In M. Eliade  (ed.), The Encyclopedia of Religion, Vol. 9:521-532. New York:  MacMillan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Smelser, J. 1962. Theory of Collective Behavior. London: Routledge  and Kegan Paul. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soesetro, D. &amp;amp; Arief, Z. 1999. Ramalan Jayabaya di Era Reformasi.  Yogyakarta: Media Pressindo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soewarna, M. 1981. Ramalan Jayabaya Versi Sabda Palon. Jakarta: P.T  Yudha Gama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stewart, K. &amp;amp; Harding, S. 1999. 'Bad Endings: American Apocalypsis'.  Annual Review of Anthropology 28:285-310. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stewart, P.J. 2000. 'Introduction: Latencies and realizations in  millennial practices'. Ethnohistory 47(1):3-27. [Special Issue on  Millenarian Movements.] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Timmer, J. 2000. 'The return of the kingdom: Agama and the  millennium among the Imyan of Irian Jaya, Indonesia'. . Ethnohistory  47(1):29-65. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Note: Dr Thomas Reuter is Queen Elizabeth II Research Fellow at the  University of Melbourne's School of Anthropology, Geography &amp;amp;  Environmental Studies. This paper was published in The Australian  Journal of Anthropology and is being reproduced with their  permission.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- m --&gt;&lt;a class="postlink" href="http://www.swaveda.com/articles.php?action=show&amp;amp;id=49"&gt;http://www.swaveda.com/articles.php?action=show&amp;amp;id=49&lt;/a&gt;&lt;!-- m --&gt; &lt;br /&gt;Note: Dr Thomas Reuter is Queen Elizabeth II Research Fellow at the  University of Melbourne's School of Anthropology, Geography &amp;amp;  Environmental Studies. This paper was published in The Australian  Journal of Anthropology and is being reproduced with their  permission.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://www.apakabar.ws/forums/viewtopic.php?p=68079&amp;amp;sid=8979d85114a1e3c2880b970930c0291d"&gt;Apa Kabar&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7221655881315686900-460675289403351277?l=ceritahindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/iF-DSnIStVpCc1I483Ve2fPmjmw/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/iF-DSnIStVpCc1I483Ve2fPmjmw/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/iF-DSnIStVpCc1I483Ve2fPmjmw/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/iF-DSnIStVpCc1I483Ve2fPmjmw/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CeritaHindu/~4/HTT3QOdpTuY" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://ceritahindu.blogspot.com/feeds/460675289403351277/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7221655881315686900&amp;postID=460675289403351277&amp;isPopup=true" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/460675289403351277?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/460675289403351277?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CeritaHindu/~3/HTT3QOdpTuY/kebangkitan-gerakan-agama-hindu-di-jawa.html" title="Kebangkitan Gerakan Agama Hindu di Jawa, Indonesia" /><author><name>denny0214</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877375447862611766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://1.bp.blogspot.com/_tHWVsZfq_Sw/SYAVlzkrU6I/AAAAAAAAABI/yVCMbboC02s/S220/100_3522.JPG" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://ceritahindu.blogspot.com/2009/07/kebangkitan-gerakan-agama-hindu-di-jawa.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEUCQXk4eyp7ImA9WxJUFUk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-7221655881315686900.post-8856671580792622973</id><published>2009-07-13T21:03:00.000-07:00</published><updated>2009-07-13T21:37:40.733-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-07-13T21:37:40.733-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ayodya" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Siwa" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Gangga" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Indra" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ansuman" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sagara" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Asvamedha" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Brahma" /><title>“KISAH SUNGAI GANGGA DAN KAJIAN FILOSOFIS TRI HITA KARANA”</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ide Cerita: I Wayan Sudarma (Shri Danu D.P)- Bekasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah dipentaskan dalam bentuk drama tari di Pura Agung Tirta Bhuana -Bekasi Th. 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umat Hindu memercikkan, meminum dan mengusapkan AIR SUCI pada kepala dan mukanya sebagai pengakhir dari persembahyangan mereka. Untuk mengetahui apa yang dinamai AIR SUCI dalam Agama Hindu kami akan memulainya dengan menguraikan mengenai air Suci Sungai Gangga, yang ada di Bharata Warsa yaitu India.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia Barat, yang kini  terkenal menjadi tempat pusat kemajuan teknologi mutakhir itu, pada jaman turunnya wahyu Veda di Dunia Timur, masih merupakan hutan rimba yang dihuni oleh manusia-manusia primitive.  Dengan turunnya wahyu Veda, berarti dimulainya peradaban manusia, dan  itu dimulai dari Dunia Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahyu Veda disabdakan Hyang Widhi ke dunia melalui para Maharsi Bangsa Arya, yang terkenal genius itu. Sabda Tuhan tersebut diterima oleh para Maharsi melalui pendengarannya, sehingga kemudian sabda tersebut dinamai Sruti. Para Maharsi mampu mengingat-ingat wahyu Veda tersebut sampai akhir hayatnya. Sebagai penerima wahyu, para Maharsi meiliki kewajiban untuk menyebarluaskan wahyu tersebut kepada masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penyebarluasan Veda inilah para Maharsi mengalami kesulitan, karena kemampuan masyarakat berbeda-beda. Bagi mereka yang pikirannya mampu, diberikan pelajaran setara ilmiah. Tetapi bagi yang sangat awam, diajar Veda dengan penafsiran. Tafsir-tafsir Veda tersebut dinamai Smrti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu macam tafsir Veda yang disebut kitab-kitab Purana, memuat dongeng-dongeng keagamaan.  Kini, kitab-kitab Purana  tersebut berjumlah 36 pustaka. Bagi yang terpelajar, mungkin akan tersenyum tidak percaya bila telah membaca kitab-kitab Purana tersebut. Bahkan menuduh, bahwa penulis kitab-kitab Purana itu pembohong, penipu masyarakat yang sangat awam. Akan tetapi, pendapat tersebut akan hilang, apabila ia tahu, bahwa penulisan dongeng-dongeng dalam kitab-kitab Purana tersebut hanya merupakan simbolik-simbolik, merupakan gambaran-gambaran yang mudah dimengerti oleh orang awam, yang mengandung makna dan kebenaran yang dapat diterima dengan wajar. Jadi penulisan dongeng dalam kitab-kitab Purana tersebut, hanya merupakan media atau alat pendidikan yang sederhana dan mudah bagi orang awam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KISAH SUNGAI GANGGA DAN KAJIAN FILOSOFIS TRI&lt;br /&gt;HITA KARANA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang kesucian sungai Gangga juga dimuat dalam kitab Purana. Berbentuk cerita yang sangat menarik bila  dibacakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PROLOG:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahulu, kerajaan Ayodhya pernah diperintah oleh seorang raja yang bernama SAGARA. Baginda mempunyai dua orang istri. Dari istrinya yang pertama, Sang Raja dianugerahi seorang Putra bernama ANSUMAN, dan setelah dewasa menjadi seorang pertapa. Dan istri kedua baginda mendapatkan putra sebanyak 60.000 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diceritakanlah, pada suatu hari raja Sagara akan mengadakan Asvamedha Yajna atau Upacara Korban Kuda. Suatu upacara korban, harus didasari kesucian dan ketulusan hati. Nampaknya prinsip tersebut tidak dipegang oleh Sri Baginda. Ia mengadakan Asvamedha Yajna, hanya ingin mendapatkan kemasyuran dirinya belaka, dan hanya ingin menunjukkan kekuasaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SITUASI  &amp;amp;  DIALOG I&lt;br /&gt;Tempat: Kerajaan Ayodhya&lt;br /&gt;Situasi: Paruman Kerajaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdana Menteri:  Om Swatyastu Paduka Raja, semoga atas anugerah Hyang Widhi, Paduka dilimpahkan  kemuliaan. Mohon paduka menyampaikan amanat kepada hamba semua, ada  tugas apa yang harus kami lakukan sehingga Paduka mengumpulkan kami semuanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Sagara  :  Wahai Rakyatku yang setia……….setelah sekian lama Aku memerintah kerajaan ini, tak terasa kerajaanku telah tumbuh menjadi kerajaan yang besar. Untuk itu Aku berniat menyelenggarakan Karya Agung yaitu Asvamedha Yajna, bagaimana menurutmu Perdana Menteri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdana Menteri:  Ampun Paduka, niat Paduka itu sangat mulia, karena Asvamedha Yajna adalah upacara yang paling utama dari semua upacara korban, hamba sangat setuju dan akan mendukung niat paduka tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Sagara: Perlu kalian ketahui maksudku melaksanakan upacara ini, Aku ingin menjadi  raja termasyur  dan paling disegani di muka bumi ini. Aku ingin agar semuanya tunduk dan bersujud di  bawah kekuasaanku, Aku ingin menjadi penguasa atas dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdana Menteri: Baik Baginda…….Semua titah paduka akan hamba laksanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian raja meninggalkan tempat diikuti oleh kedua istri, anak-anaknya dan diiringi oleh punggawa kerajaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SITUASI II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat upacara dilangsungkan yang  dipimpin oleh pendeta kerajaan, niat jahat dari Sang Raja telah diketahui oleh Dewa Indra, dan untuk menggagalkan maksud nakal Raja Sagara tersebut, dewa Indra menjelma sebagai ASURA (Orang Jahat). Ketika Kuda yang dijadikan korban telah dilepas, di tengah perjalanan  Kuda tersebut dihalau oleh ASURA hingga masuk ke dalam tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;SITUASI &amp;amp; DIALOG III&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat: Kerajaan Ayodhya&lt;br /&gt;Situasi: Tegang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sri Baginda Raja Sagara sangat marah, setelah mengatahui kudanya hilang. Maka segeralah  memerintahkan ke 60.000 putra-putranya untuk mencari kudanya yang telah menghilang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Sagara: Pengawal……. Pengawal……. Perdana menteri………. Senapati dimana kalian semua, mengapa kuda korbannya bisa hilang? Apa kerja kalian siang dan malam, Aku telah menyuruhmu untuk menjaga dan mengawasi kuda tersebut mengapa bisa hilang? Putra-putraku semuanya sekarang  kalian cepat pergi…. cari ke seluruh penjuru dan jangan kembali sebelum kalian menemukan kudanya !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putra Raja : Baik Ayahanda, semua perintah paduka akan hamba lakukan……..hamba mohon pamit! ( dengan sikap agak terpaksa dan ketakutan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah Sri Baginda Raja Sagara, yang sangat murka memerintahkan putra-putranya untuk mencari kuda korban itu tanpa ada yang berani membantah, walau dalam  hati mereka  sebenarnya enggan melaksanakan tugas tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SITUASI &amp;amp; DIALOG IV&lt;br /&gt;Tempat: Pertapaan Rsi Kapila&lt;br /&gt;Situasi: Tegang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lama mengadakan perjalanan, putra-putra Raja Sagara telah dapat menemukan kuda yang hilang itu. Ternyata kuda itu, berada di pertapaan Rsi Kapila. Hal ini menyebabkan Putra-putra Raja sagara tersebut berburuk sangka terhadap Rsi Kapila. Mereka menuduh Sang Rsi telah mencuri kudanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putra Raja 1: Wahai Sang Rsi ……Kami Putra Raja Sagara dari kerajaan Ayodhya, sedang mencari kuda yajna yang menghilang, dan kami menemukan kuda tersebut di sini, pastilah Sang&lt;br /&gt;Rsi yang telah mencurinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rsi Kapila: Om Swastyastu…..terimalah hormat hamba sebagai abdimu, maaf tuan …..semua yang tuan tuduhkan itu tidaklah  benar, kuda itu datang sendiri ke pertapaan hamba!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putra Raja 2: Aah…. Dasar pencuri! Mana ada pencuri yang mengaku? Kakanda pastilah Dia yang telah mencuri kuda ini, dan dia pantas dihukum atas kejahatannya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putra Raja 3: Siksa saja Dia, lalu kita hanyutkan ke sungai, biar tahu rasa…..apa akibatnya kalau mencuri dan berbohong!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niat buruk para Ksatria tersebut diketahui oleh Rsi Kapila, maka ia mendahului menghukum para Ksatria congkak itu. Melalui pancaran sinar sakti matanya, Rsi Kapila membakar habis ke 60.000 pura Raja Sagara hingga menjadi abu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SITUASI &amp;amp; DIALOG V&lt;br /&gt;Tempat : Kerajaan Ayodhya&lt;br /&gt;Situasi : Cemas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabhu Sagara sangat gelisah, karena sudah cukup lama putra-putranya tidak kembali. Oleh karena itu, Sang Ansuman, putra yang  telah menjadi pertapa itu, diperintahkan agar segera menyusul saudara-saudaranya dalam mencari kuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Sagara: Pengawal……….segera engkau panggilkan putraku Sang Ansuman, untuk menghadapku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengawal: Baik Yang Mulia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Ansuman: Om Swastyastu ……Ayahanda, terimalah sembah bhakti hamba, kalau boleh hamba tahu apa yang menyebabkan mengapa Ayahanda begitu gelisah ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Sagara: Bagaimana Ayah tidak cemas,  sejak kepergian saudara-saudaramu mencari kuda yajna, hingga hari ini belum juga kembali, jangan-jangan mereka mendapat celaka! Itulah sebabnya Ayah memanggilmu untuk segera menyusul saudara-saudaramu  mencari kuda  terebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Ansuman: Jika itu penyebab kegelisahan Ayahanda, saya siap melaksanakan tugas ini dan menemukan kembali kuda dan saudara-saudara saya. Ijinkalah saya menyusulnya sekarang juga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Sagara: Berangkatlah, doa dan restu ayah menyertaimu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Ansuman, setelah menghaturkan sembah, segera berangkat napak tilas perjalanan saudara-saudaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SITUASI DAN DIALOG VI&lt;br /&gt;Tempat: Pertapaan Rsi Kapila&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampailah SangAnsuman di pertapaan Rsi Kapila. Ia melihat kuda yang dicarinya. Sang Ansuman, yang telah terbiasa bergaul dengan para pertapa, segera menghadap Sang Rsi. Ia duduk bersila di hadapan Rsi itu, kemudian menyembah kaki Rsi Kapila. Setelah mengahaturkan sembah, Sang Ansuman memulai pembicaraan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Ansuman: Om swastyastu Wahai Rsi Agung,  terimalah sembah sujud saya…… Hamba Sang Ansuman Putra Raja Sagara dari Ayodhya,…….maaf Rsi Agung, kedatangan saya ke sini untuk mencari kuda yang hilang. Mungkinkah kuda yang dipertapaan ini milik keluarga kami?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rsi Kapila: Mungkin betul ananda. Kuda itu datang kemari sendiri dan aku hanya merawatnya. Periksalah terlebih dahulu, kalau memang kuda itu yang ananda cari, aku tidak keberatan untuk memberikan kuda itu kepadamu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum sampai Sang Ansuman mengajukan permohonan, ternyata pertapa itu telah menyerahkan kuda itu kepadanya. Hal ini terjadi karena Rsi kapila sangat senang melihat Sang Ansuman yang gunawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Ansuman: Terima kasih maha Rsi. Namun sebelum ananda mohon diri, perkenankanlah nanda mengajukan sebuah pertanyaan. Tidakkah Maha Rsi melihat ke 60.000 saudara saya, yang juga  ditugaskan mencari kuda yang hilang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rsi Kapila: Memang anakku, saudara-saudaramu telah datang kemari!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rsi Kapila menarik napas panjang, raut mukanya nampak serius, kemudian melanjutkan percakapannya.&lt;br /&gt;                           &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;wbr&gt;Mereka datang kemari dengan tidak sopan, melanggar dharmaning ksatria, malah mereka telah berbuat Adipataka (dosa yang sangat besar dan berat). Mereka menuduhku mencuri kuda itu, dan mereka bermaksud akan mencelakakanku. Karena itulah, mereka terpaksa kumusnahkan, dengan menggunakan pancaran sakti mataku. Lihatlah sekeliling pertapaan ini, abu-abu yang berserakan itu adalah abu-abu saudaramu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Ansuman memandang sekeliling pertapaan. Ia terdiam  seribu bahasa. Mukanya yang tadinya ceria, kini dengan cepatnya berubah menjadi sayu. Ia sangat sedih, walaupun mereka  hanya saudara tiri, namun ia merasa turut kehilangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rsi Kapila: Sudahlah Ansuman, Janganlah bersedih hati. Saudara-saudaramu itu masih bisa dihidupkan kembali. (kata Rsi Kapila menghibur).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Ansuman: Betulkah itu Maha Rsi ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rsi Kapila: Ya, saudara-saudaramu itu akan hidup kembali bila Dewi Gangga berkenan turun dari Sorga ke Bumi. Lakukanlah tapa, untuk memohon agar Dewi Gangga turun ke dunia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ansuman tidak berkata apa-apa, tetapi menganggukkan kepalanya suatu tanda  telah mengerti akan nasihat Sang Rsi. Setelah bersujud mohon pamit, Ansuman berdiri, kemudian berjalan menuju tempat  kuda diikatkan. Ia menuntun kuda itu pulang dengan langkah yang lunglai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SITUASI DAN DIALOG VII&lt;br /&gt;Tempat: Istana Ayodhya&lt;br /&gt;Situasi:  Riang-sedih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan yang dirasa dekat pada waktu berangkatnya, kini terasa  jauh. Langkah demi langkah, akhirnya tiba pula di Ayodhya. Diikatkanlah kuda itu di kandangnya. Kemudian Sang Ansuman segera menghadap ayahanda raja, yang suatu kebetulan saat itu semua kerabat sedang berkumpul dalam persidangan. Sebagaimana biasanya, Sang Ansuman pun segera menghaturkan sembah ke hadapan ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Ansuman: Om Swastyastu …..sembah sujud hamba ayahanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Raja yang menerima sembah itu tahu, bahwa putranya dalam keadaan murung. Sementara semua kerabat, yang turut hadir dalam persidangan itu diam. Tidak seorangpun yang berbicara.  Semua memperhatikan Sang Ansuman dengan penuh tanda tanya. Sekali lagi Ansuman mencium kaki ayahandanya, namun sang raja, belum juga mengerti apa yang dirisaukan putranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa sebenarnya yang telah terjadi ananda?” Sang Prabu memulai pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata-kata yang tersendat-sendat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Ansuman: “Ramanda, saudara-saudarakua telah kena kutuk pastu Bhagawan Kapila. Mereka dibakar habis menjadi abu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana persidangan berubah seketika. Sekejap jerit tangis meledak memenuhi ruangan. Air mata bercucuran. Hanya Sri Bagindalah yang tidak meneteskan air mata. Beliau hanya menunduk sedih. Menyesali kejadian yang menimpa putra-putranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Ansuman: “Ayahnda. Janganlah menyalahkan Rsi Kapila, apalagi menghukumnya. Beliau tidak bersalah justru saudara-saudarakulah yang telah berbuat Adipataka (dosa terbesar). Mereka telah  merencanakan pembunuhan terhadap sang pertapa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Raja:  “Betul anakku merekalah yang bersalah. Terus apa yang dinasehatkan pertapa itu kepadamu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Ansuman: “Saudara-saudaraku masih bisa dihidupkan kembali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban tersebut mengejutkan semua yang hadir, sehingga mengubah suasana persidangan. Suara tangispun mereda, walau isak-isak tangis masih terdengar di sana-sini. Mereka dengan tekun mengikuti pembicaraan, penuh harap, agar kejadian yang  mustahil itu dapat terwujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Raja: “Apa yang harus kita lakukan Ansuman?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Ansuman: “Rsi kapila menasehatkan, saudara-saudaraku bisa dihidupkan kembali, jika Dewi Gangga telah dapat diturunkan  dari Surga ke bumi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua yang hadir dalam persidangan, penuh tanda tanya, tetapi tidak seorangpun yang berani bertanya. Namun bagi Sri baginda, hal itu sudah cukup dimengerti, sehingga beliau menganggukkan kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Raja: “Ansuman anakku, dalam sastra suci telah disebutkan, bahwa putra adalah pelanjut dharma orang tua. Bersiap-siaplah, sudah waktunya ananda menggantikan ayah, memimpin rakyat  Ayodhya. Jadilah pemimpin yang bijaksana, agar rakyat hidup tentram, damai, dan, sejahtera.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah selanjutnya, Ansuman menjadi raja di Ayodhya, sedang Prabhu Sagara melakukan tapa guna memohon turunnya Dewi Gangga. Sampai akhir hayatnya, permohonan Prabhu Sagara belum terkabulkan. Sehingga Ansuman melanjutkan melakukan tapa. Tapi masih berbasib sama dengan ayahandanya. Permohonan belum juga terkabulkan. Dilipa,  putra Ansuman, juga menyusul melanjutkan dharma kakeknya. Ia gagal pula. Dan akhirnya, sang Bagiratha, Putra Dilipa yang terkabulkan permohonannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SITUASI DAN DIALOG VIII&lt;br /&gt;Tempat: di tengah hutan&lt;br /&gt;Situasi: damai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Bagiratha, buyut Prabhu Sagara itu, telah bertapa dengan hebatnya. Sorga tergoncang oleh tapanya sehingga Dewa Brahma berkenan turun ke bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewa Brahma: “Ananda Bagiratha, tapamu begitu hebatnya, yang meresahkan para dewata. Apa yang kau kehendaki?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiratha: “Dewata yang selalu hamba puja, hamba memohon agar Dewi Gangga diturunkan ke bumi di sekitar pertapaan Rsi Kapila. Hanya dengan cara itulah leluhurku yang terkena kutuk Rsi Kapila akan hidup kembali dan dibersihkan dari dosa  dan noda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewa Brahma :     Permohonanmu  terkabulkan Bhagiratha, tetapi ketahuilah, Dewi Gangga akan turun dengan derasnya. Bumi pasti tergoncang karenanya. Segala yang dilaluinya pasti hancur, basmi buta semuanya. Hanya Dewa Siwalah yang dapat menghambatnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SITUASI DAN DIALOG IX&lt;br /&gt;Tempat: Di tengah hutan&lt;br /&gt;Situasi: Damai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menerima sembah dari Bagiratha, Dewa Brahma segera kembali ke Brahmaloka. Bhagiratha melanjutkan tapanya, guna memohon turunnya Dewa Siwa. Tak lama kemudian Siwa turun ke bumi mendatangi Bagiratha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewa Siwa: “Hai, Bagiratha, tidakkah Brahma telah mengabulkan permohonanmu? Apalagi yang kau kehendaki dariKu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiratha: “Betul, permohonan hamba telah dikabulkan. Namun apa artinya hamba dapat menolong leluhur, tetapi membencanai orang lain? Oleh karena itu, hamba mohon, sudilah  kiranya Hyang Siwa menghambat turunnya Dewi Gangga ke bumi secara tidak dhasyat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewa Siwa: “Permohonanmu kukabulkan, Bagiratha.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa menunggu sembah  Bhagiratha, Dewa Siwa segera menuju ke puncak gunung Kailasha. Bhagirathapun segera menuju ke pertapaan Rsi Kapila. Untuk menyaksikan sendiri keajaiban dunia yang akan segera terjadi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SITUASI X&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu dunia menjadi gelap gulita dengan cepatnya. Awan hitam tebal menyelimuti bumi, suara gemuruh  teriring kilatan petir yang yang dibarengi dengan suara geledek yang mengerikan. Seolah maha pralaya telah tiba. Bersamaan dengan itu Dewi Gangga turun ke bumi dengan dahsyatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewa Siwa yang menyaksikan peristiwa itu segera berdiri di puncak Gunung Kailasha, anak pegunungan Himalaya. Dewi Gangga dapat dihadang oleh Dewa Siwa, akan tetapi Dewi Gangga  selalu berontak melepaskan diri. Dewa Siwa segera membelit Dewi Gangga dengan perutnya, sehingga Dewi Gangga kehabisan akal. Namun Dewi Gangga dapat pula melepaskan diri dari lilitan rambut Dewa Siwa. Kini, muncullah Ia sendiri dari kepala Siwa, hanya saja Ia tercerai berai menjadi bagaian-bagaian kecil dan besar, mengalir ke seluruh India sehingga tidak membahayakan daerah-daerah yang di lewatinya. Bagiannya yang terbesar mengaliri pertapaan Rsi Kapila yang kini disebut Sungai Gangga. Bagian-bagian lainnya menjadi Sungai Yamuna, Saraswati, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbahagialah Sang Bagiratha karena permohonannya telah terkabulkan. Leluhurnya telah dibersihkan dari dosa dan noda. Kini leluhurnya yang terkena kutukan Rsi Kapila, telah hidup kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KAJIAN MAKNA FILOSOFIS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkat dongeng tersebut di atas, sampai kini umat Hindu di India bahkan dunia mengakui dan mempercayai bahwa Sungai Gangga adalah  sungai yang paling suci di muka bumi ini. Umat Hindu memujanya bukan karena takut, tetapi mereka memuja karena tahu bahwa sungai Gangga memiliki keajaiban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi yang terpelajar harus bisa mengupas simbol-simbol yang terkandung dalam dongeng tersebut, misalnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Nama Sagara, berasal dari perkataan sansekerta, yang berarti lautan atau samudra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Prabhu Sagara memilikki dua istri. Hal ini merupakan simbol, bahwa lautan itu memilikki dua sifat yang berlawanan, yaitu pasang dan surut (rwa bhineda)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Dari istri pertama, Prabhu Sagara mendapatkan Putra satu orang, sedang dari istri yang kedua mendapatkan putra sebanyak 60.000 orang Hal ini menjelaskan bahwa samudralah menadi asal mula beribu-ribu sungai di di dunia. Dan sekian banyak sungai tersebut hanya satu yang dianggap paling suci, yaitu Gangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. ke 60.000 orang putra sagara mencari kuda ke dalam tanah dalam sekali. Itu melambangkan bahwa setiap sungai mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah, yang akhirnya kembali ke samudera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. ke 60.000 orang putra sagara terbakar habis menjadi abu. Hal ini melambangkan bahwa sungau-sungai itu bila mati akan kering hanya kelihatan pasir-pasir atau menjadi padang pasir.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;6. Sabda Rsi Kapila, yang menyatakan putra-putra Sagara itu akan hidup kembali setelah Dewi Gangga berkenan turun ke bumi, melambangkan sungai-sungai itu akan hidup kembali jika hujan telah turun ke bumi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;7. sabda Dewa Brahma, “Dewi Gangga akan turun ke bumi dengan dahsyatnya dan akan membawa bencana di bumi, meunjukkan  bahwa hujan yang lebat akan membawa korban, membencanai makhluk hiudp dan korban harta benda.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;8. Dewa Siwa menghadang turunnya Dewi Gangga di puncak gunung Kailasha serta membelit dengan rambutnya, mengandung simbol bahwa kepala Dewa Siwa sebagai simbol puncak gunung, sedang rambut  Siwa sebagai simbol akar-akar pohon yang tumbuh di lereng-lereng gunung. Di daerah gununglah hujan yang lebat itu banyak terjadi. Air hujan itu meresap ke dalam tanah kemudian di tahan oleh  akar pohon, maka air hujan tidak seluruhnya mengalir ke daerah lembah. Yang tertahan oleh akar-akar kemudian muncul sebagai mata air yang mengalir sepanjang masa, menyebabkan sungai-sungai hidup terus yang memberi kemakmuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari simbol-simbol itu dapatlah diambil kesimpulan, bahwa tujuan cerita tersebut adalah menerangkan sirkulasi air. Dan juga bermaksud mengajarkan tentang pentingnya menjaga kelestarian alam, yaitu dengan cara menjaga hutan di lereng maupun di kaki gunung. Umat manusia tidak menebang pohon-pohon seenaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah menjadi kenyataan, bahwa bencana banjir, tanah longsor yang kini sering terjadi di negara  kita bahkan di dunia adalah suatu akibat penggundulan hutan oleh masyarakat, tentunya masyarakat yang sudah tidak mempercayai dongeng-dongeng yang sudah dianggap kuno itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7221655881315686900-8856671580792622973?l=ceritahindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/AXku9urnNWK_y3JaNDN1jgdceRU/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/AXku9urnNWK_y3JaNDN1jgdceRU/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/AXku9urnNWK_y3JaNDN1jgdceRU/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/AXku9urnNWK_y3JaNDN1jgdceRU/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CeritaHindu/~4/zQJoHk9OLCw" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://ceritahindu.blogspot.com/feeds/8856671580792622973/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7221655881315686900&amp;postID=8856671580792622973&amp;isPopup=true" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/8856671580792622973?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/8856671580792622973?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CeritaHindu/~3/zQJoHk9OLCw/kisah-sungai-gangga-dan-kajian.html" title="“KISAH SUNGAI GANGGA DAN KAJIAN FILOSOFIS TRI HITA KARANA”" /><author><name>denny0214</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877375447862611766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://1.bp.blogspot.com/_tHWVsZfq_Sw/SYAVlzkrU6I/AAAAAAAAABI/yVCMbboC02s/S220/100_3522.JPG" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://ceritahindu.blogspot.com/2009/07/kisah-sungai-gangga-dan-kajian.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0QBQ3czeCp7ImA9WxJUEUw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-7221655881315686900.post-7942579198858121037</id><published>2009-07-08T21:33:00.000-07:00</published><updated>2009-07-08T21:55:52.980-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-07-08T21:55:52.980-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pengendalian Diri" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Etika" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="hindu" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Agama" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Toleransi" /><title>PENGENDALIAN DIRI, ETIKA DAN TOLERANSI</title><content type="html">&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Om Swastyastu&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;     &lt;span style="font-style: italic;"&gt;isa vasyam idam sarvam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;     yat kim ca jagatyam jagat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;     tena tyaktena bhunjita ma&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;     grdhah kasya svid dhanam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Yajurveda XL.1&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;(Segala sesuatu yang bergerak dan tidak bergerak di alam semesta ini meliputi      dan diresapi oleh Tuhan Yang Maha Esa. Hendaknya seseorang mampu mengendalaikan      dirinya dan tidak menginginkan milik orang lain)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;1. Pendahuluan&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Pengendalian diri, etika dan toleransi merupakan pencerminan kehidupan beragama dengan kehidupan sesama baik manusia dalam lingkungan keluarga, masyarakat,      bangsa dan negara bahkan pula dalam hubungan internasional antar bangsa-bangsa.      Dengan pengendalian diri seseorang mampu hidup berdampingan secara rukun yang      tercermin dalam etika atau tata laku sopan santun dalam pergaulan hidup.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kerukunan      hidup akan semakin mantap bila dilandasi dengan toleransi atau penghargaan      terhadap perbedaan yang dihadapi, karena perbedaan itu seperti misalnya perbedaan      agama yang dianut merupakan kenyataan yang diyakini dan ajaran yang dikandungnya      diamalkan oleh pemeluknya. Dengan pengendalian diri yang mantap, seseorang      yang tertib dalam berlalu lintas akan berhasil mencapai tujuan dengan selamat,      demikian pula dengan etika dan toleransi, seseorang akan mudah bergaul dengan      sesamanya walaupun berbeda agamanya. Pandangan hidup akan dapat diwujudkan dan dengan keharmonisan      ini. Ketentraman dan kebahagiaan hidup, baik dalam keluarga maupun masyarakat      dapat terealisasikan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;    Agama Hindu dengan kandungan ajaran tentang pengendalian diri, etika toleransi      yang sangat berguna sebagai pedoman dalam membina hubungan yang harmonis tidak      hanya dengan sesama manusia, tetapi juga dengan Tuhan Yang Maha Esa dan semua      Makhluk ciptaan-Nya..&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;   2. Pengendalian diri&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;   Pengendalian diri adalah kemampuan seseorang untuk tidak melakukan yang tidak      baik dan tidak patut dilakukan. Untuk dapat mengendalikan diri, seseorang      hendaknya mengenal ajaran tentang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Viveka&lt;/span&gt; atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Vivekajnana&lt;/span&gt;. Yang dimaksud dengan      &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Viveka &lt;/span&gt;adalah kemampuan untuk membedakan yang baik dan buruk, salah dan benar.      Yang baik belum tentu benar, sebaiknya yang benar belum tentu baik dan selanjutnya      yang dengan pengetahuan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Viveka&lt;/span&gt; ini seseorang akan dapat mengendalikan dirinya,      sebab diantara berbagai makhluk hidup dengan tegas dinyatakan hanya manusialah      yang memiliki pengetahuan itu. Oleh karena itu menjelma sebagai manusia      disebut sebagai penjelmaan utama bila dibandingkan dengan makhluk lainya :&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;Manusah sarve bhutesu varttate&lt;br /&gt;   vai dubhasubhe asubhesu samavistam&lt;br /&gt;   subhesvevakarayet&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;Ri sakwehning sarva bhuta,&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;iking wwang juga wenangguma ikang sebha asubha      karma,&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;kunang panentasekena ring asubhakarma juga ikang subha karma,&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;phala      ning dadi wwang&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sarasamuccaya 2&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;(Di antara semua makhluk, yang hanya dilahirkan sebagai manusia sajalah yang      dapat melaksanakan perbuatan baik ataupun buruk. Leburlah ke dalam perbuatan      baik itu menjelma sebagai manusia.)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Di dalam kitab Sarasamuccaya dijelaskan pula bahwa menjelma sebagai manusia      adalah kesempatan yang utama dan sangat sulit untuk diperoleh (parama durlabha)      dan hidup sebagai manusia dinyakan sangat singkat (ksanikasvabhava) bagaikan      kerdipan kilat. Memang bila direnungkan, sesungguhnya manusia hampir sangat      jarang untuk merenungkan kembali, untuk apa tujuan penjelmaan kita ini, bagaimana      kita seharusnya berbuat di dunia ini, benarkah kita nanti, apakah yang akan      kita bahwa dan bagaimanakah kita alam sana dan lain-lain pernyataan akan muncul      bagi mereka yang memiliki kepekaan untuk merenungkan kehidupan kembali.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Untuk usaha, ajaran agama Hindu memberikan bimbingan dan tuntunan seseorang      berhasil meniti kehidupan di dunia ini termasuk bagaimana dia berperilaku      menyingkapi dan mensiasati kehidupan yang dewasa ini sangat dirasakan kecendrungan      pada material atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pleasure oriented&lt;/span&gt; sebagai dinyatakan dalam kitab-kitab      Purana, bahwa era jaman Kali (Kaliyuga) orientasi manusia hanyalah pada materi      dan kesenangan, yang tidak akan memberikan kebahagiaan yang sejati. Bila kita      hanya mengejar kepuasan materi atau kesenangan duniawi belaka (kepuasan kama),      maka penderitaanlah yang akan kita jumpai. Memuaskan Kama semata diibaratkan      menyiram api yang sedang berkobar tidak dengan air, melainkan dengan bensin      dan akibatnya adalah api semakin membesar yang mengakibatkan kehancuran. Agama      Hindu mengamanatkan untuk mewujudkan kedamaian dalam kehidupan ini (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;peace      oriented&lt;/span&gt;), karena di balik kedamaian yang sejati (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;true happines&lt;/span&gt;). Kebahagiaan      yang sejati (Moksa) bukanlah khayalan, melainkan kenyataan yang dapat diwujudkan      di dunia ini (melalui Samadhi) yang disebut dengan Jiwanmukti. Untuk merealisasikan hal ini banyak hal yang dilakukan, terutama dapat mentransformasikan diri      kita, meninggalkan kualitas jasmani kita yang muaranya adalah sumber daya      manusia. Sumber daya manusia (menurut pandangan Hindu) tidak hanya menekankan      pada kualitas jasmani dan keterampilan atau kecerdasan pikiran, melainkan adalah      memupuk budi luhur sesuai dengan ajaran Dharma, yang nantinya akan mampu mengantisipasi      berbagai tantangan hidup dan mencapai tujuan yang tertinggi yakni bersatunya      Atman dengan Brahman yang disebut Moksa yang merupakan kebahagiaan sejati      dan abadi (Sukha dan tanpawali sukha)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Sangat banyak kita jumpai dalam ajaran Agama Hindu petunjuk tentang pengendalian      diri termasuk pula bagaimana menggunakan Viveka sehingga kita mampu menyikapi      perkembangan dunia ini. Ajaran tentang pengendalian diri dan Viveka ini dapat      kita jumpai dalam kitab suci Veda, dalam berbagai kitab Upanisad, Ithiasa      dan Purana termasuk pula dalam berbagai kitab Dharmasastra dan Tantra seperti      Panca Tan Matra yang disusun oleh Visnu dan lain-lain.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;   3. Etika&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Etika adalah bentuk pengendalian diri di dalam pergaulan hidup bersama.      Manusia adalah homo sosius, makhluk berteman. Ia tidak dapat hidup sendirian,      ia selalu bersama dengan orang lain. Manusia hanya dapat hidup dengan sebaik-baiknya      dan akan mempunyai arti, apabila ia hidup bersama-sama manusia yang lain di      dalam masyarakat. Tidak bergaul dengan sesama manusia lainya. Hanya dalam      hidup bersama manusia akan dapat berkembangan dengan wajar. Hal ini merupakan      kenyataan yang tidak dapat dihindari, bahwa sejak manusia dilahirkan sampai      ia mati, selalu memerlukan bantuan orang lain untuk kesempurnaan hidupnya.      Bantuan itu tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan jasmaninya, tetapi juga untuk      memenuhi kebutuhan rohaninya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Manusia sangat memerlukan pengertian, kasih sayang, harga diri, pengakuan      dan tanggapan-tanggapan emosional yang sangat penting artinya bagi pergaulan      dan kelangsungan hidupnya yang sehat. Semua kebutuhannya itu merupakan kebutuhan      rohani hanya dapat ia perolah dalam hubungannya dengan manusia dalam masyarakat.      Inilah kodrat manusia sebagai makhluk sosial tidak ada seorangpun yang dapat      mengingkari hal ini karena bahwa manusia baru dapat disebut manusia dalam      hubungannya dengan orang lain dan bukan dalam kesendiriannya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Dalam kehidupan bersama ini orang dapat mengatur untuk bertingkah laku yang      baik. Tidak seseorang yang boleh berbuat sekehendak hatinya. Ia harus menyesuaikan      diri dengan lingkungannya (dalam pengertian tidak boleh larut dalam lingkungannya      itu) dan tunduk atau patuh terhadap peraturan atau aturan yang berlaku dalam      lingkunyanya ini masih dalam frame-frame yang berlaku.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Aturan atau peraturan untuk bertingkah laku yang baik dalam agama Hindu      disebut dengan "Sila" yang dalam bahasa Indonesia menjadi Tata Susila.      Nama lainya untuk istilah ini adalah Etika. Kata etiket artinya sopan santun      dalam pergaulan. Bila itikad beretika masih dalam angan-angan disebut dengan      Budi Luhur (Budi baik) dan bila diwujudkan dalam tungkah laku disebut pekerti      yang baik.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Bila kita mengamati dengan seksama tujuan dari atau tingkah laku yang baik      adalah untuk membina hubungan yang harmonis antar sesama manusia dan dalam      ajaran agama Hindu tidak hanya hubungan yang horisontal, tetapi juga hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa dan alam pencipta-Nya. Tata      susila dalam ajaran agama Hindu merupakan salah satu dari tiga kerangka dasar      agama Hindu disamping Sradha dan Acara yang bersumber pada kitab suci Veda,      oleh karena itu tata Veda dengan susastra Hindu lainya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam hubungannya      dengan tingkah laku manusia, dapat dikaji dalam tiga tingkatan yaitu :&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;a. Tingkat pertama semasih dalam bentuk angan-angan niat atau idea&lt;br /&gt;   b. Tingkat kedua sesudah berbentuk pekerti, yakni perbuatan nya (telah dilaksankan)&lt;br /&gt;   c. Tingkat ketiga adalah akibat yang ditimbulkan oleh pekeri ini. Hasilnya      dapat baik atau buruk.&lt;br /&gt;   &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Selanjutnya isi dari angan-angan, niat atau idea itu direalisasikan dalam      4 jenis perbuatan (varaible), yaitu :&lt;br /&gt;   a. Tujuannya baik, tetapi cara penyampaiannya tidak baik.&lt;br /&gt;   b. Tujuannya tidak baik, tetapi cara penyampaiannya baik&lt;br /&gt;   c. Tujuannya tidak baik, tetapi cara penyampaiannya tidak baik.&lt;br /&gt;   d. Tujuannya baik, tetapi cara penyampaiannya baik.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Semuanya yang disebut atau buruk kadang-kadang sulit untuk dirumuskan. Dalam      kenyataannya ternyata manusia sesungguhnya mengerti atau memahami apa yang      disebut baik dan buruk. Berbohong atau mencuri adalah buruk dan tidak benar. Menolong, penuh kasih dan jujur adalah baik. Kesadaran terhadap baik dan buruk,      salah dan benar disebut Kesadaran Etis. Namun perlu dipahami apa yang disebut      baik itu, tidak selalu benar dan apa yang disebut buruk itu tidaklah selalu      salah.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Untuk menentukan mengukur atau membesakan baik, buruk salah dan benar, Agama Hindu mengajarkan umatnya untuk berpedoman kepada beberapa pramana atau      ukuran, antara lain :&lt;br /&gt;   a. Desa (tempat), Kala(waktu) dan Patra (keadaan) dan dalam Manavadharmasastra      dilengkapi dengan Iccha (tujuan) dan Sakti (Kemampuan untuk mencapai tujuan      itu).&lt;br /&gt;   b. Pratyaksa (pengamatan), Anumana (analisa) dan Agama (pertimbangan / Informasi      yang dapat dipercaya)&lt;br /&gt;   c. Sastratah (bersumber pada sastra/ajaran agama) Gurutah (bersumber pada      ajaran guru) dan Svatah (bersumber pada analisa dan pengalaman sendiri)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Berdasarkan ukuran atau pertimbangan tersebut seseorang dapat menentukan      perbuatan yang patut dan baik untuk dilaksanakan. Untuk dapat menentukan perbuatan      itu, seseorang hendaknya mengetahui dan dapat memilih dan untuk itu berbagai      pertimbangan sangat diperlukan. Kemampuan untuk mengetahui (Maknanya) dan      memilih (yang patut dan baik dilakukan) merupakan pegangan moralitas.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Penilaian moralitas tidaklah dapat diukur dari penampilan luar seseorang      demikian pula dalam kitan bertingkah laku yan baik dan benar. Untuk itu ajaranya      agama Hindu menuntut kepada umatnya untuk memiliki kepekaan sehingga mampu      mendengarkan bisikan Sang Hyang Widi Atma yang bersemayan pada hati setiap      orang. Bisikan sang Hyang Atma adalah bisikan hati nurani yang selalu jujur.      Nilai pribadi seseorang tidak dapat diukur dengan kekayaan yang dimiliki,      kepandaian, kecerdasan atau kebangsawanan yang dimiliki. Perhatikanlah terjemahan      sloka Sarasamuccaya berikut :&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;   Meski ia Brahmana yang berusia lanjut, Jika perilakunya tidak susila, tidaklah      patut disegani. Walaupun ia seorang Sudra, jika perilakunya berpegang pada      Dharma dan kesucian patutlah ia dihormati dan disegani (161)&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tingkah laku yang baik merupakan alat untuk menjaga Dharma dan satra suci. Pikiran yang teguh dan bulat merupakan upaya untuk menjunjungnya, adapaun      keindahan paras adalah keberhasilan pemeliharaannya demikian pula kelahiran      seseorang, semuanya budi pekerti susila yang menegakkannya (162).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;   Tingkah laku yang baik merupakan sebab dikenal sujana, demikian walaupun ia      tidak memiliki silsilah dari orang-orang, asalkan ia berasusila, akan diketahui      pula asal -usulnya (163)&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pengetahuan tenang kitab suci Veda (Catur Veda) dengan enam cabang dan anak      cabangnya, kemahiran tentang ajaran filsafat (sastra suci) Samkhya, Purana      dan Kelahiran. Yang mulia, semuanya itu tidak akan berpahala bagi orang yang      berkelakuan jahat, Akhirnya semua pengetahuan dan kelahiran yang dimilikinya      tidak ada artinya (164)&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;    Lagi pula tidak kuasa kaum kerabat dan sanak keluraga memberikan pertolongan,      membebaskan diri dari kesedihan hati, begitupun emas segala hak milik Kebangsawanan,      sastra dan mantra-mantra serta kekuasaan tidak akan dapat memberi pertolongan, yang dapat menolong hanyalah tingkah laku, oleh karena itu ia sungguh yang      dapat melenyapkan kedudukan hati didunia yang lain kelak dikemudian hari (167).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Didalam Agama Hindu kita jumpai banyak ajaran yang menuntun manusia untuk      menjadi manusia yang sujana, berbudi luhur dan bertingkah laku yang bersusila,      tidak bertentangan dengan moral dan ajaran Dharma.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;4. Toleransi&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Toleransi artinya penghargaan, yakni memberikan penghargaan terhadap orang      lain dalam hal ini yang paling menonjol adalah penghargaan terhadap ajaran      agama yang dianut oleh orang lain. Sesungguhnya toleransi tidak hanya berkaitan      dengan penganut agama yang lain tetapi juga perlu ditumbuhkan dalam kaitannya      dengan kehidupan intern umat beragama, maksudnya bila terdapat perbedaan pemahaman      terhadap ajaran agama dalam intern umat seagama, maka penghargaan atau toleransi      perlu ditumbuhkembangkan, demikian pula dengan umat yang lain (antar umat      beragama) dan antara umat beragama dengan pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kitab suci Veda menegaskan      perlunya toleransi itu sebagai perwujudan pengamalan ajaran agama :&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;a. Bumi ini tempat tinggal seluruh umat manusia, seperi keluarga, semuanya      berbicara berbeda-beda dan menganut kepercayaan (agama) yang berbeda-beda,      semuanya hendaknya seperti sapi-sapi yang bersatu salam satu kandang sapi      kepadanya kesejahteraan akan berlimpah (Atharvaveda XII.I.45)&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;   b. Bumi yang luas ini adalah ibu dan sahabat kita (Atharvaveda IX,10,12)&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;   c. Marilah kita menghormati kemerdekaan (harkat dan martabat) seseorang (Rg      veda I.80.1)&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;   d. Wahai umat manusia, Aku memberikan kepadamu sifat-sifat yang ramah dan      manis pupuklah keharmonisan dan persaudaraan tanpa permusuhan diantara kamu,      seperti halnya seekor induk lembu terhadap anaknya yang baru lahir, demikianlah      hendanya kamu menyayangi sesamamu (Atharvaveda III.83.8.)&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;   e. Wahai orang-orang dermawan, marilah kita wujudkan persaudaraan yang sederajat      di dalam kandungan ibu pertiwi (Rg Veda VIII.83.8).&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;   f. Wahai umat manusia, maju teruslah kamu, jangan bertikai di antara kamu,      engkau adalah pengikut untuk tujuan yang sama, hormatilah yang lebih tua,      milikilah pikiran-pikiran luhur dan pusatkan perhatian pada kerja. Ucapkanlah      kata-kata manis di antara kamu. Aku jadikan engkau semuanya bersatu dan Aku      rakhmati engkau dengan pikiran-pikiran yang mulia (Atharvaveda III.10.5)&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;   Lebih jauh dalam susatra Veda yang lain dinyatakan :&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;a. Hendaknya setiap orang tidak menyakiti makhluk lain, berpegang pada kebenaran      (Dharma), tidak pemarah, melepaskan diri dari ikatan keduniawian, tentram      dan tidak suka memfitnah, kasih sayang terhadap semua makhluk, tidak tamak,      lemah lembut sopan santun dan teguh iman (Bhagawadgita, XVI.2.)&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;   b. Persembahan kepada dewa-dewa, kepada pandita, kepada guru, kepada orang      suci, jujur, kuat menahan hawa nafsu dan tidak menyakiti makhluk lain adalah      pantangan diri sendiri di dunia (Bhagavadgita XVII.14.)&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;   c. Seseorang yang tidak menjalankan Dharma atau yang mendapatkan kakayaan      dengan jalan curang dan orang yang suka menyakiti hati makhluk lain tidak      akan pernah bahagia di dunia ini (Manavadharmasstra IV.170.)&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;   d. Masih banyak ajaran toleransi yang dapat kita jumpai dalam kitab Veda dan      susastra Hindu lainya yang perlu kita gali dan diamalakan dalam kehidupan      bersama dalam masyarakat berbhineka ini.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;5. Upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Mampukah ajaran agama, khususnya ajaran pengendalian, etika dan toleransi      dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia? Untuk menjawab permasalahan      ini kita hendaknya dapat memahami kembali fungsi dan peranan agama kehidupan      umat manusia, yaitu sebagai :&lt;br /&gt;   a. Faktor motivatif yang mendorong manusia meningkatkan kualitas hidupnya      .&lt;br /&gt;   b. Faktornya kreatif dan innovatif, yang mendorong untuk berkreasi dan mengadakan      pembharuan dalam dirinya.&lt;br /&gt;   c. Faktor insfiritif yang memberikan inspirasi untuk mengabdi kemanusiaan.&lt;br /&gt;   d. Faktor edukatif yang mendidik diri manusia untuk mencapai kedewasaan.&lt;br /&gt;   e. Faktor transformatif dan sublimatif yang mampu mengubah dirinya yang tidak      baik menjadi baik.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Bila fungsi agama dilaksanakan atau memancar diri manusia, maka dengan sendirinya      seseorang akan mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia atau potensi-potensi      yang dimilikinya. Agama tidak hanya mengajarkan manusia untuk mewujudkan kehidupan      spiritual di alam baka saja, tatapi di tunut pula kepada umatnya untuk direalisasikan,      diamalkan dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;   Agama Hindu (Khususnya kitab suci Veda) sangat menekankan betapa pentingnya      pemeliharaan badan jasmani ini seseorang sebab dengan jasmani sehat dan akan      lebih baik melaksanakan Dharma atau Swadharma yang dibebankan kepadanya. Pemeliharaan      jasmani dengan jalan berolah raga serta mengonsumsi makanan dan minuman      yang menyehatkan, sedang pemeliharaan rohani dengan mengamalkan ajaran agama      sebaik-baiknya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aritani me sarva atma anibhrstah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   Atharvaveda XIX.60.2&lt;br /&gt;   (Hendaknya badan dan pikiran kami sehat, babas dari segala penyakit sehingga      selalu bangkit untuk meningkatkan diri)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Berdasarkan uraian tersebut diatas dapatkah kita pahami bahwa jasmani sehat      dan pikiran yang sehat pula merupakanan modal dasar untuk meningkatkan kualitas      pribadi kita. Meningkatkan kualitas pribadi hendaknya senantiasa diupayakan      dan hal ini diamanatkan oleh kitab suci Veda dan susastra Hindu lainnya. Pengamalan      ajaran agama bermuara pada pengendalian diri, etika dan toleransi yang pada      akhirnya adalah meningkatkan mutu atau kualitas pribadi manusia.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;   6. Penutup&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Pengendalian diri, etika dan toleransi merupakan cerminan atau pancaran      dari pengamalan ajaran agam Hindu. Agama tidak akan ada artinya bila tidak      diamalkan sebagai mana mestinya. Agama akan besifat verbal atau hanya berupa      slogan saja. Bila agama dilaksanakan dengan mantap maka tujuan hidup berupa      kesejahteraan dan kebahagiaan akan segera dapat diwujudkan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam kehidupan bersama dalam masyarakat maka pengendalian diri, etika dan      toleransi hendaknya senantiasan ditumbuh kembangkan, dengan demikian keharmonisan      sebagai landasan kehidupan yang sejahtera, tentram dan bahagia menjadi kenyataan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;   Om Santhi Santhi Santhi Om.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Shri Danu-Bekasi @9 Juli 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7221655881315686900-7942579198858121037?l=ceritahindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/nQO-exnh2iV65vNDQPMEdmzwZ38/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/nQO-exnh2iV65vNDQPMEdmzwZ38/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/nQO-exnh2iV65vNDQPMEdmzwZ38/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/nQO-exnh2iV65vNDQPMEdmzwZ38/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CeritaHindu/~4/BM8lEC81qfY" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://ceritahindu.blogspot.com/feeds/7942579198858121037/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7221655881315686900&amp;postID=7942579198858121037&amp;isPopup=true" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/7942579198858121037?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/7942579198858121037?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CeritaHindu/~3/BM8lEC81qfY/pengendalian-diri-etika-dan-toleransi.html" title="PENGENDALIAN DIRI, ETIKA DAN TOLERANSI" /><author><name>denny0214</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877375447862611766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://1.bp.blogspot.com/_tHWVsZfq_Sw/SYAVlzkrU6I/AAAAAAAAABI/yVCMbboC02s/S220/100_3522.JPG" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://ceritahindu.blogspot.com/2009/07/pengendalian-diri-etika-dan-toleransi.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEQDRnk5eCp7ImA9WxJVE08.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-7221655881315686900.post-3760898447697660297</id><published>2009-06-29T18:40:00.000-07:00</published><updated>2009-06-29T18:46:17.720-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-06-29T18:46:17.720-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kahyangan Jagat" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Penataran" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tampaksiring" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sasih" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pura" /><title>Pura Penataran Sasih</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;img alt="http://blog.baliwww.com/wp-content/photos/penataran_sasih_01.jpg" src="http://blog.baliwww.com/wp-content/photos/penataran_sasih_01.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pura Penataran Sasih merupakan salah satu Pura Kahyangan Jagat atau pura utama penting di Bali. Pura ini memiliki jejak sejarah yang sangat panjang. Beberapa ahli menyebutkan Pura Penataran Sasih adalah pura tertua di Bali yang merupakan pusat kerajaan pada zaman Bali Kuno. Dari hasil penelitian terhadap peninggalan benda-benda kuno di areal pura, diduga Pura Penataran Sasih telah ada sebelum pengaruh Hindu masuk ke Bali, satu era dan zaman Dongson di China, sekitar 300 tahun Sebelum Masehi. Jauh sebelum Hindu masuk ke Bali sekitar abad ke-8 Masehi.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di pura yang terletak di Desa Pejeng ini terdapat nekara perunggu berukuran 186,5 cm. Nekara ini mengandung nilai simbolis yang sangat tinggi. Pada nekara tersebut terdapat hiasan kodok muka sebagai sarana penghormatan pada leluhur. Konon, nekara ini juga dijadikan media untuk memohon hujan oleh masyarakat pada masa itu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di samping nekara perunggu, di Pura Penataran Sasih juga terdapat peninggalan berupa pecahan prasasti yang ditulis pada batu padas. Hanya saja, tulisan berbahasa Kawi dan Sansekerta itu tidak bisa dibaca karena termakan usia. Namun, dari hasil penelitian, ada kemungkinan pecahan prasasti tersebut berasal dari abad ke-9 atau permulaan abad ke-10. Di pura ini juga tersimpan beberapa peninggalan masa Hindu seperti prasasti batu yang berlokasi di jeroan bagian selatan. Prasasti tersebut berkarakter huruf dari abad ke-10. Di bagian jaba pura, di sebelah tenggara ada fragmen atau bekas bangunan memuat prasasti beraksara kediri kwadrat (segi empat) yang menyebutkan Parad Sang Hyang Dharma yang artinya bangunan suci. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di samping, sebagai pura yang menyimpan benda-benda purbakala, Pura Penataran Sasih juga terkenal dengan tarian sakralnya yakni tarian Sang Hyang Jaran. Tapi tarian tersebut hanya dipentaskan jika ada upacara besar di pura tersebut. Tarian ini biasanya dibawakan oleh empat penari yang ditunjuk seketika di sekitar arena. Kalau misalnya kamu yang ditunjuk, tanpa kamu sadari tubuhmu akan bergerak sendiri di luar kesadaranmu. Tapi, biasanya yang terkena tunjuk adalah warga setempat arau orang luar yang memang berniat bersembahyang. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Akses&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sangat mudah untuk mencari Pura Penataran Sasih. Pura ini berada di pinggir jalan utama menuju Tampaksiring. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://jalan-jalan-bali.blogspot.com/2009/01/pura-penataran-sasih.html"&gt;jalan-jalan-bali&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7221655881315686900-3760898447697660297?l=ceritahindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/yYibmVLtL3CxfSEy4Y7ErgcMDcc/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/yYibmVLtL3CxfSEy4Y7ErgcMDcc/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/yYibmVLtL3CxfSEy4Y7ErgcMDcc/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/yYibmVLtL3CxfSEy4Y7ErgcMDcc/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CeritaHindu/~4/gBogfTDITP0" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://ceritahindu.blogspot.com/feeds/3760898447697660297/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7221655881315686900&amp;postID=3760898447697660297&amp;isPopup=true" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/3760898447697660297?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7221655881315686900/posts/default/3760898447697660297?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CeritaHindu/~3/gBogfTDITP0/pura-penataran-sasih.html" title="Pura Penataran Sasih" /><author><name>denny0214</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877375447862611766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://1.bp.blogspot.com/_tHWVsZfq_Sw/SYAVlzkrU6I/AAAAAAAAABI/yVCMbboC02s/S220/100_3522.JPG" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://ceritahindu.blogspot.com/2009/06/pura-penataran-sasih.html</feedburner:origLink></entry></feed>

